SINOPSIS NOVEL
PUCUK DICINTA, ULAM TIBA
Sebuah Kisah Tentang Penantian Panjang, Cinta Tulus, dan Takdir yang Akhirnya Menyatukan Dua Hati
Oleh: Slamet Riyadi
Desa Sriwidadi, pinggiran Kota Kuala Kapuas, sore hari selepas hujan. Hujan baru saja reda ketika Riyadi duduk termenung di beranda rumah kayu tuanya. Genangan air masih tersisa di halaman, memantulkan cahaya senja yang mulai memudar. Burung-burung keluar dari persembunyian, berkicau seolah ikut meratapi sesuatu yang tak pernah sampai ke telinga manusia. Pemuda kurus berkaus lusuh abu-abu itu menggenggam secarik kertas lusuh di tangan kirinya, sementara tangan kanannya sibuk memainkan ujung kertas itu berulang-ulang.*
"Lima tahun sudah aku pendam ini, Yan. Lima tahun.", Riyadi, berbisik pada angin yang membawa bau tanah basah.*
Dari dalam rumah, suara Mak Tonah memecah kesunyian.
"Nak! Kau masih di luar? Hari sudah sore, nanti kau masuk angin!" , Mak Tonah, dari dalam dapur.
Riyadi tidak menoleh.
"Sebentar, Mak. Aku masih ingin menikmati angin." , Riyadi, dengan suara pelan.
Mak Tonah kemudian keluar sambil menyeka tangannya pada kain sarung batik lusuh yang melilit pinggangnya.
"Menikmati angin? Hah! Anak muda sekarang suka berlagak puitis. Itu bukan angin yang kau nikmati, Di. Itu kenangan. Dan kenangan itu kalau terlalu lama dielus-elus, bisa jadi luka.", Mak Tonah, lalu duduk di samping Riyadi tanpa diminta.* "Bukan bisa baca pikiran, tapi aku ini ibumu. Aku tahu kapan anakku sedang sakit hati. Masih tentang Aryanti, ya?"
Riyadi menggenggam kertasnya lebih erat.
"Mak, boleh aku bertanya sesuatu?" , Riyadi.
"Tanyalah." , Mak Tonah.
"Pernahkah Mak merasakan mencintai seseorang dengan segenap jiwa, tapi orang itu tidak tahu? Atau mungkin ia tahu, tapi ia pura-pura tidak tahu?" , Riyadi.
Mak Tonah menghela napas panjang seperti orang yang sudah terlalu sering menjawab pertanyaan semacam itu.
"Anakku, pertanyaanmu itu pertanyaan orang yang lelah berharap. Tapi biar aku balik bertanya: apa yang lebih menyakitkan, cinta yang tidak sampai, atau cinta yang sampai tapi tidak pernah diperjuangkan?" , Mak Tonah.
Sementara itu, di ujung desa yang sama, di rumah panggung bercat hijau muda yang mulai mengelupas di beberapa sudut, Aryanti duduk di tepi jendela kamarnya. Rambut hitam panjangnya masih basah setelah dimandikan dengan air sumur yang dingin menusuk kulit. Di pangkuannya, sebuah boneka kain usang yang jahitannya mulai lepas di sana-sini. Ia menatap boneka itu seperti menatap seonggok kenangan yang tak pernah mau pergi.
"Aku bingung, Nonik. Sungguh bingung.", Aryanti, berbicara pada boneka di pangkuannya.
Boneka itu diam saja. Ia menamainya Nonik, pemberian Riyadi saat mereka masih duduk di bangku kelas tiga SD. Saat itu Riyadi masih kecil dengan lesung pipit di pipi dan gigi yang ompong karena jatuh dari sepeda. Boneka itu sudah usang, kainnya mulai pudar, tapi Aryanti tak pernah tega membuangnya.
"Setiap kali Riyadi dekat, jantungku terasa aneh. Tapi dia tidak pernah berkata apa-apa. Malah belakangan ini dia semakin menjadi-jadi. Suka menjahili aku. Memanggilku dengan nada tengil. Kadang aku kesal, Nonik. Benar-benar kesal.", Aryanti, berhenti sejenak, lalu melanjutkan sambil menghela napas. "Tapi kenapa... kenapa ketika dia tidak datang menemuiku, aku malah merindukan kekesalan itu?"
Dari luar kamar, suara Saripah, ibunya, memanggil dengan nada yang tidak bisa ditawar.
"Yan! Turunlah! Tante Mina datang membawa kue bingka!", Saripah, dengan suara meninggi.
"Sebentar, Ma!" , Aryanti.
"Jangan sebentar-sebentar! Kau itu gadis, Yan. Harus tahu tata krama menerima tamu. Cepat turun! Jangan hanya berdiam diri seperti orang sedang jatuh cinta!", Saripah.
Aryanti tersentak.
"Jatuh cinta?" , Aryanti, menatap boneka Nonik dengan pandangan kosong. "Apa aku... jatuh cinta pada Si Tengil itu?"
Di tempat yang berbeda, di sebuah rumah besar di ujung desa bagian barat, rumah satu-satunya yang memiliki genteng merah menyala dan pagar besi hitam yang dijaga dua ekor anjing gembala, Kadir duduk di kursi rotan sambil menggerutu. Ia gemuk, berkemeja batik lengan pendek motif parang rusak, dan di tangannya segelas es kelapa muda dengan sedotan plastik merah.
"Jadi dia masih juga nggak mau? Aryanti itu?" , Kadir, pada Mamat, pria paruh baya berkumis tebal yang berdiri di depannya seperti pengawal setia.
Mamat mengangguk hormat.
"Belum mau, Den. Keluarga Aryanti memang tidak menolak secara tegas. Tapi mereka juga belum memberi jawaban. Seperti menggantung." , Mamat.
Kadir meletakkan gelasnya dengan kasar hingga air es tumpah sedikit di meja.
"Menggantung? Apa-apaan itu? Aku ini anak orang kaya! Haji Bahar! Siapa lagi yang mau melamar gadis kampung seperti dia kalau bukan aku?" , Kadir.
"Mungkin dia masih ada rasa pada pemuda itu, Den. Yang Riyadi itu. Si Tengil." , Mamat.
Kadir tertawa. Tapi tawanya pahit seperti kulit jeruk yang digigit langsung.
"Riyadi? Si miskin yang kerjanya cuma bantu-bantu di kebun karet orang? Hah! Seumur hidup dia kerja, belum tentu bisa membeli satu gram emas untuk mahar.", Kadir.
"Tapi Aryanti dan Riyadi... mereka sahabat lama, Den. Sejak kecil." , Mamat.
Kadir lalu menatap Mamat dengan mata menyipit seperti ular yang melihat mangsa.
"Karena itu, Mamat, aku tidak suka bersaing. Aku ingin menang. Dan untuk menang, aku tidak segan-segan melakukan apa pun." , Kadir.
"Maksud Den?" , Mamat.
"Cari tahu semua kejelekan Riyadi. Atau kalau tidak ada... buatlah ada." , Kadir.
Mamat terdiam seperti orang yang sedang menelan ludah pahit.
"Den... apa tidak keberatan? Itu namanya fitnah." , Mamat.
"Fitnah? Di mana letak fitnahnya kalau akhirnya orang percaya? Percaya atau tidak, Mamat, dunia ini bukan milik orang jujur. Dunia milik orang yang tahu cara mengambil apa yang dia mau." , Kadir.
Kilas balik ke masa lalu. Enam belas tahun yang lalu, Desa Sriwidadi, tepian Sungai Kapuas, sore hari menjelang maghrib. Hari itu langit berwarna jingga seperti kulit jeruk bali yang baru dikupas. Awan-awannya tipis dan bergerak lambat, seolah malas berpindah tempat. Di tepian sungai yang airnya berwarna cokelat kehijauan karena lumut, dua orang anak duduk bersisian di atas sebuah dermaga kayu reyot yang sudah berumur entah berapa puluh tahun. Kaki mereka bergantung, sesekali menyentuh permukaan air yang dingin menusuk tulang.
"Riyad, lihat!" , Aryanti kecil, sambil menunjuk ke arah air yang bergerak perlahan. "Ada ikan! Besar!"
Riyadi kecil yang sedang asyik memainkan kerikil di tangannya langsung menoleh.
"Mana?" , Riyadi kecil, dengan mata berbinar-binar.
"Itu! Di samping tiang dermaga! Yang warna kehitaman!" , Aryanti kecil.
Riyadi mengerjap-ngerjapkan matanya, mencoba fokus.
"Ah, itu bukan ikan, Yan. Itu cuma bayang-bayang kayu. Kau lihat terlalu lama, jadi matamu kabur." , Riyadi kecil.
"Bukan!" , Aryanti kecil, menggeleng keras hingga kedua ekor rambutnya ikut bergoyang. "Aku lihat dengan jelas! Ikannya besar sekali! Sebesar lengan ayah!"
"Ayahmu larinya kurus, Yan. Mana ada ikan sebesar lengan kurus? Masa sih?" , Riyadi kecil.
"Bukan lengan kurus! Lengan ayahku berotot! Ayahku kuat!" , Aryanti kecil.
Riyadi tertawa kecil, tawa khas anak kecil yang masih polos dan tidak tahu beban.
"Ayahmu itu kerjanya di sawah, Yan. Mana ada sawah yang butuh lengan berotot? Yang butuh lengan kuat itu tukang angkat pasir di banua." , Riyadi kecil.
Aryanti cemberut. Bibir bawahnya maju ke depan seperti ceret yang mendidih.
"Kau jahat, Riyad! Ayahku kuat! Ayahku bisa mengangkat aku dengan satu tangan!" , Aryanti kecil.
"Satu tangan? Itu kan kau masih kecil dan ringan. Coba ayahmu angkat pedati kerbau, baru kulihat." , Riyadi kecil.
Sore mulai berganti senja. Riyadi dan Aryanti masih duduk di dermaga. Kaki kecil mereka menggantung di atas permukaan air. Sesekali mereka mengayun-ayunkannya pelan. Air sungai beriak tenang. Ikan-ikan kecil kadang melompat ke permukaan.
"Riyad, aku suka cerita kau. Meskipun kau sering jahil." , Aryanti kecil.
"Siapa yang jahil? Aku ini baik hati." , Riyadi kecil.
"Baik hati setan, tahu?" , Aryanti kecil.
"Setan itu jahat, Yan. Kalau baik hati setan namanya setan baik." , Riyadi kecil.
"Setan baik namanya malaikat, Riyad. Dasar tidak tahu apa-apa." , Aryanti kecil.
Riyadi tertawa.
"Ya sudah, aku malaikat. Apakah kau senang?" , Riyadi kecil.
Aryanti memandang Riyadi. Di bawah cahaya senja yang mulai meredup, wajah Riyadi yang gelap oleh terik matahari sepanjang hari itu terlihat seperti anak laki-laki biasa. Tidak ganteng, tidak jelek. Hanya biasa. Tapi matanya... matanya selalu terlihat jujur.
"Senang. Aku senang punya teman seperti kau, Riyad. Meskipun kau tengil." , Aryanti kecil.
"Tengil? Aku tidak tengil. Aku hanya terus terang." , Riyadi kecil.
"Terus terang sekali sampai sering menyakiti hati orang." , Aryanti kecil.
"Kalau benar, kenapa sakit? Bukannya sakit itu muncul karena kita tidak terima kenyataan?" , Riyadi kecil.
Aryanti menggeleng bingung.
"Aku tidak mengerti ucapan kau, Riyad. Bicaralah seperti anak normal. Jangan seperti orang dewasa." , Aryanti kecil.
Riyadi tertawa lagi.
"Oke, oke. Aku akan bicara normal. Jadi begini, Yan: aku suka bermain denganmu. Kau gadis paling seru di desa ini." , Riyadi kecil.
Riyadi kemudian terdiam. Matanya menjadi serius.
"Dengar, Yan. Aku berjanji, aku akan selalu melindungimu. Sampai kapan pun. Sampai kita besar. Sampai kita tua. Sampai gigi kita copot semua." , Riyadi kecil.
"Kalau gigi copot, bagaimana caranya makan, Riyad?" , Aryanti kecil.
"Pakai ompol." , Riyadi kecil.
"Ompol itu bukan buat makan, ompol itu buat..." , Aryanti kecil.
"Ah, sudahlah, Yan. Jangan pikirkan soal gigi dulu. Yang penting, kau percaya aku?" , Riyadi kecil.
Aryanti mengangguk.
"Aku percaya, Riyad. Karena kau tidak pernah bohong padaku." , Aryanti kecil.
Mereka berkelingkitan. Jari kelingking kecil mereka bertaut erat.
"Kelingking janji, putus di jalan, kalau ingkar, mati di tempat." , Aryanti kecil, dengan serius.
"Kalau mati di tempat, nggak bisa main lagi dong?" , Riyadi kecil.
Aryanti memukul lengan Riyadi pelan.
"Jangan konyol, Riyad! Sumpah janji itu serius!" , Aryanti kecil.
Empat belas tahun telah berlalu sejak sore di dermaga itu. Riyadi kini bukan lagi anak kecil kurus dengan kaus oblong kebesaran. Ia tumbuh menjadi remaja laki-laki berusia delapan belas tahun dengan bahu yang mulai melebar dan rahang yang mulai tegas. Tingginya tidak terlalu tinggi, sekitar seratus enam puluh lima sentimeter. Kulitnya gelap oleh terik matahari kebun karet tempat ia bekerja sepulang sekolah. Tapi ada satu hal yang berubah: sikapnya. Jika dulu ia dikenal sebagai anak pendiam yang hanya berbicara jika ditanya, kini ia dijuluki Si Tengil oleh hampir seluruh warga Desa Sriwidadi.
"Eh, Si Tengil! Belajarlah sopan santun sedikit! Kau itu sudah dewasa, bukan anak kecil lagi!" , seorang tetangga.
Riyadi hanya tersenyum dan menjawab.
"Sopan santun itu untuk orang yang bisa menerima kebenaran, Pak. Kalau kebenaran saja tidak bisa diterima, sopan santun hanya akan menjadi topeng." , Riyadi.
Di bawah pohon rambai yang rindang di halaman Sekolah Dasar Negeri Sriwidadi, Riyadi duduk bersandar pada batang pohon yang kasar. Badrun, sahabatnya sejak kecil, bertubuh tambun dengan kumis tipis yang baru mulai tumbuh duduk di sampingnya.
"Kau tahu berita terbaru?" , Badrun, sambil mengunyah kue pukis.
"Berita apa?" , Riyadi, sambil memainkan ujung buku catatannya.
"Tentang Aryanti." , Badrun.
*Jantung Riyadi berdetak lebih cepat. Tapi wajahnya tetap datar seperti papan.
"Ada apa dengan Aryanti?" , Riyadi.
"Kau tahu kan, ia sekarang sudah kelas tiga SMA di Kuala Kapuas. Sekolahnya terkenal itu. Yang banyak anak-anak orang kaya. Katanya... ada anak saudagar dari desa seberang yang sering menjemputnya pulang sekolah. Mobilnya bagus. Hitam mengkilap. Mewah sekali kata orang." , Badrun.
Riyadi menggigit bibir bawahnya.
"Siapa namanya?" , Riyadi.
"Kadir. Anaknya Haji Bahar. Yang punya tiga pabrik karet itu. Orang tuanya kaya raya, Ri. Bukan main. Katanya lagi, Kadir itu sudah bilang pada teman-temannya bahwa ia akan melamar Aryanti segera setelah Aryanti lulus SMA." , Badrun.
"Kau percaya semua desas-desus itu, Run?" , Riyadi.
Badrun mengangkat bahu.
"Di desa ini, mana ada yang namanya desas-desus murni? Semua setengah benar, setengah karangan. Tapi satu hal yang pasti: Aryanti sekarang sedang jadi perbincangan hangat. Bunga desa, kata orang. Semua pemuda desa ingin meminangnya. Tapi hanya Kadir yang punya modal untuk melamar." , Badrun.
Riyadi mengepalkan tangannya.
"Aku akan membuktikan bahwa ketulusan lebih berharga daripada harta." , Riyadi.
Di rumah Aryanti, Kadir datang dengan rombongan besar. Ia membawa surat tanah dua hektar di pinggir jalan raya Kuala Kapuas sebagai mahar. Seorang pria berbadan tegap dengan seragam polisi, Letnan Surya, pamannya, ikut serta.
"Selamat pagi, Bu Saripah. Selamat pagi, Aryanti.", Kadir, dengan suara yang dibuatnya semanis mungkin.
"Selamat pagi, Den Kadir.", Aryanti, dengan wajah datar.
Kadir duduk di kursi yang tersedia. Ia mengeluarkan map merah dari dalam tasnya.
"Bu, kali ini saya datang bukan main-main. Saya serius ingin meminang Aryanti. Ini surat tanah dua hektar di pinggir jalan raya Kuala Kapuas. Tanah ini saya hadiahkan untuk Aryanti. Sebagai mahar." , Kadir.
Saripah tersenyum lebar.
"Wah, baik sekali Nak Kadir." , Saripah.
Aryanti angkat bicara. Suaranya tegas.
"Den Kadir, saya hargai niat Den. Tapi saya tidak bisa menerima lamaran Den." , Aryanti.
Ruangan mendadak sunyi.
"Kau bilang apa, Yan?" , Saripah, dengan mata melotot.
"Aku bilang, aku tidak bisa menerima lamaran Den Kadir." , Aryanti.
*Kadir berusaha tersenyum meskipun wajahnya mulai tegang.*
"Aryanti, apa yang kurang dari diri saya? Apa yang kurang dari semua yang saya tawarkan?" , Kadir.
Aryanti menatap Kadir lurus-lurus.
"Yang kurang, Den, adalah hati saya. Hati saya belum bisa menerima Den. Itu saja. Bukan masalah harta. Bukan masalah status. Bukan masalah penampilan. Hanya soal hati." , Aryanti.
Saripah berdiri.
"Aryanti, kau keterlaluan! Tamu datang dengan niat baik, kau tolak dengan kasar!" , Saripah.
"Ma, aku tidak menolak dengan kasar. Aku hanya jujur. Tidakkah lebih baik jujur sejak awal daripada memberi harapan palsu?" , Aryanti.
Kadir berdiri. Wajahnya merah padam.
"Bu Saripah, saya minta diri. Tapi saya tidak akan menyerah. Saya akan datang lagi. Dan lagi. Sampai Aryanti bilang iya." , Kadir.
Kadir tidak tinggal diam. Ia menyewa seorang preman dari Kuala Kapuas bernama Jafar untuk memfitnah Riyadi sebagai pencuri kambing. Isu itu dengan cepat tersebar di pasar.
"Kau dengar, Bu? Si Tengil itu katanya mencuri kambing Pak Jayus." , seorang ibu-ibu di pasar.
"Apa? Sungguh, Bu? Siapa yang bilang?" , ibu yang lain.
"Mamat. Wakilnya Haji Bahar. Ia bilang ada warga yang melihat Riyadi membawa kambing pada malam hari." , ibu pertama.
Badrun yang sedang duduk di warung kopi mendengar bisik-bisik itu. Wajahnya merah menahan emosi.
"Bu, Bu, jangan percaya gosip! Itu fitnah! Kadir yang menyuruh preman untuk menfitnah Riyadi!" , Badrun.
"Wah, Badrun, kau ini pembela Si Tengil. Kau pasti juga ikut-ikutan mencuri, ya?", seorang ibu.
Badrun berdiri.
"Saya tidak mencuri, Bu! Dan Riyadi juga tidak mencuri! Coba buktikan! Jangan asal bicara!" , Badrun.
"Buktinya sudah ada, Nak. Mamat bilang warga melihat langsung. Itu sudah cukup." , ibu itu.
Badrun menghela napas. Ia keluar dari pasar dengan wajah kecewa.
"Fitnah sudah tersebar. Dan tidak ada yang bisa menghentikannya." , Badrun, bergumam.
Dua hari kemudian, dua orang polisi dari Polsek Kuala Kapuas datang ke rumah Riyadi. Mereka dipimpin oleh Aiptu Sugeng—polisi yang terkenal tegas tapi juga terkenal bisa menerima uang suap.
"Selamat pagi. Mana Riyadi?" , Aiptu Sugeng, pada Mak Tonah.
"Ada di belakang, Pak. Ada apa? Apakah anak saya bermasalah?" , Mak Tonah, dengan wajah cemas.
"Kami mendapat laporan bahwa Riyadi mencuri kambing milik Pak Jayus. Kami perlu memintai keterangannya." , Aiptu Sugeng.
Mak Tonah pucat.
"Tidak mungkin, Pak. Anak saya bukan pencuri. Ia tidak pernah mengambil barang orang." , Mak Tonah.
"Kami hanya bekerja berdasarkan laporan, Bu. Biar kami bicara dengan anak Ibu langsung." , Aiptu Sugeng.
Riyadi keluar dari belakang rumah. Wajahnya tenang.
"Selamat pagi, Pak. Saya Riyadi." , Riyadi.
"Riyadi, kau dituduh mencuri kambing Pak Jayus. Ada saksi yang melihat. Kami perlu kau ikut ke kantor polisi untuk dimintai keterangan." , Aiptu Sugeng.
"Pak, saya tidak mencuri. Itu fitnah. Saya punya barang bukti bahwa ada yang mau menanam fitnah pada saya." , Riyadi.
"Barang bukti apa?" , Aiptu Sugeng.
Riyadi mengambil karung berisi daging kambing, bulu, dan pisau yang ditinggalkan preman.
"Daging kambing, bulu, dan pisau yang ditinggalkan preman di halaman rumah saya tiga malam lalu. Ini bukti bahwa mereka mau menanam daging itu di rumah saya, lalu menuduh saya sebagai pencuri." , Riyadi.
Aiptu Sugeng memeriksa karung itu.
"Siapa preman yang kau maksud?" , Aiptu Sugeng.
"Saya tidak tahu namanya, Pak. Tapi saya yakin mereka suruhan Kadir. Anak Haji Bahar." , Riyadi.
"Kau punya bukti bahwa Kadir yang menyuruh?" , Aiptu Sugeng.
"Saya hanya punya cerita dari Minah, pembantu di rumah Kadir. Ia mendengar Kadir bicara dengan preman itu." , Riyadi.
"Cerita dari pembantu tidak cukup kuat sebagai bukti hukum, Riyadi. Maaf, kau harus ikut ke kantor polisi." , Aiptu Sugeng.
Riyadi ditahan sementara. Mak Tonah menangis di beranda.
"Ya Allah, lindungilah anakku. Ia tidak bersalah." , Mak Tonah.
Aryanti tidak tinggal diam. Ia mendengar kabar bahwa Riyadi sakit di rumah sakit Banjarmasin karena kelelahan bekerja. Ia memutuskan untuk menjenguk.
"Aku harus ke Banjarmasin. Aku harus melihat Riyadi." , Aryanti, pada Saripah.
"Kau gila, Yan? Ongkos ke Banjarmasin saja berapa? Belum lagi menginap, makan, dan lain-lain." , Saripah.
"Aku akan cari uang. Aku bisa jual boneka Nonik." , Aryanti.
"Boneka Nonik? Itu satu-satunya kenang-kenangan dari ayahmu." , Saripah.
"Aku tidak peduli, Ma. Riyadi lebih penting." , Aryanti.
Aryanti pergi ke pasar. Di tangannya, boneka Nonik, boneka pemberian Riyadi saat mereka masih kecil dulu. Ia berkeliling menawarkan boneka itu pada pedagang mainan.
"Bu, saya mau jual boneka ini." , Aryanti, pada seorang pedagang mainan.
Pedagang itu melihat boneka Nonik dengan mata jijik.
"Boneka ini sudah usang, Nak. Tidak laku." , pedagang mainan.
"Tapi Bu, boneka ini masih bagus. Masih bisa dipeluk." , Aryanti.
"Maaf, Nak. Saya cuma jual mainan baru. Boneka bekas tidak ada yang mau beli." , pedagang mainan.
Aryanti hampir menangis. Setelah berkeliling tanpa hasil, seorang ibu tua menghampirinya.
"Nak, kau mau jual apa?" , ibu tua.
"Boneka ini, Bu. Saya butuh uang untuk biaya berobat teman saya." , Aryanti.
Ibu tua itu melihat boneka Nonik dengan saksama.
"Berapa kau mau, Nak?" , ibu tua.
"Seratus ribu, Bu." , Aryanti.
"Mahal, Nak. Boneka ini sudah usang." , ibu tua.
"Tapi Bu, boneka ini sangat berharga bagi saya. Saya rela menjualnya karena teman saya butuh uang untuk berobat." , Aryanti.
Ibu tua itu menghela napas.
"Baiklah, Nak. Saya beli lima puluh ribu. Itu pun karena saya kasihan sama kau." , ibu tua.
Aryanti menerima uang lima puluh ribu. Ia memeluk boneka Nonik untuk terakhir kalinya.
"Nonik, maafkan aku. Aku harus menjualmu." , Aryanti, berbisik. "Nonik, doakan Riyadi cepat sembuh. Doakan aku bisa menjenguknya."
Aryanti tiba di Rumah Sakit Umum Daerah Banjarmasin. Ia masuk ke ruang rawat inap kelas tiga. Di sana, puluhan pasien terbaring di tempat tidur besi yang berjajar rapat. Bau obat, bau keringat, bau pesing, semuanya bercampur menjadi satu. Udara pengap dan sumpek.
Di sudut ruangan, di tempat tidur nomor tujuh, Aryanti melihat Riyadi. Tubuhnya kurus kering, wajahnya pucat pasi, matanya terpejam, rambutnya acak-acakan. Infus masih terpasang di tangan kirinya. Selang oksigen mengalir dari tabung ke hidungnya.
"Riyad!" , Aryanti, sambil berlari mendekat.
Badrun yang sedang duduk di samping tempat tidur terkejut.
"Yan? Kau datang?" , Badrun.
"Bagaimana keadaannya, Run?" , Aryanti.
"Masih kritis, Yan. Semalam ia sempat kejang-kejang. Dokter sudah memberi obat, tapi belum sadarkan diri." , Badrun.
Aryanti meraih tangan Riyadi. Tangannya dingin, kurus, dan penuh bekas luka melepuh. Ia mencium tangan itu dan menangis.
"Riyad, aku di sini. Aku datang. Maafkan aku lama tidak menulis surat. Maafkan aku tidak bisa membantumu. Maafkan aku..." , Aryanti.
Riyadi tidak bergerak. Matanya tetap terpejam. Napasnya naik turun dengan berat.
"Riyad, kau harus sadar. Aku tidak bisa hidup tanpa kau. Aku tidak akan menikah dengan Husin atau siapa pun. Aku hanya akan menunggumu. Sampai kapan pun. Sampai kau sembuh. Sampai kau bisa pulang. Sampai kita bersama selamanya." , Aryanti.
Deskripsi: Pada hari kelima, jari-jari Riyadi bergerak. Gerakan kecil, hampir tidak terlihat. Tapi Aryanti merasakannya karena tangannya selalu memegang tangan Riyadi.
"Run! Jari Riyadi bergerak! Ia bergerak!" , Aryanti, dengan suara parau.
Badrun mendekat.
"Benar, Yan! Ia bergerak! Cepat panggil dokter!" , Badrun.
Aryanti berlari ke ruang perawat.
"Bu! Bu! Pasien di tempat tidur nomor tujuh tangannya bergerak! Tolong periksa!" , Aryanti.
Seorang perawat segera mengikuti Aryanti ke ruang rawat inap. Perawat itu memeriksa tanda-tanda vital Riyadi.
"Alhamdulillah, tanda-tandanya mulai membaik. Denyut nadinya lebih kuat dari kemarin. Tekanan darahnya juga mulai normal." , perawat.
"Apakah ia akan sadar, Bu?" , Aryanti.
"Kemungkinan besar iya, Nak. Dalam satu atau dua hari ke depan." , perawat.
Pada hari ketujuh, Riyadi membuka matanya. Mata itu sayu, merah, tapi sadar. Riyadi menatap Aryanti dengan tatapan bingung.
"Yan?" , Riyadi, suaranya serak dan nyaris tidak terdengar.
"Riyad! Kau sadar!" , Aryanti, sambil memeluk Riyadi.
Riyadi masih bingung. Matanya menjelajahi ruangan.
"Kok kau di sini? Ini di mana?" , Riyadi.
"Ini rumah sakit, Riyad. Kau pingsan lima hari lalu. Badrun membawamu ke sini." , Aryanti.
"Lima hari? Aku tidak ingat apa-apa." — *Riyadi.*
"Aryanti, kau... kau menjengukku? Dari desa? Jauh sekali." , Riyadi, matanya berkaca-kaca.
"Iya, Riyad. Aku datang. Aku akan menjagamu sampai kau sembuh." , Aryanti.
"Tapi Yan, ongkosnya mahal. Kau tidak punya uang." , Riyadi.
"Aku jual boneka Nonik, Riyad. Laku lima puluh ribu." , Aryanti.
Riyadi terkejut.
"Nonik? Boneka pemberianku waktu kecil? Yang selalu kau bawa ke mana-mana?" , Riyadi.
"Iya, Riyad. Maafkan aku. Tapi aku terpaksa. Aku tidak punya uang." , Aryanti.
Riyadi menangis.
"Yan, kau tidak boleh menjual Nonik. Boneka itu berharga bagiku." , Riyadi.
"Kau lebih berharga, Riyad. Boneka bisa dicari lagi. Tapi kau tidak." , Aryanti.
Tiga hari kemudian, seorang tamu tak terduga datang ke rumah sakit. Haji Bahar, ayah Kadir datang dari Kuala Kapuas membawa bantuan. Wajahnya ramah, matanya jujur. Tidak ada kesombongan seperti anaknya.
"Assalamu'alaikum, Nak Riyadi. Apa kabar?" , Haji Bahar, sambil memasuki ruang rawat inap.
Riyadi terkejut. Ia mencoba bangkit dari tempat tidur, tapi Haji Bahar melarang.
"Jangan bangun, Nak. Kau masih sakit." , Haji Bahar.
"Pak Haji, ada apa gerangan Bapak datang jauh-jauh ke sini?" , Riyadi.
"Saya mendengar kabar dari Saripah. Katanya kau sakit. Badrun juga sakit. Saya ingin membantu." , Haji Bahar.
"Tapi Pak Haji, anak Bapak dulu..." , Riyadi.
Haji Bahar mengangkat tangannya.
"Jangan bicarakan Kadir. Anak itu sudah saya hukum. Ia sudah saya kirim ke pesantren di Jawa. Saya minta para kiai mendidiknya menjadi manusia yang lebih baik." , Haji Bahar.
Ia mengeluarkan amplop cokelat tebal dari sakunya.
"Ini, Nak. Saya bawa uang sepuluh juta untuk biaya pengobatan kalian. Juga untuk ongkos pulang ke desa. Sisa uangnya bisa kalian pakai untuk modal usaha." , Haji Bahar.
Riyadi menangis.
"Pak Haji, saya tidak tahu harus membalas kebaikan Bapak." , Riyadi.
"Kau tidak perlu membalas apa pun, Nak. Ini bentuk pertanggungjawaban saya sebagai orang tua atas kesalahan anak saya. Maafkan Kadir, Nak. Maafkan saya yang gagal mendidik anak." , Haji Bahar.
"Pak Haji, saya maafkan Kadir. Saya juga maafkan Bapak. Tidak ada yang perlu disalahkan." , Riyadi.
Haji Bahar memeluk Riyadi. Kedua pria itu menangis.
Seminggu kemudian, Riyadi dan Badrun dinyatakan cukup sehat untuk pulang. Mereka naik kapal cepat menuju Kuala Kapuas, lalu melanjutkan perjalanan dengan ojek ke Desa Sriwidadi.
Di depan rumah Mak Tonah, Riyadi turun dari ojek dengan langkah masih agak gontai. Mak Tonah yang sudah menunggu di beranda sejak pagi langsung berlari menghampiri, lari yang tidak biasa dilakukan oleh perempuan seusianya.
"Nak! Anakku!" , Mak Tonah, sambil memeluk Riyadi.
"Mak, aku pulang." , Riyadi.
"Kamu kurus, Nak. Sangat kurus. Matamu cekung. Pipimu tirus. Rambutmu panjang dan acak-acakan." , Mak Tonah.
"Maaf, Mak. Aku sudah membuat Mak khawatir." , Riyadi.
"Jangan minta maaf, Nak. Ibu hanya bersyukur kau masih hidup. Ibu takut kalau-kalau..." , Mak Tonah.
"Mak, aku baik-baik saja. Aku di sini. Aku pulang." , Riyadi.
Mak Tonah tidak bisa berkata-kata lagi. Ia hanya terus memeluk Riyadi sambil menangis.
Di rumah Aryanti, suasana juga haru. Saripah yang sudah menunggu di beranda langsung memeluk Aryanti.
"Yan, kamu kurus, Yan. Wajahmu pucat. Pasti kamu tidak makan di sana." , Saripah.
"Aku makan, Ma. Tapi porsinya sedikit. Aku lebih banyak menjaga Riyadi." , Aryanti.
"Bagaimana keadaan Riyadi?" , Saripah.
"Sudah mulai sembuh, Ma. Tapi masih lemah. Dokter bilang harus istirahat total selama tiga bulan." , Aryanti.
"Syukurlah. Ibu khawatir kalian berdua." , Saripah.
"Ma, terima kasih sudah mengizinkan aku pergi. Terima kasih sudah membatalkan lamaran Husin. Terima kasih sudah merestui Riyadi." , Aryanti.
Saripah menangis.
"Maafkan ibu, Yan. Ibu terlalu materialistis. Ibu terlalu mengagungkan uang. Ibu hampir kehilangan anak karena uang." , Saripah.
"Aku tidak pernah marah pada ibu, Ma. Aku hanya sedih karena ibu tidak mengerti perasaanku." , Aryanti.
"Sekarang ibu mengerti, Yan. Ibu mengerti bahwa cinta sejati tidak bisa dibeli dengan uang. Bahwa kebahagiaan sejati tidak datang dari harta. Ibu belajar dari kalian berdua." , Saripah.
Seminggu kemudian, pernikahan Riyadi dan Aryanti dilangsungkan di rumah Saripah. Upacaranya sederhana. Hanya dihadiri oleh keluarga dekat dan sahabat. Mak Tonah datang dengan pakaian terbaiknya, kebaya lusuh warna biru tua yang sudah ia simpan sejak pernikahannya dulu. Badrun datang dengan tongkat di tangan, kakinya masih dibalut perban. Ningsih datang dengan wajah berseri-seri.
Saripah menjadi wali untuk Aryanti karena tidak ada wali laki-laki dari keluarga. Haji Bahar menjadi saksi di samping Pak RT.
"Nak Riyadi, saya nikahkan kau dengan Aryanti binti Saripah dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan satu juta rupiah, tunai." , Saripah, dengan suara lantang.
Riyadi menjawab dengan suara tegas.
"Saya terima nikahnya Aryanti binti Saripah dengan mas kawin tersebut, tunai." , Riyadi.
Para hadirin bersorak.
"Takbir! Allahu Akbar!" , Pak Darma.
Takbir bergema di seluruh desa. Riyadi dan Aryanti resmi menjadi suami istri. Mereka berdua saling menatap. Air mata kebahagiaan mengalir di pipi mereka.
"Yan, akhirnya. Kau menjadi istriku." , Riyadi.
"Riyad, akhirnya. Kau menjadi suamiku." , Aryanti.
Badrun menangis di samping Ningsih.
"Ning, aku terharu." , Badrun.
"Aku juga, Run. Aku juga." , MNingsih.
Badrun tidak mau ketinggalan. Ia mulai sering datang ke rumah Ningsih dengan alasan meminjam ini dan itu. Ningsih sering datang ke rumah Badrun dengan alasan mengantarkan makanan.
"Run, kenapa kau sering ke rumahku? Aku jadi malu sama tetangga." , Ningsih.
"Karena aku suka sama kamu, Ning. Aku tidak bisa menyembunyikannya lagi." , Badrun.
"Masa sih? Aku tidak percaya. Kau kan suka sama Aryanti dulu." , Ningsih.
"Itu dulu, Ning. Waktu kecil. Sekarang aku sudah dewasa. Aku tahu mana yang benar dan mana yang salah." ,Badrun.
"Terus, apa maumu?" , Ningsih.
"Aku ingin menikah denganmu, Ning. Tapi nanti setelah Riyadi dan Aryanti menikah dulu.", Badrun.
Ningsih tertawa.
"Kau lucu, Run. Aku suka." , Ningsih.
Badrun terkejut.
"Benarkah, Ning? Kau suka padaku?" , Badrun.
"Iya, Run. Aku suka padamu. Sudah lama sebenarnya." , Ningsih.
"Kenapa tidak bilang dari dulu?" , Badrun.
"Aku malu. Aku takut ditolak." , Ningsih.
"Aku tidak akan pernah menolakmu, Ning. Kau terlalu baik untuk ditolak." , Badrun.
Mereka berdua berkelingkitan di bawah pohon rambai di halaman sekolah dasar.
"Kelingking janji, putus di jalan, kalau ingkar, mati di tempat." , Badrun.
"Aamiin." , Ningsih.
Kadir keluar dari penjara setelah menjalani hukuman satu tahun. Tubuhnya yang dulu gemuk, kini kurus. Wajahnya yang dulu merah, kini pucat. Matanya yang dulu tajam dan angkuh, kini sayu dan penuh penyesalan.
"Riyadi... aku... aku minta maaf. Maafkan aku atas semua fitnah dan kebohongan yang pernah aku lakukan. Maafkan aku karena telah menyakitimu dan keluargamu. Maafkan aku karena hampir merenggut kebahagiaanmu." , Kadir, sambil menangis.
Riyadi berdiri. Ia memeluk Kadir erat-erat.
"Kadir, aku sudah memaafkanmu sejak lama. Sejak kau masuk penjara, aku sudah memaafkanmu. Aku hanya menunggu waktu yang tepat untuk mengatakannya." , Riyadi.
Kadir terkejut.
"Benarkah, Riyadi? Kau sungguh memaafkanku?" , Kadir.
"Benar, Kadir. Aku tidak pernah mendendam. Aku hanya ingin hidup damai dengan semua orang." , Riyadi.
Kadir menangis semakin keras. Ia memeluk Riyadi seperti anak kecil yang memeluk ayahnya.
"Riyadi, kau terlalu baik. Aku tidak pantas mendapat maaf darimu." — *Kadir.*
"Kadir, setiap orang berhak mendapat maaf. Tidak peduli sebesar apa dosanya. Selama ia sungguh-sungguh bertobat, pintu maaf selalu terbuka." , Riyadi.
Haji Bahar yang melihat pemandangan itu ikut menangis.
"Terima kasih, Nak Riyadi. Terima kasih kau sudah memaafkan anak saya. Saya tidak tahu harus membalas kebaikanmu." , Haji Bahar.
"Pak Haji, kebaikan tidak perlu dibalas. Cukup dengan keikhlasan." , Riyadi.
Kadir menikah dengan Salma, seorang gadis desa sederhana. Salma adalah anak yatim, ibunya sakit-sakitan. Ia bekerja sebagai guru ngaji di kampungnya. Wajahnya bulat dan bersih, matanya besar dan jujur, senyumnya manis.
"Assalamu'alaikum, Pak Haji. Maaf saya datang terlambat. Ibu saya tadi pusing." , Salma, dengan suara lembut.
"Wa'alaikumsalam, Salma. Tidak apa-apa. Ini teman-teman Kadir dari Desa Sriwidadi." , Haji Bahar.
Salma menyalami mereka satu per satu. Ketika sampai pada Aryanti, ia berkata,
"Kau Aryanti? Yang dulu bunga desa? Yang diperebutkan Kadir dan Riyadi?" , Salma.
Aryanti tersenyum malu.
"Iya, aku. Tapi itu dulu. Sekarang aku hanya istri Riyadi biasa." , Aryanti.
"Kau cantik, Yan. Lebih cantik dari yang aku bayangkan. Pantas Kadir dulu tergila-gila padamu." , Salma.
"Salma, jangan bicara begitu. Aku malu." , Aryanti.
"Tidak perlu malu, Yan. Itu fakta. Aku tidak cemburu. Aku justru bersyukur karena Kadir tidak jadi menikah denganmu. Jadi ia bisa menikah denganku." , Salma.
Mereka semua tertawa.
Pernikahan Kadir dan Salma dilangsungkan sederhana. Hanya akad nikah di depan penghulu. Tidak ada pesta besar. Haji Bahar menjadi wali.
"Nak Kadir, saya nikahkan kau dengan Salma binti... dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas sepuluh gram, tunai." , Haji Bahar.
Kadir menjawab dengan suara tegas.
"Saya terima nikahnya Salma binti... dengan mas kawin tersebut, tunai." , Kadir.
Kadir dan Salma duduk bersanding di kursi pelaminan sederhana.
"Salma, akhirnya kau menjadi istriku." , Kadir.
"Kadir, akhirnya kau menjadi suamiku." , Salma.
"Kita akan bahagia, Salma. Aku janji." , Kadir.
"Aku percaya, Kadir." , Salma.
Beberapa tahun kemudian, Haji Bahar jatuh miskin. Bisnis karetnya lesu karena harga jatuh. Kebun sawitnya tidak produktif karena kemarau panjang. Hutangnya tiga miliar rupiah harus dilunasi dalam waktu satu bulan.
"Wah, malang sekali nasibnya. Dulu ia orang terkaya di desa ini. Sekarang jatuh miskin." seorang ibu di pasar.
Kadir datang ke kantor Riyadi dengan wajah pucat.
"Riyad, aku minta maaf. Pekerjaanku mungkin harus terhenti. Aku harus fokus membantu ayah menyelesaikan utang ini." Kadir.
"Kadir, kau tidak perlu berhenti bekerja. Aku akan tetap membayarmu. Aku akan bantu semampuku." Riyadi.
"Riyad, kau terlalu baik. Tapi aku tidak mau membebanimu. Masalah ini terlalu besar. Ini bukan tanggung jawabmu." Kadir.
"Kadir, kita sudah seperti saudara. Saudara harus saling membantu." Riyadi.
Riyadi mengumpulkan dana. Ia menyumbang lima ratus juta dari tabungan pribadinya. Ia menggalang dana dari warga desa. Ia meminjam satu miliar dari Pak Harun. Ia meminjam satu miliar lagi dari Haji Rahman. Total tiga miliar terkumpul.
"Pak Budi, ini pelunasan hutang Haji Bahar." Riyadi, di bank.
Pak Budi, kepala cabang bank, terkejut.
"Pak Riyadi, Bapak benar-benar mengumpulkan tiga miliar dalam waktu singkat?" Pak Budi.
"Iya, Pak. Berkat bantuan banyak orang. Haji Bahar sekarang bebas dari hutang." Riyadi.
"Saya salut, Pak. Bapak adalah orang paling dermawan yang pernah saya temui." Pak Budi.
Lima tahun setelah pernikahan mereka, Riyadi mengajak Aryanti ke dermaga tua. Dermaga itu sudah berubah total. Kayu-kayu yang dulu lapuk dan reyot kini sudah diganti dengan kayu ulin baru yang kokoh dan mengkilap. Pagar pengaman dipasang di kedua sisi. Ada bangku panjang untuk duduk-duduk. Di ujung dermaga, sebuah gapura kecil bertuliskan "Dermaga Cinta Riyadi & Aryanti".
Riyadi berdiri di depan Aryanti. Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah. Dibukanya kotak itu, di dalamnya terdapat sebuah cincin berlian yang sangat cantik.
"Riyad... ini... ini kau yang buat?" Aryanti, menangis.
"Iya, Yan. Aku yang merenovasi dermaga ini. Sebagai hadiah untukmu. Sebagai tanda cintaku yang tidak pernah pudar." Riyadi.
"Tapi kenapa, Riyad? Kenapa sekarang?" Aryanti.
"Karena lima tahun yang lalu, aku berjanji akan melamar dengan cara yang layak. Tapi aku tidak bisa karena aku masih miskin." Riyadi.
"Lima tahun yang lalu? Waktu kita masih pacaran?" Aryanti.
"Iya, Yan. Waktu aku mau berangkat ke Banjarmasin. Aku berjanji akan kembali dan melamarmu. Tapi kau sudah dinikahkan dengan Kadir." Riyadi.
"Tapi pernikahanku dengan Kadir batal, Riyad." Aryanti.
"Iya, Yan. Dan hari ini, setelah lima tahun tertunda, aku ingin melamarmu lagi." Riyadi.
Riyadi berlutut di depan Aryanti.
"Aryanti, maukah kau menjadi istriku? Untuk kedua kalinya? Sampai mati?" Riyadi.
Aryanti tidak bisa berkata-kata. Ia hanya mengangguk sambil menangis. Riyadi memakaikan cincin itu di jari manis Aryanti.
"Ya, Riyad. Aku mau. Aku selalu mau. Dari dulu, sekarang, sampai selamanya."Aryanti.
Keluarga dan sahabat datang berbondong-bondong ke dermaga. Mak Tonah, Saripah, Haji Bahar, Kadir, Salma, Badrun, Ningsih, dan warga desa lainnya. Mereka membawa makanan, minuman, dan kue-kue.
"Nak Riyadi, kami datang untuk merayakan cinta kalian!" Pak Darma.
"Terima kasih, Pak Darma. Silakan duduk." Riyadi.
Mereka semua duduk melingkar di halaman dekat dermaga. Tawa dan canda terdengar di mana-mana.
"Warga desa, kalian semua tahu cerita cinta saya dan Aryanti. Bermula dari dermaga ini, ketika kami masih kecil. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama. Tapi saya terlalu miskin, terlalu pengecut, terlalu takut untuk mengaku." Riyadi.
Warga mendengarkan dengan saksama.
"Waktu saya berangkat ke Banjarmasin, saya berjanji akan kembali dan melamar Aryanti. Tapi saya gagal. Saya hampir mati di perantauan. Aryanti yang menjenguk saya. Aryanti yang merawat saya. Aryanti yang setia menunggu." Riyadi.
Aryanti menangis.
"Setelah saya sembuh, saya kembali ke desa. Tapi Aryanti sudah dijodohkan dengan Kadir. Saya hampir putus asa. Tapi Aryanti membatalkan pernikahan itu. Ia memilih saya. Orang miskin yang tidak punya apa-apa." Riyadi.
*Warga berbisik-bisik. Ada yang menangis, ada yang tersenyum.*
"Lima tahun kemudian, setelah saya sukses, setelah kita menikah, setelah kita punya anak, saya ingin mengulang lamaran yang tertunda. Saya ingin melamar Aryanti dengan cara yang layak. Dengan cara yang tidak akan pernah saya lupakan. Dengan cara yang akan saya ceritakan pada anak cucu saya nanti." Riyadi.
Beberapa tahun kemudian, Aryanti jatuh sakit. Dadanya sesak, napasnya pendek, dan kepalanya pusing. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Riyadi segera membawanya ke rumah sakit.
"Wah, tekanan darahnya tinggi, Nak. Denyut nadinya tidak teratur. Jantungnya juga agak bermasalah." Dr. Hendra.
Aryanti terkejut.
"Apa, Dok? Jantung saya bermasalah?" Aryanti.
"Tenang, Bu. Jangan panik. Panik hanya akan memperparah kondisi." Dr. Hendra.
"Tapi Dok, saya tidak pernah merasakan sakit jantung sebelumnya. Saya sehat selalu." Aryanti.
"Mungkin karena stres, Bu. Atau karena terlalu lelah. Atau karena faktor usia." Dr. Hendra.
"Usia saya baru tiga puluh tahun, Dok." Aryanti.
"Itu sudah termasuk risiko, Bu. Penyakit jantung tidak mengenal usia." Dr. Hendra.
Riyadi yang mendengar itu langsung pucat.
"Dok, apa yang harus kami lakukan?" Riyadi.
"Istirahat total, Nak. Jangan bekerja terlalu keras. Jangan stres. Jangan marah-marah. Jangan makan makanan berlemak. Jangan minum kopi. Jangan merokok. Jangan dekat-dekat dengan asap." Dr. Hendra.
"Apa masih bisa disembuhkan, Dok?" Riyadi.
"Bisa, Nak. Asalkan disiplin menjalani pengobatan." Dr. Hendra.
Aryanti menangis.
"Riyad, aku takut." Aryanti.
"Jangan takut, Yan. Aku di sini. Aku akan menjagamu." Riyadi.
Setelah beberapa bulan menjalani pengobatan dan relaksasi, Aryanti dinyatakan sembuh total oleh dr. Hendra. Tekanan darahnya normal, denyut nadinya teratur, dan jantungnya sehat.
"Selamat, Bu. Ibu sudah sembuh." Dr. Hendra.
"Terima kasih, Dok. Ini berkat doa banyak orang." Aryanti.
"Jangan lupa jaga kesehatan. Jangan sampai kambuh lagi." Dr. Hendra.
"Baik, Dok. Saya janji." Aryanti.
Riyadi menangis mendengar kabar itu. Ia memeluk Aryanti erat-erat.
"Yan, kau sembuh. Akhirnya." Riyadi.
"Aku sembuh, Riyad. Berkat doamu dan doa semua orang." Aryanti.
"Aku tidak akan meninggalkanmu lagi, Yan." Riyadi.
"Aku juga tidak akan meninggalkanmu, Riyad." Aryanti.
"Janji?" Riyadi.
"Janji." Aryanti.
Mereka berkelingkitan.
"Kelingking janji, putus di jalan, kalau ingkar, mati di tempat." Aryanti.
*Aryanti mengadakan syukuran kecil di rumah Mak Tonah. Hanya keluarga dan sahabat terdekat.
"Warga desa, terima kasih atas doa dan dukungannya. Aryanti sudah sembuh." Riyadi.
"Syukurlah, Nak Riyadi. Kami ikut bahagia." Pak Darma.
Dua tahun kemudian. Riyadi, Aryanti, dan Riyan, anak mereka yang kini berusia tujuh tahun—duduk di dermaga. Langit berwarna merah keemasan, seperti lukisan Tuhan yang paling indah. Air sungai Kapuas beriak tenang.
"Yan, dua puluh tahun sudah kita bersama." Riyadi.
"Lama sekali, Riyad. Rasanya baru kemarin kita duduk di sini, masih kecil, tidak tahu apa-apa tentang cinta." Aryanti.
"Tapi sekarang kita tahu, Yan. Cinta itu perjuangan. Cinta itu pengorbanan. Cinta itu kesabaran." Riyadi.
"Kita sudah melewati semuanya, Riyad. Fitnah, sakit, kemiskinan, tekanan." Aryanti.
"Dan kita masih di sini, Yan. Bersama. Tidak terpisahkan." Riyadi.
Riyan yang duduk di antara mereka bertanya.
"Ayah, Ibu, aku juga ingin merasakan cinta seperti kalian." Riyan.
"Kamu akan merasakannya, Nak. Suatu hari nanti. Ketika kau sudah dewasa. Ketika kau sudah siap." Riyadi.
"Aku tidak sabar, Ayah." Riyan.
"Sabarlah, Nak. Cinta tidak bisa dipaksakan. Ia datang pada waktu yang tepat." Riyadi.
"Seperti Ayah dan Ibu?" Riyan.
"Iya, Nak. Seperti Ayah dan Ibu." Riyadi.
Waktu terus berjalan. Riyadi dan Aryanti menikmati hari tua dengan damai. Cinta mereka tidak pernah pudar. Mereka sering duduk di dermaga, sesekali ditemani Riyan yang sudah beranjak remaja.
Di kejauhan, suara azan maghrib mulai terdengar dari masjid desa. Suara merdu itu berkumandang di seluruh penjuru.
"Allahu Akbar, Allahu Akbar. Allahu Akbar, Allahu Akbar." azan.
"Ashhadu alla ilaha illallah. Ashhadu alla ilaha illallah." azan.
"Ashhadu anna muhammadar rasulullah. Ashhadu anna muhammadar rasulullah." azan.
"Hayya'alassalah. Hayya'alassalah." azan.
"Hayya'alalfalah. Hayya'alalfalah." azan.
"Allahu Akbar, Allahu Akbar." azan.
"La ilaha illallah." azan.
Riyadi berdiri dan meraih tangan Aryanti.
"Ayo, Yan. Kita ke masjid." Riyadi.
"Ayo, Riyad." Aryanti.
Mereka berjalan bergandengan tangan menuju masjid. Riyan mengikuti dari belakang. Keluarga kecil itu berjalan dengan langkah tenang, penuh syukur.
Dermaga tua yang menjadi saksi bisu perjalanan cinta mereka, kini ditinggalkan sendirian. Tapi esok senja, mereka akan kembali lagi. Dan lagi. Dan lagi. Sampai waktu yang tidak ditentukan.
"Riyad, apa kita akan bahagia selamanya?" Aryanti.
"Insya Allah, Yan. Selamanya." Riyadi.
"Aamiin, Riyad." Aryanti.
**TAMAT**
**Pesan Moral:**
“Cinta sejati tidak pernah mati. Ia bertahan meski diuji fitnah, kesulitan, dan waktu. Ia kembali bersemi ketika hati saling membuka pintu maaf dan keikhlasan. Seperti pucuk yang dicinta, ulam yang dinanti, pada akhirnya akan tiba juga.”
Anang
30 Januari 2025 19:28:34
Lanjutkan mas... Semoga website desa pian semakin maju...