ROMAN EPIK
CINTA TERHEMPAS, PUTUS DI UJUNG TAKDIR
Jejak Cinta, Luka, dan Kesetiaan dari Handel Sungai Beras
Oleh: Slamet Riyadi
DISCLAIMER
Novel ini adalah karya fiksi.
Latar cerita terinspirasi dari kehidupan masyarakat pinggiran Sungai Kapuas, khususnya kawasan Kuala Kapuas dan Handel Sungai Beras, Kalimantan Tengah. Beberapa nama tempat dan ikon kota digunakan untuk memperkuat nuansa, namun seluruh tokoh, peristiwa, dan alur cerita adalah hasil imajinasi penulis.
Kisah ini mengangkat tema-tema universal:
- Cinta pertama yang tak terucapkan
- Persahabatan sejak masa kecil
- Penyesalan dan kehilangan
- Perjuangan hidup masyarakat sederhana
- Rumah tangga dan kesetiaan
- Penerimaan terhadap takdir
Novel ini dipersembahkan bagi mereka yang pernah mencintai dalam diam, bagi yang pernah kehilangan, dan bagi yang percaya bahwa ada cinta yang tak benar-benar pergi meski waktu telah memisahkan.
PROLOG
Malam di Handel Sungai Beras. Lampu-lampu rumah kayu mulai menyala satu per satu di sepanjang pinggir Sungai Kapuas. Dari kejauhan, truk-truk besar melintas di Jalan Trans Kalimantan, deru mesinnya panjang, seolah membawa ribuan kisah manusia yang datang dan pergi.
Di sebuah warung sederhana, beberapa sopir truk duduk menyeruput kopi hitam.
"Besok lanjut ke Palangka Raya lagi, Bang?"
"Iya. Muatan semen."
Percakapan kecil seperti itu sudah menjadi bagian kehidupan Handel Sungai Beras sejak puluhan tahun lalu. Bukan sekadar kawasan pinggiran, tempat itu adalah persinggahan kehidupan. Orang datang, orang pergi. Tapi kenangan sering kali memilih tinggal.
Di kawasan sederhana itulah seorang anak lelaki lahir. Namanya Paijo.
Tak ada yang menyangka anak pendiam dari rumah kayu kecil dekat jalan handel itu kelak akan menyimpan kisah cinta yang begitu panjang.
Malam semakin larut. Di sebuah rumah sederhana tak jauh dari tepian sungai, seorang ibu sedang menidurkan anak lelakinya.
"Tidur, Jo… besok sekolah."
Anak kecil itu masih membuka mata. "Buk…"
"Iya?"
"Kenapa sungai itu enggak pernah berhenti mengalir?"
Ibunya tersenyum. "Karena hidup juga begitu, Nak. Jalan terus."
Paijo kecil diam memandang langit-langit rumah kayu mereka. Ia belum mengerti arti kata-kata ibunya malam itu.
Bertahun-tahun kemudian, ia baru sadar bahwa hidup memang tak pernah menunggu siapa pun.
BAB I
ANAK SUNGAI DAN JALAN TRANS KALIMANTAN
Pagi di Handel Sungai Beras selalu datang bersama suara kendaraan besar yang melintas di Jalan Trans Kalimantan.
Deru mesin truk terdengar berat membelah udara subuh yang masih dingin. Lampu-lampu kendaraan memanjang seperti ular cahaya di jalan lintas yang menghubungkan Banjarmasin, Kuala Kapuas, hingga Palangka Raya.
Di kiri kanan jalan, warung-warung kecil mulai buka.
Asap kopi hitam mengepul dari cangkir kaca.
Suara sendok beradu dengan gelas terdengar bersahutan.
“Buk, kopi pahit satu!”
“Gorengannya tambah!”
“Solar lagi susah sekarang…”
Percakapan para sopir truk, kernet, dan penumpang bus menjadi musik pagi yang akrab bagi warga Handel Sungai Beras.
Di salah satu rumah kayu sederhana dekat jalan handel, seorang anak lelaki kecil sedang duduk di tangga rumah sambil memeluk lututnya.
Namanya Paijo.
Usianya baru enam tahun.
Matanya memperhatikan kendaraan yang melintas tanpa berkedip.
Entah apa yang dipikirkannya.
Namun sejak kecil Paijo memang sering melamun.
“Jo!”
Suara ibunya terdengar dari dapur.
Anak kecil itu menoleh cepat.
“Iya, Buk?”
“Tolong ambil air di sumur dulu. Ember di belakang.”
“Iya…”
Paijo segera bangkit.
Ia berjalan tanpa banyak bicara melewati lantai kayu rumah mereka yang mulai berbunyi karena usia.
Rumah itu sederhana.
Dindingnya dari papan ulin tua yang warnanya mulai kusam dimakan hujan dan panas bertahun-tahun.
Atap sengnya kadang bocor kalau hujan deras datang malam hari.
Namun rumah itu selalu terasa hangat.
Terutama karena suara ibunya yang tak pernah berhenti mengisi suasana.
“Kalau sudah selesai, bantu bapak juga di belakang!”
“Iya, Buk.”
Paijo mengambil ember lalu berjalan ke sumur kecil di samping rumah.
Kabut pagi masih tipis menggantung di udara.
Dari kejauhan terdengar suara burung rawa bercampur suara klakson bus antarprovinsi.
Handel Sungai Beras perlahan mulai hidup.
Ayah Paijo sedang membelah kayu di belakang rumah ketika Paijo datang membawa air.
Tubuh lelaki itu penuh keringat meski matahari belum tinggi.
Kapak tua di tangannya bergerak berulang-ulang membelah kayu bakar.
“Taruh situ aja, Jo.”
“Iya, Pak.”
Paijo meletakkan ember pelan.
Ayahnya menatap anak lelakinya sebentar.
“Kamu nanti sekolah jangan terlambat.”
“Iya.”
“Pelajaran kemarin sudah dikerjakan?”
“Sudah.”
Ayahnya mengangguk kecil.
Tak banyak percakapan antara mereka.
Ayah Paijo memang bukan tipe lelaki yang banyak bicara.
Namun dari caranya bekerja keras setiap hari, Paijo tahu ayahnya sangat menyayangi keluarga mereka.
Meski hidup pas-pasan.
Meski kadang uang belanja tak cukup sampai akhir bulan.
Meski ibunya sering harus berutang gula atau minyak ke toko grosir.
Ayahnya tetap berusaha membuat keluarga mereka bertahan.
Kadang bekerja sebagai buruh bangunan.
Kadang membantu mengangkut barang dari truk-truk besar yang singgah di handel.
Kadang ikut memperbaiki rumah warga.
Apa saja dilakukan.
Asal dapur tetap mengepul.
Di depan rumah, warung kecil milik ibunya mulai ramai.
Beberapa sopir duduk sambil merokok.
Radio kecil di sudut warung memutar lagu-lagu lawas dangdut yang kadang suaranya hilang timbul.
“Buk, tambah kopi satu lagi.”
“Iya, Bang.”
Ibunya bergerak cepat menyiapkan pesanan.
Meski wajahnya mulai lelah dimakan usia dan pekerjaan, perempuan itu tetap murah senyum kepada siapa saja.
Paijo kecil sering memperhatikan ibunya diam-diam.
Ia kagum melihat bagaimana ibunya tetap kuat meski hidup mereka tak pernah benar-benar mudah.
“Jo, tolong antar kopi ini ke meja depan.”
Paijo mengangguk.
Ia membawa dua gelas kopi dengan hati-hati.
“Ini, Bang…”
“Wah, makasih, Jo.”
Seorang sopir mengacak rambutnya pelan.
“Kamu kalau besar mau jadi sopir juga?”
Paijo diam sebentar.
“Enggak tahu.”
“Lho kok enggak tahu?”
Anak kecil itu cuma tersenyum malu.
Para sopir tertawa kecil.
“Dasar si Paijo… dari dulu pendiam.”
Meski hidup sederhana, masa kecil Paijo sebenarnya cukup bahagia.
Handel Sungai Beras memberi banyak ruang bagi anak-anak untuk bermain.
Sungai Kapuas adalah taman terbesar mereka.
Setiap sore anak-anak berlarian menuju tepian sungai.
Ada yang berenang.
Ada yang mencari ikan kecil.
Ada yang membuat rakit dari batang pisang.
Kadang mereka meloncat dari batang kayu besar sambil tertawa keras.
Dan hampir setiap hari…
Paijo selalu ada di sana.
Namun berbeda dengan anak-anak lain yang suka ribut dan berteriak, Paijo lebih sering duduk memperhatikan air sungai sambil bermain sendiri.
Sampai suatu sore…
hidupnya mulai berubah perlahan.
Langit sore itu berwarna jingga keemasan.
Air Sungai Kapuas tampak tenang.
Paijo sedang duduk di atas batang kayu sambil memainkan kapal-kapalan kecil dari kulit batang pisang.
Ia mendorong kapal itu perlahan mengikuti arus air.
Tiba-tiba terdengar suara kecil dari belakangnya.
“Kapalnya mau ke mana?”
Paijo menoleh.
Seorang anak perempuan kecil berdiri sambil memegang es lilin merah.
Rambutnya diikat dua.
Matanya bulat dan cerah.
Pipinya sedikit tembam.
Anak itu tersenyum lebar.
Paijo gugup.
“Ke… ke laut.”
“Emang bisa sampai?”
Paijo mengangkat bahu kecilnya.
Anak perempuan itu langsung duduk di sampingnya tanpa malu.
“Aku boleh ikut?”
Paijo mengangguk pelan.
Anak perempuan itu memperhatikan kapal kecil yang mengalir.
“Aku Paijem.”
“Paijo…”
“Kok namanya mirip?”
“Enggak tahu…”
Paijem tertawa kecil.
Tawa itu ringan sekali.
Seperti suara lonceng kecil tertiup angin.
“Aneh ya…”
Paijo cuma diam.
Namun diam-diam ia mulai merasa sore itu berbeda.
Sejak hari itu Paijem mulai sering muncul dalam kehidupan Paijo.
Kadang datang pagi-pagi ke rumahnya.
Kadang menunggu di jalan kecil dekat sungai.
Kadang langsung menarik tangannya tanpa izin.
“Jo! Main yuk!”
“Mau ke mana?”
“Ke sungai!”
“Nanti dimarahin…”
“Kalau ketahuan aja.”
Lalu Paijem tertawa lagi.
Paijo akhirnya ikut.
Mereka bermain sampai sore.
Mencari ikan kecil.
Mengejar capung.
Memanjat pohon rambai.
Atau sekadar duduk melihat kapal-kapal kecil lewat di sungai.
Jika Paijo pendiam, maka Paijem adalah kebalikannya.
Ia tak pernah kehabisan cerita.
“Jo, tadi aku dimarahin Mama.”
“Kenapa?”
“Katanya aku bawel.”
Paijo tersenyum kecil.
“Memang bawel.”
“Ih! Kamu jahat!”
Paijem memukul lengannya pelan.
Lalu mereka tertawa bersama.
Hari-hari kecil mereka mulai dipenuhi kebersamaan.
Warga sekitar pun mulai terbiasa melihat mereka bersama.
“Eh, itu Paijo sama Paijem lagi.”
“Kayak anak kembar aja.”
“Ke mana-mana berdua terus.”
Kadang orang dewasa menggoda mereka.
“Paijem itu pacarnya si Paijo ya?”
Paijo langsung salah tingkah.
Sedangkan Paijem malah tertawa keras.
“Ih enggak! Paijo itu kayak kakak aku!”
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun entah kenapa…
Paijo selalu diam lebih lama setiap kali mendengarnya.
Ia sendiri belum mengerti kenapa.
Usianya masih terlalu kecil untuk memahami perasaan aneh yang mulai tumbuh di dalam dadanya.
Yang ia tahu…
ia selalu senang jika bersama Paijem.
Dan merasa sepi jika sehari saja tak melihatnya.
Malam hari setelah bermain, Paijo sering duduk di tangga rumah memandang jalan raya.
Lampu kendaraan melintas tanpa henti.
Kadang ia berpikir…
ke mana semua kendaraan itu pergi?
Apakah dunia di luar Handel Sungai Beras sangat besar?
Apakah semua orang akan pergi suatu hari nanti?
“Jo…”
Ibunya duduk di sampingnya.
“Kamu kenapa melamun terus?”
Paijo diam sebentar.
“Buk…”
“Iya?”
“Kalau orang pergi jauh… bisa balik lagi enggak?”
Ibunya tersenyum kecil.
“Kalau memang jalannya kembali… pasti balik.”
Paijo mengangguk pelan.
Ia belum tahu…
bahwa bertahun-tahun kemudian pertanyaan itu akan menjadi bagian paling menyakitkan dalam hidupnya sendiri.
Karena suatu hari nanti…
akan ada seseorang yang benar-benar pergi jauh dari Handel Sungai Beras.
Dan meninggalkan ruang kosong yang tak pernah benar-benar bisa diisi lagi di hati seorang anak pendiam bernama Paijo.
BAB II
PAIJEM, ANAK PEREMPUAN YANG TAK PERNAH DIAM
Pagi di Handel Sungai Beras selalu sibuk.
Matahari bahkan belum tinggi ketika suara kendaraan sudah memenuhi Jalan Trans Kalimantan. Truk-truk besar bermuatan kayu, semen, dan sembako melintas tanpa henti. Bus antarkota berhenti sejenak di warung-warung kecil untuk memberi kesempatan penumpang membeli kopi atau sekadar meregangkan kaki.
Di depan rumah-rumah kayu, para ibu mulai menyapu halaman.
Anak-anak berlarian memakai seragam sekolah.
Suara radio dangdut terdengar dari warung kopi.
Sementara Sungai Kapuas tetap mengalir tenang seperti biasa.
Di tengah suasana pagi itu, terdengar suara seorang anak perempuan kecil berteriak dari jalan handel.
“Jo! Paijooo!”
Suara itu nyaring sekali.
Beberapa warga sampai menoleh sambil tertawa kecil.
“Itu si Paijem lagi…”
“Kalau pagi enggak teriak kayaknya enggak lengkap.”
Di depan rumah kayu sederhana milik keluarga Paijo, anak perempuan kecil itu berdiri sambil berkacak pinggang.
Rambutnya diikat dua.
Pipinya merah karena berlari.
Tangannya memegang sandal yang sebelah hampir putus.
Tak lama kemudian Paijo keluar rumah sambil menunduk malu.
“Ada apa?”
“Ayo main!”
“Sekarang?”
“Iya sekarang!”
“Aku belum selesai bantu Ibu.”
Paijem langsung masuk ke rumah tanpa izin.
“Bibi! Paijo pinjam dulu ya!”
Ibunya Paijo tertawa dari dapur.
“Bawa aja itu anak. Dari tadi juga melamun terus.”
Paijem langsung menarik tangan Paijo.
“Ayo cepat!”
Paijo pasrah.
Ia bahkan belum sempat memakai sandal dengan benar ketika Paijem sudah menyeretnya keluar rumah.
Sejak kecil Paijem memang seperti badai kecil yang tak pernah bisa diam.
Ia selalu bergerak.
Selalu berbicara.
Selalu punya ide aneh untuk dilakukan.
Kadang mengajak bermain di sungai.
Kadang mengajak mencari rambutan di kebun warga.
Kadang tiba-tiba ingin pergi melihat truk besar lewat di jalan lintas.
“Jo, nanti kalau besar aku mau naik bus jauh.”
“Mau ke mana?”
“Enggak tahu.”
“Kalau enggak tahu ngapain pergi jauh?”
Paijem tertawa.
“Biar keren aja.”
Paijo hanya menggeleng kecil.
Sementara Paijem terus berjalan sambil bercerita apa saja.
Dan seperti biasa…
Paijo lebih banyak mendengarkan.
Pagi itu mereka pergi ke tepian sungai.
Beberapa anak lain sudah bermain di sana.
Ada yang berenang.
Ada yang menangkap ikan kecil memakai serok dari kawat bekas.
Ada yang membuat rakit dari batang pisang.
Paijem langsung melepas sandal lalu berlari kecil ke air.
“Jo! Cepat!”
“Nanti jatuh…”
“Enggak bakal!”
Baru saja selesai bicara, kakinya terpeleset lumpur.
Byuur!
Anak perempuan itu jatuh terduduk ke air dangkal.
Anak-anak lain langsung tertawa keras.
Paijem cemberut.
“Ih! Jangan ketawa!”
Paijo buru-buru menghampiri.
“Kamu enggak apa-apa?”
Paijem menatapnya kesal.
“Sakit tahu!”
“Tapi lucu…”
Paijem langsung memercikkan air ke wajahnya.
“Jahat!”
Paijo akhirnya ikut tertawa kecil.
Jarang sekali ia tertawa lepas seperti itu.
Dan anehnya…
hampir semua tawa paling tulus dalam hidup kecilnya selalu hadir bersama Paijem.
Menjelang siang mereka pulang.
Baju penuh lumpur.
Kaki kotor.
Rambut berantakan.
Begitu sampai di rumah, ibunya Paijem langsung melotot.
“Astaghfirullah… lihat tuh bajumu!”
Paijem nyengir kecil.
“Hehe…”
“Kamu tuh perempuan apa anak rawa?”
“Dua-duanya.”
“Paijem!”
Anak perempuan itu langsung lari masuk rumah sambil tertawa keras.
Sementara Paijo berdiri kikuk di depan rumah.
Ibunya Paijem menggeleng sambil tersenyum kecil.
“Maaf ya, Jo. Si Paijem itu enggak bisa diam.”
Paijo pelan menjawab.
“Enggak apa-apa, Tante.”
“Capek enggak ngurus dia?”
Paijo diam sebentar.
Lalu menggeleng.
“Enggak…”
Dan memang benar.
Entah kenapa Paijo tidak pernah merasa terganggu oleh Paijem.
Padahal gadis kecil itu sangat cerewet.
Sangat manja.
Kadang menyebalkan.
Namun justru semua itulah yang perlahan membuat hidup Paijo terasa ramai.
Hari-hari mereka terus berjalan.
Pagi sekolah.
Sore bermain bersama.
Kadang mereka duduk di pinggir jalan melihat kendaraan besar lewat.
Paijem selalu kagum melihat bus antarkota.
“Jo… enak ya bisa pergi jauh.”
“Kamu memang mau pergi?”
“Mau lihat dunia.”
“Memang dunia di luar sana bagus?”
“Ya pasti lebih bagus dari handel.”
Paijo menatap jalan raya lama sekali.
Ia sebenarnya tak pernah berpikir sejauh itu.
Baginya Handel Sungai Beras sudah cukup.
Ada sungai.
Ada rumah.
Ada ibu bapaknya.
Dan…
ada Paijem.
Namun diam-diam kata-kata Paijem membuatnya mulai penasaran pada dunia luar.
Suatu sore mereka duduk di bawah pohon rambai dekat sungai.
Angin bertiup pelan.
Matahari mulai turun.
Paijem sedang makan es lilin sambil menggoyang-goyangkan kaki kecilnya.
“Jo…”
“Hm?”
“Kamu nanti kalau besar mau nikah enggak?”
Paijo hampir tersedak air minumnya.
“Kok tanya gitu?”
“Ya nanya aja.”
“Enggak tahu.”
“Kamu tuh jawabannya enggak tahu terus.”
Paijo diam malu.
Paijem tertawa kecil.
“Aku nanti mau nikah sama orang kaya.”
“Kenapa?”
“Biar bisa beli es lilin tiap hari.”
Paijo menggeleng pelan.
Dasar Paijem.
Kadang pikirannya aneh sekali.
Namun justru hal-hal sederhana seperti itu yang membuat hari-harinya terasa hidup.
Semakin lama kedekatan mereka semakin terlihat oleh warga sekitar.
Jika Paijem tak terlihat bersama Paijo, orang-orang malah heran.
“Tumben si Paijem enggak sama Paijo.”
“Paling lagi dimarahin ibunya.”
“Atau lagi ngambek.”
Kadang mereka memang bertengkar.
Biasanya karena hal-hal kecil.
Seperti rebutan layangan.
Atau karena Paijem kesal Paijo terlalu diam.
“Kesel deh sama kamu!”
“Kenapa?”
“Kalau ditanya jawabnya pendek terus!”
“Mau jawab apa lagi…”
“Ih! Nyebelin!”
Paijem lalu pergi sambil menghentak kaki.
Namun biasanya tak sampai satu hari ia sudah datang lagi.
“Jo… main yuk.”
“Katanya kesel.”
“Iya. Tapi bosan kalau enggak ada kamu.”
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun selalu membuat dada kecil Paijo terasa hangat.
Malam hari selepas isya, Paijo kadang belajar di ruang tamu kecil rumah mereka.
Lampu minyak menyala redup.
Radio tua memutar berita malam.
Ibunya sedang melipat pakaian.
“Jo…”
“Iya, Buk?”
“Itu kamu sama Paijem dekat terus.”
Paijo menunduk malu.
“Main aja…”
Ibunya tersenyum kecil.
“Paijem anak baik.”
Paijo diam.
“Ibu suka lihat dia. Rumah jadi ramai kalau dia datang.”
Paijo pelan tersenyum.
Ia juga merasa begitu.
Tanpa Paijem, hari-harinya terasa sepi.
Di rumahnya sendiri, Paijem juga sering bercerita tentang Paijo.
“Mama, tadi Paijo jatuh ke sungai.”
“Kasihan.”
“Tapi lucu.”
“Kamu jangan ngetawain orang.”
“Aku juga jatuh tadi.”
Ibunya tertawa kecil.
“Makanya jangan lari-lari terus.”
Paijem lalu duduk sambil memainkan rambutnya sendiri.
“Ma…”
“Hm?”
“Kalau Paijo pindah gimana?”
Ibunya menoleh.
“Kenapa tiba-tiba tanya begitu?”
“Ya… kalau pindah aja.”
“Memangnya kamu bakal sedih?”
Paijem diam sebentar.
Lalu mengangguk kecil.
“Soalnya enggak ada teman lagi.”
Ibunya tersenyum tipis.
Anak kecil memang sering belum mengerti arti kehilangan.
Namun hati mereka selalu tahu…
siapa yang penting dalam hidupnya.
Malam semakin larut di Handel Sungai Beras.
Suara kendaraan mulai berkurang.
Angin sungai bertiup dingin melewati rumah-rumah kayu.
Di kamarnya yang sederhana, Paijo kecil belum tidur.
Ia memandang langit-langit rumah sambil teringat suara tawa Paijem sore tadi.
Entah kenapa…
setiap hari bersama anak perempuan itu selalu terasa menyenangkan.
Ia belum tahu nama perasaan itu.
Belum mengerti kenapa ia selalu ingin dekat dengan Paijem.
Yang ia tahu…
ia mulai terbiasa menjadikan Paijem bagian dari hidupnya.
Dan tanpa sadar…
takdir perlahan sedang menumbuhkan sesuatu di hati seorang anak lelaki pendiam.
Sesuatu yang kelak akan berubah menjadi cinta paling sulit dilupakan sepanjang hidupnya.
BAB III
JEJAK MASA KECIL DI TEPIAN SUNGAI KAPUAS
Musim hujan datang perlahan di Handel Sungai Beras.
Langit Kuala Kapuas hampir setiap sore berubah kelabu. Awan hitam menggantung rendah di atas Sungai Kapuas, sementara angin lembap membawa aroma tanah basah dan air rawa yang begitu khas.
Namun bagi anak-anak Handel Sungai Beras, hujan bukan alasan untuk diam di rumah.
Justru hujan adalah musim bermain paling menyenangkan.
Pagi itu suara rintik hujan masih terdengar di atap seng rumah-rumah kayu ketika Paijem sudah berdiri di depan rumah Paijo sambil membawa payung kecil bergambar bunga matahari.
“Jo! Ayo main hujan!”
Paijo yang baru selesai menyapu halaman langsung melongo.
“Kamu dimarahin nanti.”
“Biarin.”
“Hujannya deras.”
“Makanya seru!”
Paijo menghela napas kecil.
Anak perempuan itu memang tak pernah takut apa pun.
Ibunya Paijo keluar sambil membawa lap.
“Aduh… Paijem lagi.”
Paijem langsung nyengir.
“Bibi, pinjam Paijo bentar ya.”
“Mau ke mana kalian hujan-hujanan begini?”
“Mau lihat sungai.”
Ibunya Paijo menggeleng pelan.
“Kalian ini ya… kalau sakit jangan nangis.”
Paijem tertawa kecil.
“Siap, Bibi!”
Tanpa menunggu lama, ia langsung menarik tangan Paijo.
Dan seperti biasa…
Paijo tak pernah benar-benar bisa menolak.
Jalan kecil di Handel Sungai Beras mulai becek oleh hujan.
Air mengalir di sela-sela tanah merah.
Beberapa anak kecil tampak bermain perahu kertas di genangan air pinggir jalan.
Sementara truk-truk besar tetap melintas di Jalan Trans Kalimantan dengan suara gemuruh yang mengguncang tanah.
Paijem berjalan lebih dulu sambil melompat-lompat kecil menghindari lumpur.
“Jo, cepat!”
“Kamu pelan-pelan nanti jatuh.”
“Dari dulu ngomongnya jatuh terus.”
“Soalnya kamu memang sering jatuh.”
Paijem menoleh sambil mencibir kecil.
“Ih… nyebelin.”
Namun beberapa langkah kemudian…
“AAAA!”
Bruk!
Kakinya benar-benar terpeleset lumpur.
Paijo langsung menahan tawanya.
Paijem duduk di tanah becek sambil melotot.
“Kamu jangan ketawa!”
“Tapi lucu…”
“Paijo!”
Anak perempuan itu mengambil sedikit lumpur lalu melemparkannya ke baju Paijo.
Plok!
“Eh!”
Kini gantian Paijem tertawa keras.
Suara tawanya bercampur hujan terdengar memenuhi jalan kecil handel.
Beberapa warga yang melihat hanya tersenyum geli.
“Dasar dua anak itu…”
“Kalau enggak ribut ya enggak seru.”
Mereka akhirnya sampai di tepian Sungai Kapuas.
Air sungai tampak lebih keruh karena hujan dari hulu.
Arusnya sedikit lebih deras dari biasanya.
Beberapa perahu kecil milik warga tampak bergoyang pelan diikat pada batang kayu.
Langit sore terlihat abu-abu.
Kabut tipis menggantung di atas permukaan sungai.
Paijem berdiri sambil memandang air yang mengalir panjang.
“Jo…”
“Hm?”
“Sungai ini besar banget ya.”
“Iya.”
“Kalau ikut arusnya bisa sampai mana?”
Paijo mengangkat bahu.
“Mungkin sampai laut.”
Paijem membelalakkan mata.
“Jauh banget…”
Lalu ia duduk di batang kayu tua dekat tepian sungai.
Angin meniup rambutnya pelan.
Paijo ikut duduk di sampingnya.
Untuk beberapa saat mereka diam.
Hanya suara hujan kecil dan gemericik air sungai yang terdengar.
Paijem tiba-tiba berkata pelan.
“Aku suka di sini.”
“Kenapa?”
“Tenang.”
Paijo menoleh sebentar.
Biasanya Paijem selalu ramai.
Selalu tertawa.
Namun sore itu wajahnya terlihat berbeda.
Lebih tenang.
Lebih lembut.
“Aku kalau sedih suka ke sini.”
Paijo sedikit heran.
“Kamu pernah sedih?”
Paijem langsung manyun.
“Emang aku enggak boleh sedih?”
“Boleh…”
“Kadang Mama sama Papa suka sibuk.”
Paijo diam mendengarkan.
“Kalau aku cerita sama kamu rasanya lebih enak.”
Kalimat itu sederhana.
Namun entah kenapa membuat dada kecil Paijo terasa hangat.
Ia belum benar-benar mengerti arti rasa itu.
Namun sejak kecil…
ia selalu senang jika bisa menjadi tempat Paijem bercerita.
Hari-hari mereka terus dipenuhi kebersamaan.
Masa kecil di Handel Sungai Beras berjalan sederhana namun hangat.
Setiap sore kawasan kecil itu selalu ramai oleh suara anak-anak bermain.
Ada yang bermain kelereng.
Ada yang bermain layangan.
Ada yang bermain sepak bola di lapangan tanah dekat surau kecil.
Kadang suara adzan magrib harus terdengar berkali-kali sebelum anak-anak pulang.
Dan hampir di setiap permainan…
Paijo dan Paijem selalu bersama.
Jika ada lomba tujuh belasan, mereka ikut bersama.
Jika ada pasar malam kecil dekat kota, mereka pergi ramai-ramai bersama teman-teman.
Jika ada pengajian besar dan banyak jemaah singgah di handel, mereka ikut menonton keramaian.
“Jo! Lihat ada bus besar!”
“Iya.”
“Bagus banget…”
“Kamu suka kendaraan besar ya?”
“Suka.”
“Kenapa?”
“Karena bisa pergi jauh.”
Paijo kembali mendengar jawaban yang sama.
Pergi jauh.
Entah kenapa Paijem selalu tertarik pada dunia luar.
Sedangkan Paijo lebih menyukai dunia kecil mereka di Handel Sungai Beras.
Suatu sore mereka bermain layangan di tanah lapang dekat jalan handel.
Angin cukup kencang.
Langit biru penuh awan putih.
Layangan milik Paijem terbang tinggi sambil bergoyang-goyang di udara.
“Awas benangnya putus!” teriak Paijo.
“Enggak bakal!”
Namun baru beberapa menit kemudian…
Trek!
Benangnya benar-benar putus.
Layangan terbang jauh terbawa angin.
“AAAA! Layanganku!”
Paijem langsung berlari mengejar.
Paijo ikut mengejar dari belakang.
Mereka berlari melewati jalan kecil, halaman rumah warga, hingga mendekati pinggir jalan Trans Kalimantan.
Layangan akhirnya tersangkut di semak-semak.
Paijem mengambilnya sambil tertawa lega.
“Dapat!”
Namun ketika menoleh…
ia baru sadar posisi mereka sangat dekat dengan jalan raya.
Sebuah truk besar melintas kencang.
Braaammmm!
Paijem refleks mundur ketakutan.
Tanpa sadar ia memegang tangan Paijo erat sekali.
Paijo ikut terdiam.
Suara kendaraan besar bergema di telinga mereka.
Untuk pertama kalinya mereka benar-benar merasakan betapa kecilnya dunia mereka dibanding dunia luar yang terus bergerak cepat di jalan raya itu.
Paijem perlahan melepas tangan Paijo.
Wajahnya sedikit pucat.
“Takut…”
Paijo pelan berkata.
“Makanya jangan lari sembarangan.”
Paijem menunduk sebentar.
Lalu tersenyum kecil.
“Untung ada kamu.”
Kalimat sederhana itu kembali tinggal lama di hati Paijo.
Malam hari selepas isya, hujan kembali turun.
Paijo duduk di depan rumah sambil memandangi jalan yang basah oleh lampu kendaraan.
Ibunya sedang membuat kopi di warung kecil.
Ayahnya belum pulang dari membantu bongkar barang.
Suasana malam Handel Sungai Beras terasa tenang.
Namun di dalam hati kecil Paijo…
ada sesuatu yang perlahan tumbuh.
Ia mulai terbiasa mencari Paijem setiap hari.
Mulai merasa sepi jika tak mendengar suaranya.
Mulai merasa ingin selalu dekat dengannya.
Padahal mereka masih anak-anak.
Masih terlalu kecil untuk memahami arti cinta.
Namun hati sering kali tumbuh lebih cepat daripada usia manusia.
Beberapa hari kemudian Paijem datang ke rumah Paijo sambil membawa buku gambar.
“Jo, lihat!”
“Apa?”
“Aku gambar kita.”
Paijo melihat gambar sederhana itu.
Ada sungai.
Ada pohon rambai.
Dan dua anak kecil berdiri sambil tersenyum.
“Itu kamu?”
“Iya.”
“Yang ini?”
“Kamu lah.”
Paijo diam memperhatikan gambar itu lama.
Paijem duduk di sampingnya sambil berkata pelan.
“Kalau besar nanti kita tetap teman ya?”
Paijo menoleh.
“Hm.”
“Janji?”
Paijo mengangguk kecil.
“Iya.”
Paijem tersenyum puas.
Lalu ia kembali tertawa seperti biasa.
Namun tak satu pun dari mereka tahu…
bahwa waktu kelak akan menguji janji kecil itu dengan cara yang sangat menyakitkan.
Karena ada pertemuan yang memang ditakdirkan indah hanya di awal.
Dan ada kenangan masa kecil…
yang kelak berubah menjadi luka paling sulit dilupakan sepanjang hidup.
BAB IV
REMAJA DI BUNDARAN BESAR KUALA KAPUAS
Waktu berjalan seperti arus Sungai Kapuas.
Pelan.
Namun tak pernah benar-benar berhenti.
Tanpa terasa masa kecil Paijo dan Paijem mulai tertinggal jauh di belakang. Jalan-jalan kecil Handel Sungai Beras yang dulu menjadi tempat mereka berlari kini perlahan menjadi saksi tumbuhnya dua remaja dengan dunia yang mulai berubah.
Paijo kini duduk di bangku SMA.
Tubuhnya mulai tinggi kurus.
Wajahnya semakin teduh dengan sorot mata yang tetap sama seperti dulu—tenang dan lebih banyak menyimpan sesuatu sendirian.
Sementara Paijem tumbuh menjadi gadis remaja yang mulai menarik perhatian banyak orang.
Rambutnya panjang sebahu.
Tawanya masih sama.
Cerewetnya masih sama.
Namun kini ada sesuatu yang berbeda dalam dirinya.
Ia mulai terlihat cantik.
Dan tanpa disadari…
banyak mata mulai memperhatikannya.
Sore itu cuaca Kuala Kapuas cukup cerah.
Langit biru membentang di atas kota kecil yang mulai ramai menjelang malam minggu.
Bundaran Besar Kuala Kapuas dipenuhi warga yang berjalan santai menikmati sore. Anak-anak bermain sepeda. Pedagang kaki lima mulai menata dagangan mereka. Lampu taman perlahan menyala ketika matahari mulai turun.
Di salah satu bangku taman, Paijem duduk sambil memakan cilok.
Sedangkan Paijo duduk di sebelahnya sambil memegang dua gelas es teh.
“Jo…”
“Hm?”
“Menurut kamu aku cantik enggak?”
Paijo hampir tersedak minumnya.
“Lho?”
“Kok malah kaget?”
“Ya… enggak tahu.”
Paijem langsung manyun.
“Nah kan. Jawabannya enggak tahu lagi.”
Paijo menunduk malu sambil menggaruk kepala.
Padahal dalam hati…
ia tahu sekali.
Paijem memang cantik.
Bahkan terlalu cantik untuk ukuran gadis Handel Sungai Beras.
Namun seperti biasa…
Paijo tak pernah pandai mengungkapkan apa yang ada di hatinya.
Paijem meminum es tehnya lalu kembali bicara.
“Tadi di sekolah ada kakak kelas yang gangguin aku.”
Paijo menoleh cepat.
“Ngapain?”
“Ya ngajak kenalan.”
“Kamu mau?”
Paijem tertawa kecil.
“Kok kamu serius amat mukanya?”
Paijo langsung salah tingkah.
“Enggak…”
“Kamu cemburu ya?”
“Hah? Enggak lah.”
“Boong.”
Paijem tertawa lagi.
Sementara Paijo memilih diam sambil memandang lampu taman yang mulai menyala satu per satu.
Bundaran Besar Kuala Kapuas memang menjadi tempat favorit anak-anak muda saat itu.
Di sana ada taman kota kecil dengan pepohonan rindang dan lampu warna-warni yang membuat suasana malam terasa hidup.
Kadang Paijo dan Paijem datang hanya untuk duduk berjam-jam sambil bercerita.
Kadang membeli jagung bakar.
Kadang sekadar melihat keramaian.
Namun bagi Paijo…
tempat itu perlahan menjadi saksi tumbuhnya perasaan yang semakin sulit ia sembunyikan.
Malam semakin ramai.
Suara motor anak-anak muda terdengar bersahutan.
Beberapa pasangan remaja tampak berjalan sambil tertawa kecil.
Paijem memperhatikan mereka sambil berkata pelan.
“Jo…”
“Hm?”
“Kalau pacaran itu enak ya?”
Paijo kembali gugup.
“Kok nanya aku?”
“Ya kan kamu cowok.”
“Aku juga enggak tahu.”
“Kamu enggak pernah suka sama cewek?”
Paijo diam.
Pertanyaan itu membuat dadanya mendadak tidak tenang.
Sebab jawabannya sebenarnya ada tepat di sampingnya.
Namun mana mungkin ia mengatakannya?
Akhirnya ia hanya menjawab pendek.
“Belum.”
Paijem mengangguk kecil.
“Kalau aku kayaknya mulai suka sama seseorang.”
Jantung Paijo seperti berhenti sesaat.
“Siapa?”
Paijem tersenyum kecil sambil menggigit sedotan minumnya.
“Rahasia.”
Paijo memalingkan wajah pelan.
Entah kenapa malam mendadak terasa lebih dingin.
Beberapa hari kemudian mereka kembali pergi bersama.
Kali ini ke Taman Adipura di kawasan Simpang Adipura yang dulu dikenal warga sebagai Simpang Camuh.
Tempat itu cukup ramai sore hari.
Lima jalan besar bertemu di kawasan tersebut.
Kendaraan hilir mudik tanpa henti.
Lampu jalan mulai menyala ketika senja turun.
Paijem berdiri di dekat taman sambil memegang rambutnya yang tertiup angin.
“Jo, foto aku dong.”
“Hah?”
“Pakai kamera itu.”
Paijo memegang kamera kecil pinjaman milik temannya.
Ia gugup sendiri.
“Cepatlah…”
Paijem bergaya sambil tersenyum lebar.
Klik.
“Hasilnya bagus enggak?”
“Lumayan.”
“Mana lihat!”
Paijem langsung mendekat sampai bahunya menyentuh lengan Paijo.
Paijo mendadak diam.
Jantungnya kembali berdegup lebih cepat.
Sementara Paijem sama sekali tak sadar.
“Eh lucu juga aku.”
“Iya.”
“Jo…”
“Hm?”
“Kalau aku nanti punya pacar, kamu jangan lupa sama aku ya.”
Kalimat itu terdengar ringan.
Namun bagi Paijo…
kata-kata itu seperti perlahan mengiris sesuatu dalam dadanya.
Ia mencoba tersenyum kecil.
“Iya.”
Padahal dalam hati…
ia takut kehilangan.
Sangat takut.
Masa remaja mereka berjalan penuh kebersamaan.
Kadang mereka ikut Car Free Day di sekitar Stadion Panunjung Tarung.
Kadang jalan-jalan ke kawasan Jalan Tambun Bungai.
Kadang nongkrong di Dermaga KP3 Kuala Kapuas sambil menikmati lampu sungai di malam hari.
Di Dermaga KP3 itulah mereka paling sering menghabiskan waktu.
Tempat itu selalu ramai oleh pedagang makanan.
Aroma sate, ikan bakar, dan gorengan memenuhi udara malam.
Lampu kapal kecil memantul di permukaan sungai.
Suasana romantis tanpa mereka sadari.
Paijem duduk sambil menikmati pentol bakar.
“Jo…”
“Hm?”
“Kalau suatu hari aku pergi jauh gimana?”
Pertanyaan itu membuat Paijo menoleh cepat.
“Pergi ke mana?”
“Ya… kalau aja.”
Paijo diam sebentar.
“Jangan pergi.”
Paijem tertawa kecil.
“Lho emang kenapa?”
“Ya… nanti enggak ada teman.”
Paijem menatapnya beberapa detik.
Lalu tersenyum lembut.
“Kamu itu baik banget ya, Jo.”
Kalimat sederhana itu kembali membuat hati Paijo bergetar.
Namun seperti biasa…
ia hanya diam.
Semakin dewasa, Paijem semakin mudah akrab dengan banyak orang.
Ia punya banyak teman.
Sangat supel.
Sangat mudah bergaul.
Berbeda sekali dengan Paijo yang tetap pendiam.
Kadang mereka berjalan bersama lalu beberapa orang menyapa Paijem.
“Hai Jem!”
“Eh Paijem!”
“Nanti jadi ikut kumpul kan?”
Paijem selalu menjawab dengan ceria.
Sementara Paijo lebih banyak berjalan di samping sambil diam.
Namun anehnya…
Paijem selalu kembali kepadanya.
Selalu menjadikan Paijo tempat paling nyaman untuk bercerita.
Termasuk tentang masalah sekolah.
Tentang pertengkaran di rumah.
Dan perlahan…
tentang laki-laki yang mulai ia sukai.
Suatu malam selepas magrib, Paijem datang ke rumah Paijo dengan wajah murung.
Ibunya Paijo langsung heran.
“Lho, Paijem kenapa?”
“Enggak apa-apa, Bi…”
Namun wajahnya jelas menunjukkan ia sedang sedih.
Paijo keluar dari kamar.
“Kamu kenapa?”
Paijem langsung duduk di tangga rumah.
“Aku habis nangis.”
“Kenapa?”
Paijem diam beberapa saat.
Lalu berkata pelan.
“Aku suka sama seseorang…”
Dadanya Paijo langsung terasa sesak.
Namun ia tetap duduk di sampingnya.
“Siapa?”
Paijem menunduk malu.
“Nur Kholis.”
Nama itu seperti petir kecil yang menghantam hati Paijo diam-diam.
Namun wajahnya tetap tenang.
“Dia baik?”
Paijem tersenyum kecil.
“Baik.”
“Terus kenapa nangis?”
“Aku takut dia enggak suka sama aku.”
Paijo memandang jalan kecil yang mulai sepi.
Malam terasa sunyi sekali.
Dan untuk pertama kalinya…
ia benar-benar merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Cemburu.
Namun seperti biasa…
ia memilih menyimpannya sendirian.
Karena sejak awal…
Mas Paijo memang terlalu terbiasa mencintai dalam diam.
BAB V
CINTA PERTAMA PAIJEM
Malam di Handel Sungai Beras terasa lebih sunyi dari biasanya.
Angin sungai bertiup pelan melewati rumah-rumah kayu yang mulai mematikan lampu satu per satu. Dari kejauhan suara kendaraan di Jalan Trans Kalimantan masih terdengar samar, memecah sepi malam dengan gemuruh panjang yang datang lalu menghilang.
Di tangga rumah kecil milik keluarga Paijo, dua remaja duduk berdampingan dalam diam.
Paijem memeluk lututnya.
Sedangkan Paijo menatap jalan kecil di depan rumah sambil mencoba menyembunyikan perasaan yang mendadak kacau.
Lampu bohlam redup di teras rumah menerangi wajah mereka yang sama-sama terlihat murung.
Paijem menghela napas panjang.
“Jo…”
“Hm?”
“Aku aneh enggak sih?”
“Kenapa?”
“Aku mikirin dia terus.”
Paijo menelan ludah pelan.
Meski tak ingin mendengarnya…
ia tahu malam ini Paijem akan terus bercerita tentang lelaki bernama Nur Kholis itu.
Dan seperti biasa…
ia akan tetap mendengarkan.
“Aku kalau ketemu dia deg-degan.”
Paijo mencoba tersenyum tipis.
“Mungkin memang suka.”
Paijem menoleh cepat.
“Kamu pernah suka sama orang enggak?”
Pertanyaan itu membuat Paijo langsung diam.
Dadanya berdebar pelan.
Jawabannya ada tepat di depannya.
Namun lidahnya terasa kelu.
Akhirnya ia hanya berkata pendek.
“Belum tahu.”
Paijem mendecakkan bibir.
“Kamu tuh dari dulu jawabannya enggak jelas.”
Paijo tertawa kecil hambar.
Andai saja Paijem tahu…
betapa jelas sebenarnya isi hati lelaki pendiam di sampingnya malam itu.
Hari-hari berikutnya nama Nur Kholis mulai semakin sering terdengar dalam hidup Paijo.
Di perjalanan pulang sekolah.
Di pinggir sungai.
Di Bundaran Besar.
Bahkan saat mereka duduk santai di Dermaga KP3 Kuala Kapuas.
“Jo, menurut kamu aku cocok enggak sama Nur Kholis?”
Paijo yang sedang menyeruput es teh langsung diam sebentar.
“Ya… cocok.”
“Serius?”
“Iya.”
Paijem tersenyum malu-malu.
“Aku senang kalau dia lewat.”
Paijo memandang lampu dermaga yang memantul di sungai.
Dadanya terasa aneh.
Sakit.
Namun ia tak tahu bagaimana menjelaskannya.
Ia sendiri heran kenapa setiap cerita tentang Nur Kholis selalu membuat hatinya seperti tertusuk pelan.
Namun yang paling menyakitkan…
Paijem justru semakin nyaman bercerita kepadanya.
“Jo, tadi dia senyum sama aku.”
“Oh.”
“Terus tadi dia pinjam pulpenku.”
“Oh…”
“Kamu enggak semangat dengernya.”
Paijo buru-buru menggeleng.
“Enggak… denger kok.”
Paijem tertawa kecil.
“Kamu itu memang pendengar terbaik.”
Kalimat itu terdengar seperti pujian.
Namun bagi Paijo…
justru terasa seperti hukuman.
Karena semakin lama ia sadar…
ia hanya menjadi tempat Paijem menyimpan cerita cintanya kepada orang lain.
Sore itu hujan turun cukup deras di Kuala Kapuas.
Jalan-jalan kota tampak basah oleh air hujan. Beberapa kendaraan memperlambat laju ketika melewati genangan di sekitar Jalan Pemuda.
Paijem berteduh bersama Paijo di sebuah warung kecil dekat sekolah.
Rambut Paijem sedikit basah.
Wajahnya terlihat murung sejak tadi.
“Kamu kenapa?”
Paijem diam beberapa detik.
“Tadi Nur Kholis jalan sama cewek lain.”
Paijo menoleh pelan.
“Terus?”
“Aku kesel.”
“Memang dia pacarmu?”
“Belum sih…”
“Ya berarti dia bebas.”
Paijem langsung manyun.
“Kamu enggak dukung aku banget sih.”
Paijo tersenyum kecil.
“Bukan gitu.”
“Terus apa?”
Paijo menatap hujan di luar warung.
“Jangan terlalu berharap sama orang.”
Paijem diam sebentar.
“Kamu pernah kecewa ya?”
Pertanyaan itu membuat Paijo nyaris tertawa pahit.
Kalau saja Paijem tahu…
orang yang membuatnya kecewa justru sedang duduk di depannya sekarang.
Namun seperti biasa…
ia hanya menggeleng pelan.
Masa remaja mereka semakin penuh cerita.
Kadang bahagia.
Kadang canggung.
Kadang diam-diam menyakitkan bagi Paijo.
Namun anehnya…
ia tetap tak bisa menjauh.
Ia tetap menemani Paijem ke mana pun.
Menjadi tempat curhat.
Menjadi tempat mengeluh.
Menjadi tempat menangis.
Seolah sejak awal hidupnya memang ditakdirkan hanya untuk menjaga gadis itu dari jauh.
Suatu malam mereka duduk di Bundaran Besar Kuala Kapuas.
Lampu taman menyala terang.
Anak-anak muda ramai berkumpul.
Suara musik dari pedagang kaset terdengar samar di kejauhan.
Paijem tampak sangat bahagia malam itu.
“Jo!”
“Hm?”
“Aku tadi ngobrol lama sama Nur Kholis.”
Paijo menahan napas kecil.
“Oh ya?”
“Iya!”
“Ngomong apa?”
“Macam-macam.”
Paijem tersenyum sendiri sambil memainkan sedotan minumannya.
Wajahnya berbinar.
Dan entah kenapa…
melihat senyum itu membuat hati Paijo semakin nyeri.
Karena ia sadar…
senyum itu bukan lagi untuk dirinya.
Malam semakin larut.
Angin kota terasa dingin.
Paijem tiba-tiba berkata pelan.
“Jo…”
“Hm?”
“Kalau aku nanti pacaran beneran, kamu jangan ninggalin aku ya.”
Paijo menoleh cepat.
“Kok ngomong gitu?”
“Soalnya kamu teman terbaik aku.”
Kalimat itu terasa seperti pisau kecil yang menusuk perlahan.
Teman terbaik.
Bukan lelaki yang dicintai.
Bukan seseorang yang diharapkan.
Hanya…
teman.
Namun Paijo tetap tersenyum kecil.
“Iya.”
Paijem tersenyum lega.
“Janji?”
Paijo mengangguk.
“Janji.”
Dan malam itu…
tanpa disadari siapa pun…
seorang remaja lelaki sedang belajar bagaimana rasanya mencintai seseorang tanpa pernah bisa memilikinya.
Beberapa minggu kemudian hubungan Paijem dengan Nur Kholis mulai semakin dekat.
Mereka sering terlihat berbicara di sekolah.
Kadang pulang bersama teman-teman.
Kadang saling bercanda di depan kelas.
Paijo hanya melihat dari jauh.
Tak pernah ikut mendekat.
Tak pernah mengganggu.
Namun setiap melihat Paijem tertawa bersama lelaki lain…
hatinya terasa kosong.
Sahabat-sahabatnya mulai menyadari perubahan itu.
“Jo…”
Seorang temannya menepuk bahunya saat mereka nongkrong dekat bengkel kecil pinggir jalan.
“Kamu suka ya sama Paijem?”
Paijo langsung kaget.
“Hah? Enggak.”
“Boong.”
“Serius.”
“Keliatan kali.”
Paijo diam.
Temannya tertawa kecil.
“Kenapa enggak ngomong?”
Paijo memandang jalan raya lama sekali.
“Aku takut.”
“Takut apa?”
“Takut kehilangan.”
Temannya terdiam.
Untuk pertama kalinya…
Paijo mengucapkan isi hatinya meski hanya sedikit.
Dan ternyata benar.
Ia memang takut.
Sangat takut.
Karena Paijem sudah terlalu penting dalam hidupnya.
Malam itu selepas isya, Paijem kembali datang ke rumah Paijo.
Namun kali ini wajahnya penuh senyum.
“Jo!”
“Hm?”
“Aku senang banget hari ini.”
“Kenapa?”
Paijem duduk di sampingnya sambil tertawa malu-malu.
“Nur Kholis bilang aku manis.”
Kalimat itu membuat dada Paijo kembali terasa sesak.
Namun ia tetap bertanya pelan.
“Terus?”
“Aku jadi enggak bisa tidur nanti.”
Paijo memaksakan senyum kecil.
“Baguslah.”
Paijem menatapnya sebentar.
“Kamu baik banget ya, Jo.”
Paijo diam.
Lalu pelan berkata dalam hati:
"Kalau saja kamu tahu… aku mencintaimu lebih dari siapa pun."
Namun kalimat itu tetap terkubur dalam diam.
Karena Mas Paijo terlalu terbiasa menyimpan semuanya sendiri.
Dan sejak malam itu…
cinta pertamanya benar-benar mulai berubah menjadi luka yang perlahan tumbuh di dalam hati.
BAB VI
SAHABAT YANG MENYIMPAN LUKA
Musim kemarau mulai datang di Kuala Kapuas.
Air Sungai Kapuas terlihat lebih surut dibanding biasanya. Tepian sungai yang berlumpur mulai mengering. Anak-anak kecil kembali ramai bermain bola di tanah lapang dekat handel, sementara debu jalan beterbangan setiap kali truk besar melintas di Jalan Trans Kalimantan.
Sore itu langit terlihat jingga.
Matahari perlahan turun di balik deretan pepohonan rawa.
Di bengkel tambal ban kecil dekat simpang jalan menuju handel, Paijo duduk sendirian di bangku kayu sambil memandangi kendaraan lalu lalang.
Tangannya memegang teh dingin yang sudah lama tak diminum.
Pikirannya kosong.
Atau mungkin terlalu penuh.
Sejak Paijem mulai dekat dengan Nur Kholis, hidupnya terasa aneh.
Ada sesuatu yang berubah dalam dirinya.
Ia jadi lebih sering diam.
Lebih sering melamun.
Dan lebih sering merasa sesak tanpa alasan yang bisa ia jelaskan kepada siapa pun.
“Jo!”
Suara Paijem tiba-tiba terdengar dari kejauhan.
Paijo langsung menoleh.
Gadis itu datang sambil berlari kecil.
Rambutnya bergerak tertiup angin sore.
Wajahnya tampak cerah seperti biasa.
Namun justru senyum itu yang kini paling sulit dihadapi oleh Paijo.
“Kamu dari mana?” tanya Paijo pelan.
“Dari rumah Rina.”
“Ngapain?”
“Belajar kelompok.”
Paijem lalu duduk di sampingnya tanpa izin seperti dulu.
Namun kini semuanya terasa berbeda bagi Paijo.
Dulu ia merasa tenang saat Paijem dekat.
Sekarang…
ia justru sering gugup sendiri.
“Kamu kenapa sih akhir-akhir ini?” tanya Paijem sambil menatapnya heran.
“Kenapa?”
“Kamu lebih pendiam.”
Paijo tersenyum hambar.
“Memang dari dulu pendiam.”
“Iya sih… tapi sekarang kayak lagi banyak pikiran.”
Paijo memandang jalan raya.
Beberapa truk besar melintas dengan suara gemuruh panjang.
Andai saja ia bisa mengatakan isi hatinya.
Namun seperti biasa…
keberanian itu selalu hilang sebelum sempat keluar.
Malam minggu di Kuala Kapuas selalu ramai.
Bundaran Besar dipenuhi anak-anak muda yang nongkrong bersama teman-teman mereka. Lampu taman menyala terang. Pedagang kaki lima sibuk melayani pembeli. Musik dari warung kopi bercampur suara motor yang hilir mudik tanpa henti.
Paijem berdiri di dekat taman sambil merapikan rambutnya.
“Jo, aku gimana? Cantik enggak?”
Paijo yang berdiri di dekat motor temannya langsung salah tingkah.
“Cantik.”
Paijem langsung tertawa.
“Nah gitu dong jawabnya.”
Paijo baru sadar.
Mungkin itu pertama kalinya ia menjawab jujur tanpa berpikir panjang.
Paijem tersenyum puas.
“Eh nanti kalau Nur Kholis datang jangan bikin muka jutek ya.”
Kalimat itu kembali membuat hati Paijo jatuh.
“Oh…”
“Kamu kenapa sih kalau dengar nama dia?”
“Enggak kenapa-kenapa.”
“Cemburu ya?”
Paijo langsung menoleh cepat.
“Enggak!”
Paijem malah tertawa makin keras.
“Kamu lucu kalau gugup.”
Padahal yang dirasakan Paijo bukan gugup biasa.
Melainkan takut kehilangan sesuatu yang terlalu penting dalam hidupnya.
Tak lama kemudian Nur Kholis datang bersama beberapa temannya.
Tubuhnya tinggi.
Kulitnya putih bersih.
Gayanya cukup keren untuk ukuran remaja handel saat itu.
Ia langsung tersenyum ketika melihat Paijem.
“Hai, Jem.”
“Hai.”
Paijo hanya berdiri diam beberapa langkah dari mereka.
Nur Kholis lalu menoleh sopan.
“Eh Jo, apa kabar?”
“Baik.”
“Udah lama nongkrong?”
“Baru.”
Percakapan terasa canggung.
Paijo sebenarnya bukan membenci Nur Kholis.
Lelaki itu bahkan cukup baik.
Namun bagaimana mungkin seseorang bisa benar-benar nyaman melihat gadis yang ia cintai tersenyum untuk orang lain?
Paijem tampak sangat bahagia malam itu.
Ia tertawa.
Bercanda.
Dan sesekali memukul kecil lengan Nur Kholis sambil malu-malu.
Paijo memilih berjalan sedikit menjauh ke pinggir taman.
Dadanya terasa sesak.
Suara keramaian di sekitar seperti perlahan menghilang.
Ia hanya melihat satu hal:
Paijem bahagia bersama lelaki lain.
Dan itu terasa sangat menyakitkan.
“Jo…”
Suara seorang teman membuyarkan lamunannya.
“Kamu enggak apa-apa?”
Paijo mengangguk kecil.
Temannya ikut berdiri di sampingnya sambil melihat ke arah Paijem dan Nur Kholis.
“Sakit ya?”
Paijo diam.
“Kamu suka banget sama Paijem kan?”
Beberapa detik Paijo tak menjawab.
Lalu pelan sekali…
“Iya.”
Itulah pertama kalinya ia benar-benar mengakuinya dengan jujur.
Bahkan pada dirinya sendiri.
Temannya menghela napas.
“Kenapa enggak ngomong dari dulu?”
Paijo tersenyum pahit.
“Aku takut dia menjauh.”
“Sekarang?”
Paijo memandang Paijem yang sedang tertawa di kejauhan.
“Sekarang juga rasanya dia mulai jauh.”
Malam semakin larut ketika mereka pulang.
Paijem berjalan di samping Paijo sambil terus bercerita tentang Nur Kholis.
“Dia tadi baik banget.”
“Oh.”
“Terus katanya minggu depan mau ngajak aku jalan.”
Paijo hanya mengangguk kecil.
“Kamu kok diem aja?”
“Dengerin.”
Paijem tiba-tiba berhenti berjalan.
“Jo…”
“Hm?”
“Kamu marah ya?”
“Enggak.”
“Bener?”
Paijo memaksakan senyum kecil.
“Iya.”
Paijem memperhatikannya beberapa detik.
Entah kenapa malam itu ia merasa Paijo terlihat sangat berbeda.
Lebih dingin.
Lebih jauh.
Namun ia tak benar-benar mengerti alasannya.
Karena sejak awal…
Paijem tak pernah sadar bahwa lelaki pendiam di sampingnya telah mencintainya terlalu lama.
Sesampainya di rumah, Paijo langsung masuk kamar.
Ia merebahkan tubuh di ranjang tipisnya sambil memandangi langit-langit rumah.
Suara kendaraan dari jalan raya terdengar samar.
Angin malam masuk lewat celah dinding kayu.
Dan untuk pertama kalinya…
Paijo menangis diam-diam.
Bukan karena marah.
Bukan karena benci.
Melainkan karena sadar bahwa cintanya mungkin memang tak akan pernah sampai.
Ia terlalu lama menjadi tempat bercerita.
Terlalu lama menjadi pendengar.
Terlalu lama menyimpan semuanya sendiri.
Sampai akhirnya…
ia terlambat menjadi seseorang yang dilihat Paijem sebagai lelaki.
Hari-hari berikutnya luka itu semakin tumbuh.
Namun anehnya…
Paijo tetap ada untuk Paijem.
Ketika Paijem bertengkar dengan Nur Kholis, Paijo yang menenangkan.
Ketika Paijem menangis, Paijo yang mendengarkan.
Ketika Paijem bingung dengan perasaannya sendiri, Paijo yang selalu ada.
“Jo… menurut kamu dia masih sayang enggak sama aku?”
Paijo menahan sesak di dadanya.
“Mungkin masih.”
“Kamu yakin?”
“Kalau dia enggak peduli, dia enggak bakal marah waktu kamu dekat sama cowok lain.”
Paijem mengangguk pelan.
“Untung ada kamu.”
Kalimat itu lagi-lagi menjadi pisau kecil di hati Paijo.
Karena semakin baik ia menjaga Paijem…
semakin jauh ia sadar dirinya hanya dianggap tempat pulang sementara.
Bukan tujuan akhir.
Suatu sore di Dermaga KP3 Kuala Kapuas, mereka duduk memandang sungai yang mulai gelap oleh malam.
Lampu kapal memantul di air.
Suasana tenang.
Paijem tiba-tiba berkata pelan.
“Jo…”
“Hm?”
“Kalau suatu hari aku pergi… kamu bakal lupa sama aku enggak?”
Pertanyaan itu membuat Paijo menoleh cepat.
“Kenapa ngomong begitu?”
“Ya nanya aja.”
Paijo diam beberapa saat.
Lalu menjawab sangat pelan.
“Enggak mungkin.”
Paijem tersenyum kecil.
“Baik banget sih kamu.”
Namun Paijem tak pernah tahu…
bahwa jawaban itu adalah kejujuran paling dalam dari hati seorang lelaki yang diam-diam sedang belajar menerima luka pertamanya sendiri.
BAB VII
JALAN PEMUDA DAN MASA PUTIH ABU-ABU
Pagi di Kuala Kapuas selalu terasa sibuk ketika tahun ajaran baru dimulai.
Jalan Pemuda dipenuhi pelajar berseragam putih abu-abu dan putih biru. Motor-motor tua milik orang tua hilir mudik mengantar anak sekolah. Pedagang gorengan dan es lilin mulai ramai di depan gerbang sekolah sejak matahari belum terlalu tinggi.
Di ujung Jalan Pemuda berdiri SMP Negeri 3 Kuala Kapuas.
Sedangkan tak jauh dari sana, SMAN 1 Kuala Kapuas menjadi tempat Paijo menghabiskan masa putih abu-abunya.
Meski berbeda sekolah dan berbeda usia tiga tahun, hubungan mereka tetap dekat seperti dulu.
Bahkan mungkin…
terlalu dekat.
Pagi itu Paijo sedang duduk di atas motor tua milik temannya dekat gerbang SMP 3.
Beberapa siswa mulai memperhatikannya sambil berbisik kecil.
“Itu siapa?”
“Kakak SMA kayaknya.”
“Nyari siapa?”
Tak lama kemudian Paijem keluar gerbang sekolah bersama dua temannya.
Begitu melihat Paijo, wajahnya langsung cerah.
“Jo!”
Paijo mengangkat tangan kecil.
“Ayo pulang?”
“Tunggu bentar!”
Paijem berpamitan pada teman-temannya lalu berlari kecil menghampiri Paijo.
“Kamu lama nunggu?”
“Baru aja.”
Padahal sebenarnya Paijo sudah hampir setengah jam menunggu di bawah pohon dekat gerbang sekolah.
Namun seperti biasa…
ia tak pernah ingin membuat Paijem merasa tidak enak.
“Kita lewat Bundaran Besar ya?”
“Boleh.”
“Laper nih.”
Paijo tersenyum kecil.
“Nanti beli bakso.”
“Mantap!”
Paijem tertawa senang lalu duduk di belakang motor.
Angin siang bertiup pelan ketika mereka mulai meninggalkan Jalan Pemuda menuju pusat Kota Kuala Kapuas.
Masa SMA adalah masa paling membingungkan bagi Paijo.
Di satu sisi ia mulai semakin dewasa.
Namun di sisi lain…
perasaannya terhadap Paijem semakin sulit dikendalikan.
Ia mulai cemburu melihat Paijem dekat dengan lelaki lain.
Mulai sakit ketika mendengar nama Nur Kholis disebut.
Dan mulai takut kehilangan gadis itu sepenuhnya.
Namun keberanian untuk mengungkapkan semuanya tetap tak pernah muncul.
Ia terlalu nyaman menjadi tempat aman bagi Paijem.
Dan terlalu takut merusak semuanya.
Mereka tiba di Bundaran Besar Kuala Kapuas menjelang sore.
Suasana taman cukup ramai.
Beberapa anak muda duduk berkelompok sambil bermain gitar. Anak-anak kecil berlarian mengejar balon. Pedagang pentol dan jagung bakar sibuk melayani pembeli.
Paijem langsung duduk di bangku taman sambil membuka jilbab sedikit karena kepanasan.
“Capek…”
Paijo menyerahkan sebotol minuman dingin.
“Nih.”
Paijem tersenyum kecil.
“Baik banget sih kamu.”
Paijo hanya mengangkat bahu.
Mereka lalu makan bakso tusuk sambil melihat kendaraan lewat di sekitar bundaran.
Lampu taman mulai menyala perlahan ketika matahari turun.
Paijem tiba-tiba berkata pelan.
“Jo…”
“Hm?”
“Kamu pernah enggak sih suka sama orang lama banget?”
Pertanyaan itu langsung membuat dada Paijo berdebar.
“Kenapa tanya begitu?”
“Ya penasaran aja.”
Paijo menunduk memandang gelas plastik di tangannya.
“Pernah mungkin.”
Paijem langsung menoleh cepat.
“Serius?”
Paijo mengangguk kecil.
“Siapa?”
“Nggak penting.”
“Ya penting lah.”
Paijo tersenyum tipis.
“Rahasia.”
Kini gantian Paijem yang manyun.
“Ih… pelit.”
Padahal saat itu…
yang ingin sekali dikatakan Paijo sebenarnya cuma satu:
"Orang itu kamu."
Namun kalimat itu lagi-lagi berhenti di tenggorokan.
Hari-hari sekolah mereka berjalan seperti biasa.
Paijo dikenal sebagai anak yang pendiam dan cukup pintar di sekolahnya.
Ia tidak terlalu banyak teman dekat.
Lebih suka nongkrong di bengkel kecil atau membantu ibunya sepulang sekolah.
Sedangkan Paijem semakin populer di sekolahnya.
Ia aktif.
Supel.
Banyak teman.
Dan selalu menjadi pusat keramaian.
Kadang Paijo diam-diam merasa dunia mereka mulai berbeda.
Paijem seperti burung kecil yang ingin terbang jauh.
Sedangkan dirinya hanya lelaki sederhana yang nyaman hidup di pinggiran sungai.
Suatu sore selepas pulang sekolah, Paijem datang ke rumah Paijo sambil cemberut.
“Jo…”
“Hm?”
“Aku kesel.”
“Kenapa?”
“Nur Kholis bikin emosi.”
Paijo langsung diam.
Nama itu lagi.
“Dia kenapa?”
“Tadi dekat sama cewek lain lagi.”
Paijo mencoba tenang.
“Mungkin temannya.”
“Perasaan cowok tuh gampang banget ya.”
Paijo tersenyum hambar.
“Belum tentu.”
Paijem duduk di tangga rumah sambil memainkan ujung jilbabnya.
“Kalau kamu punya pacar nanti jangan kayak gitu ya.”
Paijo menoleh pelan.
“Kalau aku punya pacar…”
“Iya?”
“Aku bakal serius.”
Paijem tersenyum kecil.
“Nah gitu dong.”
Lalu tanpa sadar ia menyandarkan kepala sebentar di bahu Paijo.
Dan saat itu…
dunia terasa berhenti bagi Paijo.
Ia diam.
Tak berani bergerak.
Detak jantungnya terdengar begitu keras di telinganya sendiri.
Sedangkan Paijem sama sekali tidak sadar apa yang sedang terjadi di hati lelaki itu.
Malam minggu berikutnya mereka kembali pergi ke Taman Adipura.
Lampu jalan menyala terang di sekitar Simpang Adipura. Kendaraan ramai melintas dari berbagai arah.
Angin malam terasa hangat.
Paijem berjalan sambil membawa es krim kecil.
“Jo…”
“Hm?”
“Kamu nanti setelah lulus SMA mau kuliah?”
Paijo diam sebentar.
“Kayaknya enggak.”
“Kenapa?”
“Bantu orang tua mungkin.”
Paijem menatapnya beberapa detik.
“Kamu sebenarnya pintar.”
Paijo tersenyum kecil.
“Enggak juga.”
“Serius. Sayang kalau enggak lanjut.”
Paijo memandang jalan raya yang ramai.
Dalam hati ia tahu kondisi ekonomi keluarganya memang tidak mudah.
Kuliah terasa terlalu jauh untuk dipikirkan.
Yang ia pikirkan sekarang hanya bagaimana bisa membantu orang tuanya.
Namun di sisi lain…
ia mulai takut tertinggal jauh dari Paijem.
Karena gadis itu punya mimpi besar.
Sedangkan dirinya hanya anak bengkel dari Handel Sungai Beras.
Malam semakin larut.
Mereka duduk di taman kecil dekat simpang jalan sambil melihat lampu kendaraan.
Paijem tiba-tiba berkata pelan.
“Jo…”
“Hm?”
“Kalau suatu hari nanti kita sibuk sendiri-sendiri… kita masih bakal dekat enggak ya?”
Pertanyaan itu membuat Paijo diam cukup lama.
Angin malam bertiup pelan.
Suara kendaraan terasa jauh.
Lalu ia menjawab sangat pelan.
“Aku enggak bakal pergi.”
Paijem tersenyum lembut.
“Janji?”
Paijo mengangguk.
“Iya.”
Namun hidup sering kali tidak peduli pada janji manusia.
Karena waktu…
selalu punya caranya sendiri untuk memisahkan orang-orang yang terlalu nyaman bersama.
Beberapa minggu kemudian Paijo mulai sering melihat perubahan pada Paijem.
Gadis itu semakin sering berdandan.
Semakin sering tersenyum sendiri saat membaca pesan kecil di buku catatannya.
Dan semakin sering menyebut nama Nur Kholis.
Sementara Paijo…
hanya bisa diam menjadi pendengar setia.
Menyimpan semua rasa yang makin hari makin sulit dibendung.
Namun tak pernah benar-benar punya keberanian untuk memperjuangkannya.
Karena sejak awal…
Mas Paijo terlalu terbiasa mencintai dengan cara diam-diam.
BAB VIII
CAR FREE DAY DAN TAWA YANG PERLAHAN HILANG
Minggu pagi di Kuala Kapuas selalu memiliki suasana yang berbeda.
Sejak subuh kawasan sekitar Stadion Panunjung Tarung mulai ramai oleh warga yang datang untuk menikmati Car Free Day. Jalan Tambun Bungai dipenuhi orang-orang yang berjalan santai, bersepeda, jogging, atau sekadar duduk menikmati suasana pagi kota kecil yang terasa hidup.
Pedagang kaki lima berjajar di sepanjang jalan.
Aroma soto, nasi kuning, pentol bakar, dan kopi hitam bercampur menjadi satu.
Anak-anak kecil berlarian membawa balon.
Musik dangdut dari pengeras suara terdengar memecah udara pagi.
Dan di tengah keramaian itu…
Paijem berdiri sambil melambaikan tangan.
“Jo! Sini!”
Paijo yang baru datang menggunakan motor pinjaman temannya langsung menghampiri.
“Kamu pagi amat.”
“Iya lah. Kalau kesiangan nanti rame banget.”
Paijo tersenyum kecil.
Pagi itu Paijem mengenakan jaket abu-abu dan celana training hitam. Rambutnya diikat sederhana, namun tetap terlihat cantik di mata Paijo.
Sayangnya…
semakin cantik Paijem tumbuh, semakin besar pula rasa takut di hati Paijo.
Takut kehilangan.
Takut ditinggalkan.
Dan takut suatu hari dirinya tak lagi menjadi bagian penting dalam hidup gadis itu.
Mereka berjalan pelan menyusuri kawasan stadion.
Suasana sangat ramai.
Beberapa komunitas senam sedang berkumpul di lapangan terbuka. Anak-anak muda sibuk berfoto bersama teman-temannya. Sementara para pedagang terus memanggil pembeli.
Paijem tampak sangat bersemangat.
“Jo, kita beli cilok dulu!”
“Baru juga datang.”
“Laper.”
“Kamu tiap lihat makanan pasti laper.”
Paijem tertawa kecil.
“Namanya juga hidup.”
Mereka lalu duduk di trotoar sambil menikmati cilok panas.
Di depan mereka, beberapa remaja SMA sedang bermain gitar sambil bernyanyi.
Paijem memperhatikan mereka sambil tersenyum kecil.
“Enak ya punya banyak teman.”
“Kamu juga banyak teman.”
“Iya sih… tapi kadang capek juga.”
Paijo sedikit heran.
“Capek kenapa?”
Paijem menghela napas kecil.
“Kadang orang itu dekat cuma pas butuh aja.”
Paijo diam mendengarkan.
Ia tahu Paijem memang punya banyak teman.
Namun hanya sedikit orang yang benar-benar mengenal sisi rapuh gadis itu.
Dan entah kenapa…
Paijo selalu menjadi tempat Paijem menunjukkan sisi yang tak pernah ia tunjukkan kepada orang lain.
Mereka berjalan lagi menuju area stadion.
Matahari mulai naik.
Udara terasa hangat.
Paijem tiba-tiba menghentikan langkahnya.
“Eh itu Nur Kholis…”
Jantung Paijo langsung terasa berat.
Tak jauh di depan, Nur Kholis terlihat sedang berdiri bersama beberapa teman laki-lakinya.
Begitu melihat Paijem, lelaki itu tersenyum lalu melambaikan tangan.
“Hai Jem!”
“Hai…”
Paijem langsung terlihat salah tingkah.
Sementara Paijo berdiri diam di sampingnya.
Nur Kholis mendekat sambil tersenyum santai.
“Pagi, Jo.”
“Pagi.”
“Kalian dari tadi di sini?”
“Iya.”
Nur Kholis lalu mulai mengobrol dengan Paijem.
Tentang sekolah.
Tentang teman-teman.
Tentang rencana ikut acara musik minggu depan.
Paijo hanya berdiri sambil memasukkan tangan ke saku jaket.
Untuk pertama kalinya…
ia merasa benar-benar seperti orang ketiga.
“Jo…”
Suara Paijem membuyarkan lamunannya.
“Hm?”
“Kamu kok diem terus?”
“Enggak.”
Nur Kholis tertawa kecil.
“Si Paijo memang pendiam dari dulu ya.”
Paijem ikut tertawa.
“Iya. Kadang kesel sendiri sama dia.”
Paijo memaksakan senyum tipis.
Namun dalam hati…
ia mulai lelah.
Lelah menjadi orang yang selalu ada tapi tak pernah benar-benar dianggap.
Tak lama kemudian Nur Kholis pamit pergi bersama teman-temannya.
Begitu lelaki itu menjauh, Paijem langsung menarik napas panjang.
“Gimana tadi?”
“Apanya?”
“Aku sama dia.”
Paijo menatap jalan di depan mereka.
“Bagus.”
Paijem tersenyum malu.
“Kamu jujur ya… aku cocok enggak sama dia?”
Pertanyaan itu kembali menjadi pisau kecil bagi hati Paijo.
Namun seperti biasa…
ia tetap memilih mengalah.
“Iya.”
Paijem terlihat sangat senang mendengar jawaban itu.
Sementara Paijo justru merasa dadanya makin kosong.
Menjelang siang mereka duduk di tribun stadion.
Keramaian mulai sedikit berkurang.
Angin bertiup pelan membawa aroma rumput dan makanan dari para pedagang.
Paijem tampak lebih diam dari biasanya.
“Kamu kenapa?” tanya Paijo pelan.
Paijem menunduk.
“Jo…”
“Hm?”
“Kalau aku pacaran nanti… kamu bakal berubah enggak?”
Paijo menoleh perlahan.
“Maksudnya?”
“Ya… takut aja.”
“Takut apa?”
“Kamu jadi jauh.”
Paijo tersenyum hambar.
“Aku enggak akan berubah.”
Paijem menatapnya lama.
“Serius?”
“Iya.”
Paijem lalu tersenyum kecil.
“Makanya aku nyaman sama kamu.”
Kalimat itu kembali terasa menyakitkan.
Karena sekali lagi…
Paijo sadar dirinya hanyalah tempat nyaman.
Bukan tempat yang dicintai.
Hari-hari setelah Car Free Day itu perlahan berubah.
Paijem semakin sering bersama Nur Kholis.
Kadang mereka pulang sekolah bersama.
Kadang terlihat ngobrol lama di depan kelas.
Kadang pergi bersama teman-teman lain ke pusat kota.
Dan meski Paijem tetap sering bersama Paijo…
namun ada sesuatu yang mulai berbeda.
Tawanya tak lagi selalu untuk Paijo.
Ceritanya mulai dipenuhi orang lain.
Dan perhatian yang dulu sepenuhnya diberikan kepada Paijo perlahan mulai terbagi.
Suatu sore di Dermaga KP3, mereka duduk berdua sambil melihat kapal kecil lewat di sungai.
Langit senja terlihat indah.
Namun hati Paijo terasa semakin berat.
Paijem tampak sibuk memainkan gelang kecil di tangannya.
“Jo…”
“Hm?”
“Nur Kholis ngajak aku jalan minggu depan.”
“Oh.”
“Kamu marah?”
“Ngapain marah?”
“Enggak tahu…”
Paijo tersenyum kecil.
“Asal kamu senang.”
Paijem memandangnya beberapa detik.
Entah kenapa jawaban itu justru membuat hatinya sedikit tidak nyaman.
Karena untuk pertama kalinya…
ia merasa Paijo mulai terdengar jauh.
Malam hari selepas isya, Paijo duduk sendiri di depan rumah.
Lampu kendaraan melintas panjang di Jalan Trans Kalimantan.
Angin malam terasa dingin.
Ibunya keluar sambil membawa teh panas.
“Jo…”
“Hm?”
“Kamu lagi ada masalah?”
Paijo menoleh pelan.
“Enggak.”
“Kamu akhir-akhir ini sering melamun.”
Paijo diam.
Ibunya duduk di sampingnya.
“Karena Paijem ya?”
Paijo langsung menunduk.
Ibunya tersenyum kecil.
“Ibu ini orang tua, Jo. Bisa lihat.”
Paijo menggigit bibir pelan.
Untuk beberapa detik ia tak mampu bicara.
Lalu akhirnya berkata sangat pelan.
“Aku capek, Buk…”
Ibunya menatap anak lelakinya lama.
“Karena cinta?”
Pertanyaan itu membuat mata Paijo mulai terasa panas.
Namun ia tetap diam.
Dan diam itu…
sudah menjadi jawaban paling jelas.
Malam semakin larut.
Suara kendaraan mulai berkurang.
Sementara di dalam hati seorang remaja lelaki dari Handel Sungai Beras…
tawa yang dulu terasa begitu indah perlahan mulai berubah menjadi luka.
Karena semakin besar cintanya kepada Paijem…
semakin ia sadar bahwa gadis itu mungkin memang tak pernah ditakdirkan untuknya.
BAB IX
HUJAN DI DERMAGA KP3
Musim hujan datang lebih cepat tahun itu.
Langit Kuala Kapuas hampir setiap sore dipenuhi awan gelap. Angin sungai bertiup lebih dingin dari biasanya. Jalan-jalan kecil di Handel Sungai Beras mulai becek oleh lumpur, sementara genangan air muncul di pinggir Jalan Trans Kalimantan setiap kali hujan turun deras.
Namun bagi Paijo…
musim yang paling berat bukanlah musim hujan.
Melainkan musim ketika hatinya perlahan mulai kehilangan seseorang yang paling berarti dalam hidupnya.
Sore itu hujan turun sejak selepas asar.
Rintik air membasahi atap-atap rumah kayu di Handel Sungai Beras. Suara hujan bercampur petir terdengar memanjang di langit Kuala Kapuas.
Paijo duduk di bengkel kecil dekat simpang handel sambil memandang jalan yang mulai sepi.
Beberapa kendaraan melintas perlahan karena hujan semakin deras.
Ia sedang membantu menambal ban motor ketika tiba-tiba seseorang berlari kecil menuju bengkel.
“Jo!”
Paijo langsung menoleh.
Paijem berdiri di depan bengkel dengan seragam SMP yang sedikit basah.
Rambutnya menempel di pipi.
Napasnya tersengal kecil.
“Kamu kehujanan.”
“Iya… hujannya gede banget.”
Paijo langsung mengambil handuk kecil dari dalam bengkel.
“Nih.”
Paijem tersenyum kecil.
“Makasih.”
Ia lalu duduk di bangku kayu sambil mengeringkan rambutnya.
Suasana mendadak sunyi.
Hanya suara hujan deras yang terdengar memenuhi udara sore.
Dan entah kenapa…
momen sederhana seperti itu selalu menjadi hal paling indah bagi Paijo.
“Kamu dari mana?” tanya Paijo pelan.
“Dari rumah teman.”
“Sendirian?”
“Iya.”
“Kenapa enggak nunggu hujannya reda?”
Paijem mengangkat bahu.
“Pengen cepat pulang.”
Paijo mengangguk kecil.
Namun sebenarnya ia senang.
Karena hujan membuat Paijem singgah di tempatnya.
Beberapa menit mereka hanya diam mendengarkan hujan.
Sampai akhirnya Paijem berkata pelan.
“Jo…”
“Hm?”
“Kamu pernah ngerasa takut kehilangan seseorang enggak?”
Pertanyaan itu membuat Paijo menoleh pelan.
“Pernah mungkin.”
Paijem menunduk.
“Aku akhir-akhir ini sering takut.”
“Takut apa?”
“Takut kalau orang-orang yang dekat sama aku nanti pergi semua.”
Paijo memandang wajah Paijem yang terlihat lebih murung dari biasanya.
Untuk pertama kalinya…
ia melihat sisi rapuh gadis itu begitu jelas.
“Nur Kholis lagi bikin masalah?” tanya Paijo hati-hati.
Paijem menghela napas panjang.
“Tadi aku marahan sama dia.”
“Kenapa?”
“Dia cemburu aku dekat sama teman cowok lain.”
Paijo tersenyum hambar.
“Berarti dia sayang.”
Paijem langsung manyun.
“Cowok tuh ribet.”
Paijo hampir tertawa kecil.
Andai Paijem tahu…
dirinya jauh lebih ribet.
Karena harus terus pura-pura baik-baik saja melihat gadis yang dicintainya bercerita tentang lelaki lain.
Hujan semakin deras.
Lampu kendaraan di jalan raya terlihat samar tertutup air hujan.
Paijem memandangi hujan cukup lama.
Lalu tiba-tiba berkata pelan.
“Jo…”
“Hm?”
“Kalau aku nanti sedih terus… kamu masih mau dengerin cerita aku?”
Paijo langsung menjawab tanpa berpikir.
“Mau.”
Paijem tersenyum kecil.
“Kamu baik banget.”
Kalimat itu lagi.
Kalimat yang selalu berhasil membuat hati Paijo hangat sekaligus sakit bersamaan.
Tak lama kemudian hujan mulai sedikit reda.
Paijem berdiri sambil merapikan tas sekolahnya.
“Ayo pulang?”
Paijo mengangguk.
Ia lalu meminjam motor milik teman bengkel untuk mengantar Paijem pulang.
Jalanan masih basah.
Lampu kota mulai menyala satu per satu ketika senja turun perlahan.
Paijem duduk di belakang sambil memegang ujung jaket Paijo.
Sementara Paijo mencoba menikmati perjalanan pendek itu selama mungkin.
Karena ia tahu…
momen seperti ini tak akan selalu ada.
Di tengah perjalanan, Paijem tiba-tiba berkata agak keras agar terdengar di tengah suara motor.
“Jo!”
“Hm?”
“Kita ke Dermaga KP3 dulu yuk!”
“Mau ngapain?”
“Pengen lihat sungai habis hujan.”
Paijo tersenyum kecil.
“Yaudah.”
Mereka pun berbelok menuju dermaga.
Dermaga KP3 malam itu cukup sepi karena hujan baru saja reda.
Beberapa pedagang masih bertahan membuka lapak mereka. Aroma jagung bakar dan kopi panas memenuhi udara dingin malam.
Lampu-lampu kapal memantul di permukaan Sungai Kapuas yang terlihat gelap.
Angin sungai bertiup lembut.
Paijem duduk di pembatas dermaga sambil memandang air sungai.
“Indah ya…”
Paijo duduk di sampingnya.
“Iya.”
Beberapa detik mereka hanya diam.
Lalu Paijem berkata pelan.
“Jo…”
“Hm?”
“Aku takut jatuh cinta terlalu dalam.”
Jantung Paijo langsung berdegup lebih cepat.
“Kenapa?”
“Karena kalau sakit nanti pasti sakit banget.”
Paijo menatap sungai lama sekali.
Lalu berkata pelan.
“Kalau suka sama seseorang… memang harus siap sakit.”
Paijem menoleh.
“Kamu ngomong kayak pernah ngalamin.”
Paijo tersenyum kecil.
“Mungkin.”
Paijem memandangnya cukup lama.
Namun seperti biasa…
ia tak pernah benar-benar bisa membaca isi hati lelaki pendiam itu.
Angin malam semakin dingin.
Beberapa tetes hujan kecil kembali turun.
Paijem memeluk kedua lututnya sambil berkata pelan.
“Jo…”
“Hm?”
“Kalau aku pergi jauh nanti…”
Paijo langsung menoleh cepat.
“Kenapa ngomong pergi terus?”
“Ya cuma nanya.”
Paijo diam beberapa detik.
Lalu menjawab sangat pelan.
“Aku bakal kangen.”
Paijem tersenyum kecil.
“Serius?”
“Iya.”
Paijem menatap sungai lagi.
“Kamu itu kadang bikin aku takut kehilangan juga.”
Kalimat itu membuat dada Paijo terasa hangat.
Namun sekaligus menyakitkan.
Karena lagi-lagi…
Paijem hanya takut kehilangan dirinya sebagai sahabat.
Bukan sebagai seseorang yang dicintai.
Malam semakin larut ketika mereka pulang dari dermaga.
Di sepanjang perjalanan menuju Handel Sungai Beras, Paijem lebih banyak diam.
Sementara Paijo sibuk melawan pikirannya sendiri.
Ia mulai sadar bahwa cintanya kepada Paijem sudah terlalu dalam.
Terlalu sulit dihentikan.
Namun semakin besar perasaan itu…
semakin besar pula ketakutan dalam dirinya.
Takut jika suatu hari Paijem benar-benar pergi.
Dan ia hanya akan tinggal sendirian bersama kenangan.
Sesampainya di depan rumah Paijem, gadis itu turun dari motor lalu tersenyum kecil.
“Makasih ya, Jo.”
“Iya.”
Paijem tidak langsung masuk.
Ia berdiri beberapa detik sambil memandang Paijo.
“Jo…”
“Hm?”
“Kamu jangan berubah ya.”
Paijo diam sesaat.
Lalu mengangguk kecil.
“Iya.”
Paijem tersenyum lalu masuk ke dalam rumah.
Sedangkan Paijo masih duduk di atas motor cukup lama.
Memandang pintu rumah yang perlahan tertutup.
Dan malam itu…
di bawah sisa hujan Kota Kuala Kapuas…
seorang lelaki muda mulai sadar bahwa cinta pertama bukan hanya tentang rasa bahagia.
Melainkan juga tentang ketakutan paling dalam untuk kehilangan seseorang yang tak pernah benar-benar menjadi miliknya.
BAB X
SURAT YANG TAK PERNAH DIBERIKAN
Waktu terus berjalan.
Hari-hari di Kuala Kapuas mulai terasa semakin cepat bagi Paijo.
Kelas tiga SMA datang bersama tekanan ujian, masa depan, dan pertanyaan tentang hidup yang perlahan mulai menghampiri anak-anak muda seusianya.
Namun bagi Paijo…
hal paling berat bukanlah pelajaran sekolah.
Melainkan kenyataan bahwa Paijem perlahan semakin jauh dari dirinya.
Pagi itu udara Handel Sungai Beras terasa sejuk setelah hujan semalaman.
Kabut tipis masih terlihat di sekitar tepian sungai ketika Paijo duduk sendirian di depan rumah sambil memegang buku tulis tua.
Ibunya yang sedang membuka warung memperhatikannya heran.
“Tumben pagi-pagi melamun.”
Paijo tersenyum kecil.
“Enggak melamun.”
“Terus ngapain?”
Paijo buru-buru menutup buku itu.
“Biasa.”
Ibunya hanya menggeleng kecil lalu kembali sibuk menata barang dagangan.
Namun sebenarnya sejak beberapa malam terakhir…
Paijo sedang mencoba melakukan sesuatu yang belum pernah ia lakukan sebelumnya.
Menulis surat.
Untuk Paijem.
Ia sendiri tak tahu kenapa tiba-tiba ingin menulis.
Mungkin karena ia terlalu sulit bicara langsung.
Atau mungkin karena hatinya sudah terlalu penuh.
Di halaman pertama buku tulis itu tertulis kalimat sederhana:
"Untuk Paijem…"
Lalu setelah itu…
tak ada lagi kata-kata yang berhasil keluar.
Paijo berkali-kali mencoba menulis.
Namun setiap kali ingin mengungkapkan isi hatinya…
tangannya justru berhenti.
Takut.
Malu.
Dan takut semuanya berubah.
Siang harinya Paijo pergi menemui Paijem di dekat Jalan Pemuda.
Gadis itu baru pulang sekolah bersama beberapa temannya.
Begitu melihat Paijo, wajahnya langsung cerah.
“Jo!”
Paijo mengangkat tangan kecil.
“Ayo pulang?”
“Tunggu bentar.”
Paijem berpamitan pada teman-temannya lalu berjalan menghampiri Paijo.
“Kamu dari tadi nunggu?”
“Enggak lama.”
Padahal sebenarnya Paijo sudah hampir satu jam berdiri di bawah pohon dekat sekolah.
Namun seperti biasa…
ia tak pernah ingin membuat Paijem merasa bersalah.
Mereka berjalan kaki menuju warung es dekat Bundaran Besar.
Hari itu cuaca cukup panas.
Kendaraan ramai melintas di jalan utama kota.
Sesampainya di warung, Paijem langsung memesan es campur favoritnya.
Sedangkan Paijo hanya memesan teh dingin.
“Jo…”
“Hm?”
“Kamu habis ujian nanti mau kerja ya?”
“Mungkin.”
“Enggak kuliah?”
Paijo tersenyum kecil.
“Belum tahu.”
Paijem menatapnya cukup lama.
“Kamu sebenarnya bisa lebih dari ini.”
Paijo hanya diam.
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun entah kenapa…
selalu ada rasa hangat ketika Paijem percaya padanya.
Mereka mengobrol cukup lama sore itu.
Tentang sekolah.
Tentang teman-teman.
Tentang masa depan.
Sampai tiba-tiba Paijem berkata pelan:
“Jo…”
“Hm?”
“Kalau nanti kita udah besar… kita masih bakal sering ketemu enggak ya?”
Pertanyaan itu membuat dada Paijo kembali terasa sesak.
Ia mulai sadar…
masa seperti ini tak akan berlangsung selamanya.
“Masih.”
“Serius?”
Paijo mengangguk kecil.
“Aku enggak bakal lupa sama kamu.”
Paijem tersenyum lembut.
“Makasih ya.”
Dan lagi-lagi…
kalimat sederhana dari Paijem mampu membuat hati Paijo berdebar terlalu jauh.
Malam harinya Paijo kembali membuka buku surat itu.
Lampu kamar kecilnya redup.
Suara jangkrik terdengar dari luar rumah.
Sementara kendaraan besar di Jalan Trans Kalimantan masih sesekali melintas membawa suara gemuruh panjang.
Paijo menarik napas panjang.
Lalu mulai menulis perlahan.
"Jem…
Aku enggak tahu harus mulai dari mana.
Aku cuma pengen bilang kalau selama ini kamu itu orang paling penting dalam hidupku."
Tangannya berhenti.
Dadanya berdebar.
Ia membaca ulang tulisan itu cukup lama.
Lalu melanjutkan lagi.
"Aku mungkin enggak pandai ngomong. Tapi aku selalu senang setiap kali sama kamu."
Paijo tersenyum kecil pahit.
Kalimat itu terdengar terlalu sederhana dibanding semua rasa yang ia simpan selama bertahun-tahun.
Namun tetap saja…
ia terus menulis.
Tentang masa kecil mereka.
Tentang sungai.
Tentang Bundaran Besar.
Tentang hujan di Dermaga KP3.
Tentang semua hal kecil yang diam-diam menjadi bagian paling indah dalam hidupnya.
Dan untuk pertama kalinya…
Paijo benar-benar jujur tentang perasaannya sendiri.
Beberapa hari kemudian surat itu selesai.
Tak terlalu panjang.
Namun cukup untuk membuat tangannya gemetar setiap kali membacanya.
Ia menyimpan surat itu di dalam tas sekolah.
Berniat memberikannya kepada Paijem.
Namun keberanian itu lagi-lagi tak pernah datang.
Sore itu mereka duduk di taman Bundaran Besar seperti biasa.
Langit mulai jingga.
Lampu taman perlahan menyala.
Paijem tampak sangat ceria.
“Jo, tadi Nur Kholis ngajak aku nonton acara musik.”
Jantung Paijo langsung terasa berat lagi.
“Oh.”
“Kamu ikut dong nanti.”
“Aku?”
“Iya lah.”
Paijo tersenyum kecil.
“Lihat nanti.”
Paijem lalu melanjutkan ceritanya dengan semangat.
Sementara di dalam tas Paijo…
surat itu masih tersimpan rapi.
Menunggu keberanian yang tak pernah benar-benar muncul.
Malam semakin gelap.
Mereka berjalan pulang melewati jalan handel yang mulai sepi.
Angin sungai terasa dingin.
Paijem tiba-tiba berkata pelan.
“Jo…”
“Hm?”
“Kalau nanti aku punya pacar serius… kamu jangan pergi ya.”
Kalimat itu membuat langkah Paijo berhenti sesaat.
Namun ia segera berjalan lagi sambil tersenyum kecil.
“Iya.”
Padahal dalam hati…
ia mulai sadar bahwa dirinya mungkin memang hanya ditakdirkan menjadi bayangan dalam hidup Paijem.
Seseorang yang selalu ada.
Namun tak pernah benar-benar dipilih.
Sesampainya di rumah, Paijo langsung masuk kamar.
Ia mengeluarkan surat itu lagi.
Membacanya perlahan.
Lalu memejamkan mata cukup lama.
Dan akhirnya…
dengan tangan gemetar…
ia melipat surat itu kembali lalu menyimpannya di dalam kotak kecil bersama barang-barang kenangan lainnya.
Surat itu tak pernah diberikan.
Tak pernah dibaca Paijem.
Dan bertahun-tahun kemudian…
surat itulah yang akan menjadi saksi bisu tentang cinta pertama yang terlalu lama dipendam dalam diam.
BAB XI
KABAR YANG MENGUBAH SEGALANYA
Hari-hari terakhir masa sekolah mulai terasa berbeda.
Udara Kuala Kapuas tetap sama.
Sungai Kapuas tetap mengalir tenang melewati tepian Handel Sungai Beras.
Truk-truk besar masih berlalu lalang di Jalan Trans Kalimantan membawa hasil bumi dan sembako menuju Banjarmasin atau Palangka Raya.
Namun bagi Paijo…
ada firasat aneh yang sejak beberapa hari terakhir terus mengganggu pikirannya.
Entah kenapa ia merasa sesuatu akan berubah.
Dan perubahan itu…
ternyata benar-benar datang.
Sore itu langit mendung ketika Paijem datang ke rumah Paijo.
Biasanya gadis itu selalu datang sambil tertawa atau berceloteh panjang.
Namun kali ini wajahnya terlihat berbeda.
Lebih diam.
Lebih murung.
Paijo yang sedang membantu ibunya di warung langsung menyadarinya.
“Kamu kenapa?”
Paijem hanya menggeleng kecil.
“Enggak apa-apa.”
Tapi Paijo tahu.
Paijem pasti sedang menyimpan sesuatu.
Ia lalu duduk di tangga rumah.
Paijem ikut duduk di sampingnya sambil memainkan ujung jilbabnya.
Suasana terasa canggung.
Angin sore bertiup pelan membawa aroma sungai dan tanah basah.
Beberapa kendaraan besar melintas di jalan raya dengan suara gemuruh panjang.
Namun di antara suara itu…
diam mereka terasa jauh lebih berat.
“Jo…”
Suara Paijem terdengar lirih.
“Hm?”
“Aku mau ngomong sesuatu.”
Paijo langsung menoleh.
Entah kenapa dadanya mendadak berdebar tak tenang.
“Apa?”
Paijem menunduk.
“Kami mungkin pindah.”
Dunia seperti mendadak berhenti bagi Paijo.
“Apa?”
Paijem menarik napas pelan.
“Bapak sama ibu ngurus pindah tugas ke Jawa.”
Paijo terdiam.
Beberapa detik ia benar-benar tak mampu bicara.
“Jawa mana?”
“Kendal…”
Suara kendaraan yang melintas terdengar semakin jauh.
Yang tersisa hanya bunyi detak jantung Paijo sendiri.
Dan rasa sesak yang tiba-tiba memenuhi dadanya.
“Kapan?” tanya Paijo pelan.
“Belum tahu pasti… mungkin habis tahun ajaran selesai.”
Paijo memandang jalan kosong di depan rumah.
Pikirannya kacau.
Selama ini ia selalu takut kehilangan Paijem.
Namun ketakutan itu terasa seperti sesuatu yang jauh.
Sesuatu yang mungkin tidak akan benar-benar terjadi.
Tapi sekarang…
semuanya mendadak terasa nyata.
Dan sangat dekat.
Paijem menoleh pelan.
“Kamu kok diem?”
Paijo memaksakan senyum kecil.
“Enggak…”
“Kamu marah?”
“Buat apa marah?”
Paijem menggigit bibir kecil.
“Aku juga sebenarnya enggak mau pindah.”
Kalimat itu membuat hati Paijo sedikit hangat.
Namun tetap saja…
tak mengubah apa pun.
Malam harinya Paijo tidak bisa tidur.
Ia duduk di depan rumah sambil memandang jalan handel yang mulai sepi.
Lampu-lampu kendaraan terlihat panjang di kejauhan.
Angin malam terasa dingin.
Ibunya keluar membawa kopi panas.
“Kamu kenapa lagi?”
Paijo diam cukup lama.
Lalu akhirnya berkata pelan.
“Paijem mau pindah…”
Ibunya sedikit terdiam.
“Ke mana?”
“Jawa.”
Ibunya menghela napas kecil.
“Mungkin memang sudah jalannya.”
Paijo menunduk.
“Buk…”
“Hm?”
“Kalau orang yang kita sayang pergi… biasanya gimana?”
Ibunya menatap anak lelakinya lama.
Lalu berkata pelan:
“Kalau memang jodoh, sejauh apa pun pasti balik.”
Paijo tersenyum hambar.
Namun dalam hati…
ia justru takut mendengar kata “kalau”.
Karena hidup tak pernah benar-benar pasti.
Hari-hari berikutnya terasa berbeda.
Paijem mulai sibuk membantu orang tuanya mengurus kepindahan.
Rumah mereka mulai sering didatangi keluarga dan tetangga.
Beberapa barang mulai dibereskan sedikit demi sedikit.
Dan setiap kali melihat semua itu…
hati Paijo terasa semakin hancur.
Namun seperti biasa…
ia tetap diam.
Tetap membantu Paijem.
Tetap menjadi pendengar setia.
Seolah dirinya baik-baik saja.
Padahal tidak.
Sama sekali tidak.
Suatu sore mereka pergi ke Dermaga KP3 Kuala Kapuas.
Mungkin untuk terakhir kalinya sebelum semuanya berubah.
Langit sore terlihat sangat indah.
Matahari perlahan turun di balik sungai.
Lampu kapal mulai menyala satu per satu.
Paijem duduk sambil memeluk lututnya.
“Jo…”
“Hm?”
“Nanti kalau aku udah di Jawa… kamu jangan lupa sama aku ya.”
Kalimat itu hampir membuat dada Paijo runtuh.
Namun ia tetap mencoba tersenyum kecil.
“Enggak mungkin lupa.”
Paijem tersenyum tipis.
“Kamu itu baik banget.”
Lagi.
Kalimat itu lagi.
Kalimat yang selalu berhasil membuat hati Paijo hangat sekaligus terluka bersamaan.
Angin sungai bertiup lembut.
Suasana dermaga cukup sepi sore itu.
Paijem tiba-tiba berkata pelan:
“Jo…”
“Hm?”
“Aku takut.”
“Takut apa?”
“Takut semuanya berubah.”
Paijo memandang sungai cukup lama.
Lalu menjawab sangat pelan:
“Kadang hidup memang berubah.”
Paijem menunduk.
“Kalau aku jauh nanti… kamu masih mau dengerin cerita aku enggak?”
Paijo tersenyum pahit kecil.
“Kalau masih bisa… iya.”
Padahal dalam hati ia ingin berkata:
"Aku bukan cuma ingin mendengar ceritamu. Aku ingin hidup bersamamu."
Namun lagi-lagi…
keberanian itu tak pernah datang.
Malam mulai turun ketika mereka pulang.
Di sepanjang perjalanan menuju Handel Sungai Beras, Paijem lebih banyak diam.
Begitu pula Paijo.
Mereka seperti sama-sama takut menghadapi kenyataan yang perlahan semakin dekat.
Sesampainya di depan rumah Paijem, gadis itu tidak langsung turun dari motor.
Ia memandang Paijo beberapa detik.
“Jo…”
“Hm?”
“Kamu pernah enggak sih ngerasa seseorang itu terlalu penting buat hidup kamu?”
Pertanyaan itu membuat jantung Paijo kembali berdegup keras.
Namun ia hanya menjawab pelan:
“Pernah.”
Paijem tersenyum kecil.
“Aku juga.”
Lalu ia turun dari motor dan masuk ke rumah.
Sedangkan Paijo masih diam di tempat.
Memikirkan satu hal yang terus menghantui pikirannya malam itu:
Apakah dirinya sebenarnya juga penting bagi Paijem?
Atau hanya sekadar sahabat yang kebetulan selalu ada?
Malam semakin larut.
Dan di dalam kamar kecilnya…
Paijo kembali membuka surat yang tak pernah berhasil ia berikan.
Tangannya gemetar ketika membaca ulang setiap kalimat di dalamnya.
Kini waktu terasa semakin sempit.
Namun keberanian itu…
masih juga tak muncul.
Padahal tanpa ia sadari…
takdir perlahan sudah mulai menyiapkan perpisahan besar pertama dalam hidupnya.
BAB XII
HARI-HARI TERAKHIR DI HANDEL SUNGAI BERAS
Kabar kepindahan keluarga Paijem perlahan mulai tersebar di Handel Sungai Beras.
Tetangga-tetangga mulai datang silih berganti ke rumah keluarga Paijem. Ada yang sekadar bertanya. Ada yang ikut membantu membereskan barang. Ada pula yang datang hanya untuk memastikan kabar itu benar adanya.
Dan setiap kali mendengar orang membicarakan kepindahan itu…
hati Paijo terasa semakin berat.
Namun seperti biasa…
ia tetap memilih diam.
Pagi itu suasana di Handel Sungai Beras cukup ramai.
Sebuah truk kayu parkir di depan rumah Paijem. Beberapa lelaki dewasa membantu mengangkat lemari dan kardus ke teras rumah.
Di halaman, ibu Paijem terlihat sibuk memilah barang-barang.
Sementara Paijem duduk sendiri di tangga rumah sambil memandangi jalan kecil di depan rumahnya.
Wajahnya tampak murung.
Tak seperti biasanya.
Paijo datang pelan dari arah warung.
Begitu melihatnya, Paijem langsung tersenyum kecil.
“Jo…”
Paijo duduk di sampingnya.
“Udah mulai beres-beres?”
Paijem mengangguk pelan.
“Iya.”
“Kapan berangkat?”
“Mungkin dua minggu lagi…”
Kalimat itu kembali terasa seperti hantaman keras di dada Paijo.
Dua minggu.
Artinya waktu mereka tinggal sedikit.
Sangat sedikit.
Beberapa detik mereka hanya diam.
Suara orang mengangkat barang terdengar dari dalam rumah.
Sesekali suara kendaraan besar melintas di Jalan Trans Kalimantan.
Angin pagi bertiup lembut membawa aroma sungai yang sangat akrab bagi mereka sejak kecil.
“Jo…”
“Hm?”
“Kamu nanti bantu aku ya.”
“Bantu apa?”
“Keliling kota lagi sebelum aku pergi.”
Paijo menoleh pelan.
Paijem tersenyum tipis.
“Aku pengen ingat semuanya.”
Dan tanpa sadar…
kalimat itu hampir membuat mata Paijo terasa panas.
Hari-hari setelah itu berubah menjadi hari-hari penuh kenangan.
Seolah tanpa mereka sadari…
mereka sedang mengucapkan selamat tinggal kepada masa remaja mereka sendiri.
Sore pertama mereka habiskan di Bundaran Besar Kuala Kapuas.
Tempat yang sejak dulu selalu menjadi lokasi favorit mereka.
Lampu taman mulai menyala ketika matahari turun perlahan.
Anak-anak kecil bermain sepeda.
Pedagang kaki lima mulai ramai.
Paijem duduk di bangku taman sambil memegang es krim kecil.
“Jo…”
“Hm?”
“Masih ingat dulu kita pertama kali ke sini?”
Paijo tersenyum kecil.
“Waktu kamu jatuhin cilok.”
Paijem langsung tertawa.
“Ih jangan diingat-ingat.”
“Kamu nangis gara-gara cilok jatuh.”
“Itu karena aku laper!”
Mereka tertawa kecil bersama.
Dan untuk beberapa saat…
semuanya terasa seperti dulu lagi.
Seperti belum ada perpisahan yang menunggu.
Namun setelah tawa itu reda…
sunyi perlahan datang lagi.
Paijem menatap lampu taman cukup lama.
“Jo…”
“Hm?”
“Aku sebenarnya enggak siap pergi.”
Paijo memandang wajahnya pelan.
“Kalau enggak siap… kenapa enggak bilang sama orang tua?”
Paijem tersenyum kecil pahit.
“Kadang hidup enggak nanya kita siap atau enggak.”
Kalimat itu membuat Paijo terdiam.
Karena ia tahu…
ucapan itu benar.
Hari berikutnya mereka pergi ke Taman Adipura.
Simpang lima jalan itu masih ramai seperti biasa.
Kendaraan berlalu lalang tanpa henti.
Lampu jalan mulai menyala ketika sore turun.
Paijem berdiri dekat taman sambil memandang jalan raya.
“Jo…”
“Hm?”
“Menurut kamu Jawa itu seperti apa?”
Paijo menggeleng kecil.
“Belum pernah ke sana.”
“Aku takut enggak punya teman.”
“Kamu gampang dapat teman.”
Paijem tersenyum kecil.
“Tapi enggak semua orang kayak kamu.”
Kalimat itu membuat dada Paijo kembali hangat sekaligus nyeri.
Karena sekali lagi…
ia hanya menjadi ukuran kenyamanan.
Bukan seseorang yang dipilih untuk dicintai.
Malam harinya mereka duduk di Dermaga KP3 Kuala Kapuas.
Tempat paling banyak menyimpan kenangan mereka.
Lampu kapal memantul indah di permukaan sungai.
Angin malam terasa dingin.
Beberapa pedagang masih melayani pembeli.
Paijem memandang sungai lama sekali.
“Jo…”
“Hm?”
“Nanti kalau aku udah di Jawa… terus kamu punya pacar… jangan lupa kabarin aku ya.”
Paijo tersenyum hambar.
“Mungkin enggak bakal punya.”
Paijem langsung menoleh.
“Kenapa?”
“Enggak tahu.”
Paijem memperhatikannya cukup lama.
“Kamu sebenarnya aneh.”
Paijo tertawa kecil.
“Kenapa lagi?”
“Kamu baik… sabar… tapi enggak pernah dekat sama cewek.”
Paijo hampir saja mengatakan semuanya malam itu.
Hampir.
Namun ketika melihat wajah Paijem…
keberanian itu kembali hilang.
Dan seperti biasa…
ia hanya memilih diam.
Hari-hari terakhir itu juga mulai dipenuhi perasaan aneh di hati Paijem.
Entah kenapa…
ia mulai merasa sangat berat meninggalkan Paijo.
Padahal selama ini ia selalu menganggap lelaki itu seperti kakak sendiri.
Tempat aman.
Tempat nyaman.
Tempat pulang.
Namun kini…
ketika waktu perpisahan semakin dekat…
ia mulai sadar bahwa kehadiran Paijo ternyata terlalu penting dalam hidupnya.
Suatu sore hujan turun cukup deras.
Paijem datang ke rumah Paijo sambil membawa beberapa buku.
“Kamu ngapain hujan-hujan?”
“Bosen di rumah.”
Paijo tertawa kecil.
“Kamu enggak bisa diem memang.”
Paijem duduk di lantai kamar Paijo sambil melihat-lihat buku sekolah.
“Kamar kamu enggak berubah dari dulu.”
“Memang harus berubah?”
“Ya kali aja lebih rapi.”
“Kamu ngomel terus.”
Paijem tertawa kecil.
Suasana sederhana itu terasa begitu hangat.
Hujan turun di luar rumah.
Lampu kamar redup.
Dan mereka menghabiskan sore hanya dengan berbicara tentang hal-hal kecil.
Tentang masa kecil.
Tentang sekolah.
Tentang teman-teman lama.
Tentang sungai.
Tentang kota kecil yang sebentar lagi akan mereka tinggalkan—setidaknya bagi Paijem.
Menjelang magrib, Paijem tiba-tiba diam cukup lama.
Lalu berkata pelan:
“Jo…”
“Hm?”
“Nanti kalau aku pergi… kamu bakal sedih enggak?”
Pertanyaan itu membuat dada Paijo terasa sesak.
Namun ia mencoba tersenyum kecil.
“Ya sedih lah.”
“Seberapa sedih?”
Paijo memandang hujan di luar jendela.
Lalu menjawab sangat pelan:
“Mungkin sepi.”
Paijem menunduk.
Entah kenapa jawaban itu membuat hatinya ikut terasa berat.
Malam itu setelah Paijem pulang…
Paijo kembali membuka surat yang selama ini ia simpan.
Tangannya gemetar kecil.
Waktu terasa semakin sempit.
Tapi keberanian itu…
masih belum juga datang.
Padahal hari-hari mereka di Handel Sungai Beras kini tinggal menghitung waktu.
Dan tanpa mereka sadari…
masa paling indah dalam hidup mereka perlahan benar-benar akan berakhir.
BAB XIII
MALAM TERAKHIR DI KOTA KECIL
Hari keberangkatan keluarga Paijem semakin dekat.
Handel Sungai Beras perlahan mulai terasa berbeda bagi Paijo.
Gang-gang kecil yang dulu penuh tawa kini terasa lebih sunyi. Tepian sungai yang biasanya membuatnya tenang kini justru terasa menyakitkan. Bahkan suara kendaraan di Jalan Trans Kalimantan yang sejak kecil begitu akrab di telinganya kini terdengar seperti hitungan waktu yang terus berjalan menuju perpisahan.
Dan yang paling menyiksa…
ia masih belum mampu mengatakan apa yang sebenarnya ia rasakan.
Tiga hari sebelum keberangkatan, rumah keluarga Paijem semakin sibuk.
Kardus-kardus besar memenuhi ruang tamu. Lemari mulai kosong. Beberapa perabot sudah dibungkus rapi.
Tetangga datang silih berganti membantu.
Sementara Paijem terlihat lebih banyak diam.
Tak seceria biasanya.
Sore itu Paijo datang membantu mengangkat beberapa barang ke belakang rumah.
Ayah Paijem menepuk pundaknya pelan.
“Terima kasih ya, Jo. Dari kecil kamu selalu bantu Paijem.”
Paijo hanya tersenyum kecil.
“Iya, Pak.”
Namun di dalam hati…
kalimat itu terasa seperti pisau kecil.
Karena mungkin sebentar lagi…
ia tak lagi bisa membantu Paijem seperti dulu.
Menjelang malam, suasana rumah mulai lebih tenang.
Beberapa tetangga sudah pulang.
Angin malam bertiup lembut membawa aroma sungai.
Paijem duduk di tangga rumah sambil memeluk lututnya.
Paijo menghampiri lalu duduk di sampingnya.
“Capek?”
Paijem mengangguk pelan.
“Iya.”
Beberapa detik mereka diam.
Suara jangkrik terdengar samar dari semak-semak dekat handel.
Lampu kendaraan melintas panjang di kejauhan.
“Jo…”
“Hm?”
“Kamu inget enggak dulu kita sering main hujan di jalan sini?”
Paijo tersenyum kecil.
“Kamu paling sering dimarahin ibumu.”
Paijem tertawa kecil.
“Soalnya kamu suka ngajak aneh-aneh.”
“Kamu yang mau.”
Mereka tertawa pelan bersama.
Namun setelah itu…
sunyi kembali datang.
Dan kali ini terasa jauh lebih berat.
Paijem memandang jalan kecil di depan rumah cukup lama.
Lalu berkata pelan:
“Jo…”
“Hm?”
“Aku takut lupa suasana sini.”
Paijo menoleh perlahan.
“Enggak bakal lupa.”
“Yakin?”
“Kamu lahir di sini.”
Paijem tersenyum tipis.
“Tapi hidup kadang bikin orang berubah.”
Kalimat itu membuat Paijo diam.
Karena dalam hati…
ia juga takut.
Takut jika Paijem berubah.
Takut jika gadis itu menemukan dunia baru yang membuatnya melupakan semuanya di Kuala Kapuas.
Termasuk dirinya.
Malam berikutnya mereka pergi lagi ke Bundaran Besar Kuala Kapuas.
Mungkin untuk terakhir kalinya.
Kota kecil itu tampak indah malam itu.
Lampu taman menyala terang.
Pedagang kaki lima ramai seperti biasa.
Anak-anak muda berkumpul sambil bercanda dan bermain gitar.
Namun bagi Paijo…
malam itu terasa berbeda.
Segalanya terasa seperti kenangan yang sebentar lagi akan hilang.
Paijem berjalan pelan di sampingnya sambil memegang minuman dingin.
“Jo…”
“Hm?”
“Nanti kalau aku udah di Jawa… terus aku punya teman baru… kamu cemburu enggak?”
Paijo tertawa kecil hambar.
“Ngapain cemburu?”
Paijem memandangnya usil.
“Ya siapa tahu.”
Paijo hanya menggeleng kecil.
Namun dalam hati…
ia tahu jawabannya.
Ia bahkan sudah cemburu sejak dulu.
Mereka duduk di bangku taman favorit mereka.
Angin malam bertiup lembut.
Lampu kendaraan mengelilingi bundaran seperti aliran cahaya yang tak pernah berhenti.
Paijem tiba-tiba berkata pelan:
“Jo…”
“Hm?”
“Kalau aku enggak pindah… mungkin semuanya bakal tetap sama ya?”
Paijo memandang lampu taman lama sekali.
Lalu menjawab pelan:
“Mungkin.”
Paijem menunduk.
“Aku sebenarnya sedih…”
Untuk pertama kalinya suara gadis itu terdengar benar-benar rapuh.
Dan melihat itu…
hati Paijo semakin hancur.
Karena ia tahu…
ia tak bisa melakukan apa pun untuk menahan kepergian Paijem.
Malam semakin larut ketika mereka pulang.
Namun sebelum kembali ke rumah, Paijem tiba-tiba berkata:
“Jo, kita ke Dermaga KP3 sekali lagi yuk.”
Paijo mengangguk pelan.
Mereka pun menuju dermaga.
Dermaga KP3 malam itu cukup sepi.
Hanya beberapa pedagang kopi dan jagung bakar yang masih bertahan.
Lampu kapal memantul di permukaan Sungai Kapuas yang gelap dan tenang.
Angin sungai terasa dingin.
Paijem berdiri di tepi dermaga sambil memandang air.
“Indah ya…”
Paijo berdiri di sampingnya.
“Iya.”
Beberapa detik mereka hanya diam.
Lalu Paijem berkata sangat pelan:
“Jo…”
“Hm?”
“Kalau nanti aku jauh… kamu jangan lupa sama aku ya.”
Kalimat itu membuat dada Paijo kembali terasa sesak.
Namun kali ini…
ia tak ingin hanya menjawab pendek.
Ia memandang sungai cukup lama.
Lalu berkata perlahan:
“Aku enggak mungkin lupa.”
Paijem menoleh.
“Kenapa?”
Paijo terdiam.
Inilah momen yang selama ini selalu ia takutkan.
Dan mungkin…
ini kesempatan terakhirnya.
Tangannya mulai gemetar kecil.
Jantungnya berdetak sangat keras.
Ia hampir mengatakan semuanya.
Hampir.
Namun ketika melihat wajah Paijem yang menatapnya dengan tulus…
keberanian itu kembali runtuh.
Dan akhirnya ia hanya berkata:
“Karena kamu teman terbaik aku.”
Paijem tersenyum lembut.
Lalu tanpa sadar menyandarkan kepala pelan di bahu Paijo.
“Makasi ya, Jo…”
Dunia terasa berhenti malam itu.
Angin sungai.
Lampu kapal.
Suara air.
Semua seperti menghilang.
Yang tersisa hanya rasa hangat dari gadis yang sangat ia cintai…
namun tak pernah berhasil ia miliki.
Mereka pulang larut malam.
Sepanjang perjalanan menuju Handel Sungai Beras, tak banyak percakapan.
Mungkin karena keduanya sama-sama sadar…
waktu mereka hampir habis.
Sesampainya di depan rumah, Paijem tidak langsung turun dari motor.
Ia memandang Paijo cukup lama.
“Jo…”
“Hm?”
“Nanti kalau aku kangen… aku boleh telepon kamu kan?”
Paijo tersenyum kecil.
“Iya.”
Paijem tersenyum.
Lalu turun dari motor.
Namun sebelum masuk rumah…
ia kembali menoleh.
“Jo…”
“Hm?”
“Aku sayang kamu.”
Kalimat itu membuat jantung Paijo nyaris berhenti.
Namun sebelum ia sempat berharap terlalu jauh…
Paijem melanjutkan sambil tersenyum kecil:
“Sebagai kakak.”
Dan malam itu…
untuk pertama kalinya…
Paijo benar-benar merasakan bagaimana rasanya hati yang perlahan patah tanpa suara.
BAB XIV
PERPISAHAN DI UJUNG JALAN TRANS KALIMANTAN
Pagi keberangkatan itu akhirnya datang.
Langit Kuala Kapuas masih tampak pucat ketika suara kendaraan mulai terdengar di Jalan Trans Kalimantan. Udara subuh terasa dingin. Kabut tipis menggantung di sekitar Handel Sungai Beras.
Namun pagi itu…
tak ada lagi ketenangan bagi Paijo.
Sejak semalam ia hampir tidak tidur.
Bayangan tentang kepergian Paijem terus berputar di kepalanya seperti mimpi buruk yang tak kunjung selesai.
Dan kini…
hari yang paling ia takutkan benar-benar tiba.
Rumah keluarga Paijem sudah ramai sejak subuh.
Beberapa tetangga datang membantu menaikkan barang ke truk kecil yang akan membawa mereka menuju Banjarmasin sebelum melanjutkan perjalanan ke Jawa.
Kardus-kardus besar ditumpuk rapi.
Kasur digulung.
Kursi-kursi kayu diangkat satu per satu.
Suasana terasa sibuk.
Namun di tengah keramaian itu…
ada kesedihan yang menggantung di wajah banyak orang.
Karena keluarga Paijem termasuk keluarga yang cukup dekat dengan warga sekitar.
Dan semua tahu…
perpisahan seperti ini tidak mudah.
Paijo datang sejak pagi.
Ia membantu mengangkat barang tanpa banyak bicara.
Wajahnya terlihat lebih pucat dari biasanya.
Matanya sembab karena kurang tidur.
Namun ia terus berusaha terlihat biasa saja.
“Jo, bantu angkat kardus ini,” kata ayah Paijem.
“Iya, Pak.”
Ia mengangkat kardus itu ke bak truk sambil menahan dadanya yang terasa semakin sesak.
Di sudut halaman, Paijem berdiri diam memperhatikan rumahnya.
Rumah kayu sederhana tempat ia tumbuh sejak kecil.
Tempat penuh tawa.
Penuh kenangan.
Dan penuh cerita bersama Paijo.
Menjelang pukul delapan pagi, semua barang akhirnya selesai dimuat.
Beberapa tetangga mulai berpamitan.
Ibu-ibu memeluk ibu Paijem sambil menahan haru.
Anak-anak kecil berdiri bingung melihat suasana yang berbeda pagi itu.
Sementara Paijo…
hanya berdiri diam dekat pagar rumah.
Tak tahu harus bagaimana menghadapi semuanya.
Paijem perlahan menghampirinya.
Matanya terlihat sedikit merah.
“Jo…”
Paijo menoleh pelan.
“Hm?”
“Kamu marah enggak aku pergi?”
Paijo mencoba tersenyum kecil.
“Buat apa marah…”
Paijem menunduk.
“Aku sedih…”
Kalimat itu membuat hati Paijo terasa semakin runtuh.
Namun lagi-lagi…
ia memilih menyimpan semuanya sendiri.
Beberapa detik mereka hanya saling diam.
Suara mesin kendaraan terdengar dari jalan raya.
Angin pagi bertiup pelan.
Dan waktu terasa berjalan terlalu cepat.
Paijem lalu mengeluarkan sesuatu dari tas kecilnya.
Sebuah gelang benang sederhana berwarna hitam biru.
“Nih…”
Paijo menerimanya pelan.
“Buat apa?”
“Biar kamu enggak lupa sama aku.”
Tangan Paijo sedikit gemetar memegang gelang itu.
Hal kecil sederhana.
Namun terasa jauh lebih berharga daripada apa pun.
“Jo…”
“Hm?”
“Kamu jaga diri baik-baik ya.”
“Iya.”
“Jangan kebanyakan diem.”
Paijo tertawa kecil hambar.
“Kamu cerewet banget.”
Paijem ikut tertawa kecil.
Namun matanya perlahan mulai berkaca-kaca.
Saat itulah…
untuk pertama kalinya dalam hidupnya…
Paijo benar-benar ingin menghentikan waktu.
Ia ingin mengatakan semuanya.
Tentang cinta yang ia pendam bertahun-tahun.
Tentang rasa takut kehilangan.
Tentang surat yang masih tersimpan di kamarnya.
Tentang dirinya yang tak pernah benar-benar siap ditinggalkan.
Namun lidahnya terasa kelu.
Dan keberanian itu…
sekali lagi gagal muncul.
Ayah Paijem mulai memanggil dari dekat mobil.
“Jem, ayo.”
Paijem menarik napas panjang.
Lalu memandang Paijo sekali lagi.
“Jo…”
“Hm?”
“Makasih ya… buat semuanya.”
Kalimat sederhana itu terasa seperti pisau terakhir yang menghujam hati Paijo.
Karena ia tahu…
setelah hari ini…
semuanya tak akan pernah sama lagi.
Paijem tiba-tiba memeluk Paijo.
Singkat.
Namun cukup membuat dunia Paijo seperti berhenti berputar.
“Aku bakal kangen…”
bisik Paijem pelan.
Paijo memejamkan mata beberapa detik.
Dan dalam hati…
ia hampir menangis.
Namun ketika pelukan itu lepas…
yang tersisa hanyalah kenyataan.
Bahwa gadis itu benar-benar akan pergi.
Paijem masuk ke mobil.
Jendela perlahan terbuka.
Ia masih memandang Paijo dari dalam.
Sementara Paijo berdiri diam di halaman rumah.
Tak bergerak.
Tak bicara.
Hanya menatap kosong.
Mesin kendaraan mulai menyala.
Beberapa tetangga melambaikan tangan.
Dan perlahan…
mobil itu mulai bergerak meninggalkan Handel Sungai Beras.
Paijo tetap berdiri di tempat.
Memandang kendaraan itu menjauh perlahan menuju Jalan Trans Kalimantan.
Sampai akhirnya…
mobil itu benar-benar hilang dari pandangan.
Dan saat itulah…
sesuatu di dalam dirinya ikut pergi.
Hari terasa mendadak sunyi.
Terlalu sunyi.
Tak ada lagi suara Paijem memanggil namanya.
Tak ada lagi gadis cerewet yang datang tiba-tiba ke rumah.
Tak ada lagi teman berjalan ke Bundaran Besar.
Tak ada lagi tempat berbagi cerita setiap sore.
Yang tersisa hanyalah kenangan.
Dan kehampaan yang perlahan mulai menggerogoti hati seorang lelaki muda dari Handel Sungai Beras.
Sore harinya Paijo berjalan sendirian menuju Dermaga KP3.
Langit mendung.
Angin sungai terasa dingin.
Ia duduk di tempat biasa mereka dulu.
Memandang air sungai yang mengalir tanpa suara.
Dan untuk pertama kalinya…
air mata itu akhirnya jatuh.
Diam-diam.
Tanpa ada siapa pun yang melihat.
Malamnya Paijo masuk ke kamar lalu membuka kotak kecil tempat surat itu disimpan.
Surat yang tak pernah berhasil ia berikan.
Tangannya gemetar ketika membacanya ulang.
Dan kini…
semuanya terasa terlambat.
Sangat terlambat.
Karena perempuan yang menjadi isi seluruh hatinya…
sudah pergi jauh meninggalkan Kuala Kapuas.
Meninggalkan dirinya.
Dan meninggalkan cinta yang tak pernah sempat terucapkan.
BAB XV
SEPI YANG TINGGAL DI HANDEL SUNGAI BERAS
Hari-hari setelah kepergian Paijem berubah menjadi sesuatu yang sangat asing bagi Paijo.
Handel Sungai Beras masih sama seperti biasanya.
Jalan Trans Kalimantan tetap ramai oleh kendaraan besar yang melintas siang malam. Warung-warung kecil tetap buka sejak pagi. Anak-anak masih bermain di tepian sungai. Para jemaah pengajian masih sering singgah untuk beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan.
Namun bagi Paijo…
semua itu terasa kehilangan warna.
Karena untuk pertama kalinya sejak kecil…
ia benar-benar sendirian.
Pagi-pagi yang dulu terasa menyenangkan kini berubah menjadi sunyi.
Tak ada lagi suara Paijem memanggil dari depan rumah.
Tak ada lagi ajakan mendadak pergi ke Bundaran Besar.
Tak ada lagi gadis cerewet yang selalu memenuhi hari-harinya dengan cerita kecil yang kadang tidak penting.
Kini yang tersisa hanya kebiasaan lama yang perlahan berubah menjadi luka.
Suatu pagi ibu Paijo memandang anaknya yang duduk diam di tangga rumah sejak selesai subuh.
“Kamu belum mandi?”
Paijo menggeleng kecil.
“Belum.”
“Kamu sakit?”
“Enggak.”
Ibunya menghela napas pelan.
Sejak Paijem pergi, ia melihat perubahan besar pada anak lelakinya.
Paijo menjadi lebih pendiam dari biasanya.
Lebih sering melamun.
Lebih sering keluar malam sendirian.
Dan lebih sering menatap jalan raya seolah sedang menunggu seseorang kembali.
“Jo…”
“Hm?”
“Kalau sedih jangan dipendam terus.”
Paijo tersenyum kecil hambar.
“Aku enggak apa-apa, Buk.”
Namun ibunya tahu…
anaknya sedang hancur.
Hari-hari sekolah pun terasa berat.
Paijo yang biasanya masih bisa tertawa kecil bersama teman-temannya kini lebih banyak diam.
Bahkan beberapa sahabatnya mulai menyadari perubahan itu.
Suatu siang selepas sekolah, Joko dan Udin menghampirinya di warung dekat jalan handel.
“Jo, kamu kenapa sih akhir-akhir ini?”
“Enggak kenapa-kenapa.”
“Bohong.”
Paijo hanya tersenyum tipis.
Udin menatapnya serius.
“Karena Paijem ya?”
Pertanyaan itu membuat Paijo langsung diam.
Dan diamnya…
sudah cukup menjadi jawaban.
Joko menghela napas panjang.
“Kami sebenarnya udah tahu dari dulu.”
Paijo menoleh pelan.
“Tahu apa?”
“Kalau kamu suka sama Paijem.”
Jantung Paijo terasa berdegup keras.
Namun Joko melanjutkan dengan santai.
“Cuma kamu terlalu pendiam.”
Udin ikut tertawa kecil.
“Orang satu kampung juga tahu kali.”
Paijo menunduk sambil tersenyum pahit.
“Dia enggak tahu.”
“Karena kamu enggak pernah ngomong.”
Kalimat itu terasa begitu menusuk.
Karena memang itulah kenyataannya.
Ia terlalu takut kehilangan sampai akhirnya benar-benar kehilangan.
Sore itu setelah pulang sekolah, Paijo berjalan sendirian menuju Bundaran Besar.
Langit terlihat mendung.
Beberapa anak muda masih berkumpul di taman seperti biasa.
Namun tempat itu kini terasa sangat berbeda.
Setiap sudut selalu mengingatkannya pada Paijem.
Bangku taman tempat mereka duduk bersama.
Pedagang es tempat mereka sering bercanda.
Lampu taman yang dulu terasa hangat kini justru terasa dingin.
Paijo duduk cukup lama di bangku favorit mereka.
Dan tanpa sadar…
bayangan Paijem kembali muncul jelas di pelupuk matanya.
Tawanya.
Celotehnya.
Cara gadis itu memanggil namanya.
Semuanya terasa masih hidup.
“Jo!”
Suara itu tiba-tiba terdengar di kepalanya.
Paijo langsung menoleh refleks.
Namun tak ada siapa pun.
Ia hanya tersenyum kecil pahit.
Dan saat itulah ia mulai sadar…
rindu ternyata bisa membuat seseorang perlahan kehilangan dirinya sendiri.
Malam harinya hujan turun cukup deras.
Paijo duduk di kamar sambil memegang gelang pemberian Paijem.
Gelang hitam biru sederhana itu kini menjadi benda paling berharga yang ia miliki.
Ia memejamkan mata perlahan.
Dan kenangan demi kenangan mulai kembali memenuhi pikirannya.
Tentang masa kecil mereka di tepian sungai.
Tentang hujan di Dermaga KP3.
Tentang Car Free Day di stadion.
Tentang Paijem yang selalu cerewet sepanjang jalan.
Tentang pelukan terakhir pagi keberangkatan itu.
Semua terasa begitu dekat.
Namun begitu jauh untuk kembali.
Hari-hari terus berjalan.
Namun luka di hati Paijo justru semakin dalam.
Ia mulai sering berjalan malam sendirian menyusuri jalan handel.
Kadang duduk di dermaga sampai larut.
Kadang memandang kendaraan yang menuju arah Banjarmasin sambil membayangkan Paijem berada jauh di pulau seberang sana.
Dan di saat-saat seperti itu…
ia mulai membenci dirinya sendiri.
Membenci ketakutannya.
Membenci keberaniannya yang tak pernah datang.
Suatu malam ia membuka surat yang selama ini disimpan.
Tangannya gemetar kecil.
Lalu untuk pertama kalinya…
ia membaca surat itu keras-keras sendirian.
"Jem…
Aku enggak tahu harus mulai dari mana.
Aku cuma pengen bilang kalau selama ini kamu itu orang paling penting dalam hidupku."
Suara Paijo mulai bergetar.
"Aku selalu senang kalau sama kamu.
Aku selalu takut kehilangan kamu.
Dan mungkin… aku sebenarnya cinta sama kamu."
Kalimat terakhir itu akhirnya keluar.
Namun terlambat.
Sangat terlambat.
Karena orang yang seharusnya mendengarnya kini sudah pergi jauh.
Paijo menunduk sambil menangis diam-diam malam itu.
Tangannya menggenggam surat itu erat.
Dan untuk pertama kalinya…
ia benar-benar mengakui isi hatinya sendiri.
Bahwa Paijem bukan sekadar sahabat.
Bukan sekadar teman masa kecil.
Melainkan cinta pertama yang telah tumbuh terlalu dalam di hidupnya.
Hari demi hari berlalu.
Kelulusan SMA akhirnya tiba.
Teman-temannya mulai sibuk memikirkan masa depan.
Ada yang ingin kuliah.
Ada yang merantau.
Ada yang membantu orang tua bekerja.
Sedangkan Paijo…
masih terjebak dalam kesepian yang belum selesai.
Suatu sore Joko datang menemuinya di bengkel kecil dekat handel.
“Jo.”
“Hm?”
“Kamu mau sampai kapan begini terus?”
Paijo diam.
“Dia udah pergi.”
“Aku tahu.”
“Terus?”
Paijo menunduk.
“Aku cuma belum biasa.”
Joko menghela napas panjang.
“Hidup harus jalan.”
Kalimat sederhana itu terdengar sangat berat bagi Paijo.
Karena kadang…
yang paling sulit bukan melupakan seseorang.
Melainkan menerima bahwa hidup memang harus terus berjalan tanpa dirinya.
Malam itu Paijo kembali pergi ke Dermaga KP3.
Tempat yang kini menjadi pelarian setiap kali rindunya terlalu sesak.
Langit terlihat gelap.
Lampu kapal memantul di permukaan Sungai Kapuas.
Angin malam bertiup dingin.
Paijo duduk sendiri sambil memandang sungai lama sekali.
Dan dalam hati…
ia mulai memahami satu hal:
Bahwa tidak semua cinta ditakdirkan untuk dimiliki.
Ada cinta yang hanya datang untuk meninggalkan kenangan.
Ada cinta yang tumbuh terlalu diam sampai akhirnya hilang bersama waktu.
Dan ada luka…
yang tetap hidup bahkan ketika seseorang telah pergi sangat jauh.
Di dermaga itu…
seorang pemuda dari Handel Sungai Beras perlahan memasuki fase baru dalam hidupnya:
fase kehilangan yang akan membentuk seluruh jalan takdirnya di masa depan.
BAB XVI
MERANTAU KE BANJARMASIN
Kelulusan SMA akhirnya datang seperti sesuatu yang berjalan terlalu cepat.
Hari itu halaman SMAN 1 Kuala Kapuas dipenuhi siswa-siswi yang sibuk berfoto bersama teman-teman mereka. Tawa terdengar di mana-mana. Beberapa saling mencoret seragam. Ada yang menangis karena harus berpisah. Ada pula yang sibuk membicarakan rencana masa depan.
Namun di tengah keramaian itu…
Paijo justru merasa semakin kosong.
Karena orang yang paling ingin ia temui di hari kelulusan itu sudah tidak ada di Kuala Kapuas.
“Jo! Foto dulu!”
Joko menarik lengannya.
Paijo tersenyum kecil lalu berdiri bersama teman-temannya.
Kamera sederhana memotret mereka di bawah panas matahari siang.
Namun bahkan ketika tersenyum…
hati Paijo tetap terasa sepi.
Matanya sesekali memandang keramaian sekolah.
Seolah berharap Paijem tiba-tiba muncul sambil tertawa seperti dulu.
Padahal ia tahu…
itu tak mungkin terjadi.
Selepas acara kelulusan, kehidupan mulai bergerak ke arah yang berbeda bagi anak-anak seusia mereka.
Beberapa teman Paijo memutuskan kuliah ke Palangka Raya atau Banjarmasin.
Sebagian lagi membantu usaha keluarga.
Sedangkan Paijo…
memilih bekerja.
Bukan karena tidak ingin kuliah.
Namun keadaan ekonomi keluarganya memang tidak memungkinkan.
Ayahnya semakin jarang mendapat pekerjaan tetap.
Warung ibunya juga hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari.
Dan sebagai anak lelaki tertua…
Paijo merasa harus membantu keluarga.
Suatu malam selepas makan, ayahnya berbicara pelan.
“Jo…”
“Hm?”
“Kamu yakin enggak mau kuliah?”
Paijo menunduk sebentar.
“Belum bisa, Pak.”
Ayahnya menghela napas kecil.
“Sebenarnya bapak pengen kamu sekolah tinggi.”
Paijo tersenyum tipis.
“Nanti kalau ada rezeki.”
Namun dalam hati…
Paijo tahu dirinya memang harus segera bekerja.
Mungkin dengan bekerja…
ia bisa sedikit melupakan luka yang masih tinggal di hatinya.
Beberapa minggu kemudian datang kabar dari seorang kenalan ayahnya di Banjarmasin.
Sebuah bengkel motor di Jalan A. Yani sedang mencari tenaga kerja muda.
Meski gajinya tidak besar…
setidaknya ada pekerjaan tetap.
Dan tanpa banyak berpikir panjang…
Paijo menerima tawaran itu.
Pagi keberangkatan menuju Banjarmasin terasa berbeda.
Ibunya sibuk menyiapkan pakaian dan bekal sederhana.
Sementara ayahnya membantu mengikat tas besar di atas mobil travel.
“Kamu jaga diri baik-baik di kota orang,” pesan ibunya.
“Iya, Buk.”
“Jangan lupa salat.”
Paijo tersenyum kecil.
“Iya.”
Namun di balik semua itu…
ada satu hal yang sebenarnya terus mengganggu pikirannya.
Banjarmasin adalah kota yang jauh lebih besar.
Lebih ramai.
Lebih asing.
Dan ia akan pergi sendirian.
Mobil travel mulai bergerak meninggalkan Kuala Kapuas.
Paijo duduk dekat jendela sambil memandang jalan yang perlahan menjauh.
Ia melihat Handel Sungai Beras untuk terakhir kali pagi itu.
Warung-warung kecil.
Gang-gang sempit.
Jalan trans yang ramai.
Dan sungai yang sejak kecil menjadi bagian hidupnya.
Semuanya perlahan tertinggal di belakang.
Termasuk semua kenangan tentang Paijem.
Atau setidaknya…
ia mencoba meyakinkan dirinya begitu.
Perjalanan menuju Banjarmasin terasa panjang.
Sepanjang jalan, Paijo lebih banyak diam.
Sesekali ia melihat hutan-hutan Kalimantan membentang luas di sisi jalan.
Truk-truk besar melintas membawa muatan hasil bumi.
Bus antarkota berhenti di beberapa rumah makan sederhana.
Namun pikirannya tetap dipenuhi hal yang sama:
Paijem.
Entah sedang apa gadis itu di Jawa sana.
Apakah ia sudah punya banyak teman baru?
Apakah ia masih mengingat dirinya?
Ataukah Kuala Kapuas sudah mulai menjadi masa lalu baginya?
Menjelang sore, mereka akhirnya tiba di Banjarmasin.
Kota itu terasa sangat berbeda dibanding Kuala Kapuas.
Lebih padat.
Lebih panas.
Dan jauh lebih sibuk.
Motor dan mobil memenuhi jalan raya.
Pedagang kaki lima berjajar di mana-mana.
Suara klakson bercampur hiruk-pikuk kota membuat Paijo sedikit gugup.
Bengkel tempatnya bekerja berada di pinggir Jalan A. Yani.
Tidak terlalu besar.
Namun cukup ramai pelanggan.
Pemilik bengkel itu bernama Pak Hadi.
Lelaki paruh baya yang dikenal tegas namun baik hati.
“Kamu Paijo?”
“Iya, Pak.”
Pak Hadi memperhatikan tubuh kurus Paijo sebentar.
“Pernah kerja bengkel?”
“Sedikit-sedikit.”
“Yang penting mau belajar.”
Paijo mengangguk.
Dan sejak hari itulah…
kehidupan barunya dimulai.
Hari-hari awal di bengkel terasa berat.
Paijo harus bangun sangat pagi.
Membersihkan bengkel.
Mengangkat ban.
Melayani pelanggan.
Belajar membongkar mesin motor.
Kadang tangannya luka terkena oli panas atau baut tajam.
Namun ia jarang mengeluh.
Karena bekerja membuat pikirannya sedikit lebih sibuk.
Sedikit lebih jauh dari rasa sepi.
Malam hari ia tinggal di kamar kecil belakang bengkel bersama dua pekerja lain.
Kamarnya sempit.
Hanya ada kasur tipis, kipas angin tua, dan lemari kecil.
Namun bagi Paijo…
itu sudah cukup.
Meski begitu…
rasa rindu tetap datang.
Terutama saat malam.
Ketika suasana mulai sunyi.
Ketika pekerjaan selesai.
Dan ketika ia akhirnya sendirian bersama pikirannya sendiri.
Suatu malam hujan turun deras di Banjarmasin.
Paijo duduk dekat pintu belakang bengkel sambil memandangi jalan yang basah.
Lampu kendaraan memantul di aspal.
Suasana itu mendadak mengingatkannya pada malam-malam hujan bersama Paijem di Kuala Kapuas.
Dan tanpa sadar…
bayangan gadis itu kembali muncul jelas di pelupuk matanya.
Tawanya.
Suara cerewetnya.
Cara memanggil namanya.
Semuanya terasa masih hidup.
“Belum tidur, Jo?”
Suara Pak Hadi membuatnya tersadar.
“Belum, Pak.”
Pak Hadi duduk di sampingnya sambil menyalakan rokok.
“Kamu sering melamun.”
Paijo tersenyum kecil.
“Biasa.”
Pak Hadi tertawa pelan.
“Karena perempuan?”
Paijo sedikit terkejut.
Namun akhirnya hanya tersenyum tipis.
“Mungkin.”
Pak Hadi mengangguk kecil seolah mengerti.
“Namanya juga anak muda.”
Malam semakin larut.
Hujan masih turun di luar bengkel.
Dan di tengah kota besar bernama Banjarmasin…
seorang pemuda dari Handel Sungai Beras mulai menjalani hidup baru.
Namun sejauh apa pun ia merantau…
ada satu hal yang tetap tinggal di dalam hatinya:
cinta pertama yang tak pernah benar-benar pergi.
BAB XVII
WAJAH YANG MIRIP PAIJEM
Hari-hari Paijo di Banjarmasin perlahan mulai terbiasa dengan ritme kehidupan kota.
Pagi-pagi di Jalan A. Yani selalu ramai oleh kendaraan yang berlalu lalang tanpa henti. Suara knalpot motor, klakson angkot, dan teriakan pedagang menjadi suara yang setiap hari memenuhi telinganya.
Berbeda dengan Kuala Kapuas yang lebih tenang…
Banjarmasin terasa seperti kota yang tak pernah benar-benar tidur.
Dan di tengah hiruk-pikuk itu…
Paijo berusaha bertahan.
Sudah hampir dua tahun ia bekerja di bengkel Pak Hadi.
Tangannya kini mulai mahir membongkar mesin motor. Tubuhnya juga tampak lebih kuat dibanding dulu ketika baru datang dari Handel Sungai Beras.
Beberapa pelanggan bahkan mulai mengenalnya.
“Jo, motor saya bunyi lagi nih.”
“Iya, Pak. Coba saya lihat dulu.”
Paijo bekerja dengan teliti.
Pendiam.
Namun ramah.
Persis seperti sifatnya sejak dulu.
Meski hidupnya mulai berjalan lebih baik…
ada satu hal yang tak pernah benar-benar berubah.
Rindu itu masih ada.
Kadang datang tiba-tiba tanpa alasan.
Kadang muncul saat malam terlalu sepi.
Kadang muncul hanya karena melihat hujan turun di jalan raya.
Dan kadang…
muncul karena wajah seseorang.
Sore itu matahari mulai turun ketika Paijo sedang mengganti oli motor pelanggan di depan bengkel.
Lalu sebuah sepeda melintas pelan di depan jalan.
Paijo mendadak berhenti bergerak.
Matanya mengikuti sosok itu.
Seorang gadis remaja SMP dengan rambut panjang diikat sederhana sedang mengayuh sepeda sambil membawa tas sekolah.
Dan wajah gadis itu…
membuat dada Paijo langsung berdebar keras.
Mirip Paijem.
Sangat mirip.
Paijo berdiri mematung beberapa detik.
Bahkan baut di tangannya hampir jatuh.
“Jo! Bengong ngapain?”
Suara teman kerjanya membuatnya tersadar.
“Iya… bentar.”
Namun matanya masih mengikuti gadis itu sampai menghilang di ujung jalan.
Dan sejak hari itu…
hidupnya kembali berubah.
Entah kebetulan atau tidak…
gadis itu ternyata sering melewati depan bengkel setiap sore sepulang sekolah.
Kadang naik sepeda.
Kadang dibonceng temannya.
Kadang berjalan kaki sambil tertawa kecil bersama beberapa teman perempuan lain.
Dan setiap kali melihatnya…
Paijo selalu terdiam.
Karena wajah itu terlalu mengingatkannya pada Paijem.
Bukan hanya wajahnya.
Tapi juga caranya tertawa.
Cara mengikat rambut.
Bahkan cara menoleh.
Semuanya membuat kenangan lama kembali hidup.
“Jo…”
Pak Hadi yang sedang duduk dekat meja kasir memperhatikan tingkahnya.
“Hm?”
“Kamu tiap sore lihat jalan terus.”
Paijo tersenyum kecil kikuk.
“Enggak kok.”
Pak Hadi tertawa pelan.
“Karena cewek itu ya?”
Paijo langsung salah tingkah.
Namun Pak Hadi hanya tersenyum kecil.
“Masih muda memang begitu.”
Hari-hari berikutnya Paijo mulai tanpa sadar menunggu jam pulang sekolah.
Setiap sore ia akan berdiri sedikit lebih lama di depan bengkel.
Berpura-pura membersihkan motor.
Padahal sebenarnya menunggu gadis itu lewat.
Dan setiap kali gadis itu muncul…
hatinya selalu terasa aneh.
Seolah sebagian kecil dari masa lalunya kembali hadir di depan mata.
Namun Paijo tak pernah berani menyapa.
Tak pernah mencoba berkenalan.
Karena dalam pikirannya…
gadis itu bukan Paijem.
Dan mungkin dirinya hanya terlalu kesepian sampai melihat bayangan cinta pertamanya di wajah orang lain.
Suatu sore hujan turun mendadak.
Jalan A. Yani langsung ramai oleh kendaraan yang berteduh di pinggir jalan.
Paijo sedang menarik motor ke dalam bengkel ketika ia melihat gadis itu berhenti tepat di depan bengkel sambil memayungi tas sekolahnya.
Bajunya sedikit basah.
Rambutnya menempel di pipi.
Dan lagi-lagi…
bayangan Paijem langsung memenuhi kepala Paijo.
Pak Hadi memanggil dari dalam.
“Suruh berteduh aja!”
Paijo ragu beberapa detik.
Namun akhirnya memberanikan diri mendekat.
“Mbak… kalau mau berteduh enggak apa-apa.”
Gadis itu menoleh lalu tersenyum kecil.
“Iya… hujannya gede banget.”
Suara itu berbeda dari Paijem.
Namun tetap membuat hati Paijo bergetar aneh.
Gadis itu duduk di bangku depan bengkel sambil merapikan rambutnya yang basah.
Paijo kembali bekerja.
Namun sesekali matanya mencuri pandang.
“Mas kerja di sini?” tanya gadis itu pelan.
“Iya.”
“Ramai ya.”
“Lumayan.”
Hanya percakapan sederhana.
Namun entah kenapa…
Paijo merasa gugup.
Sudah lama sekali ia tidak berbicara santai dengan perempuan selain pelanggan bengkel.
Tak lama kemudian hujan mulai reda.
Gadis itu berdiri sambil membawa sepedanya.
“Makasih ya.”
“Iya.”
Sebelum pergi, gadis itu sempat tersenyum kecil.
Dan senyum itu…
kembali membuat dada Paijo terasa sesak oleh kenangan.
Malam harinya Paijo duduk sendiri di belakang bengkel.
Hujan masih menyisakan udara dingin.
Ia memandangi langit kota Banjarmasin sambil mengingat wajah gadis tadi.
Dan tanpa sadar…
ia mulai membandingkan semuanya dengan Paijem.
“Gila…”
gumamnya pelan.
Ia sadar dirinya masih belum benar-benar bisa melepaskan masa lalu.
Hari demi hari berlalu.
Dan seperti kebiasaan baru yang tak pernah ia akui…
Paijo selalu menunggu gadis itu lewat setiap sore.
Meski hanya beberapa detik.
Meski tanpa bicara.
Karena setidaknya…
wajah itu mampu sedikit mengobati rindunya pada seseorang yang sangat jauh di pulau seberang sana.
Namun jauh di dalam hati…
Paijo tahu satu hal:
Dirinya bukan sedang jatuh cinta pada gadis itu.
Ia hanya sedang merindukan Paijem terlalu dalam.
Sampai bayangan gadis itu terus ia cari di wajah orang lain.
BAB XVIII
RINDU YANG TAK PERNAH PULANG
Waktu berjalan begitu cepat di Banjarmasin.
Tanpa terasa hampir lima tahun Paijo bekerja di bengkel Pak Hadi di Jalan A. Yani. Kehidupan kota yang dulu terasa asing kini mulai menjadi rutinitas yang biasa baginya.
Pagi membuka bengkel.
Siang sibuk melayani pelanggan.
Malam membersihkan peralatan lalu beristirahat di kamar kecil belakang bengkel.
Begitulah hidupnya berjalan dari hari ke hari.
Sederhana.
Monoton.
Namun di balik kesibukan itu…
ada satu hal yang tetap tidak berubah.
Paijem.
Rasa itu ternyata tidak ikut hilang bersama waktu.
Justru semakin dewasa…
kenangan tentang Paijem semakin terasa nyata.
Kadang muncul saat melihat hujan.
Kadang muncul saat mendengar lagu lama dari radio bengkel.
Kadang muncul begitu saja ketika malam terlalu sepi.
Dan yang paling menyakitkan…
Paijo mulai sadar bahwa dirinya belum pernah benar-benar membuka hati untuk perempuan lain.
“Jo, kamu enggak punya pacar?”
Pertanyaan itu sudah terlalu sering ia dengar.
Pelanggan bengkel.
Teman kerja.
Bahkan Pak Hadi.
Namun jawabannya selalu sama.
“Belum ada.”
Padahal sebenarnya…
bukan tidak ada kesempatan.
Beberapa kali ada perempuan yang mencoba dekat dengannya.
Ada pelanggan yang sering datang hanya untuk mengobrol.
Ada anak warung makan dekat bengkel yang tampak menaruh perhatian.
Bahkan Pak Hadi pernah beberapa kali mencoba mengenalkannya dengan anak kenalan.
Namun semuanya tak pernah berjalan jauh.
Karena hati Paijo…
masih tertinggal di Kuala Kapuas.
Sore itu langit Banjarmasin mendung.
Paijo sedang memperbaiki motor di depan bengkel ketika gadis mirip Paijem itu kembali lewat.
Namun kali ini tidak lagi memakai seragam SMP.
Ia sudah memakai seragam SMA.
Waktu ternyata berjalan begitu cepat.
Gadis itu sempat melirik ke arah bengkel lalu tersenyum kecil.
Dan seperti biasa…
Paijo hanya membalas dengan anggukan pelan.
Mereka tetap asing.
Tak pernah benar-benar saling mengenal.
Namun kehadiran gadis itu sudah menjadi bagian dari rutinitas sore Paijo.
“Jo…”
Pak Hadi yang sedang merokok di depan bengkel tersenyum kecil.
“Hm?”
“Kamu suka sama anak itu?”
Paijo langsung menggeleng cepat.
“Enggak.”
“Bohong.”
Paijo tertawa kecil hambar.
“Dia cuma mirip seseorang.”
Pak Hadi memandangnya beberapa detik.
“Mantan?”
Paijo diam cukup lama.
Lalu menjawab pelan:
“Bukan.”
“Terus?”
Paijo menunduk.
“Orang yang enggak pernah jadi milik saya.”
Pak Hadi terdiam.
Untuk pertama kalinya ia melihat luka yang selama ini disembunyikan lelaki muda itu.
Malam harinya hujan turun deras.
Paijo duduk di belakang bengkel sambil memegang gelang hitam biru pemberian Paijem.
Gelang itu sudah mulai kusam dimakan usia.
Namun ia masih menyimpannya dengan baik.
Sama seperti perasaannya.
Masih utuh.
Masih tinggal.
Meski seharusnya mungkin sudah lama pergi.
Ia membuka kotak kecil tempat surat lama itu disimpan.
Kertasnya mulai menguning.
Tulisan tangannya terlihat sedikit pudar.
Namun setiap kalimat di dalamnya masih terasa sama menyakitkannya.
"Aku selalu takut kehilangan kamu…"
Paijo menutup mata perlahan.
Dan malam itu…
untuk pertama kalinya ia mulai bertanya pada dirinya sendiri:
Apa Paijem masih mengingatnya?
Di tempat yang jauh…
di kota Kendal yang bahkan belum pernah ia datangi…
apakah Paijem masih sesekali mengingat Handel Sungai Beras?
Apakah gadis itu masih ingat Bundaran Besar?
Masih ingat Dermaga KP3?
Masih ingat dirinya?
Ataukah semua itu sudah tenggelam bersama kehidupan barunya di Jawa?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus menghantui Paijo selama bertahun-tahun.
Namun ia tak pernah punya keberanian mencari kabar.
Karena hidup saat itu belum seperti sekarang.
Belum ada media sosial.
Belum ada telepon genggam canggih.
Hubungan jarak jauh mudah sekali hilang dimakan waktu.
Dan akhirnya…
mereka benar-benar terputus.
Tanpa kabar.
Tanpa pesan.
Tanpa tahu bagaimana kehidupan satu sama lain.
Suatu malam selepas isya, Paijo pulang agak terlambat dari bengkel.
Jalan A. Yani masih cukup ramai.
Lampu kota memantul di aspal yang basah karena hujan sore tadi.
Saat melewati sebuah warung kopi kecil, ia melihat beberapa pemuda tertawa bersama pasangan mereka.
Dan entah kenapa…
hatinya mendadak terasa sangat kosong.
Untuk pertama kalinya dalam hidup…
ia benar-benar merasa kesepian.
Bukan kesepian karena jauh dari keluarga.
Melainkan kesepian karena tidak punya seseorang untuk berbagi hidup.
Sesampainya di bengkel, ia duduk lama di depan kamar kecilnya.
Teman-temannya sudah tidur.
Suasana sunyi.
Dan di tengah kesunyian itu…
bayangan Paijem kembali datang.
Kali ini lebih jelas dari biasanya.
Tawa gadis itu.
Cara cerewetnya.
Cara memarahinya saat jahil.
Cara menyandarkan kepala di bahunya malam terakhir di Dermaga KP3.
Semuanya terasa hidup.
Dan justru itulah yang paling menyakitkan.
Karena kenangan itu terlalu indah untuk dilupakan.
Namun terlalu jauh untuk kembali.
Beberapa hari kemudian, Pak Hadi tiba-tiba berkata saat mereka sedang makan malam di bengkel.
“Jo.”
“Hm?”
“Kamu enggak mungkin hidup sendiri terus.”
Paijo tersenyum kecil.
“Masih nyaman sendiri.”
Pak Hadi menggeleng pelan.
“Bukan soal nyaman.”
Paijo diam.
Lalu Pak Hadi kembali berkata:
“Kadang manusia itu butuh seseorang buat pulang.”
Kalimat sederhana itu terasa begitu dalam bagi Paijo.
Karena ia sadar…
selama ini dirinya memang belum pernah benar-benar pulang dari rasa kehilangan.
Malam semakin larut.
Kota Banjarmasin mulai sunyi.
Dan di dalam hati seorang lelaki dari Handel Sungai Beras…
rindu itu ternyata masih tetap hidup.
Rindu yang tak pernah selesai.
Rindu yang tak pernah benar-benar pulang.
BAB XIX
PAINEM DATANG MEMBAWA TAKDIR
Musim hujan mulai sering turun di Banjarmasin ketika kehidupan Paijo perlahan memasuki fase baru yang tak pernah ia duga sebelumnya.
Hari-harinya di bengkel tetap berjalan seperti biasa.
Pagi membuka bengkel.
Siang berkutat dengan oli dan mesin.
Malam duduk sendiri ditemani kopi hitam dan kenangan lama.
Namun tanpa ia sadari…
takdir sedang bergerak pelan mendekati hidupnya.
Dan nama takdir itu adalah:
Painem.
Sore itu bengkel Pak Hadi cukup ramai.
Beberapa motor antre diperbaiki.
Suara kunci pas dan mesin bercampur dengan suara hujan rintik di luar bengkel.
Paijo sedang sibuk membongkar karburator ketika seorang perempuan paruh baya datang dari rumah sebelah bengkel.
Namanya Bu Ramlah.
Tetangga lama Pak Hadi.
“Pak Hadi ada?”
“Ada, Bu,” jawab Paijo sambil berdiri.
Tak lama kemudian Pak Hadi keluar dari ruang kecil dekat kasir.
“Eh Bu Ramlah, silakan masuk.”
Perempuan itu tampak sedikit kebingungan.
“Pak, saya mau minta tolong sebenarnya.”
“Apa tuh?”
“Saya lagi cari pembantu rumah tangga. Yang bisa bantu bersih-bersih sama jagain rumah.”
Pak Hadi mengangguk kecil.
“Tapi sekarang susah nyari orang.”
“Iya itu dia.”
Percakapan mereka sebenarnya biasa saja.
Namun entah kenapa…
kalimat itu membuat Paijo teringat seseorang di kampung.
Malam harinya saat semua pekerjaan selesai, Paijo masih memikirkan hal itu.
Dan tiba-tiba nama itu muncul di kepalanya:
Painem.
Perempuan dari Handel Sungai Beras yang beberapa kali ia kenal lewat kegiatan warga kampung dulu.
Usianya lebih muda setahun darinya.
Cerewet.
Bawel.
Kadang galak.
Namun dikenal rajin bekerja.
Dan yang paling diingat Paijo…
Painem adalah perempuan yang sangat kuat menghadapi hidup.
Keesokan harinya Pak Hadi kembali bertanya.
“Jo, kamu katanya orang Kapuas banyak kenalan?”
“Lumayan.”
“Ada enggak yang mau kerja di rumah orang?”
Paijo terdiam sebentar.
“Mungkin ada.”
“Kalau ada, kabarin ya.”
Paijo mengangguk kecil.
Dan tanpa sadar…
langkah kecil menuju perubahan besar hidupnya mulai dimulai hari itu.
Beberapa minggu kemudian Paijo memutuskan pulang sebentar ke Handel Sungai Beras.
Alasannya sederhana.
Mencari orang yang bersedia bekerja di Banjarmasin.
Namun jauh di dalam hati…
mungkin ia juga sedang rindu kampung halaman.
Perjalanan menuju Kuala Kapuas membuat banyak kenangan kembali bermunculan.
Jalan Trans Kalimantan yang dulu sering ia lewati bersama Paijem masih sama seperti dulu.
Warung-warung pinggir jalan masih ramai.
Bus antarkota masih lalu lalang.
Dan aroma khas tanah Kalimantan setelah hujan masih terasa sangat akrab.
Namun kini…
Paijo pulang sebagai lelaki dewasa.
Bukan lagi remaja SMA yang hatinya patah karena cinta pertama.
Sesampainya di Handel Sungai Beras, ibunya langsung memeluknya erat.
“Kurus lagi kamu.”
Paijo tertawa kecil.
“Biasa kerja bengkel.”
Ayahnya tampak senang melihat anak lelakinya pulang.
Malam itu rumah kecil mereka terasa lebih hangat dari biasanya.
Keesokan harinya Paijo mulai mencari kabar beberapa orang kampung yang mungkin mau bekerja di Banjarmasin.
Namun sebagian besar menolak.
Ada yang tak diizinkan keluarga.
Ada yang takut merantau.
Ada pula yang sudah bekerja.
Sampai akhirnya…
ia bertemu Painem.
Sore itu Painem sedang mencuci pakaian di samping rumah kayu sederhana milik keluarganya.
Ketika melihat Paijo datang, perempuan itu langsung menyeringai kecil.
“Wah… Mas Paijo sekarang orang kota.”
Paijo tertawa kecil.
“Apanya orang kota.”
Painem masih seperti dulu.
Bicara cepat.
Nada suaranya ceplas-ceplos.
Dan matanya terlihat tajam namun hangat.
“Dengar-dengar kerja di Banjarmasin?”
“Iya.”
“Betah?”
“Lumayan.”
Painem duduk di kursi kayu sambil mengelap tangan.
“Ngapain pulang?”
“Ada perlu.”
“Perlu apa?”
Paijo menggaruk kepala pelan.
“Nyari orang kerja.”
Painem langsung tertarik.
“Kerja apa?”
“Asisten rumah tangga.”
Painem diam beberapa detik.
Lalu bertanya pelan:
“Gajinya lumayan?”
Paijo tertawa kecil.
“Lumayan buat orang kampung.”
Painem menunduk sebentar seperti berpikir.
Lalu berkata:
“Aku mau.”
Jawaban itu membuat Paijo sedikit terkejut.
“Serius?”
Painem mengangguk.
“Aku pengen bantu ekonomi keluarga juga.”
Dari situlah semuanya mulai berubah.
Hari-hari berikutnya Paijo membantu mengurus keberangkatan Painem ke Banjarmasin.
Dan semakin sering mereka berbicara…
Paijo mulai mengenal sisi lain perempuan itu.
Painem ternyata pekerja keras.
Mandiri.
Tidak gampang menyerah.
Meski sifatnya cerewet dan mudah marah…
ia punya hati yang tulus.
Suatu sore mereka duduk dekat tepian sungai setelah mengurus beberapa berkas perjalanan.
Painem memandang air sungai cukup lama.
“Mas…”
“Hm?”
“Banjarmasin serem enggak?”
Paijo tersenyum kecil.
“Enggak juga.”
“Aku belum pernah keluar jauh.”
“Nanti juga biasa.”
Painem tertawa kecil.
“Kalau aku nyasar gimana?”
“Kamu cerewet gitu enggak bakal hilang.”
Painem langsung mencubit lengannya pelan.
“Enak aja.”
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun…
Paijo kembali bisa tertawa cukup lepas bersama seorang perempuan.
Meski jauh di dalam hatinya…
nama Paijem masih tetap ada.
Beberapa hari kemudian mereka akhirnya berangkat bersama menuju Banjarmasin.
Sepanjang perjalanan, Painem tak berhenti berbicara.
Tentang kampung.
Tentang keluarga.
Tentang kekhawatirannya merantau.
Dan Paijo…
lebih banyak mendengarkan seperti biasanya.
Namun anehnya…
ia tidak merasa terganggu.
“Mas.”
“Hm?”
“Kalau aku enggak betah gimana?”
“Nanti pulang lagi.”
“Kalau aku nangis?”
Paijo tertawa kecil.
“Ya jangan nangis.”
Painem memonyongkan bibir.
“Mas Paijo enggak romantis.”
Kalimat itu membuat Paijo sedikit terdiam.
Karena sudah sangat lama…
ia tidak mendengar candaan seperti itu dari seorang perempuan.
Mobil terus melaju di Jalan Trans Kalimantan.
Meninggalkan Kuala Kapuas perlahan di belakang.
Dan tanpa Paijo sadari…
perjalanan itu bukan hanya membawa Painem menuju Banjarmasin.
Melainkan juga membawa takdir baru masuk ke dalam hidupnya.
BAB XX
ANTARA MASA LALU DAN PEREMPUAN YANG DATANG
Perjalanan menuju Banjarmasin terasa jauh lebih ramai sejak ada Painem.
Sepanjang jalan perempuan itu hampir tidak berhenti berbicara. Kadang mengomentari truk besar yang melintas di Jalan Trans Kalimantan. Kadang tertawa sendiri melihat warung-warung unik di pinggir jalan. Kadang mengeluh karena panas.
Sementara Paijo…
lebih banyak diam sambil sesekali tersenyum kecil.
Namun jauh di dalam hati…
ada sesuatu yang mulai terasa berbeda.
Sudah sangat lama ia tidak sedekat ini dengan seorang perempuan.
“Mas…”
“Hm?”
“Kalau di Banjarmasin banyak orang jahat enggak?”
“Kenapa?”
“Ya takut aja.”
Paijo tertawa kecil.
“Kamu bawel gitu malah orang jahat yang takut.”
Painem langsung memukul lengannya pelan.
“Ih nyebelin.”
Lalu mereka tertawa kecil bersama.
Dan untuk beberapa saat…
Paijo merasa hidupnya sedikit lebih ringan.
Namun ketenangan itu tak berlangsung lama.
Karena sesampainya di Banjarmasin…
semuanya mulai berubah.
Bu Ramlah ternyata cukup senang melihat Painem.
Perempuan itu langsung diterima bekerja membantu di rumahnya.
Dan sejak hari pertama…
Painem langsung menunjukkan sifat aslinya.
Rajin.
Cepat belajar.
Tidak malas.
Namun juga sangat cerewet.
“Mas Paijo!”
Suara Painem terdengar dari halaman rumah Bu Ramlah suatu sore.
Paijo yang sedang memperbaiki motor di bengkel menoleh.
“Apa?”
“Pompa airnya rusak!”
“Nanti saya lihat.”
“Jangan nanti! Aku mau nyuci!”
Pak Hadi sampai tertawa melihat mereka.
“Kalian kayak suami istri ribut.”
Paijo langsung salah tingkah.
Sedangkan Painem justru tertawa keras.
“Kalau sama Mas Paijo mah capek, Pak. Orangnya lelet.”
Paijo hanya menggeleng kecil sambil tersenyum.
Hari demi hari berlalu.
Dan tanpa sadar…
Painem mulai menjadi bagian dari keseharian Paijo di Banjarmasin.
Perempuan itu sering datang ke bengkel membawa makanan.
Kadang minta ditemani belanja.
Kadang mengeluh soal pekerjaan.
Kadang hanya datang untuk ngobrol.
Dan anehnya…
Paijo mulai terbiasa dengan semua itu.
Namun di saat yang sama…
masa lalu tetap belum benar-benar pergi.
Suatu sore menjelang magrib, gadis mirip Paijem kembali lewat di depan bengkel.
Kini ia sudah tampak jauh lebih dewasa.
Rambut panjangnya terurai.
Wajahnya tetap sangat mirip dengan Paijem waktu remaja dulu.
Dan seperti biasa…
Paijo langsung terdiam.
Matanya mengikuti gadis itu sampai menghilang di tikungan jalan.
Tanpa sadar…
Painem yang baru datang dari rumah Bu Ramlah memperhatikan semuanya.
“Mas…”
Paijo tersentak.
“Hm?”
“Itu cewek siapa?”
“Enggak tahu.”
“Bohong.”
Paijo mengerutkan dahi.
“Apanya yang bohong?”
Painem melipat tangan di dada.
“Kalau enggak kenal ngapain dilihatin terus?”
Paijo langsung kehilangan kata-kata.
Dan untuk pertama kalinya…
ia merasa seperti tertangkap basah menyimpan sesuatu.
“Aku cuma…”
“Mantan ya?”
“Bukan.”
“Terus?”
Paijo diam.
Painem menatapnya cukup lama.
Lalu berkata pelan:
“Mas Paijo ternyata punya cerita juga.”
Kalimat itu terdengar seperti bercanda.
Namun mata Painem terlihat serius.
Malam itu untuk pertama kalinya Paijo benar-benar gelisah.
Karena selama ini…
tak ada seorang pun di Banjarmasin yang tahu tentang Paijem.
Tak ada yang tahu bahwa hatinya masih dipenuhi cinta lama yang belum selesai.
Namun kini…
Painem mulai melihat sisi itu.
Beberapa hari kemudian hubungan mereka mulai sedikit berubah.
Painem tetap cerewet seperti biasa.
Namun sesekali perempuan itu tampak memperhatikan Paijo diam-diam.
Terutama ketika gadis mirip Paijem itu lewat.
Suatu sore hujan turun deras.
Bengkel agak sepi.
Painem datang membawa gorengan hangat lalu duduk dekat meja kerja.
“Mas.”
“Hm?”
“Aku boleh tanya sesuatu?”
“Tanya aja.”
Painem memainkan ujung jilbabnya pelan.
“Mas Paijo pernah patah hati ya?”
Pertanyaan itu langsung membuat suasana mendadak sunyi.
Hujan terdengar semakin jelas di luar bengkel.
Paijo menunduk cukup lama.
Lalu menjawab pelan:
“Pernah.”
Painem memandangnya hati-hati.
“Karena cewek yang mirip anak sekolah itu?”
Paijo menggeleng kecil.
“Bukan dia.”
“Terus siapa?”
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun…
nama itu akhirnya keluar lagi dari mulutnya.
“Paijem.”
Painem diam.
Sementara Paijo memandang hujan di luar.
Lalu perlahan mulai bercerita.
Tentang masa kecil di Handel Sungai Beras.
Tentang Bundaran Besar.
Tentang Dermaga KP3.
Tentang cinta yang tak pernah sempat ia ungkapkan.
Dan tentang perpisahan yang menghancurkan hidupnya.
Painem mendengarkan tanpa menyela.
Untuk pertama kalinya perempuan itu melihat sisi rapuh dari lelaki pendiam di depannya.
Dan entah kenapa…
dadanya terasa sedikit sesak.
Karena ia mulai sadar…
hati lelaki itu ternyata masih dihuni seseorang.
“Mas masih cinta?”
Pertanyaan itu keluar sangat pelan.
Paijo tersenyum pahit.
“Entahlah.”
“Kalau dia balik?”
Paijo terdiam lama sekali.
Lalu berkata pelan:
“Mungkin semuanya udah beda.”
Painem menunduk.
Dan untuk pertama kalinya…
ia merasa takut.
Takut hanya menjadi pelarian dari seseorang yang tak pernah selesai dengan masa lalunya.
Malam semakin larut.
Hujan belum berhenti.
Pak Hadi sudah masuk tidur.
Bengkel mulai sunyi.
Painem berdiri pelan.
“Aku pulang dulu.”
Paijo mengangguk.
Namun sebelum pergi…
Painem sempat menoleh.
“Mas…”
“Hm?”
“Kadang perempuan itu enggak butuh lelaki sempurna.”
Paijo diam.
Painem melanjutkan pelan:
“Cuma butuh lelaki yang hatinya benar-benar ada buat dia.”
Lalu perempuan itu pergi meninggalkan bengkel.
Dan malam itu…
untuk pertama kalinya…
Paijo mulai dihadapkan pada pertarungan paling sulit dalam hidupnya:
antara kenangan masa lalu…
dan seseorang yang diam-diam mulai hadir di hatinya hari ini.
BAB XXI
HATI YANG MULAI TERBELAH
Sejak percakapan malam hujan itu, hubungan Paijo dan Painem perlahan berubah.
Tidak ada yang benar-benar diucapkan.
Namun suasana di antara mereka tidak lagi sama seperti sebelumnya.
Painem masih datang ke bengkel.
Masih cerewet.
Masih suka marah-marah kecil.
Namun kini perempuan itu sesekali menjadi lebih diam ketika bersama Paijo.
Seolah sedang memikirkan sesuatu yang tak berani ia tanyakan lagi.
Dan Paijo…
untuk pertama kalinya mulai merasa bersalah.
Pagi itu bengkel cukup sibuk.
Beberapa pelanggan antre sejak pagi.
Pak Hadi sibuk melayani servis besar.
Sementara Paijo sedang mengganti kampas rem motor ketika Painem datang membawa termos teh.
“Mas, minum dulu.”
“Iya, taruh situ aja.”
Biasanya Painem akan langsung duduk sambil bercerita panjang.
Namun kali ini ia hanya berdiri sebentar.
Lalu kembali pergi.
Pak Hadi yang melihat itu mengernyit.
“Tumben diem.”
Paijo pura-pura fokus bekerja.
“Capek mungkin.”
Pak Hadi tersenyum kecil penuh arti.
Namun Paijo memilih diam.
Siang harinya Painem kembali datang.
Kali ini membawa nasi bungkus untuk Paijo.
“Mas belum makan kan?”
“Belum.”
“Ya udah makan dulu.”
Paijo menerima bungkus nasi itu pelan.
“Terima kasih.”
Painem duduk di bangku kayu depan bengkel sambil memperhatikan kendaraan yang lewat.
Beberapa menit suasana terasa sunyi.
Akhirnya Paijo membuka suara.
“Marah?”
Painem menoleh.
“Kenapa harus marah?”
“Kamu beda.”
Painem tersenyum kecil hambar.
“Mas juga beda.”
Kalimat itu membuat Paijo diam.
Angin siang bertiup pelan membawa aroma panas aspal Jalan A. Yani.
Motor lalu lalang tanpa henti.
Dan di tengah hiruk-pikuk kota itu…
dua orang yang sama-sama mulai menyimpan rasa justru terjebak dalam kebingungan masing-masing.
“Mas…”
“Hm?”
“Kalau dulu Mas benar-benar cinta sama Paijem…”
Paijo menatapnya pelan.
“…kenapa enggak bilang?”
Pertanyaan itu terasa sangat menusuk.
Karena sampai hari ini…
Paijo sendiri juga masih sering menanyakan hal yang sama pada dirinya sendiri.
Ia menghela napas panjang.
“Aku takut.”
“Takut apa?”
“Takut kehilangan dia.”
Painem terdiam beberapa detik.
Lalu tertawa kecil pahit.
“Lucu ya.”
“Kenapa?”
“Karena saking takut kehilangan… malah akhirnya benar-benar kehilangan.”
Kalimat itu membuat dada Paijo terasa sesak.
Karena sekali lagi…
Painem mengatakan sesuatu yang sangat benar.
Sejak hari itu, Painem mulai sering mengetahui sisi-sisi hidup Paijo yang selama ini tidak pernah dilihat orang lain.
Tentang bagaimana lelaki itu diam-diam masih menyimpan gelang pemberian Paijem.
Tentang bagaimana ia masih sesekali melamun sendiri saat malam.
Tentang bagaimana matanya selalu berubah kosong ketika membicarakan masa lalu.
Dan semakin ia tahu…
semakin aneh perasaan di dalam hatinya.
Suatu malam listrik di sekitar bengkel padam karena hujan deras.
Bengkel menjadi gelap.
Hanya cahaya lampu minyak kecil dari warung sebelah yang masuk samar-samar.
Painem datang membawa lilin.
“Mas, ini.”
Paijo tersenyum kecil.
“Kayak zaman di kampung.”
Painem ikut tersenyum.
“Iya ya…”
Mereka duduk di depan bengkel sambil menikmati hujan malam.
Dan suasana itu mendadak terasa sangat mirip dengan malam-malam di Handel Sungai Beras dulu.
“Mas…”
“Hm?”
“Mas masih sering mimpiin Paijem?”
Pertanyaan itu membuat Paijo sedikit terkejut.
Namun akhirnya ia menjawab jujur.
“Kadang.”
Painem menunduk pelan.
“Hm.”
Paijo memperhatikan wajahnya.
“Kamu kenapa?”
Painem menggeleng kecil.
“Enggak apa-apa.”
Namun suaranya terdengar sedikit bergetar.
Beberapa detik suasana kembali sunyi.
Lalu Painem berkata sangat pelan:
“Kalau aku jadi dia… mungkin aku bakal sedih.”
“Sedih kenapa?”
“Karena ada orang yang nyimpan cinta selama itu.”
Paijo tersenyum pahit.
“Kadang cinta memang bodoh.”
Painem menoleh.
“Bukan bodoh.”
“Terus?”
“Setia.”
Kalimat itu membuat Paijo terdiam cukup lama.
Karena belum pernah ada orang yang menyebut rasa sakitnya sebagai kesetiaan.
Malam semakin larut.
Hujan mulai reda.
Dan di tengah cahaya lilin kecil itu…
Paijo mulai melihat Painem bukan sekadar perempuan cerewet dari kampung.
Melainkan seseorang yang perlahan memahami luka-lukanya tanpa banyak menuntut.
Namun justru di situlah masalah mulai tumbuh.
Karena setiap kali merasa nyaman bersama Painem…
bayangan Paijem justru semakin sering muncul.
Seolah masa lalu tidak rela tergantikan.
Beberapa hari kemudian gadis mirip Paijem itu kembali lewat depan bengkel.
Dan tanpa sadar Paijo kembali memandanginya cukup lama.
Namun kali ini…
Painem melihat semuanya.
Perempuan itu berdiri diam beberapa meter dari bengkel sambil membawa kantong belanja.
Wajahnya langsung berubah.
“Mas…”
Paijo tersentak.
Painem berjalan mendekat lalu berkata pelan:
“Mas belum selesai ya?”
“Maksudnya?”
“Belum selesai sama masa lalu.”
Paijo langsung kehilangan kata-kata.
Painem tersenyum kecil.
Namun matanya tampak mulai berkaca-kaca.
“Aku pikir… selama ini Mas cuma kangen.”
“Nem…”
“Ternyata Mas masih nyari dia di wajah orang lain.”
Kalimat itu terasa seperti tamparan keras.
Karena itulah kenyataannya.
Dan Paijo tak bisa menyangkalnya.
Painem akhirnya pergi malam itu tanpa banyak bicara.
Meninggalkan Paijo yang hanya bisa berdiri diam di depan bengkel.
Sementara kendaraan terus melintas di Jalan A. Yani.
Dan untuk pertama kalinya…
Paijo mulai sadar bahwa luka masa lalu yang tak selesai bukan hanya menyakitinya sendiri.
Tetapi juga mulai melukai orang yang perlahan mencoba mencintainya dengan tulus.
BAB XXII
PEREMPUAN YANG MEMILIH BERTAHAN
Sejak malam itu, Painem mulai menjaga jarak dari Paijo.
Bukan menjauh sepenuhnya.
Namun cukup membuat suasana berubah.
Ia tidak lagi sering datang ke bengkel hanya untuk mengobrol. Tidak lagi cerewet sepanjang hari seperti biasanya. Bahkan candaan-candaan kecil yang dulu selalu memenuhi suasana kini perlahan menghilang.
Dan anehnya…
justru perubahan itulah yang membuat Paijo mulai merasa kehilangan.
Pagi itu bengkel terasa lebih sunyi dari biasanya.
Pak Hadi sedang keluar membeli onderdil.
Sementara Paijo sibuk membongkar mesin motor sendirian.
Namun sejak tadi pikirannya tidak fokus.
Tangannya beberapa kali salah memasang baut.
Dan matanya berkali-kali melirik jalan depan bengkel.
Menunggu seseorang datang.
Namun sampai siang…
Painem tidak muncul.
“Kenapa dari tadi lihat jalan terus?”
Suara teman kerjanya, Wawan, membuat Paijo tersentak.
“Enggak.”
Wawan tertawa kecil.
“Bengkel kita enggak bakal pindah, Jo.”
Paijo hanya tersenyum hambar.
Namun dalam hati…
ia sadar dirinya mulai terbiasa dengan kehadiran Painem.
Sore harinya hujan turun rintik-rintik.
Dan akhirnya Painem datang juga.
Namun kali ini hanya untuk membeli sabun di warung sebelah.
Ketika melewati bengkel, perempuan itu hanya menoleh sekilas.
“Mas.”
“Hm.”
“Lagi sibuk?”
“Enggak juga.”
Biasanya setelah itu Painem akan langsung duduk dan mulai bercerita.
Namun kini ia hanya berdiri sebentar.
Lalu berkata:
“Aku balik dulu.”
Dan pergi begitu saja.
Paijo memandang punggung perempuan itu sampai menghilang di tikungan jalan.
Ada rasa aneh di dadanya.
Kosong.
Dan untuk pertama kalinya…
ia mulai benar-benar merasakan kehilangan seseorang yang belum sepenuhnya pergi.
Malam harinya hujan turun lebih deras.
Paijo duduk sendirian di depan bengkel sambil menyalakan rokok.
Pak Hadi yang baru selesai makan malam memperhatikannya cukup lama.
“Kalian berantem?”
Paijo menoleh.
“Siapa?”
“Kamu sama Painem.”
Paijo tersenyum kecil hambar.
“Enggak.”
Pak Hadi tertawa kecil.
“Kalau enggak, kenapa mukamu kayak motor mogok?”
Paijo diam.
Lalu perlahan berkata:
“Mungkin dia capek sama saya.”
Pak Hadi mengangguk pelan seolah sudah mengerti.
“Jo…”
“Hm?”
“Kamu tahu kenapa perempuan bisa bertahan lama sama lelaki?”
Paijo menggeleng kecil.
“Karena perempuan itu kuat.”
Pak Hadi menatap hujan di luar.
“Tapi sekuat-kuatnya perempuan… ada titik dia capek kalau hatinya enggak pernah dianggap.”
Kalimat itu menghantam Paijo pelan namun dalam.
Karena tanpa sadar…
selama ini mungkin memang begitu.
Painem selalu ada.
Selalu mendengarkan.
Selalu hadir di hidupnya.
Sementara dirinya…
masih sibuk hidup bersama bayangan masa lalu.
Malam semakin larut.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun…
Paijo mulai bertanya pada dirinya sendiri:
Apakah sebenarnya ia mulai menyukai Painem?
Pertanyaan itu membuatnya gelisah.
Karena jika iya…
mengapa nama Paijem masih terus tinggal di hatinya?
Mengapa kenangan itu masih belum bisa benar-benar hilang?
Dan mengapa setiap melihat wajah mirip Paijem…
dadanya masih tetap berdebar seperti dulu?
Beberapa hari kemudian Painem jatuh sakit.
Bu Ramlah datang ke bengkel pagi-pagi sambil panik.
“Jo, Painem demam dari semalam.”
Paijo langsung berdiri.
“Parah?”
“Badannya panas banget.”
Tanpa banyak berpikir Paijo langsung pergi ke rumah Bu Ramlah.
Painem terbaring lemas di kamar kecil belakang rumah.
Wajahnya pucat.
Rambutnya berantakan.
Namun ketika melihat Paijo datang…
ia masih sempat tersenyum kecil.
“Mas…”
Paijo duduk di sampingnya.
“Kenapa enggak bilang sakit?”
Painem tertawa pelan.
“Mas juga enggak bakal peduli.”
Kalimat itu membuat dada Paijo terasa nyeri.
“Jangan ngomong aneh.”
Painem menatapnya lama.
Lalu berkata pelan:
“Mas masih sayang sama dia ya?”
Paijo terdiam.
Dan diamnya…
sekali lagi menjadi jawaban.
Painem memejamkan mata beberapa detik.
Namun anehnya…
perempuan itu justru tersenyum kecil.
“Aku iri sama Paijem.”
Paijo menunduk.
“Kenapa?”
“Karena ada orang yang cinta sama dia selama itu.”
Suara Painem terdengar lemah.
Namun setiap katanya terasa sangat tulus.
“Nem…”
“Hm?”
“Maaf.”
Painem membuka mata perlahan.
“Mas enggak salah.”
“Tapi aku…”
Painem memotong pelan:
“Hati orang enggak bisa dipaksa.”
Kalimat itu membuat Paijo semakin merasa bersalah.
Karena perempuan di depannya ini…
justru memahami dirinya lebih baik daripada dirinya sendiri.
Hujan turun pelan di luar jendela.
Suasana kamar terasa hangat sekaligus menyakitkan.
Dan di tengah kesunyian itu…
Painem berkata sangat pelan:
“Tapi Mas…”
“Hm?”
“Kalau suatu hari nanti Mas capek nyari masa lalu…”
Painem menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
“…aku masih mau ada di samping Mas.”
Kalimat itu membuat Paijo membeku.
Karena untuk pertama kalinya…
ada seseorang yang menerima seluruh luka dan kekurangannya tanpa syarat.
Malam itu setelah pulang dari rumah Bu Ramlah, Paijo berjalan sendirian menyusuri Jalan A. Yani.
Lampu kota memantul di jalanan basah.
Kendaraan masih lalu lalang.
Namun pikirannya penuh.
Sangat penuh.
Tentang Paijem.
Tentang Painem.
Tentang dirinya sendiri.
Dan untuk pertama kalinya…
ia mulai sadar bahwa hidup tidak selalu memberi pilihan yang mudah.
Kadang seseorang datang bukan untuk menggantikan masa lalu.
Melainkan untuk mengajarkan bahwa hati yang terluka masih layak dicintai kembali.
BAB XXIII
LAMARAN YANG TAK DIRENCANAKAN
Hari-hari setelah Painem sakit membuat hubungan mereka perlahan kembali mencair.
Namun kali ini terasa berbeda.
Tidak lagi sekadar akrab seperti teman sekampung yang sama-sama merantau.
Ada sesuatu yang mulai tumbuh diam-diam di antara mereka.
Sesuatu yang membuat Paijo mulai merasa tenang setiap kali melihat Painem tertawa.
Sesuatu yang membuat hidupnya yang selama ini kosong perlahan terasa hangat kembali.
Meski begitu…
nama Paijem tetap belum benar-benar pergi dari hatinya.
Dan justru itulah yang membuat Paijo sering merasa bersalah pada dirinya sendiri.
Pagi itu bengkel cukup lengang.
Pak Hadi sedang memperbaiki motor pelanggan di belakang.
Sementara Paijo duduk membersihkan busi motor dekat pintu depan.
Tak lama kemudian Painem datang membawa dua gelas kopi.
“Mas.”
“Hm?”
“Nih kopi.”
Paijo menerimanya sambil tersenyum kecil.
“Makasih.”
Painem duduk di bangku kayu sambil memperhatikan jalan raya.
Beberapa menit mereka diam menikmati suasana pagi.
Lalu tiba-tiba Painem berkata:
“Mas.”
“Hm?”
“Kalau nanti aku pulang kampung… Mas bakal kehilangan enggak?”
Pertanyaan itu membuat Paijo terdiam.
Karena tanpa sadar…
jawabannya ternyata iya.
Ia menoleh pelan.
“Kamu mau pulang?”
Painem mengangkat bahu kecil.
“Belum tahu.”
“Kenapa?”
“Ya… kadang capek juga hidup sendiri di kota.”
Paijo memandang wajah perempuan itu cukup lama.
Lalu berkata sangat pelan:
“Jangan pulang.”
Painem langsung menoleh cepat.
“Kenapa?”
Paijo gugup sendiri.
Namun akhirnya hanya menjawab:
“Biar ada teman ribut di sini.”
Painem tertawa kecil.
Namun kali ini pipinya terlihat sedikit memerah.
Hubungan mereka semakin dekat setelah itu.
Painem mulai sering membantu di bengkel kalau sedang libur kerja.
Kadang membersihkan ruang tamu bengkel.
Kadang membantu membuat teh.
Kadang marah-marah kecil karena Paijo lupa makan.
Dan suasana sederhana itu perlahan terasa seperti keluarga kecil.
Bahkan Pak Hadi mulai sering menggoda mereka.
“Kalian kapan nikah?”
Painem langsung tertawa keras.
“Siapa juga yang mau sama Mas Paijo.”
Pak Hadi ikut tertawa.
“Padahal dia perhatian sama kamu.”
Painem melirik Paijo sekilas.
Namun lelaki itu langsung pura-pura sibuk bekerja.
Meski begitu…
di balik semua kedekatan itu…
Paijo masih sering dihantui masa lalu.
Kadang saat melihat senyum Painem…
yang muncul justru bayangan Paijem.
Kadang saat mendengar suara tawa perempuan itu…
ingatannya kembali ke Dermaga KP3 puluhan tahun lalu.
Dan setiap kali itu terjadi…
dadanya terasa sesak oleh rasa bersalah.
Suatu malam selepas isya, Paijo menerima surat dari ibunya di Kuala Kapuas.
Tulisan tangan sederhana di amplop cokelat tua.
Ia membuka surat itu perlahan di kamar belakang bengkel.
"Jo…
Ibu senang dengar kamu sekarang dekat sama Painem.
Kalau memang cocok, jangan lama-lama sendiri.
Usiamu sudah 25 tahun.
Ibu pengen lihat kamu punya keluarga."
Paijo membaca surat itu lama sekali.
Dan entah kenapa…
hatinya terasa berat.
Keesokan harinya ibunya bahkan menelepon ke warung dekat bengkel.
Saat itu telepon umum masih menjadi satu-satunya alat komunikasi jarak jauh yang mudah dijangkau.
“Jo.”
“Iya, Buk.”
“Kamu serius enggak sama Painem?”
Paijo diam cukup lama.
“Aku belum tahu.”
“Jangan bikin perempuan nunggu terlalu lama.”
Kalimat ibunya terdengar lembut.
Namun cukup membuat pikirannya kacau.
Beberapa hari kemudian Painem ikut pulang bersama Paijo ke Handel Sungai Beras karena ada acara keluarga kecil.
Dan justru di situlah…
semuanya berubah jauh lebih cepat dari yang mereka bayangkan.
Begitu melihat Painem turun bersama Paijo dari mobil travel, ibu Paijo langsung tersenyum lebar.
“Nah ini baru benar.”
Paijo langsung salah tingkah.
“Buk…”
Painem malah tertawa kecil.
“Ibu sehat?”
“Sehat, Nak.”
Ibunya Paijo terlihat sangat senang.
Karena selama bertahun-tahun…
baru kali ini Paijo pulang membawa perempuan.
Malam harinya setelah makan bersama, ibunya memanggil Paijo ke dapur.
“Jo.”
“Hm?”
“Kamu serius enggak sama Painem?”
Paijo menggaruk kepala pelan.
“Belum kepikiran.”
Ibunya langsung menatap tajam.
“Jangan bohong sama ibu.”
Paijo diam.
“Dari dulu kamu enggak pernah dekat sama perempuan.”
Ibunya duduk pelan.
“Kalau sekarang ada perempuan baik dekat sama kamu… jangan disia-siakan.”
Paijo menunduk.
“Aku takut.”
“Takut apa?”
Paijo terdiam lama sekali.
Lalu akhirnya berkata pelan:
“Aku belum bisa lupa sama seseorang.”
Ibunya menghela napas panjang.
“Paijem?”
Paijo langsung menoleh kaget.
“Ibu tahu?”
Ibunya tersenyum kecil pahit.
“Ibu ini ibumu.”
Untuk pertama kalinya…
Paijo sadar bahwa selama ini ternyata ibunya mengerti semuanya.
Tentang luka yang tak pernah ia ceritakan.
Tentang cinta yang diam-diam ia simpan bertahun-tahun.
Ibunya memegang bahunya pelan.
“Jo… cinta pertama memang sulit dilupakan.”
Paijo menunduk.
“Tapi hidup enggak boleh berhenti di masa lalu.”
Suara ibunya terdengar sangat lembut.
“Painem perempuan baik.”
Paijo diam.
“Dan ibu lihat… dia tulus sama kamu.”
Kalimat itu terus terngiang di kepala Paijo malam itu.
Sementara di kamar tamu kecil rumah mereka…
Painem duduk sendirian sambil memandangi langit malam dari jendela.
Perempuan itu sebenarnya sadar.
Ia tahu hatinya Paijo belum sepenuhnya utuh untuknya.
Ia tahu ada nama lain yang masih tinggal di sana.
Namun anehnya…
ia tetap memilih bertahan.
Karena entah sejak kapan…
lelaki pendiam dari Handel Sungai Beras itu telah menjadi rumah kecil di hatinya.
Dua hari kemudian, saat mereka sedang duduk di tepian sungai sore hari, Paijo tiba-tiba berkata pelan:
“Nem…”
“Hm?”
“Kalau…”
Painem menoleh.
Paijo tampak gugup.
“Kalau aku ngajak kamu serius…”
Jantung Painem langsung berdegup keras.
“Maksud Mas?”
Paijo menarik napas panjang.
Lalu untuk pertama kalinya dalam hidup…
ia memberanikan diri mengatakan sesuatu yang dulu gagal ia ucapkan pada Paijem.
“Mau enggak… jadi pendamping hidupku?”
Angin sungai mendadak terasa berhenti.
Dan mata Painem langsung berkaca-kaca.
BAB XXIV
PERNIKAHAN TANPA PACARAN
Sore di tepian Sungai Kapuas itu terasa begitu sunyi bagi Paijo dan Painem.
Angin sungai bertiup pelan membawa aroma air dan tanah basah khas Handel Sungai Beras. Matahari mulai turun perlahan di ufuk barat, memantulkan cahaya jingga di permukaan sungai yang tenang.
Namun di tengah ketenangan itu…
jantung Painem justru berdetak sangat keras.
Karena ia tidak pernah menyangka…
lelaki pendiam yang selama ini selalu terlihat ragu akhirnya benar-benar mengucapkan kalimat itu.
“Mau enggak… jadi pendamping hidupku?”
Kalimat itu masih terasa menggema di telinga Painem.
Perempuan itu memandang Paijo cukup lama.
Lelaki di depannya tampak gugup.
Tangannya saling menggenggam sendiri.
Matanya bahkan tidak berani menatap langsung terlalu lama.
Namun justru di situlah…
Painem melihat ketulusan.
“Mas serius?”
Suara Painem terdengar pelan.
Paijo mengangguk kecil.
“Iya.”
“Bukan karena dipaksa ibu?”
Paijo tersenyum kecil.
“Enggak.”
“Bukan karena kasihan?”
Paijo langsung menoleh cepat.
“Aku enggak pernah kasihan sama kamu.”
Painem diam.
Dan entah kenapa…
jawaban itu justru membuat matanya mulai berkaca-kaca.
Beberapa detik mereka hanya saling diam.
Suara perahu kecil terdengar dari kejauhan.
Angin sore meniup rambut Painem perlahan.
Lalu perempuan itu bertanya sangat pelan:
“Mas masih ingat sama Paijem?”
Pertanyaan itu membuat Paijo terdiam cukup lama.
Dan seperti biasanya…
ia memilih jujur.
“Masih.”
Painem menunduk.
Namun sebelum kesedihan benar-benar tumbuh…
Paijo melanjutkan:
“Tapi aku juga enggak mau terus hidup di masa lalu.”
Kalimat itu membuat Painem perlahan mengangkat wajahnya lagi.
Paijo menarik napas panjang.
“Aku enggak bisa janji jadi lelaki sempurna.”
Painem diam mendengarkan.
“Aku juga masih banyak kekurangan.”
Suara Paijo terdengar berat.
“Tapi kalau kamu mau… aku pengen belajar jadi suami yang baik.”
Dan untuk pertama kalinya…
Painem benar-benar merasa dihargai bukan sebagai pelarian.
Melainkan sebagai seseorang yang dipilih untuk masa depan.
Air mata kecil akhirnya jatuh di pipi Painem.
Perempuan itu tertawa kecil sambil mengusap matanya sendiri.
“Mas ini ya…”
“Kenapa?”
“Bikin orang nangis.”
Paijo ikut tersenyum kecil.
“Jadi…”
Painem memotong cepat sambil tersenyum malu:
“Iya.”
Paijo membeku beberapa detik.
“Iya apa?”
Painem langsung mencubit lengannya pelan.
“Iya mau!”
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun…
Paijo tertawa cukup lepas.
Dan sore itu…
dua hati yang sama-sama pernah terluka mulai mencoba berjalan bersama menuju kehidupan baru.
Kabar lamaran itu cepat menyebar di Handel Sungai Beras.
Tetangga-tetangga mulai ramai membicarakannya.
“Paijo akhirnya mau nikah juga.”
“Kirain enggak bakal nikah.”
“Painem cocok sama dia.”
Bahkan ibunya Paijo terlihat jauh lebih bahagia dibanding siapa pun.
Persiapan pernikahan dilakukan sederhana.
Maklum…
keadaan ekonomi mereka memang pas-pasan.
Tak ada gedung mewah.
Tak ada pesta besar.
Tak ada perhiasan mahal.
Namun semuanya terasa hangat karena dilakukan dengan penuh ketulusan.
Suatu malam Painem datang ke rumah Paijo membantu ibu Paijo membuat kue kecil untuk acara lamaran.
Paijo duduk di ruang depan sambil memperhatikan mereka.
Ibunya tersenyum kecil.
“Jo.”
“Hm?”
“Jangan bengong terus. Sana bantu.”
Painem langsung tertawa.
“Mas Paijo kalau disuruh kerja rumah pasti bingung.”
Paijo menggeleng kecil.
“Kamu banyak ngomong.”
Painem menjulurkan lidah kecil.
Suasana rumah sederhana itu terasa sangat hidup malam itu.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama…
Paijo mulai merasakan sesuatu yang dulu hilang dari hidupnya:
kehangatan keluarga.
Namun di balik semua kebahagiaan itu…
bayangan masa lalu masih sesekali datang.
Terutama saat malam.
Ketika Paijo sendirian.
Ketika pikirannya mulai berjalan jauh.
Kadang ia masih membayangkan:
Bagaimana jika dulu ia sempat mengatakan cintanya pada Paijem?
Apakah hidupnya akan berbeda?
Apakah perempuan yang duduk di sampingnya sekarang akan tetap Painem?
Ataukah takdir memang sejak awal sudah menentukan semuanya seperti ini?
Malam sebelum akad nikah, Paijo duduk sendirian di belakang rumah sambil memandang sungai kecil dekat handel.
Langit malam terlihat tenang.
Suara jangkrik terdengar samar.
Dan untuk pertama kalinya…
ia mencoba benar-benar mengikhlaskan masa lalunya.
“Jo.”
Suara ayahnya terdengar dari belakang.
Paijo menoleh.
Ayahnya duduk pelan di sampingnya sambil menyalakan rokok.
“Besok kamu jadi kepala keluarga.”
Paijo mengangguk kecil.
Ayahnya tersenyum tipis.
“Takut?”
“Sedikit.”
Ayahnya tertawa pelan.
“Semua lelaki juga begitu.”
Beberapa detik mereka diam.
Lalu ayahnya berkata pelan:
“Perempuan baik itu jangan disakiti.”
Paijo menunduk.
“Iya, Pak.”
“Painem mungkin bukan cinta pertama kamu.”
Kalimat itu membuat Paijo sedikit terkejut.
Namun ayahnya melanjutkan:
“Tapi belum tentu cinta pertama itu jodoh terbaik.”
Angin malam terasa dingin.
Dan kalimat itu perlahan masuk ke dalam hati Paijo.
Pagi akad nikah akhirnya tiba.
Rumah kecil keluarga Painem ramai oleh tetangga dan kerabat.
Karpet digelar sederhana.
Beberapa ibu sibuk di dapur.
Anak-anak kecil berlarian di halaman.
Dan Paijo…
duduk tegang mengenakan baju sederhana dengan tangan dingin.
Ketika penghulu mulai mengucapkan ijab kabul…
dadanya terasa berdebar keras.
Dan saat akhirnya ia mengucapkan akad dengan lancar…
suara “sah” langsung memenuhi ruangan kecil itu.
Painem yang duduk di balik tirai langsung menangis haru.
Sementara Paijo hanya terdiam beberapa detik.
Seolah belum percaya…
bahwa hidupnya benar-benar telah berubah hari itu.
Malam pertama setelah pernikahan terasa canggung bagi mereka.
Karena hubungan itu lahir bukan dari pacaran panjang.
Bukan dari cinta yang menggebu-gebu sejak awal.
Melainkan dari dua orang yang sama-sama belajar menerima hidup.
Painem duduk malu-malu di pinggir ranjang kecil mereka.
Sementara Paijo tampak salah tingkah sendiri.
“Mas…”
“Hm?”
“Sekarang aku benar-benar jadi istrimu ya?”
Paijo tersenyum kecil.
“Iya.”
Painem tertawa kecil sambil menunduk malu.
Dan malam itu…
di sebuah rumah sederhana di Handel Sungai Beras…
bahtera rumah tangga Mas Paijo dan Mbak Painem akhirnya dimulai.
Tanpa pacaran.
Tanpa janji cinta berlebihan.
Namun penuh harapan sederhana tentang hidup yang ingin dijalani bersama.
BAB XXV
MALAM PERTAMA DAN BAYANGAN MASA LALU
Hujan turun perlahan di Handel Sungai Beras malam itu.
Suara rintiknya memukul atap seng rumah kecil tempat Paijo dan Painem memulai kehidupan baru mereka sebagai suami istri.
Di luar rumah, beberapa tetangga masih terdengar bercakap-cakap pelan setelah acara pernikahan sederhana siang tadi. Aroma masakan hajatan masih tersisa di udara.
Namun di dalam kamar kecil berukuran sempit itu…
suasana terasa canggung.
Sangat canggung.
Painem duduk di tepi ranjang sambil memainkan ujung selendangnya sendiri.
Wajahnya masih sedikit merah karena malu.
Sementara Paijo berdiri dekat jendela sambil pura-pura membetulkan gorden yang sebenarnya sudah rapi.
Mereka sama-sama bingung harus memulai dari mana.
Karena meski sudah resmi menjadi suami istri…
hubungan mereka tetap terasa seperti dua orang yang baru belajar mengenal hati masing-masing.
“Mas…”
“Hm?”
“Dari tadi lihat jendela terus.”
Paijo langsung salah tingkah.
“Enggak… cuma lihat hujan.”
Painem tersenyum kecil.
“Takut ya?”
Paijo tertawa gugup.
“Enggak.”
“Bohong.”
Perempuan itu terkekeh pelan.
Namun beberapa detik kemudian suasana kembali sunyi.
Dan justru kesunyian itulah yang membuat pikiran Paijo mulai kacau.
Karena tanpa sengaja…
ia kembali teringat Paijem.
Bayangan wajah gadis itu muncul begitu saja.
Tawanya.
Suara cerewetnya.
Malam di Dermaga KP3 dulu.
Semua datang tiba-tiba di saat yang seharusnya menjadi malam paling penting dalam hidupnya bersama istrinya sendiri.
Dan hal itu membuat dada Paijo mendadak terasa sesak oleh rasa bersalah.
“Mas…”
Suara Painem membuyarkan lamunannya.
“Hm?”
“Kok melamun lagi?”
Paijo cepat menggeleng.
“Enggak apa-apa.”
Painem memperhatikannya lama.
Perempuan itu sebenarnya cukup peka.
Ia tahu ada sesuatu yang masih sering mengganggu pikiran suaminya.
Namun malam itu ia memilih diam.
Painem berdiri pelan lalu mendekati Paijo.
“Mas.”
“Hm?”
“Sekarang kita udah nikah.”
Paijo menatapnya perlahan.
Painem tersenyum kecil.
“Aku enggak minta Mas langsung cinta besar sama aku.”
Kalimat itu membuat jantung Paijo seperti diremas.
“Aku cuma pengen…”
Painem menunduk sebentar.
“…Mas benar-benar ada di sini.”
Paijo langsung terdiam.
Karena sekali lagi…
Painem seolah bisa membaca isi hatinya.
Hujan semakin deras.
Angin malam masuk dari sela jendela kayu.
Dan di tengah suasana sunyi itu…
Paijo akhirnya berkata pelan:
“Maaf.”
Painem menggeleng kecil.
“Mas enggak perlu minta maaf terus.”
“Tapi aku…”
Painem memegang tangannya perlahan.
“Kita sama-sama belajar aja.”
Suara perempuan itu terdengar sangat lembut.
Dan justru kelembutan itulah yang membuat rasa bersalah Paijo semakin besar.
Malam itu akhirnya mereka berbicara cukup lama.
Tentang masa kecil.
Tentang mimpi sederhana.
Tentang kehidupan yang ingin mereka bangun bersama.
Dan sedikit demi sedikit…
kecanggungan itu mulai mencair.
Namun drama sebenarnya justru dimulai beberapa minggu setelah pernikahan.
Setelah kembali ke Banjarmasin, Paijo dan Painem tinggal di sebuah kamar kontrakan kecil dekat bengkel.
Ukurannya sempit.
Hanya cukup untuk satu ranjang kecil, lemari sederhana, dan dapur mungil di belakang.
Namun bagi mereka yang baru memulai hidup…
tempat itu sudah terasa cukup.
Awalnya kehidupan rumah tangga mereka berjalan hangat.
Painem sangat telaten mengurus rumah kecil itu.
Bangun pagi menyiapkan sarapan.
Mencuci pakaian.
Kadang membantu di bengkel.
Dan seperti biasa…
tetap cerewet.
“Mas, handuk jangan ditaruh sembarangan!”
“Iya.”
“Mas, oli jangan dibawa masuk kamar!”
“Iya.”
“Mas!”
“Hm?”
“Kalau makan jangan sambil tidur!”
Paijo hanya tertawa kecil setiap kali dimarahi.
Dan anehnya…
suasana itu justru membuat hidupnya terasa ramai.
Namun masalah mulai muncul perlahan.
Terutama soal ekonomi.
Gaji Paijo sebagai montir bengkel sebenarnya tidak besar.
Sementara kebutuhan rumah tangga terus berjalan.
Biaya kontrakan.
Makan.
Kebutuhan sehari-hari.
Kadang semuanya terasa pas-pasan.
Suatu malam Painem menghitung uang belanja sambil menghela napas panjang.
“Mas…”
“Hm?”
“Uang tinggal segini.”
Paijo menoleh pelan.
“Besok aku lembur.”
Painem diam beberapa detik.
Lalu berkata pelan:
“Mas capek enggak sih hidup begini?”
Pertanyaan itu membuat Paijo terdiam.
Karena sebenarnya…
ia juga lelah.
Namun sebagai lelaki…
ia terbiasa menyimpan semuanya sendiri.
“Namanya juga hidup.”
Painem tersenyum kecil pahit.
“Jawaban Mas selalu begitu.”
Paijo mendekat pelan.
“Takut?”
Painem menggeleng kecil.
“Aku cuma takut jadi beban.”
Kalimat itu membuat Paijo langsung memegang tangannya.
“Kamu bukan beban.”
Dan untuk pertama kalinya…
Paijo mengucapkan sesuatu yang benar-benar lahir dari hatinya sendiri.
“Aku senang kamu ada.”
Painem langsung terdiam.
Matanya perlahan mulai berkaca-kaca.
Namun badai terbesar datang beberapa bulan kemudian.
Sore itu Painem sedang membersihkan lemari kecil mereka ketika tanpa sengaja menemukan kotak tua milik Paijo.
Awalnya ia tidak berniat membuka.
Namun rasa penasaran akhirnya menang.
Dan di dalam kotak itu…
ia menemukan sesuatu yang membuat dadanya langsung terasa sesak.
Gelang hitam biru.
Dan surat lama yang sudah mulai menguning.
Tangannya gemetar saat membaca isi surat itu.
"Aku selalu takut kehilangan kamu…"
Nama di bawah surat itu membuat napas Painem tercekat.
Paijem.
Saat Paijo pulang malam itu…
suasana kamar langsung terasa berbeda.
Painem duduk diam di tepi ranjang sambil memegang surat itu.
Wajahnya pucat.
Matanya merah seperti habis menangis.
Paijo langsung membeku.
“Nem…”
Painem mengangkat surat itu pelan.
“Mas masih nyimpen ini?”
Suasana mendadak sunyi.
Sangat sunyi.
Paijo perlahan duduk.
Namun belum sempat menjelaskan…
Painem bertanya dengan suara bergetar:
“Mas sebenarnya nikah sama aku karena cinta…”
Air matanya jatuh pelan.
“…atau cuma karena enggak bisa memiliki dia?”
Pertanyaan itu menghantam Paijo jauh lebih keras daripada apa pun sebelumnya.
Karena untuk pertama kalinya…
ia dipaksa menghadapi kenyataan yang selama ini selalu ia hindari.
BAB XXVI
PERTENGKARAN PERTAMA
Pertanyaan Painem malam itu menggantung seperti hujan mendung yang tak kunjung jatuh.
“Mas sebenarnya nikah sama aku karena cinta… atau cuma karena enggak bisa memiliki dia?”
Suara perempuan itu bergetar.
Tangannya masih menggenggam surat lama dan gelang hitam biru milik Paijem.
Sementara Paijo…
membeku di tempat duduknya sendiri.
Kamar kontrakan kecil itu tiba-tiba terasa sesak.
Suara kendaraan dari Jalan A. Yani samar terdengar di luar.
Lampu kamar yang redup membuat suasana semakin muram.
Dan untuk pertama kalinya sejak menikah…
mereka benar-benar berhadapan dengan luka yang selama ini hanya disimpan diam-diam.
“Nem…”
Paijo mencoba bicara pelan.
Namun Painem langsung memotong.
“Jawab jujur.”
Matanya mulai dipenuhi air mata.
“Aku cuma pengen tahu.”
Paijo menunduk.
Dan diamnya…
sekali lagi menjadi hal paling menyakitkan.
Painem tertawa kecil pahit.
“Mas tahu enggak…”
Air matanya jatuh perlahan.
“…aku selama ini selalu takut.”
Paijo mengangkat wajah pelan.
Painem memandangnya dengan mata merah.
“Aku takut suatu hari nanti aku cuma jadi tempat Mas lari dari masa lalu.”
Kalimat itu terasa seperti pisau yang perlahan menusuk dada Paijo.
Karena jauh di dalam hati…
ia tahu ada benarnya.
“Aku enggak pernah nganggep kamu pelarian.”
“Terus ini apa?!”
Painem mengangkat surat itu dengan tangan gemetar.
“Kalau Mas udah benar-benar ikhlas… kenapa masih disimpan?!”
Paijo kehilangan kata-kata.
Karena ia sendiri tidak tahu bagaimana menjelaskan sesuatu yang bahkan belum selesai di dalam dirinya sendiri.
“Aku cuma…”
“Aku cuma… aku cuma…”
Painem tertawa sambil menangis.
“Mas selalu begitu.”
Suasana kamar semakin panas.
Dan luka-luka yang selama ini dipendam akhirnya mulai terbuka satu per satu.
“Aku capek jadi orang yang selalu ngertiin Mas!”
Suara Painem mulai meninggi.
“Aku capek pura-pura enggak cemburu!”
Paijo menatapnya diam.
“Setiap Mas melamun…”
Painem mengusap air matanya kasar.
“…aku tahu yang Mas pikirin bukan aku.”
Kalimat itu membuat Paijo benar-benar merasa hancur.
Karena perempuan di depannya ini…
ternyata selama ini menanggung luka sendirian.
“Nem, dengar dulu…”
“Apa lagi yang mau didengar?!”
Painem berdiri cepat.
“Mas masih cinta sama dia kan?!”
Paijo menutup mata beberapa detik.
Dan justru kejujurannya malam itu menjadi awal ledakan besar dalam rumah tangga mereka.
“Aku enggak tahu.”
Jawaban itu membuat Painem langsung terpukul.
Seolah seluruh ketakutannya akhirnya benar-benar menjadi nyata.
“Jadi benar…”
Suara perempuan itu melemah.
“…selama ini hati Mas enggak pernah benar-benar buat aku.”
“Bukan begitu.”
“Terus bagaimana?!”
Paijo berdiri mendekat.
Namun Painem justru mundur.
Untuk pertama kalinya sejak menikah…
perempuan itu benar-benar terlihat terluka.
“Aku berusaha, Nem.”
Painem tertawa pahit.
“Berusaha mencintai aku?”
Kalimat itu menghantam lebih keras dari bentakan apa pun.
Karena Paijo sadar…
ia memang masih terus berusaha.
Belum sepenuhnya selesai.
Belum sepenuhnya utuh.
Hening panjang memenuhi kamar kecil itu.
Hanya suara kipas tua yang terdengar pelan.
Dan di tengah keheningan itu…
Painem akhirnya duduk sambil menangis tertahan.
“Aku enggak cantik ya dibanding dia?”
Paijo langsung menggeleng cepat.
“Jangan ngomong gitu.”
“Aku enggak seceria dia ya?”
“Nem…”
“Aku enggak bisa jadi Paijem kan?”
Kalimat terakhir itu membuat Paijo benar-benar kehilangan kekuatan untuk menjawab.
Karena ternyata…
selama ini Painem diam-diam selalu merasa dibandingkan dengan seseorang yang bahkan belum pernah ia temui.
Paijo perlahan duduk di depannya.
“Lihat aku.”
Painem diam.
“Nem.”
Perempuan itu akhirnya mengangkat wajah dengan mata penuh air mata.
Dan untuk pertama kalinya…
Paijo bicara dengan suara yang benar-benar jujur dari dalam hatinya.
“Paijem itu masa lalu.”
Painem menatapnya tanpa bicara.
“Aku enggak bisa bohong kalau aku pernah sangat cinta sama dia.”
Air mata Painem kembali jatuh.
“Tapi hidupku sekarang…”
Paijo menarik napas berat.
“…ada sama kamu.”
Suasana kembali sunyi.
“Aku memang bodoh.”
Paijo tersenyum pahit.
“Aku terlalu lama hidup di kenangan.”
Painem menggigit bibirnya menahan tangis.
“Tapi aku juga takut kehilangan kamu.”
Kalimat itu akhirnya membuat Painem sedikit terdiam.
Paijo memegang tangannya perlahan.
“Kalau aku enggak peduli sama kamu…”
Ia menatap mata perempuan itu dalam-dalam.
“…aku enggak akan menikah sama kamu.”
Painem mulai menangis lebih keras.
Karena untuk pertama kalinya…
ia mendengar ketulusan yang selama ini selalu ia tunggu.
Malam itu mereka akhirnya sama-sama menangis.
Bukan hanya karena cemburu.
Bukan hanya karena masa lalu.
Namun karena keduanya sama-sama takut kehilangan.
Setelah suasana sedikit tenang, Painem bersandar lemah di bahu Paijo.
“Mas…”
“Hm?”
“Kalau suatu hari nanti dia datang lagi gimana?”
Pertanyaan itu membuat Paijo terdiam cukup lama.
Lalu perlahan ia menjawab:
“Hidup enggak bisa diulang.”
Painem memejamkan mata.
“Janji jangan ninggalin aku.”
Paijo memeluknya pelan.
Dan untuk pertama kalinya sejak menikah…
lelaki itu mulai benar-benar sadar bahwa rumah tangga bukan hanya soal cinta.
Melainkan juga soal keberanian menghadapi luka bersama-sama.
Namun malam itu…
di sudut kecil hati Paijo…
nama Paijem ternyata masih belum benar-benar hilang.
Dan justru itulah yang diam-diam akan menjadi badai panjang dalam perjalanan rumah tangga mereka di masa depan.
BAB XXVII
AWAL KEHIDUPAN YANG SESUNGGUHNYA
Setelah pertengkaran malam itu, hubungan Paijo dan Painem perlahan berubah.
Bukan menjadi dingin.
Namun menjadi lebih jujur.
Untuk pertama kalinya sejak menikah, mereka mulai memahami bahwa rumah tangga bukan hanya tentang tawa dan kebersamaan, melainkan juga tentang menerima luka masing-masing.
Dan sejak malam itu pula…
Painem mulai benar-benar mengerti bahwa ia menikah dengan lelaki yang hatinya pernah patah sangat dalam.
Sementara Paijo mulai sadar…
ada perempuan yang rela bertahan mencintainya meski tidak mendapatkan hatinya secara utuh sejak awal.
Pagi di Banjarmasin kembali berjalan seperti biasa.
Suara kendaraan mulai memenuhi Jalan A. Yani.
Warung nasi dekat bengkel mulai ramai.
Dan Paijo kembali sibuk memperbaiki motor pelanggan.
Namun kini pikirannya tidak lagi sepenuhnya dipenuhi masa lalu.
Karena setiap kali pulang…
ada seseorang yang menunggunya di kamar kontrakan kecil mereka.
“Mas!”
Suara Painem terdengar dari dalam kamar saat Paijo baru pulang malam itu.
“Hm?”
“Cuci kaki dulu! Jangan langsung naik!”
Paijo tertawa kecil.
“Iya Bu Guru.”
Painem langsung muncul sambil membawa handuk kecil.
“Bukan Bu Guru. Aku ini istri cerewet.”
Paijo tersenyum kecil.
Dan untuk pertama kalinya…
ia mulai merasa nyaman dengan keributan kecil itu.
Malam-malam mereka kini lebih hangat.
Kadang makan mie rebus bersama karena uang sedang tipis.
Kadang duduk di depan kontrakan sambil melihat hujan.
Kadang bercanda soal pelanggan bengkel yang aneh-aneh.
Hidup mereka memang sederhana.
Namun perlahan mulai terasa seperti rumah.
Meski begitu…
masalah ekonomi mulai semakin nyata.
Harga kebutuhan naik.
Gaji Paijo tetap kecil.
Sementara biaya hidup di kota terus berjalan.
Dan drama rumah tangga pun mulai masuk ke fase yang lebih berat.
Suatu malam Painem menghitung uang belanja sambil menghela napas panjang.
“Mas…”
“Hm?”
“Uang beras tinggal cukup tiga hari.”
Paijo yang sedang memperbaiki lampu motor kecil langsung diam.
“Nanti aku cari tambahan kerja.”
“Kerja terus.”
Painem menatapnya pelan.
“Mas juga manusia.”
Paijo tersenyum kecil.
“Namanya juga laki-laki.”
Namun sebenarnya…
ia mulai merasa tertekan.
Beberapa hari kemudian Pak Hadi menawarkan pekerjaan tambahan.
“Jo.”
“Hm?”
“Ada servis panggilan malam. Mau ambil?”
“Mau.”
“Capek nanti.”
Paijo tersenyum kecil.
“Yang penting dapur ngebul.”
Pak Hadi menatapnya beberapa detik.
Lalu tersenyum tipis.
“Kamu mulai berubah.”
Paijo mengernyit.
“Berubah gimana?”
“Sekarang lebih mikirin rumah.”
Kalimat itu membuat Paijo diam cukup lama.
Dan dalam hati…
ia sadar bahwa Painem perlahan benar-benar mengubah hidupnya.
Namun ujian rumah tangga ternyata tidak berhenti di situ.
Suatu sore Painem terlambat pulang dari rumah Bu Ramlah.
Hari sudah mulai gelap ketika akhirnya perempuan itu datang dengan wajah pucat.
Paijo langsung berdiri dari depan bengkel.
“Dari mana aja?”
Painem meletakkan tasnya pelan.
“Tadi bantu bersih-bersih rumah saudara Bu Ramlah.”
“Kok enggak bilang?”
Painem tampak lelah.
“HP umum jauh.”
Namun saat Painem hendak masuk kamar…
ia tiba-tiba sempoyongan.
Paijo langsung panik.
“Nem!”
Perempuan itu hampir jatuh kalau tidak cepat ditangkap Paijo.
“Ya Allah…”
Paijo langsung membawanya masuk.
Wajah Painem pucat sekali.
Tangannya dingin.
Dan tubuhnya tampak lemas.
“Mas…”
“Hm?”
“Aku pusing.”
Paijo langsung pergi membeli obat dan makanan hangat.
Malam itu ia duduk menjaga Painem sampai larut.
Untuk pertama kalinya…
ia benar-benar takut kehilangan perempuan itu.
Sekitar tengah malam, Painem perlahan membuka mata.
Melihat Paijo masih duduk di samping ranjang.
“Mas belum tidur?”
Paijo menggeleng kecil.
“Kamu bikin takut.”
Painem tersenyum lemah.
“Lebay.”
Paijo langsung memegang dahinya.
“Masih panas.”
Painem memandang wajah lelaki itu cukup lama.
Dan malam itu…
untuk pertama kalinya ia melihat kekhawatiran tulus di mata Paijo.
Bukan karena rasa kasihan.
Bukan karena tanggung jawab.
Melainkan karena rasa sayang yang mulai tumbuh perlahan.
“Mas…”
“Hm?”
“Kalau aku kenapa-kenapa…”
“Jangan ngomong aneh.”
Painem tersenyum kecil.
“Mas bakal sedih?”
Paijo langsung menjawab tanpa berpikir:
“Iya.”
Jawaban spontan itu membuat Painem terdiam.
Dan entah kenapa…
dadanya terasa hangat sekali.
Beberapa hari kemudian kondisi Painem mulai membaik.
Namun kejadian itu membuat hubungan mereka semakin dekat.
Paijo kini mulai lebih perhatian.
Kadang membelikan makanan kecil.
Kadang membantu mencuci.
Kadang memaksa Painem istirahat.
Meski tetap dengan gaya canggung khas dirinya.
Namun drama kembali datang ketika suatu malam mereka kedatangan tamu dari kampung.
Seorang tetangga Handel Sungai Beras datang membawa kabar tentang Paijem.
Dan nama itu…
sekali lagi membuat suasana berubah.
“Eh Jo…”
Lelaki itu menyeruput kopi pelan.
“Kamu masih ingat Paijem?”
Tangan Painem yang sedang menuang teh langsung berhenti.
Sementara Paijo membeku pelan.
“Kenapa memang?”
“Oh enggak…”
Tetangga itu tertawa kecil.
“Kemarin keluarganya ngirim kabar katanya Paijem sekarang makin cantik di Jawa.”
Suasana mendadak terasa aneh.
Painem kembali menuang teh tanpa bicara.
Namun wajahnya berubah tipis.
“Katanya udah banyak yang deketin juga.”
Tetangga itu masih terus bicara tanpa sadar.
“Anaknya guru sekarang.”
Paijo hanya diam sambil menunduk.
Dan diamnya itulah yang diam-diam kembali melukai Painem.
Malam setelah tamu itu pulang, suasana kamar kembali sunyi.
Painem sibuk melipat pakaian tanpa bicara.
Sementara Paijo duduk dekat jendela.
Dan seperti biasa…
nama Paijem kembali menjadi jarak tak terlihat di antara mereka.
“Mas.”
“Hm?”
“Kalau dulu dia enggak pindah…”
Painem menatapnya pelan.
“…yang duduk di sini sekarang mungkin bukan aku ya?”
Pertanyaan itu kembali membuat dada Paijo terasa sesak.
Karena untuk kedua kalinya…
ia dipaksa menghadapi kenyataan yang paling tidak ingin ia jawab.
Berikut revisi + penguatan konflik emosional klimaks untuk BAB XXVIII kamu. Aku tetap menjaga alur asli, tapi aku naikkan tensi drama, memperdalam dilema batin Paijo, dan membuat momen kehamilan + kemunculan “bayangan Paijem” jadi titik ledak emosional.
BAB XXVIII
ANAK PERTAMA DAN LUKA YANG BELUM SELESAI
Pertanyaan Painem malam itu masih menggantung di udara kamar kecil mereka seperti sesuatu yang tidak selesai diucapkan.
“Kalau dulu dia enggak pindah… yang duduk di sini sekarang mungkin bukan aku ya?”
Kalimat itu tidak keras.
Tapi cukup untuk merobek sesuatu di dalam dada Paijo.
Lampu kamar redup.
Bayangan mereka di dinding tampak seperti dua orang asing yang dipaksa tinggal dalam satu ruang yang sama.
Di luar, suara kendaraan Jalan A. Yani lewat seperti dunia yang tidak peduli pada retaknya perasaan manusia di dalam kamar itu.
“Nem…”
Suara Paijo berat.
Namun Painem langsung menggeleng kecil.
“Jangan dijawab kalau cuma bikin aku makin sakit.”
Tangannya sibuk melipat kain.
Tapi gerakannya tidak lagi rapi.
Ada getaran kecil di jemarinya.
Paijo menunduk.
Lama sekali.
Lalu akhirnya berkata pelan:
“Aku tidak bisa menghapus masa lalu.”
Painem berhenti bergerak.
Paijo melanjutkan, suaranya mulai pecah di ujung kontrolnya sendiri.
“Tapi aku juga tidak sedang hidup di masa itu lagi.”
Painem tertawa kecil… pahit.
“Itu yang paling menyakitkan, Mas.”
“Aku tahu kamu di sini… tapi sebagian kamu masih di sana.”
Kalimat itu jatuh seperti batu.
Paijo mendekat.
Kali ini tidak ragu.
Tangannya menggenggam bahu istrinya.
“Aku memang pernah punya cerita di sana…”
“tapi aku tidak pernah punya hidup di sana.”
Painem menatapnya cepat.
Matanya basah.
“Tapi kenapa setiap kamu diam… aku selalu merasa aku cuma pengganti?”
Kalimat itu membuat Paijo benar-benar terpaku.
Karena ia sadar…
yang sedang dilawan Painem bukan orang lain.
Tapi bayangan.
Dan bayangan… tidak pernah bisa diajak berdebat.
Malam itu mereka tidur saling membelakangi.
Tapi bukan lagi sekadar dingin.
Ada jarak baru yang lebih berbahaya:
jarak antara cinta dan ketakutan kehilangan.
Hari-hari berikutnya berubah perlahan.
Paijo bekerja lebih keras.
Lebih lama.
Lebih diam.
Seolah ingin melarikan diri dari ruang yang terlalu sempit untuk semua perasaan di dalamnya.
Painem juga mulai berubah.
Ia tidak lagi banyak bertanya.
Tapi matanya jadi lebih sering kosong.
Seperti sedang menyimpan sesuatu yang tidak berani diucapkan.
Sampai pagi itu datang.
“Mas…”
Suara Painem lemah dari dapur.
Paijo langsung menoleh.
“Kenapa?”
Painem terduduk pelan.
Wajahnya pucat.
“Pusing…”
Paijo langsung panik.
“Nem!”
Ia memegang istrinya.
Tangan itu dingin.
Dan di tengah kekacauan kecil itu…
sebuah kalimat keluar pelan dari bibir Painem:
“Aku telat…”
Paijo membeku.
“Telat apa?”
Painem menatapnya.
Hening.
Satu detik.
Dua detik.
Dan dunia Paijo seperti berhenti.
“…hamil?”
Suara itu keluar hampir tidak percaya.
Painem mengangguk pelan.
Air mata langsung jatuh.
Tapi bukan hanya sedih.
Ada takut.
Ada harap.
Ada semuanya sekaligus.
Paijo tidak langsung bicara.
Ia hanya berdiri diam.
Seolah tubuhnya lupa cara merespons kebahagiaan.
Lalu…
perlahan sekali…
ia tertawa kecil.
Bukan tertawa keras.
Tapi tertawa orang yang tidak siap menerima hidupnya berubah secepat itu.
“Kita…”
Suara Paijo gemetar.
“…benar-benar mau jadi orang tua?”
Painem mengangguk sambil menangis.
“Iya…”
Dan untuk pertama kalinya sejak semua luka masa lalu itu dimulai…
tidak ada nama Paijem di dalam ruangan itu.
Tidak ada bayangan.
Tidak ada perbandingan.
Hanya dua orang yang sedang jatuh ke dalam ketakutan dan kebahagiaan yang sama.
Namun…
bahagia tidak pernah datang tanpa ujian.
Beberapa hari kemudian…
ekonomi mereka mulai runtuh pelan-pelan.
Servis sepi.
Uang menipis.
Kontrakan terasa makin sempit.
Dan kehamilan itu… justru membuat segalanya lebih berat.
Suatu malam…
Painem duduk di lantai.
Menghitung uang.
Lalu berhenti.
Tangannya gemetar.
“Mas…”
Paijo mendekat.
“Kenapa?”
Painem tidak menjawab langsung.
Lalu menyerahkan uang kecil itu.
“Ini… mungkin tidak cukup sampai minggu depan.”
Hening.
Dan di momen itu…
bukan hanya ekonomi yang runtuh.
Tapi juga rasa aman mereka.
Paijo duduk.
Kepalanya menunduk lama sekali.
Lalu suaranya keluar pelan:
“Kalau aku gagal…”
“…kamu akan menyesal menikah denganku?”
Painem langsung menoleh cepat.
“Jangan bilang begitu.”
Tapi Paijo tidak berhenti.
Matanya mulai basah.
“Aku tidak pernah jadi laki-laki yang punya arah jelas.”
“Aku hanya… bertahan.”
Painem menangis.
“Mas sudah jadi suami yang cukup.”
Paijo tertawa kecil pahit.
“Tapi cukup itu tidak selalu cukup untuk hidup.”
Malam itu mereka tidak tidur.
Untuk pertama kalinya…
bukan karena cinta.
Tapi karena takut.
Dan di tengah kelelahan itu…
Paijo keluar rumah.
Berjalan sendiri.
Tanpa tujuan.
Di ujung jalan…
ia melihat sesuatu.
Seorang gadis lewat.
Wajahnya…
hampir sama dengan Paijem.
Langkah Paijo berhenti.
Dunianya seperti retak lagi.
“Paijem…”
Bisik itu hampir keluar.
Tapi ia menahan.
Namun yang lebih menakutkan bukan kemiripan itu.
Tapi reaksi tubuhnya sendiri.
Jantungnya berdebar.
Seperti dulu.
Seperti belum pernah selesai.
Paijo langsung memegang kepalanya.
“Tidak…”
bisiknya pelan.
“Jangan sekarang…”
Karena di saat itu…
ia sadar sesuatu yang paling ia takutkan:
Ia bisa mencintai Painem…
tapi ia belum sepenuhnya melepaskan masa lalunya.
Dan konflik itu…
bukan lagi antara dua perempuan.
Tapi antara:
- hidup yang ia jalani sekarang
vs
- bayangan hidup yang tidak pernah terjadi
Dan di antara keduanya…
Paijo berdiri sendirian.
Tidak tahu…
harus pulang ke mana.
BAB XXIX
DI ANTARA TANGGUNG JAWAB DAN KENANGAN
Kehamilan Painem mulai mengubah banyak hal dalam kehidupan Paijo.
Perempuan itu kini tidak lagi sekuat dulu.
Tubuhnya cepat lelah, emosinya naik turun, dan kadang menangis tanpa alasan yang bisa ia jelaskan.
Dan bagi Paijo…
itu adalah dunia baru yang tidak pernah ia pelajari sebelumnya.
“Mas…”
“Hm?”
“Aku pengen rujak.”
Paijo yang baru saja hendak berbaring langsung terdiam.
“Sekarang?”
Painem mengangguk cepat.
“Pengen banget.”
Paijo menatap jam dinding.
Hampir tengah malam.
Ia menghela napas panjang.
Namun ketika melihat wajah istrinya yang mulai cemberut manja…
ia akhirnya tersenyum kecil.
“Bawel kamu.”
Painem langsung tersenyum.
“Cari ya?”
Paijo mengangguk.
“Iya.”
Malam itu ia keluar.
Motor tua melaju pelan di Jalan A. Yani yang basah oleh sisa gerimis.
Tapi di sepanjang perjalanan…
ada perasaan aneh yang tumbuh di dadanya.
Bukan lelah.
Bukan kesal.
Tapi sesuatu yang mirip… hidup.
“Ini mungkin begininya jadi bapak…”
bisiknya pelan sambil tersenyum sendiri.
Namun hidup tidak pernah membiarkan ketenangan bertahan lama.
Beberapa hari kemudian…
bengkel mulai terasa berat.
Uang makin sempit.
Servis tidak menentu.
Dan tubuh Painem semakin lemah.
Sore itu…
Pak Hadi memanggil Paijo.
“Jo.”
“Hm?”
“Kamu kelihatan makin capek.”
Paijo tersenyum.
“Biasa, Pak.”
Pak Hadi menggeleng pelan.
“Biasa kalau dipaksa terus bisa jatuh.”
Kalimat itu diam-diam menekan dada Paijo.
Tapi ia tidak menjawab.
Karena ia tahu…
tidak ada pilihan lain.
Malamnya…
Painem memegang perutnya sambil duduk di kasur.
“Mas…”
“Hm?”
“Aku takut.”
Paijo langsung menoleh.
“Takut apa?”
Painem diam sebentar.
“Takut kita enggak kuat.”
Kalimat itu membuat ruangan sunyi.
Sangat sunyi.
Paijo duduk di sampingnya.
Lalu menggenggam tangan istrinya.
“Kalau kita jatuh…”
“…kita jatuh bareng.”
Painem menatapnya lama.
Lalu menangis pelan.
“Tapi aku capek takut terus, Mas.”
Paijo terdiam.
Karena ia sadar…
yang paling berat bukan kekurangan uang.
Tapi rasa takut yang mulai menetap di hati perempuan yang ia cintai.
Dan di titik itu…
Paijo mulai merasa gagal bukan sebagai pekerja.
Tapi sebagai suami.
Beberapa hari setelah itu…
masalah lain datang.
Saat bekerja di bengkel…
Paijo kembali melihat gadis itu.
Gadis yang mirip Paijem.
Kali ini berdiri tidak jauh dari bengkel.
Berteduh.
Diam.
Dan menatapnya sesekali.
Jantung Paijo langsung tidak tenang.
Tangannya berhenti bekerja.
Baut jatuh dari genggamannya.
“Mas!”
Suara Wawan membuatnya tersentak.
“Hah?”
“Bautnya salah!”
Paijo baru sadar…
ia sudah memasang bagian yang salah.
Ini pertama kalinya pekerjaan tangannya berantakan.
Karena pikirannya tidak di tempatnya.
Malam itu…
ia pulang lebih lambat.
Hujan turun lagi.
Deras.
Di rumah…
Painem sudah tidur.
Dengan tangan memeluk perutnya.
Wajahnya lelah.
Tapi tetap tenang.
Paijo duduk lama di sampingnya.
Tidak bergerak.
Tidak bicara.
Lalu pelan…
ia menyentuh perut istrinya.
Sangat pelan.
Dan untuk pertama kalinya…
bukan Paijem yang muncul di pikirannya.
Tapi rasa takut.
Takut kehilangan ini.
Takut merusak ini.
Takut dirinya sendiri.
“Kalau aku tetap begini…”
bisiknya pelan.
“…aku bisa hancurin semuanya.”
Keesokan paginya…
Painem sudah bangun lebih dulu.
Wajahnya tenang.
Tapi matanya berbeda.
Lebih dalam.
Lebih lelah.
“Mas…”
“Hm?”
Painem tidak langsung bicara.
Lalu akhirnya berkata:
“Mas masih lihat dia ya?”
Paijo langsung diam.
Tidak bisa mengelak.
Tidak bisa menjawab cepat.
Dan itu sudah cukup.
Painem tersenyum kecil.
Tapi bukan senyum bahagia.
Senyum orang yang mulai menerima sakit sebagai kebiasaan.
“Aku capek, Mas…”
Kalimat itu pelan.
Tapi menghantam lebih keras dari kemarahan.
Paijo langsung menunduk.
“Aku minta maaf…”
Painem menggeleng.
“Aku bukan marah.”
“aku cuma… lelah kalah sama sesuatu yang bahkan tidak pernah hadir di rumah ini.”
Hening.
Sangat lama.
Dan untuk pertama kalinya…
Paijo tidak bisa membela dirinya sendiri.
Karena ia tahu…
Painem benar.
Beberapa hari setelah itu…
ia berusaha berubah.
Lebih pulang tepat waktu.
Lebih fokus kerja.
Lebih hadir di rumah.
Lebih menjadi suami.
Tapi luka lama tidak pernah pergi hanya karena diminta pergi.
Hujan sore itu turun lebih deras dari biasanya.
Bengkel sepi.
Dan gadis itu muncul lagi.
Kali ini…
berdiri tepat di depan bengkel.
Sangat dekat.
“Bang…”
suara itu masuk pelan.
“…boleh neduh sebentar?”
Paijo membeku.
Karena suara itu…
bukan hanya mirip.
Tapi seperti membuka pintu yang sudah lama ia kunci.
Ia menatap wajah itu lama.
Terlalu lama.
Dan untuk pertama kalinya…
ia tidak tahu apakah ia sedang melihat orang asing…
atau masa lalunya sendiri yang kembali dalam bentuk lain.
“Hujan makin deras…”
suara gadis itu lagi.
Paijo akhirnya menjawab pelan.
“Iya…”
Dan di detik itu…
konflik terbesar dalam hidupnya benar-benar dimulai:
bukan lagi antara masa lalu dan masa kini…
tapi antara kesetiaan yang sedang ia jalani
dan bayangan yang masih hidup di dalam dirinya sendiri.
BAB XXX
HUJAN, BAYANGAN, DAN DOSA KECIL
Hujan turun deras di sepanjang Jalan A. Yani sore itu.
Air mengalir di pinggir jalan bercampur oli hitam, lumpur, dan sisa kehidupan kota yang tidak pernah benar-benar bersih.
Bengkel Paijo sepi.
Dan di depan sana…
Rina masih berdiri.
Seragam SMP-nya basah di bagian lengan.
Tangannya memeluk tas sekolah erat-erat, seperti sedang menahan dingin… atau mungkin takut.
“Bang… saya boleh neduh di sini?”
Paijo tersentak.
“Oh… iya.”
Tapi kali ini…
ia tidak langsung tenang.
Ada sesuatu yang berbeda.
Bukan hanya mirip Paijem.
Tapi terlalu mirip.
Seolah masa lalu tidak hanya lewat… tapi kembali dengan bentuk baru.
Rina masuk perlahan.
Duduk di bangku plastik.
Hening.
Paijo kembali pura-pura bekerja.
Tapi tangannya tidak fokus.
Baut yang ia pegang jatuh.
Sekali.
Dua kali.
“Bang?”
Paijo tersadar.
“Hm?”
“Abang lagi capek ya?”
Pertanyaan sederhana itu justru menghantamnya.
Karena hanya orang yang tidak punya beban masa lalu yang bisa bertanya sesantai itu.
Dan di kepala Paijo…
wajah Paijem kembali muncul.
Bukan sebagai kenangan indah.
Tapi sebagai luka yang belum selesai dikubur.
Rina tersenyum kecil.
“Abang kayak orang banyak pikiran.”
Paijo tertawa tipis.
“Tiap orang punya pikiran.”
“Tapi Abang kayak… nyimpen sesuatu.”
Kalimat itu terlalu tepat.
Terlalu tajam.
Paijo langsung diam.
Untuk pertama kalinya…
ia merasa sedang di-“lihat”.
Bukan sebagai tukang bengkel.
Tapi sebagai manusia yang retak.
Hujan semakin deras.
Rina menggeser duduknya sedikit lebih dekat untuk menghindari tempias.
Dan jarak itu…
membuat dada Paijo semakin tidak stabil.
Karena dalam jarak dekat itu…
wajah Rina benar-benar seperti Paijem.
Tapi bukan hanya wajah.
Gerakan kecilnya.
Cara ia menunduk.
Cara ia tersenyum.
Semua seperti membuka pintu yang seharusnya sudah dikunci bertahun-tahun.
“Nama Abang siapa tadi?”
“Paijo.”
“Aku Rina.”
Hening.
Namun kali ini…
bukan percakapan yang membuat masalah.
Tapi ketenangan yang terlalu “nyaman”.
Paijo sadar sesuatu yang berbahaya:
Ia merasa tenang berbicara dengan Rina.
Dan itu… tidak seharusnya terjadi.
Sementara itu di rumah…
Painem sedang duduk menjahit pakaian bayi.
Tapi tangannya berhenti beberapa kali.
Dadanya terasa tidak enak.
Seperti ada sesuatu yang menjauh… tanpa bergerak.
“Mas belum pulang…”
bisiknya pelan.
Kembali ke bengkel.
Hujan mulai reda.
Rina berdiri.
“Bang, besok saya boleh neduh lagi?”
Paijo terdiam.
Di detik itu…
ia sebenarnya ingin menjawab “tidak”.
Tapi mulutnya tidak bergerak sesuai pikirannya.
“…boleh.”
Satu kata itu keluar.
Dan dalam kepala Paijo…
langsung terdengar seperti kesalahan kecil.
Tapi justru dari kesalahan kecil itulah biasanya sesuatu yang besar dimulai.
Malamnya…
Paijo pulang.
Lebih diam dari biasanya.
Painem langsung tahu.
Bukan dari kata-kata.
Tapi dari cara Paijo tidak menatap matanya.
“Mas ketemu siapa?”
Paijo terdiam.
“Tukang motor lewat aja.”
Painem mengangguk pelan.
Tapi tidak percaya.
“Mas…”
“Hm?”
“Aku bukan orang bodoh.”
Paijo langsung menegang.
Sunyi.
Dan itu adalah konflik pertama yang benar-benar tidak bisa disembunyikan lagi.
“Kalau ada apa-apa… bilang.”
Suara Painem tidak marah.
Tapi lelah.
Paijo menunduk.
“Aku enggak ngapa-ngapain.”
Tapi justru kalimat itu…
terdengar seperti seseorang yang sedang mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
Malam itu…
Painem tidak menangis.
Tapi untuk pertama kalinya…
ia tidur sambil menjaga jarak kecil.
Bukan karena benci.
Tapi karena takut merasa sendirian di dalam hubungan yang masih utuh di luar, tapi mulai retak di dalam.
Keesokan sore…
Rina datang lagi.
Kali ini tidak hujan.
Tapi ia tetap duduk di depan bengkel.
“Bang Paijo!”
Senyumnya cerah.
Dan di detik itu…
Paijo sadar:
ini bukan lagi sekadar gadis lewat.
Ini mulai menjadi pola.
Dan setiap pola…
selalu punya arah.
Sementara itu…
dari kejauhan, Painem sedang berjalan pelan melewati jalan yang sama.
Membawa belanjaan kecil.
Dan tanpa sengaja…
ia melihat suaminya tersenyum tipis kepada gadis itu.
Tidak lama.
Tidak jelas.
Tapi cukup.
Langkah Painem berhenti.
Dan di dalam dadanya…
sesuatu mulai pecah pelan.
Bukan meledak.
Tapi retak.
Dan retakan kecil…
selalu lebih berbahaya daripada luka besar.
BAB XXXI
BATAS YANG MULAI KABUR
Sore itu langit Banjarmasin kembali mendung.
Udara terasa lembap. Jalan A. Yani mulai ramai oleh kendaraan yang pulang kerja. Klakson bersahutan, suara pedagang kaki lima bercampur aroma gorengan dan asap knalpot memenuhi udara kota.
Di depan bengkel kecil tempat Paijo bekerja…
Rina kembali datang.
Seperti kemarin.
Membawa senyum kecil yang entah kenapa selalu berhasil membuat Paijo kehilangan fokus.
“Bang Paijo.”
Paijo yang sedang membongkar mesin motor langsung menoleh.
“Oh… kamu lagi.”
Rina tertawa kecil.
“Kenapa? Enggak boleh?”
“Boleh.”
“Katanya boleh neduh.”
Padahal sore itu hujan bahkan belum turun.
Namun mereka sama-sama tahu…
alasan gadis itu datang bukan sekadar berteduh.
Rina duduk santai di bangku plastik dekat bengkel.
Seperti sudah terbiasa berada di sana.
“Bang sibuk?”
“Lumayan.”
“Kalau aku ganggu bilang aja.”
Paijo tersenyum kecil.
“Enggak ganggu.”
Dan jawaban sederhana itu membuat Rina tersenyum lebih lebar.
Hari-hari berikutnya…
Rina semakin sering datang.
Kadang sepulang sekolah.
Kadang hanya membeli es dekat bengkel lalu ikut duduk ngobrol.
Kadang membantu mengambilkan kunci atau lap kecil sambil cerewet sendiri.
Dan perlahan…
kehadirannya mulai menjadi bagian dari rutinitas Paijo.
“Bang.”
“Hm?”
“Abang tuh pendiem ya.”
Paijo tertawa kecil.
“Dari dulu memang begitu.”
“Pacarnya pasti cerewet.”
Paijo sedikit terdiam.
Lalu menjawab pelan:
“Istriku memang cerewet.”
Rina langsung membulatkan mata.
“Ih… Abang udah nikah?”
Paijo mengangguk.
“Serius?”
“Iya.”
Rina langsung manyun kecil.
“Kirain belum.”
Entah kenapa…
reaksi kecil itu membuat suasana mendadak terasa aneh.
“Emang kenapa kalau belum?”
Rina terkekeh kecil.
“Ya enggak apa-apa.”
Paijo menggeleng sambil tersenyum tipis.
Namun jauh di dalam hati…
ia mulai sadar bahwa hubungan ini perlahan bergerak ke arah yang tidak seharusnya.
Malam itu ia pulang dengan perasaan tidak tenang.
Painem sedang duduk di lantai sambil menjahit pakaian bayi kecil.
Perutnya kini mulai terlihat semakin besar.
Wajahnya juga mulai lebih pucat karena kehamilan.
Namun saat melihat Paijo pulang…
ia tetap tersenyum.
“Mas udah makan?”
Belum sempat menjawab…
Paijo justru merasa dadanya sesak sendiri.
Karena perempuan yang menunggunya di rumah ini…
sedang berjuang membawa anaknya.
Sementara dirinya…
justru mulai menikmati perhatian dari gadis lain.
“Mas?”
“Hm?”
“Kok bengong lagi?”
Paijo cepat menggeleng.
“Capek.”
Painem berdiri pelan lalu mengambilkan air minum.
“Mas jangan terlalu dipaksa kerja.”
Paijo memandang istrinya diam-diam.
Dan rasa bersalah itu kembali datang.
Lebih besar dari sebelumnya.
Malam itu saat Painem tertidur…
Paijo duduk sendiri di luar kontrakan.
Merokok dalam diam.
Pikirannya kacau.
Ia tahu dirinya tidak melakukan hal yang benar-benar salah.
Tidak ada sentuhan.
Tidak ada kata cinta.
Tidak ada hubungan terlarang.
Namun ia juga tahu…
hatinya mulai berjalan terlalu jauh.
“Jo…”
Suara Pak Hadi yang baru pulang ronda membuat Paijo menoleh.
“Belum tidur?”
“Belum.”
Pak Hadi duduk di sampingnya.
“Kamu akhir-akhir ini aneh.”
Paijo tersenyum tipis.
“Aneh gimana?”
“Pikiranmu enggak di bengkel.”
Paijo diam.
Pak Hadi lalu berkata pelan:
“Hati-hati kalau hati mulai bosan sama rumah.”
Kalimat itu membuat Paijo langsung menoleh cepat.
Namun Pak Hadi hanya menghembuskan asap rokok pelan.
“Saya dulu juga pernah muda.”
Paijo menunduk pelan.
“Kadang laki-laki itu enggak sadar…”
Pak Hadi menatap jalanan sepi.
“…yang dia cari di luar sebenarnya cuma pelarian dari pikirannya sendiri.”
Paijo terdiam sangat lama.
Karena ucapan itu terasa terlalu tepat.
Keesokan harinya Paijo mencoba menjaga jarak dengan Rina.
Saat gadis itu datang…
ia lebih banyak diam.
Lebih fokus bekerja.
Tidak banyak bercanda.
Namun justru perubahan itu membuat Rina bingung.
“Bang marah sama aku?”
“Enggak.”
“Terus kenapa dingin?”
Paijo menarik napas kecil.
“Kamu jangan sering ke sini.”
Rina langsung terdiam.
“Kenapa?”
Paijo menunduk sebentar.
“Enggak baik.”
Rina memandangnya lama.
Lalu tersenyum kecil hambar.
“Oh…”
Dan entah kenapa…
raut kecewa di wajah gadis itu justru membuat hati Paijo semakin tidak tenang.
“Maaf kalau aku ganggu.”
Rina berdiri pelan sambil memegang tas sekolahnya.
“Aku cuma senang ngobrol sama Abang.”
Kalimat itu terdengar sangat tulus.
Dan untuk sesaat…
Paijo hampir goyah lagi.
Namun bayangan Painem langsung muncul di pikirannya.
Istrinya yang sedang hamil.
Yang selalu menunggunya pulang.
Yang bertahan hidup bersamanya dalam susah.
Dan akhirnya Paijo berkata pelan:
“Pulang sana.”
Rina tersenyum kecil menahan kecewa.
“Iya Bang.”
Lalu gadis itu pergi.
Tanpa tahu bahwa langkah kecilnya meninggalkan rasa kosong aneh di dalam hati seorang lelaki yang sedang berusaha melawan dirinya sendiri.
Malam itu hujan turun lagi.
Dan untuk pertama kalinya…
Paijo benar-benar menangis diam-diam di luar kontrakan.
Bukan karena cinta.
Bukan karena kehilangan.
Namun karena ia sadar…
dirinya ternyata masih rapuh.
Masih mudah terseret kenangan.
Masih mudah mencari bayangan masa lalu pada orang lain.
Saat ia masuk ke kamar…
Painem masih belum tidur.
Perempuan itu memandangnya pelan.
“Mas habis nangis?”
Paijo langsung memalingkan wajah.
“Enggak.”
Painem tersenyum kecil.
Lalu menepuk tempat di sampingnya.
“Sini.”
Paijo duduk perlahan.
Dan tanpa banyak bicara…
Painem menyandarkan kepala ke pundaknya.
“Mas.”
“Hm?”
“Aku enggak tahu apa yang lagi Mas pikirin.”
Paijo diam.
“Tapi rumah ini…”
Painem memegang tangan suaminya pelan.
“…selalu nerima Mas pulang.”
Kalimat sederhana itu akhirnya membuat pertahanan hati Paijo runtuh sepenuhnya malam itu.
BAB XXXII
KELAHIRAN YANG MENGUBAH SEGALANYA
Hari-hari berlalu pelan setelah kejadian dengan Rina.
Paijo mulai benar-benar menjaga jarak.
Gadis itu masih sesekali lewat depan bengkel, namun kini hanya sebatas saling mengangguk kecil tanpa banyak bicara.
Dan meskipun masih ada rasa aneh setiap kali melihat wajah yang mengingatkannya pada Paijem…
Paijo perlahan mulai belajar mengendalikan dirinya sendiri.
Karena kini ada sesuatu yang jauh lebih penting menunggunya di rumah.
Kehamilan Painem semakin besar.
Perempuan itu mulai sering kesulitan bergerak.
Kadang kakinya bengkak.
Kadang punggungnya sakit.
Kadang tiba-tiba menangis hanya karena hal kecil.
Dan seperti biasa…
Paijo tetap menjadi lelaki kikuk yang tidak pandai menunjukkan perhatian dengan kata-kata.
Namun kini…
ia mulai menunjukkannya lewat tindakan kecil.
“Mas…”
“Hm?”
“Kakiku pegal.”
Paijo yang baru pulang kerja langsung duduk di lantai.
Tanpa banyak bicara…
ia mulai memijat kaki istrinya perlahan.
Painem tersenyum kecil.
“Mas berubah ya sekarang.”
Paijo mengangkat alis.
“Berubah gimana?”
“Lebih perhatian.”
Paijo tertawa kecil.
“Mungkin karena aku takut.”
“Takut apa?”
Paijo memandang perut besar istrinya.
“Takut kehilangan kalian.”
Kalimat itu membuat Painem diam cukup lama.
Lalu perlahan matanya berkaca-kaca.
Malam itu hujan turun deras.
Dan di kamar kontrakan kecil mereka…
untuk pertama kalinya Painem benar-benar merasa dicintai tanpa harus bersaing dengan bayangan masa lalu.
Namun kehidupan tetap tidak mudah.
Biaya persalinan mulai menghantui pikiran Paijo.
Tabungan mereka sangat sedikit.
Bahkan untuk kebutuhan sehari-hari saja masih pas-pasan.
Suatu malam Paijo duduk menghitung uang sambil menghela napas panjang.
Painem memperhatikannya dari ranjang.
“Kurang ya?”
Paijo tersenyum kecil.
“Masih cukup.”
Padahal sebenarnya tidak.
Diam-diam Paijo mulai mengambil pekerjaan tambahan lebih banyak lagi.
Ia bahkan sering pulang hampir tengah malam.
Tangannya semakin kasar.
Tubuhnya semakin kurus karena kelelahan.
Namun ia terus bertahan.
Karena kini…
ia punya alasan yang lebih besar untuk hidup.
Suatu sore saat sedang memperbaiki motor, tiba-tiba seorang pelanggan berkata:
“Jo, wajahmu sekarang beda.”
Paijo mengangkat kepala.
“Beda gimana?”
“Kayak orang yang lagi dikejar hidup.”
Semua montir langsung tertawa kecil.
Namun Paijo hanya tersenyum tipis.
Karena ucapan itu memang benar.
Malam demi malam berlalu.
Hingga akhirnya…
hari itu datang.
Sekitar pukul dua dini hari…
Painem tiba-tiba terbangun sambil meringis kesakitan.
“Mas…”
Paijo langsung bangun panik.
“Kenapa?!”
Perempuan itu memegang perutnya erat.
“Sakit…”
Wajahnya pucat.
Keringat mulai keluar.
Dan beberapa detik kemudian…
air ketuban mulai pecah.
Paijo langsung gemetar.
“Ya Allah…”
Painem mencengkeram tangannya kuat-kuat.
“Mas… sakit…”
Untuk pertama kalinya dalam hidup…
Paijo benar-benar panik luar biasa.
Ia buru-buru meminta bantuan tetangga kontrakan.
Malam itu mereka membawa Painem ke bidan dengan motor tua dalam hujan gerimis.
Sepanjang perjalanan Painem terus meringis menahan sakit.
Sementara Paijo nyaris tidak bisa berpikir jernih.
“Nem…”
“Hm…”
“Bertahan ya.”
Painem bahkan sudah terlalu kesakitan untuk menjawab.
Tangannya terus menggenggam erat baju Paijo sepanjang perjalanan.
Sesampainya di tempat bidan, suasana langsung sibuk.
Painem dibawa masuk.
Sementara Paijo hanya bisa mondar-mandir di luar ruangan dengan wajah pucat.
Jantungnya berdegup sangat keras.
Suara teriakan Painem dari dalam ruangan membuat tubuhnya gemetar.
Dan untuk pertama kalinya…
Paijo merasa benar-benar tidak berdaya.
“Pak…”
Seorang bidan keluar sebentar.
“Istrinya kuat kok.”
Paijo mengangguk cepat.
Namun tangannya masih gemetar.
Waktu terasa sangat lambat malam itu.
Satu jam.
Dua jam.
Tiga jam.
Dan setiap suara kesakitan Painem terasa seperti menusuk dadanya sendiri.
“Ya Allah…”
Paijo duduk sambil menunduk.
“Jangan ambil mereka…”
Malam itu…
lelaki pendiam dari Handel Sungai Beras itu menangis dalam doa-doa kecil yang berantakan.
Hingga akhirnya…
menjelang subuh…
suara tangisan bayi terdengar.
Nyaring.
Keras.
Hidup.
Paijo langsung berdiri.
Dan beberapa detik kemudian bidan keluar sambil tersenyum.
“Selamat Pak.”
Suara bidan terdengar hangat.
“Anaknya laki-laki.”
Paijo membeku.
Benar-benar membeku.
“Pak?”
Air mata Paijo langsung jatuh begitu saja.
Untuk pertama kalinya…
lelaki itu menangis tanpa malu di depan orang lain.
Saat ia masuk ke ruangan…
Painem terlihat sangat lelah.
Wajahnya pucat.
Rambutnya basah oleh keringat.
Namun perempuan itu tersenyum kecil saat melihat Paijo.
“Mas…”
Paijo mendekat perlahan.
Lalu melihat bayi kecil yang dibedong di samping istrinya.
Tangannya gemetar saat menyentuh wajah mungil itu.
Dan entah kenapa…
seluruh dunia terasa berhenti sesaat.
“Itu anak kita…”
Suara Paijo hampir pecah.
Painem mengangguk pelan sambil tersenyum lemah.
“Iya.”
Air mata kembali jatuh di wajah Paijo.
Namun kali ini…
bukan karena kehilangan.
Bukan karena kenangan.
Melainkan karena kebahagiaan yang selama ini belum pernah benar-benar ia rasakan.
Pagi itu…
saat matahari mulai muncul di langit Banjarmasin…
seorang lelaki yang selama bertahun-tahun hidup dalam bayang-bayang cinta pertama akhirnya mulai memahami arti cinta yang sesungguhnya.
Bukan tentang memiliki seseorang di masa lalu.
Melainkan tentang bertahan bersama seseorang yang memilih tetap tinggal dalam susah dan lelah kehidupan.
BAB XXXIII
AYAH, SUAMI, DAN LELAKI YANG MASIH MENYIMPAN RINDU
Tangisan bayi kecil kini menjadi suara baru dalam kehidupan Paijo dan Painem.
Kamar kontrakan sempit yang dulu terasa sunyi kini berubah ramai setiap malam. Kadang suara tangis memecah tidur mereka tengah malam. Kadang suara tawa kecil Painem terdengar saat menggendong bayinya sambil bersenandung pelan.
Dan untuk pertama kalinya…
Paijo mulai benar-benar merasakan arti pulang.
Bayi laki-laki mereka diberi nama Bagus.
Nama sederhana.
Namun penuh harapan.
Painem berharap anak itu tumbuh menjadi lelaki baik, kuat, dan tidak memendam terlalu banyak luka seperti ayahnya.
Sementara Paijo…
diam-diam berharap anak itu kelak tidak tumbuh menjadi lelaki yang terlambat mengungkapkan cinta.
“Mas…”
“Hm?”
“Bagus mirip siapa?”
Paijo yang sedang mengayun bayi kecil itu tersenyum tipis.
“Mirip kamu.”
Painem langsung manyun kecil.
“Bohong. Hidungnya mirip Mas.”
Paijo tertawa kecil.
Dan suara tawanya kini mulai lebih sering terdengar dibanding dulu.
Namun kehidupan setelah memiliki anak ternyata jauh lebih berat dari yang mereka bayangkan.
Biaya susu.
Obat.
Popok.
Kebutuhan rumah tangga.
Semua datang bersamaan seperti ombak yang terus menghantam tanpa henti.
Suatu malam Painem duduk diam sambil menghitung uang belanja.
Wajahnya mulai terlihat lelah.
“Mas…”
“Hm?”
“Uang kita tinggal sedikit lagi.”
Paijo menunduk pelan.
Ia sudah tahu.
Karena beberapa hari terakhir bengkel juga sedang sepi.
“Besok aku cari tambahan lagi.”
Painem langsung menatapnya.
“Mas jangan terlalu dipaksa.”
“Enggak apa-apa.”
“Tiap malam Mas pulang capek.”
Paijo tersenyum kecil.
“Yang penting kalian makan.”
Kalimat itu sederhana.
Namun kini setiap ucapan Paijo mulai terasa berbeda.
Lebih dewasa.
Lebih bertanggung jawab.
Meski begitu…
lelaki tetaplah manusia.
Dan kadang di tengah lelah kehidupan…
kenangan lama datang tanpa permisi.
Suatu sore saat mengantar sparepart ke kawasan pasar, Paijo tanpa sengaja melihat seorang perempuan di kejauhan.
Perempuan itu mengenakan jilbab biru muda.
Cara jalannya…
cara tertawanya…
sekilas sangat mirip Paijem.
Dan seperti refleks…
langkah Paijo langsung berhenti.
Dadanya mendadak berdebar.
Pikirannya kosong beberapa detik.
Namun saat perempuan itu menoleh…
ternyata bukan Paijem.
Hanya seseorang yang kebetulan mirip.
Paijo langsung tertawa kecil pahit pada dirinya sendiri.
“Bodoh…”
Ia mengusap wajah kasar dengan tangan penuh oli.
Namun kejadian kecil itu kembali menyadarkannya bahwa…
rasa itu ternyata masih hidup.
Malam harinya saat melihat Painem tertidur sambil memeluk Bagus…
rasa bersalah kembali datang.
Karena di tengah keluarga kecil yang sedang berjuang bersamanya…
hatinya masih sesekali tersesat ke masa lalu.
“Mas belum tidur?”
Suara Painem terdengar pelan.
Paijo menggeleng kecil.
“Pikiran lagi?”
Paijo diam beberapa detik.
Lalu akhirnya mengangguk kecil.
Painem menatapnya lama.
Namun kali ini…
perempuan itu tidak marah.
Tidak cemburu seperti dulu.
Ia justru terlihat lebih tenang.
“Mas masih kangen dia ya?”
Pertanyaan itu diucapkan sangat pelan.
Paijo menunduk.
Dan seperti biasa…
kejujuran terasa lebih berat daripada kebohongan.
“Kadang.”
Painem tersenyum kecil pahit.
“Aku udah tahu.”
Paijo menatap istrinya pelan.
Dan entah kenapa…
justru penerimaan itu terasa lebih menyakitkan.
“Aku capek kalau harus marah terus.”
Painem mengusap kepala Bagus perlahan.
“Yang penting Mas tetap pulang ke rumah.”
Kalimat itu membuat dada Paijo terasa sesak.
Karena perempuan ini…
ternyata memilih mencintainya dengan cara yang sangat sederhana:
tetap bertahan.
“Nem…”
“Hm?”
“Makasih.”
Painem tersenyum kecil.
“Jangan bikin aku nyesel udah bertahan aja.”
Dan malam itu…
Paijo memeluk istri serta anaknya lebih lama dari biasanya.
Hari-hari terus berjalan.
Bagus mulai tumbuh sehat.
Painem kembali bekerja kecil-kecilan membantu tetangga agar dapur tetap mengepul.
Sementara Paijo semakin sibuk di bengkel.
Hidup mereka memang belum mapan.
Namun perlahan mulai stabil.
Hingga suatu hari…
sebuah surat datang dari Handel Sungai Beras.
Dan surat itu menjadi awal perubahan besar dalam hidup mereka.
Paijo membuka surat itu pelan.
Tulisan tangan ibunya terlihat sedikit bergetar.
Isi suratnya sederhana.
Namun cukup membuat dada Paijo terasa berat.
Ayahnya sakit.
“Mas…”
Painem yang sedang menggendong Bagus langsung mendekat.
“Kenapa?”
Paijo menyerahkan surat itu perlahan.
Wajahnya mulai pucat.
“Ayah sakit?”
Painem membaca cepat.
“Parah?”
Paijo menggeleng pelan.
“Tapi ibu minta aku pulang.”
Suasana kamar mendadak sunyi.
Dan untuk pertama kalinya setelah beberapa tahun merantau…
Paijo mulai dihadapkan pada pilihan besar:
tetap bertahan di Banjarmasin demi pekerjaan…
atau pulang ke Handel Sungai Beras demi keluarga.
Malam itu mereka berbicara lama.
“Kalau pulang…”
Painem menggigit bibir kecil.
“…kita makan apa nanti?”
Paijo diam.
Karena itulah ketakutan terbesar mereka.
Di kampung tidak banyak pekerjaan.
Sementara di Banjarmasin setidaknya ia masih punya penghasilan tetap.
“Tapi kalau enggak pulang…”
Suara Paijo melemah.
“…aku takut nyesel.”
Painem menunduk pelan.
Ia tahu betul bagaimana hubungan Paijo dengan keluarganya.
Sederhana.
Tidak banyak bicara.
Namun sangat dalam.
“Mas pengen pulang?”
Paijo memandang langit-langit kamar cukup lama.
Lalu menjawab sangat pelan:
“Pengen.”
Dan jawaban itu…
perlahan mulai membawa mereka menuju babak baru kehidupan yang jauh lebih berat daripada sebelumnya.
BAB XXXIV
PULANG KE HANDEL SUNGAI BERAS
Keputusan itu akhirnya diambil pada sebuah malam yang panjang dan penuh kebimbangan.
Paijo memilih pulang.
Bukan hanya untuk melihat ayahnya yang sakit…
tetapi juga karena ada sesuatu dalam dirinya yang mulai lelah hidup di perantauan.
Banjarmasin telah memberinya banyak pelajaran.
Tentang kerasnya hidup.
Tentang cinta.
Tentang keluarga.
Tentang luka yang tak pernah benar-benar hilang.
Namun semakin lama…
hatinya semakin sering tertarik kembali ke Handel Sungai Beras.
Ke tempat semua cerita hidupnya dimulai.
“Mas yakin?”
Painem duduk di lantai sambil melipat pakaian kecil Bagus.
Paijo mengangguk pelan.
“Aku pengen dekat sama ibu bapak.”
Painem diam cukup lama.
Ia sebenarnya takut.
Takut memulai hidup dari nol lagi di kampung.
Takut kehilangan penghasilan tetap.
Takut masa depan anak mereka menjadi sulit.
Namun di sisi lain…
ia juga tahu Paijo sudah terlalu lama memendam rasa rindu pada rumahnya sendiri.
“Kalau kita pulang…”
Painem menatap suaminya pelan.
“…Mas janji jangan nyerah ya?”
Paijo menggenggam tangan istrinya perlahan.
“Aku enggak akan bikin kalian kelaparan.”
Painem tersenyum kecil.
“Janji laki-laki biasanya menakutkan.”
Paijo tertawa tipis.
“Tapi aku serius.”
Hari-hari berikutnya dipenuhi kesibukan kecil.
Mengemasi barang.
Berpamitan dengan tetangga kontrakan.
Menjual beberapa barang yang tidak bisa dibawa.
Dan setiap malam…
Paijo mulai memandangi kota Banjarmasin dengan perasaan aneh.
Kota itu telah menjadi saksi banyak hal dalam hidupnya.
Termasuk bagaimana ia perlahan belajar mencintai Painem.
Pak Hadi menjadi orang yang paling berat melepas kepergian Paijo.
“Kalau di kampung susah…”
lelaki tua itu menepuk pundaknya pelan.
“…balik aja lagi.”
Paijo tersenyum kecil.
“Iya Pak.”
Pak Hadi menghela napas panjang.
“Kamu montir paling sabar yang pernah kerja sama saya.”
Paijo tertawa kecil.
“Sabar karena sering dimarahin Bapak.”
Pak Hadi ikut tertawa.
Namun matanya terlihat sedikit berkaca-kaca.
Sebelum berangkat…
Paijo sempat berdiri cukup lama di depan bengkel.
Tempat itu bukan sekadar tempat kerja.
Di sanalah ia pernah patah.
Pernah bingung.
Pernah hampir tersesat dalam kenangan.
Dan juga…
tempat ia belajar menjadi ayah.
Saat truk kecil yang membawa barang mereka mulai berjalan meninggalkan Banjarmasin…
Painem memeluk Bagus erat-erat.
Sementara Paijo memandang jalanan kota dari balik kaca dengan tatapan kosong.
“Mas sedih?”
Paijo menggeleng kecil.
“Cuma mikir.”
“Mikir apa?”
Paijo tersenyum tipis.
“Hidup cepat banget berubah.”
Painem memandang suaminya beberapa detik.
Lalu perlahan menyandarkan kepala ke pundaknya.
Perjalanan menuju Kuala Kapuas terasa panjang.
Jalan Trans Kalimantan membentang luas.
Truk-truk besar melintas membawa hasil bumi.
Warung-warung pinggir jalan mulai bermunculan.
Dan semakin dekat mereka menuju Handel Sungai Beras…
semakin kuat pula kenangan masa kecil memenuhi pikiran Paijo.
Ia mulai melihat tempat-tempat yang dulu akrab baginya.
Persimpangan jalan.
Warung lama.
Jembatan kecil.
Dan tiba-tiba…
dadanya terasa hangat sekaligus nyeri.
Karena semuanya mengingatkannya pada Paijem.
Dulu…
di jalan-jalan inilah mereka sering bermain sepeda.
Dulu…
di kawasan ini mereka sering tertawa bersama.
Dulu…
hidup terasa begitu sederhana.
“Mas…”
“Hm?”
“Kenapa senyum sendiri?”
Paijo tersadar lalu menggeleng kecil.
“Enggak apa-apa.”
Namun Painem tahu.
Suaminya sedang kembali berjalan ke masa lalu.
Saat kendaraan akhirnya masuk kawasan Handel Sungai Beras…
matahari mulai turun.
Langit jingga memantul di aliran Sungai Kapuas.
Dan suasana kampung terasa sama seperti dulu.
Sederhana.
Hangat.
Penuh suara kehidupan kecil.
“Ibuuu!”
Suara tangis haru langsung pecah saat ibu Paijo melihat mereka datang.
Perempuan tua itu memeluk Paijo erat.
Lalu menangis sambil menggendong Bagus bergantian.
“Kurus kamu…”
Ibunya mengusap wajah Paijo pelan.
“Kerja keras terus.”
Paijo hanya tersenyum kecil.
Namun matanya mulai basah.
Karena baru saat itulah…
ia benar-benar merasa pulang.
Ayahnya tampak lebih tua dan kurus dibanding terakhir kali mereka bertemu.
Namun lelaki tua itu tetap berusaha tersenyum.
“Udah jadi bapak sekarang.”
Paijo duduk di samping ranjang ayahnya pelan.
“Iya Pak.”
Ayahnya mengangguk kecil sambil menatap cucunya.
“Bagus namanya?”
Paijo tersenyum.
“Iya.”
Malam pertama di Handel Sungai Beras terasa berbeda.
Angin sungai masuk dari sela dinding kayu rumah.
Suara tonggeret malam terdengar jelas.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun…
Paijo tidur kembali di rumah masa kecilnya.
Namun hidup di kampung ternyata tidak semudah yang dibayangkan.
Hari-hari berikutnya Paijo mulai kebingungan mencari pekerjaan.
Bengkel belum ada.
Modal sangat sedikit.
Dan tabungan mereka hampir habis.
Suatu malam Painem duduk diam sambil menimang Bagus.
“Mas…”
“Hm?”
“Kita bakal baik-baik aja kan?”
Paijo diam cukup lama.
Karena sebenarnya…
ia sendiri juga takut.
Di luar rumah…
suara kendaraan Trans Kalimantan masih terdengar melintas seperti biasa.
Membawa orang-orang pergi menuju tempat lain.
Sementara Paijo…
sedang mencoba memulai ulang hidupnya dari nol di tempat yang penuh kenangan.
Dan tanpa ia sadari…
kepulangannya ke Handel Sungai Beras perlahan akan membuka kembali pintu masa lalu yang selama ini hanya hidup dalam ingatan.
BAB XXXV
MEMBANGUN DARI NOL DI TANAH SENDIRI
Pagi di Handel Sungai Beras terasa lebih tenang dibandingkan Banjarmasin.
Namun bagi Paijo dan Painem, ketenangan itu justru berubah menjadi tantangan baru.
Tidak ada lagi gaji bulanan.
Tidak ada lagi bengkel Pak Hadi.
Tidak ada lagi pelanggan tetap yang datang setiap hari.
Yang ada hanya rumah kayu tua, Sungai Kapuas yang mengalir pelan, dan kehidupan yang harus dimulai dari nol.
Paijo duduk di depan rumah sambil memandangi jalan Trans Kalimantan yang tak pernah benar-benar sepi.
Truk-truk besar melintas membawa barang dari satu kota ke kota lain.
Orang-orang datang dan pergi.
Namun hidupnya kini justru berhenti di titik awal yang baru.
“Mas…”
Suara Painem terdengar dari belakang.
“Hm?”
“Kalau kita buka usaha kecil gimana?”
Paijo menoleh pelan.
“Usaha apa?”
Painem menggendong Bagus sambil berpikir.
“Tambal ban kecil-kecilan dulu?”
Paijo diam.
Lalu perlahan mengangguk.
“Ide bagus.”
Hari itu mereka mulai bekerja dengan apa yang mereka punya.
Paijo meminjam sedikit uang dari ibunya.
Membeli kompresor kecil bekas.
Beberapa kunci pas.
Dan membuat tempat sederhana di pinggir rumah sebagai bengkel darurat.
“Ini bengkel kita?”
Painem tertawa kecil melihat tempat sederhana itu.
Paijo tersenyum.
“Kalau belum jadi, ya disebut usaha dulu.”
Painem langsung terkekeh.
“Mas ini selalu cari istilah.”
Hari pertama buka bengkel…
tidak ada satu pun pelanggan.
Hari kedua juga sama.
Hari ketiga hanya satu orang yang mampir menambal ban motor.
Namun Paijo tetap sabar.
Karena ia sudah terbiasa dengan hidup yang tidak langsung jadi.
Sore hari Painem duduk di depan rumah sambil menimang Bagus.
“Mas…”
“Hm?”
“Kalau begini terus…”
suaranya pelan.
“…kita bisa hidup enggak ya?”
Paijo menghentikan pekerjaannya sebentar.
Lalu tersenyum kecil.
“Bisa.”
“Tapi pelan.”
Painem mengangguk kecil.
Meski di dalam hatinya masih ada rasa takut.
Hari-hari berikutnya mulai ada perubahan kecil.
Satu.
Dua.
Tiga pelanggan datang setiap hari.
Orang-orang mulai mengenal bengkel kecil Paijo.
Bukan karena besar.
Tapi karena jujur dan tidak mematok harga tinggi.
“Mas Paijo itu ya…”
seorang pelanggan berkata sambil menyeruput kopi di warung sebelah.
“…kerjanya rapi.”
Orang lain menimpali.
“Dan enggak pelit ilmu.”
Perlahan…
nama Paijo mulai dikenal di Handel Sungai Beras.
Namun kehidupan rumah tangga mereka tetap tidak mudah.
Painem sering kelelahan mengurus Bagus sekaligus membantu pekerjaan kecil.
Kadang mereka bertengkar kecil.
Soal uang.
Soal capek.
Soal waktu.
Suatu malam Painem menangis diam-diam di dapur.
Paijo yang baru selesai menutup bengkel langsung melihatnya.
“Kenapa?”
Painem cepat mengusap air mata.
“Enggak apa-apa.”
“Jangan bohong.”
Painem akhirnya menunduk.
“Aku capek, Mas.”
Kalimat itu membuat Paijo terdiam.
Ia duduk di samping istrinya.
“Maaf.”
Painem menggeleng.
“Bukan Mas.”
“Aku cuma…”
suaranya bergetar.
“…takut kita enggak cukup kuat.”
Paijo memegang tangannya.
“Kita kuat.”
“Tapi pelan-pelan.”
Painem menatap suaminya lama.
Lalu mengangguk kecil.
Di malam lain…
Paijo duduk di depan rumah setelah semua orang tidur.
Angin sungai bertiup pelan.
Suara jangkrik terdengar di kejauhan.
Dan di tengah kesunyian itu…
kenangan lama kembali datang tanpa diundang.
Paijem.
Nama itu masih hidup di sudut pikirannya.
Bukan sebagai cinta yang ingin dimiliki.
Tapi sebagai bagian dari masa lalu yang tidak pernah selesai.
“Mas belum tidur?”
Suara Painem membuatnya tersadar.
“Belum.”
Painem duduk di sampingnya sambil menggendong Bagus.
“Pikirin apa lagi?”
Paijo tersenyum kecil.
“Cuma mikir hidup.”
Painem memandangnya lama.
Lalu berkata pelan:
“Mas masih sering ingat dia ya?”
Paijo tidak langsung menjawab.
Namun kali ini…
jawabannya lebih tenang.
“Iya.”
Painem mengangguk.
“Aku juga masih belajar nerima itu.”
Paijo menoleh.
Dan untuk pertama kalinya…
tidak ada amarah di wajah istrinya.
Hanya kelelahan seorang perempuan yang memilih bertahan.
Hari-hari terus berjalan.
Bengkel kecil Paijo mulai berkembang sedikit demi sedikit.
Orang-orang mulai percaya.
Pendapatan mulai stabil.
Dan hidup mereka perlahan membaik.
Namun di sela semua itu…
Paijo tidak pernah benar-benar lepas dari masa lalunya.
Karena Handel Sungai Beras bukan hanya tempat ia memulai hidup baru…
tetapi juga tempat semua kenangan lamanya tertanam paling dalam.
Dan di suatu pagi yang biasa…
ketika Paijo sedang memperbaiki motor di depan bengkel…
seorang orang asing datang membawa kabar yang membuat dadanya kembali bergetar.
Nama itu kembali disebut.
Paijem.
Dan kali ini…
bukan sekadar kenangan lagi.
BAB XXXVI
KABAR DARI JAWA
Pagi di Handel Sungai Beras berjalan seperti biasa.
Kabut tipis masih menggantung di atas Sungai Kapuas. Suara ayam bersahutan dari rumah-rumah kayu di sepanjang jalan kecil kampung itu. Di kejauhan, truk-truk besar dari Trans Kalimantan sudah mulai kembali melintas, membawa kehidupan yang tidak pernah benar-benar berhenti.
Di depan bengkel kecil Paijo…
aktivitas baru saja dimulai.
“Mas, kunci 12 yang mana?”
Paijo yang sedang jongkok di samping motor pelanggan langsung menunjuk kotak perkakas.
“Itu, di sebelah kiri.”
Painem yang kini mulai terbiasa membantu di bengkel kecil itu mengangguk cepat.
Meski cerewetnya masih sama…
tapi kini ia sudah jauh lebih kuat.
Lebih terbiasa dengan debu oli. Lebih tahan panas matahari. Lebih sabar menghadapi hidup yang serba pas-pasan.
Bagus, bayi mereka, tidur di ayunan kecil yang digantung di tiang kayu bengkel.
Kadang tertidur sambil tersenyum kecil.
Dan setiap kali itu terjadi…
Paijo selalu berhenti sejenak dari pekerjaannya hanya untuk melihatnya.
“Mas…”
“Hm?”
“Ada orang cari.”
Paijo menoleh.
Seorang pria paruh baya berdiri di depan bengkel. Pakaian sederhana. Wajahnya asing.
Namun matanya terlihat ragu.
“Mas Paijo?”
“Iya.”
Pria itu mengangguk pelan.
“Aku dari Jawa.”
Kalimat itu langsung membuat tangan Paijo berhenti bergerak.
Painem yang sedang di belakang langsung menatap.
Suasana mendadak berubah.
“Dari Jawa?”
Pria itu menghela napas.
“Aku bawa kabar.”
Paijo berdiri pelan.
“Siapa?”
Pria itu terdiam sesaat.
Lalu berkata pelan:
“Paijem.”
Nama itu jatuh seperti batu besar ke dalam hati Paijo.
Dunia seakan mengecil.
Suara bengkel hilang.
Suara jalan Trans Kalimantan menghilang.
Yang tersisa hanya satu kata itu.
Paijem.
Painem langsung menatap suaminya.
Namun Paijo tidak bergerak.
Hanya diam.
Sangat diam.
“Ada apa dengan dia?”
Suara Paijo pelan.
Pria itu ragu sejenak.
“Dia… sekarang tinggal di Kendal.”
Paijo menelan ludah.
“Dia… minta aku cari kamu.”
Painem yang mendengar itu langsung terdiam.
Tangannya memegang kain lap lebih erat dari biasanya.
“Kenapa dia cari aku?”
Pria itu menggeleng.
“Dia bilang… kalau suatu hari kamu masih ingat dia.”
Hening.
Sangat hening.
Bagus tiba-tiba menangis kecil di ayunan.
Namun tidak ada yang langsung bergerak.
Seolah waktu benar-benar berhenti di depan bengkel kecil itu.
“Dia baik-baik saja?”
Akhirnya Paijo bertanya.
Pria itu mengangguk.
“Sudah punya keluarga.”
Kalimat itu seharusnya melegakan.
Namun justru membuat dada Paijo terasa aneh.
Campuran lega… dan kosong.
Painem menunduk pelan.
Dan untuk pertama kalinya sejak lama…
ia tidak tahu harus merasa apa.
Pria itu lalu menyerahkan sebuah amplop kecil.
“Ini… dari dia.”
Paijo menerima amplop itu dengan tangan sedikit gemetar.
Tidak langsung membukanya.
“Dia bilang…”
pria itu melanjutkan,
“…kalau kamu masih ingat masa kecil di Handel Sungai Beras…”
“…dia juga masih ingat.”
Setelah itu pria itu pergi.
Meninggalkan bengkel kecil itu dalam keadaan sunyi.
Hanya suara motor lewat di jalan yang terdengar.
Dan tangisan kecil Bagus yang semakin keras.
Painem akhirnya berdiri dan menggendong anaknya.
Namun matanya tidak lepas dari Paijo.
“Mas…”
Paijo masih memegang amplop itu.
“Hm?”
“Dibuka?”
Paijo diam lama.
Tangannya gemetar.
Akhirnya…
perlahan ia membuka amplop itu.
Isi surat itu sederhana.
Tapi cukup untuk menghancurkan ketenangan yang baru saja mulai mereka bangun.
“Paijo…”
“Kalau kamu membaca ini, berarti kamu masih ada di suatu tempat di dunia yang sama denganku.”
“Aku tidak ingin mengganggu hidupmu.”
“Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih…”
Paijo berhenti membaca sejenak.
Dadanya sesak.
Painem berdiri di belakangnya sambil menggendong Bagus erat-erat.
“…karena dulu kamu pernah menjadi rumah paling aman dalam hidupku.”
Tangan Paijo mulai gemetar.
“Aku tidak pernah benar-benar melupakan masa kecil kita di Handel Sungai Beras.”
“Tapi aku juga tahu, kita tidak ditakdirkan untuk berjalan di jalan yang sama.”
Hening.
Paijo menutup mata sebentar.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun…
air mata itu jatuh lagi.
Bukan karena kehilangan cinta.
Tapi karena menyadari bahwa sesuatu yang dulu sangat berarti…
akhirnya benar-benar telah menjadi masa lalu yang utuh.
Painem memandangnya lama.
Tidak marah.
Tidak cemburu.
Hanya diam.
Karena kali ini…
ia melihat sesuatu yang berbeda dari suaminya.
Bukan luka baru.
Tapi luka lama yang akhirnya mulai berdamai.
Dan di luar sana…
Sungai Kapuas tetap mengalir.
Seperti waktu yang tidak pernah berhenti membawa manusia menuju takdir masing-masing.
BAB XXXVII
SURAT YANG TAK LAGI MEMILIKI HARAPAN
Malam turun lebih cepat di Handel Sungai Beras.
Hujan rintik-rintik membasahi atap seng rumah kayu Paijo, menciptakan suara ritmis yang dulu selalu menenangkan, tapi malam itu justru terasa berat.
Di dalam rumah kecil itu…
Paijo duduk diam di lantai.
Surat dari Paijem masih terbuka di tangannya.
Namun kali ini ia tidak lagi membaca.
Hanya menatap.
Seolah setiap huruf di dalamnya sudah berubah menjadi kenangan yang tidak bisa disentuh lagi.
Bagus sudah tertidur.
Napaknya pelan, sesekali tersenyum kecil dalam tidur.
Painem duduk di dekatnya, menidurkan anak itu sambil sesekali melirik ke arah Paijo.
Tidak ada kata-kata.
Hanya keheningan yang penuh arti.
“Mas…”
Akhirnya Painem berbicara pelan.
Paijo tidak langsung menjawab.
“Hm?”
“Dia… baik ya?”
Paijo mengangguk pelan.
“Iya.”
Hening lagi.
Painem menarik napas panjang.
“Aku nggak marah.”
Paijo menoleh.
Untuk sesaat matanya bertemu dengan mata istrinya.
Lelah.
Tapi jujur.
“Aku cuma… capek kalau harus jadi orang yang melawan masa lalu Mas.”
Kalimat itu sederhana.
Tapi jatuhnya seperti pisau kecil yang dalam.
Paijo menunduk.
“Aku nggak pernah berniat…”
Painem mengangkat tangan, menghentikannya.
“Aku tahu.”
Suara itu lembut.
Tidak ada nada curiga.
Tidak ada kemarahan.
Hanya kelelahan seorang perempuan yang terlalu lama memahami sesuatu yang tidak bisa ia miliki sepenuhnya.
“Mas masih sayang dia?”
Pertanyaan itu kembali muncul.
Pertanyaan yang dulu membuat Paijo takut.
Namun malam itu…
jawabannya berbeda.
Paijo diam cukup lama.
Lalu menggeleng pelan.
“Bukan sayang lagi.”
Painem menatapnya.
“Apa?”
Paijo menarik napas panjang.
“Hanya… ingatan.”
Hening.
Untuk pertama kalinya…
Paijo benar-benar jujur tanpa terselip rasa takut.
Dan di saat yang sama…
Painem akhirnya bisa menghembuskan napas yang selama ini ia tahan.
“Mas… kamu udah capek ya hidup di antara dua waktu?”
Paijo tersenyum pahit.
“Iya.”
Jawaban itu sangat jujur.
Terlalu jujur.
Hujan di luar semakin deras.
Angin masuk melalui celah dinding rumah kayu.
Dan suasana malam itu seperti ikut menyelesaikan sesuatu yang sudah lama menggantung.
“Mas…”
“Hm?”
Painem meraih tangan Paijo.
“Kita hidup di sini sekarang.”
Paijo menatapnya.
“Bukan di masa lalu.”
Paijo mengangguk pelan.
Kali ini tanpa ragu.
Di luar, suara kendaraan Trans Kalimantan masih terdengar.
Seolah dunia tetap berjalan tanpa peduli pada perasaan manusia di dalam rumah kecil itu.
Namun di dalam rumah itu…
ada sesuatu yang mulai berubah.
Bukan cinta yang hilang.
Bukan juga luka yang sembuh sepenuhnya.
Tapi penerimaan.
Pelan.
Sederhana.
Dan nyata.
Beberapa hari setelah itu…
hidup kembali berjalan seperti biasa.
Bengkel kecil Paijo kembali ramai.
Orang-orang mulai melupakan kabar tentang Paijem.
Dan surat itu…
disimpan Paijo di dalam kotak kayu tua di sudut rumah.
Tidak dibuang.
Tidak dilupakan.
Tapi juga tidak lagi dibuka.
Suatu sore…
Painem duduk di depan rumah sambil menggendong Bagus.
Paijo sedang memperbaiki motor di bengkel kecilnya.
Namun kali ini…
tidak ada lagi tatapan kosong ke arah jalan.
Tidak ada lagi lamunan panjang.
Hanya kerja.
Dan kehidupan yang sedang dijalani.
“Mas!”
“Hm?”
“Aku lapar!”
Paijo tertawa kecil.
“Tunggu!”
Dan suara tawa itu…
untuk pertama kalinya terasa benar-benar hidup.
Malamnya…
setelah semua selesai…
Paijo duduk di depan rumah sendirian.
Langit penuh bintang.
Sungai Kapuas mengalir pelan di kejauhan.
Dan di antara semua itu…
ia akhirnya berbicara pada dirinya sendiri.
“Paijem…”
suara itu pelan.
“Hidup kita memang nggak pernah jadi satu jalan.”
Ia tersenyum kecil.
“Tapi aku senang kamu pernah ada di dalamnya.”
Angin malam bertiup pelan.
Seolah menjawab tanpa suara.
Dan untuk pertama kalinya…
Paijo tidak lagi merasa kehilangan.
Hanya melanjutkan hidup.
Sebagai ayah.
Sebagai suami.
Sebagai lelaki dari Handel Sungai Beras…
yang akhirnya belajar bahwa tidak semua cinta harus dimiliki untuk bisa dikenang dengan baik.
BAB XXXVIII
KEHIDUPAN YANG MULAI TENANG, TAPI TAK PERNAH BENAR-BENAR SEPI
Waktu berjalan seperti Sungai Kapuas—pelan, tapi tak pernah berhenti.
Di Handel Sungai Beras, kehidupan Paijo dan Painem tampak mulai stabil.
Bengkel kecil itu kini bukan sekadar tempat tambal ban.
Tapi tempat bertahan hidup.
Tempat mereka mencoba percaya bahwa masa depan masih bisa dibangun dari sisa-sisa masa lalu.
Pagi itu Paijo sedang membetulkan rantai motor pelanggan.
Gerakannya lebih rapi dari dulu.
Lebih yakin.
Tapi tidak sepenuhnya tenang.
“Bang, hari ini jadi?”
“Iya. Tapi nunggu.”
Anak muda itu duduk.
Dan Paijo kembali bekerja.
Tapi matanya sesekali kosong.
Bukan karena pekerjaan.
Tapi karena pikirannya yang tidak pernah benar-benar tinggal di satu tempat.
Painem keluar membawa teh hangat.
“Mas.”
Paijo menerima.
“Terima kasih.”
Namun Painem tidak langsung pergi.
Ia duduk.
Dan memperhatikan suaminya lebih lama dari biasanya.
“Mas…”
“Hm?”
“Mas sekarang beda.”
Paijo menoleh.
“Beda gimana?”
Painem tersenyum kecil.
“Lebih tenang.”
Tapi kalimat itu tidak sepenuhnya terdengar seperti pujian.
Lebih seperti pengamatan yang hati-hati.
Hening.
Bagus tertawa kecil di pangkuan ibunya.
Tapi Paijo tidak ikut tersenyum penuh.
Hanya sudut bibirnya naik sedikit.
Di dalam dirinya…
ketenangan itu justru terasa seperti sesuatu yang rapuh.
Seolah bisa pecah kapan saja tanpa suara.
Hari-hari berlalu.
Orang mulai mengenal Paijo sebagai montir yang sabar.
Tapi di balik itu…
ia mulai dikenal oleh dirinya sendiri sebagai orang yang terlalu banyak menyimpan hal yang tidak pernah selesai.
Suatu sore…
hujan turun pelan.
Bukan deras.
Tapi cukup untuk membuat suasana terasa lebih sempit.
Pak Sarto datang.
“Kamu masih di sini, Jo?”
“Iya, Pak.”
Pak Sarto duduk.
Matanya tajam tapi santai.
“Kadang orang itu bukan pergi karena tidak punya tempat.”
“Tapi karena tidak bisa berdamai dengan tempatnya sendiri.”
Kalimat itu masuk terlalu dalam.
Paijo tidak langsung menjawab.
“Kalau kamu masih sering diam…”
Pak Sarto melanjutkan,
“…itu bukan tanda tenang.”
“Tapi tanda ada yang belum selesai.”
Paijo menunduk.
Tangan yang memegang kunci bengkel tiba-tiba berhenti.
Di kepalanya…
bukan hanya Paijem yang muncul.
Tapi semua keputusan hidupnya sekaligus.
Semua “andai” yang tidak pernah benar-benar mati.
Malamnya…
Painem memperhatikan Paijo yang duduk terlalu lama tanpa bicara.
“Mas…”
“Hm?”
“Mas capek?”
Paijo menggeleng.
“Enggak.”
Tapi jawabannya terlalu cepat.
Painem duduk di sampingnya.
“Mas jangan simpan semuanya sendiri.”
Paijo tertawa kecil pahit.
“Aku takut kalau aku buka, semuanya runtuh.”
Kalimat itu membuat Painem terdiam.
Karena untuk pertama kalinya…
ia mendengar ketakutan asli suaminya, bukan alasan.
“Termasuk kita?” tanya Painem pelan.
Paijo tidak langsung menjawab.
Dan diamnya sudah menjadi jawaban yang lebih jujur daripada kata-kata.
Painem menunduk.
Tapi tidak menangis.
Hanya menarik napas panjang.
Seperti orang yang mulai belajar menerima bahwa cinta tidak selalu cukup untuk menghapus ketidakstabilan seseorang.
Hari-hari berikutnya…
Paijo mulai lebih sering diam.
Bukan diam tenang.
Tapi diam yang penuh percakapan di dalam kepala.
Setiap pelanggan baru yang datang…
setiap wajah asing…
setiap suara perempuan di jalan…
semuanya bisa memicu ingatan kecil yang tidak ia undang.
Sampai suatu hari…
seorang pelanggan datang.
Saat helmnya dilepas…
Paijo membeku.
Bukan karena orang itu penting.
Tapi karena wajahnya mengingatkan pada sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.
Bukan Paijem.
Tapi sesuatu yang lebih berbahaya:
kesadaran bahwa hidupnya selalu mudah terguncang oleh “kemiripan kecil”.
Tangannya berhenti.
Satu detik.
Dua detik.
“Bang Paijo?”
“Iya…”
jawabnya terlambat.
Dan untuk pertama kalinya…
ia sadar:
yang menjadi masalah bukan masa lalu.
Tapi dirinya sendiri yang belum benar-benar selesai dengan cara ia mengingat masa lalu itu.
Malam itu…
Bagus tidur di antara mereka.
Tenang.
Hangat.
Sederhana.
Tapi Paijo tidak tidur.
Ia menatap langit-langit rumah.
Di sampingnya…
Painem juga terjaga.
Tidak bicara.
Tapi tidak tidur.
Dan dalam keheningan itu…
tidak ada konflik yang meledak.
Tidak ada pertengkaran.
Tapi ada sesuatu yang jauh lebih berbahaya:
jarak yang tidak terlihat.
Akhirnya Paijo berbisik pelan:
“Aku nggak mau pergi lagi.”
Kali ini…
Painem tidak langsung menjawab.
Karena ia tahu…
kalimat itu bukan janji untuk orang lain.
Tapi keputusan yang sedang ia paksa lahir di dalam dirinya sendiri.
Dan di malam itu…
tidak ada yang benar-benar tenang.
Tapi semua memilih tetap tinggal.
BAB XXXIX
PAIJEM: SEBUAH SURAT YANG TIDAK PERNAH TERKIRIM
Catatan: Bab ini adalah sudut pandang Paijem, ditulis dalam bentuk surat yang ditemukan setelah kematiannya, diserahkan kepada Paijo melalui suaminya.
Kendal, tiga tahun sebelum aku pergi.
Malam ini hujan deras sekali di Jawa.
Aku duduk sendirian di ruang tamu rumah kecil ini. Suami dan anakku sudah tidur. Lampu ruangan redup. Dan entah kenapa, malam ini ingatanku melayang jauh ke sungai besar di kampung halaman.
Ke Sungai Kapuas.
Ke Handel Sungai Beras.
Ke kamu, Jo.
Aku tidak pernah bilang ini ke siapa pun.
Bukan karena aku tidak percaya pada mereka. Tapi karena beberapa perasaan hanya pantas disimpan sendiri. Dan malam ini, aku memutuskan untuk menulisnya. Untukmu. Mungkin surat ini tidak akan pernah sampai ke tanganmu. Mungkin surat ini hanya akan menjadi tumpukan kertas di dalam lemari tua, ditemukan seseorang setelah aku tidak ada.
Tapi setidaknya aku sudah jujur.
Pada diriku sendiri.
Kamu tahu, Jo?
Ketika aku masih kecil, aku tidak mengerti kenapa aku selalu ingin dekat denganmu.
Aku pikir itu karena kamu pendiam dan aku suka orang yang tidak banyak bicara. Aku pikir itu karena kamu selalu mengalah padaku. Aku pikir itu karena kamu nyaman.
Tapi ketika aku remaja, aku mulai sadar.
Bukan karena kamu nyaman.
Tapi karena aku merasa… aman.
Dunia itu besar, Jo.
Dan aku takut.
Aku takut tidak bisa menemukan tempat yang membuatku merasa seaman saat bersamamu.
Tapi aku juga takut kalau aku mengakuinya, kamu akan pergi. Atau lebih buruk lagi—kamu akan bertahan hanya karena kasihan. Dan itu akan menghancurkan sesuatu yang paling berharga dalam hidupku: hubungan kita.
Jadi aku memilih diam.
Aku memilih untuk tidak pernah mengatakan apa yang sebenarnya aku rasa.
Aku memilih untuk terus bercerita tentang lelaki lain padamu, berharap kamu akan cemburu.
Tapi kamu tidak pernah menunjukkan itu, Jo.
Kamu hanya diam.
Seperti biasa.
Ketika Nur Kholis datang, aku pikir itu adalah jawabannya.
Lelaki itu baik, Jo. Dia memperhatikanku. Dia bilang aku cantik. Dan untuk sementara, aku merasa senang.
Tapi tidak pernah aman.
Tidak pernah seperti bersamamu.
Pernah suatu malam, setelah pertengkaran dengan Nur Kholis, aku hampir mengatakan semuanya padamu.
Kita sedang duduk di Dermaga KP3. Hujan baru saja reda. Lampu kapal memantul di sungai. Dan kamu diam di sampingku seperti biasanya.
Aku ingin bilang, "Jo, aku rindu kamu. Bukan rindu seperti hari ini, tapi rindu seperti setiap hari sejak aku kenal kamu."
Tapi yang keluar dari mulutku malah: "Aku takut jatuh cinta terlalu dalam."
Dan kamu hanya bilang: "Kalau suka sama seseorang, memang harus siap sakit."
Aku tersenyum waktu itu, Jo. Tapi dalam hati aku menangis. Karena aku tahu—kamu juga sedang menyimpan sesuatu. Tapi kita berdua terlalu takut untuk menjadi orang pertama yang membuka pintu itu.
Lalu aku pindah ke Jawa.
Hari keberangkatan itu, aku hampir membatalkan semuanya.
Aku melihat kamu berdiri di depan rumah. Wajahmu pucat. Matamu sembab. Dan kamu tidak banyak bicara.
Aku ingin turun dari mobil.
Aku ingin memelukmu dan bilang, "Aku tidak jadi pergi."
Tapi Papa sudah menyalakan mesin. Ibu sudah duduk di sampingku. Dan hidup ternyata tidak pernah memberi kita cukup waktu untuk berubah pikiran.
Jadi aku hanya memberikan gelang itu.
Gelang kecil yang aku buat sendiri malam sebelumnya.
Dan aku bilang, "Biar kamu enggak lupa sama aku."
Padahal maksudku: "Aku tidak pernah ingin kamu melupakan aku."
Di Jawa, aku mencoba hidup.
Aku kuliah. Aku bekerja. Aku menikah.
Suamiku baik, Jo. Dia tidak pernah menyakitiku. Dia memberi aku dua anak yang lucu-lucu. Dan aku berusaha menjadi istri yang baik.
Tapi tidak ada satu malam pun dalam hidupku di Jawa di mana aku tidak mengingatmu.
Bukan mengingat dengan rindu yang sakit.
Tapi mengingat seperti seseorang yang sadar telah meninggalkan sesuatu yang paling berharga di tempat yang tidak bisa ia kembali lagi.
Beberapa tahun lalu, aku mendengar kabar bahwa kamu menikah.
Dengan Painem.
Aku tidak tahu siapa dia. Tapi aku senang untukmu, Jo. Sungguh. Karena setidaknya ada seseorang yang berani memilihmu—sesuatu yang tidak pernah aku lakukan.
Aku menangis malam itu.
Bukan karena cemburu.
Tapi karena aku tahu—aku kehilangan kesempatan terakhir untuk memiliki tempat di hidupmu.
Lalu aku sakit.
Awalnya hanya batuk. Lelah. Sesak napas.
Tapi kemudian dokter bilang itu parah.
Dan di saat seperti itu, Jo—hanya di saat seperti itulah aku menyadari bahwa hidup ini terlalu singkat untuk tidak jujur.
Aku menyuruh adikku mencari alamatmu.
Aku ingin bertemu kamu sekali lagi.
Bukan untuk memulai sesuatu.
Bukan untuk merebutmu dari istrimu.
Tapi untuk mengucapkan terima kasih.
Kamu pernah menjadi bagian paling jujur dari masa kecilku, Jo.
Dan aku tidak pernah mengucapkan terima kasih untuk itu.
Ketika kamu datang ke rumah sakit, aku hampir tidak bisa bernapas.
Bukan karena sakitku.
Tapi karena melihat wajahmu setelah sekian lama—wajah yang sama, dengan sorot mata yang sama—membuatku ingin menangis dan tertawa sekaligus.
Kamu masih pendiam.
Masih jarang bicara.
Tapi aku bisa melihat bahwa kamu sudah berubah.
Ada ketenangan di matamu yang tidak pernah ada dulu.
Dan aku tahu—itu karena Painem.
Karena kehidupan yang kamu jalani sekarang.
Dan aku bersyukur, Jo.
Sungguh.
"Kalau dulu kamu ngomong..." aku hampir bertanya.
Tapi kamu memotongku.
"Jangan."
Dan aku mengerti.
Beberapa pertanyaan tidak perlu dijawab. Beberapa jalan tidak perlu ditempuh. Dan beberapa cinta—cinta seperti kita—tidak perlu memiliki untuk bisa dikenang dengan baik.
Aku tidak tahu apakah surat ini akan sampai ke tanganmu.
Tapi jika suatu hari kamu membacanya, aku ingin kamu tahu satu hal:
Aku tidak pernah menyesal mencintaimu dalam diam, Jo.
Karena cinta itu—meskipun tidak pernah terucap, meskipun tidak pernah sampai—telah mengajarkanku apa artinya memiliki seseorang yang membuat dunia terasa aman.
Dan itu sudah cukup.
Lebih dari cukup.
Selamat jalan, Jo.
Terima kasih untuk sungai.
Untuk dermaga.
Untuk hujan.
Untuk semua diam yang tidak pernah menjadi jarak antara kita.
—Paijem
Kendal, tahun terakhir
BAB XL
SAAT TAKDIR KEMBALI MENGUJI KETENANGAN
Pagi di Handel Sungai Beras terasa cerah, tapi tidak sepenuhnya ringan.
Kabut Sungai Kapuas perlahan naik, seperti sesuatu yang enggan benar-benar hilang dari permukaan. Di bengkel kecil Paijo, kehidupan berjalan seperti biasa—tapi tidak benar-benar tenang.
Sejak beberapa hari terakhir, ada firasat yang tidak bisa ia jelaskan.
Bukan ketakutan.
Bukan kegelisahan seperti dulu.
Tapi sesuatu yang lebih aneh—seperti ada suara yang memanggil dari tempat yang tidak bisa ia lihat.
“Mas, oli habis.”
“Iya, nanti beli.”
“Mas, tadi pelanggan belum bayar penuh.”
Paijo mengangguk santai. “Biarkan. Dia akan ingat.”
Painem menatap suaminya lama. “Mas terlalu percaya orang.”
Paijo tersenyum tipis. “Kalau tidak percaya, kita tidak bisa hidup di tempat seperti ini.”
Tapi kali ini Painem tidak membalas. Hanya diam lebih lama dari biasanya.
Di halaman, Bagus jatuh lagi. Tangis kecilnya pecah. Painem refleks maju. “Mas!”
Tapi Paijo lebih cepat. Mengangkat anak itu. Membersihkan tanah dari lutut kecilnya.
“Enggak apa-apa. Anak laki-laki jatuh itu biasa.”
Bagus tertawa lagi. Tapi Painem tidak ikut tertawa. Matanya justru melekat lama pada Paijo. Seperti sedang mencari sesuatu yang hilang tapi tidak tahu bentuknya.
“Mas… akhir-akhir ini Mas sering melamun.”
Paijo tidak menjawab. Ia hanya menatap jalan Trans Kalimantan di kejauhan.
“Aku hanya merasa… ada sesuatu yang akan terjadi.”
Painem terdiam. Lalu menggenggam tangan suaminya.
“Apapun itu, kita hadapi bareng.”
Sore harinya, seorang perempuan turun dari motor di depan bengkel.
Jilbab sederhana. Wajah asing tapi membawa getaran yang tidak asing.
“Bang Paijo?”
“Iya.”
“Aku dari Kendal.”
Nama tempat itu langsung membuat udara terasa lebih berat. Paijo menegang. Painem yang berada di dalam rumah langsung keluar.
“Dari Kendal?”
Perempuan itu mengangguk. “Aku… adiknya Paijem.”
Seketika, suara bengkel hilang. Suara jalan lenyap. Bahkan suara napas Paijo terasa berbeda.
Painem berdiri di samping suaminya. Tidak bicara. Tapi tangannya memegang ujung kain lebih erat dari biasanya.
“Ada apa?” suara Paijo pelan, hampir tidak terdengar.
Perempuan itu menunduk. “Kakak… sakit.”
Kalimat itu tidak keras. Tapi menghantam seperti palu di dada Paijo.
“Sakit apa?”
“Parah.”
Sunyi. Dunia seperti berhenti berputar.
“Dia minta aku cari kamu.”
Paijo tidak langsung menjawab. Ia menatap perempuan itu lama. Lalu menoleh ke arah Painem.
Painem hanya diam. Tidak marah. Tidak melarang. Tapi matanya—matanya bicara lebih keras dari kata-kata.
“Aku ikut keputusan Mas.”
Kalimat itu jatuh seperti beban terakhir.
Malamnya, Paijo tidak bisa tidur.
Ia duduk di depan rumah. Menatap Sungai Kapuas yang mengalir pelan dalam gelap.
Painem keluar membawa selimut. Duduk di sampingnya tanpa bicara.
“Aku takut, Nem.”
Painem menoleh. Ini pertama kalinya Paijo mengakui ketakutannya tanpa diminta.
“Takut apa?”
“Takut… kalau aku pergi, aku pulang bukan sebagai orang yang sama.”
Painem menggenggam tangannya. “Kalau Mas pulang berbeda, aku yang akan mengingatkan Mas siapa diri Mas.”
Paijo menatap istrinya lama. Lalu mengangguk pelan.
“Besok aku berangkat.”
BAB XLI
SAAT TAKDIR KEMBALI MENGUJI KETENANGAN
Perjalanan ke Kendal tidak terasa seperti perjalanan biasa.
Di dalam bus, Paijo duduk di dekat jendela. Jalan Trans Kalimantan berlalu di belakangnya seperti film lambat tentang seluruh hidupnya. Setiap pohon, setiap tikungan, setiap warung pinggir jalan—semua mengingatkannya pada masa kecil.
Pada Paijem.
Tapi kali ini bukan kenangan indah.
Ini adalah kenangan yang harus diselesaikan.
Ia teringat surat yang tidak pernah ia berikan puluhan tahun lalu.
Surat yang masih tersimpan di dalam kotak kayu di rumah.
Surat yang berisi pengakuan yang tidak pernah sempat ia ucapkan.
“Aku selalu takut kehilangan kamu.”
Kalimat itu kini terasa seperti lelucon pahit. Karena pada akhirnya, ia memang kehilangan Paijem. Bukan karena pergi. Tapi karena hidup memisahkan mereka dengan cara yang tidak bisa dilawan.
Di Kendal, udara terasa asing.
Lebih padat.
Lebih bising.
Tapi di rumah sakit, semuanya sunyi.
Adik Paijem menatapnya dengan mata lelah.
“Dia di kamar terakhir. Sudah beberapa hari ini dia hanya menunggu.”
Paijo menelan ludah. “Menunggu apa?”
Perempuan itu tersenyum kecil pahit. “Kata dokter, menunggu bukan hal yang masuk akal untuk kondisi kakak. Tapi dia tetap bertahan. Saya pikir… dia menunggu kamu.”
Paijo berdiri di depan pintu kamar.
Tangannya gemetar saat hendak membuka.
Ia ingat terakhir kali ia melihat Paijem. Wajahnya masih muda. Penuh senyum. Cerewet seperti biasa.
Sekarang, apa yang akan ia temukan di balik pintu ini?
“Jo…”
Suara dari dalam. Pelan. Hampir hilang.
Paijo masuk.
Dan di ranjang itu—Paijem terbaring.
Tubuhnya kurus. Wajahnya pucat. Rambutnya yang dulu panjang dan sering ia ikat dua sekarang tipis dan terurai.
Tapi matanya… matanya masih sama.
Masih seperti dulu.
Masih seperti saat pertama kali ia melihatnya di tepian sungai, dengan es lilin merah di tangan.
Paijo tidak bisa bergerak.
Ia hanya berdiri di ambang pintu, seperti anak kecil yang takut melangkah ke tempat yang tidak dikenal.
“Jo… masuklah.”
Suara Paijem terdengar rapuh. Tapi ada senyum di sudut bibirnya.
Paijo melangkah.
Perlahan.
Satu langkah. Dua langkah.
Dan ketika ia akhirnya duduk di kursi di samping ranjang—ia tidak tahu harus berkata apa.
Semua kata yang ia siapkan di perjalanan lenyap begitu saja.
“Kamu tidak berubah,” bisik Paijem.
Paijo hampir tertawa. “Aku sudah tua.”
“Tidak. Matamu masih sama. Masih pendiam. Masih menyimpan banyak hal.”
Paijo menunduk. “Kamu yang berubah. Dulu kamu paling banyak bicara.”
Paijem tertawa kecil—tawa yang langsung berubah menjadi batuk. Paijo refleks meraih tangannya. Tangannya dingin. Sangat dingin.
“Maaf,” kata Paijo pelan.
Paijem menatapnya. “Maaf untuk apa?”
“Untuk semua yang tidak pernah aku katakan.”
Hening.
Paijem menggenggam balik tangan Paijo. Lemah. Tapi nyata.
“Aku juga, Jo. Aku juga tidak pernah mengatakan apa yang seharusnya aku katakan.”
“Seperti apa?”
Paijem tersenyum. “Seperti… aku juga menyimpan perasaan yang sama.”
Dunia berhenti.
Paijo menatap Paijem tidak percaya.
“Apa?”
“Kamu pikir aku tidak tahu? Kamu pikir aku begitu bodoh? Aku tahu kamu menyimpan sesuatu, Jo. Tapi aku juga takut. Takut kalau aku mengakuinya, kita malah hancur. Jadi aku memilih pergi.”
“Kenapa tidak bilang dari dulu?”
Paijem tertawa pahit. “Kamu juga tidak pernah bilang.”
Paijo menunduk. Air matanya jatuh pelan ke tangan Paijem yang ia genggam.
“Aku bodoh.”
“Kita berdua bodoh.”
“Kita terlambat.”
Paijem mengangguk pelan. “Iya. Kita terlambat.”
Tapi di detik itu—di ruangan putih yang sunyi itu—tidak ada penyesalan yang tersisa.
Hanya kejujuran.
Hanya kelegaan bahwa akhirnya, setelah puluhan tahun, mereka berbicara dengan hati yang sama.
“Jo…”
“Hm?”
“Aku tidak mau kamu menyesali apa pun. Janji?”
Paijo mengangkat wajahnya. Matanya merah. “Kamu minta sesuatu yang mustahil.”
“Kamu bisa. Kamu sudah punya kehidupan sekarang. Kamu sudah punya Painem. Kamu sudah punya anak. Jangan rusak itu karena menyesali masa lalu yang bahkan tidak pernah sungguh-sungguh terjadi.”
Paijo diam.
Paijem melanjutkan, suaranya semakin pelan.
“Cinta kita tidak pernah salah, Jo. Waktu kita yang tidak pernah tepat. Dan itu bukan salah siapa pun. Itu hanya hidup.”
Paijo menggenggam tangan Paijem lebih erat.
“Aku tidak akan melupakanmu.”
“Aku tidak minta kamu melupakan. Aku hanya minta kamu hidup. Betul-betul hidup. Dengan apa yang kamu miliki sekarang.”
BAB XLII
SAAT TAKDIR KEMBALI MENGUJI KETENANGAN
Malam mulai turun di Kendal.
Paijo tidak meninggalkan kamar Paijem. Ia duduk di sampingnya, kadang berbicara, kadang hanya diam.
Mereka berbicara tentang masa kecil.
Tentang sungai.
Tentang layangan putus.
Tentang hujan di Dermaga KP3.
Tentang es lilin merah.
Tentang semua hal kecil yang membuat mereka tersenyum di tengah kesedihan yang tidak bisa dihindari.
“Kamu masih ingat waktu aku jatuh ke lumpur?” tanya Paijem pelan.
Paijo tersenyum. “Kamu marah-marah. Bilang aku jahat karena ketawa.”
“Kamu memang jahat. Tapi aku senang. Karena kamu tertawa. Kamu jarang tertawa, Jo. Dan ketika kamu tertawa, rasanya dunia ini tidak seberat yang aku kira.”
Paijo menunduk.
“Kamu terlalu baik padaku.”
Paijem menggeleng pelan. “Aku tidak baik. Aku egois. Aku pergi tanpa pamit yang benar. Aku menikah tanpa pernah memberitahumu. Aku membangun hidup tanpa kamu di dalamnya. Tapi aku tidak pernah… tidak pernah melupakanmu.”
Air mata Paijem jatuh pelan.
Paijo menyekanya dengan ujung kain.
“Jangan menangis. Kamu malah jadi jelek.”
Paijem tertawa kecil. “Ih, masih bisa gombal di saat begini.”
“Itu bukan gombal. Itu fakta.”
Mereka tertawa bersama—dua orang yang dulu saling mencintai dalam diam, kini tertawa di ruangan yang sama, di waktu yang hampir habis.
“Jo…”
“Hm?”
“Kalau suatu hari nanti kamu ingat aku… jangan sedih.”
Paijo diam.
“Ingat aku sebagai anak kecil yang cerewet. Ingat aku sebagai remaja yang jatuh cinta tapi tidak berani ngomong. Ingat aku sebagai seseorang yang bersyukur pernah bertemu kamu.”
Paijo menggigit bibirnya. Menahan tangis yang sudah tidak bisa ditahan lagi.
“Jangan ngomong seperti ini.”
“Kita harus jujur, Jo. Waktuku tidak panjang lagi.”
Paijem memejamkan mata sebentar. Lalu membukanya lagi, menatap Paijo dengan sisa-sisa kekuatan yang ia miliki.
“Kamu pulang, Jo. Jaga istrimu. Jaga anakmu. Jaga dirimu.”
“Tapi…”
“Tidak ada tapi. Hidupmu bukan di sini. Hidupmu di sana, bersama mereka yang memilih bertahan bersamamu.”
Paijo tidak bisa menjawab.
Ia hanya memegang tangan Paijem.
Merasakan hangat yang perlahan menghilang.
“Jo…”
“Iya?”
“Terima kasih sudah datang. Terima kasih sudah menjadi bagian dari hidupku. Terima kasih… untuk semuanya.”
Paijem tersenyum.
Dan untuk pertama kalinya—sejak ia masuk ke ruangan itu—Paijo melihat ketenangan yang sebenarnya di wajah Paijem.
Bukan ketenangan karena pasrah.
Tapi ketenangan karena selesai.
Malam semakin larut.
Paijem mulai tertidur.
Napasnya pelan. Kadang berhenti, lalu mulai lagi.
Paijo tidak pergi.
Ia tetap duduk di sampingnya, memegang tangannya, seperti dulu ketika mereka masih kecil dan Paijem jatuh di sungai—ia selalu ada di sampingnya.
Subuh mulai datang.
Cahaya putih masuk dari sela tirai jendela.
Paijem membuka mata sekali lagi.
Matanya sayu.
Tapi masih melihat Paijo.
“Kamu masih di sini?”
“Aku masih di sini.”
“Pulanglah, Jo.”
“Nanti.”
Paijem tersenyum. “Kamu keras kepala.”
“Kamu juga.”
Paijem menutup matanya.
Tangannya masih menggenggam tangan Paijo.
Dan dalam keheningan subuh itu—Paijem pergi.
Perlahan.
Tanpa suara.
Tanpa drama.
Seperti sungai yang akhirnya sampai ke muara.
Paijo tidak menangis.
Ia hanya duduk.
Memegang tangan yang sudah tidak lagi hangat.
Menatap wajah yang sudah tidak lagi tersenyum.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya—ia tidak merasa kehilangan.
Ia merasa… selesai.
Berapa lama ia duduk di sana, ia tidak tahu.
Yang ia tahu, ketika akhirnya ia berdiri, kakinya terasa kaku.
Napasnya berat.
Tapi hatinya… hatinya ringan.
Di luar kamar, adik Paijem menatapnya dengan mata sembab.
“Dia…”
Paijo mengangguk. “Dia sudah pergi. Dengan tenang.”
Perempuan itu menangis. Paijo hanya memegang pundaknya sebentar.
“Dia orang yang kuat,” kata Paijo pelan.
“Dia selalu bilang, kakaknya paling kuat,” jawab perempuan itu sambil terisak. “Tapi saya tahu, dia kuat karena dia tidak pernah mau menyusahkan orang lain. Termasuk Mas.”
Paijo menatapnya lama.
Lalu berkata:
“Dia tidak pernah menyusahkan saya. Tidak pernah.”
Paijo keluar dari rumah sakit.
Udara pagi Kendal dingin.
Ia menatap langit yang mulai terang.
Dan dalam hati ia berbisik:
“Selamat jalan, Paijem. Terima kasih untuk semuanya. Untuk sungai. Untuk dermaga. Untuk hujan. Untuk semua diam yang tidak pernah menjadi jarak antara kita. Dan maaf… karena kita terlalu terlambat.”
Ia tidak menangis.
Tapi air matanya tetap jatuh.
BAB XLIII
PULANG YANG BENAR-BENAR PULANG
Perjalanan pulang ke Handel Sungai Beras terasa seperti perjalanan pulang ke rumah setelah badai.
Bus melaju pelan.
Paijo duduk di dekat jendela.
Ia tidak lagi menangis.
Ia hanya diam.
Tapi kini diamnya berbeda. Bukan diam yang kosong. Bukan diam yang penuh penyesalan. Ini diam yang selesai.
Ia membuka ponselnya.
Beberapa pesan dari Painem belum dibaca.
Ia menatap layar lama.
Lalu mengetik:
“Aku di jalan pulang. Aku baik-baik saja. Paijem sudah tenang.”
Tidak ada penjelasan panjang. Tidak perlu.
Di kampung…
Painem duduk di depan rumah sejak subuh.
Bagus masih tidur di dalam.
Ia tidak tahu persis apa yang terjadi di Kendal. Tapi ia tahu—suaminya baru saja kehilangan sesuatu yang tidak bisa ia gantikan.
Pesan masuk.
Ia membaca.
Lalu menghembuskan napas panjang.
“Pulang…”
Beberapa jam kemudian, bus tiba di Kuala Kapuas.
Paijo turun.
Udara sungai menyambutnya—lembab, hangat, seperti pelukan yang tidak perlu dijelaskan.
Ia berjalan kaki menuju rumah.
Setiap langkah terasa berat.
Tapi juga terasa… lega.
Sesampainya di depan rumah, lampu masih menyala.
Painem berdiri di pintu.
Mereka saling menatap.
Tidak ada pelukan berlebihan. Tidak ada air mata besar.
Hanya tatapan.
“Mas…”
Paijo mengangguk pelan. “Aku pulang.”
Painem tersenyum kecil. “Sudah selesai?”
Paijo mengangguk lagi. “Sudah. Dia sudah tenang.”
Painem mendekat.
Ia merapikan kerah baju Paijo yang kusut.
Gerakan kecil.
Sederhana.
Tapi penuh makna.
“Mas capek?”
Paijo tersenyum tipis. “Capek yang terakhir.”
“Makan dulu. Sudah aku siapkan.”
Di dalam rumah, Bagus terbangun.
Ia berlari kecil menghampiri Paijo.
“Papa! Papa pulang!”
Paijo menggendong anaknya.
Mencium keningnya.
“Iya, Papa pulang.”
Malam itu, setelah Bagus tidur, Paijo dan Painem duduk di depan rumah.
Sungai Kapuas mengalir pelan di kejauhan.
Angin malam bertiup lembut.
“Mas…”
“Hm?”
“Aku tidak akan bertanya tentang apa yang terjadi di sana. Tapi aku ingin Mas tahu—aku di sini.”
Paijo menatap istrinya.
Lalu menggenggam tangannya.
“Aku tahu, Nem. Dan itu sebabnya aku bisa pulang.”
Hening.
Tapi hening yang hangat.
“Dia bilang, jangan rusak hidupku karena menyesali masa lalu.”
Painem menoleh. “Dia baik.”
Paijo mengangguk. “Dia memang baik. Dari dulu.”
Painem tidak cemburu.
Kali ini, benar-benar tidak.
Karena ia tahu—yang tersisa antara Paijo dan Paijem bukan lagi cinta yang mengancam.
Tapi kenangan yang sudah selesai.
“Mas…”
“Iya?”
“Sekarang benar-benar sudah selesai?”
Paijo menatap sungai.
Lalu mengangguk.
“Sudah.”
Dan malam itu—untuk pertama kalinya dalam hidupnya—Paijo tidur tanpa mimpi tentang masa lalu.
BAB XLIV
SUNYI YANG AKHIRNYA MENJADI TENANG
Hari-hari setelah kepulangan Paijo tidak lagi sama.
Bukan karena sesuatu yang besar berubah di luar…
tetapi karena sesuatu di dalam dirinya sudah selesai.
Tidak lagi ada kegelisahan yang berjalan tanpa arah.
Tidak lagi ada bayangan yang menyusup diam-diam di antara rutinitas.
Yang tersisa hanyalah kehidupan yang harus dijalani.
Apa adanya.
Pagi di Handel Sungai Beras kembali seperti biasa.
Suara ayam.
Suara sungai.
Dan suara kendaraan Trans Kalimantan yang tak pernah berhenti.
Namun di depan bengkel kecil itu…
ada sesuatu yang kini terasa lebih utuh.
“Mas, baut ini kendor lagi.”
Paijo yang sedang mengelap tangan langsung menoleh.
“Coba sini.”
Painem memberikan kunci pas tanpa banyak bicara.
Gerakan mereka kini lebih sinkron.
Tidak lagi banyak tanya.
Tidak lagi banyak ragu.
Seolah keduanya sudah melewati fase di mana kata-kata terlalu banyak menyakiti.
Bagus duduk di lantai kayu, memainkan sendok plastik.
Tertawa kecil tanpa alasan.
Dan suara itu menjadi pengikat baru di rumah kecil mereka.
“Mas…”
“Hm?”
Painem duduk di dekat pintu bengkel.
“Aku lihat Mas sekarang beda.”
Paijo menghentikan pekerjaannya.
“Beda gimana?”
Painem tersenyum kecil.
“Enggak lari lagi dari diri sendiri.”
Hening sebentar.
Paijo menunduk.
Lalu mengangguk pelan.
“Iya.”
Kalimat itu sederhana.
Tapi mengandung perjalanan panjang yang tidak bisa diceritakan dengan satu kata.
Hari itu bengkel cukup ramai.
Satu demi satu pelanggan datang.
Paijo bekerja tanpa banyak bicara seperti biasa.
Namun kini tidak ada lagi tatapan kosong di matanya.
Tidak ada lagi jeda panjang yang penuh ingatan.
Hanya fokus.
Hanya kerja.
Sore menjelang…
hujan turun pelan.
Orang-orang mulai berteduh.
Bengkel pun sedikit lengang.
Paijo duduk di kursi kayu kecil sambil menyeruput kopi.
Painem duduk di sampingnya sambil menggendong Bagus yang mulai mengantuk.
“Mas.”
“Hm?”
“Kalau dulu Mas nggak pulang…”
Paijo menoleh.
Painem melanjutkan pelan.
“…kita mungkin nggak akan seperti ini ya.”
Paijo diam.
Lalu menjawab:
“Bisa jadi.”
Hening.
Namun kali ini…
tidak ada penyesalan dalam kata itu.
Hanya kesadaran.
Angin membawa aroma tanah basah ke dalam bengkel.
Suara sungai terdengar samar.
Dan di antara semua itu…
Paijo akhirnya berkata sesuatu yang tidak pernah ia ucapkan sebelumnya.
“Nem…”
“Iya?”
“Aku bersyukur.”
Painem menoleh.
“Bersyukur apa?”
Paijo menatap hujan.
“Masih dikasih kamu.”
Painem terdiam.
Lalu tersenyum kecil.
Tapi kali ini… matanya sedikit berkaca-kaca.
“Aku juga bersyukur, Mas.”
Suara itu pelan.
“Hidup sama Mas itu nggak gampang.”
Paijo tertawa kecil.
“Memang aku menyusahkan.”
Painem menggeleng.
“Tapi aku nggak pernah merasa sendirian.”
Hening kembali.
Tapi bukan hening yang berat.
Melainkan hening yang mengisi.
Malamnya…
Bagus tidur lebih cepat dari biasanya.
Rumah lebih tenang.
Lampu redup.
Dan hanya suara hujan kecil yang tersisa di luar.
Paijo duduk di depan rumah.
Menatap jalan Trans Kalimantan.
Kendaraan masih melintas seperti biasa.
Orang-orang masih pergi dan datang.
Namun kali ini…
ia tidak lagi merasa ingin mengejar apa pun.
Tidak lagi merasa tertinggal.
Tidak lagi merasa kehilangan.
Painem datang membawa dua gelas teh hangat.
“Mas.”
Paijo menerima.
“Terima kasih.”
Mereka duduk berdampingan.
Tidak banyak bicara.
“Mas…”
“Hm?”
“Kalau suatu hari Mas keingat lagi…”
Paijo menoleh cepat.
Namun Painem hanya tersenyum kecil.
“…aku nggak akan takut lagi.”
Paijo diam.
Lalu mengangguk pelan.
Karena malam itu…
mereka berdua sudah sama-sama belajar satu hal:
bahwa cinta tidak selalu tentang menghapus masa lalu,
tetapi tentang tidak membiarkannya menguasai masa kini.
Dan di bawah langit Handel Sungai Beras yang tenang…
dua orang itu akhirnya benar-benar hidup di waktu yang sama.
Tanpa bayangan.
Tanpa pertempuran.
Hanya kehidupan yang berjalan… pelan, tapi pasti.
BAB XLV
ANAK YANG TUMBUH DI ANTARA SUNGAI DAN KENANGAN
Waktu terus berjalan di Handel Sungai Beras tanpa pernah menunggu siapa pun.
Bengkel kecil Paijo kini bukan lagi sekadar usaha bertahan hidup.
Ia sudah menjadi titik kecil kehidupan yang stabil.
Orang-orang datang bukan hanya untuk memperbaiki motor…
tapi juga untuk sekadar berbincang.
Dan di tengah semua itu…
Bagus tumbuh lebih cepat dari yang disadari Paijo dan Painem.
Pagi itu…
anak kecil itu sudah bisa berlari kecil di halaman.
Tangannya kotor tanah.
Wajahnya penuh tawa.
Dan suaranya memenuhi rumah kayu yang dulu pernah sepi.
“Papa!”
Paijo yang sedang mengencangkan baut langsung menoleh.
“Iya, Nak?”
“Ini!”
Bagus menyerahkan batu kecil dengan bangga.
“Bagus!”
Paijo tertawa kecil.
“Ini bukan barang bengkel.”
Bagus cemberut.
“Bengkel!”
Paijo menggeleng pelan sambil tersenyum.
Dan di saat seperti itu…
hidup terasa sangat sederhana.
Painem duduk di depan rumah sambil menjahit pakaian tetangga.
Ia memperhatikan mereka dari jauh.
Matanya lembut.
Namun ada rasa tenang yang tidak pernah ia miliki sebelumnya di Banjarmasin.
“Mas…”
Paijo menoleh.
“Hm?”
“Bagus nanti mau jadi apa ya?”
Paijo berhenti sejenak.
Melihat anaknya yang sedang bermain dengan kunci pas bekas.
Lalu tersenyum kecil.
“Jangan jadi seperti aku.”
Painem tertawa kecil.
“Kenapa?”
Paijo menjawab pelan:
“Biar dia nggak terlalu lama belajar memahami hidup.”
Hening sebentar.
Tapi tidak ada kesedihan di dalamnya.
Hanya kejujuran.
Hari-hari di kampung mulai terasa lebih hangat.
Orang-orang sering mampir ke rumah.
Anak-anak lain bermain bersama Bagus di tepi jalan.
Dan suara tawa kini menjadi bagian dari rumah itu.
Namun suatu sore…
ketika matahari mulai turun di balik Sungai Kapuas…
Bagus duduk di samping Paijo tanpa alasan.
“Papa…”
“Hm?”
“Aku lihat Papa kadang diam.”
Paijo menoleh.
“Papa mikir apa?”
Pertanyaan itu membuat Paijo terdiam.
Ia menatap anaknya lama.
Lalu menjawab pelan:
“Papa cuma ingat banyak hal.”
Bagus mengangguk.
“Kenangan?”
Paijo tersenyum kecil.
“Iya.”
Bagus terdiam sebentar.
Lalu bertanya polos:
“Kenangan itu sakit?”
Paijo terdiam lebih lama.
Lalu menggeleng pelan.
“Enggak selalu.”
“Kalau sekarang?”
Paijo menatap Sungai Kapuas yang mengalir pelan di kejauhan.
“Sekarang… kenangan itu jadi cerita.”
Bagus tersenyum.
“Papa cerita nanti ya.”
Paijo mengangguk.
“Iya.”
Malamnya…
Painem duduk di samping Paijo.
Bagus sudah tidur di dalam rumah.
Suasana tenang.
“Mas…”
“Hm?”
“Aku lihat Mas sekarang lebih sering senyum.”
Paijo tersenyum kecil.
“Karena hidupnya nggak terlalu ribut di kepala.”
Painem mengangguk.
“Itu bagus.”
Hening sebentar.
Lalu Painem berkata pelan:
“Mas nggak takut Bagus nanti jadi seperti Mas?”
Paijo menggeleng.
“Kalau dia jadi seperti aku…”
ia berhenti sebentar.
“…aku cuma ingin dia lebih cepat jujur sama dirinya sendiri.”
Painem tersenyum kecil.
“Itu cukup.”
Angin malam masuk pelan dari sungai.
Dan di antara suara alam itu…
Paijo akhirnya menyadari sesuatu:
bahwa hidup yang ia bangun sekarang bukan hanya tentang dirinya dan Painem…
tapi juga tentang masa depan kecil yang sedang tumbuh di samping mereka.
Dan untuk pertama kalinya…
ia tidak lagi hidup untuk menebus masa lalu.
Tapi untuk menjaga sesuatu yang sedang tumbuh di masa kini.
BAB XLVI
BAYANG-BAYANG YANG KEMBALI MENGETUK RUMAH TENANG
Hidup di Handel Sungai Beras sudah mulai terasa seperti sungai yang alirannya stabil.
Bengkel Paijo ramai secukupnya.
Painem mulai terbiasa dengan ritme kerja dan rumah.
Bagus tumbuh menjadi anak yang ceria.
Namun seperti sungai yang tenang di permukaan…
di dasarnya masih bisa ada arus yang tak terlihat.
Pagi itu…
langit agak mendung.
Angin dari arah sungai membawa bau tanah basah.
Paijo sedang membuka bengkel ketika sebuah mobil hitam berhenti di depan rumahnya.
Bukan mobil warga biasa.
Terlalu rapi.
Terlalu asing.
“Mas…”
Painem yang sedang menyapu langsung berhenti.
“Siapa itu?”
Paijo menggeleng pelan.
Tidak tahu.
Pintu mobil terbuka.
Seorang pria turun.
Pakaian rapi.
Wajahnya serius.
Dan matanya… penuh beban.
“Mas Paijo?”
Paijo menatapnya.
“Iya.”
Pria itu menarik napas panjang.
“Aku dari Kendal.”
Jantung Paijo langsung menegang.
Painem langsung berdiri di samping suaminya.
Bagus yang sedang bermain di halaman berhenti dan menatap.
Suasana mendadak berubah.
“Aku… suaminya Paijem.”
Kalimat itu jatuh seperti petir di pagi hari.
Paijo terdiam.
Painem menoleh cepat ke arah suaminya.
Namun Paijo tidak bergerak.
Hanya diam.
Terlalu diam.
Pria itu melanjutkan dengan suara berat:
“Aku minta maaf datang ke sini.”
“Dia… sudah tidak ada.”
Dunia seakan berhenti.
Suara kendaraan Trans Kalimantan menghilang.
Angin berhenti.
Bahkan Sungai Kapuas terasa diam.
Painem spontan menutup mulutnya.
“Mas…”
Paijo tetap diam.
Matanya kosong.
Tapi bukan kosong yang baru.
Ini kosong yang berbeda.
Kosong yang sudah pernah ia rasakan… tapi kini datang lagi dengan cara yang lebih final.
“Sejak kapan?”
Akhirnya Paijo bertanya.
Suaranya pelan.
Hampir tidak terdengar.
Pria itu menunduk.
“Beberapa hari lalu.”
Hening.
Bagus memanggil dari halaman.
“Papa!”
Namun tidak ada yang menjawab.
Pria itu mengeluarkan sebuah kotak kecil dari tasnya.
“Dia minta ini disampaikan kalau waktunya tiba.”
Tangannya sedikit gemetar saat menyerahkannya.
Paijo menerima kotak itu.
Namun tidak langsung membukanya.
Seolah takut apa pun yang ada di dalamnya akan mengubah sesuatu lagi di dalam dirinya.
Painem berdiri kaku.
Kali ini bukan cemburu.
Bukan curiga.
Tapi rasa iba yang tidak bisa disembunyikan.
Karena ia tahu…
ini bukan tentang masa lalu lagi.
Ini tentang kehilangan yang benar-benar selesai.
“Dia bilang…”
pria itu melanjutkan pelan,
“…dia senang kamu pernah datang.”
Paijo menutup mata sebentar.
Lalu mengangguk pelan.
“Terima kasih sudah datang jauh-jauh.”
Paijo berkata pelan.
Pria itu mengangguk.
Lalu pergi.
Mobil itu perlahan menjauh dari halaman rumah.
Meninggalkan tiga orang dalam keheningan yang berat.
Bagus akhirnya mendekat.
“Papa…”
Paijo berlutut pelan.
“Ya?”
“Ada apa?”
Paijo menatap anaknya lama.
Lalu tersenyum kecil.
“Tidak apa-apa.”
Tapi itu bukan “tidak apa-apa” yang sepenuhnya jujur.
Malamnya…
rumah itu terasa lebih sunyi dari biasanya.
Painem menyiapkan teh, tapi tidak diminum.
Bagus sudah tidur.
Dan Paijo duduk di depan rumah sambil memegang kotak kecil itu.
Painem duduk di sampingnya.
Tidak bertanya.
Hanya menemani.
“Aku nggak tahu harus merasa apa, Nem.”
Paijo berkata pelan.
Painem mengangguk.
“Enggak apa-apa.”
Paijo membuka kotak itu.
Di dalamnya hanya ada satu benda.
Sebuah kain kecil.
Dan surat pendek.
Tangannya gemetar saat membaca.
“Jo…”
“Kalau kamu membaca ini, berarti aku sudah benar-benar pulang.”
Paijo terdiam.
“Terima kasih sudah pernah menjadi bagian paling jujur dari masa kecilku.”
Painem menunduk di sampingnya.
Tidak menangis keras.
Tapi matanya basah.
“Jangan hidup di masa lalu lagi.”
“Kamu sudah punya kehidupanmu sekarang.”
Paijo menutup mata.
Tarikan napasnya berat.
“Kalau kita tidak pernah bersama, itu bukan kegagalan.”
“Itu hanya takdir yang memilih jalan lain.”
Hening.
Paijo menutup surat itu perlahan.
Tangannya masih gemetar.
Tapi wajahnya… tidak lagi hancur.
Hanya tenang.
Sangat tenang.
Painem menyentuh bahunya pelan.
“Mas…”
Paijo menoleh.
“Aku di sini.”
Kalimat itu sederhana.
Tapi cukup untuk menahan seluruh badai yang tersisa.
Malam itu…
tidak ada yang banyak bicara lagi.
Karena tidak ada lagi yang perlu diperdebatkan dengan masa lalu.
Dan di luar sana…
Sungai Kapuas tetap mengalir seperti biasa.
Membawa semua cerita manusia yang pernah mencintai, kehilangan, dan akhirnya belajar melepaskan.
Namun di dalam rumah kecil itu…
Paijo akhirnya benar-benar berdamai.
Bukan karena lupa.
Tapi karena menerima bahwa tidak semua yang dicintai ditakdirkan untuk tetap tinggal.
BAB XLVII
AKHIR YANG TIDAK BENAR-BENAR AKHIR
Hari-hari setelah kabar itu tidak berubah menjadi gelap seperti yang ditakutkan Painem.
Tidak ada kehancuran baru.
Tidak ada Paijo yang kembali tersesat dalam diam yang panjang.
Yang ada justru sesuatu yang berbeda…
lebih tenang.
lebih dewasa.
lebih utuh.
Pagi di Handel Sungai Beras kembali berjalan seperti biasa.
Bengkel buka.
Orang datang.
Motor diperbaiki.
Dan suara kunci pas kembali bersahut dengan deru mesin.
Namun di balik semua itu…
ada satu perubahan kecil yang tidak bisa disembunyikan.
Paijo lebih sering diam.
Tapi bukan diam yang kosong.
Diamnya kini seperti orang yang sudah menyelesaikan perjalanan panjang di dalam dirinya sendiri.
Painem memperhatikan itu.
Namun kali ini ia tidak lagi cemas.
Karena ia tahu…
suaminya tidak sedang pergi ke tempat lain.
Ia hanya sedang benar-benar hadir di tempat yang sama.
“Mas…”
“Hm?”
Painem duduk di depan rumah sambil menjahit pakaian.
“Aku lihat Mas sekarang beda lagi.”
Paijo tersenyum kecil.
“Beda gimana lagi?”
Painem menjawab pelan.
“Enggak ada yang ditahan.”
Paijo terdiam.
Lalu mengangguk.
“Iya.”
Bagus berlari kecil di halaman.
Tertawa.
Jatuh.
Bangun lagi.
Dan semua itu menjadi musik kehidupan yang sederhana di rumah itu.
Namun suatu sore…
ketenangan itu kembali diuji dalam bentuk yang lain.
Seorang lelaki tua datang ke bengkel.
Bukan pelanggan.
Wajahnya asing.
Namun tatapannya seperti membawa masa lalu yang lebih tua dari semua cerita yang pernah ada.
“Mas Paijo?”
Paijo menatapnya.
“Iya.”
Lelaki itu menarik napas panjang.
“Aku dulu kenal bapakmu.”
Hening.
Painem yang sedang di dalam rumah langsung keluar.
Bagus berhenti bermain.
“Ada apa, Pak?”
Paijo bertanya pelan.
Lelaki itu duduk perlahan di bangku kayu.
“Aku datang bukan soal kerjaan.”
Ia berhenti sejenak.
Lalu melanjutkan:
“Aku cuma mau bilang…”
“kalau hidup itu kadang tidak mengulang, tapi mewariskan.”
Paijo diam.
Tidak mengerti sepenuhnya.
Lelaki itu menatapnya.
“Aku dulu juga pernah kehilangan orang yang tidak pernah sempat aku sampaikan perasaan.”
Hening.
“Dan aku hidup terlalu lama dengan itu.”
Paijo menatapnya dalam.
“Jangan kamu ulangi itu ke anakmu.”
Kalimat itu sederhana.
Tapi menghantam pelan.
Setelah lelaki itu pergi…
suasana bengkel kembali sunyi.
Namun kali ini bukan sunyi yang berat.
Melainkan sunyi yang mengajak berpikir.
Malamnya…
Paijo duduk di depan rumah.
Bagus sudah tidur.
Painem duduk di sampingnya.
“Mas…”
“Hm?”
“Aku takut satu hal.”
Paijo menoleh.
“Apa?”
Painem menjawab pelan:
“Takut Mas terlalu tenang… sampai lupa hidup.”
Paijo tersenyum kecil.
Lalu menggeleng.
“Enggak.”
Ia menatap Sungai Kapuas di kejauhan.
“Aku bukan lupa hidup.”
“Aku cuma… baru ngerti cara menjalaninya.”
Hening.
“Mas…”
“Iya?”
Painem tersenyum kecil.
“Kalau begitu… kita lanjut hidup ya.”
Paijo mengangguk.
“Lanjut.”
Dan malam itu…
tidak ada lagi pertempuran dalam diri Paijo.
Tidak ada lagi masa lalu yang mengetuk terlalu keras.
Tidak ada lagi luka yang meminta diperhatikan.
Yang ada hanya kehidupan yang berjalan pelan…
bersama orang-orang yang masih tinggal.
Dan Handel Sungai Beras…
tetap menjadi tempat di mana cerita tidak pernah benar-benar selesai,
hanya berubah bentuk menjadi kenangan yang tenang.
BAB XLVIII
SUNGAI YANG TETAP MENGALIR DI ANTARA WAKTU
Pagi di Handel Sungai Beras terasa lebih basah dari biasanya.
Hujan semalam masih meninggalkan jejak di tanah merah di sekitar rumah-rumah kayu. Genangan kecil di pinggir jalan Trans Kalimantan memantulkan langit yang masih pucat. Suara kendaraan besar yang melintas sesekali memecah kesunyian pagi, membawa aroma solar yang bercampur dengan udara sungai.
Sungai Kapuas di kejauhan tampak tenang, namun airnya berwarna sedikit keruh, seperti membawa cerita dari hulu yang tidak pernah berhenti mengalir.
Di depan rumah Paijo…
bengkel kecil itu sudah mulai hidup.
Paijo sedang jongkok di samping motor pelanggan, tangannya penuh oli.
Keringat mengalir pelan di pelipisnya meski udara pagi belum panas.
Di sampingnya, Painem duduk di bangku kayu sambil mengupas bawang untuk warung kecil mereka yang kadang buka di depan rumah.
Bagus bermain di tanah, membuat bentuk-bentuk kecil dari lumpur basah.
“Mas, baut ini sudah diganti kemarin ya?”
“Belum, ini baru mau diganti.”
Paijo menjawab tanpa mengangkat wajah.
Suaranya kini lebih stabil, lebih tenang.
Tidak ada lagi nada terburu-buru yang dulu sering muncul saat pikirannya tidak fokus.
Painem melirik suaminya.
Ada sesuatu yang berubah dari cara Paijo bekerja.
Lebih rapi.
Lebih telaten.
Seolah setiap gerakan adalah bagian dari kesadaran yang lebih dalam.
“Mas…”
“Hm?”
“Aku lihat Mas sekarang kalau kerja kayak orang yang nggak dikejar-kejar.”
Paijo tersenyum kecil.
“Mungkin karena memang sudah nggak ada yang dikejar.”
Painem menghela napas pelan.
“Bagus itu.”
Bagus tiba-tiba berlari kecil mendekat.
“Papa!”
Paijo menoleh cepat.
“Apa?”
“Ini!”
Anak itu menunjukkan tangan penuh lumpur.
Paijo tertawa kecil.
“Wah, ini bukan bengkel, ini sawah.”
Bagus ikut tertawa.
Dan suara itu memenuhi halaman rumah.
Namun di balik tawa itu…
Handel Sungai Beras tetap menyimpan ritme hidup yang tidak pernah benar-benar tenang.
Kendaraan dari Trans Kalimantan terus melintas.
Orang-orang datang dan pergi.
Dan setiap rumah di pinggir jalan itu menyimpan cerita masing-masing yang tidak pernah benar-benar terdengar.
Menjelang siang…
awan mulai bergerak cepat.
Angin dari arah sungai terasa lebih kuat.
Daun-daun pohon kelapa di sekitar rumah mulai bergoyang.
Seorang pelanggan baru datang.
Seorang lelaki muda dengan wajah lelah.
“Bang, bisa bantu?”
Paijo mengangguk.
“Bisa. Apa masalahnya?”
Lelaki itu menunjuk motornya.
“Ini mogok di tengah jalan. Saya dari jauh.”
Paijo berdiri.
Lalu mulai memeriksa motor itu.
Saat bekerja…
lelaki itu memperhatikan Paijo lama.
“Bang, udah lama di sini?”
Paijo menjawab singkat.
“Lama.”
“Enggak pernah pengen pindah ke kota?”
Paijo berhenti sejenak.
Lalu tersenyum kecil.
“Dulu pernah.”
“Sekarang?”
Paijo menatap Sungai Kapuas di kejauhan.
“Sekarang saya tahu… yang saya cari bukan tempat baru.”
“Tapi cara untuk berdamai di tempat yang sama.”
Lelaki itu mengangguk pelan.
Seolah mengerti, meski tidak sepenuhnya.
Sore hari…
setelah pelanggan pergi…
Paijo duduk di depan rumah.
Painem duduk di sampingnya.
Bagus sudah tertidur di dalam.
Langit mulai berubah warna menjadi jingga.
Cahaya matahari sore jatuh di permukaan Sungai Kapuas, menciptakan kilau yang bergerak pelan mengikuti arus air.
“Mas…”
“Hm?”
Painem menatap sungai.
“Kalau hidup Mas itu sungai…”
Paijo tersenyum kecil.
“Kenapa?”
“Mas sekarang ada di bagian mana?”
Paijo diam lama.
Lalu menjawab pelan:
“Di bagian yang nggak lagi melawan arus.”
Painem mengangguk.
“Berarti tenang?”
Paijo menggeleng pelan.
“Bukan tenang.”
“Stabil.”
Hening.
Namun hening kali ini tidak kosong.
Hening yang mengisi.
Angin sore membawa suara burung dari kejauhan.
Anak-anak tetangga tertawa bermain di jalan.
Dan suara kehidupan kecil itu menyatu dengan suara sungai yang tidak pernah berhenti.
“Mas…”
“Iya?”
Painem tersenyum kecil.
“Aku suka hidup kita sekarang.”
Paijo menatapnya.
“Aku juga.”
Dan untuk pertama kalinya…
tidak ada lagi cerita yang ingin dikejar.
Tidak ada lagi masa lalu yang ingin diperbaiki.
Tidak ada lagi masa depan yang ditakuti.
Yang ada hanya satu hal:
hari ini.
Dan Handel Sungai Beras…
tetap berdiri sebagai saksi dari kehidupan yang sederhana,
yang perlahan berubah dari luka menjadi cerita,
dari cerita menjadi damai.
BAB XLIX
GUNDAH DI ANTARA KETENANGAN
Ketenangan itu tidak pernah benar-benar abadi di Handel Sungai Beras.
Ia hanya seperti permukaan Sungai Kapuas saat pagi hari—terlihat tenang, tapi di bawahnya tetap ada arus yang bergerak tanpa henti.
Dan hari itu, arus itu kembali terasa.
Pagi dimulai seperti biasa.
Kabut tipis masih menggantung di atas jalan Trans Kalimantan. Bengkel Paijo baru saja dibuka. Suara kunci pas, deru motor, dan sapaan pelanggan menjadi ritme yang sudah akrab.
Painem sedang menata barang dagangan kecil di depan rumah.
Bagus bermain di samping bengkel.
Semua tampak normal.
Terlalu normal.
Sampai sebuah mobil bak terbuka berhenti mendadak di depan rumah.
Debu jalanan naik.
Orang-orang di sekitar melirik.
Paijo berhenti bekerja.
Seorang pria turun dari mobil itu.
Wajahnya asing, tapi sorot matanya tegas.
Ia membawa map cokelat di tangan.
“Mas Paijo?”
“Iya.”
Pria itu tidak langsung tersenyum.
“Aku dari kecamatan.”
Suasana langsung berubah.
Painem yang mendengar langsung menoleh cepat.
“Ada apa?”
Paijo bertanya tenang, tapi matanya mulai waspada.
Pria itu membuka mapnya.
“Tanah di pinggir jalan ini…”
Ia menunjuk sekitar bengkel.
“…masuk rencana pelebaran jalan provinsi.”
Hening.
Bagus berhenti bermain.
Painem mendekat.
“Apa maksudnya?”
Pria itu melanjutkan:
“Akan ada penggusuran sebagian bangunan di jalur ini.”
Kalimat itu jatuh seperti batu ke dalam air tenang.
Paijo berdiri perlahan.
“Bengkel ini?”
Pria itu mengangguk.
“Termasuk.”
Sunyi.
Tidak ada suara motor.
Tidak ada tawa anak-anak.
Seolah dunia berhenti sebentar.
Painem langsung menatap Paijo.
“Mas…”
Paijo tidak menjawab.
Tangannya mengepal pelan.
Bengkel itu bukan sekadar tempat kerja.
Itu adalah hidup mereka setelah semua jatuh bangun.
Tempat mereka membangun ulang semuanya dari nol.
“Kapan?”
Akhirnya Paijo bertanya.
Pria itu menjawab:
“Beberapa bulan ke depan. Sosialisasi baru dimulai.”
Lalu pria itu pergi.
Meninggalkan kertas, dan meninggalkan ketidakpastian.
Sore hari…
bengkel tidak seramai biasanya.
Paijo duduk diam di bangku kayu.
Kunci pas di tangannya tidak lagi bergerak.
Painem duduk di dekatnya.
Bagus tertidur di dalam rumah.
“Mas…”
“Hm?”
“Apa kita harus pindah lagi?”
Paijo tidak langsung menjawab.
Matanya menatap jalan Trans Kalimantan yang sibuk seperti biasa.
“Aku nggak tahu.”
Jawaban itu jujur.
Tapi berat.
Painem menunduk.
“Aku capek mulai dari nol lagi, Mas.”
Paijo mengangguk pelan.
“Aku juga.”
Hening.
Namun kali ini berbeda.
Bukan hening damai.
Tapi hening yang penuh beban.
Malamnya…
Paijo tidak tidur.
Ia duduk di depan rumah.
Menatap bengkel yang menyala redup.
Menatap jalan yang mungkin suatu hari akan menghapus tempat itu.
Painem keluar membawa dua gelas teh.
“Mas.”
Paijo menerima.
“Terima kasih.”
Mereka duduk bersama.
Lama.
Diam.
“Mas…”
“Hm?”
“Kalau ini benar-benar terjadi…”
Painem berhenti.
“…kita gimana?”
Paijo menghela napas panjang.
Lalu berkata pelan:
“Kita sudah pernah mulai dari nol sekali.”
Painem menoleh.
“Berarti kita bisa lagi?”
Paijo tersenyum kecil.
“Kita bisa.”
“Tapi kali ini…”
ia berhenti sebentar.
“…kita nggak bawa masa lalu.”
Painem terdiam.
Lalu mengangguk pelan.
Di kejauhan…
Sungai Kapuas tetap mengalir.
Seolah tidak peduli pada rencana manusia.
Seolah mengingatkan bahwa semua yang berdiri di tepinya…
hanya sementara.
Namun di dalam rumah kecil itu…
sebuah keputusan baru mulai tumbuh.
Bukan tentang bertahan di tempat.
Tapi tentang bagaimana tetap bersama…
meski tempat berubah.
Dan untuk pertama kalinya setelah lama…
ketenangan mereka benar-benar diuji lagi.
BAB L
MEMILIH BERTAHAN ATAU MELANGKAH LAGI
Beberapa hari setelah kabar rencana pelebaran jalan itu, suasana di Handel Sungai Beras berubah pelan-pelan.
Bukan berubah secara langsung.
Tidak ada suara bulldozer.
Tidak ada alat berat.
Tapi ada sesuatu yang lebih halus… lebih mengganggu:
ketidakpastian yang tinggal di kepala.
Pagi itu bengkel tetap buka seperti biasa.
Namun Paijo tidak lagi langsung fokus pada pekerjaan seperti dulu.
Matanya kadang melayang ke arah batas tanah di depan rumah.
Ke arah jalan Trans Kalimantan.
Seolah sedang menghitung sesuatu yang belum terjadi.
Painem memperhatikan itu.
Namun ia juga tidak banyak bicara.
Ia tahu, kali ini bukan soal emosi sesaat.
Ini soal arah hidup.
Bagus bermain di dekat bengkel, membuat suara kecil dari benda-benda bekas.
“Papa, ini mobil!”
Paijo tersenyum kecil.
“Iya, itu mobil.”
Tapi senyum itu cepat hilang lagi.
Siang hari…
Pak RT datang.
Wajahnya serius.
“Jo, kamu sudah dapat surat resmi?”
Paijo mengangguk pelan.
“Belum, Pak.”
Pak RT menghela napas.
“Biasanya kalau sudah sosialisasi begini… tinggal tunggu waktu saja.”
Kalimat itu tidak perlu dijelaskan lagi.
Setelah Pak RT pergi…
Painem akhirnya berbicara.
“Mas…”
“Hm?”
“Kalau kita tetap di sini sampai akhir…”
“apa yang kita dapat?”
Paijo terdiam.
Ia tidak langsung menjawab.
Karena pertanyaannya bukan soal uang.
Bukan soal tempat.
Tapi soal hidup yang sudah mereka bangun.
“Aku nggak tahu.”
Jawaban itu kembali jujur.
Painem duduk di bangku kayu.
“Aku nggak takut pindah, Mas.”
Paijo menoleh.
“Aku takut… capeknya nggak pernah selesai.”
Hening.
Bagus datang menghampiri.
“Papa, kenapa bengkel mau dibongkar?”
Pertanyaan itu sederhana.
Tapi langsung menghantam hati Paijo.
Ia berjongkok di depan anaknya.
“Belum tentu dibongkar.”
Bagus menatap polos.
“Kalau dibongkar, kita pindah lagi?”
Paijo terdiam lama.
Lalu mengangguk pelan.
“Iya.”
Bagus tersenyum.
“Berarti kita jalan-jalan lagi ya?”
Kalimat itu polos.
Tapi justru membuat dada Paijo sesak.
Malamnya…
Paijo duduk sendirian di depan rumah.
Lampu bengkel sudah redup.
Suara sungai terdengar jauh.
Painem keluar membawa selimut.
“Mas, dingin.”
Paijo menerima.
“Terima kasih.”
Mereka duduk berdampingan.
Lama.
Tanpa banyak kata.
“Mas…”
“Hm?”
“Kalau kita pindah…”
“Mas masih mau mulai dari nol lagi?”
Paijo tersenyum kecil.
“Kalau kamu ikut, aku nggak mulai dari nol.”
Painem menoleh.
“Maksudnya?”
Paijo menjawab pelan:
“Aku mulai dari kita.”
Hening.
Tapi kali ini hening yang hangat.
Beberapa hari kemudian…
keputusan mulai mengerucut.
Warga sekitar mulai ramai membicarakan kompensasi.
Sebagian sudah mulai menghitung-hitung.
Sebagian lain masih menunggu kepastian.
Namun Paijo tidak ikut terburu-buru.
Ia lebih banyak diam.
Mengamati.
Mendengar.
Sampai suatu sore…
seorang kontraktor proyek datang langsung ke bengkel.
Orang itu membawa peta besar.
“Mas Paijo, kita butuh kepastian dari pemilik usaha di sini.”
Paijo menatap peta itu lama.
Lalu bertanya:
“Kalau saya pindah… saya harus ke mana?”
Kontraktor itu menjawab singkat:
“Di mana saja, selama di luar jalur proyek.”
Jawaban itu tidak membantu.
Tapi justru memperjelas satu hal:
tidak ada tempat yang benar-benar menunggu mereka.
Malam itu…
Painem duduk di lantai rumah sambil menghitung sesuatu.
Paijo mendekat.
“Apa itu?”
Painem menjawab pelan:
“Kalau kita pindah… uang ini cukup sampai kapan.”
Paijo diam.
Lalu berkata:
“Kita tidak lagi menghitung cukup atau tidak.”
Painem menoleh.
“Kita menghitung berani atau tidak.”
Hening.
Bagus tidur di ayunan.
Rumah terasa kecil.
Tapi hidup di dalamnya terasa sangat besar.
Painem akhirnya berkata:
“Mas… kalau kita pindah lagi, aku cuma minta satu hal.”
Paijo menatapnya.
“Apa?”
“Jangan pernah merasa kita gagal.”
Paijo mengangguk pelan.
“Aku janji.”
Dan malam itu…
di tengah ketidakpastian yang belum selesai,
mereka akhirnya tidak lagi berdebat dengan takdir.
Hanya bersiap…
untuk satu perjalanan baru yang mungkin akan dimulai lagi dari nol.
Tapi kali ini…
tidak dengan rasa takut yang sama.
BAB LI
RUMAH BARU DI ATAS KEHIDUPAN LAMA
Perjalanan setelah meninggalkan Handel Sungai Beras tidak terasa seperti benar-benar pergi dari rumah.
Lebih tepatnya…
seperti membawa rumah itu ikut di dalam dada.
Mereka sementara tinggal di rumah kontrakan kecil di pinggiran Kuala Kapuas.
Bangunannya sederhana.
Dindingnya semen kasar.
Halamannya sempit.
Dan suara kendaraan Trans Kalimantan masih terdengar dari kejauhan.
Namun bagi Paijo dan Painem…
tempat itu bukan sekadar tempat singgah.
Itu adalah awal lagi.
Pagi pertama di rumah baru…
Paijo duduk di lantai tanpa alas.
Tidak ada bengkel.
Tidak ada alat kerja.
Tidak ada suara pelanggan.
Hanya kesunyian yang berbeda dari sebelumnya.
Painem menata barang seadanya.
Bagus bermain dengan kardus bekas di sudut ruangan.
Membuat suara kecil yang menjadi pengisi ruang kosong rumah itu.
“Mas…”
“Hm?”
“Kalau kita mulai lagi… Mas mau buka bengkel lagi?”
Paijo menatap lantai.
Lalu mengangguk pelan.
“Iya.”
“Tapi nggak langsung besar.”
Painem tersenyum.
“Pelan-pelan lagi?”
Paijo mengangguk.
“Pelan-pelan lagi.”
Hari-hari berikutnya…
Paijo mulai mencari tempat baru.
Ia berjalan di sekitar kota.
Melihat pinggir jalan.
Mengamati orang lalu-lalang.
Namun kali ini caranya berbeda.
Tidak terburu-buru.
Tidak panik.
Seolah ia sudah belajar bahwa hidup tidak perlu dikejar.
Hidup cukup diikuti.
Suatu sore…
ia menemukan tempat kecil di dekat jalan yang tidak terlalu ramai.
Sebuah lahan kosong milik warga.
Tidak besar.
Tapi cukup.
“Ini saja dulu.”
Paijo berkata pelan pada dirinya sendiri.
Painem datang ke lokasi itu keesokan harinya.
“Aku suka tempat ini.”
Paijo tersenyum.
“Kenapa?”
“Karena nggak terlalu bising.”
Paijo tertawa kecil.
“Berarti cocok sama hidup kita sekarang.”
Bagus berlari kecil di tanah kosong itu.
“Papa! Ini bengkel baru?”
Paijo mengangguk.
“Iya.”
Bagus tersenyum lebar.
“Berarti kita mulai lagi ya?”
Paijo berjongkok.
“Mulai lagi.”
Dan kali ini…
tidak ada ketakutan seperti dulu.
Hanya kesadaran bahwa mereka pernah melakukannya sebelumnya.
Dan bisa melakukannya lagi.
Beberapa hari kemudian…
mereka mulai membangun bengkel kecil itu.
Paijo memaku sendiri papan kayu.
Painem membantu menata peralatan.
Bagus duduk di sudut, menonton sambil tertawa.
“Mas, paku ini kurang kuat.”
Paijo mendekat.
“Di mana?”
Painem menunjuk.
Paijo memperbaiki tanpa banyak kata.
Semuanya berjalan sederhana.
Tapi terasa hidup.
Suatu malam…
setelah hari panjang bekerja…
mereka duduk di lantai bengkel yang baru setengah jadi.
Lampu redup menggantung.
Angin malam masuk pelan dari sela dinding kayu.
“Mas…”
“Hm?”
“Aku capek lagi.”
Paijo menoleh cepat.
Namun Painem tersenyum.
“Tapi capeknya beda.”
Paijo mengangguk.
“Capek yang masih mau lanjut.”
Hening.
Bagus tertidur di pangkuan ibunya.
Wajah kecil itu tenang.
Seolah tidak pernah tahu bahwa orang tuanya baru saja melewati hidup yang panjang sekali hanya untuk sampai di titik ini.
Paijo menatap mereka lama.
Lalu berkata pelan:
“Nem…”
“Iya?”
“Kalau dulu aku pikir rumah itu tempat.”
Ia berhenti.
“Sekarang aku tahu…”
“rumah itu orang.”
Painem tidak menjawab langsung.
Tapi tangannya menggenggam tangan Paijo lebih erat.
Dan malam itu…
di bengkel kecil yang baru tumbuh itu…
tidak ada lagi yang mereka kejar selain satu hal:
melanjutkan hidup bersama.
Sementara di luar…
angin malam bergerak pelan melewati kota.
Membawa sisa-sisa cerita dari tempat lama.
Namun tidak lagi membawa luka.
Hanya kenangan yang sudah selesai menjadi bagian dari perjalanan.
BAB LII
API KECIL YANG KEMBALI DINYALAKAN
Hari-hari di bengkel baru berjalan pelan, tapi pasti.
Tidak ada lagi gegap gempita seperti awal di Handel Sungai Beras.
Tidak ada lagi keramaian spontan dari pelanggan yang datang silih berganti.
Yang ada hanya ritme kecil yang mereka bangun ulang dari awal—tenang, sederhana, dan penuh usaha.
Pagi itu…
langit Kuala Kapuas agak cerah.
Paijo sudah membuka bengkel sejak subuh.
Tangannya kembali akrab dengan besi, baut, dan suara mesin.
Namun ada satu hal yang berbeda…
cara ia tersenyum.
Lebih ringan.
Lebih tidak terburu-buru.
Painem datang membawa termos kecil berisi kopi.
“Mas, minum dulu.”
Paijo mengangguk.
“Terima kasih.”
Mereka kini tidak lagi banyak bicara seperti dulu.
Bukan karena dingin.
Tapi karena sudah cukup saling mengerti tanpa harus menjelaskan panjang.
Bagus bermain di depan bengkel.
Kini ia sudah mulai berlari lebih jauh dari sebelumnya.
Kadang mengejar ayam.
Kadang membantu “memperbaiki” motor mainan miliknya sendiri.
“Papa! Ini rusak!”
Paijo tertawa kecil.
“Bawa sini.”
Bagus menyerahkan mainan itu dengan bangga.
Paijo pura-pura memperbaiki.
“Sudah. Ini mesin baru.”
Bagus tertawa keras.
“Papa hebat!”
Dan tawa itu…
menjadi bahan bakar baru bagi hidup mereka.
Namun suatu siang…
ketenangan itu kembali disentuh oleh sesuatu yang kecil.
Seorang lelaki muda datang ke bengkel.
Wajahnya ragu-ragu.
“Bang Paijo?”
“Iya.”
“Saya… anak dari pelanggan lama di Handel Sungai Beras.”
Kalimat itu membuat Paijo berhenti sejenak.
“Yang bengkel di dekat jalan Trans itu?”
Lelaki itu mengangguk.
“Iya. Ayah saya dulu sering cerita tentang Bang.”
Paijo tersenyum tipis.
“Sudah lama itu.”
Lelaki itu melanjutkan:
“Saya cuma mau bilang… banyak orang yang masih ingat bengkel lama Bang.”
Paijo terdiam.
“Kenapa?”
Lelaki itu menjawab:
“Karena katanya, di situ orang datang bukan cuma buat servis motor…”
“…tapi juga buat merasa didengar.”
Hening.
Kalimat itu sederhana.
Tapi menghantam pelan.
Paijo menunduk.
Sejenak ia tidak menjawab.
Karena ia tidak pernah merasa dirinya seistimewa itu.
Ia hanya bekerja.
Hanya bertahan.
Namun Painem yang mendengar dari dalam rumah tersenyum kecil.
Ia tahu…
itu bukan tentang bengkel.
Tapi tentang orang yang menjalankannya.
Malam hari…
setelah pelanggan pergi…
Paijo duduk di depan bengkel.
Angin malam terasa hangat.
Lampu jalan redup di kejauhan.
Painem duduk di sampingnya.
“Mas…”
“Hm?”
“Aku bangga sama Mas.”
Paijo menoleh.
“Kenapa?”
“Karena Mas nggak pernah jadi orang lain, meskipun hidupnya berubah-ubah.”
Paijo tersenyum kecil.
“Aku cuma nggak punya pilihan lain.”
Painem menggeleng.
“Kamu selalu punya pilihan. Tapi kamu tetap jadi kamu.”
Hening sebentar.
“Mas…”
“Iya?”
“Kalau hidup kita ini api…”
Paijo tersenyum.
“Api?”
“Iya.”
Painem melanjutkan:
“Dulu hampir padam.”
“Sekarang?”
Paijo menatap bengkel kecil mereka.
“Sekarang?”
Painem tersenyum.
“Sekarang nyala lagi.”
Bagus di dalam rumah tertawa sendiri, bermain dengan mobil mainannya.
Suara itu masuk ke dalam malam.
Menyatu dengan angin.
Paijo menghela napas panjang.
Lalu berkata pelan:
“Kalau ini api…”
“…aku nggak mau dia besar.”
“Aku cuma mau dia cukup untuk kita hangat.”
Painem mengangguk.
“Dan cukup untuk bertahan.”
Malam itu…
tidak ada lagi luka yang dibuka.
Tidak ada lagi masa lalu yang datang mengetuk.
Yang ada hanya kehidupan kecil yang sedang dibangun kembali…
di tempat yang baru.
Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama…
Paijo tidak merasa sedang memulai dari nol.
Tapi sedang melanjutkan sesuatu yang sudah lama ia pahami:
bahwa hidup bukan tentang di mana ia berhenti…
tapi dengan siapa ia tetap berjalan.
BAB LIII
ARUS YANG TIDAK LAGI MENARIK KE BELAKANG
Musim hujan kembali datang ke Kuala Kapuas.
Bukan hujan deras yang menghantam, tapi hujan yang turun pelan—seperti sengaja memberi waktu bagi bumi untuk bernafas.
Atap seng bengkel Paijo menjadi musik rutin setiap sore. Tetesan air jatuh berirama, menyatu dengan suara kendaraan yang lewat di kejauhan.
Namun kali ini, tidak ada lagi rasa gelisah di dalam rumah kecil itu.
Hanya rutinitas yang berjalan.
Dan kehidupan yang semakin menemukan bentuknya.
Bengkel baru Paijo mulai dikenal lagi, meski tidak seramai dulu di Handel Sungai Beras.
Orang-orang datang satu per satu.
Bukan karena papan nama.
Tapi karena cerita dari mulut ke mulut.
“Bang Paijo itu orangnya sabar…”
“Kalau dia servis, enggak cuma motor yang dibenerin…”
“…orangnya juga.”
Paijo sendiri tidak pernah mendengar langsung semua itu.
Tapi ia tidak perlu.
Ia hanya bekerja seperti biasa.
Pagi itu…
Painem menata botol-botol oli di rak kayu.
“Mas, ini stok tinggal sedikit.”
Paijo mengangguk.
“Nanti kita beli lagi.”
Painem menatapnya.
“Sekarang kita sudah mulai stabil ya.”
Paijo tersenyum kecil.
“Stabil… tapi belum aman.”
Painem tertawa kecil.
“Memang hidup pernah aman?”
Bagus berlari di halaman, membawa ranting kecil seperti pedang.
“Papa! Aku jago!”
Paijo tertawa.
“Iya, jago.”
Namun di balik semua ketenangan itu…
ada perubahan kecil dalam diri Paijo yang mulai terasa.
Ia lebih sering tersenyum tanpa alasan.
Lebih cepat kembali fokus.
Dan yang paling penting…
lebih jarang diam terlalu lama.
Painem menyadari itu.
Tapi ia tidak pernah bertanya.
Karena ia tahu…
itu bukan lagi tentang masa lalu.
Bukan lagi tentang Paijem.
Tapi tentang Paijo yang sedang benar-benar hidup di masa kini.
Suatu sore…
seorang pelanggan lama datang kembali.
“Bang Paijo, bengkel lama Bang dulu masih sering dibicarakan di kampung.”
Paijo hanya tersenyum kecil.
“Sudah jadi cerita saja.”
Lelaki itu mengangguk.
“Tapi cerita yang masih hidup.”
Setelah pelanggan itu pergi…
Painem duduk di samping Paijo.
“Mas…”
“Hm?”
“Aku lihat Mas sekarang sudah benar-benar selesai ya.”
Paijo menoleh.
“Selesai apa?”
Painem tersenyum kecil.
“Dengan semua yang dulu.”
Paijo diam lama.
Lalu mengangguk pelan.
“Iya.”
Hening sebentar.
“Bukan lupa.”
Paijo menambahkan pelan.
“Tapi selesai disimpan di tempat yang benar.”
Painem mengangguk.
“Di belakang, bukan di depan.”
Paijo tersenyum.
“Iya.”
Malamnya…
Bagus sudah tidur lebih awal.
Hujan turun lebih deras dari sore tadi.
Suara air di atap bengkel terdengar lebih keras.
Paijo duduk di lantai, memeriksa alat-alat.
Painem duduk di dekatnya sambil melipat pakaian.
“Mas…”
“Hm?”
“Kalau suatu hari kita capek lagi…”
Paijo menoleh.
“Kita berhenti sebentar.”
Painem tersenyum.
“Bukan berhenti hidup ya?”
Paijo menggeleng.
“Cuma berhenti melawan.”
Hening.
Di luar…
air hujan mengalir ke parit kecil di pinggir jalan.
Membawa semua yang ringan pergi…
tanpa pernah kembali ke tempat yang sama.
Dan Paijo menatap itu lama.
Lalu berkata pelan:
“Nem…”
“Iya?”
“Dulu aku pikir hidup itu soal bertahan.”
Painem menatapnya.
“Sekarang?”
Paijo tersenyum kecil.
“Sekarang aku tahu…”
“…hidup itu soal mengalir.”
Painem mengangguk pelan.
Dan untuk pertama kalinya…
tidak ada lagi pertanyaan besar yang perlu dijawab.
Karena semuanya sudah cukup.
Cukup untuk dijalani.
Cukup untuk dimengerti.
Dan cukup untuk tetap bersama… tanpa harus mengulang luka yang sama.
BAB LIV
JEJAK YANG TIDAK LAGI MEMBAYANGI LANGKAH
Pagi di Kuala Kapuas terasa lebih terang dari biasanya.
Langit bersih, awan tipis bergerak pelan, dan sinar matahari jatuh lembut di atap seng bengkel kecil itu. Setelah beberapa hari hujan, tanah di halaman mulai mengering, meninggalkan jejak-jejak kecil sepatu Bagus yang bermain sejak pagi.
Di dalam bengkel, suara kunci pas kembali terdengar.
Tidak tergesa.
Tidak gelisah.
Seperti ritme yang sudah menemukan bentuknya sendiri.
Paijo sedang memperbaiki motor pelanggan.
Gerak tangannya stabil, matanya fokus.
Namun ada sesuatu yang berbeda dari cara ia bekerja sekarang—tidak lagi seperti orang yang sedang mengejar hidup, tapi seperti orang yang sedang merawatnya.
Painem duduk di dekat rak peralatan.
Tangannya melipat kain, tapi matanya sesekali memperhatikan Paijo.
Ada ketenangan yang perlahan menetap di antara mereka.
Bukan ketenangan yang tiba-tiba datang.
Tapi yang tumbuh dari semua yang pernah retak.
“Mas…”
“Hm?”
Paijo tidak menoleh, masih fokus pada baut yang ia kencangkan.
“Kalau kita sudah seperti ini…”
Painem berhenti sejenak.
“…apa masih ada yang Mas cari?”
Paijo diam.
Gerakan tangannya berhenti.
Ia menatap motor di depannya.
Lalu perlahan tersenyum kecil.
“Dulu iya.”
Painem menunggu.
“Sekarang nggak lagi.”
Hening.
Bukan hening kosong.
Tapi hening yang mengendap seperti jawaban yang sudah lama dicari.
Bagus tiba-tiba masuk bengkel dengan wajah penuh tanah.
“Papa! Aku jatuh!”
Paijo langsung berdiri.
“Ayo sini.”
Ia membersihkan wajah anaknya dengan kain.
Bagus tertawa kecil.
“Gak sakit.”
Paijo menatapnya lama.
Lalu mengusap rambutnya pelan.
“Bagus.”
“Ya?”
“Jangan terlalu sering jatuh di tempat yang sama.”
Bagus mengerutkan kening.
“Kenapa?”
Paijo tersenyum.
“Karena nanti kamu nggak belajar jalan.”
Bagus mengangguk polos.
“Kalau jatuh di tempat baru?”
Paijo tertawa kecil.
“Itu namanya belajar.”
Painem yang mendengar itu tersenyum pelan.
Ada sesuatu dalam cara Paijo berbicara sekarang.
Lebih dalam.
Lebih tenang.
Seolah hidup sudah bukan lagi soal luka, tapi tentang pemahaman.
Sore hari…
seorang pelanggan lama datang lagi.
“Bang, bengkel ini makin rame ya sekarang.”
Paijo mengangguk kecil.
“Cukup.”
Lelaki itu tertawa.
“Sekarang Bang beda ya.”
Paijo menoleh.
“Bedanya?”
“Dulu Bang kayak orang yang bawa beban.”
“Sekarang?”
“Sekarang kayak orang yang sudah naruh semuanya di tempatnya.”
Paijo terdiam sebentar.
Lalu tersenyum.
“Mungkin memang sudah waktunya.”
Malamnya…
Bagus sudah tidur lebih awal.
Angin malam masuk pelan dari sela dinding kayu.
Suara jangkrik terdengar dari luar.
Paijo duduk di depan rumah.
Painem datang membawa dua gelas teh.
Mereka duduk berdampingan.
Seperti biasa.
“Mas…”
“Iya?”
Painem menatap jalan kecil di depan rumah.
“Kalau hidup kita ini perjalanan…”
Paijo mengangguk.
“Lalu?”
“Sekarang kita sudah sampai di mana?”
Paijo diam lama.
Sangat lama.
Lalu menjawab pelan:
“Kita belum sampai.”
Painem menoleh cepat.
Paijo tersenyum kecil.
“Tapi kita sudah tidak tersesat lagi.”
Hening.
Angin malam bergerak pelan.
Dan suara sungai dari kejauhan terdengar samar.
Painem menggenggam tangan Paijo.
Lebih erat dari biasanya.
“Kalau begitu…”
Paijo menatapnya.
“…kita lanjut jalan.”
Paijo mengangguk.
“Lanjut.”
Dan malam itu…
tidak ada lagi yang ingin mereka kejar.
Tidak ada lagi yang ingin mereka tinggalkan.
Hanya langkah kecil yang terus berjalan…
di jalan yang tidak lagi menakutkan.
Karena akhirnya mereka mengerti:
bahwa hidup bukan tentang menemukan tujuan tercepat,
tetapi tentang tetap berjalan bersama… sampai perjalanan itu sendiri menjadi rumah.
BAB LV
HUJAN YANG DATANG TANPA PERINGATAN
Hujan turun lagi di Kuala Kapuas, tapi kali ini tidak seperti hujan-hujan sebelumnya yang terasa biasa saja.
Hujan kali ini datang lebih cepat, lebih berat, seolah membawa sesuatu yang belum sempat selesai di langit.
Dalam hitungan menit, jalan kecil di depan bengkel Paijo mulai basah penuh genangan. Suara kendaraan dari jalan utama terdengar lebih samar, tertahan oleh derasnya air yang jatuh tanpa jeda.
Di dalam bengkel, suasana jadi sedikit lebih sempit.
Aroma tanah basah masuk bersama angin.
Paijo sedang menutup sebagian alat kerja agar tidak terkena air.
Painem membantu dari dalam rumah, sesekali memanggil Bagus agar tidak bermain terlalu dekat dengan genangan.
“Bagus, masuk dulu!”
“Sebentar, Ma!”
Anak itu tetap asyik bermain air hujan, membuat kapal-kapalan dari plastik bekas.
“Mas…”
Painem berdiri di ambang pintu.
“Ini hujan deras sekali.”
Paijo mengangguk.
“Iya. Cepat datangnya.”
Namun ada sesuatu yang berbeda dari hujan kali ini.
Bukan hanya derasnya.
Tapi suasana yang ikut berubah.
Seolah membawa perasaan yang lama tidak muncul.
Tiba-tiba…
sebuah motor berhenti di depan bengkel.
Seorang lelaki turun, basah kuyup.
“Bang Paijo?”
Paijo mendekat.
“Iya.”
Lelaki itu mengusap wajahnya.
“Ada kabar dari Handel Sungai Beras.”
Nama itu membuat Paijo berhenti.
Painem yang berdiri di belakang langsung memperhatikan.
“Kenapa?”
Lelaki itu menunduk sedikit.
“Beberapa rumah di sana sudah mulai dibongkar.”
Hening.
Angin hujan masuk lebih kuat ke dalam bengkel.
Seolah membawa kembali tempat yang pernah mereka tinggalkan.
Paijo tidak langsung menjawab.
Matanya kosong sesaat.
Bukan karena ingin kembali.
Tapi karena bagian dari hidupnya dulu… sedang berubah lagi tanpa ia ada di sana.
Painem mendekat pelan.
“Mas…”
Paijo mengangkat tangan sedikit.
“Tunggu.”
Ia menarik napas panjang.
Lalu mengangguk pelan ke arah lelaki itu.
“Terima kasih sudah kasih tahu.”
Lelaki itu mengangguk lalu pergi lagi, menghilang di balik derasnya hujan.
Sunyi kembali.
Bagus masuk ke dalam rumah, basah separuh badan.
“Papa, airnya besar!”
Paijo tersenyum kecil.
“Iya. Hujan besar.”
Bagus tertawa.
“Kayak sungai di atas langit ya?”
Paijo terdiam.
Lalu tersenyum lebih dalam.
“Mungkin iya.”
Malam hari…
hujan belum berhenti.
Suara atap seng menjadi semakin keras.
Painem duduk di dekat lampu minyak kecil.
Paijo duduk di sampingnya.
Bagus sudah tidur.
“Mas…”
“Hm?”
“Apa Mas ingin ke sana?”
Pertanyaan itu keluar pelan.
Tapi berat.
Paijo tidak langsung menjawab.
Ia menatap lantai rumah.
Lalu berkata:
“Tidak.”
Painem menatapnya.
“Benar?”
Paijo mengangguk.
“Yang ada di sana sudah selesai.”
Hening.
Lalu ia melanjutkan pelan:
“Tapi kadang… selesai bukan berarti tidak pernah kembali dalam ingatan.”
Painem mengangguk pelan.
“Aku mengerti.”
Angin malam membawa suara hujan yang tidak berhenti.
Namun di dalam rumah itu…
tidak ada lagi kegelisahan besar seperti dulu.
Hanya kenangan yang lewat sebentar…
lalu kembali ditempatkan di tempatnya.
Paijo menatap ke luar jendela.
Air hujan mengalir di kaca seperti garis-garis waktu yang tidak bisa diulang.
Lalu ia berkata pelan:
“Nem…”
“Iya?”
“Kalau dulu aku selalu takut kehilangan.”
Painem menoleh.
“Sekarang?”
Paijo tersenyum kecil.
“Sekarang aku tahu… yang benar-benar hilang itu bukan orangnya.”
“Tapi cara kita menerima.”
Hening.
Dan malam itu…
hujan tidak lagi terasa seperti gangguan.
Tapi seperti pengingat kecil bahwa hidup selalu bergerak,
meski manusia sering masih menoleh ke belakang.
Di dalam rumah kecil itu,
Paijo tidak lagi berusaha melawan arus.
Ia hanya duduk…
bersama hidup yang sudah ia pilih untuk tetap dijalani.
BAB LVI
JEJAK TERAKHIR YANG TIDAK PERNAH BENAR-BENAR TERHAPUS
Pagi setelah hujan panjang itu, udara Kuala Kapuas terasa lebih bersih.
Tanah masih lembap, genangan kecil masih tersisa di beberapa sudut jalan, tapi langit sudah kembali cerah. Sinar matahari pagi menembus celah atap rumah kayu bengkel Paijo, memantulkan cahaya hangat ke lantai sederhana itu.
Suasana terasa lebih ringan.
Namun ada sesuatu yang tidak lagi sama.
Paijo berdiri di depan bengkel, menatap jalan yang perlahan kering.
Ia tidak sedang menunggu apa-apa.
Tidak juga sedang mencari sesuatu.
Tapi matanya seperti orang yang sedang mengingat, tanpa ingin kembali.
Painem keluar membawa sapu.
“Mas, pagi ini kita bersihin sisa lumpur ya.”
Paijo mengangguk.
“Iya.”
Bagus berlari kecil sambil membawa sendal yang masih basah.
“Papa! Air kemarin banyak!”
Paijo tersenyum.
“Iya. Sekarang sudah hilang.”
Bagus mengernyit.
“Airnya ke mana?”
Paijo terdiam sejenak.
Lalu menjawab pelan:
“Ke tempat yang memang seharusnya dia pergi.”
Bagus mengangguk polos, meski tidak sepenuhnya mengerti.
Hari itu mereka membersihkan bengkel seperti membersihkan hidup yang baru saja dilewati badai kecil.
Tidak ada keluhan.
Tidak ada kelam.
Hanya kerja sederhana yang dilakukan bersama.
Siang hari…
seorang kurir datang membawa surat.
“Pak Paijo?”
“Iya.”
“Surat dari pemerintah daerah.”
Paijo menerima surat itu perlahan.
Tangannya sedikit berhenti sebelum membukanya.
Painem mendekat.
“Mas…”
Paijo membuka amplop itu.
Matanya membaca perlahan.
Isinya sederhana.
Pemberitahuan lanjutan tentang penataan wilayah lama Handel Sungai Beras…
dan penyelesaian akhir proses penggusuran serta relokasi warga.
Hening.
Paijo menutup surat itu.
Tidak ada ekspresi berlebihan.
Tidak ada ledakan emosi.
Hanya diam yang panjang.
Painem bertanya pelan:
“Mas masih berat?”
Paijo menggeleng.
“Tidak.”
Ia berhenti sebentar.
“Cuma… terasa seperti halaman yang benar-benar ditutup.”
Bagus datang dan duduk di dekat mereka.
“Papa, itu apa?”
Paijo merapikan surat itu.
“Cerita lama.”
Bagus mengangguk.
“Sudah selesai?”
Paijo tersenyum kecil.
“Sudah.”
Sore hari…
Paijo duduk sendirian di bangku bengkel.
Angin sore bergerak pelan.
Suara kendaraan dari jalan utama seperti musik latar yang jauh.
Ia menatap tangannya sendiri.
Tangan yang dulu menggenggam banyak beban.
Banyak kehilangan.
Banyak diam yang tidak terucapkan.
Lalu ia tersenyum kecil.
Bukan senyum bahagia.
Tapi senyum seseorang yang akhirnya tidak lagi melawan hidupnya sendiri.
Painem duduk di sampingnya.
“Mas…”
“Hm?”
“Kalau semua ini cuma jadi cerita…”
Paijo menoleh.
“…apa Mas masih akan mengingatnya?”
Paijo mengangguk pelan.
“Iya.”
“Bukan untuk kembali.”
“Tapi untuk tahu… aku pernah sampai sejauh ini.”
Painem menggenggam tangannya.
“Dan kita tetap di sini.”
Paijo mengangguk.
“Dan kita tetap di sini.”
Bagus berlari kecil di halaman, tertawa sendiri.
Suara itu mengisi ruang yang dulu pernah kosong.
Matahari mulai turun perlahan.
Langit berubah warna menjadi oranye lembut.
Dan di antara cahaya itu…
Paijo akhirnya memahami sesuatu yang sederhana namun dalam:
bahwa hidup tidak pernah benar-benar menghapus jejak masa lalu,
ia hanya mengajarkan manusia untuk tidak lagi berjalan di dalamnya.
Dan malam itu…
tidak ada lagi yang perlu ditinggalkan.
Tidak ada lagi yang Iperlu dikejar.
Hanya satu hal yang tersisa:
kehidupan yang terus berjalan…
bersama orang-orang yang masih memilih untuk tetap tinggal.
BAB LVII
KETIKA WAKTU TIDAK LAGI BERKEJARAN
Waktu berjalan pelan di bengkel kecil itu, seperti sudah tidak lagi memiliki alasan untuk terburu-buru.
Tidak ada lagi tekanan besar.
Tidak ada lagi keputusan yang mengguncang hidup.
Hanya hari-hari yang datang satu per satu… dan pergi tanpa ribut.
Pagi di Kuala Kapuas kembali seperti biasa.
Suara motor, langkah orang lewat, dan aroma kopi dari rumah kecil Painem menjadi bagian dari rutinitas yang tidak lagi terasa asing.
Namun bagi Paijo…
setiap pagi kini terasa seperti kesempatan kedua yang tidak ingin ia sia-siakan.
Ia sedang duduk di bangku depan bengkel, merapikan catatan kecil pembelian sparepart.
Gerakannya lambat, tapi teratur.
Seolah setiap angka yang ia tulis adalah bagian dari hidup yang sudah ia pilih untuk dijalani dengan tenang.
Bagus duduk di sampingnya, menggambar di kertas bekas.
“Papa, ini gambar kita.”
Paijo menoleh.
Di kertas itu ada tiga gambar sederhana: seorang pria, seorang wanita, dan seorang anak kecil di tengahnya.
“Ini Papa?”
Bagus mengangguk.
“Ini Mama.”
“Ini aku.”
Paijo tersenyum kecil.
“Bagus tahu ini apa?”
“Apa?”
“Ini rumah.”
Bagus mengerutkan kening.
“Tapi ini orang semua.”
Paijo mengangguk.
“Iya. Karena rumah kita bukan bangunan.”
Bagus terdiam sebentar.
Lalu tersenyum.
“Berarti kalau kita pindah lagi, rumahnya ikut ya?”
Paijo menatapnya lama.
Lalu mengangguk.
“Iya. Ikut.”
Painem yang sedang menata barang di dalam rumah mendengar percakapan itu dari jauh.
Ia tersenyum pelan.
Tidak berkata apa-apa.
Tapi matanya menunjukkan sesuatu yang lembut—rasa syukur yang tidak perlu dijelaskan.
Siang hari…
bengkel tidak terlalu ramai.
Hanya satu dua pelanggan datang.
Paijo tetap bekerja seperti biasa.
Namun kali ini, ia tidak lagi merasa hidupnya ditentukan oleh jumlah pelanggan.
Seorang pelanggan lama datang.
“Bang Paijo, bengkel ini makin tenang ya sekarang.”
Paijo mengangguk.
“Bukan makin tenang.”
Ia berhenti sejenak.
“Cuma sudah tidak ribut di dalam kepala.”
Lelaki itu tertawa kecil.
“Dulu Bang banyak pikiran ya?”
Paijo tersenyum.
“Dulu saya hidup di dalamnya.”
Sore hari…
setelah semua selesai…
Paijo duduk di depan rumah bersama Painem.
Angin sore bergerak pelan, membawa bau tanah dan suara anak-anak bermain di kejauhan.
“Mas…”
“Hm?”
“Kalau kita lihat ke belakang…”
Painem berhenti sejenak.
“…semua ini terasa panjang ya.”
Paijo mengangguk.
“Panjang.”
“Tapi anehnya…”
Painem melanjutkan,
“…aku nggak mau menghapus satu pun bagian.”
Paijo menoleh.
“Aku juga.”
Hening.
Bagus berlari di halaman, lalu jatuh kecil, lalu tertawa lagi.
Paijo dan Painem sama-sama tersenyum.
“Mas…”
“Iya?”
Painem menatap langit yang mulai berubah warna.
“Kalau hidup ini waktu…”
Paijo mengangguk.
“Lalu?”
“Sekarang kita lagi di mana?”
Paijo diam lama.
Sangat lama.
Lalu menjawab pelan:
“Di tempat waktu berhenti berkejaran.”
Painem tersenyum.
“Berarti kita sudah sampai?”
Paijo menggeleng pelan.
“Bukan sampai.”
“Tapi berhenti terburu-buru.”
Dan malam itu…
untuk pertama kalinya dalam hidup panjangnya,
Paijo tidak merasa hidupnya sedang menuju sesuatu.
Tidak juga sedang ditinggalkan sesuatu.
Ia hanya merasa…
hidupnya sedang benar-benar terjadi.
Di depan matanya.
Di sampingnya.
Di dalam rumah kecil yang penuh suara sederhana itu.
Dan itu sudah cukup.
BAB LVIII
SAAT YANG TAK LAGI PERLU DIBUKTIKAN
Kuala Kapuas kembali memasuki masa yang tenang.
Bukan tenang karena semuanya selesai…
tetapi tenang karena tidak ada lagi yang ingin dikejar dengan tergesa-gesa.
Bengkel Paijo kini tidak lagi hanya dikenal karena “cerita lama Handel Sungai Beras”.
Ia mulai dikenal sebagai bengkel kecil yang rapi, jujur, dan tidak pernah memaksa pelanggan.
Orang datang… lalu pergi… tanpa tekanan.
Seperti hidup yang mengalir tanpa dipaksa.
Pagi itu…
Paijo membuka pintu bengkel seperti biasa.
Udara segar masuk bersama suara ayam dari kejauhan.
Ia menarik napas pelan.
Lalu tersenyum kecil.
“Mas…”
Suara Painem dari dapur kecil di samping bengkel.
“Air sudah siap.”
Paijo menjawab.
“Iya.”
Bagus sudah duduk di depan, memakai sandal kebesaran.
“Papa, aku mau ikut kerja.”
Paijo tertawa kecil.
“Kerja apa?”
“Benerin motor!”
Paijo menggeleng.
“Kamu masih benerin mainan dulu.”
Bagus cemberut.
“Tapi aku sudah bisa!”
Paijo menatapnya.
Lalu berkata pelan:
“Kalau kamu bisa sabar, kamu nanti lebih hebat dari Papa.”
Bagus terdiam.
Lalu mengangguk serius.
Hari itu berlalu seperti biasa.
Tidak ada kejadian besar.
Tidak ada kabar mengejutkan.
Dan justru itu yang membuatnya terasa istimewa.
Siang hari…
seorang pelanggan muda datang.
“Bang, ini bengkel Bang Paijo ya?”
Paijo mengangguk.
“Iya.”
“Katanya Bang ini orang yang pernah mulai dari nol beberapa kali?”
Paijo tersenyum kecil.
“Katanya begitu.”
Lelaki itu bertanya lagi:
“Capek nggak Bang?”
Paijo berhenti bekerja.
Lalu menjawab pelan:
“Capek itu ada.”
“Tapi aku sudah tidak melawan capeknya.”
Lelaki itu terdiam.
“Berarti sekarang hidup Bang enak?”
Paijo menggeleng pelan.
“Bukan enak.”
“Cukup.”
Sore hari…
Painem duduk di depan rumah sambil menjahit pakaian.
Paijo duduk di bangku bengkel.
Bagus bermain di tanah.
Angin sore masuk pelan.
Membawa suara kehidupan yang sederhana.
“Mas…”
“Hm?”
Painem tidak langsung melanjutkan.
Lalu berkata pelan:
“Kalau kita tidak pernah melewati semua yang dulu…”
Paijo menoleh.
“…apa kita akan jadi seperti sekarang?”
Paijo terdiam lama.
Lalu menjawab:
“Mungkin tidak.”
Painem mengangguk.
“Berarti semua itu ada gunanya?”
Paijo tersenyum kecil.
“Bukan gunanya.”
“Maknanya.”
Hening.
Bagus berlari kecil lalu jatuh lagi.
Tertawa.
Bangun lagi.
Paijo menatapnya lama.
Lalu berkata pelan:
“Dulu aku pikir hidup itu harus lurus.”
“Sekarang aku tahu…”
“hidup itu hanya harus terus bergerak.”
Painem tersenyum.
“Dan kita bergerak bersama.”
Paijo mengangguk.
“Iya.”
Malamnya…
bengkel sudah tutup.
Lampu redup menyala.
Suara malam masuk perlahan.
Paijo duduk di depan rumah.
Painem di sampingnya.
Bagus tidur di dalam.
Tidak ada pembicaraan berat malam itu.
Tidak ada masa lalu yang mengetuk.
Tidak ada masa depan yang menekan.
Hanya malam yang berjalan pelan…
seperti tidak ingin mengganggu siapa pun.
Dan di tengah kesunyian itu…
Paijo akhirnya mengerti satu hal terakhir yang paling sederhana:
bahwa hidup bukan tentang membuktikan apa pun lagi,
melainkan tentang tetap hadir…
di tempat yang sudah menerima kita apa adanya.
BAB LIX
PULANG YANG TAK LAGI MEMINTA KEMBALI
Pagi itu terasa berbeda, meski tidak ada satu pun yang berubah secara nyata.
Bengkel tetap di tempatnya.
Rumah tetap berdiri sederhana.
Bagus tetap berlari kecil dengan tawa yang sama.
Namun di dalam diri Paijo…
ada sesuatu yang pelan-pelan mengendap menjadi lebih dalam dari biasanya.
Ia bangun lebih awal dari biasanya.
Bukan karena pekerjaan.
Bukan karena pelanggan.
Tapi karena pikirannya terasa terlalu jernih untuk tetap terbaring.
Ia duduk di depan rumah.
Angin pagi menyentuh wajahnya pelan.
Di kejauhan, suara sungai kecil mengalir di parit pinggir jalan.
Painem keluar membawa kopi.
“Mas, kok bangun cepat?”
Paijo tersenyum kecil.
“Tidak bisa tidur lama.”
Painem duduk di sampingnya.
“Pikiran Mas penuh?”
Paijo menggeleng.
“Bukan penuh.”
“Cuma… ringan.”
Hening sebentar.
Bagus masih tidur di dalam.
Rumah terasa sunyi, tapi bukan sunyi yang kosong.
Lebih seperti sunyi yang menjaga sesuatu agar tetap utuh.
Paijo menatap jalan kecil di depan rumah.
Lalu berkata pelan:
“Nem…”
“Iya?”
“Kalau hidup kita ini perjalanan…”
Painem menoleh.
“…aku rasa kita sudah sering pulang.”
Painem diam.
Menunggu.
Paijo melanjutkan:
“Dulu aku pikir pulang itu kembali ke tempat.”
“Tapi ternyata…”
“…pulang itu kembali ke diri sendiri.”
Painem mengangguk pelan.
“Dan sekarang?”
Paijo tersenyum.
“Sekarang aku sudah tidak merasa tersesat lagi di dalam diriku sendiri.”
Hening.
Angin pagi bergerak pelan.
Daun-daun bergoyang.
Suara ayam terdengar dari kejauhan.
Bagus tiba-tiba keluar dengan rambut acak-acakan.
“Papa!”
Paijo menoleh cepat.
“Iya?”
“Aku lapar.”
Paijo tertawa kecil.
“Ya sudah, sini.”
Bagus duduk di pangkuan Painem sambil makan.
Paijo memperhatikan mereka lama.
Tanpa kata.
Tanpa beban.
Dan untuk pertama kalinya…
ia tidak lagi merasa harus menjadi siapa pun selain dirinya sendiri.
Siang hari…
bengkel berjalan seperti biasa.
Namun Paijo lebih sering tersenyum tanpa alasan.
Lebih sering berhenti sejenak hanya untuk melihat sekeliling.
Seolah ia baru saja menyadari bahwa hidupnya selama ini tidak pernah benar-benar hilang…
hanya berubah bentuk.
Sore hari…
Painem duduk di depan rumah.
“Mas…”
“Hm?”
“Aku mau tanya sesuatu.”
Paijo menoleh.
“Apa?”
Painem tersenyum kecil.
“Kalau suatu hari nanti Bagus besar…”
“…Mas mau dia jadi apa?”
Paijo terdiam lama.
Sangat lama.
Lalu menjawab pelan:
“Bukan jadi siapa-siapa.”
“Tapi jadi dirinya sendiri… tanpa takut kehilangan apa pun.”
Painem mengangguk.
“Itu berat.”
Paijo tersenyum.
“Makanya aku mulai dari sekarang.”
Malamnya…
langit cerah.
Bintang-bintang terlihat samar di atas rumah kecil itu.
Paijo duduk di bangku depan.
Painem di sampingnya.
Bagus sudah tidur.
Tidak ada lagi percakapan besar.
Tidak ada lagi keputusan penting.
Hanya kehadiran.
Dan di tengah malam yang tenang itu…
Paijo akhirnya merasakan sesuatu yang tidak pernah ia kejar sepanjang hidupnya:
bukan kebahagiaan yang besar…
tapi rasa cukup yang tidak perlu dijelaskan lagi kepada siapa pun.
Dan itu…
adalah pulang yang sebenarnya.
BAB LXI
SUNGAI YANG TAK LAGI MENANYAKAN ARAH
Musim kembali berganti tanpa banyak tanda.
Kuala Kapuas tetap dengan ritme yang sama: pagi yang lembap, siang yang panas, sore yang pelan, dan malam yang penuh suara kecil dari kehidupan yang tidak pernah benar-benar berhenti.
Bengkel Paijo tetap berdiri.
Tidak besar.
Tidak mewah.
Tapi cukup untuk menjadi tempat di mana hidup mereka terus berjalan.
Namun ada satu perubahan yang pelan-pelan terasa.
Bukan pada tempatnya.
Tapi pada cara Paijo memandang semuanya.
Ia kini lebih sering duduk daripada berdiri gelisah.
Lebih sering mendengar daripada menjelaskan.
Dan lebih sering tersenyum kecil daripada memikirkan sesuatu yang jauh.
Pagi itu…
Bagus sudah mulai membantu kecil-kecilan di bengkel.
Meski lebih banyak bermain, ia mulai tertarik pada suara mesin.
“Papa, ini kenapa bunyinya kasar?”
Paijo mendekat.
“Mau tahu?”
Bagus mengangguk cepat.
Paijo menunjuk bagian mesin.
“Karena ada yang tidak seimbang.”
Bagus mengernyit.
“Seperti apa?”
Paijo tersenyum.
“Seperti orang yang pikirannya terlalu banyak ke mana-mana.”
Bagus tertawa.
“Aku nggak mau begitu.”
Paijo mengusap rambutnya.
“Bagus cukup jadi seimbang.”
Siang hari…
seorang pelanggan lama datang lagi.
“Bang Paijo, dari dulu sampai sekarang bengkel Bang tetap sama ya.”
Paijo tersenyum kecil.
“Bengkel berubah sedikit.”
“Aku yang berubah banyak.”
Lelaki itu tertawa.
“Lebih tenang sekarang?”
Paijo mengangguk.
“Lebih tahu kapan harus berhenti.”
Setelah pelanggan itu pergi…
Painem duduk di samping Paijo.
“Mas…”
“Hm?”
“Kalau kita lihat hidup Mas dari dulu sampai sekarang…”
Paijo menoleh.
“…yang paling berubah apa?”
Paijo diam lama.
Sangat lama.
Lalu menjawab:
“Aku.”
Painem mengangguk pelan.
“Bukan tempatnya?”
Paijo menggeleng.
“Tempat cuma lewat.”
Hening.
Bagus berlari di halaman, lalu berhenti tiba-tiba.
“Papa!”
“Apa?”
“Aku nanti mau bikin bengkel juga!”
Paijo tertawa kecil.
“Kenapa?”
“Biar bisa sama Papa terus.”
Paijo terdiam.
Lalu menatap anaknya lama.
Dan menjawab pelan:
“Kamu nggak harus bikin bengkel untuk sama Papa.”
Bagus bingung.
“Terus?”
Paijo tersenyum.
“Kalau kamu jadi dirimu sendiri… Papa tetap ada di situ.”
Malam hari…
angin bergerak pelan.
Lampu rumah kecil mereka menyala hangat.
Paijo duduk di depan rumah.
Painem di sampingnya.
Bagus sudah tidur.
“Nem…”
“Iya?”
Paijo menatap jalan kecil di depan rumah.
“Dulu aku selalu merasa hidup ini seperti sungai yang harus aku pahami arahnya.”
Painem menunggu.
“Sekarang aku sadar…”
“…sungai tidak perlu dipahami.”
“Dia hanya perlu dialiri.”
Painem tersenyum.
“Berarti Mas sudah berhenti melawan?”
Paijo mengangguk.
“Sudah.”
Hening.
Dan di malam itu…
tidak ada lagi pertanyaan yang menggantung.
Tidak ada lagi masa lalu yang menekan.
Tidak ada lagi masa depan yang menakutkan.
Yang ada hanya kehidupan yang terus berjalan pelan…
dan dua orang yang memilih untuk tetap tinggal di dalamnya.
BAB LXII
UJUNG YANG TIDAK PERNAH BENAR-BENAR UJUNG
Pagi itu datang seperti pagi-pagi lainnya di Kuala Kapuas.
Tidak ada tanda khusus.
Tidak ada suara yang berbeda.
Tidak ada langit yang berubah.
Namun bagi Paijo…
pagi itu terasa seperti halaman terakhir dari sebuah perjalanan panjang yang akhirnya dibaca sampai selesai.
Ia bangun lebih awal.
Seperti biasa.
Namun kali ini ia tidak langsung menuju bengkel.
Ia duduk di depan rumah lebih lama dari biasanya.
Menatap jalan kecil di depan rumah yang basah oleh embun pagi.
Painem keluar membawa kopi.
“Mas, kenapa lama di luar?”
Paijo tersenyum kecil.
“Tidak apa-apa.”
Painem duduk di sampingnya.
Bagus masih tidur di dalam.
Rumah terasa tenang.
Terlalu tenang untuk pagi yang biasa.
“Nem…”
“Iya?”
Paijo menatap langit yang perlahan terang.
“Aku rasa…”
Ia berhenti sebentar.
“…kita sudah sampai di bagian akhir cerita.”
Painem menoleh cepat.
“Cerita apa?”
Paijo tersenyum kecil.
“Cerita hidup kita yang dulu selalu terasa seperti perjalanan tanpa arah.”
Hening.
Painem tidak menjawab langsung.
Tapi menggenggam tangan Paijo lebih erat.
“Kalau ini akhir…”
Painem berbisik,
“…apa yang tersisa?”
Paijo menatapnya.
Lalu menjawab pelan:
“Kita.”
Angin pagi bergerak lembut.
Daun-daun bergoyang pelan.
Suara ayam dari kejauhan terdengar seperti pengingat bahwa dunia tetap berjalan.
Bagus keluar sambil mengucek mata.
“Papa…”
Paijo menoleh.
“Iya?”
“Aku mau ikut Papa kerja.”
Paijo tersenyum.
“Kamu sudah ikut dari dulu.”
Bagus bingung.
“Serius?”
Paijo mengangguk.
“Setiap hari.”
Bagus tersenyum kecil tanpa mengerti sepenuhnya.
Tapi itu cukup.
Siang hari…
bengkel tetap buka seperti biasa.
Namun tidak ada yang terasa terburu-buru.
Tidak ada yang dikejar.
Semua dilakukan seperti sebuah kebiasaan yang sudah menemukan maknanya sendiri.
Seorang pelanggan terakhir hari itu datang.
“Bang Paijo, bengkel ini masih akan jalan lama ya?”
Paijo menatapnya.
Lalu tersenyum.
“Selama masih ada yang datang…”
“…kami akan tetap di sini.”
Lelaki itu mengangguk.
Lalu pergi.
Sore hari…
matahari turun perlahan.
Cahaya oranye jatuh di depan bengkel kecil itu.
Angin membawa suara kehidupan yang sederhana.
Painem duduk di bangku depan.
Bagus bermain di tanah.
Paijo berdiri di depan bengkel, menatap semuanya.
Lalu ia berkata pelan:
“Nem…”
“Iya?”
“Kalau suatu hari nanti kita tidak lagi di sini…”
Painem menatapnya.
“…kamu takut?”
Paijo menggeleng.
“Tidak.”
Ia tersenyum.
“Karena aku tahu…”
“…kita tidak pernah benar-benar di sini karena tempat.”
“Tapi karena kita saling ada.”
Hening.
Malam turun perlahan.
Lampu rumah kecil mereka menyala hangat.
Bagus sudah tertidur.
Paijo duduk di depan rumah untuk terakhir kalinya dalam cerita ini dengan cara yang sama seperti hari-hari sebelumnya.
Painem di sampingnya.
Tidak ada percakapan besar.
Tidak ada pertanyaan yang tersisa.
Hanya hidup yang berjalan pelan…
tanpa lagi perlu dijelaskan.
Dan di antara suara malam yang tenang itu…
Paijo akhirnya memahami sesuatu yang paling sederhana dari seluruh perjalanan panjangnya:
bahwa tidak semua kisah harus berakhir dengan tanda titik.
Ada yang cukup menjadi garis panjang…
yang terus hidup di dalam ingatan.
Dan kisah Mas Paijo dari Handel Sungai Beras…
bukan tentang akhir yang dramatis.
Tapi tentang perjalanan yang akhirnya menemukan rumahnya sendiri:
di dalam hati yang tetap memilih untuk tinggal.
EPILOG
SUNGAI YANG TIDAK PERNAH BENAR-BENAR BERHENTI
Waktu berjalan tanpa suara. Handel Sungai Beras kini tidak lagi sama. Bengkel kecil Paijo sudah tidak ada di pinggir Jalan Trans Kalimantan. Yang tersisa hanya tanah kosong yang ditumbuhi rumput liar, menyimpan ingatan tentang hari-hari yang pernah hidup di sana.
"Dulu di sini ada bengkel kecil. Orangnya pendiam, tapi kalau ngobrol enak."
Begitulah cerita yang perlahan berubah menjadi kabar, lalu menjadi kenangan.
Di tempat lain, Kuala Kapuas tetap hidup. Bengkel baru Paijo masih berjalan. Ia bukan lagi "lelaki dari Handel Sungai Beras". Hanya tukang bengkel biasa yang menjalani hidup dengan tenang.
Bagus sudah tumbuh lebih besar. Kadang membantu di bengkel. Kadang bertanya hal-hal sederhana.
"Papa, dulu Papa sering sedih ya?"
"Dulu."
"Sekarang?"
Paijo tersenyum. "Sekarang Papa sudah belajar cara membawa sedih tanpa menjatuhkan hidup."
Painem duduk di dekat mereka. Tetap sederhana. Tetap sabar. Tetap menjadi rumah yang tak pernah benar-benar pindah meski tempat berubah.
Suatu sore, Paijo duduk sendiri di depan bengkel. Ia menatap jalan yang terus dilewati orang-orang yang tak pernah tahu seluruh cerita di balik hidupnya. Namun kali ini, ia tak lagi merasa perlu menjelaskan apa pun.
Karena ia akhirnya paham: hidup tidak meminta untuk dipahami orang lain. Cukup dijalani dengan jujur oleh dirinya sendiri.
Sungai Kapuas tetap mengalir di kejauhan. Seperti dulu. Seperti sekarang. Seperti nanti.
Dan di dalam aliran itu tersimpan kisah sederhana tentang seorang lelaki bernama Paijo, yang pernah mencintai, kehilangan, jatuh, bangkit, lalu mengerti bahwa rumah bukan tempat untuk kembali, tapi keadaan hati yang akhirnya tenang untuk tinggal.
Kisah itu tak benar-benar selesai. Ia hanya berubah menjadi arus kecil dalam sungai yang lebih besar bernama kehidupan.
TAMAT
Anang
30 Januari 2025 19:28:34
Lanjutkan mas... Semoga website desa pian semakin maju...