NOVEL
SENJA DI DESA TEGOREJO, CINTA PERTAMA BERSEMI
"Tentang Sepeda Ontel, Latihan Karate, dan Dua Remaja Desa yang Diam-Diam Menyimpan Cinta Pertama di Tengah Senja Tegorejo, Tersimpan di Hati Hingga Usia Senja”
Disclaimer
Novel ini merupakan karya fiksi yang terinspirasi dari kenangan masa remaja di Desa Tegorejo, Pegandon, Kendal pada era 1990-an hingga 1994-an. Sebagian tokoh, tempat, percakapan, dan peristiwa diolah kembali dengan sentuhan dramatik untuk memperkuat unsur cerita tanpa menghilangkan ruh kenangan yang menjadi jiwa utama novel ini.
Kisah ini bukan sekadar tentang cinta remaja, melainkan tentang waktu, tentang jarak, tentang persahabatan, tentang keluarga, tentang mimpi anak desa, dan tentang seseorang yang diam-diam tetap tinggal di hati meskipun kehidupan telah membawa masing-masing menuju jalan yang berbeda.
Apabila pembaca menemukan kemiripan nama, suasana, atau pengalaman dengan kehidupan nyata, hal tersebut semata-mata merupakan bagian dari kedekatan kisah ini dengan kehidupan masyarakat desa pada zamannya.
Karena pada akhirnya, setiap orang pernah memiliki satu nama yang diam-diam tetap hidup di dalam hati hingga usia senja.
Oleh: Slamet Riyadi
PROLOG
Sepeda Ontel dan Jalan Pulang Kenangan
Malam itu angin dari DAS Sungai Kapuas berembus pelan melewati celah jendela kayu rumah tua milik Riyadi di Desa Sriwidadi, Kecamatan Mantangai Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah. Udara terasa lembap setelah hujan sore mengguyur desa kecil itu sejak menjelang magrib. Di kejauhan terdengar suara jangkik, samar-samar bercampur bunyi tonggeret malam yang bersahutan dari balik pepohonan rambai di tepi jalan.
Riyadi duduk sendirian di teras rumah yang mulai kusam dimakan usia. Di sampingnya secangkir kopi hitam telah lama kehilangan uap panasnya. Tangannya menggenggam gelas itu perlahan, namun pikirannya tidak berada di Sriwidadi.
Pikirannya sedang berjalan jauh…
Sangat jauh…
Melewati ruang dan waktu puluhan tahun yang lalu.
Kembali menuju sebuah desa kecil di Kecamatan Pegandon, Kabupaten Kendal.
Dusun Kersan, Desa Tegorejo.
Desa yang jalannya sudah beraspal di jalan randu gembyang dusun cegunan. Desa yang setiap sore dipenuhi suara anak-anak bermain layangan di pematang sawah. Desa yang ketika malam tiba hanya diterangi lampu sentir dan beberapa lampu PLN dengan bohlam redup dari rumah-rumah penduduk.
Desa yang diam-diam menyimpan seluruh masa remajanya.
Riyadi tersenyum kecil.
Keriput di wajahnya bergerak perlahan saat kenangan itu datang lagi seperti tamu lama yang tak pernah bosan mengetuk pintu ingatan.
“Sinok…”
Nama itu lirih keluar dari bibirnya.
Nama yang bahkan setelah puluhan tahun masih terasa akrab di telinganya.
Aryanti.
Gadis desa yang dahulu sering tertawa bersamanya di halaman SMP Negeri I Pegandon. Gadis yang sering memboncengkannya dengan sepeda ontel melewati jalan-jalan desa yang diapit hamparan sawah hijau. Gadis yang dulu dipanggilnya dengan nama khusus yang tak pernah ia berikan kepada siapa pun selain dirinya.
Sinok.
Riyadi menghela napas panjang.
Kadang ia sendiri heran mengapa cinta pertama memiliki kekuatan sebesar itu. Waktu boleh berjalan sejauh apa pun, usia boleh berubah setua apa pun, kehidupan boleh membawa seseorang ke kota dan pulau yang berbeda, tetapi cinta pertama sering kali tetap tinggal di tempat yang sama.
Di hati.
Tidak bertambah besar.
Namun juga tidak pernah benar-benar hilang.
Dari ruang tengah terdengar suara televisi menyala pelan. Istrinya mungkin sudah tertidur di depan televisi setelah seharian mengurus rumah. Anak-anak mereka telah dewasa dan memiliki kehidupan masing-masing. Rumah itu sekarang lebih sering sunyi dibanding ramai.
Dan justru dalam kesunyian seperti itulah kenangan lama sering datang tanpa permisi.
Riyadi memandang keluar jendela.
Gerimis kecil masih turun membasahi halaman rumah. Bau tanah basah tiba-tiba membuat pikirannya melayang semakin jauh.
Ia kembali melihat dirinya sebagai remaja kurus berkulit sawo matang yang setiap pagi berangkat sekolah dengan sepeda ontel tua.
Tahun 1990-an.
Saat hidup masih sederhana.
Saat tidak ada telepon genggam.
Tidak ada media sosial.
Tidak ada pesan instan.
Kalau rindu seseorang, satu-satunya cara hanyalah menunggu kesempatan bertemu.
Atau diam-diam menyimpan rindu itu sendiri.
Di Desa Tegorejo kala itu, kehidupan berjalan lambat namun hangat. Orang-orang saling mengenal satu sama lain. Anak-anak bermain sampai magrib tanpa takut kendaraan ramai. Para pemuda berkumpul di gardu ronda sambil mendengarkan radio.
Dan radio…
Ah, radio.
Riyadi tersenyum lagi saat teringat masa itu.
“Mak lampiiiiir…!”
Ia terkekeh kecil sendirian mengingat suara legendaris sandiwara radio Misteri Gunung Merapi yang dulu sering mereka dengarkan ramai-ramai di rumah Sopia di Dusun Tegolayang.
Kadang mereka juga mendengarkan Saur sandiwara radio serial Sepuh sambil membayangkan pertarungan para pendekar di dalam kepala masing-masing.
“Kancil… dunia ini sudah gila…”
Kalimat itu masih diingat Riyadi sampai sekarang. Sebuah nama panggilan untuk dirinya kala itu.
Dulu, selepas ashar, rumah Sopia selalu ramai. Munasro, Aripin, Komet, Riiyadi, Gito dan beberapa teman lainnya duduk lesehan di lantai bambu sambil mendekat ke radio.
“Pelankan sedikit suaranya!” teriak Munasro waktu itu.
“Jangan! Nanti nggak kedengeran!” bantah Aripin.
“Diam kalian! Ini lagi seru!” kata Gito sambil tertawa.
Riyadi hanya tersenyum kecil
Begitulah masa remaja mereka.
Sederhana.
Tetapi bahagia.
Dan di tengah masa-masa itulah Riyadi mulai mengenal karate.
Awalnya hanya ikut-ikutan teman.
Namun lama-lama karate menjadi bagian dari hidupnya.
Latihan di Ranting Cepiring.
Jatuh bangun.
Kaki lecet.
Pukulan yang salah.
Tendangan yang sering meleset.
Hingga akhirnya ia berhasil mencapai sabuk coklat.
Karate mempertemukannya dengan banyak teman baru.
Dan tanpa pernah ia duga sebelumnya…
Karate juga mempertemukannya dengan Aryanti.
Riyadi memejamkan mata perlahan.
Bayangan seorang gadis remaja berambut panjang terurai , hidung mancung, kembali muncul jelas di dalam pikirannya.
Aryanti waktu itu masih SMP.
Tubuhnya mungil.
Kulitnya kuning langsat.
Matanya jernih dan selalu tampak hidup saat berbicara.
Ia termasuk gadis yang mudah akrab dengan siapa saja.
Dan justru karena itulah banyak anak laki-laki diam-diam menyukainya.
Termasuk Samid.
Cinta pertama Aryanti.
Riyadi masih mengingat bagaimana Aryanti sering curhat kepadanya tentang hubungan remaja mereka yang naik turun.
“Kakang… Samid marah lagi sama aku…”
“Lho, marah kenapa?”
“Katanya aku kebanyakan teman cowok…”
Riyadi tertawa kecil waktu itu.
“Ya memang kamu orangnya gampang akrab sama siapa saja.”
Aryanti manyun.
“Tapi aku nggak punya perasaan apa-apa sama mereka…”
“Namanya juga anak remaja. Biasanya gampang cemburu.”
Aryanti diam sebentar sebelum bertanya pelan.
“Kakang pernah cemburu sama seseorang?”
Riyadi sempat terdiam.
Entah kenapa pertanyaan itu terasa aneh baginya waktu itu.
Ia lalu menjawab sekenanya.
“Belum tahu…”
Aryanti tertawa kecil.
“Berarti Kakang belum pernah jatuh cinta.”
Dan Riyadi memang belum menyadari satu hal.
Bahwa diam-diam, perasaan itu justru sedang tumbuh perlahan di dalam dirinya sendiri.
Pelan…
Sangat pelan…
Sampai akhirnya ia tak tahu kapan tepatnya Aryanti berubah dari sekadar adik angkat menjadi seseorang yang selalu ingin ia temui setiap hari.
Hingga akhirnya teman-teman mereka mulai menggoda.
“Wah… Riyadi sama Aryanti pacaran!”
“Cieee… dibonceng terus!”
“Kalau latihan maunya dekat terus!”
Aryanti biasanya hanya tertawa malu-malu.
Sedangkan Riyadi pura-pura kesal.
“Ah, kalian ngawur!”
Namun jauh di dalam hati, ia menyukai semua ejekan itu.
Karena diam-diam ia memang mulai merasa kehilangan jika sehari saja tidak bertemu Aryanti.
Malam semakin larut.
Jam dinding tua di rumah Riyadi berdetak pelan.
Tik…,Tak…, Tik…, Tak…
Dan seperti putaran waktu yang tidak pernah berhenti, kenangan itu terus berjalan di dalam pikirannya.
Tentang jalan-jalan desa.
Tentang latihan karate di hari Minggu pagi.
Tentang sepeda ontel.
Tentang tawa Aryanti.
Tentang perpisahan yang datang diam-diam.
Tentang kepergian tanpa pamit.
Dan tentang seorang lelaki tua yang sampai hari ini masih menyimpan satu nama di sudut terdalam hatinya.
Riyadi memandang langit malam di luar jendela.
Hujan telah berhenti.
Angin malam bertiup lembut membawa aroma tanah basah yang entah mengapa selalu mengingatkannya kepada Desa Tegorejo.
Perlahan ia tersenyum tipis.
“Mungkin… cinta pertama memang tidak ditakdirkan untuk dimiliki,” gumamnya lirih.
“Tetapi untuk dikenang… seumur hidup.”
BAB I
Desa yang Menyimpan Kenangan
Pagi di Desa Tegorejo selalu datang dengan cara yang sederhana.
Tidak ada suara kendaraan yang terlalu ramai. Tidak ada hiruk-pikuk kota. Yang terdengar hanyalah kokok ayam bersahutan dari belakang rumah penduduk, suara traktor yang dituntun menuju sawah, dan bunyi embun yang jatuh dari daun pisang di samping rumah-rumah kayu beratap genteng tanah.
Kabut tipis masih menggantung di atas hamparan sawah ketika matahari perlahan muncul dari ufuk timur. Jalan-jalan desa yang sebagian masih berupa tanah berbatu tampak basah oleh sisa embun malam. Beberapa ibu mulai menyapu halaman rumah, sementara anak-anak kecil berlarian tanpa alas kaki mengejar capung di pematang sawah.
Di salah satu sudut Dusun Tegolayang, berdiri sebuah rumah sederhana berdinding papan dengan halaman yang tidak terlalu luas. Di depan rumah itu tumbuh pohon jambu air yang cukup rindang. Di bawah pohon itulah seorang remaja kurus sedang duduk sambil membaca buku roman yang sampulnya mulai lusuh dimakan waktu.
Namanya Riyadi.
Usianya waktu itu baru menginjak enam belas tahun.
Rambutnya hitam agak ikal, kulitnya sawo matang terbakar matahari desa, dan tubuhnya terlihat lebih kurus dibanding teman-teman seusianya. Namun matanya selalu tampak hidup, terutama ketika sedang membaca buku atau mendengarkan cerita.
Ia membalik halaman novel perlahan sambil sesekali tersenyum sendiri.
Dari dalam rumah terdengar suara neneknya memanggil.
“Riyadiii…!”
“Iya, Nek…” jawabnya tanpa mengalihkan pandangan dari buku.
“Kamu itu kalau baca buku lupa waktu. Cepat ngisi air ke gentung.”
“Iya, sebentar…”
Namun “sebentar” bagi Riyadi sering berarti lama.
Ia terlalu tenggelam dalam cerita yang dibacanya.
Kadang ia membayangkan dirinya menjadi pendekar dalam cerita silat. Kadang membayangkan menjadi tokoh utama dalam novel roman yang penuh petualangan dan cinta.
Buku-buku bekas pinjaman dari teman atau perpustakaan sekolah dan meminjam ke tempat persewaan buku di cepiring menjadi dunia lain baginya.
Mungkin karena kehidupan desa saat itu berjalan sangat pelan, media social masih terbatas, sehingga imajinasi menjadi hiburan paling murah dan paling menyenangkan.
“Riyadi!”
Kali ini suara neneknya terdengar lebih keras.
“Iya, iyaaa…”
Riyadi buru-buru menutup bukunya lalu berdiri sambil tertawa kecil.
Dari arah dapur, neneknya keluar membawa tampah berisi singkong rebus.
“Kamu ini kalau baca buku seperti orang kesurupan,” kata neneknya sambil geleng-geleng kepala.
Riyadi nyengir.
“Bukunya seru, Nek.”
“Seru terus sampai lupa bantu Nenek.”
“Nanti saya ambil air.”
Neneknya menghela napas panjang, tetapi wajahnya tetap tersenyum. Ia sudah hafal kebiasaan anak laki-lakinya itu.
“Kalau sudah besar jangan cuma jadi tukang baca novel.”
Riyadi tertawa kecil.
“Siapa tahu nanti saya jadi penulis novel terkenal, Nek.”
Neneknya spontan terkekeh.
“Yang penting sekarang ambil air dulu, penulisnya nanti saja.”
“Iya, Nek.”
Riyadi membawa dua ember menuju sumur di belakang rumah. Jalan setapak menuju sumur dipenuhi rumput liar yang masih basah oleh embun. Udara pagi terasa dingin menusuk kulit.
Saat sedang menimba air, terdengar suara seseorang memanggil dari depan rumah.
“Kancil!”
Suara itu sangat dikenalnya.
Aripin.
Sahabat karibnya sejak masuk SMP PGRI 05 Pegandon.
“Di belakang!” teriak Riyadi ( Kancil ).
Tak lama kemudian muncul seorang remaja bertubuh agak tinggi dengan wajah bulat dan rambut cepak memasuki halaman belakang.
“Kamu pagi-pagi sudah baca buku lagi?” tanya Aripin alias pincuk sambil tertawa.
“Daripada bengong.”
“Dasar kutu buku.”
“Kamu sendiri pagi-pagi ke sini pasti ada maunya.”
Pincuk tertawa lebar.
“Ada latihan nanti sore.”
“Oh iya…”
Riyadi langsung teringat jadwal latihan karate di ranting SMPN I Pegandon.
Karate memang sudah menjadi bagian penting dalam hidupnya sejak beberapa tahun terakhir.
Awalnya ia hanya ikut teman latihan di Cepiring bersama Pincuk dan Munasro. Namun semakin lama ia justru semakin serius menekuni bela diri itu.
“Sensei Sambas datang katanya,” ujar Pincuk.
“Serius?”
“Iya. Katanya mau seleksi buat kejuaraan.”
Mata Riyadi langsung berbinar.
“Wah, pasti latihan berat nanti.”
“Kamu takut?”
“Takut sih nggak…”
“Terus?”
“Takut tendanganku masih jelek.”
Mereka berdua tertawa bersamaan.
Setelah selesai mengambil air, Riyadi duduk di bawah pohon jambu bersama Pincuk sambil makan singkong rebus.
Angin pagi bertiup pelan membawa aroma sawah basah.
“Kancil…” kata Pincuk tiba-tiba.
“Hm?”
“Kamu pernah kepikiran nggak nanti setelah lulus SMA mau jadi apa?”
Riyadi diam sejenak.
Pertanyaan itu sebenarnya sering muncul di kepalanya sendiri.
Namun setiap kali memikirkannya, ia justru bingung.
Anak desa seperti mereka tidak punya banyak pilihan hidup.
Sebagian besar setelah lulus sekolah akan membantu orang tua bertani, merantau ke kota, atau bekerja di pabrik.
“Belum tahu,” jawab Riyadi pelan.
“Kamu pintar sebenarnya.”
“Ah biasa saja.”
“Serius. Kamu kalau cerita atau nulis bagus.”
Riyadi tersenyum kecil.
Ia memang suka menulis di buku catatan kecilnya. Kadang puisi. Kadang cerita pendek. Kadang hanya potongan pikiran yang muncul tiba-tiba.
Namun ia tidak pernah benar-benar menunjukkan tulisannya kepada banyak orang.
“Kalau kamu?” tanya Riyadi balik.
Pincuk mengangkat bahu.
“Mungkin kerja.”
“Ke mana?”
“Entahlah. PT. Kayu Lapis mungkin, ke Semarang mungkin. Atau Jakarta.”
Riyadi menghela napas perlahan.
Jakarta.
Kota itu terdengar sangat jauh bagi anak-anak desa seperti mereka.
Bahkan pergi ke Kendal kota saja sudah terasa seperti perjalanan besar waktu itu.
Mereka terdiam beberapa saat.
Dari kejauhan terdengar suara anak-anak SD berjalan sambil bercanda menuju sekolah.
Beberapa masih tanpa sepatu.
Sebagian membawa tas kain lusuh.
Namun wajah mereka tampak bahagia.
Begitulah kehidupan di Tegorejo kala itu.
Sederhana.
Tapi hangat.
Tidak ada yang benar-benar kaya.
Namun juga tidak banyak yang merasa miskin.
Karena hampir semua hidup dengan keadaan yang sama.
Menjelang siang, matahari mulai terasa panas.
Riyadi bersiap berangkat ke sekolah dengan sepeda ontel tuanya yang mulai berkarat di beberapa bagian.
Neneknya keluar mengasi sangu atau uanga jajan sekedarnya.
“Ini untuk jajan.”
“Matur nuwun, Nek.”
“Hati-hati di jalan.”
“Iya.”
Riyadi mengayuh sepeda pelan melewati jalan desa yang diapit sawah hijau membentang luas.
Angin menerpa wajahnya.
Burung-burung pipit beterbangan di atas pematang.
Di kejauhan tampak dataran tangah yang lebih tinggi samar tertutup kabut tipis.
Kadang hidup terasa begitu damai saat itu.
Dan Riyadi belum tahu…
Bahwa di desa kecil itulah nanti ia akan menemukan sesuatu yang tak pernah benar-benar bisa ia lupakan sepanjang hidupnya.
Sebuah cinta pertama.
Yang tumbuh diam-diam.
Di antara suara radio tua, latihan karate, dan jalan-jalan desa yang setiap sore dipenuhi bayangan sepeda ontel.
BAB II
Anak Desa dan Buku-Buku Impian
Sore hari di Desa Tegorejo selalu memiliki warna yang berbeda.
Jika pagi dipenuhi suara ayam dan aktivitas para petani menuju sawah, maka sore adalah waktunya anak-anak remaja desa berkumpul mencari hiburan sederhana setelah seharian beraktivitas.
Langit mulai menguning ketika Riyadi pulang sekolah dengan sepeda ontelnya. Seragam putih abu-abunya tampak sedikit kusut karena perjalanan jauh dari SMA Negeri I Pegandon. Tas kain cokelat yang digantung di stang sepeda terlihat penuh dengan buku pelajaran bercampur novel-novel pinjaman.
Jalan desa sore itu cukup ramai.
Beberapa petani baru pulang membawa cangkul di pundak. Anak-anak kecil bermain gobak sodor di halaman rumah. Sementara suara radio dari rumah-rumah penduduk mulai terdengar bersahutan menyiarkan lagu-lagu campursari dan berita sore.
Riyadi mengayuh sepeda ontelnya dengan santai sambil bersiul kecil.
Begitu sampai di rumah, ia langsung menaruh sepeda di samping rumah lalu masuk dengan napas sedikit terengah.
“Assalamu’alaikum…”
“Wa’alaikumsalam,” jawab Neneknya dari dapur.
“Kamu belum mandi kan?” tanya Neneknya tanpa melihat.
“Hehe… belum, Nek” Kacik nama panggilannya setiap hari oleh teman-temannya.
“Jangan langsung baca buku lagi.” Tegur Neneknya.
Riyadi tertawa kecil.
Nneneknya sudah hafal kebiasaannya.
Kalau sudah menemukan novel baru, ia bisa lupa makan, lupa mandi, bahkan lupa waktu.
Di kamarnya yang sederhana, terdapat sebuah rak kayu kecil berisi buku-buku bekas yang ia kumpulkan sedikit demi sedikit. Ada komik silat, novel roman lama, cerita petualangan, sampai buku cerita pinjaman dari perpustakaan sekolah.
Sebagian sampulnya sudah robek.
Sebagian lagi mulai menguning.
Namun bagi Riyadi, buku-buku itu lebih berharga daripada barang mahal.
Karena dari buku-buku itulah ia mengenal dunia yang lebih luas daripada sekedar Desa Tegorejo.
Kadang ia membayangkan kota Jakarta dari novel yang dibacanya.
Kadang membayangkan kehidupan bangsawan, konglomerat atau pejabat.
Kadang membayangkan menjadi pendekar sakti seperti tokoh cerita silat.
Dan diam-diam…
Ia mulai menyukai kisah-kisah cinta.
Bukan karena ia sudah mengerti cinta.
Tetapi karena ia menyukai bagaimana sebuah perasaan bisa membuat seseorang rela menunggu, berjuang, bahkan terluka.
Malam itu selepas ashar, Riyadi bersiap keluar rumah.
“Mau ke mana?” tanya neneknyanya yang sedang duduk di ruang depan sambil menginang.
“Ke rumah Sopia, Nek.”
“Mau dengar radio lagi?”
Riyadi tersenyum.
“Iya.”
Neneknya terkekeh pelan.
“Kalau dengar Mak Lampir jangan teriak-teriak seperti kemarin.”
Riyadi tertawa malu.
“Siap, Nek.”
Ia lalu mengambil jaket tipis lusuh dan berjalan menuju Dusun Tegolayang yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumahnya.
Udara Sore desa terasa dingin dan sejuk, kas udara pedesaan.
Langit sore itu sangat cerah tidak berawan seperti biasanya yang suka mendung tebal berwarna hitam pekat.
Di sepanjang jalan anak-anak kecl bermain di halaman, ada yang main petak umpet, atau rubak sodor.
Sesampainya di rumah Sopia, suara radio sudah terdengar cukup keras dari dalam rumah.
“Hei! Kancil datang!” teriak Munasro, ada beberapa teman riyadi yang suka memanggil si kancil terutamaa dengan teman-teman di lingkungannya. Gelar Kancil ia dapatkan ketika riyadi masih usia 7 tahun katanya riyadi terkenal sebagai pelari cepat di lingkungannya
“Cepat masuk! Sudah mulai!” kata Aripin sambil melambaikan tangan.
Riyadi melepas sandal lalu masuk ke ruang tengah rumah kayu sederhana itu.
Di sana sudah berkumpul beberapa remaja desa duduk lesehan mengelilingi radio tua besar yang diletakkan di atas meja kecil. Diantaranya ada Gito, Aripin, Munasro, Komet dan Sopia sebagai tuan rumah.
Radio itu menjadi pusat hiburan mereka setiap sore.
“Sudah sampai mana?” tanya Riyadi sambil duduk.
“Baru pembukaan,” jawab Sopia.
Tiba-tiba terdengar suara khas dari radio.
“Pendengar… inilah serial sandiwara Radio Misteri Gunung Merapi…”
Semua langsung diam.
Mereka mendengarkan dengan serius seperti sedang menonton pertunjukan besar.
Kadang ada yang menirukan suara tokohnya.
Kadang tertawa bersama.
Kadang ikut tegang saat adegan pertarungan dimulai.
“Mak Lampir datang!” bisik Aripin dramatis.
“Hushhh!” kata Munasro sambil memukul lengannya.
Riyadi tertawa kecil.
Suasana sederhana seperti itu justru terasa sangat membahagiakan.
Tak ada televisi mewah.
Tak ada internet.
Namun kebersamaan terasa begitu dekat.
Setelah sandiwara radio selesai, mereka masih duduk mengobrol panjang.
“Kalau aku jadi pendekar, aku mau punya jurus petir,” kata Aripin bersemangat.
“Kalau kamu jadi pendekar paling kalah duluan,” ejek Munasro.
“Lho kenapa?”
“Soalnya lari saja paling lambat.”
Semua tertawa.
Riyadi ikut tersenyum sambil bersandar di dinding rumah dari gedek babu.
“Kalau kamu, Kancil?” tanya Sopia.
“Mau jadi apa?”
Riyadi berpikir sejenak.
“Aku pengin bisa keliling banyak tempat, jadi pendekar pengembara.”
“Wah, seperti petualang?”
“Entahlah…”
“Terus?”
“Pengin lihat dunia luar.”
Mereka mendadak diam.
Bagi anak-anak desa waktu itu, dunia luar terdengar seperti sesuatu yang sangat jauh dan misterius.
Semarang saja terasa besar.
Apalagi Jakarta.
Apalagi Kalimantan.
“Kalau aku sih cukup di Tegorejo saja, tapi kadang pengen kerja di malasyia, biar cepat kaya” kata Munasro sambil tertawa.
“Kenapa?”
“Di sini sudah enak. Mau ke mana lagi?”
Riyadi tersenyum kecil.
Ia sebenarnya juga mencintai desanya.
Namun di dalam dirinya selalu ada rasa penasaran tentang dunia di luar sana.
Mungkin karena terlalu banyak membaca buku.
Mungkin karena terlalu banyak membayangkan kehidupan lain.
Atau mungkin karena sejak kecil ia merasa hidupnya tidak akan berhenti hanya di Tegorejo.
Hari berganti senja, lampu PLN di berbagai tempat sudah mulai menyala redup.
Satu per satu teman-temannya mulai pulang.
Sebelum pulang, Aripin mendekati Riyadi sambil membawa sebuah buku tipis.
“Ini novel pinjaman dari kakakku.”
Riyadi langsung tertarik.
“Apa judulnya?”
“Hati yang Terluka.”
“Novel cinta?”
“Iya.”
Aripin menyeringai jahil.
“Cocok buat kamu.”
“Apaan sih.”
“Siapa tahu nanti kamu jatuh cinta.”
Semua langsung tertawa.
Riyadi hanya menggeleng sambil tersenyum malu.
Saat itu ia memang belum benar-benar mengenal cinta.
Belum ada perempuan yang membuat dadanya berdebar.
Belum ada seseorang yang selalu memenuhi pikirannya.
Belum ada nama yang diam-diam ingin ia temui setiap hari.
Namun waktu sedang berjalan perlahan menuju ke sana.
Dan tanpa ia sadari…
Tak lama lagi hidupnya akan berubah sejak bertemu seorang gadis bernama Aryanti.
Gadis yang kelak membuat seluruh kenangan masa mudanya di Desa Tegorejo menjadi abadi.
BAB III
Jalan Menuju Karate
Minggu pagi di Desa Tegorejo selalu terasa berbeda dibanding hari-hari lainnya.
Udara masih dingin ketika kabut tipis menggantung di atas sawah. Jalan-jalan desa mulai ramai oleh anak-anak muda yang membawa handuk di leher sepulang mandi di sungai atau bersiap mengikuti kegiatan olahraga pagi.
Di halaman SMP Negeri I Pegandon, beberapa remaja sudah mulai berkumpul mengenakan pakaian karate putih yang sebagian warnanya mulai kusam karena sering dipakai latihan.
Di salah satu sudut halaman, Riyadi sedang duduk di atas sepeda ontelnya sambil mengikat sabuk coklat di pinggang.
Tubuhnya masih terlihat kurus, namun gerakannya mulai lebih tegap dibanding beberapa tahun sebelumnya.
“Riyadiii!”
Suara keras itu datang dari Sabara yang berjalan tergesa sambil membawa tas olahraga.
“Kamu datang pagi amat,” kata Sabara.
“Daripada terlambat nanti disuruh push-up sama Sensei Anton.”
Sabara langsung tertawa keras.
“Wah, kalau Sensei Anton datang kita bisa habis hari ini.”
Riyadi ikut tersenyum.
Sensei Anton memang dikenal tegas dan keras saat melatih. Namun justru karena itulah banyak murid hormat kepadanya.
Tak lama kemudian satu per satu anggota karate mulai berdatangan.
Ada Aripin.
Karwan.
Ar Bukhori.
Dan beberapa junior baru yang masih terlihat malu-malu memakai karate-gi mereka.
“Semuanya masuk barisan!”
Suara keras menggema di halaman sekolah.
Semua spontan berdiri tegak.
Sensei Sambas datang bersama Sensei Anton dari arah gerbang sekolah.
Riyadi langsung mengambil posisi paling depan bersama Sabara sebagai kohai senior.
“Karateka Yoi!”
“Hormat kepada pelatih!”
“Osh!” serentak para kohai memberi hormat kepada sensei sambas dan sensei anton
Suasana pagi itu langsung berubah serius.
Latihan dimulai dengan pemanasan panjang.
Lari keliling halaman sekolah.
Push-up.
Sit-up.
Kuda-kuda.
Pukulan dasar.
Tendangan.
Keringat mulai bercucuran di wajah para anggota meski matahari belum terlalu tinggi.
“Lebih rendah kuda-kudanya!” bentak Sensei Anton.
“Karate bukan tari-tarian!”
“Osh!” jawab murid-murid serempak.
Riyadi menggertakkan giginya saat menahan posisi kuda-kuda.
Pahanya terasa panas.
Namun ia sudah terbiasa dengan rasa sakit seperti itu.
Karate mengajarinya tentang disiplin.
Tentang kesabaran.
Tentang menahan lelah.
Dan tentang tidak mudah menyerah.
Saat istirahat sebentar, Sabara duduk di samping Riyadi sambil mengelap keringat.
“Kaki rasanya mau copot,” keluhnya.
“Baru juga setengah latihan.”
“Kamu sih kuat.”
Riyadi tertawa kecil.
“Dulu aku juga sering hampir pingsan waktu awal latihan.”
Sabara memandang Riyadi beberapa saat.
“Kamu serius mau terus di karate?”
“Iya.”
“Mau jadi atlet?”
Riyadi mengangkat bahu.
“Entahlah. Yang penting latihan saja dulu.”
Sebenarnya karate bagi Riyadi bukan sekadar olahraga.
Di dalam latihan itu ia menemukan rasa percaya diri yang dulu tidak pernah ia miliki.
Waktu masih kecil, ia termasuk anak yang pendiam dan pemalu.
Namun setelah mengenal karate, ia mulai berani berbicara, berani memimpin, dan mulai dihormati teman-temannya.
Bahkan sekarang di ranting Pegandon, ia termasuk kohai paling senior.
Dan karena itulah ia sering diminta membantu melatih junior-junior baru jika Sensei Anton atau Sensei Sambas berhalangan hadir.
“Riyadi!”
“Iya, Sensei!”
“Pimpin latihan kihon!”
“Osh, sei!”
Riyadi segera berdiri di depan barisan.
Meski masih remaja, suaranya cukup lantang.
“Karateka, Yoi!”
“Mae geri!, tendangan lurus ke depan maju tilangkah balik maju tiga lankah balik”
“It…..!”
Puluhan kaki menendang bersamaan.
“Oi tsuki, Chudan, pukulan lurus ke depan!”
“It…..!”
Suara pukulan menggema di halaman sekolah.
Beberapa junior tampak kagum melihat Riyadi memimpin latihan.
Namun di balik ketegasannya, sebenarnya ia tetap remaja desa biasa yang suka bercanda bersama teman-temannya.
Setelah latihan selesai menjelang siang, suasana kembali santai.
Beberapa anggota duduk bergerombol sambil minum air dan bercanda.
Karwan mendekati Riyadi sambil tertawa.
“Kalau nanti kamu jadi pelatih, jangan galak-galak ya.”
“Kenapa?”
“Takut muridnya kabur.”
Semua tertawa.
Aripin ikut menyahut.
“Apalagi kalau disuruh kuda-kuda setengah jam.”
“Itu namanya penyiksaan,” tambah Sabara.
Riyadi hanya tersenyum sambil menggeleng.
Di tengah obrolan itu, tiba-tiba perhatian mereka teralihkan oleh beberapa siswi SMP yang berjalan melewati halaman sekolah.
Salah satunya adalah seorang gadis berambut panjang, hidung mbangir atau mancung yang membawa tas kecil di pundaknya.
Langkahnya ringan.
Wajahnya cerah.
Dan tawanya terdengar jelas saat berbicara dengan teman-temannya.
“Eh itu Aryanti,” bisik Aripin.
Riyadi sekilas menoleh.
Hanya sekilas.
Namun entah kenapa matanya sempat tertahan beberapa detik.
Gadis itu memang cukup dikenal di lingkungan sekolah dan di karate karena sifatnya yang mudah bergaul.
“Aryanti sekarang ikut latihan juga kan?” tanya Sabara.
“Iya,” jawab Karwan.
“Adiknya juga ikut katanya.”
“Yang kecil itu?”
“Iya, Rosita.”
Aryanti yang sedang berjalan tiba-tiba melihat ke arah mereka.
Ia lalu melambaikan tangan kecil sambil tersenyum ramah.
“Mas Riyadiii!”
Riyadi agak terkejut.
“Eh…”
Teman-temannya langsung saling pandang lalu tertawa jahil.
“Wah… sudah dipanggil duluan.”
“Diam kalian,” gerutu Riyadi.
Aryanti mendekat bersama dua temannya.
“Kalian latihan dari pagi?” tanyanya.
“Iya,” jawab Riyadi singkat.
“Capek dong?”
“Lumayan.”
Aryanti tersenyum kecil.
Meski masih SMP, caranya berbicara sudah cukup luwes dan percaya diri.
Berbeda dengan kebanyakan gadis desa seusianya yang masih pemalu.
“Mas Riyadi nanti datang latihan Rabu sore kan?”
“Datang.”
“Bagus.”
“Kenapa memang?”
Aryanti tersenyum jahil.
“Biar rame.”
Teman-teman Riyadi langsung menahan tawa.
Sedangkan Riyadi hanya pura-pura biasa saja meski sedikit salah tingkah.
“Sudah ah, kami duluan,” kata Aryanti.
“Ya.”
“Dadah!”
Mereka pergi sambil tertawa kecil.
Begitu Aryanti menjauh, Aripin langsung menyikut lengan Riyadi.
“Wah wah wah…”
“Apaan?”
“Biar rame katanya…”
“Biasa saja.”
Sabara ikut tertawa.
“Kayaknya ada yang mulai diperhatikan nih.”
“Ngawur kalian.”
Namun entah kenapa…
Untuk pertama kalinya sejak lama, Riyadi mulai penasaran dengan seorang gadis.
Dan ia belum tahu…
Bahwa pertemuan-pertemuan kecil di halaman SMP itu nantinya perlahan akan tumbuh menjadi kenangan terbesar dalam hidupnya.
BAB IV
Ranting Baru di SMPN I Pegandon
Hari Rabu sore menjadi hari yang paling ditunggu oleh anak-anak karate di Desa Tegorejo.
Sejak berdirinya ranting baru Lemkari di SMP Negeri I Pegandon, suasana desa terasa lebih hidup. Lapangan sekolah yang biasanya sepi selepas jam pelajaran kini ramai oleh suara teriakan latihan, hentakan kaki, dan tawa para remaja yang mulai menemukan dunianya sendiri.
Bagi Riyadi, ranting baru itu bukan sekadar tempat latihan.
Tempat itu perlahan menjadi bagian penting dalam perjalanan masa remajanya.
Sore itu matahari mulai condong ke barat ketika Riyadi mengayuh sepeda ontelnya menuju SMPN I Pegandon. Angin sore bertiup lembut melewati jalan-jalan desa yang diapit pohon kelapa dan sawah hijau menguning.
Di belakang sepedanya tergantung tas kain berisi karate-gi putih yang sudah agak lusuh di bagian lengan.
Sesampainya di sekolah, beberapa anggota sudah datang lebih dulu.
Sabara sedang menyapu halaman latihan.
Karwan duduk di teras kelas sambil menggulung sabuknya.
Sedangkan Aripin sibuk bercermin di kaca jendela kelas sambil merapikan rambut.
Riyadi langsung tertawa melihat tingkahnya.
“Pincok…”
“Apa?”
“Kamu latihan karate apa mau kondangan?”
Aripin spontan nyengir.
“Kalau ada cewek cantik harus tetap rapi.”
Sabara langsung menyahut.
“Paling juga nggak ada yang lihat kamu.”
“Eh jangan salah.”
“Memangnya siapa?”
Aripin mendekat sambil berbisik dramatis.
“Aryanti.”
Semua langsung tertawa.
“Dasar kamu,” kata Karwan sambil melempar handuk kecil ke arah Aripin.
Tak lama kemudian Riyadi mulai membantu menyiapkan latihan.
Sebagai kohai paling senior di ranting itu, ia memang memiliki tanggung jawab lebih besar dibanding anggota lainnya.
Bahkan meski usianya masih SMA, banyak junior yang sudah sangat hormat kepadanya.
“Riyadi,” panggil Sabara pelan.
“Hm?”
“Kamu sadar nggak?”
“Sadar apa?”
“Kamu sekarang seperti pengurus beneran.”
Riyadi tertawa kecil.
“Ya mau bagaimana lagi.”
“Capek nggak?”
“Capek sih iya.”
“Terus kenapa masih semangat?”
Riyadi terdiam sejenak.
Ia memandang halaman sekolah yang mulai ramai oleh anggota karate.
Entah kenapa, setiap kali berada di tempat itu, ia merasa memiliki tujuan.
Merasa dibutuhkan.
“Karena aku suka,” jawabnya pelan.
Sabara mengangguk kecil.
Ia paham.
Karate memang sudah menjadi bagian dari hidup Riyadi.
Di tengah keterbatasan hidup anak desa, latihan karate memberi mereka ruang untuk bermimpi lebih besar.
Beberapa menit kemudian, anggota perempuan mulai berdatangan.
Suasana mendadak lebih ramai.
Ada yang bercanda.
Ada yang sibuk mengganti pakaian latihan.
Ada pula yang saling mengejek karena salah memakai sabuk.
Dan di antara mereka, Aryanti datang bersama adiknya, Rosita Sari.
Riyadi yang sedang menyusun barisan spontan menoleh.
Aryanti memakai karate-gi putih dengan rambut panjang diikat sederhana. Wajahnya tampak segar meski baru pulang sekolah.
Sementara Rosita yang masih SD terlihat lebih kecil dan pemalu.
“Mas Riyadiii…” panggil Rosita kecil sambil berlari mendekat.
Riyadi tersenyum.
“Eh, Rosita.”
“Sabukku susah diikat.”
“Coba sini.”
Riyadi jongkok membantu mengikatkan sabuk Rosita dengan rapi.
Aryanti berdiri di samping sambil memperhatikan.
“Mas Riyadi memang paling sabar sama anak kecil,” katanya sambil tersenyum.
Riyadi tertawa kecil.
“Daripada nanti sabuknya lepas waktu latihan.”
Rosita terkikik kecil.
Aryanti lalu ikut duduk di teras dekat Riyadi.
“Aku dengar nanti ada latihan gabungan ke Cepiring?”
“Iya mungkin minggu depan.”
“Asyik…”
“Kamu ikut?”
“Kalau diizinkan ibu.”
“Bu Ros galak ya?”
Aryanti langsung manyun.
“Bukan galak… cuma terlalu khawatir.”
“Namanya juga orang tua.”
Aryanti menghela napas pelan.
“Kadang aku iri sama teman-teman yang bebas.”
“Kamu juga masih bebas kok.”
“Enggak.”
“Lho?”
Aryanti mendekat sedikit lalu berbisik pelan.
“Kalau aku pulang telat sedikit pasti ditanya macam-macam.”
Riyadi tersenyum kecil.
“Berarti ibumu sayang.”
Aryanti diam sebentar.
Lalu tersenyum tipis.
“Iya sih…”
Bel latihan tiba-tiba dipukul keras oleh Sabara.
“Ting tong tong!”
“Latihan mulaiii!”
Semua anggota segera berlari menuju lapangan.
Riyadi berdiri paling depan memimpin barisan.
“Siap!, Karateka , Yoi”
“Hormat kepada pelatih!”
“Osh!”
Latihan sore itu berjalan cukup berat.
Sensei Sambas meminta semua anggota memperbaiki teknik tendangan dan ketepatan pukulan.
“Kuda-kudanya jangan malas!” bentak Sensei Sambas.
“Osh!”
Suara teriakan memenuhi halaman sekolah.
Aryanti yang berada di barisan perempuan tampak berusaha serius mengikuti latihan meski beberapa kali kehilangan keseimbangan saat menendang.
“Eh!” katanya sambil hampir jatuh.
Rosita langsung tertawa kecil.
“Mbak nggak kuat!”
“Diam kamu!”
Riyadi yang melihat itu spontan ikut tersenyum.
Entah kenapa tingkah Aryanti selalu mudah membuat suasana terasa lebih hidup.
Saat latihan sparring dimulai, beberapa anggota mulai tegang.
Sebagian takut terkena pukulan.
Sebagian lagi terlalu semangat.
Aryanti tampak gugup ketika dipasangkan dengan senior perempuan dari ranting lain.
“Mas Riyadi…” panggilnya pelan sebelum mulai.
“Hm?”
“Aku takut salah.”
“Tenang saja.”
“Kalau aku kena pukul?”
“Namanya latihan pasti kena sedikit.”
Aryanti mengerucutkan bibir.
“Kalau sakit?”
“Ya tahan.”
“Kok enak bilangnya.”
Riyadi tertawa kecil.
“Kamu pasti bisa.”
Aryanti memandang Riyadi beberapa detik.
Lalu mengangguk pelan.
“Aku percaya sama Mas Riyadi.”
Kalimat sederhana itu entah kenapa membuat Riyadi sedikit salah tingkah.
Untung latihan segera dimulai sehingga ia bisa menyembunyikan rasa aneh yang tiba-tiba muncul di dadanya.
Sore semakin turun.
Langit mulai berubah jingga keemasan.
Keringat membasahi pakaian para anggota karate.
Namun suasana justru terasa hangat.
Bagi mereka, tempat itu bukan hanya ruang latihan.
Tetapi juga tempat tumbuhnya persahabatan.
Tempat berbagi cerita.
Tempat bercanda.
Dan perlahan…
Tempat tumbuhnya perasaan-perasaan baru yang belum benar-benar mereka pahami.
Seusai latihan, sebagian anggota duduk santai di teras sekolah menikmati angin sore.
Aryanti menghampiri Riyadi yang sedang membereskan Hand Protektor yang dipakai latihan.
“Capek?” tanya Riyadi.
“Lumayan.”
“Tapi tadi bagus.”
“Bohong.”
“Serius.”
Aryanti tersenyum kecil.
“Kalau Mas Riyadi bilang bagus berarti aku percaya.”
“Jangan percaya terus.”
“Kenapa?”
“Nanti aku besar kepala.”
Aryanti tertawa lepas.
Suara tawanya terdengar ringan dan hangat di telinga Riyadi.
Dan tanpa ia sadari…
Sejak sore-sore latihan itulah, Aryanti perlahan mulai mengisi ruang kecil di dalam hatinya.
BAB V
Pertemuan dengan Aryanti
Sejak aktifnya ranting karate di SMP Negeri I Pegandon, kehidupan Riyadi perlahan berubah menjadi lebih sibuk.
Pagi sekolah di SMA Negeri I Pegandon.
Sore membantu latihan karate, kadaang mendengarkan serial sandiwara radio misteri gungnun merapi atau mak lampir, kadang saur sepur brahma kumbara.
Malam berkumpul nongkrong di warung depan , kadang nonton TV bersama teman-temannya.
Hari-harinya berjalan sederhana, namun terasa penuh.
Dan di antara rutinitas itulah, tanpa benar-benar ia sadari, sosok Aryanti mulai semakin sering hadir dalam kesehariannya.
Awalnya biasa saja.
Sangat biasa.
Riyadi menganggap Aryanti hanya salah satu junior karate yang kebetulan cukup dekat dengannya karena sering bertanya tentang latihan.
Namun semakin sering bertemu, semakin sering bercanda, semakin sering berbicara, perlahan hubungan mereka berubah menjadi lebih akrab dibanding anggota lainnya.
Sore itu cuaca di Tegorejo cukup cerah.
Angin berembus lembut membawa aroma jerami dari sawah yang baru dipanen.
Riyadi datang lebih awal ke SMPN I Pegandon untuk membuka gudang perlengkapan latihan.
Saat ia sedang menaruh Hand Protektor di halaman sekolah, tiba-tiba terdengar suara sepeda berhenti di depan gerbang.
“Mas Riyadiii…”
Riyadi menoleh.
Aryanti datang bersama Rosita Sari.
Mereka berboncengan sepeda ontel warna biru muda yang bagian belnya sudah agak berkarat.
Aryanti mengayuh sendiri, sementara Rosita duduk di belakang sambil membawa tas karate.
Riyadi spontan tersenyum kecil.
“Tumben datang cepat.”
Aryanti memarkir sepeda sambil mengusap keringat di dahinya.
“Rosita tadi maksa berangkat duluan.”
Rosita langsung membela diri.
“Biar nggak kesorean!”
Riyadi tertawa kecil.
“Rajin juga kamu sekarang.”
Rosita membusungkan dada bangga.
“Tentu.”
Aryanti duduk di teras sekolah sambil melepas sandal.
“Mas Riyadi dari tadi sendiri?”
“Iya.”
“Yang lain belum datang?”
“Belum.”
Aryanti memandang halaman sekolah yang masih sepi.
Lalu tanpa canggung ia membantu Riyadi menyusun perlengkapan latihan.
“Kamu nggak usah bantu,” kata Riyadi.
“Nggak apa-apa.”
“Nanti capek.”
Aryanti tersenyum kecil.
“Aku kan calon karateka hebat.”
Riyadi tertawa.
“Wah, percaya diri sekali.”
“Harus dong.”
Rosita yang duduk di teras ikut menyahut.
“Mbak Aryanti kalau latihan sering jatuh.”
“Rositaaa!”
Mereka semua langsung tertawa.
Suasana seperti itu terasa sangat alami.
Tidak dibuat-buat.
Tidak canggung.
Aryanti memang tipe gadis yang cepat akrab dengan siapa saja.
Bahkan kepada Riyadi yang awalnya cukup pendiam pun, ia bisa berbicara santai seolah sudah lama mengenal.
Beberapa menit kemudian, anggota lainnya mulai berdatangan.
Suasana halaman sekolah menjadi ramai.
Namun entah kenapa, di antara semua suara dan keramaian itu, Riyadi mulai terbiasa mencari sosok Aryanti dengan pandangan matanya.
Kadang hanya sekilas.
Kadang lebih lama.
Dan tanpa sadar, ia mulai hafal banyak hal kecil tentang gadis itu.
Cara Aryanti tertawa sambil sedikit menutup mulut.
Cara ia mengikat rambutnya sebelum latihan.
Cara ia mengerucutkan bibir saat kesal.
Dan cara matanya berbinar ketika sedang bercerita.
Latihan sore itu berlangsung cukup santai karena Sensei Anton tidak hadir.
Sensei Sambas lalu meminta Riyadi dan Sabara membantu melatih dasar-dasar pukulan untuk anggota baru.
“Riyadi!” panggil Sensei Sambas.
“Osh, Sensei.”
“Kamu pegang kelompok perempuan.”
Riyadi agak gugup.
“Osh…”
Sabara langsung menyenggol lengannya pelan sambil menyeringai jahil.
“Wah, senang dong.”
“Apaan sih.”
Aryanti yang mendengar itu ikut tersenyum malu-malu.
Latihan dimulai.
Riyadi berdiri di depan barisan perempuan sambil memberi contoh gerakan.
“Pukulannya jangan terlalu kaku.”
“Osh!”
“Siku dirapatkan.”
“Osh!”
Aryanti mencoba mengikuti gerakan, tetapi pukulannya malah melenceng.
“Eh salah lagi…” keluhnya.
Riyadi mendekat.
“Begini.”
Ia lalu membetulkan posisi tangan Aryanti perlahan.
Aryanti mendadak diam.
Entah kenapa wajahnya sedikit memerah.
“Sudah benar?”
“Hmm…”
“Coba ulangi.”
Aryanti kembali memukul.
“Kali ini bagus.”
“Serius?”
“Iya.”
Aryanti tersenyum puas seperti anak kecil yang baru dipuji.
Dari belakang, Sabara dan Aripin saling pandang lalu menahan tawa.
“Wah… pelatih pribadi,” bisik Aripin.
“Hush!” jawab Sabara sambil tertawa kecil.
Menjelang magrib latihan selesai.
Sebagian anggota langsung pulang.
Namun Aryanti dan Rosita masih duduk di teras sekolah sambil menunggu suasana agak sepi.
Riyadi yang sedang membereskan perlengkapan mendekat.
“Belum pulang?”
“Nunggu dingin dulu,” jawab Aryanti.
“Capek?”
“Lumayan.”
Rosita tiba-tiba berdiri lalu menunjuk ke arah warung kecil dekat sekolah.
“Aku beli es dulu!”
Belum sempat dicegah, anak kecil itu sudah berlari pergi.
Aryanti menggeleng sambil tertawa kecil.
“Adikku kalau lihat es seperti lihat harta karun.”
Riyadi ikut tertawa.
Angin sore bertiup lembut melewati halaman sekolah yang mulai sepi.
Langit berubah jingga kemerahan.
Untuk beberapa saat mereka hanya diam menikmati suasana.
Lalu Aryanti tiba-tiba bertanya.
“Mas Riyadi…”
“Hm?”
“Mas Riyadi nanti kalau lulus SMA mau ke mana?”
Pertanyaan itu membuat Riyadi terdiam sejenak.
Ia sendiri belum benar-benar tahu.
“Mungkin kerja.”
“Di mana?”
“Belum tahu.”
“Jangan jauh-jauh.”
Riyadi menoleh.
Aryanti tampak menunduk memainkan ujung sabuk karatenya.
“Kenapa?”
Aryanti tersenyum kecil.
“Nanti ranting kita sepi.”
Jawaban itu sederhana.
Namun entah kenapa membuat hati Riyadi terasa hangat.
Untuk pertama kalinya, ia mulai merasa bahwa keberadaannya berarti bagi seseorang.
Dan tanpa mereka sadari…
Hubungan sederhana di halaman SMP itu perlahan sedang tumbuh menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam daripada sekadar persahabatan biasa.
BAB VI
Gadis yang Banyak Teman
Nama Aryanti mulai semakin dikenal di lingkungan karate Cabang Kendal.
Bukan karena ia atlet terbaik.
Bukan pula karena sabuknya paling tinggi.
Melainkan karena kepribadiannya yang hangat dan mudah akrab dengan siapa saja.
Ke mana pun pergi, selalu ada saja orang yang menyapanya.
Baik teman perempuan maupun laki-laki.
Baik dari ranting Pegandon, Cepiring, maupun ranting-ranting lain di Kendal.
Dan justru karena sifat itulah, Aryanti sering tanpa sadar menjadi pusat perhatian.
Sore itu latihan gabungan diadakan di Ranting Cepiring.
Sejak siang beberapa anggota dari Pegandon sudah bersiap berangkat bersama menggunakan sepeda ontel. Jalan menuju Cepiring cukup jauh untuk ukuran anak-anak desa kala itu, tetapi justru perjalanan seperti itulah yang paling mereka nikmati.
Rombongan kecil itu dipimpin Riyadi dan Sabara sebagai senior.
Di belakang mereka, beberapa junior mengayuh sepeda sambil bercanda sepanjang jalan.
“Eh jangan ngebut!” teriak Rosita dari belakang.
“Kamu saja yang pelan!” balas Aripin.
Aryanti yang bersepeda membonceng, Riyadi tertawa kecil melihat keributan itu.
Angin sore bertiup cukup kencang membuat ujung rambut Aryanti yang keluar dari ikatan sesekali beterbangan.
Riyadi diam-diam memperhatikan sejenak sebelum buru-buru mengalihkan pandangan.
“Mas Riyadi…”
“Hm?”
“Kalau capek bilang ya.”
“Lho memang kenapa?”
“Nanti gantian aku yang bonceng.”
Riyadi spontan tertawa.
“Memangnya kuat?”
Aryanti membusungkan dada.
“Jangan salah.”
Sabara yang mendengar langsung menyahut keras.
“Wah! Riyadi dibonceng cewek lagi!”
Rombongan langsung tertawa ramai.
Aryanti malah ikut tertawa tanpa malu.
Sedangkan Riyadi hanya menggeleng sambil tersenyum kecil.
“Dasar kalian.”
Perjalanan menuju Cepiring terasa menyenangkan.
Mereka melewati hamparan sawah luas, jalan-jalan kecil antar desa, serta beberapa sungai kecil yang airnya mengalir jernih.
Kadang mereka berhenti sebentar membeli es lilin di pinggir jalan.
Kadang berhenti hanya untuk bercanda.
Masa remaja mereka terasa begitu ringan saat itu.
Tanpa beban besar.
Tanpa banyak ketakutan tentang masa depan.
Sesampainya di ranting Cepiring, suasana sudah cukup ramai.
Banyak anggota dari ranting lain berkumpul di halaman sekolah tempat latihan.
Beberapa langsung menyapa Aryanti begitu melihatnya datang.
“Aryantiii!”
“Haiii!”
“Kamu datang juga!”
Aryanti membalas semua sapaan itu dengan ramah.
“Iya dong.”
“Besok jadi ikut ke Kendal?”
“Mungkin.”
“Wah asyik!”
Riyadi memperhatikan dari kejauhan.
Ia mulai sadar bahwa Aryanti memang mudah sekali bergaul.
Bahkan di tempat baru sekalipun, gadis itu bisa cepat akrab dengan siapa saja.
“Sinokmu populer juga,” bisik Aripin jahil. Aryanti dilingkungan Karate di panggil sinok oleh riyadi bersama teman-temannya. Itu merupakan panggila khas yang dibrikan oleh Riyadi kepadanya dan Aryanti justru sangaat suka pada panggilan sinok itu.
Riyadi langsung menyikut lengannya.
“Ngaco.”
“Lho memang bukan?”
“Bukan.”
Sabara ikut tertawa.
“Tapi cocok sih.”
Riyadi pura-pura tidak mendengar.
Namun entah kenapa dadanya terasa sedikit aneh saat melihat Aryanti tertawa bersama teman-teman laki-lakinya dari ranting lain.
Perasaan yang sebelumnya belum pernah benar-benar ia rasakan.
Latihan gabungan sore itu berlangsung cukup keras.
Sensei Anton datang langsung memimpin latihan bersama beberapa pelatih lain dari Cabang Kendal.
“Semua harus serius!” bentaknya.
“Osh!”
Puluhan suara menjawab bersamaan.
Riyadi dan Sabara berada di barisan depan.
Sedangkan Aryanti di barisan tengah bersama anggota perempuan lainnya.
Beberapa kali Sensei Anton memuji teknik Riyadi yang semakin matang.
“Bagus, Riyadi.”
“Terima kasih, Sensei.”
Aryanti yang mendengar itu tersenyum bangga.
“Mas Riyadi keren ya,” bisiknya pada teman di sebelah.
Riyadi yang kebetulan mendengar jadi salah tingkah sendiri.
Latihan selesai menjelang magrib.
Karena lelah, sebagian anggota duduk santai di bawah pohon besar dekat lapangan.
Aryanti tampak dikerubungi beberapa teman laki-laki dari ranting lain yang mengajaknya bercanda.
“Aryanti, nanti ikut nonton pertandingan di Kendal nggak?”
“Kalau boleh.”
“Naik apa?”
“Belum tahu.”
“Nanti ikut rombongan kami saja.”
Aryanti tertawa kecil.
“Nanti aku pikir dulu.”
Riyadi duduk agak jauh bersama Sabara sambil minum air.
Namun entah kenapa telinganya tetap menangkap percakapan itu.
“Kenapa mukamu cemberut?” tanya Sabara tiba-tiba.
“Hah?”
“Cemburu ya?”
“Apaan sih.”
Sabara tertawa kecil.
“Kelihatan kok.”
“Aku nggak cemburu.”
“Serius?”
“Iya.”
Sabara memandang Riyadi beberapa saat lalu tersenyum tipis.
“Berarti kamu mulai suka.”
Kalimat itu membuat Riyadi diam.
Ia tidak langsung menjawab.
Karena sebenarnya ia sendiri belum mengerti apa yang sedang ia rasakan.
Ia hanya merasa senang saat dekat Aryanti.
Merasa ingin terus melihat tawanya.
Dan entah kenapa merasa sedikit tidak suka ketika Aryanti terlalu dekat dengan laki-laki lain.
Apakah itu cinta?
Atau hanya rasa sayang sebagai kakak angkat?
Riyadi belum tahu.
Senja mulai turun ketika rombongan Pegandon bersiap pulang.
Karena beberapa anggota kelelahan, akhirnya mereka pulang lebih pelan.
Di tengah perjalanan, rantai sepeda Aryanti tiba-tiba lepas.
“Eh eh eh!”
Aryanti buru-buru turun.
“Kenapa?” tanya Riyadi sambil menghentikan sepeda.
“Rantainya lepas.”
“Coba lihat.”
Riyadi jongkok memperbaiki rantai sepeda itu dengan tangan penuh oli hitam.
Aryanti berdiri di samping sambil memperhatikan.
“Mas Riyadi memang bisa semuanya ya.”
“Ah biasa saja.”
“Karate bisa. Betulin sepeda bisa.”
Riyadi tertawa kecil.
“Kalau makan juga bisa.”
Aryanti spontan tertawa keras.
Suara tawanya pecah di tengah jalan desa yang mulai gelap.
Entah kenapa, mendengar Aryanti tertawa selalu membuat hati Riyadi terasa ringan.
Setelah rantai selesai dipasang, Aryanti memandang tangan Riyadi yang penuh oli.
“Sebentar.”
Ia lalu mengambil sapu tangan kecil dari tasnya.
“Nih.”
“Buat apa?”
“Bersihkan tangan.”
“Nggak usah.”
“Pakai saja.”
Riyadi akhirnya menerima sapu tangan itu perlahan.
Dan untuk pertama kalinya…
Ada getaran aneh yang sulit ia jelaskan saat jari mereka tanpa sengaja bersentuhan sebentar di bawah cahaya bulan desa yang mulai naik perlahan di langit Pegandon.
BAB VII
Cinta Pertama Aryanti
Musim hujan mulai datang di Desa Tegorejo.
Langit sering mendung sejak siang, dan sore hari hujan turun perlahan membasahi jalan-jalan desa yang masih berupa tanah bercampur batu. Aroma tanah basah menyebar ke mana-mana, bercampur dengan suara kodok dari pematang sawah yang mulai tergenang air.
Sore itu latihan karate di SMPN I Pegandon tetap berlangsung meski gerimis turun tipis.
Sebagian anggota memilih berteduh di teras sekolah sambil menunggu hujan reda.
Riyadi duduk bersandar di tiang kelas sambil memperhatikan tetesan air hujan jatuh dari atap sekolah.
Di sampingnya, Sabara dan Aripin sedang bercanda soal pertandingan karate yang akan datang.
Namun perhatian Riyadi sesekali justru tertuju ke arah Aryanti yang sejak tadi tampak lebih pendiam dari biasanya.
Biasanya gadis itu paling ramai.
Paling banyak tertawa.
Paling sering menggoda teman-temannya.
Tetapi sore itu berbeda.
Aryanti hanya duduk diam sambil memainkan ujung sabuk karatenya.
Sesekali menghela napas pelan.
“Tumben Sinok diam,” gumam Riyadi dalam hati.
Tak lama kemudian latihan dibubarkan lebih cepat karena hujan semakin deras.
Satu per satu anggota pulang.
Namun Aryanti masih duduk di teras sekolah sambil memandangi hujan.
Rosita sudah lebih dulu pulang bersama tetangga mereka.
Riyadi yang sedang membereskan perlengkapan akhirnya mendekat.
“Kamu belum pulang?”
Aryanti menoleh pelan.
“Hujannya deras.”
“Takut kehujanan?”
Aryanti tersenyum tipis.
“Bukan itu.”
“Terus?”
Aryanti diam beberapa detik sebelum berkata lirih.
“Mas Riyadi…”
“Hm?”
“Kalau seseorang berubah setelah pacaran itu wajar nggak?”
Pertanyaan itu membuat Riyadi sedikit heran.
“Berubah bagaimana?”
Aryanti menunduk.
“Jadi gampang marah.”
“Siapa?”
Aryanti menghela napas kecil.
“Samid.”
Nama itu sebenarnya sudah pernah beberapa kali didengar Riyadi dari teman-teman sekitar rumah Aryanti.
Samid tinggal tidak terlalu jauh dari rumah Aryanti dan kabarnya memang cukup dekat dengannya.
Namun Riyadi tidak pernah terlalu memikirkan itu sebelumnya.
“Memangnya kenapa?” tanya Riyadi pelan.
Aryanti terlihat ragu-ragu.
Lalu akhirnya mulai bercerita.
“Awalnya dia baik.”
“Hmm.”
“Dia sering nemenin aku pulang sekolah.”
“Terus?”
“Tapi sekarang dia sering marah kalau aku ngobrol sama teman cowok.”
Riyadi diam mendengarkan.
“Padahal aku biasa saja,” lanjut Aryanti.
“Aku memang gampang akrab sama orang.”
“Iya…”
“Tapi dia nggak suka.”
Aryanti menatap hujan di depan sekolah.
Wajahnya tampak murung.
“Katanya aku terlalu banyak teman laki-laki.”
“Dia cemburu mungkin.”
“Aku capek kalau dicurigai terus.”
Suasana mendadak hening.
Hanya suara hujan yang terdengar jatuh di halaman sekolah.
Riyadi sebenarnya bingung harus menjawab apa.
Ia belum terlalu mengerti urusan cinta.
Apalagi soal hubungan remaja.
Namun entah kenapa ia tetap ingin mendengarkan Aryanti.
“Mungkin dia takut kehilangan,” katanya akhirnya.
Aryanti tertawa hambar.
“Kalau sayang harusnya percaya kan?”
Riyadi tidak langsung menjawab.
Karena sebenarnya ia juga merasa hal yang sama.
Kalau menyukai seseorang, bukankah seharusnya membuat orang itu nyaman?
Bukan malah terkekang.
Aryanti memeluk lututnya pelan.
“Mas Riyadi…”
“Hm?”
“Menurut Mas Riyadi aku salah nggak?”
“Kalau menurutku sih nggak.”
“Serius?”
“Iya.”
Aryanti menatap Riyadi beberapa saat.
Tatapannya terlihat lega.
“Makasih ya.”
“Buat apa?”
“Sudah mau dengerin aku.”
Riyadi tersenyum kecil.
“Ya namanya teman.”
Aryanti tiba-tiba tertawa pelan.
“Kadang aku lebih nyaman cerita sama Mas Riyadi daripada sama cewek.”
“Kenapa?”
“Soalnya Mas Riyadi nggak banyak ngomel.”
“Kalau aku ngomel nanti kamu kabur.”
Aryanti terkekeh kecil.
Suasana yang tadinya murung perlahan mencair kembali.
Namun sejak sore itu, Aryanti mulai semakin sering curhat kepada Riyadi.
Tentang Samid.
Tentang sekolah.
Tentang teman-temannya.
Tentang hal-hal kecil yang kadang sebenarnya tidak penting.
Dan anehnya…
Riyadi selalu mau mendengarkan.
Bahkan diam-diam mulai menunggu cerita-cerita itu.
Hari demi hari berlalu.
Hubungan Aryanti dan Samid ternyata semakin sering bermasalah.
Samid mulai tidak suka Aryanti terlalu aktif di karate.
Tidak suka Aryanti terlalu dekat dengan banyak teman laki-laki.
Bahkan suatu sore ketika latihan selesai, Aryanti datang dengan wajah kesal.
“Kesel aku!”
Riyadi yang sedang menggulung matras menoleh.
“Lho kenapa lagi?”
“Samid.”
“Marah lagi?”
“Iya.”
“Sekarang kenapa?”
Aryanti mendesah kesal.
“Tadi dia lihat aku ngobrol sama anak ranting Cepiring.”
“Terus?”
“Dia bilang aku genit.”
Riyadi spontan mengernyit.
“Dia ngomong begitu?”
Aryanti mengangguk.
“Aku sampai malas ketemu dia.”
Riyadi diam.
Entah kenapa ada rasa tidak suka muncul di dadanya mendengar Aryanti diperlakukan begitu.
“Kalau menurutku…” kata Riyadi pelan.
“Hm?”
“Kamu nggak salah.”
Aryanti menatapnya.
“Benarkah?”
“Iya.”
Aryanti tersenyum kecil.
“Makanya aku senang cerita sama Mas Riyadi.”
Riyadi ikut tersenyum.
Namun diam-diam, ada sesuatu yang mulai berubah di dalam hatinya.
Awalnya ia hanya merasa kasihan kepada Aryanti.
Lalu merasa ingin melindunginya.
Lalu mulai merasa tidak suka ketika Aryanti sedih karena laki-laki lain.
Dan tanpa sadar…
Ia mulai terlalu sering memikirkan gadis itu.
Malam harinya, saat berkumpul di rumah Sopia mendengarkan radio, Aripin tiba-tiba menyenggol Riyadi.
“Kamu dekat banget sekarang sama Aryanti.”
“Biasa saja.”
“Ah masa.”
“Serius.”
Aripin menyeringai jahil.
“Jangan-jangan kamu suka.”
Riyadi langsung menyangkal.
“Ngaco.”
“Tapi kalian cocok.”
Nasro ikut tertawa.
“Iya, Aryanti kalau dekat Riyadi beda.”
“Beda bagaimana?”
“Lebih nurut.”
“Ah kalian kebanyakan mikir.”
Namun malam itu, setelah pulang ke rumah dan berbaring di kamarnya, Riyadi justru tidak bisa tidur cepat.
Pikirannya dipenuhi wajah Aryanti.
Tawanya.
Suaranya.
Cara gadis itu memanggilnya.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya…
Riyadi mulai bertanya pada dirinya sendiri.
Apakah mungkin…
Tanpa ia sadari…
Ia mulai jatuh cinta?
BAB VIII
Ketika Hati Mulai Berbeda
Sejak Aryanti semakin sering bercerita tentang masalahnya dengan Samid, hubungan dirinya dengan Riyadi perlahan berubah menjadi jauh lebih dekat dibanding sebelumnya.
Bukan kedekatan yang diumbar seperti pasangan remaja lain.
Bukan pula hubungan yang penuh rayuan.
Kedekatan mereka tumbuh secara pelan.
Sederhana.
Natural.
Seperti dua orang sahabat yang terlalu sering bersama hingga tanpa sadar mulai saling mengisi hari-hari satu sama lain.
Namun justru karena itu, perubahan kecil di hati Riyadi terasa semakin membingungkan.
Awalnya ia masih menganggap Aryanti hanya adik angkat biasa.
Seorang junior karate yang sering meminta bantuan.
Seorang gadis cerewet yang suka bercerita.
Tetapi entah sejak kapan, perasaan itu mulai berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam.
Dan Riyadi mulai menyadarinya sedikit demi sedikit.
Pagi itu langit Tegorejo tampak cerah setelah beberapa hari diguyur hujan.
Riyadi sedang membersihkan sepeda ontelnya di halaman rumah ketika Sudaryono datang sambil membawa buku pelajaran.
“Riyadi!”
“Hm?”
“Belajar matematika nanti jadi kan?”
“Jadi.”
Sudaryono duduk di bangku bambu sambil memperhatikan Riyadi yang sibuk mengelap rantai sepeda.
“Kamu sekarang sering ke rumah Aryanti ya?”
Riyadi spontan berhenti mengelap.
“Hah?”
“Jangan pura-pura.”
“Biasa saja.”
Sudaryono tertawa kecil.
“Anak-anak sudah pada ngomong.”
“Ngomong apa?”
“Katanya kamu sama Aryanti cocok.”
Riyadi menghela napas.
“Teman-teman memang suka ngawur.”
“Tapi kamu sendiri bagaimana?”
“Maksudnya?”
“Kamu suka sama dia?”
Pertanyaan itu membuat Riyadi diam cukup lama.
Ia pura-pura sibuk membersihkan pedal sepeda.
Padahal sebenarnya dadanya mulai tidak tenang.
“Aku menganggap dia adik,” jawabnya akhirnya.
Sudaryono memperhatikan wajah sahabatnya beberapa detik.
Lalu tersenyum tipis.
“Kalau cuma adik, biasanya orang nggak sampai sering melamun.”
Riyadi langsung menoleh cepat.
“Siapa bilang aku melamun?”
“Kelihatan.”
“Ah sok tahu.”
Sudaryono tertawa keras.
“Sudah lah. Aku temanmu dari kecil.”
Riyadi hanya menggeleng sambil tersenyum malu.
Namun setelah Sudaryono pulang, ucapan itu terus terngiang di kepalanya.
Benarkah dirinya mulai berubah?
Benarkah perasaannya kepada Aryanti sudah bukan sekadar rasa sayang sebagai kakak angkat?
Sore harinya latihan karate kembali diadakan.
Begitu sampai di SMPN I Pegandon, Riyadi melihat Aryanti sedang duduk di teras sekolah sambil tertawa bersama beberapa teman perempuan.
Saat melihat Riyadi datang, wajah Aryanti langsung tampak lebih cerah.
“Mas Riyadiii!”
“Hm?”
“Sini dulu.”
Riyadi mendekat.
“Ada apa?”
Aryanti menunjukkan buku kecil bergambar bunga.
“Lihat.”
“Apa ini?”
“Buku puisi.”
“Kamu suka puisi?”
“Suka.”
Aryanti membuka salah satu halaman lalu membaca pelan.
“Cinta kadang datang diam-diam,
tanpa mengetuk pintu hati lebih dulu…”
Riyadi spontan tersenyum kecil.
“Kamu cocok jadi penyair.”
Aryanti tertawa.
“Kalau Mas Riyadi?”
“Apa?”
“Pernah jatuh cinta belum?”
Pertanyaan itu datang tiba-tiba.
Riyadi mendadak salah tingkah.
“Kenapa tanya begitu?”
“Ya pengin tahu saja.”
“Belum.”
“Bohong.”
“Serius.”
Aryanti menyipitkan mata jahil.
“Masa anak karate senior belum pernah suka cewek?”
“Memangnya aneh?”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Soalnya…”
Aryanti berhenti sebentar lalu tertawa kecil.
“Mas Riyadi sebenarnya lumayan.”
“Lumayan apa?”
“Lumayan bikin cewek suka.”
Riyadi langsung tertawa malu.
“Ngawur.”
Aryanti ikut tertawa puas melihat reaksinya.
Dan anehnya…
Ucapan sederhana itu membuat hati Riyadi berdebar lebih lama dari seharusnya.
Latihan sore itu berlangsung cukup ringan.
Namun perhatian Riyadi sering terpecah karena tanpa sadar ia terus memperhatikan Aryanti.
Cara gadis itu tertawa.
Cara ia berlari kecil saat dipanggil.
Cara ia membereskan rambut setelah latihan.
Hal-hal kecil yang dulu tak pernah benar-benar ia pikirkan kini justru terasa begitu jelas di matanya.
Saat istirahat, Aryanti duduk di samping Riyadi sambil minum dari botol plastik kecil.
“Capek?” tanya Riyadi.
“Lumayan.”
“Kamu tadi tendangannya sudah bagus.”
Aryanti tersenyum bangga.
“Karena pelatihnya hebat.”
“Bisa saja.”
Aryanti memandang Riyadi beberapa detik.
“Mas Riyadi baik ya.”
“Biasa saja.”
“Enggak.”
“Lho?”
“Kalau aku cerita apa pun, Mas Riyadi selalu dengerin.”
Riyadi terdiam.
Aryanti melanjutkan dengan suara lebih pelan.
“Kadang aku merasa nyaman kalau dekat Mas Riyadi.”
Kalimat itu membuat dada Riyadi mendadak hangat.
Ia mencoba tetap tenang meski jantungnya mulai berdetak lebih cepat.
“Aku juga nyaman sama kamu,” jawabnya pelan.
Aryanti tersenyum kecil.
Tatapannya berubah lembut.
Dan untuk beberapa detik, suasana di antara mereka mendadak terasa berbeda.
Bukan lagi seperti kakak dan adik biasa.
Ada sesuatu yang perlahan tumbuh di sana.
Sesuatu yang belum berani mereka ucapkan.
Menjelang magrib latihan selesai.
Karena arah rumah mereka sejalan, Riyadi dan Aryanti pulang bersama menggunakan sepeda ontel masing-masing.
Langit sore tampak indah berwarna jingga keemasan.
Angin bertiup pelan melewati hamparan sawah yang mulai menghijau setelah musim hujan datang.
Aryanti mengayuh sepeda di samping Riyadi sambil bersenandung kecil.
“Mas Riyadi…”
“Hm?”
“Kalau nanti aku sudah besar…”
“Kenapa?”
“Aku pengin tetap bisa latihan karate.”
“Bagus dong.”
“Terus…”
Aryanti menoleh sebentar sambil tersenyum malu.
“Pengin tetap dekat sama Mas Riyadi.”
Jantung Riyadi terasa berdegup keras.
Namun ia hanya tertawa kecil untuk menutupi rasa gugupnya.
“Memangnya sekarang jauh?”
Aryanti tertawa pelan.
“Enggak sih…”
Mereka kembali mengayuh sepeda perlahan di jalan desa yang mulai sepi.
Dan di tengah langit senja Pegandon yang perlahan memerah itu…
Riyadi akhirnya mulai mengerti satu hal.
Perasaannya kepada Aryanti sudah berubah.
Bukan lagi sekadar rasa sayang seorang kakak angkat.
Melainkan perasaan yang diam-diam mulai tumbuh menjadi cinta pertama.
BAB IX
Sinok
Nama itu lahir begitu saja.
Tanpa direncanakan.
Tanpa dipikirkan panjang.
Namun justru karena lahir secara sederhana, nama itu akhirnya menjadi sesuatu yang sangat istimewa di hati Riyadi maupun Aryanti.
Sinok.
Sebuah panggilan kecil yang kelak akan tinggal sangat lama di dalam ingatan mereka.
Pagi itu suasana Desa Tegorejo masih diselimuti kabut tipis. Udara dingin khas pedesaan terasa menusuk kulit. Dari kejauhan terdengar suara pedagang sayur berkeliling sambil memukul kentongan kecil.
Riyadi sedang duduk di bawah pohon jambu depan rumah sambil membaca novel pinjaman dari Aripin ketika terdengar suara sepeda berhenti di depan pagar bambu rumahnya.
“Kakang Riyadiii!”
Riyadi spontan menoleh.
Aryanti berdiri di samping sepeda ontelnya sambil tersenyum lebar.
Ia memakai baju lengan panjang warna biru muda dan rok hitam sederhana. Rambut panjangnya diikat seadanya, namun justru terlihat manis di mata Riyadi.
“Eh kamu pagi-pagi ke sini?”
Aryanti masuk ke halaman rumah sambil membawa sesuatu di tangannya.
“Ibu bikin getuk.”
“Terus?”
“Disuruh nganter ke sini.”
Riyadi tersenyum kecil.
“Masuk dulu.”
Aryanti duduk santai di bangku bambu tanpa canggung sedikit pun.
Ia memang sudah cukup akrab dengan lingkugan Riyadi.
Bahkan Riyadi sendiri sudah menganggap Aryanti seperti adik sendiri karena gadis itu sering datang ngajak main.
“Lagi baca apa?” tanya Aryanti sambil melirik buku di tangan Riyadi.
“Novel.”
“Novel cinta lagi?”
“Lho kok tahu?”
Aryanti tertawa kecil.
“Mas Riyadi itu bacaannya antara silat sama cinta.”
“Biar lengkap.”
Aryanti mengambil novel itu lalu membaca judulnya keras-keras.
“Hati yang Tak Pernah Pergi…”
“Wah romantis.”
Riyadi terkekeh.
“Kamu sendiri suka baca beginian kan.”
Aryanti mengangguk cepat.
“Suka banget.”
“Memangnya kenapa suka cerita cinta?”
Aryanti berpikir sebentar.
“Soalnya indah.”
“Indahnya di mana?”
“Entahlah…”
Aryanti tersenyum kecil sambil menatap halaman rumah yang masih basah oleh embun.
“Kadang aku suka membayangkan ada seseorang yang terus ingat sama kita walaupun sudah lama nggak ketemu.”
Riyadi diam mendengar itu.
Entah kenapa kalimat sederhana dari Aryanti sering terasa dalam di telinganya.
“Kalau Mas Riyadi?”
“Apa?”
“Percaya cinta sejati nggak?”
Riyadi tertawa kecil.
“Kamu masih SMP sudah ngomong cinta sejati.”
“Kan nggak apa-apa.”
“Hmmm…”
Riyadi pura-pura berpikir.
“Percaya mungkin.”
“Nah itu.”
“Tapi belum tentu semua orang ketemu.”
Aryanti memandang Riyadi beberapa detik.
“Kalau aku sih pengin ketemu.”
“Ketemu siapa?”
Aryanti langsung tertawa malu.
“Rahasia.”
Suasana pagi itu terasa hangat.
Sederhana.
Namun nyaman.
Mereka bisa berbicara tentang apa saja tanpa merasa canggung.
Dan justru karena terlalu nyaman itulah, hubungan mereka semakin dekat dari hari ke hari.
Tak lama kemudian Riyadi keluar membawa teh panas.
“Ini diminum dulu.”
“Matur nuwun.”
Nenek Riyadi duduk sebentar sambil memperhatikan mereka bercakap-cakap.
Entah kenapa ia mulai melihat perubahan kecil pada cucu laki-lakinya.
Riyadi yang biasanya pendiam kini lebih sering tersenyum jika Aryanti datang.
Dan Aryanti sendiri tampak sangat nyaman berada di rumah itu.
“Kalian nanti latihan?” tanya nenek Riyadi.
“Iya, Bu,” jawab Aryanti.
“Jangan pulang kemalaman.”
“Iya.”
Setelah Nenek Riyadi masuk kembali ke dapur, Aryanti menyesap teh pelan lalu berkata tiba-tiba.
“Kakang…”
Riyadi sedikit terkejut.
“Hm?”
“Kalau aku punya nama panggilan lucu bagaimana?”
“Memangnya sekarang belum lucu?”
Aryanti manyun.
“Maksudku nama khusus.”
“Untuk apa?”
“Biar beda.”
Riyadi tertawa kecil.
“Kamu ini aneh.”
Aryanti mendekat sedikit sambil tersenyum jahil.
“Ayo dong.”
Riyadi memandang wajah Aryanti beberapa detik.
Gadis itu memang manis.
Apalagi kalau sedang tersenyum seperti itu.
Entah kenapa tiba-tiba muncul satu kata di kepala Riyadi.
“Sinok.”
Aryanti mengerjapkan mata.
“Hah?”
“Sinok.”
Aryanti langsung tertawa kecil.
“Kenapa Sinok?”
“Ya cocok saja.”
“Artinya apa?”
“Gadis kecil.”
Aryanti tersenyum lebar.
“Lucu juga.”
“Mulai sekarang aku panggil kamu Sinok saja.”
Aryanti tampak senang mendengarnya.
“Berarti spesial dong?”
“Kenapa?”
“Soalnya cuma Mas Riyadi yang manggil begitu.”
Riyadi ikut tersenyum.
“Iya mungkin.”
Aryanti tertawa pelan.
Dan sejak hari itulah, nama “Sinok” melekat pada Aryanti.
Nama yang hanya keluar dari mulut Riyadi.
Nama yang selalu membuat Aryanti tersenyum setiap mendengarnya.
Sore harinya saat latihan karate, Riyadi tanpa sadar kembali memanggil.
“Sinok!”
Aryanti spontan menoleh cepat.
“Hm?”
Teman-teman mereka langsung saling pandang.
“Eh eh eh…”
“Sinok katanya…”
Sabara langsung tertawa keras.
“Wah panggilan khusus nih!”
Aryanti langsung salah tingkah.
“Apaan sih kalian.”
Sedangkan Riyadi pura-pura sibuk membereskan hand protektor meski wajahnya sedikit memerah.
Aripin mendekat sambil menyeringai jahil.
“Kalau sudah pakai nama khusus begini bahaya.”
“Diam kamu.”
“Tinggal nunggu jadian.”
Aryanti spontan melempar handuk kecil ke arah Aripin.
Semua tertawa ramai.
Namun diam-diam…
Aryanti menyukai panggilan itu.
Karena setiap kali Riyadi memanggilnya “Sinok”, ada rasa hangat yang sulit dijelaskan tumbuh di dalam hatinya.
Dan bagi Riyadi sendiri…
Tanpa sadar nama itu menjadi tanda bahwa Aryanti mulai memiliki tempat khusus di hidupnya.
Bukan lagi sekadar junior karate.
Bukan lagi sekadar adik angkat.
Melainkan seseorang yang perlahan mulai tinggal di sudut terdalam hatinya.
BAB X
Sepeda Ontel dan Jalanan Desa
Hari-hari di Desa Tegorejo terus berjalan pelan seperti aliran sungai kecil di musim kemarau.
Namun bagi Riyadi dan Aryanti, masa-masa itu justru menjadi bagian paling indah dalam hidup mereka.
Tidak ada gedung megah.
Tidak ada tempat hiburan modern.
Tidak ada telepon genggam ataupun media sosial.
Yang ada hanyalah jalan-jalan desa, hamparan sawah, angin sore, latihan karate, dan sepeda ontel yang menemani ke mana pun mereka pergi.
Dan justru dari kesederhanaan itulah, kedekatan mereka tumbuh semakin dalam.
Sore itu latihan di SMPN I Pegandon selesai lebih cepat karena Sensei Sambas harus menghadiri acara keluarga.
Langit masih terang ketika para anggota mulai bersiap pulang.
Sebagian langsung bergegas.
Sebagian lagi masih duduk santai di teras sekolah sambil bercanda.
Aryanti sedang membereskan rambutnya di depan kaca jendela kelas ketika Rosita tiba-tiba berkata pelan.
“Mbak…”
“Hm?”
“Ban sepeda kita kempes.”
“Hah?”
Aryanti buru-buru keluar memeriksa sepedanya.
Benar saja.
Ban belakang sepeda ontel biru mudanya tampak kempes total.
“Ya ampun…” keluh Aryanti sambil memegang dahinya.
Rosita langsung panik.
“Terus pulangnya bagaimana?”
Riyadi yang mendengar itu segera mendekat.
“Kenapa?”
“Ban sepedaku bocor,” jawab Aryanti dengan wajah pasrah.
Riyadi jongkok memeriksa ban.
“Paku mungkin.”
“Bisa diperbaiki?”
“Bisa, tapi tukang tambal bannya jauh.”
Aryanti menghela napas panjang.
“Waduh…”
Aziz yang sejak tadi memperhatikan langsung menyeringai jahil.
“Sudah… pulang bareng Riyadi saja.”
Aryanti spontan menoleh cepat.
“Hah?”
Aripin langsung ikut tertawa.
“Iya! Cocok tuh.”
“Rosita ikut siapa?”
“Aku bisa bonceng Rosita,” kata Aziz cepat.
Rosita malah terlihat senang.
“Asyik!”
Aryanti tampak salah tingkah.
Sedangkan Riyadi mencoba tetap tenang meski sebenarnya dadanya ikut berdebar.
“Kalau nggak keberatan…” kata Riyadi pelan.
Aryanti menggigit bibir kecilnya sebentar lalu tersenyum malu.
“Ya sudah…”
Teman-teman mereka langsung bersorak heboh.
“Wuuuhhh!”
“Jangan pulang muter-muter nanti!”
“Jangan berhenti di sawah!”
Aryanti langsung melempar handuk kecil ke arah Aziz.
“Kalian ini!”
Suasana sore itu mendadak penuh tawa.
Akhirnya mereka pulang bersama.
Rosita dibonceng Aziz di depan rombongan.
Sedangkan Aryanti duduk di boncengan belakang sepeda Riyadi.
Untuk pertama kalinya.
Dan entah kenapa…
Momen sederhana itu terasa sangat berbeda bagi keduanya.
Awalnya suasana agak canggung.
Aryanti duduk pelan sambil memegang ujung jok belakang.
Sedangkan Riyadi mengayuh sepeda sedikit kaku.
“Berat nggak?” tanya Aryanti pelan.
Riyadi tertawa kecil.
“Enggak.”
“Bohong.”
“Serius.”
Aryanti ikut tertawa kecil.
Angin sore bertiup lembut menerbangkan sedikit rambut Aryanti hingga menyentuh bahu Riyadi.
Jantung Riyadi berdegup lebih cepat.
Namun ia berusaha tetap terlihat biasa saja.
Jalan desa sore itu tampak sangat indah.
Hamparan sawah menguning tertiup angin.
Burung-burung pipit beterbangan rendah.
Anak-anak kecil bermain layangan di pematang.
Sedangkan langit perlahan berubah jingga keemasan menjelang matahari terbenam.
“Mas Riyadi…”
“Hm?”
“Capek nggak bonceng aku?”
“Kalau capek nanti aku jatuhkan.”
Aryanti spontan tertawa keras.
“Jahat!”
“Katanya berat.”
“Ya tetap saja.”
Riyadi tersenyum kecil.
Sebenarnya ia berharap jalan itu terasa lebih panjang.
Karena untuk pertama kalinya ia merasa begitu dekat dengan Aryanti.
Bukan sekadar teman latihan.
Bukan sekadar kakak angkat.
Melainkan seseorang yang diam-diam mulai memenuhi ruang hatinya.
Di depan sana, Aziz sengaja memperlambat sepeda lalu menoleh ke belakang sambil tertawa.
“Wah cocok sekali!”
“Diam kamu!” teriak Riyadi.
Aryanti malah tertawa malu-malu.
Begitulah hari-hari mereka.
Kadang Riyadi yang membonceng Aryanti.
Kadang justru Aryanti yang membonceng Riyadi karena gadis itu memang cukup berani dan kuat mengayuh sepeda.
Dan setiap kali mereka lewat bersama, hampir selalu ada saja orang yang menggoda.
“Eh pasangan karate lewat!”
“Cieee…”
“Pacaran ya?”
Awalnya Riyadi selalu menyangkal.
Namun lama-kelamaan ia hanya tersenyum malu.
Sedangkan Aryanti justru lebih santai menghadapi ejekan itu.
Suatu sore saat mereka pulang latihan berdua, Aryanti tiba-tiba berkata sambil tertawa kecil.
“Mas Riyadi…”
“Hm?”
“Kalau orang-orang terus ngira kita pacaran bagaimana?”
Riyadi pura-pura santai.
“Ya biarkan saja.”
Aryanti memandang punggung Riyadi beberapa detik.
“Kalau Mas Riyadi malu?”
“Kenapa harus malu?”
Aryanti tersenyum kecil.
“Berarti nggak masalah dong?”
Riyadi tidak langsung menjawab.
Karena sebenarnya…
Jauh di dalam hati, ia justru mulai menyukai semua ejekan itu.
Sebab setiap kali orang-orang menganggap mereka pasangan, ada rasa hangat yang tumbuh diam-diam di dadanya.
Malam harinya, saat berkumpul di rumah Sopia ngerumpi ala remaja pada masanya, Aripin kembali menggoda Riyadi.
“Kancil…” sahut Riyadi curiga.
“Apa?”
“Kalau nanti nikah undang kami ya.”
Riyadi langsung melempar bantal kecil ke arah Aripin.
“Ngaco!”
Gito tertawa keras.
“Tapi serius, kalian memang kelihatan dekat.”
“Biasa saja.”
“Biasa dari mana.”
“Ah kalian terlalu banyak mikir.”
Namun ketika malam semakin larut dan Riyadi pulang sendirian melewati jalan desa yang sunyi…
Ia tiba-tiba tersenyum sendiri mengingat sore tadi.
Tentang Aryanti yang tertawa di boncengan belakang.
Tentang rambutnya yang tertiup angin.
Tentang suara gadis itu memanggil namanya.
Dan untuk pertama kalinya…
Riyadi mulai takut kehilangan seseorang.
BAB XI
Rahasia di Balik Latihan Karate
Kedekatan Riyadi dan Aryanti semakin sulit disembunyikan.
Bukan karena mereka melakukan sesuatu yang berlebihan.
Justru sebaliknya.
Hubungan mereka tetap sederhana seperti biasa, latihan bersama, pulang bersama, bercanda bersama di tengah teman-teman karate.
Namun justru karena terlalu sering bersama, semua orang perlahan mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang berbeda di antara mereka.
Dan anehnya…
Baik Riyadi maupun Aryanti sama-sama belum berani mengakuinya secara terang-terangan.
Malam Minggu itu Desa Tegorejo terasa lebih ramai dibanding biasanya.
Di beberapa rumah terdengar suara radio memutar lagu-lagu lawas. Anak-anak muda berkumpul di gardu ronda sambil bercanda, sementara para orang tua duduk santai di teras rumah menikmati udara malam.
Di rumah Sopia, Riyadi dan teman-temannya kembali berkumpul mendengarkan lagu campur sari di radio.
Namun malam itu perhatian Riyadi tidak sepenuhnya berada pada lagu campur sari di radio.
Pikirannya justru dipenuhi Aryanti.
“Kancil…”
Suara Aripin membuatnya tersadar.
“Hm?”
“Kamu melamun lagi.”
“Enggak.”
“Bohong.”
Sopia langsung tertawa kecil.
“Pasti mikirin Sinok.”
Riyadi spontan menoleh cepat.
“Jangan panggil begitu sembarangan.”
“Nah tuh…” kata Aripin sambil menunjuk wajah Riyadi.
“Kalau orang lain manggil Sinok langsung sensitif.”
Semua langsung tertawa.
Riyadi hanya menggeleng sambil tersenyum malu.
Namun jauh di dalam hati, ia memang merasa nama itu terlalu spesial untuk dipakai sembarang orang.
Karena “Sinok” bukan sekadar panggilan.
Nama itu adalah caranya diam-diam menunjukkan bahwa Aryanti berbeda dari gadis lain.
“Serius ya, Kancil,” kata Nasro kemudian.
“Kamu sebenarnya suka kan sama Aryanti?”
Suasana mendadak sedikit hening.
Riyadi terdiam beberapa saat sebelum menjawab pelan.
“Aku sendiri nggak tahu.”
“Lho?”
“Kalau dekat dia rasanya nyaman.”
“Nah itu tandanya.”
“Tapi aku takut salah.”
“Takut kenapa?”
Riyadi menghela napas perlahan.
“Dia masih SMP.”
“Terus?”
“Aku juga sudah dianggap kakak angkatnya.”
Gito mengangguk pelan.
Ia mulai mengerti kegelisahan sahabatnya itu.
“Kadang…” lanjut Riyadi lirih.
“Aku takut kalau perasaan ini malah bikin semuanya berubah.”
Aripin yang biasanya suka bercanda kali ini ikut diam.
Karena untuk pertama kalinya mereka melihat Riyadi benar-benar serius soal seseorang.
Keesokan sorenya latihan karate kembali diadakan.
Seperti biasa, Riyadi datang lebih awal membantu menyiapkan latihan.
Tak lama kemudian Aziz, Sabara, Karwan dan Aryanti datang bersama Rosita.
Namun kali ini wajah Aryanti tampak lebih cerah dari biasanya.
“Mas Riyadiii!”
“Hm?”
“Aku bawa sesuatu.”
“Apa?”
Aryanti mengeluarkan sebungkus kecil kacang rebus dari tasnya.
“Ibu masak banyak.”
“Wah…”
“Buat Mas Riyadi.”
“Lho kok cuma aku?”
Aryanti tersenyum jahil.
“Karena yang lain nggak spesial.”
Jantung Riyadi langsung berdegup lebih cepat.
Untung Aripin belum datang, kalau tidak pasti gadis itu sudah digoda habis-habisan.
“Terima kasih,” kata Riyadi pelan.
Aryanti duduk di sampingnya sambil tersenyum kecil.
“Kakang Riyadi…”
“Hm?”
“ bolehkan Aryanti panggil Kakang.”
“Boleh, emang kenapa .”
“Panggilan special.”
“Ada-ada saja, Sinok , ini”
Aryanti tersenyum simpul” Biar lebih dekat dan akrap.” Katanya pelan
Riyadi tersenyum kecil” Iya , juga , sih.” Jawabnya singkat
“Aku senang kalau latihan.”
“Karena karate?”
Aryanti menggeleng pelan.
“Karena bisa ketemu.”
Riyadi mendadak diam.
Aryanti tampaknya baru sadar dengan kalimatnya sendiri.
Wajahnya langsung memerah.
“Maksudku… ketemu teman-teman.”
Riyadi tersenyum kecil.
“Iya… teman-teman.”
Mereka berdua sama-sama salah tingkah.
Namun justru sejak saat itu, suasana di antara mereka semakin berbeda.
Latihan karate perlahan menjadi alasan untuk saling bertemu.
Kadang setelah latihan selesai mereka masih duduk lama di teras sekolah hanya untuk mengobrol hal-hal kecil.
Tentang sekolah.
Tentang cita-cita.
Tentang buku.
Tentang lagu-lagu dari radio.
Tentang masa depan yang saat itu masih terasa sangat jauh.
Suatu sore setelah latihan selesai dan anggota lain sudah banyak yang pulang, Aryanti duduk di tangga kelas sambil memandangi langit senja.
“Cantik ya…” katanya pelan.
Riyadi duduk di sampingnya.
“Iya.”
Langit Tegorejo sore itu memang indah sekali.
Awan tipis berwarna jingga memenuhi cakrawala.
Angin bertiup lembut membawa aroma sawah basah.
“Kakang Riyadi…”
“Hm?”
“Kalau nanti kita sudah besar…”
“Kenapa?”
“Apa kita masih begini?”
“Begini bagaimana?”
“Masih sering ketemu.”
Pertanyaan itu membuat Riyadi terdiam cukup lama.
Karena sebenarnya ia sendiri tidak tahu.
Kehidupan setelah lulus sekolah terasa begitu misterius bagi anak-anak desa seperti mereka.
Mungkin bekerja.
Mungkin merantau.
Mungkin terpisah jauh.
Namun entah kenapa, membayangkan tidak bertemu Aryanti lagi mendadak terasa tidak menyenangkan.
“Aku harap begitu,” jawab Riyadi akhirnya.
Aryanti tersenyum kecil.
“Aku juga.”
Mereka kembali diam.
Namun diam yang kali ini terasa nyaman.
Tidak canggung.
Tidak kosong.
Dan di tengah senja Desa Tegorejo itu…
Perasaan mereka sebenarnya sudah saling tumbuh.
Hanya saja belum ada yang cukup berani mengucapkannya.
Karena cinta pertama kadang memang datang seperti itu.
Pelan.
Diam-diam.
Tumbuh di sela-sela kebersamaan sederhana tanpa pernah benar-benar direncanakan.
BAB XII
Pesan dari Bu Ros
Semakin hari, kedekatan Riyadi dan Aryanti semakin sulit disembunyikan.
Meski mereka tidak pernah terang-terangan mengaku berpacaran, hampir semua teman karate mulai memahami bahwa hubungan keduanya sudah lebih dari sekadar kakak angkat biasa.
Mereka selalu terlihat bersama.
Datang latihan bersama.
Pulang bersama.
Bercanda bersama.
Bahkan dalam latihan gabungan di ranting lain pun, Aryanti hampir selalu mencari Riyadi lebih dulu.
Dan seperti kebanyakan ibu di desa yang sangat mengenal perubahan kecil pada anak gadisnya…
Bu Ros mulai menyadari semuanya.
Sore itu suasana Desa Tegorejo terasa teduh setelah hujan turun sejak siang. Jalan-jalan desa masih basah, dan aroma tanah bercampur daun pisang memenuhi udara.
Riyadi datang ke rumah Aryanti untuk mengajak latihan bersama ke ranting Cepiring.
Rumah keluarga Aryanti cukup sederhana, namun terasa hangat dan ramai. Di halaman depan terdapat mushola yang selalu ramai untuk anak-anak mengaji.
Begitu Riyadi sampai, Rosita langsung berlari keluar rumah.
“Mas Riyadi datang!”
Riyadi tertawa kecil.
“Iya.”
“Mbak Aryanti lagi dandan!”
“Rositaaa!” teriak Aryanti dari dalam rumah.
Tak lama kemudian Aryanti keluar sambil merapikan rambutnya yang masih agak basah.
“Kamu ini lama sekali,” kata Riyadi sambil tersenyum.
“Biar cantik.”
“Memangnya sekarang belum?”
Aryanti spontan terdiam beberapa detik.
Wajahnya langsung memerah.
Sedangkan Riyadi sendiri baru sadar dengan apa yang baru saja ia ucapkan.
Rosita malah tertawa keras.
“Cieeee!”
Aryanti buru-buru mencubit lengan adiknya.
“Diam!”
Suasana menjadi sedikit kikuk.
Untung saat itu Bu Ros keluar dari dapur membawa teh hangat.
“Eh Riyadi datang.”
“Iya, Bu.”
“Masuk dulu.”
“Iya.”
Mereka duduk di ruang tamu sederhana berlantai semen dingin.
Di dinding tergantung kalender lama dan foto keluarga hitam putih.
Bu Ros menuangkan teh ke gelas sambil memperhatikan Riyadi dan Aryanti bergantian.
Entah kenapa tatapannya sore itu terasa lebih serius dibanding biasanya.
“Kalian latihan terus ya,” katanya pelan.
“Iya, Bu,” jawab Riyadi sopan.
“Bagus sih.”
Aryanti tampak santai meminum teh.
Namun Riyadi mulai merasa ada sesuatu yang ingin disampaikan Bu Ros.
Benar saja.
Beberapa menit kemudian, Bu Ros berkata pelan sambil memandang Riyadi.
“Riyadi…”
“Iya, Bu?”
“Kamu kan sudah SMA kelas tiga.”
“Iya.”
“Sudah besar.”
Riyadi mengangguk pelan.
“Saya senang kamu mau membantu latihan karate anak-anak.”
“Ah, biasa saja Bu.”
“Enggak.”
Bu Ros tersenyum tipis.
“Kamu anak baik.”
Riyadi menunduk sedikit merasa sungkan.
Namun suasana kembali berubah ketika Bu Ros melanjutkan kalimatnya lebih pelan.
“Tapi saya titip Aryanti sama Rosita ya.”
Aryanti yang sejak tadi santai langsung terdiam.
Riyadi pun mendadak gugup.
“Maksudnya, Bu?”
“Kalian masih remaja.”
“Iya…”
“Pergaulan sekarang macam-macam.”
Bu Ros menghela napas perlahan.
“Saya percaya sama kamu, Riyadi.”
Kalimat itu justru membuat Riyadi semakin tidak tenang.
“Jaga mereka baik-baik.”
“Iya, Bu.”
“Tapi…” Bu Ros berhenti sebentar.
“Kedekatan kalian jangan sampai macam-macam.”
Aryanti langsung menunduk.
Sedangkan Riyadi merasa dadanya mendadak sesak.
Bu Ros menatap Riyadi lembut, tidak marah, tidak membentak.
Justru itu yang membuat kata-katanya terasa lebih dalam.
“Kamu anggap Aryanti sebagai adik saja.”
Ruang tamu mendadak hening.
Hanya terdengar suara sendok kecil menyentuh gelas teh.
Riyadi mengangguk pelan.
“Iya, Bu.”
Aryanti diam sejak tadi.
Wajahnya sulit ditebak.
Namun Riyadi tahu gadis itu pasti mengerti maksud ibunya.
Bu Ros tersenyum tipis lagi.
“Bukan saya melarang berteman.”
“Iya, Bu.”
“Kalian masih remaja. Fokus sekolah dulu.”
“Iya.”
Aryanti akhirnya bicara pelan.
“Ibu ini…”
“Kenapa?”
“Maluin.”
Bu Ros malah tertawa kecil.
“Biar jelas.”
Rosita yang sedari tadi memperhatikan tiba-tiba menyahut polos.
“Padahal Mbak Aryanti memang senang sama Mas Riyadi.”
“ROSITAAA!”
Aryanti langsung panik.
Sedangkan Riyadi spontan tersedak teh.
Bu Ros menahan senyum sambil menggeleng pelan.
“Sudah sana latihan.”
Aryanti langsung berdiri cepat karena malu.
“Ayo Kakang Riyadi!”
“Iya…”
Sepanjang perjalanan menuju tempat latihan, suasana di antara mereka agak canggung.
Biasanya Aryanti cerewet.
Namun sore itu ia lebih banyak diam sambil mengayuh sepeda pelan.
“Sinok…” panggil Riyadi akhirnya.
Aryanti menoleh sedikit.
“Hm?”
“Kamu marah?”
Aryanti menggeleng.
“Enggak.”
“Terus kenapa diam?”
Aryanti tersenyum tipis.
“Ibu memang begitu.”
Riyadi ikut menghela napas.
“Beliau cuma khawatir.”
“Aku tahu.”
Angin sore bertiup pelan melewati sawah yang mulai menghijau.
Beberapa saat mereka sama-sama diam.
Lalu Aryanti berkata lirih tanpa menoleh.
“Kakang Riyadi…”
“Hm?”
“Kalau ibu bilang kita cuma boleh jadi kakak adik…”
Suara Aryanti menggantung.
Riyadi memandang jalan di depannya.
Dadanya terasa aneh.
Karena untuk pertama kalinya, ia sadar bahwa perasaannya kepada Aryanti ternyata jauh lebih dalam daripada sekadar rasa sayang seorang kakak.
“Aku nggak tahu,” jawabnya pelan.
Aryanti menggigit bibir kecilnya.
“Aku juga…”
Langit sore perlahan berubah jingga.
Dan di tengah perjalanan sederhana menggunakan sepeda ontel itu…
Mereka mulai sadar bahwa cinta pertama tidak selalu berjalan mudah.
Kadang bahkan harus tumbuh diam-diam.
Disembunyikan di balik tawa, latihan karate, dan status “kakak angkat” yang sebenarnya sudah tidak mampu lagi menjelaskan isi hati mereka masing-masing.
BAB XIII
Pacaran Diam-Diam
Setelah pembicaraan sore itu di rumah Aryanti, hubungan Riyadi dan Aryanti berubah menjadi semakin hati-hati.
Mereka tetap bertemu seperti biasa.
Tetap latihan bersama.
Tetap pulang bersama.
Tetap bercanda bersama teman-teman karate.
Namun kini keduanya mulai sadar bahwa ada batas yang diam-diam sedang diperhatikan oleh Bu Ros.
Dan justru karena itulah…
Perasaan mereka semakin sulit disembunyikan.
Bukan lagi sekadar kedekatan biasa.
Melainkan cinta remaja yang mulai tumbuh diam-diam di balik kebersamaan sederhana.
Malam itu Riyadi sulit tidur.
Ia terus memikirkan ucapan Bu Ros.
“Anggap Aryanti sebagai adik saja…”
Kalimat itu terus terngiang di kepalanya.
Padahal jauh di dalam hati, ia tahu perasaannya sudah berbeda.
Ia tidak lagi memandang Aryanti hanya sebagai adik angkat.
Ada rasa ingin selalu dekat.
Rasa ingin menjaga.
Rasa takut kehilangan.
Dan rasa bahagia kecil yang selalu muncul setiap kali mendengar gadis itu memanggil namanya.
Pagi harinya Riyadi duduk di depan rumah sambil membersihkan sepeda ontelnya ketika Aryanti datang.
Namun kali ini gadis itu tampak lebih malu-malu dibanding biasanya.
“Kakang Riyadi…”
“Hm?”
“Ayo jalan.”
“Ke mana?”
“Muter desa.”
“Sekarang?”
Aryanti mengangguk kecil.
“Rosita ikut?”
“Enggak.”
Riyadi sedikit heran.
Biasanya Rosita selalu ikut ke mana-mana.
Namun ia tidak banyak bertanya.
“Ya sudah.”
Mereka lalu berangkat berdua mengayuh sepeda melewati jalan-jalan kecil Desa Tegorejo.
Udara pagi terasa sejuk.
Embun masih terlihat di ujung daun padi.
Beberapa petani mulai turun ke sawah sambil membawa cangkul di pundak.
Sesekali warga yang berpapasan tersenyum melihat mereka.
“Pagi, Riyadi.”
“Pagi.”
Aryanti mengayuh di samping Riyadi sambil sesekali menunduk malu.
“Tumben diam,” kata Riyadi.
Aryanti tersenyum kecil.
“Kakang Riyadi juga.”
“Lho aku kenapa?”
“Sejak kemarin beda.”
Riyadi tertawa kecil.
“Kamu juga.”
Aryanti menghela napas pelan.
“Ibu memang suka khawatir.”
“Iya.”
“Tapi…”
Aryanti berhenti sebentar.
“Aku nggak mau kalau kita jadi jauh gara-gara itu.”
Kalimat itu membuat Riyadi menoleh.
Tatapan mata Aryanti terlihat sungguh-sungguh.
Dan untuk pertama kalinya, Riyadi melihat jelas bahwa gadis itu ternyata memiliki perasaan yang sama.
“Aku juga nggak mau jauh,” jawab Riyadi pelan.
Aryanti tersenyum kecil.
Wajahnya tampak lega.
Mereka terus mengayuh sepeda pelan melewati jalan desa yang diapit pohon bambu dan hamparan sawah luas.
Sampai akhirnya mereka berhenti di bawah pohon besar dekat pematang.
Tempat itu cukup sepi.
Hanya terdengar suara angin dan gemericik air irigasi kecil.
Aryanti duduk di rerumputan sambil memainkan ujung rok sekolahnya.
“Kakang Riyadi…”
“Hm?”
“Kalau orang suka sama seseorang itu salah nggak?”
Pertanyaan itu membuat Riyadi terdiam.
“Kenapa tanya begitu?”
Aryanti menunduk.
“Ya… pengin tahu saja.”
Riyadi duduk di sampingnya.
“Kalau menurutku sih nggak salah.”
“Walaupun masih sekolah?”
“Iya.”
Aryanti tersenyum kecil.
“Kalau suka diam-diam?”
“Juga nggak salah.”
Aryanti tertawa pelan.
“Berarti aman ya.”
Riyadi ikut tersenyum.
Lalu suasana kembali hening beberapa saat.
Sampai akhirnya Aryanti berkata lirih.
“Aku nyaman dekat Kakang Riyadi.”
Jantung Riyadi berdegup lebih cepat.
“Aku juga.”
Aryanti menoleh perlahan.
Tatapan mereka bertemu cukup lama.
Dan untuk pertama kalinya…
Tak ada lagi kata “adik angkat” di antara mereka.
Yang ada hanyalah dua remaja desa yang mulai saling jatuh cinta.
“Kakang Riyadi…”
“Hm?”
“Kita pacaran ya?”
Kalimat itu begitu pelan.
Namun cukup membuat Riyadi terpaku beberapa detik.
Aryanti langsung menunduk malu setelah mengatakannya.
“Kalau nggak mau juga nggak apa-apa…”
Belum selesai ia bicara, Riyadi langsung tersenyum kecil.
“Siapa bilang nggak mau?”
Aryanti perlahan mengangkat wajahnya.
“Serius?”
Riyadi mengangguk pelan.
“Iya.”
Aryanti spontan tertawa kecil karena gugup.
Wajahnya merah sekali.
Sedangkan Riyadi sendiri merasa dadanya hangat oleh perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Begitulah akhirnya.
Tidak ada tembakan romantis.
Tidak ada bunga.
Tidak ada hadiah mahal.
Hanya dua anak desa di bawah pohon dekat sawah, ditemani sepeda ontel dan angin pagi.
Namun justru karena sederhana itulah…
Momen itu terasa begitu indah.
Sejak hari itu, Riyadi dan Aryanti resmi pacaran.
Diam-diam.
Tanpa sepengetahuan Bu Ros.
Tanpa diumumkan kepada siapa pun.
Meski sebenarnya teman-teman mereka perlahan mulai menyadari semuanya.
Namun hubungan mereka tetap sederhana.
Mereka tidak pernah pergi berduaan ke tempat jauh.
Tidak pernah melakukan hal berlebihan.
Mereka lebih sering berkumpul bersama teman-teman karate.
Latihan rame-rame.
Pergi rame-rame.
Bercanda rame-rame.
Hanya saja kini ada perasaan berbeda setiap kali mereka saling memandang.
Suatu sore setelah latihan, Aziz sahabat karibnya mendekati Riyadi sambil menyeringai.
“Jadi juga akhirnya?”
Riyadi pura-pura tidak mengerti.
“Apaan?”
“Sudahlah.”
Aripin ikut tertawa.
“Kami bukan anak kecil.”
Riyadi hanya tersenyum malu.
Sedangkan Aryanti yang mendengar dari kejauhan langsung salah tingkah sambil pura-pura sibuk membereskan sabuknya.
Aziz lalu mendekat ke Aryanti.
“Sinok…”
Aryanti langsung melotot.
“Jangan ikut-ikut manggil begitu!”
“Wah berarti memang spesial.”
Aryanti langsung tersipu malu.
Semua tertawa ramai.
Dan di tengah masa-masa remaja yang sederhana itu…
Riyadi dan Aryanti mulai menikmati cinta pertama mereka.
Cinta yang polos.
Cinta yang diam-diam.
Cinta yang tumbuh di antara latihan karate, jalanan desa, dan sepeda ontel yang terus menemani perjalanan masa remaja mereka.
BAB XIV
Cinta di Antara Banyak Teman
Pacaran Riyadi dan Aryanti berjalan dengan cara yang sangat sederhana.
Tidak seperti kisah cinta remaja di kota yang bisa pergi berdua ke bioskop atau jalan-jalan ke pusat keramaian.
Mereka hanyalah anak desa di Tergorejo pada masa ketika sepeda ontel masih menjadi kendaraan utama, ketika sore hari lebih banyak dihabiskan di lapangan latihan atau duduk di gardu sambil mendengarkan radio.
Karena itu, hubungan mereka tumbuh di tengah kebersamaan banyak teman.
Tidak pernah benar-benar berdua.
Namun justru di situlah indahnya.
Mereka saling dekat tanpa harus selalu saling memiliki sepenuhnya.
Sore itu latihan gabungan kembali diadakan di Ranting Cepiring.
Sejak siang halaman SMPN I Pegandon sudah ramai oleh anggota karate yang bersiap berangkat bersama.
Aripin sibuk memompa ban sepeda.
Aziz bercanda dengan junior-junior.
Sedangkan Rosita mondar-mandir mencari tempat duduk di boncengan.
Aryanti berdiri di dekat pohon mangga sambil merapikan rambutnya yang panjang terurai.
Saat Riyadi datang membawa sepeda ontelnya, Aryanti langsung tersenyum kecil.
“Mas Riyadi…”
“Hm?”
“Ban sepedaku kayaknya agak kempes.”
Riyadi langsung jongkok memeriksa.
“Masih bisa dipakai.”
“Tapi berat.”
Aryanti berkata sambil pura-pura manja.
Aziz yang melihat langsung tertawa keras.
“Sudah lah! Dibonceng saja!”
Aryanti pura-pura melotot.
“Siapa yang mau?”
“Padahal pengin.”
Semua langsung tertawa ramai.
Wajah Aryanti memerah.
Sedangkan Riyadi hanya menggeleng sambil tersenyum malu.
Akhirnya seperti biasa, mereka berangkat bersama rombongan besar menuju Cepiring.
Kadang Aryanti gak mau di bonceng. Justru pengennya Riyadi yang ia bonceng
Dan setiap kali itu terjadi, teman-teman mereka pasti tidak berhenti menggoda.
“Wah pengantin lewat!”
“Pegang yang kuat, Sinok!”
“Riyadi senyum-senyum tuh!”
Aryanti sampai menutup wajahnya karena malu.
Namun diam-diam ia menikmati semua itu.
Perjalanan sore itu terasa menyenangkan.
Jalan desa yang panjang, hamparan sawah, suara angin, dan tawa anak-anak karate menjadi bagian dari masa muda mereka yang sederhana namun sangat hidup.
Sesampainya di Cepiring, suasana latihan sudah ramai.
Anggota dari berbagai ranting berkumpul memenuhi halaman sekolah.
Begitu Aryanti datang, beberapa teman langsung menyapanya.
“Aryantiii!”
“Hai!”
“Kamu datang juga!”
Aryanti tertawa sambil menghampiri mereka.
Riyadi memperhatikan dari jauh.
Dan seperti biasanya, Aryanti selalu mudah akrab dengan siapa saja.
Ia bisa tertawa dengan teman perempuan.
Bisa bercanda dengan teman laki-laki.
Bisa berbicara dengan semua orang tanpa canggung.
Namun berbeda dengan dulu…
Kini Riyadi mulai merasakan sesuatu yang aneh setiap melihat Aryanti terlalu dekat dengan laki-laki lain.
Bukan marah.
Bukan benci.
Tapi semacam rasa tidak nyaman yang perlahan tumbuh diam-diam.
Saat latihan dimulai, Riyadi mencoba fokus.
Namun beberapa kali pandangannya tetap mencari Aryanti.
Gadis itu tampak ceria sekali sore itu.
Bahkan ketika sedang istirahat, ia duduk bercanda bersama beberapa anggota laki-laki dari ranting lain.
Aziz yang duduk di samping Riyadi menyenggol lengannya pelan.
“Cemburu?”
“Apaan.”
“Kelihatan kok.”
Riyadi menghela napas kecil.
“Aryanti memang banyak teman.”
“Nah itu.”
“Aku nggak bisa melarang.”
Sabara tersenyum tipis.
“Kalau sayang ya percaya.”
Kalimat itu membuat Riyadi diam.
Karena sebenarnya ia tahu.
Aryanti memang seperti itu sejak awal.
Supel.
Ramah.
Mudah akrab dengan siapa saja.
Dan justru sifat itulah yang membuat banyak orang menyukainya.
Seusai latihan, mereka semua duduk santai di bawah pohon besar sambil minum es lilin.
Aryanti duduk di dekat Riyadi sambil tertawa kecil.
“Capek?”
“Lumayan.”
“Tadi Kakang Riyadi serius sekali.”
“Serius bagaimana?”
“Mukanya galak.”
Riyadi tersenyum kecil.
“Biasa saja.”
Aryanti memperhatikan wajah Riyadi beberapa detik.
Lalu tiba-tiba mendekat sedikit.
“Kakang Riyadi cemburu ya?”
Riyadi langsung salah tingkah.
“Siapa bilang?”
Aryanti terkikik kecil.
“Kelihatan.”
“Enggak.”
“Bohong.”
Riyadi akhirnya tertawa kecil menyerah.
“Sedikit mungkin.”
Aryanti tersenyum lembut.
“Aku cuma anggap mereka teman.”
“Iya aku tahu.”
“Aku paling nyaman sama Kakang Riyadi.”
Kalimat sederhana itu langsung membuat rasa tidak nyaman di hati Riyadi perlahan hilang.
Aryanti memang mudah berteman dengan siapa saja.
Namun Riyadi mulai mengerti satu hal.
Di antara semua orang yang dekat dengan Aryanti…
Ada tempat khusus di hati gadis itu yang hanya diberikan untuk dirinya.
Malam harinya setelah pulang latihan, rombongan mereka berhenti sebentar di jembatan kecil dekat sawah.
Udara malam terasa dingin.
Bulan tampak bulat sempurna di langit.
Aripin tiba-tiba bersiul jahil.
“Eh lihat…”
“Apa?”
“Pasangan romantis.”
Semua langsung menoleh ke arah Riyadi dan Aryanti yang sedang berdiri berdekatan.
Aryanti langsung malu.
“Apaan sih kalian!”
Aziz tertawa keras.
“Sudah ketahuan dari dulu!”
Rosita ikut menimpali polos.
“Memang Mbak Aryanti suka sama Mas Riyadi kok.”
“ROSITAAA!”
Semua tertawa semakin keras.
Sedangkan Riyadi dan Aryanti hanya bisa saling memandang sambil tersenyum malu di bawah cahaya bulan desa yang tenang.
Dan malam itu…
Di tengah tawa teman-teman karate dan dinginnya angin Pegandon…
Cinta pertama mereka terasa semakin nyata.
BAB XV
Kelulusan dan Jalan yang Mulai Berbeda
Waktu berjalan begitu cepat.
Tanpa terasa, Riyadi kini sudah berada di penghujung masa SMA-nya.
Hari-hari yang dulu terasa panjang kini perlahan berubah menjadi hitungan menuju kelulusan.
Suasana di SMA Negeri I Pegandon mulai dipenuhi kesibukan ujian akhir.
Buku-buku pelajaran menumpuk di meja.
Guru-guru semakin serius.
Sedangkan para siswa mulai sibuk membicarakan masa depan mereka masing-masing.
Ada yang ingin kuliah.
Ada yang ingin bekerja.
Ada pula yang masih bingung akan melangkah ke mana setelah lulus sekolah.
Dan di tengah semua perubahan itu…
Riyadi mulai merasakan ketakutan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Takut berpisah dari Aryanti.
Sore itu latihan karate berjalan lebih sepi dari biasanya.
Sebagian anggota sedang sibuk ujian sekolah.
Langit tampak mendung sejak siang, membuat suasana halaman SMPN I Pegandon terasa sendu.
Aryanti duduk di teras sekolah sambil memperhatikan Riyadi yang sedang membantu Sabara menyusun matras latihan.
Tatapan gadis itu tampak berbeda.
Lebih banyak diam.
Lebih sering melamun.
Setelah latihan selesai dan anggota lain mulai pulang, Aryanti menghampiri Riyadi perlahan.
“Kakang Riyadi…”
“Hm?”
“Capek?”
“Sedikit.”
Aryanti duduk di sampingnya.
Beberapa detik mereka hanya diam mendengar suara angin sore yang berembus melewati pohon-pohon besar di halaman sekolah.
Lalu Aryanti berkata pelan.
“Nanti kalau Mas Riyadi lulus…”
Riyadi menoleh.
“Kenapa?”
“Mau ke mana?”
Pertanyaan itu membuat Riyadi terdiam cukup lama.
Karena sebenarnya ia sendiri belum benar-benar punya jawaban pasti.
“Aku mungkin kerja,” jawabnya pelan.
“Kerja di mana?”
“Belum tahu.”
“Di Kendal?”
“Mungkin.”
“Atau keluar kota?”
Riyadi menghela napas kecil.
“Bisa jadi.”
Aryanti menunduk memainkan ujung sabuk karatenya.
“Aku nggak suka kalau dengar Mas Riyadi mau pergi jauh.”
Kalimat itu terdengar lirih sekali.
Namun cukup membuat hati Riyadi terasa sesak.
“Aku juga belum tentu pergi.”
“Tapi pasti nanti pergi.”
Aryanti tersenyum tipis.
“Orang laki-laki biasanya merantau.”
Riyadi memandang wajah Aryanti beberapa saat.
Untuk pertama kalinya, ia melihat ketakutan di mata gadis itu.
Takut kehilangan.
Takut ditinggalkan.
Dan sebenarnya Riyadi merasakan hal yang sama.
Namun ia tidak tahu harus berkata apa.
Karena kehidupan setelah lulus sekolah memang belum jelas bagi anak-anak desa seperti mereka.
“Sinok…” panggil Riyadi pelan.
“Hm?”
“Walaupun nanti aku pergi…”
Aryanti langsung menoleh.
“Aku nggak akan lupa sama kamu.”
Aryanti tersenyum kecil.
Namun matanya mulai berkaca-kaca.
“Janji?”
“Janji.”
Aryanti lalu menunduk lagi sambil tertawa kecil menutupi rasa sedihnya.
“Kalau lupa nanti aku marah.”
Riyadi ikut tersenyum.
“Siap.”
Hari-hari berikutnya terasa semakin cepat berlalu.
Riyadi mulai sibuk mempersiapkan kelulusan.
Sedangkan Aryanti masih menjalani sekolah SMP seperti biasa.
Namun justru karena waktu terasa semakin sedikit, mereka semakin sering memanfaatkan kesempatan untuk bertemu.
Kadang hanya duduk bersama setelah latihan.
Kadang bersepeda mengelilingi desa.
Kadang sekadar berbicara tentang hal-hal kecil yang sebenarnya tidak penting.
Namun semua itu terasa sangat berarti bagi mereka.
Suatu sore mereka duduk di pematang sawah sambil memandangi langit yang mulai memerah.
Aryanti memetik rumput kecil di sampingnya sambil berkata pelan.
“Kakang Riyadi…”
“Hm?”
“Kalau nanti kita sudah nggak sering ketemu…”
“Kenapa?”
“Apa Mas Riyadi bakal punya pacar lain?”
Pertanyaan itu membuat Riyadi tertawa kecil.
“Kok mikir ke sana.”
“Ya pengin tahu saja.”
Riyadi menatap langit sebentar lalu menjawab pelan.
“Aku nggak tahu masa depan.”
Aryanti langsung manyun kecil.
“Nah kan.”
“Tapi sekarang…”
Riyadi menoleh ke arah Aryanti.
“Aku cuma suka sama kamu.”
Wajah Aryanti langsung merah.
Ia buru-buru menunduk sambil tersenyum malu.
“Mas Riyadi sekarang pintar ngomong.”
“Ini serius.”
Aryanti tertawa kecil.
“Aku juga.”
Angin sore bertiup pelan melewati hamparan padi yang bergoyang seperti ombak hijau.
Dan untuk beberapa saat…
Dunia terasa begitu tenang bagi mereka.
Namun jauh di dalam hati, keduanya mulai sadar bahwa waktu perlahan sedang membawa mereka menuju jalan yang berbeda.
Malam harinya saat berkumpul di rumah Sopia mendengarkan radio, Sudaryono tiba-tiba bertanya kepada Riyadi.
“Kalau lulus nanti jadi kerja ke luar kota?”
“Mungkin.”
“Serius?”
Riyadi mengangguk pelan.
“Di desa susah cari kerja.”
Sabara menghela napas.
“Kalau kamu pergi nanti ranting sepi.”
Aripin ikut menyahut.
“Dan Sinok pasti nangis.”
Semua langsung tertawa.
Namun Riyadi hanya tersenyum kecil.
Karena sebenarnya…
Ia tahu kemungkinan itu memang nyata.
Cepat atau lambat, hidup akan membawa mereka ke arah masing-masing.
Dan malam itu…
Di tengah suara sandiwara radio yang terus mengalun dari tape tua milik Sopia…
Riyadi mulai merasakan bahwa cinta pertama tidak selalu tentang memiliki selamanya.
Kadang cinta pertama justru datang untuk meninggalkan kenangan paling indah sebelum hidup mulai berubah menjadi lebih dewasa.
BAB XVI
Kepergian yang Tak Berpamitan
Hari kelulusan akhirnya tiba.
Suasana SMA Negeri I Pegandon pagi itu penuh campuran rasa bahagia dan haru. Beberapa siswa tertawa gembira karena berhasil lulus, sementara sebagian lainnya justru termenung memikirkan masa depan yang masih gelap di depan mata.
Riyadi berdiri di halaman sekolah bersama Sudaryono sambil memegang map berisi surat kelulusannya.
Angin pagi bertiup pelan.
Langit tampak cerah.
Namun entah kenapa hati Riyadi justru terasa berat.
“Selamat ya,” kata Sudaryono sambil menepuk bahunya.
“Kamu juga.”
“Jadi sekarang resmi pengangguran.”
Riyadi tertawa kecil.
“Iya.”
Namun tawa itu tidak benar-benar lepas.
Karena sejak beberapa minggu terakhir, pikirannya terus dipenuhi satu hal.
Merantau.
Banyak temannya sudah lebih dulu bekerja di luar daerah, seperti Karwan di Tanggerang. Kesempatan kerja di desa sangat sedikit, sedangkan kebutuhan hidup semakin besar.
Dan akhirnya, setelah banyak pertimbangan, Riyadi memutuskan menerima tawaran bekerja di sebuah pabrik pensil di Tangerang, menyusul Karwan di sana .
Keputusan itu sebenarnya belum sepenuhnya siap ia jalani.
Namun keadaan membuatnya harus berangkat.
Yang paling berat bukan meninggalkan desa.
Melainkan meninggalkan Aryanti.
Sore itu Riyadi datang ke latihan karate seperti biasa.
Namun sejak tadi pikirannya kacau.
Ia ingin mengatakan tentang keberangkatannya kepada Aryanti.
Tetapi setiap kali melihat wajah gadis itu, keberaniannya mendadak hilang.
Aryanti sendiri tampak sangat ceria sore itu.
Ia terus bercerita tentang kegiatan sekolahnya sambil membantu Riyadi membereskan perlengkapan latihan.
“Kakang Riyadi…”
“Hm?”
“Nanti minggu depan jadi latihan gabungan ke Kendal?”
“Mungkin.”
“Jangan mungkin terus.”
Aryanti tertawa kecil.
“Kalau Mas Riyadi nggak ikut pasti sepi.”
Riyadi tersenyum tipis.
Dadanya terasa sesak mendengar itu.
Beberapa kali ia mencoba membuka pembicaraan tentang keberangkatannya.
Namun selalu gagal.
Entah kenapa ia takut melihat wajah sedih Aryanti.
Takut mendengar gadis itu menahannya pergi.
Dan mungkin…
Ia juga takut menjadi ragu untuk berangkat.
Menjelang magrib latihan selesai.
Aryanti dan Riyadi duduk sebentar di teras sekolah seperti biasanya.
Langit sore tampak merah keemasan.
Burung-burung mulai kembali ke sarang.
“Kakang Riyadi kok diam terus?” tanya Aryanti pelan.
“Capek mungkin.”
“Bohong.”
Aryanti memandang wajah Riyadi lekat-lekat.
“Kamu lagi mikir sesuatu.”
Riyadi tersenyum kecil.
“Perasaanmu tajam ya.”
Aryanti tertawa kecil.
“Soalnya aku hafal.”
Kalimat itu membuat Riyadi semakin sulit berbicara.
Beberapa detik mereka hanya diam.
Lalu Aryanti berkata pelan.
“Kakang Riyadi…”
“Hm?”
“Jangan pernah hilang ya.”
Jantung Riyadi terasa seperti diremas.
Ia memandang wajah Aryanti yang tersenyum lembut di bawah cahaya senja.
Dan untuk sesaat…
Ia hampir mengatakan semuanya.
Tentang Tangerang.
Tentang pekerjaan.
Tentang keberangkatannya beberapa hari lagi.
Namun akhirnya…
Ia hanya tersenyum kecil.
“Iya.”
Aryanti tampak puas dengan jawaban itu.
Sedangkan Riyadi justru merasa semakin bersalah.
Dua hari kemudian, sebelum subuh, Riyadi bersiap berangkat menuju Tangerang.
Suasana rumah masih gelap dan sunyi.
Sedangkan Riyadi duduk diam memandangi sepeda ontelnya di halaman rumah.
Sepeda yang selama ini menemaninya melewati begitu banyak kenangan bersama Aryanti.
Ia sebenarnya ingin berpamitan.
Ingin sekali.
Namun sampai detik terakhir, keberanian itu tidak juga datang.
Akhirnya Riyadi memilih pergi diam-diam.
Hanya beberapa teman dekat yang tahu keberangkatannya.
Termasuk Sudaryono dan Sabara, Aziz, Aripin dan teman lainnya.
Bus antarkota perlahan bergerak meninggalkan Pegandon.
Riyadi duduk dekat jendela sambil memandangi jalan-jalan desa yang mulai menjauh.
Sawah.
Pohon-pohon kelapa.
Jembatan kecil.
Semua perlahan menghilang di balik kabut pagi.
Dan bersamaan dengan itu…
Hatinya terasa kosong.
Sementara itu di Desa Tegorejo, Aryanti baru mengetahui kepergian Riyadi beberapa hari kemudian dari adiknya Sudaryono, yang satu kelas dengan Aryanti
Saat itu Aryanti mebdengar kabar dari adiknya sudaryono.
“Jadi benar Kakang Riyadi sudah berangkat ?” tanyanya pelan kepada ibu Riyadi.
“Iya …”
“Kemana?”
“Riyadi berangkat kerja ke Tangerang tadi subuh.”
Aryanti langsung terdiam.
“Kok gak pamit sama aku?”
“Iya, entahlah.”
“Berangkat, sendiri?”
“Iya.”
Aryanti mematung beberapa detik.
Wajahnya berubah pucat.
“Kenapa nggak pamit…kakang riyadi, tega” bisiknya lirih.
“Mungkin takut sedih.”
Aryanti langsung menunduk cepat.
Matanya mulai berkaca-kaca.
Rosita yang berdiri di samping kakaknya ikut diam.
“Mbak…”
Aryanti tidak menjawab.
Ia hanya menatap langit senja .
Langit senja di Tegorejo semburat berwarna jingga.
Dan entah kenapa…
Baru kali itu Aryanti benar-benar merasa kehilangan seseorang.
Sore harinya ia duduk sendirian di teras rumah sambil memandangi jalan desa.
Biasanya sore seperti itu Riyadi datang mengajaknya latihan atau sekadar bersepeda keliling desa.
Namun kali ini jalan itu kosong.
Tidak ada suara sepeda.
Tidak ada suara Riyadi memanggilnya “Sinok”.
Rosita duduk di sampingnya pelan.
“Mbak…”
“Hm?”
“Mbak nangis ya?”
Aryanti buru-buru menghapus air matanya.
“Enggak.”
“Tapi matanya merah.”
Aryanti tersenyum kecil.
“Cuma kangen.”
Dan untuk pertama kalinya sejak mereka saling jatuh cinta…
Jarak mulai memisahkan Riyadi dan Aryanti.
Tanpa janji pasti.
Tanpa kepastian kapan bertemu lagi.
Hanya menyisakan rindu diam-diam di hati dua remaja desa yang belum benar-benar siap kehilangan satu sama lain.
BAB XVII
Rindu dari Tangerang
Tangerang terasa seperti dunia yang sangat berbeda bagi Riyadi.
Tidak ada hamparan sawah luas seperti di Tegorejo.
Tidak ada jalan kecil tempat anak-anak bersepeda ontel sambil bercanda.
Tidak ada suara jangkrik malam dari pematang sawah.
Dan yang paling terasa…
Tidak ada Aryanti.
Hari-hari pertama bekerja di pabrik pensil terasa berat baginya.
Suara mesin terus berdengung sejak pagi hingga sore. Udara panas bercampur bau kayu dan cat memenuhi ruangan produksi.
Riyadi yang terbiasa hidup santai di desa harus mulai belajar menghadapi ritme kehidupan kota dan dunia kerja yang keras.
Pagi bekerja.
Sore kembali ke kontrakan kecil bersama beberapa teman sesama perantau.
Malam tubuhnya lelah.
Namun pikirannya justru semakin sering pulang ke Desa Tegorejo.
Ke jalan-jalan desa.
Ke latihan karate.
Ke suara tawa Aryanti.
Dan terutama…
Ke panggilan “Kakang Riyadi” yang kini hanya tinggal kenangan di telinganya.
Suatu malam Riyadi duduk sendirian di depan kontrakan sambil memandangi langit kota yang nyaris tak berbintang.
Di tangannya ada secarik kertas kosong.
Ia sebenarnya ingin menulis surat untuk Aryanti.
Namun sudah hampir satu jam kertas itu tetap kosong.
“Aneh…” gumamnya pelan.
Ia tidak tahu harus mulai dari mana.
Apakah meminta maaf karena pergi tanpa berpamitan?
Ataukah menuliskan rasa rindunya?
Namun setiap kali mencoba menulis, hatinya justru semakin sesak.
Akhirnya kertas itu dilipat kembali tanpa satu kata pun tertulis.
Di sisi lain, di Desa Tegorejo, Aryanti mulai menjalani hari-harinya tanpa Riyadi.
Awalnya terasa sangat aneh.
Setiap sore ia masih datang latihan karate.
Namun suasananya berbeda.
Tidak ada lagi yang membantu mengikatkan sabuk Rosita.
Tidak ada lagi yang diam-diam memperhatikannya saat latihan.
Tidak ada lagi yang memanggilnya “Sinok” dengan suara lembut itu.
Bahkan teman-teman karate pun mulai merasakan kehilangan.
Suatu sore setelah latihan, Sabara duduk di teras sekolah bersama Aryanti dan Aripin.
“Kalau Riyadi masih di sini pasti sekarang ribut,” kata Aripin sambil tertawa kecil.
Aryanti tersenyum tipis.
“Iya.”
Sabara memandang Aryanti pelan.
“Kamu masih kepikiran ya?”
Aryanti diam beberapa detik.
Lalu tersenyum kecil sambil menunduk.
“Sedikit.”
Aripin langsung menyahut jahil.
“Sedikit katanya.”
Aryanti melempar handuk kecil ke arah Aripin.
Namun setelah tawa itu reda, suasana kembali terasa sepi.
Karena sebenarnya mereka semua tahu.
Riyadi bukan sekadar senior karate biasa.
Ia adalah bagian penting dari masa muda mereka.
Malam-malam di Tangerang terasa semakin sunyi bagi Riyadi.
Kadang setelah pulang kerja, ia sengaja mencari warung kecil yang memutar radio.
Saat mendengar sandiwara radio seperti Saur Sepuh atau Misteri Gunung Merapi, pikirannya langsung terlempar jauh ke masa-masa berkumpul di rumah Sopia.
Dan tanpa sadar…
Wajah Aryanti selalu muncul di kepalanya.
Suatu malam seorang teman kerja bertanya kepadanya.
“Riyadi…”
“Hm?”
“Kamu punya pacar di kampung ya?”
Riyadi tersenyum kecil.
“Kenapa?”
“Dari tadi melamun terus.”
Riyadi tertawa pelan.
“Mungkin.”
“Cantik?”
Riyadi memandang langit malam beberapa saat sebelum menjawab.
“Cantik.”
“Namanya siapa?”
Riyadi tersenyum kecil lagi.
“Sinok.”
Temannya tertawa heran.
“Itu nama?”
“Nama khusus.”
Dan hanya dengan menyebut nama itu pelan di dalam hati…
Rasa rindunya terasa semakin nyata.
Waktu terus berjalan.
Satu bulan.
Dua bulan.
Tiga bulan.
Namun tidak ada surat.
Tidak ada kabar.
Bukan karena mereka saling melupakan.
Justru sebaliknya.
Mereka terlalu muda untuk mengerti bagaimana menjaga hubungan jarak jauh di masa ketika komunikasi begitu sulit.
Kadang Riyadi ingin pulang.
Kadang Aryanti berharap tiba-tiba melihat Riyadi datang dari ujung jalan desa.
Namun hidup terus berjalan membawa mereka ke arah masing-masing.
Suatu sore Aryanti duduk sendirian di bawah pohon dekat pematang sawah tempat mereka dulu pernah berbicara tentang cinta diam-diam.
Angin bertiup lembut memainkan rambut panjangnya.
Rosita yang duduk di samping kakaknya bertanya pelan.
“Mbak…”
“Hm?”
“Mbak masih suka sama Mas Riyadi?”
Aryanti tersenyum kecil.
“Kenapa tanya begitu?”
“Soalnya Mbak sering melamun.”
Aryanti memandang langit senja yang mulai memerah.
Lalu menjawab sangat pelan.
“Ada orang yang walaupun jauh… tetap tinggal di hati.”
Rosita tampak belum terlalu mengerti.
Namun ia melihat mata kakaknya berkaca-kaca.
Sementara jauh di Tangerang…
Di tengah bising mesin pabrik dan kerasnya kehidupan kota…
Riyadi juga masih menyimpan satu nama yang tidak pernah benar-benar pergi dari pikirannya.
Aryanti.
Sinok kecil dari Desa Tegorejo.
Cinta pertamanya yang kini hanya bisa ia peluk lewat rindu dan kenangan.
BAB XVIII
Pertemuan Terakhir di Kapolres Cup
Dua tahun berlalu sejak Riyadi meninggalkan Desa Tegorejo.
Waktu perlahan mengubah banyak hal.
Riyadi kini terlihat lebih dewasa setelah bekerja di Tangerang. Wajahnya mulai tampak lebih matang, kulitnya sedikit lebih gelap karena kerasnya kehidupan kerja.
Sedangkan Aryanti sudah tumbuh menjadi gadis remaja yang semakin cantik.
Ia telah lulus SMP dan melanjutkan sekolah ke STM di Klaten.
Dunia mereka perlahan berubah.
Kesibukan masing-masing membuat hubungan mereka semakin jauh tanpa benar-benar disadari.
Tidak ada surat.
Tidak ada kabar.
Hanya kenangan yang masih diam-diam tinggal di hati keduanya.
Hingga akhirnya…
Takdir mempertemukan mereka kembali dalam sebuah turnamen karate Kapolres Cup di Kendal 1994.
Pagi itu suasana GOR tempat pertandingan berlangsung sangat ramai.
Ratusan karateka dari berbagai ranting dan daerah berkumpul memenuhi arena pertandingan. Suara teriakan semangat, hentakan kaki, dan pengumuman panitia terdengar bersahut-sahutan.
Riyadi datang bersama beberapa teman lama dari Pegandon.
Sudah lama ia tidak mengikuti suasana karate seperti ini.
Namun begitu memasuki arena, kenangan masa mudanya langsung terasa hidup kembali.
Tentang latihan di SMPN I Pegandon.
Tentang perjalanan naik sepeda ontel.
Tentang tawa teman-teman karate.
Dan tentu saja…
Tentang Aryanti.
“Riyadi!”
Aziz yang melihatnya langsung memeluk bahunya.
“Lama sekali kamu nggak muncul!”
Riyadi tertawa kecil.
“Kerja terus.”
“Sekarang tambah kurus.”
“Kerja pabrik memang begitu.”
Mereka bercanda cukup lama.
Sampai akhirnya Aripin tiba-tiba menyenggol lengan Riyadi pelan.
“Eh…”
“Hm?”
“Itu…”
Riyadi mengikuti arah pandangan Aripin.
Dan seketika…
Dadanya terasa berhenti sesaat.
Di ujung lorong arena pertandingan, Aryanti sedang berjalan bersama beberapa teman sekolahnya.
Rambutnya kini lebih panjang.
Wajahnya terlihat jauh lebih dewasa dibanding dua tahun lalu.
Namun senyumnya…
Masih sama seperti yang selalu tersimpan di ingatan Riyadi.
Untuk beberapa detik Riyadi hanya diam.
Jantungnya berdetak sangat keras.
“Sudah sana,” bisik Sabara sambil tersenyum kecil.
Riyadi menarik napas perlahan.
Lalu melangkah mendekat.
Aryanti yang sedang berbicara dengan temannya tiba-tiba menoleh.
Dan saat mata mereka bertemu…
Waktu seperti kembali mundur ke masa-masa latihan karate di Desa Tegorejo.
Aryanti tampak terkejut.
“Mas… Riyadi?”
Riyadi tersenyum kecil.
“Iya.”
Aryanti mematung beberapa detik sebelum akhirnya ikut tersenyum.
“Ya ampun…”
“Kamu sehat?”
“Iya.”
“Kamu tambah tinggi.”
Aryanti tertawa kecil.
“Mas Riyadi juga beda sekarang.”
“Bedanya?”
“Lebih dewasa.”
Mereka sama-sama tertawa kecil karena gugup.
Namun di balik senyum itu, ada rasa canggung yang tidak pernah ada sebelumnya.
Karena kini mereka bukan lagi dua remaja yang setiap hari bertemu di latihan karate.
Waktu dan jarak sudah mengubah banyak hal.
“Sekarang sekolah di Klaten ya?” tanya Riyadi.
Aryanti mengangguk.
“Iya.”
“Karate masih aktif?”
“Masih kadang-kadang.”
Aryanti lalu balik bertanya.
“Mas Riyadi kerja di Tangerang?”
“Iya.”
“Capek?”
“Lumayan.”
Aryanti tersenyum kecil.
“Dulu Mas Riyadi pergi nggak pamit.”
Kalimat itu diucapkan pelan.
Tidak marah.
Namun cukup membuat hati Riyadi terasa tertusuk.
“Aku…”
Riyadi menunduk sebentar.
“Maaf.”
Aryanti tersenyum tipis.
“Aku sempat nangis tahu.”
Riyadi terdiam.
Dadanya terasa sesak mendengar pengakuan itu.
“Aku takut kalau pamit malah nggak jadi berangkat,” katanya jujur.
Aryanti memandang Riyadi beberapa detik.
Lalu tersenyum kecil lagi.
“Sekarang aku sudah nggak marah.”
“Benarkah?”
“Iya.”
Mereka kembali diam beberapa saat.
Di sekitar mereka suasana pertandingan masih ramai.
Namun bagi Riyadi, suara-suara itu seperti menghilang perlahan.
Yang tersisa hanya sosok Aryanti di depannya.
Sinok kecil dari Desa Tegorejo yang pernah menjadi bagian terindah masa mudanya.
Lalu tanpa sengaja Riyadi melihat seorang laki-laki muda berdiri tak jauh dari Aryanti.
Laki-laki itu melambaikan tangan.
“Yan!”
Aryanti menoleh cepat.
“Oh iya…”
Aryanti tampak sedikit salah tingkah.
“Itu temanku.”
Namun entah kenapa, Riyadi langsung mengerti.
Tatapan laki-laki itu kepada Aryanti terlalu berbeda untuk sekadar teman biasa.
Dan saat itulah Riyadi sadar…
Waktu memang tidak pernah berhenti menunggu siapa pun.
“Mas Riyadi…”
“Hm?”
“Sekarang masih manggil aku Sinok nggak?”
Pertanyaan itu membuat Riyadi tersenyum kecil.
“Kalau kamu masih mau dipanggil begitu.”
Aryanti tertawa pelan.
“Masih.”
Untuk sesaat mereka kembali seperti dulu.
Namun hanya sesaat.
Karena setelah itu panitia memanggil peserta pertandingan dan Aryanti harus kembali ke rombongannya.
“Mas…”
“Hm?”
“Hati-hati ya.”
“Iya.”
Aryanti tersenyum lembut.
“Senang bisa ketemu lagi.”
“Aku juga.”
Lalu gadis itu berjalan pergi perlahan meninggalkan Riyadi.
Dan anehnya…
Riyadi tidak mencoba menahannya.
Ia hanya berdiri diam memandangi punggung Aryanti yang semakin jauh di tengah keramaian arena karate.
Karena jauh di dalam hati…
Ia mulai sadar bahwa mungkin itulah pertemuan terakhir mereka sebagai dua orang yang pernah saling mencintai diam-diam di masa remaja.
Namun meski waktu sudah membawa mereka ke jalan berbeda…
Satu hal tetap tidak berubah.
Aryanti tetap menjadi cinta pertama yang tersimpan paling dalam di hati Riyadi.
BAB XIX
Bayangan Aryanti di Kota Banjarmasin
Beberapa bulan setelah pertemuan di Kapolres Cup Kendal, hidup Riyadi kembali berubah.
Ia memutuskan meninggalkan Tangerang dan menyusul kedua orang tuanya ke Kalimantan, tepatnya di Kota Kuala Kapuas.
Keputusan itu tidak mudah.
Karena sekali lagi, ia harus meninggalkan tanah Jawa yang penuh kenangan masa remajanya.
Termasuk Desa Tegorejo.
Termasuk jalan-jalan kecil tempat ia dan Aryanti dulu bersepeda bersama.
Dan termasuk semua jejak cinta pertamanya yang masih tertinggal di sana.
Perjalanan menuju Kalimantan terasa panjang dan melelahkan.
Untuk pertama kalinya Riyadi benar-benar merasa jauh dari kampung halamannya.
Berbeda dengan Tangerang yang masih berada di Pulau Jawa, Kalimantan terasa seperti dunia baru yang asing.
Sungai-sungai besar.
Hutan lebat.
Udara yang lebih panas dan lembap.
Semuanya berbeda dari desa kecilnya di Tegorejo.
Namun kehidupan harus terus berjalan.
Di Kuala Kapuas, Riyadi mulai membantu orang tuanya sambil mencari pekerjaan baru.
Kadang ia bekerja serabutan.
Kadang membantu kenalan keluarga.
Sampai akhirnya ia sempat bekerja di Banjarmasin.
Dan justru di kota itulah…
Kenangan tentang Aryanti kembali datang dengan cara yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Pagi itu Riyadi sedang berdiri di depan tempatnya bekerja di kawasan kampong Gadang yang cukup ramai di Banjarmasin.
Hari masih sangat pagi.
Kabut tipis bercampur asap kendaraan menggantung di udara.
Beberapa siswa berseragam sekolah mulai terlihat melintas menggunakan sepeda dan angkutan kota.
Riyadi sebenarnya tidak terlalu memperhatikan siapa pun.
Sampai tiba-tiba…
Ia melihat seorang gadis remaja berseragam SMP berjalan perlahan melewati jalan depan tempatnya bekerja.
Dan seketika…
Jantung Riyadi terasa berhenti sesaat.
Gadis itu sangat mirip Aryanti.
Bukan hanya wajahnya.
Tetapi semuanya.
Cara berjalan sepeda.
Rambut panjangnya yang terurai.
Cara menoleh sambil tersenyum kecil kepada temannya.
Bahkan bentuk matanya terasa begitu identik.
Riyadi sampai terpaku memandanginya.
“Ya Tuhan…” bisiknya lirih.
Gadis itu terus melangkah pergi menuju ke sekolah.
Namun bayangannya tertinggal sangat kuat di kepala Riyadi.
Hari itu Riyadi menjadi tidak fokus bekerja.
Pikirannya terus kembali pada gadis berseragam SMP tadi pagi.
Karena kemiripannya dengan Aryanti benar-benar sulit dipercaya.
Dan sejak hari itu…
Tanpa sadar Riyadi mulai menunggu.
Setiap pagi.
Di jam yang sama.
Di tempat yang sama.
Hanya untuk melihat gadis itu lewat menuju sekolah.
Teman kerjanya sampai heran melihat kebiasaannya.
“Riyadi…”
“Hm?”
“Kamu tiap pagi lihat apa sih?”
Riyadi tersenyum kecil.
“Lihat orang lewat.”
“Orang siapa?”
Riyadi terdiam sejenak sebelum menjawab pelan.
“Kenangan.”
Temannya tertawa bingung.
Namun Riyadi tidak menjelaskan lebih jauh.
Karena bahkan ia sendiri sulit menjelaskan perasaannya.
Ia tidak pernah berkenalan dengan gadis SMP itu.
Tidak pernah menyapanya.
Tidak pernah tahu namanya.
Ia hanya diam memandangi dari kejauhan.
Namun anehnya…
Setiap melihat gadis itu, rindunya kepada Aryanti terasa sedikit terobati.
Kadang gadis itu lewat sambil tertawa bersama teman-temannya.
Kadang terlihat murung.
Kadang rambutnya diikat.
Kadang terurai panjang tertiup angin pagi.
Dan setiap kali itu terjadi…
Riyadi seperti melihat kembali Sinok kecil dari Desa Tegorejo.
Suatu pagi hujan turun cukup deras di Banjarmasin.
Riyadi berdiri di depan tempat kerja sambil memandang jalan yang basah.
Entah kenapa ia tetap menunggu.
Dan benar saja.
Beberapa menit kemudian gadis SMP itu muncul memakai jas hujan tipis sambil berjalan pelan menembus hujan.
Riyadi tersenyum kecil sendiri.
“Masih lewat juga…”
Untuk sesaat, kenangan tentang Aryanti kembali begitu hidup di kepalanya.
Tentang hujan di Tegorejo.
Tentang latihan karate sore hari.
Tentang perjalanan naik sepeda ontel.
Tentang suara gadis itu memanggilnya.
“Kakang Riyadi…”
Dan tiba-tiba dadanya terasa sesak oleh rindu yang belum benar-benar hilang.
Malam harinya Riyadi duduk sendirian di tepi sungai kecil dekat tempat tinggalnya.
Air sungai memantulkan cahaya lampu kota yang bergetar pelan.
Angin malam bertiup lembut.
Dan di tengah kesunyian itu, ia akhirnya mulai memahami sesuatu.
Cinta pertama memang aneh.
Kadang tidak benar-benar pergi.
Ia hanya berubah menjadi kenangan yang tinggal diam-diam di hati.
Mungkin seseorang bisa menikah.
Bisa memiliki keluarga.
Bisa menjalani kehidupan baru.
Namun cinta pertama…
Sering kali tetap memiliki ruang kecil yang tak pernah benar-benar tergantikan.
Riyadi tersenyum kecil sambil memandang langit malam Kalimantan.
“Apa kabarmu sekarang, Sinok…” bisiknya lirih.
Tidak ada jawaban.
Hanya suara angin malam dan aliran sungai yang terus berjalan membawa waktu semakin jauh dari masa muda mereka di Desa Tegorejo.
BAB XX
Cinta Pertama Tersimpan di Hati
Waktu terus berjalan tanpa pernah menunggu siapa pun.
Tahun demi tahun berlalu membawa Riyadi dan Aryanti ke kehidupan mereka masing-masing.
Anak-anak remaja yang dulu sering bersepeda ontel mengelilingi Desa Tegorejo kini perlahan berubah menjadi orang dewasa dengan tanggung jawab hidup yang jauh berbeda.
Riyadi akhirnya menetap di Kalimantan.
Menjalani kehidupan, bekerja, membangun keluarga, dan perlahan belajar menjadi kepala rumah tangga yang bertanggung jawab.
Sedangkan Aryanti di tanah Jawa juga menjalani kehidupannya sendiri.
Ia tumbuh menjadi perempuan dewasa, memiliki keluarga kecil, dan menjalani hari-hari sebagaimana perempuan pada umumnya.
Kehidupan membawa mereka semakin jauh.
Namun anehnya…
Ada satu hal yang tidak pernah benar-benar hilang dari hati Riyadi.
Kenangan tentang cinta pertamanya di Desa Tegorejo.
Masa-masa sederhana itu tetap hidup sangat jelas di ingatannya.
Tentang latihan karate di SMPN I Pegandon.
Tentang jalanan desa yang dipenuhi sawah hijau.
Tentang suara sandiwara radio di rumah Sopia.
Tentang perjalanan naik sepeda ontel bersama teman-teman.
Dan terutama…
Tentang seorang gadis bernama Aryanti yang dulu dipanggilnya dengan nama khusus:
Sinok.
Kadang ketika usia mulai bertambah dan rambut perlahan memutih, Riyadi sering duduk sendirian di teras rumah pada malam hari sambil mengenang masa mudanya.
Ada rasa hangat yang sulit dijelaskan setiap kali kenangan itu datang.
Bukan penyesalan.
Bukan pula keinginan untuk kembali memiliki.
Melainkan rasa syukur karena pernah merasakan cinta pertama yang begitu tulus dan polos.
Suatu malam ketika hujan turun pelan di desa, Riyadi duduk sambil memandangi tetesan air di halaman rumahnya.
Anak-anaknya sudah dewasa.
Kesibukan hidup perlahan mulai berkurang.
Dan di usia yang mulai menua itu, kenangan masa remajanya justru semakin sering muncul.
Ia teringat kembali pada satu sore di Desa Tegorejo.
Tentang Aryanti yang duduk di boncengan sepeda ontelnya sambil tertawa kecil.
Tentang suara gadis itu berkata:
“Kakang Riyadi jangan pernah hilang ya…”
Riyadi tersenyum kecil sendiri.
Karena pada akhirnya…
Ia memang tidak pernah benar-benar hilang.
Ia hanya berjalan terlalu jauh mengikuti jalan hidupnya sendiri.
Kadang Riyadi bertanya dalam hati.
Apakah Aryanti sesekali juga masih mengingatnya?
Apakah perempuan itu masih mengingat latihan karate di Tegorejo?
Masih ingat jalan-jalan desa?
Masih ingat panggilan “Sinok”?
Ataukah semua itu sudah terkubur jauh oleh waktu?
Namun semakin dewasa, Riyadi mulai memahami satu hal penting.
Tidak semua cinta harus dimiliki sampai akhir hayat untuk menjadi indah.
Ada cinta yang memang hadir hanya untuk menjadi kenangan paling hangat dalam hidup seseorang.
Dan cinta pertama sering kali seperti itu.
Ia tidak selalu berakhir bersama.
Tetapi selalu meninggalkan jejak yang abadi.
Suatu sore Riyadi membuka kembali album pada profil akun Face Book milki Aryanti, yang masih tetap cantik walaupun usianya mendekati setengah abat terhitung pada 17 desember 2027.
Di sela-sela memandang foto profilnya yang membuatnya lama terdiam.
Foto keluarga kecilya yang dangat bahagia.
Dan di sudut foto…
Aryanti sedang tersenyum kecil ke arah kamera.
Riyadi memandang foto itu lama sekali.
Lalu tersenyum tipis sambil menggeleng pelan.
“Sinok…”
Suara itu lirih sekali.
Namun cukup membuat kenangan puluhan tahun lalu kembali hidup di dadanya.
Ia tidak lagi sedih.
Tidak lagi merasa kehilangan.
Karena kini yang tersisa hanyalah rasa hangat.
Hangat dari masa Remaja yang pernah begitu indah.
Dan jauh di dalam hati kecilnya…
Masih tersimpan sebuah harapan sederhana.
Bahwa suatu hari nanti, di usia senja mereka…
Tuhan mungkin akan kembali mempertemukan mereka.
Bukan sebagai dua remaja yang saling jatuh cinta diam-diam.
Melainkan sebagai dua sahabat lama yang pernah mengisi masa remaja satu sama lain.
Mungkin mereka akan duduk bersama di teras rumah di Dusun Kersan Desa Tegorejo.
Membicarakan masa lalu sambil tertawa kecil mengenang kebodohan masa remaja.
Tentang sepeda ontel.
Tentang latihan karate.
Tentang ejekan teman-teman.
Tentang cinta pertama yang dulu disembunyikan rapat-rapat.
Dan jika hari itu benar-benar datang…
Riyadi hanya ingin memanggil satu nama sekali lagi dengan penuh rasa hangat.
“Apa kabar, Sinok…”
Karena pada akhirnya…
Cinta pertama di Desa Tegorejo memang tidak pernah benar-benar pergi.
Ia hanya tersimpan diam-diam di hati.
Selamanya.
EPILOG
Harapan di Usia Senja
Matahari sore perlahan turun di ufuk barat Kota Kuala Kapuas tepatnya di Desa Sriwidadi, Kecamatan Mantangai, Kabupaten Kapuas, Provinsi Kalimantan Tengah.
Langit memerah keemasan.
Angin sungai bertiup pelan membawa aroma air dan dedaunan basah setelah hujan siang tadi.
Di teras rumah sederhana yang kini mulai dipenuhi sebuah harapan kecilnya, untuk segera menimang seorang cucu, Riyadi duduk sendiri di teras rumahnya sambil memandang langit senja.
Usianya kini tidak lagi muda. Lebih dari setengah abad
Rambut yang dahulu hitam pekat mulai dipenuhi uban.
Garis-garis usia tampak jelas di wajahnya.
Namun jauh di dalam hatinya…
Masih ada satu sudut kecil yang tetap menyimpan kenangan masa remaja di Desa Tegorejo.
Kenangan yang tidak pernah benar-benar hilang walau puluhan tahun telah berlalu.
Kadang hidup memang aneh.
Banyak hal besar justru terlupakan oleh waktu.
Namun beberapa kenangan sederhana malah tetap hidup begitu jelas.
Dan bagi Riyadi…
Kenangan itu bernama Aryanti.
Sinok kecil yang dahulu sering memboncengnya naik sepeda ontel melewati jalan-jalan desa Tegorejo-Pegandon.
Malam itu setelah azan magrib berkumandang dari kejauhan, Riyadi membuka kembali kotak kayu lama yang sudah mulai usang.
Di dalamnya tersimpan beberapa benda masa lalu.
Sabuk karate lama yang warnanya mulai pudar.
Tidak ada Foto-foto hitam putih.
Tiadak ada Kartu pelajar.
Dan tidak potongan kenangan yang masih ia simpan diam-diam hingga usia senjanya.
Tangannya berhenti pada satu foto profil di akun Face Bookn milik Aryanti.
Foto keluarga dengan anak gadisnya .
Foto itu mungkin di ambila sekira tahun 2012 san.
Namun wajah-wajah di dalamnya masih jelas, tetap Cantik seperti dahulu.
Dan Aryanti…
Yang tersenyum manis di sudut foto sambil memandang kamera.
Riyadi tersenyum kecil.
Lama sekali ia memandangi foto itu.
Lalu perlahan ia bersandar di dinding teras rumahnya sambil memejamkan mata.
Dan seperti biasa…
Kenangan masa muda kembali datang satu per satu.
Suara sepeda ontel.
Suara latihan karate.
Suara teman-temannya bercanda.
Suara radio tua yang memutar Misteri Gunung Merapi dan Saur Sepuh.
Dan suara lembut seorang gadis yang memanggilnya:
“Kakang Riyadi…”
Kadang Riyadi bertanya dalam hati…
Apakah Aryanti di sana juga masih sesekali mengingat masa itu?
Apakah perempuan itu masih mengingat jalan-jalan kecil Desa Tegorejo?
Masih ingat latihan karate?
Masih ingat panggilan “Sinok”?
Ataukah semua itu kini hanya tinggal kenangan di hatinya sendiri?
Namun semakin tua, Riyadi semakin memahami bahwa tidak semua pertanyaan hidup harus memiliki jawaban.
Karena beberapa kenangan memang cukup disimpan sebagai rasa hangat di hati.
Bukan untuk dimiliki kembali.
Bukan pula untuk disesali.
Melainkan untuk dikenang dengan penuh rasa syukur.
Riyadi memandang langit malam yang mulai gelap.
Bintang-bintang kecil bermunculan satu per satu.
Dan di usia senjanya kini…
Ia hanya memiliki satu harapan sederhana.
Bukan untuk mengulang cinta masa lalu.
Bukan untuk kembali muda.
Bukan pula untuk mengubah takdir hidup mereka.
Ia hanya berharap…
Suatu hari nanti Tuhan memberi kesempatan untuk kembali bersilaturahmi dengan Aryanti.
Sekadar bertemu.
Sekadar berbincang.
Sekadar mengenang masa remaja mereka yang pernah begitu indah.
Mungkin di teras rumah tua di Dusun Kersan Desa Tegorejo.
Mungkin di sebuah acara reuni karate.
Atau mungkin secara tidak sengaja dipertemukan oleh waktu yang panjang.
Dan jika hari itu benar-benar datang…
Riyadi ingin tersenyum sambil berkata pelan:
“Sinok… ternyata kita sudah setua ini ya.”
Lalu mereka mungkin akan tertawa kecil bersama.
Mengenang masa ketika cinta masih begitu sederhana.
Ketika kebahagiaan cukup dengan naik sepeda ontel mengelilingi desa.
Ketika rindu hanya disimpan diam-diam di hati.
Dan ketika cinta pertama terasa begitu murni tanpa kepentingan apa pun.
Hidup memang terus berjalan.
Waktu terus membawa manusia menuju usia tua.
Namun cinta pertama…
Kadang tetap tinggal diam-diam di sudut hati paling dalam.
Tidak mengganggu.
Tidak meminta kembali.
Hanya hidup sebagai kenangan yang hangat.
Dan bagi Riyadi…
Cinta Pertama di Desa Tegorejo akan selalu menjadi bagian terindah dari perjalanan hidupnya.
Sebuah kisah sederhana tentang dua remaja desa…
Yang pernah saling mencintai diam-diam.
Lalu dipisahkan oleh waktu.
Namun tidak pernah benar-benar saling melupakan.
TAMAT
"Salam hangat untuk Sinok, terima kasih telah menjadi bagian terindah dari masa remaja yang tak pernah benar-benar pergi dari hati — Slamet Riyadi."
Desa Sriwidadi, 9 Mei 2026
https://sriwidadi.simsa.id
Anang
30 Januari 2025 19:28:34
Lanjutkan mas... Semoga website desa pian semakin maju...