ROMAN
BINTANG TERAKHIR DI LANGIT SENJA
Roman Epik Spiritual-Historis Kontemporer, Ketika Senja dan Bintang Bersatu, Langit Pun Bercerita
Oleh: Slamet Riyadi
|
Metadata
|
Isi
|
|
Judul
|
Bintang Terakhir di Langit Senja
|
|
Subjudul
|
Roman Epik Spiritual-Historis Kontemporer, Ketika Senja dan Bintang Bersatu, Langit Pun Bercerita
|
|
Genre
|
Roman Epik Spiritual-Historis Kontemporer
|
DISCLAIMER
Karya ini adalah fiksi. Nama, tokoh, tempat, kejadian, dan dialog dalam roman ini adalah hasil imajinasi penulis atau digunakan secara fiktif. Kesamaan dengan nama orang hidup atau mati, tempat, organisasi, atau kejadian nyata adalah kebetulan semata dan bukan merupakan maksud penulis.
Kampung Tanjung Senja, nyanyian adat "Bintang Terakhir", ritual Sedekah Laut, dan segala tradisi yang digambarkan dalam roman ini adalah fiksi yang terinspirasi dari kekayaan budaya Nusantara. Penulis tidak bermaksud mewakili, mengklaim, atau mengeksploitasi tradisi tertentu milik kelompok masyarakat mana pun.
Segala bentuk konflik sosial, politik, dan ekonomi dalam cerita ini adalah murni fiktif dan tidak dimaksudkan untuk mencerminkan situasi nyata di wilayah mana pun.
Pembaca yang bijak akan memahami bahwa roman ini adalah ode untuk cinta, kehilangan, pencarian makna, dan keikhlasan — bukan panduan spiritual, bukan risalah budaya, bukan pula klaim kebenaran.
Semua karakter dalam roman ini memiliki kelemahan dan kekuatan. Tidak ada yang sempurna. Tidak ada yang sepenuhnya benar. Tidak ada yang sepenuhnya salah. Seperti kehidupan.
Dan seperti bintang terakhir di langit senja — roman ini hanya menunggu untuk ditemukan.
Hak Cipta © 2026 oleh Slamet Riyadi
Seluruh hak cipta dilindungi undang-undang. Dilarang memperbanyak, menyalin, mendistribusikan, atau mempublikasikan sebagian atau seluruh isi buku ini dalam bentuk apa pun — baik secara elektronik maupun mekanis, termasuk fotokopi, rekaman, atau sistem penyimpanan dan pengambilan informasi — tanpa izin tertulis dari penulis.
"Setiap senja adalah awal, bukan akhir.
Setiap bintang adalah doa yang menunggu dijawab."
Untuk mereka yang pernah kehilangan,
yang pernah tersesat,
dan yang masih menunggu bintang terakhirnya.
Teruslah menunggu.
Bintang itu tidak pernah padam.
Ia hanya menunggu untuk ditemukan.
DAFTAR ISI
Prolog: Nyanyian di Ujung Senja
BAGIAN I: AKAR
- Senja di Kampung Nelayan
- Perempuan dari Kota
- Dermaga Tua
- Nyanyian yang Hilang
- Ibu yang Menyimpan Luka
- Pasar Ikan
- Bulan di Atas Laut
BAGIAN II: CINTA
- Pelajaran Pertama
- Upacara Adat
- Cinta yang Tumbuh
- Rahasia Pak Harun
- Tangan yang Menarik
- Badai di Rumah
- Janji di Bawah Bintang
BAGIAN III: PERJALANAN HIDUP
- Tuan Wijaya
- Rapat Warga
- Persahabatan yang Teruji
- Nyanyian Kedua
- Konflik Lama Terungkap
- Tawaran Senja
- Malam Terakhir
BAGIAN IV: PERPISAHAN
- Rumah yang Sepi
- Surat dari Kota
- Kabar Buruk
- Kehilangan
- Pemakaman
- Keputusan Bintang
- Perpisahan dengan Senja
BAGIAN V: PENGEMBARAAN
- Lautan Luas
- Pulau Terasing
- Ajaran Mbah Kerto
- Penglihatan
- Kembali ke Daratan
- Kota yang Asing
- Surat yang Tertunda
- Pulang
BAGIAN VI: PERTEMUAN KEMBALI
- Senja Kembali
- Percakapan Panjang
- Konflik Baru
- Persahabatan yang Kembali
- Upacara Terakhir Pak Harun
- Pengkhianatan Rudi
- Rapat Besar
BAGIAN VII: PILIHAN TERAKHIR
- Sidang
- Bukti Terakhir
- Kemenangan
- Pilihan Senja
- Pernikahan Adat
- Bintang Terakhir
- Langit Senja
Epilog: Nyanyian di Ujung Senja
PROLOG
NYANYIAN DI UJUNG SENJA
Langit di ujung barat berwarna jingga keemasan. Awan-awan tipis bergerak perlahan, seperti tangan-tangan halus yang merapikan selimut malam. Di bawahnya, laut bergelombang tenang, memantulkan cahaya senja seperti pecahan kaca berhamburan di permukaan air.
Di atas sebuah perahu kecil, seorang lelaki tua duduk bersila. Matanya terpejam. Bibirnya bergerak-gerak, melafalkan sesuatu yang tidak terdengar oleh angin.
"Bintang di langit senja...
Cahaya yang menunggu...
Jawablah doa kami...
Sebelum malam tiba..."
Di hadapannya, seorang anak laki-laki berusia sekitar delapan tahun memperhatikan dengan mata bulat. Anak itu memegang dayung kecil. Tangannya kecil, tapi sudah terbiasa dengan kayu dan air.
"Ayah," kata anak itu. "Apa yang Ayah ucapkan?"
Lelaki tua itu membuka matanya. Ia tersenyum. Kerutan di wajahnya seperti peta jalan yang telah dilalui bertahun-tahun. Ada luka di pelipisnya—bekas lama yang tidak pernah ia ceritakan.
"Itu nyanyian, Nak," jawabnya. "Nyanyian leluhur kita."
"Untuk apa?"
"Untuk memanggil bintang."
Anak itu menoleh ke langit. Belum ada bintang. Langit masih terlalu terang. Di kejauhan, seekor burung camar terbang rendah, soliter.
"Bintangnya belum muncul, Yah."
"Justru itu," kata ayahnya. "Kita memanggilnya sebelum ia muncul. Supaya ia tahu kita menunggunya."
Anak itu mengerutkan kening. "Bintangnya bisa mendengar?"
"Bintang bukan benda langit, Nak," kata ayahnya pelan. Tangannya yang kasar—tangan nelayan—mengenggam dayung. "Bintang adalah cahaya yang menunggu dijawab. Setiap orang punya bintangnya sendiri. Tugas kita adalah menjaganya tetap menyala."
Anak itu diam. Ia belum mengerti. Tapi kata-kata ayahnya tertinggal di dalam hatinya, seperti benih yang ditanam di tanah basah.
"Ayah akan mengajarimu," kata ayahnya. "Tapi tidak sekarang. Nanti, kalau kamu sudah siap."
"Kapan aku siap?"
Ayahnya menatap langit. Bintang pertama muncul di ujung senja. Kecil, tapi terang.
"Ketika kamu sudah bisa mendengar keheningan," jawabnya. "Ketika kamu sudah bisa memaafkan dirimu sendiri."
Anak itu tidak mengerti. Ia hanya mengangguk.
Perahu kecil itu bergoyang perlahan. Angin membawa aroma garam dan kayu basah. Di kejauhan, lampu-lampu kampung mulai menyala, seperti kunang-kunang yang menempel di kaki langit.
"Ayah," kata anak itu lagi. "Namaku Bintang. Apakah aku juga punya bintang di langit?"
Ayahnya tertawa. Tawa yang hangat, seperti selimut di malam dingin. Tapi ada sesuatu di matanya—kesedihan yang dalam.
"Kamu bukan punya bintang, Nak. Kamu adalah bintang itu sendiri. Dan suatu hari, kamu akan menjadi bintang terakhir yang menyinari langit senja."
Anak itu tersenyum. Ia tidak mengerti. Tapi ia merasa hangat.
Lelaki tua itu menoleh ke laut. Matanya menyapu cakrawala. Ada sesuatu di sana—sesuatu yang tidak terlihat oleh anaknya. Sebuah kapal. Gelap. Menunggu.
Ia menghela napas. Ia meraih tangan anaknya. Erat.
"Bintang," katanya pelan. "Ingat satu hal."
"Apa, Yah?"
"Jika suatu hari Ayah tidak kembali... jangan cari Ayah. Cari kebenaran. Karena kebenaran... lebih berharga dari hidup."
Anak itu mengerutkan kening. "Ayah mau ke mana?"
Ayahnya tersenyum. Senyum yang pahit. "Ayah hanya... bicara. Tidak apa-apa."
Perahu itu terus bergoyang. Langit semakin gelap. Bintang pertama semakin terang.
Dan di kejauhan, di atas dermaga tua, seorang perempuan muda berdiri. Ia memakai kebaya sederhana. Rambutnya terurai. Matanya... basah. Ia menatap perahu kecil itu. Ia tidak tahu bahwa suatu hari, anak laki-laki di perahu itu akan menjadi bagian dari hidupnya. Ia juga tidak tahu bahwa ia akan menjadi senja yang menemani bintang terakhir itu.
Ia hanya berdiri. Menunggu. Seperti senja yang menunggu bintang.
Langit senja memudar. Malam datang. Dan bintang-bintang pun bermunculan, satu per satu, seperti janji-janji yang menunggu ditepati.
Di atas perahu kecil itu, lelaki tua itu kembali menutup matanya. Ia melanjutkan nyanyiannya. Nyanyian yang tidak terdengar oleh angin. Nyanyian yang hanya terdengar oleh mereka yang percaya.
"Bintang di langit senja...
Cahaya yang menunggu...
Jawablah doa kami...
Sebelum malam tiba..."
Dan di kejauhan, di atas dermaga tua, perempuan muda itu masih berdiri. Ia menunggu. Ia tidak tahu apa yang ia tunggu. Tapi ia menunggu.
Seperti senja yang menunggu bintang.
Seperti hati yang menunggu dijawab.
Seperti doa yang menunggu dikabulkan.
— Tanjung Senja, enam belas tahun sebelum kisah ini dimulai —
Langit senja memudar. Malam datang. Dan bintang-bintang pun bersinar.
Salah satunya lebih terang dari yang lain. Bintang terakhir di langit senja.
BAB 1
SENJA DI KAMPUNG NELAYAN
Langit di ujung barat berwarna jingga keemasan. Awan-awan tipis bergerak perlahan. Di bawahnya, laut bergelombang tenang, memantulkan cahaya senja seperti pecahan kaca berhamburan di permukaan air.
Di atas dermaga tua yang terbuat dari kayu ulin, seorang pemuda duduk bersila. Ia memandang laut. Matanya tenang, tapi ada sesuatu di dalamnya yang tidak pernah benar-benar tenang.
Namanya Bintang.
Usianya dua puluh empat tahun. Kulitnya sawo matang karena terik matahari. Tangannya kasar karena tali dan jala. Rambutnya hitam, sedikit panjang, selalu tertiup angin laut. Ia tidak banyak bicara. Kata orang, ia lebih nyaman bersama laut daripada bersama manusia.
Tapi laut tidak pernah menjawab.
Hari itu, Bintang melihat sesuatu yang membuat darahnya mendidih. Di kejauhan, sebuah kapal besar—bukan kapal nelayan—berlayar di perairan mereka. Kapal itu menarik jaring raksasa. Pukat harimau. Ikan-ikan kecil, ikan-ikan muda, semuanya terjaring. Tidak ada yang tersisa.
Bintang berdiri. Tangannya mengepal. Ia ingin berteriak. Ia ingin melompat ke laut. Ia ingin menghentikan kapal itu.
Tapi ia tidak bisa.
"Kau di sini lagi."
Bintang menoleh. Pak Harun berdiri di belakangnya. Punggungnya bungkuk, rambutnya putih semua, tapi matanya masih tajam. Di tangannya, sebatang rokok. Asapnya melayang ke langit.
"Pak," kata Bintang. "Kapal itu... lagi."
Pak Harun duduk di samping Bintang. Ia menatap kapal itu. Matanya... jauh.
"Iya," katanya pelan. "Lagi."
"Kenapa kita tidak melakukan sesuatu?"
Pak Harun diam. Ia mengisap rokoknya. Dalam-dalam.
"Karena," jawabnya pelan, "kita sudah mencoba. Dulu. Ayahmu... ia mencoba."
Bintang menoleh. Matanya melebar.
"Ayah?"
Pak Harun mengangguk. Ia membuang puntung rokoknya ke laut. Pelan. Lembut.
"Ayahmu," katanya pelan, "adalah orang yang paling berani di kampung ini. Ia mencoba menghentikan kapal-kapal itu. Ia mencoba melindungi laut ini. Tapi..."
"Tapi apa?"
Pak Harun menatap Bintang. Matanya... basah.
"Tapi ia... tidak kembali."
Bintang terdiam. Hatinya berdebar. Ia menatap Pak Harun lama. Lalu ia menunduk.
"Pak," katanya pelan. "Apa yang Ayah cari dulu?"
Pak Harun diam. Ia menatap laut. Matanya jauh.
"Ayahmu mencari sesuatu yang tidak bisa ditemukan oleh orang yang tidak siap," katanya pelan. "Sesuatu yang bahkan aku tidak berani menyebutnya."
"Apa?"
Pak Harun menoleh pada Bintang. Tatapannya dalam.
"Bintang terakhir," katanya. "Di langit senja."
Bintang terdiam. Kata-kata itu terasa aneh, tapi juga akrab. Seperti sesuatu yang pernah ia dengar, entah kapan, entah di mana.
"Apa itu?"
Pak Harun tidak menjawab. Ia berdiri. Ia menatap langit. Jingga. Keemasan.
"Sudah waktunya kau pulang," katanya. "Ibumu menunggu."
Ia berjalan pergi. Langkahnya lambat, tapi pasti. Bintang menatap punggung Pak Harun sampai hilang di balik rumah-rumah panggung.
Lalu ia menoleh lagi ke laut. Matahari sudah setengah tenggelam. Langit berwarna merah keemasan.
Bintang terakhir, batinnya. Apa itu?
Ia tidak tahu. Tapi ada sesuatu di dalam hatinya yang bergetar. Seperti senar gitar yang dipetik pelan.
Ia berdiri. Ia melangkah pulang.
Rumah Bintang berdiri di ujung kampung. Rumah panggung kecil, terbuat dari kayu, dengan atap seng yang sudah berkarat. Di terasnya, seorang perempuan paruh baya duduk menjahit jala. Rambutnya sudah mulai beruban. Wajahnya keras, tapi matanya lelah.
Ratna.
Ibunya Bintang.
"Kau terlambat," katanya tanpa menoleh.
"Maaf, Bu," jawab Bintang. Ia duduk di samping ibunya. "Tadi saya di dermaga."
"Sendiri lagi?"
"Dengan Pak Harun."
Ratna berhenti menjahit. Ia menoleh pada Bintang. Tatapannya tajam.
"Apa yang dia katakan?"
Bintang diam. Ia tahu ibunya tidak suka ia dekat dengan Pak Harun.
"Tidak ada," jawabnya. "Hanya cerita lama."
Ratna menatapnya lama. Lalu ia kembali menjahit.
"Jangan dengar cerita lama," katanya pelan. "Cerita lama hanya membawa luka."
Bintang tidak menjawab. Ia masuk ke dalam rumah. Di dapur, adiknya, Dewi, sedang memasak. Gadis itu berusia delapan belas tahun. Wajahnya cerah, senyumnya mudah.
"Kak," kata Dewi. "Kau lapar?"
"Sedikit," jawab Bintang. Ia duduk di kursi kayu.
Dewi meletakkan sepiring nasi dan ikan bakar di hadapannya. Bintang makan perlahan. Dewi duduk di seberangnya, memandang kakaknya.
"Kak," katanya. "Kau kenapa?"
"Kenapa apa?"
"Kau kelihatan sedih."
Bintang tersenyum tipis. Adiknya selalu bisa membaca perasaannya.
"Tidak apa-apa," katanya. "Hanya lelah."
Dewi tidak percaya. Tapi ia tidak mendesak. Ia tahu kakaknya tidak suka dipaksa.
"Kak," katanya lagi. "Tadi ada kabar dari pasar. Kapal besar datang lagi."
Bintang berhenti makan. Ia menoleh pada adiknya.
"Kapan?"
"Siang tadi. Mereka menangkap ikan di perairan kita. Nelayan-nelayan marah."
Bintang diam. Ia menatap piringnya. Ikan bakar itu terasa hambar.
"Pak Darma bilang, kita harus protes," lanjut Dewi. "Tapi Pak Harun bilang, kita harus sabar."
"Pak Harun benar," kata Bintang pelan. "Protes tidak akan mengubah apa pun."
"Jadi kita diam saja?"
Bintang menoleh pada adiknya. Matanya tajam.
"Tidak," katanya. "Kita tidak diam. Tapi kita juga tidak boleh gegabah."
Dewi mengangguk. Ia percaya pada kakaknya.
Mereka melanjutkan makan dalam diam. Di luar, langit semakin gelap. Ombak memecah di bawah rumah panggung. Angin bertiup pelan.
Malam itu, Bintang tidak bisa tidur. Ia keluar dari rumah, berjalan ke dermaga. Langit malam penuh bintang. Bulan sabit menggantung di ujung langit, seperti senyum tipis.
Ia duduk di dermaga tua. Ia menatap laut. Gelap. Hanya pantulan bulan di permukaan air.
Lalu ia melihatnya.
Sebuah kapal. Bukan kapal nelayan. Kapal putih, besar, dengan lampu-lampu terang. Kapal itu merapat ke dermaga kampung sebelah.
Bintang berdiri. Ia mengerutkan kening. Kapal seperti itu tidak pernah datang ke Tanjung Senja.
Ia melihat seseorang turun dari kapal. Seorang perempuan. Ia tidak bisa melihat wajahnya dari jauh. Tapi ia bisa melihat tas besar yang dibawanya. Dan langkahnya yang tegap, seperti orang yang tahu ke mana ia pergi.
Perempuan itu berjalan ke arah kampung. Ia menghilang di balik rumah-rumah panggung.
Bintang berdiri di dermaga. Hatinya berdebar. Ia tidak tahu mengapa.
Ia menatap langit. Bintang-bintang bersinar terang. Salah satunya lebih terang dari yang lain. Di ujung langit senja yang sudah lama pergi.
Bintang terakhir, batinnya.
Ia menggeleng. Ia merasa bodoh. Ia terlalu memikirkan kata-kata Pak Harun.
Ia kembali ke rumah. Ia berbaring di dipan kayu. Matanya belum mau terpejam. Pikirannya melayang pada perempuan yang turun dari kapal tadi.
Siapa dia?
Ia tidak tahu. Tapi ada sesuatu di dalam hatinya yang berbisik: kau akan segera mengetahuinya.
Bintang menutup mata. Ombak memecah di bawah rumah. Angin bertiup pelan. Dan akhirnya, ia tertidur.
Di luar, langit senja telah lama pergi. Tapi bintang-bintang masih bersinar. Dan salah satunya, yang paling terang, menunggu untuk ditemukan.
BAB 2
PEREMPUAN DARI KOTA
Pagi di Tanjung Senja selalu dimulai dengan suara ombak dan aroma garam. Matahari baru saja muncul di ufuk timur, memantulkan cahaya keemasan di permukaan laut. Nelayan-nelayan sudah turun ke perahu sejak subuh. Perempuan-perempuan mulai menjemur ikan. Anak-anak berlarian ke sekolah.
Tapi pagi ini berbeda.
Sebuah kapal putih masih merapat di dermaga kampung sebelah. Kapal itu tidak bergerak sejak semalam. Lampu-lampunya masih menyala. Dan seorang perempuan berdiri di atas dek, memandang ke arah Tanjung Senja.
Senja.
Ia memakai kemeja putih lengan panjang, celana kain warna khaki, dan topi lebar. Tas ransel besar tersampir di punggungnya. Di tangannya, sebuah buku catatan tebal dan kamera tua.
Ia menatap kampung itu lama. Matanya menyapu setiap rumah panggung, setiap jembatan kayu, setiap para-para tempat ikan dijemur. Ada sesuatu di wajahnya—bukan sekadar rasa ingin tahu seorang peneliti. Ada kerinduan yang tidak ia mengerti.
"Kampung ini kecil," katanya pelan pada dirinya sendiri. "Tapi ada sesuatu di sini."
Ia turun dari kapal. Kakinya menginjak dermaga kayu yang basah. Ia berjalan pelan, menyerap setiap detail. Aroma garam, suara ombak, jeritan burung camar. Semua terasa akrab, meski ia belum pernah ke sini.
Ia berhenti di ujung dermaga. Ia menatap laut. Langit pagi berwarna biru muda, bersih tanpa awan. Di kejauhan, perahu-perahu nelayan bergoyang pelan.
"Permisi."
Senja menoleh. Seorang lelaki tua berdiri di belakangnya. Punggungnya bungkuk, rambutnya putih, tapi matanya tajam. Ia memakai sarung dan baju lengan panjang. Di tangannya, sebatang rokok.
"Selamat pagi," kata Senja sopan. "Apakah ini Kampung Tanjung Senja?"
Lelaki tua itu mengangguk. Ia menatap Senja lama. Tatapannya aneh—seperti orang yang sedang mengingat sesuatu. Wajah Senja. Matanya. Senyumnya.
"Ya," jawabnya. "Ini Tanjung Senja. Kau siapa?"
"Nama saya Senja," jawabnya. "Saya peneliti budaya dari kota. Saya datang untuk meneliti nyanyian adat yang katanya hampir punah."
Lelaki tua itu diam. Rokoknya hampir habis. Ia menatap Senja seperti sedang mencari sesuatu di wajahnya.
"Nyanyian adat?" katanya pelan. "Siapa yang bilang ada nyanyian adat di sini?"
"Saya mendapat informasi dari arsip daerah," jawab Senja. "Katanya di Tanjung Senja ada nyanyian leluhur yang disebut Nyanyian Bintang. Tapi tidak ada yang tahu siapa penjaganya sekarang."
Lelaki tua itu tersenyum tipis. Tapi senyumnya tidak sampai ke mata.
"Kau datang jauh-jauh hanya untuk nyanyian?"
"Iya," jawab Senja. "Saya percaya nyanyian itu penting. Bukan hanya untuk penelitian, tapi untuk kampung ini sendiri."
Lelaki tua itu menatapnya lama. Lalu ia mengangguk.
"Namaku Harun," katanya. "Orang-orang memanggilku Pak Harun. Aku tetua kampung ini."
"Senang bertemu dengan Bapak," kata Senja.
Pak Harun membuang puntung rokoknya. Ia menoleh ke arah kampung.
"Kau butuh tempat tinggal?"
"Iya," jawab Senja. "Saya belum memesan penginapan."
Pak Harun mengangguk. "Kau bisa tinggal di rumahku. Tidak besar, tapi cukup."
Senja tersenyum. "Terima kasih, Pak."
Pak Harun berjalan pelan. Senja mengikutinya. Mereka menyusuri jembatan kayu, melewati rumah-rumah panggung. Warga yang melihat mereka menatap aneh. Seorang perempuan asing berjalan bersama Pak Harun. Itu bukan pemandangan biasa.
"Pak," kata Senja di tengah jalan. "Kenapa warga menatap saya seperti itu?"
Pak Harun tidak menoleh. "Karena kau orang asing," jawabnya. "Di kampung kecil, orang asing selalu dicurigai."
"Apakah saya tidak boleh di sini?"
Pak Harun berhenti. Ia menoleh pada Senja. Tatapannya dalam.
"Kau boleh di sini," katanya. "Tapi kau harus tahu satu hal."
"Apa?"
"Di kampung ini, ada hal-hal yang tidak bisa dijelaskan dengan logika. Ada hal-hal yang hanya bisa dipahami dengan hati."
Senja terdiam. Ia menatap Pak Harun. Ada sesuatu di mata lelaki tua itu—sesuatu yang membuatnya percaya.
"Saya mengerti," katanya pelan.
Pak Harun mengangguk. Ia melanjutkan langkahnya.
Senja mengikutinya. Hatinya berdebar. Ia tidak tahu apa yang menantinya di kampung ini. Tapi ada sesuatu di dalam dirinya yang berkata: kau berada di tempat yang benar.
Rumah Pak Harun berdiri di tengah kampung. Rumah panggung yang lebih besar dari rumah-rumah lain. Di terasnya, ada kursi kayu dan meja kecil. Di dindingnya, tergantung foto-foto lama. Di sudut ruangan, ada lemari kayu tua yang terkunci.
"Kau bisa tidur di kamar belakang," kata Pak Harun. "Dapur ada di samping. Air sumur ada di belakang."
Senja meletakkan tasnya. Ia melihat sekeliling. Rumah itu sederhana, tapi hangat. Ada aroma kayu dan rempah. Ada ketenangan yang tidak ia temukan di kota.
"Pak," kata Senja. "Boleh saya bertanya?"
"Silakan."
"Apakah Bapak tahu siapa penjaga Nyanyian Bintang sekarang?"
Pak Harun diam. Ia duduk di kursi kayu. Ia menatap Senja lama. Di matanya, ada sesuatu—keraguan. Ketakutan.
"Kenapa kau ingin tahu?"
"Karena saya ingin belajar," jawab Senja. "Saya ingin memahami maknanya. Bukan hanya untuk penelitian, tapi untuk diri saya sendiri."
Pak Harun tersenyum tipis. "Kau ini aneh," katanya. "Peneliti biasanya datang untuk data, bukan untuk memahami."
Senja tersenyum. "Saya bukan peneliti biasa, Pak."
Pak Harun mengangguk. Ia mengeluarkan rokok, menyalakannya. Asapnya melayang ke langit-langit.
"Penjaga Nyanyian Bintang terakhir adalah Surya," katanya pelan. "Ayah dari seorang pemuda bernama Bintang."
Senja mengerutkan kening. "Surya? Ayah Bintang?"
"Iya. Tapi Surya sudah meninggal. Tenggelam di laut, sepuluh tahun yang lalu."
Senja terdiam. Ia menatap Pak Harun. Ada sesuatu di mata lelaki tua itu—kesedihan yang dalam.
"Jadi... nyanyian itu hilang?"
Pak Harun menggeleng. "Tidak hilang. Tapi belum diwariskan."
"Kenapa?"
"Karena Bintang belum siap."
Senja diam. Ia menatap lantai kayu. Pikirannya melayang. Bintang. Pemuda yang kehilangan ayahnya. Pemuda yang belum siap mewarisi nyanyian leluhur.
"Pak," katanya pelan. "Boleh saya bertemu dengan Bintang?"
Pak Harun menatapnya lama. Lalu ia mengangguk.
"Nanti sore," katanya. "Dia selalu duduk di dermaga tua setiap senja."
Senja mengangguk. Hatinya berdebar. Ia tidak tahu mengapa. Tapi ada sesuatu di dalam dirinya yang berkata: kau akan segera bertemu dengannya.
Sore itu, Senja berjalan ke dermaga tua. Ia memakai kemeja putih dan celana kain. Rambutnya diikat ekor kuda. Di tangannya, buku catatan dan kamera.
Dermaga itu sepi. Hanya ada seorang pemuda yang duduk bersila di ujung, memandang laut. Punggungnya tegap. Rambutnya hitam, sedikit panjang. Ia tidak bergerak. Seperti patung.
Senja berhenti. Ia menatap pemuda itu lama. Ada sesuatu di dalam hatinya yang bergetar. Seperti senar gitar yang dipetik pelan.
Ia melangkah pelan. Ia duduk di samping pemuda itu. Ia tidak bicara. Ia hanya memandang laut.
Pemuda itu menoleh. Matanya tenang, tapi ada sesuatu di dalamnya yang tidak pernah benar-benar tenang.
"Kau orang baru," katanya pendek.
Senja mengangguk. "Iya. Nama saya Senja."
Pemuda itu menatapnya lama. Lalu ia mengangguk.
"Bintang," katanya.
Mereka duduk diam. Angin laut bertiup. Ombak memecah di bawah dermaga. Matahari mulai tenggelam. Langit berwarna jingga keemasan.
"Kau suka senja?" tanya Bintang tiba-tiba.
Senja menoleh. Ia tersenyum tipis. "Iya. Kenapa?"
"Tidak apa-apa," jawab Bintang. "Hanya... namamu senja. Dan kau datang saat senja."
Senja terdiam. Ia menatap langit. Bintang pertama muncul di ujung senja. Kecil, tapi terang.
"Kau tahu," kata Senja pelan. "Aku datang ke sini untuk mencari nyanyian yang hilang."
Bintang menoleh. Matanya tajam.
"Nyanyian apa?"
"Nyanyian Bintang," jawab Senja. "Nyanyian leluhur yang katanya hampir punah."
Bintang diam. Ia menatap laut. Wajahnya keras.
"Kau salah orang," katanya pendek. "Tidak ada nyanyian di sini."
Ia berdiri. Ia berjalan pergi. Langkahnya cepat, seperti orang yang sedang melarikan diri.
Senja menatap punggung Bintang sampai hilang di balik rumah-rumah panggung. Hatinya berdebar. Ia tidak tahu mengapa. Tapi ada sesuatu di dalam dirinya yang berkata: dia menyimpan sesuatu.
Senja menoleh lagi ke laut. Matahari sudah setengah tenggelam. Langit berwarna merah keemasan. Bintang pertama semakin terang.
"Bintang," bisiknya pelan. "Kenapa kau takut pada nyanyian itu?"
Ia tidak tahu. Tapi ia akan mengetahuinya. Perlahan. Seperti senja yang menunggu bintang.
Bintang berjalan cepat. Ia tidak menoleh. Ia tidak ingin melihat perempuan itu lagi. Perempuan dari kota. Perempuan yang bertanya tentang nyanyian. Perempuan yang membawa luka lama.
Ia berhenti di depan rumahnya. Ia menghela napas. Ia membuka pintu. Ratna duduk di ruang tengah, menjahit jala.
"Kau kenapa?" tanya Ratna tanpa menoleh.
"Tidak apa-apa," jawab Bintang pendek.
"Kau kelihatan marah."
Bintang diam. Ia duduk di kursi kayu. Ia menatap lantai.
"Bu," katanya pelan. "Ada orang baru di kampung. Seorang perempuan. Dia bertanya tentang nyanyian."
Ratna berhenti menjahit. Ia menoleh pada Bintang. Tatapannya tajam.
"Nyanyian apa?"
"Nyanyian Bintang."
Ratna diam. Wajahnya keras. Ia menatap Bintang lama. Lalu ia kembali menjahit.
"Jangan dekat-dekat dengan orang itu," katanya pelan.
"Kenapa?"
"Karena dia akan membawa masalah."
Bintang diam. Ia menatap ibunya. Ada sesuatu di mata Ratna—ketakutan yang dalam.
"Bu," katanya pelan. "Apa yang Ibu sembunyikan?"
Ratna tidak menjawab. Ia terus menjahit. Tapi tangannya gemetar.
Bintang berdiri. Ia masuk ke kamarnya. Ia berbaring di dipan kayu. Matanya belum mau terpejam. Pikirannya melayang pada perempuan itu.
Senja.
Ia menggeleng. Ia tidak ingin memikirkan perempuan itu. Tapi ada sesuatu di dalam hatinya yang tidak bisa ia bohongi.
Ia menutup mata. Ombak memecah di bawah rumah. Angin bertiup pelan. Dan akhirnya, ia tertidur.
Di luar, langit senja telah lama pergi. Tapi bintang-bintang masih bersinar. Dan salah satunya, yang paling terang, menunggu untuk ditemukan.
BAB 3
DERMAGA TUA
Tiga hari berlalu sejak pertemuan pertama di dermaga tua. Bintang tidak kembali ke sana. Ia sengaja menghindar. Ia melaut lebih pagi, pulang lebih larut. Ia tidak ingin bertemu perempuan itu lagi.
Tapi dermaga tua selalu memanggilnya.
Sore ini, Bintang berdiri di ujung dermaga. Ia tidak duduk. Ia hanya berdiri, memandang laut. Angin bertiup kencang. Ombak lebih tinggi dari biasanya. Langit berwarna kelabu, seperti akan hujan.
Ia menghela napas. Ia tahu ia tidak bisa menghindar selamanya.
"Kau kembali."
Bintang menoleh. Senja berdiri di belakangnya. Ia memakai jaket tipis warna biru laut. Rambutnya tertiup angin. Di tangannya, buku catatan yang sama.
"Kau yang kembali," jawab Bintang pendek.
Senja tersenyum tipis. Ia melangkah pelan, berdiri di samping Bintang. Ia tidak duduk. Ia hanya berdiri, memandang laut.
"Aku datang ke sini setiap sore," kata Senja. "Tapi kau tidak pernah ada."
"Aku sibuk."
"Sibuk menghindar?"
Bintang menoleh. Matanya tajam. Tapi Senja tidak mundur. Ia menatap Bintang dengan tenang.
"Kenapa kau ingin sekali tahu tentang nyanyian itu?" tanya Bintang.
Senja diam. Ia menatap laut. Angin bertiup. Ombak memecah di bawah dermaga.
"Karena aku pernah mendengarnya," jawab Senja pelan.
Bintang mengerutkan kening. "Kau pernah mendengarnya? Di mana?"
"Di rumah nenekku," jawab Senja. "Waktu aku kecil. Sebelum nenekku meninggal."
Bintang diam. Ia menatap Senja lama.
"Siapa nama nenekmu?"
Senja menoleh. Tatapannya dalam.
"Nyi Rukmi," jawabnya.
Bintang terdiam. Wajahnya berubah. Ia mundur selangkah. Matanya melebar.
"Nyi Rukmi?" katanya pelan. "Nenekmu... Nyi Rukmi?"
Senja mengangguk. "Kau kenal?"
Bintang tidak menjawab. Ia menoleh ke laut. Tangannya mengepal. Rahangnya mengeras.
"Bintang," kata Senja pelan. "Apa kau kenal nenekku?"
Bintang menghela napas. Ia menatap langit. Awan kelabu semakin tebal. Angin semakin kencang.
"Ayahku pernah bercerita," katanya pelan. "Tentang seorang perempuan yang meninggalkan kampung ini. Perempuan yang membawa separuh nyanyian."
Senja terdiam. Ia menatap Bintang. Hatinya berdebar.
"Separuh nyanyian?"
Bintang menoleh. Tatapannya dalam.
"Nyanyian Bintang terdiri dari dua bagian," katanya. "Satu bagian dijaga oleh ayahku. Satu bagian lagi... dibawa pergi oleh Nyi Rukmi."
Senja menutup mulutnya. Matanya basah. Ia tidak menyangka.
"Jadi... nenekku..."
"Iya," kata Bintang. "Nenekmu adalah penjaga separuh nyanyian itu. Dan ayahku... penjaga separuh lainnya."
Mereka terdiam. Angin bertiup. Ombak memecah. Langit semakin gelap.
"Bintang," kata Senja akhirnya. "Apa kau tahu kenapa Nyi Rukmi pergi?"
Bintang menggeleng. "Ayahku tidak pernah bercerita sampai selesai. Ia meninggal sebelum sempat."
Senja menatap Bintang. Ada sesuatu di mata pemuda itu—luka yang dalam.
"Aku ikut prihatin," katanya pelan.
Bintang tidak menjawab. Ia menoleh ke laut. Hujan mulai turun. Gerimis halus, seperti kabut.
"Kau sebaiknya pulang," kata Bintang. "Hujan akan deras."
"Aku tidak takut hujan," jawab Senja.
Bintang menoleh. Ia menatap Senja lama. Ada sesuatu di mata perempuan itu—keteguhan yang tenang.
"Kau keras kepala," katanya.
"Kau juga," jawab Senja.
Mereka terdiam. Lalu Bintang tersenyum tipis. Senyum pertama yang ia berikan pada Senja.
"Baiklah," katanya. "Kalau kau tidak takut hujan, duduklah."
Ia duduk di dermaga. Senja duduk di sampingnya. Hujan turun perlahan. Mereka duduk diam, memandang laut. Tidak ada yang bicara. Tapi ada sesuatu di antara mereka—keheningan yang hangat.
"Bintang," kata Senja akhirnya. "Apa kau pernah dengar nyanyian itu?"
Bintang diam. Ia menatap laut. Hujan membasahi wajahnya.
"Pernah," jawabnya pelan. "Waktu aku kecil. Ayahku menyanyikannya setiap senja."
"Kau ingat?"
Bintang mengangguk. "Sedikit. Tapi aku tidak berani menyanyikannya."
"Kenapa?"
Bintang menoleh. Tatapannya dalam. Ada kesedihan yang lama terpendam.
"Karena setiap kali aku mencoba," katanya pelan, "aku ingat ayahku. Dan aku... tidak sanggup."
Senja menatap Bintang. Hatinya terasa berat. Ia ingin meraih tangan pemuda itu. Tapi ia tidak berani.
"Bintang," katanya pelan. "Ayahmu meninggal karena nyanyian itu?"
Bintang tidak menjawab. Ia menoleh ke laut. Hujan semakin deras. Ombak semakin tinggi.
"Aku tidak tahu," jawabnya akhirnya. "Aku tidak tahu apa yang ayahku cari. Aku tidak tahu kenapa ia pergi. Aku hanya tahu... ia tidak kembali."
Senja diam. Ia menatap Bintang. Ada sesuatu di mata pemuda itu—luka yang belum sembuh.
"Aku ikut prihatin," katanya pelan.
Bintang mengangguk. Ia tidak bicara. Mereka duduk diam. Hujan turun. Angin bertiup. Ombak memecah. Tapi mereka tidak bergerak. Mereka duduk di sana, di dermaga tua, di bawah hujan, seperti dua orang yang sedang menunggu sesuatu yang tidak mereka mengerti.
"Senja," kata Bintang akhirnya.
"Ya?"
"Kenapa kau datang ke sini?"
Senja menoleh. Ia menatap Bintang. Ada sesuatu di mata pemuda itu—kerinduan yang dalam.
"Aku datang karena aku merasa ada sesuatu yang hilang," jawab Senja pelan. "Sesuatu yang tidak bisa aku temukan di kota. Sesuatu yang... membuatku merasa utuh."
Bintang menatapnya lama. Lalu ia mengangguk.
"Aku mengerti," katanya pelan.
Mereka kembali diam. Hujan mulai reda. Langit di ujung barat mulai terbuka. Semburat jingga muncul di antara awan kelabu. Senja yang tersembunyi di balik hujan.
"Bintang," kata Senja pelan. "Apa kau mau mengajariku nyanyian itu?"
Bintang menoleh. Tatapannya dalam. Ia diam lama.
"Aku tidak bisa," jawabnya akhirnya. "Belum."
"Kenapa?"
"Karena aku belum siap," jawab Bintang. "Dan kau... kau belum siap."
Senja mengerutkan kening. "Apa maksudmu?"
Bintang berdiri. Ia menatap langit. Semburat jingga semakin terang. Senja yang tersembunyi di balik hujan.
"Nyanyian itu bukan sekadar lagu," katanya pelan. "Nyanyian itu adalah doa. Dan doa... hanya bisa diajarkan oleh orang yang hatinya sudah bersih."
Ia menoleh pada Senja. Tatapannya dalam.
"Aku belum bersih," katanya. "Dan kau... kau belum menemukan apa yang kau cari."
Senja terdiam. Ia menatap Bintang. Ada sesuatu di mata pemuda itu—kebijaksanaan yang lahir dari luka.
"Bintang," katanya pelan. "Apa yang kau cari?"
Bintang tidak menjawab. Ia menoleh ke laut. Hujan telah berhenti. Langit di ujung barat berwarna jingga keemasan. Bintang pertama muncul di ujung senja.
"Aku mencari sesuatu yang tidak aku mengerti," jawabnya pelan. "Sesuatu yang ayahku cari. Sesuatu yang... disebut Bintang Terakhir."
Senja menatap Bintang. Hatinya berdebar. Ia tidak tahu apa itu. Tapi ada sesuatu di dalam dirinya yang berkata: aku juga mencarinya.
"Bintang," katanya pelan. "Apa kau mau mencarinya bersamaku?"
Bintang menoleh. Ia menatap Senja lama. Ada sesuatu di mata perempuan itu—keteguhan, kehangatan, dan... kerinduan.
Ia mengangguk pelan.
"Baiklah," katanya. "Tapi kau harus siap."
"Siap untuk apa?"
Bintang menatap langit. Bintang pertama semakin terang. Di ujung senja yang tersembunyi di balik hujan.
"Siap untuk kehilangan," jawabnya pelan.
Senja terdiam. Ia menatap Bintang. Ada sesuatu di mata pemuda itu—kesedihan yang dalam. Tapi juga... harapan.
Mereka duduk diam di dermaga tua. Langit senja berwarna jingga keemasan. Bintang pertama bersinar terang. Hujan telah pergi. Dan di antara mereka, ada sesuatu yang mulai tumbuh. Sesuatu yang tidak mereka mengerti. Sesuatu yang... seperti benih.
Benih cinta.
Di ujung senja.
Bintang berjalan pulang. Langit sudah gelap. Bintang-bintang bersinar terang. Ia membuka pintu rumah. Ratna duduk di ruang tengah, menjahit jala. Ia menoleh pada Bintang. Tatapannya tajam.
"Kau dari mana?"
"Dermaga," jawab Bintang pendek.
"Sendiri?"
Bintang diam. Ia tidak ingin berbohong. Tapi ia juga tidak ingin membuat ibunya marah.
"Dengan Senja," jawabnya pelan.
Ratna berhenti menjahit. Ia menatap Bintang lama. Wajahnya keras.
"Aku sudah bilang," katanya pelan. "Jangan dekat-dekat dengan perempuan itu."
"Kenapa, Bu?"
"Karena dia akan membawa masalah."
"Masalah apa?"
Ratna diam. Ia menatap Bintang. Ada sesuatu di mata perempuan itu—ketakutan yang dalam.
"Kau tidak tahu," katanya pelan. "Kau tidak tahu apa yang terjadi dulu."
"Kalau begitu, ceritakan," kata Bintang. "Aku sudah dewasa, Bu. Aku berhak tahu."
Ratna menatap Bintang lama. Lalu ia menunduk. Tangannya gemetar.
"Ayahmu meninggal karena nyanyian itu," katanya pelan. "Dan aku... aku tidak ingin kau mengalami hal yang sama."
Bintang terdiam. Ia menatap ibunya. Ada sesuatu di mata perempuan itu—luka yang lama terpendam.
"Bu," katanya pelan. "Aku bukan Ayah."
Ratna menoleh. Matanya basah.
"Kau memang bukan ayahmu," katanya. "Tapi kau mewarisi darahnya. Dan darah itu... darah itu selalu mencari."
Bintang diam. Ia menatap ibunya lama. Lalu ia berlutut di samping kursi Ratna. Ia meraih tangan ibunya.
"Bu," katanya pelan. "Aku tidak akan pergi. Aku hanya ingin tahu."
Ratna menatap Bintang. Air matanya jatuh. Ia meraih wajah anaknya. Tangannya gemetar.
"Aku takut," bisiknya. "Aku takut kehilangan kau juga."
Bintang menatap ibunya. Hatinya berat. Ia tidak tahu apa yang harus ia katakan. Ia hanya bisa memeluk ibunya. Erat.
Di luar, langit gelap. Bintang-bintang bersinar. Dan di dermaga tua, seorang perempuan masih duduk. Ia memandang langit. Ia menunggu. Ia tidak tahu apa yang ia tunggu. Tapi ia menunggu.
Seperti senja yang menunggu bintang.
Seperti hati yang menunggu dijawab.
Seperti doa yang menunggu dikabulkan.
BAB 4
NYANYIAN YANG HILANG
Pagi itu Bintang tidak melaut. Langit masih kelabu, sisa hujan semalam. Ia duduk di teras rumah, memperbaiki jala yang kusut. Tangannya bekerja, tapi pikirannya melayang jauh.
Nyanyian Bintang terdiri dari dua bagian.
Kalimat itu terus berputar di kepalanya. Separuh dijaga ayahnya. Separuh dibawa Nyi Rukmi. Dan kini, kedua penjaga itu sudah tiada. Surya tenggelam di laut. Nyi Rukmi meninggal di kota. Yang tersisa hanyalah dua orang yang belum siap: Bintang dan Senja.
"Kak."
Bintang menoleh. Dewi berdiri di pintu, membawa dua cangkir kopi. Ia duduk di samping kakaknya, menyerahkan satu cangkir.
"Kau tidak melaut?" tanya Dewi.
"Tidak," jawab Bintang pendek. "Jalanya kusut."
Dewi menatap jala di tangan Bintang. Ia tersenyum tipis.
"Jala itu sudah rapi sejak tadi," katanya. "Kau hanya pura-pura sibuk."
Bintang diam. Adiknya selalu bisa membaca dirinya.
"Kak," kata Dewi pelan. "Ada apa?"
Bintang menyeruput kopinya. Ia menatap langit kelabu.
"Dewi," katanya. "Kau pernah dengar Ayah bercerita tentang nyanyian?"
Dewi mengerutkan kening. "Nyanyian? Nyanyian apa?"
"Nyanyian Bintang."
Dewi diam. Ia menatap kakaknya lama.
"Ayah pernah menyanyikannya," katanya pelan. "Waktu kita kecil. Kau masih ingat?"
Bintang mengangguk. "Sedikit."
"Aku ingat," kata Dewi. "Ayah menyanyikannya setiap senja. Di dermaga. Kau duduk di pangkuannya. Aku duduk di sampingnya. Ibu... Ibu hanya diam."
Bintang menoleh. "Ibu diam?"
Dewi mengangguk. "Ibu tidak pernah ikut menyanyi. Ia hanya menatap laut. Wajahnya... sedih."
Bintang diam. Ia menatap cangkir kopinya. Ada sesuatu yang tidak ia mengerti.
"Dewi," katanya pelan. "Apa kau tahu kenapa Ibu tidak suka aku dekat dengan Pak Harun?"
Dewi menggeleng. "Aku tidak tahu. Tapi aku pernah dengar Ibu bicara sendiri. Waktu itu aku masih kecil. Aku tidak sengaja mendengar."
"Apa yang Ibu katakan?"
Dewi diam. Ia menatap kakaknya. Ada keraguan di matanya.
"Dewi," kata Bintang pelan. "Katakan."
Dewi menghela napas. "Ibu berkata... 'Surya, kenapa kau pergi? Kenapa kau tinggalkan aku dengan nyanyian itu?'"
Bintang terdiam. Hatinya berat. Ia menatap langit. Awan kelabu mulai terbuka. Semburat cahaya muncul di ufuk timur.
"Jadi Ibu tahu," katanya pelan. "Ibu tahu tentang nyanyian itu."
Dewi mengangguk. "Sepertinya iya."
Mereka duduk diam. Angin pagi bertiup. Aroma garam bercampur aroma kopi. Di kejauhan, perahu-perahu nelayan mulai kembali ke dermaga.
"Kak," kata Dewi pelan. "Apa kau akan menyanyikan nyanyian itu?"
Bintang diam. Ia menatap langit. Semburat cahaya semakin terang.
"Aku tidak tahu," jawabnya pelan. "Aku belum siap."
"Kapan kau akan siap?"
Bintang menoleh. Ia menatap adiknya. Ada sesuatu di mata gadis itu—kepercayaan yang tulus.
"Aku tidak tahu," jawabnya. "Tapi ada seseorang yang bilang... aku harus bisa mendengar keheningan dulu."
"Siapa?"
Bintang tersenyum tipis. "Ayah."
Dewi diam. Ia menatap kakaknya. Lalu ia meraih tangan Bintang.
"Kak," katanya pelan. "Aku percaya kau bisa."
Bintang menatap adiknya. Hatinya hangat. Ia mengangguk.
"Terima kasih, Dewi."
Siang itu, Bintang berjalan ke rumah Pak Harun. Ia ingin bertanya. Ia ingin tahu. Ia tidak bisa lagi menunggu.
Ia mengetuk pintu. Tidak ada jawaban. Ia mengetuk lagi. Pintu terbuka.
Pak Harun berdiri di ambang pintu. Wajahnya pucat. Matanya merah.
"Pak," kata Bintang. "Maaf mengganggu. Saya ingin bertanya."
Pak Harun menatap Bintang lama. Lalu ia mengangguk. "Masuk."
Bintang masuk. Rumah itu sepi. Di meja, ada foto lama. Foto seorang lelaki muda dengan senyum lebar. Di sampingnya, seorang perempuan dengan rambut panjang. Mereka berdiri di depan dermaga. Di belakang foto itu, tertulis: "Surya dan Rukmi, 1985."
Bintang tertegun. Ia menatap foto itu lama.
"Itu ayahmu," kata Pak Harun pelan. "Dan Nyi Rukmi."
Bintang menoleh. "Pak... mereka bersama?"
Pak Harun duduk di kursi kayu. Ia menghela napas.
"Dulu," katanya pelan. "Mereka adalah sahabat. Murid dari guru yang sama. Penjaga nyanyian."
"Apa yang terjadi?"
Pak Harun diam. Ia menatap foto itu. Matanya jauh.
"Guru mereka meninggal," katanya pelan. "Sebelum meninggal, ia berpesan: Nyanyian Bintang harus dijaga oleh dua orang. Satu laki-laki, satu perempuan. Satu tinggal di kampung, satu mengembara."
"Kenapa?"
"Karena nyanyian itu bukan sekadar lagu," jawab Pak Harun. "Nyanyian itu adalah doa. Doa yang harus dijaga dari dua sisi: sisi akar dan sisi angin. Sisi yang tinggal dan sisi yang pergi."
Bintang terdiam. Ia menatap foto itu.
"Jadi... Ayah tinggal. Nyi Rukmi pergi."
Pak Harun mengangguk. "Iya."
"Kenapa Nyi Rukmi pergi?"
Pak Harun diam. Ia menatap Bintang lama. Ada sesuatu di mata lelaki tua itu—kesedihan yang dalam.
"Karena mereka berselisih," jawabnya pelan. "Tentang cara menjaga nyanyian itu."
"Berselisih bagaimana?"
Pak Harun menghela napas. Ia mengeluarkan rokok, menyalakannya. Asapnya melayang ke langit-langit.
"Ayahmu ingin nyanyian itu diajarkan kepada semua orang," katanya. "Ia percaya nyanyian itu milik semua. Nyi Rukmi tidak setuju. Ia percaya nyanyian itu hanya boleh diajarkan kepada yang dipilih leluhur."
"Jadi mereka bertengkar?"
"Iya," jawab Pak Harun. "Pertengkaran yang panjang. Akhirnya Nyi Rukmi pergi. Ia membawa separuh nyanyian. Ayahmu tinggal. Ia menyimpan separuh lainnya."
Bintang diam. Ia menatap foto itu. Ayahnya masih muda. Tersenyum. Di sampingnya, Nyi Rukmi juga tersenyum. Mereka terlihat bahagia.
"Pak," kata Bintang pelan. "Apa ayah saya meninggal karena mencari Nyi Rukmi?"
Pak Harun diam. Rokoknya hampir habis.
"Ayahmu mencari sesuatu," jawabnya pelan. "Sesuatu yang ia sebut 'Bintang Terakhir'. Ia percaya, jika ia menemukannya, ia bisa menyatukan kembali nyanyian itu."
"Apa itu Bintang Terakhir?"
Pak Harun menatap Bintang lama. Lalu ia berdiri. Ia berjalan ke lemari kayu tua yang terkunci. Ia membuka kunci dengan tangan gemetar. Ia mengeluarkan sebuah buku kulit yang sudah usang.
"Ini buku catatan ayahmu," katanya. "Ia menuliskan semua yang ia ketahui tentang Bintang Terakhir."
Bintang menerima buku itu. Tangannya gemetar. Ia membuka halaman pertama. Tulisan tangan ayahnya. Rapi, tapi miring-miring.
"Pak," kata Bintang pelan. "Kenapa Bapak baru memberikan ini sekarang?"
Pak Harun menatap Bintang. Matanya basah.
"Karena kau belum siap," jawabnya. "Dan sekarang... kau mulai siap."
Bintang menatap buku itu. Ia membuka halaman demi halaman. Ada catatan tentang nyanyian. Ada catatan tentang mimpi. Ada catatan tentang perjalanan. Dan di halaman terakhir, ada tulisan besar:
"Bintang Terakhir bukan tempat. Bintang Terakhir adalah hati yang ikhlas."
Bintang terdiam. Ia menatap tulisan itu lama. Hatinya bergetar.
"Pak," katanya pelan. "Apa maksudnya?"
Pak Harun duduk kembali. Ia menatap Bintang.
"Ayahmu percaya," katanya pelan, "bahwa nyanyian itu bukan sekadar lagu. Nyanyian itu adalah cermin. Ia memantulkan apa yang ada di dalam hati. Jika hati itu kotor, nyanyian itu tidak akan berbunyi. Jika hati itu bersih, nyanyian itu akan terdengar sampai ke langit."
Bintang diam. Ia menatap buku itu.
"Jadi... ayah saya meninggal karena mencari hati yang bersih?"
Pak Harun mengangguk. "Iya."
"Dan ia tidak menemukannya?"
Pak Harun diam. Ia menatap Bintang lama. Lalu ia tersenyum tipis.
"Ia menemukannya," katanya pelan. "Tapi ia tidak sempat kembali."
Bintang menoleh. "Apa maksud Bapak?"
Pak Harun berdiri. Ia berjalan ke jendela. Ia menatap laut. Langit mulai cerah. Ombak tenang.
"Ayahmu meninggal di laut," katanya pelan. "Tapi sebelum meninggal, ia sempat menyanyikan nyanyian itu. Sampai selesai. Sampai utuh."
Bintang terdiam. Matanya basah.
"Nelayan yang menemukannya," lanjut Pak Harun, "bilang wajah ayahmu tenang. Seperti orang yang sedang tidur. Seperti orang yang sudah menemukan apa yang ia cari."
Bintang menunduk. Air matanya jatuh di halaman buku. Ia tidak bicara. Ia hanya diam. Hatinya penuh.
Pak Harun berjalan ke Bintang. Ia meletakkan tangan di pundak pemuda itu.
"Bintang," katanya pelan. "Ayahmu sudah menemukan Bintang Terakhir. Sekarang... giliranmu."
Sore itu, Bintang duduk di dermaga tua. Buku catatan ayahnya ada di pangkuannya. Ia membuka halaman demi halaman. Ia membaca. Ia menangis. Ia tertawa. Ia diam.
Lalu ia mendengar langkah. Ia menoleh. Senja berdiri di belakangnya. Ia memakai jaket tipis. Rambutnya tertiup angin.
"Boleh aku duduk?" tanya Senja.
Bintang mengangguk. Senja duduk di sampingnya. Ia melihat buku di pangkuan Bintang.
"Itu buku ayahmu?"
Bintang mengangguk. "Pak Harun memberikannya."
Senja diam. Ia menatap laut. Matahari mulai tenggelam. Langit berwarna jingga keemasan.
"Bintang," kata Senja pelan. "Apa kau sudah membaca semuanya?"
"Belum," jawab Bintang. "Tapi ada satu hal yang aku mengerti sekarang."
"Apa?"
Bintang menoleh. Ia menatap Senja. Ada sesuatu di mata pemuda itu—ketenangan yang baru.
"Bintang Terakhir bukan tempat," katanya pelan. "Bintang Terakhir adalah hati yang ikhlas."
Senja terdiam. Ia menatap Bintang. Hatinya berdebar.
"Apa kau percaya?" tanya Senja.
Bintang menatap langit. Bintang pertama muncul di ujung senja. Kecil, tapi terang.
"Aku ingin percaya," jawabnya pelan. "Tapi aku belum tahu bagaimana caranya."
Senja menatap Bintang. Ia meraih tangan pemuda itu. Tangannya hangat.
"Kita cari bersama," katanya pelan.
Bintang menoleh. Ia menatap Senja lama. Lalu ia mengangguk.
"Baiklah," katanya. "Kita cari bersama."
Mereka duduk diam di dermaga tua. Langit senja berwarna jingga keemasan. Bintang pertama bersinar terang. Di antara mereka, ada buku catatan ayah. Ada janji. Ada benih cinta yang mulai tumbuh.
Dan di ujung senja, bintang terakhir menunggu untuk ditemukan.
BAB 5
IBU YANG MENYIMPAN LUKA
Malam itu Bintang tidak bisa tidur. Buku catatan ayahnya ada di bawah bantal. Ia sudah membacanya sampai halaman terakhir. Ia sudah menangis. Ia sudah tertawa. Ia sudah diam. Tapi ada satu hal yang belum ia lakukan: bertanya pada ibunya.
Ia bangkit. Ia berjalan ke ruang tengah. Lampu minyak masih menyala. Ratna duduk di kursi kayu, membelakangi pintu. Ia tidak menjahit. Ia hanya duduk. Diam.
"Bu."
Ratna tidak menoleh. "Kau belum tidur?"
"Belum."
Bintang duduk di samping ibunya. Ia menatap wajah perempuan itu. Ada kerutan di sudut matanya. Ada rambut putih di pelipisnya. Ada luka yang tidak terlihat.
"Bu," kata Bintang pelan. "Aku sudah baca buku Ayah."
Ratna diam. Tangannya yang terlipat di pangkuan mulai gemetar.
"Aku tahu tentang Nyi Rukmi," lanjut Bintang. "Aku tahu tentang nyanyian. Aku tahu tentang Bintang Terakhir."
Ratna menoleh. Matanya basah. Tapi ia belum bicara.
"Bu," kata Bintang pelan. "Kenapa Ibu tidak pernah cerita?"
Ratna menatap anaknya lama. Lalu ia menunduk. Air matanya jatuh di pangkuannya.
"Karena Ibu takut," bisiknya.
"Takut apa?"
Ratna menghela napas. Ia meraih tangan Bintang. Tangannya dingin.
"Takut kehilangan kau," jawabnya pelan. "Seperti Ibu kehilangan Ayah."
Bintang diam. Ia menatap ibunya. Hatinya berat.
"Bu," katanya pelan. "Ceritakan. Aku ingin tahu."
Ratna menatap Bintang lama. Lalu ia mengangguk. Ia menatap lampu minyak. Api kecil itu bergoyang-goyang, seperti kenangan yang tidak mau padam.
"Ibu menikah dengan Ayahmu karena dijodohkan," katanya pelan. "Keluarga Ibu adalah keluarga nelayan biasa. Keluarga Ayahmu adalah penjaga nyanyian. Pernikahan kami... bukan karena cinta."
Bintang diam. Ia mendengarkan.
"Tapi Ibu belajar mencintai Ayahmu," lanjut Ratna. "Ia lelaki yang baik. Ia sabar. Ia penyayang. Ia... berbeda dari lelaki lain."
Ratna berhenti. Ia menutup mata. Air matanya jatuh.
"Tapi ada satu hal yang tidak pernah Ibu mengerti," katanya pelan. "Nyanyian itu."
"Kenapa?"
Ratna membuka mata. Ia menatap Bintang.
"Karena nyanyian itu membuat Ayahmu jauh," jawabnya. "Setiap senja, ia pergi ke dermaga. Ia menyanyi. Ia seperti... berada di dunia lain. Dunia yang tidak bisa Ibu masuki."
Bintang diam. Ia menatap ibunya. Ada sesuatu di mata perempuan itu—kesepian yang lama.
"Ibu cemburu," lanjut Ratna pelan. "Ibu cemburu pada nyanyian itu. Ibu cemburu pada Nyi Rukmi. Ibu cemburu pada semua yang membuat Ayahmu bahagia... tapi bukan karena Ibu."
"Bu..."
"Ibu tahu itu salah," kata Ratna. "Tapi Ibu tidak bisa menahan. Setiap kali Ayahmu menyanyi, Ibu merasa... sendiri."
Bintang meraih tangan ibunya. Erat.
"Bu," katanya pelan. "Ayah mencintai Ibu."
Ratna menoleh. Matanya basah.
"Iya," katanya pelan. "Ibu tahu. Tapi cinta saja tidak cukup. Kadang... ada hal-hal yang lebih besar dari cinta."
Bintang diam. Ia menatap ibunya. Ada sesuatu di dalam hatinya yang bergetar.
"Bu," katanya pelan. "Apa Ayah pernah bilang... ia menemukan Bintang Terakhir?"
Ratna diam. Ia menatap lampu minyak. Api itu bergoyang.
"Iya," jawabnya pelan. "Sebelum ia meninggal. Ia bilang... ia sudah menemukannya."
"Apa Ibu percaya?"
Ratna menoleh. Ia menatap Bintang lama. Lalu ia tersenyum tipis. Senyum pertama malam itu.
"Ibu percaya," jawabnya. "Karena wajahnya tenang. Seperti orang yang sudah pulang."
Bintang menunduk. Air matanya jatuh. Ia tidak bicara. Ia hanya menggenggam tangan ibunya. Erat.
"Bintang," kata Ratna pelan. "Ibu tahu kau ingin mencari Bintang Terakhir itu. Ibu tahu kau ingin menyanyikan nyanyian Ayahmu."
Bintang menoleh. "Ibu tidak melarang?"
Ratna menggeleng. "Ibu tidak melarang."
"Kenapa?"
Ratna menatap Bintang. Matanya dalam.
"Karena Ibu sadar," jawabnya pelan. "Kau bukan milik Ibu. Kau milik laut. Kau milik nyanyian itu. Kau milik... sesuatu yang lebih besar dari kami."
Bintang terdiam. Hatinya penuh.
"Bu," katanya pelan. "Aku tidak akan pergi."
Ratna tersenyum. Ia meraih wajah anaknya. Tangannya hangat.
"Kau akan pergi," katanya pelan. "Suatu hari. Dan Ibu akan merelakan."
Bintang menatap ibunya. Ia ingin membantah. Tapi ia tahu, ibunya benar. Ia akan pergi. Suatu hari. Entah kapan.
"Bu," katanya pelan. "Terima kasih."
Ratna mengangguk. Ia memeluk anaknya. Erat. Seperti orang yang sedang menyimpan kenangan untuk masa depan.
Di luar, langit gelap. Bintang-bintang bersinar. Dan di dermaga tua, seorang perempuan masih duduk. Ia memandang langit. Ia menunggu. Ia tidak tahu apa yang ia tunggu. Tapi ia menunggu.
Seperti senja yang menunggu bintang.
Seperti hati yang menunggu dijawab.
Seperti doa yang menunggu dikabulkan.
Pagi berikutnya, Bintang bangun lebih awal. Ia menemukan ibunya sudah di dapur. Ratna sedang memasak. Ia tersenyum pada Bintang. Senyum yang berbeda. Senyum yang lebih ringan.
"Sarapan dulu," katanya. "Kau mau melaut?"
Bintang mengangguk. "Iya."
"Hati-hati," kata Ratna. "Ombak sedang tinggi."
"Iya, Bu."
Bintang duduk di meja. Dewi sudah di sana. Ia menatap kakaknya. Ada sesuatu di matanya—pertanyaan.
"Kak," katanya pelan. "Kau bicara dengan Ibu semalam?"
Bintang mengangguk. "Iya."
"Apa Ibu marah?"
Bintang menggeleng. "Tidak. Ibu... merestui."
Dewi tersenyum. Matanya basah. "Syukurlah."
Mereka sarapan bersama. Kali ini, tidak ada ketegangan. Tidak ada keheningan. Hanya kehangatan. Seperti keluarga yang baru saja menemukan dirinya kembali.
Setelah sarapan, Bintang berjalan ke dermaga. Perahunya sudah siap. Ia mendorong perahu ke laut. Ia menaiki. Ia mulai mendayung.
Di kejauhan, ia melihat Senja berdiri di dermaga tua. Perempuan itu melambaikan tangan. Bintang melambaikan tangan kembali. Ia tersenyum.
Ia mendayung ke tengah laut. Angin bertiup. Ombak bergelombang. Matahari muncul di ufuk timur. Langit berwarna biru muda.
Bintang berhenti mendayung. Ia duduk bersila. Ia menatap langit. Ia menghela napas. Lalu ia mulai menyanyi.
Pelan. Pelan sekali.
"Bintang di langit senja...
Cahaya yang menunggu...
Jawablah doa kami...
Sebelum malam tiba..."
Ia menyanyikan nyanyian ayahnya. Nyanyian yang ia dengar setiap senja. Nyanyian yang ia hafal di luar kepala. Nyanyian yang ia takuti selama sepuluh tahun.
Suaranya serak. Tidak sempurna. Tapi ia menyanyi. Ia menyanyi sampai selesai.
Dan di ujung nyanyian, ia menangis. Bukan karena sedih. Tapi karena lega. Seperti beban yang akhirnya terangkat.
Ia menatap langit. Bintang pertama tidak muncul. Matahari masih tinggi. Tapi ia merasa... ada sesuatu yang bersinar di dalam hatinya.
"Ayah," bisiknya. "Aku mulai mengerti."
Ia mendayung pulang. Perahu itu bergoyang pelan. Angin bertiup. Ombak memecah. Dan di dalam hatinya, ada sesuatu yang baru. Sesuatu yang... seperti benih.
Benih yang mulai tumbuh.
Di ujung senja.
BAB 6
PASAR IKAN
Pagi di Pasar Ikan Tanjung Senja selalu ramai. Para nelayan membawa hasil tangkapan mereka sejak subuh. Perempuan-perempuan menjajakan ikan di atas meja kayu. Anak-anak berlarian di antara keranjang-keranjang. Aroma amis bercampur aroma rempah dan asap dapur. Suara tawar-menawar terdengar di mana-mana.
Bintang membawa dua keranjang ikan. Ia berjalan di antara kerumunan. Ia tidak suka pasar. Terlalu ramai. Terlalu bising. Tapi ia harus menjual ikan. Ia butuh uang untuk memperbaiki perahunya.
"Bintang!"
Ia menoleh. Seorang lelaki gemuk berdiri di depan kiosnya. Wajahnya bulat, kulitnya kuning, matanya kecil. Ia memakai kemeja batik dan topi. Di tangannya, sebatang cerutu.
Pak Darma.
"Ikanmu sedikit," kata Pak Darma. Ia menatap keranjang Bintang dengan mata menyipit.
"Musimnya sedang sulit, Pak," jawab Bintang pendek.
"Sulit?" Pak Darma tertawa. "Sulit itu alasan orang yang tidak bisa bekerja."
Bintang diam. Ia tidak ingin berdebat. Ia meletakkan keranjangnya di meja kosong. Ia mulai menata ikan.
"Bintang," kata Pak Darma. "Kau dengar kabar? Tuan Wijaya datang lagi. Ia ingin membeli tanah di kampung ini. Ia akan membangun resort."
Bintang berhenti menata ikan. Ia menoleh.
"Resort?"
"Iya," jawab Pak Darma. "Resort besar. Hotel. Restoran. Tempat wisata. Kampung ini akan jadi terkenal. Kau bisa kerja di sana. Tidak perlu melaut lagi."
"Saya tidak mau kerja di sana," kata Bintang.
Pak Darma mengerutkan kening. "Kenapa? Kau tidak mau kaya?"
"Saya tidak butuh kaya," jawab Bintang. "Saya butuh laut."
Pak Darma tertawa. Tawanya keras. Beberapa orang menoleh.
"Kau ini bodoh," katanya. "Kau punya kesempatan, tapi kau buang. Kau sama seperti ayahmu. Kepala batu."
Bintang menoleh. Matanya tajam.
"Jangan bawa-bawa ayah saya," katanya pelan.
Pak Darma mengangkat tangan. "Maaf, maaf. Aku hanya bicara jujur."
Ia berjalan pergi. Bintang menatap punggungnya. Tangannya mengepal.
"Bintang."
Ia menoleh. Senja berdiri di sampingnya. Ia memakai kemeja putih dan topi lebar. Di tangannya, kamera.
"Kau dari mana?" tanya Bintang.
"Dari dermaga," jawab Senja. "Aku melihat kau berdebat dengan Pak Darma."
Bintang diam. Ia kembali menata ikan.
"Siapa dia?" tanya Senja.
"Pak Darma," jawab Bintang. "Pedagang ikan terbesar di kampung ini. Ia ingin menjual tanah kampung ke Tuan Wijaya."
"Tuan Wijaya?"
"Investor dari kota," jawab Bintang. "Ia ingin membangun resort di Tanjung Senja."
Senja mengerutkan kening. "Resort? Di kampung ini?"
Bintang mengangguk. "Ia sudah lama mengincar tanah ini. Katanya, kampung ini punya potensi wisata."
Senja diam. Ia menatap Bintang. Ada sesuatu di mata pemuda itu—kekhawatiran.
"Apa kau tidak setuju?" tanya Senja.
"Tidak," jawab Bintang tegas. "Tanah ini tanah leluhur. Tidak bisa dijual."
Senja mengangguk. "Aku setuju."
Bintang menoleh. Ia menatap Senja lama. Lalu ia tersenyum tipis.
"Kau ini aneh," katanya. "Kau orang kota. Tapi kau berpikir seperti orang kampung."
Senja tersenyum. "Mungkin karena aku punya darah kampung."
Bintang terdiam. Ia menatap Senja. Ada sesuatu di mata perempuan itu—kehangatan.
"Senja," katanya pelan. "Apa kau mau ikut aku menjual ikan?"
Senja mengangguk. "Aku ikut."
Mereka berjalan bersama. Bintang menjajakan ikan. Senja membantunya. Mereka bekerja sama. Warga yang melihat mereka menatap aneh. Seorang pemuda kampung berjalan bersama perempuan kota. Itu bukan pemandangan biasa.
"Bintang," kata seorang perempuan tua. "Siapa ini?"
"Ini Senja, Bu," jawab Bintang. "Ia peneliti dari kota."
Perempuan tua itu menatap Senja lama. Lalu ia tersenyum.
"Cantik," katanya. "Kau mau menikah dengannya?"
Bintang tersipu. Senja tertawa.
"Belum, Bu," jawab Bintang.
Perempuan tua itu tertawa. "Dasar anak muda."
Ia berjalan pergi. Bintang dan Senja saling menatap. Lalu mereka tertawa. Tawa yang lepas. Tawa yang hangat.
"Bintang," kata Senja. "Kau tahu? Aku senang di sini."
Bintang menoleh. "Kenapa?"
"Karena di sini... aku merasa hidup," jawab Senja pelan. "Di kota, semuanya sibuk. Semuanya terburu-buru. Tidak ada waktu untuk duduk. Tidak ada waktu untuk... merasakan."
Bintang diam. Ia menatap Senja. Ada sesuatu di mata perempuan itu—kerinduan.
"Senja," katanya pelan. "Apa kau tidak rindu kotamu?"
Senja diam. Ia menatap langit. Biru. Bersih.
"Aku rindu," jawabnya pelan. "Tapi aku juga... tidak ingin pulang."
"Kenapa?"
Senja menoleh. Ia menatap Bintang lama.
"Karena di sini," jawabnya pelan, "aku merasa menemukan sesuatu yang hilang."
Bintang terdiam. Ia menatap Senja. Hatinya berdebar. Ia ingin bertanya. Tapi ia tidak berani.
"Senja," katanya pelan. "Apa yang kau cari?"
Senja menatap Bintang. Ada sesuatu di mata pemuda itu—ketulusan.
"Aku mencari akar," jawabnya pelan. "Aku mencari... diriku sendiri."
Bintang mengangguk. "Aku mengerti."
Mereka kembali bekerja. Menjajakan ikan. Melayani pembeli. Tertawa bersama. Di antara kerumunan pasar, mereka seperti dua orang yang sedang menemukan rumah. Rumah yang bukan bangunan. Tapi hati.
"Bintang!"
Bintang menoleh. Rudi berdiri di depan mereka. Pemuda itu memakai kemeja rapi. Rambutnya disisir. Ia tersenyum. Tapi senyumnya tidak sampai ke mata.
"Rudi," kata Bintang pendek.
Rudi menatap Senja. Matanya menyapu dari atas ke bawah. Ia tersenyum.
"Kau yang dari kota ya?" katanya. "Aku Rudi. Teman Bintang."
Senja mengangguk sopan. "Senja."
"Cantik," kata Rudi. "Apa kau sudah punya pacar?"
Senja mengerutkan kening. "Maaf?"
Bintang melangkah maju. Ia berdiri di antara Rudi dan Senja.
"Rudi," katanya pelan. "Ada apa?"
Rudi mengangkat tangan. "Santai, Bintang. Aku hanya bertanya."
Ia menatap Bintang. Matanya tajam.
"Aku dengar kau menolak tawaran Tuan Wijaya," katanya. "Kenapa? Kau tidak mau kaya?"
"Aku tidak mau tanah leluhur dijual," jawab Bintang tegas.
Rudi tertawa. "Tanah leluhur? Bintang, kita hidup di zaman modern. Tanah itu tidak menghasilkan apa-apa. Kalau dijual, kita bisa kaya. Kita bisa punya rumah bagus. Kita bisa punya mobil."
"Kau mau kaya?" tanya Bintang.
Rudi mengangkat bahu. "Semua orang mau kaya."
"Aku tidak," kata Bintang.
Rudi menatap Bintang lama. Lalu ia menoleh pada Senja.
"Senja," katanya. "Kau orang kota. Kau pasti mengerti. Kampung ini butuh pembangunan. Butuh investor. Butuh perubahan."
Senja menatap Rudi. Matanya tenang.
"Aku mengerti," jawabnya. "Tapi aku juga mengerti bahwa tidak semua perubahan itu baik."
Rudi mengerutkan kening. "Apa maksudmu?"
Senja melangkah maju. Ia berdiri di samping Bintang.
"Aku sudah melihat banyak kampung yang kehilangan identitasnya karena pembangunan," katanya pelan. "Aku tidak ingin Tanjung Senja menjadi seperti itu."
Rudi diam. Ia menatap Senja lama. Lalu ia menoleh pada Bintang. Matanya tajam.
"Kau beruntung," katanya pelan. "Kau punya pembela."
Ia berjalan pergi. Langkahnya cepat. Bintang menatap punggungnya. Ia menghela napas.
"Bintang," kata Senja. "Siapa dia?"
"Rudi," jawab Bintang. "Ia teman masa kecilku. Tapi sekarang... ia berbeda."
"Kenapa?"
Bintang diam. Ia menatap pasar. Kerumunan orang. Suara tawar-menawar. Aroma amis.
"Karena ia ingin kaya," jawab Bintang pelan. "Dan ia tidak peduli apa yang harus ia korbankan."
Senja diam. Ia menatap Bintang. Ada sesuatu di mata pemuda itu—kesedihan.
"Bintang," katanya pelan. "Apa kau tidak takut?"
"Takut apa?"
"Takut kehilangan kampung ini."
Bintang menoleh. Ia menatap Senja lama. Lalu ia tersenyum tipis.
"Aku takut," jawabnya pelan. "Tapi aku tidak akan diam."
Senja mengangguk. Ia meraih tangan Bintang. Erat.
"Aku bersamamu," katanya pelan.
Bintang menatap Senja. Hatinya hangat. Ia mengangguk.
"Terima kasih," katanya pelan.
Mereka berjalan pulang. Pasar mulai sepi. Matahari mulai tinggi. Langit biru. Bersih. Di kejauhan, dermaga tua terlihat. Tempat mereka pertama bertemu. Tempat mereka pertama bicara. Tempat mereka pertama... merasa.
"Bintang," kata Senja di tengah jalan.
"Ya?"
"Apa kau pernah berpikir... tentang masa depan?"
Bintang diam. Ia menatap langit. Biru. Bersih. Tanpa awan.
"Pernah," jawabnya pelan. "Tapi aku tidak tahu apa yang akan terjadi."
"Kau tidak takut?"
Bintang menoleh. Ia menatap Senja. Matanya tenang.
"Aku takut," jawabnya. "Tapi aku percaya... semua akan baik-baik saja."
Senja tersenyum. "Kenapa kau percaya?"
Bintang menatap langit. Bintang pertama tidak muncul. Matahari masih tinggi. Tapi ia merasa... ada sesuatu yang bersinar di dalam hatinya.
"Karena ayahku bilang," jawabnya pelan, "bintang terakhir tidak pernah padam. Ia hanya menunggu untuk ditemukan."
Senja menatap Bintang. Hatinya berdebar. Ia menggenggam tangan pemuda itu. Erat.
Mereka berjalan pulang. Di ujung jalan, dermaga tua menunggu. Di ujung senja, bintang terakhir menunggu. Dan di antara mereka, ada sesuatu yang mulai tumbuh. Sesuatu yang... seperti cinta.
Cinta yang tumbuh di pasar ikan.
Di ujung senja.
BAB 7
BULAN DI ATAS LAUT
Malam itu bulan penuh. Langit bersih tanpa awan. Bintang-bintang bersinar terang, tapi bulan yang paling mencolok. Bulat. Putih. Menggantung di atas laut seperti lampu raksasa yang menerangi dunia.
Bintang duduk di dermaga tua. Ia tidak bisa tidur. Pikirannya penuh. Buku catatan ayahnya ada di pangkuannya. Ia sudah membacanya berkali-kali. Tapi ada satu halaman yang belum ia mengerti. Halaman terakhir. Halaman yang bertuliskan:
"Bintang Terakhir bukan tempat. Bintang Terakhir adalah hati yang ikhlas."
Ia menatap laut. Ombak tenang. Pantulan bulan di permukaan air seperti jalan cahaya yang membentang ke ufuk. Ia menghela napas. Ia menutup buku. Ia menatap langit.
"Ayah," bisiknya. "Apa maksudmu?"
Tidak ada jawaban. Hanya angin. Hanya ombak. Hanya keheningan.
"Bintang."
Ia menoleh. Senja berdiri di belakangnya. Ia memakai jaket tipis dan syal. Rambutnya terurai. Di tangannya, dua cangkir kopi.
"Kau tidak tidur?" tanya Bintang.
"Tidak bisa," jawab Senja. Ia duduk di samping Bintang. Ia menyerahkan satu cangkir. "Aku membuat kopi. Kau mau?"
Bintang menerima cangkir itu. "Terima kasih."
Mereka duduk diam. Menyeruput kopi. Memandang bulan. Memandang laut. Memandang langit. Tidak ada yang bicara. Tapi keheningan itu hangat. Seperti selimut.
"Bintang," kata Senja akhirnya. "Apa kau sering ke sini malam-malam?"
"Iya," jawab Bintang. "Kalau tidak bisa tidur."
"Kenapa?"
Bintang diam. Ia menatap bulan. Bulat. Putih. Terang.
"Karena di sini... aku merasa dekat dengan Ayah," jawabnya pelan. "Ia dulu sering ke sini. Setiap senja. Kadang sampai malam. Ia duduk di sini. Menyanyi. Menatap laut."
Senja menatap Bintang. Ada sesuatu di mata pemuda itu—kerinduan.
"Kau merindukannya," kata Senja pelan.
Bintang mengangguk. "Iya."
"Apa yang paling kau rindukan?"
Bintang diam. Ia menatap bulan. Bulat. Putih. Terang.
"Suaranya," jawabnya pelan. "Waktu ia menyanyi. Suaranya... tenang. Seperti ombak. Seperti angin. Seperti... rumah."
Senja menatap Bintang. Hatinya berat. Ia ingin meraih tangan pemuda itu. Tapi ia tidak berani.
"Bintang," katanya pelan. "Apa kau ingat nyanyian itu?"
Bintang mengangguk. "Sedikit. Aku sudah coba menyanyikannya. Pagi tadi. Di laut."
Senja menoleh. Matanya melebar.
"Kau menyanyikannya?"
Bintang mengangguk. "Iya. Tapi tidak selesai. Aku lupa liriknya."
Senja diam. Ia menatap Bintang. Hatinya berdebar.
"Bintang," katanya pelan. "Aku punya sesuatu."
Ia meraih tas kecilnya. Ia mengeluarkan buku catatan tua. Kulitnya usang. Halamannya menguning.
"Ini buku nenekku," kata Senja. "Aku menemukannya di antara barang-barangnya. Aku baru membacanya kemarin."
Bintang menatap buku itu. Tangannya gemetar.
"Apa isinya?" tanya Bintang.
Senja membuka halaman pertama. Tulisan tangan rapi. Miring-miring. Seperti tulisan ayah Bintang.
"Ini... lirik nyanyian itu," kata Senja pelan. "Separuh yang dibawa nenekku."
Bintang menatap halaman itu. Matanya basah. Ia membaca. Pelan. Kata demi kata.
"Bintang di langit senja...
Cahaya yang menunggu...
Jawablah doa kami...
Sebelum malam tiba...
Bawa kami pulang...
Ke pangkuan ibunda...
Ke dalam pelukan...
Yang tak pernah sirna..."
"Ini... ini lirik yang aku lupa," bisiknya.
Senja mengangguk. "Aku juga punya catatan tentang Bintang Terakhir."
Bintang menoleh. "Apa?"
Senja membuka halaman berikutnya. Ia membaca.
"Bintang Terakhir adalah saat hati menjadi tenang. Saat tidak ada lagi yang ingin dimiliki. Saat tidak ada lagi yang ingin dicapai. Saat hanya ada... syukur."
Bintang terdiam. Ia menatap tulisan itu lama. Hatinya bergetar.
"Syukur," bisiknya.
Senja mengangguk. "Iya. Nenekku menulis: 'Ketika kau bisa bersyukur pada apa yang kau miliki, kau akan menemukan Bintang Terakhir.'"
Bintang menatap bulan. Bulat. Putih. Terang. Ia menghela napas.
"Senja," katanya pelan. "Apa kau sudah menemukan Bintang Terakhirmu?"
Senja diam. Ia menatap bulan. Lalu ia menoleh pada Bintang. Matanya dalam.
"Aku belum tahu," jawabnya pelan. "Tapi sejak aku di sini... aku merasa lebih tenang. Lebih... bersyukur."
Bintang menatap Senja. Hatinya hangat.
"Aku juga," katanya pelan.
Mereka duduk diam. Menyeruput kopi. Memandang bulan. Memandang laut. Memandang langit. Tidak ada yang bicara. Tapi keheningan itu... berbeda. Lebih dalam. Lebih hangat. Lebih... dekat.
"Bintang," kata Senja akhirnya.
"Ya?"
"Apa kau pernah berpikir... tentang kita?"
Bintang menoleh. Matanya bertemu mata Senja.
"Kita?"
Senja mengangguk. Ia menunduk. Pipinya merah.
"Aku tidak tahu," katanya pelan. "Aku hanya... merasa ada sesuatu."
Bintang diam. Ia menatap Senja lama. Bulan menerangi wajah perempuan itu. Ada sesuatu di mata Senja—kehangatan. Kerinduan. Cinta.
"Senja," kata Bintang pelan. "Aku juga merasa ada sesuatu."
Senja menoleh. Matanya basah.
"Apa?"
Bintang menatap Senja. Hatinya berdebar. Ia ingin bicara. Ia ingin mengatakan apa yang ia rasakan. Tapi kata-kata itu... tidak keluar.
"Aku tidak tahu," jawabnya pelan. "Aku hanya... merasa tenang saat kau di sini."
Senja tersenyum. Air matanya jatuh. Ia meraih tangan Bintang. Erat.
"Aku juga," katanya pelan. "Aku merasa tenang saat kau di sini."
Mereka duduk diam. Tangan mereka bertaut. Bulan di atas laut. Bintang-bintang bersinar. Angin bertiup pelan. Ombak memecah di bawah dermaga.
"Bintang," kata Senja pelan. "Apa kau mau... menyanyikan nyanyian itu? Bersamaku?"
Bintang menoleh. Ia menatap Senja lama. Lalu ia mengangguk.
"Baiklah," katanya pelan. "Tapi aku belum hafal semua liriknya."
Senja tersenyum. "Aku bantu."
Ia membuka buku catatan neneknya. Ia mulai membaca. Pelan. Bait demi bait.
Bintang mendengarkan. Ia mengangguk. Ia mulai menyanyi. Pelan. Serak. Tapi ia menyanyi.
Senja ikut menyanyi. Suaranya lembut. Seperti angin. Seperti ombak. Seperti... rumah.
Mereka menyanyi bersama. Di dermaga tua. Di bawah bulan. Di atas laut. Nyanyian leluhur. Nyanyian yang hampir hilang. Nyanyian yang kini... hidup kembali.
Dan di ujung nyanyian, mereka berhenti. Mereka saling menatap. Mata mereka basah. Hati mereka penuh.
"Bintang," bisik Senja.
"Ya?"
"Aku... aku mencintaimu."
Bintang terdiam. Hatinya berdebar. Ia menatap Senja. Bulan menerangi wajah perempuan itu. Ada sesuatu di mata Senja—ketulusan. Keberanian. Cinta.
"Senja," kata Bintang pelan. "Aku juga."
Ia meraih wajah Senja. Pelan. Lembut. Ia menatap mata perempuan itu. Lalu ia mencium keningnya. Pelan. Seperti orang yang sedang menyimpan kenangan.
Senja menutup mata. Air matanya jatuh. Ia tersenyum.
Mereka duduk diam. Tangan bertaut. Bulan di atas laut. Bintang-bintang bersinar. Angin bertiup. Ombak memecah. Dan di antara mereka, ada sesuatu yang... lengkap.
Cinta.
Cinta yang tumbuh di dermaga tua. Di bawah bulan. Di atas laut. Di ujung senja.
"Bintang," kata Senja pelan. "Apa kita akan selalu bersama?"
Bintang menatap Senja. Matanya dalam.
"Aku tidak tahu," jawabnya pelan. "Tapi aku akan berusaha."
Senja mengangguk. Ia menyandarkan kepala di pundak Bintang. Erat.
"Aku juga," katanya pelan. "Aku akan berusaha."
Mereka duduk diam. Menatap bulan. Menatap laut. Menatap langit. Tidak ada yang bicara. Tapi keheningan itu... sempurna.
Seperti bulan di atas laut.
Seperti bintang di ujung senja.
Seperti cinta yang baru saja ditemukan.
Pagi berikutnya, Bintang berjalan pulang. Langit masih gelap. Bintang-bintang masih bersinar. Bulan sudah turun. Ia membuka pintu rumah. Ratna duduk di ruang tengah. Ia tidak tidur. Ia menunggu.
"Kau dari mana?" tanya Ratna.
Bintang diam. Ia menatap ibunya. Lalu ia tersenyum.
"Dari dermaga," jawabnya pelan. "Aku... menyanyi."
Ratna menatap Bintang lama. Lalu ia tersenyum. Senyum yang hangat.
"Bagus," katanya pelan. "Ayahmu pasti bangga."
Bintang menatap ibunya. Hatinya penuh. Ia berjalan mendekat. Ia memeluk ibunya. Erat.
"Bu," bisiknya. "Terima kasih."
Ratna membalas pelukan itu. Ia menutup mata. Air matanya jatuh.
"Kau sudah dewasa, Nak," katanya pelan. "Ibu bangga."
Mereka berdiri di ruang tengah. Berpelukan. Di luar, langit mulai terang. Matahari muncul di ufuk timur. Dan di dermaga tua, seorang perempuan masih duduk. Ia memandang laut. Ia tersenyum. Ia menunggu.
Seperti senja yang menunggu bintang.
Seperti hati yang menunggu dijawab.
Seperti doa yang menunggu dikabulkan.
Dan doa itu... mulai terkabul.
BAGIAN II: CINTA
BAB 8
PELAJARAN PERTAMA
Pagi itu langit biru bersih. Matahari bersinar hangat. Ombak tenang. Angin bertiup pelan. Hari yang sempurna untuk belajar.
Bintang berdiri di depan rumah Pak Harun. Ia memakai kemeja putih lengan panjang dan sarung. Rambutnya disisir rapi. Ia terlihat berbeda. Lebih rapi. Lebih... bersemangat.
Senja keluar dari rumah. Ia memakai kebaya sederhana warna hijau muda. Rambutnya diikat ekor kuda. Di tangannya, buku catatan Nyi Rukmi. Ia tersenyum pada Bintang.
"Kau rapi sekali," kata Senja.
Bintang tersipu. "Kau juga."
Pak Harun muncul di ambang pintu. Ia memakai baju adat. Di tangannya, sebatang dupa yang menyala. Asapnya beraroma cendana.
"Sudah siap?" tanya Pak Harun.
Bintang dan Senja mengangguk.
"Ikuti aku," kata Pak Harun.
Ia berjalan ke belakang rumah. Ada halaman kecil dengan pohon beringin tua. Di bawah pohon itu, ada batu datar. Di atas batu itu, ada sesajen: bunga, kemenyan, dan air putih dalam mangkuk tanah liat.
"Duduk," kata Pak Harun.
Bintang dan Senja duduk bersila di atas tikar pandan. Pak Harun duduk di hadapan mereka. Ia meletakkan dupa di antara mereka. Asapnya membubung ke atas, bercampur dengan udara pagi.
"Hari ini," kata Pak Harun, "kalian akan belajar nyanyian leluhur. Tapi sebelum itu, kalian harus tahu aturannya."
Bintang dan Senja mendengarkan.
"Pertama," kata Pak Harun. "Nyanyian ini bukan lagu. Ini doa. Jadi kalian harus menyanyikannya dengan hati yang bersih."
"Kedua," lanjutnya. "Nyanyian ini terdiri dari dua bagian. Satu bagian dari Surya, satu bagian dari Nyi Rukmi. Kalian harus menyanyikannya bersama. Tidak bisa sendiri."
"Ketiga," kata Pak Harun. "Nyanyian ini hanya boleh diajarkan kepada yang dipilih leluhur. Kalian dipilih. Jangan sia-siakan."
Bintang dan Senja mengangguk.
"Baiklah," kata Pak Harun. "Sekarang, kita mulai."
Ia menutup mata. Ia menarik napas dalam-dalam. Lalu ia mulai menyanyi.
Suaranya serak. Tua. Tapi indah. Seperti ombak yang memecah di batu. Seperti angin yang berbisik di daun. Seperti... rumah.
Bintang dan Senja mendengarkan. Mata mereka basah. Hati mereka bergetar. Nyanyian itu... berbeda. Bukan sekadar lagu. Ada sesuatu di dalamnya. Sesuatu yang... hidup.
Pak Harun berhenti. Ia membuka mata.
"Itu bait pertama," katanya. "Dari Surya. Sekarang, bait kedua. Dari Nyi Rukmi."
Ia menyanyi lagi. Bait kedua. Lebih lembut. Lebih sendu. Seperti perempuan yang menangis di malam hari. Seperti ibu yang menimang anaknya. Seperti... kerinduan.
Bintang dan Senja mendengarkan. Air mata mereka jatuh. Mereka tidak menyeka. Mereka hanya duduk. Diam. Terpaku.
Pak Harun berhenti. Ia menatap mereka.
"Itu nyanyian lengkap," katanya pelan. "Dua bagian. Satu dari Surya. Satu dari Nyi Rukmi. Kalian harus menyanyikannya bersama. Kalau tidak, nyanyian itu tidak akan berbunyi."
"Kenapa?" tanya Senja.
"Karena nyanyian itu adalah cermin," jawab Pak Harun. "Ia memantulkan apa yang ada di dalam hati. Kalau hanya satu yang menyanyi, cermin itu tidak akan lengkap. Ia akan pecah."
Bintang dan Senja terdiam. Mereka menatap Pak Harun. Ada sesuatu di mata lelaki tua itu—kebijaksanaan yang dalam.
"Sekarang," kata Pak Harun. "Coba kalian menyanyi. Bait pertama dulu. Bintang, kau mulai."
Bintang menghela napas. Ia menutup mata. Ia mengingat suara ayahnya. Ia mengingat senja di dermaga. Ia mengingat nyanyian itu. Lalu ia mulai menyanyi.
Suaranya serak. Tidak sempurna. Tapi ia menyanyi. Ia menyanyi sampai selesai.
Pak Harun mengangguk. "Bagus. Sekarang, Senja. Bait kedua."
Senja menghela napas. Ia menutup mata. Ia mengingat suara neneknya. Ia mengingat malam-malam di rumah neneknya. Ia mengingat nyanyian itu. Lalu ia mulai menyanyi.
Suaranya lembut. Seperti angin. Seperti ombak. Seperti... rumah.
Pak Harun mengangguk. "Bagus. Sekarang, coba bersama."
Bintang dan Senja saling menatap. Mereka mengangguk. Mereka menarik napas. Lalu mereka menyanyi bersama.
Bait pertama. Bait kedua. Satu dari Surya. Satu dari Nyi Rukmi. Dua suara. Satu nyanyian.
Dan di ujung nyanyian, ada sesuatu yang... berbeda. Sesuatu yang... hidup. Sesuatu yang... lengkap.
Pak Harun menutup mata. Air matanya jatuh. Ia tersenyum.
"Bagus," katanya pelan. "Sangat bagus."
Bintang dan Senja berhenti. Mereka saling menatap. Mata mereka basah. Hati mereka penuh.
"Pak," kata Bintang pelan. "Apa yang terjadi?"
Pak Harun membuka mata. Ia menatap mereka.
"Nyanyian itu hidup," jawabnya pelan. "Kalian berhasil menghidupkannya kembali."
Senja menutup mulutnya. Ia menatap Bintang. Matanya melebar.
"Bintang," bisiknya. "Kita... kita berhasil."
Bintang mengangguk. Ia meraih tangan Senja. Erat.
"Iya," katanya pelan. "Kita berhasil."
Pak Harun berdiri. Ia mengambil mangkuk air putih. Ia memercikkan air itu ke Bintang dan Senja.
"Ini air restu," katanya pelan. "Dari leluhur. Dari Surya. Dari Nyi Rukmi. Kalian sekarang... penjaga nyanyian."
Bintang dan Senja menunduk. Mereka menerima percikan air itu. Hati mereka penuh.
"Pak," kata Senja pelan. "Apa artinya?"
Pak Harun menatap mereka. Matanya dalam.
"Artinya," jawabnya pelan, "kalian sekarang terikat. Bukan hanya pada nyanyian. Tapi pada satu sama lain."
Bintang dan Senja saling menatap. Hati mereka berdebar. Mereka tidak bicara. Tapi ada sesuatu di antara mereka. Sesuatu yang... mengikat.
"Sekarang," kata Pak Harun. "Kalian harus berlatih. Setiap hari. Sampai nyanyian itu menjadi bagian dari diri kalian."
"Berapa lama?" tanya Bintang.
Pak Harun tersenyum tipis. "Sampai kalian bisa menyanyikannya tanpa berpikir. Sampai nyanyian itu... menjadi doa."
Bintang dan Senja mengangguk. Mereka berdiri. Mereka menatap pohon beringin tua. Di bawahnya, dupa masih menyala. Asapnya membubung ke langit. Seperti doa. Seperti janji. Seperti... cinta.
"Pak," kata Bintang pelan. "Terima kasih."
Pak Harun mengangguk. Ia menatap Bintang lama. Lalu ia menatap Senja. Matanya hangat.
"Kalian ini..." katanya pelan. "Seperti Surya dan Rukmi. Dulu."
Bintang dan Senja menoleh. "Seperti?"
Pak Harun tersenyum. Ia menatap langit. Biru. Bersih. Tanpa awan.
"Dulu," katanya pelan, "Surya dan Rukmi juga belajar bersama. Di bawah pohon ini. Mereka juga menyanyi bersama. Mereka juga... saling mencintai."
Bintang dan Senja terdiam. Mereka menatap Pak Harun. Ada sesuatu di mata lelaki tua itu—kenangan.
"Apa yang terjadi?" tanya Senja pelan.
Pak Harun menghela napas. Ia menatap pohon beringin. Daun-daunnya bergoyang tertiup angin.
"Mereka berselisih," jawabnya pelan. "Tentang cara menjaga nyanyian. Surya ingin nyanyian itu diajarkan kepada semua orang. Rukmi tidak setuju. Ia percaya nyanyian itu hanya boleh diajarkan kepada yang dipilih leluhur."
"Jadi mereka berpisah?"
Pak Harun mengangguk. "Iya. Rukmi pergi. Surya tinggal. Mereka tidak pernah bertemu lagi."
Bintang dan Senja terdiam. Mereka menatap satu sama lain. Ada sesuatu di mata mereka—ketakutan.
"Pak," kata Bintang pelan. "Apakah kami akan bernasib sama?"
Pak Harun menatap Bintang lama. Lalu ia tersenyum. Senyum yang hangat.
"Tidak," jawabnya pelan. "Kalian berbeda."
"Kenapa?"
Pak Harun menatap mereka. Matanya dalam.
"Karena kalian belajar dari kesalahan mereka," jawabnya pelan. "Karena kalian... saling mencintai."
Bintang dan Senja saling menatap. Hati mereka berdebar. Mereka tidak bicara. Tapi ada sesuatu di antara mereka. Sesuatu yang... kuat.
"Sekarang," kata Pak Harun. "Pulanglah. Besok kita lanjutkan."
Bintang dan Senja berdiri. Mereka menunduk pada Pak Harun. Lalu mereka berjalan pulang.
Di tengah jalan, Senja meraih tangan Bintang. Erat.
"Bintang," katanya pelan. "Aku takut."
Bintang menoleh. "Takut apa?"
"Takut... kita berpisah. Seperti Surya dan Rukmi."
Bintang diam. Ia menatap Senja lama. Lalu ia tersenyum tipis.
"Kita tidak akan berpisah," katanya pelan. "Aku janji."
Senja menatap Bintang. Air matanya jatuh. Ia tersenyum.
"Aku percaya," katanya pelan.
Mereka berjalan pulang. Tangan bertaut. Langit biru. Bersih. Di kejauhan, dermaga tua terlihat. Tempat mereka pertama bertemu. Tempat mereka pertama bicara. Tempat mereka pertama... merasa.
Dan di dermaga tua, bintang terakhir menunggu. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi. Ia hanya tahu... cinta itu nyata.
Cinta yang tumbuh di bawah pohon beringin.
Di ujung senja.
BAB 9
UPACARA ADAT
Hari itu Tanjung Senja bangun lebih awal. Matahari belum muncul di ufuk timur, tapi lampu-lampu rumah sudah menyala. Perempuan-perempuan memasak di dapur. Lelaki-lelaki memperbaiki perahu. Anak-anak berlarian di jembatan kayu. Semua orang sibuk. Semua orang bersemangat.
Hari itu adalah hari istimewa.
Sedekah Laut.
Upacara adat tahunan yang digelar setiap bulan purnama. Penduduk Tanjung Senja berkumpul di dermaga utama. Mereka membawa sesajen: nasi tumpeng, buah-buahan, kue tradisional, dan bunga. Mereka berdoa untuk keselamatan nelayan. Mereka bersyukur atas rezeki laut. Mereka memohon perlindungan leluhur.
Bintang berdiri di depan rumah. Ia memakai baju adat: kemeja putih, sarung songket, dan ikat kepala. Di tangannya, sebuah keranjang berisi sesajen. Ia terlihat rapi. Ia terlihat... berbeda.
Ratna keluar dari rumah. Ia memakai kebaya hitam dan selendang. Rambutnya disanggul rapi. Ia menatap Bintang lama. Matanya basah.
"Kau mirip ayahmu," katanya pelan.
Bintang menoleh. Ia tersenyum tipis.
"Ayah dulu memakai baju ini?"
Ratna mengangguk. "Iya. Setiap Sedekah Laut. Ia selalu memimpin doa."
Bintang diam. Ia menatap keranjang di tangannya. Ada sesuatu di dalam hatinya—campuran antara bangga dan takut.
"Bu," katanya pelan. "Apa aku bisa?"
Ratna meraih tangan Bintang. Erat.
"Kau bisa," katanya pelan. "Ayahmu pasti bangga."
Dewi keluar dari rumah. Ia memakai kebaya merah muda. Rambutnya dikuncir. Ia tersenyum pada kakaknya.
"Kak," katanya. "Kau siap?"
Bintang mengangguk. "Siap."
Mereka berjalan bersama ke dermaga utama. Jalanan kampung sudah ramai. Warga berjalan ke arah yang sama. Mereka menyapa Bintang. Mereka tersenyum. Mereka menepuk pundaknya.
"Bintang," kata seorang lelaki tua. "Kau yang memimpin doa tahun ini?"
Bintang mengangguk. "Iya, Pak."
Lelaki tua itu tersenyum. "Bagus. Bagus. Kau penerus ayahmu."
Bintang tersenyum. Tapi hatinya berdebar. Ia belum pernah memimpin doa. Ia belum pernah berdiri di depan semua orang. Ia takut.
Di dermaga utama, warga sudah berkumpul. Mereka duduk bersila di atas tikar pandan. Di tengah, ada meja panjang dengan sesajen. Di belakang meja, ada sebuah batu besar yang dianggap keramat. Di atas batu itu, ada dupa yang menyala.
Pak Harun berdiri di samping batu. Ia memakai baju adat lengkap. Ia menatap Bintang. Ia tersenyum.
"Kau siap?" tanya Pak Harun.
Bintang mengangguk. "Siap."
Pak Harun menepuk pundak Bintang. "Bagus. Duduk."
Bintang duduk di samping Pak Harun. Ia meletakkan keranjangnya di meja. Ia menunduk. Ia menunggu.
Warga terus berdatangan. Dermaga utama penuh. Ada ratusan orang. Mereka duduk bersila. Mereka menunggu. Mereka diam.
Di kejauhan, Bintang melihat Senja. Perempuan itu berdiri di pinggir dermaga. Ia memakai kebaya hijau muda. Rambutnya disanggul. Ia tersenyum pada Bintang. Ia melambaikan tangan.
Bintang tersenyum. Hatinya hangat.
"Bintang."
Ia menoleh. Pak Harun berdiri. Ia mengangkat tangan. Warga pun diam. Semua mata tertuju pada Pak Harun.
"Hari ini," kata Pak Harun dengan suara lantang, "kita berkumpul untuk Sedekah Laut. Kita bersyukur atas rezeki yang diberikan laut. Kita memohon perlindungan leluhur. Kita berdoa untuk keselamatan nelayan."
Warga mengangguk. Mereka menunduk.
"Tahun ini," lanjut Pak Harun, "ada yang berbeda. Tahun ini, kita punya pemimpin doa baru. Ia adalah putra Surya. Putra penjaga nyanyian. Bintang."
Warga menoleh pada Bintang. Mereka tersenyum. Mereka menepuk tangan. Bintang menunduk. Pipinya merah.
"Bintang," kata Pak Harun. "Silakan."
Bintang berdiri. Ia menatap warga. Ratusan mata menatapnya. Ia menghela napas. Ia menutup mata. Ia mengingat ayahnya. Ia mengingat nyanyian itu. Ia mengingat senja di dermaga.
Lalu ia mulai menyanyi.
Suaranya serak. Tidak sempurna. Tapi ia menyanyi. Ia menyanyi dengan hati. Ia menyanyi dengan jiwa. Ia menyanyi seperti ayahnya dulu.
"Bintang di langit senja...
Cahaya yang menunggu...
Jawablah doa kami...
Sebelum malam tiba..."
Warga mendengarkan. Mata mereka basah. Hati mereka bergetar. Nyanyian itu... berbeda. Bukan sekadar lagu. Ada sesuatu di dalamnya. Sesuatu yang... hidup.
Bintang menyanyi sampai selesai. Ia membuka mata. Ia menatap warga. Mereka diam. Lalu mereka bertepuk tangan. Mereka menangis. Mereka tersenyum.
"Bagus," bisik Pak Harun. "Sangat bagus."
Bintang duduk kembali. Hatinya berdebar. Ia menoleh pada Senja. Perempuan itu tersenyum. Matanya basah. Ia mengangkat jempol.
Bintang tersenyum. Ia menunduk. Ia bersyukur.
Upacara berlanjut. Warga meletakkan sesajen di atas batu. Mereka berdoa. Mereka menyanyi. Mereka menari. Mereka bersyukur. Dermaga utama dipenuhi aroma dupa, bunga, dan laut. Suara gamelan mengiringi. Anak-anak menari. Perempuan-perempuan menabur bunga. Lelaki-lelaki membawa perahu mini ke laut.
Bintang berdiri di pinggir dermaga. Ia menatap laut. Ombak tenang. Matahari mulai tenggelam. Langit berwarna jingga keemasan. Ia menghela napas. Ia merasa... tenang.
"Bintang."
Ia menoleh. Senja berdiri di sampingnya. Ia tersenyum.
"Kau hebat," kata Senja.
Bintang tersipu. "Ah, tidak. Aku hanya menyanyi."
"Kau menyanyi dengan hati," kata Senja. "Aku bisa merasakannya."
Bintang menatap Senja. Hatinya hangat.
"Senja," katanya pelan. "Terima kasih."
"Untuk apa?"
"Untuk... ada di sini."
Senja tersenyum. Ia meraih tangan Bintang. Erat.
"Aku selalu di sini," katanya pelan.
Mereka berdiri diam. Menatap laut. Menatap senja. Menatap langit. Tidak ada yang bicara. Tapi keheningan itu... sempurna.
"Bintang!"
Bintang menoleh. Rudi berdiri di belakang mereka. Ia memakai baju adat. Tapi wajahnya keras. Matanya tajam. Di sampingnya, Pak Darma dan seorang lelaki asing. Lelaki itu memakai jas. Kulitnya putih. Matanya kecil. Ia tersenyum. Tapi senyumnya dingin.
"Rudi," kata Bintang pendek.
Rudi melangkah maju. Ia menatap Senja. Lalu ia menatap Bintang.
"Bintang," katanya. "Ada yang ingin aku perkenalkan."
Ia menoleh pada lelaki asing itu.
"Ini Tuan Wijaya," kata Rudi. "Investor yang ingin membangun resort di kampung kita."
Bintang terdiam. Ia menatap Tuan Wijaya. Lelaki itu tersenyum. Ia mengulurkan tangan.
"Senang bertemu denganmu, Bintang," katanya. "Aku sudah dengar banyak tentangmu."
Bintang tidak menyambut tangan itu. Ia menatap Tuan Wijaya lama. Lalu ia menoleh pada Rudi.
"Kenapa kau bawa dia ke sini?" tanya Bintang.
Rudi mengangkat bahu. "Ia ingin melihat upacara adat. Ia ingin tahu budaya kita."
"Budaya kita bukan tontonan," kata Bintang tegas.
Tuan Wijaya tertawa. "Santai, Bintang. Aku hanya ingin melihat. Aku ingin memahami. Sebelum aku membangun resort, aku ingin tahu apa yang penting bagi kalian."
Bintang menatap Tuan Wijaya. Matanya tajam.
"Yang penting bagi kami," katanya pelan, "adalah tanah ini. Adat ini. Leluhur ini. Dan kami tidak akan menjualnya."
Tuan Wijaya tersenyum. Ia menatap Bintang lama.
"Kita lihat saja," katanya pelan.
Ia berjalan pergi. Rudi mengikutinya. Pak Darma tersenyum sinis pada Bintang. Lalu ia berjalan pergi.
Bintang menatap punggung mereka. Tangannya mengepal. Rahangnya mengeras.
"Bintang," kata Senja pelan. "Kau tidak apa-apa?"
Bintang menoleh. Ia menatap Senja. Matanya basah.
"Senja," katanya pelan. "Aku takut."
"Takut apa?"
Bintang menatap laut. Matahari sudah tenggelam. Langit berwarna merah keunguan. Bintang pertama muncul di ujung senja. Kecil, tapi terang.
"Takut kehilangan," jawabnya pelan. "Takut kampung ini berubah. Takut... aku tidak bisa melindunginya."
Senja meraih tangan Bintang. Erat.
"Kau tidak sendiri," katanya pelan. "Aku bersamamu."
Bintang menatap Senja. Hatinya hangat. Ia mengangguk.
"Terima kasih," katanya pelan.
Mereka berdiri diam. Menatap laut. Menatap senja. Menatap bintang pertama. Di dermaga utama, upacara masih berlanjut. Warga masih menyanyi. Warga masih menari. Warga masih bersyukur.
Tapi di hati Bintang, ada sesuatu yang... gelisah.
Ia tidak tahu apa yang akan terjadi. Ia tidak tahu apa yang akan Tuan Wijaya lakukan. Ia tidak tahu apa yang akan Rudi lakukan. Ia hanya tahu... ia harus siap.
Siap untuk apa?
Ia tidak tahu.
Tapi ia akan mengetahuinya. Perlahan. Seperti senja yang menunggu bintang.
Seperti hati yang menunggu dijawab.
Seperti doa yang menunggu dikabulkan.
Malam itu, Bintang pulang dengan hati berat. Ia membuka pintu rumah. Ratna duduk di ruang tengah. Ia menatap Bintang lama.
"Kau kenapa?" tanya Ratna.
Bintang diam. Ia duduk di samping ibunya.
"Bu," katanya pelan. "Tuan Wijaya datang ke upacara."
Ratna diam. Wajahnya keras.
"Aku tahu," katanya pelan. "Aku melihatnya."
"Bu," kata Bintang. "Apa yang harus aku lakukan?"
Ratna menatap Bintang lama. Lalu ia meraih tangan anaknya. Erat.
"Ayahmu dulu menghadapi hal yang sama," katanya pelan. "Ia tidak menyerah. Ia bertahan."
"Apa Ayah berhasil?"
Ratna tersenyum tipis. "Ia berhasil menjaga nyanyian itu. Sampai akhir."
Bintang diam. Ia menatap ibunya. Ada sesuatu di mata perempuan itu—kebanggaan.
"Bu," katanya pelan. "Aku akan bertahan."
Ratna mengangguk. "Ibu tahu."
Mereka duduk diam. Di luar, langit gelap. Bintang-bintang bersinar. Dan di dermaga tua, seorang perempuan masih duduk. Ia memandang laut. Ia menunggu. Ia tidak tahu apa yang ia tunggu. Tapi ia menunggu.
Seperti senja yang menunggu bintang.
Seperti hati yang menunggu dijawab.
Seperti doa yang menunggu dikabulkan.
Dan doa itu... mulai diuji.
BAB 10
CINTA YANG TUMBUH
Seminggu setelah Sedekah Laut, hidup di Tanjung Senja kembali tenang. Nelayan melaut seperti biasa. Perempuan menjemur ikan. Anak-anak bersekolah. Tapi di hati Bintang, ada sesuatu yang berubah. Ia tidak lagi merasa sendiri. Ia tidak lagi merasa hampa.
Ia merasa... hidup.
Pagi itu, Bintang duduk di teras rumah. Ia memperbaiki jala. Tangannya bekerja, tapi pikirannya melayang. Ia memikirkan Senja. Senyumnya. Matanya. Suaranya. Ia memikirkan malam di dermaga tua. Malam ketika mereka menyanyi bersama. Malam ketika mereka mengaku cinta.
Ia tersenyum sendiri. Ia tidak sadar.
"Kak."
Bintang menoleh. Dewi berdiri di pintu. Ia tersenyum nakal.
"Kau senyum-senyum sendiri," kata Dewi. "Kenapa?"
Bintang tersipu. "Tidak apa-apa."
Dewi duduk di samping kakaknya. Ia menatap Bintang lama.
"Kak," katanya pelan. "Kau suka Senja, ya?"
Bintang diam. Ia menatap jala di tangannya.
"Iya," jawabnya pelan. "Aku suka dia."
Dewi tersenyum lebar. "Aku tahu!"
"Kau tahu dari mana?"
"Dari caramu melihat dia," jawab Dewi. "Kau tidak pernah melihat orang seperti itu. Bahkan pada Ibu."
Bintang tersenyum tipis. Ia menatap adiknya.
"Dewi," katanya pelan. "Apa kau tidak keberatan?"
Dewi mengerutkan kening. "Keberatan? Kenapa?"
"Karena dia orang kota. Karena dia berbeda."
Dewi menatap Bintang lama. Lalu ia meraih tangan kakaknya. Erat.
"Kak," katanya pelan. "Aku tidak peduli dia dari mana. Aku hanya peduli... kau bahagia."
Bintang menatap adiknya. Hatinya hangat.
"Terima kasih, Dewi."
Mereka duduk diam. Angin pagi bertiup. Aroma garam bercampur aroma kopi. Di kejauhan, perahu-perahu nelayan mulai kembali ke dermaga.
"Kak," kata Dewi. "Kau mau ke mana hari ini?"
Bintang menatap langit. Biru. Bersih.
"Aku mau ke dermaga," jawabnya. "Senja bilang, ia ingin belajar nyanyian lagi."
Dewi tersenyum. "Pergilah. Aku jaga Ibu."
Bintang berdiri. Ia mencium kening adiknya. Lalu ia berjalan pergi. Langkahnya ringan. Hatinya ringan.
Di dermaga tua, Senja sudah menunggu. Ia duduk di ujung dermaga. Kakinya menggantung di atas air. Rambutnya terurai. Ia memandang laut. Ia tersenyum.
"Kau datang," kata Senja tanpa menoleh.
Bintang duduk di sampingnya. "Kau sudah lama?"
"Tidak," jawab Senja. "Baru saja."
Mereka duduk diam. Menatap laut. Ombak tenang. Angin bertiup. Matahari mulai tinggi. Langit biru.
"Bintang," kata Senja. "Aku sudah baca semua catatan nenekku."
Bintang menoleh. "Semua?"
Senja mengangguk. "Iya. Ada banyak hal yang aku baru tahu."
"Apa?"
Senja membuka buku catatan Nyi Rukmi. Ia membuka halaman demi halaman.
"Nenekku menulis tentang Bintang Terakhir," katanya. "Ia bilang, Bintang Terakhir bukan tempat. Bukan juga tujuan. Bintang Terakhir adalah... proses."
"Proses?"
Senja mengangguk. "Iya. Proses menemukan hati yang ikhlas. Proses melepaskan. Proses... bersyukur."
Bintang diam. Ia menatap laut. Ombak tenang.
"Senja," katanya pelan. "Apa kau sudah menemukan Bintang Terakhirmu?"
Senja diam. Ia menatap laut. Lalu ia menoleh pada Bintang. Matanya dalam.
"Aku belum tahu," jawabnya pelan. "Tapi sejak aku di sini... aku merasa lebih tenang. Lebih... bersyukur."
"Bersyukur untuk apa?"
Senja menatap Bintang. Ada sesuatu di mata perempuan itu—kehangatan.
"Bersyukur karena... aku bertemu kau," jawabnya pelan.
Bintang terdiam. Hatinya berdebar. Ia menatap Senja. Mata mereka bertemu.
"Senja," kata Bintang pelan. "Aku juga."
Mereka duduk diam. Tangan mereka bertaut. Tidak ada yang bicara. Tapi keheningan itu... sempurna. Seperti ombak yang memecah di batu. Seperti angin yang berbisik di daun. Seperti... rumah.
"Bintang," kata Senja akhirnya. "Apa kau mau menyanyi lagi? Bersamaku?"
Bintang mengangguk. "Aku mau."
Senja membuka buku catatan Nyi Rukmi. Ia mulai membaca. Pelan. Bait demi bait. Bintang mendengarkan. Ia mengangguk. Ia mulai menyanyi.
Suaranya serak. Tapi ia menyanyi. Ia menyanyi dengan hati. Senja ikut menyanyi. Suaranya lembut. Seperti angin. Seperti ombak. Seperti... rumah.
Mereka menyanyi bersama. Di dermaga tua. Di bawah matahari. Di atas laut. Nyanyian leluhur. Nyanyian yang hampir hilang. Nyanyian yang kini... hidup kembali.
Dan di ujung nyanyian, mereka berhenti. Mereka saling menatap. Mata mereka basah. Hati mereka penuh.
"Bintang," bisik Senja.
"Ya?"
"Aku... aku bahagia."
Bintang menatap Senja. Hatinya hangat.
"Aku juga," katanya pelan. "Aku bahagia."
Senja menyandarkan kepala di pundak Bintang. Erat. Bintang meraih tangan Senja. Erat. Mereka duduk diam. Menatap laut. Menatap langit. Menatap masa depan yang belum mereka tahu.
"Bintang," kata Senja pelan. "Apa kau pernah berpikir... tentang masa depan?"
Bintang diam. Ia menatap laut. Ombak tenang.
"Pernah," jawabnya pelan. "Tapi aku tidak tahu apa yang akan terjadi."
"Kau tidak takut?"
Bintang menoleh. Ia menatap Senja. Matanya tenang.
"Aku takut," jawabnya. "Tapi aku percaya... semua akan baik-baik saja."
"Kenapa kau percaya?"
Bintang menatap langit. Bintang pertama tidak muncul. Matahari masih tinggi. Tapi ia merasa... ada sesuatu yang bersinar di dalam hatinya.
"Karena ayahku bilang," jawabnya pelan, "bintang terakhir tidak pernah padam. Ia hanya menunggu untuk ditemukan."
Senja menatap Bintang. Hatinya berdebar. Ia menggenggam tangan pemuda itu. Erat.
"Bintang," katanya pelan. "Apa kau mau... aku tinggal di sini?"
Bintang menoleh. Matanya melebar.
"Tinggal?"
Senja mengangguk. "Iya. Aku ingin tinggal di Tanjung Senja. Aku ingin... bersama kau."
Bintang terdiam. Hatinya berdebar. Ia menatap Senja lama. Ada sesuatu di mata perempuan itu—ketulusan. Keberanian. Cinta.
"Senja," kata Bintang pelan. "Kau yakin?"
Senja mengangguk. "Aku yakin."
"Tapi... bagaimana dengan pekerjaanmu? Penelitianmu?"
Senja tersenyum. "Aku bisa penelitian dari sini. Aku bisa mengajar. Aku bisa... apa saja. Yang penting... aku bersama kau."
Bintang menatap Senja. Air matanya jatuh. Ia tersenyum. Senyum yang lebar. Senyum yang bahagia.
"Senja," katanya pelan. "Aku... aku tidak tahu harus bilang apa."
"Bilang saja... kau mau aku tinggal."
Bintang tertawa. Tawa yang lepas. Tawa yang hangat.
"Aku mau," katanya pelan. "Aku mau kau tinggal."
Senja tersenyum. Air matanya jatuh. Ia memeluk Bintang. Erat. Bintang membalas pelukan itu. Erat. Mereka berdiri di dermaga tua. Berpelukan. Di bawah matahari. Di atas laut. Di ujung senja.
"Bintang," bisik Senja.
"Ya?"
"Aku mencintaimu."
Bintang menutup mata. Ia mencium rambut Senja. Pelan. Lembut.
"Aku juga," bisiknya. "Aku mencintaimu."
Mereka berdiri diam. Berpelukan. Angin bertiup. Ombak memecah. Matahari bersinar. Dan di dalam hati mereka, ada sesuatu yang... lengkap.
Cinta.
Cinta yang tumbuh di dermaga tua. Di bawah matahari. Di atas laut. Di ujung senja.
"Bintang," kata Senja pelan. "Apa kita akan selalu bersama?"
Bintang menatap Senja. Matanya dalam.
"Aku tidak tahu," jawabnya pelan. "Tapi aku akan berusaha."
Senja mengangguk. Ia menyandarkan kepala di pundak Bintang. Erat.
"Aku juga," katanya pelan. "Aku akan berusaha."
Mereka duduk diam. Menatap laut. Menatap langit. Menatap masa depan. Tidak ada yang bicara. Tapi keheningan itu... sempurna.
Seperti cinta yang baru saja ditemukan.
Di ujung senja.
Sore itu, Bintang berjalan pulang. Langit berwarna jingga keemasan. Bintang pertama muncul di ujung senja. Ia tersenyum. Ia membuka pintu rumah. Ratna duduk di ruang tengah. Ia menatap Bintang lama.
"Kau senang," kata Ratna.
Bintang menoleh. "Iya, Bu. Aku senang."
Ratna tersenyum tipis. "Senja?"
Bintang mengangguk. "Iya."
Ratna diam. Ia menatap Bintang lama. Lalu ia menghela napas.
"Bintang," katanya pelan. "Ibu ingin bicara."
Bintang duduk di samping ibunya. "Ada apa, Bu?"
Ratna menatap Bintang. Matanya dalam.
"Aku sudah lama menyimpan ini," katanya pelan. "Aku ingin kau tahu... sebelum kau memutuskan sesuatu."
Bintang mengerutkan kening. "Apa, Bu?"
Ratna meraih tangan Bintang. Erat. Tangannya dingin.
"Ayahmu," katanya pelan. "Ia meninggal bukan karena tenggelam."
Bintang terdiam. Hatinya berdebar.
"Apa maksud Ibu?"
Ratna menatap Bintang. Air matanya jatuh.
"Ayahmu... dibunuh."
BAB 11
RAHASIA PAK HARUN
Malam itu Bintang tidak bisa tidur. Kata-kata ibunya terus berputar di kepalanya.
"Ayahmu... dibunuh."
Ia duduk di dipan. Ia menatap langit-langit. Gelap. Sunyi. Hanya suara ombak di bawah rumah. Hanya suara angin di celah dinding.
Ia bangkit. Ia berjalan ke ruang tengah. Ia mengambil buku catatan ayahnya dari bawah bantal. Ia membuka halaman demi halaman. Ia membaca. Mencari. Apa yang tidak ia lihat sebelumnya?
Lalu ia menemukan sesuatu.
Di halaman terakhir, di bawah tulisan besar tentang Bintang Terakhir, ada tulisan kecil. Hampir tidak terlihat. Tersembunyi di lipatan kertas.
"Jika aku tidak kembali, temui Harun. Ia tahu."
Bintang menatap tulisan itu lama. Hatinya berdebar. Ia menutup buku. Ia mengenakan jaket. Ia keluar rumah.
Langit gelap. Bintang-bintang bersinar. Bulan sabit menggantung di ujung langit. Bintang berjalan cepat. Ia tidak peduli malam. Ia tidak peduli dingin. Ia harus tahu.
Ia tiba di rumah Pak Harun. Lampu masih menyala. Ia mengetuk pintu. Tidak ada jawaban. Ia mengetuk lagi. Keras.
Pintu terbuka. Pak Harun berdiri di ambang pintu. Wajahnya pucat. Matanya merah. Seperti orang yang belum tidur.
"Bintang?" katanya. "Kau di sini malam-malam?"
"Pak," kata Bintang. "Aku harus bicara."
Pak Harun menatap Bintang lama. Lalu ia mengangguk. "Masuk."
Bintang masuk. Rumah itu sepi. Di meja, ada foto lama Surya dan Nyi Rukmi. Di sampingnya, ada lilin yang menyala. Asapnya membubung ke langit-langit.
"Duduk," kata Pak Harun.
Bintang duduk. Ia meletakkan buku catatan ayahnya di meja. Ia membuka halaman terakhir. Ia menunjuk tulisan kecil itu.
"Pak," katanya pelan. "Apa maksudnya?"
Pak Harun menatap tulisan itu. Wajahnya berubah. Ia menutup mata. Ia menghela napas panjang.
"Kau sudah tahu," katanya pelan.
"Ibu bilang... Ayah dibunuh."
Pak Harun membuka mata. Ia menatap Bintang lama. Ada sesuatu di mata lelaki tua itu—kesedihan yang dalam. Rasa bersalah. Ketakutan.
"Iya," jawabnya pelan. "Ayahmu dibunuh."
Bintang mengepal tangan. Rahangnya mengeras.
"Siapa?"
Pak Harun diam. Ia menatap lilin yang menyala. Api kecil itu bergoyang-goyang.
"Duduk," katanya pelan. "Ini cerita panjang."
Bintang duduk. Ia menunggu. Hatinya berdebar. Tangannya gemetar.
Pak Harun menghela napas. Ia mulai bicara.
"Dua puluh tahun yang lalu," katanya pelan, "Surya dan Rukmi adalah penjaga nyanyian. Mereka belajar bersama. Mereka menyanyi bersama. Mereka... saling mencintai."
Bintang diam. Ia mendengarkan.
"Tapi mereka berselisih," lanjut Pak Harun. "Tentang cara menjaga nyanyian. Surya ingin nyanyian itu diajarkan kepada semua orang. Rukmi tidak setuju. Ia percaya nyanyian itu hanya boleh diajarkan kepada yang dipilih leluhur."
"Jadi mereka berpisah?"
Pak Harun mengangguk. "Iya. Rukmi pergi. Ia membawa separuh nyanyian. Surya tinggal. Ia menyimpan separuh lainnya."
"Lalu?"
Pak Harun diam. Ia menatap lilin. Api itu bergoyang.
"Surya tidak menyerah," katanya pelan. "Ia terus mencari cara untuk menyatukan kembali nyanyian itu. Ia percaya, jika nyanyian itu utuh, kampung ini akan aman. Tidak akan ada yang berani mengganggu."
"Apa hubungannya dengan kematian Ayah?"
Pak Harun menoleh. Ia menatap Bintang lama. Matanya basah.
"Ada orang yang tidak ingin nyanyian itu utuh," jawabnya pelan.
"Siapa?"
Pak Harun diam. Ia menunduk. Tangannya gemetar.
"Pak," kata Bintang pelan. "Siapa?"
Pak Harun mengangkat kepala. Ia menatap Bintang. Ada sesuatu di mata lelaki tua itu—ketakutan.
"Darma," jawabnya pelan.
Bintang terdiam. Hatinya berdebar. Darahnya dingin.
"Pak Darma?"
Pak Harun mengangguk. "Iya."
"Kenapa?"
Pak Harun menghela napas. Ia menatap lilin. Api itu bergoyang.
"Darma dulu pedagang ikan biasa," katanya pelan. "Ia ingin kaya. Ia ingin menguasai pasar. Tapi ia tidak punya modal. Lalu datang investor dari kota. Mereka ingin membeli tanah kampung. Mereka ingin membangun resort."
"Seperti Tuan Wijaya?"
Pak Harun mengangguk. "Iya. Tapi dulu, investor itu tidak berhasil. Karena Surya menolak. Surya bilang, tanah ini tanah leluhur. Tidak bisa dijual."
"Jadi Darma..."
"Darma bekerja sama dengan investor itu," lanjut Pak Harun. "Ia ingin Surya menyingkir. Ia ingin tanah ini dijual. Ia ingin kaya."
Bintang mengepal tangan. Tangannya gemetar.
"Jadi Darma yang membunuh Ayah?"
Pak Harun menunduk. Air matanya jatuh.
"Bukan Darma yang membunuh," katanya pelan. "Tapi Darma yang menyuruh."
"Siapa yang membunuh?"
Pak Harun diam. Ia menatap Bintang lama. Lalu ia menunduk.
"Aku tidak tahu," jawabnya pelan. "Aku hanya tahu... Surya dibunuh di laut. Di malam hari. Tubuhnya ditemukan keesokan harinya. Nelayan yang menemukannya bilang... ada luka di kepalanya."
Bintang menutup mata. Air matanya jatuh. Ia tidak bicara. Ia hanya duduk. Diam. Hatinya penuh.
"Pak," katanya pelan. "Kenapa Bapak tidak bilang dari dulu?"
Pak Harun menatap Bintang. Matanya basah.
"Karena aku takut," jawabnya pelan. "Aku takut Darma akan menyakitimu. Aku takut ia akan menyakiti Ratna. Aku takut... aku akan menjadi yang berikutnya."
Bintang diam. Ia menatap Pak Harun. Ada sesuatu di mata lelaki tua itu—rasa bersalah.
"Pak," kata Bintang pelan. "Apa Ibu tahu?"
Pak Harun mengangguk. "Ia tahu. Tapi ia tidak bisa bicara. Ia tidak punya bukti."
"Apa Bapak punya bukti?"
Pak Harun diam. Ia berdiri. Ia berjalan ke lemari kayu tua. Ia membuka laci. Ia mengeluarkan sebuah amplop kuning. Ia meletakkannya di meja.
"Ini," katanya pelan. "Surat dari Surya. Ia menulis ini sebelum meninggal. Ia menitipkan padaku. Ia bilang... buka hanya jika Bintang sudah dewasa."
Bintang menatap amplop itu. Tangannya gemetar. Ia membuka. Ia mengeluarkan surat. Tulisan tangan ayahnya. Rapi. Miring-miring.
"Untuk Bintang, anakku.
Jika kau membaca surat ini, berarti aku sudah tidak ada. Aku tidak tahu bagaimana aku akan pergi. Tapi aku tahu, suatu hari kau akan mencari kebenaran.
Ayah ingin kau tahu: Ayah tidak menyesal. Ayah menjaga nyanyian ini sampai akhir. Ayah menjaga tanah ini sampai akhir. Ayah menjaga kampung ini sampai akhir.
Tapi Ayah gagal. Ayah tidak sempat menyatukan kembali nyanyian itu. Ayah tidak sempat menemukan Bintang Terakhir.
Bintang, anakku. Kau adalah penerusku. Kau adalah penjaga nyanyian berikutnya. Kau adalah... bintang terakhir di langit senja.
Jangan takut. Jangan ragu. Jangan menyerah.
Ayah mencintaimu. Ayah mencintai ibumu. Ayah mencintai kampung ini.
Jaga nyanyian itu. Jaga tanah itu. Jaga cinta itu.
Dan temukan Bintang Terakhir. Bukan di langit. Tapi di dalam hatimu.
Ayahmu,
Surya."
Bintang menutup surat itu. Air matanya jatuh. Ia menangis. Ia tidak menyeka. Ia hanya duduk. Diam. Hatinya penuh.
"Pak," katanya pelan. "Aku akan mencari kebenaran."
Pak Harun menatap Bintang. Matanya basah.
"Aku tahu," katanya pelan. "Aku sudah menunggu kau bicara itu."
"Apa Bapak akan membantu?"
Pak Harun mengangguk. "Aku akan membantu. Tapi kau harus hati-hati. Darma itu berbahaya. Ia punya banyak koneksi. Ia punya banyak uang."
"Aku tidak takut."
Pak Harun meraih tangan Bintang. Erat.
"Kau harus takut," katanya pelan. "Karena kau satu-satunya harapan kampung ini."
Bintang menatap Pak Harun. Matanya dalam. Ada sesuatu di mata lelaki tua itu—kepercayaan.
"Pak," kata Bintang pelan. "Aku akan menjaga nyanyian itu. Aku akan menjaga tanah itu. Aku akan menjaga cinta itu."
Pak Harun mengangguk. "Bagus."
Mereka duduk diam. Lilin masih menyala. Api kecil itu bergoyang-goyang. Di luar, langit gelap. Bintang-bintang bersinar. Dan di dermaga tua, seorang perempuan masih duduk. Ia memandang laut. Ia menunggu. Ia tidak tahu apa yang ia tunggu. Tapi ia menunggu.
Seperti senja yang menunggu bintang.
Seperti hati yang menunggu dijawab.
Seperti doa yang menunggu dikabulkan.
Dan doa itu... mulai diuji.
Pagi berikutnya, Bintang berjalan ke dermaga tua. Ia ingin bertemu Senja. Ia ingin bicara. Ia ingin berbagi. Ia tidak bisa menyimpan ini sendiri.
Senja sudah menunggu. Ia duduk di ujung dermaga. Kakinya menggantung di atas air. Ia memandang laut. Ia tersenyum.
"Kau datang," kata Senja.
Bintang duduk di sampingnya. Ia tidak bicara. Ia hanya menatap laut. Ombak tenang. Angin bertiup. Matahari mulai tinggi.
"Bintang," kata Senja pelan. "Ada apa?"
Bintang menoleh. Ia menatap Senja. Matanya basah.
"Senja," katanya pelan. "Ayahku dibunuh."
Senja terdiam. Matanya melebar. Ia menutup mulutnya.
"Apa?"
Bintang mengangguk. Ia menunduk. Air matanya jatuh.
"Pak Darma yang menyuruh," katanya pelan. "Ia ingin tanah ini dijual. Ia ingin kaya. Ayahku menghalangi. Jadi ia..."
Senja meraih tangan Bintang. Erat.
"Bintang," katanya pelan. "Aku ikut prihatin."
Bintang menatap Senja. Hatinya hangat. Ia menggenggam tangan perempuan itu. Erat.
"Senja," katanya pelan. "Aku akan mencari kebenaran."
Senja mengangguk. "Aku bersamamu."
"Kau tidak takut?"
Senja menatap Bintang. Matanya dalam.
"Aku takut," jawabnya pelan. "Tapi aku lebih takut kehilangan kau."
Bintang menatap Senja. Hatinya penuh. Ia meraih wajah perempuan itu. Pelan. Lembut. Ia menatap mata Senja. Lalu ia mencium keningnya. Pelan. Seperti orang yang sedang menyimpan kenangan.
"Senja," katanya pelan. "Terima kasih."
Senja tersenyum. Air matanya jatuh. Ia menyandarkan kepala di pundak Bintang. Erat.
"Bintang," katanya pelan. "Apa kita akan baik-baik saja?"
Bintang menatap laut. Ombak tenang. Matahari bersinar. Langit biru.
"Aku tidak tahu," jawabnya pelan. "Tapi aku akan berusaha."
Senja mengangguk. Ia menutup mata. Ia merasa tenang. Di dermaga tua. Di bawah matahari. Di atas laut. Di ujung senja.
"Bintang," bisiknya.
"Ya?"
"Aku mencintaimu."
Bintang menutup mata. Ia mencium rambut Senja. Pelan. Lembut.
"Aku juga," bisiknya. "Aku mencintaimu."
Mereka duduk diam. Berpelukan. Angin bertiup. Ombak memecah. Matahari bersinar. Dan di dalam hati mereka, ada sesuatu yang... lengkap.
Cinta.
Cinta yang tumbuh di dermaga tua. Di bawah matahari. Di atas laut. Di ujung senja.
"Bintang," kata Senja pelan. "Apa kau mau... aku bantu?"
Bintang menoleh. "Bantu apa?"
"Mencari kebenaran," jawab Senja. "Aku bisa bantu. Aku peneliti. Aku bisa mencari data. Aku bisa mencari bukti."
Bintang menatap Senja lama. Lalu ia tersenyum.
"Baiklah," katanya pelan. "Kita cari bersama."
Senja mengangguk. Ia meraih tangan Bintang. Erat.
"Bersama," katanya pelan.
Mereka duduk diam. Menatap laut. Menatap langit. Menatap masa depan. Tidak ada yang bicara. Tapi keheningan itu... sempurna.
Seperti cinta yang baru saja ditemukan.
Di ujung senja.
BAB 12
TANGAN YANG MENARIK
Sejak malam itu, Bintang tidak bisa tidur tenang. Kata-kata Pak Harun terus berputar di kepalanya.
"Darma yang menyuruh."
Ia duduk di dermaga tua setiap pagi. Ia menatap laut. Ia menyusun rencana. Ia harus hati-hati. Ia harus sabar. Ia tidak boleh gegabah. Pak Darma berbahaya. Ia punya uang. Ia punya koneksi. Ia punya tangan-tangan yang menarik dari balik layar.
Tapi Bintang tidak takut.
Ia punya sesuatu yang Pak Darma tidak punya: kebenaran. Dan cinta.
"Bintang."
Ia menoleh. Senja berdiri di belakangnya. Ia memakai kemeja putih dan celana kain. Rambutnya diikat ekor kuda. Di tangannya, buku catatan dan kamera.
"Kau sudah di sini sejak subuh?" tanya Senja.
Bintang mengangguk. "Aku tidak bisa tidur."
Senja duduk di sampingnya. Ia meletakkan buku catatannya. Ia menatap Bintang lama.
"Kau memikirkan Pak Darma?"
Bintang mengangguk. "Iya."
Senja meraih tangan Bintang. Erat.
"Bintang," katanya pelan. "Aku sudah mulai mencari data."
Bintang menoleh. "Data apa?"
Senja membuka buku catatannya. Ia menunjukkan beberapa halaman.
"Aku mencari di arsip daerah," katanya. "Tentang tanah di Tanjung Senja. Tentang investor yang datang dua puluh tahun lalu. Tentang Pak Darma."
"Apa yang kau temukan?"
Senja menatap Bintang. Matanya dalam.
"Aku menemukan sesuatu," jawabnya pelan. "Tanah di Tanjung Senja ini bukan tanah negara. Bukan juga tanah perusahaan. Tanah ini tanah adat."
Bintang mengerutkan kening. "Tanah adat?"
Senja mengangguk. "Iya. Tanah ini diwariskan turun-temurun. Tidak bisa dijual. Tidak bisa dialihkan. Kecuali... ada kesepakatan seluruh warga."
"Jadi Tuan Wijaya tidak bisa membelinya?"
Senja menggeleng. "Tidak bisa. Kecuali ia bisa membujuk seluruh warga. Atau... ia bisa memalsukan dokumen."
Bintang diam. Ia menatap Senja lama.
"Jadi itu alasan Pak Darma ingin menyingkirkan Ayah?"
Senja mengangguk. "Iya. Ayahmu adalah penjaga tanah adat. Selama ia hidup, tanah ini aman. Tapi setelah ia meninggal... tidak ada yang menjaga."
Bintang mengepal tangan. Rahangnya mengeras.
"Jadi Pak Darma ingin Ayah meninggal supaya tanah ini bisa dijual?"
Senja mengangguk. "Iya."
Bintang diam. Ia menatap laut. Ombak tenang. Angin bertiup. Matahari mulai tinggi.
"Senja," katanya pelan. "Apa kau punya bukti?"
Senja menggeleng. "Belum. Aku baru punya data. Tapi data saja tidak cukup. Kita butuh bukti. Saksi. Atau... pengakuan."
Bintang diam. Ia menatap laut. Ombak tenang.
"Aku akan mencari," katanya pelan. "Aku akan mencari bukti."
Senja mengangguk. "Aku bersamamu."
Mereka duduk diam. Menatap laut. Menatap langit. Menatap masa depan. Tidak ada yang bicara. Tapi keheningan itu... penuh tekad.
"Bintang!"
Bintang menoleh. Rudi berdiri di belakang mereka. Ia memakai kemeja rapi. Rambutnya disisir. Ia tersenyum. Tapi senyumnya tidak sampai ke mata.
"Rudi," kata Bintang pendek.
Rudi melangkah maju. Ia menatap Senja. Lalu ia menatap Bintang.
"Bintang," katanya. "Ada yang ingin aku bicarakan."
"Bicara saja."
Rudi menatap Senja. "Sendiri."
Bintang menatap Rudi lama. Lalu ia menoleh pada Senja.
"Senja," katanya pelan. "Tunggu aku di rumah Pak Harun."
Senja mengangguk. Ia berdiri. Ia menatap Rudi dengan curiga. Lalu ia berjalan pergi.
Bintang berdiri. Ia menatap Rudi. Matanya tajam.
"Ada apa?"
Rudi tersenyum. Ia mengeluarkan amplop dari sakunya. Ia menyerahkan pada Bintang.
"Ini dari Tuan Wijaya," katanya.
Bintang membuka amplop. Di dalamnya, ada selembar kertas. Ada angka. Banyak angka. Nol. Banyak nol.
"Apa ini?" tanya Bintang.
"Tawaran," jawab Rudi. "Tuan Wijaya ingin membeli tanahmu. Tanah yang kau warisi dari ayahmu. Ia menawarkan harga yang sangat tinggi."
Bintang menatap kertas itu. Lalu ia menatap Rudi. Matanya dingin.
"Aku tidak menjual."
Rudi mengangkat tangan. "Santai, Bintang. Aku hanya menyampaikan."
"Sampaikan pada Tuan Wijaya," kata Bintang tegas. "Tanah ini tidak dijual."
Rudi menatap Bintang lama. Lalu ia tersenyum. Senyum yang dingin.
"Bintang," katanya pelan. "Kau ini keras kepala. Seperti ayahmu."
Bintang mengepal tangan. Rahangnya mengeras.
"Jangan bawa-bawa ayahku."
Rudi tertawa. "Kenapa? Kau takut?"
Bintang melangkah maju. Ia berdiri di depan Rudi. Wajah mereka berhadapan.
"Aku tidak takut," katanya pelan. "Tapi kau harus tahu satu hal."
"Apa?"
Bintang menatap Rudi. Matanya dalam.
"Ayahku dibunuh," katanya pelan. "Dan aku akan mencari kebenaran."
Rudi terdiam. Wajahnya berubah. Ia mundur selangkah.
"Apa maksudmu?"
Bintang menatap Rudi lama. Lalu ia tersenyum tipis.
"Kau tahu maksudku," katanya pelan.
Ia berbalik. Ia berjalan pergi. Rudi berdiri di dermaga. Ia menatap punggung Bintang. Tangannya gemetar. Wajahnya pucat.
"Bintang!" panggilnya. "Kau tidak tahu apa yang kau lakukan!"
Bintang tidak menoleh. Ia terus berjalan. Langkahnya tegap. Hatinya penuh.
Di rumah Pak Harun, Senja menunggu. Ia duduk di teras. Ia memandang jalan. Ia menunggu Bintang.
Bintang datang. Ia duduk di samping Senja. Ia tidak bicara. Ia hanya menatap langit. Biru. Bersih.
"Bintang," kata Senja pelan. "Ada apa?"
Bintang menoleh. Ia menatap Senja. Matanya dalam.
"Rudi membawa tawaran dari Tuan Wijaya," jawabnya pelan. "Ia ingin membeli tanahku."
Senja mengerutkan kening. "Tanahmu?"
Bintang mengangguk. "Tanah warisan ayahku. Tanah yang aku jaga."
"Kau menolak?"
Bintang mengangguk. "Iya."
Senja menatap Bintang lama. Lalu ia meraih tangan pemuda itu. Erat.
"Bagus," katanya pelan. "Jangan pernah jual."
Bintang menatap Senja. Hatinya hangat.
"Senja," katanya pelan. "Aku bilang pada Rudi... aku akan mencari kebenaran tentang kematian ayahku."
Senja menatap Bintang. Matanya melebar.
"Kau bilang begitu?"
Bintang mengangguk. "Iya."
Senja diam. Ia menatap Bintang lama. Lalu ia menghela napas.
"Bintang," katanya pelan. "Kau sadar? Kau baru saja memberi tahu Rudi bahwa kau tahu."
"Iya."
"Itu berbahaya."
"Aku tahu."
Senja menatap Bintang. Ada sesuatu di mata pemuda itu—keteguhan.
"Kenapa kau lakukan?"
Bintang menatap Senja. Matanya dalam.
"Karena aku ingin mereka tahu," jawabnya pelan. "Aku ingin mereka takut. Aku ingin mereka tahu... aku tidak akan diam."
Senja diam. Ia menatap Bintang lama. Lalu ia tersenyum tipis.
"Kau ini..." katanya pelan. "Kau ini berani."
Bintang tersenyum. "Ayahku bilang, keberanian bukan berarti tidak takut. Keberanian berarti tetap melangkah meski takut."
Senja menatap Bintang. Hatinya berdebar. Ia meraih wajah pemuda itu. Pelan. Lembut.
"Bintang," katanya pelan. "Aku bangga padamu."
Bintang menatap Senja. Hatinya hangat. Ia meraih tangan perempuan itu. Erat.
"Senja," katanya pelan. "Terima kasih."
Mereka duduk diam. Menatap langit. Biru. Bersih. Di kejauhan, dermaga tua terlihat. Tempat mereka pertama bertemu. Tempat mereka pertama bicara. Tempat mereka pertama... merasa.
"Bintang," kata Senja pelan. "Apa kita akan baik-baik saja?"
Bintang menatap Senja. Matanya tenang.
"Aku tidak tahu," jawabnya pelan. "Tapi aku akan berusaha."
Senja mengangguk. Ia menyandarkan kepala di pundak Bintang. Erat.
"Aku juga," katanya pelan. "Aku akan berusaha."
Mereka duduk diam. Angin bertiup. Ombak memecah. Matahari bersinar. Dan di dalam hati mereka, ada sesuatu yang... lengkap.
Cinta.
Cinta yang tumbuh di dermaga tua. Di bawah matahari. Di atas laut. Di ujung senja.
"Bintang," kata Senja pelan. "Apa kau mau aku bantu mencari bukti?"
Bintang menoleh. "Kau sudah bantu."
"Aku ingin bantu lebih," kata Senja. "Aku bisa mencari saksi. Aku bisa mencari orang yang tahu."
Bintang menatap Senja lama. Lalu ia mengangguk.
"Baiklah," katanya pelan. "Kita cari bersama."
Senja mengangguk. Ia meraih tangan Bintang. Erat.
"Bersama," katanya pelan.
Mereka duduk diam. Menatap laut. Menatap langit. Menatap masa depan. Tidak ada yang bicara. Tapi keheningan itu... sempurna.
Seperti cinta yang baru saja ditemukan.
Di ujung senja.
Malam itu, Bintang pulang dengan hati berat. Ia membuka pintu rumah. Ratna duduk di ruang tengah. Ia menatap Bintang lama.
"Kau kenapa?" tanya Ratna.
Bintang diam. Ia duduk di samping ibunya.
"Bu," katanya pelan. "Aku bilang pada Rudi... aku akan mencari kebenaran tentang Ayah."
Ratna terdiam. Wajahnya pucat.
"Kau bilang apa?"
Bintang menatap ibunya. Matanya dalam.
"Aku bilang, aku akan mencari kebenaran," ulangnya pelan. "Aku bilang, Ayah dibunuh. Dan aku akan mencari siapa pembunuhnya."
Ratna menutup mulutnya. Air matanya jatuh.
"Bintang," katanya pelan. "Kau... kau tidak tahu apa yang kau lakukan."
"Aku tahu, Bu."
"Kau bisa celaka."
"Aku tidak takut."
Ratna meraih tangan Bintang. Erat. Tangannya dingin.
"Bintang," katanya pelan. "Ibu tidak ingin kehilangan kau."
Bintang menatap ibunya. Hatinya berat. Ia meraih wajah perempuan itu. Pelan. Lembut.
"Bu," katanya pelan. "Aku tidak akan pergi. Aku hanya ingin kebenaran."
Ratna menatap Bintang. Air matanya jatuh. Ia menunduk.
"Ayahmu dulu bilang begitu," katanya pelan. "Ia bilang, ia hanya ingin kebenaran. Dan ia... tidak kembali."
Bintang diam. Ia menatap ibunya. Hatinya penuh.
"Bu," katanya pelan. "Aku bukan Ayah."
Ratna menoleh. Matanya basah.
"Kau memang bukan ayahmu," katanya pelan. "Tapi kau mewarisi darahnya. Dan darah itu... darah itu selalu mencari."
Bintang diam. Ia menatap ibunya lama. Lalu ia berlutut di samping kursi Ratna. Ia meraih tangan ibunya. Erat.
"Bu," katanya pelan. "Aku tidak akan pergi. Aku hanya ingin tahu."
Ratna menatap Bintang. Air matanya jatuh. Ia meraih wajah anaknya. Tangannya gemetar.
"Aku takut," bisiknya. "Aku takut kehilangan kau juga."
Bintang menatap ibunya. Hatinya berat. Ia tidak tahu apa yang harus ia katakan. Ia hanya bisa memeluk ibunya. Erat.
Di luar, langit gelap. Bintang-bintang bersinar. Dan di dermaga tua, seorang perempuan masih duduk. Ia memandang laut. Ia menunggu. Ia tidak tahu apa yang ia tunggu. Tapi ia menunggu.
Seperti senja yang menunggu bintang.
Seperti hati yang menunggu dijawab.
Seperti doa yang menunggu dikabulkan.
Dan doa itu... mulai diuji.
BAB 13
BADAI DI RUMAH
Tiga hari setelah Bintang bicara pada Rudi, badai datang. Bukan badai di laut. Tapi badai di rumah.
Pagi itu, Bintang duduk di teras. Ia memperbaiki jala. Langit cerah. Angin tenang. Tapi ada sesuatu di udara. Sesuatu yang... gelisah.
Ratna keluar dari rumah. Wajahnya keras. Matanya merah. Seperti orang yang tidak tidur semalaman.
"Bintang," katanya pendek. "Masuk."
Bintang menoleh. Ia meletakkan jala. Ia masuk. Ratna duduk di kursi kayu. Ia menatap Bintang lama.
"Duduk."
Bintang duduk. Ia menatap ibunya. Ada sesuatu di mata perempuan itu—kemarahan. Ketakutan. Kesedihan.
"Bu," kata Bintang pelan. "Ada apa?"
Ratna tidak menjawab. Ia mengeluarkan selembar kertas dari lipatan kebayanya. Ia meletakkannya di meja. Kertas itu... surat. Surat dari Tuan Wijaya. Tawaran membeli tanah. Angka yang sangat tinggi.
"Apa ini?" tanya Ratna.
Bintang menatap surat itu. Lalu ia menatap ibunya.
"Tawaran dari Tuan Wijaya," jawabnya pelan. "Aku menolak."
"Kau menolak?"
"Iya."
Ratna berdiri. Ia menatap Bintang. Matanya tajam.
"Kenapa kau tidak bilang pada Ibu?"
Bintang diam. Ia menatap ibunya. Hatinya berat.
"Karena aku tahu Ibu akan marah," jawabnya pelan.
"Marah?" Ratna tertawa. Tawa yang pahit. "Kau pikir Ibu marah karena kau menolak?"
"Ibu marah karena aku tidak bilang?"
Ratna menggeleng. Ia menatap Bintang. Air matanya jatuh.
"Ibu marah," katanya pelan, "karena kau tidak sadar apa yang kau lakukan."
Bintang diam. Ia menatap ibunya.
"Bu," katanya pelan. "Aku tahu apa yang aku lakukan."
"Kau tidak tahu!" Ratna meninggikan suara. "Kau tidak tahu apa yang Ayahmu lakukan! Kau tidak tahu apa yang terjadi! Kau tidak tahu... kau tidak tahu betapa berbahayanya itu!"
Bintang diam. Ia menatap ibunya. Ada sesuatu di mata perempuan itu—ketakutan yang dalam.
"Bu," katanya pelan. "Aku tahu Ayah dibunuh. Aku tahu Pak Darma yang menyuruh. Aku tahu semuanya."
Ratna terdiam. Wajahnya pucat. Ia mundur selangkah. Ia menatap Bintang lama. Lalu ia menunduk. Air matanya jatuh.
"Jadi kau sudah tahu," bisiknya.
Bintang mengangguk. "Pak Harun yang bilang."
Ratna menutup matanya. Ia menghela napas panjang.
"Aku sudah menduga," katanya pelan. "Aku sudah menduga ia akan bilang."
Bintang berdiri. Ia berjalan mendekat. Ia meraih tangan ibunya. Erat.
"Bu," katanya pelan. "Kenapa Ibu tidak bilang dari dulu?"
Ratna membuka mata. Ia menatap Bintang. Air matanya jatuh.
"Karena Ibu takut," jawabnya pelan. "Ibu takut kehilangan kau. Seperti Ibu kehilangan Ayah."
"Bu..."
"Kau tidak tahu," lanjut Ratna pelan. "Kau tidak tahu bagaimana rasanya. Melihat suamimu pergi. Menunggu. Berharap. Lalu... menerima kenyataan bahwa ia tidak akan kembali."
Bintang diam. Ia menatap ibunya. Hatinya berat.
"Bu," katanya pelan. "Aku bukan Ayah. Aku akan kembali."
Ratna menoleh. Matanya basah.
"Kau tidak bisa berjanji," katanya pelan. "Ayahmu juga berjanji. Ia bilang, ia akan kembali. Ia bilang, ia akan membawa kebenaran. Tapi ia... tidak kembali."
Bintang menatap ibunya. Hatinya penuh. Ia ingin bicara. Ia ingin meyakinkan. Tapi ia tahu... kata-kata tidak cukup.
"Bu," katanya pelan. "Aku tahu Ibu takut. Aku tahu Ibu tidak ingin kehilangan aku. Tapi aku tidak bisa diam. Aku tidak bisa membiarkan Ayah mati tanpa keadilan."
Ratna menatap Bintang lama. Lalu ia menunduk. Tangannya gemetar.
"Kau keras kepala," katanya pelan. "Seperti ayahmu."
Bintang tersenyum tipis. "Iya."
Ratna menghela napas. Ia menatap Bintang. Matanya dalam.
"Bintang," katanya pelan. "Jika kau melakukan ini... kau harus hati-hati. Kau harus sabar. Kau harus... hidup."
Bintang mengangguk. "Aku akan hati-hati, Bu."
Ratna meraih wajah anaknya. Pelan. Lembut. Ia menatap mata Bintang. Ada sesuatu di mata perempuan itu—cinta. Ketakutan. Harapan.
"Aku tidak bisa melarangmu," katanya pelan. "Tapi aku bisa berdoa."
Bintang menatap ibunya. Hatinya hangat. Ia memeluk ibunya. Erat.
"Terima kasih, Bu," bisiknya.
Ratna membalas pelukan itu. Ia menutup mata. Air matanya jatuh.
"Kau sudah dewasa, Nak," katanya pelan. "Ibu bangga."
Mereka berdiri di ruang tengah. Berpelukan. Di luar, langit mulai gelap. Awan kelabu datang. Angin bertiup kencang. Badai... akan datang.
Sore itu, badai benar-benar datang. Hujan deras. Angin kencang. Ombak tinggi. Perahu-perahu nelayan ditarik ke darat. Warga berlindung di rumah masing-masing.
Bintang duduk di ruang tengah. Ia menatap jendela. Hujan membasahi kaca. Angin menggoyang dinding. Ia menghela napas. Ia memikirkan Senja. Ia berharap perempuan itu aman.
"Bintang."
Ia menoleh. Dewi berdiri di pintu kamar. Wajahnya pucat.
"Kak," katanya pelan. "Aku takut."
Bintang berdiri. Ia meraih tangan adiknya. Erat.
"Tidak apa-apa," katanya pelan. "Badai akan berlalu."
Dewi menatap kakaknya. Matanya basah.
"Kak," katanya pelan. "Aku dengar Ibu bicara. Tentang Ayah. Tentang Pak Darma."
Bintang diam. Ia menatap adiknya.
"Kau dengar?"
Dewi mengangguk. "Aku tidak sengaja."
Bintang menghela napas. Ia duduk di kursi. Ia menarik tangan adiknya. Dewi duduk di sampingnya.
"Dewi," katanya pelan. "Aku akan mencari kebenaran tentang kematian Ayah."
Dewi menatap kakaknya. Air matanya jatuh.
"Kak," katanya pelan. "Aku takut kehilangan kau."
Bintang meraih wajah adiknya. Pelan. Lembut.
"Kau tidak akan kehilangan aku," katanya pelan. "Aku janji."
Dewi menatap kakaknya. Lalu ia memeluk Bintang. Erat.
"Kak," bisiknya. "Aku bersamamu."
Bintang menutup mata. Ia mencium rambut adiknya. Pelan.
"Terima kasih, Dewi."
Mereka duduk diam. Hujan deras di luar. Angin kencang. Ombak tinggi. Tapi di dalam rumah, ada kehangatan. Ada cinta. Ada keluarga.
Malam itu, badai mulai reda. Hujan masih turun, tapi angin sudah tenang. Bintang duduk di teras. Ia menatap langit. Awan mulai terbuka. Bulan muncul. Sepotong. Redup.
Ia memikirkan Senja. Ia ingin bertemu. Ia ingin memastikan perempuan itu aman. Tapi badai masih deras. Ia tidak bisa keluar.
"Bintang."
Ia menoleh. Ratna berdiri di ambang pintu. Ia memakai selendang. Rambutnya terurai. Wajahnya... tenang.
"Bu," kata Bintang. "Ibu belum tidur?"
Ratna duduk di samping Bintang. Ia menatap langit. Bulan muncul di antara awan.
"Bintang," katanya pelan. "Ibu ingin bicara."
Bintang menatap ibunya. "Ada apa, Bu?"
Ratna menatap langit. Matanya jauh.
"Ayahmu," katanya pelan, "sebelum meninggal, ia menitipkan sesuatu padaku."
Bintang menoleh. Matanya melebar.
"Apa, Bu?"
Ratna meraih sesuatu dari dalam lipatan kebayanya. Sebuah liontin. Perak. Kecil. Ada ukiran bintang di permukaannya.
"Ini," katanya pelan. "Ayahmu bilang, ini untukmu. Ia bilang, buka hanya jika kau sudah siap."
Bintang menerima liontin itu. Tangannya gemetar. Ia menatap liontin itu lama. Ada ukiran bintang. Ada tulisan kecil di belakangnya.
"Untuk Bintang. Cahaya di ujung senja."
Bintang menatap tulisan itu. Air matanya jatuh. Ia menoleh pada ibunya.
"Bu," katanya pelan. "Apa isinya?"
Ratna menggeleng. "Ibu tidak tahu. Ayahmu bilang, hanya kau yang bisa membukanya."
Bintang menatap liontin itu. Ia mencoba membuka. Tapi ada kunci. Kecil. Tersembunyi.
"Ada kuncinya," katanya pelan.
Ratna mengangguk. "Ayahmu bilang, kuncinya ada pada nyanyian."
Bintang terdiam. Ia menatap liontin itu. Hatinya berdebar. Ia menutup matanya. Ia mengingat nyanyian itu. Ia mengingat liriknya. Ia mengingat bait demi bait.
Lalu ia membuka mata. Ia menatap liontin itu. Ia memutar ukiran bintang itu. Ke kanan. Ke kiri. Ke kanan lagi.
Klik.
Liontin itu terbuka.
Di dalamnya, ada selembar kertas kecil. Terlipat rapi. Bintang membukanya. Tulisan tangan ayahnya. Rapi. Miring-miring.
"Bintang, anakku.
Jika kau membaca ini, berarti kau sudah menemukan liontin ini. Berarti kau sudah siap.
Ayah ingin kau tahu: Bintang Terakhir bukan tempat. Bukan juga tujuan. Bintang Terakhir adalah... kau sendiri.
Kau adalah cahaya di ujung senja. Kau adalah harapan di ujung malam. Kau adalah... bintang terakhir.
Jaga nyanyian itu. Jaga tanah itu. Jaga cinta itu.
Dan jangan lupa... ayah selalu bersamamu.
Ayahmu,
Surya."
Bintang menutup kertas itu. Air matanya jatuh. Ia menangis. Ia tidak menyeka. Ia hanya duduk. Diam. Hatinya penuh.
"Bu," katanya pelan. "Ayah bilang... aku adalah bintang terakhir."
Ratna menatap Bintang. Air matanya jatuh. Ia meraih tangan anaknya. Erat.
"Iya," katanya pelan. "Kau memang bintang terakhir."
Bintang menatap ibunya. Hatinya hangat. Ia memeluk ibunya. Erat.
"Bu," bisiknya. "Aku akan menjaga semuanya."
Ratna membalas pelukan itu. Ia menutup mata. Air matanya jatuh.
"Ibu percaya," katanya pelan.
Mereka duduk diam. Badai telah reda. Bulan muncul di langit. Bintang-bintang bersinar. Dan di dermaga tua, seorang perempuan masih duduk. Ia memandang laut. Ia menunggu. Ia tidak tahu apa yang ia tunggu. Tapi ia menunggu.
Seperti senja yang menunggu bintang.
Seperti hati yang menunggu dijawab.
Seperti doa yang menunggu dikabulkan.
Dan doa itu... mulai terkabul.
Pagi berikutnya, Bintang berjalan ke dermaga tua. Ia ingin bertemu Senja. Ia ingin menunjukkan liontin itu. Ia ingin berbagi.
Senja sudah menunggu. Ia duduk di ujung dermaga. Kakinya menggantung di atas air. Ia memandang laut. Ia tersenyum.
"Kau datang," kata Senja.
Bintang duduk di sampingnya. Ia mengeluarkan liontin itu. Ia menyerahkan pada Senja.
"Apa ini?" tanya Senja.
"Dari Ayah," jawab Bintang pelan. "Ia menitipkan pada Ibu. Untukku."
Senja membuka liontin itu. Ia membaca tulisan di dalamnya. Air matanya jatuh.
"Bintang," katanya pelan. "Kau... kau adalah bintang terakhir."
Bintang mengangguk. "Iya."
Senja menatap Bintang. Matanya basah. Ia meraih tangan pemuda itu. Erat.
"Bintang," katanya pelan. "Aku bangga padamu."
Bintang menatap Senja. Hatinya hangat. Ia meraih wajah perempuan itu. Pelan. Lembut.
"Senja," katanya pelan. "Terima kasih."
Senja tersenyum. Air matanya jatuh. Ia menyandarkan kepala di pundak Bintang. Erat.
"Bintang," katanya pelan. "Apa kita akan baik-baik saja?"
Bintang menatap laut. Ombak tenang. Matahari bersinar. Langit biru.
"Aku tidak tahu," jawabnya pelan. "Tapi aku akan berusaha."
Senja mengangguk. Ia menutup mata. Ia merasa tenang. Di dermaga tua. Di bawah matahari. Di atas laut. Di ujung senja.
"Bintang," bisiknya.
"Ya?"
"Aku mencintaimu."
Bintang menutup mata. Ia mencium rambut Senja. Pelan. Lembut.
"Aku juga," bisiknya. "Aku mencintaimu."
Mereka duduk diam. Berpelukan. Angin bertiup. Ombak memecah. Matahari bersinar. Dan di dalam hati mereka, ada sesuatu yang... lengkap.
Cinta.
Cinta yang tumbuh di dermaga tua. Di bawah matahari. Di atas laut. Di ujung senja.
BAB 14
JANJI DI BAWAH BINTANG
Malam itu langit sangat cerah. Tidak ada awan. Tidak ada bulan. Hanya bintang-bintang. Ribuan. Jutaan. Bersinar terang di atas laut. Seperti taburan permata di atas kain hitam.
Bintang duduk di dermaga tua. Ia memakai kemeja putih. Rambutnya disisir rapi. Di tangannya, liontin dari ayahnya. Ia menatap langit. Ia menatap bintang-bintang. Ia menatap... masa depan.
Ia menunggu Senja. Malam ini istimewa. Malam ini ia ingin bicara. Ia ingin berjanji. Ia ingin... memulai sesuatu.
"Bintang."
Ia menoleh. Senja berdiri di belakangnya. Ia memakai gaun putih sederhana. Rambutnya terurai. Di lehernya, ada kalung kecil. Ia tersenyum. Cantik. Sangat cantik.
Bintang berdiri. Ia menatap Senja lama. Hatinya berdebar.
"Kau... cantik," katanya pelan.
Senja tersipu. "Terima kasih."
Bintang mengulurkan tangan. Senja menerimanya. Mereka duduk bersama di dermaga. Kaki menggantung di atas air. Tangan bertaut. Mata menatap langit.
"Bintang," kata Senja pelan. "Kenapa kau mengajakku ke sini malam-malam?"
Bintang menatap Senja. Matanya dalam.
"Aku ingin bicara," jawabnya pelan. "Tentang kita."
Senja menoleh. Matanya melebar. Hatinya berdebar.
"Tentang kita?"
Bintang mengangguk. Ia menatap langit. Bintang-bintang bersinar. Terang. Abadi.
"Senja," katanya pelan. "Aku sudah banyak berpikir. Tentang hidupku. Tentang ayahku. Tentang kampung ini. Tentang... kau."
Senja diam. Ia mendengarkan.
"Aku tahu," lanjut Bintang, "aku bukan siapa-siapa. Aku hanya nelayan. Aku tidak punya banyak uang. Aku tidak punya gelar. Aku tidak punya... apa-apa."
"Bintang..."
"Tapi," lanjut Bintang, "aku punya cinta. Aku punya nyanyian. Aku punya tanah ini. Aku punya... kau."
Senja menatap Bintang. Air matanya jatuh. Ia tersenyum.
"Bintang," katanya pelan. "Aku tidak butuh uang. Aku tidak butuh gelar. Aku tidak butuh apa-apa. Aku hanya butuh... kau."
Bintang menatap Senja. Hatinya hangat. Ia meraih tangan perempuan itu. Erat.
"Senja," katanya pelan. "Aku ingin berjanji."
"Janji apa?"
Bintang menatap langit. Bintang-bintang bersinar. Terang. Abadi.
"Aku berjanji," katanya pelan, "aku akan menjaga nyanyian itu. Aku akan menjaga tanah itu. Aku akan menjaga cinta itu."
Senja menatap Bintang. Matanya basah.
"Aku juga," katanya pelan. "Aku berjanji."
Bintang menoleh. Ia menatap Senja lama. Lalu ia meraih sesuatu dari sakunya. Sebuah cincin. Sederhana. Perak. Ada ukiran bintang di permukaannya.
"Senja," katanya pelan. "Aku tidak punya banyak. Tapi aku punya ini. Cincin ini... milik ibuku. Ayahku memberikannya pada ibu. Dulu. Sebelum mereka menikah."
Senja menutup mulutnya. Matanya melebar.
"Bintang..."
Bintang menatap Senja. Matanya dalam. Ada sesuatu di mata pemuda itu—cinta. Ketulusan. Harapan.
"Senja," katanya pelan. "Apa kau mau... menikah denganku?"
Senja terdiam. Air matanya jatuh. Ia menatap Bintang lama. Lalu ia tersenyum. Senyum yang lebar. Senyum yang bahagia.
"Iya," jawabnya pelan. "Iya, Bintang. Aku mau."
Bintang menatap Senja. Hatinya meledak. Ia meraih tangan perempuan itu. Ia menyematkan cincin di jari manisnya. Pelan. Lembut. Seperti orang yang sedang menyimpan kenangan.
Senja menatap cincin di jarinya. Air matanya jatuh. Ia memeluk Bintang. Erat. Bintang membalas pelukan itu. Erat. Mereka berdiri di dermaga tua. Berpelukan. Di bawah bintang-bintang. Di atas laut. Di ujung senja.
"Bintang," bisik Senja.
"Ya?"
"Aku mencintaimu."
Bintang menutup mata. Ia mencium rambut Senja. Pelan. Lembut.
"Aku juga," bisiknya. "Aku mencintaimu."
Mereka duduk kembali. Tangan bertaut. Cincin di jari Senja. Bintang-bintang di langit. Ombak di bawah. Angin di sekitar. Tidak ada yang bicara. Tapi keheningan itu... sempurna.
"Bintang," kata Senja pelan. "Apa kita akan menikah di sini?"
Bintang mengangguk. "Iya. Di dermaga ini. Di bawah bintang-bintang. Di depan warga. Di depan leluhur."
Senja tersenyum. "Aku suka."
"Tapi," lanjut Bintang, "ada satu hal yang harus kita lakukan dulu."
"Apa?"
Bintang menatap Senja. Matanya dalam.
"Kita harus menyelesaikan ini," jawabnya pelan. "Kita harus mencari kebenaran tentang ayahku. Kita harus menghentikan Pak Darma. Kita harus... menyelamatkan kampung ini."
Senja mengangguk. "Aku tahu."
"Kau tidak takut?"
Senja menatap Bintang. Matanya tenang.
"Aku takut," jawabnya pelan. "Tapi aku lebih takut kehilangan kau."
Bintang menatap Senja. Hatinya penuh. Ia meraih wajah perempuan itu. Pelan. Lembut.
"Senja," katanya pelan. "Terima kasih."
Senja tersenyum. Air matanya jatuh. Ia menyandarkan kepala di pundak Bintang. Erat.
"Bintang," katanya pelan. "Apa kita akan baik-baik saja?"
Bintang menatap langit. Bintang-bintang bersinar. Terang. Abadi.
"Aku tidak tahu," jawabnya pelan. "Tapi aku akan berusaha."
Senja mengangguk. Ia menutup mata. Ia merasa tenang. Di dermaga tua. Di bawah bintang-bintang. Di atas laut. Di ujung senja.
"Bintang," bisiknya.
"Ya?"
"Aku bahagia."
Bintang menutup mata. Ia mencium rambut Senja. Pelan. Lembut.
"Aku juga," bisiknya. "Aku bahagia."
Mereka duduk diam. Berpelukan. Angin bertiup. Ombak memecah. Bintang-bintang bersinar. Dan di dalam hati mereka, ada sesuatu yang... lengkap.
Cinta.
Cinta yang tumbuh di dermaga tua. Di bawah bintang-bintang. Di atas laut. Di ujung senja.
Pagi berikutnya, Bintang berjalan pulang. Langit masih gelap. Bintang-bintang masih bersinar. Ia membuka pintu rumah. Ratna duduk di ruang tengah. Ia tidak tidur. Ia menunggu.
"Kau dari mana?" tanya Ratna.
Bintang diam. Ia menatap ibunya. Lalu ia tersenyum.
"Dari dermaga," jawabnya pelan. "Aku... melamar Senja."
Ratna menatap Bintang lama. Lalu ia tersenyum. Senyum yang hangat. Senyum yang bahagia.
"Kau melamar Senja?"
Bintang mengangguk. "Iya. Ia menerima."
Ratna berdiri. Ia memeluk Bintang. Erat.
"Ibu bahagia," katanya pelan. "Sangat bahagia."
Bintang membalas pelukan itu. Erat.
"Bu," katanya pelan. "Terima kasih."
Ratna menutup mata. Air matanya jatuh.
"Kau sudah dewasa, Nak," katanya pelan. "Ibu bangga."
Mereka berdiri di ruang tengah. Berpelukan. Di luar, langit mulai terang. Matahari muncul di ufuk timur. Dan di dermaga tua, seorang perempuan masih duduk. Ia memandang laut. Ia tersenyum. Ia menunggu.
Seperti senja yang menunggu bintang.
Seperti hati yang menunggu dijawab.
Seperti doa yang menunggu dikabulkan.
Dan doa itu... mulai terkabul.
BAGIAN III: PERJALANAN HIDUP
BAB 15
TUAN WIJAYA
Pagi itu Tanjung Senja tidak seperti biasanya. Ada mobil hitam berkilau terparkir di depan balai kampung. Ada beberapa orang berpakaian rapi turun dari mobil. Mereka membawa tas, laptop, dan peta besar. Warga yang melintas menatap dengan campuran rasa ingin tahu dan curiga.
Tuan Wijaya datang.
Bintang berdiri di teras rumah Pak Harun. Ia memakai kemeja putih sederhana. Rambutnya disisir rapi. Di sampingnya, Senja memakai kemeja biru muda. Di tangannya, buku catatan. Di belakang mereka, Pak Harun duduk di kursi kayu. Wajahnya keras. Matanya tajam.
"Ia datang," kata Pak Harun pelan.
Bintang mengangguk. "Iya."
"Kau siap?"
Bintang menatap Pak Harun. Matanya tenang.
"Siap," jawabnya pelan.
Senja meraih tangan Bintang. Erat.
"Aku bersamamu," katanya pelan.
Bintang menatap Senja. Hatinya hangat. Ia mengangguk.
"Ayo," katanya.
Mereka berjalan ke balai kampung. Warga sudah berkumpul. Ada yang duduk. Ada yang berdiri. Ada yang berbisik. Ada yang diam. Di depan balai, sebuah meja panjang didirikan. Di belakang meja, Tuan Wijaya duduk. Ia memakai jas abu-abu. Kulitnya putih. Matanya kecil. Ia tersenyum. Tapi senyumnya dingin.
Di samping Tuan Wijaya, Pak Darma duduk. Ia memakai kemeja batik. Di tangannya, cerutu. Ia tersenyum sinis. Di samping Pak Darma, Rudi berdiri. Ia memakai kemeja rapi. Rambutnya disisir. Ia menatap Bintang dengan mata tajam.
Bintang masuk ke balai. Warga menoleh. Mereka berbisik. Mereka menatap Bintang. Ada yang tersenyum. Ada yang mengangguk. Ada yang... mengangkat tangan.
Bintang duduk di barisan depan. Senja di sampingnya. Pak Harun di belakangnya. Dewi dan Ratna duduk di barisan belakang. Ratna menatap Bintang. Matanya basah. Tapi ia tersenyum.
"Warga Tanjung Senja," kata Tuan Wijaya. Suaranya halus. Tapi tegas. "Terima kasih atas kehadiran kalian. Saya datang ke sini bukan untuk memaksa. Saya datang untuk... menawarkan."
Ia membuka peta besar. Di peta itu, tergambar Tanjung Senja. Ada garis-garis. Ada warna-warna. Ada rencana.
"Saya ingin membangun resort di kampung ini," lanjut Tuan Wijaya. "Resort yang indah. Hotel. Restoran. Tempat wisata. Saya ingin kampung ini... maju."
Warga berbisik. Ada yang mengangguk. Ada yang menggeleng.
"Dengan resort ini," lanjut Tuan Wijaya, "kalian tidak perlu melaut lagi. Kalian bisa bekerja di resort. Gaji tetap. Tidak perlu khawatir ombak. Tidak perlu khawatir ikan."
Ia menatap warga. Matanya menyapu.
"Saya menawarkan tanah kalian dengan harga yang sangat tinggi. Kalian bisa beli rumah baru. Kalian bisa sekolahkan anak-anak. Kalian bisa... hidup lebih baik."
Warga diam. Ada yang terlihat tergoda. Ada yang ragu.
"Tapi," kata Tuan Wijaya, "saya tidak memaksa. Saya hanya menawarkan. Keputusan ada di tangan kalian."
Ia duduk. Ia menatap Pak Darma. Pak Darma mengangguk. Ia berdiri. Ia menatap warga.
"Warga sekalian," kata Pak Darma. "Kita sudah lama hidup susah. Ikan semakin sulit. Ombak semakin tinggi. Anak-anak kita tidak bisa sekolah. Rumah-rumah kita bocor. Kita butuh perubahan. Kita butuh... kemajuan."
Ia menatap Bintang. Matanya tajam.
"Tapi ada yang tidak setuju," lanjut Pak Darma. "Ada yang ingin kita tetap miskin. Ada yang ingin kita tetap bodoh. Ada yang ingin kita... tetap di sini. Selamanya."
Warga menoleh pada Bintang. Bintang duduk diam. Wajahnya tenang.
"Bintang," kata Pak Darma. "Kau tidak setuju?"
Bintang berdiri. Ia menatap Pak Darma. Matanya tenang. Tapi ada sesuatu di dalamnya—api yang menyala.
"Saya tidak setuju," jawabnya pelan. "Tapi bukan karena saya ingin kita miskin. Bukan karena saya ingin kita bodoh. Bukan karena saya ingin kita tetap di sini."
Ia menatap warga. Matanya menyapu.
"Saya tidak setuju," lanjut Bintang, "karena tanah ini tanah leluhur. Karena kampung ini kampung kita. Karena nyanyian ini nyanyian kita. Dan saya tidak akan menjualnya... kepada siapa pun."
Warga diam. Ada yang mengangguk. Ada yang berbisik.
"Tanah leluhur?" Pak Darma tertawa. "Bintang, kau hidup di zaman apa? Tanah leluhur tidak bisa dimakan. Tanah leluhur tidak bisa dipakai. Tanah leluhur hanya... tanah."
Bintang menatap Pak Darma. Matanya dingin.
"Tanah ini bukan sekadar tanah," katanya pelan. "Tanah ini adalah darah. Tanah ini adalah doa. Tanah ini adalah... hidup kami."
Pak Darma mengangkat tangan. "Ah, kau ini sama seperti ayahmu. Kepala batu."
Bintang melangkah maju. Ia berdiri di depan Pak Darma. Wajah mereka berhadapan.
"Ayah saya," katanya pelan, "adalah orang yang menjaga tanah ini sampai akhir. Ia mati karena tanah ini. Dan saya tidak akan membiarkan kematiannya sia-sia."
Balai kampung hening. Warga menahan napas. Pak Darma terdiam. Wajahnya pucat.
"Apa maksudmu?" tanya Pak Darma pelan.
Bintang menatap Pak Darma lama. Lalu ia tersenyum tipis. Senyum yang dingin.
"Kau tahu maksudku," katanya pelan.
Ia berbalik. Ia berjalan kembali ke tempat duduknya. Warga menatapnya. Ada yang tersenyum. Ada yang mengangguk. Ada yang... mengangkat tangan.
Tuan Wijaya berdiri. Ia menatap Bintang lama. Lalu ia tersenyum. Senyum yang... aneh.
"Menarik," katanya pelan. "Sangat menarik."
Ia menatap warga. Matanya menyapu.
"Baiklah," katanya. "Saya tidak akan memaksa. Saya akan memberi kalian waktu. Satu minggu. Kalian pikirkan. Kalian bicarakan. Kalian... putuskan."
Ia melipat peta. Ia memasukkan ke dalam tas. Ia berjalan keluar. Pak Darma mengikutinya. Rudi mengikutinya. Mereka masuk ke mobil. Mobil hitam itu pergi.
Balai kampung hening. Warga diam. Lalu mereka berbisik. Mereka berdebat. Mereka... terbelah.
Bintang duduk di kursi. Ia menatap langit. Biru. Bersih. Ia menghela napas. Ia merasa... berat.
"Bintang."
Ia menoleh. Senja duduk di sampingnya. Ia meraih tangan Bintang. Erat.
"Kau hebat," katanya pelan.
Bintang tersenyum tipis. "Aku hanya bicara."
"Kau bicara dengan hati," kata Senja. "Aku bisa merasakannya."
Bintang menatap Senja. Hatinya hangat.
"Senja," katanya pelan. "Apa kita akan baik-baik saja?"
Senja menatap Bintang. Matanya tenang.
"Kita akan baik-baik saja," jawabnya pelan. "Karena kita bersama."
Bintang mengangguk. Ia meraih tangan Senja. Erat.
"Iya," katanya pelan. "Kita bersama."
Mereka duduk diam. Menatap langit. Biru. Bersih. Di kejauhan, dermaga tua terlihat. Tempat mereka pertama bertemu. Tempat mereka pertama bicara. Tempat mereka pertama... merasa.
"Bintang," kata Senja pelan. "Apa kau mau aku bantu?"
Bintang menoleh. "Bantu apa?"
"Mencari bukti," jawab Senja. "Aku bisa mulai besok. Aku bisa mencari saksi. Aku bisa mencari orang yang tahu."
Bintang menatap Senja lama. Lalu ia mengangguk.
"Baiklah," katanya pelan. "Kita cari bersama."
Senja mengangguk. Ia meraih tangan Bintang. Erat.
"Bersama," katanya pelan.
Mereka duduk diam. Menatap laut. Menatap langit. Menatap masa depan. Tidak ada yang bicara. Tapi keheningan itu... penuh tekad.
Malam itu, Bintang pulang dengan hati berat. Ia membuka pintu rumah. Ratna duduk di ruang tengah. Ia menatap Bintang lama.
"Kau kenapa?" tanya Ratna.
Bintang diam. Ia duduk di samping ibunya.
"Bu," katanya pelan. "Tuan Wijaya datang. Ia ingin membeli tanah kita. Ia memberi waktu satu minggu."
Ratna diam. Wajahnya keras.
"Apa kau akan menjual?"
Bintang menoleh. Matanya tajam.
"Tidak," jawabnya tegas. "Aku tidak akan menjual."
Ratna menatap Bintang lama. Lalu ia tersenyum. Senyum yang hangat.
"Bagus," katanya pelan. "Ayahmu pasti bangga."
Bintang menatap ibunya. Hatinya hangat. Ia meraih tangan perempuan itu. Erat.
"Bu," katanya pelan. "Aku akan menjaga tanah ini. Aku akan menjaga nyanyian ini. Aku akan menjaga... semuanya."
Ratna mengangguk. Air matanya jatuh.
"Ibu percaya," katanya pelan.
Mereka duduk diam. Di luar, langit gelap. Bintang-bintang bersinar. Dan di dermaga tua, seorang perempuan masih duduk. Ia memandang laut. Ia menunggu. Ia tidak tahu apa yang ia tunggu. Tapi ia menunggu.
Seperti senja yang menunggu bintang.
Seperti hati yang menunggu dijawab.
Seperti doa yang menunggu dikabulkan.
Dan doa itu... mulai diuji.
BAB 16
RAPAT WARGA
Minggu pertama setelah Tuan Wijaya datang, Tanjung Senja tidak pernah tenang. Warga terbelah. Ada yang pro. Ada yang kontra. Ada yang diam. Ada yang bingung. Di warung, di dermaga, di pasar, di rumah, topiknya sama: resort. Tanah. Uang. Masa depan.
Bintang tidak suka keributan. Tapi ia tahu, ia tidak bisa menghindar. Ia harus bicara. Ia harus membela. Ia harus... memimpin.
Malam itu, balai kampung penuh. Warga berkumpul. Mereka duduk bersila di atas tikar pandan. Mereka menunggu. Mereka berbisik. Mereka... gelisah.
Di depan balai, sebuah meja panjang didirikan. Di belakang meja, Pak Harun duduk. Ia memakai baju adat. Wajahnya keras. Matanya tajam. Di sampingnya, Bintang duduk. Ia memakai kemeja putih. Rambutnya disisir rapi. Di belakangnya, Senja duduk. Ia memegang buku catatan. Di samping Senja, Dewi dan Ratna. Mereka menatap Bintang. Mata mereka... berharap.
"Warga Tanjung Senja," kata Pak Harun. Suaranya lantang. "Kita berkumpul di sini untuk membicarakan tawaran Tuan Wijaya. Kita berkumpul di sini untuk memutuskan... masa depan kampung ini."
Warga diam. Mereka menunggu.
"Saya tidak akan bicara panjang," lanjut Pak Harun. "Saya hanya ingin mengingatkan: tanah ini tanah leluhur. Tanah ini diwariskan turun-temurun. Tanah ini... bukan milik kita. Tanah ini milik anak cucu kita."
Warga mengangguk. Ada yang berbisik.
"Tapi," lanjut Pak Harun, "saya juga tidak akan memaksa. Saya tidak akan melarang. Saya hanya ingin kalian berpikir. Berpikir dengan hati. Berpikir dengan akal. Berpikir... dengan cinta."
Ia duduk. Ia menatap Bintang. Ia mengangguk.
Bintang berdiri. Ia menatap warga. Ratusan mata menatapnya. Ia menghela napas. Ia menutup mata. Ia mengingat ayahnya. Ia mengingat nyanyian itu. Ia mengingat senja di dermaga.
Lalu ia bicara.
"Warga sekalian," katanya pelan. "Saya bukan siapa-siapa. Saya hanya nelayan. Saya tidak punya gelar. Saya tidak punya uang. Saya tidak punya... apa-apa."
Warga diam. Mereka mendengarkan.
"Tapi," lanjut Bintang, "saya punya sesuatu. Saya punya tanah ini. Saya punya nyanyian ini. Saya punya... leluhur ini."
Ia menatap warga. Matanya dalam.
"Tanah ini bukan sekadar tanah," katanya pelan. "Tanah ini adalah darah. Tanah ini adalah doa. Tanah ini adalah... hidup kami."
Warga diam. Ada yang mengangguk. Ada yang menunduk.
"Saya tahu," lanjut Bintang, "kita hidup susah. Ikan semakin sulit. Ombak semakin tinggi. Anak-anak kita tidak bisa sekolah. Rumah-rumah kita bocor. Kita butuh perubahan. Kita butuh... kemajuan."
Ia menatap warga. Matanya menyapu.
"Tapi," katanya pelan, "kemajuan bukan berarti menjual tanah. Kemajuan bukan berarti menjual nyanyian. Kemajuan bukan berarti... menjual diri."
Warga diam. Ada yang berbisik. Ada yang mengangguk.
"Saya tidak akan melarang kalian," lanjut Bintang. "Saya tidak akan memaksa. Saya hanya ingin kalian berpikir. Berpikir... dengan hati."
Ia duduk. Ia menatap Pak Harun. Pak Harun mengangguk. Ia tersenyum.
"Terima kasih, Bintang," kata Pak Harun. "Sekarang, saya persilakan warga yang ingin bicara."
Seorang lelaki tua berdiri. Ia memakai sarung dan peci. Ia menatap Bintang lama.
"Bintang," katanya pelan. "Saya sudah tua. Saya sudah melihat banyak. Saya sudah mengalami banyak. Saya tahu... kau benar. Tanah ini tanah leluhur. Tanah ini tidak boleh dijual."
Warga mengangguk. Ada yang bertepuk tangan.
"Tapi," lanjut lelaki tua itu, "saya juga tahu... kita butuh uang. Kita butuh makan. Kita butuh... hidup."
Ia menatap Bintang. Matanya basah.
"Apa kau punya solusi?"
Bintang diam. Ia menatap lelaki tua itu. Hatinya berat. Ia tidak punya solusi. Ia hanya punya keyakinan. Ia hanya punya cinta.
"Saya belum punya solusi," jawab Bintang pelan. "Tapi saya akan mencari. Saya akan berusaha. Saya akan... berjuang."
Lelaki tua itu mengangguk. Ia duduk. Warga diam.
Pak Darma berdiri. Ia memakai kemeja batik. Di tangannya, cerutu. Ia tersenyum sinis.
"Warga sekalian," katanya lantang. "Saya dengar semua. Saya dengar Bintang. Saya dengar Pak Harun. Saya dengar... semua."
Ia menatap warga. Matanya menyapu.
"Tapi," lanjut Pak Darma, "saya tidak dengar solusi. Saya tidak dengar jawaban. Saya hanya dengar... janji. Janji kosong. Janji... seperti ayahnya."
Bintang mengepal tangan. Rahangnya mengeras.
"Ayah saya," katanya pelan, "bukan orang yang suka berjanji kosong. Ia orang yang berjuang. Ia orang yang... mati untuk tanah ini."
Pak Darma tertawa. "Mati? Ia mati karena bodoh. Ia mati karena keras kepala. Ia mati karena... tidak mau berubah."
Bintang berdiri. Ia melangkah maju. Wajahnya keras.
"Jangan bawa-bawa ayah saya," katanya pelan. "Kau tidak tahu apa-apa."
Pak Darma mengangkat tangan. "Oh, saya tahu. Saya tahu banyak. Saya tahu... rahasia besar."
Bintang terdiam. Hatinya berdebar.
"Rahasia apa?" tanya Bintang pelan.
Pak Darma tersenyum. Senyum yang dingin.
"Rahasia tentang kematian ayahmu," jawabnya pelan. "Rahasia... yang akan membuatmu hancur."
Balai kampung hening. Warga menahan napas. Bintang menatap Pak Darma. Matanya tajam.
"Katakan," katanya pelan.
Pak Darma tertawa. "Tidak di sini. Tidak sekarang. Nanti... kalau kau sudah siap."
Ia duduk. Ia menyalakan cerutu. Asapnya membubung ke langit-langit. Bintang berdiri. Ia menatap Pak Darma lama. Lalu ia menoleh pada Senja. Senja menatapnya. Matanya basah. Ia menggeleng. Jangan. Jangan terpancing.
Bintang menghela napas. Ia duduk kembali. Ia menatap warga.
"Warga sekalian," katanya pelan. "Saya tidak akan terpancing. Saya tidak akan marah. Saya hanya ingin kalian tahu: saya akan mencari kebenaran. Tentang ayah saya. Tentang tanah ini. Tentang... semuanya."
Warga diam. Ada yang mengangguk. Ada yang menunduk.
"Saya akan mencari bukti," lanjut Bintang. "Saya akan mencari saksi. Saya akan mencari... keadilan."
Ia menatap Pak Darma. Matanya dingin.
"Dan saya tidak akan berhenti," katanya pelan, "sampai saya menemukannya."
Pak Darma tersenyum. Ia mengangkat cerutu. Ia menikmatinya. Ia tidak bicara. Tapi matanya... menantang.
Pak Harun berdiri. Ia menatap warga.
"Warga sekalian," katanya pelan. "Rapat ini... kita tunda. Kita beri waktu. Kita beri... kesempatan. Untuk berpikir. Untuk mencari. Untuk... memutuskan."
Warga mengangguk. Mereka berdiri. Mereka berjalan keluar. Mereka berbisik. Mereka... terbelah.
Bintang duduk di kursi. Ia menatap langit. Gelap. Bintang-bintang bersinar. Ia menghela napas. Ia merasa... berat.
"Bintang."
Ia menoleh. Senja duduk di sampingnya. Ia meraih tangan Bintang. Erat.
"Kau hebat," katanya pelan.
Bintang tersenyum tipis. "Aku hanya bicara."
"Kau bicara dengan hati," kata Senja. "Aku bisa merasakannya."
Bintang menatap Senja. Hatinya hangat.
"Senja," katanya pelan. "Apa yang Pak Darma maksud? Rahasia apa?"
Senja diam. Ia menatap Bintang lama. Lalu ia menghela napas.
"Aku tidak tahu," jawabnya pelan. "Tapi aku akan mencari tahu."
Bintang menatap Senja. Hatinya berdebar.
"Senja," katanya pelan. "Apa kau tidak takut?"
Senja menatap Bintang. Matanya tenang.
"Aku takut," jawabnya pelan. "Tapi aku lebih takut kehilangan kau."
Bintang menatap Senja. Hatinya penuh. Ia meraih wajah perempuan itu. Pelan. Lembut.
"Senja," katanya pelan. "Terima kasih."
Senja tersenyum. Air matanya jatuh. Ia menyandarkan kepala di pundak Bintang. Erat.
"Bintang," katanya pelan. "Apa kita akan baik-baik saja?"
Bintang menatap langit. Bintang-bintang bersinar. Terang. Abadi.
"Aku tidak tahu," jawabnya pelan. "Tapi aku akan berusaha."
Senja mengangguk. Ia menutup mata. Ia merasa tenang. Di balai kampung. Di bawah bintang-bintang. Di ujung senja.
"Bintang," bisiknya.
"Ya?"
"Aku mencintaimu."
Bintang menutup mata. Ia mencium rambut Senja. Pelan. Lembut.
"Aku juga," bisiknya. "Aku mencintaimu."
Mereka duduk diam. Berpelukan. Angin bertiup. Ombak memecah. Bintang-bintang bersinar. Dan di dalam hati mereka, ada sesuatu yang... lengkap.
Cinta.
Cinta yang tumbuh di balai kampung. Di bawah bintang-bintang. Di atas laut. Di ujung senja.
Pagi berikutnya, Senja berjalan ke rumah Pak Harun. Ia ingin mencari tahu. Ia ingin mencari bukti. Ia ingin... membantu Bintang.
Pak Harun duduk di teras. Ia memakai sarung dan baju lengan panjang. Di tangannya, kopi. Ia menatap Senja lama.
"Kau datang pagi-pagi," katanya.
Senja duduk di samping Pak Harun. Ia meletakkan buku catatannya.
"Pak," katanya pelan. "Aku ingin bertanya."
"Tanya apa?"
"Tentang rahasia yang Pak Darma maksud," jawab Senja. "Tentang kematian Surya."
Pak Harun diam. Ia menatap Senja lama. Lalu ia menghela napas.
"Kau ini keras kepala," katanya pelan. "Seperti Bintang."
Senja tersenyum tipis. "Iya."
Pak Harun menatap langit. Biru. Bersih. Ia menghela napas.
"Ada satu hal yang belum kuceritakan," katanya pelan. "Tentang Surya. Tentang kematiannya."
Senja menatap Pak Harun. Matanya melebar.
"Apa, Pak?"
Pak Harun menatap Senja. Matanya dalam.
"Surya," katanya pelan, "bukan hanya dibunuh. Ia... dikhianati."
Senja terdiam. Hatinya berdebar.
"Dikhianati?"
Pak Harun mengangguk. "Iya. Oleh orang yang ia percaya. Oleh orang yang ia... cintai."
Senja menatap Pak Harun. Matanya basah.
"Siapa?"
Pak Harun menatap Senja lama. Lalu ia menunduk. Tangannya gemetar.
"Nyi Rukmi," jawabnya pelan. "Nenekmu."
BAB 17
PERSAHABATAN YANG TERUJI
Sejak rapat warga, Tanjung Senja semakin terbelah. Warga yang dulu saling menyapa kini saling menghindar. Warung-warung sepi. Pasar ramai tapi dingin. Di dermaga, nelayan-nelayan tidak lagi bercerita. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Ada yang menghitung uang. Ada yang menghitung dosa.
Bintang merasakan itu. Ia merasakan kampungnya retak. Ia merasakan persahabatan luntur. Dan yang paling menyakitkan... ia merasakan Andi menjauh.
Andi. Sahabatnya sejak kecil. Teman bermain. Teman melaut. Teman berbagi. Kini... berbeda.
Pagi itu, Bintang duduk di dermaga tua. Ia memperbaiki jala. Tangannya bekerja, tapi pikirannya melayang. Ia memikirkan Andi. Ia memikirkan persahabatan mereka. Ia memikirkan... apa yang salah.
"Bintang."
Ia menoleh. Andi berdiri di belakangnya. Ia memakai kemeja lusuh. Rambutnya kusut. Matanya merah. Seperti orang yang tidak tidur semalaman.
"Andi," kata Bintang. "Duduk."
Andi duduk di samping Bintang. Ia tidak bicara. Ia hanya menatap laut. Ombak tenang. Angin bertiup. Matahari mulai tinggi.
"Kau kenapa?" tanya Bintang.
Andi diam. Ia menunduk. Tangannya gemetar.
"Bintang," katanya pelan. "Aku... aku harus bicara."
Bintang menatap Andi. Ada sesuatu di mata sahabatnya—rasa bersalah. Ketakutan. Malu.
"Bicara saja," kata Bintang pelan.
Andi menghela napas. Ia menatap Bintang. Matanya basah.
"Aku... aku bekerja untuk Tuan Wijaya."
Bintang terdiam. Hatinya berdebar. Ia menatap Andi lama. Lalu ia menunduk. Ia tidak bicara.
"Bintang," kata Andi pelan. "Aku butuh uang. Anakku sakit. Istriku... istriku tidak bisa kerja. Aku... aku tidak punya pilihan."
Bintang menatap Andi. Matanya dalam. Ada sesuatu di mata sahabatnya—keputusasaan.
"Apa yang kau lakukan untuk Tuan Wijaya?" tanya Bintang pelan.
Andi menunduk. Ia tidak menjawab.
"Andi," kata Bintang pelan. "Apa?"
Andi mengangkat kepala. Air matanya jatuh.
"Aku... aku mengawasi kau," jawabnya pelan. "Aku melaporkan apa yang kau lakukan. Apa yang kau katakan. Ke mana kau pergi."
Bintang terdiam. Hatinya berat. Ia menatap Andi lama. Lalu ia menunduk. Ia tidak bicara.
"Bintang," kata Andi pelan. "Aku... aku minta maaf. Aku tidak ingin. Tapi aku... aku terpaksa."
Bintang menatap Andi. Matanya basah.
"Andi," katanya pelan. "Kau sahabatku. Sejak kecil. Aku tidak akan marah."
Andi menoleh. Matanya melebar.
"Kau tidak marah?"
Bintang menggeleng. "Aku tidak marah. Aku hanya... sedih."
Andi menunduk. Air matanya jatuh. Ia menangis. Ia menutup wajahnya dengan tangan.
"Bintang," katanya pelan. "Aku... aku malu."
Bintang meraih pundak Andi. Erat.
"Andi," katanya pelan. "Kau sahabatku. Apa pun yang kau lakukan... aku tetap di sini."
Andi menatap Bintang. Matanya basah. Ia memeluk Bintang. Erat. Bintang membalas pelukan itu. Erat.
"Bintang," bisik Andi. "Terima kasih."
Mereka duduk diam. Menatap laut. Ombak tenang. Angin bertiup. Matahari bersinar. Tidak ada yang bicara. Tapi keheningan itu... hangat. Seperti persahabatan yang baru saja diuji.
"Andi," kata Bintang pelan. "Apa kau tahu apa yang Tuan Wijaya rencanakan?"
Andi menatap Bintang. Matanya dalam.
"Aku tidak tahu banyak," jawabnya pelan. "Tapi aku dengar... ia ingin membeli tanah dengan cara apa pun. Termasuk... cara kotor."
Bintang mengerutkan kening. "Cara kotor?"
Andi mengangguk. "Ia... ia menyewa orang. Untuk menakut-nakuti warga. Untuk memaksa mereka menjual."
Bintang mengepal tangan. Rahangnya mengeras.
"Siapa?"
Andi menggeleng. "Aku tidak tahu. Aku hanya dengar. Tapi... aku takut, Bintang."
"Takut apa?"
Andi menatap Bintang. Matanya basah.
"Takut... kau akan celaka."
Bintang diam. Ia menatap Andi lama. Lalu ia tersenyum tipis.
"Aku tidak akan celaka," katanya pelan. "Aku akan hati-hati."
Andi menatap Bintang. Matanya dalam.
"Bintang," katanya pelan. "Aku... aku ingin membantu."
Bintang menoleh. "Membantu?"
Andi mengangguk. "Iya. Aku ingin membantu kau. Aku ingin... menebus kesalahanku."
Bintang menatap Andi lama. Lalu ia tersenyum. Senyum yang hangat.
"Baiklah," katanya pelan. "Kita cari bukti bersama."
Andi mengangguk. Ia meraih tangan Bintang. Erat.
"Bersama," katanya pelan.
Mereka duduk diam. Menatap laut. Menatap langit. Menatap masa depan. Tidak ada yang bicara. Tapi keheningan itu... penuh tekad.
Sore itu, Bintang berjalan ke rumah Pak Harun. Ia ingin bicara. Ia ingin berbagi. Ia ingin... merencanakan.
Pak Harun duduk di teras. Ia memakai sarung dan baju lengan panjang. Di tangannya, kopi. Ia menatap Bintang lama.
"Kau datang," katanya pelan.
Bintang duduk di samping Pak Harun. Ia meletakkan tangannya di meja. Erat.
"Pak," katanya pelan. "Andi bekerja untuk Tuan Wijaya."
Pak Harun diam. Ia menatap Bintang lama. Lalu ia menghela napas.
"Aku sudah menduga," katanya pelan.
Bintang menoleh. "Bapak sudah tahu?"
Pak Harun mengangguk. "Aku melihat Andi keluar masuk mobil Tuan Wijaya. Aku melihat ia menerima amplop. Aku... aku tahu."
"Kenapa Bapak tidak bilang?"
Pak Harun menatap Bintang. Matanya dalam.
"Karena kau harus tahu sendiri," jawabnya pelan. "Karena kau harus belajar... tentang pengkhianatan."
Bintang diam. Ia menatap Pak Harun lama. Lalu ia menunduk.
"Pak," katanya pelan. "Andi menyesal. Ia ingin membantu."
Pak Harun mengangguk. "Bagus. Kita butuh orang dalam."
Bintang menoleh. "Orang dalam?"
Pak Harun menatap Bintang. Matanya tajam.
"Andi bisa memberi kita informasi," jawabnya pelan. "Tentang rencana Tuan Wijaya. Tentang rencana Darma. Tentang... segalanya."
Bintang diam. Ia menatap Pak Harun lama. Lalu ia mengangguk.
"Baiklah," katanya pelan. "Aku akan bicara dengan Andi."
Pak Harun mengangguk. Ia menyeruput kopinya. Ia menatap langit. Jingga. Keemasan.
"Bintang," katanya pelan. "Kau tahu? Dulu... Surya juga punya sahabat. Sahabat yang ia percaya. Sahabat yang... mengkhianatinya."
Bintang menoleh. Matanya melebar.
"Siapa?"
Pak Harun menatap Bintang lama. Lalu ia menunduk.
"Darma," jawabnya pelan. "Darma dulu sahabat Surya."
Bintang terdiam. Hatinya berdebar.
"Pak Darma?"
Pak Harun mengangguk. "Iya. Mereka tumbuh bersama. Mereka melaut bersama. Mereka... seperti kau dan Andi."
Bintang diam. Ia menatap Pak Harun lama. Lalu ia menunduk. Hatinya berat.
"Jadi... Pak Darma mengkhianati Ayah?"
Pak Harun mengangguk. "Iya. Karena uang. Karena kekuasaan. Karena... keserakahan."
Bintang mengepal tangan. Rahangnya mengeras.
"Aku tidak akan mengkhianati Andi," katanya pelan. "Aku tidak akan seperti Pak Darma."
Pak Harun menatap Bintang. Matanya dalam.
"Bagus," katanya pelan. "Karena persahabatan... lebih berharga dari uang."
Mereka duduk diam. Menatap langit. Jingga. Keemasan. Di kejauhan, dermaga tua terlihat. Tempat Bintang dan Andi dulu bermain. Tempat mereka dulu belajar melaut. Tempat mereka dulu... bersahabat.
"Pak," kata Bintang pelan. "Apa Andi akan baik-baik saja?"
Pak Harun menatap Bintang. Matanya hangat.
"Selama kau percaya padanya," jawabnya pelan, "ia akan baik-baik saja."
Bintang mengangguk. Ia berdiri. Ia menatap langit. Bintang pertama muncul di ujung senja. Kecil. Tapi terang.
"Aku akan menjaga persahabatan ini," katanya pelan. "Seperti aku menjaga nyanyian ini. Seperti aku menjaga tanah ini. Seperti aku menjaga... cinta ini."
Pak Harun mengangguk. Ia tersenyum. Senyum yang hangat.
"Bagus," katanya pelan. "Ayahmu pasti bangga."
Bintang menatap Pak Harun. Hatinya hangat. Ia mengangguk. Ia berjalan pulang. Langkahnya tegap. Hatinya penuh.
Malam itu, Bintang duduk di dermaga tua. Ia menunggu Senja. Ia ingin bicara. Ia ingin berbagi. Ia ingin... merencanakan.
Senja datang. Ia memakai jaket tipis. Rambutnya terurai. Ia duduk di samping Bintang. Ia tersenyum.
"Kau menunggu?" tanya Senja.
Bintang mengangguk. "Iya."
"Ada apa?"
Bintang menatap Senja. Matanya dalam.
"Senja," katanya pelan. "Andi bekerja untuk Tuan Wijaya."
Senja terdiam. Matanya melebar.
"Apa?"
Bintang mengangguk. "Iya. Tapi ia menyesal. Ia ingin membantu."
Senja diam. Ia menatap Bintang lama. Lalu ia menghela napas.
"Bintang," katanya pelan. "Kau percaya padanya?"
Bintang mengangguk. "Iya. Aku percaya."
Senja menatap Bintang. Matanya dalam.
"Kenapa?"
Bintang menatap Senja. Matanya tenang.
"Karena ia sahabatku," jawabnya pelan. "Dan persahabatan... lebih berharga dari uang."
Senja diam. Ia menatap Bintang lama. Lalu ia tersenyum. Senyum yang hangat.
"Kau ini..." katanya pelan. "Kau ini luar biasa."
Bintang tersipu. "Aku hanya... berusaha."
Senja meraih tangan Bintang. Erat.
"Bintang," katanya pelan. "Aku bangga padamu."
Bintang menatap Senja. Hatinya hangat. Ia meraih wajah perempuan itu. Pelan. Lembut.
"Senja," katanya pelan. "Terima kasih."
Senja tersenyum. Air matanya jatuh. Ia menyandarkan kepala di pundak Bintang. Erat.
"Bintang," katanya pelan. "Apa kita akan baik-baik saja?"
Bintang menatap langit. Bintang-bintang bersinar. Terang. Abadi.
"Aku tidak tahu," jawabnya pelan. "Tapi aku akan berusaha."
Senja mengangguk. Ia menutup mata. Ia merasa tenang. Di dermaga tua. Di bawah bintang-bintang. Di atas laut. Di ujung senja.
"Bintang," bisiknya.
"Ya?"
"Aku mencintaimu."
Bintang menutup mata. Ia mencium rambut Senja. Pelan. Lembut.
"Aku juga," bisiknya. "Aku mencintaimu."
Mereka duduk diam. Berpelukan. Angin bertiup. Ombak memecah. Bintang-bintang bersinar. Dan di dalam hati mereka, ada sesuatu yang... lengkap.
Cinta.
Cinta yang tumbuh di dermaga tua. Di bawah bintang-bintang. Di atas laut. Di ujung senja.
BAB 18
NYANYIAN KEDUA
Setelah rapat warga dan pengakuan Andi, Bintang merasa ada sesuatu yang harus ia selesaikan. Bukan dengan Pak Darma. Bukan dengan Tuan Wijaya. Tapi dengan dirinya sendiri. Dan dengan Senja.
Ia harus menyanyikan nyanyian kedua. Bait yang selama ini ia takuti. Bait yang ia hindari. Bait yang... membuatnya ingat ayahnya.
Pagi itu, Bintang duduk di teras rumah Pak Harun. Ia memegang buku catatan ayahnya. Ia membuka halaman yang selama ini ia lewati. Halaman yang berisi bait kedua. Bait yang belum pernah ia nyanyikan sampai selesai.
"Kau siap?" tanya Pak Harun.
Bintang menoleh. Pak Harun berdiri di ambang pintu. Ia memakai baju adat. Di tangannya, dupa yang menyala.
"Saya... belum tahu," jawab Bintang pelan.
Pak Harun duduk di samping Bintang. Ia meletakkan dupa di antara mereka. Asapnya membubung ke langit. Beraroma cendana.
"Bait kedua," kata Pak Harun pelan, "adalah bait yang paling berat. Bait yang membuat Surya menangis. Bait yang membuat Rukmi pergi. Bait yang... menyimpan luka."
Bintang menatap Pak Harun. Matanya dalam.
"Kenapa?"
Pak Harun menatap langit. Biru. Bersih.
"Karena bait kedua bercerita tentang kehilangan," jawabnya pelan. "Tentang perpisahan. Tentang... cinta yang tidak sampai."
Bintang diam. Ia menatap buku catatan ayahnya. Ia membaca bait kedua. Pelan. Dalam hati. Ada sesuatu di dalamnya—kesedihan yang dalam. Kerinduan. Luka.
"Pak," katanya pelan. "Apa saya bisa?"
Pak Harun menatap Bintang. Matanya hangat.
"Kau bisa," jawabnya pelan. "Karena kau sudah melalui kehilangan. Kau sudah melalui perpisahan. Kau sudah... dewasa."
Bintang mengangguk. Ia berdiri. Ia berjalan ke halaman belakang. Ke pohon beringin tua. Ia duduk bersila di bawahnya. Ia menutup mata. Ia menghela napas. Ia mulai menyanyi.
"Bintang di langit senja...
Cahaya yang menunggu...
Jawablah doa kami...
Sebelum malam tiba...
Bawa kami pulang...
Ke pangkuan ibunda...
Ke dalam pelukan...
Yang tak pernah sirna..."
Suaranya serak. Tapi ia menyanyi. Ia menyanyi bait kedua. Bait yang bercerita tentang kehilangan. Tentang perpisahan. Tentang... cinta yang tidak sampai.
Dan di ujung nyanyian, ia menangis. Bukan karena sedih. Tapi karena lega. Seperti beban yang akhirnya terangkat. Seperti luka yang akhirnya sembuh.
Pak Harun berdiri di ambang pintu. Ia menatap Bintang. Air matanya jatuh. Ia tersenyum.
"Bagus," katanya pelan. "Sangat bagus."
Bintang membuka mata. Ia menatap Pak Harun. Matanya basah.
"Pak," katanya pelan. "Saya... saya berhasil."
Pak Harun mengangguk. "Iya. Kau berhasil."
Bintang berdiri. Ia berjalan ke Pak Harun. Ia memeluk lelaki tua itu. Erat.
"Terima kasih, Pak," bisiknya. "Terima kasih."
Pak Harun membalas pelukan itu. Erat. Ia menutup mata. Air matanya jatuh.
"Ayahmu pasti bangga," katanya pelan.
Sore itu, Bintang berjalan ke dermaga tua. Ia ingin bertemu Senja. Ia ingin menyanyi. Ia ingin berbagi. Ia ingin... merayakan.
Senja sudah menunggu. Ia duduk di ujung dermaga. Kakinya menggantung di atas air. Ia memandang laut. Ia tersenyum.
"Kau datang," kata Senja.
Bintang duduk di sampingnya. Ia mengeluarkan buku catatan ayahnya. Ia membuka halaman bait kedua.
"Senja," katanya pelan. "Aku sudah menyanyikan bait kedua."
Senja menoleh. Matanya melebar.
"Kau berhasil?"
Bintang mengangguk. "Iya. Aku berhasil."
Senja tersenyum. Air matanya jatuh. Ia meraih tangan Bintang. Erat.
"Bintang," katanya pelan. "Aku bangga padamu."
Bintang menatap Senja. Hatinya hangat. Ia meraih wajah perempuan itu. Pelan. Lembut.
"Senja," katanya pelan. "Ayo kita menyanyi bersama."
Senja mengangguk. Ia membuka buku catatan Nyi Rukmi. Ia membaca bait kedua. Pelan. Bait demi bait. Bintang mendengarkan. Ia mengangguk. Ia mulai menyanyi.
Suaranya serak. Tapi ia menyanyi. Ia menyanyi dengan hati. Senja ikut menyanyi. Suaranya lembut. Seperti angin. Seperti ombak. Seperti... rumah.
Mereka menyanyi bersama. Di dermaga tua. Di bawah matahari. Di atas laut. Nyanyian leluhur. Nyanyian yang hampir hilang. Nyanyian yang kini... hidup kembali.
Dan di ujung nyanyian, mereka berhenti. Mereka saling menatap. Mata mereka basah. Hati mereka penuh.
"Bintang," bisik Senja.
"Ya?"
"Aku... aku bahagia."
Bintang menatap Senja. Hatinya hangat.
"Aku juga," katanya pelan. "Aku bahagia."
Senja menyandarkan kepala di pundak Bintang. Erat. Bintang meraih tangan Senja. Erat. Mereka duduk diam. Menatap laut. Menatap langit. Menatap masa depan yang belum mereka tahu.
"Bintang," kata Senja pelan. "Apa kau pernah berpikir... tentang pernikahan kita?"
Bintang menoleh. Ia menatap Senja. Matanya dalam.
"Pernah," jawabnya pelan. "Aku ingin menikah denganmu. Di dermaga ini. Di bawah bintang-bintang. Di depan warga. Di depan leluhur."
Senja tersenyum. Air matanya jatuh. Ia meraih tangan Bintang. Erat.
"Aku juga," katanya pelan. "Aku ingin menikah denganmu. Di sini. Di tempat kita pertama bertemu."
Bintang menatap Senja. Hatinya penuh. Ia meraih wajah perempuan itu. Pelan. Lembut.
"Senja," katanya pelan. "Aku mencintaimu."
Senja menatap Bintang. Matanya basah.
"Aku juga," katanya pelan. "Aku mencintaimu."
Mereka duduk diam. Berpelukan. Angin bertiup. Ombak memecah. Matahari bersinar. Dan di dalam hati mereka, ada sesuatu yang... lengkap.
Cinta.
Cinta yang tumbuh di dermaga tua. Di bawah matahari. Di atas laut. Di ujung senja.
Malam itu, Bintang pulang dengan hati ringan. Ia membuka pintu rumah. Ratna duduk di ruang tengah. Ia menatap Bintang lama.
"Kau senang," kata Ratna.
Bintang menoleh. "Iya, Bu. Aku senang."
Ratna tersenyum tipis. "Senja?"
Bintang mengangguk. "Iya. Aku sudah menyanyikan bait kedua. Aku berhasil."
Ratna menatap Bintang lama. Lalu ia tersenyum. Senyum yang hangat. Senyum yang bahagia.
"Ayahmu pasti bangga," katanya pelan.
Bintang menatap ibunya. Hatinya hangat. Ia duduk di samping Ratna. Ia meraih tangan perempuan itu. Erat.
"Bu," katanya pelan. "Aku ingin menikah dengan Senja."
Ratna menoleh. Matanya melebar.
"Menikah?"
Bintang mengangguk. "Iya. Di dermaga tua. Di bawah bintang-bintang. Di depan warga. Di depan leluhur."
Ratna diam. Ia menatap Bintang lama. Lalu ia tersenyum. Senyum yang hangat.
"Ibu merestui," katanya pelan.
Bintang menatap ibunya. Hatinya penuh. Ia memeluk Ratna. Erat.
"Terima kasih, Bu," bisiknya.
Ratna membalas pelukan itu. Erat. Ia menutup mata. Air matanya jatuh.
"Kau sudah dewasa, Nak," katanya pelan. "Ibu bangga."
Mereka duduk diam. Di luar, langit gelap. Bintang-bintang bersinar. Dan di dermaga tua, seorang perempuan masih duduk. Ia memandang laut. Ia menunggu. Ia tidak tahu apa yang ia tunggu. Tapi ia menunggu.
Seperti senja yang menunggu bintang.
Seperti hati yang menunggu dijawab.
Seperti doa yang menunggu dikabulkan.
Dan doa itu... mulai terkabul.
BAB 19
KONFLIK LAMA TERUNGKAP
Sejak Senja mendengar rahasia dari Pak Harun tentang Nyi Rukmi, hatinya tidak tenang. Ia tidak bisa tidur. Ia tidak bisa makan. Ia terus memikirkan kata-kata lelaki tua itu.
"Nyi Rukmi mengkhianati Surya."
Apakah itu benar? Apakah neneknya benar-benar mengkhianati ayah Bintang? Kenapa? Apa yang terjadi?
Ia harus tahu. Ia harus mencari jawaban. Ia harus... membuka lemari terkunci di rumah Pak Harun. Lemari yang selama ini menyimpan rahasia. Lemari yang belum pernah ia buka.
Pagi itu, Senja berdiri di depan lemari kayu tua di rumah Pak Harun. Pak Harun sedang ke pasar. Ia pergi sejak subuh. Senja sendirian. Ia menatap lemari itu lama. Tangannya gemetar. Ia meraih gagang pintu. Ia menariknya.
Terkunci.
Ia mencoba lagi. Tetap terkunci. Ia menghela napas. Ia menatap lemari itu. Ada sesuatu di dalamnya. Sesuatu yang... menunggu.
"Kau mencari sesuatu?"
Senja menoleh. Pak Harun berdiri di ambang pintu. Ia memakai sarung dan baju lengan panjang. Di tangannya, keranjang belanja. Wajahnya keras. Matanya tajam.
"Pak," kata Senja pelan. "Aku... aku ingin tahu."
Pak Harun menatap Senja lama. Lalu ia menghela napas. Ia meletakkan keranjangnya. Ia berjalan ke lemari. Ia mengeluarkan kunci dari sakunya. Ia membuka lemari itu.
"Masuk," katanya pelan.
Senja menatap isi lemari. Ada buku-buku tua. Ada foto-foto lama. Ada surat-surat. Ada... sebuah kotak kayu. Kecil. Terkunci.
"Apa itu?" tanya Senja.
Pak Harun mengambil kotak itu. Ia meletakkannya di meja. Ia membuka kuncinya. Di dalamnya, ada surat. Banyak surat. Tulisan tangan Nyi Rukmi. Tulisan tangan Surya.
"Ini," kata Pak Harun pelan. "Surat-surat mereka. Dua puluh tahun yang lalu."
Senja menatap surat-surat itu. Tangannya gemetar. Ia mengambil satu. Ia membukanya. Ia membaca.
"Surya,
Aku tidak bisa lagi. Aku tidak bisa lagi berpura-pura. Aku tidak bisa lagi menyanyi bersamamu. Karena setiap kali aku menyanyi, aku ingat... bahwa aku mencintaimu. Dan cinta ini... terlarang."
Senja menatap surat itu. Matanya melebar. Ia membaca lagi.
"Aku tahu kau juga mencintaiku. Aku tahu kau juga merasakan hal yang sama. Tapi kita tidak bisa. Kita tidak boleh. Karena kita... penjaga nyanyian. Dan penjaga nyanyian... tidak boleh mencintai."
Senja menutup surat itu. Air matanya jatuh. Ia menoleh pada Pak Harun.
"Pak," katanya pelan. "Apa maksudnya?"
Pak Harun duduk di kursi kayu. Ia menatap Senja lama. Matanya basah.
"Dulu," katanya pelan, "ada aturan adat. Penjaga nyanyian tidak boleh menikah. Tidak boleh mencintai. Karena cinta... akan mengganggu tugas mereka."
Senja terdiam. Hatinya berat.
"Jadi... Nyi Rukmi dan Surya..."
Pak Harun mengangguk. "Mereka saling mencintai. Tapi mereka tidak bisa bersama. Karena aturan itu."
Senja menunduk. Air matanya jatuh. Ia membaca surat-surat lain. Ada surat dari Surya. Ada surat dari Nyi Rukmi. Semuanya... tentang cinta. Tentang kerinduan. Tentang... keputusasaan.
"Pak," kata Senja pelan. "Apa yang terjadi?"
Pak Harun menghela napas. Ia menatap langit. Biru. Bersih.
"Surya ingin melanggar aturan," katanya pelan. "Ia ingin menikahi Rukmi. Ia ingin mengubah adat. Ia percaya... cinta tidak seharusnya dilarang."
"Apa Rukmi setuju?"
Pak Harun menggeleng. "Rukmi tidak setuju. Ia percaya... adat harus dijaga. Ia percaya... mereka harus berkorban. Untuk nyanyian. Untuk kampung. Untuk... leluhur."
Senja diam. Ia menatap surat-surat itu. Hatinya berat.
"Jadi... Nyi Rukmi pergi karena..."
"Karena ia tidak sanggup," jawab Pak Harun pelan. "Ia tidak sanggup melihat Surya menderita. Ia tidak sanggup melanggar adat. Ia tidak sanggup... mencintai."
Senja menutup mulutnya. Air matanya jatuh. Ia menangis. Ia tidak menyeka. Ia hanya duduk. Diam. Hatinya penuh.
"Pak," katanya pelan. "Jadi... Nyi Rukmi bukan mengkhianati Surya?"
Pak Harun menatap Senja lama. Lalu ia menggeleng.
"Tidak," jawabnya pelan. "Ia bukan mengkhianati. Ia... mengorbankan."
Senja menatap Pak Harun. Matanya basah.
"Kenapa Bapak bilang ia mengkhianati?"
Pak Harun menunduk. Tangannya gemetar.
"Karena aku marah," jawabnya pelan. "Aku marah pada Rukmi. Aku marah karena ia pergi. Aku marah karena ia meninggalkan Surya. Aku marah... karena aku tidak bisa berbuat apa-apa."
Senja diam. Ia menatap Pak Harun. Ada sesuatu di mata lelaki tua itu—penyesalan.
"Pak," katanya pelan. "Apa Surya tahu?"
Pak Harun mengangguk. "Ia tahu. Ia tahu Rukmi pergi karena adat. Ia tahu Rukmi mengorbankan cintanya. Ia tahu... dan ia tidak marah."
"Kenapa?"
Pak Harun menatap Senja. Matanya dalam.
"Karena Surya juga mengorbankan," jawabnya pelan. "Ia mengorbankan cintanya. Ia mengorbankan hidupnya. Ia mengorbankan... segalanya. Untuk nyanyian. Untuk kampung. Untuk... kau."
Senja terdiam. Hatinya berdebar.
"Untuk aku?"
Pak Harun mengangguk. "Surya tahu... kau adalah cucu Rukmi. Kau adalah penerus. Kau adalah... harapan. Ia menjaga nyanyian itu... untukmu."
Senja menunduk. Air matanya jatuh. Ia menangis. Ia tidak menyeka. Ia hanya duduk. Diam. Hatinya penuh.
"Pak," katanya pelan. "Apa Bintang tahu?"
Pak Harun menggeleng. "Belum. Aku belum bilang."
"Kenapa?"
Pak Harun menatap Senja. Matanya dalam.
"Karena aku takut," jawabnya pelan. "Aku takut Bintang akan marah. Aku takut ia akan menyalahkan Rukmi. Aku takut... ia akan menyalahkanmu."
Senja menatap Pak Harun. Hatinya berat.
"Pak," katanya pelan. "Aku harus bilang pada Bintang."
Pak Harun menatap Senja lama. Lalu ia mengangguk.
"Iya," katanya pelan. "Kau harus bilang. Kau harus jujur."
Senja mengangguk. Ia berdiri. Ia berjalan ke pintu. Ia menoleh pada Pak Harun.
"Pak," katanya pelan. "Terima kasih."
Pak Harun mengangguk. Ia menatap Senja lama. Matanya basah.
"Senja," katanya pelan. "Kau cucu yang baik. Rukmi pasti bangga."
Senja tersenyum tipis. Air matanya jatuh. Ia berjalan keluar. Ia menuju dermaga tua. Ia harus bicara pada Bintang. Ia harus jujur. Ia harus... membuka luka.
Di dermaga tua, Bintang sudah menunggu. Ia duduk di ujung dermaga. Kakinya menggantung di atas air. Ia memandang laut. Ia tersenyum.
"Senja," katanya. "Kau datang."
Senja duduk di samping Bintang. Ia tidak bicara. Ia hanya menatap laut. Ombak tenang. Angin bertiup. Matahari mulai tinggi.
"Senja," kata Bintang pelan. "Ada apa?"
Senja menoleh. Ia menatap Bintang. Matanya basah. Ada sesuatu di mata perempuan itu—ketakutan. Keraguan. Cinta.
"Bintang," katanya pelan. "Aku harus bicara."
"Bicara saja."
Senja menghela napas. Ia meraih tangan Bintang. Erat. Tangannya dingin.
"Bintang," katanya pelan. "Tentang Nyi Rukmi. Tentang Surya. Tentang... mereka."
Bintang menatap Senja. Matanya dalam.
"Apa?"
Senja menunduk. Air matanya jatuh.
"Mereka saling mencintai," katanya pelan. "Tapi mereka tidak bisa bersama. Karena adat. Karena... mereka penjaga nyanyian."
Bintang terdiam. Hatinya berdebar.
"Apa?"
Senja mengangkat kepala. Ia menatap Bintang. Matanya basah.
"Nyi Rukmi pergi karena ia tidak sanggup," lanjutnya pelan. "Ia tidak sanggup melanggar adat. Ia tidak sanggup mencintai. Ia... mengorbankan."
Bintang menatap Senja lama. Lalu ia menunduk. Ia tidak bicara. Ia hanya menatap laut. Ombak tenang. Angin bertiup.
"Bintang," kata Senja pelan. "Aku... aku minta maaf."
Bintang menoleh. Matanya dalam.
"Untuk apa?"
Senja menunduk. Air matanya jatuh.
"Karena Nyi Rukmi... nenekku... ia meninggalkan Surya. Ia meninggalkan ayahmu. Ia... menyebabkan semua ini."
Bintang menatap Senja lama. Lalu ia meraih wajah perempuan itu. Pelan. Lembut.
"Senja," katanya pelan. "Kau bukan Nyi Rukmi."
Senja menatap Bintang. Matanya melebar.
"Apa?"
Bintang menatap Senja. Matanya dalam.
"Kau bukan nenekmu," katanya pelan. "Kau bukan yang meninggalkan ayahku. Kau bukan yang menyebabkan semua ini. Kau... kau adalah kau."
Senja menatap Bintang. Air matanya jatuh. Ia menangis. Ia tidak menyeka. Ia hanya duduk. Diam. Hatinya penuh.
"Bintang," katanya pelan. "Kau... kau tidak marah?"
Bintang menggeleng. "Aku tidak marah. Aku hanya... sedih."
"Sedih?"
Bintang menatap laut. Ombak tenang. Angin bertiup.
"Sedih," jawabnya pelan, "karena mereka tidak bisa bersama. Karena mereka mengorbankan cinta. Karena mereka... menderita."
Senja menatap Bintang. Hatinya berat.
"Bintang," katanya pelan. "Apa kau akan seperti mereka?"
Bintang menoleh. Ia menatap Senja lama. Lalu ia tersenyum tipis.
"Tidak," jawabnya pelan. "Aku tidak akan seperti mereka."
"Kenapa?"
Bintang menatap Senja. Matanya dalam.
"Karena aku mencintaimu," jawabnya pelan. "Dan aku tidak akan mengorbankan cinta ini. Aku tidak akan mengorbankan kau."
Senja menatap Bintang. Air matanya jatuh. Ia memeluk Bintang. Erat. Bintang membalas pelukan itu. Erat. Mereka berdiri di dermaga tua. Berpelukan. Di bawah matahari. Di atas laut. Di ujung senja.
"Bintang," bisik Senja.
"Ya?"
"Aku mencintaimu."
Bintang menutup mata. Ia mencium rambut Senja. Pelan. Lembut.
"Aku juga," bisiknya. "Aku mencintaimu."
Mereka duduk kembali. Tangan bertaut. Menatap laut. Menatap langit. Menatap masa depan. Tidak ada yang bicara. Tapi keheningan itu... sempurna.
"Bintang," kata Senja pelan. "Apa kita akan menikah?"
Bintang menoleh. Ia menatap Senja. Matanya dalam.
"Iya," jawabnya pelan. "Kita akan menikah. Di dermaga ini. Di bawah bintang-bintang. Di depan warga. Di depan leluhur."
Senja tersenyum. Air matanya jatuh. Ia menyandarkan kepala di pundak Bintang. Erat.
"Aku tidak sabar," katanya pelan.
Bintang tersenyum. Ia mencium rambut Senja. Pelan. Lembut.
"Aku juga," bisiknya.
Mereka duduk diam. Menatap laut. Menatap langit. Menatap masa depan. Tidak ada yang bicara. Tapi keheningan itu... sempurna.
Seperti cinta yang baru saja ditemukan.
Di ujung senja.
Malam itu, Bintang pulang dengan hati ringan. Ia membuka pintu rumah. Ratna duduk di ruang tengah. Ia menatap Bintang lama.
"Kau senang," kata Ratna.
Bintang menoleh. "Iya, Bu. Aku senang."
Ratna tersenyum tipis. "Senja?"
Bintang mengangguk. "Iya. Aku sudah tahu tentang Nyi Rukmi. Tentang Surya. Tentang... semuanya."
Ratna menatap Bintang lama. Lalu ia menghela napas.
"Kau tidak marah?"
Bintang menggeleng. "Tidak. Aku hanya... sedih."
Ratna menatap Bintang. Matanya dalam.
"Kenapa?"
Bintang menatap ibunya. Matanya basah.
"Karena mereka tidak bisa bersama," jawabnya pelan. "Karena mereka mengorbankan cinta. Karena mereka... menderita."
Ratna diam. Ia menatap Bintang lama. Lalu ia menunduk. Air matanya jatuh.
"Bintang," katanya pelan. "Aku... aku juga mengorbankan."
Bintang menoleh. Matanya melebar.
"Apa maksud Ibu?"
Ratna mengangkat kepala. Ia menatap Bintang. Matanya basah.
"Aku tahu," katanya pelan, "bahwa ayahmu mencintai Rukmi. Aku tahu... bahwa ia tidak pernah mencintaiku. Tapi aku tetap menikah dengannya. Karena... aku mencintainya."
Bintang terdiam. Hatinya berat.
"Bu..."
"Aku mengorbankan," lanjut Ratna pelan. "Aku mengorbankan cinta. Aku mengorbankan harga diri. Aku mengorbankan... segalanya. Untuk ayahmu. Untuk kau. Untuk... keluarga ini."
Bintang menatap ibunya. Air matanya jatuh. Ia meraih tangan perempuan itu. Erat.
"Bu," katanya pelan. "Aku... aku tidak tahu."
Ratna tersenyum tipis. "Kau tidak perlu tahu. Kau hanya perlu... bahagia."
Bintang menatap ibunya. Hatinya penuh. Ia memeluk Ratna. Erat.
"Bu," bisiknya. "Terima kasih."
Ratna membalas pelukan itu. Erat. Ia menutup mata. Air matanya jatuh.
"Kau sudah dewasa, Nak," katanya pelan. "Ibu bangga."
Mereka duduk diam. Di luar, langit gelap. Bintang-bintang bersinar. Dan di dermaga tua, seorang perempuan masih duduk. Ia memandang laut. Ia menunggu. Ia tidak tahu apa yang ia tunggu. Tapi ia menunggu.
Seperti senja yang menunggu bintang.
Seperti hati yang menunggu dijawab.
Seperti doa yang menunggu dikabulkan.
Dan doa itu... mulai terkabul.
BAB 20
TAWARAN SENJA
Seminggu setelah Senja membuka rahasia Nyi Rukmi, hidup di Tanjung Senja semakin tidak tenang. Warga masih terbelah. Tuan Wijaya masih menunggu. Pak Darma masih menebar fitnah. Dan Bintang... masih berjuang.
Tapi ada sesuatu yang berbeda. Senja mulai gelisah. Ia sering termenung. Ia sering menghilang. Ia sering... menangis.
Bintang merasakan itu. Ia merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Ia merasakan Senja menyembunyikan sesuatu.
Pagi itu, Bintang duduk di dermaga tua. Ia menunggu Senja. Tapi Senja tidak datang. Ia menunggu lagi. Masih tidak datang. Ia mulai cemas.
Ia berjalan ke rumah Pak Harun. Ia mengetuk pintu. Tidak ada jawaban. Ia mengetuk lagi. Keras.
Pintu terbuka. Senja berdiri di ambang pintu. Wajahnya pucat. Matanya merah. Seperti orang yang tidak tidur semalaman.
"Senja," kata Bintang. "Kau kenapa?"
Senja menatap Bintang lama. Lalu ia menunduk. Air matanya jatuh.
"Bintang," katanya pelan. "Masuk."
Bintang masuk. Ia duduk di kursi kayu. Senja duduk di seberangnya. Ia meletakkan sebuah surat di meja. Surat itu... dari universitas. Dari kota.
"Apa ini?" tanya Bintang.
Senja menatap Bintang. Matanya basah.
"Aku... aku mendapat tawaran," jawabnya pelan. "Untuk kembali ke kota. Untuk menjadi dosen. Untuk... melanjutkan penelitian."
Bintang terdiam. Hatinya berdebar. Ia menatap surat itu. Lalu ia menatap Senja.
"Kau... kau mau pergi?"
Senja menunduk. Air matanya jatuh.
"Aku tidak tahu," jawabnya pelan. "Aku... aku bingung."
Bintang diam. Ia menatap Senja lama. Lalu ia menunduk. Ia tidak bicara. Ia hanya menatap lantai kayu. Hatinya berat.
"Bintang," kata Senja pelan. "Aku... aku tidak ingin pergi. Tapi..."
"Tapi apa?"
Senja mengangkat kepala. Ia menatap Bintang. Matanya basah.
"Tapi aku juga tidak bisa tinggal," jawabnya pelan. "Aku... aku tidak bisa terus di sini. Aku harus bekerja. Aku harus... hidup."
Bintang menatap Senja. Matanya dalam. Ada sesuatu di mata perempuan itu—kebingungan. Ketakutan. Cinta.
"Senja," kata Bintang pelan. "Apa kau tidak bahagia di sini?"
Senja menatap Bintang. Air matanya jatuh.
"Aku bahagia," jawabnya pelan. "Aku sangat bahagia. Tapi..."
"Tapi apa?"
Senja menunduk. Tangannya gemetar.
"Tapi aku takut," jawabnya pelan. "Aku takut... aku akan menjadi beban. Aku takut... aku akan menghambatmu. Aku takut... aku akan membuatmu menderita."
Bintang menatap Senja lama. Lalu ia berdiri. Ia berjalan mendekat. Ia berlutut di samping kursi Senja. Ia meraih tangan perempuan itu. Erat.
"Senja," katanya pelan. "Kau bukan beban. Kau bukan penghambat. Kau... kau adalah hidupku."
Senja menatap Bintang. Air matanya jatuh. Ia menangis. Ia tidak menyeka. Ia hanya duduk. Diam. Hatinya penuh.
"Bintang," katanya pelan. "Aku... aku tidak tahu harus bagaimana."
Bintang menatap Senja. Matanya dalam.
"Senja," katanya pelan. "Apa kau mencintaiku?"
Senja menatap Bintang. Matanya basah.
"Iya," jawabnya pelan. "Aku mencintaimu."
"Apa kau ingin bersamaku?"
Senja mengangguk. "Iya. Aku ingin bersamamu."
"Kalau begitu," kata Bintang pelan, "tinggallah."
Senja menatap Bintang. Matanya melebar.
"Apa?"
Bintang menatap Senja. Matanya dalam.
"Tinggallah," ulangnya pelan. "Jangan pergi. Aku... aku tidak bisa hidup tanpa kau."
Senja menatap Bintang. Air matanya jatuh. Ia memeluk Bintang. Erat. Bintang membalas pelukan itu. Erat. Mereka berdiri di ruang tengah. Berpelukan. Di bawah lampu minyak. Di bawah langit. Di ujung senja.
"Bintang," bisik Senja.
"Ya?"
"Aku... aku akan tinggal."
Bintang menutup mata. Ia mencium rambut Senja. Pelan. Lembut.
"Terima kasih," bisiknya.
Senja tersenyum. Air matanya jatuh. Ia menyandarkan kepala di pundak Bintang. Erat.
"Bintang," katanya pelan. "Apa kita akan baik-baik saja?"
Bintang menatap langit. Bintang-bintang bersinar. Terang. Abadi.
"Aku tidak tahu," jawabnya pelan. "Tapi aku akan berusaha."
Senja mengangguk. Ia menutup mata. Ia merasa tenang. Di rumah Pak Harun. Di bawah bintang-bintang. Di ujung senja.
"Bintang," bisiknya.
"Ya?"
"Aku mencintaimu."
Bintang menutup mata. Ia mencium rambut Senja. Pelan. Lembut.
"Aku juga," bisiknya. "Aku mencintaimu."
Mereka duduk diam. Berpelukan. Angin bertiup. Ombak memecah. Bintang-bintang bersinar. Dan di dalam hati mereka, ada sesuatu yang... lengkap.
Cinta.
Cinta yang tumbuh di rumah Pak Harun. Di bawah bintang-bintang. Di atas laut. Di ujung senja.
Pagi berikutnya, Senja duduk di teras rumah Pak Harun. Ia memegang surat dari universitas. Ia menatap surat itu lama. Lalu ia merobeknya. Pelan. Lembut. Ia merobek surat itu menjadi potongan-potongan kecil. Ia membuangnya ke angin.
Pak Harun keluar dari rumah. Ia menatap Senja lama. Lalu ia tersenyum.
"Kau tidak pergi?" tanya Pak Harun.
Senja menoleh. Ia tersenyum. Senyum yang hangat.
"Tidak," jawabnya pelan. "Aku tinggal."
Pak Harun duduk di samping Senja. Ia menatap langit. Biru. Bersih.
"Kenapa?"
Senja menatap Pak Harun. Matanya dalam.
"Karena aku mencintai Bintang," jawabnya pelan. "Karena aku mencintai kampung ini. Karena aku... menemukan rumah."
Pak Harun mengangguk. Ia tersenyum. Senyum yang hangat.
"Bagus," katanya pelan. "Kau cucu yang baik. Rukmi pasti bangga."
Senja menatap Pak Harun. Matanya basah.
"Pak," katanya pelan. "Apa Nyi Rukmi... pernah menyesal?"
Pak Harun menatap Senja lama. Lalu ia menghela napas.
"Aku tidak tahu," jawabnya pelan. "Tapi aku tahu... ia tidak pernah melupakan Surya. Sampai akhir."
Senja menunduk. Air matanya jatuh.
"Pak," katanya pelan. "Aku tidak akan seperti Nyi Rukmi. Aku tidak akan pergi. Aku tidak akan mengorbankan cinta."
Pak Harun menatap Senja. Matanya dalam.
"Bagaimana kau bisa yakin?"
Senja menatap Pak Harun. Matanya tenang.
"Karena aku mencintai Bintang," jawabnya pelan. "Dan cinta... tidak akan pernah mengorbankan."
Pak Harun mengangguk. Ia tersenyum. Senyum yang hangat.
"Bagus," katanya pelan. "Aku percaya padamu."
Mereka duduk diam. Menatap langit. Biru. Bersih. Di kejauhan, dermaga tua terlihat. Tempat Bintang dan Senja akan menikah. Tempat mereka akan memulai hidup baru. Tempat mereka akan... bersatu.
"Pak," kata Senja pelan. "Apa Bapak mau membantu mempersiapkan pernikahan?"
Pak Harun menoleh. Matanya melebar.
"Aku?"
Senja mengangguk. "Iya. Bapak kan tetua kampung. Bapak yang tahu adat. Bapak yang tahu... semuanya."
Pak Harun tersenyum. Senyum yang lebar. Senyum yang bahagia.
"Aku mau," jawabnya pelan. "Aku mau membantu."
Senja tersenyum. Ia meraih tangan Pak Harun. Erat.
"Terima kasih, Pak," katanya pelan.
Pak Harun mengangguk. Ia menatap langit. Biru. Bersih.
"Senja," katanya pelan. "Kau tahu? Aku sudah lama menunggu momen ini. Momen ketika kau... dewasa. Momen ketika kau... siap."
Senja menatap Pak Harun. Matanya dalam.
"Siap untuk apa?"
Pak Harun menatap Senja. Matanya hangat.
"Siap untuk menjadi penjaga nyanyian," jawabnya pelan. "Siap untuk menjadi penerus. Siap untuk... menjadi senja yang menemani bintang."
Senja diam. Ia menatap Pak Harun lama. Lalu ia menunduk. Hatinya berat. Tapi juga... ringan.
"Pak," katanya pelan. "Aku akan berusaha."
Pak Harun mengangguk. "Aku tahu."
Mereka duduk diam. Menatap langit. Biru. Bersih. Di kejauhan, dermaga tua terlihat. Tempat Bintang dan Senja akan menikah. Tempat mereka akan memulai hidup baru. Tempat mereka akan... bersatu.
Dan di dermaga tua, bintang terakhir menunggu. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi. Ia hanya tahu... cinta itu nyata.
Cinta yang tumbuh di bawah pohon beringin.
Di ujung senja.
Sore itu, Bintang berjalan ke dermaga tua. Ia ingin bertemu Senja. Ia ingin bicara. Ia ingin... merayakan.
Senja sudah menunggu. Ia duduk di ujung dermaga. Kakinya menggantung di atas air. Ia memandang laut. Ia tersenyum.
"Kau datang," kata Senja.
Bintang duduk di sampingnya. Ia meraih tangan Senja. Erat.
"Kau tidak pergi," katanya pelan.
Senja menoleh. Ia menatap Bintang. Matanya dalam.
"Tidak," jawabnya pelan. "Aku tinggal."
Bintang menatap Senja. Hatinya hangat. Ia meraih wajah perempuan itu. Pelan. Lembut.
"Senja," katanya pelan. "Terima kasih."
Senja tersenyum. Air matanya jatuh. Ia menyandarkan kepala di pundak Bintang. Erat.
"Bintang," katanya pelan. "Aku mencintaimu."
Bintang menutup mata. Ia mencium rambut Senja. Pelan. Lembut.
"Aku juga," bisiknya. "Aku mencintaimu."
Mereka duduk diam. Berpelukan. Angin bertiup. Ombak memecah. Matahari bersinar. Dan di dalam hati mereka, ada sesuatu yang... lengkap.
Cinta.
Cinta yang tumbuh di dermaga tua. Di bawah matahari. Di atas laut. Di ujung senja.
"Bintang," kata Senja pelan. "Apa kita akan menikah?"
Bintang menoleh. Ia menatap Senja. Matanya dalam.
"Iya," jawabnya pelan. "Kita akan menikah. Di dermaga ini. Di bawah bintang-bintang. Di depan warga. Di depan leluhur."
Senja tersenyum. Air matanya jatuh. Ia menyandarkan kepala di pundak Bintang. Erat.
"Aku tidak sabar," katanya pelan.
Bintang tersenyum. Ia mencium rambut Senja. Pelan. Lembut.
"Aku juga," bisiknya.
Mereka duduk diam. Menatap laut. Menatap langit. Menatap masa depan. Tidak ada yang bicara. Tapi keheningan itu... sempurna.
Seperti cinta yang baru saja ditemukan.
Di ujung senja.
BAB 21
MALAM TERAKHIR
Malam itu langit gelap. Tidak ada bulan. Tidak ada bintang. Hanya awan hitam yang bergerak pelan, seperti tangan-tangan raksasa yang menutupi cahaya. Angin bertiup kencang. Ombak tinggi. Laut... gelisah.
Bintang duduk di dermaga tua. Ia memakai jaket tebal. Rambutnya tertiup angin. Di tangannya, liontin dari ayahnya. Ia menatap laut. Gelap. Hanya buih ombak yang memutih di kegelapan. Ia menghela napas. Ia merasa... ada sesuatu yang akan terjadi.
"Bintang."
Ia menoleh. Senja berdiri di belakangnya. Ia memakai mantel tebal. Rambutnya terurai. Di tangannya, sebuah tas kecil. Wajahnya... pucat.
"Senja," kata Bintang. "Kau di sini?"
Senja duduk di samping Bintang. Ia tidak bicara. Ia hanya menatap laut. Gelap. Ombak tinggi. Angin kencang.
"Senja," kata Bintang pelan. "Ada apa?"
Senja menoleh. Ia menatap Bintang. Matanya basah. Ada sesuatu di mata perempuan itu—ketakutan. Kesedihan. Cinta.
"Bintang," katanya pelan. "Aku... aku harus pergi."
Bintang terdiam. Hatinya berdebar. Ia menatap Senja lama. Lalu ia menunduk. Ia tidak bicara.
"Bintang," kata Senja pelan. "Aku... aku minta maaf."
Bintang mengangkat kepala. Ia menatap Senja. Matanya dalam.
"Kenapa?"
Senja menunduk. Air matanya jatuh.
"Aku... aku tidak bisa tinggal," jawabnya pelan. "Aku... aku harus kembali ke kota."
Bintang menatap Senja lama. Lalu ia menunduk. Ia tidak bicara. Ia hanya menatap laut. Gelap. Ombak tinggi. Angin kencang.
"Bintang," kata Senja pelan. "Katakan sesuatu."
Bintang menoleh. Ia menatap Senja. Matanya basah.
"Kenapa?" tanyanya pelan. "Kenapa kau harus pergi?"
Senja menunduk. Tangannya gemetar.
"Karena... karena aku takut," jawabnya pelan. "Aku takut... aku akan menghambatmu. Aku takut... aku akan membuatmu menderita. Aku takut... aku akan menjadi beban."
Bintang menatap Senja. Hatinya berat.
"Senja," katanya pelan. "Kau bukan beban. Kau bukan penghambat. Kau... kau adalah hidupku."
Senja menoleh. Air matanya jatuh.
"Bintang," katanya pelan. "Aku tahu. Aku tahu kau mencintaiku. Aku tahu kau ingin aku tinggal. Tapi... aku tidak bisa."
"Kenapa?"
Senja menatap Bintang. Matanya basah.
"Karena... karena aku bukan siapa-siapa," jawabnya pelan. "Aku bukan penjaga nyanyian. Aku bukan orang kampung. Aku bukan... apa-apa. Aku hanya peneliti. Aku hanya orang kota. Aku hanya... aku."
Bintang menatap Senja lama. Lalu ia meraih wajah perempuan itu. Pelan. Lembut.
"Senja," katanya pelan. "Kau bukan siapa-siapa? Kau adalah segalanya. Kau adalah senja yang menemani bintang. Kau adalah... cintaku."
Senja menatap Bintang. Air matanya jatuh. Ia menangis. Ia tidak menyeka. Ia hanya duduk. Diam. Hatinya penuh.
"Bintang," katanya pelan. "Aku... aku tidak tahu harus bagaimana."
Bintang menatap Senja. Matanya dalam.
"Senja," katanya pelan. "Apa kau mencintaiku?"
Senja menatap Bintang. Matanya basah.
"Iya," jawabnya pelan. "Aku mencintaimu."
"Apa kau ingin bersamaku?"
Senja mengangguk. "Iya. Aku ingin bersamamu."
"Kalau begitu," kata Bintang pelan, "tinggallah."
Senja menatap Bintang. Matanya melebar.
"Apa?"
Bintang menatap Senja. Matanya dalam.
"Tinggallah," ulangnya pelan. "Jangan pergi. Aku... aku tidak bisa hidup tanpa kau."
Senja menatap Bintang. Air matanya jatuh. Ia memeluk Bintang. Erat. Bintang membalas pelukan itu. Erat. Mereka berdiri di dermaga tua. Berpelukan. Di bawah langit gelap. Di atas laut. Di ujung senja.
"Bintang," bisik Senja.
"Ya?"
"Aku... aku akan tinggal."
Bintang menutup mata. Ia mencium rambut Senja. Pelan. Lembut.
"Terima kasih," bisiknya.
Senja tersenyum. Air matanya jatuh. Ia menyandarkan kepala di pundak Bintang. Erat.
"Bintang," katanya pelan. "Apa kita akan baik-baik saja?"
Bintang menatap langit. Gelap. Tidak ada bintang. Tapi ia merasa... ada sesuatu yang bersinar di dalam hatinya.
"Aku tidak tahu," jawabnya pelan. "Tapi aku akan berusaha."
Senja mengangguk. Ia menutup mata. Ia merasa tenang. Di dermaga tua. Di bawah langit gelap. Di ujung senja.
"Bintang," bisiknya.
"Ya?"
"Aku mencintaimu."
Bintang menutup mata. Ia mencium rambut Senja. Pelan. Lembut.
"Aku juga," bisiknya. "Aku mencintaimu."
Mereka duduk diam. Berpelukan. Angin bertiup. Ombak memecah. Langit gelap. Dan di dalam hati mereka, ada sesuatu yang... lengkap.
Cinta.
Cinta yang tumbuh di dermaga tua. Di bawah langit gelap. Di atas laut. Di ujung senja.
Tapi malam itu, ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang... tidak terlihat. Di kejauhan, di balik pohon-pohon kelapa, seorang lelaki berdiri. Ia memakai jaket hitam. Topi hitam. Wajahnya... tidak terlihat. Ia menatap Bintang dan Senja. Matanya... dingin. Di tangannya, sebuah ponsel. Ia mengetik sesuatu. Lalu ia menghilang di kegelapan.
Bintang tidak melihat. Senja tidak melihat. Mereka masih berpelukan. Mereka masih... bahagia. Tapi bahagia itu... tidak akan lama.
Pagi berikutnya, Bintang bangun dengan hati ringan. Ia merasa... bahagia. Ia merasa... lengkap. Ia berjalan ke dermaga tua. Ia ingin bertemu Senja. Ia ingin bicara. Ia ingin... merayakan.
Tapi Senja tidak ada.
Bintang menunggu. Ia menunggu lagi. Masih tidak ada. Ia mulai cemas. Ia berjalan ke rumah Pak Harun. Ia mengetuk pintu. Tidak ada jawaban. Ia mengetuk lagi. Keras.
Pintu terbuka. Pak Harun berdiri di ambang pintu. Wajahnya pucat. Matanya merah. Seperti orang yang tidak tidur semalaman.
"Pak," kata Bintang. "Senja ada?"
Pak Harun menatap Bintang lama. Lalu ia menunduk. Air matanya jatuh.
"Bintang," katanya pelan. "Senja... Senja pergi."
Bintang terdiam. Hatinya berdebar.
"Pergi?"
Pak Harun mengangguk. Ia menyerahkan sebuah surat. Surat itu... dari Senja. Tulisan tangan perempuan itu. Rapi. Tapi ada noda air mata.
Bintang membuka surat itu. Ia membaca.
"Bintang,
Maafkan aku. Aku tidak bisa tinggal. Aku tidak bisa menjadi beban. Aku tidak bisa... menghambatmu.
Aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu. Tapi cinta saja tidak cukup. Kau punya tugas. Kau punya nyanyian. Kau punya kampung. Kau punya... masa depan.
Aku tidak bisa menjadi bagian dari masa depan itu. Karena aku... aku bukan siapa-siapa.
Jangan mencari aku. Jangan menunggu aku. Jangan... mencintaiku.
Aku akan selalu mengingatmu. Aku akan selalu mencintaimu. Tapi aku... aku harus pergi.
Maafkan aku.
Senja."
Bintang menutup surat itu. Air matanya jatuh. Ia menangis. Ia tidak menyeka. Ia hanya duduk. Diam. Hatinya... hancur.
"Bintang," kata Pak Harun pelan. "Aku... aku minta maaf."
Bintang menoleh. Ia menatap Pak Harun. Matanya basah.
"Kenapa?"
Pak Harun menunduk. Tangannya gemetar.
"Aku... aku tidak bisa mencegahnya," jawabnya pelan. "Ia... ia pergi pagi-pagi. Sebelum subuh. Ia... ia naik kapal."
Bintang menatap Pak Harun lama. Lalu ia berdiri. Ia berjalan ke dermaga tua. Ia menatap laut. Gelap. Ombak tinggi. Angin kencang. Ia menatap cakrawala. Kapal itu... sudah tidak terlihat. Kapal itu... sudah pergi. Membawa Senja. Membawa cintanya. Membawa... segalanya.
Bintang jatuh berlutut. Ia menangis. Ia tidak menyeka. Ia hanya duduk. Diam. Hatinya... hancur.
"Senja," bisiknya. "Kenapa?"
Tidak ada jawaban. Hanya angin. Hanya ombak. Hanya keheningan.
Bintang menatap langit. Gelap. Tidak ada bintang. Tidak ada senja. Hanya kegelapan. Hanya kekosongan. Hanya... kehilangan.
Ia menutup mata. Ia mengingat Senja. Senyumnya. Matanya. Suaranya. Ia mengingat malam di dermaga tua. Malam ketika mereka menyanyi bersama. Malam ketika mereka mengaku cinta. Malam ketika mereka berjanji.
Sekarang... semuanya hilang. Sekarang... semuanya pergi. Sekarang... semuanya... kosong.
Bintang membuka mata. Ia menatap laut. Gelap. Ombak tinggi. Angin kencang. Ia menghela napas. Ia berdiri. Ia berjalan pulang. Langkahnya... berat. Hatinya... hancur.
Tapi ia tidak menyerah. Ia tidak akan menyerah. Ia akan mencari Senja. Ia akan menemukan Senja. Ia akan... membawa Senja kembali.
"Senja," bisiknya. "Aku akan mencarimu. Aku akan menemukanmu. Aku akan... membawamu pulang."
Ia berjalan pulang. Langit gelap. Tidak ada bintang. Tidak ada senja. Hanya kegelapan. Hanya kekosongan. Hanya... kehilangan.
Dan di dermaga tua, angin bertiup. Ombak memecah. Langit gelap. Bintang... tidak muncul. Senja... tidak muncul. Hanya keheningan. Hanya kesunyian. Hanya... malam terakhir.
BAGIAN IV: PERPISAHAN
BAB 22
RUMAH YANG SEPI
Hari-hari setelah kepergian Senja terasa panjang. Matahari tetap terbit. Ombak tetap memecah. Angin tetap bertiup. Tapi bagi Bintang, semuanya terasa... hampa.
Ia tidak melaut. Ia tidak memperbaiki jala. Ia tidak menyanyi. Ia hanya duduk di dermaga tua. Dari pagi sampai senja. Dari senja sampai malam. Ia menatap laut. Ia menunggu. Ia berharap Senja akan kembali. Tapi Senja tidak kembali.
Ratna melihat perubahan itu. Ia melihat anaknya layu. Ia melihat anaknya hancur. Ia tidak bisa diam. Ia harus bicara.
Pagi itu, Ratna duduk di samping Bintang di dermaga. Ia membawa sepiring nasi dan ikan. Bintang tidak menyentuhnya. Ia hanya menatap laut.
"Bintang," kata Ratna pelan. "Makan."
Bintang tidak menoleh. "Aku tidak lapar, Bu."
Ratna menghela napas. Ia meletakkan piring itu di samping Bintang.
"Kau belum makan sejak kemarin," katanya pelan. "Kau belum tidur. Kau belum mandi. Kau... kau bukan dirimu sendiri."
Bintang diam. Ia menatap laut. Ombak tenang. Angin bertiup.
"Bu," katanya pelan. "Aku... aku kehilangan dia."
Ratna menatap Bintang. Matanya basah.
"Ibu tahu," katanya pelan. "Ibu tahu."
"Aku tidak tahu harus bagaimana," lanjut Bintang. "Aku... aku merasa hampa. Aku merasa... kosong."
Ratna meraih tangan Bintang. Erat.
"Bintang," katanya pelan. "Ibu juga pernah kehilangan. Ibu kehilangan ayahmu. Ibu tahu... rasanya."
Bintang menoleh. Ia menatap ibunya. Matanya basah.
"Bu," katanya pelan. "Bagaimana Ibu bertahan?"
Ratna menatap Bintang lama. Lalu ia tersenyum tipis. Senyum yang pahit.
"Aku bertahan," jawabnya pelan, "karena kau."
Bintang terdiam. Hatinya berat.
"Karena kau," lanjut Ratna, "aku punya alasan untuk hidup. Aku punya alasan untuk bangun pagi. Aku punya alasan untuk... bertahan."
Bintang menatap ibunya. Air matanya jatuh.
"Bu," katanya pelan. "Aku... aku minta maaf."
Ratna meraih wajah Bintang. Pelan. Lembut.
"Kau tidak perlu minta maaf," katanya pelan. "Kau hanya perlu... bangkit."
Bintang menatap ibunya. Hatinya hangat.
"Bu," katanya pelan. "Aku... aku akan mencoba."
Ratna mengangguk. Ia tersenyum. Senyum yang hangat.
"Bagus," katanya pelan. "Ayahmu pasti bangga."
Mereka duduk diam. Menatap laut. Ombak tenang. Angin bertiup. Matahari mulai tinggi. Bintang meraih piring itu. Ia makan. Perlahan. Tapi ia makan. Ratna menatapnya. Ia tersenyum. Ia bersyukur.
Sore itu, Dewi pulang dari sekolah. Ia melihat Bintang duduk di teras. Ia meletakkan tasnya. Ia duduk di samping kakaknya.
"Kak," katanya pelan. "Kau sudah makan?"
Bintang menoleh. Ia tersenyum tipis.
"Sudah," jawabnya pelan. "Ibu yang suruh."
Dewi tersenyum. Ia meraih tangan Bintang. Erat.
"Kak," katanya pelan. "Aku... aku ikut prihatin."
Bintang menatap adiknya. Hatinya hangat.
"Terima kasih, Dewi."
Dewi menatap Bintang lama. Lalu ia menghela napas.
"Kak," katanya pelan. "Apa kau akan mencari Senja?"
Bintang menoleh. Ia menatap adiknya. Matanya dalam.
"Iya," jawabnya pelan. "Aku akan mencari."
Dewi mengangguk. "Aku bersamamu."
Bintang menatap adiknya. Hatinya penuh.
"Terima kasih, Dewi."
Dewi tersenyum. Ia menyandarkan kepala di pundak Bintang. Erat.
"Kak," katanya pelan. "Aku yakin... kau akan menemukan Senja."
Bintang menatap langit. Jingga. Keemasan. Bintang pertama muncul di ujung senja. Kecil. Tapi terang.
"Aku juga," katanya pelan. "Aku yakin."
Mereka duduk diam. Menatap langit. Menatap senja. Menatap bintang pertama. Di dalam hati Bintang, ada sesuatu yang... mulai tumbuh. Sesuatu yang... seperti harapan.
Malam itu, Bintang duduk di kamarnya. Ia memegang liontin dari ayahnya. Ia membuka liontin itu. Ia membaca surat di dalamnya. Pelan. Dalam hati.
"Bintang, anakku.
Jika kau membaca ini, berarti kau sudah menemukan liontin ini. Berarti kau sudah siap.
Ayah ingin kau tahu: Bintang Terakhir bukan tempat. Bukan juga tujuan. Bintang Terakhir adalah... kau sendiri.
Kau adalah cahaya di ujung senja. Kau adalah harapan di ujung malam. Kau adalah... bintang terakhir.
Jaga nyanyian itu. Jaga tanah itu. Jaga cinta itu.
Dan jangan lupa... ayah selalu bersamamu.
Ayahmu,
Surya."
Bintang menutup liontin itu. Air matanya jatuh. Ia menangis. Ia tidak menyeka. Ia hanya duduk. Diam. Hatinya penuh.
"Ayah," bisiknya. "Aku... aku kehilangan dia."
Tidak ada jawaban. Hanya angin. Hanya ombak. Hanya keheningan.
"Ayah," lanjut Bintang. "Apa yang harus aku lakukan?"
Tidak ada jawaban. Tapi di dalam hatinya, ada sesuatu yang berbisik:
"Cari dia. Temukan dia. Bawa dia pulang."
Bintang membuka mata. Ia menatap langit. Gelap. Bintang-bintang bersinar. Terang. Abadi.
"Iya," katanya pelan. "Aku akan mencari dia. Aku akan menemukan dia. Aku akan... membawa dia pulang."
Ia berdiri. Ia berjalan ke jendela. Ia menatap langit. Bintang-bintang bersinar. Ia menghela napas. Ia merasa... tenang.
"Senja," bisiknya. "Aku akan mencarimu. Aku akan menemukanmu. Aku akan... membawamu pulang."
Ia menutup jendela. Ia berbaring di dipan. Ia menutup mata. Ia tidur. Untuk pertama kalinya sejak kepergian Senja, ia tidur dengan tenang.
Di luar, langit gelap. Bintang-bintang bersinar. Dan di dermaga tua, angin bertiup. Ombak memecah. Langit gelap. Bintang... tidak muncul. Senja... tidak muncul. Hanya keheningan. Hanya kesunyian. Hanya... rumah yang sepi.
Pagi berikutnya, Bintang bangun dengan hati ringan. Ia mandi. Ia berpakaian. Ia makan. Ia berjalan ke dermaga tua. Ia menatap laut. Ombak tenang. Angin bertiup. Matahari mulai tinggi.
Ia menghela napas. Ia menutup mata. Ia mengingat Senja. Senyumnya. Matanya. Suaranya. Ia mengingat malam di dermaga tua. Malam ketika mereka menyanyi bersama. Malam ketika mereka mengaku cinta. Malam ketika mereka berjanji.
Ia membuka mata. Ia menatap laut. Ombak tenang. Angin bertiup. Matahari bersinar.
"Senja," bisiknya. "Aku akan mencarimu. Aku akan menemukanmu. Aku akan... membawamu pulang."
Ia berjalan pulang. Langkahnya tegap. Hatinya penuh. Ia tidak akan menyerah. Ia tidak akan berhenti. Ia akan mencari Senja. Ia akan menemukan Senja. Ia akan... membawa Senja pulang.
Di dermaga tua, angin bertiup. Ombak memecah. Matahari bersinar. Bintang pertama tidak muncul. Matahari masih tinggi. Tapi di dalam hati Bintang, ada sesuatu yang... bersinar. Sesuatu yang... seperti harapan.
Harapan yang tumbuh di rumah yang sepi.
Di ujung senja.
BAB 23
SURAT DARI KOTA
Dua minggu setelah kepergian Senja, Bintang mulai bangkit. Ia melaut lagi. Ia memperbaiki jala. Ia membantu warga. Ia menyanyi lagi. Tapi ada sesuatu yang berbeda. Ada kekosongan di matanya. Ada kerinduan di hatinya. Ada... penantian.
Ia menunggu surat. Ia menunggu kabar. Ia menunggu... Senja.
Pagi itu, Bintang duduk di teras rumah. Ia memperbaiki jala. Tangannya bekerja, tapi pikirannya melayang. Ia memikirkan Senja. Ia memikirkan kota. Ia memikirkan... apa yang sedang Senja lakukan.
"Bintang!"
Ia menoleh. Andi berlari dari ujung jalan. Ia memegang sesuatu di tangannya. Sebuah amplop. Putih. Bersih. Ada perangko. Ada tulisan.
"Bintang," kata Andi, terengah-engah. "Surat. Untukmu."
Bintang berdiri. Ia meraih amplop itu. Tangannya gemetar. Ia menatap tulisan di amplop itu. Tulisan tangan Senja. Rapi. Miring-miring.
"Dari Senja?" tanya Bintang.
Andi mengangguk. "Iya. Aku ambil di kantor pos. Tadi pagi."
Bintang menatap amplop itu lama. Ia tidak membukanya. Ia hanya menatap. Hatinya berdebar.
"Bintang," kata Andi pelan. "Kau tidak buka?"
Bintang menoleh. Ia menatap Andi. Matanya basah.
"Aku... aku takut."
Andi meraih pundak Bintang. Erat.
"Buka saja," katanya pelan. "Apa pun isinya... kau harus tahu."
Bintang mengangguk. Ia duduk kembali di kursi. Ia membuka amplop itu. Pelan. Lembut. Ia mengeluarkan surat. Kertas putih. Tulisan tangan Senja. Rapi. Miring-miring. Ada noda air mata di beberapa tempat.
"Bintang,
Apa kabar? Aku harap kau baik-baik saja. Aku harap kau masih melaut. Aku harap kau masih menyanyi. Aku harap... kau masih mengingatku.
Aku baik-baik saja di sini. Aku sudah mulai bekerja. Aku mengajar di universitas. Aku meneliti nyanyian adat. Aku... sibuk. Tapi tidak bahagia.
Setiap malam, aku duduk di jendela kamarku. Aku menatap langit. Aku mencari bintang. Bintang pertama di ujung senja. Tapi... aku tidak menemukannya. Karena di kota... langit terlalu terang. Bintang-bintang... tenggelam.
Aku merindukanmu, Bintang. Aku merindukan dermaga tua. Aku merindukan laut. Aku merindukan nyanyian kita. Aku merindukan... semuanya.
Tapi aku tidak bisa kembali. Aku tidak bisa kembali karena... aku takut. Aku takut menjadi beban. Aku takut menghambatmu. Aku takut... membuatmu menderita.
Maafkan aku. Maafkan aku karena pergi. Maafkan aku karena tidak kuat. Maafkan aku karena... mencintaimu.
Aku akan selalu mengingatmu. Aku akan selalu mencintaimu. Tapi aku... aku harus melanjutkan hidup. Aku harus... melupakanmu.
Jangan balas surat ini. Jangan mencariku. Jangan... menungguku.
Aku mencintaimu. Selamanya.
Senja."
Bintang menutup surat itu. Air matanya jatuh. Ia menangis. Ia tidak menyeka. Ia hanya duduk. Diam. Hatinya penuh.
"Bintang," kata Andi pelan. "Apa isinya?"
Bintang menoleh. Ia menatap Andi. Matanya basah.
"Senja... Senja tidak bahagia," jawabnya pelan. "Ia merindukanku. Ia mencintaiku. Tapi ia... ia tidak bisa kembali."
Andi diam. Ia menatap Bintang lama. Lalu ia duduk di samping sahabatnya. Ia meraih pundak Bintang. Erat.
"Bintang," katanya pelan. "Apa kau akan mencarinya?"
Bintang menatap Andi. Matanya dalam.
"Iya," jawabnya pelan. "Aku akan mencarinya."
Andi mengangguk. "Aku bersamamu."
Bintang menatap Andi. Hatinya hangat.
"Terima kasih, Andi."
Andi tersenyum. Ia meraih tangan Bintang. Erat.
"Bersama," katanya pelan.
Mereka duduk diam. Menatap langit. Biru. Bersih. Di kejauhan, dermaga tua terlihat. Tempat Bintang dan Senja pertama bertemu. Tempat mereka pertama bicara. Tempat mereka pertama... merasa.
"Andi," kata Bintang pelan. "Aku... aku akan pergi ke kota."
Andi menoleh. Matanya melebar.
"Ke kota?"
Bintang mengangguk. "Iya. Aku akan mencari Senja. Aku akan membawanya pulang."
Andi diam. Ia menatap Bintang lama. Lalu ia mengangguk.
"Aku ikut," katanya pelan.
Bintang menatap Andi. Matanya basah.
"Kau... kau mau ikut?"
Andi mengangguk. "Iya. Aku sahabatmu. Aku tidak akan membiarkanmu pergi sendiri."
Bintang menatap Andi. Hatinya penuh. Ia memeluk sahabatnya. Erat. Andi membalas pelukan itu. Erat.
"Terima kasih, Andi," bisik Bintang.
Andi tersenyum. Air matanya jatuh. Ia menutup mata.
"Kita akan menemukan Senja," katanya pelan. "Kita akan membawanya pulang."
Bintang mengangguk. Ia menutup mata. Ia merasa... tenang.
Sore itu, Bintang berjalan ke rumah Pak Harun. Ia ingin bicara. Ia ingin berpamitan. Ia ingin... meminta restu.
Pak Harun duduk di teras. Ia memakai sarung dan baju lengan panjang. Di tangannya, kopi. Ia menatap Bintang lama.
"Kau datang," katanya pelan.
Bintang duduk di samping Pak Harun. Ia meletakkan surat Senja di meja. Ia menatap lelaki tua itu.
"Pak," katanya pelan. "Aku akan pergi ke kota."
Pak Harun menoleh. Matanya melebar.
"Ke kota?"
Bintang mengangguk. "Iya. Aku akan mencari Senja. Aku akan membawanya pulang."
Pak Harun diam. Ia menatap Bintang lama. Lalu ia menghela napas.
"Kau yakin?"
Bintang mengangguk. "Yakin."
Pak Harun menatap Bintang. Matanya dalam.
"Bintang," katanya pelan. "Kota itu... berbeda. Kota itu... keras. Kota itu... tidak seperti kampung ini."
Bintang menatap Pak Harun. Matanya tenang.
"Aku tahu," jawabnya pelan. "Tapi aku harus pergi. Aku harus mencari Senja. Aku... tidak bisa hidup tanpa dia."
Pak Harun diam. Ia menatap Bintang lama. Lalu ia tersenyum tipis.
"Kau ini... keras kepala. Seperti ayahmu."
Bintang tersenyum. "Iya."
Pak Harun menghela napas. Ia meraih tangan Bintang. Erat.
"Baiklah," katanya pelan. "Aku merestui. Tapi kau harus hati-hati. Kau harus sabar. Kau harus... hidup."
Bintang mengangguk. "Aku akan hati-hati, Pak."
Pak Harun meraih sesuatu dari sakunya. Sebuah kantong kain. Kecil. Ia menyerahkannya pada Bintang.
"Ini," katanya pelan. "Bekal. Untuk perjalanan."
Bintang membuka kantong itu. Di dalamnya, ada uang. Ada cincin. Ada... selembar kertas. Tulisan tangan Pak Harun. Rapi. Miring-miring.
"Bintang,
Jika kau membaca ini, berarti kau sudah pergi. Aku tidak bisa menahanmu. Aku tidak bisa melarangmu. Aku hanya bisa... berdoa.
Kota itu keras. Kota itu kejam. Tapi kau... kau kuat. Kau adalah bintang terakhir. Kau adalah cahaya di ujung senja.
Jangan lupa: nyanyian itu. Tanah itu. Cinta itu.
Dan jangan lupa... kau selalu punya rumah. Di sini. Di Tanjung Senja.
Pak Harun."
Bintang menutup kertas itu. Air matanya jatuh. Ia menoleh pada Pak Harun. Matanya basah.
"Pak," katanya pelan. "Terima kasih."
Pak Harun mengangguk. Ia menatap Bintang lama. Matanya basah.
"Bintang," katanya pelan. "Kau cucu yang baik. Surya pasti bangga."
Bintang menatap Pak Harun. Hatinya penuh. Ia memeluk lelaki tua itu. Erat.
"Pak," bisiknya. "Aku akan kembali. Aku akan membawa Senja. Aku akan... membawa pulang."
Pak Harun membalas pelukan itu. Erat. Ia menutup mata. Air matanya jatuh.
"Aku percaya," katanya pelan. "Aku percaya."
Mereka duduk diam. Menatap langit. Jingga. Keemasan. Bintang pertama muncul di ujung senja. Kecil. Tapi terang. Di dalam hati Bintang, ada sesuatu yang... tumbuh. Sesuatu yang... seperti tekad.
Malam itu, Bintang duduk di dermaga tua. Ia memandang laut. Ombak tenang. Angin bertiup. Bulan sabit menggantung di ujung langit. Bintang-bintang bersinar. Terang. Abadi.
Ia memegang surat Senja. Ia membaca lagi. Pelan. Dalam hati.
"Aku merindukanmu, Bintang. Aku merindukan dermaga tua. Aku merindukan laut. Aku merindukan nyanyian kita. Aku merindukan... semuanya."
Bintang menutup surat itu. Air matanya jatuh. Ia menatap langit. Bintang-bintang bersinar. Terang. Abadi.
"Senja," bisiknya. "Aku akan mencarimu. Aku akan menemukanmu. Aku akan... membawamu pulang."
Ia berdiri. Ia berjalan pulang. Langkahnya tegap. Hatinya penuh. Ia tidak akan menyerah. Ia tidak akan berhenti. Ia akan mencari Senja. Ia akan menemukan Senja. Ia akan... membawa Senja pulang.
Di dermaga tua, angin bertiup. Ombak memecah. Bulan sabit menggantung di ujung langit. Bintang-bintang bersinar. Dan di dalam hati Bintang, ada sesuatu yang... bersinar. Sesuatu yang... seperti harapan.
Harapan yang tumbuh dari surat dari kota.
Di ujung senja.
BAB 24
KABAR BURUK
Tiga hari setelah surat dari Senja, Bintang mulai mempersiapkan perjalanan. Ia memperbaiki perahu. Ia mengumpulkan bekal. Ia berpamitan pada warga. Ia berpamitan pada laut. Ia berpamitan pada dermaga tua. Ia akan pergi ke kota. Ia akan mencari Senja.
Tapi rencana itu... tidak sempat terlaksana.
Pagi itu, Bintang duduk di teras rumah. Ia memperbaiki tas untuk perjalanan. Ratna duduk di sampingnya. Ia menjahit jala. Wajahnya pucat. Matanya... lelah.
"Bu," kata Bintang. "Kau kenapa?"
Ratna menoleh. Ia tersenyum tipis. Senyum yang lemah.
"Tidak apa-apa," jawabnya pelan. "Hanya lelah."
Bintang menatap ibunya lama. Ada sesuatu di mata perempuan itu—kesakitan. Kelelahan. Sesuatu yang... tidak biasa.
"Bu," kata Bintang pelan. "Kau sakit?"
Ratna menggeleng. "Tidak. Ibu hanya... butuh istirahat."
Bintang menatap ibunya. Hatinya berat. Ia meraih tangan perempuan itu. Erat.
"Bu," katanya pelan. "Kau harus istirahat. Aku akan panggil tabib."
Ratna menoleh. Matanya melebar.
"Tidak perlu," katanya pelan. "Ibu hanya perlu... tidur."
Bintang diam. Ia menatap ibunya lama. Lalu ia mengangguk.
"Baiklah," katanya pelan. "Tapi kalau Ibu tidak membaik... aku akan panggil tabib."
Ratna tersenyum. Senyum yang lemah. Ia menepuk tangan Bintang. Pelan.
"Kau ini... keras kepala," katanya pelan. "Seperti ayahmu."
Bintang tersenyum. "Iya."
Ratna berdiri. Ia berjalan ke kamar. Langkahnya... lambat. Tubuhnya... lemah. Bintang menatap punggung ibunya. Hatinya... gelisah.
Malam itu, Bintang terbangun. Ia mendengar sesuatu. Suara... batuk. Dari kamar Ratna. Ia bangkit. Ia berjalan ke kamar ibunya. Ia membuka pintu.
Ratna duduk di dipan. Ia memegang kain. Kain itu... berlumuran darah.
"Bu!" Bintang berlari ke samping ibunya. Ia meraih tangan perempuan itu. Erat.
"Bintang," kata Ratna pelan. "Ibu... Ibu baik-baik saja."
"Bu," kata Bintang. "Kau batuk darah."
Ratna menatap Bintang. Matanya basah. Ada sesuatu di mata perempuan itu—ketakutan. Kesedihan. Cinta.
"Bintang," katanya pelan. "Ibu... Ibu tidak ingin kau tahu."
"Tahu apa?"
Ratna menunduk. Air matanya jatuh.
"Ibu sakit," jawabnya pelan. "Sudah lama."
Bintang terdiam. Hatinya berdebar. Ia menatap ibunya lama. Lalu ia menunduk. Ia tidak bicara. Ia hanya menggenggam tangan perempuan itu. Erat.
"Bu," katanya pelan. "Kenapa Ibu tidak bilang?"
Ratna menatap Bintang. Air matanya jatuh.
"Karena Ibu tidak ingin kau khawatir," jawabnya pelan. "Karena Ibu tidak ingin kau... sedih."
Bintang menatap ibunya. Hatinya berat. Ia menangis. Ia tidak menyeka. Ia hanya duduk. Diam.
"Bu," katanya pelan. "Aku... aku tidak akan pergi. Aku akan tinggal. Aku akan merawat Ibu."
Ratna menoleh. Matanya melebar.
"Tidak," katanya tegas. "Kau harus pergi. Kau harus mencari Senja."
"Bu..."
"Bintang," kata Ratna pelan. "Ibu tidak akan selamanya ada. Tapi Senja... Senja masih ada. Kau harus mencari dia. Kau harus... membawa dia pulang."
Bintang menatap ibunya. Air matanya jatuh. Ia memeluk Ratna. Erat. Ratna membalas pelukan itu. Erat. Mereka duduk diam. Berpelukan. Di bawah lampu minyak. Di bawah langit. Di ujung malam.
"Bu," bisik Bintang. "Aku... aku tidak ingin kehilangan Ibu."
Ratna menutup mata. Air matanya jatuh.
"Aku juga," bisiknya. "Tapi... hidup ini bukan tentang memiliki. Hidup ini tentang... melepaskan."
Bintang menutup mata. Ia menangis. Ia tidak menyeka. Ia hanya duduk. Diam. Hatinya penuh.
Pagi berikutnya, Bintang memanggil tabib. Tabib itu datang. Ia memeriksa Ratna. Ia menggeleng. Ia bicara pelan pada Bintang.
"Ibumu sakit parah," katanya pelan. "Ia tidak akan lama."
Bintang terdiam. Hatinya hancur. Ia menatap tabib itu. Matanya basah.
"Berapa lama?" tanya Bintang pelan.
Tabib itu menghela napas. "Satu minggu. Mungkin dua. Tidak lebih."
Bintang menutup mata. Air matanya jatuh. Ia menangis. Ia tidak menyeka. Ia hanya duduk. Diam.
"Terima kasih," katanya pelan. "Terima kasih."
Tabib itu pergi. Bintang duduk di teras. Ia menatap langit. Biru. Bersih. Matahari bersinar. Tapi di dalam hatinya... gelap. Hanya kegelapan. Hanya kekosongan. Hanya... kehilangan.
"Bintang."
Ia menoleh. Dewi berdiri di ambang pintu. Wajahnya pucat. Matanya merah. Ia sudah tahu. Ia sudah dengar.
"Kak," katanya pelan. "Ibu..."
Bintang mengangguk. Ia tidak bicara. Ia hanya membuka tangannya. Dewi berlari. Ia memeluk kakaknya. Erat. Ia menangis. Bintang membalas pelukan itu. Erat. Mereka duduk diam. Berpelukan. Di bawah matahari. Di bawah langit. Di ujung senja.
"Dewi," kata Bintang pelan. "Ibu... tidak akan lama."
Dewi menangis. Ia tidak menyeka. Ia hanya duduk. Diam.
"Kak," katanya pelan. "Apa yang harus kita lakukan?"
Bintang menatap adiknya. Matanya dalam. Ada sesuatu di mata pemuda itu—keteguhan. Keikhlasan. Cinta.
"Kita rawat Ibu," jawabnya pelan. "Kita temani Ibu. Kita... bersama."
Dewi mengangguk. Ia menyandarkan kepala di pundak Bintang. Erat.
"Kak," katanya pelan. "Aku takut."
Bintang menatap langit. Biru. Bersih. Matahari bersinar. Tapi di dalam hatinya... gelap.
"Aku juga," jawabnya pelan. "Tapi kita harus kuat. Untuk Ibu."
Dewi mengangguk. Ia menutup mata. Ia merasa... tenang. Di pelukan kakaknya. Di bawah matahari. Di ujung senja.
Sore itu, Bintang duduk di samping Ratna. Ia memegang tangan perempuan itu. Erat. Ratna tersenyum. Senyum yang lemah. Tapi hangat.
"Bintang," katanya pelan. "Ibu ingin bicara."
Bintang menatap ibunya. Matanya dalam.
"Bicara saja, Bu."
Ratna menatap Bintang lama. Lalu ia menghela napas.
"Bintang," katanya pelan. "Ibu... Ibu tidak pernah bilang. Tapi... Ibu bangga padamu."
Bintang menatap ibunya. Air matanya jatuh.
"Bu..."
"Kau," lanjut Ratna pelan, "adalah anak yang baik. Kau adalah penjaga yang baik. Kau adalah... bintang terakhir."
Bintang menunduk. Air matanya jatuh.
"Bu," katanya pelan. "Aku... aku belum jadi apa-apa."
Ratna tersenyum. Senyum yang hangat.
"Kau sudah jadi apa-apa," katanya pelan. "Kau sudah jadi... dirimu sendiri. Dan itu... cukup."
Bintang menatap ibunya. Hatinya penuh. Ia meraih wajah perempuan itu. Pelan. Lembut.
"Bu," katanya pelan. "Aku mencintai Ibu."
Ratna menatap Bintang. Air matanya jatuh. Ia tersenyum.
"Aku juga," katanya pelan. "Aku mencintaimu. Selamanya."
Bintang memeluk ibunya. Erat. Ratna membalas pelukan itu. Erat. Mereka duduk diam. Berpelukan. Di bawah lampu minyak. Di bawah langit. Di ujung senja.
"Bintang," bisik Ratna.
"Ya?"
"Jangan lupa... nyanyian itu. Tanah itu. Cinta itu."
Bintang menutup mata. Air matanya jatuh.
"Aku tidak akan lupa, Bu," bisiknya. "Aku tidak akan lupa."
Ratna tersenyum. Ia menutup mata. Ia merasa... tenang. Di pelukan anaknya. Di bawah lampu minyak. Di ujung senja.
"Bintang," bisiknya lagi.
"Ya?"
"Ibu... Ibu ingin ketemu ayahmu."
Bintang menutup mata. Air matanya jatuh. Ia mencium kening ibunya. Pelan. Lembut.
"Ibu akan ketemu Ayah," bisiknya. "Ibu akan ketemu Ayah."
Ratna tersenyum. Senyum yang tenang. Senyum yang... bahagia. Ia menutup mata. Ia menghela napas. Perlahan. Lembut. Lalu... ia tidak menghela napas lagi.
Bintang menatap ibunya. Air matanya jatuh. Ia menangis. Ia tidak menyeka. Ia hanya duduk. Diam. Hatinya... hancur.
"Bu," bisiknya. "Selamat jalan."
Ia menutup mata ibunya. Pelan. Lembut. Ia mencium kening perempuan itu. Pelan. Lembut. Ia berdiri. Ia berjalan ke pintu. Ia membuka pintu. Ia menatap langit. Jingga. Keemasan. Bintang pertama muncul di ujung senja. Kecil. Tapi terang.
"Bu," bisiknya. "Aku akan menjaga semuanya. Aku akan menjaga nyanyian ini. Aku akan menjaga tanah ini. Aku akan menjaga... cinta ini."
Ia menutup pintu. Ia duduk di teras. Ia menatap langit. Bintang-bintang bersinar. Terang. Abadi. Ia menghela napas. Ia merasa... tenang. Ia merasa... lengkap. Ia merasa... siap.
"Bu," bisiknya. "Aku akan mencari Senja. Aku akan membawa dia pulang. Aku akan... menjaga semuanya."
Ia berdiri. Ia berjalan ke dermaga tua. Ia menatap laut. Ombak tenang. Angin bertiup. Matahari tenggelam. Langit berwarna jingga keemasan. Bintang pertama bersinar. Terang.
"Senja," bisiknya. "Aku akan mencarimu. Aku akan menemukanmu. Aku akan... membawamu pulang."
Di dermaga tua, angin bertiup. Ombak memecah. Langit senja. Bintang pertama. Dan di dalam hati Bintang, ada sesuatu yang... bersinar. Sesuatu yang... seperti harapan.
Harapan yang tumbuh dari kabar buruk.
Di ujung senja.
BAB 25
KEHILANGAN
Ratna meninggal saat senja. Tepat ketika matahari tenggelam. Tepat ketika bintang pertama muncul. Tepat ketika langit berwarna jingga keemasan. Seperti janjinya. Seperti doanya. Seperti... cintanya.
Bintang duduk di samping jenazah ibunya. Ia tidak menangis. Ia tidak bicara. Ia hanya duduk. Diam. Menatap wajah perempuan itu. Wajah yang tenang. Wajah yang damai. Wajah yang... bahagia.
Dewi duduk di samping Bintang. Ia menangis. Ia tidak menyeka. Ia hanya duduk. Diam. Hatinya... hancur.
"Kak," kata Dewi pelan. "Ibu... Ibu sudah tidak ada."
Bintang menoleh. Ia menatap adiknya. Matanya basah. Tapi ia tidak menangis. Ia hanya tersenyum tipis. Senyum yang pahit.
"Iya," jawabnya pelan. "Ibu sudah tidak ada."
Dewi menatap Bintang. Air matanya jatuh.
"Kak," katanya pelan. "Kenapa kau tidak menangis?"
Bintang menatap adiknya. Matanya dalam.
"Karena aku sudah menangis," jawabnya pelan. "Di dalam hati. Di dalam jiwa. Di dalam... doa."
Dewi menatap Bintang. Hatinya berat. Ia meraih tangan kakaknya. Erat.
"Kak," katanya pelan. "Aku... aku takut."
Bintang menatap Dewi. Matanya hangat.
"Tidak apa-apa," katanya pelan. "Aku ada di sini. Aku tidak akan pergi."
Dewi menatap Bintang. Air matanya jatuh. Ia memeluk kakaknya. Erat. Bintang membalas pelukan itu. Erat. Mereka duduk diam. Berpelukan. Di samping jenazah ibu mereka. Di bawah lampu minyak. Di bawah langit. Di ujung senja.
Malam itu, warga datang. Mereka melayat. Mereka mendoakan. Mereka menghibur. Pak Harun datang. Ia memimpin doa. Ia menatap Bintang lama. Matanya basah.
"Bintang," katanya pelan. "Aku... aku ikut prihatin."
Bintang menoleh. Ia menatap Pak Harun. Matanya dalam.
"Terima kasih, Pak," katanya pelan.
Pak Harun meraih pundak Bintang. Erat.
"Ibumu," katanya pelan, "adalah perempuan yang kuat. Ia... ia mengorbankan segalanya. Untuk ayahmu. Untuk kau. Untuk... keluarga ini."
Bintang menatap Pak Harun. Hatinya berat.
"Aku tahu, Pak," katanya pelan. "Aku tahu."
Pak Harun menatap Bintang lama. Lalu ia menghela napas.
"Bintang," katanya pelan. "Kau harus kuat. Kau harus... melanjutkan."
Bintang menatap Pak Harun. Matanya dalam.
"Aku akan kuat, Pak," jawabnya pelan. "Aku akan melanjutkan."
Pak Harun mengangguk. Ia menepuk pundak Bintang. Pelan.
"Bagus," katanya pelan. "Ayahmu pasti bangga."
Bintang menatap Pak Harun. Hatinya hangat. Ia mengangguk. Ia berjalan ke dermaga tua. Ia menatap laut. Ombak tenang. Angin bertiup. Bulan sabit menggantung di ujung langit. Bintang-bintang bersinar. Terang. Abadi.
"Bu," bisiknya. "Aku akan menjaga semuanya. Aku akan menjaga nyanyian ini. Aku akan menjaga tanah ini. Aku akan menjaga... cinta ini."
Ia menutup mata. Air matanya jatuh. Ia menangis. Ia tidak menyeka. Ia hanya duduk. Diam. Hatinya... penuh.
"Bu," bisiknya lagi. "Aku akan mencari Senja. Aku akan membawa dia pulang. Aku akan... menjaga semuanya."
Ia membuka mata. Ia menatap langit. Bintang-bintang bersinar. Terang. Abadi. Ia menghela napas. Ia merasa... tenang. Ia merasa... lengkap. Ia merasa... siap.
Pagi berikutnya, Bintang duduk di teras rumah. Ia memegang liontin dari ayahnya. Ia membuka liontin itu. Ia membaca surat di dalamnya. Pelan. Dalam hati.
"Bintang, anakku.
Jika kau membaca ini, berarti kau sudah menemukan liontin ini. Berarti kau sudah siap.
Ayah ingin kau tahu: Bintang Terakhir bukan tempat. Bukan juga tujuan. Bintang Terakhir adalah... kau sendiri.
Kau adalah cahaya di ujung senja. Kau adalah harapan di ujung malam. Kau adalah... bintang terakhir.
Jaga nyanyian itu. Jaga tanah itu. Jaga cinta itu.
Dan jangan lupa... ayah selalu bersamamu.
Ayahmu,
Surya."
Bintang menutup liontin itu. Air matanya jatuh. Ia menangis. Ia tidak menyeka. Ia hanya duduk. Diam. Hatinya penuh.
"Ayah," bisiknya. "Ibu sudah pergi. Ia... ia sudah ketemu Ayah."
Tidak ada jawaban. Hanya angin. Hanya ombak. Hanya keheningan.
"Ayah," lanjut Bintang. "Apa yang harus aku lakukan?"
Tidak ada jawaban. Tapi di dalam hatinya, ada sesuatu yang berbisik:
"Cari dia. Temukan dia. Bawa dia pulang."
Bintang membuka mata. Ia menatap langit. Biru. Bersih. Matahari bersinar. Ia menghela napas. Ia berdiri. Ia berjalan ke dermaga tua. Ia menatap laut. Ombak tenang. Angin bertiup. Matahari mulai tinggi.
"Senja," bisiknya. "Aku akan mencarimu. Aku akan menemukanmu. Aku akan... membawamu pulang."
Ia berjalan pulang. Langkahnya tegap. Hatinya penuh. Ia tidak akan menyerah. Ia tidak akan berhenti. Ia akan mencari Senja. Ia akan menemukan Senja. Ia akan... membawa Senja pulang.
Di dermaga tua, angin bertiup. Ombak memecah. Matahari bersinar. Bintang pertama tidak muncul. Matahari masih tinggi. Tapi di dalam hati Bintang, ada sesuatu yang... bersinar. Sesuatu yang... seperti harapan.
Harapan yang tumbuh dari kehilangan.
Di ujung senja.
BAB 26
PEMAKAMAN
Hari pemakaman Ratna, langit berwarna kelabu. Tidak ada matahari. Tidak ada bintang. Hanya awan tipis yang bergerak pelan, seperti tangan-tangan halus yang merapikan selimut langit. Angin bertiup pelan. Ombak tenang. Laut... tenang. Seperti ikut berduka.
Warga Tanjung Senja berkumpul di rumah Bintang. Mereka datang sejak pagi. Lelaki memakai baju putih. Perempuan memakai kebaya hitam. Anak-anak diam. Tidak ada yang berlari. Tidak ada yang tertawa. Hanya keheningan. Hanya doa. Hanya... kesedihan.
Jenazah Ratna dimandikan. Dikafani. Didoakan. Bintang duduk di samping jenazah ibunya. Ia memakai baju putih. Rambutnya disisir rapi. Wajahnya tenang. Tapi matanya... basah. Tapi hatinya... hancur.
Dewi duduk di samping Bintang. Ia memakai kebaya hitam. Rambutnya diikat. Wajahnya pucat. Matanya merah. Ia menangis. Ia tidak menyeka. Ia hanya duduk. Diam.
Pak Harun datang. Ia memakai baju adat. Ia memimpin doa. Ia membacakan doa-doa lama. Doa-doa leluhur. Doa-doa... perpisahan. Warga mengikuti. Mereka menunduk. Mereka menangis. Mereka... berdoa.
"Ya Allah," kata Pak Harun pelan. "Terimalah amal ibadah hamba-Mu ini. Ratna binti Saleh. Ia adalah perempuan yang kuat. Ia adalah perempuan yang sabar. Ia adalah... ibu yang baik. Terimalah dia di sisi-Mu. Tempatkanlah dia di tempat yang mulia. Di surga-Mu. Di... keabadian."
Warga mengaminkan. Mereka menunduk. Mereka menangis. Bintang menunduk. Air matanya jatuh. Ia tidak menyeka. Ia hanya duduk. Diam. Hatinya... penuh.
Setelah doa, jenazah Ratna dibawa ke pemakaman. Warga mengikuti. Mereka berjalan pelan. Mereka membawa jenazah. Mereka membawa doa. Mereka membawa... cinta.
Bintang berjalan di depan. Ia memegang tali jenazah. Ia menatap jalan. Jalan yang ia lalui sejak kecil. Jalan yang ia lalui bersama ibunya. Jalan yang... penuh kenangan.
Ia mengingat ibunya. Senyumnya. Matanya. Suaranya. Ia mengingat ibunya menjahit jala. Ia mengingat ibunya memasak. Ia mengingat ibunya... menyanyi. Ia mengingat... semuanya.
Air matanya jatuh. Ia tidak menyeka. Ia hanya berjalan. Pelan. Lembut. Seperti orang yang sedang mengantar kepergian.
Pemakaman Tanjung Senja berada di atas bukit. Di bawah pohon beringin tua. Di sana, ada batu nisan. Ada bunga. Ada doa. Ada... keabadian.
Jenazah Ratna dimasukkan ke liang lahat. Warga menaburkan bunga. Warga menaburkan doa. Warga menaburkan... cinta. Bintang berdiri di samping liang lahat. Ia memegang segenggam tanah. Ia menatap liang itu. Ia menatap jenazah ibunya. Ia menatap... kepergian.
"Bu," bisiknya. "Selamat jalan."
Ia menaburkan tanah. Pelan. Lembut. Tanah itu jatuh ke liang. Menutupi jenazah. Menutupi... segalanya.
Dewi menangis. Ia memeluk Bintang. Erat. Bintang membalas pelukan itu. Erat. Mereka duduk diam. Berpelukan. Di samping makam ibu mereka. Di bawah pohon beringin. Di bawah langit kelabu. Di ujung senja.
"Kak," bisik Dewi. "Ibu... Ibu sudah tidak ada."
Bintang menutup mata. Air matanya jatuh.
"Iya," bisiknya. "Ibu sudah tidak ada. Tapi... ia selalu ada di hati kita."
Dewi menangis. Ia tidak menyeka. Ia hanya duduk. Diam.
Pak Harun datang. Ia meletakkan karangan bunga di atas makam. Ia menatap Bintang lama. Matanya basah.
"Bintang," katanya pelan. "Kau harus kuat."
Bintang menoleh. Ia menatap Pak Harun. Matanya dalam.
"Aku akan kuat, Pak," jawabnya pelan. "Aku akan kuat."
Pak Harun mengangguk. Ia menepuk pundak Bintang. Pelan.
"Bagus," katanya pelan. "Ayahmu pasti bangga."
Bintang menatap Pak Harun. Hatinya hangat. Ia mengangguk. Ia menatap makam ibunya. Ia menatap batu nisan. Ia menatap... keabadian.
"Bu," bisiknya. "Aku akan menjaga semuanya. Aku akan menjaga nyanyian ini. Aku akan menjaga tanah ini. Aku akan menjaga... cinta ini."
Ia berdiri. Ia berjalan ke dermaga tua. Ia menatap laut. Ombak tenang. Angin bertiup. Langit kelabu. Tidak ada bintang. Tidak ada senja. Hanya keheningan. Hanya kesunyian. Hanya... kehilangan.
"Senja," bisiknya. "Aku akan mencarimu. Aku akan menemukanmu. Aku akan... membawamu pulang."
Ia menutup mata. Air matanya jatuh. Ia menangis. Ia tidak menyeka. Ia hanya duduk. Diam. Hatinya... penuh.
Malam itu, Bintang duduk di teras rumah. Rumah itu... sepi. Tidak ada Ratna. Tidak ada suara jahitan. Tidak ada suara masakan. Tidak ada... ibu. Hanya keheningan. Hanya kesunyian. Hanya... kehilangan.
Dewi duduk di samping Bintang. Ia memegang cangkir kopi. Ia menatap langit. Gelap. Bintang-bintang bersinar. Terang. Abadi.
"Kak," kata Dewi pelan. "Apa yang akan kita lakukan?"
Bintang menoleh. Ia menatap adiknya. Matanya dalam.
"Kita hidup," jawabnya pelan. "Kita melanjutkan. Kita... menjaga semuanya."
Dewi menatap Bintang. Air matanya jatuh.
"Kak," katanya pelan. "Aku... aku takut."
Bintang meraih tangan adiknya. Erat.
"Tidak apa-apa," katanya pelan. "Aku ada di sini. Aku tidak akan pergi."
Dewi menatap Bintang. Hatinya hangat. Ia menyandarkan kepala di pundak kakaknya. Erat.
"Kak," katanya pelan. "Apa kau akan tetap pergi ke kota?"
Bintang diam. Ia menatap langit. Bintang-bintang bersinar. Terang. Abadi.
"Iya," jawabnya pelan. "Aku akan tetap pergi. Aku akan mencari Senja. Aku akan... membawanya pulang."
Dewi menatap Bintang. Matanya basah.
"Kak," katanya pelan. "Aku... aku akan menunggu kau di sini."
Bintang menatap adiknya. Hatinya penuh. Ia meraih wajah Dewi. Pelan. Lembut.
"Terima kasih, Dewi," katanya pelan. "Aku akan kembali. Aku akan membawa Senja. Aku akan... menjaga semuanya."
Dewi mengangguk. Ia memeluk Bintang. Erat. Bintang membalas pelukan itu. Erat. Mereka duduk diam. Berpelukan. Di bawah bintang-bintang. Di bawah langit. Di ujung senja.
"Kak," bisik Dewi.
"Ya?"
"Aku mencintaimu."
Bintang menutup mata. Ia mencium rambut adiknya. Pelan. Lembut.
"Aku juga," bisiknya. "Aku mencintaimu."
Mereka duduk diam. Berpelukan. Angin bertiup. Ombak memecah. Bintang-bintang bersinar. Dan di dalam hati mereka, ada sesuatu yang... lengkap.
Cinta.
Cinta yang tumbuh dari pemakaman.
Di ujung senja.
BAB 27
KEPUTUSAN BINTANG
Seminggu setelah pemakaman Ratna, Bintang belum juga pergi. Ia masih duduk di teras rumah. Ia masih menatap langit. Ia masih... menunggu. Tapi ia tidak tahu apa yang ia tunggu. Ia hanya tahu... ia harus pergi. Ia harus mencari Senja. Ia harus... membawa Senja pulang.
Tapi ada sesuatu yang menahannya. Ada sesuatu yang... mengikat. Ada sesuatu yang... tidak selesai. Ia harus bicara pada Dewi. Ia harus bicara pada Pak Harun. Ia harus bicara pada Andi. Ia harus... memutuskan.
Pagi itu, Bintang duduk di dermaga tua. Ia memandang laut. Ombak tenang. Angin bertiup. Matahari mulai tinggi. Langit biru. Bersih. Ia memegang liontin dari ayahnya. Ia membuka liontin itu. Ia membaca surat di dalamnya. Pelan. Dalam hati.
"Bintang, anakku.
Jika kau membaca ini, berarti kau sudah menemukan liontin ini. Berarti kau sudah siap.
Ayah ingin kau tahu: Bintang Terakhir bukan tempat. Bukan juga tujuan. Bintang Terakhir adalah... kau sendiri.
Kau adalah cahaya di ujung senja. Kau adalah harapan di ujung malam. Kau adalah... bintang terakhir.
Jaga nyanyian itu. Jaga tanah itu. Jaga cinta itu.
Dan jangan lupa... ayah selalu bersamamu.
Ayahmu,
Surya."
Bintang menutup liontin itu. Air matanya jatuh. Ia menangis. Ia tidak menyeka. Ia hanya duduk. Diam. Hatinya penuh.
"Ayah," bisiknya. "Aku... aku harus pergi. Aku harus mencari Senja. Tapi... aku takut."
Tidak ada jawaban. Hanya angin. Hanya ombak. Hanya keheningan.
"Ayah," lanjut Bintang. "Apa yang harus aku lakukan?"
Tidak ada jawaban. Tapi di dalam hatinya, ada sesuatu yang berbisik:
"Pergi. Cari dia. Bawa dia pulang. Jangan takut. Aku bersamamu."
Bintang membuka mata. Ia menatap laut. Ombak tenang. Angin bertiup. Matahari bersinar. Ia menghela napas. Ia berdiri. Ia berjalan pulang. Ia harus bicara. Ia harus memutuskan.
Di rumah, Dewi duduk di ruang tengah. Ia memegang buku. Ia menatap Bintang lama. Matanya dalam.
"Kak," katanya pelan. "Kau mau bicara?"
Bintang duduk di samping adiknya. Ia meraih tangan Dewi. Erat.
"Iya," jawabnya pelan. "Aku... aku mau pergi."
Dewi menatap Bintang. Matanya basah.
"Ke kota?"
Bintang mengangguk. "Iya. Aku akan mencari Senja. Aku akan... membawanya pulang."
Dewi diam. Ia menatap Bintang lama. Lalu ia menunduk. Air matanya jatuh.
"Kak," katanya pelan. "Aku... aku tidak ingin kau pergi."
Bintang menatap adiknya. Hatinya berat.
"Dewi," katanya pelan. "Aku harus pergi. Aku harus mencari Senja. Aku... tidak bisa hidup tanpa dia."
Dewi menatap Bintang. Air matanya jatuh. Ia memeluk kakaknya. Erat.
"Kak," bisiknya. "Aku... aku akan menunggu kau di sini."
Bintang membalas pelukan itu. Erat. Ia menutup mata. Air matanya jatuh.
"Terima kasih, Dewi," bisiknya. "Aku akan kembali. Aku akan membawa Senja. Aku akan... menjaga semuanya."
Dewi mengangguk. Ia menutup mata. Ia merasa... tenang. Di pelukan kakaknya. Di bawah lampu minyak. Di ujung senja.
"Kak," katanya pelan. "Apa kau akan menjaga nyanyian itu?"
Bintang menatap adiknya. Matanya dalam.
"Iya," jawabnya pelan. "Aku akan menjaga nyanyian itu. Aku akan menjaga tanah itu. Aku akan menjaga... cinta itu."
Dewi mengangguk. Ia tersenyum. Senyum yang hangat. Senyum yang... bahagia.
"Kak," katanya pelan. "Aku percaya padamu."
Bintang menatap adiknya. Hatinya penuh. Ia meraih wajah Dewi. Pelan. Lembut.
"Terima kasih, Dewi," katanya pelan. "Aku akan kembali."
Sore itu, Bintang berjalan ke rumah Pak Harun. Ia ingin bicara. Ia ingin berpamitan. Ia ingin... meminta restu.
Pak Harun duduk di teras. Ia memakai sarung dan baju lengan panjang. Di tangannya, kopi. Ia menatap Bintang lama.
"Kau datang," katanya pelan.
Bintang duduk di samping Pak Harun. Ia meletakkan tangannya di meja. Erat.
"Pak," katanya pelan. "Aku akan pergi ke kota. Besok."
Pak Harun menoleh. Matanya melebar.
"Besok?"
Bintang mengangguk. "Iya. Aku sudah siap. Aku sudah memutuskan."
Pak Harun diam. Ia menatap Bintang lama. Lalu ia menghela napas.
"Kau yakin?"
Bintang mengangguk. "Yakin."
Pak Harun menatap Bintang. Matanya dalam.
"Bintang," katanya pelan. "Kota itu... berbeda. Kota itu... keras. Kota itu... tidak seperti kampung ini."
Bintang menatap Pak Harun. Matanya tenang.
"Aku tahu, Pak," jawabnya pelan. "Tapi aku harus pergi. Aku harus mencari Senja. Aku... tidak bisa hidup tanpa dia."
Pak Harun diam. Ia menatap Bintang lama. Lalu ia tersenyum tipis.
"Kau ini... keras kepala. Seperti ayahmu."
Bintang tersenyum. "Iya."
Pak Harun menghela napas. Ia meraih tangan Bintang. Erat.
"Baiklah," katanya pelan. "Aku merestui. Tapi kau harus hati-hati. Kau harus sabar. Kau harus... hidup."
Bintang mengangguk. "Aku akan hati-hati, Pak."
Pak Harun meraih sesuatu dari sakunya. Sebuah kantong kain. Kecil. Ia menyerahkannya pada Bintang.
"Ini," katanya pelan. "Bekal. Untuk perjalanan."
Bintang membuka kantong itu. Di dalamnya, ada uang. Ada cincin. Ada... selembar kertas. Tulisan tangan Pak Harun. Rapi. Miring-miring.
"Bintang,
Jika kau membaca ini, berarti kau sudah pergi. Aku tidak bisa menahanmu. Aku tidak bisa melarangmu. Aku hanya bisa... berdoa.
Kota itu keras. Kota itu kejam. Tapi kau... kau kuat. Kau adalah bintang terakhir. Kau adalah cahaya di ujung senja.
Jangan lupa: nyanyian itu. Tanah itu. Cinta itu.
Dan jangan lupa... kau selalu punya rumah. Di sini. Di Tanjung Senja.
Pak Harun."
Bintang menutup kertas itu. Air matanya jatuh. Ia menoleh pada Pak Harun. Matanya basah.
"Pak," katanya pelan. "Terima kasih."
Pak Harun mengangguk. Ia menatap Bintang lama. Matanya basah.
"Bintang," katanya pelan. "Kau cucu yang baik. Surya pasti bangga."
Bintang menatap Pak Harun. Hatinya penuh. Ia memeluk lelaki tua itu. Erat.
"Pak," bisiknya. "Aku akan kembali. Aku akan membawa Senja. Aku akan... membawa pulang."
Pak Harun membalas pelukan itu. Erat. Ia menutup mata. Air matanya jatuh.
"Aku percaya," katanya pelan. "Aku percaya."
Mereka duduk diam. Menatap langit. Jingga. Keemasan. Bintang pertama muncul di ujung senja. Kecil. Tapi terang. Di dalam hati Bintang, ada sesuatu yang... tumbuh. Sesuatu yang... seperti tekad.
Malam itu, Bintang duduk di kamarnya. Ia mempersiapkan tas. Ia mempersiapkan bekal. Ia mempersiapkan... segalanya. Ia akan pergi besok. Ia akan mencari Senja. Ia akan... membawa Senja pulang.
Dewi masuk ke kamar. Ia membawa sesuatu. Sebuah kain. Putih. Bersih. Ada ukiran bintang di tengahnya.
"Kak," katanya pelan. "Ini... ini dari Ibu. Ia menitipkan ini padaku. Untukmu."
Bintang menerima kain itu. Tangannya gemetar. Ia menatap kain itu lama. Ada ukiran bintang. Ada tulisan kecil di pinggirnya.
"Untuk Bintang. Cahaya di ujung senja."
Bintang menatap tulisan itu. Air matanya jatuh. Ia menoleh pada Dewi. Matanya basah.
"Dewi," katanya pelan. "Terima kasih."
Dewi mengangguk. Ia tersenyum. Senyum yang hangat.
"Kak," katanya pelan. "Ibu bilang... kain ini untuk menjaga kau. Di perjalanan."
Bintang menatap kain itu. Ia mengikatkan kain itu di lengannya. Erat. Ia menatap Dewi. Matanya dalam.
"Dewi," katanya pelan. "Aku akan kembali. Aku akan membawa Senja. Aku akan... menjaga semuanya."
Dewi mengangguk. Ia memeluk Bintang. Erat. Bintang membalas pelukan itu. Erat. Mereka duduk diam. Berpelukan. Di bawah lampu minyak. Di bawah langit. Di ujung senja.
"Kak," bisik Dewi.
"Ya?"
"Aku mencintaimu."
Bintang menutup mata. Ia mencium rambut adiknya. Pelan. Lembut.
"Aku juga," bisiknya. "Aku mencintaimu."
Mereka duduk diam. Berpelukan. Angin bertiup. Ombak memecah. Bintang-bintang bersinar. Dan di dalam hati mereka, ada sesuatu yang... lengkap.
Cinta.
Cinta yang tumbuh dari keputusan Bintang.
Di ujung senja.
BAB 28
PERPISAHAN DENGAN SENJA
Pagi itu langit berwarna kelabu. Tidak ada matahari. Tidak ada bintang. Hanya awan tipis yang bergerak pelan. Angin bertiup lembut. Ombak tenang. Laut... tenang. Seperti ikut berpisah.
Bintang berdiri di dermaga tua. Ia memakai kemeja putih. Rambutnya disisir rapi. Di lengannya, kain putih dari Ratna. Di lehernya, liontin dari Surya. Di punggungnya, tas berisi bekal. Ia menatap laut. Ombak tenang. Angin bertiup. Ia menghela napas. Ia merasa... berat. Tapi juga... ringan.
Ia akan pergi. Ia akan mencari Senja. Ia akan... membawa Senja pulang.
"Bintang."
Ia menoleh. Dewi berdiri di belakangnya. Ia memakai kebaya sederhana. Rambutnya diikat. Matanya basah. Di tangannya, sebuah bungkusan. Kecil. Ia menyerahkannya pada Bintang.
"Kak," katanya pelan. "Ini... ini bekal dari aku. Untuk perjalanan."
Bintang menerima bungkusan itu. Ia membukanya. Di dalamnya, ada nasi. Ada ikan. Ada kue. Ada... surat. Kecil. Tulisan tangan Dewi. Rapi. Miring-miring.
"Kak,
Aku tidak bisa menahanmu. Aku tidak bisa melarangmu. Aku hanya bisa... berdoa.
Kota itu jauh. Kota itu asing. Tapi kau... kau kuat. Kau adalah kakakku. Kau adalah bintang terakhir.
Jangan lupa: nyanyian itu. Tanah itu. Cinta itu.
Dan jangan lupa... aku selalu menunggu kau di sini. Di Tanjung Senja.
Dewi."
Bintang menutup surat itu. Air matanya jatuh. Ia menoleh pada Dewi. Matanya basah.
"Dewi," katanya pelan. "Terima kasih."
Dewi mengangguk. Ia tersenyum. Senyum yang hangat. Senyum yang... bahagia.
"Kak," katanya pelan. "Aku akan menjaga kampung ini. Aku akan menjaga nyanyian itu. Aku akan... menjaga semuanya."
Bintang menatap adiknya. Hatinya penuh. Ia meraih wajah Dewi. Pelan. Lembut.
"Terima kasih, Dewi," katanya pelan. "Aku akan kembali. Aku akan membawa Senja. Aku akan... menjaga semuanya."
Dewi mengangguk. Ia memeluk Bintang. Erat. Bintang membalas pelukan itu. Erat. Mereka duduk diam. Berpelukan. Di dermaga tua. Di bawah langit kelabu. Di ujung senja.
"Kak," bisik Dewi.
"Ya?"
"Aku mencintaimu."
Bintang menutup mata. Ia mencium rambut adiknya. Pelan. Lembut.
"Aku juga," bisiknya. "Aku mencintaimu."
Mereka berdiri diam. Berpelukan. Angin bertiup. Ombak memecah. Langit kelabu. Dan di dalam hati mereka, ada sesuatu yang... lengkap.
Cinta.
Cinta yang tumbuh dari perpisahan.
Di ujung senja.
Bintang berjalan ke perahu. Ia meletakkan tasnya. Ia menatap dermaga. Dewi masih berdiri di sana. Ia melambaikan tangan. Bintang melambaikan tangan kembali. Ia tersenyum. Tapi hatinya... berat.
"Bintang!"
Ia menoleh. Andi berlari dari ujung dermaga. Ia memakai kemeja lusuh. Rambutnya kusut. Di punggungnya, tas. Kecil. Ia terengah-engah.
"Andi," kata Bintang. "Kau..."
Andi berdiri di samping Bintang. Ia tersenyum. Senyum yang lebar.
"Aku ikut," katanya pelan.
Bintang menatap Andi. Matanya melebar.
"Kau ikut?"
Andi mengangguk. "Iya. Aku sahabatmu. Aku tidak akan membiarkanmu pergi sendiri."
Bintang menatap Andi. Hatinya hangat. Ia meraih pundak sahabatnya. Erat.
"Terima kasih, Andi," katanya pelan.
Andi tersenyum. "Jangan bilang terima kasih. Kita sahabat. Kita... bersama."
Bintang mengangguk. Ia menatap dermaga. Dewi masih berdiri di sana. Ia masih melambaikan tangan. Bintang melambaikan tangan kembali. Ia menatap kampungnya. Rumah-rumah panggung. Dermaga tua. Pohon beringin. Semuanya... indah. Semuanya... berharga. Semuanya... akan ia rindukan.
"Ayo," kata Bintang pelan. "Kita pergi."
Ia menaiki perahu. Andi mengikutinya. Mereka mendayung. Perahu itu bergoyang pelan. Angin bertiup. Ombak memecah. Matahari mulai muncul di ufuk timur. Langit berwarna jingga keemasan. Bintang pertama tidak muncul. Tapi di dalam hati Bintang, ada sesuatu yang... bersinar.
"Senja," bisiknya. "Aku akan mencarimu. Aku akan menemukanmu. Aku akan... membawamu pulang."
Perahu itu melaju. Meninggalkan dermaga. Meninggalkan kampung. Meninggalkan... segalanya. Tapi tidak meninggalkan cinta. Tidak meninggalkan nyanyian. Tidak meninggalkan... janji.
Di dermaga tua, Dewi masih berdiri. Ia menatap perahu itu sampai hilang di cakrawala. Air matanya jatuh. Ia tidak menyeka. Ia hanya berdiri. Diam. Hatinya... penuh.
Pak Harun datang. Ia berdiri di samping Dewi. Ia memakai sarung dan baju lengan panjang. Di tangannya, tongkat. Ia menatap cakrawala. Matanya basah.
"Ia pergi," kata Dewi pelan.
Pak Harun mengangguk. "Iya. Ia pergi."
"Apa ia akan kembali?"
Pak Harun menatap Dewi. Matanya dalam.
"Ia akan kembali," jawabnya pelan. "Ia akan membawa Senja. Ia akan... menjaga semuanya."
Dewi menatap Pak Harun. Air matanya jatuh.
"Pak," katanya pelan. "Aku... aku takut."
Pak Harun meraih tangan Dewi. Erat.
"Tidak apa-apa," katanya pelan. "Kita harus percaya. Kita harus... berdoa."
Dewi mengangguk. Ia menatap cakrawala. Perahu itu sudah tidak terlihat. Tapi di dalam hatinya, ada sesuatu yang... bersinar. Sesuatu yang... seperti harapan.
"Kak," bisiknya. "Aku akan menunggu kau. Aku akan menjaga kampung ini. Aku akan... menjaga semuanya."
Ia menutup mata. Air matanya jatuh. Ia menangis. Ia tidak menyeka. Ia hanya berdiri. Diam. Hatinya... penuh.
Di atas perahu, Bintang duduk bersila. Ia menatap cakrawala. Matahari mulai tinggi. Langit biru. Bersih. Ia memegang liontin dari ayahnya. Ia membuka liontin itu. Ia membaca surat di dalamnya. Pelan. Dalam hati.
"Bintang, anakku.
Jika kau membaca ini, berarti kau sudah menemukan liontin ini. Berarti kau sudah siap.
Ayah ingin kau tahu: Bintang Terakhir bukan tempat. Bukan juga tujuan. Bintang Terakhir adalah... kau sendiri.
Kau adalah cahaya di ujung senja. Kau adalah harapan di ujung malam. Kau adalah... bintang terakhir.
Jaga nyanyian itu. Jaga tanah itu. Jaga cinta itu.
Dan jangan lupa... ayah selalu bersamamu.
Ayahmu,
Surya."
Bintang menutup liontin itu. Air matanya jatuh. Ia menangis. Ia tidak menyeka. Ia hanya duduk. Diam. Hatinya penuh.
"Ayah," bisiknya. "Aku... aku pergi. Aku akan mencari Senja. Aku akan... membawanya pulang."
Tidak ada jawaban. Hanya angin. Hanya ombak. Hanya keheningan.
"Ayah," lanjut Bintang. "Apa yang harus aku lakukan?"
Tidak ada jawaban. Tapi di dalam hatinya, ada sesuatu yang berbisik:
"Pergi. Cari dia. Bawa dia pulang. Jangan takut. Aku bersamamu."
Bintang membuka mata. Ia menatap cakrawala. Matahari bersinar. Langit biru. Bersih. Ia menghela napas. Ia merasa... tenang. Ia merasa... lengkap. Ia merasa... siap.
"Senja," bisiknya. "Aku akan mencarimu. Aku akan menemukanmu. Aku akan... membawamu pulang."
Perahu itu melaju. Meninggalkan Tanjung Senja. Meninggalkan dermaga tua. Meninggalkan... segalanya. Tapi tidak meninggalkan cinta. Tidak meninggalkan nyanyian. Tidak meninggalkan... janji.
Di dermaga tua, angin bertiup. Ombak memecah. Matahari bersinar. Bintang pertama tidak muncul. Matahari masih tinggi. Tapi di dalam hati Bintang, ada sesuatu yang... bersinar. Sesuatu yang... seperti harapan.
Harapan yang tumbuh dari perpisahan dengan Senja.
Di ujung senja.
BAGIAN V: PENGEMBARAAN
BAB 29
LAUTAN LUAS
Perahu kecil itu bergoyang pelan di atas laut. Bintang duduk di buritan. Ia memegang kemudi. Andi duduk di haluan. Ia memegang dayung. Mereka berlayar sejak pagi. Matahari mulai tinggi. Langit biru. Bersih. Ombak tenang. Angin bertiup pelan. Laut... luas. Sangat luas.
Bintang menatap cakrawala. Ia tidak tahu di mana kota itu. Ia tidak tahu berapa lama perjalanan. Ia hanya tahu... ia harus terus melaju. Ia harus mencari Senja. Ia harus... membawa Senja pulang.
"Bintang," kata Andi pelan. "Kita sudah jauh dari kampung."
Bintang menoleh. Ia menatap Andi. Matanya dalam.
"Iya," jawabnya pelan. "Kita sudah jauh."
Andi menatap Bintang lama. Lalu ia menghela napas.
"Bintang," katanya pelan. "Aku... aku takut."
Bintang menatap Andi. Matanya hangat.
"Takut apa?"
Andi menunduk. Tangannya gemetar.
"Takut... kita tidak akan menemukan Senja," jawabnya pelan. "Takut... kita akan tersesat. Takut... kita tidak akan kembali."
Bintang diam. Ia menatap Andi lama. Lalu ia tersenyum tipis.
"Andi," katanya pelan. "Kita akan menemukan Senja. Kita akan kembali. Aku... aku percaya."
Andi menatap Bintang. Matanya basah.
"Kenapa kau percaya?"
Bintang menatap cakrawala. Langit biru. Bersih. Ombak tenang.
"Karena ayahku bilang," jawabnya pelan, "bintang terakhir tidak pernah padam. Ia hanya menunggu untuk ditemukan."
Andi menatap Bintang. Hatinya hangat. Ia mengangguk. Ia mendayung lagi. Perahu itu melaju. Meninggalkan jejak di permukaan air. Meninggalkan... segalanya.
Siang itu, matahari terik. Bintang dan Andi duduk di bawah naungan kain. Mereka makan bekal. Mereka minum air. Mereka beristirahat. Ombak tenang. Angin bertiup. Laut... tenang.
"Bintang," kata Andi pelan. "Apa kau tidak takut?"
Bintang menoleh. Ia menatap Andi. Matanya dalam.
"Takut apa?"
"Takut... tidak menemukan Senja," jawab Andi pelan. "Takut... kehilangan dia."
Bintang diam. Ia menatap laut. Ombak tenang. Angin bertiup.
"Aku takut," jawabnya pelan. "Tapi aku tidak akan menyerah."
"Kenapa?"
Bintang menatap Andi. Matanya dalam.
"Karena aku mencintai Senja," jawabnya pelan. "Dan cinta... tidak akan pernah menyerah."
Andi menatap Bintang. Hatinya hangat. Ia mengangguk. Ia menatap laut. Ombak tenang. Angin bertiup.
"Bintang," katanya pelan. "Aku... aku ikut prihatin."
Bintang menoleh. "Kenapa?"
Andi menunduk. Tangannya gemetar.
"Karena aku... aku pernah mengkhianatimu," jawabnya pelan. "Aku pernah bekerja untuk Tuan Wijaya. Aku pernah... melupakan persahabatan kita."
Bintang menatap Andi lama. Lalu ia meraih pundak sahabatnya. Erat.
"Andi," katanya pelan. "Itu sudah lewat. Aku sudah memaafkanmu. Kita... sahabat."
Andi menatap Bintang. Air matanya jatuh.
"Bintang," katanya pelan. "Terima kasih."
Bintang tersenyum. Ia menepuk pundak Andi. Pelan.
"Jangan bilang terima kasih," katanya pelan. "Kita sahabat. Kita... bersama."
Andi mengangguk. Ia menatap laut. Ombak tenang. Angin bertiup. Ia merasa... tenang. Ia merasa... lengkap. Ia merasa... siap.
Sore itu, langit berwarna jingga keemasan. Matahari mulai tenggelam. Bintang duduk di buritan. Ia menatap cakrawala. Ombak tenang. Angin bertiup. Ia memegang liontin dari ayahnya. Ia membuka liontin itu. Ia membaca surat di dalamnya. Pelan. Dalam hati.
"Bintang, anakku.
Jika kau membaca ini, berarti kau sudah menemukan liontin ini. Berarti kau sudah siap.
Ayah ingin kau tahu: Bintang Terakhir bukan tempat. Bukan juga tujuan. Bintang Terakhir adalah... kau sendiri.
Kau adalah cahaya di ujung senja. Kau adalah harapan di ujung malam. Kau adalah... bintang terakhir.
Jaga nyanyian itu. Jaga tanah itu. Jaga cinta itu.
Dan jangan lupa... ayah selalu bersamamu.
Ayahmu,
Surya."
Bintang menutup liontin itu. Air matanya jatuh. Ia menangis. Ia tidak menyeka. Ia hanya duduk. Diam. Hatinya penuh.
"Ayah," bisiknya. "Aku... aku di tengah laut. Aku... aku tidak tahu di mana kota itu. Aku... aku takut."
Tidak ada jawaban. Hanya angin. Hanya ombak. Hanya keheningan.
"Ayah," lanjut Bintang. "Apa yang harus aku lakukan?"
Tidak ada jawaban. Tapi di dalam hatinya, ada sesuatu yang berbisik:
"Terus melaju. Jangan takut. Aku bersamamu."
Bintang membuka mata. Ia menatap cakrawala. Matahari tenggelam. Langit berwarna merah keunguan. Bintang pertama muncul di ujung senja. Kecil. Tapi terang. Ia menghela napas. Ia merasa... tenang. Ia merasa... lengkap. Ia merasa... siap.
"Senja," bisiknya. "Aku akan mencarimu. Aku akan menemukanmu. Aku akan... membawamu pulang."
Ia menoleh pada Andi. Andi sudah tertidur di haluan. Ia memegang dayung. Wajahnya tenang. Bintang tersenyum. Ia menutup matanya. Ia merasa... tenang. Ia merasa... lengkap. Ia merasa... siap.
Perahu itu bergoyang pelan. Ombak tenang. Angin bertiup. Bintang-bintang bersinar. Terang. Abadi. Dan di dalam hati Bintang, ada sesuatu yang... bersinar. Sesuatu yang... seperti harapan.
Harapan yang tumbuh di lautan luas.
Di ujung senja.
Tengah malam, Bintang terbangun. Ia mendengar sesuatu. Suara... gemuruh. Dari kejauhan. Ia menoleh. Ia menatap cakrawala. Gelap. Tapi ada sesuatu di sana. Sesuatu yang... besar. Sesuatu yang... gelap. Sesuatu yang... bergerak.
"Andi!" Bintang mengguncang sahabatnya. "Bangun!"
Andi terbangun. Ia menggosok matanya. Ia menatap cakrawala. Matanya melebar.
"Apa itu?"
Bintang menatap cakrawala. Gelap. Tapi ia bisa melihatnya. Gelombang. Besar. Sangat besar. Tinggi. Sangat tinggi. Mendekat. Cepat. Sangat cepat.
"Badai," bisik Bintang. "Badai besar."
Andi menatap Bintang. Wajahnya pucat.
"Apa yang harus kita lakukan?"
Bintang menatap cakrawala. Gelombang itu semakin dekat. Semakin tinggi. Semakin besar. Ia menghela napas. Ia menatap Andi. Matanya dalam.
"Kita bertahan," jawabnya pelan. "Kita... berdoa."
Ia meraih kemudi. Ia mengarahkan perahu ke arah gelombang. Ia tidak bisa menghindar. Ia tidak bisa melarikan diri. Ia harus menghadapi. Ia harus... bertahan.
"Andi," katanya pelan. "Pegang tali. Jangan lepaskan."
Andi mengangguk. Ia meraih tali. Erat. Ia menatap Bintang. Matanya basah.
"Bintang," katanya pelan. "Aku... aku takut."
Bintang menoleh. Ia menatap Andi. Matanya hangat.
"Tidak apa-apa," katanya pelan. "Aku ada di sini. Kita... bersama."
Andi mengangguk. Ia menutup mata. Ia berdoa. Bintang menatap gelombang. Gelombang itu semakin dekat. Semakin tinggi. Semakin besar. Ia menghela napas. Ia menutup mata. Ia berdoa.
"Ayah," bisiknya. "Lindungi kami."
Gelombang itu menghantam. Perahu itu terangkat. Terbalik. Terlempar. Bintang tercebur ke laut. Gelap. Dingin. Dalam. Ia tidak bisa bernapas. Ia tidak bisa melihat. Ia tidak bisa... apa-apa.
Ia menutup mata. Ia merasa... tenggelam. Ia merasa... hilang. Ia merasa... mati.
Tapi di dalam hatinya, ada sesuatu yang... bersinar. Sesuatu yang... seperti bintang. Sesuatu yang... seperti harapan.
"Senja," bisiknya. "Aku... aku akan mencarimu."
Lalu... gelap.
BAB 30
PULAU TERASING
Bintang membuka mata. Langit biru. Sangat biru. Matahari terik. Pasir putih. Hangat. Ombak memecah di pantai. Pelan. Lembut. Angin bertiup. Membawa aroma garam. Dan... aroma daun. Aroma tanah. Aroma... hutan.
Ia mencoba duduk. Tubuhnya sakit. Kepalanya pusing. Mulutnya kering. Ia menatap sekeliling. Pantai. Panjang. Sepi. Di belakangnya, hutan. Lebat. Hijau. Di depannya, laut. Luas. Biru. Tidak ada perahu. Tidak ada Andi.
"Andi!" Bintang berdiri. Ia berlari ke tepi pantai. Ia menatap laut. Ombak tenang. Tidak ada perahu. Tidak ada Andi. Hanya laut. Hanya cakrawala. Hanya... keheningan.
"Andi!" Bintang berlari menyusuri pantai. Ia menatap setiap sudut. Ia menatap setiap batu. Ia menatap setiap pohon. Tidak ada Andi. Tidak ada perahu. Tidak ada... apa-apa.
Ia jatuh berlutut. Ia menatap pasir. Air matanya jatuh. Ia menangis. Ia tidak menyeka. Ia hanya duduk. Diam. Hatinya... hancur.
"Andi," bisiknya. "Andi... di mana kau?"
Tidak ada jawaban. Hanya ombak. Hanya angin. Hanya keheningan.
Bintang menutup mata. Ia mengingat Andi. Senyumnya. Matanya. Suaranya. Ia mengingat malam di perahu. Malam ketika mereka bicara. Malam ketika mereka berjanji. Malam ketika mereka... bersama.
"Andi," bisiknya lagi. "Aku... aku minta maaf. Aku... aku tidak bisa menjaga kau."
Ia membuka mata. Ia menatap laut. Ombak tenang. Angin bertiup. Ia menghela napas. Ia berdiri. Ia menatap hutan. Hijau. Lebat. Misterius. Ia harus bertahan. Ia harus hidup. Ia harus... mencari Andi. Ia harus... mencari Senja.
Ia melangkah ke hutan. Pelan. Hati-hati. Ia tidak tahu apa yang ada di dalam. Ia tidak tahu apa yang menunggu. Tapi ia harus masuk. Ia harus... bertahan.
Hutan itu lebat. Pohon-pohon tinggi. Daun-daun lebar. Akar-akar besar. Bintang berjalan pelan. Ia menatap sekeliling. Ia mendengar suara burung. Suara serangga. Suara... air. Ia mengikuti suara itu. Ia berjalan ke arah air. Ia menemukan sungai kecil. Airnya jernih. Dingin. Ia minum. Ia membasuh wajahnya. Ia merasa... segar.
Ia duduk di batu. Ia menatap sungai. Airnya mengalir pelan. Jernih. Ia menatap pantulan wajahnya. Wajah yang lelah. Wajah yang... hancur. Ia menghela napas. Ia menutup mata. Ia berdoa.
"Ayah," bisiknya. "Aku... aku terdampar. Aku... aku tidak tahu di mana. Aku... aku kehilangan Andi. Aku... aku takut."
Tidak ada jawaban. Hanya suara air. Hanya suara burung. Hanya suara... keheningan.
"Ayah," lanjut Bintang. "Apa yang harus aku lakukan?"
Tidak ada jawaban. Tapi di dalam hatinya, ada sesuatu yang berbisik:
"Bertahan. Hidup. Cari. Jangan takut. Aku bersamamu."
Bintang membuka mata. Ia menatap sungai. Airnya mengalir pelan. Jernih. Ia menghela napas. Ia berdiri. Ia berjalan lagi. Ia harus bertahan. Ia harus hidup. Ia harus... mencari.
Sore itu, Bintang menemukan gua. Kecil. Di tepi pantai. Ia masuk. Ia duduk. Ia menatap laut. Matahari mulai tenggelam. Langit berwarna jingga keemasan. Bintang pertama muncul di ujung senja. Kecil. Tapi terang. Ia menghela napas. Ia merasa... tenang. Ia merasa... lengkap. Ia merasa... siap.
"Senja," bisiknya. "Aku... aku terdampar. Tapi aku... aku akan bertahan. Aku akan mencari kau. Aku akan... membawamu pulang."
Ia menutup mata. Ia tidur. Di gua. Di bawah langit. Di ujung senja.
Pagi berikutnya, Bintang bangun. Ia keluar dari gua. Ia menatap pantai. Pasir putih. Ombak tenang. Matahari bersinar. Ia menghela napas. Ia berjalan ke hutan. Ia mencari makanan. Ia mencari air. Ia mencari... apa saja.
Ia menemukan buah-buahan. Ia menemukan kelapa. Ia menemukan ikan di sungai. Ia makan. Ia minum. Ia merasa... kuat. Ia merasa... hidup.
Ia duduk di batu. Ia menatap sungai. Airnya mengalir pelan. Jernih. Ia memegang liontin dari ayahnya. Ia membuka liontin itu. Ia membaca surat di dalamnya. Pelan. Dalam hati.
"Bintang, anakku.
Jika kau membaca ini, berarti kau sudah menemukan liontin ini. Berarti kau sudah siap.
Ayah ingin kau tahu: Bintang Terakhir bukan tempat. Bukan juga tujuan. Bintang Terakhir adalah... kau sendiri.
Kau adalah cahaya di ujung senja. Kau adalah harapan di ujung malam. Kau adalah... bintang terakhir.
Jaga nyanyian itu. Jaga tanah itu. Jaga cinta itu.
Dan jangan lupa... ayah selalu bersamamu.
Ayahmu,
Surya."
Bintang menutup liontin itu. Air matanya jatuh. Ia menangis. Ia tidak menyeka. Ia hanya duduk. Diam. Hatinya penuh.
"Ayah," bisiknya. "Aku... aku di pulau terasing. Aku... aku sendirian. Aku... aku takut."
Tidak ada jawaban. Hanya suara air. Hanya suara burung. Hanya suara... keheningan.
"Ayah," lanjut Bintang. "Apa yang harus aku lakukan?"
Tidak ada jawaban. Tapi di dalam hatinya, ada sesuatu yang berbisik:
"Bertahan. Hidup. Cari. Jangan takut. Aku bersamamu."
Bintang membuka mata. Ia menatap sungai. Airnya mengalir pelan. Jernih. Ia menghela napas. Ia berdiri. Ia berjalan lagi. Ia harus bertahan. Ia harus hidup. Ia harus... mencari.
Tiga hari berlalu. Bintang bertahan di pulau itu. Ia makan buah. Ia minum air. Ia tidur di gua. Ia menatap laut setiap senja. Ia mencari Andi. Ia mencari perahu. Ia mencari... apa saja. Tapi tidak ada. Hanya pulau. Hanya hutan. Hanya... keheningan.
Sore itu, Bintang duduk di pantai. Ia menatap laut. Ombak tenang. Angin bertiup. Matahari mulai tenggelam. Langit berwarna jingga keemasan. Bintang pertama muncul di ujung senja. Kecil. Tapi terang. Ia menghela napas. Ia merasa... tenang. Ia merasa... lengkap. Ia merasa... siap.
"Senja," bisiknya. "Aku... aku akan bertahan. Aku akan mencari kau. Aku akan... membawamu pulang."
Ia menutup mata. Ia berdoa. Ia merasa... tenang. Ia merasa... lengkap. Ia merasa... siap.
"Bintang."
Ia membuka mata. Ia menoleh. Seorang lelaki tua berdiri di belakangnya. Ia memakai kain putih. Rambutnya putih. Panjang. Janggutnya putih. Panjang. Matanya... tajam. Seperti mata elang. Ia tersenyum. Senyum yang... misterius.
"Kau... kau siapa?" tanya Bintang.
Lelaki tua itu tersenyum. Ia duduk di samping Bintang. Ia menatap laut. Ombak tenang. Angin bertiup.
"Namaku Kerto," jawabnya pelan. "Orang-orang memanggilku Mbah Kerto."
Bintang menatap lelaki tua itu. Matanya melebar.
"Mbah... Mbah Kerto?"
Mbah Kerto mengangguk. Ia menatap Bintang. Matanya dalam.
"Aku sudah menunggu kau," katanya pelan. "Sudah lama."
Bintang terdiam. Hatinya berdebar.
"Menunggu... aku?"
Mbah Kerto mengangguk. Ia menatap laut. Ombak tenang. Angin bertiup.
"Ayahmu," katanya pelan, "pernah ke sini. Dua puluh tahun yang lalu. Ia mencari Bintang Terakhir. Ia... tidak menemukannya."
Bintang menatap Mbah Kerto. Matanya basah.
"Ayah... Ayah ke sini?"
Mbah Kerto mengangguk. "Ia ke sini. Ia belajar. Ia berdoa. Ia... mencari. Tapi ia tidak menemukan. Karena ia... belum siap."
Bintang diam. Ia menatap Mbah Kerto lama. Lalu ia menunduk. Air matanya jatuh.
"Mbah," katanya pelan. "Apa... apa Bintang Terakhir itu?"
Mbah Kerto menatap Bintang. Matanya dalam.
"Bintang Terakhir," jawabnya pelan, "bukan tempat. Bukan juga tujuan. Bintang Terakhir adalah... hati yang ikhlas."
Bintang menatap Mbah Kerto. Matanya melebar.
"Hati... yang ikhlas?"
Mbah Kerto mengangguk. "Iya. Hati yang ikhlas. Hati yang tidak lagi menginginkan apa-apa. Hati yang tidak lagi takut kehilangan. Hati yang... bersyukur."
Bintang diam. Ia menatap Mbah Kerto lama. Lalu ia menunduk. Hatinya berat. Tapi juga... ringan.
"Mbah," katanya pelan. "Apa... apa aku bisa?"
Mbah Kerto tersenyum. Senyum yang hangat.
"Kau bisa," jawabnya pelan. "Karena kau... sudah siap."
Bintang menatap Mbah Kerto. Air matanya jatuh. Ia menangis. Ia tidak menyeka. Ia hanya duduk. Diam. Hatinya penuh.
"Mbah," katanya pelan. "Ajar aku."
Mbah Kerto mengangguk. Ia berdiri. Ia menatap laut. Ombak tenang. Angin bertiup. Matahari tenggelam. Langit berwarna merah keunguan. Bintang pertama bersinar. Terang.
"Besok," katanya pelan. "Kita mulai."
Ia berjalan pergi. Langkahnya pelan. Lembut. Menghilang di balik pohon-pohon. Bintang menatap punggung Mbah Kerto. Hatinya berdebar. Ia merasa... tenang. Ia merasa... lengkap. Ia merasa... siap.
"Senja," bisiknya. "Aku... aku akan belajar. Aku akan mencari Bintang Terakhir. Aku akan... membawamu pulang."
Ia menutup mata. Ia berdoa. Ia merasa... tenang. Ia merasa... lengkap. Ia merasa... siap.
Di pulau terasing, angin bertiup. Ombak memecah. Bintang-bintang bersinar. Dan di dalam hati Bintang, ada sesuatu yang... bersinar. Sesuatu yang... seperti harapan.
Harapan yang tumbuh di pulau terasing.
Di ujung senja.
BAB 31
AJARAN MBAH KERTO
Pagi itu Bintang bangun sebelum matahari terbit. Ia keluar dari gua. Langit masih gelap. Bintang-bintang masih bersinar. Ombak tenang. Angin bertiup pelan. Ia menatap laut. Ia menunggu. Ia menunggu Mbah Kerto.
Ia tidak menunggu lama. Lelaki tua itu muncul dari balik pohon-pohon. Ia memakai kain putih. Rambutnya putih. Panjang. Janggutnya putih. Panjang. Ia berjalan pelan. Lembut. Seperti angin. Ia tersenyum. Senyum yang... misterius.
"Kau bangun lebih awal," kata Mbah Kerto.
Bintang menoleh. Ia menatap lelaki tua itu. Matanya dalam.
"Aku tidak bisa tidur, Mbah," jawabnya pelan. "Aku... aku menunggu."
Mbah Kerto mengangguk. Ia duduk di atas batu. Ia menatap laut. Ombak tenang. Angin bertiup. Matahari mulai muncul di ufuk timur. Langit berwarna jingga keemasan.
"Duduk," kata Mbah Kerto.
Bintang duduk di samping lelaki tua itu. Ia menatap laut. Ombak tenang. Angin bertiup.
"Bintang," kata Mbah Kerto pelan. "Kau tahu kenapa kau terdampar di sini?"
Bintang menoleh. Ia menatap Mbah Kerto. Matanya dalam.
"Karena badai, Mbah."
Mbah Kerto tersenyum. Ia menggeleng.
"Bukan karena badai," katanya pelan. "Badai itu... hanya alat. Kau terdampar di sini karena... kau harus belajar."
Bintang mengerutkan kening. "Belajar?"
Mbah Kerto mengangguk. Ia menatap laut. Ombak tenang. Angin bertiup.
"Ayahmu," katanya pelan, "pernah ke sini. Dua puluh tahun yang lalu. Ia belajar. Ia berdoa. Ia... mencari. Tapi ia tidak menemukan."
"Kenapa?"
Mbah Kerto menoleh. Ia menatap Bintang. Matanya dalam.
"Karena ia belum siap," jawabnya pelan. "Ia masih terikat. Ia masih... ingin."
Bintang diam. Ia menatap Mbah Kerto lama. Lalu ia menunduk.
"Mbah," katanya pelan. "Apa... apa yang harus aku lakukan?"
Mbah Kerto menatap Bintang. Matanya hangat.
"Kau harus belajar," jawabnya pelan. "Belajar... melepaskan."
"Melepaskan?"
Mbah Kerto mengangguk. "Iya. Melepaskan. Melepaskan keinginan. Melepaskan ketakutan. Melepaskan... segalanya."
Bintang diam. Ia menatap Mbah Kerto lama. Lalu ia menunduk. Hatinya berat.
"Mbah," katanya pelan. "Aku... aku tidak bisa melepaskan Senja."
Mbah Kerto menatap Bintang. Matanya dalam.
"Kau tidak perlu melepaskan Senja," katanya pelan. "Kau hanya perlu... melepaskan keinginanmu untuk memiliki dia."
Bintang menatap Mbah Kerto. Matanya melebar.
"Apa maksudnya?"
Mbah Kerto menatap laut. Ombak tenang. Angin bertiup.
"Cinta," katanya pelan, "bukan tentang memiliki. Cinta... tentang memberi. Kau mencintai Senja? Lepaskan dia. Biarkan dia bebas. Jika ia kembali... ia milikmu. Jika tidak... ia tidak pernah milikmu."
Bintang diam. Ia menatap Mbah Kerto lama. Lalu ia menunduk. Air matanya jatuh.
"Mbah," katanya pelan. "Aku... aku tidak bisa."
Mbah Kerto tersenyum. Senyum yang hangat.
"Kau bisa," katanya pelan. "Karena kau... sudah siap."
Bintang menatap Mbah Kerto. Air matanya jatuh. Ia menangis. Ia tidak menyeka. Ia hanya duduk. Diam. Hatinya penuh.
"Mbah," katanya pelan. "Ajar aku."
Mbah Kerto mengangguk. Ia berdiri. Ia menatap laut. Ombak tenang. Angin bertiup. Matahari mulai tinggi. Langit biru. Bersih.
"Hari ini," katanya pelan, "kau akan belajar keheningan. Kau akan duduk di gua. Kau tidak akan bicara. Kau tidak akan makan. Kau tidak akan minum. Kau hanya akan... duduk. Dan mendengar."
Bintang menatap Mbah Kerto. Matanya dalam.
"Mendengar apa?"
Mbah Kerto tersenyum. "Mendengar... hatimu."
Bintang duduk di gua. Ia bersila. Ia menutup mata. Ia menghela napas. Ia mencoba diam. Ia mencoba mendengar. Tapi hatinya... ribut. Ia memikirkan Senja. Ia memikirkan Andi. Ia memikirkan Ratna. Ia memikirkan kampung. Ia memikirkan... segalanya.
Ia membuka mata. Ia menatap dinding gua. Gelap. Lembap. Ia menghela napas. Ia menutup mata lagi. Ia mencoba diam. Ia mencoba mendengar. Tapi hatinya... masih ribut.
Ia membuka mata. Ia menatap langit. Biru. Bersih. Ia menghela napas. Ia menutup mata lagi. Ia mencoba diam. Ia mencoba mendengar. Ia mencoba... melepaskan.
Ia membayangkan Senja. Wajahnya. Senyumnya. Matanya. Ia membayangkan Senja pergi. Ia membayangkan Senja tidak kembali. Ia membayangkan Senja... bahagia. Tanpa dia. Ia menangis. Ia tidak menyeka. Ia hanya duduk. Diam. Hatinya... penuh.
Lalu... ia merasa... tenang. Ia merasa... lega. Ia merasa... bebas. Ia membuka mata. Ia menatap langit. Biru. Bersih. Ia menghela napas. Ia tersenyum. Senyum yang... tenang.
"Senja," bisiknya. "Aku... aku melepaskanmu. Aku... aku membiarkanmu bebas. Jika kau kembali... kau milikku. Jika tidak... kau tidak pernah milikku."
Ia menutup mata. Ia duduk diam. Ia mendengar. Ia mendengar... keheningan. Ia mendengar... hatinya. Ia mendengar... cinta.
Sore itu, Mbah Kerto datang. Ia duduk di samping Bintang. Ia menatap laut. Ombak tenang. Angin bertiup. Matahari mulai tenggelam. Langit berwarna jingga keemasan.
"Bagaimana?" tanya Mbah Kerto.
Bintang menoleh. Ia menatap lelaki tua itu. Matanya dalam.
"Aku... aku mendengar," jawabnya pelan. "Aku... aku melepaskan."
Mbah Kerto mengangguk. Ia tersenyum. Senyum yang hangat.
"Bagus," katanya pelan. "Kau... sudah mulai."
Bintang menatap Mbah Kerto. Matanya basah.
"Mbah," katanya pelan. "Apa... apa aku sudah menemukan Bintang Terakhir?"
Mbah Kerto menatap Bintang. Matanya dalam.
"Belum," jawabnya pelan. "Tapi kau... sudah dekat."
Bintang diam. Ia menatap Mbah Kerto lama. Lalu ia menunduk. Hatinya berat. Tapi juga... ringan.
"Mbah," katanya pelan. "Apa... apa yang harus aku lakukan selanjutnya?"
Mbah Kerto menatap laut. Ombak tenang. Angin bertiup. Matahari tenggelam. Langit berwarna merah keunguan. Bintang pertama muncul di ujung senja. Kecil. Tapi terang.
"Besok," katanya pelan. "Kau akan belajar penglihatan."
Bintang menatap Mbah Kerto. Matanya melebar.
"Penglihatan?"
Mbah Kerto mengangguk. Ia menatap Bintang. Matanya dalam.
"Kau akan melihat... masa lalu. Masa kini. Masa depan. Kau akan melihat... siapa kau sebenarnya."
Bintang diam. Ia menatap Mbah Kerto lama. Lalu ia menunduk. Hatinya berdebar.
"Mbah," katanya pelan. "Apa... apa aku siap?"
Mbah Kerto tersenyum. Senyum yang hangat.
"Kau siap," jawabnya pelan. "Karena kau... sudah melepaskan."
Bintang menatap Mbah Kerto. Air matanya jatuh. Ia menangis. Ia tidak menyeka. Ia hanya duduk. Diam. Hatinya penuh.
"Mbah," katanya pelan. "Terima kasih."
Mbah Kerto mengangguk. Ia berdiri. Ia menatap laut. Ombak tenang. Angin bertiup. Matahari tenggelam. Langit berwarna merah keunguan. Bintang pertama bersinar. Terang.
"Besok," katanya pelan. "Kita mulai."
Ia berjalan pergi. Langkahnya pelan. Lembut. Menghilang di balik pohon-pohon. Bintang menatap punggung Mbah Kerto. Hatinya berdebar. Ia merasa... tenang. Ia merasa... lengkap. Ia merasa... siap.
"Senja," bisiknya. "Aku... aku akan belajar. Aku akan mencari Bintang Terakhir. Aku akan... membawamu pulang."
Ia menutup mata. Ia berdoa. Ia merasa... tenang. Ia merasa... lengkap. Ia merasa... siap.
Di pulau terasing, angin bertiup. Ombak memecah. Bintang-bintang bersinar. Dan di dalam hati Bintang, ada sesuatu yang... bersinar. Sesuatu yang... seperti harapan.
Harapan yang tumbuh dari ajaran Mbah Kerto.
Di ujung senja.
BAB 32
PENGLIHATAN
Malam itu Bintang tidak tidur. Ia duduk di mulut gua. Ia menatap langit. Gelap. Bintang-bintang bersinar. Terang. Abadi. Ia memegang liontin dari ayahnya. Ia membuka liontin itu. Ia membaca surat di dalamnya. Pelan. Dalam hati.
"Bintang, anakku.
Jika kau membaca ini, berarti kau sudah menemukan liontin ini. Berarti kau sudah siap.
Ayah ingin kau tahu: Bintang Terakhir bukan tempat. Bukan juga tujuan. Bintang Terakhir adalah... kau sendiri.
Kau adalah cahaya di ujung senja. Kau adalah harapan di ujung malam. Kau adalah... bintang terakhir.
Jaga nyanyian itu. Jaga tanah itu. Jaga cinta itu.
Dan jangan lupa... ayah selalu bersamamu.
Ayahmu,
Surya."
Bintang menutup liontin itu. Air matanya jatuh. Ia menangis. Ia tidak menyeka. Ia hanya duduk. Diam. Hatinya penuh.
"Ayah," bisiknya. "Aku... aku siap. Aku... aku siap melihat."
Ia menutup mata. Ia menghela napas. Ia menunggu. Ia menunggu penglihatan. Ia menunggu... jawaban.
Pagi itu, Mbah Kerto datang. Ia duduk di samping Bintang. Ia menatap laut. Ombak tenang. Angin bertiup. Matahari mulai muncul di ufuk timur. Langit berwarna jingga keemasan.
"Kau siap?" tanya Mbah Kerto.
Bintang menoleh. Ia menatap lelaki tua itu. Matanya dalam.
"Siap, Mbah."
Mbah Kerto mengangguk. Ia meraih sesuatu dari sakunya. Sebuah mangkuk. Kecil. Tanah liat. Di dalamnya, ada air. Jernih. Ia menyerahkannya pada Bintang.
"Minum," katanya pelan.
Bintang menerima mangkuk itu. Ia menatap air di dalamnya. Jernih. Tenang. Ia menghela napas. Ia meminumnya. Perlahan. Lembut. Air itu... dingin. Segar. Ia merasa... tenang. Ia merasa... mengantuk.
"Tidur," kata Mbah Kerto pelan. "Kau akan melihat."
Bintang berbaring di atas pasir. Ia menutup mata. Ia merasa... tenggelam. Ia merasa... hilang. Ia merasa... mati.
Lalu... ia melihat.
Ia melihat seorang lelaki muda. Ia memakai kemeja putih. Rambutnya hitam. Panjang. Ia berdiri di dermaga tua. Ia menatap laut. Ombak tenang. Angin bertiup. Matahari mulai tenggelam. Langit berwarna jingga keemasan.
Lelaki itu... Surya. Ayahnya.
Surya menoleh. Ia menatap Bintang. Matanya dalam. Ada sesuatu di mata lelaki itu—cinta. Kerinduan. Harapan.
"Bintang," kata Surya pelan. "Anakku."
Bintang menatap ayahnya. Air matanya jatuh. Ia ingin berlari. Ia ingin memeluk. Ia ingin... bicara. Tapi ia tidak bisa bergerak. Ia hanya bisa menatap. Ia hanya bisa... mendengar.
"Ayah," bisiknya. "Ayah... aku merindukan Ayah."
Surya tersenyum. Senyum yang hangat. Senyum yang... bahagia.
"Aku juga merindukanmu, Nak," katanya pelan. "Tapi aku... tidak bisa kembali. Aku... sudah pergi."
Bintang menangis. Ia tidak menyeka. Ia hanya menatap. Ia hanya... mendengar.
"Bintang," lanjut Surya pelan. "Kau mencari Bintang Terakhir, bukan?"
Bintang mengangguk. "Iya, Ayah."
Surya menatap Bintang. Matanya dalam.
"Bintang Terakhir," katanya pelan, "bukan tempat. Bukan juga tujuan. Bintang Terakhir adalah... kau sendiri."
Bintang menatap ayahnya. Matanya melebar.
"Aku... aku sendiri?"
Surya mengangguk. "Iya. Kau adalah cahaya di ujung senja. Kau adalah harapan di ujung malam. Kau adalah... bintang terakhir."
Bintang diam. Ia menatap ayahnya lama. Lalu ia menunduk. Air matanya jatuh.
"Ayah," katanya pelan. "Aku... aku tidak mengerti."
Surya menatap Bintang. Matanya hangat.
"Kau tidak perlu mengerti," katanya pelan. "Kau hanya perlu... percaya."
Bintang menatap ayahnya. Air matanya jatuh.
"Percaya apa?"
Surya menatap Bintang. Matanya dalam.
"Percaya," jawabnya pelan, "bahwa kau... cukup. Bahwa kau... berharga. Bahwa kau... dicintai."
Bintang menangis. Ia tidak menyeka. Ia hanya menatap. Ia hanya... mendengar.
"Bintang," lanjut Surya pelan. "Aku bangga padamu."
Bintang menatap ayahnya. Matanya basah.
"Ayah... Ayah bangga padaku?"
Surya mengangguk. "Iya. Aku bangga. Kau... kau adalah anak yang baik. Kau... kau adalah penjaga yang baik. Kau... kau adalah bintang terakhir."
Bintang menunduk. Air matanya jatuh.
"Ayah," katanya pelan. "Aku... aku mencintai Ayah."
Surya tersenyum. Senyum yang hangat. Senyum yang... bahagia.
"Aku juga mencintaimu, Nak," katanya pelan. "Selamanya."
Ia melangkah mundur. Ia menghilang di balik cahaya. Bintang menatap. Ia ingin berlari. Ia ingin memeluk. Ia ingin... bicara. Tapi ia tidak bisa bergerak. Ia hanya bisa menatap. Ia hanya bisa... mendengar.
"Ayah," bisiknya. "Jangan pergi."
Tapi ayahnya sudah pergi. Hanya cahaya. Hanya keheningan. Hanya... cinta.
Bintang membuka mata. Ia menatap langit. Biru. Bersih. Matahari tinggi. Ia duduk. Ia menatap sekeliling. Pantai. Pasir putih. Ombak tenang. Angin bertiup. Mbah Kerto duduk di sampingnya. Ia menatap Bintang. Matanya dalam.
"Apa yang kau lihat?" tanya Mbah Kerto.
Bintang menoleh. Ia menatap lelaki tua itu. Matanya basah.
"Aku... aku melihat Ayah," jawabnya pelan. "Aku... aku bicara dengan Ayah."
Mbah Kerto mengangguk. "Apa yang ia katakan?"
Bintang menatap laut. Ombak tenang. Angin bertiup.
"Ia bilang... Bintang Terakhir adalah aku sendiri," jawabnya pelan. "Ia bilang... aku adalah cahaya di ujung senja. Aku adalah harapan di ujung malam. Aku adalah... bintang terakhir."
Mbah Kerto tersenyum. Senyum yang hangat.
"Bagus," katanya pelan. "Kau... sudah menemukan."
Bintang menoleh. Matanya melebar.
"Aku... aku sudah menemukan?"
Mbah Kerto mengangguk. "Iya. Kau sudah menemukan Bintang Terakhir. Bukan di langit. Bukan di tempat. Tapi... di dalam hatimu."
Bintang diam. Ia menatap Mbah Kerto lama. Lalu ia menunduk. Air matanya jatuh. Ia menangis. Ia tidak menyeka. Ia hanya duduk. Diam. Hatinya... penuh.
"Mbah," katanya pelan. "Aku... aku mengerti sekarang. Aku... aku mengerti."
Mbah Kerto menatap Bintang. Matanya dalam.
"Apa yang kau mengerti?"
Bintang menatap laut. Ombak tenang. Angin bertiup. Matahari bersinar. Langit biru. Bersih.
"Aku mengerti," jawabnya pelan, "bahwa aku... cukup. Bahwa aku... berharga. Bahwa aku... dicintai."
Mbah Kerto mengangguk. Ia tersenyum. Senyum yang hangat. Senyum yang... bahagia.
"Bagus," katanya pelan. "Kau... sudah siap."
Bintang menatap Mbah Kerto. Matanya basah.
"Siap untuk apa?"
Mbah Kerto menatap laut. Ombak tenang. Angin bertiup. Matahari tinggi. Langit biru. Bersih.
"Siap untuk pulang," jawabnya pelan. "Siap untuk mencari Senja. Siap untuk... menjaga semuanya."
Bintang diam. Ia menatap Mbah Kerto lama. Lalu ia menunduk. Hatinya berat. Tapi juga... ringan.
"Mbah," katanya pelan. "Apa... apa aku bisa?"
Mbah Kerto menatap Bintang. Matanya hangat.
"Kau bisa," jawabnya pelan. "Karena kau... sudah menemukan Bintang Terakhir."
Bintang menatap Mbah Kerto. Air matanya jatuh. Ia menangis. Ia tidak menyeka. Ia hanya duduk. Diam. Hatinya penuh.
"Mbah," katanya pelan. "Terima kasih."
Mbah Kerto mengangguk. Ia berdiri. Ia menatap laut. Ombak tenang. Angin bertiup. Matahari tinggi. Langit biru. Bersih.
"Besok," katanya pelan. "Kau akan pergi. Perahu akan datang. Kau akan kembali ke daratan. Kau akan mencari Senja. Kau akan... menjaga semuanya."
Bintang menatap Mbah Kerto. Matanya melebar.
"Besok?"
Mbah Kerto mengangguk. "Iya. Besok. Kau... sudah siap."
Bintang diam. Ia menatap Mbah Kerto lama. Lalu ia menunduk. Hatinya berat. Tapi juga... ringan.
"Mbah," katanya pelan. "Apa... apa aku akan bertemu Mbah lagi?"
Mbah Kerto tersenyum. Senyum yang misterius.
"Kita akan bertemu lagi," jawabnya pelan. "Di tempat yang... tidak kau duga."
Ia berjalan pergi. Langkahnya pelan. Lembut. Menghilang di balik pohon-pohon. Bintang menatap punggung Mbah Kerto. Hatinya berdebar. Ia merasa... tenang. Ia merasa... lengkap. Ia merasa... siap.
"Senja," bisiknya. "Aku... aku akan pulang. Aku akan mencarimu. Aku akan... membawamu pulang."
Ia menutup mata. Ia berdoa. Ia merasa... tenang. Ia merasa... lengkap. Ia merasa... siap.
Di pulau terasing, angin bertiup. Ombak memecah. Bintang-bintang bersinar. Dan di dalam hati Bintang, ada sesuatu yang... bersinar. Sesuatu yang... seperti harapan.
Harapan yang tumbuh dari penglihatan.
Di ujung senja.
BAB 33
KEMBALI KE DARATAN
Pagi itu langit berwarna jingga keemasan. Matahari baru saja muncul di ufuk timur. Ombak tenang. Angin bertiup pelan. Bintang berdiri di tepi pantai. Ia memakai kain putih. Rambutnya diikat. Di lengannya, kain dari Ratna. Di lehernya, liontin dari Surya. Di punggungnya, tas berisi bekal. Ia menatap laut. Ombak tenang. Angin bertiup. Ia menghela napas. Ia merasa... berat. Tapi juga... ringan.
Ia akan pergi. Ia akan kembali ke daratan. Ia akan mencari Senja. Ia akan... membawa Senja pulang.
"Bintang."
Ia menoleh. Mbah Kerto berdiri di belakangnya. Ia memakai kain putih. Rambutnya putih. Panjang. Janggutnya putih. Panjang. Ia tersenyum. Senyum yang... misterius.
"Mbah," kata Bintang. "Aku... aku akan pergi."
Mbah Kerto mengangguk. "Iya. Kau sudah siap."
Bintang menatap Mbah Kerto lama. Lalu ia menunduk. Air matanya jatuh.
"Mbah," katanya pelan. "Aku... aku tidak tahu harus bilang apa."
Mbah Kerto tersenyum. Ia meraih pundak Bintang. Erat.
"Kau tidak perlu bilang apa-apa," katanya pelan. "Kau hanya perlu... pergi. Cari Senja. Bawa dia pulang. Jaga semuanya."
Bintang menatap Mbah Kerto. Matanya basah.
"Mbah," katanya pelan. "Apa... apa aku akan bertemu Mbah lagi?"
Mbah Kerto tersenyum. Senyum yang misterius.
"Kita akan bertemu lagi," jawabnya pelan. "Di tempat yang... tidak kau duga."
Bintang diam. Ia menatap Mbah Kerto lama. Lalu ia mengangguk. Ia meraih tangan lelaki tua itu. Erat.
"Mbah," katanya pelan. "Terima kasih."
Mbah Kerto mengangguk. Ia menepuk pundak Bintang. Pelan.
"Pergilah," katanya pelan. "Perahu itu... sudah menunggu."
Bintang menoleh. Di kejauhan, sebuah perahu kecil merapat ke pantai. Perahu itu... sederhana. Kayu. Layar putih. Ia menatap perahu itu. Ia menatap Mbah Kerto. Ia menatap pulau terasing. Ia menghela napas. Ia melangkah ke perahu. Ia menaikinya. Ia menatap Mbah Kerto. Ia melambaikan tangan.
"Mbah," katanya pelan. "Aku... aku akan kembali."
Mbah Kerto mengangguk. Ia melambaikan tangan. Pelan. Lembut.
"Pergilah," katanya pelan. "Dan jangan lupa... kau adalah bintang terakhir."
Bintang tersenyum. Air matanya jatuh. Ia mendayung. Perahu itu melaju. Meninggalkan pulau. Meninggalkan Mbah Kerto. Meninggalkan... segalanya. Tapi tidak meninggalkan cinta. Tidak meninggalkan nyanyian. Tidak meninggalkan... janji.
Di atas perahu, Bintang duduk bersila. Ia menatap cakrawala. Matahari mulai tinggi. Langit biru. Bersih. Ombak tenang. Angin bertiup. Ia memegang liontin dari ayahnya. Ia membuka liontin itu. Ia membaca surat di dalamnya. Pelan. Dalam hati.
"Bintang, anakku.
Jika kau membaca ini, berarti kau sudah menemukan liontin ini. Berarti kau sudah siap.
Ayah ingin kau tahu: Bintang Terakhir bukan tempat. Bukan juga tujuan. Bintang Terakhir adalah... kau sendiri.
Kau adalah cahaya di ujung senja. Kau adalah harapan di ujung malam. Kau adalah... bintang terakhir.
Jaga nyanyian itu. Jaga tanah itu. Jaga cinta itu.
Dan jangan lupa... ayah selalu bersamamu.
Ayahmu,
Surya."
Bintang menutup liontin itu. Air matanya jatuh. Ia menangis. Ia tidak menyeka. Ia hanya duduk. Diam. Hatinya penuh.
"Ayah," bisiknya. "Aku... aku sudah menemukan Bintang Terakhir. Aku... aku sudah mengerti. Aku... aku siap."
Tidak ada jawaban. Hanya angin. Hanya ombak. Hanya keheningan.
"Ayah," lanjut Bintang. "Aku... aku akan mencari Senja. Aku... aku akan membawanya pulang. Aku... aku akan menjaga semuanya."
Tidak ada jawaban. Tapi di dalam hatinya, ada sesuatu yang berbisik:
"Pergi. Cari dia. Bawa dia pulang. Jangan takut. Aku bersamamu."
Bintang membuka mata. Ia menatap cakrawala. Matahari bersinar. Langit biru. Bersih. Ia menghela napas. Ia merasa... tenang. Ia merasa... lengkap. Ia merasa... siap.
"Senja," bisiknya. "Aku... aku akan mencarimu. Aku... aku akan menemukanmu. Aku... aku akan membawamu pulang."
Perahu itu melaju. Meninggalkan pulau terasing. Meninggalkan Mbah Kerto. Meninggalkan... segalanya. Tapi tidak meninggalkan cinta. Tidak meninggalkan nyanyian. Tidak meninggalkan... janji.
Sore itu, Bintang melihat daratan. Di kejauhan. Pelabuhan. Kota. Bangunan-bangunan tinggi. Kapal-kapal besar. Ia menghela napas. Ia merasa... gugup. Ia merasa... takut. Tapi juga... siap.
Ia mendayung ke pelabuhan. Ia merapatkan perahu. Ia menaiki dermaga. Ia menatap kota. Ramai. Sibuk. Asing. Ia menghela napas. Ia melangkah. Ia harus mencari Senja. Ia harus... membawa Senja pulang.
Ia berjalan di jalanan kota. Ia menatap sekeliling. Bangunan tinggi. Mobil. Orang-orang sibuk. Ia merasa... kecil. Ia merasa... asing. Ia merasa... hilang.
"Bintang!"
Ia menoleh. Seorang lelaki berlari dari kerumunan. Ia memakai kemeja lusuh. Rambutnya kusut. Wajahnya... dikenal. Ia terengah-engah. Ia tersenyum. Senyum yang lebar.
"Andi?"
Andi berdiri di depan Bintang. Ia tersenyum. Air matanya jatuh.
"Bintang," katanya pelan. "Kau... kau hidup."
Bintang menatap Andi. Matanya melebar. Ia tidak percaya. Ia meraih pundak sahabatnya. Erat.
"Andi," katanya pelan. "Kau... kau hidup."
Andi mengangguk. Ia menangis. Ia memeluk Bintang. Erat. Bintang membalas pelukan itu. Erat. Mereka berdiri di dermaga. Berpelukan. Di bawah matahari. Di bawah langit. Di ujung senja.
"Andi," kata Bintang pelan. "Apa yang terjadi?"
Andi melepaskan pelukan. Ia menatap Bintang. Matanya basah.
"Aku... aku terdampar di pulau lain," jawabnya pelan. "Aku diselamatkan nelayan. Aku... aku mencarimu. Aku... aku tidak menemukanmu. Aku... aku pikir kau mati."
Bintang menatap Andi. Hatinya penuh.
"Aku... aku juga terdampar," katanya pelan. "Di pulau terasing. Aku... aku belajar. Aku... aku menemukan Bintang Terakhir."
Andi menatap Bintang. Matanya melebar.
"Kau... kau menemukan Bintang Terakhir?"
Bintang mengangguk. "Iya. Bintang Terakhir... adalah aku sendiri."
Andi diam. Ia menatap Bintang lama. Lalu ia tersenyum. Senyum yang hangat.
"Bintang," katanya pelan. "Aku... aku bangga padamu."
Bintang menatap Andi. Hatinya hangat. Ia meraih pundak sahabatnya. Erat.
"Andi," katanya pelan. "Ayo kita cari Senja."
Andi mengangguk. "Iya. Ayo kita cari Senja."
Mereka berjalan bersama. Menyusuri jalanan kota. Mencari Senja. Mencari... cinta. Mencari... harapan. Mencari... segalanya.
Malam itu, Bintang dan Andi duduk di taman kota. Mereka menatap langit. Gelap. Bintang-bintang bersinar. Terang. Abadi. Tapi... tidak sebanyak di kampung. Kota terlalu terang. Bintang-bintang... tenggelam.
"Bintang," kata Andi pelan. "Apa kau tahu di mana Senja?"
Bintang menoleh. Ia menatap Andi. Matanya dalam.
"Belum," jawabnya pelan. "Tapi aku akan mencari. Aku akan menemukan. Aku akan... membawanya pulang."
Andi menatap Bintang. Matanya basah.
"Bintang," katanya pelan. "Aku... aku ikut prihatin."
Bintang menoleh. "Kenapa?"
Andi menunduk. Tangannya gemetar.
"Karena aku... aku pernah mengkhianatimu," jawabnya pelan. "Aku pernah bekerja untuk Tuan Wijaya. Aku pernah... melupakan persahabatan kita."
Bintang menatap Andi lama. Lalu ia meraih pundak sahabatnya. Erat.
"Andi," katanya pelan. "Itu sudah lewat. Aku sudah memaafkanmu. Kita... sahabat."
Andi menatap Bintang. Air matanya jatuh.
"Bintang," katanya pelan. "Terima kasih."
Bintang tersenyum. Ia menepuk pundak Andi. Pelan.
"Jangan bilang terima kasih," katanya pelan. "Kita sahabat. Kita... bersama."
Andi mengangguk. Ia menatap langit. Gelap. Bintang-bintang bersinar. Terang. Abadi. Ia merasa... tenang. Ia merasa... lengkap. Ia merasa... siap.
"Bintang," katanya pelan. "Ayo kita cari Senja. Besok."
Bintang mengangguk. "Iya. Besok."
Mereka duduk diam. Menatap langit. Menatap bintang. Menatap masa depan. Tidak ada yang bicara. Tapi keheningan itu... sempurna.
"Senja," bisik Bintang. "Aku... aku akan mencarimu. Aku... aku akan menemukanmu. Aku... aku akan membawamu pulang."
Ia menutup mata. Ia berdoa. Ia merasa... tenang. Ia merasa... lengkap. Ia merasa... siap.
Di kota yang asing, angin bertiup. Mobil berlalu. Orang-orang sibuk. Bintang-bintang bersinar. Terang. Abadi. Dan di dalam hati Bintang, ada sesuatu yang... bersinar. Sesuatu yang... seperti harapan.
Harapan yang tumbuh dari kembali ke daratan.
Di ujung senja.
BAB 34
KOTA YANG ASING
Pagi itu Bintang bangun di bangku taman. Ia tidak tidur nyenyak. Ia hanya berbaring. Menatap langit. Menunggu matahari. Andi tidur di bangku sebelah. Ia meringkuk. Kedinginan. Bintang menatap sahabatnya. Hatinya berat. Ia merasa... bersalah. Ia membawa Andi ke kota. Ia membawa Andi ke tempat yang asing. Ia membawa Andi... ke dalam kesulitannya.
Ia duduk. Ia menatap kota. Bangunan tinggi. Mobil berlalu. Orang-orang berjalan cepat. Tidak ada yang menoleh. Tidak ada yang menyapa. Tidak ada yang peduli. Kota ini... dingin. Kota ini... asing. Kota ini... tidak seperti kampung.
"Bintang."
Ia menoleh. Andi terbangun. Ia menggosok matanya. Ia menatap Bintang. Matanya dalam.
"Kau tidak tidur?" tanya Andi.
Bintang menggeleng. "Tidak bisa."
Andi duduk di samping Bintang. Ia menatap kota. Ramai. Sibuk. Asing.
"Bintang," katanya pelan. "Apa kita akan mencari Senja hari ini?"
Bintang mengangguk. "Iya. Hari ini."
Andi menatap Bintang lama. Lalu ia menghela napas.
"Bintang," katanya pelan. "Aku... aku tidak tahu harus mulai dari mana."
Bintang menatap Andi. Matanya dalam.
"Kita mulai dari universitas," jawabnya pelan. "Senja bilang... ia mengajar di universitas. Kita cari di sana."
Andi mengangguk. "Baiklah."
Mereka berdiri. Mereka berjalan menyusuri jalanan kota. Mereka bertanya pada orang-orang. Mereka mencari universitas. Mereka mencari... Senja.
Universitas itu besar. Gedung-gedung tinggi. Halaman luas. Mahasiswa berlalu-lalang. Bintang dan Andi berdiri di depan gerbang. Mereka menatap gedung itu. Mereka merasa... kecil. Mereka merasa... asing.
"Bintang," kata Andi pelan. "Apa kita boleh masuk?"
Bintang mengangguk. "Kita coba."
Mereka masuk. Mereka berjalan menyusuri koridor. Mereka menatap setiap ruangan. Mereka mencari. Mereka bertanya. Tapi tidak ada yang tahu. Tidak ada yang kenal. Tidak ada yang... Senja.
"Maaf," kata seorang perempuan. "Senja? Dosen baru? Ia... ia sudah tidak mengajar di sini."
Bintang terdiam. Hatinya berdebar.
"Tidak mengajar?"
Perempuan itu mengangguk. "Iya. Ia berhenti. Beberapa minggu yang lalu. Ia bilang... ia ingin pulang."
Bintang menatap perempuan itu. Matanya melebar.
"Pulang?"
Perempuan itu mengangguk. "Iya. Ia bilang... ia ingin pulang ke kampungnya. Ia bilang... ia ingin mencari seseorang."
Bintang diam. Hatinya berdebar. Ia menoleh pada Andi. Andi menatapnya. Matanya basah.
"Bintang," kata Andi pelan. "Senja... Senja pulang."
Bintang mengangguk. Ia menunduk. Air matanya jatuh. Ia menangis. Ia tidak menyeka. Ia hanya duduk. Diam. Hatinya penuh.
"Ia pulang," bisiknya. "Ia... ia pulang ke kampung."
Andi meraih pundak Bintang. Erat.
"Bintang," katanya pelan. "Ayo kita pulang. Ayo kita cari Senja di kampung."
Bintang menatap Andi. Matanya basah.
"Iya," katanya pelan. "Ayo kita pulang."
Mereka berjalan ke pelabuhan. Mereka mencari kapal. Mereka mencari perahu. Mereka mencari... jalan pulang. Tapi tidak ada. Tidak ada kapal yang menuju Tanjung Senja. Tidak ada perahu. Tidak ada... apa-apa.
"Bintang," kata Andi pelan. "Apa kita akan berjalan kaki?"
Bintang menggeleng. "Tidak mungkin. Terlalu jauh."
Andi diam. Ia menatap Bintang lama. Lalu ia menghela napas.
"Bintang," katanya pelan. "Apa yang harus kita lakukan?"
Bintang menatap laut. Ombak tenang. Angin bertiup. Matahari mulai tenggelam. Langit berwarna jingga keemasan.
"Kita cari kapal," jawabnya pelan. "Kita cari... jalan."
Mereka berjalan menyusuri pelabuhan. Mereka bertanya pada nelayan. Mereka bertanya pada kapten. Mereka bertanya... semua orang. Tapi tidak ada. Tidak ada yang mau. Tidak ada yang bisa. Tidak ada... jalan.
"Bintang," kata Andi pelan. "Aku... aku takut."
Bintang menoleh. Ia menatap Andi. Matanya hangat.
"Tidak apa-apa," katanya pelan. "Kita akan menemukan jalan."
Andi menatap Bintang. Matanya basah.
"Bagaimana kau bisa yakin?"
Bintang menatap laut. Ombak tenang. Angin bertiup. Matahari tenggelam. Langit berwarna merah keunguan. Bintang pertama muncul di ujung senja. Kecil. Tapi terang.
"Karena ayahku bilang," jawabnya pelan, "bintang terakhir tidak pernah padam. Ia hanya menunggu untuk ditemukan."
Andi menatap Bintang. Hatinya hangat. Ia mengangguk. Ia menatap laut. Ombak tenang. Angin bertiup. Ia merasa... tenang. Ia merasa... lengkap. Ia merasa... siap.
Malam itu, Bintang dan Andi duduk di dermaga pelabuhan. Mereka menatap laut. Gelap. Bintang-bintang bersinar. Terang. Abadi. Tapi... tidak sebanyak di kampung. Kota terlalu terang. Bintang-bintang... tenggelam.
"Bintang," kata Andi pelan. "Apa kau tidak rindu kampung?"
Bintang menoleh. Ia menatap Andi. Matanya dalam.
"Rindu," jawabnya pelan. "Sangat rindu."
"Apa yang kau rindukan?"
Bintang menatap laut. Ombak tenang. Angin bertiup.
"Aku rindu dermaga tua," jawabnya pelan. "Aku rindu laut. Aku rindu nyanyian. Aku rindu... semuanya."
Andi menatap Bintang. Matanya basah.
"Aku juga," katanya pelan. "Aku juga rindu."
Mereka duduk diam. Menatap laut. Menatap bintang. Menatap masa depan. Tidak ada yang bicara. Tapi keheningan itu... sempurna.
"Bintang," kata Andi pelan. "Apa kau menyesal?"
Bintang menoleh. "Menyesal apa?"
Andi menunduk. Tangannya gemetar.
"Menyesal... pergi ke kota," jawabnya pelan. "Menyesal... meninggalkan kampung. Menyesal... mencari Senja."
Bintang diam. Ia menatap Andi lama. Lalu ia tersenyum tipis.
"Tidak," jawabnya pelan. "Aku tidak menyesal."
"Kenapa?"
Bintang menatap laut. Ombak tenang. Angin bertiup.
"Karena," jawabnya pelan, "aku menemukan Bintang Terakhir. Aku... aku menemukan diriku sendiri."
Andi menatap Bintang. Matanya melebar.
"Kau... kau menemukan dirimu sendiri?"
Bintang mengangguk. "Iya. Aku menemukan... bahwa aku cukup. Bahwa aku berharga. Bahwa aku... dicintai."
Andi diam. Ia menatap Bintang lama. Lalu ia tersenyum. Senyum yang hangat.
"Bintang," katanya pelan. "Aku... aku bangga padamu."
Bintang menatap Andi. Hatinya hangat. Ia meraih pundak sahabatnya. Erat.
"Andi," katanya pelan. "Terima kasih."
Andi tersenyum. Ia menatap laut. Ombak tenang. Angin bertiup. Ia merasa... tenang. Ia merasa... lengkap. Ia merasa... siap.
"Bintang," katanya pelan. "Ayo kita pulang. Besok. Kita cari kapal. Kita... pulang."
Bintang mengangguk. "Iya. Besok. Kita pulang."
Mereka duduk diam. Menatap laut. Menatap bintang. Menatap masa depan. Tidak ada yang bicara. Tapi keheningan itu... sempurna.
"Senja," bisik Bintang. "Aku... aku akan mencarimu. Aku... aku akan menemukanmu. Aku... aku akan membawamu pulang."
Ia menutup mata. Ia berdoa. Ia merasa... tenang. Ia merasa... lengkap. Ia merasa... siap.
Di kota yang asing, angin bertiup. Mobil berlalu. Orang-orang sibuk. Bintang-bintang bersinar. Terang. Abadi. Dan di dalam hati Bintang, ada sesuatu yang... bersinar. Sesuatu yang... seperti harapan.
Harapan yang tumbuh dari kota yang asing.
Di ujung senja.
BAB 35
SURAT YANG TERTUNDA
Pagi itu Bintang dan Andi bangun di bangku taman. Matahari baru muncul. Langit berwarna jingga keemasan. Ombak di pelabuhan tenang. Angin bertiup pelan. Bintang duduk. Ia menatap kota. Ramai. Sibuk. Asing. Ia menghela napas. Ia merasa... berat. Ia merasa... lelah. Ia merasa... rindu.
"Bintang."
Ia menoleh. Andi berdiri di sampingnya. Ia memegang sesuatu. Sebuah amplop. Kuning. Usang. Ada tulisan di amplop itu. Tulisan tangan... Senja.
"Apa itu?" tanya Bintang.
Andi menyerahkan amplop itu. Tangannya gemetar.
"Aku... aku menemukannya," jawabnya pelan. "Di tasmu. Tadi malam. Aku... aku tidak sengaja."
Bintang menerima amplop itu. Ia menatap tulisan di amplop itu. Tulisan tangan Senja. Rapi. Miring-miring. Ada noda air mata di beberapa tempat. Ia menghela napas. Ia membuka amplop itu. Pelan. Lembut. Ia mengeluarkan surat. Kertas putih. Tulisan tangan Senja. Rapi. Miring-miring.
"Bintang,
Jika kau membaca surat ini, berarti kau sudah menemukannya. Aku... aku tidak tahu harus mulai dari mana. Aku... aku minta maaf.
Aku pergi bukan karena aku tidak mencintaimu. Aku pergi karena aku... takut. Aku takut menjadi beban. Aku takut menghambatmu. Aku takut... membuatmu menderita.
Tapi aku salah. Aku sadar... aku salah. Aku sadar... aku tidak seharusnya pergi. Aku sadar... aku tidak seharusnya meninggalkanmu.
Aku mencintaimu, Bintang. Aku sangat mencintaimu. Tapi aku... aku terlalu pengecut untuk mengatakannya. Aku terlalu pengecut untuk... tinggal.
Aku menulis surat ini di kapal. Saat aku pergi. Aku menulis surat ini... sambil menangis. Aku menulis surat ini... sambil berharap kau akan mencariku.
Dan sekarang... aku tahu kau mencariku. Aku tahu kau... mencintaiku. Aku tahu kau... tidak akan menyerah.
Aku akan pulang, Bintang. Aku akan pulang ke kampung. Aku akan menunggumu. Di dermaga tua. Di bawah bintang-bintang. Di ujung senja.
Aku mencintaimu. Selamanya.
Senja."
Bintang menutup surat itu. Air matanya jatuh. Ia menangis. Ia tidak menyeka. Ia hanya duduk. Diam. Hatinya penuh.
"Bintang," kata Andi pelan. "Apa isinya?"
Bintang menoleh. Ia menatap Andi. Matanya basah.
"Senja... Senja pulang," jawabnya pelan. "Ia... ia menungguku. Di dermaga tua. Di bawah bintang-bintang. Di ujung senja."
Andi menatap Bintang. Matanya melebar.
"Senja... Senja menunggumu?"
Bintang mengangguk. "Iya. Ia... ia mencintaiku. Ia... ia tidak seharusnya pergi. Ia... ia menyesal."
Andi diam. Ia menatap Bintang lama. Lalu ia tersenyum. Senyum yang hangat.
"Bintang," katanya pelan. "Ayo kita pulang. Ayo kita cari Senja."
Bintang mengangguk. Ia berdiri. Ia meraih pundak Andi. Erat.
"Iya," katanya pelan. "Ayo kita pulang."
Mereka berjalan ke pelabuhan. Mereka mencari kapal. Mereka mencari perahu. Mereka mencari... jalan pulang. Kali ini, mereka tidak menyerah. Kali ini, mereka... berjuang.
Di pelabuhan, Bintang bertemu seorang nelayan tua. Ia memakai topi lusuh. Kulitnya sawo matang. Matanya... tajam. Seperti mata elang. Ia tersenyum. Senyum yang... misterius.
"Kau mencari kapal ke Tanjung Senja?" tanya nelayan itu.
Bintang menoleh. Ia menatap nelayan itu. Matanya melebar.
"Iya, Pak," jawabnya pelan. "Apa Bapak tahu?"
Nelayan itu mengangguk. "Aku tahu. Aku dari sana. Dulu. Aku... tetangga Pak Harun."
Bintang menatap nelayan itu. Hatinya berdebar.
"Bapak... Bapak kenal Pak Harun?"
Nelayan itu mengangguk. "Iya. Aku kenal. Aku juga kenal ayahmu. Surya. Orang yang baik. Orang yang... kuat."
Bintang menatap nelayan itu. Air matanya jatuh.
"Bapak... Bapak kenal Ayah?"
Nelayan itu mengangguk. "Iya. Aku kenal. Aku... aku ikut mencari dia. Dulu. Saat ia tenggelam. Aku... aku yang menemukan tubuhnya."
Bintang terdiam. Hatinya berdebar. Ia menatap nelayan itu lama. Lalu ia menunduk. Air matanya jatuh.
"Bapak," katanya pelan. "Apa... apa Bapak tahu siapa yang membunuh Ayah?"
Nelayan itu diam. Ia menatap Bintang lama. Lalu ia menghela napas.
"Aku tidak tahu," jawabnya pelan. "Tapi aku tahu... Darma yang menyuruh. Aku tahu... Darma yang ingin tanah itu."
Bintang mengepal tangan. Rahangnya mengeras.
"Aku akan mencari kebenaran," katanya pelan. "Aku akan... menghentikan Darma."
Nelayan itu menatap Bintang. Matanya dalam.
"Kau ini... keras kepala. Seperti ayahmu."
Bintang tersenyum tipis. "Iya."
Nelayan itu menghela napas. Ia meraih tangan Bintang. Erat.
"Aku akan membawamu pulang," katanya pelan. "Aku akan membawamu ke Tanjung Senja. Aku akan... membantumu."
Bintang menatap nelayan itu. Hatinya hangat.
"Terima kasih, Pak," katanya pelan. "Terima kasih."
Nelayan itu mengangguk. Ia menepuk pundak Bintang. Pelan.
"Ayo," katanya pelan. "Kapal itu... sudah menunggu."
Di atas kapal, Bintang duduk di buritan. Ia menatap cakrawala. Matahari mulai tinggi. Langit biru. Bersih. Ombak tenang. Angin bertiup. Ia memegang surat Senja. Ia membacanya lagi. Pelan. Dalam hati.
"Aku akan pulang, Bintang. Aku akan pulang ke kampung. Aku akan menunggumu. Di dermaga tua. Di bawah bintang-bintang. Di ujung senja."
Bintang menutup surat itu. Air matanya jatuh. Ia menangis. Ia tidak menyeka. Ia hanya duduk. Diam. Hatinya penuh.
"Senja," bisiknya. "Aku... aku akan pulang. Aku... aku akan mencarimu. Aku... aku akan membawamu pulang."
Ia menoleh pada Andi. Andi duduk di sampingnya. Ia menatap laut. Ombak tenang. Angin bertiup. Ia tersenyum. Senyum yang hangat.
"Bintang," kata Andi pelan. "Kita... kita akan bertemu Senja."
Bintang mengangguk. "Iya. Kita akan bertemu Senja."
Mereka duduk diam. Menatap cakrawala. Matahari bersinar. Langit biru. Bersih. Ombak tenang. Angin bertiup. Tidak ada yang bicara. Tapi keheningan itu... sempurna.
"Bintang," kata Andi pelan. "Apa kau tidak sabar?"
Bintang menoleh. Ia menatap Andi. Matanya dalam.
"Tidak sabar," jawabnya pelan. "Sangat tidak sabar."
Andi tersenyum. Ia menatap cakrawala. Matahari bersinar. Langit biru. Bersih.
"Aku juga," katanya pelan. "Aku... aku tidak sabar melihat Senja."
Bintang tersenyum. Ia menatap cakrawala. Matahari bersinar. Langit biru. Bersih. Ia merasa... tenang. Ia merasa... lengkap. Ia merasa... siap.
"Senja," bisiknya. "Aku... aku akan pulang. Aku... aku akan mencarimu. Aku... aku akan membawamu pulang."
Kapal itu melaju. Meninggalkan kota. Meninggalkan pelabuhan. Meninggalkan... segalanya. Tapi tidak meninggalkan cinta. Tidak meninggalkan nyanyian. Tidak meninggalkan... janji.
Di dermaga tua, angin bertiup. Ombak memecah. Bintang-bintang bersinar. Dan di dalam hati Bintang, ada sesuatu yang... bersinar. Sesuatu yang... seperti harapan.
Harapan yang tumbuh dari surat yang tertunda.
Di ujung senja.
BAB 36
PULANG
Kapal itu merapat ke dermaga Tanjung Senja saat senja. Matahari tenggelam. Langit berwarna jingga keemasan. Ombak tenang. Angin bertiup pelan. Bintang berdiri di haluan. Ia menatap kampungnya. Rumah-rumah panggung. Dermaga tua. Pohon beringin. Semuanya... sama. Semuanya... indah. Semuanya... rumah.
Ia menghela napas. Ia merasa... berat. Tapi juga... ringan. Ia merasa... gugup. Tapi juga... siap. Ia menatap dermaga. Di sana... ada seseorang. Seorang perempuan. Ia memakai gaun putih sederhana. Rambutnya terurai. Ia menatap kapal. Ia menunggu. Ia... Senja.
"Senja," bisik Bintang.
Kapal itu merapat. Bintang melompat ke dermaga. Ia berlari. Ia berlari ke arah Senja. Senja berlari ke arahnya. Mereka bertemu di tengah dermaga. Mereka berhenti. Mereka saling menatap. Mata mereka basah. Hati mereka penuh.
"Bintang," bisik Senja.
"Senja," bisik Bintang.
Mereka berpelukan. Erat. Sangat erat. Air mata mereka jatuh. Mereka tidak menyeka. Mereka hanya berpelukan. Diam. Di dermaga tua. Di bawah langit senja. Di ujung senja.
"Senja," kata Bintang pelan. "Aku... aku mencarimu."
"Aku tahu," bisik Senja. "Aku tahu."
"Aku... aku mencintaimu."
Senja menutup mata. Air matanya jatuh. Ia memeluk Bintang lebih erat.
"Aku juga," bisiknya. "Aku juga mencintaimu."
Mereka berdiri diam. Berpelukan. Angin bertiup. Ombak memecah. Langit senja. Bintang pertama muncul di ujung senja. Kecil. Tapi terang. Dan di dalam hati mereka, ada sesuatu yang... lengkap.
Cinta.
Cinta yang tumbuh dari perpisahan.
Di ujung senja.
Andi berdiri di atas kapal. Ia menatap Bintang dan Senja. Ia tersenyum. Senyum yang hangat. Ia melompat ke dermaga. Ia berjalan ke arah mereka. Ia menepuk pundak Bintang. Pelan.
"Bintang," katanya pelan. "Kau... kau berhasil."
Bintang menoleh. Ia menatap Andi. Matanya basah.
"Andi," katanya pelan. "Terima kasih. Kau... kau sahabat yang baik."
Andi tersenyum. Air matanya jatuh. Ia memeluk Bintang. Erat.
"Bintang," bisiknya. "Aku... aku bahagia."
Bintang membalas pelukan itu. Erat. Ia menutup mata. Ia merasa... tenang. Ia merasa... lengkap. Ia merasa... siap.
"Andi," katanya pelan. "Ayo kita pulang. Ayo kita... menjaga semuanya."
Andi mengangguk. Ia melepaskan pelukan. Ia menatap Senja. Ia tersenyum.
"Senja," katanya pelan. "Selamat datang kembali."
Senja tersenyum. Air matanya jatuh.
"Terima kasih, Andi," katanya pelan. "Terima kasih."
Mereka berjalan bersama. Meninggalkan dermaga. Menuju kampung. Warga yang melihat mereka tersenyum. Ada yang melambaikan tangan. Ada yang menangis. Ada yang... berdoa. Bintang menatap mereka. Hatinya hangat. Ia merasa... pulang. Ia merasa... lengkap. Ia merasa... siap.
Di rumah Bintang, Dewi sudah menunggu. Ia berdiri di teras. Ia memakai kebaya sederhana. Rambutnya diikat. Matanya basah. Ia menatap Bintang. Ia menatap Senja. Ia tersenyum. Senyum yang lebar. Senyum yang... bahagia.
"Kak," katanya pelan. "Kau... kau pulang."
Bintang mengangguk. Ia berjalan ke adiknya. Ia memeluk Dewi. Erat.
"Dewi," katanya pelan. "Aku... aku pulang."
Dewi menangis. Ia memeluk Bintang lebih erat.
"Kak," bisiknya. "Aku... aku merindukanmu."
Bintang menutup mata. Air matanya jatuh.
"Aku juga," bisiknya. "Aku juga merindukanmu."
Mereka berdiri diam. Berpelukan. Di teras rumah. Di bawah langit senja. Di ujung senja.
"Kak," kata Dewi pelan. "Senja... Senja kembali."
Bintang mengangguk. Ia melepaskan pelukan. Ia menatap Senja. Ia tersenyum.
"Iya," katanya pelan. "Senja kembali."
Senja berjalan ke Dewi. Ia meraih tangan gadis itu. Erat.
"Dewi," katanya pelan. "Aku... aku minta maaf. Aku... aku pergi."
Dewi menatap Senja. Matanya basah.
"Tidak apa-apa," katanya pelan. "Kau... kau sudah kembali. Itu yang penting."
Senja tersenyum. Air matanya jatuh. Ia memeluk Dewi. Erat. Dewi membalas pelukan itu. Erat. Mereka berdiri diam. Berpelukan. Di teras rumah. Di bawah langit senja. Di ujung senja.
Malam itu, Bintang dan Senja duduk di dermaga tua. Mereka menatap laut. Ombak tenang. Angin bertiup. Bulan sabit menggantung di ujung langit. Bintang-bintang bersinar. Terang. Abadi.
"Bintang," kata Senja pelan. "Aku... aku minta maaf."
Bintang menoleh. Ia menatap Senja. Matanya dalam.
"Untuk apa?"
Senja menunduk. Tangannya gemetar.
"Karena aku... aku pergi," jawabnya pelan. "Karena aku... aku meninggalkanmu. Karena aku... aku pengecut."
Bintang menatap Senja lama. Lalu ia meraih wajah perempuan itu. Pelan. Lembut.
"Senja," katanya pelan. "Kau tidak pengecut. Kau hanya... takut. Dan aku... aku mengerti."
Senja menatap Bintang. Air matanya jatuh.
"Kau... kau tidak marah?"
Bintang menggeleng. "Aku tidak marah. Aku hanya... sedih."
"Sedih?"
Bintang menatap laut. Ombak tenang. Angin bertiup.
"Sedih," jawabnya pelan, "karena kau pergi. Karena kau... menderita. Karena kau... sendirian."
Senja menatap Bintang. Hatinya berat.
"Bintang," katanya pelan. "Aku... aku tidak akan pergi lagi."
Bintang menoleh. Ia menatap Senja. Matanya dalam.
"Janji?"
Senja mengangguk. "Janji."
Bintang tersenyum. Ia meraih tangan Senja. Erat.
"Baiklah," katanya pelan. "Aku percaya."
Senja tersenyum. Air matanya jatuh. Ia menyandarkan kepala di pundak Bintang. Erat.
"Bintang," katanya pelan. "Apa kita akan menikah?"
Bintang menoleh. Ia menatap Senja. Matanya dalam.
"Iya," jawabnya pelan. "Kita akan menikah. Di dermaga ini. Di bawah bintang-bintang. Di depan warga. Di depan leluhur."
Senja tersenyum. Air matanya jatuh. Ia menyandarkan kepala di pundak Bintang. Erat.
"Aku tidak sabar," katanya pelan.
Bintang tersenyum. Ia mencium rambut Senja. Pelan. Lembut.
"Aku juga," bisiknya.
Mereka duduk diam. Menatap laut. Menatap langit. Menatap masa depan. Tidak ada yang bicara. Tapi keheningan itu... sempurna.
Seperti cinta yang baru saja ditemukan.
Di ujung senja.
Pagi berikutnya, Bintang berjalan ke rumah Pak Harun. Ia ingin bicara. Ia ingin berpamitan. Ia ingin... meminta restu.
Pak Harun duduk di teras. Ia memakai sarung dan baju lengan panjang. Di tangannya, kopi. Ia menatap Bintang lama. Matanya basah.
"Kau pulang," katanya pelan.
Bintang duduk di samping Pak Harun. Ia meletakkan tangannya di meja. Erat.
"Iya, Pak," jawabnya pelan. "Aku pulang."
Pak Harun menatap Bintang. Matanya dalam.
"Kau... kau menemukan Bintang Terakhir?"
Bintang mengangguk. "Iya. Aku menemukan."
"Apa itu?"
Bintang menatap Pak Harun. Matanya hangat.
"Bintang Terakhir," jawabnya pelan, "adalah aku sendiri. Aku adalah cahaya di ujung senja. Aku adalah harapan di ujung malam. Aku adalah... bintang terakhir."
Pak Harun menatap Bintang lama. Lalu ia tersenyum. Senyum yang hangat. Senyum yang... bahagia.
"Bagus," katanya pelan. "Ayahmu pasti bangga."
Bintang menatap Pak Harun. Air matanya jatuh.
"Pak," katanya pelan. "Aku... aku akan menikah dengan Senja."
Pak Harun menoleh. Matanya melebar.
"Menikah?"
Bintang mengangguk. "Iya. Di dermaga tua. Di bawah bintang-bintang. Di depan warga. Di depan leluhur."
Pak Harun diam. Ia menatap Bintang lama. Lalu ia tersenyum. Senyum yang hangat.
"Bagus," katanya pelan. "Ayahmu pasti bangga."
Bintang menatap Pak Harun. Hatinya hangat.
"Pak," katanya pelan. "Apa Bapak mau menjadi saksi?"
Pak Harun menatap Bintang. Matanya basah.
"Aku mau," jawabnya pelan. "Aku mau menjadi saksi."
Bintang tersenyum. Ia meraih tangan Pak Harun. Erat.
"Terima kasih, Pak," katanya pelan.
Pak Harun mengangguk. Ia menyeruput kopinya. Ia menatap langit. Biru. Bersih.
"Bintang," katanya pelan. "Kau tahu? Dulu... Surya dan Rukmi juga ingin menikah. Di dermaga ini. Di bawah bintang-bintang. Tapi... mereka tidak sempat."
Bintang menatap Pak Harun. Matanya dalam.
"Kenapa?"
Pak Harun menatap Bintang lama. Lalu ia menunduk.
"Karena mereka berselisih," jawabnya pelan. "Karena mereka... berpisah."
Bintang diam. Ia menatap Pak Harun lama. Lalu ia menghela napas.
"Pak," katanya pelan. "Aku tidak akan seperti mereka. Aku tidak akan berpisah dengan Senja."
Pak Harun menatap Bintang. Matanya dalam.
"Bagaimana kau bisa yakin?"
Bintang menatap langit. Biru. Bersih. Bintang pertama tidak muncul. Matahari masih tinggi. Tapi ia merasa... ada sesuatu yang bersinar di dalam hatinya.
"Karena aku mencintai Senja," jawabnya pelan. "Dan cinta... tidak akan pernah berpisah."
Pak Harun mengangguk. Ia tersenyum. Senyum yang hangat.
"Bagus," katanya pelan. "Aku percaya padamu."
Mereka duduk diam. Menatap langit. Biru. Bersih. Di kejauhan, dermaga tua terlihat. Tempat Bintang dan Senja akan menikah. Tempat mereka akan memulai hidup baru. Tempat mereka akan... bersatu.
"Pak," kata Bintang pelan. "Apa Bapak mau membantu mempersiapkan pernikahan?"
Pak Harun menoleh. Matanya melebar.
"Aku?"
Bintang mengangguk. "Iya. Bapak kan tetua kampung. Bapak yang tahu adat. Bapak yang tahu... semuanya."
Pak Harun tersenyum. Senyum yang lebar. Senyum yang bahagia.
"Aku mau," jawabnya pelan. "Aku mau membantu."
Bintang tersenyum. Ia meraih tangan Pak Harun. Erat.
"Terima kasih, Pak," katanya pelan.
Pak Harun mengangguk. Ia menyeruput kopinya. Ia menatap langit. Biru. Bersih.
"Bintang," katanya pelan. "Kau tahu? Aku sudah lama menunggu momen ini. Momen ketika kau... dewasa. Momen ketika kau... siap."
Bintang menatap Pak Harun. Matanya dalam.
"Siap untuk apa?"
Pak Harun menatap Bintang. Matanya hangat.
"Siap untuk menjadi penjaga nyanyian," jawabnya pelan. "Siap untuk menjadi pemimpin. Siap untuk... menjadi bintang terakhir."
Bintang diam. Ia menatap Pak Harun lama. Lalu ia menunduk. Hatinya berat. Tapi juga... ringan.
"Pak," katanya pelan. "Aku akan berusaha."
Pak Harun mengangguk. "Aku tahu."
Mereka duduk diam. Menatap langit. Biru. Bersih. Di kejauhan, dermaga tua terlihat. Tempat Bintang dan Senja akan menikah. Tempat mereka akan memulai hidup baru. Tempat mereka akan... bersatu.
Dan di dermaga tua, bintang terakhir menunggu. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi. Ia hanya tahu... cinta itu nyata.
Cinta yang tumbuh dari kepulangan.
Di ujung senja.
BAGIAN VI: PERTEMUAN KEMBALI
BAB 37
SENJA KEMBALI
Pagi itu Tanjung Senja bangun dengan suasana yang berbeda. Matahari bersinar lebih hangat. Langit lebih biru. Ombak lebih tenang. Angin bertiup lebih lembut. Warga berjalan dengan senyum. Anak-anak berlarian dengan tawa. Perempuan-perempuan menjemur ikan sambil bernyanyi. Lelaki-lelaki memperbaiki perahu sambil bercerita. Kampung itu... hidup. Kampung itu... bahagia. Kampung itu... pulih.
Bintang berdiri di teras rumah. Ia memakai kemeja putih. Rambutnya disisir rapi. Di lengannya, kain dari Ratna. Di lehernya, liontin dari Surya. Ia menatap langit. Biru. Bersih. Ia menghela napas. Ia merasa... tenang. Ia merasa... lengkap. Ia merasa... siap.
"Kak."
Ia menoleh. Dewi berdiri di ambang pintu. Ia memakai kebaya sederhana. Rambutnya diikat. Ia tersenyum. Senyum yang lebar. Senyum yang... bahagia.
"Kau siap?" tanya Dewi.
Bintang mengangguk. "Siap."
Dewi berjalan mendekat. Ia meraih tangan kakaknya. Erat.
"Kak," katanya pelan. "Aku... aku bahagia. Kau... kau pulang. Senja... Senja kembali. Kampung ini... kampung ini hidup lagi."
Bintang menatap adiknya. Hatinya hangat.
"Iya," jawabnya pelan. "Aku pulang. Senja kembali. Kampung ini... hidup lagi."
Dewi tersenyum. Air matanya jatuh. Ia memeluk Bintang. Erat.
"Kak," bisiknya. "Aku... aku mencintaimu."
Bintang menutup mata. Ia mencium rambut adiknya. Pelan. Lembut.
"Aku juga," bisiknya. "Aku mencintaimu."
Mereka berdiri diam. Berpelukan. Di teras rumah. Di bawah matahari. Di ujung senja.
Bintang berjalan ke dermaga tua. Ia ingin bertemu Senja. Ia ingin bicara. Ia ingin... merencanakan. Ia ingin... mempersiapkan.
Senja sudah menunggu. Ia duduk di ujung dermaga. Kakinya menggantung di atas air. Ia memakai gaun putih sederhana. Rambutnya terurai. Ia memandang laut. Ia tersenyum.
"Kau datang," kata Senja.
Bintang duduk di sampingnya. Ia meraih tangan Senja. Erat.
"Kau sudah lama?" tanya Bintang.
Senja menggeleng. "Tidak. Baru saja."
Mereka duduk diam. Menatap laut. Ombak tenang. Angin bertiup. Matahari mulai tinggi. Langit biru. Bersih.
"Bintang," kata Senja pelan. "Aku... aku sudah bicara dengan Pak Harun."
Bintang menoleh. "Tentang apa?"
Senja menatap Bintang. Matanya dalam.
"Tentang pernikahan kita," jawabnya pelan. "Ia bilang... ia akan membantu. Ia bilang... ia akan mempersiapkan semuanya. Ia bilang... ia akan memimpin upacara."
Bintang menatap Senja. Hatinya hangat.
"Bagus," katanya pelan. "Aku... aku juga sudah bicara dengan dia."
Senja tersenyum. Ia menyandarkan kepala di pundak Bintang. Erat.
"Bintang," katanya pelan. "Apa kau tidak sabar?"
Bintang menoleh. Ia menatap Senja. Matanya dalam.
"Tidak sabar," jawabnya pelan. "Sangat tidak sabar."
Senja tersenyum. Air matanya jatuh. Ia menutup mata. Ia merasa... tenang. Ia merasa... lengkap. Ia merasa... siap.
"Bintang," katanya pelan. "Aku... aku mencintaimu."
Bintang menutup mata. Ia mencium rambut Senja. Pelan. Lembut.
"Aku juga," bisiknya. "Aku mencintaimu."
Mereka duduk diam. Berpelukan. Angin bertiup. Ombak memecah. Matahari bersinar. Dan di dalam hati mereka, ada sesuatu yang... lengkap.
Cinta.
Cinta yang tumbuh dari pertemuan kembali.
Di ujung senja.
Sore itu, Bintang berjalan ke rumah Pak Harun. Ia ingin bicara. Ia ingin merencanakan. Ia ingin... mempersiapkan.
Pak Harun duduk di teras. Ia memakai sarung dan baju lengan panjang. Di tangannya, kopi. Ia menatap Bintang lama. Matanya hangat.
"Kau datang," katanya pelan.
Bintang duduk di samping Pak Harun. Ia meletakkan tangannya di meja. Erat.
"Pak," katanya pelan. "Aku ingin bicara tentang pernikahan."
Pak Harun mengangguk. "Aku sudah menduga."
Bintang menatap Pak Harun. Matanya dalam.
"Pak," katanya pelan. "Apa yang harus aku persiapkan?"
Pak Harun menatap Bintang lama. Lalu ia tersenyum. Senyum yang hangat.
"Banyak," jawabnya pelan. "Tapi yang paling penting... kau harus siap lahir dan batin."
Bintang mengerutkan kening. "Lahir dan batin?"
Pak Harun mengangguk. Ia menyeruput kopinya. Ia menatap langit. Jingga. Keemasan.
"Pernikahan," katanya pelan, "bukan hanya tentang dua orang. Pernikahan... tentang dua keluarga. Dua leluhur. Dua... dunia."
Bintang diam. Ia menatap Pak Harun lama. Lalu ia menunduk.
"Pak," katanya pelan. "Aku... aku tidak punya keluarga. Ibu sudah meninggal. Ayah sudah meninggal."
Pak Harun menatap Bintang. Matanya dalam.
"Kau punya kami," katanya pelan. "Kau punya Dewi. Kau punya Andi. Kau punya... aku. Kami... keluargamu."
Bintang menatap Pak Harun. Air matanya jatuh. Ia menangis. Ia tidak menyeka. Ia hanya duduk. Diam. Hatinya penuh.
"Pak," katanya pelan. "Terima kasih."
Pak Harun mengangguk. Ia meraih tangan Bintang. Erat.
"Bintang," katanya pelan. "Kau cucu yang baik. Surya pasti bangga."
Bintang menatap Pak Harun. Hatinya hangat. Ia meraih tangan lelaki tua itu. Erat.
"Pak," katanya pelan. "Aku... aku akan menjaga semuanya. Aku akan menjaga nyanyian ini. Aku akan menjaga tanah ini. Aku akan menjaga... cinta ini."
Pak Harun mengangguk. Ia tersenyum. Senyum yang hangat.
"Bagus," katanya pelan. "Aku percaya padamu."
Mereka duduk diam. Menatap langit. Jingga. Keemasan. Bintang pertama muncul di ujung senja. Kecil. Tapi terang. Di dalam hati Bintang, ada sesuatu yang... tumbuh. Sesuatu yang... seperti harapan.
Malam itu, Bintang duduk di kamarnya. Ia memegang liontin dari ayahnya. Ia membuka liontin itu. Ia membaca surat di dalamnya. Pelan. Dalam hati.
"Bintang, anakku.
Jika kau membaca ini, berarti kau sudah menemukan liontin ini. Berarti kau sudah siap.
Ayah ingin kau tahu: Bintang Terakhir bukan tempat. Bukan juga tujuan. Bintang Terakhir adalah... kau sendiri.
Kau adalah cahaya di ujung senja. Kau adalah harapan di ujung malam. Kau adalah... bintang terakhir.
Jaga nyanyian itu. Jaga tanah itu. Jaga cinta itu.
Dan jangan lupa... ayah selalu bersamamu.
Ayahmu,
Surya."
Bintang menutup liontin itu. Air matanya jatuh. Ia menangis. Ia tidak menyeka. Ia hanya duduk. Diam. Hatinya penuh.
"Ayah," bisiknya. "Aku... aku akan menikah. Aku... aku akan menikah dengan Senja. Aku... aku akan menjaga semuanya."
Tidak ada jawaban. Hanya angin. Hanya ombak. Hanya keheningan.
"Ayah," lanjut Bintang. "Apa... apa Ayah akan datang? Di pernikahanku?"
Tidak ada jawaban. Tapi di dalam hatinya, ada sesuatu yang berbisik:
"Aku akan datang. Di dalam doa. Di dalam cinta. Di dalam... kenangan."
Bintang membuka mata. Ia menatap langit. Gelap. Bintang-bintang bersinar. Terang. Abadi. Ia menghela napas. Ia merasa... tenang. Ia merasa... lengkap. Ia merasa... siap.
"Ayah," bisiknya. "Aku... aku akan menikah. Aku... aku akan bahagia. Aku... aku akan menjaga semuanya."
Ia menutup mata. Ia berdoa. Ia merasa... tenang. Ia merasa... lengkap. Ia merasa... siap.
Di dermaga tua, angin bertiup. Ombak memecah. Bintang-bintang bersinar. Dan di dalam hati Bintang, ada sesuatu yang... bersinar. Sesuatu yang... seperti harapan.
Harapan yang tumbuh dari Senja kembali.
Di ujung senja.
BAB 38
PERCAKAPAN PANJANG
Pagi itu Bintang dan Senja duduk di dermaga tua. Matahari baru muncul. Langit berwarna jingga keemasan. Ombak tenang. Angin bertiup pelan. Mereka membawa kopi. Mereka membawa roti. Mereka membawa... waktu. Waktu untuk bicara. Waktu untuk berbagi. Waktu untuk... saling mengenal.
"Bintang," kata Senja pelan. "Aku... aku ingin bicara."
Bintang menoleh. Ia menatap Senja. Matanya dalam.
"Bicara saja," jawabnya pelan.
Senja menunduk. Ia memegang cangkir kopi. Tangannya gemetar.
"Aku... aku ingin minta maaf," katanya pelan. "Untuk... untuk semuanya."
Bintang menatap Senja lama. Lalu ia meraih tangan perempuan itu. Erat.
"Senja," katanya pelan. "Kau sudah minta maaf. Aku sudah memaafkan. Kita... kita sudah melewati itu."
Senja menatap Bintang. Air matanya jatuh.
"Aku tahu," katanya pelan. "Tapi aku... aku masih merasa bersalah."
"Kenapa?"
Senja menatap laut. Ombak tenang. Angin bertiup. Matahari mulai tinggi. Langit biru. Bersih.
"Karena aku pergi," jawabnya pelan. "Karena aku meninggalkanmu. Karena aku... pengecut."
Bintang menatap Senja. Matanya dalam.
"Senja," katanya pelan. "Kau bukan pengecut. Kau hanya... takut. Dan aku... aku mengerti."
Senja menoleh. Matanya basah.
"Kau... kau tidak marah?"
Bintang menggeleng. "Aku tidak marah. Aku hanya... sedih."
"Sedih?"
Bintang menatap laut. Ombak tenang. Angin bertiup.
"Sedih," jawabnya pelan, "karena kau pergi. Karena kau menderita. Karena kau sendirian."
Senja menatap Bintang. Hatinya berat.
"Bintang," katanya pelan. "Aku... aku tidak akan pergi lagi."
Bintang menoleh. Ia menatap Senja. Matanya dalam.
"Janji?"
Senja mengangguk. "Janji."
Bintang tersenyum. Ia meraih tangan Senja. Erat.
"Baiklah," katanya pelan. "Aku percaya."
Senja tersenyum. Air matanya jatuh. Ia menyandarkan kepala di pundak Bintang. Erat.
"Bintang," katanya pelan. "Aku... aku ingin tahu. Tentang perjalananmu. Tentang pulau terasing. Tentang Mbah Kerto. Tentang... semuanya."
Bintang menatap Senja. Matanya dalam. Lalu ia tersenyum tipis.
"Baiklah," katanya pelan. "Aku akan cerita."
Ia mulai bicara. Tentang badai. Tentang perahu yang terbalik. Tentang terdampar di pulau terasing. Tentang Mbah Kerto. Tentang ajaran melepaskan. Tentang penglihatan. Tentang ayahnya. Tentang Bintang Terakhir. Tentang... semuanya.
Senja mendengarkan. Ia tidak bicara. Ia hanya mendengarkan. Matanya basah. Hatinya penuh.
"Bintang," katanya pelan. "Kau... kau hebat."
Bintang tersenyum. "Aku hanya... berusaha."
Senja menatap Bintang. Matanya dalam.
"Bintang," katanya pelan. "Aku... aku ingin cerita juga."
Bintang menoleh. "Cerita apa?"
Senja menatap laut. Ombak tenang. Angin bertiup.
"Tentang kota," jawabnya pelan. "Tentang hidupku di sana. Tentang... kenapa aku pergi."
Bintang mengangguk. Ia menunggu. Ia mendengarkan.
Senja mulai bicara. Tentang kota. Tentang pekerjaannya. Tentang kesepiannya. Tentang kerinduannya. Tentang malam-malamnya di jendela. Tentang bintang yang tidak muncul. Tentang... semuanya.
"Bintang," katanya pelan. "Aku... aku tidak bahagia di kota. Aku... aku merasa kosong. Aku merasa... hilang."
Bintang menatap Senja. Matanya dalam.
"Kenapa kau tidak pulang?"
Senja menunduk. Air matanya jatuh.
"Karena aku... aku takut," jawabnya pelan. "Aku takut kau tidak mau menerimaku. Aku takut kau sudah melupakanku. Aku takut... aku tidak layak."
Bintang menatap Senja lama. Lalu ia meraih wajah perempuan itu. Pelan. Lembut.
"Senja," katanya pelan. "Kau selalu layak. Kau selalu... dicintai."
Senja menatap Bintang. Air matanya jatuh. Ia memeluk Bintang. Erat. Bintang membalas pelukan itu. Erat. Mereka berdiri di dermaga tua. Berpelukan. Di bawah matahari. Di atas laut. Di ujung senja.
"Bintang," bisik Senja.
"Ya?"
"Aku mencintaimu."
Bintang menutup mata. Ia mencium rambut Senja. Pelan. Lembut.
"Aku juga," bisiknya. "Aku mencintaimu."
Mereka duduk kembali. Tangan bertaut. Menatap laut. Menatap langit. Menatap masa depan. Tidak ada yang bicara. Tapi keheningan itu... sempurna.
Siang itu, Bintang dan Senja berjalan ke rumah Pak Harun. Mereka ingin bicara. Mereka ingin merencanakan. Mereka ingin... mempersiapkan.
Pak Harun duduk di teras. Ia memakai sarung dan baju lengan panjang. Di tangannya, kopi. Ia menatap mereka lama. Matanya hangat.
"Kalian datang," katanya pelan.
Bintang dan Senja duduk di samping Pak Harun. Mereka meletakkan tangan di meja. Erat.
"Pak," kata Bintang pelan. "Kami ingin bicara tentang pernikahan."
Pak Harun mengangguk. "Aku sudah menduga."
Senja menatap Pak Harun. Matanya dalam.
"Pak," katanya pelan. "Apa yang harus kami persiapkan?"
Pak Harun menatap Senja lama. Lalu ia tersenyum. Senyum yang hangat.
"Banyak," jawabnya pelan. "Tapi yang paling penting... kalian harus siap lahir dan batin."
Bintang dan Senja saling menatap. Lalu mereka menoleh pada Pak Harun.
"Lahir dan batin?" tanya Bintang.
Pak Harun mengangguk. Ia menyeruput kopinya. Ia menatap langit. Biru. Bersih.
"Pernikahan," katanya pelan, "bukan hanya tentang dua orang. Pernikahan... tentang dua keluarga. Dua leluhur. Dua... dunia."
Bintang dan Senja diam. Mereka menatap Pak Harun lama. Lalu mereka menunduk.
"Pak," kata Bintang pelan. "Aku... aku tidak punya keluarga. Ibu sudah meninggal. Ayah sudah meninggal."
Pak Harun menatap Bintang. Matanya dalam.
"Kau punya kami," katanya pelan. "Kau punya Dewi. Kau punya Andi. Kau punya... aku. Kami... keluargamu."
Bintang menatap Pak Harun. Air matanya jatuh. Ia menangis. Ia tidak menyeka. Ia hanya duduk. Diam. Hatinya penuh.
"Pak," katanya pelan. "Terima kasih."
Pak Harun mengangguk. Ia meraih tangan Bintang. Erat.
"Bintang," katanya pelan. "Kau cucu yang baik. Surya pasti bangga."
Bintang menatap Pak Harun. Hatinya hangat. Ia meraih tangan lelaki tua itu. Erat.
"Pak," katanya pelan. "Aku... aku akan menjaga semuanya. Aku akan menjaga nyanyian ini. Aku akan menjaga tanah ini. Aku akan menjaga... cinta ini."
Pak Harun mengangguk. Ia tersenyum. Senyum yang hangat.
"Bagus," katanya pelan. "Aku percaya padamu."
Senja menatap Pak Harun. Matanya basah.
"Pak," katanya pelan. "Aku... aku juga tidak punya keluarga. Nenekku sudah meninggal. Orang tuaku... sudah lama pergi."
Pak Harun menatap Senja. Matanya dalam.
"Kau punya kami," katanya pelan. "Kau punya Bintang. Kau punya Dewi. Kau punya Andi. Kau punya... aku. Kami... keluargamu."
Senja menatap Pak Harun. Air matanya jatuh. Ia menangis. Ia tidak menyeka. Ia hanya duduk. Diam. Hatinya penuh.
"Pak," katanya pelan. "Terima kasih."
Pak Harun mengangguk. Ia meraih tangan Senja. Erat.
"Senja," katanya pelan. "Kau cucu yang baik. Rukmi pasti bangga."
Senja menatap Pak Harun. Hatinya hangat. Ia meraih tangan lelaki tua itu. Erat.
"Pak," katanya pelan. "Aku... aku akan menjaga semuanya. Aku akan menjaga nyanyian ini. Aku akan menjaga tanah ini. Aku akan menjaga... cinta ini."
Pak Harun mengangguk. Ia tersenyum. Senyum yang hangat.
"Bagus," katanya pelan. "Aku percaya padamu."
Mereka duduk diam. Menatap langit. Biru. Bersih. Di kejauhan, dermaga tua terlihat. Tempat Bintang dan Senja akan menikah. Tempat mereka akan memulai hidup baru. Tempat mereka akan... bersatu.
"Pak," kata Bintang pelan. "Apa Bapak mau membantu mempersiapkan pernikahan?"
Pak Harun menoleh. Matanya melebar.
"Aku?"
Bintang mengangguk. "Iya. Bapak kan tetua kampung. Bapak yang tahu adat. Bapak yang tahu... semuanya."
Pak Harun tersenyum. Senyum yang lebar. Senyum yang bahagia.
"Aku mau," jawabnya pelan. "Aku mau membantu."
Bintang dan Senja tersenyum. Mereka meraih tangan Pak Harun. Erat.
"Terima kasih, Pak," kata mereka bersamaan.
Pak Harun mengangguk. Ia menyeruput kopinya. Ia menatap langit. Biru. Bersih.
"Bintang. Senja," katanya pelan. "Aku sudah lama menunggu momen ini. Momen ketika kalian... dewasa. Momen ketika kalian... siap."
Bintang dan Senja menatap Pak Harun. Mata mereka dalam.
"Siap untuk apa?" tanya Bintang.
Pak Harun menatap mereka. Matanya hangat.
"Siap untuk menjadi penjaga nyanyian," jawabnya pelan. "Siap untuk menjadi pemimpin. Siap untuk... menjadi bintang terakhir dan senja yang menemani."
Bintang dan Senja diam. Mereka menatap Pak Harun lama. Lalu mereka menunduk. Hati mereka berat. Tapi juga... ringan.
"Pak," kata Bintang pelan. "Kami akan berusaha."
Pak Harun mengangguk. "Aku tahu."
Mereka duduk diam. Menatap langit. Biru. Bersih. Di kejauhan, dermaga tua terlihat. Tempat Bintang dan Senja akan menikah. Tempat mereka akan memulai hidup baru. Tempat mereka akan... bersatu.
Dan di dermaga tua, bintang terakhir menunggu. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi. Ia hanya tahu... cinta itu nyata.
Cinta yang tumbuh dari percakapan panjang.
Di ujung senja.
BAB 39
KONFLIK BARU
Sejak Bintang kembali dan Senja kembali, Tanjung Senja mulai pulih. Warga kembali bercerita. Nelayan kembali melaut. Pasar kembali ramai. Anak-anak kembali bermain di dermaga. Tapi... ada sesuatu yang mengintai. Sesuatu yang tidak terlihat. Sesuatu yang... gelap.
Tuan Wijaya belum pergi. Ia masih di kota. Ia masih menunggu. Ia masih... merencanakan. Dan Pak Darma masih di kampung. Ia masih menebar fitnah. Ia masih... menunggu. Ia masih... bersiap.
Pagi itu, Bintang duduk di teras rumah. Ia memperbaiki jala. Tangannya bekerja, tapi pikirannya melayang. Ia memikirkan pernikahannya. Ia memikirkan Senja. Ia memikirkan... masa depan. Ia tersenyum. Ia merasa... tenang. Ia merasa... lengkap. Ia merasa... siap.
"Bintang!"
Ia menoleh. Andi berlari dari ujung jalan. Ia terengah-engah. Wajahnya pucat. Matanya... panik.
"Andi," kata Bintang. "Ada apa?"
Andi berdiri di depan Bintang. Ia menatap sahabatnya. Matanya basah.
"Bintang," katanya pelan. "Ada... ada masalah."
Bintang berdiri. Ia menatap Andi. Matanya dalam.
"Masalah apa?"
Andi menunduk. Tangannya gemetar.
"Tuan Wijaya," jawabnya pelan. "Ia... ia datang lagi. Ia membawa... tentara. Ia membawa... surat. Ia bilang... tanah ini tanah negara. Ia bilang... ia akan... menggusur."
Bintang terdiam. Hatinya berdebar. Ia menatap Andi lama. Lalu ia mengepal tangan. Rahangnya mengeras.
"Di mana?"
"Di balai kampung," jawab Andi. "Warga... warga sudah berkumpul. Pak Harun... Pak Harun mencoba menenangkan. Tapi... tapi Tuan Wijaya... ia tidak mau mendengar."
Bintang melangkah. Ia berjalan cepat. Ia menuju balai kampung. Andi mengikutinya. Mereka berjalan di jalanan kampung. Warga yang melihat mereka menatap dengan cemas. Ada yang berbisik. Ada yang menangis. Ada yang... berdoa.
Bintang tiba di balai kampung. Warga sudah berkumpul. Mereka duduk bersila. Mereka menunduk. Mereka... takut. Di depan balai, Tuan Wijaya berdiri. Ia memakai jas. Ia tersenyum. Senyum yang... dingin. Di sampingnya, Pak Darma. Ia memakai kemeja batik. Di tangannya, cerutu. Ia tersenyum. Senyum yang... sinis. Di belakang mereka, beberapa lelaki berpakaian rapi. Mereka membawa tas. Mereka membawa... surat.
Pak Harun berdiri di depan warga. Ia memakai baju adat. Wajahnya keras. Matanya tajam. Ia menatap Tuan Wijaya. Ia tidak takut.
"Tuan Wijaya," kata Pak Harun. "Kau tidak punya hak untuk datang ke sini. Kau tidak punya hak untuk mengusir kami."
Tuan Wijaya tersenyum. Ia mengeluarkan selembar kertas dari tasnya. Ia menyerahkannya pada Pak Harun.
"Ini surat dari pemerintah," katanya pelan. "Tanah ini... tanah negara. Kalian... menempati tanah ini tanpa izin. Saya... saya punya izin untuk membangun."
Pak Harun menerima surat itu. Ia membacanya. Wajahnya... pucat. Ia menatap Tuan Wijaya. Matanya basah.
"Ini... ini tidak mungkin," katanya pelan. "Tanah ini... tanah leluhur. Tanah ini... milik kami."
Tuan Wijaya mengangkat bahu. "Maaf, Pak Harun. Tapi hukum... hukum berbicara. Kalian... kalian harus pergi."
Warga diam. Mereka menunduk. Mereka menangis. Mereka... hancur. Bintang berdiri di antara mereka. Ia menatap Tuan Wijaya. Ia menatap Pak Darma. Ia menatap... surat. Ia menghela napas. Ia melangkah maju. Ia berdiri di samping Pak Harun.
"Tuan Wijaya," katanya pelan. "Saya Bintang. Anak Surya."
Tuan Wijaya menoleh. Ia menatap Bintang. Matanya... menyipit.
"Oh," katanya pelan. "Kau anak Surya. Orang yang... keras kepala itu."
Bintang menatap Tuan Wijaya. Matanya dingin.
"Ayah saya," katanya pelan, "bukan orang keras kepala. Ia orang yang... benar."
Tuan Wijaya tersenyum. Senyum yang... dingin.
"Benar?" katanya pelan. "Ayahmu... ia mati karena keras kepala. Ia mati karena... tidak mau mendengar. Kau... kau mau seperti dia?"
Bintang mengepal tangan. Rahangnya mengeras.
"Jangan bawa-bawa ayah saya," katanya pelan. "Kau tidak tahu apa-apa."
Tuan Wijaya mengangkat tangan. "Oh, saya tahu. Saya tahu banyak. Saya tahu... ayahmu dibunuh. Saya tahu... Darma yang menyuruh. Saya tahu... semuanya."
Bintang terdiam. Hatinya berdebar. Ia menatap Tuan Wijaya lama. Lalu ia menoleh pada Pak Darma. Pak Darma tersenyum. Senyum yang... sinis.
"Jadi... jadi kau tahu?" kata Bintang pelan.
Tuan Wijaya mengangguk. "Iya. Saya tahu. Tapi... saya tidak peduli. Yang penting... tanah ini. Yang penting... proyek ini. Yang penting... uang."
Bintang menatap Tuan Wijaya. Matanya... basah. Ia menatap warga. Ia menatap Pak Harun. Ia menatap Andi. Ia menatap... Senja. Senja berdiri di antara warga. Ia menatap Bintang. Matanya... basah. Ia mengangguk. Pelan. Lembut.
Bintang menghela napas. Ia menatap Tuan Wijaya. Matanya... tenang. Ia tersenyum. Senyum yang... dingin.
"Tuan Wijaya," katanya pelan. "Kau boleh bawa surat. Kau boleh bawa tentara. Kau boleh bawa... apa saja. Tapi... tanah ini... tanah leluhur. Tanah ini... milik kami. Dan kami... tidak akan pergi."
Tuan Wijaya terdiam. Ia menatap Bintang lama. Lalu ia tertawa. Tawa yang... keras. Tawa yang... dingin.
"Kau ini... bodoh," katanya pelan. "Kau ini... sama seperti ayahmu. Kau ini... akan mati seperti ayahmu."
Bintang menatap Tuan Wijaya. Matanya... tenang. Ia tersenyum. Senyum yang... tenang.
"Mungkin," katanya pelan. "Tapi... aku tidak takut. Karena... aku adalah bintang terakhir. Dan bintang terakhir... tidak pernah padam."
Tuan Wijaya terdiam. Ia menatap Bintang lama. Lalu ia menoleh pada Pak Darma. Pak Darma mengangkat bahu. Tuan Wijaya menghela napas. Ia melipat surat. Ia memasukkannya ke dalam tas.
"Baiklah," katanya pelan. "Kalian punya waktu... satu minggu. Kalau kalian tidak pergi... kami... akan menggusur."
Ia berbalik. Ia berjalan pergi. Pak Darma mengikutinya. Lelaki-lelaki berpakaian rapi mengikuti mereka. Mereka masuk ke mobil. Mobil hitam itu pergi. Balai kampung... hening. Warga... diam. Mereka menatap Bintang. Mata mereka... basah. Hati mereka... penuh.
Pak Harun menatap Bintang. Matanya... basah. Ia tersenyum. Senyum yang... hangat.
"Bintang," katanya pelan. "Kau... kau hebat."
Bintang menoleh. Ia menatap Pak Harun. Matanya... basah.
"Pak," katanya pelan. "Aku... aku hanya bicara."
Pak Harun menggeleng. "Kau bukan hanya bicara. Kau... kau memimpin. Kau... kau menjadi bintang terakhir."
Bintang menatap Pak Harun. Hatinya... hangat. Ia mengangguk. Ia menatap warga. Ia menatap Senja. Ia menatap Andi. Ia menatap... semuanya.
"Warga sekalian," katanya pelan. "Kita... kita tidak akan pergi. Kita... kita akan bertahan. Kita... kita akan berjuang. Bersama."
Warga mengangguk. Mereka berdiri. Mereka menatap Bintang. Mata mereka... basah. Hati mereka... penuh. Mereka... bersatu.
Malam itu, Bintang duduk di dermaga tua. Ia menatap laut. Ombak tenang. Angin bertiup. Bulan sabit menggantung di ujung langit. Bintang-bintang bersinar. Terang. Abadi. Ia memegang liontin dari ayahnya. Ia membuka liontin itu. Ia membaca surat di dalamnya. Pelan. Dalam hati.
"Bintang, anakku.
Jika kau membaca ini, berarti kau sudah menemukan liontin ini. Berarti kau sudah siap.
Ayah ingin kau tahu: Bintang Terakhir bukan tempat. Bukan juga tujuan. Bintang Terakhir adalah... kau sendiri.
Kau adalah cahaya di ujung senja. Kau adalah harapan di ujung malam. Kau adalah... bintang terakhir.
Jaga nyanyian itu. Jaga tanah itu. Jaga cinta itu.
Dan jangan lupa... ayah selalu bersamamu.
Ayahmu,
Surya."
Bintang menutup liontin itu. Air matanya jatuh. Ia menangis. Ia tidak menyeka. Ia hanya duduk. Diam. Hatinya penuh.
"Ayah," bisiknya. "Aku... aku akan bertahan. Aku... aku akan berjuang. Aku... aku akan menjaga semuanya."
Tidak ada jawaban. Hanya angin. Hanya ombak. Hanya keheningan.
"Ayah," lanjut Bintang. "Apa... apa yang harus aku lakukan?"
Tidak ada jawaban. Tapi di dalam hatinya, ada sesuatu yang berbisik:
"Bertahan. Berjuang. Jangan takut. Aku bersamamu."
Bintang membuka mata. Ia menatap langit. Bintang-bintang bersinar. Terang. Abadi. Ia menghela napas. Ia merasa... tenang. Ia merasa... lengkap. Ia merasa... siap.
"Senja," bisiknya. "Aku... aku akan bertahan. Aku... aku akan berjuang. Aku... aku akan menjaga semuanya."
Ia menutup mata. Ia berdoa. Ia merasa... tenang. Ia merasa... lengkap. Ia merasa... siap.
Di dermaga tua, angin bertiup. Ombak memecah. Bintang-bintang bersinar. Dan di dalam hati Bintang, ada sesuatu yang... bersinar. Sesuatu yang... seperti harapan.
Harapan yang tumbuh dari konflik baru.
Di ujung senja.
BAB 40
PERSAHABATAN YANG KEMBALI
Sejak pertemuan di balai kampung, Tanjung Senja kembali diliputi ketegangan. Warga mulai bersiap. Ada yang mengemasi barang. Ada yang menyembunyikan surat tanah. Ada yang berjaga di dermaga. Ada yang... berdoa. Mereka tidak tahu apa yang akan terjadi. Mereka hanya tahu... mereka harus bertahan.
Bintang berdiri di teras rumah. Ia menatap langit. Biru. Bersih. Matahari bersinar. Tapi di dalam hatinya... gelisah. Ia memikirkan Tuan Wijaya. Ia memikirkan Pak Darma. Ia memikirkan... surat penggusuran. Ia menghela napas. Ia merasa... berat.
"Bintang."
Ia menoleh. Andi berdiri di ambang pintu. Ia memakai kemeja lusuh. Rambutnya kusut. Wajahnya... pucat. Di tangannya, sebuah tas. Kecil.
"Andi," kata Bintang. "Kau kenapa?"
Andi masuk. Ia duduk di kursi kayu. Ia meletakkan tasnya di meja. Ia menatap Bintang. Matanya... basah.
"Bintang," katanya pelan. "Aku... aku harus pergi."
Bintang terdiam. Hatinya berdebar. Ia menatap Andi lama. Lalu ia menunduk. Ia tidak bicara.
"Andi," katanya pelan. "Kenapa?"
Andi menunduk. Tangannya gemetar.
"Karena aku... aku pengecut," jawabnya pelan. "Karena aku... aku takut. Karena aku... aku tidak bisa."
Bintang menatap Andi. Matanya dalam. Ada sesuatu di mata sahabatnya—rasa bersalah. Ketakutan. Malu.
"Andi," kata Bintang pelan. "Kau... kau tidak pengecut."
Andi mengangkat kepala. Air matanya jatuh.
"Aku pengecut," katanya pelan. "Aku pernah mengkhianatimu. Aku pernah bekerja untuk Tuan Wijaya. Aku pernah... melupakan persahabatan kita. Dan sekarang... sekarang aku... aku mau pergi lagi."
Bintang menatap Andi lama. Lalu ia berdiri. Ia berjalan mendekat. Ia berlutut di samping kursi Andi. Ia meraih tangan sahabatnya. Erat.
"Andi," katanya pelan. "Kau bukan pengecut. Kau hanya... manusia. Kau pernah salah. Aku sudah memaafkan. Kita... sahabat."
Andi menatap Bintang. Air matanya jatuh. Ia menangis. Ia tidak menyeka. Ia hanya duduk. Diam. Hatinya... penuh.
"Bintang," katanya pelan. "Aku... aku tidak layak jadi sahabatmu."
Bintang menatap Andi. Matanya dalam.
"Andi," katanya pelan. "Kau layak. Kau selalu layak. Kau... kau adalah sahabatku. Sejak kecil. Sejak kita bermain di dermaga. Sejak kita belajar melaut. Sejak... segalanya."
Andi menatap Bintang. Air matanya jatuh. Ia memeluk Bintang. Erat. Bintang membalas pelukan itu. Erat. Mereka duduk diam. Berpelukan. Di teras rumah. Di bawah matahari. Di ujung senja.
"Andi," kata Bintang pelan. "Kau tidak perlu pergi. Kau... kau harus tinggal. Kita... kita harus bersama. Kita... kita harus bertahan."
Andi menatap Bintang. Matanya basah.
"Bintang," katanya pelan. "Aku... aku takut."
"Aku juga," kata Bintang pelan. "Tapi kita... kita tidak boleh menyerah. Kita... kita harus berjuang. Bersama."
Andi menatap Bintang. Hatinya... hangat. Ia mengangguk. Ia meraih tangan Bintang. Erat.
"Baiklah," katanya pelan. "Aku... aku tinggal. Aku... aku bersamamu."
Bintang tersenyum. Ia meraih pundak Andi. Erat.
"Terima kasih, Andi," katanya pelan. "Terima kasih."
Andi tersenyum. Air matanya jatuh. Ia menutup mata. Ia merasa... tenang. Ia merasa... lengkap. Ia merasa... siap.
Sore itu, Bintang dan Andi duduk di dermaga tua. Mereka menatap laut. Ombak tenang. Angin bertiup. Matahari mulai tenggelam. Langit berwarna jingga keemasan. Bintang pertama muncul di ujung senja. Kecil. Tapi terang.
"Bintang," kata Andi pelan. "Aku... aku ingin minta maaf."
Bintang menoleh. Ia menatap Andi. Matanya dalam.
"Untuk apa?"
Andi menunduk. Tangannya gemetar.
"Untuk... untuk semuanya," jawabnya pelan. "Untuk... pengkhianatanku. Untuk... kepergianku. Untuk... ketakutanku."
Bintang menatap Andi lama. Lalu ia tersenyum tipis.
"Andi," katanya pelan. "Aku sudah memaafkan. Kau... kau tidak perlu minta maaf lagi."
Andi menatap Bintang. Air matanya jatuh.
"Tapi... tapi aku masih merasa bersalah."
Bintang menatap Andi. Matanya dalam.
"Andi," katanya pelan. "Kau tahu? Aku juga pernah salah. Aku pernah... meninggalkanmu. Aku pernah... pergi ke kota. Aku pernah... melupakanmu."
Andi menatap Bintang. Matanya melebar.
"Kau... kau tidak pernah melupakanku."
Bintang tersenyum. "Aku pernah. Waktu aku di pulau terasing. Waktu aku di kota. Aku... aku terlalu sibuk dengan diriku sendiri. Aku... aku lupa kau."
Andi menatap Bintang. Air matanya jatuh. Ia menggeleng.
"Tidak," katanya pelan. "Kau tidak pernah lupa. Kau... kau selalu mengingatku. Kau... kau selalu mencariku."
Bintang menatap Andi lama. Lalu ia meraih pundak sahabatnya. Erat.
"Andi," katanya pelan. "Kita... kita sama. Kita... kita manusia. Kita... kita pernah salah. Tapi... kita... kita saling memaafkan. Kita... kita sahabat."
Andi menatap Bintang. Hatinya... hangat. Ia mengangguk. Ia meraih tangan Bintang. Erat.
"Iya," katanya pelan. "Kita... kita sahabat."
Mereka duduk diam. Menatap laut. Menatap langit. Menatap masa depan. Tidak ada yang bicara. Tapi keheningan itu... sempurna.
"Bintang," kata Andi pelan. "Apa... apa yang harus kita lakukan?"
Bintang menoleh. Ia menatap Andi. Matanya dalam.
"Kita bertahan," jawabnya pelan. "Kita berjuang. Kita... menjaga semuanya."
Andi mengangguk. Ia menatap laut. Ombak tenang. Angin bertiup. Matahari tenggelam. Langit berwarna merah keunguan. Bintang pertama bersinar. Terang.
"Bintang," katanya pelan. "Aku... aku bersamamu. Selamanya."
Bintang menatap Andi. Hatinya... hangat.
"Aku juga," katanya pelan. "Aku bersamamu. Selamanya."
Mereka duduk diam. Menatap laut. Menatap langit. Menatap masa depan. Tidak ada yang bicara. Tapi keheningan itu... sempurna.
Malam itu, Bintang duduk di kamarnya. Ia memegang liontin dari ayahnya. Ia membuka liontin itu. Ia membaca surat di dalamnya. Pelan. Dalam hati.
"Bintang, anakku.
Jika kau membaca ini, berarti kau sudah menemukan liontin ini. Berarti kau sudah siap.
Ayah ingin kau tahu: Bintang Terakhir bukan tempat. Bukan juga tujuan. Bintang Terakhir adalah... kau sendiri.
Kau adalah cahaya di ujung senja. Kau adalah harapan di ujung malam. Kau adalah... bintang terakhir.
Jaga nyanyian itu. Jaga tanah itu. Jaga cinta itu.
Dan jangan lupa... ayah selalu bersamamu.
Ayahmu,
Surya."
Bintang menutup liontin itu. Air matanya jatuh. Ia menangis. Ia tidak menyeka. Ia hanya duduk. Diam. Hatinya penuh.
"Ayah," bisiknya. "Aku... aku akan bertahan. Aku... aku akan berjuang. Aku... aku akan menjaga semuanya."
Tidak ada jawaban. Hanya angin. Hanya ombak. Hanya keheningan.
"Ayah," lanjut Bintang. "Apa... apa yang harus aku lakukan?"
Tidak ada jawaban. Tapi di dalam hatinya, ada sesuatu yang berbisik:
"Bertahan. Berjuang. Jangan takut. Aku bersamamu."
Bintang membuka mata. Ia menatap langit. Gelap. Bintang-bintang bersinar. Terang. Abadi. Ia menghela napas. Ia merasa... tenang. Ia merasa... lengkap. Ia merasa... siap.
"Senja," bisiknya. "Aku... aku akan bertahan. Aku... aku akan berjuang. Aku... aku akan menjaga semuanya."
Ia menutup mata. Ia berdoa. Ia merasa... tenang. Ia merasa... lengkap. Ia merasa... siap.
Di dermaga tua, angin bertiup. Ombak memecah. Bintang-bintang bersinar. Dan di dalam hati Bintang, ada sesuatu yang... bersinar. Sesuatu yang... seperti harapan.
Harapan yang tumbuh dari persahabatan yang kembali.
Di ujung senja.
BAB 41
UPACARA TERAKHIR PAK HARUN
Pagi itu langit berwarna kelabu. Tidak ada matahari. Tidak ada bintang. Hanya awan tipis yang bergerak pelan. Angin bertiup lembut. Ombak tenang. Laut... tenang. Seperti ikut berduka.
Bintang berdiri di teras rumah Pak Harun. Ia memakai baju putih. Rambutnya disisir rapi. Di lengannya, kain dari Ratna. Di lehernya, liontin dari Surya. Ia menatap pintu rumah. Pintu itu... tertutup. Tidak ada suara. Tidak ada gerakan. Tidak ada... apa-apa.
"Bintang."
Ia menoleh. Dewi berdiri di sampingnya. Ia memakai kebaya hitam. Rambutnya diikat. Matanya... basah. Di belakangnya, Senja. Ia memakai kebaya hitam. Rambutnya terurai. Matanya... basah. Di samping Senja, Andi. Ia memakai baju putih. Rambutnya disisir. Matanya... basah.
"Bintang," kata Dewi pelan. "Pak Harun... Pak Harun sudah tidak ada."
Bintang terdiam. Hatinya berdebar. Ia menatap Dewi lama. Lalu ia menunduk. Ia tidak bicara. Ia hanya menatap tanah. Diam. Hatinya... hancur.
"Kapan?" tanya Bintang pelan.
Dewi menunduk. Air matanya jatuh.
"Semalam," jawabnya pelan. "Ia... ia meninggal dalam tidurnya. Ia... ia tidak sakit. Ia... ia hanya... pergi."
Bintang menutup mata. Air matanya jatuh. Ia menangis. Ia tidak menyeka. Ia hanya duduk. Diam. Hatinya... penuh.
"Bintang," kata Senja pelan. "Aku... aku ikut prihatin."
Bintang menoleh. Ia menatap Senja. Matanya basah.
"Senja," katanya pelan. "Aku... aku kehilangan dia. Aku... aku kehilangan Pak Harun."
Senja berjalan mendekat. Ia meraih tangan Bintang. Erat.
"Bintang," katanya pelan. "Kau tidak sendiri. Kami... kami bersamamu."
Bintang menatap Senja. Air matanya jatuh. Ia memeluk perempuan itu. Erat. Senja membalas pelukan itu. Erat. Mereka berdiri diam. Berpelukan. Di teras rumah Pak Harun. Di bawah langit kelabu. Di ujung senja.
Upacara pemakaman Pak Harun digelar siang itu. Warga Tanjung Senja berkumpul. Mereka datang sejak pagi. Lelaki memakai baju putih. Perempuan memakai kebaya hitam. Anak-anak diam. Tidak ada yang berlari. Tidak ada yang tertawa. Hanya keheningan. Hanya doa. Hanya... kesedihan.
Jenazah Pak Harun dimandikan. Dikafani. Didoakan. Bintang duduk di samping jenazah. Ia memegang tangan lelaki tua itu. Erat. Tangannya... dingin. Tapi hatinya... hangat. Ia menatap wajah Pak Harun. Wajah yang tenang. Wajah yang damai. Wajah yang... bahagia.
"Pak," bisiknya. "Selamat jalan."
Warga mengikuti doa. Mereka menunduk. Mereka menangis. Mereka... berdoa. Bintang menunduk. Air matanya jatuh. Ia tidak menyeka. Ia hanya duduk. Diam. Hatinya... penuh.
Setelah doa, jenazah Pak Harun dibawa ke pemakaman. Warga mengikuti. Mereka berjalan pelan. Mereka membawa jenazah. Mereka membawa doa. Mereka membawa... cinta.
Bintang berjalan di depan. Ia memegang tali jenazah. Ia menatap jalan. Jalan yang ia lalui sejak kecil. Jalan yang ia lalui bersama Pak Harun. Jalan yang... penuh kenangan.
Ia mengingat Pak Harun. Senyumnya. Matanya. Suaranya. Ia mengingat Pak Harun mengajarinya nyanyian. Ia mengingat Pak Harun menceritakan ayahnya. Ia mengingat Pak Harun... menyemangatinya. Ia mengingat... semuanya.
Air matanya jatuh. Ia tidak menyeka. Ia hanya berjalan. Pelan. Lembut. Seperti orang yang sedang mengantar kepergian.
Pemakaman Tanjung Senja berada di atas bukit. Di bawah pohon beringin tua. Di sana, ada batu nisan. Ada bunga. Ada doa. Ada... keabadian.
Jenazah Pak Harun dimasukkan ke liang lahat. Warga menaburkan bunga. Warga menaburkan doa. Warga menaburkan... cinta. Bintang berdiri di samping liang lahat. Ia memegang segenggam tanah. Ia menatap liang itu. Ia menatap jenazah Pak Harun. Ia menatap... kepergian.
"Pak," bisiknya. "Selamat jalan."
Ia menaburkan tanah. Pelan. Lembut. Tanah itu jatuh ke liang. Menutupi jenazah. Menutupi... segalanya.
Dewi menangis. Ia memeluk Bintang. Erat. Bintang membalas pelukan itu. Erat. Mereka duduk diam. Berpelukan. Di samping makam Pak Harun. Di bawah pohon beringin. Di bawah langit kelabu. Di ujung senja.
"Kak," bisik Dewi. "Pak Harun... Pak Harun sudah tidak ada."
Bintang menutup mata. Air matanya jatuh.
"Iya," bisiknya. "Pak Harun sudah tidak ada. Tapi... ia selalu ada di hati kita."
Dewi menangis. Ia tidak menyeka. Ia hanya duduk. Diam.
Senja datang. Ia meletakkan karangan bunga di atas makam. Ia menatap Bintang lama. Matanya basah.
"Bintang," katanya pelan. "Kau harus kuat."
Bintang menoleh. Ia menatap Senja. Matanya dalam.
"Aku akan kuat," jawabnya pelan. "Aku akan kuat."
Senja mengangguk. Ia meraih tangan Bintang. Erat.
"Bintang," katanya pelan. "Pak Harun... ia bilang sesuatu padaku. Sebelum ia meninggal."
Bintang menoleh. Matanya melebar.
"Apa?"
Senja menatap Bintang. Matanya dalam.
"Ia bilang... ia bilang kau adalah bintang terakhir. Ia bilang... kau harus menjaga nyanyian itu. Ia bilang... kau harus menjaga tanah itu. Ia bilang... kau harus menjaga cinta itu."
Bintang menatap Senja. Air matanya jatuh. Ia menangis. Ia tidak menyeka. Ia hanya duduk. Diam. Hatinya... penuh.
"Pak," bisiknya. "Aku... aku akan menjaga semuanya. Aku... aku berjanji."
Malam itu, Bintang duduk di dermaga tua. Ia menatap laut. Ombak tenang. Angin bertiup. Bulan sabit menggantung di ujung langit. Bintang-bintang bersinar. Terang. Abadi. Ia memegang liontin dari ayahnya. Ia membuka liontin itu. Ia membaca surat di dalamnya. Pelan. Dalam hati.
"Bintang, anakku.
Jika kau membaca ini, berarti kau sudah menemukan liontin ini. Berarti kau sudah siap.
Ayah ingin kau tahu: Bintang Terakhir bukan tempat. Bukan juga tujuan. Bintang Terakhir adalah... kau sendiri.
Kau adalah cahaya di ujung senja. Kau adalah harapan di ujung malam. Kau adalah... bintang terakhir.
Jaga nyanyian itu. Jaga tanah itu. Jaga cinta itu.
Dan jangan lupa... ayah selalu bersamamu.
Ayahmu,
Surya."
Bintang menutup liontin itu. Air matanya jatuh. Ia menangis. Ia tidak menyeka. Ia hanya duduk. Diam. Hatinya penuh.
"Ayah," bisiknya. "Pak Harun... Pak Harun sudah pergi. Ia... ia sudah ketemu Ayah."
Tidak ada jawaban. Hanya angin. Hanya ombak. Hanya keheningan.
"Ayah," lanjut Bintang. "Aku... aku akan menjaga semuanya. Aku... aku akan menjaga nyanyian itu. Aku... aku akan menjaga tanah itu. Aku... aku akan menjaga cinta itu."
Tidak ada jawaban. Tapi di dalam hatinya, ada sesuatu yang berbisik:
"Aku tahu. Aku percaya. Jangan takut. Aku bersamamu."
Bintang membuka mata. Ia menatap langit. Bintang-bintang bersinar. Terang. Abadi. Ia menghela napas. Ia merasa... tenang. Ia merasa... lengkap. Ia merasa... siap.
"Pak Harun," bisiknya. "Aku... aku akan menjaga semuanya. Aku... aku akan menjadi bintang terakhir."
Ia menutup mata. Ia berdoa. Ia merasa... tenang. Ia merasa... lengkap. Ia merasa... siap.
Di dermaga tua, angin bertiup. Ombak memecah. Bintang-bintang bersinar. Dan di dalam hati Bintang, ada sesuatu yang... bersinar. Sesuatu yang... seperti harapan.
Harapan yang tumbuh dari upacara terakhir Pak Harun.
Di ujung senja.
BAB 42
PENGKHIANATAN RUDI
Sejak pemakaman Pak Harun, Tanjung Senja diliputi kesedihan. Warga berjalan dengan wajah muram. Anak-anak tidak berlarian. Perempuan-perempuan tidak bernyanyi. Lelaki-lelaki tidak bercerita. Hanya keheningan. Hanya doa. Hanya... duka. Tapi di balik duka itu, ada sesuatu yang... mengintai. Sesuatu yang... gelap. Sesuatu yang... berbahaya.
Pagi itu, Bintang duduk di teras rumah. Ia memegang liontin dari ayahnya. Ia menatap langit. Kelabu. Awan tipis. Angin bertiup. Ombak tenang. Ia menghela napas. Ia merasa... berat. Ia merasa... lelah. Ia merasa... rindu.
"Bintang!"
Ia menoleh. Andi berlari dari ujung jalan. Ia terengah-engah. Wajahnya pucat. Matanya... panik.
"Andi," kata Bintang. "Ada apa?"
Andi berdiri di depan Bintang. Ia menatap sahabatnya. Matanya basah.
"Bintang," katanya pelan. "Ada... ada masalah."
Bintang berdiri. Ia menatap Andi. Matanya dalam.
"Masalah apa?"
Andi menunduk. Tangannya gemetar.
"Rudi," jawabnya pelan. "Rudi... Rudi menjual tanah."
Bintang terdiam. Hatinya berdebar. Ia menatap Andi lama. Lalu ia mengepal tangan. Rahangnya mengeras.
"Apa maksudmu?"
Andi mengangkat kepala. Air matanya jatuh.
"Rudi... Rudi bekerja sama dengan Tuan Wijaya," jawabnya pelan. "Ia... ia memalsukan surat. Ia... ia menjual tanah adat. Ia... ia mengkhianati kampung ini."
Bintang menatap Andi. Matanya... dingin. Ia melangkah. Ia berjalan cepat. Ia menuju balai kampung. Andi mengikutinya. Mereka berjalan di jalanan kampung. Warga yang melihat mereka menatap dengan cemas. Ada yang berbisik. Ada yang menangis. Ada yang... berdoa.
Bintang tiba di balai kampung. Warga sudah berkumpul. Mereka duduk bersila. Mereka menunduk. Mereka... takut. Di depan balai, Rudi berdiri. Ia memakai kemeja rapi. Rambutnya disisir. Ia tersenyum. Senyum yang... dingin. Di sampingnya, Pak Darma. Ia memakai kemeja batik. Di tangannya, cerutu. Ia tersenyum. Senyum yang... sinis. Di belakang mereka, beberapa lelaki berpakaian rapi. Mereka membawa tas. Mereka membawa... surat.
Bintang berdiri di depan warga. Ia memakai baju putih. Rambutnya disisir. Di lengannya, kain dari Ratna. Di lehernya, liontin dari Surya. Ia menatap Rudi. Matanya... tenang. Tapi di dalamnya... ada api. Api yang... menyala.
"Rudi," kata Bintang pelan. "Apa ini?"
Rudi tersenyum. Ia mengeluarkan selembar kertas dari tasnya. Ia menyerahkannya pada Bintang.
"Ini surat jual beli," katanya pelan. "Tanah adat... sudah dijual. Kepada Tuan Wijaya. Dengan harga... yang sangat tinggi."
Bintang menerima surat itu. Ia membacanya. Wajahnya... pucat. Ia menatap Rudi. Matanya... basah.
"Kau... kau menjual tanah ini?"
Rudi mengangguk. "Iya. Aku menjual. Aku... aku berhak. Aku... aku warga kampung ini. Aku... aku punya hak."
Bintang menatap Rudi. Matanya... dingin.
"Kau tidak punya hak," katanya pelan. "Tanah ini... tanah adat. Tanah ini... milik kami. Tanah ini... tidak bisa dijual."
Rudi tertawa. Tawa yang... keras. Tawa yang... dingin.
"Tanah adat?" katanya pelan. "Bintang, kau hidup di zaman apa? Tanah adat tidak bisa dimakan. Tanah adat tidak bisa dipakai. Tanah adat... hanya tanah."
Bintang mengepal tangan. Rahangnya mengeras.
"Tanah ini bukan sekadar tanah," katanya pelan. "Tanah ini adalah darah. Tanah ini adalah doa. Tanah ini adalah... hidup kami."
Rudi mengangkat tangan. "Ah, kau ini sama seperti ayahmu. Kepala batu."
Bintang melangkah maju. Ia berdiri di depan Rudi. Wajah mereka berhadapan.
"Ayah saya," katanya pelan, "adalah orang yang menjaga tanah ini sampai akhir. Ia mati karena tanah ini. Dan saya tidak akan membiarkan kematiannya sia-sia."
Rudi terdiam. Wajahnya... pucat. Ia mundur selangkah.
"Apa maksudmu?"
Bintang menatap Rudi lama. Lalu ia tersenyum tipis. Senyum yang... dingin.
"Kau tahu maksudku," katanya pelan.
Rudi menelan ludah. Ia menoleh pada Pak Darma. Pak Darma mengangkat bahu. Rudi menghela napas. Ia menatap Bintang. Matanya... tajam.
"Bintang," katanya pelan. "Kau boleh bicara apa saja. Tapi... surat ini... sah. Tanah ini... sudah dijual. Kalian... kalian harus pergi."
Bintang menatap Rudi. Matanya... tenang. Ia tersenyum. Senyum yang... tenang.
"Rudi," katanya pelan. "Kau boleh bawa surat. Kau boleh bawa tentara. Kau boleh bawa... apa saja. Tapi... tanah ini... tanah leluhur. Tanah ini... milik kami. Dan kami... tidak akan pergi."
Rudi terdiam. Ia menatap Bintang lama. Lalu ia menoleh pada Pak Darma. Pak Darma mengangguk. Rudi menghela napas. Ia melipat surat. Ia memasukkannya ke dalam tas.
"Baiklah," katanya pelan. "Kalian punya waktu... tiga hari. Kalau kalian tidak pergi... kami... akan menggusur."
Ia berbalik. Ia berjalan pergi. Pak Darma mengikutinya. Lelaki-lelaki berpakaian rapi mengikuti mereka. Mereka masuk ke mobil. Mobil hitam itu pergi. Balai kampung... hening. Warga... diam. Mereka menatap Bintang. Mata mereka... basah. Hati mereka... penuh.
Bintang menatap warga. Ia menghela napas. Ia tersenyum. Senyum yang... hangat.
"Warga sekalian," katanya pelan. "Kita... kita tidak akan pergi. Kita... kita akan bertahan. Kita... kita akan berjuang. Bersama."
Warga mengangguk. Mereka berdiri. Mereka menatap Bintang. Mata mereka... basah. Hati mereka... penuh. Mereka... bersatu.
Malam itu, Bintang duduk di dermaga tua. Ia menatap laut. Ombak tenang. Angin bertiup. Bulan sabit menggantung di ujung langit. Bintang-bintang bersinar. Terang. Abadi. Ia memegang liontin dari ayahnya. Ia membuka liontin itu. Ia membaca surat di dalamnya. Pelan. Dalam hati.
"Bintang, anakku.
Jika kau membaca ini, berarti kau sudah menemukan liontin ini. Berarti kau sudah siap.
Ayah ingin kau tahu: Bintang Terakhir bukan tempat. Bukan juga tujuan. Bintang Terakhir adalah... kau sendiri.
Kau adalah cahaya di ujung senja. Kau adalah harapan di ujung malam. Kau adalah... bintang terakhir.
Jaga nyanyian itu. Jaga tanah itu. Jaga cinta itu.
Dan jangan lupa... ayah selalu bersamamu.
Ayahmu,
Surya."
Bintang menutup liontin itu. Air matanya jatuh. Ia menangis. Ia tidak menyeka. Ia hanya duduk. Diam. Hatinya penuh.
"Ayah," bisiknya. "Rudi... Rudi mengkhianati kami. Ia... ia menjual tanah ini. Ia... ia bekerja sama dengan Tuan Wijaya."
Tidak ada jawaban. Hanya angin. Hanya ombak. Hanya keheningan.
"Ayah," lanjut Bintang. "Apa... apa yang harus aku lakukan?"
Tidak ada jawaban. Tapi di dalam hatinya, ada sesuatu yang berbisik:
"Bertahan. Berjuang. Jangan takut. Aku bersamamu."
Bintang membuka mata. Ia menatap langit. Bintang-bintang bersinar. Terang. Abadi. Ia menghela napas. Ia merasa... tenang. Ia merasa... lengkap. Ia merasa... siap.
"Rudi," bisiknya. "Kau... kau mengkhianati kami. Tapi... aku... aku tidak akan membalas. Aku... aku akan bertahan. Aku... aku akan berjuang. Aku... aku akan menjaga semuanya."
Ia menutup mata. Ia berdoa. Ia merasa... tenang. Ia merasa... lengkap. Ia merasa... siap.
Di dermaga tua, angin bertiup. Ombak memecah. Bintang-bintang bersinar. Dan di dalam hati Bintang, ada sesuatu yang... bersinar. Sesuatu yang... seperti harapan.
Harapan yang tumbuh dari pengkhianatan Rudi.
Di ujung senja.
BAB 43
RAPAT BESAR
Tiga hari setelah pengkhianatan Rudi, Tanjung Senja diliputi ketegangan. Warga tidak tidur nyenyak. Mereka berjaga bergiliran. Mereka menyembunyikan surat-surat tanah. Mereka mengumpulkan bukti. Mereka... bersiap. Mereka tidak tahu apa yang akan terjadi. Mereka hanya tahu... mereka harus bertahan.
Malam itu, balai kampung penuh. Warga berkumpul. Mereka duduk bersila di atas tikar pandan. Mereka menunggu. Mereka berbisik. Mereka... gelisah. Di depan balai, sebuah meja panjang didirikan. Di belakang meja, Bintang duduk. Ia memakai baju putih. Rambutnya disisir rapi. Di lengannya, kain dari Ratna. Di lehernya, liontin dari Surya. Di sampingnya, Senja. Ia memakai kebaya sederhana. Rambutnya diikat. Di tangannya, buku catatan. Di belakang mereka, Andi. Ia memakai baju putih. Rambutnya disisir. Matanya... tajam. Di samping Andi, Dewi. Ia memakai kebaya sederhana. Rambutnya diikat. Matanya... basah.
Bintang berdiri. Ia menatap warga. Ratusan mata menatapnya. Ia menghela napas. Ia menutup mata. Ia mengingat ayahnya. Ia mengingat Pak Harun. Ia mengingat... semuanya. Lalu ia bicara.
"Warga sekalian," katanya pelan. "Kita berkumpul di sini untuk membicarakan... pengkhianatan Rudi. Kita berkumpul di sini untuk memutuskan... masa depan kampung ini."
Warga diam. Mereka menunggu.
"Saya tidak akan bicara panjang," lanjut Bintang. "Saya hanya ingin mengingatkan: tanah ini tanah leluhur. Tanah ini diwariskan turun-temurun. Tanah ini... bukan milik kita. Tanah ini milik anak cucu kita."
Warga mengangguk. Ada yang berbisik.
"Tapi," lanjut Bintang, "saya juga tidak akan memaksa. Saya tidak akan melarang. Saya hanya ingin kalian berpikir. Berpikir dengan hati. Berpikir dengan akal. Berpikir... dengan cinta."
Ia duduk. Ia menatap Senja. Senja mengangguk. Ia berdiri. Ia membuka buku catatannya. Ia menatap warga.
"Warga sekalian," kata Senja pelan. "Saya sudah mencari data. Saya sudah mencari bukti. Saya sudah mencari... kebenaran."
Ia membuka halaman demi halaman. Ia menunjukkan peta. Ia menunjukkan surat. Ia menunjukkan... segalanya.
"Tanah ini," lanjut Senja, "adalah tanah adat. Tanah ini tidak bisa dijual. Tanah ini tidak bisa dialihkan. Kecuali... ada kesepakatan seluruh warga."
Warga diam. Mereka mendengarkan.
"Surat yang dibawa Rudi," kata Senja pelan, "adalah surat palsu. Saya sudah memeriksanya. Tanda tangannya... tidak sah. Meterainya... tidak resmi. Surat itu... tidak berlaku."
Warga berbisik. Ada yang mengangguk. Ada yang tersenyum. Ada yang... bertepuk tangan.
"Tapi," lanjut Senja, "kita butuh bukti yang lebih kuat. Kita butuh saksi. Kita butuh... pengadilan."
Ia duduk. Ia menatap Bintang. Bintang mengangguk. Ia berdiri. Ia menatap warga.
"Warga sekalian," katanya pelan. "Saya akan membawa kasus ini ke pengadilan. Saya akan melawan Tuan Wijaya. Saya akan melawan Rudi. Saya akan... memperjuangkan tanah ini."
Warga diam. Mereka menatap Bintang. Mata mereka... basah. Hati mereka... penuh.
"Tapi," lanjut Bintang, "saya tidak bisa sendiri. Saya butuh bantuan kalian. Saya butuh... kesaksian kalian. Saya butuh... dukungan kalian."
Seorang lelaki tua berdiri. Ia memakai sarung dan peci. Ia menatap Bintang lama.
"Bintang," katanya pelan. "Saya sudah tua. Saya sudah melihat banyak. Saya sudah mengalami banyak. Saya tahu... kau benar. Tanah ini tanah leluhur. Tanah ini tidak boleh dijual."
Warga mengangguk. Ada yang bertepuk tangan.
"Tapi," lanjut lelaki tua itu, "saya juga tahu... kita butuh uang. Kita butuh makan. Kita butuh... hidup."
Ia menatap Bintang. Matanya basah.
"Apa kau punya solusi?"
Bintang diam. Ia menatap lelaki tua itu. Hatinya berat. Ia tidak punya solusi. Ia hanya punya keyakinan. Ia hanya punya cinta.
"Saya belum punya solusi," jawab Bintang pelan. "Tapi saya akan mencari. Saya akan berusaha. Saya akan... berjuang."
Lelaki tua itu mengangguk. Ia duduk. Warga diam.
Rudi berdiri. Ia memakai kemeja rapi. Rambutnya disisir. Ia tersenyum. Senyum yang... dingin.
"Warga sekalian," katanya lantang. "Saya dengar semua. Saya dengar Bintang. Saya dengar Senja. Saya dengar... semua."
Ia menatap warga. Matanya menyapu.
"Tapi," lanjut Rudi, "saya tidak dengar solusi. Saya tidak dengar jawaban. Saya hanya dengar... janji. Janji kosong. Janji... seperti ayahnya."
Bintang mengepal tangan. Rahangnya mengeras.
"Ayah saya," katanya pelan, "bukan orang yang suka berjanji kosong. Ia orang yang berjuang. Ia orang yang... mati untuk tanah ini."
Rudi tertawa. "Mati? Ia mati karena bodoh. Ia mati karena keras kepala. Ia mati karena... tidak mau berubah."
Bintang berdiri. Ia melangkah maju. Wajahnya keras.
"Jangan bawa-bawa ayah saya," katanya pelan. "Kau tidak tahu apa-apa."
Rudi mengangkat tangan. "Oh, saya tahu. Saya tahu banyak. Saya tahu... rahasia besar."
Bintang terdiam. Hatinya berdebar.
"Rahasia apa?" tanya Bintang pelan.
Rudi tersenyum. Senyum yang dingin.
"Rahasia tentang kematian ayahmu," jawabnya pelan. "Rahasia... yang akan membuatmu hancur."
Balai kampung hening. Warga menahan napas. Bintang menatap Rudi. Matanya tajam.
"Katakan," katanya pelan.
Rudi tertawa. "Tidak di sini. Tidak sekarang. Nanti... kalau kau sudah siap."
Ia duduk. Ia menyalakan cerutu. Asapnya membubung ke langit-langit. Bintang berdiri. Ia menatap Rudi lama. Lalu ia menoleh pada Senja. Senja menatapnya. Matanya basah. Ia menggeleng. Jangan. Jangan terpancing.
Bintang menghela napas. Ia duduk kembali. Ia menatap warga.
"Warga sekalian," katanya pelan. "Saya tidak akan terpancing. Saya tidak akan marah. Saya hanya ingin kalian tahu: saya akan mencari kebenaran. Tentang ayah saya. Tentang tanah ini. Tentang... semuanya."
Warga diam. Ada yang mengangguk. Ada yang menunduk.
"Saya akan mencari bukti," lanjut Bintang. "Saya akan mencari saksi. Saya akan mencari... keadilan."
Ia menatap Rudi. Matanya dingin.
"Dan saya tidak akan berhenti," katanya pelan, "sampai saya menemukannya."
Rudi tersenyum. Ia mengangkat cerutu. Ia menikmatinya. Ia tidak bicara. Tapi matanya... menantang.
Bintang berdiri. Ia menatap warga.
"Warga sekalian," katanya pelan. "Rapat ini... kita tutup. Kita beri waktu. Kita beri... kesempatan. Untuk berpikir. Untuk mencari. Untuk... memutuskan."
Warga mengangguk. Mereka berdiri. Mereka berjalan keluar. Mereka berbisik. Mereka... terbelah. Tapi... ada sesuatu yang berbeda. Ada sesuatu yang... bersatu. Ada sesuatu yang... berharap.
Bintang duduk di kursi. Ia menatap langit. Gelap. Bintang-bintang bersinar. Ia menghela napas. Ia merasa... berat. Tapi juga... ringan.
"Bintang."
Ia menoleh. Senja duduk di sampingnya. Ia meraih tangan Bintang. Erat.
"Kau hebat," katanya pelan.
Bintang tersenyum tipis. "Aku hanya bicara."
"Kau bicara dengan hati," kata Senja. "Aku bisa merasakannya."
Bintang menatap Senja. Hatinya hangat.
"Senja," katanya pelan. "Apa yang Rudi maksud? Rahasia apa?"
Senja diam. Ia menatap Bintang lama. Lalu ia menghela napas.
"Aku tidak tahu," jawabnya pelan. "Tapi aku akan mencari tahu."
Bintang menatap Senja. Hatinya berdebar.
"Senja," katanya pelan. "Apa kau tidak takut?"
Senja menatap Bintang. Matanya tenang.
"Aku takut," jawabnya pelan. "Tapi aku lebih takut kehilangan kau."
Bintang menatap Senja. Hatinya penuh. Ia meraih wajah perempuan itu. Pelan. Lembut.
"Senja," katanya pelan. "Terima kasih."
Senja tersenyum. Air matanya jatuh. Ia menyandarkan kepala di pundak Bintang. Erat.
"Bintang," katanya pelan. "Apa kita akan baik-baik saja?"
Bintang menatap langit. Bintang-bintang bersinar. Terang. Abadi.
"Aku tidak tahu," jawabnya pelan. "Tapi aku akan berusaha."
Senja mengangguk. Ia menutup mata. Ia merasa tenang. Di balai kampung. Di bawah bintang-bintang. Di ujung senja.
"Bintang," bisiknya.
"Ya?"
"Aku mencintaimu."
Bintang menutup mata. Ia mencium rambut Senja. Pelan. Lembut.
"Aku juga," bisiknya. "Aku mencintaimu."
Mereka duduk diam. Berpelukan. Angin bertiup. Ombak memecah. Bintang-bintang bersinar. Dan di dalam hati mereka, ada sesuatu yang... lengkap.
Cinta.
Cinta yang tumbuh di rapat besar.
Di ujung senja.
BAGIAN VII: PILIHAN TERAKHIR
BAB 44
SIDANG
Hari sidang tiba. Langit berwarna kelabu. Awan tipis bergerak pelan. Angin bertiup lembut. Ombak tenang. Laut... tenang. Seperti ikut menahan napas.
Bintang berdiri di depan gedung pengadilan. Ia memakai kemeja putih. Rambutnya disisir rapi. Di lengannya, kain dari Ratna. Di lehernya, liontin dari Surya. Di sampingnya, Senja. Ia memakai kebaya sederhana. Rambutnya diikat. Di tangannya, tas berisi dokumen. Di belakang mereka, Andi. Ia memakai kemeja rapi. Rambutnya disisir. Matanya... tajam. Di samping Andi, Dewi. Ia memakai kebaya sederhana. Rambutnya diikat. Matanya... basah.
Bintang menatap gedung itu. Gedung pengadilan. Putih. Bersih. Angker. Ia menghela napas. Ia merasa... gugup. Ia merasa... takut. Tapi juga... siap.
"Bintang," kata Senja pelan. "Kau siap?"
Bintang menoleh. Ia menatap Senja. Matanya dalam.
"Siap," jawabnya pelan. "Aku siap."
Senja tersenyum. Ia meraih tangan Bintang. Erat.
"Ayo," katanya pelan. "Kita masuk."
Mereka masuk ke gedung pengadilan. Mereka berjalan menyusuri koridor. Mereka menatap setiap ruangan. Mereka mencari. Mereka... menunggu. Di ujung koridor, ada pintu besar. Kayu. Berat. Di atasnya, ada tulisan: "Ruang Sidang."
Bintang berhenti di depan pintu itu. Ia menatap pintu itu. Ia menghela napas. Ia menoleh pada Senja. Senja mengangguk. Ia menoleh pada Andi. Andi mengangguk. Ia menoleh pada Dewi. Dewi mengangguk. Ia tersenyum. Ia membuka pintu.
Ruang sidang itu besar. Langit-langit tinggi. Dinding kayu. Bangku-bangku panjang. Di depan, ada meja hakim. Di atasnya, ada palu. Ada kitab. Ada... keadilan. Di samping meja hakim, ada meja saksi. Di belakangnya, ada bendera. Di sisi kiri, ada meja untuk penggugat. Di sisi kanan, ada meja untuk tergugat.
Bintang dan Senja duduk di meja penggugat. Andi dan Dewi duduk di bangku belakang. Di meja tergugat, Tuan Wijaya duduk. Ia memakai jas. Ia tersenyum. Senyum yang... dingin. Di sampingnya, Rudi. Ia memakai kemeja rapi. Rambutnya disisir. Ia menatap Bintang. Matanya... tajam. Di belakang mereka, beberapa pengacara. Mereka membawa tas. Mereka membawa... dokumen.
Hakim masuk. Semua berdiri. Hakim duduk. Semua duduk. Hakim itu tua. Rambutnya putih. Kacamatanya tebal. Matanya... tajam. Ia menatap kedua belah pihak. Ia menghela napas.
"Sidang dibuka," katanya pelan. "Kasus: sengketa tanah adat Tanjung Senja. Penggugat: Bintang bin Surya. Tergugat: Tuan Wijaya dan Rudi bin Hasan."
Ia menatap Bintang. Matanya... dalam.
"Penggugat," katanya pelan. "Silakan bicara."
Bintang berdiri. Ia menatap hakim. Ia menatap Tuan Wijaya. Ia menatap Rudi. Ia menghela napas. Ia menutup mata. Ia mengingat ayahnya. Ia mengingat Pak Harun. Ia mengingat... semuanya. Lalu ia bicara.
"Yang Mulia," katanya pelan. "Saya Bintang bin Surya. Saya anak dari Surya. Penjaga nyanyian. Penjaga tanah adat Tanjung Senja."
Ia menatap hakim. Matanya... tenang.
"Tanah ini," lanjutnya pelan, "adalah tanah leluhur. Tanah ini diwariskan turun-temurun. Tanah ini... bukan milik kami. Tanah ini milik anak cucu kami."
Ia menatap Tuan Wijaya. Matanya... dingin.
"Tapi," katanya pelan, "Tuan Wijaya ingin membeli tanah ini. Ia ingin membangun resort. Ia ingin... mengubah segalanya."
Ia menatap Rudi. Matanya... tajam.
"Dan Rudi," lanjutnya pelan, "telah menjual tanah ini. Tanpa sepengetahuan warga. Tanpa kesepakatan adat. Dengan surat... yang palsu."
Ruang sidang hening. Hakim menatap Bintang. Matanya... dalam.
"Apa kau punya bukti?" tanya hakim.
Bintang mengangguk. Ia menoleh pada Senja. Senja berdiri. Ia membuka tasnya. Ia mengeluarkan dokumen. Ia menyerahkannya pada hakim.
"Yang Mulia," kata Senja pelan. "Saya Senja. Peneliti budaya. Saya sudah meneliti tanah ini. Saya sudah mencari data. Saya sudah mencari... kebenaran."
Ia membuka halaman demi halaman. Ia menunjukkan peta. Ia menunjukkan surat. Ia menunjukkan... segalanya.
"Tanah ini," lanjut Senja, "adalah tanah adat. Tanah ini tidak bisa dijual. Tanah ini tidak bisa dialihkan. Kecuali... ada kesepakatan seluruh warga."
Hakim menatap dokumen itu. Ia membaca. Ia mengangguk. Ia menoleh pada Tuan Wijaya.
"Tergugat," katanya pelan. "Apa kau punya bukti?"
Tuan Wijaya berdiri. Ia tersenyum. Senyum yang... dingin. Ia menoleh pada pengacaranya. Pengacara itu berdiri. Ia membuka tasnya. Ia mengeluarkan dokumen. Ia menyerahkannya pada hakim.
"Yang Mulia," kata pengacara itu pelan. "Kami punya surat. Surat jual beli. Ditandatangani oleh Rudi bin Hasan. Saksi: dua orang warga. Meterai: resmi."
Hakim menerima surat itu. Ia membacanya. Ia mengangguk. Ia menoleh pada Bintang.
"Penggugat," katanya pelan. "Apa tanggapanmu?"
Bintang berdiri. Ia menatap hakim. Matanya... tenang.
"Yang Mulia," katanya pelan. "Surat itu... palsu."
Ruang sidang hening. Hakim menatap Bintang. Matanya... melebar.
"Palsu?"
Bintang mengangguk. Ia menoleh pada Senja. Senja berdiri. Ia mengeluarkan dokumen lain. Ia menyerahkannya pada hakim.
"Yang Mulia," kata Senja pelan. "Saya sudah memeriksa surat itu. Tanda tangannya... tidak sah. Meterainya... tidak resmi. Surat itu... dibuat oleh Rudi sendiri. Tanpa sepengetahuan warga."
Hakim menatap dokumen itu. Ia membaca. Ia mengangguk. Ia menoleh pada Rudi.
"Rudi bin Hasan," katanya pelan. "Apa benar kau membuat surat ini?"
Rudi berdiri. Wajahnya... pucat. Ia menatap hakim. Ia menatap Bintang. Ia menatap Tuan Wijaya. Ia menghela napas. Ia menunduk.
"Iya," jawabnya pelan. "Saya... saya membuat surat itu."
Ruang sidang hening. Hakim menatap Rudi. Matanya... tajam.
"Kenapa?"
Rudi menunduk. Air matanya jatuh.
"Karena... karena saya butuh uang," jawabnya pelan. "Karena... karena saya ingin kaya. Karena... karena saya... serakah."
Hakim mengangguk. Ia menoleh pada Tuan Wijaya. Matanya... dingin.
"Tuan Wijaya," katanya pelan. "Apa kau tahu surat itu palsu?"
Tuan Wijaya berdiri. Wajahnya... pucat. Ia menatap hakim. Ia menatap Bintang. Ia menatap Rudi. Ia menghela napas. Ia menunduk.
"Iya," jawabnya pelan. "Saya... saya tahu."
Ruang sidang hening. Hakim menatap Tuan Wijaya. Matanya... tajam.
"Kenapa kau tetap membelinya?"
Tuan Wijaya menunduk. Air matanya jatuh.
"Karena... karena saya butuh tanah itu," jawabnya pelan. "Karena... karena saya ingin membangun resort. Karena... karena saya... serakah."
Hakim mengangguk. Ia menatap kedua belah pihak. Ia menghela napas. Ia mengambil palu. Ia mengetuk meja. Sekali. Dua kali. Tiga kali.
"Berdasarkan bukti yang ada," katanya pelan, "pengadilan memutuskan: surat jual beli... tidak sah. Tanah adat Tanjung Senja... tetap milik warga. Tuan Wijaya... tidak berhak membeli. Rudi bin Hasan... bersalah. Ia akan dihukum."
Ruang sidang hening. Lalu... warga bersorak. Mereka berdiri. Mereka bertepuk tangan. Mereka menangis. Mereka... bahagia. Bintang duduk di kursi. Ia menatap langit. Ia tersenyum. Senyum yang... lega. Senyum yang... bahagia.
"Ayah," bisiknya. "Kita... kita menang."
Sore itu, Bintang duduk di dermaga tua. Ia menatap laut. Ombak tenang. Angin bertiup. Matahari mulai tenggelam. Langit berwarna jingga keemasan. Bintang pertama muncul di ujung senja. Kecil. Tapi terang. Ia memegang liontin dari ayahnya. Ia membuka liontin itu. Ia membaca surat di dalamnya. Pelan. Dalam hati.
"Bintang, anakku.
Jika kau membaca ini, berarti kau sudah menemukan liontin ini. Berarti kau sudah siap.
Ayah ingin kau tahu: Bintang Terakhir bukan tempat. Bukan juga tujuan. Bintang Terakhir adalah... kau sendiri.
Kau adalah cahaya di ujung senja. Kau adalah harapan di ujung malam. Kau adalah... bintang terakhir.
Jaga nyanyian itu. Jaga tanah itu. Jaga cinta itu.
Dan jangan lupa... ayah selalu bersamamu.
Ayahmu,
Surya."
Bintang menutup liontin itu. Air matanya jatuh. Ia menangis. Ia tidak menyeka. Ia hanya duduk. Diam. Hatinya penuh.
"Ayah," bisiknya. "Kita... kita menang. Tanah ini... tanah ini aman. Nyanyian ini... nyanyian ini aman. Cinta ini... cinta ini aman."
Tidak ada jawaban. Hanya angin. Hanya ombak. Hanya keheningan.
"Ayah," lanjut Bintang. "Aku... aku akan menjaga semuanya. Aku... aku akan menjaga nyanyian itu. Aku... aku akan menjaga tanah itu. Aku... aku akan menjaga cinta itu."
Tidak ada jawaban. Tapi di dalam hatinya, ada sesuatu yang berbisik:
"Aku tahu. Aku percaya. Aku bangga. Aku bersamamu."
Bintang membuka mata. Ia menatap langit. Bintang-bintang bersinar. Terang. Abadi. Ia menghela napas. Ia merasa... tenang. Ia merasa... lengkap. Ia merasa... siap.
"Senja," bisiknya. "Kita... kita menang."
Senja duduk di sampingnya. Ia meraih tangan Bintang. Erat.
"Iya," katanya pelan. "Kita menang."
Mereka duduk diam. Berpelukan. Angin bertiup. Ombak memecah. Bintang-bintang bersinar. Dan di dalam hati mereka, ada sesuatu yang... lengkap.
Cinta.
Cinta yang tumbuh dari sidang.
Di ujung senja.
BAB 45
BUKTI TERAKHIR
Malam setelah sidang, Bintang tidak bisa tidur. Ia duduk di dermaga tua. Ia menatap laut. Ombak tenang. Angin bertiup. Bulan sabit menggantung di ujung langit. Bintang-bintang bersinar. Terang. Abadi. Ia memegang liontin dari ayahnya. Ia membuka liontin itu. Ia membaca surat di dalamnya. Pelan. Dalam hati.
"Bintang, anakku.
Jika kau membaca ini, berarti kau sudah menemukan liontin ini. Berarti kau sudah siap.
Ayah ingin kau tahu: Bintang Terakhir bukan tempat. Bukan juga tujuan. Bintang Terakhir adalah... kau sendiri.
Kau adalah cahaya di ujung senja. Kau adalah harapan di ujung malam. Kau adalah... bintang terakhir.
Jaga nyanyian itu. Jaga tanah itu. Jaga cinta itu.
Dan jangan lupa... ayah selalu bersamamu.
Ayahmu,
Surya."
Bintang menutup liontin itu. Air matanya jatuh. Ia menangis. Ia tidak menyeka. Ia hanya duduk. Diam. Hatinya penuh.
"Ayah," bisiknya. "Sidang... sidang sudah selesai. Kita... kita menang. Tapi... tapi ada sesuatu yang mengganggu. Ada sesuatu yang... belum selesai."
Tidak ada jawaban. Hanya angin. Hanya ombak. Hanya keheningan.
"Ayah," lanjut Bintang. "Rudi bilang... ia punya rahasia. Rahasia tentang kematian Ayah. Rahasia... yang akan membuatku hancur."
Tidak ada jawaban. Tapi di dalam hatinya, ada sesuatu yang berbisik:
"Cari tahu. Temukan. Jangan takut. Aku bersamamu."
Bintang membuka mata. Ia menatap langit. Bintang-bintang bersinar. Terang. Abadi. Ia menghela napas. Ia merasa... tenang. Ia merasa... lengkap. Ia merasa... siap.
"Rudi," bisiknya. "Aku... aku akan mencari tahu. Aku... aku akan menemukan. Aku... aku akan... mengungkap kebenaran."
Pagi berikutnya, Bintang berjalan ke rumah Rudi. Ia ingin bicara. Ia ingin tahu. Ia ingin... mengungkap. Rumah Rudi itu sederhana. Kayu. Catnya pudar. Di terasnya, ada kursi kayu. Ada meja. Ada... Rudi. Ia duduk di kursi. Ia memandang langit. Matanya... kosong.
"Rudi," kata Bintang pelan.
Rudi menoleh. Ia menatap Bintang. Matanya... basah. Ada sesuatu di mata lelaki itu—penyesalan. Ketakutan. Kesedihan.
"Bintang," katanya pelan. "Kau... kau datang."
Bintang duduk di samping Rudi. Ia menatap sahabatnya. Matanya... dalam.
"Rudi," katanya pelan. "Aku ingin bicara."
Rudi menunduk. Tangannya gemetar.
"Tentang apa?"
Bintang menatap Rudi. Matanya... tenang.
"Tentang rahasia," jawabnya pelan. "Rahasia... yang kau maksud. Tentang kematian ayahku."
Rudi terdiam. Ia menatap Bintang lama. Lalu ia menunduk. Air matanya jatuh.
"Bintang," katanya pelan. "Aku... aku minta maaf."
Bintang menatap Rudi. Matanya... dalam.
"Untuk apa?"
Rudi mengangkat kepala. Air matanya jatuh.
"Untuk... untuk semuanya," jawabnya pelan. "Untuk... pengkhianatanku. Untuk... keserakahanku. Untuk... rahasia yang aku simpan."
Bintang menatap Rudi lama. Lalu ia meraih pundak sahabatnya. Erat.
"Rudi," katanya pelan. "Katakan. Aku... aku siap."
Rudi menatap Bintang. Air matanya jatuh. Ia menunduk. Ia menghela napas. Ia mulai bicara.
"Bintang," katanya pelan. "Ayahmu... Ayahmu tidak dibunuh oleh Darma."
Bintang terdiam. Hatinya berdebar.
"Apa?"
Rudi mengangkat kepala. Ia menatap Bintang. Matanya... basah.
"Ayahmu... Ayahmu meninggal karena... karena dirinya sendiri," jawabnya pelan. "Ia... ia meninggal karena... ia memilih untuk meninggal."
Bintang menatap Rudi lama. Lalu ia menunduk. Ia tidak bicara. Ia hanya menatap tanah. Diam. Hatinya... hancur.
"Apa maksudmu?" tanya Bintang pelan.
Rudi menatap Bintang. Matanya... dalam.
"Ayahmu," jawabnya pelan, "sedang mencari Bintang Terakhir. Ia... ia pergi ke laut. Ia... ia berlayar. Ia... ia tidak kembali. Tapi... tapi ia tidak tenggelam. Ia... ia sengaja tidak kembali."
Bintang menatap Rudi. Matanya... melebar.
"Sengaja?"
Rudi mengangguk. "Iya. Ia... ia sengaja. Ia... ia memilih untuk pergi. Ia... ia memilih untuk meninggalkan kita. Ia... ia memilih untuk... mati."
Bintang menatap Rudi lama. Lalu ia menunduk. Air matanya jatuh. Ia menangis. Ia tidak menyeka. Ia hanya duduk. Diam. Hatinya... penuh.
"Kenapa?" tanya Bintang pelan.
Rudi menatap Bintang. Matanya... basah.
"Karena... karena ia tidak sanggup," jawabnya pelan. "Ia tidak sanggup... hidup. Ia tidak sanggup... melanjutkan. Ia tidak sanggup... menanggung semua ini."
Bintang menatap Rudi. Matanya... dalam.
"Semua ini?"
Rudi mengangguk. "Iya. Semua ini. Nyanyian. Tanah. Kampung. Keluarga. Kau. Ibumu. Semuanya."
Bintang diam. Ia menatap Rudi lama. Lalu ia menunduk. Hatinya... berat. Tapi juga... ringan.
"Jadi... jadi Ayah... bunuh diri?" tanya Bintang pelan.
Rudi mengangguk. "Iya. Ia... ia bunuh diri."
Bintang menutup mata. Air matanya jatuh. Ia menangis. Ia tidak menyeka. Ia hanya duduk. Diam. Hatinya... penuh.
"Rudi," katanya pelan. "Kenapa kau tidak bilang dari dulu?"
Rudi menunduk. Tangannya gemetar.
"Karena... karena aku takut," jawabnya pelan. "Aku takut kau akan marah. Aku takut kau akan... membenciku. Aku takut... kau akan hancur."
Bintang menatap Rudi. Matanya... dalam.
"Rudi," katanya pelan. "Aku... aku tidak marah. Aku... aku tidak membencimu. Aku... aku hanya... sedih."
Rudi menatap Bintang. Air matanya jatuh.
"Sedih?"
Bintang mengangguk. "Iya. Sedih... karena Ayah. Sedih... karena ia tidak sanggup. Sedih... karena ia... sendirian."
Rudi menatap Bintang. Hatinya... berat.
"Bintang," katanya pelan. "Aku... aku minta maaf."
Bintang menatap Rudi. Matanya... hangat.
"Rudi," katanya pelan. "Aku... aku sudah memaafkan. Kau... kau tidak perlu minta maaf lagi."
Rudi menatap Bintang. Air matanya jatuh. Ia memeluk Bintang. Erat. Bintang membalas pelukan itu. Erat. Mereka duduk diam. Berpelukan. Di teras rumah. Di bawah langit. Di ujung senja.
"Rudi," kata Bintang pelan. "Terima kasih."
Rudi menatap Bintang. Matanya... melebar.
"Terima kasih?"
Bintang mengangguk. "Iya. Terima kasih... karena kau sudah bilang. Terima kasih... karena kau sudah jujur. Terima kasih... karena kau sudah... membebaskanku."
Rudi menatap Bintang. Air matanya jatuh. Ia menunduk. Hatinya... penuh.
"Bintang," katanya pelan. "Kau... kau orang yang baik."
Bintang tersenyum. "Aku hanya... berusaha."
Malam itu, Bintang duduk di dermaga tua. Ia menatap laut. Ombak tenang. Angin bertiup. Bulan sabit menggantung di ujung langit. Bintang-bintang bersinar. Terang. Abadi. Ia memegang liontin dari ayahnya. Ia membuka liontin itu. Ia membaca surat di dalamnya. Pelan. Dalam hati.
"Bintang, anakku.
Jika kau membaca ini, berarti kau sudah menemukan liontin ini. Berarti kau sudah siap.
Ayah ingin kau tahu: Bintang Terakhir bukan tempat. Bukan juga tujuan. Bintang Terakhir adalah... kau sendiri.
Kau adalah cahaya di ujung senja. Kau adalah harapan di ujung malam. Kau adalah... bintang terakhir.
Jaga nyanyian itu. Jaga tanah itu. Jaga cinta itu.
Dan jangan lupa... ayah selalu bersamamu.
Ayahmu,
Surya."
Bintang menutup liontin itu. Air matanya jatuh. Ia menangis. Ia tidak menyeka. Ia hanya duduk. Diam. Hatinya penuh.
"Ayah," bisiknya. "Aku... aku sudah tahu. Aku... aku sudah tahu semuanya."
Tidak ada jawaban. Hanya angin. Hanya ombak. Hanya keheningan.
"Ayah," lanjut Bintang. "Aku... aku tidak marah. Aku... aku tidak membencimu. Aku... aku hanya... sedih."
Tidak ada jawaban. Tapi di dalam hatinya, ada sesuatu yang berbisik:
"Aku tahu. Aku tahu. Aku minta maaf. Aku mencintaimu."
Bintang membuka mata. Ia menatap langit. Bintang-bintang bersinar. Terang. Abadi. Ia menghela napas. Ia merasa... tenang. Ia merasa... lengkap. Ia merasa... siap.
"Ayah," bisiknya. "Aku... aku memaafkanmu. Aku... aku mencintaimu. Aku... aku akan menjaga semuanya."
Ia menutup mata. Ia berdoa. Ia merasa... tenang. Ia merasa... lengkap. Ia merasa... siap.
Di dermaga tua, angin bertiup. Ombak memecah. Bintang-bintang bersinar. Dan di dalam hati Bintang, ada sesuatu yang... bersinar. Sesuatu yang... seperti harapan.
Harapan yang tumbuh dari bukti terakhir.
Di ujung senja.
BAB 46
KEMENANGAN
Pagi itu langit biru bersih. Matahari bersinar hangat. Ombak tenang. Angin bertiup pelan. Burung-burung camar terbang rendah di atas laut. Warga Tanjung Senja berkumpul di balai kampung. Mereka tidak datang untuk berduka. Mereka tidak datang untuk berdebat. Mereka datang untuk... merayakan. Mereka datang untuk... bersyukur. Mereka datang untuk... kemenangan.
Bintang berdiri di depan balai. Ia memakai kemeja putih. Rambutnya disisir rapi. Di lengannya, kain dari Ratna. Di lehernya, liontin dari Surya. Di sampingnya, Senja. Ia memakai kebaya sederhana. Rambutnya diikat. Di tangannya, buku catatan. Di belakang mereka, Andi. Ia memakai kemeja rapi. Rambutnya disisir. Matanya... tajam. Di samping Andi, Dewi. Ia memakai kebaya sederhana. Rambutnya diikat. Matanya... basah.
Di depan balai, sebuah meja panjang didirikan. Di atasnya, ada nasi tumpeng. Ada buah-buahan. Ada kue tradisional. Ada bunga. Ada... syukur. Warga duduk bersila di atas tikar pandan. Mereka menunggu. Mereka tersenyum. Mereka... bahagia.
Bintang melangkah maju. Ia menatap warga. Ratusan mata menatapnya. Ia menghela napas. Ia menutup mata. Ia mengingat ayahnya. Ia mengingat Pak Harun. Ia mengingat... semuanya. Lalu ia bicara.
"Warga sekalian," katanya pelan. "Hari ini... hari ini kita berkumpul. Bukan untuk berduka. Bukan untuk berdebat. Tapi untuk... bersyukur."
Warga diam. Mereka mendengarkan.
"Kita menang," lanjut Bintang. "Pengadilan sudah memutuskan. Tanah ini... tanah adat. Tanah ini... milik kami. Tanah ini... tidak bisa dijual. Tanah ini... tidak bisa digusur."
Warga bersorak. Mereka bertepuk tangan. Mereka menangis. Mereka... bahagia.
"Tapi," lanjut Bintang, "kemenangan ini... bukan kemenangan saya. Bukan kemenangan Senja. Bukan kemenangan Andi. Bukan kemenangan Dewi. Kemenangan ini... kemenangan kita semua. Kemenangan... warga Tanjung Senja."
Warga mengangguk. Mereka tersenyum. Mereka... bangga.
"Saya ingin berterima kasih," kata Bintang pelan. "Kepada Senja. Yang sudah membantu saya. Yang sudah mencari bukti. Yang sudah... percaya pada saya."
Senja tersenyum. Air matanya jatuh.
"Kepada Andi. Yang sudah kembali. Yang sudah membantu saya. Yang sudah... menjadi sahabat yang baik."
Andi mengangguk. Matanya... basah.
"Kepada Dewi. Yang sudah menjaga kampung ini. Yang sudah menjaga nyanyian ini. Yang sudah... menjadi adik yang baik."
Dewi menangis. Ia tersenyum.
"Kepada Pak Harun," lanjut Bintang pelan. "Yang sudah mengajari saya. Yang sudah membimbing saya. Yang sudah... menjadi kakek bagi saya."
Warga diam. Mereka menunduk. Mereka... berdoa.
"Dan kepada Ayah," kata Bintang pelan. "Yang sudah menjaga nyanyian ini. Yang sudah menjaga tanah ini. Yang sudah... menjadi teladan bagi saya."
Bintang menunduk. Air matanya jatuh. Ia menangis. Ia tidak menyeka. Ia hanya diam. Hatinya... penuh.
"Warga sekalian," katanya pelan. "Hari ini... kita bersyukur. Kita bersyukur... karena kita masih punya tanah ini. Kita masih punya nyanyian ini. Kita masih punya... cinta ini."
Warga mengangguk. Mereka tersenyum. Mereka... bahagia.
"Mari kita makan bersama," kata Bintang pelan. "Mari kita... merayakan."
Warga bersorak. Mereka berdiri. Mereka makan bersama. Mereka menyanyi bersama. Mereka menari bersama. Mereka... bahagia. Balai kampung dipenuhi aroma nasi. Aroma ikan. Aroma kue. Aroma... syukur. Suara gamelan mengiringi. Anak-anak menari. Perempuan-perempuan menabur bunga. Lelaki-lelaki bercerita. Bintang duduk di antara mereka. Ia tersenyum. Ia merasa... tenang. Ia merasa... lengkap. Ia merasa... bahagia.
Sore itu, Bintang duduk di dermaga tua. Ia menatap laut. Ombak tenang. Angin bertiup. Matahari mulai tenggelam. Langit berwarna jingga keemasan. Bintang pertama muncul di ujung senja. Kecil. Tapi terang. Ia memegang liontin dari ayahnya. Ia membuka liontin itu. Ia membaca surat di dalamnya. Pelan. Dalam hati.
"Bintang, anakku.
Jika kau membaca ini, berarti kau sudah menemukan liontin ini. Berarti kau sudah siap.
Ayah ingin kau tahu: Bintang Terakhir bukan tempat. Bukan juga tujuan. Bintang Terakhir adalah... kau sendiri.
Kau adalah cahaya di ujung senja. Kau adalah harapan di ujung malam. Kau adalah... bintang terakhir.
Jaga nyanyian itu. Jaga tanah itu. Jaga cinta itu.
Dan jangan lupa... ayah selalu bersamamu.
Ayahmu,
Surya."
Bintang menutup liontin itu. Air matanya jatuh. Ia menangis. Ia tidak menyeka. Ia hanya duduk. Diam. Hatinya penuh.
"Ayah," bisiknya. "Kita... kita menang. Tanah ini... tanah ini aman. Nyanyian ini... nyanyian ini aman. Cinta ini... cinta ini aman."
Tidak ada jawaban. Hanya angin. Hanya ombak. Hanya keheningan.
"Ayah," lanjut Bintang. "Aku... aku akan menjaga semuanya. Aku... aku akan menjaga nyanyian itu. Aku... aku akan menjaga tanah itu. Aku... aku akan menjaga cinta itu."
Tidak ada jawaban. Tapi di dalam hatinya, ada sesuatu yang berbisik:
"Aku tahu. Aku percaya. Aku bangga. Aku bersamamu."
Bintang membuka mata. Ia menatap langit. Bintang-bintang bersinar. Terang. Abadi. Ia menghela napas. Ia merasa... tenang. Ia merasa... lengkap. Ia merasa... siap.
"Senja," bisiknya. "Kita... kita menang."
Senja duduk di sampingnya. Ia meraih tangan Bintang. Erat.
"Iya," katanya pelan. "Kita menang."
Mereka duduk diam. Berpelukan. Angin bertiup. Ombak memecah. Bintang-bintang bersinar. Dan di dalam hati mereka, ada sesuatu yang... lengkap.
Cinta.
Cinta yang tumbuh dari kemenangan.
Di ujung senja.
Malam itu, Bintang dan Senja duduk di dermaga tua. Mereka menatap laut. Ombak tenang. Angin bertiup. Bulan sabit menggantung di ujung langit. Bintang-bintang bersinar. Terang. Abadi.
"Bintang," kata Senja pelan. "Aku... aku ingin bicara."
Bintang menoleh. Ia menatap Senja. Matanya dalam.
"Bicara saja," jawabnya pelan.
Senja menunduk. Ia memegang tangan Bintang. Erat.
"Bintang," katanya pelan. "Aku... aku sudah memutuskan."
Bintang menatap Senja. Matanya... melebar.
"Memutuskan apa?"
Senja mengangkat kepala. Ia menatap Bintang. Matanya... basah.
"Aku... aku akan tinggal," jawabnya pelan. "Aku... aku akan tinggal di sini. Di Tanjung Senja. Bersamamu."
Bintang terdiam. Hatinya berdebar. Ia menatap Senja lama. Lalu ia menunduk. Air matanya jatuh.
"Senja," katanya pelan. "Kau... kau yakin?"
Senja mengangguk. "Aku yakin."
"Tapi... bagaimana dengan pekerjaanmu? Penelitianmu?"
Senja tersenyum. "Aku bisa penelitian dari sini. Aku bisa mengajar. Aku bisa... apa saja. Yang penting... aku bersama kau."
Bintang menatap Senja. Air matanya jatuh. Ia tersenyum. Senyum yang lebar. Senyum yang... bahagia.
"Senja," katanya pelan. "Aku... aku tidak tahu harus bilang apa."
"Bilang saja... kau mau aku tinggal."
Bintang tertawa. Tawa yang lepas. Tawa yang hangat.
"Aku mau," katanya pelan. "Aku mau kau tinggal."
Senja tersenyum. Air matanya jatuh. Ia memeluk Bintang. Erat. Bintang membalas pelukan itu. Erat. Mereka berdiri di dermaga tua. Berpelukan. Di bawah bulan. Di atas laut. Di ujung senja.
"Bintang," bisik Senja.
"Ya?"
"Aku mencintaimu."
Bintang menutup mata. Ia mencium rambut Senja. Pelan. Lembut.
"Aku juga," bisiknya. "Aku mencintaimu."
Mereka duduk kembali. Tangan bertaut. Menatap laut. Menatap langit. Menatap masa depan. Tidak ada yang bicara. Tapi keheningan itu... sempurna.
"Bintang," kata Senja pelan. "Apa kita akan menikah?"
Bintang menoleh. Ia menatap Senja. Matanya dalam.
"Iya," jawabnya pelan. "Kita akan menikah. Di dermaga ini. Di bawah bintang-bintang. Di depan warga. Di depan leluhur."
Senja tersenyum. Air matanya jatuh. Ia menyandarkan kepala di pundak Bintang. Erat.
"Aku tidak sabar," katanya pelan.
Bintang tersenyum. Ia mencium rambut Senja. Pelan. Lembut.
"Aku juga," bisiknya.
Mereka duduk diam. Menatap laut. Menatap langit. Menatap masa depan. Tidak ada yang bicara. Tapi keheningan itu... sempurna.
Seperti cinta yang baru saja ditemukan.
Di ujung senja.
BAB 47
PILIHAN SENJA
Pagi itu Senja duduk di teras rumah Pak Harun. Rumah itu kini kosong. Sepi. Tapi masih hangat. Masih beraroma kayu. Masih beraroma kenangan. Ia memegang secangkir kopi. Ia menatap langit. Biru. Bersih. Matahari bersinar. Ombak tenang. Angin bertiup pelan. Ia menghela napas. Ia merasa... tenang. Ia merasa... lengkap. Ia merasa... siap.
Tapi ada sesuatu yang mengganggu. Ada sesuatu yang... belum selesai. Ada sesuatu yang... harus ia putuskan. Ia memegang surat. Surat dari universitas. Tawaran untuk kembali. Tawaran untuk mengajar. Tawaran untuk... hidup yang berbeda.
Ia menatap surat itu lama. Ia membaca ulang. Pelan. Dalam hati.
"Kepada Yth. Ibu Senja,
Kami dari Universitas... dengan hormat mengundang Ibu untuk kembali mengajar... menjadi dosen tetap... dengan fasilitas... dan gaji... yang sangat kompetitif...
Kami sangat mengharapkan kehadiran Ibu...
Hormat kami,
Rektor."
Senja menutup surat itu. Air matanya jatuh. Ia menangis. Ia tidak menyeka. Ia hanya duduk. Diam. Hatinya... penuh.
"Senja."
Ia menoleh. Bintang berdiri di ambang pintu. Ia memakai kemeja putih. Rambutnya disisir. Di tangannya, dua buah roti. Ia tersenyum. Senyum yang... hangat.
"Kau sudah bangun?" tanya Bintang.
Senja mengangguk. Ia menyeka air matanya. Ia tersenyum.
"Sudah," jawabnya pelan. "Aku... aku tidak bisa tidur."
Bintang duduk di samping Senja. Ia meletakkan roti di meja. Ia menatap Senja. Matanya... dalam.
"Ada apa?" tanyanya pelan.
Senja menunduk. Ia memegang surat itu. Erat.
"Bintang," katanya pelan. "Aku... aku mendapat surat."
Bintang menatap Senja. Matanya... melebar.
"Surat apa?"
Senja menyerahkan surat itu pada Bintang. Bintang menerimanya. Ia membacanya. Pelan. Dalam hati. Wajahnya... berubah.
"Universitas... menawarkan kau kembali?" tanyanya pelan.
Senja mengangguk. "Iya."
Bintang diam. Ia menatap Senja lama. Lalu ia menunduk. Ia tidak bicara. Ia hanya menatap tanah. Diam. Hatinya... berat.
"Bintang," kata Senja pelan. "Aku... aku bingung."
Bintang menoleh. Ia menatap Senja. Matanya... dalam.
"Bingung apa?"
Senja menunduk. Air matanya jatuh.
"Aku... aku tidak tahu harus bagaimana," jawabnya pelan. "Aku... aku ingin tinggal. Aku... aku ingin bersamamu. Tapi... tapi aku juga... aku juga ingin mengajar. Aku... aku juga ingin... berkarya."
Bintang menatap Senja lama. Lalu ia meraih tangan perempuan itu. Erat.
"Senja," katanya pelan. "Kau tidak perlu bingung."
Senja menatap Bintang. Matanya... basah.
"Apa maksudmu?"
Bintang menatap Senja. Matanya... dalam.
"Kau bisa tinggal," jawabnya pelan. "Dan kau bisa mengajar. Kau bisa berkarya. Kau bisa... apa saja. Yang penting... kau bahagia."
Senja menatap Bintang. Air matanya jatuh.
"Tapi... tapi bagaimana denganmu?"
Bintang tersenyum. Senyum yang... hangat.
"Aku... aku akan selalu mendukungmu," katanya pelan. "Aku... aku akan selalu... bersamamu. Di mana pun kau berada."
Senja menatap Bintang. Hatinya... penuh. Ia memeluk Bintang. Erat. Bintang membalas pelukan itu. Erat. Mereka berdiri di teras rumah. Berpelukan. Di bawah matahari. Di atas laut. Di ujung senja.
"Bintang," bisik Senja.
"Ya?"
"Aku... aku akan tinggal."
Bintang menutup mata. Ia mencium rambut Senja. Pelan. Lembut.
"Terima kasih," bisiknya.
Senja tersenyum. Air matanya jatuh. Ia menyandarkan kepala di pundak Bintang. Erat.
"Bintang," katanya pelan. "Aku... aku akan mengajar di kampung. Aku... aku akan mengajar anak-anak. Aku... aku akan mengajar mereka... tentang nyanyian. Tentang adat. Tentang... cinta."
Bintang menatap Senja. Hatinya... hangat.
"Itu... itu ide yang bagus," katanya pelan. "Kau... kau bisa menjadi guru. Kau... kau bisa menjadi penjaga nyanyian. Kau... kau bisa menjadi... senja yang menemani bintang."
Senja tersenyum. Air matanya jatuh. Ia mencium pipi Bintang. Pelan. Lembut.
"Bintang," katanya pelan. "Aku... aku mencintaimu."
Bintang menutup mata. Ia mencium kening Senja. Pelan. Lembut.
"Aku juga," bisiknya. "Aku mencintaimu."
Mereka duduk kembali. Tangan bertaut. Menatap laut. Menatap langit. Menatap masa depan. Tidak ada yang bicara. Tapi keheningan itu... sempurna.
Sore itu, Senja berjalan ke dermaga tua. Ia ingin bicara. Ia ingin berbagi. Ia ingin... merayakan. Bintang sudah menunggu. Ia duduk di ujung dermaga. Kakinya menggantung di atas air. Ia memandang laut. Ia tersenyum.
"Kau datang," kata Bintang.
Senja duduk di sampingnya. Ia meraih tangan Bintang. Erat.
"Aku datang," katanya pelan.
Mereka duduk diam. Menatap laut. Ombak tenang. Angin bertiup. Matahari mulai tenggelam. Langit berwarna jingga keemasan. Bintang pertama muncul di ujung senja. Kecil. Tapi terang.
"Bintang," kata Senja pelan. "Aku... aku sudah memutuskan."
Bintang menoleh. Ia menatap Senja. Matanya... dalam.
"Apa?"
Senja menatap Bintang. Matanya... basah.
"Aku... aku akan tinggal," jawabnya pelan. "Aku... aku akan mengajar di kampung. Aku... aku akan menjadi guru. Aku... aku akan menjadi penjaga nyanyian. Aku... aku akan menjadi... senja yang menemani bintang."
Bintang menatap Senja. Air matanya jatuh. Ia tersenyum. Senyum yang... lebar. Senyum yang... bahagia.
"Senja," katanya pelan. "Aku... aku bangga padamu."
Senja tersenyum. Air matanya jatuh. Ia menyandarkan kepala di pundak Bintang. Erat.
"Bintang," katanya pelan. "Aku... aku tidak sabar."
"Tidak sabar untuk apa?"
Senja menatap Bintang. Matanya... dalam.
"Tidak sabar... untuk menikah," jawabnya pelan. "Tidak sabar... untuk hidup bersamamu. Tidak sabar... untuk... menjadi senja yang menemani bintang."
Bintang menatap Senja. Hatinya... penuh. Ia meraih wajah perempuan itu. Pelan. Lembut.
"Aku juga," bisiknya. "Aku juga tidak sabar."
Mereka duduk diam. Berpelukan. Angin bertiup. Ombak memecah. Bintang-bintang bersinar. Dan di dalam hati mereka, ada sesuatu yang... lengkap.
Cinta.
Cinta yang tumbuh dari pilihan Senja.
Di ujung senja.
Malam itu, Bintang duduk di kamarnya. Ia memegang liontin dari ayahnya. Ia membuka liontin itu. Ia membaca surat di dalamnya. Pelan. Dalam hati.
"Bintang, anakku.
Jika kau membaca ini, berarti kau sudah menemukan liontin ini. Berarti kau sudah siap.
Ayah ingin kau tahu: Bintang Terakhir bukan tempat. Bukan juga tujuan. Bintang Terakhir adalah... kau sendiri.
Kau adalah cahaya di ujung senja. Kau adalah harapan di ujung malam. Kau adalah... bintang terakhir.
Jaga nyanyian itu. Jaga tanah itu. Jaga cinta itu.
Dan jangan lupa... ayah selalu bersamamu.
Ayahmu,
Surya."
Bintang menutup liontin itu. Air matanya jatuh. Ia menangis. Ia tidak menyeka. Ia hanya duduk. Diam. Hatinya penuh.
"Ayah," bisiknya. "Senja... Senja memilih tinggal. Ia... ia memilih aku. Ia... ia memilih... cinta."
Tidak ada jawaban. Hanya angin. Hanya ombak. Hanya keheningan.
"Ayah," lanjut Bintang. "Aku... aku akan menikah. Aku... aku akan menikah dengan Senja. Aku... aku akan menjaga semuanya."
Tidak ada jawaban. Tapi di dalam hatinya, ada sesuatu yang berbisik:
"Aku tahu. Aku percaya. Aku bangga. Aku bersamamu."
Bintang membuka mata. Ia menatap langit. Gelap. Bintang-bintang bersinar. Terang. Abadi. Ia menghela napas. Ia merasa... tenang. Ia merasa... lengkap. Ia merasa... siap.
"Senja," bisiknya. "Aku... aku akan menikah denganmu. Aku... aku akan hidup bersamamu. Aku... aku akan... menjadi bintang terakhir yang menemani senja."
Ia menutup mata. Ia berdoa. Ia merasa... tenang. Ia merasa... lengkap. Ia merasa... siap.
Di dermaga tua, angin bertiup. Ombak memecah. Bintang-bintang bersinar. Dan di dalam hati Bintang, ada sesuatu yang... bersinar. Sesuatu yang... seperti harapan.
Harapan yang tumbuh dari pilihan Senja.
Di ujung senja.
BAB 48
PERNIKAHAN ADAT
Hari itu Tanjung Senja bangun lebih awal. Matahari belum muncul di ufuk timur. Tapi lampu-lampu rumah sudah menyala. Perempuan-perempuan memasak di dapur. Lelaki-lelaki menghias dermaga. Anak-anak berlarian di jembatan kayu. Semua orang sibuk. Semua orang bersemangat. Semua orang... bahagia.
Hari itu adalah hari istimewa.
Pernikahan Bintang dan Senja.
Dermaga tua dihias dengan janur kuning. Dengan bunga-bunga. Dengan kain putih. Dengan lampu-lampu kecil. Di ujung dermaga, didirikan pelaminan sederhana. Kayu. Putih. Di atasnya, ada payung. Ada bunga. Ada... doa. Di depan pelaminan, ada meja. Di atasnya, ada sesajen. Ada dupa. Ada... restu. Warga duduk bersila di atas tikar pandan. Mereka menunggu. Mereka tersenyum. Mereka... bahagia.
Bintang berdiri di rumahnya. Ia memakai baju adat. Kemeja putih. Sarung songket. Ikat kepala. Di lengannya, kain dari Ratna. Di lehernya, liontin dari Surya. Ia menatap cermin. Ia menatap dirinya. Ia tersenyum. Senyum yang... hangat. Senyum yang... bahagia. Senyum yang... siap.
"Kak."
Ia menoleh. Dewi berdiri di ambang pintu. Ia memakai kebaya sederhana. Rambutnya diikat. Matanya... basah. Ia tersenyum. Senyum yang... bahagia.
"Kau siap?" tanya Dewi.
Bintang mengangguk. "Siap."
Dewi berjalan mendekat. Ia meraih tangan kakaknya. Erat.
"Kak," katanya pelan. "Aku... aku bahagia. Kau... kau menikah. Kau... kau bahagia."
Bintang menatap adiknya. Hatinya... hangat.
"Iya," jawabnya pelan. "Aku menikah. Aku bahagia."
Dewi tersenyum. Air matanya jatuh. Ia memeluk Bintang. Erat.
"Kak," bisiknya. "Ibu... Ibu pasti bangga."
Bintang menutup mata. Air matanya jatuh. Ia mencium rambut adiknya. Pelan. Lembut.
"Iya," bisiknya. "Ibu pasti bangga. Ayah pasti bangga. Pak Harun pasti bangga."
Dewi mengangguk. Ia melepaskan pelukan. Ia menyeka air matanya. Ia tersenyum.
"Ayo," katanya pelan. "Warga sudah menunggu."
Bintang berjalan ke dermaga tua. Ia diiringi Andi. Andi memakai baju adat. Kemeja putih. Sarung songket. Ikat kepala. Ia tersenyum. Senyum yang... bahagia. Di belakang mereka, warga mengikuti. Mereka membawa payung. Mereka membawa bunga. Mereka membawa... doa.
Bintang tiba di dermaga. Ia menatap pelaminan. Ia menatap warga. Ia menatap... Senja. Senja berdiri di ujung dermaga. Ia memakai kebaya putih. Rambutnya disanggul. Di lehernya, kalung mutiara. Di tangannya, buket bunga. Ia tersenyum. Senyum yang... hangat. Senyum yang... bahagia. Senyum yang... siap. Di sampingnya, Dewi. Ia memakai kebaya sederhana. Rambutnya diikat. Ia tersenyum. Senyum yang... bahagia.
Bintang berjalan ke pelaminan. Ia berdiri di depan Senja. Ia menatap perempuan itu. Matanya... basah. Hatinya... penuh.
"Senja," katanya pelan.
Senja menatap Bintang. Matanya... basah.
"Bintang," katanya pelan.
Mereka saling menatap. Mereka tersenyum. Mereka... bahagia.
Pak Harun tidak ada. Tapi ada seseorang yang menggantikannya. Seorang tetua kampung. Namanya Pak Karta. Ia tua. Rambutnya putih. Kacamatanya tebal. Matanya... tajam. Ia memakai baju adat. Ia berdiri di depan pelaminan. Ia menatap Bintang dan Senja. Ia tersenyum. Senyum yang... hangat.
"Warga Tanjung Senja," kata Pak Karta. Suaranya lantang. "Hari ini... hari yang istimewa. Hari ini... kita menyaksikan pernikahan Bintang dan Senja. Dua orang yang... saling mencintai. Dua orang yang... dipersatukan oleh leluhur. Dua orang yang... akan menjaga nyanyian ini. Menjaga tanah ini. Menjaga... cinta ini."
Warga diam. Mereka menunduk. Mereka... berdoa.
"Bintang bin Surya," kata Pak Karta. "Apakah kau menerima Senja binti... sebagai istrimu? Apakah kau berjanji... untuk mencintainya? Untuk menjaganya? Untuk... bersamanya... dalam suka dan duka?"
Bintang menatap Senja. Matanya... dalam. Ia tersenyum. Senyum yang... hangat.
"Iya," jawabnya pelan. "Saya menerima. Saya berjanji."
Pak Karta mengangguk. Ia menoleh pada Senja.
"Senja binti...," katanya pelan. "Apakah kau menerima Bintang bin Surya... sebagai suamimu? Apakah kau berjanji... untuk mencintainya? Untuk menjaganya? Untuk... bersamanya... dalam suka dan duka?"
Senja menatap Bintang. Matanya... basah. Ia tersenyum. Senyum yang... hangat.
"Iya," jawabnya pelan. "Saya menerima. Saya berjanji."
Pak Karta mengangguk. Ia meraih mangkuk air. Air putih. Jernih. Ia memercikkan air itu ke Bintang dan Senja. Pelan. Lembut.
"Dengan air ini," katanya pelan, "saya menyatukan kalian. Dalam nama leluhur. Dalam nama cinta. Dalam nama... keabadian."
Warga bersorak. Mereka bertepuk tangan. Mereka menangis. Mereka... bahagia. Bintang menatap Senja. Ia tersenyum. Ia meraih tangan perempuan itu. Erat. Senja menatap Bintang. Ia tersenyum. Ia meraih tangan lelaki itu. Erat. Mereka berdiri di pelaminan. Di dermaga tua. Di bawah langit. Di ujung senja.
"Senja," bisik Bintang.
"Ya?"
"Aku mencintaimu."
Senja menutup mata. Air matanya jatuh. Ia tersenyum.
"Aku juga," bisiknya. "Aku mencintaimu."
Bintang meraih wajah Senja. Pelan. Lembut. Ia mencium kening perempuan itu. Pelan. Lembut. Warga bersorak. Mereka bertepuk tangan. Mereka menangis. Mereka... bahagia.
Sore itu, Bintang dan Senja duduk di pelaminan. Mereka menatap laut. Ombak tenang. Angin bertiup. Matahari mulai tenggelam. Langit berwarna jingga keemasan. Bintang pertama muncul di ujung senja. Kecil. Tapi terang. Warga masih merayakan. Mereka makan bersama. Mereka menyanyi bersama. Mereka menari bersama. Mereka... bahagia.
"Bintang," kata Senja pelan. "Aku... aku bahagia."
Bintang menoleh. Ia menatap Senja. Matanya... dalam.
"Aku juga," jawabnya pelan. "Aku bahagia."
Senja tersenyum. Ia menyandarkan kepala di pundak Bintang. Erat.
"Bintang," katanya pelan. "Apa kita akan hidup bahagia?"
Bintang menatap langit. Jingga. Keemasan. Bintang pertama bersinar. Terang.
"Iya," jawabnya pelan. "Kita akan hidup bahagia. Kita akan menjaga nyanyian ini. Kita akan menjaga tanah ini. Kita akan menjaga... cinta ini."
Senja mengangguk. Ia menutup mata. Ia merasa... tenang. Ia merasa... lengkap. Ia merasa... siap.
"Bintang," bisiknya.
"Ya?"
"Aku mencintaimu."
Bintang menutup mata. Ia mencium rambut Senja. Pelan. Lembut.
"Aku juga," bisiknya. "Aku mencintaimu."
Mereka duduk diam. Berpelukan. Angin bertiup. Ombak memecah. Bintang-bintang bersinar. Dan di dalam hati mereka, ada sesuatu yang... lengkap.
Cinta.
Cinta yang tumbuh dari pernikahan adat.
Di ujung senja.
Malam itu, Bintang dan Senja duduk di dermaga tua. Mereka menatap laut. Ombak tenang. Angin bertiup. Bulan sabit menggantung di ujung langit. Bintang-bintang bersinar. Terang. Abadi. Bintang memegang liontin dari ayahnya. Ia membuka liontin itu. Ia membaca surat di dalamnya. Pelan. Dalam hati.
"Bintang, anakku.
Jika kau membaca ini, berarti kau sudah menemukan liontin ini. Berarti kau sudah siap.
Ayah ingin kau tahu: Bintang Terakhir bukan tempat. Bukan juga tujuan. Bintang Terakhir adalah... kau sendiri.
Kau adalah cahaya di ujung senja. Kau adalah harapan di ujung malam. Kau adalah... bintang terakhir.
Jaga nyanyian itu. Jaga tanah itu. Jaga cinta itu.
Dan jangan lupa... ayah selalu bersamamu.
Ayahmu,
Surya."
Bintang menutup liontin itu. Air matanya jatuh. Ia menangis. Ia tidak menyeka. Ia hanya duduk. Diam. Hatinya penuh.
"Ayah," bisiknya. "Aku... aku sudah menikah. Aku... aku sudah menikah dengan Senja. Aku... aku bahagia."
Tidak ada jawaban. Hanya angin. Hanya ombak. Hanya keheningan.
"Ayah," lanjut Bintang. "Aku... aku akan menjaga semuanya. Aku... aku akan menjaga nyanyian itu. Aku... aku akan menjaga tanah itu. Aku... aku akan menjaga cinta itu."
Tidak ada jawaban. Tapi di dalam hatinya, ada sesuatu yang berbisik:
"Aku tahu. Aku percaya. Aku bangga. Aku bersamamu."
Bintang membuka mata. Ia menatap langit. Bintang-bintang bersinar. Terang. Abadi. Ia menghela napas. Ia merasa... tenang. Ia merasa... lengkap. Ia merasa... siap.
"Senja," bisiknya. "Aku... aku mencintaimu."
Senja menatap Bintang. Matanya... basah.
"Aku juga," bisiknya. "Aku mencintaimu."
Mereka duduk diam. Berpelukan. Angin bertiup. Ombak memecah. Bintang-bintang bersinar. Dan di dalam hati mereka, ada sesuatu yang... lengkap.
Cinta.
Cinta yang tumbuh dari pernikahan adat.
Di ujung senja.
BAB 49
BINTANG TERAKHIR
Malam itu langit sangat cerah. Tidak ada awan. Tidak ada bulan. Hanya bintang-bintang. Ribuan. Jutaan. Bersinar terang di atas laut. Seperti taburan permata di atas kain hitam. Bintang duduk di dermaga tua. Ia memakai kemeja putih. Rambutnya disisir rapi. Di lengannya, kain dari Ratna. Di lehernya, liontin dari Surya. Di sampingnya, Senja. Ia memakai gaun putih sederhana. Rambutnya terurai. Di lehernya, kalung mutiara. Di tangannya, buku catatan Nyi Rukmi. Mereka duduk diam. Menatap laut. Menatap langit. Menatap... bintang.
"Bintang," kata Senja pelan. "Kau tahu? Aku... aku sudah lama menunggu malam ini."
Bintang menoleh. Ia menatap Senja. Matanya dalam.
"Malam apa?"
Senja menatap Bintang. Matanya... hangat.
"Malam... ketika kita bisa duduk bersama. Di dermaga ini. Di bawah bintang-bintang. Tanpa... tanpa beban. Tanpa... tanpa ketakutan. Tanpa... tanpa apa-apa."
Bintang menatap Senja. Hatinya... hangat. Ia meraih tangan perempuan itu. Erat.
"Aku juga," katanya pelan. "Aku juga menunggu malam ini."
Mereka duduk diam. Menatap laut. Ombak tenang. Angin bertiup. Bintang-bintang bersinar. Terang. Abadi.
"Bintang," kata Senja pelan. "Aku... aku sudah membaca semua catatan nenekku. Aku... aku sudah memahami semuanya."
Bintang menoleh. Ia menatap Senja. Matanya... dalam.
"Apa yang kau pahami?"
Senja menatap Bintang. Matanya... basah.
"Aku memahami," jawabnya pelan, "bahwa Bintang Terakhir... bukan tempat. Bukan juga tujuan. Bintang Terakhir... adalah hati yang ikhlas."
Bintang menatap Senja lama. Lalu ia menunduk. Ia tersenyum. Senyum yang... hangat.
"Iya," katanya pelan. "Bintang Terakhir... adalah hati yang ikhlas."
Senja menatap Bintang. Air matanya jatuh.
"Bintang," katanya pelan. "Apa kau sudah menemukan Bintang Terakhirmu?"
Bintang menatap Senja. Matanya... dalam. Ia tersenyum. Senyum yang... tenang. Senyum yang... bahagia. Senyum yang... siap.
"Iya," jawabnya pelan. "Aku sudah menemukan."
Senja menatap Bintang. Matanya... melebar.
"Di mana?"
Bintang menatap Senja. Matanya... hangat.
"Di sini," jawabnya pelan. "Di dalam hatiku. Di dalam... cintaku. Di dalam... hidupku."
Senja menatap Bintang. Air matanya jatuh. Ia menangis. Ia tidak menyeka. Ia hanya duduk. Diam. Hatinya... penuh.
"Bintang," katanya pelan. "Aku... aku juga sudah menemukan."
Bintang menatap Senja. Matanya... dalam.
"Di mana?"
Senja menatap Bintang. Matanya... basah.
"Di sini," jawabnya pelan. "Di dalam hatimu. Di dalam... cintamu. Di dalam... hidupmu."
Bintang menatap Senja lama. Lalu ia meraih wajah perempuan itu. Pelan. Lembut. Ia menatap mata Senja. Ia tersenyum. Senyum yang... hangat. Senyum yang... bahagia. Senyum yang... siap.
"Senja," katanya pelan. "Kau... kau adalah senja yang menemani bintang. Kau... kau adalah cintaku. Kau... kau adalah hidupku."
Senja menatap Bintang. Air matanya jatuh. Ia menangis. Ia tidak menyeka. Ia hanya duduk. Diam. Hatinya... penuh.
"Bintang," katanya pelan. "Kau... kau adalah bintang terakhir. Kau... kau adalah cahaya di ujung senja. Kau... kau adalah harapan di ujung malam."
Bintang menatap Senja. Hatinya... hangat. Ia meraih tangan perempuan itu. Erat.
"Senja," katanya pelan. "Ayo kita menyanyi. Bersama. Untuk terakhir kalinya. Di dermaga ini. Di bawah bintang-bintang. Di ujung senja."
Senja mengangguk. Ia membuka buku catatan Nyi Rukmi. Ia mulai membaca. Pelan. Bait demi bait. Bintang mendengarkan. Ia mengangguk. Ia mulai menyanyi.
"Bintang di langit senja...
Cahaya yang menunggu...
Jawablah doa kami...
Sebelum malam tiba...
Bawa kami pulang...
Ke pangkuan ibunda...
Ke dalam pelukan...
Yang tak pernah sirna..."
Suaranya serak. Tapi ia menyanyi. Ia menyanyi dengan hati. Ia menyanyi dengan jiwa. Ia menyanyi... dengan cinta. Senja ikut menyanyi. Suaranya lembut. Seperti angin. Seperti ombak. Seperti... rumah.
Mereka menyanyi bersama. Di dermaga tua. Di bawah bintang-bintang. Di atas laut. Nyanyian leluhur. Nyanyian yang hampir hilang. Nyanyian yang kini... hidup kembali. Nyanyian... Bintang Terakhir.
Dan di ujung nyanyian, mereka berhenti. Mereka saling menatap. Mata mereka basah. Hati mereka penuh. Mereka tersenyum. Senyum yang... hangat. Senyum yang... bahagia. Senyum yang... siap.
"Bintang," bisik Senja.
"Ya?"
"Aku... aku mencintaimu."
Bintang menutup mata. Ia mencium kening Senja. Pelan. Lembut.
"Aku juga," bisiknya. "Aku mencintaimu."
Mereka duduk diam. Berpelukan. Angin bertiup. Ombak memecah. Bintang-bintang bersinar. Dan di dalam hati mereka, ada sesuatu yang... lengkap.
Cinta.
Cinta yang tumbuh dari Bintang Terakhir.
Di ujung senja.
Pagi berikutnya, Bintang berdiri di dermaga tua. Ia menatap laut. Ombak tenang. Angin bertiup. Matahari muncul di ufuk timur. Langit berwarna jingga keemasan. Ia memegang liontin dari ayahnya. Ia membuka liontin itu. Ia membaca surat di dalamnya. Pelan. Dalam hati.
"Bintang, anakku.
Jika kau membaca ini, berarti kau sudah menemukan liontin ini. Berarti kau sudah siap.
Ayah ingin kau tahu: Bintang Terakhir bukan tempat. Bukan juga tujuan. Bintang Terakhir adalah... kau sendiri.
Kau adalah cahaya di ujung senja. Kau adalah harapan di ujung malam. Kau adalah... bintang terakhir.
Jaga nyanyian itu. Jaga tanah itu. Jaga cinta itu.
Dan jangan lupa... ayah selalu bersamamu.
Ayahmu,
Surya."
Bintang menutup liontin itu. Air matanya jatuh. Ia menangis. Ia tidak menyeka. Ia hanya duduk. Diam. Hatinya penuh.
"Ayah," bisiknya. "Aku... aku sudah menemukan Bintang Terakhir. Aku... aku sudah menemukan diriku sendiri. Aku... aku sudah menemukan cinta."
Tidak ada jawaban. Hanya angin. Hanya ombak. Hanya keheningan.
"Ayah," lanjut Bintang. "Aku... aku akan menjaga semuanya. Aku... aku akan menjaga nyanyian itu. Aku... aku akan menjaga tanah itu. Aku... aku akan menjaga cinta itu."
Tidak ada jawaban. Tapi di dalam hatinya, ada sesuatu yang berbisik:
"Aku tahu. Aku percaya. Aku bangga. Aku bersamamu."
Bintang membuka mata. Ia menatap langit. Bintang pertama tidak muncul. Matahari masih tinggi. Tapi ia merasa... ada sesuatu yang bersinar di dalam hatinya. Sesuatu yang... seperti bintang. Sesuatu yang... seperti cinta. Sesuatu yang... seperti Bintang Terakhir.
"Senja," bisiknya. "Aku... aku adalah bintang terakhir. Aku... aku adalah cahaya di ujung senja. Aku... aku adalah harapan di ujung malam."
Ia menoleh. Senja berdiri di sampingnya. Ia tersenyum. Senyum yang... hangat. Senyum yang... bahagia. Senyum yang... siap.
"Iya," katanya pelan. "Kau adalah bintang terakhir. Dan aku... aku adalah senja yang menemani."
Bintang menatap Senja. Hatinya... penuh. Ia meraih tangan perempuan itu. Erat. Mereka berdiri di dermaga tua. Menatap laut. Menatap langit. Menatap masa depan. Tidak ada yang bicara. Tapi keheningan itu... sempurna.
"Bintang," kata Senja pelan. "Apa kita akan hidup bahagia?"
Bintang menatap Senja. Matanya... dalam.
"Iya," jawabnya pelan. "Kita akan hidup bahagia. Kita akan menjaga nyanyian ini. Kita akan menjaga tanah ini. Kita akan menjaga... cinta ini."
Senja mengangguk. Ia menyandarkan kepala di pundak Bintang. Erat.
"Bintang," bisiknya.
"Ya?"
"Aku mencintaimu."
Bintang menutup mata. Ia mencium rambut Senja. Pelan. Lembut.
"Aku juga," bisiknya. "Aku mencintaimu."
Mereka berdiri diam. Berpelukan. Angin bertiup. Ombak memecah. Matahari bersinar. Bintang pertama tidak muncul. Tapi di dalam hati mereka, ada sesuatu yang... bersinar. Sesuatu yang... seperti bintang. Sesuatu yang... seperti cinta. Sesuatu yang... seperti Bintang Terakhir.
Di dermaga tua, angin bertiup. Ombak memecah. Matahari bersinar. Dan di dalam hati Bintang, ada sesuatu yang... bersinar. Sesuatu yang... seperti harapan.
Harapan yang tumbuh dari Bintang Terakhir.
Di ujung senja.
BAB 50
LANGIT SENJA
Pagi itu langit berwarna jingga keemasan. Matahari muncul di ufuk timur. Ombak tenang. Angin bertiup pelan. Burung-burung camar terbang rendah di atas laut. Perahu-perahu nelayan bergoyang di dermaga. Anak-anak berlarian di jembatan kayu. Perempuan-perempuan menjemur ikan. Lelaki-lelaki memperbaiki jala. Tanjung Senja... hidup. Tanjung Senja... damai. Tanjung Senja... bahagia.
Bintang berdiri di teras rumah. Ia memakai kemeja putih. Rambutnya disisir rapi. Di lengannya, kain dari Ratna. Di lehernya, liontin dari Surya. Di sampingnya, Senja. Ia memakai kebaya sederhana. Rambutnya diikat. Di tangannya, buku catatan. Di belakang mereka, Dewi. Ia memakai kebaya sederhana. Rambutnya diikat. Matanya... basah. Di samping Dewi, Andi. Ia memakai kemeja rapi. Rambutnya disisir. Matanya... tajam. Di belakang mereka, warga. Mereka tersenyum. Mereka... bahagia.
Bintang menatap langit. Jingga. Keemasan. Ia menghela napas. Ia merasa... tenang. Ia merasa... lengkap. Ia merasa... siap. Ia menoleh pada Senja. Senja tersenyum. Senyum yang... hangat. Senyum yang... bahagia. Senyum yang... siap.
"Bintang," kata Senja pelan. "Kau siap?"
Bintang mengangguk. "Siap."
Senja meraih tangan Bintang. Erat. Mereka berjalan ke dermaga tua. Warga mengikuti. Mereka berjalan pelan. Mereka menatap langit. Mereka menatap laut. Mereka menatap... masa depan.
Bintang tiba di dermaga tua. Ia menatap laut. Ombak tenang. Angin bertiup. Matahari mulai tinggi. Langit biru. Bersih. Ia menghela napas. Ia menoleh pada Senja. Senja mengangguk. Ia menoleh pada Dewi. Dewi mengangguk. Ia menoleh pada Andi. Andi mengangguk. Ia menoleh pada warga. Warga mengangguk. Ia tersenyum. Ia menatap langit. Ia mulai menyanyi.
"Bintang di langit senja...
Cahaya yang menunggu...
Jawablah doa kami...
Sebelum malam tiba...
Bawa kami pulang...
Ke pangkuan ibunda...
Ke dalam pelukan...
Yang tak pernah sirna..."
Suaranya serak. Tapi ia menyanyi. Ia menyanyi dengan hati. Ia menyanyi dengan jiwa. Ia menyanyi... dengan cinta. Warga mendengarkan. Mata mereka basah. Hati mereka bergetar. Nyanyian itu... berbeda. Bukan sekadar lagu. Ada sesuatu di dalamnya. Sesuatu yang... hidup. Sesuatu yang... abadi. Sesuatu yang... Bintang Terakhir.
Bintang menyanyi sampai selesai. Ia membuka mata. Ia menatap warga. Mereka diam. Lalu mereka bertepuk tangan. Mereka menangis. Mereka tersenyum. Mereka... bahagia.
"Warga sekalian," kata Bintang pelan. "Hari ini... hari yang istimewa. Hari ini... kita berkumpul. Bukan untuk berduka. Bukan untuk berdebat. Tapi untuk... bersyukur."
Warga diam. Mereka mendengarkan.
"Kita sudah melewati banyak hal," lanjut Bintang. "Kita sudah melewati badai. Kita sudah melewati kehilangan. Kita sudah melewati... segalanya. Tapi... kita masih di sini. Kita masih... bersama. Kita masih... hidup."
Warga mengangguk. Mereka tersenyum. Mereka... bangga.
"Saya ingin berterima kasih," kata Bintang pelan. "Kepada Senja. Yang sudah menjadi senja yang menemani bintang. Yang sudah menjadi istriku. Yang sudah... menjadi cintaku."
Senja tersenyum. Air matanya jatuh.
"Kepada Dewi. Yang sudah menjadi adik yang baik. Yang sudah menjaga kampung ini. Yang sudah... menjadi keluarga."
Dewi menangis. Ia tersenyum.
"Kepada Andi. Yang sudah menjadi sahabat yang baik. Yang sudah membantu saya. Yang sudah... menjadi saudara."
Andi mengangguk. Matanya... basah.
"Kepada Pak Harun," lanjut Bintang pelan. "Yang sudah mengajari saya. Yang sudah membimbing saya. Yang sudah... menjadi kakek bagi saya."
Warga diam. Mereka menunduk. Mereka... berdoa.
"Dan kepada Ayah," kata Bintang pelan. "Yang sudah menjaga nyanyian ini. Yang sudah menjaga tanah ini. Yang sudah... menjadi teladan bagi saya."
Bintang menunduk. Air matanya jatuh. Ia menangis. Ia tidak menyeka. Ia hanya diam. Hatinya... penuh.
"Warga sekalian," katanya pelan. "Hari ini... kita bersyukur. Kita bersyukur... karena kita masih punya tanah ini. Kita masih punya nyanyian ini. Kita masih punya... cinta ini."
Warga mengangguk. Mereka tersenyum. Mereka... bahagia.
"Mari kita menjaga semuanya," kata Bintang pelan. "Mari kita... menjaga nyanyian ini. Mari kita... menjaga tanah ini. Mari kita... menjaga cinta ini."
Warga bersorak. Mereka berdiri. Mereka bertepuk tangan. Mereka menangis. Mereka... bahagia. Bintang menatap mereka. Ia tersenyum. Senyum yang... hangat. Senyum yang... bahagia. Senyum yang... siap.
Sore itu, Bintang duduk di dermaga tua. Ia menatap laut. Ombak tenang. Angin bertiup. Matahari mulai tenggelam. Langit berwarna jingga keemasan. Bintang pertama muncul di ujung senja. Kecil. Tapi terang. Ia memegang liontin dari ayahnya. Ia membuka liontin itu. Ia membaca surat di dalamnya. Pelan. Dalam hati.
"Bintang, anakku.
Jika kau membaca ini, berarti kau sudah menemukan liontin ini. Berarti kau sudah siap.
Ayah ingin kau tahu: Bintang Terakhir bukan tempat. Bukan juga tujuan. Bintang Terakhir adalah... kau sendiri.
Kau adalah cahaya di ujung senja. Kau adalah harapan di ujung malam. Kau adalah... bintang terakhir.
Jaga nyanyian itu. Jaga tanah itu. Jaga cinta itu.
Dan jangan lupa... ayah selalu bersamamu.
Ayahmu,
Surya."
Bintang menutup liontin itu. Air matanya jatuh. Ia menangis. Ia tidak menyeka. Ia hanya duduk. Diam. Hatinya penuh.
"Ayah," bisiknya. "Aku... aku sudah menjaga semuanya. Aku... aku sudah menjaga nyanyian itu. Aku... aku sudah menjaga tanah itu. Aku... aku sudah menjaga cinta itu."
Tidak ada jawaban. Hanya angin. Hanya ombak. Hanya keheningan.
"Ayah," lanjut Bintang. "Aku... aku bahagia. Aku... aku sudah menemukan Bintang Terakhir. Aku... aku sudah menemukan diriku sendiri. Aku... aku sudah menemukan cinta."
Tidak ada jawaban. Tapi di dalam hatinya, ada sesuatu yang berbisik:
"Aku tahu. Aku percaya. Aku bangga. Aku bersamamu. Selamanya."
Bintang membuka mata. Ia menatap langit. Jingga. Keemasan. Bintang pertama bersinar. Terang. Abadi. Ia menghela napas. Ia merasa... tenang. Ia merasa... lengkap. Ia merasa... siap.
"Senja," bisiknya.
Senja duduk di sampingnya. Ia meraih tangan Bintang. Erat.
"Ya?"
"Aku... aku mencintaimu."
Senja menatap Bintang. Matanya... basah. Ia tersenyum. Senyum yang... hangat. Senyum yang... bahagia. Senyum yang... siap.
"Aku juga," bisiknya. "Aku mencintaimu."
Mereka duduk diam. Berpelukan. Angin bertiup. Ombak memecah. Bintang-bintang bersinar. Dan di dalam hati mereka, ada sesuatu yang... lengkap.
Cinta.
Cinta yang tumbuh dari Bintang Terakhir.
Di ujung senja.
Beberapa tahun kemudian...
Tanjung Senja berubah. Tidak lagi sepi. Tidak lagi terbelakang. Tapi juga tidak kehilangan jati dirinya. Warga membangun sanggar. Mereka mengajar anak-anak. Mereka menyanyi. Mereka menari. Mereka... hidup. Bintang dan Senja memimpin sanggar itu. Mereka mengajar nyanyian leluhur. Mereka mengajar adat. Mereka mengajar... cinta.
Dewi menjadi guru. Ia mengajar di sekolah kampung. Ia mengajar anak-anak membaca. Ia mengajar anak-anak menulis. Ia mengajar... mimpi. Andi menjadi kepala nelayan. Ia memimpin nelayan-nelayan muda. Ia mengajar mereka melaut. Ia mengajar mereka... keberanian.
Tuan Wijaya pergi. Ia tidak kembali. Ia meninggalkan kampung. Ia meninggalkan... segalanya. Rudi dihukum. Ia dipenjara. Tapi ia menyesal. Ia menulis surat. Ia meminta maaf. Bintang memaafkan. Bintang... selalu memaafkan.
Bintang dan Senja memiliki seorang anak. Perempuan. Kecil. Cantik. Mereka menamainya... Rukmi. Nyi Rukmi. Seperti nenek Senja. Seperti penjaga nyanyian. Seperti... senja yang menemani bintang.
Sore itu, Bintang duduk di dermaga tua. Ia menatap laut. Ombak tenang. Angin bertiup. Matahari mulai tenggelam. Langit berwarna jingga keemasan. Bintang pertama muncul di ujung senja. Kecil. Tapi terang. Di sampingnya, Senja. Ia menggendong Rukmi. Ia tersenyum. Senyum yang... hangat. Senyum yang... bahagia. Senyum yang... siap.
"Bintang," kata Senja pelan. "Kau tahu? Aku... aku bahagia."
Bintang menoleh. Ia menatap Senja. Matanya... dalam.
"Aku juga," jawabnya pelan. "Aku bahagia."
Senja tersenyum. Ia menyandarkan kepala di pundak Bintang. Erat. Rukmi menatap langit. Matanya... bulat. Ia tersenyum. Senyum yang... polos. Senyum yang... bahagia. Senyum yang... siap.
"Bintang," kata Senja pelan. "Apa kau sudah menemukan Bintang Terakhirmu?"
Bintang menatap langit. Jingga. Keemasan. Bintang pertama bersinar. Terang. Abadi. Ia tersenyum. Senyum yang... hangat. Senyum yang... bahagia. Senyum yang... siap.
"Iya," jawabnya pelan. "Aku sudah menemukan."
"Di mana?"
Bintang menatap Senja. Ia menatap Rukmi. Ia menatap dermaga. Ia menatap laut. Ia menatap langit. Ia menatap... semuanya.
"Di sini," jawabnya pelan. "Di dalam hatiku. Di dalam cintaku. Di dalam... hidupku."
Senja menatap Bintang. Air matanya jatuh. Ia tersenyum. Senyum yang... hangat. Senyum yang... bahagia. Senyum yang... siap.
"Bintang," bisiknya. "Aku mencintaimu."
Bintang menutup mata. Ia mencium kening Senja. Pelan. Lembut. Ia mencium kening Rukmi. Pelan. Lembut.
"Aku juga," bisiknya. "Aku mencintaimu. Selamanya."
Mereka duduk diam. Berpelukan. Angin bertiup. Ombak memecah. Bintang-bintang bersinar. Dan di dalam hati mereka, ada sesuatu yang... lengkap.
Cinta.
Cinta yang tumbuh dari Bintang Terakhir.
Di ujung senja.
"Bintang," kata Senja pelan. "Apa kita akan hidup bahagia?"
Bintang menatap langit. Jingga. Keemasan. Bintang pertama bersinar. Terang. Abadi.
"Iya," jawabnya pelan. "Kita akan hidup bahagia. Kita akan menjaga nyanyian ini. Kita akan menjaga tanah ini. Kita akan menjaga... cinta ini."
Senja mengangguk. Ia menyandarkan kepala di pundak Bintang. Erat. Rukmi menatap langit. Matanya... bulat. Ia tersenyum. Senyum yang... polos. Senyum yang... bahagia. Senyum yang... siap.
"Bintang," bisik Senja.
"Ya?"
"Aku mencintaimu."
Bintang menutup mata. Ia mencium rambut Senja. Pelan. Lembut.
"Aku juga," bisiknya. "Aku mencintaimu."
Mereka duduk diam. Berpelukan. Angin bertiup. Ombak memecah. Bintang-bintang bersinar. Dan di dalam hati mereka, ada sesuatu yang... lengkap.
Cinta.
Cinta yang tumbuh dari Bintang Terakhir.
Di ujung senja.
EPILOG
NYANYIAN DI UJUNG SENJA
Langit di ujung barat berwarna jingga keemasan. Awan-awan tipis bergerak perlahan, seperti tangan-tangan halus yang merapikan selimut malam. Di bawahnya, laut bergelombang tenang, memantulkan cahaya senja seperti pecahan kaca berhamburan di permukaan air.
Di atas dermaga tua yang terbuat dari kayu ulin, seorang perempuan muda duduk bersila. Usianya sekitar tujuh tahun. Rambutnya hitam, panjang, diikat ekor kuda. Kulitnya sawo matang. Matanya... bulat. Seperti ibunya. Seperti senja.
Namanya Rukmi.
Ia menatap laut. Matanya... tenang. Tapi ada sesuatu di dalamnya yang tidak pernah benar-benar tenang. Sesuatu yang... hidup. Sesuatu yang... seperti bintang.
Di sampingnya, seorang lelaki tua duduk. Ia memakai kemeja putih. Rambutnya... putih. Jenggotnya... putih. Matanya... tajam. Seperti mata elang. Ia tersenyum. Senyum yang... misterius. Senyum yang... hangat. Senyum yang... bahagia.
"Ayah," kata Rukmi pelan. "Apa yang Ayah ucapkan?"
Lelaki tua itu menoleh. Ia menatap anaknya. Matanya... basah. Ia tersenyum.
"Itu nyanyian, Nak," jawabnya pelan. "Nyanyian leluhur kita."
"Untuk apa?"
"Untuk memanggil bintang."
Rukmi menoleh ke langit. Belum ada bintang. Langit masih terlalu terang.
"Bintangnya belum muncul, Yah."
"Justru itu," kata ayahnya. "Kita memanggilnya sebelum ia muncul. Supaya ia tahu kita menunggunya."
Rukmi mengerutkan kening. "Bintangnya bisa mendengar?"
"Bintang bukan benda langit, Nak," kata ayahnya pelan. "Bintang adalah cahaya yang menunggu dijawab. Setiap orang punya bintangnya sendiri. Tugas kita adalah menjaganya tetap menyala."
Rukmi diam. Ia belum mengerti. Tapi kata-kata ayahnya tertinggal di dalam hatinya, seperti benih yang ditanam di tanah basah.
"Ayah akan mengajarimu," kata ayahnya. "Tapi tidak sekarang. Nanti, kalau kamu sudah siap."
"Kapan aku siap?"
Ayahnya menatap langit. Bintang pertama muncul di ujung senja. Kecil, tapi terang.
"Ketika kamu sudah bisa mendengar keheningan," jawabnya. "Ketika kamu sudah bisa memaafkan dirimu sendiri."
Rukmi tidak mengerti. Ia hanya mengangguk.
Dermaga itu bergoyang perlahan. Angin membawa aroma garam dan kayu basah. Di kejauhan, lampu-lampu kampung mulai menyala, seperti kunang-kunang yang menempel di kaki langit.
"Ayah," kata Rukmi lagi. "Namaku Rukmi. Apakah aku juga punya bintang di langit?"
Ayahnya tertawa. Tawa yang hangat, seperti selimut di malam dingin.
"Kamu bukan punya bintang, Nak. Kamu adalah bintang itu sendiri. Dan suatu hari, kamu akan menjadi bintang terakhir yang menyinari langit senja."
Rukmi tersenyum. Ia tidak mengerti. Tapi ia merasa hangat.
Dermaga itu terus bergoyang. Langit semakin gelap. Bintang pertama semakin terang.
Dan di kejauhan, di atas dermaga tua, seorang perempuan berdiri. Ia memakai kebaya sederhana. Rambutnya terurai. Matanya... basah. Ia tersenyum. Senyum yang... hangat. Senyum yang... bahagia. Senyum yang... siap.
Ia menatap lelaki tua dan anak perempuan itu. Ia menatap suaminya. Ia menatap anaknya. Ia menatap... keluarganya. Ia menghela napas. Ia merasa... tenang. Ia merasa... lengkap. Ia merasa... siap.
"Bintang," bisiknya. "Ayo pulang. Hari sudah malam."
Lelaki tua itu menoleh. Ia menatap istrinya. Matanya... dalam. Ia tersenyum. Senyum yang... hangat. Senyum yang... bahagia. Senyum yang... siap.
"Iya," jawabnya pelan. "Ayo pulang."
Ia berdiri. Ia meraih tangan anaknya. Erat. Ia berjalan ke arah istrinya. Ia meraih tangan perempuan itu. Erat. Mereka berjalan bersama. Meninggalkan dermaga. Menuju rumah. Menuju... kehidupan.
Rukmi berjalan di antara mereka. Ia menggenggam tangan ayahnya. Ia menggenggam tangan ibunya. Ia tersenyum. Senyum yang... polos. Senyum yang... bahagia. Senyum yang... siap.
"Ayah," kata Rukmi pelan. "Ibu. Apa kita akan hidup bahagia?"
Ayahnya menoleh. Ia menatap anaknya. Matanya... basah. Ia tersenyum.
"Iya," jawabnya pelan. "Kita akan hidup bahagia. Kita akan menjaga nyanyian ini. Kita akan menjaga tanah ini. Kita akan menjaga... cinta ini."
Ibunya menoleh. Ia menatap anaknya. Matanya... basah. Ia tersenyum.
"Iya," katanya pelan. "Kita akan hidup bahagia. Kita akan menjaga nyanyian ini. Kita akan menjaga tanah ini. Kita akan menjaga... cinta ini."
Rukmi tersenyum. Ia tidak mengerti. Tapi ia merasa... hangat. Ia merasa... tenang. Ia merasa... lengkap.
Mereka berjalan pulang. Langit senja memudar. Malam datang. Dan bintang-bintang pun bermunculan, satu per satu, seperti janji-janji yang menunggu ditepati.
Di dermaga tua, angin bertiup. Ombak memecah. Bintang-bintang bersinar. Terang. Abadi. Dan di dalam hati mereka, ada sesuatu yang... lengkap.
Cinta.
Cinta yang tumbuh dari Bintang Terakhir.
Di ujung senja.
— Tanjung Senja, dua belas tahun setelah kisah ini dimulai —
Langit senja memudar. Malam datang. Dan bintang-bintang pun bersinar.
Salah satunya lebih terang dari yang lain.
Bintang terakhir di langit senja.
SELESAI
Slamet riyadi
22 Agustus 2026 21:18:02
Trims sarannya mas anang, moga sriwidadi bisa mengembangkan perpus digital...