NOVEL ROMANSA REMAJA
RINDU TAK BERKESUDAHAN
“Tentang Dua Hati yang Dipertemukan oleh Senja di Kota Air, Diuji oleh Cemburu dan Pengkhianatan, lalu Dipersatukan Kembali oleh Rindu yang Tidak Pernah Benar-Benar Pergi.”
DISCLAIMER
Novel ini adalah karya fiksi yang ditulis untuk kepentingan hiburan dan pengembangan sastra. Seluruh nama tokoh, dialog, peristiwa, serta alur cerita di dalam novel ini merupakan hasil imajinasi penulis. Apabila terdapat kesamaan nama, tempat, maupun kejadian dengan kehidupan nyata, hal tersebut hanyalah kebetulan semata dan tidak memiliki unsur kesengajaan.
Latar tempat Kota Kuala Kapuas digunakan sebagai bentuk apresiasi terhadap kota kecil yang dikenal dengan julukan KOTA AIR — Aman, Indah, dan Ramah, dengan suasana sungai yang tenang, masyarakat yang hangat, serta romantisme malam kotanya yang selalu menyimpan cerita.
Novel ini mengandung unsur: romansa remaja, persahabatan, konflik sosial, kecemburuan, pengkhianatan, humor kehidupan, serta perjalanan emosional tentang cinta dan kehilangan.
Oleh: Slamet Riyadi
PROLOG
SENJA YANG MENINGGALKAN RINDU
Langit Kuala Kapuas sore itu berwarna jingga keemasan.
Matahari perlahan turun di balik aliran Sungai Kapuas yang tenang, meninggalkan cahaya panjang yang memantul di permukaan air seperti serpihan kaca berkilau. Angin sore berembus lembut membawa aroma sungai bercampur bau jajanan kaki lima dari kawasan Dermaga KP3 yang mulai ramai dipenuhi pengunjung.
Suara anak-anak kecil terdengar berlarian di sekitar taman. Pedagang kaki lima sibuk menawarkan dagangannya. Lampu-lampu kota mulai menyala satu per satu, menciptakan suasana hangat khas Kuala Kapuas saat senja datang.
Kota kecil itu memang tidak pernah benar-benar sibuk.
Namun justru di situlah letak keindahannya.
Orang-orang saling mengenal.
Senyum masih menjadi kebiasaan.
Dan kenangan… tumbuh dengan cara yang sederhana.
Di kota itulah semuanya bermula.
Tentang cinta.
Tentang persahabatan.
Tentang pengkhianatan.
Dan tentang rindu yang tidak pernah benar-benar selesai.
“Bang… es tehnya dua!”
Suara lantang Aziz memecah suasana di sebuah warung pinggir Dermaga KP3.
Pemuda berkulit sawo matang itu duduk selonjoran di kursi plastik sambil memainkan sedotan minumannya. Rambutnya sedikit acak-acakan, wajahnya penuh ekspresi jahil seperti biasa.
Di depannya duduk tiga sahabatnya.
Karwan yang hanya diam sambil memainkan ponselnya.
Supia yang sibuk memperhatikan orang-orang lewat sambil sesekali tertawa sendiri.
Dan seorang pemuda yang sejak tadi hanya memandang ke arah sungai tanpa banyak bicara.
Namanya Akang Riyadi.
Semua orang memanggilnya Akang.
“Bang… dari tadi kau melamun terus,” celetuk Supia sambil menyenggol lengan Akang. “Jangan bilang lagi mikirin mantan khayalan.”
Aziz langsung tertawa keras.
“Hahaha! Kayanya bukan mantan khayalan lagi itu. Ini sudah masuk tahap gangguan jiwa ringan.”
Karwan hanya tersenyum tipis.
Sementara Akang menghela napas panjang tanpa mengalihkan pandangan dari sungai.
“Aku cuma capek,” jawabnya pelan.
“Capek mikirin siapa?” tanya Aziz cepat.
“Capek hidup.”
“Waduhhh…” Supia langsung memegang dada dramatis. “Bahasanya sudah mulai puitis. Bahaya ini.”
Mereka tertawa bersamaan.
Namun Akang tetap diam.
Tatapannya kosong.
Entah kenapa sore itu pikirannya terasa berat.
Seolah ada sesuatu yang akan datang mengubah hidupnya.
Dan tanpa ia sadari…
takdir memang sedang berjalan mendekatinya perlahan.
Di sisi lain Dermaga KP3…
Seorang gadis berdiri sambil menikmati angin sore.
Rambut panjangnya terurai lembut tertiup angin sungai. Ia mengenakan sweater putih sederhana dipadukan rok hitam panjang. Wajahnya tenang, tetapi matanya menyimpan sesuatu yang sulit dijelaskan.
Namanya Titik.
Namun semua orang lebih mengenalnya dengan panggilan Sinok.
Di sampingnya berdiri Yulia dan Endang.
Yulia sibuk mengambil foto menggunakan ponselnya.
“Eh jangan bergerak dulu!” serunya. “Cahaya senjanya bagus banget ini buat story.”
Endang malah sibuk memperhatikan orang-orang sekitar.
“Itu cowok yang duduk di warung dari tadi ngelihat ke sini terus deh,” bisiknya pelan.
Sinok menoleh sekilas.
Dan untuk pertama kalinya…
tatapannya bertemu dengan mata Akang dari kejauhan.
Hanya beberapa detik.
Namun anehnya…
waktu seperti berhenti sesaat.
Akang langsung salah tingkah dan membuang pandangan.
Aziz yang menyadari kejadian itu langsung menyeringai lebar.
“Nahhhh! Ketahuan juga!”
“Apa?” tanya Akang pura-pura tidak mengerti.
“Itu cewek sweater putih.”
Supia ikut menoleh.
“Oalahhh… cantik juga.”
Karwan akhirnya ikut bicara pelan.
“Kayaknya dia sadar kau lihat dari tadi.”
Akang langsung gugup.
“Tidak juga.”
Aziz tertawa keras.
“Bang… muka kau merah.”
“Diamlah.”
“Jatuh cinta kau ya?”
“Tidak.”
“Bohong.”
“Serius tidak.”
“Kalau tidak suka, sini aku kenalkan.”
Akang langsung melotot.
“Jangan macam-macam.”
Seketika ketiga sahabatnya pecah tertawa.
“NAHHHH! KENA DIA!”
Suasana warung kecil itu langsung dipenuhi gelak tawa.
Akang hanya bisa menggeleng sambil tersenyum kecil malu-malu.
Namun diam-diam…
untuk pertama kalinya setelah sekian lama…
hatinya terasa berbeda.
Sementara itu…
Sinok diam-diam kembali melirik ke arah Akang.
Entah kenapa ada sesuatu yang terasa aneh saat melihat pemuda itu.
Ia tidak setampan Rahmad.
Tidak sepopuler anak-anak tongkrongan sekolah lainnya.
Bahkan terlihat biasa saja.
Namun ada ketenangan dalam sorot matanya.
Dan itu membuat Sinok penasaran.
“Eh Nok…” bisik Endang. “Cowok itu kayaknya suka sama kau.”
Sinok langsung mengalihkan pandangan cepat.
“Apaan sih.”
“Ihhh serius.”
Yulia ikut tertawa kecil sambil masih sibuk dengan ponselnya.
“Fix. Aku feeling bakal ada cerita cinta baru ini.”
Sinok menghela napas pelan.
“Jangan asal ngomong.”
“Tapi dia memang dari tadi lihat ke sini.”
Sinok memilih diam.
Namun tanpa ia sadari…
senyum kecil perlahan muncul di wajahnya.
Malam mulai turun di Kuala Kapuas.
Lampu-lampu taman Bundaran Besar menyala indah. Kendaraan lalu lalang perlahan memenuhi jalan kota. Angin malam terasa semakin dingin.
Dan di tengah kota kecil yang dikenal aman, indah, dan ramah itu…
dua hati yang sebelumnya asing perlahan mulai dipertemukan oleh takdir.
Mereka belum tahu…
bahwa pertemuan sederhana di Dermaga KP3 sore itu akan menjadi awal dari:
- cinta yang rumit,
- persahabatan yang diuji,
- pengkhianatan yang menyakitkan,
- air mata,
- kecemburuan,
- dan rindu panjang yang tidak pernah benar-benar selesai.
Karena cinta…
kadang datang bukan untuk membuat seseorang bahagia seutuhnya.
Tetapi untuk mengajarkan:
bagaimana cara bertahan saat hati terluka.
Dan bagaimana cara mencintai…
meski akhirnya harus merelakan.
BAB I
KOTA AIR DAN PERTEMUAN PERTAMA
Pagi di Kuala Kapuas selalu datang dengan cara yang tenang.
Kabut tipis menggantung di atas permukaan Sungai Kapuas Murung. Air sungai mengalir perlahan membelah kota kecil yang dikenal masyarakat Kalimantan Tengah sebagai KOTA AIR — Aman, Indah, dan Ramah. Suara mesin klotok mulai terdengar sejak matahari belum benar-benar tinggi. Pedagang sayur di pasar tradisional sibuk membuka lapak. Aroma kopi hitam dari warung-warung kecil di pinggir jalan bercampur dengan udara pagi yang masih dingin.
Kuala Kapuas memang bukan kota besar.
Tidak ada gedung pencakar langit.
Tidak ada hiruk pikuk kendaraan seperti di kota metropolitan.
Namun kota kecil itu punya sesuatu yang tidak dimiliki banyak tempat lain:
ketenangan.
Dan bagi sebagian orang…
ketenangan justru menyimpan kenangan paling sulit dilupakan.
Di sebuah rumah sederhana bercat biru muda di kawasan dekat Jalan Melati…
suara ibu-ibu terdengar dari dapur.
“Akang! Bangun! Sudah jam enam!”
Tidak ada jawaban.
“AKANG!”
Masih sunyi.
Hingga akhirnya…
BRAK!
Pintu kamar dibuka keras.
“Ya Allah, Nak… sekolah atau mau jadi kelelawar?”
Seorang pemuda langsung menarik selimut sampai menutupi wajah.
“Lima menit lagi, Mak…”
“Lima menit katamu dari tadi!”
“Itu lima menit versi perasaan.”
Ibunya langsung memukul pelan kaki Akang menggunakan handuk.
“Bangun cepat!”
Akang Riyadi akhirnya bangun sambil mengusap wajah kusutnya.
Rambutnya berantakan. Matanya masih setengah terbuka. Ia duduk di tepi kasur sambil menghela napas panjang seperti orang paling menderita sedunia.
“Mak…”
“Apa lagi?”
“Kenapa sekolah pagi sekali sih?”
Ibunya memutar mata malas.
“Karena itu sekolah, bukan ronda malam.”
Akang terkekeh kecil.
Meski sering mengeluh, sebenarnya ia anak yang cukup penurut. Ia hanya terlalu suka tidur dan terlalu malas memulai pagi.
Setelah mandi seadanya dan mengenakan seragam putih abu-abu yang sudah disetrika ibunya, Akang keluar rumah sambil membawa tas selempang hitam lusuh kesayangannya.
Motor tuanya sudah menunggu di depan rumah.
Dan seperti biasa…
Aziz sudah datang lebih dulu.
“Lama banget bangunnya,” omelnya sambil makan gorengan. “Aku sampai tua nunggu kau.”
Akang memasang helm santai.
“Kalau tua jangan salahkan aku. Memang wajahmu begitu.”
“Kurang ajar.”
Mereka tertawa.
Tak lama kemudian Karwan datang menggunakan motor matik hitam milik kakaknya. Sementara Supia muncul paling terakhir sambil membawa plastik es teh jumbo.
“Pagi-pagi sudah haus hidup aku,” katanya dramatis.
Aziz langsung tertawa keras.
“Belum juga masuk sekolah sudah mengeluh.”
“Karena hidup penuh cobaan.”
“Kau sendiri yang cari cobaan.”
Mereka kembali tertawa bersama.
Persahabatan mereka memang sederhana.
Tidak selalu tentang hal besar.
Kadang hanya nongkrong di warung kecil, saling menghina, lalu tertawa tanpa alasan jelas.
Namun justru itu yang membuat semuanya terasa hangat.
Perjalanan menuju sekolah melewati pusat Kota Kuala Kapuas yang mulai ramai.
Mereka melewati Bundaran Besar yang menjadi ikon kota. Taman di tengah bundaran terlihat hijau dan bersih. Beberapa warga tampak jogging santai di trotoar.
“Kalau malam di sini bagus sebenarnya,” kata Karwan tiba-tiba.
“Apanya?” tanya Supia.
“Lampunya.”
Aziz langsung menyeringai.
“Kalau bawa pacar lebih bagus lagi.”
Akang langsung menyahut cepat.
“Masalahnya siapa yang mau sama kalian?”
Supia pura-pura tersinggung.
“Sakit hati aku.”
“Kau memang tidak punya hati,” balas Aziz.
Perjalanan mereka kembali dipenuhi tawa.
Sampai akhirnya motor mereka memasuki halaman sekolah.
Sekolah itu tidak terlalu besar.
Bangunannya sederhana dengan cat putih yang mulai memudar. Namun suasananya cukup nyaman. Pohon-pohon besar tumbuh rindang di halaman. Lapangan basket di samping sekolah mulai dipenuhi siswa yang datang lebih pagi.
Begitu turun dari motor…
Aziz langsung menghentikan langkah.
Matanya membelalak.
“Eh…”
“Apa?” tanya Akang.
Aziz menunjuk ke arah gerbang sekolah.
Dan di sana…
seorang gadis berjalan masuk sambil membawa beberapa buku di pelukannya.
Rambut panjangnya tergerai rapi.
Langkahnya tenang.
Wajahnya sederhana.
Namun entah kenapa…
semua terasa berbeda saat melihatnya.
“Itu…” gumam Akang pelan.
Supia langsung menoleh cepat.
“Loh… itu cewek Dermaga KP3 kemarin!”
Aziz menepuk pundak Akang keras.
“WADUH. Takdir rupanya.”
Akang langsung salah tingkah.
“Biasa saja.”
“Biasa dari mana muka kau langsung tegang begitu?”
Karwan diam-diam tersenyum kecil.
Sementara gadis itu berjalan melewati mereka tanpa sadar sedang diperhatikan.
Namun beberapa langkah kemudian…
ia berhenti.
Lalu menoleh perlahan.
Dan lagi-lagi…
tatapannya bertemu dengan Akang.
Jantung Akang langsung berdegup cepat.
Aneh.
Padahal mereka bahkan belum pernah berbicara.
Namun ada sesuatu dalam mata gadis itu yang membuatnya sulit berpaling.
Sinok sedikit mengernyit seperti merasa familiar.
Lalu akhirnya ia tersenyum tipis.
Hanya sebentar.
Namun cukup membuat Akang diam membeku.
“Bang…”
Suara Aziz terdengar pelan di sampingnya.
“Kau sudah jatuh cinta.”
Akang langsung sadar.
“Apaan sih.”
“Tidak usah bohong.”
“Diamlah.”
Supia malah tertawa sampai hampir tersedak es teh.
“Ini pertama kalinya aku lihat Akang seperti orang kehilangan jaringan internet.”
Mereka kembali tertawa.
Namun kali ini…
Akang tidak ikut membalas.
Karena pikirannya benar-benar terganggu.
Di dalam kelas…
suasana masih ramai.
Yulia sibuk membuat konten video bersama teman-temannya.
Endang sedang menceritakan gosip terbaru.
Sementara Sinok duduk dekat jendela sambil membuka buku pelajaran.
“Aku serius ya,” bisik Endang sambil duduk di sebelahnya. “Cowok tadi lihat kau terus.”
Sinok pura-pura fokus membaca.
“Biasa saja kali.”
“Tidak biasa. Aku hafal tatapan orang jatuh cinta.”
Yulia ikut duduk sambil tersenyum jahil.
“Fix. Aku dukung kalau jadi.”
Sinok langsung menatap mereka.
“Kalian ini kenapa sih?”
“Karena hidup kami kurang hiburan.”
Mereka tertawa kecil.
Namun diam-diam Sinok kembali teringat pemuda tadi.
Tatapannya memang aneh.
Tidak seperti kebanyakan laki-laki yang sering berusaha sok keren di depannya.
Tatapan itu justru terlihat gugup…
tapi tulus.
Dan entah kenapa…
itu membuat Sinok penasaran.
Jam istirahat pertama…
Aziz menyeret Akang ke kantin.
“Sudah. Hari ini kita harus tahu namanya.”
“Aku tidak mau.”
“Pembohong.”
“Aku serius.”
“Kalau serius kenapa dari tadi lihat kelas sebelah terus?”
Akang langsung gugup.
Supia tertawa keras.
“Wajahmu tidak bisa bohong bang.”
Karwan hanya duduk sambil minum teh dingin.
“Aku rasa dia anak pindahan semester kemarin,” katanya tenang.
“Namanya siapa?” tanya Akang spontan.
Ketiga sahabatnya langsung serempak menoleh.
“NAAAAHHHH!”
Akang langsung menyesal.
“Bukan begitu maksudku.”
Aziz memukul meja tertawa.
“Akhirnya keluar juga.”
Supia sampai hampir jatuh dari kursi karena tertawa terlalu keras.
“Akang jatuh cinta! Catat sejarah hari ini!”
Akang menutupi wajah malu.
“Bising kalian.”
Namun jauh di dalam hatinya…
ia mulai sadar satu hal.
Bahwa gadis bernama Sinok itu…
perlahan mulai memenuhi pikirannya.
Dan tanpa ia sadari…
hari itu adalah awal dari cerita panjang yang nantinya akan membawa:
cinta,
kecemburuan,
pengkhianatan,
air mata,
dan rindu yang tidak pernah benar-benar selesai.
BAB II
SENYUM GADIS DI PINGGIR SUNGAI
Sore di Kuala Kapuas selalu punya cara sendiri untuk membuat siapa pun betah berlama-lama.
Ketika matahari mulai turun perlahan, langit berubah jingga kemerahan. Permukaan Sungai Kapuas Murung memantulkan cahaya senja seperti lembaran emas yang bergerak pelan diterpa arus. Angin sungai berembus lembut membawa aroma air bercampur bau jajanan khas dari kios-kios kecil di sepanjang tepian Dermaga KP3.
Tempat itu selalu ramai menjelang petang.
Anak-anak berlari mengejar gelembung sabun.
Pasangan muda duduk di bangku taman sambil bercakap pelan.
Pedagang kaki lima sibuk menawarkan pentol bakar, sate usus, jagung bakar, es tebu, hingga pisang gapit hangat.
Dan seperti biasa…
Aziz, Karwan, Supia, dan Akang sudah duduk di warung langganan mereka di pojok dermaga.
“Bang, empat es teh. Satu pakai cinta,” teriak Aziz ke penjual.
Penjualnya, seorang bapak setengah baya, langsung mendelik.
“Kalau cinta mahal.”
Aziz terkekeh.
“Kalau utang boleh?”
“Pergi kau.”
Supia langsung tertawa terbahak-bahak sampai hampir tersedak gorengan.
“Memang otakmu rusak, Ziz.”
“Bukan rusak. Kreatif.”
Karwan hanya menggeleng kecil sambil memainkan sedotan.
Sedangkan Akang…
sejak tadi matanya sibuk memandang ke arah jalan masuk dermaga.
Aziz yang menyadarinya langsung menyeringai lebar.
“Nunggu siapa?”
“Tidak nunggu siapa-siapa.”
“Bohong.”
“Serius.”
Supia ikut menimpali.
“Kalau tidak nunggu siapa-siapa kenapa lehermu panjang begitu lihat jalan?”
Akang mendelik.
“Diamlah kalian.”
Aziz terkekeh puas.
Sejak kejadian di sekolah pagi tadi, ketiga sahabatnya memang tidak berhenti menggoda.
Bagi mereka, melihat Akang salah tingkah adalah hiburan langka.
Karena selama ini Akang dikenal paling kalem dan sulit tertarik pada perempuan.
Namun hari ini berbeda.
Dan mereka tahu alasannya.
Beberapa menit kemudian…
Aziz mendadak menepuk meja keras.
“NAH ITU DIA!”
Akang refleks menoleh.
Dan benar.
Dari kejauhan terlihat Sinok berjalan bersama Yulia dan Endang memasuki kawasan dermaga.
Sore itu Sinok mengenakan blouse krem sederhana dengan rok hitam selutut. Rambut panjangnya tergerai tertiup angin. Di wajahnya ada senyum kecil yang entah kenapa membuat sore terasa lebih hangat.
Akang langsung menahan napas.
Jantungnya berdetak lebih cepat.
“Sudah… fix,” gumam Aziz. “Sahabat kita kena.”
Supia menepuk pundak Akang dramatis.
“Turut berduka cita. Gejala awalnya begini memang.”
Karwan tersenyum tipis.
“Jangan ganggu dia.”
Aziz menoleh jahil.
“Justru ini momen terbaik.”
Tanpa aba-aba, Aziz berdiri dan melambaikan tangan ke arah Yulia.
“WOI YUL!”
Yulia menoleh.
Matanya langsung berbinar mengenali mereka.
“Eh kalian!”
Aziz memberi kode agar mereka mendekat.
Akang langsung panik.
“Woi! Duduk!”
Namun terlambat.
Yulia, Endang, dan Sinok sudah berjalan mendekat.
Wajah Akang langsung tegang.
Supia menahan tawa.
“Bang, mukamu kaya mau sidang skripsi.”
“Diam.”
Dalam hitungan detik, ketiga gadis itu sudah berdiri di depan meja mereka.
“Ngapain manggil-manggil?” tanya Yulia santai.
Aziz menunjuk kursi kosong.
“Duduk dulu lah. Masa cantik-cantik berdiri.”
Endang terkekeh geli.
“Tumben sopan.”
“Kalau sama cewek memang aku begini.”
“Pembohong.”
Mereka tertawa.
Sinok berdiri agak belakang, terlihat sedikit canggung.
Dan lagi-lagi…
tatapannya bertemu dengan Akang.
Hening sesaat.
Akang mendadak lupa cara bicara.
Sampai akhirnya Sinok tersenyum kecil.
“Hai.”
Satu kata sederhana itu seperti petir bagi Akang.
Ia membalas gugup.
“H-hai…”
Aziz menepuk jidat pura-pura pusing.
“Ya Tuhan, ini anak error.”
Semua tertawa kecil.
Wajah Akang memerah.
Sinok ikut menahan senyum.
Dan entah kenapa…
melihat Akang yang kikuk justru terasa lucu baginya.
Percakapan sore itu mengalir perlahan.
Awalnya canggung.
Namun berkat ocehan Aziz dan Supia yang tidak ada habisnya, suasana segera mencair.
“Nama kalian siapa?” tanya Yulia.
Aziz langsung membusungkan dada.
“Aku Aziz. Ini Karwan. Itu Supia. Yang mukanya kaya habis ditolak KUA itu Akang.”
“Kurang ajar,” gerutu Akang.
Semua tertawa.
Yulia memperkenalkan diri.
Endang ikut menyebut namanya sambil tersenyum.
Lalu giliran Sinok.
“Aku Titik… tapi biasa dipanggil Sinok.”
Akang mengangguk pelan.
“Namanya bagus.”
Sinok menatapnya sebentar.
“Makasih.”
Jantung Akang kembali kacau.
Supia langsung berbisik pelan ke Aziz.
“Waduh. Ini bahaya.”
Aziz membalas lebih pelan.
“Kalau begini seminggu lagi nikah.”
Karwan menahan tawa.
Tak lama kemudian, suasana berubah saat seorang pemuda datang dari arah parkiran motor.
Tubuhnya tinggi. Rambutnya klimis. Cara jalannya penuh percaya diri berlebihan.
Di belakangnya berjalan seorang lelaki kurus bermata licik.
Rahmad dan Anton.
Begitu melihat Sinok, Rahmad langsung mendekat sambil tersenyum sok ramah.
“Eh Nok, di sini rupanya.”
Senyum Sinok langsung memudar.
“Hmm.”
Nada suaranya datar.
Rahmad melirik meja mereka.
Tatapannya berhenti pada Akang.
Sedikit sinis.
“Ngobrol sama anak-anak sini?”
Aziz langsung mengangkat alis.
“Anak-anak sini maksudmu?”
Rahmad terkekeh kecil.
“Biasa. Bercanda.”
Anton ikut tertawa pendek seperti penjilat setia.
Namun suasana langsung terasa berbeda.
Karwan yang biasanya diam pun menangkap aura tidak enak itu.
Rahmad menarik kursi tanpa permisi lalu duduk dekat Sinok.
Anton ikut duduk.
Akang hanya diam.
Namun ada rasa aneh yang tiba-tiba menusuk dadanya.
Cemburu.
Untuk pertama kalinya ia merasakannya.
Rahmad menoleh ke Sinok.
“Nanti malam aku jemput ya. Jalan ke Bundaran Besar.”
Sinok langsung menggeleng.
“Aku tidak bisa.”
“Kenapa?”
“Ada urusan.”
Rahmad tersenyum tipis, tapi matanya memaksa.
“Bisa diluangkan.”
“Tidak.”
Jawaban Sinok tegas.
Rahmad sedikit kesal.
Anton cepat-cepat menengahi.
“Sudahlah, Mad.”
Namun jelas terlihat wajah Rahmad berubah dingin.
Tatapannya kembali mengarah pada Akang.
Dan di situlah…
ia sadar ada ancaman baru.
Setelah beberapa menit, Sinok berdiri.
“Aku pulang dulu.”
Yulia dan Endang ikut berdiri.
Rahmad langsung sigap.
“Aku antar.”
“Tidak usah.”
Sinok menolak halus.
Lalu sebelum pergi…
ia menoleh ke arah Akang.
Senyumnya kembali muncul.
“Duluan ya.”
Akang terdiam sesaat.
Lalu menjawab pelan,
“Iya… hati-hati.”
Senyum Sinok sedikit melebar sebelum akhirnya berjalan pergi.
Dan anehnya…
kalimat sederhana itu membuat hati Akang terasa hangat sepanjang sore.
Namun kebahagiaan kecil itu tidak bertahan lama.
Begitu Sinok benar-benar pergi, Rahmad berdiri lalu menatap Akang dingin.
Tatapan yang penuh tantangan.
“Jangan terlalu dekat sama dia.”
Suasana meja langsung membeku.
Aziz berdiri perlahan.
“Maksudmu?”
Rahmad tetap menatap Akang.
“Dia bukan buat anak biasa.”
Supia mendelik.
“Wih, gaya sekali.”
Karwan menatap tajam meski tetap diam.
Akang akhirnya berdiri.
Tatapannya tenang.
“Kalau dia memang bukan buat siapa-siapa, biar dia pilih sendiri.”
Rahmad tersenyum miring.
“Berani juga.”
Akang tidak menjawab.
Namun untuk pertama kalinya…
ia menatap seseorang dengan keberanian penuh.
Rahmad mendekat sedikit.
“Kita lihat nanti.”
Lalu ia pergi bersama Anton.
Meninggalkan ketegangan di meja itu.
Beberapa detik hening.
Lalu Aziz memecah suasana.
“Bang…”
“Apa?”
“Kau tadi keren juga.”
Supia terkekeh.
“Aku hampir tepuk tangan.”
Karwan tersenyum tipis.
“Bagus.”
Akang menghela napas panjang.
Jujur, lututnya sedikit lemas.
Namun jauh di dalam hatinya…
ia tahu satu hal.
Sejak sore ini…
hidupnya tidak akan lagi sederhana.
Karena gadis bernama Sinok itu telah membuka pintu cerita baru.
Cerita tentang cinta…
yang akan membawa tawa, air mata, pengkhianatan, dan rindu yang tak pernah selesai.
BAB III
AZIZ DAN CANDAAN TAK BERUJUNG
Pagi di Kuala Kapuas datang bersama langit mendung.
Awan abu-abu menggantung rendah di atas kota kecil itu. Jalanan masih basah oleh hujan semalam. Genangan air terlihat di beberapa sudut trotoar dekat Bundaran Besar. Udara terasa dingin, membuat sebagian orang memilih tetap berlama-lama di rumah.
Namun tidak bagi para pelajar.
Jam tujuh pagi, halaman sekolah sudah mulai ramai.
Motor-motor parkir berjejer.
Suara tawa siswa bercampur dengan bunyi bel sekolah yang sesekali terdengar nyaring.
Dan di bawah pohon besar dekat parkiran…
Aziz sedang sibuk memperhatikan Akang seperti detektif kurang kerjaan.
“Kenapa kau lihat aku begitu?” tanya Akang heran sambil membuka helm.
Aziz menyipitkan mata.
“Aku sedang mengamati perubahan perilaku.”
“Perubahan apa?”
“Perubahan orang jatuh cinta.”
Supia langsung tertawa keras sambil turun dari motor.
“Sudah jelas gejalanya.”
Karwan ikut datang sambil membawa roti coklat.
“Parah memang.”
Akang langsung mendelik.
“Kalian ini tidak ada kerjaan lain?”
“Tidak ada,” jawab Aziz cepat.
“Memang hidup kami didedikasikan untuk mengganggu kau.”
Supia mengangguk serius.
“Betul.”
Akang menghela napas panjang.
Sudah tiga hari terakhir hidupnya tidak tenang gara-gara tiga sahabatnya itu.
Apa pun yang ia lakukan selalu dikaitkan dengan Sinok.
Kalau melamun sedikit…
dibilang sedang rindu.
Kalau senyum sendiri…
dibilang habis chat.
Kalau diam…
dibilang patah hati.
Padahal kenyataannya…
Akang sendiri bahkan belum benar-benar dekat dengan Sinok.
Mereka baru beberapa kali berbicara.
Namun entah kenapa…
nama gadis itu memang terus muncul di pikirannya.
Saat mereka berjalan menuju kelas…
Aziz tiba-tiba berhenti mendadak.
“Eh eh eh…”
“Apa lagi?” tanya Karwan malas.
Aziz menunjuk ke arah taman sekolah.
Dan di sana…
Sinok sedang duduk bersama Yulia dan Endang.
Pagi itu Sinok terlihat sederhana dengan rambut yang diikat setengah. Ia mengenakan sweater abu muda dan sepatu putih.
Namun bagi Akang…
entah kenapa ia tetap terlihat cantik.
“Sudah,” bisik Aziz sambil menepuk pundak Akang. “Pergilah.”
“Pergi apa?”
“Kenalan lebih jauh.”
Akang langsung gugup.
“Tidak usah aneh-aneh.”
Supia malah mendorong tubuh Akang pelan.
“Kalau tidak sekarang kapan lagi?”
“Aku malas.”
“Pembohong.”
Aziz tertawa kecil.
“Kalau begini aku turun tangan.”
Sebelum Akang sempat mencegah…
Aziz sudah melambaikan tangan keras.
“WOI SINOK!”
Akang langsung panik.
“Woi!”
Sinok dan teman-temannya menoleh.
Yulia langsung tersenyum lebar melihat mereka.
“Eh geng rusuh datang.”
Aziz mendekat santai seolah tidak punya dosa.
“Pagi semuanya.”
“Pagi,” jawab Yulia.
Endang langsung tersenyum jahil saat melihat Akang di belakang.
“Nah… ada juga.”
Akang salah tingkah.
Sinok hanya tersenyum kecil.
Dan lagi-lagi…
senyum itu membuat Akang kehilangan fokus.
Aziz langsung duduk sembarangan di bangku taman.
“Kalian ngomongin apa?”
“Ngomongin tugas,” jawab Yulia.
Aziz langsung memasang wajah prihatin.
“Kasihan sekali pagi-pagi sudah menderita.”
Supia duduk sambil mengangguk.
“Pendidikan memang kejam.”
Endang tertawa geli.
“Kalian lucu juga ternyata.”
Aziz langsung membusungkan dada bangga.
“Aku memang dilahirkan untuk menghibur rakyat.”
Karwan yang berdiri di belakang cuma menggeleng kecil.
Sementara Akang tetap kikuk berdiri.
Sinok menatapnya pelan.
“Kenapa berdiri terus?”
“Hah?”
“Duduk aja.”
“Oh… iya.”
Akang akhirnya duduk perlahan di samping Karwan.
Namun Aziz jelas tidak berniat membiarkan suasana tenang.
Ia melirik Akang lalu tiba-tiba berkata,
“Eh Sinok…”
“Apa?”
“Menurutmu Akang ganteng tidak?”
BRAK!
Akang hampir jatuh dari bangku.
“AZIZ!”
Semua langsung tertawa.
Sinok sampai menunduk menahan senyum.
“Apaan sih?” katanya malu-malu.
Aziz pura-pura serius.
“Jawab dulu.”
Akang langsung menutup wajah dengan tangan.
“Ya Allah…”
Supia tertawa sampai batuk.
Karwan bahkan ikut tersenyum lebar kali ini.
Yulia langsung merekam menggunakan ponselnya.
“Ini konten bagus.”
“Jangan direkam!” protes Akang.
Namun suasana sudah terlanjur ricuh.
Sinok akhirnya menjawab pelan sambil menahan malu,
“Lumayan…”
Aziz langsung berdiri dramatis.
“SAH! RESMI!”
Akang hampir mati malu.
Sedangkan Sinok malah tertawa kecil melihat ekspresi paniknya.
Dan tanpa sadar…
untuk pertama kalinya mereka benar-benar tertawa bersama.
Bel sekolah akhirnya berbunyi.
Semua siswa mulai masuk ke kelas masing-masing.
Namun sebelum pergi…
Sinok sempat menoleh ke arah Akang.
“Hari ini jadi ke Dermaga KP3 lagi?”
Pertanyaan sederhana itu membuat Akang sedikit terkejut.
“Hmm?”
Yulia langsung menyenggol Sinok.
“Tuh kan mulai ngajak.”
Sinok langsung salah tingkah.
“Bukan begitu.”
Aziz cepat-cepat menyahut.
“Jadi! Pasti jadi!”
Akang bahkan belum sempat menjawab.
Supia ikut mengangguk cepat.
“Kami siap mengawal negara.”
Akang memijat kening.
Namun diam-diam…
hatinya terasa bahagia.
Jam pelajaran berlangsung lambat bagi Akang.
Entah kenapa pikirannya terus teringat senyum Sinok tadi pagi.
Ia bahkan beberapa kali salah menjawab pertanyaan guru.
“Akang!”
“Iya Bu?”
“Fokusnya di mana?”
Satu kelas langsung tertawa.
Aziz yang duduk di belakang langsung berbisik,
“Fokusnya di cinta, Bu.”
Kelas makin ricuh.
Akang menoleh tajam.
“Diam kau.”
Namun bahkan guru pun ikut tersenyum geli.
Siang hari…
hujan turun deras.
Halaman sekolah mulai sepi karena sebagian siswa memilih berteduh.
Akang berdiri dekat koridor sambil melihat air hujan jatuh deras.
Lalu tiba-tiba…
seseorang berdiri di sampingnya.
Sinok.
“Belum pulang?” tanyanya pelan.
Akang sedikit gugup.
“Masih hujan.”
Sinok mengangguk kecil.
Hening sesaat.
Suara hujan memenuhi suasana.
Entah kenapa…
momen sederhana itu terasa nyaman.
Sampai akhirnya Sinok bicara lagi.
“Kau memang selalu sama mereka?”
“Maksudnya?”
“Aziz dan lainnya.”
Akang tersenyum kecil.
“Iya. Dari SMP.”
“Seru ya punya sahabat seperti itu.”
“Kadang seru… kadang memalukan.”
Sinok tertawa kecil.
“Aziz memang lucu.”
Akang langsung refleks menjawab,
“Jangan terlalu dekat sama dia.”
Sinok menatapnya heran.
“Kenapa?”
“Nanti kau jadi stres.”
Sinok tertawa lagi.
Dan sekali lagi…
Akang merasa suara tawa itu terlalu indah untuk diabaikan.
Namun tanpa mereka sadari…
dari kejauhan seseorang sedang memperhatikan.
Rahmad.
Tatapannya dingin.
Rahangnya mengeras melihat Sinok tertawa bersama Akang.
Di sampingnya Anton berdiri sambil menyeringai tipis.
“Kayanya mereka makin dekat.”
Rahmad tidak menjawab.
Matanya tetap tertuju pada Akang.
Lalu perlahan ia berkata pelan,
“Aku tidak suka.”
Anton tersenyum licik.
“Mau aku mulai?”
Rahmad akhirnya menoleh.
Tatapannya penuh ambisi.
“Iya.”
Hujan masih turun di Kuala Kapuas sore itu.
Dan tanpa disadari Akang maupun Sinok…
di balik tawa dan candaan yang mulai tumbuh…
perlahan muncul seseorang yang siap menghancurkan semuanya.
BAB IV
RAJA SOSMED BERNAMA YULIA
Pagi itu Kuala Kapuas kembali cerah setelah hujan semalam.
Langit biru terbuka luas di atas kota kecil yang perlahan mulai ramai oleh aktivitas masyarakat. Jalanan depan pertokoan Sanjaya dipenuhi kendaraan roda dua. Pedagang sarapan sibuk melayani pembeli. Aroma soto Banjar dan gorengan hangat menyebar di udara pagi.
Sementara di sekolah…
keadaan sudah mulai ribut bahkan sebelum bel masuk berbunyi.
Dan penyebab keributan itu…
tentu saja Yulia.
“WOI LIHAT STORY YULIA!”
Suara seorang siswi terdengar dari depan kelas.
Dalam hitungan detik beberapa siswa langsung mengerubungi ponsel temannya.
Terdengar suara tawa pecah di mana-mana.
“Astaga…”
“Kasihan Akang!”
“HAHAHAHA!”
Di sisi lain koridor…
Akang baru saja datang sambil membawa helm.
Ia mengernyit melihat banyak orang tiba-tiba menatapnya sambil tersenyum aneh.
“Ada apa?” tanyanya bingung.
Aziz yang sudah duduk di depan kelas malah tertawa sampai hampir jatuh dari kursi.
“MATI KAU HARI INI!”
Akang langsung curiga.
“Apa yang kau buat lagi?”
Supia datang sambil memegang perut karena kebanyakan tertawa.
“Bukan kami…”
“Itu Yulia.”
Karwan menyerahkan ponselnya pelan.
“Lihat saja.”
Akang mengambil ponsel itu.
Dan dalam satu detik…
wajahnya langsung berubah pucat.
Di story media sosial milik Yulia terpampang foto dirinya sedang menatap Sinok di taman sekolah kemarin.
Lengkap dengan tulisan besar:
“Ketika cowok kalem akhirnya kena panah cinta.”
Di bawahnya ada emoji hati bertebaran.
Akang langsung memejamkan mata.
“Ya Allah…”
Aziz tertawa brutal.
“Wajahmu! Hahaha!”
“Aku mau pindah sekolah.”
Supia ikut menepuk pundaknya.
“Sudah terlambat. Satu sekolah sudah tahu.”
Akang langsung berjalan cepat menuju kelas sebelah.
Namun baru beberapa langkah…
suara Yulia terdengar dari belakang.
“Eh artis datang!”
Akang berhenti.
Yulia berjalan santai sambil tersenyum puas. Di belakangnya ada Endang dan Sinok.
Berbeda dengan Yulia dan Endang yang terlihat santai…
Sinok justru tampak malu.
Pipinya sedikit merah saat melihat Akang.
“Kau…” gumam Akang pelan ke arah Yulia. “Kenapa upload begitu?”
Yulia memasang wajah polos.
“Lucu.”
“Lucu dari mana?”
“Satu sekolah terhibur.”
Aziz langsung menyahut keras dari belakang.
“Sebagai rakyat, kami berterima kasih.”
Akang ingin marah…
tapi melihat Sinok yang diam-diam menahan tawa membuat emosinya langsung hilang setengah.
Dan itu justru membuat Aziz makin senang menggoda.
“Nah loh. Kalau sudah lihat Sinok langsung tidak jadi marah.”
“Diamlah!”
Semua kembali tertawa.
Jam istirahat pertama…
nama Akang resmi menjadi bahan gosip sekolah.
Bahkan anak kelas lain mulai menggoda saat berpapasan.
“Eh Akang! Mana Sinok?”
“Jangan lupa traktir kalau jadian!”
“Cieee!”
Akang hanya bisa menahan malu sambil berjalan cepat ke kantin.
Aziz sengaja berjalan di sampingnya sambil tertawa puas.
“Popularitasmu naik drastis.”
“Aku mau mencekik Yulia.”
Supia menggeleng sok bijak.
“Tidak boleh membunuh raja sosmed.”
Karwan duduk santai sambil membuka minuman dingin.
“Memang salah sendiri terlalu jelas lihatnya.”
Akang langsung menatap tajam.
“Bahkan kau ikut?”
Karwan mengangkat bahu kecil.
“Aku hanya berkata jujur.”
Mereka kembali tertawa.
Di kantin…
Sinok duduk bersama Yulia dan Endang.
Namun berbeda dari biasanya, hari itu Sinok tampak lebih diam.
“Kenapa?” tanya Endang sambil menyeruput es.
Sinok menghela napas kecil.
“Malu.”
Yulia langsung terkekeh.
“Kenapa malu? Lucu kaya begitu.”
“Sekarang semua orang lihat.”
“Biar saja.”
“Tapi Akang pasti malu.”
Yulia langsung tersenyum jahil.
“Nahhh… mulai mikirin dia.”
Sinok cepat-cepat menyangkal.
“Bukan begitu.”
Endang ikut mendekat.
“Jujur saja Nok… sebenarnya kau suka ya?”
Sinok terdiam sesaat.
Pikirannya langsung teringat tatapan Akang.
Cara pemuda itu bicara.
Cara dia gugup.
Cara dia diam-diam perhatian.
Dan entah kenapa…
semua terasa nyaman.
Namun sebelum ia sempat menjawab…
suara seseorang terdengar dari belakang.
“Seru sekali ngobrolnya.”
Mereka menoleh.
Rahmad berdiri di sana bersama Anton.
Wajah Rahmad terlihat santai…
tetapi sorot matanya jelas tidak bersahabat.
Rahmad duduk tanpa diminta.
Anton ikut duduk di sebelahnya.
“Aku lihat sekarang sekolah ramai sekali soal kalian,” kata Rahmad sambil melirik Sinok.
Sinok menjawab singkat.
“Biasa.”
Rahmad tersenyum tipis.
“Karena Akang?”
Yulia langsung merasa suasana berubah tidak enak.
Endang pun mulai diam.
Sinok menatap Rahmad datar.
“Memangnya kenapa?”
Rahmad menyandarkan tubuh ke kursi.
“Aku cuma heran.”
“Heran apa?”
“Selera kau berubah.”
Kalimat itu terdengar halus.
Namun jelas menyindir.
Yulia langsung mengernyit.
“Rahmad…”
Namun Rahmad belum selesai.
“Cowok seperti dia memang bisa bikin nyaman?”
Sinok mulai kesal.
“Maksudmu?”
Rahmad tersenyum kecil.
“Tidak ada.”
Anton ikut tertawa kecil seperti biasa.
Suasana meja langsung dingin.
Sinok akhirnya berdiri.
“Aku malas bahas ini.”
Rahmad langsung menahan.
“Aku cuma tidak mau kau salah pilih.”
Sinok menatapnya tajam.
“Aku tidak minta diatur.”
Lalu ia pergi begitu saja.
Yulia dan Endang langsung ikut berdiri meninggalkan meja.
Rahmad menatap kepergian mereka sambil mengepalkan tangan pelan.
Anton mencondongkan badan.
“Kayanya dia mulai serius sama Akang.”
Rahmad tertawa kecil dingin.
“Aku tidak peduli.”
“Tapi mukamu tidak seperti orang tidak peduli.”
Rahmad terdiam.
Matanya perlahan berubah tajam.
“Kalau memang harus rebutan…”
ia berkata pelan,
“…aku tidak akan kalah.”
Sore harinya…
Akang dan teman-temannya kembali nongkrong di Dermaga KP3.
Suasana dermaga ramai seperti biasa.
Lampu-lampu mulai menyala.
Suara musik akustik terdengar dari kafe kecil pinggir sungai.
Aziz masih sibuk tertawa melihat story Yulia yang ternyata belum dihapus.
“Bang, sekarang followersmu naik.”
“Diamlah.”
“Besok mungkin kau jadi seleb Kapuas.”
Supia ikut menimpali.
“Tagline-nya: cowok kalem pencuri hati.”
Akang melempar tisu ke arah mereka.
Namun di tengah keributan itu…
ia melihat Sinok datang sendirian.
Langkahnya pelan menyusuri dermaga.
Begitu melihat Akang…
ia tersenyum kecil.
Dan anehnya…
semua suara di sekitar seperti mendadak menghilang bagi Akang.
Jantungnya kembali berdegup tidak normal.
Sinok mendekat.
“Boleh duduk?”
Akang langsung gugup.
“I-iya.”
Aziz dan Supia saling melirik nakal.
Lalu tanpa aba-aba…
mereka berdiri bersamaan.
“Eh kami beli minum dulu.”
“Kalian baru saja beli!”
“Haus lagi.”
Karwan bahkan ikut berdiri.
Padahal jelas-jelas mereka sengaja pergi.
Kini tinggal Akang dan Sinok di meja itu.
Hening beberapa detik.
Hanya suara angin sungai dan musik akustik dari kejauhan yang terdengar.
Lalu Sinok bicara pelan.
“Maaf ya soal story tadi.”
Akang menggeleng cepat.
“Tidak apa.”
“Tapi kau pasti malu.”
Akang tersenyum kecil.
“Sedikit.”
Sinok ikut tersenyum.
Dan senyum itu…
lagi-lagi membuat hati Akang terasa kacau.
Di ujung dermaga…
Rahmad berdiri memperhatikan mereka dari jauh.
Anton ada di sampingnya.
Wajah Rahmad gelap.
Tatapannya penuh emosi yang mulai sulit disembunyikan.
“Dia senyum begitu sama dia…” gumamnya pelan.
Anton menatap Akang dan Sinok yang sedang duduk bersama.
Lalu berkata lirih,
“Kalau dibiarkan… mereka bakal semakin dekat.”
Rahmad mengepalkan rahang.
Angin malam Kuala Kapuas berembus dingin.
Dan malam itu…
tanpa disadari Akang dan Sinok…
seseorang mulai merencanakan sesuatu yang perlahan akan mengubah semuanya.
BAB V
ENDANG SANG TUKANG KEPO
Pagi di Kuala Kapuas terasa lebih ramai dari biasanya.
Hari Sabtu memang selalu membawa suasana berbeda. Jalanan depan sekolah dipenuhi siswa yang datang lebih santai. Sebagian masih tertawa di parkiran, sebagian sibuk membeli jajanan di kantin sebelum bel masuk berbunyi.
Angin pagi bertiup lembut melewati pepohonan rindang di halaman sekolah.
Dan seperti biasa…
gosip berkembang lebih cepat daripada pengumuman resmi sekolah.
Terlebih jika menyangkut soal cinta.
“WOI WOI WOI!”
Suara Endang terdengar nyaring dari koridor kelas.
Beberapa siswa langsung menoleh.
Endang berjalan cepat sambil membawa ponsel di tangan dengan ekspresi paling heboh sedunia.
Yulia yang sedang duduk langsung menghela napas.
“Ada apa lagi?”
Endang duduk di sebelahnya dengan napas memburu.
“Aku baru lihat!”
“Lihat apa?”
Endang menurunkan volume suara dramatis.
“Semalam Akang sama Sinok ngobrol berdua hampir satu jam di Dermaga KP3.”
Yulia langsung tertarik.
“Hah? Serius?”
“SERIUS!”
Sinok yang sedang membuka buku langsung tersedak minumannya sendiri.
“Batuk— batuk— apaan sih, Dang?!”
Endang menunjuk dengan gaya detektif.
“Nah tuh panik.”
Sinok langsung salah tingkah.
“Itu cuma ngobrol biasa.”
Yulia tersenyum jahil.
“Ngobrol biasa sampai satu jam?”
“Tidak sampai satu jam.”
Endang cepat-cepat menyela.
“Lima puluh lima menit.”
Sinok melotot.
“Kau ngitung?”
“Aku kebetulan lihat.”
“Kebetulan dari mana? Kau memang sengaja kepo!”
Endang malah tertawa puas.
“Karena hidupku kurang hiburan.”
Yulia ikut tertawa.
Sedangkan Sinok mulai memegang kening pasrah.
Di sisi lain sekolah…
keadaan tidak jauh berbeda.
Aziz sedang tertawa brutal sambil memukul meja kelas.
“HAHAHAHA! Lima puluh lima menit?!”
Akang langsung panik.
“Dari mana kalian tahu?!”
Supia mengangkat tangan.
“Sumber terpercaya negara.”
Karwan menyandarkan tubuh sambil tersenyum kecil.
“Berita sudah menyebar.”
Akang memejamkan mata frustrasi.
“Ya Allah…”
Aziz masih belum berhenti tertawa.
“Bang, ini hubungan belum resmi tapi satu sekolah sudah ikut ngawasi.”
“Aku mau pindah planet.”
Supia menepuk pundaknya dramatis.
“Tidak usah takut. Kami mendukung cinta kalian.”
Akang langsung melempar penghapus ke arah mereka.
Bel masuk berbunyi.
Namun suasana kelas tetap ribut.
Karena hari itu guru belum datang.
Dan itu artinya…
waktu terbaik untuk Endang mulai mencari gosip baru.
Endang menoleh ke arah Sinok yang sedang diam melihat keluar jendela.
Lalu perlahan ia mendekat.
“Nok…”
“Apa?”
“Jujur.”
“Apa lagi?”
“Kau suka ya sama Akang?”
Sinok langsung salah tingkah.
“Tidak.”
“Bohong.”
“Serius.”
“Kalau tidak suka kenapa mukamu beda kalau dia dekat?”
Sinok membuka buku cepat-cepat pura-pura sibuk.
Namun pipinya mulai merah.
Yulia yang melihat itu langsung tertawa kecil.
“Nah loh.”
Endang makin semangat.
“Dan waktu dia bilang ‘hati-hati’ semalam, kau senyum sendiri.”
Sinok langsung memukul lengan Endang pelan.
“Kau ngawasin terus ternyata!”
“Namanya juga observasi.”
“Ganggu hidup orang itu observasi?”
“Betul.”
Yulia sampai tertawa sambil memegang perut.
“Dang, kau memang tidak ada obat.”
Namun di balik semua candaan itu…
Sinok sebenarnya mulai bingung dengan perasaannya sendiri.
Karena semakin hari…
kehadiran Akang memang mulai terasa berbeda.
Sementara itu di kelas sebelah…
Aziz sedang sibuk membuat teori paling tidak masuk akal.
“Menurut analisisku,” katanya sambil berdiri di atas kursi, “Akang sekarang masuk fase awal mabuk cinta.”
Supia langsung mengangguk serius pura-pura jadi ilmuwan.
“Gejalanya?”
- sering melamun,
- senyum sendiri,
- dan mendadak rajin sisiran.”
Akang langsung melempar buku.
“Kurang ajar!”
Karwan tertawa kecil.
Namun sebelum suasana makin ricuh…
seseorang muncul di depan pintu kelas.
Rahmad.
Seketika suasana sedikit berubah.
Rahmad berjalan masuk dengan tenang sambil memasukkan tangan ke saku celana.
Anton ada di belakangnya.
Tatapan Rahmad langsung menuju Akang.
“Bisa bicara sebentar?”
Aziz langsung mengangkat alis.
“Wih.”
Supia berbisik pelan.
“Mulai.”
Akang berdiri perlahan.
“Oke.”
Mereka keluar kelas menuju koridor belakang sekolah yang lebih sepi.
Angin siang bertiup pelan.
Suara siswa lain terdengar samar dari kejauhan.
Rahmad berhenti dekat pagar sekolah.
Lalu menatap Akang dingin.
“Kau serius sama Sinok?”
Pertanyaan itu datang begitu langsung.
Akang sedikit mengernyit.
“Memangnya kenapa?”
Rahmad tertawa kecil tanpa senyum.
“Aku cuma mau kasih saran.”
“Saran apa?”
“Jangan terlalu jauh.”
Akang mulai kesal.
“Dia bukan barang.”
Rahmad mendekat sedikit.
“Tapi aku sudah lama dekat sama dia.”
“Kalau memang dekat, kenapa dia tidak memilihmu?”
Kalimat itu membuat wajah Rahmad berubah.
Anton yang berdiri di belakang langsung ikut tegang.
Rahmad menyeringai tipis.
“Berani juga kau.”
Akang tetap tenang.
“Aku cuma tidak suka orang mengatur pilihan orang lain.”
Beberapa detik mereka saling tatap.
Tegang.
Sunyi.
Hanya suara angin yang terdengar.
Lalu Rahmad tertawa kecil dingin.
“Oke.”
Ia menepuk pundak Akang pelan.
“Tapi jangan salahkan aku kalau nanti kau sakit hati.”
Lalu ia pergi bersama Anton.
Meninggalkan suasana tidak nyaman di dada Akang.
Siang itu…
hujan kembali turun di Kuala Kapuas.
Sebagian siswa bertahan di sekolah sambil menunggu reda.
Akang berdiri sendiri di koridor sambil memikirkan ucapan Rahmad tadi.
Dan tanpa sadar…
Sinok datang menghampirinya.
“Kau kenapa?”
Akang sedikit terkejut.
“Tidak apa.”
Sinok memperhatikan wajahnya beberapa detik.
“Kau habis bicara sama Rahmad?”
Akang diam sesaat.
Lalu mengangguk kecil.
Sinok menghela napas panjang.
“Dia bilang apa?”
“Biasa.”
Sinok menatap hujan di depan mereka.
“Rahmad memang begitu.”
“Kalian dekat?”
Pertanyaan itu keluar begitu saja.
Sinok terdiam.
“Dulu dia sering bantu aku,” jawabnya pelan. “Tapi aku tidak pernah menganggap lebih.”
Akang mengangguk kecil.
Entah kenapa dadanya sedikit lega mendengar jawaban itu.
Hujan makin deras.
Beberapa siswa mulai berteriak kecil saat angin masuk ke koridor.
Dan di tengah suasana itu…
Sinok tiba-tiba tersenyum kecil.
“Aku sebenarnya capek.”
“Capek apa?”
“Semua orang ribut soal kita.”
Akang tertawa pelan untuk pertama kalinya hari itu.
“Aku juga.”
Sinok ikut tertawa kecil.
Lalu untuk beberapa detik…
mereka hanya berdiri berdampingan sambil melihat hujan.
Sederhana.
Namun terasa nyaman.
Namun dari ujung koridor…
Endang diam-diam memperhatikan sambil memegang ponsel.
Matanya berbinar seperti wartawan menemukan berita besar.
“Astaga…” bisiknya sendiri. “Ini bahan gosip satu minggu.”
Yulia yang tiba-tiba muncul di belakang langsung mengagetkannya.
“Kau lagi ngapain?”
Endang refleks panik.
“Hah?! Tidak ngapa-ngapain!”
Yulia melihat arah pandangannya.
Lalu tertawa pelan saat melihat Akang dan Sinok berdiri bersama.
“Ya ampun… kau memang mata-mata sekolah.”
Endang tersenyum puas.
“Namaku akan dikenang sejarah percintaan mereka.”
Yulia sampai geleng-geleng kepala.
Namun jauh di balik semua candaan dan rasa nyaman yang mulai tumbuh itu…
mereka belum sadar…
bahwa perlahan-lahan konflik yang lebih besar sedang menunggu di depan.
BAB VI
RAHMAD MULAI TERTARIK
Malam Minggu di Kuala Kapuas selalu terasa hidup.
Lampu-lampu taman di Bundaran Besar menyala terang menghiasi pusat kota. Anak-anak muda memenuhi trotoar sambil nongkrong bersama teman-teman mereka. Pedagang kaki lima berjajar rapi menawarkan berbagai makanan, mulai dari sate ayam, martabak manis, hingga jagung bakar yang aromanya memenuhi udara malam.
Suara motor bersahutan.
Tawa remaja terdengar di mana-mana.
Dan seperti biasa…
Dermaga KP3 menjadi tempat paling ramai malam itu.
Di salah satu sudut dermaga…
Akang duduk bersama Aziz, Supia, dan Karwan sambil menikmati kopi sachet murahan favorit mereka.
Aziz menggigit gorengan sambil melirik Akang penuh arti.
“Bang…”
“Apa lagi?”
“Kau sadar tidak?”
“Sadar apa?”
“Sekarang hidupmu sudah berubah.”
Akang mengernyit.
“Berubah bagaimana?”
Supia langsung menyahut cepat.
“Dulu tiap malam kau cuma lihat sungai.”
Karwan menambahkan pelan,
“Sekarang lihat Sinok.”
Aziz tertawa keras.
Akang langsung melempar tisu.
“Tidak lucu.”
“Lucu bagi kami.”
Supia tertawa sampai batuk.
Namun di balik candaan itu…
Akang sendiri mulai sadar.
Bahwa sejak mengenal Sinok…
hari-harinya memang terasa berbeda.
Ia jadi sering menunggu pagi datang.
Sering memikirkan seseorang tanpa alasan jelas.
Dan yang paling aneh…
ia mulai takut kehilangan sesuatu yang bahkan belum benar-benar ia miliki.
Tak lama kemudian…
Yulia mengirim pesan di grup kecil mereka.
“Kami ke dermaga.”
Aziz langsung menyeringai lebar.
“Nah datang juga calon keluarga.”
Akang langsung memukul lengan Aziz.
“Mulutmu.”
Namun beberapa menit kemudian…
Sinok benar-benar datang bersama Yulia dan Endang.
Malam itu Sinok terlihat berbeda.
Ia mengenakan sweater coklat muda dengan jilbab krem sederhana. Wajahnya terlihat tenang diterpa cahaya lampu dermaga yang kekuningan.
Dan seperti biasa…
Akang langsung kehilangan fokus beberapa detik.
Yulia duduk santai.
“Rame juga malam ini.”
Supia mengangguk.
“Malam Minggu rakyat semua keluar.”
Endang malah sibuk melihat sekitar.
“Aku lapar.”
Aziz langsung menyahut.
“Mukamu memang cocok jadi duta kelaparan nasional.”
Endang melotot.
“Kau diam.”
Mereka tertawa bersama.
Sementara Akang dan Sinok kembali duduk berdampingan.
Tidak terlalu dekat.
Namun cukup membuat suasana terasa berbeda.
Di tengah obrolan santai itu…
Rahmad datang.
Kali ini ia tidak sendiri.
Beberapa teman tongkrongannya ikut bersama Anton.
Begitu melihat Sinok duduk dekat Akang…
raut wajah Rahmad berubah tipis.
Bukan marah.
Tapi jelas tidak suka.
Anton mencondongkan badan pelan.
“Itu mereka lagi.”
Rahmad tidak menjawab.
Tatapannya terus tertuju pada Akang.
Lalu perlahan…
ia berjalan mendekat.
“Rame juga.”
Suasana meja langsung sedikit berubah.
Aziz langsung menangkap aura tidak enak itu.
Namun ia tetap santai.
“Biasalah.”
Rahmad menarik kursi dan duduk dekat Sinok tanpa diminta.
Anton ikut duduk.
Sinok terlihat sedikit tidak nyaman.
Rahmad menatap Akang sambil tersenyum tipis.
“Kalian dekat sekarang?”
Pertanyaan itu terdengar santai.
Namun jelas ada nada menyindir.
Akang menjawab tenang.
“Biasa saja.”
Rahmad terkekeh kecil.
“Oh.”
Sinok mulai kesal.
“Rahmad, jangan mulai.”
“Aku tidak mulai apa-apa.”
Namun tatapan Rahmad tetap tajam ke arah Akang.
Dan untuk pertama kalinya…
Akang benar-benar merasakan persaingan yang nyata.
Beberapa menit kemudian…
Yulia mengajak semua berjalan ke taman kecil dekat dermaga.
Lampu-lampu warna-warni memantul indah di permukaan sungai.
Musik akustik terdengar samar dari kejauhan.
Angin malam berembus lembut.
Namun suasana mulai terasa aneh.
Rahmad terus mencari cara mendekati Sinok.
Kadang sengaja berdiri terlalu dekat.
Kadang memotong pembicaraan Akang.
Kadang memamerkan dirinya berlebihan.
Dan itu mulai membuat Aziz kesal.
“Dia kenapa sih?” bisiknya pelan ke Supia.
“Cemburu.”
“Jelas sekali.”
Karwan hanya diam memperhatikan.
Sementara Akang berusaha tetap tenang meski dadanya mulai panas.
Di tengah suasana itu…
Sinok tiba-tiba berhenti di dekat pagar dermaga.
Ia melihat sungai yang gelap diterangi lampu kota.
Cantik.
Tenang.
Dan entah kenapa terasa damai.
Akang berdiri di sampingnya.
“Kau suka sungai?”
Sinok mengangguk kecil.
“Dari kecil aku suka suasana begini.”
“Kenapa?”
“Tenang.”
Akang ikut melihat ke arah sungai.
“Aku juga.”
Beberapa detik mereka diam bersama.
Dan lagi-lagi…
keheningan itu justru terasa nyaman.
Namun kenyamanan itu langsung pecah saat Rahmad tiba-tiba berdiri di antara mereka.
“Kalian serius cocok juga.”
Nada bicaranya terdengar aneh.
Sinok langsung menatap tajam.
“Rahmad.”
“Aku cuma bilang.”
Akang mulai kehilangan kesabaran.
“Kalau ada yang mau dibicarakan, bicara langsung saja.”
Rahmad tersenyum miring.
“Oke.”
Ia mendekat sedikit.
“Kau suka Sinok?”
Pertanyaan itu membuat suasana langsung sunyi.
Yulia dan Endang saling pandang.
Aziz langsung berdiri siap kalau situasi memburuk.
Supia bahkan berhenti makan.
Akang terdiam beberapa detik.
Jantungnya berdetak cepat.
Namun akhirnya…
ia menjawab pelan tapi jelas.
“Iya.”
Semua langsung diam.
Bahkan Sinok terlihat terkejut.
Rahmad tertawa kecil tanpa senyum.
“Berani juga.”
Akang menatap lurus.
“Aku tidak suka sembunyi-sembunyi.”
Rahmad mengangguk perlahan.
Tatapannya dingin.
“Oke.”
Lalu ia menoleh ke Sinok.
“Dan kau?”
Sinok mendadak gugup.
Semua mata kini tertuju padanya.
Angin malam berembus dingin.
Suara sungai terdengar pelan di bawah dermaga.
Sinok menunduk sebentar.
Lalu berkata lirih,
“Aku nyaman sama Akang.”
Kalimat itu sederhana.
Namun cukup membuat Rahmad membeku.
Dan cukup membuat jantung Akang terasa hampir meledak.
Rahmad tertawa kecil.
Namun kali ini jelas dipaksakan.
“Oke… paham.”
Ia mundur pelan.
Anton terlihat bingung melihat perubahan wajah sahabatnya.
Rahmad memasukkan tangan ke saku jaket.
Tatapannya kini benar-benar dingin.
“Kalau begitu…”
ia berkata pelan,
“…kita lihat saja nanti.”
Lalu ia pergi begitu saja bersama Anton.
Meninggalkan suasana tegang di dermaga malam itu.
Setelah Rahmad pergi…
semua masih diam beberapa detik.
Sampai akhirnya Aziz bersiul panjang.
“Waduh.”
Supia mengangguk cepat.
“Ini sudah resmi perang cinta.”
Yulia malah tertawa kecil.
“Drama sekolah mulai.”
Sinok memegang kening.
Sedangkan Akang masih diam memikirkan satu hal.
Ucapan Rahmad tadi.
“Kita lihat saja nanti.”
Entah kenapa…
kalimat itu terasa seperti ancaman.
Dan jauh di dalam hatinya…
Akang mulai sadar.
Bahwa mencintai Sinok mungkin tidak akan semudah yang ia kira.
BAB VII
ANTON SI MATA-MATA
Pagi itu suasana sekolah terasa lebih panas dari biasanya.
Bukan karena cuaca.
Melainkan karena kabar tentang Akang dan Sinok sudah benar-benar menyebar ke seluruh penjuru sekolah.
Bahkan anak kelas sepuluh yang tidak mengenal mereka pun mulai ikut membahas.
“Yang semalam di dermaga itu ya?”
“Iya katanya Akang ngaku suka langsung.”
“Rahmad sampai kalah.”
“Wih gila…”
Gosip bergerak cepat seperti angin di kota kecil.
Dan tentu saja…
orang yang paling menikmati keadaan itu adalah Endang.
“AKU SUDAH BILANG DARI AWAL!”
Endang berdiri di depan meja kelas seperti pembawa acara infotainment.
Yulia tertawa sampai hampir jatuh dari kursi.
“Kau ini kenapa senang sekali?”
“Karena feelingku selalu benar.”
Sinok langsung menarik tangan Endang.
“Duduk! Malu dilihat orang.”
Namun wajah Sinok sendiri tidak bisa menyembunyikan rasa gugup.
Sejak kejadian di dermaga semalam…
hatinya juga terasa kacau.
Ia terus mengingat jawaban Akang.
“Iya.”
Sederhana.
Namun tulus.
Dan itu membuat dadanya hangat setiap kali mengingatnya.
Yulia memperhatikan Sinok sambil tersenyum jahil.
“Nah loh… senyum sendiri lagi.”
Sinok langsung salah tingkah.
“Aku tidak senyum.”
“Bohong.”
Endang mendekat sambil menyipitkan mata dramatis.
“Gejala jatuh cinta stadium dua.”
Sinok langsung menutup wajah dengan buku.
“Ya Allah…”
Mereka tertawa bersama.
Namun di sisi lain sekolah…
suasana jauh berbeda.
Rahmad duduk di belakang kelas sambil memainkan korek api kecil di tangannya.
Wajahnya dingin.
Tatapannya kosong.
Anton duduk di sebelahnya sambil sesekali melirik takut.
Jujur…
Anton sendiri belum pernah melihat Rahmad semarah ini.
“Mad…”
Rahmad tidak menjawab.
Anton memberanikan diri lagi.
“Kau serius mau diam saja?”
Rahmad akhirnya tersenyum tipis.
Namun senyum itu sama sekali tidak hangat.
“Diam?”
Ia tertawa kecil.
“Aku tidak pernah kalah sebelum mulai.”
Anton mulai mengerti arah pembicaraan itu.
“Jadi?”
Rahmad menoleh pelan.
“Kalau Akang mau main…”
matanya menyipit dingin,
“…kita main.”
Jam istirahat pertama…
Akang sedang duduk santai di kantin bersama Aziz, Supia, dan Karwan.
Hari itu suasana hatinya sebenarnya cukup baik.
Meskipun masih malu karena terus digoda satu sekolah.
Namun pengakuan Sinok semalam membuat semuanya terasa lebih ringan.
Setidaknya sekarang ia tahu…
perasaannya tidak bertepuk sebelah tangan.
Aziz menggigit bakso goreng sambil tersenyum lebar.
“Bang…”
“Apa lagi?”
“Kau sadar tidak?”
“Sadar apa?”
“Kau sekarang resmi jadi musuh Rahmad.”
Supia langsung mengangguk.
“Dan Rahmad itu tipe orang yang tidak suka kalah.”
Karwan ikut bicara pelan.
“Hati-hati saja.”
Akang menghela napas kecil.
“Aku tidak cari masalah.”
“Tapi masalah bisa cari kau,” jawab Karwan tenang.
Belum sempat Akang membalas…
Anton tiba-tiba muncul di depan meja mereka.
Senyumnya tipis.
“Boleh gabung?”
Aziz langsung mengangkat alis.
“Tumben.”
Anton duduk santai tanpa menunggu jawaban.
“Aku cuma mau ngobrol.”
Supia melirik Akang pelan.
Aura tidak enak langsung terasa.
Namun Anton tetap tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa.
“Kalian sering nongkrong di dermaga ya?”
Aziz menjawab santai.
“Iya. Kenapa?”
“Tidak apa. Seru saja kayanya.”
Tatapan Anton kemudian beralih ke Akang.
“Kau serius sama Sinok?”
Pertanyaan itu membuat suasana langsung sedikit tegang.
Akang menjawab tenang.
“Kenapa semua orang suka tanya itu?”
Anton tertawa kecil.
“Karena Rahmad serius sama dia.”
Aziz langsung menyela cepat.
“Kalau serius ya saingan sehat.”
Anton tersenyum tipis.
“Semoga.”
Jawaban itu terdengar aneh.
Dan sebelum suasana makin tidak nyaman…
Anton berdiri.
“Sudahlah. Aku cuma ngobrol.”
Lalu ia pergi.
Namun begitu Anton menjauh…
Karwan langsung bicara pelan.
“Hati-hati sama dia.”
Akang mengernyit.
“Kenapa?”
Karwan menatap ke arah Anton yang berjalan menuju kelas Rahmad.
“Dia bukan datang buat ngobrol.”
Dan benar saja.
Begitu masuk kelas…
Anton langsung duduk di sebelah Rahmad.
“Bagaimana?” tanya Rahmad tanpa menoleh.
Anton menyeringai kecil.
“Dia mulai nyaman.”
Rahmad diam.
Anton melanjutkan,
“Kalau dibiarkan mereka bakal jadian.”
Rahmad tertawa kecil dingin.
“Aku tahu.”
Anton mencondongkan badan.
“Mau mulai sekarang?”
Rahmad menatap keluar jendela.
Tatapannya tajam.
“Iya.”
“Rencananya?”
Rahmad perlahan tersenyum.
“Kita buat Sinok ragu sama dia.”
Sore harinya…
langit Kuala Kapuas kembali mendung.
Angin sungai terasa lebih dingin dari biasanya.
Akang sedang membantu ibunya membeli beberapa barang di kawasan Pertokoan Sanjaya ketika ponselnya berbunyi.
Pesan dari Sinok.
“Lagi di mana?”
Akang tanpa sadar tersenyum sendiri.
Ibunya yang melihat langsung mengernyit curiga.
“Siapa?”
Akang gugup.
“Teman.”
“Teman apa senyum-senyum begitu?”
Akang langsung salah tingkah.
“Mak…”
Ibunya tertawa kecil.
“Sudah besar rupanya anakku.”
Akang hanya bisa menghela napas malu.
Lalu ia membalas pesan Sinok.
“Di Sanjaya. Kenapa?”
Beberapa detik kemudian balasan masuk.
“Aku juga di sini.”
Jantung Akang langsung berdetak lebih cepat.
Ia refleks melihat sekitar.
Dan beberapa meter dari toko pakaian…
Sinok berdiri sambil memegang kantong belanja bersama Yulia.
Begitu melihat Akang…
Sinok tersenyum kecil.
Dan sekali lagi…
senyum itu berhasil membuat dunia Akang terasa lebih terang.
Namun tanpa mereka sadari…
dari lantai dua pertokoan…
Anton sedang memperhatikan semuanya sambil memainkan ponsel.
Ia mengambil beberapa foto diam-diam.
Lalu mengirimkannya ke Rahmad.
“Mereka ketemu lagi.”
Tak lama kemudian balasan masuk.
“Bagus.”
Anton tersenyum licik.
Dan di saat Akang mulai merasa bahagia…
perlahan jebakan mulai disusun di belakangnya.
Karena bagi Rahmad…
jika ia tidak bisa mendapatkan Sinok dengan cara biasa…
maka ia akan menggunakan cara lain.
BAB VIII
JALAN SIMPANG ADIPURA DI MALAM HARI
Malam turun perlahan di Kuala Kapuas.
Lampu-lampu jalan mulai menyala menghiasi kota kecil yang tenang itu. Angin malam bertiup lembut membawa aroma khas sungai bercampur udara dingin setelah hujan sore tadi.
Di kawasan Jalan Simpang Adipura, taman kota terlihat ramai oleh warga yang menikmati malam minggu. Anak-anak kecil bermain sepeda listrik. Pedagang kaki lima berjejer di sepanjang trotoar menjual jagung bakar, sate telur puyuh, es boba, dan berbagai jajanan lainnya.
Lampu taman berwarna-warni memantul di jalanan yang masih sedikit basah.
Suasana kota terasa hangat.
Dan malam itu…
ada dua orang yang diam-diam sedang sama-sama gugup.
“Bang, bajumu ganti tiga kali dari tadi.”
Aziz berdiri di depan pintu kamar Akang sambil tertawa kurang ajar.
Akang yang sedang bercermin langsung mendelik.
“Aku cuma bingung pakai yang mana.”
Supia yang duduk di atas motor ikut menyahut keras dari luar rumah.
“Waduhhh… cinta memang membuat manusia tidak normal.”
Karwan yang biasanya paling tenang bahkan ikut tersenyum kecil.
“Cepatlah. Kasihan Sinok nanti nunggu.”
Akang langsung panik.
“Siapa bilang aku jalan sama dia?”
Aziz tertawa keras.
“Bang… satu grup sudah tahu.”
Akang memegang kening frustrasi.
Memang sore tadi Sinok mengirim pesan sederhana:
“Malam ini jadi ke Simpang Adipura?”
Dan sejak pesan itu masuk…
hidup Akang tidak lagi damai.
Ia bahkan sempat meminta pendapat ibunya soal baju.
Sampai akhirnya ibunya hanya tertawa geli.
“Kalau suka ya bilang suka.”
“Mak…”
“Jangan gengsi.”
Kini Akang berdiri dengan jaket hitam sederhana dan celana jeans biru tua. Tidak terlalu keren sebenarnya.
Namun Aziz langsung bersiul panjang.
“Wih. Sudah kaya pemeran utama film.”
“Diam.”
Supia menepuk pundaknya.
“Tenang saja. Kalau ditolak kami siap menghibur.”
“Aku lempar kalian ke sungai.”
Mereka tertawa bersama sebelum akhirnya berangkat menuju pusat kota.
Di sisi lain…
Sinok juga tidak kalah gugup.
Ia berdiri di depan cermin kamar sambil beberapa kali membenarkan jilbabnya.
Yulia yang duduk di kasur langsung tertawa kecil.
“Sudah cantik dari tadi.”
Sinok menghela napas.
“Aneh tidak?”
“Apanya?”
“Aku begini.”
Yulia menyeringai jahil.
“Karena Akang?”
Sinok langsung salah tingkah.
“Bukan begitu.”
“Kalau bukan begitu kenapa dari tadi senyum sendiri?”
Sinok langsung melempar bantal.
Yulia tertawa puas.
Namun diam-diam…
Sinok memang merasa berbeda.
Sudah lama ia tidak merasa nyaman sedekat ini dengan seseorang.
Apalagi setelah kisah lamanya dengan Nur Rohman berakhir menyakitkan.
Dan entah kenapa…
bersama Akang semuanya terasa lebih tenang.
Sekitar pukul delapan malam…
kedua kelompok itu akhirnya bertemu di taman Simpang Adipura.
Lampu-lampu taman menyala indah.
Musik dari pedagang kopi jalanan terdengar pelan.
Beberapa remaja tampak sibuk berfoto di dekat tulisan ikon kota.
Dan di tengah keramaian itu…
Akang dan Sinok saling melihat dari kejauhan.
Hening beberapa detik.
Jantung mereka sama-sama kacau.
Aziz yang berdiri di belakang Akang langsung berbisik,
“Bang… senyummu ketahuan sekali.”
“Diam.”
Yulia juga menyenggol Sinok pelan.
“Tuh lihat. Dari tadi matanya cuma ke kau.”
Sinok langsung pura-pura melihat lampu taman.
Mereka akhirnya duduk bersama di bangku panjang dekat taman bunga.
Aziz, Supia, dan Yulia sengaja duduk agak jauh.
Karwan tetap diam seperti biasa sambil memainkan ponsel.
Sedangkan Endang sibuk memperhatikan orang lewat seperti reporter lapangan.
Kini tinggal Akang dan Sinok yang suasananya mulai canggung.
“Kota malam bagus ya,” kata Sinok pelan memecah keheningan.
Akang mengangguk.
“Iya.”
Hening lagi.
Lalu keduanya malah tertawa kecil bersamaan.
“Kita aneh ya,” kata Sinok.
“Sedikit.”
“Biasanya kau pendiam memang?”
Akang tersenyum tipis.
“Tergantung.”
“Tergantung apa?”
“Tergantung sama siapa.”
Sinok menatapnya beberapa detik.
Dan entah kenapa…
jawaban sederhana itu membuat pipinya menghangat.
Tak jauh dari mereka…
Aziz sedang menguping sambil makan cilok.
Supia menepuk lengannya pelan.
“Kau jangan terlalu jelas.”
“Aku penasaran.”
Yulia ikut tertawa.
“Memang lucu lihat mereka.”
Endang malah sibuk mencatat sesuatu di ponselnya.
Karwan mengernyit.
“Kau ngapain?”
“Mencatat momen penting sejarah.”
Semua langsung tertawa.
Sementara itu…
percakapan Akang dan Sinok mulai mengalir lebih nyaman.
Mereka bercerita tentang hal-hal sederhana:
tentang sekolah,
tentang keluarga,
tentang makanan favorit,
tentang cita-cita,
dan tentang kota Kuala Kapuas yang sama-sama mereka sukai.
“Aku suka kota ini malam-malam begini,” kata Sinok sambil melihat lampu jalan.
“Kenapa?”
“Tenang.”
Akang tersenyum kecil.
“Aku juga.”
Angin malam berembus lembut.
Beberapa helai rambut Sinok tertiup pelan.
Dan tanpa sadar…
Akang terus memperhatikannya.
Sampai akhirnya Sinok sadar.
“Kenapa lihat aku begitu?”
Akang langsung gugup.
“Hah? Tidak.”
“Bohong.”
Akang tertawa malu.
Sinok ikut tersenyum.
Dan malam itu…
untuk pertama kalinya mereka benar-benar menikmati kebersamaan tanpa rasa canggung berlebihan.
Namun di balik suasana hangat itu…
ada mata lain yang memperhatikan dari kejauhan.
Rahmad.
Ia berdiri di dekat motor bersama Anton.
Wajahnya gelap melihat Sinok tertawa bersama Akang.
Anton melirik sahabatnya hati-hati.
“Mad…”
Rahmad mengepalkan tangan pelan.
“Aku tidak suka lihat dia senyum begitu.”
Anton menghela napas.
“Kalau begini mereka bakal makin dekat.”
Rahmad tertawa kecil dingin.
“Tidak akan lama.”
Anton menoleh.
“Maksudmu?”
Rahmad tersenyum tipis.
“Kita buat Akang terlihat buruk di depan Sinok.”
Angin malam bertiup semakin dingin.
Dan tanpa disadari siapa pun…
rencana pertama mulai disusun malam itu.
Di taman…
Akang dan Sinok masih duduk berdampingan.
Suasana semakin nyaman.
Sampai akhirnya Sinok berkata pelan,
“Kalau nanti suatu hari…”
Akang menoleh.
“Hmm?”
“Kalau nanti kita bertengkar…”
Akang sedikit tersenyum.
“Kita belum apa-apa sudah bicara bertengkar?”
Sinok ikut tertawa kecil.
“Tapi serius.”
Akang memandang lampu kota di depan mereka.
Lalu berkata pelan,
“Kalau memang sayang… harusnya tidak gampang pergi.”
Kalimat itu sederhana.
Namun membuat Sinok diam beberapa detik.
Karena jauh di dalam hatinya…
ia mulai takut.
Takut nyaman terlalu dalam.
Takut mengulang luka yang sama.
Dan takut…
kalau suatu hari nanti semuanya benar-benar berubah.
BAB IX
RAHASIA MASA LALU SINOK
Langit Kuala Kapuas pagi itu terlihat muram.
Awan kelabu menggantung rendah di atas kota. Angin bertiup pelan melewati pepohonan di halaman sekolah yang masih basah oleh gerimis subuh tadi.
Suasana sekolah sebenarnya ramai seperti biasa.
Namun bagi Sinok…
pagi itu terasa berbeda.
Entah kenapa sejak bangun tidur dadanya terasa sesak oleh kenangan lama yang tiba-tiba datang kembali.
Kenangan tentang seseorang yang pernah sangat ia cintai.
Seseorang yang pernah membuatnya percaya bahwa cinta pertama akan bertahan selamanya.
Nur Rohman.
Sinok duduk diam di kelas sambil memandangi halaman sekolah dari balik jendela.
Yulia yang sejak tadi memperhatikan akhirnya mengernyit.
“Kau kenapa?”
Sinok tersadar dari lamunannya.
“Hm?”
“Dari tadi melamun.”
“Tidak apa.”
Endang langsung mendekat dengan radar kepo aktif.
“Kalau orang bilang ‘tidak apa’ biasanya justru ada apa-apa.”
Sinok tersenyum kecil lemah.
“Cuma capek.”
Yulia menatap sahabatnya beberapa detik.
Ia cukup mengenal Sinok untuk tahu…
ada sesuatu yang sedang dipikirkan gadis itu.
Namun sebelum sempat bertanya lagi…
belum masuk berbunyi.
Dan beberapa detik kemudian…
suasana kelas mendadak berubah.
Karena seseorang berdiri di depan pintu.
Seorang pemuda tinggi berkulit cerah dengan wajah tenang dan tatapan yang familiar bagi Sinok.
Jantung Sinok langsung berhenti sesaat.
“Nur Rohman…”
gumamnya lirih hampir tak terdengar.
Yulia langsung menoleh cepat.
Matanya melebar.
“Eh… itu mantanmu?”
Endang bahkan sampai berdiri.
“ASTAGA.”
Satu kelas mulai memperhatikan.
Dan di tengah suasana yang tiba-tiba sunyi itu…
Nur Rohman tersenyum kecil ke arah Sinok.
“Hai.”
Sementara itu di kelas sebelah…
Akang sedang sibuk diganggu Aziz seperti biasa.
“Bang…”
“Apa lagi?”
“Kalau nanti kau nikah sama Sinok…”
Akang langsung memotong.
“Diam.”
Supia tertawa keras.
“Belum juga jadian sudah takut.”
Karwan tersenyum kecil sambil membaca buku.
Namun tiba-tiba seorang siswa masuk tergesa-gesa ke kelas mereka.
“WOI!”
Semua menoleh.
“Katanya mantan Sinok datang!”
Akang langsung diam.
Aziz mengernyit.
“Mantan?”
“Namanya Nur Rohman!”
Beberapa siswa lain ikut heboh.
“Katanya ganteng.”
“Katanya dulu cinta pertama Sinok.”
“Katanya dulu mereka dekat banget.”
Entah kenapa…
mendengar semua itu membuat dada Akang terasa aneh.
Panas.
Tidak nyaman.
Dan untuk pertama kalinya…
ia benar-benar merasa takut kehilangan sebelum memiliki.
Jam istirahat…
kantin sekolah jauh lebih ramai dari biasanya.
Topik utama hari itu cuma satu:
kedatangan Nur Rohman.
Dan yang paling tersiksa jelas Akang.
Aziz memperhatikan wajah sahabatnya sambil menahan tawa.
“Bang…”
Akang diam sambil menusuk bakso terlalu keras.
“Kau cemburu ya?”
“Tidak.”
“Bohong.”
Supia ikut menimpali.
“Wajahmu seperti orang mau perang.”
Karwan akhirnya bicara pelan.
“Wajar sebenarnya.”
Akang menghela napas.
Ia sendiri bingung kenapa perasaannya jadi kacau begini.
Padahal ia dan Sinok belum punya hubungan apa-apa.
Namun membayangkan Sinok pernah sedekat itu dengan orang lain…
entah kenapa membuat hatinya tidak tenang.
Di sisi lain kantin…
Sinok duduk berhadapan dengan Nur Rohman.
Yulia dan Endang sengaja duduk agak jauh memberi ruang.
Suasana terasa canggung.
Sudah hampir dua tahun mereka tidak bertemu.
Namun kenangan lama seolah langsung kembali begitu saja.
“Kau masih sama,” kata Nur Rohman pelan sambil tersenyum kecil.
Sinok menunduk tipis.
“Kau juga.”
Hening sesaat.
Suara kantin terdengar samar di sekitar mereka.
“Aku dengar kau pindah sekolah luar kota,” kata Sinok akhirnya.
Nur Rohman mengangguk.
“Iya. Baru balik beberapa minggu lalu.”
“Kenapa tidak bilang?”
Nur Rohman tersenyum pahit.
“Aku takut.”
“Takut apa?”
“Takut kau masih marah.”
Kalimat itu membuat Sinok diam.
Karena jujur…
dulu ia memang sangat terluka.
Nur Rohman pergi begitu saja tanpa penjelasan jelas.
Dan setelah itu…
hubungan mereka benar-benar selesai.
Tak jauh dari sana…
Akang tanpa sadar memperhatikan mereka dari kejauhan.
Dadanya terasa makin sesak melihat Sinok tersenyum kecil saat berbicara dengan Nur Rohman.
Aziz menoleh pelan.
“Sudah jangan lihat terus.”
Akang mengalihkan pandangan cepat.
“Aku tidak lihat.”
Supia langsung tertawa kecil.
“Kau ini kalau bohong kelihatan sekali.”
Karwan menatap Akang beberapa detik.
Lalu berkata pelan,
“Kalau memang suka… percaya saja.”
Namun justru itu masalahnya.
Akang belum yakin dirinya cukup berarti bagi Sinok.
Sore hari…
langit Kuala Kapuas mulai gelap.
Gerimis turun perlahan membasahi jalanan kota.
Akang memilih pulang lebih dulu tanpa mampir nongkrong seperti biasanya.
Ia hanya ingin sendiri.
Motor tuanya melaju pelan melewati Bundaran Besar yang mulai dipenuhi lampu malam.
Namun saat melewati taman kecil dekat Simpang Adipura…
ia melihat seseorang duduk sendirian di bangku taman.
Sinok.
Akang sempat ragu.
Namun akhirnya ia menghentikan motor.
“Sinok?”
Sinok menoleh pelan.
Matanya terlihat lelah.
“Kau belum pulang?”
Sinok tersenyum kecil.
“Masih mau duduk sebentar.”
Akang akhirnya duduk di sampingnya.
Hening beberapa detik.
Hanya suara gerimis dan kendaraan yang terdengar samar.
Lalu Akang memberanikan diri bertanya pelan,
“Itu tadi… mantanmu?”
Sinok terdiam.
Lalu mengangguk kecil.
“Iya.”
Jawaban singkat itu cukup membuat dada Akang kembali tidak nyaman.
Sinok menatap jalanan basah di depan mereka.
“Dulu aku pernah sayang banget sama dia.”
Akang diam.
Kalimat itu terasa seperti pisau kecil yang menusuk perlahan.
Sinok melanjutkan pelan,
“Dan waktu dia pergi… aku benar-benar hancur.”
Angin malam berembus dingin.
Akang menunduk pelan.
Entah kenapa ia takut mendengar kelanjutannya.
Namun Sinok tiba-tiba menoleh ke arahnya.
“Tapi sekarang semuanya sudah berbeda.”
Akang mengangkat pandangan.
Tatapan mereka bertemu.
Dan untuk pertama kalinya…
Sinok melihat jelas rasa takut di mata Akang.
“Kau cemburu ya?” tanyanya pelan.
Akang langsung gugup.
“Tidak.”
Sinok tersenyum kecil.
“Bohong.”
Akang tertawa kecil malu.
Sinok ikut tersenyum.
Namun jauh di dalam hatinya…
ia tahu satu hal.
Kehadiran Nur Rohman bukan kebetulan.
Dan tanpa mereka sadari…
kedatangannya perlahan akan mengubah hubungan mereka menjadi jauh lebih rumit.
BAB X
ABDUL YANG SELALU ADA
Pagi itu hujan turun sejak subuh di Kuala Kapuas.
Rintik air membasahi jalan-jalan kota kecil itu dengan suasana yang sendu dan dingin. Sungai Kapuas tampak lebih gelap dari biasanya. Langit dipenuhi awan kelabu yang menggantung rendah, membuat pagi terasa malas untuk dimulai.
Namun kehidupan tetap berjalan.
Pedagang tetap membuka warung.
Anak-anak sekolah tetap berangkat dengan jas hujan warna-warni.
Dan di sebuah rumah sederhana dekat bantaran sungai…
Sinok duduk diam di teras sambil memegang gelas teh hangat.
Tatapannya kosong melihat hujan.
Pikirannya penuh.
Tentang Akang.
Tentang Nur Rohman.
Dan tentang perasaannya sendiri yang mulai sulit ia pahami.
“Nok…”
Suara ibunya terdengar dari dalam rumah.
“Kau tidak terlambat sekolah?”
Sinok tersadar.
“Iya Bu, sebentar.”
Ia menghela napas panjang sebelum akhirnya berdiri pelan.
Namun tepat saat hendak masuk…
ponselnya berbunyi.
Pesan masuk dari seseorang.
Abdul:
“Kalau hujan deras jangan lupa bawa jaket. Nanti sakit.”
Sinok tersenyum kecil.
Abdul memang selalu begitu.
Tenang.
Perhatian.
Dan selalu ada tanpa banyak bicara.
Abdul adalah salah satu orang terdekat Sinok sejak lama.
Mereka berteman sejak SMP.
Berbeda dengan laki-laki lain yang sering berusaha menarik perhatian Sinok secara berlebihan, Abdul justru memilih diam dan hadir seperlunya.
Ia bukan tipe orang yang suka memaksa.
Tidak banyak bicara.
Tidak suka mencari sensasi.
Namun justru karena itu…
Sinok selalu merasa nyaman bersamanya.
Meski ia tidak pernah sadar…
bahwa Abdul diam-diam menyimpan rasa lebih dari sekadar persahabatan.
Di sekolah…
hujan masih turun deras.
Suasana koridor ramai oleh siswa yang berteduh sambil menunggu bel masuk.
Aziz datang paling heboh seperti biasa sambil menggigil dramatis.
“Demi apa dingin sekali ini.”
Supia tertawa sambil memegang kopi sachet.
“Makanya jangan mandi subuh.”
“Aku mandi!”
“Jam berapa?”
“Jam enam lewat lima puluh.”
Karwan menggeleng kecil.
“Itu bukan mandi. Itu cuci dosa cepat.”
Akang yang sejak tadi diam akhirnya tertawa kecil.
Namun suasana hatinya sebenarnya masih tidak tenang sejak kemunculan Nur Rohman kemarin.
Dan Aziz langsung sadar.
“Kau masih mikirin itu ya?”
Akang pura-pura tidak mengerti.
“Mikirin apa?”
“Mantan Sinok.”
Akang diam.
Supia menepuk pundaknya pelan.
“Bang… cinta memang penuh penderitaan.”
“Diamlah.”
Namun sebelum obrolan berlanjut…
mata Akang tiba-tiba menangkap sosok Sinok yang baru datang ke sekolah.
Dan bukan itu yang membuat dadanya menegang.
Melainkan seseorang yang berdiri di samping Sinok sambil memayunginya.
Abdul.
Akang langsung diam.
Tatapannya mengikuti Sinok dan Abdul yang berjalan berdampingan menuju koridor.
Abdul terlihat sederhana:
jaket abu tua,
tas selempang hitam,
dan wajah tenang yang sulit ditebak.
Namun ada satu hal yang membuat Akang tidak nyaman.
Cara Abdul memperhatikan Sinok.
Terlalu tulus.
Terlalu hangat.
Dan itu langsung terasa oleh Akang.
Aziz ikut melihat.
“Oalah…”
Supia mengernyit.
“Itu siapa?”
Karwan menjawab pelan,
“Abdul.”
“Kau kenal?”
“Anak kelas sebelah.”
Aziz menyipitkan mata.
“Kayanya bukan sekadar teman.”
Akang langsung mengalihkan pandangan.
Namun hatinya mulai tidak tenang lagi.
Sementara itu…
Sinok dan Abdul berhenti dekat kelas.
“Makasih ya,” kata Sinok sambil tersenyum kecil.
Abdul mengangguk pelan.
“Lain kali jangan berangkat sendiri kalau hujan deras.”
Sinok tertawa kecil.
“Iya Pak Abdul.”
Abdul ikut tersenyum tipis.
Tatapannya lembut seperti biasa.
Dan dari kejauhan…
Akang memperhatikan semuanya.
Entah kenapa dadanya terasa sesak.
Padahal Abdul bahkan tidak melakukan apa-apa.
Jam istirahat pertama…
hujan mulai reda.
Kantin sekolah kembali ramai.
Dan hari itu, untuk pertama kalinya Akang duduk agak jauh dari Sinok.
Bukan karena marah.
Bukan juga karena benci.
Namun karena ia bingung dengan perasaannya sendiri.
Aziz langsung menyadarinya.
“Kau kenapa?”
“Tidak apa.”
“Bohong lagi.”
Supia ikut mendekat.
“Karena Abdul?”
Akang diam.
Itu sudah cukup menjadi jawaban.
Karwan akhirnya bicara pelan,
“Kau tidak bisa marah hanya karena dia punya teman dekat.”
“Aku tidak marah.”
“Tapi kau takut.”
Kalimat itu langsung membuat Akang diam.
Karena memang benar.
Ia takut.
Takut ternyata dirinya bukan satu-satunya tempat nyaman bagi Sinok.
Di sisi lain kantin…
Abdul duduk bersama Sinok, Yulia, dan Endang.
Yulia yang terkenal tidak bisa diam langsung membuka topik.
“Dul…”
“Hm?”
“Kau sebenarnya suka ya sama Sinok?”
Sinok langsung tersedak minum.
“YULIA!”
Endang langsung tertawa keras.
“Nah loh!”
Abdul justru tetap tenang.
Ia tersenyum kecil sambil mengaduk teh hangatnya.
“Kenapa memang?”
Yulia melotot.
“ASTAGA. Berarti benar?”
Abdul tidak langsung menjawab.
Tatapannya justru mengarah sebentar ke Sinok.
Lalu ia berkata pelan,
“Kalau suka memang salah?”
Suasana meja langsung mendadak hening.
Sinok membeku.
Endang bahkan sampai menutup mulut karena kaget.
Yulia langsung berbisik dramatis,
“Ini makin seru…”
Namun Abdul tetap terlihat tenang.
Tidak ada ekspresi memaksa.
Tidak ada nada posesif.
Ia hanya bicara dengan jujur.
Dan justru itulah yang membuat semuanya terasa lebih serius.
Tak jauh dari sana…
Akang tanpa sengaja mendengar sebagian percakapan itu.
Dan untuk pertama kalinya…
dadanya benar-benar terasa sakit.
Aziz menatap sahabatnya hati-hati.
“Bang…”
Akang langsung berdiri pelan.
“Aku keluar sebentar.”
Tanpa menunggu jawaban…
ia berjalan meninggalkan kantin.
Langkahnya cepat.
Pikirannya kacau.
Hujan kecil kembali turun di luar sekolah.
Dan Akang berdiri sendirian di koridor belakang sambil menatap langit kelabu.
Entah kenapa…
ia mulai merasa kecil.
Beberapa menit kemudian…
suara langkah terdengar mendekat.
Sinok.
“Kau kenapa pergi begitu saja?”
Akang tidak langsung menjawab.
Sinok berdiri di sampingnya.
“Aku salah ya?”
Akang menggeleng pelan.
“Tidak.”
“Terus?”
Hening beberapa detik.
Lalu akhirnya Akang berkata lirih,
“Abdul suka sama kau ya?”
Sinok sedikit terkejut.
Ia tidak menyangka Akang mendengar itu.
“Dia memang baik dari dulu,” jawabnya pelan.
Dan lagi-lagi…
jawaban itu membuat hati Akang makin tidak tenang.
Sinok akhirnya menatapnya serius.
“Kau cemburu lagi?”
Akang tertawa kecil pahit.
“Mungkin.”
Untuk pertama kalinya…
Akang mengakuinya secara jujur.
Dan entah kenapa…
melihat laki-laki pendiam itu cemburu justru membuat hati Sinok terasa hangat sekaligus sedih.
Karena ia mulai sadar…
hubungan mereka perlahan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam.
BAB XI
PERTOKOAN SANJAYA DAN HUJAN KENANGAN
Sabtu sore di Kuala Kapuas selalu ramai.
Kawasan Pertokoan Sanjaya dipenuhi masyarakat yang datang untuk berbelanja kebutuhan mingguan, sekadar jalan-jalan, atau menikmati suasana kota menjelang malam. Lampu toko mulai menyala satu per satu. Musik dari kios pakaian terdengar saling bersahutan. Aroma parfum murah bercampur gorengan hangat memenuhi udara.
Langit sore itu sebenarnya cukup cerah.
Namun awan gelap mulai berkumpul perlahan di atas kota.
Tanda hujan akan turun lagi.
“Bang, cepatlah!”
Aziz berdiri di depan toko sepatu sambil melambaikan tangan berlebihan.
“Aku lapar!”
Supia langsung menyahut,
“Kau memang lapar terus.”
Karwan berjalan santai di belakang sambil memasukkan tangan ke saku jaket.
Sementara Akang terlihat tidak terlalu fokus.
Matanya sesekali memperhatikan sekitar pertokoan seperti sedang mencari seseorang.
Dan tentu saja…
Aziz langsung sadar.
“Kau nunggu Sinok ya?”
Akang refleks menjawab cepat,
“Tidak.”
“Bohong.”
“Serius.”
Supia tertawa kecil.
“Kalau serius kenapa dari tadi lihat jalan masuk?”
Akang memijat kening malas.
Hidupnya benar-benar tidak tenang sejak ketiga sahabatnya tahu ia jatuh cinta.
Tak lama kemudian…
suara Yulia terdengar dari kejauhan.
“WOI!”
Aziz langsung menyeringai lebar.
“Nah datang juga.”
Dari arah pintu masuk pertokoan, terlihat Yulia, Endang, dan Sinok berjalan mendekat sambil membawa beberapa kantong belanja kecil.
Sore itu Sinok mengenakan sweater putih sederhana dengan jilbab coklat muda. Wajahnya terlihat segar meski suasana kota mulai gerah menjelang hujan.
Dan seperti biasa…
begitu melihat Sinok, dunia Akang langsung terasa aneh.
Jantungnya kembali berdetak terlalu cepat.
Yulia mendekat sambil tertawa kecil.
“Tumben kalian di sini.”
Aziz menjawab santai,
“Kami rakyat biasa sedang cari diskon.”
Endang langsung menyahut,
“Bohong. Kalian pasti sengaja nyusul.”
Supia pura-pura tersinggung.
“Kami laki-laki bermartabat.”
“Muka kalian tidak mendukung.”
Mereka tertawa bersama.
Sementara Sinok berdiri dekat Akang sambil tersenyum kecil.
“Kau beli apa?”
Akang gugup sebentar sebelum menjawab,
“Tidak beli apa-apa sebenarnya.”
Sinok tertawa pelan.
“Terus ke sini buat apa?”
Akang ingin menjawab jujur:
buat lihat kamu.
Namun tentu saja ia tidak punya keberanian itu.
“Temani mereka,” jawabnya akhirnya.
Aziz langsung batuk dramatis dari belakang.
“Pembohong.”
Akang langsung melotot tajam.
Mereka akhirnya berjalan bersama menyusuri pertokoan.
Suasana sore semakin ramai.
Anak-anak muda hilir mudik di sepanjang lorong toko.
Lampu neon warna-warni memantul di lantai keramik yang mulai basah terkena tempias hujan kecil.
Dan seperti biasa…
Aziz dan Supia terus membuat suasana tidak pernah tenang.
“Eh Nok,” kata Aziz tiba-tiba sambil menunjuk Akang, “kau tahu tidak?”
“Apa?”
“Akang tadi ganti baju tiga kali sebelum keluar.”
“WOI!”
Sinok langsung tertawa malu.
“Serius?”
Supia mengangguk cepat.
“Bahkan sempat pakai parfum terlalu banyak.”
Akang menutup wajah dengan tangan.
“Ya Allah…”
Yulia sampai tertawa membungkuk.
Karwan yang biasanya paling diam pun ikut tersenyum kecil melihat kepanikan Akang.
Sementara Sinok…
entah kenapa dadanya terasa hangat mendengar itu.
Namun suasana hangat itu mendadak berubah ketika hujan turun deras.
BRAK!
Suara air menghantam atap pertokoan membuat beberapa orang berlarian mencari tempat berteduh.
“Waduh hujan!” seru Endang.
Dalam hitungan detik suasana pertokoan jadi lebih padat.
Angin dingin masuk dari sela lorong.
Lampu-lampu toko terlihat semakin terang di tengah langit yang mulai gelap.
Aziz menghela napas panjang.
“Ya sudah. Kita terjebak.”
Supia langsung duduk di kursi dekat kios minuman.
“Nasib.”
Mereka semua akhirnya berhenti di sebuah kedai kopi kecil di pojok pertokoan.
Tempatnya sederhana:
meja kayu,
lampu kuning hangat,
dan suara hujan deras yang terdengar jelas dari luar.
Dan anehnya…
suasana seperti itu justru terasa nyaman.
Akang duduk berhadapan dengan Sinok.
Untuk beberapa saat mereka hanya diam sambil mendengar suara hujan.
Lalu Sinok tersenyum kecil.
“Aku suka hujan sebenarnya.”
Akang menoleh.
“Kenapa?”
“Karena suasananya tenang.”
Akang mengangguk pelan.
“Aku juga.”
Hening sesaat.
Namun kali ini bukan canggung.
Melainkan nyaman.
Di sisi lain meja…
Aziz sedang berbisik ke Yulia.
“Lihat mereka.”
Yulia tersenyum jahil.
“Sudah kaya pasangan.”
Endang langsung ikut mendekat.
“Fix. Tinggal tunggu jadian.”
Karwan menghela napas kecil.
“Kalian jangan terlalu ganggu.”
Namun justru itu yang membuat semuanya terasa hidup.
Di tengah hujan yang semakin deras…
Sinok tiba-tiba berkata pelan,
“Aku takut sebenarnya.”
Akang sedikit mengernyit.
“Takut apa?”
Sinok menunduk sebentar.
“Takut dekat sama orang lagi.”
Suasana langsung sedikit berubah.
Suara hujan terdengar makin jelas.
Akang memandang wajah Sinok yang kini terlihat lebih sendu.
“Karena Nur Rohman?” tanyanya hati-hati.
Sinok mengangguk kecil.
“Dulu aku percaya banget sama dia.”
Tatapannya kosong melihat hujan di luar.
“Dan waktu dia pergi… rasanya seperti semua yang aku percaya ikut hilang.”
Akang diam.
Dadanya terasa sesak mendengar suara Sinok yang pelan dan rapuh seperti itu.
“Aku tidak mau kejadian itu terulang lagi.”
Kalimat itu membuat Akang terdiam beberapa detik.
Lalu akhirnya ia berkata lirih,
“Aku memang bukan orang sempurna.”
Sinok perlahan menoleh.
“Tapi…”
Akang tersenyum kecil,
“…aku tidak suka pergi tanpa alasan.”
Mata Sinok sedikit melembut.
Dan untuk pertama kalinya…
ia benar-benar merasa tenang saat berada dekat Akang.
Namun tanpa mereka sadari…
dari luar kedai kopi…
seseorang sedang memperhatikan.
Rahmad.
Bersama Anton di sampingnya.
Mereka berdiri di bawah atap toko seberang sambil melihat Akang dan Sinok yang sedang berbicara berdua.
Wajah Rahmad gelap.
Tatapannya penuh emosi yang mulai sulit disembunyikan.
Anton menoleh hati-hati.
“Mad…”
Rahmad mengepalkan tangan pelan.
“Aku benci lihat dia nyaman sama orang lain.”
Anton menyeringai kecil.
“Kalau begitu mulai saja.”
Rahmad tersenyum tipis dingin.
“Iya.”
Hujan malam itu turun semakin deras di Kuala Kapuas.
Dan di tengah suasana romantis yang mulai tumbuh perlahan…
sebuah pengkhianatan diam-diam sedang dipersiapkan.
BAB XII
FITNAH YANG MULAI MENYEBAR
Senin pagi di Kuala Kapuas terasa sibuk seperti biasa.
Jalanan depan sekolah dipenuhi kendaraan siswa yang datang tergesa-gesa. Pedagang sarapan di pinggir jalan ramai dikerubungi pembeli. Udara pagi masih terasa dingin sisa hujan semalam.
Namun ada sesuatu yang berbeda pagi itu.
Suasana sekolah terasa lebih berisik.
Lebih aneh.
Dan entah kenapa…
banyak mata diam-diam memperhatikan Akang.
“Bang…”
Aziz berjalan cepat menghampiri Akang di parkiran dengan wajah serius.
“Kenapa?”
“Kau jangan kaget.”
Akang langsung mengernyit.
“Kaget apa?”
Supia datang dari belakang sambil membawa ponsel.
Wajahnya juga tidak biasanya.
“Ada masalah.”
Jantung Akang langsung terasa tidak enak.
Karwan yang berdiri paling belakang hanya diam sambil menatap tajam ke arah beberapa siswa yang sedang berbisik-bisik.
“Apa sebenarnya?” tanya Akang mulai kesal.
Aziz menyerahkan ponselnya pelan.
“Lihat sendiri.”
Akang mengambil ponsel itu.
Dan dalam hitungan detik…
wajahnya langsung berubah.
Di layar ponsel terlihat sebuah unggahan anonim di media sosial sekolah.
Foto dirinya.
Foto saat ia sedang duduk dekat seorang siswi lain di Pertokoan Sanjaya beberapa hari lalu.
Sudut pengambilannya sengaja dibuat seolah mereka sangat dekat.
Padahal kenyataannya…
siswi itu hanyalah sepupu jauhnya yang kebetulan bertemu.
Namun caption di bawah foto itu membuat semuanya terlihat berbeda.
“Cowok setia katanya.”
Di bawahnya ada komentar-komentar yang mulai ramai:
- “Kasihan Sinok.”
- “Baru dekat sudah begitu.”
- “Ternyata sama saja.”
- “Playboy diam-diam.”
Dada Akang langsung terasa panas.
“Apa-apaan ini…”
Sementara itu…
di kelas Sinok suasana juga mulai ramai.
Endang yang paling pertama melihat unggahan itu langsung panik.
“NOK!”
Sinok yang sedang membuka buku langsung terkejut.
“Apa?”
Yulia mengambil ponsel Endang.
Dan beberapa detik kemudian…
raut wajahnya berubah.
“Kurang ajar…”
Sinok mulai merasa tidak tenang.
“Ada apa sih?”
Yulia menyerahkan ponsel perlahan.
“Lihat.”
Sinok membaca unggahan itu pelan.
Dan seketika…
dadanya seperti ditarik sesuatu.
Matanya terpaku pada foto Akang bersama seorang perempuan lain.
Komentar-komentar di bawahnya semakin membuat pikirannya kacau.
Endang langsung bicara cepat,
“Ini pasti salah paham.”
Namun Sinok hanya diam.
Karena jauh di dalam hatinya…
rasa takut yang selama ini ia tahan perlahan mulai muncul kembali.
Takut dikhianati.
Takut ditinggalkan.
Takut percaya lagi pada orang yang salah.
Di sisi lain sekolah…
Rahmad duduk santai di belakang kelas sambil melihat ponselnya.
Anton tersenyum kecil puas.
“Cepat juga menyebarnya.”
Rahmad terkekeh pelan.
“Orang lebih suka percaya gosip daripada penjelasan.”
Anton menatap Akang dari kejauhan yang terlihat mulai emosi.
“Kalau Sinok percaya?”
Rahmad menyandarkan tubuh dengan santai.
“Bagus.”
Tatapannya berubah dingin.
“Biar dia tahu Akang tidak sebaik yang dia kira.”
Jam istirahat pertama…
suasana sekolah makin panas.
Beberapa siswa mulai sengaja membicarakan Akang keras-keras saat ia lewat.
“Yang sok setia itu kan?”
“Iya ternyata banyak main.”
Akang mengepalkan tangan menahan emosi.
Aziz berjalan di sampingnya sambil kesal.
“Kurang ajar siapa yang mulai ini.”
Supia menghela napas.
“Jelas ada yang sengaja.”
Karwan bicara pelan namun tajam,
“Dan kita tahu siapa.”
Akang langsung berhenti berjalan.
Tatapannya menuju kelas Rahmad.
Di sana…
Rahmad terlihat santai sambil tertawa kecil bersama Anton.
Dan untuk pertama kalinya…
Akang benar-benar marah.
Tanpa pikir panjang…
Akang berjalan cepat menuju kelas itu.
Aziz langsung panik.
“Bang!”
Supia ikut mengejar.
Namun Akang sudah terlanjur berdiri di depan Rahmad.
Suasana kelas langsung sunyi.
Rahmad mengangkat alis santai.
“Kenapa?”
Akang menatap tajam.
“Kau yang buat itu?”
Rahmad tertawa kecil.
“Bukti?”
“Kau jangan main belakang.”
Anton langsung berdiri.
“Hati-hati ngomong.”
Suasana mulai panas.
Beberapa siswa bahkan mulai keluar kelas untuk melihat.
Rahmad perlahan berdiri.
Tatapannya dingin.
“Kalau memang bersih kenapa takut?”
Kalimat itu membuat emosi Akang meledak.
“Aku tidak takut!”
“Terus kenapa marah?”
BRAK!
Akang memukul meja keras hingga semua orang terkejut.
“Jangan bawa-bawa Sinok!”
Suasana makin tegang.
Aziz langsung menarik bahu Akang.
“Sudah!”
Namun Rahmad justru tersenyum tipis puas.
Karena itulah yang ia inginkan.
Melihat Akang kehilangan kendali.
Dan tepat saat suasana memuncak…
Sinok datang.
Semua langsung diam.
Sinok berdiri di depan pintu kelas dengan wajah tegang.
Tatapannya bergantian melihat Akang dan Rahmad.
“Ada apa ini?”
Tak ada yang langsung menjawab.
Hanya suara napas berat dan suasana panas yang memenuhi ruangan.
Rahmad tersenyum kecil.
“Tanya saja Akang.”
Akang langsung menoleh cepat.
“Sinok, dengar dulu—”
Namun Sinok memotong pelan.
“Itu foto siapa?”
Pertanyaan sederhana itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada amarah.
Akang diam beberapa detik.
“Itu sepupuku.”
Rahmad langsung tertawa kecil sinis.
“Alasan klasik.”
Akang menatap tajam.
“Diam kau.”
Sinok terlihat bingung.
Pikirannya kacau.
Tatapan orang-orang di sekitar membuat dadanya semakin sesak.
Dan luka lama tentang pengkhianatan mulai terasa hidup kembali.
“Aku pulang dulu,” katanya pelan.
Lalu ia pergi begitu saja.
“Sinok!”
Akang langsung mengejar.
Namun Sinok terus berjalan cepat keluar sekolah.
Hujan kecil mulai turun lagi di halaman.
Langit kembali gelap.
Dan untuk pertama kalinya sejak mereka dekat…
jarak mulai terasa di antara mereka.
Sinok berhenti di bawah pohon dekat gerbang sekolah.
Napaknya gemetar kecil.
Bukan karena hujan.
Tapi karena pikirannya sendiri.
Tak lama kemudian…
Akang datang menghampiri dengan napas memburu.
“Itu benar-benar sepupuku.”
Sinok tidak langsung menatapnya.
“Aku capek percaya sama orang…”
Suara gadis itu lirih.
Rapuh.
Dan itu membuat hati Akang terasa hancur.
“Aku bukan Nur Rohman,” kata Akang pelan.
Sinok akhirnya menoleh.
Matanya mulai berkaca-kaca.
“Aku takut salah lagi.”
Hujan turun semakin deras.
Dan di tengah cuaca dingin Kuala Kapuas sore itu…
untuk pertama kalinya hubungan mereka benar-benar diuji oleh rasa curiga dan luka masa lalu.
BAB XIII
AIR MATA DI BUNDARAN BESAR
Sore itu Kuala Kapuas diguyur hujan cukup deras.
Langit kota benar-benar gelap sejak siang. Jalanan mulai dipenuhi genangan kecil. Lampu kendaraan memantul di aspal basah, menciptakan suasana sendu yang terasa begitu cocok dengan hati Sinok saat itu.
Ia duduk sendirian di salah satu bangku taman dekat Bundaran Besar Kuala Kapuas.
Payung kecil di tangannya tidak banyak membantu menahan tempias hujan yang terbawa angin.
Namun bukan dingin yang membuat tubuhnya gemetar.
Melainkan pikirannya sendiri.
Sinok memeluk tasnya pelan.
Tatapannya kosong memandang ikon taman kota yang berdiri megah di tengah bundaran.
Biasanya tempat itu ramai dan terasa menyenangkan.
Namun sore ini…
semuanya terasa sepi.
Ucapan-ucapan orang di sekolah terus terngiang di kepalanya.
“Cowok setia katanya.”
“Kasihan Sinok.”
“Ternyata sama saja.”
Dan yang paling membuatnya takut…
ia mulai mengingat Nur Rohman lagi.
Dulu semuanya juga dimulai dari hal kecil.
Dari gosip.
Dari keraguan.
Dari luka yang perlahan tumbuh diam-diam.
Sampai akhirnya ia benar-benar ditinggalkan.
Sinok menunduk.
Air matanya jatuh perlahan.
Sementara itu…
Akang sedang mencari Sinok ke mana-mana.
Ia bahkan tidak peduli hujan yang membuat bajunya basah.
Aziz yang ikut mencarinya mulai kelelahan.
“Bang… coba telepon lagi.”
“Aku sudah.”
“Diangkat?”
“Tidak.”
Supia menghela napas panjang.
“Dia pasti lagi tenangin diri.”
Karwan yang sedari tadi diam akhirnya berkata pelan,
“Coba ke Bundaran Besar.”
Akang langsung menoleh.
“Kenapa?”
“Kalau dia sedih… biasanya suka duduk di sana.”
Tanpa banyak bicara lagi…
Akang langsung menyalakan motor dan melaju menerobos hujan.
Di bawah hujan sore Kuala Kapuas…
lampu-lampu taman mulai menyala satu per satu.
Dan di bangku taman itu…
Sinok masih diam sendirian.
Sampai suara motor berhenti tak jauh darinya.
Ia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang.
Langkah kaki itu sudah terlalu ia kenal.
Akang berdiri beberapa meter di depannya dengan napas sedikit berat.
Rambutnya basah terkena hujan.
Jaket hitamnya juga sudah setengah kuyup.
Namun yang paling jelas terlihat…
adalah tatapan cemas di matanya.
“Kau dicari semua orang,” katanya pelan.
Sinok tersenyum kecil pahit.
“Aku cuma mau sendiri.”
Akang perlahan mendekat.
“Aku tidak suka lihat kau nangis.”
Kalimat itu membuat Sinok langsung menunduk lagi.
Karena suara Akang terdengar begitu tulus.
Begitu khawatir.
Dan justru itu yang membuat pertahanannya perlahan runtuh.
“Aku takut…”
Suara Sinok lirih bercampur suara hujan.
Akang diam mendengarkan.
“Aku takut semua ini cuma sementara.”
Tatapannya masih kosong ke jalanan basah.
“Dulu Nur Rohman juga baik.”
Dada Akang terasa sesak mendengar nama itu lagi.
Namun ia tetap diam.
“Aku percaya banget sama dia…”
Air mata Sinok jatuh lagi.
“Dan waktu dia pergi… aku merasa bodoh karena terlalu percaya.”
Hujan turun makin deras.
Angin sore meniup ranting-ranting pohon taman.
Dan di tengah suasana dingin itu…
Akang perlahan duduk di samping Sinok.
Tidak terlalu dekat.
Namun cukup untuk membuat gadis itu merasa tidak sendiri.
“Aku tidak bisa janji jadi orang paling sempurna,” katanya pelan.
Sinok menunduk diam.
“Tapi aku tidak pernah main-main soal perasaan.”
Kalimat itu sederhana.
Tidak berlebihan.
Namun justru terdengar sangat jujur.
Beberapa detik mereka hanya diam mendengar hujan.
Lalu Sinok bertanya pelan,
“Kalau suatu hari kau bosan?”
Akang langsung menjawab tanpa berpikir panjang,
“Aku takut kehilangan kau bahkan sebelum punya.”
Jantung Sinok langsung berdegup pelan.
Ia perlahan menoleh.
Dan untuk pertama kalinya…
ia melihat mata Akang yang benar-benar serius.
Tidak ada candaan.
Tidak ada kepura-puraan.
Hanya ketulusan yang diam-diam membuat hatinya tenang.
Namun tepat saat suasana mulai mencair…
sebuah suara tepuk tangan terdengar dari belakang.
“Romantis sekali.”
Mereka langsung menoleh.
Rahmad berdiri di sana bersama Anton di bawah payung hitam.
Tatapannya tajam.
Senyumnya tipis.
Dan suasana hangat itu langsung berubah dingin seketika.
Sinok langsung mengusap air matanya cepat.
Rahmad mendekat pelan.
“Hujan-hujanan begini demi cinta?”
Aziz yang baru datang bersama Supia dan Karwan langsung mengernyit kesal.
“Mulai lagi dia.”
Akang berdiri perlahan.
Tatapannya tajam ke arah Rahmad.
“Apa maumu?”
Rahmad tersenyum kecil.
“Aku cuma heran.”
Tatapannya lalu berpindah ke Sinok.
“Kau gampang sekali percaya lagi.”
Kalimat itu langsung menusuk.
Sinok membeku.
Rahmad melanjutkan pelan,
“Orang yang terlalu cepat nyaman biasanya paling cepat kecewa.”
“Cukup!” bentak Akang.
Suasana langsung menegang.
Lampu taman menyala terang di tengah hujan deras.
Orang-orang mulai memperhatikan dari kejauhan.
Rahmad mendekat sedikit.
“Aku cuma tidak mau dia sakit lagi.”
Akang mengepalkan tangan.
“Jangan pura-pura peduli.”
Rahmad tertawa kecil dingin.
“Setidaknya aku tidak dekat sama banyak perempuan.”
BRAK!
Akang langsung menarik kerah baju Rahmad.
Semua orang terkejut.
“Bang!” seru Aziz cepat.
Anton langsung maju.
“Lepas!”
Suasana semakin kacau.
Sinok panik melihat keduanya hampir berkelahi.
“HENTI!”
Suara Sinok akhirnya membuat semuanya diam.
Napaknya memburu.
Matanya masih merah karena menangis.
“Aku capek…”
Suasana langsung hening.
Sinok menatap Rahmad kecewa.
“Kenapa kalian selalu bikin semuanya tambah rumit?”
Rahmad membeku sesaat.
Sedangkan Akang perlahan melepaskan kerah bajunya.
Hujan masih turun deras.
Dan di tengah Bundaran Besar Kuala Kapuas sore itu…
untuk pertama kalinya…
Sinok mulai merasa bahwa dirinya sedang diperebutkan.
Namun anehnya…
hal itu justru membuat hatinya semakin lelah.
BAB XIV
MALAM YANG PENUH SALAH PAHAM
Malam di Kuala Kapuas terasa lebih dingin setelah hujan panjang sore tadi.
Jalanan kota masih basah. Lampu-lampu kendaraan memantul di aspal hitam yang mengilap. Angin sungai bertiup lembut membawa aroma tanah basah dan udara malam yang menusuk pelan ke kulit.
Namun dinginnya malam itu…
tidak lebih dingin daripada suasana hati Akang dan Sinok.
Setelah kejadian di Bundaran Besar sore tadi…
Sinok memilih pulang lebih dulu.
Tanpa banyak bicara.
Tanpa menoleh lagi.
Dan itu membuat dada Akang terasa tidak tenang sepanjang malam.
Ia duduk sendirian di Dermaga KP3 sambil menatap sungai yang gelap.
Biasanya tempat itu membuatnya tenang.
Namun malam ini…
kepalanya penuh.
Ucapan Rahmad terus terngiang.
Tatapan kecewa Sinok juga tidak bisa hilang dari pikirannya.
Aziz yang duduk di sebelahnya menghela napas panjang.
“Bang…”
Akang diam.
“Kau jangan terlalu emosi.”
“Aku cuma tidak suka dia terus ganggu Sinok.”
Supia menyeruput kopi panas pelan.
“Tapi kalau kau terus terpancing… Rahmad justru senang.”
Karwan yang sejak tadi diam akhirnya bicara pelan,
“Orang yang sedang cemburu gampang kehilangan akal.”
Akang tertawa kecil pahit.
“Mungkin aku memang begitu.”
Sementara itu…
di rumahnya…
Sinok juga tidak bisa tenang.
Ia duduk di dekat jendela kamar sambil memeluk lutut.
Hujan kecil masih terdengar di luar.
Lampu kamar redup membuat suasana semakin sendu.
Pikirannya benar-benar kacau.
Tentang Akang.
Tentang Rahmad.
Tentang rasa takutnya sendiri.
Dan yang paling membuatnya bingung…
adalah perasaan hangat yang justru semakin kuat saat bersama Akang.
Yulia yang sedang video call dari rumah langsung menghela napas panjang.
“Kau suka sama dia.”
Sinok langsung mengelak cepat.
“Tidak.”
“Bohong.”
“Serius.”
“Kalau serius kenapa dari tadi mikirin dia terus?”
Sinok diam.
Karena ia sendiri tidak bisa menyangkalnya lagi.
Di tengah obrolan itu…
ponsel Sinok tiba-tiba berbunyi.
Pesan masuk dari nomor tak dikenal.
Ia membuka pelan.
Dan seketika wajahnya berubah.
Itu foto Akang.
Foto saat sedang tertawa bersama seorang perempuan di sebuah kafe kecil.
Disertai pesan singkat:
“Yakin dia cuma fokus sama kamu?”
Jantung Sinok langsung berdegup tidak tenang.
Yulia yang melihat ekspresinya langsung curiga.
“Ada apa?”
Sinok tidak langsung menjawab.
Ia memperbesar foto itu.
Dan semakin melihat…
dadanya semakin sesak.
Karena perempuan dalam foto itu terlihat sangat dekat dengan Akang.
Padahal…
kenyataannya jauh berbeda.
Malam itu Akang sebenarnya hanya membantu sepupunya memilih hadiah ulang tahun untuk adiknya.
Namun foto itu sengaja diambil dari sudut yang menyesatkan.
Dan orang yang mengirimnya…
tentu saja Anton.
Di tempat lain…
Rahmad duduk santai di warung kopi pinggir jalan bersama Anton.
Suara musik pelan terdengar dari radio tua di sudut warung.
Rahmad tersenyum kecil sambil memainkan korek api.
“Sudah dikirim?”
Anton mengangguk puas.
“Sudah.”
Rahmad tertawa kecil dingin.
“Bagus.”
Tatapannya kosong melihat jalanan malam yang basah.
“Kalau hatinya mulai ragu…”
ia berkata lirih,
“…tinggal tunggu semuanya hancur sendiri.”
Di rumah…
Sinok masih menatap foto itu.
Pikirannya mulai kacau lagi.
Luka lama perlahan terbuka.
Ketakutan lama kembali hidup.
Dan tanpa sadar…
air matanya jatuh pelan.
Yulia mulai kesal.
“Nok, jangan langsung percaya.”
“Tapi fotonya…”
“Foto bisa menipu.”
Sinok menggigit bibir bawahnya pelan.
“Aku capek kalau harus curiga terus.”
Suara gadis itu mulai bergetar.
Dan untuk pertama kalinya…
Yulia melihat Sinok benar-benar takut jatuh terlalu dalam.
Sementara itu…
Akang sama sekali tidak tahu apa yang sedang terjadi.
Ia bahkan masih duduk di dermaga bersama sahabat-sahabatnya.
Aziz menghela napas sambil melihat langit malam.
“Menurutku Rahmad tidak akan berhenti.”
Supia mengangguk.
“Dia terlalu obsesif.”
Karwan menatap Akang pelan.
“Kau harus jaga Sinok.”
Akang terdiam beberapa detik.
Lalu berkata lirih,
“Aku takut malah jadi alasan dia terluka.”
Kalimat itu membuat suasana mendadak sunyi.
Karena mereka semua tahu…
Akang benar-benar serius soal Sinok.
Tengah malam…
akhirnya Akang memutuskan pulang.
Namun saat membuka ponsel…
ia melihat satu pesan dari Sinok.
Singkat.
Namun cukup membuat dadanya langsung tidak tenang.
“Akang… sebenarnya kau serius tidak sama aku?”
Jantung Akang langsung berdegup keras.
Ia cepat-cepat mengetik balasan.
“Serius.”
Pesan terkirim.
Namun beberapa menit berlalu…
tak ada jawaban.
Akang mulai gelisah.
Ia menelepon.
Tidak diangkat.
Menelepon lagi.
Tetap tidak diangkat.
Dan entah kenapa…
malam itu tiba-tiba terasa sangat panjang.
Di kamarnya…
Sinok menatap layar ponselnya yang terus menyala karena panggilan dari Akang.
Namun ia tidak punya keberanian mengangkatnya.
Bukan karena marah.
Melainkan karena takut.
Takut semakin berharap.
Takut semakin percaya.
Dan takut…
kalau akhirnya ia harus kembali patah hati seperti dulu.
Air mata kembali jatuh di pipinya.
Sementara di luar sana…
hujan kecil kembali turun membasahi Kuala Kapuas.
Dan malam itu…
tanpa mereka sadari…
sebuah salah paham mulai tumbuh perlahan di antara dua hati yang sebenarnya saling mencintai.
BAB XV
NUR ROHMAN DATANG KEMBALI
Pagi itu Kuala Kapuas diselimuti kabut tipis sisa hujan malam.
Udara terasa dingin dan lembap. Jalanan depan sekolah masih dipenuhi genangan kecil. Langit tampak pucat tanpa cahaya matahari yang jelas.
Namun yang paling suram pagi itu…
adalah suasana hati Akang.
Sejak semalam ia tidak bisa tidur.
Pesan dari Sinok terus terngiang di kepalanya.
“Akang… sebenarnya kau serius tidak sama aku?”
Dan yang paling membuatnya gelisah…
Sinok tidak lagi membalas pesannya setelah itu.
“Bang…”
Aziz menatap sahabatnya heran saat mereka duduk di kantin pagi itu.
“Mukamu kaya orang habis ditinggal kawin.”
Akang hanya diam sambil memainkan sedotan minumannya.
Supia ikut menghela napas.
“Semalam ribut lagi?”
Akang mengangguk kecil.
Karwan yang sedari tadi diam akhirnya bertanya pelan,
“Karena foto itu?”
Akang langsung menatap.
“Kalian tahu?”
Aziz mengangguk kesal.
“Sudah menyebar lagi tadi malam.”
“Kurang ajar…”
Akang memijat pelipisnya frustrasi.
Ia mulai sadar…
semua ini memang sengaja dimainkan seseorang.
Dan orang itu jelas Rahmad.
Di sisi lain sekolah…
Sinok datang lebih pagi dari biasanya.
Namun hari itu ia tidak banyak bicara.
Yulia yang berjalan di sampingnya langsung menghela napas.
“Kau masih mikirin itu?”
Sinok menjawab lirih,
“Aku cuma bingung.”
“Bingung atau takut?”
Sinok diam.
Dan itu sudah cukup menjadi jawaban.
Karena jauh di dalam hatinya…
ia memang takut.
Takut terlalu berharap pada seseorang lagi.
Saat mereka berjalan menuju kelas…
langkah Sinok tiba-tiba terhenti.
Seseorang berdiri di depan koridor sekolah sambil membawa payung hitam.
Nur Rohman.
Pagi itu pemuda itu terlihat lebih rapi dari biasanya. Kemeja putih dan wajah tenangnya membuat beberapa siswi langsung memperhatikannya.
Namun yang paling membuat Sinok terdiam…
adalah senyum kecil di wajahnya.
“Hai,” ucap Nur Rohman pelan.
Yulia langsung melirik Sinok cepat.
Suasana mendadak canggung.
“Aku boleh bicara sebentar?” tanya Nur Rohman hati-hati.
Sinok ragu beberapa detik.
Namun akhirnya mengangguk kecil.
Yulia yang mengerti situasi langsung mundur pelan.
“Nanti aku ke kelas dulu.”
Kini tinggal mereka berdua di koridor yang mulai ramai oleh siswa lain.
Angin pagi bertiup lembut.
Dan kenangan lama perlahan kembali terasa.
“Aku dengar kau lagi dekat sama seseorang,” kata Nur Rohman pelan.
Sinok menunduk tipis.
“Kenapa?”
Nur Rohman tersenyum pahit.
“Aku cuma tidak mau kau salah pilih lagi.”
Kalimat itu langsung membuat Sinok mengangkat wajah.
“Apa maksudmu?”
“Aku dengar banyak hal tentang dia.”
Sinok mulai tidak nyaman.
“Kalau cuma soal foto itu—”
“Aku bukan mau jelek-jelekin dia.”
Nur Rohman memotong pelan.
“Tapi aku pernah lihat laki-laki yang kelihatannya baik… lalu berubah.”
Sinok terdiam.
Karena kalimat itu terlalu dekat dengan luka masa lalunya sendiri.
Dan tanpa mereka sadari…
dari ujung koridor…
Akang melihat semuanya.
Dadanya langsung terasa panas.
Apalagi saat melihat Sinok berbicara cukup lama dengan Nur Rohman.
Aziz yang berdiri di sampingnya langsung menghela napas.
“Waduh…”
Supia ikut menatap situasi itu dengan wajah tidak nyaman.
Karwan tetap tenang namun sorot matanya serius.
Akang mengepalkan tangan pelan.
Entah kenapa…
rasa takut kehilangan kembali muncul.
Jam istirahat…
suasana sekolah terasa semakin rumit.
Kini gosip baru mulai berkembang:
- Sinok dekat lagi dengan Nur Rohman.
- Akang mulai dijauhi.
- Hubungan mereka retak.
Dan tentu saja…
Rahmad menikmati semua itu diam-diam.
Ia duduk santai di belakang kelas sambil tersenyum tipis.
Anton terkekeh kecil.
“Sekarang mantannya ikut bantu.”
Rahmad menyandarkan tubuh puas.
“Kadang kita tidak perlu menghancurkan hubungan orang.”
Tatapannya dingin.
“Cukup buat mereka saling ragu.”
Sore harinya…
langit kembali mendung.
Akang memilih duduk sendiri di taman kecil dekat Jalan Simpang Adipura.
Biasanya tempat itu ramai.
Namun sore itu suasana terasa lebih sepi karena gerimis mulai turun.
Ia memandang jalanan kosong dengan pikiran kacau.
Sampai suara langkah pelan terdengar mendekat.
Sinok.
Akang langsung berdiri pelan.
Namun suasana di antara mereka kini terasa berbeda.
Canggung.
Penuh pikiran masing-masing.
“Kau sengaja menghindar?” tanya Akang akhirnya.
Sinok menggeleng kecil.
“Aku cuma bingung harus bicara apa.”
Akang tertawa kecil pahit.
“Karena Nur Rohman datang lagi?”
Sinok langsung menatap.
“Jangan mulai begitu.”
“Aku lihat kalian tadi.”
“Dia cuma bicara.”
“Tapi kau nyaman ngobrol sama dia.”
Kalimat itu terdengar lebih emosional daripada yang Akang rencanakan.
Sinok mulai kesal.
“Terus kenapa?”
“Karena aku takut kehilangan kau.”
Suasana langsung hening.
Gerimis turun makin rapat.
Lampu jalan mulai menyala satu per satu.
Dan untuk pertama kalinya…
Akang mengucapkan ketakutannya secara langsung.
Sinok terdiam beberapa detik.
Tatapannya perlahan melembut.
Namun luka dan keraguan di hatinya masih terlalu besar untuk hilang begitu saja.
“Aku juga takut…”
suaranya lirih.
Akang menatapnya.
“Takut apa?”
Sinok menunduk pelan.
“Takut semua ini tidak bertahan lama.”
Dada Akang terasa sesak mendengar itu.
Karena ia sadar…
musuh terbesar mereka bukan Rahmad.
Bukan Nur Rohman.
Melainkan rasa takut di hati masing-masing.
Namun tepat saat suasana mulai tenang…
sebuah motor berhenti tak jauh dari taman.
Rahmad turun bersama Anton.
Wajahnya langsung berubah saat melihat Akang dan Sinok bersama lagi.
Anton berbisik pelan,
“Belum selesai juga ternyata.”
Rahmad menyeringai tipis dingin.
“Kalau begitu…”
tatapannya tajam ke arah Akang,
“…aku buat dia benar-benar kehilangan.”
BAB XVI
PESTA ULANG TAHUN YULIA
Malam Sabtu di Kuala Kapuas kembali ramai.
Lampu-lampu kota menyala terang menghiasi jalanan yang mulai dipenuhi anak muda. Musik dari kafe-kafe kecil terdengar samar di sepanjang pusat kota. Angin malam bertiup lembut membawa aroma sungai dan udara dingin khas setelah hujan.
Dan malam itu…
rumah Yulia menjadi pusat keramaian.
“WOI CEPAT MASUK!”
Suara Yulia terdengar nyaring dari depan rumahnya yang sudah dipenuhi balon dan lampu hias sederhana.
Malam itu Yulia mengadakan pesta ulang tahun kecil-kecilan bersama teman-teman dekatnya.
Tidak terlalu mewah.
Namun suasananya hangat.
Meja panjang penuh makanan ringan memenuhi teras rumah. Musik pop pelan terdengar dari speaker kecil. Beberapa teman sekolah sudah datang sambil tertawa dan bercanda.
Dan tentu saja…
Endang menjadi orang paling ribut.
“YA ALLAH CANTIK SEKALI DEKORASINYA!”
Yulia langsung melotot.
“Jangan teriak kaya toa masjid!”
Endang malah tertawa keras.
“Ini namanya apresiasi.”
Tak lama kemudian…
Akang datang bersama Aziz, Supia, dan Karwan.
Aziz langsung bersiul panjang melihat suasana rumah.
“Wih… kaya acara lamaran.”
Supia mengangguk dramatis.
“Tinggal Akang sama Sinok duduk pelaminan.”
Akang langsung memukul lengan mereka.
“Mulut kalian tidak ada rem.”
Karwan hanya tersenyum kecil sambil memperhatikan sekitar.
Namun berbeda dari biasanya…
malam itu Akang terlihat lebih tegang.
Karena sejak sore tadi…
hubungannya dengan Sinok masih terasa menggantung.
Belum benar-benar membaik.
Namun juga belum benar-benar renggang.
Dan itu justru membuat semuanya terasa lebih rumit.
Beberapa menit kemudian…
Sinok datang.
Dan seperti biasa…
dunia Akang langsung terasa berhenti sesaat.
Malam itu Sinok mengenakan dress panjang sederhana berwarna krem dengan jilbab coklat muda yang lembut. Tidak berlebihan.
Namun justru itu yang membuatnya terlihat sangat cantik.
Aziz langsung berbisik pelan ke Supia,
“Wajah Akang langsung tidak berfungsi.”
Supia menahan tawa.
“Kasihan jatuh terlalu dalam.”
Akang pura-pura tidak dengar.
Padahal jantungnya benar-benar kacau.
Yulia langsung menarik Sinok masuk.
“Cepat sini!”
Endang ikut heboh sambil membawa topi ulang tahun.
“FOTO DULU!”
Dalam hitungan menit suasana rumah kembali ramai oleh suara tawa dan candaan.
Untuk sesaat…
semua masalah terasa menghilang.
Akang dan Sinok pun mulai kembali berbicara meski masih sedikit canggung.
“Kau datang juga,” kata Akang pelan.
Sinok mengangguk kecil.
“Masa tidak datang.”
Hening sesaat.
Lalu Akang berkata hati-hati,
“Masih marah?”
Sinok tersenyum kecil lemah.
“Aku tidak marah.”
“Terus?”
“Aku cuma takut.”
Jawaban itu langsung membuat dada Akang terasa sesak lagi.
Namun sebelum suasana jadi terlalu serius…
Aziz tiba-tiba muncul di tengah mereka.
“EH FOTO BARENG!”
Akang langsung menghela napas panjang.
“Penyelamat suasana gagal.”
Sinok tertawa kecil untuk pertama kalinya malam itu.
Dan entah kenapa…
melihat tawa itu membuat hati Akang sedikit tenang.
Acara semakin ramai.
Musik diputar lebih keras.
Beberapa teman mulai bernyanyi bersama.
Endang bahkan joget tidak jelas di tengah teras sampai semua orang tertawa.
“DANG MALU-MALUIN!” teriak Yulia sambil tertawa.
“INI SENI!”
Aziz ikut masuk membuat kekacauan.
Supia sampai memegang perut karena terlalu banyak tertawa.
Bahkan Karwan yang biasanya paling pendiam pun mulai terlihat lebih santai malam itu.
Namun di balik suasana hangat itu…
masalah belum benar-benar pergi.
Karena sekitar pukul sembilan malam…
Rahmad datang bersama Anton.
Suasana langsung berubah tipis.
Beberapa orang mulai saling melirik.
Yulia yang melihat langsung mengernyit kecil.
“Kenapa dia datang…”
Rahmad masuk dengan senyum santai seolah tidak terjadi apa-apa.
“Selamat ulang tahun,” katanya sambil menyerahkan hadiah kecil ke Yulia.
Yulia menerimanya canggung.
“Makasih.”
Namun tatapan Rahmad sejak awal sebenarnya hanya tertuju pada satu orang.
Sinok.
Dan itu langsung disadari Akang.
Rahmad berjalan mendekat.
“Malam.”
Sinok menjawab singkat,
“Malam.”
Anton ikut duduk dekat Aziz dan Supia seolah semuanya baik-baik saja.
Namun suasana perlahan mulai tidak nyaman.
Rahmad memandang Akang sambil tersenyum tipis.
“Kalian sudah baikan?”
Pertanyaan itu terdengar santai.
Namun jelas mengandung sesuatu.
Akang menjawab datar,
“Tidak ada urusan sama kau.”
Rahmad tertawa kecil.
“Masih sensitif ternyata.”
Sinok mulai kesal.
“Rahmad, jangan mulai malam ini.”
“Aku cuma ngobrol.”
Namun tatapannya tetap tajam ke arah Akang.
Dan benar saja…
beberapa menit kemudian masalah mulai muncul.
Saat semua orang sedang sibuk bernyanyi…
Anton tiba-tiba sengaja memperlihatkan sesuatu di ponselnya pada beberapa teman.
Foto Akang bersama perempuan lain.
Foto yang sama.
Dalam hitungan menit…
bisik-bisik kembali muncul.
“Eh itu lagi.”
“Kasihan Sinok.”
“Benar ternyata?”
Suasana pesta perlahan berubah aneh.
Sinok yang menyadari mulai merasa tidak nyaman.
Akang langsung melihat Anton tajam.
“Kau sengaja?”
Anton pura-pura polos.
“Hah? Aku cuma lihat foto.”
Rahmad tersenyum kecil puas.
Dan emosi Akang akhirnya mulai naik lagi.
“CUKUP!”
Suara Akang membuat semua orang mendadak diam.
Musik dimatikan.
Suasana pesta langsung sunyi.
Akang berdiri sambil menatap Anton dan Rahmad tajam.
“Kalau ada masalah sama aku, jangan bawa-bawa Sinok terus.”
Rahmad ikut berdiri.
“Kalau memang tidak salah kenapa marah?”
“Kau jangan cari gara-gara.”
“Aku cuma buka kenyataan.”
Suasana mulai panas.
Aziz langsung berdiri siap menahan Akang kalau situasi memburuk.
Supia terlihat tegang.
Karwan menatap tajam ke arah Rahmad.
Dan di tengah semua itu…
Sinok merasa kepalanya mulai penuh lagi.
“Aku capek…”
Suara lirih Sinok membuat semua orang diam.
Matanya mulai berkaca-kaca.
Tatapannya lelah.
“Kenapa semuanya jadi begini…”
Suasana langsung berubah sunyi.
Bahkan Rahmad sedikit terdiam melihat Sinok hampir menangis.
Namun Akang justru terlihat paling hancur.
Karena ia sadar…
orang yang paling terluka dari semua ini bukan dirinya.
Melainkan Sinok.
Tanpa berkata apa-apa lagi…
Sinok langsung pergi keluar rumah.
“Sinok!”
Akang spontan mengejar.
Hujan kecil ternyata sudah mulai turun lagi di luar.
Lampu jalan memantul di aspal basah.
Dan malam itu…
di tengah ulang tahun yang seharusnya penuh kebahagiaan…
hubungan mereka kembali berada di ujung kesalahpahaman dan emosi yang semakin sulit dikendalikan.
BAB XVII
DERMAGA KP3 DAN PENGAKUAN YANG TERLAMBAT
Malam semakin larut di Kuala Kapuas.
Gerimis kecil masih turun membasahi jalanan kota. Lampu-lampu kendaraan tampak samar tertutup tipisnya hujan malam. Suasana yang biasanya hangat kini terasa dingin dan sunyi.
Sementara itu…
Sinok berjalan cepat meninggalkan rumah Yulia.
Langkahnya terburu-buru.
Napasnya tidak teratur.
Air matanya bercampur dengan rintik hujan yang membasahi pipinya.
Dadanya sesak.
Kepalanya penuh.
Dan untuk pertama kalinya…
ia benar-benar lelah dengan semua kerumitan itu.
“Sinok!”
Suara Akang terdengar dari belakang.
Namun Sinok terus berjalan.
Bukan karena membenci.
Melainkan karena ia takut jika berhenti…
ia akan semakin sulit menjaga hatinya sendiri.
Akang akhirnya berhasil menyusul dan berdiri di depan Sinok.
Hujan kecil membasahi rambut dan jaket mereka.
Lampu jalan membuat suasana malam terasa sendu.
“Tunggu dulu…”
Sinok menunduk.
“Aku capek, Kang…”
Suara gadis itu pelan.
Rapuh.
Dan itu langsung membuat hati Akang terasa hancur.
“Aku tidak pernah minta semua ini terjadi,” kata Akang cepat.
Sinok tersenyum kecil pahit.
“Tapi semuanya selalu jadi rumit.”
Hening beberapa detik.
Suara hujan terdengar lirih di sekitar mereka.
Lalu Sinok berkata lagi,
“Aku cuma mau hubungan yang tenang.”
Akang menatap wajahnya yang mulai basah oleh air mata.
“Aku juga.”
“Terus kenapa semuanya malah begini?”
Akang tidak langsung bisa menjawab.
Karena jujur…
ia sendiri juga mulai lelah menghadapi Rahmad, gosip, dan semua fitnah yang terus muncul.
Namun satu hal yang paling ia takutkan…
adalah kehilangan Sinok.
“Ayo.”
Akang akhirnya berkata pelan.
Sinok mengernyit kecil.
“Ke mana?”
“Sebentar saja.”
Sinok ragu.
Namun akhirnya ia ikut.
Beberapa menit kemudian…
mereka tiba di Dermaga KP3.
Malam itu dermaga tidak terlalu ramai karena hujan kecil masih turun. Lampu-lampu warung pinggir sungai menyala redup. Suara air sungai terdengar tenang menghantam tiang dermaga.
Tempat itu kembali menjadi saksi banyak hal di antara mereka.
Tempat pertama mereka benar-benar dekat.
Tempat pertama mereka nyaman dalam diam.
Dan malam itu…
tempat itu kembali mempertemukan dua hati yang sedang sama-sama kacau.
Akang dan Sinok duduk di bangku kayu dekat pagar dermaga.
Hening.
Hanya suara sungai dan hujan kecil yang menemani.
Untuk beberapa saat…
tak ada yang bicara.
Sampai akhirnya Akang menarik napas panjang.
“Aku minta maaf.”
Sinok perlahan menoleh.
“Aku terlalu emosi.”
Hening lagi.
“Aku cuma tidak suka lihat orang bikin kau sedih.”
Kalimat itu terdengar begitu jujur.
Dan itu membuat pertahanan Sinok perlahan melemah lagi.
“Aku takut sama diriku sendiri,” kata Sinok pelan.
Akang mengernyit.
“Maksudnya?”
Sinok menunduk.
“Aku mulai nyaman banget sama kau.”
Jantung Akang langsung berdetak lebih cepat.
“Tapi semakin nyaman…”
suara Sinok makin lirih,
“…aku makin takut kehilangan.”
Angin malam bertiup dingin dari arah sungai.
Lampu kota memantul indah di permukaan air.
Dan di tengah suasana itu…
Akang perlahan berkata,
“Aku juga takut.”
Sinok mengangkat wajah perlahan.
“Aku takut suatu hari kau pergi karena capek sama semua masalah ini.”
Tatapan mereka bertemu.
Dan untuk pertama kalinya…
mereka sama-sama melihat ketakutan yang sama di mata satu sama lain.
Beberapa detik suasana menjadi sangat sunyi.
Sampai akhirnya Akang berkata pelan,
“Sinok…”
“Hm?”
“Aku suka sama kau.”
Kalimat itu akhirnya keluar juga.
Bukan lagi sekadar kode.
Bukan candaan.
Bukan sindiran halus.
Melainkan pengakuan langsung dari hati paling dalam.
Dan seketika…
jantung Sinok terasa berhenti sesaat.
Hujan kecil masih turun perlahan.
Namun suasana di dermaga malam itu terasa jauh lebih hangat.
Sinok menatap Akang lama.
Tatapan pemuda itu serius.
Tidak main-main.
Tidak ragu.
Dan entah kenapa…
itu justru membuat air matanya jatuh lagi.
“Aku takut percaya terlalu jauh…”
bisiknya lirih.
Akang tersenyum kecil.
“Aku tidak minta kau percaya langsung.”
Sinok diam.
“Tapi izinkan aku buktiin pelan-pelan.”
Kalimat sederhana itu…
justru terasa jauh lebih menenangkan daripada janji besar apa pun.
Namun tepat saat suasana mulai terasa tenang…
sebuah suara tepukan tangan terdengar dari belakang.
“Bagus sekali.”
Mereka langsung menoleh.
Rahmad.
Bersama Anton di sampingnya.
Wajah Rahmad terlihat dingin di bawah cahaya lampu dermaga.
Tatapannya tajam ke arah Akang.
“Kau memang pintar bicara.”
Suasana langsung berubah tegang.
Sinok menghela napas lelah.
“Rahmad… cukup.”
Namun Rahmad seolah tidak mendengar.
Ia melangkah mendekat.
“Aku cuma penasaran…”
tatapannya menusuk Akang,
“…berapa lama kau bisa bertahan sebelum akhirnya bosan?”
Akang langsung berdiri.
“Aku tidak seperti kau.”
Rahmad tertawa kecil dingin.
“Semua cowok sama saja.”
“Tidak.”
“Buktikan.”
Suasana makin panas.
Anton bahkan mulai siap kalau pertengkaran pecah lagi.
Namun kali ini…
Sinok berdiri di tengah mereka.
“Sudah cukup.”
Suaranya tidak keras.
Namun tegas.
Dan itu membuat semua orang diam.
Sinok menatap Rahmad kecewa.
“Aku capek terus dijadikan alasan perang kalian.”
Rahmad sedikit membeku.
Sedangkan Akang perlahan menunduk.
Karena ucapan itu memang benar.
Sinok lalu berkata pelan,
“Aku bukan hadiah yang harus diperebutkan.”
Hening.
Hanya suara hujan dan sungai yang terdengar.
Tatapan Rahmad perlahan berubah.
Untuk pertama kalinya malam itu…
ada rasa kalah di matanya.
Namun rasa itu justru berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap.
Obsesi.
Rahmad akhirnya tersenyum tipis.
Namun kali ini senyumnya terasa dingin.
“Oke.”
Ia mundur pelan.
“Kita lihat saja nanti.”
Lalu ia pergi bersama Anton meninggalkan dermaga.
Namun sebelum benar-benar pergi…
Rahmad sempat menoleh sekali lagi ke arah Akang.
Tatapannya tajam.
Penuh ancaman yang tidak terucap.
Dan entah kenapa…
malam itu Akang mulai merasa bahwa masalah mereka belum akan selesai dalam waktu dekat.
BAB XVIII
KECEMBURUAN YANG DIAM-DIAM TUMBUH
Pagi di Kuala Kapuas terasa lebih cerah setelah beberapa hari terus diguyur hujan.
Langit biru mulai terlihat kembali. Cahaya matahari memantul indah di permukaan Sungai Kapuas yang tenang. Jalanan kota kembali ramai oleh aktivitas masyarakat yang memulai hari.
Namun di balik cerahnya pagi itu…
hubungan Akang dan Sinok justru berada dalam fase yang aneh.
Lebih dekat.
Namun juga lebih sensitif.
Setelah malam di Dermaga KP3…
tidak ada status resmi di antara mereka.
Tidak ada kata jadian.
Tidak ada kepastian hubungan.
Namun semua orang bisa melihat perubahan itu.
Cara mereka saling memandang.
Cara mereka mulai saling mencari tanpa sadar.
Dan cara keduanya mulai cemburu diam-diam.
“Bang…”
Aziz duduk di meja kantin sambil menyeringai lebar.
“Aku heran.”
Akang mengernyit.
“Heran apa?”
“Kau sekarang senyum-senyum sendiri.”
Supia langsung tertawa.
“Bahaya ini.”
Karwan yang sedang membaca buku hanya melirik sekilas.
“Orang jatuh cinta memang begitu.”
Akang langsung salah tingkah.
“Kalian berisik sekali.”
Aziz menepuk pundaknya keras.
“Sudah mengaku saja. Wajahmu sudah kaya orang habis diterima lamaran.”
Akang tertawa kecil malu.
Namun jauh di dalam hatinya…
ia memang sedang bahagia.
Karena setelah sekian banyak masalah…
Sinok akhirnya mulai membuka hatinya perlahan.
Sementara itu…
di kelas lain…
Yulia dan Endang sedang sibuk mengganggu Sinok.
“Cieeeee…”
Sinok langsung memukul lengan Yulia pelan.
“Apaan sih.”
Endang tertawa heboh.
“Semalam pulang dari dermaga jam berapa?”
Sinok langsung salah tingkah.
“Tidak lama.”
“Pegangan tangan tidak?”
“ENDANG!”
Mereka langsung tertawa bersama.
Wajah Sinok memerah malu.
Dan itu membuat Yulia makin yakin.
“Kau benar-benar suka sama Akang.”
Sinok terdiam sebentar.
Lalu tersenyum kecil.
Tipis sekali.
Namun cukup menjelaskan semuanya.
Jam istirahat pertama…
suasana sekolah cukup ramai.
Beberapa siswa sedang latihan untuk acara pentas seni sekolah minggu depan.
Musik terdengar dari aula.
Tawa dan candaan memenuhi koridor.
Dan pagi itu…
Akang sedang membantu panitia membawa beberapa properti ke aula sekolah.
Saat itulah…
seorang siswi bernama Rani menghampirinya.
Rani dikenal cukup populer di sekolah:
cantik,
aktif organisasi,
dan cukup dekat dengan banyak siswa laki-laki.
“Akang,” panggilnya sambil tersenyum manis.
Akang menoleh sopan.
“Hm?”
“Bantu aku angkat ini boleh?”
Akang mengangguk biasa saja.
“Boleh.”
Mereka lalu berjalan bersama menuju aula sambil membawa kotak dekorasi.
Tidak ada yang aneh sebenarnya.
Namun masalahnya…
Sinok melihat semuanya dari ujung koridor.
Dan entah kenapa…
dadanya langsung terasa tidak nyaman.
Yulia yang berdiri di sampingnya langsung menyadari perubahan wajah Sinok.
“Nok…”
Sinok pura-pura biasa.
“Hm?”
“Kau cemburu ya?”
“Tidak.”
“Bohong.”
Endang malah langsung heboh.
“WAH akhirnya Sinok cemburu juga!”
Sinok langsung memalingkan wajah.
Namun matanya masih diam-diam memperhatikan Akang dan Rani yang sedang berbicara sambil tertawa kecil.
Padahal…
Akang bahkan tidak melakukan apa-apa.
Namun tetap saja…
ada rasa aneh yang mulai tumbuh di hati Sinok.
Di aula…
Rani tersenyum kecil pada Akang.
“Makasih ya.”
“Iya sama-sama.”
“Kau ikut acara pentas seni?”
“Tidak.”
Rani tertawa kecil.
“Sayang sekali. Padahal kalau kau tampil pasti banyak yang suka.”
Akang hanya tersenyum sopan.
Ia tidak sadar…
dari luar aula ada sepasang mata yang mulai salah paham.
Siang harinya…
Akang akhirnya menyadari Sinok sedikit berbeda.
Biasanya gadis itu akan menyapanya lebih dulu.
Atau minimal tersenyum kecil saat bertemu.
Namun hari itu…
Sinok justru terlihat menghindar.
Dan itu langsung membuat Akang bingung.
Saat jam pulang sekolah…
Akang akhirnya menghentikan langkah Sinok di dekat parkiran.
“Kau kenapa?”
Sinok pura-pura tidak mengerti.
“Kenapa apa?”
“Kau dingin dari tadi.”
“Aku biasa saja.”
Akang menghela napas kecil.
“Karena Rani?”
Sinok langsung terdiam sesaat.
Dan itu sudah cukup menjadi jawaban.
Akang spontan tertawa kecil.
“Kau cemburu?”
Sinok langsung kesal.
“Aku tidak cemburu.”
“Bohong.”
Kini gantian Akang yang tersenyum jahil.
Wajah Sinok langsung memerah malu sekaligus kesal.
“Aku pulang.”
Namun baru beberapa langkah berjalan…
Akang menarik pelan ujung tasnya.
“Tunggu.”
Sinok menoleh cepat.
Dan untuk pertama kalinya…
Akang melihat ekspresi cemburu itu jelas di wajah Sinok.
Entah kenapa…
itu justru membuat hatinya hangat.
“Aku tidak ada apa-apa sama Rani,” kata Akang pelan.
Sinok diam.
“Aku cuma bantu angkat barang.”
Hening beberapa detik.
Lalu Akang tersenyum kecil.
“Kalau kau cemburu bilang saja.”
Sinok langsung memukul lengannya pelan.
“Menyebalkan.”
Akang tertawa kecil.
Dan akhirnya…
Sinok ikut tertawa juga.
Suasana yang sempat tegang perlahan kembali hangat.
Namun kebahagiaan kecil itu ternyata kembali tidak berlangsung lama.
Karena dari kejauhan…
Rahmad memperhatikan semuanya dengan wajah dingin.
Anton berdiri di sampingnya sambil menghela napas.
“Dia makin dekat sama Akang.”
Rahmad mengepalkan tangan pelan.
Tatapannya tajam ke arah mereka.
“Kalau begitu…”
suaranya lirih penuh emosi,
“…aku buat Sinok benar-benar kecewa sama dia.”
Anton sedikit ragu.
“Maksudmu?”
Rahmad tersenyum tipis.
Namun senyum itu kali ini terasa jauh lebih berbahaya.
“Ada cara supaya orang yang sedang jatuh cinta saling menghancurkan sendiri.”
Angin sore berembus pelan di halaman sekolah Kuala Kapuas.
Dan tanpa disadari Akang maupun Sinok…
sebuah rencana baru mulai disusun diam-diam untuk memisahkan mereka.
BAB XIX
MALAM FESTIVAL DI KOTA AIR
Kuala Kapuas malam itu terlihat jauh lebih hidup dari biasanya.
Lampu-lampu warna-warni menghiasi sepanjang jalan menuju kawasan tepian sungai. Musik tradisional bercampur suara modern terdengar dari berbagai sudut kota. Stan kuliner berjajar ramai di sekitar Dermaga KP3 hingga area taman kota.
Festival malam tahunan Kota Air akhirnya dimulai.
Masyarakat memenuhi jalanan sejak sore. Anak-anak berlarian membawa balon lampu. Aroma sate, jagung bakar, dan aneka kuliner khas memenuhi udara malam yang hangat.
Dan malam itu…
untuk sesaat Kuala Kapuas benar-benar terasa indah.
“WOI CEPAT!”
Aziz berdiri di pinggir jalan sambil melambaikan tangan heboh.
“Kita telat nanti!”
Supia menghela napas panjang.
“Acara belum mulai.”
“Tapi makanan bisa habis!”
Karwan hanya tersenyum kecil sambil berjalan santai di belakang mereka.
Sedangkan Akang…
diam-diam sedang menunggu seseorang.
Dan tentu saja…
Aziz langsung sadar.
“Tidak usah pura-pura santai.”
Akang mengernyit.
“Apa lagi?”
“Kau nunggu Sinok.”
Akang refleks menjawab,
“Tidak.”
Supia tertawa kecil.
“Kalau tidak, kenapa dari tadi lihat jalan terus?”
Akang akhirnya menyerah dan menghela napas kecil.
“Berisik kalian.”
Tak lama kemudian…
Yulia, Endang, dan Sinok datang dari arah taman kota.
Dan seperti biasa…
mata Akang langsung otomatis mencari satu wajah.
Sinok malam itu terlihat berbeda.
Ia mengenakan gamis sederhana berwarna biru muda dengan jilbab putih lembut. Cahaya lampu festival membuat wajahnya terlihat semakin manis.
Jantung Akang langsung berdetak tidak normal lagi.
Aziz sampai berbisik pelan,
“Kasihan sahabatku tumbang.”
Supia menahan tawa.
Sementara Sinok…
diam-diam juga langsung mencari Akang begitu datang.
Dan saat mata mereka bertemu…
senyum kecil otomatis muncul di wajah keduanya.
Festival malam itu benar-benar ramai.
Mereka berjalan bersama menyusuri deretan stan makanan dan kerajinan tangan. Musik live terdengar dari panggung utama dekat sungai.
Endang menjadi orang paling heboh malam itu.
“YA ALLAH RAMAI SEKALI!”
Yulia langsung menarik tangannya.
“Jangan teriak kaya kehilangan sandal.”
Aziz ikut tertawa keras.
Sementara Akang dan Sinok berjalan sedikit di belakang rombongan.
Untuk pertama kalinya setelah banyak masalah…
suasana di antara mereka terasa benar-benar ringan.
“Kau mau apa?” tanya Akang pelan saat mereka berhenti di depan stan minuman.
Sinok berpikir sebentar.
“Es coklat.”
Akang langsung mengangguk.
“Tunggu.”
Beberapa menit kemudian…
Akang kembali sambil membawa dua gelas minuman.
Sinok menerimanya sambil tersenyum kecil.
“Makasih.”
Hening sesaat.
Lalu Sinok berkata pelan,
“Senang ya malam ini.”
Akang menatap lampu-lampu di sekitar sungai.
“Iya.”
Tatapannya lalu beralih ke Sinok.
“Karena suasananya bagus?”
Akang tersenyum kecil.
“Karena ada kau.”
Wajah Sinok langsung memerah.
Ia spontan memalingkan wajah sambil menahan senyum malu.
Dan dari kejauhan…
Aziz langsung menepuk dada dramatis.
“AKU MERINDING.”
Supia tertawa sampai hampir tersedak minuman.
Karwan menggeleng kecil sambil tersenyum tipis.
Namun di balik suasana hangat itu…
seseorang sedang memperhatikan dengan tatapan gelap.
Rahmad.
Bersama Anton.
Mereka berdiri di dekat stan permainan sambil memandang Akang dan Sinok dari kejauhan.
Rahmad mengepalkan tangan pelan.
Wajahnya terlihat dingin.
Anton melirik hati-hati.
“Mad…”
Rahmad tersenyum tipis.
Namun senyum itu tidak mengandung kebahagiaan sama sekali.
“Mereka terlihat bahagia ya.”
Anton diam.
Karena ia tahu…
kalau Rahmad mulai bicara setenang itu, biasanya justru ada sesuatu yang berbahaya di pikirannya.
Acara festival semakin meriah saat pertunjukan musik dimulai.
Lampu panggung menyala terang.
Orang-orang mulai berkumpul di depan panggung utama.
Yulia langsung heboh menarik Endang.
“DEPAN! DEPAN!”
Aziz ikut berlari.
“JANGAN TINGGAL MAKANANKU!”
Suasana langsung kacau penuh tawa.
Akang dan Sinok akhirnya ikut berdiri di tengah keramaian dekat sungai.
Musik malam itu terasa hangat.
Angin sungai bertiup lembut.
Lampu-lampu festival memantul indah di air.
Dan tanpa sadar…
tangan mereka saling bersentuhan kecil.
Sinok langsung sedikit kaget.
Namun Akang perlahan menggenggam jemarinya.
Pelan sekali.
Hati-hati.
Seolah takut membuatnya tidak nyaman.
Jantung Sinok langsung berdegup sangat cepat.
Namun anehnya…
ia tidak melepaskan tangan itu.
Untuk beberapa detik…
dunia terasa sangat tenang bagi mereka.
Seolah semua masalah menghilang.
Seolah tidak ada Rahmad.
Tidak ada gosip.
Tidak ada luka masa lalu.
Hanya ada mereka berdua di tengah malam Kota Air yang indah.
Namun kebahagiaan itu kembali pecah.
Karena tiba-tiba…
Anton datang tergesa-gesa menghampiri Sinok dengan wajah panik.
“Nok!”
Semua langsung menoleh.
“Ada apa?” tanya Sinok kaget.
Anton menunjukkan ponselnya.
Wajahnya pura-pura panik.
“Kau harus lihat ini.”
Sinok mulai tidak tenang.
“Apa?”
Dan beberapa detik kemudian…
wajahnya langsung berubah pucat.
Di layar ponsel terlihat sebuah foto baru.
Foto Akang.
Sedang memeluk seorang perempuan.
Suasana langsung membeku.
Akang langsung mengernyit keras.
“Itu apa?”
Rahmad berjalan mendekat perlahan dari belakang Anton.
Tatapannya dingin.
“Masih mau bilang salah paham?”
Sinok menatap foto itu dengan napas mulai tidak teratur.
Dadanya langsung sesak.
Karena kali ini…
foto itu terlihat jauh lebih meyakinkan.
Akang melangkah cepat.
“Itu tidak benar!”
“Tapi fotonya jelas,” kata Rahmad pelan.
“Diam kau!”
Orang-orang sekitar mulai memperhatikan.
Suasana festival yang ramai tiba-tiba terasa menyesakkan.
Sinok mundur pelan.
Pikirannya kacau lagi.
Dan yang paling menyakitkan…
rasa takut lama itu kembali muncul.
“Aku tidak tahu lagi mana yang harus dipercaya…”
suara Sinok bergetar.
Akang langsung panik.
“Sinok dengar dulu.”
Namun Sinok justru menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
“Kenapa selalu ada perempuan lain di sekitarmu…”
Kalimat itu terasa seperti pisau kecil di dada Akang.
Karena ia tahu…
Sinok mulai kehilangan kepercayaannya lagi.
Dan malam festival yang seharusnya penuh kebahagiaan itu…
perlahan berubah menjadi malam paling menyakitkan bagi mereka.
BAB XX
HUJAN, FITNAH, DAN KEPUTUSAN SINOK
Malam festival Kota Air yang semula penuh cahaya perlahan berubah menjadi kelabu.
Musik di panggung utama masih terdengar.
Tawa orang-orang masih memenuhi kawasan Dermaga KP3.
Namun bagi Akang dan Sinok…
malam itu terasa seperti dunia yang tiba-tiba runtuh.
Sinok masih berdiri mematung sambil menatap foto di layar ponsel Anton.
Tangannya gemetar kecil.
Dadanya sesak.
Pikirannya kembali kacau seperti dulu.
Sedangkan Akang…
wajahnya sudah penuh emosi dan panik.
“Itu editan!” bentaknya cepat.
Rahmad tertawa kecil sinis.
“Semua juga editan ya?”
“Karena memang bukan kenyataan!”
Orang-orang mulai memperhatikan mereka.
Bisik-bisik kecil terdengar di sekitar area festival.
Dan itu membuat Sinok semakin tidak nyaman.
“Sinok…”
Akang mendekat pelan.
Namun Sinok justru mundur satu langkah.
Gerakan kecil itu langsung membuat dada Akang terasa sakit.
“Aku capek…”
suara Sinok lirih.
“Aku benar-benar capek.”
Lampu festival yang tadi terasa indah kini justru terlihat menyilaukan dan melelahkan.
Hujan kecil mulai turun lagi dari langit malam Kuala Kapuas.
Rahmad memperhatikan semuanya dengan tatapan tajam.
Dan diam-diam…
ia merasa berhasil.
“Itu bukan seperti yang kau pikirkan,” kata Akang cepat.
Sinok menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
“Terus aku harus pikir bagaimana lagi?”
“Itu foto lama!”
“Kenapa selalu ada penjelasan baru?”
Kalimat itu langsung membuat Akang terdiam.
Karena untuk pertama kalinya…
ia sadar bahwa bukan hanya soal benar atau salah.
Melainkan soal kepercayaan yang mulai rapuh.
Aziz akhirnya maju sambil kesal.
“Rahmad, kau keterlaluan.”
Rahmad menoleh santai.
“Aku cuma menunjukkan fakta.”
“Fakta kepalamu!”
Supia ikut emosi.
“Dari awal kau memang sengaja!”
Anton langsung menyahut,
“Jangan nuduh sembarangan.”
Karwan yang biasanya tenang kini menatap Rahmad dingin.
“Orang yang bahagia tidak sibuk merusak hubungan orang lain.”
Kalimat itu membuat wajah Rahmad sedikit berubah.
Namun ia tetap tersenyum tipis.
Sementara itu…
Sinok mulai merasa sesak berada di tengah semua keramaian itu.
Lampu.
Musik.
Tatapan orang-orang.
Semuanya terasa menekan.
“Aku mau pulang,” katanya pelan.
Akang langsung panik.
“Sinok tunggu—”
Namun Sinok menggeleng cepat.
“Jangan ikut aku dulu.”
Kalimat itu sederhana.
Namun cukup membuat hati Akang terasa jatuh.
Hujan turun semakin deras saat Sinok berjalan meninggalkan area festival.
Yulia dan Endang langsung mengejar dari belakang.
“Nok!”
Namun Sinok terus berjalan cepat sambil menangis.
Sementara Akang hanya bisa diam beberapa detik.
Karena untuk pertama kalinya…
ia benar-benar takut Sinok akan menyerah padanya.
BRAK!
Akang akhirnya menarik kerah baju Rahmad dengan emosi meledak.
“KAU PUAS?!”
Suasana langsung gempar.
Anton cepat menarik Rahmad.
Aziz dan Supia langsung menahan Akang.
“Bang!”
Rahmad tetap tersenyum tipis meski kerah bajunya kusut.
“Kalau hubungan kalian kuat… kenapa gampang hancur?”
“Karena kau terus mengacau!”
“Tidak.”
Tatapan Rahmad dingin.
“Aku cuma membuka mata Sinok.”
Akang mengepalkan tangan sangat keras.
Andai saja bukan karena Aziz dan Supia menahannya…
mungkin malam itu perkelahian benar-benar terjadi.
Di sisi lain jalan kota…
Sinok akhirnya berhenti di bawah halte kecil dekat Bundaran Besar.
Hujan deras mengguyur jalanan Kuala Kapuas.
Lampu kendaraan melintas samar di tengah malam basah itu.
Yulia dan Endang akhirnya berhasil menyusul.
“Nok…”
Sinok menangis diam-diam sambil menunduk.
“Aku bodoh ya…”
Yulia langsung memegang pundaknya.
“Jangan ngomong begitu.”
“Aku terlalu cepat nyaman sama dia…”
Suara Sinok bergetar.
Dan yang paling menyakitkan…
ia mulai takut bahwa dirinya akan kembali mengalami luka yang sama seperti dulu.
“Kalau dia benar sayang…”
Sinok menggigit bibir bawahnya pelan,
“…kenapa selalu ada masalah seperti ini?”
Endang sebenarnya ingin marah pada Rahmad.
Namun melihat Sinok sehancur itu…
ia justru ikut sedih.
Yulia menghela napas panjang.
“Nok… cinta itu memang tidak selalu tenang.”
“Tapi aku lelah…”
Hujan malam itu terus turun tanpa henti.
Dan untuk pertama kalinya…
Sinok mulai berpikir untuk menjauh dari Akang.
Bukan karena tidak sayang.
Melainkan karena terlalu takut terluka lebih dalam.
Sementara itu…
Akang masih berdiri di area festival dengan napas berat.
Hujan membasahi seluruh tubuhnya.
Aziz menatap sahabatnya prihatin.
“Bang…”
Akang menunduk frustrasi.
“Aku benar-benar tidak lakukan itu.”
“Kami tahu.”
“Tapi kenapa semua selalu terlihat salah…”
Suara Akang terdengar sangat lelah.
Karwan akhirnya berkata pelan,
“Karena ada orang yang sengaja membuatnya begitu.”
Akang mengepalkan tangan lagi.
Tatapannya kosong melihat hujan.
Dan malam itu…
ia mulai sadar satu hal.
Selama Rahmad belum berhenti…
hubungannya dengan Sinok tidak akan pernah benar-benar tenang.
Di tempat lain…
Rahmad berdiri di bawah atap toko bersama Anton sambil memandang hujan.
Tatapannya dingin namun puas.
Anton tersenyum kecil.
“Sepertinya berhasil.”
Rahmad terdiam beberapa detik.
Lalu berkata lirih,
“Kalau Sinok tidak bisa jadi milikku…”
ia menatap jauh ke jalanan malam,
“…aku juga tidak akan membiarkan dia bahagia dengan orang lain.”
Angin malam bertiup dingin di Kota Air.
Dan di tengah hujan panjang malam itu…
hubungan Akang dan Sinok akhirnya benar-benar berada di ujung perpecahan.
BAB XXI
JARAK YANG MULAI TERCIPTA
Pagi di Kuala Kapuas terasa muram meski hujan sudah berhenti.
Langit masih dipenuhi awan abu-abu. Udara dingin sisa hujan malam membuat suasana sekolah terasa lebih sepi dari biasanya.
Namun yang paling terasa berbeda pagi itu…
adalah hubungan Akang dan Sinok.
Sejak kejadian di Festival Kota Air malam kemarin…
Sinok mulai menjaga jarak.
Pesan-pesan dari Akang hanya dibaca tanpa balasan panjang.
Sapaan yang biasanya hangat kini berubah singkat.
Dan itu membuat hati Akang perlahan hancur sedikit demi sedikit.
“Bang…”
Aziz menatap sahabatnya prihatin saat mereka duduk di kantin.
“Kau tidur tidak semalam?”
Akang hanya tersenyum kecil lelah.
“Sedikit.”
Padahal kenyataannya…
ia hampir tidak tidur sama sekali.
Kepalanya penuh memikirkan Sinok.
Supia menyeruput kopi sachet sambil menghela napas.
“Rahmad memang sengaja bikin kalian renggang.”
Karwan yang duduk di samping hanya berkata pelan,
“Tapi sekarang masalahnya bukan Rahmad lagi.”
Akang mengangkat wajah.
Karwan menatapnya tenang.
“Sekarang masalahnya kepercayaan Sinok yang mulai retak.”
Kalimat itu langsung menusuk dada Akang.
Karena ia tahu…
itu benar.
Di kelas lain…
Sinok duduk diam sambil memandangi buku terbuka di depannya.
Namun sejak tadi…
ia sama sekali tidak membaca.
Pikirannya kosong.
Dan hatinya terasa berat.
Yulia yang duduk di sebelahnya akhirnya menghela napas panjang.
“Kau tidak bisa begini terus.”
Sinok tersenyum kecil lemah.
“Aku cuma butuh waktu.”
“Waktu untuk apa?”
Sinok menunduk.
“Buat nenangin hati.”
Endang ikut mendekat sambil membawa jajanan.
“Nok…”
Sinok mengangkat wajah perlahan.
“Kau masih sayang sama Akang kan?”
Pertanyaan itu langsung membuatnya diam.
Karena jawaban itu terlalu jelas.
Ia masih sayang.
Sangat sayang malah.
Namun justru karena itu…
ia semakin takut terluka.
Jam istirahat…
Akang akhirnya memberanikan diri menghampiri Sinok di koridor belakang sekolah.
Suasana cukup sepi.
Hanya terdengar suara angin dan beberapa siswa yang lewat sesekali.
“Sinok…”
Gadis itu perlahan menoleh.
Tatapannya masih lembut.
Namun kini ada jarak yang terasa jelas.
“Ada apa?”
Pertanyaan sederhana itu justru terasa asing di telinga Akang.
Karena biasanya…
Sinok tidak pernah setegang itu padanya.
“Aku mau bicara.”
Sinok mengangguk kecil.
Namun suasana tetap terasa kaku.
“Aku tidak pernah bohong soal perasaanku,” kata Akang pelan.
Sinok diam mendengarkan.
“Foto-foto itu memang sengaja dibuat buat hancurin kita.”
Sinok menunduk.
“Aku tahu mungkin…”
Akang sedikit terkejut.
“Terus?”
“Tapi aku capek curiga terus.”
Suara Sinok terdengar sangat lelah.
Dan itu membuat dada Akang makin sakit.
“Aku cuma mau tenang.”
Hening beberapa detik.
Lalu Sinok berkata lagi,
“Aku takut nanti malah jadi posesif dan penuh curiga.”
Akang menatap wajahnya lama.
Untuk pertama kalinya…
ia melihat seseorang yang sedang melindungi hatinya mati-matian.
“Apa kau mau menyerah?” tanya Akang lirih.
Sinok langsung mengangkat wajah cepat.
Tatapannya sedikit bergetar.
“Aku tidak bilang begitu.”
“Tapi kau menjauh.”
Karena kalimat itu benar…
Sinok akhirnya tidak bisa menjawab.
Di kejauhan…
Rahmad memperhatikan semuanya dari lantai dua gedung sekolah.
Anton berdiri di sampingnya sambil tersenyum kecil.
“Mulai renggang.”
Rahmad memandang Akang dan Sinok tanpa ekspresi.
“Belum cukup.”
Anton mengernyit.
“Kau masih mau lanjut?”
Rahmad tersenyum tipis dingin.
“Selama Sinok masih lihat dia dengan cara itu…”
tatapannya tajam ke arah Akang,
“…aku belum kalah.”
Sore harinya…
langit Kuala Kapuas kembali mendung.
Akang memilih duduk sendirian di taman dekat Jalan Simpang Adipura.
Tempat itu mulai sering menjadi tempatnya berpikir akhir-akhir ini.
Lampu taman belum menyala.
Angin sore bertiup dingin.
Dan untuk pertama kalinya…
Akang merasa benar-benar takut.
Bukan takut berkelahi dengan Rahmad.
Bukan takut difitnah.
Melainkan takut kehilangan seseorang yang sudah terlanjur memenuhi pikirannya.
Tak lama kemudian…
langkah pelan terdengar mendekat.
Abdul.
Pemuda pendiam itu duduk di sebelah Akang tanpa banyak bicara.
Suasana sempat hening beberapa detik.
Lalu Abdul berkata pelan,
“Kau benar-benar sayang sama Sinok ya?”
Akang sedikit terkejut.
Namun akhirnya mengangguk kecil.
“Iya.”
Abdul tersenyum tipis.
Senyum yang justru terlihat sedih.
“Aku iri.”
Akang langsung menoleh.
Dan malam itu…
untuk pertama kalinya Abdul mengungkap sesuatu yang selama ini ia simpan sendiri.
“Aku juga suka sama dia.”
Angin sore terasa makin dingin.
Akang membeku beberapa detik.
Sedangkan Abdul tetap menatap jalanan di depan mereka dengan tenang.
“Aku dekat sama dia lebih lama.”
Suara Abdul lirih namun jujur.
“Tapi dia selalu lihat kau dengan cara yang berbeda.”
Kalimat itu membuat suasana semakin sunyi.
“Aku tidak datang buat rebut dia,” lanjut Abdul pelan.
Akang masih diam.
“Aku cuma mau bilang…”
ia tersenyum kecil pahit,
“…jangan buat dia terlalu sering nangis.”
Dada Akang terasa sesak mendengar itu.
Karena bahkan Abdul yang diam-diam mencintai Sinok pun…
lebih memilih menjaga kebahagiaannya.
Saat Abdul pergi meninggalkan taman…
Akang hanya bisa diam memandangi langit Kuala Kapuas yang mulai gelap.
Dan malam itu…
ia sadar satu hal.
Ia tidak sedang bersaing dengan Rahmad saja.
Namun juga melawan rasa takut Sinok sendiri…
dan waktu yang perlahan mulai menjauhkan mereka.
BAB XXII
SURAT YANG TAK SENGAJA TERBACA
Pagi itu suasana sekolah terasa lebih tenang dibanding beberapa hari terakhir.
Tidak ada gosip besar.
Tidak ada keributan.
Bahkan Rahmad terlihat tidak banyak muncul sejak pagi.
Namun justru ketenangan itu terasa aneh.
Seolah ada sesuatu yang sedang dipersiapkan diam-diam.
Langit Kuala Kapuas masih mendung tipis.
Angin pagi bertiup lembut melewati koridor sekolah yang mulai ramai oleh siswa.
Di kelas…
Sinok duduk sambil menatap keluar jendela.
Tatapannya kosong.
Pikirannya masih dipenuhi banyak hal:
tentang Akang,
tentang Abdul,
tentang rasa takutnya sendiri yang belum benar-benar hilang.
Dan yang paling membuatnya bingung…
ia mulai merindukan Akang meski sedang berusaha menjauh.
“Nok…”
Yulia menyenggol lengannya pelan.
“Hm?”
“Kau melamun lagi.”
Sinok tersenyum kecil tipis.
“Capek ya ternyata mikirin perasaan sendiri.”
Endang langsung mendekat sambil membawa roti.
“Kalau capek ya tidur.”
Yulia langsung menatap tajam.
“Semua masalah menurutmu selesai dengan makan dan tidur.”
“Memang.”
Mereka bertiga akhirnya tertawa kecil.
Dan untuk beberapa detik…
beban di hati Sinok sedikit terasa ringan.
Sementara itu…
di kelas lain…
Akang sedang membantu guru menyusun beberapa dokumen kegiatan sekolah.
Aziz memperhatikan sahabatnya sambil menghela napas panjang.
“Kau sekarang jadi rajin sekali.”
“Aku lagi malas banyak bicara.”
Supia langsung menyahut,
“Bahaya kalau orang jatuh cinta mendadak pendiam.”
Karwan yang duduk dekat jendela berkata pelan,
“Dia bukan pendiam.”
Tatapannya mengarah ke Akang.
“Dia lagi takut.”
Akang terdiam.
Karena memang benar.
Ia takut setiap hari hubungan dirinya dan Sinok makin menjauh.
Saat jam pelajaran kedua dimulai…
guru meminta beberapa siswa mengambil perlengkapan di ruang OSIS.
Dan tanpa sengaja…
Sinok dan Akang datang hampir bersamaan.
Mereka sama-sama berhenti di depan pintu.
Suasana langsung canggung.
“Oh… kau duluan saja,” kata Akang pelan.
Sinok menggeleng kecil.
“Tidak apa.”
Akhirnya mereka masuk bersama.
Ruangan kecil itu cukup sepi.
Hanya ada suara kipas angin tua yang berputar pelan.
Dan seperti biasa…
kalau hanya tinggal berdua…
suasana di antara mereka selalu terasa berbeda.
“Aku dengar kau sering duduk sama Abdul sekarang,” kata Akang pelan sambil mencari map di lemari.
Sinok sedikit terkejut.
“Dia cuma teman.”
“Hmm.”
Jawaban singkat itu justru terdengar seperti cemburu.
Sinok menoleh kecil.
“Kau cemburu?”
Akang tertawa kecil tipis.
“Mungkin.”
Dan entah kenapa…
mendengar pengakuan kecil itu membuat hati Sinok terasa hangat lagi.
Namun sebelum suasana menjadi lebih baik…
sebuah map jatuh dari rak lemari.
BRAK.
Kertas-kertas berserakan di lantai.
Sinok spontan membantu memungut.
Namun saat itulah…
matanya menangkap sebuah amplop putih kecil.
Di depannya tertulis:
Untuk Sinok.
Tulisan tangan itu sangat familiar.
Tulisan Akang.
Jantung Sinok langsung berdetak pelan.
“Apa ini?”
Akang yang melihat langsung panik kecil.
“Itu—”
Namun Sinok sudah terlanjur membuka amplopnya.
Dan di dalamnya…
ada surat sederhana yang tampak sudah lama disimpan.
Tulisan tangan Akang memenuhi hampir seluruh halaman.
“Aku tidak tahu sejak kapan mulai nyaman sama kau.
Tapi setiap kali lihat kau ketawa…
rasanya hari burukku ikut hilang.
Aku memang tidak pandai ngomong manis.
Tidak pandai bikin janji besar.
Tapi aku serius waktu bilang takut kehilangan kau.
Dan kalau suatu hari nanti kau benar-benar pergi…
mungkin Kuala Kapuas tidak akan terasa sama lagi buatku.”
Tangan Sinok langsung gemetar kecil membaca bagian itu.
Matanya mulai berkaca-kaca.
Sedangkan Akang berdiri diam dengan wajah salah tingkah sekaligus panik.
“Itu sebenarnya belum mau aku kasih…”
Suara Akang pelan sekali.
Sinok masih diam membaca surat itu.
Dan semakin dibaca…
dadanya semakin sesak oleh rasa hangat sekaligus sedih.
Karena untuk pertama kalinya…
ia melihat isi hati Akang yang sebenarnya.
Tanpa gengsi.
Tanpa candaan.
Tanpa emosi.
Hanya ketulusan yang sederhana.
“Kau nulis ini kapan?” tanya Sinok lirih.
Akang mengusap tengkuknya malu.
“Beberapa hari lalu.”
“Kenapa tidak kasih?”
“Aku takut kau malah makin menjauh.”
Kalimat itu langsung membuat hati Sinok terasa nyeri.
Karena ternyata…
bukan hanya dirinya yang takut kehilangan.
Akang juga sama.
Hening beberapa detik memenuhi ruang OSIS.
Suasana terasa sangat tenang.
Hanya suara kipas angin tua yang terdengar pelan.
Lalu Sinok berkata lirih,
“Kenapa kau selalu bikin aku susah buat benar-benar pergi…”
Akang menatapnya lama.
Tatapan itu hangat.
Tulus.
Dan penuh rasa takut yang sama.
Namun tepat saat suasana mulai mencair…
suara pintu terbuka keras.
Rahmad.
Bersama Anton.
Mereka langsung berhenti saat melihat Sinok memegang surat itu.
Tatapan Rahmad berubah.
Dingin.
Tajam.
Dan penuh emosi yang langsung sulit disembunyikan.
“Oh…”
Rahmad tersenyum kecil sinis.
“Ternyata lagi romantis.”
Sinok langsung menutup surat itu cepat.
Sedangkan Akang otomatis berdiri di depan Sinok secara refleks.
Dan itu justru membuat Rahmad makin emosi.
“Aku heran,” kata Rahmad pelan sambil mendekat.
“Setelah semua kebohongan itu… kau masih percaya sama dia?”
“Rahmad cukup,” kata Sinok mulai kesal.
Namun Rahmad tetap menatap Akang tajam.
“Kau pintar sekali cari simpati.”
Akang mulai emosi.
“Aku tidak seperti kau.”
Rahmad tertawa kecil dingin.
“Setidaknya aku tidak pura-pura suci.”
Suasana langsung menegang lagi.
Anton bahkan mulai bersiap kalau pertengkaran pecah.
Namun kali ini…
Sinok berdiri di depan Akang.
Dan itu membuat semua orang sedikit terdiam.
“Sudah cukup,” kata Sinok tegas.
Rahmad membeku sesaat.
Tatapan Sinok kali ini berbeda.
Tidak takut.
Tidak ragu.
Dan itu justru membuat Rahmad mulai sadar…
bahwa perlahan ia mulai kehilangan tempat di hati gadis itu.
Namun bukannya menyerah…
rasa obsesinya justru semakin besar.
Rahmad akhirnya tersenyum tipis.
Namun matanya tetap dingin.
“Oke.”
Ia mundur pelan.
“Tapi jangan nangis kalau nanti semuanya terbukti.”
Lalu ia pergi bersama Anton meninggalkan ruangan.
Suasana kembali sunyi.
Namun kini…
Sinok masih menggenggam surat dari Akang erat di tangannya.
Dan tanpa sadar…
jarak di antara mereka yang sempat terbentuk perlahan mulai mencair kembali.
BAB XXIII
MALAM DI PERTOKOAN SANJAYA
Malam di Kuala Kapuas kembali ramai.
Lampu-lampu pertokoan menyala terang menghiasi jalan utama kota. Suara kendaraan bercampur musik dari beberapa toko membuat suasana malam terasa hidup. Orang-orang berjalan santai menikmati udara malam yang mulai terasa hangat setelah beberapa hari hujan terus turun.
Dan malam itu…
Pertokoan Sanjaya menjadi tempat pertemuan mereka lagi.
“AKU LAPAR!”
Aziz langsung berseru keras begitu turun dari motor.
Supia menggeleng pasrah.
“Dari tadi juga kau makan.”
“Cinta butuh energi.”
Karwan yang berjalan di belakang hanya tersenyum kecil.
Sementara Akang…
diam-diam sedang sedikit gugup.
Karena sejak kejadian surat di ruang OSIS…
hubungannya dengan Sinok mulai membaik perlahan.
Meski belum sepenuhnya pulih.
Namun setidaknya…
mereka mulai kembali saling membuka hati.
Tak lama kemudian…
Sinok datang bersama Yulia dan Endang.
Malam itu Sinok mengenakan sweater putih sederhana dengan jilbab abu muda yang lembut. Tidak berlebihan.
Namun justru membuat Akang sulit mengalihkan pandangan.
Aziz langsung berbisik pelan,
“Wajahmu ketahuan bahagia.”
Akang menyikutnya pelan.
“Diam.”
Yulia yang melihat langsung tertawa kecil.
“Kasihan Akang.”
Endang ikut menimpali,
“Cowok bucin memang begitu.”
Sinok langsung malu sendiri.
Dan suasana perlahan kembali hangat seperti dulu.
Mereka berjalan bersama menyusuri deretan toko dan stan makanan malam.
Lampu neon dari pertokoan memantul di jalanan yang masih sedikit basah.
Tawa kecil mulai terdengar lagi di antara mereka.
Dan untuk pertama kalinya setelah banyak konflik…
Akang dan Sinok kembali bisa berjalan berdampingan tanpa kecanggungan berlebihan.
“Kau masih simpan surat itu?” tanya Akang pelan saat mereka sedikit tertinggal dari rombongan.
Sinok menoleh kecil.
Lalu tersenyum tipis.
“Mungkin.”
“Mungkin?”
Sinok menahan senyum malu.
“Iya.”
Akang tertawa kecil lega.
Entah kenapa…
jawaban sederhana itu sudah cukup membuat hatinya tenang malam ini.
Di depan salah satu toko aksesoris…
Yulia dan Endang sibuk memilih gantungan kunci.
Aziz malah sibuk menawar makanan.
Supia menggeleng tidak habis pikir.
“Dia kalau lihat makanan kaya kehilangan akal.”
Karwan hanya tertawa kecil.
Sementara Akang dan Sinok berdiri dekat trotoar sambil menikmati suasana malam kota.
“Kuala Kapuas malam begini ternyata bagus ya,” kata Sinok pelan.
Akang mengangguk.
“Iya.”
Tatapannya perlahan beralih ke Sinok.
“Tapi ada yang lebih bagus.”
Sinok langsung salah tingkah.
“Kau mulai lagi.”
Akang tertawa kecil.
Dan malam itu…
senyum Sinok akhirnya benar-benar kembali.
Namun tanpa mereka sadari…
dari seberang jalan…
Rahmad sedang memperhatikan semuanya.
Tatapannya dingin.
Anton berdiri di sampingnya sambil menghela napas kecil.
“Mad…”
Rahmad tidak menjawab.
Ia hanya terus menatap Sinok yang tertawa bersama Akang.
Dan semakin melihat itu…
dadanya semakin dipenuhi rasa marah dan iri yang sulit dijelaskan.
“Aku tidak ngerti.”
Anton akhirnya bicara pelan.
“Kenapa kau segitunya sama Sinok?”
Rahmad tersenyum kecil pahit.
“Karena cuma dia yang tidak pernah bisa aku dapat.”
Angin malam bertiup pelan di sekitar pertokoan.
Lampu-lampu kota terasa hangat.
Namun wajah Rahmad justru semakin gelap.
Sementara itu…
Akang dan Sinok mulai semakin nyaman malam itu.
Mereka berhenti di depan toko buku kecil dekat ujung pertokoan Sanjaya.
Sinok melihat beberapa novel di etalase kaca.
“Kau suka baca beginian?” tanya Akang.
Sinok mengangguk kecil.
“Suka.”
“Apa?”
“Novel yang endingnya bahagia.”
Jawaban itu membuat Akang tersenyum tipis.
“Kalau ending sedih?”
Sinok terdiam beberapa detik.
Lalu berkata lirih,
“Aku sudah terlalu banyak sedih di dunia nyata.”
Kalimat itu langsung membuat Akang diam.
Karena ia tahu…
Sinok memang pernah terluka cukup dalam.
Tanpa sadar…
Akang perlahan berkata,
“Kalau bisa… aku mau jadi alasan kau percaya lagi sama ending bahagia.”
Jantung Sinok langsung berdegup cepat.
Tatapan mereka bertemu.
Dan suasana malam di pertokoan itu mendadak terasa sangat tenang.
Namun ketenangan itu kembali pecah.
Karena tiba-tiba…
seorang perempuan datang menghampiri Akang sambil tersenyum lebar.
“KANG!”
Akang langsung sedikit terkejut.
“Oh… Kak Mira?”
Perempuan itu langsung memeluk Akang cepat.
“Ya ampun lama banget tidak ketemu!”
Sinok langsung membeku kecil.
Sedangkan Mira terlihat sangat akrab dengan Akang.
“Kau makin ganteng sekarang.”
Akang tertawa kecil canggung.
“Biasa saja.”
Namun yang paling membuat Sinok tidak nyaman…
perempuan itu terus memegang lengan Akang sambil tertawa akrab.
“Kau siapa?” tanya Mira sambil menatap Sinok ramah.
Sinok sedikit gugup.
“Teman.”
Akang langsung menjawab cepat,
“Dia Sinok.”
Namun entah kenapa…
kata “teman” tadi justru membuat hati Sinok sedikit nyeri.
Karena memang…
sampai sekarang mereka belum benar-benar punya hubungan yang jelas.
Rahmad yang melihat dari kejauhan langsung tersenyum tipis.
“Lihat?”
Anton mulai mengerti arah pikirannya.
“Cemburu lagi.”
Rahmad memandang Sinok tajam.
“Dan orang yang sedang cemburu…”
senyumnya tipis dingin,
“…paling gampang dibuat salah paham.”
Malam semakin larut.
Namun suasana hati Sinok mulai berubah lagi.
Meski ia berusaha biasa saja…
tetap ada rasa aneh yang diam-diam tumbuh di dadanya.
Sementara Akang sama sekali belum sadar…
bahwa kehadiran perempuan bernama Mira malam itu kembali membuka celah kecil dalam hubungan mereka yang belum sepenuhnya kuat.
BAB XXIV
STATUS YANG TAK JELAS
Malam setelah pertemuan di Pertokoan Sanjaya terasa panjang bagi Sinok.
Langit Kuala Kapuas kembali diselimuti mendung tipis. Angin malam bertiup pelan melewati jendela kamarnya yang sedikit terbuka. Lampu kamar redup, membuat suasana terasa semakin sendu.
Namun yang paling ramai malam itu…
adalah pikirannya sendiri.
Sinok memeluk bantal sambil menatap layar ponselnya.
Chat dari Akang masih terbuka sejak tadi.
“Sudah sampai rumah?”
Pesan sederhana.
Biasanya membuat hatinya hangat.
Namun malam itu…
ia justru merasa bingung.
Tentang Mira.
Tentang dirinya sendiri.
Dan tentang hubungan mereka yang sampai sekarang belum punya kepastian apa pun.
“Kalau memang sayang…”
Sinok bergumam lirih,
“…kenapa aku masih cuma ‘teman’?”
Kalimat itu terus berputar di kepalanya.
Padahal ia tahu…
Akang mungkin tidak bermaksud buruk.
Namun tetap saja…
hatinya terasa sedikit sakit.
Di sisi lain kota…
Akang juga sedang duduk sendirian di depan rumah sambil memandangi jalanan malam yang sepi.
Aziz yang sedang video call langsung menyeringai.
“Kau habis bikin salah lagi ya?”
Akang mengernyit.
“Apa?”
“Mukamu kaya orang habis dimarahin istri.”
“Tidak lucu.”
Supia yang ikut masuk ke panggilan malah tertawa.
“Pasti gara-gara perempuan tadi.”
Akang langsung sadar.
“Mira?”
“Iya.”
Karwan yang sedari tadi diam akhirnya bicara pelan,
“Kadang yang bikin seseorang sakit bukan pengkhianatan.”
Akang menatap layar.
“Tapi ketidakjelasan.”
Kalimat itu langsung membuat Akang terdiam cukup lama.
Pagi harinya…
suasana sekolah cukup ramai karena persiapan pentas seni semakin dekat.
Beberapa siswa sibuk latihan di aula.
Musik terdengar dari berbagai sudut sekolah.
Namun di tengah keramaian itu…
hubungan Akang dan Sinok kembali terasa sedikit aneh.
Mereka masih bicara.
Masih saling memperhatikan.
Namun ada sesuatu yang menggantung di antara mereka.
“Nok…”
Yulia yang sedang duduk di kelas memperhatikan Sinok sejak tadi.
“Kau kepikiran lagi ya?”
Sinok tersenyum kecil lemah.
“Aku bingung sama diri sendiri.”
Endang langsung mendekat sambil membawa minuman.
“Kenapa?”
Sinok menunduk pelan.
“Aku takut terlalu berharap sama hubungan yang belum jelas.”
Suasana langsung sedikit sunyi.
Karena kali ini…
ucapan Sinok benar-benar terdengar serius.
Sementara itu…
Akang sedang membantu dekorasi aula bersama beberapa siswa.
Namun pikirannya sama sekali tidak fokus.
Tatapannya terus mencari Sinok tanpa sadar.
Dan itu langsung disadari Aziz.
“Bang.”
“Hm?”
“Kalau memang serius…”
Akang menoleh.
Aziz menghela napas.
“Kenapa kau belum jujur sekalian?”
Kalimat itu membuat Akang diam.
Karena sebenarnya…
ia juga tahu.
Selama ini mereka hanya berjalan di tengah rasa nyaman tanpa pernah benar-benar memperjelas hubungan.
Dan mungkin…
itulah yang membuat Sinok terus takut.
Siang harinya…
hujan kecil turun membasahi halaman sekolah.
Koridor menjadi lebih sepi karena sebagian siswa memilih tetap di kelas.
Saat itulah…
Akang akhirnya menemukan Sinok sedang berdiri sendirian dekat jendela perpustakaan.
Gadis itu terlihat diam sambil memandangi hujan.
Dan entah kenapa…
pemandangan itu selalu membuat hati Akang tenang sekaligus takut.
“Sinok…”
Gadis itu perlahan menoleh.
Tatapannya lembut seperti biasa.
Namun masih menyimpan banyak pikiran.
“Kau kenapa dari semalam?” tanya Akang hati-hati.
Sinok tersenyum kecil tipis.
“Tidak apa.”
“Kau bohong.”
Hening beberapa detik.
Suara hujan terdengar lembut di luar.
Lalu Sinok akhirnya berkata pelan,
“Aku capek menebak-nebak posisi diriku sendiri.”
Jantung Akang langsung terasa berat.
“Maksudmu?”
Sinok menunduk.
“Kita dekat.”
“Iya.”
“Kita saling suka.”
Akang diam.
“Tapi setiap ada orang tanya aku siapa buat kau…”
suaranya mulai lirih,
“…aku tidak pernah tahu harus jawab apa.”
Kalimat itu terasa sangat jujur.
Dan langsung menusuk hati Akang tanpa ampun.
“Aku tidak mau terlihat terlalu berharap,” lanjut Sinok pelan.
“Tapi aku juga tidak mau terus-terusan takut kehilangan seseorang yang bahkan belum tentu benar-benar jadi milikku.”
Suasana mendadak sangat sunyi.
Hanya suara hujan yang terdengar.
Dan untuk pertama kalinya…
Akang benar-benar sadar bahwa ketidakjelasan mereka perlahan melukai Sinok.
“Aku minta maaf,” katanya lirih.
Sinok menggeleng cepat.
“Aku tidak menyalahkan kau.”
“Tapi aku memang salah.”
Tatapan Akang terlihat serius.
“Aku terlalu sibuk takut kehilangan…”
ia tersenyum kecil pahit,
“…sampai lupa bikin kau merasa aman.”
Air mata kecil mulai menggenang di mata Sinok.
Karena untuk pertama kalinya…
ia merasa benar-benar dimengerti.
Di ujung koridor…
Rahmad ternyata melihat semuanya.
Wajahnya perlahan berubah dingin saat melihat Akang dan Sinok berbicara begitu dekat.
Anton berdiri di samping sambil menghela napas.
“Mad…”
Rahmad mengepalkan tangan pelan.
Tatapannya tidak lepas dari Sinok.
“Aku terlambat.”
Anton sedikit bingung.
“Maksudmu?”
Rahmad tersenyum tipis pahit.
“Dia sudah terlalu jatuh cinta sama Akang.”
Dan untuk pertama kalinya…
nada suara Rahmad terdengar kalah.
Namun rasa kalah itu justru membuat emosinya semakin berbahaya.
Sementara itu…
Akang perlahan melangkah mendekati Sinok.
Tatapannya hangat namun penuh kesungguhan.
“Kalau aku minta kesempatan buat memperbaiki semuanya…”
Sinok menatapnya pelan.
“Apa kau masih mau percaya sama aku?”
Hujan masih turun di luar perpustakaan sekolah Kuala Kapuas.
Dan di tengah suasana tenang itu…
hati Sinok kembali bergetar.
Karena jauh di dalam dirinya…
ia memang masih ingin percaya pada Akang.
BAB XXV
PENGAKUAN DI TENGAH HUJAN
Hujan masih turun membasahi halaman sekolah Kuala Kapuas.
Langit siang terlihat gelap meski waktu belum terlalu sore. Suara air hujan jatuh di atap perpustakaan menciptakan suasana tenang yang justru membuat jantung Sinok semakin tidak karuan.
Ia masih berdiri di depan Akang.
Dekat.
Terlalu dekat.
Dan tatapan pemuda itu malam ini terasa berbeda.
Lebih serius.
Lebih jujur.
“Kalau aku minta kesempatan buat memperbaiki semuanya…”
Suara Akang pelan namun jelas.
“Apa kau masih mau percaya sama aku?”
Sinok tidak langsung menjawab.
Karena pertanyaan itu terlalu besar untuk hatinya yang masih dipenuhi rasa takut.
Namun di saat yang sama…
ia juga sadar satu hal.
Setiap kali mencoba menjauh…
hatinya justru kembali mencari Akang.
Hening beberapa detik.
Suara hujan terdengar lembut di luar perpustakaan.
Beberapa siswa sudah mulai pulang karena cuaca semakin deras.
Dan di tengah suasana sendu itu…
Sinok akhirnya berkata lirih,
“Aku takut kecewa lagi.”
Kalimat itu sederhana.
Namun terdengar sangat rapuh.
Dan itu membuat dada Akang terasa sesak.
“Aku tahu.”
Akang menatapnya penuh kesungguhan.
“Aku juga tidak bisa janji semuanya bakal selalu mudah.”
Sinok perlahan mengangkat wajah.
“Tapi…”
Akang menarik napas pelan.
“Aku mau serius sama kau.”
Jantung Sinok langsung berdetak keras.
Untuk sesaat…
ia bahkan lupa bagaimana caranya bernapas dengan tenang.
Tatapan mereka bertemu.
Tidak ada candaan.
Tidak ada emosi.
Hanya dua hati yang sama-sama lelah bersembunyi di balik rasa takut.
“Aku tidak mau lagi bikin kau bingung soal posisi kau di hidupku,” lanjut Akang lirih.
Air mata kecil mulai menggenang di mata Sinok.
Karena kalimat itu adalah hal yang diam-diam paling ingin ia dengar sejak lama.
“Sinok…”
Akang melangkah sedikit lebih dekat.
“Aku sayang sama kau.”
Dan kali ini…
kalimat itu terasa jauh lebih dalam dari sebelumnya.
Bukan sekadar pengakuan.
Melainkan kesungguhan.
Air mata Sinok akhirnya jatuh pelan.
Bukan karena sedih.
Melainkan karena hatinya yang selama ini penuh ketakutan…
akhirnya merasa dipeluk oleh kepastian kecil yang hangat.
Namun tetap saja…
ia masih takut.
“Aku tidak mau hubungan ini cuma sebentar,” bisiknya lirih.
Akang tersenyum kecil.
“Aku juga tidak.”
Hujan di luar semakin deras.
Angin dingin masuk perlahan dari jendela perpustakaan yang sedikit terbuka.
Dan di tengah suasana itu…
Akang perlahan menggenggam tangan Sinok.
Hangat.
Lembut.
Dan penuh hati-hati.
“Aku mungkin bukan orang paling sempurna,” katanya pelan.
“Tapi kalau kau kasih aku kesempatan…”
tatapannya tidak lepas dari mata Sinok,
“…aku ingin jadi rumah yang bikin kau tenang.”
Kalimat itu langsung membuat pertahanan terakhir Sinok runtuh.
Karena selama ini…
yang ia cari bukan kemewahan.
Bukan kata-kata manis.
Melainkan rasa tenang.
Dan entah kenapa…
ia selalu menemukannya saat bersama Akang.
Sinok akhirnya tersenyum kecil di tengah air matanya.
Tipis.
Namun sangat tulus.
“Aku benci kenapa aku selalu luluh sama kau.”
Akang tertawa kecil lega.
“Karena kau memang sayang.”
Sinok langsung memukul lengannya pelan sambil malu.
“Menyebalkan.”
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian banyak konflik…
mereka kembali tertawa bersama tanpa beban besar di hati.
Namun tepat saat suasana mulai hangat…
tepuk tangan pelan terdengar dari ujung koridor perpustakaan.
Mereka langsung menoleh.
Rahmad.
Bersama Anton.
Tatapan Rahmad terlihat kosong.
Namun justru itu yang terasa menakutkan.
“Selamat ya,” katanya pelan.
Suasana langsung berubah tegang.
Sinok perlahan melepaskan genggaman tangan Akang.
Namun Akang justru berdiri sedikit di depan Sinok secara refleks.
Rahmad tertawa kecil pahit.
“Akhirnya resmi juga?”
Akang menatap tajam.
“Ada urusan apa lagi?”
Rahmad menggeleng kecil.
“Tidak ada.”
Tatapannya perlahan beralih ke Sinok.
“Aku cuma baru sadar…”
senyumnya tipis namun penuh luka,
“…ternyata dari awal aku memang tidak pernah punya kesempatan.”
Suasana mendadak hening.
Bahkan Anton terlihat tidak nyaman.
Karena untuk pertama kalinya…
Rahmad terdengar benar-benar terluka.
Sinok menunduk pelan.
Ia memang pernah merasa kasihan pada Rahmad.
Namun bukan berarti ia bisa memaksakan perasaan.
Dan Rahmad akhirnya sadar akan itu.
Namun sayangnya…
kesadaran itu datang bersama rasa kecewa yang terlalu besar.
“Aku harap kau benar-benar bisa jaga dia,” kata Rahmad lirih pada Akang.
Tatapannya tajam.
“Karena kalau sampai kau bikin dia hancur…”
senyumnya perlahan hilang,
“…aku tidak akan diam.”
Kalimat itu terdengar seperti ancaman sekaligus rasa sakit yang belum selesai.
Rahmad akhirnya pergi meninggalkan koridor bersama Anton.
Langkahnya pelan.
Namun aura emosinya masih terasa kuat.
Dan entah kenapa…
kepergian Rahmad kali ini justru membuat hati Akang tidak tenang.
Karena ia tahu…
orang yang terlalu kecewa kadang bisa melakukan hal yang tidak terduga.
Sementara itu…
Sinok kembali menatap Akang perlahan.
Hujan masih turun di luar.
Dan untuk pertama kalinya…
hubungan mereka akhirnya memiliki kepastian.
Meski kecil.
Meski sederhana.
Namun cukup untuk membuat dua hati yang selama ini saling takut…
akhirnya berani saling menggenggam dengan lebih yakin.
BAB XXVI
CINTA YANG MULAI DIUJI
Sejak hari itu…
hubungan Akang dan Sinok akhirnya berubah.
Bukan lagi sekadar kedekatan tanpa arah.
Bukan lagi hubungan penuh teka-teki.
Kini…
mereka sama-sama tahu bahwa hati mereka memang saling memilih.
Dan itu membuat hari-hari di Kuala Kapuas terasa berbeda.
Lebih hangat.
Lebih hidup.
Namun juga…
mulai diuji dengan cara yang perlahan lebih berat.
Pagi di sekolah terasa ramai seperti biasa.
Suara siswa memenuhi koridor.
Persiapan pentas seni semakin sibuk.
Dan pagi itu…
untuk pertama kalinya Akang dan Sinok datang hampir bersamaan tanpa rasa canggung lagi.
Aziz yang melihat langsung memegang dada dramatis.
“AKHIRNYA RESMI JUGA NEGARA INI.”
Supia tertawa keras.
“Aku kira kiamat dulu baru mereka jadian.”
Karwan hanya tersenyum kecil sambil menggeleng.
Sedangkan Sinok langsung malu setengah mati.
“Kalian berisik banget.”
Akang malah terlihat santai sambil tersenyum kecil.
Dan itu membuat Sinok makin salah tingkah.
Namun di balik kebahagiaan kecil itu…
gosip baru mulai menyebar cepat di sekolah.
Tentang Akang dan Sinok yang akhirnya resmi dekat.
Sebagian ikut senang.
Sebagian iri.
Dan sebagian lagi…
mulai memanfaatkan keadaan.
“Nok!”
Endang berlari masuk kelas sambil heboh.
“Kenapa lagi?” tanya Yulia pasrah.
Endang langsung duduk sambil napas ngos-ngosan.
“Anak-anak sekarang ngomong kalian pasangan paling bucin satu sekolah.”
Sinok langsung menutup wajah malu.
Yulia malah tertawa puas.
“Bagus.”
Namun beberapa siswi lain di belakang mulai berbisik pelan.
“Padahal Akang dulu dekat sama banyak cewek.”
“Iya… kasihan Sinok nanti.”
Kalimat-kalimat kecil itu sebenarnya tidak terlalu keras.
Namun cukup membuat hati Sinok kembali terusik.
Sementara itu…
Rahmad mulai jarang muncul bersama mereka.
Ia lebih banyak diam.
Lebih banyak menyendiri.
Namun justru itu yang membuat Anton mulai khawatir.
“Mad…”
Rahmad duduk sendirian di belakang sekolah sambil memainkan korek api.
“Hm?”
“Kau serius mau berhenti?”
Rahmad tersenyum kecil hambar.
“Aku capek.”
Anton sedikit lega.
Namun beberapa detik kemudian…
Rahmad melanjutkan pelan,
“Tapi aku masih tidak rela.”
Angin siang bertiup pelan di halaman belakang sekolah.
Dan mata Rahmad masih dipenuhi sesuatu yang belum selesai.
Sore harinya…
Akang mengajak Sinok berjalan ke taman dekat Bundaran Besar Kuala Kapuas.
Langit sore terlihat indah setelah hujan beberapa hari terakhir.
Lampu taman mulai menyala perlahan.
Orang-orang berjalan santai menikmati suasana kota.
Dan untuk pertama kalinya…
mereka benar-benar berjalan seperti pasangan.
“Kau senang?” tanya Akang pelan.
Sinok tersenyum kecil.
“Senang.”
“Kenapa senyumnya malu begitu?”
Sinok langsung memukul lengannya pelan.
“Menyebalkan.”
Akang tertawa kecil.
Dan suasana sore itu terasa sangat tenang.
Mereka duduk di bangku taman sambil melihat lalu-lalang kendaraan.
Sinok terlihat lebih banyak diam sore itu.
Akang langsung sadar.
“Kau kepikiran sesuatu?”
Sinok menunduk kecil.
“Sedikit.”
“Apa?”
Hening beberapa detik.
Lalu Sinok berkata pelan,
“Aku takut suatu hari nanti kau capek.”
Akang mengernyit.
“Capek?”
“Dengan semua masalah yang datang terus.”
Tatapan Sinok terlihat jujur.
Karena semakin ia sayang…
semakin besar pula rasa takutnya kehilangan.
Akang tersenyum kecil lalu berkata pelan,
“Kalau aku capek…”
Sinok menatapnya.
“…aku maunya capek bareng kau.”
Jantung Sinok langsung berdegup hangat lagi.
Namun sebelum ia sempat membalas…
sebuah suara perempuan terdengar dari belakang.
“Akang?”
Mereka langsung menoleh.
Rani.
Siswi yang dulu sempat membuat Sinok cemburu.
Malam itu Rani terlihat membawa beberapa map kegiatan sekolah.
“Oh ternyata benar kalian di sini.”
Sinok langsung diam.
Sedangkan Akang terlihat biasa saja.
“Ada apa?”
Rani tersenyum kecil.
“Besok latihan pentas seni jadi tidak?”
Akang mengangguk.
“Jadi.”
“Oh iya…”
Rani melirik Sinok sambil tersenyum sopan.
“Maaf ya kalau dulu bikin salah paham.”
Sinok sedikit kaget.
“Tidak apa.”
Namun meski Rani sudah bersikap baik…
tetap saja ada rasa kecil yang membuat hati Sinok tidak nyaman.
Dan itu langsung disadari Akang.
Setelah Rani pergi…
Akang menatap Sinok sambil menahan senyum.
“Kau cemburu lagi?”
“Aku tidak cemburu.”
“Bohong.”
Sinok langsung memalingkan wajah.
Namun pipinya mulai memerah malu.
Akang tertawa kecil puas.
“Lucu.”
“Apanya?”
“Kau kalau cemburu.”
Sinok langsung kesal setengah malu.
“Akang!”
Namun di balik candaan kecil itu…
Rahmad ternyata melihat mereka dari seberang jalan taman.
Tatapannya kosong.
Namun saat melihat Sinok tertawa begitu nyaman bersama Akang…
dadanya terasa semakin sakit.
Anton berdiri di samping sambil menghela napas panjang.
“Sudahlah Mad.”
Rahmad tersenyum tipis pahit.
“Aku sudah kalah.”
“Terus?”
Rahmad memandang langit sore Kuala Kapuas.
Namun beberapa detik kemudian…
tatapannya perlahan berubah lagi.
Dingin.
“Aku cuma mau lihat…”
ia menatap Akang dari kejauhan,
“…seberapa lama dia bisa bahagiain Sinok.”
Dan entah kenapa…
kalimat itu terdengar seperti awal dari ujian baru yang lebih berat untuk hubungan Akang dan Sinok.
BAB XXVII
MALAM YANG HAMPIR MENGHANCURKAN SEMUANYA
Malam itu Kuala Kapuas kembali diguyur hujan.
Lampu-lampu kota memantul indah di jalanan basah. Angin sungai bertiup dingin melewati kawasan Dermaga KP3 yang mulai sepi karena cuaca buruk.
Namun di balik dinginnya malam itu…
ada sesuatu yang perlahan mulai memanas.
Sejak resmi menjalin hubungan…
Akang dan Sinok memang terlihat semakin dekat.
Namun semakin dekat mereka…
semakin besar pula rasa takut dan kecemburuan yang diam-diam tumbuh.
Terutama di hati Sinok.
Karena luka lama kadang memang tidak benar-benar hilang.
Ia hanya tertidur…
dan bisa bangun kapan saja.
Malam itu…
Akang sedang latihan persiapan pentas seni sekolah bersama beberapa panitia di aula.
Rani juga ada di sana karena menjadi koordinator acara.
Suasana aula cukup ramai.
Musik terdengar keras.
Beberapa siswa sibuk latihan penampilan.
Dan tanpa sadar…
kedekatan Akang dan Rani kembali menjadi perhatian beberapa orang.
“Heh lihat.”
Salah satu siswa berbisik pada temannya.
“Akang dekat lagi sama Rani.”
“Iya… kasihan Sinok.”
Dan tentu saja…
kalimat-kalimat kecil seperti itu selalu punya cara untuk menyebar cepat.
Sementara itu…
Sinok sebenarnya berniat memberi kejutan kecil untuk Akang malam itu.
Ia datang ke sekolah membawa makanan hangat yang tadi dibelinya bersama Yulia dan Endang.
Namun saat sampai di depan aula…
langkahnya perlahan berhenti.
Dari kaca pintu aula…
ia melihat Akang dan Rani sedang tertawa bersama sambil melihat dekorasi panggung.
Tidak ada yang berlebihan sebenarnya.
Namun yang membuat hati Sinok terasa nyeri…
adalah cara Rani memandang Akang.
Terlalu nyaman.
Terlalu dekat.
“Nok…”
Yulia langsung sadar situasi mulai tidak baik.
Namun Sinok hanya diam.
Tatapannya tidak lepas dari dalam aula.
Dan saat itu…
Rani tiba-tiba merapikan kerah baju Akang sambil tertawa kecil.
Jantung Sinok langsung terasa jatuh.
Padahal…
Akang bahkan tidak menganggap hal itu penting.
Namun bagi seseorang yang pernah terluka…
hal kecil bisa terasa sangat besar.
“Aku pulang saja,” kata Sinok lirih.
Yulia langsung menahan tangannya.
“Nok, jangan salah paham dulu.”
Namun Sinok tersenyum kecil lemah.
“Aku capek kalau harus kuat terus.”
Kalimat itu langsung membuat Yulia diam.
Karena ia tahu…
Sinok memang masih belum sepenuhnya sembuh dari rasa takutnya sendiri.
Di dalam aula…
Akang akhirnya melihat Sinok dari kejauhan.
Wajahnya langsung berubah.
“Sinok?”
Ia spontan keluar mengejar.
Namun saat sampai luar…
Sinok sudah berjalan cepat menuju gerbang sekolah.
Hujan mulai turun semakin deras.
“Sinok tunggu!”
Akang berhasil menyusul dan memegang pelan pergelangan tangannya.
Namun Sinok tidak menoleh.
“Kau kenapa?”
Sinok tertawa kecil pahit.
“Harus aku jelasin lagi?”
“Aku tidak ngerti.”
“Karena kau memang tidak pernah sadar.”
Kalimat itu langsung membuat Akang bingung sekaligus panik.
“Itu cuma latihan biasa.”
Sinok akhirnya menatapnya.
Matanya mulai merah menahan air mata.
“Tapi kenapa semua perempuan selalu nyaman banget sama kau…”
Hujan turun semakin deras membasahi mereka.
Suasana malam menjadi dingin dan emosional.
Dan untuk pertama kalinya sejak mereka resmi bersama…
emosi Sinok benar-benar meledak.
“Aku capek takut terus!”
Air matanya akhirnya jatuh.
“Aku capek pura-pura tenang setiap ada perempuan dekat sama kau!”
Akang membeku.
Karena selama ini…
Sinok selalu berusaha terlihat kuat dan dewasa.
Namun ternyata…
ia menyimpan begitu banyak ketakutan sendiri.
“Aku tidak pernah kasih harapan ke siapa-siapa selain kau,” kata Akang cepat.
“Tapi mereka tetap datang!”
“Terus aku harus bagaimana lagi?!”
Nada suara Akang ikut mulai naik tanpa sadar.
Dan itu justru membuat Sinok makin terluka.
“Nah kan…”
Sinok tersenyum kecil pahit sambil menangis.
“Kalau sudah capek… akhirnya marah juga.”
Kalimat itu langsung membuat Akang sadar.
Ia langsung mengusap wajah frustrasi.
“Maaf…”
Namun suasana sudah terlanjur panas.
Hujan deras membuat jalanan depan sekolah mulai sepi.
Lampu jalan memantul di genangan air.
Dan di tengah suasana itu…
Sinok akhirnya berkata lirih,
“Mungkin aku memang belum siap buat hubungan seperti ini.”
Kalimat itu langsung membuat dada Akang terasa dihantam keras.
“Maksudmu apa?”
Sinok menunduk.
“Aku takut berubah jadi orang yang penuh curiga.”
“Kau tidak seperti itu.”
“Tapi aku mulai jadi seperti itu.”
Air mata terus jatuh di pipinya.
Dan malam itu…
Akang akhirnya melihat seberapa besar luka masa lalu masih menghantui Sinok.
Di kejauhan…
Rahmad ternyata melihat semuanya dari bawah halte dekat sekolah.
Hujan membasahi jaket hitamnya.
Anton berdiri di samping sambil menghela napas kecil.
“Mad…”
Rahmad menatap Akang dan Sinok yang sedang bertengkar di tengah hujan.
Tatapannya sulit dibaca.
Ada puas.
Namun juga ada rasa sakit aneh di matanya.
“Aku pernah bilang…”
Rahmad bergumam lirih,
“orang yang terlalu takut kehilangan…”
tatapannya mengarah ke Sinok,
“…biasanya malah menghancurkan dirinya sendiri.”
Hujan malam terus turun tanpa henti di Kota Air.
Dan malam itu…
hubungan Akang dan Sinok kembali berada di ambang kehancuran.
BAB XXVIII
DIAM YANG PALING MENYAKITKAN
Setelah pertengkaran malam itu…
hubungan Akang dan Sinok berubah menjadi sangat sunyi.
Bukan karena mereka saling membenci.
Justru sebaliknya.
Karena terlalu saling sayang…
mereka sama-sama terluka.
Dan kadang…
diam dari seseorang yang kita cintai memang lebih menyakitkan daripada pertengkaran besar.
Pagi di Kuala Kapuas terasa mendung.
Langit abu-abu menggantung rendah di atas kota. Udara dingin sisa hujan malam membuat suasana sekolah terasa lebih lesu dari biasanya.
Namun yang paling terasa berat pagi itu…
adalah hati Akang.
Ia duduk diam di bangku belakang kelas sambil menatap ponselnya.
Chat terakhir dari Sinok masih terbuka.
“Aku mau sendiri dulu.”
Kalimat sederhana.
Namun cukup membuat dadanya terasa kosong.
Aziz yang duduk di depan akhirnya menoleh.
“Bang…”
Akang diam.
“Kau tidak tidur lagi ya?”
Akang tersenyum kecil hambar.
“Sedikit.”
Padahal kenyataannya…
semalaman ia hanya memikirkan satu hal:
bagaimana caranya membuat Sinok percaya bahwa dirinya tidak akan pergi.
Supia menghela napas panjang.
“Hubungan kalian memang berat.”
Karwan yang sedari tadi diam akhirnya berkata pelan,
“Bukan berat karena kurang cinta.”
Tatapannya tenang ke arah Akang.
“Tapi karena terlalu banyak rasa takut.”
Kalimat itu langsung membuat suasana hening.
Karena semua orang tahu…
itulah kenyataannya.
Sementara itu…
Sinok juga tidak jauh berbeda.
Ia duduk di kelas sambil memandangi hujan kecil di luar jendela.
Tatapannya kosong.
Dan sejak pagi…
ia hampir tidak bicara sama sekali.
Yulia mulai khawatir.
“Nok…”
Sinok tersenyum kecil lemah.
“Hm?”
“Kau menangis lagi semalam?”
Sinok tidak menjawab.
Namun matanya yang sembab sudah cukup menjelaskan semuanya.
Endang ikut duduk di sampingnya sambil membawa roti.
“Aku tidak suka lihat kalian begini.”
Sinok menunduk pelan.
“Aku juga tidak suka.”
“Terus kenapa malah menjauh?”
Pertanyaan itu langsung membuat Sinok diam cukup lama.
Karena sebenarnya…
ia sendiri juga tidak ingin jauh dari Akang.
Namun rasa takutnya jauh lebih besar daripada keberaniannya.
“Aku cuma takut jadi beban buat dia,” katanya lirih.
Yulia langsung mengernyit.
“Sejak kapan kau jadi beban?”
“Aku terlalu sering cemburu.”
“Karena kau sayang.”
“Aku takut lama-lama dia capek.”
Suara Sinok mulai bergetar.
Dan itu membuat Yulia akhirnya sadar…
bahwa yang sedang melawan Sinok sebenarnya bukan Akang.
Melainkan pikirannya sendiri.
Jam istirahat…
suasana sekolah cukup ramai karena latihan pentas seni semakin dekat.
Namun di tengah keramaian itu…
Akang dan Sinok justru saling menghindar.
Saat Akang lewat koridor…
Sinok memilih masuk kelas.
Saat Sinok keluar perpustakaan…
Akang justru berjalan ke arah lain.
Dan jarak kecil itu…
terasa sangat menyakitkan bagi keduanya.
Rahmad yang melihat dari kejauhan perlahan tersenyum tipis.
Namun kali ini…
senyumnya tidak sepenuh dulu.
Karena entah kenapa…
melihat Sinok terlihat sesedih itu justru membuat dadanya ikut terasa tidak nyaman.
Anton menatapnya pelan.
“Kau puas?”
Rahmad tidak langsung menjawab.
Tatapannya tetap mengikuti langkah Sinok.
Lalu ia berkata lirih,
“Aku cuma mau dia jauh dari Akang.”
“Sekarang sudah.”
Rahmad terdiam beberapa detik.
Namun anehnya…
ia justru tidak merasa menang.
Sore harinya…
hujan kembali turun di Kuala Kapuas.
Akang berdiri sendirian di halte dekat Jalan Simpang Adipura sambil memandangi jalanan basah.
Lampu kota mulai menyala perlahan.
Orang-orang berlalu lalang sambil membawa payung.
Namun di tengah keramaian itu…
ia merasa sangat sendiri.
Beberapa menit kemudian…
langkah pelan terdengar mendekat.
Sinok.
Mereka sama-sama terdiam saat bertemu di halte kecil itu.
Hujan turun cukup deras di depan mereka.
Suasana terasa canggung.
Namun juga penuh rindu yang tidak terucap.
“Kau belum pulang?” tanya Akang akhirnya.
Sinok menggeleng kecil.
“Nunggu hujan reda.”
Hening lagi.
Dan diam itu terasa begitu menyiksa.
Karena sebenarnya…
ada banyak hal yang ingin mereka katakan.
Namun tidak tahu harus mulai dari mana.
“Aku kangen,” kata Akang tiba-tiba.
Jantung Sinok langsung berdegup keras.
Ia perlahan menunduk.
“Aku juga.”
Jawaban lirih itu langsung membuat suasana berubah.
Hangat.
Namun juga menyakitkan.
Akang menatap hujan di depan mereka.
“Aku tidak suka kita begini.”
Sinok menggigit bibir bawahnya pelan.
“Aku juga tidak.”
“Terus kenapa kita saling menjauh?”
Air mata kecil mulai muncul di mata Sinok lagi.
Karena pertanyaan itu adalah hal yang juga terus ia pikirkan sendiri.
“Aku takut…”
Suara Sinok bergetar.
“Aku takut suatu hari kau sadar kalau aku terlalu melelahkan.”
Akang langsung menoleh cepat.
“Jangan ngomong begitu.”
“Tapi itu yang aku rasain.”
“Sinok…”
Akang melangkah mendekat pelan.
Tatapannya sangat serius.
“Kau bukan beban.”
Air mata Sinok akhirnya jatuh lagi.
Karena untuk pertama kalinya…
seseorang benar-benar mencoba memahami ketakutannya tanpa menghakimi.
“Aku cuma manusia yang takut kehilangan,” bisiknya lirih.
Akang tersenyum kecil pahit.
“Aku juga.”
Hujan masih turun deras di luar halte.
Dan malam itu…
dua orang yang saling mencintai itu akhirnya sadar bahwa masalah terbesar mereka bukan orang lain.
Melainkan rasa takut di hati masing-masing yang terus membisikkan:
“Bagaimana kalau akhirnya ditinggalkan juga?”
BAB XXIX
PELUKAN DI TEPI SUNGAI
Malam setelah pertemuan di halte itu…
sesuatu perlahan berubah di antara Akang dan Sinok.
Bukan karena semua masalah tiba-tiba hilang.
Bukan karena rasa takut mereka langsung lenyap begitu saja.
Namun karena untuk pertama kalinya…
mereka mulai saling memahami luka masing-masing.
Dan itu membuat cinta mereka terasa lebih dewasa.
Kuala Kapuas malam itu terlihat tenang.
Hujan sudah berhenti sejak magrib. Angin sungai bertiup lembut membawa aroma air dan udara malam yang dingin.
Lampu-lampu di sekitar Dermaga KP3 memantul indah di permukaan sungai yang tenang.
Beberapa pedagang kuliner masih terlihat ramai.
Anak-anak muda duduk santai di tepian dermaga sambil menikmati malam Kota Air.
Dan malam itu…
Akang mengajak Sinok bertemu di sana.
Sinok datang mengenakan sweater coklat muda dan jilbab hitam sederhana.
Wajahnya masih terlihat sedikit lelah.
Namun malam ini…
tatapannya jauh lebih tenang dibanding beberapa hari terakhir.
Saat melihat Akang berdiri di dekat pagar dermaga sambil memandang sungai…
hatinya kembali terasa hangat.
“Kau lama nunggu?” tanya Sinok pelan.
Akang menoleh lalu tersenyum kecil.
“Tidak.”
Padahal sebenarnya…
ia datang hampir satu jam lebih awal karena terlalu gugup.
Mereka berjalan perlahan menyusuri tepian dermaga.
Suasana malam cukup tenang.
Hanya terdengar suara air sungai dan musik samar dari warung kuliner.
Namun meski suasana terasa nyaman…
ada sedikit kecanggungan kecil di antara mereka.
Karena setelah pertengkaran besar…
kadang hati memang butuh waktu untuk benar-benar pulih.
“Aku kepikiran terus soal kemarin,” kata Sinok lirih sambil menatap lampu sungai.
Akang menghela napas kecil.
“Aku juga.”
Hening beberapa detik.
Lalu Sinok berkata pelan,
“Maaf aku terlalu emosional.”
Akang langsung menggeleng.
“Harusnya aku yang minta maaf.”
“Kita sama-sama salah ya.”
Akang tersenyum kecil tipis.
“Iya.”
Dan untuk pertama kalinya…
mereka bisa mengakui kesalahan tanpa saling menyalahkan.
Angin malam bertiup lembut.
Beberapa kapal kecil terlihat melintas perlahan di sungai.
Lampu kota memantul indah di air.
Dan suasana malam itu terasa begitu damai.
“Aku sebenarnya malu sama diriku sendiri,” kata Sinok tiba-tiba.
Akang menoleh kecil.
“Kenapa?”
“Aku terlalu gampang takut.”
Tatapannya menunduk.
“Aku selalu mikir orang bakal pergi kalau sudah capek sama aku.”
Suara Sinok lirih sekali.
Namun cukup membuat dada Akang terasa nyeri.
Karena ternyata…
di balik senyum lembut gadis itu,
ada rasa takut yang begitu besar untuk ditinggalkan.
Akang berhenti berjalan.
Lalu perlahan menatap Sinok serius.
“Dengar aku baik-baik.”
Sinok perlahan mengangkat wajah.
“Aku mungkin tidak sempurna.”
Tatapan Akang hangat.
“Aku juga kadang bikin salah.”
Angin malam meniup pelan rambut kecil di dekat wajah Sinok.
“Tapi kalau soal perasaanku ke kau…”
Akang tersenyum kecil.
“…aku tidak pernah main-main.”
Jantung Sinok langsung berdegup cepat lagi.
Air matanya perlahan mulai muncul.
Namun kali ini bukan karena sedih.
Melainkan karena merasa begitu dihargai.
Dan sebelum sempat berkata apa-apa…
Akang perlahan menarik tubuhnya ke dalam pelukan hangat.
Sinok langsung membeku kecil.
Jantungnya berdetak sangat cepat.
Pelukan itu sederhana.
Tidak berlebihan.
Namun terasa sangat nyaman.
Seolah semua ketakutan yang selama ini memenuhi dadanya perlahan diredakan.
“Aku capek lihat kau nangis terus,” bisik Akang pelan.
Sinok tertawa kecil di tengah air matanya.
“Kau juga sering bikin aku nangis.”
“Iya…”
Akang ikut tertawa kecil.
“Maaf.”
Sinok perlahan membalas pelukan itu.
Dan malam di tepian sungai Kuala Kapuas terasa begitu tenang bagi mereka.
Namun tanpa mereka sadari…
dari kejauhan Rahmad melihat semuanya.
Ia berdiri dekat parkiran motor sambil memandang Akang dan Sinok yang sedang berpelukan di tepi sungai.
Anton berdiri di sampingnya.
“Mad…”
Rahmad tersenyum kecil pahit.
Tatapannya kosong.
“Cantik ya…”
Anton menghela napas.
“Apa?”
“Orang yang dicintai dengan tulus.”
Angin malam bertiup dingin.
Dan untuk pertama kalinya…
Rahmad terlihat benar-benar lelah melawan kenyataan.
“Aku kalah,” katanya lirih.
Anton menatap sahabatnya pelan.
Namun kali ini…
tidak ada kemarahan di wajah Rahmad.
Hanya kesedihan yang akhirnya mulai menerima.
Sementara itu…
di tepian sungai Kota Air…
Akang perlahan melepaskan pelukannya lalu menatap Sinok lembut.
“Kita coba lagi pelan-pelan ya.”
Sinok mengangguk kecil sambil tersenyum malu.
“Iya.”
“Kalau ada apa-apa…”
“Aku ngomong.”
“Kalau cemburu?”
Sinok langsung memalingkan wajah malu.
Akang tertawa kecil puas.
“Kau lucu.”
“Akang…”
“Malah makin lucu kalau malu.”
Sinok akhirnya tertawa kecil sambil memukul lengannya pelan.
Dan malam itu…
untuk pertama kalinya setelah sekian banyak badai…
mereka kembali menemukan ketenangan dalam pelukan dan kejujuran sederhana.
BAB XXX
SENJA YANG AKHIRNYA MENENANGKAN
Waktu berlalu perlahan di Kota Air.
Hari-hari di Kuala Kapuas mulai terasa lebih hangat bagi Akang dan Sinok. Setelah begitu banyak kesalahpahaman, pertengkaran, air mata, dan rasa takut…
hubungan mereka akhirnya mulai menemukan ritmenya sendiri.
Bukan hubungan yang sempurna.
Namun hubungan yang sama-sama diperjuangkan.
Dan mungkin…
cinta yang bertahan memang bukan tentang siapa yang tidak pernah salah.
Melainkan tentang siapa yang tetap memilih bertahan setelah mengetahui semua kekurangan satu sama lain.
Sore itu…
langit Kuala Kapuas terlihat sangat indah.
Warna jingga perlahan memenuhi langit di sekitar sungai. Angin sore bertiup lembut melewati jalanan kota.
Lampu-lampu taman di Bundaran Besar mulai menyala satu per satu.
Suasana kota terasa damai.
Dan sore itu…
sekolah mereka akhirnya selesai mengadakan pentas seni tahunan.
Acara berlangsung meriah.
Tawa siswa memenuhi aula sejak pagi. Penampilan musik, tari, puisi, dan drama membuat suasana sekolah terasa hidup.
Akang menjadi salah satu panitia paling sibuk.
Sedangkan Sinok membantu bagian dokumentasi bersama Yulia dan Endang.
Aziz dari tadi malah sibuk mencari makanan gratis.
Supia tidak berhenti mengomel.
Karwan tetap seperti biasa:
tenang,
pendiam,
dan diam-diam memperhatikan semuanya.
“AKU BANGGA HARI INI TIDAK ADA YANG NANGIS!”
teriak Aziz heboh.
Sinok langsung tertawa malu.
Akang menyikut sahabatnya pelan.
“Mulutmu.”
Yulia ikut tertawa kecil.
“Keajaiban dunia memang.”
Endang langsung mengangguk serius.
“Hubungan mereka kaya sinetron.”
Semua akhirnya tertawa bersama.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama…
suasana di antara mereka benar-benar terasa ringan.
Bahkan Rahmad…
akhirnya datang mendekat sore itu.
Suasana sempat sedikit canggung.
Namun Rahmad terlihat jauh lebih tenang dibanding sebelumnya.
Anton berdiri di belakang sambil memperhatikan pelan.
“Aku mau ngomong sebentar,” kata Rahmad.
Akang dan Sinok saling menatap kecil.
Lalu mengangguk.
Rahmad menarik napas panjang.
“Aku minta maaf.”
Kalimat itu langsung membuat semua orang cukup terkejut.
Rahmad tersenyum kecil pahit.
“Aku terlalu egois.”
Tatapannya perlahan mengarah ke Sinok.
“Aku terlalu maksa perasaan yang memang tidak pernah bisa aku punya.”
Sinok perlahan menunduk.
Sedangkan Akang hanya diam mendengarkan.
“Aku kira kalau aku menghancurkan hubungan kalian…”
Rahmad tertawa kecil hambar,
“…aku bakal merasa menang.”
Angin sore bertiup pelan di halaman sekolah.
“Ternyata tidak.”
Tatapannya terlihat lelah namun jujur.
“Aku malah kehilangan diriku sendiri.”
Suasana mendadak sunyi.
Karena untuk pertama kalinya…
mereka melihat sisi Rahmad yang benar-benar rapuh.
Sinok akhirnya berkata pelan,
“Aku juga minta maaf kalau pernah bikin kau berharap terlalu jauh.”
Rahmad tersenyum kecil.
“Bukan salahmu.”
Lalu ia menoleh ke Akang.
“Jaga dia baik-baik.”
Akang mengangguk pelan.
“Iya.”
Dan sore itu…
permusuhan panjang mereka akhirnya perlahan berakhir.
Setelah acara selesai…
langit senja Kuala Kapuas terlihat luar biasa indah.
Warna oranye keemasan memenuhi langit di atas sungai.
Suasana kota terasa hangat.
Akang dan Sinok berjalan perlahan menuju taman dekat Bundaran Besar.
Tempat yang dulu sering menjadi saksi kecanggungan mereka.
Tempat penuh pertengkaran kecil.
Tempat penuh rasa takut.
Dan kini…
menjadi tempat mereka belajar saling memahami.
“Kita ternyata sudah sejauh ini ya,” kata Sinok pelan sambil tersenyum kecil.
Akang mengangguk.
“Iya.”
“Padahal dulu aku pikir kita tidak bakal kuat.”
Akang tertawa kecil.
“Aku juga sempat takut.”
Sinok menoleh.
“Takut apa?”
“Kau pergi.”
Jawaban itu membuat hati Sinok kembali hangat.
Mereka duduk di bangku taman sambil melihat langit senja perlahan berubah gelap.
Lampu kota mulai menyala.
Kendaraan berlalu pelan di sekitar Bundaran Besar.
Dan suasana sore itu terasa sangat damai.
“Aku baru sadar sesuatu,” kata Sinok tiba-tiba.
“Apa?”
“Cinta ternyata bukan soal siapa yang paling sempurna.”
Akang menatapnya pelan.
“Tapi siapa yang tetap tinggal waktu keadaan lagi tidak baik.”
Akang tersenyum kecil.
“Kau mulai bijak sekarang.”
Sinok langsung memukul lengannya pelan sambil tertawa malu.
“Menyebalkan.”
Beberapa detik kemudian…
Akang perlahan menggenggam tangan Sinok.
Hangat.
Tenang.
Dan kali ini…
tidak ada rasa takut sebesar dulu.
“Kalau suatu hari nanti kita bertengkar lagi…”
kata Akang pelan.
Sinok menatapnya.
“…jangan saling diam terlalu lama ya.”
Sinok tersenyum kecil lalu mengangguk.
“Iya.”
“Kalau cemburu?”
Sinok langsung memalingkan wajah malu.
Akang tertawa kecil puas.
“Lucu.”
“Akang…”
“Kalau malu makin lucu.”
Sinok akhirnya ikut tertawa.
Dan suara tawa kecil mereka menyatu dengan suasana senja Kota Air yang perlahan menenangkan segalanya.
Di bawah langit Kuala Kapuas yang mulai gelap…
dua hati yang sebelumnya penuh luka dan ketakutan itu akhirnya belajar satu hal:
bahwa cinta tidak selalu berjalan mudah.
Kadang penuh salah paham.
Kadang penuh air mata.
Kadang membuat lelah.
Namun selama masih ada kejujuran…
kepercayaan…
dan keinginan untuk saling kembali…
maka rindu tidak akan pernah benar-benar berkesudahan.
EPILOG
KOTA AIR, RINDU, DAN KISAH YANG TAK BENAR-BENAR USAI
Kuala Kapuas tetaplah Kuala Kapuas.
Kota kecil yang sederhana.
Kota yang tidak pernah terlalu ramai, namun selalu punya cara membuat orang ingin kembali.
Sungainya masih mengalir tenang seperti dulu.
Lampu-lampu malam di Dermaga KP3 masih memantul indah di permukaan air.
Bundaran Besar tetap menjadi tempat orang-orang menghabiskan sore.
Pertokoan Sanjaya masih ramai oleh suara kendaraan dan tawa anak muda.
Dan Jalan Simpang Adipura masih menjadi saksi banyak kisah yang diam-diam tumbuh di kota kecil itu.
Termasuk kisah mereka.
Waktu terus berjalan.
Hari berganti minggu.
Minggu berubah menjadi bulan.
Dan perlahan…
semua luka yang dulu terasa begitu menyakitkan mulai berubah menjadi kenangan.
Bukan untuk dilupakan.
Namun untuk dikenang sebagai bagian dari perjalanan hati yang pernah tumbuh bersama.
Akang dan Sinok akhirnya belajar banyak tentang cinta.
Bahwa cinta bukan sekadar rasa nyaman.
Bukan hanya tentang kata “sayang”.
Dan bukan pula tentang hubungan yang selalu dipenuhi kebahagiaan.
Melainkan tentang dua orang yang sama-sama belajar bertahan meski berkali-kali hampir menyerah.
Sinok akhirnya mengerti…
bahwa tidak semua orang akan meninggalkan dirinya seperti masa lalu yang pernah membuatnya takut.
Sedangkan Akang belajar…
bahwa mencintai seseorang bukan hanya soal menjaga perasaan sendiri.
Namun juga tentang membuat orang yang dicintai merasa aman.
Dan mungkin…
itulah bentuk cinta paling dewasa.
Aziz masih tetap menjadi manusia paling ribut di antara mereka.
Tawanya masih sering memenuhi tongkrongan kecil mereka di tepian kota.
Supia tetap jahil seperti biasa.
Karwan masih menjadi pendengar paling tenang.
Yulia tetap menjadi “ratu sosial media” yang selalu tahu gosip terbaru.
Endang masih tidak bisa berhenti kepo terhadap apa pun.
Abdul…
tetap menjadi sosok tulus yang akhirnya memilih menyimpan perasaannya baik-baik tanpa membenci siapa pun.
Sedangkan Rahmad…
perlahan mulai belajar menerima bahwa cinta tidak selalu harus dimiliki.
Kadang…
mencintai berarti belajar merelakan.
Suatu sore…
di tepian Dermaga KP3…
Akang dan Sinok kembali duduk berdampingan sambil melihat matahari tenggelam di balik sungai.
Langit senja terlihat indah.
Angin sore bertiup lembut.
Dan suasana terasa sangat tenang.
“Kau sadar tidak?” tanya Sinok pelan.
“Apa?”
“Kita sering sekali hampir putus.”
Akang langsung tertawa kecil.
“Karena kau gampang cemburu.”
Sinok langsung memukul lengannya pelan.
“Akang!”
“Tapi lucu.”
Sinok memalingkan wajah malu.
Namun senyumnya tidak bisa disembunyikan lagi.
Beberapa detik kemudian…
Sinok berkata lirih,
“Kalau nanti suatu hari kita dewasa…”
Akang menoleh kecil.
“…apa kita masih bisa begini?”
Pertanyaan itu sederhana.
Namun terasa sangat dalam.
Akang memandang sungai beberapa saat.
Lalu perlahan menggenggam tangan Sinok.
“Kalau memang takdirnya sama…”
ia tersenyum kecil,
“…mau sejauh apa pun jalannya, kita bakal tetap ketemu lagi.”
Jantung Sinok langsung terasa hangat.
Matahari perlahan tenggelam.
Langit Kuala Kapuas berubah jingga keemasan.
Dan di tengah kota kecil yang dikenal sebagai Kota Air itu…
dua remaja yang dulu dipenuhi rasa takut akhirnya mengerti satu hal:
bahwa rindu tidak selalu harus berakhir.
Karena kadang…
rindu justru menjadi alasan dua hati terus saling kembali.
Dan kisah mereka…
mungkin memang sudah selesai dituliskan.
Namun di sudut-sudut kecil Kota Air…
tentang tawa,
tentang air mata,
tentang cemburu,
tentang perjuangan,
dan tentang dua hati yang akhirnya belajar saling menerima…
semuanya akan tetap hidup dalam kenangan.
SELESAI
Anang
30 Januari 2025 19:28:34
Lanjutkan mas... Semoga website desa pian semakin maju...