NOVEL
CINTAKU TERSANDERA DI
JALAN SIMPANG CAMUH KUALA KAPUAS
Lampu Merah Itu Menyala, Tapi Hatiku Tak Pernah Bisa Berhenti
Oleh: Slamet Riyadi
DISCLAIMER
Cerita ini adalah karya fiksi. Nama, tokoh, alur, dan peristiwa merupakan hasil imajinasi penulis. Jika terdapat kesamaan dengan kejadian atau tokoh nyata, hal tersebut hanyalah kebetulan. Tidak ada maksud untuk menyinggung pihak mana pun. Setiap dialog, karakter, dan latar belakang sosial merupakan rekaan belaka demi kepentingan cerita.
PROLOG
Jalan Simpang Camuh. Namanya mungkin tak tercatat dalam peta besar ibu kota. Tapi bagi Haikal dan Ima, persimpangan itu adalah pusat semesta. Di sinilah roda sepeda ontel bertabrakan dengan knalpot motor matic. Di sinilah seorang anak desa dengan baju berkeringat belajar bahwa lampu merah bukanlah penghalang, melainkan peringatan. Dan di sinilah, cinta yang lahir dari benturan, bukannya remuk, justru merekat lebih erat dari aspal yang terus diperbaiki pemerintah.
Desa Sriwidadi, eks transmigrasi lahan gambut sejuta hektar, adalah tempat Haikal menghirup pertama kali udara pagi yang masih bersahabat. Nilai IDM 0,690, Indeks Desa Membangun, menjadi semacam rapor bahwa desanya tak lagi tertinggal. Tapi Haikal tahu, rapor tak pernah cukup untuk membeli mimpi. Untuk bisa berdiri di gerbang SMAN 1 Kuala Kapuas, ia harus mengayuh sepeda 75 kilometer, melewati sawah, jembatan kayu, dan satu persimpangan yang akan mengubah segalanya.
Ima Rosita Sari, anak semata wayang pemilik toko sembako "Berkah Jaya" di Jalan Cilik Kriwut, tak pernah menyangka bahwa pagi ketika ia terlambat bangun dan mengendarai motor lebih kencang dari biasanya, akan menjadi pagi yang paling ia kenang seumur hidupnya. Ia menabrak seorang laki-laki berkulit legam dengan betis kekar seperti pengayuh sepeda sejati. Laki-laki itu terjatuh. Ima ikut jatuh. Tapi bukan dari motor. Jatuh dari ketinggian rasa percaya diri bahwa hidupnya akan mulus seperti aspal baru.
Di persimpangan dengan lima penjuru mata angin itulah, timur ke Cilik Kriwut, barat ke Cilik Kriwut juga, selatan ke pusat kota, utara ke Jalan Pemuda, dan barat laut ke Rutan, cinta mereka tidak dimulai. Cinta mereka terlanjur dimulai. Dengan cara paling kacau. Paling camuh.
Ini adalah kisah tentang sepasang manusia yang harus belajar bahwa cinta tak butuh jalan mulus. Cinta hanya butuh satu persimpangan di mana dua takdir berani bertabrakan.
Selamat membaca.
BAB I
Desa Cantik Harapan Jadi
Langit Desa Sriwidadi masih berpendar oranye ketika Haikal membuka mata. Pukul 04.30 pagi. Ayam jago tetangga, si Jeger, sudah berkokok sejak setengah jam lalu seperti tukang bangunan yang tak pernah peduli hari libur.
"Haikal! Bangun!" suara Pak Sugeng dari dapur menggema tipis di dinding bilik bambu. "Kambing-kambing itu udah pada teriak kayak anak kecil kelaparan!"
Haikal mengucek mata. Ia meregangkan tangan di atas kasur tipis beralas anyaman rotan. Di sudut kamar, tiga kandang kambing buatannya sendiri terlihat samar. Dua induk dan tiga anak. Hasil satu tahun menabung keringat.
"Iya, Pak. Sedang pakai sandal," jawab Haikal serak. Padahal sandalnya masih di samping bantal.
Dari dapur, suara Bu Ratna menyusul. "Jangan lupa bawa ember yang kecil buat nyuci muka. Air sumur habis semalam buat nyuci beras."
Haikal tersenyum geli. Rumah mereka memang begitu. Segala sesuatu harus efisien. Setiap tetes air, setiap butir beras, setiap helai rumput untuk kambing, semuanya diperhitungkan seperti neraca bendahara desa.
Ia keluar kamar dengan kain sarung lusuh warna cokelat tua. Di ruang tengah, sebuah meja kayu tanpa taplak menampung dua piring berisi nasi dan sambal terasi. Sepotong tempe goreng. Segelas teh manis.
"Makannya yang banyak, Nak," kata Bu Ratna sambil membalikkan adonan gorengan di wajan kecil. "Jalan ke sawah hari ini jauh. Nanti kamu anterin sayur ke rumah Bu RT dulu."
Haikal duduk lesehan. Ia menyuap nasi dengan lahap. Selama 17 tahun hidup di desa eks transmigrasi ini, ia tak pernah sekalipun mengeluh dengan menu sederhana. Di luar sana, anak-anak sebayanya mungkin sudah sarapan dengan roti dan susu. Tapi Haikal punya sambal terasi. Itu sudah istimewa.
"Pak, kambing yang bunting itu udah makan?" tanya Haikal sambil mengunyah.
"Udah. Saya kasih rumput dari kebun belakang," jawab Pak Sugeng. Wajahnya cekatan, penuh kerutan khas petani yang terlalu sering tersenyum pada matahari. "Tapi yang jantan, si Jebul, tadi pagi teriak-teriak aneh. Mungkin ada ular."
Haikal langsung bergidik. "Jangan sampai masuk kandang, Pak."
"Makanya cepetan makan. Terus kamu cek."
Setelah sarapan, Haikal keluar rumah. Udara dingin membelai pipinya. Desa Sriwidadi di pagi hari seperti lukisan yang selesai tepat waktu. Embun masih tebal di daun singkong. Suara burung tekukur bersahutan seperti orang sedang debat kusir. Asap dapur mengepul tipis dari rumah-rumah papan yang berjajar rapi tetapi tak simetris , karena warga membangun sesuai selera masing-masing, bukan arahan tata kota.
"Haikaaalll!" teriak seseorang dari kejauhan.
Haikal menoleh. Itu Junaidi , teman sekelasnya yang juga tetangga kanan rumah. Junaidi mengendarai sepeda butut tanpa rem. Rambutnya awut-awutan seperti orang baru bangun tidur. Dan memang, dia baru bangun tidur.
"Juna, lo belum mandi?" tanya Haikal sambil mengikat tali sepatu kardus.
"Mandi nanti siang, air masih sedikit," jawab Junaidi sambil mengerem dengan sandal jepit. "Eh lo tau gak? Mbak Yuli yang jual gorengan itu kemarin lamaran."
"Serius? Sama siapa?"
"Sama Rudi, anaknya Pak Carek. Gue denger maharnya sepeda motor baru."
Haikal menelan ludah. Sepeda motor. Satu barang yang di desanya masih bisa dihitung jari. Pak Carek punya satu. Pak Kades punya satu. Pak Yanto si penggilingan padi punya dua. Sisanya , sepeda ontel.
"Ya sudahlah, namanya juga jodoh," kata Haikal singkat. Ia tak mau kepikiran terlalu lama. Ada kambing yang perlu diperiksa.
Ia berjalan ke kandang di samping rumah. Kandang itu ia buat sendiri dari bambu bekas pagar. Atapnya seng gelombang bekas bantuan bencana tiga tahun lalu. Lantainya tanah, tapi tetap Haikal sapu setiap pagi.
"Jebul!" panggil Haikal.
Kambing jantan itu mendekat. Matanya sayu. Tanduknya mulai tumbuh sedikit lancip.
"Ada apa sih, bul? Kamu teriak-teriak kenapa?"
Jebul mengembik pelan. Haikal mengamati sekeliling kandang. Di belakang tiang bambu, ternyata ada seekor ular sanca kecil melingkar. Diam-diam memangsa telur ayam tetangga yang masuk kandang.
"Wah, lo! Jangan coba-coba masuk lagi!" hardik Haikal setengah berbisik. Ia mengambil kayu kecil, lalu dengan hati-hati mengusir ular itu ke semak belakang.
Jebul seolah mengangguk lega.
Pukul 06.00, Haikal sudah berada di dapur lagi, membantu ibunya menyortir hasil panen. Hari ini, Bu Ratna akan berkeliling desa untuk menjual sayuran. Mentimun, kangkung, sawi, dan sepuluh ikat daun singkong. Semua ditaruh di keranjang bambu yang serta ada yang digantung di stang sepeda.
"Ma, hari ini saya ikut, ya?" kata Haikal sambil memasukkan kangkung ke plastik hitam.
Bu Ratna menghentikan kegiatannya. "Nggak. Kamu kan belajar. Ujian akhir tinggal tiga bulan lagi."
"Iya, Ma. Tapi sore nanti saya belajar. Paginya bantu Mama."
Bu Ratna menghela napas. Dari balik dapur, Pak Sugeng yang sedang meraut kayu untuk gagang cangkul ikut bersuara.
"Biarin aja, Bu. Anak kita itu keras kepala. Kalau dilarang, tambah nekat."
Haikal tersenyum. "Makasih, Pak."
"Tapi syaratnya," potong Pak Sugeng dengan nada tegas, "jangan lupa bawa bekal. Jangan beli jajan di warung Bu Tinah. Jutek orangnya."
"Setuju!" seru Haikal dan Bu Ratna bersamaan.
Mereka bertiga tertawa. Pecah riang di dapur bambu yang asapnya mulai mengepul lagi.
Setelah selesai menyortir, Haikal mengganti baju. Kaos lengan panjang warna biru laut. Celana katun cokelat yang sudah mulai tipis di bagian lutut. Topi caping anyaman bambu pemberian kakeknya , yang kini sudah tiada.
"Haikal, tolong lewat rumahnya Bu RT dulu. Sampaikan, nanti malam ada rapat soal dana desa untuk pembangunan jalan," pesan Bu Ratna.
"Jalan lagi? Bukannya tahun lalu sudah diperbaiki?" tanya Junaidi yang tiba-tiba muncul dari balik pagar.
"Perbaikan seadanya, Nak. Cuma ditimbun puing," jawab Bu Ratna. "Sekarang mau diaspal. Soalnya nanti ada bantuan dari kabupaten. Tapi warga harus gotong royong."
"Gotong royong? Berarti kita kuli gratis lagi dong?" Junaidi meledek.
"Kenapa kamu selalu protes, Jun?" Bu Ratna memicingkan mata. "Lo pikir, Jalan desa mulus itu buat siapa? Buat kita semua. Buat anak cucu kita."
Junaidi terdiam. Menggaruk kepalanya yang gatal.
Pukul 07.30, Haikal dan Bu Ratna mulai berkeliling. Mereka berdua menggunakan sepeda ontel. Sepeda Haikal bekas dari pamannya yang merantau ke Kalimantan Tengah. Warna merah marun, stang sedikit bengkok ke kanan, tapi tetap kuat menapaki jalan tanah berbatu.
"Mak, nanti lewat jalan mana dulu?" tanya Haikal sambil mengatur posisi keranjang.
"Lewat timur dulu. Ke rumah Pak Karim. Kata tetangganya, dia mau beli sawi lima ikat untuk acara syukuran cucunya."
"Wah, berarti cuan!"
"Iya, tapi jangan terlalu heboh. Nanti orang lain pada iri."
Haikal mengangguk. Filosofi hidup di desa transmigrasi memang begitu. Jangan terlalu bahagia di depan orang yang sedang susah. Jangan terlalu pamer walaupun hanya dapat rezeki sedikit. Menjaga perasaan adalah bagian dari kerukunan.
Sepanjang perjalanan, mereka melewati persawahan yang mulai menguning. Padi-padi bergoyang lembut ditiup angin. Beberapa petani sudah mulai beraktivitas: mencangkul, membajak dengan kerbau, atau sekadar duduk di pinggir sawah sambil merokok lintingan.
"Halo, Pak Darmo!" sapa Bu Ratna kepada seorang lelaki tua di pinggir irigasi.
"Eh, Bu Ratna. Lagi jualan sayur?"
"Iya, Pak. Ada sayur kankung, sawi, gimana pak?"
"Kangkung ada? Dua ikat. Besok anak saya dari Banjarmasin pulang. Suka banget sama kangkung tumis."
"Ada, Pak. Ini dua ikat, lima ribu."
Pak Darmo merogoh saku celananya. Mengeluarkan uang recehan. Dua ribuan, tiga ribuan. Diitung dengan jari yang gemetar.
"Nih, Bu. Tujuh ribu sekalian buat ongkos."
Bu Ratna tersenyum. "Makasih, Pak. Doakan Haikal ya, Pak. Dia mau daftar SMA di kota Kapuas nanti."
Pak Darmo menatap Haikal. Matanya berair. "Mirip ayahnya dulu. Waktu masih muda, ayahmu juga rajin dagang keliling. Tapi dia jualan es lilin."
"Saya ingat, Pak," kata Haikal pelan.
Pak Darmo mengusap bahu Haikal. "Nak, kalau sudah sukses nanti, jangan lupa desa ini. Jangan jadi orang yang lupa asal-usul."
"Siap, Pak. Insya Allah."
Perjalanan berlanjut. Mereka singgah di rumah Bu RT, lalu ke rumah Pak Kades yang ternyata sedang dipasangi pagar beton. Pekerja dari kecamatan Mantangai datang dengan truk kecil.
"Wah, rumah Pak Kades sekarang kayak istana," bisik Haikal.
"Jangan iri, Nak. Rumah kita sederhana tapi berkah," jawab Bu Ratna.
Haikal diam. Ia tahu maksud ibunya. Tapi di dalam hati, pertanyaan menggelitik: Mengapa orang baik sering hidup berkekurangan? Mengapa rezeki seolah memilih jalannya sendiri?
Mereka berhenti di bawah pohon rindang dekat lapangan desa. Beberapa ibu-ibu sedang menganyam tikar. Ada yang sembari menyusui bayi, ada yang sambil bergosip tentang calon mantu Pak Carek yang datang dari Banjarmasin.
"Bu Ratna, ikut duduk, Bu!" ajak Bu Darmi, tetangga depan rumahnya.
"Iya, Mi. Haikal, kamu jaga sepedanya."
Haikal duduk di atas batang pohon kelapa yang tumbang. Tak jauh dari sana, sekelompok anak-anak bermain kelereng di tanah lapang. Debu beterbangan setiap kali jari telunjuk mereka memantik kelereng.
"Hai, Haikal!" sapa seorang anak laki-laki berkepala plontos. Namanya Norman, anaknya Bu Yati yang jual gado-gado.
"Lo ikut main, Kal?" tanya Norman dengan mata berbinar.
"Enggak, Man. Gue lagi jagain jualan."
"Sok sibuk!" ledek Norman lalu tertawa.
Haikal hanya terkekeh. Masa-masa seperti ini akan ia rindukan jika nanti benar kuliah di kota. Ia sadar betul, bahwa desa dengan segala kekurangan adalah tanah yang paling subur untuk menanam mimpi.
Setelah berkeliling selama tiga jam, dagangan Bu Ratna hampir habis. Total pendapatan hari itu sekitar sembilan puluh ribu rupiah. Setelah dikurangi modal, laba bersih sekitar empat puluh ribu.
"Besok kita ke Pasar Mantangai, Nak. Di sana lebih ramai," kata Bu Ratna sambil menghitung uang koin.
"Ma, saya mau buka celengan," ujar Haikal tiba-tiba.
Bu Ratna menoleh. "Untuk apa?"
"Pengen lihat berapa tabungan saya. Sudah setahun ini saya nabung dari jualan Susu kambing dan kicauan burung yang anakan."
Bu Ratna menghela napas. "Kamu yakin mau pakai uang itu untuk sekolah nanti? Bukan untuk jajan atau beli yang enak-enak?"
Haikal menggeleng tegas. "Sumpah, Ma. Buat sekolah."
Ibu itu tersenyum. Matanya berkaca-kaca. "Allah, semoga kau di berkati anakku ini."
Di rumah, Haikal langsung berlari ke kamar. Dari bawah tumpukan pakaian, ia mengeluarkan celengan bambu. Celengan itu ia potong dengan pisau dapur. Isinya: uang kertas berbagai nominal , dua ribuan, lima ribuan, sepuluh ribuan. Ada juga koin yang saling bertumpuk.
Ia menghitung satu per satu di lantai. Total: Rp 1.270.000.
"Wah, lumayan!" pekik Haikal.
Dari luar, Pak Sugeng berseru. "Apa yang lumayan, Nak?"
"Tabungan saya, Pak. Sudah satu juta dua ratusan!"
Pak Sugeng masuk ke kamar. Matanya menyipit melihat tumpukan uang di lantai. "Ini dari mana aja?"
"Dari susu kambing. Saya jual ke tetangga, satu gelas sepuluh ribu. Terus dari anakan burung lovebird. Waktu itu saya beli sepasang harga seratus lima puluh. Ternyata rajin bertelor, jadi lumayan."
Pak Sugeng terdiam. Ia memeluk Haikal erat. "Nak, Bapak malu. Bapak hanya bisa jadi petani. Nggak bisa ngasih banyak."
Haikal membalas pelukan itu. "Nggak apa-apa, Pak. Bapak sudah kasih yang terbaik. Sekarang giliran Haikal yang berjuang."
Di dapur, Bu Ratna menangis tersedu-sedu sambil membalik gorengan.
Malam harinya, Desa Sriwidadi diselimuti gelap. Listrik dari genset hanya menyala dari pukul 18.00 hingga 21.00. Warga terbiasa dengan rutinitas itu. Lampion-lampion seadanya dinyalakan di teras rumah. Ada yang pakai lampu petromaks, ada yang pakai lilin di dalam toples bekas.
Haikal, Junaidi, Norman, dan beberapa anak seusianya berkumpul di pos ronda. Mereka duduk di bangku panjang sembari memakan ubi rebus yang masih hangat.
"Gue denger, lo mau daftar SMA di Kuala Kapuas?" tanya Norman.
"Bener," jawab Haikal.
"Gila, lo. Jauh banget. Naik apa?"
"Sepeda ontel."
Semua tertawa keras. Tawa itu bukan ejekan. Itu tawa kagum bercampur tak percaya.
"Lo serius, Kal? Jauh, lho. 75 kilometer," celetuk Junaidi sambil nyruput teh hangat.
"Gue serius. Gue udah cek di google lewat HP-nya Pak Kades. Rutenya lewat jalan lintas trans. Trus lewat palingkau , jalan pemuda serta Lewat Simpang Camuh dulu, baru terus ke arah kota."
"Simpang Camuh? Yang ada Rumah Tahanan itu?" tanya Norman.
"Iya. Itu persimpangan kecil. Katanya lima arah jalan jadi kacau kalau pagi hari. Makanya namanya Camuh."
Junaidi garuk-garuk kepala. "Gue sih nggak berani. Lo tau sendiri jalan di sini kalau hujan becek banget. Lengket di ban, Belum lagi kalau ban bocor."
"Gue udah siapin ban cadangan," kata Haikal santai.
Mereka terdiam. Angin malam berdesir di antara sela-sela bilik bambu.
"Haikal, gue salut sama lo," ujar Norman pelan. "Lo berani bermimpi."
Haikal tersenyum. "Gue nggak bermimpi, Man. Gue punya target."
Pukul 22.00, Haikal pulang. Rumah sudah sepi. Pak Sugeng tidur di ruang depan dengan radio transistor yang masih menyala. Suara penyiar menyanyikan lagu dangdut koplo dari stasiun radio swasta.
"Pak, nggak tidur di kamar?" tanya Haikal.
"Ah, bentar lagi. Habis ini matiin radio."
Haikal duduk di samping ayahnya. Mereka berdua menatap langit-langit yang gelap.
"Nak," Pak Sugeng memulai.
"Ya, Pak."
"Bapak nggak punya banyak harta. Rumah ini dindingnya bambu, atapnya seng bekas. Tapi Bapak punya satu hal yang nggak semua orang punya."
"Apa, Pak?"
"Bapak punya anak yang gak pernah nyerah."
Haikal meremas tangan ayahnya yang kasar. Penuh kapalan. Penuh perjuangan.
"Bapak, nanti kalau Haikal jadi sarjana, Haikal balik lagi ke sini. Bantu Bapak di sawah."
Pak Sugeng tersenyum. "Jangan janji dulu. Nanti kamu lupa sama desa ini kalau udah sukses."
Haikal menggeleng. "Nggak akan, Pak. Desa ini tempat Haikal lahir. Tempat Haikal belajar bersepeda. Tempat Haikal pertama kali jatuh cinta."
"Jatuh cinta? Sama siapa?" tanya Pak Sugeng tiba-tiba bersemangat.
"Eh, belum ada, Pak! Cuma kiasan!"
"Wah, hati-hati, Nak. Jangan sampai jatuh cinta sebelum punya pekerjaan tetap. Nanti sakit, tahu."
Mereka tertawa sampai Bu Ratna terbangun dan komplain dari dalam.
BAB II
Sepeda Ontel dan Lampu Merah Yang Tak Dipahami
Tiga bulan berlalu sejak malam Haikal menghitung uang celengan di lantai bambu. Kini, pagi itu berbeda. Pagi ini adalah pagi pengumuman kelulusan SLTP. Haikal sudah bangun sejak pukul 03.30. Tidak bisa tidur. Perutnya berdesir seperti ada ribuan belalang terbang di dalamnya.
"Haikal! Lo udah bangun dari tadi?" suara Junaidi dari balik jendela kamar. Jendela itu hanya lubang persegi berjeruji bilah bambu.
"Udah, Jun. Lo sendiri kok masih pakai sarung?"
"Gue baru bangun, kale. Lo kegugupan banget sih."
Haikal membuka pintu kamar. Junaidi sudah berdiri di teras dengan rambut awut-awutan. Matanya masih sayu. Di tangannya, sepoci teh panas mengepul.
"Lo sarapan dulu, Jun. Nanti kita ke sekolah bareng," kata Haikal sambil mengucek mata.
"Ya ampun, Kal. Baru jam setengah empat. Sekolah aja masih tutup."
"Gue pengen cepet sampai. Biar bisa lihat pengumuman paling depan."
Junaidi menggeleng-gelengkan kepala. "Lo tuh aneh. Biasanya santai banget, sekarang kayak kebakaran jenggot."
Dari dalam rumah, Bu Ratna sudah mulai berisik di dapur. Suara wajan bergesek dengan spatula besi. Bau telur dadar menyusup ke seluruh ruangan.
"Haikal! Junaidi! Sini sarapan dulu!" teriak Bu Ratna.
Mereka berdua masuk ke ruang tengah. Meja kayu sudah ditata dengan dua piring nasi putih, telur dadar, tempe goreng, dan sambal terasi. Teh manis di gelas plastik bekas selai.
"Wah, Bu Ratna, masakannya enak banget hari ini," puji Junaidi sambil langsung menyantap.
"Ya iyalah. Hari ini anak saya pengumuman kelulusan. Doain ya, Jun, biar Haikal lulus dengan nilai bagus."
Junaidi mengangguk dengan mulut penuh nasi. "Amin, Bu. Tapi jujur, Haikal tuh pinter. Nggak usah didoain juga pasti lulus."
"Diam lo, Jun. Jangan sok tahu," potong Haikal setengah tersenyum.
Pukul 05.30, langit mulai terang. Haikal dan Junaidi berangkat ke sekolah dengan sepeda ontel. Jalanan desa masih sepi. Beberapa warga mulai membuka warung. Asap dari cerobong dapur mengepul tipis.
"Jun, lo bayangin nggak, besok kita sudah tidak pakai seragam SMP lagi?" kata Haikal sambil mengayuh pelan.
"Gue sih belum kepikiran sampai sananya, Kal. Yang penting lulus dulu."
"Masa sih lo nggak pengen lanjut SMA?"
Junaidi menghela napas panjang. "Gue pengen, tapi ortu gue bilang, mending langsung kerja. Bantu bapak di bengkel."
Haikal terdiam. Junaidi adalah teman terbaiknya sejak kecil. Mereka berdua sering main ke sawah, mancing ikan di parit, atau sekadar rebahan di pos ronda sambil melihat bintang.
"Lo yakin nggak lanjut sekolah, Jun?"
"Yakin nggak yakin sih, Kal. Tapi apa boleh buat. Hidup itu pilihan. Gue pilih bantu keluarga."
Haikal mengayuh lebih kencang. Ia tidak mau Junaidi melihat matanya yang mulai berkaca-kaca.
Mereka tiba di halaman SMP Negeri 1 Mantangai pukul 06.15. Halaman sekolah sudah ramai. Puluhan siswa berkumpul di depan papan pengumuman yang masih tertutup kain putih.
"Wah, rame banget!" seru Junaidi.
"Ya iyalah, ini hari pengumuman," jawab Haikal sambil memarkir sepeda.
Dari kejauhan, sesosok perempuan melambai ke arah mereka. Itu Siti , gadis tetangga desa yang duduk di bangku sebelah Haikal. Rambutnya diikat dua dengan pita merah muda. Jilbab putihnya tampak bersih walaupun sudah dipakai berkali-kali.
"Haikal! Junaidi! Kamu di sini!" teriak Siti sambil berlari kecil.
"Ada apa, Ti? Lo kayak orang kebakaran," ledek Junaidi.
"Gue panik! Kata Bu Guru, nilai matematika gue kurang bagus. Takut nggak lulus."
Haikal menepuk bahu Siti. "Tenang aja, Ti. Lo kan rajin belajar. Pasti lulus."
"Lo jangan sok nentuin, Kal. Belum tentu."
Mereka bertiga berdiri di depan papan pengumuman. Ratusan pasang mata tertuju ke satu titik: papan yang masih tertutup misteri.
Pukul 07.00, bel sekolah berbunyi. Kepala sekolah, Bapak Misnan, keluar dari ruang guru dengan langkah gagah. Beliau mengenakan kemeja batik lengan panjang dan peci hitam. Di tangannya, secarik kertas yang akan membuka takdir puluhan siswa.
"Selamat pagi, anak-anak," sapa Pak Misnan dengan suara berat.
"Selamat pagi, Pak!" seru semua siswa serempak.
"Seperti kalian ketahui, hari ini adalah hari yang menentukan. Hari di mana kalian akan mengetahui apakah kalian layak melanjutkan ke jenjang berikutnya."
Jantung Haikal berdebar kencang. Tangannya berkeringat. Siti di sampingnya menggenggam erat ujung jilbabnya.
"Namun sebelum saya membacakan hasil kelulusan," lanjut Pak Misnan, "saya ingin berpesan. Bagi yang lulus, jangan sombong. Bagi yang belum berhasil, jangan putus asa. Hidup bukan hanya tentang nilai."
Junaidi berbisik ke Haikal. "Pak Misnan kayak orator zaman perjuangan aja."
"Diomongin serius, Jun," bisik Haikal balik.
"Baiklah," kata Pak Misnan sambil membuka kertas. "Saya akan membacakan nama-nama siswa yang dinyatakan LULUS. Apabila nama kalian tidak disebut, harap datang ke ruang guru untuk konsultasi lebih lanjut."
Kegaduhan di antara siswa mulai mereda. Semua menarik napas dalam-dalam.
"Nama pertama... Siti Aminah."
Siti berteriak kecil. "Ya Allah, Alhamdulillah!" Ia langsung menangis sambil memeluk Haikal.
"Selamat, Ti," kata Haikal serak. Tangan Siti masih gemetar.
"Nama kedua... Ahmad Junaidi."
Junaidi terkesiap. "Gue lulus? GUE LULUS?" teriaknya sambil melompat-lompat.
"Iya, lo lulus, Jun. Diam lu!" hardik Haikal setengah tertawa.
"Nama ketiga... Miftahul Haikal."
Haikal diam. Tidak bergerak. Tidak bersuara. Matanya menerawang ke langit.
"HAIKAL! LO LULUS!" teriak Junaidi sambil menggoyang bahu Haikal.
"Gue... gue lulus?" bisik Haikal.
"LULUS, TOLOL! NAMA LO DIPANGGIL!"
Haikal akhirnya tersadar. Ia langsung berlari ke depan papan pengumuman. Tangannya gemetar saat membuka kain putih yang selama ini menghalangi pandangan. Di sana, nomor induknya tertera dengan rapi: 17-03-2001 - Miftahul Haikal - LULUS.
"YA ALLAH! TERIMA KASIH!" pekik Haikal sekeras-kerasnya.
Beberapa siswa menoleh. Ada yang tersenyum, ada yang ikut menangis bahagia, ada juga yang justru terdiam karena namanya tidak tercantum.
Siti, Junaidi, dan beberapa teman lain mendekati Haikal. Mereka berpelukan. Tawa dan tangis bercampur jadi satu.
"Haikal, lo hebat!" kata Siti sambil menyeka air mata.
"Lo juga hebat, Ti. Kita semua hebat."
Di sudut halaman, tampak seorang siswa laki-laki berdiri menyendiri. Ia menatap Haikal dengan tatapan tajam. Itu Heru , anak Pak Carek. Sepatu pantofelnya mengkilap. Seragamnya paling rapi karena dicuci laundry setiap hari.
"Hmph. Lulusan kampung kayak dia aja bisa lulus," gumam Heru sambil menyilangkan tangan.
Di samping Heru, Marni , sahabat Siti yang iri karena Siti suka Haikal , ikut berkomentar. "Iya, Hueru Padahal belajar aja nggak pernah bawa buku bagus. Selalu buku lusuh."
"Biarin, nanti di SMA nggak akan laku anak desa kayak dia. Nggak ada uang buat biaya."
Marni terkekeh jahat.
Haikal tidak mendengar semua itu. Pikirannya sedang melayang ke satu hal: bagaimana cara memberitahu orang tuanya? Dan bagaimana caranya mengumpulkan uang untuk mendaftar ke SMAN 1 Kuala Kapuas?
Sepulang sekolah, Haikal tidak langsung pulang. Ia mengajak Junaidi dan Siti ke warung Bu Tinah , si jutek yang suka ngomel-ngomel. Warungnya berupa bangunan semi permanen di pinggir jalan desa. Meja dan kursi dari kayu bekas. Atapnya dari seng.
"Lo pesan apa, Kal?" tanya Junaidi sambil duduk lesehan.
"Es teh manis sama gorengan. Lo?"
"Sama. Tahu isi tiga."
"Ngomong-ngomong, Kal," potong Siti, "lo serius mau daftar SMAN 1 Kuala Kapuas? Jauh banget, lho."
Haikal menghela napas. "Gue udah niat dari tahun lalu, Ti. Gue udah nabung. Lo jangan kecilin gue."
"Gue nggak ngecilin. Gue cuma... khawatir. Lo sendirian di kota besar. Siapa yang jagain?"
Junaidi nyruput es tehnya dengan berisik. "Biarin aja, Ti. Haikal tuh keras kepala. Mau lo larang atau nggak, dia tetep jalan."
"Gue nggak melarang, Jun! Gue cuma peduli," sahut Siti agak kesal.
Haikal tersenyum melihat mereka berdua. "Makasih, Ti. Makasih, Jun. Tapi gue udah bulat. Sepeda ontel gue siap. Jalan 75 kilometer itu gue tempuh."
"75 kilometer?" Siti hampir tersedak. "Lo nggak naik mobil aja, Kal? Kan ada bus dari kecamatan ke kota."
"Gue hemat, Ti. Ongkos mobil 20 ribu sekali jalan. Pulang pergi 40 ribu. Gue bisa beli ban sepeda baru sama duit segitu."
Junaidi menggeleng-gelengkan kepala. "Lo bener-bener edan, Kal. Tapi gue suka kegilaan lo."
Mereka tertawa bertiga. Di kejauhan, semburat senja mulai menghiasi langit. Warna jingga tercampur ungu seperti lukisan abstrak raksasa.
Haikal pulang saat magrib. Rumahnya terlihat lebih ramai dari biasanya. Ada tiga sepeda motor terparkir di halaman. Dua motor bebek, satu motor trail butut.
"Wah, ada tamu?" gumam Haikal.
Begitu masuk, ia melihat Pak Sugeng dan Bu Ratna sedang duduk bersama Pak Kades, Pak RT, dan Pak Darmo. Semua wajah mereka serius.
"Assalamualaikum," sapa Haikal.
"Waalaikumsalam, Haikal. Mari sini," panggil Pak Kades , seorang lelaki gemuk dengan kumis tebal. Beliau selalu membawa buku catatan ke mana pun.
"Ada apa, Kades?" tanya Haikal sambil duduk di lantai.
Pak Kades mengusap wajahnya. "Haikal, kami dengar dari Junaidi, kamu mau daftar sekolah di Kuala Kapuas."
"Iya, Kades. Betul."
Pak Kades menoleh ke Pak Sugeng. Pak Sugeng hanya menghela napas.
"Anak ini keras kepala, Pak Kades. Saya sudah bilang, di Mantangai juga ada SMA. Kenapa harus jauh-jauh ke Kapuas?" suara Pak Sugeng terdengar lelah.
Karena SMAN 1 Kuala Kapuas favorit, Pak. Akreditasinya A. Lulusannya banyak yang masuk PTN terkenal.
"Tapi ongkosnya, Nak," potong Bu Ratna dengan suara parau. "Kita punya apa? Sawah hanya dua petak. Kambing itu milikmu. Hasil jualan sayur hanya cukup buat makan."
Haikal menunduk. Matanya mulai berkaca-kaca. "Ma, Pa... Haikal sudah janji sama diri Haikal sendiri. Haikal harus keluar dari desa ini."
Pak Darmo yang dari tadi diam, akhirnya bersuara. "Sugeng, Ratna... anak ini punya mimpi besar. Jangan kalian matikan."
"Tapi, Pak Darmo..." Pak Sugeng ingin membantah.
"Dengar," potong Pak Darmo tegas. "Dulu saya juga anak desa. Saya merantau ke Banjarmasin tanpa bekal. Saya hanya bawa semangat. Lihatlah sekarang? Saya punya sawah sendiri, punya sapi tiga ekor. Bukan karena warisan, tapi karena saya berani keluar dari zona nyaman."
Ruang tamu mendadak hening. Haikal menatap Pak Darmo dengan mata penuh haru.
Pak Kades berdeham. "Baiklah. Saya sebagai kepala desa mendukung penuh Haikal. Tapi ada satu syarat."
"Syarat apa, Pak Kades?" tanya Haikal.
"Haikal harus membantu desa ini suatu hari nanti. Tidak harus sekarang. Tapi janjikan, ilmu yang kamu dapatkan di kota, kamu bawa pulang ke sini."
Haikal langsung mengangguk. "Saya janji, Pak Kades! Sumpah demi Allah!"
Pak Kades tersenyum. Lalu ia mengeluarkan amplop cokelat dari saku jaketnya. "Ini. Sumbangan dari Pemerintah Desa. Nggak banyak. Lima ratus ribu. Cukup buat beli seragam dan buku."
Pak Sugeng langsung bangkit. " Pak Kades. Ini terlalu banyak. Kami nggak bisa."
"Pak Sugeng, ini bukan sedekah. Ini investasi desa. Haikal nanti akan jadi orang sukses. Saya yakin."
Haikal menerima amplop itu dengan tangan gemetar. "Terima kasih, Pak Kades. Terima kasih, Pak Darmo. Terima kasih, Pak RT. Saya tidak akan menyia-nyiakan pemberian ini."
Pak Darmo mengusap kepala Haikal. "Nak, ingat. Kesuksesan itu mahal. Tapi bukan karena uang. Tapi karena pengorbanan. Kamu rela bersepeda 75 kilometer? Itu baru permulaan. Nanti ada ujian yang lebih berat."
"Apa itu, Pak?"
"Kesepian. Rindu rumah. Gagal. Jatuh. Dan mungkin... cinta."
Semua orang tertawa. Haikal tersipu malu.
"Bapak-bapak ini, ngomongin cinta mulu," gerutu Haikal.
"Ya iyalah. Masa depan itu bukan cuma soal nilai. Jatuh cinta itu juga ujian," ledek Pak RT.
Seminggu kemudian, pengumuman penerimaan siswa baru SMAN 1 Kuala Kapuas resmi dibuka. Haikal sudah mempersiapkan segalanya: fotokopi ijazah, SKHUN, pas foto, dan berkas-berkas lain dalam map plastik biru.
"Lo benar-benar jadi naik sepeda ontel?" tanya Junaidi saat mengantar Haikal di gerbang desa.
"Bener, Jun. Ini perjuangan gue."
Junaidi menghela napas. "Gue kagum sama lo. Tapi tolong hati-hati. Jalan ke Kapuas tuh banyak truk."
"Gue tahu. Nanti gue pakai helm."
"Helm? Lo punya helm?"
Haikal mengeluarkan helm proyek bekas dari balik keranjang. "Ini. Helm bekas tukang bangunan. Lumayan lah daripada botak kena debu."
Junaidi tertawa terbahak-bahak. "Lo tuh gila, Kal! Tapi... gue doakan yang terbaik."
Siti juga datang. Ia membawakan kantong plastik berisi nasi bungkus. "Ini bekal lo, Kal. Jangan lupa makan. Jangan cuma minum air kelapa terus."
"Makasih, Ti." Haikal menerima bekal itu. "Lo jagain Junaidi ya kalau gue nggak ada. Jangan sampai dia bolos kerja."
"Siapa yang bolos kerja? Gue rajin, tahu!" protes Junaidi.
Haikal memeluk Junaidi, lalu Siti. "Gue pergi dulu. Doakan gue sampai tujuan."
"Allah selalu bersamamu, Haikal," kata Siti dengan mata berkaca-kaca.
Haikal mengayuh sepeda ontelnya perlahan. Arah ke timur, menuju jalan provinsi yang akan melewati sawah, hutan karet, perkebunan kelapa sawit, hingga akhirnya memasuki wilayah Kecamatan Mantangai.
Perjalanan sejam pertama masih terasa ringan. Haikal melewati Desa Sumber Alaska, kemudian Desa Mampai, lalu Desa Palingkau. Jalanan mulai beraspal sebagian. Setiap kali truk lewat, debu beterbangan seperti kabut tipis.
"Semoga tidak hujan," gumam Haikal sambil mendorong sepeda di tanjakan.
Seorang bapak-bapak yang sedang memancing di parit menyapanya. "Nak, mau ke mana sendirian?"
"Ke Kuala Kapuas, Pak. Mau daftar SMA."
Bapak itu bersiul. "Jauh, Nak. 50 kilometer lagi itu. lo kuat?"
"Insya Allah kuat, Pak."
"Semangat ya, Nak. Nanti kalau sudah jadi sarjana, jangan lupa sama orang desa."
"Siap, Pak!"
Haikal melanjutkan perjalanan. Pukul 08.30, ia tiba di Pasar Palingkau. Pasar yang cukup ramai dengan pedagang sayur, ikan, dan daging. Suara tawar-menawar memekakkan telinga.
"Haikal! Haikal!" seseorang memanggil dari balik lapak.
Haikal menoleh. Ternyata Ucup , anak tukang bakso yang suka nge-bully dengan cara lucu.
"Eh Cup! Lo ngapain di sini?"
"Ngebantu bapak jualan bakso. Lo sendiri mau ke mana?"
"Mau daftar SMA di Kapuas."
Ucup terbelalak. "Naik sepeda ontel?"
"Iya."
"Oke deh, lo gila. Tapi oke, gila lo itu keren banget."
Haikal tertawa. "Udah dulu ya, Cup. Nanti kalau gue pulang, gue mampir ke bakso lo."
"Janji lho? Gue bikinin bakso super jumbo!"
"Janji!"
Haikal terus mengayuh. Keringat sudah membasahi seluruh punggung kaos biru lautnya. Jalanan mulai sepi. Tak ada lagi warung. Tak ada lagi rumah. Yang ada hanya hamparan kebun karet di kiri kanan. Batang-batang karet menjulang tinggi, daunnya rimbun menciptakan terowongan alam yang gelap dan lembab.
"Gila, jauh juga ternyata," gumam Haikal sambil mengusap kening. "Padahal baru sekitar 30 kilometer."
Ia berhenti sejenak di pinggir jalan. Meneguk air dari botol aqua bekas yang sudah penyok. Airnya hangat karena terpanggang matahari.
"Dasar air kemasan murahan, panas begini," gerutunya sambil mengocok botol.
Dari balik semak belukar, terdengar suara batuk kering. Haikal menoleh kaget. Seorang lelaki separuh baya keluar dari kebun karet. Pakaiannya lusuh. Celana pendek compang-camping. Kaos singlet putih yang sudah berubah jadi abu-abu. Di tangannya, sebuah ember kecil berisi getah karet.
"Kamu nak, dari mana sendirian?" tanya lelaki itu dengan suara parau. Wajahnya penuh kerutan. Kulitnya hitam legam karena panas.
"Saya dari Desa Sriwidadi, Pak. Mau ke Kuala Kapuas."
"Oalah... jauh itu, Nak. Jauh. Naik apa?"
"Sepeda ontel, Pak."
Lelaki itu bersiul. "Sepeda ontel? Baru kali ini saya lihat anak muda seberani kamu. Biasanya pada naik mobil atau motor."
"Saya nggak punya ongkos, Pak. Makanya nekat naik sepeda."
Lelaki itu mengangguk-angguk. Lalu ia duduk di atas batang pohon tumbang. Menepuk-nepuk tanah di sampingnya.
"Duduk dulu, Nak. Istirahat. Kamu pasti capek."
Haikal mengikuti. Ia duduk di samping lelaki itu. Embusan angin hutan membuat bulu kuduknya merinding.
"Siapa nama kamu, Nak?"
"Haikal, Pak. Bapak sendiri siapa?"
"Panggil saja Pak Bejo. Saya penyadap karet di sini. Sudah 20 tahun."
"Sendirian, Pak?"
"Sendirian. Istri saya meninggal 5 tahun lalu. Anak saya... dia di Surabaya. Kuliah, katanya. Tapi sudah 3 tahun nggak pulang."
Pak Bejo menghela napas panjang. Matanya menerawang ke arah barat, ke tempat matahari mulai bergeser.
"Pak Bejo sedih?"
"Sedih? Sudah biasa, Nak. Yang namanya anak... kalau sudah sukses di kota, kadang lupa sama orang tua di desa."
Haikal terdiam. Ia memegang erat setang sepedanya.
"Saya nggak akan begitu, Pak. Saya janji."
Pak Bejo menepuk pundak Haikal. "Jangan janji dulu, Nak. Hidup itu berubah. Orang juga berubah. Tapi... kalau kamu benar-benar punya hati, ingatlah pesan saya."
"Apa pesan Bapak, Pak?"
"Sukses itu indah, Nak. Tapi lupa kampung halaman itu aib. Sebesar apa pun gelar yang kamu capai, kalau kamu lupa dari mana kamu berasal, kamu hanya sampah yang kebetulan berbau wangi."
Haikal mengangguk pelan. Kata-kata Pak Bejo terpatri dalam dadanya.
"Pak, anak Bapak kuliah jurusan apa?"
"Teknik. Di salah satu universitas negeri di sana. Saya bangga, sebenarnya. Tapi... setiap malam, saya sendirian di gubuk ini. Hanya ditemani nyamuk dan suara jangkrik."
"Bapak nggak punya HP?"
"Punya. Tapi nomornya sudah berganti. Anak saya ganti nomor tanpa bilang-bilang. Kabar terakhir setahun lalu. Itu pun lewat mantan istrinya teman sekampung."
Haikal merasakan dadanya sesak. Ia membayangkan suatu hari nanti, orang tuanya akan mengalami hal yang sama jika ia lupa pulang.
"Pak Bejo, nanti kalau saya sudah sukses, saya cari anak Bapak. Saya sampaikan bahwa Bapak kangen."
Pak Bejo tertawa kecil. "Kamu baik, Nak. Tapi jangan pusingkan urusan saya. Fokus ke tujuanmu dulu. Jalan masih panjang."
Haikal berdiri. Menyeka celananya yang terkena tanah.
"Pak Bejo, saya pamit dulu. Semoga Bapak sehat selalu."
"Kamu juga, Nak. Hati-hati di jalan. Nanti kalau sudah sampai di Simpang Camuh... hati-hati, ya. Tempat itu angker. Banyak kecelakaan."
"Angker? Ada hantunya, Pak?"
Pak Bejo tertawa keras. "Bukan hantu, Nak. Yang angker itu ulah manusia. Lampu merah sering diabaikan. Orang-orang terburu-buru. Banyak yang tabrakan."
"Siap, Pak. Saya akan hati-hati."
Haikal mengayuh lagi. Sekali lagi, ia menoleh ke belakang. Pak Bejo sudah menghilang di balik semak-semak. Hanya suara parangnya yang memotong dahan karet terdengar samar.
Sekitar pukul 11.00, matahari tepat di atas kepala. Haikal mulai merasakan setang sepedanya berat. Tidak biasa. Ia turun dan memeriksa ban belakang.
"Sial! Bocor!" umpatnya kesal.
Ban belakang kempes seperti balon yang dikempiskan perlahan. Haikal mengamati sekeliling. Tidak ada rumah. Tidak ada bengkel. Hanya hutan galam dan kebun rambutan yang membentang luas.
"Ya Allah, ini cobaan apa lagi," keluhnya sambil duduk di pinggir jalan.
Ia membuka tas pinggangnya. Di dalamnya ada perlengkapan tambal ban: karet tipis, lem, kikir, dan satu set obeng cilik. Semuanya sudah ia siapkan sejak malam.
"Ingat kata Pak Sugeng, 'Orang yang siap tidak akan panik'," ucapnya menguatkan diri.
Ia mulai melepas ban belakang. Panas terik membuat tangannya licin oleh keringat. Keringat menetes ke aspal, langsung menguap.
"Susah amat, sih!" kesalnya sambil memukul ban.
Saat ia sedang asyik mengikir bagian ban yang bocor, Ia mendengar suara gemerincing lonceng. Ia menoleh.
Seorang pria berbadan tambun mengendarai Tosa mendekatinya. Tosanya penuh dengan barang-barang bekas: botol plastik, kardus, besi tua, dan beberapa ban bekas.
"Mas, kenapa? Ban bocor?" tanya pria itu dengan logat Jawa yang kental.
"Iya, Mang. Baru mau ditambal."
"Wah, sini saya bantuin. Saya Mang Udin. Tukang rosok keliling."
"Rosok? Barang bekas, Mang?"
"Iya. Saya kumpulin sampah, botol, kardus, besi. Saya jual ke pengepul. Hasilnya buat makan."
Mang Udin turun dari Tosa. Badannya memang tambun, tapi gerakannya lincah. Ia langsung jongkok di samping Haikal.
"Mas ini dari mana?"
"Dari Desa Sriwidadi, Mang. Mau daftar SMA di Kuala Kapuas."
Mang Udin terbelalak. "Naik sepeda ontel? Jauh, Mas! Saya naik Tosa aja sampai bukan main capeknya."
"Makanya saya tambal dulu, Pak. Nanti lanjut."
Mang Udin mengambil ban Haikal. Ia memeriksa lubang bocornya dengan jeli.
"Ini bocornya di sini. Kena paku, Mas. Lihat, masih ada bekas paku nyangkut."
Haikal mengamati. Betul. Sebuah paku kecil masih menancap di telapak ban.
"Kurang ajar, siapa yang tebar paku di jalan," umpat Haikal.
"Biasa, Mas. Itu ulah orang iseng yang main di pinggir jalan. Mereka sengaja tebar paku biar orang pada bocor." Mang Udin menggeleng-geleng kepala. "Dunia ini memang nggak adil."
Mang Udin mulai menambal dengan gerakan cepat. Ia mengikir, mengoles lem, menempel karet, dan memukul-mukulnya dengan gagang obeng.
"Wah, Mang Udin jago juga."
"Heh, saya dulu montir, Mas. Tapi bengkel saya bangkrut. Sekarang cuma bisa kumpulin rosok."
"Kenapa bangkrut, Mang?"
Mang Udin terdiam. Matanya sayu. "Karena saya percaya sama teman. Teman saya pinjam uang buat modal. Setelah dapat, dia kabur ke Kalimantan Timur. Saya terlilit utang. Akhirnya bengkel saya disita."
"Wah, kasihan sekali, Mang."
"Ya, sudah jalannya. Tapi saya nggak pernah menyesal. Saya masih punya gerobak. Masih punya sapi. Masih bisa makan."
Haikal tersenyum. "Bapak orang kuat."
"Bukan kuat, Mas. Tapi saya nggak punya pilihan lain selain bertahan. Kalau saya menyerah, siapa yang kasih makan sapi saya?"
Mereka berdua tertawa. Dalam hitungan 15 menit, ban Haikal sudah selesai ditambal.
"Berapa, Mang? Saya bayar."
"Nggak usah, Mas. Saya nggak minta bayaran."
"Tapi, Mang..."
"Pokoknya nggak usah. Anggap saja ini sedekah. Semoga kamu sukses nanti. Dan kalau sudah sukses, jangan jadi orang yang tebar paku di jalan, ya!"
Haikal mengangguk haru. "Saya janji, Mang. Saya akan bantu orang lain seperti Mang Udin membantu saya."
"Nah, gitu dong. Udah, cepat lanjut. Nanti sore keburu gelap."
Haikal memasang kembali ban. Mengencangkan baut-bautnya. Lalu ia berdiri.
"Mang, sebelum saya pergi, boleh saya tahu bapak tinggal di mana?"
"Di Desa Rawa Mulya. Sebelah timur dari sini. Tapi rumah saya cuma gubuk kecil di pinggir rawa. Nggak layak."
"Mang Udin, doakan saya, ya."
"Mau saya doakan apa?"
"Doakan supaya nanti suatu hari, saya bisa kembali ke sini dan membangun bengkel untuk Bapak."
Mata Mang Udin berkaca-kaca. "Nak, Kamu sungguh malaikat tanpa sayap. Semoga Allah memberkati langkahmu."
Haikal mengayuh lagi. Setiap kali ia menoleh ke belakang, Mang Udin masih berdiri sambil melambai-lambaikan tangan.
Haikal terus mengayuh. Perutnya mulai keroncongan. Jam menunjukkan pukul 10.00. Ia sudah bepergian hampir 4 jam dengan istirahat yang minim.
"Harus cari makan dulu," katanya sendiri.
Di pinggir jalan, terlihat sebuah warung sederhana. Atapnya rumbia yang sudah bolong-bolong. Dindingnya anyaman bambu. Di depan warung, seorang perempuan separuh baya sedang menggoreng sesuatu di wajan besar.
Haikal memarkir sepeda. Ia mendekati warung itu.
"Permisi, Bu. Ada yang jual?"
Perempuan itu menoleh. Wajahnya bulat, pipinya merona karena panas kompor. "Ada, Mas. Nasi jagung, gorengan, teh hangat. Mau apa?"
"Nasi jagung aja, Bu. Seporsi."
"Tambahan lauk?"
"Tempe goreng sama sambal, Bu."
"Duduk dulu, Mas. Saya siapkan."
Haikal duduk di bangku kayu yang sudah usang. Meja di depannya terbuat dari papan bekas peti kemas. Di atas meja, sebotol kecap dan sambal botolan merek dagang.
Tak lama, semangkuk nasi jagung hangat disajikan. Warnanya kemerahan karena dicampur kelapa parut dan sedikit gula jawa. Haikal langsung menyantap dengan lahap.
"Mas ini dari mana? Sendirian aja?" tanya Bu Lastri sambil duduk di seberang.
"Dari Desa Sriwidadi, Bu. Mau daftar SMA di Kuala Kapuas."
"Wah, jauh sekali. Naik apa?"
"Sepeda ontel, Bu."
Bu Lastri menggeleng-geleng. "Anak muda zaman sekarang memang beda-beda. Ada yang malas sekolah padahal rumah dekat. Ada yang nekad kayak kamu."
"Nekad kenapa, Bu?"
"Nekad itu bukan negatif, Mas. Nekad itu berani. Dan orang berani biasanya sukses."
Dari belakang warung, seorang anak laki-laki keluar. Usianya sekitar 10 tahun. Kaos oblong lusuh. Celana pendek cokelat.
"Bu, ini airnya sudah habis," kata anak itu sambil membawa ember kosong.
"Oh, ini anak saya. Namanya Amin." Bu Lastri menoleh ke Amin. "Nak, tolong ambilkan air dari sumur belakang."
"Bentar, Bu. Saya lihat sepeda kakak itu keren," kata Amin sambil menatap sepeda ontel Haikal.
"Keren? Biasa aja, Min. Sepeda bekas," kata Haikal tersenyum.
"Tapi keren, Kak. Saya juga pengen punya sepeda. Biar bisa sekolah jauh-jauh."
Haikal terenyuh. "Kamu sekolah di mana, Min?"
"Di SD Desa Rawa Mulya. Jaraknya 3 kilometer. Setiap pagi saya jalan kaki."
"3 kilometer? Nggak pakai sepeda?"
"Enggak punya, Kak."
Haikal menghela napas. Ia teringat masa kecilnya yang juga tak punya sepeda sampai kelas 5 SD.
"Min, nanti kalau kakak sudah sukses, kakak belikan sepeda untuk kamu, ya."
Amat berseri-seri. "Beneran, Kak?"
"Beneran. Tapi kamu harus rajin sekolah. Janji?"
"Janji, Kak!" Amin mengangkat tangan kanannya seperti sumpah tentara.
Bu Lastri tertawa. "Anak saya ini kalau dikasih janji, diingat sampai mati, Mas. Jangan sampai lupa ya."
"Insya Allah, Bu. Saya tidak akan lupa."
Suasana warung semakin hangat. Amin duduk di samping Haikal. Bertanya banyak hal tentang desa Sriwidadi, tentang sepeda, tentang kota Kapuas.
"Kak, susah nggak sekolah di kota?" tanya Amin.
"Pasti susah, Min. Tapi kalau nggak dicoba, nggak akan tahu."
"Kalau gagal gimana, Kak?"
Haikal berpikir sejenak. "Gagal itu nggak masalah. Yang jadi masalah adalah ketika kita nggak bangkit lagi."
Amin mengangguk paham. Padahal usianya baru 10 tahun.
Selesai makan, Haikal pamit. Bu Lastri memeluknya erat.
"Jaga diri baik-baik, Mas. Semoga sukses."
"Siap, Bu. Terima kasih."
Haikal melanjutkan perjalanan. Kini ia memasuki kawasan padang galam yang sunyi. Jalanan semakin sepi. Hanya kadang-kadang truk maerial melintas dengan kecepatan tinggi.
"Nggak ada rumah, nggak ada warung. Ini zona sepi banget," gumam Haikal.
Tiba-tiba, dari kejauhan, terdengar suara knalpot motor yang bising. Bukan satu motor, tapi puluhan. Suara knalpot itu seperti sengatan lebah yang mendekat.
"Wah, kelompok motor nih," kata Haikal gugup.
Ia terus mengayuh, tidak mau ambil pusing. Tapi motor-motor itu mulai mengepungnya. Ada sekitar 15 motor dengan stiker aneh-aneh di bodinya. Di jaket mereka, tertera tulisan: Kalimantan Sakti.
"Heh, lo!" teriak seorang pria botak dengan tato di lengan kiri. Dia adalah ketua geng itu , Ucup, preman yang terkenal di jalur Mantangai-Kapuas.
Haikal berhenti. "Ada apa, Bang?"
Ucup turun dari motor. Dia berjalan mendekat dengan gaya yang sengaja dibuat menyeramkan. Matanya menyipit.
"Lo berani lewat sini bawa sepeda ontel? Kayak orang zaman kolonial!"
Anggota geng yang lain tertawa. Seorang pemain bernama Rojak , teman Ucup yang paling sadis , ikut turun.
"Lihat tuh sepedanya, Bang. Udah karatan segala," ejek Rojak sambil menendang ban depan sepeda Haikal.
Haikal menahan amarah. "Bang, saya cuma mau pergi ke Kapuas. Saya nggak bawa uang banyak. Saya nggak ganggu bapak-bapak."
"Lo pikir kami minta uang?" Ucup tertawa keras. "Kami cuma mau kasih tahu. Jalur ini milik kami. Siapa pun yang lewat harus izin."
"Izin gimana, Bang?"
"Bayar. Lima puluh ribu."
Haikal terdiam. Uangnya hanya cukup untuk pendaftaran. Tidak lebih.
"Bang, saya nggak punya uang. Saya cuma anak desa. Lihat saja sepeda saya. Mana mungkin saya punya lima puluh ribu?"
Rojak mendekat. Tangannya mencoba membuka keranjang belakang.
"Nih, lihat! Ada bekal!" seru Rojak sambil mengambil kantong plastik berisi nasi bungkus dari Siti.
"Jangan ambil itu!" teriak Haikal.
"Apa lo berani ngelarang?" Rojak menantang.
Haikal berdiri tegap. Dadanya membusung. "Itu bekal dari teman saya. Sampai kapan pun saya nggak akan biarkan preman kayak lo ambil paksa makanan saya."
Ucup mengangkat alis. "Berani juga lo, bocah. Badan kering kayak lidi, tapi mulut tajam kayak golok."
"Golok atau tidak, yang jelas saya nggak takut."
Suasana memanas. Rojak melempar nasi bungkus ke tanah. Lalu menendang keranjang Haikal sampai penyok.
"KAMI BILANG BAYAR LIMA PULUH RIBU, TOLOL!"
Haikal mengepalkan tangan. "SAYA NGGAK PUNYA!"
Ucup mengeluarkan pisau lipat dari saku celananya. "Lo mau kami bacok? Di sini sepi. Nggak ada saksi."
Haikal berkeringat dingin. Ini pertama kalinya ia berhadapan dengan kekerasan jalanan.
Tapi tiba-tiba, dari arah berlawanan, terdengar suara sirine polisi. Sebuah mobil patroli melaju pelan.
"Ada polisi, Bang!" teriak salah satu anggota geng.
"Cepet cabut!" perintah Ucup.
Satu per satu motor geng "Kalimantan Sakti" melarikan diri. Ucup sempat menoleh ke Haikal.
"Lo beruntung hari ini, bocah. Lain kali ketemu, lo nggak bakal lolos!"
Mobil patroli berhenti di samping Haikal. Seorang polisi turun. Badannya tegap, kumis tebal, senjata tergantung di pinggang. Itu Pak Bram , anggota Lalu Lintas Polres Kapuas.
"Kamu tidak apa-apa, Nak?" tanya Pak Bram.
Haikal menghela napas lega. "Alhamdulillah, Pak. Bapak datang tepat waktu."
"Saya sudah memantau geng itu dari jauh. Mereka memang sering meresahkan warga. Tadi sengaja saya ke sini karena dengar laporan."
"Terima kasih, Pak."
Pak Bram mengamati sepeda Haikal. "Kamu dari mana? Mau ke mana sendirian?"
"Dari Sriwidadi, Pak. Mau daftar SMA di Kapuas."
"Hebat. Kamu berani. Tapi lain kali, jangan berangkat sendirian. Bawa teman atau minta diantar keluarga."
"Saya tidak punya siapa-siapa, Pak. Orang tua saya petani. Mereka tidak bisa antar."
Pak Bram menghela napas. "Baik. Saya antar kamu sampai perbatasan Kapuas. Naik mobil saya. Sepeda saya masukkan ke bagasi."
"Nggak usah, Pak. Saya kuat."
"Perintah, Nak. Saya polisi. Kamu harus patuh."
Haikal tersenyum. Ia memasukkan sepeda ke bagasi mobil patroli. Kemudian duduk di kursi penumpang.
Di dalam mobil, Pak Bram memutar radio polisi. Suara statis dan kode-kode angka terdengar samar.
"Nak, kamu berniat jadi apa nanti?" tanya Pak Bram.
"Saya ingin jadi dokter, Pak. Atau setidaknya bekerja di bidang kesehatan."
"Mulia sekali cita-citamu. Tapi jangan lupa. Jadi polisi juga mulia, lho." Pak Bram tertawa kecil.
"Saya tahu, Pak. Tapi saya lebih tertarik menyelamatkan nyawa daripada menangkap penjahat."
"Keduanya sama mulia, Nak. Menyelamatkan nyawa dan menangkap penjahat sama-sama melindungi manusia."
Mereka melewati padang galam yang semakin lebat. Sesekali truk melintas dengan kecepatan tinggi.
"Nak, ada satu nasihat dari saya," lanjut Pak Bram.
"Silakan, Pak."
"Jalan menuju sukses itu tidak lurus. Ada tanjakan, turunan, tikungan tajam, bahkan jalan buntu. Tapi yang terpenting... jangan pernah menyerah sebelum melewati lampu merah."
"Lampu merah, Pak?"
"Iya. Lampu merah adalah waktu untuk berhenti. Bukan karena gagal, tapi karena kamu perlu istirahat. Perlu melihat sekeliling. Perlu mengecek apakah perjalananmu masih aman."
Haikal merenung. "Berarti lampu merah itu bukan penghalang?"
"Bukan. Lampu merah adalah sinyal bahwa Tuhan sayang padamu. Dia memberi waktu agar kamu tidak menabrak bahaya di depan."
Sekitar 20 menit kemudian, mobil patroli berhenti di sebuah papan besar. Di papan itu tertulis:
"SELAMAT DATANG DI KABUPATEN KAPUAS"
"Kapuas Kota AIR , Aman, Indah, Ramah"
"Inilah perbatasan, Nak," kata Pak Bram.
Haikal turun. Mengeluarkan sepeda dari bagasi. "Terima kasih banyak, Pak. Saya tidak tahu bagaimana membalas kebaikan Bapak."
"Cukup dengan menjadi orang sukses dan berguna bagi bangsa. Itu balasan terbaik."
Pak Bram mengeluarkan kartu nama. "Ini nomor saya. Kalau ada masalah di Kapuas, hubungi saya. Saya punya banyak kenalan di sana."
"Terima kasih, Pak. Sampai jumpa."
"Selamat berjuang, Haikal."
Pak Bram melaju pergi. Haikal berdiri di perbatasan itu. Dadanya berdebar. Kota Kapuas ada di depan mata. Tinggal 20 kilometer lagi.
"Ya Allah, beri aku kekuatan," bisiknya.
Haikal mengayuh dengan semangat baru. Jalanan di wilayah Kapuas lebih bagus. Aspalnya mulus. Ada trotoar di kiri kanan. Tiang-tiang listrik berjajar rapi.
"Akhirnya sampai juga," katanya sambil mengatur napas.
Jam menunjukkan pukul 12.30. Ia sudah bersepeda lebih dari 4 jam. Pantatnya terasa pegal. Betisnya bergetar setiap kali menginjak pedal.
Tapi kemudian, ia melihat sesuatu yang membuat jantungnya berhenti sejenak.
Di depannya, terbentang sebuah persimpangan Bundaran besar. Bukan perempatan biasa. Kemudian memasuki jalan pemuda , melewati SMA 2 Kuala Kapuas, SMK I Kuala Kapuas serta Pom bensin lalu sebuah persimpangan kecil, bukan perempatan biasa, Ini perlimaan. Lima jalur bertemu di satu titik. Di tengah persimpangan, ada Tugu kecil serat terdapat lampu lalu lintas.
Haikal membaca nama di papan petunjuk:
- Timur→ Jalan Cilik Kriwut
- Barat→ Jalan Cilik Kriwut (arah sebaliknya)
- Selatan→ Jalan Menuju Kota Kapuas
- Utara→ Jalan Pemuda
- Barat Laut→ Jalan Rutan (Rumah Tahanan)
"Simpang Camuh," baca Haikal pelan. "Jadi ini tempat yang dimaksud Pak Bejo."
Saat itu, lampu lalu lintas di depannya berwarna MERAH.
Haikal berhenti. Ia ingat nasihat Pak Bram tentang lampu merah. "Waktu untuk berhenti dan melihat sekeliling," ucapnya.
Tapi kemudian ia melihat beberapa pengendara motor tetap melaju. Mereka mengabaikan lampu merah. Hanya karena tidak ada polisi di pos sekitarnya.
"Kalau mereka bisa lewat, kenapa aku harus berhenti?" pikir Haikal.
Ia memutuskan untuk terus mengayuh. Perlahan. Ia pikir tidak ada yang salah.
Tapi dari arah timur , dari Jalan Cilik Kriwut , sebuah sepeda motor melaju kencang. Matanya yang mengendarai perempuan. Rambutnya terurai. Jilbabnya putih. Matanya panik.
"YANG BENAR AJA, KALI!" teriak Haikal saat melihat motor itu melesat menerjang lampu merah dari arah yang berbeda.
BRAAAAKKKKK!!!!
Tabrakan tak terhindarkan. Sepeda Haikal terpental ke trotoar. Haikal sendiri melayang sejenak sebelum jatuh dengan lutut dan siku menggores aspal. Kepalanya nyaris membentur tiang lampu. Untung helm proyek masih terpasang.
Motor gadis itu juga jatuh. Body sampingnya penyok. Spion patah. Gadis itu terpelanting ke sisi jalan tapi berhasil selamat dengan luka lecet di telapak tangan.
"Ck... aduh..." rintih Haikal sambil memegangi lutut yang berdarah.
Gadis itu bangkit. Wajahnya merah padam. Matanya mengeluarkan api amarah.
"KAMU BUTA! GAK LIHAT LAMPU MERAH MENYALA!!!!" teriak gadis itu dengan suara melengking tinggi.
Beberapa pengendara lain berhenti. Mereka melihat dari kejauhan. Tapi tidak ada yang berani mendekat.
Haikal masih terduduk di trotoar. Ia menatap sepedanya yang ringsek. Keranjang belakang penyok. Ban depan bengkok. Stangnya miring ke kanan.
"Sepeda... sepedaku..." bisik Haikal dengan mata berkaca-kaca.
Gadis itu berjalan mendekat. Sebal, jengkel, tapi ada sedikit rasa bersalah di matanya.
"Kamu dari mana sih? Nggak lihat lampu merah?" tanyanya lagi dengan nada sedikit menurun.
Haikal menatapnya. "Lampu merah... buat apa?"
Gadis itu terdiam. Tidak percaya.
"Maksud kamu?"
"Di desaku tidak ada lampu merah. Aku tidak tahu kalau warna merah artinya berhenti."
Gadis itu menghela napas panjang. Amarahnya mulai luntur. Digantikan oleh rasa aneh , campuran iba dan malu.
"Kamu... dari desa?" tanyanya pelan.
"Ya. Desa Sriwidadi, Kecamatan Mantangai. Aku mau daftar di SMAN 1 Kuala Kapuas."
"Serius? SMA yang sama dengan aku?"
Haikal mengangguk lemas.
Gadis itu duduk di samping Haikal. Di trotoar Simpang Camuh. Lampu lalu lintas sudah berganti hijau, lalu kuning, lalu merah lagi. Tapi mereka masih duduk di sana.
"Maaf... aku Ima. Ima Rosita Sari."
"Haikal."
"Aku... ikut bertanggung jawab atas sepedamu, Kal."
"Panggil Haikal saja. Kita belum akrab."
Ima tersenyum kecil. "Baik. Haikal. Maafkan aku. Aku juga buru-buru tadi. Aku terlambat bangun. Ayah dan ibuku sudah menungguku di sekolah."
Haikal masih menunduk. Melihat lukanya. Melihat sepedanya. Melihat nasibnya yang seolah diatur oleh persimpangan ini.
"Haikal," panggil Ima lembut.
"Apa?"
"Aku tahu ini aneh. Tapi... mungkin Tuhan mempertemukan kita lewat tabrakan ini karena suatu alasan."
Haikal menatap Ima. Sore itu, cahaya mentari menyinari wajah Ima dari samping. Rambutnya yang terurai sedikit tertiup angin. Matanya bulat, berbinar-binar, tapi penuh sesal.
"Astaga... kenapa dia cantik banget meskipun baru saja menabrakku?" pikir Haikal dalam hati.
"Apa alasan itu?" tanya Haikal akhirnya.
Ima mengangkat bahu. "Entahlah. Mungkin kita harus berdamai dulu. Lalu... mungkin... kita bisa berteman."
Haikal tertawa kecil. "Kamu menabrakku, sepedaku ringsek, aku luka-luka, terus kamu ajak berteman?"
"Iya." Ima tersenyum malu.
"Gila kamu."
"Bukan gila. Namanya takdir."
Haikal terdiam. Angin siang berembus. Debu-debu beterbangan di Simpang Camuh. Lampu merah menyala lagi. Tapi kali ini, Haikal paham artinya.
Lampu merah untuk berhenti. Dan dia berhenti. Bukan karena kecelakaan. Tapi karena di persimpangan yang kacau ini, dia menemukan sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan: sebuah awal yang tak terduga dari seorang gadis bernama Ima Rosita Sari.
BAB III
Gadis Yang Menabrak dan Sebuah Nama
Simpang Camuh masih ramai meskipun sore mulai bergeser ke senja. Lampu merah berganti hijau, Kuning lalu merah lagi, seperti orkestra yang tak pernah selesai. Haikal masih duduk di trotoar. Lututnya yang lecet sudah mulai mengering, tapi rasa perihnya masih terasa setiap kali angin menyentuh luka itu.
Ima Rosita Sari duduk di sampingnya. Jarak mereka hanya satu lengan. Cukup dekat untuk Haikal mencium wangi sabun dari kerudung putih Ima. Wangi itu aneh. Tidak seperti sabun colek yang biasa dipakai ibunya. Ini wangi yang lebih mahal. Lebih halus. Lebih... kota.
"Kamu nggak mau ke puskesmas?" tanya Ima sambil menunjuk lutut Haikal.
"Ngapain? Cuma lecet."
"Tapi itu luka lumayan dalam. Bisa infeksi."
Haikal tertawa kecil. "Kamu anak dokter?"
"Bukan. Tapi aku anak toko. Di tokoku ada obat-obatan. Jadi aku tahu sedikit."
"Anak toko? Toko apa?"
Ima menghela napas. Sepertinya ia sedikit gengsi menjawab, tapi akhirnya ia berkata juga, "Toko sembako. Toko Berkah Jaya di Jalan Cilik Kriwut."
Haikal mengangkat alis. "Toko sembako? Berarti keluarga kamu penjual beras, gula, minyak goreng?"
"Iya. Kenapa? Kamu punya masalah dengan pedagang sembako?"
"Bukan masalah. Cuma... aku anak petani dan pedagang sayur keliling. Jadi kita sama-sama pedagang. Bedanya, orang tuaku jualan pakai sepeda ontel, orang tuamu jualan pakai toko."
Ima terdiam. Ia tidak tahu harus bereaksi apa. Apakah Haikal sedang mengejeknya? Atau justru sedang berusaha mencari kesamaan?
"Maaf," kata Ima pelan. "Aku nggak bermaksud sombong atau apa. Aku cuma..."
"Khawatir?" potong Haikal.
"Iya. Khawatir."
Haikal menoleh. Matanya menatap Ima dalam-dalam. "Aneh. Baru kenal, tapi kamu sudah khawatir. Padahal kamu yang menabrakku."
Ima tersenyum canggung. "Maaf sekali lagi."
"Sudah. Aku nggak mau dengar kata maaf terus. Kalau kamu benar-benar merasa bersalah, bantu aku perbaiki sepeda ini."
Ima menatap sepeda ontel merah marun yang kini tergeletak miring. Keranjang belakangnya penyok. Ban depan bengkok. Stangnya miring ke kanan. Sepeda itu seperti prajurit yang kalah perang.
"Bisa diperbaiki?" tanya Ima ragu.
"Tentu saja bisa. Ini sepeda ontel, bukan motor canggih. Di desaku, sepeda yang lebih parah dari ini pun bisa diselamatkan."
"Baik. Aku bantu."
Ima berdiri. Ia melepas jilbabnya sedikit agar lebih leluasa bergerak. Haikal sempat mencuri pandang ke wajah Ima. Tanpa sadar, ia berkata dalam hati: "Ya Allah, kenapa dia cantik banget?"
Mereka berdua mulai memperbaiki sepeda. Ima memegangi badan sepeda agar tidak oleng, sementara Haikal membetulkan stang yang miring. Beberapa pengendara motor melintas dan mencuri pandang. Ada yang tersenyum. Ada yang menggeleng. Ada yang berhenti sebentar hanya untuk melihat pemandangan aneh: seorang gadis berkerudung putih sedang memegangi sepeda ontel usang, ditemani lelaki berkulit legam dengan luka di lutut.
"Kamu hebat juga benerin sepeda," kata Ima sambil menyeka keringat di dahinya.
"Di desa, semua anak laki-laki harus bisa benerin sepeda. Kalau nggak bisa, jalan kaki ke sekolah 10 kilometer."
"Sekolahmu 10 kilometer dari rumah?"
"15 kilometer, tepatnya. Tapi karena naik sepeda, jadi terasa lebih dekat."
Ima terdiam. Ia membayangkan betapa beratnya perjuangan Haikal setiap hari. Sementara ia sendiri setiap pagi diantar ayahnya dengan motor matic. Jarak dari rumah ke sekolah hanya 5 kilometer.
"Haikal, kamu... orang miskin ya?" tanya Ima tanpa berpikir panjang.
Haikal berhenti memutar stang. Ia menatap Ima dengan sorot tajam.
"Maaf. Aku nggak bermaksud..."
"Tidak apa-apa. Kamu jujur. Itu bagus." Haikal kembali membetulkan stang. "Tapi jangan panggil aku miskin. Panggil saja aku... orang yang sedang berjuang."
Ima mengangguk. "Baik. Orang yang sedang berjuang. Aku suka istilah itu."
"Mengapa?"
"Karena miskin itu terdengar permanen. Tapi berjuang itu proses. Dan proses selalu punya akhir. Entah sukses atau gagal."
Haikal tersenyum. Ini pertama kalinya ia tersenyum setelah kecelakaan itu.
"Kamu pintar juga berbicara, Ima."
"Aku anak toko. Setiap hari bicara dengan banyak orang. Jadi aku belajar bagaimana memilih kata-kata."
"Kata-kata yang bagus. Kamu bisa jadi penjual yang sukses nanti."
Ima menggeleng. "Aku nggak mau jualan. Aku mau jadi perawat."
"Perawat? Kenapa?"
"Karena aku ingin membantu orang. Menyentuh mereka. Menyembuhkan mereka. Itu lebih berarti daripada menjual beras dan gula."
Haikal berhenti bekerja. Ia menatap Ima dengan pandangan berbeda. Seperti baru pertama kali melihat Ima yang sesungguhnya.
"Kita sama, Ima."
"Sama? Maksudmu?"
"Aku ingin jadi dokter. Atau setidaknya bekerja di bidang kesehatan. Aku ingin menyelamatkan orang-orang desa yang tidak punya akses ke rumah sakit."
Ima tersenyum lebar. "Jadi kita satu visi?"
"Sepertinya begitu."
Mereka berdua terdiam. Angin siang berhembus lagi. Debu-debu beterbangan. Tapi di antara mereka yang duduk di trotoar Simpang Camuh, ada sesuatu yang baru lahir. Bukan cinta. Belum. Tapi setidaknya... rasa hormat.
"Mbak Ima! Mbak Ima!"
Suara teriakan dari kejauhan memecah keheningan. Seorang perempuan berlari kecil ke arah mereka. Tubuhnya mungil. Wajahnya bulat. Jilbab merah mudanya hampir terlepas karena terburu-buru. Di belakangnya, seorang laki-laki dengan kumis tebal berjalan cepat.
"Astaga, Mbak Ima! Saya cari Mbak ke mana-mana!" kata perempuan itu sambil mengatur napas.
Ima menghela napas. "Lia, kenapa kamu di sini?"
"Bapak suruh jemput Mbak. Bapak panik! Kata Bapak, Mbak sudah dua jam nggak sampai ke sekolah. HP Mbak juga mati."
"HP-ku jatuh waktu kecelakaan. Batereinya copot."
Lia menoleh ke Haikal. Matanya menyipit. "Ini siapa, Mbak? Yang Mbak tabrak?"
"Iya. Ini Haikal. Haikal, ini Lia. Asisten rumah tangga di rumahku."
Haikal mengangguk sopan. "Halo, Lia."
Lia tidak membalas sapaan. Ia malah mendekati Haikal dan berbisik, "Lo jangan macam-macam sama Mbak Ima, ya. Keluarga dia orang berpengaruh di sini."
Haikal tertawa kecil. "Tenang. Aku nggak punya niat macam-macam. Aku cuma mau daftar SMA."
Laki-laki berkumis tebal yang tadi berjalan di belakang Lia kini berdiri di depan Haikal. Sosoknya besar. Dadanya bidang. Kumisnya tebal seperti sikat.
"Kamu anak siapa?" tanya laki-laki itu dengan suara berat.
"Ini siapa, Ima?" tanya Haikal.
"Ini Pak Dadang. Ayahku," jawab Ima pelan. Kali ini suaranya benar-benar kecil. Seperti tikus yang ketahuan mencuri keju.
Pak Dadang menatap Haikal dari ujung rambut hingga ujung kaki. Matanya tajam. Seperti sedang menilai harga seekor kambing di pasar.
"Ayah, ini Haikal. Dia dari Desa Sriwidadi. Aku... aku menabraknya." Ima berbicara cepat, seperti ingin segera menyelesaikan kalimatnya.
"Menabrak?" Pak Dadang mengerutkan kening. "Kamu yang menabrak? Bukan dia yang menabrakmu?"
"Iya, Ayah. Aku yang salah. Aku terburu-buru. Lampu merah tidak aku lihat."
Pak Dadang menghela napas panjang. Napas itu berat, seperti orang yang baru selesai mengangkat karung beras 50 kilogram.
"Nak, kamu tidak apa-apa?" tanya Pak Dadang akhirnya.
Haikal menggeleng. "Saya baik-baik saja, Pak. Hanya lecet sedikit."
"Sepedamu?"
"Penyok. Tapi bisa diperbaiki."
Pak Dadang mengeluarkan dompet dari saku celananya. Dompet kulit hitam yang tebal. Ia mengambil beberapa lembar uang pecahan lima puluh ribuan.
"Ini. Untuk ganti rugi."
Haikal menatap uang itu. Lalu menatap Pak Dadang. Lalu menatap Ima.
"Saya tidak minta uang, Pak."
"Ambil saja. Ini hakmu."
"Saya tidak butuh uang Bapak. Saya butuh sepeda saya kembali utuh. Itu saja."
Pak Dadang terkejut. Biasanya, setiap kali anak perempuannya terlibat masalah, uang selalu menjadi solusi paling mudah. Tapi anak desa di depannya ini menolak uang.
"Kamu yakin?"
"Sangat yakin, Pak."
Pak Dadang memasukkan kembali uang itu ke dompet. Ia menghela napas lagi. "Baik. Terserah kamu. Tapi kalau nanti kamu berubah pikiran, kamu tahu di mana toko kami. Toko Berkah Jaya di Jalan Cilik Kriwut."
"Siap, Pak."
"Haikal, kamu punya HP?" tanya Ima tiba-tiba.
"Punya. Tapi lagi tidak ada pulsa. Di desaku jarang pakai HP. Lebih sering pakai surat."
Ima tersenyum. "Kuno sekali kamu. Baiklah. Aku mau kasih nomor HP-ku. Kalau nanti ada masalah atau butuh bantuan, hubungi aku."
Haikal mengeluarkan HP dari saku celananya. HP itu HP jadul. Layarnya kecil. Tombolnya sudah aus. Beberapa huruf di keypad sudah tidak terbaca.
"Wow," kata Lia sambil menahan tawa. "HP jaman Majapahit."
"Lia, jangan kasar," tegur Ima.
"Maaf, Mbak. Tapi serius. Itu HP kuno banget."
Haikal tidak tersinggung. Ia malah tertawa. "Ini HP warisan dari kakekku. Beliau sudah tiada. Tapi HP-nya masih setia menemani."
Ima mengambil HP itu dengan hati-hati. Ia memasukkan nomornya ke kontak. Lalu menamai kontak itu: Ima (yang menabrak).
"Kamu simpan, ya. Nanti kalau sudah isi pulsa, kabari aku. Biar aku tahu kamu selamat sampai tujuan."
"Tujuan? Tujuanku sudah di depan mata. Sekolah."
"Iya. Tapi kan kamu belum sampai rumah kos. Kamu sudah cari kos?"
Haikal menggeleng. "Belum. Aku pikir, nanti setelah daftar, baru aku cari. Paling di sekitar sekolah."
"Jangan sembarangan cari kos. Banyak kos abal-abal di sini. Nanti kamu ditipu."
Lia yang dari tadi diam, tiba-tiba bersuara. "Mbak, Bapak sudah mulai tidak sabar. Kita pulang, yuk."
Ima mengangguk. Ia berdiri dan merapikan jilbabnya.
"Haikal, aku pamit dulu. Maafkan aku. Sekali lagi."
"Sudah. Jangan minta maaf terus. Memang sudah takdir kita bertemu di sini."
"Takdir?"
"Iya. Kamu yang menabrakku. Tapi mungkin itu cara Tuhan untuk mempertemukan dua orang yang memiliki mimpi sama."
Ima tersenyum. Senyum itu membuat jantung Haikal berdegup tidak karuan.
"Kita akan satu sekolah, Haikal. Kita akan sering bertemu."
"Aku harap begitu."
Ima berjalan ke arah motornya yang sudah berdiri lagi setelah dibetulkan oleh Pak Dadang. Ia menyalakan mesin, melambai ke Haikal, lalu melaju pelan. Lia naik di belakang. Pak Dadang sudah lebih dulu pergi dengan motornya.
Haikal berdiri sendirian di trotoar Simpang Camuh. Sepeda ontelnya sudah mulai utuh lagi. Stangnya lurus. Ban depannya sudah tidak bengkok. Hanya keranjang belakang yang masih penyok.
Ia menatap HP-nya. Kontak Ima (yang menabrak) tersimpan rapi.
"Gadis aneh," gumam Haikal.
Tapi di sudut hatinya yang paling dalam, ia tahu. Hari ini bukan hanya tentang kecelakaan. Hari ini tentang pertemuan pertama. Dan pertemuan pertama itu terasa istimewa.
Haikal tiba di SMAN 1 Kuala Kapuas pukul 13.30. Pintu gerbang sekolah masih terbuka. Beberapa guru dan pegawai administrasi masih terlihat mondar-mandir di dalam kantor.
"Assalamualaikum," sapa Haikal ke satpam yang sedang duduk di pos jaga.
Satpam itu seorang laki-laki tua dengan kumis putih melengkung. Namanya Pak Raden. Beliau sudah bekerja di sekolah itu sejak 20 tahun lalu.
"Waalaikumsalam. Kamu siswa baru?" tanya Pak Raden.
"Insya Allah, Pak. Saya mau daftar. Apakah masih bisa? Pendaftaran kan sampai hari ini."
"Bisa. Tapi buru-buru. Kantor administrasi mau tutup jam 3."
Haikal memarkir sepeda di halaman. Ia mengambil map biru berisi fotokopi ijazah, SKHUN, pas foto, dan berkas-berkas lain dari tas pinggangnya. Map itu ia peluk erat seperti nyawanya sendiri.
"Jangan sampai hilang. Ini satu-satunya salinan," bisiknya.
Ia berjalan cepat ke kantor administrasi. Di depan pintu, ada seorang laki-laki seusianya yang sedang mengisi formulir. Pakaiannya rapi. Kemeja putih. Celana bahan hitam. Sepatu pantofel mengkilap. Rambutnya disisir rapi dengan minyak rambut.
"Maaf, ini tempat pendaftaran?" tanya Haikal.
Laki-laki itu menoleh. Matanya menyipit. Ia melihat baju Haikal yang kusam, celana yang tipis di bagian lutut, sepatu kardus yang mulai sobek, dan kulit legam yang terpanggang matahari seharian.
"Iya. Tapi antre, dong. Saya belum selesai," kata laki-laki itu dengan nada tinggi.
Haikal mundur selangkah. "Maaf. Saya kira tidak ada yang antre."
"Nggak lihat saya sedang berdiri di depan meja?"
"Saya lihat. Tapi tadi saya pikir Bapak guru sedang melayani, Pak."
Laki-laki itu mendengus. "Bapak-bapak? Saya masih seusia kamu, kampungan."
Haikal menahan amarah. Ia ingin membalas, tapi ia ingat kata ibunya: "Orang hebat mampu menelan amarahnya."
"Saya tunggu di luar," kata Haikal tenang.
Ia keluar ruangan. Duduk di kursi panjang koridor. Beberapa menit kemudian, laki-laki itu keluar dengan senyum puas.
"Sudah selesai, kampungan. Sekarang giliran kamu."
"Nama saya Haikal, bukan kampungan."
"Terserah. Yang penting saya sudah selesai. Selamat berjuang daftar sekolah. Tapi sepertinya kamu nggak akan diterima. Soalnya sepatumu sudah rusak."
Haikal tersenyum. "Sepatu boleh rusak. Tapi semangatku tidak. Terima kasih doanya."
Laki-laki itu berjalan pergi dengan sedikit kesal. Haikal masuk ke ruangan. Seorang pegawai administrasi menyapanya.
"Nama kamu, Nak?"
"Haikal. Miftahul Haikal. Dari SMP Negeri 1 Mantangai."
Pegawai itu melihat berkas Haikal. Matanya agak terkejut. "Nilai kamu bagus-bagus, Nak. Ranking berapa di sekolah?"
"Ranking dua, Bu."
"Wah, hebat. Padahal sekolah di daerah terpencil. Kamu pasti anak yang rajin."
"Terima kasih, Bu."
Pegawai itu melayani Haikal dengan ramah. Tidak seperti pegawai biasanya yang sering jutek. Mungkin karena Haikal tersenyum terus. Atau mungkin karena Haikal tidak banyak menuntut.
"Total biaya pendaftaran 300 ribu rupiah, Nak."
Haikal mengeluarkan uang dari celengan bambu yang ia bawa dalam tas pinggang. Uang kertas berbagai nominal ia hitung satu per satu di depan pegawai itu.
"Ini, Bu. 300 ribu. Pas."
Pegawai itu tersenyum. "Kamu hebat, Nak. Siswa baru yang membawa uang pas. Biasanya pada bawa uang besar dan minta kembalian."
"Kebiasaan di desa, Bu. Hidup hemat."
Setelah selesai, Haikal keluar dari kantor. Hatinya lega. Satu rintangan telah ia lewati. Tapi perjuangan masih panjang. Ia harus mencari kos.
Haikal mengayuh sepeda ontelnya menyusuri Jalan Jenderal A. Yani. Di jalan ini, banyak papan kos-kosan terpampang. "Kos Putri", "Kos Putra", "Kos Nyaman", "Kos Murah". Kemudian haikal mengayuh sepedanya menyusuri jalan Tambun Bungai, tak terasa hingga sampai ke simpang camuh , trus ke jalan pemuda.
Dari sekian banyak papan, Haikal tertarik pada satu papan yang bertuliskan:
"KOS PAK DE"
Murah, Bersih, Dekat Sekolah
Hubungi: 0812-xxxx-xxxx
"Pak De? Kedengarannya seperti orang Jawa," gumam Haikal.
Ia mengikuti alamat yang tertera di papan. Kos itu berada di gang sempit, sekitar 200 meter dari sekolah SMA 2 Kuala Kapuas, Haikal tahu itu bukan sekolahnya, namun hatinya merasa cocok . Bangunannya sederhana: rumah kayu dua lantai dengan cat hijau pudar. Di halaman depan, ada beberapa sepeda motor terparkir.
"Permisi!" teriak Haikal dari luar.
Seorang laki-laki tua keluar. Badannya kurus. Kulitnya keriput. Rambutnya putih semua. Ia memakai sarung dan kaos oblong lusuh.
"Nak, cari kos?" tanyanya dengan logat Jawa timuran yang kental.
"Iya, Pak. Saya Haikal. Mau tanya, masih ada kamar kosong?"
"Ada. Satu. Di lantai dua. Cuma kamarnya kecil. Cuma cukup untuk satu orang dan barang-barang seadanya."
"Berapa sewa sebulan, Pak?"
"Tiga ratus ribu. Sudah termasuk listrik dan air. Tapi nggak termasuk makan, ya. Makan cari sendiri."
Haikal menghitung uang di kepalanya. Ia punya sisa sekitar 970 ribu dari tabungan. Cukup untuk bayar kos 3 bulan pertama.
"Boleh saya lihat kamarnya, Pak?"
Pak De mengangguk. Ia membawa Haikal ke lantai dua. Kamar itu memang kecil. Hanya 2x2 meter. Dindingnya kayu. Lantainya papan. Jendelanya satu, menghadap ke jalan gang. Ada kasur tipis, lemari plastik, dan satu meja belajar.
"Lumayan, Pak. Saya ambil."
"Kamu nggak nego?" tanya Pak De heran.
"Buat apa nego? Harga sudah murah. Saya nggak ingin memberatkan Bapak."
Pak De tersenyum. "Nak, kamu tipe anak baik. Saya suka sama kamu. Nanti kalau ada masalah, bilang ke saya. Saya bantu."
"Terima kasih, Pak."
Haikal membayar sewa untuk 3 bulan pertama: 900 ribu. Uangnya tinggal 70 ribu sisanya. Cukup untuk makan 2 minggu jika ia hemat.
"Malam ini kamu sudah bisa pindah?" tanya Pak De.
"Iya, Pak. Saya nggak bawa banyak barang. Cuma satu tas dan sepeda."
"Sepedanya parkir di halaman samping. Di sana aman."
Haikal menghela napas lega. Akhirnya ia punya tempat tinggal. Kota Kapuas tidak lagi asing baginya. Kini ia punya sekolah. Punya kos. Dan punya... kenangan tabrakan di Simpang Camuh.
Malam itu, Haikal tidur lebih awal. Kamar kosnya sunyi. Hanya suara jangkrik dan suara motor yang kadang lewat. Ia memandang langit-langit kamar yang terbuat dari papan. Melihat retakan-retakan kecil yang menjadi jalannya semut-semut.
"Besok pertama kali masuk sekolah," bisiknya pada diri sendiri.
Ia membayangkan suasana kelas baru. Teman-teman baru. Guru-guru baru. Semua serba baru. "Aku harus bisa beradaptasi," pikirnya.
Tiba-tiba, HP jadulnya bergetar. Layar kecil itu menyala. Ada pesan masuk. Dari nomor tak dikenal.
Ia membuka pesannya.
"Halo, Haikal. Aku Ima. Kamu sudah sampai kos? -Ima"
Haikal tersenyum. Ia membalas dengan jari yang masih kaku karena lama tak mengetik SMS.
"Sudah. Kos di Jalan Pemuda. Kos Pak De. Deket sekolah SMA 2 Kuala Kapuas."
Tidak sampai satu menit, Ima membalas.
"Bagus. Besok kita sekolah bareng, yuk. Aku jemput pukul 06.30. Di depan sekolah."
Haikal ragu. Ia tidak ingin dianggap dekat dengan Ima. Orang tuanya di desa sudah berpesan: jangan dekat-dekat dengan anak orang kaya. Nanti dianggap mencari keuntungan.
Tapi ia juga tidak enak menolak.
"Nggak usah. Aku naik sepeda sendiri. Nanti kita ketemu di kelas."
Balesan Ima membuat Haikal tersentak.
"Sepedamu masih penyok, Kal. Keranjangnya belum bener. Aku nggak enak hati. Biarkan aku menebus kesalahan. Lagian... aku nggak punya teman di sekolah baru. Aku sendiri."
Haikal membaca kalimat itu berulang-ulang. "Aku sendiri."
Ternyata Ima, gadis kaya yang menabraknya, juga merasa kesepian. Sama sepertinya.
"Baiklah. Tapi jangan jemput. Aku yang akan ke rumahmu. Tunjukkan dimana rumahmu."
Ima membalas cepat.
"Jalan Cilik Kriwut No. 17. Depan toko Berkah Jaya. Ada gerbang warna biru. Besok aku tunggu, ya. Selamat tidur, Haikal. Mimpi indah."
"Kamu juga. Selamat tidur."
Haikal mematikan HP. Ia memejamkan mata. Tapi tidur tidak kunjung datang. Pikirannya melayang ke Ima. Wajahnya. Suaranya. Wangi sabunnya. Senyumnya. "Astaga, apa-apaan ini? Baru kenal sehari kok kepikiran terus."
Ia membalikkan badan ke kanan. Ke kiri. Lagi ke kanan. Lagi ke kiri. Lalu duduk.
"Ya Allah, jangan biarkan hatiku jatuh cinta sebelum waktunya. Aku datang ke sini untuk belajar, bukan untuk mencari pacar."
Tapi doa itu terasa hambar. Sebab di sudut hatinya yang paling dalam, ia tahu... pertemuan di Simpang Camuh tidak akan berakhir begitu saja.
Pukul 05.30 pagi, Haikal sudah bangun. Ia mengambil wudhu dari kran air di belakang kos. Airnya dingin. Menyegarkan. Membuat kantuknya hilang seketika.
Setelah sholat subuh, ia memakai seragam SMA untuk pertama kalinya. Putih di atas, abu-abu di bawah. Seragam ini dibeli dari sumbangan Pemerintah Desa. Ukurannya sedikit kebesaran, tapi tidak masalah. Nanti bisa disuruh Ibu Ratna mengecilkannya saat pulang kampung.
Ia berdiri di depan cermin kecil yang menempel di lemari plastiknya.
"Hei, Haikal. Ini awal perjuanganmu," katanya pada bayangannya sendiri. "Jangan gagal. Jangan menyerah. Buktikan bahwa anak desa bisa!"
Ia sarapan dengan sepiring nasi sisa semalam dan sambal terasi yang dibawa dari rumah. Makanannya sedikit, tapi cukup untuk mengisi energi sebelum ujian masuk sekolah.
Pukul 06.15, Haikal sudah mengayuh sepeda ontelnya menuju Jalan Cilik Kriwut. Sepedanya masih penyok di bagian keranjang. Tapi ia tidak peduli. Penampilan bukan segalanya. Yang penting adalah niat dan usaha, padahal jalan tersebut cukup jauh dari tempat kosnya.
Jalan Cilik Kriwut cukup ramai di pagi hari. Banyak warung makan yang sudah buka. Pedagang sayur, pedagang ikan, dan pedagang daging mulai berteriak menawarkan dagangan. Bau-bau makanan bercampur dengan asap knalpot dan debu jalanan.
Haikal mencari nomor 17. Ia melewati toko kelontong, toko pakaian, lalu toko sembako. Dan di ujung gang, ia melihat sebuah gerbang biru dengan tulisan: TOKO BERKAH JAYA - Sembako & Kebutuhan Pokok.
"Ini dia," kata Haikal.
Ia memarkir sepeda di depan gerbang. Belum sempat ia memencet bel, pintu sudah terbuka. Ima berdiri di ambang pintu. Seragamnya rapi. Jilbab putihnya diganti dengan jilbab abu-abu yang senada dengan roknya.
"Kamu tepat waktu," kata Ima tersenyum.
"Kamu juga. Tadi aku kira kamu masih tidur."
"Aku sudah bangun sejak subuh. Ayahku nggak pernah mengizinkan aku tidur lebih dari pukul 04.30."
"Keras sekali ayahmu."
"Iya. Tapi itu karena dia sayang. Beliau bilang, 'Orang yang bangun pagi akan diberkahi rezeki.'"
Haikal tersenyum. "Ayahmu benar. Di desaku juga begitu."
Mereka berdua diam sejenak. Lalu Ima memanggil seseorang dari dalam rumah.
"Lia! Aku berangkat dulu!"
Lia keluar. Kali ini ia tersenyum ke Haikal. Mungkin karena Haikal datang tepat waktu dan tidak terlihat menyebalkan.
"Hati-hati di jalan, Mbak. Kalau pulang, jangan lupa beli tahu goreng di pinggir sekolah. Aku suka."
"Iya, iya. Kamu jaga rumah baik-baik sama Ayah dan Ibu."
Haikal dan Ima berjalan bersamaan. Haikal dengan sepeda ontelnya. Ima dengan motor matic kesayangannya.
"Ikut di belakang aku, Kal. Nanti kita masuk lewat gerbang samping," kata Ima.
"Oke."
Mereka berdua melaju. Ima di depan, Haikal di belakang. Beberapa orang menoleh. Ada yang tersenyum melihat pemandangan aneh: seorang gadis bermotor mewah diikuti oleh lelaki bersepeda ontel penyok.
Tapi Haikal tidak peduli.
Yang ia pikirkan saat itu hanyalah: "Hari ini adalah hari pertama. Dan aku akan memberikan yang terbaik."
SMAN 1 Kuala Kapuas terlihat megah di pagi hari. Bangunannya .di Cat warna putih bersih. Di halaman depan, bendera merah putih berkibar dengan gagah. Puluhan siswa berlalu lalang. Ada yang masuk lewat gerbang utama, ada yang lewat gerbang samping.
"Kita parkir di belakang, yuk," ajak Ima.
"Oke."
Mereka memarkir kendaraan di tempat yang berbeda. Ima di area parkir motor. Haikal di area parkir sepeda yang berada di pojok selatan.
Setelah memarkir, mereka bertemu lagi di tangga depan kelas.
"Kamu kelas berapa, Kal?" tanya Ima.
"Aku belum tahu. Nanti lihat pengumuman di papan."
Mereka berdua berjalan ke papan pengumuman yang berada di dekat kantor guru. Puluhan siswa sudah berkumpul di sana. Semua berdesakan ingin melihat nama dan kelas mereka.
"Haikal, Miftahul Haikal..." baca Ima sambil menunjuk baris ketiga dari atas. "Kelas X MIPA 2. Aku juga di kelas yang sama, lihat! Ima Rosita Sari, X MIPA 2."
Kebetulan lagi pikir Haikal. Pertama, kita bertabrakan. Kedua, kita sekelas. Apakah ini terlalu kebetulan?
"Hebat. Kita sekelas," kata Haikal berusaha tenang.
"Iya! Senangnya!" Ima melompat kecil. Antusiasme gadis itu begitu terlihat. Seperti anak kecil yang diberi permen.
"Kita masuk, yuk. Cari tempat duduk."
Kelas X MIPA 2 berada di ujung. Ruangannya cukup luas. Ada 30 meja dan kursi yang tersusun rapi. Papan tulis hijau di depan. Di samping papan tulis, ada jadwal pelajaran yang tertempel rapi.
Haikal memilih tempat duduk di barisan paling belakang, dekat jendela. Ima awalnya ingin duduk di depan, tapi kemudian ia menggeser kursinya ke samping Haikal.
"Kamu kenapa duduk di belakang? Biasanya anak pintar duduk di depan," kata Ima.
"Di belakang lebih tenang. Aku bisa lihat seluruh kelas dari sini."
"Ikut-ikutan. Aku juga mau di belakang."
Mereka berdua duduk bersebelahan. Di depan mereka, seorang laki-laki berkulit putih dengan rambut klimis sedang asyik berbicara dengan teman di sebelahnya.
Laki-laki itu menoleh ke belakang. Matanya tertuju pada Ima. Lalu pada Haikal.
"Eh, lo!" seru laki-laki itu.
Haikal mengenali suara itu. Suara yang kemarin sore di kantor administrasi. Suara yang memanggilnya "kampungan".
"Kita satu kelas ternyata, kampungan," kata laki-laki itu sambil tersenyum sinis.
Ima menatap Haikal bingung. "Kalian kenal?"
"Kemarin kita bertemu di kantor pendaftaran," jawab Haikal datar. "Tapi aku belum tahu namanya."
Laki-laki itu menepuk dada. "Rangga. Rangga Aditya Wijaya. Anak dari Bapak Wijaya, pemilik distributor sembako terbesar di Kapuas."
"Wah, hebat," jawab Haikal singkat.
Rangga menatap Haikal dari ujung kepala sampai ujung kaki. Seragam Haikal yang kebesaran. Sepatu kardusnya yang mulai sobek. Tas pinggangnya yang lusuh.
"Lo kok bisa satu kelas sama gue? Bukannya lo dari kampung?"
"Ini sekolah negeri, Rangga. Siapa pun bisa masuk asal memenuhi syarat."
Rangga mendengus. "Persyaratan itu bukan cuma nilai, kampungan. Tapi juga.... penampilan."
Ima yang dari tadi diam, akhirnya bersuara. "Rangga, jangan kasar. Dia temanku."
Rangga menoleh ke Ima. Matanya berubah. Tidak lagi sinis. Tapi menjadi lebih... lembut? Mencurigakan?
"Teman? Lo baru kenal dia, Ima."
"Terserah. Pokoknya jangan ganggu dia."
Rangga mengangkat bahu. "Baiklah, kalau lo yang bilang. Tapi ingat, Ima. Jaga jarak sama orang kayak dia. Nanti lo yang ketularan kampung."
Rangga berbalik ke depan. Haikal menghela napas. Ima menepuk pundaknya pelan.
"Maafkan dia. Rangga itu anak orang kaya. Dia tidak tahu bagaimana rasanya berjuang."
"Aku tidak marah. Aku hanya kasihan."
"Kasihan?"
"Iya. Kasihan karena dia tidak pernah tahu bahwa kesuksesan tidak diukur dari penampilan. Tapi dari hati."
Ima tersenyum. "Kamu bijak sekali, Haikal."
"Hidup di desa mengajarkan banyak hal."
Pukul 07.00, bel berbunyi. Seorang guru perempuan dengan kacamata tebal masuk ke kelas. Rambutnya disanggul rapi. Jalannya tegas. Matanya tajam. Ia meletakkan tas di atas meja dan memandang seluruh siswa dengan sorot yang membuat bulu kuduk merinding.
"Selamat pagi, anak-anak. Nama saya Ibu Kusuma. Saya wali kelas kalian. Dan saya akan mengajar Matematika."
Hening. Tidak ada yang berani bersuara.
"Saya tidak suka siswa yang terlambat. Saya tidak suka siswa yang ribut. Dan saya tidak suka siswa yang meremehkan pelajaran saya. Apakah kalian paham?"
"Paham, Bu!" seru semua siswa serempak.
Ibu Kusuma tersenyum tipis. Senyum yang tidak benar-benar senyum. Senyum yang lebih mirip peringatan.
"Baik. Sekarang perkenalan. Satu per satu. Dimulai dari baris depan."
Perkenalan berlangsung selama satu jam. Setiap siswa berdiri, menyebut nama, asal sekolah, dan cita-cita. Sebag besar bercita-cita jadi dokter, insinyur, atau pengacara.
Ketika giliran Haikal tiba, ia berdiri dengan tenang.
"Nama saya Miftahul Haikal. Dari SMP Negeri 1 Mantangai. Cita-cita saya ingin jadi dokter dan mengabdi di desa."
Ibu Kusuma mengangkat alis. "Dokter desa? Mulia sekali."
"Terima kasih, Bu."
Rangga dari depan mendengus pelan. "Dokter desa? Paling cuma mimpi."
Tapi Haikal tidak mendengar. Ia sudah duduk kembali. Pikirannya melayang ke desa Sriwidadi. Ke ibunya yang sedang berjualan sayur. Ke bapaknya yang sedang mencangkul di sawah. Ke kambing-kambingnya yang mungkin sedang lapar.
"Aku akan membuat kalian bangga," janjinya dalam hati.
Jam pertama usai. Waktu istirahat. Haikal duduk di kursinya sambil membuka buku catatan baru. Ia menulis jadwal pelajaran dengan rapi. Tangannya bergetar sedikit. Bukan karena gugup, tapi karena ia belum sarapan cukup.
"Haikal, kamu nggak ke kantin?" tanya Ima.
"Nggak. Aku bawa bekal dari kos."
"Makan apa? Boleh lihat?"
Haikal ragu. Bekalnya hanya nasi putih dan sambal terasi. Tidak ada lauk. Tidak ada sayur. Ia malu Ima melihatnya.
"Biasa aja. Nasi dan sambal."
Ima tidak memaksa. Ia justru berlari ke kantin dan kembali dengan dua bungkus nasi. Satu berisi nasi ayam goreng. Satu lagi berisi nasi campur dengan telur dan tempe.
"Ini buat kamu," kata Ima sambil meletakkan nasi ayam goreng di meja Haikal.
"Enggak usah, Ima. Aku punya bekal."
"Aku tahu. Tapi aku masih punya hutang sama kamu. Dari kemarin. Aku ingin membayarnya."
"Hutang?"
"Iya. Hutang perhatian. Kamu sudah terluka karena aku. Sepedamu penyok karena aku. Wajahmu diledek Rangga karena aku."
Haikal tertawa kecil. "Itu bukan salahmu."
"Tapi aku merasa bersalah. Jadi, terimalah. Anggap sebagai ganti rugi moral."
Haikal terdiam sejenak. Ia menatap nasi ayam goreng yang masih mengepul. Wanginya menggoda. Perutnya keroncongan.
"Baiklah. Tapi lain kali jangan belikan lagi. Aku tidak mau terbiasa dengan kemewahan."
"Kemewahan? Nasi ayam goreng cuma 10 ribu, Kal. Itu bukan kemewahan."
"Bagiku, itu kemewahan. Di desa, 10 ribu bisa buat beli beras untuk seminggu."
Ima terdiam. Ia tidak menyangka bahwa perbedaan kehidupan mereka sedemikian jauh.
"Maaf," kata Ima.
"Kenapa maaf?"
"Aku jadi merasa bersalah lagi."
"Jangan merasa bersalah. Aku tidak pernah menyalahkanmu. Aku hanya menjalani takdirku. Dan takdirku untuk sementara begini. Tapi suatu hari, aku akan berubah. Aku janji."
Mereka makan bersama di meja belakang. Ima sesekali menyuapkan ayam ke piring Haikal. Rangga dari kejauhan melihat mereka dengan mata menyipit.
"Lia, lo lihat itu?" bisik Rangga ke teman di sebelahnya. "Ima makan sama kampungan itu."
"Kelihatannya mereka akrab, Bang."
"Kurang ajar. Aku sudah lama incar Ima. Sejak SMP. Dan tiba-tiba datang kampungan ini merebutnya? Nggak akan aku biarkan."
Rangga mengeluarkan HP. Ia merekam Haikal dan Ima diam-diam. Lalu mengirimkannya ke grup kelas tanpa sepengetahuan mereka.
"LIAT DEH, CEWE KITA DIREBUT SAMA ANAK DESA! WKWKWK!" tulis Rangga di grup.
Beberapa siswa lain mulai berbisik-bisik. Ada yang melihat ke Haikal dan Ima. Ada yang terkekeh. Ada yang kasihan.
Haikal tidak menyadari hal itu. Ia sedang asyik menikmati nasi ayam goreng pemberian Ima. Di pikirannya, hari ini adalah hari baik. Sekolahnya menyenangkan. Teman barunya baik.
Tapi ia tidak tahu bahwa di balik layar, ada seseorang yang mulai menyusun strategi untuk menghancurkannya.
Jam pelajaran kedua adalah Bahasa Indonesia. Gurunya bernama Pak Budi, seorang laki-laki paruh baya dengan perut buncit dan suara berat. Ia masuk kelas sambil membawa koran di tangan kirinya dan buku di tangan kanannya.
"Anak-anak, hari ini kita akan belajar tentang puisi," kata Pak Budi sambil meletakkan barang-barangnya di atas meja.
"Buat yang tidak suka puisi, silakan keluar. Karena saya hanya mau mengajar anak yang punya hati."
Seisi kelas terdiam. Tidak ada yang berani keluar.
"Karena ini hari pertama, saya akan kasih tugas mudah. Buat satu puisi tentang mimpi kalian. Dikumpulkan hari ini juga. Siapa yang tidak kumpul, nilai NOL."
"Waduh, Pak. Hari ini juga?" protes seorang siswa di barisan depan.
"Hari ini juga. Saya tidak suka menunda-nunda pekerjaan. Sama seperti mimpi. Mimpi tidak bisa ditunda."
Semua siswa mulai menulis. Ada yang serius, ada yang bercanda, ada yang malah tidur. Haikal mengambil pulpen dari saku bajunya. Ia menatap kertas kosong di depannya. Pikirannya melayang.
Ia ingat desa Sriwidadi. Ingat ibunya yang berjualan sayur. Ingat bapaknya yang mencangkul di sawah. Ingat kambing-kambingnya yang setia menemaninya. Ingat sepeda ontelnya yang penyok. Ingat Simpang Camuh. Ingat Ima.
Ia mulai menulis:
"MIMPIKU"
Oleh: Miftahul Haikal
Di desa yang disapu embun pagi
Di antara padi menguning dan kerbau membajak
Aku belajar bahwa mimpi tidak butuh sayap
Mimpi butuh kaki untuk berlari
Tangan untuk memegang erat
Dan hati yang tak pernah padam
Ibuku pedagang sayur keliling
Bapakku petani dengan caping anyaman bambu
Mereka tidak memberi uang
Tapi mereka memberi semangat
Semangat yang membuat 75 kilometer terasa dekat
Di Simpang Camuh, lampu merah menyala
Aku tidak paham artinya
Lalu sebuah tabrakan
Bukan menghancurkanku
Tapi justru mempertemukanku
Dengan takdir yang baru
Gadis itu menabrak sepedaku
Tapi juga menabrak hati yang selama ini beku
Bukan. Aku bukan jatuh cinta
Tapi aku jatuh paham
Bahwa cinta itu bukan tentang memiliki
Tapi tentang berbagi perjuangan
Aku ingin jadi dokter desa
Menyembuhkan orang-orang yang tak punya akses
Seperti ibuku yang kadang sakit
Tapi tidak pernah ke dokter
Karena ongkos terlalu mahal
Mimpi itu mahal
Tapi aku tidak akan berhenti membayarnya
Dengan keringat
Dengan air mata
Dan dengan sepeda ontel penyok ini
Haikal
Desa Sriwidadi
**
Ketika ia selesai menulis, matanya basah. Ia tidak sadar bahwa Ima membaca puisi itu dari samping. Ima diam-diam menyalin puisinya dengan mata berkaca-kaca.
"Haikal," bisik Ima.
"Apa?"
"Kamu... kamu nulis tentang aku?"
Haikal tersadar. Ia membaca ulang puisinya. Di bait keempat, ia menulis tentang seorang gadis di Simpang Camuh.
"Maaf. Aku terlalu jujur."
"Jangan minta maaf. Itu... indah."
"Indah? Puisi itu hanya curahan hati. Tidak puitis sama sekali."
"Tidak perlu puitis. Yang penting jujur. Dan itu... menyentuh."
Haikal tersenyum. Ia tidak menyangka bahwa Ima akan membaca puisinya. Ia juga tidak menyangka bahwa Ima akan terharu.
"Kamu nggak baca puisiku?" tanya Ima.
"Boleh?"
Ima memberikan kertasnya. Haikal membaca dengan saksama.
"PERJUMPAAN DI SIMPANG CAMUH"
Oleh: Ima Rosita Sari
Aku terburu-buru
Lampu merah kuabaikan
Lalu aku menabrakmu
Bukan hanya sepeda
Tapi juga dinding yang selama ini kubangun
Aku anak toko
Kamu anak desa
Orang bilang kita berbeda dunia
Tapi di trotoar itu
Di tengah debu dan asap knalpot
Aku sadar
Kita sama-sama manusia yang haus akan mimpi
Maaf untuk lukamu
Maaf untuk sepeda penyokmu
Tapi jangan minta maaf untuk pertemuan ini
Karena aku yakin
Segala sesuatu terjadi atas izin-Nya
Haikal
Aku tidak tahu apa ini
Tapi aku senang kamu ada di sini
Di kelas yang sama
Di meja yang bersebelahan
Di mulai dari tabrakan yang kacau
Ima
Jalan Cilik Kriwut
**
Haikal membaca bait terakhir berulang-ulang. Ia tidak berani menatap Ima. Dadanya berdebar terlalu keras.
"Kamu... jujur sekali," kata Haikal terbata.
"Kamu juga."
Mereka berdua tidak berbicara lagi. Membiarkan puisi mereka berbicara untuk apa yang tidak bisa diucapkan.
Di depan kelas, Rangga menoleh ke belakang. Ia melihat Haikal dan Ima tersenyum satu sama lain. Hatinya panas. Jantungnya berdebar bukan karena bahagia, tapi karena iri.
"Kampungan itu harus disingkirkan," bisik Rangga pada dirinya sendiri.
Bel pulang berbunyi pukul 14.00. Haikal dan Ima berjalan bersama menuju tempat parkir. Rangga mengikuti mereka dari kejauhan.
"Ima, besok kita berangkat bareng lagi?" tanya Haikal.
"Boleh. Aku jemput di kos, yuk. Supaya kamu nggak perlu ke rumahku."
"Kamu tahu alamat kosku?"
"Belum. Tunjukkan sekarang."
Haikal dan Ima berjalan ke parkiran sepeda. Ima terkejut melihat sepeda Haikal yang masih penyok.
"Haikal, sepedamu masih kayak gitu? Kamu belum perbaiki?"
"Belum sempat. Nanti malam."
"Ingin aku bantu?"
"Tidak perlu. Aku bisa sendiri."
"Aku ingin bantu." Gadis itu bersikeras.
Haikal menghela napas. "Baiklah. Lain kali. Sekarang pulang dulu."
Mereka berdua melaju. Ima dengan motornya, Haikal dengan sepeda ontel penyok. Rangga mengikuti di belakang. Tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh.
Di Simpang Camuh, lampu merah menyala. Kali ini Haikal benar-benar berhenti. Ia menatap lampu merah itu dengan hormat. Seolah-olah ia berhutang nyawa padanya.
"Lo berhenti sekarang?" tanya Ima di sampingnya.
"Iya. Aku sudah belajar arti lampu merah."
"Apa artinya?"
"Ini saatnya berhenti sejenak. Mengecek diri. Apakah perjalananku masih aman? Apakah aku masih di jalur yang benar?"
Ima tersenyum. "Kamu berubah cepat."
"Kecelakaan kemarin membuatku sadar bahwa hidup ini tidak bisa dijalani dengan terburu-buru."
Mereka berdua berhenti di Simpang Camuh selama beberapa detik. Lampu berganti hijau. Mereka melaju lagi.
Rangga yang mengikuti di belakang, melihat momen itu. Ia memarkir motornya di pinggir jalan. Mengeluarkan HP. Merekam lagi.
"Gue akan kumpulin semua bukti. Dan gue akan hancurkan kalian, kampungan," bisiknya.
Di kos, Haikal langsung membersihkan diri. Ia mengganti seragam dengan kaos oblong dan celana pendek. Lalu duduk di meja belajar. Ia membaca puisi Ima sekali lagi.
"Kita sama-sama manusia yang haus akan mimpi."
"Apa maksudnya?" gumam Haikal.
Ia merenung. Mungkin Ima juga punya beban. Mungkin keluarga Ima yang kaya itu tidak membuatnya sebahagia yang orang lihat. Mungkin anak orang kaya juga punya luka batin yang tidak terlihat.
Haikal menghela napas. Ia mengambil HP dan menulis SMS.
"Ima, puisimu bagus sekali. Aku suka bait ketiga."
Balasan Ima datang cepat.
"Aku juga suka bait keempat puisimu. Tentang hati yang tak pernah padam."
Haikal tersenyum membaca balasan itu. Ia ingin membalas lagi, tapi tidak tahu harus menulis apa. Hatinya penuh. Pikirannya kacau.
Ia memilih untuk tidak membalas. Mendinginkan kepala di halaman kos.
Di halaman, Pak De sedang menyiram tanaman.
"Nak Haikal, kamu kenapa?" tanya Pak De.
"Lagi pusing, Pak."
"Pusing karena apa?"
"Karena... seseorang."
Pak De tersenyum. Ia berhenti menyiram. Duduk di kursi bambu. Menepuk kursi di sampingnya.
"Duduk, Nak. Cerita ke Bapak."
Haikal duduk. Ia menceritakan semuanya. Tentang Ima. Tentang tabrakan. Tentang puisi. Tentang perasaannya yang kacau.
"Nak, cinta itu seperti lampu merah," kata Pak De.
"Maksud Bapak, Pak?"
"Lampu merah mengajarkan kita untuk berhenti. Bukan berhenti berjuang, tapi berhenti sejenak untuk memastikan bahwa apa yang kita rasakan itu benar, bukan sekadar gejolak remaja."
"Bapak bilang ini cinta?"
"Aku tidak tahu. Kamu yang harus menjawab. Tapi ingat, Nak. Cinta sejati tidak butuh paksaan. Ia akan tumbuh dengan sendirinya. Seperti pohon. Jika kamu sirami, ia akan besar. Jika kamu biarkan, ia akan mati."
Haikal terdiam. "Jadi saya harus menyiramnya, Pak?"
"Terserah kamu. Tapi jangan lupa, kamu datang ke kota ini untuk sekolah, bukan untuk pacaran. Prioritas itu penting. Kalau prioritas kacau, hidupmu akan camuh."
Haikal tersenyum mendengar kata "camuh". Kata yang sudah ia dengar berkali-kali dalam dua hari terakhir.
"Terima kasih, Pak. Saya akan menjaga prioritas."
"Bagus. Sekarang tidur. Besok sekolah lagi."
Haikal masuk ke kamar. Ia berbaring di kasur. Memandang langit-langit. Senyumnya mengembang sendiri.
"Ima Rosita Sari... kamu benar-benar gadis yang aneh. Kamu menabrakku, tapi kenapa aku malah merasa berhutang padamu?"
Tiga hari kemudian, Haikal sudah mulai beradaptasi dengan lingkungan sekolah. Ia punya beberapa teman baru: Topan (anak tukang bakso yang lucu), Rina (gadis pendiam yang hobi membaca), dan Budi (anak petani seperti dirinya).
Tapi ia juga punya musuh baru: Rangga dan Marni.
Marni adalah teman sekelas yang duduk di barisan depan. Ia sahabat Siti di desa, tapi di sini ia menjadi sahabat Rangga. Marni iri pada Ima karena Ima lebih cantik dan lebih kaya. Dan Haikal menjadi sasaran kemarahannya.
"Lihat tuh, kampungan itu bawa bekal nasi dan sambal lagi," bisik Marni ke Rangga saat istirahat.
"Biarin. Besok gue bakal bikin dia malu di depan semua orang," jawab Rangga.
"Rencanamu apa, Bang?"
"Kamu tunggu aja. Yang penting, kamu harus bantu gue mengawasi Ima. Jangan sampai dia makin dekat dengan kampungan itu."
"Siap, Bang."
Di meja belakang, Haikal, Topan, Rina, Budi, dan Ima sedang makan bersama. Topan membagikan bakso yang ia beli dari kantin. Rina membagikan buku cerita yang baru ia pinjam dari perpustakaan. Budi bercerita tentang sawah di desanya.
"Haikal, lo serius mau jadi dokter?" tanya Topan sambil menyuap bakso.
"Serius, Pan. Lo sendiri?"
"Gue? Pengen jadi pengusaha. Biar bisa buka banyak bakso."
Semua tertawa. Ima yang dari tadi diam, akhirnya bersuara.
"Kalau aku jadi perawat, kita bisa buka klinik bareng, Haikal."
"Klinik? Di mana?"
"Di desamu. Desa Sriwidadi."
Haikal terkejut. "Kamu mau ke desaku?"
"Iya. Aku ingin melihat tempatmu dilahirkan. Tempatmu dibesarkan. Tempatmu menjadi Haikal yang sekarang."
Suasana berubah menjadi hening. Topan, Rina, dan Budi saling berpandangan. Mereka tersenyum nakal.
"Kok jadi romantis, sih," ledek Topan.
"Ya ampun, Topan. Ini bukan romantis. Ini..." Ima mencari kata.
"Ini suka sama suka?" potong Rina.
"Itu!"
Mereka semua tertawa. Haikal tersenyum malu. Tapi di dalam hatinya, ia senang. Sangat senang.
Hari Jumat, seminggu setelah kecelakaan. Haikal diminta ibu Kusuma untuk maju ke depan kelas mengerjakan soal matematika. Soalnya sulit, Haikal hanya bisa mengerjakan setengahnya.
"Kurang, Haikal. Kamu harus belajar lebih giat," kata Bu Kusuma.
"Iya, Bu. Maaf."
Saat Haikal berjalan kembali ke kursinya, Rangga mengulurkan kaki. Haikal tersandung. Buku-bukunya berhamburan.
"Wah, maaf, kampungan. Kaki saya nggak sengaja menjulur," kata Rangga dengan nada mengejek.
Haikal bangkit. Matanya menatap Rangga tajam. "Hati-hati, Rangga. Tuhan melihat."
"Tuhan? Lo pikir Tuhan peduli sama anak desa kayak lo?"
Ima berdiri. "Rangga! Cukup!"
Rangga menoleh ke Ima. "Lo kenapa belain dia, Ima? Lo tau dia siapa? Dia anak miskin. Dia nggak pantas buat lo."
"Siapa bilang dia nggak pantas? Kamu? Kamu bukan siapa-siapa buat aku!"
Semua siswa di kelas terdiam. Rangga tersinggung. Wajahnya memerah.
"Lo pilih dia daripada aku?"
"Aku nggak milih siapa pun! Ini bukan tentang milih. Ini tentang menghormati sesama manusia!"
Rangga tidak terima. Ia berdiri dan mendorong meja ke depan.
"Kampungan itu, Ima! Dasar anak toko nggak tahu diri!"
Ima menangis. Haikal maju selangkah. Dadanya membusung.
"Rangga, minta maaf ke Ima."
"Nggak mau!"
Haikal mengepalkan tangan. Ia sudah tidak bisa menahan amarah lagi.
"MAKA SAYA AKAN MEMBUAT KAMU MEMINTA MAAF!"
Haikal maju ke depan, namun sebelum tangannya menyentuh Rangga, Bu Kusuma berteriak.
"BERHENTI!"
Suara itu memecah ketegangan. Semua siswa kembali ke kursinya. Rangga duduk dengan wajah kesal. Haikal berdiri di tengah kelas dengan tangan gemetar.
Ima menarik lengan Haikal. "Sudah, Kal. Jangan."
Haikal menghela napas. Ia kembali ke kursi. Menunduk.
Bu Kusuma menatap Rangga dan Haikal bergantian. "Kalian berdua akan saya panggil BP. Sekarang, lanjutkan pelajaran!"
Jam pelajaran berlangsung tegang. Tidak ada yang berani bersuara. Setelah bel pulang berbunyi, Haikal langsung berdiri. Ia tidak menunggu Ima. Ia keluar kelas sambil membawa tas.
"Haikal! Tunggu!" teriak Ima.
Haikal tidak menoleh. Ia terus berjalan ke parkiran. Mengambil sepeda ontelnya yang masih penyok. Mengayuh dengan keras meninggalkan sekolah.
Ima mengejar dengan motornya. Di Simpang Camuh, lampu merah menyala. Haikal berhenti. Ima berhenti di sampingnya.
"Haikal, aku minta maaf. Ini semua salahku."
"Ini bukan salahmu, Ima. Ini salah Rangga."
"Tapi kamu marah padaku?"
"Aku... tidak marah. Aku kecewa. Pada diriku sendiri. Aku hampir memukulnya. Aku hampir melanggar prinsipku."
Ima turun dari motor. Ia berdiri di depan Haikal. Matanya berkaca-kaca.
"Haikal, kamu lebih baik dari itu. Jangan biarkan Rangga mengubahmu."
Haikal menatap Ima. Wajahnya terlihat lelah. Bukan lelah fisik, tapi lelah batin.
"Ima, apa kita berteman?"
"Tentu saja. Kenapa tanya begitu?"
"Karena aku mulai... aku mulai merasa bahwa pertemanan ini akan membuatku susah."
Ima terdiam. Ia memegang tangan Haikal.
"Haikal, dengar. Aku tidak tahu ini cinta atau bukan. Tapi yang aku tahu, aku bahagia setiap kali di sampingmu. Dan aku tidak peduli dengan omongan Rangga. Atau siapapun."
Haikal terisak. "Aku juga.
Mereka berdua berdiri di trotoar Simpang Camuh. Lampu merah berganti hijau. Tapi mereka masih di sana. Berpegangan tangan. Pertama kalinya.
Di kejauhan, Rangga memarkir motornya. Mengeluarkan HP. Merekam.
"Gue akan hancurkan kalian, kampungan. Tunggu aja," bisiknya sambil tersenyum jahat.
BAB IV
Sekolah, Kos, dan Jalan yang Sama
Dua minggu telah berlalu sejak insiden di kelas yang hampir berakhir dengan pertengkaran fisik antara Haikal dan Rangga. Dua minggu pula sejak Haikal dan Ima berpegangan tangan untuk pertama kalinya di trotoar Simpang Camuh. Sejak saat itu, ada yang berubah. Bukan hubungan mereka yang berubah, mereka masih sama-sama malu, masih sama-sama canggung, masih sama-sama tidak berani menyebut kata "cinta". Yang berubah adalah cara mereka memandang satu sama lain.
Setiap pagi, Haikal masih mengayuh sepeda ontelnya yang keranjang belakangnya masih penyok. Setiap pagi, Ima masih menjemputnya di depan kos Pak De meskipun Haikal sudah berkali-kali bilang tidak usah. Dan setiap pagi, mereka berdua masih melintasi Simpang Camuh bersama. Lampu merah masih menyala. Tapi kini Haikal selalu berhenti. Bukan karena takut ditilang polisi, tapi karena ia sudah paham: lampu merah adalah waktu untuk berhenti dan menikmati keberadaan orang di sampingnya.
"Haikal, kamu nggak bosan lihat lampu merah setiap pagi?" tanya Ima suatu hari sambil menepuk-nepuk setang motornya. Udara pagi masih dingin. Embun masih menempel di daun-daun pinggir jalan.
"Bosan? Tidak," jawab Haikal sambil menegakkan posisi duduk di atas jok sepedanya yang sudah mulai retak-retak. "Lampu merah itu mengingatkanku pada sesuatu."
"Apa?"
"Bahwa hidup ini butuh jeda. Jeda untuk bernapas. Jeda untuk bersyukur. Jeda untuk... melihat orang di samping kita."
Ima tersenyum. Senyum itu selalu membuat Haikal lupa bahwa lututnya masih terasa perih jika digerakkan terlalu cepat. "Jadi kamu melihatku saat lampu merah?"
"Setiap kali."
Ima memilih untuk tidak menjawab. Ia hanya menggigit bibir bawahnya, sebuah kebiasaan yang Haikal sadari hanya ia lakukan saat sedang gugup. Angin pagi berembus, menggerakkan ujung jilbab Ima ke samping. Rambutnya yang hitam sebentar terlihat, lalu tertutup lagi. Haikal berpikir, "Mungkin inilah yang disebut kebahagiaan sederhana."
Di belakang mereka, tidak terlalu jauh, Rangga mengikuti dengan motornya yang baru. Motor matic berwarna hitam mengkilap dengan stiker klub motor di bodinya. Di boncengan, Marni duduk bersila sambil merekam Haikal dan Ima dengan HP-nya.
"Mereka makin dekat aja, Bang," bisik Marni ke telinga Rangga. Suaranya terdengar seperti ular yang hendak memakan mangsanya.
"Biarkan. Semakin dekat mereka, semakin mudah aku menghancurkan mereka berdua sekaligus," jawab Rangga dengan suara datar. Tangannya menggenggam erat setang motor. Buku-buku jarinya memutih karena tekanan.
Marni terkekeh jahat. "Rencanamu apa, Bang?"
"Kamu akan lihat. Tapi untuk sekarang, rekam terus setiap gerakan mereka. Setiap senyuman. Setiap sentuhan. Nanti kita akan gunakan itu."
Di sekolah, suasana kelas X MIPA 2 terasa berbeda dari biasanya. Ada papan pengumuman baru di sebelah papan tulis, bertuliskan: "LOMBA KARYA TULIS ILMIAH TINGKAT KABUPATEN – DAFTAR SEBELUM 15 SEPTEMBER"
Pak Budi, guru Bahasa Indonesia yang juga menjadi pembimbing ekstrakurikuler jurnalistik, berdiri di depan kelas dengan wajah bersemangat. Matanya berbinar-binar seperti anak kecil yang baru diberi permen.
"Anak-anak! Ini kesempatan kalian untuk membuktikan bahwa siswa SMAN 1 Kuala Kapuas tidak hanya pintar di dalam kelas, tapi juga berprestasi di luar. Lomba Karya Tulis Ilmiah ini bergengsi. Juaranya akan mendapat piala dari Bupati dan beasiswa dari Dinas Pendidikan."
Topan, yang duduk di bangku depan, langsung mengangkat tangan. Jarinya gemetar karena terlalu bersemangat. "Pak, topiknya bebas, Pak?"
"Bebas, Topan. Tapi harus berkaitan dengan pengembangan daerah Kalimantan Tengah. Bisa tentang pertanian, pendidikan, kesehatan, lingkungan, atau sosial budaya."
Haikal, yang duduk di bangku belakang, langsung bergerak. Hampir tidak terasa, ia sudah berdiri. "Pak, saya mau ikut."
Bu Kusuma yang sedang duduk di depan kelas mengerjakan administrasi, mengangkat kepalanya. "Haikal, duduk dulu. Belum saatnya kalian mendaftar. Saya akan menjelaskan teknisnya dulu."
Haikal duduk kembali, tapi energi positif itu tidak bisa ia sembunyikan. Ima di sampingnya tersenyum.
"Kamu antusias sekali," bisik Ima.
"Ini kesempatanku, Ima. Aku bisa menulis tentang desa Sriwidadi. Tentang petani. Tentang pedagang sayur keliling. Tentang transmigrasi. Aku punya banyak bahan."
"Jadi kamu akan menulis tentang desamu?"
"Bukan hanya tentang desaku. Tapi tentang perjuangan orang-orang desa untuk bertahan hidup. Tentang gotong royong. Tentang IDM 0,690—Indeks Desa Membangun buat desaku."
Ima mengangguk. Matanya menerawang, membayangkan betapa pedulinya Haikal dengan asal-usulnya. "Aku ikut. Kita satu tim, ya?"
"Kamu mau?"
"Iya. Tapi aku bagian riset. Soalnya kamu yang lebih tahu tentang desa. Aku bisa bantu cari data dari internet. Aku punya kuota."
Haikal tertawa kecil. "Kita baru kenal dua minggu, tapi kamu sudah mau susah-susah bantu aku."
"Bukan bantu. Ini kerja sama. Lagi pula, aku penasaran dengan desamu. Dengan cerita-cerita yang kamu tulis di puisimu dulu."
Rangga dari barisan depan mendengar percakapan itu. Ia menoleh ke belakang dengan muka masam.
"Tim? Kerja sama? Manusia kayak dia bisa apa?" ejek Rangga dengan suara cukup keras.
Semua siswa menoleh. Ada yang cengar-cengir, ada yang menggeleng, ada pula yang pura-pura tidak mendengar.
Haikal tenang. "Setiap orang punya kelebihan, Rangga. Aku tidak akan merendahkanmu seperti kamu merendahkanku."
"Kelebihan? Kelebihan lo bisa nyolong hati cewek orang?"
Ima langsung berdiri. "RANGGA! Hentikan!"
"Apa, Ima? Lo marah? Lo emang udah jadi miliknya, ya? Lo udah dipacarin dia?"
"Bukan urusan kamu!"
"Bukan urusan? Hah! Dari SMP aku sudah suka sama lo, Ima. Dan sekarang tiba-tiba datang kampungan ini merebut lo dalam dua minggu?"
Kelas menjadi hening. Suasana yang tadinya hangat karena semangat lomba, kini berubah menjadi dingin seperti kulkas. Beberapa siswa mulai berbisik-bisik.
Pak Budi yang dari tadi mengamati, akhirnya bersuara. Suaranya berat, seperti hakim yang akan menjatuhkan vonis.
"Rangga. Ima. Haikal. Kalian bertiga ke ruang BK setelah jam pelajaran selesai. Sekarang, lanjutkan pelajaran."
Jam pelajaran terasa berjalan lambat. Setiap menit seperti menjadi satu jam. Setiap jam seperti menjadi satu hari. Haikal tidak bisa fokus. Pikirannya kacau. Ima di sampingnya juga terlihat gelisah. Jarinya terus memainkan ujung jilbab, sebuah kebiasaan yang Haikal tahu hanya ia lakukan saat sedang stres.
Topan, yang duduk di depan Haikal, menoleh ke belakang. Dengan berbisik, ia bertanya, "Kal, lo siap menghadapi Rangga? Orang itu galak. Ayahnya kenal sama kepala sekolah."
"Aku tidak takut, Pan."
"Bukan takut masalahnya. Tapi Rangga punya banyak koneksi. Dia bisa bikin lo dikeluarkan dengan mudah."
"Biarkan saja. Jika sekolah ini tidak adil, aku tidak butuh sekolah ini."
Rina yang duduk di samping Topan ikut nimbrung. "Tapi kalau lo dikeluarkan, cita-cita lo jadi dokter desa bisa gagal, Kal. Lo harus hati-hati."
Haikal menghela napas. "Aku tahu. Tapi aku tidak akan membiarkan siapa pun menghina Ima di depanku. Itu prinsipku."
Budi, anak petani yang satu desa dengan Haikal, hanya diam. Ia mengangguk kecil tanda setuju.
Bel istirahat berbunyi pukul 10.00. Haikal tidak pergi ke kantin seperti biasa. Ia memilih duduk di bangku taman belakang sekolah, di bawah pohon trembesi yang rindang. Ima mengikutinya.
"Haikal, aku minta maaf. Ini semua karena aku," kata Ima sambil duduk di samping Haikal. Jarak mereka hanya satu telapak tangan. Cukup dekat untuk Haikal mencium wangi sabun yang membuatnya tenang.
"Kamu tidak perlu minta maaf, Ima. Ini salah Rangga. Dia tidak bisa menerima bahwa kamu lebih memilih berteman denganku daripada dengannya."
"Aku tidak memilih-milih, Kal. Aku hanya... aku hanya lebih nyaman denganmu."
Haikal menoleh. Mata Ima berkaca-kaca. Ada perasaan yang mencoba disembunyikan di balik bulu matanya yang lentik.
"Apa kamu... ah, lupakan."
"Apa, Kal? Katakan saja."
"Tidak. Lupakan. Aku belum pantas menanyakan itu."
Ima mendekat. Kini bahu mereka hampir bersentuhan. "Kita tidak akan pernah pantas untuk apa pun, Haikal. Tapi kita bisa belajar menjadi pantas bersama-sama."
Haikal terdiam. Kata-kata Ima menusuk sesuatu di dadanya. Sesuatu yang selama ini ia kunci rapat-rapat. Sesuatu bernama perasaan.
"Ima, aku..."
"Kamu?"
"Aku... suka kamu."
Kalimat itu keluar begitu saja. Tanpa pemanasan. Tanpa persiapan. Tanpa drama. Haikal bahkan tidak sempat memikirkan konsekuensinya. Ia sudah kehabisan kata-kata.
Ima tidak menjawab. Ia hanya tersenyum. Senyum yang sama ketika pertama kali mereka bertemu di trotoar Simpang Camuh. Senyum yang sama ketika Haikal membaca puisinya tentang perjuangan. Senyum yang sama ketika mereka berpegangan tangan di lampu merah.
"Aku tahu," kata Ima akhirnya.
"Kamutahu?"
"Iya. Sudah lama. Sejak kamu menulis puisi itu."
"Kenapa kamu tidak bilang dari dulu?"
"Aku ingin mendengarnya langsung dari mulutmu."
Sekarang giliran Haikal yang tersenyum. Angin berembus. Daun-daun trembesi berhamburan. Beberapa helai jatuh di rambut Ima, Haikal mengambilnya dengan lembut.
"Aneh."
"Apa yang aneh?"
"Kita baru kenal dua minggu, tapi rasanya sudah setahun."
"Karena di Simpang Camuh, waktu berjalan berbeda. Waktu berjalan lebih lambat. Membuat setiap detik terasa lebih lama. Lebih bermakna."
Haikal tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya tersenyum. Dan Ima membalas senyum itu. Mereka berbicara dengan mata, bukan dengan kata-kata. Kadang, itu sudah cukup.
Di kejauhan, di balik jendela ruang guru lantai dua, Rangga berdiri. Ia memegang teropong kecil yang biasa digunakan untuk melihat burung. Matanya menyipit. Tangannya gemetar karena emosi.
"Marni," panggilnya.
Marni muncul dari balik pintu. "Ya, Bang?"
"Kita percepat rencana. Aku tidak sabar lagi. Aku ingin kampungan itu hancur. Sekarang."
Jam pelajaran sore dimulai pukul 13.00. Haikal, Ima, dan Rangga dipanggil ke ruang Bimbingan Konseling. Ruang itu berada disamping kantor yang terpisah, di ujung koridor timur. Dindingnya dicat biru muda, papan pengumuman tentang kesehatan mental dan bahaya narkoba terpampang rapi.
Guru BK mereka bernama Ibu Sita. Perempuan separuh baya dengan kacamata tebal dan rambut pendek bergelombang. Suaranya lembut, tapi matanya tajam. Ketiganya duduk berhadapan dengan Ibu Sita di meja bundar.
"Baiklah. Saya panggil kalian bertiga karena ada laporan dari Pak Budi tentang ketegangan di kelas. Ada yang mau menjelaskan?"
Rangga langsung berbicara. "Saya, Bu. Kampung... eh, Haikal ini suka mengganggu saya."
Haikal tersentak. "Saya tidak pernah mengganggu Rangga, Bu. Justru dia yang sering mengejek saya."
Ima menambahkan, "Bu, saya saksi. Rangga sering memanggil Haikal dengan sebutan 'kampungan'. Hari ini juga, di depan kelas, Rangga mengatakan bahwa Haikal mencuri saya. Padahal tidak ada hubungan khusus antara saya dan Haikal."
Ibu Sita mengangkat alis. "Hubungan khusus? Maksudmu pacaran?"
"Apa pun itu, Bu. Intinya Rangga cemburu."
Rangga membantah. "Saya tidak cemburu, Bu. Saya hanya tidak suka Ima dekat dengan orang yang tidak pantas."
"Tidak pantas bagaimana?" tanya Ibu Sita.
Rangga terdiam. Ia tidak bisa mengatakan bahwa orang tidak pantas itu adalah orang miskin. Itu akan membuatnya terlihat buruk di depan guru.
Ibu Sita menatap ketiganya bergantian. "Anak-anak, saya tidak peduli siapa yang benar atau salah. Yang saya pedulikan adalah kalian bisa belajar dengan nyaman di sekolah ini. Jika ketegangan ini terus berlanjut, saya akan panggil orang tua kalian. Apakah kalian mengerti?"
"Paham, Bu," jawab mereka bertiga bersamaan.
"Baik. Sekarang berjabat tangan dan berdamai."
Rangga enggan. Ia melipat tangannya di dada. Haikal mengulurkan tangan. Rangga tidak menyambut. Ibu Sita menegur.
"Rangga."
Rangga menghela napas. Dengan setengah hati, ia menjabat tangan Haikal. Jabatan singkat itu terasa dingin. Tidak ada kehangatan. Tidak ada kedamaian.
"Kalian boleh kembali ke kelas."
Mereka bertiga keluar ruangan. Rangga berjalan lebih dulu, tidak menoleh. Haikal dan Ima berjalan beriringan.
"Aku tidak percaya dia akan berubah," kata Ima.
"Aku juga tidak. Tapi setidaknya dia sudah diperingatkan."
"Kamu terlalu baik, Haikal."
"Aku tidak baik. Aku hanya tidak ingin membuang energiku untuk membenci seseorang. Lebih baik energiku kugunakan untuk belajar, menulis karya ilmiah, dan... mengurus perasaanku padamu."
Ima tersenyum. "Perasaan yang baru saja kamu ungkapkan di taman?"
"Iya. Itu."
"Maka urus baik-baik, Kal. Jangan sampai salah perawatan."
Mereka tertawa. Suara tawa mereka menggema di koridor kosong. Sebuah tawa kecil di tengah dunia yang sedang tidak baik-baik saja.
Malam harinya, di kos-kosan Pak De, suasana terasa berbeda. Biasanya kos itu sepi. Hanya Haikal dan dua penghuni lain: Ahmad, mahasiswa semester akhir yang jarang pulang, dan Yusuf, anak SMA kelas XII yang hobi main gitar sampai larut malam.
Tapi malam ini, kos itu ramai. Topan, Rina, dan Budi datang. Mereka membawa makanan dari kantin: bakso, nasi goreng, dan dua bungkus kerupuk. Ima juga datang, dengan alasan ikut rapat tim lomba karya tulis. Padahal Haikal tahu, Ima hanya ingin menghabiskan waktu bersamanya di luar jam sekolah.
"Jadi gimana, Kal? Kamu serius mau ikut lomba?" tanya Topan sambil menyedot bakso. Kuahnya menciprat ke kaos oblongnya yang bergambar Doraemon.
"Serius, Pan. Ini kesempatan bagus. Aku sudah punya topik."
"Apa?" tanya Rina sambil membuka buku catatan.
"Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Eks Transmigrasi Melalui Optimalisasi Hasil Pertanian dan Perdagangan Keliling."
Mereka semua terdiam. Topan berhenti menyedot bakso. Rina berhenti menulis. Budi berhenti mengunyah kerupuk. Ima tersenyum.
"Wow," kata Budi akhirnya. "Judulnya amat sangat panjang."
"Panjang itu menarik. Pak Budi suka judul yang panjang," kata Haikal sambil tersenyum bangga.
"Tapi serius, Kal," potong Topan, "kamu yakin bisa nulis sepanjang itu? Lomba KTI kan minimal 30 halaman."
"Aku bisa. Aku punya banyak data. Ibu dan bapakku pedagang keliling. Aku juga pedagang keliling waktu kecil. Aku tahu persis bagaimana sistemnya."
Rina mengangguk. "Aku bisa bantu edit. Aku suka nulis."
Budi mengacungkan jempol. "Aku bantu cari referensi dari internet. Di kampungku ada warnet. Aku bisa akses jurnal."
"Bagus," kata Ima. "Mari kita bagi tugas. Haikal sebagai ketua tim sekaligus penulis utama. Aku riset data sekunder. Rina editor. Budi pencari referensi. Dan Topan..."
"Sebagai pemasok bakso?" potong Topan.
"Sebagai motivator!" seru Ima tertawa.
Mereka semua tertawa. Suara tawa mereka memecah kesunyian malam. Di kamar seberang, Yusuf sedang memainkan gitarnya. Tanpa sengaja, ia memainkan lagu "Bukti" dari Virgoun. Haikal tersenyum mendengar liriknya.
"Aku rela jadi debu di jalananmu... asal kau tahu, aku mencintaimu..."
Ima menatap Haikal. Haikal menatap Ima. Mereka tersenyum.
"Aku pulang dulu, Kal. Sudah malam," kata Ima sambil berdiri.
"Aku antar."
"Nggak usah. Kosmu sama rumahku dekat."
"Aku tetap antar."
Mereka berdua berjalan keluar kos. Sepeda ontel Haikal masih terparkir di halaman. Ima mengambil motornya dan menyalakan mesin. Suara mesin matic itu terdengar pelan di malam yang sunyi.
"Besok kita mulai riset, ya," kata Ima.
"Besok. Kamu jangan lupa bawa laptop."
"Iya. Kamu juga jangan lupa bawa semangat."
Haikal tersenyum. "Aku tidak akan pernah lupa membawa semangat. Selama masih ada kamu di sampingku."
Ima menggigit bibir bawahnya. "Kalau kamu terus berkata manis begitu, aku bisa jatuh cinta, lho."
"Bukannya kamu sudah jatuh cinta?"
Ima tidak menjawab. Ia teringat bahwa hari ini, di bawah pohon trembesi, Haikal sudah lebih dulu mengaku. Dan ia, Ima Rosita Sari, belum pernah mengatakan hal yang sama.
"Belum," jawab Ima akhirnya. "Aku belum jatuh cinta. Aku hanya... suka. Suka sama cara kamu bersepeda meskipun hujan. Suka sama cara kamu bertahan meskipun banyak masalah. Suka sama cara kamu memperjuangkan mimpimu."
"Itu sudah cinta, Ima."
"Itu belum. Nanti saja kalau kita sudah lulus SMA. Atau kalau sudah kuliah. Atau... kalau sudah sama-sama sukses."
Haikal mengangguk. "Baik. Aku tunggu. Aku akan buktikan bahwa anak desa ini pantas untuk kamu."
Ima melaju pergi. Haikal berdiri di halaman kos, menatap lampu belakang motor Ima yang semakin mengecil hingga akhirnya menghilang di tikungan Jalan simpang Camuh.
Dari dalam kos, Topan bersiul. "Wah, kalian romantis amat. Kayak sinetron."
"Diam lo, Pan!" hardik Haikal sambil tersenyum.
Keesokan harinya, tim kecil mereka mulai bekerja. Ima datang dengan laptop pinknya, hadiah ulang tahun dari ayahnya. Rina membawa buku catatan tebal. Budi membawa flashdisk berisi jurnal-jurnal yang sudah ia download dari warnet. Topan membawa bakso.
"Makan dulu, baru kerja," kata Topan sambil membuka styrofoam berisi bakso panas.
"Lo cuma kepikiran makan doang, Pan," ledek Rina.
"Makan itu penting, Rin. Perut kenyang, pikiran encer."
Mereka duduk di ruang tamu kos Pak De. Pak De sendiri sedang pergi ke pasar, jadi mereka bebas menggunakan ruangan itu untuk rapat. Haikal menjadi moderator.
"Baiklah. Saya akan jelaskan outline-nya dulu. Bab satu pendahuluan. Bab dua kajian pustaka. Bab tiga metodologi. Bab empat pembahasan. Bab lima penutup."
"Wah, banyak banget," keluh Topan sambil menyuap bakso.
"Itu standar, Pan. Karya tulis ilmiah emang begitu."
Rina mencatat setiap kata yang Haikal ucapkan. "Kal, maksud dari 'pemberdayaan ekonomi masyarakat eks transmigrasi' itu apa?"
Haikal menjelaskan dengan sabar. "Desaku dulu adalah bagian dari proyek transmigrasi sejuta hektar. Penduduk dari Jawa, Sunda, Bali, Banjar maupun penduduk asli setempat yaitu masyarakat Dayak dan daerah lain dikirim ke sana untuk membuka lahan. Setelah puluhan tahun, akhirnya desa itu menjadi desa definitif. Tapi masalahnya, ekonomi masyarakat masih lemah. Mereka hanya mengandalkan pertanian dan perdagangan sayur keliling. Aku ingin memberikan solusi."
"Solusi gimana?" tanya Ima.
"Optimalisasi hasil pertanian. Misalnya, petani tidak hanya menjual sayur mentah, tapi juga mengolahnya menjadi produk yang lebih tahan lama: keripik, sayur beku, atau bahkan produk ekspor. Dan dari sisi perdagangan keliling, kita bisa memperkuat sistem koperasi desa."
Budi yang dari tadi diam, angkat bicara. "Kalau bicara koperasi, aku punya referensi bagus. Ada jurnal dari Universitas Gadjah Mada tentang koperasi petani di Kalimantan Tengah."
"Bagus, Bud. Coba share."
Budi mengeluarkan flashdisk dan mencolokkannya ke laptop Ima. File-file pdf berjajar rapi di layar. Haikal membacanya dengan saksama.
"Wow, ini sangat membantu. Kalian hebat."
"Kita semua hebat, Kal," kata Ima sambil tersenyum.
Minggu kedua tim karya tulis berjalan lancar. Haikal sudah menyelesaikan bab satu dan dua. Ima berhasil mengumpulkan data sekunder tentang indeks desa membangun (IDM) dari situs resmi Kementerian Desa. Rina mengedit setiap paragraf dengan teliti. Budi terus mencari referensi tambahan. Topan... ya, Topan tetap menjadi pemasok bakso dan motivator nomor satu.
Tapi di balik kesibukan itu, Rangga tidak tinggal diam. Bersama Marni, ia mulai menyebar gosip di sekolah.
"Lo tahu nggak? Haikal anak desa itu setiap malam ke rumah Ima."
"Ah, masa sih?"
"Iya. Geng motor Kalimantan Sakti lihat mereka jalan bareng malam-malam. Nggak jelas."
Gosip itu menyebar seperti api di hutan karet saat musim kemarau. Dalam tiga hari, hampir seluruh sekolah tahu "berita" bahwa Haikal dan Ima yang katanya cuma berteman, sebenarnya sudah berpacaran dan sering berkencan di malam hari.
Ima mendengar gosip itu saat istirahat. Ia sedang duduk di kantin dengan Rina ketika Marni dan dua temannya, Desi dan Tuti, datang.
"Eh, Ima, pacar kampungan lo mana?" ejek Marni dengan suara cukup keras. Beberapa siswa di kantin menoleh.
Ima menatap Marni dingin. "Apa maksudmu?"
"Maksudku, Haikal. Kampungan itu. Pacar lo kan? Ngaku aja. Nggak usah malu-malu. Orang miskin nikah sama orang kaya itu biasa. Banyak kok."
"Haikal bukan pacarku."
"Bohong! Semua orang tahu kalian sering berduaan di kos. Malam-malam lagi."
Rina berdiri. "Marni, jaga mulut lo. Ima dan Haikal cuma teman satu tim lomba."
"Oh, tim lomba? Tim lomba apa? Tim lomba bikin anak?"
Ima spontan berdiri. Tangannya sudah mengepal. Rina menahannya.
"Tenang, Ma. Dia cari sensasi."
"Pengecut!" teriak Ima ke Marni. "Berani tuduh, berani buktikan!"
Marni tersenyum jahat. "Pembuktian nanti kalau perutmu udah buncit. Kita lihat siapa yang benar."
Marni pergi bersama Desi dan Tuti. Ima duduk kembali. Wajahnya pucat. Matanya berkaca-kaca.
"Ima, lo nggak apa-apa?" tanya Rina.
"Aku baik-baik saja. Aku hanya... marah."
"Jangan hiraukan mereka. Mereka cuma iri."
"Iri sama apa? Iri sama anak desa yang perjuangannya luar biasa? Iri sama aku yang punya tim solid? Iri sama apa?"
"Iri karena lo punya Haikal, Ma. Mereka iri karena lo punya seseorang yang peduli sama lo tanpa melihat status."
Ima terdiam. Rina benar. Marni iri. Rangga iri. Mereka iri pada kebahagiaan kecil yang Haikal dan Ima temukan di sela-sela lampu merah Simpang Camuh.
Haikal mendengar gosip itu dari Ahmad, mahasiswa kos yang kebetulan punya adik kelas di sekolah Haikal.
"Kal, lo hati-hati. Ada yang sebar isu nggak enak tentang lo sama Ima," kata Ahmad sambil membersihkan motornya di halaman kos.
"Isu apa, Mas?"
"Katanya lo dan Ima sering kencan malam-malam. Padahal kan lo cuma rapat tim lomba di sini. Aku tahu karena aku di kamar sebelah."
Haikal menghela napas. "Pasti Rangga. Orang itu nggak punya kerjaan lain selain menghancurkan nama baik orang."
"Ada buktinya?"
"Belum. Tapi aku akan cari."
Haikal masuk ke kamarnya. Ia mengambil HP jadulnya dan menekan nomor Ima.
"Adinda Ima, ada gosip miring tentang kita. Kamu dengar?"
"Dengar. Marni yang menyebarkan. Tadi di kantin."
"Kita harus lakukan sesuatu. Kita tidak bisa diam."
"Apa rencanamu, Kal?"
"Kita kumpulkan bukti bahwa Rangga dan Marni yang menyebar fitnah. Lalu kita laporkan ke Ibu Sita. Atau kalau perlu, ke kepala sekolah."
"Buktinya bagaimana?"
"Aku sudah merekam beberapa percakapan di kelas saat Rangga mengejekku. Termasuk hari ini saat dia bilang aku kampungan."
"Kamu pinter juga merekam diam-diam."
"Diajarin sama Ahmad. Katanya, di kota besar, kita harus punya rekaman untuk melindungi diri."
Ima setuju. Mereka berdua mulai mengumpulkan bukti. Haikal merekam setiap kali Rangga mengejek atau Marni menyebar gosip. Ima meng-capture chat dari grup kelas yang berisi fitnah tentang mereka berdua.
Semua bukti itu disimpan rapi di laptop Ima dan di HP jadul Haikal.
"Kita tunggu satu minggu lagi," kata Haikal dalam pertemuan rahasia di taman belakang sekolah. "Setelah buktinya cukup, kita serang."
"Kita akan menang?" tanya Ima.
"Kita pasti menang. Kebenaran tidak akan pernah kalah oleh kebohongan."
Namun, sebelum Haikal dan Ima sempat melaporkan bukti-bukti itu, Rangga bergerak lebih dulu. Dengan bantuan Marni, ia memalsukan chat WhatsApp antara Ima dan seseorang yang tidak dikenal. Chat itu berisi ajakan "kencan" di malam hari di kos Haikal.
Rangga mencetak chat itu lalu menyebarkannya di papan pengumuman sekolah.
Esok paginya, seluruh sekolah gempar. Guru-guru berkumpul. Siswa-siswa berbisik-bisik. Ibu Sita memanggil Ima dan Haikal ke ruang BK.
"Ini serius, Ima. Ada orang tua siswa yang melapor ke kepala sekolah. Mereka khawatir dengan pergaulan bebas di sekolah ini," kata Ibu Sita dengan suara berat.
Ima menangis. "Itu fitnah, Bu. Saya tidak pernah melakukan itu. Saya tahu siapa pelakunya."
"Siapa?"
"Rangga dan Marni, Bu. Mereka yang selama ini menyebar gosip tentang saya dan Haikal."
Rangga yang dipanggil juga, masuk ke ruangan dengan muka tenang. Marni di sampingnya tersenyum puas.
"Bu, saya tidak tahu apa yang Ima bicarakan. Saya tidak pernah memfitnah siapa pun," kata Rangga dengan suara paling polos yang pernah ia hasilkan.
Haikal berdiri. Diam-diam, ia mengeluarkan HP jadulnya. "Bu, saya punya bukti."
Ibu Sita mengangkat alis. "Bukti apa?"
Haikal memutar rekaman suara Rangga di kelas: "Kampungan itu, Ima! Dasar anak toko nggak tahu diri!" dan "Lo emang udah jadi miliknya, ya? Lo udah dipacarin dia?"
Ibu Sita mendengarkan dengan saksama. Lalu Haikal memutar rekaman lain: Marni di kantin mengatakan, "Tim lomba apa? Tim lomba bikin anak?"
Rangga dan Marni pucat pasi.
Ibu Sita menatap mereka tajam. "Rangga, Marni, apa komentar kalian?"
Rangga masih berusaha membela diri. "Itu... itu hanya bercandaan, Bu."
"Bercandaan dengan menghina orang lain? Bercandaan dengan menyebar fitnah bahwa temanmu hamil? Bercandaan dengan mengatakan seseorang kampungan?"
Rangga terdiam.
Ibu Sita menghela napas. "Kalian bertiga akan saya panggil orang tuanya. Rangga, Marni, kalian akan mendapat sanksi berupa membersihkan lingkungan sekolah selama satu bulan. Dan jika ketahuan mengulangi perbuatan ini lagi, kalian akan diskors."
Marni mulai menangis. Rangga hanya diam, tapi pandangannya tajam ke Haikal.
"Kampungan beruntung," bisik Rangga saat keluar ruangan.
Haikal mendengarnya. Tapi ia memilih diam. Kemenangan kecil ini cukup untuk saat ini.
Di luar ruang BK, Ima memeluk Haikal. Pelukan itu lepas cepat, karena mereka sadar banyak mata yang melihat. Tapi kehangatan pelukan itu masih terasa di dada Haikal.
"Kita menang," kata Ima sambil menyeka air mata.
"Belum. Ini baru pertempuran kecil. Perang masih panjang."
"Tapi setidaknya, orang-orang tahu bahwa kita tidak bersalah."
Haikal tersenyum. "Iya. Tapi kita juga harus introspeksi. Mungkin kita terlalu sering bersama di kos sehingga menimbulkan fitnah."
"Jadi kita harus mengurangi intensitas pertemuan?"
"Tidak mengurangi. Tapi menggeser tempat. Kita bisa rapat di perpustakaan, di rumah Rina, atau di taman umum."
Ima mengangguk. "Kamu bijak."
"Aku tidak bijak. Aku hanya tidak mau membuat masalah lebih besar."
Mereka berjalan bersama menyusuri koridor. Beberapa siswa menatap mereka dengan pandangan berbeda. Ada yang kagum, ada yang iri, ada yang tidak peduli.
"Haikal," panggil Ima tiba-tiba.
"Apa?"
"Aku bangga jadi temanmu."
"Teman? Kita masih teman? Padahal seluruh sekolah bilang kita pacaran?"
Ima tertawa. "Biarkan mereka bilang apa. Yang penting kita tahu status kita."
"Status kita apa?"
"Kita ... ya, kita ini apa, Haikal?"
Haikal terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Apakah mereka pacaran? Belum. Apakah mereka lebih dari teman? Mungkin. Apakah mereka sepasang kekasih yang tidak berani mengaku? Mungkin juga.
"Kita adalah dua orang yang sedang berjuang," jawab Haikal akhirnya.
"Berjuang untuk apa?"
"Untuk mimpi. Dan mungkin... untuk satu sama lain."
Ima tersenyum. Senyum yang sama saat pertama kali mereka bertemu di Simpang Camuh. Senyum yang membuat Haikal lupa bahwa lampu merah masih menyala, dan mereka masih harus berhenti.
"Berjuang untuk satu sama lain," ulang Ima pelan. "Aku suka itu."
Malam harinya, Haikal tidak bisa tidur. Ia berbaring di kasur tipisnya sambil memandang langit-langit kamar. Retakan-retakan kayu itu seperti peta yang menuntunnya ke mana-mana. Ke desa Sriwidadi. Ke sekolah. Ke Simpang Camuh. Ke Ima.
Ia mengambil HP jadulnya dan menulis pesan.
"Ima, terima kasih untuk hari ini. Kamu kuat."
Balasan Ima datang lima menit kemudian.
"Aku tidak kuat, Kal. Kamu yang membuatku terlihat kuat. Sebenarnya aku lelah."
"Istirahatlah. Besok kita lanjut lagi perjuangan kita."
"Perjuangan apa? Melawan Rangga? Melawan Marni? Melawan gosip?"
"Perjuangan untuk membuktikan bahwa cinta tidak perlu status. Cukup dengan saling mengerti."
Ima tidak membalas. Haikal takut ia mengatakan sesuatu yang salah.
Tapi sepuluh menit kemudian, HP-nya bergetar.
"Haikal, aku ingin cerita sesuatu."
"Tentang apa?"
"Tentang keluargaku."
Haikal duduk. Ia tahu ini serius. Ima tidak pernah bercerita tentang keluarganya selain ayahnya yang galak dan tokonya yang besar.
"Silakan. Aku mendengarkan."
Ima mulai bercerita lewat SMS panjang yang pecah menjadi puluhan pesan.
"Ayah dan ibuku sebenarnya tidak harmonis. Mereka sering bertengkar. Ayah punya wanita lain di Banjarmasin."
"Ibuku tahu, tapi tidak bisa berbuat apa-apa karena semua harta atas nama ayah. Ibu hanya diam dan berpura-pura baik-baik saja."
"Aku tumbuh dalam keluarga yang hancur. Ayah sibuk dengan bisnis dan wanitanya. Ibu sibuk mengurus toko dan berpura-pura bahagia."
"Aku tidak punya siapa-siapa. Hanya Lia, asisten rumah tangga, yang benar-benar peduli padaku."
"Ketika aku menabrakmu di Simpang Camuh, itu adalah pertama kalinya dalam hidupku aku merasa... bersalah. Dan anehnya, rasa bersalah itu membuatku merasa hidup."
Haikal membaca semua pesan itu dengan mata basah. Ia tidak pernah membayangkan bahwa Ima, gadis kaya dengan motor bagus dan laptop pink, menyimpan luka sedalam itu.
"Ima, aku tidak tahu harus berkata apa. Tapi aku di sini. Aku akan selalu di sini. Tidak peduli seberapa hancur keluarganmu, aku akan tetap di sini."
"Kamu janji?"
"Aku janji. Sampai lampu merah di Simpang Camuh berubah menjadi ungu sekalipun."
Ima membalas dengan emotikon tertawa.
"Lampu merah tidak akan pernah berubah jadi ungu, Kal."
"Itulah intinya. Janjiku tidak akan pernah berubah juga."
Ima tidak membalas lagi. Tapi Haikal tahu, di seberang sana, di Jalan Cilik Kriwut Nomor 17, seorang gadis sedang menangis bahagia di atas kasurnya yang empuk.
Keesokan harinya, Haikal dan Ima sepakat untuk tidak terlalu sering terlihat bersama di sekolah. Mereka tetap duduk bersebelahan di kelas, tetap makan siang bersama di kantin, tapi mereka mengurangi kontak fisik. Tidak ada lagi sentuhan lengan saat berbicara. Tidak ada lagi pegangan tangan singkat saat melewati Simpang Camuh.
Mereka melakukannya bukan karena malu. Mereka melakukannya karena ingin melindungi satu sama lain.
"Kita harus fokus lomba dulu," kata Haikal saat istirahat.
"Setuju. Karya tulis ini penting. Bisa jadi tiket kita ke jenjang berikutnya."
"Apa jenjang berikutnya?"
"Kuliah, Kal. Kita bisa masuk PTN lewat jalur prestasi jika menang lomba ini."
Haikal mengangguk. Ia tidak pernah berpikir sejauh itu. Baginya, lulus SMA saja sudah anugerah. Tapi Ima membuka matanya. Ada dunia di luar sana. Ada kampus. Ada gelar. Ada masa depan.
"Oke. Target kita: juara satu."
"Juara satu, Kal. Bukan juara dua, tiga, atau harapan. Juara satu."
"Kok kamu yakin sekali?"
"Karena aku punya tim terbaik. Kamu sebagai penulis, Rina sebagai editor, Budi sebagai pencari referensi, dan Topan sebagai..."
"Pemasok bakso?"
"Sebagai motivator!" Ima tertawa. "Pokoknya kita bisa, Kal. Aku yakin."
Semangat Ima menular ke Haikal. Ia semakin rajin menulis. Setiap malam, ia mengetik di atas kertas karena tidak punya laptop. Keesokan harinya, ia meminjam laptop Ima untuk menyalin tulisannya.
Ima juga rajin. Ia mencari data tentang IDM, Indeks Desa Membangun, dari berbagai sumber. Ia membaca jurnal, artikel, bahkan skripsi mahasiswa yang membahas transmigrasi.
Rina setia mengedit setiap paragraf. Ia bahkan rela begadang untuk memastikan tidak ada satu pun typo.
Budi menjadi kurir referensi. Ia pergi ke warnet setiap dua hari sekali, mendownload jurnal, lalu menyimpannya di flashdisk.
Topan... ya, Topan memang pemasok bakso. Tapi ia juga menjadi penghibur saat tim mereka mulai lelah.
"Kalian hebat," kata Topan suatu malam. "Gue bangga jadi bagian dari tim ini."
"Lo bagian dari tim karena lo bawa bakso, Pan," ledek Rina.
"Bakso itu penting, Rin. Tanpa bakso, gue yakin kalian udah pada stres."
Semua tertawa. Tawa itu menghangatkan malam yang dingin. Tawa itu menjadi pelipur di tengah lelahnya berjuang.
Waktu berjalan cepat. Sudah hampir satu bulan Haikal berada di kota Kapuas. Kini ia semakin terbiasa dengan rutinitas: bangun pagi, sholat subuh, sarapan nasi sisa semalam, bersepeda ke sekolah, belajar, bertemu Ima, pulang, menulis karya tulis, tidur. Begitu seterusnya. Terkadang membosankan. Tapi Haikal tidak pernah mengeluh.
Suatu sore, sepulang sekolah, Haikal dan Ima duduk di taman kota. Taman itu berada di Bundaran Besar,. Mereka sengaja memilih tempat itu karena cukup ramai. Tidak ada siswa lain yang terlihat nongkrong di sana.
"Haikal, aku ingin tanya sesuatu," kata Ima sambil memainkan rumput di sampingnya.
"Tanya saja."
"Kamu pernah berpikir untuk... menjauhi aku? Karena gosip? Karena Rangga? Karena keluargaku yang bermasalah?"
Haikal berpikir sejenak. "Pernah. Tepatnya saat Rangga memfitnah kita di papan pengumuman. Saat itu aku pikir, mungkin hidupku akan lebih tenang jika aku tidak dekat denganmu."
"Lalu kenapa kamu tidak jadi menjauhi aku?"
"Karena aku sadar, masalah bukan datang dari kamu. Masalah datang dari orang lain yang tidak bisa menerima kebahagiaan kita. Jika aku menjauhi kamu, itu berarti aku membiarkan mereka menang."
Ima tersenyum. "Kamu pejuang sejati, Haikal."
"Aku bukan pejuang. Aku hanya anak desa yang tidak mau kalah."
"Mereka bilang anak desa tidak pantas untuk anak kota seperti aku."
"Terserah mereka. Yang penting aku tahu aku pantas."
"Bukan hanya pantas, Kal. Kamu lebih dari pantas."
Mereka berdua terdiam. Semburat senja mulai menghiasi langit. Warna jingga bercampur ungu, seperti lukisan abstrak yang terlalu indah untuk dilukis oleh manusia biasa.
"Ima."
"Apa?"
"Aku tidak tahu ini cinta atau bukan. Tapi yang aku tahu, setiap kali aku bersamamu, aku merasa menjadi versi terbaik dari diriku. Aku lebih rajin belajar. Lebih semangat menulis. Lebih kuat menghadapi masalah."
"Itu efekku padamu?"
"Itu efek kita satu sama lain. Kamu juga berubah, Ima. Kamu dulu pemarah. Sekarang lebih sabar. Kamu dulu mudah menyerah. Sekarang lebih tekun. Kamu dulu... kamu dulu tidak pernah tersenyum saat berbicara teman ."
Ima tertawa. "Aku tersenyum sejak pertama kali kita bertabrakan."
"Benarkah?"
"Iya. Saat itu, di trotoar Simpang Camuh, meskipun aku marah, di dalam hatiku aku tersenyum. Karena aku melihat seseorang yang berbeda. Seseorang yang berjuang. Seseorang yang tidak aku temukan di kalangan anak-anak kaya di sekolahku dulu."
Haikal tidak bisa berkata-kata. Ia hanya tersenyum. Dan Ima membalas senyum itu. Mereka berbicara dengan mata, seperti biasa. Dan bagi mereka, itu sudah cukup.
Malam harinya, Haikal menerima pesan dari Siti, gadis desa yang diam-diam menyukainya.
"Kal, kabar dari desa. Kambingmu si Jebul melahirkan tiga anak. Semua sehat."
Haikal tersenyum lebar. Ia sudah lama tidak mendengar kabar dari desa. Rindunya menggunung.
"Terima kasih, Ti. Tolong jaga baik-baik. Aku akan pulang saat liburan."
"Kapan liburan? Jangan lama-lama, Kal. Jebul kangen sama kamu."
Haikal terkekeh. Ia membayangkan tingkah Jebul yang selalu mengembik setiap kali melihatnya.
"Liburan dua bulan lagi. Doakan aku menang lomba, ya, Ti."
"Lomba apa?"
"Karya tulis ilmiah. Hadiahnya piala dari Bupati dan beasiswa."
"Wah, hebat. Kamu pasti menang. Aku yakin."
"Amin. Makasih, Ti."
Haikal mematikan HP. Ia mengambil buku catatan dan mulai menulis bab empat karya tulisnya. Bab pembahasan. Bab yang paling sulit karena harus menganalisis data dan memberikan solusi nyata.
Ia menulis dengan semangat. Kata per kata mengalir deras. Seperti air sungai Kapuas yang tidak pernah berhenti mengalir.
- "Pemberdayaan ekonomi masyarakat eks transmigrasi dapat dilakukan melalui optimalisasi hasil pertanian dan perdagangan keliling."
- "Koperasi desa perlu diperkuat dengan manajemen modern dan akses permodalan dari perbankan."
- "Pemerintah desa harus aktif memfasilitasi pelatihan kewirausahaan bagi petani dan pedagang."
Tiba-tiba, pintu kamarnya diketuk. Pak De masuk dengan membawa segelas teh hangat.
"Masih belajar, Nak?"
"Iya, Pak. Lagi nulis karya tulis."
"Untuk lomba?"
"Iya, Pak. Lomba tingkat kabupaten."
"Nak, Bapak bangga sama kamu. Anak desa punya semangat luar biasa."
"Terima kasih, Pak."
Pak De duduk di ujung kasur. "Nak, Bapak pernah muda juga. Dulu Bapak juga punya mimpi. Tapi Bapak gagal."
"Kenapa gagal, Pak?"
"Karena Bapak takut. Takut gagal. Takut tidak cukup baik. Takut tidak diterima. Dan ketakutan itu membuat Bapak berhenti sebelum mulai."
Haikal terdiam.
"Jangan seperti Bapak, Nak. Teruslah berjuang meskipun takut. Karena kegagalan terbesar bukan ketika kita jatuh, tapi ketika kita tidak pernah mencoba."
"Terima kasih, Pak. Saya tidak akan menyerah."
"Saya tahu." Pak De berdiri. "Minum tehnya. Nanti malam dingin. Nanti sakit."
Pak De keluar. Haikal menyesap teh hangat itu. Hangatnya menyebar ke seluruh tubuh. Menghangatkan jantung yang mulai lelah.
Ia melanjutkan menulis. Pukul 23.00, ia selesai. Bab empat selesai. Tinggal bab penutup.
"Besok lagi," katanya sambil meregangkan tangan.
Ia berbaring di kasur. Matanya berat. Pikirannya mulai mengembara ke mimpi.
Pagi itu berbeda. Haikal bangun dengan perasaan tidak enak. Ada firasat buruk. Ia tidak tahu apa, tapi dadanya sesak.
Setelah sholat subuh, ia memeriksa HP-nya. Ada dua puluh pesan masuk. Semua dari Ima.
"Kal, bangun!"
"Ada kejadian!"
"Aku nggak bisa jemput kamu hari ini."
"Lia yang akan ke kos."
"Tapi hati-hati, ya. Jangan kemana-mana sendiri."
Haikal bingung. Ia menelepon Ima, tapi tidak diangkat. Ia coba lagi, tetap tidak diangkat.
Lia datang ke kos pukul 06.00. Wajahnya pucat.
"Mas Haikal, ikut saya. Cepat."
"Ada apa, Lia?"
"Nanti di mobil saya cerita."
Di dalam mobil, Lia menjelaskan. Tadi malam, Rangga dan Marni datang ke rumah Ima. Mereka membawa orang tua mereka. Rangga menuduh Ima telah melakukan perbuatan tidak senonoh dengan Haikal.
"Ayah Ima marah besar. Beliau tidak percaya dengan penjelasan Ima. Sekarang Ima tidak boleh keluar rumah. HP-nya disita."
Haikal terdiam. Dadanya terasa ditusuk ribuan jarum.
"Ini salahku," bisiknya.
"Bukan salah Mas Haikal. Ini ulah Rangga. Dia sengaja menghancurkan Ima karena Ima memilih Mas Haikal."
"Tapi aku tidak pernah meminta Ima memilihku."
"Mas Haikal tidak meminta. Tapi Ima tetap memilih. Karena Ima tahu, Mas Haikal orang baik."
Haikal menunduk. Air matanya jatuh. Pertama kali sejak ia meninggalkan desa Sriwidadi.
Mereka tiba di rumah Ima. Rumah itu besar, pagarnya tinggi. Tapi terasa dingin. Tidak ramah.
Haikal turun dari mobil. Ia berdiri di depan gerbang biru. Rumah yang dulu ramai dengan aktivitas toko, kini terasa sunyi.
Ia menekan bel. Tidak ada jawaban. Ia tekan sekali lagi. Masih tidak ada.
"Ayah Ima tidak akan membuka pintu, Mas," kata Lia.
"Lalu bagaimana aku bisa bertemu Ima?"
Lia mengeluarkan kertas kecil dari sakunya. "Ini surat dari Ima. Dia titipkan sebelum HP-nya disita."
Haikal membaca surat itu dengan tangan gemetar.
"Haikal,
Aku tidak tahu apa yang akan terjadi setelah surat ini sampai kepadamu. Ayah marah. Ibu hanya diam. Rangga dan orang tuanya sudah pergi. Tapi kerusakan sudah terjadi.
Aku tidak bisa keluar rumah. Mungkin untuk beberapa hari. Mungkin untuk beberapa minggu. Mungkin... untuk selamanya.
Tapi aku tidak menyesal. Aku tidak menyesal telah menabrakmu di Simpang Camuh. Aku tidak menyesal telah berteman denganmu. Aku tidak menyesal telah... merasakan apa yang selama ini tidak pernah aku rasakan.
Teruslah berjuang, Haikal. Jangan biarkan masalahku menghambat mimpimu. Menangkan lomba itu. Jadilah dokter desa seperti yang kamu cita-citakan.
Aku akan selalu di sini. Mungkin tidak secara fisik. Tapi hatiku selalu bersamamu.
Ima."
Haikal menutup surat itu. Air matanya jatuh lagi. Ia menekan bel rumah sekali lagi. Keras. Sangat keras.
Pintu terbuka. Ayah Ima berdiri di ambang pintu. Wajahnya merah karena marah.
"Kamu! Dasar anak desa kurang ajar! Berani-beraninya kamu merusak nama baik anak saya!"
"Pak Dadang, saya tidak pernah..."
"DIAM! Saya tidak mau dengar penjelasanmu! Pergi dari sini! Dan jangan pernah mendekati Ima lagi!"
Pintu ditutup dengan keras. Haikal berdiri di depan gerbang. Membisu. Hancur. Luluh lantak.
Lia menarik lengannya. "Mas, pulang dulu. Nanti Bapak tambah marah."
Haikal menurut. Ia berjalan ke mobil dengan langkah gontai. Sepanjang perjalanan pulang, ia tidak bicara sepatah kata pun.
Sesampainya di kos, ia langsung masuk kamar. Mengunci pintu. Tidak keluar seharian.
Topan, Rina, dan Budi datang. Mereka mengetuk pintu, tapi tidak dibuka.
"Kal, buka pintunya!" teriak Topan.
"Tinggalkan aku sendiri, Tan."
"Kita tim, Kal. Kita harus hadapi ini bersama."
Haikal membuka pintu. Matanya sembab. Wajahnya pucat.
"Aku tidak tahu harus berbuat apa, Pan. Ima... Ima diambil dari aku."
"Kita akan dapatkan dia kembali, Kal. Tapi tidak dengan cara menangis di kamar."
Haikal mengangkat wajah. Topan benar. Menangis tidak akan menyelesaikan masalah.
"Kita lawan Rangga," kata Haikal dengan suara tegas.
"Kita lawan!" seru mereka berempat.
Di kejauhan, di rumahnya yang megah, Ima duduk di kamar. Jendelanya tertutup rapat. Pintunya dikunci dari luar.
Ia memandang langit-langit kamarnya. Mengingat-ingat setiap detik kebersamaannya dengan Haikal.
"Di Simpang Camuh, cintaku tersandera," bisiknya.
"Bukan karena aku tidak berani. Tapi karena dunia belum siap menerima kita."
Ia menangis. Diam-diam. Agar tidak terdengar oleh ayahnya yang sedang marah di ruang tamu.
BAB V
Drama Humoris Ala Anak Remaja
Tiga hari telah berlalu sejak Ima dikurung di rumahnya. Tiga hari sejak Haikal berdiri di depan gerbang biru itu, menangis, lalu kembali ke kos dengan hati hancur berkeping-keping. Tiga hari sejak tim karya tulis kehilangan jantungnya. Tiga hari yang terasa seperti tiga tahun. Tiga hari yang penuh dengan keheningan yang menyiksa.
Kamar kos Haikal terasa seperti penjara. Dinding bambu yang dulu hangat kini terasa dingin menusuk tulang. Seprai tipis yang dulu cukup untuk menahan dingin malam Kota Kapuas, kini tidak mampu menghangatkan apapun. Haikal terbaring di kasurnya, matanya terbuka lebar menatap langit-langit yang retak. Ia tidak menangis lagi. Air matanya sudah habis sejak pagi kemarin. Yang tersisa hanyalah kekosongan. Kekosongan yang aneh. Kekosongan yang tidak bisa ia jelaskan.
Ia memegang ponsel jadulnya. Layar kecil itu sudah ia buka dan tutup berkali-kali. Kontak "Ima (yang menabrak)" sudah ia tatap begitu lama hingga huruf-huruf itu seolah menari-nari di depannya. Ia ingin menelepon. Tapi untuk apa? Telepon Ima sudah disita ayahnya. Ia ingin mengirim pesan. Tapi untuk siapa? Ima tidak bisa membalas.
Di sisi lain kota, dalam kamar yang terkunci rapat, Ima terbaring di ranjangnya. Jilbab putih yang biasa ia kenakan tergantung di belakang pintu, tidak tersentuh sejak tiga hari lalu. Rambutnya dibiarkan terurai, acak-acakan. Wajahnya pucat, matanya sembab. Bantal di sampingnya basah oleh air mata yang tidak pernah berhenti mengalir.
Ia memeluk boneka kecil yang dulu Haikal berikan saat mereka merayakan kemenangan lomba karya tulis, boneka sederhana berbentuk kambing, persis seperti Jebul, kambing kesayangan Haikal. Ima tidak pernah membuka kado itu saat menerimanya dulu. Ia hanya tersenyum dan menyimpannya di lemari. Tiga hari ini, boneka itu menjadi satu-satunya penghiburnya.
"Haikal," bisiknya pada boneka itu. "Apa kabar kamu di sana? Apa kamu makan? Apa kamu sholat? Apa kamu... masih mengingatku?"
Tidak ada jawaban. Hanya suara angin dari balik jendela yang tertutup rapat.
"Apakah ini yang dinamakan kehilangan?" bisik Haikal pada dirinya sendiri. Suaranya terdengar asing. Parau. Seperti orang yang sudah lama tidak bicara.
Ia membuka laci kecil di samping kasurnya. Di sana, tersimpan rapi sepucuk surat, surat yang ditulis Ima untuknya saat pertama kali ia dikurung dulu, sebelum akhirnya dibebaskan berkat bantuan teman-teman. Haikal mengambil surat itu. Tangannya gemetar. Kertasnya sudah sedikit kusut karena sering ia baca.
"Haikal,
Aku tidak tahu apa yang akan terjadi setelah surat ini sampai kepadamu. Ayah marah. Ibu hanya diam. Rangga dan orang tuanya sudah pergi. Tapi kerusakan sudah terjadi.
Aku tidak bisa keluar rumah. Mungkin untuk beberapa hari. Mungkin untuk beberapa minggu. Mungkin... untuk selamanya.
Tapi aku tidak menyesal. Aku tidak menyesal telah menabrakmu di Simpang Camuh. Aku tidak menyesal telah berteman denganmu. Aku tidak menyesal telah... merasakan apa yang selama ini tidak pernah aku rasakan.
Teruslah berjuang, Haikal. Jangan biarkan masalahku menghambat mimpimu.
Aku akan selalu di sini. Mungkin tidak secara fisik. Tapi hatiku selalu bersamamu.
Ima."
Haikal membaca surat itu sekali lagi. Lalu sekali lagi. Lalu sekali lagi. Air matanya jatuh membasahi kertas itu. Ia tidak menyekanya. Biarlah. Air matanya adalah bukti bahwa ia masih hidup. Bahwa ia masih peduli. Bahwa ia masih mencintai.
Di kamar yang terkunci, Ima membuka lemari kecil di sudut ruangan. Di sana, tersimpan sepucuk surat yang belum pernah ia kirimkan, surat untuk Haikal yang ia tulis di buku hariannya, kemudian disobek, lalu disimpan kembali.
"Haikal,
Hari ini hari kedua aku dikurung. Ayah masih marah. Ibu hanya diam. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku baik-baik saja. Jangan khawatir.
Aku mendengar suara seseorang berteriak di depan pagar tadi pagi. Aku yakin itu kamu. Aku ingin membuka jendela dan berteriak balik. Tapi aku takut. Takut Ayah semakin marah. Takut kamu semakin sedih.
Maafkan aku, Kal. Maafkan aku karena tidak bisa menjadi kuat seperti yang kamu harapkan.
Tapi aku janji. Aku tidak akan menyerah. Aku akan menunggumu.
Ima."
Surat itu tidak pernah ia kirim. Ia hanya menyimpannya di bawah bantal, sebagai pengingat bahwa ia masih memiliki seseorang yang peduli padanya.
Haikal masih terbaring ketika pukul 04.45 pagi tiba. Ia tidak ingat kapan terakhir ia tidur nyenyak. Mungkin sejak Ima dikurung. Atau mungkin sejak ia menyadari bahwa cinta tidak semudah yang ia bayangkan.
Di luar, suara azan subuh mulai berkumandang dari pengeras suara mushola dekat kos. Haikal tidak bergerak. Ia hanya memejamkan mata. Bukan untuk tidur. Tapi untuk menghindari kenyataan bahwa hari ini ia harus bangun dan menghadapi dunia lagi.
"Haikal! Bangun! Udah subuh!" teriak Ahmad dari kamar sebelah. Suaranya serak karena baru bangun tidur. "Lo puasa, apa? Nggak sholat?"
Haikal tidak menjawab.
"Haikal! Lo denger, gue?" Ahmad mengetuk pintu. "Jangan bikin gue masuk, ya. Gue gampar nanti."
"Iya, Mas. Saya dengar," jawab Haikal akhirnya. Suaranya lirih.
"Woy, suaramu aneh. Lo sakit?"
"Enggak. Cuma... belum bisa tidur."
"Ya elah, Kal. Ini udah tiga hari lo kayak gini. Gue sebagai penghuni kos yang lebih tua, nasihatin lo. Jangan terlalu dipikirin. Namanya juga cinta. Ada naik, ada turun. Ada ketemu, ada pisah."
"Tapi Mas Ahmad, ini bukan soal pisah biasa. Ini soal ayahnya yang..."
"Aku tahu. Topan cerita. Tapi percaya deh, lo punya teman-teman yang peduli sama lo. Jangan sia-siakan itu."
Haikal tidak menjawab.
"Ya sudah, aku duluan ke kampus. Nanti lo telat," kata Ahmad sebelum pergi.
Haikal terbaring lagi. Matanya menatap langit-langit. Retakan kayu itu seolah menertawakannya.
Di rumah Ima, Pak Dadang terbangun lebih awal dari biasanya. Ia duduk di ruang tamu, seorang diri. Lampu belum dinyalakan. Hanya cahaya subuh yang masuk lewat celah-celah jendela. Wajahnya tidak lagi semerah kemarin. Ada keraguan di sana. Ada pertanyaan yang tidak bisa ia jawab.
"Apakah aku terlalu keras?" bisiknya pada diri sendiri.
Ia mendengar suara Lia, asisten rumah tangga mereka, yang sedang berbicara dengan tetangga di luar pagar.
"Bu Yati, kata orang si Rangga itu anaknya suka bohong. Katanya dulu pernah di sekolah lama dia dikeluarkan karena memfitnah teman."
"Astaga, serius, Lia?"
"Serius, Bu. Saya dengar dari adiknya teman saya yang satu sekolah dulu dengan Rangga."
Pak Dadang menghela napas panjang. Pikirannya kacau. Apakah ia terlalu cepat marah? Apakah ia terlalu mudah percaya pada Rangga? Apakah Ima... tidak bersalah?
Jam menunjukkan pukul 05.15 ketika Haikal akhirnya bangkit dari kasur. Ia melangkah gontai menuju kamar mandi. Setiap langkah terasa berat, seperti kakinya terikat rantai.
Di kamar mandi umum kos-kosan yang hanya berdinding bilik bambu dan beralas tanah, Haikal bertemu dengan Yusuf yang sedang menggosok gigi. Rambut Yusuf panjang dan acak-acakan. Matanya masih sayu. Kaos oblongnya bolong di ketiak.
"Woy, Kal, gue denger lo lagi galau," kata Yusuf sambil menyikat gigi. Pasta gigi yang berwarna biru mengalir di sudut bibirnya.
Haikal tidak menjawab. Ia hanya membuka kran air dan membasuh wajahnya.
"Siapa yang galau? Lo nggak dengar gue?"
"Dengar, Yus. Aku dengar."
"Terus?"
"Aku... nggak tahu harus bilang apa."
Yusuf berhenti menyikat gigi. Ia menatap Haikal lewat cermin retak yang menempel di dinding bambu.
"Lo kehilangan Ima?"
"Iya."
"Lo jatuh cinta sama dia?"
Haikal tidak menjawab.
"Jawab. Lo jatuh cinta atau nggak?"
"Aku... aku nggak tahu."
"Haikal, lo sudah tiga hari nggak makan. Mata lo sembab. Suara lo parau. Lo nggak pernah keluar kamar kecuali ke kamar mandi. Dan lo bilang lo nggak tahu?"
Haikal terdiam.
"Jawab, Kal!" Yusuf meninggikan suara. Ini pertama kalinya ia bersikap serius.
"Aku... iya. Aku jatuh cinta. Sangat jatuh cinta. Tapi apa gunanya? Dia dikurung. Ayahnya membenci aku. Dan aku... aku hanya anak desa miskin yang tidak punya apa-apa."
Yusuf menepuk bahu Haikal.
"Itu namanya jatuh cinta, tolol! Bukan galau! Lo jatuh cinta! Selamat! Tapi jangan kalah sama keadaan. Cinta itu perjuangan. Kalau lo menyerah sekarang, berarti lo tidak pantas untuk Ima."
Haikal menatap Yusuf. Air matanya menggenang.
"Kamu bijak, Yus."
"Bukan bijak. Gue sering nonton sinetron."
Haikal tertawa kecil. Pertama kali dalam tiga hari.
Pukul 05.30, setelah sholat subuh, Haikal duduk di ruang tamu kos. Pak De sudah menunggu dengan sepiring pisang goreng masih hangat. Aroma pisang yang digoreng dengan tepung sedikit vanili itu seharusnya menggugah selera. Tapi Haikal tidak merasakan apa-apa.
"Haikal, makan dulu. Nanti kamu sekolah."
"Aku tidak lapar, Pak."
"Kamu harus makan. Tubuhmu butuh energi. Lihatlah, kamu sudah kurus. Pipimu cekung. Kalau Ima lihat kamu sekarang, dia pasti sedih."
Haikal menunduk.
"Pak De, apa saya egois?"
"Egois kenapa?"
"Egois karena terus memikirkan Ima. Padahal dia mungkin sudah melupakan aku. Mungkin dia... mungkin dia sudah menyerah pada keadaan. Mungkin dia sudah memilih untuk tidak peduli lagi."
Pak De duduk di samping Haikal. Ia meletakkan tangannya di pundak Haikal dengan lembut.
"Nak, coba lihat ke belakang. Sudah berapa kali kamu jatuh? Sudah berapa kali kamu bangkit? Kamu tidak egois. Kamu sedang berjuang. Dan orang yang berjuang tidak punya waktu untuk berpikir bahwa dirinya egois."
"Tapi Pak De, bagaimana jika perjuangan ini sia-sia?"
"Tidak ada perjuangan yang sia-sia, Nak. Setiap tetes keringat, setiap air mata, setiap rasa sakit yang kamu rasakan, akan membuahkan hasil. Mungkin tidak hari ini. Mungkin tidak besok. Tapi suatu hari nanti, kamu akan melihat bahwa semua yang kamu lakukan hari ini tidaklah sia-sia."
Haikal mengambil pisang goreng itu. Digigitnya kecil-kecil. Rasanya hambar di lidahnya. Tapi ia tetap mengunyah. Untuk Pak De. Untuk Ima. Untuk dirinya sendiri.
Di sekolah, suasana berbeda. Saat Haikal memasuki gerbang, beberapa siswa menatapnya dengan pandangan aneh. Ada yang tersenyum iba, ada yang terkekeh, ada pula yang pura-pura tidak melihat.
"Lo liat tuh, anak kampung yang bikin masalah sama Rangga," bisik seorang siswa di pojok. Suaranya tidak terlalu pelan, sengaja agar didengar.
"Katanya dia bikin Ima dikurung sama ortunya."
"Dasar kampungan. Ngerebut pacar orang."
Tapi ada juga bisikan lain.
"Kasihan ya. Dia kelihatan kurus. Matanya sembab. Kayak orang kurang tidur."
"Tapi dia hebat, masih masuk sekolah. Kalau aku, mungkin sudah berhenti. Mungkin sudah pindah kota."
Haikal mendengar semua bisikan itu. Tapi ia memilih berjalan tegap, tidak menoleh, tidak menggubris. Matanya fokus ke depan. Dadanya membusung. Ia tidak akan membiarkan mereka melihat kelemahannya. Ia adalah Haikal. Anak desa yang bersepeda 75 kilometer demi mimpi. Ia tidak akan jatuh hanya karena gosip.
Di depan pintu kelas, ia bertemu dengan Topan yang sedang berdiri dengan tangan di pinggang. Topan tersenyum lebar. Tapi senyum itu tidak bisa menyembunyikan kekhawatiran di matanya. Matanya sembab. Sepertinya ia juga tidak tidur nyenyak semalam.
"Woy, Kal. Lo akhirnya dateng juga. Gue kira lo putus sekolah."
"Aku nggak akan putus sekolah, Pan."
"Lo yakin? Lo kelihatan kayak mayat hidup. Pipi lo cekung. Mata lo cowong."
"Bisa putus asa, Pan. Tapi nggak putus sekolah. Asa masih ada. Selama Ima masih bernapas, aku masih punya alasan untuk berjuang."
Topan memeluk Haikal erat. Pelukan yang lama. Pelukan yang hangat. Pelukan yang mengatakan ribuan kata tanpa suara.
"Gue kaget, kemarin lo diem aja di kamar. Gue bawa bakso spesial pake telur puyuh, tapi nggak lo makan. Gue sampe nangis, tahu. Gue mikir, 'Gila, sahabat gue hancur.'"
"Maaf, Pan. Aku lagi... bad month."
"Bad month tiga hari?"
"Bad week. Mungkin bad month. Belum tahu. Tapi aku akan coba untuk bangkit."
Mereka berdua masuk kelas. Rina dan Budi sudah duduk di meja belakang. Wajah mereka cemas. Rina bahkan terlihat seperti baru selesai menangis, hidungnya merah, matanya sembab.
"Haikal, lo nggak apa-apa?" tanya Rina. Suaranya bergetar.
"Aku baik-baik saja."
"Jangan bohong, Kal. Mata lo sembab. Wajah lo pucat. Kita tahu lo sedih. Tapi kita juga tahu lo kuat."
Haikal tersenyum pahit. "Aku tidak kuat, Rin. Aku hanya berpura-pura kuat."
"Berpura-pura kuat itu sudah lebih dari cukup, Kal," kata Budi. "Dari pada tidak berusaha sama sekali. Setidaknya lo masih berdiri. Setidaknya lo masih melangkah."
"Ima gimana kabarnya?" tanya Rina lagi.
Haikal menggeleng. "Aku tidak tahu. Sejak dia dikurung, tidak ada kabar. HP-nya disita. Aku coba hubungi beberapa kali, tapi tidak pernah aktif. Seperti dia hilang. Seperti tidak pernah ada."
Rina menunduk. Matanya berkaca-kaca.
"Kasihan Ima. Dia tidak pantas mengalami ini."
"Tidak ada yang pantas mengalami ini, Rin. Tapi ini sudah terjadi. Yang bisa kita lakukan adalah terus berjuang. Untuk Ima."
"Tapi bagaimana caranya, Kal? Kita tidak bisa menjangkau dia. Kita tidak tahu apa yang terjadi di dalam rumah itu."
"Kita akan cari jalan. Pasti ada jalan. Selama kita masih bernapas, selama kita masih punya harapan, pasti ada jalan."
Jam pertama pelajaran dimulai pukul 07.00. Bu Kusuma masuk kelas dengan muka tegang. Biasanya beliau tersenyum saat masuk, bahkan menyapa dengan ramah. Tapi hari ini tidak. Ada yang berbeda. Wajahnya kaku. Matanya menatap kosong ke arah bangku Ima yang tidak terisi.
"Selamat pagi, anak-anak."
"Selamat pagi, Bu," seru siswa serempak. Suara mereka tidak sebersemangat biasanya. Lembek. Seperti tidak punya energi.
Bu Kusuma meletakkan tasnya di atas meja. Buku-bukunya ia susun dengan rapi, gerakannya pelan, seperti sedang memberikan waktu bagi suasana untuk mereda.
"Saya dengar ada masalah di luar kelas yang mempengaruhi suasana belajar kita. Saya tidak mau tahu detailnya. Yang saya mau, kalian semua tetap fokus pada pelajaran. Apalagi ujian tengah semester tinggal dua minggu lagi."
Seorang siswa di barisan depan mengangkat tangan. Namanya Andi, terkenal suka bergosip.
"Ya?"
"Bu, apakah benar Ima Rosita Sari dikurung orang tuanya karena berpacaran dengan Haikal?"
Kelas menjadi hening. Sunyi. Bisa mendengar detak jarum jam dinding. Semua mata tertuju pada Haikal. Semua telinga menunggu jawaban Bu Kusuma.
Bu Kusuma menatap siswa itu dengan tajam. Matanya seperti pisau. Andi menunduk.
"Itu bukan urusan sekolah. Dan bukan urusan kalian. Fokus pada pelajaran."
"Tapi Bu, gosipnya sudah menyebar ke seluruh sekolah. Bahkan ke orang tua siswa. Kata mama saya, beliau dengar dari grup WhatsApp wali murid."
"Gosip adalah gosip. Bukan fakta. Sampai ada bukti yang jelas, jangan percaya begitu saja. Dan ingat, menyebarkan gosip tanpa bukti adalah dosa. Sekarang buka buku paket halaman 127."
Kelas kembali tenang. Tapi Haikal bisa merasakan tatapan mata dari berbagai arah. Ada yang iba. Ada yang sinis. Ada yang tidak peduli. Ada yang merasa kasihan. Tapi Haikal tidak peduli. Ia hanya fokus pada papan tulis.
"Haikal, coba kerjakan soal nomor 2 di papan tulis," perintah Bu Kusuma.
Haikal berdiri. Ia berjalan ke papan tulis dengan langkah mantap. Kapur putih diambilnya. Ia membaca soal: ^2log 16 + ^3log 27 - ^5log 125.
Tangannya gemetar saat mulai menulis. Ia bisa merasakan puluhan pasang mata menatap punggungnya. Ada yang berbisik-bisik. Ada yang terkekeh pelan. Tapi Haikal tidak menoleh. Ia hanya fokus pada angka-angka di depannya.
"^2log 16 = 4, ^3log 27 = 3, ^5log 125 = 3. Jadi 4 + 3 - 3 = 4."
Bu Kusuma mengamati Haikal dengan saksama. Ia tidak hanya melihat jawabannya, tapi juga bahasa tubuhnya.
"Benar. Haikal, kamu semakin pintar. Terus belajar."
"Terima kasih, Bu."
"Tapi Haikal, ada satu hal yang ingin saya sampaikan."
Haikal menoleh. "Apa, Bu?"
"Apapun yang terjadi di luar kelas, jangan biarkan itu mengganggu fokusmu. Kamu punya potensi besar. Jangan sia-siakan. Kamu berasal dari desa dengan perjuangan yang luar biasa. Jangan biarkan masalah remaja menghancurkan masa depanmu."
Seketika, suasana kelas berubah. Beberapa siswa yang tadinya berbisik-bisik, kini diam. Ada yang menunduk malu. Ada yang menatap Haikal dengan rasa hormat baru.
"Terima kasih, Bu. Saya tidak akan menyia-nyiakan apa pun."
Haikal kembali ke kursinya. Topan berbisik, "Bu Kusuma keren banget, ya. Beliau ngebela lo."
"Beliau tidak membela aku, Pan. Beliau hanya mengingatkan fakta."
"Fakta apa?"
"Bahwa nilai dan usaha tidak bisa diambil oleh siapa pun. Itu milikku. Dan aku akan menjaganya. Tidak ada yang bisa mengambilnya. Tidak Rangga, tidak fitnah, tidak masalah apa pun."
Jam istirahat tiba. Haikal, Topan, Rina, dan Budi duduk di kantin seperti biasa. Tapi suasana berbeda. Tidak ada Ima yang memesan nasi ayam goreng. Tidak ada Ima yang tertawa kecil saat Topan meledek Budi. Tidak ada Ima yang menanyakan kabar Rina tentang buku yang sedang dibaca.
Kursi kosong di samping Haikal terasa seperti lubang hitam yang menyedot semua kebahagiaan.
Meja mereka terasa kosong. Padahal tidak ada yang berubah secara fisik. Empat orang masih duduk di sana. Tapi ada yang hilang. Sesuatu yang tidak bisa digantikan.
"Sepi ya tanpa Ima," kata Rina sambil memainkan sendok. Sendok itu ia putar-putar di antara jari-jarinya, gerakan gugup yang biasa ia lakukan saat cemas.
"Sepi banget," jawab Topan. "Kantin ini kayak kehilangan warna. Biasanya ada Ima yang ribut, sekarang sunyi. Biasanya ada suara tawanya, sekarang hanya suara denting piring."
Budi hanya diam. Ia sedang asyik membaca jurnal di HP-nya. Tapi matanya tidak fokus. Pandangannya kosong. Ia hanya menggulir layar tanpa tujuan.
"Budi, lo nggak makan?" tanya Haikal.
"Enggak, Kal. Aku lagi baca jurnal buat karya tulis kita. Ada artikel menarik tentang indeks desa membangun. Ini bisa jadi data pendukung yang kuat. Tapi... susah fokus."
"Kenapa susah fokus, Bud?"
Budi menghela napas panjang. "Karena Ima nggak ada. Biasanya dia yang menemani kita kerja. Dia yang bawa laptop, yang nyari data, yang ngetik. Sekarang dia nggak ada. Rasanya ada yang hilang. Kayak ada bagian dari tim yang copot."
Mendengar itu, Haikal menunduk.
"Maaf, Bud. Ini semua karena aku."
"Bukan karena lo, Kal. Ini karena Rangga dan Marni. Mereka yang menyebar fitnah. Mereka yang merusak semuanya."
"Tapi jika aku tidak dekat dengan Ima, mungkin dia tidak akan jadi target. Mungkin dia masih bebas. Mungkin dia masih tersenyum."
"Lo nggak bisa menyalahkan diri lo sendiri, Kal," potong Rina tegas. "Cinta itu bukan kejahatan. Yang jahat adalah mereka yang tidak bisa menerima kebahagiaan orang lain. Mereka yang iri. Mereka yang dengki."
Tiba-tiba, seseorang duduk di kursi kosong yang biasanya ditempati Ima. Semua menoleh. Itu Desi, teman Marni yang terkenal licik. Wajahnya cantik, kulitnya putih, rambutnya panjang sebahu. Tapi matanya tajam seperti ular siap menerkam. Senyumnya manis, tapi ada racun di baliknya. Racun yang bisa membunuh kebahagiaan dalam sekejap.
"Haloo, geng kampungan!" sapa Desi dengan nada manis namun penuh racun. "Apa kabar? Masih pada bertahan?"
Haikal tenang. Ia sudah belajar dari Rangga. Tidak semua musuh harus dilayani dengan amarah. Kadang, diam adalah senjata paling tajam.
"Ada apa, Desi? Kami sedang makan. Tidak ada tempat duduk lain di kantin?"
"Ada. Tapi aku sengaja duduk di sini. Pengen lihat langsung gimana rasanya duduk bareng anak desa yang gagal mempertahankan cintanya. Pengen lihat bagaimana rasanya dekat dengan orang yang dicampakkan. Kasihan, ya?"
Topan berdiri. Wajahnya merah padam. "Desi, jaga mulut lo! Lo jangan keterlaluan! Lo pikir kami ini mainan lo?"
"Tenang, Pan. Biar aku yang hadapi." Haikal menepuk bahu Topan. Lalu ia menatap Desi dengan mata yang teduh.
"Desi, aku tidak tahu kenapa kamu membenci aku. Tapi yang jelas, aku tidak pernah menyakitimu. Jadi tolong, tinggalkan kami. Jangan ganggu waktu istirahat kami. Kami tidak mengganggumu, jangan ganggu kami."
"Kamu tidak menyakitiku? Hah, lucu. Kamu menyakiti Rangga. Dan Rangga adalah... temanku."
"Teman? Atau kau hanya ingin dekat dengan Rangga karena ayahnya kaya?" potong Rina tiba-tiba. Suaranya tajam, seperti silet.
Desi tersentak. Wajahnya memerah. Bukan karena malu, tapi karena marah dan ketahuan.
"Bukan! Tapi aku... aku..."
"Kamu suka Rangga, tapi Rangga suka Ima. Dan Ima lebih memilih Haikal daripada Rangga. Jadi kamu iri. Dan kamu melampiaskan kekesalanmu pada Haikal. Am I right?" Rina berbicara dengan suara datar, seperti seorang detektif yang sedang menguak kasus di pengadilan.
Desi tidak bisa menjawab. Mulutnya terbuka, tapi tidak ada suara yang keluar. Ia hanya berdiri, lalu pergi dengan kesal. Langkahnya tergesa-gesa seperti orang yang ketahuan rahasia terbesarnya.
Topan bersiul. "Gila, Rin. Lo jago banget baca orang. Lo lulusan psikologi?"
"Bukan psikologi. Itu namanya empati, Pan. Bukan jago baca orang."
"Empati? Apa itu?"
Rina menghela napas panjang. "Pokoknya lo nggak akan paham."
Semua tertawa. Suara tawa mereka kembali menghangatkan kantin yang sempat terasa dingin. Untuk beberapa saat, mereka melupakan masalah. Untuk beberapa saat, mereka kembali seperti dulu.
Sepulang sekolah, Haikal tidak langsung pulang ke kos. Ia memilih duduk di taman kota, di bawah pohon trembesi yang sama tempat ia dan Ima biasa duduk. Daun-daun kering berguguran, berhamburan tertiup angin sore. Suasana terasa sunyi. Bahkan burung-burung pun seolah ikut merasakan kesedihannya.
Pohon trembesi itu masih sama. Daunnya masih rindang. Batangnya masih kokoh. Akarnya masih mencengkeram tanah dengan kuat. Tapi tanpa Ima di sampingnya, tempat ini terasa seperti kuburan kenangan. Tempat di mana kenangan indah dikubur hidup-hidup.
"Ima, apa kabar kamu di sana?" bisiknya pada angin.
Tidak ada jawaban. Hanya suara angin yang berdesir di antara dedaunan, seolah enggan membawa pesannya.
"Ima, aku rindu. Aku sangat rindu. Apakah kamu mendengar aku? Apakah kamu tahu bahwa aku tidak berhenti memikirkanmu?"
Masih tidak ada jawaban.
Haikal mengeluarkan HP jadulnya. Ia membuka kontak "Ima (yang menabrak)". Lalu menekan tombol telepon. Lagi-lagi tidak aktif. Sudah puluhan kali ia lakukan dalam tiga hari ini. Puluhan kali ia berharap mendengar suara Ima di ujung telepon. Puluhan kali ia kecewa.
Hasilnya selalu sama: tidak aktif. Tidak aktif. Tidak aktif.
"Kenapa sih hidup serumit ini? Kenapa cinta yang terasa begitu indah harus dihadang oleh kebencian orang lain? Kenapa kita tidak bisa bahagia tanpa ada yang iri?"
Ia melempar batu kecil ke kolam ikan di depannya. Airnya beriak. Seperti hatinya yang terus bergolak. Seperti perasaannya yang tidak pernah tenang.
Ia ingat nasihat Pak Bejo, penyadap karet di tengah hutan: "Sukses itu indah, Nak. Tapi lupa kampung halaman itu aib."
Ia ingat nasihat Mang Udin, pemulung barang bekas: "Jangan jadi orang yang suka tebar paku di jalan."
Ia ingat nasihat Pak Bram, polisi lalu lintas: "Lampu merah adalah waktu untuk berhenti dan melihat ke sekeliling."
Dan ia ingat nasihat Pak De: "Cinta itu seperti lampu merah. Jangan diterobos. Berhentilah sejenak untuk memastikan bahwa apa yang kita rasakan itu benar, bukan sekadar gejolak remaja."
"Apakah ini cinta? Atau hanya gejolak remaja?" tanya Haikal pada dirinya sendiri.
Ia menutup mata. Membayangkan wajah Ima. Senyumnya. Matanya. Wangi sabunnya. Suaranya. Tawanya. Cara dia menggigit bibir bawahnya saat gugup. Cara dia mengucek mata saat mengantuk. Cara dia menatap Haikal dengan penuh perhatian seolah tidak ada yang lebih penting di dunia ini.
Perlahan, air mata jatuh lagi. Bukan air mata sedih biasa. Tapi air mata yang keluar dari lubuk hati yang paling dalam. Air mata yang mengandung kerinduan, kekecewaan, dan harapan sekaligus. Air mata yang tidak bisa ia bendung lagi.
Di rumah Ima, di kamar yang terkunci, Ima duduk di dekat jendela. Jendela itu tertutup rapat, tapi ia bisa mendengar suara dari luar. Suara anak-anak bermain. Suara burung berkicau. Suara motor lalu lalang. Suara kehidupan yang terus berjalan tanpa peduli bahwa ia sedang terluka.
Ia memejamkan mata. Membayangkan Haikal. Wajahnya yang hitam legam karena panas matahari. Senyumnya yang manis meskipun hidupnya keras. Matanya yang tajam tetapi penuh mimpi.
"Haikal," bisiknya. "Apakah kamu baik-baik saja? Apakah kamu makan? Apakah kamu sholat? Apakah kamu... masih mengingatku?"
Ia memeluk boneka kambing pemberian Haikal. Bulu-bulu kecilnya mulai rusak karena sering ia peluk. Tapi ia tidak peduli.
"Besok, aku akan coba bicara dengan Ayah. Aku akan bujuk dia. Aku akan jelaskan bahwa kita tidak bersalah. Aku akan... aku akan berjuang untuk kita."
Ia menulis surat lain di buku hariannya.
"Haikal,
*Hari ini hari ketiga. Aku masih di sini. Di kamar yang sama. Di rumah yang sama. Tapi tidak dengan perasaan yang sama. *
*Aku semakin yakin bahwa kita tidak bersalah. Bahwa fitnah ini harus kita lawan. Bahwa kita tidak boleh menyerah. *
*Doakan aku, Kal. Doakan agar Ayah mau mendengarkanku. Doakan agar Ibu mau membelaku. Doakan agar kita bisa bertemu lagi. *
*Aku mencintaimu. Maaf baru mengatakannya sekarang. Maaf harus melalui surat yang tidak akan pernah kukirim ini. *
*Ima." *
Ia menyimpan surat itu di bawah bantal. Bergabung dengan surat-surat sebelumnya. Koleksi kerinduan yang tidak pernah sampai.
Di kejauhan, seseorang berjalan mendekat. Langkahnya pelan. Sandalnya yang tipis menggesek aspal. Haikal tidak menyadarinya hingga bayangan orang itu menutupi sinar matahari yang menyinari wajahnya.
"Hai, kamu kenapa sendirian?"
Haikal membuka mata. Seorang perempuan seusianya berdiri di depannya. Pakaiannya sederhana, kaos oblong merah muda dan celana jeans. Rambutnya diikat kuda ekor kuda. Wajahnya bulat dengan pipi tembem. Matanya bersinar ramah, tidak ada niat jahat di sana. Ada kehangatan di sana. Kehangatan yang sudah lama tidak ia rasakan.
"Maaf, aku mengganggumu?" tanya perempuan itu.
"Tidak. Duduk saja." Haikal menepuk tanah di sampingnya.
Perempuan itu duduk. Jaraknya tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh. Cukup sopan, tapi cukup dekat untuk bercakap-cakap.
"Aku Karina. Panggil Rina aja. Eh, tapi jangan tertukar sama Rina teman sekelasku yang di sekolah. Biar gampang, panggil aku Karina saja."
Haikal tersenyum kecil. "Ada dua Rina?"
"Iya. Aku Rina yang berbeda. Sekolah di SMK 1 Kuala Kapuas. Jurusan akuntansi. Jadi kalau ada yang nyari Rina, bisa kebablasan."
"Haikal. SMA 1. X MIPA 2."
"Wah, pinter dong. Sains. Aku nggak suka sains. Angka-angka saja sudah cukup membuatku pusing. Apalagi rumus-rumus gila."
Mereka berdua tertawa kecil.
"Aku sering lihat kamu di sini," kata Karina sambil memandang ke arah kolam. "Biasanya sama seorang gadis berjilbab putih. Pacarmu?"
Haikal menggeleng. "Bukan. Teman."
"Tapi kamu sedih karena dia tidak ada?"
Haikal tidak menjawab. Ia hanya menunduk.
"Cerita. Biar kamu lega. Aku pendengar yang baik. Dan aku tidak suka bergosip."
Haikal menatap Karina. Ada kehangatan di mata perempuan itu. Kehangatan yang tidak ia temukan di mana pun dalam tiga hari terakhir. Mungkin ini saatnya ia bicara. Mungkin ini saatnya ia tidak perlu berpura-pura kuat.
"Dia Ima. Aku menabraknya beberapa minggu lalu," Haikal memulai.
"Hah? Kamu yang menabrak? Atau dia yang menabrak?" Karina mengernyitkan dahi.
"Dia. Dia menerobos lampu merah di Simpang Camuh. Aku kaget, marah-marah. Tapi setelah itu kami berteman. Lalu... lalu kami semakin dekat. Lalu... ayahnya mengurungnya."
"Mengurung? Maksudnya dikurung?"
"Iya. Dikurung di rumah. Tidak boleh keluar. HP-nya disita. Tidak boleh berkomunikasi dengan siapa pun. Karena fitnah. Ada yang menyebar gosip bahwa kami berpacaran. Padahal kami hanya teman."
"Fitnah dari siapa?"
"Teman sekelas. Namanya Rangga. Dia suka sama Ima, tapi Ima lebih memilih dekat denganku. Karena dia tahu aku anaknya baik dan pekerja keras, katanya."
"Wah, rumit sekali hidup lo. Kayak sinetron saja."
"Rumit, Karina. Sangat rumit. Aku bahkan tidak tahu harus mulai dari mana untuk memperbaikinya."
Karina menghela napas panjang. Matanya menerawang ke langit yang mulai berwarna jingga. Warna jingga yang indah, mengingatkannya pada sesuatu.
"Aku juga pernah mengalami hal yang mirip."
"Benarkah?" Haikal menatapnya.
"Iya. Waktu SMP, aku dituduh mencuri uang teman. Padahal aku tidak. Aku datang ke rumahnya untuk mengembalikan buku pinjaman, dan tiba-tiba uang sakunya yang lima puluh ribu hilang. Mereka semua percaya bahwa aku yang mencuri. Tidak ada yang membelaku. Semua temanku menjauh."
"Kasihan. Berat pasti."
"Tapi aku tidak menyerah. Aku buktikan bahwa aku tidak bersalah. Butuh waktu tiga bulan. Tiga bulan yang melelahkan. Tiga bulan aku dijauhi. Tiga bulan aku makan siang sendiri di kantin. Tapi akhirnya pelakunya ketahuan: adik dari temanku itu. Dia yang mengambil uang itu untuk beli jajan."
"Kuat kamu, Karina."
"Aku tidak kuat. Aku hanya tidak mau dianggap pencuri. Itu prinsipku. Nama baik keluargaku dipertaruhkan."
Haikal mengangguk.
"Kamu juga harus begitu, Kal. Jangan biarkan fitnah mengalahkanmu. Buktikan bahwa kamu tidak bersalah. Dan yang paling penting, jangan pernah menyerah pada orang yang kamu cintai. Kalau kamu menyerah, kamu akan menyesal seumur hidup."
"Mudah-mudahan."
"Bukan mudah-mudahan. Harus. Kamu harus yakin."
Mereka berbincang hingga senja. Warna jingga berganti ungu, lalu ungu berganti abu-abu. Langit mulai gelap. Bintang-bintang mulai muncul satu per satu.
Karina bercerita tentang keluarganya yang broken home, tentang ibunya yang bekerja sebagai buruh cuci, tentang adiknya yang masih duduk di bangku SD, tentang mimpinya menjadi akuntan agar bisa membantu ekonomi keluarga. Ia bercerita tentang perjuangan ibunya yang setiap pagi berangkat pukul 05.00 dan pulang pukul 20.00, dengan badan pegal dan tangan kaku.
Haikal mendengarkan dengan saksama. Ia merasa terhubung. Karina juga anak perjuangan, sama seperti dirinya.
Haikal bercerita tentang desa Sriwidadi, tentang sepeda ontelnya yang keranjangnya masih penyok, tentang karya tulis yang membuatnya juara, tentang Ima, tentang perasaannya yang campur aduk seperti sup yang keasinan dan kepedasan sekaligus.
"Mudah-mudahan kamu cepat bertemu Ima lagi," kata Karina sambil berdiri. "Dan jangan pernah menyerah, ya. Aku yakin kalian jodoh."
"Aamiin. Kamu juga. Semoga bisa terus kuliah dan menjadi akuntan hebat. Semoga ibumu sehat. Semoga adikmu sukses."
"Aamiin ya Rabbal'alamin."
Mereka berpisah di Simpang Camuh. Lampu merah menyala. Kali ini Haikal berhenti. Bukan karena takut ditabrak lagi. Bukan karena ada polisi yang mengawasi. Tapi karena ia rindu. Rindu pada saat-saat di mana Ima berada tepat di sampingnya, di saat lampu merah menyala dan mereka saling tersenyum tanpa kata.
"Lampu merah, tolong sampaikan pada Ima bahwa aku merindukannya," bisik Haikal sebelum berjalan pergi.
Lampu itu berkedip. Seolah mengerti. Seolah berjanji akan menyampaikan pesannya.
Malam harinya, kos Pak De terasa lebih ramai dari biasanya. Topan datang dengan membawa gitar pinjaman dari Yusuf. Rina membawa buku cerita. Budi membawa flashdisk berisi data baru. Dan Ahmad, mahasiswa semester akhir yang jarang pulang, ikut nimbrung. Bahkan Pak De ikut duduk di kursi bambu kesayangannya.
"Malem ini kita bakar jagung di halaman, yuk!" ajak Topan dengan semangat meluap-luap.
"Bakar jagung? Di mana beli jagungnya?" tanya Budi polos.
"Mbak Yuli jualan jagung bakar. Gue udah pesan sepuluh. Dan dia bakal anter ke sini. Kita bisa bakar sendiri biar seru."
"Sepuluh? Lo kira kita ini pesta tujuh bulanan?" ledek Rina.
"Ya elah, Rin. Santai aja. Nikmati hidup sesekali. Lo tahu, hidup itu tidak hanya tentang belajar dan kerja. Ada saatnya kita harus bersantai. Ini namanya quality time."
Ahmad membantu Topan menyiapkan tungku dari batu bata bekas di halaman belakang. Api mulai menyala. Jagung-jagung ditusuk dengan bilah bambu lalu dibakar di atas bara. Asapnya mengepul, membawa aroma manis yang khas.
Yusuf mengambil gitarnya. Jari-jarinya mulai memetik senar dengan lembut. Lagu "Menghitung Hari" dari Krisdayanti mengalun pelan, mengisi keheningan malam.
"Berlalulah sudah, hari-hariku... tanpamu yang sering buatku rindu..."
Haikal duduk di kursi bambu, memandang api yang menari-nari. Pikirannya melayang ke Ima. Apa yang sedang Ima lakukan sekarang? Apakah dia makan? Apakah dia sholat? Apakah dia membaca buku? Apakah dia... merindukanku?
"Haikal, lo nggak makan?" tanya Budi sambil menyodorkan jagung bakar. Jagung itu masih panas, uapnya mengepul di udara malam yang dingin.
"Enggak, Bud. Aku nggak nafsu."
"Lo harus makan, Kal. Nanti sakit. Lo kan harus kuat buat Ima. Ingat, lo tidak sendiri. Kami di sini. Kami akan selalu di sini untuk lo."
Haikal tersentak. Kata-kata Budi menusuk relung hatinya.
"Iya. Kamu benar."
Ia mengambil jagung itu dan menggigitnya. Manis. Asapnya sedikit menusuk hidung. Tapi hangatnya menyebar ke seluruh tubuh, menghangatkan hati yang mulai membeku.
"Kal, gue mau minta maaf," kata Ahmad tiba-tiba. Wajahnya serius, tidak seperti biasanya yang cuek. Ada penyesalan di matanya.
"Minta maaf kenapa, Mas?"
"Kemarin malem gue denger lo nangis di kamar. Suara lo terdengar sampai ke kamar gue. Tapi gue nggak berani ngetuk pintu. Gue takut mengganggu. Gue nggak tahu harus ngomong apa. Gue merasa bersalah karena gue cowok, gue nggak bisa ngerasain apa yang lo rasain."
Haikal tersenyum. "Nggak apa-apa, Mas. Gue lagi kalut waktu itu. Lagi galau berat. Lagi patah hati."
"Galau itu wajar, Kal. Semua orang pernah galau. Yang penting jangan terlalu lama. Hidup harus terus berjalan. Ima pasti tidak ingin melihat lo seperti ini. Dia pasti ingin lo tetap kuat."
"Maksud Mas Ahmad, gue harus cepet move on?"
"Bukan move on, Kal. Move on itu lupa. Melanjutkan hidup itu tetap mengingat, tapi tidak terpuruk. Jangan lupakan Ima. Jadikan dia sebagai alasan untuk terus berjuang, bukan sebagai alasan untuk menyerah. Bedanya tipis, tapi penting."
Haikal merenung. Kata-kata Ahmad seperti cahaya di tengah kegelapan. Seperti pelita di tengah badai.
"Terima kasih, Mas. Saya akan coba."
"Bukan coba. Harus. Lo anak desa yang kuat. Lo pasti bisa."
Malam itu mereka tertawa, bercerita, bernyanyi, dan berbagi jagung bakar. Topan bercerita tentang cinta pertamanya yang kandas di tengah jalan. Rina bercerita tentang bukunya yang tidak pernah selesai ia baca. Budi bercerita tentang rencananya setelah lulus nanti. Ahmad bercerita tentang masa mudanya yang penuh kenakalan.
Haikal merasa sedikit lebih ringan. Ia tidak sendirian. Ada Topan, Rina, Budi, Ahmad, Yusuf, Pak De, dan Mbak Yuli. Mereka adalah keluarganya di kota Kapuas. Mereka tidak akan meninggalkannya.
Haikal memandang bintang-bintang di langit. Di antara kerlipnya, ia berbisik pelan, "Ima, aku akan berjuang. Untukmu. Untuk kita. Untuk masa depan yang belum pasti, tapi akan aku perjuangkan."
Bintang-bintang berkedip. Seolah menjawab.
Di rumah Ima, di kamar yang terkunci, Ima juga memandang langit malam dari balik jendelanya. Jendela itu sedikit ia buka, hanya selebar dua jari. Cukup untuk melihat bulan sabit yang tipis dan bintang-bintang yang bertaburan.
"Haikal," bisiknya. "Aku juga akan berjuang. Untukmu. Untuk kita."
Ia menulis surat lagi. Surat kesekian yang tidak akan pernah sampai.
"Haikal,
*Hari ini aku mendengar suara tawa dari kejauhan. Aku yakin itu kamu dan teman-temanmu. Aku ikut tersenyum mendengarnya. *
*Tetaplah tertawa, Kal. Jangan biarkan masalah ini menghilangkan senyummu. Karena senyummu adalah alasan aku bertahan. *
*Aku mencintaimu. Dan aku tidak akan pernah berhenti mencintaimu. *
*Sampai kita bertemu lagi. *
*Ima." *
Ia menyimpan surat itu di bawah bantal. Bergabung dengan surat-surat sebelumnya. Koleksi kerinduan yang tidak pernah sampai. Tapi suatu hari, ia berjanji pada dirinya sendiri, semua surat ini akan ia bacakan untuk Haikal.
Keesokan paginya, Haikal bangun lebih awal. Ia mengambil kertas dan pulpen. Ia menulis surat. Bukan surat untuk dikirim. Tapi surat untuk dirinya sendiri. Surat untuk menguatkan hati.
"Haikal,
Hari ini adalah hari keempat sejak Ima dikurung. Aku masih di sini. Masih bernapas. Masih berjuang.
Aku tidak tahu kapan semua ini akan berakhir. Aku tidak tahu apakah Ima akan bebas. Aku tidak tahu apakah ayahnya akan berubah pikiran.
Tapi aku tahu satu hal: aku tidak akan menyerah. Aku tidak akan berhenti berjuang. Aku tidak akan membiarkan fitnah mengalahkanku.
Ima, jika suatu hari kamu membaca surat ini, ketahuilah bahwa aku mencintaimu. Dan aku tidak akan pernah berhenti mencintaimu.
Sampai kita bertemu lagi.
Haikal."
Ia melipat surat itu dan menyimpannya di dalam Al-Qur'an yang selalu ia baca setiap malam. Sama seperti surat-surat Ima yang ia simpan di hatinya.
BAB VI
Persaingan dan Pengkhianatan
Kemenangan di lomba karya tulis ilmiah tingkat kabupaten membawa angin segar bagi Haikal dan tim. Piala dari Bupati kini terpajang rapi di ruang kepala sekolah. Nama mereka disebut-sebut di setiap upacara bendera. Guru-guru memuji. Siswa-siswa lain melirik dengan kagum, iri, atau sekadar penasaran.
Tapi di balik semua kemuliaan itu, ada sesuatu yang menggeliat di dalam hati Haikal. Sesuatu yang tidak nyaman. Ia merasa bahwa kemenangan ini bukan akhir, tapi justru awal dari masalah yang lebih besar.
"Haikal, lo kenapa diem aja? Kita kan menang!" seru Topan sambil membawa sepuluh tusuk sate dari kantin. Keringatnya bercucuran karena terburu-buru.
"Menang, Pan. Tapi perasaan gue nggak enak."
"Perasaan nggak enak kenapa?"
"Entahlah. Kayak ada yang mau terjadi."
Rina yang sedang membaca buku di samping Haikal menutup bukanya. "Mungkin lo terlalu banyak pikiran, Kal. Istirahatlah."
"Aku sudah istirahat, Rin. Tapi tetap aja nggak tenang."
Budi yang duduk di lantai sambil mengutak-atik ponselnya ikut nimbrung. "Mungkin lo kepikiran Ima?"
"Ima baik-baik saja. Ayahnya sudah melunak. Semalam aku bahkan diundang makan malam di rumahnya."
"Wah, serius? Lo makan malam di rumah Ima? Berduaan?" Topan hampir tersedak sate.
"Bukan berduaan, Pan. Sama keluarganya. Pak Dadang, Bu Yolanda, dan Lia. Mereka baik. Mereka minta maaf atas semua yang terjadi."
Rina tersenyum. "Baguslah. Berarti hubungan lo sama keluarga Ima sudah membaik."
"Iya. Tapi itu bukan yang membuatku gelisah."
"Lalu apa?"
Haikal menghela napas. "Rangga."
Topan berhenti mengunyah. "Rangga? Bukannya dia udah minta maaf? Dia bahkan ikut peluk lo waktu pengumuman juara."
"Iya. Tapi sejak saat itu, dia berubah."
"Berubah jadi baik? Itu kan bagus."
"Terlalu baik, Pan. Dia terlalu baik. Dan itu janggal."
Topan tertawa. "Lo ini, Kal. Ada orang baik, lo curiga. Ada orang jahat, lo benci. Lo mau orangnya gimana?"
"Aku mau orang itu konsisten. Rangga dulu musuh nomor satu kita. Tiba-tiba dia jadi baik. Tanpa alasan yang jelas. Aku ragu."
Rina mengangguk. "Aku setuju dengan Haikal. Rangga berubah terlalu drastis. Dalam satu minggu, dari preman sekolah jadi siswa teladan. Itu aneh."
"Ah, kalian ini terlalu curiga," sahut Budi. "Mungkin dia kapok setelah jatuh dari motor."
"Bukan soal jatuh dari motor, Bud," kata Haikal. "Tapi soal sifat dasar manusia. Orang yang suka menghina orang lain tidak akan berubah dalam semalam. Butuh waktu. Butuh proses. Tapi Rangga berubah seperti sulap."
Topan memasukkan sate terakhir ke mulutnya. "Baiklah, kalau kalian curiga, kita awasi saja. Tapi jangan sampai kecurigaan kita merusak pertemanan."
Haikal tersenyum. "Makasih, Pan. Kamu selalu jadi penengah yang baik."
"Ya iyalah. Gue kan paling dewasa di antara kalian."
"Paling dewasa? Lo paling gede badannya, sih!" ledek Rina.
Semua tertawa. Tawa kecil di tengah kecurigaan yang mulai membuncah.
Tapi di kegaduhan kantin, tidak ada yang menyadari bahwa Marni duduk di meja seberang, memegang ponsel, merekam percakapan mereka.
"Bang Rangga, mereka curiga sama lo," bisik Marni ke ponselnya.
"Diam-diam aja. Biarkan mereka curiga. Itu yang kita mau," jawab Rangga dari ujung telepon.
Tiga hari setelah kemenangan lomba, suasana sekolah semakin panas. Tidak ada yang menyangka bahwa kemenangan Haikal justru akan memicu persaingan yang lebih sengit. Beberapa siswa dari kelas lain mulai iri. Mereka menganggap Haikal hanya beruntung. Bahkan ada yang menyebut bahwa karya tulis Haikal tidak orisinal.
"Lo dengar, Kal?" kata Budi suatu pagi saat mereka berjalan menuju kelas. "Ada yang bilang karya tulis lo hasil jiplakan."
"Jiplakan? Dari mana?" Haikal berhenti melangkah.
"Katanya dari jurnal luar negeri. Mereka bilang lo cuma translate dari bahasa Inggris."
Haikal tertawa. "Lucu. Jurnal luar negeri mana yang membahas desa transmigrasi di Kalimantan Tengah? Emang ada jurnal se-spesifik itu?"
"Ya itu yang bikin gue heran. Tapi gosip sudah menyebar."
Topan yang berjalan di belakang mereka ikut mendengar. "Ini pasti ulah Rangga."
"Tapi Rangga sudah membaik, Pan. Lo sendiri yang bilang jangan curiga," sindir Rina.
"Gue bilang jangan curiga, tapi gue nggak bilang Rangga baik. Hati-hati sama orang yang berubah terlalu cepat. Biasanya ada udang di balik batu."
Haikal mengamati sekeliling. Di sudut koridor, Rangga sedang berbicara dengan beberapa siswa dari kelas XI. Wajahnya ramah, tertawa, dan sesekali menepuk bahu mereka. Terlalu ramah. Terlalu sempurna.
"Aku akan selidiki," kata Haikal akhirnya.
Jam istirahat, Haikal tidak pergi ke kantin. Ia memilih ke perpustakaan untuk mencari tahu dari mana gosip itu berasal. Ima mengikutinya.
"Kal, kamu yakin gosip ini penting?" tanya Ima sambil duduk di samping Haikal.
"Penting, Ma. Karena gosip ini bisa merusak reputasiku. Bisa juga merusak nilai lomba. Kalau mereka membuktikan bahwa karyaku tidak orisinal, kita bisa didiskualifikasi."
Ima terdiam. Ia belum memikirkan sejauh itu. "Jadi kamu curiga ada yang sengaja menyebarkan fitnah?"
"Bukan curiga. Aku yakin. Tinggal mencari buktinya."
Mereka berdua mulai mencari. Haikal membuka laptop pinjaman Rina, mencari forum online dan media sosial yang membahas tentang lomba. Ima memeriksa grup-grup WhatsApp kelas.
Setelah satu jam, Ima menemukan sesuatu. "Kal, lihat ini."
Haikal mendekat. Di layar ponsel Ima, sebuah screenshot chat dari grup kelas XI MIPA 1. Seseorang mengirim pesan: "Karya tulis Haikal itu hasil jiplakan. Gue udah cek di Google Translate. Mirip banget sama jurnal dari University of Oxford."
"Siapa yang ngirim pesan itu?" tanya Haikal.
Ima menggulir layar. "Nama pengirimnya ... Rangga Aditya Wijaya."
Haikal tersenyum pahit. "Sudah kuduga."
"Tapi Rangga bilang dia sudah berubah. Dia minta maaf. Dia bahkan memelukmu."
"Maaf tanpa bukti perubahan adalah omong kosong, Ima. Rangga tidak berubah. Dia hanya mengubah taktik."
Ima menghela napas. "Jadi apa yang akan kita lakukan?"
"Kita kumpulkan bukti. Lalu kita lawan."
Namun, sebelum Haikal dan Ima sempat mengumpulkan bukti yang cukup, masalah yang lebih besar datang. Kepala sekolah, Dr. H. Mahyudin, M.Pd. , memanggil Haikal ke ruangannya.
Haikal berjalan dengan langkah berat. Ima dan kawan-kawan menunggu di luar.
"Silakan masuk, Haikal," kata Pak Mahyudin dengan suara berat. Beliau adalah laki-laki paruh baya dengan kacamata tebal dan rambut putih di pelipis. Wajahnya serius, tidak seperti biasanya yang ramah.
"Ada apa, Pak?"
Pak Mahyudin menggeserkan sebuah amplop cokelat di atas meja. "Ini surat dari panitia lomba. Mereka menerima laporan bahwa karya tulis kamu diduga tidak orisinal."
Haikal membuka amplop itu. Surat itu berisi panggilan klarifikasi. Ia harus hadir di Dinas Pendidikan tiga hari lagi untuk membela karyanya.
"Ini fitnah, Pak. Saya tidak pernah menjiplak."
"Iya, saya percaya kamu, Haikal. Tapi panitia harus memeriksa sesuai prosedur. Kamu harus siap dengan bukti-bukti bahwa karyamu asli."
"Siap, Pak."
Pak Mahyudin berdiri. Beliau berjalan ke jendela, memandang lapangan sekolah yang sedang sepi. "Haikal, kamu anak desa yang berbakat. Saya tidak mau bakatmu hancur karena fitnah. Tapi kamu harus belajar bahwa dunia tidak selalu adil. Ada orang-orang yang iri dan akan melakukan apa pun untuk menjatuhkanmu."
"Saya tahu, Pak."
"Itu sebabnya kamu harus lebih pintar dari mereka. Kumpulkan bukti. Bawa saksi. Jangan biarkan mereka menang."
"Siap, Pak."
Haikal keluar ruangan. Ima langsung memeluknya. "Kita lawan, Kal. Aku di sini."
Kita selalu bersama.
Malam harinya, tim kecil mereka berkumpul di kos Haikal. Suasana tegang. Tidak ada tawa. Tidak ada bakso dari Topan. Yang ada hanya serius dan fokus.
"Kita harus buktikan bahwa karya tulis kita asli," kata Haikal memulai. "Kita punya draft kasar, catatan tangan, dan referensi-referensi yang kita gunakan. Itu semua bukti fisik."
"Apa cukup?" tanya Rina.
"Harus cukup. Tapi kita juga perlu saksi. Siapa yang melihat proses kita menulis?"
"Aku," kata Budi. "Setiap kali kita rapat di perpustakaan, aku selalu ada. Aku bisa saksi."
"Aku juga," kata Rina.
"Aku juga," kata Ima.
Haikal menggeleng. "Kalian semua adalah timku. Saksi kalian tidak objektif. Kita butuh saksi dari luar. Orang yang tidak terlibat dalam penulisan."
Semua terdiam. Siapa?
"Rangga," kata Topan tiba-tiba.
"RANGGA?" seru yang lain serempak.
"Iya, Rangga. Dia yang memfitnah. Tapi dia juga yang bisa menjadi saksi jika dia mengaku bahwa fitnah itu palsu."
"Ini gila, Pan. Rangga tidak akan pernah mengaku."
"Kita coba. Lebih baik mencoba daripada diam."
Haikal menatap Topan lama. "Kamu yakin?"
"Seratus persen."
Topan berdiri. "Aku akan ke rumah Rangga malam ini juga."
"Aku ikut," kata Haikal.
Rumah Rangga tidak jauh dari kos Haikal. Rumahnya besar, bergaya minimalis modern, dengan pagar besi hitam dan taman kecil di depan. Lampu taman menyala terang, menerangi jalan setapak dari batu alam.
Topan menekan bel. Beberapa detik kemudian, Marni membuka pintu. Wajahnya terkejut melihat Haikal dan Topan.
"Lo... lo ngapain di sini?"
"Kami mau ketemu Rangga. Ada urusan penting."
Marni berteriak ke dalam. "Bang! Ada tamu!"
Rangga keluar. Rambutnya masih basah, baru selesai mandi. Ia mengenakan kaos oblong putih dan celana pendek. Matanya menyipit melihat Haikal.
"Ada apa, Kal? Malang-malam begini lo datang?"
"Kita perlu bicara, Rangga."
Masuk.
Mereka duduk di ruang tamu. Ruangan itu luas, dengan sofa kulit hitam, lampu kristal, dan televisi besar. Haikal merasa asing. Ini dunia yang berbeda dari desanya.
"Rangga, gue tahu lo yang menyebar fitnah tentang plagiarisme."
Rangga tertawa kecil. "Lo punya bukti?"
"Gue punya screenshot chat lo di grup XI MIPA 1."
Rangga berhenti tertawa. "Itu bukan bukti yang kuat. Bisa saja diplat. Bisa saja orang lain yang mengirim dari akun lo."
"Tapi gue tahu itu lo, Rangga. Dan gue punya saksi."
"Saksi siapa?"
"Marni."
Marni yang berdiri di samping Rangga tersentak. "Aku? Aku nggak tahu apa-apa!"
"Lo tahu, Marni. Lo yang membantu Rangga menyebar fitnah ke kelas-kelas lain."
Marni mulai gemetar. Rangga menatapnya tajam. "Marni, lo bicara?"
"Bang, aku nggak..."
Haikal memotong. "Rangga, gue nggak datang untuk bertengkar. Gue datang untuk minta bantuan."
Rangga terkejut. "Minta bantuan? Sama gue?"
"Iya. Besok gue dipanggil panitia lomba untuk klarifikasi. Lo bisa jadi saksi bahwa fitnah tentang plagiarisme itu palsu. Lo bisa selamatkan karier gue."
Rangga terdiam panjang. Ia menatap Haikal, lalu menatap Topan, lalu menatap Marni.
"Kenapa lo percaya sama gue? Bukannya gue musuh lo?"
"Karena gue percaya bahwa manusia bisa berubah, Rangga. Dan gue minta tolong bukan untuk gue. Tapi untuk tim gue. Untuk Ima. Untuk semua orang yang sudah bekerja keras."
Rangga menunduk. Tangannya gemetar. Marni mulai menangis.
"Aku ... aku nggak bisa," kata Rangga akhirnya. Suaranya parau. Matanya berkaca-kaca.
"Kenapa nggak bisa?" tanya Topan.
"Karena... kalau aku mengaku, aku akan dikeluarkan dari sekolah."
"Lo pilih reputasi lo atau kebenaran, Rangga?" Haikal menatap mata Rangga dalam-dalam. Tidak ada amarah di sana. Hanya kekecewaan.
Rangga tidak menjawab.
"Baiklah, kalau lo nggak bisa, gue nggak akan maksa." Haikal berdiri. "Tapi ingat, Rangga. Kebenaran itu seperti cahaya. Lo bisa tutup mata, lo bisa lari, lo bisa bersembunyi. Tapi pada akhirnya, cahaya akan tetap ada. Dan lo yang akan buta karena terlalu lama di kegelapan."
Haikal berjalan ke pintu. Topan mengikutinya.
"Haikal!" panggil Rangga. "Tunggu!"
Haikal berhenti. Tidak menoleh.
"Aku ... aku akan jadi saksi."
Haikal menoleh. Rangga berdiri di ambang pintu. Air matanya jatuh.
"Aku lelah jadi jahat. Aku lelah berpura-pura kuat. Aku lelah melihat Ima bahagia dengan lo padahal aku cemburu."
"Aku akan jadi saksi. Aku akan mengaku bahwa fitnah itu palsu."
Haikal tersenyum. "Terima kasih, Rangga."
"Tapi satu syarat."
"Apa?"
"Kita berteman. Beneran."
Haikal mendekat, mengulurkan tangan. Rangga menyambutnya. Mereka berjabat tangan. Jabatan yang terasa berbeda dari yang dulu. Jabatan yang hangat.
"Aku terima," kata Haikal.
Keesokan harinya, di Dinas Pendidikan, suasana tegang. Panitia lomba duduk di meja panjang. Ada empat orang: ketua panitia, dua orang juri, dan seorang sekretaris. Haikal duduk di kursi pesakitan. Di belakangnya, Ima, Topan, Rina, Budi, dan Rangga.
"Baiklah, Saudara Miftahul Haikal. Kami menerima laporan bahwa karya tulis Anda tidak orisinal. Kami beri kesempatan untuk membela diri."
Haikal berdiri. "Yang terhormat Bapak-bapak panitia, karya tulis saya seratus persen asli. Saya punya draft kasar, catatan tangan, dan daftar pustaka yang lengkap. Semua referensi yang saya gunakan saya sebutkan dengan jujur."
"Tapi ada laporan bahwa karya Anda mirip dengan jurnal dari University of Oxford."
"Itu tidak benar, Pak. Saya bahkan tidak bisa berbahasa Inggris dengan lancar. Jurnal Oxford ditulis dalam bahasa Inggris. Bagaimana mungkin saya menjiplak sesuatu yang tidak saya pahami?"
Panitia saling berpandangan.
"Saya punya saksi," kata Haikal.
"Siapa saksinya?"
"Rangga Aditya Wijaya. Dia yang menyebarkan fitnah bahwa saya menjiplak. Dan hari ini dia hadir untuk mengaku."
Panitia memanggil Rangga. Rangga berjalan maju. Tubuhnya gemetar. Tapi matanya mantap.
"Yang terhormat Bapak-bapak, saya Rangga Aditya Wijaya. Saya mengaku bahwa saya yang menyebarkan fitnah tentang plagiarisme. Saya iri pada Haikal. Saya cemburu. Saya ... saya jahat. Tapi Haikal tetap baik pada saya. Dan saya menyesal."
Ketua panitia menghela napas. "Apakah Anda memiliki bukti bahwa fitnah itu tidak benar?"
"Karya tulis Haikal asli, Pak. Saya sendiri yang membaca draft-draftnya saat dia mengerjakan di perpustakaan. Saya siap bersumpah di depan siapa pun."
Panitia berdiskusi sebentar. Lalu ketua panitia berdiri.
"Berdasarkan bukti dan kesaksian yang diberikan, kami nyatakan bahwa karya tulis Saudara Miftahul Haikal adalah asli. Status juara satu tetap sah. Dan untuk saudara Rangga Aditya Wijaya, kami serahkan sanksinya kepada sekolah."
Haikal menghela napas lega. Ima menangis di belakang. Topan berjingkrak-jingkrak.
"Terima kasih, Rangga," bisik Haikal saat mereka keluar ruangan.
"Terima kasih balik, Kal. Lo ngajarin gue arti jadi manusia."
Sepulang dari Dinas Pendidikan, Haikal dan kawan-kawan merayakan di warung Pak Ujang. Suasana riuh. Tawa dan canda menghiasi malam.
"Gue traktir semuanya!" teriak Rangga. "Pesen apa aja!"
"Wah, gila! Rangga traktir?" seru Topan. "Gue pesan sepuluh porsi bakso!"
"Lo kira gue punya uang sebanyak itu?"
"Kan lo anak orang kaya!"
"Anak orang kaya pun nggak sebanyak itu uang sakunya!"
Mereka tertawa.
Ima duduk di samping Haikal. Mereka tidak bicara banyak. Cukup dengan tatapan dan senyuman.
"Kamu hebat, Kal," bisik Ima.
"Kita hebat, Ma. Ini kerja tim."
"Aku minta maaf."
"Kenapa minta maaf?"
"Aku dulu ragu sama Rangga. Ternyata dia benar-benar berubah."
"Orang bisa berubah, Ma. Asal ada yang percaya pada mereka."
Ima menggenggam tangan Haikal. Di bawah meja. Diam-diam. Agar tidak dilihat orang lain.
"Haikal, aku ingin bilang sesuatu."
"Apa?"
"Aku..."
"HAIKAL! IMA! MAKAN BAKSONYA!" teriak Topan memotong.
Mereka tertawa. Momen itu hilang. Tapi bagi Haikal, momen itu sudah cukup.
Minggu-minggu berikutnya berjalan tenang. Persaingan dengan Rangga berakhir sudah. Persaingan baru justru datang dari tempat yang tidak terduga: dari teman sendiri.
Rina, yang selama ini pendiam dan setia membantu, mulai menunjukkan sikap aneh. Ia jarang ikut nongkrong. Jika diajak bicara, jawabannya singkat. Matanya sayu.
"Rina, lo kenapa?" tanya Ima suatu hari di kantin.
"Nggak apa-apa."
"Lo berbohong. Mata lo sembab. Lo nangis?"
"Aku nggak nangis."
"Soalnya?"
Rina terdiam. Lalu ia bicara dengan suara bergetar. "Ima, aku ... aku suka Haikal."
Ima terdiam.
"Aku tahu lo juga suka Haikal. Tapi aku nggak bisa memendam ini terus. Aku suka Haikal sejak pertama kali lihat dia di kelas. Aku suka cara dia bicara. Cara dia tersenyum. Cara dia berjuang."
Ima masih diam.
"Aku nggak minta Haikal milih aku. Aku cuma pengen ... lo tahu. Agar beban ini sedikit berkurang."
Ima memeluk Rina. "Maaf, Rin. Aku nggak tahu."
"Ya, lo nggak tahu. Karena selama ini lo sibuk sama perasaan lo sendiri."
Ucapan Rina menusuk. Tapi Ima tahu, Rina tidak bermaksud jahat. Dia hanya jujur.
"Aku akan bicara dengan Haikal," kata Ima. "Tapi bukan untuk memilih. Melainkan untuk memperjelas."
Sore harinya, Ima memanggil Haikal ke taman kota. Di bawah pohon trembesi yang sama, ia menceritakan pengakuan Rina.
Haikal terdiam. Matanya menerawang ke langit senja.
"Aku ... aku nggak tahu, Ma."
"Kamu nggak tahu sama perasaan Rina?"
"Bukan. Aku nggak tahu harus merespons bagaimana. Aku nggak pernah melihat Rina sebagai lebih dari teman."
"Tapi Rina melihatmu sebagai lebih dari teman."
"Itu bukan salahku, Ma."
"Aku nggak bilang itu salahmu. Aku hanya ... bingung. Aku takut persahabatan kita hancur."
Haikal memegang pundak Ima. "Dengar, Ma. Persahabatan tidak akan hancur karena satu perasaan. Persahabatan akan hancur jika kita tidak jujur. Dan Rina sudah jujur."
"Lalu apa yang harus kita lakukan?"
"Kita hargai perasaannya. Tapi kita juga harus tegas. Jangan memberi harapan palsu."
Ima mengangguk. "Kamu dewasa sekali, Kal."
"Pahitnya hidup mengajarkan banyak hal."
Keesokan harinya, Haikal, Ima, dan Rina duduk bertiga di perpustakaan. Suasana canggung. Tidak ada yang berani memulai pembicaraan.
Akhirnya Rina yang membuka suara. "Maafkan aku, Kal. Maafkan aku, Ma. Aku sudah merusak persahabatan kita."
"Kamu tidak merusak apa-apa, Rin," kata Haikal. "Kamu jujur. Dan itu berharga."
"Tapi aku ... aku nggak bisa menghilangkan perasaanku begitu saja."
"Tidak perlu dihilangkan, Rin. Yang perlu adalah dikelola. Kita tetap teman. Jangan biarkan perasaan merusak pertemanan yang sudah kita bangun."
Rina menangis. Ima memeluknya. Haikal hanya tersenyum.
"Aku nggak akan merebut Haikal darimu, Ma," isak Rina. "Aku hanya ... ingin meluapkan."
"Tidak ada yang direbut, Rin. Haikal bukan milik siapa pun. Dia milik mimpinya."
Haikal menghela napas. "Wah, kalian ini. Bikin saya merasa seperti boneka yang diperebutkan."
Mereka tertawa bersama. Persahabatan mereka selamat. Kali ini.
Bulan berlalu. Rangga menjadi teman baik Haikal. Rina berhasil mengelola perasaannya. Ima dan Haikal semakin dekat, tapi masih dalam batas pertemanan. Tidak ada status. Tidak ada ikatan. Hanya saling percaya.
Suatu malam, di kos Pak De, Haikal mendapat kabar dari desa. Kambing kesayangannya, si Jebul, mati karena dimakan ular piton.
Haikal menangis. Topan, Rina, Budi, Ahmad, Yusuf, bahkan Rangga yang kebetulan datang, ikut menghiburnya.
"Hidup dan mati itu sudah takdir, Kal," kata Pak De.
"Aku tahu, Pak. Tapi Jebul bukan sekadar kambing. Dia temanku. Dia yang menemaniku saat aku masih kecil. Saat aku belajar mengayuh sepeda. Saat aku mulai menabung untuk pergi ke kota."
Ima memegang tangan Haikal. "Kamu punya kami sekarang, Kal. Kami akan temani kamu."
Haikal tersenyum. Air matanya masih jatuh. Tapi senyumnya tulus.
Pagi itu, Haikal menerima surat dari orang tuanya. Surat ditulis tangan oleh Bu Ratna dengan ejaan yang salah di sana-sini.
"Anakku Haikal,
Bapak dan Ibu sehat. Kambing-kambing kita sehat semua. Si Jebul sudah diganti dengan dua anak barunya. Mereka lucu-lucu.
Ibu bangga sama kamu. Ibu dengar kamu juara lomba. Bapak juga bangga. Bapak sampai nangis waktu cerita sama Pak Kades.
Kamu terus belajar, ya. Jangan menyerah. Desa menanti kamu pulang.
Kita semua di sini mendoakanmu.
Ibu, Ratna."
Haikal membaca surat itu berulang-ulang. Air matanya jatuh. Bukan air mata sedih. Ini air mata rindu.
Ia membalas surat itu di kertas yang sama.
"Ma, Pa,
Haikal sehat. Haikal akan terus belajar. Haikal akan buktikan bahwa anak desa bisa.
Tunggu Haikal pulang. Haikal akan bawa banyak cerita.
Haikal."
Ia melipat surat itu, memasukkannya ke amplop, dan berjalan ke kantor pos. Di tengah jalan, ia melewati Simpang Camuh. Lampu merah menyala. Ia berhenti.
Seorang gadis berjilbab putih berdiri di seberang. Ima. Tersenyum padanya.
Lampu berganti hijau. Mereka berjalan saling mendekati.
"Kamu mau ke mana, Kal?" tanya Ima.
"Ke kantor pos. Kirim surat buat orang tua."
"Aku ikut."
Mereka berjalan bersama. Di persimpangan itu, persaingan dan pengkhianatan terasa begitu jauh. Yang ada hanyalah dua anak muda dengan satu mimpi: pulang ke desa, membawa perubahan.
BAB VII
Jatuh Cinta di Simpang Camuh
Bulan November tiba. Hujan mulai sering mengguyur Kuala Kapuas. Jalanan menjadi licin, angin bertiup lebih kencang dari biasanya, dan lampu-lampu di Simpang Camuh tampak lebih suram karena rembesan air. Tapi bagi Haikal, musim hujan bukanlah masalah. Ia sudah terbiasa dengan hujan sejak kecil di desa Sriwidadi. Yang menjadi masalah baginya justru sesuatu yang lain: hatinyayangdulu tenang, kini berdebar tidak karuan setiap kali melihat Ima.
Setiap pagi, saat Ima menjemputnya di depan kos Pak De, jantung Haikal berdetak seperti genderang perang. Setiap siang, saat Ima duduk di sampingnya di kantin, telapak tangannya berkeringat. Setiap sore, saat mereka berjalan pulang bersama melewati Simpang Camuh, mulutnya terasa kaku, tidak bisa mengucapkan kata-kata yang sebenarnya ingin ia sampaikan.
"Kal, lo kenapa sih akhir-akhir ini diem aja?" tanya Topan suatu pagi di kelas. Matanya menyipit curiga. "Kayak orang lagi sembelit."
"Aku nggak kenapa-kenapa," jawab Haikal sambil menatap papan tulis, padahal pikirannya melayang ke Ima yang duduk dua meja di sebelah kirinya.
"Sembelit, deh. Pasti." Topan mengangguk-angguk yakin.
Rina yang duduk di samping Topan ikut nimbrung. "Kalau Haikal diem, tandanya dia lagi mikirin Ima."
"Diam, Rin!" potong Haikal cepat, wajahnya memerah.
"Tuh kan! Memerah! Pasti bener!" seru Topan tertawa keras.
Budi yang dari tadi membaca buku di bangku depan menoleh. "Apa yang bener?"
"Haikal jatuh cinta!" seru Topan dan Rina bersamaan.
"Wah, selamat, Kal!" Budi mengacungkan jempol.
Haikal menunduk. Ia tidak bisa menyangkal. Benar. Ia jatuh cinta. Sudah lama sebenarnya. Tapi baru sekarang ia berani mengakuinya pada dirinya sendiri. Jatuh cinta pada Ima Rosita Sari, gadis yang menabraknya di Simpang Camuh tujuh bulan lalu.
Tapi jatuh cinta tidak semudah membalikkan telapak tangan. Haikal berasal dari desa. Ima dari kota. Haikal naik sepeda ontel. Ima naik motor matic. Haikal makan nasi dan sambal terasi. Ima makan nasi ayam goreng. Perbedaan itu terasa sangat jauh. Sejauh jarak antara desa Sriwidadi dan Kuala Kapuas. 75 kilometer. Tapi entah mengapa, setiap kali mereka bersama, jarak itu terasa menghilang. Seperti tidak ada.
"Haikal, kamu jadi ke rumahku nanti?" tanya Ima saat istirahat. Matanya berbinar-binar, senyumnya mengembang lebar.
"Ke rumahmu? Ada apa?"
"Ayah mau mengadakan syukuran. Karena kita menang lomba. Ayah mau berterima kasih sama kamu dan tim."
Haikal ragu. Rumah Ima besar. Keluarganya kaya. Ia hanya anak desa biasa. Apa pantas ia hadir di acara semewah itu?
"Haikal, jangan ragu. Ayah sudah berubah. Beliau sayang sama kamu."
"Bukan soal ayahmu, Ma. Tapi soal..."
"Apa?"
"Aku... aku tidak punya baju bagus."
Ima tertawa. "Memangnya pesta? Cuma syukuran sederhana. Pakai baju apa aja. Yang penting kamu datang."
Haikal menghela napas. "Baiklah. Nanti malam."
Malam harinya, Haikal berdiri di depan lemari plastiknya selama hampir satu jam. Ia mengeluarkan semua baju yang ia miliki: tiga kaos oblong, dua kemeja lengan pendek, dan satu celana panjang bahan katun.
"Yang mana, ya?" gumamnya sambil mengamati kemeja putih yang sudah mulai kekuningan di bagian kerah.
"Ayo, Kal. Nanti terlambat," teriak Topan dari luar kamar. Ia ikut diundang ke acara syukuran di rumah Ima.
"Lo pakai baju apa, Pan?" tanya Haikal sambil membuka pintu.
Topan berdiri dengan kemeja batik lengan panjang dan celana bahan hitam. Rambutnya yang biasanya awut-awutan kini disisir rapi dengan minyak rambut.
"Wah, lo berdandan, Pan. Jarang-jarang."
"Ini acara penting, Kal. Masa iya gue dateng pake kaos oblong bolong?"
Haikal tersenyum. Ia memutuskan memakai kemeja putih dan celana bahan hitam. Sepatu kardusnya ia semir dengan pewarna sepatu pinjaman dari Ahmad.
"Ganteng juga lo, Kal," puji Topan.
"Diam, Pan. Jangan bikin aku malu."
Mereka berboncengan dengan motor Topan menuju rumah Ima. Jalanan malam masih basah karena hujan sore tadi. Lampu-lampu jalan menyala redup. Simpang Camuh tampak sepi. Hanya beberapa warung tenda yang masih buka.
Rumah Ima terlihat ramai. Banyak motor dan mobil terparkir di halaman. Lampu-lampu taman menyala terang. Suara orang berbincang dan tertawa terdengar dari dalam.
"Wah, rame banget," bisik Topan.
"Tenang. Kita tamu biasa."
Mereka masuk. Ima menyambut di pintu. Ia memakai gamis berwarna krem dengan jilbab senada. Wajahnya berseri-seri. Matanya langsung tertuju pada Haikal.
"Kamu datang!" Ima hampir berteriak.
"Iya. Maaf agak telat."
"Nggak telat. Ayo masuk. Ayah sudah nunggu."
Haikal dan Topan dibawa ke ruang tamu yang luas. Pak Dadang dan Bu Yolanda duduk di sofa utama. Wajah mereka ramah, sangat berbeda dengan saat pertama kali Haikal datang dulu.
"Haikal, silakan duduk," kata Pak Dadang sambil menepuk sofa di sampingnya.
"Terima kasih, Pak."
Haikal duduk. Topan duduk di kursi sebelah. Ima duduk di samping ibunya.
"Haikal, saya ingin berterima kasih padamu. Kamu sudah membantu Ima meraih prestasi. Kamu juga sudah mengajarkan saya bahwa tidak semua anak desa itu... yah, jelek."
"Tidak apa-apa, Pak. Saya hanya melakukan yang terbaik."
"Kamu rendah hati. Itu bagus."
Acara berlangsung hangat. Ada doa bersama, makan-makan, dan sedikit hiburan. Haikal disuruh bercerita tentang desanya. Ia bercerita tentang sawah, kambing, sepeda ontel, dan perjuangan para petani. Semua tamu terkesima.
"Luarbiasa," kata seorang tamu. "Anak muda sekarang jarang yang punya semangat seperti ini."
Haikal tersenyum malu.
Setelah acara selesai, Ima mengajak Haikal ke halaman belakang. Halaman itu cukup luas, dengan kolam ikan kecil dan beberapa pot bunga. Angin malam berhembus sejuk. Suara jangkrik terdengar dari semak-semak.
"Haikal, aku senang kamu datang."
"Aku juga senang diundang."
Mereka duduk di kursi taman. Jarak mereka hanya satu lengan. Cukup dekat untuk Haikal mencium wangi parfum Ima yang lembut.
"Haikal, aku ingin tanya sesuatu."
"Tanya saja."
"Kamu... pernah punya pacar?"
Haikal tersentak. "Apa?"
"Pacar. Pacar. Kamu pernah punya?"
"Belum. Aku sibuk sekolah dan hidup."
"Aku juga belum pernah punya pacar." Ima menunduk. Pipinya merona. "Tapi aku... aku pernah suka sama seseorang."
"Siapa?"
Ima tidak menjawab. Ia hanya tersenyum.
Haikal paham. Jantungnya berdetak keras. Tangannya gemetar.
"Ima..."
"Apa?"
"Aku juga... aku juga suka sama seseorang."
"Siapa?"
"Kamu."
Haikal mengucapkannya. Akhirnya. Setelah berbulan-bulan memendam. Setelah berpuluh-puluh kali menulis puisinya di buku catatan lalu menghapusnya. Setelah ratusan kali menatap Ima diam-diam dan berharap ia tidak sadar.
Ima tidak menjawab. Ia hanya tersenyum. Senyum yang sama saat pertama kali mereka bertemu di trotoar Simpang Camuh. Senyum yang sama saat Haikal membaca puisinya tentang perjuangan. Senyum yang sama saat mereka berpegangan tangan di lampu merah.
"Aku tahu," kata Ima akhirnya.
"Kamu tahu?"
"Iya. Sejak kamu menulis puisi itu. Sejak kamu bilang 'kita berjuang untuk satu sama lain'. Sejak kamu menolong Rangga meskipun dia jahat padamu."
"Kenapa kamu tidak bilang dari dulu?"
"Aku takut."
"Takut apa?"
"Ayah. Ibu. Orang-orang. Mereka bilang gadis tidak boleh jatuh cinta duluan. Mereka bilang gadis harus menjaga perasaan."
Haikal mendekat. Wajahnya hanya beberapa senti dari Ima. "Ima, aku tidak peduli dengan aturan-aturan itu. Yang aku peduli adalah perasaanmu."
"Perasaanku sama dengan perasaanmu."
Mereka terdiam. Angin malam berdesir. Beberapa helai rambut Ima tertiup ke wajahnya. Haikal dengan lembut menyapanya.
"Haikal, aku takut."
"Takut apa?"
"Takut ini hanya mimpi. Takut besok pagi kamu menghilang. Takut ayah melarang kita berteman lagi."
"Ini bukan mimpi, Ima. Ini nyata. Dan aku tidak akan menghilang. Aku akan selalu ada di sini. Di sampingmu. Di Simpang Camuh. Di mana pun."
Ima menangis. Haikal memeluknya. Pertama kalinya mereka berpelukan. Bukan pelukan biasa. Pelukan yang lama. Pelukan yang hangat. Pelukan yang mengikat janji tanpa kata.
Mereka berdua kembali ke ruang tamu setelah hampir satu jam di halaman belakang. Wajah Ima masih merah. Matanya agak sembab. Bu Yolanda langsung curiga.
"Ima, kamu kenapa? Kamu nangis?"
"Nggak, Bu. Hanya... hanya debu."
Bu Yolanda menatap Haikal. Haikal hanya tersenyum canggung.
"Haikal, kamu jaga anak saya baik-baik," kata Bu Yolanda tiba-tiba.
"Ibu!"
"Apa? Ibu tahu kok. Ibu juga pernah muda."
Pak Dadang yang dari tadi membaca koran ikut nimbrung. "Haikal, saya sudah bicara dengan kepala sekolah. Nilai kamu bagus. Perilaku kamu baik. Saya tidak keberatan jika kamu dekat dengan Ima. Tapi ingat, jangan macam-macam."
"Tentu, Pak. Saya tidak akan pernah berani."
"Bagus. Sekarang pulang. Sudah malam."
Haikal dan Topan pamit. Ima mengantar sampai gerbang.
"Besok sekolah, ya, Kal. Jangan sampai terlambat."
"Aku tidak pernah terlambat."
"Iya. Karena aku yang jemput."
Mereka tersenyum. Topan yang sudah menyalakan motor berteriak, "Ayo, Kal! Cepetan! Nanti gue tinggal!"
Haikal naik ke motor Topan. Mereka melaju pergi. Ima berdiri di gerbang, melambai, sampai motor itu menghilang di tikungan Simpang Camuh.
Di kos, Haikal tidak bisa tidur. Ia membayangkan wajah Ima. Bayangan senyumnya. Bayangan air matanya. Bayangan pelukan hangat di halaman belakang rumahnya.
"Lo belum tidur, Kal?" tanya Yusuf dari kamar sebelah. Seperti biasa, ia memainkan gitarnya di malam hari.
"Belum, Yus."
"Mikirkan Ima?"
"Iya."
"Wajar. Jatuh cinta itu memang bikin susah tidur."
"Lo pernah jatuh cinta, Yus?"
"Pernah. Tiga kali. Semuanya gagal."
"Kenapa gagal?"
"Karena gue main gitar terus. Para cewek pada bilang 'kamu lebih cinta gitarmu daripada aku'. Padahal gitar mah milik gue selamanya. Cewek bisa pergi kapan saja."
Haikal tertawa. "Lo filosofis juga malam-malam begini."
"Bukan filosofis. Tapi patah hati berkali-kali bikin orang jadi bijak."
Yusuf memainkan lagu "Risalah Hati" dari Dewa 19. Jari-jarinya lembut memetik senar. Lagu itu mengalun pelan, mengisi keheningan malam.
"Jika benar kau miliki... aku jangan kau ragu... karena aku juga memiliki... rasa yang sama tentangmu..."
Haikal memejamkan mata. Lagu itu seperti ditujukan untuknya. Tentang Ima. Tentang perasaan yang selama ini ia pendam.
"Ima," bisiknya sebelum tidur. "Aku mencintaimu."
Pagi harinya, Ima menjemput Haikal seperti biasa. Tapi hari ini berbeda. Biasanya mereka hanya tersenyum. Hari ini, Ima memeluk Haikal di depan kos. Topan yang melihat bersiul.
"Wah, wah, wah! Ada apa ini?"
"Diem, Pan!" hardik Ima sambil melepas pelukan.
"Kok jadi mesra sih? Semalem terjadi apa?" Topan menggodanya.
"Semalem Haikal menyatakan cinta."
Topan terkejut. "SERIUS? Lo, Kal? Lo bilang cinta? Lo yang selama ini diem kayak patung?"
Haikal tersenyum malu. "Iya, Pan. Gue ngomong."
"Akhirnya! Gue tunggu dari bulan pertama! Puji Tuhan!" Topan melompat-lompat kegirangan.
Rina yang baru datang ikut mendengar. Wajahnya sedikit pucat, tapi ia berusaha tersenyum.
"Selamat, Kal. Selamat, Ima."
"Makasih, Rin," kata Ima sambil memegang tangan Rina. "Kamu tetap sahabatku. Jangan berubah."
"Aku nggak akan berubah."
Ima memeluk Rina. Topan memeluk mereka berdua. Haikal hanya tersenyum melihat pemandangan itu. Dunianya terasa lengkap. Ada Ima di sampingnya. Ada teman-teman di sekelilingnya. Ada mimpi di depannya.
Di sekolah, kabar bahwa Haikal dan Ima resmi berpacaran menyebar cepat. Sebagian besar siswa mendukung. Tapi tidak sedikit yang iri. Apalagi setelah Haikal berhasil memenangkan lomba karya tulis dan menjadi salah satu siswa berprestasi di sekolah.
"Cepet amat mereka jadian," bisik seorang siswa di kantin.
"Tahu diri, anak desa pacaran sama anak orang kaya," bisik yang lain.
Marni yang sejak pertobatan Rangga menjadi lebih pendiam, hanya diam mendengar. Tapi matanya tetap tajam. Sesekali ia menatap Haikal dan Ima dengan sorot aneh.
"Lo kenapa, Marni?" tanya Desi.
"Nggak apa-apa."
"Lo masih sakit hati sama Rangga?"
"Bukan Rangga. Tapi diriku sendiri. Kenapa aku dulu sebodoh itu ikut-ikutan fitnah."
Desi menepuk pundak Marni. "Yang lalu biarlah berlalu. Sekarang kita fokus belajar."
Tapi meskipun Marni sudah berubah, Desi ternyata menyimpan niat jahat. Ia diam-diam iri pada Ima karena Ima berhasil mendapatkan Haikal , anak desa yang kini menjadi idola sekolah.
"Haikal itu milikku," bisik Desi dalam hati. "Bukan milik Ima."
Desi mulai merencanakan sesuatu. Ia mendekati Haikal di perpustakaan suatu sore. Haikal sedang membaca buku biologi untuk persiapan ujian.
"Haikal, sibuk?" sapa Desi dengan suara manis.
Haikal menoleh. "Cukup. Ada apa?"
"Aku mau tanya soal tugas matematika. Boleh?"
"Boleh."
Desi duduk di samping Haikal. Jaraknya sengaja dibuat dekat. Bahunya hampir bersentuhan dengan lengan Haikal.
Haikal tidak sadar. Ia terlalu fokus menjelaskan soal-soal matematika yang sulit.
"Gini, Desi. Rumusnya adalah..."
Desi tidak mendengarkan. Ia hanya menatap Haikal. Matanya berbinar-binar. "Ganteng juga ternyata. Sayang sudah diambil Ima."
Tak lama kemudian, Ima datang ke perpustakaan. Ia terkejut melihat Desi duduk sangat dekat dengan Haikal.
"Ima!" sapa Desi pura-pura ramah. "Aku lagi belajar sama Haikal. Soalnya susah banget."
"Oh," jawab Ima dingin. "Haikal, pakdhe mu menelepon. Kata Jebul sakit lagi."
Haikal berdiri. "Apa? Jebul sakit? Parah?"
"Nggak tahu. Tapi kata Pakdhe, kamu harus pulang."
Haikal pamit pada Desi. Ia berjalan keluar bersama Ima.
"Hei, Ima," panggil Haikal. "Bukannya Jebul sudah mati?"
"Itu bohong. Aku hanya ingin mengeluarkanmu dari sana."
"Kenapa?"
"Karena Desi. Dia terlalu dekat denganmu."
Haikal tertawa. "Cemburu?"
"Iya. Cemburu."
Haikal memegang tangan Ima. "Desi tidak ada apa-apanya. Kamu satu-satunya."
Ima tersenyum. "Bagus kalau begitu."
Desi tidak menyerah. Hari-hari berikutnya ia terus berusaha mendekati Haikal. Setiap istirahat, ia selalu ada di kantin saat Haikal makan. Setiap pulang sekolah, ia selalu kebetulan lewat di parkiran sepeda. Setiap Haikal ke perpustakaan, ia selalu ada di meja sebelah.
Topan mulai curiga. "Kal, lo perhatiin Desi? Dia kayak hantu. Selalu ada di mana-mana."
"Dia mungkin sedang butuh bantuan belajar," jawab Haikal santai.
"Bantuan belajar? Nilainya lebih tinggi dari lo, tahu! Dia peringkat satu di kelasnya."
Haikal mengerutkan kening. "Benarkah?"
"Benar. Tanya Budi. Budi satu kelas dengan dia."
Budi mengangguk. "Desi itu pinter, Kal. Dia nggak mungkin minta bantuan soal matematika ke lo yang peringkat sepuluh."
"Jadi dia pura-pura?"
"Sepertinya begitu."
Haikal menghela napas. "Aku akan bicara padanya."
Sore itu, Haikal memanggil Desi ke taman belakang sekolah. Desi datang dengan senyum manis.
"Ada apa, Kal? Minta diajak jalan?"
"Desi, aku tahu kamu pinter. Nilaimu bagus. Bahkan lebih bagus dariku."
"Masa sih?" Desi pura-pura merendah.
"Iya. Jadi kenapa kamu terus minta bantuan belajar padahal kamu sudah lebih pintar?"
Desi terdiam. Wajahnya berubah.
"Aku ingin dekat denganmu, Kal. Apa salahnya?"
"Aku sudah punya Ima."
"Ima? Dia cewek sombong. Dia anak orang kaya yang manja. Dia tidak pantas untukmu."
"Kamu tidak kenal Ima."
"Aku cukup kenal. Dia anaknya Pak Dadang, pemilik toko Berkah Jaya. Dia biasa hidup mewah. Kamu anak desa. Suatu hari dia akan bosan dan meninggalkanmu."
Haikal marah. "Desi, jangan menghina Ima di depanku. Dan jangan mendekatiku lagi. Aku tidak ingin Ima cemburu. Aku tidak ingin persahabatan kita hancur."
Desi menangis. "Tapi aku suka kamu, Kal!"
"Aku tahu. Tapi aku tidak bisa membalas perasaanmu. Maaf."
Haikal berjalan pergi. Desi berdiri di taman, terisak. Ia marah. Marah pada Haikal. Marah pada Ima. Marah pada dirinya sendiri.
"Baiklah, Haikal. Kalau kamu memilih Ima, maka kamu akan merasakan akibatnya."
Desi memulai aksinya. Ia menyebar gosip bahwa Haikal adalah playboy. Katanya, Haikal pacaran dengan Ima, tapi juga dekat dengan Rina dan beberapa gadis lain. Gosip itu menyebar cepat. Tidak butuh waktu seminggu, seluruh sekolah sudah bergosip.
Haikal bingung. "Dari mana datangnya gosip ini?"
"Marni bilang dari Desi," jawab Budi.
"Desi? Kenapa dia melakukan ini?"
"Karena kamu menolaknya."
Haikal menghela napas. "Ini tidak bisa dibiarkan. Aku harus meluruskan."
Tapi meluruskan gosip tidak mudah. Semakin haikal membantah, semakin orang percaya bahwa ia playboy. Apalagi Desi pintar membuat "bukti" berupa screenshots chat palsu antara Haikal dengan beberapa gadis.
Ima mulai gelisah. "Haikal, apa benar kamu dekat dengan Rina?"
"Rina temanku, Ima. Kita berteman."
"Tapi Desi bilang ada chat mesra antara kalian."
"Itu chat palsu. Desi memalsukannya."
Ima tidak sepenuhnya yakin. "Tapi kenapa Desi sampai melakukan itu?"
"Karena dia ingin menghancurkan kita."
Rina yang merasa namanya terseret, tidak tinggal diam. Ia menemui Desi di kelas.
"Desi, kenapa lo fitnah gue?"
"Fitnah? Aku nggak fitnah."
"Lo bilang gue chat mesra sama Haikal. Padahal gue nggak pernah."
"Ah, buktinya ada."
"Itu palsu. Lo tahu itu palsu."
Desi tersenyum jahat. "Buktikan kalau itu palsu."
Rina mengepalkan tangan. "Lo mau gue adukan ke kepala sekolah?"
"Coba saja. Ayahku anggota komisi pendidikan. Siapa yang akan didengar?"
Rina terdiam. Ia kalah. Ia pulang ke kos dengan perasaan campur aduk.
"Haikal, maaf. Aku tidak bisa membantu."
"Tidak apa-apa. Kita cari jalan lain."
Haikal duduk di Simpang Camuh malam itu. Sendirian. Hujan rintik-rintik mulai turun. Lampu merah menyala. Ia tidak bergerak.
"Kenapa dunia begini rumit?" tanyanya pada langit yang gelap.
Ia ingat nasihat Pak De: "Cinta itu seperti lampu merah. Jangan diterobos. Berhentilah sejenak untuk memastikan bahwa apa yang kita rasakan itu benar."
"Apakah ini benar?" tanyanya pada dirinya sendiri.
Tiba-tiba, seseorang duduk di sampingnya. Ima. Ia juga basah kuyup.
"Kamu kenapa di sini? Hujan-hujan gini?" tanya Haikal terkejut.
"Aku tahu kamu akan di sini."
"Kok tahu?"
"Karena Simpang Camuh adalah tempat kita bertemu pertama kali. Tempat kita berjanji. Tempat hati kita bertaut."
Haikal menatap Ima. Wajahnya basah air hujan dan air mata bercampur.
"Ima, aku tidak playboy. Aku tidak pernah dekat dengan perempuan lain."
"Aku tahu."
"Kamu tahu?"
"Iya. Sejak awal aku tahu itu fitnah. Tapi aku cemburu. Aku marah. Aku takut kehilanganmu."
"Kamu tidak akan kehilanganku."
"Janji?"
"Janji. Sampai lampu merah berubah menjadi ungu."
Ima tertawa. Mereka berdua tertawa di tengah hujan. Lampu merah berganti hijau. Orang-orang mulai melintas. Tapi mereka tetap di sana. Di trotoar yang sama. Di persimpangan yang sama. Di tempat yang selama tujuh bulan lalu mengubah hidup mereka selamanya.
"Aku mencintaimu, Haikal."
"Aku juga mencintaimu, Ima."
Mereka berpelukan di bawah hujan. Dingin. Tapi hati mereka hangat. Sangat hangat.
BAB VIII
Lampu Merah yang Kedua
Tiga bulan telah berlalu sejak malam hujan di Simpang Camuh, sejak Haikal dan Ima pertama kali mengucapkan kata cinta di bawah rintik air yang mengguyur Kota Kapuas. Tiga bulan yang penuh dengan senyuman, tawa, kebersamaan, dan juga, seperti yang selalu terjadi dalam kisah cinta, air mata. Haikal kini berada di penghujung semester dua kelas sepuluh. Nilai-nilainya terus meningkat. Ia bahkan masuk sepuluh besar peringkat kelas untuk pertama kalinya. Bu Kusuma memujinya di depan siswa lain. Rangga yang dulu menjadi musuh, kini menjadi salah satu teman terdekatnya. Desi yang dulu menyebar fitnah, entah mengapa tiba-tiba memilih pindah sekolah ke Banjarmasin. Kabarnya, orang tuanya pindah tugas, sehingga ia tidak bisa melanjutkan sekolah di SMAN 1 Kuala Kapuas. Haikal lega, meskipun Ima masih sesekali bergidik saat mendengar nama Desi.
Tapi di balik semua kebahagiaan itu, ada sesuatu yang mengganjal di hati Haikal. Sesuatu yang tidak bisa ia sebutkan. Sesuatu yang membuatnya terbangun di tengah malam dan memandang langit-langit kamar kosnya dalam waktu lama. Sesuatu yang berkaitan dengan warna merah. Bukan lampu merah di Simpang Camuh. Tapi warna merah yang lain. Warna merah yang ia lihat di pipi ibunya saat bersepeda 7 kilometer di bawah terik matahari untuk berjualan sayur. Warna merah yang ia lihat di pelupuk mata bapaknya saat menyerahkan uang saku bulanan meskipun hanya cukup untuk makan nasi dan sambal. Warna merah yang ia lihat di lemarinya atau lebih tepatnya, ketiadaan warna merah di lemarinya karena ia tidak punya jas almamater untuk upacara, tidak punya sepatu baru untuk olahraga, tidak punya buku-buku penunjang yang mahal.
"Aku tidak pantas untuk Ima," bisik Haikal suatu malam pada dirinya sendiri. Suaranya lirih, seperti angin yang berbisik di antara celah-celah bambu dinding kosnya. Tapi ia tidak tahu bahwa Yusuf, yang sedang asyik memainkan gitarnya di kamar sebelah, mendengar bisikan itu.
"Lo bilang apa?" Yusuf membuka pintu kamar Haikal tanpa mengetuk. Rambutnya yang panjang dan acak-acakan tampak semakin kusut karena baru bangun tidur. Padahal itu tengah malam.
"Aku bilang, aku nggak pantas buat Ima, Yus."
"Lo gila. Lo lebih pantas daripada siapapun. Lo lihat diri lo dulu. Lo anak desa yang berani bersepeda 75 kilometer buat sekolah. Lo juara lomba karya tulis. Lo jadi kebanggaan sekolah. Lo apa lagi yang kurang?"
"Uang."
Yusuf terdiam. Kata itu seperti pukulan telak di perutnya. Karena ia juga tahu rasanya tidak punya uang. Ia juga tahu rasanya melihat teman-teman yang bergaya dengan pakaian baru sementara ia hanya bisa memakai kaos oblong bolong.
"Uang memang penting, Kal. Tapi bukan segalanya. Ima mencintai lo bukan karena uang lo. Dia mencintai lo karena lo adalah lo."
"Iya, sekarang. Tapi masa depan? Bagaimana aku bisa menghidupi Ima nanti? Bagaimana aku bisa membiayai anak-anak kami jika aku sendiri kesulitan biaya sekolah?"
"Kuliah dulu, Kal. Jadi dokter dulu. Urusan uang menyusul."
"Kuliah butuh uang, Yus. Aku saja untuk bayar kos tiga ratus ribu per bulan sudah keringat darah. Apalagi biaya kuliah? Ratusan juta."
Yusuf tidak bisa menjawab. Ia hanya bisa menepuk bahu Haikal lalu kembali ke kamarnya, meninggalkan Haikal yang tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Keesokan harinya, Haikal tidak berangkat sekolah. Ini pertama kalinya ia membolos. Ima yang datang menjemput ke kos hanya menemukan pintu kamar Haikal yang terkunci dari dalam.
"Haikal! Haikal, buka pintunya!" teriak Ima sambil mengetuk keras. Topan, Rina, dan Budi yang ikut datang hanya bisa terdiam di belakang.
"Biarkan aku sendiri, Ma," jawab Haikal dari dalam. Suaranya parau. Seperti orang yang baru selesai menangis.
"Tidak! Aku tidak akan meninggalkanmu!"
"Tolong, Ma. Aku perlu waktu sendiri."
Ima terus mengetuk. Topan menarik tangannya. "Ma, beri dia waktu. Haikal bukan tipe orang yang suka merepotkan orang lain. Kalau dia minta sendiri, lebih baik kita turuti."
"Aku tidak bisa, Pan. Aku takut dia melakukan sesuatu yang bodoh."
"Haikal tidak bodoh. Dia hanya sedang... krisis eksistensi."
Ima menatap Topan. "Krisis eksistensi?
"Iya. Merasa tidak pantas, merasa tidak berguna, merasa nggak cukup baik. Semua orang pernah mengalaminya."
Ima menghela napas. Ia menempelkan telapak tangannya di pintu kamar Haikal. "Haikal, aku di sini. Aku akan menunggu. Mau sehari, seminggu, sebulan, aku akan menunggu."
Dari dalam, Haikal hanya bisa menangis. Ia mendengar setiap kata Ima. Dan setiap kata itu seperti paku yang menancap di dadanya.
Haikal baru keluar kamar pada sore harinya. Matanya sembab. Wajahnya pucat. Di tangannya, secarik surat untuk Ima.
Ima yang ternyata masih duduk di teras kos langsung berdiri. "Haikal!"
"Maaf, Ma. Aku sudah membuatmu khawatir."
"Sudah. Yang penting kamu baik-baik saja."
Mereka duduk di kursi taman halaman kos. Topan, Rina, Budi, Ahmad, Yusuf, dan bahkan Pak De ikut duduk di sekitar mereka. Seperti pengadilan rakyat.
"Haikal, kenapa kamu tiba-tiba begini?" tanya Pak De dengan suara lembut.
Haikal menunduk. "Saya merasa tidak pantas untuk Ima, Pak. Saya miskin. Saya tidak bisa memberikan apa pun untuknya."
"Haikal," kata Ima sambil memegang tangannya. "Aku tidak butuh uangmu. Aku butuh kamu."
"Tapi suatu hari nanti, Ma. Suatu hari nanti kamu akan lelah dengan kemiskinanku. Suatu hari nanti kamu akan membandingkanku dengan laki-laki lain yang lebih mapan. Suatu hari nanti..."
"Berhenti, Haikal!" Ima memotong. Matanya berkaca-kaca. "Berhenti merendahkan dirimu sendiri. Aku tidak pernah membandingkanmu dengan siapa pun. Aku memilihmu karena kamu adalah kamu. Bukan karena uang, bukan karena harta, bukan karena status. Karena hatimu. Karena perjuanganmu. Karena caramu melihat dunia."
Topan ikut bersuara. "Kal, lo itu hebat. Lo berani bersepeda 75 kilometer. Lo berani berdiri melawan Rangga dulu. Lo berani mimpi jadi dokter desa. Itu semua lebih berharga dari uang."
Rina menambahkan, "Kami semua di sini bangga sama lo, Kal. Jangan sia-siakan itu hanya karena rasa tidak percaya diri."
Budi mengangguk. "Lo adalah inspirasi buat kami, Kal. Jangan menyerah."
Haikal menangis. Air matanya jatuh deras. Ini bukan air mata sedih. Ini air mata haru. Ia tidak menyangka bahwa ia dikelilingi oleh orang-orang yang begitu peduli padanya.
"Maafkan aku," bisiknya. "Aku hampir menyerah."
"Tidak usah minta maaf. Yang penting kamu sekarang bangkit lagi," kata Ima sambil memeluknya.
Pak De tersenyum. "Cinta itu seperti lampu merah, Nak. Kadang kamu harus berhenti sejenak untuk memastikan bahwa apa yang kamu rasakan itu benar. Kamu sudah berhenti. Kamu sudah memastikan. Sekarang saatnya melaju kembali."
Haikal mengangguk. Ia memeluk Ima. Memeluk Topan, Rina, Budi, Ahmad, Yusuf, dan Pak De bergantian.
"Terima kasih, semuanya. Aku berjanji tidak akan menyerah lagi."
Seminggu kemudian, Haikal kembali bersemangat. Ia belajar lebih giat. Ia menulis lebih banyak. Ia bahkan mulai mencari informasi tentang beasiswa untuk kuliah kedokteran.
"Aku akan coba daftar beasiswa bidikmisi," katanya pada Ima suatu sore di perpustakaan.
"Apa itu bidikmisi?"
"Beasiswa untuk siswa kurang mampu berprestasi. Ada dari pemerintah. Kuotanya terbatas, tapi aku akan coba."
"Aku yakin kamu bisa."
"Kamu juga harus kuliah, Ma. Jangan sampai berhenti karena apa pun."
"Aku akan kuliah. Ayah sudah menyiapkan dana. Tapi ayahku ingin aku kuliah di Universitas Palangka Raya jurusan keperawatan."
"Berarti kita akan berjauhan?"
Ima mengangguk. "Iya. Tapi itu tidak masalah. Kita bisa komunikasi lewat HP."
Haikal tersenyum. "Kamu yakin? Jarak Banjarmasin-palangkaraya lumayan jauh."
"Kita sudah terbiasa dengan jarak, Kal. Dulu kan kamu dari desa ke kota 75 kilometer. Itu cukup jauh."
Haikal tertawa. "Iya. Kamu benar."
Mereka berdua tersenyum. Di depan mereka, masa depan terbentang luas. Tidak mudah. Tapi mereka siap.
Namun, Tuhan berkata lain. Saat Haikal mulai merencanakan masa depannya, ujian datang dari arah yang tidak terduga. Ibunya, Bu Ratna, jatuh sakit. Haikal mendapat kabar dari Junaidi , teman desanya yang dulu sering ia ajak berbincang di pos ronda.
"Kal, ibumu sakit. Sudah seminggu dirawat di puskesmas Mantangai," kata Junaidi lewat telepon. Suaranya terdengar cemas.
"Sakit apa, Naid?"
"Katanya kelelahan. Juga tensi darahnya tinggi. Dokter bilang istirahat total. Tidak boleh kerja berat."
Haikal terdiam. Jantungnya berdebar keras. Ibunya sakit. Ibunya yang setiap pagi berjualan sayur keliling dengan sepeda ontel. Ibunya yang selalu tersenyum meskipun hanya makan nasi dan sambal. Ibunya yang tidak pernah mengeluh meskipun badannya kurus dan kulitnya keriput karena panas matahari.
"Aku akan pulang, Jun. Besok."
"Kamu tidak usah pulang, Kal. Kamu fokus sekolah. Ibumu sudah dirawat. Pak Sugeng juga selalu di samping."
"Aku tetap pulang. Aku harus lihat ibuku."
Haikal mematikan telepon. Ia tidak bisa berkata-kata. Tubuhnya gemetar. Ima yang duduk di sampingnya langsung memegang tangannya.
"Ada apa, Kal?"
"Ibuku sakit. Aku harus pulang."
"Aku ikut."
"Tidak usah. Kamu fokus sekolah. Aku akan baik-baik saja."
"Haikal, aku tidak bisa membiarkanmu pulang sendirian. Kamu pasti akan bersepeda ontel lagi."
"Tidak. Aku akan naik mobil."
Ima menghela napas. "Baik. Tapi aku akan mengantarmu ke terminal."
Esok paginya, Haikal pamit pada Pak De dan teman-teman sekos. Topan memeluknya erat.
"Kal, lo nggak sendiri. Kalau butuh apa-apa, telepon gue."
"Makasih, Pan."
Rina memberikan sebuah amplop cokelat. "Ini. Uang jajan untuk di perjalanan. Jangan ditolak."
"Rin, aku tidak bisa..."
"Kamu bisa, Kal. Ini dari kami semua. Topan, Budi, aku, Ahmad, Yusuf, bahkan Rangga. Dia titip lima puluh ribu."
Haikal menangis. Ia menerima amplop itu. "Terima kasih. Aku tidak akan melupakan kebaikan kalian."
Ima mengantarnya ke terminal Pertokoan Sanjaya. Mereka duduk di kursi kayu yang sudah usang sambil menunggu mobil jurusan Kapuas-Mantangai.
"Haikal, janji. Kamu akan kembali."
"Aku akan kembali, Ima. Aku berjanji."
"Dan jangan menyerah. Apapun yang terjadi."
"Aku tidak akan menyerah."
Mobil datang. Haikal naik. Ima berdiri di pintu terminal, melambai, sampai mobil itu menghilang di tikungan jalan menuju jalan luar kota meliwati Simpang Camuh.
Di desa Sriwidadi, Haikal disambut oleh Junaidi dan Pak Sugeng di pinggir jalan. Wajah Pak Sugeng tampak lebih tua dari biasanya. Kerutan di wajahnya semakin dalam. Matanya sayu.
"Nak, kamu pulang," kata Pak Sugeng sambil memeluk Haikal. Suaranya bergetar.
"Iya, Pak. Ibu bagaimana?"
"Masih di puskesmas. Tadi pagi aku jenguk. Dia sudah sadar, tapi masih lemas."
"Aku mau ke puskesmas sekarang."
Haikal bersepeda pinjan punya junaidi ke puskesmas Mantangai. Jaraknya sekitar 7 kilometer dari desa.. Ia butuh waktu untuk mengumpulkan keberanian.
Di puskesmas, Bu Ratna terbaring di ranjang besi yang catnya sudah mulai mengelupas. Tubuhnya kurus. Kulitnya kering. Matanya yang dulu bersemangat kini sayu.
"Ibu..." Haikal berjalan mendekat. Air matanya jatuh sebelum ia sempat mengatakannya.
"Haikal... anakku..." Bu Ratna mengulurkan tangannya yang kurus. Haikal memegangnya. Tangannya dingin. Sangat dingin.
"Ibu, kenapa Ibu tidak bilang dari dulu? Kenapa Ibu tidak istirahat?"
"Kalau Ibu istirahat, siapa yang jualan sayur? Siapa yang kirim uang buat kamu?"
"Aku bisa cari uang sendiri, Bu. Aku sudah punya uang dari lomba. Aku juga bisa kerja paruh waktu."
"Ibu tidak mau kamu kerja. Ibu mau kamu sekolah. Jadi dokter. Itu impian ibu."
Haikal menangis tersedu-sedu. Ia membayangkan ibunya yang setiap pagi bersepeda di bawah terik matahari. Ia membayangkan ibunya yang hanya makan nasi dan sambal. Ia membayangkan ibunya yang tidak pernah mengeluh.
"Bu, mulai sekarang Ibu istirahat. Aku yang akan cari uang."
"Jangan bodoh, Nak. Sekolahmu itu penting."
"Penting juga Ibu sehat."
Haikal tinggal di desa selama satu minggu. Ia membantu bapaknya di sawah, memberi makan kambing-kambingnya yang tersisa, dan menjaga ibunya di puskesmas. Ia mengirim pesan ke Ima setiap malam, bercerita tentang kondisi ibunya yang perlahan mulai membaik.
"Ima, ibuku sudah bisa duduk. Dokter bilang minggu depan boleh pulang." Balasan Ima datang cepat.
"Alhamdulillah. Kamu sendiri gimana? Kamu sehat?"
"Aku sehat. Tiba-tiba aku rindu desa. Rindu sawah. Rindu suara jangkrik malam hari."
"Rindu aku?"
Haikal tersenyum membaca pesan itu.
"Paling rindu."
"Kapan kembali?"
"Minggu depan, insya Allah. Ibu sudah boleh pulang, aku akan kembali ke Kapuas."
"Aku tunggu di Simpang Camuh."
Namun, saat Haikal hendak kembali ke Kapuas, masalah baru datang. Biaya berobat ibunya menghabiskan hampir seluruh tabungan Haikal. Sisa yang ia punya hanya cukup untuk ongkos mobil satu kali jalan.
"Aku tidak punya uang untuk bayar kos bulan depan," kata Haikal pada Ima via telepon. Suararnya lesu.
"Jangan khawatir, Kal. Aku bisa pinjamkan dulu."
"Aku tidak mau berhutang padamu, Ima."
"Ini bukan hutang. Ini bantuan. Aku sayang kamu. Aku tidak ingin kamu berhenti sekolah hanya karena masalah uang."
Haikal terdiam. Ia bingung. Ia tidak mau menerima uang dari Ima, tapi ia juga tidak punya pilihan.
"Kal, dengar. Kamu sudah berjuang sejauh ini. Kamu tidak boleh berhenti sekarang. Terima bantuanku. Suatu hari, ketika kamu sudah jadi dokter, kamu bisa membantuku. Janji?"
"Ima..."
"Janji, Kal."
"Baik. Aku janji."
Haikal kembali ke Kapuas dengan perasaan campur aduk. Ia senang karena ibunya mulai sehat. Ia sedih karena harus meninggalkan desa lagi. Ia malu karena harus menerima uang dari Ima. Tapi ia juga bersyukur karena masih memiliki teman-teman dan Ima yang selalu mendukungnya.
Di terminal, Ima sudah menunggu. Begitu Haikal turun dari mobil, Ima langsung memeluknya erat.
"Aku rindu kamu."
"Aku juga rindu."
Mereka berdua berdiri di terminal yang ramai. Orang-orang berlalu lalang. Tapi mereka hanya fokus satu sama lain.
"Ayo pulang. Aku sudah siapkan makanan di kos," kata Ima.
Kamu masak?
"Iya. Aku belajar masak dari Mbak Yuli."
Haikal tersenyum. "Aku tidak sabar mencicipinya."
Mereka naik motor Ima menuju kos Pak De. Di Simpang Camuh, lampu merah menyala. Ima berhenti.
"Haikal."
"Apa?"
"Aku sayang kamu."
"Aku juga sayang kamu."
Lampu berganti hijau. Mereka melaju kembali. Di balik helm Ima, air matanya jatuh. Ia tidak mau Haikal melihatnya.
Dua bulan kemudian, Haikal berhasil mendapatkan beasiswa dari pemerintah. Bukan bidikmisi karena itu untuk mahasiswa, tapi beasiswa dari Dinas Pendidikan Kabupaten Kapuas untuk siswa berprestasi yang kurang mampu. Nilainya lumayan: satu juta rupiah per bulan.
"Aku bisa bayar kos sendiri sekarang, Ima," kata Haikal pada Ima suatu sore di perpustakaan.
"Aku bangga sama kamu."
"Ini berkat kalian semua. Tanpa dukungan kalian, aku sudah berhenti sekolah."
Ima memegang tangannya. "Kamu hebat, Haikal. Kamu tidak pernah menyerah."
"Aku tidak sendirian. Kamu selalu ada."
Mereka berdua tersenyum. Di jendela perpustakaan, tampak bayangan Simpang Camuh di kejauhan, dalam kayalannya. Lampu merah menyala. Seorang gadis berjilbab putih berhenti di pinggir jalan. Haikal tersenyum. Gadis itu mengingatkannya pada Ima. Atau mungkin pada pertemuan pertama mereka. Atau mungkin pada cinta yang hadir dari sebuah tabrakan.
Malam harinya, Haikal mendapat kabar bahwa kambing-kambingnya di desa berkembang biak dengan baik. Junaidi mengirim video lewat WhatsApp. Kambing-kambing itu lucu. Bulunya putih. Matanya bersih.
"Kal, kamu harus pulang. Kambing-kambingmu kangen sama kamu." Haikal tersenyum membaca pesan itu.
"Liburan nanti aku pulang. Tolong jaga baik-baik."
"Siap, Kal. Eh, salam buat Ima."
"Kamu kenal Ima?"
"Enggak. Tapi semua orang di desa sudah tahu. Siti cerita."
Haikal menghela napas. Siti. Gadis desa yang diam-diam menyukainya. Ia belum sempat bicara dengan Siti sejak kejadian itu. Mungkin ia harus menjelaskan.
Ia membuka kontak Siti. Menekan tombol telepon.
"Ti, maaf aku belum pernah meneleponmu."
"Tidak apa-apa, Kal. Aku tahu kamu sibuk."
"Ti, aku dan Ima..."
"Aku tahu. Semua orang di desa tahu. Dan aku ikut bahagia untukmu."
"Benarkah? Kamu tidak kecewa?"
"Kecewa? Sedikit. Tapi aku lebih kecewa pada diriku sendiri karena tidak berani menyatakan perasaan dulu."
"Maaf, Ti."
"Tidak usah minta maaf. Yang penting kamu bahagia. Dan Ima adalah orang yang tepat untukmu."
Haikal menghela napas lega. "Terima kasih, Ti. Kamu sahabat baik."
"Kamu juga. Jangan lupa desa ini, Kal. Desa ini tempatmu pulang."
"Aku tidak akan pernah lupa."
Hari-hari berlalu. Ujian akhir semester tiba. Haikal belajar mati-matian. Ia ingin mempertahankan peringkat sepuluh besarnya. Ima juga belajar keras. Mereka sering belajar bersama di perpustakaan hingga sore.
"Haikal, aku takut ujian matematika," kata Ima suatu malam.
"Kenapa takut? Kamu pintar."
"Aku takut besok soalnya susah."
"Kita sudah belajar. Tidak ada yang perlu ditakutkan."
"Tapi..."
"Tidak ada tapi. Kita sudah siap."
Ima tersenyum. "Kamu selalu bisa menenangkanku."
"Karena aku tahu kamu sebenarnya pintar. Kamu hanya kurang percaya diri."
"Seperti kamu dulu?"
Haikal tertawa. "Iya. Seperti aku dulu."
Mereka kembali belajar. Pukul 17.00, Ima pulang. Haikal mengantarnya ke depan kos.
"Hati-hati di jalan, Ma."
"Kamu juga. Jangan begadang terus."
"Aku akan tidur jam sembilan."
"Iya, iya. Pasti."
Mereka berdua tersenyum. Ima menyalakan motor dan melaju pergi. Haikal berdiri di halaman kos, menatap lampu belakang motor Ima yang semakin kecil hingga menghilang di tikungan Simpang Camuh.
Ujian akhir semester usai. Haikal berhasil mempertahankan peringkat sembilan besar. Ima naik ke peringkat lima belas. Mereka berdua senang. Pak Dadang mengadakan syukuran kecil di rumahnya.
"Haikal, kamu hebat. Nilaimu terus meningkat," puji Pak Dadang.
"Terima kasih, Pak. Berkat doa Bapak dan Ibu."
"Kamu rendah hati. Itu yang aku suka."
Bu Yolanda menambahkan, "Haikal, kamu mau makan apa? Ibu masakkan."
"Ap saja, Bu. Saya tidak pilih-pilih."
"Nanti Ibu buatkan ayam goreng. Kamu suka kan?"
"Suka sekali, Bu."
Ima tersenyum melihat orang tuanya yang begitu hangat pada Haikal. Dulu mereka benci padanya. Sekarang mereka seperti anak sendiri.
Setelah makan malam, Ima mengajak Haikal ke halaman belakang. Di tempat yang sama saat mereka berdua pertama kali mengucapkan cinta.
"Haikal, aku ingin bilang sesuatu."
"Apa?"
"Ayah setuju kalau kita... kalau kita menikah nanti setelah lulus kuliah."
Haikal terkesiap. "Menikah? Kita masih sekolah."
"Aku tahu. Tapi ayah sudah memberi restu. Kata ayah, 'Jangan tunggu terlalu lama. Orang baik seperti Haikal susah dicari'."
Haikal tersenyum. "Ayahmu berubah drastis."
"Karena kamu. Karena kebaikanmu."
Mereka berdua duduk di kursi taman. Langit malam cerah. Bintang-bintang bertaburan seperti intan yang berserakan.
"Haikal, aku takut."
"Takut apa?"
"Masa depan. Jarak. Waktu. Kita akan kuliah di kota yang berbeda. Aku di Palangka Raya, kamu di Banjarmasin. Jaraknya ratusan kilometer."
"Tapi kita sudah terbiasa dengan jarak, Ima. Dulu aku dari desa ke kota 75 kilometer."
"Ini berbeda. Jaraknya lebih jauh. Dan kita tidak bisa bertemu setiap hari."
"Tapi kita bisa telepon. Bisa video call. Bisa kirim surat."
"Surat? Zaman sekarang masih pakai surat?"
"Aku suka surat. Lebih personal. Lebih romantis."
Ima tertawa. "Kamu memang kuno."
"Dan kamu mencintaiku karena kekunoanku."
"Iya. Aku mencintaimu karena itu."
Mereka berdua terdiam. Angin malam berdesir. Suara jangkrik terdengar dari semak-semak.
"Haikal, aku janji akan menunggumu."
"Aku juga akan menunggumu."
"Janji?"
"Janji. Sampai lampu merah di Simpang Camuh berubah menjadi ungu."
Ima tertawa lagi. "Kamu dan lampu merahmu."
"Lampu merah itu mengajarkanku untuk berhenti. Berhenti sejenak. Memastikan bahwa apa yang aku rasakan itu benar."
"Dan apa kesimpulanmu?"
"Bahwa aku benar-benar mencintaimu."
Ima memeluk Haikal. Pelukan yang lama. Pelukan yang hangat. Pelukan yang mengikat janji untuk seterusnya.
Di kejauhan, Simpang Camuh terlihat sunyi. Lampu merah menyala. Tidak ada yang melintas. Hanya sepasang kekasih yang sedang berjanji setia di bawah langit berbintang.
BAB IX
Pengumuman Kelulusan dan Sebuah Pengakuan
Dua tahun lebih berlalu seperti mimpi yang terlalu indah untuk dibangunkan. Haikal kini duduk di bangku kelas dua belas. Wajahnya yang dulu masih polos dengan kulit legam khas anak desa, kini telah berubah menjadi lebih matang. Matanya lebih tajam. Bahunya lebih bidang. Bicaranya lebih tegas. Topan bahkan sering bercanda bahwa Haikal sekarang mirip aktor di sinetron, yang jelas, candaan itu selalu membuat Ima tersenyum malu-malu.
Tapi bukan hanya fisik yang berubah. Prestasi Haikal juga melesat. Ia berhasil mempertahankan peringkat sepuluh besar selama tiga semester berturut-turut. Ia juga menjadi ketua OSIS periode terakhir. Dan yang paling membanggakan, ia terpilih sebagai salah satu siswa penerima beasiswa penuh dari pemerintah provinsi untuk melanjutkan kuliah ke Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin.
"Aku nggak percaya," kata Haikal saat menerima surat pengumuman beasiswa itu di ruang kepala sekolah. Tangannya gemetar. Matanya berkaca-kaca. Dr. H. Mahyudin, M.Pd., yang telah menjadi kepala sekolah selama lima tahun terakhir, tersenyum bangga.
"Ini bukan keberuntungan, Haikal. Ini hasil kerja kerasmu selama tiga tahun. Kamu layak mendapatkannya."
"Terima kasih, Pak."
"Jangan berhenti di sini. Lanjutkan. Raih gelar dokter. Buktikan bahwa anak desa bisa menjadi apa saja."
"Siap, Pak."
Haikal keluar ruangan dengan perasaan campur aduk. Senang, haru, bangga, tapi juga cemas. Ia akan meninggalkan Kapuas. Ia akan meninggalkan Ima. Ia akan meninggalkan Simpang Camuh yang menjadi saksi bisu perjalanan cintanya.
Kabar kelulusan Haikal dan beasiswanya menyebar cepat. Dalam satu hari, seluruh sekolah sudah tahu. Topan menjadi orang pertama yang memeluknya.
"GUE BANGGA SAMA LO, KAL!" teriak Topan sambil memeluk Haikal hingga hampir tercekik. "MANTAP! JADI DOKTER! NANTI GUE MINTA DISKON BEROBAT!"
"Lo nggak usah berobat, Pan. Lo kan sehat," jawab Haikal sambil tertawa.
"Gue bisa jatuh sakit kapan saja, Kal. Nanti kalau gue jatuh cinta, gue butuh obat."
"Jatuh cinta mah nggak pakai obat. Pakai keberanian."
Rina yang mendengar percakapan itu ikut tertawa. "Topan, lo tuh bisa aja. Dari dulu bilang mau jatuh cinta, tapi sampai sekarang masih jomblo."
"Jomblo itu pilihan, Rin. BUKAN KETERPAKSAAN!"
Semua tertawa. Budi, yang sejak awal selalu pendiam, ikut nimbrung. "Haikal, gue juga bangga sama lo. Lo menginspirasi gue untuk tetap berjuang meskipun ekonomi pas-pasan."
"Kita sama-sama berjuang, Bud. Jangan pernah merasa sendirian."
Rangga yang duduk di meja sebelah menepuk bahu Haikal. "Lo hebat, Kal. Dulu gue benci lo, sekarang gue jadi pengen jadi kayak lo."
"Jadi kayak aku? Yang kampungan?"
Rangga tertawa. "Itu dulu. Sekarang lo adalah kebanggaan sekolah."
Ima tidak ada di perayaan kecil itu. Sejak pagi, ia tidak masuk sekolah. Haikal mencoba menghubunginya berkali-kali, tapi teleponnya tidak aktif.
"Topan, lo tahu Ima kenapa?" tanya Haikal cemas.
"Nggak tahu, Kal. Gue juga baru sadar Ima nggak datang."
"Aku ke rumahnya."
Haikal pamit pada teman-temannya. Ia mengayuh sepeda ontelnya, sepeda yang sama sejak tiga tahun lalu, meskipun sudah banyak tambalannya, menuju Jalan Cilik Kriwut No. 17. Sesampainya di depan gerbang biru itu, ia melihat Lia sedang duduk di teras sambil memandang kosong.
"Lia, Ima di mana?"
"Di dalam, Mas. Tapi dia nggak mau ketemu siapa pun."
"Kenapa?"
"Ayah ibunya bertengkar lagi. Masalah uang. Ayah Ima kalah judi. Hutangnya banyak. Ibu Ima marah."
Haikal mengepalkan tangan. "Ayah Ima berjudi?"
"Iya, Mas. Sudah lama sebenarnya. Tapi Ima nggak mau cerita ke Mas Haikal. Dia malu."
"Biarkan aku masuk."
"Mas Haikal, Ima bilang..."
"Aku tidak peduli dengan kata-kata Ima. Aku harus melihatnya."
Lia menghela napas. "Baik. Tapi hati-hati. Ayah Ima sedang emosi."
Haikal masuk ke dalam rumah. Suasana tegang. Dari ruang tamu, ia mendengar suara Pak Dadang yang sedang berdebat dengan Bu Yolanda.
"INI RUMAH SAYA! SAYA BERHAK MELAKUKAN APA PUN!"
"RUMAH INI HASIL KERINGAT SAYA! JANGAN LO GADAI SEMBARANGAN!" balas Bu Yolanda.
Haikal tidak ingin ikut campur. Ia langsung menuju kamar Ima. Pintunya terkunci dari dalam.
"Ima, buka pintunya."
"Pergi, Haikal. Aku nggak mau ketemu siapa pun."
"Aku tidak akan pergi sebelum kamu membuka pintu."
"Haikal, please. Aku butuh waktu sendiri."
"Ima, aku di sini bukan untuk merepotkanmu. Aku di sini karena aku sayang kamu."
Keheningan. Beberapa detik kemudian, pintu terbuka. Ima berdiri di depan pintu. Wajahnya pucat. Matanya sembab. Rambutnya acak-acakan. Ia tidak memakai jilbab, hanya kaos oblong dan celana pendek.
"Maaf kamu melihat aku seperti ini."
Haikal memeluk Ima. "Kamu tetap cantik."
"Bohong."
"Aku tidak pernah bohong padamu."
Ima menangis di bahu Haikal. Ia menangis lama. Haikal hanya membiarkannya. Tidak bicara. Tidak bertanya. Hanya memeluk.
Setelah Ima tenang, mereka duduk di lantai kamar. Ima bercerita tentang ayahnya yang mulai berjudi dua tahun lalu. Awalnya kecil. Lalu membesar. Hingga akhirnya hutang menggunung.
"Ayah sudah menggadaikan hampir semua aset. Toko Berkah Jaya sekarang tinggal nama. Stok barang kosong. Karyawan hanya tinggal Lia."
"Kenapa kamu tidak bilang dari dulu?"
"Aku malu, Kal. Aku malu sama kamu. Kamu anak desa yang berjuang mati-matian. Aku anak kota yang keluarganya hancur karena kebodohan sendiri."
"Kamu tidak perlu malu. Ini bukan salahmu."
"Tapi aku ikut menanggung malu."
"Kamu tidak sendirian. Aku di sini."
Ima menatap Haikal. "Kamu dapat beasiswa, ya? Aku dengar dari Rina."
"Bagaimana kamu tahu? Kamu kan tidak masuk sekolah."
"Rina meneleponku tadi pagi. Dia cerita."
"Aku minta maaf. Aku ingin memberitahumu langsung, tapi teleponmu tidak aktif."
"Ibu mematikannya. Agar aku tidak terganggu."
Haikal menghela napas. "Ima, aku akan kuliah di Banjarmasin. Tapi aku tidak akan melupakanmu."
"Kamu harus kuliah. Ini kesempatanmu."
"Aku tahu. Tapi aku juga tidak bisa meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini."
"Kamu tidak meninggalkanku. Kamu pergi untuk meraih mimpi. Dan aku akan mendukungmu."
Haikal memegang tangan Ima. "Setelah lulus nanti, aku akan kembali. Aku akan membantumu membangun kembali toko ayahmu. Aku akan... aku akan melamarmu."
Ima terkejut. "Apa?"
"Aku bilang, aku akan melamarmu. Kalau kamu mau."
Ima menangis lagi. Tapi kali ini air mata bahagia.
"Jangan main-main, Haikal."
"Aku tidak pernah main-main."
Berita bahwa Haikal akan melamar Ima setelah lulus kuliah menyebar di antara teman-teman dekat mereka. Topan tentu saja yang paling heboh.
"GUE DIPANGGIL JADI SAKSI, YA?" teriak Topan di kantin. Beberapa siswa menoleh.
"Diem, Pan! Masih rahasia!" bisik Ima.
"Isih rahasia gimana? Udah tiga orang tahu. Berarti rahasia gagal."
Rina tertawa. "Topan, lo tuh mulutnya nggak bisa ditutup."
"Mau ditutup pakai apa? Pakai lakban?"
"Diam saja."
Sementara Budi dan Rangga hanya tersenyum. Mereka sudah terbiasa dengan tingkah kocak Topan.
"Haikal, gue serius. Gue jadi saksi?" tanya Topan lagi.
"Iya, Pan. Lo jadi saksi. Tapi janji jangan bawa bakso ke acara lamaran."
"Kalau nggak bawa bakso, gue bawa apa?"
"Cukup bawa diri lo sendiri."
"Bakso lebih penting dari diri gue, Kal."
Mereka semua tertawa. Gelak tawa mereka terdengar sampai ke kantin seberang. Para guru yang sedang makan siang di ruang guru hanya menggeleng-gelengkan kepala.
H-7 ujian nasional. Suasana sekolah mencekam. Semua siswa sibuk belajar. Perpustakaan penuh. Ruang kelas kosong karena dipakai untuk try out. Haikal dan Ima jarang bertemu karena jadwal les tambahan yang padat.
"Haikal, kamu yakin bisa lulus?" tanya Ima via telepon suatu malam. Suaranya terdengar lelah.
"Aku yakin. Kamu juga harus yakin."
"Aku takut. Nilai matematikaku masih di bawah rata-rata."
"Aku bisa membantumu. Besok kita belajar bareng di perpustakaan."
"Jam berapa?"
"Jam 3 sore. Sampai jam 6."
"Oke."
Namun, rencana itu gagal karena Haikal harus menghadiri rapat persiapan ujian di ruang kepala sekolah. Ia baru selesai pukul 5 sore. Ia bergegas ke perpustakaan. Ima sudah menunggu.
"Maaf, aku terlambat."
"Nggak apa-apa. Aku sudah belajar sendiri."
"Kamu nggak marah?"
"Aku marah. Tapi aku memilih untuk tidak menunjukkan karena ujian sudah dekat."
Haikal tersenyum. "Kamu dewasa."
"Sekarang ajar aku matematika."
H-3 ujian nasional. Ibu Ratna datang ke Kapuas. Haikal terkejut saat melihat ibunya berdiri di depan gerbang kos Pak De.
"Bu!" Haikal berlari dan memeluk ibunya. "Kok Ibu ke sini? Nggak bilang-bilang?"
"Mau kasih kejutan." Bu Ratna tersenyum. Wajahnya masih pucat, tapi lebih segar daripada saat sakit dulu. "Ibu bawa telur asin buat kamu. Juga sambal terasi kesukaanmu."
"Bu, Ibu masih sakit. Jangan capek-capek."
"Udah sembuh, Nak. Dokter bilang Ibu boleh beraktivitas ringan. Jualan sayur juga sudah mulai lagi, tapi nggak setiap hari."
"Ibu jangan maksa."
"Nggak maksa. Santai."
Ibu Ratna menatap sekeliling kos. Dinding bambu, lantai papan, atap seng. "Ini tempat kamu tinggal selama tiga tahun?"
"Iya, Bu."
"Kecil. Tapi bersih."
"Terima kasih, Bu. Pak De yang rajin bersih-bersih."
Pak De yang sedang menyiram tanaman di halaman mendengar namanya disebut. Ia mendekat. "Ibu dari Haikal?"
"Iya, Pak. Saya Ratna, ibunya Haikal."
"Wah, ibu dari anak hebat. Haikal anak baik. Rajin. Sopan. Tidak pernah ribut."
Bu Ratna tersenyum bangga. "Terima kasih sudah menjaga anak saya, Pak."
"Sama-sama, Bu. Saya yang berterima kasih karena Haikal sudah membantu banyak hal di kos ini."
Mereka berbincang-bincang hingga malam. Bu Ratna menginap di kos, tidur di kamar Haikal, sementara Haikal tidur di ruang tamu beralaskan tikar.
Keesokan harinya, Ima datang ke kos untuk menemui Bu Ratna. Ia membawa buah tangan: kue bolu buatan sendiri.
"Selamat pagi, Bu Ratna." Ima tersenyum sopan. Jilbab putihnya tampak bersih. Wajahnya berseri.
"Wah, cantik sekali. Ini pacar Haikal?" tanya Bu Ratna sambil mengamati Ima dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Iya, Bu." Ima tersenyum malu.
"Haikal, kenapa kamu nggak bilang kalau pacarmu secantik ini?"
"Biar kejutan, Bu."
Bu Ratna tertawa. "Ibu suka sama kamu, Nak. Kamu sopan. Juga bawain kue."
"Ini buatan sendiri, Bu. Masih belajar."
"Udah bagus, kok. Nanti Ibu cobain."
Mereka bertiga sarapan bersama di meja kecil kos. Menu sederhana: nasi, telur dadar, tempe goreng, dan sambal terasi buatan Bu Ratna.
"Ibu Ratna, Haikal dapat beasiswa," kata Ima sambil menyuap nasi.
"Iya. Ibu bangga sekali. Haikal anak desa, tapi bisa bersaing dengan anak-anak kota."
"Haikal hebat, Bu. Dia rajin. Juga baik hati."
"Kamu juga hebat, Nak. Haikal cerita tentang kamu. Kamu anak orang kaya, tapi tidak sombong."
Ima menunduk. Wajahnya sedikit merah. "Sekarang kami sudah tidak sekaya dulu, Bu. Ayah... ayah sedang bermasalah dengan keuangan."
Bu Ratna menghela napas. "Hidup memang naik turun, Nak. Yang penting kamu dan Haikal saling mendukung."
Hari ujian nasional tiba. Haikal dan Ima masuk ke ruang yang berbeda. Mereka saling mendoakan sebelum berpisah.
"Aku yakin kamu bisa, Ma."
"Aku juga yakin kamu bisa, Kal."
Mereka berpelukan sebentar. Topan yang melihat dari kejauhan bersiul kecil.
"Wah, mesra! Ini ujian, bukan pesta!"
"Diem, Tan!" hardik Haikal sambil tersenyum.
Ujian berlangsung selama satu minggu. Setiap hari, Haikal dan Ima bertemu di perpustakaan setelah ujian untuk membahas soal-soal yang keluar. Topan, Rina, Budi, dan Rangga sering ikut.
"Gue yakin nilai gue jelek," keluh Topan suatu hari.
"Nilai lo berapa?" tanya Rina.
"Belum keluar. Tapi perasaan gue jelek."
"Perasaan lo belum tentu benar."
"Perasaan gue selalu benar."
"Tapi pas lo jatuh cinta sama si penjual bakso di kantin, perasaan lo bilang dia suka sama lo. Nyatanya dia udah punya suami."
Topan terdiam. "Itu satu-satunya kesalahan perasaan gue."
Semua tertawa. Haikal tertawa paling keras. Tiga tahun bersama Topan selalu menghadirkan canda. Ia akan merindukan ini.
Pengumuman kelulusan diadakan di aula sekolah. Semua siswa kelas dua belas hadir. Orang tua juga diundang. Bu Ratna datang bersama Pak Sugeng. Ibu Yolanda datang sendirian karena Pak Dadang sedang ada urusan di Banjarmasin, mengurus hutang, kata Ima.
Kepala sekolah naik ke panggung. "Selamat pagi, anak-anakku sekalian. Hari ini adalah hari yang bersejarah. Hari di mana kalian resmi menjadi lulusan SMAN 1 Kuala Kapuas. Apapun hasil ujian kalian, ingatlah bahwa perjuangan kalian selama tiga tahun tidak akan pernah sia-sia."
Tepuk tangan bergemuruh.
"Pengumuman akan saya bacakan satu per satu. Mulai dari kelas XII IPS 1."
Haikal duduk di barisan paling depan. Ia memegang tangan Ima. Diam-diam, di bawah bangku.
"Nama-nama yang disebut, harap maju ke panggung untuk menerima ijazah."
Satu per satu nama dipanggil. Topan, Rina, Budi, Rangga, Marni, Lia (bukan Lia asisten rumah tangga Ima, tapi Lia teman sekelas). Semua maju ke panggung dengan wajah sumringah.
"Terakhir, dari kelas XII MIPA 2," lanjut Kepala Sekolah. "Ima Rosita Sari."
Ima berdiri. Ia melangkah ke panggung dengan mantap. Haikal tersenyum.
"Miftahul Haikal."
Haikal berdiri. Ia melangkah ke panggung. Di panggung, ia bertemu dengan Ima. Mereka saling tersenyum.
"Sampai ketemu di panggung, Ima."
"Sampai ketemu."
Setelah acara kelulusan, Haikal mengajak Ima ke Simpang Camuh. Lampu merah menyala. Mereka berhenti di trotoar yang sama, tempat pertama kali mereka bertemu tiga tahun lalu.
"Tiga tahun, Ima. Rasanya baru kemarin."
"Iya. Aku masih ingat betapa marahnya aku saat itu."
"Aku juga. Lututku lecet. Sepedaku penyok."
"Dan kamu menolak uang dari ayah."
"Karena aku tidak butuh uang. Aku butuh sepedaku kembali."
Mereka berdua tertawa. Kenangan-kenangan itu terasa begitu jelas.
"Haikal, aku ingin bilang sesuatu."
"Apa?"
"Aku... aku mencintaimu. Sejak hari pertama kita bertemu. Sejak kamu duduk di trotoar dengan lutut berdarah dan tersenyum padaku meskipun kesakitan."
"Ima..."
"Tolong jangan potong. Biarkan aku menyelesaikannya."
Haikal diam.
"Aku tahu kita akan berjauhan. Kamu di Banjarmasin, aku di Palangka Raya. Tapi aku yakin cinta kita cukup kuat untuk melewati jarak dan waktu. Aku yakin kita akan bertemu lagi. Aku yakin... kita akan bersama selamanya."
Ima menangis. Haikal memeluknya.
"Aku juga mencintaimu, Ima. Sejak kamu menabrakku dan marah-marah karena aku tidak tahu lampu merah."
"Kamu bodoh."
"Kamu juga bodoh."
Mereka berdua tertawa di tengah tangis. Lampu merah berganti hijau. Tapi mereka tetap berpelukan. Tidak ada yang perlu terburu-buru lagi.
Malam harinya, Haikal mengadakan acara perpisahan kecil di kos Pak De. Semua teman datang. Pak De menyediakan makan malam. Mbak Yuli membuat gorengan. Ahmad meminjamkan sound system sederhana. Yusuf membawa gitarnya.
"Ini lagu perpisahan untuk Haikal dan Ima," kata Yusuf sambil memetik senar. "Judulnya 'Simpang Camuh'."
Di persimpangan yang kacau
Kau datang menabrak hatiku
Awalnya marah, awalnya benci
Kini cinta bersemi di sini
Lampu merah menyala
Kita berhenti sejenak
Memastikan perasaan ini
Bukan sekadar angin lalu
Simpang Camuh, saksi bisu
Cinta kita tumbuh di situ
Meski nanti jarak memisah
Kita kan bertemu lagi, di sini
Haikal menangis mendengar lagu itu. Ima juga. Mereka saling memeluk. Topan, Rina, Budi, Rangga, dan semua yang hadir ikut menangis.
"Jangan nangis, dong. Ini acara perpisahan, bukan pemakaman," kata Topan sambil menyeka air matanya.
"Lo sendiri juga nangis," ledek Rina.
"Nangis karena debu."
"Di dalam kos? Mana ada debu?"
"Banyak."
Semua tertawa. Tawa dan tangis bercampur jadi satu. Malam yang indah. Malam yang tidak akan pernah mereka lupakan.
Hari terakhir Haikal di Kapuas. Ia harus berangkat ke Banjarmasin untuk mengurus administrasi beasiswa dan persiapan kuliah. Ima mengantarnya ke terminal.
"Jaga diri baik-baik, Ima."
"Kamu juga, Kal."
"Jangan lupa makan. Jangan lupa sholat. Jangan lupa... aku."
"Bagian terakhir itu paling susah."
Mereka berdua tersenyum. Haikal naik ke bus. Ima berdiri di luar, menatap Haikal dari balik kaca.
Bus mulai bergerak. Ima melambai. Haikal membalas lambaian itu.
"HAIKAL!" teriak Ima tiba-tiba.
Haikal membuka jendela. "APA?"
"AKU MENCINTAIMU!"
"SAMPAI MATI!"
Bus menghilang di tikungan. Ima berdiri di terminal, menangis. Ia tidak tahu kapan akan bertemu Haikal lagi. Tapi ia yakin. Suatu hari, di Simpang Camuh, mereka akan bertemu kembali.
Tiga bulan kemudian, Ima menerima surat dari Haikal. Surat pertama sejak ia pergi. Surat itu ditulis tangan di kertas bufalo, dengan tinta hitam dan amplop cokelat.
"Ima,
Maaf baru menulis. Aku sibuk sekali dengan orientasi mahasiswa baru. Juga dengan tugas-tugas yang menumpuk. Dunia kedokteran ternyata lebih berat dari yang aku bayangkan. Tapi aku tidak akan menyerah. Aku ingat janjiku padamu.
Bagaimana kabarmu? Bagaimana kabar Ayah dan Ibu? Bagaimana kabar Lia? Bagaimana kabar Simpang Camuh? Aku rindu tempat itu. Aku rindu lampu merahnya. Aku rindu trotoarnya. Aku rindu kita duduk di sana, tertawa, bercerita, dan diam-diam berpegangan tangan.
Tapi yang paling aku rindu adalah kamu.
Ima, aku tidak tahu kapan kita bisa bertemu lagi. Mungkin bulan depan. Mungkin tahun depan. Mungkin saat kita sudah sama-sama lulus. Tapi yang aku tahu, tidak ada jarak yang cukup jauh untuk memisahkan kita.
Aku akan menunggumu. Dan suatu hari, di Simpang Camuh, aku akan mengulang perkataanku: aku mencintaimu, dan aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamamu.
Jaga diri, Ma.
Milikmu selalu, Haikal."
Ima membaca surat itu berulang-ulang. Sampai surat itu basah oleh air matanya.
Ia membalas surat itu di kertas yang sama.
"Haikal,
Aku juga rindu kamu. Aku juga akan menunggumu. Dan aku juga akan mengulang perkataanku: aku mencintaimu, sampai mati.
Ima."
Ia memasukkan surat itu ke amplop, menulis alamat kos Haikal di Banjarmasin, lalu berjalan ke kantor pos. Di tengah jalan, ia melewati Simpang Camuh. Lampu merah menyala. Ia berhenti.
"Haikal, aku di sini," bisiknya pada angin. "Di tempat kita pertama kali bertemu. Di tempat cinta kita dimulai."
Lampu berganti hijau. Ia melanjutkan perjalanan. Di dadanya, surat itu tersimpan rapi. Di hatinya, cinta itu tersimpan lebih rapi.
BAB X
Jarak dan Waktu Yang Memisahkan
Banjarmasin, kota seribu sungai, kini menjadi rumah baru bagi Haikal. Jauh dari debu jalanan Kapuas, jauh dari hiruk-pikuk Simpang Camuh, jauh dari senyum Ima yang selalu ia rindukan setiap pagi. Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) dengan Fakultas Kedokterannya yang megah kini menjadi tempat ia menghabiskan sebagian besar waktunya. Gedung-gedung tinggi, laboratorium canggih, perpustakaan berlantai tiga, dan mahasiswa-mahasiswa dari berbagai daerah dengan pakaian yang rapi dan gaya bicara yang cepat, semuanya terasa asing. Haikal, anak desa Sriwidadi dengan sepeda ontel penyok, kini harus beradaptasi dengan dunia yang sangat berbeda.
"Aku tidak pernah membayangkan akan sampai di sini," bisik Haikal pada dirinya sendiri saat pertama kali memasuki gerbang fakultas. Tas ranselnya yang sudah lusuh ia pikul di bahu. Buku-buku kedokteran tebal yang baru saja ia beli dengan uang beasiswa terasa berat, tapi ia tidak mengeluh.
"Permisi, kamu mahasiswa baru?" sapa seorang perempuan berjilbab biru langit dengan senyum ramah. Wajahnya bulat, matanya sipit, dan suaranya ceria.
"Iya. Haikal. Dari Kapuas."
"Citra. Dari Banjarmasin asli. Aku juga mahasiswa baru. Kedokteran juga. Kita satu angkatan mungkin."
Haikal tersenyum. "Senang berkenalan."
Citra mengulurkan tangan. Haikal menjabatnya. Jabatan hangat yang membuat Haikal merasa sedikit lebih nyaman di tempat asing ini.
"Ayo, aku antar ke ruang orientasi. Sudah hampir mulai."
Mereka berjalan bersama menyusuri koridor panjang. Dinding-dinding fakultas dipenuhi dengan foto para profesor dan dokter terkenal. Haikal membayangkan suatu hari nanti fotonya juga akan terpajang di sana.
"Haikal, kamu tinggal di mana?" tanya Citra.
"Kos di Jalan Pangeran Antasari. Dekat pasar."
"Wah, jauh juga dari kampus, itu. Tapi kos di sana murah?"
"Iya. 400 ribu sebulan. Murah."
Citra mengangguk. "Aku tinggal di rumah orang tua. Di kompleks perumahan."
"Berarti kamu orang Banjarmasin asli?"
"Iya. Aku lahir dan besar di sini. Orang tuaku dokter. Ayahku dokter spesialis jantung di RSUD Ulin Banjarmasin. Ibuku dokter umum di puskesmas."
Haikal tersentak. "Wah, hebat. Aku anak petani. Orang tuaku jualan sayur keliling."
Citra tersenyum. "Tidak masalah. Kedokteran tidak memandang latar belakang. Yang penting hati dan semangat."
Haikal mengangguk. Ia mulai merasa ada harapan.
Ospek mahasiswa baru berlangsung selama dua minggu. Haikal dikelompokkan dalam regu bernama "Ksatria Nusantara" bersama 15 mahasiswa lain. Citra menjadi ketua regu. Ada juga Jefri, anak Medan dengan logat batak yang kental dan suara keras. Rian, anak Banjarmasin yang pendiam tapi cerdas. Siska, anak Palembang yang centil dan suka bergosip. Dan Fahmi, anak Jawa Timur yang hobi bercerita.
"Halo, saya Jefri dari Medan. Saya anak pejabat. Ayah saya anggota DPRD. Jadi kalau ada masalah, bilang saja sama saya," kata Jefri saat perkenalan. Logat bataknya membuat semua orang tersenyum.
"Wah, hebat, Jefri. Kita anak orang biasa nih," sahut Siska sambil tertawa.
"Tidak masalah. Yang penting kita satu tim."
Haikal hanya diam. Ia tidak terbiasa dengan pergaulan yang cepat seperti ini. Di Kapuas, ia butuh waktu untuk dekat dengan Topan, Rina, dan Budi. Di sini, semua serba cepat. Nama-nama mudah dilupakan.
"Kamu Haikal, ya? Dari Kapuas?" tiba-tiba seorang lelaki duduk di sampingnya. Tubuhnya tegap. Wajahnya tampan. Senyumnya ramah.
"Iya. Kamu?"
"Ibnu. Dari Banjarmasin. Tapi keluarga besarku di Kapuas. Jadi kita sebenernya satu kampung."
"Wah, sungguh?"
"Iya. Keluarga besarku di Mantangai. Desa Sei Ahas. Kamu dari mana?"
"Sriwidadi. Eks transmigrasi."
"Wah, dekat itu. Kita tetangga."
Mereka berdua tertawa. Haikal merasa lega. Ada seseorang yang memiliki latar belakang mirip dengannya.
"Kal, nanti kalau liburan, kita pulang bareng, yuk. Aku ada motor. Bisa bonceng."
"Aku nggak punya motor, Ibnu. Cuma sepeda ontel."
"Sepeda ontel? Dari Kapuas ke Banjarmasin naik sepeda ontel?"
"Iya. Dulu waktu daftar SMA, aku naik sepeda ontel 75 kilometer dari desa ke Kapuas."
Ibnu terpana. "Keren banget, lo. Gue salut."
Malam harinya, di kos yang sempit, Haikal menelepon Ima. Ini sudah menjadi rutinitas sejak ia pindah ke Banjarmasin. Setiap malam, setelah sholat isya, ia akan menelepon Ima. Bercerita tentang hari-harinya. Mendengar cerita Ima tentang hari-harinya di Palangka Raya.
"Halo, Ima. Udah makan?"
"Udah, Kal. Kamu sendiri?"
"Belum. Baru pulang dari ospek. Capek banget."
"Jangan lupa makan. Kamu sekarang kurus banget."
"Kurus karena kangen kamu."
"Alaaa... jorok."
Mereka berdua tertawa. Tawa yang menghangatkan di tengah dinginnya malam Banjarmasin.
"Ima, aku punya teman baru. Namanya Citra. Dia baik. Anak dokter."
"Perempuan?"
"Iya."
Ima terdiam sejenak. Haikal bisa merasakan kecemburuan di ujung telepon.
"Cantik?"
"Biasa saja. Nggak secantik kamu."
"Bohong."
"Sumpah. Kamu yang paling cantik."
Ima tertawa. "Aku percaya."
"Kamu sendiri gimana? Punya teman baru?"
"Iya. Namanya Nanda. Dia anak Palangka Raya. Baik. Suka membantu."
"Perempuan?"
"Laki-laki."
Sekarang giliran Haikal yang terdiam. "Ganteng?"
"Biasa saja. Nggak seganteng kamu."
"Bohong."
"Sumpah. Kamu yang paling ganteng."
Mereka tertawa lagi. Cemburu kecil itu wajar. Tanda mereka saling peduli.
"Ma, aku kangen kamu."
"Aku juga kangen, Kal. Kapan kita bisa ketemu?"
"Mungkin liburan semester. Tiga bulan lagi."
"Lama sekali."
"Iya. Tapi kita kuat, kan?"
"Kita kuat."
Mereka mengucapkan selamat malam. Haikal mematikan telepon. Ia berbaring di kasur tipisnya. Memandang langit-langit yang retak. Mengingat-ingat wajah Ima.
"Mudah-mudahan cepat ketemu," bisiknya.
Hari-hari di fakultas kedokteran berjalan cepat. Haikal belajar anatomi, fisiologi, biokimia, dan puluhan mata kuliah lain yang membuat kepalanya terasa mau pecah. Ia terbiasa belajar hingga larut malam, terkadang hanya tidur 3-4 jam sehari.
"Kal, lo jangan begadang terus. Ntar sakit," kata Ibnu suatu malam saat mereka belajar bersama di perpustakaan fakultas.
"Aku harus belajar, Ibnu. Nilai ujian anatomi aku jeblok. Remedial lagi."
"Lo bisa. Lo anak pinter. Gue lihat lo selalu fokus."
"Fokus tapi hasilnya nol."
"Jangan pesimis."
Haikal menghela napas. Ia menatap buku Gray's Anatomy yang tebalnya seperti batu bata. Ratusan halaman harus ia hafal dalam waktu seminggu.
"Coba gue bisa seperti Citra. Nilainya selalu bagus."
"Citra anak dokter, Kal. Sejak kecil dia udah biasa dengan dunia kedokteran. Lo anak petani. Itu beda."
"Jadi gue harus berjuang lebih keras?"
"Iya. Tapi lo bisa. Gue percaya."
Haikal tersenyum. "Makasih, Ibnu."
"Sama-sama. Sekarang belajar lagi. Gue juga harus remedial."
Mereka berdua tertawa. Suara mereka pelan, tidak mengganggu mahasiswa lain yang sedang belajar.
Di Palangka Raya, Ima juga berjuang. Universitas Palangka Raya (Unpar) dengan Fakultas Keperawatannya tidak kalah berat. Ima harus belajar tentang anatomi tubuh manusia, teknik injeksi, perawatan luka, dan berbagai praktik keperawatan lainnya.
"Nanda, tolong ajari aku teknik injeksi ini. Aku masih bingung," kata Ima pada temannya saat praktikum di laboratorium keperawatan.
Nanda, laki-laki berkulit sawo matang dengan rambut agak keriting dan logat Palangka Raya yang kental, mendekat. "Lihat, Ima. Jarum harus masuk dengan sudut 45 derajat. Jangan terlalu dalam. Juga jangan terlalu dangkal."
"Mencoba."
Ima memegang jarum suntik. Tangannya gemetar. Nanda memegang tangannya perlahan.
"Tenang. Kamu bisa."
Ima menarik napas. Lalu menusukkan jarum ke lengan boneka peraga. Jarum masuk dengan sempurna.
"Bagus!" puji Nanda.
"Terima kasih, Nanda."
"Nggak masalah. Aku senang bisa membantu."
Nanda tersenyum. Ima membalas senyum itu. Tapi di hatinya, ia membayangkan Haikal. "Andai Haikal yang ada di sini."
Suatu malam, Ima tidak mengangkat telepon Haikal. Haikal mencoba berkali-kali, tapi tidak ada jawaban. Ia cemas. Ia mencoba menghubungi Nanda melalui media social, kebetulan Ima pernah memberinya nomor kontak Nanda untuk keadaan darurat.
"Halo, Nanda. Ada Ima di samping kamu?"
"Iya, ada. Dia sedang tidur. Kecapekan, katanya."
"Tolong bangunkan. Aku perlu bicara dengannya."
"Maaf, Haikal. Dia sudah tidur pulas. Kasihan kalau dibangunkan. Besok pagi saja, ya."
Haikal terdiam. Ada yang mengganjal di hatinya. Kenapa Nanda ada di dekat Ima malam-malam? Kenapa Ima tidak bilang bahwa Nanda akan datang? Kenapa?
"Baik. Besok pagi."
"Selamat malam, Haikal."
Telepon ditutup. Haikal tidak bisa tidur. Ia berguling-guling di kasur. Membayangkan Nanda dan Ima bersama. Membayangkan Nanda yang lebih dekat secara fisik daripadanya. Membayangkan Nanda yang setiap hari bisa melihat senyum Ima, sementara ia hanya bisa mendengar suaranya lewat telepon.
"Jangan cemburu, Haikal. Jangan cemburu," bisiknya pada diri sendiri.
Tapi cemburu tidak bisa dihindari. Cemburu adalah racun yang perlahan merusak hati.
Pagi harinya, Ima menelepon Haikal. Suaranya masih serak karena baru bangun tidur.
"Maaf, Kal. Aku ketiduran. Semalam praktikum terus sampai jam 10 malam. Terus Nanda nganter aku pulang. Aku kelelahan, langsung tidur."
"Nanda ada di kosmu?"
"Iya. Dia nungguin aku sampai aku masuk. Dia pulang setelah aku masuk."
"Kenapa dia nunggu? Kamu kan sudah dewasa."
"Hei, kenapa kamu marah?"
"Aku nggak marah."
"Suaramu tinggi."
"Aku hanya... khawatir."
"Khawatir atau cemburu?"
Haikal terdiam. Ima tahu dia cemburu.
"Kal, aku dan Nanda hanya teman. Aku tidak punya perasaan apa pun padanya. Kamu satu-satunya."
"Tapi dia..."
"Haikal, tolong percaya padaku. Aku dulu percaya padamu saat Citra mendekatimu."
Haikal tersentak. "Kamu tahu tentang Citra?"
"Aku tahu. Dari ceritamu. Tapi aku percaya kamu tidak akan mendekati perempuan lain."
Haikal menghela napas. "Maaf, Ma. Aku cemburu buta."
"Tidak apa-apa. Cemburu itu wajar. Tapi jangan berlebihan."
"Aku janji."
"Bagus. Sekarang kamu sarapan. Aku juga mau sarapan. Sampai malam, kita telepon lagi."
"Sampai malam."
Telepon ditutup. Haikal lega. Tapi perasaan cemas itu masih ada. Samar. Seperti asap yang tidak kunjung hilang.
Bulan berlalu. Haikal dan Ima semakin jarang berkomunikasi. Bukan karena mereka tidak sayang. Tapi karena kesibukan masing-masing. Haikal disibukkan dengan jadwal kuliah yang padat, tugas-tugas laboratorium, dan kegiatan organisasi kemahasiswaan. Ima disibukkan dengan praktikum keperawatan, magang di rumah sakit, dan tugas akhir semester.
Suatu malam, Haikal baru sempat menelepon Ima setelah dua minggu tidak berkomunikasi.
"Ma, maaf baru nelpon. Aku sibuk banget."
"Tidak apa-apa, Kal. Aku juga sibuk."
"Kamu baik-baik saja?"
"Aku baik."
"Benarkah? Suaramu aneh."
"Aku hanya ... lelah."
"Tidurlah."
"Iya. Kamu juga jangan begadang terus."
Mereka bicara sebentar. Lalu pamit. Tidak ada kalimat "aku sayang kamu" seperti biasanya. Tidak ada tawa. Hanya kepenatan.
Haikal mematikan telepon. Ia berbaring. Matanya menatap langit-langit.
"Apakah ini tanda-tanda? Apakah cinta kita mulai pudar?"
Ia tidak tahu. Yang ia tahu, jarak dan waktu adalah musuh terbesar cinta.
Di Palangka Raya, Ima juga merasakan hal yang sama. Ia mulai merasa bahwa hubungan jarak jauh ini sangat melelahkan. Bukan karena ia tidak mencintai Haikal. Tapi karena ia butuh kehadiran fisik. Ia butuh dipeluk saat lelah. Ia butuh didengar curhatnya secara langsung. Ia butuh seseorang yang bisa ia lihat setiap hari.
Dan Nanda selalu ada di sampingnya. Nanda yang setiap hari di kampus. Nanda yang membantunya praktikum. Nanda yang mengantarnya pulang setiap malam. Nanda yang selalu ada saat ia butuh.
"Ima, kamu baik-baik saja?" tanya Nanda suatu sore saat mereka duduk di taman kampus.
"Aku baik."
"Bohong. Matamu sembab. Kamu habis nangis."
Ima terdiam.
"Apa karena Haikal?"
"Iya. Aku rindu dia. Tapi aku juga lelah. Lelah dengan hubungan jarak jauh ini."
"Kamu harus bicara dengan Haikal. Jangan pendam sendiri."
"Aku takut. Takut jika aku bicara, dia akan marah. Atau dia akan sedih."
"Kamu nggak akan tahu sebelum mencoba."
Ima menghela napas. "Kamu baik, Nanda."
"Aku hanya teman yang peduli."
Nanda tersenyum. Ima membalas senyum itu. Tapi di hatinya, ia bingung. "Aku masih cinta Haikal. Tapi kenapa aku nyaman dengan Nanda?"
Liburan semester tiba. Haikal pulang ke Kapuas. Ia ingin segera bertemu Ima. Ia ingin memeluknya. Ia ingin menebus semua kerinduan yang tertahan selama berbulan-bulan.
"Ima, aku di terminal. Jemput aku, ya."
"Kamu sendiri? Bukannya aku bilang nanti aku ke Banjarmasin?"
"Aku pulang. Aku tidak sabar menunggumu."
"Haikal, aku..."
"Apa?"
"Tidak. Tidak apa-apa. Aku jemput."
Haikal menunggu di terminal. Tidak sabar. Dadanya berdebar. Ia membayangkan wajah Ima yang akan segera ia lihat.
Setelah 30 menit, Ima datang. Dengan motor barunya, hadiah dari ayahnya setelah toko Berkah Jaya mulai pulih sedikit demi sedikit.
Ima turun dari motor. Haikal mendekat. Ingin memeluknya.
Tapi Ima mundur selangkah.
"Ima, kenapa?"
"Haikal, kita harus bicara."
"Bicara apa?"
"Kita... aku... aku sudah lelah dengan hubungan jarak jauh ini."
Haikal terdiam. Dunianya seolah runtuh.
"Apa maksudmu?"
"Aku butuh seseorang yang ada di sampingku setiap hari. Bukan hanya lewat telepon. Aku butuh... aku butuh..."
"Nanda?"
Ima terdiam.
"Jadi kamu dan Nanda?"
"Tidak! Kita tidak pacaran. Tapi aku... aku bingung dengan perasaanku."
Haikal menghela napas. Ia berjalan ke trotoar. Duduk. Ima mengikutinya.
"Ima, aku mencintaimu. Sejak hari pertama kita bertemu di Simpang Camuh. Aku tidak pernah berhenti mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu, Kal. Tapi cinta saja tidak cukup."
"Trus apanya yang cukup?"
"Kehadiran. Sentuhan. Perhatian setiap hari. Semua yang tidak bisa kamu berikan karena jarak."
Haikal menunduk. Ia menangis.
"Jadi kita putus?"
"Aku tidak bilang putus. Aku hanya... butuh jeda."
Jeda. Kata yang menyakitkan. Tapi Haikal tidak bisa memaksa. Jika Ima butuh jeda, ia akan memberi jeda.
"Baik. Jeda. Berapa lama?"
"Aku tidak tahu."
Haikal berdiri. Ia menatap Ima. "Aku akan menunggumu. Sampai kapan pun."
"Haikal..."
"Aku janji. Di Simpang Camuh, aku akan menunggu."
Haikal berjalan pergi. Meninggalkan Ima yang duduk di trotoar, menangis.
Haikal kembali ke Banjarmasin dengan hati hancur. Ia tidak memberi tahu siapa pun tentang jeda hubungannya dengan Ima. Ia hanya diam. Belajar. Tidur. Ulang.
"Haikal, kamu kenapa? Kelihatan lesu," tanya Citra suatu hari di perpustakaan.
"Aku baik."
"Bohong. Matamu sembab."
"Kurang tidur."
"Kurang tidur atau kurang Ima?"
Haikal menatap Citra. Matanya tajam.
"Maaf. Aku tidak bermaksud ikut campur."
"Tidak apa-apa. Aku dan Ima jeda."
"Jeda? Kenapa?"
"Jarak. Waktu. Kesibukan."
Citra menghela napas. "Aku mengerti. Pacarku dulu juga jeda dengan aku karena jarak. Akhirnya putus."
"Jadi aku harus siap putus?"
"Aku tidak bilang begitu. Tapi kamu harus siap dengan kemungkinan terburuk."
Haikal terdiam. Ia tidak ingin memikirkan kemungkinan terburuk. Ia ingin optimis.
Di Palangka Raya, Ima semakin dekat dengan Nanda. Mereka sering belajar bersama. Makan bersama. Bahkan kadang Nanda mengantar Ima ke kosnya hingga larut malam.
"Nanda, aku bingung."
"Bingung kenapa?"
"Aku masih sayang Haikal. Tapi aku juga nyaman denganmu."
Nanda terdiam. "Aku tidak ingin merebutmu dari Haikal. Aku hanya... ada untukmu."
"Tapi perasaanmu ke aku?"
Nanda tidak menjawab.
"Iya?"
"Iya. Aku suka kamu, Ima. Sejak pertama kali kita bertemu di laboratorium keperawatan."
Ima menghela napas. "Kenapa kamu tidak bilang dari dulu?"
"Aku takut. Takut merusak persahabatan kita."
"Dan sekarang?"
Nanda menatap Ima. "Sekarang aku tidak tahu harus berkata apa."
Ima memegang tangan Nanda. "Aku juga bingung. Tapi tolong jangan membuatku semakin bingung."
"Maaf."
Ima berjalan ke kosnya. Meninggalkan Nanda yang berdiri di halaman, memandanginya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Dua bulan jeda. Haikal masih setia menunggu. Setiap malam, sebelum tidur, ia membuka foto Ima di ponselnya. Foto itu diambil saat mereka masih SMA, duduk di Simpang Camuh, lampu merah menyala di belakang mereka.
"Aku rindu kamu, Ma," bisiknya.
Ia ingin menelepon. Tapi ia ingat janji: memberi jeda. Ia tidak mau mengganggu.
Di suatu malam, ponselnya berdering. Ima.
"Haikal."
"Ima."
"Aku ingin bicara."
"Aku siap mendengar."
"Haikal, aku... aku memilihmu."
Haikal terkesiap. "Apa?"
"Aku memilihmu. Bukan Nanda. Aku sadar bahwa yang aku butuhkan bukan kehadiran fisik. Tapi kehadiran hati. Dan hatimu selalu ada untukku."
"Apa yang membuatmu sadar?"
"Nanda. Dia menyatakan perasaannya padaku. Dan aku sadar, aku tidak bisa membalasnya karena hatiku sudah terisi olehmu."
Haikal menangis. "Ima, aku..."
"Jangan bicara. Biarkan aku selesai. Aku minta maaf sudah membuatmu menunggu. Aku minta maaf sudah membuatmu sedih. Aku minta maaf karena hampir kehilanganmu. Mulai sekarang, tidak ada lagi jeda. Kita bersama. Selamanya."
"Aku mencintaimu, Ima."
"Aku juga mencintaimu, Haikal."
Mereka berdua menangis. Malam itu, mereka bicara berjam-jam. Menceritakan semua yang selama ini pendam. Menangis. Tertawa. Berjanji tidak akan saling meninggalkan.
Kabar baik itu ternyata tidak hanya datang dari Ima. Nilai ujian Haikal juga meningkat drastis. Ia berhasil memperbaiki nilai anatominya. Ia bahkan mendapatkan pujian dari dosen pembimbing karena kemajuan yang pesat.
"Haikal, kamu hebat. Kamu berhasil bangkit setelah jatuh," puji Citra.
"Terima kasih, Citra."
"Aku dengar kamu dan Ima baik lagi?"
"Siapa yang cerita?"
"Ibnu. Katanya dia lihat kamu teleponan semalam dengan wajah sumringah."
Haikal tersenyum. "Iya. Kita baikan."
"Bagus. Aku senang mendengarnya."
Ibnu yang ikut nimbrung, "Gue juga lagi baikan sama mantan. Dia minta balikan."
"Wah, selamat, Ibnu," kata Citra.
"Cuma gue ragu. Dia sudah selingkuh sekali. Mungkin akan selingkuh lagi."
"Terserah kamu. Tapi ingat, orang yang pernah selingkuh punya potensi selingkuh lagi."
"Kamu kayak psikolog aja."
"Aku kan calon dokter. Psikologi pasien itu penting."
Mereka bertiga tertawa. Haikal merasa lega. Teman-temannya selalu bisa membuatnya tersenyum.
Tahun pertama kuliah usai. Haikal dan Ima merencanakan pertemuan di Kapuas, di Simpang Camuh, tempat pertama kali mereka bertemu.
"Aku akan jemput kamu di terminal, Kal. Besok pagi," kata Ima lewat telepon.
"Jangan. Aku yang ke rumahmu."
"Kamu yakin?"
"Aku yakin. Aku ingin melihat ayahmu. Aku ingin meminta restu."
"If you say so."
Pagi harinya, Haikal tiba di terminal Kapuas. Ia naik bus dari Banjarmasin sejak subuh. Perjalanan 1 jam terasa sangat lama. Tapi setiap menit terasa berharga.
Ima sudah menunggu di terminal. Mereka berpelukan. Pelukan yang lama. Pelukan yang membayar semua kerinduan yang tertahan.
"Kita ke Simpang Camuh, yuk," kata Ima.
"Kenapa ke sana?"
"Kita harus merayakan. Cinta kita selamat meskipun jarak dan waktu mencoba memisahkan."
Mereka naik motor Ima menuju Simpang Camuh. Lampu merah menyala. Ima berhenti.
"Haikal."
"Apa?"
"Aku tidak akan pernah lagi meminta jeda. Janji."
"Aku juga tidak akan pernah lagi membiarkanmu pergi. Janji."
Lampu berganti hijau. Mereka melaju. Di trotoar Simpang Camuh, tempat mereka pertama kali bertemu, sepasang kekasih yang hampir putus karena jarak dan waktu, kini kembali bersatu.
BAB XI
Jatuh Bangun di Tanah Rantau
Tahun kedua kuliah di Fakultas Kedokteran Unlam terasa seperti naik roller coaster tanpa rem. Haikal yang dulunya hanya terbiasa dengan sawah dan sepeda ontel, kini harus berhadapan dengan mayat untuk pertama kalinya. Ruang mayat itu dingin. Sangat dingin. Bau formalin menyengat hidung hingga kadang terasa seperti pisau yang menusuk rongga terus menerus.
"Kamu siap, Kal?" tanya Ibnu sambil memakai sarung tangan latex. Wajahnya pucat, sama seperti mahasiswa lain di ruangan itu. Mereka semua berdiri mengelilingi meja bedah yang di atasnya terbaring sesosok mayat, hadiah dari keluarga pasien yang mendonorkan tubuhnya untuk ilmu pengetahuan.
Haikal menelan ludah. Perutnya mual. Selama hidupnya di desa, ia sudah sering melihat ayam dipotong, kambing disembelih, bahkan ikan yang masih menggelepar-gelepar di piring. Tapi mayat manusia? Ini pertama kalinya.
"Aku siap," jawab Haikal terbata-bata.
Dosen pembimbing, Prof. Dr. dr. Haryanto, Sp.BS, seorang ahli bedah saraf dengan kacamata tebal dan rambut putih di pelipis, memandang mahasiswanya satu per satu. "Anak-anak, hari ini kalian akan belajar tentang anatomi tubuh manusia secara langsung. Bukan dari buku. Bukan dari gambar. Tapi dari jasad yang sesungguhnya. Hargailah beliau yang telah mendonorkan tubuhnya untuk pendidikan kalian."
"Baik, Prof," jawab mahasiswa serempak.
Haikal menarik napas dalam-dalam. Profesor Haryanto mulai menjelaskan bagian-bagian tubuh: otot, tulang, saraf, pembuluh darah. Haikal mendengarkan dengan saksama, meskipun perutnya terus berontak.
"Haikal, coba kamu bedah bagian otot deltoid di lengan kiri."
Haikal mengangguk. Tangannya gemetar saat memegang pisau bedah. Ia mengiris perlahan. Kulit mayat itu terasa aneh, kenyal dan dingin. Darah yang sudah membeku berwarna kehitaman. Haikal menahan napas. Ia terus mengiris.
"Bagus," puji Prof. Haryanto. "Sekarang kamu lihat serat ototnya. Serat otot deltoid berbentuk seperti bulu. Fungsinya untuk mengangkat lengan ke samping."
"Siap, Prof."
Haikal terus belajar hingga dua jam. Ketika praktikum selesai, ia keluar ruangan dengan langkah sempoyongan. Ia langsung duduk di kursi koridor, mukanya pucat seperti mayat yang baru saja ia bedah.
"Lo nggak apa-apa, Kal?" tanya Citra sambil memberi sebotol air mineral.
"Aku... mual."
"Wajar. Pertama kali bedah mayat, semua orang mual. Aku dulu juga mual. Sampai muntah di lantai."
"Kok lo bisa bilang 'dulu'? Kita kan sama-sama pertama kali."
"Praktikum pertama di kelas. Tapi aku sudah sering lihat mayat di rumah sakit karena ikut ayah."
Haikal menghela napas. "Beruntung kamu."
"Bukan beruntung. Tapi privilege. Dan aku sadar itu."
Malam harinya, Haikal menelepon Ima. Suaranya masih terdengar lelah.
"Ma, aku baru selesai praktikum anatomi."
"Gimana rasanya?"
"Mual."
"Kamu muntah?"
"Enggak. Tapi hampir."
"Kuat, Kal. Kamu pasti bisa."
"Aku mencoba."
Ima tertawa kecil. "Haikal, kamu tahu? Aku juga praktikum keperawatan hari ini. Melatih injeksi intravena. Aku disuntik sama Nanda."
Haikal terdiam. Nama Nanda masih terasa perih di telinganya.
"Jangan cemburu, Kal. Itu praktikum."
"Aku tidak cemburu. Aku hanya... sedikit tidak nyaman."
"Kenapa tidak nyaman? Nanda sudah tidak suka padaku lagi. Dia sekarang pacaran dengan Sania, mahasiswi kedokteran gigi."
"Serius?"
"Serius. Dan aku lega. Sekarang kita hanya berteman."
Haikal lega. "Bagus. Berarti kita tidak perlu cemburu-cemburuan lagi."
"Bener. Sekarang kita fokus kuliah. Lulus. Terus nikah."
"Wah, lamaran, ya?"
"Bukan lamaran. Itu rencana."
"Rencana yang bagus."
Mereka tertawa. Haikal memejamkan mata. Membayangkan Ima di Palangka Raya, tersenyum untuknya.
Tapi rencana Tuhan seringkali berbeda dengan rencana manusia. Suatu pagi, Haikal jatuh di kamar mandi. Tangannya menginjak lantai yang licin. Tidak terasa sakit. Sama sekali tidak. Lalu ia bangkit. Memakai baju. Pergi ke kampus.
"Kal, lo kenapa tangannya belepotan?" tanya Ibnu saat mereka bertemu di gerbang fakultas.
Haikal melihat tangannya. Darah. Tangannya penuh darah. Tapi ia tidak merasakan apa-apa.
"Gue jatuh di kamar mandi. Tapi nggak sakit."
"Nggak sakit? Tangannya luka parah, itu!"
Haikal mengamati lengannya. Betul. Ada sobekan sekitar 5 sentimeter di lengan bawah kirinya. Kulitnya menganga. Dagingnya terlihat. Tapi anehnya, Haikal tidak merasakan apa pun.
"Gue harus ke unit kesehatan mahasiswa."
Mereka bergegas ke UKM. Dokter yang bertugas, seorang perempuan muda bernama dr. Nadia, langsung memeriksa luka Haikal.
"Haikal, ini luka cukup dalam. Kenapa kamu tidak merasakan sakit?"
"Saya tidak tahu, Dok. Saya juga heran."
- Nadia mengamati Haikal. Matanya serius. "Ada riwayat penyakit saraf di keluargamu?"
"Tidak ada, Dok."
"Pernah mengalami mati rasa di bagian tubuh tertentu? Atau kesemutan berkepanjangan?"
"Pernah. Beberapa kali. Tapi saya anggap biasa."
- Nadia menghela napas. "Haikal, saya sarankan kamu periksa ke dokter saraf. Bisa jadi ini gejala neuropati. Semoga tidak serius."
Haikal terdiam. Jantungnya berdebar tak karuan. Neuropati? Kelainan saraf? Ia ingat mimpinya menjadi dokter. Ia ingat janjinya pada Ima. Ia ingat semua perjuangannya selama ini.
"Dok, apakah ini berbahaya?"
"Tergantung penyebabnya. Bisa ringan. Bisa berat. Yang jelas, kamu harus segera memeriksakan diri."
Haikal mengangguk. Ia keluar ruangan dengan perasaan campur aduk. Ibnu menepuk bahunya.
"Lo kuat, Kal."
"Aku mencoba."
Haikal memeriksakan diri ke Rumah Sakit Umum Daerah Banjarmasin. Dokter saraf, dr. Miftah, Sp.S, seorang laki-laki paruh baya dengan wajah ramah, melakukan serangkaian tes: tes saraf, tes darah, hingga MRI.
Hasilnya baru keluar seminggu kemudian. Haikal duduk di ruang dokter dengan jantung berdebar. Ima sudah ia kabari. Ima menelepon setiap malam, menenangkannya, mendoakannya.
"Haikal," dr. Miftah memulai dengan suara lembut. "Hasil tes menunjukkan bahwa kamu menderita neuropati perifer. Saraf tepi di lengan bawah kiri dan kaki kanan kamu mengalami kerusakan ringan."
"Penyebabnya, Dok?"
"Kekurangan vitamin B kompleks dalam waktu lama. Kemungkinan karena pola makan yang tidak seimbang."
Haikal tersentak. Pola makan tidak seimbang. Selama ini ia hanya makan nasi dan sambal terasi. Kadang tempe. Kadang tahu. Daging? Hampir tidak pernah. Sayur? Sesekali.
"Apakah bisa disembuhkan, Dok?"
"Bisa. Asalkan kamu disiplin minum suplemen vitamin B, mengatur pola makan, dan istirahat cukup. Tapi kalau tidak dirawat, kerusakan saraf bisa meluas. Bisa menyebabkan kelumpuhan."
Dunia Haikal seperti runtuh. Kelumpuhan. Kata itu sangat menakutkan.
"Dok, saya masih kuliah. Saya masih harus belajar. Saya masih harus meraih mimpi."
- Miftah tersenyum. "Kamu masih bisa kuliah. Masih bisa belajar. Asalkan kamu menjaga kesehatan. Jangan abaikan sinyal dari tubuhmu."
"Siap, Dok."
Haikal keluar ruangan dengan resep vitamin B kompleks di tangan. Biayanya tidak murah. Satu bulan butuh hampir lima ratus ribu rupiah untuk membeli vitamin. Uang beasiswanya hanya cukup untuk kos dan makan.
"Bagaimana ini?" bisiknya.
Malam harinya, Haikal menelepon Ima. Ia menceritakan semuanya. Neuropati. Vitamin B. Biaya. Dan rasa takut yang menggunung di dadanya.
"Ima, aku takut."
"Takut apa, Kal?"
"Aku takut tidak bisa kuliah. Aku takut tidak bisa jadi dokter. Aku takut... kehilanganmu."
"Kamu tidak akan kehilangan aku. Kamu tidak akan berhenti kuliah. Dan kamu pasti akan jadi dokter. Kita akan cari jalan."
"Apa jalannya?"
"Aku akan kirim uang setiap bulan. Untuk vitaminmu."
"Tidak, Ima. Aku tidak mau membebanimu."
"Kamu tidak membebaniku. Kita ini pasangan. Kita harus saling membantu."
Haikal menangis. "Ima, aku malu. Seharusnya aku yang membantu kamu. Bukan sebaliknya."
"Tidak usah malu, Kal. Suatu hari, ketika kamu sudah jadi dokter, kamu bisa membantuku. Janji?"
"Janji."
Mereka berdua menangis di ujung telepon. Di kejauhan, suara azan magrib berkumandang. Haikal bergegas mengambil wudhu. Ia sholat dengan khusyuk. Memohon kesembuhan. Memohon kekuatan. Memohon agar mimpinya tidak mati.
Keesokan harinya, Haikal menemui Prof. Haryanto di ruangannya. Ia menceritakan kondisi kesehatannya dan kesulitan biaya untuk membeli vitamin.
"Prof, saya tidak ingin berhenti kuliah. Kedokteran adalah impian saya sejak kecil."
Profesor Haryanto mengamati Haikal. Matanya tajam, seperti saat membedah mayat di ruang praktikum. Tapi kali ini ada kehangatan di balik ketajaman itu.
"Haikal, saya dengar kamu anak desa. Naik sepeda 75 kilometer untuk daftar SMA. Juara lomba karya tulis. Dan sekarang kamu kuliah kedokteran dengan beasiswa."
"Iya, Prof."
"Kamu luar biasa. Banyak mahasiswa berasal dari keluarga berkecukupan, tapi tidak memiliki semangat sepertimu."
"Terima kasih, Prof."
"Untuk vitaminmu, jangan khawatir. Fakultas memiliki program bantuan kesehatan untuk mahasiswa kurang mampu. Saya akan uruskan."
"Benarkah, Prof?"
"Benar. Tugas saya bukan hanya mengajar. Tapi juga memastikan mahasiswa saya sehat dan bisa belajar dengan baik."
Haikal menangis. "Terima kasih, Prof. Saya tidak tahu harus membalas apa."
"Balaslah dengan menjadi dokter yang baik. Dokter yang melayani dengan hati. Bukan hanya dengan uang."
"Siap, Prof."
Haikal keluar ruangan dengan perasaan lega. Ada malaikat di mana-mana. Pak Bejo, Mang Udin, Bu Lastri, Pak Bram, Pak De, dan kini Prof. Haryanto. Semua orang membantunya tanpa pamrih.
Sementara Haikal berjuang dengan kesehatannya, Ima juga berjuang dengan praktik keperawatan di Rumah Sakit Palangka Raya. Magang adalah bagian dari kurikulum. Ima harus melayani pasien, membantu dokter, memeriksa tensi, memberi suntikan, membersihkan luka.
Suatu hari, seorang pasien jatuh di kamar mandi. Ima dan dua perawat lain berlari ke lokasi. Pasien itu laki-laki tua dengan riwayat stroke. Ia tergeletak di lantai dengan kepala berdarah.
"Cepat, angkat ke tempat tidur!" perintah kepala perawat, Bu Susi, seorang perempuan tangguh dengan suara lantang.
Ima membantu mengangkat pasien itu. Tangannya gemetar. Ini pertama kalinya ia menangani kasus darurat.
"Perawat Ima, bersihkan lukanya!" perintah Bu Susi lagi.
Ima mengambil peralatan medis. Ia membersihkan luka di kepala pasien itu. Darah mengucur. Ima menekan dengan kasa steril. Pasien itu mengerang kesakitan.
"Tenang, Pak. Saya di sini," bisik Ima.
Pasien itu menatap Ima. Matanya sayu. "Cucu saya dulu juga perawat. Dia meninggal dua tahun lalu karena Diabetes."
Ima terenyuh. "Saya turut berduka, Pak."
"Jaga diri baik-baik, Nak. Jangan sampai jatuh sakit seperti saya."
"Siap, Pak."
Setelah pasien itu stabil, Ima keluar ruangan. Ia duduk di koridor, menangis. Nanda yang kebetulan lewat mendekatinya.
"Ima, kamu nangis? Kenapa?"
"Aku teringat Haikal. Haikal sakit. Dan aku tidak bisa di sampingnya."
"Kamu sudah melakukan yang terbaik. Telepon saja dia nanti."
"Iya. Terima kasih, Nanda."
Nanda tersenyum. "Sama-sama."
Malam harinya, Ima menelepon Haikal. Suaranya masih serak karena menangis.
"Kal, aku kangen kamu."
"Aku juga kangen, Ima. Ada apa? Suaramu aneh."
"Aku baru selesai menangani pasien darurat. Dia jatuh di kamar mandi. Kepalanya berdarah."
"Kamu kuat, Ima. Pasti berat."
"Iya. Tapi aku ingat kamu. Kamu yang selalu kuat meskipun jatuh berkali-kali."
"Aku jatuh karena sepeda ontel, bukan karena sakit."
Ima tertawa kecil. "Kamu dan sepeda ontelmu."
"Sepeda ontel itu yang mempertemukan kita, Ima."
"Iya. Dan aku bersyukur."
Mereka berdua diam sejenak. Suara rindu mengisi celah keheningan.
"Haikal, aku sayang kamu."
"Aku juga sayang kamu. Lebih dari apa pun."
"Kapan kita bertemu?"
"Liburan semester. Dua bulan lagi."
"Lama sekali."
"Tapi kita kuat."
"Kita kuat."
Mereka berdua tersenyum meskipun tidak saling melihat.
Liburan semester tiba. Haikal pulang ke Kapuas. Ima juga pulang. Mereka bertemu di Simpang Camuh. Lampu merah menyala. Mereka berpelukan di trotoar.
"Aku rindu, Kal."
"Aku juga, Ma."
Mereka berjalan ke warung tenda Pak Ujang yang sudah pindah agak ke utara karena tempat sebelumnya dibangun toko baru. Topan, Rina, Budi, dan Rangga sudah menunggu. Wajah mereka semua berubah. Lebih dewasa. Lebih matang.
"Wah, presiden datang!" sapa Topan sambil memeluk Haikal.
"Presiden apanya?"
"Presidennya anak desa yang berhasil kuliah kedokteran!"
Semua tertawa.
"Topan, lo sekarang kerja di mana?" tanya Haikal.
"Bantu bapak jualan bakso. Tapi niatnya mau buka cabang di Banjarmasin."
"Wah, pinter. Rina?"
"Aku kerja di perpustakaan daerah. Sambil kuliah S1 Ilmu Perpustakaan."
"Budi?"
"Aku di dinas pertanian. PNS."
"Rangga?"
"Bantu ayah lagi bangun toko. Sekarang toko Berkah Jaya sudah buka lagi. Kerja sama keluarga Ima."
Haikal menatap Ima. Ima tersenyum.
"Ayah dan Pak Rangga sudah berdamai. Mereka sekarang partner bisnis."
"Alhamdulillah."
Mereka makan bakso bersama. Tertawa. Bercerita. Mengenang masa-masa SMA yang penuh drama. Haikal merasa bahagia. Melihat teman-temannya sukses. Melihat Ima tersenyum. Melihat Simpang Camuh yang masih sama.
Tapi kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Sepulang dari pertemuan, Haikal tiba-tiba jatuh di halaman kos Pak De. Kakinya tidak terasa. Ia berusaha berdiri, tapi gagal.
"Haikal! HAIKAL!" teriak Ima.
Pak De, Ahmad, dan Yusuf keluar. Mereka mengangkat Haikal. Wajah Haikal pucat. Bibirnya biru.
"Cepat bawa ke rumah sakit!" perintah Pak De.
Ahmad meminjam mobil tetangga. Mereka membawa Haikal ke RSUD dr. H. Soemarno Sosroatmajo Kuala Kapuas. Ima menangis di samping Haikal. Tangannya menggenggam erat tangan Haikal.
"Kal, jangan ninggalin aku."
"Tenang, Ima. Aku hanya... kecapekan."
"Kamu berbohong."
Haikal tersenyum lemah. "Aku tidak akan mati, Ima. Aku janji. Kita akan menikah. Kita akan punya anak. Kita akan tinggal di desa. Kita akan membuka klinik."
"Ingat janjimu, Haikal."
"Ingat."
Di rumah sakit, dokter memeriksa Haikal. Hasilnya menunjukkan bahwa neuropati Haikal mulai memburuk. Kerusakan saraf di kaki kanan sudah menjalar ke kaki kiri. Haikal sulit berjalan.
"Kamu tidak menjaga pola makan dan istirahat?" tanya dr. Miftah lewat telepon. Haikal meminta konsultasi jarak jauh.
"Saya sibuk kuliah, Dok. Ujian. Tugas. Praktikum. Saya tidak punya waktu istirahat."
"Lihatlah akibatnya. Sekarang kamu tidak bisa berjalan. Apakah kamu ingin lumpuh total?"
Haikal menangis. "Tidak, Dok."
"Mulai sekarang, kamu harus serius menjaga kesehatan. Istirahat cukup. Makan bergizi. Minum vitamin. Jika tidak, saya tidak bisa menjamin kamu bisa kembali kuliah."
Telepon ditutup. Haikal menatap langit-langit ruang perawatan. Ima di sampingnya, masih memegang tangannya.
"Ima, aku takut."
"Jangan takut. Aku di sini."
"Apa aku masih bisa jadi dokter? Apa aku masih bisa berjalan lagi?"
"Kamu pasti bisa. Aku percaya."
Ima memeluk Haikal. Haikal menangis di bahu Ima. Malam itu, untuk pertama kalinya, Haikal meragukan mimpinya.
Berita Haikal jatuh sakit menyebar hingga ke desa Sriwidadi. Pak Sugeng dan Bu Ratna datang ke Kapuas. Wajah mereka cemas.
"Nak, kenapa kamu tidak bilang?" tanya Bu Ratna sambil memeluk Haikal.
"Aku tidak mau Ibu khawatir."
"Ibu, ibumu, Nak. Tugas ibu ya khawatir."
Pak Sugeng hanya diam. Matanya menerawang ke jendela. Ia memegang tangan Haikal erat.
"Nak, Bapak dulu juga pernah sakit. Hampir mati. Tapi Bapak bertahan. Karena Bapak ingat keluarga."
"Bapak sakit apa?"
"Malaria. Waktu masih transmigrasi. Bapak dirawat di tenda darurat. Tidak ada obat. Hanya jamu."
"Bapak sembuh."
"Iya. Karena Bapak tidak menyerah. Kamu juga jangan menyerah."
Haikal menangis. "Saya janji, Pak."
Di ruangan yang sama, Ibu Yolanda dan Pak Dadang datang menjenguk. Pak Dadang membawa buah tangan dan uang untuk biaya pengobatan.
"Haikal, jangan khawatir soal biaya. Kami akan bantu," kata Pak Dadang.
"Terima kasih, Pak. Saya tidak pantas."
"Kamu pantas. Kamu anak baik. Kamu sudah membantu Ima. Sekarang giliran kami membantumu."
Bu Yolanda menambahkan, "Haikal, kamu menantu idaman kami. Jangan sampai sakitmu menghalangi pernikahan kalian nanti."
Haikal tersenyum. "Saya akan sembuh, Bu. Saya janji."
Ima memegang tangan Haikal. "Kita akan melewati ini bersama."
"Bersama."
Haikal di rujuk, kini terbaring di ruang ICU Rumah Sakit Angkatan Udara Banjarmasin selama sepuluh hari. Tubuhnya dipenuhi selang infus dan monitor. Wajahnya masih bengkak. Kepalanya masih tertutup perban tebal. Ima tidak pernah meninggalkannya siang dan malam. Ia hanya pulang ke hotel dekat rumah sakit untuk mandi dan berganti pakaian, itu pun hanya setengah jam, lalu kembali lagi.
"Halo, Kal. Aku di sini," bisik Ima setiap pagi sambil memegang tangan Haikal yang dingin. "Hari ini hari kedelapan. Kamu belum bangun. Tapi aku yakin kamu dengar suaraku."
Di hari kesebelas, jari Haikal bergerak. Ima yang sedang membacakan Al-Qur'an terperanjat.
"Haikal? Haikal, kamu dengar aku?"
Bola mata Haikal bergerak di balik kelopaknya yang tertutup. Perlahan, ia membuka mata. Sinar pertama yang ia lihat adalah wajah Ima yang sembab karena menangis.
"Ma... maaf... aku... bikin kamu... khawatir lagi..."
Ima tidak bisa berkata-kata. Ia hanya menangis dan memeluk Haikal sekencang mungkin, meskipun dilarang perawat karena luka Haikal masih basah.
Dokter Taufik, Sp.B, menjelaskan kondisi Haikal dengan sangat rinci di ruang konsultasi. Ima, Pak Sugeng, Bu Ratna, "Kondisi Haikal cukup parah," kata dr. Taufik sambil menunjukkan hasil CT scan. "Ada patah tulang rusuk sebelah kiri tiga tempat, patah tulang panggul, dan cedera otak ringan. Syaraf di kaki kirinya juga mengalami kompresi. Butuh waktu lama untuk pulih total. Mungkin enam bulan hingga satu tahun."
Bu Ratna menangis. Pak Sugeng menggigit bibirnya, menahan tangis.
"Apakah anak saya bisa berjalan lagi, Dok?" tanya Pak Sugeng dengan suara parau.
"Itu tergantung proses fisioterapi dan semangat pasien. Kemungkinannya ada. Tapi tidak instan. Bisa bertahap, mulai dari duduk, merangkak, berdiri dengan bantuan, lalu berjalan."
Ima menggenggam tangan mertuanya. "Ibu percaya Haikal bisa. Dia pejuang."
Seminggu kemudian, Haikal dipindahkan dari ICU ke ruang rawat inap biasa. Tubuhnya masih lemah. Ia belum bisa duduk sendiri. Setiap gerakan sekecil apa pun terasa menyakitkan, terutama di bagian panggul dan tulang rusuknya.
"Hari ini kita mulai fisioterapi ringan," kata Pak Rudi, fisioterapis berbadan tegap dan berkumis tebal, yang sudah ditugaskan khusus untuk Haikal. "Kita mulai dari latihan pernapasan dulu. Karena tulang rusuk kamu belum sepenuhnya menyatu."
Haikal mengangguk lemah.
"Tarik napas dalam... tahan... lalu hembuskan perlahan... ulangi sepuluh kali."
Haikal mencoba. Tarikan napas pertama saja sudah membuat dadanya terasa ditusuk-tusuk. Wajahnya memerah. Matanya mengeluarkan air mata karena kesakitan.
"Kamu kuat, Kal," kata Ima di sampingnya.
"Sakit, Ima... sakit sekali..."
"Iya. Tapi kamu bisa."
Setelah sepuluh kali latihan pernapasan, Haikal kelelahan. Ia tertidur selama dua jam. Ima tidak meninggalkannya.
Latihan duduk dimulai pada pekan kedua pasca operasi. Haikal masih terbaring telentang selama hampir tiga minggu, sehingga otot-otot punggung dan perutnya melemah drastis.
"Tujuan kita hari ini: kamu bisa duduk selama lima menit tanpa bantuan," kata Pak Rudi sambil menyetel tempat tidur Haikal ke posisi semi-duduk.
"Lima menit?" tanya Haikal. "Aku bahkan sulit bernapas."
"Kita mulai dari satu menit dulu."
Haikal berusaha menopang tubuhnya dengan tangan kanannya—karena tangan kiri masih luka bekas operasi pemasangan pen pada tulang rusuk. Satu menit pertama ia mampu. Menit kedua, tubuhnya mulai gemetar. Menit ketiga, ia jatuh ke belakang.
"Tidak apa-apa. Besok kita ulangi."
Ima yang menyaksikan dari sudut ruangan ikut gemetar menahan tangis.
"Ma, kamu boleh nangis," kata Haikal.
"Aku nggak nangis," jawab Ima sambil mengusap matanya.
"Hidungmu merah."
"Itu karena dingin."
Mereka tersenyum meskipun sakit.
Hari ke-25 pasca operasi, Haikal dipindahkan ke ruang fisioterapi. Ruangan itu dilengkapi dengan matras tebal, palang besi untuk latihan berjalan, dan cermin besar di dinding.
"Hari ini kita belajar merangkak," kata Pak Rudi.
Haikal tertawa kecil, lalu meringis karena sakit. "Merangkak? Aku bukan bayi."
"Bayi belajar merangkak sebelum berjalan. Kamu juga harus begitu. Otot-ototmu sudah lemah karena terlalu lama di tempat tidur. Harus dilatih dari dasar."
Haikal menunduk. Ada rasa malu di hatinya. Bagaimana mungkin seorang calon dokter yang dulu bisa bersepeda 75 kilometer, kini harus belajar merangkak seperti bayi?
Ima seolah membaca pikirannya. "Tidak ada yang perlu malu, Kal. Ini bagian dari proses."
"Tapi Ima..."
"Kamu dulu naik sepeda ontel 75 kilometer. Kamu pernah. Kamu bisa lagi."
Haikal menarik napas panjang. Ia merangkak. Satu meter. Dua meter. Badannya terasa berat. Lututnya lecet. Telapak tangannya melepuh. Tapi ia terus merangkak. Lima meter. Sepuluh meter.
"Itu bagus, Kal!" seru Pak Rudi.
Setelah sesi merangkak selama satu jam, Haikal kelelahan. Ia tidur di matras. Ima membawakan bantal dan selimut. Ia membiarkan Haikal tidur di sana selama satu jam.
Setelah cukup kuat merangkak, tantangan berikutnya adalah berlutut. Ini penting untuk membangun kekuatan otot paha dan keseimbangan.
"Berlutut, Kal. Tahan sepuluh detik," perintah Pak Rudi.
Haikal mencoba. Lutut kirinya gemetar. Panggulnya yang masih dalam masa penyembuhan terasa seperti diremas-remas. Ia hanya bertahan empat detik sebelum jatuh terduduk.
"Besok kita coba lagi."
Hari kedua: enam detik.
Hari ketiga: delapan detik.
Hari kelima: lima belas detik.
Haikal menangis setelah berhasil bertahan selama lima belas detik. Bukan karena sakit, tapi karena bahagia. Ia merasa ada kemajuan. Kecil, tapi nyata.
"Aku bisa, Ma."
"Aku tahu kamu bisa."
Dua bulan berlalu. Haikal masih di rumah sakit. Biaya mulai membengkak, bahkan dengan bantuan asuransi dan donasi. Tapi Ima tidak pernah mengeluh. Ia menjual motor matic kesayangannya untuk menambah biaya perawatan. Ia tidak memberi tahu Haikal. Haikal baru tahu setelah ia keluar dari rumah sakit, dua bulan kemudian.
"Hari ini kita coba berdiri dengan bantuan palang," kata Pak Rudi.
Haikal dibantu untuk duduk di tepi tempat tidur. Kakinya diayunkan ke samping. Ia memegang palang besi di depannya.
"Sekarang, coba angkat tubuhmu. Pegang palang erat-erat."
Haikal mengangkat tubuhnya dengan tangan. Tangannya gemetar hebat. Kaki kirinya masih belum bisa menahan beban penuh. Ia hanya mampu berdiri selama tiga detik sebelum jatuh kembali ke tempat tidur.
"Itu sudah hebat," kata Pak Rudi. "Hari pertama langsung bisa tiga detik. Beberapa pasien baru bisa di minggu kedua."
Haikal tidak merasa hebat. Ia merasa lemah. Ia merasa marah pada tubuhnya sendiri.
"Mengapa sulit sekali, Ma?" tanyanya pada Ima malam itu.
"Karena tubuhmu sedang berjuang, Kal. Jangan marah padanya. Bantu dia."
"Aku capek."
"Aku tahu. Tapi kita tidak punya pilihan selain terus berjuang."
Haikal sudah bisa berdiri dengan bantuan palang selama tiga puluh detik. Kini ia harus belajar berjalan dengan bantuan walker, alat penopang empat kaki.
"Langkah pertama, kaki kanan... lalu kaki kiri... pelan-pelan."
Haikal melangkahkan kaki kanannya. Kaki kirinya tidak kuat menahan beban. Ia jatuh. Lututnya membentur lantai. Pak Rudi dan Ima segera menolongnya.
"Tidak apa-apa. Coba lagi," kata Pak Rudi.
Haikal mencoba lagi. Jatuh lagi. Mencoba lagi. Jatuh lagi.
Dalam satu sesi, ia jatuh sebelas kali.
Malamnya, Haikal menangis di ruang rawat. Ima memeluknya.
"Aku tidak akan bisa berjalan lagi, Ima."
"Kamu akan bisa."
"Sudah tiga bulan, Ima. Aku masih begini."
"Tiga bulan itu belum apa-apa. Ayahmu dulu jatuh dari pohon kelapa. Enam bulan baru bisa jalan. Kamu lebih muda dari ayahmu. Kamu pasti lebih cepat."
Haikal tidak menjawab. Ia hanya menangis di bahu Ima.
Hari ke-110 pasca kecelakaan jatuh. Haikal sudah bisa berdiri dengan walker selama dua menit. Kini ia mencoba berjalan.
"Satu... dua... tiga..." hitung Pak Rudi di belakangnya.
Haikal melangkah. Kaki kanan maju. Kaki kiri menggeser.
Empat... lima...
Haikal berhenti. Tubuhnya gemetar. Peluhnya bercucuran.
"Lima langkah, Kal!" seru Ima dari samping.
"Itu belum apa-apa," kata Haikal, tapi senyumnya tidak bisa disembunyikan.
"Lima langkah pertama adalah yang paling berat. Selanjutnya akan lebih mudah."
Haikal sudah bisa berjalan dengan walker sejauh 50 meter. Pak Rudi memutuskan untuk mengganti alat bantu dari walker menjadi dua tongkat.
"Ini akan terasa lebih sulit karena keseimbanganmu harus benar-benar stabil."
Haikal memegang kedua tongkat. Ia melangkah. Kaki kanan, kaki kiri, kaki kanan, kaki kiri. Tubuhnya masih oleng seperti perahu di ombak besar.
"Jangan lihat kaki. Lihat ke depan," perintah Pak Rudi.
Haikal menatap cermin di depannya. Ia melihat bayangannya sendiri. Seorang laki-laki kurus dengan rambut tipis, wajah pucat, dan tubuh yang gemetar. Tapi matanya menyala.
"Aku bisa," bisiknya pada bayangan itu.
Ia melangkah lagi. Sepuluh langkah. Dua puluh langkah. Lima puluh langkah. Ia berhenti di depan cermin, menyentuh kacanya.
"Aku tidak akan menyerah."
Setelah dua bulan menggunakan dua tongkat, Haikal mulai beralih ke satu tongkat. Tangan kanannya memegang tongkat, tangan kirinya bebas.
"Keseimbanganmu sudah cukup baik. Sekarang kita latih kepercayaan diri."
Haikal berjalan di koridor rumah sakit. Pasien lain menatapnya. Ada yang tersenyum, ada yang mengangguk memberi semangat.
"Dia pejuang," bisik seorang perawat pada rekannya.
Haikal mendengar. Dadanya membusung. Ia terus berjalan. Satu putaran koridor. Dua putaran koridor. Hingga akhirnya ia bisa berjalan sepanjang 200 meter tanpa istirahat.
Malamnya, Ima memasak mie instan di ruang tamu rumah sakit, dengan izin perawat tentunya. Haikal makan dengan lahap. Untuk pertama kalinya dalam enam bulan, ia duduk di kursi, bukan di ranjang, bukan di kursi roda.
"Ma, rasanya enak sekali."
"Mie instan biasa."
"Tapi rasanya seperti makanan bintang lima."
Ima tersenyum. "Karena kamu lapar. Karena kamu berjuang. Semua rasa jadi lebih nikmat."
Hari itu, tanggal 15 Maret, tepat dua ratus sebelas hari sejak jatuh. Haikal berdiri di depan cermin ruang fisioterapi. Tidak ada walker. Tidak ada tongkat. Hanya tubuhnya sendiri.
"Kamu siap?" tanya Pak Rudi.
Haikal mengangguk. Tangannya gemetar. Kakinya dingin. Bibirnya kering.
"Ma, pegang tanganku," pinta Haikal.
Ima memegang tangan Haikal. Kedua tangan mereka bergenggaman erat.
"Lepas sedikit demi sedikit, Ima. Jangan langsung."
Ima melepas genggamannya perlahan. Tangan kiri Haikal bebas. Tangan kanannya masih ia genggam.
"Langkah, Kal."
Haikal melangkah. Kaki kanan maju. Tubuhnya oleng ke kanan, tapi ia menyeimbangkan dengan tangan kirinya.
"Langkah lagi."
Kaki kiri maju.
Haikal tersenyum. Air matanya jatuh.
Ia melepas genggaman tangan Ima sepenuhnya. Ia berdiri sendiri. Ia melangkah sendiri.
Satu langkah. Dua langkah. Tiga langkah. Empat langkah. Lima langkah.
Haikal berdiri di tengah ruangan, tanpa bersandar pada apa pun. Ima menangis. Pak Rudi tersenyum puas.
"KAMU BERJALAN, KAL!" teriak Ima.
"IYA, IMA. AKU BERJALAN!"
Mereka berpelukan. Pak De, Topan, Rina, Budi, dan Rangga yang datang menjenguk ikut menangis. Semua orang di ruang fisioterapi bertepuk tangan. Pasien-pasien lain yang sedang terapi ikut bersorak.
"Selamat, Dokter!" seru seorang pasien paruh baya.
"Selamat, Bang!" teriak yang lain.
Haikal menangis di pundak Ima.
"Aku berjalan lagi, Ma."
"Kamu hebat, Kal."
"Aku tidak hebat. Aku hanya tidak mau menyerah. Karena kamu ada di sampingku."
Malam itu, di kamar rawatnya yang kini sudah berpindah ke ruang pemulihan, Haikal menulis surat untuk Ima. Bukan dengan komputer atau ponsel, tapi dengan pulpen dan kertas, seperti yang biasa ia lakukan dulu.
Tangannya masih gemetar sisa-sisa neuropati. Tulisannya tidak rapi. Beberapa huruf bahkan tidak terbaca. Tapi tidak masalah. Ima akan mengerti.
Ima,
Hari ini aku berjalan. Aku berjalan tanpa tongkat. Aku berjalan tanpa pegangan. Aku berjalan karena kamu tidak pernah melepaskanku.
Aku ingat dulu, saat SMA, setelah kau tabrak aku di Simpang Camuh, kau bilang: "Maafkan aku." Aku bilang: "Tidak perlu minta maaf. Memang sudah takdir kita bertemu di sini."
Sekarang aku tahu, bahwa pertemuan itu bukan kebetulan. Bahwa setiap sakit yang kurasakan, setiap jatuh yang kualami, setiap tangis yang keluar dari mataku, semua itu adalah proses untuk menjadikanku lebih kuat.
Kamu adalah bagian terkuat dari proses itu, Ima.
Terima kasih untuk setiap malam yang kau habiskan di kursi plastik rumah sakit ini. Terima kasih untuk setiap sendok bubur yang kausuapkan ke mulutku saat aku tidak bisa menggerakkan tangan. Terima kasih untuk setiap doa yang tidak pernah putus kau panjatkan untukku.
Aku akan sembuh. Aku akan kuliah lagi. Aku akan jadi dokter. Dan aku akan mengabdi di desa. Bukan untuk diriku sendiri. Tapi untuk orang-orang yang membutuhkan. Untuk membalas semua kebaikan yang telah kuterima.
Dan untukmu, Ma... aku akan menjadi suami yang lebih baik. Suami yang tidak mudah menyerah. Suami yang selalu ingat bahwa di balik setiap keberhasilanku, ada kau yang berdoa.
Sampai kita bertemu lagi di Simpang Camuh. Atau di mana pun Tuhan mempertemukan kita.
Milikmu,
Haikal
Haikal melipat surat itu. Memasukkannya ke amplop cokelat. Lalu menyimpannya di dalam Al-Qur'an yang selalu ia baca setiap malam, Al-Qur'an pemberian Ima saat pertama kali ia masuk rumah sakit.
Besok, ia akan pulang ke desa untuk pertama kalinya dalam tujuh bulan. Besok, ia akan memulai babak baru dalam hidupnya.
Dan ia tidak akan pernah menyerah pada mimpi. Tidak akan pernah.
BAB XII
Sebuah Kecelakaan Lagi — Tapi Bukan di Simpang Camuh
Tiga semester telah berlalu sejak Haikal jatuh sakit. Kini ia sudah berada di semester enam. Tubuhnya memang belum sepenuhnya pulih, kadang kaki kanannya masih terasa kebas, terutama saat musim hujan tiba, tapi ia sudah bisa berjalan tanpa tongkat. Bahkan, ia sudah mulai bersepeda lagi. Bukan sepeda ontel yang dulu, karena sepeda itu sudah ia titipkan di rumah Ima. Kini ia bersepeda gunung bekas pemberian dari Prof. Haryanto.
"Kamu harus olahraga, Haikal. Sepeda adalah olahraga yang baik untuk sarafmu," kata Prof. Haryanto saat memberikan sepeda itu. Haikal menangis haru. Beliau bukan hanya dosen, tapi juga seperti ayah kedua baginya.
Setiap pagi, Haikal bersepeda dari kosnya di Jalan Pangeran Antasari menuju kampus di Jalan Brigjen H. Hasan Basry. Jaraknya sekitar 5 kilometer, tidak sejauh dulu dari Sriwidadi ke Kapuas, tapi cukup untuk membuatnya berkeringat dan merasa hidup.
"Kal, lo hari ini semangat banget," sapa Citra saat Haikal memasuki ruang kuliah dengan napas tersengal-sengal tapi mata berbinar.
"Hidup ini harus dinikmati, Cit. Setiap napas adalah anugerah."
"Filosofis amat. Habis baca buku motivasi lagi, ya?"
"Bukan. Habis lihat sunrise di atas jembatan."
Citra tersenyum. "Kamu romantis. Ima beruntung punya kamu."
"Bukan aku yang beruntung. Ima. Ima yang sabar menghadapi aku yang sakit-sakitan."
"Kamu tidak sakit-sakitan lagi, kal. Kamu sudah sehat."
Haikal menghela napas. "Belum sepenuhnya. Tapi aku percaya suatu hari nanti aku akan sembuh total."
Dosen masuk. Kuliah dimulai. Haikal membuka buku catatannya. Halaman demi halaman ia tulis dengan rapi. Tangannya kadang gemetar, efek sisa neuropati, tapi ia tidak pernah berhenti menulis.
Di Palangka Raya, Ima juga semakin mantap dengan kuliah keperawatannya. Ia kini sudah berada di semester akhir. Praktik kerja lapangan (PKL) di RSUD Palangka Raya membuatnya hampir setiap hari berada di rumah sakit.
"Ima, pasien di ruang 5 butuh ganti balutan," perintah kepala ruangan, Bu Rina, seorang perempuan tegas dengan rambut pendek dan tatapan tajam.
"Siap, Bu."
Ima bergegas ke ruang 5. Pasiennya seorang laki-laki paruh baya dengan luka bakar di sekujur tubuh. Korban kebakaran rumah di Jalan Tjilik Riwut. Ima membersihkan luka itu dengan lembut. Pasien itu mengerang kesakitan.
"Tenang, Pak. Hampir selesai."
"Kamu perawat yang baik, Nak. Lembut."
"Terima kasih, Pak."
Ima selesai mengganti balutan. Ia keluar ruangan. Di koridor, ia bertemu dengan seorang perawat laki-laki bernama Rama, anak asli Palangka Raya yang sudah bekerja di rumah sakit itu selama 3 tahun. Wajahnya tampan, sikapnya ramah, dan semua pasien menyukainya.
"Ima, kamu pintar. Kamu cepat belajar," puji Rama.
"Terima kasih, Mas Rama. Saya masih banyak belajar."
"Kamu lulus nanti, mau kerja di sini?"
"Insya Allah. Tapi saya rencana mau ikut suami ke desa."
"Suami? Kamu sudah menikah?"
"Belum. Tapi sudah ada calon."
Rama tersenyum. "Beruntung dia."
Ima balas tersenyum. Tapi di hatinya, ia membayangkan Haikal. Haikal yang masih berjuang di Banjarmasin. Haikal yang kadang tidak bisa menelpon karena sibuk belajar. Haikal yang ia rindukan setiap detik.
Suatu sore, Haikal menerima telepon dari ibunya. Suara Bu Ratna terdengar parau. Bukan seperti biasanya yang ceria.
"Nak, Ibu mau bilang sesuatu."
"Apa, Ma?"
"Ayahmu... ayahmu jatuh dari pohon kelapa kemarin."
Dunia Haikal seperti berhenti berdetak. Jantungnya berdebar kencang. Tangannya gemetar memegang ponsel.
"Jatuh dari pohon kelapa? Kenapa Ayah naik pohon kelapa? Padahal sudah tua."
"Kita butuh uang, Nak. Harga kelapa sedang tinggi. Ayahmu ingin membantu biaya kuliahmu."
"Tapi aku punya beasiswa, Ma. Aku juga dapat kiriman dari Ima. Kenapa Ayah nekat?"
"Ayahmu tidak mau terus-terusan dikirimi Ima. Katanya dia malu. Dia ingin membantumu dengan caranya sendiri."
Haikal menangis. "Ayah di mana sekarang? Di rumah sakit?"
"Di Puskesmas Mantangai. Kakinya patah. Dokter bilang harus dioperasi."
"Operasi? Biayanya berapa?"
"Lima belas juta."
Haikal terdiam. Lima belas juta. Uang sebanyak itu tidak pernah ia bayangkan dalam hidupnya. Beasiswanya hanya cukup untuk biaya hidup. Tabungannya hampir habis untuk biaya berobat sendiri dulu. Ima sudah sering mengirim uang, tapi ia tidak mau terus-terusan bergantung pada Ima.
"Aku akan cari uang, Ima. Biaya operasi ayah tanggung jawab aku."
"Kamu jangan berhenti kuliah, Nak."
"Aku tidak akan berhenti kuliah. Aku akan cari kerja sambil kuliah."
Telepon ditutup. Haikal duduk di lantai kos. Tubuhnya lemas. Pikirannya kacau.
Haikal mulai mencari pekerjaan. Ia ingin menjadi asisten praktikum di fakultas, tapi posisinya sudah penuh. Ia ingin menjadi tutor les privat, tapi ia tidak punya koneksi. Ia ingin menjadi ojek online, tapi ia tidak punya motor.
"Menyedihkan," bisiknya.
Ibnu yang melihat Haikal sedang murung mendekat. "Kal, lo kenapa? Cerita."
"Ayahku jatuh dari pohon kelapa. Kakinya patah. Butuh biaya operasi 15 juta."
Ibnu terkejut. "15 juta? Itu besar."
"Aku tahu. Aku sedang bingung mencari uang."
"Aku punya ide. Lo jago nulis, kan? Dulu lo juara lomba karya tulis. Lo bisa coba daftar jadi penulis lepas di majalah atau koran."
"Penulis lepas?"
"Iya. Coba hubungi redaksi majalah kesehatan. Atau koran lokal. Mereka pasti butuh tulisan tentang kesehatan."
Haikal berpikir. Selama ini ia hanya sibuk belajar, tidak pernah memikirkan menulis untuk publik. Tapi Ibnu benar. Ia punya kemampuan menulis. Mungkin itu bisa jadi jalan keluar.
"Aku akan coba. Terima kasih, Ibnu."
"Sama-sama. Lo jangan menyerah, Kal."
Haikal mulai menulis. Artikel pertama tentang neuropati, pengalamannya sendiri. Ia kirim ke majalah kesehatan "Sehat Nusantara". Dua minggu kemudian, artikelnya dimuat. Honor yang diberikan: lima ratus ribu rupiah.
"Lima ratus ribu," gumam Haikal sambil memegang amplop cokelat dari redaksi. Rasanya campur aduk. Senang karena berhasil mendapat honor. Sedih karena masih jauh dari 15 juta yang ia butuhkan.
Tapi ia tidak menyerah. Ia menulis lagi. Artikel kedua tentang transmigrasi, yang dulu menjadi tema karya tulisnya. Artikel ketiga tentang pendidikan anak desa. Artikel keempat tentang perjuangan mahasiswa rantau.
Setiap bulan, ia mendapat honor antara satu hingga dua juta rupiah. Lumayan. Tapi masih jauh dari cukup.
"Kamu hebat, Kal," puji Citra setelah membaca artikel Haikal di majalah. "Tulisannya bagus. Jujur. Menyentuh."
"Terima kasih, Cit. Tapi masih kurang. Aku butuh 15 juta untuk operasi ayahku."
"Kenapa kamu tidak buka donasi saja? Atau crowdfunding?"
"Apa itu crowdfunding?"
"Penggalangan dana online. Kamu cerita kondisi ayahmu. Nanti orang-orang akan donasi."
Haikal mengerutkan kening. "Apakah itu halal?"
"Halal. Asalkan jujur dan tidak berlebihan."
"Aku akan coba."
Haikal membuat akun di platform crowdfunding. Ia menulis kisah ayahnya dengan jujur: petani sederhana yang jatuh dari pohon kelapa karena ingin membantu biaya kuliah anaknya. Ia lampirkan foto ayahnya di puskesmas. Foto Pak Sugeng terbaring dengan kaki diperban, wajahnya penuh kerutan dan keringat.
Cerita itu viral di kalangan mahasiswa Unlam. Banyak yang ikut menyebarkan. Tak lama, donasi mulai masuk.
Citra memberi 1 juta. Ibnu 500 ribu. Jefri 2 juta. Rian 300 ribu. Siska 200 ribu. Fahmi 100 ribu. Dosen-dosen pun ikut. Prof. Haryanto memberi 5 juta. dr. Nadia 500 ribu.
Dalam waktu dua minggu, dana terkumpul 20 juta. Melebihi target.
Haikal menangis. Ia tidak percaya. Orang sebanyak itu peduli padanya.
"Terima kasih, semuanya. Saya tidak tahu cara membalas kebaikan kalian," kata Haikal di grup kelas.
"Balas dengan jadi dokter yang baik dan mengabdi pada masyarakat," jawab Prof. Haryanto.
"Siap, Prof."
Haikal segera mentransfer uang ke RSUD. dr. Soemarno Sosroatmajo. Operasi ayahnya berjalan lancar. Pak Sugeng sekarang sudah bisa berjalan lagi dengan tongkat.
"Nak, Bapak malu. Bapak jadi beban," kata Pak Sugeng lewat telepon.
"Bapak bukan beban. Bapak pejuang. Bapak yang mengajari saya arti kerja keras."
"Kamu akan jadi dokter hebat, Nak. Bapak yakin."
"Amin, Pak."
Ima yang mendengar kabar itu ikut bahagia. "Alhamdulillah, Kal. Ayahmu sudah bisa operasi."
"Ini berkat doa kalian semua, Ma."
"Aku bangga sama kamu. Kamu tidak menyerah meskipun berat."
"Karena kamu dekat di hati, Ima. Kamu inspirasiku."
Ima tersenyum di ujung telepon. "Ah, jorok."
Haikal tertawa. Tertawa yang tulus. Tertawa yang membawa lega.
Tapi kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Suatu pagi, Ima mendapat telepon dari Nanda. Suaranya panik.
"Ima, ada kecelakaan! Di depan kampus! Seorang mahasiswa kedokteran!"
"Siapa?"
"Aku tidak tahu! Tapi banyak ambulans! Cepat ke sini!"
Ima bergegas mencari informasi. Ternyata kecelakaan itu melibatkan bus mahasiswa yang sedang membawa rombongan praktikum ke rumah sakit. Bus itu menabrak truk kontainer di perempatan Jalan S. Parman. Tangannya gemetar. Ia ingat Haikal. Haikal yang setiap hari naik bus ke rumah sakit untuk praktikum.
Apakah Haikal di antara korban?
Ima mencoba menghubungi Haikal. Tidak aktif. Coba lagi. Tidak aktif. Puluhan kali ia coba. Hasilnya sama.
"Tuhan, jangan ambil Haikal dariku."
Ima terus mencari informsi. Rumah sakit demi rumah sakit melalui link. Daftar korban ia periksa satu per satu.
Di Rumah Sakit Angkatan Udara Banjarmasin, ia menemukan nama Haikal. Miftahul Haikal, korban kecelakaan bus, kritis.
Ima jatuh. Kakinya lemas. Nanda menangkapnya.
"Tenang, Ma. Dia masih hidup."
"Aku harus ke Banjarmasin. Sekarang."
"Kamu bisa naik bus? Ada bus malam."
"Aku tidak peduli. Aku harus ke sana."
Ima naik bus malam menuju Banjarmasin. Sepanjang perjalanan, ia tidak bisa tidur. Ia hanya berdoa. Memohon agar Haikal selamat.
Di Rumah Sakit Angkatan Udara Banjarmasin, Haikal terbaring di ruang ICU. Tubuhnya penuh perban. Wajahnya bengkak. Kepalanya tertutup kain kasa.
Ima menangis melihatnya. Ia memegang tangan Haikal yang dingin.
"Kal, aku di sini. Aku tidak akan meninggalkanmu."
Haikal tidak merespon. Ia masih koma.
Dokter yang menangani, dr. Taufik, Sp.B, seorang laki-laki tangguh dengan pengalaman 20 tahun di bidang bedah, menjelaskan kondisi Haikal.
"Haikal mengalami patah tulang rusuk, pendarahan internal, dan gegar otak berat. Kami sudah melakukan operasi darurat. Sekarang tinggal menunggu kesadarannya."
"Apakah dia akan selamat, Dok?"
"Kami berusaha semaksimal mungkin. Tapi semuanya tergantung pada kemauan pasien untuk bertahan hidup."
Ima menggenggam tangan Haikal erat. "Kal, kamu harus bertahan. Kita belum menikah. Kita belum buka klinik di desa. Kamu janji, ingat? Kamu janji tidak akan meninggalkanku."
Haikal tidak merespon. Tapi monitor detak jantungnya sedikit meningkat.
Hari-hari Ima di Banjarmasin ia habiskan di rumah sakit. Ia memandikan Haikal, mengganti pakaiannya, membacakan Al-Qur'an di sampingnya. Topan, Rina, Budi, dan Rangga datang bergantian. Pak De juga datang membawa makanan untuk Ima.
"Kamu harus makan, Ima. Nanti sakit," kata Topan.
"Aku tidak lapar."
"Kalau kamu sakit, siapa yang jaga Haikal?"
Ima menghela napas. Ia makan sedikit. Nasi dan sayur yang dibawa Pak De.
"Haikal akan bangun, Ima. Aku yakin," kata Rina.
"Aku juga yakin. Tapi kenapa lama sekali?"
"Sabar. Haikal pejuang. Dia tidak akan menyerah."
Sore harinya, jari Haikal bergerak. Ima yang sedang membacakan Al-Qur'an terkejut.
"Haikal? Haikal, kamu dengar aku?"
Haikal membuka mata. Matanya sayu. Ia melihat Ima.
"Ma... maaf... aku bikin... kamu... khawatir."
Ima menangis. "Jangan pernah buat aku khawatir lagi."
"Janji."
Haikal menjalani perawatan intensif selama satu bulan. Citra, Ibnu, dan teman-teman sekelasnya bergantian menjenguk. Dosen-dosennya juga datang.
"Haikal, kamu harus segera sembuh. Ujian akhir semester tinggal satu bulan lagi," kata Prof. Haryanto sambil tersenyum.
"Siap, Prof. Saya akan belajar di rumah sakit."
"Jangan paksakan. Kesehatan lebih penting."
"Aku tidak bisa istirahat terlalu lama, Prof. Aku harus mengejar ketertinggalan."
Prof. Haryanto menggeleng. "Kamu keras kepala."
"Sama seperti Profesor."
Mereka tertawa.
Ima yang mendengar dari pintu ruangan ikut tersenyum. Haikal masih Haikal. Tidak berubah. Semangatnya tidak pernah padam.
Setelah satu bulan, Haikal diperbolehkan pulang. Ia masih menggunakan tongkat untuk berjalan. Tulang rusuknya masih sakit jika tertawa terlalu keras. Tapi ia bersyukur masih hidup.
"Ima, kamu harus kembali ke Palangka Raya. PKL-mu belum selesai."
"Aku tidak bisa meninggalkanmu."
"Aku sudah sehat. Aku bisa jaga diri."
"Haikal..."
"Ima, dengar. Aku tidak ingin kamu berhenti sekolah hanya karena aku. Kamu harus jadi perawat. Itu mimpimu."
Ima menangis. "Tapi aku takut. Takut kamu jatuh sakit lagi. Takut ada kecelakaan lagi."
"Aku akan berhati-hati. Aku janji."
Ima memeluk Haikal. Pelukan yang lama. Pelukan yang mengikat janji.
"Kalau ada apa-apa, kamu telepon aku. Setiap saat. Aku akan datang."
"Aku janji."
Ima kembali ke Palangka Raya. Haikal kembali ke kos. Sepi. Tapi hatinu hangat.
Haikal mulai belajar dari rumah. Buku-buku tebal ia baca di kasur. Catatan-catatan kuliah ia ulang dari awal. Citra dan Ibnu bergantian mengirimkan materi kuliah.
"Lo jangan terlalu keras, Kal. Istirahat juga penting," kata Ibnu suatu hari saat mengantarkan makanan.
"Aku tidak bisa istirahat, Ibnu. Ujian tinggal dua minggu lagi."
"Tapi..."
"Tidak ada tapi. Aku harus lulus."
Ibnu menghela napas. "Kamu keras kepala."
"Aku anak desa. Keras kepala adalah warisan."
Ibnu tertawa. "Baiklah. Tapi janji, kalau malam lo harus tidur."
"Janji."
Haikal belajar hingga larut. Gelas kopi kosong berjejer di meja. Kertas-kertas catatan berserakan di lantai. Tapi ia tidak lelah. Ia ingat ayahnya yang mencangkul di sawah. Ia ingat ibunya yang berjualan sayur. Ia ingat Ima yang setia menunggu.
Aku tidak akan mengecewakan mereka.
Ima sedang praktik di ruang rawat inap RSUD Palangka Raya ketika ponselnya berdering. Haikal.
"Ima, aku lulus! NILAI UJIANKU BAGUS! AKU LULUS!"
Ima menangis. Air mata bahagia mengalir di pipinya.
"Selamat, Kal! Aku bangga sama kamu!"
"Ini berkat doamu, Ima. Doa semua orang."
"Kapan wisuda?"
"Bulan depan. Kamu datang, ya?"
"Aku pasti datang."
Haikal tertawa. Ima ikut tertawa. Pasien di ruang rawat inap menatap Ima heran.
Ima keluar ruangan. Di koridor, ia menemui Nanda.
"Nanda, Haikal lulus! Haikal lulus!"
"Selamat, Ima. Kamu pasti senang."
"Senang sekali."
Nanda tersenyum. "Kapan kamu wisuda?"
"Bulan depan juga."
"Berarti kalian bisa wisuda bersama."
"Iya. Doakan kami, ya."
"Kamu akan bahagia bersama Haikal, Ma. Aku yakin."
Ima memeluk Nanda. Pelukan persahabatan. Pelukan terima kasih.
Malamnya, Ima menelepon Haikal. Mereka merencanakan wisuda bersama. Juga merencanakan setelah wisuda.
"Haikal, setelah wisuda..."
"Apa?"
"Ayo kita ke Simpang Camuh."
"Ke sana? Kenapa?"
"Kita harus merayakan. Kita sudah melewati banyak hal."
Kecelakaan pertama. Pertengkaran. Jatuh cinta. Jeda. Sakit. Kecelakaan kedua. Tapi mereka masih bersama.
"Iya. Kita ke Simpang Camuh. Kita akan duduk di trotoar. Memesan kentang goreng. Mengingat masa lalu."
"Kita tidak akan kembali ke masa lalu, Kal. Kita akan membuat masa depan."
"Bersama?"
"Bersama."
Di kejauhan, Simpang Camuh seolah tersenyum. Menyaksikan dua insan yang takdirnya telah diikat di persimpangan itu.
BAB XIII
Wisuda dan Janji Yang Ditunda
Gedung Convention Hall Banjarmasin terlihat megah dengan hiasan balon putih dan biru, warna khas Universitas Lambung Mangkurat. Ribuan kursi tersusun rapi di dalam ruangan berdinding kaca itu, masing-masing telah ditempeli nama para wisudawan dan undangan. Hari ini adalah hari yang Haikal tunggu-tunggu selama hampir lima tahun: hari wisudanya. Hari di mana ia resmi menyandang gelar Sarjana Kedokteran.
Haikal berdiri di belakang panggung, memegang toga berwarna hitam dengan selempang biru. Tangannya gemetar. Bukan karena gugup, tapi karena haru. Ia mengingat perjalanan panjangnya: dari desa Sriwidadi dengan sepeda ontel, ke Simpang Camuh, ke SMAN 1 Kuala Kapuas, ke Unlam, lalu jatuh bangun karena sakit dan kecelakaan. Kini, semua perjuangan itu membawanya ke titik ini.
"Lo siap, Kal?" tanya Ibnu yang juga wisudawan hari itu. Ia berdiri di samping Haikal, toganya sudah rapi.
"Aku siap, Ibnu. Rasanya kayak mimpi."
"Bukan mimpi, Kal. Ini nyata. Lo lihat? Toga ini nyata. Selempang ini nyata."
Haikal tersenyum. Ia menepuk bahu Ibnu. "Terima kasih sudah jadi sahabat baik. Selama lima tahun, lo selalu ada."
"Kita saudara, Kal. Bukan cuma teman."
Mereka berpelukan. Dari kejauhan, Citra melambai. Ia wisuda bersama mereka, dengan predikat cumlaude. Haikal bangga padanya. Citra memang cerdas dan pekerja keras.
"Haikal, Ibnu, cepat! Acara segera dimulai!" teriak panitia.
Mereka berjalan menuju barisan wisudawan. Haikal duduk di kursi nomor 023. Ima duduk di barisan undangan, tepat di belakang kursi keluarga. Ia datang dari Palangka Raya bersama Pak Dadang dan Bu Yolanda. Pak Sugeng dan Bu Ratna juga hadir, meskipun harus menempuh perjalanan 3 jam dari desa Sriwidadi.
"Maaf, Pak. Maaf, Bu. Saya sudah datang terlambat," bisik Ima saat duduk di samping Bu Ratna.
"Tidak terlambat, Nak. Acara belum mulai," jawab Bu Ratna sambil memegang tangan Ima. Matanya berkaca-kaca. "Ibu tidak pernah menyangka anak desa bisa sampai di sini."
"Doakan Haikal, Bu. Semoga dia jadi dokter yang baik."
"Aamiin."
Rektor Universitas Lambung Mangkurat, Prof. Dr. H. Ahmad Alim Bachri, S.E., M.Sc. , naik ke panggung. Beliau adalah laki-laki berbadan tegap dengan kacamata tebal dan sorot mata yang bijaksana. Suaranya berat tapi penuh wibawa.
"Selamat pagi, para wisudawan, orang tua, dan tamu undangan. Hari ini adalah hari yang bersejarah. Hari di mana kalian resmi menyandang gelar sarjana. Ingatlah, gelar bukanlah tujuan akhir. Tujuan akhir adalah pengabdian. Gunakan ilmu kalian untuk masyarakat, khususnya masyarakat yang membutuhkan."
Tepuk tangan bergemuruh.
"Saya akan memanggil satu per satu wisudawan terbaik dari setiap fakultas. Dari Fakultas Kedokteran, dengan predikat sangat memuaskan, saudara Miftahul Haikal."
Haikal terdiam. Ibnu mendorongnya. "Ayo, Kal. Lo dipanggil."
Haikal berjalan ke panggung. Setiap langkahnya terasa berat, tapi penuh makna. Ia memandang ke arah Ima, ke arah orang tuanya, ke arah Pak Dadang dan Bu Yolanda, ke arah Prof. Haryanto yang duduk di barisan dosen.
Rektor menyematkan selempang wisuda. "Selamat, Nak. Kamu anak desa yang membanggakan."
"Terima kasih, Pak."
"Apa rencanamu setelah lulus?"
"Saya ingin pulang ke desa, Pak. Membuka klinik gratis untuk masyarakat tidak mampu."
Rektor tersenyum. " Luar biasa. Semoga Allah memberkati langkahmu."
Haikal turun dari panggung. Ima menangis. Bu Ratna menangis. Pak Sugeng diam, tapi matanya basah.
Acara wisuda usai. Haikal berfoto dengan keluarga, dengan Ima, dengan teman-teman, dengan dosen-dosen. Rasanya seperti pesta pernikahan, bukan wisuda. Begitu banyak pelukan, air mata, dan tawa.
"Haikal, aku bangga sama kamu," kata Ima sambil memeluk Haikal.
"Aku juga bangga sama kamu, Ima. Kamu wisuda bulan depan, kan?"
"Iya. Kita akan foto bersama lagi."
"Pasti."
Topan yang datang bersama Rina, Budi, dan Rangga menghampiri. Mereka sudah lulus lebih dulu dan sekarang bekerja. Topan kini memiliki warung bakso sendiri di Banjarmasin. Rina bekerja di perpustakaan daerah. Budi menjadi PNS di dinas pertanian. Rangga mengelola toko Berkah Jaya.
"Gue yang traktir makan siang!" seru Topan.
"Wah, jadi lo yang kaya sekarang?" ledek Rina.
"Nggak kaya. Tapi cukup buat traktir sahabat."
Mereka pergi ke rumah makan sederhana di pinggir jalan. Di ruangan berdinding kayu itu, mereka bernostalgia tentang masa-masa SMA. Tentang Rangga yang dulu jahat. Tentang Desi yang pindah sekolah. Tentang Marni yang kini menjadi guru. Tentang Ibu Kusuma yang masih mengajar. Tentang Pak Budi yang pensiun. Tentang Pak Mahyudin yang sudah diganti kepala sekolah baru.
"Haikal, ingat waktu pertama kali lo dateng ke sekolah? Lo pake sepeda ontel. Keranjangnya penyok.," kenang Budi.
"Gue ingat. Waktu itu gue langsung dihina sama Rangga."
Rangga tertawa kecil. "Maaf, Kal. Gue dulu memang anjing."
"Lo manusia, Rang. Manusia bisa berubah."
Topan mengangkat gelas. "Untuk Haikal, dokter desa masa depan!"
"DOKTER DESA! DOKTER DESA!" seru mereka bersamaan.
Dan setela acara wisuda selaesai Haikal pulang ke Kapuas, Setelah makan siang, Haikal dan Ima berjalan ke Simpang Camuh. Lampu merah menyala. Mereka berhenti di trotoar yang sama, tempat pertama kali bertemu delapan tahun lalu. Trotoar itu sudah diperbaiki. Kini lebih lebar dan bersih. Ada juga taman kecil di sekitarnya, dengan bangku-bangku untuk tempat duduk.
"Lampu merahnya masih sama," kata Ima sambil menatap lampu lalu lintas di depannya.
"Masih. Tapi kita sudah berbeda."
"Kita dewasa."
"Kita lulus. Kita sarjana."
Mereka berdua duduk di bangku taman. Haikal mengeluarkan kentang goreng yang ia beli dari warung tenda di pinggir jalan. Ima tersenyum.
"Kentang goreng. Simbol cinta kita."
"Kita jatuh cinta di sini, waktu SMA. Kita makan kentang goreng. Kamu masih ingat?"
"Aku ingat. Kamu bilang 'Ima, aku suka sama kamu.'"
"Gue bilang gitu? Serius?"
"Iya. Pas di bangku itu." Ima menunjuk bangku kayu di seberang taman. "Matahari mau terbenam. Warna jingga. Kamu gugup. Tanganmu gemetar."
"Dan kamu bilang?"
"Aku bilang, 'Aku juga suka sama kamu.'"
Mereka tertawa. Seperti anak SMA yang baru pertama kali jatuh cinta.
"Haikal, kita wisuda. Kita sarjana. Sekarang waktunya kita pulang."
"Pulang ke desa?"
"Pulang ke desamu. Aku sudah janji. Aku akan ikut kamu."
Haikal memegang tangan Ima. "Kamu yakin? Hidup di desa tidak semudah di kota. Listrik sering padam. Air bersih susah. Jalanan becek kalau hujan."
"Aku sudah siap. Aku perawat. Aku bisa membantu di klinik."
"Klinik? Aku belum punya klinik."
"Kita bangun bareng."
Haikal menatap Ima dalam-dalam. Ada keyakinan di mata perempuan itu. Keyakinan yang tidak pernah goyah meskipun mereka sudah melewati banyak badai.
"Ima, aku mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu, Haikal."
Lampu merah berganti hijau. Orang-orang berlalu lalang. Tapi mereka tetap duduk di sana. Tidak ada yang perlu terburu-buru lagi.
Esok harinya, Haikal pulang ke desa Sriwidadi bersama Ima. Ini pertama kalinya Ima menginjakkan kaki di desa itu. Ia hanya mengenalnya dari cerita Haikal, dari foto-foto, dari video kambing-kambing yang lucu.
Perjalanan dari Banjarmasin ke Kapuas memakan waktu 5 jam dengan bus. Lalu dari Kapuas ke ke Sriwidadi hampir 2 jam. Ima lelah, tapi ia bahagia.
"Ini desamu, Kal," kata Ima sambil memandangi hamparan sawah yang terbentang luas. Padi-padi mulai menguning. Burung-burung beterbangan di atasnya.
"Ini desaku. Tempat aku dilahirkan. Tempat aku dibesarkan. Tempat aku belajar bersepeda."
"Aku suka tempat ini. Tenang. Damai."
"Tapi terpencil."
"Tidak apa. Aku suka ketenangan."
Mereka berjalan menuju rumah Haikal. Rumah bambu dengan dinding anyaman dan atap seng itu masih sama. Tidak berubah. Tapi di halaman, ada beberapa kambing yang berlarian.
"Kambing-kambingmu?" tanya Ima.
"Iya. Si Jebul sudah mati. Tapi anak-anaknya masih ada. Itu Jebul Jr, Jebul Jr Jr, dan Jebul Jr Jr Jr."
Ima tertawa. "Kamu menamai mereka semua Jebul?"
"Biar mudah mengingat."
Bu Ratna dan Pak Sugeng menyambut di pintu. Ima memeluk Bu Ratna.
"Selamat datang di rumah kami, Nak."
"Terima kasih, Bu. Rumahnya sederhana tapi hangat."
"Kalian mau tinggal di sini?"
"Iya, Bu. Haikal mau buka klinik di desa. Saya akan bantu."
Bu Ratna menangis. "Ibu tidak pernah menyangka anak desa bisa membawa pulang menantu secantik dan sebaik ini."
Haikal dan Ima mulai merenovasi rumah. Rumah bambu itu mereka perluas dengan tambahan dua kamar, satu ruang tamu, dan yang paling penting: satu ruangan khusus untuk klinik. Biaya renovasi menggunakan sisa uang donasi dan bantuan dari Pak Dadang.
"Pastikan ruangan kliniknya bersih, ada air mengalir, dan pencahayaannya cukup," pesan Ima pada para tukang.
"Iya, Mbak. Tenang. Kami sudah berpengalaman."
Haikal sibuk mengurus perizinan izin praktik ke Dinas Kesehatan Kabupaten Kapuas. Prosesnya tidak mudah. Banyak persyaratan yang harus dipenuhi. Tapi berkat bantuan Prof. Haryanto dan rekan-rekan dosen di fakultas, akhirnya izin keluar juga.
"Selamat, Dokter Haikal. Klinik Anda resmi berdiri," kata Kepala Dinas Kesehatan, dr. H. Rahmad, M.Kes. , sambil menyerahkan surat izin.
"Terima kasih, Pak. Saya tidak akan mengecewakan."
"Saya harap klinik ini bisa membantu masyarakat desa yang kesulitan akses kesehatan."
"Siap, Pak."
Klinik "Sriwidadi Sehat" resmi dibuka. Acara peresmian dihadiri oleh Kepala Desa, Camat Mantangai, Kapolsek, Danramil, Dinas Kesehatan, dan warga desa. Haikal dan Ima berdiri di depan klinik, memotong pita.
"Hari ini adalah hari bersejarah bagi desa kita," kata Kepala Desa, Pak Kades Hamid, dengan suara lantang. "Akhirnya kita punya dokter. Anak desa sendiri. Yang kita biayai bersama."
Tepuk tangan bergemuruh.
"Klinik ini gratis untuk warga tidak mampu. Untuk warga yang mampu, bayar seikhlasnya."
Ima tersenyum mendengar itu. Haikal memang memiliki hati emas.
Setelah acara, warga beramai-ramai memeriksakan diri. Haikal dan Ima sibuk dari pagi hingga sore. Tidak ada waktu istirahat. Tapi mereka bahagia.
"Ima, aku capek," kata Haikal setelah pasien terakhir pulang.
"Aku juga capek. Tapi ini kebahagiaan."
"Kebahagiaan yang sesungguhnya."
Mereka berdua duduk di teras klinik sambil memandang senja. Warna jingga bercampur ungu, seperti saat pertama kali mereka bertemu di Simpang Camuh. Bedanya, kini mereka bukan lagi anak SMA yang malu-malu. Mereka adalah dokter dan perawat yang sedang merajut mimpi.
Namun, di balik kebahagiaan itu, ada satu hal yang mengganjal. Haikal belum melamar Ima. Bukan karena tidak berani, tapi karena ia ingin semuanya sempurna. Ia ingin memiliki rumah yang layak, klinik yang berjalan, dan kehidupan yang stabil.
"Haikal, kapan kamu melamar Ima?" tanya Bu Ratna suatu malam.
"Bu, aku masih perlu waktu."
"Waktu apa? Ima sudah setia menunggumu sejak SMA. Jangan biarkan perempuan baik seperti itu berlalu."
"Ibu benar, Bu. Tapi aku ingin..."
"Ingin apa? Jadi kaya dulu? Harta tidak menjamin kebahagiaan, Nak."
Haikal terdiam. Ia menghela napas.
"Baik, Bu. Aku akan bicara dengan Ima."
Malam itu, Haikal dan Ima berjalan di pematang sawah. Bulan purnama bersinar terang. Suara jangkrik dan katak bersahutan.
"Ima, aku ingin bilang sesuatu."
"Apa?"
Haikal berhenti berjalan. Ia menggenggam tangan Ima.
"Kita sudah bersama sejak SMA. Kita sudah melewati banyak hal. Kecelakaan, sakit, jarak, waktu. Tapi kita masih di sini. Bersama."
"Iya."
"Aku tidak punya banyak harta. Rumahku masih bambu. Klinikku masih baru. Tapi aku punya hati. Hati yang hanya untukmu."
Ima tersenyum. "Kamu mau bilang apa sih, Kal?"
Haikal mengambil sebuah kotak kecil dari saku celananya. Kotak beludru berwarna merah.
"Ima Rosita Sari, maukah kamu menjadi istriku?"
Ima menangis. "Baru sekarang, Kal? Aku sudah menunggu dari SMA."
"Maaf aku lama. Aku ingin semuanya sempurna."
"Ini sudah sempurna. Bersamamu."
Ima membuka kotak itu. Di dalamnya, sebuah cincin sederhana dengan batu kecil. Mungkin tidak mahal. Tapi penuh makna.
"Ya, aku mau."
Haikal memasangkan cincin itu di jari manis Ima. Mereka berpelukan di bawah sinar bulan.
"Akhirnya," bisik Haikal.
"Akhirnya," balas Ima.
Kabar pertunangan Haikal dan Ima menyebar cepat ke seluruh desa. Warga bergembira. Mereka mengadakan syukuran kecil di balai desa. Pak Kades memberikan sambutan.
"Ini adalah pertunangan antara anak desa kita, Dokter Haikal, dengan perawat cantik dari kota, Ima Rosita Sari. Semoga mereka cepat menikah dan memberi kita banyak dokter-dokter kecil."
Semua tertawa.
Topan dan teman-teman datang dari Kapuas. Mereka membawa kado: poci dan cangkir teh.
"Buat kalian minum teh setelah lelah melayani pasien," kata Topan.
"Terima kasih, Tan. Kamu memang sahabat sejati."
Rina memberikan buku. "Ini buku harian. Catat semua kebahagiaan kalian."
"Makasih, Rin."
Budi memberikan seperangkat alat tulis. "Buat catatan medis."
"Makasih, Bud."
Rangga memberikan koper. "Buat kalian liburan nanti."
"Liburan? Kapan? Kami sibuk," kata Haikal.
"Suatu hari nanti."
Haikal dan Ima tersenyum. Mereka bahagia dikelilingi orang-orang yang mencintai mereka.
Pernikahan Haikal dan Ima digelar tiga bulan kemudian di Masjid Agung Kuala Kapuas. Ima mengenakan gaun putih sederhana dengan jilbab renda. Haikal mengenakan jas hitam dengan peci. Mereka terlihat seperti pengantin di majalah.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh," sapa penghulu. "Saya akan melangsungkan akad nikah antara Miftahul Haikal bin Sugeng dengan Ima Rosita Sari binti Dadang."
"Ijab kabul, Haikal," bisik Pak Sugeng di sampingnya.
Haikal menarik napas. Tangannya gemetar. "Saya terima nikahnya Ima Rosita Sari binti Dadang dengan mas kawin berupa seperangkat alat sholat dibayar tunai."
"Sah!" seru kedua saksi.
Ima menangis. Bu Ratna menangis. Pak Sugeng menangis. Semua yang hadir menangis. Haikal mengusap air mata Ima.
"Kita akhirnya bersama, Ma."
"Selamanya, Kal."
Mereka berpelukan. Foto-foto diambil oleh puluhan kamera. Tepuk tangan bergemuruh.
Resepsi pernikahan digelar di halaman balai desa Sriwidadi. Meja-meja panjang ditata dengan kain putih. Katering sederhana tapi berlimpah. Warga desa datang dengan pakaian terbaik mereka.
"Selamat, Dokter! Selamat, Mbak Ima!" seru warga.
"Terima kasih. Silakan makan sepuasnya."
Topan maju ke panggung. Ia memegang microphone.
"Gue mau ngucapin sesuatu. Gue kenal Haikal sejak SMA. Waktu itu dia anak desa dengan sepeda ontel penyok. Dia miskin. Tapi dia punya mimpi. Dan lihatlah sekarang? Dia dokter. Dia menikah dengan perempuan cantik. Dia punya klinik. Ini bukti bahwa kerja keras tidak pernah mengkhianati hasil."
Tepuk tangan bergemuruh.
"Ima, gue juga kenal Ima sejak SMA. Dia anak orang kaya. Tapi dia tidak sombong. Dia baik. Dia setia. Dia menunggu Haikal selama bertahun-tahun. Ini bukti bahwa cinta sejati itu ada."
Ima menangis. Haikal memeluknya.
"Gue cuma mau bilang, jangan lupa sama teman-teman lama. Jangan lupa sama Simpang Camuh. Jangan lupa sama lampu merah yang mempertemukan kalian."
Haikal tertawa. "Kita tidak akan pernah lupa, Pan."
Malam pertama. Haikal dan Ima berada di kamar mereka yang sederhana. Dinding bambu. Atap seng. Lantai papan. Tapi mereka merasa seperti di istana.
"Haikal, akhirnya."
"Akhirnya, Ma."
Mereka berpelukan di ranjang sederhana dengan seprai putih.
"Aku takut."
"Takut apa?"
"Apa aku bisa menjadi istri yang baik?"
"Kamu sudah menjadi kekasih yang baik. Jadi istri yang baik pasti bisa."
"Apa aku bisa menjadi perawat yang baik di desa ini?"
"Kamu akan luar biasa. Aku tahu."
Ima menangis. Haikal mengusap air matanya.
"Aku mencintaimu, Ima Rosita Sari."
"Aku juga mencintaimu, Miftahul Haikal."
Lampu di kamar mereka padam. Hanya cahaya bulan yang masuk lewat celah-celah bambu. Suara jangkrik mengiringi malam pertama mereka.
Klinik "Sriwidadi Sehat" berjalan lancar. Haikal melayani pasien setiap hari dari jam 8 pagi hingga 4 sore. Ima membantunya, mengganti balutan, mengukur tekanan darah, memberi suntikan, dan menenangkan pasien yang panik.
"Dok, anak saya demam tinggi," kata seorang ibu dengan bayi di gendongannya.
Haikal memeriksa suhu bayi itu. 39 derajat. "Ini demam biasa, Bu. Saya kasih obat penurun panas. Kalau besok masih tinggi, bawa lagi ke sini."
"Terima kasih, Dok. Berapa bayarnya?"
"Bayar seikhlasnya, Bu."
Ibu itu mengeluarkan uang dua ribu rupiah. "Maaf, Dok. Cuma ini yang saya punya."
Haikal tersenyum. "Tidak apa-apa, Bu. Semoga anaknya cepat sembuh."
Setiap hari ada saja pasien yang tidak mampu membayar. Haikal tidak pernah marah. Baginya, melayani masyarakat desa adalah panggilan jiwa, bukan bisnis.
"Ima, kita harus cari tambahan dana," kata Haikal suatu malam. "Obat-obatan mulai menipis."
"Aku akan bicara dengan Ayah. Ayah bersedia membantu."
"Terima kasih. Ayahmu baik."
"Ayahmu juga baik."
Mereka tersenyum. Bekerja sama membangun klinik adalah perjuangan tersendiri. Tapi mereka tidak pernah mengeluh.
Satu tahun berlalu. Klinik "Sriwidadi Sehat" sudah dikenal hingga ke kecamatan tetangga. Pasien datang tidak hanya dari Sriwidadi, tapi juga dari desa-desa sekitar. Haikal harus menyewa seorang perawat tambahan: Mira, lulusan Akper dari Mantangai.
"Dok, klinik ini ramai sekali," kata Mira suatu sore.
"Iya. Alhamdulillah."
"Kapan Dokter menambah ruangan?"
"Rencana tahun depan. Kalau ada rezeki."
Ima yang sedang merapikan obat-obatan ikut nimbrung. "Dokter juga harus menambah jam praktik. Banyak pasien yang datang sore tapi klinik sudah tutup."
"Kita lihat. Aku juga perlu istirahat."
Ima tersenyum. "Kamu boleh istirahat. Aku yang jaga sore."
"Kamu tidak capek?"
"Capek. Tapi ini kebahagiaan."
Haikal memeluk Ima. "Aku beruntung punya kamu."
"Bukan beruntung. Ini takdir."
Mira tersenyum melihat mereka. "Wah, jangan mesra-mesra di depan karyawan. Saya jadi malu."
Mereka tertawa.
Lima tahun kemudian. Haikal dan Ima sudah dikaruniai dua orang anak: Khalid yang berusia 3 tahun dan Aisyah yang baru berusia 1 tahun. Rumah mereka sudah direnovasi menjadi setengah bata, tidak lagi bambu. Klinik mereka sudah memiliki tiga ruangan dan dua perawat tetap.
Suatu sore, Haikal mengajak Ima ke Simpang Camuh. Bukan yang di Kapuas, tapi Simpang Camuh versi desa Sriwidadi. Di desa mereka, ada persimpangan kecil yang oleh warga setempat mulai disebut "Simpang Camuh" sebagai penghormatan pada kisah cinta Haikal dan Ima.
"Aneh, ya," kata Ima sambil memandang persimpangan itu.
"Apa yang aneh?"
"Kisah cinta kita dimulai di Simpang Camuh Kapuas. Tapi sekarang kita memiliki Simpang Camuh di desa kita sendiri."
"Tuhan memang suka memberi kejutan."
Mereka duduk di pinggir persimpangan. Tidak ada lampu merah di sini. Hanya jalan tanah yang membelah sawah.
"Haikal, kamu bahagia?"
"Aku sangat bahagia."
"Aku juga."
Mereka berpelukan. Khalid dan Aisyah berlarian di antara mereka.
"Maaf, Kal."
"Maaf kenapa?"
"Aku dulu hampir menyerah. Waktu kita jeda. Waktu Nanda mendekatiku. Aku hampir memilih dia."
"Ingat, Ima. Simpang Camuh mengajarkan kita untuk berhenti. Dan kita berhenti sejenak, lalu memilih jalan yang benar."
"Andaikan aku memilih Nanda, aku tidak akan bahagia seperti sekarang."
"Tapi kamu memilihku. Dan kita bahagia."
Ima menangis. Haikal mengusap air matanya.
"Aku mencintaimu, Haikal. Sampai mati."
"Aku juga mencintaimu, Ima. Sampai mati."
Di persimpangan itu, di desa kecil bernama Sriwidadi, dengan sawah di kiri kanan dan suara burung tekukur di kejauhan, sepasang kekasih yang dulu bertabrakan di Simpang Camuh Kapuas, kini tercatat dalam sejarah desa sebagai cinta yang tersandera dan akhirnya pulang.
BAB XIV
Simpang Adipura, Bukan Simpang Camuh Lagi
Saat itu ketika Penghargaan Adipura di raih, tiba seperti angin yang berembus tanpa diundang. Bagi Haikal dan Ima, tahun itu terasa istimewa, bukan hanya karena klinik mereka semakin berkembang, bukan hanya karena Khalid kini sudah bisa berlari kencang mengejar kupu-kupu di sawah, tetapi karena Kabupaten Kapuas menerima penghargaan bergengsi: Piala Adipura. Kota Kapuas dinobatkan sebagai kota terbersih se-Kalimantan Tengah. Seluruh warga berbondong-bondong merayakan. Spanduk-spanduk bergambar Bupati dan piala Adipura dipasang di setiap sudut jalan. Bahkan hingga ke pelosok Mantangai, warga desa ikut berbangga.
"Haikal, kamu dengar kabar? Simpang Camuh akan diubah nama," kata Ima suatu pagi sambil menyuapi Aisyah bubur. Wajahnya sedikit cemas. Matanya tidak fokus, seperti sedang membayangkan sesuatu yang akan hilang.
"Ubah nama? Jadi apa?" Haikal menghentikan aktivitasnya meracik obat di meja klinik. Sendok kecil untuk meracik serbuk masih ia pegang.
"Simpang Adipura. Untuk mengenang penghargaan ini."
Haikal terdiam. Jantungnya berdetak tidak beraturan. Simpang Camuh, tempat di mana ia dan Ima pertama kali bertemu, tempat di mana ia menyatakan cinta, tempat di mana mereka berpelukan di bawah hujan, akan berganti nama.
"Mengapa harus diganti?" suara Haikal hampir berbisik, seperti angin yang kehilangan arah.
"Pemerintah ingin mengabadikan momen bersejarah. Kata ayah, Bupati ingin semua orang ingat bahwa Kapuas pernah meraih Adipura."
"Mereka bisa mengabadikan dengan cara lain. Monumen, patung, atau museum. Tidak perlu mengganti nama jalan yang sudah melegenda."
Ima menghela napas panjang. Napas itu berat, seperti beban yang tak terlihat sedang ia pikul. "Aku juga sedih, Kal. Tapi kita tidak bisa melawan keputusan pemerintah."
Haikal meletakkan sendok obatnya. Ia berjalan ke jendela klinik. Matanya menerawang ke arah utara, ke arah Kapuas. Membayangkan Simpang Camuh yang akan lenyap namanya dari peta. Darahnya berdesir, campuran antara marah dan sedih yang sulit ia bedakan.
Haikal memutuskan untuk pergi ke Kapuas. Ia ingin melihat Simpang Camuh untuk terakhir kalinya sebelum nama itu diganti. Ima mengikutinya, membawa Khalid dan Aisyah. Mereka meninggalkan klinik untuk sementara waktu, dipercayakan pada Mira yang kini sudah semakin cakap menangani pasien-pasien ringan.
Perjalanan dari Sriwidadi ke Kapuas tidak lagi seberat dulu. Haikal sekarang memiliki motor second, hadiah ulang tahun dari Ima tiga tahun lalu. Warnanya hitam, bodinya agak penyok di bagian kanan karena pernah jatuh, tapi mesinnya masih kencang.
"Papa, kita ke mana?" tanya Khalid dari balok Ima. Bocah laki-laki berkulit legam seperti Haikal itu selalu penuh rasa ingin tahu.
"Ke Simpang Camuh, Nak," jawab Haikal sambil memegang setang motor. Angin berhembus kencang di wajahnya.
"Simpang Camuh itu apa, Pa?"
"Tempat Papa dan Mama pertama kali bertemu."
"Mama nabrak Papa, ya?" Khalid tertawa kecil. Ia sudah sering mendengar cerita itu dari Ima, berkali-kali hingga hafal di luar kepala.
"Iya. Mama nabrak Papa. Sepeda Papa penyok. Lutut Papa berdarah."
"Kok Mama nakal?"
"Diam, Khalid!" Ima memotong dari belakang. "Jangan cerita-cerita jelek tentang Mama!"
Haikal tertawa. "Khalid hanya jujur, Ima. Memang kamu nakal."
"Iya. Tapi kamu kan jadi suami saya sekarang. Berarti ke-nakal-an saya membawa berkah."
Mereka tertawa bertiga. Aisyah yang masih terlalu kecil untuk mengerti ikut tertawa melihat orang tuanya bahagia.
Sesampainya di Simpang Camuh, Haikal terkejut. Persimpangan itu sudah berubah total. Di tengah-tengah, berdiri sebuah tugu kecil dengan piala Adipura di puncaknya. Tugu itu terbuat dari beton, dicat putih, dengan hiasan lampu-lampu warna-warni di sekelilingnya. Di kaki tugu, terukir kata-kata: "Dedikasi untuk Kota Kapuas yang Bersih, Sehat, dan Indah. Penerima Penghargaan Piala Adipura."
Trotoar tempat Haikal dan Ima dulu duduk, tempat mereka berbagi kentang goreng, tempat mereka berpelukan, kini telah diganti dengan paving block yang rapi. Pohon-pohon hias ditanam di sepanjang pinggir jalan. Bahkan ada taman kecil dengan air mancur di taman itu.
"Ini bukan Simpang Camuh lagi," bisik Haikal. Tangannya gemetar. Matanya sayu.
"Ini Simpang Adipura," jawab Ima pelan. Suaranya bergetar, seperti sedang menahan sesuatu yang hendak pecah.
"Tapi kenapa terasa asing?"
"Karena kenangan kita tidak bisa dipatenkan. Kenangan hanya hidup di hati."
Haikal menatap Ima. Matanya berkaca-kaca. "Kenangan kita di sini, Ma. Tempat kita pertama kali bertemu. Tempat kita marah-marahan. Tempat kita makan kentang goreng. Tempat kita berpelukan di bawah hujan. Semua itu sekarang terkubur di bawah tugu ini."
"Tidak terkubur, Kal. Berpindah. Dari tempat ke hati."
Haikal memeluk Ima. Khalid dan Aisyah bermain di taman kecil di samping jalan.
Seorang bapak-bapak paruh baya dengan kumis tebal, mengenakan seragam dinas kebersihan kota, mendekati Haikal. Di dadanya ada nama: Bambang. Wajahnya ramah, dengan kerutan di pelipis yang menandakan ia sudah lama bekerja di lapangan.
"Mas, kamu dari mana? Kok kelihatan sedih?" tanya Pak Bambang sambil menyandang sapu lidi di bahunya.
Haikal melepas pelukan. "Saya dari Sriwidadi, Pak. Dulu sering ke sini waktu masih SMA."
"Wah, dulu tempat ini masih kacau, ya. Simpang Camuh. Lima penjuru. Lampu merah sering diabaikan. Banyak kecelakaan."
"Iya, Pak. Saya salah satu korban kecelakaannya. Ditabrak oleh istri saya."
Pak Bambang tertawa. "Bagus, malah jadi jodoh."
"Tapi sekarang simpang ini berubah total, Pak."
"Iya. Pemerintah ingin mempercantik kota. Penghargaan Adipura ini harus dirawat, katanya. Jadi semua sudut kota ditata. Termasuk simpang ini."
Haikal menghela napas. "Apakah Pak Bambang tidak sedih? Nama Camuh hilang."
"Saya warga asli Kapuas, Mas. Saya tahu sejarah Simpang Camuh. Dulu memang kacau. Tapi perubahan itu perlu. Biar generasi muda tidak malu dengan kotanya."
"Tapi mereka juga tidak akan tahu sejarah."
Pak Bambang tersenyum. "Itu tugas kita, Mas. Sebagai orang tua, kita yang cerita."
Haikal merenung. Pak Bambang benar. Simpang Camuh mungkin hilang dari peta, tapi tidak dari ingatan orang-orang yang pernah mengalami.
Ima memegang tangan Haikal. "Kal, kamu ingat waktu kita pertama kali kesini, setelah kamu lulus SMA?"
"Ingat. Aku menyatakan cinta di bangku itu." Haikal menunjuk ke arah taman, tempat dulu ada bangku kayu. Kini bangku kayu itu sudah diganti dengan bangku besi model modern.
"Sekarang bangkunya sudah diganti. Tapi perasaannya sama."
"Iya. Perasaannya sama."
Mereka duduk di bangku besi itu. Khalid dan Aisyah bermain air mancur di depan mereka. Mentari sore mulai beranjak perlahan ke barat, menyisakan warna jingga yang memantul di permukaan air mancur, menciptakan kilauan kecil yang berkedip seperti bintang jatuh.
"Haikal, aku ingin cerita sesuatu."
"Apa?"
"Ayah dan Ibu dulu juga punya tempat kenangan. Di Jalan Pemuda. Tapi tempat itu sekarang jadi mall."
"Apakah mereka sedih?"
"Mereka tidak. Karena bagi mereka, kenangan bukan tentang tempat. Tapi tentang perasaan."
Haikal tersenyum. "Kamu bijak."
"Aku belajar dari kamu."
Mereka berdua tersenyum. Tangan mereka saling menggenggam. Hangat.
Tiba-tiba, dari kejauhan, Haikal melihat seorang lelaki tua duduk di trotoar seberang. Lelaki itu memakai peci hitam dan kemeja putih lusuh. Di sampingnya, sepeda ontel butut terparkir. Mirip sepeda Haikal dulu.
"Ima, lihat itu."
Ima menoleh. "Sepeda ontel."
"Lelaki itu. Dia duduk sendirian. Seperti dulu aku."
Haikal berjalan mendekat. Ima mengikutinya. Mereka berdiri di depan lelaki tua itu.
"Selamat sore, Pak," sapa Haikal.
Lelaki itu menoleh. Wajahnya berkerut. Matanya sayu, seperti danau yang kehilangan airnya di musim kemarau panjang. "Selamat sore, Nak. Kamu dari mana?"
"Saya dari Sriwidadi, Pak. Dulu sering ke sini waktu masih SMA."
"Sriwidadi? Desa eks transmigrasi?"
"Iya, Pak. Bapak tahu?"
"Saya ikut transmigrasi dulu. Ke Desa Sumber Makmur. Tapi sekarang sudah pindah ke Kapuas."
"Wah, Bapak seangkatan dengan ayah saya mungkin."
Lelaki itu tersenyum. "Sepeda ontel ini peninggalan masa muda saya. Saya masih tetap menggunakannya sampai sekarang. Meskipun simpang ini sudah berubah, sepeda ini tetap sama."
Haikal terenyuh. "Sepeda ontel memang tidak pernah berubah, Pak."
Lelaki itu bernama Pak Karto. Usianya 70 tahun. Ia ikut transmigrasi dari Jawa Timur ke Kalimantan Tengah. Dulu ia membuka lahan, menanam karet, dan hidup sederhana. Sekarang anak-anaknya sudah sukses di Banjarmasin, tapi ia memilih tetap di Kapuas.
"Saya tidak suka kota besar, Nak. Saya suka ketenangan. Di sini, saya masih bisa mendengar suara jangkrik malam hari. Di Banjarmasin? Hanya suara klakson."
Haikal mengangguk. "Saya juga lebih suka desa. Padahal saya lulusan kedokteran. Banyak teman yang memilih kerja di kota. Tapi saya memilih pulang ke desa."
"Kamu hebat, Nak. Anak muda sekarang jarang yang mau pulang ke desa. Mereka lebih suka hidup di kota, meskipun hanya jadi kuli."
"Saya ingin mengabdi, Pak. Desa tempat saya lahir."
Pak Karto memegang bahu Haikal. "Semoga Allah memberkati kamu dan keluargamu."
"Aamiin, Pak."
Matahari hampir tenggelam. Haikal, Ima, dan anak-anak berpamitan pada Pak Karto.
"Nak, titip salam untuk desamu," kata Pak Karto sambil mengayuh sepeda ontelnya perlahan. Gerakannya lambat, tapi matanya bersinar.
"Siap, Pak. Hati-hati di jalan."
Mereka berjalan ke arah motor. Sepanjang jalan, Haikal tidak bicara. Ima tahu suaminya sedang merenung.
"Kal, kamu sedih?"
"Aku tidak sedih. Aku hanya... merenung."
"Merenungkan apa?"
"Bahwa Simpang Camuh ini milik kita dulu. Sekarang milik semua orang. Tugu ini bukan hanya tentang kebersihan kota, tapi tentang perubahan. Perubahan yang tidak bisa kita hindari."
"Apakah kita harus berubah?"
"Kita sudah berubah, Ima. Dulu kita anak SMA yang malu-malu. Sekarang kita orang tua dengan dua anak. Dulu kita punya sepeda ontel. Sekarang punya motor. Dulu kita pacaran di trotoar. Sekarang kita menikah di masjid."
"Apakah itu buruk?"
"Tidak. Itu indah. Tapi kadang aku merindukan masa-masa sederhana."
Ima memegang tangan Haikal. "Kita tidak bisa kembali ke masa lalu, Kal. Tapi kita bisa mengingatnya. Dan mengingat itu sudah cukup."
Malam harinya, di hotel sederhana tempat mereka menginap, Khalid bertanya pada Haikal.
"Papa, kenapa kita harus pergi ke Simpang Camuh? Tempat itu kan sudah berubah."
"Karena Papa ingin mengucapkan selamat tinggal."
"Selamat tinggal pada apa, Pa?"
"Pada masa lalu. Pada kenangan. Pada nama Camuh yang akan hilang."
Khalid masih belum mengerti. Tapi Haikal tidak perlu menjelaskan panjang lebar. Suatu hari, ketika Khalid dewasa, ia akan mengerti mengapa ayahnya begitu terikat pada sebuah persimpangan.
"Ima, besok kita ke rumah ayahmu, ya."
"Iya. Ayah sudah rindu dengan cucu-cucunya."
Mereka beristirahat. Haikal memejamkan mata. Ia membayangkan Simpang Camuh. Lampu merah. Trotoar. Sepeda ontel. Kentang goreng. Hujan. Ima.
"Tidak buruk rasanya mengingat masa lalu," bisiknya dalam hati.
Keesokan harinya, Haikal dan Ima berkunjung ke rumah Pak Dadang dan Bu Yolanda. Toko Berkah Jaya sekarang lebih besar dari dulu. Dulu hanya toko kecil di pinggir jalan, kini menjadi grosir sembako yang melayani seluruh kecamatan Mantangai.
"Wah, Dokter Haikal datang!" sapa Pak Dadang dari depan toko. Tubuhnya masih tegap, meskipun rambutnya mulai memutih di pelipis.
"Salam, Pak. Ima kangen sama Bapak."
"Pasti kangen sama masakan Ibu, ya. Ibu sudah masak rendang."
Khalid dan Aisyah berlari ke dalam toko. Mereka langsung dipeluk oleh Bu Yolanda yang sedang merapikan rak-rak barang.
"Khalid! Aisyah! Nenek rindu!"
"Nenek, aku bawa oleh-oleh dari desa," kata Khalid sambil mengeluarkan buah rambutan dari tas.
"Wah, rambutan. Nenek suka."
Mereka duduk di ruang keluarga. Ibu Yolanda menyuguhkan teh manis dan kue bolu.
"Haikal, kamu kelihatan kurus," kata Pak Dadang sambil mengamati menantunya.
"Banyak pasien, Pak. Klinik ramai."
"Jangan lupa istirahat. Kesehatan itu mahal."
"Siap, Pak."
"Haikal, kamu dengar Simpang Camuh diganti nama?" tanya Bu Yolanda.
"Iya, Bu. Aku baru ke sana kemarin."
"Kamu sedih?"
"Awalnya sedih. Tapi sekarang tidak."
"Kenapa?"
"Karena nama hanyalah label. Kenangan tidak bisa dihapus hanya dengan mengganti label."
Pak Dadang mengangguk bangga. "Kamu bijak, Haikal. Lebih bijak dari usiamu."
"Pengalaman mengajarkan banyak hal, Pak."
Ima memegang tangan Haikal. "Ayah, aku ingin bilang sesuatu."
"Apa, Nak?"
"Aku bersyukur Ayah merestui kami dulu. Jika Ayah melarang, mungkin aku tidak akan bahagia seperti sekarang."
Pak Dadang tersenyum. "Ayah dulu memang keras. Tapi ayah hanya ingin anaknya bahagia. Dan Haikal membuktikan bahwa dia bisa membuatmu bahagia."
Haikal menunduk. Matanya berkaca-kaca. "Terima kasih, Pak. Saya tidak akan menyia-nyiakan kepercayaan Bapak."
Saat makan malam, Pak Dadang membuka topik yang tidak terduga.
"Haikal, Ima, kalian sudah punya rumah di desa?"
"Sudah, Pak. Rumah sederhana. Dinding bata, atap seng."
"Apakah cukup untuk keluarga?"
"Cukup, Pak. Kami sekeluarga berempat."
"Ayah ingin membangunkan rumah yang lebih layak untuk kalian."
Haikal terkejut. "Pak, itu terlalu berat. Kami tidak pantas."
"Kamu pantas, Haikal. Kamu sudah membantu banyak orang. Kamu sudah membuat anak ayah bahagia. Ini hadiah untuk kalian."
Ima menangis. "Ayah..."
"Jangan nangis, Nak. Ini bentuk syukur ayah karena punya menantu baik."
Haikal memegang tangan Pak Dadang. "Terima kasih, Pak. Saya tidak tahu harus berkata apa."
"Ucapkan terima kasih. Itu sudah cukup."
Sebelum kembali ke desa, Haikal sempatkan diri singgah ke Simpang Adipura sekali lagi. Kali ini sendirian. Ima dan anak-anak menunggu di toko.
Ia berdiri di depan tugu. Lampu-lampu taman mulai menyala karena hari mulai gelap. Air mancur memancarkan cahaya dari bawah, membuat tetesan air tampak seperti berlian yang berkilauan.
Haikal berbicara pada tugu itu. Pada Simpang Camuh yang telah tiada.
"Maafkan aku. Aku tidak bisa mempertahankan namamu. Tapi aku berjanji, akan kuceritakan kisahmu pada anak-anakku. Pada cucu-cucuku. Pada generasi yang akan datang. Nama Camuh tidak akan mati selama masih ada yang mengingat."
Ia berjalan perlahan meninggalkan tugu itu. Di kejauhan, lampu merah menyala. Seorang gadis berjilbab putih berhenti di pinggir jalan. Haikal tersenyum. Gadis itu mengingatkannya pada Ima.
Atau mungkin pada kenangan yang tidak bisa ia lepaskan.
Perjalanan pulang ke Sriwidadi terasa lebih ringan. Haikal mengendarai motor dengan hati yang lebih tenang. Ima di belakangnya memangku Aisyah. Khalid duduk di depan Haikal, tepat di antara pelukan ayahnya.
"Pa, aku mau cerita ke teman-teman kalau aku sudah ke Simpang Camuh," kata Khalid.
"Sekarang namanya Simpang Adipura, Nak."
"Aku tetap akan bilang Simpang Camuh. Soalnya Papa bilang, di sana Papa dan Mama pertama kali bertemu."
Haikal tersenyum. "Terserah kamu."
"Pa, aku boleh bawa teman-teman ke sana?"
"Boleh. Tapi hati-hati. Jangan main di jalan."
"Iya, Pa."
Ima memeluk Haikal dari belakang. "Aku bangga padamu, Kal."
"Kenapa?"
"Kamu sudah ikhlas."
"Bukan ikhlas, Ma. Tapi paham. Bahwa perubahan itu tidak bisa dilawan. Yang bisa kita lakukan adalah beradaptasi. Dan mengingat."
Mereka melaju melewati persawahan. Padi-padi mulai menguning. Burung-burung beterbangan di langit senja. Warna jingga bercampur ungu, seperti saat pertama kali mereka bertemu di Simpang Camuh dulu.
Bedanya, kini mereka tidak lagi duduk di trotoar. Mereka sedang dalam perjalanan pulang. Ke rumah. Ke klinik. Ke kehidupan yang telah mereka bangun bersama.
Malam harinya, setelah Khalid dan Aisyah tidur, Haikal dan Ima duduk di teras rumah. Langit penuh bintang. Bulan sabit tipis menggantung di ufuk barat.
"Ima, aku ingin membuat sesuatu."
"Apa?"
"Aku ingin membuat buku. Buku tentang Simpang Camuh. Tentang kita. Tentang perjuangan kita."
"Serius, Kal?"
"Serius. Aku ingin anak-anak kita tahu, bahwa cinta tidak selalu mudah. Cinta butuh perjuangan. Cinta butuh pengorbanan. Cinta butuh keyakinan."
"Aku akan membantumu."
"Terima kasih, Ma."
Mereka berdua diam. Menikmati malam.
"Haikal, apa yang paling kamu ingat dari Simpang Camuh?"
"Lampu merah."
"Kenapa lampu merah?"
"Karena lampu merah mengajarkanku untuk berhenti. Berhenti sebelum tabrakan. Berhenti sebelum terlambat. Berhenti sebelum menyesal."
"Apa yang kamu pelajari dari lampu merah?"
"Bahwa hidup ini tidak selalu tentang melaju cepat. Kadang kita perlu berhenti untuk melihat sekeliling. Apakah kita masih di jalur yang benar? Apakah kita masih bersama orang yang tepat?"
"Dan kesimpulanmu?"
"Aku masih di jalur yang benar. Dan aku bersama orang yang tepat."
Ima memeluk Haikal. "I love you, Haikal."
"I love you too, Ima."
Di kejauhan, Simpang Adipura bersinar terang dengan lampu-lampu taman. Tugu berdiri megah dengan piala Adipura di puncaknya. Warga lalu lalang, mungkin tidak ada yang tahu bahwa tempat itu dulu bernama Simpang Camuh.
Tapi Haikal dan Ima tahu. Dan mereka akan terus mengingat.
BAB XV
Bertemu Lagi di Jalan Adi Pura
Lima belas tahun telah berlalu sejak Haikal dan Ima terakhir kali duduk di trotoar Simpang Camuh. Lima belas tahun sejak nama itu diganti menjadi Simpang Adipura. Kini, Haikal tidak lagi muda. Rambutnya mulai beruban di pelipis. Kerutan di wajahnya semakin dalam, bukan karena usia semata, tapi karena ribuan malam begadang melayani pasien di klinik "Sriwidadi Sehat" yang kini sudah menjadi puskesmas pembantu dengan enam perawat dan dua dokter. Ima juga tidak lagi secantik dulu. Bekas jerawat di pipi karena stres mengurus anak dan klinik, tapi baginya, Ima tetap yang tercantik.
"Halo, Ima. Aku di Kapuas. Ada rapat Dinas Kesehatan," kata Haikal lewat telepon suatu pagi. Ia sudah berada di kota sejak subuh, naik motor sendiri karena ingin merasakan angin pagi seperti dulu.
"Hati-hati, Kal. Jangan lupa makan." Ima di ujung telepon terdengar sibuk. Suara Khalid yang kini sudah remaja berteriak minta uang jajan di latar belakang.
"Aku akan pulang malam. Jangan tunggu."
"Iya. Aku tahu."
Haikal mematikan telepon. Ia duduk di teras kantor Dinas Kesehatan yang baru, menunggu rapat dimulai. Pandangannya jatuh ke arah utara walupaun jaraknya sangat jauh, ke arah Jalan Adi Pura, nama baru dari Jalan Cilik Kriwut yang dulu. Jalan itu sekarang lebih lebar, dengan trotoar yang rapi dan pohon-pohon palem di sepanjang pinggirnya.
"Dulu di sanalah toko Berkah Jaya berada," bisiknya. Toko itu sekarang di kelola oleh rangga karena Pak Dadang pensiun dan memilih tinggal di rumah anaknya di Banjarmasin. Pak Dadang dan Bu Yolanda kini lebih sering menghabiskan waktu bersama cucu-cucu mereka.
Rapat Dinas Kesehatan berlangsung selama tiga jam. Haikal diminta memberikan laporan tentang program imunisasi di wilayah Mantangai. Ia berbicara dengan percaya diri, menggunakan data-data yang ia kumpulkan sendiri dari desa-desa terpencil.
"Kami masih kesulitan mengakses desa-desa di pedalaman, Pak. Jalanan rusak, jembatan banyak yang putus. Anak-anak tidak mendapatkan imunisasi lengkap," lapor Haikal.
Kepala Dinas Kesehatan, dr. Fauzan, M.Kes. , yang menggantikan dr. Rahmad yang sudah pensiun, mengangguk serius. "Kami akan koordinasikan dengan Dinas Pekerjaan Umum. Terima kasih masukannya, Dokter Haikal."
"Terima kasih, Pak."
Setelah rapat, Haikal keluar ruangan. Ia berjalan ke parkiran. Belum sempat ia menyalakan motor, seseorang memanggilnya dari belakang.
"Dokter Haikal!"
Haikal menoleh. Seorang perempuan seusianya berdiri di sana. Jilbab putihnya masih sama seperti dulu. Wajahnya sudah tidak muda, tapi senyumnya masih sama. Masih sama seperti saat pertama kali mereka bertemu di Simpang Camuh dua puluh tahun lalu.
"Ima?" Haikal terkejut. "Kenapa kamu di sini?"
"Kejutan." Ima tersenyum lebar. "Aku tahu kamu rapat hari ini. Jadi aku sengaja datang ke Kapuas. Anak-anak sudah aku titipkan ke Mira."
"Kamu naik apa?"
"Mobil. Aku ingin merasakan perjalanan seperti dulu."
Haikal tertawa. "Dulu kamu naik motor, bukan Mobil."
"Dulu aku naik motor dan menabrakmu. Sekarang aku naik Mobil agar tidak menabrak siapa pun."
Mereka berdua tertawa. Rindu yang selama setengah hari terasa lunas dalam sekejap.
"Ima, pulang dulu, yuk. Ajak kamu ke rumah makan favoritku dulu."
"Rumah makan favoritmu? Di mana?"
"Di Simpang Adipura. Dulu kita sering nongkrong di sana."
Ima mengerutkan kening. "Rumah makan di Simpang Adipura? Dulu kan hanya warung tenda kecil."
"Sekarang sudah jadi rumah makan permanen. Namanya 'Camuh Bistro'."
"Camuh Bistro?" Ima tertawa. "Unik."
"Pemiliknya anak muda. Dia tahu sejarah Simpang Camuh. Jadi dia mengabadikan nama itu di bisnisnya."
Mereka naik motor Haikal menuju Simpang Adipura. Jalanan sudah berbeda. Dulu masih tanah dan aspal kasar. Kini sudah hotmix mulus. Lampu-lampu lalu lintas sudah diperbarui dengan sensor otomatis.
Sesampainya di Simpang Adipura, Ima terkesima. Tempat itu kini menjadi kawasan kuliner yang ramai. Puluhan rumah makan berdiri di sepanjang pinggir jalan. Yang paling mencolok adalah "Camuh Bistro", dengan papan nama besar bergambar lampu merah dan sepeda ontel.
"Ini seperti mimpi," bisik Ima.
"Bukan mimpi, Ima. Ini nyata. Orang-orang akhirnya menghargai sejarah."
Mereka masuk ke dalam bistro itu. Dindingnya dipenuhi foto-foto lama Simpang Camuh. Ada juga replika sepeda ontel yang digantung di langit-langit, persis seperti sepeda Haikal dulu, lengkap dengan keranjang penyok di bagian belakang.
Haikal tertegun. Matanya berkaca-kaca melihat replika itu.
"Seperti sepedaku dulu," katanya pelan. Suaranya bergetar, karena ia tidak menduga akan tersentuh sejauh ini.
"Persis, Kal. Sampai keranjang penyoknya."
"Ada yang sengaja membuat replika ini. Seseorang yang tahu cerita kita."
Seorang pelayan muda mendekat. Rambutnya klimis, senyumnya ramah. Usianya sekitar 20 tahun.
"Selamat siang, Bapak, Ibu. Ada yang bisa saya bantu?"
"Kami mau makan. Paket untuk dua orang," kata Haikal.
"Ada menu favorit, Pak. Kentang goreng dan es teh manis. Konon itu menu favorit sepasang kekasih yang dulu sering nongkrong di sini."
Haikal dan Ima saling berpandangan.
"Siapa yang cerita?" tanya Ima.
"Pemiliknya, Mbak. Beliau sering bercerita tentang sepasang kekasih dari SMA yang bertemu di Simpang Camuh. Katanya cinta mereka tersandera di sini."
"Pemiliknya di mana sekarang?" tanya Haikal.
"Beliau sedang di dapur. Saya panggilkan."
Pelayan itu berjalan ke dapur. Beberapa menit kemudian, seorang laki-laki paruh baya keluar. Tubuhnya tegap, rambutnya mulai memutih. Haikal mengenalinya.
"Topan? TOPAN!"
Topan tertawa lebar. "Kaget, Kal? Kaget, Ima?"
Ima menangis. "Topan, kamu pemilik bistro ini?"
"Iya. Gue buka bisnis ini tiga tahun lalu. Niatnya mau mengenang masa-masa SMA. Gue kumpulin foto-foto lama dari kalian semua. Dari Rina, Budi, Rangga, bahkan dari Marni."
Haikal memeluk Topan. "Lo hebat, Tan. Lo mewujudkan mimpi kita semua."
"Bukan mimpi, Kal. Ini bentuk cinta gue pada persahabatan kita."
Mereka bertiga duduk di meja dekat jendela. Dari jendela itu, mereka bisa melihat Simpang Adipura dengan jelas. Lampu merah menyala. Orang-orang berlalu lalang.
"Tan, kok lo bisa punya ide bikin bistro begini?" tanya Ima sambil menyuap kentang goreng.
"Awalnya gue pengen buat kafe sederhana. Tapi gue kepikiran, tempat ini punya sejarah. Simpang Camuh itu ikonik buat kita. Kenapa gue nggak angkat aja jadi tema?"
"Lo hebat, Tan."
"Nggak hebat. Cuma punya kenangan indah."
Topan bercerita tentang perjalanan bisnisnya. Awalnya ia hanya memiliki warung tenda. Lalu menabung, meminjam modal dari bank, dan akhirnya bisa membeli lahan di Simpang Adipura. Butuh waktu 10 tahun, kata Topan dengan nada bangga.
"Gue nggak pernah nyerah, Kal. Gue ingat kata lo: 'Orang desa tidak boleh menyerah'."
"Aku hanya bilang begitu. Yang menjalankan ya lo sendiri."
"Kita semua hebat, Kal. Lo jadi dokter. Ima jadi perawat. Rina jadi pustakawan. Budi jadi PNS. Rangga pebisnis. Dan gue... pemilik bistro."
Mereka tertawa.
Dari jendela bistro, Haikal melihat sebuah keluarga muda sedang berfoto di depan tugu Adipura. Seorang ayah, ibu, dan dua anak perempuan.
"Lihat, Ima. Keluarga itu."
Ima menoleh. "Apa yang menarik?"
"Mereka berfoto di tempat yang dulu kita sering duduk."
"Kita tidak memiliki hak eksklusif atas tempat ini, Kal. Semua orang boleh bahagia di sini."
"Aku tahu. Tapi rasanya aneh. Seperti ada yang hilang."
Topan yang mendengar percakapan itu ikut nimbrung. "Yang hilang bukan tempat, Kal. Yang hilang adalah waktu. Waktu kita masih muda. Waktu kita masih polos. Waktu kita masih tidak takut bermimpi."
"Kita sekarang sudah tua,Pan."
"Tua bukan berarti berhenti bermimpi. Lo masih punya mimpi, kan? Klinik lo maju. Anak-anak lo sehat. Ima masih setia."
"Iya. Aku masih punya mimpi."
"Apa?"
Haikal tersenyum. "Membawa Ima ke sini lagi. Seperti dulu."
Ima memegang tangan Haikal. "Kamu sudah mewujudkannya, Kal."
Mereka berdua tersenyum. Topan mengangkat gelas.
"Untuk Haikal dan Ima. Sepasang kekasih yang cintanya tersandera di Simpang Camuh, dan akhirnya pulang."
"CINTA TERSANDERA DI SIMPANG CAMUH!" seru mereka bertiga.
Matahari mulai condong ke barat. Haikal dan Ima pamit pada Topan.
"Terima kasih, Pan. Untuk makanannya. Untuk kenangannya. Untuk persahabatannya."
"Jangan canggung, Kal. Kapan-kapan ajak anak-anak ke sini. Gue traktir."
"Siap, Pan."
Ima memeluk Topan. "Topan, lo tetap seperti dulu. Baik hati."
"Gue nggak berubah, Ima. Mungkin perut gue yang berubah. Sekarang buncit."
Mereka tertawa. Haikal dan Ima keluar bistro. Mereka berjalan di trotoar Simpang Adipura. Lampu merah masih menyala. Mereka berhenti.
"Haikal, ingat dulu kita berhenti di sini?"
"Ingat. Aku tidak tahu arti lampu merah. Kamu marah-marah. Lalu kita jatuh cinta."
"Apakah kita akan jatuh cinta jika tidak ada lampu merah?"
"Entahlah. Mungkin kita akan bertabrakan di lain tempat. Atau mungkin tidak pernah bertemu."
"Tapi kita bertemu. Dan kita jatuh cinta."
"Iya. Kita beruntung."
Lampu berganti hijau. Mereka berjalan menuju parkiran.
Haikal dan Ima memutuskan untuk berjalan kaki menyusuri Jalan Adi Pura, dulu bernama Jalan simpang camuh. Mereka melewati toko-toko modern, mal-mal kecil, dan beberapa rumah makan baru. Semua sudah berubah. Rumah-rumah tua yang dulu menjadi saksi bisu perjalanan cinta mereka, kini telah diganti dengan bangunan-bangunan beton.
"Rumah ayah dulu di sana," kata Ima sambil menunjuk sebuah ruko dua lantai.
"Sekarang jadi punya rangga."
"Iya. Ayah sudah menjualnya lima tahun lalu."
"Kamu sedih?"
"Sedih. Tapi rumah bukan tentang bangunan. Rumah tentang orang-orang yang tinggal di dalamnya."
"Ayah dan Ibu sekarang di Banjarmasin."
"Iya. Mereka bahagia di sana. Kita harus sering berkunjung."
Mereka terus berjalan. Sampai di sebuah taman kecil, Ima mengajak Haikal duduk.
"Haikal, aku ingin bilang sesuatu."
"Apa?"
"Terima kasih. Terima kasih sudah bertahan. Terima kasih sudah tidak menyerah. Terima kasih sudah menjadi suami dan ayah yang baik."
Haikal memegang tangan Ima. "Aku yang harus berterima kasih. Kamu yang setia menunggu. Kamu yang sabar menghadapi aku yang sakit-sakitan. Kamu yang rela meninggalkan kota demi ikut aku ke desa."
"Kita berdua berjuang, Kal. Bukan hanya kamu."
"Kita berdua."
Mereka berpelukan di taman itu. Beberapa orang yang lewat tersenyum melihat mereka. Sepasang suami istri tua yang masih romantis.
Malam mulai turun. Lampu-lampu taman menyala. Haikal dan Ima memutuskan untuk kembali ke hotel tempat mereka menginap. Mereka sudah memesan kamar sebelum berangkat dari desa.
Di hotel, Haikal membuka album foto lamanya. Album yang selalu ia bawa ke mana pun. Foto-foto itu sudah usang, beberapa bahkan sudah robek di pinggirnya. Ada foto Haikal dengan sepeda ontelnya. Foto Haikal dan Ima di Simpang Camuh. Foto kelulusan SMA. Foto wisuda. Foto pernikahan. Foto Khalid lahir. Foto Aisyah lahir.
"Kita sudah melewati banyak hal, Ima."
"Iya. Rasanya baru kemarin kita masih SMA."
"Tapi sekarang anak kita sudah SMA."
Khalid kini berusia 16 tahun. Ia bersekolah di SMAN 1 Kuala Kapuas, sekolah yang dulu juga menjadi tempat Haikal dan Ima menimba ilmu. Khalid tinggal di kos Pak De, ya, Pak De yang sudah sangat tua, tapi masih setia menerima anak-anak desa yang ingin sekolah di kota.
"Khalid sekarang mirip kamu," kata Ima sambil melihat foto Khalid di ponselnya.
"Wajahnya mirip aku. Tapi sifatnya mirip kamu."
"Pemberani?"
"Iya. Pemberani dan baik hati."
Mereka tersenyum. Bangga memiliki anak yang tumbuh menjadi pribadi yang baik.
Sebelum pulang ke Desa, mereka singgah di Simpang Adipura. Haikal memarkir motor di depan tugu. Ia meminta seorang pengunjung untuk memotret mereka.
"Mas, tolong foto kami, ya," pinta Haikal pada seorang pemuda yang sedang berswafoto.
"Siap, Pak."
Haikal dan Ima berdiri di depan tugu. Lampu merah di belakang mereka menyala. Haikal memegang pundak Ima. Ima tersenyum.
"Tersenyum, ya, Pak, Bu. Tiga... dua... satu... cheesee!"
Jepretan itu mengabadikan momen mereka. Haikal dan Ima dengan latar tugu Adipura, dengan lampu merah yang setia menyala, dengan kenangan yang tidak pernah mati.
"Terima kasih, Mas," kata Haikal.
"Sama-sama, Pak. Bapak dan Ibu romantis. Masih mau foto bareng di usia segini."
"Kami sudah tua, Mas. Tapi cinta kami tidak tua."
Pemuda itu tersenyum. "Semoga saya dan istri nanti seperti Bapak dan Ibu."
"Aamiin."
Saat hendak menyalakan motor, Haikal melihat seorang perempuan tua duduk di trotoar seberang. Perempuan itu memakai kerudung putih, persis seperti Ima dulu. Di sampingnya, seorang laki-laki tua dengan peci hitam dan tongkat di tangan.
"Lihat, Ma."
Ima menoleh. "Siapa mereka?"
"Aku ingin tahu."
Haikal berjalan mendekat. Ima mengikutinya.
"Selamat sore, Bu. Selamat sore, Pak."
Perempuan itu menoleh. Wajahnya berkerut, penuh dengan pengalaman hidup yang terukir di setiap garisnya. Matanya sayu, tapi masih terlihat ramah.
"Selamat sore, Nak. Ada yang bisa kami bantu?"
"Saya hanya penasaran. Bapak dan Ibu sedang apa di sini?"
Laki-laki tua itu menjawab. Suaranya parau, seperti orang yang jarang bicara. "Kami sedang mengenang masa lalu. Tempat ini dulu bernama Simpang Camuh. Kami sering ke sini waktu masih muda."
Haikal tersentak. "Bapak dan Ibu juga punya kenangan di sini?"
"Iya. Kami dulu pacaran di sini. Tapi kami tidak jadi menikah. Orang tua kami tidak merestui."
"Kenapa tidak direstui?"
"Kami beda suku. Beda agama. Beda status."
Haikal terdiam. Ima memegang tangannya.
"Kami menikah dengan orang lain. Tapi sampai tua, kami masih ingat Simpang Camuh." Perempuan itu tersenyum. "Kami ingin mengucapkan selamat tinggal pada masa lalu."
Haikal memeluk laki-laki dan perempuan itu. "Bapak, Ibu, saya doakan semoga bahagia."
"Terima kasih, Nak. Kamu baik."
Haikal dan Ima kembali ke motor. Mereka melaju meninggalkan Simpang Adipura. Di spion, Haikal melihat laki-laki dan perempuan itu masih duduk di trotoar, berbicara, sesekali tertawa.
Perjalanan pulang melewati persawahan yang mulai menghijau. Padi-padi baru ditanam. Petani-petani sedang bekerja di sawah, membungkuk, menanam, berdoa untuk hujan.
"Haikal, kamu ingat pertama kali kita naik motor bareng?"
"Ingat. Waktu itu kamu yang bonceng aku. Kamu takut jatuh."
"Sekarang aku yang bonceng kamu. Dan aku tidak takut lagi."
"Karena kamu percaya padaku?"
"Karena aku sudah tahu bahwa kamu pembalap yang baik."
Haikal tertawa. "Pembalap? Aku tidak pernah balapan."
"Tapi kamu berhasil melewati tanjakan, turunan, dan tikungan kehidupan."
"Filosofis amat."
"Aku belajar dari kamu."
Mereka tertawa. Angin sore berembus. Daun-daun kelapa bergoyang.
Malam harinya, mereka tiba di desa. Khalid dan Aisyah menyambut di depan rumah.
"Papa! Mama! Kok lama sekali?" teriak Khalid.
"Ada urusan di kota," jawab Haikal sambil memeluk anaknya.
"Papa bawa oleh-oleh?"
"Ada. Kentang goreng dari Simpang Adipura."
Wajah Khalid berbinar. "Simpang Adipura? Itu kan Simpang Camuh yang dulu?"
"Iya. Tempat papa dan mama jatuh cinta."
"Kisah cinta yang tersandera di simpang," kata Khalid sambil tersenyum.
"Apa? Kamu tahu?" Haikal terkejut.
"Ibu cerita. Berkali-kali."
Haikal menatap Ima. Ima hanya tersenyum.
"Kisah itu harus terus diceritakan, Kal. Agar anak cucu kita tidak lupa."
"Agar mereka tahu bahwa cinta sejati itu ada," sambung Haikal.
Mereka masuk ke rumah. Aisyah yang sudah berusia 11 tahun berlari memeluk Ima. "Mama, aku kangen."
"Aku juga kangen, Sayang."
Malam itu, mereka makan malam bersama. Haikal bercerita tentang pertemuannya dengan Topan, tentang bistro "Camuh Bistro", tentang laki-laki dan perempuan tua di trotoar Simpang Adipura.
"Khalid, jika suatu hari kamu jatuh cinta, jangan pernah menyerah," pesan Haikal.
"Seperti Papa, Pa?"
"Seperti Papa dan Mama. Berjuang sampai akhir."
"Siap, Pa."
Mereka semua tertawa. Rumah sederhana itu terasa hangat. Api cinta yang dulu nyaris padam karena jarak dan waktu, kini menyala terang. Diteruskan ke generasi berikutnya.
Tengah malam, ketika semua sudah tidur, Haikal dan Ima duduk di teras. Langit penuh bintang. Sesekali terdengar suara jangkrik dan katak dari sawah.
"Ima, maukah kamu jalan-jalan ke Simpang Camuh lagi?"
"Simpang Camuh sudah tidak ada, Kal. Sekarang Simpang Adipura."
"Bagiku, namanya tetap Simpang Camuh. Tempat di mana cintaku tersandera."
"Dan sekarang?"
"Cintaku sudah tidak tersandera lagi. Cintaku telah pulang. Bersamamu."
Ima memeluk Haikal. "Aku mencintaimu, Haikal. Sampai mati."
"Aku juga mencintaimu, Ima. Sampai mati."
Mereka berdua terdiam. Kenangan demi kenangan berputar di kepala. Tabrakan di Simpang Camuh. Pertengkaran. Jatuh cinta. Jeda. Sakit. Kecelakaan. Wisuda. Pernikahan. Klinik. Anak-anak.
Semua berawal dari sebuah persimpangan. Lima penjuru. Lampu merah. Dan dua orang yang tidak tahu bahwa takdir sedang bekerja.
Di kejauhan, mungkin lampu merah Simpang Adipura masih menyala. Tapi Haikal dan Ima tidak perlu lagi berhenti. Mereka sudah sampai di tujuan. Mereka sudah pulang.
BAB XVI
Drama Sang Ibu dan Restu Yang Tertunda
Tidak semua drama dalam kehidupan Haikal dan Ima berakhir bahagia di Simpang Adipura. Ada satu drama yang tertunda bertahun-tahun, tersimpan rapi di dalam hati Ima seperti surat yang tidak pernah ia kirimkan. Drama itu bernama Bu Yolanda ibu kandung Ima sendiri. Sosok yang selama ini terlihat ramah di permukaan, tetapi menyimpan arus bawah yang kuat berupa ketidaksetujuan terhadap pernikahan Ima dengan Haikal.
Ya, selama lima belas tahun menikah, Ima menyadari bahwa ibunya tidak pernah benar-benar menerima Haikal. Bu Yolanda selalu bersikap sopan, selalu tersenyum, selalu memasak rendang saat Haikal berkunjung. Tapi ada sesuatu di matanya yang tidak bisa Ima baca. Sesuatu yang dingin. Sesuatu yang menjaga jarak. Sesuatu yang membuat Haikal merasa tidak pernah cukup baik, meskipun ia sudah menjadi dokter, meskipun ia sudah membangun klinik, meskipun ia sudah menjadi ayah yang luar biasa untuk Khalid dan Aisyah.
Ima sudah mencoba bertanya berkali-kali selama lima belas tahun. Tiap kali, Bu Yolanda menghindar. Tiap kali, ada alasan: "Ibu sedang pusing," atau "Ibu tidak enak badan," atau "Nanti saja bicaranya." Dan Ima, seperti biasa, memilih diam. Ia tidak ingin memaksa. Ia tidak ingin ibunya marah. Ia tidak ingin hubungan mereka retak.
Tapi diam tidak selamanya menjadi solusi.
Suatu sore, Ima mengambil keputusan. Ia akan memaksa ibunya bicara. Ia sudah lelah melihat Haikal pulang dari kunjungan ke Banjarmasin dengan muka muram. Ia sudah lelah melihat Haikal bertanya, "Ma, apa aku pernah berbuat salah pada Ibu?" dengan nada yang patah.
"Ma, Ibu kelihatan kurang bersemangat hari ini," kata Ima saat mereka berkunjung ke rumah Pak Dadang dan Bu Yolanda yang kini tinggal di Banjarmasin. Pak Dadang sudah pensiun dan menghabiskan waktunya dengan bercocok tanam di halaman belakang yang sempit. Bu Yolanda sibuk dengan kue-kue pesanan tetangga.
Bu Yolanda tidak menjawab. Ia terus menguleni adonan kue nastar di atas meja marmer dapur. Tangannya bergerak cepat, seperti sedang melampiaskan sesuatu yang tidak bisa ia katakan.
"Ibu... Ibu dengar aku, kan?" Ima mendekat. Suaranya pelan, hampir berbisik, seperti anak kecil yang takut dimarahi.
"Dengar. Tapi Ibu tidak ingin bicara."
"Ibu, tolong. Sudah lima belas tahun. Aku tidak tahan lagi melihat Haikal bertanya-tanya apa salahnya."
Bu Yolanda berhenti menguleni. Ia menatap Ima. Matanya tajam, seperti saat Ima masih kecil dan ketahuan mengambil uang di dompet ayahnya.
"Ibu tidak suka Haikal. Dari dulu. Dan Ibu tidak pernah berubah pikiran."
Kalimat itu seperti petir di siang bolong.
Ima terdiam. Udara di dapur terasa berubah dingin. Bahkan kipas angin di sudut ruangan seolah berhenti berputar. Ia merasakan dadanya sesak. Matanya panas.
"Setelah lima belas tahun, Ibu baru bilang ini sekarang?" suara Ima bergetar. Bukan marah. Tapi kecewa. Kecewa yang menggunung.
"Ibu tidak pernah berubah pikiran, Nak. Ibu hanya... diam."
"Kenapa tidak dari awal, Ma? Kenapa Ibu membiarkan kami menikah?"
Bu Yolanda menghela napas panjang. Napas yang terasa seperti sudah ia tahan selama lima belas tahun.
"Karena ayahmu. Karena ayahmu merestui kalian. Ibu tidak bisa melawan ayahmu saat itu. Tapi hati Ibu... hati Ibu tidak pernah bisa menerima."
Ima menggigit bibirnya. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Ma, kenapa Ibu bilang begitu? Kami sudah menikah lima belas tahun. Haikal sudah menjadi dokter. Kliniknya maju. Dia suami yang baik. Ayah yang baik. Dia tidak pernah menyakitiku satu hari pun. Bahkan saat dia sakit parah sekalipun, dia tetap tersenyum agar aku tidak khawatir."
"Ibu tidak peduli dengan gelarnya. Atau kliniknya. Ibu tidak suka Haikal karena dia anak desa."
Ima tersentak. Bukan sekadar kaget. Tapi seperti ditampar.
"Ma! Itu — itu alasan yang tidak masuk akal!"
"Masuk akal atau tidak, itu perasaan Ibu." Bu Yolanda meletakkan adonan nastar. Ia menatap Ima dengan tatapan yang Ima tidak pernah lihat sebelumnya. Tatapan penuh luka.
"Ibu dulu menikah dengan ayahmu karena dijodohkan. Ibu tidak bahagia. Ibu tidak ingin kamu mengalami hal yang sama."
"Tapi aku bahagia, Ma! Aku sangat bahagia dengan Haikal!"
"Kamu bahagia sekarang, Nak. Tapi suatu hari nanti... kamu akan sadar bahwa perbedaan kelas itu nyata. Bahwa darah biru dan darah desa tidak akan pernah bisa bersatu."
Ima terdiam. Ia tidak percaya mendengar kata-kata itu dari mulut ibunya sendiri. Darah biru. Darah desa. Frasa yang terdengar sangat kuno. Sangat menyakitkan.
"Ma... Ibu bilang Ibu bahagia untuk kami. Ibu bilang Haikal menantu idaman. Itu semua bohong?"
"Ibu tidak bohong. Ibu hanya... menjaga perasaan."
"Menjaga perasaan siapa? Menjaga perasaan Ibu sendiri?"
Bu Yolanda tidak menjawab. Ia kembali menguleni adonan. Tangannya gemetar. Bibirnya bergetar.
Ima tidak bisa diam lagi. Ia keluar dari dapur. Bukan karena marah. Tapi karena ia tidak kuat. Ia tidak kuat mendengar ibunya mengatakan bahwa pernikahannya dengan Haikal adalah kesalahan.
Di teras, ia duduk di kursi bambu. Menangis. Pak Dadang yang sedang menyiram tanaman mendekatinya.
"Nak, ada apa?"
"Maaf, Yah. Aku... Ibu bilang dia tidak suka Haikal. Ibu bilang karena Haikal anak desa."
Pak Dadang menghela napas panjang. Napas itu berat, seperti orang yang sudah lama menyimpan beban. Ia duduk di samping Ima.
"Ayah tahu."
"Ayah tahu?"
"Sudah dari awal. Dulu waktu kamu bilang mau menikah dengan Haikal, Ibu sempat melarang. Ayah ingat betul. Ibu mengunci diri di kamar tiga hari. Tidak mau makan. Tidak mau bicara. Ayah yang membujuk. Ayah yang meyakinkan. Ayah yang bilang, 'Biarkan Ima bahagia. Lihatlah Haikal. Dia anak baik. Dia pekerja keras. Dia akan membuat Ima bahagia.'"
Ima menangis lebih keras.
"Kenapa Ibu sampai seperti itu, Yah?"
"Karena Ibu tumbuh dalam keluarga ningrat, Nak. Kakekmu adalah seorang camat di zaman Belanda. Nenekmu putri seorang bangsawan Banjar. Mereka mengajarkan bahwa status itu penting. Menikahlah dengan yang sederajat. Turunkan martabat keluarga. Itu kata-kata yang Ibu dengar setiap hari sejak kecil."
Ima terisak.
"Tapi ayah sendiri bukan bangsawan, Yah."
"Iya. Ayah hanya anak petani dari desa tetangga. Kakek dan nenekmu tidak merestui pernikahan ayah dengan ibu. Mereka datang ke rumah, memarahi ibu habis-habisan. Kakekmu bilang, 'Kau nodai keluarga kami, Yolanda. Kau pilih pemulung daripada putra bangsawan?'"
Ima terkejut. "Kakek bilang begitu?"
"Iya. Dan setelah itu, selama dua tahun, ibu tidak diizinkan pulang ke rumah orang tuanya. Baru setelah kamu lahir, mereka mulai menerima ibu lagi. Tapi luka itu tidak pernah hilang, Nak. Ibumu tidak pernah melupakan kata-kata kakekmu."
"Apakah Ibu tidak bahagia dengan ayah?"
"Tidak. Ibu tidak pernah bahagia. Ibu menikah dengan ayah karena cinta. Tapi cinta saja tidak cukup untuk mengatasi perbedaan kelas. Ibu merasa terhina setiap kali berkunjung ke desa ayah. Ibu malu dengan keluarga bangsawannya. Dan setiap kali ayahmu tidak bisa membelikan sesuatu yang ibu inginkan, ibu menghela napas panjang dan berkata, 'Sudah kuduga. Anak petani memang tidak akan pernah bisa...'"
Ima tidak tahan lagi. Tubuhnya lemas. Ia menangis di bahu ayahnya.
Haikal yang sedang berada di ruang tamu ia ikut dalam kunjungan itu, hanya saja memilih diam mendengar dari kejauhan. Ia sudah mendengar semuanya. Setiap kata. Setiap isakan tangis. Setiap beban yang selama lima belas tahun disembunyikan dari dirinya.
Ia tidak marah. Ia tidak kecewa. Ia hanya... sedih.
Haikal berjalan ke dapur. Wajahnya tenang, tidak menunjukkan amarah atau kekecewaan. Bu Yolanda yang sedang memanggang nastar tidak menyadari kedatangannya. Ia baru menoleh ketika Haikal berdiri tepat di sampingnya.
"Bu Yolanda," sapa Haikal lembut.
Bu Yolanda terkejut. Tangannya yang memegang loyang hampir jatuh.
"Haikal... kamu... kamu dengar?"
"Semua, Bu. Saya dengar semuanya."
Bu Yolanda menunduk. Tidak berani menatap mata Haikal.
Haikal duduk di kursi dapur. Di seberang Bu Yolanda. Ia menggenggam tangan mertuanya tangan yang selama ini lembut mengatakan "kamu baik" tetapi hatinya mengatakan sebaliknya.
"Bu Yolanda, saya mohon maaf jika selama ini saya tidak pernah cukup baik di mata Ibu."
Bu Yolanda menggeleng. "Kamu baik, Haikal. Kamu lebih dari baik."
"Tapi Ibu tidak pernah menganggap saya pantas untuk Ima. Ibu menganggap saya anak desa. Status saya rendah. Darah saya tidak sekelas darah Ibu."
Bu Yolanda tidak menjawab. Diamnya adalah jawaban.
"Ibu... ibu hanya..."
Haikal memotong dengan suara lembut. "Tidak perlu menjelaskan, Bu. Saya tidak datang untuk menuntut. Saya datang untuk meminta restu."
"Restu? Bukannya kalian sudah menikah?"
"Restu dari hati, Bu. Restu yang tulus. Selama ini Ibu mungkin sudah bersikap sopan. Ibu menerima saya di depan orang lain. Ibu memasak rendang untuk saya. Ibu tersenyum setiap kali kami berkunjung. Tapi di dalam hati Ibu, Ibu belum pernah benar-benar menerima saya."
Bu Yolanda terdiam. Kepalanya semakin menunduk.
"Saya tidak akan marah jika Ibu membenci saya. Saya tidak akan kecewa jika Ibu tidak pernah menganggap saya pantas. Yang membuat saya sedih, Bu... adalah bahwa Ibu memendam perasaan ini selama lima belas tahun. Ibu berbohong pada diri Ibu sendiri. Ibu berpura-pura bahagia di depan kami. Dan itu... itu lebih menyakitkan daripada kebencian itu sendiri."
Mendengar itu, Bu Yolanda terisak. Air matanya jatuh deras. Pertama kali dalam hidupnya, ia menangis di depan menantunya. Bukan tangis haru. Tapi tangis penyesalan. Tangis yang tertahan selama lima belas tahun.
"Haikal, maafkan ibu."
"Tidak perlu minta maaf, Bu. Cukup Ibu katakan bahwa Ibu menerima saya. Sebagai menantu. Sebagai bagian dari keluarga."
Bu Yolanda mengangkat wajahnya. Matanya merah.
"Ibu... ibu tidak tahu caranya menerima kamu, Haikal. Ibu dibesarkan untuk membenci orang seperti kamu. Ibu diajarkan bahwa status adalah segalanya. Ibu tidak tahu bahwa cinta bisa mengalahkan semua itu."
"Sekarang Ibu tahu, Bu."
"Ibu tahu. Tapi terlalu lambat. Lima belas tahun... Ibu sudah kehilangan lima belas tahun kebahagiaan karena kebodohan ibu sendiri."
Haikal tersenyum. "Tidak ada yang terlambat, Bu. Selama Ibu masih mau membuka hati, perjalanan kita belum berakhir."
Bu Yolanda memeluk Haikal. Pelukan yang lama. Pelukan yang membasahi bahu kemeja Haikal dengan air mata yang tertahan selama lima belas tahun.
"Ibu menerima kamu, Nak. Sebagai menantu. Sebagai anak. Sebagai keluarga. Maafkan ibu yang keras kepala. Maafkan ibu yang sombong. Maafkan ibu yang lebih memilih status daripada kebahagiaan anaknya sendiri."
"Tidak apa-apa, Bu. Saya sudah menganggap Ibu seperti ibu kandung. Sejak dulu. Dan sekarang, saya hanya ingin Ibu bahagia. Tidak perlu berpura-pura lagi."
Pak Dadang yang berdiri di pintu dapur sejak tadi, ikut menangis. Ia tidak menyangka bahwa momen ini akhirnya tiba. Ia masuk dan memeluk mereka bertiga istrinya, menantunya, dan kemudian memanggil Ima yang masih terisak di teras.
"Kesini, Nak. Keluarga kita utuh," panggil Pak Dadang.
Ima berlari masuk. Ia langsung memeluk ibunya.
"Ma, aku sayang Ibu."
"Ibu juga sayang kamu, Nak. Maafkan ibu."
"Tidak perlu minta maaf, Ma. Yang penting sekarang Ibu jujur. Sekarang Ibu tidak perlu berpura-pura lagi."
Bu Yolanda mengusap rambut Ima.
"Ibu tidak akan berpura-pura lagi, Nak. Ibu lelah. Ibu lelah menyembunyikan perasaan. Ibu lelah menjadi orang yang Ibu tidak suka."
Pak Dadang berkata, "Yol, kita sudah tua. Kita tidak punya banyak waktu untuk saling menyakiti. Mari kita habiskan sisa umur kita dengan bahagia. Bersama anak-anak kita. Bersama cucu-cucu kita."
Bu Yolanda mengangguk. "Iya, Pak. Ibu minta maaf sudah menjadi istri yang buruk."
"Kamu tidak buruk, Yol. Kamu hanya... terluka. Tapi sekarang lukanya sudah sembuh. Mari kita pulih bersama."
Malam itu, mereka makan malam bersama. Bu Yolanda memasak rendang, ayam goreng, sayur asam, dan sambal terasi menu favorit Haikal yang selama ini ia ketahui hanya dari Ima, tapi baru sekarang ia masak dengan hati yang tulus.
"Haikal, ini sambal terasi buatan Ibu. Ibu tahu kamu suka."
"Terima kasih, Bu."
"Ibu minta maaf, baru sekarang Ibu masakkan untukmu dengan perasaan yang tulus. Dulu Ibu masak karena Ibu merasa wajib. Sekarang Ibu masak karena Ibu sayang kamu."
Haikal tersenyum. "Tidak apa-apa, Bu. Lebih terlambat daripada tidak sama sekali."
Bu Yolanda tersenyum. Senyum yang sebenarnya bukan senyum sopan yang selama ini ia pakai sebagai topeng.
Mereka semua tertawa. Tawa yang tulus. Tawa yang membawa kelegaan.
Ima memandang Haikal. Ada rasa syukur yang tak terkira di hatinya. Suaminya tidak marah. Tidak kecewa. Tidak menarik diri. Ia justru menjadi jembatan yang menyatukan kembali keluarganya.
"Haikal," bisik Ima.
"Apa, Ima?"
"Terima kasih. Kamu tidak marah."
"Aku tidak punya alasan untuk marah, Ima. Ibu Yolanda tidak membenciku. Ibu hanya takut. Dan rasa takut itu bukan salahnya. Itu warisan dari masa lalu yang tidak bisa ia hindari."
"Kamu baik sekali, Kal."
"Aku tidak baik. Aku hanya mengerti bahwa setiap orang punya luka. Dan kita tidak bisa marah pada seseorang karena lukanya."
Setelah makan malam, Bu Yolanda mengajak Haikal ke ruang keluarga. Ia mengeluarkan album foto lama album yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapa pun selama bertahun-tahun.
"Ini foto ibu waktu kecil. Ini kakek dan nenekmu. Mereka orang ningrat, Haikal. Mereka mengajarkan ibu untuk menjaga status. Mereka bilang, 'Yolanda, jangan pernah menikah dengan orang di bawahmu. Kau akan menyesal seumur hidupmu.'"
Haikal melihat foto-foto itu. Seorang laki-laki berkumis tebal dengan pakaian rapi. Seorang perempuan dengan kebaya dan sanggul. Mereka berdiri di depan rumah joglo yang besar. Wajah mereka serius. Tidak ada senyum.
"Mereka cantik dan tampan, Bu."
"Cantik dan tampan, tapi dingin. Mereka tidak pernah memeluk ibu. Tidak pernah mencium pipi ibu. Tidak pernah bilang 'Ibu sayang kamu'. Ibu tumbuh tanpa kasih sayang. Yang ada hanya aturan dan tuntutan."
"Ibu menikah dengan ayah karena cinta?"
"Iya. Pertama kalinya dalam hidup ibu, ibu melakukan sesuatu yang melawan keinginan orang tua. Ibu memilih ayahmu. Pria sederhana yang tidak punya harta. Tidak punya gelar. Tidak punya darah biru."
"Tapi Ibu tidak bahagia."
"Ibu tidak bahagia karena ibu masih terbelenggu oleh ajaran orang tua. Ibu masih merasa bahwa ibu salah. Ibu masih malu. Ibu masih menganggap bahwa pernikahan ibu adalah aib."
"Ibu bertahan."
"Ibu bertahan karena ibu punya anak. Ibu tidak ingin kalian tumbuh tanpa ayah. Ibu tidak ingin kalian merasakan dinginnya rumah seperti yang ibu rasakan dulu."
Haikal memegang tangan Bu Yolanda.
"Sekarang giliran saya yang berjuang untuk Ima, Bu. Dan saya tidak akan menyerah. Saya akan buktikan bahwa anak desa bisa membuat Ima bahagia. Saya akan buktikan bahwa status tidak menentukan kebahagiaan. Saya akan buktikan bahwa cinta cinta yang tulus dan perjuangan yang tidak kenal lelah lebih berharga daripada darah biru mana pun."
Bu Yolanda menangis lagi.
"Ibu tahu. Ibu melihat perjuanganmu selama ini. Ibu melihat bagaimana kamu merawat Ima saat dia sakit. Ibu melihat bagaimana kamu membangun klinik dari nol. Ibu melihat bagaimana kamu mengorbankan masa mudamu untuk desa. Ibu... ibu malu karena selama ini ibu buta."
"Tidak perlu malu, Bu. Sekarang Ibu sudah melihat."
"Iya. Sekarang ibu sudah melihat."
Tiga minggu kemudian, Bu Yolanda datang ke desa Sriwidadi. Ini pertama kalinya ia menginjakkan kaki di desa menantunya setelah lima belas tahun pernikahan. Ima terkejut, bahkan hampir tidak percaya.
"Ma, kok Ibu datang tanpa bilang-bilang?"
"Kejutan. Ibu ingin minta maaf secara langsung di tempat kamu dan Haikal membangun hidup kalian."
"Naik apa, Ma?"
"Naik bus. Ibu ingin merasakan perjuangan Haikal dulu. Ibu ingin merasakan bagaimana rasanya melewati jalan berlubang, debu yang beterbangan, dan panasnya matahari Kalimantan."
Haikal yang mendengar itu tersenyum.
"Perjuangan saya lebih berat, Bu. Saya naik sepeda ontel."
"Ibu tahu. Itu sebabnya ibu semakin malu."
Bu Yolanda dibawa berkeliling desa. Ia melihat sawah yang membentang luas, kebun karet yang rimbun, puskesmas (klinik Haikal) yang ramai pasien, dan rumah sederhana mereka yang berdiri kokoh di tengah-tengah desa.
"Rumahmu sederhana, Nak."
"Iya, Bu. Tapi kami bahagia."
"Bahagia itu sederhana. Ibu baru mengerti sekarang."
Ima memandang ibunya. Matanya berkaca-kaca.
"Ma, dulu Ibu bilang kebahagiaan itu butuh uang. Butuh status. Butuh pengakuan dari orang lain. Sekarang?"
Bu Yolanda tersenyum.
"Ibu dulu salah. Ibu bodoh. Ibu minta maaf. Kebahagiaan tidak butuh itu semua. Kebahagiaan butuh ketulusan. Butuh kehadiran orang-orang yang kita cintai. Butuh kemampuan untuk menerima bahwa tidak semua hal harus sempurna."
Bu Yolanda menginap di desa selama seminggu bukan tiga hari seperti rencana awal. Ia membantu Ima memasak, membersihkan rumah, bahkan ikut melayani pasien di klinik. Ia belajar memanggil pasien dengan senyum, mengatur antrean, dan menghibur anak-anak yang menangis.
"Wah, Ibu jago juga," puji Haikal suatu sore.
"Dulu ibu kan jaga toko. Biasa melayani orang. Tapi dulu ibu melayani dengan wajah cemberut karena ibu menganggap itu pekerjaan rendahan. Sekarang ibu melayani dengan senyum."
"Kenapa berubah, Bu?"
"Karena ibu melihatmu, Haikal. Kamu seorang dokter, tapi kamu melayani pasien dengan kerendahan hati. Kamu tidak pernah menganggap mereka rendah. Kamu tidak pernah membedakan mana pasien kaya dan mana pasien miskin. Kamu melayani semua dengan sama. Itu yang membuat ibu malu."
Hari terakhir Bu Yolanda di desa, ia meminta Haikal mengantarnya ke Simpang Adipura di Kapuas. Haikal terkejut.
"Ke sana, Bu? Untuk apa?"
"Ibu ingin melihat tempat pertama kali kamu dan Ima bertemu. Ibu ingin... berziarah ke masa lalu. Ibu ingin meminta maaf pada tempat itu."
"Meminta maaf pada tempat, Bu?"
"Iya. Tempat itu saksi cinta kalian. Dan selama lima belas tahun, ibu tidak pernah menghormatinya. Ibu selalu menganggap pertemuan kalian di sana adalah sebuah kecelakaan. Tapi sekarang ibu tahu, tidak ada yang kebetulan. Semua sudah diatur oleh Tuhan."
Perjalanan ke Kapuas memakan waktu satu jam lebih. Bu Yolanda diam hampir sepanjang jalan. Matanya menatap hamparan sawah, pohon-pohon karet, dan langit biru yang luas.
Mereka tiba siang hari. Simpang Adipura ramai seperti biasa. Tugu Adipura berdiri sederhana. Lampu merah menyala. Air mancur menari-nari.
"Ini dia, Bu. Tempat saya dan Ima pertama kali bertemu. Waktu itu saya naik sepeda ontel. Keranjang penyok. Ban bocor. Saya tidak tahu arti lampu merah. Saya terus mengayuh. Dan Ima... beliau menabrak saya."
"Siapa yang salah?"
"Saya, Bu. Saya yang tidak tahu aturan. Tapi jika saya tidak ditabrak, mungkin saya tidak akan pernah bertemu Ima. Mungkin saya tidak akan pernah merasakan cinta. Mungkin saya tidak akan pernah menjadi seperti sekarang."
Bu Yolanda berjalan ke trotoar. Tempat di mana Haikal dan Ima pertama kali duduk bersama. Ia berlutut di trotoar itu.
"Maafkan ibu, Simpang Camuh," bisiknya. "Maafkan ibu yang sombong. Maafkan ibu yang tidak pernah menghargai pertemuan ini."
Haikal terkejut. Ia tidak menyangka Bu Yolanda akan melakukan itu.
"Bu, bangun. Tidak perlu..."
"Biarkan, Nak. Ini perlu. Ibu perlu melepaskan semua kesombongan yang selama ini ibu bawa."
Bu Yolanda berdiri setelah beberapa saat. Wajahnya basah oleh air mata.
Mereka berjalan ke bistro "Camuh Bistro". Topan menyambut dengan ramah seperti biasa, tapi kali ini Bu Yolanda memeluknya.
"Topan, maafkan ibu yang dulu tidak pernah ramah padamu."
Topan bingung. "Ada apa, Bu?"
"Tidak apa-apa. Ibu hanya... ingin memperbaiki kesalahan."
Mereka makan siang bersama. Bu Yolanda memesan kentang goreng menu favorit Haikal dan Ima. Tapi kali ini, ia tidak hanya memesan. Ia meminta diajari cara membuatnya.
"Ajari ibu, Topan. Ibu ingin bisa membuatkan kentang goreng untuk Haikal dan Ima di rumah."
Dengan sabar, Topan mengajarkan Bu Yolanda membuat kentang goreng. Dari memilih kentang yang tepat, mengupas, memotong, merendam, hingga menggoreng dengan api sedang.
"Ingat, Bu. Kuncinya ada di kesabaran. Seperti kisah cinta mereka."
Haikal yang mendengar itu tersenyum.
"Kamu filosofis, Tan."
"Aku belajar dari kisah kalian."
Sepulang dari Simpang Adipura, Bu Yolanda pamit pulang ke Banjarmasin. Tapi sebelum naik bus, ia memeluk Haikal lama. Bukan pelukan biasa. Pelukan yang terasa berbeda. Hangat. Tulus. Tanpa jarak.
"Haikal, terima kasih. Kamu sudah mengajarkan ibu arti keluarga. Kamu sudah mengajarkan ibu bahwa cinta tidak melihat status. Kamu sudah mengajarkan ibu bahwa menjadi rendah hati itu lebih mulia daripada menjadi sombong dengan darah biru."
"Terima kasih, Bu. Saya hanya menjadi diri saya sendiri."
"Itu yang membuatmu luar biasa, Nak."
Ima memeluk ibunya.
"Ma, jangan lama-lama di Banjarmasin. Sering-sering ke sini."
"Ibu akan ke sini setiap bulan. Janji. Dan ibu akan membawa kentang goreng buatan ibu sendiri."
"Aisyah pasti senang."
"Khalid juga."
Bu Yolanda masuk ke bus. Di jendela, ia melambai. Untuk pertama kalinya, Ima melihat ibunya tersenyum dengan tulus. Tanpa topeng. Tanpa beban.
"Ma, lega rasanya," kata Ima di peron.
"Iya. Akhirnya Ibu merestui kita dengan tulus."
"Restu yang tertunda lima belas tahun."
"Tapi datang juga, Ima. Akhirnya datang."
Mereka pulang ke desa dengan perasaan yang sangat berbeda dari sebelumnya. Bukan lega biasa. Tapi lega yang membebaskan. Seperti beban berton-ton terangkat dari pundak.
Di dalam bus, Bu Yolanda masih melambai. Air matanya tidak berhenti mengalir. Ia memandangi Kapuas yang mulai meninggalkan pandangannya. Kota yang dulu ia anggap kampung dan tidak layak untuknya, kini terasa seperti rumah kedua.
"Maafkan ibu, Nak," bisiknya pada angin. "Ibu butuh waktu lima belas tahun untuk membuka mata. Tapi akhirnya... ibu lihat. Dan ibu tidak akan menutup mata lagi."
Ia membuka ponselnya. Menulis pesan untuk Haikal.
"Haikal, terima kasih untuk kesabaranmu. Terima kasih untuk kebaikanmu. Terima kasih untuk cintamu pada Ima. Ibu bangga memiliki menantu sepertimu. Ibu minta maaf untuk semua keterlambatan ini. Mulai sekarang, ibu akan menjadi ibu yang sesungguhnya untukmu. Bukan karena kewajiban. Tapi karena hati."
Haikal membaca pesan itu berkali-kali. Matanya basah. Ima yang duduk di sampingnya membaca pesan itu juga.
"Kamu nangis, Kal?"
"Aku tidak nangis. Mataku hanya... berkeringat."
Ima tertawa.
"Kamu boleh nangis. Di sini aman. Tidak ada yang melihat."
Haikal menangis. Bukan tangis sedih. Tapi tangis lega. Tangis yang membebaskan beban yang selama ini ia pikul tanpa sepengetahuannya sendiri.
"Aku tidak menyangka akan seperti ini, Ma."
"Aku juga, Kal."
"Aku sudah pasrah. Aku sudah berpikir bahwa Ibu tidak akan pernah menerima aku. Tapi sekarang..."
"Sekarang Ibu menerima kamu. Dengan tulus."
Haikal mengusap airImmatanya.
"Kita beruntung, Ma."
"Kita memang beruntung."
Malam harinya, Haikal menerima pesan lagi dari Bu Yolanda.
"Haikal, maafkan ibu yang lama membenci. Ibu akan usahakan datang setiap bulan. Jaga Ima dan anak-anak baik-baik."
Haikal tersenyum. Ia membalas.
"Siap, Bu. Ima akan saya jaga. Beliau adalah anugerah terbesar dalam hidup saya. Dan Ibu juga, Bu. Ibu adalah anugerah yang saya syukuri."
Bu Yolanda membalas dengan stiker pelukan.
Ima yang melihat pesan itu tersenyum.
"Ibu akhirnya berubah."
"Ibu tidak berubah, Ma. Ibu hanya membuka mata."
"Apa bedanya?"
"Berubah itu menjadi orang baru. Membuka mata itu melihat kebenaran yang sudah ada sejak lama. Selama ini Ibu sudah baik. Ibu hanya tidak sadar."
"Kamu bijak."
"Aku belajar dari kehidupan."
Mereka berdua berbaring di tempat tidur. Suara jangkrik mengiringi malam.
"Haikal, aku bersyukur punya kamu."
"Aku juga bersyukur punya kamu."
"Kita berdua beruntung."
"Kita berdua."
"Haikal, ada satu hal lagi yang aku ingin tanyakan."
"Apa?"
"Kenapa kamu tidak pernah marah pada Ibu? Selama lima belas tahun Ibu bersikap dingin padamu, tapi kamu tidak pernah marah. Tidak pernah mengeluh. Kamu selalu tersenyum setiap kali kami akan berkunjung ke rumah orang tuaku. Kamu selalu bersikap sopan meskipun Ibu tidak pernah membalasnya dengan tulus."
Haikal terdiam sejenak.
"Karena aku punya ayah dan ibu di desa, Ima. Mereka mengajarkanku satu hal: orang tua adalah orang tua. Tidak peduli seberapa dingin mereka, mereka tetap orang yang melahirkanmu, membesarkanmu, dan memberi kehidupan padamu."
"Aku tidak bisa marah pada Ibu, Ma. Ibu adalah ibu kandungmu. Tanpa Ibu, kamu tidak akan ada. Tanpa Ibu, aku tidak akan pernah bertemu denganmu. Tanpa Ibu, aku tidak akan pernah merasakan cinta sebesar ini."
Ima menangis lagi.
"Dan juga, Ima..." Haikal melanjutkan, "aku tahu bahwa kebencian Ibu bukan karena aku. Itu karena masa lalunya. Itu karena luka yang tidak pernah ia sembuhkan. Itu karena ajaran keluarganya yang salah. Aku tidak bisa menyalahkan Ibu atas apa yang diajarkan padanya sejak kecil."
"Kamu pemaaf, Kal."
"Aku bukan pemaaf. Aku hanya tidak ingin membenci. Membenci itu melelahkan. Dan aku sudah lelah dengan banyak hal dalam hidup ini. Aku tidak ingin menambah beban dengan kebencian pada mertuaku sendiri."
Ima memeluk Haikal erat.
"Aku mencintaimu, Haikal."
"Aku juga mencintaimu, Ima."
Setahun kemudian, Bu Yolanda terkena stroke ringan. Haikal langsung menjemputnya ke Banjarmasin dan membawanya ke desa. Ia ingin merawat ibunya sendiri.
"Bu, jangan khawatir. Saya akan urus semuanya," kata Haikal saat Bu Yolanda terbaring di ruang rawat klinik.
"Maaf merepotkan, Nak."
"Ibu tidak merepotkan. Ibu keluarga."
Ima menangis di samping ibunya.
"Ma, kenapa Ibu tidak bilang dari dulu kalau Ibu sering pusing dan tangannya sering kesemutan?"
"Ibu tidak mau merepotkan."
"Kita keluarga, Ma. Tidak ada yang merepotkan."
Bu Yolanda menangis.
"Maafkan ibu yang dulu... ibu... ibu tidak menerima Haikal... sekarang ibu... ibu merepotkannya."
Haikal memegang tangan Bu Yolanda.
"Ibu tidak merepotkan. Saya senang bisa membantu. Ini sudah tugas saya sebagai dokter dan sebagai menantu. Sudah tugas saya sebagai anak."
"Ibu malu."
"Jangan malu, Bu. Yang lalu biarlah berlalu. Yang penting sekarang Ibu di sini. Bersama kami."
Bu Yolanda menjalani perawatan selama satu bulan. Haikal memeriksanya setiap hari dengan penuh ketelitian. Ima merawatnya seperti ibu kandung membersihkan tubuhnya, menyuapi makannya, menemaninya mengobrol. Khalid dan Aisyah bergantian menemani nenek mereka.
"Bu, tekanan darah Ibu sudah normal. Ibu boleh pulang ke Banjarmasin. Tapi harus kontrol rutin setiap bulan," kata Haikal setelah satu bulan.
"Ibu tidak mau pulang. Ibu ingin tinggal di sini."
"Di sini? Di desa?" Ima terkejut.
"Ibu ingin dekat dengan kalian. Ibu ingin menghabiskan sisa hidup ibu di desa ini. Dengan menantu yang ibu caci maki dulu. Dengan anak yang ibu sakiti hatinya selama lima belas tahun. Ibu ingin menebus semua kesalahan ibu."
Haikal tersenyum.
"Ibu tidak perlu minta izin. Rumah kami rumah Ibu. Desa ini desa Ibu. Keluarga ini keluarga Ibu."
Bu Yolanda menangis. Ia memeluk Haikal, Ima, Khalid, dan Aisyah bergantian. Pelukan yang lama. Pelukan yang membasahi bahu mereka dengan air mata penyesalan dan kebahagiaan sekaligus.
"Terima kasih, Nak. Terima kasih sudah menerima ibu."
"Keluarga, Bu. Tidak ada yang perlu ditolak."
Pak Dadang yang ikut pindah beberapa minggu kemudian hanya bisa tersenyum melihat pemandangan itu. Ia berbisik pada Haikal, "Akhirnya, Nak. Akhirnya istriku sadar. Lima belas tahun aku menunggu momen ini."
Haikal menepuk bahu mertuanya.
"Bapak hebat, Pak. Bapak bertahan dengan Ibu selama ini."
"Bukan hebat, Nak. Tapi cinta. Cinta membuatku bertahan. Sama sepertimu yang bertahan pada Ima."
Mereka berdua tersenyum. Di kejauhan, Bu Yolanda sedang belajar membuat kentang goreng di dapur. Ima membantunya. Aisyah dan Khalid ikut bergabung. Tawa mereka terdengar hingga ke halaman.
"Pak," kata Haikal.
"Apa, Nak?"
"Apa Ibu akan benar-benar bahagia di sini?"
Pak Dadang tersenyum.
"Lihatlah, Nak. Ibu tertawa. Ibu tersenyum. Ibu tidak perlu berpura-pura lagi. Itu sudah cukup. Kebahagiaan tidak perlu mewah. Cukup dengan ketulusan."
Haikal mengangguk. Ia memandang ke arah dapur. Ima sedang memeluk ibunya dari belakang, seperti saat Bu Yolanda masih sehat di Banjarmasin dulu. Tapi kali ini, pelukan itu terasa berbeda. Hangat. Tulus. Tanpa jarak.
Malam itu, Haikal menulis surat pada dirinya sendiri. Bukan surat yang akan ia kirim. Tapi surat yang akan ia simpan di hatinya.
"Bu Yolanda, terima kasih untuk lima belas tahun yang sulit. Terima kasih karena Ibu tidak pernah benar-benar menghalangi kami menikah. Terima kasih karena Ibu tetap memasak rendang untuk saya setiap kali kami berkunjung, meskipun hati Ibu belum menerima.
Saya tahu itu tidak mudah bagi Ibu. Saya tahu Ibu telah berjuang melawan apa yang diajarkan pada Ibu sejak kecil. Saya tahu Ibu telah berusaha.
Dan sekarang, setelah Ibu membuka hati, saya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Saya akan menjadi menantu yang lebih baik. Bukan karena saya ingin membuktikan sesuatu. Tapi karena saya ingin Ibu bahagia. Saya ingin Ibu merasakan apa yang selama ini Ibu tidak dapatkan dari keluarga Ibu sendiri: kehangatan, penerimaan, dan cinta tanpa syarat.
Sampai jumpa di lain waktu, Bu. Semoga Ibu sehat selalu."
Haikal melipat surat itu. Memasukkannya ke dalam amplop. Lalu menyimpannya di dalam buku catatannya.
Bukan untuk dikirim. Tapi untuk diingat.
Keesokan paginya, Bu Yolanda sudah berdiri di dapur sejak subuh. Ia membuat sarapan untuk seluruh keluarga. Kentang goreng buatannya sendiri, sambal terasi, telur dadar, dan teh manis.
"Wah, Bu masak sendiri?" tanya Haikal yang baru bangun tidur.
"Iya. Ibu ingin membiasakan diri. Ibu ingin berguna."
"Ibu sudah berguna, Bu. Sejak dulu."
Bu Yolanda tersenyum. Senyum yang tidak perlu dipaksakan.
"Haikal, suatu hari nanti. Ibu akan cerita tentang masa kecil ibu. Tentang kakek dan nenekmu. Tentang mengapa ibu bisa menjadi seperti dulu. Ibu ingin kamu mengerti."
"Saya sudah mengerti, Bu. Tidak perlu cerita. Cukup Ibu tahu bahwa saya tidak pernah marah."
"Kamu percaya?"
"Saya percaya, Bu. Yang lalu biarlah berlalu. Sekarang kita lihat ke depan."
Bu Yolanda memeluk Haikal lagi.
"Anak baik. Ibu beruntung punya menantu sepertimu."
BAB XVII
Pulang ke Desa, Untuk Selamanya
Keputusan Bu Yolanda untuk tinggal di desa Sriwidadi mengguncang seluruh keluarga. Pak Dadang yang semula ragu akhirnya ikut pindah setelah melihat semangat istrinya yang ingin menghabiskan sisa hidup di tengah sawah dan kebun karet. Rumah bambu milik Haikal dan Ima kini berubah menjadi rumah besar setelah direnovasi dengan bantuan Pak Dadang. Dulu hanya tiga ruangan, kini menjadi tujuh ruangan dengan tambahan dua kamar untuk mertua, ruang tamu yang lebih luas, dan dapur permanen.
"Bu, ini kamar Ibu dan Ayah. Maaf sederhana," kata Ima sambil membuka pintu kamar berukuran 3x4 meter dengan jendela menghadap ke sawah.
Bu Yolanda tersenyum. Jendela itu memperlihatkan hamparan padi yang mulai menguning di kejauhan. "Sederhana tapi indah, Nak. Ibu suka."
Pak Dadang yang membawa koper dari Banjarmasin masuk ke kamar. "Wah, pemandangannya bagus. Bisa lihat sawah dari sini."
"Setiap pagi Ayah bisa lihat petani mulai bekerja," kata Haikal sambil membantu membongkar barang-barang yang diangkut dengan truk kecil dari Banjarmasin.
"Ayah bisa ikut bertani?"
"Bisa, Pak. Tapi jangan terlalu berat. Nanti kena darah tinggi lagi."
Pak Dadang tertawa. "Kamu ini dokternya galak."
"Hanya mengingatkan, Pak."
Mereka semua tertawa. Aisyah dan Khalid asyik memindahkan mainan mereka ke kamar masing-masing—kamar yang kini terpisah karena rumah sudah lebih luas.
Klinik "Sriwidadi Sehat" kini semakin ramai dengan kehadiran Bu Yolanda yang setiap pagi membantu menyapu halaman klinik dan mengatur antrean pasien. Ima yang kewalahan dengan jadwal praktik yang padat merasa sangat terbantu.
"Bu, Ibu tidak usah capek-capek," kata Ima saat melihat ibunya menyapu halaman di usia 68 tahun.
"Ibu tidak capek, Nak. Ibu bahagia."
"Sepanjang hidup Ibu di Banjarmasin, Ibu tidak pernah menyapu halaman."
"Di sana tidak ada halaman yang perlu disapu. Yang ada hanya garasi dan taman kecil."
"Sekarang ibu punya halaman luas. Bisa lihat ayam berkeliaran. Bisa lihat kambing-kambing Haikal."
Haikal yang sedang memeriksa pasien di dalam terdengar tertawa. Kambing-kambingnya kini sudah berjumlah 15 ekor, dikelola oleh Pak Karno, tetangga sebelah yang sudah pensiun dari pekerjaannya di pabrik kelapa sawit dan kini lebih memilih beternak.
Bu Yolanda mulai belajar memasak dengan kayu bakar. Selama hidupnya di Banjarmasin, ia selalu menggunakan kompor gas. Kini, karena di desa sering terjadi pemadaman listrik (yang membuat gas tidak bisa digunakan karena kompor gas modern butuh listrik untuk menyalakan percikan api), ia harus beradaptasi.
"Nak, bagaimana cara menyalakan api ini?" tanya Bu Yolanda sambil memegang korek api dan kayu kering di tangan.
"Nanti, Bu. Ajarin sama Mbak Mira," jawab Ima sambil berlalu ke klinik karena ada pasien darurat.
Mira yang kebetulan sedang istirahat dari jadwal kliniknya siang itu menghampiri. "Bu Yolanda, begini caranya. Kayu kering disusun seperti rumah-rumahan. Lalu beri daun kering di tengahnya. Nyalakan daunnya."
Bu Yolanda mengikuti. Setelah beberapa kali percobaan—beberapa kali gagal dan membuat asap mengepul ke mana-mana hingga matanya perih—api akhirnya menyala.
"Berhasil!" seru Bu Yolanda.
"Sekarang kayu besarnya ditambahkan perlahan."
Bu Yolanda menambahkan kayu. Api semakin besar. Wajahnya berseri-seri seperti anak kecil yang baru belajar naik sepeda.
"Bu Yolanda hebat," puji Mira.
"Ibu harus bisa. Ibu ingin masak rendang untuk Haikal."
Kisah Bu Yolanda belajar memasak dengan kayu bakar menjadi humor tersendiri bagi warga desa. Setiap sore, beberapa ibu-ibu berkumpul di dapur rumah Haikal untuk mengajari Bu Yolanda. Mereka menyebut Bu Yolanda dengan panggilan "Bu Yol".
"Bu Yol, apinya jangan terlalu besar. Nanti rendangnya gosong," kata Bu Darmi yang dulu sering bergosip di awal cerita, kini menjadi sahabat dekat Bu Yolanda.
"Iya, Bu. Terima kasih."
"Bu Yol, saya bawa santan dari kelapa kebun saya. Ini segar, baru diperas," kata Bu Lastri, ya, Bu Lastri yang dulu menjual nasi jagung di pinggir jalan Mantangai. Kini ia sudah tidak berjualan lagi karena anaknya, Amin, yang sudah lulus SMA, bekerja di klinik Haikal sebagai asisten administrasi.
"Terima kasih, Bu Lastri. Ibu baik sekali."
"Kita keluarga, Bu Yol."
Bu Yolanda tersenyum. Istilah "keluarga" di desa terasa sangat berbeda dari di kota. Di sini, keluarga tidak hanya darah. Keluarga adalah siapa pun yang saling membantu.
Haikal yang sedang libur praktik sore itu ikut bergabung di dapur. Ia melihat Bu Yolanda sedang mengaduk rendang dengan semangat.
"Wangi, Bu. Saya sudah tidak sabar."
"Bentar lagi matang, Nak. Ibu buat resep khusus. Rahasia keluarga."
"Apa resepnya, Bu?"
"Tidak boleh tahu. Nanti istri saya marah."
Mereka tertawa. Ima yang baru selesai melayani pasien masuk dapur. "Ada apa tertawa-tawa?"
"Bu Yolanda masak rendang."
"Wah, rendang Bu Yolanda terkenal enak."
"Mencicipi dulu," kata Haikal.
"Nggak boleh. Nanti habis sebelum makan malam."
Mereka semua tertawa.
Pak Dadang yang duduk di teras rumah sambil membaca koran ikut nimbrung. "Suara tawa kalian terdengar sampai ke sawah."
"Bagus, Pak. Biar burung-burung ikut bahagia."
Setiap pagi, Bu Yolanda berjalan kaki ke klinik untuk membantu Ima. Jaraknya hanya 50 meter dari rumah. Sepanjang jalan, ia bertemu dengan warga yang menyapanya.
"Selamat pagi, Bu Yol!"
"Selamat pagi, Pak."
"Mau ke klinik, Bu?"
"Iya, mau bantu anak saya."
"Bu Yol baik sekali."
Bagi Bu Yolanda, sapaansapaan seperti ini tidak pernah ia dapatkan di Banjarmasin. Di kota, tetangga hanya saling bersapa jika kebetulan bertemu di lift atau di parkiran. Di desa, setiap orang adalah saudara.
"Bu Yol, saya punya telur ayam kampung. Nanti saya kirim ke rumah," kata Pak Kades Hamid yang kini sudah pensiun namun masih aktif di kegiatan desa.
"Terima kasih, Pak. Saya akan balas dengan kue nastar."
"Wah, nastar Bu Yol terkenal enak!"
Bu Yolanda tersenyum bangga.
Ima mulai mengajak ibunya ikut serta dalam kegiatan posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) yang diadakan setiap hari Selasa di balai desa. Bu Yolanda ragu pada awalnya karena ia tidak memiliki latar belakang kesehatan.
"Ibu tidak bisa, Nak. Ibu bukan perawat."
"Tidak perlu jadi perawat, Ma. Ibu hanya perlu menimbang balita, mencatat buku kesehatan, dan menyapa ibu-ibu yang datang."
"Ibu... ibu grogi."
"Coba saja dulu, Ma."
Bu Yolanda mencoba. Hari pertama ia grogi. Tangannya gemetar saat memegang timbangan. Seorang balita menangis saat ditimbang, membuat Bu Yolanda panik.
"Oh, jangan menangis, Sayang. Nenek tidak akan gigit." Bu Yolanda berbicara dengan suara lembut.
Balita itu berhenti menangis.
"Ibu-ibu hebat," kata seorang ibu muda.
"Terima kasih, Nak. Nenek masih belajar."
Setelah beberapa kali, Bu Yolanda menjadi sangat lihai. Ia bahkan hafal nama-nama balita dan ibunya. Ia juga tahu kapan jadwal imunisasi dan kapan suplemen vitamin harus diberikan.
"Bu Yol, Ibu hebat!" puji Ima.
"Ibu hanya mengikuti arahanmu, Nak."
Pak Dadang tidak mau kalah dengan istrinya. Ia mulai ikut aktif di kegiatan pertanian desa. Setiap pagi, ia berjalan ke sawah milik Haikal, sawah yang dulu digarap oleh Pak Sugeng sebelum meninggal.
"Haikal, ayah ingin belajar bertani."
"Serius, Pak? Ayah kan pedagang."
"Dulu ayah juga petani sebelum pindah ke Kapuas."
"Ayah pernah bertani?"
"Iya. Waktu kecil, ayah hidup di desa. Menanam padi, jagung, singkong. Ayah rindu masa itu."
Haikal tersenyum. "Baik, Pak. Nanti saya perkenalkan dengan Pak Karno. Beliau petani handal."
Pak Dadang belajar bertani dari Pak Karno. Ia belajar mencangkul, menanam padi, memberantas hama, hingga menuai. Kaki dan tangannya berlumpur, tapi matanya berbinar.
"Wah, Pak Dadang hebat. Cepat belajar," puji Pak Karno.
"Dulu saya juga petani, Karno. Tapi sudah lupa."
"Sekarang ingat lagi, Pak."
"Alhamdulillah."
Bu Yolanda mulai merindukan teman-temannya di Banjarmasin. Ia sering menelepon mereka bercerita tentang kehidupan di desa.
"Kamu pindah ke desa, Yol? Gila, kamu?" kata Tuti, sahabat Bu Yolanda sejak SMA.
"Iya, Tut. Aku bahagia di sini."
"Desa apa? Sriwidadi? Di mana itu?"
"Di Kapuas. Dekat transmigrasi."
"Jauh amat. Kamu nggak betah?"
"Aku betah. Aku punya kebun sayur. Aku bisa memetik sayur langsung untuk makan malam. Di Banjarmasin, kamu harus ke pasar atau supermarket."
"Ah, kamu pasti stress di sana."
"Aku tidak stress, Tut. Aku lebih sehat. Darah tinggiku turun. Aku juga tidak perlu minum obat tidur lagi."
Tuti terdiam. "Serius?"
"Serius. Kamu harus coba. Datang ke sini."
"Suamiku nggak akan mau."
"Ajak. Kalau suamimu nggak mau, datang sendiri."
Tuti tertawa. "Aku pikir-pikir dulu."
Khalid yang kini duduk di kelas 11 SMA mulai serius memikirkan masa depannya. Suatu malam, ia bertanya pada Haikal.
"Pa, aku ingin jadi dokter."
Haikal terkejut. "Dokter? Kamu yakin?"
"Yakin. Aku ingin meneruskan perjuangan Papa."
"Perjuangan Papa berat, Nak. Papa jatuh sakit. Papa kecelakaan. Papa hampir menyerah."
"Tapi Papa tidak menyerah. Itu yang membuatku kagum."
Haikal memeluk Khalid. "Kalau kamu jadi dokter, kamu harus siap mengabdi. Bukan mencari uang."
"Aku siap, Pa. Aku ingin membuka klinik di desa ini. Seperti Papa."
Ima yang mendengar percakapan itu ikut memeluk Khalid. "Mama bangga sama kamu, Nak."
"Terima kasih, Ma."
Aisyah yang masih duduk di kelas 5 SD ikut nimbrung. "Aku juga mau. Aku mau jadi perawat. Seperti Mama."
Ima menangis. "Tuhan, terima kasih untuk anugerah ini."
Khalid mulai belajar kedokteran secara otodidak. Ia membaca buku-buku Haikal yang dulu, yang kini tersimpan rapi di rak buku ruang keluarga. Haikal menjadi guru privat bagi anaknya.
"Pa, apa yang paling sulit dari menjadi dokter?" tanya Khalid suatu malam.
"Menahan emosi. Kamu akan bertemu banyak pasien. Ada yang marah. Ada yang menangis. Ada yang menyalahkanmu. Kamu harus tetap tenang."
"Apakah Papa pernah marah?"
"Pernah. Tapi Papa ingat pesan Kakek Sugeng: 'Orang yang bisa menahan amarah adalah orang yang kuat'."
"Kakek Sugeng bijak."
"Iya. Kakek adalah petani biasa, tapi bijaksana."
Sore harinya Haikal dan Ima pergi ke makam orang tua Haikal. Pak Sugeng meninggal dua tahun lalu karena komplikasi diabetes. Bu Ratna meninggal setahun kemudian.
Haikal berdiri di depan makam ayah dan ibunya. Air matanya jatuh.
"Pa, Ma. Maafkan aku. Aku tidak bisa menjaga kalian sampai tua."
Ima memegang bahu Haikal. "Mereka sudah tenang di sana, Kal. Doakan saja."
Haikal berdoa lama. Ia memohon ampunan untuk orang tuanya. Ia memohon kekuatan untuk melanjutkan perjuangan mereka. Ikut mengabdi pada masyarakat desa.
Setelah berdoa, Haikal membersihkan makam itu. Mencabuti rumput-rumput liar yang tumbuh di sekitanya.
"Pa, Ma, saya akan terus berjuang. Saya akan terus mengabdi. Seperti yang Bapak dan Ibu ajarkan."
Ima ikut membantu. Mereka berdua membersihkan makam hingga bersih. Lalu meninggalkan karangan bunga sederhana di atasnya.
"Selamat jalan, Pa, Ma. Semoga kalian tenang di sisi-Nya."
Malam hainya, Haikal bercerita tentang masa kecilnya. Tentang kambing Jebul. Tentang sepeda ontel. Tentang perjalanan 75 kilometer ke Kapuas. Tentang Simpang Camuh.
Khalid mendengarkan dengan saksama. Matanya berkaca-kaca.
"Pa, aku tidak tahu Papa sekuat itu."
"Semua orang punya kekuatan, Nak. Kadang mereka sendiri tidak menyadarinya."
Klinik "Sriwidadi Sehat" kini memiliki program baru: pemeriksaan kesehatan gratis untuk lansia setiap hari Jumat. Program ini diinisiasi oleh Bu Yolanda setelah melihat banyak lansia di desa yang tidak pernah memeriksakan diri ke dokter.
"Ibu tua itu, Bu Darmi, katanya sudah lima tahun tidak ke dokter," cerita Bu Yolanda pada Ima.
"Kenapa, Ma?"
"Takut biaya. Juga takut dirawat di rumah sakit."
"Ibu benar. Banyak lansia di sini yang tidak terakses kesehatan."
"Makanya Ibu ingin ada program khusus untuk mereka."
Ima setuju. Setiap Jumat pagi, puluhan lansia datang ke klinik. Mereka diperiksa tekanan darah, gula darah, kolesterol, dan diberikan penyuluhan tentang pola makan sehat.
"Bu Yol, terima kasih sudah peduli sama kami orang tua," kata Pak Bejo, penyadap karet yang dulu bertemu Haikal di tengah hutan. Ia kini sudah tidak menyadap karet lagi karena usianya yang sudah 80 tahun.
"Terima kasih kembali, Pak. Semoga panjang umur."
"Mudah-mudahan. Saya ingin melihat cicit saya lahir."
Pak Bejo bercerita pada Bu Yolanda tentang pertemuannya dengan Haikal dulu.
"Waktu itu Haikal masih muda. Dia naik sepeda ontel. Mau daftar SMA di Kapuas. Saya bilang, 'Nak, hati-hati di Simpang Camuh'. Ternyata dia ditabrak."
"Siapa yang menabrak?"
"Istri beliau. Ima."
Bu Yolanda tertawa. "Saya tahu. Cerita itu sudah jadi legenda di desa ini."
"Legenda? Memang warga menamainya Simpang Camuh?"
"Bukan. Tapi ada bistro di tempat itu. Namanya Camuh Bistro."
"Wah, Topan yang punya?"
"Iya. Bapak kenal Topan?"
"Dia sering ke sini. Bawa bakso."
Bu Yolanda tersenyum. Desa ini terasa semakin kecil. Semua orang saling kenal. Semua orang saling peduli.
Pak Dadang mulai mengajarkan keterampilan berdagang pada pemuda-pemuda desa. Ia melihat banyak anak muda yang tidak memiliki pekerjaan setelah lulus SMA.
"Nak, kamu mau belajar berdagang?" tanya Pak Dadang pada Junaidi Jr. , anaknya Junaidi, teman Haikal dulu yang kini tinggal di desa setelah gagal merantau ke Balikpapan.
"Mau, Pak. Tapi saya tidak punya modal."
"Modal tidak harus uang. Kamu punya semangat. Itu modal utama."
Pak Dadang mengajarkan cara membuka toko kelontong sederhana. Ia meminjamkan uang tanpa bunga untuk modal awal. Junaidi Jr. membuka toko di pinggir jalan desa. Kini tokonya ramai.
"Terima kasih, Pak Dadang."
"Jangan berterima kasih. Bagikan ilmu pada orang lain."
"Siap, Pak."
Tahun berganti. Kini Haikal berusia 52 tahun. Ima 51 tahun. Khalid sudah lulus SMA dan melanjutkan kuliah kedokteran di Unlam Banjarmasin, kampus yang sama dengan ayahnya dulu. Aisyah duduk di kelas 12 SMA dan bercita-cita menjadi perawat seperti ibunya.
Suatu pagi, Haikal dan Ima berjalan ke sawah. Padi-padi menguning. Burung-burung beterbangan. Langit biru tanpa awan.
"Ma, rasanya baru kemarin kita bertemu di Simpang Camuh."
"Iya. Rasanya baru kemarin kamu masih naik sepeda ontel."
"Sekarang Khalid yang naik sepeda ontel. Sepeda itu masih saya simpan."
"Kamu tidak pernah membuangnya?"
"Tidak. Sepeda itu saksi perjuanganku."
Mereka duduk di pematang sawah. Ima meletakkan kepalanya di pundak Haikal.
"Haikal, bahagia?"
"Sangat."
"Apa sih rahasia kebahagiaan kita?"
"Kita tidak pernah berhenti berjuang. Jatuh? Bangkit. Jatuh lagi? Bangkit lagi. Sampai akhirnya kita berdiri tegak."
"Kita sekarang berdiri tegak."
"Kita sekarang berjalan. Bukan hanya berdiri."
Mereka tersenyum. Di kejauhan, Khalid yang sedang libur kuliah mengayuh sepeda ontel merah marun, sepeda ontel Haikal dulu yang keranjangnya masih penyok.
"Pa! Ma! Lihat, aku bisa naik sepeda ontel!"
"Seperti Papa dulu!" teriak Haikal.
"Seperti Papa yang gagah!" tambah Ima.
Khalid tertawa. Sepeda ontel itu melaju di jalan desa yang berdebu. Angin membawa kenangan.
BAB XVIII
Pernikahan di Bawah Ucapan Doa Desa
Khalid, putra sulung Haikal dan Ima, kini berusia 23 tahun. Ia baru saja menyelesaikan koas (pendidikan klinik) dan resmi menyandang gelar dokter muda. Aisyah, adiknya, yang berusia 20 tahun, sedang berada di tahun akhir pendidikan keperawatannya di Universitas Palangka Raya , kampus yang sama dengan ibunya dulu. Keluarga kecil Haikal bertambah satu anggota baru setelah Khalid memperkenalkan pujaannya.
"Nama dia Alya, Pa. Alya Salsabila. Anak Pak RT sebelah," kata Khalid suatu malam sambil menunjukkan foto di ponselnya. Alya adalah gadis desa yang tumbuh di Sriwidadi. Ayahnya, Pak RT Dullah dulu adalah tetangga Haikal yang sering ceramah panjang lebar di setiap rapat desa. Pak Dullah sekarang sudah pensiun dan lebih banyak menghabiskan waktu di surau desa.
Ima tersenyum melihat foto Alya. "Cantik, Nak. Mirip mamanya?"
"Lebih cantik, Ma."
"Wah, sudah jatuh cinta, ini."
Khalid tersenyum malu. "Aku serius, Ma. Aku ingin menikahinya."
Haikal mengamati foto itu dengan saksama. Wajah Alya bulat dengan senyum yang manis. Matanya ceria. "Apa dia mau menikah denganmu?"
"Kami sudah pacaran dua tahun, Pa. Aku dan Alya serius."
"Apakah orang tuanya setuju?"
"Pak RT Dullah setuju. Beliau bilang, 'Khalid anak baik. Saya tahu keluarganya. Ibu dan Bapaknya orang terpuji di desa ini.'"
Haikal dan Ima saling berpandangan. Air mata Ima mulai mengalir.
Pertemuan antara dua keluarga diadakan di rumah Haikal. Pak RT Dullah datang bersama istrinya, Bu Yati seorang perempuan yang dulu terkenal aslinya penjual gado-gado di pasar Mantangai. Kini ia sudah tidak berjualan lagi karena anak-anaknya sudah pada mapan.
"Assalamualaikum, Dokter Haikal. Assalamualaikum, Mbak Ima," sapa Pak RT Dullah dengan suara khasnya yang lantang. Ia masih sama seperti dulu, hanya rambutnya yang semakin memutih di pelipis.
"Waalaikumsalam, Pak Dullah. Silakan masuk."
Mereka duduk di ruang tamu yang sudah diperluas. Ima menyuguhkan teh manis dan kue nastar buatan Bu Yolanda yang kini sudah mahir membuat kue meskipun menggunakan kompor gas modern yang sudah ada di desa. Listrik kini sudah 24 jam berkat program desa mandiri energi.
"Haikal, saya tidak banyak bicara. Khalid anak baik. Kami setuju," kata Pak Dullah singkat. Tidak seperti dirinya dulu yang suka bertele-tele.
"Terima kasih, Pak. Kami juga setuju dengan Alya. Gadisnya baik, sopan, dan rajin ibadah."
Bu Yati menambahkan, "Alya juga sering cerita tentang Khalid. Katanya Khalid anaknya penyayang. Tidak sombong meskipun sudah jadi dokter."
"Kami didik anak-anak untuk tidak sombong," kata Ima.
"Bagus. Itu yang kami cari."
Mereka berdiskusi tentang tanggal pernikahan. Diputuskan bahwa pernikahan akan digelar tiga bulan lagi, setelah Aisyah lulus dan bisa ikut merayakan.
Persiapan pernikahan dimulai. Haikal dan Ima sibuk mengurus segala keperluan: tenda, katering, undangan, dekorasi, dan lain-lain. Bu Yolanda yang kini berusia 75 tahun masih aktif membantu. Tubuhnya memang sudah tidak sekokoh dulu, tapi semangatnya masih membara.
"Nenek, jangan terlalu capek," kata Aisyah yang sedang libur kuliah.
"Nenek tidak capek, Sayang. Nenek bahagia melihat cucu nenek menikah."
"Alya cantik, Nek?"
"Cantik. Seperti kembang desa."
Aisyah tertawa. "Nenek lebay."
"Nenek jujur."
Pak Dadang yang kini berusia 80 tahun masih ikut mengatur dekorasi. Ia memilih tema warna putih dan emas warna yang dulu ia inginkan untuk pernikahan Ima dengan Haikal, tapi saat itu dana terbatas.
"Yah, dulu pernikahan saya sederhana," kata Haikal sambil membantu Pak Dadang memasang hiasan.
"Kamu tidak pernah protes."
"Tidak perlu protes. Yang penting kami bahagia."
"Kali ini cucu kamu harus dapat pesta yang layak."
Haikal tersenyum. "Terima kasih, Pak."
Khalid dan Alya menjalani sesi foto pranikah di Simpang Adipura tempat yang dulu bernama Simpang Camuh. Haikal dan Ima ikut mendampingi. Topan yang kini memiliki bistro "Camuh Bistro" menawarkan tempatnya untuk lokasi foto.
"Gue kasih diskon spesial buat anaknya Haikal," kata Topan sambil tersenyum.
"Wah, makasih, Pan. Lo baik banget."
"Ya iyalah. Gue kan teman lo."
Foto-foto diambil di depan tugu Adipura, di trotoar, dan di replika sepeda ontel yang tergantung di langit-langit bistro. Khalid dan Alya tampak bahagia. Mereka tertawa, bergandengan tangan, dan saling menatap dengan penuh cinta.
Ima menangis melihat itu.
"Ima, kenapa nangis?" tanya Haikal.
"Aku ingat kita dulu. Waktu foto pranikah, kita hanya berfoto di studio sederhana."
"Sekarang anak kita bisa berfoto di tempat bersejarah."
"Iya. Karena perjuangan kita."
Haikal memeluk Ima. "Kita beruntung, Ma."
H-1 pernikahan. Keluarga dari berbagai daerah mulai berdatangan. Rina datang dari Banjarmasin bersama suami dan dua anaknya. Budi datang dari Balikpapan ia kini bekerja di perusahaan pertambangan sebagai manajer. Rangga datang dari Surabaya ia membuka cabang toko Berkah Jaya di sana dan sukses besar.
"Wah, pada sukses semua," sapa Topan sambil memeluk sahabat-sahabatnya.
"Lo juga sukses, Tan. Bistromu terkenal sampai ke luar kota."
"Alhamdulillah. Berkah persahabatan."
Marni yang kini menjadi guru SMA di Kapuas juga datang bersama suaminya, seorang Polisi bernama Pak Andi. Marni sudah berubah drastis. Ia tidak lagi seperti dulu yang suka memfitnah. Kini ia menjadi sosok yang tenang dan bijaksana.
"Haikal, maafkan aku dulu," bisik Marni sambil memeluk Haikal.
"Sudah lama, Marni. Aku sudah lupa."
"Tapi aku masih ingat. Aku ingin minta maaf secara resmi."
"Ya sudah, aku maafkan. Sekarang kita saudara."
Marni menangis. Ima memeluknya.
Akad nikah digelar di Masjid Agung Kuala Kapuas masjid yang sama tempat Haikal dan Ima menikah dulu. Khalid mengenakan jas hitam dan peci putih. Alya mengenakan gaun putih sederhana dengan jilbab renda.
Penghulu yang memimpin akad nikah adalah Kiai H. Mahfudz, seorang ulama kharismatik yang juga guru ngaji Khalid sejak kecil.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh," sapa Kiai Mahfudz dengan suara berat nan berwibawa.
"Waalaikumsalam," jawab jamaah yang memenuhi masjid.
"Kita akan melangsungkan akad nikah antara Khalid bin Miftahul Haikal dengan Alya Salsabila binti Dullah. Apakah wali dari pihak perempuan hadir?"
"Saya hadir," jawab Pak Dullah dengan suara lantang.
"Apakah saksi dari pihak laki-laki hadir?"
"Saya hadir," kata Junaidi.
"Saya hadir," kata Topan yang ditunjuk sebagai saksi kedua.
"Khalid, ulang kalimat ijab kabul setelah saya."
Khalid menarik napas panjang. Tangannya gemetar. Haikal yang berdiri di sampingnya tersenyum. "Tenang, Nak. Papa di sini."
Khalid mengucapkan ijab kabul dengan lancar. "Saya terima nikahnya Alya Salsabila binti Dullah dengan mas kawin berupa seperangkat alat sholat dan logam mulia seberat 10 gram dibayar tunai."
“Sah.” Kata kedua saksi
"Sah!" seru Kiai Mahfudz melanjutkan.
Tepuk tangan bergemuruh. Ima menangis. Bu Yolanda menangis. Pak Dadang ikut menangis. Haikal memeluk Khalid.
"Selamat, Nak. Kamu sudah menjadi suami."
"Terima kasih, Pa. Doakan kami."
Resepsi pernikahan digelar di halaman balai desa Sriwidadi. Tenda putih membentang luas. Lamplampu hias bergantungan di langit-langit tenda. Ratusan kursi tersusun rapi. Katering menyajikan berbagai macam makanan: nasi kuning, rendang, ayam bakar, ikan patin bakar, dan aneka kue tradisional.
Haikal dan Ima berdiri di pintu masuk untuk menyambut tamu.
"Selamat, Dokter! Selamat, Mbak Ima!"
"Terima kasih. Silakan masuk. Makan sepuasnya."
Topan maju ke panggung. Ia memegang microphone. "Saya Topan, sahabat Haikal dan Ima sejak SMA. Saya ingin menyampaikan kesan untuk kedua mempelai. Khalid, kamu beruntung punya orang tua seperti Haikal dan Ima. Mereka berjuang keras untuk kalian. Jangan sia-siakan."
Tepuk tangan bergemuruh.
"Khalid, kamu juga beruntung punya istri seperti Alya. Dia cantik, pintar, dan baik. Jangan sakiti dia."
"Siap, Om Topan!"
"Jangan panggil Om. Panggil Topan aja. Biar akrab."
Semua tertawa.
Haikal diminta naik ke panggung untuk memberi sambutan. Namun Haikal menolak.
"Biar Ima saja yang naik. Aku tidak terbiasa bicara di depan banyak orang."
"Kamu bisa, Kal," bisik Ima.
"Aku lebih baik dari belakang panggung."
Ima naik ke panggung. Ia memegang microphone dengan tangan gemetar.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."
"Waalaikumsalam," jawab tamu.
"Perkenalkan, saya Ima. Ibu dari Khalid. Istri dari Haikal. Saya hanya ingin menyampaikan terima kasih kepada semua yang sudah hadir. Terima kasih juga kepada semua yang sudah membantu kami sejak dulu. Tanpa kalian, kami tidak akan sampai di titik ini."
Ima menangis. Beberapa ibu-ibu di barisan depan ikut menangis.
"Khalid, Alya, ibu titip masa depan kalian. Bina rumah tangga dengan cinta. Saling menghormati. Saling menyayangi. Jangan ulangi kesalahan ibu dulu."
Ibu Yolanda yang duduk di barisan depan menunduk. Ia tahu Ima mengacu padanya.
"Aamiin," seru jamaah.
Khalid dan Alya berjalan mengelilingi panggung untuk menerima ucapan selamat dari tamu. Haikal dan Ima berdiri di samping mereka.
"Selamat, Dokter Khalid! Selamat, Mbak Alya!"
"Terima kasih."
"Semoga cepat punya anak, ya."
"Aamiin."
Marni datang bersama Pak Andi. "Khalid, maafin Tante dulu yang pernah jahat sama orang tuamu."
"Tante sudah berubah, Tan. Itu yang penting."
"Kamu baik. Seperti ayahmu."
Aisyah yang berdiri di samping Khalid ikut menangis. "Bang, aku iri."
"Iri kenapa?"
"Kamu sudah menikah. Aku belum punya pacar."
"Kamu fokus kuliah dulu. Nanti juga dapat jodoh."
"Iya, Bang."
Sore menjelang malam. Acara resepsi mulai sepi. Tamu satu per satu pamit pulang. Haikal dan Ima duduk di teras balai desa, lelah tapi bahagia.
"Ma, kita sudah punya menantu."
"Iya. Rasanya baru kemarin kita yang menikah."
"Sekarang anak kita yang menikah."
"Waktu berjalan cepat."
"Tapi kenangan kita tetap abadi."
Mereka berpegangan tangan. Senja di desa Sriwidadi begitu indah, dengan warna jingga yang membaur di langit barat, seperti pertama kali mereka bertemu di Simpang Camuh dulu.
"Haikal, aku ingin bilang sesuatu."
"Apa?"
"Aku bahagia. Sangat bahagia."
"Aku juga."
"Kita beruntung punya anak seperti Khalid dan Aisyah."
"Kita beruntung punya menantu seperti Alya."
"Dan kita beruntung punya satu sama lain."
Mereka berpelukan. Angin sore berembus. Daun-daun kelapa bergoyang. Burung-burung tekukur bersahutan di kejauhan.
Malam harinya, Haikal, Ima, Khalid, Alya, Aisyah, Pak Dadang, dan Bu Yolanda berkumpul di ruang keluarga. Mereka makan malam bersama. Menu sisa resepsi: rendang, ayam bakar, dan nasi kuning.
"Nenek, aku kenyang," kata Alya.
"Makan lagi, Neng. Nanti kurus."
"Nggak mau, Nek. Nanti gendut."
"Nggak apa-apa. Nenek suka yang gendut."
Mereka semua tertawa.
"Khalid, kamu harus bisa cari nafkah untuk keluarga," pesan Pak Dadang.
"Siap, Kek. Aku sudah diterima kerja di Puskesmas Mantangai. Mulai bulan depan."
"Bagus. Dekat dengan desa."
"Iya. Aku ingin dekat dengan orang tua."
Haikal memeluk Khalid. "Papa bangga."
Alya mulai beradaptasi dengan keluarga barunya. Ia membantu Ima di klinik setiap pagi. Sore harinya, ia memasak untuk seluruh keluarga. Ia cepat belajar dan disukai oleh semua orang.
"Mbak Alya, masakannya enak," puji Aisyah.
"Terima kasih. Aku belajar dari Ibu."
"Ibu masak enak?"
"Enak. Aku suka sekali."
Aisyah tersenyum. "Nanti aku juga mau belajar masak dari kamu."
"Boleh. Nanti kita masak bareng."
Alya dan Aisyah menjadi seperti kakak beradik. Mereka sering jalan-jalan ke sawah, ke kebun karet, bahkan ke Simpang Adipura untuk sekadar jalan-jalan atau sekadar duduk di bistro Topan.
"Topan, ini keponakan aku," kata Aisyah pada Topan.
"Keponakan? Bukannya menantu?"
"Iya, menantu. Tapi aku anggap kakak."
Topan tertawa. "Keluarga kalian memang kompak."
Suatu malam, Khalid bertanya pada Haikal tentang rahasia pernikahan yang langgeng. Haikal dan Ima sudah menikah lebih 22 tahun pada saat itu genap dua dasawarsa lebih dua tahun.
"Pa, apa rahasianya?"
Haikal tersenyum. "Tidak ada rahasia. Hanya saling percaya dan saling memaafkan."
"Pernah Papa marah sama Mama?"
"Pernah. Sering."
"Ribut?"
"Pernah. Tapi tidak pernah bermalam. Sebelum tidur, kami selalu berbaikan."
"Kenapa?"
"Karena kami tidak tahu apakah besok masih bisa saling memaafkan."
Khalid mengangguk. "Aku akan meniru Papa."
"Kamu jangan meniru Papa. Jadilah dirimu sendiri. Tapi ingat, cinta itu butuh pengorbanan. Bukan hanya kata-kata."
Alya yang mendengar percakapan itu ikut nimbrung. "Papa, pesan apa untuk aku?"
"Jangan pernah bosan mengingatkan Khalid jika dia salah. Perempuan diciptakan sebagai pelengkap laki-laki. Sebagai penyeimbang."
"Siap, Pa."
Ima memeluk Alya. "Kamu menantu idaman, Nak."
Keenam bulan setelah pernikahan, Khalid dan Alya mengumumkan kabar bahagia. Alya hamil. Ima menangis haru.
"Aku akan jadi nenek," bisik Ima sambil memeluk Alya.
"Selamat, Ma. Selamat, Pa," kata Khalid.
Haikal memeluk Khalid. "Papa akan doakan semoga anakmu sehat."
"Terima kasih, Pa."
Bu Yolanda yang mendengar kabar itu langsung bergegas ke dapur. Ia memasak aneka makanan bergizi untuk Alya: sayur bayam, ikan gabus, dan buah-buahan.
"Nenek, aku masih muak, Nek. Belum bisa makan banyak."
"Harus makan, Alya. Demi cucu nenek."
"Baik, Nek. Aku usahakan."
Pak Dadang yang mendengar dari ruang tengah ikut berkomentar. "Nama cucu kita harus bagus, ya."
"Kita pikirkan nanti, Yah. Yang penting sehat dulu."
Sembilan bulan kemudian, Alya melahirkan seorang bayi laki-laki dengan selamat. Berat 3,2 kilogram, panjang 49 sentimeter. Bayi itu diberi nama Miftahul Haikal Jr. diambil dari nama kakeknya.
Haikal menangis saat pertama kali menggendong cucunya. Ima menangis di sampingnya.
"Haikal Jr., selamat datang di dunia," bisik Haikal.
"Akan kakek ajari apa?"
"Kakek akan ajari kamu naik sepeda ontel."
Bayi itu menangis. Mungkin karena tidak suka dengan usulan kakeknya.
Ima tertawa. "Dia tidak suka sepeda ontel, Kal."
"Dia harus suka. Sepeda ontel adalah saksi perjuangan kakeknya."
"Nanti saja kalau dia sudah besar."
Khalid memeluk Haikal. "Terima kasih, Pa. Berkat doa Papa, aku bisa memiliki anak."
"Berkat doa kita semua, Nak. Berkat doa seluruh keluarga."
Malam itu, seluruh keluarga besar berkumpul. Pak Dadang, Bu Yolanda, Haikal, Ima, Khalid, Alya, Aisyah, dan Miftahul Haikal Jr. Mereka makan malam bersama menu rendang Bu Yolanda, ayam goreng Ima, dan sambal terasi Haikal.
"Tradisi keluarga kita harus dijaga," kata Pak Dadang.
"Apa tradisinya, Kek?" tanya Khalid.
"Makan malam bersama. Setiap malam. Tidak perlu mewah. Yang penting berkumpul."
"Setuju, Kek."
Aisyah menambahkan, "Kita juga harus liburan ke Simpang Camuh setiap tahun."
"Simpang Adipura, Sayang," kata Ima.
"Bagiku, tetap Simpang Camuh, Ma."
Mereka semua tertawa. Di luar, bulan purnama bersinar terang. Suara jangkrik dan katak bersahutan. Desa Sriwidadi tampak damai seperti lukisan yang tidak pernah usang.
Haikal dan Ima duduk di teras, menggendong cucu mereka bergantian.
"Ma, kita sudah menyelesaikan misi kita."
"Misi apa?"
"Menikahkan anak. Mendapatkan cucu. Membangun desa."
"Misi kita belum selesai. Masih ada Aisyah. Masih ada cucu-cucu berikutnya. Masih ada generasi yang harus kita didik."
"Kamu benar. Perjuangan kita belum berakhir."
Mereka tersenyum. Bayi mungil di pangkuan Haikal tertidur pulas.
"Selamat datang di keluarga besar, Nak," bisik Haikal pada cucunya. "Semoga kamu tumbuh menjadi pribadi yang kuat. Seperti kakekmu. Seperti ayahmu. Seperti semua lelaki di keluarga ini yang tidak pernah berhenti berjuang."
BAB XIX
Simpang Camuh Di Hati
Haikal kini berusia 62 tahun. Rambutnya hampir seluruhnya putih. Wajahnya dipenuhi kerutan, bukan karena usia saja, tapi karena ribuan malam begadang di klinik, ribuan pasien yang ia tangani, ribuan nyawa yang ia selamatkan. Ima, istrinya yang setia, kini berusia 61 tahun. Ia sudah tidak sebugar dulu. Lututnya sering sakit jika terlalu lama berdiri. Tapi semangatnya untuk melayani masyarakat desa tidak pernah padam.
Miftahul Haikal Jr., cucu mereka yang kini berusia 8 tahun, sudah kelas 3 SD. Anak itu cerdas dan nakal, persis seperti Haikal kecil dulu. Ia sering bertanya tentang masa lalu kakeknya.
"Kek, kenapa kakek punya sepeda ontel tua di gudang?" tanya Haikal Jr. suatu sore saat bermain di rumah kakeknya.
"Sepeda itu saksi perjuangan Kakek, Nak."
"Perjuangan apa, Kek?"
"Perjuangan untuk bisa sekolah. Perjuangan untuk bisa bertemu dengan Nenek."
"Cerita, Kek. Aku mau dengar."
Haikal duduk di kursi goyang bambu peninggalan Pak Sugeng. Ia menggendong Haikal Jr. di pangkuannya. "Dulu, Kakek tinggal di desa ini. Kakek miskin. Tidak punya uang untuk naik mobil ke kota. Jadi Kakek naik sepeda ontel itu. 75 kilometer."
"Jauh, Kek."
"Iya. Kakek hampir menyerah. Tapi Kakek ingat mimpi Kakek: jadi dokter."
"Lalu? Kakek ketemu Nenek?"
"Kakek ditabrak Nenek di Simpang Camuh."
Haikal Jr. tertawa. "Nenek nakal!"
"Nenek tidak nakal. Nenek terburu-buru. Tapi dari tabrakan itu, Kakek dan Nenek jatuh cinta."
"Cinta? Aku juga punya cinta. Aku suka sama Siti."
"Siapa Siti?"
"Teman sekelasku. Cantik."
Haikal tertawa. "Kakek dulu juga suka sama gadis desa. Namanya Siti juga."
"Benarkah, Kek?"
"Benar. Tapi Siti kakek tidak menjadi Nenekmu. Yang menjadi Nenekmu adalah Ima."
"Kenapa Kakek tidak memilih Siti?"
"Karena takdir berkata lain."
Ima yang mendengar percakapan itu dari dapur ikut tertawa. Ia keluar sambil membawa nampan berisi segelas susu dan segelas teh manis, minuman favorit Haikal sejak muda hingga tua.
"Haikal Jr., kamu jangan dengar cerita Kakekmu. Kakekmu itu suka melebih-lebihkan."
"Nenek, aku suka cerita Kakek. Seru."
"Seru tapi tidak semuanya benar."
"Yang mana yang tidak benar, Nek?"
Haikal memotong. "Semua yang Kakek ceritakan adalah benar. Nenekmu hanya malu."
"Iya. Nenek malu. Malu karena nenek yang menabrak kakek."
Haikal Jr. tertawa lagi. "Nenek nakal."
"Ya, nenek nakal. Tapi nenek bertobat."
Mereka bertiga tertawa. Sore itu terasa hangat. Mentari mulai condong ke barat, menyisakan warna jingga yang indah.
Aisyah kini sudah menikah dengan seorang pemuda bernama Fajar, anak dari Budi, teman SMA Haikal yang dulu pendiam dan rajin membaca. Fajar adalah seorang insinyur pertanian yang bekerja di Dinas Pertanian Kabupaten Kapuas. Mereka dikaruniai seorang putri bernama Azzahra, yang kini berusia 3 tahun.
Khalid dan Alya sekarang memiliki dua orang anak: Haikal Jr. (8 tahun) dan Fatimah (4 tahun). Keluarga besar Haikal dan Ima semakin ramai. Setiap akhir pekan, mereka berkumpul di rumah Haikal. Anak-anak berlarian di halaman. Orang dewasa bercerita di ruang tamu.
"Yah, rumah ini semakin sempit," kata Ima suatu hari.
"Kita perlu rumah yang lebih besar," jawab Haikal.
"Tambah kamar?"
"Tambah lantai. Jadi dua lantai."
"Biayanya?"
"Kita punya tabungan. Juga bisa pinjam dari bank."
Ima setuju. Mereka mulai merenovasi rumah. Kini rumah mereka menjadi rumah dua lantai yang cukup megah, tapi tetap sederhana, tidak berlebihan. Lantai bawah untuk ruang tamu, dapur, dan kamar tamu. Lantai atas untuk kamar tidur Haikal dan Ima, serta kamar untuk anak-anak jika pulang.
Di usia 62 tahun, Haikal mulai mengurangi jam praktik di klinik. Ia hanya praktik pagi hingga siang. Sore dan malam ia serahkan pada dokter muda yang ia rekrut: dr. Fajar (menantunya, meskipun Fajar adalah insinyur pertanian, tetapi ia memiliki latar belakang pendidikan kedokteran hewan, dan setelah belajar intensif, ia mendapatkan izin praktik untuk menangani kasus-kasus ringan pada manusia dengan supervisi Haikal).
"Pak, saya masih perlu belajar banyak," kata dr. Fajar suatu sore.
"Kamu sudah hebat, Fajar. Kamu cepat belajar."
"Terima kasih, Pak. Berkat bimbingan Bapak."
Ima yang mendengar dari ruang pemeriksaan ikut memuji. "Fajar memang anak pintar. Aisyah beruntung."
"Terima kasih, Ma."
Haikal merasa lega. Klinik "Sriwidadi Sehat" yang ia dirikan puluhan tahun lalu kini berjalan dengan baik, dikelola oleh generasi berikutnya.
Suatu malam, Haikal dan Ima duduk di teras lantai dua. Dari sana, mereka bisa melihat desa Sriwidadi. Lampu-lampu rumah warga berkelap-kelip. Suara azan magrib berkumandang dari surau desa.
"Haikal, kita sudah tua."
"Iya. Kita sudah tua."
"Apa yang paling kamu syukuri dalam hidup?"
"Kamu."
"Aku?"
"Iya. Kamu yang setia menemani. Kamu yang sabar menghadapi aku. Kamu yang mau ikut aku ke desa."
Ima memegang tangan Haikal. "Aku juga bersyukur punya kamu."
"Kita berdua beruntung."
"Kita berdua."
Mereka diam sejenak. Menikmati malam. Angin berdesir. Daun-daun kelapa bergoyang.
"Haikal, kamu pernah menyesal tidak kuliah di luar negeri? Banyak temanmu yang jadi profesor di universitas ternama."
"Tidak. Aku tidak menyesal."
"Kenapa?"
"Karena aku di sini. Di desa. Melayani orang-orang yang membutuhkan. Itu lebih bermakna daripada gelar profesor."
"Kamu baik."
"Aku tidak baik. Aku hanya menjalankan amanah."
Keesokan paginya, Haikal menerima surat dari Rina sahabatnya yang kini menjadi pustakawan senior di Perpustakaan Daerah Banjarmasin. Surat itu berisi undangan untuk acara reuni akbar SMA Negeri 1 Kuala Kapuas satu angkatan (angkatan Haikal dan Ima). Acara akan diadakan di Simpang Adipura tepatnya di bistro "Camuh Bistro" milik Topan.
"Ma, kita diundang reuni."
"Reuni? Siapa yang mengadakan?"
"Topan. Katanya 20 tahun kita lulus SMA."
"Wah, sudah 20 tahun?"
"Iya. Rasanya baru kemarin."
Mereka berdua tersenyum. Mengingat masa-masa SMA yang penuh drama.
"Kita harus datang, Ma."
"Aku juga mau."
"Aku akan konfirmasi ke Topan."
Hari reuni tiba. Haikal dan Ima berpakaian rapi. Haikal mengenakan kemeja batik lengan panjang dan celana bahan hitam. Ima mengenakan gamis berwarna krem dengan jilbab senada, seperti saat mereka pertama kali bertemu di Simpang Camuh.
"Ma, kamu cantik."
"Kamu juga ganteng."
"Walaupun sudah tua?"
"Walaupun sudah tua. Cinta tidak melihat usia."
Mereka naik motor menuju Kapuas. Haikal mengendarai motor dengan hati-hati. Ima memeluk pinggangnya.
"Haikal, ingat dulu kita naik motor pertama kali?"
"Ingat. Waktu itu aku yang bonceng kamu."
"Sekarang kamu yang bonceng aku."
"Giliran."
Mereka tertawa. Angin pagi berembus. Rambut putih Haikal dan Ima berkibar.
Di Simpang Adipura, suasana meriah. Tenda putih didirikan di halaman bistro. Lampu-lampu hias bergelantungan. Musik lama diputar, lagu-lagu lama.
Topan menyambut di pintu masuk. Ia sudah gemuk, rambutnya hampir botak, tapi senyumnya masih sama seperti dulu.
"Haikal! Ima! Datang juga akhirnya!"
"Kaaaannn, undangan dari lo masa nggak datang?"
Mereka berpelukan. Rina menyusul dari belakang.
"Haikal, kamu masih kurus!"
"Aku tidak pernah gemuk, Rin."
"Budi mana? Rangga mana?" tanya Ima.
"Mereka belum datang. Mungkin macet."
Mereka masuk ke dalam bistro. Dinding bistro masih dipenuhi foto-foto lama. Foto Haikal dengan sepeda ontel. Foto Ima dengan motor maticnya. Foto mereka berdua di Simpang Camuh. Foto kelulusan. Foto wisuda.
Ima menangis melihat foto-foto itu.
"Ma, kenapa nangis?"
"Aku ingat masa lalu. Kita sudah melewati banyak hal."
"Itu yang membuat kita kuat."
Acara reuni dimulai dengan sambutan dari Topan sebagai ketua panitia.
"Selamat datang, teman-teman. Senang melihat kalian semua masih hidup. Masih sehat. Masih bisa tertawa."
Tepuk tangan bergemuruh.
"Kita sudah 20 tahun lulus SMA. Banyak yang sudah berubah. Ada yang jadi dokter, perawat, pengusaha, PNS, bahkan ada yang jadi staf menteri?"
Semua tertawa.
"Tapi yang tidak berubah adalah persahabatan kita. Persahabatan yang lahir di Simpang Camuh."
Topan memandang Haikal dan Ima. "Terima kasih untuk Haikal dan Ima. Kisah cinta kalian menginspirasi kita semua. Bahwa cinta tidak semudah yang dibayangkan. Butuh perjuangan. Butuh air mata. Butuh keyakinan."
Tepuk tangan bergemuruh lagi.
Haikal dan Ima berdiri. Mereka berjalan ke depan. Haikal memegang microphone.
"Terima kasih, Topan. Terima kasih teman-teman. Saya tidak akan bisa menjadi seperti sekarang tanpa dukungan kalian. Terima kasih sudah menjadi keluarga bagi saya."
Ima menambahkan, "Simpang Camuh mungkin sudah berubah nama. Tapi di hati kami, namanya tetap Simpang Camuh. Tempat cinta kami dimulai."
Mereka berpelukan. Topan, Rina, Budi, Rangga, Marni, dan lainnya ikut memeluk.
Setelah acara, mereka makan siang bersama. Menu favorit: kentang goreng dan es teh manis. Meskipun sudah tua, mereka tetap menikmati makanan sederhana itu.
"Haikal, ingat waktu kita pertama kali makan kentang goreng di sini?" tanya Ima.
"Ingat. Kamu yang traktir."
"Aku masih punya utang?"
"Utangmu sudah lunas. Sekarang kita berbagi."
Mereka tertawa.
Rangga yang duduk di seberang ikut nimbrung. "Dulu aku benci kalian. Sekarang aku iri."
"Iri kenapa?"
"Iri karena kalian masih bersama. Sedangkan aku sudah dua kali cerai."
"Kamu tidak usah iri, Rang. Jodoh itu rahasia Tuhan."
"Kamu bijak, Haikal."
"Aku tidak bijak. Aku hanya belajar dari kesalahan."
Budi yang kini menjadi manajer di perusahaan pertambangan di Balikpapan bercerita tentang kesuksesannya.
"Dulu aku anak pendiam. Tidak percaya diri. Tapi Haikal mengajarkan bahwa setiap orang punya potensi. Kita hanya perlu menemukannya."
"Apa yang kamu temukan, Bud?"
"Aku menemukan bahwa aku pintar berhitung. Itu yang membawaku sukses."
"Hebat, Bud."
"Terima kasih, Haikal."
Rina yang kini menjadi pustakawan senior juga bercerita. "Aku dulu suka membaca. Haikal sering pinjam buku ke perpustakaan. Dia bilang, 'Rin, buku itu jendela dunia.' Sekarang aku meneruskan semangat itu ke anak-anak muda."
"Kamu hebat, Rin."
"Kita semua hebat."
Setelah makan siang, Haikal dan Ima berjalan ke tugu Adipura. Lampu merah masih menyala. Orang-orang berlalu lalang.
"Haikal, kamu ingat lampu merah ini?"
"Ingat. Aku tidak tahu artinya. Kamu marah-marah."
"Sekarang kamu tahu artinya?"
"Lampu merah untuk berhenti."
"Apa yang kamu pelajari dari berhenti?"
"Aku belajar bahwa hidup tidak perlu terburu-buru. Yang penting kita di jalan yang benar."
"Kita di jalan yang benar, Kal."
"Iya. Kita di jalan yang benar."
Mereka berdiri di depan tugu. Haikal memeluk Ima. Tidak peduli dengan orang yang melihat. Tidak peduli dengan usia.
"Ima, aku mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu, Kal. Sampai mati."
Lampu berganti hijau. Orang-orang mulai berjalan. Tapi Haikal dan Ima tetap berdiri di sana. Tidak ada yang perlu terburu-buru lagi.
Sore harinya, mereka kembali ke desa. Haikal mengendarai motor dengan hati yang tenang. Ima di belakangnya memeluk pinggang Haikal.
"Haikal, aku ingin membuat taman di belakang rumah."
"Taman? Untuk apa?"
"Untuk kita. Tempat duduk-duduk. Menikmati sore."
"Baik. Aku akan buatkan."
"Kamu bisa?"
"Aku bisa. Dulu aku buat kandang kambing sendiri."
Ima tertawa. "Kandang kambing tidak sama dengan taman."
"Sama-sama butuh kerja keras."
Mereka tertawa. Angin sore berembus. Rambut putih mereka berkibar.
Minggu berikutnya, Haikal mulai membangun taman. Ia menanam bunga-bunga: mawar, melati, kamboja, dan bougenville. Ia juga membuat kolam kecil dengan ikan koi.
"Wah, Kakek hebat!" puji Haikal Jr. saat melihat taman yang mulai terbentuk.
"Ayo, bantu Kakek."
Mereka berdua menanam bunga bersama. Haikal Jr. riang. Tangannya berlumpur.
"Nanti kalau bunga sudah mekar, kita bisa duduk-duduk di sini sambil minum teh."
"Boleh, Kek. Aku suka teh."
"Kamu masih kecil. Minumnya susu."
"Ya sudah, susu."
Haikal tersenyum. Ia membayangkan hari tua yang tenang. Ditemani Ima. Ditemani taman. Ditemani bunga-bunga yang mekar.
"Sesuatu yang indah," bisiknya.
Taman selesai dalam waktu satu bulan. Haikal dan Ima duduk di kursi bambu di tengah taman. Bunga mawar mulai mekar. Melati harum semerbak. Koi-koi berenang riang di kolam.
"Ma, ini surga kecil kita."
"Iya. Surga di desa."
"Apa kamu bahagia?"
"Sangat."
"Aku juga."
Mereka berpegangan tangan. Menikmati sore. Warna jingga bercampur ungu di langit barat.
"Haikal, apakah cinta kita tersandera di Simpang Camuh?"
"Tidak, Ima. Cinta kita tidak pernah tersandera. Ia hanya singgah sebentar di sana. Lalu pulang ke sini. Ke desa. Ke rumah kita. Ke hati kita."
"Aku suka itu."
"Aku juga."
Mereka diam. Angin berdesir. Daun-daun melati berguguran.
"Haikal, aku ingin kamu tahu satu hal."
"Apa?"
"Aku tidak akan menukar hidupku dengan siapa pun. Meskipun diberi harta berlimpah. Meskipun diberi istana."
"Aku juga."
"Kita berdua beruntung."
"Kita berdua."
Mereka berpelukan. Di kejauhan, suara azan magrib berkumandang. Haikal dan Ima bergegas mengambil wudhu. Mereka sholat berjamaah di surau kecil yang mereka bangun di samping taman.
Usai sholat, mereka duduk lagi di kursi bambu.
"Ima, besok kita ke Simpang Camuh lagi."
"Untuk apa?"
"Membawa Haikal Jr. Aku ingin dia melihat langsung tempat Kakek dan Nenek bertemu."
"Baik. Aku setuju."
Malam itu, mereka tidur dengan tenang. Mimpi indah tentang masa lalu yang penuh perjuangan. Tentang masa depan yang penuh harapan.
BAB XX
Simpang Camuh Di Hati
Langit Desa Sriwidadi masih berpendar oranye ketika Haikal membuka matanya untuk yang kesekian kalinya dalam hidupnya. Namun pagi ini berbeda. Pagi ini ia bangun dengan perasaan yang aneh, bukan sedih, bukan senang, tapi semacam kepasrahan yang damai. Usianya kini 75 tahun. Ima, istrinya yang setia, sudah tiada. Lima tahun yang lalu, Ima dipanggil oleh Yang Maha Kuasa setelah sekian lama berjuang melawan komplikasi diabetes dan jantung. Haikal tidak menangis saat Ima menghembuskan napas terakhirnya. Ia justru tersenyum.
"Pergilah dengan tenang, Ma," bisiknya saat itu, sambil memegang tangan Ima yang sudah dingin. "Aku akan menyusul nanti. Doakan aku."
Khalid, Aisyah, menantu-menantu, dan cucu-cucu menangis di sekeliling ranjang. Tapi Haikal tetap tegar. Ia sudah berjanji pada Ima: tidak akan menangis di depan anak-anak. Air mata hanya boleh jatuh di tempat sepi, di mana hanya Allah yang melihat.
Kini, lima tahun setelah kepergian Ima, Haikal hidup sendiri di rumah dua lantai yang dulu mereka bangun bersama. Anak-anaknya bergantian menjenguk. Khalid yang kini menjadi kepala puskesmas di Mantangai selalu datang setiap akhir pekan. Aisyah yang menjadi perawat di RSUD dr. H. Soemarno Sosroatmaojo Kuala Kapuas juga rutin menelepon setiap malam. Tapi Haikal menolak untuk tinggal bersama mereka.
"Aku betah di sini. Ini rumahku. Ini rumah Ima. Aku tidak akan meninggalkannya."
Haikal berjalan ke taman di belakang rumah. Taman yang dulu ia buat untuk Ima kini masih terawat. Bunga-bunga masih mekar. Melati masih harum. Kolam ikan koi masih bening meskipun ikannya sudah berganti beberapa generasi.
Ia duduk di kursi bambu yang sama, tempat ia dan Ima biasa duduk setiap sore. Di sampingnya, secangkir teh manis masih mengepul. Di pangkuannya, sebuah album foto usang.
"Hari ini kita akan bernostalgia, Ima," bisiknya sambil membuka album itu.
Foto pertama: Haikal dengan sepeda ontelnya. Keranjang penyok. Stang miring. Haikal tersenyum. "Sepeda ini masih kusimpan di gudang, Ma. Kadang Haikal Jr. naik kalau main ke sini. Dia bilang, 'Kek, sepedanya berat. Nggak seperti sepeda zaman sekarang.'"
Foto kedua: Haikal dan Ima di Simpang Camuh. Lampu merah di belakang mereka. Wajah mereka masih muda. Haikal teringat saat pertama kali ia menyatakan cinta.
"Waktu itu aku gugup, Ima. Tanganku gemetar. Aku takut kamu menolak. Tapi kamu bilang, 'Aku juga suka sama kamu.' Aku hampir pingsan."
Foto ketiga: Kelulusan SMA. Haikal dan Ima memegang ijazah. Topan menjulurkan lidah di belakang mereka.
"Topan sekarang sudah pensiun, Ma. Bistronya diurus anaknya. Dia sering main ke sini. Kita tertawa-tawa mengingat masa lalu."
Haikal terus membuka album itu. Satu per satu foto ia ceritakan pada Ima yang tidak lagi berada di sampingnya. Tapi ia yakin Ima mendengar. Dari surga. Dari tempat yang jauh lebih indah dari taman kecil mereka.
"Kek! Kek!"
Haikal Jr., yang kini berusia 28 tahun, bergegas masuk ke taman. Ia sudah lulus dari Fakultas Kedokteran Unlam dan sedang menjalani koas di rumah sakit Banjarmasin. Ia mewarisi semangat kakeknya untuk menjadi dokter desa.
"Ada apa, Nak? Kamu terburu-buru."
"Kek, aku punya kabar baik. Aku diterima kerja di Puskesmas Mantangai. Mulai bulan depan."
Haikal tersenyum. "Selamat, Nak. Kakek bangga."
"Terima kasih, Kek. Doakan aku."
"Kakek selalu mendoakanmu. Juga mendoakan almarhumah Nenekmu. Semoga dia bangga melihat cucunya jadi dokter."
Haikal Jr. duduk di samping kakeknya. Ia menatap album foto yang terbuka.
"Kek, ini foto Kakek sama Nenek?"
"Iya. Waktu masih muda."
"Nenek cantik."
"Iya. Nenekmu cantik. Dan baik hati. Kakek beruntung."
"Cerita lagi, Kek. Tentang pertemuan Kakek dan Nenek."
Haikal tersenyum. Ia bercerita untuk yang kesekian kalinya. Tentang sepeda ontel. Tentang perjalanan 75 kilometer. Tentang lampu merah. Tentang tabrakan. Tentang cinta yang tumbuh di Simpang Camuh.
Haikal Jr. mendengarkan dengan saksama, meskipun ia sudah hafal cerita itu di luar kepala. Tapi mendengar dari mulut kakeknya langsung terasa berbeda. Ada getaran di setiap kata. Ada air mata di setiap kalimat.
"Kek, aku ingin ke Simpang Camuh."
"Simpang Adipura, Nak."
"Bagiku tetap Simpang Camuh, Kek. Seperti kata Nenek dulu."
Haikal tersenyum. "Kakek akan mengantarmu."
Mereka naik motor tua Haikal, motor yang sama yang digunakan Haikal dan Ima selama puluhan tahun. Mesinnya masih kencang. Bodinya masih mulus karena dirawat dengan penuh cinta.
Perjalanan dari Sriwidadi ke Kapuas memakan waktu satu jam lebih. Haikal Jr. yang membawa kakeknya. Haikal duduk di belakang, memeluk pinggang cucunya.
"Kek, aku mirip Kakek dulu?"
"Mirip. Sama-sama berjuang."
"Tapi Kakek dulu naik sepeda ontel. Aku naik motor. Berarti Kakek lebih hebat."
"Tidak, Nak. Setiap generasi punya perjuangannya sendiri."
Sesampainya di Simpang Adipura, Haikal terkesiap. Tempat itu sudah berubah total. Tugu Adipura masih berdiri, tapi kini dikelilingi oleh taman yang lebih luas. Air mancur baru ditambahkan di depan tugu. Lampu-lampu hias berwarna-warni.
"Kek, ini beda dengan foto."
"Iya. Waktu terus berubah. Tempat juga berubah. Tapi kenangan tidak."
Haikal berjalan ke trotoar. Lampu merah menyala. Ia berhenti. Haikal Jr. berdiri di sampingnya.
"Kek, ini tempat Kakek ditabrak Nenek?"
"Iya. Dulu di sini. Trotoar ini masih tanah. Kakek duduk di sini, lutut berdarah."
"Nenek marah?"
"Marah. Tapi setelah itu minta maaf. Lalu kita berteman. Lalu jatuh cinta."
"Cinta yang indah, Kek."
"Cinta yang penuh perjuangan, Nak. Tidak instan seperti sekarang."
Mereka masuk ke bistro "Camuh Bistro". Topan sudah tiada. Meninggal dua tahun lalu karena serangan jantung. Kini bistro itu dikelola oleh anaknya, Topan Jr. , seorang pemuda ramah dengan senyum khas ayahnya.
"Selamat datang, Kek Haikal. Silakan duduk."
"Terima kasih, Nak. Kamu masih ingat Kakek?"
"Masih. Ayah sering cerita tentang Kakek."
"Topan baik. Kakek kehilangan sahabat."
Topan Jr. tersenyum. "Ayah juga bilang, 'Haikal adalah sahabat sejatinya.'"
Haikal menangis. Haikal Jr. memeluk kakeknya.
"Kek, jangan sedih. Om Topan sudah tenang di sana."
"Kakek tidak sedih, Nak. Kakek terharu."
Mereka memesan kentang goreng dan es teh manis, menu favorit Haikal dan Ima dulu.
"Rasanya masih sama," kata Haikal.
"Resepnya masih sama, Kek. Ayah tidak mengubahnya."
"Topan hebat. Dia menjaga kenangan."
Setelah makan, Haikal berjalan ke tugu Adipura bersama Haikal Jr. Lampu merah masih menyala. Beberapa anak muda sedang berfoto di depan tugu. Haikal tersenyum melihat mereka, mengingatkannya pada masa mudanya yang penuh semangat.
"Nak, tolong foto Kakek di sini," pinta Haikal pada seorang pemuda yang kebetulan lewat.
"Siap, Kek."
Haikal berdiri di depan tugu. Lampu merah di belakangnya. Ia tersenyum. Pemuda itu mengambil foto.
"Ini, Kek."
Haikal melihat hasil fotonya. Ia tersenyum. Di foto itu, ia tampak tua. Rambut putih. Wajah berkerut. Tapi matanya masih bersinar. Sinar yang sama saat ia pertama kali bertemu Ima.
"Nak, kirim foto ini ke nomor Kakek, ya."
"Siap, Kek."
Haikal menyimpan foto itu di ponselnya. Ia akan menjadikannya wallpaper. Pengganti foto Ima yang selama ini ia simpan.
"Kek, kita pulang?" tanya Haikal Jr.
"Sebentar, Nak. Kakek mau ke suatu tempat."
"Ke mana?"
"Ikuti Kakek."
Haikal berjalan menyusuri Jalan Adi Pura, dulu bernama Jalan Cilik Kriwut. Ia berhenti di depan sebuah ruko dua lantai. Dulu di sini berdiri Toko Berkah Jaya milik Pak Dadang.
"Kek, ini toko apa?"
"Dulu toko kakekmu. Toko Berkah Jaya. Tempat Nenekmu dibesarkan."
"Sekarang menjadi apa?"
"Ruko kosong. Pemiliknya sudah pindah."
Haikal menatap ruko itu lama. Ia teringat Pak Dadang yang sudah meninggal 10 tahun lalu. Bu Yolanda yang menyusul 5 tahun setelahnya. Mereka dimakamkan di desa Sriwidadi, tidak jauh dari makam Pak Sugeng dan Bu Ratna.
"Kek, Kakek sedih?"
"Kakek tidak sedih. Kakek bersyukur."
"Bersyukur karena apa?"
"Karena Kakek sempat menjadi bagian dari keluarga ini."
Perjalanan pulang ke desa terasa lebih tenang. Haikal Jr. mengendarai motor dengan hati-hati. Haikal di belakangnya memeluk pinggang cucunya.
"Kek, aku ingin cerita sesuatu."
"Apa, Nak?"
"Aku punya pacar. Namanya Zaskia. Dia mahasiswi kedokteran juga. Semester 6."
"Wah, serius?"
"Serius. Aku ingin menikahinya setelah lulus."
"Apakah dia baik?"
"Baik. Sama seperti Nenek."
Haikal tersenyum. "Kakek doakan semoga kalian bahagia."
"Terima kasih, Kek. Doakan juga semoga cinta kami sekuat cinta Kakek dan Nenek."
"Cinta yang sekuat itu tidak mudah, Nak. Butuh pengorbanan. Butuh air mata. Butuh kesabaran."
"Aku siap, Kek."
"Bagus. Kakek bangga."
Setiba di desa, matahari sudah mulai terbenam. Haikal bergegas ke taman belakang. Ia duduk di kursi bambu. Di sampingnya, secangkir teh manis yang sudah dingin.
"Ma, aku baru pulang dari Simpang Camuh," bisiknya. "Tempat itu sudah berubah. Tapi kenangan kita masih tetap."
Ia menghirup teh dingin itu. Rasanya masih sama seperti dulu. Pahit manis. Seperti hidup.
"Ma, cucu kita, Haikal Jr., sudah jadi dokter. Dia mau menikah. Doakan dia, ya. Doakan agar keluarganya bahagia. Doakan agar cintanya kuat."
Ia terdiam. Angin berdesir.
"Ma, aku rindu kamu."
Air mata Haikal jatuh untuk pertama kalinya setelah lima tahun. Ia tidak tahan lagi. Ia menangis. Menangis lama. Menangis seperti anak kecil yang kehilangan mainan favoritnya.
"Ma, aku janji akan tetap kuat. Aku janji akan terus berjuang. Aku janji akan menjaga anak-anak dan cucu kita."
Malam itu, Haikal tidak bisa tidur. Ia berbaring di ranjang yang dulu ia tempati bersama Ima. Sepi. Dingin. Tapi ia tidak sendiri. Ia punya kenangan.
Ia membuka ponselnya. Melihat foto-foto lama. Foto Ima saat masih muda. Foto Ima saat hamil Khalid. Foto Ima saat menggendong Aisyah. Foto Ima saat wisuda. Foto Ima saat di taman.
"Cantik," bisiknya. "Kamu tetap cantik, Ima. Sampai sekarang."
Ia membuka chat terakhir dengan Ima. Chat dari lima tahun lalu, sebelum Ima dirawat di rumah sakit.
"Kal, aku sayang kamu. Jangan pernah lupa." Haikal membalas chat itu. Meskipun ia tahu Ima tidak akan pernah membaca.
"Ma, aku juga sayang kamu. Sampai mati. Dan setelah mati."
Ia mematikan ponsel. Memejamkan mata. Membayangkan Ima tersenyum di sampingnya.
Pagi harinya, Khalid dan Alya datang dari Mantangai. Mereka membawa Fatimah (cucu Haikal yang kini berusia 24 tahun) dan suaminya. Keluarga berkumpul di ruang tamu.
"Pa, kok kelihatan lelah?" tanya Khalid.
"Ayah kurang tidur. Semalam ayah tidak bisa tidur."
"Kenapa, Pa?"
"Ayah terkenang Ima."
Khalid memeluk ayahnya. "Maaf, Pa. Kami sering sibuk. Kurang perhatian."
"Tidak apa-apa, Nak. Ayah mengerti."
"Pa, dari sekarang kami akan bergantian jaga Ayah. Tidak boleh Ayah sendirian lagi."
Haikal menolak. "Ayah tidak sendirian. Ayah punya Ima. Ima selalu di sini." Haikal menunjuk dadanya.
"Tapi secara fisik, Ayah sendirian."
"Itu pilihan Ayah."
Khalid menghela napas. Ia tahu ayahnya keras kepala. Seperti dulu. Tidak berubah.
Setelah selesai berkumpul, Haikal berjalan ke gudang. Ia mengeluarkan sepeda ontel tuanya. Keranjang masih penyok. Stang masih miring. Ban masih bocor.
"Sepeda tua," bisiknya.
Ia membersihkan sepeda itu. Menyetelnya sedikit demi sedikit. Memompa ban. Meluruskan stang. Meminyaki rantai.
"Kek, Kakek mau naik sepeda?" tanya Haikal Jr. yang kebetulan lewat.
"Iya. Kakek mau keliling desa."
"Kakek kuat?"
"Kakek masih kuat."
Haikal menaiki sepeda ontel itu. Ia mengayuh perlahan. Meninggalkan rumah. Melewati sawah. Melewati kebun karet. Melewati klinik "Sriwidadi Sehat" yang kini dikelola oleh dr. Fajar.
Warga desa yang melihatnya melambai. "Halo, Dokter Haikal!"
Haikal membalas lambaian itu. Di matanya, ada kebahagiaan. Kebahagiaan sederhana yang tidak bisa dibeli dengan uang.
Haikal berhenti di makam Ima. Ia memarkir sepeda ontelnya. Berjalan ke makam yang tertata rapi dengan bunga-bunga segar.
"Ima, aku datang."
Ia duduk di samping makam. Membaca doa. Memohon ampunan. Memohon agar Ima ditempatkan di surga.
"Ma, aku naik sepeda ontel. Sepeda yang dulu. Kamu ingat?"
Ia bicara pada batu nisan. Tapi ia yakin Ima mendengar.
"Ima, aku rindu suaramu. Rindu senyummu. Rindu pelukanmu."
Ia menangis lagi. Kali ini tidak ditahan.
"Ima, doakan aku. Doakan anak-anak kita. Doakan cucu-cucu kita."
Angin berembus. Daun-daun melati berguguran di atas makam. Haikal mengusap air matanya.
"Ma, aku akan baik-baik saja. Janji."
Tiga bulan kemudian, Haikal jatuh sakit. Bukan sakit biasa. Ini sakit yang serius. Dokter mendiagnosis kanker paru stadium lanjut. Mungkin karena puluhan tahun terpapar asap kendaraan saat berdagang keliling dulu. Mungkin juga karena usia.
"Pa, kita harus berobat ke Banjarmasin," kata Khalid.
"Tidak usah, Nak. Ayah sudah tua. Biarkan Ayah pergi dengan tenang."
"Tapi Pa..."
"Ayah sudah siap. Ayah ingin bertemu Ima."
Khalid menangis. Aisyah menangis. Anak-anak dan cucu-cucu berkumpul di sekitar ranjang.
"Pa, jangan pergi," pinta Aisyah sambil memegang tangan ayahnya.
"Ayah harus pergi, Sayang. Ini sudah waktunya."
Haikal memandang satu per satu anak dan cucunya. Ia tersenyum.
"Khalid, jaga adikmu. Jaga keluargamu. Jangan ulangi kesalahan ayah."
"Ayah tidak pernah salah, Pa."
"Ayah banyak salah. Tapi ayah belajar dari kesalahan."
Haikal memejamkan mata. Nafasnya mulai tersengal.
"Pa, jangan... jangan..." Aisyah terisak.
Haikal membuka mata untuk terakhir kalinya. Ia menatap langit-langit. Tersenyum.
"Ima, aku datang."
Nafasnya berhenti.
EPILOG
Empat puluh tahun kemudian.
Simpang Adipura tidak lagi sekedar persimpangan. Pemerintah Kabupaten Kapuas telah merenovasi total area tersebut menjadi Taman Kota Adipura yang hijau dan modern. Air mancur menari-nari di tengah taman. Bangku-bangku taman yang nyaman tersedia untuk warga yang ingin bersantai. Pepohonan rindang memberikan keteduhan. Lampu-lampu hias berwarna-warni menyala di malam hari, menciptakan suasana yang romantis dan kekinian.
Tugu Piala Adipura masih berdiri sederhana di pusat taman, sebagai pengingat akan prestasi kebersihan yang pernah diraih. Dan di depan tugu itu, didirikan sebuah patung perunggu sebagai ikon baru taman kota. Patung seorang laki-laki muda dengan sepeda ontel yang keranjangnya penyok, dan seorang perempuan muda dengan motor matic. Mereka tersenyum, saling berpapasan di bawah lampu lalu lintas yang sedang menyala merah. Di kaki patung, terukir sebuah plakat kecil:
"Dua insan yang bertabrakan di sini, lalu jatuh cinta, berjuang, dan mengabdi. Inspirasi bagi kami bahwa cinta sejati tidak pernah tersandera."
— Keluarga Besar dr. Miftahul Haikal & Ima Rosita Sari
Taman Kota Adipura menjadi tujuan favorit warga Kapuas setiap akhir pekan. Anak-anak bermain di area bermain. Remaja nongkrong di kafe-kafe sekitar. Orang tua duduk di bangku taman sambil menikmati angin sore. Dan setiap tahun, warga Desa Sriwidadi mengadakan acara "Mudik Cinta" ke Taman Kota Adipura. Mereka mengenang perjuangan Haikal dan Ima. Mereka bercerita pada anak cucu mereka tentang cinta yang tidak pernah tersandera.
Khalid, yang kini berusia 70 tahun, menjadi pencerita utama. Ia duduk di kursi roda di bawah rindangnya pohon trembesi, dikelilingi oleh anak-anak dan cucunya yang puluhan jumlahnya.
"Ayah dan Ibu saya bertemu di sini," ujarnya, suaranya parau tapi matanya berbinar. "Waktu itu, tempat ini masih bernama Simpang Camuh. Sangat kacau. Banyak debu. Tapi di sinilah mereka ditabrak. Lalu jatuh cinta. Lalu berjuang. Lalu menikah. Lalu mengabdi di desa hingga akhir hayat."
Seorang cucu perempuan yang masih kecil bertanya dengan polos, "Kek, kenapa patung Kakek Haikal dan Nenek Ima ada di sini?"
"Karena di sinilah cinta mereka dimulai, Sayang," jawab Khalid lembut. "Dan karena kakek dan nenekmu ingin menginspirasi semua orang bahwa rintangan sekecil apa pun tidak akan menghalangi cinta yang tulus."
"Kek, apakah cinta mereka tersandera di Simpang Camuh dulu?" tanya cucu yang lain.
Khalid tersenyum, menatap patung orang tuanya yang disinari mentari sore. "Tidak, Nak. Cinta mereka tidak pernah tersandera. Ia hanya singgah sebentar di persimpangan yang kacau ini. Lalu pulang ke desa. Ke hati. Ke tempat yang abadi. Dan kini, kisah mereka abadi di sini, di Taman Kebanggaan Kota Kapuas."
Seorang pemuda yang tidak dikenal ikut mendengarkan dari kejauhan. Matanya berkaca-kaca. Ia kemudian berjalan menuju patung itu, menatap wajah Haikal dan Ima, lalu tersenyum. Ia adalah Dani, cucu dari Topan Jr., yang baru saja lulus dari fakultas kedokteran.
"Kisah yang luar biasa," bisiknya.
Dani merapikan jaket putihnya, berdoa sejenak di depan patung, lalu berjalan pergi. Ia akan memulai tugasnya sebagai dokter muda di Puskesmas Mantangai, meneruskan jejak perjuangan sang legenda.
EPILOG PENUTUP
Lima belas tahun setelah Haikal berpulang, di bangku taman depan Posyandu Desa Sriwidadi, seorang nenek tua duduk sendirian. Bukan Ima, Ima sudah lebih dulu pergi. Ini adalah Aisyah, putri bungsu Haikal dan Ima, yang kini berusia 75 tahun. Ia ditemani oleh Haikal Jr. yang sudah beruban.
"Kak, aku merindukan Papa dan Mama," kata Aisyah. Suaranya parau karena usia.
Haikal Jr. memegang tangan bibinya. "Mereka sekarang bersama, Bib. Di surga. Dan kisah mereka abadi di Taman Kota Adipura."
"Aku ingin segera menyusul."
"Jangan bicara begitu, Bib. Kamu masih panjang umur. Lagipula, bukankah kita harus melanjutkan perjuangan mereka?"
Aisyah tersenyum.
Di kejauhan, seorang pemuda mengayuh sepeda ontel. Keranjangnya penyok. Stangnya miring. Mirip sekali dengan sepeda Haikal dulu. Haikal Jr. tersenyum lebar.
"Sepeda itu..."
"Sepeda Kakek kita. Sepeda yang dulu ia pacu 75 kilometer untuk mengejar mimpi," kata Haikal Jr. dengan bangga.
Pemuda itu berhenti di depan mereka. Wajahnya segar, berkeringat, tapi matanya bersemangat. "Selamat pagi, Nenek. Selamat pagi, Kek. Saya Dani. Cucu dari Pak Topan Jr. Saya baru saja lulus dari FK Unlam. Besok saya mulai tugas di Puskesmas Mantangai."
"Wah, selamat, Nak," sapa Aisyah.
"Terima kasih, Nenek. Saya sengaja main ke sini dulu. Saya mau berziarah ke makam Kakek dan Nenek Haikal. Saya juga mau mampir ke Taman Kota Adipura. Katanya di sana ada patung mereka."
Haikal Jr. mengusap bahu pemuda itu. "Kami akan antarkan, Nak. Ayo, naik sepeda dulu."
"Ayo, Kek."
Mereka bertiga berjalan menuju makam keluarga di belakang klinik. Lampu-lampu jalan desa mulai menyala. Usai berdoa, mereka melanjutkan perjalanan menuju ibu kota.
Di Taman Kota Adipura, lampu-lampu taman mulai bersinar. Air mancur menari-nari gemulai. Patung Haikal dan Ima berdiri gagah di bawah sinar lampu merah yang sengaja dipertahankan sebagai saksi bisu.
Mereka bertiga berdiri di depan patung itu. Dani menunduk, berdoa. Haikal Jr. memegang bahu Dani. Aisyah tersenyum, menatap patung kedua orang tuanya.
"Papa, Mama... lihatlah," bisik Aisyah. "Perjuangan kalian tidak sia-sia. Dokter-dokter muda terus bermunculan. Desa kita semakin maju. Dan cinta kalian... akan terus diceritakan dari generasi ke generasi."
Mereka bertiga terdiam.
Lampu merah menyala.
Seorang anak kecil bertanya pada ibunya yang sedang duduk di bangku taman, "Bu, kenapa ada patung om dan tante di sini?"
Sang ibu tersenyum. "Itu bukan om dan tante, Sayang. Itu Kakek Haikal dan Nenek Ima. Mereka berdua jatuh cinta di sini. Mereka berjuang untuk desa kita. Mereka adalah pahlawan cinta sejati."
Lampu berganti hijau.
Anak itu melambai ke arah patung. "Halo, Kakek Haikal! Halo, Nenek Ima!"
Di kejauhan, Aisyah, Haikal Jr., dan Dani berjalan meninggalkan taman itu. Langit senja berwarna jingga keemasan. Burung-burung tekukur bersahutan di kejauhan.
Cinta tak pernah tersandera. Ia hanya singgah. Lalu pulang. Dan sesekali, ia abadi dalam sebuah patung di taman yang indah.
***SELESAI***
"Cinta tak pernah tersandera. Ia hanya singgah. Lalu pulang."
Anang
30 Januari 2025 19:28:34
Lanjutkan mas... Semoga website desa pian semakin maju...