NOVEL ROMANSA KAMPUS
DI ANTARA BUCIN DAN ROMANSA
“Ketika cinta terlalu dipuja, persahabatan menjadi korban, dan penyesalan datang saat semuanya terlambat.”
DISCLAIMER
Novel ini adalah karya fiksi yang ditulis untuk tujuan hiburan dan pembelajaran emosional kehidupan remaja serta mahasiswa.
Seluruh nama tokoh, tempat, institusi, dialog, peristiwa, dan alur cerita di dalam novel ini merupakan hasil imajinasi penulis. Apabila terdapat kesamaan nama, lokasi, atau kejadian dengan dunia nyata, hal tersebut hanyalah kebetulan semata dan tidak dimaksudkan untuk merujuk kepada pihak tertentu.
Novel ini mengandung unsur drama percintaan, konflik persahabatan, pengkhianatan, tekanan sosial kampus, serta pergolakan batin anak muda yang sedang mencari arti cinta dan jati diri.
Pembaca diharapkan dapat mengambil sisi pembelajaran dari setiap konflik yang terjadi di dalam cerita.
Oleh: Slamet Riyadi
PROLOG
“Hujan yang Membawa Penyesalan”
Hujan turun perlahan di kota itu.
Lampu-lampu jalan memantul di genangan air yang memenuhi halaman kampus. Malam terasa dingin. Angin berembus lembut membawa aroma tanah basah yang bercampur dengan wangi daun setelah hujan.
Di depan Gedung Fakultas Sosial dan Humaniora, seorang perempuan berdiri diam sambil menggenggam sebuah amplop putih yang mulai kusut terkena air.
Namanya Titik.
Rambut panjangnya yang biasanya tertata rapi kini sedikit berantakan tertiup angin malam. Matanya sembab. Bibirnya bergetar menahan sesuatu yang sejak tadi terus memaksa keluar dari dadanya.
Tangannya menggenggam kuat undangan berwarna emas itu.
Undangan pertunangan Henri.
Dengan perempuan lain.
Titik tertawa kecil.
Namun tawanya terdengar menyakitkan.
Pelan.
Rapuh.
Dan penuh penyesalan.
“Lucu ya…” bisiknya lirih.
“Dulu aku takut kehilangan dia… sekarang aku benar-benar kehilangannya.”
Air matanya jatuh perlahan.
Satu demi satu.
Langit malam seakan ikut diam memandang perempuan itu runtuh sendirian.
Dari kejauhan, seorang laki-laki berdiri di bawah atap parkiran kampus.
Rahmat.
Ia mengenakan jaket hitam sederhana dengan tas ransel yang menggantung di bahunya. Tatapannya lurus ke arah Titik.
Namun langkahnya tertahan.
Seolah ada jarak yang terlalu jauh untuk didekati.
Padahal dulu…
Mereka pernah begitu dekat.
Sangat dekat.
Rahmat menunduk pelan sambil menghela napas panjang.
Sahabat yang dulu selalu ia lindungi… kini berdiri sendirian dalam hujan.
Dan ironisnya…
Ia bukan lagi orang yang boleh menenangkan perempuan itu.
Beberapa mahasiswa yang baru keluar dari gedung melirik ke arah Titik.
Ada yang berbisik.
Ada yang mengenali wajahnya.
“Eh itu Titik, kan?”
“Iya…”
“Katanya dulu pacaran lama sama Henri.”
“Kasihan juga sih…”
“Tapi bukannya dia sendiri yang ninggalin Rahmat dulu?”
“Makanya… karma mungkin.”
Bisik-bisik itu terdengar samar.
Namun cukup untuk membuat dada Titik terasa semakin sesak.
Ia memejamkan mata.
Kenangan demi kenangan mulai datang tanpa izin.
Tentang masa-masa awal kuliah.
Tentang tawa di kantin kampus.
Tentang tugas kelompok yang berubah menjadi cerita panjang sampai tengah malam.
Tentang seseorang yang selalu datang membawa kopi hangat saat ia begadang mengerjakan tugas.
Tentang seseorang yang selalu mendengarkan keluh kesahnya tanpa pernah menghakimi.
Rahmat.
Nama itu kembali memenuhi pikirannya.
Titik menggigit bibirnya kuat-kuat.
“Kenapa aku baru sadar sekarang…” lirihnya pelan.
Hujan semakin deras.
Suara petir menggema samar di langit kota.
Dan malam itu…
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama…
Titik benar-benar merasa sendirian.
Empat tahun sebelumnya…
Hari pertama masuk kuliah selalu terasa kacau.
Begitulah yang dirasakan Titik saat turun dari angkot biru tua di depan kampus Universitas Mahardika Nusantara.
Ia memandangi gerbang kampus besar itu dengan gugup.
Dadanya berdebar.
Tangannya sibuk merapikan jilbab cream yang sedari tadi terus tertiup angin.
“Ya Tuhan…” gumamnya pelan.
“Ini kampus besar banget…”
Suara klakson motor membuatnya sedikit terkejut.
Seorang mahasiswa senior berteriak dari kejauhan.
“WOI MABA CEPAT MASUK! OSPEK MULAI!”
Titik langsung panik.
“Iya, Kak!”
Ia buru-buru berlari kecil sambil membawa map biru dan tas ranselnya.
Namun baru beberapa langkah—
BRUK!
Tubuhnya menabrak seseorang.
Map birunya jatuh.
Kertas-kertas berserakan.
“Aduh!”
“Eh, maaf! Maaf banget!”
Titik jongkok panik mengambil kertasnya yang berhamburan.
Seseorang ikut membantu memungutnya.
“Ini punya kamu.”
Suara laki-laki itu terdengar tenang.
Titik mendongak.
Dan untuk sesaat…
Waktu seperti berhenti.
Laki-laki itu memiliki wajah teduh dengan mata yang tenang. Tidak terlalu mencolok. Tidak seperti mahasiswa populer pada umumnya.
Namun sorot matanya terasa hangat.
Menenangkan.
“Mak… makasih…” ucap Titik gugup.
Laki-laki itu tersenyum kecil.
“Kamu mahasiswa baru?”
“Iya…”
“Jurusan apa?”
“Ilmu Komunikasi.”
Laki-laki itu terlihat sedikit terkejut.
“Serius?”
“Iya… kenapa?”
Ia terkekeh pelan.
“Kebetulan banget.”
“Kenapa kebetulan?”
“Aku juga Ilmu Komunikasi.”
Belum sempat Titik menjawab—
“WOIIII RAHMAT!”
Suara keras terdengar dari arah parkiran.
Seorang laki-laki tinggi dengan wajah tampan berjalan mendekat sambil tersenyum lebar.
Gayanya percaya diri.
Kaos hitamnya terlihat sederhana, tetapi auranya langsung mencuri perhatian banyak orang.
Beberapa mahasiswi bahkan diam-diam memperhatikannya.
“Lu ngapain di sini?” tanyanya sambil menepuk bahu Rahmat.
“Bantuin maba jatuh.”
Laki-laki itu lalu menatap Titik.
Beberapa detik.
Lalu tersenyum miring.
“Wah… maba baru ya?”
Titik mengangguk pelan.
“I… iya.”
“Nama?”
“Titik.”
“Hm…”
Laki-laki itu mengulurkan tangan.
“Heni— eh salah.”
Ia tertawa kecil.
“Henri.”
Titik membalas jabatan tangannya pelan.
Dan entah kenapa…
Sejak detik itu…
Takdir mereka bertiga perlahan mulai berjalan ke arah yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.
Malam semakin larut.
Kembali ke masa sekarang.
Titik masih berdiri di depan gedung kampus.
Rahmat akhirnya melangkah mendekat.
Pelan.
Sangat pelan.
Sampai akhirnya ia berdiri tepat di depan perempuan yang dulu pernah menjadi alasan terbesarnya bertahan selama masa kuliah.
“Titik…”
Perempuan itu perlahan mengangkat wajahnya.
Dan saat mata mereka bertemu…
Ada luka lama yang kembali hidup.
Rahmat tersenyum tipis.
“Udah malam.”
Titik menatapnya lama.
Suaranya bergetar ketika berkata—
“Mat…”
“Iya?”
“Kalau waktu bisa diputar ulang…”
Rahmat terdiam.
Titik menunduk.
Air matanya kembali jatuh.
“Aku pengen jadi perempuan yang dulu memilih kamu.”
Dan malam itu…
Di bawah hujan yang tak kunjung reda…
Penyesalan akhirnya datang terlalu terlambat.
BAB I
MAHASISWI BARU DARI KOTA KECIL
Pagi itu matahari belum terlalu tinggi ketika bus antarkota yang ditumpangi Titik akhirnya memasuki terminal kota.
Suasana terminal ramai.
Suara pedagang makanan bercampur dengan teriakan kernet bus yang saling bersahutan memenuhi udara pagi.
Titik turun perlahan sambil membawa dua tas besar dan satu ransel hitam di pundaknya. Wajahnya terlihat lelah setelah perjalanan hampir sebelas jam dari kampung halamannya.
Namun di balik rasa lelah itu…
Ada semangat yang begitu besar di matanya.
Hari itu adalah hari pertama ia memulai hidup baru sebagai mahasiswa.
Ia berdiri sebentar di pinggir terminal sambil memandangi kota besar di hadapannya.
Gedung-gedung tinggi.
Jalan raya yang ramai.
Motor berlalu-lalang tanpa henti.
Dan orang-orang yang berjalan cepat seolah tak punya waktu untuk berhenti.
Berbeda sekali dengan kampung kecil tempat ia dibesarkan.
Di sana…
Orang-orang masih saling menyapa di jalan.
Masih mengenal satu sama lain.
Masih punya waktu duduk sore di teras rumah sambil bercerita.
Sedangkan di kota ini…
Semua terasa asing.
Titik menarik napas panjang.
“Bismillah…” gumamnya lirih.
Ponselnya bergetar.
Nama “IBU” muncul di layar.
Titik langsung mengangkatnya cepat.
“Assalamualaikum, Bu.”
“Waalaikumsalam. Gimana, Nak? Udah sampai?”
“Udah, Bu.”
“Alhamdulillah…”
Suara ibunya terdengar lega dari seberang telepon.
“Ibu dari tadi kepikiran terus.”
Titik tersenyum kecil.
“Aku baik-baik aja kok, Bu.”
“Kamu hati-hati di kota orang. Jangan gampang percaya sama siapa pun.”
“Iya, Bu.”
“Jaga shalat.”
“Iya.”
“Jangan lupa makan.”
“Iya…”
“Belajar yang rajin.”
“Iya, Ibu sayang.”
Ibunya tertawa kecil mendengar jawaban itu.
Namun beberapa detik kemudian suaranya berubah pelan.
“Tik…”
“Iya?”
“Kamu harus sukses.”
Kalimat itu membuat Titik diam.
Dadanya terasa hangat.
Ia tahu…
Orang tuanya bekerja keras agar ia bisa kuliah di kota besar.
Ayahnya hanya seorang tukang kayu di kampung.
Sedangkan ibunya membuka warung kecil di depan rumah.
Tak banyak penghasilan mereka.
Bahkan untuk biaya keberangkatan Titik ke kota saja, ayahnya harus menjual motor tua kesayangannya.
Dan itu selalu membuat hati Titik terasa sesak setiap kali mengingatnya.
“Aku bakal serius kuliah, Bu,” ucapnya pelan.
“Ibu percaya sama kamu.”
Titik tersenyum sambil menahan air mata.
“Doain aku ya.”
“Selalu.”
Telepon terputus.
Titik memandangi layar ponselnya beberapa detik sebelum akhirnya memasukkannya ke tas.
Ia lalu melangkah keluar terminal mencari ojek online yang tadi ia pesan.
Namun baru beberapa langkah—
“NON! MAU OJEK NON?”
“NON KE MANA?”
“AYO NON MURAH!”
Titik langsung panik dikerubungi tukang ojek pangkalan.
“Eh… anu… saya udah pesan online…”
“Online lama, Non.”
“Sini aja.”
“Murah!”
Titik tersenyum kikuk.
“Maaf ya, Pak…”
Untung saja motor pesanannya datang tepat waktu.
Seorang bapak setengah baya memakai jaket hijau berhenti di depannya.
“Atas nama Titik?”
“Iya, Pak.”
“Yuk.”
Sepanjang perjalanan menuju kos-kosan, Titik terus melihat ke luar jalan.
Matanya berbinar.
Kota ini benar-benar berbeda dari tempat asalnya.
Ada mal besar.
Cafe modern.
Gedung kampus tinggi.
Dan jalan-jalan yang ramai bahkan sejak pagi.
“Pertama kali ke sini, Mbak?” tanya driver ojek.
“Iya, Pak.”
“Kuliah?”
“Iya.”
“Semangat ya. Anak rantau hebat-hebat biasanya.”
Titik tersenyum malu.
“Aamiin.”
Tak lama kemudian motor berhenti di depan sebuah gang kecil.
“Nah, kosnya di dalam situ.”
Titik turun sambil memandangi bangunan tiga lantai bercat putih biru itu.
Kos Putri Melati Indah.
Ia menghela napas panjang.
“Inilah rumah baruku…”
Kamar kos Titik tidak besar.
Hanya ada kasur kecil, lemari kayu, meja belajar, kipas angin, dan jendela menghadap gang sempit.
Namun bagi Titik…
Itu sudah lebih dari cukup.
Ia duduk perlahan di atas kasur sambil melihat sekeliling kamar.
Sunyi.
Untuk pertama kalinya dalam hidup…
Ia benar-benar jauh dari rumah.
Tak ada suara ibu di dapur.
Tak ada suara televisi ayah.
Tak ada aroma kopi pagi.
Yang ada hanya suara kipas angin berdecit dan kendaraan dari luar gang.
Titik merebahkan tubuhnya pelan.
Dan tiba-tiba…
Air matanya jatuh.
Entah kenapa.
Mungkin karena lelah.
Mungkin juga karena rindu rumah yang mendadak datang.
Namun ia cepat-cepat menghapus air matanya.
“Nggak boleh nangis…” gumamnya pelan.
“Aku harus kuat.”
Keesokan paginya…
Hari pertama ospek dimulai.
Sejak subuh Titik sudah sibuk di depan cermin kecil kamarnya.
Ia mengenakan kemeja putih, rok hitam panjang, sepatu hitam, dan atribut ospek yang terasa ribet.
Topi aneh.
Name tag besar.
Dan pita warna-warni yang membuatnya malu sendiri.
“Aduh ya Allah…” keluhnya sambil melihat pantulan dirinya.
“Aneh banget…”
Namun ia tetap tersenyum kecil.
Bagaimanapun…
Hari itu adalah awal cerita hidupnya di kampus.
Ia berangkat lebih pagi karena takut terlambat.
Dan benar saja—
Gerbang Universitas Mahardika Nusantara sudah ramai oleh mahasiswa baru.
Suara senior terdengar keras di mana-mana.
“MABA CEPAT BARIS!”
“YANG RAMBUT PANJANG IKAT!”
“JANGAN ADA YANG TELAT!”
Titik langsung gugup.
Ia berdiri kikuk sambil membawa map biru dan botol minum.
Tiba-tiba seseorang di belakangnya berbisik—
“Eh… atribut pundakmu kebalik.”
Titik menoleh cepat.
Seorang perempuan berkacamata berdiri sambil tersenyum ramah.
“Oh ya?”
“Iya.”
“Ya ampun…”
Titik buru-buru membetulkannya.
Perempuan itu tertawa kecil.
“Tenang aja. Aku tadi juga salah.”
Titik ikut tertawa.
“Aku Titik.”
“Aku Salsa.”
Dan begitulah…
Persahabatan pertama Titik di kota itu dimulai.
Ospek berjalan melelahkan.
Senior terus memberi tugas.
Teriakan terdengar di mana-mana.
Panas matahari membuat semua mahasiswa baru kepayahan.
Saat jam istirahat tiba, Titik memilih duduk di taman kampus sambil mengipas wajahnya dengan map.
“Capek banget…” keluhnya.
Salsa tertawa.
“Baru juga hari pertama.”
Titik membuka botol minumnya.
Namun saat berdiri—
BRUK!
Tubuhnya menabrak seseorang.
Botol minumnya jatuh.
Map birunya terlempar.
Kertas tugas berserakan di jalan taman.
“Aduh!”
“Eh, maaf!”
Titik langsung jongkok panik.
“Ya Allah tugas aku!”
Seseorang ikut membantu memungut kertasnya.
Tangannya tenang.
Gerakannya pelan.
“Ini punya kamu.”
Titik mendongak.
Dan untuk sesaat…
Ia terdiam.
Laki-laki itu berwajah teduh dengan mata yang lembut. Tidak terlalu mencolok. Namun ada sesuatu dalam sorot matanya yang membuat orang merasa nyaman.
“Makasih…” ucap Titik gugup.
Laki-laki itu tersenyum kecil.
“Kamu anak Ilmu Komunikasi ya?”
Titik mengangguk.
“Iya.”
“Aku juga.”
“Oh…”
Belum sempat percakapan lanjut—
“WOI RAHMAT!”
Suara keras terdengar dari belakang.
Seorang laki-laki tinggi berjalan mendekat sambil membawa helm hitam di tangan.
Wajahnya tampan.
Senyumnya percaya diri.
Auranya langsung menarik perhatian beberapa mahasiswi di sekitar taman.
“Lu dari tadi di sini ternyata,” katanya.
Rahmat tertawa kecil.
“Bantuin orang.”
Laki-laki itu lalu menatap Titik.
Beberapa detik.
Lalu tersenyum tipis.
“Anak baru?”
Titik mengangguk pelan.
“Iya…”
“Nama?”
“Titik.”
“Hm…”
Ia mengulurkan tangan.
“Henri.”
Titik ragu sebentar sebelum membalas jabat tangannya.
Dan entah kenapa…
Saat tangan mereka bersentuhan—
Ada sesuatu yang pelan-pelan mulai mengubah hidup mereka bertiga.
Sesuatu yang nantinya akan menghadirkan cinta…
Persahabatan…
Pengkhianatan…
Dan penyesalan panjang yang tidak mudah dilupakan.
BAB II
DUA LAKI-LAKI YANG BERBEDA
Langit kampus siang itu terasa terik.
Mahasiswa baru masih sibuk mondar-mandir membawa atribut ospek yang aneh-aneh. Ada yang memakai kardus bertuliskan nama kelompok, ada yang membawa tas dari karung beras, bahkan ada yang memakai topi berbentuk buah.
Di tengah keramaian itu, Titik berjalan pelan sambil memegang map birunya erat-erat.
Namun pikirannya tidak fokus.
Entah kenapa wajah dua laki-laki yang baru dikenalnya tadi terus terbayang di kepalanya.
Rahmat.
Dan Henri.
Dua orang yang sangat berbeda.
Rahmat terlihat tenang, sederhana, dan tidak banyak bicara.
Sedangkan Henri…
Terlalu mencolok untuk diabaikan.
Salsa yang berjalan di samping Titik tiba-tiba menyenggol lengannya pelan.
“Heh.”
“Hm?”
“Itu cowok tadi kenal sama kamu?”
“Yang mana?”
“Yang ganteng banget itu.”
Titik langsung salah tingkah.
“Apaan sih…”
Salsa tertawa kecil.
“Yang namanya Henri.”
“Oh… baru kenal.”
“Dia terkenal tau.”
Titik menoleh.
“Serius?”
“Iya.”
“Kok bisa?”
“Katanya anak organisasi. Terus banyak yang kenal.”
Titik hanya mengangguk pelan.
Namun belum sempat ia menjawab—
“WOI KELOMPOK TIGA CEPAT KUMPUL!”
Suara senior menggema keras.
Mahasiswa baru langsung panik berhamburan menuju lapangan.
Ospek hari kedua jauh lebih melelahkan.
Mereka harus mengikuti berbagai kegiatan dari pagi sampai sore.
Titik mulai kewalahan.
Kakinya pegal.
Kepalanya pening.
Dan perutnya lapar karena sejak pagi belum sempat makan.
Saat istirahat siang tiba, ia memilih duduk sendiri di bawah pohon dekat gedung fakultas.
Ia membuka bekal kecil dari kos.
Nasi, telur dadar, dan sambal buatan ibunya.
Baru saja ia ingin makan—
“Sendirian?”
Titik mendongak cepat.
Henri berdiri di depannya sambil membawa dua minuman dingin.
“Oh… kamu.”
Henri duduk santai di sebelahnya tanpa canggung sedikit pun.
“Kamu belum makan?”
“Baru mau.”
Henri melihat isi bekalnya.
“Wah sederhana banget.”
Titik langsung salah tingkah.
“Ya… seadanya.”
Henri tersenyum kecil.
“Kelihatan enak.”
Titik tertawa kecil.
“Mau?”
“Boleh?”
Titik mengangguk pelan lalu menyodorkan kotak bekalnya.
Henri mengambil sedikit telur dadar.
Dan beberapa detik kemudian matanya membesar.
“Serius ini enak banget.”
Titik tertawa.
“Masa sih?”
“Demi apa.”
Henri lalu menunjuk minuman di tangannya.
“Nih buat kamu.”
“Eh nggak usah.”
“Ambil aja.”
“Tapi—”
“Anggap aja barter telur.”
Titik akhirnya menerima minuman itu sambil tersenyum kecil.
Dan tanpa sadar…
Percakapan mereka mulai mengalir begitu saja.
Tentang kampung halaman.
Tentang jurusan kuliah.
Tentang cita-cita.
Tentang alasan kenapa memilih kampus itu.
Henri ternyata pandai bicara.
Sangat pandai.
Ia selalu tahu bagaimana membuat lawan bicaranya nyaman.
Bahkan beberapa kali Titik tertawa sampai lupa rasa lelahnya.
“Jadi kamu pengen jadi jurnalis?” tanya Henri.
“Iya.”
“Kenapa?”
Titik terdiam sebentar.
“Aku suka cerita.”
“Cerita?”
“Iya. Aku pengen bikin tulisan yang bisa bikin orang ngerti tentang kehidupan orang lain.”
Henri memandangnya beberapa detik.
Lalu tersenyum kecil.
“Kamu beda ya.”
Titik mengernyit bingung.
“Beda gimana?”
“Kebanyakan orang masuk komunikasi karena pengen terkenal.”
“Kalau aku nggak.”
“Makanya beda.”
Jantung Titik berdetak aneh mendengar itu.
Dan entah kenapa…
Ia mulai merasa nyaman berada di dekat Henri.
Di sisi lain kampus…
Rahmat berdiri di depan koperasi sambil memegang dua bungkus roti dan air mineral.
Ia baru saja selesai membantu panitia ospek.
Namun langkahnya terhenti saat melihat Titik tertawa bersama Henri di bawah pohon.
Rahmat diam.
Tatapannya tenang.
Tetapi ada sesuatu yang pelan-pelan terasa mengganjal di dadanya.
Seorang teman menghampirinya.
“Mat.”
“Hm?”
“Itu Henri cepet banget ya deket sama cewek.”
Rahmat tersenyum tipis.
“Itu emang sifatnya.”
“Kasihan ceweknya kalau baper.”
Rahmat tidak menjawab.
Matanya masih tertuju ke arah Titik.
Entah kenapa…
Perempuan itu terlihat berbeda dibanding mahasiswa baru lainnya.
Ada sesuatu dalam caranya bicara.
Caranya tersenyum.
Caranya mendengarkan orang lain.
Yang membuat Rahmat diam-diam memperhatikannya lebih lama dari seharusnya.
Sore harinya…
Ospek akhirnya selesai.
Mahasiswa baru keluar kampus dengan wajah lelah.
Titik berjalan pelan menuju halte depan kampus.
Namun baru beberapa langkah—
“Titik!”
Ia menoleh.
Henri berlari kecil menghampirinya sambil membawa helm.
“Mau pulang?”
“Iya.”
“Bareng gue aja.”
“Hah?”
“Gue naik motor.”
“Oh nggak usah repot…”
Henri tertawa kecil.
“Ini bukan repot.”
“Tapi aku naik angkot aja.”
“Ngapain? Kos kamu daerah Melati kan?”
Titik terkejut.
“Kok tau?”
“Tadi liat alamat di name tag kamu.”
“Oh…”
Henri tersenyum santai.
“Ayo.”
Titik ragu.
Namun sebelum sempat menolak—
“Titik.”
Suara lain terdengar dari belakang.
Rahmat datang sambil membawa motornya pelan.
“Kamu belum pulang?”
Titik menggeleng kecil.
“Mau pulang ini.”
Rahmat melihat Henri sebentar.
Lalu menatap Titik lagi.
“Aku juga lewat daerah kos kamu.”
Henri langsung terkekeh kecil.
“Wah rebutan nih.”
Rahmat hanya diam.
Sedangkan Titik malah makin gugup.
“Eh… aku naik angkot aja nggak apa-apa kok…”
Henri menggeleng cepat.
“Panas.”
Rahmat menimpali pelan.
“Udah sore. Takut kemaleman.”
Titik melongo kecil.
Ia benar-benar tidak tahu harus jawab apa.
Henri akhirnya berkata santai—
“Gini aja.”
“Hm?”
“Biar Rahmat aja yang anter.”
Rahmat sedikit terkejut.
Sedangkan Titik menatap Henri bingung.
“Lah kok?”
Henri tersenyum kecil.
“Soalnya gue masih ada rapat organisasi.”
Rahmat langsung menoleh.
“Bukannya rapatnya besok?”
Henri terdiam sepersekian detik.
Lalu terkekeh.
“Ohiya ya?”
Titik mulai merasa aneh.
Namun Henri malah menepuk bahu Rahmat.
“Yaudah lu aja yang anter.”
Rahmat menghela napas kecil.
“Oke.”
Dan begitulah…
Untuk pertama kalinya Titik pulang bersama Rahmat.
Perjalanan sore itu terasa canggung.
Rahmat tidak banyak bicara.
Berbeda sekali dengan Henri yang selalu bisa mencairkan suasana.
Titik duduk di belakang sambil memegang tasnya erat.
Angin sore berembus lembut menerpa wajah mereka.
Kota mulai ramai oleh lampu kendaraan.
Beberapa menit berlalu tanpa percakapan.
Sampai akhirnya Titik memberanikan diri bicara.
“Kamu pendiem ya?”
Rahmat tertawa kecil.
“Kelihatan?”
“Iya.”
“Habisnya nggak terlalu suka ngomong.”
“Terus gimana punya teman banyak?”
Rahmat tersenyum tipis.
“Aku lebih suka dengerin orang.”
Jawaban itu membuat Titik diam sejenak.
Entah kenapa…
Kalimat sederhana itu terasa hangat.
“Aneh juga ya,” ucap Titik pelan.
“Apa?”
“Kamu sama Henri temenan padahal beda banget.”
Rahmat tertawa kecil.
“Iya.”
“Dari kapan mulai kenal?”
“SMA.”
“Wah lama banget.”
Rahmat mengangguk.
“Henri itu orangnya gampang akrab sama siapa aja.”
“Kalau kamu?”
“Aku nggak.”
“Kenapa?”
Rahmat terdiam beberapa detik sebelum menjawab pelan—
“Nggak semua orang nyaman buat dijadiin tempat pulang.”
Titik langsung diam.
Jantungnya berdetak pelan.
Dan anehnya…
Untuk pertama kali sejak datang ke kota itu…
Ia merasa seperti sedang berbicara dengan seseorang yang sudah lama dikenalnya.
Motor berhenti di depan kos.
“Nah udah sampai.”
Titik turun perlahan.
“Makasih ya.”
Rahmat mengangguk kecil.
“Sama-sama.”
Titik ragu sebentar.
Lalu tersenyum kecil.
“Hati-hati di jalan.”
Rahmat membalas senyum itu tipis.
“Iya.”
Namun sebelum Rahmat pergi—
“Tunggu.”
Rahmat menoleh.
Titik menggigit bibir pelan sebelum berkata—
“Kalau besok… boleh bareng lagi nggak?”
Rahmat sedikit terdiam.
Lalu tersenyum kecil.
“Boleh.”
Dan tanpa mereka sadari…
Hubungan mereka bertiga mulai tumbuh perlahan.
Seperti benang yang awalnya tipis…
Namun nantinya akan kusut oleh cinta, kecemburuan, pengkhianatan, dan penyesalan yang terlalu dalam.
BAB III
KELAS, KANTIN, DAN AWAL PERASAAN
Pagi di Universitas Mahardika Nusantara selalu ramai.
Mahasiswa berlalu-lalang dengan pakaian rapi dan wajah setengah mengantuk. Suara motor bercampur dengan obrolan di depan gedung fakultas membuat suasana kampus terasa hidup.
Hari itu adalah minggu pertama perkuliahan dimulai.
Tidak ada lagi atribut ospek.
Tidak ada lagi bentakan senior.
Kini semuanya benar-benar dimulai sebagai kehidupan mahasiswa sesungguhnya.
Dan Titik…
masih belum terbiasa dengan semuanya.
Ia berdiri di depan papan jadwal sambil menggigit ujung pulpen.
“Kelas Teori Komunikasi di ruang berapa sih…” gumamnya pelan.
Salsa yang berdiri di sampingnya ikut mengerutkan dahi.
“Kayaknya lantai tiga.”
“Yang mana?”
“Itu tuh.”
“Lah itu kan ruang jurnalistik.”
“Eh iya ya…”
Titik menghela napas panjang.
“Aduh aku takut telat.”
Salsa malah tertawa.
“Tenang, kita bukan anak SMA lagi.”
“Iya tapi tetep aja…”
Belum selesai Titik bicara—
“TITIIIIK!”
Suara keras menggema dari kejauhan.
Titik menoleh cepat.
Seorang perempuan berambut pendek berlari sambil membawa buku tebal di dada.
Napasnya ngos-ngosan.
“Ya ampun akhirnya ketemu!”
Salsa terkekeh.
“Dinda telat lagi?”
“Astaga tadi aku nyasar ke gedung ekonomi!”
Dinda adalah teman baru mereka yang terkenal paling heboh di kelas.
Orangnya cerewet.
Ekspresif.
Dan selalu berhasil membuat suasana ramai.
Berbeda dengan Salsa yang lebih kalem dan dewasa.
“Mana kelas kita?” tanya Dinda cepat.
Titik menunjuk jadwal.
“Kita juga lagi cari.”
“Yaudah ayo buru-buru!”
Dinda langsung menarik tangan mereka.
Dan begitulah…
Tiga perempuan itu mulai akrab satu sama lain.
Ruang kelas Ilmu Komunikasi pagi itu penuh suara obrolan.
Beberapa mahasiswa sibuk memilih tempat duduk terbaik.
Ada yang sudah punya kelompok tongkrongan.
Ada yang masih kikuk duduk sendirian.
Titik memilih duduk di tengah bersama Salsa dan Dinda.
Namun belum lama mereka duduk—
“Geser dong.”
Suara laki-laki terdengar dari samping.
Titik menoleh.
Henri berdiri sambil tersenyum santai.
Di belakangnya ada Rahmat yang membawa laptop hitam.
Dinda langsung menyenggol lengan Titik pelan.
“Woi…”
Titik melotot kecil.
“Apaan?”
“Cowok ganteng datang.”
Henri terkekeh mendengarnya.
“Boleh duduk?”
Salsa mengangguk cepat.
“Boleh.”
Henri langsung duduk di sebelah Titik.
Sedangkan Rahmat memilih duduk di samping Salsa.
“Pagi semuanya,” ucap Henri santai.
“Pagi,” jawab mereka hampir bersamaan.
Dinda memperhatikan Henri cukup lama sebelum akhirnya berkata—
“Eh serius nanya.”
“Hm?”
“Kamu model ya?”
Henri langsung tertawa keras.
“Hah?”
“Soalnya muka kamu cocok jadi selebgram.”
Titik spontan ikut tertawa.
Sedangkan Rahmat hanya menggeleng kecil sambil membuka laptopnya.
Henri menunjuk Rahmat.
“Nih yang lebih cocok jadi model.”
Rahmat langsung menatap datar.
“Jangan mulai.”
Dinda malah makin semangat.
“Eh iya bener juga. Rahmat tuh tipe cowok cool.”
Rahmat menghela napas pelan.
Salsa tertawa kecil melihat reaksinya.
Dan sejak pagi itu…
Suasana kelas mereka mulai terasa hangat.
Dosen pertama masuk.
Namanya Pak Ardiansyah.
Seorang dosen muda berkacamata yang terkenal disiplin.
“Selamat pagi.”
“Pagi, Pak.”
“Saya nggak suka mahasiswa terlambat.”
Seluruh kelas langsung diam.
“Dan saya nggak suka mahasiswa malas.”
Dinda berbisik pelan ke Titik.
“Mati kita.”
Titik menahan tawa.
Pak Ardiansyah mulai menjelaskan tentang dunia komunikasi.
Tentang media.
Tentang jurnalistik.
Tentang bagaimana kata-kata bisa memengaruhi kehidupan banyak orang.
Titik mendengarkan serius.
Matanya berbinar.
Ia memang menyukai dunia itu.
Sementara Henri terlihat santai sambil sesekali menggambar sesuatu di bukunya.
Rahmat justru fokus penuh mencatat.
Berbeda lagi dengan Dinda yang mulai mengantuk.
Saat dosen memberi pertanyaan—
“Siapa yang bisa menjelaskan definisi komunikasi menurut pemahamannya?”
Kelas langsung sunyi.
Tak ada yang berani menjawab.
Namun tiba-tiba—
Titik mengangkat tangan pelan.
“Silakan.”
Titik berdiri perlahan.
“Menurut saya… komunikasi itu bukan cuma tentang bicara.”
Pak Ardiansyah memperhatikan.
“Tapi juga tentang bagaimana seseorang bisa membuat orang lain merasa dipahami.”
Kelas mendadak diam.
Rahmat menoleh pelan ke arah Titik.
Sedangkan Henri tersenyum kecil sambil memperhatikannya.
Titik melanjutkan—
“Kadang seseorang nggak butuh solusi. Mereka cuma butuh didengarkan.”
Pak Ardiansyah mengangguk pelan.
“Bagus.”
Dinda langsung berbisik heboh.
“Woi keren banget jawabanmu!”
Titik malu sendiri.
Namun sejak saat itu…
Banyak mata mulai memperhatikannya.
Jam makan siang tiba.
Kantin fakultas langsung penuh mahasiswa.
Suara sendok.
Suara tawa.
Dan aroma makanan bercampur menjadi satu.
Henri berjalan paling depan sambil berkata santai—
“Meja pojok kosong tuh.”
Mereka berlima akhirnya duduk bersama.
Selain mereka, ada juga beberapa mahasiswa lain yang mulai bergabung.
Riko.
Anak broadcasting yang suka bercanda.
Bima.
Cowok tinggi besar yang hobi futsal.
Lala.
Perempuan modis yang terkenal aktif di media sosial kampus.
Dan Nadia.
Mahasiswi pintar yang diam-diam menyukai Rahmat sejak ospek.
“Kalian asli mana?” tanya Riko sambil makan bakso.
“Kalimantan,” jawab Titik.
“Wah jauh.”
“Kamu?”
“Jakarta.”
Dinda langsung nyeletuk—
“Pantes gaya lu kayak anak tongkrongan Senayan.”
Semua langsung tertawa.
Suasana meja makan makin ramai.
Namun di tengah semua itu…
Tatapan Nadia beberapa kali tertuju ke arah Rahmat.
Sedangkan Rahmat sama sekali tidak sadar.
Ia malah sibuk membantu Titik membuka botol minumnya yang keras.
“Nih.”
Titik tersenyum kecil.
“Makasih.”
Henri yang melihat itu langsung menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil tersenyum tipis.
“Perhatian banget lu.”
Rahmat santai menjawab—
“Botol doang.”
“Iya… botol doang.”
Nada bicara Henri terdengar seperti candaan.
Namun entah kenapa…
Ada sesuatu yang samar dalam tatapannya.
Hari-hari berikutnya mulai berjalan cepat.
Mereka semakin sering bersama.
Belajar kelompok.
Makan di kantin.
Pulang sore setelah kelas.
Dan perlahan…
Hubungan mereka mulai terbentuk dengan sendirinya.
Henri selalu menjadi pusat perhatian.
Ia mudah membuat semua orang tertawa.
Mudah akrab dengan siapa pun.
Dan selalu tahu cara membuat suasana hidup.
Sedangkan Rahmat…
lebih banyak diam.
Namun diamnya justru membuat orang nyaman.
Ia tipe laki-laki yang tidak banyak janji.
Tetapi selalu ada saat dibutuhkan.
Dan Titik…
tanpa sadar mulai menikmati keberadaan keduanya.
Suatu sore…
Mereka duduk di taman kampus setelah kelas selesai.
Angin sore berembus lembut.
Langit mulai berwarna jingga.
Dinda sibuk memotret makanan untuk media sosial.
Riko dan Bima berdebat soal sepak bola.
Sedangkan Salsa sedang membaca buku.
Henri tiba-tiba menoleh ke arah Titik.
“Eh Titik.”
“Hm?”
“Kamu pernah pacaran?”
Titik hampir tersedak minuman.
“Hah?!”
Dinda langsung heboh.
“WOOII pertanyaan apaan tuh!”
Henri tertawa.
“Nanya doang.”
Titik memalingkan wajah malu.
“Nggak pernah.”
“Serius?”
“Iya.”
“Kenapa?”
Titik mengangkat bahu kecil.
“Nggak ada yang suka mungkin.”
Henri langsung menatapnya lama.
“Mustahil.”
Jantung Titik langsung berdetak aneh.
Sedangkan Rahmat yang sejak tadi diam perlahan mengalihkan pandangannya ke langit.
Entah kenapa…
Dadanya terasa sedikit tidak nyaman mendengar percakapan itu.
Dan untuk pertama kalinya…
Rahmat mulai sadar satu hal.
Bahwa perempuan bernama Titik itu perlahan menjadi seseorang yang terlalu sering memenuhi pikirannya.
BAB IV
MALAM KEAKRABAN YANG MENGUBAH SEGALANYA
Malam keakraban mahasiswa baru selalu menjadi acara paling ditunggu di Universitas Mahardika Nusantara.
Dan juga…
acara yang paling sering menimbulkan cerita panjang setelahnya.
Lapangan bumi perkemahan di pinggir kota malam itu dipenuhi cahaya api unggun. Tenda-tenda berdiri rapi. Musik akustik terdengar pelan dari arah panggung kecil.
Mahasiswa baru terlihat antusias.
Ada yang sibuk berfoto.
Ada yang tertawa bersama kelompoknya.
Ada pula yang diam-diam mulai dekat dengan seseorang.
Dan malam itu…
Titik tidak tahu bahwa hidupnya akan mulai berubah perlahan.
“Astaga dingin banget…”
Titik menggosok kedua tangannya sambil duduk di tikar dekat api unggun.
Ia mengenakan hoodie abu-abu kebesaran milik Salsa karena udara malam terasa menusuk.
Dinda sibuk memanggang marshmallow sambil berceloteh tanpa henti.
“Kalau aku jadi mahasiswa senior ya…”
“Kenapa?” tanya Salsa.
“Aku bakal cari pacar maba.”
Salsa langsung tertawa.
“Dasar.”
“Serius.”
Dinda menunjuk Henri yang sedang membantu panitia di dekat panggung.
“Kayak gitu tuh ideal.”
Titik spontan menoleh ke arah Henri.
Laki-laki itu memang terlihat mencolok malam itu.
Kaos hitam sederhana.
Lengan sedikit digulung.
Rambut berantakan tertiup angin.
Dan senyum santainya yang selalu berhasil menarik perhatian banyak orang.
Bahkan beberapa mahasiswi dari fakultas lain tampak meliriknya diam-diam.
“Heh…”
Dinda menyenggol Titik.
“Hm?”
“Jangan bilang lu suka.”
Titik langsung panik.
“Hah?! Nggak!”
“Bohong.”
“Nggak lah!”
Salsa ikut tersenyum kecil.
“Mukamu merah.”
“Ini karena api unggun!”
Mereka bertiga langsung tertawa.
Namun beberapa meter dari tempat mereka duduk…
Sepasang mata sedang memperhatikan Titik tanpa berkedip.
Perempuan itu berdiri sambil menyilangkan tangan di dekat pohon.
Wajahnya cantik.
Make-up tipis.
Rambut panjang bergelombang.
Tatapannya tajam.
Namanya Bella.
Mahasiswi semester tiga jurusan Public Relation.
Salah satu perempuan paling populer di fakultas.
Dan seseorang yang selama ini sangat dekat dengan Henri.
Bella memandang Titik dari atas sampai bawah.
Lalu tersenyum miring kecil.
“Jadi ini anak baru yang lagi dekat sama Henri…”
Di sampingnya berdiri seorang perempuan lain bernama Karin.
Sahabat Bella yang terkenal suka memanas-manasi keadaan.
“Lumayan manis sih,” ucap Karin.
Bella mendengus kecil.
“Biasa aja.”
“Tapi Henri keliatan perhatian.”
Bella diam.
Rahangnya sedikit mengeras.
Sudah cukup lama ia dekat dengan Henri.
Meski hubungan mereka tidak pernah resmi, semua orang di kampus tahu Bella selalu menganggap Henri miliknya.
Dan Bella…
tidak suka ada perempuan lain yang mulai menarik perhatian laki-laki itu.
Acara malam semakin ramai.
Musik mulai dimainkan.
Beberapa mahasiswa bernyanyi bersama.
Riko dan Bima bahkan sudah sibuk joget tidak jelas di depan api unggun hingga membuat semua orang tertawa.
“WOI MALU-MALUIN!” teriak Dinda sambil ngakak.
Henri datang membawa beberapa gelas kopi panas.
“Nih buat kalian.”
“Wah baik banget,” ujar Salsa.
Henri duduk santai di samping Titik.
“Kedinginan?”
Sedikit.
Henri membuka jaketnya lalu menyodorkannya.
“Pakai aja.”
Titik langsung gelagapan.
“Nggak usah!”
“Pakai.”
“Tapi nanti kamu dingin.”
Henri tersenyum kecil.
“Aku kebal.”
Dinda langsung menahan senyum jahil.
“Oalah…”
Titik makin salah tingkah.
Namun akhirnya ia menerima jaket itu pelan.
Dan entah kenapa…
Aroma parfum Henri yang samar membuat jantungnya berdetak lebih cepat.
Rahmat yang baru datang membawa kayu bakar berhenti beberapa langkah saat melihat itu.
Matanya tertuju pada jaket Henri yang kini dipakai Titik.
Beberapa detik.
Lalu ia berjalan mendekat seperti biasa.
“Nambah kayu di mana?” tanya Riko.
“Belakang tenda.”
Rahmat duduk di sebelah Bima.
Namun tatapannya sempat singgah ke arah Titik.
Dan untuk pertama kalinya…
Ia merasakan sesuatu yang tidak nyaman tumbuh perlahan di dadanya.
Acara games dimulai.
Panitia membagi kelompok untuk permainan keakraban.
Titik satu kelompok dengan Henri, Rahmat, Dinda, dan beberapa mahasiswa lain.
Salah satu permainan mengharuskan mereka menjawab pertanyaan secara jujur.
Awalnya suasana santai.
Sampai seorang panitia tersenyum jahil sambil bertanya—
“Oke pertanyaan buat Henri.”
Henri santai mengangkat tangan.
“Hadir.”
“Di sini ada nggak cewek yang bikin kamu tertarik?”
Mahasiswa langsung bersorak heboh.
“WOOOO!”
“SEBUT NAMA!”
“AYO HENRI!”
Titik langsung menunduk malu entah kenapa.
Sedangkan Bella yang berdiri agak jauh mulai memperhatikan serius.
Henri tertawa kecil sambil mengusap tengkuknya.
“Hm…”
“Jangan lama-lama!” teriak Riko.
Henri melirik pelan ke arah Titik.
Dan itu tidak luput dari perhatian semua orang.
Dinda langsung melotot heboh.
Salsa menahan senyum.
Sedangkan Rahmat perlahan diam.
Henri akhirnya berkata santai—
“Mungkin ada.”
“WOOOOOO!”
“SIAPA?!”
Henri malah tertawa.
“Rahasia.”
Namun tatapannya kembali jatuh ke arah Titik.
Dan malam itu…
Untuk pertama kalinya…
Titik merasa dirinya benar-benar diperhatikan oleh seseorang.
Namun suasana berubah beberapa menit kemudian.
Bella berjalan mendekat bersama Karin.
Langkahnya tenang.
Senyumnya manis.
Tetapi sorot matanya dingin.
“Hai Henri.”
Henri menoleh.
“Oh Bella.”
Bella langsung duduk di samping Henri tanpa meminta izin.
“Kamu dari tadi sibuk banget.”
“Iya panitia.”
Bella tersenyum tipis lalu melirik ke arah Titik.
“Kenalin nggak sama teman-teman baru kamu?”
Henri mengangguk santai.
“Oh iya. Ini Titik, Salsa, Dinda.”
Bella mengangguk kecil.
“Hai.”
“Hai Kak,” jawab mereka sopan.
Namun Titik langsung merasa suasana berubah aneh.
Tatapan Bella terlalu tajam.
Terlalu mengintimidasi.
Karin tiba-tiba tersenyum sambil berkata—
“Kalian dekat banget ya sama Henri.”
Dinda yang polos langsung menjawab—
“Lumayan.”
Bella terkekeh kecil.
“Hati-hati aja sih.”
Semua langsung diam.
Henri mengernyit.
“Hati-hati kenapa?”
Bella menatap Titik sambil tersenyum tipis.
“Henri tuh gampang bikin cewek baper.”
Suasana mendadak canggung.
Titik langsung salah tingkah.
Sedangkan Henri terlihat tidak suka.
“Bella.”
“Apa?”
“Jangan mulai.”
Bella tertawa kecil.
“Aku cuma bercanda kok.”
Namun semua orang tahu…
Itu bukan candaan biasa.
Dan sejak malam itu…
Nama Bella mulai menjadi bayangan yang perlahan masuk ke dalam hubungan mereka.
Larut malam…
Acara hampir selesai.
Sebagian mahasiswa mulai masuk tenda.
Sebagian lagi masih duduk di dekat api unggun.
Titik berjalan sendirian menuju area belakang untuk mengambil air minum.
Namun saat ia kembali—
BRUK!
Seseorang sengaja menabrak bahunya cukup keras.
“Astaga, maaf.”
Titik menoleh.
Bella berdiri di depannya.
Senyumnya tipis.
Namun matanya sama sekali tidak terlihat ramah.
“Nggak apa-apa, Kak.”
Bella mendekat sedikit.
“Kamu Titik kan?”
“Iya.”
Bella mengangguk pelan.
“Kamu manis.”
“Makasih…”
“Tapi satu saran aja.”
Titik mulai merasa tidak nyaman.
“Saran apa?”
Bella tersenyum kecil.
“Jangan terlalu berharap sama Henri.”
Dada Titik langsung terasa aneh.
Bella melanjutkan—
“Dia itu baik ke semua perempuan.”
Titik diam.
“Dan biasanya… perempuan yang terlalu serius sama dia bakal sakit sendiri.”
Setelah mengatakan itu, Bella pergi begitu saja.
Meninggalkan Titik berdiri sendirian dengan jantung berdebar tidak karuan.
Angin malam tiba-tiba terasa lebih dingin.
Dan entah kenapa…
Untuk pertama kalinya sejak mengenal Henri…
Titik mulai merasa takut berharap terlalu jauh.
BAB V
STATUS BARU, MASALAH BARU
Setelah malam keakraban itu…
semuanya mulai terasa berbeda.
Titik mencoba bersikap biasa saja.
Ia tetap datang kuliah seperti biasa.
Tetap bercanda bersama Salsa dan Dinda.
Tetap belajar kelompok bersama teman-temannya.
Namun satu hal yang tidak bisa ia bohongi—
Henri kini semakin sering hadir dalam harinya.
Dan itu membuat suasana di kampus perlahan berubah aneh.
Pagi itu kelas Teori Komunikasi belum dimulai.
Mahasiswa masih sibuk mengobrol di dalam ruangan.
Dinda sedang heboh melihat video lucu di ponselnya.
Salsa sibuk merapikan catatan.
Sedangkan Titik hanya diam sambil membaca materi kuliah.
Namun tiba-tiba—
BUGH!
Seseorang meletakkan minuman dingin di mejanya.
“Pagi.”
Titik mendongak cepat.
Henri berdiri sambil tersenyum santai.
“Eh…”
“Nih.”
Titik melihat minuman itu.
“Kamu beli?”
“Iya.”
“Buat apa?”
Henri duduk santai di kursi depan meja mereka.
“Buat diminum.”
Dinda langsung tertawa keras.
“Ya ampun gombal tingkat kecamatan.”
Henri ikut tertawa.
Sedangkan Titik langsung salah tingkah.
“Kamu nggak usah sering-sering beliin aku…”
“Kenapa?”
“Nggak enak.”
Henri menatapnya beberapa detik.
“Kalau aku suka ngelakuinnya gimana?”
Jantung Titik langsung berdetak keras.
Dinda spontan menepuk meja kecil.
“WOOIIIII!”
Salsa sampai menutup wajah sambil tertawa malu.
Sedangkan beberapa mahasiswa lain mulai melirik ke arah mereka.
Rahmat yang baru masuk kelas berhenti sesaat saat melihat suasana itu.
Matanya tertuju ke arah Titik yang terlihat gugup di depan Henri.
Lalu perlahan…
ia memilih duduk di bangku belakang.
Sendiri.
Sejak hari itu…
Henri semakin terang-terangan dekat dengan Titik.
Menjemput.
Mengantar.
Membelikan makanan.
Menungguin pulang kelas.
Bahkan sering duduk berdua di kantin sampai sore.
Dan tentu saja…
semua itu mulai menjadi bahan pembicaraan satu kampus.
“Eh Titik sama Henri jadi ya?”
“Kayaknya iya.”
“Cepet banget sih.”
“Titik hoki banget sumpah.”
“Aku juga mau dicintai Henri.”
Bisik-bisik itu mulai terdengar di mana-mana.
Awalnya Titik mencoba mengabaikannya.
Namun semakin lama…
ia mulai merasa tidak nyaman.
Siang itu mereka sedang duduk di kantin.
Henri terlihat santai memainkan sedotan minumannya.
Sedangkan Titik sibuk memandangi sekitar karena banyak mahasiswa yang terus melirik mereka.
“Kamu santai banget sih…” keluh Titik pelan.
Henri mengangkat alis.
“Kenapa?”
“Orang-orang liatin.”
Henri malah terkekeh kecil.
“Biarin.”
“Tapi aku malu.”
Henri mencondongkan tubuh sedikit.
“Kenapa malu dekat sama aku?”
Titik langsung panik.
“Bukan gitu…”
“Terus?”
“Aduh…”
Henri tersenyum kecil melihat wajah gugupnya.
Dan entah kenapa…
Ia semakin suka mengganggu Titik seperti itu.
Namun belum sempat percakapan berlanjut—
BRAK!
Seseorang meletakkan nampan cukup keras di meja mereka.
Bella.
Perempuan itu berdiri sambil menatap Henri tajam.
“Kamu sibuk banget akhir-akhir ini.”
Suasana langsung berubah dingin.
Henri menghela napas kecil.
“Ada apa?”
Bella tertawa kecil sinis.
“Nggak ada.”
Matanya lalu beralih ke Titik.
“Lagi lagi sama anak baru.”
Titik langsung merasa tidak nyaman.
“Bella…”
Nada suara Henri mulai berubah serius.
Namun Bella tetap tersenyum tipis.
“Aku cuma heran.”
“Herap apa?”
“Kamu cepet bosan ternyata.”
Kantin mendadak sunyi.
Beberapa mahasiswa mulai memperhatikan.
Henri berdiri perlahan.
“Udah selesai?”
Bella menatapnya lama.
Tatapannya terluka.
Tetapi juga penuh emosi yang ditahan.
“Kamu berubah.”
Henri diam.
Bella tertawa kecil pahit.
“Padahal dulu yang selalu cari aku itu kamu.”
Dan setelah mengatakan itu—
Bella pergi meninggalkan kantin.
Suasana masih sunyi beberapa detik.
Titik menunduk pelan.
Entah kenapa dadanya terasa tidak nyaman.
“Kalian…” suaranya lirih.
Henri langsung memotong cepat.
“Nggak ada hubungan apa-apa.”
“Tapi dia kayak—”
“Bella emang begitu.”
Nada suara Henri terdengar mulai kesal.
Titik akhirnya diam.
Namun sejak kejadian itu…
Ada kegelisahan kecil yang mulai tumbuh di hatinya.
Malam harinya…
Titik sedang duduk di kamar kos sambil mengerjakan tugas.
Namun pikirannya kacau.
Ucapan Bella terus terngiang di kepalanya.
“Padahal dulu yang selalu cari aku itu kamu.”
Tok.
Tok.
Tok.
Pintu kamar diketuk.
“Masuk,” jawab Titik.
Dinda langsung masuk sambil membawa mie instan.
“Curhat time.”
Titik tertawa kecil.
“Apa sih.”
Dinda duduk di kasur.
“Kamu kenapa?”
“Nggak kenapa-kenapa.”
“Bohong.”
Titik menghela napas pelan.
“Din…”
“Hm?”
“Henri sama Bella sebenarnya gimana sih?”
Dinda langsung mengangkat alis.
“Nah loh.”
“Kamu tau?”
“Semua orang kampus juga tau.”
Dada Titik langsung terasa sesak.
“Mereka pacaran?”
“Nggak resmi.”
“Tapi?”
“Deket banget dulu.”
Titik menunduk.
Dinda melanjutkan pelan—
“Katanya Bella suka banget sama Henri.”
“Henri?”
“Nggak ada yang ngerti isi kepala Henri.”
Kalimat itu membuat Titik makin gelisah.
Dan untuk pertama kalinya…
ia mulai merasa takut menjadi terlalu berharap.
Hari-hari berikutnya justru semakin aneh.
Henri makin posesif.
Ia mulai sering bertanya—
“Kamu di mana?”
“Kenapa pulang sama Rahmat?”
“Tadi ngobrol apa sama Bima?”
Awalnya Titik menganggap itu lucu.
Sebagai bentuk perhatian.
Namun lama-lama…
mulai terasa menyesakkan.
Suatu sore setelah kelas…
Rahmat membantu Titik membawa beberapa buku ke perpustakaan.
“Kamu ambil referensi banyak banget,” ujar Rahmat pelan.
“Tugas Pak Ardi bikin stres.”
Rahmat tersenyum kecil.
“Kamu terlalu serius.”
“Ya daripada ngulang.”
Mereka tertawa kecil bersama.
Dan tanpa sadar…
Henri berdiri cukup jauh memperhatikan mereka.
Tatapannya berubah dingin.
Saat Titik keluar perpustakaan—
Henri langsung menghampiri.
“Kamu dari mana?”
Titik sedikit terkejut.
“Dari perpus.”
“Sama Rahmat?”
“Iya kenapa?”
Henri tersenyum tipis.
“Tadi gue nyariin.”
“Aku nggak tau.”
Henri diam beberapa detik sebelum berkata—
“Lain kali bilang.”
Nada suaranya terdengar biasa.
Namun entah kenapa membuat Titik merasa seperti sedang dimarahi.
Malam minggu tiba.
Henri mengajak Titik keluar untuk pertama kalinya.
Mereka duduk di cafe rooftop dekat pusat kota.
Lampu malam terlihat indah dari atas.
Angin berembus lembut.
Dan suasana terasa romantis.
Henri memandangi Titik lama.
“Kamu tau nggak…”
“Hm?”
“Aku nyaman sama kamu.”
Jantung Titik langsung berdebar.
Henri melanjutkan pelan—
“Aku nggak pernah seserius ini sama perempuan.”
Titik menunduk malu.
Henri tersenyum kecil.
“Jadi…”
Ia mengulurkan tangan perlahan.
“Mau jadi pacar aku?”
Dunia Titik seperti mendadak berhenti beberapa detik.
Suara cafe terasa menjauh.
Yang ia dengar hanya detak jantungnya sendiri.
Ia memandangi Henri.
Laki-laki yang selama beberapa minggu terakhir selalu berhasil membuat harinya terasa berbeda.
Dan tanpa sadar…
ia mengangguk pelan.
“Iya.”
Henri tersenyum lebar.
Lalu menggenggam tangan Titik perlahan.
Hangat.
Menenangkan.
Namun mereka tidak tahu…
Di sudut cafe…
Seseorang sedang memperhatikan mereka dengan tatapan penuh kebencian.
Bella.
Tangannya menggenggam gelas begitu kuat sampai jemarinya memutih.
Matanya tak lepas dari genggaman tangan mereka.
Dan malam itu…
Api kecemburuan mulai berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya.
BAB VI
RAHMAT MULAI MENJAUH
Sejak resmi berpacaran dengan Henri…
hidup Titik berubah drastis.
Namanya mulai dikenal banyak mahasiswa.
Bahkan anak fakultas lain mulai tahu siapa dirinya.
“Eh itu pacarnya Henri.”
“Iya yang anak komunikasi itu.”
“Cantik juga ternyata.”
Awalnya Titik merasa kikuk mendengar semua itu.
Namun lama-lama…
ia mulai terbiasa menjadi pusat perhatian.
Dan di sisi lain…
hubungannya dengan Henri semakin dekat.
Terlalu dekat.
Pagi itu kantin kampus ramai seperti biasa.
Titik duduk bersama Salsa dan Dinda sambil menunggu kelas dimulai.
Dinda sedang sibuk mengaduk bakso super pedas pesanannya.
Sedangkan Salsa fokus membaca materi kuliah.
Namun Titik…
sedari tadi hanya tersenyum sendiri sambil melihat layar ponselnya.
Dinda langsung menyipitkan mata.
“Nah…”
Titik buru-buru mematikan layar.
“Nah apaan?”
“Orang bucin terdeteksi.”
Salsa tertawa kecil tanpa mengalihkan pandangan dari bukunya.
“Titik sekarang beda.”
“Apa sih kalian…”
Dinda langsung menirukan gaya Titik sambil memegang dada dramatis.
“Henri udah makan belum ya…”
“Tolong…”
“Henri udah bangun belum ya…”
Titik melempar tisu ke arah Dinda.
“Berisik!”
Mereka bertiga langsung tertawa.
Namun tiba-tiba—
“PERMISI ORANG-ORANG GAGAL MOVE ON DATANG!”
Suara keras menggema dari arah kantin.
Semua spontan menoleh.
Seorang laki-laki kurus tinggi masuk sambil membawa gitar kecil dan mengenakan jaket warna kuning terang yang mencolok.
Rambutnya sedikit gondrong.
Mulutnya tidak bisa diam.
Namanya Yoga.
Mahasiswa broadcasting semester dua yang terkenal absurd di kampus.
Di belakangnya ada seorang laki-laki gemuk berkacamata bernama Fikri yang membawa dua piring nasi goreng sekaligus.
“Bangku kosong nggak nih buat para pengangguran cinta?” tanya Yoga santai.
Dinda langsung ngakak.
“Duduk aja, badut kampus.”
Yoga langsung memegang dada pura-pura sakit.
“Ya Allah… aku dihina perempuan yang chatnya aja nggak pernah dibalas.”
“WOI!”
Fikri langsung duduk sambil makan.
“Aku numpang ya. Meja lain penuh.”
“Lu mah numpang hidup juga kayaknya,” celetuk Yoga.
Fikri tetap makan santai.
“Aku lapar.”
Dan dalam hitungan menit…
meja mereka langsung berubah ramai.
Yoga memang tipe manusia yang tidak bisa diam.
Ia selalu punya bahan candaan bahkan dalam situasi paling tidak penting sekalipun.
“Eh Titik,” ujar Yoga tiba-tiba.
“Hm?”
“Pacaran sama Henri enak nggak?”
Titik langsung tersedak minuman.
“BATUK! BATUK!”
Dinda sampai ngakak hampir jatuh dari kursi.
“Pertanyaan apaan itu?!”
Yoga mengangkat bahu santai.
“Kan penasaran.”
Salsa menahan senyum.
“Tanya yang normal dikit.”
Yoga malah serius berpikir.
“Oke.”
Ia menoleh lagi ke Titik.
“Henri kalau cemburu serem nggak?”
Titik sedikit terdiam.
Entah kenapa…
pertanyaan itu membuatnya teringat sesuatu.
Dua malam sebelumnya…
Henri tiba-tiba datang ke kos Titik tanpa memberi kabar.
Saat itu Titik sedang makan bersama Rahmat dan Salsa di warung dekat gang kos.
Mereka baru selesai diskusi tugas kelompok.
Rahmat membantu menjelaskan materi statistik yang membuat Titik hampir menangis karena pusing.
“Jadi rumusnya gini,” ujar Rahmat sambil mencoret buku.
Titik memijat pelipis.
“Aku benci angka.”
Rahmat tertawa kecil.
“Kamu anak komunikasi.”
“Makanya.”
Salsa ikut tertawa.
Namun tiba-tiba—
Seseorang menarik kursi kosong cukup keras.
Henri duduk dengan wajah datar.
Suasana langsung berubah.
“Kok nggak bilang keluar?” tanyanya pelan.
Titik sedikit gugup.
“Kita cuma diskusi tugas.”
Henri melirik buku di meja.
“Sampai malam?”
Rahmat langsung menjawab tenang—
“Tugas statistik.”
Henri tersenyum tipis.
“Rajin juga.”
Nada suaranya terdengar biasa.
Tetapi entah kenapa suasana menjadi tidak nyaman.
Salsa sampai memilih diam.
Henri lalu menatap Titik.
“Chat aku kenapa nggak dibalas?”
“Aku tadi fokus belajar…”
Henri tertawa kecil.
“Fokus sama tugas atau sama Rahmat?”
Titik langsung terdiam.
Rahmat perlahan menutup bukunya.
“Hen.”
“Apa?”
“Kebanyakan mikir.”
Henri langsung menoleh.
Dan untuk beberapa detik…
dua sahabat itu saling menatap tanpa suara.
Ada sesuatu yang mulai berubah di antara mereka.
Sesuatu yang perlahan menjadi renggang.
“Kamu kenapa?”
Suara Dinda membuyarkan lamunan Titik.
“Hm? Nggak kenapa.”
Yoga langsung menunjuk Titik dramatis.
“NAH! Itu muka orang habis berantem sama pacar!”
“Lebay.”
“Tapi serius ya,” ujar Fikri sambil makan.
“Henri tuh keliatan sayang banget sama lu.”
Titik tersenyum kecil.
“Iya sih…”
Namun jauh di dalam hatinya…
ia mulai merasa hubungan mereka berubah terlalu cepat.
Di sisi lain kampus…
Rahmat duduk sendirian di tribun lapangan futsal.
Bima yang baru selesai latihan duduk di sebelahnya sambil mengelap keringat.
“Lu kenapa akhir-akhir ini murung?”
Rahmat menggeleng kecil.
“Biasa.”
“Biasa apaan.”
Rahmat diam.
Bima menghela napas.
“Karena Titik?”
Rahmat langsung menoleh.
Bima terkekeh kecil.
“Kelihatan kali.”
Rahmat tertawa hambar.
“Sesantai itu ya keliatannya.”
“Lu suka kan sama dia?”
Rahmat tidak menjawab.
Namun diamnya sudah cukup menjelaskan semuanya.
Bima menepuk pundaknya pelan.
“Telat lu.”
Rahmat menunduk kecil sambil tersenyum pahit.
“Iya.”
Dan untuk pertama kalinya…
Rahmat mulai sadar bahwa perasaannya terhadap Titik bukan sekadar nyaman biasa.
Sementara itu…
Bella duduk di cafe kampus bersama Karin.
Wajahnya terlihat kesal sejak tadi.
“Aku nggak ngerti sama Henri.”
Karin menyeruput minumannya santai.
“Cowok emang begitu.”
“Tapi dia nggak pernah serius sama perempuan sebelumnya.”
“Berarti kali ini beda.”
Bella langsung menatap tajam.
“Itu yang aku nggak suka.”
Karin menyandarkan tubuhnya ke kursi.
“Lu mau ngapain?”
Bella tersenyum tipis.
Tatapannya dingin.
“Aku cuma mau lihat… hubungan mereka bisa tahan berapa lama.”
Malam harinya…
Titik sedang video call dengan Henri.
Namun suasana terasa aneh.
Henri terlihat dingin.
“Kamu masih marah?” tanya Titik pelan.
“Nggak.”
“Tapi kamu beda.”
Henri diam sebentar sebelum berkata—
“Aku cuma nggak suka kamu terlalu dekat sama Rahmat.”
“Tapi dia teman kita juga.”
“Iya.”
“Terus?”
Henri menghela napas panjang.
“Aku cowok, Titik.”
“Maksudnya?”
“Aku ngerti cara cowok lihat perempuan.”
Kalimat itu membuat Titik sedikit tidak nyaman.
“Kamu nggak percaya sama aku?”
Henri cepat menjawab—
“Percaya.”
“Tapi?”
Henri menatap layar beberapa detik.
“Aku cuma takut kehilangan kamu.”
Kalimat itu membuat hati Titik langsung luluh.
Ia tersenyum kecil.
“Aku nggak akan ke mana-mana.”
Namun di tempat lain…
Rahmat justru mulai memilih menjauh perlahan.
Ia mulai jarang ikut nongkrong.
Jarang masuk obrolan grup.
Dan lebih sering sibuk sendiri.
Bahkan Yoga sampai protes di grup kelas—
“WOI RAHMAT HILANG KAYAK TOKOH ANIME MASUK DIMENSI LAIN!”
Dinda membalas cepat—
“Mungkin dia jadi pertapa cinta.”
Fikri menimpali—
“Atau masuk hutan mencari ketenangan.”
Rahmat hanya membaca pesan-pesan itu tanpa membalas.
Lalu perlahan mematikan layar ponselnya.
Karena semakin sering ia melihat Titik bersama Henri…
semakin sulit baginya berpura-pura biasa saja.
BAB VII
BUCIN YANG BERLEBIHAN
Hujan turun sejak pagi.
Langit kota terlihat gelap dan sendu seperti sedang menyimpan sesuatu yang berat.
Di dalam kelas, dosen sedang menjelaskan materi komunikasi massa dengan suara datar yang membuat sebagian mahasiswa mulai kehilangan fokus.
Namun Titik bahkan tidak benar-benar mendengar apa pun sejak tadi.
Matanya hanya tertuju pada layar ponselnya.
Chat dari Henri.
Henri :
Udah makan belum?
Titik tersenyum kecil.
Jarinyapun cepat mengetik balasan.
Titik :
Belum. Kamu?
Beberapa detik kemudian balasan masuk.
Henri :
Belum juga. Nanti makan bareng.
Dan anehnya…
hanya kalimat sesederhana itu saja sudah cukup membuat hati Titik hangat sepanjang pagi.
Dinda yang duduk di sebelahnya melirik pelan.
Lalu mendekat sambil berbisik—
“Ya Allah…”
Titik langsung menoleh.
“Apa?”
“Itu senyum orang lagi dimabuk cinta.”
Salsa yang duduk di depan ikut menoleh sambil tersenyum kecil.
“Sekarang tiap lima menit cek HP.”
Titik buru-buru menyimpan ponselnya.
“Nggak juga.”
Dinda langsung menirukan gaya Titik sambil pura-pura mengetik.
“Sayang udah makan belum…”
“Dinda!”
Mereka langsung tertawa kecil.
Namun di belakang kelas…
Rahmat hanya diam sambil melihat semuanya.
Tatapannya tenang.
Tetapi jauh di dalam dadanya…
ada rasa sesak yang mulai sulit dijelaskan.
Sejak pacaran dengan Henri…
Titik perlahan berubah.
Awalnya hanya hal-hal kecil.
Ia mulai sering membatalkan nongkrong bersama Salsa dan Dinda karena pergi dengan Henri.
Mulai terlambat mengerjakan tugas.
Mulai sulit diajak diskusi kelompok.
Dan yang paling terasa…
ia mulai menjauh dari Rahmat tanpa sadar.
Suatu sore…
Rahmat duduk sendirian di perpustakaan sambil mengerjakan tugas presentasi.
Laptopnya terbuka.
Beberapa buku berserakan di meja.
Namun pikirannya sama sekali tidak fokus.
Karena sedari tadi…
matanya terus tertuju pada kursi kosong di depannya.
Kursi tempat Titik biasanya duduk sambil mengeluh tentang tugas.
Tempat ia biasa tertawa kecil saat Rahmat salah bicara.
Dan tempat ia sering mencuri snack Rahmat tanpa izin.
Rahmat tersenyum kecil mengingat itu.
Namun senyum itu cepat memudar.
Karena sekarang…
kursi itu lebih sering kosong.
Atau kalaupun terisi—
Titik datang bersama Henri.
“Bro.”
Rahmat mendongak.
Bima duduk di depannya sambil membawa kopi kaleng.
“Lu makin sering ngelamun.”
Rahmat tersenyum tipis.
“Kelihatan ya?”
“Banget.”
Bima meletakkan kopi di depan Rahmat.
“Nih.”
“Makasih.”
Bima memperhatikan wajah sahabatnya beberapa detik.
Lalu berkata pelan—
“Masih suka?”
Rahmat diam.
Jari-jarinya perlahan menggenggam kaleng kopi itu lebih erat.
Dan beberapa detik kemudian…
ia mengangguk kecil.
“Iya.”
Jawaban itu terdengar begitu pelan.
Namun cukup untuk menjelaskan semuanya.
Bima menghela napas.
“Kenapa nggak ngomong dari awal?”
Rahmat tertawa hambar.
“Karena dari awal… dia sukanya Henri.”
Kalimat itu membuat suasana mendadak sunyi.
Hanya suara hujan di luar perpustakaan yang terdengar pelan.
Rahmat menunduk.
Dan untuk pertama kalinya…
ia benar-benar merasakan bagaimana rasanya patah hati tanpa pernah memiliki.
Sementara itu…
Titik sedang duduk di cafe bersama Henri.
Cafe kecil bernuansa hangat itu dipenuhi lampu kuning redup dan musik akustik pelan.
Henri duduk santai sambil memainkan jemari Titik.
“Kamu akhir-akhir ini sibuk banget sama aku ya,” ujar Titik kecil.
Henri tersenyum.
“Nggak suka?”
“Bukan gitu…”
“Terus?”
Titik menunduk malu.
“Aku takut jadi nggak fokus kuliah.”
Henri tertawa kecil.
“Kamu terlalu serius.”
“Tapi IPK penting.”
Henri mendekat sedikit.
“Aku lebih penting.”
Titik langsung memukul lengan Henri pelan.
“Ih.”
Henri tertawa puas melihat wajah malu Titik.
Dan jujur saja…
Titik benar-benar jatuh cinta.
Ia merasa diperhatikan.
Disayang.
Dibutuhkan.
Semua hal yang dulu hanya ia bayangkan kini terasa nyata.
Namun perlahan…
tanpa ia sadari…
dunianya mulai hanya berpusat pada Henri.
Malam itu…
Grup kelas ramai membahas tugas presentasi.
Namun Titik sama sekali belum mengerjakannya.
Ia malah sibuk video call dengan Henri hampir tiga jam lamanya.
Sampai Salsa akhirnya mengirim chat pribadi.
Salsa :
Titik tugas kelompok belum selesai.
Titik baru sadar waktu sudah hampir tengah malam.
Ia langsung panik.
Titik :
Ya ampun maaf. Aku lupa.
Balasan Salsa datang cukup lama.
Salsa :
Kamu akhir-akhir ini sering lupa.
Kalimat sederhana itu membuat Titik sedikit terdiam.
Namun belum sempat berpikir lebih jauh—
Suara Henri terdengar dari video call.
“Kenapa?”
“Nggak…”
“Masih sama aku atau ngetik cowok lain?”
Titik tertawa kecil.
“Apaan sih.”
“Jawab.”
“Kamu.”
Henri tersenyum puas.
Dan sekali lagi…
Titik mengabaikan hal-hal lain demi hubungan mereka.
Di sisi lain…
Rahmat justru semakin menjauh.
Ia mulai menghindari duduk berdua dengan Titik.
Mengurangi chat.
Dan lebih sering pulang sendiri.
Bahkan Dinda sampai sadar ada yang berubah.
Suatu siang di kantin…
Dinda menarik Salsa menjauh sedikit.
“Eh.”
“Hm?”
“Lu sadar nggak?”
“Apa?”
“Rahmat sekarang beda.”
Salsa melirik ke arah Rahmat yang sedang duduk sendiri sambil membaca.
“Iya…”
“Dia kayak sedih terus.”
Salsa menghela napas kecil.
“Mungkin capek.”
Dinda menatap Titik yang sedang tertawa bersama Henri.
Lalu kembali memandang Rahmat.
Dan untuk pertama kalinya…
ia mulai mengerti sesuatu.
Malam minggu berikutnya…
Henri mengajak Titik ke konser musik kampus.
Suasananya ramai.
Lampu warna-warni memenuhi area lapangan.
Musik keras membuat semua orang bersorak gembira.
Henri menggenggam tangan Titik erat sepanjang acara.
Beberapa kali bahkan memeluk pundaknya dari belakang.
Dan Titik…
benar-benar tenggelam dalam kebahagiaan itu.
Namun di tengah keramaian…
matanya tidak sengaja melihat Rahmat berdiri jauh di belakang penonton.
Sendirian.
Rahmat melihat ke arah mereka beberapa detik.
Tatapannya tenang.
Terlalu tenang justru.
Lalu perlahan…
ia berbalik pergi meninggalkan konser.
Titik langsung merasa aneh.
“Mat…”
Henri menoleh.
“Hm?”
“Itu Rahmat ya?”
Henri melirik sekilas.
“Iya.”
“Dia mau ke mana?”
“Nggak tau.”
Titik memandang punggung Rahmat yang semakin jauh.
Dan entah kenapa…
untuk pertama kalinya sejak ia pacaran dengan Henri…
dadanya terasa sedikit nyeri.
Seolah ada sesuatu yang mulai hilang tanpa ia sadari.
Malam semakin larut.
Konser selesai.
Henri mengantar Titik pulang ke kos.
Sebelum turun dari motor, Henri menggenggam tangan Titik pelan.
“Aku sayang banget sama kamu.”
Kalimat itu membuat Titik tersenyum hangat.
“Aku juga.”
Henri mencium keningnya lembut.
Dan jantung Titik kembali dipenuhi rasa bahagia.
Namun jauh di tempat lain…
Rahmat duduk sendirian di tribun kampus yang gelap.
Hujan rintik mulai turun perlahan.
Ponselnya menyala.
Foto kebersamaan mereka bertiga masih terpajang di layar.
Rahmat menatap foto itu lama.
Sangat lama.
Lalu tersenyum kecil dengan mata yang mulai basah.
“Aku kalah sebelum mulai ya…” bisiknya lirih.
Dan malam itu…
seseorang mulai belajar memendam rasa sakitnya sendirian.
BAB VIII
PERSAHABATAN YANG RETAK
Semester pertama mulai berjalan semakin sibuk.
Tugas menumpuk.
Presentasi datang tanpa jeda.
Belum lagi kegiatan organisasi yang mulai menyita waktu banyak mahasiswa.
Namun di tengah semua kesibukan itu…
hubungan Titik dan Henri justru semakin lengket.
Terlalu lengket.
Dan perlahan…
itu mulai memengaruhi semua hal di sekitar mereka.
Termasuk persahabatan.
Pagi itu ruang kelas masih setengah kosong.
Salsa duduk sambil membuka laptopnya.
Di sampingnya, Dinda sibuk meniup kopi panas sambil menggerutu.
“Kesel aku.”
Salsa melirik.
“Kenapa lagi?”
“Tugas presentasi kelompok.”
“Kenapa?”
“Titik belum kirim materi.”
Salsa menghela napas kecil.
“Belum?”
“Belum.”
Dinda memonyongkan bibir.
“Padahal dia yang janji mau bikin desain PPT.”
Salsa diam beberapa detik.
Lalu pelan berkata—
“Akhir-akhir ini dia emang berubah.”
Dinda menatap Salsa.
“Ngerasa juga kan?”
Salsa mengangguk kecil.
“Dia sekarang terlalu fokus sama Henri.”
Belum sempat percakapan lanjut—
Pintu kelas terbuka.
Titik masuk bersama Henri sambil tertawa kecil.
Mereka terlihat begitu dekat.
Henri bahkan masih menggenggam tangan Titik sebelum akhirnya duduk.
“Pagi,” ucap Titik ceria.
Namun suasana terasa berbeda.
Dinda hanya menjawab pendek.
“Pagi.”
Titik sedikit bingung.
“Kalian kenapa?”
Dinda langsung menatapnya.
“Tugas kelompok kita.”
Ekspresi Titik langsung berubah.
“Ya ampun…”
“Kamu lupa lagi kan?”
“Aku semalam ketiduran…”
Dinda tertawa kecil sinis.
“Ketiduran atau video call?”
Suasana langsung hening.
Henri yang sedari tadi santai mulai memperhatikan.
Titik terlihat salah tingkah.
“Din…”
“Aku capek ngerti terus.”
Nada suara Dinda mulai terdengar serius.
“Kita ini satu kelompok, Titik.”
Titik menunduk pelan.
“Aku minta maaf…”
Namun Dinda sudah terlanjur kesal.
“Bukan cuma sekali.”
Salsa mencoba menenangkan.
“Udah Din…”
“Nggak Sal.”
Dinda menghela napas panjang.
“Dulu dia paling rajin.”
Kalimat itu menusuk cukup dalam.
Karena Titik tahu…
itu benar.
Setelah kelas selesai…
Titik berjalan pelan menyusul Dinda ke lorong kampus.
“Din…”
Dinda berhenti.
Wajahnya masih kesal.
“Apa?”
“Aku beneran minta maaf.”
Dinda menatap sahabatnya beberapa detik.
Lalu berkata pelan—
“Aku bukan marah karena tugas.”
Titik terdiam.
“Aku marah karena kamu berubah.”
Kalimat itu membuat dada Titik terasa aneh.
Dinda melanjutkan—
“Sekarang apa-apa Henri.”
“Nggak gitu…”
“Kalau kita ngajak makan bilang sibuk.”
“Kalau dia ngajak jalan langsung mau.”
Titik mencoba menjelaskan.
“Aku cuma lagi senang…”
Dinda tertawa hambar.
“Iya. Tapi jangan sampai lupa sama orang-orang yang dari awal ada buat kamu.”
Setelah mengatakan itu…
Dinda pergi meninggalkan Titik sendirian di lorong kampus.
Di sisi lain…
Hubungan Henri dan Rahmat mulai semakin renggang.
Mereka masih berteman.
Masih ngobrol.
Tetapi tidak lagi sehangat dulu.
Dan semua orang mulai menyadarinya.
Siang itu Yoga, Fikri, Bima, dan Riko sedang nongkrong di kantin.
Yoga memakan mie ayam sambil berbicara seperti presenter berita.
“Selamat siang pemirsa. Hari ini kita kehilangan satu persahabatan legendaris.”
Fikri tetap makan santai.
“Lu kenapa sih.”
“Rahmat sama Henri dingin banget sekarang.”
Bima menyandarkan tubuh ke kursi.
“Emang ada masalah.”
Riko langsung penasaran.
“Masalah apaan?”
Yoga mendekat dramatis.
“Cinta segitiga.”
“ANJIR.”
Fikri hampir tersedak.
Namun di saat yang sama—
Rahmat lewat di depan kantin sambil membawa beberapa buku.
“WOI PERTAPA CINTA!” teriak Yoga.
Rahmat menggeleng kecil sambil tersenyum tipis.
“Berisik.”
“Gabung sini!”
Rahmat akhirnya duduk bersama mereka.
Bima memperhatikan wajah sahabatnya beberapa detik.
“Lu kurang tidur?”
“Biasa.”
Yoga langsung nyeletuk—
“Atau kurang dicintai?”
Semua tertawa kecuali Rahmat.
Dan itu justru membuat suasana mendadak canggung.
Yoga perlahan sadar ia salah bicara.
“Eh… bercanda.”
Rahmat tersenyum kecil.
“Iya.”
Namun matanya terlihat lelah.
Sementara itu…
Bella mulai bergerak perlahan.
Perempuan itu bukan tipe yang menyerang langsung.
Ia lebih suka bermain pelan.
Membuat orang lain hancur tanpa sadar.
Dan targetnya sekarang…
adalah Titik.
Suatu sore setelah kelas…
Titik sedang berjalan sendirian menuju parkiran.
Namun tiba-tiba—
“Titik.”
Ia menoleh.
Bella berdiri sambil tersenyum tipis.
“Oh… Kak Bella.”
“Sendiri?”
“Iya.”
Bella berjalan mendekat perlahan.
“Aku cuma mau ngobrol bentar.”
Titik sedikit gugup.
“Ngobrol apa?”
Bella tersenyum manis.
“Kamu serius sama Henri?”
Pertanyaan itu membuat Titik terdiam sebentar.
“Iya…”
Bella mengangguk kecil.
“Bagus.”
Namun senyumnya terlihat aneh.
“Tapi hati-hati aja.”
“Hati-hati?”
Bella tertawa kecil.
“Henri itu gampang bosan.”
Titik langsung merasa tidak nyaman.
“Kak Bella kenal dia lebih lama kan…”
“Iya.”
Bella memandang lurus ke arah Titik.
“Makanya aku tau.”
Dada Titik mulai terasa sesak.
Namun Bella melanjutkan dengan nada santai—
“Dulu dia juga sering bilang sayang sama aku.”
Kalimat itu seperti menghantam kepala Titik pelan.
Bella lalu tersenyum kecil sebelum pergi begitu saja.
Meninggalkan Titik dengan pikiran yang mulai kacau.
Malam harinya…
Titik mulai berbeda saat video call dengan Henri.
Ia lebih banyak diam.
Henri langsung sadar.
“Kamu kenapa?”
“Nggak apa-apa.”
“Bohong.”
Titik ragu beberapa detik sebelum akhirnya bertanya—
“Kamu dulu suka sama Bella ya?”
Henri langsung diam.
Beberapa detik.
Lalu menghela napas kecil.
“Dia ngomong apa?”
“Jadi bener?”
Henri menyandarkan tubuh ke kursi.
“Dulu deket.”
“Seberapa dekat?”
“Titik…”
“Aku cuma pengen tau.”
Henri terlihat mulai kesal.
“Itu masa lalu.”
“Tapi dia bilang kamu dulu sering bilang sayang.”
Henri mengusap wajahnya pelan.
“Semua cowok pernah punya masa lalu.”
Jawaban itu tidak benar-benar menenangkan Titik.
Dan untuk pertama kalinya…
rasa cemburu mulai masuk ke dalam hubungan mereka.
Sementara itu…
Di kamar kosnya…
Rahmat duduk sendirian sambil menatap layar laptop.
Tugasnya belum selesai.
Namun pikirannya sama sekali tidak fokus.
Ponselnya bergetar.
Pesan dari Titik.
Titik :
Mat, kamu sibuk nggak?
Rahmat menatap layar cukup lama sebelum membalas.
Rahmat :
Kenapa?
Balasan datang cepat.
Titik :
Aku lagi bingung.
Rahmat memejamkan mata pelan.
Karena ia tahu…
ia masih akan selalu ada saat Titik membutuhkannya.
Meski itu perlahan menghancurkan hatinya sendiri.
BAB IX
HENRI SI MAHASISWA POPULER
Hari-hari di kampus mulai terasa semakin panas.
Bukan karena cuaca.
Melainkan karena hubungan Titik dan Henri yang semakin sering menjadi bahan pembicaraan.
Di media sosial kampus, nama mereka mulai sering muncul.
Foto-foto mereka beredar di story teman-teman.
Video Henri mengantar Titik pulang viral di grup fakultas.
Bahkan anak jurusan lain mulai mengenali wajah Titik.
Dan semakin tinggi perhatian yang datang…
semakin besar pula masalah yang mulai mendekat.
Pagi itu aula kampus dipenuhi mahasiswa dari berbagai jurusan.
Hari itu ada pemilihan ketua panitia Festival Komunikasi Nasional, acara besar tahunan fakultas yang selalu menjadi pusat perhatian.
Henri menjadi salah satu kandidat terkuat.
Dan seperti biasa…
semua mata tertuju padanya.
“Cowok itu emang cocok jadi ketua.”
“Karismatik banget.”
“Ganteng lagi.”
“Fix menang.”
Bisik-bisik mahasiswa terdengar di mana-mana.
Titik duduk bersama Salsa, Dinda, dan Nadia di deretan tengah.
Matanya tidak lepas memperhatikan Henri yang berdiri di atas panggung mengenakan kemeja hitam sederhana.
Namun aura percaya dirinya benar-benar mencolok.
“Sialan…” gumam Dinda pelan.
“Apa?”
“Cowokmu kalau pidato kayak calon presiden.”
Salsa tertawa kecil.
“Memang bagus sih.”
Nadia yang sedari tadi diam akhirnya ikut bicara—
“Henri tuh emang tipe orang yang gampang bikin orang percaya.”
Kalimat itu membuat Titik tersenyum kecil bangga.
Namun di sisi lain…
Rahmat duduk cukup jauh di belakang aula bersama Bima dan Yoga.
Yoga menyandarkan tubuh sambil berbisik—
“Kalau Henri jadi ketua panitia…”
“Hm?”
“Kampus bakal penuh cewek.”
Bima tertawa kecil.
“Udah penuh dari sekarang.”
Rahmat hanya diam memperhatikan panggung.
Tatapannya tenang.
Namun jauh di dalam hatinya…
ia mulai merasa semakin jauh dari semua yang dulu terasa dekat.
Henri akhirnya memenangkan pemilihan.
Sorak tepuk tangan memenuhi aula.
Mahasiswa langsung mengerubunginya setelah acara selesai.
“Congrats bro!”
“Ketua panitia sekarang!”
“Keren banget!”
Henri tertawa santai melayani semua orang.
Dan di tengah keramaian itu…
Titik berdiri sambil tersenyum bangga.
Namun sebelum ia sempat mendekat—
Bella lebih dulu menghampiri Henri.
Perempuan itu memeluk Henri singkat di depan banyak orang.
“Congrats.”
Henri sedikit terkejut.
“Makasih.”
Namun yang membuat suasana berubah…
adalah cara Bella sengaja melirik ke arah Titik sambil tersenyum tipis.
Seolah sedang menang.
Titik langsung diam.
Dadanya terasa panas.
Dan untuk pertama kalinya…
rasa cemburu benar-benar mulai menguasainya.
Malam harinya…
Acara syukuran kecil diadakan di cafe dekat kampus.
Henri datang bersama teman-teman panitia.
Titik ikut hadir meski sebenarnya sedang tidak mood.
Cafe itu ramai.
Lampu-lampu hangat menggantung di langit-langit.
Musik pelan terdengar dari speaker.
Namun suasana hati Titik justru terasa berisik.
Bella duduk terlalu dekat dengan Henri.
Terlalu sering tertawa menyentuh lengannya.
Terlalu nyaman berada di sampingnya.
Dan yang paling membuat Titik kesal—
Henri tidak terlihat keberatan.
“Tik.”
Salsa menyenggol pelan.
“Hm?”
“Kamu jangan pasang muka cemberut terus.”
“Aku biasa aja.”
Dinda langsung mendekat.
“Biasa aja dari Hongkong.”
Titik mendengus kecil.
Namun matanya kembali tertuju ke arah meja Henri.
Bella baru saja membisikkan sesuatu di telinga laki-laki itu hingga membuat Henri tertawa.
Entah kenapa…
pemandangan itu terasa menusuk.
Di sisi lain meja…
Seorang laki-laki baru bergabung bersama panitia.
Namanya Reno.
Mahasiswa semester atas jurusan Public Relation.
Rambutnya klimis.
Gayanya rapi.
Senyumnya manis.
Namun matanya licik.
Reno terkenal dekat dengan Bella.
Dan terkenal suka mengacau hubungan orang lain hanya demi hiburan.
“Mana pacar baru nya?” bisiknya ke Bella sambil tertawa kecil.
Bella melirik Titik sekilas.
“Itu.”
Reno memperhatikan Titik cukup lama.
“Hm…”
“Apa?”
“Lucu juga.”
Bella langsung mendelik.
“Jangan macam-macam.”
Reno terkekeh santai.
“Aku cuma lihat.”
Namun sorot matanya jelas menunjukkan sesuatu yang tidak baik.
Tak lama kemudian…
Henri dipanggil beberapa panitia untuk membahas acara.
Ia berdiri meninggalkan meja.
Dan kesempatan itu langsung dimanfaatkan Reno.
Laki-laki itu berjalan santai mendekati meja Titik.
“Hai.”
Titik menoleh bingung.
“Hai…”
“Aku Reno.”
“Oh…”
Reno duduk tanpa diundang.
“Kamu Titik kan?”
“Iya.”
“Pantes Henri bucin.”
Dinda langsung melirik curiga.
Sedangkan Salsa mulai merasa suasana tidak nyaman.
Titik tersenyum kecil sekadarnya.
Reno melanjutkan—
“Kamu baru ya di kampus?”
“Iya.”
“Cepet terkenal juga.”
Nada bicaranya terdengar santai.
Namun ada sesuatu yang terasa mengganggu.
Dan Titik langsung merasakannya.
Tak lama kemudian Henri kembali.
Wajahnya langsung berubah saat melihat Reno duduk dekat Titik.
“Ngapain lu di sini?”
Reno tertawa santai.
“Ngobrol.”
Henri menarik kursi duduk di sebelah Titik.
Tatapannya tajam.
“Ngobrol sama meja lain sana.”
Reno malah tersenyum tipis.
“Galak banget.”
Henri tidak membalas.
Namun suasana langsung menegang.
Semua orang di meja mulai diam.
Bella yang melihat itu justru tersenyum kecil puas.
Karena inilah yang ia inginkan—
ketegangan.
Setelah acara selesai…
Titik dan Henri pulang bersama.
Namun sepanjang perjalanan…
suasana terasa dingin.
Sampai akhirnya Titik bicara pelan—
“Kamu marah?”
Henri tetap fokus menyetir.
“Nggak.”
“Bohong.”
Henri menghela napas panjang.
“Aku nggak suka Reno dekat sama kamu.”
“Tapi aku nggak ngapa-ngapain.”
“Dia bukan orang baik.”
Titik mulai kesal.
“Terus kenapa Bella boleh dekat sama kamu?”
Motor mendadak melambat.
Henri diam beberapa detik.
“Apa hubungannya?”
“Ya ada!”
Nada suara Titik mulai meninggi.
“Kamu marah kalau aku ngobrol sama cowok lain. Tapi Bella selalu ada di dekat kamu!”
Henri terlihat mulai emosi.
“Bella itu panitia.”
“Reno juga panitia!”
“Beda.”
“Bedanya apa?!”
Motor akhirnya berhenti di pinggir jalan.
Henri menoleh.
Tatapannya tajam untuk pertama kali.
“Karena aku cowok.”
Kalimat itu langsung membuat Titik terdiam.
Angin malam terasa dingin.
Suara kendaraan berlalu-lalang di sekitar mereka.
Namun suasana di antara mereka jauh lebih dingin dari semua itu.
Titik menahan napas pelan.
“Jadi aku nggak boleh dekat siapa-siapa?”
Henri mengusap wajahnya frustrasi.
“Aku cuma nggak mau ada cowok aneh dekat kamu.”
“Tapi kamu sendiri dekat sama Bella.”
Henri terdiam.
Dan diamnya itu…
justru membuat hati Titik semakin sakit.
Di tempat lain…
Bella duduk di balkon cafe bersama Reno sambil meminum kopi.
Reno tersenyum miring.
“Mulai retak tuh.”
Bella ikut tersenyum kecil.
“Belum cukup.”
“Kamu serius mau hancurin hubungan mereka?”
Bella memandang lampu kota di kejauhan.
Tatapannya perlahan berubah dingin.
“Aku cuma nggak suka ada perempuan yang merasa menang terlalu cepat.”
Dan malam itu…
konflik yang awalnya kecil mulai berubah menjadi permainan yang jauh lebih berbahaya.
BAB X
CEMBURU DI BALIK SENYUM
Sejak pertengkaran malam itu…
hubungan Titik dan Henri tidak lagi terasa sama.
Mereka memang masih bersama.
Masih saling menghubungi.
Masih pergi kuliah berdua.
Namun ada sesuatu yang berubah pelan.
Sesuatu yang tidak terlihat…
tetapi terasa.
Dan itu membuat Titik mulai gelisah.
Pagi itu suasana kampus terasa mendung.
Awan hitam menggantung di langit sejak subuh.
Angin berembus dingin melewati koridor fakultas.
Titik berjalan pelan menuju kelas sambil memegang ponselnya.
Chat Henri belum dibalas sejak tadi malam.
Padahal biasanya laki-laki itu selalu mengirim pesan pagi lebih dulu.
“Pagi cantik.”
“Atau jangan lupa sarapan.”
Hal-hal kecil yang dulu membuat hari Titik terasa hangat…
kini mendadak hilang begitu saja.
Dan anehnya…
ketiadaan itu justru terasa menyesakkan.
“Titik!”
Salsa memanggil dari depan kelas.
Titik tersadar dari lamunannya.
“Oh iya…”
Salsa memperhatikan wajah sahabatnya.
“Kamu belum baikan?”
Titik memaksakan senyum kecil.
“Baik kok.”
Dinda yang baru datang langsung menyipitkan mata.
“Wajah orang habis nangis nggak bisa bohong.”
“Aku nggak nangis.”
“Matamu sembab.”
Titik langsung mengalihkan pandangan.
Dan itu cukup membuat Salsa dan Dinda saling bertukar tatapan.
Mereka tahu…
ada sesuatu yang sedang tidak baik-baik saja.
Di sisi lain kampus…
Henri sedang sibuk rapat panitia festival bersama Bella, Reno, dan beberapa mahasiswa lain.
Suasana ruangan cukup ramai.
Namun Henri terlihat jauh lebih pendiam dari biasanya.
Bella yang duduk di sampingnya melirik pelan.
“Masih berantem?”
Henri menghela napas kecil.
“Biasa.”
Bella tersenyum tipis.
“Perempuan kalau cemburu memang capek.”
Henri tidak menjawab.
Reno malah tertawa kecil.
“Makanya jangan pacaran sama anak baru. Masih emosian.”
Henri langsung menatap tajam.
“Jangan ngomong sembarangan.”
Reno mengangkat kedua tangan santai.
“Oke oke.”
Namun Bella justru diam-diam tersenyum kecil.
Karena perlahan…
semua mulai berjalan sesuai yang ia inginkan.
Siang harinya…
Titik berniat menemui Henri di sekretariat panitia festival.
Ia ingin memperbaiki suasana.
Bagaimanapun…
ia tidak suka hubungan mereka dingin seperti ini.
Namun baru saja ia sampai di depan ruangan—
langkahnya langsung terhenti.
Pintu sekretariat sedikit terbuka.
Dan dari celah kecil itu…
ia melihat Bella sedang merapikan kerah baju Henri sambil tertawa kecil.
“Makanya jangan berantakan terus.”
Henri tersenyum tipis.
“Makasih.”
Titik membeku.
Dadanya terasa sesak mendadak.
Namun yang lebih membuatnya sakit—
Henri tidak menolak sentuhan itu.
“Titik?”
Suara seseorang membuatnya tersadar.
Rahmat berdiri beberapa langkah di belakangnya sambil membawa map.
Tatapannya langsung berubah saat melihat ekspresi Titik.
“Kamu kenapa?”
Titik buru-buru menghapus wajahnya.
“Nggak apa-apa.”
Namun suaranya bergetar.
Rahmat melirik ke arah dalam ruangan.
Dan dalam hitungan detik…
ia langsung mengerti semuanya.
Rahmat terdiam beberapa saat.
Lalu pelan berkata—
“Mau pulang?”
Titik menggigit bibir kuat-kuat.
Dan untuk pertama kalinya…
air matanya jatuh di depan Rahmat.
Mereka duduk di taman belakang kampus yang sepi.
Hujan rintik mulai turun perlahan.
Rahmat membuka payung hitamnya lalu menggeser duduk lebih dekat agar Titik tidak terkena hujan.
Namun ia tidak bertanya apa pun.
Tidak memaksa.
Tidak menyuruh Titik cerita.
Dan justru itulah yang membuat hati Titik semakin sesak.
“Aku lebay ya?” bisik Titik pelan.
Rahmat menggeleng kecil.
“Nggak.”
“Tapi aku capek…”
Rahmat diam mendengarkan.
Titik menunduk.
“Aku nggak ngerti kenapa aku jadi gampang cemburu.”
Karena kamu terlalu sayang.
Kalimat itu sebenarnya ingin Rahmat ucapkan.
Namun ia hanya menatap hujan di depan mereka.
Dan memilih diam.
Sementara itu…
Di sekretariat panitia…
Henri baru sadar Titik sempat datang setelah Salsa mengirim pesan.
Salsa :
Titik tadi nyariin kamu.
Henri langsung mengernyit.
“Dia ke sini?”
Bella yang mendengar itu pura-pura bingung.
“Hah? Kapan?”
Henri langsung berdiri cepat.
Namun saat keluar ruangan…
Titik sudah tidak ada.
Dan entah kenapa…
perasaan tidak enak mulai muncul dalam dadanya.
Malam harinya…
Titik tidak membalas chat Henri sama sekali.
Padahal laki-laki itu menghubunginya berkali-kali.
Henri :
Kamu di mana?
Henri :
Kenapa nggak jawab?
Henri :
Titik.
Namun Titik hanya diam sambil memandangi layar ponselnya.
Hatinya terlalu penuh.
Dan pikirannya mulai kacau oleh banyak hal.
Apakah Bella memang hanya teman?
Atau sebenarnya ada sesuatu yang masih tersisa di antara mereka?
Sekitar pukul sebelas malam…
Tiba-tiba ponsel Titik berbunyi lagi.
Namun kali ini bukan dari Henri.
Nomor tidak dikenal.
Awalnya ia ragu membuka pesan itu.
Namun beberapa detik kemudian—
sebuah foto masuk.
Dan dalam sekejap…
darah Titik seperti berhenti mengalir.
Foto Henri.
Bersama Bella.
Di dalam mobil.
Sangat dekat.
Terlalu dekat untuk disebut biasa.
Tangan Titik langsung gemetar.
Napasnya memburu.
Ia buru-buru mengetik—
Titik :
Siapa ini?
Namun pesan itu tidak pernah dibalas.
Nomor itu langsung tidak aktif.
Titik memandangi foto itu lama.
Sangat lama.
Sampai akhirnya air matanya jatuh perlahan.
Di tempat lain…
Bella duduk di balkon apartemennya sambil memainkan ponsel.
Reno keluar dari dalam sambil membawa minuman.
“Udah dikirim?”
Bella tersenyum kecil.
“Udah.”
Reno tertawa pelan.
“Jahat juga lu.”
Bella menyandarkan tubuh ke kursi.
Tatapannya kosong menatap langit malam.
“Kadang…”
Ia tersenyum tipis.
“Perempuan harus dibuat sadar kalau dunia nggak seindah yang dia pikir.”
Sementara itu…
Rahmat masih belum tidur.
Ia duduk di kamar kos sambil membaca ulang chat terakhir dari Titik sore tadi.
Titik :
Makasih ya udah dengerin aku.
Rahmat memejamkan mata pelan.
Dadanya terasa sakit.
Karena semakin lama…
ia semakin tidak tahan melihat Titik terluka.
Namun yang paling menyakitkan—
ia tahu…
meski Titik menangis karena Henri…
perempuan itu tetap akan memilih kembali kepada laki-laki itu.
BAB XI
PESTA ULANG TAHUN YANG BERANTAKAN
Malam itu hujan turun deras sejak sore.
Lampu-lampu kota memantul di jalanan basah yang dipenuhi kendaraan.
Namun di salah satu cafe terbesar dekat pusat kota…
suasana justru terasa ramai dan penuh musik.
Hari itu adalah pesta ulang tahun Lala.
Mahasiswi hits fakultas komunikasi yang terkenal sosialita, aktif media sosial, dan berteman dengan hampir semua anak populer kampus.
Dan seperti biasa…
semua orang penting di lingkaran pergaulan kampus hadir malam itu.
Termasuk Henri.
Termasuk Bella.
Dan tentu saja…
Titik.
“Kamu serius mau datang?”
Dinda berdiri di depan cermin kamar kos sambil memakai eyeliner.
Titik yang duduk di kasur terlihat murung sejak tadi.
“Aku udah janji sama Lala.”
“Tapi muka lu kayak mau sidang skripsi.”
Titik menghela napas kecil.
Sejak foto misterius itu dikirim…
hubungannya dengan Henri masih dingin.
Mereka memang sempat saling chat.
Namun tidak benar-benar membahas masalahnya.
Henri hanya berkata—
“Itu nggak seperti yang kamu pikir.”
Dan anehnya…
kalimat itu justru membuat Titik semakin tidak tenang.
“Din…” suara Titik pelan.
“Hm?”
“Kalau seseorang sayang sama kita…”
Dinda menoleh.
“Kenapa?”
“Dia nggak bakal bikin kita ngerasa takut kehilangan kan?”
Dinda diam beberapa detik.
Lalu berjalan mendekat dan duduk di samping Titik.
“Cinta itu kadang bikin orang takut.”
“Tapi aku capek takut terus.”
Kalimat itu membuat Dinda ikut terdiam.
Dan untuk pertama kalinya…
ia mulai benar-benar khawatir dengan hubungan sahabatnya.
Cafe tempat pesta berlangsung penuh lampu warna-warni.
Musik DJ berdentum cukup keras.
Mahasiswa menari.
Tertawa.
Berfoto bersama.
Lala yang mengenakan dress merah menyambut semua tamu dengan antusias.
“AKHIRNYA DATANG!”
Ia langsung memeluk Dinda dan Salsa.
Lalu menatap Titik.
“Eh kamu cantik banget malam ini.”
Titik tersenyum kecil.
Padahal sebenarnya ia sama sekali tidak mood datang ke acara itu.
Matanya langsung mencari satu orang.
Dan benar saja…
Henri berdiri di dekat bar mini bersama beberapa panitia festival.
Bella ada di sana.
Reno juga.
Dan entah kenapa…
pemandangan itu langsung membuat suasana hati Titik kembali kacau.
Henri akhirnya menyadari kedatangan Titik.
Ia langsung berjalan mendekat.
“Kamu datang.”
Nada suaranya terdengar lega.
Titik hanya mengangguk kecil.
“Kok nggak bilang?”
“Biasa aja.”
Henri memperhatikan wajah Titik beberapa detik.
Dan ia langsung tahu—
perempuan itu masih marah.
Namun sebelum ia sempat bicara lagi—
Bella datang sambil membawa dua gelas minuman.
“Hai Titik.”
Titik memaksakan senyum kecil.
“Hai Kak.”
Bella menyerahkan satu gelas ke Henri.
“Nih.”
“Makasih.”
Dan lagi-lagi…
hal kecil seperti itu terasa mengganggu bagi Titik.
Suasana pesta semakin malam semakin ramai.
Yoga bahkan sudah naik ke panggung karaoke sambil menyanyikan lagu galau dengan nada sengaja fals.
“AKU BUKAN JODOHNYAAAAA!”
Satu cafe langsung tertawa.
Fikri sampai menutup wajah malu.
“Turun lu memalukan jurusan.”
Namun justru tingkah absurd Yoga sedikit mencairkan suasana.
Sayangnya…
itu tidak berlangsung lama.
Sekitar pukul sepuluh malam…
Reno mulai bergerak lagi.
Ia sengaja duduk di dekat Titik saat Henri sedang berbicara dengan dosen panitia.
“Kamu keliatan murung,” ujar Reno santai.
“Nggak kok.”
“Bohong.”
Titik malas meladeni.
Namun Reno justru tersenyum kecil.
“Kamu tau nggak?”
“Apa?”
“Bella sama Henri tuh dulu hampir pacaran serius.”
Dada Titik langsung terasa tidak nyaman.
Reno melanjutkan pelan—
“Bahkan banyak orang kira mereka bakal jadian.”
“Kenapa kamu cerita itu ke aku?”
Reno menyandarkan tubuh santai.
“Kasihan aja.”
Titik menatap tajam.
“Maksudnya?”
Reno tersenyum tipis.
“Kadang orang cuma jadi pelarian sementara.”
Kalimat itu seperti menyiram bensin ke api yang sudah lama membara di hati Titik.
Dan sialnya…
di saat yang sama…
Henri terlihat sedang tertawa berdua dengan Bella di ujung ruangan.
Titik langsung berdiri.
Wajahnya berubah.
Dan untuk pertama kalinya malam itu…
emosinya benar-benar mulai lepas kendali.
“Titik!”
Dinda langsung menyadari ada yang tidak beres.
Namun Titik sudah berjalan cepat ke arah Henri.
“Aku mau pulang.”
Henri menoleh bingung.
“Hah?”
“Aku capek.”
“Kita baru datang.”
Titik tertawa kecil pahit.
“Iya. Tapi kayaknya aku nggak penting di sini.”
Henri langsung mengernyit.
“Kamu ngomong apa sih?”
Bella dan beberapa orang mulai memperhatikan.
Suasana sekitar perlahan berubah tegang.
Titik menatap Henri dengan mata mulai berkaca-kaca.
“Aku capek pura-pura nggak cemburu.”
Henri langsung sadar arah pembicaraan ini.
“Titik, jangan sekarang.”
“Kenapa? Takut malu?”
“Bukan itu.”
“Terus apa?!”
Suara Titik mulai meninggi.
Beberapa mahasiswa mulai diam memperhatikan.
Henri mengusap wajah frustrasi.
“Kita ngobrol di luar.”
“Nggak usah.”
“Titik.”
“Kamu selalu bilang Bella cuma teman!”
Henri mulai emosi.
“Karena memang cuma teman!”
“Kalau cuma teman kenapa dia selalu ada di dekat kamu?!”
Suasana cafe langsung sunyi.
Musik masih berjalan…
tetapi semua perhatian kini tertuju pada mereka.
Bella berdiri perlahan.
Namun senyum tipis di wajahnya justru menunjukkan kepuasan kecil.
Inilah yang ia tunggu.
Henri akhirnya menarik tangan Titik keluar cafe.
Hujan masih turun deras di luar.
Lampu jalan memantul di genangan air.
Dan malam terasa semakin dingin.
“Apa sih maumu sebenarnya?” tanya Henri mulai emosi.
Titik langsung melepaskan tangannya kasar.
“Aku cuma pengen kamu ngerti perasaanku!”
“Aku udah jelasin berkali-kali!”
“Tapi kamu nggak pernah berubah!”
Henri tertawa pendek penuh frustrasi.
“Karena Bella emang bagian dari panitia!”
“Semua alasan kamu selalu Bella!”
Dan kalimat itu akhirnya membuat Henri benar-benar kehilangan kesabaran.
“Terus maumu apa?! Aku jauhin semua perempuan?!”
Titik langsung terdiam.
Hujan membasahi rambut mereka perlahan.
Namun tidak ada yang peduli.
Karena emosi mereka jauh lebih berantakan dari cuaca malam itu.
“Aku cuma pengen kamu pilih aku…” suara Titik mulai bergetar.
Henri memandangnya beberapa detik.
Lalu berkata pelan—
“Aku capek dicurigain terus.”
Kalimat itu menghantam hati Titik keras sekali.
Air matanya jatuh perlahan.
Dan untuk pertama kalinya sejak mereka pacaran…
Titik mulai merasa bahwa cinta mereka tidak lagi sesederhana dulu.
Di dalam cafe…
Rahmat baru datang bersama Bima setelah selesai latihan futsal.
Namun langkahnya langsung terhenti saat melihat Titik menangis di luar cafe.
Bima ikut menoleh.
“Waduh…”
Rahmat diam.
Tatapannya tertuju lurus pada Titik yang berdiri kehujanan sambil menangis di depan Henri.
Dan lagi-lagi…
dadanya terasa sesak melihat perempuan itu terluka.
Namun kali ini berbeda.
Karena untuk pertama kalinya…
Rahmat mulai merasa marah kepada Henri.
BAB XII
RAHMAT SELALU ADA
Hujan malam itu belum berhenti.
Angin dingin berembus menusuk halaman cafe yang mulai sepi setelah pesta selesai.
Lampu-lampu kota terlihat buram tertutup air hujan.
Dan di bawah langit malam yang kacau itu…
Titik berdiri sambil menangis.
Sedangkan Henri berdiri beberapa langkah di depannya dengan napas berat dan wajah penuh emosi.
Tidak ada lagi suara tawa.
Tidak ada lagi romantisme.
Yang tersisa hanya lelah.
Dan luka yang mulai tumbuh pelan.
“Aku pulang aja.”
Suara Titik lirih.
Namun cukup membuat Henri langsung menatapnya.
“Titik…”
“Aku capek.”
Air matanya jatuh lagi.
Dan anehnya…
melihat Titik menangis justru membuat Henri ikut frustrasi.
Karena ia sendiri tidak tahu sejak kapan hubungan mereka berubah serumit ini.
“Titik dengar dulu—”
“Aku udah terlalu banyak dengar.”
Henri mengusap wajahnya kasar.
“Jadi sekarang semua salah aku?”
“Aku nggak bilang gitu!”
“Terus?”
Titik memalingkan wajah.
Dan diamnya itu…
justru terasa lebih menyakitkan daripada teriakan.
Dari kejauhan…
Rahmat masih berdiri di bawah atap parkiran bersama Bima.
Tatapannya tidak lepas dari Titik.
Sedangkan Bima menghela napas kecil.
“Kasihan juga dia.”
Rahmat tidak menjawab.
Tangannya perlahan mengepal di dalam saku jaket.
Karena semakin lama melihat semua itu…
ia semakin sulit menahan emosinya sendiri.
“Titik.”
Henri mencoba mendekat lagi.
Namun Titik mundur perlahan.
“Aku pengen sendiri dulu.”
Kalimat itu akhirnya membuat Henri terdiam.
Dan beberapa detik kemudian…
Titik berjalan pergi meninggalkan cafe sendirian di tengah hujan.
“Titik!”
Rahmat spontan melangkah maju.
Namun langkahnya tertahan sepersekian detik saat Henri menoleh ke arahnya.
Tatapan mereka bertemu.
Sunyi.
Tegang.
Dan penuh emosi yang sama-sama ditahan.
Henri tahu Rahmat mengkhawatirkan Titik.
Rahmat juga tahu Henri sedang kehilangan kendali.
Namun tidak ada satu kata pun keluar.
Sampai akhirnya—
Rahmat memilih mengejar Titik.
“Titik!”
Perempuan itu berhenti di pinggir jalan.
Hujan membasahi wajahnya yang sudah penuh air mata.
Rahmat mendekat sambil membuka jaketnya sedikit.
“Kamu kehujanan.”
Titik tertawa kecil pahit.
“Biarin.”
Rahmat diam beberapa detik.
Lalu pelan berkata—
“Ayo aku anter pulang.”
Titik menggeleng.
“Aku nggak mau nyusahin siapa-siapa.”
“Kamu nggak nyusahin.”
Suara Rahmat selalu tenang.
Selalu pelan.
Dan entah kenapa…
justru itu yang membuat pertahanan Titik perlahan runtuh.
“Aku capek Mat…” bisiknya lirih.
Rahmat memandangnya lama.
Sangat lama.
Dan di dalam dadanya…
ada rasa sakit yang semakin dalam.
Karena perempuan yang paling ingin ia bahagiakan…
justru sedang hancur karena orang lain.
Perjalanan menuju kos berlangsung sunyi.
Hanya suara hujan dan mesin motor yang terdengar pelan.
Titik duduk di belakang sambil memegang ujung jaket Rahmat pelan.
Pikirannya kacau.
Dadanya penuh sesak.
Dan untuk pertama kalinya sejak pacaran dengan Henri…
ia mulai bertanya pada dirinya sendiri—
Apakah cinta memang harus sesakit ini?
Sesampainya di kos…
Rahmat tidak langsung pergi.
Ia berdiri di depan pagar sambil memperhatikan Titik yang masih terlihat berantakan.
“Kamu udah makan?”
Titik menggeleng kecil.
“Aku beliin ya.”
“Nggak usah…”
“Kamu belum makan dari sore.”
Titik menggigit bibir pelan.
Dan lagi-lagi…
Rahmat selalu memperhatikan hal kecil yang bahkan Henri sering lewatkan.
“Aku nggak lapar.”
Rahmat tahu itu bohong.
Namun ia tidak memaksa.
“Oke.”
Hening beberapa detik.
Lalu Rahmat membuka tas motornya dan mengeluarkan payung kecil.
“Nih.”
Titik bingung.
“Buat apa?”
“Besok hujan lagi katanya.”
Titik menatap payung itu lama.
Lalu perlahan matanya kembali memerah.
“Kenapa kamu baik banget sih…” suaranya bergetar.
Rahmat sedikit terdiam.
Karena sebenarnya…
ia punya jawaban untuk itu.
Namun jawaban itu tidak boleh keluar.
Belum.
Jadi ia hanya tersenyum kecil.
“Karena kamu temanku.”
Dan entah kenapa…
kalimat sederhana itu justru membuat hati Titik semakin nyeri.
Malam semakin larut.
Titik akhirnya masuk kamar kos.
Namun pikirannya tetap penuh.
Ia duduk di lantai sambil memeluk lutut.
Ponselnya bergetar berkali-kali.
Nama Henri muncul terus di layar.
Namun ia belum siap menjawab.
Sampai akhirnya—
video call masuk.
Titik menatap layar cukup lama sebelum mengangkatnya perlahan.
Wajah Henri langsung muncul.
Rambutnya masih sedikit basah.
Tatapannya lelah.
“Kamu udah sampai?”
“Iya.”
Henri menghela napas lega.
“Syukur.”
Namun suasana tetap terasa canggung.
Henri akhirnya berkata pelan—
“Aku nggak suka kita kayak gini.”
Titik menunduk.
“Aku juga.”
“Terus kenapa kita jadi sering berantem?”
Pertanyaan itu membuat Titik diam.
Karena ia sendiri juga tidak tahu jawabannya.
Mungkin karena terlalu sayang.
Mungkin karena terlalu takut kehilangan.
Atau mungkin…
karena cinta mereka mulai dipenuhi rasa curiga.
Di sisi lain kota…
Bella duduk di balkon apartemennya sambil memainkan wine glass kecil.
Karin duduk di sebelahnya.
“Lu puas?”
Bella tersenyum tipis.
“Belum.”
“Henri masih sayang sama Titik.”
Bella memandangi lampu kota yang berkilauan.
Tatapannya perlahan berubah dingin.
“Makanya itu yang harus dihancurin.”
Karin menghela napas kecil.
“Kadang gue takut sama cara mikir lu.”
Bella tertawa lirih.
“Aku cuma nggak suka kalah.”
Sementara itu…
Rahmat masih duduk sendirian di motor depan minimarket dekat kos.
Ia belum pulang.
Tatapannya kosong memandang jalan basah.
Bima yang baru datang menghampiri sambil membawa kopi.
“Lu belum balik?”
Rahmat menerima kopi itu pelan.
“Makasih.”
Bima duduk di sampingnya.
“Kamu makin masuk terlalu dalam ya.”
Rahmat tertawa kecil hambar.
“Iya mungkin.”
“Kenapa nggak nyerah aja?”
Rahmat diam cukup lama.
Lalu menatap hujan di depan mereka.
“Karena hati nggak bisa dipaksa berhenti.”
Kalimat itu membuat suasana mendadak sunyi.
Dan malam itu…
seseorang kembali belajar mencintai dalam diam sambil melihat perempuan yang ia sayangi perlahan hancur karena orang lain.
BAB XIII
ORANG KETIGA YANG TAK TERLIHAT
Setelah malam pertengkaran itu…
hubungan Titik dan Henri mulai memasuki fase yang aneh.
Mereka masih bersama.
Masih saling menghubungi.
Masih saling mengatakan “sayang”.
Namun semuanya terasa berbeda.
Seolah ada dinding tipis yang mulai tumbuh di antara mereka.
Dan yang paling berbahaya…
mereka mulai saling menyimpan banyak hal sendiri-sendiri.
Pagi itu kampus terasa lebih ramai dari biasanya.
Festival Komunikasi tinggal dua minggu lagi.
Panitia sibuk di mana-mana.
Banner mulai dipasang.
Latihan acara berlangsung hampir setiap hari.
Henri sebagai ketua panitia semakin sulit ditemui.
Dan itu membuat Titik semakin sering merasa sendirian.
“Kamu udah tiga hari nggak makan siang bareng kita.”
Dinda duduk sambil memandangi Titik yang hanya mengaduk makanannya.
“Aku sibuk.”
“Sibuk mikirin Henri?”
Titik langsung diam.
Salsa yang sedari tadi membaca modul akhirnya ikut bicara.
“Tik…”
“Hm?”
“Kalau hubungan bikin kamu lebih sering sedih daripada bahagia…”
Kalimat Salsa menggantung.
Namun cukup membuat dada Titik terasa berat.
“Aku sayang sama dia…” bisik Titik pelan.
Dinda menghela napas.
“Nah itu masalahnya.”
Di sisi lain…
Henri juga mulai lelah.
Bukan karena tidak sayang.
Justru karena terlalu sayang.
Ia merasa apa pun yang ia lakukan sekarang selalu salah di mata Titik.
Kalau dekat Bella—salah.
Kalau sibuk panitia—salah.
Kalau telat balas chat—jadi masalah.
Dan perlahan…
emosinya mulai ikut terkuras.
Siang itu Henri sedang rapat bersama panitia inti.
Bella duduk di sampingnya sambil membantu menyusun rundown acara.
Sedangkan Reno duduk santai sambil memainkan ponsel.
“Titik mana?” tanya Reno tiba-tiba.
Henri menjawab pendek.
“Nggak tau.”
Bella melirik sekilas.
“Masih marahan?”
Henri diam beberapa detik.
Lalu menghela napas kecil.
“Lagi capek aja.”
Bella tersenyum tipis.
“Aku bilang juga apa… hubungan terlalu cepat biasanya gampang retak.”
Henri langsung menoleh.
“Apa maksud kamu?”
“Ya nggak apa-apa.”
Bella pura-pura fokus pada laptopnya.
Namun diam-diam…
ia menikmati perubahan Henri yang kini mulai lebih emosional dan mudah lelah.
Sore harinya…
Titik berniat memberi kejutan kecil untuk Henri.
Ia membeli kopi favorit laki-laki itu lalu datang ke sekretariat panitia.
Awalnya ia ingin memperbaiki suasana.
Ingin kembali seperti dulu.
Namun baru saja ia hendak masuk—
suara tawa dari dalam ruangan membuat langkahnya berhenti.
Henri tertawa bersama Bella.
Dan entah kenapa…
belakangan ini suara tawa itu selalu terasa menyakitkan bagi Titik.
“Tuh kan,” suara Reno terdengar samar.
“Aku bilang juga Titik itu terlalu posesif.”
Henri tidak langsung menjawab.
Namun beberapa detik kemudian—
suara laki-laki itu terdengar pelan.
“Kadang gue juga capek.”
Kalimat itu membuat tubuh Titik langsung membeku.
Kopi di tangannya perlahan bergetar.
Dadanya terasa kosong mendadak.
Capek?
Jadi selama ini…
kehadirannya justru melelahkan?
“Titik?”
Seseorang memanggil dari belakang.
Ternyata Nadia.
Mahasiswi fotografi yang cukup dekat dengan Salsa dan Dinda.
“Oh…”
Nadia langsung sadar ekspresi Titik berubah.
“Kamu kenapa?”
Titik buru-buru menghapus wajahnya.
“Nggak apa-apa.”
Namun suaranya mulai bergetar.
Dan tanpa menunggu lebih lama…
ia langsung pergi meninggalkan lorong sekretariat.
Tanpa masuk.
Tanpa memberi kopi itu.
Malam harinya…
Henri baru sadar ada kopi favoritnya tergeletak di depan sekretariat.
Masih hangat.
Dengan tulisan kecil di cup—
“Jangan lupa istirahat ya :)”
Henri langsung terdiam.
Karena ia tahu persis tulisan tangan itu milik siapa.
Dan entah kenapa…
perasaan bersalah mulai menghantam dadanya perlahan.
Sementara itu…
Titik duduk sendirian di rooftop kos.
Langit malam terlihat gelap.
Angin dingin berembus pelan.
Matanya kosong memandangi jalan kota dari atas.
Ponselnya terus berbunyi.
Nama Henri berkedip berkali-kali di layar.
Namun ia tidak mengangkatnya.
Karena untuk pertama kalinya…
hatinya benar-benar lelah.
“Tik…”
Suara lembut membuatnya menoleh.
Ternyata Rahmat.
Laki-laki itu berdiri sambil membawa dua cup mie instan dan teh hangat.
“Kamu belum makan lagi kan?”
Titik tertawa kecil pahit.
“Kok kamu tau sih.”
Rahmat duduk di sampingnya.
“Karena kamu selalu lupa makan kalau lagi sedih.”
Kalimat sederhana itu langsung membuat mata Titik kembali memanas.
Dan sekali lagi…
Rahmat hadir di saat ia sedang paling rapuh.
Mereka duduk cukup lama di rooftop itu.
Sunyi.
Tenang.
Namun justru terasa nyaman.
Rahmat tidak banyak bertanya.
Tidak memaksa Titik bercerita.
Ia hanya menemani.
Dan kadang…
kehadiran seperti itu jauh lebih berarti daripada seribu nasihat.
“Mat…”
“Hm?”
“Kalau suatu hari…”
Titik menggigit bibir kecil.
“Orang yang kita sayang malah capek sama kita gimana?”
Rahmat terdiam cukup lama.
Pertanyaan itu terasa seperti pisau bermata dua baginya.
Karena ia sendiri sedang hidup di dalam situasi itu.
Namun akhirnya ia menjawab pelan—
“Kalau seseorang benar-benar sayang…”
Ia menatap langit gelap di depan mereka.
“Dia nggak akan ninggalin cuma karena lelah.”
Titik menunduk.
Dan perlahan…
air matanya jatuh lagi.
Di tempat lain…
Bella sedang duduk bersama Reno di mobil.
Lampu kota terlihat bergerak samar di kaca jendela.
Reno tertawa kecil sambil memainkan korek api.
“Hubungan mereka makin retak.”
Bella tersenyum tipis.
“Belum cukup.”
“Lu dendam banget sama Titik?”
Bella diam beberapa detik.
Lalu menjawab lirih—
“Bukan sama Titik.”
“Terus?”
Tatapan Bella perlahan berubah kosong.
“Aku cuma nggak terima Henri bisa berubah karena perempuan lain.”
Dan untuk pertama kalinya…
Reno mulai sadar.
Apa yang dilakukan Bella bukan lagi sekadar cemburu biasa.
Tetapi obsesi.
BAB XIV
MALAM YANG MULAI MENGUBAH SEGALANYA
Festival Komunikasi akhirnya dimulai.
Seluruh area kampus berubah meriah.
Lampu-lampu panggung dipasang di lapangan utama.
Stand makanan berjajar panjang.
Suara musik terdengar sejak pagi.
Mahasiswa dari berbagai fakultas datang memenuhi area acara.
Dan di tengah semua keramaian itu…
semua orang melihat Henri sebagai pusat perhatian.
Ia sibuk ke sana kemari mengatur acara.
Memastikan semuanya berjalan lancar.
Menyapa dosen.
Mengatur panitia.
Membantu teknisi.
Senyumnya tetap ada.
Namun tidak banyak yang sadar—
laki-laki itu sebenarnya mulai kelelahan.
Secara fisik.
Dan juga hati.
Titik datang sore hari bersama Salsa, Dinda, Nadia, dan beberapa teman lainnya.
Ia mengenakan sweater abu-abu sederhana dengan rambut panjang terurai.
Cantik.
Tetapi wajahnya terlihat lebih murung dibanding biasanya.
“Lu jangan muram terus dong,” ujar Dinda sambil menarik tangan Titik.
“Kita datang buat senang-senang.”
Titik memaksakan senyum kecil.
“Iya…”
Namun matanya tetap otomatis mencari satu orang.
Dan ketika akhirnya melihat Henri di dekat panggung utama…
dadanya langsung berdebar lagi.
Sayangnya…
Bella ada di samping laki-laki itu.
Lagi.
“Henri ganteng banget sumpah,” bisik Nadia pelan.
Salsa langsung menyikutnya.
“Eh.”
“Apa? Fakta.”
Dinda malah menimpali—
“Masalahnya cowok ganteng biasanya bawa masalah.”
Kalimat itu membuat Titik diam.
Karena semakin lama…
ia mulai merasa Dinda benar.
Di sisi lain…
Rahmat sedang membantu bagian dokumentasi bersama Bima dan Yoga.
Yoga mengenakan ID card panitia terbalik sambil membawa handy talky.
“HALO HALO TESTING SUARA CINTA MASUK NGGAK?”
Bima langsung menarik HT itu.
“Lu bikin malu.”
Fikri yang membawa kamera ikut tertawa.
“Panitia rasa badut.”
Namun kehadiran Yoga memang selalu berhasil mencairkan suasana.
Bahkan Rahmat yang belakangan lebih banyak diam pun sempat tersenyum kecil.
Meski senyum itu cepat hilang saat matanya tanpa sadar melihat Titik memandangi Henri dari kejauhan.
Malam mulai turun.
Lampu panggung menyala terang.
Band indie lokal mulai tampil.
Mahasiswa bersorak ramai.
Dan suasana festival akhirnya mencapai puncaknya.
Henri yang sedari tadi sibuk akhirnya berjalan menghampiri Titik.
“Kamu dari tadi di sini?”
“Iya.”
Henri tersenyum kecil.
“Makasih udah datang.”
Untuk beberapa detik…
suasana di antara mereka kembali terasa seperti dulu.
Hangat.
Tenang.
Dan sederhana.
Namun semuanya berubah lagi…
saat Bella datang tergesa-gesa.
“Henri, kabel backstage bermasalah.”
Henri langsung menoleh.
“Sekarang?”
“Iya. Cepet.”
Henri mengusap wajahnya frustrasi.
Lalu menatap Titik.
“Aku bentar ya.”
Titik mengangguk kecil.
Namun saat Bella dan Henri pergi bersama lagi…
rasa sesak itu kembali muncul.
Sekitar setengah jam kemudian…
Titik mulai merasa bosan berdiri di dekat panggung.
Suasana terlalu ramai.
Kepalanya mulai pening.
“Aku ke belakang bentar ya,” katanya pada Salsa.
“Mau ditemenin?”
“Nggak usah.”
Titik berjalan menuju area belakang gedung aula yang lebih sepi.
Namun baru beberapa langkah—
seseorang tiba-tiba memanggilnya.
“Titik.”
Ia menoleh.
Reno berdiri sambil tersenyum kecil.
“Oh… Kak Reno.”
“Sendiri?”
“Iya.”
Reno berjalan mendekat perlahan.
“Henri sibuk lagi?”
Titik tidak menjawab.
Dan diamnya sudah cukup menjelaskan semuanya.
Reno tertawa kecil.
“Kasihan juga kamu.”
“Aku nggak apa-apa.”
“Bohong.”
Nada suara Reno mulai terdengar lebih pelan.
Lebih licin.
“Kadang jadi pacar orang populer emang capek.”
Titik mulai merasa tidak nyaman.
“Aku balik dulu.”
Namun saat ia hendak pergi—
Reno tiba-tiba memegang pergelangan tangannya.
“Tunggu.”
Titik langsung menegang.
“Kak lepas.”
“Relax.”
Tatapan Reno berubah aneh.
Dan untuk pertama kalinya…
Titik benar-benar merasa takut.
“Reno.”
Suara dingin terdengar dari belakang.
Reno langsung menoleh.
Rahmat berdiri beberapa meter dari mereka dengan wajah datar.
Namun tatapannya tajam.
“Lepasin.”
Reno terkekeh kecil lalu melepaskan tangan Titik.
“Santai bro.”
Rahmat berjalan mendekat perlahan.
“Aku bilang lepasin.”
Suasana langsung berubah tegang.
Reno mengangkat kedua tangan santai.
“Aku cuma ngobrol.”
“Dia nggak nyaman.”
Reno tersenyum miring.
“Lu sekarang satpamnya Titik?”
Rahmat diam.
Namun sorot matanya benar-benar berubah.
Dan Reno akhirnya memilih mundur sambil tertawa kecil.
“Galak banget.”
Setelah Reno pergi…
suasana mendadak sunyi.
Titik masih terlihat syok.
Rahmat menatap tangan perempuan itu pelan.
Pergelangan tangannya sedikit memerah.
“Kamu nggak apa-apa?”
Suara Rahmat jauh lebih lembut sekarang.
Dan entah kenapa…
pertanyaan sederhana itu justru membuat pertahanan Titik runtuh.
Air matanya langsung jatuh.
“Aku takut…”
Rahmat langsung panik.
“Eh…”
Titik menutup wajahnya sambil menangis kecil.
Dan refleks—
Rahmat memeluknya.
Pelukan itu hangat.
Tenang.
Aman.
Sangat berbeda dengan semua kekacauan yang selama ini memenuhi kepala Titik.
Namun mereka tidak sadar…
dari kejauhan seseorang melihat semuanya.
Henri.
Laki-laki itu berdiri membeku di bawah cahaya lampu belakang panggung.
Tatapannya tertuju lurus pada Rahmat yang sedang memeluk Titik.
Dan untuk pertama kalinya…
emosi cemburu benar-benar membakar dirinya.
“TITIK!”
Suara Henri terdengar keras.
Titik langsung tersadar lalu buru-buru melepaskan pelukan.
Sedangkan Rahmat perlahan menoleh.
Tatapan kedua laki-laki itu kembali bertemu.
Namun kali ini jauh lebih panas dari sebelumnya.
Henri berjalan mendekat cepat.
“Apa-apaan ini?”
Rahmat langsung menjawab tenang—
“Reno ganggu dia.”
Henri mengernyit.
“Terus harus meluk?”
Kalimat itu membuat Titik langsung menatap Henri tak percaya.
“Aku tadi takut!”
Henri tertawa kecil penuh emosi.
“Dan dia yang nenangin?”
Rahmat mulai kesal.
“Henri cukup.”
“Lu diem!”
Nada suara Henri meninggi untuk pertama kali kepada Rahmat.
Suasana sekitar mulai diperhatikan beberapa panitia.
Bima dan Yoga yang melihat dari jauh langsung panik.
“Waduh…”
“Tolong jangan baku hantam.”
Titik memandang Henri dengan mata berkaca-kaca.
“Kamu serius ngomong kayak gitu?”
Henri masih terbakar emosi.
“Gimana gue nggak mikir aneh?”
“Rahmat nolong aku!”
“Dan lu nyaman banget dipeluk dia!”
Kalimat itu akhirnya benar-benar menghancurkan sesuatu dalam hati Titik.
Air matanya jatuh lagi.
Namun kali ini bukan karena sedih.
Melainkan kecewa.
“Harusnya kamu khawatir aku…”
Suara Titik bergetar hebat.
“Bukan malah cemburu.”
Dan setelah mengatakan itu…
Titik langsung pergi meninggalkan mereka sambil menangis.
Meninggalkan Henri yang masih dipenuhi emosi.
Dan Rahmat…
yang kini mulai kehilangan kesabaran terhadap sahabatnya sendiri.
BAB XV
SATU MALAM, DUA HATI YANG HANCUR
Setelah kejadian di belakang panggung malam itu…
suasana festival tidak lagi terasa meriah bagi mereka.
Lampu masih menyala.
Musik masih berdentum.
Mahasiswa masih tertawa dan bernyanyi.
Namun bagi Titik, Henri, dan Rahmat…
malam itu terasa seperti awal dari sesuatu yang jauh lebih buruk.
Titik berjalan cepat meninggalkan area festival.
Air matanya terus jatuh tanpa bisa ditahan.
Dadanya sakit.
Pikirannya kacau.
Dan yang paling menyakitkan—
Henri lebih memilih cemburu daripada memikirkan ketakutannya.
“Titik! Tunggu!”
Henri mengejar dari belakang.
Namun Titik tidak berhenti.
Sampai akhirnya Henri menarik lengannya pelan di dekat parkiran motor.
“Lepas.”
“Titik dengerin dulu.”
“Kamu keterlaluan.”
Henri mengusap wajah frustrasi.
“Aku cuma emosi.”
“AKU TADI TAKUT!”
Suara Titik pecah.
Air matanya jatuh lagi.
“Reno megang tangan aku!”
Henri langsung diam.
Namun emosinya belum benar-benar reda.
“Tapi aku lihat kalian pelukan.”
Titik tertawa kecil pahit.
Dan tawa itu justru terasa lebih menyakitkan.
“Jadi itu yang lebih penting buat kamu?”
Henri membeku.
Karena untuk pertama kalinya…
ia sadar dirinya salah.
Namun egonya masih terlalu besar untuk langsung mengakuinya.
Di sisi lain…
Rahmat berdiri sendirian di belakang panggung.
Tangannya mengepal kuat.
Sedangkan Bima dan Yoga berdiri di dekatnya.
“Lu nggak apa-apa?” tanya Bima pelan.
Rahmat tertawa kecil hambar.
“Harusnya gue yang nanya.”
Yoga yang biasanya bercanda pun kini ikut diam.
Karena semua orang bisa melihat—
hubungan mereka bertiga mulai benar-benar retak.
Sementara itu…
Bella memperhatikan semuanya dari kejauhan.
Tatapannya tenang.
Namun senyum tipis di sudut bibirnya terlihat jelas.
Karin yang berdiri di sebelahnya menghela napas.
“Lu puas sekarang?”
Bella tidak langsung menjawab.
Matanya terus memperhatikan Henri dan Titik yang sedang bertengkar di parkiran.
“Belum.”
“Kapan cukupnya?”
Bella tersenyum kecil.
“Sampai mereka saling hancur sendiri.”
Kalimat itu membuat Karin merinding.
Karena Bella kini tidak lagi terlihat seperti perempuan patah hati.
Melainkan seseorang yang mulai menikmati kekacauan.
Malam semakin larut.
Hujan kembali turun.
Dan pertengkaran Titik serta Henri akhirnya mencapai titik paling emosional mereka.
“Aku capek harus ngerti kamu terus!” teriak Titik sambil menangis.
Henri membalas cepat—
“Aku juga capek dicurigain terus!”
“Kamu yang bikin aku curiga!”
“Karena kamu terlalu dekat sama Rahmat!”
Kalimat itu membuat Titik langsung menatap tajam.
“Jangan bawa Rahmat terus!”
“Kenapa? Karena sekarang kamu lebih nyaman sama dia?”
PLAK!
Suasana langsung sunyi.
Henri membeku.
Titik juga.
Tangan perempuan itu gemetar setelah refleks menampar Henri.
Air matanya jatuh semakin deras.
“Aku benci kamu ngomong kayak gitu…”
Suara Titik benar-benar hancur.
Dan untuk pertama kalinya…
Henri melihat perempuan itu menangis dengan tatapan penuh kecewa kepadanya.
Bukan sekadar marah.
Tetapi kecewa.
“Titik…”
Henri mencoba mendekat.
Namun Titik mundur pelan.
“Jangan sentuh aku dulu.”
Kalimat itu terasa seperti pukulan keras bagi Henri.
Karena biasanya…
sebesar apa pun pertengkaran mereka…
Titik selalu kembali luluh lebih dulu.
Namun malam ini berbeda.
Sangat berbeda.
Di saat yang sama…
Rahmat akhirnya berjalan meninggalkan festival.
Ia tidak sanggup melihat semuanya lebih lama.
Namun baru beberapa langkah—
“Tunggu.”
Rahmat menoleh.
Henri berdiri beberapa meter di belakangnya.
Wajahnya masih penuh emosi.
Hujan membasahi rambut mereka pelan.
Dan suasana di antara dua sahabat itu kini terasa asing.
“Selesai puas lu?” tanya Henri dingin.
Rahmat langsung mengernyit.
“Maksud lu?”
“Jadi pahlawan buat Titik.”
Rahmat tertawa kecil tidak percaya.
“Serius lu ngomong gitu?”
Henri mendekat perlahan.
“Lu suka kan sama dia?”
Pertanyaan itu membuat Rahmat diam.
Dan diamnya…
sudah cukup menjadi jawaban.
Henri langsung tertawa pahit.
“Gue udah curiga.”
Rahmat akhirnya bicara pelan—
“Iya.”
Suasana mendadak sunyi.
Hanya suara hujan yang terdengar.
Dan untuk pertama kalinya…
semua rahasia yang selama ini dipendam akhirnya terbuka.
Henri memandang Rahmat lama.
Tatapannya penuh campuran marah, kecewa, dan sakit hati.
“Dari kapan?”
“Lama.”
“Dan lu diem aja sambil jadi teman gue?”
Rahmat menghela napas kecil.
“Aku nggak pernah niat rebut dia.”
“Tapi lu tetep nungguin dia jatuh!”
Nada suara Henri meninggi.
Rahmat langsung menatap tajam balik.
“Aku nggak pernah bikin dia nangis.”
Kalimat itu langsung menghantam Henri keras sekali.
Dan beberapa detik…
tak satu pun dari mereka bicara.
Karena keduanya tahu—
kalimat itu benar.
Henri mengepalkan tangan kuat-kuat.
“Jadi sekarang gue cowok jahatnya?”
“Aku nggak bilang gitu.”
“Tapi lu ngerasa lebih baik dari gue?”
Rahmat mulai ikut emosi.
“Aku cuma selalu ada waktu dia hancur!”
“Karena lu manfaatin keadaan!”
“CUKUP!”
Suara keras Bima memotong.
Ternyata Bima dan Yoga sudah berdiri tak jauh dari mereka.
Bima langsung mendorong dada Henri pelan.
“Lu berdua sadar nggak sih?”
Tak ada yang menjawab.
Bima menatap mereka bergantian.
“Yang paling sakit di sini itu Titik.”
Suasana kembali sunyi.
Dan untuk pertama kalinya malam itu…
Henri benar-benar mulai merasa takut kehilangan Titik.
Sementara itu…
Titik duduk sendirian di halte dekat kampus.
Hujan masih turun pelan.
Matanya kosong.
Pikirannya penuh.
Dan di dalam dadanya…
untuk pertama kalinya muncul pertanyaan yang sangat menakutkan—
Apakah ia mulai merasa lebih tenang bersama Rahmat dibanding bersama Henri?
Pertanyaan itu membuat Titik langsung menangis lagi.
Karena ia sadar…
hatinya mulai perlahan berubah.
BAB XVI
PEREMPUAN YANG MEMAINKAN API
Setelah malam penuh pertengkaran itu…
hubungan semua orang berubah drastis.
Henri dan Rahmat tidak lagi saling menyapa seperti dulu.
Titik mulai sering menghindari Henri.
Sedangkan Bella…
justru semakin dekat masuk ke dalam kekacauan mereka.
Dan tanpa disadari siapa pun—
inilah yang sebenarnya ia tunggu sejak awal.
Pagi itu kampus terasa lebih dingin dari biasanya.
Bukan karena cuaca.
Melainkan karena suasana di antara mereka yang mulai canggung.
Di kelas…
Henri duduk di depan bersama panitia festival.
Sedangkan Titik memilih duduk jauh di belakang bersama Salsa dan Dinda.
Tidak ada chat pagi.
Tidak ada candaan kecil.
Tidak ada tatapan diam-diam seperti dulu.
Yang ada hanya jarak.
Dan itu membuat suasana hati Titik semakin sesak.
“Lu serius mau diem-dieman terus?” bisik Dinda pelan.
Titik menatap kosong ke arah papan tulis.
“Aku nggak tau harus ngomong apa.”
Salsa menghela napas kecil.
“Henri juga keliatan stres.”
Titik tertawa hambar.
“Aku juga.”
Dinda melipat tangan.
“Tapi kalau hubungan isinya nangis terus ya capek.”
Kalimat itu membuat Titik kembali diam.
Karena semakin lama…
ia mulai merasa dirinya kehilangan banyak hal sejak pacaran dengan Henri.
Dirinya sendiri.
Sahabatnya.
Ketenangannya.
Di sisi lain…
Henri sedang benar-benar kacau.
Semalaman ia tidak tidur.
Kepalanya penuh dengan ucapan Rahmat.
“Aku nggak pernah bikin dia nangis.”
Kalimat itu terus terngiang di kepalanya seperti kutukan.
Dan semakin ia pikirkan…
semakin ia sadar bahwa belakangan ini Titik memang lebih sering menangis karena dirinya.
“Bro.”
Henri menoleh.
Bella berdiri sambil membawa kopi.
“Nih.”
Henri menerimanya pelan.
“Makasih.”
Bella duduk di sebelahnya.
“Kamu keliatan capek.”
Henri tertawa kecil hambar.
“Memang.”
Bella memperhatikan wajah laki-laki itu cukup lama.
Lalu berkata pelan—
“Kadang hubungan yang terlalu dipaksa emang bikin lelah.”
Henri langsung menoleh.
“Maksud kamu?”
Bella mengangkat bahu santai.
“Kalian terlalu sering berantem.”
Henri mengusap wajahnya pelan.
“Aku sayang sama dia.”
Bella tersenyum tipis.
“Tapi apa dia bikin kamu tenang?”
Pertanyaan itu membuat Henri terdiam.
Dan Bella tahu…
keraguan kecil mulai tumbuh di dalam hati laki-laki itu.
Sore harinya…
Panitia festival mengadakan rapat besar terakhir sebelum acara penutupan.
Semua sibuk mondar-mandir.
Rahmat membantu bagian dokumentasi.
Sedangkan Titik diminta membantu registrasi tamu.
Mereka beberapa kali bertemu pandang.
Namun sama-sama memilih diam.
Karena sejak pengakuan Rahmat malam itu…
semuanya menjadi jauh lebih rumit.
“Titik.”
Perempuan itu menoleh.
Bella berdiri sambil tersenyum kecil.
“Kamu bisa bantu ambilin proposal di ruang panitia?”
“Oh… iya.”
Bella tersenyum manis.
“Thanks ya.”
Dan tanpa curiga apa pun…
Titik pergi menuju ruang panitia.
Namun saat sampai—
ruangan itu kosong.
“Halo?”
Tidak ada jawaban.
Titik mulai bingung.
Namun tiba-tiba—
pintu tertutup dari belakang.
BRAK.
Titik langsung menoleh cepat.
Reno berdiri sambil tersenyum miring di depan pintu.
Jantung Titik langsung berdegup keras.
“Kak Reno…”
“Nyari proposal?”
Titik mulai mundur pelan.
“Bella suruh aku ke sini.”
Reno terkekeh kecil.
“Ya aku tau.”
Tatapannya membuat Titik merinding.
“Bisa minggir nggak?”
Reno justru melangkah mendekat perlahan.
“Kenapa takut?”
Titik mulai panik.
“Kak buka pintunya.”
Namun Reno malah menyandarkan tubuh di depan pintu.
“Henri nggak ada.”
Suasana ruangan mendadak terasa menyesakkan.
Dan untuk pertama kalinya…
Titik benar-benar merasa terjebak.
Di luar ruangan…
Bella berdiri cukup jauh sambil memperhatikan lorong.
Tatapannya tenang.
Namun senyum kecil di wajahnya terlihat jelas.
Karin yang baru datang langsung mengernyit.
“Lu apain Titik?”
Bella tidak menjawab.
“BELLA.”
Bella akhirnya menoleh santai.
“Cuma bikin cerita sedikit menarik.”
Karin langsung panik.
“Lu gila ya?!”
Namun Bella tetap terlihat tenang.
Karena dalam pikirannya…
semakin kacau hubungan Titik dan Henri…
semakin besar peluang dirinya kembali dekat dengan Henri.
Di dalam ruangan…
Titik mulai benar-benar ketakutan.
“Kak tolong buka pintunya…”
Reno mendekat semakin dekat.
“Kamu tau nggak…”
Titik langsung mundur lagi sampai punggungnya membentur meja.
“Henri tuh beruntung banget punya kamu.”
“Kak…”
“Tapi sayang.”
Tatapan Reno semakin membuat bulu kuduk Titik berdiri.
“Hubungan kalian nggak bakal lama.”
Air mata Titik mulai jatuh karena panik.
Dan tepat saat Reno hendak menyentuh tangannya—
BRAK!
Pintu terbuka keras.
Henri berdiri di sana.
Wajahnya langsung berubah gelap saat melihat Titik menangis dan Reno berdiri terlalu dekat.
“Apa-apaan ini?!”
Reno langsung mundur.
“Bro santai—”
BUK!
Henri langsung menghajar Reno tanpa pikir panjang.
Suasana langsung kacau.
Reno jatuh menghantam meja.
Titik menjerit panik.
“Henri jangan!”
Namun emosi Henri benar-benar meledak.
Ia menarik kerah Reno kasar.
“Gue udah bilang jangan deketin dia!”
Reno balas mendorong.
“Aku nggak ngapa-ngapain!”
BUK!
Pukulan kedua mendarat.
Dan dalam hitungan detik…
beberapa panitia langsung berdatangan memisahkan mereka.
“WOI WOI BERHENTI!”
Bima dan Yoga langsung menarik Henri ke belakang.
Sedangkan Reno sudah berdarah di sudut bibirnya.
Suasana lorong penuh teriakan.
Mahasiswa mulai berkumpul.
Dan Titik…
berdiri gemetar sambil menangis ketakutan.
“CUKUP HENRI!”
Suara dosen pembina panitia menggema keras.
Semua langsung diam.
Henri masih bernapas kasar.
Tatapannya penuh amarah ke arah Reno.
Sedangkan Bella berdiri cukup jauh…
dengan wajah pura-pura terkejut.
Padahal jauh di dalam hatinya—
ia justru puas.
Karena konflik kini benar-benar mencapai puncaknya.
Malam harinya…
Video perkelahian Henri dan Reno sudah tersebar di grup kampus.
Semua mahasiswa membicarakannya.
“Henri mukul Reno.”
“Katanya karena Titik.”
“ Drama Makin Seru.”
“Fix cinta segitiga.”
Dan semakin rumor menyebar…
semakin hubungan mereka mulai hancur perlahan di depan banyak orang.
Di kamar kos…
Titik duduk sambil memeluk lutut.
Tangannya masih gemetar mengingat kejadian tadi.
Ponselnya terus berbunyi.
Henri menelepon berkali-kali.
Namun yang paling membuat hatinya kacau…
bukan hanya karena kejadian dengan Reno.
Melainkan karena untuk pertama kalinya…
ia mulai sadar bahwa ada seseorang yang sengaja memainkan semua kekacauan ini dari belakang.
Dan nama itu perlahan muncul jelas di kepalanya.
Bella.
BAB XVII
SEMUA MULAI SALING MELUKAI
Kampus pagi itu gempar.
Video perkelahian Henri dan Reno sudah menyebar ke mana-mana.
Grup angkatan penuh notifikasi.
Story Instagram mahasiswa dipenuhi potongan video.
Bahkan beberapa akun gosip kampus mulai ikut membahasnya.
“Ketua festival mukul panitia sendiri gara-gara cewek.”
“Drama komunikasi lebih seru dari sinetron.”
“Kasihan Titik jadi bahan omongan.”
Dan yang paling menyakitkan…
nama Titik mulai ikut diseret ke mana-mana.
Titik berjalan cepat melewati koridor kampus dengan kepala menunduk.
Namun bisik-bisik itu tetap terdengar jelas.
“Itu Titik.”
“Yang bikin Henri berantem.”
“Katanya rebutan cewek.”
“Drama banget sumpah.”
Dada Titik terasa sesak.
Ia mempercepat langkah.
Namun rasa malu itu terus mengejar.
“Titik!”
Salsa langsung menghampiri sambil menggenggam tangannya.
“Kamu nggak apa-apa?”
Titik hanya mengangguk kecil.
Padahal matanya sudah memerah sejak tadi pagi.
Dinda yang ikut datang langsung kesal.
“Orang kampus emang mulutnya nggak punya rem.”
Titik mencoba tersenyum.
“Nggak apa-apa kok…”
Namun suaranya terdengar begitu lemah.
Dan Salsa sadar—
Titik mulai benar-benar hancur secara emosional.
Di sisi lain…
Henri sedang dipanggil dosen pembina festival.
Ruangan itu terasa tegang.
Pak Adrian, dosen pembina yang terkenal tegas, memandang Henri dengan wajah serius.
“Kamu sadar dampaknya?”
Henri diam.
“Kamu ketua panitia.”
Masih diam.
“Kamu mukul panitia sendiri di area kampus.”
Henri mengusap wajah pelan.
“Saya emosi, Pak.”
Pak Adrian langsung meninggikan suara.
“SEMUA ORANG PUNYA EMOSI!”
Suasana langsung sunyi.
Henri menunduk.
Dan untuk pertama kalinya…
ia mulai merasakan akibat dari semua emosinya sendiri.
Setelah keluar dari ruangan dosen…
Henri langsung mencari Titik.
Ia ingin menjelaskan semuanya.
Memastikan perempuan itu baik-baik saja.
Namun saat ia sampai di taman belakang fakultas—
langkahnya langsung berhenti.
Rahmat sedang duduk bersama Titik.
Perempuan itu terlihat menangis kecil.
Sedangkan Rahmat memberinya air minum sambil mendengarkan dengan sabar.
Dan lagi-lagi…
rasa cemburu itu muncul.
Lebih besar dari sebelumnya.
“Hen…”
Bima yang berjalan di belakang langsung sadar suasana berubah.
Henri mengepalkan tangan pelan.
Namun kali ini…
ia mencoba menahan emosinya.
“Aku mau ngobrol sama Titik.”
Rahmat langsung menoleh.
Tatapan mereka kembali bertemu dingin.
Sedangkan Titik perlahan berdiri.
“Aku capek…”
Henri mendekat.
“Aku cuma mau jelasin.”
“Jelasin apa lagi?”
“Aku mukul Reno karena dia ganggu kamu.”
Titik tertawa kecil pahit.
“Dan sekarang semua orang ngomongin aku.”
Henri langsung terdiam.
Karena itu memang benar.
Rahmat akhirnya bicara pelan—
“Henri…”
“Apa?”
“Kadang rasa sayang aja nggak cukup kalau caranya nyakitin terus.”
Kalimat itu langsung membuat emosi Henri naik lagi.
“Lu nggak usah ikut campur.”
Rahmat menatapnya tenang.
“Aku cuma nggak mau Titik makin hancur.”
Henri tertawa kecil sinis.
“Sejak kapan lu jadi penyelamat dia?”
Suasana kembali memanas.
Titik langsung memegang kepalanya frustrasi.
“CUKUP!”
Keduanya langsung diam.
Air mata Titik jatuh lagi.
“Aku capek kalian terus kayak gini…”
Suara perempuan itu bergetar hebat.
Dan untuk pertama kalinya…
Rahmat dan Henri sama-sama melihat betapa lelahnya Titik sekarang.
Sementara itu…
Bella mulai menjalankan permainan berikutnya.
Ia duduk bersama beberapa mahasiswi di kantin sambil berpura-pura prihatin.
“Kasihan Titik ya…”
Salah satu mahasiswi langsung menimpali—
“Iya. Tapi Henri juga serem kalau marah.”
Bella menghela napas kecil pura-pura sedih.
“Henri sebenarnya nggak pernah segampang itu emosi…”
“Terus?”
Bella diam sebentar sebelum berkata pelan—
“Mungkin karena hubungan mereka emang nggak sehat.”
Dan seperti itulah Bella bekerja.
Bukan menyerang langsung.
Melainkan menanamkan opini pelan-pelan.
Sedikit demi sedikit.
Sampai semua orang mulai percaya.
Malam harinya…
Festival tetap berjalan meski suasana panitia mulai kacau.
Henri terlihat jauh lebih dingin.
Rahmat memilih fokus dokumentasi tanpa banyak bicara.
Sedangkan Titik mulai menghindari keramaian.
Namun masalah belum selesai.
Karena malam itu…
akun anonim kampus mengunggah sesuatu.
Foto.
Foto saat Rahmat memeluk Titik di belakang panggung malam festival.
Caption-nya pendek.
“Kalau cuma teman kenapa peluk-pelukan?”
Dan dalam hitungan menit…
komentar langsung meledak.
“Sialan.”
“Fix selingkuh?”
“Pantes Henri ngamuk.”
“Rahmat tikung teman sendiri?”
“Drama makin seru.”
Dunia Titik seperti runtuh seketika saat melihat unggahan itu.
Tangannya gemetar.
Napasnya memburu.
Dan tanpa sadar…
air matanya jatuh lagi.
“Ini siapa yang upload…”
Dinda langsung emosi sambil memegang ponsel.
Salsa terlihat panik.
“Parah banget.”
Namun yang paling hancur…
adalah Rahmat.
Karena untuk pertama kalinya…
orang-orang mulai melihatnya sebagai pengkhianat.
Rahmat duduk sendirian di tribun lapangan malam itu.
Ponselnya terus dipenuhi notifikasi.
Banyak yang menghina.
Banyak yang mencibir.
Namun ia tidak peduli tentang dirinya.
Yang ia pikirkan hanya satu—
Titik pasti semakin terluka.
Langkah pelan mendekat.
Rahmat mendongak.
Ternyata Henri.
Mereka saling diam cukup lama.
Sampai akhirnya Henri bicara dingin—
“Lu puas sekarang?”
Rahmat langsung menatap tajam.
“Jangan mulai lagi.”
“Foto itu…”
“Aku nggak upload.”
Henri tertawa pendek.
“Tapi orang-orang sekarang mikir lu pahlawan.”
Rahmat berdiri perlahan.
“Aku nggak pernah mau semua ini terjadi.”
“Bullshit.”
Dan untuk pertama kalinya…
dua sahabat itu hampir benar-benar kehilangan kendali.
Namun sebelum emosi kembali meledak—
suara tangisan terdengar dari belakang tribun.
“Tolong berhenti…”
Mereka langsung menoleh.
Titik berdiri sambil menangis.
Wajahnya benar-benar hancur malam itu.
“Aku mohon…”
Air matanya jatuh tanpa henti.
“Jangan saling benci karena aku…”
Kalimat itu langsung membuat suasana sunyi.
Dan untuk pertama kalinya…
Henri dan Rahmat sama-sama sadar—
mereka perlahan sedang menghancurkan perempuan yang mereka sayangi.
BAB XVIII
CINTA, FITNAH, DAN MIE AYAM TENGIK
Hari-hari setelah foto viral itu menjadi mimpi buruk bagi Titik.
Ke mana pun ia pergi…
orang-orang selalu memandang berbeda.
Ada yang kasihan.
Ada yang penasaran.
Ada juga yang diam-diam menikmati dramanya.
Kampus yang dulu terasa nyaman…
perlahan berubah menjadi tempat yang melelahkan.
Pagi itu Titik duduk lesu di kantin bersama Salsa, Dinda, Nadia, dan Fikri.
Mukanya benar-benar kusut.
Bahkan es teh di depannya belum disentuh sama sekali.
Dinda menyandarkan dagu sambil menatap Titik.
“Lu udah kayak orang habis gagal CPNS.”
Titik mendesah panjang.
“Aku capek…”
Fikri langsung nimbrung—
“Kalau capek jangan cinta-cintaan dulu.”
Salsa melotot.
“Mulut.”
Namun justru Titik tertawa kecil.
Dan itu membuat teman-temannya sedikit lega.
Karena akhirnya…
mereka melihat Titik tersenyum lagi meski cuma sebentar.
Tiba-tiba—
BRAK!
Yoga datang sambil membawa mangkuk mie ayam jumbo.
“GUYS AKU DATANG MEMBAWA KEBAHAGIAAN!”
Semua orang langsung menoleh.
Bima yang berjalan di belakangnya menutup wajah malu.
“Gue nggak kenal dia.”
Yoga duduk santai lalu menunjuk Titik.
“Sebagai bentuk solidaritas untuk korban drama percintaan nasional…”
Ia mendorong mie ayam itu.
“Aku traktir.”
Titik akhirnya benar-benar tertawa kecil.
“Makasih.”
Yoga tersenyum bangga.
Namun beberapa detik kemudian—
“Eh bentar…”
Ia mencium mangkuk mie ayamnya sendiri.
“Mie gue bau.”
Fikri langsung mundur.
“Sialan.”
Dinda langsung pecah ketawa.
Yoga panik.
“Bang… mie ayam saya kayaknya udah wafat.”
Abang kantin langsung berteriak dari jauh—
“ITU PUNYA ORANG MEJA BELAKANG WOY!”
Satu kantin langsung tertawa.
Dan untuk sesaat…
suasana berat itu akhirnya sedikit mencair.
Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama.
Karena saat Titik menoleh ke arah pintu kantin…
ia melihat Henri masuk bersama Bella dan beberapa panitia.
Tawa kecil di wajah Titik langsung hilang perlahan.
Sedangkan Henri juga langsung melihat Titik.
Tatapan mereka bertemu.
Sunyi.
Canggung.
Dan penuh rasa yang belum selesai.
Bella sengaja berjalan lebih dekat ke Henri.
Sangat dekat.
Bahkan beberapa kali tertawa sambil menyentuh lengan laki-laki itu.
Dan Titik melihat semuanya.
Dadanya langsung kembali sesak.
“Sialan…” bisik Dinda.
“Dia sengaja nggak sih?”
Salsa langsung mengangguk kecil.
“Jelas.”
Rahmat yang baru datang bersama kamera dokumentasinya juga langsung menyadari suasana berubah.
Tatapannya otomatis tertuju pada Titik.
Dan lagi-lagi…
ia melihat perempuan itu terluka hanya karena satu orang.
Henri sebenarnya ingin menghampiri Titik.
Namun Bella terus mengajaknya bicara.
Belum lagi beberapa panitia memanggilnya.
Dan keadaan itu justru membuat semuanya terlihat semakin salah di mata Titik.
“Tik…”
Rahmat akhirnya duduk di sebelah Titik.
“Kamu nggak apa-apa?”
Titik tersenyum kecil paksa.
“Aku aman.”
Namun matanya jelas tidak baik-baik saja.
Rahmat diam beberapa detik.
Lalu tanpa sadar—
ia mendorong gelas es teh ke arah Titik.
“Nih minum dulu.”
Hal kecil.
Sederhana.
Tetapi cukup membuat hati Titik terasa sedikit hangat.
Dan tanpa mereka sadari…
Henri melihat semuanya dari kejauhan.
Rasa cemburu itu muncul lagi.
Lebih kasar.
Lebih panas.
Dan sialnya…
Bella menyadari perubahan ekspresi Henri.
“Kamu masih marah sama Rahmat?”
Henri langsung mengalihkan pandangan.
“Nggak.”
Bella tersenyum tipis.
“Bohong.”
Henri menghela napas kasar.
“Aku cuma capek.”
Bella menatap Titik dan Rahmat sekilas.
Lalu berkata pelan—
“Kadang orang yang terlalu baik juga berbahaya.”
Kalimat itu langsung masuk ke kepala Henri seperti racun.
Malam harinya…
Panitia mengadakan evaluasi kecil di aula kampus.
Suasana cukup tegang karena masalah video perkelahian dan foto viral masih ramai dibicarakan.
Pak Adrian terlihat serius sejak awal rapat.
“Saya tidak mau ada drama lagi.”
Semua diam.
Tatapan dosen itu langsung mengarah pada Henri dan Rahmat.
“Kalian ngerti?”
“Iya Pak,” jawab keduanya bersamaan.
Namun suasana tetap terasa panas.
Rapat berlangsung cukup lama.
Sampai akhirnya listrik aula tiba-tiba padam.
BRAK!
“Astaga!”
“Aduh!”
“WOY GELAP!”
Suasana langsung chaos.
Dan di tengah kepanikan—
suara Yoga terdengar keras.
“SIAPA PEGANG PAHA GUE?!”
Lampu emergency langsung menyala merah redup.
Semua menoleh.
Ternyata Yoga berdiri sambil memegang tangan Fikri.
Fikri langsung jijik.
“ITU TANGAN GUE TAHU!”
Satu aula langsung pecah tertawa.
Bahkan Pak Adrian sampai mengusap wajah menahan kesal.
“Yoga…”
“Maaf Pak refleks.”
Untuk pertama kalinya sejak beberapa hari terakhir…
Henri ikut tertawa kecil.
Rahmat juga.
Dan Titik yang melihat itu diam-diam tersenyum.
Karena jauh di dalam hatinya…
ia merindukan saat semua masih baik-baik saja.
Namun setelah rapat selesai…
drama kembali datang.
Saat semua mulai keluar aula—
Bella sengaja berpura-pura terpeleset di tangga.
“Aaa—!”
Refleks Henri langsung menangkap tubuhnya.
Dan sialnya…
momen itu tepat dilihat Titik.
Bella berpegangan di dada Henri cukup lama.
Terlalu lama.
Sedangkan Henri belum sempat menjauh.
Dan dalam hitungan detik…
rasa sakit itu kembali datang ke hati Titik.
“Titik—”
Henri langsung sadar perempuan itu melihat.
Namun Titik keburu mundur pelan.
“Maaf ganggu.”
Suara Titik terdengar dingin.
Dan sebelum Henri sempat menjelaskan—
perempuan itu langsung pergi.
Bella perlahan berdiri sambil tersenyum kecil samar.
Sangat samar.
Namun cukup untuk membuat Rahmat yang melihat dari jauh mulai sadar satu hal—
semua ini bukan kebetulan.
Bella memang sengaja memainkan semuanya.
Dan malam itu…
Rahmat akhirnya memutuskan sesuatu.
Ia harus menghentikan Bella…
sebelum Titik benar-benar hancur.
BAB XIX
CINTA YANG MULAI TIDAK WARAS
Sejak kejadian di aula malam itu…
hubungan Titik dan Henri semakin aneh.
Mereka belum putus.
Namun juga tidak benar-benar baik-baik saja.
Kadang saling chat sampai pagi.
Besoknya bertengkar lagi.
Kadang saling diam dua hari.
Lalu tiba-tiba saling rindu setengah mati.
Dan yang paling melelahkan—
keduanya sama-sama terlalu gengsi untuk benar-benar mengalah.
Pagi itu Titik duduk di kelas sambil menatap layar ponselnya.
Nama Henri masih berada di paling atas chat.
Namun tidak ada pesan baru sejak tadi malam.
Padahal biasanya…
Henri selalu menghubunginya lebih dulu.
“Lu lagi nunggu chat ya?” bisik Dinda.
“Nggak.”
“Bohong lu kelihatan.”
Titik langsung membalik ponselnya.
Namun beberapa detik kemudian—
layarnya menyala.
Nama Henri muncul.
Dan refleks—
mata Titik langsung berbinar.
Dinda langsung menunjuk sambil tertawa.
“BUCIN.”
Titik panik.
“DIEM.”
Namun senyum kecil di wajahnya tidak bisa disembunyikan.
Henri :
Udah makan?
Hanya dua kata.
Sederhana.
Namun cukup membuat hati Titik yang semalaman kacau mendadak hangat lagi.
Titik menggigit bibir kecil sebelum membalas.
Titik :
Belum.
Beberapa detik kemudian—
Henri :
Jangan telat makan.
Dan bodohnya…
Titik langsung senyum sendiri seperti orang kesurupan cinta.
“Ya Allah…” Salsa geleng kepala.
“Lu nangis gara-gara dia. Tapi senyum juga gara-gara dia.”
Dinda langsung menimpali—
“Ini bukan cinta. Ini santet.”
Satu meja langsung tertawa kecil.
Sedangkan Titik menutup wajah malu.
Namun jauh di dalam hatinya…
ia memang masih terlalu sayang pada Henri.
Di sisi lain kampus…
Henri juga tidak jauh berbeda.
Ia duduk bersama Bima dan Yoga di kantin sambil sesekali melihat ponselnya.
Bima langsung menghela napas.
“Lu dari tadi liatin chat doang.”
Henri pura-pura santai.
“Biasa.”
Yoga langsung mendekat sambil menyipitkan mata.
“Cowok kalau bilang biasa padahal dalemnya udah nikah siri di pikiran.”
Henri langsung melempar tisu ke wajah Yoga.
“Jorok.”
Namun beberapa detik kemudian…
Henri malah tersenyum sendiri melihat balasan chat Titik.
Dan itu cukup membuat Bima tertawa kecil.
“Parah.”
“Apa?”
“Lu udah kena bucin stadium akhir.”
Siang harinya…
Titik dan Henri akhirnya bertemu lagi di perpustakaan.
Awalnya canggung.
Mereka berdiri saling diam beberapa detik di antara rak buku.
Sampai akhirnya Henri bicara pelan—
“Kamu marah lagi?”
Titik menghela napas kecil.
“Aku capek marah terus.”
Henri tersenyum tipis.
“Aku juga.”
Dan anehnya…
kalimat sederhana itu justru membuat suasana sedikit mencair.
Mereka akhirnya duduk bersama di pojok perpustakaan.
Suasana tenang.
Hanya suara AC dan halaman buku yang dibalik terdengar samar.
Henri memperhatikan Titik diam-diam.
Dan semakin lama…
semakin ia sadar betapa takutnya ia kehilangan perempuan itu.
“Titik…”
“Hm?”
“Maaf.”
Titik menoleh pelan.
Henri menunduk kecil.
“Aku terlalu emosian.”
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama…
Henri akhirnya meminta maaf lebih dulu.
Air mata Titik langsung hampir jatuh.
Karena selama ini…
yang paling ia tunggu sebenarnya hanya itu.
Bukan hadiah.
Bukan kata-kata manis.
Melainkan perasaan dipahami.
“Aku juga minta maaf…” bisiknya pelan.
Henri tersenyum kecil lega.
Dan tanpa sadar—
tangan mereka perlahan saling menggenggam di bawah meja.
Namun tentu saja…
ketenangan tidak pernah bertahan lama dalam hidup mereka.
Karena tepat saat suasana mulai hangat—
Yoga muncul dari balik rak buku sambil membawa mie cup.
“SIALAN KALIAN BALIKAN?!”
Henri langsung kaget.
“WOY!”
Titik refleks melepas tangan.
Sedangkan Yoga malah tertawa puas.
“Aku tau! Aku tau! Aura bucinnya nyala lagi!”
Fikri yang ikut datang langsung memukul kepala Yoga.
“Lu ngapain ngintip orang pacaran?”
“Aku nyari colokan listrik!”
“DI PERPUSTAKAAN?!”
Satu pojok perpustakaan langsung ribut kecil.
Bahkan ibu penjaga perpustakaan sampai melotot.
“SSSTTT!”
Yoga langsung menunduk.
“Maaf Bu saya cuma saksi cinta.”
Sore harinya…
Hubungan Titik dan Henri mulai membaik lagi.
Mereka jalan bersama keliling area festival.
Beli minuman.
Foto berdua.
Bahkan sempat tertawa bersama lagi seperti dulu.
Dan untuk sesaat…
Titik merasa semuanya akan kembali baik-baik saja.
Namun dari kejauhan…
Bella melihat semuanya.
Tatapannya perlahan berubah dingin.
Karena semakin dekat Titik dan Henri kembali…
semakin besar rasa kalah yang ia rasakan.
“Kamu belum nyerah juga?” tanya Karin pelan.
Bella tersenyum tipis.
“Aku belum selesai.”
“Kamu makin obsesif.”
Bella meminum kopinya pelan.
“Karena Henri itu harusnya sama aku.”
Kalimat itu terdengar begitu dingin.
Dan Karin mulai sadar—
Bella tidak lagi sekadar cemburu.
Ia benar-benar terobsesi.
Malam harinya…
Henri mengantar Titik pulang.
Motor melaju pelan melewati jalan kota yang mulai sepi.
Titik memeluk pinggang Henri perlahan dari belakang.
Dan entah kenapa…
momen sederhana seperti itu terasa sangat menenangkan.
“Aku takut kita berantem lagi,” bisik Titik pelan.
Henri tersenyum kecil.
“Kita emang hobinya drama.”
Titik tertawa kecil.
“Lebay.”
Henri menoleh sedikit.
“Kamu juga bucinnya parah.”
“Apaan sih.”
Namun wajah Titik memerah malu.
Dan malam itu…
di tengah semua kekacauan yang belum selesai…
mereka kembali saling jatuh cinta untuk kesekian kalinya.
Tanpa sadar…
bahwa badai yang jauh lebih besar sedang menunggu di depan mereka.
BAB XX
HUJAN, SENJA, DAN TAKUT KEHILANGAN
Hubungan Titik dan Henri perlahan membaik.
Setidaknya…
itu yang terlihat dari luar.
Mereka kembali sering bersama.
Kembali saling mengirim pesan panjang sebelum tidur.
Kembali bercanda seperti dulu.
Namun jauh di dalam hati mereka masing-masing…
ada luka yang belum benar-benar sembuh.
Dan luka yang dipendam terlalu lama…
biasanya akan datang kembali pada saat paling tenang.
Sore itu langit kota terlihat mendung.
Awan abu-abu menggantung rendah di atas kampus.
Angin dingin bertiup pelan melewati taman fakultas.
Titik duduk sendirian di bangku dekat danau kecil kampus sambil memandangi air yang bergerak pelan.
Hari itu kelas selesai lebih cepat.
Dan entah kenapa…
hatinya terasa aneh sejak pagi.
Sepi.
Kosong.
Seperti sedang merindukan sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak tahu apa.
“Kamu sendirian?”
Suara itu membuat Titik menoleh.
Henri berdiri sambil membawa dua cup cokelat hangat.
Titik tersenyum kecil.
“Kamu ngagetin.”
Henri duduk di sebelahnya lalu menyerahkan minuman itu.
“Nih.”
“Makasih.”
Hening beberapa detik.
Namun hening itu terasa nyaman.
Tidak canggung.
Tidak berat.
Hanya dua orang yang sedang mencoba kembali saling memahami.
“Aku suka tempat ini,” ujar Titik pelan.
Henri menoleh.
“Kenapa?”
“Tenang.”
Ia memandangi danau kecil di depan mereka.
“Nggak banyak suara orang.”
Henri tersenyum tipis.
“Padahal kamu cerewet.”
Titik langsung manyun.
“Jahat.”
Henri tertawa kecil.
Dan suara tawa itu…
masih menjadi salah satu hal favorit bagi Titik.
Hujan mulai turun perlahan.
Rintik-rintik kecil jatuh di permukaan air danau.
Mahasiswa mulai berlarian mencari tempat teduh.
Namun Titik dan Henri justru tetap duduk di sana.
Diam.
Menikmati suasana.
“Titik…”
“Hm?”
Henri memandang lurus ke depan.
“Aku takut.”
Kalimat itu membuat Titik perlahan menoleh.
“Takut apa?”
Henri diam cukup lama.
Sampai akhirnya berkata pelan—
“Takut kehilangan kamu.”
Dan entah kenapa…
kalimat sederhana itu langsung membuat dada Titik terasa sesak.
Karena untuk pertama kalinya…
ia mendengar ketakutan dari suara Henri.
Bukan ego.
Bukan emosi.
Melainkan ketulusan.
“Aku juga takut…” bisik Titik lirih.
Henri menoleh perlahan.
Tatapan mereka bertemu di bawah hujan kecil yang mulai turun semakin rapat.
Dan suasana itu terasa begitu sendu.
Begitu melankolis.
Seolah dunia sedang melambat hanya untuk mereka.
“Kalau suatu hari kita beneran pisah gimana?”
Pertanyaan Titik membuat Henri langsung mengernyit.
“Kenapa ngomong gitu?”
“Jawab aja.”
Henri menghela napas kecil.
“Aku nggak mau.”
“Tapi kalau terjadi?”
Henri memandang Titik lama.
Lalu tersenyum tipis pahit.
“Mungkin aku bakal nyesel seumur hidup.”
Kalimat itu membuat hati Titik bergetar pelan.
Dan tanpa sadar…
air matanya hampir jatuh.
Hujan semakin deras.
Henri akhirnya membuka jaketnya lalu menutupi kepala Titik pelan.
“Kamu bisa sakit.”
“Kamu juga.”
“Nggak apa-apa.”
Titik memandang laki-laki itu diam-diam.
Dan semakin lama…
semakin ia sadar bahwa dirinya masih terlalu mencintai Henri.
Meskipun sering terluka karenanya.
Di sisi lain kampus…
Rahmat berdiri di bawah koridor lantai dua sambil memandangi mereka dari jauh.
Hujan membuat pemandangan terlihat samar.
Namun ia tetap bisa melihat jelas—
cara Henri memandang Titik.
Cara Titik tersenyum kepada Henri.
Dan sekali lagi…
dadanya terasa nyeri.
Bima yang berdiri di sampingnya ikut diam cukup lama.
“Sakit ya?”
Rahmat tertawa kecil hambar.
“Lumayan.”
“Kenapa masih dipertahanin?”
Rahmat memandangi hujan di depan mereka.
“Karena hati kadang bodoh.”
Kalimat itu membuat suasana semakin sunyi.
Sementara itu…
Bella duduk sendirian di mobilnya di area parkir kampus.
Tatapannya lurus melihat Titik dan Henri di dekat danau.
Tangannya perlahan mengepal.
Karena semakin ia mencoba memisahkan mereka…
semakin kuat mereka kembali bersama.
Dan itu membuat obsesinya semakin besar.
Malam harinya…
Titik tidak bisa tidur.
Ia terus memikirkan ucapan Henri sore tadi.
“Aku takut kehilangan kamu.”
Kalimat itu terus terngiang di kepalanya.
Dan anehnya…
justru membuat hatinya semakin sedih.
Karena jauh di dalam dirinya…
ia mulai sadar bahwa hubungan mereka perlahan berubah menjadi sesuatu yang melelahkan.
Mereka terlalu saling mencintai.
Namun juga terlalu sering saling melukai.
Ponselnya tiba-tiba berbunyi.
Nama Henri muncul.
Titik langsung mengangkat.
“Halo…”
Suara Henri terdengar pelan dari seberang sana.
“Kamu belum tidur?”
“Belum.”
“Aku juga.”
Hening beberapa detik.
Lalu Henri berkata lirih—
“Aku kangen.”
Satu kalimat sederhana.
Namun cukup membuat mata Titik kembali berkaca-kaca.
“Padahal tadi baru ketemu…”
“Iya.”
“Tapi aku tetep kangen.”
Titik tersenyum kecil sambil menahan air matanya.
Dan malam itu…
mereka berbicara sangat lama.
Tentang hal-hal kecil.
Tentang masa depan.
Tentang mimpi.
Tentang ketakutan kehilangan satu sama lain.
Seolah keduanya sedang mencoba mempertahankan cinta mereka dengan seluruh sisa tenaga yang masih ada.
Tanpa sadar…
bahwa tidak semua cinta bisa diselamatkan hanya dengan rasa sayang.
BAB XXI
MALAM YANG TERLALU INDAH UNTUK BERTAHAN
Setelah malam telepon panjang itu…
hubungan Titik dan Henri kembali terasa hangat.
Bahkan terlalu hangat.
Mereka seperti dua orang yang sedang berusaha melupakan semua luka dengan cara saling mencintai lebih keras dari sebelumnya.
Dan sering kali…
cinta yang terlalu dipaksa untuk sempurna justru menjadi awal kehancuran baru.
Pagi itu Henri sudah menunggu di depan kos Titik sejak jam tujuh.
Mengenakan hoodie hitam sederhana dan membawa kantong sarapan.
Saat Titik keluar pagar…
ia langsung terkejut.
“Kamu ngapain pagi-pagi di sini?”
Henri tersenyum kecil sambil mengangkat kantong plastik.
“Nyulik pacar orang.”
Titik tertawa kecil.
“Pacar siapa?”
“Pacarku.”
“Geer.”
Namun pipi Titik langsung memerah.
Dan Henri menyadari satu hal—
ia sangat merindukan tawa kecil perempuan itu.
“Makan dulu.”
Henri menyerahkan roti bakar dan susu kotak.
Titik menatapnya heran.
“Kamu beli?”
“Iya.”
“Tumben.”
Henri langsung manyun.
“Jahat banget.”
Titik tertawa kecil lagi.
Dan untuk sesaat…
mereka kembali seperti pasangan normal tanpa drama.
Tanpa pertengkaran.
Tanpa Bella.
Tanpa Rahmat.
Hanya Henri dan Titik.
Di kampus…
Yoga langsung melotot saat melihat mereka datang bareng sambil tertawa.
“WOI BALEKAN LAGI?!”
Satu koridor langsung menoleh.
Henri spontan melempar botol air mineral ke arah Yoga.
“Berisik.”
Yoga menangkap botol itu sambil tertawa puas.
“Cinta sejati memang penuh cicilan emosi.”
Bima yang berdiri di dekatnya geleng kepala.
“Lu kalau nggak jadi mahasiswa cocok jadi motivator gagal.”
Namun meski suasana terlihat membaik…
Rahmat justru semakin menjauh.
Ia mulai lebih sering sibuk sendiri.
Menghindari tempat yang ada Titik dan Henri.
Dan itu perlahan disadari oleh Titik.
“Rahmat berubah ya…” bisik Titik pelan saat duduk bersama Salsa.
Salsa menatap ke arah Rahmat yang sedang membantu dosen membawa perlengkapan seminar.
“Mungkin dia lagi jaga jarak.”
Dada Titik terasa sedikit nyeri.
Karena ia tahu…
Rahmat menjauh bukan karena benci.
Melainkan karena sedang berusaha menyelamatkan hatinya sendiri.
Sore harinya…
Henri mengajak Titik pergi keluar kota kecil dekat pinggiran sungai.
Tempat itu cukup sepi.
Hanya ada lampu-lampu jalan kecil dan suara air mengalir pelan.
Senja terlihat sangat indah sore itu.
Langit berubah jingga keemasan.
Dan angin sungai bertiup lembut membawa aroma hujan.
“Kamu sering ke sini?” tanya Titik.
Henri mengangguk kecil.
“Dulu kalau lagi pusing aku suka ke sini.”
“Kenapa ngajak aku?”
Henri menoleh sambil tersenyum tipis.
“Karena aku pengen tempat favoritku kenal sama orang favoritku.”
Kalimat itu langsung membuat Titik diam.
Lalu tertawa malu sambil memukul lengan Henri pelan.
“Gombal.”
“Fakta.”
Namun jauh di dalam hati Titik…
kalimat itu terasa begitu hangat.
Mereka duduk di pinggir sungai cukup lama.
Bercerita tentang masa kecil.
Tentang keluarga.
Tentang ketakutan.
Tentang masa depan yang masih belum jelas.
Dan untuk pertama kalinya sejak semua drama terjadi…
mereka benar-benar bicara dari hati ke hati.
“Aku sebenarnya takut kamu pergi,” ujar Henri pelan.
Titik menoleh.
“Kenapa?”
Henri memandangi air sungai di depan mereka.
“Karena aku sadar… aku sering bikin kamu sedih.”
Suasana mendadak hening.
Angin sore berembus pelan.
Dan langit mulai berubah gelap perlahan.
Titik menggigit bibir kecil.
“Aku juga nggak sempurna.”
“Tapi aku yang paling sering nyakitin.”
Kalimat itu membuat hati Titik terasa lembut sekaligus sakit.
Karena akhirnya…
Henri mulai benar-benar menyadari semuanya.
“Titik…”
“Hm?”
“Kalau nanti kita nggak sama-sama lagi…”
Titik langsung memotong cepat.
“Jangan ngomong gitu.”
Henri tersenyum kecil pahit.
“Aku cuma takut.”
Air mata Titik mulai menggenang lagi.
Karena entah kenapa…
hari itu terasa terlalu indah.
Dan biasanya…
hal-hal yang terlalu indah tidak bertahan lama.
Malam mulai turun.
Lampu-lampu kota menyala di kejauhan.
Henri perlahan menggenggam tangan Titik.
Lalu berkata sangat pelan—
“Aku sayang banget sama kamu.”
Kalimat itu sederhana.
Namun kali ini terasa jauh lebih tulus daripada sebelumnya.
Dan Titik akhirnya menangis kecil.
Bukan karena sedih.
Melainkan karena terlalu penuh.
Terlalu lelah.
Terlalu mencintai.
Henri langsung panik kecil.
“Eh kok nangis…”
Titik tertawa di sela air matanya.
“Aku capek…”
Henri menarik perempuan itu ke pelukannya perlahan.
Pelukan yang hangat.
Tenang.
Dan penuh rasa takut kehilangan.
Namun jauh dari tempat itu…
Bella duduk di kamar apartemennya sambil menatap foto Titik dan Henri di media sosial.
Tangannya perlahan mengepal.
Karin yang duduk di sofa memperhatikan dengan khawatir.
“Bella…”
“Aku nggak bisa kalah.”
Suara Bella terdengar lirih.
Namun dingin.
“Aku nggak bisa lihat Henri sebahagia itu sama perempuan lain.”
Karin mulai merasa takut.
Karena obsesi Bella kini terlihat semakin tidak sehat.
Dan malam itu…
saat Henri dan Titik sedang mencoba memperbaiki cinta mereka…
seseorang lain justru mulai merancang cara paling berbahaya untuk menghancurkan semuanya.
BAB XXII
LAGU YANG MEMBUAT MEREKA DIAM
Hari-hari setelah pergi ke pinggir sungai itu terasa lebih tenang.
Tidak banyak pertengkaran.
Tidak banyak drama besar.
Henri mulai lebih perhatian.
Titik mulai lebih berusaha memahami.
Dan untuk sesaat…
mereka merasa cinta mereka masih bisa diselamatkan.
Namun kadang…
ketenangan justru menjadi bagian paling menyedihkan dari sebuah hubungan.
Karena di baliknya…
ada rasa takut bahwa semuanya tidak akan bertahan lama.
Malam itu kampus mengadakan acara pentas seni kecil di halaman fakultas.
Lampu-lampu gantung dipasang di pepohonan.
Tikar-tikar dibentangkan di rumput.
Mahasiswa duduk santai sambil menikmati musik akustik.
Suasana terasa hangat.
Sederhana.
Dan penuh nostalgia.
“Titik sini!”
Dinda melambaikan tangan dari tikar paling depan.
Titik datang bersama Henri.
Dan seperti biasa…
kedatangan mereka langsung jadi perhatian kecil teman-temannya.
“Wah pasangan drama nasional hadir,” celetuk Yoga.
Henri langsung melempar bantal kecil ke wajah Yoga.
“Bacot.”
Semua tertawa.
Bahkan Titik ikut tersenyum kecil.
Namun di balik senyum itu…
ada rasa aneh yang tidak bisa ia jelaskan sejak tadi sore.
Acara dimulai.
Beberapa mahasiswa tampil menyanyi dan bermain gitar.
Ada yang fals.
Ada yang terlalu percaya diri.
Ada juga yang malah lupa lirik.
Dan tentu saja…
Yoga menjadi korban bully satu fakultas setelah nekat menyanyi lagu galau dengan suara seperti knalpot bocor.
“AKU TAK BISA MEEEEMILIKIMU—”
“WOI TURUN!” teriak mahasiswa lain.
Fikri sampai menutup muka pakai jaket.
“Aku malu satu tongkrongan sama dia.”
Namun suasana justru semakin ramai oleh tawa.
Dan untuk beberapa saat…
semua terasa normal lagi.
Sampai akhirnya…
seorang mahasiswa naik ke atas panggung sambil membawa gitar.
Rahmat.
Suasana langsung sedikit berubah.
Karena semua orang tahu—
Rahmat jarang tampil di depan umum.
Laki-laki itu duduk di kursi kecil sambil memegang gitar pelan.
Tatapannya tenang.
Namun entah kenapa…
malam itu terlihat sangat sendu.
“Mau nyanyi apa, Mat?!” teriak Yoga.
Rahmat tersenyum kecil.
“Lagu lama.”
Dan petikan gitar mulai terdengar pelan.
Lembut.
Tenang.
Namun penuh rasa kehilangan.
Titik langsung diam.
Karena lagu itu…
adalah lagu yang dulu pernah ia nyanyikan pelan bersama Rahmat saat mereka lembur tugas sampai malam.
Henri yang duduk di sebelah Titik juga mulai menyadari perubahan ekspresi perempuan itu.
Sedangkan Rahmat…
terus memainkan gitar sambil sesekali menunduk.
Suara laki-laki itu tidak terlalu kuat.
Namun justru terdengar sangat tulus.
Setiap lirik terasa berat.
Seolah ada perasaan yang selama ini dipendam terlalu lama.
Dan tanpa sadar…
semua orang mulai ikut diam mendengarkan.
Titik menggenggam jemarinya sendiri pelan.
Dadanya terasa sesak.
Karena untuk pertama kalinya…
ia benar-benar bisa merasakan kesedihan Rahmat.
Kesedihan seseorang yang mencintai…
tetapi tidak pernah bisa memiliki.
Henri perlahan menoleh ke arah Titik.
Dan saat melihat mata perempuan itu mulai berkaca-kaca…
hatinya langsung terasa tidak nyaman.
Cemburu itu datang lagi.
Namun kali ini bercampur rasa takut.
Takut kehilangan.
Takut kalah oleh seseorang yang selalu ada saat Titik terluka.
Lagu selesai.
Tepuk tangan terdengar pelan.
Namun suasana tetap terasa sendu.
Rahmat hanya tersenyum kecil lalu turun dari panggung tanpa banyak bicara.
Dan entah kenapa…
keheningan setelah lagu itu justru terasa lebih menyakitkan daripada liriknya sendiri.
“Kamu kenapa?” tanya Henri pelan.
Titik buru-buru menghapus sudut matanya.
“Nggak apa-apa.”
Henri diam beberapa detik.
Lalu berkata lirih—
“Kamu nangis karena dia?”
Kalimat itu langsung membuat Titik menoleh cepat.
“Apa?”
Henri tertawa kecil hambar.
“Lagu itu buat kamu kan?”
Titik mulai panik.
“Henri jangan mulai…”
“Aku cuma nanya.”
Nada suara Henri terdengar tenang.
Namun Titik tahu—
laki-laki itu sedang menahan sesuatu.
“Aku nggak mau ribut malam ini…” bisik Titik pelan.
Henri menatap panggung kosong di depan mereka.
Lalu berkata sangat pelan—
“Tapi aku capek pura-pura nggak sadar.”
Kalimat itu langsung membuat suasana di antara mereka berubah dingin lagi.
Di sisi lain…
Rahmat berdiri sendirian di belakang gedung fakultas sambil memandangi langit malam.
Bima menghampiri sambil membawa dua kopi kaleng.
“Lu sengaja nyanyi lagu itu ya?”
Rahmat menerima kopi itu pelan.
“Iya mungkin.”
“Buat Titik?”
Rahmat tersenyum kecil pahit.
“Beberapa perasaan kadang cuma bisa keluar lewat lagu.”
Bima menghela napas panjang.
“Lu makin tenggelam.”
Rahmat memandangi lampu kampus yang redup.
Lalu berkata lirih—
“Aku udah dari lama tenggelam.”
Sementara itu…
Bella memperhatikan semuanya dari jauh.
Tatapannya tajam.
Dan untuk pertama kalinya…
ia mulai sadar satu hal yang berbahaya.
Titik kini berada di antara dua laki-laki yang sama-sama mencintainya dengan cara berbeda.
Dan situasi seperti itu…
akan sangat mudah dihancurkan.
Malam semakin larut.
Acara pentas seni mulai selesai.
Mahasiswa pulang satu per satu.
Namun suasana hati mereka bertiga justru semakin kacau.
Henri mulai dipenuhi rasa takut kehilangan.
Rahmat semakin tenggelam dalam perasaannya sendiri.
Dan Titik…
mulai bingung dengan isi hatinya sendiri.
Karena semakin lama…
ia mulai merasa nyaman saat bersama Rahmat.
Namun di saat yang sama…
ia masih sangat mencintai Henri.
Dan itulah awal dari luka yang jauh lebih dalam.
BAB XXIII
KAMPUS, CINTA, DAN MANUSIA-MANUSIA GAGAL MOVE ON
Setelah malam pentas seni itu…
hubungan Titik dan Henri kembali memasuki fase dingin.
Bukan pertengkaran besar.
Bukan teriakan.
Melainkan diam yang panjang dan melelahkan.
Henri mulai sering murung.
Titik mulai sering melamun.
Sedangkan Rahmat…
semakin memilih menjauh.
Dan di tengah semua kekacauan itu…
teman-teman mereka justru mulai ikut pusing sendiri.
Pagi itu kantin kampus penuh seperti biasa.
Mahasiswa sibuk sarapan sebelum kelas.
Suara sendok, tawa, dan obrolan bercampur jadi satu.
Namun di meja pojok langganan mereka…
suasana terasa seperti rapat negara gagal.
Titik duduk sambil mengaduk bubur ayam tanpa semangat.
Henri duduk di depannya sambil bermain sedotan es teh.
Tidak ada yang bicara.
Tidak ada yang saling menatap.
Dan itu membuat Dinda akhirnya tidak tahan.
“Ya Allah…”
Semua menoleh.
Dinda memijat pelipis.
“Gue lebih nyaman lihat setan daripada lihat kalian diem-dieman begini.”
Yoga langsung mengangguk setuju.
“Betul. Aura meja ini kayak ruang sidang perceraian.”
Henri mendelik.
“Berisik.”
Namun justru itu membuat Yoga semakin semangat.
“Nggak bisa gini.”
Yoga berdiri sambil menunjuk Henri dan Titik bergantian.
“Kalian harus baikan.”
“Kita nggak kenapa-napa,” jawab Titik pelan.
“NAH ITU KALIMAT PALING BAHAYA DALAM HUBUNGAN.”
Satu kantin langsung menoleh karena suara Yoga terlalu keras.
Fikri langsung menarik kerah bajunya.
“Duduk goblok.”
Bima yang sedari tadi diam akhirnya ikut bicara.
“Lu berdua tuh sebenarnya sayang.”
Henri dan Titik tetap diam.
“Tapi sama-sama gengsi.”
Dinda langsung menimpali—
“Dan sama-sama overthinking.”
Salsa menghela napas.
“Dan sama-sama gampang cemburu.”
Yoga mengangkat tangan tinggi.
“Dan sama-sama bucinnya stadium empat.”
PLAK.
Kepala Yoga langsung dipukul Fikri.
“Aduh.”
Namun meski suasana mulai sedikit cair…
Titk dan Henri tetap terlihat sulit kembali normal.
Karena masalah mereka bukan lagi sekadar cemburu.
Melainkan rasa lelah yang mulai menumpuk.
Siang harinya…
Kelas komunikasi massa mendadak chaos karena dosen belum datang.
Yoga langsung berdiri di atas kursi.
“SEBAGAI KETUA KELAS PALSU—”
“Kapan lu jadi ketua kelas?” teriak Nadia.
“Barusan.”
Mahasiswa langsung tertawa.
Yoga menunjuk Henri.
“Karena dosen belum datang, mari kita bahas tema hari ini.”
Henri langsung curiga.
“Apa lagi?”
Yoga menyeringai lebar.
“KENAPA ORANG BUCIN SELALU MENYAKITI ORANG YANG DIA SAYANG.”
Satu kelas langsung pecah.
Henri refleks melempar buku ke arah Yoga.
“MATI LU.”
Yoga kabur keliling kelas sambil ketawa histeris.
“INI KEBEBASAN AKADEMIK!”
Bahkan Titik yang sejak tadi murung akhirnya tertawa kecil.
Dan saat melihat Titik tertawa…
Henri diam-diam ikut tersenyum.
Karena sesederhana itu sebenarnya yang ia inginkan.
Melihat perempuan itu bahagia.
Namun ketenangan kembali buyar saat Bella masuk kelas.
Perempuan itu datang membawa beberapa dokumen festival.
Dan seperti biasa…
suasana hati Titik langsung berubah.
Bella berjalan mendekat ke arah Henri.
“Hen, nanti jadi meeting jam empat kan?”
Henri mengangguk kecil.
“Iya.”
Bella tersenyum tipis.
“Oke.”
Lalu sebelum pergi…
ia sengaja menyentuh bahu Henri pelan.
Sangat kecil.
Namun cukup untuk dilihat Titik.
Dan rasa sesak itu kembali datang.
Dinda langsung berbisik—
“Ini cewek sengaja banget sumpah.”
Salsa mengangguk pelan.
“Aku juga mulai yakin.”
Sedangkan Rahmat yang duduk di belakang memperhatikan semuanya tanpa bicara.
Tatapannya dingin ke arah Bella.
Karena semakin lama…
ia semakin yakin bahwa semua konflik ini memang sengaja dimainkan.
Sore harinya…
Panitia festival kembali sibuk.
Henri ikut meeting bersama Bella dan beberapa panitia lain.
Sedangkan Titik memilih pergi ke perpustakaan bersama Salsa.
Namun sepanjang jalan…
pikirannya terus kacau.
“Tik.”
“Hm?”
“Kamu percaya sama Henri nggak?”
Pertanyaan Salsa membuat Titik diam cukup lama.
Lalu menjawab lirih—
“Aku percaya…”
Ia menunduk pelan.
“Cuma aku takut.”
“Takut apa?”
“Terlalu sayang sama dia.”
Kalimat itu membuat Salsa ikut terdiam.
Karena sering kali…
orang yang paling takut kehilangan justru menjadi orang yang paling mudah terluka.
Di sisi lain…
Meeting panitia berubah absurd karena ulah Yoga lagi.
Laki-laki itu tiba-tiba masuk sambil membawa kardus besar.
“PERHATIAN.”
Semua langsung menoleh.
“Apa lagi?” keluh Bima.
Yoga membuka kardus itu dramatis.
Isinya boneka beruang besar.
“Ini hadiah perdamaian untuk pasangan paling ribut di fakultas.”
Henri langsung menutup wajah.
“Ya Allah…”
Bella mengernyit.
“Maksudnya?”
Yoga menunjuk Henri.
“Dan Titik tentunya.”
Satu ruangan langsung tertawa kecil.
Namun Bella justru diam.
Tatapannya berubah tipis.
Karena semakin orang-orang mendukung hubungan Henri dan Titik…
semakin besar rasa kalah yang ia rasakan.
Malam harinya…
Titik duduk di balkon kos sambil memandangi langit.
Pikirannya masih penuh.
Tentang Henri.
Tentang Bella.
Tentang Rahmat.
Tentang dirinya sendiri yang mulai lelah.
Ponselnya tiba-tiba berbunyi.
Video call dari Henri.
Titik menatap layar cukup lama sebelum akhirnya mengangkat.
Wajah Henri muncul.
Dan seperti biasa…
melihat laki-laki itu selalu membuat hatinya sedikit tenang.
“Kamu belum tidur?”
“Belum.”
Henri diam beberapa detik.
Lalu memperlihatkan sesuatu ke kamera.
Boneka beruang besar dari Yoga.
Titik langsung tertawa kecil.
“Apaan itu?”
“Katanya simbol perdamaian.”
Titik akhirnya benar-benar tertawa lagi.
Dan suara tawa itu membuat Henri ikut tersenyum lega.
Namun di balik semua itu…
mereka sama-sama sadar.
Masalah mereka belum selesai.
Mereka hanya sedang menunda badai berikutnya.
BAB XXIV
SATU KESALAHAN YANG MENGUBAH SEGALANYA
Hubungan Titik dan Henri semakin tidak stabil.
Kadang terlihat sangat dekat.
Kadang terasa sangat jauh.
Hari ini tertawa bersama.
Besok saling diam seperti orang asing.
Dan semakin lama…
semua itu mulai melelahkan bukan hanya bagi mereka—
tetapi juga bagi orang-orang di sekitarnya.
Pagi itu suasana kampus terasa panas.
Bukan karena cuaca.
Melainkan karena rumor baru yang tiba-tiba menyebar.
“Henri sering jalan sama Bella.”
“Katanya mereka lembur berdua terus.”
“Fix ada apa-apanya.”
Dan sialnya…
rumor itu sampai ke telinga Titik sebelum Henri sempat menjelaskan apa pun.
“Titik…”
Salsa mencoba menenangkan.
“Tapi kita nggak tau kebenarannya.”
Namun Titik sudah terlanjur melihat foto yang beredar di grup mahasiswa.
Foto Henri dan Bella duduk berdua di sebuah kafe malam hari.
Tidak ada yang aneh sebenarnya.
Hanya diskusi panitia.
Namun angle foto itu terlihat sangat intim.
Dan bagi seseorang yang sedang dipenuhi overthinking…
foto seperti itu cukup untuk menghancurkan ketenangan.
“Aku capek…” bisik Titik pelan.
Matanya mulai berkaca-kaca lagi.
Dinda langsung kesal.
“Siapa sih tukang nyebar beginian?!”
Namun yang paling membuat Titik sakit—
Henri tidak memberi kabar malam itu.
Sama sekali.
Di sisi lain…
Henri sebenarnya sedang benar-benar sibuk.
Proposal penutupan festival bermasalah.
Sponsor mulai ribut.
Panitia kacau.
Dan Bella sengaja terus berada di dekatnya.
Membantu.
Menenangkan.
Mendengarkan semua keluh kesahnya.
Seolah menjadi satu-satunya orang yang mengerti dirinya.
“Kamu belum pulang?” tanya Bella malam itu di ruang sekret panitia.
Henri mengusap wajah lelah.
“Masih revisi.”
Bella berjalan mendekat sambil membawa kopi.
“Kamu terlalu dipaksa jadi kuat.”
Henri tertawa kecil hambar.
“Capek ya ternyata jadi orang dewasa.”
Bella tersenyum tipis.
“At least… ada orang yang tetap ada buat kamu.”
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun masuk perlahan ke kepala Henri yang sedang lelah secara emosional.
Sementara itu…
Titik terus menunggu chat dari Henri di kamar kos.
Jam terus berjalan.
Tidak ada kabar.
Tidak ada telepon.
Tidak ada penjelasan.
Dan semakin malam…
kepalanya semakin dipenuhi pikiran buruk.
“Aku ke sekretariat,” ujar Titik tiba-tiba.
Salsa langsung kaget.
“Malam-malam?”
“Aku mau ketemu Henri.”
Dinda langsung berdiri.
“Kita temenin.”
Namun Titik menggeleng.
“Nggak usah.”
Dan tanpa sadar…
malam itu akan menjadi malam yang mengubah semuanya.
Hujan turun cukup deras saat Titik sampai di gedung sekretariat festival.
Lorong terlihat sepi.
Lampu beberapa ruangan sudah dimatikan.
Namun dari ruang utama panitia…
masih terlihat cahaya.
Dan suara tawa kecil.
Jantung Titik mulai berdebar aneh.
Tangannya perlahan membuka pintu sedikit.
Dan di situlah semuanya terasa berhenti.
Henri tertidur di sofa.
Sedangkan Bella…
tertidur bersandar di bahu laki-laki itu.
Sangat dekat.
Terlalu dekat.
Dunia Titik seperti runtuh saat itu juga.
Dadanya langsung sesak.
Napasnya terasa berat.
Dan air matanya jatuh begitu saja.
Padahal…
situasinya tidak seperti yang ia pikirkan.
Henri benar-benar tertidur karena kelelahan.
Bella sengaja mendekat setelah laki-laki itu tertidur.
Namun bagi Titik…
pemandangan itu sudah cukup menghancurkan semuanya.
BRAK.
Pintu terbuka lebih keras.
Henri langsung terbangun kaget.
“Titik?!”
Bella pura-pura ikut kaget lalu buru-buru menjauh.
“Titik tunggu—”
Namun perempuan itu sudah menangis.
Tatapannya benar-benar terluka.
“Kamu bilang capek…”
Suara Titik bergetar hebat.
“Tapi ternyata kamu nyaman sama dia.”
Henri langsung berdiri panik.
“INI NGGAK KAYAK YANG KAMU PIKIRIN!”
“AKU CAPEK DENGER KALIMAT ITU!”
Tangisan Titik pecah.
Dan itu langsung membuat Henri semakin panik.
“Titik aku sumpah nggak ngapa-ngapain—”
“Tapi kenapa harus dia terus?!”
Suasana mendadak sangat emosional.
Bella hanya diam berpura-pura bersalah.
Namun jauh di dalam hati…
ia justru puas melihat semuanya mulai hancur.
Henri mencoba mendekat.
Namun Titik mundur.
Air matanya jatuh tanpa henti.
“Aku capek cemburu terus…”
Suara perempuan itu melemah.
“Aku capek takut kehilangan kamu…”
Kalimat itu langsung menghantam Henri keras sekali.
Karena untuk pertama kalinya…
ia benar-benar melihat Titik berada di titik paling lelah.
Namun sebelum Henri sempat menjelaskan lagi—
suara lain tiba-tiba muncul dari belakang lorong.
“Titik?”
Rahmat.
Laki-laki itu berdiri sambil membawa kamera dan beberapa dokumen.
Dan saat melihat Titik menangis…
wajahnya langsung berubah.
“Apa yang terjadi?”
Henri langsung frustrasi.
“Bukan urusan lu.”
Rahmat mengabaikan Henri lalu berjalan mendekati Titik.
“Kamu nggak apa-apa?”
Dan itu…
menjadi kesalahan terbesar malam itu.
Karena Henri yang emosinya sudah penuh…
akhirnya benar-benar meledak.
“JANGAN DEKETIN DIA TERUS!”
Suara keras itu menggema di lorong.
Rahmat langsung menatap tajam.
“Aku cuma peduli.”
“Peduli atau nunggu kita hancur?!”
PLAK!
Semua langsung diam.
Titik baru saja menampar Henri untuk kedua kalinya.
Namun kali ini jauh lebih keras.
Air matanya terus jatuh.
Tatapannya penuh luka.
“Kenapa kamu jadi kayak gini…”
Suasana langsung membeku.
Henri benar-benar terpaku.
Sedangkan Rahmat mulai mengepalkan tangan menahan emosi.
Dan Bella…
diam-diam tersenyum kecil di balik wajah pura-pura sedihnya.
Karena malam itu…
komplikasi cinta mereka akhirnya benar-benar mencapai puncaknya.
BAB XXV
SAAT CINTA MULAI KEHILANGAN TEMPAT PULANG
Setelah malam di sekretariat itu…
semuanya berubah.
Bukan lagi sekadar pertengkaran kecil.
Bukan lagi drama cemburu biasa.
Melainkan hubungan yang mulai retak dari dalam.
Dan yang paling menyakitkan—
mereka semua sadar retakan itu ada…
tetapi tidak tahu bagaimana memperbaikinya.
Titik tidak masuk kuliah selama dua hari.
Ponselnya dimatikan.
Chat dari Henri tidak dibalas.
Telepon tidak diangkat.
Bahkan Salsa dan Dinda pun kesulitan menghubunginya.
Perempuan itu memilih mengurung diri di kamar kos.
Sendirian.
Dengan pikiran yang semakin kacau.
Ia terus mengingat kejadian malam itu.
Bella di bahu Henri.
Tatapan panik Henri.
Teriakan.
Tangisan.
Tamparan.
Dan semua rasa lelah yang selama ini ia pendam akhirnya seperti meledak bersamaan.
“Aku capek…”
Kalimat itu terus berputar di kepalanya sendiri.
Dan untuk pertama kalinya…
Titik mulai mempertanyakan cintanya sendiri.
Apakah cinta memang harus sesakit ini?
Di sisi lain…
Henri juga tidak kalah hancur.
Ia terlihat seperti orang kehilangan arah.
Tidak fokus saat rapat.
Tidak peduli saat diajak bicara.
Bahkan beberapa kali hanya duduk diam menatap ponselnya.
Menunggu balasan dari Titik yang tidak pernah datang.
“Hen…”
Bima duduk di sebelahnya di tribun kampus.
“Lu harus kasih dia waktu.”
Henri tertawa kecil hambar.
“Aku takut dia pergi.”
Bima diam beberapa detik.
Lalu berkata pelan—
“Kadang orang pergi bukan karena udah nggak sayang.”
Henri menoleh pelan.
“Tapi karena terlalu capek.”
Kalimat itu langsung membuat dada Henri terasa sesak.
Karena jauh di dalam hatinya…
ia tahu itu benar.
Sementara itu…
Rahmat juga mulai menjauh dari semuanya.
Ia jarang nongkrong.
Jarang bercanda.
Dan lebih sering menghabiskan waktu sendiri di ruang fotografi kampus.
Namun meski berusaha menjaga jarak…
ia tetap tidak bisa berhenti memikirkan Titik.
Malam itu hujan turun cukup deras.
Rahmat sedang membereskan kamera saat pintu ruang fotografi perlahan terbuka.
Ia menoleh.
Dan langsung membeku.
Titik berdiri di sana.
Wajahnya pucat.
Matanya sembab.
Dan terlihat sangat lelah.
“Titik…”
Perempuan itu tersenyum kecil lemah.
“Maaf ganggu.”
Rahmat buru-buru berdiri.
“Nggak ganggu sama sekali.”
Suasana langsung hening.
Hanya suara hujan yang terdengar samar dari luar ruangan.
Dan untuk beberapa detik…
tak satu pun dari mereka bicara.
“Aku bingung…”
Suara Titik akhirnya pecah pelan.
Rahmat menatapnya lembut.
“Tentang Henri?”
Air mata Titik langsung jatuh lagi.
Dan itu sudah cukup menjadi jawaban.
Rahmat menghela napas kecil.
Lalu berjalan mendekat perlahan.
“Duduk dulu.”
Mereka duduk berdampingan di sofa kecil ruang fotografi.
Lampu ruangan redup.
Suasana terasa tenang.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama…
Titik merasa bisa bernapas sedikit lebih lega.
“Aku sayang sama dia…” bisik Titik lirih.
Rahmat diam mendengarkan.
“Tapi kenapa rasanya sakit terus…”
Air mata perempuan itu jatuh semakin deras.
“Aku capek takut kehilangan dia setiap hari.”
Rahmat mengepalkan tangannya pelan.
Karena mendengar perempuan yang ia cintai menangis demi laki-laki lain…
selalu terasa menyakitkan.
Namun ia tetap berkata lembut—
“Cinta nggak seharusnya bikin kamu hancur terus.”
Kalimat itu membuat Titik menunduk diam.
Karena jauh di dalam hatinya…
ia mulai sadar.
Rahmat selalu menenangkannya.
Sedangkan Henri…
lebih sering membuatnya menangis.
Dan kesadaran itu justru terasa menakutkan.
“Tapi aku nggak bisa ninggalin dia…”
Suara Titik benar-benar lemah sekarang.
Rahmat tersenyum kecil pahit.
“Aku tau.”
Hening kembali memenuhi ruangan.
Lalu Rahmat berkata sangat pelan—
“Karena kalau udah cinta…”
Ia tertawa kecil hambar.
“Kadang kita rela tetap tinggal meski hati sendiri yang hancur.”
Kalimat itu membuat Titik langsung menangis lagi.
Dan malam itu…
untuk pertama kalinya…
Titik memeluk Rahmat lebih dulu.
Rahmat langsung membeku.
Napasnya tertahan sesaat.
Karena pelukan itu bukan sekadar pelukan biasa.
Melainkan pelukan seseorang yang sedang benar-benar rapuh.
Perlahan…
Rahmat membalas pelukan itu.
Lembut.
Hati-hati.
Seolah takut perempuan itu semakin hancur.
Namun tanpa mereka sadari…
seseorang berdiri di luar pintu ruang fotografi.
Henri.
Laki-laki itu datang karena Bima memberitahu bahwa Titik terlihat di gedung seni.
Dan yang ia lihat sekarang…
adalah perempuan yang paling ia cintai sedang menangis di pelukan sahabatnya sendiri.
Dunia Henri langsung terasa runtuh.
Tangannya mengepal kuat.
Napasnya memburu.
Dan rasa sakit itu…
jauh lebih besar daripada semua rasa cemburu sebelumnya.
Karena kali ini…
Titik tidak terlihat dipaksa.
Perempuan itu terlihat nyaman.
Henri mundur perlahan dari depan pintu.
Tatapannya kosong.
Dan untuk pertama kalinya…
ia mulai merasa benar-benar kehilangan Titik.
Di sisi lain…
Bella yang diam-diam mengikuti Henri malam itu akhirnya tersenyum kecil samar.
Karena semua yang ia inginkan…
perlahan mulai terjadi.
Cinta mereka mulai runtuh.
Persahabatan mulai hancur.
Dan Titik…
akhirnya berada di titik paling rapuh dalam hidupnya.
BAB XXVI
PERPISAHAN YANG TIDAK SIAP DITERIMA
Malam setelah kejadian di ruang fotografi…
tidak ada yang benar-benar tidur dengan tenang.
Titik menangis sampai tertidur di kamar kosnya.
Rahmat duduk sendirian sampai subuh sambil menatap hujan dari jendela ruang fotografi.
Dan Henri…
menghilang.
Tidak membalas chat siapa pun.
Tidak mengangkat telepon.
Bahkan Bima dan Yoga pun mulai panik karena laki-laki itu seperti benar-benar kehilangan arah.
Pagi kampus terasa muram.
Langit mendung.
Udara dingin.
Dan suasana hati mereka semua terasa sama beratnya.
“Henri mana?” tanya Dinda saat melihat kursi laki-laki itu kosong.
Bima menghela napas panjang.
“Nggak tau.”
“Semalam dia pulang?”
“Nggak.”
Suasana langsung hening.
Karena semua orang mulai sadar—
konflik ini sudah terlalu jauh.
Sementara itu…
Titik berjalan pelan melewati koridor kampus dengan wajah pucat.
Ia hampir tidak tidur.
Matanya sembab.
Dan dadanya masih terasa sesak mengingat semua kejadian semalam.
Namun yang paling membuatnya takut…
adalah perasaannya sendiri.
Karena untuk pertama kalinya…
pelukan Rahmat terasa menenangkan.
Dan itu membuatnya merasa bersalah kepada Henri.
“Titik.”
Perempuan itu menoleh pelan.
Henri berdiri beberapa meter di depannya.
Wajah laki-laki itu terlihat jauh lebih dingin dari biasanya.
Mata merah.
Raut lelah.
Dan ada sesuatu di tatapannya yang membuat hati Titik langsung tidak tenang.
“Kita ngobrol.”
Bukan pertanyaan.
Melainkan permintaan yang terdengar sangat berat.
Titik mengangguk kecil.
Dan mereka akhirnya berjalan menuju taman belakang fakultas.
Tempat yang dulu sering menjadi tempat favorit mereka.
Namun kali ini…
suasananya terasa sangat asing.
Hening cukup lama.
Tidak ada yang berani memulai.
Sampai akhirnya Henri tertawa kecil hambar.
“Aku lihat semalam.”
Dunia Titik langsung terasa runtuh.
Napasnya tertahan.
Sedangkan Henri memandang lurus ke depan.
“Kamu peluk dia.”
Suara laki-laki itu terdengar pelan.
Namun justru itulah yang membuatnya terasa lebih menyakitkan.
“Tapi itu nggak kayak yang kamu pikir—”
Henri langsung tertawa kecil lagi.
Kalinya lebih pahit.
“Kalimat itu ternyata sakit ya.”
Titik langsung diam.
Karena ia sadar…
itu adalah kalimat yang selama ini sering diucapkan Henri padanya.
Dan sekarang…
semuanya berbalik.
“Aku capek, Titik…”
Kalimat itu akhirnya keluar dari mulut Henri.
Pelan.
Lelah.
Dan benar-benar tulus.
Air mata Titik mulai jatuh lagi.
“Henri…”
“Aku sayang banget sama kamu.”
Henri menoleh perlahan.
Matanya mulai berkaca-kaca.
“Tapi kita saling nyakitin terus.”
Kalimat itu langsung menghancurkan pertahanan Titik.
Karena jauh di dalam dirinya…
ia tahu itu benar.
Henri menunduk pelan sambil mengusap wajahnya kasar.
“Aku nggak pernah niat bikin kamu nangis.”
“Tapi aku juga salah…” tangis Titik pecah.
Henri tersenyum kecil pahit.
“Kita berdua salah.”
Hening kembali memenuhi taman kecil itu.
Dan suara angin pagi terasa jauh lebih dingin dari biasanya.
“Aku cemburu sama Rahmat.”
Henri akhirnya jujur.
“Sangat cemburu.”
Titik menggigit bibirnya menahan tangis.
“Karena dia selalu ada waktu kamu hancur.”
Air mata Henri akhirnya jatuh juga.
Dan untuk pertama kalinya…
Titik melihat laki-laki itu menangis karenanya.
“Aku takut kalah sama dia…”
Suara Henri melemah.
“Tapi semakin aku takut…”
Ia tertawa kecil penuh luka.
“Semakin aku bikin kamu pergi.”
Titik langsung menangis semakin keras.
Karena semua rasa sakit itu akhirnya terbuka malam ini.
Tidak ada lagi ego.
Tidak ada lagi kemarahan.
Hanya dua orang yang saling mencintai…
tetapi mulai kehilangan cara untuk mempertahankan satu sama lain.
“Henri jangan gini…”
Titik mencoba memegang tangan laki-laki itu.
Namun Henri perlahan mundur.
Dan gerakan kecil itu…
terasa jauh lebih menyakitkan daripada bentakan apa pun.
“Mungkin…”
Henri menarik napas panjang.
“Kita butuh berhenti dulu.”
Kalimat itu langsung membuat dunia Titik terasa berhenti.
“Apa?”
“Aku nggak mau kita makin hancur.”
Air mata Titik jatuh tanpa henti.
“Jadi kamu mau putus?”
Henri menutup matanya beberapa detik.
Dan saat membukanya lagi…
tatapannya sudah penuh rasa kalah.
“Aku nggak tau…”
Jawaban itu justru terasa lebih menyakitkan daripada kata putus itu sendiri.
Titik langsung mundur pelan.
Dadanya benar-benar sesak sekarang.
Karena orang yang selama ini selalu ia pertahankan…
akhirnya mulai menyerah.
“Aku nggak pernah berhenti sayang sama kamu…”
Suara Henri bergetar.
“Tapi aku juga nggak kuat kalau terus begini.”
Dan kalimat itulah…
yang akhirnya membuat Titik sadar.
Cinta saja memang tidak selalu cukup.
Perempuan itu menangis sambil menutup wajahnya.
Sedangkan Henri berdiri diam beberapa meter di depannya.
Sama-sama hancur.
Sama-sama kehilangan.
Namun tidak lagi tahu bagaimana cara kembali.
Dari kejauhan…
Rahmat melihat semuanya.
Ia berdiri di balik koridor dengan wajah penuh rasa bersalah.
Karena tanpa ia sadari…
kehadirannya benar-benar mulai memisahkan dua orang yang sebenarnya masih saling mencintai.
Sedangkan Bella…
yang melihat dari sisi parkiran…
perlahan tersenyum kecil.
Karena untuk pertama kalinya…
hubungan Henri dan Titik benar-benar berada di ambang kehancuran.
BAB XXVII
HATI YANG MULAI BENAR-BENAR PATAH
Setelah percakapan di taman belakang fakultas itu…
tidak ada status yang jelas.
Tidak ada kata putus secara resmi.
Namun juga tidak ada lagi kehangatan seperti sebelumnya.
Hubungan Titik dan Henri menggantung.
Dan justru itu yang paling menyakitkan.
Karena kadang…
hubungan yang belum benar-benar selesai justru lebih melelahkan daripada perpisahan itu sendiri.
Hari-hari berikutnya terasa sangat asing.
Henri mulai jarang muncul.
Kalaupun datang ke kampus…
ia lebih banyak diam.
Tidak lagi bercanda dengan Yoga.
Tidak lagi nongkrong lama bersama Bima.
Bahkan senyumnya hampir hilang sepenuhnya.
Sedangkan Titik…
perlahan berubah menjadi sosok yang mudah menangis.
Mudah melamun.
Dan mudah terluka oleh hal-hal kecil.
“Titik…”
Salsa duduk di sebelahnya di perpustakaan.
“Kamu harus makan.”
“Aku nggak lapar.”
“Kamu dari pagi belum makan.”
Titik hanya diam sambil memandangi halaman buku yang sama sejak setengah jam lalu.
Namun ia bahkan tidak membaca satu kata pun.
Karena pikirannya terus dipenuhi Henri.
“Dia nggak chat lagi?” tanya Dinda pelan.
Air mata Titik langsung menggenang lagi.
Dan diamnya…
sudah cukup menjadi jawaban.
Di sisi lain…
Henri sedang duduk sendirian di rooftop gedung fakultas.
Tatapannya kosong memandangi langit sore.
Sedangkan Bima berdiri di dekat pintu sambil menghela napas panjang.
“Lu nyiksa diri sendiri.”
Henri tertawa kecil hambar.
“Mungkin.”
“Kenapa nggak lu perjuangin lagi?”
Henri menunduk pelan.
“Aku takut…”
“Takut apa?”
Henri memejamkan mata beberapa detik.
“Takut kalau aku terus dekat sama dia…”
Suara laki-laki itu mulai melemah.
“…aku malah makin nyakitin dia.”
Kalimat itu membuat Bima ikut diam.
Karena untuk pertama kalinya…
Henri benar-benar terlihat kalah oleh keadaan.
Sementara itu…
Rahmat juga semakin tertekan.
Ia sadar Titik mulai nyaman berada di dekatnya.
Namun justru itu yang membuatnya merasa bersalah.
Karena jauh di dalam dirinya…
ia tahu Titik masih sangat mencintai Henri.
Malam itu…
Rahmat akhirnya memberanikan diri menemui Titik di taman kampus.
Perempuan itu duduk sendirian di bawah pohon besar sambil memeluk lutut.
Wajahnya terlihat lelah sekali.
“Kamu sendirian lagi.”
Titik menoleh pelan lalu tersenyum kecil lemah.
“Kayaknya aku emang cocok sendirian.”
Rahmat langsung duduk di sebelahnya.
“Jangan ngomong gitu.”
Titik tertawa kecil hambar.
“Semua jadi berantakan gara-gara aku.”
“Bukan salah kamu.”
“Tapi semua orang jadi sakit.”
Suara perempuan itu mulai bergetar lagi.
“Henri berubah…”
Ia menunduk semakin dalam.
“Dan aku nggak tau harus gimana.”
Rahmat memandang Titik lama.
Lalu berkata pelan—
“Kalau kamu masih sayang sama dia…”
Titik langsung menoleh.
Rahmat tersenyum kecil pahit.
“Kejar dia.”
Kalimat itu membuat dada Titik langsung terasa sesak.
“Rahmat…”
“Aku serius.”
Ia tertawa kecil hambar.
“Aku nggak mau jadi alasan kalian hancur.”
Dan untuk pertama kalinya…
Titik melihat luka yang selama ini disembunyikan Rahmat dengan jelas.
Luka seseorang yang rela mundur demi orang yang ia cintai bahagia.
Air mata Titik jatuh lagi.
“Kenapa kamu baik banget sama aku…”
Rahmat tersenyum kecil.
“Karena aku cinta sama kamu.”
Suasana langsung hening.
Dan pengakuan itu kali ini terasa jauh lebih berat dari sebelumnya.
Karena tidak ada tuntutan di dalamnya.
Tidak ada paksaan.
Hanya ketulusan yang diam-diam menyakitkan dirinya sendiri.
Namun tanpa mereka sadari…
seseorang sedang melihat dari kejauhan.
Bella.
Perempuan itu berdiri di dekat parkiran sambil memandangi mereka dengan tatapan tajam.
Dan untuk pertama kalinya…
ia mulai merasa terancam oleh Rahmat juga.
Karena jika Titik benar-benar berpaling ke Rahmat…
maka Henri mungkin akan benar-benar hancur.
Dan Bella tahu—
dalam keadaan sehancur itu…
Henri akan jauh lebih mudah ia dekati.
Keesokan harinya…
kampus kembali diguncang rumor baru.
Foto Titik dan Rahmat di taman semalam tersebar.
Kali ini lebih parah.
Karena angle foto terlihat seperti pasangan yang sedang saling menenangkan.
Dan lagi-lagi…
akun anonim kampus menjadi sumber semuanya.
“Sial ini keterlaluan,” geram Dinda sambil membaca komentar.
“Orang-orang kampus gabut banget.”
Namun Titik sudah terlalu lelah untuk marah.
Ia hanya diam sambil memandangi layar ponselnya dengan mata kosong.
Dan yang paling menghancurkan—
Henri juga melihat foto itu.
Laki-laki itu duduk sendirian di sekretariat panitia saat layar ponselnya menampilkan foto Titik dan Rahmat.
Tatapannya langsung kosong.
Tangannya perlahan mengepal.
Dan rasa kecewa itu akhirnya mencapai titik paling dalam.
Bukan hanya kepada Titik.
Tetapi juga kepada dirinya sendiri.
Karena ia sadar…
ia perlahan benar-benar kehilangan perempuan itu.
Bella yang duduk di dekatnya pura-pura kaget.
“Hen…”
Henri langsung mematikan layar ponselnya.
Namun matanya mulai memerah.
Dan untuk pertama kalinya…
Bella melihat sesuatu yang selama ini ia tunggu—
Henri benar-benar hancur.
Malam harinya…
hujan turun sangat deras.
Titik berdiri sendirian di halte dekat kampus sambil menangis diam-diam.
Sedangkan Henri berada beberapa ratus meter darinya…
duduk sendirian di dalam mobil Bima.
Mereka sama-sama terluka.
Sama-sama kecewa.
Sama-sama masih saling mencintai.
Namun kini…
jarak di antara mereka terasa terlalu jauh untuk dikejar kembali.
BAB XXVIII
CINTA YANG TIDAK BISA DIJELASKAN
Setelah foto Titik dan Rahmat tersebar…
suasana kampus kembali panas.
Namun anehnya…
kali ini Titik justru mulai terlihat lebih tenang.
Bukan karena masalahnya selesai.
Melainkan karena ia terlalu lelah untuk terus menjelaskan semuanya.
Dan rasa lelah itu perlahan membuat dirinya berubah.
Hari-hari terasa aneh.
Kadang Titik merindukan Henri sampai ingin menangis.
Namun di saat yang sama…
ia mulai nyaman berada di dekat Rahmat.
Kadang ia ingin memperbaiki semuanya.
Kadang ia justru ingin menghilang dari semua kekacauan itu.
Dan perasaan yang campur aduk itulah…
yang mulai membuat dirinya sendiri tidak mengenali hatinya lagi.
Pagi itu…
kampus mendadak heboh karena ada kiriman misterius di depan kelas komunikasi.
Sebuah kotak besar berwarna putih dengan pita biru.
Dan di atasnya tertulis:
“UNTUK ORANG PALING BIKIN PUSING SEKAMPUS.”
Mahasiswa langsung heboh.
“Sialan apaan tuh?”
“Bom?”
“Kalau meledak berarti tugas kuliah libur.”
Yoga langsung mendekat paling depan.
“Sebagai warga paling penasaran…”
Ia membuka kotak itu dramatis.
Dan isi di dalamnya langsung membuat satu koridor pecah ketawa.
Boneka gurita besar dengan dua ekspresi.
Satu senyum.
Satu nangis.
Di leher boneka itu ada tulisan:
“Mood Titik tiap lihat Henri.”
“WOIIII!”
Titik langsung menutup wajah malu.
Sedangkan Dinda sampai ngakak hampir jatuh.
“SIAPA YANG NGIRIM INI?!”
Yoga langsung mengangkat boneka itu tinggi-tinggi.
“INI SIMBOL CINTA TOXIC!”
Fikri langsung memukul punggungnya.
“Turunin goblok.”
Namun bahkan Titik akhirnya tertawa juga.
Dan itu pertama kalinya ia tertawa cukup lepas setelah berminggu-minggu penuh drama.
Namun beberapa detik kemudian…
senyum Titik perlahan hilang saat melihat kartu kecil di dalam kotak.
Tulisan tangan itu sangat familiar.
“Aku masih hafal semua hal kecil tentang kamu.”
Tidak ada nama.
Namun Titik langsung tahu.
Henri.
Dadanya langsung terasa hangat sekaligus sakit.
Karena bahkan setelah semua kekacauan itu…
Henri ternyata masih memperhatikan hal-hal kecil tentang dirinya.
“Titik…”
Salsa menatapnya pelan.
“Kamu masih cinta banget ya sama dia?”
Air mata Titik hampir jatuh lagi.
Namun kali ini ia hanya tersenyum kecil.
“Iya…”
Jawaban itu sangat lirih.
Tetapi terasa begitu tulus.
Di sisi lain…
Henri sedang duduk bersama Bima dan Yoga di kantin.
Yoga masih tertawa mengingat boneka gurita tadi.
“Sialan romantis tapi memalukan.”
Henri langsung menendang kaki Yoga dari bawah meja.
“Diem.”
Bima tertawa kecil.
“Lu masih perhatian banget sama dia.”
Henri memandangi gelas kopinya cukup lama.
Lalu berkata pelan—
“Aku nggak pernah berhenti sayang.”
Suasana mendadak hening beberapa detik.
Karena untuk pertama kalinya…
Henri terdengar benar-benar rapuh.
Namun misteri mulai muncul malam itu.
Saat Titik kembali ke kamar kos…
ia menemukan sesuatu di depan pintunya.
Sebuah payung hitam.
Padahal sore tadi hujan sangat deras dan ia memang lupa membawa payung.
Di gagang payung itu…
terikat secarik kertas kecil.
“Jangan hujan-hujanan lagi. Kamu gampang sakit.”
Tulisan tangan yang sama.
Henri.
Titik langsung menatap payung itu cukup lama.
Dadanya terasa penuh.
Aneh.
Hangat.
Tetapi juga menyakitkan.
Karena laki-laki itu tetap hadir di hidupnya…
meski kini terasa sangat jauh.
Malam semakin larut.
Dan ponsel Titik tiba-tiba berbunyi.
Nomor tidak dikenal.
Perempuan itu mengangkat pelan.
“Halo?”
Sunyi beberapa detik.
Lalu suara laki-laki terdengar pelan di seberang sana.
“Kalau suatu hari kamu benar-benar pergi… aku nggak tau harus jadi apa lagi.”
DEG.
Jantung Titik langsung berdegup keras.
“Itu kamu…?”
Namun sambungan langsung terputus.
Dan Titik tahu.
Itu Henri.
Air matanya akhirnya jatuh lagi.
Karena untuk pertama kalinya…
ia benar-benar bisa merasakan betapa hancurnya laki-laki itu sekarang.
Sementara itu…
Rahmat berdiri di balkon kos sambil memandangi hujan malam.
Ponselnya menunjukkan story Titik yang memfoto payung hitam tadi tanpa caption.
Rahmat langsung tersenyum kecil pahit.
Karena ia tahu.
Sejauh apa pun hubungan Titik dan Henri retak…
perasaan mereka belum benar-benar selesai.
Namun di tengah semua itu…
Bella mulai bergerak lebih berani.
Perempuan itu sengaja mendekati Henri semakin intens.
Mengajak makan.
Menemani revisi proposal.
Bahkan beberapa kali sengaja mengantar Henri pulang.
Dan Henri…
yang sedang hancur secara emosional…
perlahan mulai kehilangan tenaga untuk menolak semuanya.
Malam berikutnya…
Bella mengajak Henri makan di sebuah kafe kecil dekat kampus.
Suasananya tenang.
Lampu-lampu kuning redup.
Musik akustik terdengar lembut.
Dan Henri terlihat sangat lelah malam itu.
“Kamu harus berhenti nyiksa diri sendiri,” ujar Bella pelan.
Henri tertawa kecil hambar.
“Gimana caranya?”
Bella menatapnya cukup lama.
Lalu berkata sangat pelan—
“Cari seseorang yang nggak bikin kamu sakit.”
Kalimat itu membuat Henri langsung diam.
Dan di saat itulah…
pintu kafe perlahan terbuka.
Titik masuk bersama Dinda dan Salsa.
Tatapan mereka langsung bertemu.
Dan dunia terasa berhenti sesaat.
Henri membeku.
Titik juga.
Sedangkan Bella…
perlahan tersenyum kecil di balik gelas kopinya.
Karena sekali lagi…
takdir seolah sengaja mempermainkan cinta mereka.
BAB XXIX
KITA YANG TERLAMBAT MENYADARI
Kafe itu mendadak terasa sempit.
Suara musik akustik yang tadi terdengar menenangkan…
kini justru terasa menyakitkan.
Lampu-lampu kuning yang hangat…
malah membuat suasana menjadi semakin melankolis.
Dan di antara banyak orang yang tertawa malam itu…
empat pasang mata sedang sama-sama terluka.
Titik berdiri membeku di dekat pintu masuk.
Salsa dan Dinda langsung saling pandang panik.
Mereka tidak menyangka akan melihat Henri bersama Bella di tempat itu.
Sedangkan Henri…
langsung kehilangan fokus begitu melihat Titik.
Tangannya perlahan menjauh dari gelas kopi.
Tatapannya kosong.
Dan dadanya terasa sesak.
“Titik…”
Suara Henri lirih sekali.
Namun cukup membuat hati Titik kembali bergetar.
Perempuan itu mencoba tersenyum kecil.
Tetapi gagal.
Karena matanya sudah mulai berkaca-kaca.
Bella yang duduk di depan Henri perlahan menyandarkan tubuhnya santai.
Seolah sengaja memperjelas posisi mereka malam itu.
Dan itu membuat rasa sakit di dada Titik semakin dalam.
“Kayaknya kita salah tempat,” bisik Dinda pelan.
Namun Titik justru menggeleng kecil.
“Nggak…”
Ia menarik napas panjang.
“…aku mau di sini.”
Padahal jauh di dalam dirinya…
ia sebenarnya hampir runtuh.
Henri perlahan berdiri.
“Titik bentar…”
Namun sebelum laki-laki itu mendekat—
Bella tiba-tiba memegang lengannya pelan.
“Henri.”
Gerakan kecil itu sederhana.
Tetapi cukup membuat langkah Henri berhenti.
Dan cukup untuk menghancurkan sisa ketenangan Titik malam itu.
Air mata perempuan itu akhirnya jatuh.
Bukan deras.
Hanya satu.
Namun terasa jauh lebih menyakitkan.
Henri langsung melepaskan tangan Bella cepat.
“Titik ini nggak kayak yang kamu pikirin.”
Titik tertawa kecil lirih.
Dan tawa itu…
terdengar begitu lelah.
“Aneh ya…”
Suara Titik pelan sekali.
“Ternyata kalimat itu sekarang jadi milik kamu terus.”
Henri langsung diam.
Karena sekali lagi…
kata-katanya sendiri berbalik menusuk dirinya.
Salsa dan Dinda akhirnya memilih mundur memberi ruang.
Sedangkan Bella tetap duduk diam.
Tatapannya sulit dibaca.
“Aku cuma makan sama Bella.”
Henri mencoba menjelaskan.
Namun Titik perlahan mengangguk kecil.
“Iya.”
“Kamu percaya?”
Pertanyaan itu membuat Titik terdiam cukup lama.
Lalu akhirnya menjawab—
“Aku pengen percaya…”
Suara perempuan itu mulai bergetar.
“…tapi hati aku capek.”
Kalimat itu langsung membuat Henri merasa seperti dihantam sesuatu yang sangat keras.
Suasana mendadak sunyi.
Hanya suara piano dari sudut kafe yang terdengar lirih.
Dan malam itu…
mereka terlihat seperti dua orang yang masih saling mencintai…
tetapi sudah terlalu lelah untuk bertahan.
Henri menatap Titik lama.
Sangat lama.
Seolah takut perempuan itu benar-benar pergi setelah malam ini.
“Titik…”
Matanya mulai memerah.
“Aku nggak pernah mau semua jadi kayak gini.”
Air mata Titik jatuh lagi.
“Aku juga…”
Henri tertawa kecil hambar sambil menunduk.
“Kita lucu ya.”
Titik diam.
“Kita saling sayang banget…”
Ia mengusap wajahnya perlahan.
“…tapi malah saling bikin luka paling besar.”
Dan untuk pertama kalinya malam itu…
Titik benar-benar melihat penyesalan besar di wajah Henri.
Bukan ego.
Bukan marah.
Melainkan seseorang yang sadar bahwa dirinya terlambat memperbaiki semuanya.
“Aku nyesel…”
Suara Henri melemah.
“Nyesel terlalu sering bikin kamu nangis.”
Titik menutup bibirnya menahan tangis.
“Nyesel terlalu sibuk cemburu…”
Henri tertawa kecil pahit.
“…sampai lupa kalau yang paling penting itu bikin kamu tenang.”
Air mata perempuan itu jatuh semakin deras sekarang.
Karena semua kalimat yang selama ini ingin ia dengar…
justru datang saat hubungan mereka hampir benar-benar hancur.
“Tapi aku juga salah…” bisik Titik lirih.
Henri perlahan menggeleng.
“Kamu cuma capek.”
“Aku mulai nyaman sama Rahmat…”
Kalimat itu akhirnya keluar.
Jujur.
Patah.
Dan penuh rasa bersalah.
Henri langsung membeku.
Tatapannya turun perlahan.
Dan beberapa detik…
ia tidak mampu bicara.
Namun yang paling menyakitkan—
Henri tidak marah.
Ia hanya tersenyum kecil.
Senyum yang sangat sedih.
“Karena dia selalu ada waktu kamu hancur ya…”
Titik menangis semakin keras.
Karena lagi-lagi…
Henri memahami semuanya terlalu terlambat.
“Aku benci diri aku sendiri karena itu…” tangis Titik pecah.
“Aku masih sayang sama kamu…”
Ia menutup wajahnya gemetar.
“…tapi aku juga nyaman sama dia.”
Kalimat itu membuat suasana menjadi jauh lebih menyakitkan.
Karena tidak ada pengkhianatan di sana.
Yang ada hanya hati yang perlahan berubah karena terlalu lelah terluka.
Henri menatap perempuan itu lama sekali.
Lalu berkata sangat pelan—
“Kalau nanti kamu bahagia sama dia…”
Suara laki-laki itu mulai bergetar.
“…aku mungkin bakal hancur.”
Air mata akhirnya jatuh dari mata Henri.
“Tapi aku nggak mau jadi alasan kamu terus sakit.”
Kalimat itu langsung menghancurkan Titik sepenuhnya.
“Jangan ngomong gitu…”
Henri tersenyum kecil penuh luka.
“Padahal dulu aku pikir cinta cukup buat mempertahanin semuanya.”
Ia tertawa lirih.
“Ternyata nggak ya…”
Di sudut lain kafe…
Bella mulai menunduk diam.
Sedangkan Dinda dan Salsa bahkan ikut berkaca-kaca mendengar percakapan mereka.
Karena malam itu…
tidak ada tokoh jahat.
Tidak ada pemenang.
Yang ada hanya orang-orang muda yang terlalu mencintai…
tetapi tidak cukup dewasa menjaga satu sama lain.
Henri akhirnya mundur satu langkah perlahan.
Tatapannya masih tertuju pada Titik.
Sangat lembut.
Sangat sedih.
Dan penuh penyesalan.
“Aku harap…”
Ia menarik napas panjang.
“…suatu hari nanti kamu bisa inget aku sebagai seseorang yang pernah sangat sayang sama kamu.”
Kalimat itu terasa seperti perpisahan.
Dan Titik langsung menangis tanpa suara.
Karena untuk pertama kalinya…
ia merasa benar-benar kehilangan Henri.
BAB XXX
DI ANTARA BUCIN DAN ROMANSA
Hujan turun sejak sore.
Langit kota gelap.
Angin malam bertiup dingin melewati jalanan kampus yang mulai sepi.
Dan malam itu…
semuanya benar-benar menuju akhir.
Setelah percakapan di kafe beberapa hari lalu…
Henri semakin menghilang.
Ia jarang terlihat di kampus.
Nomornya sulit dihubungi.
Dan bahkan Bima mulai kesulitan menemukannya.
Sedangkan Titik…
hidup dalam rasa bersalah yang semakin besar setiap hari.
Ia mencoba terlihat baik-baik saja.
Namun semua orang bisa melihat—
perempuan itu perlahan kehilangan dirinya sendiri.
“Kamu makin kurus,” ujar Dinda pelan di kantin.
Titik hanya tersenyum kecil.
Tidak menjawab.
Karena sekarang…
bahkan tersenyum pun terasa melelahkan.
Rahmat juga mulai menjaga jarak.
Bukan karena perasaannya hilang.
Melainkan karena ia sadar—
semakin ia dekat dengan Titik…
semakin besar rasa bersalah yang perempuan itu rasakan.
Dan itu justru membuat semuanya semakin sunyi.
Sampai malam itu datang.
Malam yang mengubah segalanya.
Festival kampus akhirnya resmi ditutup.
Acara berlangsung meriah.
Lampu panggung menyala terang.
Musik terdengar ramai.
Mahasiswa tertawa dan sibuk berfoto.
Namun di tengah semua keramaian itu…
Titik merasa kosong.
Karena satu orang yang paling ingin ia lihat…
tidak ada di sana.
Henri.
“Dia nggak datang?” bisik Titik pada Bima.
Bima terlihat ragu.
Namun akhirnya menjawab pelan—
“Henri resign dari kepanitiaan kemarin.”
DEG.
Jantung Titik langsung terasa jatuh.
“Apa?”
“Dia juga…”
Bima menghela napas berat.
“…katanya mau pindah kampus.”
Dunia Titik seperti runtuh saat itu juga.
“Apa maksudnya pindah kampus…”
Suara perempuan itu mulai gemetar.
Bima menunduk.
“Dia dapet program transfer luar kota.”
“Kenapa dia nggak bilang…”
Kalimat itu keluar hampir seperti bisikan putus asa.
Namun jauh di dalam dirinya…
Titik sebenarnya sudah tahu jawabannya.
Karena Henri memilih pergi…
saat dirinya mulai lelah memperjuangkannya.
Tanpa sadar…
air mata Titik langsung jatuh.
Dan malam itu…
untuk pertama kalinya…
ia benar-benar takut kehilangan Henri selamanya.
“Aku harus ketemu dia.”
Titik langsung berlari meninggalkan area festival.
Dinda dan Salsa panik memanggilnya.
Namun perempuan itu terus berlari di bawah hujan.
Menembus jalan kampus yang gelap.
Tangisnya pecah sepanjang jalan.
Karena semua kenangan tentang Henri tiba-tiba datang bersamaan.
Tawa mereka.
Pertengkaran mereka.
Cemburu mereka.
Pelukan mereka.
Dan semua rasa sayang yang ternyata masih sangat besar.
Sementara itu…
Henri berdiri sendirian di halte dekat terminal kota.
Tas ransel hitam berada di sampingnya.
Hujan membasahi jaketnya perlahan.
Tatapannya kosong menatap jalanan malam.
Dan untuk pertama kalinya…
laki-laki itu terlihat benar-benar menyerah.
Ponselnya terus bergetar.
Nama Titik muncul berkali-kali.
Namun Henri hanya memandang layar itu lama.
Matanya mulai memerah.
Lalu perlahan…
ia mematikan ponselnya.
“Aku nggak kuat kalau harus balik lagi…”
Suara itu sangat pelan.
Namun penuh rasa hancur.
Di sisi lain…
Titik terus berlari sambil menangis.
Hujan membuat langkahnya semakin sulit.
Namun perempuan itu terus mencari.
Karena sekarang…
ia akhirnya sadar.
Ia tidak pernah benar-benar ingin kehilangan Henri.
“Henri…”
Tangisnya pecah.
“Henri…”
Dan saat akhirnya ia melihat laki-laki itu berdiri di halte…
dunianya seperti berhenti.
Henri perlahan menoleh.
Tatapan mereka bertemu di bawah hujan deras.
Dan semua rasa sakit itu langsung terasa kembali.
Titik berjalan mendekat dengan napas tidak beraturan.
Air matanya bercampur hujan.
“Kenapa pergi tanpa bilang…”
Suara perempuan itu benar-benar hancur.
Henri hanya diam.
Karena jika ia bicara sekarang…
ia takut dirinya tidak jadi pergi.
“Aku masih sayang sama kamu…”
Kalimat itu akhirnya keluar dari mulut Titik sambil menangis.
Dan itu langsung menghancurkan pertahanan Henri.
Laki-laki itu memejamkan mata kuat-kuat.
Karena kalimat yang paling ingin ia dengar…
akhirnya datang di saat semuanya sudah terlambat.
“Titik…”
Suara Henri serak.
“Kita udah terlalu capek.”
“Tapi aku nggak mau kehilangan kamu…”
Tangisan Titik semakin pecah.
“Aku salah…”
Ia menutup wajahnya gemetar.
“Aku terlalu sibuk sama rasa kecewa aku…”
“Aku terlalu sibuk nuntut kamu ngerti aku…”
Napasnya tersengal.
“…sampai aku lupa kalau kamu juga terluka.”
Henri akhirnya menangis juga.
Dan malam itu…
dua orang yang saling mencintai itu akhirnya sama-sama runtuh.
“Aku nyesel…”
Titik menangis semakin keras.
“Nyesel bikin semuanya sejauh ini…”
“Aku nyesel bikin kamu merasa kalah…”
“Aku nyesel bikin kamu pergi…”
Setiap kalimat terasa seperti pisau yang menusuk dirinya sendiri.
Karena akhirnya…
Titik sadar.
Cinta bukan hanya tentang ingin dimengerti.
Tetapi juga tentang belajar menjaga hati orang yang mencintai kita.
Henri perlahan mendekat.
Lalu memeluk Titik untuk terakhir kalinya.
Pelukan itu hangat.
Namun terasa sangat menyakitkan.
Karena mereka sama-sama tahu—
tidak semua cinta ditakdirkan untuk tetap bersama.
“Aku selalu sayang sama kamu…”
Bisik Henri lirih di telinga Titik.
“Tapi kadang…”
Ia tersenyum kecil penuh luka.
“…orang yang paling kita sayang justru jadi tempat luka paling dalam.”
Tangisan Titik pecah semakin keras.
Dan malam itu…
di bawah hujan…
cinta mereka benar-benar berakhir.
Bus malam perlahan datang.
Lampunya menembus hujan gelap.
Henri perlahan melepaskan pelukannya.
Sedangkan Titik langsung memegang tangan laki-laki itu erat.
Seolah takut kehilangan untuk selamanya.
Namun Henri hanya tersenyum kecil.
Senyum yang sangat sedih.
Sangat tulus.
Dan sangat menyakitkan.
“Jangan nangis terus ya…”
Kalimat sederhana itu…
justru menjadi hal yang paling menghancurkan hati Titik.
Henri akhirnya pergi.
Naik ke dalam bus malam.
Dan perlahan…
kendaraan itu menjauh meninggalkan terminal.
Meninggalkan hujan.
Meninggalkan kota.
Dan meninggalkan seseorang yang masih sangat mencintainya.
Titik berdiri sendirian di bawah hujan.
Tangisnya tidak berhenti.
Dadanya terasa kosong.
Karena untuk pertama kalinya…
ia benar-benar kehilangan orang yang selalu ia kira akan tetap ada.
Rahmat datang beberapa menit kemudian.
Ia berdiri diam di belakang Titik.
Tidak bicara.
Tidak mendekat.
Karena malam itu…
bahkan ia pun tahu.
Hati Titik sudah hancur sepenuhnya.
Dan di tengah hujan yang terus turun…
Titik akhirnya sadar satu hal yang paling menyakitkan dalam hidupnya—
kadang…
kita baru benar-benar memahami arti seseorang…
saat orang itu sudah pergi terlalu jauh untuk kembali.
EPILOG
SETELAH HATINYA HANCUR BERKEPING-KEPING
Tiga bulan berlalu.
Musim hujan perlahan pergi.
Kampus kembali ramai seperti biasa.
Mahasiswa baru mulai memenuhi koridor.
Tawa-tawa baru terdengar di kantin.
Dan kehidupan…
tetap berjalan seperti tidak pernah terjadi apa-apa.
Namun tidak bagi Titik.
Perempuan itu memang masih datang ke kampus.
Masih mengikuti kelas.
Masih tersenyum kepada orang-orang.
Namun semua orang yang mengenalnya tahu—
ada sesuatu dalam dirinya yang ikut hilang sejak malam itu.
Sejak Henri pergi.
Titik kini jauh lebih pendiam.
Tidak lagi mudah tertawa keras seperti dulu.
Tidak lagi ribut bercanda bersama Yoga.
Tidak lagi marah-marah kecil saat Henri telat membalas chat.
Karena sekarang…
tidak ada lagi chat yang ditunggu.
Kadang…
di sela kelas…
Titik masih tanpa sadar membuka galeri ponselnya.
Melihat foto-foto lama bersama Henri.
Foto saat mereka makan bakso pinggir jalan.
Foto saat hujan-hujanan pulang kampus.
Foto saat Henri diam-diam memfoto dirinya yang sedang tidur di perpustakaan.
Dan setiap melihat semua itu…
dadanya selalu terasa sesak.
Ia pernah mencoba menghapus semuanya.
Namun gagal.
Karena ternyata…
kenangan tidak semudah itu dibuang.
Rahmat masih ada di dekatnya.
Masih menjadi orang yang paling sering menenangkan dirinya.
Namun hubungan mereka tidak pernah benar-benar berubah menjadi cinta.
Karena Rahmat sadar—
sebagian hati Titik masih tertinggal pada seseorang yang sudah pergi jauh.
Dan Titik juga tahu—
dirinya belum benar-benar sembuh.
Suatu sore…
Titik duduk sendirian di taman belakang fakultas.
Tempat favoritnya dulu bersama Henri.
Langit sore terlihat jingga.
Angin bertiup pelan.
Dan suasana kampus mulai sepi.
Perempuan itu tersenyum kecil sambil memandangi bangku kosong di sebelahnya.
Bangku tempat Henri dulu sering duduk sambil menggodanya.
“Kamu cerewet.”
“Geer.”
“Jangan hujan-hujanan lagi.”
“Aku takut kehilangan kamu.”
Semua suara itu masih jelas di kepalanya.
Dan justru itu yang paling menyakitkan.
Karena orang yang pernah membuatnya merasa paling dicintai…
juga menjadi orang yang meninggalkan luka paling dalam.
Air mata perlahan jatuh dari mata Titik.
Bukan tangisan keras seperti dulu.
Melainkan air mata tenang dari seseorang yang akhirnya sadar—
penyesalan memang selalu datang terakhir.
“Aku terlalu sibuk menuntut…”
Bisiknya lirih pada dirinya sendiri.
“…sampai lupa cara menjaga.”
Angin sore meniup rambut panjangnya perlahan.
Sedangkan langit mulai berubah gelap.
Titik akhirnya memahami satu hal yang dulu tidak pernah ia mengerti—
cinta tidak selalu gagal karena kurang rasa sayang.
Kadang cinta hancur…
karena dua orang yang sama-sama terluka tidak pernah benar-benar belajar saling menenangkan.
Malam itu…
setelah pulang dari kampus…
Titik membuka laptopnya.
Lalu menulis sesuatu di halaman kosong.
Bukan tugas kuliah.
Bukan laporan.
Melainkan sebuah kalimat sederhana—
“Untuk seseorang yang pernah menjadi rumah paling nyaman sekaligus luka paling dalam…”
Tangannya berhenti sejenak.
Air matanya jatuh ke keyboard.
Namun kali ini…
ia tidak menghapusnya.
Karena akhirnya…
Titik memilih menerima semuanya.
Bahwa Henri pernah hadir sebagai cinta terbesar dalam hidupnya.
Bahwa Rahmat pernah menjadi tempat paling tenang saat dirinya hancur.
Dan bahwa dirinya sendiri…
pernah terlalu egois saat mencintai.
Di luar jendela…
hujan kecil kembali turun.
Dan entah kenapa…
Titik justru tersenyum kecil.
Senyum yang pahit.
Namun lebih ikhlas.
Karena sekarang ia tahu—
tidak semua orang yang kita cintai ditakdirkan untuk tinggal.
Beberapa hadir hanya untuk mengajarkan arti kehilangan.
Beberapa pergi untuk membuat kita dewasa.
Dan beberapa kenangan…
akan tetap hidup meski orangnya sudah lama pergi.
Jauh di kota lain…
Henri berdiri sendirian di balkon apartemen kecilnya.
Langit malam terlihat mendung.
Sedangkan di tangannya…
masih ada gantungan kunci kecil pemberian Titik dulu.
Laki-laki itu tersenyum tipis penuh luka.
Lalu berkata sangat pelan—
“Aku harap kamu bahagia, Titik…”
Dan malam kembali sunyi.
Sedangkan di kota ini…
Titik menutup laptopnya perlahan.
Lalu memandangi hujan di balik kaca jendela.
Dadanya memang masih sakit.
Masih kosong.
Masih penuh penyesalan.
Namun untuk pertama kalinya…
ia tidak lagi berlari mengejar masa lalu.
Karena akhirnya…
perempuan itu sadar—
beberapa cinta memang tidak berakhir dengan kebersamaan.
Tetapi tetap hidup…
sebagai kenangan yang tidak pernah benar-benar selesai.
TAMAT
Anang
30 Januari 2025 19:28:34
Lanjutkan mas... Semoga website desa pian semakin maju...