ROMAN EPIK
MERPATI TAK PERNAH INGKAR JANJI
“Sahabat sejati akan tetap menjaga kepercayaan dan tidak meninggalkan janji persahabatan, tempat, jarak dan waktu memisahkannya.”
Disclaimer
Roman Epik ini terinspirasi dari kisah nyata yang dibalut dengan unsur dramatik dan pengembangan cerita demi kepentingan sastra. Beberapa dialog, suasana, dan adegan telah dikembangkan tanpa menghilangkan inti kisah persahabatan yang menjadi ruh utama cerita. Semua nama tokoh, tempat, dan peristiwa tetap dihormati sebagai bagian dari kenangan yang memiliki nilai kehidupan, persahabatan, kesetiaan, perjuangan, dan cinta yang tumbuh dalam kesederhanaan masa remaja.
Oleh: Slamet Riyadi
PROLOG
MERPATI DAN JANJI YANG TAK PERNAH PUDAR
Malam itu hujan turun perlahan di Desa Sriwidadi.
Suara katak bersahutan dari parit belakang rumah. Lampu neon di ruang kerja kecil milik Riyadi berkedip pelan. Di atas meja kayu yang mulai kusam, sebuah laptop menyala menampilkan halaman website desa yang baru saja selesai diperbarui.
Namun malam itu bukan laporan desa yang membuatnya sulit tidur.
Bukan pula berita kegiatan masyarakat.
Melainkan sebuah nama.
Nama yang selama tiga puluh dua tahun tetap hidup diam-diam di sudut hatinya.
Ari Yanti.
Perempuan kecil manja dari Dusun Kersan, Desa Tegorejo.
Perempuan yang dulu selalu memanggilnya dengan sebutan sederhana namun hangat:
“Kaang...”
Riyadi menatap layar kosong Microsoft Word yang sejak satu jam lalu belum juga terisi tulisan baru. Tangannya menggantung di atas keyboard. Di luar jendela, hujan semakin rapat.
Ia menarik napas panjang.
“Sinok...” bisiknya lirih.
Nama panggilan itu begitu saja keluar seperti kebiasaan puluhan tahun lalu belum pernah hilang.
Di dinding ruang kerja tergantung foto keluarganya. Istri dan anak-anaknya tersenyum bahagia. Kehidupannya kini sebenarnya baik-baik saja. Ia bekerja sebagai perangkat desa, dikenal aktif menulis, membantu publikasi website desa, bahkan beberapa tulisannya mulai dibaca banyak orang.
Namun ada satu ruang kecil dalam hatinya yang tak pernah benar-benar tertutup.
Ruang bernama kenangan.
Kenangan tentang sepeda ontel.
Tentang latihan karate.
Tentang jalanan sore Desa Tegorejo.
Tentang suara tawa seorang gadis remaja yang selalu membuat hari-harinya hidup.
Dan tentang sebuah kalimat yang tak pernah ia lupakan sampai hari ini.
“Merpati tak pernah ingkar janji...”
Kalimat itu diucapkan Ari Yanti puluhan tahun lalu di Kota Semarang.
Saat mereka masih terlalu muda untuk memahami arti kehilangan.
Saat mereka belum tahu bahwa hidup akan memisahkan mereka begitu jauh.
Jauh oleh pulau.
Jauh oleh usia.
Jauh oleh waktu.
Dan jauh oleh takdir.
Riyadi memejamkan mata.
Kenangan itu kembali satu per satu.
Tentang Ari Yanti yang suka merengek jika sedang sedih.
Tentang Bu Yati yang selalu berpesan:
“Yadi... jaga Yanti ya.”
Tentang perjalanan ke Semarang.
Tentang latihan karate di hari Minggu pagi.
Tentang rasa cemburu yang tak pernah berani ia akui.
Tentang kepergiannya merantau tanpa pamit.
Dan tentang seorang gadis yang ditinggalkannya dalam kebingungan selama puluhan tahun.
Ia membuka kembali Facebook malam itu.
Jarinya berhenti pada sebuah foto perempuan setengah baya dengan senyum yang masih sama seperti dulu.
Waktu memang mengubah wajah.
Namun tidak pada mata itu.
Mata yang dulu selalu berbinar saat bercanda dengannya.
Mata yang dulu sering menangis di pundaknya ketika hatinya terluka.
Mata yang dulu memandangnya dengan rasa percaya paling tulus.
Riyadi tersenyum tipis.
Tangannya gemetar saat mulai mengetik pesan.
“Assalamu’alaikum... apakah ini Ari Yanti?”
Ia diam.
Tak ada balasan.
Menit berganti jam.
Malam semakin larut.
Namun hatinya justru semakin gaduh.
Sampai akhirnya sebuah notifikasi kecil muncul di layar.
Dan dunia yang telah terpisah selama tiga puluh dua tahun itu...
perlahan kembali menemukan jalannya.
BAB I
SENJA DI DESA TEGOREJO
Langit Desa Tegorejo sore itu berwarna jingga keemasan.
Hamparan sawah membentang luas di kiri kanan jalan desa. Angin membawa aroma jerami dan tanah basah selepas hujan siang tadi. Anak-anak kecil berlarian di pematang sambil tertawa riang. Suara burung pipit bersahutan di kejauhan.
Di sebuah rumah sederhana di Dusun Kersan, seorang gadis remaja sedang duduk di teras sambil menyisir poni rambutnya yang berantakan.
Namanya Ari Yanti.
Usianya baru menginjak tiga belas tahun.
Namun hampir semua orang di kampung mengenalnya.
Bukan karena kenakalan.
Bukan karena prestasi.
Tetapi karena sifatnya yang terlalu mudah akrab dengan siapa saja.
“Yantiii...!”
Suara ibunya terdengar dari dalam rumah.
“Eh iya Buk!”
Ari Yanti buru-buru berdiri.
Ia berlari kecil masuk ke dapur.
Bu Yati sedang menggoreng tempe sambil sesekali mengipas tungku kayu.
“Kamu tuh kalau sore jangan main terus,” omel Bu Yati tanpa menoleh.
Ari Yanti manyun.
“Lha ini tadi cuma duduk sebentar kok Buk...”
“Sebentar katanya. Tadi habis pulang sekolah langsung ke rumah Mutia, terus ke rumah Lia, terus ke warung.”
Ari Yanti terkekeh kecil.
“Hehehe...”
Bu Yati menggeleng.
Anaknya memang sulit diam.
Namun di balik sifat manjanya, Ari Yanti adalah anak yang perasa.
Sejak ayahnya meninggal dunia saat ia masih kecil, hidup mereka tidak mudah. Bu Yati harus bekerja keras membesarkan Ari Yanti dan adiknya, Sari.
Karena itulah Bu Yati menjadi sangat protektif.
Terlalu sayang.
Terlalu khawatir kehilangan.
Sementara di dusun lain, tepatnya di Tegolayang, seorang remaja laki-laki sedang memperbaiki rantai sepeda ontelnya.
Tubuhnya tinggi kurus.
Kulitnya agak gelap terbakar matahari.
Tatapannya tenang.
Namanya Riyadi .
Berbeda dengan Ari Yanti yang cerewet dan supel, Riyadi lebih pendiam.
Namun di lingkungan karate SMPN 1 Pegandon, ia cukup dikenal.
Sabuk coklat.
Asisten pelatih.
Dan sering membantu melatih junior-juniornya.
“Yadi!”
Suara dari jalan membuat Riyadi menoleh.
Aziz melambaikan tangan dari kejauhan.
“Latihan jadi ta?”
“Jadi. Jam empat.”
Aziz mendekat sambil membawa sandal jepit di tangan.
“Si Yanti nanti ikut juga?”
Riyadi pura-pura sibuk membetulkan rantai.
“Yo ikut lah. Wong dia rajin.”
Aziz tersenyum jail.
“Rajin latihan apa rajin nyari kamu?”
“Mulutmu kui lho...” gerutu Riyadi sambil melempar kain lap.
Aziz tertawa keras.
Semua orang memang tahu Ari Yanti sangat dekat dengan Riyadi.
Meski hubungan mereka belum jelas disebut apa.
Teman?
Kakak-adik?
Atau lebih dari itu?
Bahkan mereka sendiri belum pernah benar-benar memikirkannya.
Yang mereka tahu...
mereka nyaman bersama.
Sore itu lapangan SMPN 1 Pegandon mulai ramai.
Suara pukulan dan teriakan kiai karate menggema.
“HIYAAAT!”
Sensei Sambas berdiri di tengah lapangan memperhatikan murid-muridnya.
“Barisan rapi!”
Ari Yanti datang terlambat sambil ngos-ngosan.
Rambut panjangnya dikuncir seadanya.
“Maaf Senseiiii!”
Beberapa murid tertawa kecil.
Sensei Sambas menghela napas panjang.
“Kamu lagi kamu lagi Yantiii...”
Ari Yanti nyengir.
Lalu matanya langsung mencari seseorang.
Dan begitu menemukan Riyadi berdiri di sisi lapangan...
senyumnya berubah cerah.
“Kaanggg...!”
Riyadi langsung menutup wajah dengan handuk kecil.
“Aduh mulai lagi...” gumamnya pelan.
Ari Yanti menghampiri tanpa rasa bersalah.
“Kaang nanti sparing sama aku ya.”
“Enggak.”
“Kenapa?”
“Kamu kalau sparing sukanya curang.”
“Aku kan perempuan.”
“Itu bukan alasan.”
“Tapi aku manis.”
Aziz yang mendengar langsung tertawa terbahak-bahak.
“Wes Yadi... ngalah wae!”
Ari Yanti menjulurkan lidah jahil.
Riyadi hanya bisa geleng kepala.
Dan tanpa mereka sadari...
senja-senja sederhana seperti itulah yang kelak akan menjadi kenangan paling mahal dalam hidup mereka.
BAB II
SINOK DAN KAKANG
Pagi di Desa Tegorejo selalu dimulai dengan suara ayam jantan dan embun yang masih menggantung di ujung daun padi.
Jalan-jalan desa yang belum beraspal sempurna mulai ramai oleh warga yang berangkat ke sawah. Sesekali terdengar suara sepeda ontel berderit melewati pematang. Udara pagi terasa dingin, namun hangatnya matahari perlahan mulai menyentuh atap-atap rumah warga.
Di rumah sederhana milik Bu Yati, Ari Yanti masih sibuk berdiri di depan cermin kecil yang tergantung di ruang tengah.
“Rambutku kok kayak sapu ijuk begini sih...” gerutunya sambil menyisir poni.
Dari dapur terdengar suara Sari tertawa kecil.
“Mbak Yanti lama banget dandannya.”
“Biarin!”
“Mau ketemu Kakang ya?”
“Eh sembarangan!”
Sari makin tertawa.
Bu Yati keluar sambil membawa piring nasi goreng.
“Sudah sana sarapan dulu. Nanti telat sekolah lagi.”
Ari Yanti langsung duduk sambil manyun.
“Buk... nanti pulangnya latihan karate ya?”
“Iya tahu.”
“Tapi pulangnya mungkin agak sore.”
Bu Yati langsung menatap tajam.
“Jangan keluyuran.”
“Enggak kok.”
“Sama siapa nanti?”
Ari Yanti sedikit gugup.
“Sama teman-teman.”
“Teman siapa?”
“Ya... semua.”
Bu Yati diam beberapa detik lalu berkata pelan:
“Kalau ada Riyadi ya ibu tenang.”
Ari Yanti spontan tersenyum kecil.
Entah kenapa nama itu selalu membuat hatinya hangat.
Meski ia sendiri belum benar-benar mengerti perasaannya.
Di SMPN 1 Pegandon suasana sudah ramai.
Anak-anak berseragam putih biru memenuhi halaman sekolah. Ada yang bercanda, ada yang membeli jajanan, ada pula yang buru-buru masuk kelas karena takut guru datang duluan.
Ari Yanti berjalan bersama Santi dan Tusi.
“Heh Yanti...” bisik Santi sambil menyenggol lengan Ari Yanti.
“Apaan?”
“Itu Kakangmu lewat.”
Ari Yanti langsung menoleh refleks.
Di kejauhan terlihat Riyadi sedang berjalan membawa tas lusuh di pundaknya. Seragam putih abu-abunya terlihat rapi meski sudah agak pudar.
Karena berbeda tingkat kelas, Riyadi memang lebih senior dua tahun darinya.
Namun entah kenapa Ari Yanti merasa selalu ingin dekat dengannya.
“Kaanggg!”
Riyadi langsung berhenti.
Beberapa siswa menoleh.
Riyadi menghela napas panjang.
“Aduh... jangan teriak-teriak.”
Ari Yanti malah tertawa.
“Biarin.”
Santi dan Tusi saling pandang sambil menahan senyum.
“Eh Yanti...” goda Tusi pelan, “kalian sebenarnya pacaran ya?”
“Enggak!”
“Boong.”
“Serius!”
“Terus kenapa manggil Kakang?”
Ari Yanti mendadak diam.
Pertanyaan itu sebenarnya sering ia dengar.
Namun ia sendiri bingung menjawabnya.
Riyadi bukan pacarnya.
Bukan juga saudara kandung.
Tapi rasanya berbeda dari teman laki-laki lain.
Ia merasa aman saat bersama Riyadi.
Merasa dilindungi.
Merasa dimengerti.
Dan yang paling aneh...
ia merasa bisa menjadi dirinya sendiri tanpa takut dihakimi.
Riyadi memperhatikan Ari Yanti yang mendadak diam.
“Ayo masuk kelas sana.”
“Iya Kakang.”
“Nah itu lagi.”
Ari Yanti terkekeh kecil.
Sebelum pergi ia sempat berbisik pelan:
“Nanti latihan jangan pulang dulu ya.”
Riyadi menghela napas.
“Iya cerewet.”
Namun diam-diam senyum kecil muncul di wajahnya.
Sore harinya latihan karate kembali digelar di halaman sekolah.
Suara pukulan tangan ke samsak terdengar bersahutan.
“HIYAAT!”
Sensei Anton berdiri memperhatikan murid-murid.
Sementara Riyadi membantu membetulkan posisi kuda-kuda junior.
“Tangan lurus.”
“Iya Senpai.”
“Kaki jangan goyang.”
Ari Yanti dari kejauhan memperhatikan Riyadi sambil tersenyum sendiri.
Mutia yang berdiri di sampingnya menyikut pelan.
“Dilihatin terus tuh.”
“Hush.”
“Suka ya?”
“Apaan sih.”
“Tiap latihan matamu nyari dia terus.”
Ari Yanti pura-pura sibuk mengencangkan sabuk karate.
Namun pipinya mulai merah.
Latihan hari itu diisi sparing kumite.
Dan seperti biasa...
Ari Yanti langsung mendekati Riyadi.
“Kaang sparing sama aku.”
“Cari yang lain.”
“Enggak mau.”
“Kamu sukanya nyakar.”
“Aku kan cewek.”
“Itu bukan aturan karate.”
Ari Yanti memasang wajah memelas.
“Pleaseeee...”
Aziz yang mendengar langsung nyeletuk:
“Yadi ngalah wae. Kasihan tuh Sinok.”
Semua tertawa.
Riyadi melotot.
“Jangan panggil Sinok keras-keras!”
Ari Yanti justru tersenyum senang.
Nama itu memang hanya Riyadi yang biasa memanggilnya.
Dan entah kenapa...
ia menyukai panggilan itu lebih dari apa pun.
Sparing dimulai.
Ari Yanti berdiri berhadapan dengan Riyadi.
Keduanya memasang posisi kuda-kuda.
“Hajime!”
Baru beberapa detik...
Ari Yanti langsung menyerang sembarangan sambil tertawa.
“HIYAA!”
“Eh serius sedikit!”
“Enggak mau kalah.”
“Ini latihan bukan pasar malam.”
Ari Yanti menyerang lagi.
Riyadi menghindar dengan mudah.
Namun tiba-tiba...
BUGH!
Ari Yanti terpeleset sendiri.
“Aduhhh!”
Riyadi refleks menangkap tubuhnya sebelum jatuh keras.
Lapangan mendadak hening beberapa detik.
Ari Yanti mendongak.
Wajah mereka sangat dekat.
Mata Ari Yanti membulat.
Sementara Riyadi terlihat salah tingkah.
Dan suara Aziz kembali terdengar paling keras:
“WOOOHHH!”
Semua langsung tertawa ramai.
Ari Yanti buru-buru berdiri sambil malu.
“Apaan sih kalian!”
Aziz ngakak sambil tepuk tangan.
“Latihan karate rasa sinetron!”
Bahkan Sensei Sambas sampai menggeleng geli.
“Sudah latihan yang benar!”
Namun sejak kejadian itu...
godaan teman-teman semakin menjadi-jadi.
Malam harinya Ari Yanti duduk di teras rumah sambil memandangi langit.
Angin malam terasa dingin.
Sari duduk di sebelahnya sambil makan kerupuk.
“Mbak...”
“Hm?”
“Mbak suka ya sama Kak Riyadi?”
Ari Yanti langsung menoleh cepat.
“Kamu kecil ngerti apa.”
“Tapi Mbak beda kalau sama Kak Riyadi.”
“Beda gimana?”
“Lebih manja.”
Ari Yanti terdiam.
Ucapan Sari membuat hatinya terusik.
Benarkah?
Apakah ia memang menyukai Riyadi?
Atau hanya merasa nyaman karena sejak kecil selalu dilindungi?
Namun satu hal yang pasti...
setiap kali Riyadi tidak ada...
harinya terasa kosong.
Dan itu membuatnya takut mengakui sesuatu yang belum siap ia pahami.
Di tempat lain malam itu, Riyadi juga duduk sendiri di depan rumahnya.
Angin pelan meniup rambutnya.
Aziz yang baru datang langsung duduk di sampingnya.
“Yadi.”
“Hm?”
“Kamu suka ya sama Yanti?”
Riyadi diam lama.
Lalu menjawab pelan:
“Dia itu adik.”
Aziz tertawa kecil.
“Kalau cuma adik, matamu gak bakal beda tiap lihat dia.”
Riyadi menatap jalanan gelap di depannya.
Entah kenapa...
untuk pertama kalinya ia mulai takut kehilangan seseorang.
Dan nama itu adalah...
Ari Yanti.
BAB III
CINTA PERTAMA
Musim kemarau mulai datang di Desa Tegorejo.
Sawah-sawah yang beberapa bulan lalu hijau kini perlahan menguning. Angin sore membawa debu tipis dari jalan desa yang dilalui sepeda-sepeda ontel para pelajar. Anak-anak kecil bermain layangan di lapangan dekat mushola, sementara suara radio dangdut dari warung kopi Pak Darno terdengar samar sampai ke gang-gang kecil dusun.
Namun di tengah suasana desa yang tenang itu...
hati Ari Yanti justru sedang gaduh.
Semua bermula karena satu nama.
Nur.
Seorang pemuda kampung sebelah yang beberapa tahun lebih tua darinya.
Tubuhnya tinggi, rambutnya klimis, dan dikenal cukup pendiam. Tidak seperti teman-teman laki-laki lain yang suka bercanda berlebihan, Nur lebih tenang dan terlihat dewasa di mata Ari Yanti yang masih remaja.
Dan seperti kebanyakan kisah cinta pertama anak desa tahun 90-an...
semuanya dimulai dari tatapan sederhana.
Sore itu Ari Yanti sedang menyapu halaman rumah ketika Nur lewat mengendarai sepeda motor tua Yamaha RX-King warna hitam.
BRRMMMM...
Motor itu berhenti tepat di depan rumah Bu Yati.
Ari Yanti refleks pura-pura fokus menyapu.
Nur turun sambil tersenyum tipis.
“Bu Yati ada?”
“Ada...” jawab Ari Yanti pelan.
Bu Yati keluar dari dalam rumah sambil membawa kain lap.
“Eh Nur... sini masuk.”
Nur ternyata hendak mengantar titipan dari pamannya yang masih kerabat jauh Bu Yati.
Namun sejak hari itu...
ia mulai sering datang.
Kadang hanya sebentar.
Kadang sambil ngobrol di teras.
Kadang membantu memperbaiki genteng bocor.
Dan tanpa disadari...
perasaan Ari Yanti mulai tumbuh perlahan.
Malam hari di kamar kecilnya, Ari Yanti tersenyum sendiri sambil membuka buku tulis.
Sari yang tidur di sebelah langsung memperhatikan.
“Mbak senyum-senyum sendiri.”
“Enggak.”
“Boong.”
“Tidur sana!”
Sari cekikikan.
“Mbak suka Mas Nur ya?”
Ari Yanti langsung melempar bantal.
“Berisik!”
Namun wajahnya merah padam.
Itulah pertama kalinya dalam hidup Ari Yanti merasakan sesuatu yang berbeda.
Perasaan gugup.
Menunggu seseorang datang.
Dan diam-diam berharap diperhatikan.
Beberapa minggu kemudian hubungan mereka semakin dekat.
Nur sering mengantar Ari Yanti pulang latihan karate.
Kadang menunggu di depan sekolah.
Kadang mengirim salam lewat teman.
Dan bagi remaja seusia Ari Yanti...
itu sudah cukup membuat dunia terasa indah.
Suatu sore setelah latihan karate selesai, Ari Yanti berjalan keluar gerbang sekolah bersama Riyadi .
Namun begitu melihat Nur sudah menunggu di bawah pohon mangga depan sekolah...
langkahnya langsung berubah ceria.
“Kaang aku duluan ya!”
Riyadi menoleh.
Melihat Nur berdiri sambil tersenyum kecil.
Entah kenapa dadanya terasa aneh.
“Oh... iya.”
Ari Yanti berlari kecil menghampiri Nur.
“Kak , lama nunggu?”
“Enggak.”
“Bohong.”
“Kamu latihannya lama.”
Ari Yanti terkekeh kecil.
Sementara Riyadi berdiri beberapa meter dari mereka.
Diam.
Aziz yang berjalan di belakang langsung melirik wajah Riyadi.
“Yadi.”
“Hm?”
“Kamu kenapa?”
“Kenapa apanya?”
“Wajahmu kayak orang kalah lomba.”
Riyadi mendecak pelan.
“Ngaco.”
Namun Aziz tahu.
Sahabatnya itu sedang cemburu.
Meski mungkin belum berani mengakuinya.
Hari-hari berikutnya mulai berubah.
Ari Yanti kini lebih sering bersama Nur.
Kadang pulang sekolah dijemput.
Kadang duduk ngobrol di gardu dekat sawah.
Kadang jalan sore bersama.
Namun anehnya...
setiap kali ada masalah...
orang pertama yang dicari Ari Yanti tetap Riyadi .
Seperti sore itu.
Ari Yanti datang ke rumah Riyadi sambil manyun.
Riyadi yang sedang mencuci sepeda langsung mengernyit.
“Lho Sinok? Kok mukanya asem begitu?”
Ari Yanti duduk di bangku bambu sambil melipat tangan.
“Nur nyebelin.”
“Lah kenapa lagi?”
“Dia tadi marah.”
“Karena?”
“Katanya aku kebanyakan teman cowok.”
Riyadi diam.
Entah kenapa ia justru merasa kesal mendengar itu.
“Terus?”
“Ya aku marah lah!”
“Kamu memang kebanyakan teman cowok.”
Ari Yanti langsung melotot.
“Kaang kok ikut-ikutan!”
“Ya memang begitu.”
“Kan mereka cuma teman.”
Riyadi menghela napas.
“Tapi gak semua cowok bisa ngerti itu.”
Ari Yanti menatap Riyadi lama.
“Kalau Kakang ngerti aku gak?”
Pertanyaan itu membuat Riyadi sedikit terdiam.
Lalu ia menjawab pelan:
“Ngerti.”
“Bener?”
“Iya.”
Ari Yanti tersenyum kecil.
Dan seperti biasa...
setelah berbicara dengan Riyadi, hatinya kembali tenang.
Namun masalah dengan Nur ternyata tidak berhenti.
Suatu hari kabar mengejutkan datang.
Nur pergi bekerja ke Jakarta.
Tanpa pamit.
Tanpa surat.
Tanpa kabar.
Ari Yanti mengetahui itu justru dari tetangganya.
Dan sore itu ia menangis di belakang rumah.
Riyadi yang datang membawa buku latihan panduan karate langsung panik melihat matanya sembab.
“Sinok... kamu kenapa?”
Ari Yanti menghapus air mata kasar.
“Mas Nur pergi.”
“Ke mana?”
“Jakarta.”
“Lho kok gak pamit?”
Ari Yanti menggeleng.
“Aku juga baru tahu.”
Suasana mendadak hening.
Angin sore berhembus pelan melewati pohon pisang di belakang rumah.
Dan untuk pertama kalinya...
Riyadi melihat hati Ari Yanti benar-benar terluka.
“Aku salah apa Kaang?” suara Ari Yanti bergetar.
“Kok dia pergi gitu aja?”
Riyadi menatap gadis di depannya.
Ingin rasanya ia bilang:
“Kalau aku gak akan ninggalin kamu.”
Namun kata-kata itu tertahan di tenggorokan.
Sebagai gantinya ia hanya duduk di samping Ari Yanti.
“Sudah... mungkin dia ada alasan.”
“Kalau punya alasan kenapa gak ngomong?”
Riyadi tersenyum pahit kecil.
Kadang laki-laki memang bodoh dalam urusan perasaan.
Dan tanpa sadar...
kalimat itu sebenarnya juga sedang menggambarkan dirinya sendiri.
Hari-hari berlalu.
Nur akhirnya kembali ke desa beberapa bulan kemudian.
Namun hubungan mereka tak lagi sama.
Nur mulai sering cemburu.
Tidak nyaman melihat Ari Yanti terlalu dekat dengan banyak teman laki-laki.
Terutama...
Riyadi .
Suatu sore Nur berkata dengan nada dingin:
“Sebetulnya hubunganmu sama Riyadi itu apa?”
Ari Yanti langsung tersinggung.
“Teman.”
“Cuma teman?”
“Iya.”
“Tapi kalian terlalu dekat.”
Ari Yanti mulai kesal.
“Kakang itu udah kayak keluarga sendiri.”
Nur tertawa hambar.
“Cowok dan cewek gak mungkin sedekat itu kalau gak ada rasa.”
Ari Yanti mendadak diam.
Karena jauh di dalam hatinya...
ia sendiri mulai bingung menjawabnya.
Dan sejak itulah...
retakan kecil mulai muncul dalam kisah cinta pertamanya.
Sementara tanpa disadari...
seseorang yang selama ini selalu ada di sampingnya perlahan mulai menjadi tempat pulang yang sesungguhnya.
Seseorang bernama...
Riyadi .
BAB IV
TEMPAT CURHAT BERNAMA KAKANG
Hujan turun sejak siang di Desa Tegorejo.
Rintiknya membasahi jalan tanah yang mulai licin. Aroma tanah basah bercampur wangi kayu bakar dari dapur-dapur warga memenuhi udara sore itu. Anak-anak kecil memilih bermain di teras rumah, sementara suara radio dari rumah Pak RT memutar lagu-lagu lawas yang terdengar sendu di tengah cuaca mendung.
Di rumah Bu Yati, Ari Yanti duduk termenung di dekat jendela.
Tatapannya kosong.
Sejak bertengkar dengan Nur beberapa hari lalu, suasana hatinya berubah kacau.
Ia menjadi lebih pendiam.
Lebih sensitif.
Bahkan Sari yang biasanya sering digodanya mulai merasa aneh.
“Mbak...” panggil Sari pelan.
“Hm?”
“Kenapa sih?”
“Enggak apa-apa.”
“Bohong.”
Ari Yanti tersenyum hambar.
Sari duduk di samping kakaknya.
“Bertengkar lagi sama Mas Nur?”
Ari Yanti tidak langsung menjawab.
Ia hanya menatap hujan di luar rumah.
Lalu pelan-pelan berkata:
“Kalau orang sayang sama kita... harusnya percaya ya?”
Sari yang masih kecil hanya mengangguk polos.
“Harusnya iya.”
Ari Yanti menarik napas panjang.
Entah kenapa akhir-akhir ini ia merasa lelah.
Nur semakin sering cemburu.
Semakin sering mengatur.
Bahkan mulai tidak suka jika Ari Yanti latihan karate terlalu sering.
Padahal karate adalah dunia yang paling ia sukai setelah rumah dan sekolah.
Dan di dunia karate itu pula...
ada seseorang yang selalu membuatnya merasa nyaman.
Sore menjelang malam, Ari Yanti akhirnya keluar rumah memakai jaket tipis.
“Mau ke mana?” tanya Bu Yati.
“Ke rumah Kakang sebentar.”
Bu Yati langsung mengangguk tenang.
“Iya sudah. Jangan malam-malam.”
Kalimat itu selalu sama.
Bu Yati memang sangat percaya pada Riyadi .
Baginya, Riyadi bukan sekadar teman anaknya.
Ia sudah seperti keluarga sendiri.
Rumah Riyadi di Dusun Tegolayang terlihat sederhana.
Lampu ruang tamu menyala redup.
Di teras, Riyadi sedang memperbaiki sarung tangan karate yang sobek menggunakan jarum jahit.
Melihat Ari Yanti datang dengan wajah kusut, ia langsung paham ada sesuatu yang salah.
“Lho Sinok?”
Ari Yanti duduk begitu saja di kursi bambu tanpa bicara.
Riyadi meletakkan sarung tangan.
“Bertengkar lagi?”
Ari Yanti cemberut.
“Kok Kakang selalu tahu sih?”
“Wajahmu itu loh... kayak anak ayam kehujanan.”
Ari Yanti akhirnya tertawa kecil meski matanya masih sembab.
Riyadi masuk sebentar lalu kembali membawa teh hangat.
“Nih minum dulu.”
“Makasih.”
Beberapa detik mereka diam.
Hanya suara hujan yang terdengar di luar.
Lalu perlahan Ari Yanti mulai bicara.
“Kaang... aku capek.”
“Capek kenapa?”
“Nur marah terus.”
“Karena?”
“Katanya aku terlalu dekat sama teman-teman cowok.”
Riyadi diam mendengarkan.
Ari Yanti melanjutkan dengan suara lirih:
“Aku tuh salah ya kalau punya banyak teman?”
“Enggak.”
“Tapi dia gak suka.”
“Karena dia takut kehilangan.”
“Tapi aku juga gak suka diatur.”
Riyadi tersenyum tipis.
“Itu namanya kalian sama-sama keras kepala.”
Ari Yanti langsung manyun.
“Kakang belain dia.”
“Enggak.”
“Terus?”
“Aku cuma ngerti posisi kalian.”
Ari Yanti menatap Riyadi lama.
Dan seperti biasa...
cara Riyadi bicara selalu membuat emosinya perlahan reda.
Tidak pernah menghakimi.
Tidak pernah menyalahkan.
Selalu mendengarkan.
Malam semakin larut.
Hujan mulai reda.
Namun obrolan mereka justru semakin panjang.
Tentang sekolah.
Tentang teman-teman karate.
Tentang masa depan.
Tentang mimpi-mimpi kecil yang terasa besar bagi remaja seusia mereka.
“Kaang nanti pengin jadi apa?” tanya Ari Yanti sambil memainkan ujung rambutnya.
Riyadi berpikir sebentar.
“Belum tahu.”
“Masa belum tahu?”
“Hidupku aja masih berantakan.”
“Ah bohong.”
“Serius.”
“Kakang tuh pintar.”
Riyadi tertawa kecil.
“Pintar apanya.”
“Semua orang kalau punya masalah nyarinya Kakang.”
“Itu karena aku gak bisa nolak orang.”
“Nah itu juga kelebihan.”
Riyadi menggeleng sambil tersenyum.
Lalu gantian bertanya:
“Kalau kamu?”
“Aku?”
“Iya.”
“Pengin jadi guru.”
“Kenapa?”
“Biar bisa ngajarin anak-anak.”
“Cocok sih.”
“Kenapa cocok?”
“Kamu cerewet.”
Ari Yanti langsung memukul lengan Riyadi pelan.
“Kaang ih!”
Mereka tertawa bersama.
Dan malam itu...
untuk beberapa saat Ari Yanti lupa pada semua masalahnya.
Namun tiba-tiba Ari Yanti kembali diam.
Wajahnya berubah sendu.
“Kaang...”
“Hm?”
“Kalau suatu hari nanti kita jauh... Kakang bakal lupa sama aku gak?”
Pertanyaan itu membuat Riyadi terdiam cukup lama.
Angin malam bertiup pelan melewati teras rumah.
Suara jangkrik mulai terdengar dari kebun belakang.
Riyadi menatap Ari Yanti yang menunggu jawaban dengan serius.
Lalu ia berkata pelan:
“Enggak.”
“Bener?”
“Iya.”
“Janji?”
Riyadi tersenyum kecil.
“Janji.”
Ari Yanti mengulurkan jari kelingking.
“Janji kelingking.”
Riyadi tertawa kecil.
“Kamu kayak anak kecil.”
“Bodo.”
Akhirnya Riyadi ikut mengaitkan jari kelingkingnya.
Dan tanpa mereka sadari...
janji sederhana malam itu akan bertahan sangat lama.
Lebih lama dari yang pernah mereka bayangkan.
Sebelum pulang, Ari Yanti berdiri di depan pagar rumah Riyadi.
“Kaang...”
“Hm?”
“Makasih ya.”
“Buat apa?”
“Udah mau dengerin aku.”
Riyadi tersenyum tipis.
“Kamu tuh kalau gak curhat bisa sakit sendiri.”
Ari Yanti tertawa kecil.
Lalu tiba-tiba berkata pelan:
“Untung ada Kakang.”
Kalimat itu sederhana.
Namun entah kenapa...
membuat hati Riyadi bergetar cukup lama.
Malam itu setelah Ari Yanti pulang, Aziz datang ke rumah Riyadi.
Begitu duduk, Aziz langsung menyeringai.
“Tadi Sinok ke sini lagi ya?”
“Iya.”
“Curhat?”
“Biasa.”
Aziz memperhatikan wajah Riyadi beberapa detik.
“Yadi...”
“Hm?”
“Kamu sadar gak sih?”
“Sadar apa?”
“Kamu tuh udah jadi rumah buat dia.”
Riyadi tertawa hambar.
“Ngaco.”
“Serius.”
Aziz menatap sahabatnya lekat-lekat.
“Dan masalahnya... kamu juga nyaman jadi rumah itu.”
Riyadi mendadak diam.
Untuk pertama kalinya...
ia mulai takut jika suatu saat nanti rumah itu akan kehilangan penghuninya.
BAB V
LATIHAN MINGGU PAGI DAN SEPEDA ONTEL
Minggu pagi di Desa Tegorejo selalu terasa berbeda.
Udara masih dingin ketika matahari mulai muncul dari balik pepohonan kelapa. Embun menempel di daun-daun singkong di belakang rumah warga. Jalan desa yang biasanya sepi perlahan mulai ramai oleh suara sepeda ontel dan anak-anak sekolah yang hendak latihan karate di SMPN 1 Pegandon.
Di rumah Bu Yati, suasana sudah sibuk sejak subuh.
Ari Yanti berdiri di depan cermin kecil sambil merapikan ikat rambutnya. Seragam karate putihnya sudah dikenakan rapi meski sabuknya masih menggantung di leher.
“Bukkk... sabukku mana?”
Bu Yati yang sedang menanak nasi menghela napas panjang.
“Dicari dulu jangan teriak-teriak.”
“Aku telat nanti.”
“Kamu tiap minggu juga bilang begitu.”
Sari yang masih duduk di bangku SD ikut mengenakan seragam karate sambil tertawa kecil.
“Mbak Yanti pasti nanti dicari Kak Riyadi.”
“Eh diem kamu!”
Sari makin cekikikan.
“Sinok... Sinok...”
Ari Yanti langsung mengejar adiknya sambil membawa sabuk karate.
“Tak cubit nanti!”
Suasana rumah kecil itu penuh tawa.
Meski hidup mereka sederhana, kehangatan selalu terasa di sana.
Tak lama kemudian suara bel sepeda terdengar dari depan rumah.
Kring... kring...
Ari Yanti spontan berhenti.
Wajahnya langsung berubah cerah.
“Itu Kakang!”
Ia buru-buru keluar rumah.
Benar saja.
Riyadi sudah berdiri di depan pagar dengan sepeda ontel tuanya.
Kaos olahraga abu-abunya sedikit basah oleh embun pagi.
“Lama banget.”
Ari Yanti manyun.
“Ini juga baru siap.”
Riyadi menggeleng sambil tersenyum tipis.
Bu Yati keluar dari dalam rumah membawa botol minum.
“Yadi, titip Ari Yanti sama Sari ya.”
“Iya Buk.”
“Jangan ngebut.”
“Iya Buk.”
“Dan jangan pulang terlalu sore.”
“Iya Buk.”
Ari Yanti tertawa kecil.
“Buk... dari tadi jawabnya iya terus.”
“Ya habis ibumu cerewet.”
“KaKang!”
Mereka semua tertawa.
Perjalanan menuju SMPN 1 Pegandon selalu menjadi bagian paling menyenangkan bagi Ari Yanti.
Ia mengayuh sepeda ontelnya di depan, sementara Riyadi dan Sari mengikuti dari belakang.
Kadang mereka melewati hamparan sawah.
Kadang melewati sungai kecil.
Kadang berhenti membeli es lilin di warung.
Dan hampir setiap perjalanan...
selalu dipenuhi canda.
“Kaang cepat dikit!”
“Kamu aja yang pelan.”
“Enggak seru.”
“Kalau jatuh nangis lagi.”
Ari Yanti menjulurkan lidah jahil.
“Aku gak pernah nangis.”
Sari langsung nyeletuk dari belakang.
“Bohong! Kemarin jatuh aja nangis sambil nyari Kak Riyadi.”
“Sariiiii!”
Riyadi tertawa kecil melihat mereka bertengkar.
Entah kenapa...
momen sederhana seperti itu selalu membuatnya tenang.
Di tengah perjalanan mereka bertemu Aziz, Agus , dan Pincuk.
“Wih lengkap!” teriak Aziz.
“Sinok boncengin Riyadi lagi gak hari ini?”
Ari Yanti langsung melotot.
“Mulutmu itu loh!”
Agus ikut tertawa.
“Sudah kayak pasangan pengantin lewat tiap minggu.”
“Bukan urusan kalian.”
Aziz makin menggoda.
“Riyadi itu kalau gak sama Ari Yanti kayak sayur tanpa garam.”
Riyadi menghela napas panjang.
“Sudah jalan sana.”
Namun diam-diam pipinya mulai panas karena malu.
Sesampainya di lapangan sekolah, latihan sudah dimulai.
Sensei Sambas berdiri di depan barisan.
“Hari ini kita latihan kumite dan fisik!”
Beberapa murid langsung mengeluh.
“Senseiii...”
“Enggak ada protes!”
Latihan dimulai dengan lari keliling lapangan.
Ari Yanti yang sebenarnya kuat justru sengaja berlari di dekat Riyadi.
“Kaang capek...”
“Baru satu putaran.”
“Kaki aku sakit.”
“Drama.”
“Serius.”
“Kamu kalau jajan kuat.”
Ari Yanti langsung mencubit lengan Riyadi diam-diam.
“Aaww!”
Sensei Anton langsung menoleh.
“Itu yang belakang kenapa?”
“Enggak apa-apa Sensei!” jawab mereka bersamaan.
Semua teman tertawa.
Saat latihan kumite dimulai, Ari Yanti kembali meminta sparing dengan Riyadi.
“Kaang sama aku.”
“Kamu lagi.”
“Biar seru.”
“Enggak.”
“Pleaseeee.”
Aziz yang melihat langsung bersorak.
“Wooo latihan cinta dimulai!”
Ari Yanti melempar sarung tangan ke arah Aziz.
“Diam kamu!”
Akhirnya Riyadi tetap melayani sparing.
Namun seperti biasa...
Ari Yanti lebih banyak bercanda daripada serius.
“HIYAAT!”
BUG!
“Eh jangan kepala!”
“Kamu duluan.”
“Curang!”
“Karate itu strategi.”
“Ini mah modus.”
Riyadi tertawa kecil.
Dan tanpa sadar...
mereka terlihat sangat cocok bersama.
Bahkan beberapa junior mulai berbisik-bisik.
“Kayaknya Kak Riyadi sama Kak Yanti pacaran deh.”
“Iya kayaknya.”
“Cocok sih.”
Setelah latihan selesai, semua duduk istirahat di bawah pohon besar dekat lapangan.
Keringat membasahi seragam mereka.
Aziz membeli es mambo lalu membagikan ke teman-temannya.
Ari Yanti duduk di samping Riyadi sambil mengipas wajahnya.
“Kaang.”
“Hm?”
“Nanti kalau kita gede... masih latihan bareng gak ya?”
Riyadi minum air dulu sebelum menjawab.
“Mungkin.”
“Mungkin gimana?”
“Ya siapa tahu nanti kamu sibuk.”
“Kakang juga.”
Ari Yanti diam beberapa detik.
Lalu berkata pelan:
“Aku gak pengin kehilangan teman-teman kayak gini.”
Riyadi menoleh padanya.
Angin pagi berhembus lembut melewati lapangan.
Dan di wajah Ari Yanti...
ia melihat ketulusan yang jarang dimiliki orang lain.
“Kita tetap teman kok.”
“Janji?”
“Iya.”
Ari Yanti tersenyum kecil.
Namun entah kenapa...
di sudut hatinya muncul rasa takut.
Takut suatu hari nanti semua ini hanya akan menjadi kenangan.
Siang menjelang ketika mereka pulang.
Dan seperti biasa...
Ari Yanti justru mengayuh sepeda paling depan sambil bernyanyi keras.
Sementara Riyadi mengikutinya dari belakang sambil geleng-geleng kepala.
Aziz mendekat sambil berbisik pelan pada Riyadi.
“Yadi.”
“Hm?”
“Kalau nanti Yanti beneran suka sama orang lain... kamu kuat?”
Riyadi mendadak terdiam.
Matanya menatap punggung Ari Yanti yang tertawa di depan sana.
Lalu pelan ia menjawab:
“Dia bahagia aja aku sudah senang.”
Namun untuk pertama kalinya...
jawaban itu terasa seperti kebohongan kecil bagi dirinya sendiri.
BAB VI
BU YATI DAN LARANGAN YANG TAK TERUCAP
Malam di Desa Tegorejo terasa sunyi setelah hujan kecil turun sejak magrib.
Lampu-lampu rumah warga menyala redup kekuningan. Dari kejauhan terdengar suara kentongan ronda dipukul pelan oleh warga yang berjaga malam. Angin dingin berembus melewati sela-sela dinding rumah kayu milik Bu Yati.
Di ruang tengah, Ari Yanti sedang duduk sambil mengerjakan PR matematika.
Namun sejak Lima belas menit lalu...
bukunya tetap terbuka di halaman yang sama.
Pikirannya melayang entah ke mana.
Kadang tersenyum sendiri.
Kadang menghela napas kecil.
Kadang tanpa sadar menuliskan nama seseorang di ujung buku.
“Riyadi...”
Cepat-cepat ia coret lagi.
Sari yang duduk di lantai sambil menggambar langsung memperhatikan.
“Mbak...”
“Hm?”
“Itu tadi nulis nama Kak Riyadi ya?”
Ari Yanti langsung panik.
“Eh enggak!”
“Boong.”
“Ini nulis pelajaran.”
“Pelajaran apa hurufnya R semua?”
Ari Yanti buru-buru menutup bukunya.
“Sariiii... jangan ganggu!”
Sari tertawa puas.
Namun dari dapur...
Bu Yati ternyata memperhatikan semuanya.
Ia diam.
Wajahnya tenang.
Tetapi sebagai seorang ibu, ia mulai menyadari sesuatu.
Malam semakin larut.
Setelah Sari tidur, Bu Yati duduk di samping Ari Yanti yang masih pura-pura belajar.
“Yanti.”
“Iya Buk?”
Bu Yati memandang anak gadisnya pelan.
“Kamu dekat ya sama Riyadi?”
Ari Yanti sedikit gugup.
“Ya biasa aja Buk.”
“Biasa gimana?”
“Ya teman.”
Bu Yati tersenyum tipis.
“Ibu ini perempuan juga. Bisa lihat.”
Ari Yanti menunduk malu.
Jantungnya mulai berdebar.
Untuk pertama kalinya ibunya membahas hal itu secara langsung.
Bu Yati menarik napas panjang.
“Riyadi itu anak baik.”
Ari Yanti langsung tersenyum kecil.
“Iya Buk.”
“Dia sopan.”
“Iya.”
“Bertanggung jawab.”
“Iya.”
“Dan ibu percaya sama dia.”
Ari Yanti mengangguk pelan.
Namun setelah beberapa detik, suara Bu Yati berubah lebih serius.
“Tapi...”
Ari Yanti mendongak.
“Jangan sampai kalian pacaran.”
Kalimat itu membuat suasana mendadak hening.
Suara jangkrik di luar rumah terdengar jelas.
Ari Yanti menelan ludah.
“Kenapa Buk?”
Bu Yati diam sejenak sebelum menjawab.
“Ibu takut.”
“Takut apa?”
“Kamu terlalu nyaman sama dia.”
Ari Yanti tidak mengerti.
Bukankah nyaman itu hal baik?
Namun Bu Yati melanjutkan pelan:
“Kadang orang yang terlalu dekat justru bisa saling menyakiti kalau perasaannya berubah.”
Ari Yanti makin bingung.
“Tapi Kakang baik.”
“Ibu tahu.”
“Terus?”
“Makanya ibu gak mau hubungan kalian rusak gara-gara cinta anak kecil.”
Ari Yanti terdiam.
Kalimat itu terasa aneh baginya.
Karena sejujurnya...
ia sendiri belum benar-benar memahami isi hatinya.
Yang ia tahu hanya satu:
Riyadi adalah tempat paling nyaman dalam hidupnya selain rumah.
Keesokan harinya setelah sekolah, Bu Yati sengaja memanggil Riyadi yang sedang mengantar Sari pulang latihan.
“Yadi... sini sebentar.”
Riyadi langsung menghampiri dengan sopan.
“Iya Buk?”
Bu Yati mempersilakan duduk di teras.
Riyadi duduk agak canggung.
Sementara Ari Yanti yang baru keluar rumah langsung merasa penasaran.
“Ada apa Buk?”
“Kamu masuk dulu.”
“Lho?”
“Masuk.”
Ari Yanti akhirnya masuk sambil manyun.
Namun diam-diam ia menguping dari balik jendela.
Bu Yati memandang Riyadi cukup lama.
“Yadi.”
“Iya Buk.”
“Ibu percaya sama kamu.”
Riyadi langsung mengangguk hormat.
“Terima kasih Buk.”
“Yanti itu anak perempuan.”
“Iya Buk.”
“Dia manja.”
Riyadi tersenyum kecil.
“Iya Buk.”
“Kadang keras kepala.”
“Iya Buk.”
“Tapi hatinya lembut.”
Riyadi mulai merasa pembicaraan ini serius.
Bu Yati menarik napas panjang.
“Ibu cuma minta satu.”
“Apa Buk?”
“Tolong jaga Yanti.”
Riyadi langsung menjawab mantap.
“Iya Buk.”
“Tapi jangan sampai kalian pacaran.”
Kalimat itu membuat Riyadi membeku beberapa detik.
Angin sore bertiup pelan melewati teras rumah.
Sementara dari balik jendela, Ari Yanti ikut terdiam.
Bu Yati melanjutkan:
“Ibu sudah anggap kamu seperti anak sendiri.”
Riyadi menunduk hormat.
“Dan Ari Yanti sudah ibu anggap adikmu sendiri.”
Hati Riyadi mendadak terasa aneh.
Entah kenapa dadanya seperti tertusuk sesuatu yang tidak terlihat.
Namun ia tetap menjawab pelan:
“Iya Buk.”
“Bisa jaga itu?”
Riyadi menatap lantai beberapa detik.
Lalu berkata lirih:
“InsyaAllah bisa.”
Dari balik jendela...
Ari Yanti tiba-tiba merasa sedih tanpa alasan yang jelas.
Sore itu setelah Riyadi pulang, Ari Yanti duduk termenung di kamarnya.
Sari yang masuk langsung bertanya:
“Mbak kenapa?”
“Enggak apa-apa.”
“Bohong lagi.”
Ari Yanti memeluk bantal erat.
Entah kenapa ucapan ibunya terus terngiang.
“Jangan sampai kalian pacaran.”
Kenapa?
Apa salahnya?
Bukankah Riyadi baik?
Bukankah mereka saling nyaman?
Namun di usia remaja seperti itu...
perasaan memang sering hadir tanpa nama yang jelas.
Dan justru karena itulah semuanya terasa membingungkan.
Malam harinya Riyadi juga tidak bisa tidur.
Ia duduk di depan rumah sambil memandangi langit.
Aziz datang sambil membawa kacang rebus.
“Yadi.”
“Hm?”
“Kok melamun?”
Riyadi diam sebentar lalu berkata:
“Tadi Bu Yati ngomong serius sama aku.”
“Ngomong apa?”
“Nyuruh aku jaga Ari Yanti.”
“Bagus dong.”
“Tapi beliau juga bilang jangan sampai pacaran.”
Aziz mendadak diam.
Beberapa detik kemudian ia tertawa kecil.
“Terus kamu jawab apa?”
“Ya iya.”
Aziz memperhatikan wajah sahabatnya.
“Kamu kecewa ya?”
“Enggak.”
“Bohong.”
Riyadi tersenyum hambar.
Mungkin benar.
Ada rasa kecewa kecil yang tidak bisa ia jelaskan.
Padahal selama ini ia sendiri juga tidak pernah berani menganggap Ari Yanti lebih dari seorang adik.
Namun setelah mendengar larangan itu...
entah kenapa justru muncul pertanyaan dalam hatinya.
“Kalau suatu hari nanti aku benar-benar menyukainya... apa aku harus pergi?”
Malam semakin larut.
Dan tanpa mereka sadari...
larangan sederhana dari seorang ibu itu perlahan mulai mengubah arah hati keduanya.
BAB VII
RANTING CEPIRING DAN GOSIP ANAK KARATE
Hari Minggu pagi itu langit Kendal terlihat cerah.
Angin berhembus pelan membawa aroma laut dari arah utara. Jalanan desa mulai ramai oleh anak-anak sekolah yang berangkat latihan gabungan karate ke Ranting Cepiring. Suasana terasa lebih hidup dibanding biasanya karena latihan kali ini diikuti beberapa dojo dari berbagai desa.
Di depan rumah Bu Yati, suasana sudah ribut sejak pagi.
Ari Yanti sibuk mondar-mandir membawa tas latihan.
“Sariiiii! Sepatuku mana?”
Sari yang sedang makan pisang goreng malah santai menjawab:
“Di bawah kursi.”
“Kenapa gak bilang dari tadi?”
“Kan Mbak gak tanya.”
“Dasar.”
Bu Yati keluar sambil membawa bekal nasi bungkus.
“Nih buat kalian makan siang.”
“Waaah makasih Buk!”
“Tapi inget.”
“Iya iya, jangan nakal.”
Bu Yati langsung melotot.
“Bukan itu.”
“Terus?”
“Jangan jauh-jauh dari Yadi.”
Ari Yanti langsung tersenyum kecil.
“Iya Buk.”
Sari cekikikan pelan.
“Mbak seneng tuh disuruh dekat Kak Yadi.”
“Sariiiii!”
Tak lama kemudian rombongan mulai berangkat.
Jumlah mereka cukup banyak.
Ada Aziz, Agus , Pincuk, Munasro, Karwan, Bambang, Farida, Deni, dan beberapa junior lainnya.
Sementara Riyadi yang saat itu sudah dianggap senior memimpin perjalanan di depan.
Namun seperti biasa...
baru setengah perjalanan saja suasana sudah ricuh.
“Yadi! Yanti minta bonceng!” teriak Aziz dari belakang.
Ari Yanti langsung menjawab cepat:
“Bukan aku yang minta!”
“Terus siapa?”
“Sepedaku capek.”
“Sepeda capek?”
Semua langsung tertawa keras.
Akhirnya karena rantai sepeda Yanti lepas, mau tak mau ia harus dibonceng Riyadi.
Dan di situlah...
awal gosip anak-anak karate makin menjadi-jadi.
Ari Yanti duduk di belakang sambil memegang tas latihan.
“Kaang pelan-pelan.”
“Kalau pelan nanti kesiangan.”
“Ya jangan ngebut juga.”
“Kamu tuh banyak aturan.”
Ari Yanti tertawa kecil.
Sementara dari belakang Aziz mulai menggoda lagi.
“Wooo romantis!”
Agus ikut menimpali.
“Pegang yang erat Yanti!”
“Mulut kalian itu ya!”
Namun godaan itu justru membuat wajah Ari Yanti memerah.
Apalagi ketika jalanan menurun dan ia refleks memegang pinggang Riyadi lebih erat.
Jantungnya mendadak berdegup lebih cepat.
Sementara Riyadi pura-pura fokus mengayuh sepeda meski telinganya mulai panas sendiri.
Sesampainya di Ranting Cepiring, suasana dojo sudah ramai.
Anak-anak karate dari berbagai ranting berkumpul memakai tegi putih.
Suara teriakan latihan terdengar bersahutan.
“HIYAAAT!”
Sensei Sambas berbincang dengan beberapa pelatih lain, sementara para peserta mulai saling menyapa.
Di sinilah Ari Yanti mulai akrab dengan banyak teman baru.
Terutama Evianti, gadis kecil dari Cepiring yang sangat ceria.
“Mbak Yanti cantik ya,” kata Evianti polos.
Ari Yanti tertawa kecil.
“Kamu juga lucu.”
Tak jauh dari mereka, Aziz langsung salah tingkah setiap melihat Evianti.
Agus yang sadar langsung menyikutnya.
“Eh Aziz senyum-senyum.”
“Apaan sih.”
“Suka ya?”
“Diam kamu.”
Sementara di sudut lain...
beberapa anak dojo mulai memperhatikan Ari Yanti dan Riyadi.
“Eh itu yang sabuk coklat sama cewek ponytail itu pacaran ya?”
“Kayaknya iya.”
“Cocok sih.”
“Lihat aja si cewek nempel terus.”
Gosip mulai menyebar cepat.
Dan seperti biasa...
Aziz menjadi orang paling senang memperkeruh suasana.
Saat istirahat latihan, semua duduk lesehan sambil makan bekal.
Ari Yanti duduk tepat di sebelah Riyadi.
Farida yang melihat langsung tersenyum jahil.
“Eh kalian kalau nikah nanti undang-undang ya.”
BRUK!
Ari Yanti langsung tersedak teh.
“Faridaaa!”
Semua tertawa keras.
Riyadi buru-buru memberi air minum.
“Pelan-pelan.”
Ari Yanti menatap Farida kesal.
“Kamu tuh ya!”
Farida malah makin tertawa.
“Wajahmu merah tuh.”
Aziz ikut menimpali:
“Kalau gak ada rasa harusnya santai dong.”
“Diam kalian semua!”
Namun semakin Ari Yanti menyangkal...
teman-temannya justru makin yakin.
Latihan sore itu diisi sparing antar ranting.
Ari Yanti dipasangkan melawan peserta perempuan dari Ranting Kaliwungu.
Sementara Riyadi ikut membantu mengawasi pertandingan.
“Semangat Sinok!” teriak Yadi.
Ari Yanti langsung menoleh sambil tersenyum lebar.
“Siap Kakang!”
Dan entah kenapa...
teriakan sederhana itu membuat semangatnya berlipat ganda.
Pertandingan berlangsung seru.
Ari Yanti berhasil menang poin tipis.
Begitu selesai, ia langsung berlari kecil menghampiri Riyadi.
“Kaang aku menang!”
“Iya iya hebat.”
“Hadiahnya apa?”
“Hadiah apaan?”
“Kan menang.”
Riyadi berpikir sebentar.
“Nanti tak beliin es.”
“Yeaaay!”
Aziz yang melihat langsung geleng-geleng kepala.
“Pacaran mode hemat.”
“Aziz!”
Menjelang sore rombongan memutuskan mampir sebentar ke warung dekat sungai kecil Cepiring.
Mereka duduk berjejer sambil makan bakso dan es campur.
Angin semilir terasa sejuk.
Suasana penuh canda dan tawa.
Namun di tengah keramaian itu...
beberapa pasang mata mulai memperhatikan kedekatan Ari Yanti dan Riyadi lebih serius.
Termasuk Nur yang kebetulan datang menjemput salah satu temannya di sekitar lokasi.
Ia melihat Ari Yanti tertawa lepas bersama Riyadi.
Melihat bagaimana gadis itu terlihat sangat nyaman di dekatnya.
Dan untuk pertama kalinya...
rasa cemburu mulai tumbuh besar dalam dirinya.
Saat perjalanan pulang menjelang magrib, langit berubah jingga keemasan.
Rombongan bersepeda berjejer sambil bercanda sepanjang jalan.
Ari Yanti kembali dibonceng Riyadi karena sepedanya belum benar-benar normal.
Di tengah perjalanan ia tiba-tiba bertanya pelan:
“Kaang.”
“Hm?”
“Teman-teman kok suka nggodain terus ya?”
“Namanya juga mereka.”
“Tapi menurut Kakang... kita aneh gak sih?”
Riyadi sedikit bingung.
“Aneh gimana?”
“Ya dekat banget.”
Riyadi terdiam beberapa detik.
Angin sore menerpa wajah mereka.
Lalu ia menjawab pelan:
“Kalau nyaman ya gak usah dipikir aneh.”
Ari Yanti tersenyum kecil mendengar jawaban itu.
Dan tanpa sadar...
ia semakin takut kehilangan orang yang sedang mengayuh sepeda bersamanya itu.
Sementara di kejauhan...
senja perlahan tenggelam.
Membawa mereka semakin dekat pada masa-masa yang kelak hanya bisa dikenang dengan air mata dan senyuman.
BAB VIII
CANDA, DAN CEMBURU YANG MULAI TUMBUH
Angin pagi dari arah pantura berhembus lembut ketika rombongan karate SMPN 1 Pegandon bersiap berangkat menuju Kaliwungu.
Hari itu bukan latihan biasa.
Mereka mendapat undangan latihan bersama sekaligus silaturahmi dengan ranting karate di Kaliwungu. Bagi anak-anak remaja seperti mereka, perjalanan itu terasa seperti petualangan besar.
Sejak subuh Ari Yanti sudah sibuk sendiri.
Ia bolak-balik dari kamar ke dapur sambil membawa tas latihan yang terlalu penuh.
“Buk... bawa baju ganti dua cukup gak?”
“Memangnya mau menginap seminggu?”
“Kan buat jaga-jaga.”
Bu Yati menghela napas panjang.
“Kamu tuh kalau pergi ribetnya kayak mau pindahan rumah.”
Sari yang sedang mengikat tali sepatu langsung tertawa.
“Mbak Yanti pasti pengin kelihatan cantik.”
“Eh diam!”
“Biar Kak Riyadi makin suka.”
Ari Yanti langsung mengejar Sari keliling ruang tamu.
“Sariiiiii!”
Bu Yati hanya bisa geleng kepala sambil tersenyum kecil.
Namun beberapa menit kemudian wajahnya kembali serius.
“Yanti.”
“Iya Buk?”
“Nanti kalau sudah sampai jangan jauh-jauh dari rombongan.”
“Iya.”
“Dan kalau naik motor sama siapa?”
Yanti menjawab cepat tanpa berpikir.
“Sama Kakang.”
Bu Yati mengangguk tenang.
“Iya itu ibu percaya.”
Jawaban itu membuat Yanti diam beberapa detik.
Entah kenapa...
kalimat sederhana dari ibunya selalu membuat Riyadi terasa berbeda dibanding laki-laki lain.
Perjalanan menuju Kaliwungu dimulai sekitar pukul delapan pagi.
Sebagian naik sepeda motor, sebagian lagi berboncengan sepeda ontel sampai ke tirik kumpul bus kecil yang disewa bersama.
Suasana ribut luar biasa.
Aziz sudah mulai bercanda sejak awal.
“Eh nanti di Kaliwungu jangan ada yang hilang ya.”
Farida langsung menjawab cepat:
“Yang hilang paling Yanti. Nempel terus sama Riyadi.”
Semua tertawa keras.
Ari Yanti langsung memukul bahu Farida pelan.
“Kamu tuh ya!”
Sementara Riyadi hanya pura-pura sibuk mengecek tas latihan.
Padahal telinganya mulai panas.
Di dalam bus suasana makin ricuh.
Anak-anak karate bernyanyi sepanjang jalan.
Kadang lagu campursari.
Kadang lagu pop lawas.
Kadang malah lagu yang liriknya asal-asalan.
Ari Yanti duduk di dekat jendela.
Sementara Riyadi duduk di sebelahnya karena kursi lain sudah penuh.
Aziz yang duduk di belakang langsung bersiul.
“Wihhh pasangan favorit duduk berdua.”
“Aziz diem gak sih!” bentak Ari Yanti malu.
Namun Aziz justru makin semangat.
“Coba lihat itu... cocok banget.”
Agus ikut menimpali.
“Kalau nikah nanti anaknya pasti cerewet.”
Satu bus langsung pecah oleh tawa.
Ari Yanti sampai menutup wajah dengan tas kecilnya.
Sementara Riyadi cuma bisa menggeleng sambil tersenyum tipis.
Di tengah perjalanan bus melewati hamparan sawah dan jalanan pantura yang ramai.
Ari Yanti memandangi keluar jendela sambil tersenyum kecil.
“Kaang.”
“Hm?”
“Aku senang kayak gini.”
“Kayak gimana?”
“Pergi rame-rame.”
“Iya.”
“Rasanya bebas.”
Riyadi menoleh padanya.
Angin dari jendela membuat rambut Ari Yanti berantakan sedikit.
Dan untuk beberapa detik...
Riyadi hanya diam memperhatikannya.
Ari Yanti sadar sedang diperhatikan lalu langsung salah tingkah.
“Kenapa lihat-lihat?”
“Enggak.”
“Bohong.”
“Kamu rambutnya kayak sapu.”
“Kaang!”
Mereka tertawa bersamaan.
Dan diam-diam...
momen kecil seperti itu mulai terasa terlalu berharga.
Sesampainya di Kaliwungu, rombongan langsung disambut hangat oleh dojo setempat.
Di sana sudah berkumpul banyak peserta dari berbagai ranting.
Ada Lila, Nadya, Hesti, Rahmat, Yulianto, Naya, dan beberapa senior lainnya.
Ari Yanti cepat akrab dengan anak-anak perempuan di sana.
Sementara Riyadi membantu Sensei Sambas mengatur peserta latihan.
Namun gosip ternyata lebih cepat menyebar dibanding suara peluit latihan.
“Itu yang rambut panjang kucir kuda namanya Yanti ya?”
“Iya.”
“Katanya dekat sama seniornya.”
“Yang sabuk coklat itu?”
“Iya.”
Dan seperti biasa...
Aziz menjadi sumber utama kebocoran informasi.
Saat istirahat siang mereka berkumpul di halaman belakang dojo.
Ada yang makan mie ayam.
Ada yang membeli es campur.
Ada yang foto-foto bersama.
Ari Yanti duduk di bawah pohon sambil minum es lilin.
Tak lama kemudian Yulianto dari Ranting Kendal datang menghampiri.
“Hai.”
Ari Yanti menoleh.
“Oh halo.”
“Kamu Yanti kan?”
“Iya.”
“Aku Yulianto.”
“Oh iya tadi dikenalin.”
Yulianto tersenyum ramah.
“Kamu hebat juga tadi sparingnya.”
“Ah biasa.”
“Enggak. Gerakanmu cepat.”
Yanti tertawa kecil.
Sementara dari kejauhan...
Riyadi memperhatikan tanpa sadar.
Aziz yang berdiri di samping langsung menyeringai.
“Wah wah wah.”
“Apa?”
“Cemburu ya?”
“Ngaco.”
“Matamu tuh loh.”
Riyadi langsung memalingkan wajah.
Namun dadanya memang terasa aneh melihat Ari Yanti ngobrol akrab dengan laki-laki lain.
Tak lama kemudian Ari Yanti melambaikan tangan.
“Kaang sini!”
Riyadi berjalan mendekat.
Yulianto langsung mengulurkan tangan sopan.
“Kak Riyadi ya?”
“Iya.”
“Saya sering dengar cerita.”
“Cerita apa?”
Yulianto tersenyum kecil.
“Katanya Kak Riyadi selalu jagain Yanti.”
Aziz yang mendengar langsung batuk pura-pura.
“Uhuk uhuk...”
Ari Yanti melotot kesal ke arah Aziz.
Sementara Riyadi hanya menjawab singkat:
“Ya biasa aja.”
Namun entah kenapa...
kalimat itu terdengar lebih dingin dari biasanya.
Ari Yanti langsung sadar ada perubahan nada bicara Riyadi.
Dan ia mulai merasa bersalah tanpa tahu sebabnya.
Sore harinya latihan selesai.
Rombongan berjalan-jalan kecil di sekitar Kaliwungu sebelum pulang.
Ari Yanti sengaja berjalan di samping Riyadi.
“Kaang.”
“Hm?”
“Kok diem?”
“Enggak.”
“Marah ya?”
“Marah kenapa?”
“Karena aku ngobrol sama Yulianto?”
Riyadi langsung berhenti berjalan sebentar.
“Aku gak punya hak marah.”
Jawaban itu membuat Ari Yanti mendadak diam.
Untuk pertama kalinya...
ia merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Takut jika Riyadi benar-benar menjauh.
Di perjalanan pulang, suasana bus tak seramai tadi pagi.
Beberapa sudah tidur kelelahan.
Langit senja terlihat indah dari jendela.
Yanti duduk diam sambil memainkan ujung tasnya.
Lalu pelan ia berkata:
“Kaang.”
“Hm?”
“Kalau aku dekat sama orang lain... Kakang bakal ninggalin aku gak?”
Riyadi menatap jalanan di depan.
Lama sekali sebelum akhirnya menjawab:
“Enggak.”
“Bener?”
“Iya.”
“Kenapa?”
Riyadi tersenyum kecil.
“Karena kamu Sinok.”
Jawaban sederhana itu membuat hati Ari Yanti terasa hangat sekaligus sesak bersamaan.
Dan tanpa mereka sadari...
cemburu kecil yang mulai tumbuh hari itu akan menjadi awal dari perasaan yang jauh lebih rumit di kemudian hari.
BAB IX
UJIAN SABUK COKLAT DAN JANJI DI KOTA SEMARANG
Hari-hari di Desa Tegorejo mulai dipenuhi kesibukan baru.
Pengumuman ujian kenaikan tingkat karate akhirnya keluar.
Seluruh anggota ranting SMPN 1 Pegandon yang memenuhi syarat akan mengikuti Gashuku dan ujian sabuk di Semarang, tepatnya di lingkungan Mapolda Jawa Tengah.
Bagi sebagian besar anak-anak karate, perjalanan itu terasa seperti mimpi besar.
Pergi keluar kota bersama teman-teman.
Naik bus bersama.
Menginap di Asrama Haji Semarang.
Dan mengikuti ujian yang menentukan masa depan mereka di dunia karate.
Namun bagi Ari Yanti ...
ada satu hal yang jauh lebih penting daripada semua itu.
Ia harus memastikan satu orang ikut berangkat bersamanya.
Orang itu adalah...
Riyadi .
Sore itu latihan di dojo berlangsung lebih serius dari biasanya.
Sensei Sambas membagi daftar peserta ujian.
“Yanti.”
“Hadir Sensei!”
“Sari.”
“Hadir!”
“Aziz.”
“Hadir!”
“Agus .”
“Hadir!”
“Pincuk.”
“Hadir!”
Sensei Sambas melihat daftar sebentar lalu mengernyit.
“Riyadi ?”
Riyadi yang berdiri di belakang menjawab santai.
“Saya gak ikut Sensei.”
Semua langsung menoleh.
Ari Yanti yang tadi sedang minum langsung tersedak.
“Hah?!”
Sensei Sambas ikut heran.
“Kenapa?”
“Belum ada biaya.”
Suasana mendadak agak hening.
Karena semua tahu kondisi ekonomi Riyadi memang tidak mudah.
Namun yang paling panik justru Ari Yanti.
“Kaang serius gak ikut?”
“Iya.”
“Kenapa gak bilang dari kemarin?!”
“Ya memang begitu.”
“Tapi aku kan…”
Ari Yanti berhenti bicara karena semua mata memandangnya.
Aziz langsung menyeringai jahil.
“Hayooo...”
Ari Yanti melotot kesal.
Namun wajahnya mulai panik.
Sepanjang latihan sore itu Ari Yanti tidak fokus.
Beberapa kali gerakannya salah.
Bahkan Sensei Anton sampai menegur.
“Yanti! Konsentrasi!”
“Iya Sensei...”
Namun pikirannya tetap kacau.
Bagaimana mungkin Riyadi tidak ikut?
Padahal Bu Yati sudah pasti tidak akan mengizinkannya berangkat jika Riyadi tidak ada.
Dan lebih dari itu...
ia sendiri tidak bisa membayangkan perjalanan besar itu tanpa Riyadi.
Begitu latihan selesai, Ari Yanti langsung menarik tangan Riyadi ke belakang gedung sekolah.
“Kaang kenapa gak ikut?”
“Kan sudah bilang.”
“Masalah uang?”
“Iya.”
“Kurang berapa?”
“Sudah lah Sinok.”
“Kurang berapa?!”
Riyadi menghela napas panjang.
“Tiga puluh lima ribu.”
Bagi anak remaja zaman itu, jumlah itu tidak sedikit.
Namun Ari Yanti justru langsung menjawab cepat:
“Aku punya.”
“Jangan ngawur.”
“Serius.”
“Itu uang jajanmu.”
“Biarin.”
“Enggak.”
“Kaang harus ikut.”
“Sinok..”
“Pokoknya harus!”
Untuk pertama kalinya Ari Yanti terlihat benar-benar keras kepala.
Matanya bahkan mulai berkaca-kaca.
“Aku gak mau berangkat kalau Kakang gak ikut.”
Riyadi mendadak diam.
Melihat Ari Yanti seperti itu selalu membuatnya sulit menolak.
Malam harinya Ari Yanti membujuk Bu Yati habis-habisan.
“Bukkkk...”
“Apa lagi?”
“Boleh ikut ujian kan?”
“Kalau Riyadi ikut.”
“Kalau dia ikut beneran?”
Bu Yati mengangguk.
“Iya.”
Ari Yanti langsung tersenyum lebar.
Namun Bu Yati kembali berkata serius:
“Riyadi itu bisa jaga kamu.”
“Iya Buk.”
“Dan Sari juga.”
“Iya.”
“Tapi ingat.”
“Iya jangan nakal.”
“Jangan bikin malu.”
Ari Yanti tertawa kecil lalu memeluk ibunya.
“Makasih Buk!”
Keesokan harinya Riyadi akhirnya menyerah.
Ia menerima bantuan biaya dari Ari Yanti meski dengan rasa tidak enak hati.
“Ini pinjaman,” katanya tegas.
“Iya iya.”
“Nanti tak ganti.”
“Iya Kakang cerewet.”
Riyadi menggeleng sambil tersenyum tipis.
Namun diam-diam...
hatinya terasa hangat.
Belum pernah ada seseorang yang memperjuangkannya sekeras itu.
Hari keberangkatan akhirnya tiba.
Bus karyawan PT Kayu Lapis Indonesia sudah menunggu di depan sekolah.
Semua peserta terlihat antusias.
Ada yang membawa tas besar.
Ada yang sibuk membeli camilan.
Ada yang foto-foto.
Sementara Ari Yanti sejak tadi tak berhenti tersenyum karena Riyadi akhirnya ikut.
“Kaang duduk sama aku ya.”
“Nanti lihat dulu.”
“Pokoknya sama aku.”
Aziz langsung nyeletuk:
“Ya ampun lengket banget.”
Farida ikut tertawa.
“Udah kayak perangko.”
Ari Yanti menjulurkan lidah jahil.
“Biarin!”
Perjalanan menuju Semarang berlangsung meriah.
Sepanjang jalan mereka bernyanyi dan bercanda.
Kadang Aziz sengaja membuat lawakan receh.
Kadang Agus memukul bangku seperti drum.
Kadang Sari tertidur di pundak Ari Yanti.
Sementara Riyadi beberapa kali hanya diam memperhatikan semua keramaian itu.
Di sampingnya, Ari Yanti terus berceloteh tanpa habis.
“Kaang nanti kalau aku lulus sabuk coklat keren gak?”
“Keren.”
“Kalau aku jadi atlet nasional?”
“Boleh.”
“Kalau aku masuk TV?”
“Ya bagus.”
“Kalau aku terkenal terus lupa sama Kakang?”
Riyadi menoleh pelan.
“Kamu gak bakal lupa.”
“Yakin?”
“Iya.”
Ari Yanti tersenyum kecil.
Entah kenapa jawaban Riyadi selalu terasa menenangkan.
Malam hari mereka tiba di Asrama Haji Semarang.
Bagi anak-anak desa seperti mereka, kota besar terasa sangat menakjubkan.
Lampu jalan terang.
Gedung-gedung tinggi berdiri megah.
Mobil lalu-lalang tanpa henti.
Ari Yanti sampai tak berhenti melihat keluar jendela bus.
“Kaang Semarang gede banget ya.”
“Iya.”
“Aku pengin muter-muter.”
“Nanti nyasar.”
“Kan ada Kakang.”
Jawaban spontan itu membuat Riyadi diam sebentar.
Dan lagi-lagi...
hatinya terasa hangat tanpa alasan jelas.
Setelah istirahat sebentar, rombongan akhirnya diajak berjalan ke pusat perbelanjaan Matahari Semarang.
Bagi mereka yang berasal dari desa kecil, mall terasa seperti dunia lain.
Eskalator saja membuat beberapa anak takut naik.
Aziz bahkan hampir jatuh karena salah pijakan.
“WOII PEGANGI!”
Semua tertawa keras.
Ari Yanti sampai memegangi perutnya karena terlalu banyak tertawa.
Di tengah keramaian mall itulah...
untuk pertama kalinya Yanti dan Riyadi berjalan agak jauh dari rombongan.
Mereka berdua berjalan tanpa alas kaki, Riyadi menjijjing sandal milik Ari Yanti, sementara Riyadi dari awal sudah tidak memakai sandal maupun sepatu.
Mereka duduk di dekat balkon lantai dua sambil melihat lampu kota Semarang di malam hari.
Suasana mendadak lebih tenang.
Lebih pribadi.
Ari Yanti memandang lampu-lampu kota sambil tersenyum kecil.
“Indah ya Kaang.”
“Iya.”
Beberapa detik mereka diam.
Lalu tiba-tiba Ari Yanti berkata pelan:
“Kaang.”
“Hm?”
“Kalau nanti kita besar... jangan hilang ya.”
Riyadi menoleh.
“Maksudnya?”
“Jangan pergi tanpa kabar.”
Entah kenapa...
kalimat itu terdengar seperti firasat.
Riyadi tersenyum kecil.
“Enggak akan.”
“Janji?”
“Iya.”
Ari Yanti memandang langit malam Semarang.
Lalu dengan suara sangat pelan ia berkata:
“Merpati tak pernah ingkar janji...”
Riyadi mengernyit kecil.
“Itu maksudnya apa?”
Ari Yanti tersenyum samar.
“Merpati selalu pulang.”
“Ke mana?”
“Ke tempat yang dia percaya.”
Riyadi diam.
Sementara Ari Yanti kembali menatap lampu-lampu kota.
Dan malam itu...
tanpa mereka sadari...
sebuah kalimat sederhana mulai menjadi janji paling abadi dalam hidup mereka.
BAB X
TERTINGGAL DI ASRAMA HAJI
Pagi di Asrama Haji Semarang dimulai jauh sebelum matahari terbit.
Suara langkah kaki para peserta karate sudah terdengar sejak pukul lima pagi. Lorong-lorong asrama ramai oleh anak-anak muda berseragam karate putih yang sibuk bersiap mengikuti ujian kenaikan tingkat di Mapolda Jawa Tengah.
Di kamar perempuan, suasana benar-benar kacau.
Ada yang rebutan cermin.
Ada yang kehilangan sabuk.
Ada yang salah memakai kaus kaki.
Dan di tengah semua keributan itu...
Ari Yanti justru sibuk mencari seseorang.
“Sariii... Kakang mana?”
Sari yang masih setengah mengantuk menguap panjang.
“Tadi kayaknya di bawah.”
Ari Yanti langsung berlari keluar kamar.
Di halaman asrama, Riyadi sedang membantu Aziz mengikat tas perlengkapan.
“Kaang!”
Riyadi menoleh.
“Kamu tuh kalau manggil bisa pelan sedikit gak?”
“Takut ditinggal.”
“Kita berangkat bareng.”
Ari Yanti tersenyum lega.
Dan seperti biasa...
melihat Riyadi ada di dekatnya selalu membuat hatinya tenang.
Perjalanan menuju lokasi ujian berlangsung tegang.
Ratusan peserta dari berbagai daerah memenuhi area latihan.
Suara peluit, teriakan instruktur, dan aba-aba latihan terdengar bersahutan.
“BARIS RAPI!”
“KUDA-KUDA!”
“SIAP!”
Matahari pagi mulai terasa panas.
Namun semangat peserta justru semakin membara.
Ari Yanti berdiri di barisan peserta ujian sabuk coklat.
Wajahnya terlihat tegang.
Riyadi yang hari itu hanya mengikuti Gashuku dan membantu rombongan mendekat pelan.
“Takut?”
Ari Yanti langsung menjawab cepat:
“Enggak.”
“Bohong.”
“Sedikit.”
Riyadi tersenyum kecil.
“Kamu pasti lulus.”
“Kalau gak lulus?”
“Ya ulang lagi.”
“Kaang kok gak nyemangatin.”
“Kamu tuh kuat.”
Kalimat sederhana itu justru membuat Ari Yanti lebih tenang.
Ujian berlangsung sangat melelahkan.
Mulai dari kihon, kata, hingga kumite.
Bahkan beberapa peserta mulai tumbang karena kelelahan.
Namun Ari Yanti bertahan dengan semangat luar biasa.
Beberapa kali matanya mencari Riyadi di pinggir lapangan.
Dan setiap kali melihat Riyadi berdiri sambil mengacungkan jempol...
semangatnya kembali naik.
Menjelang siang, sesi istirahat dimulai.
Peserta diberi waktu makan dan beristirahat sebelum pengumuman hasil.
Sementara Ari Yanti dan teman-temannya makan bersama di bawah pohon besar.
“Kaang!” teriak Yanti sambil melambaikan tangan.
“Apa?”
“Sini makan.”
“Aku nanti aja.”
“Enggak. Sekarang.”
Aziz langsung tertawa.
“Waduh disuruh istri.”
“Aziz!”
Semua kembali tertawa.
Namun setelah makan siang, Riyadi mulai merasa sangat mengantuk.
Sejak malam sebelumnya ia memang hampir tidak tidur karena membantu mengurus peserta lain.
Akhirnya ia memutuskan kembali ke Asrama Haji untuk beristirahat sebentar.
“Kamu jangan lama-lama ya Kaang,” pesan Ari Yanti.
“Iya.”
“Nanti pulangnya bareng.”
“Iya.”
“Janji?”
Riyadi tersenyum tipis.
“Iya cerewet.”
Di kamar asrama yang sepi, Riyadi langsung merebahkan tubuhnya.
Awalnya hanya ingin memejamkan mata beberapa menit.
Namun kelelahan membuatnya tertidur sangat pulas.
Di luar sana...
waktu terus berjalan.
Pengumuman hasil ujian selesai.
Seluruh peserta dari ranting SMPN 1 Pegandon dinyatakan lulus.
Sorak sorai pecah di mana-mana.
Ari Yanti bahkan hampir menangis saking senangnya.
“Aku lulusss!”
Sari memeluk kakaknya.
Aziz berteriak keras.
“Pegandon juaraaa!”
Namun di tengah kebahagiaan itu...
seseorang mendadak bertanya:
“Eh Riyadi mana?”
Semua langsung diam.
Ari Yanti menoleh cepat ke kanan kiri.
“Lho tadi katanya di asrama.”
“Belum balik?”
“Belum.”
Panik mulai muncul.
Namun karena bus rombongan sudah harus segera berangkat kembali ke Kendal, semua jadi terburu-buru.
“Pasti dia sudah di bus duluan,” kata Agus mencoba menenangkan.
Dan dalam kekacauan itulah...
kesalahan besar terjadi.
Bus akhirnya berangkat meninggalkan Semarang.
Di dalam bus semua masih sibuk bercanda dan membahas hasil ujian.
Ari Yanti duduk sambil memegang sertifikat kelulusannya.
Namun entah kenapa...
hatinya mulai tidak tenang.
“Sarrii.”
“Hm?”
“Kakang kok gak keliatan ya?”
“Mungkin tidur.”
Ari Yanti berdiri lalu memeriksa kursi satu per satu.
Semakin lama wajahnya semakin pucat.
“Aziz... Kakang gak ada.”
Aziz ikut panik.
“Hah?!”
Mereka mulai mencari ke seluruh bus.
Namun hasilnya sama.
Riyadi benar-benar tidak ada.
Ari Yanti langsung berdiri dengan wajah shock.
“YA ALLAH!”
Bus mendadak ribut.
“Putar balik gak?”
“Tapi bus sudah jauh.”
“Waduh...”
Namun saat itu posisi mereka sudah cukup jauh dari Semarang.
Dan akhirnya dengan keputusan yang serba salah...
bus tetap melanjutkan perjalanan.
Sementara Ari Yanti duduk diam dengan wajah penuh rasa bersalah.
Di sisi lain...
sekitar pukul empat sore Riyadi akhirnya terbangun.
Ia mengucek mata pelan.
Suasana asrama sunyi.
Tidak ada suara ramai lagi.
Tidak ada teriakan peserta.
Tidak ada Aziz.
Tidak ada Ari Yanti.
Tidak ada siapa-siapa.
Riyadi langsung duduk tegak.
“Lho...”
Ia berlari keluar kamar.
Lorong asrama kosong.
Halaman parkir juga kosong.
Dan saat itulah kenyataan menghantamnya keras.
Ia tertinggal.
Sendirian.
Di Semarang.
“ASTAGHFIRULLAH...”
Riyadi memegangi kepala.
Pusing.
Kesal.
Panik.
Ia merogoh kantong celananya.
Uang yang tersisa hanya cukup untuk ongkos sebagian perjalanan.
“Ya ampun...”
Ia duduk lemas di bangku halaman asrama.
Dalam hati mulai mengumpat.
“Sialan itu Si Sinok... tadi katanya pulang bareng...”
Namun setelah marah beberapa menit...
ia justru tertawa pahit sendiri.
Bagaimana mungkin rombongan bisa lupa dirinya?
Padahal sejak berangkat Ari Yanti hampir tak pernah jauh darinya.
“Nasib...” gumamnya.
Menjelang magrib Riyadi akhirnya mencari cara pulang.
Setelah bertanya sana-sini, ia berhasil menumpang bus karyawan PT Kayu Lapis Indonesia yang menuju arah Kendal.
Perjalanan pulang terasa sangat panjang.
Tubuhnya lelah.
Hatinya kesal.
Dan pikirannya penuh omelan untuk seseorang bernama Ari Yanti.
Sementara itu di dalam bus rombongan...
Ari Yanti sama sekali tidak bisa tenang.
Wajahnya murung sepanjang jalan.
Farida mencoba menghibur.
“Yanti... mungkin Kak Riyadi sudah duluan pulang.”
“Mana mungkin.”
“Ya siapa tahu.”
Ari Yanti menggigit bibir pelan.
Untuk pertama kalinya sejak mengenal Riyadi...
ia merasa benar-benar bersalah.
Malam hari Riyadi akhirnya sampai rumah dengan tubuh lemas.
Begitu duduk di teras rumah...
ia langsung menghela napas panjang.
Dan keesokan harinya...
baru saja matahari naik...
Ari Yanti sudah datang ke rumahnya sambil membawa wajah penuh rasa bersalah.
“Kaang...”
Riyadi pura-pura cuek.
“Hm.”
“Marah ya?”
“Enggak.”
“Bohong.”
Riyadi tetap diam.
Ari Yanti mendekat pelan.
“Aku kira Kakang sudah masuk bus...”
“Hebat ya ketua rombongan ditinggal.”
Ari Yanti langsung menunduk.
“Maafin sinok.”
Riyadi melihat wajah bersalah itu beberapa detik.
Lalu akhirnya tertawa kecil.
“Dasar ceroboh.”
Ari Yanti langsung tersenyum lega.
“Jadi gak marah?”
“Masih.”
“Kaanggg...”
“Traktir bakso.”
Ari Yanti langsung tertawa keras.
“Siap!”
Dan seperti biasa...
pertengkaran kecil mereka selalu berakhir dengan tawa.
Namun tak ada satu pun dari mereka yang sadar...
bahwa suatu hari nanti mereka benar-benar akan saling tertinggal selama puluhan tahun.
BAB XI
KAPOLRES CUP DAN JUARA YANG MEMBANGGAKAN
Hari-hari setelah ujian sabuk coklat berlalu dengan cepat.
Nama-nama peserta yang lulus mulai dikenal di lingkungan karate Cabang Kendal. Semangat latihan di ranting SMPN 1 Pegandon semakin meningkat karena sebentar lagi akan digelar sebuah kejuaraan besar yang sangat bergengsi bagi anak-anak karate saat itu.
Kapolres CUP Kabupaten Kendal.
Turnamen itu bukan sekadar pertandingan biasa.
Bagi para karateka muda, Kapolres CUP adalah ajang pembuktian diri.
Siapa yang menang akan dikenal.
Siapa yang juara akan diperhitungkan.
Dan siapa yang tampil bagus berpeluang masuk tim Kejurda Jawa Tengah.
Karena itulah seluruh dojo mulai sibuk mempersiapkan atlet terbaik mereka.
Sore itu dojo SMPN 1 Pegandon terlihat lebih ramai dari biasanya.
Sensei Sambas berdiri di tengah lapangan sambil membawa daftar peserta.
“Untuk Kapolres CUP tahun ini...” katanya tegas, “ranting kita harus lebih baik dari tahun lalu.”
Semua murid langsung bersorak.
“SIAP SENSEI!”
Sensei Sambas mulai menyebut nama peserta.
“Yanti turun di kumite putri 45 kilogram.”
Ari Yanti langsung tersenyum lebar.
“Siap Sensei!”
“Agus .”
“Siap!”
“Aziz.”
“Siap!”
“Dan untuk kata beregu...” Sensei Sambas melihat daftar, “Riyadi , Agus , dan Helmi.”
Riyadi mengangguk tenang.
Namun di belakang barisan...
Ari Yanti terlihat jauh lebih antusias dibanding dirinya sendiri.
“Kaang nanti harus juara ya.”
“Kamu dulu.”
“Enggak. Kakang dulu.”
“Kamu tuh.”
Aziz langsung menyela:
“Kalau salah satu juara nanti yang satu traktir pacar.”
Semua langsung tertawa.
Ari Yanti spontan mengambil sandal dan melempar ke arah Aziz.
“Mulutmu itu!”
Persiapan menuju turnamen berlangsung sangat serius.
Latihan fisik diperberat.
Sparing dilakukan hampir setiap hari.
Bahkan beberapa kali mereka pulang saat langit sudah gelap.
Namun justru di masa-masa itulah hubungan Ari Yanti dan Riyadi semakin dekat.
Sebab hampir setiap sore...
mereka selalu bersama.
Suatu sore latihan kumite berlangsung sangat keras.
Sensei Anton meminta semua peserta serius.
“Kalau mau juara jangan latihan setengah hati!”
Ari Yanti dipasangkan melawan peserta senior perempuan dari ranting lain.
Pertandingan berlangsung sengit.
BUG!
Satu tendangan mengenai bahu Ari Yanti cukup keras hingga ia jatuh terduduk.
“Sinok!”
Riyadi langsung berdiri panik dari pinggir Tatami.
Ari Yanti meringis sambil memegangi bahunya.
Sensei Anton segera mendekat.
“Bisa lanjut?”
Ari Yanti menggigit bibir.
“Bisa Sensei.”
Namun sebelum berdiri, matanya mencari Riyadi lebih dulu.
Dan ketika melihat Riyadi mengangguk memberi semangat...
ia kembali bangkit.
Aziz yang melihat hanya bisa geleng kepala.
“Kalau bukan cinta aku gak ngerti lagi itu apa.”
Farida langsung mengangguk setuju.
Beberapa hari sebelum pertandingan, Riyadi mulai melatih Ari Yanti secara khusus.
Pagi-pagi sekali mereka sudah latihan di lapangan belakang sekolah.
Kabut masih turun tipis ketika suara pukulan mereka terdengar memecah pagi.
“Jangan buru-buru nyerang,” kata Riyadi sambil memasang posisi kumite.
“Kalau lawan maju?”
“Tunggu celah.”
“Tapi aku takut kalah.”
Riyadi menatap Ari Yanti serius.
“Kamu tahu kenapa kamu sering menang?”
“Karena aku hebat?”
“Karena kamu gak gampang menyerah.”
Ari Yanti tersenyum kecil.
Lalu tiba-tiba bertanya:
“Kalau aku kalah nanti Kakang kecewa gak?”
“Enggak.”
“Kenapa?”
“Karena buatku kamu sudah hebat.”
Kalimat itu membuat wajah Ari Yanti perlahan memerah.
Dan pagi itu...
entah kenapa udara terasa lebih hangat dari biasanya.
Hari pertandingan akhirnya tiba.
GOR Bahu Rekso Kabupaten Kendal penuh oleh peserta dan penonton dari berbagai ranting karate.
Spanduk besar bertuliskan “KEJUARAAN KARATE KAPOLRES CUP” tergantung megah di depan arena.
Suasana riuh.
Suara peluit dan teriakan dukungan terdengar dari segala arah.
Rombongan SMPN 1 Pegandon datang dengan semangat tinggi.
Riyadi yang saat itu menjadi ketua ranting terlihat sibuk mengatur peserta.
“Aziz pemanasan dulu.”
“Iya.”
“Yanti jangan kebanyakan bercanda.”
“Iya Kakang.”
“Serius ini.”
“Iyaaaa.”
Namun meski sibuk...
mata Riyadi beberapa kali tetap mencari Ari Yanti di antara keramaian.
Pertandingan demi pertandingan dimulai.
Aziz menang tipis di babak awal.
Agus tampil cukup bagus.
Dan giliran Ari Yanti akhirnya tiba.
“Peserta berikutnya, Ari Yanti dari SMPN 1 Pegandon!”
Sorak dukungan langsung pecah.
“Yantiiii SEMANGAT!”
“AYO SINOK!”
Yanti masuk arena dengan wajah tegang.
Namun begitu melihat Riyadi berdiri di pinggir arena sambil memberi isyarat tenang...
dadanya mendadak lebih ringan.
Pertandingan berlangsung cepat.
Lawan Ari Yanti cukup kuat.
Beberapa kali serangan masuk nyaris mengenai wajahnya.
Namun Ari Yanti bertahan dengan luar biasa.
HIYAAT!
Poin masuk.
Penonton bersorak.
Dan di detik terakhir...
Ari Yanti berhasil memenangkan pertandingan final.
“JUARA SATU!”
Suasana langsung pecah.
Aziz melompat kegirangan.
Farida berteriak keras.
Sari sampai menangis saking bangganya.
Sementara Ari Yanti langsung berlari menghampiri Riyadi.
“KAANG AKU MENANG!”
Riyadi spontan menangkap tubuhnya yang hampir melonjak kegirangan.
“Iya iya juara.”
“Aku juaraaa!”
“Hebat.”
Ari Yanti tertawa sambil hampir menangis bahagia.
Dan untuk beberapa detik...
mereka lupa bahwa banyak mata sedang memperhatikan kedekatan mereka.
Tak lama kemudian giliran kata beregu dimulai.
Riyadi, Agus , dan Helmi tampil kompak luar biasa.
Gerakan mereka tajam dan sinkron.
Sorak penonton menggema sepanjang penampilan.
Dan hasil akhirnya...
mereka juga berhasil meraih juara.
Ranting SMPN 1 Pegandon keluar sebagai salah satu dojo terbaik hari itu.
Sebelum pulang, seorang wartawan lokal dari koran daerah datang mewawancarai para juara.
Ari Yanti yang masih mengenakan medali tampak gugup.
“Mbak Yanti senang jadi juara?”
“Iya senang sekali.”
“Apa rahasianya?”
Ari Yanti spontan menoleh ke arah Riyadi.
Semua langsung tertawa kecil.
Wartawan itu ikut tersenyum.
“Oh jadi ada pelatih khusus ya?”
Wajah Ari Yanti langsung merah.
Sementara Riyadi buru-buru memalingkan wajah sambil pura-pura sibuk.
Aziz dari belakang langsung berbisik keras:
“Rahasia sukses: dekat sama Kak Riyadi!”
“AZIZ!”
Satu rombongan kembali pecah oleh tawa.
Namun di balik semua kebahagiaan itu...
perlahan sebuah jalan baru mulai terbuka.
Karena kemenangan mereka di Kapolres CUP membawa beberapa nama masuk pemusatan latihan Kejurda Jawa Tengah.
Termasuk...
Ari Yanti.
Dan itu berarti...
perjalanan mereka akan segera berubah menjadi jauh lebih serius.
BAB XII
MENUJU KEJURDA JAWA TENGAH
Pagi di Desa Tegorejo terasa berbeda sejak kemenangan di Kapolres CUP.
Nama Ari Yanti mulai dikenal bukan hanya di sekolah, tetapi juga di lingkungan karate Cabang Kendal. Banyak yang membicarakan tendangannya yang cepat, keberaniannya saat bertanding, hingga semangatnya yang pantang menyerah.
Namun bagi Ari Yanti sendiri...
hal yang paling membuatnya bahagia bukanlah piala ataupun medali.
Melainkan satu hal sederhana:
setiap selesai latihan, ia masih bisa pulang bersama Riyadi .
Beberapa hari setelah kejuaraan, pengumuman resmi dari Pengcab Lemkari Kendal akhirnya keluar.
Atlet-atlet terbaik akan dikirim mengikuti pemusatan latihan menuju Kejurda Jawa Tengah di Semarang.
Sore itu seluruh anggota ranting dikumpulkan di dojo.
Sensei Sambas berdiri sambil membawa map biru.
“Yang terpilih jangan sombong,” katanya tegas. “Karena perjuangan sebenarnya baru dimulai.”
Semua langsung diam serius.
Sensei mulai membacakan nama.
“Ari Yanti.”
Ari Yanti langsung menutup mulutnya sendiri.
“Imaajinasi aku gak salah kan?” bisiknya ke Sari.
Sari tertawa kecil.
“Bener Mbak!”
Sensei melanjutkan.
“Aziz AR Bukhori.”
“SIAP!”
“Agus .”
“SIAP!”
Beberapa nama lain juga disebut.
Dan saat itu wajah Ari Yanti sudah bersinar penuh kebahagiaan.
Ia langsung mencari Riyadi di antara kerumunan.
Namun berbeda dengan dirinya...
Riyadi justru terlihat tenang.
Karena untuk kata beregu...
timnya belum tentu lolos.
Selesai pengumuman, Ari Yanti langsung berlari kecil menghampiri Riyadi .
“Kaang! Aku masuk Kejurda!”
“Iya selamat.”
“Aku senang banget!”
“Bagus.”
“Tapi Kakang kok biasa aja?”
Riyadi tersenyum kecil.
“Kan yang tanding kamu.”
“Kalau Kakang gak ikut gak seru.”
Jawaban itu membuat Riyadi diam beberapa detik.
Entah kenapa...
akhir-akhir ini ucapan Ari Yanti semakin sering membuat dadanya terasa aneh.
Malam harinya rumah Bu Yati ramai oleh tetangga yang datang memberi selamat.
“Wah Yanti hebat sekarang.”
“Bisa masuk Kejurda.”
“Calon atlet nasional ini.”
Ari Yanti hanya tersipu malu.
Namun diam-diam matanya terus mencari satu orang yang belum datang.
Dan benar saja...
tak lama kemudian Riyadi muncul membawa sebungkus kecil martabak.
“Selamat ya Sinok.”
Ari Yanti langsung tersenyum lebar.
“Kaang!”
Bu Yati sampai tersenyum melihat perubahan wajah anaknya.
“Sudah makan Yadi?”
“Belum Buk.”
“Ya makan sini.”
Riyadi duduk di ruang tamu sederhana itu bersama keluarga Bu Yati.
Dan seperti biasanya...
suasana selalu terasa hangat ketika ia berada di sana.
Malam semakin larut.
Sari sudah tertidur.
Tetangga mulai pulang.
Tinggal Bu Yati yang masih duduk di dapur sambil membuat teh panas.
Sementara di ruang tengah, Ari Yanti dan Riyadi berbincang pelan.
“Kaang.”
“Hm?”
“Kalau nanti aku menang di Kejurda...”
“Iya?”
“Aku mau traktir Kakang.”
“Pakai uang apa?”
“Ya nabung.”
“Kamu tuh.”
Ari Yanti tertawa kecil.
Lalu beberapa detik kemudian suaranya berubah lebih pelan.
“Kaang.”
“Hm?”
“Kalau suatu hari aku pergi jauh... Kakang bakal lupa sama aku gak?”
Riyadi mengernyit kecil.
“Kamu kenapa sih akhir-akhir ini ngomong begitu terus?”
“Ya jawab dulu.”
Riyadi berpikir sebentar.
Lalu menjawab pelan:
“Enggak.”
“Kenapa?”
“Karena kamu ribut.”
“Kaang!”
Mereka tertawa bersamaan.
Namun jauh di dalam hati...
tak satu pun menyadari bahwa pertanyaan sederhana itu suatu hari nanti akan menjadi kenyataan yang menyakitkan.
Pemusatan latihan dimulai minggu berikutnya.
Latihan dilakukan lebih keras dibanding biasanya.
Pagi lari keliling lapangan.
Siang latihan teknik.
Sore sparing.
Kadang sampai tubuh terasa remuk.
Namun Ari Yanti justru semakin bersemangat.
Karena hampir setiap sesi latihan...
Riyadi selalu ada.
Meski dirinya sendiri belum dipastikan lolos ke Kejurda, Riyadi tetap membantu melatih junior-juniornya.
“Jaga nafas!”
“Kuda-kudanya jangan naik!”
“Fokus!”
Dan di antara semua peserta...
yang paling sering dimarahi sekaligus diperhatikan tentu saja Ari Yanti.
Suatu sore setelah latihan fisik, Ari Yanti duduk kelelahan di pinggir lapangan.
Wajahnya berkeringat.
“Nyerah?” tanya Riyadi sambil memberikan air minum.
“Enggak.”
“Tapi mukamu kayak mau mati.”
“Aku capek.”
“Kalau jadi atlet harus tahan capek.”
Ari Yanti menerima botol minum itu lalu berkata pelan:
“Kalau Kakang gak ada aku mungkin sudah menyerah.”
Riyadi menatapnya beberapa detik.
Lalu tertawa kecil.
“Lebay.”
“Serius.”
Namun justru karena ucapan itu terlalu jujur...
Riyadi mendadak tidak tahu harus menjawab apa.
Beberapa hari kemudian kabar baik datang.
Tim kata beregu SMPN 1 Pegandon akhirnya dinyatakan lolos mewakili Kendal.
Agus langsung melompat kegirangan.
“MET KITA BERANGKAT!”
Riyadi tersenyum lega.
Sementara Ari Yanti yang mendengar kabar itu malah paling heboh sendiri.
“YEAAAAA!”
Farida langsung menggoda.
“Yang senang siapa yang lolos siapa.”
Ari Yanti menjulurkan lidah jahil.
“Biarin!”
Persiapan keberangkatan menuju Semarang semakin sibuk.
Seragam mulai disiapkan.
Tas mulai dipacking.
Dan seperti biasa...
Bu Yati kembali memberikan syarat utama.
“Kalau Riyadi ikut baru ibu tenang.”
Ari Yanti langsung memeluk ibunya dari belakang.
“Buk... Kakang itu bodyguard atau atlet sih?”
“Dua-duanya.”
Sari langsung tertawa keras.
Malam sebelum keberangkatan, Ari Yanti duduk di depan rumah memandangi langit.
Riyadi datang membawa daftar peserta.
“Besok kumpul jam lima pagi.”
“Siap Ketua.”
“Jangan telat.”
“Iya Kakang.”
Beberapa detik mereka diam menikmati angin malam.
Lalu Ari Yanti berkata pelan:
“Kaang.”
“Hm?”
“Aku takut.”
“Takut apa?”
“Takut kalah.”
Riyadi menatap langit sebentar sebelum menjawab.
“Menang kalah itu biasa.”
“Kalau aku gagal?”
“Kamu tetap Ari Yanti yang aku kenal.”
Jawaban itu membuat hati Ari Yanti menghangat.
Dan malam itu...
untuk pertama kalinya ia mulai merasa bahwa perasaannya pada Riyadi bukan lagi sekadar nyaman.
Ada sesuatu yang tumbuh diam-diam.
Pelan.
Namun semakin dalam.
Sementara jauh di depan sana...
Kejurda Jawa Tengah sudah menunggu.
Membawa mereka menuju babak baru kehidupan yang akan mengubah segalanya.
BAB XIII
SEMARANG, MEDALI, DAN HATI YANG MULAI BINGUNG
Subuh di Desa Tegorejo masih gelap ketika rombongan Kejurda Jawa Tengah bersiap berangkat menuju Semarang.
Udara dingin menusuk kulit.
Lampu rumah warga masih banyak yang padam.
Namun halaman sekolah SMPN 1 Pegandon sudah ramai oleh para atlet karate dan keluarga yang mengantar.
Tas-tas besar berjajar di dekat bus.
Suara ibu-ibu terdengar sibuk memberi pesan.
“Jangan lupa makan!”
“Hati-hati di jalan!”
“Jaga kesehatan!”
Sementara Bu Yati sejak tadi terus membereskan kerah baju Ari Yanti seperti anak kecil yang baru pertama kali pergi jauh.
“Buk... malu dilihatin.”
“Biarin.”
“Aku bukan SD lagi.”
“Tetap anak ibu.”
Sari yang berdiri di samping langsung cekikikan.
“Mbak Yanti kalau jauh dari Kak Riyadi paling nangis.”
“Sariiiii!”
Namun Ari wajah Yanti justru memerah sendiri.
Karena tanpa sadar...
matanya memang terus mencari satu orang di antara keramaian itu.
Tak lama kemudian Riyadi datang membawa tas olahraga di pundaknya.
“Pagi.”
Ari Yanti langsung tersenyum lega.
“Kaang!”
Bu Yati mengangguk puas melihatnya.
“Nah kalau Riyadi sudah datang ibu tenang.”
Aziz yang baru turun dari motor langsung nyeletuk:
“Bu Yati percaya banget sama Riyadi ya.”
Bu Yati menjawab santai:
“Karena dia bisa jagain Yanti.”
Aziz langsung tertawa jahil.
“Bukan cuma jagain kayaknya.”
“AZIZ!”
Semua langsung tertawa.
Sementara Riyadi hanya geleng kepala sambil tersenyum tipis.
Perjalanan menuju Semarang terasa jauh lebih serius dibanding sebelumnya.
Karena kali ini mereka membawa nama Kabupaten Kendal.
Di dalam bus beberapa atlet terlihat tegang.
Ada yang mendengarkan musik.
Ada yang memejamkan mata.
Ada yang sibuk menghafal gerakan kata.
Namun tidak dengan Ari Yanti.
Ia justru terus mengobrol dengan Riyadi sepanjang perjalanan.
“Kaang.”
“Hm?”
“Kalau nanti aku menang...”
“Iya?”
“Aku pengin foto sama piala.”
“Ya foto aja.”
“Terus dipajang di rumah.”
“Bagus.”
“Terus Kakang harus datang lihat.”
“Kamu tuh sudah menang belum.”
Ari Yanti tertawa kecil.
Namun beberapa detik kemudian wajahnya berubah lebih serius.
“Kaang.”
“Hm?”
“Kalau suatu hari nanti aku terkenal... jangan berubah ya.”
Riyadi mengernyit.
“Yang terkenal kamu.”
“Iya tapi jangan ninggalin aku.”
Riyadi diam sesaat.
Lalu menjawab pendek:
“Enggak.”
Jawaban sederhana itu kembali membuat hati Ari Yanti terasa tenang.
Sesampainya di Semarang, suasana kejuaraan jauh lebih besar dibanding Kapolres CUP.
Gedung olahraga dipenuhi peserta dari seluruh Jawa Tengah.
Spanduk besar tergantung di mana-mana.
Suara MC menggema keras.
Penonton memenuhi tribun.
Ari Yanti sampai menelan ludah melihat ramainya arena.
“Kaang... aku jadi takut.”
“Kamu biasanya cerewet sekarang takut.”
“Ini beda.”
Riyadi menepuk pundaknya pelan.
“Lihat aku.”
Ari Yanti menoleh.
“Kamu bisa.”
Dan entah kenapa...
hanya dengan tiga kata itu saja, rasa takutnya perlahan hilang.
Pertandingan dimulai sejak pagi.
Kategori demi kategori berlangsung ketat.
Tingkat lawan jauh lebih berat.
Bahkan beberapa atlet unggulan tumbang lebih awal.
Sementara di sisi lain, tim kata beregu Riyadi juga mulai bertanding.
Gerakan mereka tampil sangat baik di babak awal.
Namun persaingan kali ini jauh lebih keras.
Ketika hasil diumumkan...
tim Riyadi gugur di babak kedua.
Agus langsung terduduk lemas.
“Yah gagal...”
Helmi memukul lantai pelan karena kecewa.
Sementara Riyadi hanya diam sambil menarik napas panjang.
Sedih tentu ada.
Namun ia mencoba tetap tenang.
Dan di saat itulah...
suara seseorang terdengar dari belakang.
“Kaang!”
Ari Yanti berlari kecil menghampiri.
“Kakang gak apa-apa?”
“Enggak.”
“Sedih ya?”
“Sedikit.”
Ari Yanti menggigit bibir pelan.
Lalu tanpa malu di depan banyak orang, ia duduk di samping Riyadi.
“Buat aku Kakang tetap hebat.”
Riyadi menoleh pelan.
Dan untuk beberapa detik...
semua suara di arena seperti menghilang.
Giliran pertandingan kumite putri akhirnya tiba.
Nama Ari Yanti dipanggil masuk arena.
Tangannya terasa dingin.
Namun sebelum masuk matanya mencari Riyadi.
Dan seperti biasa...
Riyadi berdiri di pinggir arena sambil mengacungkan jempol.
“Semangat Sinok.”
Ari Yanti mengangguk mantap.
Pertandingan pertama berjalan menegangkan.
Lawan Ari Yanti sangat agresif.
Beberapa kali pukulan nyaris mengenai wajahnya.
Namun Ari Yanti bertahan dengan luar biasa.
HIYAAT!
Poin masuk.
Penonton bersorak.
Pertandingan kedua lebih berat lagi.
Kakinya mulai pegal.
Napasnya memburu.
Namun setiap kali hampir menyerah...
ia selalu mendengar suara Riyadi dari pinggir arena.
“Fokus!”
“Jangan takut!”
“Bagus!”
Dan suara itu...
entah kenapa selalu membuatnya bangkit lagi.
Hingga akhirnya...
Ari Yanti berhasil masuk final.
Seluruh rombongan Kendal histeris.
Aziz sampai melompat-lompat di tribun.
“WOOO YANTI FINAL!”
Farida hampir menangis bangga.
Sari memeluk Bu Yati yang ikut datang menyaksikan pertandingan.
Sementara Riyadi hanya tersenyum kecil.
Namun di dalam hatinya...
ia bangga luar biasa.
Final berlangsung sangat sengit.
Lawan Ari Yanti berasal dari kota Kendal ranting Cepiring temannya sendiri dengan teknik yang sangat matang.
Beberapa kali Ari Yanti hampir jatuh.
Namun semangatnya tak goyah.
Detik demi detik terasa menegangkan.
Dan di saat skor imbang...
Ari Yanti berhasil memasukkan tendangan terakhir tepat sebelum waktu habis.
“IPPON!”
Arena langsung pecah.
“YANTI MENANG!”
“YANTI JUARA SATU!”
Sorak-sorai menggema di seluruh gedung.
Ari Yanti berdiri terpaku beberapa detik.
Lalu matanya langsung mencari Riyadi.
Dan begitu melihatnya...
ia spontan berlari sambil menangis haru.
“KAANG AKU MENANG!”
Riyadi menangkap bahunya erat.
“Iya Sinok... kamu juara.”
Ari Yanti menangis sambil tertawa bersamaan.
“Aku gak nyangka...”
“Hebat.”
Dan untuk pertama kalinya...
Riyadi sadar bahwa melihat Ari Yanti bahagia ternyata jauh lebih penting daripada kemenangan dirinya sendiri.
Sore harinya pengumuman resmi keluar.
Ari Yanti terpilih mewakili Jawa Tengah menuju Kejurnas Lemkari di Padang.
Suasana kembali heboh.
Sensei Sambas sampai berkaca-kaca bangga.
“Kamu bikin Kendal bangga.”
Ari Yanti masih setengah tidak percaya.
Namun di tengah semua ucapan selamat itu...
hatinya justru mendadak bingung.
Karena orang pertama yang ingin ia lihat hanyalah Riyadi.
Dan ketika ia menoleh...
Riyadi justru berdiri agak jauh sambil tersenyum kecil.
Ada bangga di matanya.
Namun juga ada sesuatu yang samar.
Sesuatu yang belum bisa dipahami Ari Yanti saat itu.
Malam harinya di penginapan, Ari Yanti duduk sendirian di balkon sambil memandangi lampu kota Semarang.
Langkah kaki Riyadi terdengar mendekat.
“Belum tidur?”
“Belum.”
“Besok pulang.”
“Iya.”
Beberapa detik mereka diam.
Lalu Ari Yanti berkata pelan:
“Kaang.”
“Hm?”
“Aku takut berubah.”
“Kenapa?”
“Karena semuanya jadi berbeda.”
Riyadi menatap langit malam.
Lalu menjawab tenang:
“Selama kamu masih jadi Sinok... semuanya gak akan berubah.”
Ari Yanti tersenyum kecil.
Namun di dalam hatinya...
ia mulai sadar bahwa perasaannya pada Riyadi perlahan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam.
Dan itulah yang justru membuatnya takut.
BAB XIV
API CEMBURU
Sejak kepastian keberangkatan menuju Kejurnas Lemkari di Medan diumumkan, kehidupan Ari Yanti berubah semakin sibuk.
Hampir setiap hari ia menjalani latihan intensif.
Pagi sekolah.
Sore latihan fisik.
Malam masih harus belajar.
Tubuhnya mulai sering pegal.
Kakinya penuh memar.
Namun semangatnya justru semakin besar.
Karena sekarang...
ia bukan hanya membawa nama dirinya sendiri.
Ia membawa nama Kendal.
Nama Jawa Tengah.
Dan diam-diam...
ia juga membawa harapan seseorang bernama Riyadi .
Dojo Cabang Kendal semakin ramai oleh atlet-atlet pilihan.
Latihan dilakukan jauh lebih keras dibanding sebelumnya.
Sensei Sambas bahkan mulai galak luar biasa.
“Kalau mau juara nasional jangan manja!”
“Gerakan ulang!”
“Lebih cepat!”
Suara bentakan pelatih terdengar hampir setiap sore.
Namun di sela latihan keras itu...
drama kecil anak-anak remaja tetap saja muncul.
Terutama ketika Ari Yanti dan Riyadi berada dalam satu tempat.
Sore itu latihan fisik baru saja selesai.
Semua atlet duduk kelelahan di pinggir lapangan.
Aziz tiba-tiba duduk di sebelah Riyadi sambil membawa teh es.
“Yadi.”
“Hm?”
“Nanti kalau Ari Yanti terkenal jangan lupa sama kita.”
“Apaan sih.”
“Serius.”
Aziz menatap Ari Yanti yang sedang tertawa bersama atlet lain.
“Sekarang aja banyak yang mulai deketin.”
Riyadi menoleh pelan.
Dan benar saja...
beberapa atlet putra dari cabang lain tampak mulai sering mengajak Ari Yanti ngobrol.
Awalnya Riyadi mencoba biasa saja.
Namun entah kenapa...
dadanya terasa tidak nyaman.
Di sisi lain Ari Yanti sendiri sebenarnya tidak terlalu memikirkan hal itu.
Ia tetap menjadi gadis periang seperti biasa.
Mudah akrab.
Mudah tertawa.
Dan selalu menjadi pusat perhatian tanpa sadar.
Termasuk ketika pemusatan latihan provinsi mempertemukannya dengan seorang atlet kumite dari Banyumas.
Namanya...
Kustowo.
Pertemuan pertama mereka terjadi saat Pemusatan latihan ( TC ) di Cepu selama tiga bulan.
Ketika itu Ari Yanti sedang duduk sambil memegangi pergelangan kaki yang sedikit terkilir.
Tiba-tiba seorang laki-laki tinggi berkulit sawo matang menghampiri.
“Kakinya kenapa?”
Ari Yanti mendongak.
“Oh... keseleo sedikit.”
“Kompres pakai es.”
“Oh iya.”
Laki-laki itu tersenyum ramah.
“Aku Kustowo. Dari Banyumas.”
“Titik. Dari Kendal.”
“Tau.”
“Lho kok tau?”
“Kamu juara kumite putri kan?”
Ari Yanti tertawa kecil malu.
Dan sejak saat itu...
mereka mulai sering berbincang saat latihan.
Sementara di Kendal...
Riyadi sebenarnya tidak tahu banyak tentang kedekatan itu.
Sampai suatu sore Aziz datang membawa kabar.
“Yadi.”
“Hm?”
“Aku dengar sesuatu.”
“Apa?”
“Yanti dekat sama atlet Banyumas.”
Riyadi langsung diam.
“Siapa?”
“Namanya Kustowo.”
Riyadi mencoba tertawa kecil.
“Ya teman latihan biasa.”
“Katanya sering bareng.”
“Aziz...”
“Serius.”
Aziz menatap wajah sahabatnya pelan.
“Kamu cemburu ya?”
Riyadi langsung menjawab cepat.
“Enggak.”
Namun jawaban itu bahkan tidak terdengar meyakinkan bagi dirinya sendiri.
Malam itu Riyadi duduk sendirian di depan rumah.
Langit Tegorejo terlihat gelap tanpa bintang.
Angin malam terasa dingin.
Dan untuk pertama kalinya...
ia mulai merasa takut kehilangan seseorang.
Padahal selama ini ia selalu berusaha menganggap Ari Yanti hanya sebagai adik.
Hanya sahabat.
Hanya Sinok kecil yang cerewet dan manja.
Namun sekarang...
kenapa rasanya berbeda?
Beberapa minggu kemudian rombongan Jawa Tengah yang melaksanakan Pemusatan Latihan di Cepu akhirnya berangkat menuju Padang.
Keberangkatan dilakukan dari Cepu menuju Semarang baru kemudian ke Padang menggunakan pesawat.
Bagi Ari Yanti yang belum pernah naik pesawat sebelumnya, semuanya terasa sangat menegangkan sekaligus menyenangkan.
Sebelum berangkat ia sempat menelepon rumah Bu Yati dari wartel.
“Buk aku berangkat ya.”
“Iya hati-hati.”
“Iya.”
“Jaga kesehatan.”
“Iya.”
“Dan jangan lupa kabar.”
“Iya Buk.”
Lalu sebelum telepon ditutup, Ari Yanti bertanya pelan:
“Kakang ada?”
“Gak ada. Tadi latihan.”
“Oh...”
Nada kecewa kecil itu tidak lolos dari telinga Bu Ros.
Namun beliau hanya tersenyum tipis.
Sementara itu Riyadi sebenarnya datang ke rumah Bu Yati beberapa menit setelah Ari Yanti menelepon.
“Ketinggalan ya,” kata Bu Yati sambil menuangkan teh.
Riyadi hanya tersenyum kecil.
“Iya Buk.”
Bu Yati memperhatikan wajahnya beberapa detik.
“Kamu khawatir?”
“Enggak.”
“Bohong.”
Riyadi diam.
Lalu akhirnya berkata lirih:
“Takut dia lupa pulang.”
Bu Yati tersenyum tipis mendengar jawaban itu.
Namun beliau tidak berkata apa-apa lagi.
Di Padang...
dunia baru terbuka bagi Ari Yanti.
Kota besar.
Hotel megah.
Ratusan atlet dari seluruh Indonesia.
Suasana kejuaraan nasional yang luar biasa ramai.
Dan di tengah semua itu...
Kustowo sering berada di dekatnya.
Kadang membantu membawa tas.
Kadang mengajak makan bersama rombongan.
Kadang menemani saat menunggu jadwal pertandingan.
Semua terasa biasa saja bagi Ari Yanti.
Namun tidak bagi orang-orang di sekitarnya.
“Eh kalian cocok juga,” goda salah satu atlet.
Ari Yanti langsung tertawa.
“Apaan sih.”
Kustowo malah tersenyum santai.
“Kalau cocok kenapa?”
Wajah Ari Yanti langsung merah.
Kabar kedekatan itu akhirnya sampai juga ke Kendal.
Dan lagi-lagi...
Aziz menjadi pembawa berita utama.
“Yadi.”
“Hm?”
“Fix.”
“Apa?”
“Sinokmu dekat sama Kustowo.”
Riyadi yang sedang memperbaiki sepeda langsung berhenti.
“Dengar dari siapa?”
“Teman dari Banyumas.”
Riyadi mencoba tetap tenang.
“Oh.”
“Cuma oh?”
“Mau gimana lagi.”
Aziz memandangnya tajam.
“Kamu suka ya sebenarnya sama Ari Yanti?”
Riyadi tertawa kecil hambar.
Namun kali ini...
ia tidak bisa langsung menyangkal.
Malam itu Riyadi benar-benar tidak bisa tidur.
Ia terus memikirkan Medan.
Membayangkan Ari Yanti tertawa bersama orang lain.
Berjalan bersama orang lain.
Curhat pada orang lain.
Dan entah kenapa...
dadanya terasa sesak.
Namun di tengah rasa cemburu itu...
selalu terngiang pesan Bu Yati:
“Jangan sampai kalian pacaran.”
Kalimat itu seperti tembok besar yang membuatnya terus menahan diri.
Beberapa hari kemudian Ari Yanti akhirnya pulang dari Padang.
Seluruh ranting menyambutnya dengan bangga.
Ia membawa medali dan oleh-oleh untuk teman-temannya.
Namun sejak turun dari kendaraan...
matanya langsung mencari Riyadi.
Dan ketika akhirnya melihat Riyadi berdiri agak jauh sambil tersenyum tipis...
hatinya terasa lega luar biasa.
“Kaang!”
Ari Yanti berlari kecil menghampiri.
“Nih oleh-oleh.”
Riyadi menerima sebuah kaos bertuliskan KEJURNAS LEMKARI PADANG.
“Makasih.”
Ari Yanti memperhatikannya beberapa detik.
Lalu berkata pelan:
“Kakang marah ya?”
“Marah kenapa?”
“Aku dekat sama Kustowo.”
Riyadi pura-pura santai.
“Ya terserah, Sinok lah.”
Jawaban itu justru membuat Ari Yanti panik.
“Kaang serius marah?”
“Enggak.”
“Bohong.”
Riyadi menatapnya cukup lama.
Lalu akhirnya berkata pelan:
“Aku gak punya hak marah.”
Kalimat itu membuat Ari Yanti mendadak diam.
Dan untuk pertama kalinya...
ia benar-benar mulai bingung dengan perasaannya sendiri.
Sementara di langit senja Desa Tegorejo...
seekor merpati putih terbang melintasi hamparan sawah.
Seolah menjadi pertanda...
bahwa hati manusia memang sering kali tersesat sebelum akhirnya menemukan tempat pulang yang sebenarnya.
BAB XV
KEPERGIAN TANPA PAMIT
Musim kemarau mulai datang di Desa Tegorejo.
Sawah-sawah perlahan menguning.
Angin sore membawa debu tipis dari jalanan desa yang belum beraspal sempurna. Hari-hari tetap berjalan seperti biasa, namun tanpa disadari, kehidupan Ari Yanti dan Riyadi mulai bergerak menuju arah yang berbeda.
Dan semuanya dimulai...
dari sebuah keputusan yang tidak pernah benar-benar dipahami oleh Ari Yanti hingga puluhan tahun kemudian.
Sepulang dari Padang, kesibukan Ari Yanti semakin bertambah.
Ia mulai dikenal sebagai atlet berprestasi.
Guru-guru di sekolah bangga padanya.
Teman-teman sering meminta cerita tentang Padang.
Bahkan anak-anak karate junior mulai menjadikannya panutan.
Namun di tengah semua kesibukan itu...
ia tetap menjadi Ari Yanti yang sama di depan Riyadi.
Masih cerewet.
Masih manja.
Masih suka mengeluh.
Dan masih selalu mencari Riyadi setiap ada masalah.
Suatu sore Ari Yanti datang ke rumah Riyadi sambil membawa buku pelajaran.
“Kaanggg...”
Riyadi yang sedang memperbaiki radio tua langsung menoleh.
“Apa lagi?”
“Matematika.”
“Kenapa matematika?”
“Aku gak ngerti.”
“Kamu kan atlet nasional.”
“Ya terus?”
“Harusnya pintar.”
“Kaang ngajarin gak?”
Riyadi tertawa kecil lalu menggeser bangku.
“Sini.”
Ari Yanti duduk di sampingnya sambil membuka buku.
Namun baru lima menit belajar...
ia malah sibuk bercerita.
“Kakang tahu gak di Padang itu panas banget.”
“Hm.”
“Terus makanannya pedas.”
“Hm.”
“Terus Kustowo—”
Riyadi langsung memotong cepat.
“Bahas matematika aja.”
Ari Yanti langsung diam beberapa detik.
Lalu pelan-pelan tersenyum kecil.
“Kaang cemburu ya?”
“Enggak.”
“Bohong.”
Riyadi pura-pura fokus menulis rumus.
Namun telinganya mulai panas.
Ari Yanti justru makin senang menggoda.
“Kalau gak cemburu kenapa muka Kakang kayak cabe?”
“Sinok...”
“Iya?”
“Belajar.”
Ari Yanti tertawa puas.
Dan saat itulah...
ia mulai sadar bahwa Riyadi benar-benar tidak suka mendengar nama Kustowo.
Entah kenapa hal itu justru membuat hatinya senang.
Namun di balik semua canda itu...
Riyadi sebenarnya sedang memikul beban besar.
Kondisi ekonomi keluarganya semakin sulit.
Kesempatan kerja di desa sangat terbatas.
Dan ia mulai berpikir untuk merantau ke Tangerang mengikuti teman dari nwinong , Karwan yang sudah bekerja di sama tepatnya di desa Bojong , Cikupa, Tanggerang.
Keputusan itu belum ia ceritakan pada siapa pun.
Termasuk Ari Yanti.
Minggu siang itu langit Kendal tampak mendung.
Angin berembus pelan membawa aroma tanah basah sisa hujan semalam.
Di halaman SMPN I Pegandon, beberapa anak karate sudah berkumpul sejak pukul satu siang.
Mereka mendapat undangan menghadiri rapat internal pengurus cabang di rumah Senpai Edi di Kota Kendal.
Dan seperti biasa...
rombongan paling ribut tetap kelompok Ranting Pegandon.
“Ayo cepet!”
Agus Sabara berteriak sambil melambai.
“Ini tinggal nunggu Sinok sama Sari aja!”
Aziz langsung nyeletuk.
“Kalau nunggu Sinok mah bisa magrib baru berangkat.”
“Mulutmu itu lho, Ziz!”
Ari Yanti langsung muncul dari arah jalan kecil sambil membawa tas kecil.
Di belakangnya Sari berjalan sambil tertawa kecil.
Riyadi yang sejak tadi duduk di jok belakang mobil pedesaan hanya tersenyum kecil melihat keributan itu.
“Wis lengkap kabeh?”
“Lengkap, Kang!” jawab Aziz.
“Berangkat sekarang?”
“Iya.”
Mobil mulai berjalan meninggalkan terminal kecil Pegandon menuju Kendal.
Di sepanjang perjalanan...
suasana di dalam mobil tak pernah sepi.
Agus sibuk menggoda Aziz yang terus melirik Evianti baru naik gabung di Patebon.
Sementara Sari sibuk mengejek Agus yang duduk paling pojok.
Dan Ari Yanti...
seperti biasa...
lebih banyak duduk dekat Riyadi.
“Kaang.”
“Hm?”
“Aku lapar.”
“Baru juga berangkat.”
“Tapi lapar.”
“Dasar bocah.”
“Hehehe.”
Aziz langsung menimpali dari depan.
“Sinok itu kalau dekat Kakang berubah jadi anak TK.”
“Biarin!”
“Hahaha!”
Mobil penuh tawa.
Sesampainya di rumah Senpai Edi di Kendal...
suasana sudah ramai.
Beberapa senior cabang Kendal tampak duduk melingkar membahas agenda latihan dan persiapan pertandingan.
“Eh, Pegandon datang!”
Senpai Edi langsung menyambut mereka.
“Masuk kabeh!”
“Iya, Senpai!”
Rapat berlangsung cukup serius.
Membahas agenda latihan gabungan.
Persiapan ujian kenaikan tingkat.
Dan rencana kejuaraan antar ranting.
Namun di sela rapat...
anak-anak muda itu tetap saja tak bisa diam.
Aziz terus curi-curi pandang ke arah Evianti.
Yulianto diam-diam memperhatikan Sari.
Sementara Ari Yanti beberapa kali bercanda dengan Riyadi hingga ditegur Agus.
“Woi!”
Agus berbisik.
“Kalian ini rapat apa pacaran?”
“Hush!”
Ari Yanti langsung memukul lengan Agus.
Riyadi hanya tertawa kecil sambil menggeleng.
Menjelang sore...
rapat selesai.
Langit mulai berubah jingga.
Dan rombongan Pegandon bersiap pulang.
Namun sebelum pulang...
Aziz tiba-tiba berkata:
“Eh, sekalian nganter Evianti ke Cepiring yuk.”
“Boleh juga,” jawab Agus.
“Biar romantis ya?” goda Sari.
Aziz langsung salah tingkah.
“Bukan gitu!”
“Hahaha!”
Akhirnya mereka semua sepakat mengantar Evianti pulang.
Mobil kembali berjalan.
Kali ini menuju Cepiring.
Menjelang magrib...
mereka sampai di jalan gang kecil menuju rumah Evianti.
Suasana kampung mulai ramai oleh orang-orang yang pulang dari sawah.
Beberapa pemuda tampak nongkrong di dekat jembatan kecil.
Dan saat rombongan lewat...
tatapan mereka langsung berubah tajam.
“Heh!”
Salah satu pemuda memanggil.
“Vi!”
Evianti langsung menunduk.
Aziz mulai merasa tak enak.
“Itu siapa?” bisik Sari.
Evi menjawab pelan.
“Anak sini.”
“Kenapa lihatnya serem gitu?”
Evi diam.
Riyadi yang berdiri dekat pintu mobil mulai merasa suasana tidak beres.
Namun ia tetap tenang.
Sesampainya di rumah Evianti...
mereka hanya mampir sebentar.
Minum teh.
Mengobrol ringan dengan keluarga Evi.
Lalu bersiap pulang karena hari mulai gelap.
Namun...
tak satu pun dari mereka menyangka...
malam itu akan berubah menjadi kekacauan.
Saat mendekati jembatan kecil untuk menunggu mobil di ujung kampung...
beberapa pemuda tiba-tiba menghadang di tengah jalan.
Jumlahnya lebih dari lima orang.
“Heh berhenti!”
Rombongan Riyadi langsung berhenti.
Agus mulai panik.
“Waduh.”
Riyadi langsung menghampiri lebih dulu.
“Ada apa, Mas?”
Namun belum sempat bicara panjang...
salah satu pemuda langsung melayangkan pukulan.
BUGH!
“WOI!”
Riyadi terkejut.
Suasana langsung kacau.
Yulianto yang berada paling dekat menjadi korban pertama.
Ia dipukul hingga terjatuh ke pinggir jalan.
Riyadi berusaha menenangkan denga mereka.
“Permisi, Mas! Ada apa ini baik-baik aja—”
BUK!
Sebuah bogem mentah menghantam pelipisnya keras sekali.
“AARRGH!”
Darah langsung mengucur dari pelipis kiri.
“KAKANG!!”
Ari Yanti menjerit histeris.
Sari ikut panik.
Namun para pemuda itu terus maju.
Tak banyak bicara.
Langsung memukul siapa saja yang ada.
“LARI!!”
Agus berteriak.
Dan seketika...
semua langsung tunggang-langgang menyelamatkan diri.
Aziz kabur ke arah jalan besar.
Agus melompat ke semak pinggir sungai.
Sari menangis sambil menarik Ari Yanti.
Sementara Riyadi yang masih memegangi pelipis berdarah ikut berlari sempoyongan.
“Kaang cepet!”
“Aku bisa!”
“Darahmu banyak!”
“Gak papa!”
Suasana benar-benar kacau.
Malam mulai gelap.
Orang-orang kampung mulai berdatangan.
Namun rombongan Pegandon sudah telanjur tercerai-berai.
Akhirnya mereka berkumpul kembali di pertigaan arah Pegandon.
Napas semua masih ngos-ngosan.
“Semua lengkap?” tanya Agus.
“Yulianto mana?”
“Belum ada!”
“Waduh!”
Riyadi duduk di pinggir jalan sambil menahan darah yang masih mengalir.
Ari Yanti langsung panik melihat wajah Riyadi penuh darah.
“Ya Allah Kaang...”
“Gapapa.”
“Ini luka!”
“Kecil.”
“Kecil dari mana?!”
Ari Yanti langsung merobek ujung saputangannya untuk menekan luka di pelipis Riyadi.
Tangannya gemetar.
Matanya mulai berkaca-kaca.
“Kaang sakit?”
“Enggak.”
“Bohong.”
“Hehehe.”
“Masih sempat ketawa!”
Tak lama kemudian mereka naik becak menuju jalan pertigaan tempat menunggu mobil.
Sementara Yulianto ternyata sudah pulang sendiri dan melapor ke pos penjagaan Patebon.
Malam itu...
suasana di rumah Bu Yati mendadak heboh saat Riyadi datang dengan pelipis berdarah.
“ASTAGHFIRULLAH!”
Bu Yati langsung panik.
“Ini kenapa?!”
“Dipukul orang, Bu,” jawab Agus.
Ari nYanti langsung membantu membersihkan luka Riyadi.
Sari sibuk mengambil air hangat.
Sementara Bu Yati terus mengomel sambil cemas.
“Lha kok iso nganti gelut?!”
“Kita gak gelut, Bu,” jawab Riyadi lirih.
“Ya Allah... darahnya masih keluar.”
Titik membersihkan luka itu dengan tangan gemetar.
Sesekali meniup pelan luka di pelipis Riyadi.
“Sakit gak, Kaang?”
“Kalau sama Sinok enggak.”
“Hush!”
Namun wajah Ari Yanti merah menahan haru.
Malam itu...
untuk pertama kalinya Ari Yanti benar-benar ketakutan kehilangan Kakangnya.
Walau hanya luka kecil...
ia terus duduk menemani Riyadi sampai larut malam.
Dan sejak kejadian itu...
selama hampir satu minggu...
Riyadi benar-benar diperlakukan seperti pasien istimewa di rumah Bu Yati.
Bu Yati selalu menyiapkan makanan khusus.
Sari selalu membantu mengganti perban.
Dan Ari Yanti...
menjadi orang yang paling perhatian.
“Kaang udah minum obat?”
“Udah.”
“Bohong.”
“Hehehe.”
“Serius!”
“Iya udah.”
“Mana lihat.”
Kadang Ari Yanti marah kecil.
Kadang cerewet.
Kadang malah duduk diam memandangi luka di pelipis Riyadi dengan wajah sedih.
“Sinok.”
“Hm?”
“Kok serius banget?”
“Aku takut.”
“Takut apa?”
“Takut Kaang kenapa-kenapa.”
Riyadi tersenyum pelan.
Lalu berkata lirih:
“Selama masih ada Sinok yang marah-marah begini, Kakang gak akan kenapa-kenapa.”
Ari Yanti langsung memukul pelan bahunya.
Namun diam-diam ia tersenyum sambil menahan air mata.
Tak lama kemudian...
kasus pengeroyokan itu masuk laporan polisi.
Dan ternyata Komandan Polsek Patebon masih keluarga Evianti.
Para pelaku berhasil ditangkap satu hari kemudian.
Aziz dan Riyadi sebenarnya diminta menjadi saksi.
Namun...
takdir ternyata sudah menyiapkan jalan lain.
Karena tak lama setelah kejadian itu...
Slamet Riyadi justru berencana berangkat merantau ke Tangerang.
Dan akan meninggalkan luka baru di hati seseorang bernama Titik Mukti Aryanti.
Berapa hari sebelum keberangkatan...
Ari Yanti masih sempat berkata pelan:
“Kaang jangan ilang lagi ya.”
Namun saat itu...
Riyadi hanya tersenyum kecil.
Karena bahkan dirinya sendiri belum tahu...
bahwa kepergian itu akan memisahkan mereka selama tiga puluh dua tahun.
Sehari sebelum berangkat, Riyadi duduk bersama ibu sambungnya di ruang tamu sederhana.
“Kamu yakin mau berangkat?” tanya ibunya pelan.
Riyadi mengangguk.
“Di sini susah cari kerja.”
“Kalau Yanti?”
Riyadi terdiam.
Ibunya tersenyum tipis.
“Ibu tahu kalian dekat.”
“Dia cuma adik.”
“Bohong.”
Riyadi tersenyum hambar.
Namun kali ini ia tidak menyangkal lagi.
Hari-hari berikutnya terasa aneh.
Riyadi mulai lebih sering diam.
Lebih sering melamun.
Kadang latihan karate pun tidak terlalu fokus.
Dan orang pertama yang menyadari perubahan itu tentu saja Ari Yanti.
Suatu sore setelah latihan, ia mencegat Riyadi di depan dojo.
“Kaang.”
“Hm?”
“Kok akhir-akhir ini aneh?”
“Aneh gimana?”
“Kayak banyak pikiran.”
“Biasa.”
“Bohong.”
Riyadi hanya tersenyum kecil.
Namun Ari Yanti tidak menyerah.
“Ada masalah?”
“Enggak.”
“Kaang.”
“Hm?”
“Kalau ada apa-apa cerita sama aku.”
Kalimat itu membuat Riyadi mendadak diam.
Karena justru itulah yang paling sulit ia lakukan.
Malam sebelum keberangkatannya ke Tangerang, Riyadi berjalan sendirian melewati jalan desa.
Langit terlihat gelap.
Suara jangkrik terdengar nyaring dari sawah.
Ia berhenti cukup lama di depan rumah Bu Yati.
Lampu rumah masih menyala.
Dari dalam terdengar suara Ari Yanti tertawa bersama Sari.
Riyadi memandang rumah itu cukup lama.
Dadanya terasa berat.
Namun akhirnya...
ia memilih pergi tanpa mengetuk pintu.
Tanpa pamit.
Tanpa penjelasan.
Keesokan paginya Desa Tegorejo tetap berjalan seperti biasa.
Namun tidak bagi Ari Yanti.
Karena sore itu saat ia datang ke rumah Riyadi sambil membawa singkong rebus...
rumah itu terlihat sepi.
Ibunya Riyadi keluar pelan.
“Yanti?”
“Bu... Kakang mana?”
“Berangkat.”
“Berangkat ke mana?”
“Tangerang.”
Wajah Ari Yanti langsung pucat.
“Sejak kapan?”
“Tadi subuh.”
Dan saat itulah...
dunia Ari Yanti seperti mendadak sunyi.
“Kenapa gak pamit sama aku?” suaranya lirih.
Ibunya Riyadi memandang gadis itu dengan iba.
“Katanya takut bikin sedih.”
Kalimat itu justru membuat mata Ari Yanti mulai berkaca-kaca.
Ia memegang erat singkong rebus yang dibawanya.
Dan untuk pertama kalinya sejak mengenal Riyadi...
ia benar-benar merasa kehilangan.
Hari-hari setelah kepergian itu terasa sangat berbeda.
Latihan karate tidak lagi seramai dulu.
Tidak ada lagi suara Riyadi yang memarahinya saat latihan.
Tidak ada lagi yang menungguinya pulang.
Tidak ada lagi tempat curhat setiap kali ia bertengkar dengan Bu Yati.
Semua terasa kosong.
Suatu sore di dojo, Aziz duduk di samping Ari Yanti yang sedang diam melamun.
“Masih sedih?”
Ari Yanti pura-pura cuek.
“Siapa yang sedih?”
“Kamu.”
“Enggak.”
Aziz menghela napas kecil.
“Baru sekarang ya kamu sadar?”
“Sadar apa?”
“Kak Riyadi itu penting.”
Ari Yanti menunduk pelan.
Lalu tanpa sadar air matanya jatuh.
“Aku marah sama dia.”
“Karena pergi?”
“Iya.”
“Kalau dia pamit emang kamu rela?”
Ari Yanti langsung diam.
Karena jawabannya jelas:
tidak.
Di Tangerang...
Riyadi juga tidak benar-benar baik-baik saja.
Di tengah hiruk pikuk kota besar, ia justru semakin sering teringat Desa Tegorejo.
Teringat suara Ari Yanti yang cerewet.
Teringat panggilan “Kaang.”
Teringat tawa kecilnya saat menggoda.
Dan setiap malam...
selalu muncul pertanyaan yang sama di dalam hatinya.
“Apa Sinok marah karena aku pergi?”
Namun waktu terus berjalan.
Hari berubah minggu.
Minggu berubah bulan.
Dan tanpa mereka sadari...
jarak mulai perlahan menciptakan sunyi yang semakin sulit dijembatani.
Sementara di rumahnya...
Ari Yanti mulai sering duduk sendirian di depan jendela setiap sore.
Memandangi jalan desa.
Seolah berharap suatu hari Riyadi tiba-tiba muncul sambil tersenyum seperti biasa.
Namun yang datang hanya angin sore dan suara jangkrik dari kejauhan.
Dan di situlah...
untuk pertama kalinya Ari Yanti benar-benar memahami arti kehilangan.
BAB XVI
SUNYI TANPA KAKANG
Hari-hari di Desa Tegorejo tetap berjalan seperti biasa.
Pagi masih diawali suara ayam berkokok.
Anak-anak masih berangkat sekolah melewati jalan setapak di pinggir sawah.
Ibu-ibu masih sibuk menjemur padi di halaman rumah.
Dan sore hari masih dipenuhi suara anak-anak bermain di lapangan desa.
Namun bagi Ari Yanti ...
semuanya terasa berbeda sejak Riyadi pergi ke Tangerang tanpa pamit.
Desa yang dulu terasa ramai...
mendadak menjadi sunyi.
Sudah hampir dua minggu Riyadi pergi.
Tidak ada surat.
Tidak ada kabar.
Tidak ada pesan titipan.
Dan itu membuat Ari Yanti semakin kesal sekaligus sedih.
Suatu sore ia duduk di depan rumah sambil mengupas mangga muda.
Sari yang sedang bermain karet langsung memperhatikan kakaknya.
“Mbak.”
“Hm?”
“Masih marah sama Kak Riyadi?”
Ari Yanti pura-pura cuek.
“Siapa yang marah?”
“Wajah Mbak.”
“Wajahku kenapa?”
“Kayak ketupat basi.”
Ari Yanti langsung melempar kulit mangga ke arah Ima.
“Sariiii!”
Sari tertawa keras lalu duduk di samping kakaknya.
“Sebenernya Mbak kangen ya?”
Ari Yanti diam.
Beberapa detik kemudian ia menjawab lirih:
“Sedikit.”
Sari langsung menyeringai.
“Banyak itu.”
Malam harinya Bu Yati melihat Ari Yanti hanya diam saat makan malam.
Biasanya gadis itu paling ribut sendiri.
Kadang cerita sekolah.
Kadang cerita latihan karate.
Kadang mengeluh tentang tugas.
Namun sekarang...
ia lebih sering melamun.
“Ti.”
“Iya Buk?”
“Kamu sakit?”
“Enggak.”
“Kok diem terus?”
“Capek.”
Bu Yati sebenarnya tahu penyebabnya.
Namun beliau memilih bicara pelan.
“Kadang orang memang harus pergi buat cari jalan hidup.”
Ari Yanti langsung menunduk.
“Aku cuma kesel.”
“Karena gak pamit?”
“Iya.”
Bu Yati tersenyum tipis.
“Kalau dia pamit emang kamu gak nangis?”
Ari Yanti tidak menjawab.
Karena ia tahu...
ibunya benar.
Di sekolah keadaan juga mulai berubah.
Teman-temannya sadar Ari Yanti tidak seceria biasanya.
Santi sampai bertanya saat jam istirahat.
“Yanti, kamu kenapa sih?”
“Kenapa apanya?”
“Kayak orang kehilangan sandal.”
Tusi langsung menimpali.
“Bukan sandal. Kehilangan Kakang.”
Semua langsung tertawa kecil.
Namun Ari Yanti justru diam.
Dan itu membuat teman-temannya saling pandang.
Karena biasanya Ari Yanti pasti langsung membantah sambil marah-marah.
Latihan karate pun terasa hambar.
Dojo yang dulu penuh tawa kini terasa lebih sepi bagi Ari Yanti.
Suara Riyadi yang biasanya memberi aba-aba sudah tidak ada.
Tidak ada lagi yang memarahinya kalau bercanda saat latihan.
Tidak ada lagi yang mengantar pulang sambil berdebat soal hal-hal receh.
Bahkan sepeda ontel tua yang biasa dipakai berboncengan kini hanya berdiri diam di pojok rumah.
Suatu sore setelah latihan selesai, Ari Yanti sengaja duduk lebih lama di dojo.
Ia memandangi lapangan kosong sambil memainkan ujung sabuk coklatnya.
Aziz datang sambil membawa es lilin.
“Nih.”
Ari Yanti menerimanya pelan.
“Makasih.”
Aziz duduk di sebelahnya.
“Kamu berubah.”
“Enggak.”
“Dulu paling ribut.”
“Lagi males.”
Aziz menatap lapangan kosong.
“Riyadi juga pasti sama.”
Ari Yanti langsung menoleh cepat.
“Maksudnya?”
“Ya dia pasti kangen juga.”
Ari Yanti menggigit bibir pelan.
“Dia aja pergi gak pamit.”
Aziz menghela napas kecil.
“Karena dia susah kalau harus lihat kamu sedih.”
Kalimat itu membuat hati Ari Yanti mendadak sesak.
Malam itu untuk pertama kalinya Ari Yanti menulis sesuatu di buku kecilnya.
Bukan catatan sekolah.
Bukan jadwal latihan.
Melainkan sebuah kalimat sederhana:
“Kalau benar sahabat tak pernah pergi dari hati, kenapa rasanya sesepi ini?”
Ia memandangi tulisan itu cukup lama.
Lalu perlahan memeluk buku kecilnya sendiri.
Sementara di Tangerang...
Riyadi juga sedang menjalani hari-hari yang tidak mudah.
Ia bekerja di sebuah pabrik Pensil bersama sahabatnya Karwan dari Desa Winong, dengan jam kerja panjang.
Suasana kota besar jauh berbeda dengan Tegorejo.
Bising.
Panas.
Penuh asap kendaraan.
Dan yang paling berat...
tidak ada Ari Yanti di sana.
Suatu malam Riyadi duduk sendirian di depan mess karyawan.
Beberapa teman kerjanya sedang bercanda di dalam.
Namun ia memilih diam memandangi langit.
Tiba-tiba seorang teman menepuk pundaknya.
“Riyadi.”
“Hm?”
“Kok melamun terus?”
“Enggak.”
“Pasti lagi mikirin cewek.”
Riyadi tertawa kecil hambar.
Temannya kembali bertanya:
“Pacar?”
Riyadi terdiam beberapa detik.
Lalu menjawab pelan:
“Bukan.”
“Terus?”
“Sahabat.”
Dan anehnya...
menyebut kata “sahabat” justru membuat dadanya semakin sakit.
Beberapa minggu kemudian sebuah surat akhirnya tiba di rumah Bu Yati.
Tulisan tangannya sangat dikenali.
Riyadi .
Ari Yanti yang menerima surat itu langsung berdiri terpaku.
Tangannya gemetar kecil.
“Buk... surat.”
Bu Yati tersenyum tipis.
“Buka saja.”
Namun Ari Yanti justru takut membukanya.
Entah kenapa dadanya berdebar luar biasa.
Akhirnya ia masuk kamar sendiri.
Duduk di dekat jendela.
Lalu perlahan membuka surat itu.
Tulisan tangan Riyadi masih sama seperti dulu.
Sedikit miring dan rapi.
Isi surat itu sederhana:
“Sinok, maaf aku pergi tanpa pamit. Aku takut kalau lihat kamu sedih aku jadi gak berangkat. Di sini aku baik-baik saja. Jangan malas latihan. Jangan sering ngambek sama Bu Yati. Dan jangan lupa makan kalau maagmu kambuh.
Salam buat Sari.
— Kakang.”
Baru membaca sampai situ saja...
air mata Ari Yanti langsung jatuh tanpa bisa ditahan.
Ia memeluk surat itu erat-erat.
Dan malam itu...
untuk pertama kalinya ia menangis karena seseorang yang bukan keluarganya sendiri.
Sejak surat itu datang, hubungan mereka mulai berlanjut lewat surat-menyurat.
Kadang tentang kehidupan di Tangerang.
Kadang tentang sekolah.
Kadang tentang karate.
Kadang hanya cerita receh.
Namun justru lewat surat-surat sederhana itu...
mereka semakin sadar bahwa ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan di antara keduanya.
Sesuatu yang lebih dalam dari sekadar teman.
Namun juga terlalu rumit untuk disebut cinta.
Dan jauh di dalam hati kecil Ari Yanti...
mulai tumbuh satu ketakutan baru.
“Kalau suatu hari nanti Kakang benar-benar pergi lebih jauh... apa aku masih bisa menemukannya lagi?”
BAB XVII
RINDU YANG TAK SEMPAT DIUCAPKAN
Waktu berjalan tanpa terasa.
Musim berganti.
Sawah-sawah di Desa Tegorejo kembali menghijau setelah hujan mulai turun. Jalanan desa yang dulu penuh debu kini berubah becek ketika sore datang.
Dan di tengah perubahan itu...
kehidupan Ari Yanti juga perlahan berubah menuju fase baru.
Ia telah lulus dari SMPN 1 Pegandon.
Hari perpisahan sekolah yang dulu terasa begitu jauh akhirnya benar-benar datang.
Namun di antara semua kebahagiaan kelulusan itu...
ada satu hal yang membuat hati Ari Yanti terasa kosong.
Riyadi tidak ada di sana.
Pagi itu halaman sekolah penuh oleh siswa berseragam putih biru.
Beberapa menangis karena akan berpisah.
Beberapa sibuk berfoto bersama.
Sementara Ari Yanti berdiri cukup lama di dekat lapangan sekolah sambil memandangi dojo karate di kejauhan.
Santi datang sambil membawa buku kenangan.
“Yanti.”
“Hm?”
“Foto yuk.”
“Iya.”
Namun senyum Ari Yanti hari itu terasa berbeda.
Tidak secerah biasanya.
Tusi yang menyadari langsung berbisik jahil:
“Pasti lagi mikirin Kak Riyadi.”
“Apaan sih.”
“Kalau Kak Riyadi ada pasti dari tadi nempel.”
Ari Yanti tersenyum kecil.
Namun diam-diam...
ia memang berharap Riyadi tiba-tiba muncul dari gerbang sekolah seperti dulu.
Sayangnya...
yang datang hanya angin siang dan suara gaduh teman-temannya.
Sore harinya Ari Yanti duduk di depan rumah sambil membaca surat terbaru dari Riyadi.
Surat itu datang dua hari sebelumnya dari Tangerang.
“Sinok, selamat lulus. Jangan puas cuma SMP. Kamu harus sekolah tinggi. Jangan jadi anak manja terus. Dan jangan lupa latihan karate walaupun Kakang gak ada.”
Ari Yanti tersenyum kecil membaca kalimat terakhir.
“Nyuruh orang jangan manja tapi orangnya sendiri hilang,” gumamnya pelan.
Namun setelah itu wajahnya kembali murung.
Karena sebentar lagi...
ia juga akan pergi jauh.
Bu Yati sebenarnya sudah memutuskan bahwa Ari Yanti akan melanjutkan sekolah ke STM Tekstil Pedan, Klaten.
Sekolah itu cukup jauh dari Tegorejo.
Artinya Ari Yanti harus tinggal di tempat kos.
Keputusan itu membuat Ari Yanti bingung sekaligus takut.
Malam itu ia duduk bersama Bu Yati di ruang tengah.
“Buk.”
“Hm?”
“Aku harus sekolah jauh ya?”
“Iya.”
“Kalau aku gak betah?”
“Harus dibiasakan.”
“Tapi aku takut.”
Bu Yati menatap anaknya lembut.
“Kamu gak bisa selamanya jadi anak kecil.”
Kalimat itu membuat Ari Yanti diam.
Karena jauh di dalam hatinya...
ia sadar selama ini dirinya terlalu bergantung pada satu orang.
Riyadi .
Sebelum berangkat ke Klaten, Ari Yanti sempat datang ke dojo karate untuk terakhir kalinya sebagai anak SMP.
Lapangan itu terasa penuh kenangan.
Di sana ia pernah menangis karena kalah latihan.
Pernah tertawa karena dilempari sandal oleh Aziz.
Pernah bertengkar kecil dengan Riyadi.
Dan di tempat itu pula...
ia mulai memahami arti nyaman pada seseorang.
Aziz datang sambil membawa sepeda.
“Besok jadi berangkat?”
“Iya.”
“Jangan lupa sama kita.”
“Emang aku mau pindah negara?”
Aziz tertawa kecil.
Lalu beberapa detik kemudian bertanya pelan:
“Kamu masih surat-suratan sama Riyadi?”
Ari Yanti mengangguk kecil.
“Masih.”
“Dia tahu kamu mau ke Klaten?”
“Sudah.”
“Terus?”
Ari Yanti tersenyum hambar.
“Dia cuma bilang jangan nakal.”
Aziz menghela napas.
“Dasar Kak Riyadi.”
Hari keberangkatan ke Klaten akhirnya tiba.
Pagi itu suasana rumah Bu Yati sibuk.
Tas besar sudah dipersiapkan.
Sari sejak tadi terus memeluk kakaknya.
“Mbak jangan lama-lama ya pulangnya.”
“Iya.”
“Kalau ada yang ganggu bilang sama Kak Riyadi.”
Ari Yanti langsung tertawa kecil.
“Emang Kakang polisi?”
“Lebih serem dari polisi.”
Mereka tertawa bersama.
Namun di balik semua itu...
hati Ari Yanti terasa berat.
Karena untuk pertama kalinya ia benar-benar meninggalkan rumah dalam waktu lama.
Perjalanan menuju Klaten terasa panjang.
Bus berjalan melewati kota-kota kecil dan hamparan sawah.
Ari Yanti duduk di dekat jendela sambil memandangi langit.
Dan sepanjang perjalanan...
yang terus muncul di pikirannya hanyalah satu orang.
Sesampainya di STM Tekstil Pedan, dunia baru kembali terbuka untuk Ari Yanti.
Lingkungan baru.
Teman baru.
Guru baru.
Dan kehidupan asrama yang jauh berbeda dari desa.
Awalnya ia mencoba kuat.
Namun malam pertama di kamar kos...
air matanya jatuh diam-diam.
Ia rindu rumah.
Rindu Bu Yati.
Rindu Sari.
Dan yang paling tidak ingin ia akui...
ia juga rindu Riyadi.
Beberapa minggu pertama di Klaten terasa berat.
Pelajaran jauh lebih sulit.
Kegiatan sekolah padat.
Dan tidak ada tempat curhat seperti dulu.
Kalau sedang sedih...
ia hanya bisa menulis surat.
Dan hampir semua surat itu ditujukan pada Riyadi.
Suatu malam Ari Yanti duduk di meja kecil kamar kos sambil menulis.
“Kaang, di sini aku capek. Temannya banyak tapi rasanya beda. Aku kangen dojo. Kangen rumah. Kadang aku pengin pulang aja.”
Ia berhenti menulis sejenak.
Lalu melanjutkan:
“Aku juga kangen dimarahin Kakang waktu latihan.”
Kalimat itu membuatnya tersenyum sendiri.
Namun beberapa detik kemudian matanya berkaca-kaca lagi.
Di Tangerang, Riyadi menerima surat itu seminggu kemudian.
Ia membacanya berulang kali di kamar mess yang sempit.
Dan untuk pertama kalinya setelah lama pergi...
ia benar-benar ingin pulang.
Teman kerjanya sampai heran melihat Riyadi sering tersenyum sendiri sambil membaca surat.
“Pacar ya?”
Riyadi langsung menjawab cepat:
“Bukan.”
“Terus siapa?”
“Adik.”
Namun lagi-lagi...
kata “adik” terasa semakin sulit ia yakini sendiri.
Hari-hari terus berjalan.
Surat demi surat terus bertukar.
Kadang sampai empat lembar penuh.
Kadang hanya satu halaman.
Namun tidak pernah sekalipun mereka benar-benar mengungkapkan isi hati yang sebenarnya.
Karena keduanya sama-sama takut.
Takut merusak hubungan yang sudah begitu nyaman.
Dan tanpa mereka sadari...
jarak perlahan mulai membangun tembok baru.
Kesibukan.
Kehidupan baru.
Lingkungan baru.
Yang pelan-pelan akan membawa mereka menuju persimpangan takdir yang berbeda.
Sementara di suatu malam yang sunyi di Klaten...
Ari Yanti berdiri di dekat jendela kamar kos sambil memandangi langit.
Lalu berbisik pelan pada dirinya sendiri:
“Kaang... kalau nanti kita benar-benar jauh... apa Kakang masih ingat sama Sinok?”
Angin malam berhembus pelan.
Namun tak ada jawaban.
Hanya suara rindu yang semakin sulit disembunyikan.
BAB XVIII
PULANG YANG TAK PERNAH TEPAT WAKTU
Hari-hari di STM Tekstil Pedan, Klaten berjalan semakin cepat bagi Ari Yanti.
Ia mulai terbiasa dengan kehidupan sekolah kejuruan.
Suara mesin jahit di ruang praktik.
Tumpukan kain.
Pelajaran menggambar pola.
Dan tugas-tugas yang terasa tak ada habisnya.
Di luar sekolah, Ari Yanti tetap menjadi gadis periang yang mudah berteman. Namun jauh di dalam dirinya...
ada ruang kosong yang belum juga terisi sejak Riyadi pergi merantau.
Dan anehnya...
ruang kosong itu justru semakin terasa ketika ia mulai tumbuh dewasa.
Surat-menyurat mereka masih terus berlangsung.
Meski tak sesering dulu.
Kadang dua minggu sekali.
Kadang sebulan baru ada kabar.
Namun setiap kali surat dari Tangerang datang...
hati Ari Yanti selalu berubah cerah.
Seolah seseorang baru saja membuka jendela di ruang yang pengap.
Suatu sore petugas pos datang ke rumah Bu Yati membawa surat.
“Titik! Surat lagi!”
Sari yang menerima langsung berteriak dari depan rumah.
“Mbakkk! Dari Kak Riyadi!”
Ari Yanti yang sedang membantu ibunya di dapur spontan berlari kecil.
“Mana?”
Sari langsung mengangkat surat itu tinggi-tinggi.
“Bayar dulu.”
“Sariiii!”
Bu Yati sampai tertawa melihat tingkah kedua anak itu.
Ari Yanti segera masuk kamar dan membuka surat itu perlahan.
Tulisan tangan Riyadi masih sama.
Sederhana.
Rapi.
Dan selalu terasa hangat.
“Sinok, maaf baru balas. Kerjaan lagi banyak. Di sini panas sekali. Kadang kalau malam aku kangen suara jangkrik di Tegorejo.”
Ari Yanti tersenyum kecil.
Ia melanjutkan membaca.
“Aku dengar kamu mulai pintar jahit. Jangan sampai nanti kalau pulang malah lupa sama orang desa.”
Ari Yanti mendecak pelan.
“Siapa juga yang lupa.”
Namun saat membaca bagian terakhir...
dadanya mendadak sesak.
“Kalau nanti aku pulang, semoga kita masih bisa ngobrol seperti dulu.”
Kalimat sederhana itu entah kenapa terasa sangat jauh.
Karena kenyataannya...
setiap kali Riyadi pulang ke Tegorejo, waktu selalu tidak pernah berpihak pada mereka.
Pulang pertama terjadi ketika Ari Yanti sedang sibuk ujian semester di Klaten.
Riyadi datang ke rumah Bu Yati membawa oleh-oleh dari Tangerang.
Bu Yati menyambutnya hangat.
“Lama gak kelihatan.”
“Iya Buk.”
“Yanti lagi di Klaten.”
Riyadi tersenyum kecil.
“Oh.”
Padahal jauh di dalam hatinya...
ia sudah membayangkan akan mendengar suara cerewet itu lagi.
Namun yang ditemuinya hanya rumah yang terasa lebih sepi.
Sari duduk di dekatnya sambil makan rambutan.
“Kak Riyadi dicariin Mbak Yanti terus sebenarnya.”
Riyadi menoleh.
“Hah?”
“Kalau surat datang seneng banget.”
“Ah masa.”
“Bener.”
Sari lalu tersenyum jahil.
“Mbak Yanti kalau baca surat Kak Riyadi senyum-senyum sendiri.”
“Sariii jangan ngawur.”
“Tapi bener.”
Riyadi hanya tertawa kecil.
Namun diam-diam dadanya terasa hangat.
Sore itu Riyadi duduk cukup lama di depan rumah Bu Yati.
Memandangi jalan desa.
Mendengar suara anak-anak bermain.
Dan tanpa sadar...
ia berharap Ari Yanti tiba-tiba muncul dari ujung jalan sambil memanggil:
“Kaang!”
Namun harapan itu tidak terjadi.
Karena malam harinya ia harus kembali ke Tangerang.
Pulang yang terlalu singkat.
Dan pertemuan yang selalu tertunda.
Beberapa minggu kemudian...
giliran Ari Yanti yang pulang ke Tegorejo.
Namun kali ini justru Riyadi sudah kembali bekerja di Tangerang.
Saat mendengar kabar itu, wajah Ari Yanti langsung murung.
“Berangkat lagi?”
“Iya,” jawab Bu Yati pelan.
Ari Yanti hanya diam.
Ia masuk kamar tanpa banyak bicara.
Dan malam itu...
ia duduk lama sambil memandangi kaos oleh-oleh dari Padang yang dulu diberikan pada Riyadi.
Hari-hari seperti itu terus berulang.
Saat Riyadi pulang, Ari Yanti sedang di Klaten.
Saat Ari Yanti pulang, Riyadi berada di Tangerang.
Seolah waktu sengaja mempermainkan mereka.
Membiarkan rindu tumbuh tanpa pernah benar-benar bertemu.
Suatu malam di Klaten, Ari Yanti menulis surat cukup panjang.
Namun kali ini isi suratnya berbeda.
Lebih jujur.
Lebih dalam.
“Kaang, kenapa ya kita selalu gak pernah pas waktunya? Kadang aku pengin ngobrol banyak. Pengin cerita sekolah. Pengin ketemu seperti dulu waktu latihan karate.”
Tangannya berhenti sejenak.
Lalu perlahan ia menulis lagi:
“Aku kangen naik sepeda ontel sambil di ledekin Aziz.”
Senyumnya kecil muncul.
Namun perlahan menghilang lagi.
“Aku juga kangen Kakang.”
Kalimat itu ditulis sangat pelan.
Lalu lama sekali dipandangi.
Namun akhirnya...
dicoret kembali.
Sementara di Tangerang...
Riyadi juga sedang menulis surat balasan.
Namun ia pun melakukan hal yang sama.
“Sinok, sebenarnya aku—”
Kalimat itu berhenti.
Lalu kertasnya diremas pelan.
Karena ia sendiri tidak tahu bagaimana menjelaskan semua perasaannya.
Waktu terus berjalan.
Dan kehidupan mulai membawa mereka ke arah yang berbeda.
Ari Yanti mulai sibuk dengan sekolah dan teman-teman barunya.
Sementara Riyadi semakin tenggelam dalam kerasnya dunia kerja perantauan.
Namun satu hal yang tidak pernah berubah:
mereka selalu saling mencari kabar.
Suatu sore saat libur sekolah, Ari Yanti duduk bersama Santi dan Tusi di pinggir sungai kecil dekat desa.
Santi tiba-tiba bertanya:
“Yanti.”
“Hm?”
“Kamu suka sama Kak Riyadi ya?”
Ari Yanti langsung tersedak minuman.
“Apaan sih!”
Tusi ikut tertawa.
“Ya jelas kelihatan.”
“Enggak!”
“Terus kenapa tiap cerita pasti Kak Riyadi?”
Ari Yanti terdiam.
Untuk pertama kalinya...
ia tidak bisa langsung membantah.
Karena semakin dewasa...
semakin sulit baginya membedakan mana rasa nyaman dan mana rasa cinta.
Malam harinya sebelum tidur, Ari Yanti membuka kotak kecil berisi surat-surat dari Riyadi.
Jumlahnya sudah banyak.
Sebagian mulai kusam.
Sebagian terlipat rapi.
Ia mengambil satu surat paling lama lalu membacanya ulang.
Dan tanpa sadar...
air matanya jatuh perlahan.
Bukan karena sedih.
Melainkan karena ia mulai takut.
Takut suatu hari nanti surat-surat itu berhenti datang.
Takut seseorang bernama Riyadi benar-benar hilang dari hidupnya.
Sementara jauh di Tangerang...
Riyadi berdiri di depan pabrik memandangi hujan malam.
Dan untuk pertama kalinya...
ia mulai berpikir untuk pergi lebih jauh lagi.
Ke tempat yang bahkan lebih jauh dari Tangerang.
Sebuah tempat bernama Kalimantan.
Tempat di mana ibunya kini tinggal.
Dan tanpa ia sadari...
keputusan itu kelak akan membuat jarak di antara mereka berubah menjadi puluhan tahun.
BAB XIX
KALIMANTAN DAN JALAN YANG BERBEDA
Hujan turun cukup deras di Tangerang malam itu.
Lampu-lampu pabrik memantul di genangan air.
Suara mesin masih terdengar dari kejauhan meski jam kerja telah selesai.
Riyadi berdiri sendirian di depan mess karyawan sambil memandangi langit yang gelap.
Di tangannya ada sebuah surat dari ibunya.
Surat sederhana yang pelan-pelan akan mengubah arah hidupnya.
Isi surat itu singkat.
Namun cukup membuat pikirannya tidak tenang selama berhari-hari.
“Yadi, kalau di Jawa hidupmu susah terus, sini ikut ibu ke Kalimantan. Di sini memang jauh, tapi setidaknya ada keluarga.”
Sudah beberapa kali ibunya mengajaknya pindah.
Namun baru kali ini Riyadi benar-benar memikirkannya serius.
Karena semakin lama...
ia merasa hidupnya di Tangerang berjalan tanpa arah.
Kerja.
Pulang.
Kerja lagi.
Dan setiap malam...
selalu berakhir dengan satu hal yang sama:
merindukan seseorang yang tidak bisa ia miliki sepenuhnya.
Malam itu temannya, Joko, duduk di sampingnya sambil menyeruput kopi sachet.
“Yadi.”
“Hm?”
“Kamu dari tadi melamun terus.”
Riyadi menyerahkan surat itu.
Joko membacanya cepat.
“Oh... Kalimantan?”
“Iya.”
“Mau ikut?”
Riyadi diam cukup lama sebelum menjawab.
“Mungkin.”
“Jauh banget.”
“Iya.”
“Kalau cewekmu?”
Riyadi langsung tersenyum hambar.
“Bukan cewek.”
“Lah terus siapa?”
“Sahabat.”
Joko tertawa kecil.
“Kalau sampai dipikirin tiap malam namanya bukan sahabat biasa.”
Kalimat itu membuat Riyadi terdiam.
Karena jauh di dalam hatinya...
ia mulai sadar bahwa selama ini ia hanya bersembunyi di balik kata “sahabat.”
Sementara itu di Klaten...
Ari Yanti mulai memasuki kehidupan remaja yang lebih dewasa.
Ia semakin sibuk dengan sekolah.
Mulai belajar mandiri.
Mulai mengenal banyak orang baru.
Namun satu hal yang tetap tidak berubah:
ia masih selalu menunggu surat dari Riyadi.
Suatu sore Ari Yanti duduk di kamar kos sambil membaca surat terbaru.
Namun kali ini isi surat Riyadi terasa berbeda.
Lebih pendek.
Lebih dingin.
Dan ada satu kalimat yang membuat dadanya mendadak tidak nyaman.
“Mungkin sebentar lagi aku pindah ikut ibu ke Kalimantan.”
Ari Yanti langsung berhenti membaca.
Matanya membeku pada satu kata:
Kalimantan.
Jauh.
Sangat jauh.
Bahkan lebih jauh dari Tangerang.
Malam itu Ari Yanti tidak bisa tidur.
Ia duduk di dekat jendela kamar kos sambil memeluk lutut.
Angin malam Klaten terasa dingin.
Dan untuk pertama kalinya...
ia benar-benar takut kehilangan Riyadi.
Bukan kehilangan sementara.
Tetapi kehilangan karena jarak dan waktu.
Keesokan harinya Santi datang ke kamar kos.
“Kamu kenapa?”
Ari Yanti menyerahkan surat itu pelan.
Santi membaca cepat.
“Wah jauh banget.”
“Iya.”
“Terus?”
Ari Yanti menunduk.
“Aku takut dia lupa sama aku.”
Santi memandang sahabatnya beberapa detik.
Lalu berkata pelan:
“Yanti... sebenarnya kamu sayang ya sama Kak Riyadi?”
Ari Yanti diam.
Sangat lama.
Lalu akhirnya menjawab lirih:
“Aku gak tahu.”
Namun dari cara matanya mulai berkaca-kaca...
jawaban itu sebenarnya sudah sangat jelas.
Di Tangerang keputusan Riyadi akhirnya bulat.
Ia akan menyusul ibu kandungnya ke Kuala Kapuas, Kalimantan Tengah.
Tempat yang bahkan belum pernah dibayangkannya sebelumnya.
Tempat yang asing.
Jauh dari Tegorejo.
Jauh dari semua kenangan masa kecilnya.
Dan yang paling berat...
jauh dari Ari Yanti.
Namun seperti kebiasaannya dulu...
Riyadi kembali memilih pergi tanpa banyak bicara.
Entah karena takut.
Entah karena tidak siap menghadapi perpisahan.
Sebelum berangkat ke Kalimantan, Riyadi sempat pulang sebentar ke Tegorejo.
Namun nasib kembali memainkan waktunya.
Saat itu Ari Yanti sedang berada di Klaten.
Riyadi datang ke rumah Bu Yati sore hari.
“Lho Yadi pulang?”
“Iya Buk.”
“Katanya mau ke Kalimantan?”
“Iya.”
Bu Yati terdiam beberapa detik.
“Sudah bilang ke Yanti?”
Riyadi menggeleng pelan.
Beliau menghela napas kecil.
“Kamu ini...”
Riyadi hanya tersenyum hambar.
“Aku takut bikin dia sedih.”
Bu Yati memandang pemuda itu cukup lama.
Lalu berkata pelan:
“Kadang yang paling bikin sedih itu justru kehilangan tanpa penjelasan.”
Kalimat itu menghantam dada Riyadi pelan.
Namun tetap saja...
ia tidak punya keberanian untuk menunggu Ari Yanti pulang.
Malam sebelum keberangkatannya, Riyadi duduk sendirian di depan rumah Bu Yati.
Rumah itu masih sama seperti dulu.
Lampunya kuning redup.
Suara Sari terdengar dari dalam.
Dan di tempat itu...
terlalu banyak kenangan yang tertinggal.
Tentang latihan karate.
Tentang sepeda ontel.
Tentang canda kecil.
Tentang panggilan “Kakang.”
Tentang seorang gadis bernama Sinok.
Riyadi mengeluarkan secarik kertas kecil dari sakunya.
Awalnya ia ingin meninggalkan pesan untuk Ari Yanti.
Namun lama sekali ia hanya memandangi kertas kosong itu.
Sampai akhirnya...
tidak satu kata pun berhasil ditulis.
Karena ada terlalu banyak hal yang ingin diucapkan.
Dan semuanya terasa terlambat.
Keesokan paginya ia berangkat menuju Kalimantan.
Meninggalkan Jawa.
Meninggalkan Tegorejo.
Dan meninggalkan seseorang yang diam-diam telah menjadi bagian terbesar dalam hidupnya.
Beberapa hari kemudian Ari Yanti pulang ke rumah.
Wajahnya langsung cerah ketika mendengar Riyadi sempat pulang.
“Kaang mana sekarang?”
Bu Yati menatap anaknya pelan.
“Sudah berangkat.”
“Ke Tangerang?”
Bu Yati menggeleng.
“Ke Kalimantan.”
Dan saat itulah...
hati Ari Yanti terasa seperti jatuh ke tempat yang sangat dalam.
“Dia gak pamit lagi?” suaranya bergetar kecil.
Bu Yati mendekat lalu mengusap kepala anaknya pelan.
“Mungkin dia gak kuat.”
Ari Yanti menggigit bibir menahan air mata.
Marah.
Sedih.
Kecewa.
Rindu.
Semua bercampur menjadi satu.
Malam itu untuk pertama kalinya Ari Yanti menangis cukup lama sendirian di kamar.
Ia membuka seluruh surat Riyadi satu per satu.
Membacanya ulang.
Mencium aroma kertas lamanya.
Dan semakin dibaca...
semakin terasa bahwa seseorang itu benar-benar pergi sangat jauh.
Di luar rumah hujan turun pelan.
Sementara di langit malam yang jauh...
seekor merpati putih melintas sendirian.
Membawa janji persahabatan yang belum pernah benar-benar selesai.
BAB XX
TIGA PULUH DUA TAHUN YANG SUNYI
Kepergian Riyadi ke Kalimantan menjadi awal dari sebuah jarak panjang yang tidak pernah dibayangkan oleh Ari Yanti.
Bukan hanya jarak pulau.
Bukan hanya jarak kota.
Melainkan jarak kehidupan.
Jarak waktu.
Dan jarak takdir.
Hari-hari setelah kepergian itu terasa sangat lambat bagi Ari Yanti.
Awalnya ia masih berharap surat akan datang seperti biasa.
Namun berbeda dengan saat Riyadi di Tangerang...
kali ini kabar menjadi semakin sulit.
Kadang satu surat baru tiba setelah berbulan-bulan.
Kadang tidak ada kabar sama sekali.
Alamat pun sering berubah.
Dan perlahan...
hubungan mereka mulai ditelan oleh keadaan.
Ari Yanti tetap melanjutkan sekolah di Klaten.
Ia berusaha terlihat biasa.
Masih tertawa bersama teman-temannya.
Masih belajar.
Masih menjalani hidup seperti remaja lainnya.
Namun ada satu bagian dalam dirinya yang terasa hilang.
Sesuatu yang dulu selalu ada.
Kini mendadak kosong.
Suatu malam di kamar kos, Santi bertanya pelan:
“Masih mikirin Kak Riyadi?”
Ari Yanti yang sedang melipat pakaian berhenti sejenak.
“Kadang.”
“Kadang apa sering?”
Ari Yanti tersenyum kecil hambar.
“Kalau malam.”
“Kenapa gak cari kabar?”
“Sudah.”
“Terus?”
“Gak ketemu.”
Santi menghela napas pelan.
“Namanya jodoh gak ke mana.”
Ari Yanti langsung tertawa kecil.
“Dia bukan jodoh.”
Namun anehnya...
kalimat itu justru membuat dadanya sendiri terasa sakit.
Waktu terus berjalan.
Ari Yanti lulus dari STM Tekstil Pedan.
Kemudian melanjutkan kuliah.
Kehidupan membawanya semakin dewasa.
Lingkungan baru mulai menggantikan cerita lama.
Teman-teman baru berdatangan.
Namun ada satu hal yang tetap tidak berubah:
ia tidak pernah benar-benar melupakan Riyadi.
Kadang saat melihat sepeda ontel tua lewat di jalan...
ia teringat masa-masa latihan karate.
Kadang saat mendengar suara peluit pertandingan...
ia teringat dojo SMPN 1 Pegandon.
Kadang saat hujan turun sore hari...
ia teringat seseorang yang dulu selalu memarahinya karena pulang kehujanan.
Kenangan-kenangan kecil itu terus hidup diam-diam.
Sementara jauh di Kalimantan...
Riyadi juga menjalani kehidupan yang sama kerasnya.
Ia membantu ibunya.
Beradaptasi dengan lingkungan baru.
Mengenal sungai-sungai besar dan hutan Kalimantan yang sangat berbeda dengan Desa Tegorejo.
Awalnya semuanya terasa asing.
Namun perlahan...
ia belajar menerima hidupnya yang baru.
Di Kuala Kapuas, Riyadi mulai bekerja serabutan.
Kadang membantu proyek bangunan.
Kadang bekerja di toko.
Kadang ikut pekerjaan lapangan.
Hidupnya tidak mudah.
Namun di tengah semua kesibukan itu...
ada satu nama yang tidak pernah benar-benar hilang dari pikirannya.
Sinok.
Suatu malam saat duduk di tepi sungai Kapuas, seorang temannya bertanya:
“Yadi.”
“Hm?”
“Kamu pernah jatuh cinta?”
Riyadi tersenyum kecil.
“Mungkin.”
“Kenapa mungkin?”
“Karena aku sendiri gak pernah ngerti.”
“Terus sekarang orangnya di mana?”
Riyadi memandang air sungai yang hitam diterpa cahaya bulan.
“Jauh.”
“Masih kontak?”
“Enggak.”
Temannya tertawa kecil.
“Kalau masih kepikiran berarti belum selesai.”
Kalimat itu membuat Riyadi diam cukup lama.
Karena mungkin...
memang benar begitu.
Tahun demi tahun berlalu.
Tanpa terasa...
usia mereka terus bertambah.
Ari Yanti akhirnya menikah.
Menjadi seorang ibu.
Dikaruniai anak-anak yang mulai tumbuh besar.
Dan kemudian menjadi guru di MTs.
Ia menjalani kehidupan yang baik.
Normal.
Bahagia.
Namun ada satu ruang kecil dalam hatinya yang tetap terkunci.
Ruang tentang masa remaja di Tegorejo.
Tentang karate.
Tentang sepeda ontel.
Dan tentang seorang sahabat bernama Riyadi .
Sementara Riyadi di Kalimantan juga menikah dan membangun keluarga.
Ia tinggal di Desa Sriwidadi, Kecamatan Mantangai, Kabupaten Kapuas.
Bekerja di pemerintahan desa.
Menjadi perangkat desa.
Dan perlahan dikenal sebagai sosok yang aktif menulis.
Namun di balik kesibukan hidupnya...
kadang malam masih terasa terlalu sepi.
Ada satu kebiasaan yang tidak pernah hilang dari Riyadi:
menulis.
Awalnya hanya catatan kecil.
Kemudian berubah menjadi cerita pendek.
Lalu berkembang menjadi novel dan roman.
Dan anehnya...
hampir semua tokoh perempuan yang ia tulis selalu memiliki satu kesamaan:
periang.
manja.
cerewet.
dan suka memanggil tokoh utama dengan sebutan “Kakang.”
Suatu malam istrinya sempat bertanya:
“Mas suka nulis cerita cinta ya?”
Riyadi tertawa kecil.
“Cuma cerita.”
Namun jauh di dalam hatinya...
ia tahu bahwa sebagian cerita itu bukan sekadar imajinasi.
Melainkan kenangan yang tidak pernah benar-benar selesai.
Di Desa Sriwidadi, Riyadi mulai aktif mengelola website desa.
Ia menulis banyak artikel.
Publikasi kegiatan desa.
Berita pembangunan.
Kegiatan masyarakat.
Dan perlahan...
kemampuan menulisnya semakin berkembang.
Hingga suatu hari...
kenangan tentang Tegorejo kembali muncul sangat kuat.
Semua bermula dari hal sederhana.
Di Banjarmasin, ketika bekerja di Kampung Gadang, Riyadi sering melihat seorang remaja perempuan SMP berjalan ke sekolah setiap pagi.
Gadis itu tidak pernah berbicara dengannya.
Tidak pernah mengenalnya.
Namun wajahnya...
sangat mirip dengan Ari Yanti saat remaja.
Cara berjalan.
Cara mengikat rambut.
Bahkan senyumnya.
Semua terasa seperti bayangan masa lalu.
Dan sejak saat itu...
kenangan tentang Sinok kembali hidup semakin kuat.
Riyadi mulai sering melamun.
Sering membuka kembali ingatan lama.
Tentang dojo karate.
Tentang Medan.
Tentang surat-surat lama.
Tentang kalimat yang tak pernah ia lupakan:
“Merpati tak pernah ingkar janji.”
Kalimat itu terus terngiang di kepalanya selama bertahun-tahun.
Hingga suatu malam...
di tengah kesunyian rumahnya di Sriwidadi...
Riyadi membuka laptop.
Lalu mulai menulis sebuah novel Roman Epik.
Tentang desa kecil bernama Tegorejo.
Tentang anak karate.
Tentang sepeda ontel.
Tentang seorang gadis bernama Sinok.
Dan tentang persahabatan yang terpisah oleh puluhan tahun.
Ia menulis bukan sekadar untuk bercerita.
Tetapi juga karena satu harapan sederhana:
“Mungkin suatu hari nanti... Ari Yanti akan membaca ini.”
Dan tanpa ia sadari...
harapan kecil itulah yang perlahan akan membuka kembali jalan takdir yang telah hilang selama tiga puluh dua tahun.
BAB XXI
NOVEL YANG MEMBUKA JALAN PULANG
Malam di Desa Sriwidadi terasa sunyi.
Suara jangkrik terdengar samar dari halaman rumah.
Lampu ruang kerja kecil milik Riyadi masih menyala meski waktu sudah melewati tengah malam.
Di depan layar laptop tuanya...
ia duduk sendirian sambil mengetik perlahan.
Kalimat demi kalimat mengalir seperti sungai yang lama tertahan.
Tentang Tegorejo.
Tentang dojo karate.
Tentang sepeda ontel.
Tentang seorang gadis yang selalu memanggilnya “Kakang.”
Dan setiap kali menulis nama “Sinok”...
dadanya selalu terasa hangat sekaligus sesak.
Awalnya Riyadi hanya ingin mengisi waktu luang.
Namun semakin lama menulis...
ia semakin tenggelam dalam kenangan.
Kadang ia tersenyum sendiri saat mengingat tingkah manja Ari Yanti.
Kadang matanya berkaca-kaca saat menulis bagian perpisahan.
Bahkan beberapa kali ia harus berhenti mengetik karena pikirannya terlalu penuh.
Suatu malam istrinya sempat keluar kamar dan melihatnya masih di depan laptop.
“Belum tidur Mas?”
“Sebentar lagi.”
“Nulis apa sampai serius begitu?”
Riyadi tersenyum kecil.
“Cerita lama.”
“Cerita cinta?”
Riyadi tertawa pelan.
“Cerita persahabatan.”
Namun jauh di dalam hatinya...
ia tahu cerita itu jauh lebih rumit daripada sekadar persahabatan biasa.
Hari demi hari Novel itu terus berkembang.
Judulnya mulai terbentuk:
“Senja di Desa Tegorejo, Cinta Pertama Bersemi.”
Riyadi menulis dengan sangat detail.
Nama desa tidak diubah.
Kenangan karate tetap dipertahankan.
Bahkan beberapa dialog ditulis persis seperti yang pernah terjadi puluhan tahun lalu.
Seolah ia sedang menghidupkan kembali masa remajanya.
Namun ada satu hal yang terus mengganggu pikirannya.
Sampul novel.
Riyadi ingin orang yang membaca langsung mengenali siapa tokoh utama kisah itu.
Dan untuk pertama kalinya setelah puluhan tahun...
ia mulai mencari Ari Yanti lewat media sosial.
Malam demi malam ia membuka Facebook.
Mencari nama demi nama.
Membuka profil satu per satu.
Namun hasilnya nihil.
Kadang ia menemukan nama yang sama tapi bukan orang yang dicari.
Kadang menemukan foto yang samar.
Kadang berharap terlalu besar lalu kecewa sendiri.
Suatu malam Riyadi bersandar lelah di kursi.
“Di mana kamu sekarang, Sinok...” gumamnya pelan.
Ia hampir menyerah.
Namun entah kenapa...
hatinya terus mengatakan bahwa suatu saat mereka pasti bertemu lagi.
Beberapa hari kemudian keajaiban kecil itu akhirnya datang.
Saat sedang membuka daftar pertemanan seseorang di Facebook...
Riyadi menemukan sebuah nama yang membuat jantungnya berdetak lebih cepat.
Ari Yanti.
Tangannya langsung gemetar kecil.
Ia membuka profil itu perlahan.
Dan ketika foto profil muncul...
Riyadi terdiam sangat lama.
Wajah itu memang sudah berubah dimakan usia.
Namun matanya...
senyumnya...
tetap sama seperti gadis remaja di Tegorejo puluhan tahun lalu.
Riyadi sampai harus menarik napas panjang berkali-kali.
Dadanya terasa penuh oleh sesuatu yang sulit dijelaskan.
Bahagia.
Haru.
Takut.
Tidak percaya.
Semua bercampur menjadi satu.
Namun masalah baru muncul.
Ia tidak punya keberanian langsung menghubungi.
Dan lebih sulit lagi...
ia tidak memiliki nomor telepon Ari Yanti.
Beberapa hari ia hanya memandangi profil Facebook itu diam-diam.
Membaca komentar.
Melihat foto-foto keluarga.
Dan semakin lama melihat...
semakin terasa bahwa waktu benar-benar telah berjalan sangat jauh.
Suatu malam Riyadi akhirnya memberanikan diri mengirim permintaan pertemanan.
Namun setelah itu...
ia justru gugup sendiri.
“Kalau gak diterima gimana...” gumamnya pelan.
Di sisi lain, novelnya hampir selesai.
Dan semakin kuat satu keinginannya:
menggunakan foto Ari Yanti sebagai sampul novel.
Karena baginya...
novel itu memang tentang dirinya.
Tentang Sinok.
Tentang sahabat yang tidak pernah benar-benar hilang dari hatinya.
Setelah berpikir cukup lama, Riyadi mulai mencari jalan lain.
Ia memperhatikan daftar teman Facebook Ari Yanti.
Hingga akhirnya menemukan satu nama yang terasa familiar:
Fianah.
Dengan sedikit ragu, Riyadi mengirim pesan lewat Messenger.
“Permisi Bu, apakah benar kenal dengan Ari Yanti dari Tegorejo?”
Pesan itu dikirim malam hari.
Dan jantung Riyadi berdegup tak tenang menunggu jawaban.
Tak disangka...
balasan datang cukup cepat.
“Iya benar. Ini siapa ya?”
Riyadi menarik napas panjang sebelum mengetik:
“Saya Riyadi ... teman karatenya dulu.”
Beberapa menit kemudian...
jawaban berikutnya datang.
“YA ALLAH... Kak Riyadi?”
Riyadi sampai tersenyum sendiri membaca pesan itu.
Percakapan mereka berlangsung cukup lama malam itu.
Fianah ternyata masih sangat dekat dengan Ari Yanti.
Bahkan masih sering berkomunikasi.
Dan ketika mendengar nama Riyadi muncul kembali setelah puluhan tahun...
ia ikut terharu.
“Yanti sering cerita tentang Kak Riyadi dulu.”
Kalimat itu membuat Riyadi mendadak diam.
Dadanya terasa hangat.
Berarti...
ia tidak dilupakan.
Fianah akhirnya membantu menyampaikan kabar itu kepada Ari Yanti.
Sementara Riyadi malam itu hampir tidak bisa tidur.
Perasaannya campur aduk.
Seperti remaja yang menunggu jawaban cinta pertama.
Padahal usia mereka kini sudah hampir setengah abad.
Keesokan harinya...
saat sore mulai turun di Desa Sriwidadi...
notifikasi Messenger tiba-tiba muncul di layar ponselnya.
Nama itu muncul perlahan.
Ari Yanti.
Riyadi membeku beberapa detik.
Tangannya gemetar saat membuka pesan itu.
Dan kalimat pertama yang muncul membuat matanya langsung berkaca-kaca.
“Kaang... ini benar Kak Riyadi?”
Dunia terasa berhenti sesaat.
Tiga puluh dua tahun yang sunyi...
akhirnya menemukan jalan pulangnya.
BAB XXII
PESAN WHATSAPP DI TENGAH MALAM
Langit malam di Desa Sriwidadi terlihat sangat tenang.
Angin kecil berhembus pelan dari arah sungai.
Sementara di dalam rumah sederhananya...
Riyadi masih duduk terpaku menatap layar ponsel.
Pesan itu masih terbuka.
“Kaang... ini benar Kak Riyadi?”
Hanya satu kalimat sederhana.
Namun kalimat itu mampu mengguncang seluruh ingatan yang selama tiga puluh dua tahun terkubur dalam diam.
Tangannya gemetar kecil.
Bahkan untuk membalas saja...
ia harus menarik napas panjang berkali-kali.
Di sisi lain, jauh di Jawa Tengah...
Ari Yanti juga sedang duduk di kamar sambil memegang ponsel erat-erat.
Jantungnya berdegup tidak karuan.
Ia sendiri hampir tidak percaya.
Nama yang selama puluhan tahun hanya hidup dalam kenangan...
malam itu tiba-tiba muncul kembali di layar Messenger.
Beberapa menit berlalu tanpa balasan.
Ari Yanti mulai gelisah.
“Jangan-jangan bukan...” gumamnya pelan.
Namun tiba-tiba layar ponselnya menyala.
Pesan balasan masuk.
“Iya Sinok... ini Kakang.”
Dan seketika...
air mata Ari Yanti langsung jatuh tanpa bisa ditahan.
Ia menutup mulutnya sendiri.
Dadanya sesak.
Tangannya dingin.
Perasaannya campur aduk antara bahagia, haru, dan tidak percaya.
Tiga puluh dua tahun.
Bukan waktu yang sebentar.
Dan malam itu...
jarak sepanjang itu seperti runtuh dalam satu pesan singkat.
Ari Yanti segera membalas cepat.
“Ya Allah Kaang... akhirnya ketemu juga...”
Tak lama balasan datang lagi.
“Kakang juga gak nyangka bisa ketemu lagi sama Sinok.”
Percakapan itu sederhana.
Namun di balik setiap kalimat...
tersimpan rindu yang terlalu lama dipendam.
Tak lama kemudian Fianah mengirim nomor WhatsApp Ari Yanti kepada Riyadi.
Tangannya sampai gemetar saat menyimpan nomor itu.
Ia memandangi angka-angka di layar cukup lama.
Nomor yang selama ini ia cari ke mana-mana.
Nomor yang hampir mustahil ditemukan.
Dan kini...
akhirnya ada di tangannya.
Beberapa menit kemudian...
WhatsApp Ari Yanti berbunyi.
Nomor baru masuk.
Ari Yanti langsung menatap layar dengan napas tertahan.
Nama itu belum tersimpan.
Namun ia tahu siapa pengirimnya.
Perlahan ia membuka pesan itu.
“Assalamu’alaikum Sinok...”
Air mata Ari Yanti kembali jatuh.
Karena sapaan itu...
masih sama seperti puluhan tahun lalu.
Dengan jari gemetar ia membalas:
“Wa’alaikum salam Kaang...”
Dan sejak saat itu...
percakapan panjang yang tertunda selama tiga puluh dua tahun akhirnya dimulai.
Awalnya mereka hanya saling memastikan.
Tentang kabar.
Tentang keluarga.
Tentang kehidupan masing-masing.
Namun semakin lama berbicara...
percakapan itu berubah menjadi pembongkaran kenangan satu demi satu.
“Sinok masih cerewet gak?”
“Masih dong. Kakang masih galak?”
“Galaknya cuma buat Sinok.”
“Bohong.”
“Serius.”
Ari Yanti tertawa kecil sambil mengusap air matanya.
Sudah sangat lama ia tidak mendengar candaan seperti itu.
Dan anehnya...
semuanya masih terasa sama.
Seolah waktu tidak pernah benar-benar memisahkan mereka.
Malam semakin larut.
Namun percakapan justru semakin hangat.
“Kakang masih ingat dojo Pegandon?”
“Masih.”
“Masih ingat aku sering minta sparing?”
“Mana bisa lupa. Yang ada Kakang selalu dijailin.”
“Hahaha...”
“Masih ingat sepeda ontel?”
“Ya Allah Kaang... jangan ingetin itu.”
“Kenapa?”
“Malu.”
“Dulu Sinok yang boncengin Kakang.”
“Karena Kakang berat.”
“Kurang ajar.”
Ali Yanti tertawa sambil menangis kecil.
Sudah lama sekali ia tidak merasa sebahagia itu.
Percakapan kemudian berubah lebih pelan.
Lebih dalam.
Lebih jujur.
“Kaang... kenapa dulu pergi gak pamit?”
Pertanyaan itu akhirnya keluar juga.
Dan setelah membaca pesan itu...
Riyadi terdiam sangat lama.
Ia memandangi layar ponsel sambil menarik napas pelan.
Lalu mengetik perlahan.
“Karena Kakang takut lihat Sinok nangis.”
Ari Yanti langsung menggigit bibirnya.
Matanya kembali basah.
“Tapi aku benar-benar nangis Kaang.”
Kalimat itu membuat Riyadi memejamkan mata.
Dadanya mendadak sesak.
Selama bertahun-tahun ia selalu mengira keputusannya pergi diam-diam adalah cara terbaik.
Namun malam itu...
ia sadar betapa besar luka yang ditinggalkannya.
Percakapan terus berlanjut.
Tentang Bu Yati, Ibunya Ari Yanti yang sudah meninggal
Tentang Sari.
Tentang Aziz.
Tentang teman-teman karate.
Tentang kehidupan masing-masing yang telah berubah jauh.
Kadang mereka tertawa.
Kadang sama-sama terdiam lama.
Kadang hanya mengirim pesan pendek:
“Masih gak percaya ya kita ketemu lagi.”
Waktu menunjukkan pukul sebelas malam.
Namun tidak ada satu pun dari mereka yang ingin mengakhiri percakapan.
Karena mereka tahu...
momen seperti ini terlalu berharga untuk dilewatkan.
Riyadi kemudian mengirim foto sampul novel yang sedang ia tulis.
Saat melihat foto itu...
Ari Yanti langsung terdiam lama.
Judulnya jelas terlihat:
“Senja di Desa Tegorejo, Cinta Pertama Bersemi.”
Dan yang membuat dadanya semakin bergetar...
adalah karena wajah di sampul novel itu adalah dirinya sendiri.
“Kaang... ini aku?”
“Iya.”
“Kenapa pakai fotoku?”
“Karena cerita itu memang tentang Sinok.”
Ari Yanti menutup mulutnya sendiri menahan haru.
Tak pernah ia bayangkan...
ada seseorang yang masih menyimpan kenangan tentang dirinya sedalam itu selama puluhan tahun.
Malam semakin larut menuju dini hari.
Namun percakapan mereka justru semakin emosional.
“Kaang...”
“Iya?”
“Ternyata Merpati memang gak pernah ingkar janji.”
Riyadi membaca kalimat itu sangat lama.
Kalimat yang dulu diucapkan seorang gadis SMP di Mall Matahari Semarang...
akhirnya kembali terdengar tiga puluh dua tahun kemudian.
Perlahan Riyadi membalas:
“Iya Sinok... merpati memang selalu pulang.”
Dan malam itu...
dua sahabat yang dipisahkan tempat, jarak, dan waktu akhirnya kembali menemukan satu sama lain.
Bukan untuk mengulang masa lalu.
Tetapi untuk memahami bahwa ada ikatan yang memang tidak pernah benar-benar hilang.
Sebelum tidur menjelang dini hari...
Ari Yanti mengirim satu pesan terakhir.
“Terima kasih sudah mencari Sinok, Kaang.”
Riyadi tersenyum kecil sambil menatap layar.
Lalu membalas pelan:
“Karena beberapa janji memang harus ditepati.”
BAB XXIII
MERPATI YANG AKHIRNYA PULANG
Pagi itu matahari baru saja naik di langit Desa Sriwidadi.
Kabut tipis masih menggantung di atas jalan tanah yang membelah persawahan.
Namun berbeda dari biasanya...
wajah Riyadi terlihat jauh lebih cerah.
Semalaman ia hampir tidak tidur.
Ponselnya masih berada di samping bantal.
Dan setiap kali membuka layar...
ia masih sulit percaya bahwa percakapan panjang tadi malam benar-benar terjadi.
Ari Yanti akhirnya kembali hadir dalam hidupnya.
Bukan lagi sebagai kenangan.
Bukan lagi sekadar nama dalam ingatan.
Melainkan nyata.
Masih hidup.
Masih mengingatnya.
Dan masih memanggilnya dengan satu sebutan lama:
“Kakang.”
Di Jawa Tengah...
Ari Yanti juga mengalami hal yang sama.
Sejak bangun pagi ia terus tersenyum sendiri.
Bahkan Sari yang kini sudah dewasa sampai heran melihat kakaknya sibuk memandangi ponsel.
“Mbak.”
“Hm?”
“Dari tadi senyum-senyum terus.”
Ari Yanti langsung salah tingkah.
“Enggak ah.”
“Bohong.”
Sari mendekat sambil menyipitkan mata.
“Pasti lagi chat sama Kak Riyadi.”
Ari Yanti spontan tertawa malu.
Dan untuk pertama kalinya setelah puluhan tahun...
nama itu kembali terdengar hidup di rumah mereka.
Beberapa hari berikutnya komunikasi mereka semakin intens.
Kadang lewat WhatsApp.
Kadang telepon.
Kadang hanya mengirim foto-foto lama dan saling tertawa mengingat masa remaja.
Suatu malam Riyadi mengirim foto dojo karate lama SMPN 1 Pegandon yang ia temukan dari internet.
“Masih ingat tempat ini?”
Ari Yanti langsung membalas cepat.
“Ya Allah Kaang... di situ aku pertama kali dipermalukan waktu sparing.”
“Karena Sinok nangis.”
“Habis Kakang galak.”
“Biar kuat.”
“Tapi akhirnya aku juara.”
“Nah itu.”
Percakapan kecil seperti itu terasa sangat hangat.
Seolah mereka sedang kembali menjadi remaja.
Kadang mereka juga membicarakan hal-hal yang dulu belum sempat diucapkan.
Tentang rasa kehilangan.
Tentang kesalahpahaman.
Tentang perpisahan yang terlalu tiba-tiba.
Suatu malam Ari Yanti bertanya pelan lewat telepon.
“Kaang...”
“Iya?”
“Jujur... dulu Kakang pernah suka sama aku gak?”
Pertanyaan itu membuat Riyadi terdiam cukup lama.
Suara kipas angin terdengar pelan di seberang sana.
Lalu akhirnya ia tertawa kecil.
“Kalau bilang enggak, nanti bohong.”
Ari Yanti langsung terdiam.
Dadanya berdebar tidak karuan.
“Terus kenapa gak pernah bilang?”
Riyadi menarik napas panjang.
“Karena Kakang ingat pesan Bu Yati.”
“Pesan apa?”
“Jaga Sinok baik-baik. Tapi jangan sampai pacaran.”
Ari Yanti mendadak tertawa sambil menahan haru.
“Ya Allah...”
“Dan Kakang takut kehilangan Sinok kalau semuanya berubah.”
Beberapa detik mereka sama-sama diam.
Karena ternyata...
selama ini keduanya menyimpan rasa yang hampir sama.
Namun memilih diam demi menjaga hubungan yang sudah begitu nyaman.
Percakapan malam itu berubah semakin emosional.
“Sinok juga pernah marah sama Kakang.”
“Karena pergi tanpa pamit?”
“Iya.”
“Maaf.”
“Aku sampai nangis semalaman.”
“Kakang tahu sekarang.”
“Dan aku cari kabar Kakang lama banget.”
Riyadi memejamkan mata pelan.
Ia tidak pernah menyangka bahwa dirinya memiliki arti sebesar itu bagi Ari Yanti.
Di sela-sela kesibukan hidup masing-masing...
mereka mulai kembali menjadi tempat cerita satu sama lain.
Tentang anak-anak.
Tentang pekerjaan.
Tentang kesehatan.
Tentang kehidupan yang ternyata tidak selalu mudah.
Kadang Ari Yanti mengirim foto sekolah tempatnya mengajar di MTs.
Kadang Riyadi mengirim foto kegiatan desa di Sriwidadi.
Dan setiap melihat kehidupan satu sama lain...
keduanya sadar bahwa waktu memang telah mengubah banyak hal.
Namun tidak dengan ikatan hati mereka.
Suatu malam ketika hujan turun cukup deras di Kapuas, Riyadi duduk sendiri di ruang kerjanya sambil membuka kembali draf Roman Epiknya.
Ia membaca ulang satu kalimat yang dulu ditulisnya:
“Merpati tak pernah ingkar janji.”
Lalu tanpa sadar ia tersenyum.
Karena kini...
kalimat itu bukan lagi sekadar kenangan.
Melainkan kenyataan.
Ia lalu mengetik pesan pada Ari Yanti.
“Sinok.”
“Iya Kaang?”
“Terima kasih masih ingat sama Kakang.”
Tak lama balasan datang.
“Beberapa orang memang gak bisa dilupakan.”
Riyadi membaca pesan itu berkali-kali.
Dan malam itu...
ia sadar bahwa ada persahabatan yang benar-benar mampu bertahan melampaui waktu.
Hari-hari berikutnya mereka mulai sering mengenang teman-teman lama.
Tentang Aziz yang dulu suka diledek.
Tentang Agus .
Tentang Farida.
Tentang Evianti.
Tentang dojo-dojo karate yang pernah mereka datangi bersama.
Dan setiap kenangan itu muncul...
mereka seperti sedang membuka album kehidupan yang lama terkunci.
Suatu sore Ari Yanti berkata pelan saat video call.
“Kaang...”
“Hm?”
“Aku baru sadar.”
“Sadar apa?”
“Ternyata sebagian masa remaja terindahku... ada di dekat Kakang.”
Kalimat itu membuat Riyadi mendadak diam.
Di luar rumah, hujan turun perlahan.
Sementara di layar ponsel...
mata Ari Yanti mulai berkaca-kaca.
“Dan mungkin...” lanjut Ari Yanti pelan.
“Kalau dulu Kakang gak pernah hadir... aku gak akan sekuat sekarang.”
Riyadi menunduk perlahan.
Karena tanpa disadari...
mereka memang telah saling menjaga selama ini.
Meskipun dipisahkan puluhan tahun.
Malam menjelang semakin larut.
Sebelum menutup percakapan, Ari Yanti kembali mengucapkan kalimat yang dulu pernah lahir di Kota Semarang.
Kalimat yang kini menjadi judul kehidupan mereka.
“Kaang... merpati memang selalu pulang ya.”
Riyadi tersenyum kecil.
Lalu menjawab pelan:
“Karena rumahnya tidak pernah benar-benar hilang.”
Dan di antara jarak Kalimantan dan Jawa Tengah...
dua hati yang pernah terpisah akhirnya menemukan kembali jalan pulangnya.
BAB XXIV
NOVEL YANG MENGHIDUPKAN KENANGAN
Malam di Desa Sriwidadi kembali sunyi.
Hanya suara kipas angin dan bunyi keyboard laptop yang terdengar pelan dari ruang kerja kecil milik Riyadi .
Di layar monitor...
draft novel Senja Di Desa Tegorejo, Cinta Pertama Bersemi masih terbuka.
Namun kali ini rasanya berbeda.
Sebab tokoh yang selama ini hanya hidup dalam ingatan...
kini kembali hadir nyata dalam kehidupannya.
Dan itu membuat setiap kalimat yang ditulis menjadi jauh lebih hidup.
Riyadi membaca ulang bab demi bab novel itu perlahan.
Tentang dojo karate.
Tentang sepeda ontel.
Tentang Bu Yati.
Tentang latihan di Cepiring.
Tentang Mall Matahari Semarang.
Dan tentang seorang gadis bernama Sinok yang selalu membuat hidupnya ramai.
Kadang ia tersenyum sendiri saat membaca bagian lucu.
Kadang matanya berkaca-kaca saat membaca bagian perpisahan.
Suatu malam Ari Yanti mengirim pesan.
“Kaang, aku sudah baca beberapa bab Novelnya.”
Jantung Riyadi langsung berdegup sedikit lebih cepat.
“Terus?”
Balasan Ari Yanti cukup lama.
Seolah ia sedang menahan sesuatu.
Lalu akhirnya pesan itu muncul.
“Aku nangis.”
Riyadi memandangi layar cukup lama.
Dadanya terasa hangat sekaligus sesak.
“Kenapa nangis?”
“Karena ternyata Kakang masih ingat semuanya.”
“Ada yang Kakang lupa?”
Ari Yanti langsung mengirim emoji tertawa dan menangis sekaligus.
Namun beberapa detik kemudian ia mengirim pesan lagi.
“Bahkan cara aku ngomel aja masih ditulis.”
Riyadi tertawa kecil sendirian di ruang kerjanya.
Malam itu percakapan mereka berubah menjadi sesi mengenang masa lalu.
Satu demi satu kenangan terbuka kembali lewat novel itu.
“Kaang masih ingat waktu aku ngambek di dojo?”
“Yang gara-gara kalah sparing?”
“Iya.”
“Terus Sinok bilang mau berhenti karate.”
“Dan Kakang malah ketawa.”
“Karena Sinok ngambeknya lucu.”
“Nyebelin.”
Mereka tertawa bersama.
Dan anehnya...
meski dipisahkan usia dan jarak puluhan tahun, tawa itu masih terasa sama seperti dulu.
Novel itu perlahan menjadi jembatan yang menyambungkan kembali kenangan mereka.
Bahkan beberapa kejadian kecil yang hampir terlupakan mendadak muncul kembali.
Suatu malam Ari Yanti tiba-tiba berkata:
“Kaang masih ingat waktu di Kaliwungu aku jatuh dari sepeda?”
Riyadi langsung tertawa keras.
“Ya Allah... itu gara-gara Sinok nengok terus ke belakang.”
“Habis Kakang diledekin Aziz.”
“Terus Sinok malah nabrak pohon pisang.”
“Dan Kakang bukannya nolong malah ketawa.”
“Karena lucu.”
“Aku nangis tahu.”
“Iya terus Kakang beliin es lilin.”
Ari Yanti terdiam beberapa detik.
Lalu mengirim pesan:
“Ternyata hal kecil begitu masih diingat ya.”
Riyadi membalas pelan:
“Karena buat Kakang itu bukan hal kecil.”
Dan setelah membaca pesan itu...
Ari Yanti lama sekali tidak membalas.
Karena dadanya mendadak terasa penuh.
Hari-hari berikutnya novel itu mulai diunggah Riyadi secara bertahap ke website desa.
Awalnya hanya iseng.
Namun tak disangka pembacanya terus bertambah.
Beberapa orang mulai penasaran dengan kisah “Sinok dan Kakang.”
Bahkan teman-teman lama mereka mulai bermunculan di media sosial.
Suatu sore Aziz menghubungi Riyadi lewat Messenger.
“Yadi! Ini bener cerita kita dulu?”
Riyadi tertawa membaca pesan itu.
“Iya.”
“Kurang ajar kau. Aku jadi tokoh tukang ledek.”
“Karena memang begitu.”
Tak lama kemudian grup percakapan kecil mantan anak karate mulai terbentuk.
Nama-nama lama kembali muncul:
Agus .
Farida.
Pincok.
Deni.
Bahkan beberapa teman dari ranting lain ikut bergabung.
Dan semuanya merasa seperti kembali muda saat membaca novel itu.
Sementara di Jawa Tengah...
Ari Yanti mulai sering membaca komentar para pembaca.
Beberapa bahkan mengira kisah itu hanya fiksi.
Namun hanya dirinya dan Riyadi yang tahu...
betapa banyak bagian cerita itu benar-benar nyata.
Suatu malam setelah membaca salah satu bab...
Ari Yanti menelepon Riyadi.
Suaranya terdengar pelan.
“Kaang...”
“Iya?”
“Kenapa semua detail masih diingat?”
Riyadi tersenyum kecil.
“Karena beberapa kenangan gak pernah benar-benar pergi.”
Ari Yanti terdiam.
Lalu bertanya pelan:
“Selama ini... Kakang benar-benar gak pernah lupa sama Sinok?”
Pertanyaan itu membuat suasana mendadak hening.
Di luar rumah Riyadi terdengar suara hujan kecil.
Lalu perlahan ia menjawab:
“Enggak pernah.”
Jawaban singkat itu langsung membuat mata Ari Yanti basah.
Untuk pertama kalinya setelah puluhan tahun...
ia merasa ada seseorang yang benar-benar menyimpan dirinya dalam ingatan begitu lama.
Bukan sekadar mengenang.
Tetapi menjaga.
Malam itu Ari Yanti membuka kembali album foto lamanya.
Foto-foto hitam putih masa SMP.
Foto latihan karate.
Foto bersama teman-teman dojo.
Dan di salah satu foto...
terlihat Riyadi berdiri di belakangnya sambil tersenyum kecil.
Ari Yanti memegang foto itu cukup lama.
Lalu berbisik pelan:
“Kita ternyata benar-benar pernah sebahagia itu ya, Kaang...”
Di sisi lain, Riyadi kembali melanjutkan tulisannya malam itu.
Namun kali ini ia menulis dengan hati yang jauh lebih tenang.
Karena sekarang...
Sinok sudah kembali membaca kisah mereka.
Dan itu berarti...
kenangan mereka tidak akan hilang begitu saja dimakan waktu.
Di akhir bab baru yang ditulis malam itu, Riyadi mengetik satu kalimat sederhana:
“Kadang sebuah novel bukan sekadar cerita. Ia bisa menjadi jalan pulang bagi dua hati yang pernah tersesat oleh waktu.”
Dan tanpa ia sadari...
kalimat itu adalah gambaran paling jujur tentang dirinya dan Ari Yanti.
BAB XXV
PERTEMUAN YANG TERTUNDA TIGA PULUH DUA TAHUN
Hari-hari setelah novel itu mulai tersebar di website desa terasa berbeda bagi Riyadi dan Ari Yanti.
Hubungan mereka yang dulu hanya dipenuhi kenangan...
kini kembali hidup dalam percakapan sehari-hari.
Kadang mereka berbicara tentang masa lalu.
Kadang tentang pekerjaan.
Kadang tentang anak-anak mereka.
Dan kadang...
hanya saling diam sambil menikmati rasa tenang karena akhirnya bisa kembali menemukan satu sama lain.
Namun di balik semua percakapan hangat itu...
ada satu pertanyaan yang diam-diam mulai tumbuh di hati keduanya:
“Apakah kita masih bisa bertemu lagi?”
Suatu malam Ari Yanti sedang duduk di ruang tamu rumahnya sambil memandangi hujan.
Ponselnya berbunyi pelan.
Pesan dari Riyadi masuk.
“Sinok.”
“Iya Kaang?”
“Kalau suatu hari kita ketemu lagi... Sinok masih kenal Kakang gak?”
Ari Yanti langsung tersenyum kecil.
Ia membalas cepat.
“Kalau senyumnya masih nyebelin, pasti kenal.”
Riyadi tertawa kecil membaca balasan itu.
Namun beberapa detik kemudian ia kembali mengirim pesan:
“Serius.”
Kali ini Ari Yanti terdiam cukup lama.
Lalu perlahan mengetik:
“Aku rasa... aku gak pernah lupa wajah Kakang.”
Kalimat itu membuat Riyadi memejamkan mata pelan.
Karena selama bertahun-tahun...
ia selalu takut dilupakan.
Takut hanya menjadi bagian kecil dari masa lalu seseorang.
Namun malam itu ia sadar...
ternyata dirinya masih memiliki tempat di hati Ari Yanti.
Hari-hari berikutnya mereka mulai sering membicarakan kemungkinan bertemu.
Awalnya hanya bercanda.
Namun lama-lama berubah menjadi harapan yang sungguh-sungguh.
“Kalau ketemu nanti Kakang jangan galak ya.”
“Sinok juga jangan manja.”
“Aku sudah tua sekarang.”
“Tetap aja manja.”
“Hahaha.”
Namun di balik candaan itu...
keduanya sebenarnya sama-sama gugup.
Karena tiga puluh dua tahun bukan waktu yang singkat.
Banyak hal telah berubah.
Wajah berubah.
Usia bertambah.
Kehidupan tidak lagi sama.
Dan mereka takut...
takdir pertemuan nanti tidak seindah yang dibayangkan.
Suatu malam Ari Yanti berkata pelan saat telepon.
“Kaang...”
“Hm?”
“Aku takut.”
“Takut apa?”
“Takut kalau setelah ketemu nanti semuanya berubah.”
Riyadi terdiam beberapa detik.
Lalu menjawab lembut:
“Sinok... yang penting bukan wajah atau usia.”
“Terus?”
“Yang penting hati kita masih saling mengenal.”
Kalimat itu membuat Ari Yanti diam cukup lama.
Lalu tanpa sadar tersenyum sambil mengusap matanya yang mulai basah.
Sementara itu di Desa Sriwidadi...
Riyadi mulai semakin sibuk menulis.
Roman tentang mereka berkembang semakin panjang.
Banyak pembaca mulai mengikuti kisahnya.
Beberapa bahkan ikut larut dalam cerita Sinok dan Kakang.
Namun tidak ada satu pun pembaca yang tahu...
bahwa tokoh-tokoh itu benar-benar ada.
Dan kini sedang kembali saling menemukan.
Suatu sore Riyadi duduk di kantor desa setelah pekerjaan selesai.
Ia membuka kembali foto lama masa karate yang dikirim Ari Yanti.
Di foto itu...
mereka masih remaja.
Tersenyum polos.
Belum mengenal kerasnya hidup.
Belum tahu bahwa waktu akan memisahkan mereka selama puluhan tahun.
Tiba-tiba pesan WhatsApp masuk.
Dari Ari Yanti.
“Kaang.”
“Iya?”
“Aku nemu sesuatu.”
“Apa?”
Tak lama kemudian sebuah foto dikirim.
Foto itu sudah kusam.
Sedikit menguning dimakan usia.
Namun wajah di dalamnya masih jelas.
Foto rombongan karate saat ujian sabuk coklat di Semarang.
Di pojok kanan...
terlihat Ari Yanti tersenyum sambil berdiri dekat Riyadi.
Dan yang membuat Riyadi tercekat...
adalah posisi mereka yang sangat dekat.
Seolah sejak dulu...
memang ada ikatan yang tak terlihat di antara keduanya.
“Aku masih simpan foto ini,” tulis Ari Yanti.
Riyadi memandangi foto itu sangat lama.
Lalu membalas pelan:
“Berarti Sinok memang gak pernah lupa.”
Ari Yanti membalas cepat:
“Beberapa kenangan terlalu berharga buat dibuang.”
Malam itu percakapan mereka berubah semakin emosional.
“Kaang...”
“Hm?”
“Kalau dulu kita gak terpisah... menurut Kakang hidup kita bakal gimana?”
Pertanyaan itu membuat Riyadi lama sekali tidak menjawab.
Karena itu adalah pertanyaan yang juga sering ia pikirkan sendiri.
Namun akhirnya ia hanya menulis:
“Mungkin tetap seperti sekarang.”
“Maksudnya?”
“Tetap jadi sahabat yang saling jaga.”
Ari Yanti membaca pesan itu sambil tersenyum kecil.
Karena jauh di dalam hatinya...
ia tahu hubungan mereka memang selalu lebih rumit daripada sekadar cinta remaja biasa.
Hari demi hari berlalu.
Dan rencana pertemuan itu akhirnya mulai dibicarakan serius.
“Kalau suatu saat Kakang pulang ke Jawa...”
“Iya?”
“Mainlah ke Tegorejo.”
“Sinok mau ketemu?”
“Aku ingin lihat... apakah Kakang masih sama seperti dulu.”
Riyadi tertawa kecil.
“Kalau Sinok?”
“Aku juga pengin tahu... apakah Kakang masih bisa mengenali Sinok dari matanya.”
Malam semakin larut.
Namun tidak ada satu pun dari mereka yang ingin tidur.
Karena setelah puluhan tahun dipisahkan...
mereka akhirnya kembali memiliki sesuatu yang dulu hilang:
harapan.
Sebelum mengakhiri percakapan malam itu...
Ari Yanti tiba-tiba mengirim pesan singkat.
“Kaang...”
“Iya?”
“Terima kasih sudah kembali.”
Riyadi memandang layar ponselnya cukup lama.
Lalu perlahan membalas:
“Kakang sebenarnya gak pernah benar-benar pergi.”
Dan di antara jarak Kalimantan dan Jawa Tengah...
dua hati yang pernah tersesat oleh waktu mulai bersiap menuju sebuah pertemuan yang tertunda selama tiga puluh dua tahun.
BAB XXVI
DOA, KENANGAN, DAN SEBUAH HARAPAN
Malam di Desa Sriwidadi terasa sangat tenang.
Langit cerah dipenuhi bintang.
Sementara dari kejauhan terdengar suara katak bersahutan dari rawa-rawa dekat sungai Kapuas.
Di teras rumah sederhananya...
Riyadi duduk sendirian sambil memegang secangkir kopi yang mulai dingin.
Ponselnya terletak di atas meja kecil.
Layar WhatsApp masih terbuka.
Pesan terakhir dari Ari Yanti masih terlihat jelas.
“Terima kasih sudah kembali.”
Kalimat sederhana itu terus terngiang di kepalanya.
Karena setelah tiga puluh dua tahun...
akhirnya ia sadar bahwa dirinya ternyata masih berarti bagi seseorang di masa lalunya.
Riyadi memandang langit lama sekali.
Lalu tersenyum kecil sendiri.
Dulu saat masih remaja...
ia tidak pernah membayangkan hidup akan membawanya sejauh ini.
Dari Desa Tegorejo...
ke Tangerang...
lalu ke Kalimantan.
Menjadi perangkat desa.
Menjadi penulis.
Menjadi seorang ayah.
Namun di antara semua perjalanan panjang itu...
ada satu nama yang ternyata tetap tinggal di dalam hatinya.
Sinok.
Di Jawa Tengah...
Ari Yanti juga sedang duduk sendirian di kamar sambil membuka album foto lama.
Lampu kamar sengaja diredupkan.
Di pangkuannya berserakan foto-foto masa remaja.
Foto dojo karate.
Foto latihan bersama.
Foto teman-teman sekolah.
Dan hampir di setiap foto...
selalu ada satu sosok yang berdiri tidak jauh darinya.
Riyadi .
Ari Yanti mengambil satu foto kecil yang paling kusam.
Foto itu diambil setelah pertandingan karate Kapolres CUP.
Ia masih mengenakan medali juara.
Sementara Riyadi berdiri di belakang sambil tersenyum bangga.
Ari Yanti memandangi foto itu lama sekali.
Lalu berbisik pelan:
“Kaang... ternyata waktu benar-benar cepat ya.”
Matanya mulai berkaca-kaca.
Karena perempuan itu akhirnya menyadari satu hal:
beberapa kenangan memang tidak pernah menua.
Keesokan harinya komunikasi mereka kembali berlangsung seperti biasa.
Namun kini terasa lebih tenang.
Tidak lagi terlalu canggung.
Tidak lagi terlalu hati-hati.
Karena keduanya mulai menerSari bahwa hubungan mereka memang istimewa.
Bukan cinta yang harus memiliki.
Tetapi ikatan jiwa yang saling menjaga.
Suatu malam mereka melakukan panggilan video cukup lama.
Untuk pertama kalinya...
mereka benar-benar memandangi wajah satu sama lain setelah tiga puluh dua tahun.
Saat layar video terbuka...
keduanya sempat terdiam beberapa detik.
Tidak ada yang langsung berbicara.
Karena mereka sedang berusaha menerima kenyataan bahwa sosok yang selama ini hanya hidup dalam ingatan...
kini benar-benar ada di depan mata.
Ari Yanti akhirnya tertawa kecil sambil mengusap matanya.
“Ya Allah Kaang...”
Riyadi ikut tersenyum.
“Sinok masih sama.”
“Bohong.”
“Serius.”
“Apanya yang sama?”
“Matanya.”
Ari Yanti langsung menunduk malu sambil tertawa kecil.
Padahal usia mereka kini tak lagi muda.
Namun malam itu...
mereka terasa seperti dua remaja yang kembali dipertemukan setelah lama berpisah.
“Kaang juga berubah.”
“Tambah tua ya?”
“Enggak.”
“Terus?”
“Tambah tenang.”
Riyadi tersenyum kecil.
“Karena hidup ngajarin banyak hal.”
Percakapan mereka malam itu sangat panjang.
Tentang keluarga.
Tentang anak-anak.
Tentang perjuangan hidup.
Tentang sakit dan kecewa yang pernah dilalui masing-masing.
Dan semakin lama berbicara...
mereka semakin sadar bahwa kehidupan ternyata telah membentuk keduanya menjadi pribadi yang lebih kuat.
Di tengah percakapan itu...
Ari Yanti tiba-tiba berkata pelan:
“Kaang.”
“Iya?”
“Aku bersyukur dulu pernah kenal Kakang.”
Kalimat itu membuat Riyadi terdiam cukup lama.
Karena selama bertahun-tahun...
ia selalu merasa dirinya hanyalah bagian kecil dari masa lalu seseorang.
Namun ternyata...
ia pernah menjadi tempat bersandar bagi seorang gadis remaja yang kini telah tumbuh dewasa.
“Sinok juga salah satu bagian terpenting dalam hidup Kakang.”
Jawaban itu membuat mata Ari Yanti kembali basah.
Malam semakin larut.
Namun tidak ada satu pun dari mereka yang ingin mengakhiri percakapan.
Karena ada terlalu banyak cerita yang belum selesai.
Terlalu banyak kenangan yang baru kembali terbuka.
Di sela-sela obrolan...
Riyadi tiba-tiba berkata:
“Sinok masih ingat janji merpati?”
Ari Yanti tersenyum pelan.
“Masih.”
“Menurut Sinok... kenapa merpati tak pernah ingkar janji?”
Ari Yanti terdiam beberapa detik.
Lalu menjawab lirih:
“Karena sejauh apa pun terbangnya... dia selalu ingat jalan pulang.”
Riyadi memandang layar cukup lama.
Kalimat itu terasa sangat dalam.
Karena mungkin...
itulah yang terjadi pada mereka sekarang.
Malam itu sebelum tidur...
Ari Yanti menuliskan sesuatu di buku kecilnya.
Kebiasaan lama yang dulu sering ia lakukan saat remaja.
Ia menulis:
“Kadang Tuhan memisahkan dua orang sangat lama bukan untuk membuat mereka lupa, tetapi agar mereka memahami arti sebuah pertemuan.”
Sementara di Sriwidadi...
Riyadi kembali membuka draft Romannya.
Lalu menambahkan satu paragraf baru:
“Persahabatan sejati bukan tentang seberapa sering bertemu, melainkan tentang hati yang tetap saling menjaga meski dipisahkan waktu puluhan tahun.”
Ia membaca ulang kalimat itu perlahan.
Lalu tersenyum kecil.
Karena kini...
ia tidak lagi menulis sendirian bersama kenangan.
Sinok telah kembali membaca kisah mereka.
Dan itu membuat semuanya terasa lebih hidup.
Di luar rumah malam semakin sunyi.
Namun di dua tempat yang berjauhan...
dua hati yang pernah dipisahkan waktu kini sama-sama memanjatkan doa sederhana.
Semoga persahabatan yang telah kembali ditemukan itu...
tidak hilang lagi untuk kedua kalinya.
BAB XXVII
RAHASIA YANG DISIMPAN HATI
Hujan turun perlahan di Desa Sriwidadi malam itu.
Titik air terdengar jatuh lembut di atap asbes rumah Riyadi .
Di ruang kerjanya yang sederhana...
lampu kecil masih menyala.
Laptop terbuka.
Draft novel masih terpampang di layar.
Namun sejak beberapa menit tadi...
tak satu pun kata berhasil ia tulis.
Pikirannya melayang jauh.
Kembali ke masa-masa remaja di Desa Tegorejo.
Kembali pada seorang gadis yang dulu selalu mengisi hari-harinya dengan tawa dan rengekan manja.
Sinok.
Riyadi bersandar pelan di kursi.
Lalu tanpa sadar tersenyum kecil saat mengingat satu hal.
Dulu...
ia sering sekali menyangkal perasaannya sendiri.
Saat teman-teman karate meledek dirinya dan Ari Yanti berpacaran diam-diam...
ia selalu membantah keras.
Padahal jauh di dalam hati...
ia sendiri tidak pernah benar-benar tahu hubungan itu sebenarnya apa.
Karena hubungan mereka memang aneh.
Terlalu dekat untuk disebut teman biasa.
Namun terlalu takut melangkah untuk disebut cinta.
Dan selama bertahun-tahun...
rahasia itu tetap tinggal diam di dalam hati.
Di Jawa Tengah...
Ari Yanti malam itu juga belum tidur.
Ia duduk di dekat jendela kamar sambil membaca ulang percakapan WhatsApp dengan Riyadi.
Kadang ia tertawa sendiri.
Kadang diam cukup lama.
Kadang matanya berkaca-kaca tanpa sebab.
Suaminya sempat bertanya dari ruang tengah:
“Belum tidur?”
“Sebentar lagi.”
“Masih baca HP terus.”
Ari Yanti tersenyum kecil.
“Iya.”
Namun ia tidak menjelaskan lebih jauh.
Karena bagaimana mungkin ia bisa menjelaskan bahwa malam itu ia sedang berbicara dengan seseorang yang pernah menjadi bagian terpenting dalam masa remajanya.
Ponselnya kembali berbunyi.
Pesan dari Riyadi masuk.
“Sinok belum tidur?”
“Belum.”
“Mikir apa?”
Ari Yanti menatap layar cukup lama.
Lalu mengetik perlahan:
“Mikirin masa lalu.”
Tak lama balasan datang.
“Menyesal?”
Pertanyaan itu membuat Ari Yanti terdiam.
Ia memandang hujan di luar jendela.
Lalu perlahan membalas:
“Enggak.”
“Terus?”
“Cuma kadang penasaran...”
“Penasaran apa?”
Jari Ari Yanti berhenti beberapa detik di atas layar.
Lalu akhirnya ia menulis:
“Dulu sebenarnya Kakang sayang gak sama aku?”
Di Sriwidadi...
Riyadi membaca pesan itu berkali-kali.
Dadanya terasa berdebar pelan.
Karena pertanyaan itu...
adalah pertanyaan yang selama puluhan tahun tidak pernah benar-benar berani mereka ucapkan.
Beberapa menit Riyadi tidak membalas.
Bukan karena tidak tahu jawabannya.
Tetapi karena terlalu banyak hal yang tiba-tiba memenuhi pikirannya.
Tentang Bu Yati.
Tentang janji menjaga Sinok.
Tentang rasa takut kehilangan.
Tentang kenyamanan yang tidak ingin dirusak oleh cinta remaja yang belum tentu bertahan.
Dan mungkin...
tentang keberanian yang dulu tidak pernah ia miliki.
Akhirnya ia mengetik perlahan:
“Kalau gak sayang... Kakang gak mungkin ingat Sinok sampai sekarang.”
Mata Air Yanti langsung basah membaca jawaban itu.
Tangannya gemetar kecil memegang ponsel.
Karena untuk pertama kalinya...
setelah tiga puluh dua tahun...
mereka akhirnya mulai membuka rahasia yang selama ini disimpan hati masing-masing.
“Kenapa dulu diam?”
Riyadi menarik napas panjang sebelum menjawab.
“Karena Kakang takut semuanya berubah.”
“Berubah bagaimana?”
“Takut kehilangan Sinok.”
Ari Yanti menutup mulutnya sendiri.
Air matanya jatuh perlahan.
Karena ternyata...
ketakutan mereka selama ini sama.
“Kaang...” tulis Ari Yanti pelan.
“Iya?”
“Aku juga sebenarnya nyaman banget sama Kakang dulu.”
Riyadi membaca kalimat itu sambil memejamkan mata.
Ada rasa hangat yang perlahan memenuhi dadanya.
Bukan rasa cinta remaja yang meledak-ledak.
Melainkan rasa tenang karena akhirnya mengetahui isi hati yang dulu tidak pernah sempat diucapkan.
Percakapan malam itu berubah sangat dalam.
Lebih jujur dibanding sebelumnya.
“Aku sering cemburu dulu.”
“Cemburu sama siapa?”
“Kalau Kakang dekat sama anak perempuan lain.”
Riyadi tertawa kecil.
“Sinok juga bikin Kakang cemburu.”
“Karena Nur ?”
“Iya.”
“Padahal Kakang selalu bilang biasa aja.”
“Karena Kakang sadar posisi.”
“Posisi apa?”
“Kakak angkat.”
Setelah membaca jawaban itu...
Ari Yanti langsung menangis kecil sambil tertawa.
“Ya Allah Kaang...” gumamnya lirih.
Selama ini mereka ternyata saling menyimpan rasa.
Namun keadaan membuat keduanya memilih diam.
Dan diam itu akhirnya berubah menjadi kenangan panjang yang terbawa hingga dewasa.
Malam semakin larut.
Hujan mulai reda.
Namun percakapan mereka belum juga selesai.
“Kaang.”
“Hm?”
“Kalau waktu bisa diulang...”
“Iya?”
“Kenapa Kakang tidak ngomong jujur dari dulu?”
Pertanyaan itu membuat Riyadi tersenyum kecil.
Lalu ia membalas pelan:
“Enggak.”
“Kenapa?”
“Karena mungkin justru perjalanan panjang ini yang bikin kita ngerti arti kehilangan.”
Ari Yanti membaca jawaban itu sangat lama.
Dan untuk pertama kalinya...
ia merasa bahwa hubungan mereka memang bukan sekadar tentang cinta.
Melainkan tentang proses hidup.
Tentang tumbuh dewasa.
Tentang belajar ikhlas.
Dan tentang memahami bahwa tidak semua rasa harus dimiliki untuk tetap berarti.
Sebelum mengakhiri percakapan malam itu...
Riyadi menulis satu pesan panjang.
“Sinok... mungkin dulu kita terlalu muda buat ngerti semuanya. Tapi sekarang Kakang bersyukur karena pernah jadi bagian dari hidup Sinok. Dan sampai kapan pun... Sinok tetap sahabat paling istimewa yang pernah Kakang punya.”
Air mata Ari Yanti jatuh lagi saat membaca pesan itu.
Lalu perlahan ia membalas:
“Dan Kakang tetap jadi rumah paling tenang dalam kenangan masa remajaku.”
Malam itu...
untuk pertama kalinya setelah puluhan tahun...
dua hati yang dulu sama-sama diam akhirnya saling memahami isi rahasia yang selama ini mereka simpan sendiri.
Rahasia tentang rasa.
Rahasia tentang kehilangan.
Dan rahasia tentang cinta yang memilih bertahan sebagai persahabatan.
BAB XXVIII
JEJAK DI DESA TEGOREJO
Pagi di Desa Tegorejo selalu memiliki aroma yang khas.
Aroma tanah basah.
Aroma sawah.
Dan aroma kenangan yang seolah tidak pernah benar-benar pergi.
Setelah percakapan panjang malam demi malam dengan Ari Yanti ...
hati Riyadi semakin sering dipenuhi keinginan sederhana:
pulang.
Bukan sekadar pulang ke Jawa.
Tetapi pulang ke tempat di mana semua cerita mereka bermula.
Desa Tegorejo.
Di Desa Sriwidadi, Kalimantan Tengah...
Riyadi duduk di depan laptop sambil membuka Google Maps.
Tangannya perlahan memperbesar gambar sebuah jalan kecil di Kecamatan Pegandon.
Matanya memandang layar cukup lama.
Sawah-sawah itu masih ada.
Jalan desa itu masih ada.
Bahkan beberapa rumah lama masih tampak berdiri.
Namun waktu jelas telah mengubah banyak hal.
Ponselnya berbunyi.
Pesan dari Ari Yanti masuk.
“Kaang lagi apa?”
“Lagi lihat Tegorejo.”
Beberapa detik kemudian Ari Yanti membalas:
“Kangen?”
Riyadi tersenyum kecil.
“Iya.”
Tak lama kemudian panggilan video tersambung.
Wajah Ari Yanti muncul di layar.
“Kaang serius lihat peta desa?”
“Iya.”
“Lucu banget.”
“Kenapa lucu?”
“Kayak anak kecil.”
Riyadi tertawa kecil.
“Karena di situ banyak kenangan.”
Ari Yanti mendadak diam.
Lalu berkata pelan:
“Aku juga sering begitu.”
Percakapan mereka malam itu dipenuhi cerita tentang Tegorejo.
Tentang jalan-jalan kecil yang dulu sering mereka lewati naik sepeda ontel.
Tentang lapangan tempat latihan karate.
Tentang warung dekat sekolah.
Tentang jembatan kecil tempat mereka sering berhenti sepulang latihan.
Dan semakin banyak mereka bercerita...
semakin terasa bahwa desa kecil itu bukan sekadar tempat tinggal masa lalu.
Melainkan rumah bagi seluruh kenangan remaja mereka.
“Kaang masih ingat pohon asem dekat lapangan?”
“Yang sering dipakai berteduh habis latihan?”
“Iya.”
“Masih ada?”
“Masih.”
Riyadi tersenyum kecil.
“Berarti dia lebih setia daripada kita.”
Ari Yanti langsung tertawa.
“Dasar.”
Beberapa hari kemudian...
Ari Yanti benar-benar pergi berkeliling Desa Tegorejo sendirian.
Sudah lama sekali ia tidak menikmati desa itu seperti dulu.
Biasanya hidup terasa terlalu sibuk.
Sekolah.
Keluarga.
Pekerjaan.
Dan berbagai urusan lain membuatnya jarang berhenti untuk sekadar mengenang masa lalu.
Namun sejak kembali berkomunikasi dengan Riyadi...
semuanya terasa berbeda.
Ia melewati jalan kecil menuju SMPN 1 Pegandon.
Angin pagi berhembus lembut.
Dan tanpa sadar...
langkahnya melambat saat melihat lapangan sekolah.
Di sana...
puluhan kenangan mendadak muncul begitu saja.
Bayangan remaja-remaja karate itu terasa hidup kembali.
Aziz yang suka bercanda.
Agus yang sering tertawa keras.
Farida yang cerewet.
Pincok yang jahil.
Dan seorang pemuda sabuk coklat yang sering memarahinya saat latihan.
Kakang.
Ari Yanti berdiri cukup lama di depan gerbang sekolah.
Lalu perlahan mengambil foto.
Dan mengirimkannya pada Riyadi.
“Kaang... tempat ini masih sama.”
Di Sriwidadi...
Riyadi langsung membeku saat melihat foto itu.
Dadanya mendadak terasa penuh.
Karena tempat yang selama ini hanya hidup dalam ingatan...
kini muncul nyata kembali di layar ponselnya.
“Ya Allah...” tulisnya pelan.
“Aku tadi berdiri lama di situ.”
“Sinok nangis?”
“Sedikit.”
“Cengeng.”
“Biarin.”
Riyadi tersenyum kecil sambil menahan haru.
Perjalanan Ari Yanti berlanjut menuju dojo lama tempat latihan karate.
Bangunannya memang sudah berubah.
Catnya baru.
Beberapa bagian direnovasi.
Namun halaman depannya masih terasa familiar.
Dan saat berdiri di sana...
Ari Yanti tiba-tiba teringat satu kejadian kecil.
Dulu saat latihan kumite...
ia pernah pura-pura jatuh hanya agar Riyadi panik dan menghentikan latihan.
Dan benar saja...
saat itu Riyadi langsung berlari menghampiri.
“Sinok sakit?”
Padahal beberapa detik kemudian Ari Yanti malah tertawa ngakak.
Mengingat kejadian itu sekarang membuatnya tertawa sendiri di depan dojo.
“Kenapa senyum-senyum sendiri Bu?”
Suara seorang bapak tua mengejutkannya.
Ari Yanti menoleh dan langsung mengenali wajah itu.
“Pak Sambas?”
Lelaki tua itu menyipitkan mata beberapa detik.
Lalu mendadak tersenyum lebar.
“Lho... Yanti?”
Ari Yanti langsung menyalami mantan pelatih karatenya itu dengan mata berkaca-kaca.
Mereka berbincang cukup lama di depan dojo.
Tentang masa lalu.
Tentang teman-teman karate.
Dan tentu saja...
tentang Riyadi .
“Si Riyadi sekarang di Kalimantan ya?”
“Iya Pak.”
“Dulu dia paling rajin.”
Ari Yanti tersenyum kecil.
“Masih suka nulis sekarang.”
Pak Sambas tertawa kecil.
“Dulu juga suka melamun dia.”
Ari Yanti ikut tertawa sambil mengusap matanya yang mulai basah.
Karena ternyata...
kenangan itu tidak hanya hidup di hati mereka.
Tetapi juga di hati orang-orang yang pernah mengenal mereka.
Malam harinya Ari Yanti menceritakan semua itu kepada Riyadi lewat telepon.
Riyadi mendengarkan dengan sangat tenang.
Kadang tertawa.
Kadang diam.
Kadang menarik napas panjang penuh rindu.
“Kaang...”
“Hm?”
“Tegorejo ternyata masih nyimpan jejak kita.”
Riyadi memandang langit malam dari teras rumahnya.
Lalu menjawab pelan:
“Karena beberapa cerita memang gak pernah benar-benar pergi.”
Sebelum telepon ditutup...
Ari Yanti berkata lirih:
“Kalau suatu hari Kakang pulang... aku mau muter desa lagi bareng.”
Riyadi tersenyum kecil.
“Naik sepeda ontel?”
“Hahaha... jangan.”
“Kenapa?”
“Malu.”
“Padahal dulu paling depan.”
Ari Yanti tertawa keras hingga matanya kembali berkaca-kaca.
Dan malam itu...
Desa Tegorejo seolah kembali hidup di hati mereka.
Bukan sekadar desa kecil di Jawa Tengah.
Tetapi tempat di mana dua sahabat pernah tumbuh bersama, tertawa bersama, dan menyimpan janji yang akhirnya kembali menemukan jalannya pulang.
BAB XXIX
SURAT YANG TAK PERNAH DIKIRIM
Malam itu hujan turun cukup deras di Desa Sriwidadi.
Angin dari arah sungai Kapuas bertiup dingin melewati sela-sela jendela rumah.
Riyadi duduk sendiri di ruang kerjanya.
Di meja kayu kecil di depannya...
tergeletak sebuah kotak tua berwarna cokelat kusam.
Kotak itu sudah sangat lama tidak dibuka.
Bahkan mungkin bertahun-tahun.
Setelah percakapannya dengan Ari Yanti tentang Tegorejo kemarin...
entah kenapa Riyadi merasa ingin kembali membuka masa lalu lebih jauh.
Perlahan ia membuka kotak itu.
Aroma kertas lama langsung tercium.
Di dalamnya tersimpan berbagai benda yang nyaris terlupakan oleh waktu.
Foto-foto karate.
Piagam lama.
Potongan koran pertandingan.
Dan beberapa lembar surat tulisan tangan.
Tangannya berhenti pada satu amplop kecil yang warnanya mulai menguning.
Di bagian depan tertulis:
“Untuk Sinok.”
Riyadi terdiam cukup lama.
Dadanya mendadak terasa sesak.
Karena surat itu...
adalah surat yang tidak pernah berhasil ia kirim tiga puluh dua tahun lalu.
Ia membuka perlahan lipatan kertas itu.
Tulisan tangannya masih terlihat jelas meski tintanya mulai pudar.
Surat itu ditulis saat ia baru tiba di Tangerang.
Saat pertama kali merasa benar-benar kehilangan Ari Yanti.
Dengan suara lirih Riyadi membaca isi surat itu sendirian.
“Sinok,
Maaf Kakang pergi tanpa pamit.
Kakang cuma takut kalau lihat Sinok nangis, nanti Kakang malah gak jadi berangkat.
Di sini ramai, tapi rasanya sepi.
Kakang kangen dojo, kangen latihan, kangen dimarahi Bu Yati kalau pulang malam, dan kangen Sinok yang cerewet.
Jangan nakal ya.
Jangan sering ngambek.
Belajar yang rajin.
Kalau nanti Kakang pulang, semoga Sinok masih ingat sama Kakang.”
Riyadi menutup matanya perlahan.
Tiga puluh dua tahun berlalu...
namun rasa dalam surat itu ternyata masih sama.
Ia tersenyum kecil pahit.
“Kenapa dulu gak jadi dikirim ya...” gumamnya pelan.
Mungkin karena malu.
Mungkin karena gengsi.
Atau mungkin karena saat itu hidup bergerak terlalu cepat hingga surat itu tertinggal begitu saja.
Tanpa sadar ia memotret surat itu.
Lalu cukup lama ragu sebelum akhirnya mengirimkannya pada Yanti lewat WhatsApp.
Di Jawa Tengah...
Ari Yanti yang sedang membereskan buku pelajaran terdiam saat ponselnya berbunyi.
Pesan dari Riyadi masuk.
“Sinok... Kakang nemu sesuatu.”
Ia membuka foto itu perlahan.
Dan saat membaca tulisan “Untuk Sinok”...
dadanya langsung berdebar keras.
Ari Yanti membaca isi surat itu pelan-pelan.
Baris demi baris.
Kata demi kata.
Dan sebelum selesai membacanya...
air matanya sudah jatuh lebih dulu.
Tangannya gemetar kecil.
Ia menutup mulutnya sendiri sambil menangis pelan.
Karena ternyata...
selama ini bukan hanya dirinya yang merasa kehilangan.
Beberapa menit kemudian ponselnya berdering.
Riyadi menelepon.
Begitu sambungan tersambung...
yang terdengar pertama kali hanyalah suara napas Ari Yanti yang bergetar.
“Sinok nangis?”
Ari Yanti tertawa kecil di sela tangisnya.
“Kenapa suratnya gak dikirim dulu, Kaang...”
Riyadi terdiam.
Lalu menjawab pelan:
“Karena Kakang bodoh.”
Ari Yanti kembali menangis sambil tertawa.
“Kalau dulu aku baca surat itu... mungkin aku gak akan marah selama itu.”
Hening sejenak.
Namun keheningan itu terasa hangat.
Karena malam itu...
mereka kembali menemukan bagian kecil dari masa lalu yang sempat hilang.
“Kaang tahu gak?”
“Hm?”
“Aku juga pernah nulis surat.”
Riyadi langsung terdiam.
“Serius?”
“Iya.”
“Buat Kakang?”
“Iya.”
“Mana?”
Ari Yanti tertawa kecil.
“Udah gak tahu ke mana.”
“Isinya apa?”
Ari Yanti diam cukup lama.
Lalu menjawab lirih:
“Aku marah karena Kakang pergi tanpa pamit... tapi aku juga bilang kalau aku kangen.”
Mata Riyadi langsung terasa panas mendengar itu.
Karena ternyata...
selama ini mereka sama-sama menyimpan perasaan dalam diam.
Malam itu percakapan mereka kembali dipenuhi kenangan yang sangat dalam.
Tentang surat-surat yang tidak pernah terkirim.
Tentang kata-kata yang tidak pernah sempat diucapkan.
Dan tentang rasa yang selama bertahun-tahun hanya disimpan sendiri.
“Kaang...”
“Iya?”
“Lucu ya.”
“Kenapa?”
“Kita sama-sama nyimpen surat.”
Riyadi tersenyum kecil.
“Karena mungkin dari dulu hati kita gak pernah benar-benar jauh.”
Hujan di luar rumah semakin deras.
Namun malam itu justru terasa sangat hangat bagi keduanya.
Ari Yanti kemudian membuka lemari lama di kamarnya.
Ia mulai membongkar buku-buku dan kotak kenangan masa sekolah.
Dan tiba-tiba...
ia menemukan sebuah buku tulis kecil bersampul biru yang sudah lusuh.
Tangannya langsung membeku.
Perlahan ia membuka halaman-halamannya.
Tulisan tangan remaja SMP memenuhi hampir seluruh isi buku itu.
Tentang sekolah.
Tentang karate.
Tentang teman-teman.
Dan di salah satu halaman...
tertulis nama:
“Kakang.”
Air mata Ari Yanti kembali jatuh.
Karena ternyata...
selama ini ia juga tidak pernah benar-benar melupakan Riyadi.
Ia segera memotret halaman itu dan mengirimkannya.
Tak lama kemudian balasan datang.
“Ya Allah Sinok...”
“Aku juga gak sadar masih nyimpan.”
“Berarti kita sama-sama susah move on.”
Ari Yanti langsung tertawa keras sambil menangis.
“Dasar Kakang.”
Malam semakin larut menuju dini hari.
Namun tidak ada rasa lelah di antara mereka.
Karena setelah puluhan tahun...
mereka akhirnya bisa membuka semua rahasia kecil yang dulu hanya dipendam diam-diam.
Sebelum tidur...
Riyadi kembali membaca surat lamanya sekali lagi.
Lalu tersenyum kecil.
Karena kini...
surat yang dulu gagal menemukan alamatnya akhirnya sampai juga ke hati orang yang dituju.
Meski harus menunggu tiga puluh dua tahun lamanya.
BAB XXX
MIMPI YANG KEMBALI HIDUP
Pagi di Desa Sriwidadi terasa berbeda bagi Riyadi .
Sejak menemukan kembali surat lamanya dan membagikannya kepada ari Yanti...
ada sesuatu dalam dirinya yang perlahan berubah.
Beban panjang yang selama bertahun-tahun tersimpan diam di dalam hati...
seakan mulai terlepas sedikit demi sedikit.
Untuk pertama kalinya setelah puluhan tahun...
ia merasa benar-benar pulang.
Di ruang kerja kecilnya, Riyadi duduk di depan laptop sambil membuka halaman website desa.
Novel Senja di Desa Tegorejo, Cinta Pertama Bersemi terus dibaca banyak orang.
Komentar demi komentar bermunculan.
Ada yang tertawa.
Ada yang menangis.
Ada yang merasa teringat masa mudanya sendiri.
Namun bagi Riyadi...
novel itu kini bukan lagi sekadar tulisan.
Melainkan jalan yang mempertemukannya kembali dengan seseorang yang pernah hilang dari hidupnya.
Ponselnya berbunyi pelan.
Pesan dari Ari Yanti masuk.
“Kaang udah makan?”
Riyadi tersenyum kecil.
Pertanyaan sederhana itu terasa hangat.
Dulu...
kalimat seperti itu hampir setiap hari ia dengar dari Sinok saat latihan karate.
Dan anehnya...
setelah tiga puluh dua tahun, rasanya masih sama.
“Udah.”
“Bohong.”
“Serius.”
“Kalau serius foto.”
Riyadi langsung tertawa kecil sendirian.
“Masih sama aja...” gumamnya.
Ia lalu memotret secangkir kopi dan gorengan di meja kantor desa.
Tak lama kemudian balasan datang.
“Itu bukan makan. Itu nyiksa lambung.”
Riyadi tertawa makin keras.
Percakapan-percakapan kecil seperti itu mulai menghidupkan kembali bagian hidup mereka yang dulu hilang.
Tidak ada tuntutan.
Tidak ada janji berlebihan.
Hanya rasa nyaman yang perlahan tumbuh kembali.
Namun di balik semua itu...
ada satu hal yang diam-diam mulai berubah dalam diri Riyadi.
Ia kembali memiliki mimpi.
Selama bertahun-tahun hidupnya berjalan biasa saja.
Bekerja.
Mengurus desa.
Menulis artikel.
Menjalani rutinitas.
Namun setelah kembali terhubung dengan Ari Yanti...
semangatnya seperti hidup kembali.
Ia mulai rajin menulis.
Mulai serius menyusun novel.
Mulai kembali percaya bahwa kenangan masa lalu bisa menjadi sesuatu yang indah, bukan sekadar luka.
Suatu malam ia berkata pada Ari Yanti lewat telepon:
“Sinok.”
“Iya?”
“Kakang pengin Roman ini selesai.”
“Bagus dong.”
“Dan Kakang pengin suatu hari nanti Roman ini jadi buku beneran.”
Ari Yanti langsung tersenyum lebar.
“Serius?”
“Iya.”
“Kalau jadi buku aku mau tanda tangan pertama.”
“Harus.”
“Dan aku mau satu bab khusus.”
“Bab apa?”
“Tentang Sinok yang paling cantik.”
Riyadi tertawa keras.
“Percaya diri banget.”
“Biarin.”
Percakapan malam itu terasa ringan.
Namun di balik candaan mereka...
ada semangat baru yang perlahan tumbuh.
Di Jawa Tengah...
Ari Yanti juga mulai berubah.
Ia yang dulu sering merasa hidup berjalan monoton...
kini kembali memiliki warna.
Kadang ia membuka novel Riyadi diam-diam di sela-sela waktu mengajar.
Kadang membaca ulang chat mereka sebelum tidur.
Kadang tersenyum sendiri mengingat kejadian-kejadian kecil masa remaja.
Dan tanpa sadar...
hatinya yang dulu terasa kosong kini mulai hangat kembali.
Suatu sore Sari datang berkunjung.
Melihat kakaknya tersenyum sendiri sambil memegang ponsel, Sari langsung tertawa.
“Mbak sekarang beda.”
“Beda apa?”
“Lebih ceria.”
Ari Yanti pura-pura sibuk.
“Biasa aja.”
“Karena Kak Riyadi ya?”
Ari Yanti langsung malu sendiri.
“Apaan sih.”
Sari tertawa kecil.
“Tapi jujur ya Mbak... aku senang Kak Riyadi muncul lagi.”
Ari Yanti menatap adiknya pelan.
“Kenapa?”
“Karena dulu waktu Kak Riyadi pergi... Mbak berubah.”
Kalimat itu membuat Ari Yanti mendadak diam.
Ia baru sadar...
ternyata kehilangan Riyadi dulu memang meninggalkan ruang kosong yang cukup besar dalam hidupnya.
Dan kini...
ruang itu perlahan mulai terisi kembali.
Malam hari saat video call...
Ari Yanti menceritakan ucapan Sari tadi kepada Riyadi.
Riyadi hanya diam cukup lama.
Lalu berkata pelan:
“Maaf ya Sinok... dulu Kakang pergi terlalu tiba-tiba.”
Ari Yanti tersenyum kecil.
“Sekarang aku ngerti kok.”
“Marahnya udah hilang?”
“Udah.”
“Bener?”
“Iya.”
“Kalau masih marah gak papa.”
Ari Yanti tertawa kecil.
“Yang ada sekarang cuma kangen masa-masa itu.”
Hening sejenak.
Lalu Ari Yanti bertanya pelan:
“Kakang pernah mimpi ketemu lagi sama aku?”
Riyadi tersenyum kecil.
“Sering.”
“Sering banget?”
“Iya.”
“Terus di mimpinya ngapain?”
“Kadang cuma lihat Sinok naik sepeda.”
Ari Yanti langsung tertawa keras.
“Kenapa sepeda terus sih?”
“Karena itu kenangan paling lucu.”
“Padahal aku capek boncengin Kakang.”
“Makanya Kakang pengin balas.”
“Balas apa?”
“Nanti kalau ketemu... gantian Kakang yang boncengin.”
Ari Yanti langsung tertawa sambil menutup wajahnya.
“Ya Allah... kita udah tua Kaang.”
“Yang tua umur. Bukan kenangan.”
Kalimat itu membuat Ari Yanti mendadak diam.
Lalu perlahan tersenyum dengan mata berkaca-kaca.
Malam semakin larut.
Namun percakapan mereka belum juga selesai.
Karena kini...
mereka bukan lagi dua orang yang kehilangan arah.
Mereka telah menemukan kembali sesuatu yang dulu sempat hilang:
semangat hidup.
Sebelum tidur malam itu...
Riyadi kembali membuka draft Romannya.
Lalu mengetik satu kalimat baru:
“Kadang mimpi tidak benar-benar mati. Ia hanya tertidur sangat lama sebelum akhirnya dibangunkan kembali oleh sebuah pertemuan.”
Ia membaca ulang kalimat itu perlahan.
Lalu tersenyum kecil.
Karena malam itu...
ia tahu bahwa mimpinya yang dulu pernah hilang kini mulai hidup kembali.
BAB XXXI
NAMA YANG TAK PERNAH HILANG DARI DOA
Malam itu langit Desa Sriwidadi dipenuhi awan tipis.
Angin dari arah sungai Kapuas bertiup lembut melewati pepohonan di sekitar rumah Riyadi .
Selepas salat Isya, Riyadi duduk sendirian di Kantor Desa.
Lampu kuning redup menerangi sajadah yang masih terbentang.
Suasana begitu tenang.
Namun justru dalam ketenangan itu...
hatinya terasa penuh oleh banyak hal.
Sudah beberapa minggu sejak ia kembali terhubung dengan Ari Yanti.
Dan semakin lama mereka berbicara...
semakin Riyadi sadar bahwa selama ini ada satu hal yang tidak pernah benar-benar hilang dari hidupnya.
Doa.
Dulu saat masih muda...
ia memang jarang mengungkapkan perasaan.
Terlalu banyak yang dipendam sendiri.
Namun ada satu kebiasaan yang tidak pernah berubah.
Diam-diam...
ia selalu menyebut nama Sinok dalam doanya.
Bukan doa cinta.
Bukan doa untuk memiliki.
Tetapi doa sederhana agar gadis itu selalu baik-baik saja.
Riyadi menatap sajadah cukup lama malam itu.
Lalu tersenyum kecil saat mengingat masa-masa dulu.
Saat pertama kali merantau ke Tangerang...
malam-malamnya terasa sangat berat.
Kesepian.
Rindu rumah.
Dan rindu seseorang yang bahkan tidak sempat ia pamiti.
Dalam keadaan seperti itu...
ia sering berdoa diam-diam setelah salat.
“Ya Allah... jaga Sinok baik-baik.”
Sesederhana itu.
Dan kebiasaan itu ternyata bertahan bertahun-tahun.
Di Jawa Tengah...
malam itu Ari Yanti juga belum tidur.
Ia duduk di ruang tengah sambil memeriksa tugas murid-muridnya.
Namun pikirannya justru melayang jauh.
Ke masa remaja.
Ke dojo karate.
Ke suara seseorang yang dulu selalu memarahinya kalau malas belajar.
Kakang.
Ponselnya berbunyi.
Pesan dari Riyadi masuk.
“Sinok lagi apa?”
“Lagi koreksi tugas.”
“Rajin.”
“Guru harus rajin.”
“Dulu Sinok paling susah disuruh belajar.”
Ari Yanti langsung tertawa kecil.
“Karena ada Kakang yang ngajarin.”
Beberapa detik kemudian balasan datang.
“Dan sekarang Sinok jadi guru.”
Kalimat itu membuat Ari Yanti diam cukup lama.
Karena tanpa sadar...
beberapa nasihat Riyadi di masa lalu memang masih terus ia ingat sampai sekarang.
Malam itu percakapan mereka berubah lebih tenang.
Lebih dewasa.
Tidak hanya tentang kenangan.
Tetapi juga tentang kehidupan.
Tentang rasa syukur.
Tentang kehilangan.
Dan tentang bagaimana waktu mengubah manusia.
“Kaang.”
“Iya?”
“Pernah gak sih selama kita hilang kontak... Kakang tiba-tiba inget aku?”
Riyadi tersenyum kecil.
“Sering.”
“Seberapa sering?”
“Kalau hujan.”
“Kenapa hujan?”
“Karena dulu Sinok sering kehujanan habis latihan.”
Ari Yanti langsung tertawa sambil mengusap matanya.
“Dan Kakang selalu ngomel.”
“Karena Sinok bandel.”
Beberapa detik mereka sama-sama diam.
Lalu Riyadi berkata pelan:
“Sebetulnya bukan cuma inget.”
“Terus?”
“Kakang juga sering doain Sinok.”
Jantung Ari Yanti langsung berdegup pelan.
“Doa?”
“Iya.”
“Doa apa?”
Riyadi menarik napas kecil sebelum menjawab.
“Supaya Sinok selalu bahagia.”
Air mata Ari Yanti langsung jatuh begitu saja.
Karena tidak pernah ia bayangkan...
di suatu tempat yang jauh...
ada seseorang yang diam-diam masih menyebut namanya dalam doa selama puluhan tahun.
“Kaang...” suaranya mulai bergetar.
“Hm?”
“Kenapa baik banget sama aku?”
Riyadi tersenyum kecil.
“Karena Sinok pernah jadi bagian penting hidup Kakang.”
Ari Yanti menunduk sambil menghapus air matanya.
Dadanya terasa hangat sekaligus sesak.
Karena semakin lama berbicara...
semakin ia sadar bahwa hubungan mereka memang jauh lebih dalam daripada sekadar teman masa kecil.
Malam semakin larut.
Namun percakapan itu justru semakin menyentuh.
“Sinok juga sering doa buat Kakang.”
Riyadi terdiam.
“Serius?”
“Iya.”
“Doanya apa?”
“Semoga Kakang sehat.”
“Cuma itu?”
“Dan semoga hidup Kakang bahagia.”
Riyadi memejamkan mata pelan.
Ada rasa damai yang sulit dijelaskan memenuhi hatinya malam itu.
Karena terkadang...
yang paling membuat seseorang merasa berarti bukanlah cinta besar.
Melainkan kenyataan bahwa namanya masih hidup dalam doa seseorang.
Di sela percakapan, Ari Yanti tiba-tiba berkata:
“Kakang tahu gak?”
“Hm?”
“Dulu waktu Kakang pergi tanpa pamit... aku sempat marah banget.”
“Iya.”
“Tapi setiap habis marah... aku malah nangis sambil doa semoga Kakang baik-baik aja.”
Riyadi menunduk pelan.
Dadanya terasa sesak oleh haru.
Tiga puluh dua tahun.
Dan ternyata selama itu...
mereka diam-diam masih saling menjaga lewat doa yang tidak pernah diketahui satu sama lain.
Di luar rumah, hujan kecil mulai turun perlahan.
Suara rintiknya terdengar lembut di sela percakapan mereka.
“Kaang.”
“Iya?”
“Menurut Kakang... kenapa kita bisa ketemu lagi?”
Riyadi tersenyum kecil.
Lalu menjawab pelan:
“Mungkin karena doa-doa lama akhirnya menemukan jalannya.”
Ari Yanti langsung menutup mulutnya sendiri menahan tangis.
Karena jawaban itu terasa begitu benar.
Sebelum tidur malam itu...
Ari Yanti membuka kembali buku kecil tempat ia biasa menulis.
Lalu perlahan ia menulis:
“Ada orang-orang yang mungkin tidak selalu hadir dalam hidup kita, tetapi namanya tidak pernah benar-benar hilang dari doa.”
Sementara di Sriwidadi...
Riyadi kembali duduk di Kantor Desa.
Ia menengadah pelan setelah selesai berdoa.
Dan malam itu...
untuk pertama kalinya setelah sekian lama...
hatinya terasa benar-benar tenang.
Karena nama yang selama ini diam-diam ia simpan dalam doa...
akhirnya kembali menjawab dari kejauhan.
BAB XXXII
PERTEMUAN YANG SEMAKIN DEKAT
Hari-hari di Desa Sriwidadi mulai berjalan lebih cepat bagi Riyadi .
Setiap pagi ia tetap menjalankan pekerjaannya seperti biasa di kantor desa.
Mengurus administrasi.
Membantu pelayanan masyarakat.
Mengelola website desa.
Dan menulis berbagai artikel kegiatan pemerintahan desa.
Namun kini ada sesuatu yang berbeda.
Semangatnya kembali hidup.
Karena setiap malam...
selalu ada seseorang yang menunggunya berbagi cerita dari Jawa Tengah.
Sinok.
Begitu pula dengan Ari Yanti.
Kesibukannya sebagai guru di MTs tetap berjalan seperti biasa.
Mengajar.
Menyusun nilai.
Mendampingi murid-murid.
Namun di sela-sela rutinitas itu...
senyumnya kini lebih sering terlihat.
Bahkan beberapa rekan guru mulai menyadari perubahan itu.
Suatu siang di ruang guru, Bu Santi sempat menggoda:
“Bu Yanti sekarang sering senyum sendiri ya.”
Ari Yanti langsung salah tingkah.
“Enggak ah.”
“Bohong.”
“Serius.”
Bu Santi tertawa kecil.
“Pasti ada yang spesial.”
Ari Yanti pura-pura sibuk membereskan buku.
Namun diam-diam pipinya mulai memerah.
Sementara di Kalimantan...
Riyadi juga mulai sering diledek teman-temannya di kantor desa.
Suatu sore Paijo datang sambil tertawa.
“Pak Kasi sekarang sering megang HP terus.”
Riyadi langsung tersenyum malu.
“Kerjaan.”
“Kerjaan apa namanya Sinok?”
Riyadi spontan tertawa keras.
“Kurang ajar.”
Meskipun mereka sama-sama mencoba terlihat biasa...
namun semua orang perlahan mulai menyadari bahwa ada kebahagiaan lama yang kembali hadir dalam hidup keduanya.
Dan di tengah semua itu...
rencana pertemuan mereka mulai terasa semakin nyata.
Awalnya hanya candaan.
Namun kini mulai dibicarakan serius.
Tentang waktu.
Tentang tempat.
Tentang bagaimana perasaan mereka nanti saat benar-benar bertatap muka setelah tiga puluh dua tahun.
Suatu malam saat video call...
Ari Yanti bertanya pelan:
“Kaang.”
“Iya?”
“Kalau nanti ketemu... Kakang bakal gimana?”
Riyadi tertawa kecil.
“Mungkin diam.”
“Kenapa?”
“Karena takut salah ngomong.”
“Lho katanya galak.”
“Kalau depan Sinok beda.”
Ari Yanti langsung tertawa sambil menunduk malu.
“Kalau Sinok?”
“Aku juga takut.”
“Takut apa?”
“Takut nangis.”
Jawaban itu membuat Riyadi mendadak diam.
Karena ia tahu...
itu sangat mungkin terjadi.
Percakapan mereka malam itu dipenuhi bayangan tentang pertemuan yang semakin dekat.
“Kalau ketemu pertama kali... Sinok mau ngapain?”
“Lihat dulu.”
“Lihat apa?”
“Masih Kakang yang dulu atau enggak.”
“Kalau ternyata udah jelek?”
“Hahaha...”
“Serius.”
“Yang penting senyumnya masih sama.”
Kalimat itu membuat Riyadi tersenyum cukup lama.
Karena ternyata...
beberapa hal memang tidak berubah dimakan usia.
Hari-hari berikutnya mereka mulai sering saling mengirim foto kegiatan sehari-hari.
Riyadi mengirim foto kantor desa.
Ari Yanti mengirim foto ruang kelasnya.
Kadang mereka saling mengirim foto makanan.
Kadang hanya foto langit sore.
Dan anehnya...
hal-hal sederhana itu terasa begitu berarti.
Suatu sore Ari Yanti mengirim foto jalan kecil di Tegorejo yang mulai menguning terkena cahaya matahari senja.
“Kakang masih ingat jalan ini?”
Riyadi langsung mengenali tempat itu.
Jalan yang dulu sering mereka lewati sepulang latihan karate.
Jalan tempat sepeda ontel mereka berjalan berjejer sambil penuh candaan.
“Masih.”
“Aku tadi lewat situ.”
“Sendirian?”
“Iya.”
“Sedih?”
Ari Yanti terdiam cukup lama sebelum menjawab:
“Enggak.”
“Terus?”
“Karena sekarang rasanya Kakang gak jauh lagi.”
Riyadi membaca pesan itu perlahan.
Dadanya terasa hangat.
Malam harinya...
mereka kembali berbicara lewat telepon.
Suara Ari Yanti terdengar lebih lembut dari biasanya.
“Kaang.”
“Hm?”
“Aku kadang masih gak percaya kita bisa ketemu lagi.”
“Kenapa?”
“Karena dulu aku pikir Kakang udah hilang.”
Riyadi tersenyum kecil pahit.
“Dan Kakang pikir Sinok juga lupa.”
“Mana mungkin.”
“Kenapa?”
“Karena beberapa orang gak bisa diganti.”
Kalimat itu membuat suasana mendadak hening.
Namun hening yang terasa sangat indah.
Di tengah percakapan itu...
Riyadi tiba-tiba berkata pelan:
“Sinok.”
“Iya?”
“Kalau nanti Kakang pulang ke Tegorejo...”
“Hm?”
“Temenin Kakang muter desa ya.”
Ari Yanti langsung tersenyum lebar.
“Naik apa?”
“Sepeda ontel.”
“Ya Allah Kaang.”
“Hahaha.”
“Aku udah tua.”
“Dulu juga bilang gitu.”
“Dan dulu aku yang boncengin.”
“Nanti gantian.”
Ari Yanti tertawa keras sampai matanya kembali berkaca-kaca.
Percakapan sederhana itu ternyata mampu menghidupkan kembali rasa yang sudah lama tertidur.
Bukan cinta masa remaja yang menggebu-gebu.
Melainkan rasa tenang karena akhirnya menemukan kembali seseorang yang benar-benar memahami dirinya.
Malam semakin larut.
Namun sebelum menutup telepon...
Ari Yanti berkata pelan:
“Kaang.”
“Iya?”
“Aku bersyukur kita dipertemukan lagi sebelum semuanya terlambat.”
Riyadi menatap langit malam dari teras rumahnya.
Lalu menjawab lirih:
“Mungkin Tuhan memang menunda pertemuan ini supaya kita lebih menghargainya.”
Dan malam itu...
jarak antara Kalimantan dan Jawa Tengah terasa semakin dekat.
Karena dua hati yang dulu terpisah kini perlahan berjalan menuju satu pertemuan yang sudah lama ditunggu.
BAB XXXIII
PELUKAN PERTAMA SETELAH 32 TAHUN
Hari itu akhirnya datang.
Hari yang selama berminggu-minggu hanya hidup dalam percakapan dan bayangan.
Hari ketika dua sahabat lama yang dipisahkan waktu selama tiga puluh dua tahun...
akhirnya benar-benar akan bertemu kembali.
Pagi di Desa Sriwidadi terasa berbeda bagi Riyadi .
Sejak subuh ia sudah terbangun.
Padahal semalaman hampir tidak bisa tidur.
Pikirannya terus dipenuhi banyak hal.
Tentang Tegorejo.
Tentang masa lalu.
Dan terutama...
tentang Sinok.
Di atas tempat tidur tergeletak tas kecil yang sudah disiapkan sejak malam sebelumnya.
Tidak banyak isi di dalamnya.
Hanya pakaian seperlunya.
Beberapa dokumen.
Dan satu benda yang sengaja ia bawa:
foto lama mereka saat Kapolres CUP.
Riyadi duduk di tepi tempat tidur sambil memandangi foto itu.
Senyumnya pelan muncul.
“Sinok...” gumamnya lirih.
Sementara di Jawa Tengah...
Ari Yanti juga mengalami hal yang sama.
Sejak pagi hatinya tidak tenang.
Ia beberapa kali membuka lemari.
Ganti baju.
Lalu ganti lagi.
Bahkan Sari sampai tertawa melihat tingkah kakaknya.
“Mbak ini kayak anak gadis mau ketemu pacar pertama.”
“Sariiiii...”
“Hahaha... iya kan?”
Ari Yanti langsung malu sendiri sambil memukul pelan lengan adiknya.
Namun jauh di dalam hati...
ia memang gugup.
Sangat gugup.
Bagaimana tidak?
Tiga puluh dua tahun bukan waktu yang sebentar.
Mereka terakhir bertemu saat masih remaja.
Saat dunia masih sederhana.
Saat rambut belum memutih.
Saat hidup belum penuh tanggung jawab.
Dan hari ini...
mereka akan bertemu lagi sebagai dua orang dewasa dengan kehidupan masing-masing.
Riyadi tiba di Jawa Tengah menjelang sore.
Perjalanan panjang itu terasa begitu emosional baginya.
Setiap jalan yang dilalui seperti membangunkan kenangan lama.
Sawah.
Pohon-pohon pinggir jalan.
Udara sore.
Semua terasa begitu familiar.
Mobil yang ditumpanginya perlahan memasuki kawasan Pegandon.
Jantung Riyadi mulai berdegup lebih cepat.
Tangannya dingin.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun...
ia merasa gugup seperti remaja SMA.
Ponselnya berbunyi.
Pesan dari Ari Yanti masuk.
“Kaang udah sampai mana?”
“Pegandon.”
Beberapa detik kemudian balasan datang.
“Aku deg-degan.”
Riyadi tersenyum kecil.
“Kakang juga.”
Mereka sepakat bertemu di sebuah tempat sederhana dekat jalan desa menuju Tegorejo.
Bukan restoran mewah.
Bukan tempat ramai.
Melainkan tempat yang dekat dengan kenangan mereka.
Sebuah warung kecil dekat persimpangan jalan lama.
Tempat yang dulu sering mereka lewati sepulang latihan karate.
Langit sore mulai berubah jingga ketika Riyadi turun dari mobil.
Angin berhembus pelan.
Suasana desa terasa tenang.
Dan beberapa meter di depan sana...
seorang perempuan berdiri sambil menggenggam tas kecil di tangannya.
Riyadi langsung berhenti melangkah.
Dadanya mendadak sesak.
Karena meskipun usia telah berubah banyak hal...
ia tetap mengenali sosok itu.
Sinok.
Ari Yanti juga mematung.
Matanya langsung berkaca-kaca.
Karena lelaki yang berdiri di depannya itu...
adalah sosok yang selama puluhan tahun hanya hidup dalam kenangan dan doa.
Kini benar-benar nyata.
Beberapa detik mereka hanya saling memandang.
Tak ada suara.
Tak ada kata.
Hanya mata yang sama-sama menahan air mata.
Riyadi tersenyum pelan lebih dulu.
“Sinok...”
Suara itu langsung membuat air mata Ari Yanti jatuh.
Karena nada suara itu...
masih sama seperti dulu.
Hangat.
Tenang.
Dan selalu membuatnya merasa aman.
“Kaang...”
Hanya satu kata itu yang mampu keluar dari bibirnya.
Namun cukup untuk membuat semua kenangan runtuh sekaligus.
Ari Yanti berjalan perlahan mendekat.
Begitu pula Riyadi.
Dan ketika jarak mereka tinggal beberapa langkah...
Ari Yanti tiba-tiba menangis sambil tertawa kecil.
“Ya Allah... akhirnya ketemu juga.”
Riyadi sendiri tidak mampu berkata apa-apa.
Matanya juga mulai basah.
Tanpa banyak kata...
Ari Yanti langsung memeluk Riyadi erat.
Pelukan pertama setelah tiga puluh dua tahun.
Pelukan yang dipenuhi rindu.
Dipenuhi kehilangan.
Dan dipenuhi rasa syukur karena akhirnya dipertemukan kembali.
Riyadi memejamkan mata pelan.
Tangannya membalas pelukan itu dengan sangat hati-hati.
Seolah takut momen itu hanya mimpi.
Orang-orang di sekitar warung sempat memperhatikan mereka.
Namun keduanya tak peduli.
Karena saat itu...
yang ada hanya dua sahabat lama yang akhirnya kembali menemukan satu sama lain.
Ari Yanti masih menangis kecil saat melepaskan pelukan.
“Kakang berubah.”
“Tambah tua ya?”
“Hahaha...”
“Sinok juga.”
“Jahat.”
Mereka sama-sama tertawa di sela air mata.
Langit senja di Tegorejo perlahan semakin jingga.
Dan di bawah cahaya sore itu...
mereka duduk berdampingan di bangku kayu depan warung kecil.
Masih seperti dulu.
Hanya usia yang berubah.
“Kaang masih ingat tempat ini?”
“Masih.”
“Dulu kita sering berhenti di sini.”
“Iya.”
“Dan Kakang selalu ngabisin gorengan aku.”
Riyadi tertawa keras.
“Karena Sinok makannya dikit.”
“Padahal Kakang rakus.”
Percakapan kecil itu terasa sangat hangat.
Seolah tidak ada jarak tiga puluh dua tahun di antara mereka.
Kadang mereka saling memandang lalu tertawa sendiri.
Kadang mendadak diam karena terlalu haru.
Kadang mata mereka kembali berkaca-kaca tanpa sebab.
“Kaang...”
“Hm?”
“Makasih udah pulang.”
Kalimat itu membuat Riyadi terdiam cukup lama.
Lalu perlahan ia menjawab:
“Kakang gak pernah benar-benar pergi, Sinok.”
Air mata Ari Yanti kembali jatuh.
Karena untuk pertama kalinya...
ia benar-benar merasa bahwa sahabat yang dulu hilang itu kini telah kembali.
Senja mulai turun perlahan.
Suara azan magrib terdengar dari kejauhan.
Dan sore itu...
di sebuah sudut kecil Desa Tegorejo...
dua hati yang pernah dipisahkan waktu akhirnya kembali dipertemukan oleh kenangan, doa, dan janji lama yang tidak pernah benar-benar hilang.
Janji tentang merpati yang selalu tahu jalan pulang.
BAB XXXIV
SEPEDA ONTEL DAN JALAN PULANG KENANGAN
Pagi di Desa Tegorejo datang dengan udara yang sejuk dan aroma tanah basah setelah hujan semalam.
Cahaya matahari perlahan menyelinap di sela pepohonan kelapa dan hamparan sawah yang mulai menguning.
Di rumah Ari Yanti ...
suasana pagi terasa berbeda.
Sudah lama sekali rumah itu dipenuhi tawa seperti sekarang.
Di ruang tamu sederhana...
Riyadi duduk bersama Suami Sinok sambil menikmati teh hangat dan pisang goreng.
Sementara Ari Yanti sibuk mondar-mandir dari dapur ke ruang tamu.
Kadang membawa makanan.
Kadang hanya ikut tertawa mendengar obrolan.
Dan sesekali...
diam-diam ia memperhatikan Riyadi dengan mata yang masih sulit percaya bahwa lelaki itu benar-benar sudah kembali.
Suami Sinok memandang Riyadi cukup lama sebelum akhirnya berkata pelan:
“Sampeyan ternyata masih sama.”
Riyadi tersenyum hormat.
“Masih takut dan menjaga pesan dari Bu Ros.”
Suami Sinok langsung tertawa kecil.
“Dulu ku dengar kamu paling sabar ngadepin Yanti.”
Ari Yanti spontan protes.
“Maaas...”
“Lha iya toh.”
Riyadi tertawa sambil menunduk malu.
Momen itu terasa sangat hangat.
Seolah waktu benar-benar mundur puluhan tahun.
Hanya rambut yang mulai memutih dan wajah yang mulai menua yang menjadi penanda bahwa hidup telah berjalan sangat jauh.
Setelah sarapan...
Ari Yanti tiba-tiba berkata:
“Kaang.”
“Hm?”
“Ayo muter desa.”
“Naik apa?”
Ari Yanti tersenyum jahil.
“Sepeda ontel.”
Riyadi langsung tertawa keras.
“Ya Allah... serius?”
“Serius.”
“Masih kuat?”
“Yang penting jangan aku lagi yang boncengin.”
Tak lama kemudian...
dua sepeda ontel tua akhirnya keluar dari gudang belakang rumah.
Satu milik tetangga.
Satu lagi milik Ari Yanti.
Meski sudah tua...
sepeda-sepeda itu masih layak dipakai.
Dan justru itulah yang membuat kenangan terasa semakin hidup.
Warga sekitar mulai memperhatikan saat mereka keluar dari halaman rumah.
Beberapa orang tersenyum heran.
Karena dua orang yang usianya hampir setengah abad itu terlihat tertawa-tawa seperti remaja SMP.
“Kaang jangan ngebut.”
“Sinok aja yang jangan jatuh.”
“Enak aja.”
Akhirnya mereka mulai mengayuh perlahan menyusuri jalan Desa Tegorejo.
Dan seketika...
semua kenangan seperti kembali hidup.
Sawah-sawah di kanan kiri jalan masih membentang luas.
Angin pagi bertiup lembut.
Suara burung terdengar bersahutan.
Dan di atas sepeda ontel tua itu...
dua sahabat lama kembali menjadi remaja untuk sesaat.
“Kakang masih hafal jalan-jalan sini?”
“Masih.”
“Bohong.”
“Serius.”
“Coba rumah Aziz sebelah mana?”
Riyadi langsung menunjuk.
“Itu gangnya.”
Ari Yanti langsung tertawa kagum.
“Ya Allah masih hafal.”
“Karena dulu sering dianterin Sinok lewat sini.”
Mereka terus mengayuh perlahan sambil bercerita.
Tentang teman-teman lama.
Tentang dojo karate.
Tentang kejadian-kejadian lucu yang dulu terasa biasa namun kini sangat berharga.
Saat melewati jalan kecil dekat sungai...
Ari Yanti tiba-tiba tertawa sendiri.
“Kaang ingat gak dulu pernah jatuh di sini?”
Riyadi langsung malu sendiri.
“Jangan dibahas.”
“Hahaha... dulu gara-gara lihat aku malah nabrak batu.”
“Karena Sinok ganggu.”
“Enggak.”
“Ganggu.”
“Enggak.”
Mereka berdebat kecil sambil tertawa seperti anak SMP.
Di satu tikungan jalan...
Riyadi mendadak memperlambat sepeda.
Matanya memandang sebuah pohon besar di pinggir sawah.
Lalu tersenyum kecil.
“Sinok.”
“Hm?”
“Dulu kita pernah neduh di situ.”
Ari Yanti langsung diam.
Ia juga ingat.
Hari itu hujan deras turun sepulang latihan karate.
Mereka berteduh cukup lama di bawah pohon itu sambil menggigil kedinginan.
Dan saat itulah untuk pertama kalinya...
Ari Yanti merasa sangat nyaman berada dekat Riyadi.
Kini...
puluhan tahun kemudian...
mereka kembali berhenti di tempat yang sama.
Sepeda diletakkan di pinggir jalan.
Lalu keduanya duduk di bawah pohon besar itu sambil memandang sawah.
Angin bertiup pelan.
Daun-daun bergoyang lembut.
Dan suasana terasa sangat tenang.
“Cepat ya waktu.”
“Iya.”
“Dulu kita masih bocah.”
“Sekarang?”
“Masih bocah. Tapi tua.”
Ari Yanti langsung tertawa keras.
Beberapa saat mereka hanya diam menikmati suasana.
Namun diam itu terasa nyaman.
Tidak canggung.
Tidak kosong.
Karena sejak dulu...
mereka memang selalu bisa saling mengerti tanpa banyak kata.
“Kaang.”
“Iya?”
“Kalau dulu kita gak kehilangan kontak... menurut Kakang hidup bakal beda gak?”
Pertanyaan itu membuat Riyadi berpikir cukup lama.
Lalu ia tersenyum kecil.
“Mungkin beda.”
“Lebih baik?”
“Belum tentu.”
“Kenapa?”
“Karena mungkin justru kehilangan ini yang bikin kita ngerti arti pertemuan.”
Ari Yanti memandang Riyadi cukup lama.
Lalu perlahan tersenyum sambil menahan air mata.
Di tengah angin pagi Desa Tegorejo...
mereka akhirnya sadar bahwa perjalanan hidup tidak selalu harus berjalan sesuai keinginan.
Kadang Tuhan memang membiarkan seseorang pergi sangat jauh...
agar saat dipertemukan kembali, keduanya lebih menghargai arti hadir satu sama lain.
Tak terasa matahari mulai meninggi.
Mereka kembali menaiki sepeda ontel dan melanjutkan perjalanan.
Dan sepanjang jalan...
tawa mereka terus terdengar.
Seolah waktu benar-benar kembali ke masa remaja.
Saat melewati lapangan tempat latihan karate dulu...
Ari Yanti tiba-tiba berdiri di pedal sepeda sambil berteriak:
“Kaanggg... Merpati tak pernah ingkar janji!”
Riyadi langsung tertawa keras sambil menggelengkan kepala.
“Sinok masih sama aja.”
“Dan Kakang akhirnya pulang!”
Kalimat itu membuat Riyadi mendadak diam beberapa detik.
Lalu tersenyum hangat.
Karena hari itu...
ia benar-benar merasa telah menemukan jalan pulangnya kembali.
Bukan hanya ke Desa Tegorejo.
Tetapi juga ke bagian hati yang selama ini terasa kosong.
BAB XXXV
MALAM TERAKHIR DI TEGOREJO
Langit Desa Tegorejo malam itu tampak sangat cerah.
Bintang-bintang bertaburan di atas hamparan sawah yang gelap dan tenang.
Angin malam berembus pelan membawa aroma tanah dan suara jangkrik yang bersahutan dari kejauhan.
Namun di balik suasana damai itu...
ada satu perasaan yang perlahan tumbuh di hati Riyadi dan Ari Yanti.
Perasaan bahwa waktu mereka kembali hampir habis.
Besok pagi...
Riyadi harus kembali ke Kalimantan.
Kembali ke Desa Sriwidadi.
Kembali pada kehidupan yang selama ini dijalaninya.
Dan kenyataan itu membuat malam terakhir di Tegorejo terasa jauh lebih sunyi dibanding malam-malam sebelumnya.
Di rumah Sinok...
suasana masih hangat.
Sari, beberapa saudara, dan tetangga dekat masih berkumpul sambil berbincang santai.
Sesekali terdengar tawa kecil.
Namun di sela-sela semua itu...
mata Ari Yanti beberapa kali diam-diam memandang Riyadi.
Seolah ingin memastikan bahwa semua ini benar-benar nyata.
Riyadi sendiri duduk sambil tersenyum kecil mendengarkan cerita-cerita lama.
Tentang masa kecil.
Tentang karate.
Tentang tingkah konyol mereka dulu.
Namun semakin malam...
dadanya justru semakin berat.
Karena ia tahu...
pertemuan sehangat ini tidak mudah diulang kembali.
Sari akhirnya berkata pelan:
“Alhamdulillah kalian akhirnya bisa ketemu lagi.”
“Iya Sariii.”
“Dulu Yanti sedih banget waktu kamu pergi.”
Ari Yanti langsung malu sendiri.
“Sariii...”
“Lha iya toh.”
Riyadi menunduk pelan.
Ada rasa bersalah yang kembali muncul di hatinya.
Setelah obrolan keluarga mulai selesai...
Ari Yanti mengajak Riyadi keluar rumah.
“Kaang... jalan sebentar yuk.”
“Boleh.”
Mereka berjalan perlahan melewati jalan kecil depan rumah.
Malam terasa sangat tenang.
Lampu-lampu rumah warga tampak redup dari kejauhan.
Dan langkah mereka berjalan pelan tanpa tujuan pasti.
Untuk beberapa menit...
tak ada yang bicara.
Hanya suara sandal dan angin malam yang menemani.
Akhirnya Ari Yanti membuka suara lebih dulu.
“Cepat banget ya waktunya.”
“Iya.”
“Baru kemarin rasanya ketemu.”
Riyadi tersenyum kecil.
“Karena nyaman.”
Ari Yanti menunduk malu sambil tersenyum tipis.
Mereka akhirnya berhenti di dekat jembatan kecil yang dulu sering mereka lewati sepulang latihan karate.
Air sungai kecil di bawahnya masih mengalir pelan seperti dulu.
Dan anehnya...
tempat itu masih terasa sama meski puluhan tahun telah berlalu.
“Kaang masih ingat tempat ini?”
“Masih.”
“Dulu aku pernah ngambek di sini.”
“Karena Kakang lupa bawain es.”
“Hahaha... iya.”
Mereka tertawa kecil bersama.
Namun tawa itu perlahan berubah menjadi hening yang penuh rasa haru.
Ari Yanti memandang air sungai cukup lama.
Lalu berkata lirih:
“Kaang.”
“Iya?”
“Makasih ya.”
“Buat apa?”
“Karena udah datang.”
Riyadi memandang wajah Ari Yanti pelan.
Di bawah cahaya bulan yang samar...
ia masih bisa melihat gadis remaja manja yang dulu sering merengek padanya.
Hanya usia yang berubah.
“Kakang juga makasih.”
“Kenapa?”
“Karena Sinok masih mau inget sama Kakang.”
Ari Yanti tersenyum kecil.
“Mana mungkin lupa.”
Angin malam berembus lebih dingin.
Dan tanpa sadar...
mata Ari Yanti mulai berkaca-kaca lagi.
“Kaang.”
“Hm?”
“Nanti kalau pulang... jangan hilang lagi ya.”
Kalimat itu membuat hati Riyadi terasa sesak.
Karena ia tahu...
dulu ia pernah meninggalkan luka besar dengan pergi tanpa pamit.
Riyadi lalu berkata pelan:
“Sekarang Kakang tahu jalan pulangnya.”
Air mata Ari Yanti jatuh perlahan mendengar jawaban itu.
Malam semakin larut.
Namun mereka masih duduk di jembatan kecil itu cukup lama.
Berbicara tentang banyak hal.
Tentang anak-anak.
Tentang keluarga.
Tentang hidup yang ternyata berjalan sangat cepat.
Dan di tengah percakapan itu...
mereka akhirnya benar-benar menerima satu kenyataan:
mereka mungkin tidak bisa kembali menjadi remaja.
Tetapi kenangan mereka akan selalu hidup.
“Kaang.”
“Iya?”
“Kalau nanti kita tua banget...”
“Kita sekarang juga udah tua.”
“Hahaha... maksudku lebih tua lagi.”
“Oke.”
“Jangan lupa sama aku ya.”
Riyadi langsung tersenyum hangat.
Lalu menjawab pelan:
“Sinok itu bagian dari hidup Kakang. Mana mungkin lupa.”
Ari Yanti langsung menutup wajahnya sambil menangis kecil.
Tak lama kemudian...
Riyadi perlahan mengambil sesuatu dari tas kecilnya.
Sebuah foto lama.
Foto Kapolres CUP yang dulu selalu ia simpan.
“Ini buat Sinok.”
Ari Yanti menerimanya dengan tangan gemetar.
Matanya langsung basah melihat foto itu.
“Kaang masih nyimpan ini?”
“Iya.”
“Selama tiga puluh dua tahun?”
“Iya.”
Ari Yanti tak mampu berkata apa-apa lagi.
Ia hanya memeluk foto itu erat sambil menangis pelan.
Malam terakhir di Tegorejo itu akhirnya menjadi malam yang penuh haru.
Malam ketika dua sahabat lama saling menyadari bahwa waktu memang bisa memisahkan manusia...
tetapi tidak selalu mampu menghapus rasa sayang dan ketulusan.
Sebelum pulang ke rumah...
mereka berdiri cukup lama di bawah langit malam Desa Tegorejo.
Dan di sana...
di tempat sederhana yang dipenuhi kenangan itu...
Ari Yanti perlahan berkata:
“Merpati akhirnya pulang ya, Kaang.”
Riyadi memandang langit sebentar.
Lalu tersenyum hangat.
“Dan kali ini... merpati gak akan kehilangan arah lagi.”
BAB XXXVI
PERPISAHAN KEDUA YANG TAK LAGI MENYAKITKAN
Pagi itu Desa Tegorejo masih diselimuti embun tipis.
Udara terasa dingin.
Langit pucat perlahan berubah jingga oleh cahaya matahari yang mulai muncul dari balik pepohonan.
Namun bagi Ari Yanti ...
pagi itu terasa jauh lebih berat dibanding biasanya.
Karena pagi ini...
Riyadi harus kembali ke Kalimantan.
Di dapur rumah Sinok...
suara wajan dan aroma teh hangat memenuhi ruangan.
Ari Yanti sibuk membantu ibunya menyiapkan sarapan.
Namun sejak tadi ia lebih banyak diam.
Sesekali hanya menarik napas panjang sambil mencoba terlihat biasa.
Suami Sinok yang memperhatikan Istinya akhirnya tersenyum kecil.
“Jangan sedih begitu.”
“Aku biasa aja kok Mas.”
“Biasa aja katanya.”
Ari Yanti hanya tersenyum tipis.
Namun matanya sudah mulai memerah sejak pagi.
Sementara di ruang tamu...
Riyadi duduk sambil memandangi halaman rumah.
Rumah itu masih terasa sangat familiar baginya.
Tempat di mana dulu ia sering datang membawa sepeda ontel.
Tempat di mana Sinok sering mengeluh tentang sekolah, tentang Nur, tentang ibunya, dan tentang banyak hal kecil lain yang kini justru terasa sangat berharga.
Suara langkah kaki membuat Riyadi menoleh.
Ari Yanti datang membawa secangkir teh hangat.
“Ini Kaang.”
“Makasih.”
Mereka saling memandang beberapa detik.
Lalu sama-sama tersenyum kecil.
Senyum yang menyimpan rasa berat untuk berpisah lagi.
Namun kali ini berbeda.
Tiga puluh dua tahun lalu...
perpisahan mereka dipenuhi kehilangan dan tanda tanya.
Kini...
mereka sudah saling menemukan kembali.
Dan itu membuat semuanya terasa lebih tenang.
Setelah sarapan selesai...
waktu keberangkatan akhirnya semakin dekat.
Tas Riyadi sudah siap di ruang tamu.
Mobil jemputan juga sebentar lagi datang.
Dan suasana rumah perlahan berubah menjadi sunyi.
Sari mencoba mencairkan suasana.
“Kak Riyadi jangan lupa kalau nanti balik lagi aku minta oleh-oleh.”
Riyadi tertawa kecil.
“Siap.”
“Yang banyak.”
“Rakus.”
Sari langsung tertawa keras.
Namun bahkan candaan itu tak mampu sepenuhnya menghilangkan rasa haru di rumah pagi itu.
Beberapa menit kemudian...
mobil akhirnya datang.
Dan detik itu terasa begitu cepat bagi Ari Yanti.
Riyadi berdiri sambil meraih tasnya perlahan.
Lalu menyalami Suami Sinok dengan penuh hormat.
“Maturnuwun Mas.”
Suami Sinok mengangguk pelan.
“Hati-hati di jalan.”
“Iya mas.”
“Jangan hilang lagi.”
Kalimat itu membuat semua orang tersenyum kecil sekaligus haru.
Lalu pandangan Riyadi beralih pada Ari Yanti.
Dan mendadak suasana terasa sunyi.
Ari Yanti mencoba tersenyum.
Namun matanya mulai berkaca-kaca lagi.
“Kaang...”
“Iya?”
“Hati-hati.”
“Iya.”
“Kalau sampai lupa kabar...”
“Enggak akan.”
“Janji?”
Riyadi tersenyum hangat.
“Merpati Tak pernah ingkar janji.”
Mata Ari Yanti langsung basah mendengar kalimat itu.
Mereka berjalan keluar rumah bersama.
Angin pagi bertiup pelan.
Suara burung terdengar dari kejauhan.
Dan langkah mereka terasa begitu berat meski sama-sama berusaha terlihat kuat.
Di dekat mobil...
mereka akhirnya berhenti.
Untuk beberapa detik hanya saling diam.
Seolah masih belum rela mengakhiri pertemuan itu.
Ari Yanti akhirnya berkata lirih:
“Kaang.”
“Hm?”
“Terima kasih udah datang dan bikin semua kenangan ini hidup lagi.”
Riyadi memandangnya dalam-dalam.
Lalu menjawab pelan:
“Terima kasih juga karena Sinok masih nyimpen tempat buat Kakang di hati.”
Air mata Ari Yanti jatuh lagi.
Namun kali ini...
senyumnya tetap ada.
Tanpa banyak kata...
mereka kembali berpelukan.
Pelukan hangat yang jauh lebih tenang dibanding pertemuan pertama kemarin.
Tidak lagi dipenuhi kepanikan kehilangan.
Tetapi dipenuhi rasa syukur.
Karena sekarang mereka tahu...
jarak tidak lagi mampu memisahkan hati mereka seperti dulu.
“Kaang jangan lupa makan.”
“Iya Bu Guru.”
“Dan jangan begadang terus.”
“Hahaha siap.”
“Serius.”
“Iya Sinok.”
Mereka tertawa kecil di sela air mata.
Dan justru itulah yang membuat perpisahan kali ini terasa indah.
Riyadi akhirnya masuk ke dalam mobil.
Namun sebelum pintu tertutup...
ia memandang Ari Yanti sekali lagi.
Perempuan itu berdiri di depan rumah sambil tersenyum dengan mata basah.
Masih seperti Sinok yang dulu.
Mobil perlahan bergerak meninggalkan halaman rumah.
Ari Yanti tetap berdiri memandang sampai kendaraan itu semakin jauh.
Namun kali ini...
ia tidak merasa kehilangan seperti dulu.
Karena sekarang ia tahu:
Kakang tidak pergi untuk menghilang.
Ia hanya kembali menjalani hidupnya.
Dan mereka kini sudah saling menemukan jalan pulang masing-masing.
Di dalam mobil...
Riyadi membuka ponselnya.
Sebuah pesan masuk dari Ari Ynati.
“Kaang.”
“Iya?”
“Aku gak sedih lagi.”
Riyadi tersenyum kecil.
“Kenapa?”
“Karena sekarang aku tahu merpati selalu pulang.”
Mata Riyadi terasa hangat membaca pesan itu.
Lalu ia membalas perlahan:
“Dan sekarang merpati tahu di mana rumahnya.”
Mobil terus melaju meninggalkan Desa Tegorejo.
Sawah-sawah perlahan menjauh.
Jalan kecil penuh kenangan mulai hilang dari pandangan.
Namun kali ini...
tidak ada lagi rasa kosong seperti tiga puluh dua tahun lalu.
Karena perpisahan kedua mereka bukanlah akhir.
Melainkan awal dari persahabatan yang akhirnya kembali utuh.
BAB XXXVII
JEJAK YANG TINGGAL DI HATI
Perjalanan menuju Kalimantan terasa jauh lebih ringan bagi Riyadi .
Di dalam pesawat yang membelah langit pagi...
ia duduk dekat jendela sambil memandang awan putih yang berarak perlahan.
Ponselnya masih menggenggam erat satu foto terbaru.
Foto dirinya bersama Ari Yanti di bawah pohon besar dekat sawah Desa Tegorejo.
Foto sederhana.
Namun bagi Riyadi...
foto itu terasa jauh lebih berharga dibanding apa pun.
Sesekali ia tersenyum sendiri mengingat kejadian-kejadian kecil selama beberapa hari terakhir.
Tentang sepeda ontel.
Tentang tawa Bu Ros.
Tentang Sari yang tak berhenti menggoda mereka.
Dan terutama...
tentang mata Sinok yang masih sama seperti dulu.
Pramugari sempat lewat sambil tersenyum melihat Riyadi yang terus memandangi layar ponselnya.
Namun Riyadi bahkan tidak sadar.
Pikirannya masih tertinggal di Desa Tegorejo.
Sementara itu di Jawa Tengah...
Ari Yanti kembali menjalani rutinitasnya sebagai guru.
Pagi itu ia sudah berdiri di depan kelas seperti biasa.
Murid-murid memperhatikan saat ia menjelaskan pelajaran.
Namun ada yang berbeda.
Senyumnya lebih hangat.
Tatapannya lebih hidup.
Dan entah kenapa...
hatinya terasa jauh lebih ringan.
Di sela pelajaran...
salah satu muridnya tiba-tiba bertanya:
“Bu Yanti lagi bahagia ya?”
Ari Yanti langsung tersenyum malu.
“Kenapa bilang begitu?”
“Soalnya Ibu dari tadi senyum terus.”
Satu kelas langsung tertawa kecil.
Ari Yanti ikut tertawa sambil menggeleng pelan.
Padahal dalam hatinya...
ia memang sedang bahagia.
Bukan karena cinta remaja yang kembali bersemi.
Tetapi karena akhirnya menemukan kembali bagian hidupnya yang dulu sempat hilang.
Sepulang mengajar...
Ari Yanti duduk sendirian di ruang tamu rumah.
Di depannya terletak foto lama dan foto baru yang kini berdampingan.
Yang satu memperlihatkan dua remaja karate penuh mimpi.
Yang satu lagi memperlihatkan dua orang dewasa yang akhirnya dipertemukan kembali oleh waktu.
Dan saat memandangi dua foto itu...
Ari Yanti perlahan tersenyum sambil berbisik:
“Kita ternyata benar-benar tumbuh bersama ya, Kaang.”
Hari-hari setelah pertemuan itu terasa berbeda bagi keduanya.
Mereka tetap menjalani hidup masing-masing.
Tetap bekerja.
Tetap sibuk.
Namun kini tidak ada lagi ruang kosong yang dulu selalu terasa.
Karena mereka tahu...
di tempat yang jauh, ada seseorang yang masih mengingat dan peduli.
Malam-malam mereka kembali dipenuhi percakapan panjang.
Kadang serius.
Kadang lucu.
Kadang hanya saling mengirim foto langit malam.
Namun semua itu terasa sangat berarti.
Suatu malam...
Riyadi mengirim foto sungai Kapuas dari depan rumahnya.
“Sinok.”
“Iya?”
“Kalau lihat sungai begini Kakang jadi inget Tegorejo.”
“Kenapa?”
“Karena dulu kita sering duduk dekat jembatan.”
Ari Yanti tersenyum kecil membaca pesan itu.
Lalu ia membalas dengan foto jalan kecil dekat sawah di Tegorejo.
“Kalau aku lihat jalan ini... aku inget suara sepeda ontel Kakang.”
Riyadi langsung tertawa kecil sendirian.
Meskipun dipisahkan pulau dan ribuan kilometer...
mereka kini menemukan cara sederhana untuk tetap hadir dalam kehidupan satu sama lain.
Di kantor desa Sriwidadi...
Riyadi mulai semakin serius menyusun Romannya.
Malam demi malam ia menulis dengan penuh semangat.
Bukan lagi sekadar untuk mengenang.
Tetapi untuk mengabadikan perjalanan hidup mereka.
Paijo yang sering melihat Riyadi begadang akhirnya berkata:
“Pak Kasi sekarang tambah semangat nulis.”
Riyadi tersenyum kecil.
“Karena ceritanya akhirnya lengkap.”
“Karena Bu Yanti?”
Riyadi hanya tertawa pelan tanpa membantah.
Di Jawa Tengah...
Ari Yanti juga mulai membaca draft demi draft novel itu.
Kadang ia mengoreksi bagian kecil.
Kadang tertawa karena merasa dirinya terlalu manja di dalam cerita.
Kadang menangis saat membaca bagian perpisahan mereka dulu.
Suatu malam ia menelepon Riyadi sambil tertawa.
“Kaang.”
“Hm?”
“Kenapa aku di novel dan Roman cerewet banget?”
“Karena memang begitu.”
“Jahat.”
“Hahaha.”
“Tapi...”
“Tapi apa?”
“Terima kasih udah nulis semua kenangan ini.”
Riyadi terdiam cukup lama.
Lalu menjawab pelan:
“Karena beberapa jejak terlalu indah untuk hilang.”
Malam itu...
untuk pertama kalinya mereka mulai sadar bahwa kisah mereka ternyata bukan hanya milik mereka sendiri.
Tetapi juga menjadi pelajaran tentang persahabatan, kesetiaan, dan waktu.
Tentang bagaimana seseorang bisa pergi sangat jauh...
namun tetap tinggal di hati.
Tentang bagaimana kenangan tidak selalu harus dilupakan agar hidup bisa berjalan.
Dan tentang bagaimana sebuah janji sederhana ternyata mampu bertahan lebih lama dari usia muda itu sendiri.
Sebelum tidur...
Ari Yanti membuka kembali foto pertemuan mereka di Tegorejo.
Lalu perlahan menulis satu kalimat di bawahnya:
“Beberapa orang mungkin hanya singgah dalam hidup kita. Tetapi ada juga yang meninggalkan jejak abadi di hati.”
Sementara di Kalimantan...
Riyadi kembali menatap layar laptopnya.
Di halaman terakhir draft Romannya malam itu ia menulis:
“Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang siapa yang paling lama tinggal bersama kita, melainkan siapa yang tetap hidup dalam hati meski dipisahkan waktu.”
Dan malam itu...
dua hati yang pernah kehilangan kini sama-sama tersenyum dalam diam.
Karena mereka tahu:
jejak itu akan tinggal selamanya.
BAB XXXVIII
KETIKA ROMAN ITU MENJADI NYATA
Malam di Desa Sriwidadi kembali dipenuhi cahaya layar laptop.
Jam dinding sudah menunjukkan pukul sebelas lewat tiga puluh menit.
Sebagian besar warga desa sudah tertidur.
Namun di ruang kerja kecilnya...
Riyadi masih duduk serius di depan meja.
Jari-jarinya terus mengetik tanpa berhenti.
Kadang tersenyum sendiri.
Kadang matanya berkaca-kaca.
Kadang menarik napas panjang saat kenangan lama kembali muncul satu demi satu.
Draft Roman Merpati Tak Pernah Ingkar Janji kini mulai mendekati bagian akhir.
Dan semakin banyak halaman yang selesai ditulis...
semakin Riyadi merasa bahwa kisah itu bukan lagi sekadar cerita.
Tetapi perjalanan hidup yang benar-benar nyata.
Di layar laptop...
terpampang sebuah bab tentang pertemuannya kembali dengan Ari Yanti di Tegorejo.
Tentang pelukan pertama setelah tiga puluh dua tahun.
Tentang sepeda ontel.
Tentang pohon besar di pinggir sawah.
Dan tentang air mata yang akhirnya menemukan tempat pulang.
Riyadi berhenti mengetik sesaat.
Lalu memandang foto dirinya bersama Ari Yanti yang kini sengaja dipasang di samping laptop.
Ia tersenyum kecil.
“Siapa sangka semua ini benar-benar terjadi...” gumamnya pelan.
Beberapa bulan lalu...
semua itu terasa mustahil.
Ari Yanti hanyalah nama dalam kenangan.
Seseorang yang ia cari diam-diam melalui novel dan media sosial.
Seseorang yang bahkan ia tidak tahu masih mengingatnya atau tidak.
Namun kini...
mereka kembali hadir dalam hidup masing-masing.
Dan semuanya terasa seperti kisah dalam novel.
Ponselnya berbunyi pelan.
Pesan WhatsApp dari Ari Yanti masuk.
“Kakang belum tidur?”
“Belum.”
“Nulis lagi?”
“Iya.”
“Jangan dipaksa.”
Riyadi tersenyum kecil.
“Lagi semangat.”
“Karena?”
“Karena tokoh utamanya udah muncul lagi.”
Ari Yanti langsung tertawa membaca balasan itu.
Di Jawa Tengah...
Ari Yanti sedang duduk di ruang tengah sambil membaca draft terbaru yang dikirim Riyadi.
Di sampingnya ada secangkir teh hangat yang mulai dingin.
Namun sejak tadi ia terlalu larut membaca hingga lupa meminumnya.
Beberapa kali ia tertawa sendiri.
Beberapa kali pula ia diam sambil mengusap air mata.
Karena isi Roman itu terasa begitu hidup.
Begitu nyata.
Bahkan kadang lebih nyata daripada ingatannya sendiri.
Ia berhenti di satu bagian.
Bagian ketika Riyadi tertinggal di Asrama Haji Semarang.
Ari Yanti langsung tertawa keras sendirian.
“Ya Allah... Kakang masih inget itu.”
Tak lama kemudian ia langsung menelepon.
Begitu sambungan tersambung...
suara tawanya langsung terdengar.
“Kaanggg...”
“Hahaha kenapa?”
“Masih tega nulis soal Asrama Haji.”
“Itu sejarah.”
“Kasihan banget Kakang dulu.”
“Yang ninggalin siapa?”
“Kan aku gak sengaja.”
“Halah.”
Ari Yanti tertawa sampai matanya berair.
Percakapan mereka malam itu terasa sangat hangat.
Dan semakin mereka membicarakan Roman itu...
semakin keduanya sadar bahwa kisah mereka memang terlalu unik untuk dilupakan begitu saja.
“Kaang.”
“Iya?”
“Kadang aku masih gak percaya semua ini nyata.”
“Kenapa?”
“Karena rasanya kayak lagi baca cerita orang lain.”
Riyadi tersenyum kecil.
“Padahal kita pelakunya.”
“Iya.”
“Dan Sinok tokoh paling cerewet.”
“Kakanggg...”
Mereka kembali tertawa bersama.
Namun di balik tawa itu...
ada rasa haru yang perlahan tumbuh.
Karena Novel itu kini bukan hanya milik Riyadi.
Tetapi juga milik Ari Yanti.
Milik kenangan mereka.
Milik perjalanan hidup yang telah dipisahkan dan dipertemukan kembali oleh waktu.
Hari demi hari...
novel itu mulai dikenal lebih luas.
Orang-orang mulai membaca dan membagikannya.
Beberapa teman lama karate bahkan mulai menghubungi mereka kembali.
Aziz.
Agus .
Farida.
Dan beberapa nama lain yang dulu pernah mengisi masa remaja mereka.
Suatu malam sebuah pesan masuk dari Aziz.
“Kalian ternyata masih kayak dulu.”
Riyadi langsung tertawa sambil menunjukkan pesan itu kepada Ari Yanti lewat screenshot.
Ari Yanti membalas cepat:
“Aziz masih suka ngeledek ternyata.”
Tak lama kemudian grup WhatsApp kecil teman-teman karate lama pun terbentuk.
Dan malam-malam mereka kembali dipenuhi candaan masa remaja.
Tentang dojo.
Tentang sparing.
Tentang gosip-gosip lucu zaman SMP.
Dan tentu saja...
tentang Sinok dan Kakang yang dulu selalu jadi bahan ledekan.
“Kaang.”
“Hm?”
“Ternyata semua orang udah curiga dari dulu.”
“Hahaha...”
“Lucu ya.”
“Iya.”
“Padahal kita aja bingung hubungan kita apa.”
Riyadi tersenyum kecil.
“Kadang hati ngerti duluan sebelum kita sadar.”
Kalimat itu membuat Ari Yanti mendadak diam cukup lama.
Lalu perlahan tersenyum dengan mata berkaca-kaca.
Malam semakin larut.
Namun mereka belum ingin tidur.
Karena setiap percakapan kini terasa sangat berharga.
Di tengah obrolan...
Ari Yanti tiba-tiba berkata pelan:
“Kaang.”
“Iya?”
“Terima kasih ya.”
“Buat apa lagi?”
“Karena novel ini bikin aku sadar... ternyata kenangan kita seindah itu.”
Riyadi memandang layar ponselnya lama sekali.
Lalu menjawab lirih:
“Karena beberapa cerita memang ditakdirkan untuk hidup lebih lama daripada waktunya.”
Malam itu...
novel mereka tidak lagi sekadar tulisan di layar laptop.
Ia telah berubah menjadi jembatan.
Menjadi saksi.
Menjadi rumah bagi semua kenangan yang dulu hampir hilang.
Dan untuk pertama kalinya...
Riyadi dan Ari Yanti benar-benar memahami satu hal:
kadang sebuah cerita ditulis bukan hanya untuk dibaca.
Tetapi untuk mempertemukan kembali hati yang pernah terpisah.
BAB XXXIX
SAHABAT YANG TAK PERNAH SELESAI
Hujan turun perlahan di Desa Sriwidadi malam itu.
Rintik-rintiknya mengetuk atap rumah dengan suara lembut yang menenangkan.
Di ruang kerjanya yang sederhana...
Riyadi duduk sambil memandangi layar laptop yang masih menyala.
Draft Roman Epik Merpati Tak Pernah Ingkar Janji kini hampir selesai seluruhnya.
Namun anehnya...
semakin mendekati akhir, hatinya justru semakin berat.
Karena ia sadar...
kisah tentang dirinya dan Ari Yanti sebenarnya belum selesai.
Dan mungkin...
tidak akan pernah benar-benar selesai.
Ponselnya berbunyi.
Video call dari Ari Yanti masuk.
Begitu wajah itu muncul di layar...
Riyadi langsung tersenyum kecil.
“Belum tidur?”
“Belum.”
“Kenapa?”
“Lagi hujan.”
“Terus?”
“Kalau hujan jadi inget Kakang.”
Riyadi tertawa pelan.
“Dulu juga begitu.”
“Iya.”
Ari Yanti tampak duduk di ruang tengah rumahnya sambil memeluk bantal kecil.
Rambutnya sedikit berantakan.
Namun wajahnya terlihat damai.
Seperti seseorang yang akhirnya menemukan kembali bagian hidupnya yang hilang.
“Kaang.”
“Hm?”
“Romannya hampir selesai ya?”
“Iya.”
“Sedih gak?”
“Sedih.”
“Kenapa?”
“Karena takut ceritanya selesai.”
Ari Yanti tersenyum kecil mendengar jawaban itu.
Lalu berkata pelan:
“Kalau persahabatan kita?”
Riyadi menatap layar cukup lama sebelum menjawab:
“Itu gak akan selesai.”
Kalimat itu membuat Ari Yanti diam.
Matanya perlahan kembali berkaca-kaca.
Karena jauh di dalam hati...
ia juga merasakan hal yang sama.
Tiga puluh dua tahun lalu...
mereka pernah kehilangan satu sama lain tanpa kabar.
Tanpa penjelasan.
Tanpa tahu apakah suatu hari akan bertemu lagi.
Namun kini...
setelah semua perjalanan panjang itu...
mereka justru merasa hubungan mereka jauh lebih kuat dibanding saat masih remaja.
Bukan lagi hubungan penuh gengsi dan kebingungan seperti dulu.
Tetapi hubungan yang dibangun oleh kepercayaan, ketulusan, dan kenangan yang tidak pernah hilang.
“Kaang.”
“Iya?”
“Kita ini aneh ya.”
“Kenapa?”
“Puluhan tahun gak ketemu... tapi pas ngobrol lagi rasanya kayak gak pernah jauh.”
“Karena Sinok masih cerewet.”
“Kakanggg...”
Mereka tertawa bersama lagi.
Namun di balik tawa itu...
ada rasa hangat yang sulit dijelaskan.
Rasa nyaman yang tidak berubah meski usia terus berjalan.
Di luar rumah...
hujan semakin deras.
Dan malam itu...
percakapan mereka mengalir panjang seperti sungai yang tak habis-habis membawa kenangan.
Mereka membicarakan banyak hal.
Tentang anak-anak mereka.
Tentang pekerjaan.
Tentang teman-teman lama.
Tentang hidup yang ternyata penuh kejutan.
Dan di tengah percakapan itu...
Ari Yanti tiba-tiba berkata lirih:
“Kaang.”
“Hm?”
“Kalau dulu Kakang gak pergi...”
Riyadi langsung tersenyum kecil.
“Kita gak akan punya cerita sejauh ini.”
“Tapi aku sempat benci.”
“Aku tahu.”
“Karena pergi tanpa pamit itu jahat.”
“Iya.”
“Tapi sekarang aku ngerti.”
Riyadi terdiam beberapa detik.
“Ngerti apa?”
“Kadang hidup memang harus memisahkan dulu supaya kita belajar menghargai.”
Kalimat itu membuat Riyadi menunduk pelan.
Karena selama bertahun-tahun...
ia selalu menyimpan rasa bersalah telah meninggalkan Sinok tanpa kabar.
Namun malam itu...
untuk pertama kalinya ia merasa benar-benar dimaafkan.
“Sinok.”
“Iya?”
“Makasih ya.”
“Buat?”
“Karena masih nerima Kakang setelah selama itu hilang.”
Ari Yanti tersenyum hangat.
Lalu menjawab pelan:
“Karena sahabat sejati tak pernah benar-benar pergi.”
Malam semakin larut.
Jam hampir menunjukkan pukul satu dini hari.
Namun keduanya masih belum ingin mengakhiri percakapan.
Seolah takut kesunyian datang lagi setelah sambungan ditutup.
Ari Yanti lalu mengambil sesuatu dari meja kecil di sampingnya.
Sebuah buku catatan lama.
“Kaang lihat ini.”
“Apa?”
“Aku nemu pas beberes lemari.”
Ia membuka halaman perlahan.
Di sana ada tulisan tangan remaja SMP.
Tulisan yang mulai memudar dimakan usia.
“Ini tulisan Sinok?”
“Iya.”
“Boleh dibaca?”
“Boleh.”
Ari Yanti lalu membaca pelan isi tulisan itu:
“Kalau suatu hari Kakang pergi jauh, aku harap dia tetap ingat jalan pulang.”
Suasana mendadak hening.
Riyadi langsung menunduk sambil tersenyum haru.
“Sinok nulis itu kapan?”
“Waktu Kakang mulai sering ngomong pengen merantau.”
“Dan Sinok masih nyimpan?”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Karena waktu itu aku takut kehilangan.”
Air mata mulai jatuh perlahan dari mata Ari Yanti.
Dan Riyadi sendiri tak mampu berkata apa-apa lagi.
Malam itu mereka sama-sama sadar...
bahwa selama puluhan tahun ternyata hati mereka diam-diam masih saling menyimpan jejak.
Bukan untuk memiliki.
Bukan untuk mengulang masa lalu.
Tetapi untuk menjaga sebuah hubungan yang terlalu tulus untuk dilupakan.
Sebelum menutup video call...
Ari Yanti tersenyum sambil berkata:
“Kaang.”
“Iya?”
“Roman boleh selesai.”
“Terus?”
“Tapi persahabatan kita jangan.”
Riyadi mengangguk pelan sambil tersenyum hangat.
“Karena merpati memang gak pernah ingkar janji.”
Dan malam itu...
di antara hujan, kenangan, dan waktu yang telah berjalan begitu jauh...
dua sahabat lama kembali mengikat janji yang sebenarnya sudah hidup sejak masa remaja mereka dulu:
bahwa persahabatan sejati memang tidak pernah selesai.
BAB XL
MERPATI DAN LANGIT YANG SAMA
Pagi itu langit di Desa Sriwidadi tampak sangat cerah.
Kabut tipis yang biasanya menggantung di tepian Sungai Kapuas perlahan menghilang diterpa cahaya matahari.
Dari teras rumahnya...
Riyadi duduk sambil memegang secangkir kopi hangat.
Tatapannya mengarah ke langit biru yang membentang luas di atas Kalimantan.
Namun pikirannya...
melayang jauh menuju Desa Tegorejo di Jawa Tengah.
Sudah beberapa minggu sejak pertemuannya kembali dengan Ari Yanti.
Namun sampai hari itu...
semua masih terasa seperti mimpi.
Kadang ia masih tersenyum sendiri saat mengingat Sinok tertawa di atas sepeda ontel.
Kadang dadanya menghangat saat teringat pelukan di senja Tegorejo.
Dan kadang...
ia hanya diam sambil memandangi langit seperti pagi ini.
Ponselnya bergetar pelan.
Pesan dari Ari Yanti masuk.
“Kakang lagi ngapain?”
Riyadi tersenyum kecil.
“Lihat langit.”
Tak lama kemudian balasan masuk.
“Aku juga.”
Riyadi tertawa pelan.
Di Jawa Tengah...
Ari Yanti ternyata sedang berdiri di depan rumahnya sambil menatap langit pagi yang sama.
Langit yang membentang di atas Tegorejo.
Langit yang dulu menjadi saksi masa remaja mereka.
Dan kini...
menjadi penghubung dua hati yang dipisahkan pulau.
“Kaang.”
“Hm?”
“Lucu ya.”
“Apanya?”
“Walaupun jauh... ternyata kita masih lihat langit yang sama.”
Kalimat itu membuat Riyadi terdiam cukup lama.
Lalu perlahan ia tersenyum hangat.
Karena memang benar.
Jarak bisa memisahkan kota.
Memisahkan pulau.
Memisahkan kehidupan.
Tetapi tidak pernah mampu memisahkan langit yang menaungi mereka berdua.
Hari-hari terus berjalan.
Namun kini semuanya terasa lebih indah.
Di kantor desa...
Riyadi kembali sibuk dengan pekerjaannya sebagai Kasi Pemerintahan sekaligus admin website desa.
Ia mengunggah kegiatan masyarakat.
Menulis berita desa.
Dan sesekali melanjutkan Roman Epiknya.
Namun kini teman-temannya sering melihatnya tersenyum sendiri di depan laptop.
Paijo pernah menggoda:
“Pak Kasi sekarang kalau nulis kayak orang jatuh cinta.”
Riyadi langsung tertawa.
“Ini namanya bahagia.”
“Bedanya apa?”
“Hahaha...”
Sementara itu di sekolah...
murid-murid Ari Yanti juga mulai menyadari perubahan gurunya.
Ia lebih ceria.
Lebih sering tertawa.
Dan lebih bersemangat saat mengajar.
Suatu hari salah satu murid bertanya polos:
“Bu Yanti lagi bahagia ya?”
Ari Yanti tersenyum malu.
“Iya mungkin.”
“Karena apa Bu?”
Ari Yanti sempat berpikir beberapa detik.
Lalu menjawab pelan:
“Karena Ibu menemukan kembali sahabat lama.”
Jawaban sederhana itu ternyata membuat dirinya sendiri ikut terdiam.
Karena memang itulah kenyataannya.
Bukan tentang cinta yang rumit.
Tetapi tentang menemukan kembali seseorang yang selama ini diam-diam selalu hidup di hatinya.
Malam harinya...
mereka kembali berbicara lewat video call.
Namun kali ini obrolan mereka terasa lebih tenang.
Tidak lagi penuh tangis seperti awal pertemuan kembali dulu.
Kini hubungan mereka seperti sungai yang sudah menemukan alirannya sendiri.
Tenang.
Hangat.
Dan nyaman.
“Kaang.”
“Iya?”
“Kakang percaya gak kalau Tuhan punya cara aneh buat mempertemukan orang?”
“Percaya.”
“Kenapa?”
“Karena kalau gak aneh... kita gak mungkin ketemu lagi lewat novel.”
Ari Yanti tertawa kecil.
“Iya juga.”
Beberapa saat kemudian...
Yanti tiba-tiba berkata pelan:
“Kadang aku mikir...”
“Mikir apa?”
“Mungkin dulu kita memang harus dipisahkan.”
“Kenapa?”
“Supaya sekarang kita lebih dewasa memahami arti persahabatan.”
Riyadi mengangguk pelan.
Meski hanya lewat layar...
Ari Yanti tahu lelaki itu mengerti maksudnya.
Dulu...
hubungan mereka dipenuhi kebingungan khas remaja.
Kadang seperti kakak-adik.
Kadang seperti sahabat.
Kadang membuat orang lain salah paham.
Namun kini...
setelah semua perjalanan hidup itu...
mereka akhirnya memahami satu hal:
hubungan mereka sejak dulu dibangun oleh ketulusan.
Dan ketulusan itulah yang membuatnya bertahan selama tiga puluh dua tahun.
“Sinok.”
“Hm?”
“Kakang bersyukur.”
“Karena?”
“Karena ternyata merpati masih inget jalan pulang.”
Mata Ari Yanti langsung berkaca-kaca lagi.
Namun kali ini ia tersenyum.
Di luar rumah...
langit malam perlahan dipenuhi bintang.
Dan meskipun Kalimantan dan Jawa Tengah dipisahkan ribuan kilometer...
mereka tahu bahwa malam itu mereka sedang memandang langit yang sama.
Sebelum tidur...
Riyadi membuka kembali draft Roman Epiknya.
Lalu menambahkan satu kalimat baru:
“Persahabatan sejati bukan tentang seberapa sering bersama, melainkan tentang hati yang tetap saling menjaga meski dipisahkan waktu dan dunia.”
Sementara di Tegorejo...
Ari Yanti menuliskan sesuatu di buku catatannya:
“Merpati tidak pernah ingkar janji, karena ia selalu tahu ke mana hatinya harus pulang.”
Dan malam itu...
dua sahabat lama tersenyum di bawah langit yang sama.
Langit yang sejak dulu diam-diam menjaga cerita mereka.
BAB XLI
KENANGAN YANG MENJADI RUMAH
Malam di Desa Sriwidadi terasa tenang.
Angin dari tepian Sungai Kapuas bertiup lembut membawa aroma air dan tanah basah.
Di ruang kerjanya yang sederhana...
Riyadi masih duduk di depan laptop sambil memandangi halaman-halaman Roma Epiknya yang hampir selesai sepenuhnya.
Lampu kecil di sudut meja menyala redup.
Sementara di luar rumah...
suara jangkrik terdengar bersahutan memecah sunyi malam.
Namun malam itu...
Riyadi tidak langsung menulis.
Ia justru lebih banyak diam.
Tangannya memegang sebuah foto lama yang mulai kusam dimakan usia.
Foto saat latihan karate dulu.
Di sana ada dirinya, Aziz, Agus , Farida, dan Yanti yang berdiri sambil tersenyum malu-malu.
Riyadi mengusap pelan permukaan foto itu.
Lalu tersenyum kecil.
“Waktu ternyata cepat sekali...” gumamnya lirih.
Kadang hidup memang aneh.
Banyak orang datang dan pergi.
Banyak kenangan perlahan memudar.
Namun ada beberapa masa yang justru semakin terasa hidup ketika usia bertambah.
Dan bagi Riyadi ...
masa remaja di Tegorejo bersama Sinok adalah salah satunya.
Ponselnya berbunyi pelan.
Pesan dari Yanti masuk.
“Kaang belum tidur?”
“Belum.”
“Lagi nulis?”
“Lagi kangen rumah.”
Beberapa detik kemudian balasan datang.
“Rumah yang mana?”
Riyadi tersenyum kecil sebelum mengetik:
“Tegorejo.”
Di Jawa Tengah...
Ari Yanti yang membaca pesan itu langsung terdiam cukup lama.
Karena ia mengerti maksud sebenarnya.
Tegorejo bagi Riyadi bukan hanya sebuah desa.
Tetapi tempat di mana sebagian kenangan terbaik hidup.
Dan di dalam kenangan itu...
ada dirinya.
Ari Yanti lalu menelepon.
Begitu sambungan tersambung...
suara lembutnya langsung terdengar.
“Kaang.”
“Hm?”
“Kangen Tegorejo atau kangen Sinok?”
Riyadi langsung tertawa pelan.
“Dua-duanya.”
“Jawaban aman.”
“Hahaha.”
Percakapan mereka malam itu kembali mengalir hangat.
Namun kali ini lebih banyak tentang kenangan kecil yang dulu terasa sepele.
Tentang warung dekat sekolah.
Tentang jalan becek sepulang hujan.
Tentang suara peluit latihan karate.
Dan tentang banyak hal sederhana yang ternyata begitu membekas di hati.
“Kaang masih ingat gak...”
“Apa?”
“Dulu aku pernah ngambek gara-gara Kakang lebih lama ngobrol sama Farida.”
Riyadi langsung tertawa keras.
“Ya Allah Sinok masih inget itu?”
“Masih.”
“Padahal cuma tanya jadwal latihan.”
“Tapi aku kesel.”
“Cemburu?”
“Enggak.”
“Hahaha.”
Ari Yanti ikut tertawa malu di ujung telepon.
Semakin dewasa...
mereka justru semakin menyadari bahwa kebahagiaan terbesar ternyata sering lahir dari hal-hal sederhana.
Bukan tentang kemewahan.
Bukan tentang memiliki segalanya.
Tetapi tentang menemukan kembali tempat hati merasa nyaman.
Dan bagi mereka berdua...
kenangan lama itu perlahan berubah menjadi rumah.
Tempat pulang saat hidup terasa melelahkan.
Tempat untuk kembali merasa utuh.
“Sinok.”
“Iya?”
“Kakang kadang mikir...”
“Mikir apa?”
“Kalau dulu kita gak pernah ketemu lagi... mungkin Kakang bakal terus hidup setengah kosong.”
Ari Yanti mendadak diam.
Dadanya terasa hangat mendengar kejujuran itu.
“Kaang tahu?”
“Apa?”
“Dulu waktu Kakang pergi tanpa pamit... aku marah banget.”
“Iya.”
“Tapi yang paling bikin sakit itu bukan karena ditinggal.”
“Terus?”
“Karena aku kehilangan tempat pulang buat cerita.”
Riyadi menunduk pelan.
Matanya mulai berkaca-kaca.
Dulu...
ia memang tidak pernah benar-benar sadar betapa penting dirinya bagi Ari Yanti.
Ia hanya berpikir bahwa Sinok adalah adik manja yang sering curhat padanya.
Namun kini...
setelah puluhan tahun berlalu...
ia akhirnya memahami bahwa hubungan mereka jauh lebih dalam dari yang pernah mereka sadari saat remaja.
“Maafin Kakang ya.”
“Udah dari dulu.”
“Serius?”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Karena aku tahu Kakang gak pergi untuk nyakitin.”
Riyadi tersenyum kecil penuh haru.
Malam semakin larut.
Namun keduanya belum ingin mengakhiri percakapan.
Karena setiap obrolan kini terasa seperti menghidupkan kembali bagian-bagian hati yang lama tertidur.
Di sela percakapan...
Ari Yanti tiba-tiba berkata pelan:
“Kaang.”
“Hm?”
“Terima kasih ya.”
“Buat?”
“Karena udah bikin semua kenangan ini hidup lagi.”
Riyadi memandang langit malam dari jendela rumahnya.
Lalu menjawab lirih:
“Karena beberapa kenangan memang ditakdirkan menjadi rumah.”
Kalimat itu membuat Ari Yanti tersenyum sambil menahan air mata.
Karena ia tahu...
rumah yang dimaksud bukan sekadar tempat.
Melainkan seseorang.
Seseorang yang membuat hati merasa aman meski dipisahkan jarak dan waktu.
Malam itu...
setelah percakapan panjang mereka berakhir...
Riyadi kembali membuka draft Romannya.
Lalu ia menulis sebuah kalimat baru di halaman berikutnya:
“Pada akhirnya, manusia akan selalu mencari rumah. Dan kadang, rumah itu bukan bangunan, melainkan kenangan bersama seseorang yang tidak pernah benar-benar pergi dari hati.”
Sementara di Tegorejo...
Ari Yanti menutup buku catatannya sambil tersenyum kecil.
Di halaman terakhir ia menulis:
“Beberapa orang hadir bukan untuk dimiliki, tetapi untuk menjadi rumah bagi hati yang lelah.”
Dan malam itu...
meski dipisahkan pulau dan langit malam yang berbeda arah...
dua sahabat lama kembali menemukan tempat pulang mereka masing-masing.
BAB XLII
WAKTU YANG TAK LAGI MENJADI MUSUH
Hari-hari terus berjalan.
Pagi berganti malam.
Musim hujan perlahan bergeser menuju kemarau.
Dan waktu yang dulu terasa begitu kejam bagi Riyadi dan Ari Yanti ...
kini justru berubah menjadi sahabat yang menenangkan.
Dulu...
waktu adalah sesuatu yang mereka takuti.
Karena waktu membawa perpisahan.
Membawa jarak.
Membawa kehilangan tanpa kabar selama tiga puluh dua tahun.
Namun sekarang...
waktu justru menjadi pengingat bahwa mereka pernah dipertemukan kembali setelah semua itu.
Dan kesadaran itulah yang membuat hati mereka jauh lebih tenang.
Di Desa Sriwidadi...
Riyadi kembali sibuk menjalani rutinitasnya.
Pagi hari ke kantor desa.
Siang membantu pelayanan masyarakat.
Malam menulis Roman Epiknya atau berbincang dengan Ari Yanti.
Hidupnya perlahan menemukan irama baru.
Teman-temannya di kantor mulai sering melihat perubahan itu.
Riyadi yang dulu lebih banyak diam kini lebih sering tersenyum.
Bahkan kadang tertawa sendiri sambil melihat ponselnya.
Suatu siang Paijo kembali menggoda:
“Pak Kasi sekarang kayak anak muda lagi.”
Riyadi tertawa kecil.
“Memangnya kenapa?”
“Soalnya senyumnya gak pernah hilang.”
“Bahagia itu menyehatkan.”
“Hahaha... siap Pak.”
Sementara di Tegorejo...
Ari Yanti juga mulai menikmati hari-harinya dengan lebih ringan.
Ia kembali aktif mengajar.
Kembali bercanda dengan murid-muridnya.
Dan sesekali mulai menulis kenangan-kenangan kecil di buku catatannya.
Suatu sore setelah mengajar...
ia duduk di teras rumah sambil memandang langit senja.
Warna jingga perlahan menyelimuti sawah di depan rumah.
Dan tanpa sadar...
ia teringat masa-masa ketika dirinya masih remaja SMP.
Saat sepeda ontel menjadi kendaraan paling membahagiakan.
Saat latihan karate setiap Minggu pagi menjadi hal yang paling ditunggu.
Dan saat ada seorang pemuda sabuk coklat yang selalu siap mendengarkan semua keluh kesahnya.
Ponselnya berbunyi.
Video call dari Riyadi masuk.
Begitu wajah itu muncul...
Ari Yanti langsung tersenyum.
“Kaang.”
“Hm?”
“Lagi lihat senja.”
“Di Tegorejo?”
“Iya.”
“Kirim fotonya.”
Ari Yanti langsung mengarahkan kamera ke langit sore.
Beberapa detik Riyadi hanya diam memandangi layar.
Lalu berkata pelan:
“Ternyata senja di Tegorejo masih seindah dulu.”
Ari Yanti tersenyum kecil.
“Karena Kakang masih mengingatnya.”
Percakapan mereka kini tidak lagi dipenuhi kesedihan seperti awal-awal pertemuan kembali dulu.
Kini hubungan mereka jauh lebih damai.
Mereka tidak lagi mengejar sesuatu yang hilang.
Karena mereka sadar...
beberapa hubungan memang tidak perlu diberi nama.
Cukup dijaga.
Cukup dirawat dengan ketulusan.
“Sinok.”
“Iya?”
“Kakang sekarang gak takut waktu lagi.”
“Kenapa?”
“Karena sekarang kita udah saling menemukan lagi.”
Ari Yanti terdiam cukup lama mendengar kalimat itu.
Lalu perlahan mengangguk.
Meski hanya lewat layar...
Riyadi tahu Sinok sedang menahan haru.
Dulu...
setiap tahun yang berlalu terasa seperti kehilangan.
Namun kini...
setiap hari justru terasa seperti hadiah kecil yang patut disyukuri.
Malam harinya...
Riyadi kembali menulis di laptopnya.
Namun kali ini bukan tentang kesedihan.
Ia menulis tentang ketenangan.
Tentang dua sahabat yang akhirnya berdamai dengan masa lalu.
Tentang waktu yang tidak lagi terasa menakutkan.
Di halaman draft Roman Epiknya ia menulis:
“Waktu memang pernah memisahkan kami sangat jauh. Tetapi waktu pula yang akhirnya mengajarkan bahwa hati yang tulus selalu menemukan jalannya kembali.”
Sementara di Tegorejo...
Ari Yanti membuka kembali album foto lama.
Ia tersenyum melihat foto-foto masa karate dulu.
Foto-foto yang dulu sempat membuatnya sedih karena dipenuhi kehilangan.
Namun kini...
foto-foto itu justru terasa hangat.
Karena orang-orang di dalamnya perlahan kembali hadir dalam hidupnya.
Ia berhenti di satu foto.
Foto dirinya dan Riyadi saat latihan bersama di Ranting Cepiring.
Di belakang foto itu ternyata ada tulisan tangan kecil milik Riyadi:
“Untuk Sinok yang paling cerewet.”
Ari Yanti langsung tertawa kecil sambil mengusap matanya yang mulai basah.
“Kaang masih aja...” gumamnya pelan.
Malam semakin larut.
Namun hati keduanya terasa jauh lebih damai dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Karena sekarang mereka tahu:
waktu bukan lagi musuh yang memisahkan.
Melainkan bagian dari perjalanan yang akhirnya mempertemukan mereka kembali dengan cara yang jauh lebih indah.
Sebelum tidur...
Ari Yanti mengirim satu pesan singkat:
“Kaang.”
“Iya?”
“Sekarang aku gak takut kehilangan lagi.”
Riyadi tersenyum kecil membaca pesan itu.
Lalu membalas:
“Karena sekarang merpati tahu jalan pulangnya.”
Dan malam itu...
dua hati yang dulu dipisahkan waktu akhirnya benar-benar berdamai dengannya.
BAB XLIII
CERITA YANG AKAN TETAP HIDUP
Hujan gerimis turun pelan di Desa Sriwidadi sore itu.
Langit tampak kelabu.
Angin berembus lembut melewati pepohonan di sekitar kantor desa.
Di ruang kerjanya...
Riyadi duduk sendirian sambil membaca ulang halaman-halaman terakhir Roman Epik Merpati Tak Pernah Ingkar Janji.
Sesekali ia berhenti.
Tersenyum kecil.
Lalu kembali mengetik beberapa kalimat.
Roman Epik itu kini hampir benar-benar selesai.
Lima puluh bab perjalanan panjang tentang persahabatan, kehilangan, dan pertemuan kembali.
Tentang dua remaja desa yang tumbuh bersama dalam latihan karate, canda sepeda ontel, dan janji sederhana yang ternyata bertahan selama puluhan tahun.
Namun semakin dekat dengan akhir cerita...
Riyadi justru semakin sering termenung.
Karena ia sadar...
cerita mereka mungkin selesai ditulis.
Tetapi tidak akan pernah selesai hidup di hati.
Ponselnya berbunyi.
Pesan dari Ari Yanti masuk.
“Kakang lagi ngapain?”
“Lagi baca ulang Roman Epik.”
“Udah mau selesai ya?”
“Iya.”
Beberapa detik kemudian balasan datang:
“Aku malah sedih.”
Riyadi tersenyum kecil.
“Kenapa?”
“Karena rasanya kayak mau kehilangan lagi.”
Kalimat itu membuat Riyadi diam cukup lama.
Ia memahami perasaan itu.
Karena sejak awal...
Roman Epik ini bukan hanya tulisan.
Tetapi ruang tempat mereka kembali hidup sebagai Sinok dan Kakang.
Riyadi lalu menelepon Ari Yanti.
Begitu sambungan tersambung...
suara perempuan itu terdengar pelan.
“Kaang.”
“Hm?”
“Kalau Roman Epik ini selesai... kita bakal gimana?”
Riyadi tersenyum hangat.
“Ya tetap begini.”
“Maksudnya?”
“Cerita boleh selesai ditulis. Tapi hidup kan terus berjalan.”
Ari Yanti terdiam cukup lama.
Lalu perlahan tersenyum sendiri.
Di luar rumah Titik...
langit Tegorejo mulai berubah jingga menjelang senja.
Sawah-sawah tampak tenang diterpa angin sore.
Dan suasana itu membuat kenangan masa remaja kembali bermunculan satu demi satu.
“Kaang.”
“Iya?”
“Kadang aku masih heran.”
“Heran apa?”
“Kenapa kita bisa saling ingat selama itu.”
Riyadi tertawa kecil.
“Mungkin karena dulu Sinok terlalu cerewet.”
“Kakanggg...”
Mereka kembali tertawa bersama.
Namun setelah tawa itu reda...
Riyadi berkata pelan:
“Beberapa orang memang ditakdirkan tinggal lebih lama di hati.”
Ari Yanti langsung diam.
Dadanya terasa hangat mendengar kalimat itu.
Selama bertahun-tahun...
mereka menjalani hidup masing-masing.
Membentuk keluarga.
Menjalani pekerjaan.
Menghadapi berbagai masalah kehidupan.
Namun ternyata...
di sudut kecil hati mereka, nama satu sama lain masih tetap tinggal.
Dan kini...
setelah semua dipertemukan kembali...
mereka akhirnya memahami bahwa kenangan tidak selalu harus dilupakan untuk bisa bahagia.
“Sinok.”
“Hm?”
“Kakang punya satu keinginan.”
“Apa?”
“Suatu hari nanti... Roman ini dicetak.”
Mata Ari Yanti langsung berbinar.
“Serius?”
“Iya.”
“Beneran?”
“Biar cerita kita gak hilang.”
Ari Yanti tersenyum sambil menahan air mata.
Ia membayangkan sebuah buku dengan sampul bergambar Sepasang Merpati.
Ada sepeda ontel.
Ada jalan desa kecil.
Dan ada dua remaja yang belum tahu bahwa hidup akan memisahkan mereka selama tiga puluh dua tahun.
“Kaang.”
“Iya?”
“Kalau Roman Epik ini dibaca banyak orang...”
“Hm?”
“Aku pengen mereka tahu satu hal.”
“Apa?”
Ari Yanti menarik napas pelan sebelum menjawab:
“Bahwa sahabat sejati memang ada.”
Riyadi memejamkan mata beberapa detik.
Lalu mengangguk pelan.
Karena itulah inti sebenarnya dari semua cerita ini.
Bukan tentang cinta yang rumit.
Bukan tentang memiliki.
Tetapi tentang ketulusan yang bertahan melawan waktu.
Malam mulai turun perlahan.
Namun percakapan mereka masih terus mengalir.
Tentang rencana bertemu lagi suatu hari nanti.
Tentang teman-teman karate lama.
Tentang impian kecil untuk kembali bersepeda ontel bersama di Tegorejo.
Dan tentang bagaimana mereka ingin menjaga hubungan ini tetap hidup.
Di tengah obrolan...
Ari Yanti tiba-tiba berkata pelan:
“Kaang.”
“Hm?”
“Kalau suatu hari nanti kita udah gak ada...”
“Jangan ngomong gitu.”
“Dengerin dulu.”
“Iya.”
“Aku pengen cerita kita tetap hidup.”
Riyadi terdiam.
Lalu perlahan menjawab:
“Makanya Kakang menulis semuanya.”
Air mata Ari Yanti jatuh perlahan.
Namun bibirnya tetap tersenyum.
Karena malam itu ia sadar...
kisah mereka kini tidak lagi hanya hidup dalam ingatan.
Tetapi sudah berubah menjadi cerita yang akan terus dibaca, dikenang, dan hidup jauh melampaui usia mereka sendiri.
Sebelum menutup telepon...
Riyadi berkata pelan:
“Cerita kita mungkin sederhana, Sinok. Tapi ketulusan selalu punya cara untuk tetap hidup.”
Dan di bawah langit malam yang sama...
dua sahabat lama kembali tersenyum dalam diam.
Karena mereka tahu:
selama masih ada yang mengenang...
cerita mereka tidak akan pernah benar-benar berakhir.
BAB XLIV
MERPATI DAN JANJI YANG DIJAGA WAKTU
Pagi itu Desa Tegorejo diselimuti kabut tipis.
Embun masih menempel di daun-daun pisang dan rumput liar di pinggir jalan desa.
Suasana terasa tenang.
Hanya suara ayam berkokok dan sesekali bunyi sepeda motor warga yang melintas memecah sunyi pagi.
Di teras rumahnya...
Ari Yanti duduk sambil memegang secangkir teh hangat.
Tatapannya mengarah ke jalan kecil di depan rumah.
Jalan yang dulu begitu akrab dengan suara sepeda ontel dan tawa masa remaja mereka.
Entah kenapa pagi itu...
hatinya terasa sangat hangat.
Bukan karena sesuatu yang besar.
Tetapi karena satu hal sederhana:
ia tidak lagi merasa sendiri menjaga kenangan itu.
Kini ada seseorang di ujung Kalimantan yang juga masih mengingat semuanya dengan detail yang sama.
Ponselnya berbunyi pelan.
Pesan dari Riyadi masuk.
“Sinok udah bangun?”
Ari Yanti langsung tersenyum kecil.
“Udah.”
“Lagi ngapain?”
“Lihat jalan depan rumah.”
Beberapa detik kemudian balasan datang.
“Masih sering dilewati sepeda ontel?”
Ari Yanti tertawa kecil sendirian.
“Sekarang motor semua.”
“Berarti kita memang tua.”
“Kakanggg...”
Percakapan kecil itu terasa sangat sederhana.
Namun justru di situlah letak kebahagiaan mereka sekarang.
Tidak perlu sesuatu yang mewah.
Tidak perlu kata-kata romantis berlebihan.
Cukup saling hadir.
Cukup saling mengingat.
Dan itu sudah lebih dari cukup.
Sementara di Desa Sriwidadi...
Riyadi sedang duduk di kantor desa sambil memandangi layar laptopnya.
Draft Roman Epik Merpati Tak Pernah Ingkar Janji kini tinggal menyisakan beberapa bagian akhir.
Namun sejak tadi ia belum mengetik apa pun.
Pikirannya justru kembali pada satu kalimat yang dulu diucapkan Ari Yanti di Semarang:
“Merpati tak pernah ingkar janji.”
Dulu...
saat masih remaja, ia menganggap itu hanya kata-kata puitis khas anak muda.
Namun kini...
setelah tiga puluh dua tahun berlalu...
ia akhirnya benar-benar memahami maknanya.
Janji itu ternyata bukan tentang cinta remaja.
Bukan pula tentang harus selalu bersama.
Tetapi tentang menjaga ketulusan meski waktu terus berubah.
Tentang tetap saling mengingat meski hidup membawa mereka ke jalan yang berbeda.
Paijo yang lewat di depan ruangannya sempat berhenti.
“Pak Kasi melamun lagi?”
Riyadi tertawa kecil.
“Lagi mikir.”
“Soal Roman Epik?”
“Iya.”
“Udah selesai belum?”
“Hampir.”
“Wah nanti saya mau baca.”
Riyadi tersenyum pelan.
“Siap.”
Namun jauh di dalam hati...
ia tahu Roman Epik itu bukan sekadar cerita biasa.
Roman Epik itu adalah saksi bahwa ada janji yang benar-benar dijaga oleh waktu.
Malam harinya...
mereka kembali berbicara lewat WhatsAAP.
Seperti biasa.
Hangat.
Tenang.
Dan tanpa dibuat-buat.
“Kaang.”
“Hm?”
“Aku tadi baca lagi bagian Semarang.”
“Yang mana?”
“Yang di MAL Matahari.”
Riyadi langsung tertawa kecil.
“Yang Sinok banyak minta dibeliin?”
“Enak aja.”
“Hahaha.”
Ari Yanti lalu terdiam sesaat sebelum berkata pelan:
“Kaang.”
“Iya?”
“Dulu waktu aku ngomong merpati tak pernah ingkar janji...”
“Hm?”
“Sebenernya aku juga gak ngerti kenapa ngomong itu.”
Riyadi tersenyum kecil.
“Terus sekarang ngerti?”
“Iya.”
“Artinya apa menurut Sinok?”
Ari Yanti memandang layar ponselnya cukup lama.
Lalu menjawab perlahan:
“Artinya... kalau hubungan itu tulus, waktu gak akan bisa menghilangkannya.”
Riyadi langsung terdiam.
Dadanya terasa hangat mendengar jawaban itu.
Di luar rumah...
langit malam tampak penuh bintang.
Dan malam itu...
mereka sama-sama sadar bahwa hubungan mereka memang telah melewati ujian waktu yang sangat panjang.
Tiga puluh dua tahun bukan perjalanan singkat.
Ada banyak perubahan yang terjadi.
Banyak kehilangan.
Banyak kesibukan hidup.
Namun di balik semua itu...
janji sederhana masa remaja ternyata tetap hidup diam-diam di hati mereka.
“Sinok.”
“Iya?”
“Kakang bersyukur.”
“Karena?”
“Karena ternyata kita gak saling lupa.”
Ari Yanti tersenyum sambil menahan air mata.
“Mana mungkin lupa.”
Malam semakin larut.
Namun mereka masih terus berbicara tentang banyak hal kecil yang dulu tak pernah sempat diselesaikan.
Tentang surat yang tak pernah dikirim.
Tentang rasa kehilangan yang dulu dipendam diam-diam.
Dan tentang betapa lucunya hidup mempertemukan mereka kembali lewat sebuah novel.
Di tengah percakapan itu...
Riyadi tiba-tiba berkata:
“Kalau dipikir-pikir...”
“Hm?”
“Kita ini kayak merpati beneran.”
“Kenapa?”
“Muter jauh banget tapi akhirnya pulang ke tempat yang sama.”
Ari Yanti langsung tertawa sambil mengusap air matanya.
Malam itu...
mereka akhirnya memahami satu hal penting:
janji sejati tidak selalu diucapkan secara resmi.
Kadang ia hidup diam-diam di dalam hati.
Dijaga oleh kenangan.
Dikuatkan oleh waktu.
Dan dipertemukan kembali ketika Tuhan mengizinkannya.
Sebelum tidur...
Riyadi kembali membuka draft Romannya dan menulis satu kalimat baru:
“Waktu tidak menjaga semua janji. Tetapi hati yang tulus selalu menemukan cara untuk tetap setia.”
Sementara di Tegorejo...
Ari Yanti menatap langit malam dari jendela kamarnya.
Lalu berbisik pelan:
“Merpati memang tak pernah ingkar janji, Kaang.”
Dan malam itu...
dua hati yang pernah terpisah sangat jauh kembali dipersatukan oleh janji lama yang ternyata masih hidup hingga hari ini.
BAB XLV
SENYUM DI UJUNG KENANGAN
Musim kemarau mulai datang di Desa Tegorejo.
Langit tampak lebih biru.
Angin bertiup hangat melewati hamparan sawah yang mulai mengering.
Dan pagi itu...
Ari Yanti berdiri di depan halaman sekolah tempatnya mengajar sambil memperhatikan murid-murid yang mulai berdatangan.
Wajahnya tampak tenang.
Sesekali ia tersenyum kecil menyapa siswa-siswinya.
Namun di balik senyum itu...
ada kebahagiaan sederhana yang kini selalu tinggal di hatinya.
Sudah beberapa bulan sejak pertemuannya kembali dengan Riyadi .
Dan sejak saat itu...
hidup terasa berbeda.
Bukan karena sesuatu yang besar berubah.
Tetapi karena ada ruang kosong yang akhirnya terisi kembali.
Di sela kesibukannya mengajar...
kadang pikirannya melayang pada masa remaja.
Tentang latihan karate.
Tentang jalan-jalan sore dengan sepeda ontel.
Tentang seorang pemuda sabuk coklat yang selalu mendengarkan semua curhatnya dengan sabar.
Dan anehnya...
setiap kali mengingat itu semua, bibirnya selalu tersenyum sendiri.
“Bu Yanti senyum terus dari tadi.”
Suara salah satu murid membuatnya tersadar dari lamunannya.
“Hah?”
“Ibu lagi mikirin siapa?”
Satu kelas langsung tertawa.
Ari Yanti ikut tertawa sambil menggeleng malu.
“Udah sana belajar.”
Namun diam-diam pipinya memerah.
Sementara itu di Kalimantan...
Riyadi sedang duduk di teras kantor desa Sriwidadi.
Di depannya terbuka laptop dengan halaman terakhir Roman Epik yang hampir selesai sepenuhnya.
Angin siang berembus lembut.
Suara warga yang datang mengurus administrasi terdengar dari kejauhan.
Namun sejak tadi...
pikirannya justru dipenuhi wajah Sinok yang tertawa di Tegorejo.
Paijo datang sambil membawa map.
“Pak Kasi.”
“Hm?”
“Roman Epiknya udah tamat belum?”
Riyadi tersenyum kecil.
“Hampir.”
“Ending-nya sedih apa bahagia?”
Riyadi memandang langit sebentar sebelum menjawab:
“Kadang yang paling bahagia itu bukan memiliki... tapi menemukan kembali.”
Paijo mengangguk meski tak sepenuhnya mengerti.
Malam harinya...
seperti biasa, Riyadi dan Ari Yanti kembali berbicara lewat WhatsAAP.
Namun malam itu suasananya terasa jauh lebih santai.
Tidak ada tangisan.
Tidak ada kesedihan.
Yang ada hanya dua sahabat lama yang menikmati kebersamaan sederhana setelah sekian lama terpisah.
“Kaang.”
“Iya?”
“Aku tadi ketawa sendiri di sekolah.”
“Kenapa?”
“Inget Kakang jatuh dari sepeda dulu.”
“Ya Allah... itu lagi.”
“Hahaha.”
“Sinok kejam.”
“Lucu soalnya.”
Tawa mereka mengalir ringan.
Dan di situlah mereka sadar...
kenangan yang dulu sempat terasa menyakitkan kini perlahan berubah menjadi sesuatu yang indah untuk dikenang.
“Sinok.”
“Hm?”
“Kita ternyata udah tua ya.”
“Iya.”
“Tapi kenapa rasanya kalau ngobrol masih kayak SMP?”
Ari Yanti tersenyum hangat.
“Karena beberapa rasa gak ikut menua.”
Kalimat itu membuat Riyadi diam cukup lama.
Lalu perlahan tersenyum.
Di luar rumah masing-masing...
malam terasa sangat tenang.
Langit dipenuhi bintang.
Dan dua hati yang dulu pernah kehilangan kini sama-sama menikmati kedamaian sederhana yang tak pernah mereka duga sebelumnya.
“Kaang.”
“Iya?”
“Kalau suatu hari nanti kita ketemu lagi di Tegorejo...”
“Hm?”
“Aku pengen naik sepeda ontel lagi.”
Riyadi langsung tertawa keras.
“Masih kuat?”
“Kalau bonceng Kakang enggak.”
“Hahaha.”
“Tapi serius.”
“Iya.”
“Kita muter desa lagi.”
“Siap.”
“Dan jangan jatuh lagi.”
“Sinok masih aja.”
Mereka kembali tertawa bersama.
Percakapan malam itu terasa hangat seperti senja.
Tenang.
Lembut.
Dan penuh rasa syukur.
Karena setelah semua perjalanan panjang hidup...
setelah kehilangan, jarak, dan puluhan tahun tanpa kabar...
mereka akhirnya sampai pada satu titik:
menikmati kenangan tanpa lagi merasa sakit.
Dulu...
kenangan membuat mereka sedih.
Karena mengingatkan pada seseorang yang hilang.
Namun kini...
kenangan justru menjadi sumber kebahagiaan.
Karena orang itu telah kembali hadir dalam hidup mereka.
“Kaang.”
“Hm?”
“Terima kasih ya.”
“Buat apa lagi?”
“Karena sekarang setiap ingat masa lalu... aku bisa senyum.”
Mata Riyadi terasa hangat mendengar kalimat itu.
Lalu ia menjawab pelan:
“Karena kenangan paling indah memang seharusnya diingat dengan senyum.”
Beberapa saat mereka hanya saling memandang lewat layar.
Tak banyak kata.
Namun keheningan itu terasa nyaman.
Karena sejak dulu...
mereka memang selalu bisa saling memahami tanpa perlu banyak penjelasan.
Sebelum tidur...
Ari Yanti membuka album foto di ponselnya.
Ia berhenti pada foto dirinya bersama Riyadi di bawah pohon besar Tegorejo.
Lalu tersenyum kecil sambil berbisik:
“Kita akhirnya sampai di ujung kenangan dengan senyum ya, Kaang.”
Sementara di Kalimantan...
Riyadi menutup laptopnya perlahan.
Di halaman terakhir Roman Epiknya itu ia menulis:
“Dan pada akhirnya, semua kenangan yang pernah membuat kami menangis perlahan berubah menjadi senyum yang tinggal selamanya di hati.”
Malam itu...
di bawah langit yang sama...
dua sahabat lama kembali tersenyum dalam diam.
Karena mereka tahu:
beberapa cerita memang ditakdirkan berakhir bukan dengan luka, melainkan dengan rasa syukur.
BAB XLVI
PERTEMUAN YANG TAK LAGI DITAKUTI WAKTU
Pagi itu suasana Desa Sriwidadi terasa lebih sibuk dari biasanya.
Warga keluar masuk kantor desa untuk berbagai urusan administrasi.
Suara mesin printer, percakapan warga, dan deru sepeda motor silih berganti memenuhi halaman kantor.
Di tengah kesibukan itu...
Riyadi tetap duduk tenang di ruang kerjanya.
Namun pikirannya sedang jauh melayang ke Jawa Tengah.
Hari itu berbeda.
Karena setelah sekian lama hanya bertemu lewat layar ponsel...
akhirnya ada rencana baru yang membuat jantungnya berdebar seperti remaja SMP lagi.
Ari Yanti berencana datang ke Kalimantan.
Bukan sendiri.
Melainkan bersama keluarga.
Namun bagi Riyadi...
kedatangan itu terasa jauh lebih besar dari sekadar kunjungan biasa.
Ponselnya berbunyi.
Pesan dari Ari Yanti masuk.
“Kaang.”
“Iya?”
“Aku jadi berangkat bulan depan.”
Riyadi langsung terdiam beberapa detik.
Tangannya mendadak dingin.
Padahal mereka sudah pernah bertemu kembali di Tegorejo sebelumnya.
Namun tetap saja...
setiap rencana pertemuan dengan Sinok selalu membuat hatinya bergetar aneh.
“Serius?”
“Iya.”
“Jadi ke Kapuas?”
“Iya.”
“Beneran?”
“Kaang ini kayak gak percaya banget.”
Riyadi tertawa kecil sendiri.
Di balik senyum itu...
ada rasa haru yang sulit dijelaskan.
Karena dulu...
ia selalu takut pada waktu.
Takut dipisahkan lagi.
Takut kehilangan lagi.
Namun kini...
ia mulai sadar bahwa hubungan mereka tidak lagi rapuh seperti masa remaja dulu.
Sekarang mereka tidak lagi takut dipisahkan jarak.
Karena mereka tahu cara menemukan kembali satu sama lain.
Malam harinya mereka kembali melakukan pembicaraan melalui WhatsAAP.
Wajah Yanti terlihat sangat ceria.
“Kaang.”
“Hm?”
“Aku deg-degan.”
“Kenapa?”
“Mau ke Kalimantan.”
“Takut?”
“Enggak.”
“Terus?”
“Takut diketawain karena tua.”
Riyadi langsung tertawa keras.
“Sinok dari dulu memang drama.”
“Hahaha.”
Namun di balik candaan itu...
mereka sama-sama merasakan sesuatu yang hangat.
Pertemuan berikutnya kini bukan lagi tentang tangisan kehilangan seperti dulu.
Melainkan tentang rasa syukur karena masih diberi kesempatan bertemu kembali.
“Sinok.”
“Iya?”
“Kali ini Kakang gak mau kehilangan lagi.”
Ari Yanti tersenyum lembut.
“Sekarang beda.”
“Bedanya?”
“Sekarang kita udah tahu jalan pulang masing-masing.”
Riyadi terdiam cukup lama.
Lalu perlahan mengangguk.
Kalimat itu sederhana.
Namun sangat dalam.
Karena setelah tiga puluh dua tahun terpisah...
mereka akhirnya memahami bahwa hubungan sejati tidak mudah hilang hanya karena jarak.
Hari-hari berikutnya dipenuhi percakapan tentang rencana perjalanan.
Tentang tempat-tempat yang akan dikunjungi di Kapuas.
Tentang makanan khas Kalimantan.
Dan tentang betapa lucunya hidup yang mempertemukan kembali dua sahabat lama di usia yang tak lagi muda.
Di sela percakapan itu...
Ari Yanti tiba-tiba bertanya:
“Kaang.”
“Hm?”
“Nanti kalau ketemu lagi...”
“Iya?”
“Kita bakal nangis lagi gak?”
Riyadi tertawa kecil.
“Mungkin.”
“Kenapa?”
“Karena Sinok gampang nangis.”
“Kakang juga.”
“Hahaha.”
Namun sebenarnya mereka tahu...
air mata itu bukan lagi air mata kehilangan.
Melainkan air mata syukur.
Suatu malam...
Riyadi membuka kembali foto-foto pertemuan mereka di Tegorejo beberapa waktu lalu.
Ia memperhatikan satu foto cukup lama.
Foto saat dirinya dan Ari Yanti berdiri di dekat sepeda ontel tua sambil tertawa.
Di foto itu...
mereka terlihat jauh lebih tua dibanding masa SMP dulu.
Namun anehnya...
sinar di mata mereka masih sama.
Riyadi tersenyum kecil sambil bergumam:
“Ternyata waktu cuma mengubah usia, bukan ketulusan.”
Sementara di Tegorejo...
Ari Yanti sedang memilih pakaian untuk perjalanan nanti.
Anaknya sempat menggoda:
“Ibu semangat banget.”
Ari Yanti tertawa malu.
“Namanya juga mau ketemu sahabat.”
“Cuma sahabat?”
“Iya.”
Namun pipinya langsung memerah.
Malam semakin larut.
Dan seperti biasa...
percakapan mereka ditutup dengan obrolan sederhana yang justru terasa sangat berarti.
“Kaang.”
“Iya?”
“Sekarang aku gak takut waktu lagi.”
“Kenapa?”
“Karena aku tahu... walaupun jauh, kita gak akan benar-benar hilang lagi.”
Riyadi tersenyum hangat.
Lalu menjawab pelan:
“Karena merpati selalu tahu ke mana ia harus kembali.”
Malam itu...
di bawah langit yang membentang dari Jawa hingga Kalimantan...
dua sahabat lama kembali menatap masa depan tanpa lagi takut pada perpisahan.
Karena kini...
waktu bukan lagi sesuatu yang memisahkan mereka.
Melainkan saksi bahwa ketulusan memang mampu bertahan sangat lama.
BAB XLVII
CERITA YANG KEMBALI MENGALIR
Pagi itu langit Kuala Kapuas tampak cerah.
Sungai Kapuas mengalir tenang membelah kota dengan pantulan cahaya matahari yang berkilau di permukaannya.
Aktivitas kota mulai hidup sejak pagi.
Pedagang membuka warung.
Motor lalu lalang di jalan utama.
Dan udara khas kota kecil di tepian sungai terasa begitu damai.
Di Bundaran Besar Kuala Kapuas...
Riyadi berdiri sambil sesekali melihat layar ponselnya.
Wajahnya tampak tenang.
Namun sebenarnya jantungnya berdegup jauh lebih cepat dari biasanya.
Hari itu...
Ari Yanti akhirnya benar-benar datang ke Kalimantan.
Sudah sejak subuh Riyadi sulit tidur.
Ia bahkan beberapa kali membaca ulang pesan WhatsApp dari Ari Yanti untuk memastikan semua ini benar-benar nyata.
Karena baginya...
pertemuan itu masih terasa seperti mimpi panjang yang terlalu indah untuk dipercaya.
Tiga puluh dua tahun bukan waktu yang singkat.
Dan setelah selama itu hanya hidup dalam kenangan...
hari ini Sinok benar-benar datang menemuinya.
Suara pesan masuk membuat Riyadi tersadar.
“Kakang... aku udah masuk kota Kuala Kapuas.”
Riyadi langsung menarik napas panjang.
“Di Bundaran Besar aja ya.”
“Iya Kakang.”
Tak lama kemudian...
sebuah mobil perlahan berhenti di tepi Bundaran Besar Kuala Kapuas.
Riyadi berdiri lebih tegak.
Dadanya mendadak terasa penuh oleh rasa haru yang sulit dijelaskan.
Dan ketika pintu mobil terbuka...
waktu seperti berhenti sesaat.
Ari Yanti turun perlahan sambil tersenyum gugup.
Sorot matanya masih sama seperti dulu.
Sorot mata yang dulu diam-diam selalu dicari Riyadi saat latihan karate Minggu pagi di Tegorejo.
Beberapa detik Riyadi hanya diam mematung.
Bukan karena tak mengenali wajah itu.
Tetapi karena sulit percaya bahwa perempuan yang selama puluhan tahun hanya hidup dalam kenangan...
kini benar-benar berdiri di depannya lagi.
“Kakang...”
Suara itu pelan.
Hangat.
Dan masih sama seperti tiga puluh dua tahun lalu.
Riyadi tersenyum lebar.
“Sinok...”
Ari Yanti langsung tertawa kecil sambil mengusap matanya yang mulai berkaca-kaca.
“Kakang masih aja manggil Sinok.”
“Karena memang itu Sinok Kakang.”
Beberapa detik mereka hanya saling memandang.
Tak banyak kata.
Namun mata mereka sudah menceritakan terlalu banyak hal.
Tentang kehilangan.
Tentang rindu.
Tentang waktu yang pernah memisahkan.
Dan tentang perjalanan panjang yang akhirnya membawa mereka kembali bertemu.
“Gimana perjalanan?”
“Capek.”
“Tapi?”
Ari Yanti tersenyum kecil.
“Bahagia.”
Riyadi tertawa pelan.
“Masih sama.”
“Apa?”
“Kalau lagi senang, matanya duluan yang ngomong.”
Ari Yanti langsung menunduk malu sambil tertawa kecil.
“Hahaha... Kakang masih hafal aja.”
Hari itu...
Riyadi mengajak Ari Yanti beristirahat sejenak menikmati suasana Kota Kuala Kapuas.
Mereka berjalan perlahan di sekitar Bundaran Besar.
Melihat taman kota yang hijau dan tertata rapi.
Anak-anak kecil tampak bermain.
Beberapa warga duduk santai menikmati pagi.
Dan angin lembut dari arah Sungai Kapuas membuat suasana terasa begitu nyaman.
“Kaang... kota ini ternyata cantik ya.”
“Iya.”
“Tenang banget.”
“Makanya Kakang betah sekarang.”
Ari Yanti memandang taman di sekitar bundaran cukup lama.
Lalu tersenyum kecil.
“Kalau dulu ada tempat kayak gini di Tegorejo, mungkin kita sering nongkrong di sini.”
“Hahaha... iya juga.”
Mereka lalu duduk di sebuah warung kuliner dekat taman kota.
Menikmati soto hangat, gorengan, dan teh manis sambil berbincang santai.
Suasana terasa begitu akrab.
Seolah waktu tidak pernah benar-benar memisahkan mereka.
“Sinok.”
“Iya?”
“Kakang dulu gak pernah nyangka bakal ketemu lagi sama kamu di kota sejauh ini.”
“Aku juga.”
“Dulu Kalimantan terasa jauh banget ya?”
“Iya.”
“Sekarang?”
Ari Yanti tersenyum hangat.
“Sekarang malah jadi tempat pulang kenangan.”
Riyadi langsung terdiam beberapa detik mendengar jawaban itu.
Setelah makan...
mereka berjalan lagi mengelilingi taman Bundaran Besar.
Sesekali berhenti untuk berfoto bersama.
Di bawah langit Kapuas yang cerah...
dua sahabat lama itu akhirnya memiliki foto nyata bersama setelah puluhan tahun hanya hidup dalam kenangan masing-masing.
“Kaang sini... foto lagi.”
“Hahaha... banyak banget.”
“Biar ada kenangan.”
“Memangnya selama ini kurang kenangan?”
Ari Yanti langsung tertawa kecil.
“Yang ini beda.”
“Kenapa?”
“Karena sekarang kita benar-benar ketemu lagi.”
Menjelang siang...
mereka akhirnya melanjutkan perjalanan menuju Desa Sriwidadi.
Mobil berjalan perlahan meninggalkan pusat Kota Kuala Kapuas.
Sepanjang perjalanan...
Ari Yanti sibuk melihat pemandangan di luar jendela.
Hamparan hijau.
Jalan panjang.
Pepohonan.
Dan langit Kalimantan yang terasa begitu luas.
“Kaang...”
“Hm?”
“Ini pertama kalinya aku sejauh ini dari Jawa.”
“Takut?”
“Enggak.”
“Kenapa?”
“Karena ada Kakang.”
Riyadi langsung tersenyum kecil sambil menggeleng pelan.
“Sinok dari dulu memang paling bisa bikin hati Kakang gak tenang.”
“Hahaha...”
Beberapa waktu kemudian...
mobil akhirnya memasuki Desa Sriwidadi.
Suasana desa tampak tenang.
Udara terasa segar.
Dan hamparan hijau di sepanjang jalan membuat Ari Yanti beberapa kali tersenyum kagum.
“Kaang... indah banget di sini.”
“Iya.”
“Tenang.”
“Makanya Kakang sekarang susah disuruh pindah.”
Ari Yanti tertawa kecil.
Tak lama kemudian...
mobil berhenti di depan rumah Riyadi.
Ari Yanti memandang rumah sederhana itu cukup lama.
Lalu tersenyum hangat.
“Jadi ini tempat Kakang tinggal selama ini?”
“Iya.”
“Nyaman.”
“Rumah sederhana.”
“Tapi hangat.”
Riyadi tersenyum kecil mendengar jawaban itu.
Angin sore perlahan bertiup lembut.
Dan di halaman rumah sederhana di Desa Sriwidadi itu...
dua sahabat lama akhirnya duduk berdampingan sambil membiarkan cerita mereka kembali mengalir bersama waktu.
Karena setelah semua perjalanan panjang itu...
mereka akhirnya sadar bahwa beberapa hubungan memang tidak pernah benar-benar hilang.
Ia hanya menunggu waktu untuk menemukan jalan pulangnya kembali.
BAB XLVIII
DI BAWAH LANGIT SRIWIDADI
Sore perlahan turun di Desa Sriwidadi.
Langit Kalimantan berubah jingga keemasan.
Angin desa bertiup lembut membawa aroma tanah, rumput basah, dan samar-samar wangi buah sawit dari kejauhan.
Burung-burung kecil beterbangan kembali menuju pepohonan tinggi di sekitar permukiman warga.
Dan di bawah langit Sriwidadi yang luas itu...
Ari Yanti berdiri memandang hamparan desa dengan mata berbinar.
“Kaang...”
“Hm?”
“Tempat ini tenang banget.”
Riyadi tersenyum kecil.
“Iya.”
“Beda banget sama yang aku bayangin tentang Kalimantan.”
“Memangnya dulu bayanginnya kayak apa?”
“Seram.”
“Hahaha...”
“Serius.”
Riyadi tertawa pelan sambil menggeleng.
“Sekarang?”
Ari Yanti memandang jalan desa yang mulai ramai oleh warga pulang kerja.
“Sekarang malah terasa hangat.”
Di sepanjang jalan desa...
sepeda motor mulai berdatangan dari arah perkebunan kelapa sawit.
Sebagian besar warga baru pulang bekerja.
Ada yang masih mengenakan seragam perusahaan.
Ada yang membawa helm proyek.
Ada pula ibu-ibu yang duduk santai di teras rumah sambil menunggu suami mereka pulang.
Suasana sore itu terasa hidup.
Sederhana.
Namun penuh ketenangan.
Ari Yanti memperhatikan semuanya dengan antusias.
“Kaang... warga di sini rata-rata kerja di sawit ya?”
“Iya.”
“Berat pasti kerjanya.”
“Lumayan.”
“Pantesan orang-orangnya kelihatan kuat.”
Riyadi tersenyum kecil.
“Hidup di desa ngajarin orang buat tahan banting.”
Mereka berjalan perlahan menyusuri jalan kecil di sekitar rumah Riyadi.
Beberapa warga menyapa ramah ketika berpapasan.
“Pak Riyadi!”
“Iya Pak!”
“Ini tamunya dari Jawa ya?”
Riyadi tertawa kecil.
“Iya.”
Ari Yanti ikut tersenyum malu sambil mengangguk sopan.
“Kaang...”
“Hm?”
“Warga di sini ramah banget.”
“Iya.”
“Mereka kayak udah kenal aku.”
“Karena orang desa itu kalau ada tamu pasti dianggap keluarga.”
Kalimat itu membuat Ari Yanti tersenyum hangat.
Menjelang magrib...
Riyadi mengajak Ari Yanti singgah ke Kantor Desa Sriwidadi.
Bangunan kantor desa tampak tenang diterangi cahaya lampu sore.
Papan nama besar di depan kantor berdiri kokoh.
Dan suasana di sekitarnya terasa damai.
“Ini tempat Kakang kerja.”
Ari Yanti memandang kantor desa cukup lama.
Lalu tersenyum kecil.
“Jadi selama ini Kakang benar-benar jadi perangkat desa.”
“Iya.”
“Dulu anak karate tengil sekarang jadi pegawai kantor.”
“Hahaha... hidup memang aneh.”
Mereka masuk perlahan ke dalam kantor desa.
Beberapa staf masih terlihat menyelesaikan pekerjaan administrasi.
Suara keyboard komputer terdengar pelan.
Tumpukan map dan dokumen tersusun rapi di meja pelayanan.
Ari Yanti memperhatikan semua itu dengan kagum.
“Kaang... ternyata sibuk juga ya kerja di desa.”
“Lumayan.”
“Kirain cuma duduk santai.”
“Hahaha... kalau cuma duduk santai gak bakal selesai urusan warga.”
Riyadi lalu membuka pintu ruang kerjanya.
Ruangan sederhana itu dipenuhi komputer, dokumen, kamera kecil, dan beberapa catatan website desa.
Di salah satu sudut...
terdapat papan jadwal pengelolaan berita dan artikel desa.
“Ini ruang kerja Kakang.”
Ari Yanti masuk perlahan sambil tersenyum kagum.
“Kaang serius banget ternyata.”
“Kenapa emangnya?”
“Kirain masih suka usil kayak dulu.”
“Hahaha... masih.”
Ari Yanti lalu duduk di kursi depan meja kerja Riyadi.
Matanya memperhatikan layar komputer yang masih terbuka.
Di sana terlihat halaman Website Desa Sriwidadi dengan beberapa artikel kegiatan desa.
“Kaang yang nulis semua ini?”
“Sebagian besar iya.”
“MasyaAllah...”
Riyadi tersenyum kecil.
“Kenapa?”
“Aku bangga aja.”
“Bangga sama apa?”
“Karena Kakang ternyata tetap jadi orang yang suka cerita.”
Kalimat itu membuat Riyadi terdiam beberapa detik.
“Aku baru sadar...” lanjut Ari Yanti pelan.
“Dari dulu Kakang memang suka menyimpan kenangan lewat tulisan.”
Riyadi tersenyum tipis.
“Mungkin karena Kakang takut lupa.”
“Atau takut kehilangan?”
Riyadi menatap Ari Yanti cukup lama.
Lalu mengangguk pelan.
“Iya.”
Suasana ruangan mendadak hening.
Namun bukan hening yang canggung.
Melainkan hening yang penuh pengertian.
Karena mereka sama-sama tahu...
betapa panjang perjalanan hidup yang sudah mereka lalui.
Tak lama kemudian...
azan magrib berkumandang dari mushola desa.
Suara itu menggema lembut di antara rumah-rumah warga dan perkebunan sawit di kejauhan.
Ari Yanti memandang keluar jendela kantor desa.
Langit mulai berubah gelap.
Namun warna jingga di ufuk barat masih tersisa samar.
“Indah banget...”
Riyadi tersenyum kecil.
“Iya.”
“Desa ini sederhana.”
“Tapi damai.”
Malam pun tiba.
Dan malam di Sriwidadi terasa berbeda.
Tidak ada hiruk-pikuk kota besar.
Tidak ada suara kendaraan tanpa henti.
Yang terdengar hanya suara jangkrik, angin malam, dan sesekali suara motor warga yang baru pulang kerja malam.
Di halaman rumah Riyadi...
bulan purnama menggantung indah di langit Kalimantan.
Cahayanya menerangi halaman rumah dan pepohonan di sekitar desa.
Malam terasa begitu tenang.
Begitu hangat.
Keluarga Riyadi berkumpul di teras rumah.
Teh hangat, kopi, pisang goreng, dan singkong rebus tersaji sederhana di atas meja.
Ari Yanti duduk bersama mereka sambil sesekali tertawa mendengar candaan-candaan khas desa.
“Bu... dulu Pak Riyadi ini nakalnya luar biasa.”
“Hahaha... iya ya Pak?”
Riyadi langsung protes.
“Lho kok buka aib.”
Semua langsung tertawa.
“Dulu Kakangmu ini kalau latihan karate paling sering telat.”
“Iya tapi paling banyak gaya.”
“Hahaha...”
Ari Yanti tertawa sampai memegang perutnya.
“Masih sama ternyata.”
Suasana malam itu penuh kehangatan.
Tidak ada jarak.
Tidak ada kecanggungan.
Yang ada hanyalah rasa kekeluargaan yang tumbuh begitu alami.
Anak-anak Riyadi pun ikut mendengarkan cerita masa muda ayah mereka.
Sesekali mereka tertawa mendengar kisah sepeda ontel, latihan karate, dan kenakalan masa remaja Riyadi bersama Ari Yanti dan teman-temannya.
“Jadi Ayah dulu sering berantem?”
Riyadi langsung tertawa kecil.
“Bukan berantem... latihan mental.”
“Hahaha...”
Ari Yanti sampai meneteskan air mata karena terlalu banyak tertawa.
“Kaang...”
“Hm?”
“Aku baru sadar satu hal.”
“Apa?”
“Ternyata selama ini aku kangen suasana kayak gini.”
“Suasana desa?”
“Iya.”
“Dan suasana keluarga.”
Riyadi memandang langit malam cukup lama.
Bulan purnama bersinar terang di atas Desa Sriwidadi.
Angin malam bertiup lembut.
Dan suasana terasa begitu damai.
“Sinok.”
“Iya?”
“Terima kasih ya.”
“Buat apa?”
“Karena akhirnya datang ke sini.”
Ari Yanti tersenyum hangat.
Lalu berkata pelan:
“Karena beberapa perjalanan memang harus diselesaikan, Kaang.”
Malam semakin larut.
Namun obrolan mereka belum juga selesai.
Mereka berbicara tentang banyak hal.
Tentang keluarga.
Tentang anak-anak.
Tentang masa muda.
Tentang kehilangan.
Dan tentang bagaimana hidup akhirnya mempertemukan mereka kembali di tempat yang sama sekali tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.
Di bawah langit Sriwidadi yang tenang...
Riyadi akhirnya menyadari sesuatu.
Bahwa rumah ternyata bukan hanya tentang tempat seseorang tinggal.
Tetapi tentang siapa yang membuat hati merasa pulang.
Dan malam itu...
di antara cahaya bulan purnama, suara tawa keluarga, dan hangatnya persahabatan lama...
dua sahabat yang pernah dipisahkan waktu akhirnya benar-benar berdamai dengan kehidupan.
Sebelum masuk rumah...
Ari Yanti menatap langit malam sekali lagi.
Lalu berbisik pelan:
“Kaang...”
“Hm?”
“Ternyata merpati memang selalu menemukan langit yang sama.”
Riyadi tersenyum hangat.
Dan malam itu...
di bawah langit Sriwidadi yang damai...
cerita mereka kembali hidup dengan cara yang sederhana, hangat, dan penuh ketulusan.
BAB XLIX
HALAMAN TERAKHIR YANG TAK PERNAH BENAR-BENAR USAI
Pagi terakhir Ari Yanti di Desa Sriwidadi datang begitu cepat.
Langit pagi tampak cerah dengan semburat cahaya matahari perlahan muncul dari balik hamparan perkebunan kelapa sawit di kejauhan.
Udara desa terasa sejuk.
Embun masih menempel di daun-daun kecil di halaman rumah Riyadi.
Suara ayam berkokok bersahutan.
Sesekali terdengar motor para karyawan perkebunan melintas menuju tempat kerja mereka.
Dan suasana pagi di Sriwidadi terasa damai seperti biasa.
Namun bagi Riyadi...
pagi itu terasa berbeda.
Ada rasa haru yang diam-diam memenuhi dadanya.
Di halaman rumah...
mobil untuk mengantar Ari Yanti sudah mulai dipersiapkan.
Beberapa tas dimasukkan ke bagasi.
Suara percakapan kecil terdengar samar dari teras rumah.
Ibu-ibu sibuk menyiapkan bekal perjalanan.
Sementara beberapa anggota keluarga masih sempat bercanda sebelum keberangkatan.
Namun di tengah suasana pagi yang hangat itu...
Riyadi dan Ari Yanti justru berdiri diam beberapa langkah dari keramaian.
Tak banyak kata.
Karena keduanya tahu...
setiap pertemuan selalu memiliki ujung.
Dan pagi itu...
adalah ujung dari perjalanan singkat yang selama puluhan tahun hanya hidup dalam doa dan kenangan.
“Sinok...”
“Hm?”
“Cepat banget ya.”
“Iya.”
“Padahal rasanya baru kemarin datang di Bundaran Besar.”
Ari Yanti tersenyum kecil.
“Karena kita terlalu banyak cerita.”
Mereka tertawa pelan.
Namun mata keduanya menyimpan rasa yang sama:
tidak ingin momen itu cepat berakhir.
Dulu...
perpisahan selalu terasa menakutkan bagi mereka.
Karena dulu perpisahan berarti kehilangan.
Tanpa kabar.
Tanpa kepastian.
Tanpa tahu apakah suatu hari akan dipertemukan kembali.
Namun sekarang berbeda.
Kini mereka tahu...
jarak bukan lagi akhir dari segalanya.
“Kakang.”
“Iya?”
“Nanti kalau aku pulang jangan sedih.”
Riyadi tertawa kecil.
“Sulit.”
“Hahaha...”
“Serius.”
“Ya gimana... baru ketemu bentar.”
Ari Yanti memandang wajah Riyadi cukup lama.
Lalu berkata pelan:
“Tapi sekarang kita gak akan hilang lagi.”
Riyadi tersenyum hangat.
“Iya.”
Kalimat itu sederhana.
Namun cukup untuk menenangkan hati mereka berdua.
Karena setelah semua perjalanan panjang itu...
mereka akhirnya percaya bahwa hubungan mereka tidak lagi bergantung pada jarak atau waktu.
Angin pagi bertiup lembut melewati halaman rumah.
Daun-daun pohon di samping rumah bergerak perlahan.
Dan suasana desa pagi itu terasa begitu tenang.
“Kakang...”
“Hm?”
“Aku masih gak nyangka akhirnya bisa sampai di Sriwidadi.”
“Kenapa?”
“Karena dulu Kalimantan itu rasanya jauh banget.”
“Sekarang?”
Ari Yanti tersenyum kecil.
“Sekarang malah terasa dekat.”
Riyadi memandang wajah Ari Yanti cukup lama.
Lalu berkata pelan:
“Mungkin karena hati memang selalu tahu jalan pulangnya.”
Ari Yanti langsung tersenyum sambil menahan air mata.
Sebelum keberangkatan...
Ari Yanti meminta satu hal.
“Kaang.”
“Hm?”
“Aku pengen lihat Roman Epiknya lagi.”
Riyadi tersenyum kecil.
Lalu mengambil laptop yang sejak tadi disimpan di ruang tamu.
Ia membuka file Roman Epik Merpati Tak Pernah Ingkar Janji.
Halaman demi halaman mulai terlihat di layar.
Ari Yanti membaca perlahan.
Sesekali tersenyum.
Sesekali matanya berkaca-kaca.
Karena hampir semua perjalanan hidup mereka kini tertulis di sana.
Tentang latihan karate Minggu pagi.
Tentang sepeda ontel di Tegorejo.
Tentang Semarang.
Tentang rasa cemburu masa muda.
Tentang perpisahan panjang.
Tentang Sriwidadi.
Dan tentang pertemuan kembali yang terasa mustahil namun akhirnya nyata.
“Kaang...”
“Iya?”
“Ini bukan cuma Roman Epiknya, ya?”
“Terus?”
“Ini rumah kenangan kita.”
Riyadi menatap layar laptop beberapa detik.
Lalu mengangguk pelan.
Karena memang benar.
Roman Epik itu bukan sekadar cerita.
Melainkan tempat semua perjalanan mereka disimpan agar tidak hilang dimakan waktu.
Ari Yanti lalu berhenti di halaman paling akhir.
Di sana masih kosong.
Belum ada penutup.
“Ending-nya belum ada?”
“Belum.”
“Kenapa?”
Riyadi tersenyum kecil.
Lalu menjawab perlahan:
“Karena cerita kita juga belum selesai.”
Mata Ari Yanti langsung berkaca-kaca lagi.
Namun kali ini ia tertawa kecil sambil mengusap air matanya.
“Kakang ini memang paling bisa bikin aku nangis.”
“Hahaha...”
Tak lama kemudian...
suara salah satu anggota keluarga memanggil Ari Yanti dari luar rumah.
Tanda bahwa waktu keberangkatan sudah tiba.
Dan untuk sesaat...
suasana kembali terasa berat.
Namun kali ini tidak ada ketakutan seperti dulu.
Karena sekarang mereka tahu:
perpisahan hanyalah jeda sebelum kembali bercerita lagi.
“Sinok.”
“Iya?”
“Hati-hati di jalan.”
“Iya.”
“Kalau sampai rumah kabarin.”
“Siap Kakang.”
Mereka saling menatap cukup lama.
Lalu tanpa banyak kata...
Ari Yanti memeluk Riyadi perlahan.
Pelukan hangat yang penuh rasa syukur.
Bukan pelukan perpisahan yang menyakitkan seperti puluhan tahun lalu.
Melainkan pelukan dua sahabat yang akhirnya berdamai dengan waktu.
“Terima kasih ya, Kaang.”
“Buat?”
“Karena udah bikin aku nemuin lagi bagian hidup yang hilang.”
Riyadi memejamkan mata beberapa detik.
Lalu menjawab lirih:
“Karena Sinok juga rumah buat Kakang.”
Air mata kembali jatuh di pipi Ari Yanti.
Namun kali ini ia tersenyum.
Mobil rombongan keluarga perlahan mulai bergerak meninggalkan rumah Riyadi.
Riyadi berdiri di tepi jalan desa sambil melambaikan tangan.
Sementara Ari Yanti menurunkan kaca mobil dan terus tersenyum ke arahnya.
Mobil itu perlahan melewati jalan kecil Desa Sriwidadi.
Melewati hamparan sawit.
Melewati kantor desa yang sempat mereka kunjungi bersama.
Melewati jalan panjang yang kini menyimpan begitu banyak kenangan baru.
Hingga akhirnya mobil itu perlahan menjauh...
dan hilang di tikungan jalan desa.
Namun anehnya...
Riyadi tidak lagi merasa kehilangan seperti dulu.
Karena kini hatinya tenang.
Ia lalu kembali masuk ke rumah.
Membuka laptopnya perlahan.
Memandangi halaman terakhir Roman Epik yang masih kosong.
Dan setelah menarik napas panjang...
akhirnya ia mulai mengetik pelan:
“Beberapa cerita memang tidak pernah benar-benar selesai. Ia hanya berhenti sejenak untuk memberi ruang bagi waktu menjaga kenangan.”
Sementara di dalam perjalanan meninggalkan Sriwidadi...
Ari Yanti memandang langit pagi Kalimantan dari balik jendela mobil.
Hamparan hijau perkebunan sawit terus bergerak perlahan di sepanjang jalan.
Lalu ia tersenyum kecil sambil berbisik dalam hati:
“Merpati memang tak pernah ingkar janji.”
Dan pagi itu...
di antara langit Sriwidadi, jalan panjang Kalimantan, dan kenangan yang akhirnya menemukan rumahnya kembali...
dua sahabat lama kembali percaya bahwa beberapa hubungan memang ditakdirkan hidup selamanya di hati.
BAB L
MERPATI TAK PERNAH INGKAR JANJI
Malam turun perlahan di Desa Sriwidadi.
Angin dari Sungai Kapuas berembus lembut melewati jendela ruang kerja kecil milik Riyadi .
Lampu meja masih menyala.
Laptop di depannya terbuka pada halaman terakhir Roman Epik yang telah ia tulis berbulan-bulan lamanya.
Lima puluh bab.
Ribuan kenangan.
Puluhan tahun perjalanan hati.
Dan malam itu...
akhirnya ia sampai di penghujung cerita.
Namun anehnya...
Riyadi tidak merasa sedang menulis akhir.
Ia justru merasa sedang menyimpan sesuatu agar tetap hidup selamanya.
Di layar laptop...
judul besar itu kembali terlihat:
MERPATI TAK PERNAH INGKAR JANJI
Di bawahnya tertulis subjudul:
“Sahabat sejati akan tetap menjaga kepercayaan dan tidak meninggalkan janji persahabatan, tempat, jarak dan waktu memisahkannya.”
Riyadi memandang tulisan itu cukup lama.
Lalu tersenyum kecil.
Karena kini ia benar-benar memahami makna semua perjalanan itu.
Bukan tentang siapa yang paling mencintai.
Bukan tentang siapa yang akhirnya memiliki.
Tetapi tentang siapa yang tetap tinggal di hati meski dipisahkan kehidupan.
Ponselnya berbunyi pelan.
Video call dari Ari Yanti masuk.
Begitu wajah itu muncul...
Riyadi langsung tersenyum hangat.
“Sinok belum tidur?”
“Belum.”
“Kenapa?”
“Perasaan gak tenang.”
“Kenapa lagi?”
“Karena Kakang pasti lagi nulis ending.”
Riyadi tertawa kecil.
“Masih aja ngerti.”
“Hahaha.”
Malam itu...
mereka kembali berbicara panjang seperti biasanya.
Tentang perjalanan hidup.
Tentang masa muda.
Tentang anak-anak mereka yang kini mulai dewasa.
Dan tentang betapa ajaibnya waktu yang dulu memisahkan justru akhirnya mempertemukan mereka kembali.
“Kakang.”
“Hm?”
“Kalau dipikir-pikir... hidup kita lucu ya.”
“Kenapa?”
“Dulu aku nangis karena ditinggal.”
“Iya.”
“Sekarang aku nangis karena bersyukur ketemu lagi.”
Riyadi terdiam beberapa detik.
Lalu berkata pelan:
“Mungkin Tuhan sengaja memutar jalan kita sejauh itu supaya kita belajar arti kehilangan.”
Ari Yanti mengangguk perlahan.
Matanya mulai berkaca-kaca.
Selama tiga puluh dua tahun...
mereka pernah menjalani hidup masing-masing dengan perasaan kehilangan yang diam-diam tetap tinggal di hati.
Namun kini...
mereka sadar bahwa semua perjalanan panjang itu bukan kesia-siaan.
Karena pada akhirnya...
mereka dipertemukan kembali untuk memahami makna persahabatan yang sesungguhnya.
“Sinok.”
“Iya?”
“Kakang mau baca halaman terakhir.”
Ari Yanti langsung diam.
“Sekarang?”
“Iya.”
“Baca.”
Riyadi menarik napas panjang.
Lalu mulai membaca tulisan terakhir Romannya dengan suara perlahan:
“Kami pernah dipisahkan oleh waktu, jarak, dan kehidupan.
Pernah saling kehilangan tanpa kabar selama tiga puluh dua tahun.
Pernah menangis dalam diam karena mengira semuanya telah benar-benar selesai.
Namun pada akhirnya kami mengerti...
bahwa beberapa hubungan tidak dibangun untuk saling memiliki.
Melainkan untuk saling menjaga dalam doa dan kenangan.
Kami hanyalah dua remaja desa yang pernah tumbuh bersama di jalan kecil Tegorejo.
Tentang sepeda ontel.
Tentang latihan karate Minggu pagi.
Tentang tawa dan tangis masa remaja.
Dan tentang sebuah janji sederhana yang ternyata dijaga waktu begitu lama.
Kini kami telah sampai di usia yang tidak lagi muda.
Rambut mulai memutih.
Wajah tak lagi sama seperti dulu.
Namun ada satu hal yang tetap hidup:
ketulusan.
Karena pada akhirnya kami percaya...
MERPATI TAK PERNAH INGKAR JANJI.
Sahabat sejati akan tetap menjaga kepercayaan dan tidak meninggalkan janji persahabatan, meski tempat, jarak, dan waktu memisahkannya.”
Suasana mendadak hening.
Di ujung video call...
Ari Yanti menunduk sambil menangis pelan.
Namun bibirnya tetap tersenyum.
“Kaang...”
“Hm?”
“Terima kasih.”
“Buat?”
“Karena udah menjaga kenangan ini tetap hidup.”
Riyadi memandang layar cukup lama.
Lalu menjawab lirih:
“Karena Sinok juga gak pernah lupa jalan pulang.”
Di luar rumah...
langit malam tampak begitu tenang.
Bintang-bintang bersinar di atas Sungai Kapuas.
Dan ribuan kilometer di Jawa Tengah...
langit yang sama menaungi rumah Ari Yanti.
Malam itu...
tidak ada lagi kesedihan.
Tidak ada lagi penyesalan.
Yang ada hanya rasa syukur.
Karena setelah perjalanan panjang yang melelahkan...
dua hati akhirnya menemukan kedamaian.
Ari Yanti lalu berkata pelan:
“Kakang.”
“Iya?”
“Kalau suatu hari nanti kita sudah gak ada...”
“Jangan ngomong begitu.”
“Tapi dengarkan dulu.”
“Iya.”
“Aku harap cerita kita tetap hidup.”
Air mata Riyadi perlahan jatuh.
Lalu ia mengangguk sambil tersenyum.
“Selama masih ada yang membaca... kita gak akan benar-benar hilang.”
Malam semakin larut.
Namun tak satu pun dari mereka ingin segera menutup percakapan.
Karena mereka tahu...
kisah ini bukan akhir.
Melainkan awal dari cara baru untuk saling menjaga.
Dan di malam yang sunyi itu...
Riyadi akhirnya menekan tombol terakhir:
SELESAI
Namun jauh di dalam hati mereka...
keduanya tahu satu hal:
beberapa cerita memang tidak pernah benar-benar tamat.
Ia akan terus hidup...
di dalam doa,
di dalam kenangan,
dan di hati orang-orang yang pernah saling menjaga dengan tulus.
EPILOG
Tahun-tahun akan terus berjalan.
Usia akan terus bertambah.
Anak-anak akan tumbuh dewasa.
Dan dunia akan terus berubah.
Namun di suatu sudut kecil kehidupan...
akan selalu ada kisah tentang dua remaja desa dari Tegorejo yang pernah dipisahkan waktu selama tiga puluh dua tahun.
Tentang seorang gadis manja bernama Ari Yanti yang memanggil sahabatnya dengan sebutan “Kakang.”
Dan tentang seorang pemuda bernama Riyadi yang selalu memanggilnya “Sinok.”
Mereka bukan pasangan sempurna dalam dongeng.
Bukan pula kisah cinta besar yang penuh kemewahan.
Mereka hanyalah dua manusia biasa...
yang dipertemukan oleh ketulusan.
Dipisahkan oleh kehidupan.
Dan dipersatukan kembali oleh kenangan.
Di suatu pagi yang tenang...
mungkin seseorang akan membaca Roman Epik ini di teras rumah sambil mendengar suara burung merpati.
Dan saat itu...
ia akan mengerti bahwa ada janji yang benar-benar dijaga oleh hati.
Karena memang benar adanya:
“MERPATI TAK PERNAH INGKAR JANJI.”
Terima kasih karena telah menjadi teman sejatiku yang membuat setiap momen terasa bermakna. Persahabatanmu adalah cahaya yang membimbingku melewati saat-saat tersulit."Terima kasih telah menjadi sosok yang memahami segala kekurangan namun tetap memilih untuk menghabiskan waktu bersama."
Pesan morral
Sahabat sejati adalah seseorang yang tidak hanya menemani saat bahagia, tetapi juga menjadi sandaran kuat di masa-masa sulit".
Sahabat sejati tidak akan pernah meninggalkanmu saat kamu gagal atau terpuruk. Justru di saat itulah mereka membuktikan kesetiaannya".
TAMAT
Anang
30 Januari 2025 19:28:34
Lanjutkan mas... Semoga website desa pian semakin maju...