Tetralogi Roman Epik Surat Dari Masa Lalu Buku Kedua: Rindu Di Bangku STM Tekstil Pedan
TETRALOGI ROMAN EPIK
SURAT DARI MASA LALU
Buku Kedua
RINDU DI BANGKU STM TEKSTIL PEDAN
“Tentang Seragam Putih Abu-Abu, Ruang Praktik yang Dingin, dan Seorang Gadis Desa yang Belajar Merajut Harapan di Antara Pelajaran dan Perasaan”
Oleh: Slamet Riyadi
DISCLAIMER
Novel ini adalah karya fiksi roman remaja berlatar kehidupan desa, sekolah STM, dunia perantauan, serta dinamika persahabatan era akhir 1990-an hingga awal 2000-an.
Seluruh tokoh, peristiwa, percakapan, dan konflik di dalam cerita telah mengalami pengolahan dramatik demi kepentingan narasi dan penguatan emosi cerita.
Beberapa latar tempat, budaya tongkrongan anak desa, kehidupan sekolah STM, kegiatan karate, perjalanan merantau, suasana terminal, kereta ekonomi, hingga kehidupan anak kos terinspirasi dari realitas sosial masyarakat Jawa Tengah pada zamannya.
Novel ini memuat kisah tentang:
- cinta pertama,
- kehilangan,
- persahabatan,
- obsesi,
- kehidupan remaja STM,
- tekanan batin,
- perjuangan keluarga sederhana,
- dan pencarian jati diri seorang gadis desa.
Cerita ini tidak hanya berbicara tentang percintaan remaja.
Tetapi juga tentang bagaimana seseorang tumbuh dari luka-luka yang tidak pernah benar-benar sembuh.
Tentang kenangan yang tetap tinggal meski waktu terus berjalan.
Tentang orang-orang yang datang membawa hangat…
lalu pergi meninggalkan sunyi.
Dan tentang seorang gadis bernama Yanti…
yang mencoba bertahan hidup di antara kehilangan demi kehilangan.
PROLOG
MERPATI TAK PERNAH INGKAR JANJI
Ada masa dalam hidup…
ketika seseorang datang bukan untuk tinggal selamanya.
Melainkan hanya untuk mengajarkan arti kehilangan.
Dan Yanti…
terlalu muda untuk memahami itu semua.
Malam itu…
angin Desa Tegorejo berembus pelan melewati sawah yang mulai menguning.
Suara jangkrik terdengar dari pematang.
Lampu-lampu rumah penduduk tampak redup kekuningan.
Dan di bawah pohon mangga depan rumah…
Yanti duduk sendirian sambil memeluk lututnya.
Matanya kosong.
Tatapannya jauh.
Seolah sebagian jiwanya ikut pergi bersama seseorang.
Sudah hampir tiga bulan…
Mas Nur tidak pernah kembali.
Tidak ada surat.
Tidak ada kabar.
Tidak ada pesan.
Ia pergi begitu saja ke Jakarta…
membawa semua janji yang dulu pernah diucapkannya di bawah langit sore Desa Tegorejo.
Dan yang paling menyakitkan…
ia pergi tanpa pamit.
“Heh…”
Suara Ima terdengar pelan dari belakang.
“Mbak belum tidur?”
Yanti menoleh kecil.
Belum sempat menjawab…
Ima sudah duduk di sampingnya.
“Masih mikirin Mas Nur ya?”
Yanti tersenyum kecil hambar.
“Enggak.”
“Bohong.”
“Bener.”
“Kalau enggak kenapa tiap malam duduk terus di sini?”
Yanti terdiam.
Karena bahkan dirinya sendiri tidak tahu…
apa yang sebenarnya sedang ia tunggu.
Mungkin…
suara langkah kaki.
Mungkin…
seseorang datang sambil tersenyum lalu berkata:
“Aku pulang…”
Atau mungkin…
ia hanya belum siap menerima kenyataan…
bahwa cinta pertamanya benar-benar pergi.
Ima memandangi kakaknya lama.
Lalu berkata pelan.
“Mbak…”
“Apa?”
“Kalau orang pergi…”
“Belum tentu lupa.”
Kalimat sederhana itu…
membuat dada Yanti terasa semakin sesak.
Di kejauhan…
langit malam Tegorejo tampak gelap.
Dan bagi Yanti…
desa itu sudah tidak lagi terasa sama.
Lapangan karate yang dulu penuh tawa…
kini hanya menyisakan kenangan.
Jalan kecil dekat kebun bambu…
masih mengingat langkah-langkah sore mereka dulu.
Pohon trembesi depan sekolah…
masih berdiri diam seperti saksi bisu semua tangis yang pernah jatuh di bawahnya.
Dan setiap sudut desa…
selalu mengingatkannya pada seseorang.
Mas Nur.
Namun kehilangan tidak berhenti di situ.
Karena beberapa bulan setelah Mas Nur pergi…
Kakang Riyadi juga meninggalkan Tegorejo.
Pergi menyusul Karwan ke Tangerang.
Tanpa pamit.
Tanpa pelukan terakhir.
Tanpa memberi kesempatan pada Yanti untuk berkata:
“Jangan pergi…”
Dan sejak saat itu…
hidup Yanti benar-benar berubah.
Dulu…
ia adalah gadis paling ramai di antara teman-temannya.
Tertawa paling keras.
Bercanda paling heboh.
Bahkan sering membuat satu kampung ribut hanya karena suara tawanya.
Namun sekarang…
ia lebih sering diam.
Lebih sering melamun.
Dan lebih sering menangis diam-diam di kamar.
Bu Rosmiyati sampai berkali-kali menghela napas melihat anak sulungnya berubah.
“Nduk…”
“Iya Bu…”
“Kamu nggak boleh terus begini.”
Yanti menunduk pelan.
“Aku capek Bu…”
“Capek apa?”
“Hidup.”
Kalimat itu membuat Bu Rosmiyati langsung menatap anaknya lekat.
“Kamu masih muda.”
“Tapi rasanya hati aku udah tua…”
Suara Yanti lirih.
“Semua orang pergi…”
Bu Rosmiyati mengusap kepala anaknya perlahan.
“Orang pergi bukan berarti hidup selesai.”
“Tapi rasanya sepi banget…”
“Maka kamu harus mulai hidup baru.”
Dan malam itulah…
untuk pertama kalinya…
Bu Rosmiyati mengucapkan nama sekolah itu.
STM Tekstil Pedan.
“Kamu sekolah saja di Klaten.”
Yanti langsung menoleh.
“Hah?”
“Biar suasananya baru.”
“Biar pikiranmu berubah.”
“Tapi jauh Bu…”
“Kadang…”
“Kalau hati terlalu penuh kenangan…”
“Manusia memang harus pergi sebentar.”
Yanti langsung diam.
Klaten.
Nama kota itu terasa asing baginya.
Ia belum pernah membayangkan hidup jauh dari rumah.
Jauh dari Tegorejo.
Jauh dari sawah.
Jauh dari suara adzan mushola kampung.
Dan jauh…
dari semua kenangan yang selama ini diam-diam masih ia peluk erat.
Namun hidup memang tidak pernah memberi manusia pilihan untuk terus diam di tempat yang sama.
Kadang…
seseorang harus berjalan meski hatinya belum siap.
Hari-hari setelah itu terasa cepat.
Pendaftaran sekolah.
Menjahit seragam baru.
Membeli buku tulis.
Mempersiapkan hidup baru.
Namun satu hal yang tidak pernah benar-benar siap adalah hati Yanti sendiri.
Malam sebelum keberangkatannya…
Yanti kembali duduk sendirian di bawah langit Tegorejo.
Angin malam terasa dingin.
Dan tanpa sadar…
ia kembali mengingat suara seseorang.
“Aku pengen jagain kamu terus…”
Air mata Yanti jatuh lagi.
“Heh…”
Suara itu masih jelas di kepalanya.
Suara Mas Nur.
Suara cinta pertamanya.
Suara yang dulu membuat dunia terasa hangat.
Namun kini…
hanya tinggal gema kenangan.
Yanti memejamkan mata pelan.
Lalu berbisik lirih pada malam.
“Mas…”
“Kalau benar merpati tak pernah ingkar janji…”
“Kenapa kamu nggak pernah pulang…”
Angin malam berembus pelan.
Membawa suara daun bambu bergesekan.
Namun tak ada jawaban.
Dan sejak malam itu…
perjalanan hidup Yanti benar-benar dimulai.
Perjalanan seorang gadis desa…
yang membawa luka menuju kota asing.
Perjalanan tentang persahabatan.
Tentang cinta yang posesif.
Tentang lelaki-lelaki yang datang silih berganti mengisi hidupnya.
Tentang kehilangan demi kehilangan.
Dan tentang seorang gadis yang perlahan belajar:
bahwa tidak semua orang yang kita cintai…
ditakdirkan untuk tinggal.
Di STM Tekstil Pedan nanti…
Yanti akan bertemu:
orang-orang baru,
dunia baru,
dan kisah baru.
Namun jauh di lubuk hati paling dalam…
ia tetap menyimpan satu nama.
Nama yang tidak pernah benar-benar pergi.
Mas Nur.
Dan tanpa Yanti sadari…
semua luka masa lalunya…
baru saja dimulai kembali.
BAB I
SENJA TERAKHIR DI BANGKU SMP
“Tentang Pengumuman Kelulusan, Masa Remaja yang Mulai Berakhir, dan Seorang Gadis Desa yang Bersiap Meninggalkan Kampung Halamannya…”
Pagi itu langit Tegorejo cerah. Matahari baru naik setinggi pohon kelapa. Embun masih menggantung di daun-daun singkong belakang rumah.
Namun berbeda dengan pagi biasanya, hari itu suasana kampung terasa jauh lebih ramai. Karena hari itu adalah hari pengumuman kelulusan SMP.
Di rumah sederhana berdinding papan itu, Yanti duduk diam di depan cermin kecil kamarnya. Seragam putih biru masih tergantung rapi di pintu. Sepatunya mulai kusam dimakan waktu.
Dan entah kenapa, semua benda itu terasa begitu berharga pagi ini. Seolah hari itu menjadi batas terakhir antara masa remaja dan kehidupan baru yang belum ia kenal.
“Heh Mbak!” Suara Ima muncul dari pintu sambil nyengir. “Kok belum siap?”
Yanti melirik malas. “Maleees…”
“Halah. Takut nggak lulus ya?”
Yanti langsung melempar bantal kecil. “Bawel!”
Ima kabur sambil tertawa ke dapur. Namun beberapa detik kemudian, senyum Yanti perlahan hilang lagi. Hari itu ia sadar satu hal: masa SMP-nya benar-benar akan selesai.
Bu Rosmiyati masuk lalu duduk di belakang Yanti. “Sini, rambutmu ibu rapikan.”
Perlahan ia menyisir rambut panjang anak gadisnya dengan penuh kasih sayang.
“Kamu harus semangat. Ini hari bahagia.”
Yanti tersenyum kecil. “Deg-degan malah.”
Ibunya lalu menatap wajah Yanti dari cermin kecil itu. “Kamu sekarang sudah besar. Sebentar lagi STM. Mau sekolah jauh.”
Yanti menunduk pelan. Ada rasa takut yang belum sempat ia ceritakan pada siapa pun. Takut meninggalkan rumah. Takut memasuki lingkungan baru. Takut memulai semuanya dari nol.
Tak lama kemudian, suara klakson sepeda terdengar dari depan rumah.
TINNN! TINNN!
“Heh Sinok! Ayo berangkat!” Dwi, gadis cerewet berambut sebahu itu, sudah berdiri di pagar sambil tertawa. “Heh jangan dandan lama-lama. Ini pengumuman kelulusan, bukan lomba putri Indonesia.”
Yanti manyun. “Biarin.”
“Hahaha!”
Perjalanan menuju SMP Pengandon pagi itu terasa berbeda. Jalan desa ramai oleh anak-anak berseragam. Ada yang tertawa keras, ada yang terlihat tegang, ada yang sibuk menebak nilai. Namun Yanti lebih banyak diam.
“Heh, kamu kok serius amat?” Dwi mengayuh di sampingnya.
“Biasa.”
“Mukamu kayak mau sidang pengadilan.”
Yanti tertawa kecil. “Lebay.”
Mereka melewati jalan kecil dekat kebun bambu. Angin pagi bertiup pelan. Dan tanpa sadar, langkah sepeda Yanti melambat. Karena jalan itu menyimpan terlalu banyak kenangan masa SMP. Tempat pulang sekolah. Tempat bercanda bersama teman-teman. Yanti tersenyum kecil sendiri.
Saat tiba di sekolah, halaman SMP Pengandon sudah penuh. Anak-anak bergerombol di depan papan pengumuman yang masih ditutup kain. Suasana benar-benar ramai.
Dandang berteriak dari kejauhan. “WOI KALAU GUE NGGAK LULUS, GUE JADI ARTIS!”
Bambang nyeletuk. “Modal muka dulu!”
Satu halaman pecah tertawa.
“Heh Sinok!” Yuli langsung memeluk Yanti. “Deg-degan nggak?”
“Lumayan.”
Dandang datang sambil sok dramatis. “Kalau kita nggak lulus, kita bikin grup dangdut. Namanya Air Mata Pendidikan!”
Bahkan beberapa guru ikut tertawa.
Bel sekolah berbunyi. Kepala sekolah naik ke podium memberikan sambutan panjang tentang perjuangan dan masa depan. Namun sebagian anak malah sibuk sendiri. Dandang berbisik, “Kalau pidato Pak Kepala Sekolah dijual, mungkin bisa buat selimut.”
Bambang menyikutnya. “Diam woi!”
Akhirnya pengumuman dibuka. Anak-anak berdesakan mendekati papan nilai. Suasana kacau. Ada yang berteriak histeris, ada yang meloncat kegirangan.
Yanti berdiri diam. Tangannya mulai dingin. Dadanya berdebar kencang. Matanya mencari namanya sendiri di antara deretan panjang murid.
Sampai akhirnya ia menemukannya.
YANTI — LULUS
Air matanya langsung jatuh.
“Heh Sinok! Kamu lulus!” Dwi memeluknya keras.
“ALHAMDULILLAH!” teriak Yuli.
Dandang malah naik kursi. “AKHIRNYA NEGARA INI SELAMAT! KITA RESMI JADI PENGANGGURAN TERDIDIK!”
Satu sekolah kembali pecah tertawa.
Namun di tengah keramaian itu, Yanti perlahan menjauh. Langkahnya membawanya ke belakang sekolah, ke dekat pohon trembesi tua. Tempat yang selama ini selalu terasa teduh bagi masa remajanya.
Angin siang bertiup lembut. Daun-daun kecil berguguran ke tanah. Dan di bawah pohon itu, Yanti duduk diam sambil memandangi halaman sekolah dari kejauhan.
“Aku lulus,” lirihnya sambil tersenyum kecil.
Namun anehnya, ada rasa haru yang sulit dijelaskan. Bukan sedih, bukan juga bahagia sepenuhnya. Melainkan perasaan kehilangan masa yang tidak akan pernah kembali.
“Heh, kamu malah ngumpet di sini.” Bambang datang lalu duduk di sampingnya.
“Rame banget di depan,” jawab Yanti.
“Kamu jadi sekolah ke Klaten? STM Tekstil ya? Jauh juga.”
Yanti mengangguk pelan.
Bambang menatap halaman sekolah beberapa saat. “Cepat banget ya. Kita udah lulus aja. Padahal dulu kita masih rebutan bangku depan. Terus Dandang pernah dihukum gara-gara tidur di kelas.”
Yanti tertawa. “Yang ngiler di meja itu?”
“Iya!”
Mereka tertawa bersama cukup lama.
“Heh Sinok, nanti kalau udah jauh, jangan lupa pulang.”
Yanti tersenyum hangat. “Memangnya aku mau jadi TKI?”
“Hahaha!”
Sore harinya, sepulang dari sekolah, Yanti kembali melewati jalan kecil dekat sawah. Langit mulai berubah jingga. Angin sore bertiup lembut. Ia mengayuh sepeda pelan sambil memandangi langit senja Tegorejo.
Dan entah kenapa, hatinya mulai berbisik pelan.
“Hidupku bakal berubah…”
Ia tahu, setelah hari itu, tak akan ada lagi seragam putih biru. Tak akan ada lagi kelas kecil SMP Pengandon. Tak akan ada lagi masa remaja sederhana yang selama ini ia jalani.
Karena setelah senja itu, hidup baru sudah menunggunya.
Dan perjalanan menuju STM Tekstil Pedan…
baru saja dimulai.
BAB II
JALAN PANJANG MENUJU PEDAN
“Tentang Terminal Kecil, Tangis yang Disembunyikan, dan Langkah Pertama Meninggalkan Tegorejo”
Pagi itu Desa Tegorejo masih diselimuti embun tipis. Udara dingin turun dari arah persawahan. Suara ayam berkokok bersahutan dari belakang rumah-rumah warga.
Namun pagi itu berbeda. Tidak ada suara Yanti bernyanyi sambil menyapu halaman. Tidak ada suara cekcok kecil antara Yanti dan Ima. Tidak ada tawa keras seperti biasanya.
Karena pagi itu adalah pagi keberangkatan Yanti menuju Klaten. Menuju STM Tekstil Pedan. Menuju kehidupan baru yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya.
Yanti duduk diam di dipan bambu ruang tengah. Di sebelahnya ada koper kecil warna cokelat tua milik almarhum ayahnya. Sudah kusam. Pegangannya mulai retak. Namun koper itu tetap dipakai Bu Rosmiyati karena hanya itu yang paling layak.
Beberapa baju sudah dilipat rapi di dalamnya. Seragam putih abu-abu baru. Mukena. Handuk kecil. Buku tulis. Dan satu foto lama yang diam-diam disimpan Yanti di sela pakaian — foto dirinya bersama Mas Nur saat acara pentas seni SMP dulu.
Yanti memegang foto itu cukup lama. Lalu perlahan memasukkannya kembali ke koper.
“Nduk, makan dulu,” panggil Bu Rosmiyati dari dapur.
Yanti menghela napas lalu berjalan ke meja kayu yang sudah berisi nasi hangat, telur dadar, dan sayur bening. Masakan sederhana. Namun pagi itu rasanya jauh lebih berat dari biasanya.
Ima duduk sambil memperhatikan kakaknya. “Kak, nanti kalau udah sekolah di Klaten jangan lupa sama Ima ya.”
Yanti tersenyum kecil. “Apaan sih…”
“Serius. Takutnya kakak punya temen baru terus lupa.”
Yanti mencubit pipinya pelan. “Bawel.”
Namun beberapa detik kemudian mata Ima mulai berkaca-kaca. “Kak, nanti kalau ada yang jahat sama kakak gimana…”
Kalimat itu langsung membuat suasana mendadak hening. Bu Rosmiyati yang sedang menuang teh pun ikut diam. Karena sebenarnya, itulah yang paling mereka khawatirkan. Yanti akan sekolah jauh. Naik bus sendiri. Tinggal di tempat baru. Bertemu orang-orang baru. Dan untuk pertama kalinya dalam hidup, ia harus belajar berdiri tanpa orang-orang yang dulu selalu ada di dekatnya.
Bu Rosmiyati akhirnya duduk di dekat anak gadisnya. “Nduk, sekolah yang bener. Jangan neko-neko. Jaga diri baik-baik.”
Yanti mengangguk pelan.
“Ibu tahu kamu masih sedih. Ibu juga tahu kamu masih mikirin Nur.”
Yanti langsung menunduk. Air matanya terasa penuh di pelupuk mata, namun ia buru-buru menahannya.
“Bu, kalau orang pergi tanpa pamit, berarti dia nggak sayang ya?”
Bu Rosmiyati terdiam cukup lama. “Kadang orang pergi bukan karena nggak sayang. Tapi karena hidupnya belum selesai.”
Yanti kembali menunduk. Dadanya sesak.
Tak lama kemudian suara klakson colt bak terbuka terdengar dari depan rumah. “TIN! Udah siap belum?!” teriak Pakde Sastro dari luar.
“Itu pakdemu datang.”
Yanti buru-buru mengusap air matanya.
Saat keluar rumah, beberapa tetangga sudah berdiri di pinggir jalan.
“Eh Yanti arep sekolah ning Klaten ya? Sing pinter ya nduk! Jangan lupa kampung!”
Yanti mencoba tersenyum. Namun hatinya tetap berat.
Koper kecil dimasukkan ke belakang colt. Ima langsung memeluk kakaknya erat.
“Kak, kalau kangen gimana…”
Yanti tertawa kecil sambil ikut menangis. “Ya surat-suratan.”
“Bener ya?”
“Iya.”
Bu Rosmiyati ikut memeluk anak gadisnya. Tidak banyak kata. Namun pelukan itu sudah cukup menjelaskan segalanya.
Colt mulai berjalan perlahan meninggalkan rumah. Yanti menoleh ke belakang. Rumah kecilnya makin jauh. Pohon mangga depan rumah. Jemuran. Pagar bambu. Semua perlahan mengecil.
Dan entah kenapa, dadanya terasa sangat sesak.
Sepanjang perjalanan menuju Weleri, Yanti lebih banyak diam. Pakde Sastro beberapa kali mencoba menghibur.
“Nanti kalau udah STM jangan galak-galak ya.”
Yanti tersenyum kecil. “Memangnya aku galak?”
“Lho kamu kalau marah kayak mandor tebu.”
“Hehehe…”
Namun tawanya cepat hilang lagi.
Terminal Weleri pagi itu ramai. Suara kondektur saling bersahutan. “Asli Solooo! Semarang Semarang! Jogja langsung!” Pedagang asongan mondar-mandir menawarkan makanan. Suasana bising. Panas. Dan melelahkan.
Pakde membantu membawakan koper Yanti. “Nanti turun Pedan jangan sampai kelewatan. Kalau bingung tanya orang. Jangan malu.”
Yanti mengangguk pelan.
Tak lama kemudian bus jurusan Solo datang. Bus tua dengan cat mulai pudar. Namun bagi Yanti, itulah kendaraan menuju masa depannya.
Saat naik ke bus, Yanti kembali menoleh ke belakang. Pakde Sastro melambaikan tangan.
“Hati-hatiii!”
“Iya Pakde!”
Bus mulai berjalan perlahan. Dan untuk pertama kalinya, Yanti benar-benar meninggalkan Tegorejo.
Perjalanan terasa panjang. Sawah demi sawah berganti. Kota demi kota terlewati. Yanti duduk dekat jendela sambil memeluk tas kecilnya. Angin masuk lewat kaca bus yang terbuka separuh.
Namun pikirannya terus kembali pada masa lalu. Tentang Mas Nur. Tentang Kakang Riyadi. Tentang malam-malam latihan karate. Tentang tawa di bawah pohon trembesi.
Air mata Yanti kembali jatuh diam-diam. Ia buru-buru menghapusnya sebelum penumpang lain melihat.
Menjelang sore, bus akhirnya memasuki wilayah Klaten. Suasana mulai berbeda. Jalan lebih ramai. Motor berseliweran. Banyak pelajar berseragam putih abu-abu.
Dan saat bus melewati papan besar bertuliskan “PEDAN” , jantung Yanti langsung berdegup lebih cepat.
“Inggih mbak… Pedan…” kata kondektur.
Yanti buru-buru berdiri sambil membawa koper. Tangannya dingin. Kakinya gemetar. Namun ia tetap turun.
Dan saat kedua kakinya menginjak kota kecil itu, Yanti menarik napas panjang. Langit sore mulai jingga. Kehidupan baru sudah menunggunya di depan sana.
Namun Yanti belum tahu bahwa di kota kecil bernama Pedan itu, ia akan menemukan persahabatan baru, luka baru, cinta baru, dan kehilangan yang jauh lebih rumit dari yang pernah ia alami sebelumnya.
Dan tanpa sadar, langkah kecilnya sore itu sedang membawanya menuju masa paling liar dalam hidupnya.
BAB III
ASRAMA, SERAGAM PUTIH ABU-ABU, DAN DUNIA BARU
“Tentang Lorong Sekolah yang Asing, Tatapan Puluhan Cowok STM, dan Seorang Gadis Desa yang Mulai Belajar Bertahan”
Sore pertama di Pedan, Yanti berdiri bingung di depan terminal kecil. Koper tua di genggamannya. Orang-orang berlalu lalang. Becak, sepeda, bus kecil, pedagang kaki lima. Suara klakson bersahutan.
Berbeda dengan Tegorejo yang tenang. Di sini semuanya lebih cepat, lebih ramai, lebih asing.
Namun sebelum sempat bertanya-tanya lebih lama, bangunan sekolah itu sudah terlihat di kejauhan. Gedung panjang bercat krem kusam. Pagar besi besar. Dan tulisan: “STM TEKSTIL PEDAN”
Jantung Yanti berdegup lebih cepat.
Di halaman sekolah, beberapa siswa masih berkumpul. Mayoritas laki-laki. Suara mereka keras, tertawa bebas. Ada yang duduk di motor, ada yang main gitar. Dan saat melihat Yanti masuk gerbang, beberapa langsung menoleh.
“Heh anak baru… cewek tuh?”
Yanti menunduk sambil mempercepat langkah.
Namun baru beberapa meter berjalan — BRAK! Seseorang menabrak kopernya dari belakang.
“Aduh! Eh maaf! Maaf!”
Seorang cowok kurus tinggi dengan rambut sedikit gondrong tersenyum kocak. “Maaf mbak… eh siswi baru ya?”
Yanti mengangguk kecil.
Cowok itu langsung nyengir. “Selamat datang di hutan binatang.”
“Hah?”
Belum sempat Yanti menjawab, teman-temannya sudah tertawa. “Ahmad jangan nakut-nakutin!”
“Oh iya lupa kenalan. Ahmad.” Ia mengulurkan tangan.
“Yanti…”
“Oalah Yanti.” Ahmad langsung berteriak ke teman-temannya. “WOI ADA CEWEK BARU!”
Yanti malu setengah mati.
Dari kejauhan, seorang cowok bertubuh tinggi berjalan santai melewati mereka. Langkahnya tenang. Tatapannya tajam. Dan anehnya, begitu dia lewat, suasana di sekitar langsung berubah lebih sunyi.
Yanti menatap punggung cowok itu yang menjauh. “Siapa itu?”
Ahmad tersenyum misterius. “Toro. Cowok paling ditakuti di STM.”
Yanti mengernyit bingung. Namun sebelum sempat bertanya lebih lanjut, seorang perempuan berkacamata keluar dari kantor sekolah.
“Kamu Yanti dari Kendal? Saya Bu Rina, wali asrama putri. Yuk ikut.”
Asrama putri berada di belakang sekolah. Bangunan sederhana dua lantai, catnya mulai pudar namun cukup bersih.
“Ini Yanti. Nanti satu kamar sama Dwi, Tina, sama Siti,” kata Bu Rina.
Tiga gadis langsung berdiri.
Yang pertama mendekat, cewek berambut pendek sebahu dengan senyum tenang. “Hai, aku Dwi.”
Yang kedua langsung heboh sendiri. “YA AMPUN AKHIRNYA ADA TEMEN BARU! Aku Tina!” Belum sempat Yanti menjawab, Tina sudah menarik kopernya masuk kamar.
Sementara satu lagi hanya duduk diam di pojok sambil membaca buku. “Siti,” katanya pendek.
Tina berbisik, “Dia emang gitu. Hemat bicara.”
Kamar mereka sederhana. Empat ranjang besi, lemari kecil, jendela kayu besar. “Yang kosong ini buat kamu,” kata Dwi menunjuk ranjang dekat jendela.
Malam mulai turun. Untuk pertama kalinya Yanti benar-benar sadar — ia jauh dari rumah.
Setelah makan malam, mereka mengobrol santai. “Kamu dari mana?” tanya Tina.
“Tegorejo, Kendal.”
“Oalah jauh juga. Masuk jurusan apa?”
“Pemintalan.”
“Wih cewek kuat.”
Untuk pertama kalinya sejak datang, Yanti mulai tertawa kecil lagi.
Namun tiba-tiba suara teriakan cowok terdengar dari luar asrama. “WOI ANAK BARU!”
Yanti mengintip dari jendela. Di luar pagar, belasan cowok berdiri sambil tertawa-tawa. “Heh yang jilbab biru namanya siapa?! Cakep juga!”
Yanti langsung menutup jendela cepat-cepat. Mukanya merah total.
Tina malah ngakak. “Selamat. Kamu baru sehari udah terkenal.”
Dwi tersenyum. “Nanti juga biasa. Di sini cewek sedikit, jadi pasti diperhatiin.”
Yanti langsung lemas. Dalam hati ia mulai berpikir: “Ya Allah… ini sekolah apa…”
Keesokan paginya, hari pertama MOS dimulai. Lapangan sekolah sudah ramai. Puluhan siswa baru berbaris memakai seragam putih abu-abu. Jumlah cowok jauh lebih banyak.
Saat Yanti datang bersama Dwi, Tina, dan Siti, hampir semua mata langsung menoleh.
“Heh itu cewek baru kemarin. Cakep.”
Yanti gugup. “Tenang aja,” kata Dwi pelan. “Nanti juga mereka bosan.” Tina langsung nyeletuk, “Bohong.”
Saat itulah Toro lewat di depan barisan. Langkahnya santai. Tatapannya tajam. Semua anak langsung diam.
Cowok itu tiba-tiba berhenti. Lalu menoleh ke arah barisan cewek. Dan untuk beberapa detik, tatapannya berhenti tepat pada Yanti.
Jantung Yanti berdetak aneh.
Toro hanya diam beberapa detik, lalu berjalan lagi tanpa bicara. Namun Tina langsung heboh. “WADUH, dia ngelihat kamu!”
Dwi ikut serius. “Kalau Toro mulai tertarik sama seseorang, biasanya nggak pernah setengah-setengah.”
Yanti makin bingung. Namun jauh di dalam hatinya, ia mulai merasa — hari pertamanya di STM Pedan baru saja membuka pintu menuju kisah yang akan mengubah hidupnya selamanya.
BAB IV
EMPAT CEWEK DAN TIGA PULUH LIMA COWOK
“Tentang Kelas yang Berisik, Candaan Anak STM, dan Seorang Gadis Desa yang Mendadak Jadi Pusat Perhatian”
Hari pertama masuk kelas menjadi salah satu hari paling melelahkan bagi Yanti. Bukan karena pelajaran, bukan karena tugas, tetapi karena tatapan puluhan anak laki-laki yang seolah tak pernah berhenti memperhatikannya.
Pagi itu bel pertama berbunyi nyaring. Suasana koridor STM Tekstil Pedan langsung riuh. Suara sepatu, teriakan, candaan kasar ala anak STM, dan bau oli dari ruang praktik bercampur dengan udara pagi.
Yanti berjalan bersama Dwi menuju kelas. Tangannya memeluk buku erat. Ia gugup. Sangat gugup.
“Kamu tegang banget,” kata Dwi sambil tersenyum.
“Ya iyalah… cowoknya banyak banget.”
Dwi tertawa. “Baru tahu?”
“Aku kira seimbang…”
“HAHAHAHA!”
Saat sampai di depan kelas, Yanti berhenti. Tulisan besar di pintu: “1 TEX A”. Dari dalam, suara gaduh terdengar seperti pasar malam.
“Heh goblok jangan dilempar!” “WOI BANGKU GUE!”
Yanti melirik Dwi panik. “Ini kelas?”
“Iya.”
“Serius?”
“Iya.”
“Ya Allah…”
Baru saja mereka masuk, SEMUA LANGSUNG DIAM. Puluhan pasang mata langsung menatap Yanti.
Dwi menarik tangan Yanti masuk. “Udah biasa.” Namun jelas Yanti belum biasa sama sekali.
Di kelas itu hanya ada empat perempuan: Yanti, Dwi, Tina, dan Siti. Sisanya cowok semua. Tiga puluh lima orang.
“SELAMAT DATANG DI KEBUN BINATANG!” teriak seseorang dari belakang. Satu kelas tertawa. Ternyata Ahmad, cowok humoris yang kemarin menabrak koper Yanti.
“Nama lengkap siapa?” teriaknya lagi.
“WOI jangan diteriakin!” kata Dwi kesal.
Ahmad malah makin semangat. “Perkenalan dong!”
Guru belum datang. Tina menunjuk bangku kosong. Yanti cepat-cepat duduk.
Seorang cowok berkacamata langsung maju. “Kalau butuh catatan nanti pinjam aja. Aku Deni.” Tina berbisik, “Dia idealis. Sedikit-sedikit ngomong masa depan bangsa.”
Belum selesai, cowok lain datang membawa penggaris panjang lalu mengukur meja Yanti. Semua tertawa. “Herman. Anak paling aneh sekelas,” kata Tina. Herman menatap Yanti serius. “Kalau kamu duduk di sini, meja kelas jadi lebih indah.” Yanti malu setengah mati.
Tak lama kemudian guru masuk.
“SELAMAT PAGI!” teriak semua siswa.
Pak guru menaruh buku tebal di meja. “Kelas ini lengkap?”
“Lengkap Pak!”
“Yang perempuan empat?”
“Iya Pak.”
Matanya berhenti pada Yanti. “Kamu murid baru dari Kendal? Semoga betah di sini.”
Dari belakang, Ahmad nyeletuk pelan, “Kalau nggak betah sama aku aja.” PLAK! Kepalanya langsung dipukul Herman.
Jam istirahat tiba. Suasana langsung kacau. “Heh kantin yuk!” “WOI traktir!”
Tina menarik tangan Yanti. “Ayo.”
Kantin STM sederhana. Bangunan semi terbuka dengan meja panjang kayu. Bau gorengan dan kopi bercampur. Dan lagi-lagi, semua mata tertuju pada Yanti.
“Anak baru tuh. Cakep asli.”
Yanti gugup. “Kenapa semua lihat aku terus…”
Tina tertawa. “Karena di sini cewek langka. Kayak panda.”
“HHAHAHAHA!”
Saat sedang makan, seseorang duduk di depan mereka. Cowok tinggi, kulit sawo matang, tatapan tenang.
“Boleh duduk?”
“Oh iya…”
Cowok itu tersenyum kecil. “Aku Riyadi.”
Nama itu membuat Yanti sedikit terdiam. Karena mengingatkannya pada Kakang Riyadi di Tegorejo.
“Kamu dari Kendal ya? Naik bus sendiri? Hebat juga.” Yanti tersenyum kecil.
Berbeda dari cowok lain, Riyadi tidak banyak bercanda. Nada bicaranya tenang. Matanya teduh. “Kalau butuh bantuan, bilang aja.”
Belum sempat lanjut ngobrol, Ahmad datang. “WOI RIYADI, cepet amat deketin anak baru.” Riyadi geleng-geleng kepala.
Namun sebelum suasana makin ramai, semua mendadak diam.
Toro masuk kantin. Langkahnya santai, tapi auranya membuat anak-anak otomatis minggir. Ia berjalan perlahan sambil memasukkan tangan ke saku. Tatapannya tajam.
Saat melewati meja Yanti, ia berhenti.
Beberapa detik suasana benar-benar sunyi.
Toro menatap Yanti. “Anak baru?”
“I… iya…”
Toro mengangguk kecil lalu berjalan lagi tanpa senyum. Namun setelah ia pergi, suasana kantin langsung meledak.
“WADUH, Toro ngomong sama dia. Bahaya.”
Yanti makin bingung. “Ada apa sih…”
Riyadi hanya diam sambil meminum tehnya. Namun untuk pertama kalinya, ia mulai merasa tidak nyaman.
Dan Yanti belum tahu bahwa hari-hari berikutnya akan membuat hidupnya jauh lebih rumit daripada yang ia bayangkan. Karena di STM Pedan, persahabatan, cinta, dan pertarungan harga diri sering kali tumbuh bersamaan.
BAB V
GADIS DESA YANG JADI PUSAT PERHATIAN
“Tentang Lorong STM, Candaan yang Mulai Berlebihan, dan Seorang Gadis Tomboy yang Tidak Pernah Sadar Dirinya Istimewa”
Hari-hari pertama di STM Tekstil Pedan berjalan semakin cepat. Tanpa Yanti sadari, namanya mulai dikenal hampir satu sekolah.
Bukan karena ia mencari perhatian. Justru sebaliknya. Yanti tidak jaim, tidak manja, dan berani bicara dengan siapa saja. Dan entah kenapa, sifat tomboynya justru membuat banyak orang memperhatikannya.
Pagi itu, Yanti berjalan bersama Tina menuju kelas. Baru beberapa langkah, teriakan khas terdengar.
“WOI KENDAL!”
Ahmad berdiri di atas bangku sambil melambai. Yanti menggeleng. “Apaan sih…”
“Yantiii! Kalau nggak mau dipanggil, traktir es dulu!”
Anak-anak lain tertawa. Tina nyengir. “Tuh kan. Kamu udah terkenal.”
Begitu masuk kelas, Herman langsung muncul membawa bunga plastik. Ia berlutut dramatis di depan meja Yanti. “Terimalah bunga ini.”
Satu kelas pecah. Yanti menutup muka pakai buku. “Malu tau!”
Ahmad nyeletuk, “Herman kalau nembak tuh mandi dulu!”
Pelajaran praktik tekstil dimulai. Ruangan besar, bising, penuh mesin. Bau oli dan kapas bercampur jadi satu. Yanti mengeluh pelan, “Ya Allah…”
Tina tertawa. “Baru mulai. Nanti kalau mesin hidup semua, kupingmu mau copot.”
Anak-anak cowok terlihat santai. Sementara Yanti masih bingung sendiri.
Saat itulah Riyadi datang mendekat. “Kamu belum ngerti?”
“Iya…”
Dengan sabar ia menjelaskan, menunjuk bagian-bagian mesin satu per satu. Nadanya pelan, tenang. Berbeda dari anak STM kebanyakan.
“Nah ini buat narik serat. Kalau ini pengatur gulungan.”
“Oh… makasih.”
Riyadi tersenyum kecil. Dari kejauhan, Ahmad berbisik ke Aris, “Riyadi mulai.” Aris tertawa. “Anak pendiem kalau jatuh cinta serem.”
Riyadi melotot. “Berisik lu.” Tapi telinganya memerah.
Jam istirahat, mereka duduk di bawah pohon dekat lapangan. Muji bertanya, “Kamu dulu SMP di mana?”
“Pengandon.”
“Berarti udah biasa dikerubungi cowok dong?”
Yanti melempar tisu ke arahnya. “Ngawur!”
Namun sebelum suasana makin ramai, Toro datang. Semua langsung diam. Ia berdiri memandang Yanti cukup lama.
“Nama kamu Yanti kan? Kendal?”
“Iya…”
Toro mengangguk lalu duduk begitu saja di bangku dekat mereka. Suasana canggung. Bahkan Ahmad yang paling cerewet ikut diam.
“Kamu betah di sini?”
“Lumayan…”
“Kalau ada yang ganggu, bilang.”
Ahmad hampir keselek teh. Yanti bengong. “I… iya…”
Toro berdiri lagi. “Ya udah.” Lalu pergi.
Begitu ia menghilang, semua langsung ribut. “ASTAGA, dia perhatian sama Yanti. Fix kacau.”
Yanti makin bingung. “Emang kenapa sih sama dia?”
Muji berbisik, “Toro paling disegani di sekolah. Kalau marah, bisa satu sekolah diem.”
Ahmad nyeletuk, “Dia mah preman akademik.”
Riyadi hanya diam. Untuk pertama kalinya, ia merasa takut kehilangan sesuatu sebelum benar-benar memilikinya.
Sore harinya, Yanti duduk sendirian di jendela asrama. Langit Pedan mulai jingga.
Hari-harinya kini terasa jauh berbeda dari Tegorejo. Lebih ramai, lebih liar, lebih melelahkan. Namun anehnya, sedikit demi sedikit, hatinya mulai hidup kembali.
Meski jauh di lubuk hati, ia masih sering memikirkan satu nama.
Mas Nur.
BAB VI
RIYADI YANG SELALU DIAM-DIAM MENJAGA
“Tentang Perhatian Kecil yang Tidak Pernah Diminta, Jalan Pulang yang Selalu Ditemani, dan Hati yang Perlahan Belajar Nyaman Lagi”
Hari-hari di STM Tekstil Pedan mulai berjalan lebih cepat. Yanti perlahan terbiasa dengan suara mesin praktik, terbiasa dengan kelas yang selalu gaduh, terbiasa dengan candaan Ahmad yang tak pernah ada habisnya.
Namun ada satu hal yang belum benar-benar ia sadari — sejak awal masuk sekolah, selalu ada seseorang yang diam-diam memperhatikannya. Riyadi. Teman sekelasnya yang pendiam itu. Bukan Kakang Riyadi di Tegorejo yang sudah merantau ke Tangerang, melainkan Riyadi yang berbeda.
Cowok itu memang tidak seperti Ahmad yang suka cari perhatian. Tidak juga seperti beberapa anak laki-laki lain yang mulai terang-terangan mendekati Yanti. Riyadi lebih banyak diam. Namun justru karena diam itulah, perhatian-perhatian kecilnya terasa berbeda.
Dan Yanti seringkali berpikir dalam hati — namanya sama dengan Kakang Riyadi, tapi sifatnya berbeda. Kakang Riyadi dulu lebih banyak bercanda dan melindungi dengan cara yang hangat. Sedangkan Riyadi yang ini... pendiam. Hampir tidak pernah bicara banyak. Tapi justru itu yang membuatnya terasa hangat dengan cara yang baru.
Pagi itu udara Pedan cukup dingin setelah hujan semalaman. Yanti datang agak terlambat sambil ngos-ngosan.
“Heh, Pak Wiryo masuk belum?”
Tina menunjuk depan kelas. “Belum. Tapi bentar lagi.”
Yanti buru-buru duduk. Dan baru sadar — di atas mejanya sudah ada segelas teh hangat.
Dwi melirik sambil nyengir. “Tuh. Ada malaikat lewat tadi pagi.”
Yanti menoleh. Riyadi sedang duduk di bangku belakang sambil membaca buku. Seolah tidak terjadi apa-apa.
Yanti mendekat pelan. “Heh, ini kamu yang beli?”
Riyadi mengangkat kepala. “Oh… iya.”
“Kok repot-repot?”
Ia mengangkat bahu kecil. “Tadi lihat kamu datang kehujanan.”
Yanti diam beberapa detik. Kalimat sederhana. Tapi hangat sekali.
Ahmad yang melihat langsung nyeletuk keras. “WOOOO! Bapak Riyadi mulai bergerak!” Satu kelas ribut. Yanti buru-buru kembali ke tempat duduk sambil malu. “Berisik banget sih!”
Sejak hari itu Yanti mulai memperhatikan Riyadi lebih sering. Dan ia baru sadar — cowok pendiam itu selalu ada saat ia butuh bantuan.
Saat praktik dan benangnya kusut, Riyadi yang membantu. Saat Yanti lupa membawa penggaris, Riyadi meminjamkan. Saat Yanti tertidur di kelas karena kecapekan, Riyadi diam-diam menutup jendela agar angin tidak terlalu dingin.
Hal-hal kecil. Namun terus berulang. Dan tanpa sadar, perlahan membuat hati Yanti nyaman.
Sore hari sepulang sekolah, mereka sering berjalan bersama menuju jalan besar. Biasanya ramai-ramai: Yanti, Dwi, Ahmad, Muji, Aris, dan Riyadi.
Namun hari itu hanya Yanti dan Riyadi yang tersisa. Ahmad pulang duluan. Dwi diajak Tina ke pasar. Muji dan Aris masih praktik tambahan.
Jalanan sore sepi. Langit mulai jingga. Yanti tiba-tiba jadi kikuk sendiri.
Riyadi membuka suara lebih dulu. “Kamu masih sering kepikiran rumah?”
Yanti tersenyum kecil. “Masih.”
“Kangen?”
“Iya.”
“Pulang aja.”
“Nggak bisa semudah itu.”
Riyadi mengangguk pelan. “Aku tahu.”
Mereka kembali diam. Lalu tiba-tiba Riyadi berkata pelan, “Kamu sebenarnya kuat.”
Yanti menoleh. “Hah?”
“Kamu keliatan ceria… padahal sebenarnya banyak sedihnya.”
Kalimat itu membuat langkah Yanti melambat. Karena untuk pertama kalinya ada seseorang yang benar-benar melihat sisi rapuhnya.
“Kamu sok tahu.”
Riyadi tertawa kecil. “Sedikit.”
Yanti ikut tersenyum. Berjalan pulang bersamanya terasa nyaman. Tidak memaksa. Tidak membuat sesak. Berbeda dengan luka-luka cinta yang dulu pernah ia rasakan.
Hari-hari berikutnya kedekatan mereka mulai jadi bahan olokan satu kelas.
“Heh Yanti! Bodyguardmu belum datang tuh!” Ahmad langsung menunjuk Riyadi yang baru masuk kelas. “TUH DATANG!”
Riyadi cuma geleng-geleng kepala. Yanti melempar kapur ke Ahmad. “Mulutmu nggak bisa diem ya!”
Namun sebenarnya Yanti tidak marah. Karena jauh di dalam dirinya, ia memang mulai merasa nyaman dengan keberadaan Riyadi.
Suatu siang jam olahraga selesai lebih cepat. Yanti terlihat lemas karena belum sarapan.
“Heh kamu pucet,” kata Dwi.
“Nggak apa-apa.”
Namun beberapa detik kemudian perut Yanti berbunyi keras. KRUUUKKK…
Satu kelompok langsung ngakak. Yanti menutup muka malu. Ahmad sampai tepuk tangan. “Sound system Dolby!”
Tak lama kemudian Riyadi datang membawa roti dan teh. “Nih.”
Yanti melongo. “Kamu lagi?”
“Makan dulu.”
“Tapi…”
“Udah.”
Nadanya tenang. Namun justru itu yang membuat Yanti tidak bisa menolak.
Dwi berbisik ke Tina, “Kalau aku jadi Yanti, udah klepek-klepek.” Yanti langsung melotot. “Kalian apaan sih!”
Hari demi hari perhatian Riyadi semakin terlihat. Namun bukan perhatian yang berlebihan. Ia tidak pernah memaksa dekat, tidak pernah menggoda aneh-aneh, tidak pernah sok romantis. Ia hanya selalu ada.
Dan justru itu yang membuat Yanti perlahan bergantung pada keberadaannya.
Suatu sore hujan turun sangat deras. Anak-anak tertahan di kelas.
Riyadi berdiri. “Mau ke kantin?”
“Hah? Hujan gitu?”
Ia mengangguk santai. “Sekalian beli makan.”
Ahmad langsung heboh. “Titip gorengan! Aku mie rebus! Es teh!”
Yanti tertawa. “Kasihan amat jadi babu.”
Namun Riyadi cuma tersenyum kecil lalu berlari menerobos hujan. Beberapa menit kemudian ia kembali dengan rambut basah kuyup sambil membawa plastik makanan.
“Heh gila… kamu kehujanan semua.”
Riyadi cuma mengusap rambut. “Nggak apa-apa.”
Dan tanpa sadar, mata Yanti terus memperhatikannya.
Malam itu di kamar kos, Yanti diam cukup lama setelah belajar.
Dwi melirik. “Kamu suka ya sama Riyadi?”
Yanti salah tingkah. “Apaan sih!”
“Jawab aja.”
“Nggak.”
“Bohong.”
Yanti diam. Lalu pelan berkata, “Aku cuma nyaman.”
Dwi tersenyum tipis. “Nah. Itu awal bahaya.”
Yanti sendiri bingung. Setiap kali dekat dengan Riyadi, ia merasa tenang. Tidak seperti saat bersama Mas Nur dulu yang penuh cemburu dan rasa takut kehilangan. Riyadi justru membuatnya merasa aman.
Bahkan berbeda dengan Kakang Riyadi di Tegorejo yang dulu melindunginya dengan cara yang hangat dan penuh tawa. Riyadi yang ini berbeda — lebih pendiam, lebih tenang. Tapi justru ketenangannya yang membuat Yanti perlahan merasa... pulang.
Dan mungkin, untuk pertama kalinya sejak patah hati, Yanti mulai membuka sedikit pintu hatinya lagi.
Namun di luar sana, ada seseorang yang mulai memperhatikan kedekatan mereka. Seseorang yang nantinya akan mengubah hubungan persahabatan mereka menjadi jauh lebih rumit.
Dan tanpa Yanti sadari, dunia STM yang awalnya terasa hangat perlahan mulai membawa konflik baru dalam hidupnya.
BAB VII
PERSAHABATAN LIMA ORANG
“Tentang Jalan Pulang yang Selalu Ramai, Tawa yang Mengusir Luka, dan Seorang Gadis yang Dijaga Seperti Ratu”
Hari-hari Yanti di STM Tekstil Pedan perlahan berubah menjadi lebih berwarna. Jika dulu ia selalu pulang dengan hati berat karena memikirkan Mas Nur dan Kakang Riyadi, kini sedikit demi sedikit tawanya mulai kembali.
Dan penyebabnya adalah lima orang cowok paling berisik di kelasnya: Riyadi, Muji, Aris, Adi, dan Yono.
Awalnya kedekatan mereka terjadi begitu saja. Karena sering satu kelompok praktik, sering pulang bareng, sering nongkrong di kantin yang sama. Namun lama-lama mereka menjadi seperti lingkaran kecil yang tak terpisahkan. Dan di tengah lingkaran itu, Yanti selalu jadi pusat keramaian.
Pagi itu kelas masih sepi. Yanti baru masuk sambil membawa tas besar. Belum sempat duduk, tasnya langsung direbut Muji.
“Sini, bawain.”
Yanti melotot. “Aku nggak cacat kali.”
Muji santai duduk sambil menaruh tas Yanti di kursi. “Daripada kamu ngeluh setengah jam.”
Tak lama kemudian Adi datang membawa gorengan. “Nih sarapan.”
Yanti bengong. “Kenapa sih kalian rajin amat ngasih makan aku?”
Yono nyeletuk, “Karena kamu kalau lapar, galaknya naik dua kali lipat.”
Semua tertawa. Aris ikut tersenyum kecil. Sementara Riyadi hanya memperhatikan dari bangku belakang. Dan entah kenapa, di antara semua perhatian itu, perhatian Riyadi tetap terasa paling berbeda bagi Yanti.
Jam pelajaran berlangsung seperti biasa. Saat Pak Wiryo menjelaskan, Ahmad sibuk menggambar wajah Muji di buku — hidung segede terong, rambut tinggal tiga helai. Yanti tertawa sampai menepuk meja.
Pak Wiryo menoleh tajam. “YANG BELAKANG! LUCU YA?!”
Ahmad refleks berdiri. “Enggak Pak. Ini edukasi seni rupa.”
Satu kelas pecah.
Sepulang sekolah, mereka berlima selalu menunggu Yanti. Begitu Yanti keluar dengan buku bertumpuk, Riyadi langsung mengambil sebagian tanpa bicara.
“Heh, aku bisa bawa sendiri.”
“Tahu.”
“Terus?”
“Capek lihat kamu ngeluh.”
Yanti manyun. Yang lain ngakak.
Jalan pulang mereka selalu ramai. Kadang bercanda, saling ejek, kadang nyanyi ngawur di jalan. Ahmad bilang, “Kalian ini kayak rombongan pengamen gagal.”
Suatu sore mereka berhenti di warung es dekat sekolah. Ibu warung datang membawa lima es teh. Padahal mereka belum pesan.
“Iya tadi sudah dibayar.”
Semua menoleh ke Riyadi. Cowok itu pura-pura sibuk minum.
Adi menggeleng dramatis. “Ya Tuhan… cinta diam-diam memang mengerikan.”
Yanti salah tingkah. “Apaan sih…”
Meski sering diolok, Riyadi tidak pernah marah. Ia tetap sama. Tenang. Pendiam. Namun selalu ada. Dan semua teman mulai sadar — cowok itu benar-benar menyukai Yanti.
Suatu hari mereka mendapat tugas kelompok besar. Akhirnya belajar bersama di rumah kontrakan Muji — rumah sederhana dekat persawahan, lantai tegel lama, radio kecil di ruang tamu.
Yanti duduk di lantai membuka buku. Baru lima menit, Ahmad malah tiduran. “Aku menyerah.”
Muji melempar bantal. “Belajar woi!”
Yono sibuk menggambar diagram ngawur. Adi malah makan terus. Yanti tertawa sampai sakit perut. Untuk pertama kalinya sejak lama, ia merasa benar-benar punya teman. Teman yang membuatnya lupa sedih.
Malam makin larut. Lampu rumah mulai redup. Angin sawah masuk lewat jendela. Saat yang lain ribut sendiri, Yanti tiba-tiba diam memandang suasana itu.
Riyadi yang duduk dekat jendela melirik. “Kenapa?”
Yanti tersenyum kecil. “Senang aja. Aku kira pindah ke sini bakal sendirian.”
Riyadi diam beberapa detik. Lalu berkata pelan, “Kamu nggak sendiri.”
Kalimat sederhana itu anehnya membuat dada Yanti hangat.
Hari-hari berikutnya persahabatan mereka makin erat. Ke mana-mana selalu berlima. Ke kantin, ke perpustakaan, ke tempat fotokopi, bahkan kadang jalan-jalan sore keliling Pedan.
Karena terlalu sering bersama, mereka mulai jadi bahan omongan satu sekolah. “Heh itu geng Yanti. Bodyguard semua.”
Namun mereka tidak peduli. Kebersamaan itu terasa tulus.
Suatu siang hujan turun deras. Mereka berteduh di gazebo belakang sekolah. Yanti duduk memeluk lutut. “Dingin…”
Adi nyeletuk, “Pinjem jaket Riyadi aja.”
Riyadi melotot kecil. Namun beberapa detik kemudian ia benar-benar melepas jaketnya.
“Nih.”
“Nggak usah.”
“Pakai aja.”
Muji tepuk tangan. “WOOOO! ROMANTIS!”
Yanti merah malu. “Berisik banget sih kalian…”
Namun diam-diam ia memakai jaket itu. Aroma hujan bercampur aroma jaket Riyadi terasa menenangkan.
Malam hari di kos, Dwi memandangi Yanti yang sedang melamun sambil melipat jaket.
“Kamu mulai suka ya?”
Yanti pura-pura sibuk. “Suka apaan.”
“Sama Riyadi.”
Yanti diam lama sekali. Lalu menjawab pelan, “Aku takut.”
“Takut kenapa?”
“Takut nanti kehilangan lagi.”
Suasana kamar hening. Dwi tahu — luka kehilangan Mas Nur dan Kakang Riyadi belum benar-benar sembuh. Dan mungkin itulah alasan terbesar kenapa Yanti masih menahan hatinya sendiri.
Namun di luar semua ketakutan itu, persahabatan lima orang terus berjalan hangat. Mereka tertawa bersama, belajar bersama, melindungi satu sama lain.
Dan Yanti belum sadar bahwa kebersamaan itu suatu hari nanti akan diuji oleh sesuatu yang jauh lebih rumit daripada sekadar persahabatan.
Sesuatu bernama: cinta.
BAB VIII
UMBUL DAN TAWA MASA MUDA
“Tentang Mata Air yang Jernih, Langit Senja yang Hangat, dan Sekelompok Anak STM yang Belajar Menyimpan Bahagia di Tengah Rumitnya Perasaan”
Hari-hari di STM Tekstil Pedan mulai terasa seperti rumah kedua bagi Yanti. Pagi sekolah, siang praktik, sore nongkrong, malam belajar sambil bercanda di kos.
Dan di antara semua rutinitas itu, ada satu tempat yang perlahan menjadi favorit mereka: Umbul. Sebuah mata air kecil di pinggir Pedan, dikelilingi pohon besar dan hamparan sawah. Tempat sederhana, namun penuh kenangan.
Sore itu pelajaran selesai lebih cepat. Ahmad langsung heboh. “Umbul yuk!”
Muji berdiri. “Ayo, panas banget ini.”
Yono ikut mengangkat tas. “Sekalian nyari angin.”
Yanti awalnya ragu. “Nggak ganggu belajar?”
Ahmad dramatis. “Belajar terus bisa jadi pertapa!”
Akhirnya mereka berangkat — Yanti, Dwi, Tina, Riyadi, Muji, Aris, Adi, Yono, dan Ahmad. Jalan menuju Umbul melewati persawahan panjang. Angin sore bertiup pelan. Langit mulai menguning. Yanti diam menikmati suasana itu. Sudah lama ia tidak merasa setenang ini.
Sesampainya di Umbul, airnya jernih sekali. Di pinggirnya ada pohon besar tempat orang duduk santai. Anak-anak kecil mandi sambil lompat-lompatan.
“Wah enak banget…” kata Tina.
Ahmad langsung mencelupkan kaki. “Surga dunia.”
Yanti duduk di batu pinggir Umbul. Riyadi datang membawa dua bungkus gorengan. “Nih.”
Yanti melongo. “Kamu kenapa sih suka ngasih makan?”
Riyadi duduk di sampingnya. “Biar nggak kurus.”
Adi berteriak. “WOOOO! Perhatian banget!” Yanti melempar daun ke arah mereka.
Suasana Umbul sore itu hangat. Mereka bercanda, cerita soal guru, saling ejek seperti keluarga sendiri. Dan di tengah semua itu, Yanti merasa sangat hidup.
“Heh Yanti, kalau nanti sukses mau jadi apa?” tanya Ahmad.
“Belum tahu.”
Muji tertawa. “Kalau aku pengin kaya.”
Yono nyeletuk. “Kamu tiap hari mikir makan doang.”
Dwi menatap langit. “Aku pengin kerja, bantu orang tua.”
Tina mengangguk. “Iya, kasihan kalau terus nyusahin rumah.”
Riyadi dari tadi diam. Yanti melirik. “Kamu?”
“Pengin hidup tenang aja.”
Yanti tersenyum. “Sederhana banget.”
Ahmad nyeletuk, “Kalau aku pengin punya istri cantik.” Tina langsung menjitak kepalanya. “Mimpi!”
Langit mulai berubah jingga. Sinar matahari sore memantul di permukaan air. Yanti memeluk lutut sambil memandang senja. Entah kenapa ia jadi ingat Tegorejo. Ingat jalan sawah. Ingat latihan karate sore. Ingat seseorang yang pernah membuatnya menangis sangat lama.
“Heh, kamu kepikiran lagi ya?” suara Riyadi membuyarkan lamunannya.
Yanti tersenyum kecil. “Kelihatan?”
“Iya.”
Yanti menatap air pelan. “Aku kadang masih mikir… kenapa orang yang bilang sayang malah pergi.”
Riyadi terdiam. Lalu berkata pelan, “Mungkin karena hidup nggak selalu kasih kita orang yang ingin kita miliki.”
Yanti menoleh perlahan. Tatapan Riyadi tenang, namun terlihat sangat tulus.
Ahmad tiba-tiba muncul dari belakang. “WOI! Jangan serius-serius amat!” Suasana kembali pecah.
Muji mengeluarkan gitar butut dari jok motor. Mereka akhirnya bernyanyi ramai-ramai — lagu lama, campursari, kadang lagu ngawur bikinan sendiri. Yanti tertawa sampai sakit perut melihat Ahmad joget seperti artis dangdut.
Senja makin turun. Langit berubah oranye kemerahan. Angin sore bertiup lembut. Untuk sesaat, semua masalah terasa jauh. Tidak ada luka, tidak ada kehilangan, tidak ada cinta yang menyakitkan. Yang ada hanya persahabatan, tawa, dan masa muda yang sedang tumbuh bersama.
Saat mereka hendak pulang, Yanti berjalan sedikit di belakang. Riyadi otomatis ikut melambat.
“Makasih ya.”
Riyadi bingung. “Buat apa?”
“Udah bikin aku nggak terlalu sedih.”
Ia tersenyum kecil. “Kamu sendiri yang kuat.”
Yanti menggeleng. “Nggak. Kalau sendirian, kayaknya aku udah nyerah dari dulu.”
Riyadi diam. Lalu berkata sangat pelan, “Kalau gitu… jangan sendirian.”
Jantung Yanti berdegup aneh. Sepanjang perjalanan pulang, kalimat itu terus terngiang di kepalanya.
Namun tanpa mereka sadari, kedekatan Yanti dan Riyadi mulai diperhatikan banyak orang di sekolah. Bisik-bisik kecil mulai muncul.
Dan seseorang diam-diam mulai merasa tidak suka melihat Yanti terlalu bahagia. Seseorang yang nantinya akan membawa perubahan besar dalam hidup mereka.
Toro.
BAB IX
KERETA KE MALIOBORO
“Tentang Tiket Murah, Tawa di Gerbong Ekonomi, dan Hari-Hari yang Tak Akan Pernah Kembali”
Pagi itu udara Pedan terasa lebih dingin dari biasanya. Kabut tipis masih menggantung di depan STM Tekstil Pedan ketika Yanti turun dari angkot. Jam menunjukkan pukul setengah enam, tapi halaman sekolah sudah ramai.
Suara anak-anak STM bercampur tawa. Ada yang membawa gitar, ada yang membawa kresek berisi makanan. Dan seperti biasa, rombongan paling ribut milik Ahmad.
“Heh cepat woi! Kereta nggak nungguin orang ganteng!”
Muji nyeletuk. “Muka kayak kamu mah satpam stasiun juga nggak bakal ngira penumpang.”
Ahmad melempar sandal. “Bangsat!”
Hari itu mereka akan pergi ke Yogyakarta naik kereta ekonomi dari Stasiun Klaten. Bagi Yanti, ini pertama kalinya ia pergi jauh bersama teman-teman STM.
“Yantiii!” Tina melambai dari depan gerbang. “Cepet sini, nanti ditinggal!”
Yanti tertawa. “Kereta jam delapan, Tin…”
“Biarin! Yang penting vibes liburannya dapet!”
Dwi menggeleng pasrah. “Kalau Tina udah heboh, biasanya dunia nggak aman.”
Tak lama kemudian Riyadi datang naik motor pinjaman Muji — motor butut yang suaranya mirip traktor sawah. Satu halaman langsung menoleh. Ahmad memegang dada. “Kirain tank perang.”
Muji turun sambil ketawa. “Motor legenda bos! Kalau jatuh nggak sakit, karena sebelum jatuh udah mati duluan.”
Yanti tertawa sampai menunduk. Riyadi hanya tersenyum kecil sambil memperhatikan Yanti diam-diam.
Sejak beberapa bulan terakhir, hubungan Yanti dan Riyadi memang semakin dekat. Bukan sebagai pacar, tapi lebih dari sekadar teman biasa. Riyadi selalu ada, selalu mendengar cerita Yanti. Bersamanya Yanti merasa tenang. Meski jauh di dalam hati, nama Mas Nur masih belum benar-benar hilang.
Perjalanan menuju Stasiun Klaten naik colt sewaan. Anak-anak duduk berhimpitan. Cowok-cowok STM berubah seperti sekumpulan monyet lepas kandang — nyanyi keras, mukulin atap mobil.
“MAS SOPIR, kita nyanyi boleh?”
“Boleh… ASAL JANGAN FALSSS!”
Lalu dimulailah konser paling kacau sedunia. Yanti sampai memegang perut. Dwi hampir jatuh dari kursi. Riyadi duduk dekat jendela, diam sambil sesekali tersenyum melihat Yanti tertawa. Dan diam-diam, itu sudah cukup membuatnya bahagia.
Sesampainya di Stasiun Klaten, semua langsung heboh. Bagi anak desa seperti mereka, stasiun terasa seperti dunia lain. Suara peluit, pengumuman dari speaker, kereta panjang yang berdiri megah di rel.
“YA ALLAHHH! Keren banget!” teriak Tina.
Saat membeli tiket, terjadi kekacauan. Muji kehilangan uang tiket. Semua panik mencari — sampai lima menit kemudian uang itu ditemukan di kantong belakang celana Muji sendiri.
Ahmad langsung menjitak kepalanya. “TOLOLLLL!”
Satu stasiun hampir pecah karena tawa mereka.
Kereta ekonomi akhirnya datang. Anak-anak berebut masuk. Gerbong penuh sesak, panas, berisik. Namun justru terasa menyenangkan karena mereka pergi bersama.
Yanti duduk dekat jendela. Riyadi berdiri karena kehabisan kursi.
“Sini duduk gantian,” kata Yanti.
“Nggak usah.”
Setelah dipaksa Dwi, Riyadi akhirnya duduk di pinggir kursi sempit itu — dekat sekali dengan Yanti. Jantungnya berdegup lebih cepat.
Kereta mulai berjalan. Pemandangan sawah bergerak mundur. Angin masuk lewat jendela. Yanti memandang keluar sambil tersenyum. “Indah ya…”
Riyadi menatapnya beberapa detik. “Iya…”
Namun sebenarnya, yang ia lihat indah bukan pemandangan di luar, melainkan senyum gadis di sampingnya.
Di gerbong lain, Ahmad pura-pura jadi pedagang asongan. “NASI PECELLL! TEH BOTOLLL! CINTA MURAH MERIAHHH!”
Satu gerbong tertawa. Bahkan penumpang lain ikut terhibur.
Menjelang masuk Yogyakarta, langit mulai cerah. Saat kereta memasuki Stasiun Tugu, semua langsung heboh. “JOGJAAAA! WOOOO!”
Ahmad hampir mencium tiang stasiun karena terlalu semangat.
Begitu keluar stasiun, mereka berjalan kaki menuju Malioboro. Yanti langsung terpukau. Lampu-lampu toko, pedagang kaki lima, musisi jalanan, suara andong, bau sate. Semua terasa magis bagi gadis desa seperti dirinya.
Mereka duduk lesehan di pinggir Malioboro, makan nasi kucing, minum teh hangat, dan ngobrol panjang tentang masa depan.
“Kalau lulus STM, lo mau jadi apa?” tanya Muji.
“Orang kaya,” jawab Ahmad cepat.
Aris menghela napas. “Gue pengen kerja, bantu orang tua.”
Dwi menatap Yanti. “Kamu, Tik?”
Yanti diam sebentar. Angin malam Malioboro meniup rambut depannya. “Aku nggak tahu… tapi aku pengen hidupku berarti.”
Suasana mendadak hening. Jawaban sederhana itu terasa sangat dalam.
Riyadi menatap Yanti diam-diam. “Kamu masih sering mikirin Mas Nur?”
Yanti terdiam. Lalu tersenyum kecil. “Kadang… tapi sekarang aku cuma pengen bahagia.”
Riyadi tersenyum tipis. Meski jauh di dalam hati, ia tahu dirinya mungkin hanya tempat singgah sementara di hidup Yanti.
Malam semakin larut. Lampu Malioboro semakin indah. Dan mereka terus tertawa — tanpa sadar bahwa hari-hari seperti itu suatu saat akan menjadi kenangan paling mahal dalam hidup mereka. Kenangan yang nanti akan mereka rindukan, saat semuanya telah tumbuh dewasa dan berjalan ke arah hidup masing-masing.
BAB X
TORO SANG KAKAK KELAS
“Tentang Tatapan Pertama yang Mengubah Segalanya, Lelaki yang Disukai Banyak Orang, dan Awal Ketakutan yang Disangka Cinta”
Setelah perjalanan ke Malioboro, hubungan Yanti dengan teman-temannya semakin dekat. Terutama dengan Riyadi. Kini hampir setiap hari mereka bersama — berangkat praktik, makan di kantin, belajar kelompok. Dan seperti biasa, itu selalu menjadi bahan olokan satu kelas.
“Heh Riyadi! Kamu tuh kalau dekat Yanti mukanya kayak dispenser baru.”
Ahmad kabur sebelum dilempar buku. Riyadi geleng-geleng kepala. Yanti tertawa sampai menunduk.
“Kasihan amat sih kamu, Di…”
Muji nyeletuk. “Dia mah rela jadi karpet juga kalau buat kamu.”
Riyadi melempar penghapus. “Anjir kalian…”
Namun pagi itu, sesuatu mulai berubah.
Jam istirahat pertama, koridor STM mendadak ramai. Anak-anak bergerombol sambil berbisik-bisik.
“Itu Toro datang.”
“Yang anak kuliahan itu? Serem banget sumpah.”
Yanti mengernyit. “Toro siapa?”
Tina heboh. “Kamu nggak tahu? Toro itu kakak kelas legend. Sekarang kuliah sambil bantu organisasi sekolah. Anaknya galak, semua angkatan takut sama dia.”
Ahmad nimbrung. “Bukan takut, tapi males cari masalah.”
“Bedanya?”
“Sama aja sih.”
Tak lama kemudian koridor mendadak sunyi. Beberapa anak minggir. Dari ujung lorong muncullah seorang laki-laki tinggi memakai jaket hitam lusuh. Langkahnya tenang, tatapannya tajam. Auranya langsung membuat satu lorong terasa berbeda.
“Itu Toro,” bisik Tina.
Yanti ikut menoleh. Mata mereka bertemu. Yanti merasa tidak nyaman — bukan takut, tapi ada yang aneh dari tatapan lelaki itu. Terlalu tajam. Terlalu fokus. Terlalu berani.
Toro berhenti beberapa langkah dari mereka. “Heh, ketua bengkel mana?”
“Di ruang praktik, Bang.”
Toro mengangguk. Namun sebelum pergi, matanya kembali melirik Yanti. Hanya sebentar, tapi cukup membuat Yanti merasa aneh.
Setelah Toro pergi, Tina memegang lengan Yanti. “Dia lihat kamu!”
Dwi mengangguk. “Dan itu nggak biasa.”
Ahmad tertawa. “Kalau Toro udah fokus sama orang, biasanya nggak bakal gampang lepas.”
Yanti bingung. Tapi ucapan Ahmad membuat hatinya sedikit tidak tenang.
Hari-hari berikutnya nama Toro mulai semakin sering terdengar. Kadang ia muncul di bengkel praktik, kadang membantu acara sekolah. Dan anehnya, setiap kali muncul, matanya hampir selalu mencari Yanti.
Di perpustakaan, Dwi menyenggol Yanti. “Itu Toro lagi.”
Yanti menoleh. Toro berdiri dekat pintu, berbicara dengan guru. Beberapa detik kemudian ia melirik Yanti. Yanti buru-buru pura-pura membaca. Dwi menahan tawa. “Kayaknya ada yang mulai naksir.”
Bukan hanya Yanti yang sadar. Riyadi juga. Dan entah kenapa, ia mulai merasa tidak suka.
Sore itu mereka duduk di Umbul. Langit menjelang magrib tampak jingga. Ahmad sibuk melempar batu, Muji rebahan.
Aris bicara pelan. “Toro suka sama Yanti ya?”
Ahmad tertawa. “Kelihatan banget.”
Yanti melotot. “Kalian jangan ngawur.”
Muji ikut nimbrung. “Kalau dia naksir, bahaya. Toro tuh orangnya serius. Kalau suka sesuatu, dia bakal ngejar habis-habisan.”
Riyadi sejak tadi diam. Lalu bicara pelan, “Yang penting Yanti hati-hati aja.”
“Hati-hati kenapa?”
Ahmad mendahului. “Toro tuh bukan cowok biasa. Dia bisa baik banget, tapi juga bisa serem banget.”
Angin sore terasa lebih dingin. Untuk pertama kalinya, nama Toro mulai terasa seperti pertanda sesuatu yang besar akan datang.
Beberapa hari kemudian kejadian aneh mulai terjadi. Yanti datang ke kelas lebih awal. Saat membuka meja, ia menemukan cokelat SilverQueen kecil dan secarik kertas.
“Tetap semangat praktiknya.” — T
Tina yang baru masuk langsung menjerit. “ITU PASTI DARI TORO!”
Sejak hari itu perhatian kecil berdatangan — kadang minuman di meja, kadang roti, kadang pesan titipan. Semua tanpa nama jelas. Tapi semua orang tahu siapa pelakunya.
Yanti justru mulai merasa risih. “Kenapa sih dia kayak gitu…”
Dwi mengangkat bahu. “Mungkin suka beneran.”
“Tapi aku nggak kenal dia.”
“Kadang orang nggak butuh kenal lama buat suka.”
Yanti diam. Karena dulu ia juga pernah jatuh cinta begitu saja pada Mas Nur. Tapi bedanya, tatapan Mas Nur terasa hangat. Sedangkan Toro membuatnya merasa seperti sedang diawasi.
Suatu sore setelah praktik selesai, Yanti pulang bersama Riyadi dan Muji. Mereka berjalan melewati lorong belakang bengkel yang mulai sepi.
“Yanti.”
Mereka menoleh. Toro berdiri di dekat tangga, sendirian.
Suasana canggung. Riyadi refleks berdiri sedikit di depan Yanti. Toro menatapnya beberapa detik, lalu kembali ke Yanti. “Boleh ngomong sebentar?”
Muji berbisik, “Kita duluan aja, Di.”
Riyadi tampak tidak rela, tapi akhirnya ikut pergi. Meski sebelum pergi, ia masih sempat menoleh.
Kini tinggal mereka berdua. Lorong belakang sunyi. Toro berdiri tenang. Yanti mulai gugup.
“Ada apa?”
Toro menatapnya lama. “Aku suka lihat kamu. Kamu beda dari cewek-cewek lain di sini.”
Yanti tertawa kecil karena gugup. “Mas bercanda ya…”
“Aku nggak pernah bercanda soal yang aku suka.”
Yanti mulai tidak nyaman. “Kalau nggak ada apa-apa, aku pulang dulu.”
Namun saat hendak pergi, Toro memanggil lagi. “Yanti. Jangan terlalu dekat sama Riyadi. Dia nggak cocok buat kamu.”
Langkah Yanti berhenti. Bukan karena bentakan atau ancaman, tapi karena cara Toro bicara — terlalu yakin, terlalu mengatur. Seolah dirinya sudah punya hak atas hidup Yanti.
Malam itu, untuk pertama kalinya sejak masuk STM, Yanti sulit tidur. Bayangan tatapan Toro terus muncul di kepalanya.
Dan tanpa ia sadari, hari itu menjadi awal dari perubahan besar dalam hidupnya. Awal dari cinta yang rumit. Obsesi. Persahabatan yang retak. Dan luka panjang yang perlahan akan mengubah semuanya.
BAB XI
LELAKI YANG DITAKUTI SEMUA ANGKATAN
“Tentang Cinta yang Mulai Berubah Menjadi Obsesi, Tatapan yang Membuat Takut, dan Persahabatan yang Perlahan Retak”
Sejak Toro mengatakan “Jangan terlalu dekat sama Riyadi” di lorong belakang bengkel, nama itu semakin dekat dengan hidup Yanti. Terlalu dekat. Dan semuanya berubah lebih cepat daripada yang ia bayangkan.
Kini hampir setiap hari Toro selalu muncul. Kadang berdiri di depan bengkel, kadang duduk di kantin sambil memperhatikan dari jauh, kadang pura-pura ada urusan dengan guru hanya untuk lewat depan kelas Yanti. Dan yang membuat semua orang heboh — Toro tidak pernah memperhatikan cewek lain. Hanya Yanti.
“Wah, Titik udah jadi ratu STM sekarang,” celetuk Ahmad.
Yanti melempar penghapus. Tapi berbeda dengan teman-temannya yang menikmati keramaian itu, Riyadi justru semakin sering diam.
Sore itu mereka berkumpul di Umbul. Langit jingga. Air kolam memantulkan cahaya matahari. Suasana terasa berbeda.
Riyadi tiba-tiba bicara pelan. “Kamu suka sama Toro?”
Yanti menoleh cepat. “Ngawur.”
“Terus kenapa dia selalu nyari kamu?”
“Aku juga nggak tahu.”
Riyadi memandang air kolam. “Pokoknya hati-hati aja.”
Yanti bisa merasakan sesuatu di balik nada suaranya — sesuatu yang perlahan berubah menjadi rasa cemburu.
Beberapa hari kemudian, situasi semakin panas. Anak kelas dua dilaporkan ngegodain Yanti sambil bilang “cantik” di kantin. Toro mendengar. Dan tanpa banyak bicara, ia langsung mencengkeram kerah anak itu di belakang bengkel.
“MULUTMU DIJAGA!”
Wajah Toro benar-benar menyeramkan. Yanti berdiri membeku saat melihat dari kejauhan. Untuk pertama kalinya, ia mulai mengerti kenapa semua angkatan takut pada Toro.
Guru BP datang membubarkan keributan. Saat suasana reda, mata Toro langsung mencari Yanti. Dan anehnya, meski baru saja marah besar, ekspresinya langsung berubah lebih tenang saat tatapan mereka bertemu.
Malamnya, Tina cerita di kos. “Katanya anak itu ngegodain kamu, terus Toro langsung mukul meja, habis itu dibawa ke belakang bengkel.”
Yanti merinding. Bukan karena perhatian Toro yang membuatnya takut. Tapi karena ia mulai sadar — ia takut menjadi alasan seseorang berubah seperti itu.
Suatu pagi, satu kelas heboh karena ada sekotak roti dan susu di meja Yanti. “Dari Toro lagi nih!”
Riyadi yang biasanya diam tiba-tiba berdiri, mengambil kotak roti itu, lalu meletakkannya di meja belakang tanpa bicara. Wajahnya murung.
Sepulang sekolah, Yanti mengejarnya di depan gerbang. “Kamu marah?”
“Aku cuma nggak suka cara Toro lihat kamu.”
“Aku nggak ada apa-apa sama dia.”
Riyadi terdiam. Lalu berkata pelan, “Tapi dia serius sama kamu. Dan aku takut…”
Yanti menatapnya. Tapi Riyadi tidak melanjutkan. “Nggak jadi,” katanya sambil tersenyum kecil.
Belum sempat suasana mencair, suara motor terdengar. Toro datang. Tatapannya langsung tertuju pada Riyadi — bukan marah, tapi dingin, tajam, penuh peringatan.
“Heh Yanti. Mau pulang? Aku anter.”
Riyadi menjawab lebih dulu. “Nggak usah.”
Toro menatapnya. “Kamu siapa ngelarang?”
Riyadi mencoba tenang. “Aku nggak ngelarang. Tapi Yanti bisa pulang sendiri.”
Toro tersenyum tipis — senyum yang sama sekali tidak hangat. “Aku ngomong sama Yanti.”
Yanti panik. Dua lelaki itu saling menatap tajam. Dan untuk pertama kalinya, Yanti benar-benar merasa berada di tengah sesuatu yang berbahaya.
Akhirnya Yanti memilih pulang naik angkot bersama Dwi dan Tina. Tapi sepanjang perjalanan, dadanya tidak tenang. Karena ia mulai sadar — Toro bukan sekadar lelaki yang jatuh cinta. Ia adalah seseorang yang terbiasa mendapatkan apa yang ia inginkan. Dan sekarang, orang yang ia inginkan adalah dirinya.
Sementara di sisi lain, Riyadi mulai terluka diam-diam. Dan tanpa siapa pun sadari, persahabatan mereka perlahan mulai retak karena satu nama.
Toro.
✔ Akhir Bab XI (Versi Final)
BAB XII
RIYADI DIPUKUL PULANG SEKOLAH
“Tentang Persahabatan yang Mulai Berdarah, Cinta yang Berubah Menjadi Ancaman, dan Ketakutan yang Perlahan Menguasai Hari-Hari Yanti”
Pagi itu langit Pedan mendung sejak subuh. Udara dingin masuk lewat jendela kelas, tapi suasana kelas tetap ribut seperti biasa. Ahmad dikejar Tina karena menyembunyikan sisir. Muji tidur sambil mendengkur.
Yanti yang sejak tadi murung akhirnya tertawa kecil. Tapi tawanya cepat hilang saat melihat Toro berdiri di depan kelas.
“Heh Yanti. Nanti pulang jangan dulu. Ada yang mau aku omongin.”
Tanpa menunggu jawaban, Toro pergi. Meninggalkan suasana aneh.
“Dia makin serem sumpah,” bisik Tina.
Riyadi yang duduk dekat jendela hanya diam memandang keluar. Wajahnya murung.
Jam praktik berlangsung kacau. Yanti berkali-kali salah memasang pola benang. Pikirannya tidak fokus. Riyadi juga lebih banyak diam. Biasanya ia suka membantu, tapi hari itu ia bahkan nyaris tidak bicara.
Yanti mendekat. “Kamu marah lagi?”
Riyadi tersenyum hambar. “Aku nggak suka lihat kamu dekat sama Toro.”
“Aku juga nggak dekat sama dia.”
“Tapi dia jelas pengen punya kamu. Kadang cowok kayak gitu nggak peduli kamu suka atau nggak.”
Kalimat itu terasa seperti pertanda buruk.
Jam pulang tiba. Hujan gerimis mulai turun. Yanti keluar gerbang bersama Dwi dan Tina. Toro sudah menunggu di seberang jalan, bersandar di motor hitamnya.
“Habis? Ayo, ngobrol bentar.”
Belum sempat Yanti menjawab, Riyadi muncul dari belakang. “Heh Yanti, ayo pulang.”
Suasana langsung berubah dingin.
Toro menatap tajam. “Aku lagi ngomong sama Yanti.”
Riyadi membalas tatapannya. “Dia bisa milih sendiri.”
Anak-anak sekitar mulai memperhatikan. Yanti panik. Tapi Toro sudah melangkah mendekat ke Riyadi.
“Kamu tuh dari dulu ganggu terus ya. Deketin Yanti.”
“Dia temanku.”
“Teman?” Toro tersenyum sinis. “Muka lo nggak kelihatan kayak teman.”
Riyadi tetap berdiri tenang, tapi matanya mulai tajam. “Kalau suka sama orang, bukan berarti bisa ngatur hidup dia.”
BRAK!
Toro mendorong bahu Riyadi keras. Anak-anak menjerit. Riyadi membalas dorongan itu. Dan dalam hitungan detik, perkelahian pecah di depan gerbang sekolah.
BUK! Pukulan pertama Toro mengenai pipi Riyadi.
Yanti menjerit. “RIYADI!”
Tapi Toro sudah terlanjur emosi. “JANGAN DEKAT-DEKAT SAMA YANTI!”
Riyadi balas memukul. Suasana benar-benar kacau. Hujan mulai turun semakin deras. Teriakan bercampur air hujan membuat sore itu terasa begitu tragis.
Akhirnya beberapa senior dan guru berhasil melerai mereka. Riyadi terduduk di pinggir jalan. Bibirnya berdarah. Pelipisnya memar. Toro masih ditahan beberapa anak karena emosinya belum reda.
“Kalau lo masih dekat sama dia, gue nggak bakal diem!”
Yanti menangis sambil memegang tangan Riyadi. “Ri…”
Riyadi tersenyum kecil meski wajahnya babak belur. “Nggak apa.”
Toro pergi dengan motor sambil membanting gas. Suaranya menghilang bersama hujan sore. Tapi ketakutan yang ditinggalkannya tetap tinggal di hati Yanti.
Yanti tidak bisa tinggal diam. Ia memaksa Dwi mengantarnya ke rumah kontrakan Riyadi. Sesampainya di sana, ia langsung masuk dengan napas memburu. Dan saat melihat wajah Riyadi yang lebam dan berdarah, air matanya jatuh lagi.
“Ini gara-gara aku ya?!”
Riyadi malah tertawa kecil. “Lah terus? Mau tak pukul balik?”
“Kamu masih bisa bercanda?!”
Ahmad yang dari tadi mondar-mandir emosi. “Toro keterlaluan. Dia bilang Riyadi nggak boleh deket-deket Yanti lagi. Katanya semua cowok yang deket kamu bikin dia nggak suka.”
Yanti menunduk. Rasa bersalah perlahan menghancurkan pikirannya.
Riyadi menatapnya lama. “Bukan salahmu. Tapi salah orang yang terlalu pengen memiliki.”
Yanti duduk di kursi kayu dekat Riyadi. Tangannya gemetar mengompres luka di pelipisnya. Momen itu terasa sangat menyakitkan. Untuk pertama kalinya, Yanti merasa persahabatan mereka benar-benar terancam.
“Ri… jauhin aku aja.”
Semua menoleh. “Apa?!”
“Biar kalian nggak kenapa-napa lagi.”
Ahmad berdiri. “Lah kok gitu?! Justru kita temen!”
Namun Riyadi hanya diam. Di dalam hati kecilnya, ia tahu Yanti benar-benar ketakutan.
Sepulang dari rumah Riyadi, perjalanan pulang terasa sunyi. Yanti dibonceng Dwi. Hujan tinggal gerimis.
“Dwi, aku capek.”
“Karena Toro?”
Yanti mengangguk. “Aku nggak suka diatur. Tapi aku juga takut nyakitin dia.”
Dwi menghela napas. “Kamu itu terlalu mikirin perasaan semua orang. Padahal hati sendiri capek.”
Malam itu Yanti tidak bisa tidur. Ia duduk dekat jendela kamar kos, memandangi hujan yang belum berhenti. Bayangan wajah Riyadi yang berdarah terus muncul di kepalanya. Untuk pertama kalinya sejak masuk STM, ia mulai takut pada cinta. Karena cinta yang datang pada hidupnya justru mulai melukai orang-orang yang ia sayangi.
Sementara itu, di bengkel motor dekat terminal, Toro duduk sendirian. Rokok menyala di tangannya. Wajahnya dingin, tapi matanya menyimpan emosi yang kacau.
Adi duduk di sampingnya. “Lo keterlaluan. Riyadi nggak salah apa-apa.”
Toro bicara lirih. “Gue cuma nggak suka dia deket Yanti.”
“Semua cowok juga deket Yanti. Terus mau lo pukulin semua?”
Toro terdiam. Untuk pertama kalinya, ia mulai sadar — rasa sukanya pada Yanti perlahan berubah menjadi obsesi.
Dan tanpa disadari siapa pun, retakan kecil dalam persahabatan mereka mulai berubah menjadi luka yang jauh lebih besar. Karena sejak hari itu, tak ada lagi yang benar-benar sama.
Tidak bagi Yanti.
Tidak bagi Riyadi.
Dan tidak juga bagi Toro.
BAB XIII
BONEKA PANDA DI BULAN DESEMBER
“Tentang Hujan Akhir Tahun, Ulang Tahun yang Sunyi, dan Seorang Lelaki yang Datang Membawa Boneka Kecil serta Perasaan yang Sulit Ditolak”
Desember datang bersama hujan. Langit Klaten hampir setiap hari mendung. Sejak kejadian Riyadi dipukul Toro, hubungan mereka semua mulai berubah. Toro semakin sering muncul, semakin sering mengawasi. Dan kehadirannya mulai membuat hidup Yanti terasa sempit.
Pagi itu kelas XI Tekstil sudah ramai seperti biasa. Tapi Yanti hanya duduk diam dekat jendela, tatapannya kosong. Riyadi di bangku belakang diam-diam memperhatikannya.
“Heh Riyad, lo kenapa murung? Karena Yanti?” Ahmad menyenggol pelan. Riyadi melempar penghapus. “Bacot.”
Tawa mereka perlahan berhenti saat Toro muncul di depan kelas. Hari itu wajahnya terlihat lebih tenang. Ia berdiri di depan pintu sambil membawa plastik hitam kecil.
“Heh Tik, bisa keluar bentar?”
Yanti berdiri pelan. Langkahnya terasa berat. Di lorong sekolah, Toro menyerahkan plastik itu. “Buat kamu.”
“Apa ini?”
“Buka aja nanti.”
“Kenapa ngasih beginian?”
Toro tersenyum kecil. “Besok ulang tahunmu kan? Gue cuma pengen bikin lo senyum lagi.”
Yanti terdiam. Untuk pertama kalinya ia melihat sisi Toro yang berbeda — tidak menyeramkan, tidak galak, tidak seperti waktu memukul Riyadi. Toro pergi meninggalkannya di lorong.
Saat masuk kelas lagi, semua heboh. Yanti membuka plastik itu pelan. Di dalamnya ada boneka panda kecil warna coklat muda, dibungkus pita merah. Tina menjerit. Dwi ikut gemas. “Toro romantis juga ternyata.”
Namun di sudut kelas, Riyadi menunduk diam. Dadanya terasa aneh. Muji berbisik, “Tuh cewek lo dikasih panda.” Riyadi tertawa hambar. “Dia bukan cewek gue.”
Sore harinya hujan turun lagi. Yanti duduk di bangku depan kelas sambil memeluk tas. Boneka panda itu ada di pangkuannya. Riyadi datang pelan. Matanya melihat boneka itu. Suasana mendadak canggung.
“Bagus ya. Toro ngasih?”
Yanti mengangguk kecil. “Aku bingung, Riyad.”
Riyadi menatap hujan. “Bingung apa?”
“Aku nggak ngerti perasaanku sendiri.”
Diam. Suara hujan makin deras. Riyadi merasa dadanya sesak. Karena ia tahu — semakin lama, Yanti mulai membuka hati untuk Toro.
“Heh Tik, kalau suatu hari kamu pacaran sama Toro, jangan lupain kita-kita.”
Yanti menoleh. Hatinya hangat sekaligus sedih. “Aku nggak bakal lupain kalian. Janji.”
Janji sederhana itu diam-diam membuat Riyadi makin terluka. Karena di dalam hati kecilnya, ia menyayangi Yanti lebih dari sekadar teman.
Malam harinya anak-anak kos merayakan ulang tahun Yanti sederhana — mi rebus, teh hangat, lilin kecil di atas roti. Suasananya hangat. Tapi di tengah tawa, Yanti mendadak diam. Ia teringat Tegorejo. Teringat ibunya. Teringat Ima. Teringat Kakang Riyadi. Dan paling menyakitkan — teringat Mas Nur.
Dwi menyenggol pelan. “Kamu nangis?” Yanti cepat-cepat tersenyum. “Enggak.” Tapi air matanya sudah jatuh.
Malam semakin larut. Yanti duduk dekat jendela kamar kos, boneka panda di sampingnya. Sambil memandang hujan Desember, ia bertanya pada dirinya sendiri — apakah hati seseorang bisa benar-benar berpindah saat cinta pertamanya belum selesai dilupakan?
Sementara itu di warung kopi dekat terminal, Toro duduk bersama Adi. “Lo serius sama Yanti?” Toro mengangguk. “Serius.” Adi menghela napas. “Kalau serius, jangan pake cara kasar lagi.” Toro diam. “Gue takut kehilangan dia.” Adi tertawa kecil hambar. “Orang yang terlalu takut kehilangan biasanya malah bikin semuanya pergi.”
Malam Desember itu, untuk pertama kalinya, Toro mulai takut pada dirinya sendiri.
BAB XIV
SANGKAR YANG BERNAMA CINTA
“Tentang Perhatian yang Berubah Menjadi Larangan, Cemburu yang Perlahan Menyesakkan, dan Seorang Gadis yang Mulai Kehilangan Langitnya”
Sejak ulang tahunnya, hubungan Yanti dengan Toro semakin dekat. Terlalu dekat. Toro mulai sering menjemput, menunggu di depan gerbang, mengantar pulang, bahkan sesekali datang ke kos membawa makanan. Awalnya semua terasa manis. Tapi perlahan Yanti mulai kehilangan ruang bernapas.
Suatu pagi, seperti biasa Riyadi menggeser kursi di dekat Yanti. “Belum sarapan?” Ia mengeluarkan bungkusan kecil. “Lemper.” Yanti tertawa. “Kamu tuh kayak bapak-bapak.”
Dari luar kelas, Toro memperhatikan. Tatapannya dingin.
Beberapa menit kemudian ia masuk tanpa permisi. “Heh Tik, ntar pulang tunggu gue. Mau ngajak makan.” Ahmad bersiul. Tina heboh. Tapi Riyadi hanya diam. Toro meliriknya sekilas — dan suasana mendadak tidak nyaman.
Saat jam istirahat, Yanti duduk bersama Dwi, Tina, dan Siti di kantin. Tiba-tiba Toro datang dan duduk di sebelahnya. “Kamu nanti jangan pulang sama Riyadi lagi. Gue nggak suka.”
Suasana meja langsung sunyi.
“Riyadi itu temenku.”
“Gue tahu. Tapi gue nggak nyaman.”
“Aku nggak bisa jauhin temen-temenku.”
“Gue nggak nyuruh jauhin semua. Tapi jangan terlalu dekat.”
“Kenapa?”
“Karena gue cemburu.”
Yanti kesal. “Aku nggak suka diatur.”
Toro menatapnya lama. “Gue cuma takut kehilangan lo.”
“Kenapa semua cowok ngomong gitu? Mas Nur dulu juga begitu.”
Nama itu langsung mengubah suasana. Toro terdiam. “Lo masih suka dia?” Yanti tidak menjawab. Hanya suara sendok dan piring yang terdengar. “Aku nggak tahu,” katanya akhirnya. Toro tertawa kecil hambar. “Jawaban paling nyakitin tuh memang ‘nggak tahu’.”
Hari-hari berikutnya Toro semakin mengatur. Kalau Yanti terlalu lama ngobrol dengan Riyadi, Toro marah. Kalau pulang rame-rame dengan Muji dan Yono, Toro ngambek. Kalau ikut nongkrong di Umbul, Toro datang mendadak. Semua itu mulai membuat Yanti lelah.
Suatu sore mereka duduk di Umbul seperti biasa. Ahmad bercanda, “Kalau nanti kita sukses, kita bikin pabrik tekstil sendiri. Gue jadi direktur, kerjaannya makan gorengan.” Semua tertawa. Yanti tertawa cukup keras — sudah lama ia tidak merasa sebebas itu.
Tapi beberapa menit kemudian Toro datang dengan wajah dingin.
“Heh Tik, gue nyariin dari tadi.”
“Aku tadi bilang mau ke Umbul.”
Toro melirik semua cowok di situ, tatapannya berhenti lama pada Riyadi. “Pulang.”
“Aku masih mau di sini.”
“Udah sore.”
“Aku tahu.”
“Tik…” Nadanya mulai berubah.
Riyadi berdiri. “Heh Ro, dia bukan anak kecil.”
Toro tertawa kecil — tapi dingin. “Gue ngomong sama cewek gue.”
Yanti langsung membeku. Toro belum pernah benar-benar menyatakan mereka pacaran. “Aku bukan barang,” katanya pelan. “Aku nggak suka diperlakukan kayak gini.”
Toro mulai emosi. “Gue cuma perhatian!”
“Tapi caramu bikin aku sesak!”
Suasana Umbul sunyi. Angin sore terasa dingin. Untuk pertama kalinya Yanti melihat luka di mata Toro.
“Jadi sekarang gue salah?”
“Aku nggak bilang gitu…”
“Tapi lo lebih nyaman sama mereka daripada sama gue.”
Riyadi mengepalkan tangan. Tapi ia memilih diam. Toro akhirnya tertawa hambar. “Oke. Kalau begitu lanjut aja nongkrongnya.” Motor tuanya melaju cepat meninggalkan Umbul.
Sejak sore itu, hati Yanti mulai benar-benar lelah.
Malam harinya Yanti menangis diam-diam di kamar kos. Dwi duduk di sampingnya. “Toro lagi?” Yanti mengangguk. “Aku kayak burung dalam sangkar.”
Dwi memeluknya pelan. “Cinta itu harusnya bikin tenang, bukan bikin takut.”
Di luar hujan turun lagi. Tanpa Yanti sadari, ia mulai merindukan satu hal yang dulu pernah ia miliki bersama Kakang Riyadi dan Mas Nur — kebebasan untuk tertawa tanpa takut kehilangan dirinya sendiri.
Pagi itu kabut masih turun tipis. Yanti datang ke sekolah lebih pagi. Matanya sembab. Di kelas hanya ada Riyadi yang sedang membaca buku.
“Kamu nangis lagi?”
“Enggak.”
“Bohong.”
Riyadi mengeluarkan plastik kecil. “Nih, roti.” Yanti tertawa kecil. “Kamu tiap hari nyuruh aku makan.” “Soalnya tiap sedih kamu nggak pernah sarapan.”
Tapi kehangatan itu tak berlangsung lama. Toro muncul di depan kelas. “Heh Tik, keluar bentar.”
Di lorong, Toro berkata, “Aku nggak suka kamu dekat-dekat Riyadi terus.” Yanti lelah mendengarnya. “Ro, dia temanku.” “Semua cowok di sekolah ini temenmu.” “Karena aku emang berteman sama siapa aja.” “Dan gue nggak suka.”
Yanti menatapnya lama. “Aku bukan anak kecil.”
Toro menghela napas. “Gue cuma takut kehilangan lo.”
“Kenapa semua harus tentang takut kehilangan?”
Toro diam. Dan diamnya membuat Yanti makin sesak.
Jam istirahat, Yanti duduk sendirian di belakang gedung praktik. Tempat itu sepi. Ia memeluk lutut. Lalu suara langkah kaki mendekat.
Abdul — kakak kelas yang selama ini hanya ia kenal sekilas. Ia membawa dua teh gelas dingin. “Mukamu kayak habis ditinggal lebaran.” Yanti spontan tertawa.
Abdul duduk di sampingnya. Wajahnya teduh, nadanya tenang. “Toro bikin kamu nangis lagi?” Yanti diam. “Dia emang kalau sayang sesuatu, pengen punya sepenuhnya.”
“Aku capek.”
Abdul mengangguk. “Wajar.”
“Aku nggak ngerti kenapa semua jadi rumit.”
Abdul tersenyum. “Karena kamu cantik.”
“Ih apaan sih.”
“Hahaha.”
Untuk pertama kalinya sejak lama, Yanti merasa bisa bernapas lega.
“Dulu Toro nggak pernah kayak gini. Dia berubah sejak kenal kamu — jadi takut.” Yanti menggigit bibir. “Aku nggak mau nyakitin dia.” “Terus kenapa nangis terus?”
Yanti tak bisa menjawab.
Abdul berkata pelan, “Kalau capek, cerita aja sama aku.”
Kalimat itu membuat dada Yanti hangat. Sejak Kakang Riyadi pergi, sudah lama tidak ada orang yang bicara padanya dengan nada setenang itu.
Hari-hari setelahnya Abdul mulai sering dekat dengan Yanti. Bukan seperti Toro yang penuh tekanan, bukan seperti Riyadi yang diam-diam perhatian. Tapi seperti seseorang yang hanya ingin memastikan Yanti baik-baik saja.
Kadang ia datang ke kelas membawa gorengan, kadang membantu praktik, kadang cuma duduk menemani di kantin. Dan Yanti perlahan mulai nyaman.
Suatu sore sepulang sekolah, mereka duduk di halte kecil depan STM. Hujan baru reda. Jalanan basah mengilap.
“Heh Dul, kamu nggak takut dimarahin Toro dekat sama aku?”
Abdul tertawa. “Takut lah.”
“Terus kenapa masih dekat?”
“Karena ada orang yang lebih takut lagi.”
“Apa?”
“Kalau kamu terus sedih.”
Yanti terdiam. Beberapa detik hanya suara bus tua lewat dan aroma tanah basah.
“Heh Tik, kadang orang yang paling sayang bukan yang paling keras memiliki.”
Yanti menoleh pelan. Untuk pertama kalinya ia merasa seperti sedang mendengar Kakang Riyadi berbicara lagi.
Malam harinya Yanti menulis di buku kecilnya:
“Aku mulai lelah dicintai dengan cara yang membuatku takut. Aku hanya ingin seseorang yang membuatku tetap jadi diriku sendiri.”
Di bawah tulisan itu, tanpa sadar ia menulis satu nama kecil: Abdul.
Sementara itu di bengkel, Adi berkata pada Toro, “Kalau terus bikin Yanti sesak, bisa-bisa dia nyaman sama orang lain.”
Toro diam. Untuk pertama kalinya ia mulai takut kehilangan Yanti bukan karena cowok lain — tapi karena sikapnya sendiri.
BAB XV
BURUNG YANG KEHILANGAN LANGIT
“Tentang Hati yang Mulai Lelah, Kebebasan yang Perlahan Hilang, dan Seorang Gadis yang Tak Lagi Mengenali Dirinya Sendiri”
Hari-hari di STM Tekstil Pedan terus berjalan. Bel sekolah tetap berbunyi setiap pagi. Mesin praktik tetap meraung. Anak-anak tetap bercanda. Namun tidak bagi Yanti. Perlahan ia mulai merasa hidupnya tidak lagi benar-benar miliknya sendiri.
Toro semakin sering datang. Semakin sering mengatur. Dan semakin sering membuat Yanti bingung antara merasa dicintai atau dikurung.
Pagi itu Yanti turun dari bus. Baru beberapa langkah menuju gerbang, suara motor terdengar dari belakang. Toro.
“Kemarin habis dari mana?” tanyanya.
“Dari kos.”
“Tadi malam aku nyariin kamu ke Umbul.”
“Aku nggak ke sana. Aku belajar kelompok di tempat Dwi.”
Tatapan Toro membuat dada Yanti sesak. “Kamu kenapa jadi begini sih?” Toro tertawa hambar. “Karena gue sayang sama lo.”
“Sayang bukan berarti harus curiga terus!”
Toro mematikan motornya. “Naik.”
“Aku bisa jalan sendiri.”
“Naik.”
“YANTI.” Suaranya keras. Yanti langsung diam. Di dalam hati kecilnya, ia mulai takut — bukan takut dipukul, tapi takut karena dirinya mulai kehilangan keberanian untuk menjadi dirinya sendiri.
Hari itu suasana kelas terasa berat. Yanti lebih banyak diam. Dwi mulai khawatir. “Toro lagi?” Yanti mengangguk pelan.
Tina mendekat. “Dia posesif banget sih.” Siti bicara lirih. “Aku aja takut lihatnya.” Yanti tersenyum pahit. “Aku juga mulai takut…”
Di bangku belakang, Riyadi diam-diam memperhatikan. Dadanya ikut sakit.
Jam praktik dimulai. Suara mesin pertenunan memenuhi ruangan. Biasanya Yanti paling ramai, paling aktif. Tapi sekarang ia lebih banyak diam.
“Heh Tik! Benangnya salah masuk!” teriak Ahmad. BRAK. Benang kusut berantakan. Yanti panik, tangannya gemetar. Riyadi datang membantu. “Lain kali kalau pikiran lagi kacau, jangan dipake ngelawan mesin.” Yanti tertawa kecil. Sudah lama Riyadi tidak melihat senyum setenang itu.
Tapi dari luar ruang praktik, Toro melihat semuanya. Wajahnya kembali dingin.
Sepulang sekolah hujan turun deras. Yanti duduk bersama Dwi dan Siti di lorong. Toro datang.
“Pulang sama gue.”
“Aku mau balik sama anak-anak.”
“Kenapa?”
“Karena aku pengen.”
“Dan Riyadi ikut?”
Yanti mulai lelah. “Kenapa sih semuanya harus tentang Riyadi terus?”
“Karena gue nggak suka cara dia lihat lo.”
Yanti berdiri cepat. “TERUS AKU HARUS GIMANA?!” Suasana lorong hening. Semua anak menoleh.
“Aku capek Toro… Aku capek selalu ditanya, capek selalu dicurigai. Aku bahkan udah nggak bisa ketawa bebas!”
Toro terdiam. Untuk pertama kalinya ia melihat air mata Yanti jatuh bukan karena sedih, tapi karena lelah.
“Aku cuma takut kehilangan kamu…”
Yanti tertawa pahit. “Tapi kamu nggak sadar. Cara kamu takut kehilangan justru bikin aku perlahan hilang.”
Tak ada yang bicara lagi. Hanya suara hujan deras. Yanti pergi meninggalkan lorong sambil menangis.
Malam harinya Yanti duduk sendirian di kamar kos. Lampu redup. Hujan belum berhenti.
Dwi masuk membawa teh hangat. “Kamu masih sayang Toro?”
Yanti diam lama. “Aku nggak tahu… Yang aku tahu, aku mulai nggak bahagia.”
Tina dari kasur ikut bicara. “Tik, cinta itu harusnya bikin hidup tambah hidup. Bukan bikin kamu kehilangan diri sendiri.”
Air mata Yanti jatuh lagi. Untuk pertama kalinya ia mulai sadar — ia tidak lagi merasa bebas menjadi Yanti yang dulu. Yanti yang tomboy, yang tertawa keras, yang bebas berteman dengan siapa saja, yang bisa duduk di Umbul sampai sore tanpa takut dimarahi.
Kini ia seperti burung yang sayapnya perlahan dipotong. Masih hidup. Masih bernapas. Tapi tidak lagi punya langit untuk terbang.
Sementara itu di luar kos, Toro berdiri cukup lama di bawah hujan. Menatap jendela kamar Yanti yang masih menyala.
Untuk pertama kalinya, ia mulai takut bahwa cintanya sendiri perlahan sedang menghancurkan orang yang paling ia sayangi.
BAB XVI
RUMAH SAKIT DAN AIR MATA
“Tentang Tubuh yang Mulai Lelah Menanggung Luka, dan Hati yang Diam-Diam Kehilangan Kebebasannya”
Hujan turun sejak sore. Rintiknya memukul genting rumah kos kecil di Pedan dengan suara pelan berulang-ulang. Yanti duduk di tepi ranjang. Tubuhnya terasa lemas sejak beberapa hari terakhir. Tapi yang paling sakit bukan tubuhnya — melainkan pikirannya.
Sejak hubungannya dengan Toro semakin dekat, hidup Yanti perlahan berubah. Ia memang tidak pernah dipukul, tidak pernah dibentak kasar, tidak pernah dimaki. Tapi perhatian Toro yang terlalu besar mulai terasa menyesakkan.
“Jangan pulang sama Riyadi.”
“Kalau ke Umbul jangan terlalu malam.”
“Kamu nggak usah terlalu dekat sama cowok.”
“Kamu milik aku.”
Kalimat-kalimat itu awalnya terdengar seperti cinta. Tapi lama-lama terasa seperti sangkar.
Malam itu Dwi sedang melipat baju. Tina sibuk bercermin. Siti belajar matematika sambil ngemil peyek. Yanti hanya diam memandangi hujan.
“Heh, kamu kenapa sih akhir-akhir ini? Makin kurus,” kata Dwi.
Tina nimbrung. “Iya sumpah, mukamu kayak habis ditinggal negara.”
Yanti hanya tersenyum kecil.
Siti bicara pelan. “Kamu capek ya?”
Pertanyaan sederhana itu langsung menusuk hati Yanti. Karena sebenarnya ia memang capek. Sangat capek.
“Aku nggak apa-apa…” bohongnya.
Dwi mendekat. “Tik, kita temenan bukan sehari dua hari. Kalau ada masalah cerita.”
Yanti menghela napas. “Aku cuma pengen tenang.”
“Toro lagi?” tanya Tina.
Yanti diam. Dan diamnya sudah menjadi jawaban.
Malam makin larut. Hujan belum reda. Tiba-tiba Yanti memegangi kepalanya.
“Kamu kenapa?” Dwi panik.
“Kepalaku… pusing…”
Tubuh Yanti limbung. BRUK. Ia jatuh pingsan di lantai.
“YANTIII!”
Tina histeris. Siti panik sampai menjatuhkan buku. Dwi mengguncang tubuh Yanti. Tapi Yanti tidak merespons. Wajahnya pucat. Tubuhnya panas.
Malam itu penghuni kos geger. Ibu kos datang panik. “Ya Allah… cepet panggil becak!”
Yanti dibawa ke rumah sakit kecil di Klaten. Lampu IGD terasa silau. Bau obat menyengat. Hujan masih turun di luar.
“Tadi siang dia belum makan…” kata Dwi cemas.
Perawat mulai memeriksa. “Demam tinggi… mungkin kecapekan dan stres.”
Dwi dan Tina saling pandang. Mereka tahu — stres Yanti bukan soal sekolah, tapi soal hidupnya sendiri.
Kabar Yanti masuk rumah sakit cepat menyebar. Orang pertama yang datang adalah Toro.
BRAK! Pintu ruang rawat terbuka cepat.
“YANTI?!”
Napas Toro memburu. Wajahnya penuh panik. Rambutnya basah kehujanan. Dwi langsung berdiri. “Pelan-pelan!”
Toro mendekat ke ranjang. Melihat Yanti terbaring lemah dengan infus di tangan. Untuk pertama kalinya, wajah lelaki paling ditakuti di STM itu terlihat sangat rapuh.
“Kenapa bisa begini…” gumamnya lirih.
Dwi menatap Toro lama. “Karena dia capek.”
Toro terdiam.
Malam itu ruang rawat Yanti dipenuhi kecemasan. Toro duduk diam sambil memegangi tangan Yanti. Adi beberapa kali keluar membeli obat dan makanan.
Beberapa jam kemudian Yanti mulai sadar. Kelopak matanya bergerak pelan.
“Yanti…” Toro langsung bangkit.
Pandangan Yanti masih kabur. Saat melihat Toro, air matanya langsung jatuh.
“Aku di mana…?”
“Rumah sakit. Kamu pingsan.”
Yanti memejamkan mata lagi. Tubuhnya masih sangat lemas.
Toro menggenggam tangannya perlahan. “Maaf…”
Yanti menoleh. “Hah?”
“Aku bikin kamu capek ya…” Suara Toro sangat pelan, nyaris bergetar.
Yanti diam. Dan diamnya membuat Toro makin merasa bersalah.
“Aku cuma takut kehilangan kamu… Makanya aku selalu marah kalau kamu dekat sama mereka.”
Air mata Yanti jatuh lagi. “Aku nggak pernah ninggalin kamu. Tapi aku juga nggak bisa kehilangan teman-temanku.”
Toro menunduk. Untuk pertama kalinya ia mulai sadar — cintanya perlahan berubah menjadi sesuatu yang menyakitkan.
Adi bicara pelan. “Cinta itu dijaga, bukan dikurung.”
Suasana hening. Toro menoleh ke arah Adi. Kali ini ia tidak marah. Karena jauh di dalam hati, ia tahu Adi benar.
Pagi harinya matahari muncul malu-malu. Hujan reda. Udara terasa dingin.
Ahmad, Muji, Aris, Yono, dan Riyadi datang menjenguk bersama. Ruangan langsung ramai.
“Heh, muka kamu kayak tahu rebus,” celetuk Ahmad. Yanti tertawa kecil — untuk pertama kalinya sejak kemarin.
Muji membawa jeruk satu kantong. “Ini titipan anak-anak kelas. Sebagian hasil malak.”
Semua tertawa.
Di tengah keramaian itu, Riyadi diam berdiri di dekat pintu. Matanya memperhatikan Yanti.
Yanti menoleh. “Riyad…”
Riyadi tersenyum kecil. “Udah mendingan?”
“Iya…”
“Jangan maksa kuat terus.”
Kalimat sederhana itu membuat hati Yanti hangat.
Toro yang melihat mereka bicara langsung diam. Dadanya terasa aneh lagi. Cemburu. Takut kehilangan. Tapi kali ini ia memilih diam. Karena untuk pertama kalinya Toro mulai sadar — kalau ia terus seperti ini, yang pergi bukan teman-teman Yanti, melainkan Yanti sendiri.
Siang itu, setelah semua teman pulang, Yanti memandangi langit dari jendela rumah sakit. Biru. Tenang. Tapi hatinya belum benar-benar sembuh.
Ia mulai sadar — hidupnya berubah terlalu cepat. Dari gadis desa yang bebas tertawa, menjadi seseorang yang mulai takut menjadi dirinya sendiri.
Dan jauh di dalam hati kecilnya, Yanti mulai bertanya:
“Apakah cinta memang harus sesakit ini…?”
BAB XVII
LELAKI YANG MENUNGGU DI SAMPING TEMPAT TIDUR
“Tentang Seseorang yang Bertahan Menjaga, Meski Takut Kehilangan dengan Cara yang Salah”
Pagi di rumah sakit kecil Klaten terasa dingin. Cahaya matahari masuk samar lewat jendela kaca yang sedikit berembun. Bau obat masih memenuhi ruangan. Di atas ranjang nomor tujuh, Yanti masih terbaring lemas. Infus tergantung di sampingnya. Wajahnya pucat. Tapi setidaknya demamnya mulai turun.
Toro duduk di kursi plastik dekat ranjang. Sedari malam ia belum pulang. Matanya sembab karena kurang tidur. Rambutnya acak-acakan. Tapi ia tetap bertahan di sana. Menunggu. Menjaga. Seolah takut Yanti akan menghilang jika ia pergi sebentar saja.
Di luar ruang rawat, Adi baru datang membawa sarapan. Toro menerima bubur itu. “Thanks.”
Adi duduk di sebelahnya. “Kamu serius sayang sama dia?”
Toro tertawa hambar. “Pertanyaan bodoh.”
“Kalau serius, kenapa malah bikin dia sakit?”
Toro terdiam. Ia memandangi Yanti lama. “Aku takut kehilangan dia.”
Adi menghela napas. “Takut kehilangan sama nyakitin itu beda.”
Untuk pertama kalinya, kalimat itu benar-benar menghantam pikirannya.
Tak lama kemudian Yanti mulai bangun. Matanya membuka perlahan. Hal pertama yang ia lihat adalah Toro yang masih duduk di dekatnya.
“Kamu belum pulang…”
Toro tersenyum kecil. “Nanti aja.”
“Kamu sekolah gimana?”
“Bodo amat.”
Yanti mengernyit. “Jangan gitu…”
Toro tertawa kecil. “Aku lebih takut kehilangan kamu daripada kehilangan pelajaran.”
Kalimat itu membuat dada Yanti terasa aneh. Hangat. Tapi juga berat.
Pukul sembilan pagi Dwi dan Tina datang. “Heh putri tidur…” Tina langsung nyelonong masuk.
Dwi mendekat sambil membawakan teh hangat. “Udah mendingan? Dokter bilang jangan stres.”
Tina nyeletuk. “Kalau Toro posesif lagi, tak suntik pakai infus.”
Toro cuma geleng-geleng kepala.
Tiba-tiba suasana berubah saat Riyadi muncul di pintu. Ia datang sendirian, membawa plastik berisi buah. Wajahnya tenang.
Yanti menoleh. “Riyad…”
Riyadi tersenyum kecil. “Udah sehat?”
“Iya…”
“Syukur.” Ia meletakkan buah di meja kecil, lalu berdiri canggung.
Toro memperhatikan diam-diam. Setiap ada Riyadi, dadanya selalu terasa tidak nyaman.
Riyadi menatap Yanti sebentar. “Jangan terlalu keras sama diri sendiri.”
Kalimat itu sederhana. Tapi selalu terasa hangat di telinga Yanti. Berbeda dengan Toro yang mencintai dengan api besar, Riyadi justru seperti hujan — tenang, diam, menenangkan.
Toro akhirnya berdiri. “Aku beli makan dulu.” Padahal sebenarnya ia hanya ingin keluar sebentar karena pikirannya mulai penuh.
Di luar rumah sakit, Toro menyalakan rokok. Tangannya gemetar kecil. Adi menyusul berdiri di sampingnya.
“Kamu cemburu lagi?”
Toro tertawa hambar. “Gue capek begini.”
“Ya jangan jadi monster.”
“Aku nggak bisa lihat cowok lain dekat sama dia.”
Adi menghela napas panjang. “Kalau kamu terus begitu, Yanti bakal makin jauh.”
Kalimat itu kembali menusuk Toro.
Sementara di dalam ruang rawat, Dwi dan Tina keluar membeli minum. Tinggal Yanti dan Riyadi berdua.
“Kamu takut ya?” tanya Riyadi pelan.
Yanti menunduk. “Aku capek…”
“Karena Toro?”
Yanti diam cukup lama, lalu mengangguk kecil.
Riyadi tersenyum tipis. “Kamu itu dari dulu nggak bisa hidup dikekang. Dulu waktu di Tegorejo, kamu bebas banget. Mau main ke mana aja, mau ketawa sama siapa aja, mau nangis pun rame-rame.”
Air mata Yanti mulai berkumpul. “Aku kangen diriku yang dulu…”
Riyadi menatapnya lama. Di dalam hatinya ada rasa sakit yang diam-diam tumbuh. Karena semakin hari ia semakin sayang pada Yanti. Tapi ia sadar — Yanti tidak pernah benar-benar melihatnya sebagai lelaki.
“Kamu bahagia sama dia?” pertanyaan itu keluar pelan sekali.
Yanti terdiam. Lama. Sangat lama. “Aku nggak tahu…”
Jawaban itu membuat hati Riyadi terasa nyeri. Tapi ia hanya tersenyum kecil. “Kalau capek, jangan dipaksa.”
Tak lama kemudian Toro kembali masuk. Suasana langsung berubah canggung lagi.
“Heh, makan dulu.” Toro menyerahkan roti pada Yanti.
Yanti menerimanya pelan. “Thanks.”
Riyadi berdiri. “Aku balik sekolah dulu.”
“Cepet amat…” kata Yanti.
“Masih ada praktik.”
Sebelum pergi, Riyadi berkata pelan, “Cepet sembuh ya.”
“Iya…” jawab Yanti.
Toro hanya diam memperhatikan.
Setelah Riyadi pergi, ruangan menjadi sunyi. Toro duduk kembali. Wajahnya murung.
Yanti menyadarinya. “Kamu kenapa?”
Toro diam sebentar. “Kamu sayang sama Riyadi?”
Yanti kaget. “Hah? Itu pertanyaan apaan sih…”
“Aku cuma pengen tahu.”
Yanti menghela napas. “Dia sahabat.”
Toro tertawa kecil hambar. “Semua cowok di dekat kamu sahabat.”
“Aku capek dicurigain terus…” kata Yanti lirih.
“Aku juga capek takut kehilangan kamu.”
“Tapi bukan berarti kamu boleh ngatur hidupku…”
Toro diam.
Dan lagi-lagi mereka terjebak di lingkaran yang sama. Cinta. Cemburu. Takut kehilangan. Lalu saling melukai.
Sore harinya dokter memperbolehkan Yanti pulang besok pagi. Tapi ia harus istirahat total beberapa hari.
Malam kembali turun. Lampu rumah sakit mulai redup. Adi sudah pulang. Dwi dan Tina juga kembali ke kos. Kini tinggal Toro dan Yanti berdua.
Yanti memandangi langit malam dari jendela. “Kamu nggak capek?”
Toro menggeleng. “Nungguin kamu nggak capek.”
Yanti tersenyum kecil. Tapi hatinya justru semakin berat.
Karena semakin Toro mencintainya, semakin ia merasa kehilangan kebebasannya sendiri.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya, Yanti mulai takut pada masa depannya sendiri. Takut jika suatu hari cinta yang terlalu besar itu benar-benar menghancurkan dirinya perlahan.
BAB XVIII
KETIKA IBU MENITIPKAN ANAK GADISNYA
“Tentang Kepercayaan Seorang Ibu, dan Seorang Lelaki yang Berjanji Menjaga dengan Caranya Sendiri”
Pagi di Klaten terasa dingin setelah hujan semalaman. Kabut tipis masih menggantung di jalanan depan rumah sakit. Daun-daun trembesi basah. Udara lembap.
Di dalam ruang rawat, Yanti baru saja selesai sarapan. Wajahnya masih pucat, tapi setidaknya ia sudah bisa tersenyum lagi.
Dwi sibuk membereskan tas. Tina malah sibuk makan apel jatah pasien. “Heh itu buat Yanti!” “Kan Yanti lagi kenyang.” Siti cuma geleng-geleng sambil melipat selimut.
Toro duduk diam di dekat jendela. Matanya sembab. Tapi ia tetap bertahan.
Tak lama kemudian langkah kaki tergesa terdengar dari lorong. Bu Rosmiyati muncul di depan pintu.
“NDUK!”
Yanti spontan menangis. Bu Rosmiyati langsung memeluk anak gadisnya erat. “Ya Allah… kamu bikin ibu takut…”
Dwi dan teman-teman minggir memberi ruang. Toro berdiri canggung di sudut.
Bu Rosmiyati mengusap rambut Yanti perlahan. “Kamu kenapa sampai sakit begini…”
“Aku cuma kecapekan…”
“Kamu jangan bohong sama ibu.”
Yanti diam. Ibunya mengenalnya terlalu baik. Tahu kapan anaknya benar-benar kuat dan tahu kapan sedang hancur diam-diam.
Beberapa menit kemudian Bu Rosmiyati menoleh ke Toro. “Kamu Toro?”
Toro gugup. “I-iya Bu…”
“Kemarin yang jaga Yanti?”
“Iya Bu…”
Bu Rosmiyati tersenyum kecil. “Terima kasih ya.”
Toro salah tingkah. “Iya Bu… nggak apa-apa…”
Dari belakang, Tina berbisik ke Siti, “Calon mantu mode aktif.” Siti langsung cubit pelan. “Diem.”
Sekitar pukul sepuluh, dokter memperbolehkan Yanti pulang. Di perjalanan menuju kos, Bu Rosmiyati menggenggam tangan Yanti pelan. “Kamu jangan terlalu dipikir macam-macam. Sekolah yang tenang.” Yanti mengangguk. Tapi matanya kosong.
Sesampainya di kos, Bu Rosmiyati membantu membereskan barang. Toro berdiri kikuk di teras, tidak berani masuk terlalu jauh.
Bu Rosmiyati akhirnya menghampirinya. “Kamu serius sama anak saya?”
Toro tegang. “I-iya Bu. Serius banget malah.”
Bu Rosmiyati tersenyum kecil. “Yanti itu keras kepala. Tapi hatinya lembut. Dia dari kecil terbiasa bebas. Suka berteman. Suka ketawa. Kalau sedih dipendem sendiri.” Suaranya mulai pelan. “Jangan bikin dia takut jadi dirinya sendiri.”
Kalimat itu langsung menghantam Toro. Karena tanpa sadar, itulah yang selama ini ia lakukan.
“Maaf Bu… saya cuma takut kehilangan dia.”
Bu Rosmiyati menghela napas. “Cinta itu dijaga, bukan dikurung.”
Beberapa detik hening. Lalu Bu Rosmiyati berkata pelan, “Ibu nitip Yanti ya. Ibu nggak bisa selalu ada di sini. Kalau dia sakit, kalau dia sedih, kalau dia kenapa-kenapa… tolong dijaga.”
Untuk pertama kalinya Toro merasa dipercaya sepenuhnya. “Iya Bu. Saya janji.”
Dari balik pintu kamar, Yanti diam-diam mendengar semuanya. Dadanya sesak. Karena ia tahu — Toro memang mencintainya. Sangat mencintainya. Tapi cinta sebesar itu kadang justru terasa menakutkan.
Siang itu Bu Rosmiyati pamit pulang. Sebelum pergi, ia memeluk Yanti erat. “Nduk, jangan terlalu keras sama hidup.”
Air mata Yanti jatuh. “Aku kangen rumah…”
Bu Rosmiyati tersenyum sedih. “Rumah selalu nunggu kamu pulang.”
Setelah ibunya pulang, Yanti duduk di kamar kos. Sunyi. Toro masuk membawa bubur ayam. “Nih… harus makan.” Yanti menerimanya pelan.
Toro duduk di samping ranjang. Beberapa saat mereka diam. Lalu ia berkata lirih, “Aku bakal berubah. Aku nggak mau bikin kamu sakit lagi.”
Air mata Yanti kembali berkumpul. Ia tahu Toro sedang berusaha. Tapi mengubah rasa takut kehilangan tidak pernah mudah.
Sore harinya anak-anak datang menjenguk. Suasana langsung ramai. Ahmad masuk bawa komik. “Heh pasien gagal move on!” Muji bawa rambutan. “Ini hasil nyolong tetangga.” Yono duduk selonjoran. “Kalau Yanti mati, siapa yang nyontekin gue nanti?” Satu ruangan melempar bantal ke arah Yono.
Untuk pertama kalinya sejak sakit, Yanti tertawa cukup lama.
Toro hanya memandangi dari sudut ruangan. Diam. Karena akhirnya ia sadar — yang membuat Yanti hidup bukan hanya cinta. Tapi juga teman-temannya. Tawa mereka. Kebebasannya. Dunianya sendiri.
Malam itu, saat semua sudah pulang, Toro berdiri di depan kos. “Heh, aku belajar pelan-pelan ya.”
“Belajar apa?”
“Belajar nggak takut kehilangan. Karena kalau aku terus begini, yang hilang malah kamu.”
Yanti terdiam.
Angin malam bertiup pelan melewati halaman kos. Di bawah lampu jalan yang redup, untuk pertama kalinya Yanti melihat sisi lain dari Toro. Bukan lelaki galak yang ditakuti satu STM. Melainkan seorang laki-laki muda yang sebenarnya hanya takut ditinggalkan sendirian.
BAB XIX
CINTA YANG TAK BISA DIPAKSA
“Tentang Seseorang yang Datang Membawa Kesetiaan, Namun Tak Pernah Benar-Benar Memiliki Tempat di Hati”
Musim hujan mulai sering turun di Pedan. Pagi-pagi terasa dingin. Setelah sakitnya, hidup Yanti perlahan kembali normal. Ia kembali masuk sekolah, kembali bercanda bersama Dwi, Tina, dan Siti.
Namun ada sesuatu yang berubah. Kini Toro mulai berusaha menahan dirinya. Ia tidak lagi terlalu sering melarang, tidak lagi mudah marah saat Yanti bersama teman-temannya. Meski kadang rasa cemburu itu masih terlihat jelas di matanya. Dan justru karena perubahan itu, Yanti mulai merasa bersalah sendiri.
Pagi itu kelas Teknik Tekstil ribut seperti biasa. Ahmad menggambar karikatur guru, Muji tidur sambil ngiler, sementara Yono dan Adi debat soal offside. Yanti baru masuk, rambutnya masih basah terkena gerimis.
“Woiii Yanti datang… pagi ratu STM!”
Yanti melempar penghapus ke arah Ahmad. “Ratu ndasmu!”
Satu kelas pecah tertawa. Tina mendekat sambil berbisik. “Kamu sadar nggak? Toro sekarang berubah banget.”
Yanti menoleh ke luar kelas. Toro berdiri di koridor, bersandar di tembok, memperhatikan dari jauh. Tapi kali ini ia tidak masuk, tidak marah, tidak menarik Yanti keluar. Ia hanya diam. Dan itu justru membuat hati Yanti terasa aneh.
“Tik, kamu masih takut sama Toro?” tanya Dwi.
Yanti terdiam. “Aku bingung. Dia sekarang baik banget… Kalau aku tetap nggak bisa cinta gimana?”
Dwi ikut diam. Karena ia tahu — selama ini Yanti mencoba menerima Toro, mencoba membuka hati. Tapi semakin dipaksa, hatinya justru semakin lelah.
Jam praktik dimulai. Suara mesin pintal memenuhi ruangan. Yanti berdiri di dekat mesin bersama Riyadi dan Muji. Tiba-tiba mesin Yanti macet. Benang kusut berantakan.
Riyadi langsung mendekat. “Heh minggir bentar.” Tangannya membantu membetulkan mesin dengan tenang. Beberapa menit kemudian mesin kembali normal.
“Makasih…” kata Yanti.
Riyadi tersenyum tipis. “Biasa.”
Dari pintu praktik, Toro melihat semuanya. Rahangnya mengeras. Tapi ia diam.
Siang harinya hujan turun deras. Anak-anak berteduh di teras gedung praktik. Yanti duduk bersama Dwi dan Siti. Tiba-tiba seseorang datang dari arah gerbang — membawa payung hitam, jaket abu-abu lusuh.
Teguh.
“Heh…” Ia tersenyum gugup.
Yanti kaget. “Kamu ke sini? Hujan-hujan begini?”
“Pengen ketemu aja.”
Teguh mengeluarkan plastik kecil dari tasnya. “Roti. Kamu dulu bilang suka roti kacang.”
Yanti terdiam. Ia sendiri lupa pernah bilang itu.
“Kamu jauh-jauh cuma buat nganter roti?”
Teguh tertawa malu. “Iya. Biar nggak lupa makan.”
Kalimat sederhana itu membuat hati Yanti tidak enak. Lelaki di depannya benar-benar tulus. Tidak pernah memaksa, tidak pernah marah, tidak pernah melarang. Ia hanya datang, diam-diam memperhatikan.
Namun suasana berubah saat Toro muncul dari belakang. Matanya tertuju pada Teguh. Udara mendadak dingin.
“Kamu siapa?” suara Toro datar.
Teguh tersenyum sopan. “Aku temannya Yanti.”
Toro tertawa kecil hambar. “Teman?”
Yanti mulai kesal. “Toro, jangan mulai.”
Teguh berdiri pelan. “Aku pulang aja…” Yanti merasa tidak enak. Tapi Teguh hanya tersenyum. “Nggak apa-apa.” Lalu ia menoleh ke Toro. “Jaga Yanti baik-baik ya.”
Kalimat itu membuat Toro membeku sesaat. Yanti justru semakin merasa bersalah. Karena lelaki seperti Teguh — bahkan saat hatinya terluka — masih sempat memikirkan kebahagiaan orang lain.
Setelah Teguh pergi, suasana di teras menjadi sunyi. Toro berdiri memandang jalanan basah.
“Kamu harus begitu tadi?” kata Yanti kesal.
“Aku salah?”
“Kamu bikin dia nggak nyaman.”
Toro tertawa pahit. “Aku cuma capek lihat cowok selalu datang ke hidupmu.”
Yanti terdiam. “Bukan aku yang minta mereka datang.”
Toro menoleh. Matanya terlihat lelah. “Aku tahu. Tapi aku takut. Takut someday kamu sadar kalau aku bukan orang yang kamu mau.”
Yanti membeku. Untuk pertama kalinya Toro terdengar sangat rapuh.
Malam harinya Yanti duduk sendirian di kamar kos. Lampu redup. Dwi dan Tina sudah tidur. Siti masih membaca di pojok. Pikiran Yanti penuh — tentang Toro, tentang Teguh, tentang Riyadi. Tentang semua orang yang datang membawa rasa sayang. Tapi anehnya, hatinya justru semakin kosong.
“Heh, kamu belum tidur?” Dwi turun dari kasur.
“Belum.”
“Mikirin siapa?”
Yanti tersenyum hambar. “Aku capek.”
“Karena cinta?”
“Karena hidup.”
Dwi duduk di sampingnya. “Kamu tahu nggak? Kadang orang yang paling tulus belum tentu jadi orang yang paling kita cinta.”
Yanti menunduk. Air matanya jatuh perlahan. Karena semakin hari ia sadar — perhatian, kesetiaan, dan pengorbanan tidak selalu bisa memaksa hati untuk mencintai.
Dan itulah luka paling menyakitkan. Bagi seseorang yang mencintai terlalu dalam. Namun tidak pernah benar-benar dimiliki.
BAB XX
ASAP ROKOK DAN LUKA YANG TAK SELESAI
“Tentang Seorang Gadis yang Mulai Kehilangan Arah, dan Asap yang Perlahan Menjadi Tempat Pelariannya”
Malam di Pedan terasa dingin.
Angin berembus pelan melewati jendela kos yang sedikit terbuka.
Lampu kamar menyala redup.
Dan di sudut ranjang dekat dinding…
Yanti duduk sendirian sambil memeluk lututnya.
Di luar kamar…
suara Tina masih terdengar ribut menelepon temannya.
Dwi sedang mencuci pakaian.
Sedangkan Siti sibuk belajar sambil mendengarkan radio kecil.
Namun Yanti…
diam.
Pikirannya jauh ke mana-mana.
Sudah beberapa minggu sejak ia sakit.
Sudah beberapa minggu pula Toro berubah lebih tenang.
Lebih sabar.
Lebih berusaha mengerti dirinya.
Namun anehnya…
justru hati Yanti semakin lelah.
Karena ternyata…
bukan hanya Toro yang membuatnya sesak.
Melainkan hidupnya sendiri.
Ia lelah menjadi pusat perhatian.
Lelah diperebutkan.
Lelah dicintai terlalu besar.
Dan lebih dari semuanya…
ia lelah kehilangan orang-orang yang ia sayangi.
Mas Nur pergi.
Kakang Riyadi menghilang dari hidupnya.
Persahabatan masa SMP perlahan menjauh.
Dan kini…
bahkan hidup di STM pun mulai terasa berat.
Tok.
Tok.
Tok.
“Heh…”
Dwi masuk sambil membawa handuk.
“Kamu belum tidur?”
“Belum ngantuk.”
Dwi duduk di sampingnya.
“Kamu akhir-akhir ini sering bengong.”
Yanti tersenyum kecil hambar.
“Capek aja.”
“Karena Toro?”
Yanti diam.
Lalu menggeleng pelan.
“Karena hidup.”
Dwi menatap sahabatnya lama.
Ia tahu…
ada luka yang belum selesai di hati Yanti.
Dan luka itu jauh lebih dalam daripada sekadar soal pacar.
“Kamu masih mikirin Kakang ya?”
DEG.
Yanti langsung memalingkan wajah.
Dwi menghela napas kecil.
“Aku tahu kok…”
“Kamu paling kehilangan dia.”
Air mata Yanti mulai berkumpul.
“Aku nggak ngerti…”
“Kenapa semua orang pergi tanpa pamit…”
Suasana kamar mendadak sunyi.
Hanya suara kipas angin kecil yang terdengar pelan.
Dwi menggenggam tangan Yanti.
“Tik…”
“Orang datang dan pergi itu biasa.”
“Tapi hidupmu jangan ikut berhenti.”
Yanti tersenyum tipis.
Namun matanya mulai basah.
Malam makin larut.
Semua penghuni kos mulai tidur.
Lampu dimatikan.
Dan suasana menjadi sunyi.
Namun sekitar tengah malam…
Yanti justru keluar pelan dari kamar.
Ia berjalan menuju belakang kos.
Ke dekat sumur tua kecil yang biasa dipakai mencuci.
Udara malam terasa dingin.
Langit gelap.
Dan suara jangkrik terdengar bersahutan.
Yanti duduk di kursi kayu tua.
Lalu dari saku sweternya…
ia mengeluarkan sesuatu.
Sebungkus rokok.
Tangannya gemetar kecil.
Ia memandang benda itu lama.
Lalu tertawa hambar sendiri.
“Beginian ya…”
Perlahan…
ia menyalakan korek.
Ctak.
Api kecil menyala.
Dan beberapa detik kemudian…
asap pertama keluar dari bibirnya.
Batuk.
“Heekh… uhuk!”
Yanti langsung meringis.
“Pahit…”
Namun entah kenapa…
kepalanya terasa sedikit ringan.
Ia kembali menghisap pelan.
Dan asap putih itu perlahan naik ke udara malam.
Di saat itulah…
suara langkah kaki terdengar dari belakang.
“Heh!”
Yanti langsung kaget.
Ternyata Abdul.
“Kak Abdul?!”
Abdul melongo.
“Astaga…”
“Kamu ngerokok?!”
Yanti langsung panik menyembunyikan rokoknya.
“Eh… ini…”
“Ini apaan?!”
Abdul mendekat cepat.
Lalu merebut rokok dari tangan Yanti.
“Sejak kapan kamu beginian?!”
Yanti diam.
Abdul benar-benar shock.
Karena selama ini…
meski tomboy…
Yanti tetap gadis yang ceria dan hangat.
Dan melihatnya duduk sendirian merokok tengah malam…
membuat hati Abdul terasa sakit.
“Kamu stres segitunya?”
Yanti menunduk.
Air matanya jatuh pelan.
“Aku capek…”
Suara itu lirih sekali.
Rapuh sekali.
Dan untuk pertama kalinya…
Abdul benar-benar melihat betapa hancurnya hati Yanti selama ini.
“Kamu jangan nyakitin diri sendiri begini…”
“Aku cuma pengen tenang…”
“Rokok bukan jawaban.”
“Aku nggak tahu harus gimana lagi…”
Abdul menghela napas panjang.
Lalu duduk di samping Yanti.
Beberapa saat mereka diam.
Memandangi langit malam.
“Kamu masih mikirin Kakang?”
tanya Abdul pelan.
DEG.
Yanti langsung menangis lagi.
“Aku kangen…”
“Dulu waktu ada dia…”
“Aku nggak pernah ngerasa sendirian…”
Abdul mendengarkan diam-diam.
“Sekarang…”
“Semua berubah…”
“Mas Nur pergi…”
“Kakang pergi…”
“Teman-teman berubah…”
“Aku capek…”
Abdul menatap Yanti lama.
Lalu berkata pelan.
“Kamu tahu kenapa semua orang sayang sama kamu?”
Yanti menggeleng pelan.
“Karena kamu selalu bikin orang nyaman.”
“Tapi kamu nggak pernah benar-benar cerita kalau kamu sendiri juga butuh disayang.”
Air mata Yanti makin deras.
Abdul lalu mengambil bungkus rokok itu.
Dan tanpa banyak bicara…
ia membuangnya ke selokan kecil dekat sumur.
“Heh!”
“Itu mahal tau…”
“Kalau mau ngerokok…”
“Mending bakar jagung aja.”
“Hahaha…”
Yanti akhirnya tertawa kecil di tengah tangisnya.
Dan malam itu…
untuk pertama kalinya sejak lama…
Yanti merasa ada seseorang yang benar-benar mengerti dirinya tanpa menghakimi.
Keesokan harinya…
hari kembali berjalan seperti biasa.
Sekolah ramai.
Mesin tekstil berdengung.
Suara guru memenuhi kelas.
Namun kini…
Yanti mulai lebih sering diam.
Ia masih tertawa bersama teman-temannya.
Masih bercanda.
Masih terlihat ceria.
Tetapi orang-orang dekatnya mulai sadar…
senyum Yanti tidak lagi setulus dulu.
Saat jam istirahat…
Riyadi menghampirinya di taman belakang sekolah.
“Heh…”
“Apa?”
“Kamu kurang tidur?”
“Kok tahu?”
“Mata kamu kayak panda kesiangan.”
“Hahaha…”
Riyadi duduk di sebelahnya.
Lalu menyerahkan teh botol dingin.
“Nih.”
“Makasih.”
Beberapa saat mereka diam.
Lalu Riyadi berkata pelan.
“Kalau capek…”
“Jangan dipendem sendiri.”
DEG.
Kalimat itu…
persis seperti yang dikatakan Abdul tadi malam.
Yanti menatap Riyadi lama.
Dan entah kenapa…
dadanya terasa hangat sekaligus sesak.
Karena semakin banyak orang menyayanginya…
semakin ia takut menyakiti mereka semua.
Sore harinya…
Toro datang menjemput seperti biasa.
“Heh cantik…”
Yanti tersenyum kecil.
Namun saat Toro menggenggam tangannya…
entah kenapa…
Yanti tidak lagi merasakan debar yang sama seperti dulu.
Dan itu membuatnya takut.
Takut kalau sebenarnya…
hatinya mulai lelah untuk mencintai.
Malam kembali turun di Pedan.
Dan di balik jendela kamar kos…
Yanti memandangi langit sambil berbisik lirih:
“Kenapa hidup rasanya makin berat ya…”
BAB XXI
SURAT DARI COMAL
“Tentang Hujan yang Membawa Kabar, Nama yang Dipanggil Saat Sakit, dan Seorang Gadis yang Mulai Kehilangan Arah Hidupnya”
Langit Pedan siang itu mendung. Angin dari arah persawahan bertiup pelan. Suara mesin tekstil mulai berhenti satu per satu. Anak-anak kelas dua keluar ruangan. Yanti berjalan paling belakang bersama Dwi. Wajahnya murung. Rokok yang mulai sering ia sembunyikan di saku tas membuat Dwi khawatir.
“Heh, kamu semalam ngerokok lagi ya?”
Yanti diam.
“Tik, kamu nggak bakal tenang kalau caranya begini.”
Yanti tertawa hambar. “Memangnya hidupku masih bisa tenang?”
Di depan bengkel, Riyadi duduk bersama Muji, Aris, Yono, dan Adi. Ahmad sibuk bercanda. “Heh Riyadi, Yanti makin cantik ya kalau lagi stres.”
Muji memukul kepala Ahmad. Tapi Riyadi hanya diam memperhatikan Yanti dari kejauhan. Tatapannya teduh. Adi melirik. “Kamu nggak capek ya suka sama orang yang nggak bakal bisa kamu miliki?”
Riyadi tersenyum kecil. “Siapa bilang aku pengin memiliki? Aku cuma pengin dia nggak sedih terus.”
Di parkiran, Toro sudah menunggu. “Kamu lama banget.”
Yanti menghela napas. “Tadi bersihin ruang praktik.”
Toro melirik Riyadi dan yang lain. Yanti langsung kesal. “Toro, aku capek kalau tiap hari dicurigai terus.”
Toro terdiam. Rahangnya mengeras. Dwi menarik Yanti. “Ayo pulang.”
Toro berkata pelan, “Nanti malam aku ke kos.”
Yanti malas menjawab. “Terserah.”
Sepanjang perjalanan pulang, Yanti lebih banyak diam. Dwi bertanya, “Kamu bahagia nggak sih sama Toro?”
Yanti terdiam lama. “Aku nggak tahu.”
“Kalau nggak bahagia kenapa dipertahanin?”
Yanti menatap langit mendung. “Karena aku capek kehilangan orang.”
Dwi menoleh. Untuk pertama kalinya ia sadar — Yanti sebenarnya tidak sedang mempertahankan cinta. Ia hanya takut ditinggalkan lagi.
Malam harinya hujan turun deras. Yanti duduk di teras kos, rokok tipis mengepul dari tangannya. Tiba-tiba suara ketukan pagar terdengar. Toro datang membawa bakso.
“Kamu hujan-hujanan cuma buat nganter bakso?”
Toro duduk di sampingnya. “Aku takut kamu belum makan.”
Beberapa saat hening. “Aku sebenarnya nggak suka marah sama kamu. Tapi aku takut kehilangan kamu.”
Kalimat itu membuat dada Yanti sesak. Kata-kata yang dulu pernah ia dengar dari Mas Nur. Luka lama itu terasa lagi.
Tiba-tiba suara motor berhenti di depan kos. Seorang ibu paruh baya turun, bajunya basah. “Permisi… saya cari Yanti.”
Yanti berdiri. “Saya, Bu.”
Ibu itu menatapnya lama, matanya berkaca-kaca. “Saya ibunya Teguh.”
Jantung Yanti berdegup keras.
Mereka duduk di ruang tamu. Ibu Teguh mengeluarkan amplop lusuh. “Ini buat kamu.”
Tangan Yanti gemetar menerima surat itu.
“Untuk Yanti… kalau suatu hari surat ini sampai ke tanganmu, mungkin aku sudah jauh.
Aku nggak pernah nyalahin kamu karena nggak bisa mencintaiku. Karena cinta memang nggak bisa dipaksa.
Aku cuma pengin kamu tahu — kamu adalah alasan paling indah yang pernah bikin aku semangat hidup.
Kalau nanti aku nggak ada, jangan merasa bersalah. Yang salah bukan kamu. Yang salah mungkin aku — terlalu mencintai seseorang sampai lupa menjaga diriku sendiri.
Dan kalau suatu hari kamu sedih, ingat satu hal ini: ada seseorang di Comal yang pernah mencintaimu dengan tulus.”
Tangisan Yanti pecah. Toro memegang pundaknya, tapi Yanti justru semakin hancur. Ibu Teguh mulai menangis.
“Sejak kamu nolak dia, dia berubah. Sering mabuk, sering ngurung diri. Paru-parunya makin parah… Waktu koma, dia nyebut nama kamu terus.”
Yanti membeku. “Dia bilang… Yanti… tolong jangan pergi…”
Suasana ruangan sunyi. Hanya suara hujan dan tangis.
Malam semakin larut. Ibu Teguh pamit pulang. “Kalau suatu hari sempat, datanglah ke makam Teguh. Dia pasti senang.”
Yanti hanya bisa menangis sambil mengangguk.
Dwi memeluknya erat. “Aku jahat ya…” “Jangan ngomong gitu…” “Aku bikin orang meninggal…” “Bukan salahmu…”
Tapi Yanti terus menangis. Untuk pertama kalinya ia benar-benar membenci dirinya sendiri.
Toro masih duduk diam. Lalu berkata pelan, “Aku takut kehilangan kamu juga.”
Yanti semakin hancur. Karena kini kata kehilangan bukan lagi sekadar rasa takut. Melainkan sesuatu yang benar-benar mulai merenggut orang-orang di sekitarnya.
Di luar, hujan belum berhenti. Angin malam Pedan terasa dingin. Dan di kamar kos sederhana itu, seorang gadis desa bernama Yanti mulai tenggelam semakin dalam ke dalam luka hidupnya sendiri.
BAB XXII
NAMA YANG DISEBUT SAAT KOMA
“Tentang Perjalanan ke Comal, Makam yang Basah oleh Hujan, dan Hati Seorang Gadis yang Semakin Kehilangan Arah”
Sejak kedatangan ibu Teguh malam itu, hidup Yanti kembali berubah. Bukan karena cinta, bukan karena Toro, bukan pula karena kenangan tentang Mas Nur atau Kakang Riyadi. Tetapi karena untuk pertama kalinya ia merasa benar-benar menjadi penyebab luka seseorang. Dan rasa bersalah itu pelan-pelan mulai memakan dirinya dari dalam.
Pagi di STM Tekstil Pedan terasa lebih dingin dari biasanya. Kabut tipis masih turun di halaman sekolah. Yanti sudah duduk sendiri di depan ruang praktik. Matanya sembab. Wajahnya pucat. Dwi datang membawa teh hangat.
“Kamu nggak tidur ya semalam?”
Yanti tersenyum hambar. “Kalau merem, yang kebayang wajah ibunya Teguh terus.”
Dwi terdiam. “Tik, kamu jahat ya?” Yanti bertanya lirih. “Jangan ngomong begitu. Dia sampai sakit karena cinta nggak bisa dipaksa.”
“Kenapa hidupku jadi begini…” Air mata Yanti jatuh lagi.
Dari kejauhan, Riyadi diam-diam memperhatikan. Ahmad menyenggol pelan. “Kamu nggak nyamperin?” Riyadi menggeleng. “Dia lagi pengin sendiri. Yanti makin kurus. Dia terlalu banyak nyimpen luka sendirian.”
Jam pelajaran berlangsung lambat. Praktik menenun, tapi Yanti terus salah memasang benang. Tangannya gemetar. Pikirannya kosong. Bu guru sampai menegur. Toro yang berada di dekat pintu praktik memperhatikan dengan rahang mengeras. Ia tak suka melihat Yanti seperti itu, tapi setiap kali mencoba mendekat, Yanti justru semakin menjauh.
Jam istirahat, Yanti tidak makan. Ia duduk di belakang sekolah, rokok kembali menyala di tangannya. Toro datang dan merebutnya.
“Kembalikan.”
“Nggak.”
“Aku lagi pengin sendiri.”
“Aku takut kamu makin hancur.”
Yanti tertawa pahit. “Memangnya aku masih bisa lebih hancur?”
Toro duduk di sampingnya. “Kita ke Comal. Ziarah ke makam Teguh.”
Yanti membeku. “Aku nggak sanggup.”
“Justru karena itu kamu harus datang.”
Malam harinya Yanti terus memikirkan ucapan Toro. Dadanya semakin sesak. Ia ingin datang, tapi takut menghadapi rasa bersalahnya sendiri.
Dua hari kemudian mereka berangkat. Bukan hanya Toro dan Yanti, tapi juga Dwi, Riyadi, Muji, Aris, dan Ahmad. Kereta ekonomi pagi dari Klaten menuju Pekalongan. Suasana stasiun ramai. Ahmad langsung bercanda.
“Kalau nanti aku hilang, jangan dicari.”
“Kenapa?”
“Aku ikut mbak-mbak kantin.”
Semua tertawa. Yanti tersenyum kecil — dan itu membuat Riyadi sedikit lega.
Perjalanan terasa panjang. Yanti duduk dekat jendela, diam. Toro di seberangnya. Dwi berbisik, “Kamu masih takut?” Yanti mengangguk. “Aku takut ibunya benci sama aku.” “Kalau benci, nggak mungkin beliau datang baik-baik ke kos.”
Siang hari mereka sampai di Comal. Udara pantura panas. Rumah Teguh di gang kecil dekat pasar. Ibu Teguh langsung menangis melihat Yanti.
“Nduk…”
Yanti menunduk. “Maaf, Bu…”
Wanita itu memeluknya erat. Tidak ada kemarahan di sana. Hanya kesedihan seorang ibu yang kehilangan anaknya.
Mereka duduk di ruang tamu sederhana. Foto Teguh terpajang di meja. Yanti menatapnya lama. Wajah yang dulu sering tersenyum padanya, kini tinggal kenangan.
“Sejak kenal kamu, Teguh jadi sering pulang cepat. Rajin mandi. Suka nyisir rambut. Dia sering cerita tentang kamu — katanya ada gadis tomboy dari Tegorejo yang bikin dia semangat hidup.”
Air mata Yanti jatuh lagi. Toro menggenggam tangannya. Kali ini Yanti tidak menolak. Tubuhnya benar-benar lemas.
Sore hari mereka pergi ke makam Teguh. Langit mendung. Rumput basah sisa hujan malam. Saat melihat nisan bertuliskan nama Teguh, lutut Yanti lemas. Dwi buru-buru memeganginya.
Yanti menangis pelan. “Aku minta maaf… aku nggak pernah bermaksud nyakitin kamu…”
Angin sore bertiup dingin. Semua terdiam. Bahkan Ahmad yang paling cerewet hanya menunduk.
Toro berdiri agak jauh. Sementara Riyadi diam memperhatikan Yanti. Dan untuk pertama kalinya, Riyadi sadar satu hal — hidup Yanti terlalu penuh luka. Dan semua orang yang mencintainya selalu datang membawa rasa sakit baru.
Yanti duduk lama di depan makam. Tangannya gemetar menabur bunga.
“Aku jahat ya…”
Dwi memeluk pundaknya. “Kamu cuma belum bisa mencintai dia.”
“Tapi dia mati karena aku…”
“Bukan.” Suara Riyadi tiba-tiba terdengar. Semua menoleh. Riyadi melangkah pelan mendekat. “Orang nggak mati karena cinta. Kadang orang cuma terlalu kehilangan arah hidup.”
Kalimat itu membuat suasana hening. Dan untuk pertama kalinya, Yanti menatap Riyadi cukup lama. Tatapan yang teduh. Tenang. Tidak menuntut apa pun.
Malamnya mereka menginap di rumah Dwi di Pekalongan. Suasana sedikit lebih hangat. Ibu Dwi memasakkan nasi megono dan ikan asin. Ahmad mulai bercanda lagi.
“Kalau aku mati nanti, jangan nangis ya.”
Muji langsung menyumpal mulutnya dengan kerupuk. “Mulutmu sumpah!”
“Hahaha!”
Untuk pertama kalinya sejak berhari-hari, Yanti tertawa kecil. Dan semua orang langsung menoleh. Karena mereka rindu mendengar tawa itu.
Namun malam semakin larut, dan kesedihan kembali datang. Yanti duduk sendiri di teras rumah Dwi. Angin malam Pekalongan terasa dingin. Riyadi datang membawa teh hangat.
“Nih.”
“Makasih.”
Mereka diam cukup lama. Lalu Riyadi berkata pelan, “Kamu nggak boleh nyalahin diri sendiri terus.”
“Aku capek, Yad…”
“Capek kenapa?”
“Capek bikin orang sedih.”
Riyadi tersenyum tipis. “Kamu tahu kenapa banyak orang sayang sama kamu?”
Yanti menoleh pelan.
“Karena kamu selalu bikin mereka merasa hidup.”
DEG. Yanti langsung diam. Air matanya jatuh lagi.
Riyadi melanjutkan lirih, “Tapi kamu lupa — diri kamu sendiri juga butuh disayang.”
Malam terasa semakin sunyi. Di bawah langit Pekalongan yang mendung, Yanti mulai sadar — selama ini ia terlalu sibuk menjaga perasaan orang lain sampai lupa menjaga dirinya sendiri.
Namun tanpa Yanti sadari, di dalam rumah, Toro memperhatikan semuanya dari balik jendela. Tatapannya perlahan berubah gelap. Karena lagi-lagi ia melihat Yanti lebih tenang bersama Riyadi. Dan rasa takut kehilangan itu pelan-pelan mulai berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya.
BAB XXIII
MAKAM DAN PENYESALAN
“Tentang Hujan di Atas Nisan, Rokok yang Tak Lagi Menenangkan, dan Hati yang Mulai Kehilangan Cahaya”
Keesokan harinya suasana sekolah kembali panas. Gosip menyebar — Yanti sering pergi malam bersama Riyadi. Anak-anak STM memang cepat sekali membuat gosip.
“Heh katanya Toro mulai kalah saing.”
“Riyadi diem-diem nyalip.”
Muji kesal mendengarnya. “Mulut kalian tuh…”
Tapi gosip sudah telanjur menyebar. Dan itu membuat hubungan Toro dan Yanti semakin memburuk.
Sementara Yanti semakin merasa lelah. Ia mulai kehilangan semangat sekolah. Nilainya turun. Sering melamun. Makin sering merokok diam-diam. Bahkan Dwi mulai takut — karena sahabatnya itu perlahan benar-benar kehilangan cahaya dalam hidupnya.
Malam harinya hujan turun deras. Kos-kosan terasa dingin. Tina sibuk membaca majalah. Siti menjahit kancing baju. Dwi mulai kesal melihat Yanti yang kembali duduk di teras sambil merokok.
“Tiiik, kamu mau sampai kapan begini?”
Yanti diam.
“Asap nggak bakal nyelesain masalah.”
“Aku tahu.”
“Terus kenapa tetap dilakuin?”
Yanti tersenyum pahit. “Karena aku nggak tahu lagi cara nenangin diri.”
Kalimat itu membuat Dwi ikut sedih.
TOK TOK TOK. Pagar kos diketuk. Toro datang. Wajahnya dingin.
“Kita ngobrol.”
“Sekarang?”
“Iya.”
Mereka berjalan ke warung kopi kecil dekat jalan raya. Hujan masih gerimis. Lampu jalan redup. Suasana malam Pedan terasa sepi.
Toro duduk diam cukup lama. “Kamu suka Riyadi?”
Yanti menoleh cepat. “Apa?”
“Jawab aja.”
“Toro, kamu mulai lagi.”
“Aku capek lihat kalian terus.”
“Dia sahabatku!”
“Semua cowok yang deket sama kamu selalu cuma sahabat!”
Yanti berdiri. “Kalau kamu nggak percaya, ngapain terus sama aku?”
Toro ikut berdiri. “Aku takut kehilangan kamu!”
“Terus semua harus kamu atur?”
Suasana mulai panas. Beberapa orang warung mulai melirik.
Toro meremas rambutnya frustrasi. “Aku nggak ngerti lagi harus gimana…”
“Aku juga capek,” suara Yanti mulai bergetar. “Aku capek selalu jadi alasan orang ribut.”
Hening. Hanya suara hujan kecil.
“Aku pengin hidup tenang.”
Toro langsung diam. Untuk pertama kalinya ia sadar — cintanya mulai membuat Yanti sesak.
Sepulang dari warung, Yanti tidak langsung masuk kos. Ia berjalan sendiri ke jalan kecil dekat rel kereta. Angin malam dingin. Langit hitam. Pikirannya kembali kacau.
Ia teringat Teguh. Teringat makam itu. Teringat suara ibunya. “Waktu koma… dia nyebut nama kamu terus…”
Air mata Yanti jatuh lagi. Ia mulai merasa hidupnya dipenuhi penyesalan.
Tiba-tiba sebuah motor berhenti di dekatnya. Riyadi.
“Kamu ngapain sendirian malam-malam?”
Yanti buru-buru menghapus air mata. “Nggak apa-apa.”
“Bohong.”
Riyadi turun dari motor. “Kamu habis berantem lagi sama Toro?”
Yanti tertawa kecil pahit. “Kok semua orang gampang nebak hidupku…”
“Karena mukamu nggak pernah bisa bohong.”
Mereka duduk di dekat rel. Kereta malam melintas perlahan. Suara gemuruhnya memecah sunyi.
“Kamu tahu, orang yang terlalu banyak nyimpen luka biasanya lupa caranya bahagia,” kata Riyadi pelan.
Yanti menatap rel panjang di depannya. “Aku pengin bahagia lagi.”
“Bisa.”
“Gimana caranya?”
Riyadi tersenyum kecil. “Pelan-pelan.”
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Yanti merasa sedikit tenang. Bukan karena cinta. Bukan karena janji. Tetapi karena ada seseorang yang mau mendengarkan tanpa menuntut apa pun.
Namun malam itu, di kejauhan, Toro melihat mereka lagi. Dan kali ini sesuatu di dalam dirinya benar-benar mulai pecah.
Keesokan harinya suasana sekolah kembali panas. Gosip yang sudah menyebar semakin menjadi-jadi. Hubungan Toro dan Yanti semakin memburuk.
Sementara Yanti semakin merasa lelah. Ia mulai kehilangan semangat sekolah. Nilainya turun. Sering melamun. Dan makin sering merokok diam-diam. Bahkan Dwi mulai takut — karena sahabatnya itu perlahan benar-benar kehilangan cahaya dalam hidupnya.
Dan tanpa Yanti sadari, masa paling gelap dalam hidupnya baru saja dimulai.
BAB XXIV
KERETA YANG PERGI TANPA PAMIT
“Tentang Terminal Sore Hari, Tangis yang Tak Sempat Dicegah, dan Kepergian yang Mengubah Segalanya”
Langit Desa Tegorejo sore itu berwarna jingga pucat. Angin kemarau bertiup pelan melewati pematang sawah. Daun-daun padi bergoyang seperti sedang mengucapkan selamat tinggal. Tapi tidak ada yang tahu bahwa sore itu akan menjadi sore terakhir sebelum semuanya berubah.
Sejak beberapa minggu terakhir, Riyadi semakin sering diam. Ia masih datang ke rumah Yanti, masih mengantar latihan karate, masih bercanda bersama Aziz dan Pincuk. Tapi sorot matanya berbeda. Ada sesuatu yang sedang dipikirkan sangat dalam.
Karwan sudah hampir setahun bekerja di Tangerang. Sesekali ia mengirim surat. Katanya, pabrik tempatnya bekerja sedang membuka lowongan. Sejak saat itu pikiran Riyadi tidak tenang. Setelah lulus SMA Pegandon, ia merasa hidupnya jalan di tempat. Sementara teman-temannya mulai pergi merantau.
Sore itu Riyadi duduk sendirian di gardu dekat mushola desa. Aziz datang.
“Kau jadi berangkat?”
Riyadi diam beberapa detik. “Iya.”
“Kapan?”
“Sore ini.”
Aziz menatapnya lama. “Kau serius nggak pamit sama Sinok?”
Riyadi terdiam. Angin sore berhembus pelan. “Aku nggak kuat pamit.”
“Dia pasti hancur.”
“Aku tahu.”
“Terus kenapa tetap pergi diam-diam?”
Riyadi tersenyum hambar. “Karena kalau lihat dia nangis, aku nggak bakal jadi berangkat.”
Di sisi lain, Yanti sama sekali tidak tahu. Hari itu ia sedang sibuk belajar untuk ujian nasional. Buku matematika terbuka di meja, tapi pikirannya kacau. Setelah kehilangan Mas Nur, Riyadi adalah satu-satunya orang yang masih selalu ada untuknya. Yang selalu mendengarkan ceritanya. Yang selalu membuatnya tertawa saat sedih. Tanpa sadar, kehadirannya sudah menjadi bagian penting dalam hidupnya.
Menjelang magrib, langit mulai gelap. Aziz dan Riyadi berjalan menuju perempatan Patebon. Sebuah tas besar tergantung di pundak Riyadi — berisi beberapa baju, sarung, jaket karate, dan alamat Karwan.
Mereka berjalan pelan di pinggir jalan pantura. “Heh Di, kalau sukses jangan lupa traktir.”
Riyadi tertawa kecil. “Kalau gagal?”
“Ya pulang lagi.”
Mereka tertawa hambar. Tapi di balik tawa itu, Aziz tahu sahabatnya sedang menahan sesuatu.
Saat sampai di perempatan, bus malam tujuan Jakarta mulai terlihat. Lampunya menyala terang menembus senja. Jantung Riyadi terasa berat.
“Masih bisa batal,” kata Aziz.
Riyadi menggeleng. “Nggak bisa.”
“Karena Sinok?”
“Justru karena Sinok.” Aziz mengernyit bingung. “Aku nggak mau selamanya cuma jadi bayangan tempat dia bersandar. Aku sayang sama dia. Tapi aku tahu — hatinya masih penuh Mas Nur. Dan aku capek berharap.”
Bus berhenti. Kernet berteriak keras. Aziz membantu menaikkan tas Riyadi.
“Jaga diri.”
“Kau juga.”
Aziz menatapnya lama. “Kau yakin nggak mau pamit?”
Riyadi menoleh ke arah langit senja. Matanya mulai merah. “Tolong, kalau Sinok tanya, bilang aku baik-baik aja.”
Kalimat itu langsung membuat Aziz tahu — Riyadi sebenarnya sedang sangat terluka.
Bus mulai berjalan perlahan. Aziz berdiri di pinggir jalan sambil melambaikan tangan. Riyadi duduk dekat jendela, menatap lampu-lampu desa yang perlahan menjauh. Dan untuk pertama kalinya, air matanya jatuh.
Sementara itu di rumah, Yanti sedang duduk di teras. Hatinya gelisah. Bu Rosmiyati keluar membawa teh hangat. “Kamu kenapa bengong terus?”
“Enggak tahu, Bu.” Yanti menatap jalan desa yang mulai gelap. “Kayak ada yang hilang.”
Malam semakin larut. Di dalam bus menuju Jakarta, Riyadi masih belum bisa tidur. Bayangan Yanti terus muncul — tertawa di atas sepeda ontel, marah saat latihan karate, menangis saat ditinggal Mas Nur. Semuanya bercampur jadi satu. Satu kalimat terus terngiang di kepalanya: “Merpati tak pernah ingkar janji…”
Keesokan paginya Yanti datang ke tempat latihan karate. Suasana terasa aneh. Aziz murung. Pincuk lebih banyak diam.
“Kakang Riyadi mana?”
Aziz salah tingkah. Tak ada yang menjawab. Jantung Yanti berdebar tidak enak.
Aziz menghela napas panjang. “Riyadi berangkat ke Tangerang semalam. Nyusul Karwan kerja.”
Dunia Yanti seperti berhenti. “Bohong…”
Aziz menggeleng. “Dia naik bus semalam.”
Saat itulah sesuatu di dalam hati Yanti runtuh lagi.
“Kenapa nggak pamit…” Suaranya bergetar. Air matanya jatuh. “Kenapa semuanya pergi tanpa pamit…”
Aziz menunduk. Pincuk menghela napas berat. Mereka tahu — luka kehilangan Mas Nur saja belum sembuh. Dan sekarang Riyadi ikut pergi.
Hari-hari setelah itu terasa sangat sunyi bagi Yanti. Tidak ada lagi suara sepeda ontel di depan rumah. Tidak ada lagi yang menunggunya selesai latihan. Tidak ada lagi yang diam-diam membawakan es teh. Semua mendadak hilang. Dan yang paling menyakitkan — Riyadi pergi tanpa memberi kesempatan untuk mengucapkan selamat tinggal.
Suatu sore ia duduk sendiri di bawah pohon trembesi depan sekolah. Tempat yang dulu sering menjadi tempatnya menangis. Angin sore bertiup pelan. Untuk pertama kalinya Yanti benar-benar merasa sendiri. Mas Nur pergi. Riyadi pergi. Dua orang paling berarti dalam hidupnya hilang hampir bersamaan.
“Aku capek kehilangan…” gumamnya lirih.
Tapi di tengah semua luka itu, Yanti tetap bertahan. Ia mulai belajar lebih keras. Mulai fokus pada masa depan. Karena ia tahu — hidup tidak akan berhenti hanya karena hatinya patah.
Hari pengumuman kelulusan akhirnya tiba. Suasana SMP Pengandon ramai. Anak-anak berpelukan, menangis, tertawa histeris. Saat nama Yanti diumumkan lulus, Bu Rosmiyati langsung menangis haru. Yanti tersenyum tipis sambil memeluk ibunya. Tapi jauh di dalam hati, ada dua orang yang ingin sekali ia lihat hari itu — Mas Nur dan Kakang Riyadi. Keduanya tidak ada.
Malam harinya Yanti duduk di depan rumah. Angin desa terasa dingin. Suara jangkrik dari sawah. Untuk pertama kalinya sejak lama, Yanti mulai mengerti satu hal — bahwa tumbuh dewasa ternyata sesakit ini. Karena semakin dewasa seseorang, semakin banyak orang yang harus pergi meninggalkan hidupnya.
Tapi di balik semua kehilangan itu, perlahan sebuah tekad mulai tumbuh. Ia tidak ingin terus terpuruk. Ia ingin melanjutkan sekolah. Pergi keluar kota. Membuka hidup baru.
Di bawah langit Tegorejo yang sunyi, Yanti berbisik pada dirinya sendiri: “Aku harus kuat…”
BAB XXV
HARI-HARI SUNYI TANPA MEREKA
“Tentang Kehilangan yang Datang Bersamaan, Ujian Nasional yang Terasa Hampa, dan Seorang Gadis yang Belajar Berdiri di Tengah Luka”
Sejak kepergian Mas Nur ke Jakarta dan Riyadi menyusul Karwan ke Tangerang, hidup Yanti berubah menjadi jauh lebih sunyi. Desa Tegorejo masih sama — suara ayam pagi, pematang sawah hijau, anak-anak bermain layangan. Tapi bagi Yanti semuanya terasa berbeda. Dua orang yang selama ini selalu mengisi hari-harinya sudah pergi.
Pagi itu Yanti duduk di teras sambil memegang buku IPA. Besok ujian nasional dimulai. Tapi ia hanya menatap halaman buku tanpa benar-benar membaca. Bu Rosmiyati keluar membawa teh panas. “Belajar kok malah melamun.”
Yanti tersenyum hambar. “Capek, Bu.”
“Kamu masih mikirin mereka ya?”
Yanti tidak menjawab. Air matanya jatuh. Bu Rosmiyati menghela napas. “Ibu tahu kamu kehilangan. Tapi hidup nggak boleh berhenti.”
“Kenapa semua orang pergi, Bu…” Suaranya lirih. Bu Rosmiyati ikut diam. Bahkan sebagai seorang ibu, ia tidak tahu cara menyembuhkan luka anak gadisnya.
Hari pertama ujian nasional tiba. Suasana SMP Pengandon ramai. Yanti lebih banyak diam. Yuli menghampirinya. “Kamu udah sarapan?” “Udah.” “Bohong. Mukamu kayak orang habis puasa tiga hari.”
Saat bel masuk, Yanti duduk di bangku dekat jendela. Angin pagi masuk pelan. Bayangan Riyadi kembali muncul — suara sepeda ontelnya, candaan gilanya, cara dia diam-diam memperhatikan. Semua terasa begitu dekat, padahal orangnya sudah jauh.
Pengawas membuyarkan lamunannya. “Fokus.” Yanti membuka soal. Tapi pikirannya tetap bertanya — apakah Riyadi sudah sampai? Apakah Mas Nur baik-baik saja? Dan kenapa orang-orang yang ia sayangi selalu pergi meninggalkannya?
Sepulang ujian, Yanti berjalan sendirian melewati jalan kecil dekat kebun bambu. Biasanya Riyadi sering menunggu di tikungan sana, kadang sambil membawa es lilin. “Sinok, kalau nanti kaya jangan lupa sama aku.” Dan Yanti biasanya tertawa. Tapi sekarang jalan itu kosong.
Malam harinya Yanti membuka kotak kecil berisi barang-barang lama: pita biru pemberian Riyadi, foto latihan karate, dan secarik kertas: “Merpati tak pernah ingkar janji.” Air matanya jatuh lagi. Untuk pertama kalinya ia merasa benar-benar sendirian.
Hari-hari ujian berlalu lambat. Semakin dekat pengumuman kelulusan, semakin berat hati Yanti. Karena ia sadar masa SMP benar-benar akan berakhir — masa yang penuh cinta pertama, persahabatan, tangis, cemburu, dan kehilangan.
Suatu sore Yanti pergi ke tempat latihan karate di Cepiring. Sensei Sambas dan Sensei Anton langsung sadar — gadis itu jauh lebih murung dari biasanya.
Latihan dimulai. Tapi gerakan Yanti tidak fokus. Pukulannya meleset. Aziz bingung. Pincuk nyeletuk, “Jangan-jangan mikirin Kakang Riyadi.” Biasanya Yanti akan marah-marah. Kali ini ia hanya diam.
Setelah latihan, Aziz duduk di sampingnya. “Kamu marah sama Riyadi?”
Yanti menggeleng. “Aku cuma sedih.”
“Dia berat banget berangkat. Dia takut nggak bisa pergi kalau pamit sama kamu.”
Dada Yanti sesak lagi. “Dia sayang banget sama kamu. Tapi dia sadar — kamu nggak pernah benar-benar bisa lupa sama Mas Nur.”
Air mata Yanti jatuh. Untuk pertama kalinya ia sadar — Riyadi pergi sambil membawa luka juga.
Malam itu Yanti tidak bisa tidur. Ia duduk di bawah pohon mangga depan rumah. Langit penuh bintang. Udara desa dingin. Di tengah kesunyian, ia berbicara pada dirinya sendiri. “Aku jahat ya…” Tanpa sadar ia telah membuat banyak orang terluka. Mas Nur pergi membawa kecewa. Riyadi pergi membawa perasaan yang tidak sempat diucapkan. Dan yang tersisa hanya dirinya sendiri.
Hari pengumuman kelulusan tiba. Suasana sekolah penuh teriakan dan tangisan. Saat nama Yanti dinyatakan lulus, Bu Rosmiyati memeluknya erat. Yanti tersenyum menahan tangis. Tapi di tengah keramaian, ia merasa kosong. Dua orang yang paling ingin ia lihat tidak ada.
Sore harinya anak-anak kelas tiga berkumpul untuk perpisahan sederhana. Dandang membawa gitar. Bambang bercanda. Yuli dan Anita menangis. Tapi di tengah tawa, mata Yanti terus mencari seseorang.
Saat matahari tenggelam, Yanti berdiri sendiri di bawah pohon trembesi depan sekolah. Pohon yang dulu menjadi saksi semua cerita cintanya. Kini ia berdiri sendirian. Air matanya jatuh. “Kenapa semuanya berubah…”
Tapi di balik kesedihan, perlahan tekad baru mulai tumbuh. Ia tidak boleh terus hidup dalam kenangan. Ia harus melangkah. Harus punya masa depan. Untuk pertama kalinya ia mulai memikirkan satu tempat yang terus dibicarakan ibunya — STM Tekstil Pedan. Sekolah jauh di Klaten yang akan membawanya keluar dari Tegorejo, keluar dari semua kenangan lama.
Malam itu Yanti menatap langit desa dari jendela kamarnya. Suara jangkrik terdengar panjang. Kali ini di balik kesedihannya ada sedikit keberanian yang mulai tumbuh — keberanian untuk meninggalkan masa lalu dan memulai hidup baru.
Meski jauh di lubuk hati paling dalam, ia masih belum benar-benar bisa melupakan Mas Nur dan Kakang Riyadi.
BAB XXVI
CINTA LAMA YANG TAK PERNAH BENAR-BENAR PERGI
“Tentang Kepulangan, Luka yang Belum Selesai, dan Dua Hati yang Kembali Bertemu dalam Keadaan Berbeda”
Tiga tahun berlalu seperti angin. Hari-hari di STM Tekstil Pedan perlahan membentuk hidup Yanti menjadi baru. Ia belajar hidup jauh dari rumah, menghadapi kerasnya lingkungan STM, tertawa lagi bersama sahabat-sahabatnya. Tapi satu hal yang tak pernah berubah — kenangan tentang cinta pertamanya, Mas Nur.
Kini Yanti bukan lagi gadis SMP yang mudah menangis di bawah pohon trembesi. Ia tumbuh lebih dewasa, lebih tenang, lebih kuat. Tapi juga lebih pandai menyembunyikan luka.
Hari kelulusan STM tiba. Suasana sekolah ramai penuh pelukan dan tangisan. Dwi menangis paling keras. Yanti tertawa sambil memeluk sahabatnya.
Di sisi lain halaman, Toro berdiri memandang Yanti dari jauh. Hubungan mereka sudah lama berakhir. Abdul menepuk pundaknya. “Udahlah…” Toro tersenyum pahit. “Gue cuma pengen lihat dia bahagia.” Untuk pertama kalinya, Toro benar-benar belajar mencintai tanpa memaksa memiliki.
Setelah kelulusan, Yanti memilih kembali ke Tegorejo. Ia ingin pulang, melihat rumah, melihat ibunya, melihat sawah dan jalan desa yang dulu membesarkannya. Meski di dalam hati ada rasa takut — kampung itu penuh kenangan.
Bus memasuki wilayah Kendal menjelang sore. Saat melihat hamparan sawah Tegorejo, dada Yanti sesak. Tiga tahun pergi, tapi semua kenangan terasa masih sangat dekat.
Bu Rosmiyati memeluknya erat. Ima yang kini lebih besar langsung memeluk kakaknya. Suasana rumah kembali hangat. Tapi di balik senyumnya, Yanti diam-diam masih merasa kosong.
Malam pertama di rumah, Yanti tidak bisa tidur. Ia duduk di teras. Suara jangkrik masih sama. Angin sawah masih membawa aroma tanah yang familiar. Bayangan Mas Nur kembali muncul begitu jelas.
Keesokan harinya Yanti berjalan sendirian melewati jalan desa. Langkahnya berhenti di depan pohon trembesi dekat sekolah lama. Pohon itu masih berdiri kokoh. Semua kenangan datang bersamaan — tangis, cemburu, Mas Nur, Riyadi. Air matanya jatuh.
“Heh…”
Yanti menoleh cepat. Jantungnya berhenti beberapa detik.
Mas Nur.
Lelaki itu berdiri beberapa meter di belakangnya. Tubuhnya lebih tinggi, kulit lebih gelap, tatapan lebih dewasa. Tapi senyumnya masih sama.
“Udah lama ya…”
Yanti tak bisa menjawab. Semua rasa yang dulu ia kubur mendadak hidup kembali.
Mereka duduk di bawah pohon trembesi. Beberapa detik hanya diam. Sama-sama canggung. Sama-sama menyimpan terlalu banyak kenangan.
“Kamu berubah,” kata Mas Nur.
Yanti tertawa kecil. “Kamu juga.”
“Aku dengar kamu kerja di Jakarta?”
Mas Nur mengangguk. “Capek banget.”
Mereka tertawa kecil. Lalu suasana sunyi.
“Maafin aku ya,” kata Mas Nur pelan. “Aku pergi tanpa pamit. Aku pengecut.”
Air mata Yanti menggenang. Kalimat itu yang selama bertahun-tahun ingin ia dengar.
“Aku marah banget waktu itu. Aku nungguin kamu…”
Mas Nur menatap tanah. “Aku tahu. Tapi waktu itu aku malu. Malu karena nggak punya masa depan. Aku pikir kalau aku pergi, kamu bakal lebih bahagia.”
Yanti menggeleng cepat. “Kamu salah. Pergimu justru bikin aku hancur.”
Mas Nur terdiam. Matanya mulai merah. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, mereka sama-sama menangis lagi.
Tapi di tengah tangis itu, Yanti sadar — perasaannya pada Mas Nur memang belum hilang. Tapi rasanya sudah berbeda. Tak lagi sebergelora saat SMP, tak lagi penuh obsesi. Kini lebih tenang. Seperti rumah lama yang selalu membuat hati nyaman saat kembali.
Sore mulai turun. Langit Tegorejo berubah jingga.
“Kalau waktu bisa diulang, aku nggak bakal pergi tanpa pamit,” kata Mas Nur.
Yanti tersenyum kecil. “Kalau aku, aku nggak bakal nangis selama itu buat cowok.”
Mas Nur tertawa keras. Untuk pertama kalinya mereka bisa tertawa bersama tanpa rasa marah.
Hari-hari berikutnya Mas Nur sering datang ke rumah Yanti. Mereka ngobrol santai, kadang membahas masa lalu, kadang hanya duduk diam menikmati sore. Bu Rosmiyati hanya tersenyum kecil — cinta pertama memang sulit hilang.
Tapi Yanti sadar — hidup tak bisa benar-benar kembali seperti dulu. Mereka sudah berubah. Sudah melewati terlalu banyak luka. Bukan lagi anak SMP yang hanya mengerti cinta sebatas cemburu dan posesif.
Suatu malam Yanti duduk bersama Mas Nur di depan rumah.
“Kamu masih sayang sama aku?”
Mas Nur tersenyum. “Kamu sendiri?”
Yanti terdiam lama. “Aku nggak tahu. Tapi setiap lihat kamu, aku masih merasa pulang.”
Mas Nur diam. Malam itu untuk pertama kalinya mereka sama-sama memahami — cinta pertama mungkin tak pernah benar-benar hilang. Ia hanya berubah bentuk menjadi kenangan yang menetap diam-diam di hati.
Hidup tetap harus berjalan. Masa depan tetap menunggu. Di bawah langit malam Tegorejo, Yanti akhirnya belajar menerima semuanya — tentang kehilangan, tentang luka, tentang orang-orang yang pernah pergi lalu kembali.
Karena pada akhirnya, tidak semua cinta ditakdirkan untuk memiliki. Sebagian hanya ditakdirkan untuk dikenang seumur hidup.
EPILOG
MENUJU BANGKU KULIAH
“Tentang Luka yang Perlahan Menjadi Dewasa”
Musim kemarau mulai datang di Desa Tegorejo.
Sawah-sawah kembali menguning.
Angin sore berhembus pelan melewati jalan kecil depan rumah tua peninggalan almarhum Bu Rosmiyati.
Dan rumah itu…
kini terasa jauh lebih sunyi.
Tidak ada lagi suara lembut ibunya memanggil dari dapur.
Tidak ada lagi teh hangat setiap pagi.
Tidak ada lagi nasihat-nasihat kecil yang dulu sering membuat Yanti kesal.
Kepergian Bu Rosmiyati beberapa waktu lalu…
masih meninggalkan lubang besar di hati Yanti.
Karena setelah kehilangan banyak orang dalam hidupnya…
kini ia kembali kehilangan tempat pulang yang paling menenangkan.
Pagi itu…
Yanti duduk sendirian di teras rumah.
Tangannya memegang map cokelat berisi ijazah STM Tekstil Pedan.
Matanya kosong menatap jalan desa.
Di sampingnya…
Ima sedang melipat pakaian sambil sesekali mencuri pandang ke kakaknya.
“Mbak…”
“Hm?”
“Jadi berangkat kuliah beneran?”
Yanti mengangguk kecil.
“Iya.”
“Takut nggak?”
Yanti tersenyum tipis.
“Takut.”
“Terus kenapa tetep pergi?”
Yanti diam cukup lama.
Lalu menjawab pelan.
“Karena hidup harus jalan terus…”
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun sebenarnya…
Yanti sedang berusaha meyakinkan dirinya sendiri.
Sejak ibunya meninggal…
Yanti berubah jauh lebih pendiam.
Tidak lagi seceria dulu.
Tidak lagi mudah tertawa keras seperti masa STM.
Ia lebih sering melamun sendiri di depan rumah.
Memandangi langit sore.
Atau duduk diam di kamar sambil membuka kotak kenangan lamanya.
Di sana masih tersimpan:
foto-foto karate,
tiket kereta ke Malioboro,
surat kecil dari Dwi,
boneka panda pemberian Toro,
dan pita rambut kecil masa SMP.
Benda-benda sederhana…
namun menyimpan terlalu banyak kenangan.
Kadang…
saat malam terlalu sunyi…
Yanti masih teringat semua orang yang pernah datang dalam hidupnya.
Mas Nur.
Cinta pertamanya yang pergi merantau tanpa pamit.
Kakang Riyadi.
Lelaki yang pernah menjadi tempat paling nyaman untuk bersandar.
Toro.
Yang mencintainya terlalu besar sampai berubah menjadi luka.
Teguh.
Yang bahkan membawa cintanya sampai akhir hidup.
Dan teman-teman STM…
yang dulu membuat hidupnya terasa penuh warna.
Semua kini seperti tinggal bayangan jauh.
Sore itu…
Dwi datang dari Klaten bersama Tina.
Mereka sudah lama tidak bertemu.
Namun begitu bertatap muka…
pelukan panjang langsung pecah bersama tangis.
“Heh…”
Tina langsung mengusap mata.
“Jangan nangis woi…”
“Kamu dulu yang mulai…”
“Hahaha…”
Namun tawa mereka terasa berbeda sekarang.
Lebih dewasa.
Lebih pelan.
Karena hidup ternyata sudah banyak mengubah mereka.
Dwi memandang rumah Yanti perlahan.
“Sepi banget sekarang…”
Yanti hanya tersenyum kecil.
“Iya…”
“Kangen Bu Rosmiyati…”
DEG.
Kalimat itu langsung membuat mata Yanti kembali panas.
Ia menunduk pelan.
“Aku juga…”
Suasana mendadak sunyi.
Karena kehilangan ibu…
adalah luka yang tidak pernah benar-benar selesai.
Malam harinya…
mereka duduk bertiga di teras rumah.
Angin malam terasa dingin.
Suara jangkrik terdengar dari sawah belakang rumah.
Dan seperti masa STM dulu…
mereka kembali bercerita panjang.
Tentang sekolah.
Tentang cinta.
Tentang masa muda yang terasa begitu cepat berlalu.
“Heh Tik…”
“Apa?”
“Kamu masih inget Ahmad?”
“Yang suka gambar guru itu?”
“Iya!”
Yanti tertawa kecil.
“Masih lah…”
“Sekarang dia kerja di Solo katanya.”
“Tetep tengil nggak?”
“Lebih tengil.”
“HHAHAHAHA!”
Untuk beberapa saat…
Yanti akhirnya bisa tertawa lepas lagi.
Namun setelah Dwi dan Tina pulang…
kesunyian kembali datang.
Yanti masuk ke kamar pelan.
Lalu membuka lemari kayu tua peninggalan ibunya.
Di sana…
masih tersimpan rapi kain kebaya milik Bu Rosmiyati.
Yanti memeluk kain itu perlahan.
Dan air matanya jatuh tanpa suara.
“Ibu…”
“Aku capek…”
Dadanya terasa sesak.
Karena selama ini…
ia selalu terlihat kuat di depan semua orang.
Padahal sebenarnya…
ia masih gadis kecil yang takut kehilangan.
Beberapa hari kemudian…
surat penerimaan kuliah akhirnya datang.
Yanti diterima.
Tangannya gemetar saat membuka amplop itu.
Ima langsung melonjak senang.
“MBAK LOLOS!”
Yanti tersenyum kecil.
Namun matanya justru berkaca-kaca.
Karena di momen seperti ini…
ia paling ingin mendengar suara ibunya.
Malam sebelum keberangkatan…
Yanti duduk sendiri di makam Bu Rosmiyati.
Langit penuh bintang.
Udara malam terasa dingin.
Tangannya perlahan menyentuh batu nisan sederhana itu.
“Ibu…”
“Aku mau pergi lagi…”
Air matanya jatuh pelan.
“Aku nggak tahu nanti hidupku bakal kayak gimana…”
“Tapi aku janji…”
“Aku bakal kuat.”
Angin malam berhembus lembut.
Dan entah kenapa…
Yanti merasa seperti ibunya sedang mendengarkan.
Pagi keberangkatan tiba.
Tas besar sudah siap di ruang tamu.
Ima membantu membereskan barang-barangnya.
Sedangkan Yanti berdiri lama memandangi rumah kecil itu.
Rumah tempat ia tumbuh.
Rumah penuh kenangan.
Rumah yang kini terasa kosong tanpa ibunya.
Bus pagi mulai berjalan meninggalkan Tegorejo.
Pelan.
Perlahan.
Yanti duduk dekat jendela.
Memandangi desa yang semakin jauh.
Pohon trembesi.
Jalan kecil menuju sekolah.
Lapangan tempat latihan karate.
Semua perlahan menghilang dari pandangan.
Dan tanpa sadar…
air matanya jatuh lagi.
Namun kali ini…
bukan karena patah hati.
Bukan karena kehilangan cinta.
Melainkan karena ia sadar…
masa kecilnya benar-benar telah selesai.
Di perjalanan menuju bangku kuliah…
Yanti memejamkan mata perlahan.
Dan semua kenangan datang silih berganti.
Tawa masa SMP.
Tangis di STM.
Persahabatan.
Cinta.
Kehilangan.
Semua pernah menghancurkannya.
Namun semua itu pula…
yang membuatnya tumbuh menjadi lebih kuat.
Langit pagi mulai terang.
Bus terus melaju menuju kota baru.
Menuju kehidupan baru.
Menuju masa depan yang belum ia kenal.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama…
Yanti tersenyum kecil pada dirinya sendiri.
Karena kini ia mengerti:
Tidak semua orang yang pergi berarti meninggalkan.
Sebagian…
tetap hidup di hati.
Menjadi kenangan.
Menjadi pelajaran.
Menjadi alasan seseorang terus melangkah.
Dan gadis kecil dari Desa Tegorejo itu…
akhirnya mulai belajar berjalan sendiri.
Menuju hidup yang benar-benar baru.
Bersambung ke Buku Ketiga
Anang
30 Januari 2025 19:28:34
Lanjutkan mas... Semoga website desa pian semakin maju...