ROMAN EPIK
DI BAWAH PANJI SERIBU BINTANG
Sebuah Roman Epik dalam Tiga Bagian tentang Cinta yang Tak Pernah Padam dan Panji yang Tak Pernah Luntur
Oleh: Slamet Riyadi
PROLOG
Firasat di Rahim
Hujan mengguyur Desa Sumbermaya sejak subuh. Bukan hujan biasa. Airnya terasa hangat, aneh, seperti keringat bumi yang sedang demam. Daun-daun kelapa terkulai lemas. Ayam-ayam tidak berkokok. Anjing-anjing diam seribu bahasa.
Di dalam rumah panggung di ujung barat, Srintil terbaring di atas pembaringan. Perutnya yang sudah besar memasuki bulan ketujuh. Tetapi sesuatu terasa berbeda malam ini. Janin di dalam rahimnya tidak bergerak seperti biasa. Tidak menendang. Tidak berguling. Ia diam. Terlalu diam.
Sastro, suaminya, duduk di kursi bambu sambil mengipasi istrinya dengan daun tala. Wajahnya pucat.
"Dik, kau tidak apa-apa?" tanyanya lirih.
Srintil menggeleng pelan. "Aku merasa aneh, Mas. Perutku... dingin. Padahal hujan panas."
Sastro ingin berkata sesuatu, tetapi pintu depan tiba-tiba terbuka tanpa ada yang mengetuk.
Nini Gendheng masuk dengan langkah tertatih. Umurnya sudah lebih dari delapan puluh, tetapi matanya masih menyala seperti dua bara di malam hari. Rambutnya putih semua, diikat lilit ke belakang. Di tangannya ia membawa sebuah bokor tembaga tua berisi air yang berasap seperti mendidih, padahal dingin.
"Nini?" Sastro terkejut sampai berdiri. "Nini datang dalam hujan begini? Nanti sakit."
Nini Gendheng tidak menjawab. Ia berjalan lurus ke sisi pembaringan Srintil. Ia menatap perut Srintil lama. Lalu ia mendengarkan. Seperti orang yang mendengarkan bisikan dari dalam tanah.
Srintil merasa merinding. "Nini... ada apa? Anak saya kenapa?"
Nini Gendheng meletakkan bokornya di samping perut Srintil. Air di dalamnya bergoyang sendiri, tidak mengikuti gerakan tangannya.
"Aku tidak datang karena hujan, Dik," suara Nini Gendheng parau seperti kayu tua yang digesek. "Aku datang karena dipanggil."
Sastro mengernyit. "Dipanggil siapa, Nini?"
Nini Gendheng menatap Sastro. "Oleh anak yang masih dalam perut istrimu."
Hening seketika. Hujan di luar terdengar seperti genderang perang yang jauh.
Nini Gendheng melanjutkan, "Tadi malam aku mimpi. Aku berdiri di tengah sendang Kiskenda. Airnya hitam pekat. Lalu dari dasar sendang naik sebuah panji-panji. Kain tua lusuh, tetapi bercahaya. Panji itu terbang ke timur. Aku mengikutinya. Ia masuk ke rumah ini. Lalu menghilang ke dalam rahimmu, Dik."
Srintil gemetar. "Maksud Nini?"
"Anak yang kau kandung ini... ia tidak datang untuk menjadi orang biasa, Dik. Ia membawa panji. Bukan panji kerajaan. Bukan panji perang. Ia membawa panji seribu bintang."
Sastro menghela napas. Ia bukan lelaki yang mudah percaya hal-hal gaib. "Nini, maaf, saya tidak mau anak saya jadi... aneh. Saya hanya ingin anak saya sehat, sekolah, kerja, berkeluarga."
Nini Gendheng tersenyum. Senyum yang membuat keriput wajahnya semakin dalam. "Kita tidak memilih, Sastro. Takdir yang memilih kita. Dan takdir anakmu... lebih besar dari desa ini. Lebih besar dari gunung-gunung ini. Bahkan lebih besar dari pulau ini."
Sastro terdiam.
Nini Gendheng mengambil air dari bokornya dengan tangan telanjang. Air itu panas? Dingin? Tidak ada yang bisa menebak. Ia mengusapkan air itu ke perut Srintil.
"Kau akan melahirkannya pada malam seribu bintang," kata Nini Gendheng. "Bukan malam dengan banyak bintang. Malam ketika bintang-bintang jatuh. Bukan satu. Bukan dua. Tapi seribu. Atau lebih."
Srintil hampir menangis. "Nini... apakah anak saya akan selamat?"
Nini Gendheng berhenti mengusap. Ia menatap Srintil dengan mata yang—untuk pertama kalinya—tampak basah.
"Apa itu selamat, Dik? Selamat tidak berarti tidak terluka. Selamat adalah tetap utuh setelah berkeping-keping. Dan anak ini... akan berkeping-keping berkali-kali dalam hidupnya."
Srintil menangis.
"Tapi ia akan utuh kembali," kata Nini Gendheng cepat. "Setiap kali. Itu janji leluhur. Karena panji seribu bintang tidak pernah hancur. Ia hanya berganti tangan."
Sastro mendekat. "Nini, saya boleh bertanya satu hal?"
"Bertanyalah."
"Siapa yang akan melukai anak saya?"
Nini Gendheng diam panjang. Matanya menerawang ke suatu tempat yang tidak bisa dilihat oleh Sastro dan Srintil.
"Tiga orang. Yang paling ia percaya. Yang paling ia cintai. Dan satu... adalah sahabatnya sendiri."
Sastro mengepal. "Siapa nama mereka?"
"Aku tidak melihat nama, Sastro. Aku hanya melihat bayangan. Tapi satu hal yang kau harus ingat..."
Nini Gendheng mendekatkan wajahnya ke Sastro. Bau dupa dan tanah basah menyengat.
"Jangan bunuh mereka ketika kau punya kesempatan. Karena anakmu harus memaafkan mereka. Tanpa pengampunan, panji itu tidak akan pernah sempurna."
Nini Gendheng berdiri dengan susah payah. Lututnya bunyi krek tiga kali. Ia mengambil bokornya yang sudah kosong—entah ke mana airnya hilang.
"Aku sudah tua," katanya sambil berjalan ke pintu. "Mungkin aku tidak akan hidup sampai anak ini besar. Tapi aku titip pesan."
"Apa pesan Nini?" tanya Srintil sambil mengusap air matanya.
Nini Gendheng berbalik. Di ambang pintu, dengan latar hujan yang mulai reda, ia berkata:
"Jangan beri nama sembarangan. Namailah ia Panji. Karena ia akan berjalan di bawah panji seribu bintang. Dan suatu hari nanti, ketika dunia mencoba membuatnya menjadi pahit, panji itu akan mengingatkannya bahwa ia dilahirkan dari air mata, tetapi ia tidak diciptakan untuk menangis selamanya."
Nini Gendheng keluar. Hujan berhenti seketika. Matahari sore muncul di celah-celah awan, dan sinarnya jatuh tepat di atas rumah Sastro.
Tiga bulan kemudian, Nini Gendheng ditemukan meninggal di gubuknya. Di tangannya masih menggenggam sehelai kain panji-panji lusuh. Dan di kain itu tertulis satu kalimat dalam aksara Jawa kuno:
"Wong kang nggendhong panji lintang, iku kang bakal nggugah jagad saka turu."
(Orang yang membawa panji bintang, dialah yang akan membangunkan dunia dari tidurnya.)
Dua Bulan Kemudian
Srintil terbangun di tengah malam. Perutnya berkontraksi. Ia tahu waktunya telah tiba.
"Mas... Mas Sastro..." bisiknya lemah.
Sastro terbangun. Ia melihat ke luar jendela. Langit malam itu berbeda. Bukan gelap biasa. Ada ribuan titik cahaya yang bergerak. Jatuh. Satu per satu. Seperti hujan tetapi dari bintang.
Dan dari kejauhan, suara gamelan gaib terdengar. Tidak ada yang memainkan. Tidak ada yang menabuh. Tapi suara itu ada. Mengalun pelan. Mengiringi tangis pertama bayi yang akan segera lahir.
Di bawah panji seribu bintang, malam itu, Panji memulai perjalanannya.
Tanpa sepengetahuannya, perjalanan itu akan membawanya ke puncak gunung, ke dasar sendang, ke kota besar yang dingin, ke pelukan pengkhianatan, ke kehangatan pengampunan, dan akhirnya—ke tempat di mana semua mimpi leluhur beristirahat dengan tenang.
Tanpa sepengetahuannya, ia tidak berjalan sendirian.
Di setiap langkahnya, seribu bintang ikut berjalan.
BAGIAN SATU: DARI RAHIM KE BUMI
Bab 1: Malam Seribu Bintang Pertama
Kontraksi terakhir Srintil terjadi bersamaan dengan jatuhnya bintang paling terang di langit timur. Sastro tidak pernah melihat sesuatu seperti itu sepanjang hidupnya—bintang itu tidak jatuh seperti biasa, tidak melesat lalu padam. Bintang itu meluncur pelan, seperti seseorang yang sengaja turun ke bumi dengan anggun.
Dan ketika bintang itu menghilang di balik Bukit Gamping, tangisan bayi memecah keheningan malam.
Sastro tidak sempat memanggil dukun beranak. Nini Gendheng sudah tiada. Ia hanya sendiri dengan Srintil yang setengah pingsan, dan tangannya sendiri yang harus memotong tali pusar anak pertamanya.
Di tengah kebingungan itu, pintu terbuka.
Ki Guno masuk tanpa mengetuk. Rambutnya yang putih tergerai basah oleh embun. Matanya merah, seperti orang yang tidak tidur semalaman. Di tangannya ia membawa sebilah pisau kecil dari batu—pisau pusaka yang hanya ia keluarkan untuk upacara adat paling sakral.
"Jangan gunakan pisau biasa," kata Ki Guno dengan suara yang bergetar. "Gunakan ini. Pisau ini sudah memotong tali pusar tujuh kepala adat sebelum kau, Sastro."
Sastro mengangguk takut-takut. Ia menerima pisau itu. Tangannya gemetar.
Ki Guno mendekati Srintil. Ia menatap bayi yang baru saja keluar. Bayi itu tidak menangis. Ia diam. Matanya terbuka lebar. Matanya menatap langit-langit rumah panggung—seolah ia melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh orang dewasa.
Ki Guno tersenyum. Matanya basah. "Sudah kubilang. Bukan sembarang bayi."
Sastro memotong tali pusar dengan pisau batu itu. Darah menetes sedikit. Anehnya, darah itu tidak merah biasa. Ada kilau keemasan di dalamnya—atau hanya pantulan lampu minyak? Sastro tidak yakin.
Bayi itu masih diam. Tidak menangis.
Srintil bangkit dengan susah payah. Ia meraih bayinya dari pangkuan Sastro. Ia menempelkan bayi itu ke dadanya.
"Menangislah, Nak," bisik Srintil dengan suara pecah. "Ibu mengizinkanmu menangis."
Bayi itu diam.
"Kenapa dia tidak menangis, Mas?" tanya Srintil cemas. "Biasanya bayi menangis."
Sastro tidak menjawab. Ia menatap Ki Guno.
Ki Guno menghela napas. "Anak ini tidak akan banyak menangis sepanjang hidupnya, Srintil. Bukan karena ia tidak punya perasaan. Tapi karena ia akan menyimpan semua lukanya di dalam. Dan itu... itu lebih berbahaya."
Srintil memeluk bayinya erat. "Aku tidak peduli ramalan, Mbah. Aku hanya ingin anakku hidup."
Ki Guno mengangguk. "Dia akan hidup. Panjang. Mungkin terlalu panjang. Dia akan melihat banyak orang yang dicintainya pergi lebih dulu. Tapi dia akan hidup."
Sastro mendekat. "Mbah, boleh saya bertanya?"
"Bertanyalah."
"Siapa yang akan menjaganya jika kami... jika kami tidak ada nanti?"
Ki Guno menatap Sastro lama. Lalu matanya beralih pada bayi itu. "Dia akan dijaga oleh dua orang. Satu laki-laki, satu perempuan. Laki-laki akan mengkhianatinya. Perempuan akan setia sampai mati. Tapi pengkhianatan laki-laki itu—pada akhirnya—akan menjadi pintu maaf yang menyelamatkan desa ini."
Sastro mengerutkan dahi. "Aku tidak mengerti, Mbah."
Ki Guno tersenyum. "Kau tidak perlu mengerti sekarang, Sastro. Kau hanya perlu mencintainya. Biarkan masa depan yang menjelaskan sisanya."
Di luar, hujan bintang masih berlangsung. Bukan ribuan lagi, tetapi puluhan ribu. Seluruh langit Sumbermaya terang benderang seperti siang, tetapi cahayanya lembut—tidak menyilaukan. Warga desa keluar dari rumah-rumah mereka. Ada yang takut, ada yang kagum, ada yang bersujud mengira kiamat.
Tapi di dalam rumah panggung di ujung barat itu, hanya ada keheningan. Dan tangisan yang tidak pernah keluar dari mulut bayi laki-laki mungil itu.
Fajar mulai menyingsing. Hujan bintang berhenti. Langit kembali normal—biru pucat dengan sisa-sisa kabut tipis.
Ki Guno masih duduk di kursi bambu. Bayi itu sekarang di gendongan Srintil, tertidur pulas. Sastro duduk di lantai, kedua tangannya menopang dagu.
"Sudah kau pikirkan namanya?" tanya Ki Guno.
Sastro menggeleng. "Belum, Mbah. Tadinya kami pikir kalau perempuan namanya Sulasih. Kalau laki-laki... Sastro ragu-ragu."
Ki Guno menyela. "Namailah Panji."
Srintil mengangkat wajah. "Panji, Mbah?"
"Panji," ulang Ki Guno dengan tegas. "Ada tiga alasan. Pertama, itu pesan Nini Gendheng sebelum ia meninggal. Kedua, aku melihat panji-panji dalam mimpiku malam ini—panji dari kain lusuh tetapi bercahaya. Ketiga..."
Ki Guno berhenti. Ia menatap bayi itu.
"Ketiga?"
Ki Guno tersenyum sedih. "Ketiga, karena suatu hari nanti ia harus memegang panji yang tidak bisa dilihat. Panji itu adalah kesadaran bahwa manusia tidak pernah sendirian, meskipun ia merasa paling sendiri di dunia."
Sastro dan Srintil saling memandang.
"Panji," Sastro mengulang nama itu perlahan, seperti mencicipi rasa di lidah. "Panji... bagus, Mbah. Tapi apa tidak terlalu besar untuk anak desa seperti kami?"
Ki Guno berdiri. Lututnya bunyi lagi. Tua, tetapi matanya masih tajam.
"Kita tidak memilih takdir, Sastro. Takdir yang memilih kita. Dan anak ini... ia tidak akan menjadi anak desa biasa. Bukan karena ia istimewa. Tapi karena dunia akan memaksanya untuk menjadi istimewa. Entah ia suka atau tidak."
Ki Guno berjalan ke pintu. Ia berbalik sejenak.
"Satu pesan terakhir."
"Siap, Mbah."
Ki Guno menatap Sastro dan Srintil bergantian. "Jangan mati terlalu cepat. Anak ini butuh orang tua. Ia akan kehilangan banyak hal dalam hidupnya. Jangan biarkan ia kehilangan kalian terlalu dini."
Ki Guno keluar.
Sastro dan Srintil hanya bisa terdiam.
Bayi itu—Panji—masih tidur. Sesekali bibirnya bergerak, seperti orang yang sedang bermimpi. Mimpi tentang apa? Tentang masa depan yang belum ia kenal? Tentang orang-orang yang akan ia cintai dan yang akan melukainya? Atau tentang seribu bintang yang jatuh menyambut kelahirannya?
Tidak ada yang tahu.
Tapi satu hal yang pasti: malam itu, di bawah panji seribu bintang, sebuah perjalanan panjang dimulai. Perjalanan yang akan membawa Panji ke tempat-tempat yang tidak pernah ia bayangkan, bertemu dengan orang-orang yang akan mengubah hidupnya, dan pada akhirnya—pulang ke tempat yang sama, tetapi dengan hati yang berbeda.
Di luar, matahari naik perlahan. Ayam-ayam mulai berkokok untuk pertama kalinya sejak semalam. Anjing-anjing menggonggong seperti biasa.
Desa Sumbermaya kembali normal. Warga berbicara tentang hujan bintang semalam sebagai tanda-tanda zaman. Ada yang bilang akan lahir pemimpin besar. Ada yang bilang itu pertanda bencana. Ada yang tidak peduli dan kembali ke sawah.
Tapi di rumah panggung ujung barat, seorang ibu bernama Srintil menangis dalam diam sambil menyusui anak pertamanya. Air matanya jatuh ke pipi bayi itu, membasahi kulit halusnya.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya—meskipun ia belum bisa berbicara, belum bisa mengerti bahasa manusia—Panji kecil mengangkat tangannya yang mungil dan menyentuh pipi ibunya.
Seolah ia berkata: Jangan menangis, Bu. Aku di sini.
Srintil tersenyum. Air matanya tidak berhenti. Tapi senyumnya tetap di sana.
"Panji," bisiknya. "Selamat datang di dunia, Nak. Dunia akan menyakitimu. Tapi ingat... ibu akan selalu berusaha melindungimu. Selama ibu masih bernapas."
Panji kecil kembali tertidur.
Di kejauhan, Ki Guno berdiri di tepi Sendang Kiskenda. Air sendang itu kini berwarna bening. Tidak hitam, tidak merah. Bening seperti kaca.
Ki Guno menatap air itu. Ia melihat bayangan bukan dirinya, tetapi seorang pemuda dengan kain lusuh di bahu. Tangan pemuda itu berdarah. Wajahnya penuh luka. Tapi matanya menyala.
"Kau akan melalui banyak hal, Nak," gumam Ki Guno pada bayangan itu. "Tapi kau akan sampai. Aku percaya itu."
Angin pagi bertiup. Daun-daun kelapa bergesekan seperti ribuan orang berbisik.
Dan di langit timur, meskipun matahari sudah naik, satu bintang terakhir masih terlihat—enggan pergi, seperti ingin menyaksikan bagaimana kisah ini dimulai.
Bab 2: Air Susu dan Bisikan Gaib
Tiga bulan telah berlalu sejak malam seribu bintang. Desa Sumbermaya kembali sunyi seperti biasanya. Sawah-sawah menghijau. Air sendang mengalir tenang. Anak-anak desa bermain kejar-kejaran di pematang. Tidak ada yang istimewa—kecuali satu hal.
Panji kecil tidak pernah menangis.
Bukan karena ia tidak lapar. Bukan karena ia tidak sakit. Ia hanya diam. Ketika bayi lain mengempas-ngempaskan kaki dan menangis keras, Panji hanya membuka matanya lebar-lebar, menatap langit-langit, dan terdiam.
Srintil mulai gelisah.
Malam hari. Sastro baru pulang dari sawah. Tangannya masih bau lumpur. Ia duduk di kursi bambu sambil mengusap peluhnya.
Srintil mendekat sambil menggendong Panji. Wajahnya cemas.
"Mas, aku mau bicara."
Sastro mengangkat wajah. "Ada apa, Dik?"
"Panji. Tiga bulan. Belum pernah menangis."
Sastro tersenyum. "Mungkin dia anak yang baik, Dik. Tenang."
Srintil menggeleng keras. "Bukan itu, Mas. Aku baca dari buku bekas pemberian guru SD dulu. Bayi harus menangis. Kalau tidak menangis, bisa jadi... ada masalah dengan paru-parunya. Atau sarafnya."
Sastro terdiam. Senyumnya hilang.
"Kita bawa ke mantri desa besok," kata Sastro akhirnya.
Srintil mengangguk. Tapi matanya tidak tenang. Ia mencium kening Panji. Bayi itu diam saja. Matanya setengah terbuka.
"Panji, Nak," bisik Srintil. "Apa kau bisa mendengar ibu? Kalau bisa, menangislah. Sekali saja. Supaya ibu tahu kau hidup."
Panji kecil tidak menangis.
Tapi sudut bibirnya bergerak. Seperti senyum.
Sastro melihat itu. Ia menggigit bibirnya. "Aneh, Dik. Benar-benar aneh."
Pagi harinya, Sastro dan Srintil pergi ke rumah mantri desa. Mantri desa bernama Pak Dirman, seorang laki-laki setengah baya yang lulusan sekolah perawat di kota. Ia sudah dua puluh tahun melayani warga Sumbermaya.
Pak Dirman memeriksa Panji dengan saksama. Ia mendengarkan napasnya dengan stetoskop. Ia memeriksa denyut nadinya. Ia menyenter matanya.
"Semua normal," kata Pak Dirman sambil melepas stetoskop. "Paru-parunya sehat. Jantungnya kuat. Matanya responsif."
Srintil masih cemas. "Tapi dia tidak pernah menangis, Pak."
Pak Dirman menghela napas. Ia menatap Srintil dengan mata dokter yang sudah terbiasa dengan pasien cemas.
"Bu Srintil, dalam dua puluh tahun saya jadi mantri desa, saya sudah menangani ribuan bayi. Ada yang banyak menangis. Ada yang jarang menangis. Tapi tidak pernah menangis sama sekali... ini pertama kali."
Sastro menyela. "Apakah itu berbahaya, Pak?"
Pak Dirman mengusap dagunya. "Secara medis, tidak. Selama napasnya normal, makannya lahap, dan pupnya lancar, tidak ada masalah. Tapi..."
Srintil mendekat. "Tapi apa, Pak?"
Pak Dirman menatap Panji. Bayi itu menatap balik. Matanya tajam. Terlalu tajam untuk bayi tiga bulan.
"Saya tidak bisa menjelaskan dengan ilmu kedokteran. Tapi kadang ada anak-anak yang... berbeda. Mereka menyimpan semua rasa sakitnya di dalam. Mereka tidak meluapkannya dengan tangisan. Dan itu bisa berbahaya secara psikologis ketika mereka dewasa."
Sastro mengerutkan dahi. "Maksud Pak Dirman?"
"Maksud saya, suatu hari nanti ketika dewasa, jika ia mengalami tekanan batin yang berat, ia bisa meledak. Atau sebaliknya—ia bisa mati dalam diam tanpa ada yang tahu."
Srintil hampir menangis.
Pak Dirman cepat-cepat menambahkan, "Tapi itu hanya prediksi, Bu. Bisa juga tidak terjadi. Saran saya, beri ia banyak kasih sayang. Banyak pelukan. Banyak kata-kata cinta. Kadang anak seperti ini butuh lebih banyak sentuhan daripada anak-anak lain."
Sastro mengangguk. "Kami akan lakukan, Pak."
Pak Dirman tersenyum. "Satu lagi. Jangan memaksanya menangis. Biarkan ia menjadi dirinya sendiri. Tapi setiap malam, sebelum tidur, bicaralah padanya. Ceritakan apa saja. Tentang sawah, tentang langit, tentang leluhur. Biarkan ia mendengar suara kalian. Itu lebih penting dari obat-obatan."
Sepulang dari mantri desa, Sastro dan Srintil berjalan melewati Sendang Kiskenda. Airnya bening seperti biasa. Di tepi sendang, Ki Guno sedang duduk bersila, memancing tanpa kail.
"Mbah Guno," sapa Sastro.
Ki Guno tidak menoleh. "Kalian baru dari mantri desa?"
"Iya, Mbah," jawab Srintil.
"Untuk Panji."
"Iya."
Ki Guno mengangguk pelan. "Dan mantri bilang apa?"
Sastro duduk di samping Ki Guno. "Bilang semuanya normal secara medis. Tapi ia heran karena Panji tidak pernah menangis."
Ki Guno tersenyum. "Sudah kuduga."
Srintil duduk di sisi lain. "Mbah, apa memang benar ada hubungannya dengan ramalan Nini Gendheng dulu?"
Ki Guno memandang air sendang yang tenang. "Nini Gendheng tidak pernah salah dalam meramal, Dik. Tapi ramalannya tidak pernah literal. Misalnya, ia bilang Panji akan berkeping-keping. Itu bukan berarti tubuhnya akan terpotong. Itu berarti hatinya akan hancur berkali-kali."
Sastro bertanya, "Lalu kenapa ia tidak menangis, Mbah?"
Ki Guno berbalik. Ia menatap Panji yang tidur di gendongan Srintil.
"Karena ia tahu, sejak dalam kandungan, bahwa tangisannya tidak akan pernah didengar oleh orang yang paling ia butuhkan."
Sastro dan Srintil saling memandang.
"Apa maksud Mbah?" tanya Srintil dengan suara bergetar.
Ki Guno menghela napas panjang. "Kalian berdua akan mati lebih dulu darinya. Tidak sekarang. Tapi lebih cepat dari yang seharusnya. Dan Panji tahu itu. Ia tahu dari awal. Itu sebabnya ia tidak mau menangis. Karena ia pikir—dalam naluri bayinya—bahwa jika ia menangis, kalian akan sedih. Dan kalian akan semakin cepat meninggal karena sedih."
Hening.
Air mata Srintil jatuh. Sastro menggigit bibirnya.
"Jadi dia diam demi kami?" bisik Srintil.
Ki Guno mengangguk. "Diam demi kalian. Diam demi tidak membebani. Dan ia akan membawa kebiasaan itu sampai dewasa. Ia akan diam ketika dilukai. Ia akan diam ketika dikhianati. Ia akan diam ketika hatinya hancur. Dan orang-orang di sekitarnya akan menganggapnya kuat. Padahal ia hanya tidak tahu bagaimana cara meminta tolong."
Sastro mengepal. "Mbah, apa yang bisa kami lakukan?"
Ki Guno menatap Sastro. "Ajari ia bahwa menangis bukan kelemahan. Ajari ia bahwa meminta tolong bukan aib. Ajari ia bahwa menjadi lembut di dunia yang kejam adalah keberanian tertinggi."
Ki Guno berdiri. Ia melepaskan pancingnya tanpa kail.
"Tapi itu tidak mudah. Karena kalian sendiri mungkin tidak sempat mengajarkannya. Waktu kalian tidak panjang."
Ki Guno pergi tanpa menoleh.
Sastro dan Srintil duduk di tepi sendang hingga matahari hampir terbenam. Panji masih tidur. Sesekali ia menggerakkan bibirnya.
Malam itu, Srintil tidak bisa tidur. Ia menggendong Panji di kursi bambu dekat jendela. Langit malam bertabur bintang biasa—tidak ada yang jatuh.
Sastro duduk di sampingnya.
"Dik, kau tidak tidur?"
"Aku tidak bisa, Mas. Pikiran Mbah Guno masih di kepalaku."
Sastro menghela napas. "Aku juga."
Srintil menatap Panji yang tidur di pangkuannya. "Mas, aku mau berjanji pada anak ini."
"Janji apa?"
"Aku akan berusaha hidup selama mungkin. Aku tidak akan mati sebelum melihat ia bisa menangis."
Sastro tersenyum sedih. "Itu janji yang berat, Dik."
"Aku tahu. Tapi lihatlah dia, Mas. Dia diam untuk melindungi kita. Kita harus hidup untuk mengajarinya bahwa melindungi diri sendiri tidak salah."
Sastro mengangguk. Ia merangkul istrinya.
"Baik, Dik. Kita hidup untuk dia. Sepanjang yang kita bisa."
Srintil membungkuk. Ia mencium kening Panji.
"Panji, Nak," bisiknya. "Ibu tidak tahu apakah ramalan Mbah Guno benar. Tapi ibu janji satu hal. Ibu akan selalu ada untukmu. Selama ibu masih bernapas, ibu tidak akan pergi."
Panji kecil membuka matanya. Matanya yang hitam pekat menatap ibunya.
Dan untuk pertama kalinya—
bibirnya bergerak.
Bukan menangis.
Bukan senyum.
Tapi seperti orang yang ingin berkata sesuatu.
Srintil terisak.
"Dia mendengar aku, Mas. Dia mendengar."
Sastro memeluk Srintil lebih erat. "Ya, Dik. Dia mendengar."
Tiga minggu kemudian, Panji kecil untuk pertama kalinya menangis.
Bukan karena lapar. Bukan karena sakit. Bukan karena basah.
Tapi ketika Srintil jatuh di dapur karena pusing—dan tidak segera bangun.
Panji menangis keras. Suaranya memecahkan kesunyian malam. Sastro berlari dari belakang rumah. Ia mendapati Srintil pingsan di lantai dapur, dan Panji di ayunan menangis sekeras-kerasnya.
"Srintil! Dik!" teriak Sastro sambil membopong istrinya.
Srintil membuka mata. Lemah. "Mas... Panji... dia menangis..."
"Iya, Dik. Dia menangis. Akhirnya dia menangis."
Srintil tersenyum meski wajahnya pucat. "Bagus. Sekarang aku tahu dia bisa."
Sastro membantu Srintil duduk. Panji masih menangis. Tangis bayi biasa—tidak ada yang istimewa. Tapi bagi Srintil dan Sastro, tangis itu seperti musik terindah yang pernah mereka dengar.
Sastro mengambil Panji dari ayunan. Ia mendekapnya. "Nak, kau boleh menangis. Kau selalu boleh menangis. Jangan pernah simpan sendiri."
Panji berhenti menangis. Ia menatap ayahnya. Lalu ia tersenyum.
Sastro tertawa. "Dia tersenyum, Dik. Setelah menangis, dia tersenyum."
Srintil mengusap air matanya. "Dia belajar, Mas. Dia belajar bahwa menangis tidak apa-apa."
Di luar, angin malam berbisik lembut. Bintang-bintang bersinar biasa—tidak ada yang jatuh. Tidak ada yang istimewa.
Tapi di dalam rumah panggung ujung barat, sebuah keajaiban kecil terjadi:
Seorang bayi belajar bahwa ia boleh merasa sakit. Dan bahwa dunia tidak akan runtuh jika ia menunjukkannya.
Itu mungkin pelajaran paling penting yang akan ia terima sepanjang hidupnya.
Dan ia mendapatkannya dari ibunya yang pingsan karena pusing, dan ayahnya yang tangannya gemetar saat menggendongnya.
Bab 3: Bayi yang Melihat Leluhur
Panji genap berusia satu tahun ketika hal-hal aneh mulai terjadi di rumah Sastro. Bukan hal-hal besar yang menggegerkan desa. Hanya keanehan-keanehan kecil yang membuat Srintil merinding di malam hari.
Sendok makan yang tadi pagi diletakkan di rak, sore harinya sudah berada di bawah bantal Panji. Lampu minyak yang baru saja diisi, tiba-tiba padam ketika Panji menatapnya. Dan yang paling aneh—kadang di tengah malam, Panji akan tertawa sendirian sambil menunjuk ke arah sudut ruangan yang gelap.
Tidak ada apa-apa di sudut itu. Setidaknya, tidak ada yang bisa dilihat oleh Sastro dan Srintil.
Pagi-pagi buta. Srintil sedang memasak bubur di dapur. Panji duduk di kursi bambu kecil dekat tungku. Matanya tidak tertuju pada ibunya, tetapi pada pintu belakang yang masih tertutup.
Srintil menyendok bubur ke mangok kayu. "Nak, ibu buatin bubur kesukaanmu. Nanti ibu suapin ya."
Panji tidak menjawab. Ia masih menatap pintu belakang.
Srintil menoleh. "Panji, lihat ibu. Buburnu sudah matang."
Panji mengangkat tangan mungilnya. Ia menunjuk ke pintu belakang.
"Mbah... Mbah..."
Srintil merinding. "Mbah siapa, Nak? Tidak ada siapa-siapa di sana. Pintunya masih tertutup."
"Mbah... mbah... kakek," kata Panji dengan suara cadel.
Srintil meletakkan mangok. Ia berjalan ke pintu belakang. Dibukanya. Tidak ada siapa-siapa. Halaman belakang kosong. Hanya ayam-ayam yang sedang mematuk tanah.
"Siapa yang kau lihat, Nak?" tanya Srintil sambil kembali ke kursi.
Panji tersenyum. "Kakek. Pakai topi. Tangan kirinya hilang."
Srintil terkesiap. Ia jatuh duduk di kursi.
Sastro yang baru bangun tidur masuk ke dapur. "Ada apa, Dik? Kok pucat sekali?"
Srintil menunjuk Panji. "Dia... dia bilang lihat kakek. Kakek pakai topi. Tangan kiri hilang."
Sastro mengerutkan dahi. "Kakek yang mana?"
"Siapa lagi, Mas? Kakekmu. Bapakmu. Almarhum Karto. Yang meninggal sepuluh tahun sebelum Panji lahir. Yang tangan kirinya putus kena gergaji pengerjaan kayu."
Sastro terdiam. Wajahnya berubah pucat.
Ia mendekati Panji. Ia berlutut di depan anaknya. "Nji, kau lihat kakek? Kakek Karto?"
Panji mengangguk. "Kakek... senyum. Bilang... aku... mirip Bapak."
Sastro menelan ludah. "Apa lagi yang kakek bilang?"
Panji menutup mata sejenak, seperti orang yang sedang berkonsentrasi mendengar sesuatu dari kejauhan.
"Kakek bilang... jual kerbaumu... sebelum... sebelum...."
"Sebelum apa?" desak Sastro.
Panji membuka mata. "Sebelum mati."
Sastro dan Srintil saling memandang.
Kerbau yang dimaksud adalah kerbau tunggal milik Sastro, satu-satunya aset berharga keluarga mereka. Kerbau itu sudah tua, tetapi masih kuat membajak sawah.
"Mas," bisik Srintil. "Apa ini pertanda?"
Sastro tidak menjawab. Ia berdiri. Tangannya gemetar. "Aku ke warung dulu, Dik. Pikiran aku kacau."
Sastro tidak jadi ke warung. Ia berjalan ke selatan, ke rumah Ki Guno. Ternyata Ki Guno sudah menunggu di teras, seolah sudah tahu Sastro akan datang.
Ki Guno sedang merokok klobot. Asapnya mengepul tipis ke udara pagi.
"Sastro," sapa Ki Guno tanpa menoleh. "Masuklah. Sudah kuduga kau akan datang."
Sastro duduk di kursi kayu di teras. Tangannya masih gemetar.
"Mbah, Panji... dia lihat arwah."
Ki Guno mengangguk tenang. "Aku tahu."
"Sejak kapan Mbah tahu?"
"Sejak dia lahir. Anak yang lahir di malam seribu bintang biasanya punya kemampuan itu—melihat apa yang tidak bisa dilihat orang biasa. Seiring bertambahnya usia, kemampuan itu akan berkurang. Tapi untuk sementara, dia akan sering melihat arwah. Terutama arwah keluarganya."
Sastro mengusap wajahnya. "Apa itu berbahaya, Mbah?"
Ki Guno menghela napas. "Berbahaya tidak. Yang berbahaya adalah jika orang-orang di sekitarnya tidak percaya padanya. Jika kau bilang dia bohong. Jika kau bilang dia berhalusinasi. Itu akan membuatnya bingung. Dan kebingungan itu bisa merusak jiwanya."
Sastro menunduk. "Saya percaya dia, Mbah. Tapi saya takut."
"Takut apa?"
"Takut kalau... kalau ini awal dari hal-hal yang lebih besar. Nini Gendheng dulu bilang Panji akan berkeping-keping. Apa melihat arwah adalah bagian dari itu?"
Ki Guno mematikan rokoknya. "Bukan. Melihat arwah hanya bonus. Yang membuatnya berkeping-keping bukan dunia gaib, Sastro. Tapi manusia hidup. Orang-orang yang ia cintai. Merekalah yang akan memecahkannya, bukan hantu."
Sastro mengangkat wajah. "Lalu apa yang harus saya lakukan, Mbah?"
Ki Guno menatap Sastro dengan mata yang tua dan basah.
"Kau hanya perlu melakukan satu hal. Jangan takut pada anakmu. Jangan membuatnya merasa aneh. Jangan membuatnya merasa berbeda dengan cara yang menyakitkan. Biarkan ia tahu bahwa apa pun yang ia lihat, kau akan percaya padanya."
Sastro mengangguk pelan.
"Dan satu hal lagi," tambah Ki Guno.
"Apa, Mbah?"
"Kakekmu dulu berhutang pada saya. Sepuluh tahun sebelum ia meninggal. Ia pinjam dua ekor kerbau untuk biaya pengobatan istrinya. Ia tidak pernah membayar. Tapi saya tidak pernah menagih. Sekarang saya tahu kenapa."
Sastro mengerutkan dahi. "Maksud Mbah?"
"Arwah kakekmu muncul pada Panji untuk membayar hutangnya. Bukan dengan uang. Tapi dengan pesan. Jual kerbaumu sebelum kau mati."
Sastro terdiam. "Jadi pesan itu serius?"
Ki Guno mengangguk. "Sangat serius. Kerbaumu akan mati tiga bulan lagi. Kau tahu sendiri, kerbau itu sudah tua. Kalau mati sebelum kau jual, kau tidak dapat uang sepeser pun. Tapi kalau kau jual sekarang... kau bisa dapat uang untuk membeli satu hektar sawah di timur desa."
Mata Sastro membesar. "Sawah di timur? Itu tanah bagus, Mbah. Tapi harganya mahal."
"Hasil jual kerbaumu akan pas. Tidak kurang, tidak lebih. Itu hitungan arwah, Sastro. Mereka lebih teliti daripada manusia hidup."
Sastro pulang dengan langkah gontai. Ia duduk di kursi bambu depan rumah. Srintil keluar sambil menggendong Panji.
Srintil duduk di samping suaminya. "Mas, tadi Panji lihat arwah lagi. Kali ini arwah Mbah Putri. Neneknya. Katanya Mbah Putri pakai kebaya lusuh dan rambutnya panjang."
Sastro menghela napas. "Dik, aku percaya sekarang. Aku percaya Panji bisa melihat arwah."
Srintil mengangguk. "Aku juga, Mas. Sejak kejadian di dapur tadi, aku tidak bisa mengingkarinya. Tidak mungkin anak seusia itu tahu soal tangan kiri kakeknya yang putus."
Sastro menatap Panji. Bayi itu tersenyum padanya.
"Nji," panggil Sastro. "Kakek Karto yang kau lihat tadi... dia pakai baju apa?"
Panji berpikir sejenak. "Baju... lurik. Warna... coklat. Sobek... di siku kanan."
Sastro tersentak. "Benar. Baju lurik coklat favorit bapak. Ia tidak mau melepasnya bahkan ketika tidur. Dan robek di siku kanan karena ia sering bersandar di pohon kelapa."
Srintil menangis. "Mas, ini luar biasa."
Sastro memegang tangan istrinya. "Dik, besok aku akan jual kerbau kita."
Srintil terkejut. "Tapi Mas, kerbau itu satu-satunya... dan sawah kita masih...."
"Aku tahu," potong Sastro. "Tapi pesan bapak jelas. Jual sebelum mati. Dan pesan itu disampaikan oleh cucunya sendiri. Aku tidak punya alasan untuk tidak percaya."
Srintil diam sejenak. Lalu ia mengangguk. "Baik, Mas. Aku ikut keputusanmu."
Panji tiba-tiba tertawa kecil. Ia menunjuk ke arah langit.
"Mbah Karto... senyum. Dia... senang."
Sastro dan Srintil menatap ke langit. Tidak ada apa-apa. Hanya awan putih yang bergerak pelan.
Tapi mereka memilih untuk percaya.
Tiga bulan kemudian, kerbau tua milik Sastro terjual dengan harga yang tepat—persis seperti yang dikatakan Ki Guno. Dengan uang itu, Sastro membeli satu hektar sawah di timur desa. Tanah itu subur. Sepanjang tahun bisa ditanami padi tanpa perlu istirahat.
Dua minggu setelah kerbau itu dijual, kabar datang dari pembelinya: kerbau itu mati mendadak karena sakit tua. Tidak sempat digunakan untuk membajak.
Sastro menangis di depan Srintil. Bukan karena sedih. Tapi karena bersyukur. "Dik, kalau kita tidak menjualnya, kita tidak dapat apa-apa. Bapak benar. Arwah benar. Panji benar."
Srintil memeluk suaminya. "Mas, anak kita istimewa."
Sastro menggeleng. "Bukan istimewa, Dik. Dia diberkati. Dan berkah itu juga beban. Kita harus melindunginya agar beban itu tidak terlalu berat."
Malam itu, Sastro dan Srintil tidur lebih awal. Panji tidur di antara mereka. Sesekali ia tertawa kecil dalam tidurnya—seperti orang yang sedang bercengkerama dengan teman-teman yang tidak bisa dilihat oleh siapa pun.
Di luar jendela, Ki Guno lewat perlahan. Ia berhenti sejenak. Ia menatap rumah panggung ujung barat itu.
"Lindungi dia selama kalian bisa," bisik Ki Guno pada angin malam. "Karena ketika kalian tiada, dunia akan jauh lebih kejam padanya."
Ki Guno melanjutkan langkah. Tongkatnya menekan tanah berlumpur. Suaranya berdetak pelan—seperti detak jantung seorang tua yang masih setia menunggu.
Dan di dalam rumah, Panji membuka matanya. Ia menatap jendela. Lalu ia tersenyum.
"Mbah Guno... lewat," bisiknya lirih.
Sastro dan Srintil sudah tertidur. Tidak ada yang mendengar.
Panji memejamkan mata lagi. Ia tertawa kecil. Lalu ia tenggelam kembali ke dalam mimpi—mimpi yang penuh dengan orang-orang tua yang ia kenali meskipun belum pernah ia temui dalam kehidupan nyata.
Itulah anugerah sekaligus kutukannya: ia lahir dengan ingatan yang bukan miliknya.
Bab 4: Langkah Pertama ke Sendang
Panji genap berusia tiga tahun ketika ia melakukan hal yang tidak pernah dilakukan oleh anak seusianya di Desa Sumbermaya. Ia pergi ke Sendang Kiskenda sendirian, tanpa sepengetahuan orang tuanya, melewati jalan setapak yang berbatu dan licin, dengan jarak hampir setengah kilometer dari rumahnya.
Seekor anak ayam pun tidak akan berani melewati jalan itu sendirian. Tapi Panji melakukannya dengan tenang, seolah ia sudah hafal setiap liku dan belokan, seolah kakinya yang mungil sudah pernah menapaki jalan itu berkali-kali dalam mimpi.
Srintil baru sadar Panji tidak ada di rumah ketika matahari sudah condong ke barat. Ia mencari ke sana kemari—ke dapur, ke belakang rumah, ke kandang ayam, ke kebun singkong. Panji tidak ada.
Panik melanda Srintil. Ia berteriak memanggil Sastro yang sedang di sawah.
"Mas! Mas! Panji hilang!"
Sastro berlari dari sawah. Kakinya masih berlumpur. Wajahnya pucat.
"Apa maksudnya hilang, Dik?"
Srintil hampir menangis. "Tadi siang dia tidur. Aku ke dapur masak sayur. Setengah jam kemudian aku balik ke kamar, dia sudah tidak ada. Pintu belakang terbuka."
Sastro menahan napas. "Sudah kau cari ke mana saja?"
"Ke seluruh rumah. Ke kebun. Ke kali kecil. Tidak ada, Mas."
Sastro mengepalkan tangan. "Aku ke rumah Mbah Guno dulu. Mungkin dia ke sana."
Srintil menggeleng. "Masa anak tiga tahun jalan setengah kilometer sendiri, Mas?"
Sastro tidak menjawab. Tapi hatinya bergolak. Ia ingat kata-kata Ki Guno dulu—bahwa Panji tidak seperti anak biasa. Bahwa ia punya naluri yang aneh. Bahwa ia bisa melihat apa yang tidak bisa dilihat orang lain.
"Kau tunggu di sini, Dik. Aku cari ke barat. Kalau tidak ada, aku lanjut ke sendang."
Srintil memegang lengan suaminya. "Mas, aku takut."
Sastro menatap istrinya. "Jangan takut, Dik. Panji anak pemberani. Mungkin terlalu pemberani. Tapi dia tahu jalan pulang. Aku yakin itu."
Di Sendang Kiskenda, air sore itu berwarna merah keemasan seperti biasa. Tidak ada perubahan. Tidak ada firasat aneh. Hanya air tenang yang memantulkan langit jingga.
Ki Guno sedang duduk di tepi sendang. Pancingnya tanpa kail, seperti biasa. Ia tidak sedang memancing ikan. Ia sedang memancing firasat.
Dan kemudian ia mendengar langkah kecil di belakangnya.
Ki Guno tidak menoleh. Ia tersenyum. "Sudah kuduga kau akan datang, Nak. Tiga tahun kutunggu. Baru sekarang kau datang."
Panji berdiri di belakang Ki Guno. Wajahnya tidak takut. Matanya yang hitam pekat menatap punggung lelaki tua itu dengan rasa ingin tahu yang besar.
"Kamu Mbah Guno?" tanya Panji dengan suara cadel.
Ki Guno menoleh. Matanya berbinar. "Kau tahu namaku? Siapa yang memberitahumu?"
"Bapak. Sering cerita. Tentang Mbah Guno yang tua tapi sakti."
Ki Guno tertawa kecil. "Sakti? Ah, bapakmu suka melebih-lebihkan. Aku hanya orang tua yang suka duduk di sendang."
Panji mendekat. Ia duduk di samping Ki Guno. Tangannya yang mungil menyentuh air sendang.
"Airnya hangat," kata Panji.
"Air sendang selalu hangat di sore hari," jawab Ki Guno. "Dari panasnya matahari yang diserap batu-batu di dasarnya."
"Bukan," Panji menggeleng. "Hangat karena ada yang menangis di bawah."
Ki Guno terdiam. Ia menatap Panji dengan sorot mata yang berubah—dari tua yang lelah menjadi tua yang waspada.
"Apa maksudmu, Nak?"
Panji menunjuk ke tengah sendang. "Di sana. Ada perempuan. Dia menangis. Rambutnya panjang. Bajunya putih. Dia... dia bilang namanya... Dewi... Dewi sesuatu. Aku lupa."
Ki Guno terkesiap. "Dewi Anggraini?"
Panji mengangguk. "Iya. Dewi Anggraini. Dia bilang... dia sudah seratus tahun menangis di sini. Menunggu... seseorang."
Ki Guno tidak bisa berkata-kata. Dewi Anggraini adalah nama pengantin perempuan yang, menurut legenda desa, tenggelam di sendang ini pada zaman penjajahan Belanda. Ia bunuh diri karena dijodohkan dengan kompeni yang tidak ia cintai. Cerita itu sudah turun temurun, tapi tidak ada yang pernah benar-benar percaya.
Hingga sekarang.
Ki Guno menghela napas panjang. "Jadi kau bisa melihatnya?"
Panji mengangguk. "Kadang. Tapi tidak selalu. Dia hanya muncul kalau airnya hangat."
Ki Guno menggelengkan kepala. "Anak ini... benar-benar tidak biasa."
Sastro tiba di sendang dengan napas tersengal-sengal. Ia berlari dari rumah, melewati kebun-kebun warga, tidak berhenti meski kakinya lecet terkena batu.
Dan ketika ia melihat Panji duduk manis di samping Ki Guno, ia ingin marah. Tapi marahnya hilang ketika ia melihat senyum di wajah anaknya.
"Panji!" teriak Sastro setengah menarik napas. "Kau bikin ibu dan bapak panik!"
Panji menoleh. Ia tersenyum lebar. "Bapak! Aku lihat Mbak Dewi! Dia cantik!"
Sastro mengerutkan dahi. "Mbak Dewi siapa?"
Ki Guno berdiri. "Tidak usah kau tanyakan, Sastro. Lebih baik kau tidak tahu."
Sastro mendekat. Ia meraih tangan Panji. "Nak, kau tidak boleh pergi sendirian tanpa bilang Bapak dan Ibu. Nanti kau tersesat. Atau jatuh ke jurang."
Panji memandang ayahnya dengan mata yang terlalu dewasa untuk anak tiga tahun.
"Aku tidak akan tersesat, Bapak. Aku tahu semua jalan di desa ini. Dari kecil, Mbah Karto sudah menunjukkan aku."
Sastro terhenyak. "Mbah Karto? Kakekmu yang sudah meninggal?"
Panji mengangguk. "Iya. Dia sering datang waktu aku tidur. Dia tunjukkan semua tempat. Sawah, sendang, kali, gunung. Dia bilang, nanti kalau Bapak dan Ibu sudah tidak ada, aku harus jaga desa ini."
Sastro terdiam. Air matanya mengalir tanpa bisa ia bendung.
Ki Guno meletakkan tangannya di pundak Sastro.
"Kau lihat sendiri, Sastro? Anakmu tidak biasa. Bukan karena ia sakti. Tapi karena ia diberi tanggung jawab sejak dini. Tanggung jawab yang terlalu berat untuk anak seusianya."
Sastro mengusap air matanya. "Apa yang harus saya lakukan, Mbah?"
"Lepaskan. Jangan kau kurung. Biarkan ia menjelajah. Biarkan ia belajar sendiri. Karena ketika kau dan Srintil tiada, ia harus sudah siap."
Sastro mengangguk pelan.
Ki Guno menatap Panji. "Nak, kau mau ikut Mbah Guno jalan-jalan setiap sore?"
Panji bersemangat. "Mau! Ke sendang lagi?"
"Ke sendang. Ke hutan. Ke gunung. Ke mana pun kau mau. Aku akan tunjukkan semua tempat di desa ini. Leluhurmu sudah menitipkan pesan padaku untuk mengajarimu."
Sastro hampir protes, tapi Ki Guno menghentikannya dengan tatapan.
"Ini pesan dari arwah kakekmu, Sastro. Bukan kemauanku. Kau tidak bisa melawan arwah."
Sastro menutup mulutnya.
Sastro dan Panji berjalan pulang saat matahari hampir tenggelam. Langit berwarna jingga keemasan. Panji berjalan di depan, sesekali menunjuk ke arah burung yang terbang.
Sastro berjalan di belakang dengan perasaan campur aduk.
"Nak," panggil Sastro akhirnya.
"Ya, Bapak?"
"Tadi di sendang... kau benar-benar lihat Mbak Dewi?"
Panji mengangguk. "Cantik sekali, Pak. Tapi matanya sedih. Dia selalu sedih."
"Kakek Karto juga sering datang?"
Panji mengangguk lagi. "Sering. Tapi Kakek Karto tidak sedih. Dia senang. Dia bilang, dia bangga punya cucu seperti aku."
Sastro tersenyum meskipun matanya basah. "Kakek Karto itu orangnya keras, Nak. Waktu kecil, Bapak sering dimarahi. Tapi dia sayang Bapak."
Panji menatap ayahnya. "Kakek tahu, Pak. Dia bilang... dia minta maaf karena dulu sering marah ke Bapak. Tapi dia tidak tahu cara lain untuk mendidik."
Sastro berhenti berjalan. Air matanya benar-benar jatuh.
"Bapak kenapa menangis?" tanya Panji polos.
Sastro membungkuk. Ia memangku Panji dan memeluknya erat.
"Bapak tidak menangis, Nak. Hanya... ada debu di mata."
Panji memeluk leher ayahnya. "Bapak boleh menangis, Pak. Ibu bilang, menangis tidak apa-apa. Aku juga pernah menangis."
Sastro terisak. "Iya, Nak. Bapak tahu. Bapak tahu."
Malam itu, Srintil tidak jadi memarahi Panji. Ia hanya memeluk anaknya erat-erat dan menangis dalam diam.
Sastro duduk di kursi bambu, merokok, dan menatap langit malam.
Srintil mendekati suaminya. "Mas, Mbah Guno bilang apa tadi?"
Sastro menghembuskan asap. "Dia bilang... kita harus melepaskan Panji. Biarkan ia belajar sendiri. Karena kita tidak akan ada selamanya."
Srintil menggigit bibir. "Dia baru tiga tahun, Mas."
"Aku tahu, Dik. Tapi arwah kakekku sudah memintanya. Mbah Guno tidak bisa menolak. Dan aku juga tidak bisa."
Srintil duduk di samping suaminya. "Mas, aku takut."
"Aku juga, Dik. Tapi kita tidak bisa mempertahankannya selamanya. Cepat atau lambat, dunia akan mengambilnya dari kita. Lebih baik ia sudah siap."
Srintil menunduk. Air matanya menetes ke pangkuan.
Di dalam kamar, Panji tidur dengan nyenyak. Tangannya memegang ujung bantal. Bibirnya bergerak-gerak seperti orang yang sedang berbicara dalam mimpi.
Mungkin ia sedang berbicara dengan Kakek Karto lagi.
Atau dengan Dewi Anggraini yang cantik namun sedih.
Atau dengan leluhur-leluhur lain yang tidak pernah dikenal oleh orang tuanya.
Siapa yang tahu?
Yang jelas, langkah pertamanya ke sendang bukanlah awal dari petualangan. Tapi awal dari sebuah pendidikan—pendidikan yang tidak akan ia dapatkan di sekolah manapun. Pendidikan tentang kehidupan, kematian, dan segala hal di antaranya.
Dan pendidiknya adalah seorang lelaki tua bernama Ki Guno, yang usianya sudah melewati batas yang wajar untuk manusia biasa.
Bab 5: Empat Mata yang Sama
Panji berusia empat tahun ketika ia bertemu dengan Jojo untuk pertama kalinya. Bukan di sendang, bukan di rumah, bukan di pesta desa. Mereka bertemu di sawah, di tengah musim tanam, ketika langit mendung dan hujan gerimis mulai turun.
Jojo bukan anak asli Sumbermaya. Ia datang bersama ayahnya, Pak Burhan, seorang perantau dari kota yang membeli sepetak sawah bekas garapan warga yang pindah ke kabupaten. Jojo tidak punya ibu. Ibunya meninggal saat ia lahir. Pak Burhan tidak pernah menikah lagi.
Anak laki-laki seusia Panji itu berdiri di tengah sawah dengan celana pendek kotor, tanpa alas kaki, rambutnya acak-acakan seperti sarang burung. Ia menangis. Bukan isak tangis biasa—melainkan teriakan keras yang memecah keheningan sore.
Panji, yang sedang menemani Sastro membajak sawah, mendengar tangis itu.
Ia menatap ayahnya.
Sastro mengangguk. "Pergilah, Nak. Bantu dia. Tapi hati-hati, tanahnya licin."
Panji berlari kecil menuju sumber suara.
Panji berdiri di belakang Jojo. Anak laki-laki itu masih menangis, tidak menyadari kedatangan Panji.
"Halo," sapa Panji pelan.
Jojo kaget. Ia berbalik cepat. Matanya merah, hidungnya ingusan. Wajahnya penuh dengan tanah liat.
"Siapa kamu?" tanya Jojo dengan suara serak karena menangis.
Panji tersenyum. "Aku Panji. Aku tinggal di ujung barat desa. Kamu siapa?"
Jojo mengusap hidungnya dengan punggung tangan. "Jojo. Aku baru pindah. Rumahku di selatan, dekat pohon mangga besar."
Panji mengangguk. "Aku tahu pohon mangga itu. Mangganya asam."
Jojo tidak tersenyum. Ia masih menangis.
"Kamu kenapa menangis?" tanya Panji.
Jojo menunduk. "Aku... aku kehilangan sandal jepitku. Hanyut ke selokan. Padahal itu sandal baru. Bapak belikan kemarin."
Panji melihat ke selokan di pinggir sawah. Airnya keruh dan mengalir deras karena hujan gerimis. Sandal jepit merah muda terlihat menyangkut di akar pohon bambu, sekitar dua puluh meter dari tempat mereka berdiri.
"Tunggu di sini," kata Panji.
"Kamu mau apa?" tanya Jojo heran.
Panji tidak menjawab. Ia melepas sandal jepitnya sendiri—sandal biru tua yang sudah lusuh. Ia memberikannya pada Jojo.
"Pegang ini dulu," kata Panji.
Jojo bingung. "Buat apa?"
"Nanti kamu tahu."
Panji berlari menyusuri pematang sawah. Tanahnya licin. Dua kali ia hampir jatuh. Tapi ia terus berlari hingga mencapai pohon bambu tempat sandal Jojo tersangkut.
Jojo berteriak dari kejauhan. "Hati-hati! Banyak lintah di sana!"
Panji mengabaikan. Ia berlutut di tepi selokan, meraih sandal merah muda itu dengan susah payah. Air selokan dingin dan bau lumpur. Tangannya yang mungil nyaris tidak mencapai. Tapi dengan satu tarikan terakhir, ia berhasil meraih sandal itu.
Ia berdiri. Wajahnya penuh dengan percikan lumpur. Tapi ia tersenyum.
Ia berlari kembali ke Jojo. Napasnya tersengal-sengal. Tangan kirinya menggenggam sandal merah muda. Tangan kanannya penuh lintah kecil.
"Ini," kata Panji sambil menyerahkan sandal itu. "Sandalmu."
Jojo menerima sandalnya dengan mata membesar. "Kamu... kamu ambilkan? Sendirian? Jauh begitu?"
Panji mengangguk. "Iya. Tadi Bapakku bilang, kalau lihat orang susah, harus dibantu."
Jojo terdiam. Lalu ia tersenyum untuk pertama kalinya.
"Terima kasih, Panji."
"Kembali."
Mereka berdiri berdua di tengah sawah. Hujan gerimis masih turun. Rambut mereka basah. Tapi tidak ada yang berlindung.
Jojo menunjuk ke tangan kanan Panji. "Itu lintah, ya?"
Panji melihat tangannya. Empat ekor lintah kecil menempel di sela-sela jarinya, menggembung karena sudah menghisap darah.
"Iya," jawab Panji santai.
"Kamu tidak sakit?"
"Sedikit gatal."
Jojo tertawa. "Kamu aneh, Panji."
Panji tertawa juga. "Kamu juga aneh, Jojo. Menangis karena sandal."
Jojo tertawa lebih keras. "Sandal baru, tahu!"
"Sandal baru juga bisa dicari lagi," kata Panji. "Tapi teman baru susah dicari."
Jojo berhenti tertawa. Ia menatap Panji dengan serius.
"Kita jadi teman, ya?" tanya Jojo.
"Sudah," jawab Panji. "Sejak kamu pinjamkan tanganmu untuk pegang sandalku."
Jojo menggaruk kepalanya yang basah. "Aku bingung dengan cara bicaramu, Panji. Kayak orang tua."
Panji tersenyum. "Kata Ibu, aku memang suka bicara seperti itu. Katanya karena sering dengar omongannya Mbah Guno."
"Siapa itu Mbah Guno?"
"Nanti aku kenalkan. Dia kepala adat. Tua banget. Tapi baik."
Sastro dan Pak Burhan berdiri di pematang sawah yang lebih tinggi, memperhatikan kedua anak itu dari kejauhan.
Pak Burhan menghela napas. "Anakmu pemberani, Pak Sastro. Jojo tidak akan berani ke selokan itu sendirian."
Sastro tersenyum. "Panji memang begitu. Dari kecil sudah tidak takut pada apa pun. Kadang membuat khawatir."
"Jojo sebaliknya," kata Pak Burhan. "Dia mudah takut. Mudah menangis. Mungkin karena tidak punya ibu. Saya sendiri yang membesarkannya. Tapi saya juga sibuk kerja."
Sastro menepuk bahu Pak Burhan. "Kita sama-sama, Pak. Saya juga cuma petani. Istri saya kadang membantu di dapur umum desa. Tidak bisa sepenuhnya menjaga Panji."
Pak Burhan menatap kedua anak yang kini tertawa bersama. "Mereka cocok, ya? Kayak sudah kenal lama."
Sastro mengangguk. "Mungkin ini sudah takdir. Mereka bertemu di sawah, di tengah hujan, karena sandal jepit yang hanyut."
Pak Burhan tertawa. "Takdir memang aneh."
"Saya setuju."
Pak Burhan memanggil Jojo dari kejauhan. "Jo! Ayo pulang! Hujan mulai besar!"
Jojo berteriak balik. "Sebentar, Pak! Panji mau kasih lihat sesuatu!"
Jojo menoleh ke Panji. "Apa yang mau kamu tunjukkan?"
Panji melihat ke kiri dan kanan, seperti memastikan tidak ada orang dewasa yang mendengar.
"Kamu percaya hantu?" tanya Panji pelan.
Jojo mengerutkan dahi. "Hantu? Tidak ada, lah. Bapak bilang hantu cuma cerita orang tua."
Panji tersenyum. "Kalau begitu, kamu belum pernah lihat. Aku sering lihat."
"Kamu lihat hantu?" Jojo tidak percaya.
Panji mengangguk. "Di sendang. Di hutan. Kadang di rumahku sendiri. Mereka baik-baik. Tidak menakutkan. Tapi ada satu yang sering menangis."
"Siapa?"
"Dewi Anggraini. Dia cantik. Rambutnya panjang. Tapi dia menangis terus. Mbah Guno bilang, dia menunggu kekasihnya yang tidak pernah datang."
Jojo terdiam. Ia menatap Panji dengan mata setengah takut setengah penasaran.
"Kamu tidak bohong, kan?"
Panji menggeleng. "Aku tidak pernah bohong. Bapak bilang, bohong itu dosa. Kakek Karto juga bilang begitu."
"Siapa lagi Kakek Karto? Kakekmu?"
"Sudah meninggal. Tapi dia sering datang ke kamarku waktu aku tidur. Dia ajari aku banyak hal."
Jojo menggaruk kepalanya lagi. "Aku... aku bingung, Panji. Kamu anak aneh."
Panji tertawa. "Iya, banyak yang bilang begitu. Tapi kamu jangan takut, ya. Aku tidak akan sakiti kamu. Kamu temanku."
Jojo tersenyum canggung. "Iya. Kita teman. Tapi jangan ajak aku lihat hantu, ya. Aku takut."
"Tidak akan," janji Panji. "Kecuali kamu minta."
"Aku tidak akan pernah minta."
"Kita lihat saja nanti."
Hujan mulai reda. Matahari sore muncul di sela-sela awan.
Sastro berjalan mendekati Panji. "Nak, kita pulang. Ibu sudah masak di rumah."
Pak Burhan juga mendekati Jojo. "Jo, ayo. Nanti demam."
Jojo menatap Panji. "Besok kita main lagi, ya?"
Panji mengangguk. "Besok. Di sini lagi. Aku akan bawa bekal. Ibu buat singkong rebus."
"Aku bawa apa?"
"Bawakan dirimu saja."
Jojo tertawa. "Kamu lucu, Panji."
"Kamu juga," balas Panji.
Mereka berpisah. Jojo berjalan ke selatan bersama ayahnya. Panji ke barat bersama ayahnya.
Di tengah jalan, Jojo berbalik. "Panji!"
Panji berbalik juga. "Apa?"
"Terima kasih ya untuk sandalnya!"
"Sama-sama! Jangan dihanyutkan lagi!"
Jojo tertawa keras. "Tidak akan!"
Sastro tersenyum melihat interaksi mereka. "Nak, kamu suka sama Jojo?"
Panji mengangguk. "Suka, Pak. Dia lucu. Mudah nangis, tapi lucu."
"Jaga dia, ya. Dia tidak punya ibu. Mungkin dia butuh teman."
Panji menatap ayahnya. "Aku akan jaga dia, Pak. Janji."
Sastro mengusap rambut Panji yang masih basah. "Bapak bangga padamu, Nak."
Panji tersenyum. "Bapak jangan bangga dulu. Nanti kalau aku sudah besar, baru bangga."
Sastro tertawa. "Baik, Nak. Bapak tunggu."
Malam itu, Jojo tidak bisa tidur. Ia berbaring di kamar barunya yang sederhana—hanya ada kasur tipis, lemari kayu, dan satu lampu minyak tembok.
Ia memandang sandal jepit merah mudanya yang sekarang sudah kering. Ada sedikit lumpur di bagian talinya. Tapi tidak masalah.
"Jo, belum tidur?" suara Pak Burhan dari kamar sebelah.
"Belum, Pak."
"Kenapa?"
Jojo diam sejenak. "Pak, aku punya teman baru."
Pak Burhan terdiam. Lalu ia tersenyum di dalam gelap. "Bagus, Nak. Siapa namanya?"
"Panji. Anak Pak Sastro. Dia baik, Pak. Dan dia aneh."
"Aneh kenapa?"
"Dia bilang dia bisa lihat hantu."
Pak Burhan tertawa kecil. "Ah, anak-anak desa memang suka cerita begitu. Jangan ditelan mentah-mentah, Jo."
Jojo menggeliat di kasurnya. "Tapi Pak, aku percaya dia. Dia tidak bohong. Aku bisa lihat dari matanya."
"Jadi?"
"Jadi... aku senang punya teman seperti dia."
Pak Burhan tidak menjawab. Tapi ia tersenyum lebar di dalam gelap.
Setelah sekian lama Jojo tidak punya teman di kota, akhirnya ia punya teman di desa baru ini.
Di rumah panggung ujung barat, Panji juga belum tidur. Ia duduk di pangkuan Srintil sambil sesekali menguap.
"Bu, Jojo itu lucu," kata Panji.
Srintil tersenyum. "Lucu bagaimana?"
"Dia mudah nangis. Tapi cepat senyumnya. Kayak aku dulu."
"Kamu sekarang juga masih suka nangis, Nji."
Panji menggeleng. "Sekarang jarang. Aku sudah besar."
Srintil tertawa. "Empat tahun besar? Masih kecil, Nji."
"Tidak. Aku sudah punya teman. Orang yang punya teman itu sudah besar."
Srintil mencium kening Panji. "Tidurlah, Nak. Besok main lagi dengan Jojo."
Panji mengangguk. Matanya mulai berat.
"Bu," bisik Panji setengah sadar.
"Ya, Nak?"
"Aku akan jaga Jojo, ya. Dia tidak punya ibu. Kasihan."
Srintil terenyuh. "Ibu bangga padamu, Nak."
"Jangan bangga dulu, Bu. Nanti kalau aku sudah besar, baru bangga."
Srintil tersenyum. Kalimat itu persis seperti yang dikatakan Panji pada Sastro sore tadi. Anak ini... benar-benar mengulang-ulang kata-kata yang sama.
Mungkin ia ingin memastikan bahwa orang tuanya benar-benar mendengarnya.
Atau mungkin ia hanya anak kecil yang lugu.
Tapi Srintil memilih untuk percaya bahwa Panji sudah mengerti lebih banyak daripada yang ia tunjukkan.
Bab 6: Gadis Kecil di Tepian Kali
Satu tahun telah berlalu sejak pertemuan Panji dan Jojo di sawah. Kini mereka berdua sudah tidak terpisahkan. Setiap sore, setelah Panji selesai membantu Sastro di sawah dan Jojo selesai membantu Pak Burhan membersihkan kebun, mereka akan bertemu di bawah pohon beringin besar di tengah desa. Bermain kejar-kejaran, menangkap belalang, atau sekadar berbaring di rumput sambil menatap awan.
Musim kemarau tahun itu sangat panjang. Sawah-sawah mulai mengering. Kali kecil yang biasa menjadi tempat bermain anak-anak desa nyaris tidak mengalir. Airnya tinggal sedikit, keruh, dan dipenuhi daun-daun kering.
Pada suatu sore di penghujung kemarau, ketika matahari masih terik meski jam sudah menunjukkan pukul empat, Panji dan Jojo berjalan menyusuri tepian kali. Mereka mencari ikan kecil dengan tangan kosong—pekerjaan sia-sia karena air hampir habis, tetapi bagi anak-anak seusia mereka, kesia-siaan adalah bagian dari kesenangan.
Dan di situlah mereka melihatnya.
Seorang gadis kecil duduk di tepian kali, seorang diri. Kakinya yang mungil tercelup air keruh. Wajahnya tertunduk. Pundaknya bergetar pelan. Ia menangis.
Panji berhenti berjalan.
Jojo yang berjalan di belakangnya hampir menabrak punggung Panji.
Jojo mengeluh. "Hei, kenapa berhenti mendadak?"
Panji menunjuk ke arah gadis kecil itu. "Lihat."
Jojo mengikuti telunjuk Panji. Ia mengerutkan dahi. "Siapa dia? Aku belum pernah lihat."
"Aku juga belum pernah," kata Panji. "Tapi dia menangis. Kita harus menghampirinya."
Jojo menarik lengan Panji. "Jangan, Nji. Nanti dibilang usil. Lagipula, anak perempuan... ribet."
Panji menatap Jojo. "Kapan kamu jadi takut sama anak perempuan?"
Jojo menggaruk kepalanya. "Bukan takut. Tapi... ya... gitu deh."
Panji tersenyum. "Kamu nggak usah ikut kalau takut. Aku sendiri."
Jojo tersinggung. "Siapa bilang takut? Ayo ikut!"
Mereka berdua berjalan mendekati gadis kecil itu. Langkah mereka sengaja diperkeras agar tidak mengejutkan. Tapi gadis itu tetap tidak menoleh. Sepertinya ia terlalu larut dalam tangisnya.
Panji berhenti sekitar dua meter di belakang gadis itu. Ia duduk di tanah. Jojo mengikutinya.
Panji tidak langsung bicara. Ia hanya duduk diam. Jojo gelisah.
Jojo berbisik. "Nji, ngapain kita duduk-duduk di sini? Ajak bicara dong."
Panji membalas bisikan. "Dia sedang sedih. Kalau kita ajak bicara langsung, dia bisa kaget. Lebih baik kita tunggu sebentar."
Jojo mengeluh pelan. "Dasar kamu... sabar banget sih."
Setelah beberapa saat, gadis kecil itu menyadari kehadiran mereka. Ia menoleh. Wajahnya basah oleh air mata. Hidungnya merah. Matanya sembab. Rambutnya diikat dua ke samping, tapi sudah acak-acakan.
Dia terkejut melihat dua anak laki-laki duduk di belakangnya.
"Kamu siapa?" tanyanya dengan suara serak. Matanya waspada.
Panji tersenyum. "Aku Panji. Ini temanku, Jojo. Kami main di kali."
"Kami tidak ganggu," sambung Jojo cepat. "Cuma lihat kamu sedih."
Gadis itu menunduk lagi. "Nggak usah pedulikan aku."
Panji bergeser sedikit lebih dekat. "Kamu sedih kenapa? Aku tahu kita belum kenal. Tapi kalau kamu mau cerita, kami dengar."
Gadis itu mengangkat wajah. Matanya menatap Panji dengan campuran curiga dan harap.
"Kamu mau dengar?"
Panji mengangguk. "Mau."
Jojo ikut mengangguk meskipun agak ragu.
Gadis kecil itu mengambil napas panjang. Tangannya yang mungil menggenggam ujung kain sarungnya.
"Nama aku Mintarsih," katanya pelan. "Aku tinggal di selatan, dekat kebun tebu. Aku... aku kehilangan sandal."
Jojo nyaris tertawa. Ia menahan diri. Dua kali bertemu dengan anak kecil yang kehilangan sandal.
Panji tidak tertawa. "Sandalmu hanyut?"
Mintarsih menggeleng. "Bukan. Aku... aku buang sendiri."
Jojo mengerutkan dahi. "Kamu buang sendiri? Kenapa?"
Air mata Mintarsih jatuh lagi. "Karena Bapakku bilang... aku tidak boleh punya sandal baru sebelum ibuku pulang."
Panji dan Jojo saling pandang.
Panji bertanya hati-hati. "Ibumu ke mana?"
Mintarsih menunduk. Suaranya nyaris tak terdengar. "Ibu... pergi. Sudah lama. Bapak bilang ibu pergi ke kota cari kerja. Tapi sudah setahun lebih, ibu belum pulang. Dan Bapak sering marah-marah. Tadi Bapak marah karena aku minta dibelikan sandal baru. Sandalku sudah bolong. Jadi aku... aku buang sandal lamaku. Biar Bapak kasihan."
Jojo tidak bisa diam lagi. "Tapi dengan membuang sandal, kamu malah tidak punya sandal sama sekali."
Mintarsih menangis lebih keras. "Aku tahu! Aku bodoh!"
Panji memandang Jojo dengan tatapan yang membuat Jojo langsung diam.
Panji bergeser lebih dekat lagi. Kini ia duduk tepat di samping Mintarsih.
"Kamu tidak bodoh, Mintarsih. Kamu hanya sedih. Dan orang yang sedih kadang melakukan hal yang tidak masuk akal. Aku juga begitu."
Mintarsih mengangkat wajah. "Kamu pernah sedih?"
Panji mengangguk. "Sering. Tapi aku tidak punya siapa-siapa untuk diceritain selain Jojo. Dan Jojo kalau denger cerita sedih, biasanya malah bikin aku gemas."
Jojo protes. "Halo? Aku di sini, ya!"
Mintarsih tertawa kecil meskipun air matanya masih mengalir. "Kalian lucu."
Panji tersenyum. "Lihat, kamu bisa tersenyum. Tidak perlu buang sandal lagi, ya."
Panji berdiri. "Sandalmu yang bolong itu kau buang di mana?"
Mintarsih menunjuk ke arah hilir kali. "Di sana. Aku lempar ke semak-semak."
Panji mengangguk. "Jojo, temani Mintarsih di sini. Aku cari."
Jojo protes lagi. "Kenapa selalu aku yang jagain? Kenapa bukan aku yang cari?"
Panji tersenyum. "Karena kakimu lebih pendek dariku. Nanti kamu jatuh ke kali."
Jojo mendelik. "Kaki kita sama panjang, Nji!"
"Tidak. Aku lebih tinggi setengah jari."
"Omong kosong!"
Mintarsih tertawa lagi. Kali ini lebih keras. "Kalian benar-benar lucu."
Panji berlari ke arah hilir. Ia menyusuri tepian kali, membungkuk-bungkuk, mencari sandal bekas di antara semak-semak berduri. Jojo dan Mintarsih menunggu di tempat.
Jojo duduk di samping Mintarsih. Suasana hening sebentar.
"Mintarsih," panggil Jojo akhirnya.
"Apa?"
"Aku ikut sedih dengar ceritamu. Aku juga tidak punya ibu. Ibuku meninggal pas aku lahir."
Mintarsih menatap Jojo dengan mata membesar. "Benarkah?"
Jojo mengangguk. "Bapakku yang membesarkan aku sendiri. Kadang aku juga sedih. Tapi Bapak bilang... kalau terlalu sering sedih, ibu di surga jadi tidak tenang."
Mintarsih menunduk. "Kalau ibuku... apa dia masih hidup?"
Jojo tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya diam.
Dari kejauhan, Panji berteriak. "Ketemu!"
Ia berlari kembali sambil mengacungkan sebelah sandal jepit bekas—solnya sudah tipis, talinya putus di satu sisi, warnanya sudah pudar dari merah muda menjadi merah muda pucat.
"Ini, kan?" tanya Panji sambil terengah-engah.
Mintarsih menerima sandal itu. Matanya berkaca-kaca lagi. "Iya... ini sandalku."
"Maaf talinya putus," kata Panji. "Mungkin kena duri."
Mintarsih menggeleng. "Tidak apa-apa. Terima kasih, Panji. Terima kasih, Jojo."
Jojo mengangkat bahu. "Santai. Urusan sandal begini sudah biasa buat Panji. Dulu dia juga ambilkan sandalku yang hanyut di selokan."
Mintarsih menatap Panji dengan kagum. "Kamu baik sekali."
Panji tersenyum malu. "Ah, biasa saja."
Jojo menimpali. "Jangan salah, dia kadang juga jail. Kemarin dia sembunyiin topi Bapaknya di atas genteng. Bapaknya nyari sampea magrib."
Panji tertawa. "Itu karena Bapakku tidur siang di sawah, topinya ditiup angin. Aku ambil dan taruh di genteng biar aman."
"Bukan! Kamu bilang sendiri, 'Biar Bapak olahraga nyari topi!'"
Mintarsih tertawa terbahak-bahak. Air matanya yang tadi masih tersisa kini berganti dengan tawa yang riang.
Matahari mulai condong ke barat. Warna jingga mulai menyapu langit. Panji berdiri dan menepuk-nepuk celananya yang kotor.
"Kita harus pulang," kata Panji. "Nanti Ibu marah."
Mintarsih juga berdiri. Ia memegang sandal bekasnya. "Panji... Jojo... aku senang bertemu kalian."
Jojo tersenyum. "Kami juga."
Panji menatap Mintarsih. "Besok kita main lagi di sini, ya. Jam yang sama. Aku bawakan bekal."
Mintarsih mengangguk. "Aku bawain apa?"
"Bawakan senyummu," kata Panji. "Jangan menangis lagi."
Mintarsih tersenyum. "Janji."
Jojo menunjuk ke arah barat. "Ayo, Nji. Hari sudah sore."
Mereka bertiga berjalan bersama menyusuri tepian kali. Panji di tengah. Jojo di kiri. Mintarsih di kanan.
Sampai di pertigaan jalan setapak, mereka harus berpisah. Mintarsih ke selatan menuju kebun tebu. Panji dan Jojo ke barat menuju rumah masing-masing.
Mintarsih berbalik. "Panji! Jojo!"
Mereka berdua berbalik. "Apa?"
"Besok aku pasti datang!"
Panji mengangkat tangannya. "Kutunggu!"
Jojo juga mengangkat tangan. "Jangan lupa, ya!"
Mintarsih berlari kecil ke arah selatan. Sandal bekasnya yang putus talinya ia genggam erat. Ia tidak menangis lagi. Untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan terakhir, ia merasa ada sesuatu yang dinanti-nantikan besok.
Sesuatu yang hangat. Sesuatu yang membuat dadanya terasa ringan.
Di perjalanan pulang, Jojo berjalan di samping Panji. Ia menggiring batu kecil dengan kakinya.
"Nji, aku suka sama Mintarsih," kata Jojo tiba-tiba.
Panji menoleh. "Aku juga. Dia baik."
Jojo menggeleng. "Bukan maksudku begitu. Maksudku... aku suka sama dia."
Panji mengerutkan dahi. "Kita kan baru kenal hari ini."
"Aku tahu. Tapi aku... ah, lupakan."
Panji tersenyum. "Kamu jangan suka-sukaan dulu. Kita masih kecil. Nanti kalau sudah besar, baru suka-sukaan."
Jojo mendelik. "Kamu itu kadang dewasa banget sih bicaranya. Aku jadi bingung."
"Ya sudah, jangan bingung. Kita bertiga main saja dulu. Besok janjian di kali lagi."
Jojo mengangguk. "Iya."
Mereka berjalan dalam diam beberapa saat.
Jojo bicara lagi. "Nji, kamu nggak merasa... aneh? Aku, kamu, Mintarsih. Kita semua tidak punya ibu yang sempurna."
Panji berhenti berjalan. "Apa maksudmu?"
"Kamu masih punya ibu. Tapi ibumu sering sakit-sakitan. Aku tidak punya ibu. Mintarsih... ibunya pergi. Kayak kita bertiga dipersatukan karena... karena kesepian."
Panji menatap Jojo. Matanya dalam. Terlalu dalam untuk anak lima tahun.
"Mungkin itu memang sudah takdir, Jo. Kita bertiga. Aku, kamu, Mintarsih. Kita akan saling jaga."
Jojo tersenyum. "Iya. Kita akan saling jaga."
Mereka melanjutkan perjalanan. Di kejauhan, Srintil sudah berdiri di teras rumah, memanggil-manggil nama Panji.
Panji melambaikan tangan. "Ibu, aku pulang!"
Srintil tersenyum lega. "Cepat mandi, Nak! Nanti magrib!"
Panji berlari kecil ke arah rumahnya. Jojo berjalan terus ke selatan menuju rumahnya yang sederhana di dekat pohon mangga besar.
Tapi sebelum Jojo sampai di rumah, ia berbalik sekali lagi.
Panji sudah hampir sampai di teras. Jojo berteriak sekencang-kencangnya.
"Panji!"
Panji menoleh. "Apa?"
"Kita bertiga akan bersahabat selamanya, ya!"
Panji tersenyum lebar. "Selamanya!"
Malam itu, Pak Burhan duduk di kursi bambu sambil merokok. Jojo duduk di pangkuannya.
"Jo, kelihatannya kamu senang hari ini."
Jojo mengangguk. "Iya, Pak. Aku punya teman baru lagi. Namanya Mintarsih. Perempuan."
Pak Burhan tertawa. "Perempuan? Jojo punya teman perempuan?"
Jojo tersenyum malu. "Iya, Pak. Dia baik. Sedih. Aku ingin melindunginya."
Pak Burhan mengusap rambut Jojo. "Kamu sudah besar, Nak. Punya rasa ingin melindungi orang lain. Bapak bangga."
"Jangan bangga dulu, Pak," kata Jojo meniru gaya bicara Panji. "Nanti kalau aku sudah benar-benar dewasa, baru bangga."
Pak Burhan tertawa keras hingga batuk-batuk.
Di rumah panggung ujung barat, Panji berbaring di pangkuan Srintil. Sastro duduk di samping, mengipasi anaknya dengan daun tala.
"Bu," kata Panji sambil menguap.
"Iya, Nak."
"Menurut Ibu, apakah persahabatan itu bisa selamanya?"
Srintil terdiam sejenak. Ia menatap Sastro. Sastro hanya tersenyum tipis.
Srintil menjawab dengan hati-hati. "Persahabatan itu seperti menanam pohon, Nak. Kalau dirawat setiap hari, disiram, diberi pupuk, pohon itu bisa hidup lama. Tapi kalau ditinggal begitu saja... lama-lama mati."
"Berarti harus dirawat?"
"Iya, harus dirawat."
Panji mengangguk. "Aku akan rawat persahabatanku dengan Jojo dan Mintarsih. Setiap hari."
Srintil mencium kening Panji. "Tidurlah, Nak. Besok main lagi dengan mereka."
Panji memejamkan mata. Bibirnya bergerak pelan, seperti sedang berbisik pada dirinya sendiri.
"Selamanya," bisiknya. "Kita bertiga selamanya."
Di luar jendela, angin malam berbisik lembut. Bintang-bintang bertabur di langit. Tidak ada yang jatuh. Tidak ada yang aneh.
Tapi di kejauhan, di tepi Sendang Kiskenda, Ki Guno berdiri sendirian. Ia menatap langit.
"Selamanya?" gumam Ki Guno pada dirinya sendiri. "Kau belum tahu, Nak. Bahwa selamanya bisa berubah menjadi selama-lamanya. Dan selama-lamanya tidak selalu indah."
Ia menutup mata. Angin malam membawa bau tanah basah.
"Tapi biarlah. Untuk sekarang, biarkan mereka bahagia. Karena kebahagiaan pertama adalah kebahagiaan yang paling murni. Dan murni tidak akan pernah kembali."
Ki Guno berjalan perlahan ke arah barat, meninggalkan sendang yang sunyi.
Dan di tiga rumah yang berbeda di Desa Sumbermaya, tiga anak kecil—Panji, Jojo, dan Mintarsih—tertidur dengan senyum di wajah mereka.
Mereka belum tahu bahwa dunia sedang bersiap untuk menguji mereka.
Tapi untuk malam ini, biarkan mereka bermimpi.
Bab 7: Janji Tiga Bocah
[Narasi pembuka]
Satu tahun lagi berlalu. Panji, Jojo, dan Mintarsih kini genap berusia enam tahun. Mereka sudah tidak terpisahkan. Setiap hari, setelah membantu orang tua masing-masing, mereka bertiga akan berkumpul di bawah pohon beringin besar di tengah desa. Kadang di kali. Kadang di sawah. Kadang di kebun tebu milik ayah Mintarsih.
Musim penghujan telah tiba. Sawah-sawah kembali menghijau. Kali kecil yang dulu nyaris kering kini mengalir deras. Suara katak dan jangkrik mengiringi setiap sore.
Pada suatu petang, ketika hujan baru saja reda dan langit masih mendung kelabu, mereka bertiga duduk di akar pohon beringin yang menjalar ke permukaan tanah. Daun-daun beringin yang lebat melindungi mereka dari sisa-sisa gerimis.
Mintarsih membawa bekal singkong rebus. Jojo membawa air kelapa muda dari kebun ayahnya. Panji membawa sebilah pisau kecil pemberian Ki Guno—pisau itu tidak tajam, hanya simbolis.
Hari itu, Jojo mengusulkan sesuatu.
Jojo mengunyah singkong rebus. Mulutnya penuh. "Gih... gukak...humm..."
Mintarsih menepuk punggung Jojo. "Telan dulu, Jo. Kalau bicara sambil makan, suaramu kedengaran aneh."
Jojo menelan dengan susah payah. Ia minum air kelapa seteguk.
"Gitu," katanya sambil mengusap mulut. "Aku bilang, kita harus buat janji."
Panji yang sedang mengupas singkong dengan pisau kecilnya menoleh. "Janji apa?"
Jojo bersemangat. "Janji selamanya. Kayak orang dewasa. Mereka kalau mau bersahabat selamanya, mereka bersumpah."
Mintarsih mengerutkan dahi. "Sumpah? Bukannya sumpah itu dosa kalau dilanggar?"
Jojo menggeleng. "Bukan sumpah yang gitu. Maksudku... janji suci. Kita janji akan berteman sampai mati."
Panji berhenti mengupas. "Sampai mati? Kita baru enam tahun, Jo. Mati masih lama."
Jojo sedikit kesal. "Itu hanya kiasan, Nji! Maksudnya, kita tidak akan pernah berpisah. Sampai kapan pun."
Mintarsih tersenyum. "Aku setuju. Kita tidak akan berpisah."
Panji diam sejenak. Pisau kecilnya berhenti bergerak. Ia menatap Jojo dan Mintarsih bergantian.
"Aku ingin setuju," kata Panji pelan. "Tapi Mbah Guno pernah bilang sesuatu."
Jojo menyandarkan badan ke akar beringin. "Mbah Guno bilang apa lagi?"
Panji menunduk. "Dia bilang, janji anak kecil sering mudah diucapkan tapi sulit ditepati. Karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan."
Mintarsih merapat ke Panji. "Tapi kita berbeda, Nji. Kita bukan anak kecil biasa. Kita bertiga sudah melalui banyak hal bersama."
"Apa sih yang sudah kita lalui?" tanya Jojo agak sinis. "Kita cuma main-main, cari sandal, bagi-bagi bekal. Itu biasa."
Mintarsih menatap Jojo tajam. "Buatku, tidak biasa. Sebelum kenal kalian, aku tidak punya teman. Aku sendirian setiap hari. Bapakku jarang di rumah. Rumahku sepi. Kalian... kalian adalah keluarga kedua bagiku."
Jojo terdiam.
Panji juga terdiam.
Angin bertiup pelan. Daun-daun beringin bergesekan seperti bisikan.
Mintarsih menarik napas panjang. Matanya berkaca-kaca.
"Kalian tahu? Setiap malam, sebelum tidur, aku selalu berdoa. Aku minta sama Tuhan supaya ibuku pulang. Tapi sampai sekarang belum pulang. Dan setiap hari aku nunggu di pintu, lihat ke jalan raya, berharap ada ibu yang datang."
Jojo menggigit bibir. "Mintarsih..."
Mintarsih melanjutkan, suaranya bergetar. "Tapi setelah kenal kalian, aku tidak terlalu sering nunggu di pintu lagi. Karena aku punya alasan untuk keluar rumah. Aku punya kalian. Jadi... kalau kalian tidak ada di hidupku, aku nggak tahu aku akan jadi apa."
Jojo mengusap matanya yang mulai basah.
Panji meletakkan pisau kecilnya. Ia meraih tangan Mintarsih.
"Kamu tidak akan sendirian," kata Panji lirih. "Aku janji."
Mintarsih tersenyum. "Itu sudah janji, Nji. Kamu tidak boleh ingkar."
Panji mengangguk. "Aku tidak akan ingkar."
Jojo berdiri. Ia berjalan ke arah pohon beringin, menepuk-nepuk batangnya yang besar.
"Oke," katanya tiba-tiba. "Aku berubah pikiran."
Mintarsih cemas. "Kamu tidak mau buat janji?"
Jojo berbalik. Wajahnya serius—sesuatu yang jarang terlihat di wajah bocah enam tahun.
"Aku mau. Malah aku yang paling mau sekarang. Tapi caranya jangan dengan kata-kata biasa."
Panji mengernyit. "Maksudmu?"
Jojo mengeluarkan saku celananya. Ia mengeluarkan sebuah uang logam kuno—uang kepeng berlubang di tengah. Pemberian ayahnya.
"Ini," kata Jojo sambil memegang uang kepeng itu. "Kita akan sumpah dengan darah."
Mintarsih memekik kecil. "Darah? Sakit!"
Jojo tertawa. "Nggak sakit, kok. Cuma sedikit. Pakai jarum atau duri. Kita teteskan di uang kepeng ini. Lalu kita ucapkan janji bersama. Setelah itu, Panji yang simpan uangnya. Karena Panji yang paling bisa dipercaya."
Panji menggaruk kepalanya. "Kenapa aku yang paling bisa dipercaya?"
Jojo menyeringai. "Karena kamu tidak pernah bohong. Aku kadang bohong kalau takut dimarahi Bapak. Mintarsih juga kadang bohong kalau disuruh Bapaknya jualan."
Mintarsih protes. "Aku tidak bohong!"
"Kemarin kamu bilang mau jualan gula merah, tapi malah main sama kita," kata Jojo ketus.
Mintarsih tertunduk malu.
Panji tertawa kecil. "Baiklah. Aku simpan."
Jojo melihat ke sekeliling. "Siapa yang punya jarum?"
Mintarsih menggeleng. "Aku nggak bawa jarum."
Panji juga menggeleng. "Aku juga tidak. Tapi kita bisa pakai duri pohon aren. Itu tajam."
Jojo bersemangat. "Aku ambil! Di mana pohon aren?"
Panji menunjuk ke arah barat. "Di belakang sendang. Tapi Mbah Guno bilang jangan ke sana sendirian."
Jojo menghela napas. "Dasar Mbah Guno, semuanya dilarang."
Mintarsih berdiri. "Ayo kita ke sana bertiga. Tidak sendirian."
Mereka bertiga berjalan ke arah barat. Melewati jalan setapak yang becek karena hujan. Sesekali kaki mereka terpeleset, tapi saling memegang.
Setiba di pohon aren, Jojo memanjat dengan sigap. Panji dan Mintarsih menunggu di bawah.
"Hati-hati, Jo!" teriak Mintarsih.
"Tenang aja, aku jago manjat."
Jojo berhasil mematahkan satu duri aren yang panjang dan tajam. Ia turun dengan bangga.
"Ini dia!"
Panji menerima duri itu. "Sekarang kita harus cari tempat yang aman untuk sumpah."
Mintarsih mengusulkan. "Kembali ke pohon beringin saja. Itu tempat kita biasa kumpul."
"Setuju," kata Jojo.
Mereka kembali ke pohon beringin. Jojo meletakkan uang kepeng di atas batu datar. Panji memegang duri. Mintarsih menggenggam erat kain sarungnya—gemas.
Jojo merogoh saku celananya lagi. Kali ini ia mengeluarkan korek api. "Ini buat api."
Panji terkejut. "Kamu merokok?"
Jojo tertawa. "Bukan! Untuk bakar uang kepengnya sedikit. Kata Bapak, kalau sumpah pakai api, lebih sakral."
Mintarsih masih ragu. "Kita yakin mau melakukan ini?"
Jojo menatap Mintarsih. "Kamu mau kita berpisah suatu hari nanti?"
Mintarsih menggeleng keras. "Tidak mau."
"Kalau begitu, kita lakukan."
Jojo mengambil duri dari tangan Panji. "Aku duluan."
Ia menusuk jari telunjuk kirinya. Setetes darah keluar. Wajahnya sedikit meringis, tapi ia tersenyum.
"Nggak sakit kok," katanya meskipun matanya berkaca-kaca.
Ia meneteskan darahnya ke uang kepeng.
Sekarang giliran Mintarsih. Tangannya gemetar. "Aku... aku takut."
Panji memegang tangan Mintarsih. "Aku pegang tanganmu. Kamu tutup mata."
Mintarsih menutup mata. Panji memegang tangannya yang akan ditusuk. Perlahan, ia menusukkan duri ke ujung jari Mintarsih.
Mintarsih terkesiap kecil. Setetes darah keluar.
Panji meneteskan darah Mintarsih ke uang kepeng.
Sekarang giliran Panji. Ia menusuk jarinya sendiri tanpa ragu. Darahnya menetes. Wajahnya tenang.
Jojo menyalakan korek api. Ia memanaskan uang kepeng yang sudah berlumuran tiga darah itu. Asap tipis mengepul.
"Kita pegang uang ini bersama," kata Jojo.
Mereka bertiga memegang uang kepeng yang masih hangat.
Jojo mulai. "Aku, Jojo, anak Burhan, bersumpah."
Mintarsih melanjutkan. "Aku, Mintarsih, anak Kartiman, bersumpah."
Panji menutup. "Aku, Panji, anak Sastro, bersumpah."
Bersama: "Bahwa kami bertiga akan bersahabat selamanya. Tidak akan saling meninggalkan. Tidak akan saling menyakiti. Suka dan duka bersama. Sampai kapan pun. Di bawah pohon beringin ini, di hadapan leluhur yang menjaga desa ini, kami ucapkan janji ini dengan darah kami."
Hening.
Angin bertiup kencang sejenak. Daun-daun beringin bergoyang hebat. Seperti ada yang bertepuk tangan di atas sana.
Mintarsih bergidik. "Kalian dengar suara itu?"
Jojo mengangguk. "Angin biasa."
Panji diam. Ia menatap ke atas pohon beringin. Matanya menyipit.
"Panji, kamu lihat apa?" tanya Mintarsih cemas.
Panji tersenyum. "Tidak ada. Hanya khayalanku."
Tapi di dalam hatinya, ia melihat sesosok perempuan dengan rambut panjang dan baju putih—Dewi Anggraini—tersenyum dari atas pohon beringin. Dewi itu menangis sambil tersenyum. Seperti orang yang tahu sesuatu yang belum diketahui oleh ketiga bocah itu.
Jojo menyerahkan uang kepeng kepada Panji. "Simpan baik-baik, Nji. Ini bukti janji kita."
Panji menerimanya. Ia memasukkan uang kepeng itu ke dalam saku celananya yang paling dalam.
"Aku akan jaga uang ini sampai kapan pun," janji Panji.
Mintarsih tersenyum. "Sampai kita tua nanti, kita lihat lagi uang ini. Kita ingat hari ini."
Jojo mengusap matanya yang tiba-tiba basah. "Aku... aku senang. Aku belum pernah punya teman kayak kalian. Di kota dulu, aku sering di-bully. Dipanggil anak tanpa ibu."
Mintarsih memeluk Jojo. "Kamu punya kami sekarang."
Panji juga memeluk mereka berdua.
Mereka bertiga berpelukan di bawah pohon beringin, di antara akar-akar besar yang menjalar seperti tangan-tangan leluhur yang menjaga.
Matahari mulai terbenam. Langit berwarna jingga kemerahan. Mereka bertiga berjalan melewati jalan setapak yang sama, menuju pertigaan di mana mereka harus berpisah.
Mintarsih ke selatan.
Panji dan Jojo ke barat.
"Mintarsih!" panggil Jojo.
Mintarsih berbalik. "Apa?"
"Besok kita kumpul lagi di beringin, ya. Jam yang sama."
Mintarsih tersenyum. "Iya. Aku bawa singkong lagi."
"Sekalian bawa gula merah, dong," kata Jojo sambil menyeringai.
Mintarsih tertawa. "Kamu sih, doyan banget sama gula merah."
"Kan enak!"
Panji hanya tersenyum melihat mereka. "Ayo pulang, Jo. Nanti bapakmu marah."
Mereka berpisah. Mintarsih berjalan ke selatan sambil sesekali melompat-lompat kecil. Jojo berjalan ke barat sambil menggiring batu dengan kaki. Panji berjalan di samping Jojo, tangannya di saku celana—meraba uang kepeng yang masih hangat meskipun api sudah padam.
Jojo menggiring batu ke pinggir jalan. "Nji, menurutmu janji kita tadi beneran akan bertahan selamanya?"
Panji tidak langsung menjawab. Ia berjalan beberapa langkah.
"Aku tidak tahu, Jo. Mbah Guno pernah bilang, manusia itu mudah berubah. Yang sekarang kita janjikan, mungkin sepuluh tahun lagi kita lupa."
Jojo berhenti berjalan. "Jadi kita sia-sia?"
"Bukan sia-sia," Panji juga berhenti. "Janji itu penting diucapkan sekarang, di saat kita sungguh-sungguh merasakannya. Nanti kalau kita dewasa, kita mungkin berubah. Tapi janji ini akan mengingatkan kita bahwa dulu, ketika kita masih kecil dan polos, kita pernah saling mencintai."
Jojo mengangguk pelan. "Kamu kalau bicara kayak orang dewasa terus, Nji."
Panji tersenyum. "Mungkin karena aku sering dengar omongannya Mbah Guno."
"Untung kamu bukan anaknya Mbah Guno," canda Jojo. "Pasti tambah tua banget cara bicaramu."
Panji tertawa. "Ayo, lari-larian! Siapa cepat sampai rumah, dia menang!"
Mereka berdua berlari. Kaki-kaki kecil mereka menapaki tanah becek. Sesekali tergelincir, tapi tidak ada yang jatuh.
Jojo sampai lebih dulu. Ia berdiri di depan rumahnya sambil terengah-engah.
"Aku menang!" teriak Jojo.
Panji menyusul dua detik kemudian. "Kamu curang! Rumahmu lebih dekat!"
"Ya nggak! Aku memang lari lebih kencang!"
"Kapan-kapan kita lomba lagi. Di lapangan desa. Biar adil."
"Setuju! Jangan lupa, ya!"
Mereka berpisah dengan tos. Jojo masuk ke rumahnya. Panji melanjutkan perjalanan ke ujung barat.
Sastro sedang duduk di teras rumah. Ia tersenyum melihat Panji berlari kecil.
"Nak, dari mana saja?"
Panji duduk di samping ayahnya. "Dari pohon beringin, Pak. Tadi aku, Jojo, dan Mintarsih buat janji."
"Janji apa?"
Panji mengeluarkan uang kepeng dari sakunya. Ia tunjukkan pada Sastro. "Janji setia. Kami bertiga bersahabat selamanya. Kami pakai darah. Pakai api. Lalu uang ini aku yang simpan."
Sastro mengambil uang kepeng itu. Ditatapnya. Lalu ia mengembalikan pada Panji.
"Nak, janji yang dibuat dengan darah itu berat. Tidak bisa main-main. Kau yakin mau memikulnya?"
Panji mengangguk mantap. "Yakin, Pak. Aku sayang Jojo. Aku sayang Mintarsih. Mereka adalah keluargaku. Selain Bapak dan Ibu."
Sastro mengusap rambut Panji. "Bapak bangga padamu. Tapi Bapak juga ingin mengingatkan satu hal."
"Apa, Pak?"
"Manusia bisa berubah karena keadaan. Bukan karena mereka jahat, tapi karena mereka lelah. Atau takut. Atau terluka. Jika suatu hari nanti Jojo atau Mintarsih berubah... jangan langsung marah. Coba cari tahu kenapa mereka berubah."
Panji mengerutkan dahi. "Maksud Bapak, mereka bisa mengkhianati janji?"
Sastro menghela napas. "Bapak tidak bilang begitu. Bapak hanya bilang, jagalah hatimu. Sayangi mereka. Tapi jangan sampai kehilangan dirimu sendiri jika mereka pergi."
Panji menyimpan uang kepeng itu lagi. Ia menunduk.
"Bapak, apakah persahabatan sejati itu ada?"
Sastro tersenyum. "Ada, Nak. Tapi dia langka. Dia tidak datang setiap hari. Dia datang sekali dalam seumur hidup. Dan dia akan bertahan meskipun badai menerjang. Tapi untuk tahu apakah persahabatan kalian sejati atau tidak... hanya waktu yang bisa menjawab."
Srintil keluar rumah. "Mas, Nji, makan malam sudah siap."
Panji berdiri. Ia mencium tangan ayahnya, lalu ibunya.
"Makan dulu, Bu. Aku lapar."
Srintil tersenyum. "Tadi main apa saja?"
"Janji-janjian, Bu."
"Janji apa?"
"Janji selamanya."
Srintil menatap Sastro. Sastro hanya tersenyum tipis.
Di meja makan, mereka bertiga duduk bersama. Panji lahap menyantap nasi dan sayur asem. Sesekali ia tersenyum sendiri, mengingat sore hari.
Di saku celananya, uang kepeng itu terasa hangat. Seperti jantung kecil yang berdetak. Menyimpan janji tiga bocah yang belum tahu bahwa dunia sedang bersiap untuk menguji mereka.
Di kejauhan, di tepi Sendang Kiskenda, Ki Guno berdiri memandang ke arah pohon beringin.
"Janji dengan darah," gumamnya. "Bocah-bocah ini serius."
Ia menggeleng pelan.
"Tapi janji sejati tidak perlu darah, Nak. Janji sejati cukup dengan tindakan. Karena darah bisa luntur. Tapi tindakan... tindakan akan dikenang."
Ia berbalik. Tongkatnya menekan tanah.
"Semoga kalian kuat. Karena janji kalian akan diuji lebih cepat dari yang kalian duga."
Angin malam bertiup. Bintang-bintang mulai muncul satu per satu.
Dan di bawah pohon beringin yang sunyi, sesosok bayangan perempuan duduk di dahan tertinggi. Rambutnya panjang. Bajunya putih.
Dewi Anggraini tersenyum.
Ia menangis.
Dan ia berbisik pada angin: "Anak-anak polos. Kalian belum tahu bahwa dunia ini kejam. Tapi biarlah. Untuk sekarang, biarkan kalian percaya pada selamanya."
Bab 8: Bayang-Bayang di Sendang (Kedua)
Tiga bulan telah berlalu sejak janji tiga bocah di bawah pohon beringin. Panji kini berusia enam tahun setengah. Ia sudah semakin besar, semakin lincah, dan semakin sering bertanya tentang hal-hal yang tidak biasa ditanyakan oleh anak seusianya.
Mengapa langit biru? Mengapa air mengalir ke bawah? Mengapa orang mati tidak bisa hidup lagi? Mengapa Mbah Guno terlihat lebih tua dari yang seharusnya?
Pertanyaan-pertanyaan itu kadang membuat Sastro tersenyum, kadang membuat Srintil bingung, dan kadang membuat Ki Guno tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Pada suatu sore di musim kemarau, ketika Jojo harus membantu ayahnya memperbaiki atap rumah yang bocor, dan Mintarsih disuruh menjaga adik sepupunya, Panji memutuskan untuk berjalan sendirian ke Sendang Kiskenda.
Bukan karena ia nakal. Bukan karena ia tidak dengar pesan orang tuanya. Tapi karena ia merasa dipanggil. Sebuah suara—atau mungkin hanya perasaan—berbisik di dalam dadanya bahwa sendang itu ingin menemuinya lagi.
Dan ketika ia tiba di tepi sendang, air sore itu tidak berwarna merah keemasan seperti biasanya. Airnya hitam pekat. Seperti langit malam tanpa bintang. Seperti malam ketika ia dilahirkan.
Dan Ki Guno sudah menunggu.
Ki Guno duduk di atas batu datar di tepi sendang. Tangannya memegang pancing tanpa kail. Matanya tidak tertuju pada air, tetapi pada langit di kejauhan.
"Nak," sapa Ki Guno tanpa menoleh. "Sudah kuduga kau akan datang. Air sendang berubah warna sejak tengah hari tadi. Aku sudah duduk di sini sejak jam dua. Menunggu."
Panji mendekat. Ia duduk di samping Ki Guno. "Mbah, airnya hitam lagi. Seperti dulu. Seperti waktu aku masih kecil."
Ki Guno menghela napas. "Kau masih kecil sekarang, Nak. Enam tahun itu kecil."
Panji menggeleng. "Tidak, Mbah. Aku sudah besar. Aku sudah punya teman. Aku sudah bisa membantu Bapak di sawah. Aku sudah bisa janji-janjian dengan darah."
Ki Guno menoleh. Matanya menyipit. "Janji dengan darah?"
Panji mengangguk bangga. "Tiga bulan lalu. Aku, Jojo, dan Mintarsih. Kami bersumpah di bawah pohon beringin. Janji setia selamanya."
Ki Guno tidak tersenyum. Matanya justru menjadi sayu. "Kau tahu, Nak, janji dengan darah itu tidak bisa main-main. Leluhur mendengar. Air sendang ini mendengar. Pohon beringin itu juga mendengar."
Panji sedikit cemas. "Apa kami salah, Mbah?"
Ki Guno menghela napas panjang. "Tidak salah. Hanya... terlalu cepat. Kau masih enam tahun. Kau belum tahu bahwa dunia ini bisa sangat kejam pada orang yang berjanji."
Panji menunduk. "Mbah, aku tidak takut. Aku akan jaga janjiku."
Ki Guno mengusap kepala Panji. "Itulah yang membuatku khawatir, Nak. Bukan karena kau tidak bisa menjaga janji. Tapi karena orang lain mungkin tidak bisa menjaga janjinya padamu."
Panji mengangkat wajah. "Maksud Mbah, Jojo dan Mintarsih akan mengingkari janji?"
Ki Guno menggeleng. "Aku tidak bilang begitu. Aku hanya bilang, manusia itu berubah. Bisa karena keadaan. Bisa karena tekanan. Bisa karena mereka disakiti oleh orang lain, lalu mereka jadi takut untuk setia."
Panji menggenggam erat uang kepeng di sakunya. "Aku tidak akan berubah, Mbah."
Ki Guno tersenyum sedih. "Itulah yang dikatakan semua orang sebelum mereka berubah."
Panji diam. Ia menatap air sendang yang hitam pekat. Sesekali air itu bergerak sendiri, seperti ada sesuatu di bawahnya yang tidak sabar untuk keluar.
"Mbah, kenapa airnya hitam lagi?"
Ki Guno menghela napas. "Karena ada yang akan terjadi. Bukan sekarang. Mungkin tahun depan. Atau lima tahun lagi. Tapi sesuatu yang besar akan terjadi dalam hidupmu. Dan air sendang ini mengetahuinya."
"Apa yang akan terjadi, Mbah?"
Ki Guno menatap Panji. Sorot matanya serius. "Kau benar-benar ingin tahu?"
Panji mengangguk mantap. "Aku ingin tahu. Biar aku siap."
Ki Guno terkekeh kecil. "Kau tidak akan pernah siap, Nak. Tapi baiklah. Lihat ke air. Tatap lama-lama. Jangan berkedip. Dan kau akan melihat apa yang harus kau lihat."
Panji mencondongkan tubuhnya ke depan. Matanya tertuju pada permukaan air yang hitam pekat. Awalnya hanya bayangannya sendiri yang ia lihat. Wajah bocah enam tahun dengan rambut ikal tipis dan mata hitam besar.
Tapi kemudian air itu bergerak.
Bayangan dirinya mulai kabur. Berganti dengan bayangan lain. Bayangan yang lebih besar. Seorang pemuda dengan wajah lelah. Matanya cekung. Tangannya berlumuran darah. Ia berdiri di tengah kerumunan orang banyak. Orang-orang itu berteriak. Ada yang marah. Ada yang takut. Ada yang menangis.
"Panji goblok!" teriak seseorang dalam bayangan itu.
"Panji pengkhianat!" teriak yang lain.
Pemuda itu—yang sangat mirip dengan Panji tetapi lebih tua—diam. Ia tidak membalas. Ia hanya menunduk. Di tangannya ia memegang sehelai kain tua bercorak panji-panji. Kain itu lusuh dan berlumuran tanah.
Panji bergidik. "Mbah... aku melihat... aku... itu aku? Yang lebih tua?"
Ki Guno tidak menjawab. Ia hanya membiarkan Panji terus menatap.
Bayangan itu berganti.
Sekarang Panji melihat seorang perempuan yang ia kenali. Mintarsih. Tapi Mintarsih yang lebih tua—remaja mungkin. Ia menangis. Di belakangnya berdiri seorang laki-laki yang tidak ia kenal. Laki-laki itu tampak kaya. Pakaiannya bagus. Tapi wajahnya dingin. Tidak ada cinta di matanya.
"Mintarsih!" teriak Panji dalam bayangan itu.
Tapi suaranya tidak terdengar. Mintarsih tidak menoleh. Ia terus menangis. Laki-laki itu menggenggam pergelangan tangannya erat-erat. Memaksanya berjalan ke suatu tempat.
Bayangan berganti lagi.
Sekarang Panji melihat Jojo. Jojo tertawa bersama laki-laki kaya tadi—Rama, begitu ia mendengar namanya dalam bayangan itu. Jojo tertawa lebar. Tangannya memegang uang. Banyak uang. Di belakang Jojo, desa Sumbermaya terbakar. Asap mengepul hitam. Lumbung adat hancur.
Dan Jojo tetap tertawa.
Panji memejamkan mata. Air matanya mengalir. "Mbah, aku tidak mau lihat lagi!"
Panji menunduk. Pundaknya bergetar. Ia menangis untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan.
Ki Guno tidak berkata apa-apa. Ia hanya meletakkan tangannya yang keriput di punggung Panji. Membiarkan anak itu menangis sepuasnya.
"Mbah... kenapa Jojo tertawa saat desa terbakar? Kenapa Mintarsih dipaksa sama laki-laki jahat? Kenapa... kenapa aku berdiri sendirian di tengah orang banyak yang marah padaku?"
Ki Guno menarik napas. "Itu salah satu kemungkinan, Nak. Bukan kepastian. Air sendang ini menunjukkan apa yang bisa terjadi, bukan apa yang pasti terjadi."
Panji mengangkat wajah. Matanya merah. "Jadi bisa berubah?"
Ki Guno mengangguk. "Bisa. Tapi tidak mudah. Membutuhkan keberanian. Membutuhkan pengampunan. Membutuhkan cinta yang tidak pernah lelah meskipun sudah berkali-kali dilukai."
Panji mengusap matanya dengan punggung tangan. "Mbah, aku takut."
Ki Guno tersenyum. "Takut itu wajar, Nak. Tapi jangan biarkan ketakutanmu melumpuhkanmu. Gunakan ketakutanmu untuk bersiap. Jaga hatimu. Tapi jangan sampai hatimu menjadi keras."
"Apa maksud Mbah?"
Ki Guno menatap air sendang yang mulai berubah warna—dari hitam pekat menjadi merah keemasan lagi, seperti biasa.
"Maksudku, suatu hari nanti kau akan sangat terluka oleh orang-orang yang kau cintai. Dan kau akan punya dua pilihan: menjadi pahit dan membenci mereka, atau menjadi bijak dan memaafkan mereka. Pilihan pertama lebih mudah. Pilihan kedua lebih mulia. Tapi keduanya sama-sama menyakitkan."
Panji diam. Ia mencoba memahami kata-kata Ki Guno. Tidak semuanya ia mengerti. Tapi ia menangkap intinya: dunia akan menyakitinya, dan ia harus memilih bagaimana meresponsnya.
Panji mengambil napas panjang. "Mbah, siapa laki-laki jahat itu? Yang memaksa Mintarsih?"
Ki Guno menghela napas. "Namanya Rama. Anak pejabat dari kota. Suatu hari nanti ia akan datang ke desa ini. Membawa uang. Membawa kekuasaan. Membawa janji-janji modernisasi yang terdengar indah, tapi sebenarnya ingin mengambil tanah leluhur kalian."
"Rama," ulang Panji. Ia mengingat nama itu. Menyimpannya di dalam hati.
"Dan Seta," tambah Ki Guno. "Keponakan Kades Tirta. Licik. Pandai memanipulasi. Dan Rahul. Preman. Kasar. Tangan kanan Rama untuk hal-hal kotor."
Panji mengepal. "Mereka akan menghancurkan desa kita?"
Ki Guno menggeleng. "Mereka akan mencoba. Tapi apakah mereka berhasil atau tidak, tergantung pada kalian. Tergantung padamu, pada Jojo, pada Mintarsih, pada seluruh pemuda desa."
Panji berdiri. "Aku tidak akan biarkan mereka berhasil, Mbah."
Ki Guno juga berdiri. Lututnya bunyi krek dua kali. "Aku tahu kau tidak akan membiarkan. Tapi apakah kau cukup kuat? Tidak hanya secara fisik. Tapi secara mental. Secara batin. Karena mereka tidak akan melawanmu dengan tinju. Mereka akan melawanmu dengan uang, dengan fitnah, dengan memecah belah persahabatanmu."
Panji mengepalkan tangannya. "Aku akan kuat, Mbah."
Ki Guno tersenyum. "Mari kita latih, Nak. Tidak hari ini. Tapi besok. Dan lusa. Dan setiap hari setelah itu. Aku akan ajari kau banyak hal. Tentang adat. Tentang leluhur. Tentang bagaimana membaca hati manusia. Tentang bagaimana tetap tegar ketika semua orang meninggalkanmu."
Panji mengangguk. "Aku siap belajar, Mbah."
Ki Guno duduk kembali. Ia menepuk batu di sampingnya. Panji duduk lagi.
"Sebelum kau pulang, aku ingin cerita sedikit. Tentang leluhurmu."
Panji antusias. "Tentang Kakek Karto?"
Ki Guno menggeleng. "Bukan. Tentang leluhur yang lebih tua. Jauh lebih tua. Dari zaman ketika desa ini masih hutan belantara."
Panji duduk bersila. Siap mendengar.
Ki Guno memulai. "Dahulu kala, sebelum Belanda datang, sebelum Mataram, sebelum Majapahit, di tanah ini tinggal seorang pertapa. Namanya Eyang Jembar. Ia hidup sendirian di tepi sendang ini. Bukan karena ia tidak punya keluarga. Tapi karena ia memilih untuk menyendiri. Ia ingin dekat dengan alam. Ia ingin dekat dengan leluhur yang sudah mati."
"Mengapa ia ingin dekat dengan orang mati?"
"Karena orang mati tidak berbohong, Nak. Mereka sudah lepas dari ambisi. Mereka sudah lepas dari ketakutan. Mereka hanya menyisakan kebijaksanaan. Eyang Jembar belajar banyak dari arwah-arwah itu. Dan suatu hari, ia mendapat wahyu."
"Wahyu apa, Mbah?"
"Bahwa suatu saat nanti, akan lahir seorang anak di desa ini. Anak yang bisa melihat arwah. Anak yang akan menjadi jembatan antara yang hidup dan yang mati. Anak itu akan membawa panji yang tidak terlihat—panji kebenaran. Dan panji itu akan menyelamatkan desa ini dari kehancuran."
Panji menunjuk dirinya sendiri. "Maksud Mbah... aku?"
Ki Guno tersenyum. "Nini Gendheng meramalkannya. Sastro, bapakmu, juga merasakannya. Aku sendiri sudah tua, tapi aku bisa melihatnya. Kau istimewa, Nak. Bukan karena kau pintar. Bukan karena kau sakti. Tapi karena kau diberi tanggung jawab oleh leluhur. Tanggung jawab yang sangat berat."
Panji terdiam. Ia meraba uang kepeng di sakunya.
"Mbah, aku tidak siap."
"Tidak ada yang pernah siap, Nak. Tapi kau akan belajar menjadi siap. Setiap hari. Setiap luka. Setiap air mata. Itu sekolahmu."
Matahari mulai terbenam. Langit berwarna jingga. Air sendang kini berwarna merah keemasan seperti biasa—kembali normal.
Panji berdiri. "Mbah, aku harus pulang. Ibu sudah menunggu."
Ki Guno mengangguk. "Pergilah, Nak. Besar hati. Dan ingat: apa yang kau lihat di sendang tadi, jangan kau ceritakan pada siapa pun. Bukan karena itu rahasia. Tapi karena orang lain belum tentu bisa memahaminya. Mereka akan menganggapmu gila."
"Aku tidak akan cerita, Mbah. Janji."
Ki Guno tersenyum. "Janji lagi. Sudah berapa janji yang kau buat, Nak? Dengan Jojo dan Mintarsih. Dengan aku. Nanti kalau banyak janji, kau bisa kelelahan."
Panji tersenyum. "Janji itu tidak membuat lelah, Mbah. Yang membuat lelah adalah ketika orang mengingkarinya."
Ki Guno tertegun. Matanya berbinar. "Kau benar, Nak. Kau benar sekali."
Panji berlari kecil meninggalkan sendang. Sesekali ia berbalik melambaikan tangan. Ki Guno membalas lambaian itu dengan tangannya yang keriput.
Sastro berdiri di teras rumah. Ia sudah melihat Panji berlari dari kejauhan.
"Nak, dari mana saja? Ibu sudah masak. Makanannya dingin."
Panji terengah-engah. "Dari sendang, Pak. Bertemu Mbah Guno."
Sastro menghela napas. "Sudah dilarang-larang, tetap saja kau pergi."
Panji mencium tangan ayahnya. "Maaf, Pak. Tapi Mbah Guno mengajariku banyak hal. Tentang leluhur. Tentang Eyang Jembar. Tentang panji kebenaran."
Sastro mengerutkan dahi. "Eyang Jembar? Siapa itu?"
Panji tersenyum. "Nanti kalau aku sudah besar, aku cerita, Pak. Sekarang aku belum bisa menjelaskannya dengan baik."
Sastro tertawa. "Kamu ini... kadang bicara seperti orang dewasa, kadang mengaku masih kecil."
Panji masuk ke rumah. Srintil sudah menyiapkan meja makan.
"Cuci tangan dulu, Nak," kata Srintil.
"Iya, Bu."
Saat mencuci tangan di bak air, Panji menatap bayangannya sendiri di permukaan air. Wajah bocah enam tahun dengan mata hitam besar.
Tapi di dalam hatinya, ia merasa sudah lebih tua dari enam tahun.
Ia ingat bayangan pemuda berdiri sendiri di tengah amukan massa. Ia ingat Mintarsih yang menangis dipaksa oleh laki-laki jahat. Ia ingat Jojo yang tertawa di tengah desa yang terbakar.
Ia menggenggam uang kepeng di sakunya.
"Tidak akan," bisiknya pada dirinya sendiri. "Aku tidak akan biarkan itu terjadi."
Malam itu, Panji sulit tidur. Ia berbaring di kasur tipis, matanya terbuka lebar. Sastro dan Srintil sudah tidur di sampingnya, tidak menyadari bahwa anak mereka sedang bergulat dengan bayangan-bayangan masa depan yang tidak seharusnya dilihat oleh bocah enam tahun.
"Kakek Karto," bisik Panji pelan. "Kakek ada di sini?"
Tidak ada jawaban. Tapi ia merasakan kehangatan di sisi kirinya. Seperti ada yang duduk di pinggir kasur.
"Kakek, aku takut. Aku lihat banyak hal tadi di sendang. Desa terbakar. Jojo jahat. Mintarsih menangis. Apa itu benar-benar akan terjadi?"
Kehangatan itu semakin terasa. Seperti tangan tak terlihat yang mengelus rambutnya.
"Kakek tidak bisa membantuku?" bisik Panji lagi.
Diam. Tapi di dalam hatinya, ia mendengar suara. Suara yang tidak pernah ia dengar sebelumnya, tapi ia kenali sebagai suara Kakek Karto.
"Nak, kakek tidak bisa mengubah masa depan. Tapi kakek bisa berbisik di telingamu di saat-saat yang paling sulit. Kau tidak sendirian. Leluhurmu selalu bersamamu. Ingat itu."
Panji tersenyum. Matanya mulai berat.
"Terima kasih, Kakek."
Ia memejamkan mata. Bayangan-bayangan itu masih ada di kelopak matanya. Tapi kini ia tidak terlalu takut.
Karena ia tahu ia tidak sendirian.
Di kejauhan, Ki Guno masih duduk di tepi sendang. Airnya kini tenang. Berwarna hitam pekat lagi.
"Bocah itu kuat," gumam Ki Guno pada dirinya sendiri. "Lebih kuat dari yang kukira. Tapi kekuatan saja tidak cukup. Ia juga butuh kebijaksanaan. Dan kebijaksanaan hanya datang dari luka."
Ia berdiri. Tongkatnya menekan tanah.
"Semoga lukanya tidak terlalu dalam, Nak. Semoga kau masih bisa tersenyum setelah semuanya berlalu."
Bulan muncul dari balik awan. Cahayanya jatuh ke permukaan sendang. Air hitam itu berubah menjadi perak berkilau.
Dan di dasar sendang, sesosok bayangan perempuan dengan rambut panjang tersenyum.
Dewi Anggraini menangis.
Tapi untuk pertama kalinya, ia menangis karena harapan—bukan karena kesedihan.
Bab 9: Srintil Melawan Takdir
Tiga hari telah berlalu sejak Panji kembali dari Sendang Kiskenda dengan mata sembab dan wajah pucat. Srintil tidak buta. Ia melihat perubahan pada anaknya. Panji yang biasanya ceria dan banyak bicara, kini menjadi pendiam. Ia masih bermain dengan Jojo dan Mintarsih, tapi senyumnya tidak lagi lepas. Ada beban di matanya—beban yang tidak seharusnya dimiliki oleh bocah enam tahun.
Srintil tidak marah pada Panji. Ia marah pada Ki Guno.
Sudah sejak lama ia tidak setuju dengan cara Ki Guno memperlakukan anaknya. Memberi tahu ramalan. Membawa ke sendang. Menunjukkan hal-hal gaib. Dan sekarang, setelah kejadian tiga hari lalu, Srintil memutuskan bahwa sudah cukup.
Pagi itu, setelah Sastro berangkat ke sawah dan Panji masih tidur, Srintil berjalan ke selatan menuju rumah Ki Guno. Langkahnya tegas. Wajahnya datar, tetapi matanya menyala.
Ia tidak membawa apa-apa. Hanya keberanian seorang ibu yang ingin melindungi anaknya.
Rumah Ki Guno sederhana. Hanya satu ruangan beratap rumbia, dinding anyaman bambu, tanpa pintu—hanya tirai kain lusuh. Di halaman depan, Ki Guno sedang duduk bersila di atas tikar pandan, menghisap rokok klobot. Asapnya mengepul tipis di udara pagi.
Srintil berhenti di depan tirai. Tidak mengetuk. Tidak menyapa.
Ki Guno tidak menoleh. "Silakan masuk, Dik. Aku sudah tahu kau akan datang."
Srintil masuk. Ia tidak duduk. Ia berdiri di depan Ki Guno dengan tangan di pinggang.
"Kau tahu kenapa aku datang, Mbah?"
Ki Guno mengangguk. "Karena Panji."
"Benar. Karena Panji." Suara Srintil naik. "Anakku baru enam tahun, Mbah. Enam tahun! Seharusnya ia bermain kejar-kejaran, bukan menangis melihat bayangan desa terbakar! Seharusnya ia belajar membaca, bukan belajar tentang ramalan dan arwah!"
Ki Guno tetap tenang. Ia membuang abu rokok ke tanah. "Duduklah, Dik. Marah tidak akan menyelesaikan masalah."
"Aku tidak mau duduk!" Srintil hampir berteriak. "Sudah tiga malam Panji tidak bisa tidur nyenyak. Ia mengigau. Memanggil-manggil nama Kakek Kartonya. Kadang ia bangun menangis. Dan itu semua karena ulahmu, Mbah!"
Ki Guno menghela napas. "Dik Srintil, apakah kau percaya pada takdir?"
Srintil membuang muka. "Aku tidak percaya pada takdir. Aku percaya pada usaha. Kalau anakku sakit, aku bawa ke mantri. Kalau anakku kelaparan, aku cari makan. Itu yang aku percaya."
"Bagus," kata Ki Guno pelan. "Itu yang membuatmu ibu yang hebat. Tapi kau tidak bisa memungkiri bahwa Panji berbeda sejak ia lahir."
"Berbeda bukan berarti harus ditakut-takuti dengan cerita-cerita mengerikan!" potong Srintil.
Ki Guno mematikan rokoknya. Ia menatap Srintil dengan mata yang tua dan basah.
"Dik, aku tidak menakut-nakuti Panji. Aku hanya menunjukkan apa yang perlu ia lihat. Air sendang itu memanggilnya, bukan aku yang membawanya ke sana. Sejak ia lahir, sendang itu sudah tahu bahwa Panji istimewa."
Srintil tertawa pahit. "Istimewa? Anakku istimewa? Istimewa bagaimana? Dengan melihat hal-hal yang tidak bisa dilihat orang lain? Itu bukan istimewa, Mbah. Itu beban!"
"Kau benar," Ki Guno mengangguk pelan. "Itu beban. Tapi bukan aku yang memilihkan beban itu untuknya. Leluhur. Arwah. Takdir. Mereka yang memilih. Aku hanya perantara."
Srintil mengepal. "Aku tidak peduli dengan leluhur. Aku tidak peduli dengan takdir. Yang aku peduli hanya anakku. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun—termasuk kau, Mbah—menyakiti hatinya."
Ki Guno tersenyum sedih. "Kau ibu yang baik, Srintil. Tapi kau tidak bisa melindunginya selamanya."
"Aku akan berusaha. Selama aku hidup."
"Dan setelah kau mati?"
Srintil terdiam.
Srintil jatuh duduk di tikar. Matanya berkaca-kaca. Suaranya bergetar.
"Aku tahu aku tidak bisa hidup selamanya, Mbah. Tapi setidaknya selama aku masih di sini, aku ingin Panji bahagia. Aku ingin ia tertawa, bukan menangis karena bayangan-bayangan yang tidak ia mengerti."
Ki Guno menggeser duduknya mendekati Srintil. Tangannya yang keriput menggenggam bahu Srintil.
"Dik, dengar. Aku tidak bermaksud membuat Panji takut. Aku hanya mempersiapkannya. Karena suatu hari nanti, ketika kau dan Sastro sudah tiada, Panji akan menghadapi badai yang tidak pernah kau bayangkan. Dan jika aku tidak mempersiapkannya sejak dini... dia akan hancur."
Srintil mengangkat wajah. "Badai apa, Mbah? Apa yang akan terjadi pada desa kita?"
Ki Guno menghela napas panjang. "Modernisasi, Dik. Orang-orang kota akan datang dengan uang. Mereka akan membeli tanah leluhur dengan harga murah. Mereka akan membangun pabrik. Mereka akan merusak sendang. Mereka akan merusak adat. Dan anak-anak muda desa kita akan terpecah belah. Ada yang dijual. Ada yang dibeli. Ada yang setia pada adat. Ada yang mengkhianati."
Srintil terdiam. Ia pernah mendengar desas-desus tentang investor yang ingin membangun pabrik di timur desa. Tapi ia tidak pernah menganggapnya serius.
"Kau serius, Mbah?"
Ki Guno mengangguk. "Aku tidak pernah main-main soal desa ini, Dik. Aku sudah hidup lebih dari delapan puluh tahun di sini. Aku melihat desa ini berubah dari hutan menjadi perkampungan. Aku melihat warga desa ini dari hanya sepuluh keluarga menjadi ratusan. Aku tidak ingin melihat desa ini hancur karena keserakahan."
Srintil menggigit bibir. "Lalu apa hubungannya dengan Panji?"
"Panji adalah kuncinya," kata Ki Guno mantap. "Ia yang akan memimpin perlawanan. Ia yang akan menyatukan pemuda desa. Ia yang akan mengingatkan warga tentang pentingnya adat. Tapi untuk itu, ia harus kuat. Ia harus tahu apa yang akan ia hadapi. Ia tidak boleh kaget."
Srintil menggeleng. "Dia baru enam tahun, Mbah. Masih terlalu muda untuk memikul beban seberat itu."
"Iya," Ki Guno mengangguk. "Tapi beban itu akan datang cepat atau lambat. Lebih baik ia memikulnya sedikit demi sedikit sejak kecil, daripada tiba-tiba di usia dewasa. Percayalah, Dik. Aku tidak tega melihat anak kecil menderita. Tapi terkadang, penderitaan adalah satu-satunya jalan menuju kedewasaan."
Srintil diam lama. Air matanya jatuh ke pangkuan.
"Mbah, aku tidak tahu harus percaya pada siapa. Aku hanya ibu sederhana. Aku tidak bisa melawan takdir jika itu benar-benar ada. Tapi aku bisa melawan siapa pun yang mencoba menyakiti anakku."
Ki Guno mengusap punggung Srintil. "Kau tidak perlu melawan aku, Dik. Kita di tim yang sama. Kita sama-sama ingin melindungi Panji. Hanya caranya yang berbeda."
"Kau ingin ia kuat dengan memberinya luka. Aku ingin ia kuat dengan memberinya cinta."
"Keduanya penting, Dik. Cinta tanpa luka akan membuatnya naif. Luka tanpa cinta akan membuatnya kejam. Panji butuh keduanya. Dan kau, sebagai ibunya, adalah sumber cinta itu. Jangan pernah berhenti mencintainya, meskipun suatu hari nanti ia melakukan hal-hal yang tidak kau setujui."
Srintil mengusap air matanya. "Apa yang akan ia lakukan, Mbah?"
Ki Guno menggeleng. "Aku tidak tahu detailnya. Yang aku tahu, ia akan mengambil risiko besar. Ia akan mempertaruhkan segalanya untuk desa ini. Dan mungkin... ia akan kehilangan banyak hal."
Srintil berdiri. Tangannya gemetar. "Aku akan kembali, Mbah. Aku harus masak untuk Panji."
Ki Guno juga berdiri. "Srintil."
Srintil berbalik. "Apa?"
"Jangan marahi Panji. Jangan tanyakan apa yang ia lihat di sendang. Biarkan ia memprosesnya sendiri. Kalau ia ingin cerita, ia akan cerita. Kalau tidak, jangan paksa."
Srintil mengangguk pelan. "Aku tidak akan memaksa."
Srintil berjalan pulang dengan perasaan campur aduk. Ia masih marah pada Ki Guno, tapi kemarahannya mulai bercampur dengan ketakutan—ketakutan akan masa depan yang tidak bisa ia kendalikan.
Di tengah jalan, ia melihat Panji sedang duduk di bawah pohon asam jawa. Sendirian. Matanya menatap langit.
Srintil mendekat. "Nak, kenapa di sini sendirian? Ibu kira kau masih tidur."
Panji menoleh. Wajahnya tenang. "Aku bangun, Bu. Ibu tidak ada di rumah. Aku cari ke mana-mana. Akhirnya aku duduk di sini."
Srintil duduk di samping Panji. "Ibu pergi ke rumah Mbah Guno."
Panji tidak terkejut. "Ibu marah, ya? Sama Mbah Guno?"
Srintil menghela napas. "Iya, Nak. Ibu marah. Ibu tidak suka Mbah Guno menakut-nakutimu."
Panji menggeleng. "Mbah Guno tidak menakut-nakutiku, Bu. Dia hanya menunjukkan apa yang perlu aku lihat. Aku memintanya."
Srintil menatap anaknya. "Kau memintanya?"
Panji mengangguk. "Aku bilang, 'Mbah, aku ingin tahu.' Lalu Mbah Guno bilang, 'Lihat ke air.' Dan aku lihat."
"Sintil menggigit bibirnya. "Kau lihat apa, Nak?"
Panji diam sejenak. Matanya sayu. "Aku lihat desa kita terbakar, Bu. Aku lihat Jojo tertawa di tengah api. Aku lihat Mintarsih dipaksa menikah dengan laki-laki jahat. Aku lihat aku berdiri sendirian di tengah orang banyak yang marah padaku."
Srintil memeluk Panji erat. "Itu hanya bayangan, Nak. Bukan kenyataan."
"Tapi Mbah Guno bilang, itu bisa terjadi kalau aku tidak berbuat sesuatu."
Srintil melepaskan pelukannya. Ia menatap mata Panji. "Dengar, Nak. Ibu tidak tahu tentang ramalan. Ibu tidak tahu tentang takdir. Tapi ibu tahu satu hal: kau belum dewasa. Kau masih kecil. Kau tidak harus memikul beban dunia sendirian. Kau punya ibu. Kau punya bapak. Kau punya Jojo dan Mintarsih. Kita akan hadapi semuanya bersama."
Panji tersenyum tipis. "Ibu marah sama Mbah Guno karena sayang sama aku, ya?"
Srintil tersenyum meskipun matanya basah. "Iya, Nak. Ibu sayang sama kau. Lebih dari apa pun di dunia ini."
"Aku tahu, Bu. Dan aku sayang Ibu."
Mereka berpelukan di bawah pohon asam jawa. Daun-daun berguguran pelan, seperti ikut menangis.
Sastro pulang lebih awal dari sawah. Ia menemukan Srintil dan Panji sedang duduk di teras rumah. Wajah Srintil masih sembab.
"Ada apa, Dik?" tanya Sastro sambil meletakkan cangkul di sudut rumah.
Srintil menatap Sastro. "Aku baru pulang dari rumah Mbah Guno."
Sastro mengerutkan dahi. "Ada masalah?"
"Aku memarahinya," kata Srintil jujur. "Karena ia menakut-nakuti Panji dengan ramalan-ramalannya."
Sastro duduk di samping Srintil. Ia tidak terkejut. "Dan Mbah Guno bilang apa?"
Srintil menghela napas. "Dia bilang, dia tidak menakut-nakuti. Dia mempersiapkan Panji untuk masa depan. Untuk badai yang akan datang. Tentang modernisasi. Tentang investor yang mau mengambil tanah desa kita."
Sastro terdiam. Ia menatap Panji yang sedang asyik menggambar di tanah dengan ranting.
"Aku juga dengar kabar itu, Dik. Dari Pak Burhan. Ada perusahaan dari kota yang ingin membangun pabrik di timur desa. Mereka sudah mulai mendekati Kades Tirta."
Srintil terkejut. "Kau tahu? Dan kau tidak bilang padaku?"
"Aku pikir itu hanya isu," kata Sastro. "Ternyata Mbah Guno menganggapnya serius."
Panji mengangkat wajah. "Bapak, apa benar desa kita akan diambil orang jahat?"
Sastro mengusap rambut Panji. "Kita tidak tahu, Nak. Tapi kalau itu benar, kita akan lawan. Bersama-sama."
"Bersama Jojo dan Mintarsih juga?" tanya Panji.
"Ya," Sastro tersenyum. "Bersama Jojo dan Mintarsih juga."
Srintil menatap suaminya. "Mas, aku takut."
"Aku juga, Dik. Tapi kita tidak bisa lari dari ketakutan. Kita hanya bisa menghadapinya."
Kembali di rumah Ki Guno, lelaki tua itu masih duduk di tikar pandan. Sebatang rokok klobot baru kini mengepul di tangannya.
Ia menatap langit-langit rumahnya yang berlubang.
"Aku tidak bermaksud jahat, Srintil," gumamnya pelan. "Aku hanya ingin anakmu siap. Karena ketika badai itu datang, aku mungkin sudah tidak ada. Aku sudah tua. Tulangku keropos. Napasku pendek. Aku tidak yakin bisa melihat Panji dewasa."
Ia menghela napas.
"Tapi aku percaya padanya. Aku percaya pada bocah itu. Ia lebih kuat dari yang kau kira, Dik. Jauh lebih kuat."
Ia memejamkan mata. Bayangan Panji kecil muncul di kelopak matanya. Bocah dengan mata hitam besar yang bisa melihat arwah. Bocah yang tidak takut pada hal-hal gaib. Bocah yang berani bertanya tentang kematian dan kehidupan.
"Jaga dia, leluhur," bisik Ki Guno. "Aku sudah tua. Aku tidak bisa menjaganya selamanya. Tolong jaga dia."
Angin bertiup. Tirai kain lusuh di pintu rumahnya bergerak sendiri, meskipun tidak ada angin yang masuk.
Seperti ada yang mengangguk.
Malam itu, keluarga kecil itu makan malam bersama. Sayur asem, tempe goreng, dan sambal terasi. Panji makan dengan lahap, seolah tidak ada beban di pundaknya.
Srintil sesekali menatap anaknya. Hatinya masih perih, tapi ia mencoba tersenyum.
"Bu," panggil Panji tiba-tiba.
"Ya, Nak?"
"Aku janji, aku tidak akan pergi ke sendang sendirian lagi tanpa bilang Ibu."
Srintil terenyuh. "Terima kasih, Nak."
"Tapi kalau Mbah Guno yang memanggil, aku harus pergi, Bu. Karena Mbah Guno tua. Nanti kalau dia mati, aku tidak bisa belajar lagi dari dia."
Sastro dan Srintil saling pandang.
Sastro berkata hati-hati. "Nak, Mbah Guno memang tua. Tapi dia belum akan mati. Masih lama."
Panji menggeleng. "Tidak lama, Bapak. Kakek Karto bilang, Mbah Guno hanya punya waktu lima tahun lagi. Mungkin kurang."
Srintil hampir tersedak. "Kakek Karto bilang? Kapan?"
"Tadi malam. Waktu aku tidur. Kakek datang. Dia bilang, 'Nak, belajar yang banyak dari Mbah Guno. Waktunya tidak panjang.'"
Hening.
Sastro meletakkan sendoknya. "Kau yakin, Nak?"
Panji mengangguk. "Kakek Karto tidak pernah bohong, Pak."
Srintil menunduk. Air matanya jatuh ke piring. Ia tidak bisa membendungnya lagi.
Bukan karena takut pada ramalan. Tapi karena ia sadar—anaknya benar-benar berbeda. Dan perbedaan itu akan membawanya pada kehidupan yang berat.
Panji melihat ibunya menangis. Ia meraih tangan Srintil.
"Jangan menangis, Bu. Aku akan baik-baik saja. Kakek Karto bilang, aku dijaga oleh seribu bintang. Jadi aku tidak akan jatuh."
Srintil mengangkat wajah. Ia tersenyum meskipun air matanya terus mengalir.
"Iya, Nak. Ibu percaya. Ibu percaya kau dijaga."
Di luar, langit malam bertabur bintang. Tidak ada yang jatuh. Tidak ada yang aneh. Hanya bintang-bintang biasa yang bersinar terang.
Tapi di kejauhan, di tepi Sendang Kiskenda, Ki Guno masih duduk sendirian. Air sendang berwarna hitam pekat lagi. Dan di permukaannya, terpantul bayangan lima tahun ke depan—sebuah bayangan yang tidak akan ia ceritakan pada siapa pun.
Bab 10: Jojo Mulai Bertanya
Usia tujuh tahun adalah usia ketika anak-anak mulai membandingkan. Rumah siapa yang lebih besar. Baju siapa yang lebih bagus. Mainan siapa yang lebih banyak. Siapa yang lebih pintar. Siapa yang lebih disukai guru. Siapa yang lebih cepat berlari.
Jojo tidak pernah membandingkan diri dengan Panji sebelumnya. Panji adalah sahabatnya. Panji adalah orang yang menyelamatkan sandalnya yang hanyut di selokan. Panji adalah orang yang mengajaknya berteman tanpa syarat. Panji adalah kakak yang tidak pernah ia miliki.
Tapi belakangan, Jojo mulai bertanya.
Bukan karena ia membenci Panji. Tapi karena orang-orang di sekitarnya—orang dewasa di desa—sering berkata, "Wah, Panji itu anak istimewa, ya." Atau, "Panji itu lahir di malam seribu bintang." Atau, "Panji itu katanya bisa lihat hantu."
Dan Jojo tidak pernah mendengar ada orang yang berkata seperti itu tentang dirinya.
Sore itu, Jojo dan Panji berjalan pulang dari sekolah desa. Mereka bertiga—Panji, Jojo, dan Mintarsih—duduk di bangku yang sama. Tapi hari ini Mintarsih tidak masuk karena demam.
Jojo berjalan di samping Panji. Sesekali ia menendang batu.
"Nji, tadi Bu Guru memujimu lagi," kata Jojo dengan nada datar.
Panji tidak sadar dengan nada itu. "Memuji apa?"
"Dibilang jawabanmu paling pintar. Dibilang kau anak yang cerdas. Dibilang kau pasti jadi pemimpin desa suatu hari nanti."
Panji tertawa kecil. "Bu Guru itu suka melebih-lebihkan. Aku biasa saja."
Jojo berhenti berjalan. "Kau tidak merasa istimewa, Nji?"
Panji juga berhenti. Ia menatap Jojo. "Istimewa bagaimana?"
Jojo menghela napas. Lupa. Dia lupa bahwa Panji tidak pernah merasa istimewa. Orang lain yang menganggapnya istimewa.
"Tidak usah," kata Jojo sambil melanjutkan berjalan. "Aku hanya penasaran."
Mereka berjalan dalam diam beberapa saat.
Pak Burhan sedang duduk di teras rumah, memperbaiki jebakan tikus dari bambu. Wajahnya lelah sepulang dari kebun.
"Jo, kamu pulang?" sapa Pak Burhan tanpa menoleh.
"Ya, Pak," jawab Jojo sambil duduk di samping ayahnya.
"Panji mana? Biasanya kamu main dulu sama dia."
"Tidak main hari ini. Ajakannya ke sendang lagi. Aku malas."
Pak Burhan menoleh. "Kamu malas ke sendang? Bukannya dulu kamu suka?"
Jojo mengangkat bahu. "Bosan, Pak. Setiap hari ke sendang. Setiap hari dengar cerita Mbah Guno soal ramalan, soal arwah, soal masa depan. Aku capek."
Pak Burhan meletakkan jebakan tikusnya. Ia menatap Jojo. "Ada apa, Nak? Biasanya kamu tidak seperti ini."
Jojo diam sejenak. Ia menggenggam erat ujung bajunya yang kumal.
"Pak, aku mau tanya sesuatu."
"Iya, Nak. Tanya apa?"
"Kenapa Panji istimewa?"
Pak Burhan mengerutkan dahi. "Istimewa bagaimana maksudmu?"
Jojo menunduk. "Semua orang di desa ini bilang Panji istimewa. Lahir di malam seribu bintang. Bisa lihat hantu. Dipanggil-panggil sendang. Dia favorit Bu Guru. Dia favorit Mbah Guno. Semua orang suka sama Panji."
Pak Burhan diam. Ia menghela napas panjang.
"Jo, kau iri?"
Jojo menggeleng cepat. Terlalu cepat. "Tidak, Pak. Aku hanya... aku hanya penasaran."
Pak Burhan tersenyum. "Nak, Panji memang berbeda. Tapi berbeda tidak selalu berarti lebih baik. Setiap orang punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing."
"Kelebihanku apa, Pak?"
Pak Burhan berpikir. "Kau jago berhitung. Panji tidak sejago kau. Kau juga pemberani. Waktu kecil kau pernah memanjat pohon kelapa setinggi tujuh meter. Panji tidak berani."
Jojo tertawa kecil. "Itu dulu, Pak."
"Itu sekarang juga. Kau hanya lupa." Pak Burhan mengusap rambut Jojo. "Jangan bandingkan dirimu dengan orang lain, Nak. Bandingkan dirimu dengan dirimu sendiri kemarin. Apakah hari ini kau lebih baik dari kemarin? Itu pertanyaan yang lebih penting."
Jojo mengangguk pelan. Tapi hatinya masih gelisah.
Malam itu, Jojo tidak bisa tidur. Ia berbaring di kasurnya, matanya terbuka lebar. Pak Burhan sudah tidur di kamar sebelah. Rumah mereka sunyi.
Jojo memejamkan mata. Ia berharap bisa bermimpi seperti Panji. Panji sering bilang ia bertemu Kakek Kartonya dalam mimpi. Panji sering bilang ia melihat bintang-bintang jatuh dalam tidurnya.
Jojo tidak pernah melihat apa pun. Mimpinya biasa-biasa saja. Tentang sekolah. Tentang bermain. Tentang makan.
Mengapa Panji yang mendapatkan semua hal istimewa?
Mengapa bukan dia?
Jojo menggigit bibirnya. Ia marah pada dirinya sendiri karena marah pada Panji.
"Panji sahabatku," bisiknya. "Aku tidak boleh iri."
Tapi bisikan itu tidak cukup untuk menenangkan hatinya.
Keesokan sorenya, mereka bertiga berkumpul di bawah pohon beringin. Mintarsih sudah sembuh dari demamnya, meskipun masih sedikit pucat. Panji membawa bekal singkong rebus. Jojo membawa air kelapa.
Mintarsih mengunyah singkong. "Jojo, kok diem aja? Biasanya paling banyak bicara."
Jojo mengangkat bahu. "Nggak ada yang mau dibicarakan."
Panji menatap Jojo. "Jo, ada masalah?"
Jojo tidak menjawab.
Mintarsih menyikut Jojo pelan. "Jo, cerita dong. Jangan diem aja. Aku jadi takut."
Jojo menghela napas. "Nji, aku mau tanya."
"Iya," kata Panji. "Tanya apa?"
"Kamu benar-benar lihat hantu?"
Panji mengangguk. "Benar."
"Seperti apa?"
Panji berpikir. "Seperti orang biasa. Cuma... sedikit transparan. Kadang mereka bicara. Kadang cuma diam."
Jojo menggigit bibir. "Pernahkah kamu lihat ibuku?"
Panji terkejut. Jojo tidak pernah bertanya tentang ibunya sebelumnya.
"Kamu... maksudmu?"
"Ibuku," ulang Jojo. "Dia meninggal pas aku lahir. Aku tidak pernah lihat wajahnya. Aku cuma punya satu foto lusuh yang disimpan Bapak di lemarinya. Tapi fotonya sudah buram. Aku tidak bisa lihat jelas wajahnya. Aku tidak tahu apakah aku mirip dia atau mirip Bapak."
Panji dan Mintarsih terdiam.
Panji menjawab pelan. "Aku belum pernah lihat ibumu, Jo. Maaf."
Jojo menunduk. "Tidak apa-apa. Hanya penasaran."
Mintarsih meraih tangan Jojo. "Jo, suatu hari nanti kamu akan tahu. Mungkin bukan dari hantu. Mungkin dari orang lain. Atau dari foto yang lebih jelas."
Jojo mengangguk tanpa mengangkat wajah.
Panji bergeser mendekati Jojo. "Jo, kamu sedih?"
Jojo menggeleng. "Aku tidak sedih. Aku hanya... bingung. Kenapa kamu bisa lihat arwah, tapi aku tidak? Kenapa kamu yang dipanggil sendang, bukan aku? Kenapa semua orang bilang kamu istimewa, padahal aku juga bisa banyak hal?"
Panji diam. Mintarsih juga diam.
Jojo menghela napas. "Maaf. Aku tidak bermaksud..."
"Kamu iri," potong Panji pelan.
Jojo mengangkat wajah. Matanya basah. "Iya. Aku iri. Maaf."
Panji tersenyum. "Tidak usah minta maaf. Aku juga kadang iri sama kamu."
Jojo mengerutkan dahi. "Iri sama aku? Iri apa?"
"Kamu punya ayah yang selalu ada untukmu. Bapakku kadang sibuk banget di sawah. Aku jarang ngobrol sama dia. Kamu sering cerita tentang ayahmu yang ngajak kamu mancing, ngajak kamu ke kebun, ngajak kamu main bola. Aku iri."
Jojo terdiam.
Mintarsih ikut berbicara. "Kalau aku iri sama kalian berdua."
"Kenapa?" tanya Jojo dan Panji hampir bersamaan.
Mintarsih menunduk. "Kalian masih punya ayah. Ibuku... entah di mana. Bapakku... dia ada, tapi dia sibuk terus. Aku sering sendirian di rumah. Kalau tidak ketemu kalian, aku nggak tahu harus ngapain."
Hening.
Mereka bertiga saling pandang. Kemudian mereka tertawa bersamaan—bukan tawa bahagia, tapi tawa getir.
Jojo mengusap matanya. "Kita ini lucu, ya. Saling iri padahal sama-sama kekurangan."
Mintarsih mengangguk. "Iya. Kita lucu."
Panji berdiri. "Tapi kita punya satu kelebihan yang tidak dimiliki anak-anak lain."
"Apa?" tanya Jojo dan Mintarsih.
Panji tersenyum. "Kita punya satu sama lain."
Mereka berjalan pulang saat matahari mulai terbenam. Jojo di tengah, Panji di kiri, Mintarsih di kanan. Seperti biasa.
Jojo menoleh ke Panji. "Nji, maaf ya tadi aku ngomong begitu."
Panji menggeleng. "Tidak usah minta maaf. Kalau kita sudah kayak saudara, nggak perlu minta maaf untuk hal kecil."
Jojo tersenyum. "Kamu memang beda, Nji. Tapi aku sudah nggak iri lagi."
"Serius?" tanya Mintarsih.
Jojo mengangguk. "Serius. Aku sadar, jadi istimewa itu berat. Aku lihat mata Panji kadang sayu. Aku lihat dia sering diam kalau nggak ada kita. Aku rasa, beban yang dia bawa lebih berat dari yang aku kira. Jadi aku nggak iri. Aku malah kasihan."
Panji tersenyum tipis. "Jangan kasihan sama aku, Jo. Aku baik-baik saja."
"Kamu nggak baik-baik saja," potong Jojo. "Tapi kamu pura-pura. Dan itu yang membuatku sedih."
Mintarsih menggenggam tangan Panji. "Cerita sama kami kalau kamu lagi sedih, Nji. Jangan simpan sendiri."
Panji menunduk. "Iya. Aku janji."
Mereka sampai di pertigaan. Mintarsih ke selatan. Jojo dan Panji ke barat.
Mintarsih berbalik. "Besok kumpul lagi, ya!"
"Iya!" jawab Jojo dan Panji bersamaan.
Pak Burhan sedang merebus air di dapur ketika Jojo masuk.
"Jo, sudah makan?"
"Belum, Pak. Tunggu Bapak dulu."
Pak Burhan tersenyum. "Baik, habis merebus air ini kita makan bareng."
Jojo duduk di kursi bambu. "Pak, tadi aku ngobrol sama Panji dan Mintarsih."
"Ngobrol tentang apa?"
Jojo menghela napas. "Tentang iri. Tentang sedih. Tentang keluarga."
Pak Burhan berhenti mengaduk air. "Lalu?"
"Panji bilang, kelebihan kita adalah punya satu sama lain. Aku jadi mikir... mungkin Bapak juga butuh teman. Bapak kan sendirian terus. Tidak punya istri. Tidak punya saudara di desa ini. Apa Bapak tidak kesepian?"
Pak Burhan terdiam. Air di panci mulai mendidih.
Pak Burhan mematikan api. Ia duduk di samping Jojo.
"Jo, Bapak memang sendirian. Tapi Bapak tidak kesepian. Karena Bapak punya kamu."
Jojo menunduk. "Maaf, Pak. Aku sering merepotkan Bapak."
Pak Burhan mengusap rambut Jojo. "Kamu tidak pernah merepotkan, Nak. Kamu adalah alasan Bapak tetap kuat."
Jojo mengangkat wajah. Matanya basah. "Pak, aku janji akan jadi anak yang baik. Aku akan belajar rajin. Aku akan membantu Bapak di kebun. Aku tidak akan merepotkan."
Pak Burhan memeluk Jojo. "Bapak tidak minta kamu jadi sempurna, Jo. Bapak hanya minta kamu jadi dirimu sendiri. Jangan berusaha jadi Panji. Jangan berusaha jadi orang lain. Jadilah Jojo. Itu sudah cukup."
Jojo menangis di pelukan ayahnya. Bukan karena sedih. Tapi karena lega.
Malam itu, Jojo tidur dengan tenang. Tidak ada mimpi tentang hantu. Tidak ada mimpi tentang bintang jatuh. Ia hanya bermimpi tentang ayahnya yang mengajaknya memancing di kali, seperti yang dulu sering mereka lakukan sebelum ayahnya terlalu sibuk dengan kebun.
Di rumah panggung ujung barat, Panji juga tidur. Tapi sebelum tidur, ia sempat berbicara dengan Srintil.
"Bu, Jojo tadi bertanya tentang ibunya."
Srintil mengerutkan dahi. "Ibunya Jojo?"
"Iya. Ibunya meninggal pas Jojo lahir. Jojo tidak pernah lihat wajah ibunya. Dia sedih."
Srintil menghela napas. "Kasihan."
"Bu, suatu hari nanti kalau Jojo datang ke rumah, boleh aku tunjukkan foto ibu?"
Srintil tersenyum. "Ibu tidak punya foto ibunya Jojo, Nak. Tapi ibu bisa menjadi ibu untuk Jojo. Setiap kali ia ke sini, ibu akan sayang padanya seperti ibu sayang padamu."
Panji tersenyum. "Terima kasih, Bu."
"Tidurlah, Nak. Besok sekolah."
Panji memejamkan mata. Ia tersenyum kecil.
Di kejauhan, Ki Guno berdiri di tepi Sendang Kiskenda. Airnya tenang. Berwarna merah keemasan seperti biasa.
"Bibit kecemburuan sudah tumbuh," gumumnya. "Tapi masih kecil. Masih bisa dicabut. Tapi apakah akan dicabut atau dibiarkan... itu tergantung pada mereka."
Ia menghela napas.
"Dan tergantung pada orang dewasa di sekitar mereka."
Ia berbalik. Tongkatnya menekan tanah.
"Semoga Pak Burhan dan Sastro dan Srintil cukup bijak. Karena anak-anak ini butuh bimbingan. Mereka butuh cinta. Mereka butuh teladan."
Ia berjalan perlahan ke arah barat. Meninggalkan sendang yang sunyi.
Dan di dasar sendang, bayangan Dewi Anggraini tersenyum sedih.
"Kecemburuan," bisiknya. "Awal dari segalanya."
Bab 11: Sekolah Desa dan Pertama Kali Mengeja
Usia tujuh tahun adalah saat yang ditunggu-tunggu oleh setiap anak di Desa Sumbermaya. Bukan karena ulang tahun. Bukan karena pesta. Tapi karena saat itulah mereka diizinkan untuk bersekolah.
Sekolah Desa Sumbermaya hanyalah sebuah bangunan sederhana beratap seng berdinding anyaman bambu, dengan tiga ruang kelas dan satu ruang guru. Lantainya tanah, dipadatkan setiap pagi oleh murid laki-laki yang bertugas piket. Meja dan kursi dari kayu jati bekas, dengan permukaan yang dipenuhi coretan nama dari angkatan-angkatan sebelumnya.
Tidak ada seragam. Tidak ada sepatu. Ada hanya semangat dan rasa ingin tahu.
Bagi Panji, Jojo, dan Mintarsih, sekolah adalah dunia baru. Dunia di luar pohon beringin, di luar sendang, di luar kebun tebu dan sawah. Dunia dengan huruf-huruf yang harus dirangkai menjadi kata, dan kata-kata yang harus dirangkai menjadi kalimat.
Guru mereka bernama Bu Sartika. Seorang perempuan berusia tiga puluh tahun dengan rambut panjang yang selalu diikat ke belakang. Ia lulusan sekolah guru di kabupaten dan memilih kembali ke desa asalnya untuk mengajar. Matanya tajam tetapi senyumnya lembut. Murid-murid takut sekaligus sayang padanya.
Pagi itu, langit cerah. Burung-burung berkicau di pohon beringin. Panji dan Jojo berjalan bersama menuju sekolah. Mintarsih menyusul dari selatan.
Jojo menggiring batu dengan kakinya. "Nji, kamu takut nggak?"
Panji menoleh. "Takut apa?"
"Bu Sartika. Kata anak-anak kampung sebelah, Bu Sartika galak."
Panji tersenyum. "Belum pernah ketemu, kok sudah bilang galak."
Jojo mengangkat bahu. "Takut aja. Aku nggak bisa baca sama sekali. Nanti aku dianggap bodoh."
Mintarsih yang baru menyusul ikut bicara. "Aku juga nggak bisa baca. Tapi kata Bapakku, nggak apa-apa. Nanti belajar."
Jojo menghela napas. "Panji pasti bisa. Panji kan istimewa."
Panji menggeleng. "Aku juga nggak bisa baca, Jo. Aku cuma bisa lihat arwah. Itu nggak membantu baca buku."
Mereka bertiga tertawa.
Mintarsih menunjuk ke depan. "Lihat, itu sekolahnya!"
Sebuah bangunan sederhana dengan papan nama bertuliskan "SD DESA SUMBERMAYA" mulai terlihat di kejauhan. Halaman depannya sudah dipenuhi anak-anak desa. Ada yang berlarian, ada yang menangis karena ditinggal ibu, ada yang duduk diam sambil memegang tas anyaman dari bambu.
Bu Sartika berdiri di depan kelas. Papan tulis hitam di belakangnya masih kosong. Kapur putih tergenggam di tangan kirinya. Penggaris kayu di tangan kanannya.
"Selamat pagi, anak-anak," sapa Bu Sartika dengan suara lantang.
"Selamat pagi, Bu Guru!" jawab dua puluh anak serempak.
Bu Sartika tersenyum. "Hari ini adalah hari pertama kalian bersekolah. Kalian akan belajar banyak hal. Membaca. Menulis. Berhitung. Menggambar. Menyanyi. Siapa yang paling semangat?"
Semua anak mengangkat tangan. Termasuk Jojo, meskipun matanya masih waswas.
Bu Sartika menunjuk ke arah Panji. "Kamu, namanya siapa?"
Panji berdiri. "Panji, Bu."
"Panji, apakah kamu sudah bisa membaca?"
Panji menggeleng. "Belum, Bu. Tapi aku ingin belajar."
Bu Sartika mengangguk. "Bagus. Anak yang sadar bahwa ia belum bisa adalah anak yang sudah siap belajar. Duduk kembali, Panji."
Panji duduk. Jojo berbisik di sampingnya. "Nji, kamu nggak gugup?"
Panji membalas bisikan. "Gugup sedikit. Tapi Mbah Guno bilang, kalau gugup, tarik napas dalam-dalam."
"Apakah Mbah Guno juga pernah sekolah?" tanya Jojo.
Panji menggeleng. "Kata beliau, sekolahnya di alam."
Bu Sartika mengetuk meja dengan penggarisnya. "Anak-anak yang di belakang, jangan bicara sendiri. Perhatikan ke depan."
Jojo langsung diam. Wajahnya memerah.
Bu Sartika menulis satu huruf di papan tulis.
"A... A... A..." ucap Bu Sartika sambil menunjuk huruf itu.
"Anak-anak, ulangi: A..."
"A..." serempak dua puluh anak.
"Sekarang B..."
"B..."
"Bagus. Sekarang A dan B digabung jadi... BA..."
"BA..."
"BA dibaca... BA."
Anak-anak mengulang. Ada yang sudah bisa, ada yang masih bingung.
Bu Sartika berjalan di antara meja-meja kayu. Ia berhenti di samping Mintarsih.
"Coba, Nak. Baca ini." Bu Sartika menunjuk ke sebuah kata sederhana di papan tulis: BA-BI.
Mintarsih berdiri. Tangannya gemetar. "Ba... bi..."
"Bagus, lanjutkan."
"Ba... bi... Babi?"
Bu Sartika tersenyum. "Benar sekali. Babi. Pintar."
Mintarsih duduk dengan dada membusung.
Bu Sartika berjalan ke Jojo. "Sekarang giliranmu. Baca ini." Ia menunjuk kata: BU-KU.
Jojo berdiri. Keringat dingin membasahi dahinya. "Bu... bu... ku..."
"Ya, ya, lanjutkan."
"Buku... Bu, Buku?"
Bu Sartika mengangguk. "Benar. Buku. Bagus, Jojo."
Jojo duduk. Ia lega setengah mati.
Bu Sartika berjalan ke Panji. "Sekarang kamu, Panji. Baca ini." Ia menunjuk kata: BA-PAK.
Panji berdiri. Matanya menatap papan tulis dengan tenang. "Bapak."
Bu Sartika terkesima. "Wah, kamu sudah bisa membaca kata panjang seperti itu?"
Panji menggeleng. "Aku tidak membaca, Bu. Aku tahu kata itu karena aku punya Bapak. Kata Bapak sering muncul di rumah."
Bu Sartika tertawa. "Pintar juga caramu menjelaskan. Duduk kembali."
Jojo menatap Panji dengan tatapan aneh. Bukan marah. Bukan iri. Tapi kagum bercampur tanda tanya.
Bel istirahat berbunyi. Anak-anak berhamburan ke halaman. Ada yang jajan di kantin sederhana, ada yang bermain kejar-kejaran, ada yang duduk di bawah pohon rindang.
Mintarsih, Panji, dan Jojo duduk di akar pohon beringin kecil di samping sekolah. Mereka membuka bekal masing-masing. Mintarsih bawa singkong rebus. Panji bawa pisang goreng. Jojo bawa ubi jalar kukus.
"Panji, tadi kamu hebat," puji Mintarsih. "Bisa baca Bapak."
Panji mengunyah pisang gorengnya. "Itu bukan membaca. Itu menghafal. Aku sering lihat tulisan Bapak di buku tulisnya. Jadi aku hafal bentuknya."
Jojo diam. Ia mengunyah ubinya perlahan.
Mintarsih menatap Jojo. "Jo, kenapa diem aja? Biasanya paling banyak bicara."
Jojo menelan ubinya. "Aku mikir. Tadi Bu Sartika bilang Panji pintar. Tapi aku juga bisa baca Buku. Kenapa dia tidak bilang aku pintar?"
Panji menepuk bahu Jojo. "Karena beliau belum sempat, Jo. Nanti pasti bilang."
Jojo menggeleng. "Tidak. Aku sudah lihat. Tatapan Bu Sartika ke kamu berbeda. Lebih kagum."
Mintarsih ikut bicara. "Jo, jangan gitu. Panji kan tidak minta dikagumi."
Jojo menghela napas. "Aku tahu. Aku cuma... ah, lupakan."
Mereka bertiga menghabiskan bekal dalam diam. Tidak ada tawa seperti biasanya.
Pulang sekolah, Panji, Jojo, dan Mintarsih berjalan bersama seperti biasa. Tapi hari ini suasana terasa berbeda.
Jojo berjalan di depan. Sedikit lebih cepat dari biasanya.
Panji menyusul. "Jo, kenapa jalan cepat-cepat?"
Jojo tidak menjawab.
Mintarsih yang di belakang mulai sedikit terengah-engah. "Jo, tungguin dong!"
Jojo berhenti. Ia berbalik. Wajahnya tidak marah, tapi matanya berkaca-kaca.
"Nji, aku bingung."
Panji mendekat. "Bingung apa?"
"Aku sayang sama kamu. Tapi kadang aku sebel sama kamu."
Panji terdiam.
Mintarsih memegang lengan Jojo. "Jo, kenapa sih? Panji tidak pernah berbuat apa-apa padamu."
"Aku tahu! Dan itu yang membuatku semakin bingung!" Jojo hampir berteriak. "Seharusnya aku bisa benci dia kalau dia jahat. Tapi dia baik. Terlalu baik. Dan aku tetap... aku tetap tidak enak hati setiap kali orang memujinya."
Panji mengambil napas panjang. "Jo, apa yang bisa aku lakukan untuk membuatmu tidak merasa seperti ini?"
Jojo menggeleng. "Tidak ada, Nji. Ini masalahku. Bukan masalahmu. Aku harus selesaikan sendiri."
Mintarsih memeluk Jojo. "Kita selesaikan bareng, Jo. Bukannya kita bertiga sudah janji?"
Jojo menangis. "Iya. Maaf. Maaf, Nji. Maaf, Tin."
Panji ikut memeluk Jojo. "Tidak usah minta maaf, Jo. Kita saudara. Saudara boleh marah, boleh sebel, tapi tetap saudara."
Mereka bertiga berpelukan di tengah jalan setapak. Beberapa warga desa yang lewat tersenyum melihat mereka.
Sastro baru pulang dari sawah ketika Panji sampai di rumah.
"Nak, gimana sekolahnya?" tanya Sastro sambil membuka baju kerjanya yang basah.
Panji duduk di kursi bambu. "Seru, Pak. Bu Sartika baik. Aku bisa baca kata Bapak."
Sastro tersenyum bangga. "Benarkah? Pintar anak Bapak."
Srintil yang sedang memasak di dapur ikut berseru. "Nak, besok ibu bawakan bekal yang lebih banyak. Biar kau bagi-bagi ke temanmu."
Panji mengangguk. "Bu, tadi Jojo sedih."
Srintil keluar dari dapur. "Sedih kenapa?"
"Jojo iri padaku. Kata orang-orang, aku istimewa. Jojo tidak suka mendengar itu."
Srintil dan Sastro saling pandang.
Sastro duduk di samping Panji. "Nak, menjadi istimewa itu tidak mudah. Orang akan iri, orang akan dengki. Kadang orang yang paling dekat dengan kita justru yang paling sulit menerima keistimewaan kita."
"Apa yang harus aku lakukan, Pak?"
Sastro mengusap rambut Panji. "Tetaplah rendah hati. Jangan pernah merasa lebih hebat dari orang lain. Dan teruslah sayang pada Jojo. Biarpun ia kadang iri, biarpun ia kadang sebel. Karena suatu hari nanti, ketika kau benar-benar membutuhkannya, ia akan ada untukmu."
Panji mengangguk. "Aku sayang Jojo, Pak. Sampai mati."
Sastro tersenyum. "Itulah keistimewaanmu, Nak. Bukan karena kau bisa lihat arwah. Bukan karena kau lahir di malam seribu bintang. Tapi karena kau punya hati yang besar. Hati yang bisa memaafkan."
Pak Burhan duduk di kursi bambu sambil memperbaiki sabitnya. Jojo duduk di sampingnya, kepala tertunduk.
"Jo, ada apa?" tanya Pak Burhan tanpa menoleh.
"Pak, aku orang jahat."
Pak Burhan berhenti mengasah sabit. "Jahat kenapa?"
"Aku iri sama Panji. Padahal dia sahabatku."
Pak Burhan meletakkan sabitnya. Ia menatap Jojo. "Nak, iri itu manusiawi. Semua orang pernah iri. Tapi yang membedakan orang baik dan orang jahat adalah apa yang mereka lakukan dengan rasa iri itu."
Jojo mengangkat wajah. "Maksud Bapak?"
"Orang jahat akan menyakiti orang yang membuatnya iri. Orang baik akan berusaha menjadi lebih baik tanpa menjatuhkan orang lain."
Jojo terdiam.
Pak Burhan melanjutkan. "Kamu iri karena Panji pintar. Lalu apa yang akan kamu lakukan? Menyakitinya? Atau belajar lebih giat agar sama pintarnya?"
Jojo menggigit bibir. "Aku tidak akan menyakiti Panji, Pak. Aku janji."
"Nah, itu sudah lebih baik dari kebanyakan orang dewasa. Bapak bangga padamu."
Jojo tersenyum kecil. "Pak, besok aku mau belajar membaca lebih giat. Aku tidak mau kalah pintar sama Panji."
Pak Burhan tertawa. "Bagus. Tapi ingat, jangan jadikan Panji sebagai musuh. Jadikan dia sebagai teman berlatih."
"Iya, Pak."
Di tepi Sendang Kiskenda, Ki Guno duduk bersila. Ia tidak memancing. Ia hanya menatap air yang tenang.
"Panji," panggilnya pelan, meskipun Panji tidak ada di sana.
"Kau akan menghadapi banyak ujian, Nak. Tidak hanya dari Rama, Seta, dan Rahul nanti. Tapi juga dari orang-orang terdekatmu. Dari Jojo. Dari Mintarsih. Bahkan mungkin dari keluargamu sendiri. Tapi ingatlah..."
Ia mengambil napas.
"Tujuan hidupmu bukan untuk membuat semua orang senang padamu. Tujuan hidupmu adalah untuk menebarkan kebaikan, meskipun kebaikan itu tidak selalu dibalas."
Air sendang bergerak sedikit. Seperti mengangguk.
Minggu-minggu pertama sekolah berlalu. Panji ternyata memang cepat dalam membaca. Jojo unggul dalam berhitung. Mintarsih paling pintar menyanyi dan menggambar.
Bu Sartika suatu hari berkata di depan kelas, "Anak-anak, kalian semua istimewa. Masing-masing dengan caranya sendiri. Panji pintar membaca. Jojo pintar berhitung. Mintarsih pintar menyanyi. Tidak ada yang lebih hebat. Semua sama-sama hebat."
Jojo mendengar kata-kata itu. Untuk pertama kalinya, ia tersenyum tanpa rasa iri di hatinya.
Pulang sekolah, mereka bertiga berjalan bersama. Jojo di tengah. Panji di kiri. Mintarsih di kanan.
Jojo menoleh ke Panji. "Nji, besok aku ajarin kamu berhitung, ya. Kamu ajarin aku membaca."
Panji tersenyum. "Setuju."
Mintarsih melompat-lompat kecil. "Aku ajarin kalian menyanyi!"
Jojo tertawa. "Kamu kalau nyanyi fals, Tin."
Mintarsih mendelik. "Tidak fals!"
Panji tertawa. "Fals, Tin. Tapi falsnya lucu."
Mereka bertiga tertawa bersama. Suara tawa mereka menggema di jalan setapak, mengusir burung-burung yang bertengger di dahan.
Di kejauhan, Ki Guno mendengar tawa itu.
Ia tersenyum.
"Masih ada waktu," gumamnya. "Mereka masih punya waktu untuk bahagia sebelum badai datang."
Ia berdiri. Lututnya bunyi krek dua kali.
"Biarkan mereka tertawa selama bisa. Karena suatu hari nanti, tawa itu akan berganti dengan tangis. Dan tangis itu akan membuat mereka dewasa."
Ia berjalan ke barat, meninggalkan sendang yang sunyi. Daun-daun beringin berguguran pelan, seperti air mata yang belum jatuh.
Bab 12: Mintarsih dan Anting Ibunya
Usia delapan tahun adalah usia ketika anak-anak mulai memahami arti kehilangan. Bukan kehilangan mainan atau kehilangan jajan—tapi kehilangan sesuatu yang tidak bisa diganti. Sesuatu yang terikat dengan ingatan, dengan doa, dengan air mata yang ditahan di malam hari.
Mintarsih memiliki satu-satunya peninggalan ibunya: sepasang anting emas sederhana berbentuk bulan sabit. Ibunya meninggalkan anting itu sebelum pergi ke kota—entah untuk bekerja, atau untuk pergi selamanya, Mintarsih tidak pernah tahu yang sebenarnya. Yang ia tahu, anting itu adalah satu-satunya bukti bahwa ibunya pernah ada, bahwa ibunya pernah memeluknya, bahwa ibunya pernah membacakan dongeng sebelum tidur.
Sepasang anting itu selalu ia pakai. Setiap hari. Bahkan ketika mandi di kali, ia simpan di saku baju yang dilipat rapi di tepi sungai. Bahkan ketika tidur, ia pastikan anting itu masih ada di cuping telinganya yang mungil.
Tapi pada suatu sore di musim kemarau, ketika Mintarsih bermain air di Sungai Kecil bersama Panji dan Jojo, anting itu hilang.
Bukan copot. Bukan jatuh. Tapi hilang—seperti ditelan bumi, atau diterbangkan angin, atau diambil oleh sesuatu yang tidak mau ia pahami.
Mintarsih tidak menangis saat itu. Ia hanya diam. Wajahnya pucat. Matanya kosong.
Itulah yang membuat Panji lebih takut daripada jika Mintarsih menangis keras-keras.
Sore itu panas. Air sungai mengalir pelan, warnanya kehijauan karena lumut di bebatuan. Panji, Jojo, dan Mintarsih duduk di tepi sungai, kaki mereka tercelup air.
Jojo sedang asyik menangkap ikan kecil dengan tangan. "Nji, lihat! Aku dapat satu!"
Panji tersenyum. "Kecil amat, Jo. Nanti dimasak apa?"
"Ya buat ikannya aja. Peliharaan."
Mintarsih tidak ikut tertawa. Ia duduk diam, tangannya memegang cuping telinga kanannya. Lalu kirinya. Lalu kanan lagi.
Jojo menyadari keanehan itu. "Tin, kenapa? Kok megang kuping terus?"
Mintarsih tidak menjawab. Wajahnya semakin pucat.
Panji bergeser mendekat. "Tin, ada apa?"
Mintarsih menggigit bibir. Matanya mulai berkaca-kaca. "Antingku... hilang."
Jojo berhenti bermain. "Anting yang mana? Yang dari ibumu?"
Mintarsih hanya mengangguk. Air matanya jatuh.
Panji segera berdiri. "Kita cari. Pasti jatuh di sekitar sini."
Jojo juga berdiri. "Iya, Tin. Jangan nangis dulu. Kita cari bareng."
Mereka bertiga mulai mencari. Di rumput. Di sela-sela batu. Di dalam air. Di tepian sungai. Di bawah pohon rindang tempat mereka menaruh bekal.
Tidak ada.
Panji menunduk. "Kapan terakhir kali kamu masih pakai?"
Mintarsih mengusap air matanya. "Tadi pagi. Pas bangun tidur, masih ada. Di perjalanan ke sini, aku pegang-pegang, masih ada. Pas kita main air... aku nggak ingat."
"Kamu lepas sebelum masuk air?" tanya Jojo.
Mintarsih menggeleng. "Nggak. Aku lupa. Aku masuk air pakai anting."
Jojo menghela napas. "Berarti mungkin lepas di air. Arusnya bawa ke hilir."
Panji sudah bergerak ke hilir. "Kita susuri sungai. Jo, kamu cari di sepanjang tepi kanan. Aku di tepi kiri. Tin, kamu tunggu di sini. Jangan ikut. Nanti kalau ketemu, kami balik."
Mintarsih menggeleng. "Aku ikut. Aku nggak bisa diam."
Panji menatap Mintarsih. Matanya lembut. "Tin, kamu terlalu sedih. Nanti kamu nggak fokus, bisa jatuh ke sungai. Percaya sama kami. Kami akan cari sebaik mungkin."
Jojo mengangguk. "Iya, Tin. Kami kan jago cari sandal. Masa cari anting nggak bisa?"
Mintarsih tersenyum tipis meskipun air matanya masih mengalir. "Baiklah. Aku tunggu di sini. Tapi janji... kalau sampai magrib belum ketemu, aku ikut nyari."
Panji mengangguk. "Janji."
Panji dan Jojo menyusuri sungai. Matahari mulai condong ke barat. Bayangan mereka memanjang di atas air.
Mereka mencari di setiap lekukan sungai. Di setiap akar pohon yang menjuntai ke air. Di setiap tumpukan batu yang mungkin menyembunyikan benda kecil berwarna emas.
Satu jam berlalu. Tidak ada.
Dua jam berlalu. Tidak ada.
Jojo mulai kelelahan. Tangannya lecet terkena batu tajam.
Jojo berhenti di tepian. Ia duduk di batu besar, napasnya tersengal.
"Nji, sudah hampir dua jam. Mungkin antingnya hanyut jauh. Mungkin sudah di laut."
Panji yang masih membungkuk mencari di sela-sela batu tidak menoleh. "Belum sampai laut, Jo. Masih dalam perjalanan. Kita coba sampai pertigaan kali dulu."
"Tapi hari sudah sore," kata Jojo. "Nanti kita gelap. Lagipula, tanganku lecet. Aku capek."
Panji berdiri. Ia menatap Jojo. "Kamu mau pulang duluan?"
Jojo mengangguk. "Maaf, Nji. Aku nggak kuat."
Panji tersenyum. "Tidak apa-apa. Aku lanjut sendiri."
Jojo mengerutkan dahi. "Sendirian? Di sungai? Nanti malam?"
"Aku tidak sendirian," kata Panji. "Ada leluhur yang menjaga."
Jojo menghela napas. "Kamu ini... kadang aku nggak ngerti cara pikirmu. Tapi hati-hati, ya."
Panji mengangguk. "Kamu temani Mintarsih. Jangan biarkan dia sendirian."
Jojo berdiri. Ia menepuk celananya. "Iya. Aku jagain dia. Tapi janji, kalau sampai magrib belum ketemu, kamu balik."
"Janji."
Mereka berpisah. Jojo berjalan kembali ke tempat Mintarsih menunggu. Panji terus menyusuri sungai sendirian.
Mintarsih masih duduk di tempat yang sama. Kakinya tercelup air. Wajahnya sembab.
Jojo mendekat. "Tin, belum ketemu."
Mintarsih menunduk. "Aku tahu."
"Tapi Panji masih nyari. Dia lanjut sendirian ke hilir."
Mintarsih mengangkat wajah. "Sendirian? Kenapa kamu tidak ikut?"
Jojo menunduk. "Aku capek, Tin. Tanganku lecet. Dan aku... aku tidak sekuat Panji. Aku tidak punya keberanian seperti dia."
Mintarsih menatap Jojo. Matanya sayu. "Jo, kamu jangan iri sama Panji terus. Dia tidak minta jadi kuat. Dia terpaksa."
Jojo terdiam.
Mintarsih melanjutkan. "Kamu tahu? Hari ini aku sedih banget. Bukan cuma karena antingku hilang. Tapi karena aku sadar... kalau aku kehilangan sesuatu yang berharga, yang akan mencariku sampai nemu cuma Panji."
Jojo menggigit bibir. "Aku juga mau mencari, Tin. Tapi aku benar-benar capek."
"Tidak apa-apa, Jo. Aku tidak marah. Aku hanya... sedih."
Mereka duduk berdampingan dalam diam. Matahari semakin rendah. Langit mulai jingga.
Sementara itu, Panji masih menyusuri sungai. Kaki kirinya terkilir karena terpeleset di batu licin. Bajunya basah kuyup. Tangannya penuh luka kecil karena terus menerus meraba sela-sela batu dan akar pohon.
Tapi ia tidak berhenti.
Ia ingat wajah Mintarsih saat pertama kali bercerita tentang anting itu. Waktu itu mereka masih berusia enam tahun. Mintarsih bercerita sambil menangis.
"Ibuku cuma meninggalkan ini untukku. Kalau anting ini hilang, berarti ibuku benar-benar hilang. Aku tidak punya apa-apa lagi dari dia."
Panji tidak mau itu terjadi.
Matahari terbenam. Gelap mulai merayap. Panji tidak membawa lampu. Ia hanya mengandalkan mata dan perabaannya.
"Kakek Karto," bisiknya dalam gelap. "Tolong aku. Aku tidak bisa melihat dengan baik. Tunjukkan di mana anting Mintarsih."
Tidak ada jawaban. Tapi tiba-tiba, ia melihat sesuatu berkilau di bawah cahaya bulan yang mulai muncul. Di antara dua batu besar, di akar pohon yang menjuntai ke air.
Sebuah anting berbentuk bulan sabit.
Panji berlutut. Tangannya yang lecet meraih anting itu. Masih utuh. Masih mengilap meskipun sedikit kotor.
"Ini dia," bisiknya. "Ketemu."
Ia tersenyum. Matanya basah.
Panji berjalan kembali ke tempat mereka biasa berkumpul. Langit sudah gelap. Bulan purnama bersinar terang, tapi tidak cukup untuk menerangi jalan setapak yang berbatu dan licin. Kaki kirinya masih sakit. Setiap langkah terasa seperti ditusuk jarum.
Tapi ia terus berjalan.
Satu jam kemudian, ia sampai di pertigaan dekat pohon beringin. Jojo dan Mintarsih masih duduk di sana. Mereka tidak pulang. Mereka menunggu.
Mintarsih melihat sosok Panji dari kejauhan. Ia berlari.
"Nji! Nji! Kau ketemu? Kau ketemu?"
Panji mengeluarkan tangannya dari saku celana. Di telapak tangannya yang kotor dan berdarah, tergeletak sebutir anting emas berbentuk bulan sabit.
Mintarsih menjerit kecil. Ia mengambil anting itu dan mendekapnya ke dada. Air matanya jatuh deras.
"Terima kasih, Nji. Terima kasih."
Jojo mendekat. Ia menatap tangan Panji yang lecet dan berdarah. "Nji, tanganmu..."
Panji tersenyum. "Hanya luka kecil. Besok sembuh."
Jojo menunduk. "Maaf, Nji. Aku pulang duluan. Aku tidak membantu."
Panji menepuk bahu Jojo. "Kamu sudah membantu dengan menemani Mintarsih. Kalau kamu tidak di sini, dia sendirian dalam gelap. Itu juga penting."
Jojo mengangkat wajah. Matanya basah. "Nji, aku iri padamu. Tapi aku juga kagum padamu. Aku bingung sendiri."
Panji tertawa kecil. "Kamu jangan bingung. Kita bertiga. Selamanya, kan?"
Mintarsih yang masih memegang antingnya ikut bicara. "Selamanya."
Jojo mengangguk. "Selamanya."
Mereka bertiga berpelukan di bawah cahaya bulan.
Sastro sudah cemas setengah mati. Biasanya Panji pulang sebelum magrib. Sekarang sudah pukul delapan malam, anaknya belum muncul.
Ia sudah berkeliling desa. Ke rumah Jojo, tapi Pak Burhan bilang Jojo belum pulang. Ke rumah Mintarsih, tapi Kartiman bilang anaknya juga belum pulang.
Sastro hampir memutuskan untuk melapor ke kepala desa ketika ia melihat tiga sosok kecil berjalan dari arah pohon beringin.
"Panji!" teriak Sastro.
Ia berlari mendekati mereka.
"Nak, kenapa pulang larut? Ibu di rumah sudah nangis!"
Panji menunduk. "Maaf, Pak. Aku mencari anting Mintarsih yang hilang. Ketemu di sungai, jauh di hilir. Butuh waktu lama."
Sastro melihat tangan Panji yang lecet dan berdarah. "Kakimu kenapa?"
"Terkilir, Pak. Tadi jatuh di batu."
Sastro menghela napas panjang. Ia tidak marah. Hatinya campur aduk—antara cemas, lega, dan bangga.
"Naiklah, Nak. Bapak gendong."
Panji menggeleng. "Aku bisa jalan, Pak."
"Naik, perintah Bapak."
Panji menurut. Sastro menggendongnya. Anak laki-laki delapan tahun itu ringan, tapi hatinya terasa berat.
Jojo dan Mintarsih berjalan di belakang, ditemani Pak Burhan dan Kartiman yang sudah datang menjemput.
Mereka berpisah di pertigaan. Tidak banyak kata. Hanya anggukan dan senyum.
Srintil menangis ketika melihat kondisi Panji. Baju basah, tangan lecet, kaki bengkak.
"Nak, kenapa kau begitu? Hanya untuk anting?"
Panji duduk di kursi bambu. Srintil membersihkan lukanya dengan air hangat dan daun sirih.
"Bu, anting itu satu-satunya peninggalan ibu Mintarsih. Kalau hilang, Mintarsih akan kehilangan ibunya untuk kedua kalinya. Aku tidak tega."
Srintil berhenti membersihkan luka. Ia menatap Panji.
"Nak, kau tahu? Ibu iri pada Mintarsih."
Panji mengerutkan dahi. "Iri kenapa?"
"Karena kau rela menyakitimu sendiri untuk kebahagiaannya. Ibu bangga, tapi ibu juga khawatir. Jangan terlalu mengorbankan dirimu, Nak. Jangan sampai kau lupa bahwa kau juga butuh dijaga."
Panji tersenyum. "Aku dijaga Ibu. Dan Bapak. Jadi aku tidak perlu takut."
Srintil memeluk Panji. Air matanya jatuh ke bahu anaknya.
Sastro yang berdiri di pintu ikut tersenyum meskipun matanya berkaca-kaca.
"Nak, Bapak bangga padamu. Tapi jangan buat Bapak dan Ibu cemas seperti ini lagi, ya. Besok kalau mau mencari sesuatu, bilang. Bapak ikut."
Panji mengangguk. "Iya, Pak. Maaf."
Keesokan paginya, Ki Guno sudah mendengar cerita tentang Panji yang mencari anting Mintarsih sepanjang malam.
Ia tersenyum.
"Bocah itu," gumumya pada dirinya sendiri. "Hatinya terlalu besar untuk tubuh sekecil itu."
Ki Guno duduk di tepi sendang. Airnya merah keemasan seperti biasa.
"Nak, kau sudah menunjukkan satu kualitas yang paling penting untuk seorang pemimpin: pengorbanan. Tapi ingat, jangan sampai pengorbananmu membuatmu hancur. Seorang pemimpin yang hancur tidak bisa memimpin siapa pun."
Ia mengambil sehelai daun dan meniupnya ke air. Daun itu terapung, mengikuti arus.
"Semoga kau belajar kapan harus berkorban dan kapan harus beristirahat. Karena perjalananmu masih panjang, Nak. Masih sangat panjang."
Kartiman, ayah Mintarsih, duduk di kursi bambu. Wajahnya keras seperti biasa, tapi matanya sedikit sayu.
"Tin, anting itu sudah ketemu?"
Mintarsih mengangguk. "Iya, Pak. Panji yang mencari. Sampai malam. Tangannya lecet-lecet."
Kartiman diam. Lalu ia berkata pelan, "Panji anak baik. Jaga persahabatan kalian."
Mintarsih terkejut. Ayahnya jarang bicara seperti itu. "Iya, Pak. Aku akan jaga."
Kartiman berdiri. "Aku tidur dulu. Besok kau jangan main ke sungai lagi. Nanti antingmu hilang lagi."
Mintarsih tidak menjawab. Ia hanya memegang antingnya erat-erat.
Malam itu, sebelum tidur, Mintarsih berdoa. Bukan kepada Tuhan—tapi kepada ibunya yang entah di mana.
"Bu, terima kasih untuk antingnya. Maaf hampir hilang. Panji yang menemukan. Dia baik, Bu. Dia sahabatku. Aku sayang dia."
Ia mencium anting itu. Lalu ia simpan di bawah bantal.
Dua hari kemudian, luka di tangan Panji mulai mengering. Kakinya yang terkilir masih sedikit bengkak, tapi ia sudah bisa berjalan normal.
Mereka bertiga kembali berkumpul di bawah pohon beringin. Mintarsih memakai antingnya lagi. Jojo membawa gula merah. Panji membawa singkong rebus.
Jojo mengunyah singkong. "Nji, lain kali kalau ada yang nyari sesuatu, jangan sendirian. Ayo kita bareng."
Panji tersenyum. "Kamu yang duluan pulang, Jo."
Jojo tertawa malu. "Iya, aku salah. Lain kali aku temani sampai ketemu. Janji."
Mintarsih menggenggam tangan Panji. "Nji, aku tidak tahu bagaimana membalas kebaikanmu."
Panji menggeleng. "Kita bersahabat. Tidak perlu balas-membalas. Cukup jangan pernah saling mengkhianati."
Jojo dan Mintarsih mengangguk.
Mereka bertiga tidak tahu bahwa kata "pengkhianatan" itu akan menjadi kenyataan pahit suatu hari nanti. Tapi untuk sore itu, mereka hanya ingin menikmati kebersamaan di bawah pohon beringin, dengan langit cerah dan angin sepoi-sepoi.
Di kejauhan, Ki Guno berdiri di tepi sendang.
"Kau belajar banyak hari ini, Nak," gumumnya. "Tentang kesetiaan. Tentang pengorbanan. Tentang cinta. Tapi pelajaran yang paling berat belum datang. Bersiaplah."
Ia berbalik. Tongkatnya menekan tanah.
"Karena suatu hari nanti, orang yang paling kau cintai akan mengkhianatimu. Dan pada saat itu, kau harus memilih: membenci atau memaafkan. Pilihan itu akan menentukan siapa dirimu sebenarnya."
Sendang Kiskenda tenang. Airnya berwarna merah keemasan. Bebatuan di dasarnya bergeser sedikit—seperti sesuatu yang sedang bersiap.
Bab 13: Rumput dan Tikus Sawah
Usia delapan tahun hampir sembilan adalah usia ketika anak-anak laki-laki mulai berani. Berani memanjat pohon yang lebih tinggi. Berani menyeberangi sungai yang lebih dalam. Berani bermain di tempat-tempat yang dilarang orang dewasa.
Tapi keberanian sering kali berjalan beriringan dengan kecerobohan.
Dan kecerobohan, kadang, bisa berakibat fatal.
Musim tanam telah tiba. Sawah-sawah di Desa Sumbermaya menghijau oleh padi muda. Para petani sibuk dari pagi hingga sore. Anak-anak desa memanfaatkan waktu luang setelah pulang sekolah untuk bermain di area persawahan—menangkap belalang, mengejar capung, atau sekadar berlarian di pematang.
Pada suatu sore, ketika mentari mulai condong ke barat, Panji, Jojo, dan Mintarsih bermain di sawah milik Pak Sastro. Jojo sedang asyik memburu tikus sawah yang sering merusak padi. Tikus itu lari ke lubang di pematang. Jojo mengejar tanpa melihat sekelilingnya.
Di pematang itu, di balik rumpun rumput ilalang yang tinggi, seekor ular weling melingkar. Tubuhnya hitam dengan belang-belang putih. Matanya sipit. Lidahnya bercabang menjulur-julur, mencium bau mangsa.
Jojo tidak melihatnya.
Panji, yang berada beberapa meter di belakang, melihat.
Jojo berlari sambil tertawa. "Tin, lihat! Tikusnya lari ke sini! Aku kejar!"
Mintarsih yang sedang memetik bunga liar di pematang lain berteriak. "Jo, hati-hati! Jangan masuk ke rumput tinggi! Banyak ular!"
Jojo tidak mendengar. Atau mendengar tapi mengabaikan. "Ah, mana ada ular! Di sawah begini paling cuma belalang!"
Panji dari kejauhan melihat rumput bergerak. Bukan karena angin. Ada sesuatu di dalamnya.
"Jo!" teriak Panji sekencang-kencangnya. "Berhenti!"
Jojo berhenti. Ia menoleh. "Apa, Nji? Tikusnya kabur lagi nih!"
Panji berlari mendekati Jojo. Matanya tidak lepas dari rumpun rumput di samping kanan Jojo.
"Jangan bergerak, Jo," bisik Panji ketika sudah cukup dekat. "Ada ular. Di samping kananmu. Tiga langkah."
Jojo membeku. Keringat dingin mengalir di punggungnya.
"Jojo bercanda, ya, Nji?" tanya Jojo dengan suara bergetar.
Panji menggeleng pelan. "Aku tidak pernah bercanda soal ular."
Mintarsih yang melihat dari kejauhan mulai panik. "Ular? Di mana? Jo, lari!"
"Jangan lari!" potong Panji cepat. "Kalau lari, ular itu akan mengejar."
Jojo hampir menangis. "Nji, aku takut. Aku nggak bisa diam terus. Kakiku kram."
Panji menatap ular itu. Ular weling, panjang sekitar satu meter. Tidak terlalu besar, tapi cukup berbisa. Ular itu belum bergerak. Masih dalam posisi melingkar, waspada.
"Jo, aku punya ide," kata Panji pelan. "Tapi kau harus percaya padaku."
"Apa?"
"Aku akan lempar batu ke arah lain. Ular itu akan terkejut dan bergerak ke arah yang berlawanan. Saat itu, kau lari ke kiri. Ke arah Mintarsih. Jangan lihat ke belakang."
Jojo menggigit bibir. "Bagaimana dengan kamu?"
"Aku di sini. Aku aman."
Panji mengambil batu kecil di kakinya. Ia menimbangnya sebentar. Lalu dengan sekali gerakan, ia melempar batu itu ke arah timur—jauh dari tempat Jojo berdiri.
Batu itu jatuh di semak-semak kering. Suara kresek keras.
Ular weling itu terkejut. Kepalanya mendongak. Lidahnya menjulur lebih cepat. Lalu dengan gerakan kilat, ular itu melesat ke arah timur—menuju suara batu.
"Sekarang, Jo! Lari!" teriak Panji.
Jojo berlari sekencang-kencangnya ke arah Mintarsih. Kakinya yang sempat kram terasa ringan karena adrenalin. Ia jatuh dua kali, tapi segera bangun lagi. Mintarsih menyambutnya dengan tangan terbuka.
"Jo! Jo! Kau selamat!" Mintarsih memeluk Jojo.
Jojo terengah-engah. Wajahnya pucat. "Nji... Nji masih di sana..."
Mereka berdua menoleh. Panji masih berdiri di tempat yang sama. Ular weling itu sudah menghilang di semak-semak timur.
Panji berjalan ke arah mereka dengan tenang. Wajahnya biasa saja, seolah tidak terjadi apa-apa.
Jojo melepaskan pelukan Mintarsih. Ia menatap Panji.
Jojo masih gemetar. "Nji... kau... kau menyelamatkanku."
Panji mengangkat bahu. "Ah, biasa saja. Ular itu lebih takut sama kita daripada kita takut sama dia."
Mintarsih memukul lengan Panji pelan. "Kamu itu, jangan sok keren! Tadi aku takut banget! Kalau sampai ular itu gigit Jojo, aku nggak tahu harus bagaimana!"
Panji tersenyum. "Tapi nggak digigit, kan?"
Jojo menunduk. Matanya basah. "Nji, aku... aku tidak tahu bagaimana membalas ini. Aku selalu iri sama kamu. Aku sering berpikir hal-hal buruk tentang kamu. Tapi kamu... kamu tetap menyelamatkanku."
Panji menepuk bahu Jojo. "Kita saudara, Jo. Saudara tidak perlu membalas. Saudara hanya perlu ada."
Jojo menangis. Ia memeluk Panji.
Mintarsih ikut memeluk mereka berdua.
Mereka bertiga berpelukan di tengah sawah yang hijau, di bawah matahari sore yang mulai meredup.
Perjalanan pulang kali ini hening. Jojo berjalan di samping Panji, sesekali mencuri pandang ke arahnya.
"Jo, kenapa melotot terus?" tanya Panji sambil tersenyum.
Jojo menggeleng. "Aku cuma... mikir. Kenapa kamu tidak takut, Nji?"
"Takut," jawab Panji jujur. "Aku juga takut. Tapi kalau aku panik, kamu bisa mati. Jadi aku paksa diriku tenang."
Jojo terdiam.
Mintarsih yang berjalan di depan berbalik. "Panji itu memang beda, Jo. Dari dulu begitu. Kita sudah tahu."
Jojo mengangguk pelan. "Iya. Aku tahu. Tapi kenapa aku tidak bisa seperti itu?"
Panji berhenti berjalan. Ia menatap Jojo.
"Jo, kau tidak harus menjadi seperti aku. Cukuplah kau menjadi dirimu sendiri. Kelebihannmu berbeda, tapi sama berharganya."
"Apa kelebihanku?" tanya Jojo sinis. "Menangis?"
Panji menggeleng. "Kau punya hati yang peka. Kau bisa merasakan apa yang orang lain rasakan. Itu langka, Jo. Aku hanya bisa lihat arwah. Tapi kau bisa lihat perasaan orang."
Jojo mengerutkan dahi. "Maksudmu?"
"Kau tahu ketika aku sedang sedih meskipun aku tersenyum. Kau tahu ketika Mintarsih sedang berbohong meskipun dia bicara dengan nada biasa. Itu kelebihan yang tidak dimiliki banyak orang."
Jojo tersenyum tipis. "Kamu benar-benar bisa membuat orang merasa lebih baik, Nji."
Panji tertawa. "Itu juga kelebihanku."
Mereka bertiga tertawa bersama.
Di pertigaan, mereka berpisah seperti biasa. Mintarsih ke selatan. Jojo dan Panji ke barat.
Sebelum berpisah, Jojo memanggil Panji.
"Nji!"
"Apa?"
"Makasih. Buat hari ini. Dan untuk semua hari sebelumnya."
Panji tersenyum. "Sama-sama, Jo. Besok main lagi, ya."
"Besok main lagi."
Pak Burhan sedang merebus jagung di dapur ketika Jojo masuk.
"Jo, kamu pulang? Tadi aku dengar ada ular di sawah?"
Jojo mengangguk. "Iya, Pak. Hampir menggigit aku."
Pak Burhan berhenti mengaduk air. "Apa? Kamu tidak apa-apa?"
"Tidak, Pak. Panji menyelamatkanku. Dia lempar batu ke arah lain, ularnya pergi ke sana."
Pak Burhan menghela napas lega. "Syukurlah. Panji anak baik."
Jojo duduk di kursi bambu. "Pak, aku iri sama Panji."
Pak Burhan duduk di samping Jojo. "Masih, Nak?"
"Masih, Pak. Tapi sekarang beda. Dulu aku iri karena semua orang memujinya. Sekarang aku iri... karena aku tidak bisa menjadi seperti dia. Aku pengecut."
Pak Burhan menggenggam tangan Jojo. "Nak, menjadi pemberani bukan berarti tidak punya rasa takut. Pemberani adalah orang yang tetap melakukan hal yang benar meskipun ia takut. Dan hari ini, kamu bertahan. Kamu tidak lari. Kamu patuh pada instruksi Panji. Itu sudah keberanian."
Jojo mengangkat wajah. "Benarkah, Pak?"
Pak Burhan mengangguk. "Benar. Dan satu hal lagi."
"Apa, Pak?"
"Jangan bandingkan dirimu dengan Panji. Bandingkan dirimu dengan dirimu kemarin. Apakah hari ini kamu lebih baik dari kemarin? Itu yang penting."
Jojo tersenyum. "Aku akan coba, Pak."
Sastro sedang duduk di teras rumah ketika Panji sampai.
"Nak, tadi aku dengar ada ular di sawah?"
Panji mengangguk. "Iya, Pak. Ular weling. Hampir gigit Jojo."
"Kau yang menyelamatkannya?"
"Kami sama-sama menyelamatkan, Pak. Jojo tidak panik. Itu yang paling penting."
Sastro tersenyum bangga. "Bapak dengar kau melempar batu untuk mengalihkan perhatian ular. Itu tindakan yang cerdas, Nak."
Panji duduk di samping ayahnya. "Pak, aku takut tadi."
"Tapi kau tetap melakukannya."
"Iya."
"Itulah namanya keberanian, Nak. Bukan tidak punya rasa takut. Tapi takut tapi tetap bertindak."
Panji diam sebentar. "Pak, mengapa Jojo sering iri padaku?"
Sastro menghela napas. "Karena Jojo merasa tidak cukup baik. Ia mencari pengakuan dari orang lain. Dan ketika orang lain lebih sering memujimu, ia merasa dirinya tidak berharga."
"Apa yang bisa aku lakukan?"
Sastro menatap Panji. "Tetaplah rendah hati. Tetaplah bersahabat dengannya. Dan jangan pernah membuatnya merasa kecil. Suatu hari nanti, ia akan menemukan jalannya sendiri. Tugasmu hanya mendampingi."
Panji mengangguk. "Aku akan coba, Pak."
Malam itu, Ki Guno duduk di tepi Sendang Kiskenda. Airnya tenang. Warna merah keemasan memantulkan cahaya bulan.
"Bocah itu," gumumnya. "Hari ini ia belajar tentang keberanian. Tapi ia juga belajar bahwa orang yang diselamatkannya bisa berubah menjadi musuh suatu hari nanti."
Ia mengambil segenggam pasir dan membiarkannya jatuh di sela-sela jarinya.
"Jojo mulai berubah. Kecemburuannya tidak lagi sederhana. Ia mulai membandingkan, mulai mengukur, mulai menghitung. Itu awal yang berbahaya."
Ia menghela napas.
"Semoga kau cukup bijak, Panji. Semoga kau bisa membaca hatinya sebelum semuanya terlambat."
Angin malam bertiup. Daun-daun kelapa bergesekan seperti bisikan.
Jojo berbaring di kasurnya. Matanya terbuka lebar. Ia tidak bisa tidur.
Ia mengingat kembali kejadian sore itu. Wajah tenang Panji. Gerakan Panji yang cepat dan tepat. Tatapan mata Panji yang tidak menunjukkan rasa takut.
"Kenapa aku tidak bisa seperti itu?" bisiknya pada dirinya sendiri.
Ia mengepalkan tangannya.
"Kenapa aku yang selalu diselamatkan? Kenapa aku yang selalu jadi orang lemah?"
Ia memejamkan mata. Air matanya mengalir.
"Aku benci perasaan ini. Aku benci iri. Aku benci menjadi pengecut."
Ia menggigit bibirnya.
"Tapi aku juga benci Panji. Sedikit. Hanya sedikit. Tapi benci itu ada."
Ia terkejut dengan pikirannya sendiri.
"Tuhan, maafkan aku. Aku tidak mau benci sama Panji. Tapi aku tidak bisa mengendalikan hatiku."
Ia menangis dalam diam.
Pak Burhan di kamar sebelah mendengar isak tangis Jojo. Ia ingin masuk, tapi ia memilih tidak. Kadang, seseorang perlu menangis sendirian.
Hari-hari berlalu. Jojo tetap bermain dengan Panji dan Mintarsih. Ia tetap tertawa, tetap bercanda, tetap bersemangat. Tapi ada sesuatu yang berubah di dalam hatinya. Sesuatu yang tidak ia tunjukkan pada siapa pun.
Sebuah kecemburuan yang tidak lagi sederhana.
Kecemburuan yang mulai meracuni pikirannya pelan-pelan, seperti air yang meresap ke dalam tanah, tidak terlihat, tapi pasti merusak fondasi.
Panji merasakan perubahan itu. Tapi ia tidak tahu harus bertanya atau diam. Ia memilih diam. Ia pikir, mungkin Jojo hanya butuh waktu.
Mintarsih juga merasakan keanehan. Tapi ia tidak tahu cara bertanya tanpa membuat Jojo marah.
Mereka bertiga tetap bersama. Tapi seperti pohon yang akarnya mulai rapuh, persahabatan mereka perlahan mulai retak.
Di kejauhan, di tepi Sendang Kiskenda, Ki Guno berdiri sendirian. Ia menatap air yang mulai berubah warna—dari merah keemasan menjadi abu-abu gelap.
"Badai kecil telah dimulai," gumamnya. "Bukan badai dari luar. Tapi badai dari dalam. Badai yang lebih berbahaya."
Ia berbalik. Tongkatnya menekan tanah.
"Semoga kalian selamat, anak-anak. Semoga persahabatan kalian lebih kuat dari racun kecemburuan."
Air sendang bergerak. Gelombang kecil mengerut di permukaannya.
Seperti ada yang menangis di dasar.
Bab 14: Akar yang Mulai Retak
Usia sembilan tahun adalah usia ketika anak-anak mulai memilih. Memilih teman bermain, memilih siapa yang ingin mereka tiru, memilih jalan mana yang ingin mereka tempuh. Bukan karena mereka mengerti konsekuensi dari pilihan itu, tapi karena mereka mulai merasakan adanya perbedaan—perbedaan status, perbedaan perlakuan, perbedaan kesempatan.
Jojo merasakan itu dengan tajam.
Di sekolah, Panji selalu menjadi pusat perhatian. Bu Sartika sering memuji kepandaiannya dalam membaca. Anak-anak lain sering bertanya padanya tentang cerita-cerita gaib yang ia lihat. Panji, tanpa sengaja, selalu menjadi matahari yang menyinari semua orang—dan Jojo, yang berada di dekatnya, hanya menjadi bayangan.
Tapi ada kelompok lain di desa itu. Kelompok anak-anak dari keluarga aparat desa. Mereka adalah pegawai kantor desa, anak-anak Kades Tirta, keponakan-keponakan dari keluarga yang dekat dengan kekuasaan. Mereka punya sepatu baru. Mereka punya tas baru. Mereka kadang dibawa ke kota untuk berlibur.
Dan mereka tidak pernah menggenggam erat lengan Panji.
Jojo mulai mendekati mereka.
Bukan karena ia membenci Panji. Tapi karena ia lelah menjadi bayangan. Ia ingin merasakan bagaimana rasanya bersinar, meskipun hanya sekejap, meskipun hanya di antara anak-anak yang juga tidak terlalu bersinar.
Pada suatu sore, ketika Panji dan Mintarsih sedang menunggu di pohon beringin seperti biasa, Jojo tidak datang. Ia memilih bermain di halaman kantor desa bersama anak-anak aparat.
Akar persahabatan yang dulu mereka tanam dengan darah dan janji, mulai retak.
Mintarsih duduk di akar pohon beringin. Matanya sesekali menatap jalan setapak ke arah selatan—arah rumah Jojo.
"Nji, Jojo belum datang."
Panji yang sedang mengupas singkong dengan pisau kecilnya mengangguk. "Iya. Aku lihat."
"Biasanya dia paling duluan."
Panji diam. Pisau kecilnya berhenti bergerak.
Mintarsih menatap Panji. "Nji, apa Jojo sedang marah pada kita?"
Panji meletakkan pisau dan singkong yang belum selesai dikupas. "Aku tidak tahu, Tin. Tapi akhir-akhir ini dia memang berbeda."
"Berbeda bagaimana?"
"Jarang cerita. Kalau diajak bicara, jawabannya pendek-pendek. Dulu dia paling banyak omong. Sekarang... diam."
Mintarsih menggigit bibirnya. "Apa kita ada salah sama dia?"
Panji menggeleng. "Aku sudah pikirkan itu. Tapi aku tidak ingat pernah menyinggung perasaannya."
Mintarsih berdiri. "Aku cari ke rumahnya, ya."
Panji menarik tangan Mintarsih pelan. "Jangan. Mungkin dia sedang sibuk membantu ayahnya."
"Masa setiap hari sibuk, Nji? Sudah seminggu ini dia jarang main sama kita."
Panji terdiam.
Pak Burhan sedang memperbaiki pagar bambu di depan rumahnya ketika Jojo keluar dengan baju yang lebih rapi dari biasanya.
"Jo, mau ke mana?" tanya Pak Burhan.
Jojo tidak menatap ayahnya. "Main, Pak."
"Mau main sama Panji dan Mintarsih?"
Jojo menggeleng. "Main sama Bima dan Andi. Anak-anak Pak Kades."
Pak Burhan mengerutkan dahi. "Bukannya biasanya kamu main sama Panji?"
"Bosen, Pak. Panji itu setiap hari cerita soal arwah, soal sendang, soal Mbah Guno. Aku capek."
Pak Burhan meletakkan pahatnya. Ia menatap Jojo.
"Jo, Panji adalah sahabatmu sejak kecil. Jangan kau tinggalkan begitu saja."
"aku tidak meninggalkan, Pak. aku hanya ingin punya teman lain." Jojo mulai sedikit kesal. "Aku juga ingin punya teman yang... yang tidak selalu dianggap lebih hebat dari aku."
Pak Burhan menghela napas. "Jo..."
"aku pergi dulu, Pak. Nanti malam aku pulang."
Jojo berjalan cepat ke arah kantor desa tanpa menoleh.
Pak Burhan hanya bisa terdiam, memandang punggung anaknya yang semakin menjauh.
Halaman kantor desa cukup luas. Ada pohon mangga besar di tengahnya. Di bawah pohon itu, Bima (anak Kades Tirta, usia 10 tahun) dan Andi (keponakan Kades, usia 9 tahun) sedang bermain kelereng.
Bima memiliki tubuh lebih besar dari anak seusianya. Wajahnya bulat, matanya sipit. Ia suka memerintah. Andi lebih kurus, lebih pendiam, tapi sangat setia pada Bima.
Jojo mendekati mereka. "Bima, Andi, aku ikut main, ya."
Bima mengangkat wajah. "Jojo? Kamu tidak main sama Panji?"
Jojo duduk di samping mereka. "Bosen sama Panji. Ceritanya itu-itu terus."
Andi tersenyum. "Kamu benar, Jo. Panji itu aneh. Katanya bisa lihat hantu. Aku nggak percaya."
Jojo mengangkat bahu. "Aku dulu percaya. Tapi sekarang... aku nggak tahu."
Bima mengeluarkan kelereng baru. "Jo, kamu ikut main kelereng. Tapi kalau kalah, kamu harus traktir kami jajan."
Jojo mengangguk. "Siap."
Mereka bertiga bermain. Jojo merasa berbeda. Di sini, ia tidak dibayangi oleh keistimewaan Panji. Di sini, ia bisa menjadi dirinya sendiri—meskipun dirinya itu bukan siapa-siapa.
Setelah dua jam menunggu, Mintarsih tidak tahan lagi.
"Nji, ayo kita cari ke rumah Jojo."
Panji mengangguk. Mereka berjalan ke selatan menuju rumah Jojo.
Pak Burhan masih duduk di teras, memperbaiki pagar yang belum selesai.
"Pak Burhan, Jojo ada di rumah?" tanya Mintarsih.
Pak Burhan menggeleng. "Dia pergi main ke kantor desa. Sama anak-anak Pak Kades."
Panji dan Mintarsih saling pandang.
"Sudah seminggu ini ia sering ke sana," tambah Pak Burhan. "Maaf, ya, Nji. Aku sudah coba nasihati, tapi dia keras kepala."
Panji tersenyum. "Tidak apa-apa, Pak. Jojo boleh punya teman lain. Itu haknya."
Mintarsih menarik lengan Panji. "Nji, kamu nggak marah?"
Panji menggeleng. "Marah kenapa? Kita tidak bisa memaksa seseorang untuk berteman dengan kita selamanya."
Pak Burhan menatap Panji dengan mata haru. "Kamu dewasa sekali, Nji. Aku malu dengan Jojo."
Panji menunduk. "aku tidak dewasa, Pak. Aku hanya... berusaha mengerti."
Mereka berdua berjalan pulang melewati jalan setapak yang sama. Sore itu, hanya berdua. Tanpa Jojo.
Mintarsih berjalan di samping Panji. "Nji, aku sedih."
Panji menoleh. "Sedih kenapa?"
"Jojo menjauh. Tanpa alasan."
Panji diam sebentar. "Mungkin dia punya alasan, Tin. Tapi dia tidak cerita."
"Apa salah kita?"
Panji menggeleng. "Aku rasa bukan salah kita. Mungkin... ini tentang dia. Tentang perasaannya. Tentang apa yang dia perjuangkan di dalam hatinya."
Mintarsih menggigit bibir. "Kita tidak bisa memaksanya kembali?"
Panji tersenyum tipis. "Kita bisa. Tapi kalau kita paksa, dia akan semakin jauh. Lebih baik kita tunggu. Kasih dia waktu. Kasih dia ruang. Nanti kalau dia sudah siap, dia akan kembali."
"Kamu yakin?"
"Tidak," jawab Panji jujur. "Tapi aku berharap."
Sore itu, Jojo pulang lebih lambat dari biasanya. Langit sudah jingga. Matanya sedikit merah—bukan karena menangis, tapi karena kelelahan.
Pak Burhan masih duduk di teras. Pagar yang ia perbaiki sudah selesai.
"Jo, Panji dan Mintarsih tadi ke sini. Mereka mencari kamu."
Jojo berhenti melangkah. "Oh."
"Kamu nggak bilang kalau kamu nggak akan main sama mereka."
Jojo duduk di samping ayahnya. "Maaf, Pak. Aku lupa."
Pak Burhan menatap Jojo. "Kamu tidak lupa, Jo. Kamu sengaja tidak bilang."
Jojo menunduk.
"Jo, Bapak tidak tahu apa yang terjadi di antara kalian. Tapi Bapak tahu Panji adalah orang yang baik. Dia pernah menyelamatkanmu dari ular. Dia pernah mencari anting Mintarsih semalaman sampai tangannya luka. Dia... dia tidak pantas diperlakukan seperti ini."
Jojo menggigit bibir. "aku tahu, Pak. Tapi aku... aku lelah."
"Lelah apa?"
"Lelah menjadi bayangan. Lelah selalu dianggap kurang. Lelah selalu menjadi orang yang diselamatkan, bukan penyelamat."
Pak Burhan menghela napas panjang. "Nak, hidup itu bukan soal siapa yang menyelamatkan siapa. Hidup itu soal bagaimana kita menjalani peran kita masing-masing."
Jojo mengangkat wajah. "Tapi aku tidak ingin selalu menjadi orang yang lemah, Pak."
"Kamu tidak lemah, Jo. Kamu hanya belum menemukan kekuatanmu. Dan kekuatan itu tidak akan kau temukan dengan menjauh dari orang-orang yang sayang padamu."
Jojo terdiam.
"Pikirkan, Nak. Bapak tidak mau kamu menyesal di kemudian hari."
Panji duduk di kursi bambu sambil menatap langit malam. Srintil keluar membawakan secangkir teh jahe.
"Nak, kenapa melamun?"
"Jojo tidak main hari ini, Bu. Dan seminggu ini, dia jarang main sama aku dan Mintarsih."
Srintil duduk di samping Panji. "Kau tahu kenapa?"
"aku tidak tahu. Mungkin aku yang salah."
Srintil menggeleng. "Nak, tidak semua hal adalah salahmu. Kadang orang lain berubah karena pilihannya sendiri."
"Tapi kita bersahabat, Bu. Kami janji selamanya."
Srintil tersenyum sedih. "Janji selamanya itu indah, Nak. Tapi tidak semua orang bisa menepatinya. Bukan karena mereka jahat. Tapi karena mereka berubah. Dan perubahan itu kadang tidak bisa mereka kendalikan."
Panji menunduk. "Aku kecewa, Bu."
Srintil memeluk Panji. "Ibu tahu, Nak. Tapi jangan biarkan kekecewaanmu membuatmu membenci Jojo. Tetaplah sayang padanya. Tetaplah buka pintu untuknya. Suatu hari nanti, ia akan kembali."
"Kalau tidak?"
"Pintu itu tetap terbuka. Untuk selama-lamanya."
Keesokan paginya, Panji pergi ke Sendang Kiskenda seorang diri. Ki Guno sudah menunggu.
"Nak, kau datang. Aku sudah kira."
Panji duduk di samping Ki Guno. "Mbah, Jojo menjauh."
Ki Guno mengangguk. "Aku tahu. Air sendang sudah berubah sejak seminggu lalu. Warna abu-abu. Itu artinya ada hubungan yang retak."
"Bisa aku perbaiki, Mbah?"
Ki Guno menatap Panji. "Kau bisa berusaha. Tapi tidak semua retakan bisa diperbaiki. Kadang, retakan itu justru diperlukan agar kedua sisi bisa bernapas."
"Aku tidak mengerti, Mbah."
Ki Guno tersenyum. "Maksudku, mungkin Jojo butuh jarak. Bukan karena ia benci padamu. Tapi karena ia perlu mencari siapa dirinya di luar bayanganmu."
"Jadi aku harus diam?"
"Kau harus sabar. Dan terus mencintainya dari jarak yang aman. Jangan memaksa. Jangan menuntut. Biarkan ia datang sendiri."
Panji mengangguk pelan.
Ki Guno menambahkan, "Dan satu hal lagi, Nak."
"Apa, Mbah?"
"Jaga hatimu. Jangan sampai retaknya persahabatan ini membuat hatimu ikut retak. Kau masih punya banyak hal yang harus kau lakukan di masa depan."
Hari-hari berlalu. Jojo semakin jarang bermain dengan Panji dan Mintarsih. Jika mereka bertiga berpapasan di jalan, Jojo hanya tersenyum tipis, lalu berjalan cepat. Tidak ada lagi tawa. Tidak ada lagi cerita. Tidak ada lagi pelukan.
Mintarsih beberapa kali mencoba mendekati Jojo, tapi usahanya selalu gagal. Jojo selalu punya alasan: sibuk membantu ayah, sibuk belajar, sibuk main dengan Bima dan Andi.
Panji memilih diam. Ia masih menunggu di pohon beringin setiap sore, bersama Mintarsih. Mereka berdua masih membawa bekal. Masih duduk di akar pohon yang sama. Tapi kursi di samping mereka selalu kosong.
Pak Burhan beberapa kali menasihati Jojo, tapi Jojo hanya diam. Ia tidak membantah. Ia tidak marah. Ia hanya diam.
Dan diam itu, kadang, lebih menyakitkan daripada amarah.
Di kejauhan, di tepi Sendang Kiskenda, Ki Guno duduk sendirian. Air sendang berwarna abu-abu gelap. Tidak merah keemasan. Tidak hitam pekat. Hanya abu-abu—seperti hati yang sedang kebingungan antara cinta dan kecewa.
"Akar telah retak," gumumya. "Sekarang tinggal menunggu: apakah mereka akan memperbaikinya, atau membiarkannya patah."
Ia berdiri. Lututnya bunyi krek.
"Semoga mereka memilih untuk memperbaiki. Karena pohon persahabatan yang tumbuh dari akar yang retak, akarnya akan lebih kuat dari sebelumnya."
Ia berjalan ke arah barat. Angin sore bertiup, membawa daun-daun kering berguguran.
Di bawah pohon beringin, Panji masih duduk. Ia menatap jalan setapak ke arah selatan—berharap melihat sosok Jojo muncul dengan senyum dan celana pendek kotor seperti dulu.
Tapi jalan itu kosong.
Ia menunduk. Air matanya jatuh ke pangkuan.
Mintarsih menggenggam tangannya.
"Dia akan kembali, Nji. Aku yakin."
Panji tidak menjawab. Ia hanya berdoa dalam hati.
"Kakek Karto, tolong jaga Jojo. Di mana pun ia berada. Dan tolong bawa ia kembali ke sini. Suatu hari nanti."
Angin bertiup. Seperti bisikan lembut dari langit.
"Akan. Tapi tidak sekarang. Bersabarlah, Nak."
Bab 15: Malam Sebelum Perubahan
Usia sembilan tahun hampir sepuluh adalah usia ketika seorang anak mulai mengerti bahwa orang tuanya tidak abadi. Bahwa di balik senyum dan pelukan, ada rasa sakit yang disembunyikan. Bahwa di balik ketegaran, ada ketakutan yang tidak pernah diucapkan.
Sastro jatuh sakit pada musim penghujan tahun itu. Awalnya hanya batuk-batuk kecil yang diabaikan. Lalu menjadi demam yang tidak kunjung reda. Lalu menjadi sesak napas yang membuatnya tidak bisa tidur di malam hari.
Srintil sudah membawanya ke mantri desa tiga kali. Obat-obatan sudah diminum. Tapi tidak ada perubahan. Sastro semakin kurus. Matanya cekung. Tangannya yang dulu kuat mencangkul sekarang gemetar ketika memegang sendok.
Panji melihat semuanya. Ia diam. Tapi di dalam hatinya, ia tahu—sesuatu yang buruk akan terjadi. Firasat itu datang setiap malam, seperti bisikan yang tidak bisa ia elakkan.
Pada malam yang sama ketika Sastro terbaring lemah dengan napas tersengal-sengal, keluarga Rama datang ke desa. Sebuah mobil bagus memasuki Desa Sumbermaya untuk pertama kalinya. Warga berkerumun melihat. Ada yang iri, ada yang kagum, ada yang cemas.
Rama, anak laki-laki seusia Panji, duduk di kursi belakang mobil itu dengan pakaian rapi dan sepatu mengkilap. Ia menatap desa itu dengan mata penuh rasa ingin tahu—dan sedikit rasa jijik.
Malam itu, dua peristiwa besar terjadi bersamaan. Sastro sakit parah. Dan benih perubahan datang dalam wujud sebuah mobil mewah.
Malam sebelum segalanya berubah.
Panji duduk di samping tempat tidur ayahnya. Lampu minyak menyala redup. Srintil sedang merebus jahe di dapur.
Sastro membuka matanya. Matanya sayu.
"Nak," bisiknya pelan.
Panji mendekat. "Iya, Pak."
"Bapak minta maaf."
Panji mengerutkan dahi. "Minta maaf kenapa, Pak?"
Sastro tersenyum tipis. "Bapak... mungkin tidak bisa melihatmu besar."
Panji menggigit bibir. "Jangan bicara begitu, Pak. Bapak akan sembuh. Dokter bilang Bapak hanya perlu istirahat."
Sastro menggeleng pelan. "Bapak sudah mendengar isak ibumu malam-malam. Bapak tahu... penyakit ini bukan yang biasa."
Panji memegang tangan ayahnya. Tangan itu dingin. "Pak, aku takut."
Sastro membalikkan tangannya, menggenggam jari-jari Panji. "Nak, Bapak tidak takut mati. Yang Bapak takutkan... kau tumbuh tanpa Bapak."
"Jangan bilang begitu, Pak."
"Bapak harus bilang. Siapa lagi yang akan bilang kalau bukan Bapak?" Sastro menarik napas panjang. "Nak, jagalah ibumu. Dia kuat, tapi tidak sekuat yang kau kira. Dan jaga dirimu sendiri. Jangan terlalu banyak mengorbankan diri untuk orang lain."
"Tapi Mbah Guno bilang..."
"Bapak tahu Mbah Guno bilang kau istimewa," potong Sastro. "Tapi menjadi istimewa tidak berarti kau harus menderita sendirian. Kau boleh minta tolong. Kau boleh menangis. Kau boleh lelah."
Panji mengangguk meskipun air matanya sudah jatuh.
Srintil duduk di dapur. Air jahe sudah mendidih, tapi ia tidak mematikannya. Ia hanya duduk, menatap api, dan membiarkan air matanya jatuh.
"Bu," panggil Panji dari pintu dapur.
Srintil terkejut. Ia cepat-cepat mengusap air matanya. "Iya, Nak. Ada apa?"
Panji mendekat. Ia duduk di samping ibunya. "Bu, aku lihat Ibu menangis."
Srintil menggeleng. "Tidak, Nak. Hanya... asap."
Panji memegang tangan ibunya. "Bu, jangan bohong. Aku sudah besar. Aku bisa tahu kalau Ibu sedih."
Srintil terdiam. Lalu ia menangis. Bukan isak tangis pelan, tapi tangis keras yang selama ini ia tahan.
"Panji... Bapakmu... Bapakmu sakit parah. Mantri desa bilang mungkin paru-parunya bermasalah. Dia harus dibawa ke rumah sakit di kota. Tapi kita tidak punya uang."
Panji menggenggam erat tangan ibunya. "Aku akan cari uang, Bu."
Srintil menggeleng. "Kau masih kecil, Nak. Tidak boleh."
"Aku bisa kerja, Bu. Aku bisa bantu orang angkut barang di pasar."
Srintil memeluk Panji. "Jangan, Nak. Ibu tidak tega."
"Tapi Bapak harus sembuh, Bu."
Srintil hanya bisa menangis. Ia tidak punya jawaban.
Di tempat yang sama, di ujung desa yang lain, Jojo sedang duduk di teras rumahnya ketika ia melihat cahaya terang dari kejauhan. Lampu mobil. Bukan lampu senter, bukan lampu minyak—tapi lampu mobil yang menyilaukan.
Jojo berlari ke arah sumber cahaya. Pak Burhan menyusul dari belakang.
"Itu mobil, Jo," kata Pak Burhan. "Mobil bagus."
Mobil hitam itu berhenti di depan rumah dinas kepala desa. Pintu terbuka. Keluar seorang laki-laki gemuk dengan pakaian rapi—Pak Rahmat, ayah Rama. Ia adalah pejabat dari kabupaten, orang penting yang memiliki pengaruh besar.
Dari pintu lain keluar seorang perempuan cantik dengan pakaian modern—Bu Dewi, ibu Rama. Lalu dari kursi belakang, keluar seorang anak laki-laki seusia Jojo.
Rama.
Rambutnya rapi. Bajunya bersih. Sepatunya mengkilap. Ia tidak seperti anak-anak desa yang bermain di lumpur dan berlari tanpa alas kaki.
Jojo menatap Rama dengan mata penasaran.
Pak Burhan berbisik, "Mereka tetangga baru kita, Jo. Katanya mau tinggal di sini untuk urusan proyek."
"Proyek apa, Pak?"
Pak Burhan menggeleng. "Bapak juga tidak tahu. Tapi sepertinya mereka orang penting."
Rama berdiri di halaman rumah dinas. Wajahnya datar. Ia melihat sekeliling: rumah-rumah panggung dengan dinding bambu, jalan setapak berbatu, anak-anak desa yang bertelanjang kaki dengan baju kumal.
"Rama, jangan melotot seperti itu," bisik Bu Dewi. "Tidak sopan."
Rama mengangkat bahu. "Desa ini kumuh, Bu."
Pak Rahmat yang mendengar itu langsung menegur. "Rama, jaga mulutmu. Kita di sini untuk bekerja, bukan untuk menghakimi. Penduduk desa ini baik-baik. Mereka hanya kurang beruntung."
"Kurang beruntung atau malas?" tanya Rama sinis.
Pak Rahmat menghela napas. "Rama, lain kali kalau kau tidak bisa berkata baik, lebih baik diam."
Rama diam. Tapi matanya tetap memandang desa itu dengan rasa jijik yang tidak bisa ia sembunyikan.
Dari kejauhan, Jojo memperhatikan semua itu. Ia mendengar bisikan Rama. Ia melihat ekspresi jijik di wajah anak itu.
"Orang itu sombong," bisik Jojo pada dirinya sendiri.
Tapi di dalam hatinya, ada juga rasa kagum. Baju bagus. Sepatu mengkilap. Mobil mewah. Itu semua adalah hal-hal yang tidak pernah ia miliki.
Bima sudah tidak sabar. Ia sudah mendengar kabar bahwa keluarga pejabat akan datang ke desa. Ketika mobil hitam itu tiba, ia langsung berlari ke halaman kantor desa.
"Paman!" seru Bima pada Kades Tirta yang sedang menyambut tamu.
Kades Tirta tersenyum. "Bima, ini anaknya Pak Rahmat. Namanya Rama. Ajak ia bermain, ya."
Bima mendekati Rama. "Halo, aku Bima. Anak Kades."
Rama menatap Bima dari ujung kepala sampai ujung kaki. Bima tidak rapi. Bajunya kusut. Tangan dan kakinya kotor.
"Halo," jawab Rama singkat.
"Kamu mau main sama kita? Aku punya teman, namanya Andi. Dan Jojo."
Rama menggeleng. "Aku tidak main dengan anak sembarangan."
Bima tersinggung. "Maksudmu?"
Rama tersenyum tipis. "Maksudku, aku hanya bermain dengan anak-anak yang selevel denganku."
Kades Tirta yang mendengar itu tidak marah. Ia justru tertawa. "Rama, anak ini lucu. Bima, sabar. Rama belum terbiasa dengan desa."
Bima menggertakkan gigi. Tapi ia tidak berani membantah di depan pamannya.
Keesokan paginya, Jojo sedang berjalan ke kantor desa untuk menemui Bima dan Andi. Di jalan, ia berpapasan dengan Rama yang sedang berjalan sendirian.
Mereka saling menatap.
Rama lebih dulu bicara. "Kamu siapa?"
Jojo sedikit gugup. "Aku Jojo. Aku tinggal di selatan desa. Kamu Rama, ya?"
Rama mengangguk. "Iya. Kamu kenal aku?"
"Semua orang di desa ini kenal kamu. Keluarga pejabat kan?"
Rama tersenyum bangga. "Bapakku Kepala Dinas di kabupaten. Kami pindah ke sini untuk proyek pembangunan."
"Proyek apa?"
Rama mengangkat bahu. "Pokoknya proyek besar. Nanti desa ini akan berubah. Jalan diaspal. Listrik masuk. Tidak akan kumuh lagi."
Jojo diam. Ia tidak tahu apakah ia senang atau takut mendengar itu.
"Kamu mau jadi temanku?" tanya Rama tiba-tiba.
Jojo terkejut. "Aku?"
"Siapa lagi? Kamu kelihatan lebih pintar dari anak desa lain."
Jojo bingung antara senang dan waswas. "Tapi aku punya teman..."
"Teman yang mana? Panji? Bima cerita tentang kamu dan Panji."
Jojo menunduk.
"Panji itu anak dukun, katanya," lanjut Rama. "Suka lihat hantu. Kau mau berteman dengan orang aneh seperti itu?"
Jojo menggigit bibir. "Panji baik. Dia menyelamatkanku dari ular."
"Baik atau tidak, tidak penting," kata Rama. "Yang penting adalah status. Aku bisa memberimu banyak hal. Baju baru. Sepatu baru. Mainan dari kota. Panji bisa memberi apa?"
Jojo tidak menjawab.
Rama tersenyum. "Pikirkan, Jojo. Aku di sini. Kalau kau mau jadi temanku, datang ke rumah dinas kapan saja."
Rama berjalan pergi meninggalkan Jojo yang berdiri terdiam di tengah jalan.
Sementara itu, Panji dan Srintil membawa Sastro ke rumah sakit desa. Rumah sakit itu kecil, hanya memiliki beberapa tempat tidur dan satu dokter umum.
Dokter Rahmat (bukan ayah Rama) memeriksa Sastro. Wajahnya serius.
"Sastro, paru-parumu terinfeksi parah. Harus dibawa ke rumah sakit kabupaten."
Srintil hampir pingsan. "Biayanya, Dok?"
Dokter Rahmat menghela napas. "Tidak sedikit, Bu. Tapi kalau tidak, Sastro bisa..."
Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Tidak perlu.
Panji memegang tangan ibunya. "Bu, aku akan cari uang. Apapun."
Srintil memeluk Panji. "Jangan, Nak. Ibu akan cari. Ibu akan pinjam ke mana-mana."
Tapi mereka berdua tahu. Di desa ini, tidak ada yang punya uang cukup untuk biaya rumah sakit kabupaten.
Jojo sedang bermain dengan Bima dan Andi di halaman kantor desa ketika Pak Burhan datang tergopoh-gopoh.
"Jo! Jo! Bapakmu!" teriak Pak Burhan dari kejauhan.
Jojo berdiri. "Ada apa, Pak?"
"Panji! Ayahnya sakit parah! Harus ke rumah sakit kabupaten! Mereka tidak punya uang!"
Jojo terdiam.
Bima bersiul kecil. "Kasihan."
Andi hanya diam.
Jojo berlari meninggalkan Bima dan Andi. Ia berlari ke arah rumah Panji.
Pak Burhan mengejar dari belakang. "Jo, tunggu!"
Tapi Jojo tidak berhenti. Untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu, ia berlari ke arah rumah Panji.
Panji sedang duduk di teras rumahnya. Wajahnya letih. Matanya sembab. Srintil sedang di dalam, merawat Sastro.
Jojo tiba di depan rumah Panji. Ia terengah-engah.
"Panji," panggilnya.
Panji mengangkat wajah. "Jojo?"
Jojo mendekat. Ia duduk di samping Panji. "Aku dengar kabar tentang ayahmu."
Panji menunduk. "Iya. Sakit parah."
"Tidak ada biaya?"
Panji menggeleng.
Jojo diam sebentar. Ia mengeluarkan celengan tanah liat dari sakunya. Celengan itu berat. Berisi uang receh yang ia kumpulkan selama setahun.
"Ini," kata Jojo sambil memberikan celengan itu pada Panji. "Aku tahu ini tidak cukup. Tapi setidaknya bisa buat beli obat."
Panji menatap celengan itu. Air matanya jatuh. "Jo, ini uang tabunganmu."
"Tidak apa-apa. Ayahmu lebih penting."
Panji memeluk Jojo. "Maafkan aku, Jo. Maaf kalau aku pernah membuatmu merasa tidak dihargai. Maaf kalau aku... maaf."
Jojo ikut menangis. "Aku juga minta maaf. Aku yang menjauh. Aku yang iri. Aku yang..."
"Sudah," potong Panji. "Kita saudara. Saudara boleh bertengkar. Tapi tetap saudara."
Mereka berdua berpelukan di teras rumah.
Srintil yang melihat dari pintu ikut menangis.
Rama sedang berjalan-jalan di sekitar desa ketika ia melihat dua anak laki-laki berpelukan di teras sebuah rumah panggung.
Ia mengenali salah satunya. Jojo, anak yang ia ajak jadi teman tadi pagi.
Dan yang satunya, ia belum pernah lihat. Bocah kurus dengan mata sayu. Itu pasti Panji.
Rama tersenyum tipis.
"Menarik," gumumya. "Aku lihat nanti bagaimana kau memilih, Jojo. Panji atau aku."
Ia berbalik dan berjalan pulang. Sepatunya yang mengkilap tidak terkena setitik lumpur pun.
Malam itu, Sastro dibawa ke rumah sakit kabupaten dengan gerobak dorong yang ditutupi terpal. Srintil berjalan di sampingnya. Panji di belakang.
Jojo tidak bisa ikut. Ia hanya berdiri di pertigaan jalan, menatap gerobak itu menghilang dalam gelap.
Pak Burhan berdiri di sampingnya. "Jo, kamu sudah melakukan hal yang benar."
Jojo diam.
"Kau memberikan tabunganmu. Itu pengorbanan besar untuk anak seusiamu."
Jojo tetap diam. Matanya tidak lepas dari jalan yang gelap.
"Jo, Bapak tahu kamu bingung. Antara Rama dan Panji. Antara kekuasaan dan persahabatan. Tapi ingatlah..."
Pak Burhan berlutut di samping Jojo.
"Orang yang memberi tanpa pamrih, seperti Panji, adalah orang yang layak kau pertahankan. Orang yang memberi karena ingin memanfaatkanmu, seperti Rama, adalah orang yang suatu hari nanti akan meninggalkanmu."
Jojo menunduk. "Aku tahu, Pak. Tapi... aku juga ingin merasakan jadi orang penting."
Pak Burhan mengelus kepala Jojo. "Menjadi penting itu tidak penting, Nak. Menjadi baik itu yang penting."
Jojo menangis.
Di kejauhan, di tepi Sendang Kiskenda, Ki Guno berdiri sendirian. Air sendang malam itu berwarna hitam pekat.
"Malam sebelum perubahan," gumumya. "Ada yang sakit. Ada yang datang. Ada yang menjauh. Ada yang kembali. Semua terjadi dalam satu malam."
Ia menghela napas.
"Esok, tidak akan sama lagi. Persahabatan mereka akan diuji. Keluarga Panji akan berduka. Dan Rama... Rama akan mulai membangun sarangnya."
Ia menutup mata.
"Semoga kalian kuat, anak-anak. Karena badai belum benar-benar datang. Ini baru angin ribut."
Air sendang bergerak. Gelombang kecil menghantam batu-batu di tepi. Seperti jantung yang berdebar takut.
BAB 16: SASTRO MENINGGAL
Dua tahun berlalu.
Dua tahun yang terasa seperti dua puluh bagi Panji. Dua tahun yang penuh dengan perjalanan bolak-balik ke rumah sakit kabupaten, dengan utang yang menumpuk seperti daun kering di musim kemarau, dengan senyum Sastro yang semakin tipis dan matanya yang semakin cekung.
Sastro bertahan lebih lama dari dugaan dokter. Mungkin karena cintanya pada Srintil. Mungkin karena ia tidak tega meninggalkan Panji yang masih kecil. Mungkin karena ia keras kepala—seperti yang selalu dikatakan orang-orang tentangnya.
Tapi pada suatu malam di musim hujan, ketika angin bertiup kencang dan hujan mengguyur atap seng dengan suara seperti genderang perang, Sastro menghembuskan napas terakhirnya.
Panji ada di sampingnya. Srintil ada di sisi lain.
Tidak ada yang menangis saat itu. Keduanya hanya diam. Membatu. Seperti patung yang tidak percaya bahwa kehidupan bisa begitu kejam.
Sastro meninggal dalam pelukan mereka. Tangannya yang dingin masih menggenggam jari Panji. Matanya tertutup, tetapi sudut bibirnya tersenyum—seperti orang yang sudah melihat tempat yang lebih indah dari desa kecil bernama Sumbermaya.
Panji tidak menangis. Bukan karena ia tegar. Tapi karena ia belum percaya. Bagaimana mungkin seseorang yang masih ia pegang tangannya, yang masih ia lihat dadanya naik turun semenit yang lalu, sekarang sudah menjadi mayat?
Kepercayaan itu butuh waktu. Dan ketika kepercayaan itu akhirnya tiba—ketika Panji sadar bahwa ayahnya tidak akan pernah lagi tersenyum, tidak akan pernah lagi memanggil namanya, tidak akan pernah lagi menggendongnya—tangisannya pecah.
Bukan tangis biasa. Tapi tangis yang keluar dari dasar jiwa. Tangis yang sudah ia tahan selama dua belas tahun. Tangis yang tidak bisa ia bendung lagi.
Panji menangis untuk pertama kalinya dalam hidupnya. Bukan karena ia lemah. Tapi karena ia akhirnya mengakui bahwa ia bisa terluka.
Dan di tengah tangisnya itu, Ki Guno datang. Lelaki tua itu berdiri di pintu, basah kuyup oleh hujan. Ia tidak membawa apa-apa. Hanya tongkatnya yang sudah usang.
Ki Guno berjalan ke sisi tempat tidur Sastro. Ia menatap wajah lelaki itu lama. Lalu ia menepuk pundak Panji.
"Sekarang kau kepala keluarga, Nak."
Rumah panggung di ujung barat itu terasa lebih dingin dari biasanya. Lampu minyak menyala redup. Bayangan bergoyang di dinding anyaman bambu. Hujan masih deras di luar.
Srintil duduk di sudut ruangan. Ia tidak menangis. Ia hanya diam, memeluk lututnya, menatap kosong ke arah jasad suaminya yang sudah ditutup kain putih.
Panji duduk di samping jenazah ayahnya. Tangannya masih memegang tangan Sastro yang sudah dingin dan kaku.
Ki Guno berdiri di pintu. Bajunya basah, rambut putihnya basah, tapi matanya kering.
"Nak," panggil Ki Guno pelan.
Panji tidak menjawab.
"Nak, dengar."
Panji mengangkat wajah. Matanya merah. Wajahnya basah. Hidungnya ingusan.
Ki Guno mendekat. Ia duduk bersila di samping Panji.
"Sekarang kau kepala keluarga, Nak."
Panji menggigit bibir. "Aku tidak siap, Mbah."
"Tidak ada yang pernah siap," kata Ki Guno. "Tapi kau tidak punya pilihan. Ibumu butuh kau. Rumah ini butuh kau. Dan ayahmu... ayahmu sudah menyerahkan tanggung jawab ini padamu sejak kau lahir."
"Tapi aku masih kecil, Mbah."
Ki Guno menggeleng. "Kau tidak sekecil yang kau kira, Nak. Usia dua belas tahun bukan lagi anak-anak. Di zaman dulu, seusiamu sudah bisa berperang. Sudah bisa bekerja. Sudah bisa menikah."
Panji menunduk. "Aku tidak bisa sehebat Bapak."
Ki Guno memegang bahu Panji. "Kau tidak harus sehebat dia. Kau hanya harus menjadi dirimu sendiri. Itu sudah cukup."
Srintil masih diam di sudut ruangan. Ia tidak bergerak sejak tadi. Seperti patung. Seperti ibunya dulu ketika kakeknya meninggal—kata Sastro pernah bercerita begitu.
Panji mendekati ibunya. Ia berlutut di depan Srintil.
"Bu," panggilnya lirih.
Srintil tidak merespon.
"Bu, lihat aku."
Perlahan, Srintil mengangkat wajah. Matanya kosong. Tidak ada air mata. Tidak ada ekspresi.
Panji meraih tangan ibunya. "Bu, Bapak sudah pergi. Aku masih di sini. Aku tidak akan pergi."
Mendengar itu, Srintil pecah.
Ia menangis. Bukan isak tangis biasa, tapi tangis keras yang keluar dari dadanya yang sesak. Ia memeluk Panji erat-erat, seperti takut anaknya juga akan lenyap jika ia melepaskan.
"Panji... Panji... Bapakmu... Bapakmu meninggalkan kita..." isak Srintil di sela-sela tangisnya.
Panji memeluk ibunya balik. Ia tidak berbicara. Ia hanya diam dan membiarkan ibunya menangis di pundaknya. Tangisannya sudah habis. Yang tersisa hanya rasa hampa yang tidak bisa ia gambarkan dengan kata-kata.
Ki Guno dari kejauhan hanya menghela napas. Ia keluar rumah, berdiri di teras, membiarkan hujan membasuhnya.
"Biarkan mereka menangis," gumamnya pada angin malam. "Tangisan itu obat untuk luka yang tidak terlihat."
Kabar kematian Sastro menyebar cepat ke seluruh Desa Sumbermaya. Meskipun hujan deras, warga berdatangan satu per satu ke rumah panggung di ujung barat. Mereka membawa beras, gula, teh, dan kadang sedikit uang untuk membantu biaya pemakaman.
Pak Burhan datang bersama Jojo. Jojo sekarang berusia dua belas tahun, lebih tinggi dari dua tahun lalu, tapi matanya masih sama—penuh dengan kebingungan antara kesetiaan dan ambisi.
Mintarsih datang bersama ayahnya, Kartiman. Mintarsih sudah tidak sekecil dulu. Rambutnya panjang, diikat dua ke belakang. Matanya sembab. Ia sudah menangis sebelum sampai di rumah Panji.
Kades Tirta juga datang, diikuti Bima dan Andi. Mereka membawa amplop putih berisi uang.
Rama tidak datang. Ayahnya, Pak Rahmat, datang mewakili keluarga. Wajahnya sungkan, tangannya menjabat erat tangan Srintil.
"Turut berduka cita, Bu," kata Pak Rahmat. "Semoga almarhum husnul khatimah."
Srintil hanya mengangguk lemas.
Panji menerima tamu satu per satu. Ia menjabat tangan mereka, mengucapkan terima kasih, dan menunduk hormat. Ia melakukannya dengan tenang, seolah sudah puluhan kali ia melakukan itu.
Ki Guno yang melihat dari kejauhan tersenyum tipis.
"Bocah itu belajar cepat," gumamnya. "Penderitaan memang guru yang kejam, tapi hasilnya tidak pernah mengecewakan."
Jojo mendekati Panji ketika kerumunan mulai berkurang. Mereka belum bertemu sejak Sastro dibawa ke rumah sakit kabupaten dua tahun lalu. Sesekali Jojo mengirim kabar lewat Pak Burhan, tapi mereka tidak pernah bertatap muka.
"Nji," panggil Jojo pelan.
Panji menoleh. Wajahnya letih, matanya sembab. Tapi ia tersenyum tipis.
"Jo, kamu datang."
Jojo mengangguk. "Maaf aku tidak pernah menjenguk ayahmu. Aku... aku malu."
Panji menggeleng. "Tidak usah minta maaf. Kamu sibuk dengan teman-teman barumu."
Jojo menunduk. "Aku tahu aku salah."
Panji tidak menjawab. Ia hanya menatap Jojo dengan mata yang tidak bisa dibaca.
Jojo mengangkat wajah. "Nji, aku ingin kembali. Aku ingin berteman lagi denganmu. Seperti dulu."
Panji menghela napas. "Jo, aku tidak pernah berhenti berteman denganmu. Aku yang menunggu di pohon beringin setiap sore. Kamu yang tidak pernah datang."
Jojo menangis. "Aku tahu. Aku bodoh. Aku tergiur dengan... dengan..."
"Dengan apa?" tanya Panji pelan.
"Dengan kehidupan yang terlihat mewah. Rama menjanjikan banyak hal. Baju baru, mainan baru, status. Tapi belakangan aku sadar... semua itu hanya cara untuk membuatku menjadi budaknya."
Panji diam.
Jojo melanjutkan. "Dia tidak pernah benar-benar peduli padaku. Aku hanya alat. Alat untuk mengetahui kelemahan desa ini. Alat untuk mendekati Mintarsih. Alat untuk..."
"Untuk apa?" Panji bertanya.
Jojo menggigit bibir. "Untuk menghancurkanmu, Nji."
Panji terkejut. "Apa maksudmu?"
"Rama benci padamu. Padahal ia bahkan belum pernah bertemu denganmu. Ia benci karena semua orang di desa ini bilang kau istimewa. Ia tidak terima ada orang desa yang lebih dikenal daripada keluarganya."
Panji menunduk. "Aku tidak pernah minta semua ini, Jo."
"Aku tahu," kata Jojo. "Dan aku malu karena aku hampir menjadi bagian dari rencananya untuk melukaimu."
Mintarsih datang ketika Jojo sudah pergi. Wajahnya sembab, matanya merah.
"Panji," panggilnya. Suaranya bergetar.
Panji menoleh. "Tin."
Mintarsih langsung memeluk Panji. Ia menangis di bahu Panji. "Aku ikut sedih, Nji. Aku ikut kehilangan. Pak Sastro baik padaku. Ia selalu memberi aku pisang setiap kali aku ke rumahmu."
Panji membalas pelukan Mintarsih. "Dia juga sayang padamu, Tin. Katanya, kau seperti anak perempuannya."
Mintarsih melepaskan pelukan. Ia menatap wajah Panji yang letih. "Kamu tidak apa-apa?"
Panji menggeleng. "Tidak. Tapi aku akan berusaha."
"Kamu boleh tidak apa-apa, Nji. Kamu boleh sedih. Kamu boleh lelah. Kamu tidak harus selalu kuat."
Panji tersenyum tipis. "Kata-katamu mirip sama kata-kata Bapak dulu."
Mintarsih tersenyum. "Mungkin karena aku sering dengar dia bicara."
Mereka berdua duduk di kursi bambu, berdampingan, menatap hujan yang mulai reda.
"Mintarsih," panggil Panji tiba-tiba.
"Apa?"
"Aku takut."
"Takut apa?"
"Aku takut tidak bisa menjadi kepala keluarga yang baik. Aku takut ibuku kecewa. Aku takut desa ini hancur. Aku takut... aku takut sendirian."
Mintarsih meraih tangan Panji. "Kamu tidak sendirian, Nji. Aku di sini. Jojo juga, meskipun dia pernah tersesat. Kami tidak akan meninggalkanmu."
Panji menunduk. "Janji?"
Mintarsih mengangguk. "Janji."
Setelah semua tamu pulang, Srintil tertidur kelelahan di kamarnya. Panji duduk di teras bersama Ki Guno. Hujan sudah berhenti. Langit masih gelap, tapi bintang-bintang mulai muncul satu per satu.
"Nak," panggil Ki Guno.
"Iya, Mbah."
"Kau sudah menangis hari ini. Bagaimana perasaanmu?"
Panji berpikir sebentar. "Leg... lega? Aku tidak tahu. Aku seperti kehilangan beban yang selama ini aku pikul."
Ki Guno mengangguk. "Itu karena selama ini kau menahan tangismu. Kau pikir dengan tidak menangis, kau kuat. Padahal, dengan menangis, kau mengakui bahwa kau manusia. Dan manusia boleh lemah."
"Apa aku sekarang kuat, Mbah?"
Ki Guno tersenyum. "Kau lebih kuat dari kemarin. Bukan karena kau tidak menangis. Tapi karena kau berani menangis. Itu keberanian yang berbeda."
Panji merenung.
"Nak, ingat kata-kata Bapakmu. Jagalah ibumu. Jaga dirimu. Dan jangan pernah takut untuk meminta tolong."
"Tapi Mbah, siapa yang akan menolongku?"
Ki Guno menunjuk ke langit. "Mereka. Leluhurmu. Dan orang-orang yang benar-benar sayang padamu. Mintarsih. Jojo—meskipun ia pernah tersesat. Pak Burhan. Bahkan aku, selama aku masih hidup."
"Terima kasih, Mbah."
Ki Guno berdiri. "Aku pulang dulu. Besok kita urus pemakaman ayahmu. Kau istirahat."
Panji mengangguk. "Mbah, satu lagi."
"Apa?"
"Bapak... apakah ia bahagia di sana?"
Ki Guno menatap langit. Di antara bintang-bintang, satu bintang bersinar lebih terang dari yang lain.
"Lihat, Nak. Bintang itu. Aku yakin itu ayahmu. Ia tersenyum. Ia bahagia. Karena ia tahu kau akan baik-baik saja."
Panji menatap bintang itu. Air matanya jatuh lagi. Tapi kali ini, ia tersenyum.
Esoknya, Sastro dimakamkan di pemakaman desa di lereng bukit timur. Hampir seluruh warga desa hadir. Doa dipanjatkan. Air mata jatuh. Tanah menutupi liang lahad.
Panji berdiri di sisi makam ayahnya. Srintil di sampingnya, ditopang oleh Mintarsih. Jojo berdiri di belakang, diam, matanya berkaca-kaca.
Ki Guno memimpin doa. Suaranya parau tapi lantang, membawa mantra-mantra tua yang sudah ia ucapkan ribuan kali untuk orang-orang yang berpulang.
Setelah upacara selesai, warga pulang satu per satu. Panji masih berdiri di depan makam. Ia tidak mau pergi.
"Nak," panggil Srintil lemah.
"Bu, aku ingin sebentar lagi," kata Panji.
Srintil mengangguk. Ia berjalan ke arah desa, ditemani Mintarsih.
Ki Guno masih di sana. Ia berdiri beberapa meter dari Panji, memberikan ruang.
Panji berlutut di depan makam ayahnya. Ia mencium tanah basah.
"Bapak," bisiknya. "Aku akan menjaga Ibu. Aku akan menjaga desa ini. Aku akan berusaha menjadi anak yang Bapak banggakan. Istirahatlah dengan tenang, Pak."
Ia berdiri. Ia menatap langit. Bintang yang terang tadi malam sudah tidak terlihat. Mungkin ia sedang istirahat. Mungkin ia sedang tersenyum dari tempat yang lebih tinggi.
Panji berjalan ke arah desa. Ki Guno berjalan di sampingnya.
"Mbah," kata Panji.
"Iya, Nak."
"Aku sudah memutuskan."
"Memutuskan apa?"
"Aku tidak akan diam. Jika Rama dan keluarganya ingin menghancurkan desa ini, aku akan lawan. Aku tidak akan membiarkan desa yang Bapak cintai ini hancur."
Ki Guno tersenyum. "Itulah semangat yang kutunggu. Tapi ingat, Nak. Melawan tidak selalu dengan kekerasan. Melawan juga bisa dengan kebijaksanaan, dengan kesabaran, dengan cinta."
Panji mengangguk. "Aku akan belajar."
"Bagus. Dan aku akan mengajarimu. Selagi aku masih hidup."
Mereka berjalan berdua di jalan setapak yang becek. Di belakang mereka, makam Sastro mulai ditinggalkan. Bunga-bunga yang dibawa warga mulai layu terkena hujan.
Tapi di atas makam itu, seekor burung putih hinggap. Ia berkicau sebentar, lalu terbang ke arah timur—ke arah sendang.
Seperti mengantarkan pesan terakhir.
Seperti mengatakan: "Dia sudah sampai. Dengan selamat."
Malam itu, setelah semua warga pulang, Panji tidak bisa tidur. Ia duduk di kursi bambu di teras, ditemani Ki Guno. Hujan sudah reda. Langit masih gelap, tapi bintang-bintang mulai muncul satu per satu.
Ki Guno menatap Panji. "Nak, kau tahu? Hari ini kau sudah menunjukkan bahwa kau bisa menjadi pemimpin."
Panji menggeleng. "Aku hanya menangis, Mbah."
"Kau berani menangis di depan orang banyak. Itu lebih berani daripada kau pura-pura tegar. Orang-orang melihat bahwa kau manusia. Dan mereka akan lebih mudah percaya pada manusia yang jujur dengan perasaannya."
Panji diam. Ia memandang bintang di timur—bintang yang ia yakini sebagai arwah ayahnya.
"Bapak," bisiknya. "Aku akan menjaga Ibu. Aku akan menjaga desa ini. Aku akan berusaha menjadi anak yang Bapak banggakan. Istirahatlah dengan tenang, Pak."
Bintang itu berkedip.
Dua tahun telah berlalu sejak kematian Sastro.
Dua tahun yang terasa seperti dua puluh bagi Panji. Setiap pagi ia bangun sebelum matahari terbit, membantu warga desa mengairi sawah, memanen padi, membersihkan kebun. Ia tidak pernah mengeluh. Ia hanya diam dan bekerja.
Srintil perlahan mulai pulih. Ia sudah bisa berjalan keluar rumah, sudah bisa memasak sendiri, sudah bisa tersenyum meskipun matanya masih sayu. Tapi tubuhnya tetap lemah. Dokter desa bilang ia kekurangan gizi kronis. Butuh biaya untuk membeli obat-obatan dan makanan bergizi.
Jojo dan Mintarsih datang setiap hari. Jojo membawa makanan dari rumah. Mintarsih membantu membersihkan rumah dan memasak untuk Srintil. Mereka bertiga menjadi lebih dekat dari sebelumnya—karena mereka tahu, satu sama lain adalah satu-satunya yang tersisa.
Panji tidak lagi bersekolah dengan teratur. Bu Sartika memaklumi. Bahkan, ia sering memberi Panji bekal tambahan tanpa sepengetahuan murid lain. "Kau harus tetap belajar, Nji," katanya suatu hari. "Kau punya masa depan yang cerah."
"Aku tidak punya waktu, Bu," jawab Panji jujur. "Aku harus bekerja."
"Maka kau harus pandai membagi waktu. Karena orang hebat bukan yang tidak pernah jatuh, tapi yang bisa bangkit sambil tetap belajar."
Panji mengangguk. Ia berusaha. Meskipun sering datang terlambat dengan mata sembab karena bangun terlalu pagi, ia tidak pernah bolos. Ia membaca di sela-sela waktu kerja, menulis di bawah lampu minyak ketika malam telah larut.
Ia tumbuh menjadi pemuda yang lebih pendiam dari sebelumnya. Bukan karena ia sombong. Tapi karena ia tidak punya waktu untuk basa-basi. Hidupnya adalah kerja, belajar, dan menjaga ibunya.
Tapi di matanya, ada api yang tidak pernah padam. Api yang kelak akan menerangi seluruh desa.
BAGIAN DUA: BADAI DI USIA MUDA
Bab 17: Panji Menjadi Tulang Punggung
Dua tahun setelah kematian Sastro, kehidupan di rumah panggung ujung barat berubah drastis. Srintil, yang dulu dikenal sebagai perempuan tangguh, kini menjadi bayangan dari dirinya yang dulu. Matanya sering kosong. Tangannya gemetar. Ia tidak lagi menumbuk padi, tidak lagi memasak dengan riang, tidak lagi tersenyum ketika Panji pulang sekolah.
Dokter desa bilang Srintil mengalami kesedihan yang mendalam—istilah halus untuk depresi yang tidak diobati. Ia butuh istirahat, butuh nutrisi, butuh dorongan untuk terus hidup.
Tapi di desa terpencil seperti Sumbermaya, tidak ada obat untuk patah hati. Yang ada hanya kerja keras dan doa.
Dan Panji, yang baru menginjak usia tiga belas tahun, harus menjadi tulang punggung keluarga.
Ia bekerja sebelum matahari terbit. Membantu warga desa mengairi sawah, memanen padi, membersihkan kebun. Ia menerima upah apa pun—sekoi beras, sekantong sayur, atau sekadar sepiring nasi. Ia tidak pernah memilih. Ia tidak pernah mengeluh.
Sekolah tetap ia jalani, meskipun sering datang terlambat dengan mata sembab karena bangun terlalu pagi. Bu Sartika memaklumi. Bahkan, Bu Sartika sering memberi Panji bekal tambahan tanpa sepengetahuan murid lain.
Jojo dan Mintarsih berusaha membantu. Jojo kadang membawa makanan dari rumah. Mintarsih sering menemani Panji berjualan singkong di pasar desa di akhir pekan.
Tapi beban Panji tidak pernah menjadi lebih ringan. Bahunya, yang masih terlalu muda untuk memikul tanggung jawab sekeluarga, mulai terlihat merunduk.
Namun ia tidak pernah mengeluh.
Ia hanya diam. Bekerja. Dan diam lagi.
Jam tiga pagi. Langit masih gelap. Ayam jago belum berkokok. Hanya suara jangkrik dan kodok yang memenuhi malam.
Panji sudah bangun. Ia melipat tikar pandan tempatnya tidur, merapikan selimut ibunya yang masih tertidur lelap. Wajah Srintil pucat di bawah cahaya lampu minyak. Ia kurus. Pipinya cekung. Tangan yang dulu lembut kini hanya tinggal tulang dibungkus kulit tipis.
"Bu," bisik Panji pelan, takut membangunkan.
Srintil tidak bergerak.
Panji mengecup kening ibunya. "Aku pergi dulu, Bu. Ada yang mau panen padi. Nanti siang aku balik. Jangan lupa makan, ya."
Tidak ada jawaban.
Panji menarik napas panjang. Ia mengambil cangkul di sudut rumah—cangkul peninggalan Sastro. Gagangnya sudah aus, tapi bilahnya masih tajam. Ia membawa sebungkus nasi bungkus daun pisang, hasil masakannya semalam sebelum tidur.
Di pintu, ia berbalik sekali lagi.
"Bu, aku sayang Ibu."
Ia keluar. Embun pagi membasahi kakinya yang telanjang. Udara dingin menusuk tulang.
Sawah Pak Tani—begitu warga memanggilnya, meskipun semua orang di desa itu bertani—terletak di timur desa, dekat dengan Sendang Kiskenda. Panji tiba ketika langtimur mulai memutih.
Pak Tani, seorang lelaki setengah baya dengan tubuh kekar dan wajah hitam oleh terik matahari, sudah menunggu di pematang.
"Nak, kau datang. Masih gelap begini. Tidak takut hantu?" sapa Pak Tani sambil tersenyum.
Panji menggeleng. "Hantu tidak pernah menggigit, Pak. Kelaparan yang menggigit."
Pak Tani tertawa. "Kamu ini, bicaranya kayak orang tua. Ayo, kita mulai dari petak paling utara. Hari ini target setengah hektar."
Panji mengangguk. Ia turun ke sawah. Air masih setinggi mata kaki. Tanahnya becek, licin. Tapi ia sudah terbiasa.
Mereka bekerja berdampingan. Sabit di tangan Pak Tani, cangkul di tangan Panji.
Pak Tani sambil membungkuk memotong padi. "Nak, kabar ibumu bagaimana?"
Panji berhenti sejenak. "Masih seperti biasa, Pak. Sering tidur. Jarang makan."
"Kau sudah coba bawa ke dukun?"
"Sudah. Dukun bilang, Ibuku bukan kena guna-guna. Hatinya yang sakit. Karena kehilangan Bapak."
Pak Tani menghela napas. "Kasihan. Kau sendiri masih kecil, sudah jadi tulang punggung."
Panji melanjutkan mencangkul. "Aku tidak kecil lagi, Pak. Usia tiga belas tahun sudah cukup besar."
"Kau bilang begitu, tapi matamu bilang lain," Pak Tani menatap Panji. "Matamu bilang kau lelah."
Panji tidak menjawab.
"Tapi itu bukan urusanku," lanjut Pak Tani. "Yang penting, kau bekerja dengan baik. Hari ini kuberi upah dua kali lipat. Buat ibumu beli makan."
Panji mengangkat wajah. "Terima kasih, Pak."
"Jangan berterima kasih. Kerja yang rajin. Itu ucapan terima kasih terbaik."
Sekitar pukul sembilan pagi, matahari mulai meninggi. Panji sudah bekerja enam jam tanpa henti. Tangannya melepuh. Punggungnya terasa seperti patah. Tapi ia tidak berhenti.
Dari kejauhan, Jojo datang berlari kecil. Ia membawa bungkusan daun pisang dan air tebu dalam tabung bambu.
"Nji!" teriak Jojo dari pematang.
Panji menoleh. "Jo, kamu tidak sekolah?"
"Libur. Bu Sartika ada urusan di kabupaten." Jojo menuruni pematang. Ia melepas sandalnya dan masuk ke sawah. "Aku bantu."
Panji menggeleng. "Kamu tidak perlu, Jo. Ini kerjaku."
"Aku tahu. Tapi aku mau bantu." Jojo mengambil cangkul cadangan yang disediakan Pak Tani. "Kita berteman, kan? Berteman harus bantu-membantu."
Panji tersenyum tipis. "Terima kasih, Jo."
Jojo mengangkat bahu. "Santai. Tapi nanti kalau kita sudah selesai, kau harus mau diajak makan siang sama aku. Bapak masak ikan bakar."
Panji mengangguk. "Deal."
Mereka berdua bekerja. Pak Tani yang melihat dari kejauhan hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum. "Anak-anak ini," gumamnya. "Hati mereka lebih besar dari tubuh mereka."
Sementara Panji dan Jojo di sawah, Mintarsih pergi ke rumah Panji. Ia membawa bubur ayam kampung buatannya sendiri. Ia belajar memasak dari ibu-ibu desa setelah ibunya pergi—dan kini ia cukup mahir.
Mintarsih mengetuk pintu bambu. "Bu Srintil? Bu, aku Mintarsih."
Tidak ada jawaban.
Mintarsih masuk perlahan. Srintil masih terbaring di kasur. Matanya terbuka, menatap langit-langit, tapi tidak melihat apa-apa.
"Bu, aku bawa bubur," kata Mintarsih sambil duduk di sisi Srintil. "Bubur ayam kampung. Panji pesan kemarin. Katanya Ibu harus makan enak biar cepat sembuh."
Srintil tidak bergerak.
Mintarsih menyendok bubur. Ia meniupnya sebentar, lalu mendekatkan sendok ke bibir Srintil.
"Bu, buka mulutnya, ya. Seperti waktu kecil dulu, ibu yang nyuapin aku."
Perlahan, Srintil membuka mulutnya. Mintarsih menyuapi dengan hati-hati. Setelah beberapa suapan, Srintil mulai makan sendiri. Tangannya gemetar, tapi ia berusaha.
Mintarsih tersenyum. "Bagus, Bu. Makan yang banyak. Nanti siang aku masak lagi. Sayur bening. Panji suka sayur bening."
Srintil menelan. Matanya berair. "Tin... kau baik sekali."
Mintarsih menggeleng. "Tidak, Bu. Panji yang baik. Dia bekerja dari pagi sampai sore untuk Ibu. Aku hanya bantu sedikit."
Srintil menunduk. "Aku malu. Sebagai ibu, aku malah menyusahkan anakku."
"Tidak usah malu, Bu. Ibu sedang sakit. Nanti kalau sembuh, Ibu bisa kerja lagi. Bantu Panji."
Srintil mengangguk pelan. "Iya. Aku akan coba."
Sekitar pukul dua siang, Panji dan Jojo selesai bekerja. Upah yang diterima Panji cukup untuk membeli beras satu minggu. Ia menyimpannya di saku celana dalam yang dijahit khusus—tempat aman untuk menyimpan uang.
Jojo menarik tangan Panji. "Ayo ke rumahku. Bapak sudah masak ikan bakar dari tadi."
Mereka berjalan ke rumah Pak Burhan di selatan desa. Pak Burhan sedang duduk di teras, mengipasi arang yang masih menyala.
"Wah, pekerja keras datang!" sapa Pak Burhan riang. "Ayo, duduk. Ikannya baru matang."
Mereka bertiga makan siang bersama. Ikan bakar, sambal terasi, lalapan mentah, dan nasi hangat.
Pak Burhan menatap Panji. "Nak, kau makan lahap. Itu bagus. Lelah bekerja harus diimbangi makan yang cukup."
Panji mengangguk sambil mengunyah. "Terima kasih, Pak Burhan. Maaf merepotkan."
"Ah, jangan bicara begitu. Jojo sudah saya anggap seperti anak sendiri. Kau juga."
Jojo tersenyum mendengar itu.
Pak Burhan melanjutkan, "Tapi Nji, saya dengar ada kabar kurang enak. Tentang proyek di timur desa. Keluarga Rama mulai bergerak. Mereka ingin membeli tanah adat."
Panji berhenti mengunyah. "Tanah adat? Tanah leluhur?"
"Iya. Mereka bilang akan membangun pabrik penggilingan padi modern. Tapi warga yang tanahnya di timur tidak mau dijual. Tawaran mereka rendah."
Jojo ikut bicara. "Aku dengar dari Bima. Katanya Pak Rahmat sudah menyuap Kades Tirta. Proyek itu akan tetap jalan meskipun warga menolak."
Panji mengepal. "Mereka tidak bisa seenaknya. Tanah adat dilindungi oleh hukum."
Pak Burhan menghela napas. "Hukum, Nak. Di desa terpencil seperti ini, hukum kadang kalah dengan uang. Apalagi kalau pejabatnya sendiri yang terlibat."
Panji diam. Ia memikirkan kata-kata Ki Guno dulu. "Suatu hari nanti, desa ini akan terancam. Dan kau harus memilih: diam atau melawan."
"Aku tidak akan diam," kata Panji akhirnya.
Pak Burhan menatapnya. "Kau masih muda, Nji. Melawan pejabat tidak mudah."
"Aku tahu. Tapi tanah ini warisan Bapakku. Warisan leluhurku. Aku tidak akan menjualnya. Aku juga tidak akan membiarkan orang lain menjualnya."
Sore itu, Panji pergi ke Sendang Kiskenda. Ki Guno sudah menunggu, seperti biasa.
"Nak, kau datang dengan wajah gelap. Ada apa?"
Panji duduk di samping Ki Guno. "Mbah, aku dengar kabar tentang proyek di timur desa."
Ki Guno mengangguk. "Sudah kuduga. Air sendang akhir-akhir ini berwarna merah darah. Tanda akan ada pertumpahan—bukan darah, tapi perasaan."
"Ada yang mau membeli tanah adat, Mbah. Tanah leluhur. Aku tidak tega."
Ki Guno menatap air sendang yang kemerahan. "Nak, apa kau tahu kenapa tanah adat itu penting?"
"Karena itu warisan, Mbah."
Ki Guno menggeleng. "Lebih dari itu. Tanah adat adalah pusaka tak benda. Ia menyimpan sejarah, menyimpan doa leluhur, menyimpan energi yang tidak bisa diukur dengan uang. Kalau tanah itu dijual, desa ini akan kehilangan jiwanya."
Panji menggigit bibir. "Apa yang harus aku lakukan, Mbah?"
"Kau harus belajar. Bukan hanya belajar membaca dan berhitung. Tapi belajar tentang adat, tentang hukum, tentang bagaimana melawan tanpa kekerasan. Karena musuhmu tidak akan menggunakan kekerasan. Mereka akan menggunakan uang, politik, dan tipu daya."
"Aku mau belajar, Mbah. Ajari aku."
Ki Guno tersenyum. "Sudah ku tunggu ucapan itu sejak kau berusia enam tahun. Besok, sepulang sekolah, kau datang ke sini. Aku akan ajari kau tentang Piwulang Leluhur—ajaran dari nenek moyang tentang bagaimana menjaga desa."
Panji mengangguk mantap. "Baik, Mbah."
Panji pulang ketika matahari hampir tenggelam. Ia membawa beras yang baru dibeli, sayuran dari Pak Tani, dan ikan asin pemberian Pak Burhan.
Srintil sudah bangun. Ia duduk di kursi bambu, memandangi halaman depan.
"Bu, aku pulang," sapa Panji.
Srintil menoleh. "Nak, tadi Mintarsih ke sini. Ia memberi bubur. Dan dia bersih-bersih rumah."
Panji meletakkan barang bawaannya. "Mintarsih baik, Bu."
Srintil mengangguk. "Ibu malu. Ibu tidak bisa melakukan apa-apa."
Panji mendekati ibunya. Ia berlutut di depan Srintil dan memegang kedua tangan ibunya.
"Bu, Ibu tidak perlu melakukan apa-apa. Cukup Ibu tetap hidup. Itu sudah cukup."
Srintil menangis. "Panji... Ibu tidak pantas jadi ibumu."
Panji menggeleng. "Bu, tidak ada ibu yang tidak pantas. Ibu hanya sedang sakit. Nanti kalau sembuh, Ibu bisa masak lagi, bisa berkebun lagi, bisa tersenyum lagi. Aku tunggu."
Srintil memeluk Panji. "Kamu terlalu baik untuk dunia ini, Nak."
"Tidak, Bu. Aku hanya anak yang sayang sama ibunya."
Malam itu, Panji memasak untuk ibunya. Sayur bening dan ikan asin goreng. Sederhana. Tapi Srintil makan dengan lahap. Untuk pertama kalinya dalam dua bulan, ia menghabiskan sepiring nasi.
Panji tersenyum melihatnya.
Setelah makan, ia membantu ibunya ke kamar. Ia menyelimuti Srintil, mengecup keningnya, dan berbisik, "Selamat malam, Bu. Besok aku masak sayur yang lain. Ibu harus makan banyak biar cepat sembuh."
Srintil memegang tangan Panji. "Nak, janji sama Ibu."
"Janji apa, Bu?"
"Jangan lupakan dirimu sendiri karena terlalu sibuk mengurus orang lain."
Panji terdiam. Ia mengangguk pelan. "Aku janji, Bu."
Ia keluar kamar. Ia duduk di kursi bambu di teras. Langit malam bertabur bintang. Ia menatap bintang paling terang di timur—bintang yang ia yakini sebagai arwah ayahnya.
"Bapak," bisiknya. "Aku akan menjadi kepala keluarga yang baik. Aku akan menjaga Ibu. Aku akan menjaga desa ini. Aku tidak akan mengecewakan Bapak."
Bintang itu berkedip. Seperti tersenyum.
Panji tersenyum balik.
Di kejauhan, Ki Guno berdiri di tepi Sendang Kiskenda. Airnya merah keemasan di bawah cahaya bulan.
"Bocah itu tumbuh," gumumnya. "Dua tahun yang lalu ia masih anak-anak. Sekarang ia hampir dewasa. Bukan karena umurnya. Tapi karena beban yang ia pikul."
Ia menghela napas.
"Dan beban itu akan semakin berat, Nak. Bersiaplah. Karena badai di usia muda baru saja dimulai."
Bab 18: Rahasia di Balik Proyek
Usia empat belas hingga lima belas tahun adalah masa ketika anak-anak desa mulai dilanda kegelisahan remaja. Tubuh mereka berubah. Pikiran mereka mulai melayang ke hal-hal yang tidak mereka mengerti. Persahabatan yang dulu begitu kuat mulai diuji oleh godaan dunia dewasa: uang, kekuasaan, dan status.
Jojo, yang dulu hampir tersesat, kini sudah kembali ke pangkuan persahabatan. Ia masih sesekali bermain dengan Bima dan Andi, tapi tidak lagi menjauh dari Panji dan Mintarsih. Namun, di dalam hatinya, ada kegelisahan yang tidak bisa ia ungkapkan: ia masih membandingkan dirinya dengan Panji, meskipun ia tidak mau mengakuinya.
Mintarsih tumbuh menjadi gadis remaja yang mulai menarik perhatian. Tidak hanya anak-anak desa, tapi juga Rama—anak pejabat yang kini mulai aktif di desa. Rama sering mengirim surat, kadang mengirim hadiah kecil, kadang sekadar menyapa ketika berpapasan. Mintarsih tidak tertarik, tapi Rama tidak pernah menyerah.
Dan Panji—Panji sekarang bekerja sebagai kuli serabutan di desa. Ia juga belajar adat dari Ki Guno setiap sore. Tubuhnya yang dulu kurus kini mulai berisi oleh pekerjaan fisik. Matanya yang dulu sayu kini lebih tajam. Ia belajar membaca situasi, membaca orang, membaca niat di balik senyum.
Pada tahun itu, Pak Rahmat, ayah Rama, secara resmi mengumumkan proyek pembangunan pabrik penggilingan padi modern di timur desa. Proyek ini diklaim akan membawa kemakmuran bagi warga Sumbermaya. Pabrik akan menyerap tenaga kerja. Jalan akan diaspal. Listrik akan masuk ke setiap rumah.
Kades Tirta mendukung penuh. Bima dan Andi ikut mempromosikan. Seta—keponakan Kades Tirta yang licik—mulai mengatur administrasi. Dan Rahul—preman desa bayaran—mulai mengintimidasi warga yang menolak.
Tapi di balik gemerlap janji modernisasi, ada rahasia kelam. Tanah yang akan dibeli bukan dengan harga pasar, tapi dengan harga murah—jauh di bawah harga wajar. Dokumen kepemilikan tanah akan dipalsukan. Dan warga yang menolak akan mendapat ancaman.
Panji mulai curiga ketika ia melihat Seta keluar masuk kantor desa dengan membawa map-map tebal, dan Rahul sering terlihat di rumah-rumah warga yang menolak proyek, berbicara dengan nada mengancam.
Curiganya berubah menjadi keyakinan ketika ia secara tidak sengaja mendengar percakapan antara Seta dan Rahul di belakang kantor desa, pada suatu sore ketika ia sedang mengantarkan kayu bakar untuk Kades Tirta.
Sore itu, langit mendung. Panji sedang menurunkan kayu bakar dari gerobak dorong di belakang kantor desa. Halaman belakang kantor desa sepi. Hanya ada beberapa karung semen bekas dan tumpukan bambu.
Dari balik dinding anyaman bambu, ia mendengar suara.
Seta—lelaki kurus berkacamata dengan senyum licik yang tidak pernah hilang dari wajahnya—sedang bicara dengan Rahul—lelaki tambun bertato dengan wajah bengis yang sering membuat anak-anak desa menangis hanya dengan sekali lihat.
"Rahul, desa timur sudah berapa yang setuju?" tanya Seta dengan suara pelan.
Rahul mengeluarkan buku kecil dari saku celananya. "Empat belas. Sisanya masih keras kepala. Tiga orang paling keras: Pak Tani, Pak Burhan, dan Sastro—eh, Sastro sudah mati. Ya istrinya, Srintil."
Panji yang mendengar nama ibunya langsung memasang telinga.
Seta menghela napas. "Srintil lagi sakit. Itu tidak masalah. Yang perlu kita paksa adalah Pak Tani dan Pak Burhan. Tanah mereka strategis. Pabrik harus berdiri di atas tanah mereka."
"Gimana caranya?" tanya Rahul.
Seta tersenyum. "Caranya mudah. Pak Tani punya utang di koperasi desa. Kita beli utang itu. Lalu kita tagih. Kalau tidak bisa bayar, tanahnya kita sita."
Rahul tertawa kecil. "Licik juga kau, Seta."
"Licik? Ini bisnis, Rahul. Bukan mainan."
"Lalu Pak Burhan?"
Seta mengusap dagunya. "Pak Burhan lebih sulit. Dia tidak punya utang. Tapi dia punya anak."
"Jojo?"
"Iya. Jojo sekarang akrab lagi dengan Panji. Kita bisa manfaatkan itu. Bilang pada Jojo, kalau ayahnya setuju jual tanah, Jojo akan dapat uang banyak. Bisa sekolah ke kota. Bisa beli sepatu baru. Bisa hidup enak."
Rahul mengangguk. "Siapa yang akan bilang?"
"Aku sudah bicara dengan Rama. Rama akan mendekati Jojo. Anak itu labil. Mudah dirayu."
Panji yang mendengar itu mengepal. Dadanya sesak. Ia ingin keluar dan menghadapi mereka berdua. Tapi ia ingat kata Ki Guno: "Jangan bertindak sebelum kau punya bukti. Jika kau bertindak tanpa bukti, kau yang akan dihancurkan."
Ia menahan diri. Ia diam. Ia mendengar percakapan itu sampai selesai.
Sepulang dari kantor desa, Panji langsung pergi ke Sendang Kiskenda. Ki Guno sedang duduk di tepi sendang, memandang air yang berwarna abu-abu kecoklatan—tanda ada kekacauan di desa.
"Mbah," panggil Panji dengan napas tersengal.
Ki Guno menoleh. "Kau datang dengan wajah marah. Ada apa?"
Panji duduk di samping Ki Guno. Ia menceritakan semua yang ia dengar—tentang utang Pak Tani, tentang rencana memanfaatkan Jojo, tentang Seta dan Rahul.
Ki Guno mendengar dengan saksama. Setelah Panji selesai, ia menghela napas.
"Mereka mulai bergerak, Nak."
"Apa yang harus aku lakukan, Mbah?"
Ki Guno memandang air sendang. "Kau harus bergerak lebih cepat. Tapi jangan frontal. Kumpulkan bukti. Ajak warga yang merasa dirugikan untuk bersatu. Jangan biarkan mereka dipecah belah."
"Tapi aku masih kecil, Mbah. Siapa yang akan mendengarkanku?"
Ki Guno tersenyum. "Bukan usiamu yang didengar, Nak. Tapi tindakanmu. Bantu Pak Tani. Bantu Pak Burhan. Bantu ibumu. Bantu siapa pun yang membutuhkan. Perlahan, mereka akan percaya padamu."
Panji mengangguk.
"Dan satu hal lagi," tambah Ki Guno. "Jaga Jojo. Jangan biarkan ia terpengaruh oleh rayuan Rama."
"Tapi Jojo sudah kembali padaku, Mbah."
"Kembali secara fisik belum tentu kembali secara hati, Nak. Kecemburuan itu penyakit yang kambuh di saat yang tidak terduga. Jaga dia."
Keesokan harinya, sepulang sekolah, Jojo berjalan sendirian ke arah timur desa untuk menemui Bima dan Andi. Di tengah jalan, sebuah mobil hitam berhenti di sampingnya.
Rama membuka kaca mobil. "Jojo, naik. Aku anter."
Jojo menggeleng. "Tidak usah, Rama. Rumahku dekat."
"Ah, santai saja. Aku tidak gigit." Rama tersenyum. "Aku hanya ingin ngobrol."
Jojo ragu sebentar, lalu naik. Mobil itu melaju pelan mengitari desa.
"Jo, kau tahu tentang proyek pabrik?" tanya Rama.
Jojo mengangguk. "Sedikit."
"Bapakku yang memimpin proyek ini. Desa ini akan maju, Jo. Jalan diaspal. Listrik masuk. Anak-anak desa bisa sekolah ke kota dengan beasiswa dari perusahaan."
Jojo diam.
Rama melanjutkan. "Kau anak yang pintar, Jo. Sayang kalau hanya tinggal di desa ini selamanya. Kau bisa jadi apa nanti? Petani? Buruh? Kuli?"
Jojo menggigit bibir.
"Aku bisa bantu kau, Jo. Beasiswa ke SMP di kabupaten. Nanti ke SMA. Bahkan mungkin ke perguruan tinggi. Tentu saja dengan satu syarat."
"Syarat apa?"
Rama tersenyum. "Bujuk ayahmu untuk menjual tanahnya. Tidak sulit, kan? Ayahmu hanya sendirian. Tidak punya istri. Hanya punya kau. Pasti ia mendengarkanmu."
Jojo menunduk. "Aku tidak bisa, Rama. Tanah itu satu-satunya harta ayahku."
"Kau akan kelihatan egois, Jo. Ayahmu sudah tua. Ia butuh uang untuk pensiun. Dengan menjual tanah, ia bisa hidup tenang. Kau juga bisa sekolah."
Jojo diam.
Rama menepuk pundaknya. "Pikirkan, Jo. Aku tidak memaksa. Tapi kesempatan tidak datang dua kali."
Jojo pulang dengan perasaan campur aduk. Pak Burhan sedang duduk di teras, memperbaiki jebakan tikus.
"Jo, kenapa mukamu pucat?"
Jojo duduk di samping ayahnya. "Pak, ada yang mau aku tanyakan."
"Iya, Nak."
"Kalau... kalau ada orang yang mau beli tanah kita dengan harga tinggi, apa Bapak mau jual?"
Pak Burhan berhenti bekerja. Ia menatap Jojo. "Kenapa kau bertanya begitu? Apakah Rama yang menyuruhmu?"
Jojo terkejut. "Bapak tahu?"
Pak Burhan menghela napas. "Jo, Bapak tidak buta. Bapak tahu keluarga Rama ingin mengambil tanah desa ini dengan cara licik. Mereka tawaran harga murah, katanya demi kemajuan. Tapi sebenarnya mereka ingin kaya dari desa ini."
Jojo menunduk. "Maaf, Pak. Aku tidak tahu."
"Sekarang kau tahu. Dan Bapak ingin kau memilih: mau jadi alat mereka, atau mau menjaga tanah leluhur yang akan Bapak wariskan padamu."
Jojo mengangkat wajah. "Aku akan menjaga tanah ini, Pak. Janji."
Pak Burhan tersenyum. "Bagus. Tapi jangan kau bilang pada Rama bahwa kau menolak. Biarkan mereka berpikir kau masih bisa dirayu. Itu taktik, Nak. Kita pantau mereka dari dekat."
Panji pergi ke rumah Pak Tani keesokan paginya. Pak Tani sedang duduk di kursi bambu, wajahnya muram.
"Pak Tani," sapa Panji. "Aku dengar Bapak punya utang di koperasi."
Pak Tani terkejut. "Kamu tahu dari mana?"
Panji duduk di sampingnya. "Aku tidak bisa bilang dari mana. Tapi aku tahu ada yang mau membeli utang Bapak untuk menyita tanah Bapak."
Pak Tani mengepal. "Seta?"
Panji mengangguk.
"Anak itu licik. Sejak kecil sudah begitu. Dulu ia sering mencuri mangga tetangga, lalu menyalahkan orang lain."
Panji mengeluarkan uang dari sakunya. Uang hasil kerjanya menumbuk padi dan membantu panen selama beberapa bulan terakhir.
"Ini, Pak. Tidak seberapa. Tapi bisa buat bayar utang sedikit."
Pak Tani menggeleng. "Aku tidak bisa menerima uang darimu, Nak. Kau sendiri masih butuh."
"Pak, tanah Bapak lebih penting. Tanah itu warisan. Kalau sampai disita, Bapak akan kehilangan segalanya."
Pak Tani menatap Panji lama. Air matanya mengalir. "Nak, kau ini... seperti Sastro dulu. Baik hati. Sampai tua nanti, aku tidak akan lupa kebaikanmu."
Panji tersenyum. "Jangan berterima kasih dulu, Pak. Kita masih harus melawan Seta, Rahul, dan keluarganya."
Di kantor desa, Seta dan Rahul sedang duduk di ruang belakang. Kades Tirta ada di ruang depan, sibuk dengan tamu.
"Rahul, Pak Tani baru saja melunasi setengah utangnya," kata Seta dengan wajah kesal.
Rahul mengerutkan dahi. "Siapa yang membantunya?"
Seta menghela napas. "Panji. Anak Sastro itu."
"Panji? Bocah cilik itu? Dari mana ia punya uang?"
"Dia bekerja serabutan di mana-mana. Orang desa percaya padanya. Mereka lebih suka mempekerjakan Panji daripada pekerja lain. Katanya, Panji tidak pernah mencuri, tidak pernah malas, tidak pernah minta bayaran tinggi."
Rahul menggerutu. "Bocah itu mengganggu rencana kita."
Seta tersenyum licik. "Kalau begitu, kita buat ia berhenti mengganggu."
"Gimana caranya?"
"Kita kerahkan preman dari luar desa. Hajar dia. Biar kapok."
Rahul mengangguk. "Aku kenal beberapa orang di kabupaten. Mereka biasa diupah untuk hal seperti ini."
"Jangan sampai mati. Cukup babak belur. Cukup untuk membuatnya takut."
Mereka berdua tertawa kecil.
Mereka tidak tahu bahwa di balik dinding anyaman bambu yang tipis, seorang gadis desa sedang mencuci piring di belakang kantor desa. Mintarsih.
Mintarsih mendengar semuanya.
Mintarsih berlari ke rumah Panji. Wajahnya pucat.
"Panji!" teriaknya dari luar.
Panji keluar. "Tin, ada apa? Kok pucat?"
Mintarsih terengah-engah. "Seta dan Rahul... mereka... mereka mau menyuruh preman untuk menghajarmu."
Panji diam.
"Kau tidak takut?" tanya Mintarsih heran.
Panji menggeleng. "Takut. Tapi kalau aku lari, mereka akan menang. Kalau aku diam, mereka akan terus mengancam."
"Apa yang akan kau lakukan?"
Panji memegang bahu Mintarsih. "Tin, tolong aku."
"Tolong apa?"
"Kabari Ki Guno. Minta beliau mengumpulkan warga desa. Aku akan memancing Seta dan Rahul ke tengah desa. Biar semua orang melihat wajah asli mereka."
"Itu berbahaya, Nji!"
"Aku tahu. Tapi tidak ada jalan lain."
Malam itu, Panji sengaja berjalan melewati jalan sepi di timur desa. Ia tahu Rahul dan preman-preman bayaran akan menunggunya.
Di tikungan gelap, lima orang keluar dari balik semak-semak. Rahul di depan, dengan senyum bengis.
"Panji, malam-malam jalan sendiri? Tidak takut hantu?"
Panji berhenti. "Hantu tidak pernah menggigit, Rahul. Yang menggigit biasanya preman bayaran seperti kamu."
Rahul tertawa. "Kau memang pemberani. Sayang, keberanianmu tidak akan menyelamatkanmu."
Ia memberi isyarat. Preman-preman itu mulai mendekati Panji.
Tiba-tiba, dari kejauhan, obor menyala. Puluhan warga desa datang, dipimpin Ki Guno dan Mintarsih.
Pak Tani membawa cangkul. Pak Burhan membawa parang. Srintil, untuk pertama kalinya dalam dua tahun, keluar rumah dengan wajah tegas.
"Rahul!" teriak Ki Guno dengan suara lantang. "Kau pikir desa ini tidak punya pelindung?"
Rahul terkejut. Preman-preman itu mundur ketakutan.
"Seta!" teriak Pak Tani. "Kami tahu semua rencanamu! Kami tahu kau mau curi tanah kami!"
Kades Tirta, yang ikut dalam rombongan, tampak pucat.
Ki Guno menatap Kades Tirta. "Tirta, kau pilih jadi kepala desa atau jadi budak Seta dan Pak Rahmat? Pilih sekarang!"
Kades Tirta gemetar. Ia melihat wajah warga. Ia melihat kemarahan yang sudah lama terpendam.
Akhirnya, ia berkata, "Saya... saya pilih desa ini."
Seta dan Rahul melarikan diri ke dalam gelap.
Panji berdiri di tengah kerumunan. Matanya menatap langit. Bintang-bintang bersinar terang.
"Bapak," bisiknya. "Lihat. Aku tidak sendirian."
Malam itu menjadi titik balik. Seta dan Rahul tidak lagi berani muncul secara terbuka. Pak Rahmat mengurungkan niatnya membangun pabrik—untuk sementara. Rama kembali ke kota, menunggu waktu yang tepat untuk menyerang lagi.
Tapi Panji tahu, ini baru awal. Musuh tidak akan menyerah semudah itu. Mereka hanya mundur untuk menyusun strategi baru.
Dan Panji harus bersiap.
Ki Guno berdiri di tepi sendang malam itu, seorang diri. Air sendang berwarna hitam pekat. Tapi di tengah hitam itu, ada titik-titik cahaya kecil—seperti bintang yang jatuh ke dalam air.
"Mereka menang malam ini," gumumnya. "Tapi perang belum usai. Badai yang sesungguhnya masih akan datang."
Ia menghela napas.
"Dan Panji harus menjadi lebih kuat. Jauh lebih kuat."
Bab 19: Mintarsih Mulai Cantik
Mintarsih genap berusia lima belas tahun ketika orang-orang mulai menyebutnya sebagai kembang desa. Bukan karena ia paling cantik—meskipun memang ia cantik—tapi karena ia memiliki sesuatu yang tidak dimiliki gadis-gadis lain: kelembutan yang tulus. Ia tidak sombong, tidak genit, tidak suka pamer. Ia hanya tersenyum, dan senyum itu membuat orang-orang di sekitarnya merasa hangat.
Rambutnya yang hitam panjang diikat dua ke belakang dengan pita kain merah. Matanya yang besar dan bening seperti air sendang di pagi hari. Kulitnya sawo matang, bersih tanpa bedak. Tubuhnya mulai berisi di tempat-tempat yang membuat anak laki-laki seusianya salah tingkah.
Tapi Mintarsih tidak peduli dengan semua itu. Hatinya hanya tertuju pada satu orang: Panji.
Bukan karena Panji tampan—meskipun ia juga mulai tampan, dengan rahang yang mulai tegas dan bahu yang mulai bidang karena kerja keras. Tapi karena Panji adalah orang yang selalu ada ketika ia membutuhkan. Yang mencari antingnya di sungai semalaman. Yang membelanya ketika anak-anak nakal menggodanya. Yang diam-diam meninggalkan pisang goreng di pagi hari di teras rumahnya.
Panji tidak pernah menyatakan cinta. Ia hanya berbuat. Dan bagi Mintarsih, perbuatan lebih berharga daripada seribu kata.
Tapi di desa kecil seperti Sumbermaya, kecantikan seorang gadis tidak bisa disembunyikan. Kabar tentang Mintarsih menyebar ke desa-desa tetangga. Laki-laki muda dari mana-mana datang dengan membawa lamaran. Ada yang anak petani kaya, ada yang pegawai kantor, ada yang pedagang dari kabupaten.
Kartiman, ayah Mintarsih, mulai kewalahan menolak lamaran. Ia tidak mau memaksa anaknya menikah muda, tetapi tekanan dari keluarga dan tetangga mulai terasa. Apalagi setelah utang-utangnya mulai ditagih oleh Seta—yang kini bergerak di balik layar dengan lebih licik.
Rama, yang mendengar kabar bahwa Mintarsih mulai banyak dipinang, gerah. Ia sudah lama mengincar Mintarsih. Sejak pertama kali melihat gadis itu di pasar desa dua tahun lalu, ia sudah terpesona. Tapi Mintarsih tidak pernah membalas sapaan Ramas, tidak pernah menatap matanya lebih dari satu detik, tidak pernah tersenyum khusus untuknya.
Dan Jojo, sahabat Panji yang paling setia di atas permukaan, mulai merasa sakit hati. Diam-diam, ia juga menyukai Mintarsih. Diam-diam, ia iri pada Panji yang selalu mendapat perhatian dari gadis itu. Diam-diam, ia bertanya: Kenapa bukan aku?
Kecemburuan yang dulu sempat padam, kini mulai menyala lagi. Lebih redup dari sebelumnya, tapi lebih berbahaya. Karena kecemburuan yang muncul di usia remaja sering kali tidak bisa dikendalikan.
Pasar mingguan di Desa Sumbermaya selalu ramai. Pedagang dari desa-desa sekitar datang dengan membawa sayuran, ikan asin, rempah-rempah, dan kain. Ibu-ibu desa sibuk menawar. Anak-anak kecil berlarian di antara kaki orang dewasa.
Mintarsih sedang membantu Kartiman berjualan gula merah di lapaknya. Ia mengenakan kebaya sederhana warna krem dengan kain batik lusuh. Rambutnya diikat dua ke belakang dengan pita merah khasnya.
Seorang lelaki muda dari desa tetangga, Topan, mendekati lapak itu. Ia anak petani kaya, tubuhnya tegap, wajahnya tampan. Matanya tertuju pada Mintarsih sejak ia tiba.
"Selamat pagi, Pak Kartiman," sapa Topan sopan.
Kartiman tersenyum. "Pagi, Nak Topan. Ada perlu?"
Topan mengeluarkan seikat sayuran dari keranjangnya. "Ini, bawaan dari Bapak untuk Pak Kartiman. Katanya, nanti sore Bapak mau datang ke rumah untuk... bicara serius."
Kartiman menghela napas. Ia tahu maksud "bicara serius" itu. Lamaran.
"Terima kasih, Nak. Sampaikan salam pada Bapakmu."
Topan tersenyum ke arah Mintarsih. "Mintarsih, kamu cantik hari ini."
Mintarsih tersenyum tipis sopan, lalu menunduk. Ia tidak suka dipuji. Apalagi oleh laki-laki yang tidak ia kenal.
Setelah Topan pergi, Kartiman menatap Mintarsih.
"Tin, Bapak tidak mau memaksamu. Tapi kau sudah lima belas tahun. Usia yang cukup untuk menikah. Topan anak baik. Keluarganya kaya. Kau tidak akan menderita."
Mintarsih menggeleng. "Pak, aku tidak mau menikah dengan Topan."
"Kenapa? Karena Panji?"
Mintarsih diam. Wajahnya memerah.
Kartiman menghela napas. "Tin, Panji anak baik. Tapi lihatlah keadaannya. Ibunya sakit-sakitan. Ia sendiri masih kuli. Tidak punya tanah. Tidak punya rumah yang layak. Apa kau mau hidup susah?"
Mintarsih mengangkat wajah. "Aku tidak masalah susah, Pak. Asal dengan orang yang tepat."
Kartiman mengusap rambut Mintarsih. "Kau masih muda, Tin. Masih belum tahu apa arti susah yang sesungguhnya."
Sore itu, sepulang dari pasar, Panji dan Mintarsih duduk di tepi Kali Kecil—tempat pertama kali mereka bertemu sepuluh tahun lalu. Airnya masih mengalir jernih. Ikan-ikan kecil berenang di antara bebatuan.
Mintarsih mencelupkan kakinya ke air. "Nji, tadi ada yang melamar aku."
Panji yang sedang memegang rumput menjaganya. "Siapa?"
"Topan. Anak Pak Lurah dari desa timur."
"Apa kau mau?" Suara Panji datar, tidak menunjukkan perasaan.
Mintarsih menatap Panji. "Kamu nanya apa aku mau? Kamu nggak nanya perasaanku?"
Panji menoleh. Matanya bertemu dengan mata Mintarsih. "Apa perasaanmu, Tin?"
Mintarsih menggigit bibir. Selama bertahun-tahun, ia menunggu Panji bertanya seperti itu. Tapi sekarang, ketika pertanyaan itu keluar, ia tidak bisa menjawab.
Panji melanjutkan, "Aku tahu perasaanku, Tin. Tapi perasaanku tidak penting. Aku tidak bisa menjanjikan apa-apa. Rumahku masih bocor. Ibuku sakit. Aku tidak punya tanah. Bahkan untuk makan sehari-hari, aku masih harus bekerja serabutan."
Mintarsih memegang tangan Panji. "Aku tidak butuh rumah bagus, Nji. Aku tidak butuh tanah luas. Aku butuh kamu."
Panji menggeleng. "Jangan, Tin. Jangan buat keputusan yang akan membuatmu menderita nanti."
"Kenapa kamu selalu berpikir aku yang akan menderita? Kenapa tidak berpikir bahwa aku akan bahagia bersamamu?"
Panji tidak menjawab. Ia hanya menatap air kali yang mengalir.
Mintarsih menghela napas. "Panji, aku lelah. Lelah menjadi perempuan yang selalu menunggu. Kalau kamu tidak ingin aku, bilang. Aku akan menerima lamaran Topan."
Panji menoleh cepat. Matanya terlihat panik untuk pertama kalinya. "Tin, aku..."
"Apa?" desak Mintarsih.
Panji menggigit bibir. "Aku sayang kamu. Tapi aku tidak pantas untukmu."
Mintarsih tertawa pahit. "Itu alasan paling bodoh yang pernah aku dengar."
Rama sedang duduk di ruang tamu rumah dinasnya ketika Seta datang tergopoh-gopoh.
"Rama, kabar bagus!" seru Seta.
"Apa?"
"Topan, anak Pak Lurah dari timur, melamar Mintarsih!"
Rama berdiri. Wajahnya merah. "Apa?"
Seta tersenyum. "Tenang. Lamaran belum diterima. Kartiman masih ragu. Tapi kalau tidak segera bertindak, kamu bisa kehilangan Mintarsih."
Rama mondar-mandir. "Aku sudah sering mendekati dia. Kirim surat. Kirim hadiah. Tapi dia tidak pernah menggubris."
"Itu karena hatinya masih ke Panji."
Mendengar nama Panji, Rama mengepal. "Anak kuli itu? Apa kelebihannya?"
"Tidak tahu. Tapi Mintarsih tergila-gila padanya."
Rama duduk lagi. "Apa yang harus aku lakukan?"
Seta mendekat. "Caranya sederhana. Hancurkan Panji di mata Mintarsih. Buat Mintarsih melihat bahwa Panji tidak akan mampu memberinya apa-apa. Dan tawarkan kau sebagai solusi."
"Bagaimana caranya menghancurkan Panji?"
Seta tersenyum licik. "Buat ia terlibat masalah. Tuduh ia mencuri. Atau lebih baik, buat ia kelihatan dekat dengan perempuan lain."
Rama mengangguk pelan. "Kau punya ide?"
"Saya selalu punya ide, Rama. Saya selalu punya ide."
Malam itu, Jojo dan Panji sedang berjaga di sawah untuk mengusir hama babi. Mereka duduk di gubug bambu kecil, ditemani lampu minyak dan nyamuk yang beterbangan.
Jojo memandang langit yang gelap. "Nji, aku dengar Mintarsih dilamar Topan."
Panji mengangguk. "Iya."
"Kamu nggak marah?"
Panji menggeleng. "Marah kenapa? Itu hak Mintarsih. Dia bebas memilih."
Jojo menatap Panji. "Kamu bohong. Aku tahu kamu sayang sama dia."
Panji diam. Lalu ia berkata pelan, "Menyayangi tidak berarti harus memiliki, Jo. Kadang menyayangi berarti melepaskan."
Jojo menggigit bibir. "Kalau aku yang menyayangi dia, aku tidak akan melepaskan."
Panji menoleh. "Kamu juga suka sama Mintarsih?"
Jojo terkejut. Wajahnya memerah. "Aku... aku tidak..."
"Jujur, Jo. Kita sahabat."
Jojo menunduk. "Iya. Aku suka dia. Sejak lama. Tapi dia tidak pernah melihat aku. Matanya hanya untukmu."
Panji menghela napas. "Jo, kalau kau suka dia, katakan. Jangan simpan sendiri."
"Apa gunanya? Dia tidak akan memilih aku. Semua orang tahu, dia hanya mau kamu."
Panji memegang bahu Jojo. "Jo, dengarkan. Mintarsih bukan barang yang bisa dipilih. Ia manusia. Ia punya perasaan. Jika kau sayang dia, hormati pilihannya."
"Bahkan jika pilihannya bukan aku?"
"Bahkan jika pilihannya bukan kau."
Jojo diam. Air matanya jatuh. Ia tidak tahu apakah ia menangis karena cintanya tidak terbalas, atau karena ia marah pada Panji yang tidak mau berjuang untuk Mintarsih.
Ki Guno sedang duduk di tepi sendang ketika Panji datang. Malam itu air sendang berwarna biru kehitaman—tanda ada kegalauan di desa.
"Nak, kau datang larut malam. Ada yang mengganggu pikiranmu?"
Panji duduk di samping Ki Guno. "Mbah, aku bingung."
"Tentang apa?"
"Tentang Mintarsih."
Ki Guno tersenyum. "Ah, cinta. Perasaan paling indah sekaligus paling menyakitkan."
"Kenapa Tuhan menciptakan cinta, Mbah?"
Ki Guno menatap bintang. "Agar manusia tidak merasa sendiri, Nak. Agar manusia punya alasan untuk bertahan di dunia yang kejam ini."
"Tapi cinta juga membuat orang bodoh. Cinta juga membuat orang sakit."
Ki Guno mengangguk. "Itu risiko. Tapi tanpa cinta, hidup akan hampa. Kau akan bekerja, makan, tidur, lalu mati. Tanpa cinta, tidak ada puisi. Tidak ada lagu. Tidak ada sejarah."
Panji diam.
"Nak, apakah kau mencintai Mintarsih?"
Panji mengangguk. "Iya, Mbah. Tapi aku tidak pantas untuknya."
"Kata siapa?"
"Aku sendiri. Aku miskin. Ibuku sakit. Aku tidak punya masa depan yang jelas. Apa yang bisa aku berikan untuknya?"
Ki Guno memegang tangan Panji. "Kau bisa memberikannya kebahagiaan, Nak. Bukan dalam bentuk uang atau rumah. Tapi dalam bentuk kesetiaan. Dalam bentuk kehadiran. Dalam bentuk cinta yang tulus."
Panji menunduk.
"Jangan biarkan rasa tidak pantas menghentikanmu," lanjut Ki Guno. "Karena cinta sejati tidak pernah melihat harta. Ia hanya melihat hati."
Panji mengangkat wajah. "Apa aku harus menyatakan perasaanku padanya?"
Ki Guno tersenyum. "Itu pilihanmu. Tapi ingat, tidak ada jaminan bahwa pernyataan cintamu akan diterima. Yang penting, kau sudah jujur pada perasaanmu."
Keesokan harinya, sepulang sekolah, Rama menghadang Mintarsih di halaman sekolah.
"Tin, aku mau bicara," kata Rama dengan nada memerintah.
Mintarsih mengangkat alis. "Bicara apa?"
"Tentang lamaran Topan."
"Masa depanku bukan urusanmu, Rama."
Rama tersenyum. "Kau salah. Aku sayang padamu. Aku tidak akan membiarkanmu menikah dengan orang yang tidak kau cintai."
Mintarsih tertawa pahit. "Kau pikir kau lebih baik dari Topan?"
"Aku tidak bilang begitu. Tapi setidaknya aku jujur. Aku mau kau. Bukan karena tanahmu, bukan karena ayahmu, tapi karena kau."
Mintarsih menatap Rama tajam. "Kau jujur? Benarkah? Bukankah kau dan ayahmu sedang berusaha mengambil tanah desa ini? Bukankah kau pakai Seta dan Rahul untuk mengintimidasi warga?"
Rama terkejut. "Kau tahu?"
"Semua orang tahu, Rama. Hanya saja mereka takut bicara. Tapi aku tidak takut."
Rama mendekat. "Mintarsih, dengarkan. Aku bisa memberimu kehidupan yang lebih baik. Rumah bagus di kota. Pakaian mahal. Liburan ke luar negeri. Panji tidak bisa memberimu semua itu."
Mintarsih mundur selangkah. "Aku tidak butuh semua itu. Aku butuh ketenangan hati. Dan kau, Rama, tidak akan pernah bisa memberiku itu."
Mintarsih pergi meninggalkan Rama yang berdiri membatu di halaman sekolah.
Jojo sengaja mencari Mintarsih di kebun teh milik Pak Kartiman. Ia sudah tahu bahwa Mintarsih suka menyendiri di sana setiap sore.
"Tin," panggil Jojo pelan.
Mintarsih menoleh. "Jo, kamu mencari aku?"
Jojo duduk di sampingnya. "Iya. Aku mau ngomong sesuatu."
"Apa?"
Jojo mengambil napas panjang. "Tin, aku suka sama kamu. Sejak kita kecil."
Mintarsih terkejut. "Jo..."
"Jangan potong. Biarkan aku selesai." Jojo melanjutkan, "Aku tahu kamu suka sama Panji. Aku tahu aku tidak punya kesempatan. Tapi aku hanya ingin kamu tahu. Aku tidak mau menyimpan perasaan ini sendirian."
Mintarsih diam. Ia menggigit bibir.
"Jo, aku sayang kamu. Tapi sebagai saudara."
Jojo tersenyum pahit. "Aku tahu."
"Kamu tidak marah?"
"Marah sama siapa? Marah sama kamu karena tidak memilih aku? Bukan hakku. Marah sama Panji karena dia lebih beruntung? Juga bukan hakku. Aku hanya marah pada diriku sendiri karena tidak bisa berhenti menyukai kamu."
Mintarsih memegang tangan Jojo. "Jo, aku minta maaf."
"Jangan minta maaf, Tin. Tidak ada yang salah. Perasaan tidak bisa dipaksakan. Aku hanya butuh waktu untuk merelakan."
Mereka berdua duduk diam di kebun teh. Matahari mulai terbenam. Warna jingga menyapu langit.
Jojo berdiri. "Aku pulang dulu, Tin. Dan... rahasia ini jangan bilang siapa-siapa, ya."
Mintarsih mengangguk. "Janji."
Malam itu, Panji dan Mintarsih duduk di bawah pohon beringin—tempat mereka bertiga dulu berjanji setia.
"Nji," panggil Mintarsih pelan.
"Iya, Tin."
"Jojo tadi menyatakan perasaannya padaku."
Panji tidak terkejut. "Aku tahu."
"Kamu tahu?"
"Sudah lama. Aku sudah tahu sejak kita masih kecil."
Mintarsih menatap Panji. "Dan kau tidak marah?"
Panji menggeleng. "Jojo berhak menyukai siapa pun. Termasuk kamu."
"Tapi aku tidak membalas perasaannya."
"Iya. Aku tahu."
Mintarsih menggigit bibir. "Nji, kapan kau akan berhenti bersembunyi di balik alasan tidak pantas?"
Panji diam.
Mintarsih berdiri. "Aku lelah, Nji. Aku lelah menunggu. Aku lelah menjadi perempuan yang selalu mengerti. Mulai sekarang, aku tidak akan menunggu lagi."
Ia berjalan pergi. Panji hanya terdiam, menatap punggung Mintarsih yang semakin menjauh.
Jojo yang dari kejauhan melihat itu, mendekati Panji.
"Nji, kau biarkan dia pergi?"
Panji tidak menjawab.
"Kau bodoh, Nji. Kau benar-benar bodoh."
Malam itu, tiga hati terluka.
Mintarsih menangis di kamarnya, memeluk anting peninggalan ibunya. Ia bertanya pada langit: Kenapa cinta harus serumit ini?
Jojo menangis di kamarnya, membenamkan wajah di bantal. Ia bertanya: Kenapa aku tidak pernah cukup baik untuk dicintai?
Panji tidak menangis. Ia hanya duduk di kursi bambu di teras rumahnya, menatap langit malam, dan berbisik pada arwah ayahnya.
"Bapak, apa yang harus aku lakukan? Aku sayang dia. Tapi aku tidak ingin dia menderita karenaku."
Bintang yang terang di timur berkedip. Seperti tersenyum. Seperti berkata: "Ikuti hatimu, Nak. Hanya itu yang bisa kau lakukan."
Ki Guno berdiri di tepi Sendang Kiskenda, memandang air yang berwarna biru kehitaman.
"Tiga hati terluka dalam satu malam," gumamnya. "Dan ini baru awal. Karena cinta, jika tidak diurus dengan baik, bisa berubah menjadi kebencian. Dan kebencian adalah awal dari kehancuran."
Ia menghela napas.
"Semoga kalian kuat, anak-anak. Karena badai cinta ini belum berakhir. Ia baru saja dimulai."
BAB 20: SUMPAH PEMUDA ADAT
Usia lima belas menjelang enam belas adalah masa ketika batas antara anak-anak dan dewasa mulai kabur. Suara laki-laki mulai membesar. Rambut di dagu mulai tumbuh jarang. Pikiran tentang masa depan mulai serius—tidak lagi sekadar mimpi, tapi mulai direncanakan.
Di Desa Sumbermaya, ancaman modernisasi tidak lagi sekadar desas-desus. Pak Rahmat, setelah mundur sementara karena perlawanan warga, kini kembali dengan strategi baru. Ia tidak lagi membeli tanah satu per satu. Ia bekerja sama dengan pemerintah kabupaten untuk menggusur tanah adat dengan dalih "pembangunan untuk kemakmuran rakyat".
Kades Tirta, meskipun sudah berjanji setia pada warga, kembali terpengaruh oleh bujuk rayu Seta. Janji jabatan yang lebih tinggi, uang pelicin, dan proyek-proyek menggiurkan membuatnya lupa pada amanat warga.
Ki Guno, yang usianya sudah mendekati seratus tahun, merasa waktunya tidak lama lagi. Ia harus segera mempersiapkan generasi penerus. Ia memanggil pemuda-pemuda desa yang masih memiliki kesadaran adat—mereka yang tidak tergiur oleh uang Rama, yang tidak takut pada ancaman Rahul, yang masih ingat pada ajaran leluhur.
Mereka berkumpul di Gua Kiskenda—gua keramat di balik sendang yang sama, tempat persembunyian para leluhur dulu ketika perang. Di dalam gua itu, dindingnya dipenuhi lukisan dinding dari zaman purba. Udara di dalamnya dingin, tapi terasa sakral. Setiap orang yang masuk harus melepaskan alas kaki dan tidak boleh bicara keras.
Panji dan Mintarsih tentu saja diundang. Juga beberapa pemuda desa yang setia pada adat: Wawan (17 tahun), Bayu (16 tahun), Sari (16 tahun), dan beberapa lainnya.
Jojo tidak diundang.
Bukan karena Ki Guno tidak percaya padanya. Tapi karena Ki Guno tahu, hati Jojo belum sepenuhnya kembali. Masih ada racun kecemburuan yang bersarang di sana. Dan sumpah di gua keramat tidak bisa dilakukan oleh hati yang terpecah.
Jojo mendengar kabar tentang pertemuan itu dari Bima—yang mendengar dari Seta. Seta sengaja memberitahu Jojo untuk memancing kemarahan.
Dan Jojo memang marah.
Ia tidak marah karena tidak diundang. Ia marah karena merasa dikhianati oleh orang yang ia anggap saudara.
"Kita bertiga," pikir Jojo getir. "Selamanya. Itu janji kita di bawah pohon beringin. Tapi sekarang, mereka berdua pergi ke gua tanpa aku. Mereka bersumpah tanpa aku. Aku... aku tidak penting bagi mereka."
Sakit hati itu membuncah. Dan seperti api yang disiram bensin, sakit hati itu mulai membakar akar persahabatan yang sudah retak sejak lama.
Ki Guno duduk di teras rumahnya. Panji duduk di sampingnya. Langit malam gelap tanpa bintang—pertanda badai akan datang.
"Nak, besok malam kita akan mengadakan sumpah pemuda adat di Gua Kiskenda," kata Ki Guno pelan. "Kau akan aku tunjuk sebagai pemimpin mereka."
Panji terkejut. "Aku, Mbah? Masih banyak yang lebih tua dariku. Wawan, Bayu..."
Ki Guno menggeleng. "Usia bukan ukuran, Nak. Yang diukur adalah hati. Wawan dan Bayu baik, tapi mereka mudah terpengaruh. Sari pintar, tapi ia terlalu penakut. Hanya kau yang memiliki keberanian dan kebijaksanaan."
"Aku tidak layak, Mbah."
"Kau lebih layak dari yang kau kira." Ki Guno menatap Panji. "Tapi ada satu hal yang harus kau ketahui."
"Apa, Mbah?"
Ki Guno menghela napas. "Jojo tidak diundang."
Panji terdiam. "Mbah, kenapa? Jojo sudah kembali padaku. Ia sudah berubah."
Ki Guno menggeleng. "Ia kembali secara fisik, Nak. Tapi hatinya? Aku tidak yakin. Masih ada kecemburuan di sana. Masih ada dendam yang tidak ia akui."
"Aku bisa bicara padanya, Mbah. Aku bisa menjelaskan."
"Jangan. Semakin kau menjelaskan, semakin ia merasa direndahkan. Biarkan ia memproses sendiri. Jika ia benar-benar sahabatmu, ia akan mengerti."
Panji menunduk. "Aku tidak tega, Mbah."
"Kadang, untuk melindungi sesuatu yang besar, kita harus mengorbankan sesuatu yang kecil. Ini bukan tentang persahabatan kalian. Ini tentang masa depan desa ini."
Di tempat yang sama, di rumah Bima, Jojo sedang duduk di kursi bambu. Bima dan Andi di sampingnya.
"Jo, kau tahu ada pertemuan besar besok malam?" tanya Bima dengan nada provokatif.
Jojo mengerutkan dahi. "Pertemuan apa?"
"Pertemuan pemuda adat. Di Gua Kiskenda. Katanya mau bersumpah setia pada adat. Melawan proyek pabrik."
Jojo terkejut. "Aku tidak tahu."
Bima tersenyum licik. "Ya, kau tidak diundang. Yang diundang hanya orang-orang pilihan Ki Guno. Termasuk Panji dan Mintarsih."
Jojo mengepal. "Mereka berdua diundang?"
"Tentu. Mereka kan dekat dengan Ki Guno. Apalagi Panji. Ki Guno sudah menganggapnya seperti cucu sendiri. Kau... maaf, Jo. Kau hanya numpang."
Andi menambahkan, "Mungkin karena kau dulu dekat dengan Rama? Jadi Ki Guno tidak percaya padamu."
Jojo berdiri. Wajahnya merah.
"Jo, jangan marah," kata Bima cepat. "Aku hanya kasihan sama kamu. Kau sudah berusaha kembali ke Panji, tapi tetap saja ia lebih memilih orang lain."
Jojo tidak menjawab. Ia berjalan pulang dengan langkah cepat.
Bima dan Andi saling pandang, lalu tersenyum.
"Berhasil," bisik Bima.
"Seta pasti senang," balas Andi.
Jojo pulang dengan wajah marah. Pak Burhan sedang duduk di teras, merokok klobot.
"Jo, kenapa mukamu merah?"
Jojo duduk di samping ayahnya. "Pak, apa Bapak tahu tentang pertemuan pemuda adat besok malam?"
Pak Burhan mengangguk. "Tahu. Ki Guno sudah bilang padaku."
"Kenapa aku tidak diundang?"
Pak Burhan menghela napas. "Karena kau belum siap, Jo."
"Apa maksudnya belum siap?" suara Jojo naik. "Aku sudah berusaha menjadi baik. Aku sudah tinggalkan Rama. Aku sudah kembali ke Panji. Apa lagi yang harus aku lakukan?"
Pak Burhan menatap anaknya. "Jo, bukan tentang apa yang kau lakukan. Tapi tentang apa yang ada di dalam hatimu. Apakah kau benar-benar sudah ikhlas dengan keistimewaan Panji? Apakah kau benar-benar sudah tidak iri lagi?"
Jojo diam.
"Bapak tahu kau masih iri, Jo. Bapak tahu kau masih sakit hati setiap kali orang memuji Panji. Dan itu wajar. Tapi untuk sumpah di gua keramat, Ki Guno tidak bisa mengambil risiko. Hati yang terpecah tidak boleh bersumpah di tempat suci."
"Aku tidak terpecah, Pak!"
Pak Burhan memegang bahu Jojo. "Kau bohong, Nak. Bapak bisa lihat dari matamu. Masih ada amarah di sana. Masih ada kecemburuan. Selesaikan dulu dengan dirimu sendiri. Setelah itu, baru kau bisa bergabung."
Jojo menunduk. Air matanya jatuh.
Malam itu, Panji pergi ke rumah Jojo. Ia tidak bisa tidur memikirkan sahabatnya.
Pak Burhan membukakan pintu. "Nji, Jojo di kamarnya. Tapi ia tidak mau ketemu siapa pun."
"Aku tetap mau coba, Pak."
Panji masuk ke kamar Jojo. Jojo sedang duduk di kasur, memeluk lututnya.
"Jo," panggil Panji pelan.
Jojo tidak menjawab.
"Jo, aku minta maaf."
Jojo mengangkat wajah. "Maaf buat apa?"
"Kamu tidak diundang. Itu keputusan Mbah Guno, bukan aku. Aku sudah coba melobi, tapi Mbah Guno tetap pada pendiriannya."
Jojo tertawa pahit. "Kau lihat? Bahkan Mbah Guno lebih percaya padamu daripada padaku. Semua orang lebih percaya padamu."
"Itu bukan masalah kepercayaan, Jo. Ini tentang..."
"Tentang apa? Tentang hatiku yang terpecah? Bapakku juga bilang begitu."
Panji duduk di samping Jojo. "Jo, kau tahu aku sayang padamu. Kau saudaraku. Tapi sumpah di gua itu tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang. Mereka yang bersumpah harus memiliki hati yang bersih."
"Apa hatiku kotor?" tanya Jojo getir.
Panji diam. Tidak mau berbohong, tapi juga tidak mau menyakiti.
Jojo menghela napas. "Sudahlah, Nji. Kau pergi saja. Ikuti sumpahmu. Lupakan aku."
"Jo..."
"Pergi!"
Panji berdiri. Ia menatap Jojo lama. Lalu ia pergi.
Jojo membenamkan wajahnya di bantal. Ia menangis sekeras-kerasnya.
Jam menunjukkan pukul satu dini hari. Rumah Pak Burhan sunyi. Hanya suara jangkrik dan sesekali anjing menggonggong di kejauhan.
Jojo tidak bisa tidur. Ia berbaring di kasur tipisnya, mata terbuka lebar menatap langit-langit yang gelap. Pikirannya berputar cepat. Amarah, sakit hati, kecemburuan—semua bercampur menjadi satu dalam dadanya yang sesak.
Ia duduk. Ia memegang uang kepeng di sakunya—uang kepeng yang dulu ia buang, lalu diam-diam diambil kembali tanpa sepengetahuan Panji.
"Kenapa?" bisiknya pada uang kepeng itu, seolah benda mati itu bisa menjawab. "Kenapa aku selalu menjadi bayangan? Kenapa aku tidak pernah cukup?"
Uang kepeng itu diam. Dingin di tangannya.
Jojo teringat percakapan dengan Rama beberapa minggu lalu, ketika Rama masih sering mengunjungi desa sebelum proyek pabriknya mandek.
"Jo, kau tahu? Kau punya potensi. Kau hanya berada di tempat yang salah. Di desa ini, kau tidak akan pernah dihargai. Selama Panji masih di sana, kau hanya akan menjadi angka nol."
Ia menggeleng, mencoba mengusir suara Rama dari kepalanya.
"Aku bisa memberimu pekerjaan di kota. Gaji besar. Rumah layak. Kau bisa sekolah. Kau bisa menjadi seseorang. Bukan bayangan Panji."
"Dan imbalannya?" Jojo ingat ia bertanya.
"Kau bekerja untukku. Itu saja."
Tidak disebutkan secara gamblang. Tapi Jojo tahu, "bekerja untukku" berarti menjadi alat. Mata-mata. Informan. Pengkhianat.
"Tapi aku sudah menjadi pengkhianat," bisik Jojo pada dirinya sendiri. "Mereka sudah menganggapku pengkhianat. Panji tidak membelaku. Ki Guno tidak percaya padaku. Apa bedanya jika aku benar-benar pergi?"
Ia memejamkan mata. Air matanya jatuh lagi.
"Aku tidak ingin menjadi pengkhianat," isaknya. "Tapi aku juga tidak ingin menjadi tidak ada."
Ia membuka matanya. Ia menatap dinding kamarnya yang sempit. Rumah ini. Desa ini. Semua kenangan tentang persahabatan. Tentang sumpah di bawah pohon beringin. Tentang tawa bersama di tepi kali.
"Panji," bisiknya. "Kenapa kau tidak berjuang untukku? Kenapa kau biarkan aku pergi begitu saja?"
Tidak ada jawaban. Hanya suara jangkrik yang terus bernyanyi.
Jojo mengambil keputusan.
Ia bangun. Ia mengambil karung kecil, memasukkan beberapa helai pakaian, uang tabungan yang tersisa, dan uang kepeng itu—uang kepeng yang dulu menjadi saksi sumpah mereka.
Ia menulis surat pendek untuk ayahnya.
"Pak, aku pergi ke kabupaten. Aku ikut Rama. Jangan cari aku. Aku akan kembali ketika aku sudah menjadi seseorang. Maafkan aku. Jojo."
Ia meletakkan surat itu di atas meja. Ia menatap ayahnya yang tertidur di kamar sebelah. Didengarnya dengkur Pak Burhan yang teratur.
"Maaf, Pak," bisiknya. "Aku tidak bisa tinggal di sini."
Ia keluar rumah. Langit masih gelap. Bintang-bintang terakhir mulai redup. Fajar belum tiba.
Jojo berjalan ke arah timur, ke arah jalan besar yang menghubungkan desa dengan kabupaten. Ia tidak menoleh. Ia tidak ingin melihat rumahnya untuk terakhir kalinya.
Di pinggir desa, sebuah mobil hitam sudah menunggu. Rama membuka pintu dari dalam.
"Jo, naik. Aku tahu kau akan datang."
Jojo masuk. Ia tidak bertanya bagaimana Rama tahu. Mungkin Seta yang memberitahu. Mungkin Bima. Mungkin ia sudah diprediksi sejak awal.
Mobil itu melaju. Desa Sumbermaya mulai menghilang di balik kabut pagi.
Jojo menatap ke belakang. Melihat pohon beringin yang mulai mengecil, sendang yang berkilau di bawah sinar matahari terbit, rumah-rumah panggung yang masih tertidur.
"Panji," bisiknya dalam hati. "Suatu hari nanti, aku akan kembali. Dan aku akan membuktikan bahwa aku tidak kalah denganmu."
Rama tersenyum di sampingnya. "Jo, mulai hari ini, hidupmu akan berubah. Aku janji."
Jojo tidak menjawab. Ia hanya menatap jalan di depan.
Malam berikutnya, langit gelap. Hujan gerimis. Ki Guno, Panji, Mintarsih, Wawan, Bayu, Sari, dan pemuda lainnya berkumpul di mulut Gua Kiskenda.
Mereka melepas alas kaki. Satu per satu masuk ke dalam gua dengan membawa obor.
Dinding gua terbuat dari batu kapur yang lembap. Air menetes dari langit-langit. Suara tetesan air bergema seperti irama gamelan gaib.
Ki Guno berdiri di tengah gua. Obor menyala di tangannya.
"Anak-anak," mulai Ki Guno dengan suara yang bergema. "Malam ini, kalian akan bersumpah di hadapan leluhur. Tanah adat ini sedang terancam. Modernisasi bukan musuh, tapi jika datang dengan cara yang salah, ia bisa membunuh jiwa desa ini."
Semua pemuda mendengar dengan saksama.
"Kalian tidak bersumpah untuk melawan modernisasi. Kalian bersumpah untuk menjaga keseimbangan. Antara adat dan kemajuan. Antara leluhur dan generasi mendatang. Antara kebutuhan dan keserakahan."
Panji berdiri di barisan depan. Ia menatap api obor.
"Panji," panggil Ki Guno. "Kau akan memimpin sumpah ini."
Panji melangkah maju. Hatinya berdegup kencang.
"Kami, pemuda Desa Sumbermaya," ucap Panji lantang.
"Kami, pemuda Desa Sumbermaya," ulang yang lain.
"Bersumpah demi leluhur yang menjaga tanah ini."
"Bersumpah demi leluhur..."
"Akan menjaga adat dan budaya."
"Akan menjaga adat dan budaya."
"Tidak akan menjual tanah warisan."
"Tidak akan menjual tanah warisan."
"Tidak akan takut pada ancaman."
"Tidak akan takut pada ancaman."
"Dan akan bersatu melawan keserakahan."
"Dan akan bersatu melawan keserakahan."
Ki Guno mengangkat tangannya. Air di dinding gua bergetar. Obor-obor menyala lebih terang.
"Sumpah ini telah terdengar oleh leluhur," ucap Ki Guno. "Barangsiapa mengingkari, ia akan mendapat kutukan. Bukan kutukan dalam bentuk penyakit atau kematian. Tapi kutukan berupa hati yang tidak pernah tenang."
Mintarsih merasakan hawa dingin merayap di punggungnya. Ia menggenggam erat anting ibunya.
Panji merasakan sesuatu yang aneh. Seperti ada tangan tak terlihat yang menepuk pundaknya. Tangan itu hangat. Tangan itu familiar.
"Bapak?" bisiknya dalam hati.
Tidak ada jawaban. Tapi kehangatan itu tetap ada.
Sementara itu, Jojo sudah berada di kabupaten. Tapi di bawah pohon beringin, kenangan tentang dirinya masih ada. Hujan gerimis membasahi rumput. Tidak ada yang duduk di sana. Hanya angin yang bertiup, membawa daun-daun kering berguguran.
Jojo tidak lagi di desa. Ia sudah berada di dalam mobil yang melaju ke kabupaten. Tapi di bawah pohon beringin, bekas air matanya masih membasahi tanah. Uang kepeng yang ia lempar ke semak-semak, yang kemudian ditemukan Panji, masih tersimpan di saku Panji.
Angin malam bertiup. Daun-daun beringin bergoyang.
Dewi Anggraini—arwah perempuan yang bersemayam di sendang—duduk di dahan tertinggi pohon beringin. Ia menatap kosong ke arah timur, ke arah mobil yang membawa Jojo pergi.
"Kau memilih jalan yang salah, Nak," bisiknya. "Tapi mungkin ini satu-satunya jalan yang kau tahu."
Ia menangis. Air matanya jatuh ke tanah, membasahi rumput yang kering.
"Semoga kau selamat, Jojo. Semoga kau kembali."
Setelah upacara sumpah selesai, Mintarsih mencari Jojo ke rumahnya. Tapi Jojo tidak ada. Pak Burhan sedang duduk di teras, memegang selembar kertas—surat yang ditinggalkan Jojo.
"Pak Burhan, Jojo ke mana?" tanya Mintarsih.
Pak Burhan menatap surat itu lama. Air matanya jatuh. "Ia pergi, Tin. Ke kabupaten. Ikut Rama."
Mintarsih terkejut. "Apa? Kapan?"
"Tadi malam. Atau pagi buta. Ia meninggalkan surat ini."
Mintarsih membaca surat itu. Tangannya gemetar.
"Pak Burhan, kita harus cari dia!"
Pak Burhan menggeleng. "Tidak, Tin. Biarkan ia pergi. Mungkin ia memang butuh waktu. Butuh ruang. Butuh membuktikan sesuatu pada dirinya sendiri."
"Tapi Pak, Rama jahat! Rama akan memanfaatkannya!"
"Aku tahu, Tin. Tapi Jojo sudah dewasa. Ia harus belajar dari kesalahannya sendiri. Tidak bisa selamanya dilindungi."
Mintarsih menangis. "Aku tidak tega, Pak."
Pak Burhan memegang bahu Mintarsih. "Aku juga tidak tega, Tin. Tapi ini pilihannya. Kita hanya bisa berdoa."
Keesokan paginya, Panji pergi ke rumah Jojo. Ia ingin memperbaiki keadaan.
Tapi Pak Burhan menggeleng. "Jojo sudah pergi, Nji."
Panji terkejut. "Pergi ke mana, Pak?"
"Ke kabupaten. Ia minta ikut Rama. Rama bilang akan memberinya pekerjaan dan tempat tinggal."
Panji terdiam. Wajahnya pucat.
"Jojo titip pesan," kata Pak Burhan dengan mata basah. "Ia bilang, kau tidak perlu mencarinya. Ia akan kembali ketika ia sudah menjadi seseorang. Seseorang yang tidak kalah denganmu."
Panji menggigit bibir. "Pak Burhan, aku... aku minta maaf. Aku gagal menjadi sahabat yang baik."
Pak Burhan menggeleng. "Bukan salahmu, Nji. Ini pilihan Jojo. Biarkan ia pergi. Mungkin ia memang butuh waktu untuk menemukan jati dirinya."
Panji menunduk. "Aku akan menunggunya, Pak. Pintu rumahku selalu terbuka untuk Jojo."
Pak Burhan tersenyum sedih. "Aku tahu, Nji. Aku tahu."
Tiga hari kemudian, Jojo berangkat ke kabupaten bersama Rama. Ia tidak pamit pada Mintarsih. Ia tidak pamit pada Panji. Ia hanya menitipkan pesan pada ayahnya.
Pak Burhan berdiri di pinggir jalan desa, menatap mobil hitam yang membawa anaknya pergi. Air matanya jatuh, tapi ia tidak menangis. Ia hanya berdoa dalam hati: "Jagalah anakku, Tuhan. Ia sedang tersesat. Bimbing ia kembali."
Panji berdiri di kejauhan, di bawah pohon beringin. Ia tidak menghalangi. Ia tidak berteriak. Ia hanya menatap mobil itu menghilang di tikungan.
Mintarsih berdiri di sampingnya. "Nji, apa Jojo akan kembali?"
Panji tidak menjawab. Ia hanya menggenggam erat uang kepeng di sakunya—uang kepeng yang ia temukan di semak-semak bawah pohon beringin semalam.
"Suatu hari nanti, Tin. Aku yakin."
Mintarsih memegang tangan Panji. "Aku juga yakin."
Mereka berdua berdiri di bawah pohon beringin, menatap jalan yang kosong. Hujan mulai turun lagi. Mereka tidak berlindung. Mereka hanya diam, membiarkan air hujan membasuh kesedihan mereka.
Di kejauhan, Ki Guno berdiri di tepi Sendang Kiskenda. Air sendang berwarna abu-abu gelap. Hitam di tengah. Merah di pinggir.
"Jojo pergi," gumamnya. "Racun kecemburuan telah memisahkan mereka. Tapi ini belum akhir. Ini hanya awal dari babak baru."
Ia menghela napas.
"Semoga kau kuat, Panji. Karena badai sesungguhnya belum datang. Dan kali ini, kau akan menghadapinya sendirian."
Tiga hari kemudian, Jojo sudah berada di kabupaten. Rama memberinya sebuah kamar kos sempit di belakang rumah dinas.
"Ini tempatmu, Jo," kata Rama sambil melemparkan kunci. "Besok kau mulai bekerja. Aku akan beri tugas."
"Apa tugasnya, Rama?"
Rama tersenyum. "Nanti kau tahu. Istirahatlah dulu. Kau pasti lelah."
Rama keluar. Jojo duduk di kasur tipis. Ia menatap dinding yang lembap. Bau apek memenuhi ruangan.
Ia mengeluarkan uang kepeng dari sakunya—uang kepeng yang tidak jadi ia buang. Uang kepeng yang diam-diam ia ambil kembali dari semak-semak sebelum berangkat.
"Panji," bisiknya. "Aku akan membuktikan bahwa aku bisa menjadi seseorang. Tanpa bayanganmu."
Ia menggenggam uang kepeng itu erat-erat.
"Dan ketika aku kembali, kau akan melihat. Aku tidak kalah denganmu."
Air matanya jatuh. Tapi ia tidak menghapusnya.
Di luar jendela, langit kabupaten kelabu. Tidak ada bintang. Tidak ada pohon beringin. Tidak ada sendang.
Hanya debu dan kebisingan kota.
Jojo memejamkan mata. Ia bermimpi tentang masa kecilnya—tentang tiga bocah yang bersumpah setia di bawah pohon beringin. Tentang tawa. Tentang pelukan. Tentang janji selamanya.
"Mimpi," bisiknya dalam tidur. "Itu hanya mimpi."
Di Desa Sumbermaya, Panji dan Mintarsih masih berdiri di bawah pohon beringin. Hujan sudah berhenti. Matahari mulai muncul di ufuk timur.
Mintarsih memegang tangan Panji. "Nji, apa Jojo akan baik-baik saja?"
Panji menghela napas. "Aku tidak tahu, Tin. Tapi aku akan berdoa untuknya. Setiap malam."
"Dan jika ia tidak pernah kembali?"
"Pintu rumahku selalu terbuka, Tin. Untuk Jojo. Untuk siapa pun."
Mintarsih menyandarkan kepalanya di bahu Panji. "Kau terlalu baik, Nji."
"Tidak, Tin. Aku hanya terlalu lelah untuk membenci."
Di kejauhan, Ki Guno masih berdiri di tepi Sendang Kiskenda. Air sendang mulai berubah warna—dari abu-abu gelap menjadi biru keemasan.
"Badai belum datang, Nak," gumamnya. "Tapi kau sudah kehilangan sahabat. Dan itu lebih berat daripada badai."
Ia berbalik. Tongkatnya menekan tanah.
"Semoga kau kuat, Panji. Karena perjalananmu masih panjang."
Bab 21: Kota Besar, Mimpi Hancur
Dua tahun berlalu sejak Jojo pergi ke kabupaten bersama Rama. Dua tahun yang terasa seperti dua puluh bagi Panji. Bukan karena beban kerjanya bertambah—meskipun memang bertambah. Tapi karena ia kehilangan seorang sahabat, dan kekosongan itu tidak bisa diisi oleh siapa pun.
Mintarsih masih setia di sisinya. Ia datang setiap hari, memasak untuk Srintil, membantu Panji di sawah, menemaninya belajar adat dari Ki Guno. Tapi di antara mereka ada jarak yang tidak bisa dijelaskan—bukan karena cinta yang pudar, tapi karena ketakutan. Panji takut menyakiti Mintarsih. Mintarsih takut ditinggalkan.
Srintil perlahan mulai pulih. Ia sudah bisa berjalan keluar rumah, sudah bisa memasak sendiri, sudah bisa tersenyum meskipun matanya masih sayu. Tapi tubuhnya tetap lemah. Dokter desa bilang ia kekurangan gizi kronis. Butuh biaya untuk membeli obat-obatan dan makanan bergizi.
Panji bekerja lebih keras. Ia tidak hanya menjadi kuli serabutan di desa, tapi juga mulai mencari pekerjaan di kota kabupaten yang berjarak dua jam perjalanan dengan bus. Setiap pagi ia berangkat, setiap malam ia pulang dengan tubuh letih dan kantong tipis.
Tapi di kota, ia belajar banyak hal. Ia belajar bahwa dunia di luar desa tidak seindah yang dibayangkan. Ia belajar bahwa uang bisa membeli apa saja—termasuk hati nurani. Ia belajar bahwa Rama dan keluarganya bukanlah satu-satunya ikan besar di laut yang kotor.
Kota besar mengajarkan Panji satu hal: kebaikan tidak selalu dibalas kebaikan. Kadang kebaikan dibalas dengan pengkhianatan.
Dan pada suatu malam, ketika hujan deras mengguyur kota dan Panji sedang berteduh di emperan toko, ia bertemu dengan seseorang yang akan mengubah hidupnya.
Jam tiga pagi. Terminal bus kota kabupaten masih sepi. Beberapa gelandangan tidur di emperan toko. Lampu penerangan jalan redup, mati satu, hidup dua.
Panji duduk di kursi kayu di sudut terminal. Ia sudah tiba sejak jam satu pagi, naik bus dari desa dengan biaya paling murah—berdiri di lorong karena tidak punya uang untuk membeli tiket duduk.
Ia membawa bekal nasi bungkus dan sayur asem buatan Mintarsih. Tangannya yang kasar memegang bungkusan itu dengan hati-hati, seolah ia benda berharga.
Seorang lelaki tua mengenakan kemeja lusuh dan topi pet mendekatinya. Wajahnya kusam, matanya cekung. Ia duduk di samping Panji tanpa permisi.
"Mas, punya rokok?" tanya lelaki itu.
Panji menggeleng. "Saya tidak merokok, Pak."
"Punya uang? Seribu rupiah saja."
Panji mengeluarkan dompetnya. Ia hanya punya dua ribu rupiah—untuk ongkos pulang nanti sore. Ia memberikan seribunya pada lelaki itu.
Lelaki itu menerima dengan tangan gemetar. "Terima kasih, Mas. Tuhan memberkati."
Panji tersenyum. "Sama-sama, Pak."
Lelaki itu tidak pergi. Ia masih duduk di samping Panji.
"Mas dari desa?"
"Iya, Pak. Dari Sumbermaya."
"Sumbermaya? Desa kecil di selatan? Dulu aku pernah ke sana. Sekitar tiga puluh tahun lalu. Masih banyak hutan."
Panji mengangguk. "Sekarang juga masih banyak hutan, Pak. Tapi mulai terancam. Ada proyek pabrik yang mau mengambil tanah adat."
Lelaki itu menghela napas. "Tanah adat. Aku dulu juga punya tanah adat. Di desaku. Tapi dijual oleh orang tuaku waktu aku kecil. Karena butuh uang."
"Kenapa, Pak?"
Lelaki itu menunduk. "Karena kelaparan. Karena tidak ada pilihan. Tapi setelah tanah itu dijual, keluarga kami hancur. Bapakku meninggal karena stres. Ibuku pergi entah ke mana. Aku jadi gelandangan sampai sekarang."
Panji terdiam.
"Nak," kata lelaki itu menatap Panji. "Jangan pernah jual tanah leluhurmu. Berapa pun harganya. Karena tanah itu bukan sekadar tanah. Ia adalah ibumu. Ia adalah bapakmu. Ia adalah sejarahmu."
Panji mengangguk mantap. "Saya tidak akan menjualnya, Pak. Janji."
Pukul enam pagi, Panji sudah sampai di pabrik pengolahan kayu di pinggiran kota. Ia bekerja sebagai kuli angkut—mengangkat papan kayu dari truk ke gudang, dari gudang ke mesin penggergajian.
Pekerjaan ini berat. Punggungnya terasa seperti patah setiap hari. Debu kayu masuk ke hidung, membuatnya batuk-batuk. Tapi upahnya lumayan: lima belas ribu rupiah per hari. Cukup untuk membeli beras, sayur, dan obat untuk Srintil.
Mandor pabrik bernama Pak Heru. Lelaki gemuk dengan kumis tebal dan suara keras. Ia suka membentak, tapi tidak pernah memotong gaji.
"Hei, bocah!" teriak Pak Heru dari kejauhan. "Kamu yang baru! Cepat angkat kayu itu! Jangan ngelamun!"
Panji segera bekerja. Ia mengangkat papan kayu seberat lima belas kilo ke pundaknya. Berjalan cepat ke gudang.
Pak Heru mendekat. "Kamu dari mana?"
"Sumbermaya, Pak."
"Sumbermaya? Jauh juga. Kenapa kerja di sini?"
"Kebutuhan, Pak. Ibu saya sakit. Butuh biaya."
Pak Heru menghela napas. "Kasihan. Tapi jangan harap aku kasihan sama kamu. Di sini semua pekerja keras. Kamu harus buktikan bahwa kamu layak diupah."
"Siap, Pak."
Jam istirahat tiba. Para pekerja duduk lesehan di gudang, makan bekal masing-masing. Panji membuka bungkusan nasi dan sayur asemnya. Dingin. Tapi ia tetap makan dengan lahap.
Seorang pekerja lain, Bang Toni, duduk di sampingnya. Ia lelaki tambun dengan wajah ramah.
"Nak, baru ya di sini?" tanya Bang Toni.
Panji mengangguk. "Baru seminggu, Bang."
"Dari mana?"
"Sumbermaya."
Bang Toni bersiul kecil. "Jauh. Kok mau?"
Panji tersenyum tipis. "Butuh uang, Bang."
Bang Toni mengangguk paham. "Sama. Aku juga dari desa. Tapi desaku sudah tidak ada. Ludes karena pabrik."
Panji terkejut. "Ludes, Bang?"
"Iya. Tanah desaku dibeli perusahaan asing. Warga diusir paksa. Yang melawan dihabisi preman. Aku selamat karena waktu itu aku sedang di luar kota."
Panji mengepal. "Tidak ada yang membantu, Bang?"
Bang Toni tertawa pahit. "Bantuan? Polisi? Mereka malah memenjarakan warga yang melawan. Katanya menghalang-halangi pembangunan. Padahal pembangunan untuk siapa? Untuk perusahaan asing. Untuk pejabat yang terima suap."
Panji diam.
"Nak, hati-hati di desamu. Kalau ada perusahaan yang mau masuk, jangan mudah percaya. Mereka datang dengan senyum, membawa uang. Tapi begitu tanah sudah berpindah tangan, senyum itu berubah jadi taring."
Panji pulang ke desa ketika matahari sudah terbenam. Tubuhnya letih. Lapar. Tapi ia tidak langsung masuk rumah. Ia pergi ke Sendang Kiskenda.
Ki Guno masih duduk di tepi sendang, seperti biasa. Airnya merah keemasan.
"Nak, kau pulang. Aku lihat di matamu ada cerita."
Panji duduk di samping Ki Guno. Ia menceritakan tentang lelaki tua di terminal yang kehilangan tanah leluhurnya. Tentang Bang Toni yang desanya ludes karena pabrik. Tentang perusahaan asing yang mengusir warga paksa.
Ki Guno mendengar dengan saksama.
"Nak, apa yang kau pelajari dari cerita-cerita itu?"
Panji berpikir sebentar. "Bahwa uang bisa membeli apa saja. Termasuk keadilan."
Ki Guno mengangguk. "Itu pelajaran pertama. Tapi masih ada pelajaran lain."
"Apa, Mbah?"
Ki Guno menatap air sendang. "Bahwa meskipun uang bisa membeli keadilan, ia tidak bisa membeli kemenangan. Karena kemenangan sejati bukan tentang siapa yang menang, tapi tentang apa yang tersisa setelah pertempuran usai."
Panji mengerutkan dahi. "Aku tidak mengerti, Mbah."
Ki Guno tersenyum. "Nanti kau mengerti. Ketika kau sudah kehilangan segalanya, dan menyadari bahwa yang tersisa hanyalah harga dirimu. Saat itulah kau akan mengerti."
Panji masuk rumah. Srintil sedang duduk di kursi bambu, menjahit baju yang robek.
"Bu, aku pulang."
Srintil menoleh. "Nak, ibu masak sayur bening. Kau makan dulu."
Panji duduk di samping ibunya. "Bu, Ibu kelihatan lebih segar hari ini."
Srintil tersenyum. "Ibu sudah mulai kuat. Terima kasih, Nak. Ibu tahu kau bekerja keras untuk ibu."
Panji menggenggam tangan ibunya. "Bu, aku ikhlas."
"Tapi ibu tidak ikhlas melihatmu menderita."
"Aku tidak menderita, Bu. Aku hanya berusaha."
Srintil memeluk Panji. "Nak, janji sama ibu."
"Janji apa, Bu?"
"Jangan lupakan dirimu sendiri. Jangan sampai kau hancur karena terlalu sibuk membangun orang lain."
Panji mengangguk. "Aku janji, Bu."
Sementara itu, di kabupaten, Jojo sedang duduk di kamar kosnya yang sempit. Dindingnya lembap. Atapnya bocor. Tikar pandan sudah usang.
Rama masuk tanpa mengetuk.
"Jo, masih begadang?"
Jojo menggeleng. "Tidak. Aku baru pulang kerja."
"Gimana kerjaannya? Sebagai kuli pasar?"
Jojo menghela napas. "Apa yang kau lihat? Kau pikir aku senang?"
Rama duduk di sampingnya. "Jo, maaf. Aku janji akan memberimu pekerjaan bagus. Tapi bapakku masih belum percaya padamu."
"Jadi aku hanya numpang di kos murahan ini?"
Rama memegang bahu Jojo. "Bersabarlah. Aku sedang berusaha. Tapi kau harus bantu aku."
"Bantu apa?"
"Bantu aku menghancurkan Panji."
Jojo menatap Rama. "Apa?"
"Aku serius, Jo. Panji adalah penghalang terbesar proyek pabrik. Selama ia masih di desa, warga tidak akan mau menjual tanah."
"Aku tidak bisa, Rama. Panji sahabatku."
Rama tersenyum licik. "Dulu sahabat. Tapi sekarang? Ia mengkhianatimu. Ia tidak mengundangmu ke sumpah pemuda adat. Ia memilih Mintarsih daripada kamu. Apa kau masih menganggapnya sahabat?"
Jojo diam.
"Pikirkan, Jo. Aku tidak memaksa. Tapi kalau kau membantu aku, aku akan beri kamu pekerjaan tetap di perusahaan bapakku. Gaji besar. Rumah layak. Masa depan cerah."
Rama berdiri. "Aku tunggu jawabanmu."
Ia pergi.
Jojo berbaring di kasur tipisnya. Matanya menatap langit-langit yang lembap.
"Panji," bisiknya. "Kenapa kau membuatku berada dalam posisi ini? Kenapa kau tidak membelaku? Kenapa kau memilih Mintarsih daripada aku? Kenapa?"
Air matanya jatuh.
Mintarsih dan Panji duduk di kebun teh milik Kartiman. Langit malam cerah. Bintang-bintang bertaburan.
"Nji," panggil Mintarsih pelan.
"Iya, Tin."
"Aku dengar Jojo bekerja jadi kuli pasar di kabupaten. Hidupnya susah."
Panji mengangguk. "Aku juga dengar."
"Kau tidak ingin menolongnya?"
"Jojo tidak akan mau ditolong. Ia punya harga diri. Ia ingin membuktikan bahwa ia bisa sukses tanpa aku."
Mintarsih menatap Panji. "Kau tidak marah padanya? Ia pergi dengan Rama. Padahal tahu Rama adalah musuh kita."
Panji menggeleng. "Jojo hanya tersesat, Tin. Bukan jahat. Dan orang yang tersesat harus dibiarkan mencari jalannya sendiri. Kita tidak bisa memaksanya kembali."
"Tapi kalau ia tidak pernah kembali?"
Panji tersenyum tipis. "Pintu rumahku selalu terbuka. Untuk Jojo. Untuk siapa pun."
Mintarsih menggenggam tangan Panji. "Kamu terlalu baik untuk dunia ini, Nji."
"Tidak, Tin. Aku hanya terlalu lelah untuk membenci."
Mereka berdua diam. Bintang-bintang bersinar di atas mereka. Dan di kejauhan, Ki Guno berdiri di tepi sendang, memandang air yang mulai berwarna hitam pekat.
"Badai akan datang," gumamnya. "Bukan badai dari luar. Tapi badai dari dalam. Badai yang akan menguji persahabatan, cinta, dan kesetiaan mereka."
Ia menghela napas.
"Semoga kau kuat, Panji. Karena kau akan kehilangan banyak hal. Tapi jangan pernah kehilangan dirimu sendiri."
Malam itu, Panji tidak bisa tidur. Ia memandang langit-langit rumahnya yang bocor. Air hujan mulai menetes dari lubang-lubang kecil.
Ia teringat kata-kata lelaki tua di terminal: "Jangan pernah jual tanah leluhurmu."
Ia teringat kata-kata Bang Toni: "Hati-hati di desamu."
Ia teringat kata-kata Ki Guno: "Kemenangan sejati bukan tentang siapa yang menang, tapi tentang apa yang tersisa."
Ia menggenggam uang kepeng di sakunya—uang kepeng peninggalan janji tiga bocah di bawah pohon beringin.
"Jojo," bisiknya. "Kapan kau kembali?"
Angin malam bertiup. Tidak ada jawaban.
Hanya suara jangkrik yang terus bernyanyi, seperti doa yang tidak pernah putus.
Bab 22: Guru Bintang di Gunung Selatan
Usia dua puluh tahun adalah masa ketika seorang pemuda mulai bertanya tentang makna hidup. Bukan sekadar "untuk apa aku hidup?" tapi "setelah mati, apa yang tersisa?"
Panji sudah bekerja di kota selama lima tahun. Ia sudah melihat sisi gelap peradaban: ketidakadilan, keserakahan, pengkhianatan. Ia sudah kehilangan banyak hal: ayahnya, Jojo, dan hampir kehilangan ibunya yang sakit-sakitan.
Tapi ia juga belajar banyak. Ia belajar bahwa uang tidak bisa membeli kebahagiaan. Ia belajar bahwa kekuasaan tidak bisa membeli kesetiaan. Ia belajar bahwa hidup di kota bukanlah mimpi—ia adalah mimpi buruk yang terjaga di siang hari.
Pada tahun kelimanya di kota, Panji mendapat kabar bahwa Ki Guno meninggal dunia. Kepala adat yang selama ini menjadi gurunya, yang mengajarinya tentang leluhur, tentang sendang, tentang panji seribu bintang, telah berpulang dalam tidurnya pada usia seratus tiga tahun.
Panji pulang ke desa untuk pemakaman. Ia menangis di pusara Ki Guno. Bukan karena sedih kehilangan, tapi karena ia baru menyadari bahwa selama ini ia terlalu sibuk bekerja sehingga jarang menjenguk gurunya.
Sebelum meninggal, Ki Guno meninggalkan pesan untuk Panji melalui Pak Burhan.
"Suruh Panji pergi ke Gunung Selatan. Di sana ada guru yang lebih tua dariku. Namanya Eyang Jenggala. Ia akan mengajarkan apa yang tidak sempat aku ajarkan."
Panji tidak ragu. Ia meninggalkan pekerjaannya di kota. Ia menitipkan Srintil pada Mintarsih. Ia berjalan kaki menuju Gunung Selatan—gunung yang konon angker, yang tidak pernah dimasuki oleh warga desa karena banyak cerita tentang makhlus halus dan arwah penasaran.
Perjalanan itu memakan waktu tiga hari. Panji melewati hutan lebat, menyeberangi sungai deras, tidur di gua-gua sempit, dan hampir mati kelaparan.
Tapi pada pagi hari keempat, ketika kabut tipis mulai menyelimuti lereng gunung, ia melihat sebuah gubuk kecil berdiri di antara pohon-pohon pinus yang menjulang. Di depan gubuk itu, seorang lelaki tua duduk bersila di atas batu datar, matanya terpejam, rambutnya putih panjang menjuntai hingga ke tanah.
Lelaki itu tidak membuka mata ketika Panji mendekat. Ia hanya tersenyum.
"Sudah lama aku menunggumu, Nak. Seratus tahun aku menunggu. Akhirnya kau datang."
Panji berlutut di depan lelaki itu. Ia tidak tahu mengapa, tapi ada getaran aneh di sekujur tubuhnya. Seperti ada arus listrik yang mengalir dari tanah ke kakinya, merambat naik ke ubun-ubun.
"Eyang Jenggala?" tanya Panji pelan.
Lelaki itu membuka matanya. Matanya tidak keruh seperti orang tua seusianya. Matanya jernih, bening, seperti air sendang di pagi hari. Dan di dalam matanya, Panji melihat pantulan seribu bintang—persis seperti yang ia lihat di mata Nini Gendheng ketika ia dilahirkan.
"Duduklah, Nak. Hari ini kita memulai pelajaran pertama. Tentang hidup. Tentang kematian. Tentang panji."
Eyang Jenggala menatap Panji dari ujung rambut hingga ujung kaki. Matanya tidak berkedip.
"Nak, kau tahu kenapa kau dikirim ke sini?"
Panji menggeleng. "Mbah Guno bilang, Eyang akan mengajarkan apa yang tidak sempat beliau ajarkan."
Eyang Jenggala mengangguk. "Ki Guno pintar. Tapi ia terlalu sibuk menjaga adat, sehingga lupa menjaga dirinya sendiri. Ia mati karena kelelahan. Bukan karena tua."
Panji terkejut. "Mbah Guno meninggal karena kelelahan?"
"Tubuhnya memang tua, Nak. Tapi jiwanya masih muda. Ia terlalu banyak berpikir, terlalu banyak khawatir tentang desamu. Itu yang membunuhnya."
Panji menunduk. "Aku gagal menjaga beliau."
Eyang Jenggala menggeleng. "Bukan salahmu, Nak. Setiap orang bertanggung jawab atas hidupnya sendiri. Ki Guno memilih jalan itu. Ia ikhlas."
"Apa aku juga akan mati seperti itu, Eyang?"
Eyang Jenggala tersenyum. "Kau akan mati dengan caramu sendiri. Tapi itu masih lama. Sekarang, kita bicara tentang kehidupan."
Eyang Jenggala mengambil sehelai kain lusuh dari balik batu. Kain itu berwarna putih kusam, dengan corak hitam yang sudah pudar.
"Ini, Nak. Pegang."
Panji menerima kain itu. Begitu tangannya menyentuh kain tersebut, ia merasakan getaran aneh. Seperti ada nyawa di dalam kain itu.
"Apa ini, Eyang?"
"Inilah panji yang sesungguhnya. Bukan panji kerajaan. Bukan panji perang. Tapi panji kehidupan."
"Aku tidak mengerti."
Eyang Jenggala menghela napas. "Nak, kau tahu apa itu panji?"
"Bendera, Eyang. Simbol."
"Benar. Panji adalah simbol. Tapi simbol dari apa?"
Panji berpikir. "Simbol kekuasaan? Simbol kebanggaan?"
Eyang Jenggala menggeleng. "Panji adalah simbol kehadiran. Ia berkibar, maka ia hadir. Ia roboh, maka ia tiada. Tapi panji yang sesungguhnya tidak pernah roboh. Ia tetap berkibar meskipun kainnya sudah lapuk. Karena ia bukan benda. Ia adalah kesadaran."
"Kesadaran?"
"Kesadaran bahwa hidup ini singkat. Kesadaran bahwa kematian pasti datang. Kesadaran bahwa di antara kelahiran dan kematian, ada ruang kecil yang disebut kesempatan. Kesempatan untuk berbuat baik. Kesempatan untuk mencintai. Kesempatan untuk memaafkan."
Panji terdiam.
"Kain ini sudah berusia ribuan tahun," lanjut Eyang Jenggala. "Ia diwariskan dari guru ke guru, dari generasi ke generasi. Ia bukan pusaka sakti. Ia hanya pengingat. Bahwa di bawah panji ini, semua manusia setara. Kaya atau miskin. Berkuasa atau tidak. Semua akan mati. Dan yang tersisa hanyalah apa yang mereka lakukan selama hidup."
Eyang Jenggala mengajak Panji berjalan ke puncak Gunung Selatan. Perjalanan itu memakan waktu setengah hari. Ketika mereka tiba di puncak, Panji melihat pemandangan yang luar biasa: lautan awan di bawah kaki, matahari terbenam di kejauhan, dan bintang-bintang mulai muncul satu per satu.
"Nak, kau percaya pada leluhur?"
Panji mengangguk. "Aku percaya, Eyang. Aku sering melihat mereka dalam mimpi. Kakek Karto sering datang."
Eyang Jenggala tersenyum. "Bagus. Karena leluhur itu nyata. Mereka tidak tinggal di surga atau neraka. Mereka tinggal di sini."
Panji mengerutkan dahi. "Di sini, Eyang?"
"Di dalam hatimu. Di dalam ingatanmu. Di dalam tindakanmu. Setiap kali kau berbuat baik, mereka ikut berbuat baik. Setiap kali kau berbuat jahat, mereka ikut menderita. Karena kau adalah kelanjutan dari mereka. Darah mereka mengalir di tubuhmu. Mimpi mereka hidup di pikirannmu."
Panji merenung.
"Nak, desamu terancam. Bukan karena pabrik, bukan karena Rama, bukan karena Seta. Tapi karena penduduk desamu mulai melupakan leluhur. Mereka lebih memikirkan uang daripada warisan. Itulah kehancuran sejati. Bukan kehancuran fisik, tapi kehancuran jiwa."
Malam itu, mereka duduk di depan api unggun. Eyang Jenggala membakar dupa, dan asapnya mengepul ke langit.
"Nak, kau punya musuh."
Panji mengangguk. "Rama, Seta, Rahul."
Eyang Jenggala menggeleng. "Itu bukan musuhmu. Itu hanya orang-orang yang berbeda pendapat denganmu. Musuh sejatimu ada di sini."
Ia menunjuk dada Panji.
Panji terkejut. "Di dalam hatiku?"
"Ketakutanmu. Kelemahanmu. Keraguanmu. Itu musuh sejatimu. Rama, Seta, Rahul hanyalah pemicu. Mereka membuat ketakutanmu keluar. Mereka membuat kelemahanmu terlihat. Tapi jika kau tidak punya ketakutan, mereka tidak akan bisa menyakitimu."
"Bagaimana cara menghilangkan ketakutan, Eyang?"
Eyang Jenggala tersenyum. "Kau tidak bisa menghilangkan ketakutan. Tapi kau bisa berjalan bersamanya. Anggap ketakutan sebagai teman yang mengingatkanmu untuk berhati-hati. Bukan sebagai musuh yang melumpuhkanmu."
Panji mengangguk pelan.
Keesokan harinya, Eyang Jenggala mengajak Panji ke sebuah air terjun kecil di balik gunung. Airnya jernih, dingin, dan menyegarkan.
"Nak, kau punya kekasih?"
Panji tersenyum malu. "Mintarsih. Tapi aku belum pernah menyatakan perasaanku secara gamblang."
"Kenapa?"
"Aku merasa tidak pantas. Aku miskin. Ibuku sakit. Aku tidak punya masa depan yang jelas."
Eyang Jenggala tertawa. "Nak, cinta tidak pernah melihat harta. Cinta melihat hati. Apakah Mintarsih masih setia padamu?"
Panji mengangguk. "Ia setia, Eyang. Selama bertahun-tahun ia menungguku."
"Itu artinya ia tidak peduli dengan hartamu. Ia peduli dengan dirimu. Lalu kenapa kau masih ragu?"
Panji menunduk. "Aku takut menyakitinya."
Eyang Jenggala memegang bahu Panji. "Nak, hidup ini penuh dengan risiko. Termasuk risiko menyakiti orang yang kita cintai. Tapi tidak mencintai sama sekali adalah risiko yang lebih besar. Karena tanpa cinta, kau tidak akan pernah merasakan kebahagiaan sejati."
"Apa kebahagiaan sejati, Eyang?"
Eyang Jenggala menatap air terjun. "Kebahagiaan sejati adalah ketika kau bisa tersenyum di saat-saat paling sulit, karena kau tahu ada orang yang mencintaimu dan kau mencintainya."
Pada malam ketujuh di Gunung Selatan, Eyang Jenggala mengajak Panji duduk di tepi jurang. Di bawah mereka, lembah gelap gulita.
"Nak, kau takut mati?"
Panji berpikir sebentar. "Dulu takut, Eyang. Sekarang... tidak begitu."
"Kenapa berubah?"
"Karena aku sudah kehilangan banyak orang yang aku cintai. Ayahku. Ki Guno. Dan aku belajar bahwa kematian bukan akhir. Ia hanya perpindahan."
Eyang Jenggala tersenyum bangga. "Kau belajar dengan cepat, Nak. Itulah yang membedakanmu dari orang lain. Kau tidak hanya mendengar. Kau juga merenungkan."
"Apa yang terjadi setelah mati, Eyang?"
Eyang Jenggala menghela napas. "Tidak ada yang tahu pasti. Tapi aku percaya, kita kembali ke asal kita. Ke alam semesta. Ke debu bintang. Tubuh kita hancur, tapi energi kita tetap ada. Dan energi itu akan menyatu dengan alam, dengan leluhur, dengan Tuhan."
"Jadi tidak ada surga dan neraka?"
"Ada. Tapi bukan tempat. Surga dan neraka adalah kondisi jiwa. Jiwa yang tenang dan damai, itulah surga. Jiwa yang gelisah dan penuh penyesalan, itulah neraka. Dan kita yang menciptakannya sendiri, selama hidup."
Panji merenung.
Pada pagi terakhir sebelum Panji pulang, Eyang Jenggala memberikan kain pusaka itu padanya.
"Bawa ini, Nak. Rawat. Dan suatu hari nanti, ketika kau sudah tua, wariskan pada generasi berikutnya."
"Apa yang harus aku wariskan, Eyang? Kain ini?"
Eyang Jenggala menggeleng. "Bukan kainnya. Tapi maknanya. Ceritakan pada cucumu tentang panji seribu bintang. Tentang leluhur yang menjaga desa. Tentang perjuanganmu melawan keserakahan. Tentang cinta yang tidak pernah padam meskipun badai menerjang."
"Apa makna sejati dari panji, Eyang?"
Eyang Jenggala menatap Panji lama. Matanya berkaca-kaca.
"Panji adalah harapan. Harapan bahwa di tengah kegelapan, masih ada cahaya. Harapan bahwa di tengah kebencian, masih ada cinta. Harapan bahwa di tengah keputusasaan, masih ada mimpi."
Ia memegang kedua bahu Panji.
"Kau adalah panji itu, Nak. Bukan kain. Bukan simbol. Tapi dirimu sendiri. Selama kau masih hidup dan berjuang, panji itu tetap berkibar. Dan selama panji itu berkibar, desamu tidak akan pernah hancur."
Panji menangis.
Eyang Jenggala memeluknya.
"Pulanglah, Nak. Desamu membutuhkanmu. Mintarsih menunggumu. Jojo sedang tersesat. Ibumu sakit. Mereka semua membutuhkan panji."
Panji berjalan pulang dari Gunung Selatan dengan hati yang lebih ringan. Ia tidak membawa harta. Ia tidak membawa pusaka sakti. Ia hanya membawa kain lusuh dan kebijaksanaan yang tidak bisa diukur dengan uang.
Perjalanan pulang hanya memakan waktu dua hari—lebih cepat dari perjalanan pergi. Kakinya terasa enteng. Pikirannya jernih. Hatinya tenang.
Ketika ia tiba di Desa Sumbermaya, matahari sedang terbenam. Langit berwarna jingga keemasan. Burung-burung terbang berkelompok ke arah barat.
Mintarsih sudah menunggu di pinggir desa, di bawah pohon beringin. Ia berlari mendekati Panji.
"Nji! Kau pulang! Aku kira kau tidak akan kembali!"
Panji tersenyum. "Aku janji akan kembali, Tin. Aku tidak pernah ingkar janji."
Mintarsih memeluk Panji. Ia menangis.
"Aku kangen, Nji. Setiap hari aku ke sini. Setiap sore aku menunggumu."
Panji membalas pelukan Mintarsih. "Aku juga kangen, Tin. Maaf membuatmu menunggu."
Mereka berdua berpelukan di bawah pohon beringin, di tempat yang sama di mana mereka bertiga dulu berjanji setia.
Panji memandang langit. Bintang-bintang mulai muncul. Ia teringat kata-kata Eyang Jenggala.
"Kau adalah panji itu."
Ia tersenyum.
"Bapak, Mbah Guno, Eyang Jenggala," bisiknya. "Aku tidak akan mengecewakan kalian. Aku akan menjaga desa ini. Aku akan menjaga orang-orang yang aku cintai. Aku akan menjadi panji yang tak pernah padam."
Bintang paling terang di timur berkedip.
Seperti senyum dari surga.
Srintil yang sudah menunggu di rumah menangis ketika melihat Panji pulang. Ia memeluk anaknya erat-erat, seperti takut kehilangan lagi.
"Nak, jangan pergi jauh-jauh lagi. Ibu kangen."
Panji mengusap air mata ibunya. "Ibu, aku tidak akan pergi lagi. Atau jika aku pergi, aku akan membawa Ibu."
Srintil tersenyum. "Kau berubah, Nak. Matamu berbeda."
"Karena aku sudah menemukan jawaban, Bu."
"Jawaban apa?"
"Jawaban tentang hidup. Tentang kematian. Tentang cinta. Tentang panji."
Srintil tidak bertanya lebih lanjut. Ia hanya bersyukur anaknya pulang dengan selamat.
Malam itu, Panji tidur dengan nyenyak untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun. Ia tidak bermimpi tentang masa depan yang kelam. Ia tidak mendengar bisikan dari arwah yang resah.
Ia hanya tidur. Dan tersenyum.
Di kejauhan, di puncak Gunung Selatan, Eyang Jenggala berdiri di depan gubuknya. Ia menatap bintang-bintang.
"Pulang sudah, Nak," gumamnya. "Sekarang tugasmu dimulai. Bukan lagi sebagai murid. Tapi sebagai guru. Sebagai pemimpin. Sebagai panji."
Ia masuk ke gubuk. Api unggun padam. Tapi di dalam gelap, matanya masih bersinar.
Seperti bintang yang tidak pernah mati.
Bab 23: Pusaka Ketiga
Tiga bulan telah berlalu sejak Panji kembali dari Gunung Selatan. Desa Sumbermaya masih sama seperti dulu—sawah menghijau, sendang berair bening, warga sibuk dengan rutinitas harian. Tapi di balik ketenangan itu, ancaman tetap membayangi.
Pak Rahmat tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya mundur untuk menyusun strategi baru. Kini ia kembali dengan proposal yang lebih halus: bukan membeli tanah, tapi menyewa tanah adat selama lima puluh tahun dengan imbalan pembangunan infrastruktur. Jalan diaspal, listrik masuk, air bersih mengalir ke setiap rumah. Tawaran yang sulit ditolak, terutama bagi warga yang sudah lelah dengan keterbelakangan.
Kades Tirta terjebak. Di satu sisi ia ingin desanya maju. Di sisi lain ia tidak tega menjual tanah leluhur. Seta terus membisikkan janji-janji manis di telinganya. Rahul masih berkeliling dengan preman-preman bayaran, mengintimidasi warga yang dianggap "penghalang pembangunan".
Panji tahu ia tidak bisa melawan dengan kekuatan fisik. Ia juga tidak bisa hanya mengandalkan adat, karena hukum positif sering kali tidak mengakui hak-hak tradisional. Ia butuh senjata lain. Senjata intelektual. Senjata yang bisa membungkam argumen-argumen modernisasi yang kedengaran logis tapi sebenarnya menipu.
Pada suatu malam, ketika ia sedang merapikan barang-barang peninggalan Ki Guno—yang diwariskan padanya sebelum meninggal—Panji menemukan sebuah peti kayu tua di bawah panggung rumah Ki Guno. Peti itu terkunci. Tidak ada anak kunci. Tapi ketika Panji menyentuhnya, peti itu terbuka dengan sendirinya—seolah ada yang mengizinkannya masuk.
Di dalam peti itu, terbungkus kain beludru merah yang sudah lusuh, terdapat sebuah manuskrip kuno. Lembaran-lembaran lontar yang disatukan dengan tali kulit. Huruf Jawa kuno tertulis rapi di setiap helainya.
Panji membawanya ke rumah. Ia membaca semalaman, menerjemahkan kata per kata, mengurai makna per makna.
Manuskrip itu berjudul: "Wirid Hasta Brata: Ajaran Ekonomi Adil Luhur Nusantara".
Ditulis oleh Eyang Jenggala sendiri, seratus tahun yang lalu, ketika ia masih muda dan berguru pada leluhur di Gunung Selatan.
Manuskrip itu tidak hanya berisi ajaran moral. Ia berisi konsep ekonomi yang sangat maju: tentang keseimbangan antara keuntungan dan keberlanjutan, tentang hak komunal versus hak individu, tentang bagaimana sebuah desa bisa maju tanpa menjual jiwanya pada kapitalisme.
Ini adalah pusaka ketiga—setelah panji kain dan jimat Tumbal Lintang. Pusaka yang tidak bisa dilihat dengan mata, tapi bisa dirasakan dengan akal sehat. Pusaka yang akan menjadi senjata Panji dalam pertempuran melawan Rama, Seta, dan Rahul.
Pusaka yang akan menyelamatkan Desa Sumbermaya.
Malam itu, lampu minyak menyala redup. Panji duduk di kursi bambu, manuskrip terbuka di pangkuannya. Srintil sudah tidur. Rumah sunyi. Hanya suara jangkrik dan sesekali anjing menggonggong di kejauhan.
Panji membaca lirih, menerjemahkan aksara Jawa kuno ke dalam bahasa Indonesia.
"Hasta Brata: Delapan ajaran tentang kepemimpinan yang adil. Satu: Bumi. Pemimpin harus kokoh seperti bumi, menjadi tempat berpijak bagi semua rakyatnya, tidak membeda-bedakan."
Ia mengangguk.
"Dua: Api. Pemimpin harus tegas seperti api, membakar ketidakadilan, tapi tidak membakar yang lemah."
"Tiga: Air. Pemimpin harus mengalir seperti air, bisa menyesuaikan dengan keadaan, tapi tidak pernah kehilangan arah."
"Empat: Angin. Pemimpin harus meresap seperti angin, hadir di mana pun rakyatnya membutuhkan."
"Lima: Langit. Pemimpin harus luas seperti langit, menampung semua perbedaan, tidak pilih kasih."
"Enam: Matahari. Pemimpin harus memberi terang seperti matahari, menerangi kegelapan tanpa meminta imbalan."
"Tujuh: Bulan. Pemimpin harus menjadi penyeimbang seperti bulan, hadir di malam hari ketika orang lain tidur, menjaga keamanan."
"Delapan: Bintang. Pemimpin harus menjadi harapan seperti bintang, bersinar di kegelapan paling pekat, menuntun yang tersesat pulang."
Panji menutup manuskrip. Matanya basah.
"Ini... ini yang selama ini aku cari," bisiknya. "Ini jawabannya."
Ia memeluk manuskrip itu erat-erat, seperti seorang anak memeluk ibunya.
Keesokan harinya, Panji mengajak Mintarsih ke kebun teh milik Kartiman. Mereka duduk di bawah pohon rindang, sama seperti dulu.
"Tin, aku menemukan sesuatu," kata Panji sambil mengeluarkan manuskrip itu dari dalam kantong kain.
"Apa itu?" tanya Mintarsih heran.
"Ini pusaka ketiga. Ajaran dari Eyang Jenggala. Tentang ekonomi adil luhur. Tentang bagaimana desa kita bisa maju tanpa harus menjual tanah."
Mintarsih membuka lembaran demi lembaran. Ia tidak bisa membaca aksara Jawa kuno, tapi ia bisa merasakan bobot dari tulisan itu.
"Apa isinya, Nji?"
Panji menjelaskan dengan antusias. Tentang Hasta Brata. Tentang keseimbangan. Tentang hak komunal. Tentang bagaimana desa bisa mendirikan koperasi sendiri, mengelola tanah sendiri, membangun pabrik sendiri tanpa campur tangan investor asing.
Mintarsih mendengar dengan saksama. Matanya berbinar.
"Nji, ini luar biasa! Dengan ini, kita bisa melawan argumen Rama. Kita bisa menunjukkan pada warga bahwa ada jalan lain, tidak harus menjual tanah."
Panji mengangguk. "Tapi ini tidak mudah, Tin. Warga sudah terpengaruh janji-janji manis. Mereka sudah lelah dengan kemiskinan. Mereka butuh bukti nyata, bukan sekadar teori."
"Apa yang akan kau lakukan?"
Panji berdiri. "Aku akan mengumpulkan pemuda adat. Kita akan mempelajari manuskrip ini bersama. Kita akan buat rencana kongkret. Kita akan buktikan pada warga bahwa kita bisa mandiri."
Mintarsih memegang tangan Panji. "Aku ikut, Nji. Apa pun yang kau lakukan, aku ikut."
Malam itu, Panji mengumpulkan pemuda adat di rumahnya. Wawan (kini 19 tahun), Bayu (18 tahun), Sari (18 tahun), dan beberapa pemuda lainnya hadir. Mereka duduk lesehan di ruang tamu, lampu minyak di tengah.
"Kawan," mulai Panji. "Kita sudah bersumpah di Gua Kiskenda. Tapi sumpah tanpa tindakan hanya omong kosong. Sekarang saatnya kita bertindak."
Wawan mengangkat tangan. "Nji, apa yang bisa kita lakukan? Kita hanya pemuda desa. Tidak punya uang. Tidak punya koneksi. Lawan kita pejabat dan pengusaha."
Panji mengeluarkan manuskrip. "Kita punya ini. Ajaran leluhur tentang ekonomi adil. Dengan ini, kita bisa membangun desa kita sendiri. Tanpa investor. Tanpa pengusaha."
Bayu mengernyit. "Kita tidak punya modal, Nji."
Panji menggeleng. "Kita punya modal. Tanah. Tenaga. Semangat. Itu sudah cukup. Kita tidak butuh uang besar untuk memulai. Kita butuh tekad."
Sari yang selama ini diam akhirnya bicara. "Nji, aku percaya padamu. Tapi warga desa tidak akan percaya hanya dengan cerita. Mereka butuh bukti."
"Aku tahu, Sari. Itu sebabnya kita akan memulai dari hal kecil. Kita akan buat kebun bersama di tanah kas desa. Kita tanami sayuran. Hasilnya kita jual ke pasar. Keuntungannya kita simpan sebagai modal koperasi."
Wawan mengangguk pelan. "Itu ide bagus. Tapi siapa yang akan mengurus? Kita semua sibuk kerja."
"Kita bergantian," jawab Panji. "Satu jam setiap pagi sebelum kerja. Dua jam setiap sore sepulang kerja. Tidak butuh waktu banyak. Yang butuh adalah konsistensi."
Mereka berdiskusi hingga larut malam. Akhirnya, semua sepakat. Kebun bersama akan dimulai minggu depan.
Seta sedang duduk di kantor desa bersama Kades Tirta ketika Rahul datang tergopoh-gopoh.
"Seta, ada kabar!" seru Rahul.
"Apa?" tanya Seta malas.
"Panji mengumpulkan pemuda desa. Mereka mau bikin kebun bersama di tanah kas desa."
Kades Tirta mengerutkan dahi. "Kebun bersama? Tanah kas desa? Itu butuh izin saya."
Seta tersenyum licik. "Pak Lurah, jangan beri izin. Biar mereka gagal."
Kades Tirta ragu. "Tapi tanah kas desa memang untuk kepentingan bersama. Saya tidak punya alasan kuat untuk menolak."
Seta mendekat. "Pak Lurah, kalau kebun bersama itu berhasil, warga akan semakin percaya pada Panji. Mereka akan ikut Panji, bukan ikut kita. Proyek pabrik bisa gagal. Pak Rahmat akan marah. Laporan ke Bupati bisa berubah."
Kades Tirta terdiam. Ia berada di antara dua pilihan: mendukung warganya atau mendukung proyek yang menjanjikan keuntungan pribadi.
"Pak Lurah, ingat janji Pak Rahmat," bisik Seta. "Dua ratus juta untuk Bapak setelah proyek selesai. Rumah bagus di kabupaten. Mobil dinas."
Kades Tirta menghela napas. "Baik. Saya akan cari cara."
Keesokan harinya, Kades Tirta memanggil Panji ke kantor desa.
"Nak Panji, saya dengar kau mau menggunakan tanah kas desa untuk kebun bersama."
Panji mengangguk. "Benar, Pak. Itu hak warga. Tanah kas desa untuk kepentingan bersama."
Kades Tirta menggeleng. "Maaf, Nak. Saya tidak bisa memberi izin. Tanah kas desa sedang dalam proses sertifikasi untuk proyek pemerintah."
Panji terkejut. "Proyek apa, Pak?"
"Proyek infrastruktur dari kabupaten. Jalan, listrik, air bersih. Semua demi kemajuan desa."
Panji mengepal. "Pak, proyek itu kedok. Di balik itu ada rencana pengambilalihan tanah oleh perusahaan Pak Rahmat."
Kades Tirta pucat. "Kau... kau tahu?"
"Semua warga tahu, Pak. Hanya mereka takut bicara."
Kades Tirta terdiam.
Panji melanjutkan, "Pak, saya tahu Bapak terdesak. Saya tahu Seta dan Rahul terus membisiki Bapak. Tapi ingat, Bapak adalah kepala desa. Tugas Bapak melindungi warga, bukan menjual mereka."
Kades Tirta menunduk. Ia tidak bisa berkata apa-apa.
"Pak, saya tidak akan menuntut Bapak memihak saya. Tapi tolong, jangan halangi kami. Biarkan warga desa berusaha sendiri. Biarkan kami membuktikan bahwa kami bisa maju tanpa menjual tanah leluhur."
Kades Tirta mengangkat wajah. Matanya basah.
"Nak, saya... saya malu. Sebagai kepala desa, saya seharusnya melindungi warisan adat, bukan malah menghancurkannya."
Panji tersenyum. "Tidak terlambat, Pak. Bapak masih bisa memilih."
Karena izin tidak kunjung turun, Panji memutuskan untuk memulai kebun bersama tanpa izin resmi. Ia sadar itu risiko besar. Tapi ia juga sadar, kadang kebaikan harus dilawan dengan keberanian melanggar aturan yang tidak adil.
Minggu pagi, sebelum matahari terbit, Panji, Mintarsih, Wawan, Bayu, Sari, dan beberapa pemuda lainnya sudah berkumpul di tanah kas desa. Mereka membawa cangkul, sabit, dan bibit sayuran.
Mintarsih memandang tanah yang masih berupa semak belukar. "Nji, kau yakin ini benar?"
Panji mengangguk. "Yakin. Tanah ini adalah hak kita. Kita tidak butuh izin dari pejabat yang korup."
Wawan agak ragu. "Tapi kalau Seta dan Rahul tahu, mereka bisa lapor polisi."
"Biarkan," kata Panji. "Kita akan buktikan bahwa kita tidak melakukan kejahatan. Kita hanya bercocok tanam di tanah yang seharusnya untuk rakyat."
Mereka mulai bekerja. Matahari naik. Keringat bercucuran. Tapi tidak ada yang mengeluh.
Mintarsih sesekali menatap Panji yang sedang membabat semak dengan parang. Wajahnya serius. Matanya fokus. Ia tampak seperti pemimpin sejati.
"Panji," panggil Mintarsih dalam hati. "Aku bangga padamu."
Sekitar pukul sepuluh pagi, Rahul datang dengan empat preman bayaran. Mereka membawa pentungan dan parang.
"Hei!" teriak Rahul dari kejauhan. "Apa yang kalian lakukan di tanah ini? Ini tanah negara! Tidak boleh digarap sembarangan!"
Panji berhenti bekerja. Ia menatap Rahul dengan tenang.
"Ini tanah kas desa, Rahul. Tanah untuk kepentingan bersama. Kami warga desa, kami punya hak."
Rahul tertawa. "Hak? Hak kalian sudah saya beli dengan uang Pak Rahmat. Sekarang kalian harus pergi, atau saya akan usir paksa."
Preman-preman itu maju selangkah. Wajah mereka bengis.
Panji tidak mundur. Ia berdiri di depan teman-temannya.
"Rahul, kau pikir dengan kekerasan kau bisa menakuti kami? Kau salah. Kami sudah bersumpah di Gua Kiskenda. Kami tidak akan takut pada preman kayak kamu."
Rahul meringis. "Kau memang pemberani, Panji. Sayang, keberanianmu tidak akan menyelamatkanmu."
Ia memberi isyarat. Preman-preman itu mengepung Panji.
Tiba-tiba, dari kejauhan, puluhan warga datang. Mereka membawa cangkul, parang, dan pentungan kayu. Pak Tani di depan, dengan wajah penuh amarah.
"Rahul!" teriak Pak Tani. "Kau mau apa di desa kami? Ini desa Sumbermaya, bukan kandang babi!"
Warga lain ikut berteriak. "Pergi! Pergi! Desa kami tidak butuh preman!"
Rahul terkejut. Ia tidak menyangka warga akan membela Panji.
"Kalian... kalian sadar apa yang kalian lakukan?" tanya Rahul gemetar.
"Kami sadar!" teriak Pak Burhan dari belakang. "Kami sadar bahwa kami selama ini dibodohi oleh kalian! Tapi tidak lagi!"
Rahul mundur selangkah. Preman-preman itu juga mundur.
"Kami akan lapor polisi!" ancam Rahul.
"Lapor saja!" balas Pak Tani. "Kami juga akan lapor polisi tentang intimidasi dan pemalsuan dokumen yang kalian lakukan!"
Rahul dan preman-preman itu melarikan diri.
Warga bersorak.
Panji menatap warga yang membelanya. Air matanya jatuh.
"Bapak, Ibu, terima kasih. Saya tidak menyangka..."
Pak Tani menepuk bahu Panji. "Nak, kau tidak sendirian. Kami semua di belakangmu. Desa ini milik kita. Tanah ini warisan leluhur. Kita tidak akan biarkan direbut oleh orang luar."
Warga lain mengangguk setuju.
Panji berlutut. Ia mencium tanah desa.
"Terima kasih, leluhur. Terima kasih, Bapak. Terima kasih, Mbah Guno. Terima kasih, Eyang Jenggala."
Ia berdiri. Ia menatap warga.
"Mari kita lanjutkan. Kebun ini akan menjadi bukti bahwa kita bisa mandiri. Bahwa kita tidak butuh investor. Bahwa kita tidak butuh pengusaha. Kita punya tanah. Kita punya tenaga. Kita punya semangat."
Warga bersorak lagi.
Mereka kembali bekerja dengan semangat baru.
Tiga bulan kemudian, kebun bersama itu mulai berbuah. Sayuran dijual ke pasar desa dan kabupaten. Hasilnya lumayan. Cukup untuk membeli bibit baru dan memberi upah kecil untuk pemuda yang bekerja.
Panji tidak berhenti di situ. Ia mulai mengajarkan warga tentang konsep ekonomi adil luhur dari manuskrip Eyang Jenggala. Perlahan, warga mulai mengerti. Mereka tidak lagi tergiur janji-janji manis Pak Rahmat. Mereka mulai percaya pada kekuatan sendiri.
Seta dan Rahul semakin frustrasi. Rama yang di kabupaten mulai panik. Pak Rahmat mengancam akan membawa masalah ini ke pengadilan.
Tapi Panji tidak takut. Ia punya bukti. Ia punya manuskrip. Ia punya warga yang bersatu.
Suatu malam, setelah lelah bekerja di kebun, Panji duduk di tepi Sendang Kiskenda sendirian. Airnya berwarna biru keemasan—tanda kedamaian.
"Nak," bisik angin. Suara Ki Guno? Suara Eyang Jenggala? Atau hanya imajinasinya?
"Aku sudah menemukan pusaka ketiga, Mbah," bisik Panji. "Bukan benda pusaka. Tapi ilmu. Ilmu yang akan menyelamatkan desa ini."
Angin bertiup. Daun-daun bergoyang.
"Aku tidak akan mengecewakan kalian."
Ia menatap bintang. Bintang paling terang di timur berkedip.
Seperti senyum dari langit.
Bab 24: Jojo Kembali
Tujuh tahun Jojo meninggalkan Desa Sumbermaya. Tujuh tahun yang terasa seperti tujuh puluh bagi mereka yang ditinggalkan. Panji tidak pernah berhenti berharap. Mintarsih tidak pernah berhenti berdoa. Pak Burhan tidak pernah berhenti menunggu di teras rumahnya setiap sore, memandang ke arah jalan timur—berharap melihat anaknya pulang.
Tapi Jojo tidak pernah pulang. Kabar yang sampai ke desa hanya bisikan-bisikan tak jelas. Ada yang bilang Jojo jadi tangan kanan Rama. Ada yang bilang Jojo terlibat bisnis gelap. Ada yang bilang Jojo sudah pindah ke pulau lain. Tidak ada yang pasti.
Sementara itu, Panji terus berjuang. Kebun bersama yang dirintisnya kini telah menjadi koperasi desa yang cukup besar. Hasil panen tidak hanya mencukupi kebutuhan warga, tapi juga bisa dijual ke kabupaten. Panji bahkan mulai mengajarkan konsep ekonomi adil luhur ke desa-desa tetangga. Namanya mulai dikenal. Bukan sebagai anak dukun, bukan sebagai pemuda miskin, tapi sebagai pemimpin yang membawa perubahan.
Rama dan Pak Rahmat semakin terdesak. Proyek pabrik mereka mandek karena warga bersatu menolak. Seta dan Rahul mulai sibuk menutupi jejak korupsi mereka. Tekanan dari kabupaten membuat mereka panik.
Dan di tengah kepanikan itu, Rama membutuhkan kambing hitam. Jojo adalah pilihan yang sempurna.
Pada suatu malam, ketika hujan deras mengguyur kota kabupaten, Jojo diusir dari kosnya. Semua tuduhan palsu dilayangkan padanya. Ia dituduh mencuri uang perusahaan, memalsukan dokumen, bahkan bersekongkol dengan warga desa untuk menggagalkan proyek. Rama, yang dulu berjanji akan melindunginya, kini menghilang seperti ditelan bumi.
Jojo tidak punya apa-apa. Uang tabungannya habis. Teman-temannya di kabupaten berpaling. Ia hanya punya satu tempat untuk pulang: Desa Sumbermaya. Rumah ayahnya. Dan mantan sahabat yang pernah ia khianati.
Perjalanan pulang Jojo memakan waktu tiga hari. Ia berjalan kaki, menumpang truk, kadang tidak makan. Ketika tiba di pinggir desa, langit sedang mendung. Hujan gerimis. Tubuhnya kurus, bajunya compang-camping, wajahnya penuh luka dan keringat.
Ia berhenti di bawah pohon beringin—tempat mereka dulu bertiga berjanji setia. Ia berlutut. Ia menangis.
"Panji... Tin... aku pulang. Maafkan aku."
Pak Burhan sedang duduk di teras rumahnya, merokok klobot seperti biasa. Matanya menatap jalan timur—seperti yang ia lakukan setiap sore selama tujuh tahun.
Dan sore ini, harapannya terjawab.
Dari kejauhan, ia melihat sesosok tubuh kurus berjalan tertatih ke arah rumahnya. Wajahnya tidak jelas karena kabut gerimis. Tapi cara jalannya... cara jalannya familiar.
Pak Burhan berdiri. Rokoknya jatuh. Ia berlari.
"Jo? Jo? Apa itu kau, Jo?"
Jojo mengangkat wajah. Air matanya bercampur hujan.
"Pak... aku pulang."
Pak Burhan memeluk Jojo erat-erat. Ia menangis. Tangis seorang ayah yang selama tujuh tahun menahan rindu.
"Nak, kau pulang. Bapak kira kau tidak akan pernah kembali."
Jojo juga menangis. "Maaf, Pak. Maaf. Aku bodoh. Aku durhaka. Aku..."
"Sudah, jangan bicara dulu." Pak Burhan menggandeng Jojo masuk ke rumah. "Kau makan dulu. Mandi. Istirahat. Besok kita bicara."
Malam itu, setelah mandi dan makan, Jojo duduk di kursi bambu di samping Pak Burhan. Api unggun kecil menghangatkan ruangan.
"Pak, aku gagal," kata Jojo dengan suara parau.
Pak Burhan mengusap rambut Jojo. "Kau tidak gagal, Nak. Kau hanya tersesat. Dan sekarang kau sudah pulang."
"Aku sudah melakukan banyak kesalahan, Pak. Aku membantu Rama. Aku memberikan informasi tentang desa ini. Aku... aku memfitnah Panji di belakangnya."
Pak Burhan diam. Lalu ia berkata, "Jo, Bapak tidak akan menghakimimu. Itu urusan antara kau dan Panji. Tapi Bapak tahu satu hal: Panji tidak pernah berhenti mendoakanmu. Setiap malam, sebelum tidur, ia selalu menyebut namamu dalam doanya."
Jojo menangis lebih keras. "Aku tidak pantas didoakan, Pak."
"Setiap orang pantas didoakan, Nak. Bahkan orang yang paling jahat sekalipun."
Jojo membenamkan wajahnya di pangkuan ayahnya, seperti waktu ia masih kecil. Ia menangis sepuasnya.
Mintarsih sedang memasak di dapur ketika Sari datang tergopoh-gopoh.
"Tin! Tin! Jojo pulang!"
Mintarsih terkejut. Sendok sayurnya jatuh. "Apa? Jojo pulang?"
"Iya! Sekarang di rumah Pak Burhan. Kondisinya memprihatinkan. Kurus. Luka-luka. Kayak habis dihajar preman."
Mintarsih langsung berlari meninggalkan dapurnya. Ia tidak peduli sayurnya gosong. Ia tidak peduli hujan gerimis. Ia hanya ingin melihat Jojo.
Sesampainya di rumah Pak Burhan, Mintarsih melihat Jojo sedang duduk di kursi bambu. Wajahnya kurus, matanya cekung. Tapi ia masih bisa tersenyum ketika melihat Mintarsih.
"Tin," sapa Jojo lirih.
Mintarsih menghambur memeluk Jojo. "Jo! Jo! Kau pulang! Aku kira kau tidak akan pernah kembali!"
Jojo membalas pelukan Mintarsih. "Maaf, Tin. Maaf untuk semuanya."
Mintarsih melepaskan pelukan. Ia menatap wajah Jojo. "Kau kurus sekali. Kau sakit?"
"Aku tidak sakit, Tin. Hanya... lapar. Dan lelah. Dan hancur."
"Jangan bicara begitu. Kau sudah pulang. Sekarang kita rawat kau."
Panji sedang di kebun bersama ketika Wawan datang berlari.
"Nji! Nji! Jojo pulang!"
Panji berhenti mencangkul. Wajahnya berubah.
Wawan melanjutkan, "Dia di rumah Pak Burhan. Kondisinya parah. Kurus kering. Kayak orang habis dipukuli."
Panji diam. Ia tidak bergerak. Ia hanya menatap tanah.
"Nji, kau tidak mau menemuinya?" tanya Wawan heran.
Panji menghela napas. "Aku... aku tidak siap, Wan."
"Tidak siap gimana? Dia sahabatmu!"
"Justru karena dia sahabatku, aku tidak siap." Panji meletakkan cangkulnya. "Aku butuh waktu. Aku harus memikirkan apa yang akan aku katakan."
Wawan menggeleng. "Aku tidak mengerti kamu, Nji. Terserah."
Panji duduk di pematang. Ia menatap langit yang mulai gelap. Hatinya bergolak.
Mintarsih mencari Panji di kebun teh. Ia tahu Panji sering menyendiri di sana ketika sedang bingung.
"Nji," panggilnya pelan.
Panji tidak menoleh. "Tin, kau sudah lihat Jojo?"
Mintarsih duduk di sampingnya. "Sudah. Keadaannya hancur, Nji. Fisik maupun mental."
"Apakah ia menyesal?"
"Minta ma berkali-kali. Katanya ia dimanfaatkan Rama. Dijadikan kambing hitam. Sekarang ia tidak punya apa-apa."
Panji diam.
"Nji, kau akan memaafkannya?" tanya Mintarsih.
Panji menghela napas. "Aku ingin, Tin. Tapi lukanya masih dalam. Tujuh tahun ia pergi tanpa kabar. Tujuh tahun ia memihak pada musuh kita. Tujuh tahun ia membuatku bertanya-tanya, apa salahku sehingga sahabatku tega berkhianat."
Mintarsih memegang tangan Panji. "Dia sudah pulang, Nji. Itu yang penting. Dan dia butuh kita."
"Aku tahu. Tapi memaafkan tidak semudah mengucapkannya, Tin. Aku butuh waktu."
Keesokan harinya, Jojo meminta Pak Burhan untuk mengantarnya ke pohon beringin. Ia ingin bertemu Panji di tempat mereka dulu berjanji.
Matahari baru naik setinggi tombak. Embun masih membasahi rumput. Jojo duduk di akar pohon beringin, menunggu.
Panji datang dari kejauhan. Ia berjalan pelan, seperti menimbang-nimbang setiap langkah.
Mereka berdua duduk berdampingan, diam.
Jojo lebih dulu bicara. "Nji, aku minta maaf."
Panji tidak menjawab.
Jojo melanjutkan, "Aku tahu permintaan maafku tidak cukup. Aku sudah menyakitimu. Aku sudah mengkhianati persahabatan kita. Aku sudah... sudah menjadi monster."
Panji masih diam.
Jojo menangis. "Aku tidak minta kau memaafkanku sekarang. Tapi aku ingin kau tahu... aku menyesal. Setiap hari. Setiap malam. Selama tujuh tahun. Aku menyesal."
Panji akhirnya bicara. "Jo, kenapa kau pergi?"
Jojo menunduk. "Karena aku iri. Karena aku sakit hati. Karena aku merasa tidak dianggap."
"Aku selalu menganggapmu, Jo. Sejak kecil. Kau sahabatku."
"Aku tahu. Tapi aku bodoh. Aku membiarkan kecemburuanku berbicara. Aku membiarkan Rama memanfaatkanku."
Panji menghela napas. "Jo, aku marah padamu. Sangat marah. Tapi lebih dari itu, aku kecewa. Bukan karena kau pergi, tapi karena kau tidak percaya padaku."
"Maaf, Nji. Aku tidak pantas disebut sahabat."
Mereka berdua diam. Angin pagi bertiup. Daun-daun beringin bergoyang.
Panji berdiri. Ia mengulurkan tangannya pada Jojo.
"Ayo pulang, Jo. Ibu sudah masak sayur asem. Kita makan bareng."
Jojo mengangkat wajah. Matanya basah. "Kau... kau memaafkanku?"
Panji tersenyum tipis. "Aku tidak bilang memaafkan. Aku hanya bilang makan bareng. Urusan maaf-memaafkan butuh proses. Tapi setidaknya kita bisa mulai dari sesuatu yang sederhana."
Jojo tersenyum. Ia meraih tangan Panji dan berdiri.
"Terima kasih, Nji. Terima kasih."
Srintil sudah menunggu di teras rumah. Wajahnya masih pucat, tapi matanya bersinar.
"Jojo, nak, kau sudah pulang. Mari, duduk. Ibu sudah masak sayur asem kesukaanmu."
Jojo terharu. Ia berlutut di depan Srintil. "Bu Srintil, maafkan aku. Aku sudah durhaka. Aku sudah pergi tanpa pamit."
Srintil mengusap rambut Jojo. "Nak, ibu tidak pernah marah padamu. Ibu hanya khawatir. Setiap malam ibu berdoa untuk keselamatanmu."
Jojo menangis. "Bu, aku tidak pantas didoakan."
"Setiap orang pantas didoakan, Nak." Srintil membantu Jojo berdiri. "Sekarang makan. Kau kurus sekali."
Mereka makan bersama. Panji di sebelah kiri, Jojo di sebelah kanan, Srintil di tengah. Suasana hangat mengisi ruangan.
Jojo makan dengan lahap. Matanya berkaca-kaca.
"Ini enak, Bu. Aku sudah lama tidak makan sayur asem buatan Ibu."
Srintil tersenyum. "Nanti Ibu buatkan lagi. Setiap hari. Sampai kau gemuk kembali."
Jojo duduk di samping Pak Burhan. Api unggun menyala. Udara dingin menusuk tulang.
"Pak, aku tidak tahu harus mulai dari mana," kata Jojo lirih.
Pak Burhan menatap anaknya. "Mulai dari awal, Nak. Kau masih muda. Masih panjang jalan yang harus kau tempuh."
"Tapi aku sudah melakukan banyak kesalahan."
Pak Burhan menggeleng. "Kesalahan adalah pelajaran. Yang terpenting adalah kau mau belajar dari kesalahan itu."
"Apakah Panji akan benar-benar memaafkanku?"
Pak Burhan tersenyum. "Panji sudah memaafkanmu jauh sebelum kau meminta maaf. Ia hanya tidak mau mengatakannya. Karena ia juga manusia. Ia butuh waktu untuk memproses lukanya."
Jojo mengangguk.
"Nak, Bapak ingin kau berjanji pada Bapak."
"Janji apa, Pak?"
"Jangan pergi lagi. Jangan tinggalkan Bapak sendirian."
Jojo memeluk ayahnya. "Aku tidak akan pergi lagi, Pak. Janji."
Jojo perlahan pulih. Fisiknya mulai berisi, matanya mulai bersinar, senyumnya mulai muncul. Ia membantu Panji di kebun, membantu Mintarsih di dapur umum, membantu ayahnya di sawah.
Ia tidak lagi berbicara tentang masa lalu. Ia hanya fokus pada hari ini. Dan hari esok.
Panji masih menjaga jarak. Bukan karena ia marah, tapi karena ia belajar untuk tidak terlalu cepat percaya. Luka pengkhianatan tidak bisa disembuhkan dalam semalam.
Tapi setiap pagi, ketika mereka bertemu di kebun, mereka saling tersenyum. Setiap sore, ketika mereka beristirahat di bawah pohon beringin, mereka saling bertukar kabar. Perlahan, lembaran baru dalam persahabatan mereka mulai ditulis.
Di kejauhan, di tepi Sendang Kiskenda, airnya berwarna biru keemasan. Tenang. Damai.
Dan di puncak Gunung Selatan, Eyang Jenggala tersenyum.
"Kau memilih memaafkan, Nak," bisiknya pada angin. "Itulah kekuatan sejati. Bukan kekuatan fisik. Bukan kekuatan uang. Tapi kekuatan untuk melepaskan luka dan memberi kesempatan kedua."
Ia menutup mata.
"Semoga perjalananmu terus diberkahi."
Bab 25: Ciuman di Gudang Kopi
Musim hujan tahun itu datang lebih awal. Desa Sumbermaya diselimuti kabut tebal setiap pagi, dan hujan deras hampir setiap sore. Sawah-sawah yang mengering di musim kemarau kini kembali menghijau. Petani tersenyum lega.
Tapi di balik keindahan alam, ketegangan masih membayangi. Pak Rahmat tidak menyerah. Ia menggugat warga desa ke pengadilan negeri dengan tuduhan menghalang-halangi pembangunan. Kades Tirta, yang kini berada di bawah tekanan dari dua sisi, mulai goyah lagi. Seta dan Rahul terus bergerak di belakang layar, mencari cara untuk memecah belah persatuan warga.
Jojo sudah kembali sepenuhnya ke masyarakat. Ia bekerja keras di kebun bersama, membantu Panji mengelola koperasi, dan mulai dipercaya lagi oleh warga—meskipun tidak sepenuhnya. Masih ada yang bisik-bisik di belakang, masih ada yang menatapnya dengan curiga. Tapi Jojo tidak peduli. Ia sudah bertekad untuk membuktikan bahwa ia berubah.
Namun, perubahan tidak pernah semudah membalikkan telapak tangan. Di dalam hati Jojo, masih ada luka lama yang belum sembuh. Luka karena cinta yang tidak terbalas. Luka karena merasa tidak pernah cukup baik. Luka karena selalu membandingkan dirinya dengan Panji.
Dan pada suatu sore di bulan November, ketika hujan deras mengguyur desa dan Jojo secara tidak sengaja melihat sesuatu di gudang kopi milik Kartiman—sesuatu yang selama ini ia takutkan—luka itu terbuka kembali. Bukan karena ia membenci Panji atau Mintarsih. Tapi karena ia bertanya pada dirinya sendiri: Kenapa bukan aku?
Mintarsih sedang membantu ayahnya membereskan gudang kopi. Kartiman sudah tua dan sering sakit-sakitan. Ia tidak bisa lagi mengangkat karung-karung kopi yang berat. Mintarsih hampir setiap sore datang untuk membersihkan, menata, dan memastikan kopi-kopi itu tetap kering.
Hujan mulai turun ketika ia baru setengah selesai. Air mengguyur atap seng dengan suara seperti genderang. Pintu gudang terbuka sedikit, angin membawa butiran-butiran air masuk.
Mintarsih sedang berusaha menutup pintu ketika Panji muncul dari balik hujan. Ia berlari kecil, bajunya basah kuyup.
"Tin!" serunya sambil masuk ke gudang.
Mintarsih terkejut. "Nji? Kau kenapa ke sini? Hujan besar begini!"
Panji terengah-engah. "Aku dari kebun. Hujan tiba-tiba. Aku cari tempat berteduh. Lihat gudang ini terbuka, jadi aku masuk."
"Kau basah kuyup!" Mintarsih mengambil kain lap yang tergantung di dinding. "Ini, lap dulu. Nanti kau sakit."
Panji menerima kain itu. Ia mengusap wajah dan rambutnya yang basah. "Terima kasih, Tin. Kau baik sekali."
Mintarsih tersenyum. "Sudah kewajiban."
Mereka berdua duduk di atas karung-karung kopi yang ditumpuk rapi di sudut gudang. Hujan masih deras di luar. Suasana hening. Hanya suara air dan sesekali gemuruh petir.
Panji menatap Mintarsih. Wajahnya basah oleh air hujan yang masih menetes dari rambutnya. Mintarsih menunduk, merasa ada yang berbeda sore ini.
"Tin," panggil Panji pelan.
"Apa, Nji?"
"Aku... ada yang ingin aku katakan."
Mintarsih mengangkat wajah. Matanya bertemu dengan mata Panji.
"Selama bertahun-tahun," lanjut Panji, "aku selalu merasa tidak pantas untukmu. Aku miskin. Ibuku sakit. Aku tidak punya masa depan yang jelas. Tapi setelah bertemu Eyang Jenggala, aku belajar satu hal."
"Apa itu?"
"Bahwa cinta tidak pernah melihat harta. Cinta melihat hati. Dan kau, Tin, sudah menunjukkan padaku bahwa kau tidak peduli dengan keadaanku. Kau tetap setia. Kau tetap menunggu. Kau tetap di sisiku."
Mintarsih menggigit bibir. Matanya basah.
"Nji, jangan..."
"Biarkan aku selesai." Panji meraih tangan Mintarsih. "Aku sayang kamu, Tin. Bukan karena kamu cantik. Bukan karena kamu baik. Tapi karena kamu adalah kamu. Dan aku tidak ingin kehilangan kamu."
Air mata Mintarsih jatuh. "Nji, aku sudah menunggu kata-kata itu sejak kita masih kecil."
"Aku tahu. Maaf aku lama."
"Kau bodoh, Nji."
"Aku tahu."
Mereka berdua tertawa kecil.
Hujan masih deras. Suara gemuruh menggelegar di kejauhan. Tapi di dalam gudang kopi itu, hanya ada keheningan yang hangat.
Panji mendekatkan wajahnya ke Mintarsih. Perlahan. Takut-takut. Seperti orang yang pertama kali berjalan di atas es tipis.
"Tin," bisiknya. "Aku boleh?"
Mintarsih tidak menjawab dengan kata. Ia hanya memejamkan mata.
Dan Panji menciumnya.
Bukan ciuman yang bergairah. Bukan ciuman yang penuh nafsu. Tapi ciuman yang lembut, penuh rasa syukur, penuh kelegaan. Seperti orang yang akhirnya sampai di rumah setelah perjalanan panjang yang melelahkan.
Mintarsih membalas ciuman itu. Tangannya merangkul leher Panji. Air matanya masih mengalir, tapi kini bukan air mata sedih. Air mata bahagia.
Mereka berdua melepaskan ciuman itu setelah beberapa saat. Saling menatap. Tersenyum.
"Nji," bisik Mintarsih.
"Apa, Tin?"
"Aku sayang kamu. Sudah dari dulu. Dan akan selamanya."
Panji memeluk Mintarsih. "Aku juga, Tin. Selamanya."
Hujan di luar mulai reda. Sinar matahari sore menembus celah-celah dinding gudang, menciptakan pelangi kecil di lantai tanah.
Jojo sedang berjalan melewati kebun kopi ketika ia melihat Panji masuk ke gudang. Ia tahu Mintarsih juga ada di sana. Ia sempat ragu apakah akan mendekat atau tidak.
Tapi rasa penasaran—atau mungkin rasa cemburu—membuatnya berjalan mendekati gudang. Ia mengintip dari celah dinding bambu yang renggang.
Dan ia melihat.
Ia melihat Panji mencium Mintarsih.
Ia melihat Mintarsih membalas ciuman itu.
Ia melihat mereka berpelukan.
Dunia Jojo berhenti berputar sejenak.
Ia mundur perlahan. Jauh dari gudang. Jauh dari kebun kopi. Jauh dari desa.
Ia berjalan ke pohon beringin—tempat mereka dulu bertiga berjanji setia. Ia duduk di akar pohon itu, menunduk, dan menangis.
"Kenapa?" bisiknya. "Kenapa bukan aku?"
Ia mengepal. Bukan marah pada Panji. Bukan marah pada Mintarsih. Tapi marah pada dirinya sendiri. Karena ia tidak pernah cukup berani. Karena ia tidak pernah cukup baik. Karena ia selalu kalah.
Pak Burhan sudah mencari Jojo ke mana-mana. Ketika ia sampai di pohon beringin, ia melihat anaknya sedang duduk bersandar, wajahnya basah.
"Jo? Ada apa?" tanya Pak Burhan khawatir.
Jojo tidak menjawab.
Pak Burhan duduk di sampingnya. "Nak, cerita pada Bapak."
"Pak," kata Jojo pelan. "Aku baru saja melihat Panji dan Mintarsih."
"Melihat mereka apa?"
"Melihat mereka... berciuman."
Pak Burhan menghela napas. Ia sudah menduga.
"Jo, kau masih suka sama Mintarsih?"
Jojo menunduk. "Aku sudah berusaha melupakan, Pak. Tapi setiap kali melihat mereka bersama, rasanya... seperti ada pisau yang menusuk dadaku."
Pak Burhan memegang bahu Jojo. "Nak, cinta itu tidak bisa dipaksakan. Mintarsih memilih Panji. Itu haknya. Dan kau harus menghormati pilihannya."
"Aku tahu, Pak. Tapi sakit."
"Memang sakit. Tapi sakit itu akan hilang. Perlahan. Seperti luka yang mengering. Yang penting, jangan biarkan sakit itu berubah menjadi kebencian."
Jojo mengangkat wajah. "Aku tidak benci mereka, Pak. Aku hanya... sedih."
"Boleh sedih. Tapi jangan terlalu lama. Masih banyak perempuan lain di luar sana. Dan yang terpenting, kau masih punya Bapak. Masih punya Panji sebagai sahabat. Masih punya desa ini sebagai rumah."
Jojo memeluk ayahnya. "Terima kasih, Pak. Aku akan coba."
Keesokan harinya, Panji mencari Jojo di kebun. Ia tahu ada yang berbeda dengan sahabatnya sejak kemarin sore.
"Jo," panggil Panji.
Jojo yang sedang mencangkul tidak menoleh. "Apa, Nji?"
"Kau tahu soal aku dan Mintarsih?"
Jojo berhenti mencangkul. "Aku lihat kemarin. Di gudang kopi."
Panji diam.
Jojo melanjutkan, "Selamat, Nji. Kalian berdua cocok."
Panji mendekat. "Jo, maaf. Aku tidak bermaksud menyembunyikan. Aku hanya..."
"Tidak usah jelaskan, Nji. Aku tahu. Aku sudah lama tahu bahwa Mintarsih mencintaimu, bukan aku."
"Jo..."
Jojo menatap Panji. Matanya tidak marah. Hanya sendu.
"Nji, aku masih menyukainya. Mungkin untuk waktu yang lama. Tapi aku tidak akan menghalangi kalian. Kalian berdua adalah orang-orang yang aku sayangi. Aku hanya butuh waktu."
Panji memeluk Jojo. "Terima kasih, Jo. Kau sahabat sejati."
Jojo membalas pelukan itu. "Kau juga, Nji. Maaf aku pernah pergi."
"Aku sudah memaafkanmu, Jo."
Mereka berdua berpelukan di tengah kebun, di bawah matahari pagi yang hangat.
Sore harinya, Mintarsih mencari Jojo di kebun teh. Ia tahu Jojo sering menyendiri di sana.
"Jo, aku mau bicara," kata Mintarsih sambil duduk di samping Jojo.
Jojo tidak menoleh. "Apa, Tin?"
"Tentang aku dan Panji."
"Aku sudah tahu. Dan aku sudah bilang pada Panji, aku ikhlas."
Mintarsih memegang tangan Jojo. "Jo, aku sayang kamu. Sebagai saudara. Dan aku tidak ingin kehilangan persahabatan kita karena ini."
Jojo menghela napas. "Kita tidak akan kehilangan apa-apa, Tin. Aku hanya butuh waktu."
"Terima kasih, Jo. Kau baik."
"Aku tidak baik, Tin. Aku hanya berusaha."
Mereka berdua diam. Menatap langit yang mulai jingga.
Panji duduk di kursi bambu di teras rumahnya. Srintil sudah tidur. Langit malam cerah. Bintang-bintang bertaburan.
Mintarsih datang dengan langkah pelan.
"Nji, belum tidur?"
Panji menggeleng. "Masih mikir."
"Mikir apa?"
"Tentang Jojo. Aku khawatir ia tidak benar-benar ikhlas."
Mintarsih duduk di sampingnya. "Aku juga khawatir. Tapi kita tidak bisa memaksanya. Biarkan waktu yang menyembuhkan."
Panji mengangguk. "Kau benar."
Mintarsih menyandarkan kepalanya di bahu Panji. "Nji, apa kita akan bersama selamanya?"
Panji tersenyum. "Aku harap begitu, Tin. Tapi tidak ada yang tahu masa depan. Yang bisa kita lakukan hanyalah berusaha."
"Mencintai?"
"Ya. Mencintai. Setiap hari. Sampai hari terakhir."
Mereka berdua diam. Bintang-bintang bersinar terang.
Di kejauhan, di tepi Sendang Kiskenda, airnya berwarna biru keemasan. Tenang. Damai.
Dan Ki Guno—dari alam lain—tersenyum.
"Kau akhirnya menemukan cintamu, Nak," bisiknya. "Jagalah ia. Karena cinta sejati tidak datang dua kali."
Hari-hari berlalu. Jojo tetap bekerja bersama Panji dan Mintarsih. Ia tetap tersenyum, tetap bercanda, tetap membantu. Tapi di dalam hatinya, luka itu masih ada. Masih perih. Masih sesekali berdarah.
Ia tidak menunjukkan pada siapa pun. Ia hanya memendamnya. Dan pada malam-malam tertentu, ketika semua orang sudah tidur, ia akan pergi ke pohon beringin sendirian, duduk di akar pohon itu, dan menangis.
"Tuhan," bisiknya. "Berikan aku kekuatan. Bukan untuk melupakan. Tapi untuk merelakan."
Dan bintang-bintang di atas sana berkedip—seperti ribuan mata yang mengawasi, seperti ribuan doa yang tidak pernah putus.
Bab 26: Mintarsih Dijodohkan
Kebahagiaan tidak pernah abadi. Ia seperti kupu-kupu—indah saat terbang, rapuh saat disentuh, dan mudah pergi tertiup angin.
Setelah ciuman di gudang kopi, Panji dan Mintarsih semakin dekat. Mereka tidak lagi menyembunyikan perasaan. Warga desa mulai tahu, dan sebagian besar mendukung. Srintil sudah menganggap Mintarsih seperti menantu. Pak Burhan ikut bahagia melihat anak-anak muda itu bersatu.
Tapi di balik kabar gembira itu, masalah mengintai.
Kartiman, ayah Mintarsih, adalah seorang petani kopi yang jujur tapi lemah. Ia tidak pandai mengelola uang. Bertahun-tahun ia hidup pas-pasan, kadang berutang ke tetangga untuk biaya sekolah Mintarsih, kadang berutang ke koperasi untuk membeli bibit pupuk.
Seta, dengan kelicikannya, melihat kelemahan itu. Ia diam-diam mendekati Kartiman, menawarkan pinjaman uang dengan bunga rendah. Kartiman, yang sedang terdesak karena gagal panen dua tahun berturut-turut, menerima tawaran itu tanpa membaca perjanjian dengan teliti.
Pinjaman pertama. Pinjaman kedua. Pinjaman ketiga. Bunga menumpuk. Kartiman tidak bisa membayar. Seta mulai menagih dengan cara yang lebih kasar. Ia mengirim Rahul dan preman-preman bayangan ke rumah Kartiman, memecahkan jendela, meneror di malam hari.
Dan ketika Kartiman sudah tidak punya apa-apa lagi, Seta memberikan ultimatum: Bayar utangmu dalam satu bulan, atau berikan anakmu untuk dinikahkan dengan Rama.
Kartiman jatuh pingsan mendengar itu. Mintarsih menangis sejadi-jadinya. Panji, yang mendengar kabar itu dari Jojo, berlari ke rumah Kartiman dengan hati berdebar.
Rumah Kartiman terletak di selatan desa, tidak jauh dari kebun teh. Rumahnya sederhana—dinding bambu, atap seng, lantai tanah. Malam itu, lampu minyak menyala redup.
Kartiman duduk di kursi bambu, wajahnya pucat, tangannya gemetar. Mintarsih duduk di sampingnya, matanya sembab.
Panji masuk tanpa mengetuk. Wajahnya tegang.
"Pak Kartiman, apa benar utang Bapak sebesar itu?"
Kartiman menunduk. "Iya, Nak. Dua puluh juta. Termasuk bunganya."
Panji terkejut. "Dua puluh juta? Berapa Bapak pinjam awalnya?"
"Lima juta. Tapi bunganya... bunganya berbunga. Aku tidak tahu kalau Seta sejahat itu."
Mintarsih menangis lagi. "Pak, kenapa Bapak tidak bilang pada kami dari awal?"
Kartiman menghela napas. "Aku malu, Tin. Aku tidak mau merepotkan kalian."
Panji duduk di hadapan Kartiman. "Pak, kita bisa kumpulkan warga. Kita bisa cari solusi bersama."
Kartiman menggeleng. "Tidak bisa, Nak. Seta sudah punya surat perjanjian yang ditandatangani olehku. Secara hukum, aku kalah."
"Tapi perjanjian itu tidak adil, Pak!"
"Hukum tidak mengakui ketidakadilan, Nak. Hanya mengakui tanda tangan."
Pintu terbuka. Seta dan Rahul masuk dengan senyum licik.
Seta melemparkan sebuah amplop cokelat ke meja. "Pak Kartiman, ini surat perjanjian pernikahan. Rama sudah setuju. Tandatangan di sini."
Mintarsih berdiri. "Tidak! Aku tidak akan menikah dengan Rama!"
Seta tersenyum. "Bukan pilihanmu, Mintarsih. Ini pilihan ayahmu. Kalau tidak, rumah ini akan kami sita. Ayahmu akan kami masukkan penjara."
Rahul menambahkan, "Kami juga bisa buat kehidupan Panji makin sengsara. Jangan coba-coba melawan."
Panji berdiri di depan Mintarsih. "Seta, kau pikir dengan uang kau bisa membeli segalanya? Kau salah. Kebahagiaan tidak bisa dibeli."
Seta tertawa. "Kebahagiaan? Aku tidak butuh kebahagiaan. Aku butuh kekuasaan. Dan dengan menikahkan Rama dengan Mintarsih, aku akan mendapatkannya."
Panji mengepal. "Kau monster."
Seta mendekat. "Monster? Aku hanya realistis. Di dunia ini, yang kuat yang menang. Dan kita, Pak Rahmat dan aku, adalah yang kuat. Kau, Panji, hanyalah debu."
Ia berbalik. "Pak Kartiman, kau punya waktu satu minggu. Tandatangan, atau lihat apa yang terjadi pada anakmu."
Seta dan Rahul pergi.
Malam itu, Panji dan Mintarsih duduk di kebun teh. Langit gelap tanpa bintang. Hati mereka juga gelap.
"Tin," panggil Panji pelan.
"Nji, aku takut."
"Aku juga. Tapi kita tidak boleh menyerah."
"Mereka punya uang. Mereka punya kekuasaan. Kita hanya rakyat kecil."
Panji memegang tangan Mintarsih. "Tin, dengar. Aku tidak akan membiarkanmu menikah dengan Rama. Apa pun yang terjadi."
"Tapi bagaimana? Ayahku terancam masuk penjara."
"Aku akan cari uang. Aku akan bayar utang ayahmu."
"Lima juta plus bunga? Sampai dua puluh juta? Dari mana kau bisa dapat uang sebanyak itu?"
Panji diam. Ia tidak punya jawaban.
Mintarsih menangis. "Nji, mungkin ini sudah takdir. Mungkin kita tidak ditakdirkan bersama."
"Jangan bicara begitu, Tin!"
"Apa yang bisa kita lakukan? Seta punya segalanya. Kita tidak punya apa-apa."
Panji memeluk Mintarsih. "Kita punya satu sama lain. Itu sudah cukup. Kita akan cari jalan. Aku janji."
Jojo sudah menunggu di bawah pohon beringin. Ia mendengar kabar dari Pak Burhan.
"Nji, apa yang akan kau lakukan?" tanya Jojo.
Panji menghela napas. "Aku akan cari uang. Banyak uang. Dengan cepat."
"Gila, Nji. Dari mana?"
"Apa pun. Aku rela jadi kuli di kota. Aku rela jadi apa pun."
Jojo memegang bahu Panji. "Nji, aku ikut. Kita cari uang bersama."
"Jo, ini urusanku."
"Urusan Mintarsih juga urusanku. Aku sayang dia. Mungkin bukan sebagai kekasih, tapi sebagai saudara. Aku tidak akan membiarkan dia menikah dengan Rama."
Panji menatap Jojo. "Kau serius?"
"Serius. Kita bertiga. Selamanya. Ingat janji kita?"
Panji tersenyum tipis. "Aku ingat."
Pak Burhan pergi ke rumah Kartiman. Ia membawa uang tabungannya—tidak banyak, hanya dua juta.
"Kartiman, ini aku ada sedikit. Buat bayar utang."
Kartiman menggeleng. "Tidak bisa, Burhan. Aku tidak bisa menerima uangmu."
"Kartiman, ini untuk anakmu. Jangan kau sia-siakan."
Kartiman menunduk. "Aku sudah gagal sebagai ayah, Burhan. Aku tidak bisa menjaga anakku."
Pak Burhan duduk di sampingnya. "Kita semua pernah gagal. Yang penting jangan menyerah. Mintarsih anak baik. Ia tidak pantas menikah dengan Rama."
"Apa yang bisa kita lakukan?"
"Kita kumpulkan warga. Kita buka donasi. Setiap orang bisa membantu. Tidak harus besar. Yang penting bersama."
Kartiman mengangkat wajah. "Kau yakin warga mau membantu?"
"Warga Sumbermaya bukan orang-orang kaya. Tapi hati mereka besar. Aku yakin."
Seta tertawa ketika mendengar Rahul melaporkan rencana donasi warga.
"Donasi? Dari warga miskin itu? Paling banyak terkumpul satu atau dua juta. Tidak akan cukup."
Rahul menggaruk kepalanya. "Tapi kalau mereka bersatu, bisa berbahaya."
Seta menggeleng. "Bersatu? Mereka tidak akan bersatu. Warga desa itu egois. Masing-masing sibuk dengan urusannya sendiri. Percayalah, donasi itu akan gagal."
"Tapi Panji..."
"Panji hanyalah bocah. Tidak punya uang. Tidak punya koneksi. Tidak punya kekuasaan. Apa yang bisa ia lakukan?"
Rahul mengangguk. "Kau benar."
Seta tersenyum licik. "Biarkan mereka berusaha. Itu akan sia-sia. Dan dalam satu minggu, Mintarsih akan menjadi milik Rama."
Keesokan harinya, Panji mengumpulkan warga di balai desa. Ia berdiri di depan, wajahnya tegang tapi matanya menyala.
"Bapak, Ibu, saudara-saudara sekalian. Kita semua tahu apa yang terjadi pada Mintarsih. Ia akan dijodohkan dengan Rama karena utang ayahnya."
Warga berbisik.
"Saya tidak datang ke sini untuk minta uang. Saya datang untuk minta dukungan. Kita tidak bisa membiarkan Seta dan Rahul terus bermain-main dengan hidup kita. Mereka sudah mengambil tanah kita. Sekarang mereka mau mengambil anak kita."
Pak Tani berdiri. "Apa yang bisa kami lakukan, Nji?"
"Kita buka donasi. Tidak harus besar. Seribu, dua ribu, sepuluh ribu. Apapun. Yang penting kita bersama."
Wawan juga berdiri. "Aku ikut, Nji. Aku akan kumpulkan dari teman-teman pemuda."
Sari menambahkan, "Aku akan kumpulkan dari ibu-ibu."
Warga mulai antusias. Mereka mengeluarkan uang dari dompet masing-masing. Ada yang seribu, dua ribu, lima ribu. Tidak banyak. Tapi hati mereka besar.
Panji menunduk. Air matanya jatuh.
"Terima kasih, Bapak, Ibu. Terima kasih untuk semuanya."
Hari ketujuh tiba. Seta dan Rahul datang ke rumah Kartiman dengan senyum penuh kemenangan.
"Pak Kartiman, sudah siap tanda tangan?" tanya Seta.
Kartiman gemetar. Mintarsih menangis di belakang.
Panji masuk. Wajahnya letih, matanya sembab, tapi ia tersenyum.
"Seta, ini uang dua puluh juta. Hitung."
Ia melemparkan sebuah tas kecil ke meja.
Seta terkejut. "Dari mana kau dapat uang sebanyak ini?"
Panji menatap Seta tajam. "Dari warga desa. Dari koperasi. Dari kerja keras. Bukan dari korupsi. Bukan dari menindas orang miskin."
Rahul membuka tas itu. Ia menghitung. "Dua puluh juta pas, Seta."
Seta pucat. "Ini... ini tidak mungkin."
"Buktikan sendiri," kata Panji. "Sekarang pergi dari sini. Dan jangan pernah ganggu keluarga ini lagi."
Seta menggertakkan gigi. Ia meraih tas itu dan berjalan keluar. Rahul mengikuti.
Mintarsih berlari memeluk Panji. "Nji! Nji! Kau berhasil!"
Panji memeluknya balik. "Kita berhasil, Tin. Bukan aku. Kita semua."
Kartiman menangis. "Nak, maafkan aku. Aku sudah merepotkan kalian semua."
Pak Burhan menepuk pundaknya. "Tidak apa, Kartiman. Itulah gunanya bersaudara."
Malam itu, desa Sumbermaya bersorak. Warga bergembira karena Mintarsih selamat dari pernikahan paksa dengan Rama. Tapi mereka tahu ini baru kemenangan kecil. Perang melawan ketidakadilan masih panjang.
Panji duduk di tepi Sendang Kiskenda sendirian. Airnya berwarna biru keemasan—tanda kedamaian.
"Terima kasih, warga desa," bisiknya. "Terima kasih, leluhur. Terima kasih, Bapak. Terima kasih, Mbah Guno. Terima kasih, Eyang Jenggala."
Ia menatap bintang.
"Aku tidak akan berhenti. Aku akan terus berjuang. Sampai desa ini benar-benar merdeka."
Bintang paling terang di timur berkedip.
Seperti senyum dari surga.
Bab 27: Panji Diasingkan
Kemenangan atas utang Kartiman ternyata hanya memicu kemarahan yang lebih besar dari Seta dan Rahul. Mereka tidak terbiasa kalah, apalagi oleh seorang pemuda desa miskin seperti Panji. Harga diri mereka terluka. Kekuasaan mereka terancam. Dan orang yang terancam kekuasaannya sering kali melakukan hal-hal keji.
Pak Rahmat yang mendengar kegagalan Seta mendekati Mintarsih semakin geram. Proyek pabrik yang sudah menghabiskan biaya miliaran rupiah kini terancam batal. Investor dari ibukota mulai menarik diri. Reputasi Pak Rahmat sebagai pengusaha sukses mulai tercoreng.
Rama juga tidak terima. Ia sudah membayangkan hidup bersama Mintarsih di rumah mewah di kabupaten. Ia sudah membeli gaun pengantin mahal, sudah memesan katering, sudah mengundang rekan-rekan bisnis ayahnya. Dan sekarang, semuanya hancur karena seorang petani miskin bernama Panji.
Keputusasaan melahirkan kebencian. Kebencian melahirkan kejahatan.
Seta merancang rencana paling kejam yang pernah ia pikirkan dalam hidupnya. Ia akan memfitnah Panji sebagai pembakar gudang proyek—gudang yang berisi material bangunan senilai ratusan juta rupiah. Dengan tuduhan itu, Panji bisa dipenjara. Dan jika tidak dipenjara, setidaknya ia akan diusir dari desa, dicap sebagai kriminal, dan tidak akan pernah bisa kembali.
Malam itu, ketika warga desa sedang tertidur lelap, Rahul dan preman-preman bayaran membakar gudang proyek di timur desa. Api membesar dengan cepat. Warga berlarian keluar rumah. Teriakan memecah keheningan malam.
Dan di tengah kepanikan itu, Seta menunjukkan "bukti": sebuah kain lusuh bertuliskan nama Panji yang sengaja ia jatuhkan di lokasi kejadian.
Polisi dipanggil. Panji ditangkap. Sidang kilat diadakan. Tidak ada pengacara. Tidak ada saksi yang membela. Hanya Seta dan Rahul dengan kesaksian palsu, dan Kades Tirta yang ikut membenarkan karena tekanan.
Vonis: Panji dinyatakan bersalah. Hukuman: diusir dari Desa Sumbermaya.
Pukul satu dini hari. Desa Sumbermaya yang sunyi tiba-tiba dikejutkan oleh suara ledakan. Api menjulang di timur desa—tepat di lokasi proyek pabrik yang mangkrak.
Panji terbangun dari tidurnya. Ia melihat cahaya merah dari jendela.
"Bu, ada kebakaran!" teriaknya.
Srintil terbangun. "Apa? Di mana?"
"Di timur. Sepertinya gudang proyek."
Panji keluar rumah. Warga sudah berlarian ke arah timur. Pak Tani, Pak Burhan, Wawan, Bayu, Sari, semua berusaha memadamkan api dengan ember dan alat seadanya.
Tapi api sudah terlalu besar. Air dari sumur tidak cukup. Gudang itu ludes terbakar dalam waktu satu jam.
Jojo mendekati Panji. "Nji, ini pasti ulah Seta dan Rahul."
Panji mengangguk. "Aku juga curiga. Tapi kita tidak punya bukti."
Mintarsih datang tergopoh-gopoh. "Nji, kau tidak apa-apa?"
"Aku baik-baik saja. Tapi ini... ini bencana. Gudang itu milik proyek. Mereka pasti akan menyalahkan seseorang."
Mintarsih menggigit bibir. "Kita harus hati-hati, Nji. Aku takut mereka akan memfitnahmu."
Keesokan paginya, Seta datang ke lokasi kebakaran bersama Kades Tirta dan Rahul. Mereka berpura-pura menyelidiki penyebab kebakaran.
Seta berteriak. "Pak Kades! Lihat ini!"
Ia mengangkat sehelai kain lusuh dari puing-puing gudang. Kain itu bertuliskan nama "PANJI" dengan tinta hitam.
Kades Tirta pucat. "Apa itu?"
"Ini bukti, Pak. Bukti bahwa pembakarnya adalah Panji! Lihat, namanya tertulis jelas di kain ini!"
Rahul ikut memanas-manasi. "Benar, Pak. Saya sudah curiga sejak dulu. Panji memang menentang proyek ini. Ia pasti sengaja membakar gudang."
Warga yang datang mulai berbisik-bisik.
Pak Tani maju. "Itu tidak mungkin! Panji tidak akan melakukan itu!"
Seta tersenyum. "Buktinya ada di tangan saya, Pak Tani. Kain dengan namanya. Apa lagi yang kau butuh?"
Pak Burhan juga maju. "Itu bisa rekayasa!"
Seta menggeleng. "Pak Burhan, jangan membela penjahat. Panji harus bertanggung jawab."
Polisi dari kabupaten datang siang harinya. Mereka langsung menuju rumah Panji.
Panji sedang duduk di teras bersama Srintil ketika dua orang polisi berseragam masuk.
"Anda Panji?" tanya polisi dengan nada tegas.
Panji berdiri. "Iya, Pak. Ada apa?"
"Anda ditangkap atas tuduhan pembakaran gudang proyek di timur desa. Ikut kami."
Srintil jatuh pingsan.
Mintarsih yang kebetulan datang menjerit. "Tidak! Panji tidak bersalah!"
Polisi menggeleng. "Kami hanya menjalankan tugas, Bu. Ada bukti yang mengarah padanya. Urusan bersalah atau tidak, nanti di pengadilan."
Jojo berlari ke rumah Panji. "Nji! Nji! Aku akan cari pengacara. Aku akan buktikan kau tidak bersalah!"
Panji tersenyum tipis. "Jo, jaga ibuku. Jaga Mintarsih. Jaga desa ini."
Ia dibawa pergi dengan mobil polisi.
Mintarsih menangis di pinggir jalan. Jojo memeluknya.
"Jo, apa yang akan terjadi pada Panji?" isak Mintarsih.
Jojo menggigit bibir. "Aku tidak tahu, Tin. Tapi aku tidak akan diam."
Tiga hari kemudian, sidang digelar di kantor kecamatan. Ruangan sempit, hakimnya adalah pejabat yang dekat dengan Pak Rahmat. Tidak ada jaksa penuntut yang independen. Semua sudah diatur.
Seta menjadi saksi utama. Ia menunjukkan kain lusuh dengan tulisan "PANJI" sebagai bukti.
"Saksi, apa yang Anda lihat malam kebakaran?" tanya hakim.
Seta menjawab dengan lancar, "Saya melihat Panji berlari dari lokasi kebakaran. Tangannya penuh jelaga. Wajahnya panik. Saya yakin dialah pelakunya."
Rahul juga memberikan kesaksian palsu. "Saya juga melihat, Pak Hakim. Panji sempat mengancam warga yang mau memadamkan api."
Panji berdiri di ruang sidang tanpa pengacara. Ia tidak punya uang untuk membayar jasa hukum.
"Pak Hakim, saya tidak bersalah. Saya tidur di rumah ketika kebakaran itu terjadi. Ibu saya bisa menjadi saksi."
Hakim menggeleng. "Kesaksian keluarga tidak bisa dijadikan bukti. Apakah Anda punya saksi lain?"
Panji diam. Tidak ada yang berani menjadi saksi. Semua takut pada Seta dan Pak Rahmat.
Hakim mengetok palu. "Dengan bukti yang cukup, saya memutuskan terdakwa Panji bersalah. Hukuman: diusir dari Desa Sumbermaya dan tidak boleh kembali selama-lamanya."
Mintarsih yang hadir di ruang sidang berteriak. "Tidak adil! Ini tidak adil!"
Satpam menariknya keluar.
Panji hanya diam. Ia menatap Seta yang tersenyum licik. Ia menatap Rahul yang tertawa kecil. Ia menatap Kades Tirta yang menunduk malu.
Ia tidak marah. Ia hanya sedih. Sedih karena keadilan begitu mudah diperkosa oleh uang dan kekuasaan.
Panji diizinkan pulang ke rumah untuk mengambil barang-barangnya sebelum diusir. Mintarsih sudah menunggu di depan pintu.
"Nji..." Mintarsih menangis.
Panji memeluknya. "Tin, jangan menangis. Aku akan baik-baik saja."
"Kau mau ke mana?"
"Aku tidak tahu. Mungkin ke kota. Mungkin ke gunung. Tapi aku akan kembali. Aku janji."
"Kapan?"
"Aku tidak tahu. Tapi aku akan kembali."
Srintil keluar rumah dengan tubuh gemetar. Jojo menopangnya.
"Nak, nak, jangan pergi," isak Srintil.
Panji berlutut di depan ibunya. "Bu, aku harus pergi. Tapi aku akan kembali. Jaga diri Ibu. Jangan sakit-sakitan."
Srintil memeluk Panji. "Ibu bangga padamu, Nak. Ibu sayang kamu."
"Aku juga sayang Ibu, Bu."
Jojo mendekat. "Nji, maafkan aku."
"Untuk apa, Jo?"
"Karena dulu aku pergi. Sekarang kau yang pergi. Aku tahu rasanya ditinggalkan. Sakit."
Panji memegang bahu Jojo. "Jo, jaga mereka. Jaga ibuku. Jaga Mintarsih. Jaga desa ini. Aku titip."
Jojo mengangguk. "Aku janji, Nji. Sampai mati."
Panji meninggalkan desa dengan berjalan kaki. Ia hanya membawa satu bungkus kecil berisi pakaian, manuskrip pusaka, uang kepeng peninggalan janji tiga bocah, dan kain panji dari Eyang Jenggala.
Ia tidak menoleh. Ia tidak ingin melihat wajah-wajah yang ia cintai untuk terakhir kalinya.
Tapi di hatinya, ia berbisik: "Aku akan kembali. Dan ketika aku kembali, aku akan membawa keadilan."
Ia berjalan melewati pohon beringin. Ia berjalan melewati Sendang Kiskenda. Ia berjalan melewati kebun teh dan sawah-sawah yang hijau.
Ki Guno—dari alam lain—mengikuti langkahnya. Ia tidak bisa dilihat, tapi ia hadir.
"Jangan menyerah, Nak," bisiknya. "Perjalananmu masih panjang. Ini hanya satu babak dari sekian banyak babak dalam hidupmu."
Panji terus berjalan. Hujan mulai turun. Ia tidak berlindung. Ia tidak berhenti.
Ia hanya berjalan. Dan berjalan. Dan berjalan.
Mintarsih, Jojo, Srintil, Pak Burhan, Pak Tani, Wawan, Bayu, Sari, dan hampir seluruh warga desa berdiri di pinggir jalan, menatap punggung Panji yang semakin menjauh.
Mintarsih tidak bisa berhenti menangis. Jojo menopangnya.
"Tin, kita harus kuat. Panji tidak akan mau melihat kita lemah."
"Aku tahu, Jo. Tapi sakit."
"Sakit. Tapi kita akan berjuang. Untuk Panji. Untuk desa ini."
Pak Tani mengangkat suaranya. "Warga Sumbermaya! Kita tidak akan diam! Kita akan terus berjuang! Sampai Panji kembali!"
"BERJUANG! BERJUANG! BERJUANG!" teriak warga.
Suara mereka menggema di seluruh desa. Mengusir burung-burung yang bertengger di dahan.
Seta dan Rahul mendengar suara itu dari kantor desa. Mereka pucat.
"Mereka bersatu," bisik Seta. "Ini berbahaya."
"Kita belum kalah," kata Rahul. "Panji sudah pergi. Mereka tidak punya pemimpin."
Seta menggeleng. "Jangan remehkan mereka. Rakyat bersatu lebih berbahaya daripada pemimpin yang sendirian."
Panji tiba di kota dua hari kemudian. Ia tidak punya tempat tinggal. Ia tidak punya uang. Ia hanya punya tekad.
Ia duduk di emperan toko, berteduh dari terik matahari. Seorang lelaki tua mendekatinya.
"Nak, kau pengemis?"
Panji menggeleng. "Saya bukan pengemis. Saya sedang mencari kerja."
Lelaki itu tertawa. "Kerja? Di kota ini, kerja tidak mudah. Apalagi untuk orang desa seperti kamu."
"Saya tidak takut sulit, Pak. Saya terbiasa dengan penderitaan."
Lelaki itu terkesima. "Kau punya semangat. Aku suka. Mau ikut aku? Aku punya bengkel las di pinggiran kota. Kerja berat, tapi kau bisa makan."
Panji berdiri. "Saya mau, Pak. Terima kasih."
Lelaki itu mengulurkan tangan. "Namaku Haji Karim. Panggil saja Pak Karim."
"Panji, Pak. Senang berkenalan."
Mereka berjabat tangan. Dan di sanalah, di emperan toko yang panas dan berdebu, babak baru kehidupan Panji dimulai.
Tiga tahun kemudian, Panji sudah menjadi kepala bengkel las milik Pak Karim. Ia belajar banyak tentang bisnis, tentang pengelolaan keuangan, tentang bagaimana bernegosiasi dengan pemasok dan pelanggan.
Ia tidak pernah melupakan desanya. Setiap malam, sebelum tidur, ia memandang ke arah timur—ke arah Desa Sumbermaya, ke arah ibunya, ke arah Mintarsih, ke arah Jojo, ke arah semua yang ia cintai.
"Aku akan kembali," bisiknya. "Tunggu aku."
Di desa, Mintarsih setiap sore duduk di bawah pohon beringin, memandang ke arah jalan barat—berharap melihat Panji pulang.
Jojo terus berjuang bersama warga. Koperasi desa semakin besar. Kebun bersama semakin luas. Seta dan Rahul semakin terdesak.
Tapi badai belum berakhir. Masih banyak yang harus diperjuangkan.
Di kejauhan, di puncak Gunung Selatan, Eyang Jenggala tersenyum.
"Perjalananmu masih panjang, Nak. Tapi kau tidak sendirian. Leluhur selalu bersamamu."
Bintang-bintang di langit berkelap-kelip.
Seperti ribuan mata yang mengawasi. Seperti ribuan doa yang tidak pernah putus.
Bab 28: Pengasingan di Kota Besar
Tiga tahun di kota. Tiga tahun yang terasa seperti tiga puluh. Panji tidak pernah kembali ke Desa Sumbermaya. Bukan karena ia lupa. Bukan karena ia takut. Tapi karena ia belum siap. Masih ada luka yang perlu disembuhkan. Masih ada pelajaran yang perlu dipelajari. Masih ada kekuatan yang perlu dibangun.
Bengkel las milik Pak Karim terletak di pinggiran kota kabupaten, di antara pabrik-pabrik kecil dan gubuk-gubuk kumuh. Tempatnya berdebu, panas, dan bising oleh suara gerinda dan las. Tapi di sanalah Panji belajar tentang kehidupan yang sesungguhnya.
Ia belajar bahwa kemiskinan tidak hanya terjadi di desa. Di kota, orang-orang hidup lebih sesak, lebih lapar, lebih putus asa. Mereka bekerja dari subuh hingga tengah malam, tapi uang yang mereka dapatkan hanya cukup untuk makan sehari. Mereka tinggal di gubuk-gubuk reyot di bantaran sungai yang kotor, berdesakan dengan puluhan keluarga lainnya.
Ia belajar bahwa korupsi tidak hanya dilakukan oleh pejabat desa. Di kota, korupsi adalah sistem. Polisi, hakim, pengusaha, politisi—semua saling terkait dalam jaring-jaring uang dan kekuasaan. Rakyat kecil hanya menjadi korban. Tidak ada keadilan untuk orang miskin. Hanya ada uang.
Ia belajar bahwa perjuangan melawan ketidakadilan tidak cukup hanya dengan bersumpah di gua keramat atau menanam sayur di kebun bersama. Perjuangan butuh strategi, butuh jaringan, butuh pemahaman tentang bagaimana sistem bekerja dan bagaimana melawannya.
Panji tidak lagi menjadi pemuda desa yang naif. Ia tumbuh menjadi pria dewasa dengan pundak yang lebih tegap, mata yang lebih tajam, dan hati yang lebih keras—tapi tidak pernah kejam.
Dan pada suatu malam, ketika ia sedang menyendiri di atap bengkel, memandang bintang-bintang yang redup tertutup polusi kota, ia bertemu dengan seseorang yang akan mengubah cara pandangnya tentang perjuangan.
Pukul enam pagi. Matahari baru terbit. Panji sudah berada di bengkel, membersihkan peralatan las yang akan digunakan hari itu. Tubuhnya kekar oleh pekerjaan fisik selama tiga tahun. Tangannya penuh bekas luka bakar dan sayatan logam.
Pak Karim datang dengan segelas kopi panas. "Nak, kau sudah di sini dari jam berapa?"
Panji tersenyum. "Jam empat, Pak. Ada pesanan pagar besi yang harus selesai hari ini."
Pak Karim menggeleng. "Kau ini kerja seperti orang kesurupan. Istirahat juga butuh, Nak."
"Saya istirahat cukup, Pak. Tidur lima jam sudah lebih dari cukup."
Pak Karim duduk di kursi kayu. "Nak, sudah tiga tahun kau di sini. Kau tidak pernah cerita tentang masa lalumu. Tapi aku bisa lihat dari matamu... kau bukan orang biasa."
Panji berhenti menyapu. "Saya hanya orang desa, Pak. Tidak istimewa."
Pak Karim tertawa. "Orang desa biasa tidak punya tatapan mata seperti itu. Matamu menyala, Nak. Seperti api. Seperti orang yang sedang membawa misi besar."
Panji tidak menjawab. Ia kembali menyapu.
"Terserah," kata Pak Karim. "Kalau kau mau cerita, aku siap mendengar. Kalau tidak, juga tidak apa-apa. Yang penting, kau bekerja dengan jujur. Itu yang aku butuhkan."
Jam istirahat siang. Para pekerja bengkel duduk lesehan di lantai semen, makan bekal masing-masing. Panji duduk di sudut, membuka bungkusan nasi dan sayur asem buatannya sendiri.
Seorang pekerja bernama Bang Ucok, lelaki Medan dengan tubuh tambun dan suara keras, duduk di sampingnya.
"Nji, kau dari mana sebenarnya?" tanya Bang Ucok sambil mengunyah.
"Jawa, Bang."
"Jawa mana?"
Panji tersenyum tipis. "Desa kecil. Tidak terkenal."
"Kenapa merantau ke sini? Kerja di bengkel begini, upahnya kecil, panasnya minta ampun."
Panji mengangkat bahu. "Butuh uang, Bang. Dan belajar."
"Belajar apa? Las? Besi? Tahu sendiri, kerja begini tidak akan membuatmu kaya."
"Belajar tentang kehidupan, Bang. Tentang orang-orang. Tentang bagaimana sistem ini bekerja."
Bang Ucok mengerutkan dahi. "Kamu ini aneh, Nji. Bicaranya kayak mahasiswa. Tapi kerja kayak kuli."
"Saya memang kuli, Bang. Tapi bukan berarti saya tidak boleh berpikir."
Bang Ucok tertawa. "Kamu ini lucu. Aku suka."
Seusai kerja, Panji berjalan ke pemukiman kumuh di belakang bengkel. Ia tinggal di sana, di sebuah gubuk kecil berukuran dua kali dua meter, bersama tiga orang lainnya: Bang Ucok, Bang Amir, dan Pak RT—seorang bapak tua yang sudah sepuh.
Malam itu, Bang Ucok sedang menggoreng tempe di dapur umum. Bang Amir membantu memotong sayur. Pak RT duduk di kursi bambu sambil merokok klobot.
"Nji, kau sudah makan?" tanya Pak RT.
"Belum, Pak. Baru pulang."
"Ayo, makan bareng. Ucok lagi masak."
Mereka berempat makan bersama di meja kayu yang sudah lapuk. Suasananya hangat, meskipun makanan sederhana.
Bang Amir yang biasanya diam tiba-tiba bicara. "Nji, kau tahu tentang penggusuran di bantaran sungai?"
Panji mengangguk. "Aku dengar. Dua minggu lagi, ya?"
"Iya. Kami semua akan diusir. Rumah-rumah ini akan diratakan untuk proyek apartemen mewah."
Pak RT menghela napas. "Aku sudah tinggal di sini tiga puluh tahun. Ini satu-satunya rumah yang aku punya. Kalau diusir, aku tidak punya tempat tinggal."
Panji mengepal. "Tidak ada hukum yang melindungi warga?"
Bang Ucok tertawa pahit. "Hukum? Hukum hanya untuk orang kaya, Nji. Kami rakyat kecil, tidak punya uang, tidak punya koneksi. Siapa yang mau membela kami?"
Panji diam. Ia teringat desanya. Teringat perjuangan melawan Seta dan Rahul. Teringat pengusirannya yang tidak adil.
"Kita bisa melawan, Bang," kata Panji akhirnya.
"Cara apa?" tanya Bang Amir.
"Kita kumpulkan warga. Kita buat petisi. Kita cari bantuan LSM. Kita bawa ke pengadilan."
Pak RT menggeleng. "Sudah banyak yang mencoba, Nji. Semua gagal. Kami sudah lelah."
"Kita tidak boleh lelah, Pak. Kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?"
Bang Ucok menatap Panji. "Kau ini sungguh aneh, Nji. Tapi kata-katamu membakar semangat."
Keesokan harinya, Panji mencari kantor LSM yang membela hak-hak rakyat miskin. Ia bertemu dengan seorang aktivis muda bernama Maya, perempuan berusia dua puluh lima tahun dengan rambut pendek dan kacamata tebal.
Maya menerima Panji di kantornya yang sederhana. "Ada yang bisa saya bantu?"
Panji duduk di kursi plastik. "Saya dari pemukiman kumuh di belakang bengkel las Pak Karim. Warga akan digusur dua minggu lagi. Kami butuh bantuan hukum."
Maya menghela napas. "Kami sudah tahu tentang penggusuran itu. Tapi jujur, kami sedang kewalahan. Banyak kasus seperti ini di kota."
"Jadi tidak ada yang bisa dilakukan?"
Maya menggeleng. "Bukan tidak ada. Tapi butuh waktu. Butuh bukti. Butuh keberanian warga untuk bersuara."
"Warga takut, Mbak. Mereka sudah trauma dengan intimidasi."
Maya menatap Panji. "Kau sendiri, apa kau takut?"
Panji tersenyum tipis. "Takut. Tapi tidak melumpuhkan."
Maya terkesan. "Kau berbeda dari warga lain yang datang ke sini. Kau punya semangat."
"Saya belajar dari desa saya, Mbak. Saya pernah diusir secara tidak adil. Saya tahu rasanya kehilangan rumah."
Maya mengangguk. "Baik. Aku akan bantu. Tapi kau harus jadi koordinator warga. Kumpulkan mereka. Ajak mereka bicara. Bangun keberanian mereka."
"Siap, Mbak."
Malam itu, Panji mengumpulkan warga pemukiman kumuh di lapangan kecil dekat sungai. Hanya dua puluh orang yang datang. Sisanya takut.
Panji berdiri di depan mereka. Lampu minyak menyala redup.
"Bapak, Ibu, saudara-saudara. Kita semua tahu bahwa dua minggu lagi kita akan diusir. Rumah-rumah kita akan diratakan. Kita akan kehilangan tempat tinggal."
Warga berbisik.
"Saya tahu kita takut. Saya juga takut. Tapi jika kita diam, kita akan kehilangan segalanya. Jika kita bersuara, setidaknya kita sudah berusaha."
Seorang ibu angkat tangan. "Nak, apa yang bisa kami lakukan? Kami hanya rakyat kecil. Tidak punya uang. Tidak punya kuasa."
"Kita punya suara, Bu. Kita punya keberanian. Kita punya persatuan."
Bang Ucok ikut bicara. "Aku setuju dengan Panji. Lebih baik berjuang daripada diam dan menangis."
Warga lain mulai mendukung.
Panji melanjutkan, "Saya sudah bertemu dengan LSM. Mereka akan membantu kita secara hukum. Tapi kita harus bersatu. Tanda tangan petisi. Datang ke kantor walikota. Menolak penggusuran secara damai."
Kepala desa setempat, Pak Lurah, yang ikut hadir, berdiri. "Nak, saya dukung usaha ini. Tapi hati-hati. Pengusaha di balik proyek ini punya preman. Mereka tidak segan-segan menggunakan kekerasan."
"Kita tidak takut pada preman, Pak. Kita takut pada keadilan yang tidak berpihak."
Tiga hari kemudian, preman-preman bayaran datang ke pemukiman. Mereka diutus oleh pengusaha properti yang ingin menggusur warga.
Panji sedang berbicara dengan warga ketika lima orang preman masuk dengan pentungan.
"Siapa yang bernama Panji?" teriak preman itu.
Panji maju. "Saya."
Preman itu mendekat. "Kami dengar kau yang memprovokasi warga untuk melawan penggusuran. Kami peringatkan kau, berhenti. Atau kau akan celaka."
Panji tidak mundur. "Saya tidak memprovokasi siapa pun. Saya hanya membantu warga mempertahankan hak mereka."
"Hak? Kalian tidak punya hak! Tanah ini milik pengusaha!"
Bang Ucok maju. "Kami sudah tinggal di sini puluhan tahun! Ini hak kami!"
Preman itu tertawa. "Hak? Di kota ini, tidak ada hak untuk orang miskin!"
Ia mengayunkan pentungan ke arah Panji. Panji menangkapnya dengan tangan kosong. Darah menetes dari telapak tangannya, tapi ia tidak melepaskan.
"Pergi dari sini," kata Panji dengan suara dingin. "Sebelum saya balas."
Preman itu terkejut. Ia tidak menyangka Panji bisa menangkap pentungannya.
"Kau gila, ya?"
"Mungkin. Tapi lebih baik gila daripada pengecut."
Preman-preman itu mundur. Mereka tidak siap dengan perlawanan sekeras ini.
Warga bersorak. Tapi Panji tahu, ini baru awal.
Maya membersihkan luka di tangan Panji. "Kau berani sekali, Nji. Melawan preman bertangan kosong."
Panji meringis. "Tidak ada pilihan, Mbak. Mereka tidak akan mendengar kata-kata."
"Tapi itu berbahaya. Lain kali, jangan lakukan itu."
"Apa yang harus saya lakukan? Diam?"
Maya menghela napas. "Kau ini keras kepala."
"Saya belajar dari desa saya, Mbak. Kadang, keadilan tidak datang dengan sendirinya. Kita harus merebutnya."
Maya menatap Panji. "Nji, kau benar-benar orang desa? Cara bicaramu seperti filsuf."
"Desa saya punya guru yang baik, Mbak. Ki Guno dan Eyang Jenggala."
"Siapa mereka?"
"Guru saya. Mereka sudah meninggal. Tapi ajaran mereka masih hidup di sini." Panji menunjuk dadanya.
Panji duduk di atap bengkel, memandang langit malam yang redup. Polusi kota membuat bintang-bintang sulit terlihat. Tapi ia masih bisa melihat satu bintang yang terang di timur—bintang yang selalu ia anggap sebagai arwah ayahnya.
"Nak," bisik angin. Suara Ki Guno? Suara Eyang Jenggala? Atau hanya imajinasinya?
"Aku masih di sini, Mbah," bisik Panji. "Aku belum menyerah. Tapi aku lelah."
"Kelelahan adalah bagian dari perjuangan, Nak. Istirahatlah sebentar. Tapi jangan berhenti."
"Aku tidak akan berhenti, Mbah. Tapi kadang aku bertanya... apa semua ini berarti? Apa perjuanganku di desa dulu, di pemukiman ini sekarang, akan membawa perubahan?"
"Setiap tetesan air, jika terus jatuh di batu yang sama, suatu hari akan membuat lubang. Perjuanganmu mungkin tidak akan kau lihat hasilnya. Tapi anak cucumu akan merasakannya."
Panji tersenyum. "Terima kasih, Mbah."
Ia memejamkan mata. Angin malam bertiup lembut, membawa bau besi dan debu kota.
Besok, ia akan berjuang lagi.
Dua minggu kemudian, penggusuran tidak terjadi. LSM berhasil mendapatkan perintah pengadilan untuk menghentikan proyek sementara. Warga bersorak. Panji tersenyum lega.
Tapi ia tahu, kemenangan ini sementara. Pengusaha tidak akan menyerah. Mereka akan kembali dengan strategi baru. Dan perjuangan akan terus berulang.
Panji tidak lagi menjadi pemuda desa yang naif. Ia menjadi pejuang yang memahami bahwa ketidakadilan adalah sistem. Dan untuk melawan sistem, butuh lebih dari sekadar keberanian. Butuh strategi. Butuh jaringan. Butuh pendidikan.
Ia memutuskan untuk belajar lebih serius. Ia mengambil kursus malam di universitas terbuka. Ia belajar tentang hukum, tentang ekonomi, tentang politik. Ia ingin memahami musuhnya. Karena hanya dengan memahami musuh, ia bisa mengalahkannya.
Maya sering membantunya. Mereka menjadi teman diskusi. Terkadang, lebih dari sekadar teman. Tapi hati Panji tetap pada Mintarsih. Tidak berubah. Tidak akan pernah berubah.
Di Desa Sumbermaya, Mintarsih setiap sore duduk di bawah pohon beringin, memandang ke arah barat—ke arah kota tempat Panji berada.
"Kapan kau pulang, Nji?" bisiknya.
Dan di langit timur, bintang paling terang berkedip.
Seperti janji yang tidak pernah mati.
Bab 29: Panji Kembali ke Sumbermaya
Lima tahun sejak Panji diusir dari Desa Sumbermaya. Lima tahun yang terasa seperti setengah abad. Wajahnya telah berubah—tidak lagi remaja, tetapi seorang pria dewasa dengan rahang tegas, bahu bidang, dan mata yang lebih tajam. Tapi hatinya tidak berubah. Ia masih mencintai desanya. Masih merindukan ibunya. Masih menyayangi Mintarsih. Masih menganggap Jojo sebagai saudara.
Di kota, ia belajar banyak. Bukan hanya tentang las dan besi, tetapi tentang hukum, ekonomi, politik, dan strategi perlawanan. Ia membaca buku-buku perjuangan, mengikuti diskusi-diskusi di LSM, belajar dari aktivis-aktivis berpengalaman. Ia membangun jaringan dengan orang-orang yang berpikiran sama—jurnalis, pengacara, akademisi, dan politisi bersih.
Ia juga mengumpulkan uang. Tidak banyak, tapi cukup untuk memulai. Cukup untuk membiayai advokasi. Cukup untuk membantu warga desa yang ingin melawan secara hukum.
Pada suatu pagi, ketika matahari baru terbit dan kabut masih menyelimuti kota, Panji memutuskan sudah waktunya pulang. Ia pamit pada Pak Karim, yang menangis haru. Ia pamit pada Bang Ucok, Bang Amir, dan warga pemukiman yang membantunya. Ia pamit pada Maya, yang tersenyum sedih.
"Kau yakin, Nji?" tanya Maya.
Panji mengangguk. "Sudah waktunya, Mbak. Desaku butuh aku."
"Kita akan tetap berhubungan, ya. Kalau butuh bantuan hukum, hubungi aku."
"Terima kasih, Mbak. Untuk semuanya."
Panji naik bus menuju kabupaten, lalu berjalan kaki ke desa. Perjalanan yang dulu ia tempuh dengan hati hancur, kini ia tempuh dengan penuh harapan.
Dan ketika ia tiba di pinggir Desa Sumbermaya, melihat pohon beringin yang masih berdiri kokoh, melihat sawah-sawah yang masih hijau, melihat asap dapur yang mengepul dari rumah-rumah panggung—ia tersenyum.
"Bapak, Mbah Guno, Eyang Jenggala," bisiknya. "Aku pulang."
Srintil sedang duduk di teras rumahnya, menjahit baju yang robek. Rambutnya sudah memutih. Wajahnya keriput. Matanya sayu. Tapi ketika ia melihat sesosok pria berdiri di depan pagar bambu, jantungnya berdegup kencang.
"Nak... Nak... apa itu kau, Nak?"
Panji membuka pagar. Ia berlutut di depan ibunya. "Bu, aku pulang."
Srintil memeluk Panji erat-erat. Ia menangis. Bukan tangis sedih, tapi tangis bahagia yang selama lima tahun ia tahan.
"Nak, ibu kira kau tidak akan kembali. Ibu kira kau mati di kota."
"Maaf, Bu. Aku tidak bisa pulang lebih cepat. Aku harus belajar dulu. Aku harus mempersiapkan diri."
Srintil melepaskan pelukan. Ia menatap wajah Panji. "Kau berubah, Nak. Lebih dewasa. Lebih kuat."
"Tapi aku tetap anak Ibu, Bu. Tidak akan pernah berubah."
Srintil tersenyum. "Mintarsih akan senang. Setiap hari ia ke sini, menunggumu."
Panji terenyuh. "Ia masih setia, Bu?"
"Setia. Tidak pernah berubah. Kau beruntung memilikinya."
Mintarsih sedang duduk di bawah pohon beringin—tempat favoritnya sejak kecil. Matanya menatap ke arah barat, seperti biasa.
Ketika ia melihat sosok pria berjalan ke arahnya, ia tidak percaya. Ia mengucek matanya. Sosok itu masih ada.
"Nji?" bisiknya. "Nji!"
Ia berlari. Panji berlari. Mereka berdua bertemu di tengah lapangan rumput.
Mintarsih memeluk Panji. Ia menangis. "Nji, kau pulang! Aku kira kau sudah lupa padaku!"
Panji memeluknya balik. "Aku tidak akan pernah lupa padamu, Tin. Kamu adalah alasan aku bertahan."
"Kenapa lama sekali? Kenapa tidak pernah mengirim kabar?"
"Aku tidak punya keberanian, Tin. Aku ingin pulang sebagai pemenang, bukan sebagai pecundang."
Mintarsih melepaskan pelukan. Ia menatap wajah Panji. "Sekarang? Apakah kau sudah menjadi pemenang?"
Panji tersenyum tipis. "Belum. Tapi aku sudah punya senjata. Dan kali ini, aku tidak akan kalah."
Jojo sedang di kebun bersama ketika Wawan datang berlari.
"Jo! Jo! Panji pulang!"
Jojo terkejut. Cangkulnya jatuh. Ia berlari ke arah desa.
Ketika ia melihat Panji berdiri di depan rumah Srintil, ia berhenti. Hatinya berdebar. Ada rasa haru, ada rasa bersalah, ada rasa rindu yang selama lima tahun ia pendam.
"Nji," panggilnya pelan.
Panji menoleh. "Jo."
Mereka berdua berdiri diam beberapa saat. Lalu mereka tertawa—lalu mereka berpelukan.
"Nji, maafkan aku. Dulu aku..."
"Sudah, Jo. Tidak usah diulang. Aku sudah memaafkanmu sejak lama."
"Kau tidak berubah, Nji. Masih baik hati."
"Kau juga tidak berubah, Jo. Masih cengeng."
Mereka berdua tertawa. Warga yang menyaksikan ikut tersenyum.
Malam itu, Panji mengumpulkan pemuda adat di balai desa. Wawan, Bayu, Sari, Jojo, dan puluhan pemuda lainnya hadir. Mereka duduk lesehan di lantai, lampu minyak di tengah.
"Kawan," mulai Panji. "Lima tahun lalu, aku diusir secara tidak adil. Seta dan Rahul memfitnahku sebagai pembakar gudang. Tidak ada keadilan untukku saat itu."
Pemuda-pemuda itu mendengar dengan saksama.
"Tapi aku tidak pulang untuk balas dendam. Aku pulang untuk membangun. Aku pulang untuk menyatukan. Aku pulang untuk menunjukkan bahwa kita bisa melawan ketidakadilan tanpa kekerasan, tanpa kebencian, tanpa menjadi seperti mereka."
Wawan angkat tangan. "Nji, apa yang bisa kami lakukan?"
"Pertama, kita buat koperasi desa yang kuat. Kedua, kita daftarkan tanah adat secara hukum. Ketiga, kita laporkan Seta dan Rahul ke polisi atas pemalsuan dokumen dan intimidasi. Keempat, kita ajak warga untuk bersatu."
Bayu mengernyit. "Bukankah itu berbahaya, Nji? Mereka punya preman."
"Kita sudah punya LSM pendamping, pengacara, dan jurnalis. Mereka akan membantu kita. Kita tidak sendirian."
Sari tersenyum. "Aku ikut, Nji. Aku bosan diam."
Jojo mengacungkan tangan. "Aku juga ikut. Kali ini, aku tidak akan ke mana-mana."
Pemuda-pemuda itu bersorak.
Seta duduk di kantor desa. Wajahnya pucat. Rahul mondar-mandir.
"Panji kembali," kata Seta lirih.
Rahul mengepal. "Aku tahu. Aku lihat tadi."
"Bagaimana bisa? Bukankah ia sudah diusir? Bukankah ada perintah dari pengadilan?"
"Perintah pengadilan hanya melarangnya tinggal di desa. Tapi tidak ada yang melarangnya berkunjung."
Seta menghela napas. "Ini bencana. Ia pasti akan melawan kita."
"Kita masih punya preman. Kita bisa..."
"Jangan bodoh, Rahul! Sekarang tidak seperti dulu. Panji pulang dengan membawa LSM dan pengacara. Kalau kita pakai kekerasan, kita yang akan masuk penjara."
"Lalu apa yang harus kita lakukan?"
Seta diam sebentar. "Kita cari kelemahan Panji. Cari tahu apa yang paling ia takuti."
"Ia tidak takut pada apa pun. Aku sudah kenal dia sejak kecil."
"Setiap orang punya kelemahan, Rahul. Bahkan Panji."
Keesokan harinya, Panji pergi ke kantor desa menemui Kades Tirta. Kades Tirta sudah tua. Wajahnya penuh penyesalan.
"Nak Panji, saya..."
Panji menggeleng. "Pak Kades, saya tidak datang untuk menyalahkan. Saya datang untuk meminta kerja sama."
Kades Tirta terkejut. "Kerja sama?"
"Desa ini butuh pemimpin yang jujur. Saya tidak ingin menggantikan Bapak. Saya hanya ingin Bapak berpihak pada rakyat, bukan pada Seta dan Rahul."
Kades Tirta menunduk. "Saya sudah melakukan banyak kesalahan, Nak."
"Semua orang pernah salah, Pak. Yang penting, Bapak mau berubah."
"Apa yang harus saya lakukan?"
"Batalkan semua perjanjian dengan Pak Rahmat. Kembalikan tanah adat kepada warga. Dan dukung kami untuk mendaftarkan tanah adat secara hukum."
Kades Tirta mengangguk. "Saya akan lakukan, Nak. Saya janji."
Jojo dan Wawan diam-diam mengumpulkan bukti tentang pemalsuan dokumen yang dilakukan Seta. Mereka menemukan fakta bahwa Seta telah memalsukan tanda tangan warga untuk pengalihan hak atas tanah.
Maya dari LSM membantu menyusun laporan hukum. Seorang jurnalis dari media nasional tertarik untuk meliput.
Pada suatu siang, di balai desa, Panji mengadakan konferensi pers kecil. Warga hadir. Jurnalis hadir. Seta dan Rahul juga hadir—karena mereka tidak bisa menghindar.
Panji berdiri di podium sederhana.
"Saudara-saudara, selama bertahun-tahun, desa kita dirampok. Tanah adat kita dijual tanpa persetujuan kita. Siapa pelakunya? Seta dan Rahul, dengan dalang di belakang mereka: Pak Rahmat dan Rama."
Seta berdiri. "Itu fitnah!"
Panji menunjukkan tumpukan dokumen. "Ini buktinya. Tanda tangan palsu. Laporan polisi. Keterangan saksi. Semuanya sudah kami kumpulkan."
Rahul pucat. Seta gemetar.
Maya maju. "Kami sudah melaporkan kasus ini ke polisi. Seta dan Rahul akan dipanggil untuk diperiksa."
Warga bersorak.
Seta dan Rahul melarikan diri dari balai desa.
Malam itu, warga desa mengadakan syukuran di balai desa. Mereka menari, menyanyi, makan bersama. Panji duduk di sudut, tersenyum melihat kebahagiaan warganya.
Mintarsih duduk di sampingnya. "Nji, akhirnya kita menang."
Panji menggeleng. "Ini baru awal, Tin. Masih panjang perjuangan kita."
"Tapi setidaknya, Seta dan Rahul tidak akan berani kembali."
"Mereka akan kembali, Tin. Dengan cara yang berbeda. Kita harus tetap waspada."
Jojo datang dengan dua gelas kopi. "Nji, Tin, kalian berdua. Aku bangga pada kalian."
Mintarsih tersenyum. "Jo, kau juga hebat. Tanpamu, bukti Seta tidak akan terkumpul."
Jojo menggaruk kepalanya. "Ah, itu biasa."
Mereka bertiga tertawa.
Panji memandang langit malam. Bintang-bintang bersinar terang. Bintang di timur berkedip—seperti senyum Sastro, Ki Guno, dan Eyang Jenggala.
"Nak, kau telah kembali," bisik angin. "Sekarang selesaikan apa yang kau mulai."
Panji mengangguk dalam hati.
"Bapak, Mbah, Eyang. Aku tidak akan mengecewakan."
Panji kembali ke Desa Sumbermaya bukan sebagai pengungsi, tetapi sebagai pemenang. Ia membawa ilmu, jaringan, dan strategi. Ia tidak lagi sendirian. Ada Mintarsih di sisinya, Jojo di belakangnya, dan warga di sekelilingnya.
Tapi ia tahu, musuh tidak akan menyerah begitu saja. Pak Rahmat masih punya uang. Rama masih punya ambisi. Seta dan Rahul masih punya dendam.
Perang sesungguhnya baru akan dimulai.
Dan Panji sudah siap.
Bab 30: Debat Panji vs Rama di Balai Desa
Kembalinya Panji ke Desa Sumbermaya bagaikan duri dalam daging bagi Pak Rahmat dan Rama. Mereka tidak bisa lagi bergerak bebas. Setiap langkah mereka diawasi. Setiap rencana mereka bocor. Warga yang dulu takut kini mulai berani bersuara.
Seta dan Rahul masih buron. Mereka bersembunyi di kabupaten, menunggu waktu yang tepat untuk kembali. Tapi tanpa mereka, mesin politik Pak Rahmat mulai tersendat.
Rama, yang selama ini hanya jadi boneka, kini harus turun tangan langsung. Ia tidak punya pilihan. Jika proyek pabrik gagal, masa depan politik ayahnya hancur. Jika nama keluarganya tercoreng, ia tidak akan bisa menikah dengan gadis bangsawan seperti yang diimpikan ibunya.
Maka, ketika Panji menantangnya untuk debat publik di balai desa—dihadapan Camat, tokoh masyarakat, dan seluruh warga—Rama menerima. Ia pikir ini kesempatan untuk menghancurkan Panji di depan publik. Ia pikir dengan retorikanya yang halus dan pengetahuannya tentang hukum, ia bisa membungkam pemuda desa itu.
Ia salah.
Hari itu, balai desa penuh sesak. Warga datang dari seluruh penjuru desa, bahkan dari desa-desa tetangga. Mereka ingin melihat pertarungan antara penguasa dan rakyat kecil. Antara modal dan adat. Antara keserakahan dan keadilan.
Camat duduk di kursi kehormatan di depan. Di sampingnya, Kades Tirta yang kini sudah berbalik pihak. Pak Burhan, Pak Tani, Jojo, Mintarsih, Srintil—semua hadir.
Dan di tengah ruangan, dua kursi disediakan. Satu untuk Panji. Satu untuk Rama.
Camat berdiri di podium. Beliau adalah pejabat baru yang belum terkontaminasi pengaruh Pak Rahmat. Wajahnya teduh, suaranya tenang.
"Selamat pagi, warga Desa Sumbermaya dan sekitarnya. Hari ini kita akan menyaksikan debat publik antara saudara Panji, perwakilan warga desa yang menolak proyek pabrik, dan saudara Rama, perwakilan dari PT. Sumber Makmur Sejahtera yang memprakarsai proyek tersebut."
Warga bertepuk tangan.
Camat melanjutkan, "Debat ini bertujuan untuk mencari solusi terbaik bagi desa kita. Bukan untuk saling menjatuhkan. Saya minta kedua belah pihak menjaga ketertiban dan berbicara dengan sopan."
Rama tersenyum percaya diri. Panji tenang.
"Silakan, saudara Rama memulai."
Rama berdiri. Ia mengenakan setelan jas rapi, dasi merah, sepatu mengkilap. Rambutnya disisir rapi. Ia membawa setumpuk dokumen dan laptop.
"Bapak Camat, Bapak Kades, tokoh masyarakat, dan warga desa yang saya hormati."
Ia berhenti sejenak, menatap hadirin.
"Proyek pembangunan pabrik penggilingan padi modern ini bukanlah proyek isapan jempol. Ini adalah proyek yang akan membawa kemakmuran bagi Desa Sumbermaya. Jalan akan diaspal. Listrik akan masuk ke setiap rumah. Anak-anak desa bisa sekolah ke kota dengan beasiswa. Warga bisa bekerja di pabrik dengan gaji layak."
Warga berbisik.
Rama melanjutkan, "Saya tahu ada yang khawatir tentang tanah adat. Tapi saya tegaskan, kami tidak akan mengambil tanah adat. Kami hanya menyewanya. Sewa selama lima puluh tahun. Setelah itu, tanah kembali ke warga. Tidak ada yang hilang. Yang ada hanya keuntungan."
Ia menatap Panji.
"Saudara Panji dan kawan-kawannya menolak proyek ini dengan alasan yang tidak jelas. Mereka bilang tanah adat tidak boleh diganggu. Tapi apa buktinya bahwa tanah itu benar-benar tanah adat? Mana sertifikatnya? Mana bukti kepemilikannya?"
Ia mengangkat dokumen.
"Ini adalah bukti bahwa sebagian besar tanah di timur desa sudah bersertifikat atas nama perorangan. Bukan tanah adat. Bukan tanah komunal. Jadi, alasan Saudara Panji tidak berdasar."
Warga mulai gelisah.
Panji berdiri. Ia tidak memakai jas. Hanya kemeja putih lengan pendek dan celana kain hitam. Rambutnya tidak disisir rapi. Tapi matanya menyala.
"Bapak Camat, Bapak Kades, tokoh masyarakat, dan warga desa yang saya hormati."
Ia berjalan ke tengah.
"Saudara Rama mengatakan bahwa proyek ini akan membawa kemakmuran. Tapi kemakmuran untuk siapa? Untuk warga desa, atau untuk kantongnya sendiri?"
Rama ingin memotong, tapi Camat menggeleng.
Panji melanjutkan, "Saudara Rama mengatakan bahwa tanah di timur desa sudah bersertifikat atas nama perorangan. Benarkah itu? Atau jangan-jangan sertifikat itu diperoleh dengan cara tidak sah?"
Ia mengeluarkan tumpukan dokumen dari tasnya.
"Ini adalah bukti bahwa sertifikat-sertifikat itu diterbitkan tanpa sepengetahuan warga. Tanda tangan warga dipalsukan oleh Seta dan Rahul. Dan Saudara Rama tahu tentang itu. Bahkan, ia yang memerintahkan mereka."
Warga bergemuruh.
Rama pucat. "Itu fitnah! Tidak ada bukti!"
Panji tenang. "Buktinya ada di sini. Saksi juga ada. Jojo, tolong maju."
Jojo berdiri dari kursinya. Ia berjalan ke depan.
Jojo berdiri di samping Panji. Wajahnya tegang, tapi matanya mantap.
"Nama saya Jojo. Saya dulu bekerja untuk Rama. Saya yang mengumpulkan tanda tangan warga, yang mengatur pembayaran kepada Seta dan Rahul. Saya tahu persis bagaimana sertifikat itu dipalsukan."
Rama berdiri. "Dia pembohong! Dia mantan karyawan yang dipecat karena mencuri!"
Jojo tidak terpengaruh. "Saya tidak mencuri, Rama. Anda sendiri yang memerintahkan saya untuk memalsukan dokumen. Saya punya rekaman percakapan kita sebagai bukti."
Jojo mengeluarkan USB dari sakunya. "Ini rekamannya. Sudah saya serahkan ke pengacara LSM."
Rama terdiam. Wajahnya merah padam.
Camat memanggil kedua belah pihak. "Saudara Rama, apakah Anda mengakui bahwa dokumen-dokumen ini dipalsukan?"
Rama diam.
Camat menghela napas. "Saudara Panji, apakah Anda punya saksi lain?"
Panji mengangguk. "Warga desa yang tandatangannya dipalsukan siap bersaksi."
Pak Tani berdiri dari kursinya. Wajahnya tua, jalannya tertatih. Tapi suaranya lantang.
"Saya Pak Tani. Tanah saya di timur desa, tiga hektar, yang katanya sudah bersertifikat atas nama orang lain. Saya tidak pernah menandatangani apa pun. Saya tidak pernah setuju tanah saya dijual."
Ia menatap Rama.
"Anak muda, kau pikir dengan uang kau bisa beli segalanya? Kau salah. Tanah ini warisan leluhur. Saya lebih baik mati daripada kehilangan tanah ini."
Warga bertepuk tangan.
Rama menggertakkan gigi.
Pak Burhan juga berdiri. "Saya Pak Burhan. Tanah saya juga dipalsukan tanda tangannya. Saya saksi. Saya siap sumpah di depan Tuhan."
Mintarsih berdiri. "Saya Mintarsih. Ayah saya, Kartiman, dipaksa berutang agar tanahnya bisa diambil. Saya saksi."
Satu per satu warga berdiri, bersaksi.
Rama pucat. Ia tidak punya jawaban.
Camat berdiri. Wajahnya serius.
"Saudara Rama, setelah mendengar kesaksian para saksi dan melihat bukti-bukti yang diajukan Saudara Panji, saya menyimpulkan bahwa proyek pembangunan pabrik di timur desa ini tidak dapat dilanjutkan."
Warga bersorak.
Camat melanjutkan, "Saya akan merekomendasikan kepada Bupati untuk mencabut izin proyek ini. Dan saya akan melaporkan kasus pemalsuan dokumen ini ke polisi untuk diproses lebih lanjut."
Rama berdiri. "Ini tidak adil! Saya akan banding! Ayah saya akan..."
Camat memotong. "Saudara Rama, Anda bebas untuk banding. Tapi untuk saat ini, proyek ini dihentikan."
Rama terdiam. Ia melihat sekeliling. Semua warga menatapnya dengan mata penuh kebencian.
Ia tidak punya pilihan. Ia berjalan keluar dari balai desa dengan kepala tertunduk.
Warga bersorak lebih keras.
Warga berdesakan mengelilingi Panji. Mereka berterima kasih, memeluknya, menangis.
Mintarsih menangis di bahu Panji. "Kau berhasil, Nji. Kau berhasil."
Panji tersenyum. "Kita berhasil, Tin. Bukan aku."
Jojo mendekat. "Nji, maafkan aku. Dulu aku..."
Panji memeluk Jojo. "Sudah, Jo. Tidak usah diulang. Kau sudah membayar kesalahanmu. Lebih dari cukup."
Pak Burhan menepuk bahu Panji. "Nak, kau membuat almarhum ayahmu bangga."
Pak Tani mengusap air matanya. "Aku tidak salah memilihmu sebagai pemimpin, Nji."
Srintil yang sejak tadi duduk di sudut, hanya tersenyum. Air matanya jatuh. Tapi hatinya bahagia.
Malam itu, rumah Panji penuh dengan tamu. Mintarsih memasak di dapur. Jojo membantu menyiapkan meja. Pak Burhan dan Pak Tani duduk di teras, bercerita tentang masa muda.
Panji duduk di kursi bambu, memandang langit malam.
"Ibu," panggilnya.
Srintil mendekat. "Ya, Nak?"
"Aku rindu Bapak."
Srintil duduk di sampingnya. "Bapakmu juga rindu padamu. Tapi ia pasti bangga. Lihatlah apa yang sudah kau capai."
"Masih panjang, Bu. Ini baru awal."
"Tapi kau sudah di jalan yang benar, Nak. Itu yang penting."
Panji memegang tangan ibunya. "Bu, aku janji tidak akan pergi lagi."
Srintil tersenyum. "Ibu tidak akan melarangmu pergi, Nak. Tapi janji, kau akan kembali."
"Janji, Bu."
Tiga hari kemudian, Rama dan Pak Rahmat meninggalkan Desa Sumbermaya untuk selamanya. Mereka tidak mengucap salam perpisahan. Mereka tidak menatap mata warga. Mereka hanya pergi—dengan mobil mewah yang sama seperti saat pertama kali datang.
Seta dan Rahul masih buron. Polisi sudah memasukkan mereka ke dalam daftar pencarian orang. Suatu hari nanti, mereka akan tertangkap. Suatu hari nanti, keadilan akan ditegakkan.
Tapi untuk saat ini, Desa Sumbermaya bernapas lega.
Panji tidak berhenti di sini. Ia terus membangun koperasi, terus mengadvokasi tanah adat, terus mengajarkan ilmu yang ia peroleh selama di kota.
Ia juga mulai dekat dengan Mintarsih secara lebih serius. Bukan hanya sebagai teman. Bukan hanya sebagai saudara. Tapi sebagai kekasih.
Jojo ikhlas. Ia sudah menemukan kedamaian. Ia membantu Panji dengan senang hati, tanpa rasa iri. Ia tahu, kebahagiaan tidak harus memiliki. Kebahagiaan adalah melihat orang yang dicintai bahagia.
Pada suatu sore, di bawah pohon beringin, Panji memegang tangan Mintarsih.
"Tin," katanya pelan.
"Apa, Nji?"
"Menikahlah denganku."
Mintarsih terkejut. "Nji..."
"Aku tidak punya rumah bagus. Aku tidak punya tanah luas. Tapi aku punya cinta. Dan cinta itu akan kuberikan padamu setiap hari, sampai mati."
Mintarsih menangis. "Nji, aku sudah menunggumu sejak kita kecil. Kau tahu itu."
"Maaf membuatmu menunggu."
"Kau bodoh, Nji."
"Aku tahu."
Mereka berdua berpelukan di bawah pohon beringin, di tempat yang sama di mana mereka dulu bertiga berjanji setia.
Di kejauhan, Jojo melihat dari balik semak. Ia tersenyum. Air matanya jatuh. Tapi kali ini, bukan air mata sakit hati. Air mata bahagia.
"Selamat, Nji, Tin," bisiknya. "Kalian pantas bahagia."
BAB 31: JOJO MENEBUS DOSA
Kemenangan atas Rama dan Pak Rahmat bukanlah akhir dari perjuangan. Bagi Jojo, ini adalah awal dari pertempuran batin yang paling berat. Ia telah membantu Panji mengungkap kejahatan Seta dan Rahul. Ia telah memberikan bukti rekaman yang menjadi senjata ampuh di pengadilan. Tapi ia tahu, itu belum cukup.
Ia masih punya dosa yang belum ditebus. Bukan dosa kepada Panji—itu sudah ia minta maaf. Bukan dosa kepada Mintarsih—itu sudah ia akui. Tapi dosa kepada warga desa yang selama ini ia khianati dengan diam-diam memberikan informasi kepada Rama. Dosa kepada ayahnya yang selalu percaya padanya meskipun ia sering mengecewakan. Dosa kepada dirinya sendiri karena membiarkan kecemburuan dan ambisi membutakan hatinya.
Jojo tidak bisa hidup dengan beban itu selamanya.
Suatu malam, setelah lama bergelut dengan pikirannya sendiri, ia memutuskan untuk melakukan sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya: mengaku di depan umum.
Ia akan berdiri di balai desa, di hadapan seluruh warga, dan menceritakan semua kesalahannya. Tanpa disembunyikan. Tanpa dibumbui. Tanpa mencari simpati.
Ia siap dihakimi. Ia siap dimusuhi. Ia siap diusir.
Karena ia tahu, hanya dengan cara itulah ia bisa benar-benar merdeka.
Malam itu, desa Sumbermaya sunyi. Hanya suara jangkrik dan sesekali anjing menggonggong di kejauhan.
Jojo duduk di samping Pak Burhan di teras rumah mereka. Api unggun kecil menyala dari sisa-sisa kayu bakar yang masih membara. Udara dingin menusuk tulang, tapi Jojo tidak merasa kedinginan. Yang ia rasakan hanyalah getar di dadanya—debaran jantung yang tidak karuan.
"Pak," panggil Jojo pelan.
"Iya, Nak." Pak Burhan menatap anaknya. Wajahnya tenang, tapi matanya waspada. Ia tahu Jojo sedang memikirkan sesuatu yang berat.
"Pak, aku mau bicara sesuatu."
"Bicara, Nak. Bapak dengar."
Jojo mengambil napas panjang. Udara malam yang dingin memenuhi paru-parunya. Ia menatap api unggun yang mulai redup.
"Pak, aku mau mengaku di depan umum. Semua kesalahanku. Tentang aku yang memberikan informasi ke Rama. Tentang aku yang memfitnah Panji di belakang. Tentang aku yang... yang menjadi mata-mata Seta."
Pak Burhan diam. Lalu ia menghela napas panjang—napas yang keluar dari dadanya yang paling dalam.
"Jo, kau yakin?"
"Yakin, Pak. Aku tidak bisa hidup dengan kebohongan terus. Aku ingin bebas."
"Kau tahu risiko?" tanya Pak Burhan. Suaranya bergetar. "Warga bisa marah. Mereka bisa mengusirmu. Mereka bisa..."
"Aku tahu, Pak. Aku siap."
Pak Burhan memegang bahu Jojo. Genggamannya kuat. Lebih kuat dari biasanya.
"Nak, Bapak bangga padamu. Bukan karena kau mau mengaku. Tapi karena kau sudah berubah. Itu yang terpenting."
Jojo menangis. Air matanya jatuh ke pangkuan.
"Pak, maafkan aku. Aku sudah banyak mengecewakan."
Pak Burhan memeluk Jojo. "Bapak sudah memaafkanmu sejak lama, Nak. Sejak kau pertama kali pulang ke desa dengan tubuh kurus dan hati remuk. Bapak sudah memaafkanmu. Sekarang kau harus minta maaf pada warga. Pada Panji. Pada Mintarsih. Pada semua yang kau sakiti."
Jojo terisak di bahu ayahnya. "Aku takut, Pak."
"Takut apa?"
"Aku takut mereka tidak mau memaafkanku. Aku takut mereka mengusirku. Aku takut... aku takut kehilangan desa ini lagi."
Pak Burhan melepaskan pelukan. Ia menatap mata Jojo.
"Nak, dengar. Bapak tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Bapak tidak tahu apakah warga akan memaafkanmu atau tidak. Tapi Bapak tahu satu hal: kau sudah melakukan bagianmu. Kau sudah berani mengaku. Selebihnya, biarlah waktu yang menjawab."
Jojo mengangguk.
"Dan ingat, Nak. Apa pun yang terjadi besok, Bapak akan selalu ada di sampingmu. Bapak tidak akan pernah meninggalkanmu lagi."
Keesokan harinya, langit cerah. Matahari baru terbit. Kabut tipis masih menyelimuti desa.
Jojo pergi ke rumah Panji. Mintarsih sedang membantu Srintil memasak di dapur. Aroma sayur asem menyeruak dari dalam.
"Nji," panggil Jojo dari pintu.
Panji yang sedang memperbaiki pagar bambu di halaman depan menoleh. Tangannya memegang palu dan sebatang paku. Keringat membasahi dahinya.
"Jo, masuk."
Jojo masuk. Ia duduk di kursi bambu di teras. Wajahnya tegang. Tangannya gemetar.
"Nji, aku mau minta tolong."
Panji meletakkan palu dan paku. Ia duduk di samping Jojo.
"Apa?"
"Besok, aku mau mengaku di balai desa. Di depan semua warga. Aku mau cerita semua kesalahanku. Aku mau... kau hadir di sana."
Panji menatap Jojo. Matanya tidak berkedip.
"Jo, kau yakin?"
"Yakin. Aku tidak bisa terus begini. Aku ingin hidup tenang."
Panji tersenyum. "Jo, kau hebat. Tidak semua orang punya keberanian seperti itu."
"Aku tidak hebat, Nji. Aku hanya lelah bersembunyi."
"Mintarsih tahu?" tanya Panji.
"Belum. Aku mau bilang nanti."
Panji memegang bahu Jojo. "Aku akan ada di sampingmu, Jo. Apa pun yang terjadi. Jika mereka mau memukulmu, aku akan di depan. Jika mereka mau mengusirmu, aku akan ikut."
Jojo menangis. "Nji, jangan. Ini tanggung jawabku sendiri. Aku tidak ingin menyeretmu."
"Ini bukan menyeret, Jo. Ini namanya persahabatan. Kita bertiga, selamanya. Ingat janji kita?"
Jojo mengusap air matanya. "Aku ingat, Nji. Aku tidak akan pernah lupa."
Mintarsih sedang menyiram tanaman di belakang rumah. Daun-daun cabai dan tomat basah oleh percikan air dari gayungnya. Ia menyanyi kecil, riang.
Jojo mendekati dari belakang. Langkahnya pelan, hampir tidak bersuara.
"Tin," panggilnya.
Mintarsih menoleh. "Jo, ada apa? Kok mukanya pucat?"
"Tin, aku mau minta maaf."
Mintarsih meletakkan gayungnya. Ia menatap Jojo. Ada yang berbeda dari wajah sahabatnya itu. Matanya tidak lagi kosong seperti saat pertama kali ia kembali ke desa. Tapi ada beban di sana. Beban yang tidak bisa ia lihat, tapi bisa ia rasakan.
"Minta maaf untuk apa?"
Jojo menunduk. "Untuk semuanya. Selama ini aku menyimpan perasaan padamu. Tapi bukan itu yang paling salah. Yang paling salah adalah aku pernah membantu Seta dan Rahul. Aku pernah memberikan informasi tentang desa ini kepada Rama. Aku pernah..."
Mintarsih memotong. "Jo, aku sudah tahu."
Jojo terkejut. Wajahnya mendadak pucat. "Kamu tahu?"
"Aku sudah tahu sejak lama. Sejak kau pertama kali kembali ke desa dan Panji membelamu di balai desa. Aku tahu dari matamu bahwa kau menyembunyikan sesuatu."
"Kenapa... kenapa kau tidak bilang?"
Mintarsih menghela napas. "Karena aku tahu kau berubah, Jo. Dan karena aku sayang padamu sebagai saudara. Aku tidak ingin menghakimimu. Aku hanya ingin kau menemukan keberanian untuk mengaku sendiri."
Jojo menangis. Air matanya jatuh ke tanah yang basah.
"Tin, maafkan aku. Aku bodoh. Aku..."
Mintarsih memeluk Jojo. "Sudah, Jo. Aku sudah memaafkanmu. Sejak kau mengakui kesalahanmu pada Panji. Sejak kau membantu kami melawan Seta dan Rahul. Aku sudah memaafkanmu."
"Terima kasih, Tin. Kau baik sekali."
"Tidak, Jo. Aku hanya manusia biasa yang juga pernah salah. Dulu aku pernah hampir menikah dengan Rama karena takut. Aku hampir mengkhianati cintaku pada Panji. Tapi Panji memaafkanku. Dan sekarang aku memaafkanmu."
Mereka berdua berpelukan di belakang rumah. Angin pagi bertiup. Daun-daun cabai bergoyang.
Besoknya, balai desa kembali penuh. Warga datang sejak pagi, bahkan sebelum matahari terbit. Mereka mendengar ada pengumuman penting. Ada yang datang dengan penasaran, ada yang dengan kemarahan, ada yang dengan kekhawatiran.
Camat tidak hadir. Tapi Kades Tirta dan tokoh masyarakat hadir. Pak Tani duduk di kursi rodanya di barisan depan. Wawan, Bayu, dan Sari duduk di sampingnya. Panji duduk di kursi kedua, di samping Mintarsih. Pak Burhan duduk di kursi paling depan, di sebelah kiri podium—dekat dengan anaknya.
Jojo berdiri di podium.
Tangannya gemetar. Wajahnya pucat. Keringat dingin membasahi dahinya. Tapi ia berdiri tegak. Ia tidak membungkuk. Ia tidak menunduk.
Ia telah mengambil keputusan. Tidak ada jalan mundur.
"Saudara-saudara, warga Desa Sumbermaya yang saya hormati."
Warga berbisik. Suasana tegang. Mereka tidak biasa melihat Jojo berbicara di depan umum. Biasanya ia pendiam, pemalu, dan sering menghindari keramaian.
"Saya berdiri di sini bukan untuk menyombongkan diri. Saya berdiri di sini untuk mengaku."
Warga terdiam. Bahkan anak-anak kecil yang biasanya ribut, ikut diam.
"Saya telah melakukan banyak kesalahan. Saya dulu membantu Seta dan Rahul. Saya memberikan informasi tentang desa ini kepada Rama. Saya memfitnah Panji di belakang. Saya... saya adalah mata-mata mereka."
Warga bergemuruh.
Pak Tani berdiri dari kursi rodanya. Wajahnya merah padam. Matanya melotot.
"Jojo! Kau pikir dengan mengaku di depan umum, dosamu akan hilang?! Kau pengkhianat! Kau tidak pantas hidup di desa ini!"
Seorang bapak dari barisan belakang berteriak, "Dulu tanah kita hampir hilang karena ulahmu!"
Seorang ibu melepas sandalnya dan melemparkannya ke arah Jojo. Sandal itu mengenai bahu Jojo. Ia tidak bergerak. Ia tetap berdiri.
"Pengkhianat! Usir dia!"
"Usir! Usir! Usir!"
Beberapa pemuda maju ke depan. Wawan dan Bayu mencoba menahan, tapi jumlah mereka terlalu banyak. Mereka mendorong kursi-kursi, melewati barisan, berjalan ke arah podium.
Jojo tidak mundur. Ia tetap berdiri.
"Saya tahu kata maaf tidak cukup. Saya tahu saya pantas dihukum. Tapi saya ingin kalian tahu... saya berubah. Saya tidak akan mengulangi kesalahan yang sama."
Seorang pemuda—Galih—meraih kerah baju Jojo. "Kau pikir dengan bicara manis, kami akan percaya?"
Jojo tidak melawan. Ia hanya menatap mata Galih.
"Saya tidak minta kalian percaya sekarang. Saya hanya minta kalian memberi saya kesempatan untuk membuktikan."
"Kesempatan?" Galih tertawa pahit. "Kau sudah habis kesempatanmu!"
Ia mengangkat tinjunya.
"Berhenti!"
Suara Panji memecah keramaian. Ia berdiri. Ia berjalan ke podium dengan langkah tegas. Tidak tergesa. Tidak ragu.
Semua mata tertuju padanya.
"Saudara-saudara, dengarkan saya!"
Warga mulai tenang. Perlahan. Seperti ombak yang surut.
"Saya tahu kalian marah. Saya juga marah dulu. Ketika pertama kali tahu bahwa Jojo adalah mata-mata Seta dan Rahul, saya ingin memukulnya. Saya ingin mengusirnya. Saya ingin ia merasakan apa yang saya rasakan."
Ia berhenti sejenak. Menatap satu per satu wajah warga.
"Tapi kemudian saya ingat ajaran leluhur. Jojo sudah berubah. Ia sudah membantu kita mengungkap kejahatan Seta dan Rahul. Ia sudah memberikan bukti rekaman yang sangat berharga. Tanpanya, kita mungkin tidak akan menang melawan Rama dan Pak Rahmat."
Pak Tani masih tidak puas. "Dia tetap pengkhianat, Nji! Bukti rekaman itu tidak menghapus kesalahannya di masa lalu!"
"Pak Tani, bukankah kita semua pernah salah?" Panji menatap Pak Tani. "Siapa di sini yang tidak pernah berbohong? Siapa di sini yang tidak pernah iri? Siapa di sini yang suci?"
Pak Tani terdiam.
"Saya tidak memaksa kalian untuk memaafkan Jojo. Saya tidak punya hak untuk itu. Tapi saya minta kalian memberi dia kesempatan. Buktikan bahwa desa kita lebih baik dari mereka. Buktikan bahwa kita bisa memaafkan. Buktikan bahwa kita tidak seperti Seta dan Rahul yang kejam dan pendendam."
Mintarsih berdiri dari kursinya. Wajahnya tenang. Matanya berkaca-kaca.
"Saya juga memaafkan Jojo. Ia saudara saya. Dan saudara tidak dibuang."
Pak Burhan berdiri dari kursi paling depan. Langkahnya tertatih. Wajahnya basah oleh air mata.
"Jojo anak saya. Saya tahu ia banyak salah. Saya tahu ia sudah mengecewakan kalian. Saya tahu ia sudah mencoreng nama baik desa ini. Tapi ia sudah berubah. Tolong... tolong beri dia kesempatan."
Suaranya pecah. Ia terisak di depan semua orang.
Wawan, Bayu, dan Sari yang sejak tadi diam, akhirnya berdiri.
"Kami juga memaafkan Jojo," kata Wawan. "Kami tahu ia sudah berusaha."
Warga mulai berbisik. Ada yang setuju, ada yang tidak. Suasana terpecah.
Seorang pemuda—yang tidak dikenal namanya, mungkin dari desa tetangga yang ikut menyaksikan—berdiri.
"Saya usul, kita hukum Jojo dengan cara adat. Ia harus membersihkan Sendang Kiskenda sendirian. Sendang adalah tempat suci. Dengan membersihkannya, ia membersihkan dosanya. Itu sudah hukuman berat."
Warga mulai berbisik setuju.
Kades Tirta berdiri. "Usulan itu bagus. Jojo, apakah kau bersedia?"
Jojo mengangguk. "Saya bersedia, Pak. Apa pun."
Panji maju selangkah. "Saya akan mendampingi Jojo. Karena dia saudara saya."
Warga mulai mengangguk. Pak Tani yang masih duduk di kursi rodanya, akhirnya mengangguk pelan.
"Baiklah," kata Kades Tirta. "Mulai besok pagi, Jojo akan membersihkan Sendang Kiskenda. Hukuman berlangsung selama tiga hari. Setelah itu, kita lihat apakah ia benar-benar berubah."
Warga bersorak—bukan sorak kemenangan, tapi sorak lega. Mereka tidak perlu mengusir Jojo. Mereka tidak perlu melakukan kekerasan. Hukuman adat sudah cukup.
Malam itu, Jojo tidak bisa tidur.
Ia berbaring di kasurnya yang tipis. Mata terbuka lebar. Menatap langit-langit yang gelap. Lampu minyak di samping tempat tidurnya sudah padam sejak sejam lalu, tapi ia tidak menghidupkannya kembali.
Besok pagi, ia akan memulai hukuman adatnya. Ia akan membersihkan Sendang Kiskenda—sendang yang dulu ia kunjungi bersama Panji dan Mintarsih ketika masih kecil. Sendang yang menjadi saksi bisu persahabatan mereka. Sendang yang airnya selalu jernih, selalu tenang, selalu damai.
Ia takut.
Bukan takut pada kerja fisik. Ia sudah terbiasa bekerja keras di kebun bersama. Tangannya sudah kapalan. Bahunya sudah kuat.
Tapi takut pada tatapan warga. Takut pada ejekan. Takut pada batu yang mungkin akan dilempar lagi—seperti saat ia pertama kali kembali ke desa dalam keadaan hancur, ketika warga melempari dia dengan batu dan sandal.
Ia duduk di tepi kasur. Ia memegang uang kepeng di sakunya.
Uang kepeng yang dulu menjadi bukti sumpah mereka—Panji, Mintarsih, dan dirinya. Uang kepeng yang hampir ia buang ke semak-semak di bawah pohon beringin, ketika ia memutuskan untuk pergi bersama Rama. Tapi ia tidak jadi. Ia menyimpannya. Entah mengapa.
Uang kepeng yang selalu ia bawa ke mana pun. Sebagai pengingat. Pengingat akan kesalahan. Pengingat akan penyesalan. Pengingat akan persahabatan yang dulu pernah begitu indah.
Ia menggenggam uang kepeng itu erat-erat. Logamnya dingin di telapak tangannya.
"Panji," bisiknya. "Apa yang kau lihat dalam diriku? Kenapa kau masih mau membelaku setelah semua yang kulakukan?"
Ia teringat kata-kata Panji ketika mereka duduk di bawah pohon beringin, beberapa hari setelah ia kembali ke desa.
"Jo, memaafkan bukan tentang melupakan. Aku tidak akan pernah melupakan bahwa kau pergi, bahwa kau memihak Rama, bahwa kau sempat membenciku. Tapi memaafkan adalah tentang memilih untuk tidak membiarkan masa lalu mengendalikan masa depan. Aku memilih untuk memaafkanmu, Jo. Bukan karena kau pantas. Tapi karena aku lelah membawa beban ini."
Jojo menggenggam uang kepeng itu lebih erat.
"Beban apa, Nji?"
"Beban marah. Beban kecewa. Beban sakit hati. Selama bertahun-tahun aku menyimpannya, dan itu membuatku tidak bisa benar-benar bahagia."
Jojo menangis.
"Aku tidak tahu bagaimana rasanya, Nji. Aku tidak sekuat dirimu. Aku tidak sepintar dirimu. Aku tidak sebaik dirimu. Tapi aku akan belajar. Aku akan membersihkan sendang ini. Aku akan membersihkan hatiku."
Ia berbaring kembali. Ia memejamkan mata.
"Tolong aku, Tuhan. Aku tidak tahu caranya. Tapi tolong aku. Tolong beri aku kekuatan."
Air matanya mengalir ke bantal. Membasahi kain tipis yang sudah lusuh.
Di luar jendela, bintang-bintang bersinar terang. Tidak ada yang jatuh malam itu. Hanya bersinar—seperti ribuan mata yang mengawasi, seperti ribuan doa yang belum terjawab.
Keesokan paginya, Jojo pergi ke Sendang Kiskenda. Ia hanya membawa sapu lidi dan kain lap. Tidak ada yang lain. Tidak ada bekal. Tidak ada air minum.
Panji sudah menunggu di tepi sendang. Ia duduk di bawah pohon rindang, membawa dua bungkus nasi dan sebotol air.
"Nji, kau tidak usah ikut. Ini hukuman aku," kata Jojo. Suaranya serak. Matanya sembab karena semalam tidak tidur.
Panji menggeleng. "Aku tidak ikut membersihkan. Aku hanya menemanimu. Itu berbeda."
"Tapi..."
"Tidak ada tapi." Panji memotong. "Jo, kau saudaraku. Saudara tidak boleh dibiarkan sendirian dalam kesulitan."
Jojo tersenyum tipis. "Kau keras kepala, Nji."
"Kamu juga. Tapi setidaknya keras kepalaku untuk hal yang benar."
Mereka berdua tertawa kecil—tawa yang teredam, tawa yang masih ragu, tapi tawa tetap tawa.
Jojo mulai bekerja.
Ia membersihkan lumut dari batu-batu di tepi sendang. Lumutnya tebal, licin, membandel. Ia menggosok dengan kain lap, lalu menyekanya dengan sapu lidi.
Ia menyapu daun-daun kering yang berguguran dari pohon beringin. Daunnya banyak. Menumpuk di tepi air. Membusuk. Berbau.
Ia mengambil sampah-sampah kecil yang tersangkut di sela-sela bebatuan—bungkus permen, puntung rokok, pecahan kaca. Sampah yang dulu mungkin ia buang tanpa berpikir.
Pekerjaan itu sederhana. Tapi di bawah terik matahari, dengan punggung yang terus membungkuk, cepat atau lambat akan terasa berat. Terik matahari membakar kulitnya. Keringat bercucuran dari dahi, jatuh ke tanah, menguap.
Sekitar pukul sepuluh pagi, beberapa warga mulai datang. Mereka berdiri di kejauhan, di bawah pohon-pohon rindang, menonton. Ada yang masih marah, ada yang hanya penasaran, ada yang sudah mulai iba.
Seorang bapak—Pak Karta, suami Bu Karta—berteriak dari kejauhan.
"Jojo, kau pikir dengan membersihkan sendang, dosamu akan hilang? Tidak semudah itu! Dulu tanahku hampil hilang karena ulah Seta! Dan kau adalah bagian dari itu!"
Jojo tidak menjawab. Ia terus bekerja. Tangannya tidak berhenti.
Seorang ibu membalas, "Biarkan saja, Pak. Lebih baik ia membersihkan sendang daripada diusir. Setidaknya ia mau bertanggung jawab. Itu lebih dari yang dilakukan Seta dan Rahul!"
Pak Karta mendengus. Ia meludah ke arah sendang—ludahnya jatuh di dekat kaki Jojo. Jojo tidak bergerak. Ia hanya diam.
Panji yang duduk di bawah pohon rindang di tepi sendang, hanya diam. Ia tidak ikut campur. Ia tidak membela Jojo. Biarkan warga menyampaikan apa yang mereka rasakan. Itu bagian dari proses. Itu bagian dari hukuman.
Pada siang hari, matahari berada tepat di atas kepala. Panasnya menyengat. Kulit Jojo terasa seperti terbakar. Bibirnya mulai pecah-pecah karena kekurangan air.
Ia duduk di tepi sendang, melepaskan penat sejenak. Tangannya melepuh. Bahunya pegal. Punggungnya terasa seperti patah.
Tapi ia tidak berhenti. Ia hanya istirahat sebentar. Lima menit. Lalu ia akan kembali bekerja.
Seorang anak kecil mendekatinya.
Dewi—gadis kecil berusia sekitar sepuluh tahun, murid sekolah adat modern yang dulu diajar Panji. Rambutnya diikat dua ke belakang dengan pita merah. Matanya besar dan jernih.
Ia membawa sebotol air. Botol plastik bekas, bersih, diisi air jernih dari sumur desa.
"Om Jojo," panggilnya pelan.
Jojo menoleh. "Dewi?"
"Ini air. Minum dulu, Om. Nanti kedinginan."
Jojo terkejut. Ia menatap anak itu. Matanya berkaca-kaca. "Dewi... kau... kau tidak marah padaku?"
Dewi menggeleng. Matanya polos. "Ayah bilang, Om Jojo sudah berubah. Orang yang berubah harus diberi kesempatan."
Jojo tidak bisa menahan air matanya. Ia menangis. Di depan anak kecil. Di depan warga yang menonton. Ia tidak peduli.
Ia menerima botol air itu dengan tangan gemetar.
"Terima kasih, Dewi. Terima kasih."
Dewi tersenyum. "Sama-sama, Om." Ia berlari kecil kembali ke ibunya yang berdiri di kejauhan.
Jojo memandang botol air di tangannya. Masih dingin. Masih segar. Ada embun di permukaannya.
"Ini," bisiknya. "Ini yang aku cari. Bukan pengampunan. Tapi penerimaan."
Ia meneguk air itu. Dingin menyegarkan tenggorokannya. Menyegarkan hatinya.
Ia berdiri. Ia kembali bekerja.
Hari kedua, lebih banyak warga yang datang. Tidak hanya menonton, tetapi juga membantu. Bukan membantu Jojo membersihkan sendang—itu tidak diperbolehkan karena itu adalah hukumannya. Tapi mereka membawa makanan, air minum, dan kadang sekadar duduk di tepi sendang menemani.
Ada yang membawa pisang rebus. Ada yang membawa singkong goreng. Ada yang membawa nasi bungkus. Mereka meletakkan makanan itu di dekat tempat Jojo bekerja, tanpa bicara. Lalu mereka pergi.
Jojo tidak sempat berterima kasih. Mereka sudah menghilang.
Pada sore hari, ketika matahari mulai condong ke barat, Pak Tani datang.
Ia diantar oleh Wawan dan Bayu dengan kursi rodanya. Wajahnya masih keras. Matanya masih tajam. Kerutan di dahinya masih dalam. Tapi ia tidak berteriak. Ia tidak meludah. Ia hanya diam.
Ia duduk di kursi kayu yang dibawa oleh Wawan. Di pinggir sendang. Tidak jauh dari tempat Jojo bekerja.
Jojo terus membersihkan lumut. Ia tidak berani menatap Pak Tani. Ia hanya menunduk. Tangannya terus bekerja.
Satu jam.
Pak Tani tidak bicara. Ia hanya menatap. Menatap Jojo yang membungkuk, yang tangannya melepuh, yang punggungnya pegal.
Dua jam.
Pak Tani masih diam.
Jojo mulai gelisah. Ia tidak tahu apa yang ada di pikiran lelaki tua itu. Apakah ia sedang merencanakan hukuman tambahan? Apakah ia sedang mencari cara untuk mengusirnya?
Tiga jam.
Pak Tani akhirnya bicara.
"Jojo, kemari."
Jojo berhenti bekerja. Ia berjalan mendekat. Langkahnya ragu. Wajahnya menunduk. Ia tidak berani menatap mata Pak Tani.
"Pak Tani, saya..."
"Jangan bicara. Dengar."
Jojo diam.
Pak Tani menghela napas panjang. "Aku tidak akan memaafkanmu. Tidak sekarang. Mungkin tidak pernah."
Jojo menggigit bibir. Air matanya hampir jatuh.
"Tapi aku tidak akan mengusirmu. Karena Panji memintaku untuk tidak mengusir. Dan karena kau sudah berusaha. Itu lebih dari yang dilakukan Seta dan Rahul."
Pak Tani berhenti sejenak. Ia memandang sendang yang mulai bersih.
"Aku dulu juga pernah salah, Jo. Mungkin tidak sebesar kesalahanmu. Tapi salah tetaplah salah. Aku pernah memfitnah tetanggaku karena iri. Aku pernah berbohong tentang hasil panenku. Aku pernah mencuri kayu dari hutan lindung."
Jojo mengangkat wajah. Matanya basah.
"Tapi warga desa tidak mengusirku. Mereka memberiku kesempatan. Mereka membantuku memperbaiki kesalahan. Dan aku berubah. Sekarang giliranmu."
Pak Tani memandang Jojo. Matanya tidak lagi tajam. Ada kelembutan di sana. Kelembutan yang tidak pernah Jojo lihat sebelumnya.
"Jo, aku tidak tahu apakah kau benar-benar berubah. Tapi aku melihat usahamu. Dan usaha adalah awal dari perubahan."
Pak Tani memberi isyarat pada Wawan. Wawan mendorong kursi rodanya. Mereka pergi.
Jojo berlutut. Ia mencium tanah.
"Terima kasih, Pak Tani. Terima kasih."
Hari ketiga, sendang mulai terlihat bersih. Lumut-lumut di batu-batu sudah hilang. Daun-daun kering sudah disapu. Sampah-sampah sudah diambil. Airnya mulai jernih kembali. Ikan-ikan kecil mulai bermunculan dari persembunyian mereka.
Jojo duduk di tepi sendang, seorang diri. Tubuhnya lelah. Tangannya melepuh. Bahunya pegal. Punggungnya terasa seperti patah. Tapi matanya tidak lagi kosong.
Panji dan Mintarsih datang dengan bekal makan siang. Mereka duduk di samping Jojo.
"Nji, Tin, lihat. Airnya sudah jernih," kata Jojo. Suaranya serak, tapi ada nada bangga di sana.
Panji tersenyum. "Tidak hanya airnya, Jo. Hatimu juga."
Jojo menunduk. "Aku harap begitu, Nji. Aku harap begitu."
Mintarsih duduk di samping Jojo. Ia memegang tangan Jojo—tangannya yang melepuh, kasar, penuh kapalan.
"Jo, kau tahu? Aku bangga padamu."
Jojo mengangkat wajah. "Bangga? Untuk apa?"
"Karena kau tidak lari. Karena kau tidak menyalahkan orang lain. Karena kau berdiri di sini dan menerima konsekuensi. Itu lebih dari yang dilakukan kebanyakan orang."
Jojo mengusap air matanya dengan punggung tangan.
"Aku tidak sekuat itu, Tin. Aku hanya... tidak punya tempat lain untuk lari."
"Tapi kau tetap di sini," kata Panji. "Kau tidak lari ke kota. Kau tidak lari ke dalam botol. Kau tidak lari ke dalam kebencian. Kau tetap di sini. Kau menghadapinya. Itu yang membuatmu kuat."
Mereka bertiga makan siang bersama di tepi sendang. Seperti dulu. Seperti ketika mereka masih kecil. Seperti ketika mereka belum terluka. Seperti ketika mereka masih percaya bahwa selamanya itu nyata.
Malam ketiga, hukuman Jojo selesai. Sendang sudah bersih. Airnya kembali jernih. Bebatuan di dasarnya terlihat. Ikan-ikan kecil berenang riang.
Panji dan Mintarsih sudah pulang. Jojo masih duduk di tepi sendang. Ia tidak ingin pulang. Ia ingin merenung sebentar.
Langit malam cerah. Bintang-bintang bersinar terang. Bulan sabit tipis menggantung di barat.
"Ki Guno," bisiknya. "Maafkan aku. Aku sudah mengotori sendang ini dengan dosaku."
Angin malam bertiup. Daun-daun beringin bergoyang. Suara gemerisik seperti bisikan.
"Nak," bisik angin. Suara Ki Guno? Atau hanya imajinasinya? Jojo tidak tahu. Tapi ia memilih untuk percaya bahwa Ki Guno mendengarnya.
"Kesalahan adalah pelajaran. Jangan mengulanginya. Dan jangan pernah berhenti berbuat baik."
Jojo menangis. "Aku tidak akan mengulangi, Mbah. Aku janji. Aku tidak akan pernah lagi mengkhianati orang yang mencintaiku. Aku tidak akan pernah lagi membiarkan kecemburuan membutakan hatiku."
Bintang-bintang bersinar terang. Bintang di timur berkedip—lebih terang dari biasanya.
"Pulanglah, Nak. Ayahmu menunggumu."
Jojo berdiri. Ia menatap sendang untuk terakhir kalinya malam itu.
"Terima kasih, sendang. Terima kasih sudah menerimaku kembali."
Ia berjalan pulang dengan langkah ringan. Beban di hatinya terasa lebih ringan. Bukan karena dosanya dihapus. Tapi karena ia sudah mengaku. Dan pengakuan adalah awal dari pengampunan.
Dua minggu setelah Jojo selesai membersihkan sendang, ia masih menghadapi keraguan dari sebagian warga.
Suatu pagi, saat Jojo sedang membantu Panji di kebun bersama—mereka sedang menanam bibit cabai—sekelompok ibu-ibu lewat di pematang sawah. Mereka membawa keranjang sayuran dari pasar.
Mereka berbisik-bisik. Salah satu dari mereka, Bu Karta, istri Pak Karta yang tanahnya hampir hilang dulu, berhenti.
"Jojo, aku masih tidak percaya padamu," kata Bu Karta terus terang. Wajahnya tidak marah. Hanya datar. Tapi matanya menusuk.
Jojo berhenti mencangkul. Ia menatap Bu Karta. Tidak menunduk. Tidak menghindar.
"Saya tahu, Bu. Saya tidak minta dipercaya. Saya hanya minta kesempatan untuk membuktikan."
Bu Karta menghela napas. "Suami saya, Karta, dulu tanahnya hampir hilang karena ulah Seta. Kami hampir kehilangan tempat tinggal. Dan kau, Jojo, adalah bagian dari itu. Kau yang memberikan informasi. Kau yang membantu mereka."
Jojo menggigit bibir. "Saya tahu, Bu. Dan saya minta maaf. Saya tidak bisa mengembalikan apa yang sudah hilang. Saya tidak bisa menghapus luka yang sudah saya buat. Tapi saya bisa berusaha agar tidak ada lagi yang hilang. Saya bisa berusaha agar tidak ada lagi luka baru."
Bu Karta diam. Ia menatap Jojo lama.
"Panji bilang kau sudah berubah. Aku percaya pada Panji. Sejak kecil, Panji tidak pernah berbohong. Tapi aku tidak percaya padamu. Belum."
Jojo mengangguk. "Saya tidak minta Bu Karta percaya sekarang. Cukup Bu Karta tidak menghalangi saya untuk berbuat baik."
Bu Karta tersenyum tipis. Senyum yang hanya terlihat di sudut bibirnya.
"Kau menjawab dengan baik, Jojo. Mungkin kau memang sudah berubah. Mungkin. Tapi aku masih akan mengawasimu."
Ia berjalan pergi. Ibu-ibu lain mengikutinya.
Jojo menghela napas lega. Dadanya terasa lega.
Panji yang mendengar dari kejauhan mendekat. Tangannya memegang cangkul.
"Jo, kau tidak marah?"
Jojo menggeleng. "Marah? Untuk apa? Bu Karta benar. Aku memang belum layak dipercaya. Aku masih harus membuktikan. Setiap hari. Setiap tindakan. Setiap kata."
Panji tersenyum. "Kau berubah, Jo. Dulu kau mudah marah kalau dikritik. Sekarang kau menerima dengan lapang dada."
"Karena aku belajar, Nji. Dari dirimu. Dari Ki Guno. Dari Eyang Jenggala. Bahwa pengampunan adalah keberanian tertinggi. Dan aku masih belajar untuk berani."
Pada suatu sore, ketika matahari mulai condong ke barat dan langit berwarna jingga keemasan, Panji, Mintarsih, dan Jojo duduk di bawah pohon beringin.
Tempat yang sama. Pohon yang sama. Akar-akar yang sama yang menjalar seperti tangan-tangan leluhur.
Mereka bertiga tidak bicara. Mereka hanya diam. Menikmati ketenangan. Menikmati kebersamaan. Menikmati fakta bahwa mereka masih di sini. Masih bersama. Masih utuh.
Jojo memecah keheningan.
"Nji, Tin, terima kasih. Kalian tidak membuangku."
Panji tersenyum. "Kita bertiga, Jo. Selamanya. Itu janji kita di bawah pohon ini. Janji tidak akan pernah mati."
Mintarsih mengangguk. "Selamanya."
Jojo tersenyum. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ia tersenyum dengan tulus. Senyum yang tidak dipaksakan. Senyum yang keluar dari hati.
Ia mengeluarkan uang kepeng dari sakunya. Uang kepeng yang dulu menjadi saksi sumpah mereka bertiga. Uang kepeng yang hampir ia buang. Uang kepeng yang ia simpan selama bertahun-tahun sebagai pengingat akan kesalahan dan penyesalan.
"Nji, ini. Aku kembalikan padamu."
Panji menerima uang kepeng itu. Logamnya hangat di telapak tangannya.
"Kau tidak mau menyimpannya, Jo?"
"Aku tidak perlu, Nji." Jojo menunjuk dadanya. "Karena janji kita tidak perlu benda untuk diingat. Ia sudah ada di sini. Di hatiku. Di setiap denyut nadiku. Di setiap napasku."
Panji memasukkan uang kepeng itu ke sakunya yang paling dalam. Di samping jimat Tumbal Lintang. Di samping kain panji dari Eyang Jenggala.
"Aku akan menyimpannya, Jo. Untuk anak cucu kita nanti. Agar mereka tahu bahwa dulu, ada tiga bocah yang bersumpah setia di bawah pohon ini. Bahwa salah satu dari mereka tersesat. Tapi ia kembali. Dan ia mati sebagai pahlawan."
Mintarsih memegang tangan mereka berdua. "Kita bertiga. Selamanya."
"Selamanya," bisik Panji dan Jojo bersamaan.
Di kejauhan, di tepi Sendang Kiskenda, airnya berwarna biru keemasan. Tenang. Damai.
Seperti hati yang telah dimaafkan. Seperti jiwa yang telah merdeka.
Keesokan harinya, Kades Tirta mengumumkan di balai desa bahwa Jojo sudah menjalani hukuman adat. Warga tidak lagi marah. Beberapa masih curiga, tapi sebagian besar sudah memaafkan.
Jojo tidak berhenti di situ. Ia terus membantu Panji, terus bekerja di kebun bersama, terus membuktikan bahwa ia layak diberi kesempatan kedua.
Ia membersihkan sendang setiap minggu—bukan karena hukuman, tapi karena ia ingin. Ia membantu warga yang membutuhkan. Ia memperbaiki jalan yang rusak. Ia mengajar anak-anak desa membaca dan menulis di sore hari.
Pak Burhan tidak pernah berhenti tersenyum. Anaknya pulang. Anaknya berubah. Anaknya sekarang menjadi pria yang lebih baik. Lebih dewasa. Lebih bijaksana.
Suatu malam, ketika mereka berdua duduk di teras rumah, Pak Burhan berkata:
"Jo, Bapak bangga padamu."
Jojo menatap ayahnya. "Untuk apa, Pak?"
"Untuk semuanya. Untuk keberanianmu mengaku. Untuk keteguhanmu menjalani hukuman. Untuk ketulusanmu berubah."
Jojo menunduk. "Aku hanya melakukan yang benar, Pak."
"Itu yang membuatmu hebat, Jo. Melakukan yang benar meskipun berat."
Mereka berdua diam. Menikmati malam. Menikmati kedamaian.
"Pak," panggil Jojo.
"Iya, Nak."
"Maafkan aku. Untuk semua air mata yang pernah Bapak tumpahkan karena aku."
Pak Burhan mengusap rambut Jojo. "Bapak sudah memaafkanmu, Nak. Sejak kau pertama kali mengucap kata 'maaf'."
Jojo tidak pernah menjadi pemimpin besar. Ia tidak pernah menjadi pahlawan yang dielu-elukan. Ia hanya menjadi Jojo. Sahabat yang setia. Anak yang berbakti. Warga desa yang biasa-biasa saja.
Tapi ketika ia meninggal—bertahun-tahun kemudian, di usia yang cukup tua—seluruh warga desa hadir di pemakamannya. Mereka menangis. Mereka berdoa. Mereka mengucapkan selamat jalan untuk pahlawan mereka.
Di batu nisannya, terukir satu kalimat:
"Jojo. Telah tersesat. Telah kembali. Telah diampuni. Telah menjadi pahlawan."
Panji dan Mintarsih yang sudah tua, berdiri di samping makam itu.
"Nji," bisik Mintarsih. "Jojo bahagia di sana."
Panji mengangguk. "Ia bahagia, Tin. Ia akhirnya pulang."
Ia memegang uang kepeng di sakunya. Uang kepeng itu masih hangat.
"Jo, sampai jumpa di lain waktu."
Bintang di timur berkedip.
Seperti senyum. Seperti jawaban. Seperti cinta yang tak pernah mati.
BAB 32a: SIDANG PENGADILAN
Tiga bulan setelah debat publik di balai desa, roda hukum mulai bergerak. Seta dan Rahul akhirnya ditangkap polisi di sebuah penginapan murah di kabupaten. Mereka tidak bisa lari lagi. Bukti-bukti yang dikumpulkan Panji, Jojo, dan LSM terlalu kuat. Rekaman percakapan, dokumen palsu, saksi mata—semua lengkap.
Dalam persidangan yang berlangsung selama dua minggu, Seta dan Rahul dinyatakan bersalah atas pemalsuan dokumen, intimidasi, dan penyuapan. Mereka dijatuhi hukuman penjara masing-masing lima tahun dan tiga tahun.
Tapi ini baru permulaan. Rama dan Pak Rahmat tidak bisa lepas begitu saja.
Ruang sidang Pengadilan Negeri Kabupaten penuh sesak. Kursi-kursi kayu panjang dipadati warga Desa Sumbermaya yang datang sejak subuh. Ada yang membawa bekal nasi bungkus, ada yang menggendong anak, ada yang sudah tua hingga harus duduk di kursi roda.
Panji duduk di barisan depan, di samping Mintarsih. Jojo di samping Panji. Pak Burhan, Pak Tani, Kades Tirta—semua hadir.
Mintarsih menggenggam erat tangan Panji. Tangannya dingin.
"Nji, aku takut," bisiknya.
"Takut apa, Tin?"
"Aku takut mereka lolos. Aku takut keadilan tidak berpihak pada kita."
Panji menatap mata Mintarsih. Matanya tenang.
"Dengar, Tin. Kita sudah punya bukti. Kita sudah punya saksi. Kita sudah punya kebenaran. Tidak ada yang bisa menghentikan itu."
Pak Tani dari kursi rodanya bergumam, "Kalau hakimnya terima suap, bagaimana?"
Jojo menjawab pelan, "Hakimnya bukan orang lama, Pak. Hakimnya dari Komisi Pemberantasan Korupsi. Mereka dikirim khusus dari ibukota."
Pak Tani mengangguk lega.
Rama masuk dengan kemeja putih lengan panjang dan rompi tahanan. Rambutnya yang dulu rapi disisir ke belakang, kini acak-acakan. Wajahnya pucat, matanya cekung. Ia tidak lagi terlihat seperti pemuda kaya dari kota. Ia terlihat seperti orang yang sudah kalah sebelum pertandingan dimulai.
Ibunya, Bu Dewi, menangis di kursi pengunjung. Pak Rahmat duduk di sampingnya, wajahnya tua dalam semalam. Kerutan di dahinya bertambah dalam. Matanya sayu.
"Rama... anakku..." bisik Bu Dewi.
Rama tidak menoleh. Ia hanya menunduk.
Hakim ketua, seorang perempuan berusia lima puluh tahun dengan kacamata tebal dan wajah tegas, mengetuk palu.
"Sidang dibuka. Terdakwa Rama bin Rahmat dipersilakan berdiri."
Rama berdiri. Tangannya gemetar di belakang borgol.
Jaksa penuntut umum berdiri. Ia membawa tumpukan dokumen setebal tiga jari.
"Yang Mulia, berdasarkan fakta-fakta yang terungkap dalam persidangan, kami menyatakan bahwa terdakwa Rama bin Rahmat terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi, pemalsuan dokumen, penyuapan pejabat desa, dan intimidasi terhadap warga."
Warga desa berbisik.
Jaksa melanjutkan, "Terdakwa bersama-sama dengan Seta dan Rahul, yang telah divonis sebelumnya, merencanakan pengambilalihan tanah adat Desa Sumbermaya secara ilegal. Mereka memalsukan tanda tangan warga, menyuap Kades Tirta dengan janji jabatan dan uang, serta mengintimidasi warga yang menolak dengan preman bayaran."
Pak Tani berteriak dari kursi rodanya, "Setuju! Hukum dia seberat-beratnya!"
Hakim mengetuk palu. "Kursi pengunjung, harap tenang!"
Pak Tani terdiam, tapi dadanya masih naik turun karena emosi.
Jaksa melanjutkan, "Oleh karena itu, kami menuntut terdakwa Rama bin Rahmat dengan pidana penjara selama dua belas tahun."
Warga bersorak. Pak Rahmat pucat pasi. Bu Dewi jatuh pingsan di kursinya.
Pengacara Rama, seorang pria tua berkumis tebal dengan jas mahal, berdiri.
"Yang Mulia, klien kami adalah korban dari situasi. Ia hanya menjalankan perintah ayahnya. Ia tidak tahu menahu tentang pemalsuan dokumen."
Jaksa tersenyum. "Saksi Jojo telah memberikan rekaman percakapan di mana terdakwa secara eksplisit memerintahkan pemalsuan tanda tangan. Apakah itu juga perintah ayahnya?"
Pengacara Rama terdiam.
Jojo yang duduk di barisan depan menggenggam erat lututnya. Panji memegang bahunya.
"Kau baik-baik saja, Jo?" bisik Panji.
Jojo mengangguk. "Aku hanya... malu, Nji. Aku dulu bagian dari itu."
"Kau sudah berubah, Jo. Itu yang penting."
Pengacara Rama mencoba lagi. "Klien kami masih muda. Ia pantas diberi kesempatan kedua."
Kali ini Panji berdiri. Hakim menatapnya.
"Saudara Panji, Anda tidak diizinkan berbicara di persidangan kecuali dipanggil."
Panji tetap berdiri. Wajahnya tenang, tapi matanya menyala.
"Yang Mulia, saya hanya ingin menyampaikan satu kalimat. Biarlah itu menjadi pertimbangan."
Hakim menghela napas. "Baik. Satu kalimat."
Panji menatap Rama. Rama menunduk.
"Kesempatan kedua adalah hak setiap orang," kata Panji. "Tapi kesempatan kedua tidak datang sebelum keadilan ditegakkan. Beri dulu hukuman yang setimpal. Setelah itu, biarkan ia memulai hidup baru."
Rama mengangkat wajah. Matanya bertemu dengan mata Panji.
Untuk pertama kalinya, tidak ada kebencian di sana. Hanya ketakutan. Dan penyesalan yang terlambat.
Hakim membacakan vonis keesokan harinya. Ruang sidang kembali penuh. Warga desa sudah berdesakan sejak subuh.
Hakim mengetuk palu.
"Terdakwa Rama bin Rahmat, terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi, pemalsuan dokumen, dan penyuapan."
Warga berbisik. Suasana tegang.
"Dengan demikian, kami menjatuhkan hukuman kepada terdakwa berupa pidana penjara selama sepuluh tahun."
Warga bersorak. Pak Tani berteriak, "Hukuman mati! Hukuman mati!"
Hakim mengetuk palu keras-keras. "Tenang! Persidangan masih berlangsung!"
Rama berdiri. Wajahnya pucat, matanya kosong. Ia menatap Panji.
"Panji," bisiknya. Hanya Panji yang bisa mendengar.
"Kau menang. Tapi ingat... kau belum menang sepenuhnya. Aku akan keluar suatu hari nanti. Dan aku akan balas dendam."
Panji tidak menjawab. Ia hanya menatap Rama dengan tenang.
Jojo berbisik, "Nji, dia masih mengancam."
Panji menggeleng. "Dia sudah tidak punya apa-apa, Jo. Biarkan. Yang diucapkan orang yang putus asa tidak perlu ditanggapi."
Usai vonis, Rama digiring keluar dengan rompi tahanan. Bu Dewi yang sudah sadar dari pingsannya berlari mengejar.
"Rama! Rama! Anakku!"
Rama berbalik. Wajahnya basah.
"Maaf, Bu. Maafkan Rama."
Bu Dewi memeluk anaknya. Pak Rahmat berdiri di belakang, diam, air matanya jatuh.
"Kita minta maaf, Nak," kata Pak Rahmat dengan suara parau. "Kami yang mendidikmu salah."
Rama menangis. "Bukan salah Bapak. Ini salahku sendiri."
Panji, Mintarsih, dan Jojo berdiri di kejauhan, menatap adegan itu.
"Nji," kata Mintarsih lirih. "Aku tidak tega melihat Bu Dewi."
"Kesalahan orang tua kadang membayar mahal, Tin," jawab Panji. "Tapi aku yakin Rama akan berubah. Suatu hari nanti."
"Kau terlalu baik, Nji," kata Jojo.
"Bukan baik. Aku hanya tidak mau hidup dengan kebencian."
Mobil mewah mereka dijual. Rumah dinas mereka tinggalkan. Pak Rahmat dan Bu Dewi pindah ke sebuah kontrakan kecil di kabupaten. Dindingnya lembap. Atapnya bocor. Tidak ada pembantu. Bu Dewi harus memasak sendiri untuk pertama kalinya dalam hidupnya.
Suatu malam, Pak Rahmat duduk di kursi bambu di teras kontrakannya. Ia memandang langit yang gelap. Bintang-bintang tidak terlihat karena polusi kota.
"Pak, makan malam sudah siap," panggil Bu Dewi dari dalam.
Pak Rahmat tidak menjawab. Ia hanya diam.
"Pak?"
Pak Rahmat menghela napas. "Aku tidak lapar, Bu."
Bu Dewi keluar. Ia duduk di samping suaminya.
"Pak, kita masih punya satu sama lain. Itu sudah cukup."
Pak Rahmat menggigit bibir. "Aku gagal, Bu. Aku gagal sebagai suami. Aku gagal sebagai ayah. Aku gagal sebagai manusia."
Bu Dewi memegang tangan suaminya. "Kita tidak gagal, Pak. Kita hanya tersesat. Dan sekarang kita kembali."
Pak Rahmat menangis. Bu Dewi memeluknya.
Sepekan setelah vonis, Rama dipindahkan ke penjara di pulau lain. Sebelum berangkat, ia diizinkan bertemu keluarganya untuk terakhir kali.
Ruang kunjungan penjara sempit. Meja kayu panjang memisahkan narapidana dan pengunjung. Rama duduk di kursi besi dengan tangan diborgol.
Bu Dewi menangis. Pak Rahmat diam.
"Bu, Pak," kata Rama. "Maafkan aku. Aku sudah menghancurkan keluarga kita."
Bu Dewi menggeleng. "Kamu tidak menghancurkan, Nak. Kita semua punya andil."
Pak Rahmat berkata, "Nak, di penjara nanti, jaga diri. Jangan cari masalah. Baca buku. Belajar. Jadikan ini sebagai awal baru."
Rama mengangguk. "Aku akan coba, Pak."
"Ingat, Nak," lanjut Pak Rahmat. "Bukan Panji yang menghancurkan hidupmu. Tapi keserakahan kita sendiri."
Rama menunduk. Air matanya jatuh ke meja.
"Panji... dia orang baik, Pak. Aku iri padanya. Dan rasa iri itu menghancurkanku."
Bu Dewi memegang tangan Rama melalui celah meja. "Kamu juga bisa menjadi baik, Nak. Masih ada waktu."
Rama mengangkat wajah. Matanya merah.
"Aku janji, Bu. Aku akan berubah."
Suatu pagi, beberapa bulan setelah Rama dipenjara, Panji menerima surat dari petugas penjara.
Mintarsih yang sedang menyapu teras melihat Panji berdiri di depan pintu, memegang amplop cokelat.
"Nji, itu dari siapa?"
"Rama."
Mintarsih mendekat. "Buka."
Panji membuka amplop itu. Suratnya pendek, ditulis dengan tulisan tangan yang rapi.
"Panji,
Aku tidak akan meminta maaf. Karena aku tidak merasa salah. Aku hanya kalah. Dan orang yang kalah tidak perlu minta maaf pada pemenang.
Tapi satu hal yang aku akui: kau berani. Kau memperjuangkan apa yang kau yakini. Aku menghormatimu untuk itu.
Suatu hari nanti aku akan keluar. Dan aku akan memulai hidup baru. Bukan untuk balas dendam. Tapi untuk membuktikan bahwa aku juga bisa menjadi pemenang, dengan caraku sendiri.
Jaga Mintarsih. Jaga desamu. Sampai jumpa.
Rama."
Panji membaca surat itu berulang kali. Mintarsih membaca dari samping bahunya.
"Apa yang akan kau lakukan, Nji?" tanya Mintarsih.
Panji memasukkan surat itu ke dalam amplop, lalu menyimpannya di saku bajunya.
"Aku akan simpan. Sebagai pengingat bahwa setiap orang berhak mendapat kesempatan kedua."
"Kau percaya dia akan berubah?"
Panji tersenyum. "Aku percaya. Karena aku sendiri pernah hampir menjadi seperti dia. Marah. Dendam. Ingin membalas. Tapi aku memilih untuk memaafkan."
Mintarsih memeluk Panji. "Kau terlalu baik untuk dunia ini, Nji."
"Tidak, Tin. Aku hanya terlalu lelah untuk membenci."
BAB 32b: BULAN MADU YANG TAK JADI
Bagi Mintarsih, vonis terhadap Rama adalah pembebasan, tetapi belum sepenuhnya. Selama ini ia terikat secara batin dengan Rama—bukan karena cinta, tapi karena rasa takut dan terpaksa. Pernikahan yang tidak pernah ia kehendaki. Sebuah beban yang ia pikul sejak ayahnya berutang kepada Seta.
Sekarang, setelah Rama dipenjara, ia mengambil langkah berani: menggugat cerai.
Mintarsih tidak bisa tidur. Ia berbaring di kamarnya, mata terbuka lebar, menatap langit-langit yang gelap. Lampu minyak di samping tempat tidurnya sudah padam sejak sejam lalu, tapi ia tidak menghidupkannya kembali.
Ia memegang anting peninggalan ibunya—anting yang dulu hampir hilang di sungai, yang dicari Panji semalaman hingga tangannya luka.
"Bu," bisiknya. "Aku akan bebas besok. Doakan aku."
Diam. Sunyi.
Ia teringat kata-kata Panji beberapa hari lalu, ketika mereka duduk di kebun teh.
"Tin, kau yakin ingin menikah denganku? Bukan karena kau butuh pelarian? Bukan karena kau takut sendirian?"
Mintarsih menjawab dengan tegas, "Aku yakin, Nji. Aku sudah yakin sejak aku masih kecil."
"Tapi kau baru saja bebas dari Rama. Jangan-jangan..."
"Jangan apa? Jangan-jangan aku hanya butuh bahu untuk bersandar? Tidak, Nji. Aku butuh kamu. Bukan karena kamu pahlawan. Bukan karena kamu baik. Tapi karena kamu adalah kamu. Dan aku mencintaimu."
Panji diam. Lalu ia tersenyum.
"Baiklah, Tin. Tapi jangan buru-buru. Kita tunggu sampai benar-benar bebas."
Keesokan paginya, langit cerah. Matahari baru terbit. Kabut tipis masih menyelimuti desa.
Mintarsih mengenakan kebaya putih—kebaya yang sama ketika ia pertama kali bertemu Panji di tepi kali, dua puluh tahun lalu. Ia tidak memakai riasan. Ia hanya menyisir rambutnya yang panjang, lalu mengikatnya dengan pita merah.
Panji sudah menunggu di teras rumahnya.
"Tin, kau cantik," katanya.
Mintarsih tersenyum. "Aku selalu cantik, Nji. Kau baru sadar?"
Panji tertawa. "Aku sudah sadar sejak kau masih kecil. Tapi dulu aku malu ngomongnya."
Jojo datang dari arah timur. "Ayo, kalau tidak cepat, kita ketinggalan antrean."
Perjalanan ke pengadilan agama di kabupaten memakan waktu dua jam dengan bus umum. Panji, Mintarsih, dan Jojo duduk di kursi belakang. Mintarsih sesekali memandang keluar jendela, melihat sawah-sawah yang menghijau, pohon-pohon kelapa yang menjulang, dan langit biru yang bersih.
"Nji," panggilnya pelan.
"Apa, Tin?"
"Apa yang akan terjadi setelah ini?"
Panji memegang tangannya. "Kita akan pulang. Kita akan memasak. Kita akan makan bersama. Dan nanti malam, kita akan duduk di bawah pohon beringin, seperti dulu."
"Aku tidak mau seperti dulu, Nji. Aku ingin lebih dari itu."
Panji tersenyum. "Aku tahu, Tin. Kita akan bahagia. Janji."
Ruang sidang pengadilan agama kecil. Hanya ada beberapa kursi kayu panjang, meja hakim di depan, dan tempat terdakwa/penggugat di tengah. Tidak ada penonton selain Panji dan Jojo.
Mintarsih duduk di kursi penggugat. Seorang pengacara dari LSM pendamping desa mendampinginya.
Hakim, seorang laki-laki setengah baya dengan kumis tebal dan wajah ramah, membuka sidang.
"Ibu Mintarsih, Anda mengajukan gugatan cerai terhadap suami Anda, Rama bin Rahmat, yang saat ini sedang menjalani pidana penjara di Lembaga Pemasyarakatan Klas I Nusakambangan. Alasan perceraian?"
Mintarsih mengambil napas panjang. Tangannya gemetar.
"Alasan saya, Yang Mulia... pernikahan ini tidak pernah saya kehendaki. Saya dipaksa oleh ayah saya karena utang kepada Seta, kaki tangan suami saya. Selama pernikahan, saya tidak pernah hidup bahagia. Saya hanya... bertahan."
Suaranya bergetar.
"Saya tidak pernah dicintai. Saya tidak pernah dihargai. Saya hanya dijadikan... barang."
Panji yang duduk di kursi pengunjung mengepal. Jojo memegang bahunya.
"Tenang, Nji," bisik Jojo.
Hakim mengangguk. "Apakah ada upaya mediasi?"
"Tidak, Yang Mulia. Suami saya di penjara dan tidak mungkin hadir. Dan saya... saya tidak ingin bertemu dengannya lagi."
Hakim berpikir sebentar. Lalu ia membaca berkas.
"Berdasarkan bukti-bukti yang diajukan—termasuk keterangan saksi dan dokumen paksaan perkawinan—saya memutuskan bahwa gugatan Ibu Mintarsih dikabulkan."
Mintarsih terkejut. "Dikabulkan, Yang Mulia?"
"Iya, Bu. Dikabulkan. Ibu resmi bercerai dengan Rama bin Rahmat. Status Ibu sekarang thalak satu yang bersifat ba'in, sehingga tidak bisa rujuk kecuali dengan akad nikah baru."
Mintarsih tidak mengerti istilah-istilah hukum itu. Tapi ia mengerti satu kata: bebas.
Mintarsih keluar dari ruang sidang dengan langkah tertatih. Wajahnya pucat, tapi matanya bersinar.
Panji berdiri. "Tin?"
Mintarsih tidak menjawab. Ia berjalan ke arah kursi panjang di koridor. Ia duduk. Ia menunduk.
Lalu ia menangis.
Bukan isak tangis pelan. Bukan tangis histeris. Tapi tangis yang keluar dari dasar jiwanya—tangis yang sudah ia tahan selama bertahun-tahun. Tangis kebebasan.
Panji mendekat. Ia duduk di samping Mintarsih. Ia tidak bicara. Ia hanya memegang tangan Mintarsih.
Jojo berdiri di belakang, diam.
"Nji," isak Mintarsih di sela-sela tangisnya.
"Apa, Tin?"
"Aku bebas. Aku benar-benar bebas."
"Kau bebas, Tin. Sekarang kau bisa memulai hidup baru."
Mintarsih mengangkat wajah. Matanya merah, hidungnya ingusan, wajahnya basah. Tapi ia tersenyum.
"Nji, aku ingin hidup baru bersamamu."
Panji tersenyum. "Kita akan hidup baru bersama, Tin. Tapi jangan sekarang. Aku ingin mempersiapkan segalanya dengan baik. Aku ingin pernikahan yang sederhana, tapi bermakna."
"Kapan?"
"Setelah semua urusan desa selesai. Setelah tanah adat benar-benar aman."
Mintarsih menggenggam erat tangan Panji. "Aku akan menunggumu, Nji. Seperti dulu."
"Aku tahu, Tin. Terima kasih."
Bus umum melaju pelan meninggalkan kabupaten. Matahari mulai condong ke barat. Langit berwarna jingga keemasan.
Mintarsih menyandarkan kepalanya di bahu Panji. Jojo duduk di kursi di belakang mereka, sengaja memberi ruang.
"Nji," panggil Mintarsih.
"Apa, Tin?"
"Aku tidak butuh pernikahan mewah. Aku tidak butuh mahar besar. Aku tidak butuh pesta yang ramai."
"Apa yang kau butuh, Tin?"
"Aku butuh kau. Hanya kau. Selebihnya, biar mengalir seperti air."
Panji mencium kening Mintarsih. Jojo yang melihat dari belakang tersenyum tipis. Ia menunduk, memandang sandal jepitnya yang sudah lusuh.
"Selamanya," bisiknya dalam hati. "Kita bertiga selamanya."
Dua hari setelah perceraian, Panji dan Mintarsih duduk di kebun teh milik almarhum Kartiman. Kebun itu sekarang dikelola oleh warga desa secara bersama. Daun-daun teh masih hijau. Aroma teh menyegarkan.
"Nji," panggil Mintarsih pelan.
"Iya, Tin."
"Apa kita akan menikah?"
Panji tersenyum. "Aku sudah bilang, aku ingin menikah denganmu. Tapi aku tidak punya apa-apa."
Mintarsih menggeleng. "Aku tidak butuh apa-apa, Nji. Aku butuh kamu."
"Tapi..."
"Tidak ada tapi." Mintarsih memotong. "Kita sudah menunggu terlalu lama. Aku tidak mau menunggu lagi."
Panji memegang tangan Mintarsih. "Baiklah. Tapi jangan sekarang. Aku ingin mempersiapkan semuanya dengan baik. Aku ingin pernikahan yang sederhana, tapi bermakna."
"Kapan?"
"Setelah semua urusan desa selesai. Setelah tanah adat benar-benar aman."
Mintarsih menggenggam erat tangan Panji. "Aku akan menunggumu, Nji. Seperti dulu."
"Aku tahu, Tin. Terima kasih."
Panji, Mintarsih, dan Jojo duduk di bawah pohon beringin. Langit malam cerah. Bintang-bintang bertaburan.
"Nji, apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Jojo.
"Kita teruskan perjuangan. Tapi bukan melawan Rama. Melawan ketidakadilan. Di mana pun."
Mintarsih menyandarkan kepalanya di bahu Panji. "Aku ikut, Nji. Apa pun."
Jojo mengangkat tinjunya. "Aku juga. Sampai mati."
Mereka bertiga diam. Menikmati malam yang tenang.
Panji memandang bintang di timur—bintang yang selalu ia anggap sebagai arwah ayahnya.
"Bapak, perjuangan belum selesai. Tapi aku tidak sendirian. Ada Mintarsih. Ada Jojo. Ada warga. Mereka semua adalah panji yang tak pernah padam."
Bintang itu berkedip.
Malam itu juga, setelah mengantar Mintarsih pulang, Panji dan Jojo duduk di tepi Sendang Kiskenda. Airnya biru keemasan. Ikan-ikan kecil berenang riang.
"Nji, akhirnya Rama jatuh," kata Jojo.
Panji mengangguk. "Tapi aku tidak senang, Jo."
"Kenapa?"
"Karena kemenangan ini tidak gratis. Banyak orang yang terluka. Banyak keluarga yang hancur."
Jojo menghela napas. "Itu risiko perjuangan, Nji."
"Aku tahu. Tapi kadang aku bertanya... apa semua ini sepadan?"
"Sepadan, Nji. Lihatlah desa kita. Lihatlah warga. Mereka sekarang hidup tenang. Tidak ada intimidasi. Tidak ada ketakutan."
Panji tersenyum tipis. "Kau benar, Jo. Aku hanya... lelah."
"Istirahatlah, Nji. Kau sudah cukup berjuang. Sekarang giliran kami."
Panji menatap Jojo. "Terima kasih, Jo. Kau sudah banyak membantu."
"Aku membayar utang, Nji. Utang budi."
Mereka berdua diam. Menikmati ketenangan sendang.
"Jo," panggil Panji.
"Apa, Nji?"
"Kau tahu? Aku iri padamu."
Jojo terkejut. "Iri? Kenapa?"
"Kau mati sebagai pahlawan nanti. Aku mati sebagai orang tua biasa."
Jojo tertawa. "Kita belum mati, Nji. Jangan bicara begitu."
"Tapi suatu hari nanti kita akan mati. Dan yang tersisa hanyalah apa yang kita lakukan."
Jojo mengangguk. "Maka mari kita lakukan yang terbaik."
Srintil dan Mintarsih duduk di teras rumah. Srintil sedang menjahit, Mintarsih membantu memegang kain.
"Tin, Ibu senang kau akhirnya bebas," kata Srintil.
Mintarsih tersenyum. "Terima kasih, Bu. Doa Ibu sangat berarti."
"Panji anak yang baik, Tin. Ia tidak pernah berubah. Dari kecil sampai sekarang, hatinya tetap sama."
"Aku tahu, Bu. Itu sebabnya aku mencintainya."
"Sabar ya, Tin. Ia masih punya banyak pekerjaan. Tapi ia akan menikahimu. Ibu yakin."
Mintarsih mengangguk. "Aku sabar, Bu. Sudah terbiasa."
Srintil tertawa. "Kau ini lucu, Tin."
"Bu, apa Ibu tidak keberatan kalau aku nanti tinggal di sini? Membantu Ibu?"
Srintil mengusap rambut Mintarsih. "Ibu senang, Tin. Rumah ini terlalu sepi. Dengan kau di sini, akan lebih ramai."
Rama jatuh. Mintarsih bebas. Desa Sumbermaya bernapas lega.
Tapi Panji tahu, ini bukan akhir. Ini adalah awal dari babak baru—babak di mana ia harus membangun, bukan menghancurkan. Babak di mana ia harus memimpin dengan kebijaksanaan, bukan dengan kebencian. Babak di mana ia harus menjadi panji bagi generasi berikutnya.
Ia masih muda. Masih banyak yang harus dipelajari. Masih banyak yang harus diperjuangkan.
Tapi untuk malam ini, ia akan beristirahat. Bersama orang-orang yang ia cintai. Di bawah pohon beringin yang sama. Di bawah panji seribu bintang yang tak pernah padam.
Bab 33: Malam Sembuh: Panji Memaafkan Jojo
Dua bulan setelah vonis Rama dan kebebasan Mintarsih, desa Sumbermaya memasuki musim kemarau. Sawah-sawah mulai menguning, siap panen. Udara terasa lebih kering dari biasanya, tapi tidak ada yang mengeluh. Karena tahun ini, untuk pertama kalinya dalam satu dekade, warga desa bisa bernapas lega tanpa bayang-bayang intimidasi.
Tapi ada satu hal yang masih menggantung di udara: hubungan antara Panji dan Jojo. Meskipun mereka sudah bekerja sama, meskipun Jojo sudah mengaku di depan umum dan menjalani hukuman adat, masih ada dinding tipis yang memisahkan mereka. Bukan karena Panji masih marah. Bukan karena Jojo masih bersalah. Tapi karena belum ada momen yang tepat untuk menuntaskan semuanya.
Panji tahu, ia harus secara resmi memaafkan Jojo. Bukan dengan kata-kata biasa di siang hari. Tapi dengan sebuah ritual—sebuah pernyataan di hadapan leluhur, di hadapan alam, di hadapan bintang-bintang.
Ia memilih malam ketika seribu bintang jatuh—fenomena yang terjadi setiap beberapa tahun sekali, persis seperti malam kelahirannya.
Ia mengundang Jojo ke Sendang Kiskenda. Tanpa Mintarsih. Tanpa warga lain. Hanya mereka berdua, di tepi sendang yang sunyi, di bawah langit yang bersinar.
Malam itu, Jojo datang dengan hati berdebar. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi. Tapi ia percaya pada Panji. Seperti dulu. Seperti ketika mereka masih kecil dan saling berjanji setia di bawah pohon beringin.
Panji sudah duduk di tepi Sendang Kiskenda sejak matahari terbenam. Airnya malam itu berwarna biru keperakan, memantulkan cahaya bintang yang mulai bermunculan satu per satu. Angin bertiup sepoi-sepoi, membawa bau tanah basah dan bunga melati dari kejauhan.
Ia memegang sehelai kain panji pemberian Eyang Jenggala. Kain itu kini tidak lagi lusuh. Panji telah menjahitnya dengan benang emas, menjadikannya seperti bendera kecil yang indah.
Di sampingnya, ada sesaji sederhana: bunga, dupa, dan segelas air jernih dari sendang.
Jojo datang dari arah timur. Langkahnya pelan, hampir merangkak. Wajahnya tegang.
"Jo," sapa Panji tanpa menoleh. "Duduklah."
Jojo duduk di samping Panji. Ia menatap air sendang yang berwarna biru keperakan.
"Nji, malam ini bintangnya banyak sekali."
"Seribu bintang, Jo. Malam ini adalah malam seribu bintang. Seperti malam ketika aku dilahirkan."
Jojo mengangguk. "Aku ingat. Dulu orang tua di desa sering cerita tentang itu."
"Malam ini aku ingin sesuatu terjadi," kata Panji. "Aku ingin luka lama kita sembuh. Aku ingin persahabatan kita pulih sepenuhnya."
Jojo menunduk. Suaranya bergetar.
"Nji, apa kau sungguh bisa memaafkanku? Setelah semua yang kulakukan?"
Panji menatap Jojo. Matanya tenang.
"Jo, memaafkan bukan tentang melupakan. Aku tidak akan pernah melupakan bahwa kau pergi, bahwa kau memihak Rama, bahwa kau sempat membenciku."
Jojo menggigit bibir.
"Tapi memaafkan adalah tentang memilih untuk tidak membiarkan masa lalu mengendalikan masa depan," lanjut Panji. "Aku memilih untuk memaafkanmu, Jo. Bukan karena kau pantas. Tapi karena aku lelah membawa beban ini."
"Beban apa?"
"Beban marah. Beban kecewa. Beban sakit hati. Selama bertahun-tahun aku menyimpannya, dan itu membuatku tidak bisa benar-benar bahagia."
Jojo menangis. "Aku tidak pernah bermaksud membuatmu menderita, Nji. Aku hanya... aku hanya..."
"Aku tahu, Jo. Kau hanya iri. Kau hanya merasa tidak cukup baik. Kau hanya ingin diakui."
Jojo terisak. "Maafkan aku, Nji. Maafkan aku untuk semuanya."
Panji mengambil napas panjang. Ia mulai bercerita.
"Jo, ketika aku di Gunung Selatan, Eyang Jenggala mengajariku banyak hal. Salah satunya tentang pengampunan."
Jojo mengangkat wajah. Matanya basah.
"Ia bilang, orang yang tidak bisa memaafkan ibarat pohon yang tumbuh di tanah tandus. Daunnya kering, tidak pernah berbuah. Ia hidup, tapi tidak pernah benar-benar hidup."
Jojo mendengar dengan saksama.
"Ia juga bilang, pengampunan tidak membuatmu lemah. Sebaliknya, pengampunan membuatmu kuat. Karena hanya orang kuat yang bisa melepaskan. Orang lemah akan terus menyimpan dendam."
"Aku orang lemah, Nji."
Panji menggeleng. "Kau tidak lemah, Jo. Kau sudah membuktikan keberanianmu dengan mengaku di depan umum. Itu bukan hal yang mudah."
"Aku hanya melakukan yang benar."
"Dan itu sudah cukup. Kau sudah membayar kesalahanmu. Sekarang, saatnya kau hidup tanpa beban."
Panji menyalakan dupa. Asap mengepul tipis ke langit. Ia memercikkan air sendang ke wajah Jojo.
"Jo, ulangi kata-kataku."
Jojo mengangguk.
"Aku, Panji, anak Sastro," ucap Panji.
"Aku, Panji, anak Sastro," ulang Jojo—lalu ia tersadar. "Eh, tidak! Nji, ini sumpah, bukan?"
Panji tertawa. "Bercanda, Jo. Tenang. Tidak ada sumpah darah malam ini. Hanya doa."
Jojo menghela napas lega.
Panji melanjutkan, "Dengan ini, aku memaafkan Jojo, anak Burhan, atas semua kesalahan yang telah ia lakukan. Sengaja atau tidak. Terucap atau tidak terlaksana. Semuanya aku maafkan."
Jojo menangis lagi.
"Dan aku berdoa kepada leluhur, kepada alam, kepada Tuhan," lanjut Panji, "semoga persahabatan kami pulih seperti dulu. Semoga kami bisa saling percaya lagi. Semoga kami bisa berjuang bersama."
Angin bertiup kencang sejenak. Dupa yang mengepul tiba-tiba membentuk lingkaran sempurna sebelum lenyap.
Jojo bergidik. "Apa itu tadi, Nji?"
"Tanda, Jo. Leluhur mendengar."
Jojo berlutut di hadapan Panji. Air matanya jatuh ke tanah.
"Nji, aku minta maaf. Untuk semua kata-kata buruk yang pernah kuucapkan tentangmu. Untuk semua fitnah yang kusebarkan. Untuk semua kebencian yang pernah kurasakan."
Panji membantu Jojo berdiri.
"Untuk saat-saat aku iri padamu. Untuk saat-saat aku berharap kau gagal. Untuk saat-saat aku... aku hampir membencimu."
Panji memegang bahu Jojo. "Sudah, Jo. Cukup."
"Untuk saat-saat aku menyakiti Mintarsih dengan mengatakan bahwa kau tidak akan pernah bisa membuatnya bahagia."
Panji tersenyum. "Aku sudah membuktikan bahwa kau salah, Jo."
Jojo tertawa pahit. "Iya. Kau benar. Aku salah."
"Tapi itu sudah lewat. Sekarang kita lihat ke depan. Bukan ke belakang."
Panji mengambil kain panji dari sampingnya. Kain itu kini bersih, terjahit rapi dengan benang emas.
"Ini, Jo. Untukmu."
Jojo terkejut. "Apa ini?"
"Ini panji. Bukan panji kerajaan. Bukan panji perang. Tapi panji kehidupan. Eyang Jenggala memberikannya padaku, dan sekarang aku memberikannya padamu."
"Aku tidak pantas, Nji."
"Kau pantas, Jo. Setiap orang pantas memegang panji kehidupan. Karena panji ini bukan simbol kesucian. Ia simbol perjuangan. Dan kau sudah berjuang."
Jojo menerima kain itu dengan tangan gemetar. Ia mendekapnya erat-erat.
"Apa yang harus kulakukan dengan ini?"
"Simpan. Rawat. Dan ketika kau merasa hampir jatuh lagi, lihatlah kain ini. Ingatlah malam ini. Ingatlah bahwa kau sudah ditebus."
Jojo menangis. "Nji, kau terlalu baik padaku."
"Aku tidak baik, Jo. Aku hanya ingin hidup tenang. Tanpa musuh. Tanpa dendam. Tanpa kebencian."
Di langit, bintang pertama mulai jatuh.
Bukan satu, tapi puluhan. Tidak seperti hujan biasa—bintang-bintang itu melesat pelan, meninggalkan jejak cahaya panjang seperti air mata dari langit.
Jojo menunjuk ke langit. "Nji, bintang jatuh!"
Panji tersenyum. "Malam seribu bintang. Seperti malam kelahiranku."
"Apa ini pertanda?"
"Tanda bahwa leluhur merestui. Bahwa apa yang kita lakukan malam ini benar."
Mereka berdua diam, menikmati pemandangan yang langka itu. Bintang jatuh silih berganti. Langit terang benderang.
"Jo," panggil Panji.
"Apa, Nji?"
"Aku ingin kau tahu. Sepanjang tujuh tahun kau pergi, aku tidak pernah berhenti mendoakanmu. Setiap malam, sebelum tidur, aku selalu sebut namamu."
Jojo terisak. "Nji..."
"Bukan karena aku baik. Tapi karena aku tidak tega membuang seorang saudara."
Jojo memeluk Panji. Mereka berdua berpelukan di tepi sendang, di bawah hujan bintang.
"Terima kasih, Nji. Terima kasih."
"Kembali, Jo. Sekarang, mari kita pulang. Besok kita punya banyak pekerjaan."
Di rumah Panji, Mintarsih sedang duduk di teras bersama Srintil. Mereka menunggu dengan cemas.
Ketika Panji dan Jojo muncul dari balok kegelapan, Mintarsih berlari mendekat.
"Nji! Jo! Apa yang terjadi? Apa kalian baik-baik saja?"
Panji tersenyum. "Kami baik-baik saja, Tin. Malahan, kami lebih dari baik-baik saja."
Jojo mengangguk. "Kami sudah berdamai, Tin. Seutuhnya."
Mintarsih memeluk mereka berdua. "Aku senang. Aku sangat senang."
Srintil yang berdiri di pintu tersenyum. Air matanya jatuh. "Akhirnya," bisiknya. "Mereka kembali seperti dulu."
Jojo pulang ke rumahnya ketika langit mulai memutih. Pak Burhan masih duduk di teras, menunggu.
"Jo, kau sudah?"
Jojo duduk di samping ayahnya. "Sudah, Pak. Panji sudah memaafkanku. Secara resmi."
Pak Burhan menghela napas lega. "Syukurlah. Bapak tidak bisa tidur semalaman."
"Maaf, Pak. Aku tidak bermaksud membuat Bapak khawatir."
"Bukan khawatir, Jo. Bapak hanya... berdoa. Bapak berdoa semoga kalian berdua bisa kembali seperti dulu."
Jojo memeluk ayahnya. "Doa Bapak terkabul, Pak. Panji memberiku ini." Ia menunjukkan kain panji.
Pak Burhan menatap kain itu. Matanya basah.
"Ini bukan kain biasa, Jo. Ini pusaka. Jaga baik-baik."
"Aku akan menjaganya, Pak. Sampai mati."
Malam itu, Jojo tidur dengan nyenyak untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun. Tidak ada mimpi buruk. Tidak ada rasa bersalah. Hanya kedamaian.
Panji juga tidur dengan tenang. Di sampingnya, Mintarsih tertidur pulas di kursi bambu—ia sengaja tidak pulang karena ingin memastikan Panji baik-baik saja.
Srintil masuk kamar. Ia menyelimuti Panji dan Mintarsih.
"Anak-anak," bisiknya. "Kalian berdua sudah dewasa. Tapi di mata ibu, kalian masih kecil. Masih lucu. Masih perlu dilindungi."
Ia tersenyum.
"Tapi ibu sudah tua. Nanti, kalian yang harus melindungi ibu."
Ia mematikan lampu minyak. Rumah panggung di ujung barat itu sunyi.
Di luar, bintang-bintang masih jatuh. Seribu bintang. Seperti malam ketika Panji dilahirkan.
Seperti malam ketika semua dimulai. Dan malam ketika semua sembuh.
Di kejauhan, di tepi Sendang Kiskenda, airnya berwarna biru keemasan. Tenang. Damai.
Dan di angkasa, bintang-bintang tersenyum.
BAGIAN TIGA: PANJI YANG TAK PADAM
Bab 34: Seta Dihukum Adat
Lima tahun berlalu sejak Panji memaafkan Jojo di malam seribu bintang. Desa Sumbermaya berubah drastis. Tidak ada lagi intimidasi, tidak ada lagi ketakutan, tidak ada lagi bisikan-bisikan di balik layar. Warga hidup tenteram, sawah-sawah menghijau, sendang Kiskenda tetap bening abadi.
Koperasi desa yang dirintis Panji kini tumbuh besar. Tidak hanya mengelola hasil panen warga, koperasi juga membuka unit simpan pinjam, toko desa, dan bahkan sekolah rakyat untuk anak-anak desa. Panji tidak lagi bekerja sebagai kuli. Ia menjadi ketua koperasi dan pemimpin adat muda yang dihormati.
Mintarsih menjadi tulang punggung di dapur umum desa. Ia mengelola program makan siang gratis untuk anak-anak sekolah. Srintil sudah sepuh, matanya mulai rabun, tapi semangatnya masih menyala. Jojo menjadi tangan kanan Panji, mengurus administrasi koperasi dan hubungan dengan desa-desa tetangga.
Tapi di balik ketenteraman itu, ada satu nama yang masih menjadi perbincangan: Seta.
Setelah lima tahun di penjara, Seta bebas. Tubuhnya kurus, wajahnya kusam, matanya tidak lagi licik seperti dulu—tapi ada sesuatu di sana, semacam bara yang belum benar-benar padam. Ia kembali ke Desa Sumbermaya karena tidak punya tempat lain. Keluarganya telah mengusirnya. Teman-temannya menghilang. Bahkan Rahul, partner kejahatannya, memilih tidak pernah kembali ke desa.
Seta pulang dengan langkah tertatih. Ia tidak punya rumah, tidak punya uang, tidak punya siapa pun. Warga desa yang melihatnya meludah ke arahnya, mengusirnya, melemparinya dengan batu.
Seta tidak membalas. Ia hanya diam. Kepala tertunduk.
Panji mendengar kabar itu. Ia tidak bisa diam. Meskipun hatinya masih perih mengingat semua penderitaan yang disebabkan Seta, ia juga tidak tega melihat manusia hidup terlantar seperti binatang.
Maka Panji melakukan sesuatu yang mengejutkan semua orang: ia meminta Kades Tirta dan para tetua adat untuk mengadakan sidang adat. Bukan untuk menghukum Seta lebih berat, tapi untuk mengadopsinya secara adat—memasukkannya kembali ke dalam masyarakat dengan status terbatas, sebagai bentuk hukuman sosial seumur hidup.
Warga protes. Ada yang marah, ada yang tidak setuju, ada yang merasa Panji terlalu baik hati. Tapi Panji tetap pada pendiriannya.
"Setiap orang berhak mendapat kesempatan kedua," katanya. "Tapi kesempatan kedua tidak gratis. Ia harus membayarnya dengan ketundukan seumur hidup pada adat."
Sidang adat digelar di balai desa. Seluruh warga hadir. Seta digiring ke depan, dengan tangan terikat tali bambu, kaki dirantai kayu. Wajahnya pucat, matanya kosong.
Dan di situlah, di hadapan leluhur yang diwakili Ki Guno—meskipun Ki Guno sudah tiada, rohnya hadir—Seta menjalani hukuman yang lebih berat dari penjara: kematian sosial.
Pagi itu, kabut tebal menyelimuti Desa Sumbermaya. Seorang laki-laki kurus berjalan tertatih dari arah timur. Bajunya compang-camping, rambutnya panjang kusut, wajahnya penuh luka dan koreng. Ia membawa karung kecil berisi pakaian lusuh—itu saja harta yang tersisa.
Wawan yang sedang berjaga di pos keamanan desa melihatnya dari kejauhan.
"Hey, kamu! Berhenti!" teriak Wawan.
Laki-laki itu berhenti. Ia mengangkat wajah.
Wawan terkejut. "Seta? Kamu... kamu Seta?"
Seta mengangguk pelan. "Aku pulang, Wan."
Wawan mundur selangkah. Wajahnya berubah. "Kamu tidak boleh masuk! Warga desa tidak mau melihatmu!"
"Saya tidak punya tempat lain, Wan. Keluarga saya sudah mengusir saya. Saya... saya minta maaf."
"Maaf tidak cukup, Seta! Lihat apa yang kau lakukan pada desa kita!" Wawan berteriak memanggil warga lain.
Warga mulai berdatangan. Mereka membawa pentungan, parang, dan cangkul.
"Pengkhianat!" teriak Pak Tani.
"Pencuri tanah!" teriak yang lain.
"Usir dia! Usir!"
Batu pertama melayang. Mengenai bahu Seta. Ia tersungkur. Batu kedua, ketiga, keempat. Seta tidak membalas. Ia hanya menunduk, melindungi kepalanya dengan tangan.
"Berhenti!"
Semua orang menoleh. Panji berdiri di pinggir jalan. Wajahnya tegas.
"Jangan main hakim sendiri. Seta sudah menjalani hukuman di penjara. Sekarang ia pulang. Kita tidak boleh membunuhnya."
Pak Tani protes. "Nji, dia pengkhianat! Dia pantas mati!"
"Kalau kita bunuh dia, kita sama seperti dia dulu. Kita lebih baik dari itu, Pak Tani."
Warga mulai tenang.
Panji mendekati Seta yang tergeletak di tanah. Ia mengulurkan tangan.
"Bangun."
Seta mengangkat wajah. Matanya basah. "Panji... aku... aku tidak pantas."
"Aku tidak bilang pantas. Aku bilang bangun."
Seta meraih tangan Panji. Ia berdiri dengan susah payah.
Malam itu, Panji mengumpulkan para tetua adat di rumah Kades Tirta. Mereka duduk melingkar di lantai, lampu minyak di tengah. Pak Tani, Pak Burhan, Kades Tirta, Jojo, Mintarsih, dan beberapa tokoh lain hadir.
Pak Tani masih kesal. "Nji, apa-apaan ini? Kenapa kita harus bermusyawarah untuk pengkhianat kayak Seta?"
Panji tenang. "Pak Tani, saya tidak meminta kita memaafkan Seta. Saya meminta kita menghukumnya secara adat."
"Hukuman apa lagi? Dia sudah dipenjara lima tahun!"
"Hukuman sosial, Pak. Kita adopsi dia secara adat, tapi ia tidak punya hak sebagai warga desa. Ia tidak boleh memiliki tanah, tidak boleh menikah dengan warga desa, tidak boleh ikut upacara adat, tidak boleh duduk setara dengan warga lain. Ia hanya boleh melakukan pekerjaan kasar yang ditugaskan padanya. Seumur hidup."
Warga mulai berbisik.
Kades Tirta mengangguk. "Itu ide bagus, Nak. Di zaman dulu, hukuman seperti ini pernah diterapkan untuk pengkhianat perang."
Pak Burhan menambahkan, "Saya setuju. Lebih baik Seta diawasi di sini daripada berkeliaran di tempat lain dan berbuat jahat lagi."
Jojo yang sejak tadi diam akhirnya bicara. "Saya tahu rasanya jadi pengkhianat. Dan saya tahu rasanya diberi kesempatan kedua. Seta mungkin tidak pantas, tapi kalau kita tidak memberi kesempatan, kita sama saja dengan dia dulu."
Mintarsih memegang tangan Jojo. "Aku setuju dengan Panji dan Jojo."
Pak Tani menghela napas. "Baiklah. Tapi dia harus menjalani ritual pembersihan dulu. Dan dia harus minta maaf di depan semua warga."
"Itu sudah pasti, Pak," kata Panji.
Tiga hari kemudian, Seta dibawa ke Sendang Kiskenda. Ia didudukkan di tepi sendang, dikelilingi oleh para tetua adat. Kades Tirta memimpin ritual.
"Seta, anak durhaka yang telah menodai tanah leluhur," ucap Kades Tirta dengan suara lantang. "Kau akan kami bersihkan. Bukan dengan air biasa. Tapi dengan air sendang yang telah diberi mantra. Setelah ini, kau tidak lagi bernama Seta. Kau adalah 'tanpa nama'—seorang yang tidak punya identitas adat."
Seta menunduk. Ia tidak berani mengangkat wajah.
Kades Tirta mengambil air sendang dengan cawan keramik tua. Ia memercikkannya ke wajah Seta.
"Dengan ini, dosa-dosamu tercuci. Tapi tidak diampuni. Kau akan hidup sebagai bayangan manusia. Tidak punya hak. Tidak punya suara. Tidak punya masa depan di desa ini."
Air itu terasa dingin. Seta menggigil. Bukan karena dingin, tapi karena kesadaran bahwa ia sekarang benar-benar kehilangan segalanya.
"Apakah kau menerima hukuman ini?" tanya Kades Tirta.
Seta mengangguk. "Saya menerima, Pak. Saya pantas menerima."
"Ucapkan!"
"Saya... saya menerima hukuman ini. Saya pantas menerima. Saya mohon ampun pada leluhur, pada warga desa, pada semua yang saya sakiti."
Angin bertiup. Daun-daun beringin bergoyang. Seperti ada yang mengangguk di antara pepohonan.
Ritual dilanjutkan di balai desa. Warga hadir penuh. Seta berdiri di podium yang sama tempat Panji dan Rama dulu berdebat. Kini ia menjadi pusat perhatian—bukan karena kebanggaan, tapi karena kehinaan.
Seta berlutut. Matanya basah.
"Bapak, Ibu, saudara-saudara sekalian."
Suaranya bergetar.
"Saya Seta... atau mungkin sekarang saya bukan siapa-siapa. Saya mohon maaf. Saya tidak pantas disebut manusia."
Warga diam. Ada yang masih marah, ada yang mulai iba.
"Saya sudah merampok tanah kalian. Saya sudah memfitnah Panji. Saya sudah menyewa preman untuk mengintimidasi. Saya sudah... saya sudah menjadi monster."
Air matanya jatuh.
"Saya tidak minta kalian memaafkan saya. Saya hanya minta kesempatan untuk menebus kesalahan saya. Saya akan bekerja keras. Saya akan patuh pada adat. Saya akan menerima apa pun hukuman yang kalian berikan."
Pak Tani berdiri. Wajahnya masih keras.
"Seta, kau tahu, aku dulu ingin membunuhmu dengan tanganku sendiri."
Seta menunduk lebih dalam.
"Tapi karena Panji memintaku untuk tidak membunuh, aku tidak akan membunuhmu. Tapi aku tidak akan memaafkanmu. Tidak sekarang. Mungkin tidak pernah."
"Saya tidak minta dimaafkan, Pak Tani. Saya hanya minta... diterima sebagai budak adat."
Warga berbisik. "Budak adat" adalah istilah kuno untuk hukuman seumur hidup.
Kades Tirta berdiri. "Saudara-saudara, apakah kalian setuju dengan usulan ini?"
Warga mulai mengacungkan tangan. Perlahan. Satu per satu.
"Setuju."
"Setuju."
"Setuju."
Kades Tirta mengetuk palu kayu. "Sah. Seta sekarang adalah tanpa nama. Ia akan bekerja di kebun bersama, membersihkan sendang, dan melakukan pekerjaan kasar lainnya. Ia tidak boleh memiliki apa pun. Ia tidak boleh menikah. Ia tidak boleh meninggalkan desa tanpa izin."
Setelah sidang selesai, warga pulang. Seta duduk di tepi Sendang Kiskenda, seorang diri. Langit mulai gelap. Bintang-bintang mulai muncul.
Panji mendekat. Ia duduk di samping Seta.
"Panji," kata Seta lirih. "Kenapa kau membelaku? Aku tidak pantas."
Panji menghela napas. "Aku tidak membelamu, Seta. Aku hanya tidak ingin desa ini menjadi seperti dirimu dulu."
"Maksudmu?"
"Dulu kau menggunakan kekerasan, intimidasi, kebencian. Sekarang jika warga desa membunuhmu atau mengusirmu secara kejam, mereka akan menjadi seperti dirimu. Aku tidak ingin itu terjadi."
Seta menunduk. "Kau lebih baik dari yang aku kira, Panji."
"Aku tidak baik. Aku hanya lelah membenci."
"Tapi aku sudah menyakitimu. Aku sudah memfitnahmu. Aku sudah..."
Panji memotong. "Sudah. Tidak usah diulang. Itu sudah lewat. Sekarang kau hidup sebagai tanpa nama. Bukan hukuman dariku. Tapi dari adat."
"Saya terima, Panji. Saya terima."
Mereka berdua diam. Menatap air sendang yang berwarna biru keperakan.
Seta tiba-tiba berkata, "Panji, aku ingin tahu. Apa rahasiamu? Kenapa kau bisa memaafkan orang yang sudah menyakitimu?"
Panji tersenyum tipis. "Bukan rahasia, Seta. Hanya kesadaran. Bahwa kebencian tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Kebencian hanya melahirkan kebencian baru. Sementara cinta... cinta bisa memutus rantai itu."
Seta mengangguk pelan. "Aku tidak akan pernah sepertimu, Panji. Tapi aku akan belajar."
Hari-hari berlalu. Seta menjalani hidup barunya sebagai tanpa nama. Setiap pagi, sebelum matahari terbit, ia sudah berada di kebun bersama. Ia mencangkul, menanam, memupuk—semua dengan tangan sendiri. Tidak ada yang membantunya. Ia tidak boleh dibantu. Itu bagian dari hukuman.
Setiap sore, ia membersihkan Sendang Kiskenda. Mengambil lumut, menyapu daun-daun kering, memastikan airnya tetap jernih. Warga sesekali melihatnya, ada yang meludah, ada yang mengumpat, ada yang melempar batu kecil. Seta tidak membalas. Ia hanya diam.
Panji sesekali mengawasi dari kejauhan. Ia tidak pernah bicara dengan Seta di depan umum. Tidak ingin dibilang memihak. Tapi setiap malam Jumat, ia meninggalkan sepiring nasi dan sayur di pinggir sendang. Untuk "tanpa nama".
Mintarsih tahu. Jojo juga tahu. Mereka tidak melarang. Mereka hanya diam.
Suatu malam, Jojo bertanya pada Panji, "Nji, apa kau tidak takut Seta akan balas dendam suatu hari nanti?"
Panji menggeleng. "Dia sudah tidak punya apa-apa, Jo. Bahkan namanya pun hilang. Dendam butuh kekuatan. Dan Seta sudah tidak punya kekuatan."
"Tapi..."
"Jo, kita sudah memenangkan pertempuran ini. Sekarang saatnya membangun perdamaian. Dan perdamaian tidak bisa dibangun di atas kuburan musuh. Ia harus dibangun di atas pengampunan."
Jojo mengangguk. "Kau benar, Nji. Aku hanya... khawatir."
"Jangan khawatir. Aku di sini. Kau di sini. Leluhur di sini. Desa ini sudah aman."
Tahun berganti. Perlahan, warga mulai terbiasa dengan keberadaan "tanpa nama". Mereka tidak lagi meludah, tidak lagi melempar batu, tidak lagi mengumpat. Mereka hanya mengabaikan. Dan bagi Seta, itu sudah cukup.
Suatu hari, seorang anak kecil jatuh ke selokan dekat sendang. Tidak ada orang dewasa di sekitar. Seta yang sedang membersihkan sendang melihatnya. Ia berlari, menarik anak itu keluar, membersihkannya, dan mengantarnya pulang.
Ayah anak itu, Bayu, terkejut melihat Seta menggendong anaknya.
"Kau... kau menolong anakku?"
Seta menunduk. "Maaf, Bang. Saya tidak bermaksud..."
Bayu memotong. "Terima kasih."
Itu pertama kalinya dalam dua tahun Seta mendengar kata "terima kasih" dari warga desa.
Ia menangis.
Bayu merasa bersalah. "Hei, jangan nangis. Aku... maaf kalau selama ini aku kasar padamu."
"Saya tidak pantas mendapat kebaikan, Bang. Saya hanya..."
"Kau sudah berubah, Set. Aku lihat. Orang yang berubah pantas mendapat kesempatan."
Seta menggeleng. "Saya bukan Seta lagi, Bang. Saya tanpa nama."
Bayu menghela napas. "Baiklah, tanpa nama. Terima kasih."
Kades Tirta yang sudah tua duduk di kursi bambu di depan rumahnya. Panji duduk di sampingnya.
"Nak, apa kau lihat perubahan pada Seta?" tanya Kades Tirta.
Panji mengangguk. "Saya lihat, Pak. Dia sudah tidak sama."
"Apa kau pikir dia pantas direhabilitasi?"
Panji berpikir sebentar. "Suatu hari nanti, Pak. Tapi tidak sekarang. Dia masih harus membayar dosanya."
"Apa kau tidak takut suatu hari nanti dia akan mengulangi kesalahan lama?"
"Saya tidak takut, Pak. Karena jika dia mengulangi, kami tahu cara menghadapinya. Tapi saya yakin dia tidak akan."
"Kenapa kau yakin?"
Panji tersenyum. "Karena dia sudah merasakan bagaimana rasanya dihina, dilempari batu, diusir. Ia tidak akan ingin merasakan itu lagi. Dan ia tidak akan ingin orang lain merasakan apa yang ia rasakan."
Kades Tirta tertawa kecil. "Kau ini luar biasa, Nak. Usiamu masih muda, tapi pikiranmu sudah tua."
"Bukan tua, Pak. Hanya banyak belajar dari penderitaan."
Sepuluh tahun kemudian, Seta meninggal dalam tidurnya di gubuk kecil di pinggir sendang. Warga yang menemukannya terkejut. Tubuhnya sudah kaku, tapi wajahnya tersenyum.
Panji datang. Ia menatap jenazah Seta lama.
"Tanpa nama," bisiknya. "Kau sudah menyelesaikan hukumanku. Sekarang kau boleh bernama lagi."
Ia menoleh pada warga. "Kuburkan dia di pemakaman umum. Dengan nama Seta. Ia sudah membayar dosanya."
Pak Tani yang sudah sangat tua menggumam, "Aku tidak akan pernah memaafkannya, Nji."
"Tidak usah dimaafkan, Pak. Tapi dikuburkan dengan hormat."
Warga menguburkan Seta di pemakaman desa, di sisi timur, di bawah pohon beringin kecil. Tidak ada batu nisan besar. Hanya kayu polos dengan tulisan: "Seta. Telah Kembali ke Leluhur."
Di kejauhan, di tepi Sendang Kiskenda, airnya berwarna biru keemasan. Tenang. Damai.
Dan Ki Guno, dari alam lain, tersenyum.
"Kau tidak hanya memenangkan pertempuran melawan kejahatan, Nak. Kau juga memenangkan pertempuran melawan kebencian. Itulah kemenangan sejati."
BAB 35: JOJO MENINGGAL
Kematian tidak pernah datang dengan pemberitahuan. Ia tidak mengetuk pintu, tidak berkata, "Aku akan datang besok." Ia hadir tiba-tiba, di saat yang paling tidak terduga, merenggut orang-orang yang kita cintai tanpa ampun.
Seta meninggal dalam damai, di gubuknya, dengan senyum di wajah. Itu adalah kematian yang tenang—seperti yang diinginkan kebanyakan orang. Tapi dunia tidak adil. Orang baik sering mati dengan cara yang paling kejam, sementara orang jahat mati dengan tenang.
Dua minggu setelah pemakaman Seta, desa Sumbermaya dikejutkan oleh kedatangan sekelompok preman dari kabupaten. Mereka bukan preman biasa. Mereka adalah bekas anak buah Rahul yang dendam karena majikannya dipenjara. Mereka datang untuk membalas dendam—bukan pada Panji, bukan pada Mintarsih, tapi pada Seta yang mereka anggap pengkhianat karena bekerja sama dengan Panji di akhir hidupnya.
Mereka tidak tahu bahwa Seta sudah meninggal.
Mereka datang dengan pentungan, parang, dan pisau. Mereka menerobos masuk ke pemakaman desa, menggali liang kubur Seta, dan menyeret jenazahnya ke tengah lapangan. Warga yang melihat berteriak ketakutan.
"Kami akan membakar pengkhianat itu!" teriak pemimpin preman.
Warga desa yang tadinya tidak peduli pada Seta, kini marah. Bukan karena mereka sayang pada Seta. Tapi karena kuburan adalah tempat suci. Mengganggu jenazah adalah penghinaan tertinggi bagi leluhur.
Bentrokan tidak terhindarkan. Warga melawan preman. Darah tumpah. Suasana memanas.
Dan di tengah kekacauan itu, Jojo berdiri di antara dua kubu.
Pagi itu, desa Sumbermaya tenang seperti biasa. Matahari baru terbit. Kabut tipis masih menyelimuti sawah-sawah yang menghijau. Burung-burung berkicau di dahan pohon beringin.
Jojo sedang membantu Panji di kebun bersama. Mereka mencangkul, menanam bibit cabai, dan sesekali bercanda. Jojo tertawa lepas—tawa yang dulu jarang ia tunjukkan, tapi kini sering ia keluarkan.
"Nji, kau tahu? Aku merasa hidupku sekarang lebih berarti," kata Jojo sambil menyandarkan cangkulnya.
Panji menoleh. "Maksudmu?"
"Dulu, aku hanya menjadi bayangan. Iri pada orang lain. Sekarang, aku bisa membantu orang. Itu cukup."
Mintarsih datang dari arah dapur umum desa. Ia membawa dua gelas kopi panas dan sebungkus pisang goreng.
"Kalian berdua sudah kayak suami istri saja. Setiap pagi bareng," ledeknya sambil meletakkan kopi di pematang sawah.
Jojo tertawa. "Kamu cemburu, Tin?"
Mintarsih mendelik. "Cemburu sama kamu? Tidak pernah."
Mereka bertiga tertawa. Panji memandang langit. "Hari ini cerah. Semoga panen kita berhasil."
Jojo mengangguk. "Aku optimis, Nji. Desa kita sudah damai. Tidak ada lagi yang mengancam."
Setelah sarapan sederhana itu, Jojo dan Panji duduk di pematang sawah. Matahari mulai meninggi. Burung-burung beterbangan di atas ladang.
"Jo," panggil Panji.
"Iya, Nji."
"Kau sudah punya rencana untuk masa depan?"
Jojo tersenyum. "Rencana? Aku tidak pernah punya rencana, Nji. Hidupku dulu hanya mengikuti arus."
"Dan sekarang?"
Jojo mengambil napas panjang. "Sekarang... aku ingin membantu desa ini. Membangun. Bukan merusak."
"Kau sudah melakukan itu, Jo."
"Belum cukup, Nji. Aku ingin membangun sesuatu yang bisa kutinggalkan. Mungkin sekolah. Atau perpustakaan. Atau... aku tidak tahu. Tapi sesuatu."
Panji menepuk bahu Jojo. "Kau akan melakukannya, Jo. Aku yakin."
Jojo menatap langit. "Aku ingin suatu hari nanti, ketika aku mati, orang-orang tidak hanya mengingatku sebagai pengkhianat. Tapi juga sebagai seseorang yang berubah. Seseorang yang mencoba."
Panji diam. Ia merasakan ada yang aneh dari kata-kata Jojo. Seperti firasat. Tapi ia tidak berkata apa-apa.
"Kau tidak akan mati, Jo. Kita masih panjang."
Jojo tertawa. "Kau benar, Nji. Aku hanya berpikir terlalu jauh."
Mereka berdua berdiri. Mereka kembali bekerja.
Sekitar pukul sepuluh pagi, sekelompok preman masuk ke Desa Sumbermaya. Mereka berjumlah dua belas orang, semuanya bertato, berwajah bengis. Di depan, seorang laki-laki tambun dengan bekas luka di pipi—Jarot, tangan kanan Rahul yang dulu.
Warga yang melihat mereka berlarian ketakutan. Ibu-ibu menarik anak-anak mereka masuk ke dalam rumah. Beberapa pemuda desa mengambil cangkul dan parang, bersiap melawan.
Pak Tani yang sedang duduk di teras rumahnya berdiri. Wajahnya tua, jalannya tertatih, tapi matanya masih tajam.
"Hei, kalian mau apa di desa kami?" teriak Pak Tani.
Jarot tersenyum bengis. "Mau cari Seta. Mana dia?"
"Seta sudah mati! Kuburnya di sana! Jangan diganggu!"
Jarot tertawa. "Mati? Untung. Kami mau kubakarnya biar tidak bisa tenang di alam baka."
Pak Tani pucat. "Kalian jangan keterlaluan! Itu kuburan! Tempat suci!"
Jarot memberi isyarat. Preman-preman itu berjalan ke pemakaman desa. Beberapa warga mencoba menghalangi, tapi preman itu mengayunkan pentungan. Pak Tani terkena pukulan di bahu dan jatuh. Warga lain berteriak.
Jojo sedang di kebun ketika mendengar teriakan dari arah desa.
"Nji, ada apa?" tanyanya cemas.
Panji sudah berlari ke arah desa. "Ada preman, Jo! Cepat!"
Mereka berdua berlari. Sesampainya di pemakaman, mereka melihat pemandangan mengerikan: kuburan Seta sudah digali dengan sekop dan linggis, peti matinya rusak, jenazah Seta yang sudah membusuk diseret ke tengah lapangan. Preman-preman itu sedang menyiraminya dengan bensin.
Bau menyengat. Beberapa warga muntah. Yang lain menangis.
Jarot berdiri di samping jenazah, memegang korek api.
"Warga Sumbermaya, lihat ini! Ini yang terjadi pada pengkhianat! Ini yang akan terjadi pada siapa pun yang melawan kami!"
Panji maju. Wajahnya tegang, tapi suaranya tenang.
"Jarot, berhenti! Seta sudah mati! Biarkan ia beristirahat!"
Jarot menatap Panji dengan kebencian. "Kau Panji, ya? Kau yang menghancurkan bosku, Rahul? Kau yang membuatnya dipenjara?"
"Saya tidak menghancurkan siapa pun. Saya hanya membela kebenaran."
"Kebenaran?" Jarot tertawa. "Di dunia ini tidak ada kebenaran, Panji. Yang ada hanya kekuatan!"
Ia menyalakan korek api. Api kecil menyala di ujung tangannya.
Warga berteriak. Pak Tani, meskipun bahunya sakit, maju dengan cangkul. Pemuda desa lain maju dengan parang dan pentungan.
"Jangan biarkan mereka membakar jenazah!" teriak Pak Tani. "Itu penghinaan bagi leluhur kita!"
Bentrokan pecah. Parang beradu dengan parang. Pentungan beradu dengan pentungan. Darah mulai berceceran.
Di tengah kekacauan itu, Jojo berdiri di antara dua kubu. Ia tidak membawa senjata. Ia hanya membawa suaranya.
"Berhenti! Jangan ada yang terluka lagi!" teriak Jojo sekencang-kencangnya.
Tapi tidak ada yang mendengar. Suaranya tenggelam oleh benturan senjata dan teriakan amarah.
Jarot mengayunkan parangnya ke arah Pak Tani, yang sedang berusaha melindungi jenazah Seta dengan tubuhnya yang ringkih. Pak Tani tidak bisa bergerak cepat. Kakinya sudah tua. Tangannya gemetar.
Parang itu melayang di udara. Kilatannya menyilaukan di bawah matahari siang.
Jojo melihatnya.
Dunia berhenti.
Flashback: Sepuluh Tahun Lalu
Dalam sepersekian detik sebelum ia berlari, pikiran Jojo melayang ke masa lalu. Bukan sekadar ingatan. Tapi hidup kembali. Frame demi frame. Seperti film yang diputar lambat.
Frame satu.
Ia melihat dirinya yang masih kecil, berdiri di tepi kali. Usia lima tahun. Kakinya kotor. Celana pendeknya sobek di bagian lutut. Ia menangis karena kehilangan sandal jepit merah muda.
"Halo. Aku Panji. Aku tinggal di ujung barat desa. Kamu siapa?"
Laki-laki kecil dengan mata hitam besar itu tersenyum padanya. Untuk pertama kalinya, Jojo merasa dilihat.
Frame dua.
Ia melihat dirinya berdiri di bawah pohon beringin. Usia enam tahun. Di tangannya, selembar uang kepeng berlubang.
"Kita bertiga akan bersahabat selamanya, ya!"
"Selamanya!" jawab Panji dan Mintarsih.
Darah mereka menetes ke uang kepeng itu. Sumpah suci. Janji yang tidak pernah ia duga akan ia khianati.
Frame tiga.
Ia melihat dirinya yang beranjak remaja. Usia lima belas tahun. Wajahnya cemberut. Matanya penuh iri.
"Kenapa Panji yang selalu dipuji? Kenapa bukan aku?"
Ia melihat dirinya mendekati Rama. Mendekati Seta. Memberikan informasi tentang desa. Menjadi pengkhianat.
"Panji, kau bilang kau sayang aku. Tapi perbuatanmu berkata lain."
Padahal, Panji tidak pernah berkata apa-apa selain baik padanya.
Frame empat.
Ia melihat dirinya yang hancur. Usia dua puluh dua tahun. Tubuhnya kurus, bajunya compang-camping, wajahnya penuh luka. Ia pulang ke desa dengan langkah tertatih.
"Nji... aku pulang. Maafkan aku."
Panji tidak marah. Panji tidak membentak. Panji hanya memeluknya.
"Aku sudah memaafkanmu, Jo. Sejak kau pergi."
Frame lima.
Ia melihat dirinya di tepi Sendang Kiskenda. Usia dua puluh tiga tahun. Ia sedang membersihkan lumut dari batu-batu—hukuman adatnya.
Panji datang dengan membawa nasi bungkus.
"Jo, kau tidak sendiri."
"Aku tahu, Nji. Terima kasih."
Frame enam.
Ia melihat dirinya di kebun teh, sembunyi-sembunyi mengintip Panji dan Mintarsih. Mereka sedang tertawa bersama. Jojo tersenyum, meskipung hatinya perih.
"Aku ikhlas, Tin. Aku ikhlas."
Frame tujuh.
Ia melihat dirinya pagi ini, duduk di pematang sawah bersama Panji.
"Aku ingin suatu hari nanti, ketika aku mati, orang-orang tidak hanya mengingatku sebagai pengkhianat. Tapi juga sebagai seseorang yang berubah. Seseorang yang mencoba."
Jojo tersenyum.
"Ini saatnya."
Jojo berlari.
Ia tidak merasakan kakinya menyentuh tanah. Ia tidak merasakan napasnya yang tersengal. Ia hanya melihat Pak Tani—warga tua yang dulu paling keras menentangnya, yang pernah meludahi wajahnya, yang pernah mengatakan "Kau pengkhianat, Jojo!"
Pak Tani yang sekarang sedang berusaha melindungi jenazah Seta. Pak Tani yang tidak bisa bergerak cepat. Pak Tani yang akan mati jika parang itu mengenai kepalanya.
Jojo tidak berpikir. Ia hanya berlari.
"Ibu... Bapak..." bisiknya dalam hati. "Aku tidak akan mengecewakan kalian lagi."
Ia mendorong Pak Tani ke samping dengan sekuat tenaga. Pak Tani jatuh tersungkur ke tanah lumpur. Selamat.
Tapi tubuh Jojo kini berada tepat di jalur ayunan parang.
Parang Jarot tidak bisa berhenti. Momentumnya terlalu besar.
Jojo membentangkan tangannya. Dadanya terbuka. Ia tidak berlindung. Ia tidak membungkuk. Ia berdiri tegak.
Seperti pohon beringin.
Seperti panji.
Parang itu mengenai dadanya.
Tidak ada suara. Hanya rasa. Rasa panas yang menyebar dari dadanya ke seluruh tubuh. Rasa dingin yang menyusul setelahnya. Darah menyembur. Warna merah membasahi baju putihnya. Baju putih yang baru ia kenakan pagi ini—baju pemberian Mintarsih untuk ulang tahunnya yang ke dua puluh lima.
"Jojo!" teriak Pak Tani dari tanah.
Jojo tersenyum. Darah mengalir dari sudut bibirnya.
"Pak... Tani... kau... selamat..." bisiknya.
Ia jatuh.
Panji tidak ingat bagaimana ia bisa sampai di samping Jojo. Satu detik ia masih berdiri sepuluh meter jauhnya, detik berikutnya ia sudah berlutut di tanah basah, memangku kepala sahabatnya.
Darah Jojo membasahi pangkuan Panji. Darah itu hangat. Terlalu hangat.
"Jo! Jo! Kau kenapa?! Kenapa kau lakukan itu?!" teriak Panji. Suaranya pecah. Matanya sudah basah.
Jojo terbatuk. Darah keluar dari mulutnya. Wajahnya pucat, tapi matanya masih bersinar. Matanya masih tersenyum.
"Nji... Nji... aku... aku tidak ingin... orang lain... mati..."
"Kau bodoh, Jo! Kau bodoh! Bukan tugasmu menjadi pahlawan!"
Jojo tersenyum. "Tidak ada... yang namanya tugas... Nji. Yang ada... hanya... kesempatan."
Mintarsih tiba. Ia menjatuhkan diri di sisi Jojo. Wajahnya basah. Tangannya gemetar. Ia mencoba menekan luka di dada Jojo dengan kain yang ia sobek dari kebayanya.
"Jo! Jo! Tahan! Aku panggil mantri! Aku panggil ambulans!"
Jojo menggeleng pelan. "Sudah... sudah terlambat, Tin."
"Jangan bilang begitu, Jo! Kau kuat! Kau pasti kuat!"
Jojo tersenyum. "Tin... aku... aku suka... kamu..."
Mintarsih terisak. "Aku tahu, Jo. Aku tahu. Maaf... aku tidak bisa membalasnya."
"Tidak... apa-apa... aku... sudah... ikhlas..."
Pak Burhan, yang sejak tadi berada di kerumunan, berjalan tertatih ke arah Jojo. Wajahnya pucat. Air matanya jatuh. Kakinya terasa seperti timah. Setiap langkah adalah siksaan.
"Jo... Jo... anak Bapak..." suaranya parau. Tangannya gemetar ketika menyentuh pipi Jojo.
Jojo memegang tangan ayahnya. Tangannya dingin, tapi genggamannya kuat.
"Pak... maafkan aku... aku sudah... merepotkan Bapak... seumur hidup..."
"Kamu tidak merepotkan, Nak. Kamu anak Bapak. Bapak bangga padamu."
"Pak... titip... desa ini... titip Panji... titip Tin..."
"Kamu titip sendiri, Nak! Jangan bicara seperti itu! Kamu akan sembuh! Bapak akan bawa kamu ke dokter!"
Jojo menggeleng. Matanya mulai sayu.
"Sudah... Pak... aku... lelah..."
Jojo memandang Panji. Matanya sayu. Ada kelegaan di sana. Ada kedamaian. Ada cinta yang tidak pernah mati.
"Nji... aku... aku minta maaf... untuk... semuanya..."
Panji menangis. Air matanya jatuh ke pipi Jojo. Bercampur dengan darah.
"Jo, aku sudah memaafkanmu. Sudah lama. Sejak kau kembali. Sejak kau mengaku di balai desa. Sejak kau membersihkan sendang."
"Maaf... aku tidak bisa... lihat... kau menikah... dengan Tin..."
"Kamu akan lihat, Jo! Tahan! Besok aku nikah! Kamu harus datang!"
Jojo tersenyum. "Kau... bohong... Nji... pernikahanmu... masih... setahun lagi..."
Panji terisak. "Baiklah, aku bohong. Tapi kau harus hidup, Jo! Aku tidak bisa kehilangan sahabatku!"
"Sudah... Nji... panggilkan... leluhur... untuk... menjemputku..."
Jojo memejamkan mata. Perlahan. Seperti orang yang kelelahan setelah perjalanan panjang. Seperti orang yang akhirnya tiba di rumah setelah bertahun-tahun tersesat.
Tangannya yang sedingin es menggenggam jari Panji.
Panji terisak. "Jo... Jo... jangan pergi... jangan tinggalkan aku..."
Mintarsih memeluk Jojo dari sisi lain. "Jo, kamu saudaraku. Aku sayang kamu. Aku tidak akan pernah melupakanmu."
Pak Burhan memegang kaki Jojo. "Nak... Bapak akan menyusul... suatu hari nanti... tunggu Bapak di sana..."
Jojo membuka mata untuk terakhir kalinya. Ia memandang Panji, Mintarsih, dan ayahnya.
Bibirnya bergerak. Suaranya hampir tidak terdengar.
"Nji... Tin... Pak... terima kasih... untuk... semuanya..."
"Untuk apa, Jo?" tanya Mintarsih sambil menangis.
Jojo tersenyum. "Untuk... tidak... membuangku..."
Ia menarik napas terakhir. Dadanya berhenti naik turun.
"Nji... Tin... selamatkan... desa ini... janji..."
"Janji, Jo. Janji." Panji menggenggam tangan Jojo lebih erat.
Jojo tersenyum.
Lalu ia tidak bergerak lagi.
Panji menjerit. Bukan teriakan biasa. Tapi jeritan yang keluar dari dasar jiwanya. Jeritan yang sudah ia tahan selama bertahun-tahun—ketika Sastro meninggal, ketika ia diusir dari desa, ketika Mintarsih dijodohkan. Semua kesedihan itu keluar sekarang, dalam satu suara yang memecah langit.
"JOOOOO!"
Suaranya menggema di seluruh desa. Burung-burung terbang berhamburan dari pohon beringin. Warga yang menyaksikan ikut menangis.
Mintarsih memeluk Panji. "Nji... Nji... Jojo sudah pergi..."
Panji tidak mendengar. Ia masih memeluk jasad Jojo. Keningnya menempel di kening Jojo.
"Jo... Jo... bangun... Jo... ini tidak lucu... Jo..."
"Jo, kau ingat waktu kita kecil? Kau pernah bilang kita akan bersahabat selamanya. Selamanya, Jo! Belum selesai! Kau tidak boleh pergi!"
Pak Burhan jatuh pingsan. Tubuhnya yang tua tidak kuat menahan kehilangan. Beberapa warga menolongnya, membaringkannya di tanah teduh.
Wawan dan Bayu berdiri di kejauhan, wajah mereka basah. Sari menangis di bahu suaminya.
Jarot dan preman-preman itu melarikan diri. Mereka tidak menyangka akan membunuh. Mereka hanya ingin menakut-nakuti. Tapi sudah terlambat.
Darah Jojo terus mengalir. Membasahi tanah. Membasahi rumput. Membasahi akar pohon beringin yang menjalar di dekat pemakaman.
Perlahan, Panji melepaskan pelukannya. Ia duduk di samping jasad Jojo. Matanya kosong. Tangannya masih memegang tangan Jojo yang sudah dingin dan kaku.
Mintarsih duduk di sampingnya. Ia memegang bahu Panji.
"Nji," panggilnya pelan. "Kita harus... memandikannya."
Panji tidak menjawab.
"Nji... Jojo sudah pergi."
"Aku tahu," bisik Panji. "Tapi aku tidak bisa melepaskannya."
"Nji, Jojo tidak akan mau melihatmu seperti ini."
"Jojo tidak akan melihat apa pun lagi, Tin. Ia sudah mati."
Mintarsih menangis. "Jangan bicara begitu, Nji."
Panji mengangkat wajah. Matanya merah, sembab. Wajahnya basah oleh air mata dan darah Jojo yang mengering di pipinya.
"Tin, aku kehilangan sahabatku. Sahabat yang dulu pernah kukenal sejak kecil. Yang pernah kuberi janji di bawah pohon beringin. Yang pernah kumaafkan. Yang... yang baru saja mulai tersenyum lagi."
Mintarsih memeluk Panji. "Aku tahu, Nji. Aku juga kehilangan."
Mereka berdua menangis di samping jasad Jojo.
Wawan dan Bayu mendekat. Mereka membawa kain kafan dan air.
"Bu, Pak," kata Wawan dengan suara parau. "Kami akan memandikan Jojo. Kalian istirahat dulu."
Panji menggeleng. "Aku yang akan memandikannya. Jojo saudaraku."
Panji, Wawan, dan Bayu membawa jasad Jojo ke rumah Pak Burhan. Mereka memandikannya dengan air hangat yang dicampur daun sirih dan kapur sirih. Tradisi sejak zaman leluhur.
Setiap sentuhan tangan Panji pada tubuh Jojo adalah doa.
Ketika membasuh wajah Jojo, ia teringat saat Jojo masih kecil, wajahnya penuh lumpur setelah jatuh di sawah.
"Jo, kamu kenapa?"
"Aku kejar tikus, Nji! Tapi tikunya lari!"
"Kamu kotor. Ayo cuci muka."
Ketika membasuh dada Jojo, ia melihat luka parang yang menganga. Luka itu lebar. Dalam. Membelah dada Jojo dari tulang selangka hingga ulu hati.
"Jo, kenapa kau lakukan itu?"
"Karena... aku tidak ingin... orang lain... mati."
Ketika membasuh tangan Jojo, ia menggenggamnya sebentar. Tangan itu dulu pernah menggenggam uang kepeng—uang kepeng untuk sumpah setia. Tangan itu dulu pernah melambai padanya dari kejauhan ketika Jojo pergi bersama Rama.
"Selamat tinggal, Nji."
"Sampai jumpa, Jo."
Dan sekarang, tangan itu tidak akan pernah melambai lagi.
Jojo dimakamkan keesokan harinya di pemakaman desa, tidak jauh dari makam Seta. Ironis. Dua musuh dulu, kini beristirahat berdampingan. Mungkin di alam lain, mereka sudah berdamai. Mungkin di sana, tidak ada dendam. Tidak ada ambisi. Tidak ada iri.
Seluruh warga desa hadir. Laki-laki, perempuan, tua, muda, anak-anak. Mereka berdiri di sekitar liang lahat, mata berkaca-kaca, hati sesak oleh kehilangan.
Pak Burhan duduk di kursi kayu di samping makam. Wajahnya kosong. Matanya tidak berkedip. Ia sudah tidak menangis. Air matanya habis semalam.
Pak Tani—yang selamat karena Jojo—duduk di kursi rodanya. Wajahnya tua, keriput, penuh sesal. Ia menggenggam sandal jepit—sandal jepit milik Jojo yang tertinggal di lokasi kejadian.
"Nak Jojo," bisiknya. "Kakek... kakek minta maaf. Dulu kakek paling keras menentangmu. Kakek bilang kau pengkhianat. Kakek... kakek salah."
Air matanya jatuh ke sandal itu.
"Kau mati menyelamatkan kakek. Kakek tidak akan pernah bisa membalas budimu."
Panji berdiri di sisi makam. Ia menggenggam segenggam tanah. Tanah yang dicampur dengan darah Jojo dari kemarin.
"Jo, kau tahu? Aku iri padamu."
Warga terkejut. Beberapa saling berpandangan.
"Kau mati sebagai pahlawan. Aku masih hidup. Dan aku harus melanjutkan perjuangan tanpa kau."
Tanah ia taburkan ke liang lahat. Butir-butir tanah jatuh ke peti kayu sederhana itu. Suaranya nyaring di pagi yang sunyi.
"Tapi aku janji. Aku akan jaga desa ini. Aku akan jaga ayahmu. Aku akan jaga Mintarsih. Dan aku tidak akan pernah melupakanmu."
Mintarsih berdiri di samping Panji. Kebaya putihnya basah oleh air mata. Rambutnya yang panjang diikat dua ke belakang—gaya yang sama ketika mereka pertama kali bertemu di tepi kali tiga puluh tahun lalu.
"Jo," katanya dengan suara bergetar. "Kau sahabat terbaik yang pernah kami miliki. Istirahatlah dengan tenang. Kami akan baik-baik saja. Janji."
Pak Burhan berdiri dari kursinya. Dengan suara parau, ia berkata, "Jo, anak Bapak. Bapak bangga. Bapak tidak akan pernah melupakanmu. Setiap hari, Bapak akan ke sini. Setiap hari, Bapak akan bawa bunga."
Ia berhenti sejenak, menahan isak.
"Dan suatu hari nanti, Bapak akan menyusul. Kita akan bertemu lagi, Nak. Di sana. Di tempat yang lebih baik."
Warga mengucapkan doa. Kades Tirta yang sudah tua memimpin dengan suara lirih tapi khidmat.
"Ya Tuhan, terimalah roh Jojo bin Burhan di sisi-Mu. Ampunilah dosa-dosanya. Terimalah taubatnya. Ia telah mati sebagai pahlawan. Catatlah ia sebagai hamba-Mu yang setia."
Warga mengamini.
Kerumunan mulai bubar. Satu per satu warga pulang. Ada yang berjalan sambil menunduk, ada yang masih menangis, ada yang diam membatu.
Panji, Mintarsih, dan Pak Burhan masih berdiri di depan makam.
"Nak," panggil Pak Burhan pada Panji. Suaranya lirih, hampir tidak terdengar.
"Iya, Pak."
"Aku titip Jojo padamu di sana."
Panji mengangguk. "Saya akan menjaganya, Pak. Saya akan membersihkan makamnya setiap minggu. Saya akan menabur bunga setiap hari Jumat."
"Tidak, Nak. Maksudku... jangan biarkan ia sendirian. Doakan ia. Setiap malam."
"Pukul berapa, Pak?"
Pak Burhan menatap langit. "Pukul sembilan. Waktu di mana ia biasa pulang ke rumah setelah membantu di kebun."
"Saya akan, Pak. Janji. Setiap malam pukul sembilan, saya akan berdoa untuk Jojo."
Pak Burhan tersenyum tipis. "Terima kasih, Nak. Jojo beruntung punya sahabat sepertimu."
Panji menggeleng. "Saya yang beruntung, Pak. Jojo mengajarkan saya arti pengampunan. Bahwa orang yang tersesat bisa kembali. Bahwa kesalahan tidak harus dihukum seumur hidup."
Malam itu, langit gelap tanpa bulan. Bintang-bintang bersinar terang—tidak jatuh, hanya bersinar. Panji duduk di tepi Sendang Kiskenda sendirian. Airnya berwarna hitam pekat. Hitam seperti kesedihannya.
Ia memegang uang kepeng di tangannya—uang kepeng yang dulu mereka gunakan untuk sumpah tiga bocah. Uang kepeng yang pernah ia temukan di semak-semak bawah pohon beringin. Uang kepeng yang pernah ia berikan pada Jojo, lalu Jojo kembalikan, lalu ia simpan lagi.
"Jo," bisiknya. "Kau ingat janji kita? Selamanya. Kau pikir selamanya itu berarti kita mati bersama? Ternyata tidak. Selamanya berarti kau mati, tapi aku masih hidup. Dan aku harus membawa kenangan tentangmu selamanya."
Angin malam bertiup. Daun-daun beringin bergoyang. Suara gemerisik seperti bisikan.
"Tapi aku akan buktikan bahwa janji kita tidak mati. Aku akan hidup untuk desa ini. Aku akan berjuang untuk orang-orang yang kau cintai. Itu janjiku padamu."
Bintang-bintang mulai bermunculan. Bintang di timur berkedip—lebih terang dari biasanya.
Seperti senyum Jojo dari surga.
Pak Burhan duduk di teras rumahnya. Rumah yang kini terasa lebih kosong dari biasanya. Kursi bambu tempat Jojo biasa duduk masih di tempat yang sama. Cangkul yang biasa Jojo pakai masih tersandar di dinding.
Ia memandang kedua benda itu. Tidak bergerak. Tidak berkedip.
"Jo," bisiknya. "Rumah ini sepi tanpa kau. Bapak tidak bisa masak. Bapak tidak bisa bersih-bersih. Bapak tidak bisa... hidup."
Ia menunduk. Air matanya jatuh ke pangkuan.
"Tapi Bapak akan berusaha. Karena kau pasti tidak mau melihat Bapak menyerah. Kau pasti ingin Bapak tetap kuat."
Ia mengangkat wajah.
"Bapak akan kuat, Jo. Untukmu. Untuk desa ini. Untuk Panji dan Mintarsih yang selalu menjagaku."
Angin malam bertiup. Membawa bau tanah basah dan bunga melati dari kejauhan.
Pak Burhan tersenyum.
"Nak, tunggu Bapak di sana. Bapak akan menyusul."
Tiga hari setelah pemakaman, Panji sedang membersihkan kamar Jojo—kamar yang dulu ia tinggali ketika ia masih kecil, sebelum ia ikut Rama pergi ke kota. Kamar yang sama yang ia tempati setelah kembali ke desa. Kamar yang sederhana: kasur tipis, lemari kayu, meja kecil, dan satu jendela yang menghadap ke timur.
Di bawah bantal, Panji menemukan sebuah amplop cokelat. Tidak tertulis nama. Tapi Panji tahu surat itu untuknya.
Ia membukanya. Tangannya gemetar.
"Nji,
Jika kau membaca surat ini, berarti aku sudah pergi. Aku tidak tahu kapan. Mungkin besok. Mungkin tahun depan. Tapi aku ingin meninggalkan sesuatu untukmu.
Pertama, uang kepeng yang dulu kita pakai untuk sumpah. Aku diam-diam mengambilnya dari semak-semak waktu itu, setelah aku membuangnya. Maafkan aku. Aku tidak bisa benar-benar melepaskannya. Tapi sekarang aku kembalikan padamu. Simpanlah. Wariskan pada anak cucumu.
Kedua, cerita. Ceritakan tentang aku pada anak-anakmu nanti. Tentang kesalahanku. Tentang pertobatanku. Tentang kematianku. Biarkan mereka belajar dari kesalahanku. Jangan biarkan aku dilupakan. Tapi jangan biarkan mereka meniru kesalahanku.
Ketiga, terima kasih. Untuk semuanya. Untuk persahabatan yang tidak pernah kau putuskan meskipun aku sudah mengkhianatimu. Untuk pengampunan yang tidak pernah kau hitung-hitungan. Untuk kesempatan kedua yang kau berikan padaku.
Aku tidak akan pernah bisa membalas kebaikanmu. Tapi aku janji, di mana pun aku berada—di dunia atau di alam lain—aku akan selalu menjagamu.
Jaga Tin. Jaga desa ini. Jaga panji itu.
Dan jangan pernah berhenti memaafkan, Nji. Karena maaf adalah keberanian tertinggi. Itu yang kau ajarkan padaku.
Sampai jumpa di lain waktu.
Jojo.
P.S. Aku sayang kalian berdua. Panji dan Mintarsih. Selamanya."
Panji menutup surat itu. Air matanya jatuh ke kertas, membuat tinta sedikit luntur.
"Jo," bisiknya. "Kau tidak akan dilupakan. Janji."
Ia menyimpan surat itu di dalam kotak kayu—kotak yang sama tempat ia menyimpan uang kepeng, jimat Tumbal Lintang, dan kain panji pemberian Eyang Jenggala.
"Suatu hari nanti, ketika aku sudah tua, aku akan ceritakan ini pada anak-anakku. Pada cucu-cucuku. Pada cicit-cicitku."
Ia menutup kotak itu.
"Kisahmu akan hidup, Jo. Selamanya."
Panji pergi ke makam Jojo. Ia membawa sekop kecil, sapu lidi, dan bunga.
Ia membersihkan rumput liar di sekitar makam. Ia menyapu daun-daun kering. Ia menabur bunga.
Setelah selesai, ia duduk di samping makam.
"Jo, mulai hari ini, setiap hari Jumat aku akan ke sini. Setiap hari Jumat aku akan bersihkan makammu. Setiap hari Jumat aku akan bawa bunga."
Ia menatap langit.
"Dan setiap malam pukul sembilan, aku akan berdoa untukmu. Seperti janjiku pada Pak Burhan."
Angin pagi bertiup. Daun-daun beringin bergoyang.
"Jo, kau tahu? Aku merindukanmu. Sudah. Padahal baru tiga hari."
Ia tersenyum tipis.
"Tapi aku akan kuat. Untukmu. Untuk Tin. Untuk desa ini."
Warga desa mulai terbiasa dengan ketiadaan Jojo. Mereka tetap bekerja, tetap bercocok tanam, tetap berkumpul di balai desa. Tapi ada kekosongan yang tidak bisa diisi. Sebuah kursi di bawah pohon beringin yang tidak pernah lagi diduduki. Sebuah tawa yang tidak pernah lagi terdengar. Sebuah nama yang selalu disebut dalam doa setiap malam.
Pak Tani, yang dulu paling keras menentang Jojo, kini menjadi orang yang paling rajin membersihkan makam Jojo. Setiap pagi, sebelum matahari terbit, ia minta diantar cucunya ke pemakaman. Ia duduk di kursi rodanya di samping makam Jojo, kadang diam, kadang bicara sendiri.
"Nak Jojo," katanya suatu pagi. "Kakek tua ini masih hidup karena kau. Kakek tidak bisa membalas. Tapi kakek akan berdoa untukmu. Setiap hari. Sampai kakek mati."
Wawan, Bayu, dan Sari bergantian menjaga Pak Burhan. Mereka memasak untuknya, membersihkan rumahnya, menemani ketika ia tampak kesepian.
Pak Burhan jarang bicara. Tapi matanya tidak lagi kosong. Ada harap di sana. Harap bahwa suatu hari nanti, ia akan bertemu Jojo lagi.
Panji duduk di tepi Sendang Kiskenda. Airnya mulai berubah warna—dari hitam pekat menjadi biru keperakan. Tanda kesedihan mulai surut. Tanda kehidupan akan kembali.
"Jo," bisiknya. "Aku akan menikah dengan Mintarsih. Tidak sekarang. Mungkin tahun depan. Tapi aku akan menikah. Dan kau tidak akan ada di sana."
Ia memegang uang kepeng di sakunya.
"Tapi kau akan ada di hatiku. Di hati Tin. Di hati semua orang yang kau cintai."
Ia berdiri.
"Selamat jalan, Jo. Sampai jumpa di lain waktu."
Di kejauhan, bintang di timur berkedip.
Seperti senyum.
Seperti jawaban.
Seperti cinta yang tak pernah mati.
Bab 36: Panji dan Mintarsih Menikah
Satu tahun telah berlalu sejak kepergian Jojo. Desa Sumbermaya masih berduka, tapi kehidupan harus terus berjalan. Sawah-sawah tetap menghijau, sendang Kiskenda tetap bening, dan warga desa tetap bekerja seperti biasa. Tapi ada kekosongan yang tidak bisa diisi. Sebuah kursi di bawah pohon beringin yang tidak pernah lagi diduduki. Sebuah tawa yang tidak pernah lagi terdengar. Sebuah nama yang selalu disebut dalam doa setiap malam.
Pak Burhan tidak pernah pulih sepenuhnya. Ia masih duduk di teras rumahnya setiap sore, memandang ke arah timur—ke arah makam Jojo. Kadang ia tersenyum sendiri, kadang air matanya jatuh tanpa suara. Panji dan Mintarsih bergantian menjenguknya, membawakan makanan, menemani berbincang. Tapi Pak Burhan lebih banyak diam. Kesedihannya terlalu dalam untuk diungkapkan dengan kata-kata.
Panji sendiri juga berubah. Ia menjadi lebih pendiam, lebih serius, lebih jarang tertawa. Beban sebagai pemimpin desa, sebagai ketua koperasi, sebagai pengganti Jojo, sebagai calon suami Mintarsih—semua terasa berat. Tapi ia tidak pernah mengeluh. Ia hanya terus berjalan, seperti yang diajarkan Jojo sebelum meninggal.
Mintarsih sabar menunggu. Ia tidak pernah menekan Panji untuk segera menikah. Ia tahu, Panji masih dalam masa berkabung. Bukan hanya untuk Jojo, tapi juga untuk semua yang telah hilang: ayahnya, Ki Guno, Eyang Jenggala, dan masa mudanya yang penuh penderitaan.
Tapi pada suatu malam, ketika bintang-bintang mulai jatuh lagi—malam seribu bintang yang kedua kalinya dalam hidup Panji—Mintarsih mengambil keputusan.
Ia pergi ke rumah Panji. Ia duduk di sampingnya. Ia memegang tangannya.
"Nji, sudah setahun. Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi."
Panji menatapnya. Matanya lelah. "Tin, aku belum siap."
"Kapan kau akan siap? Ketika rambutmu memutih? Ketika aku sudah tua dan keriput?"
"Aku..."
Mintarsih memotong. "Aku tidak butuh pesta mewah. Aku tidak butuh mahar besar. Aku hanya butuh kau. Dan aku ingin, di bawah panji seribu bintang—seperti malam ketika kau dilahirkan—kita bersatu."
Panji terdiam. Ia menatap langit. Bintang-bintang mulai berjatuhan satu per satu.
"Tin, kau yakin?"
"Yakin. Sudah dari dulu."
Panji tersenyum. Untuk pertama kalinya dalam setahun, ia tersenyum dengan tulus.
"Baiklah. Besok kita siapkan."
Keesokan paginya, Panji pergi ke rumah Kartiman, ayah Mintarsih. Kartiman sudah tua, jalannya tertatih, tapi matanya masih jernih.
"Pak, saya datang untuk meminang Mintarsih."
Kartiman terkejut. "Apa? Sekarang? Baru sekarang?"
Panji menunduk. "Maaf, Pak. Saya lama. Banyak hal yang harus saya selesaikan."
Kartiman menghela napas. "Nak, saya sudah menunggu lamaranmu sejak sepuluh tahun lalu. Apa tidak sadar Mintarsih sudah tua?"
"Maaf, Pak."
"Sudahlah, tidak usah minta maaf. Yang penting sekarang kau datang. Saya terima lamaranmu. Tapi satu syarat."
"Apa syaratnya, Pak?"
Kartiman menatap Panji tajam. "Jangan pernah membuat Mintarsih menangis. Jangan pernah membuatnya menderita. Karena ia sudah cukup menderita selama ini."
Panji berlutut. "Saya janji, Pak. Saya tidak akan menyia-nyiakan Mintarsih."
"Berdiri, Nak. Jangan berlutut. Kamu bukan anak kecil lagi."
Panji berdiri. Kartiman memeluknya.
"Selamat, Nak. Aku bangga padamu."
Srintil sedang duduk di teras rumah ketika Panji pulang.
"Bu, aku mau menikah dengan Mintarsih."
Srintil terkejut. Sendoknya jatuh. "Apa?"
"Aku bilang, aku mau menikah dengan Mintarsih, Bu."
Srintil menangis. Ia memeluk Panji.
"Nak, akhirnya... ibu sudah menunggu hari ini sejak kau masih kecil."
"Maaf, Bu. Aku lama."
"Tidak apa-apa. Yang penting kau sadar. Mintarsih gadis baik. Jangan sia-siakan dia."
"Aku tidak akan menyia-nyiakannya, Bu. Janji."
Srintil melepaskan pelukan. Ia mengusap air matanya.
"Ibu akan masak. Banyak. Untuk pesta."
"Pesta sederhana saja, Bu. Tidak usah mewah."
"Terserah kau. Tapi ibu akan masak yang terbaik untuk menantuku."
Mintarsih duduk di kamarnya, ditemani Sari dan beberapa gadis desa lainnya. Mereka sedang memilih busana untuk pernikahan.
"Aku tidak mau ribet," kata Mintarsih. "Cukup kebaya putih dan kain batik."
Sari protes. "Tin, ini pernikahan! Harus istimewa!"
"Cukup istimewa dengan Panji di sampingku."
Gadis lain tertawa. "Ciee... Mintarsih sudah tidak sabar."
Mintarsih tersenyum malu. "Diam kalian."
Sari mengambil kebaya putih dari lemari. "Ini, kebaya punya ibumu dulu. Masih bagus."
Mintarsih memegang kebaya itu. Matanya berkaca-kaca.
"Ibu... pasti senang melihatku menikah dengan Panji."
"Ibumu akan tersenyum dari surga, Tin. Percayalah."
Panji duduk di tepi Sendang Kiskenda. Ia memegang kain panji pemberian Eyang Jenggala. Kain itu kini sudah bersih, terjahit rapi dengan benang emas. Di tengah kain, ia menjahit dua bintang kecil—satu untuk Jojo, satu untuk ayahnya.
"Jo, kau akan melihat pernikahanku dari sana," bisiknya. "Aku harap kau bangga."
Angin bertiup. Daun-daun beringin bergoyang.
"Bapak, doakan aku. Aku akan memulai keluarga baru."
Ia menatap bintang di timur. Bintang itu berkedip.
Ki Guno—dari alam lain—tersenyum. "Akhirnya, Nak. Kau menjadi pria dewasa."
Hari pernikahan tiba. Seluruh warga desa hadir. Balai desa dihias dengan janur, bunga, dan umbul-umbul. Mintarsih duduk di pelaminan sederhana, dengan kebaya putih dan kain batik. Wajahnya berseri-seri.
Panji datang dari pintu barat, berjalan perlahan menuju pelaminan. Ia mengenakan beskap hitam, blangkon, dan kain panji tersampir di bahunya.
Kades Tirta memimpin upacara adat.
"Saudara-saudara, hari ini kita menyaksikan pernikahan antara Panji, anak Sastro, dengan Mintarsih, anak Kartiman. Kedua mempelai telah melalui banyak ujian. Air mata. Pengkhianatan. Kematian. Tapi cinta mereka tidak pernah padam."
Warga bertepuk tangan.
Kades Tirta melanjutkan, "Maka, di hadapan leluhur, di hadapan alam, di hadapan kita semua, saya persatukan mereka."
Panji dan Mintarsih saling menatap. Mereka tersenyum.
Panji mengambil kain panji dari bahunya. Ia menyampirkannya ke bahu Mintarsih.
"Tin, dengan kain ini, aku berjanji akan melindungimu. Dengan panji ini, aku berjanji akan setia padamu. Sampai mati."
Mintarsih menangis. "Nji, aku juga berjanji. Setia. Sampai mati."
Kades Tirta mengangkat tangan. "Sah! Mereka resmi menjadi suami istri!"
Warga bersorak. Srintil menangis di kursinya. Pak Burhan tersenyum meskipun matanya basah. Kartiman mengusap air mata.
Setelah resepsi, Panji dan Mintarsih duduk di tepi Sendang Kiskenda. Langit malam cerah. Bintang-bintang mulai jatuh satu per satu.
"Tin, ini malam seribu bintang yang kedua dalam hidupku."
Mintarsih menyandarkan kepalanya di bahu Panji. "Aku tahu. Dan aku bersyukur bisa melihatnya bersamamu."
"Aku juga, Tin."
Mereka diam. Menikmati keindahan alam.
"Nji, apa kau percaya takdir?"
Panji berpikir sebentar. "Dulu, aku tidak percaya. Tapi sekarang... aku percaya. Bahwa kita dipertemukan bukan secara kebetulan. Bahwa semua penderitaan yang kita alami dulu, adalah jalan menuju hari ini."
Mintarsih mengangguk. "Aku juga percaya."
"Nji, apa kau kangen Jojo?"
Panji menghela napas. "Setiap hari, Tin. Setiap hari."
"Dia pasti tersenyum melihat kita."
"Iya. Dia pasti tersenyum."
Pak Burhan mendekati mereka dengan langkah tertatih. Di tangannya, ia membawa sebuah kotak kayu kecil.
"Nak, ini titipan Jojo untukmu."
Panji terkejut. "Titipan, Pak? Kapan?"
"Ia menitipkan ini sebelum meninggal. Katanya, buka di malam pernikahanmu."
Panji menerima kotak itu. Tangannya gemetar. Ia membukanya.
Di dalam kotak itu, ada sebuah surat dan uang kepeng—uang kepeng yang dulu Jojo buang di semak-semak, yang Panji temukan dan simpan. Ternyata Jojo mengambilnya kembali tanpa sepengetahuan Panji.
Panji membaca surat itu.
"Nji,
Selamat atas pernikahanmu dengan Tin. Aku tahu aku tidak bisa hadir. Tapi aku ada di sini, di dalam hati kalian.
Uang kepeng ini adalah bukti janji kita. Simpanlah. Wariskan pada anak cucumu. Ceritakan bahwa dulu, ada tiga bocah yang bersumpah setia di bawah pohon beringin. Dan meskipun salah satu dari mereka pergi lebih dulu, sumpah itu tidak pernah mati.
Jaga Tin. Jaga desa ini. Jaga panji itu.
Sampai jumpa di lain waktu, Nji.
Jojo."
Panji menangis. Mintarsih juga.
Pak Burhan memeluk mereka berdua. "Jojo bangga pada kalian. Saya juga bangga."
Panji dan Mintarsih masuk ke rumah panggung di ujung barat. Srintil sudah tidur. Rumah sunyi. Hanya suara jangkrik dan sesekali anjing menggonggong di kejauhan.
"Tin, akhirnya."
Mintarsih tersenyum. "Akhirnya."
Mereka berdua duduk di kursi bambu, memandang langit malam dari jendela.
"Nji, apa kita akan bahagia?"
"Kita akan berusaha, Tin. Bahagia bukan datang dengan sendirinya. Kita yang menciptakannya. Setiap hari. Setiap malam."
"Aku siap, Nji. Bersamamu."
"Dan aku siap bersamamu, Tin."
Mereka berdua berpelukan. Bintang-bintang jatuh di luar jendela. Seribu bintang. Seperti malam ketika Panji dilahirkan. Seperti malam ketika segalanya dimulai. Dan seperti malam ketika kebahagiaan sejati akhirnya mereka raih.
Pernikahan Panji dan Mintarsih menjadi legenda di Desa Sumbermaya. Diceritakan dari generasi ke generasi. Tentang cinta yang bertahan melawan pengkhianatan, kemiskinan, dan kematian. Tentang dua insan yang akhirnya bersatu di bawah panji seribu bintang.
Srintil meninggal setahun kemudian, dengan tenang, di pangkuan menantunya. Ia sempat melihat cucunya—Baskara—lahir sebelum ia pergi.
Pak Burhan menyusul dua tahun setelahnya, menyusul Jojo yang ia rindukan setiap hari.
Kartiman masih hidup, menikmati masa tuanya dengan sesekali bermain dengan cucunya.
Panji dan Mintarsih membesarkan Baskara dengan penuh cinta. Mereka mengajarkan anak itu tentang adat, tentang perjuangan, tentang arti memaafkan.
Dan setiap malam seribu bintang, mereka bertiga akan duduk di tepi Sendang Kiskenda, memandang langit, dan bercerita tentang seorang pahlawan bernama Jojo.
Bab 37: Baskara Lahir
Dua tahun setelah pernikahan Panji dan Mintarsih, desa Sumbermaya memasuki musim penghujan. Sawah-sawah menghijau, sendang Kiskenda meluap sedikit tapi tidak pernah banjir, dan kabut tipis menyelimuti desa setiap pagi. Warga hidup tenteram. Koperasi desa semakin maju. Bahkan desa-desa tetangga mulai meniru model ekonomi adil luhur yang dirintis Panji.
Tapi ada satu kabar yang paling menggembirakan: Mintarsih sedang mengandung. Perutnya sudah besar memasuki bulan kedelapan. Panji tidak pernah meninggalkan sisinya. Ia bekerja lebih dekat ke rumah, membatasi perjalanan ke luar desa, dan setiap malam ia membacakan doa-doa leluhur untuk keselamatan ibu dan anak.
Srintil sudah tiada. Pak Burhan juga sudah tiada. Kartiman, ayah Mintarsih, masih hidup tetapi sudah sangat tua, jalannya tertatih dan matanya mulai rabun. Ia sering duduk di samping Mintarsih, memegang perut cucunya yang akan lahir, dan tersenyum.
"Baskara," katanya suatu hari. "Namai ia Baskara."
"Mengapa Bapak?" tanya Mintarsih.
"Karena Baskara artinya matahari. Dan matahari adalah panji yang paling terang. Ia menerangi dunia tanpa meminta imbalan."
Panji yang mendengar itu tersenyum. "Baskara. Nama yang bagus, Pak. Kami akan pakai."
Kartiman meninggal dua minggu sebelum Baskara lahir. Ia pergi dengan tenang, dalam tidurnya, dengan senyum di wajah. Mintarsih menangis, tetapi tidak larut dalam kesedihan. Ia harus kuat untuk calon anaknya.
Dan pada malam ketika Baskara lahir, langit kembali dipenuhi bintang jatuh. Malam seribu bintang yang ketiga kalinya dalam hidup Panji.
Malam itu, langit cerah. Bintang-bintang mulai bermunculan satu per satu. Mintarsih sedang duduk di kursi bambu di teras rumah ketika ia merasakan perutnya mulas.
"Nji," panggilnya pelan.
Panji yang sedang membereskan peralatan las di belakang rumah berlari mendekat. "Ada apa, Tin?"
"Perutku... sakit."
Panji panik. "Sakit? Mau melahirkan? Sekarang?"
Mintarsih mengangguk, meringis.
Panji berlari ke dapur, mengambil air hangat, kain bersih, dan pisau kecil yang sudah disterilkan. Ia sudah belajar dari Srintil sebelum ibunya meninggal—bagaimana menolong persalinan jika darurat.
"Tin, tahan ya. Aku panggil dukun beranak."
"Tidak usah, Nji. Kamu saja. Aku percaya padamu."
Panji menggigit bibir. "Baik. Tapi kau harus kuat."
"Aku kuat, Nji. Demi anak kita."
Proses persalinan berlangsung selama tiga jam. Mintarsih menjerit, menangis, memegang erat tangan Panji. Panji tidak pernah merasa setakut ini sepanjang hidupnya. Perang melawan Rama, melawan Seta, melawan Rahul—tidak ada yang seberat ini.
"Nji... sakit... Nji..." teriak Mintarsih.
"Tin, pegang tanganku. Jangan lepas."
"Tapi sakit, Nji!"
"Aku tahu, Tin. Tapi kau kuat. Kau perempuan terkuat yang aku kenal."
Air mata Mintarsih bercampur keringat. Ia terus mengejan. Panji membantu dengan hati-hati, membimbing kepala bayi yang mulai muncul.
Dan ketika bayi itu akhirnya keluar—mungil, merah, dan menangis keras—Panji terjatuh duduk.
Ia menatap bayinya. Laki-laki. Rambutnya hitam lebat seperti Mintarsih, matanya biru kehitaman seperti dirinya.
"Nji," bisik Mintarsih lemah. "Anak kita... laki-laki..."
"Iya, Tin. Laki-laki. Cantik."
"Cantik? Laki-laki kok cantik?"
Panji tertawa. "Kata Bapak dulu, bayi semua cantik."
Mintarsih tertawa meskipun lelah. "Kau ini, Nji... selalu bisa membuatku tertawa bahkan dalam situasi begini."
Panji mengambil pisau kecil yang sudah disterilkan. Tangannya gemetar.
"Tin, ini pisau yang dulu dipakai Nini Gendheng untuk memotong tali pusarku."
Mintarsih terkejut. "Masih disimpan?"
"Ibu menyimpannya. Dan sebelum meninggal, ia berpesan, 'Pakailah untuk cucuku nanti.'"
Panji memotong tali pusar bayinya. Bayi itu menangis keras.
"Selamat datang di dunia, Nak," bisik Panji. "Dunia ini tidak mudah. Tapi ayah akan menjagamu. Ibu akan menyayangimu."
Mintarsih menambahkan, "Dan leluhur akan memberkatimu."
Bayi itu berhenti menangis. Ia membuka matanya. Matanya yang biru kehitaman menatap langit-langit rumah.
Dan di luar, bintang-bintang jatuh semakin deras. Ribuan. Puluhan ribu. Langit terang benderang seperti siang.
Panji membersihkan Mintarsih dan bayinya. Ia mengganti kain yang basah, menyiapkan bubur hangat, dan memastikan tidak ada perdarahan.
Setelah semuanya selesai, ia duduk di samping Mintarsih, menggendong bayinya.
"Nji," panggil Mintarsih.
"Apa, Tin?"
"Di luar, bintang jatuh. Banyak sekali."
Panji menatap jendela. Langit memang dipenuhi bintang jatuh. Ia tersenyum.
"Malam seribu bintang, Tin. Yang ketiga dalam hidupku."
"Yang pertama pas kau lahir. Yang kedua pas kita menikah. Yang ketiga sekarang, pas anak kita lahir."
"Iya. Bintang-bintang ini seperti merayakan."
Mintarsih memegang tangan Panji. "Nji, apa kau sedih? Karena Srintil tidak bisa melihat cucunya?"
Panji menghela napas. "Sedih. Tapi ibu pasti melihat dari surga. Ia pasti tersenyum."
"Ia juga pasti bangga padamu, Nji. Kau sudah menjadi ayah."
Panji menatap bayinya. Bayi itu tertidur pulas dengan kepalan tangan mungil di samping wajahnya.
"Aku belum pantas disebut ayah, Tin. Aku masih banyak belajar."
"Kau akan belajar, Nji. Setiap hari. Seperti kau belajar memaafkan Jojo, belajar melawan Seta, belajar mencintaiku."
Panji tersenyum. "Kau selalu tahu cara membuatku merasa lebih baik, Tin."
"Itu tugasku sebagai istrimu."
Panji mengambil kain panji dari lemari kayu di sudut ruangan. Kain itu kini tidak lagi lusuh. Ia telah menjahitnya dengan benang emas, menambahkan tiga bintang kecil—satu untuk Jojo, satu untuk Sastro, satu untuk Ki Guno.
"Ini, Nak," bisiknya pada bayinya. "Ini panji. Bukan panji kerajaan. Bukan panji perang. Tapi panji kehidupan."
Bayi itu tidak merespon. Ia tidur.
"Panji ini milik leluhurmu. Dari eyang Jenggala, turun ke Ki Guno, lalu ke ayah, dan sekarang ke kamu."
Mintarsih menatap dengan haru.
"Suatu hari nanti, ketika kau dewasa, kau akan mengerti. Bahwa hidup ini berat. Bahwa banyak orang akan mencoba menjatuhkanmu. Bahwa kau akan terluka, kecewa, dan lelah."
Panji berhenti sejenak. Matanya basah.
"Tapi ingatlah, Nak. Kau tidak sendirian. Ada leluhur di belakangmu. Ada ayah dan ibu di sampingmu. Ada panji ini—simbol bahwa cinta dan pengampunan selalu lebih kuat dari kebencian."
Ia mencium kening bayinya.
"Selamat datang di dunia, Baskara. Semoga kau menjadi matahari bagi mereka yang gelap. Semoga kau menjadi panji bagi mereka yang tersesat."
Bayi itu—Baskara—tertidur dengan nyenyak. Tapi di alam mimpinya, ia bermimpi aneh.
Ia melihat seorang lelaki tua dengan rambut putih panjang, duduk di tepi sendang. Lelaki itu tersenyum padanya.
"Selamat datang, Nak. Aku Eyang Jenggala."
Baskara tidak bisa bicara. Ia hanya tersenyum.
"Kau akan mewarisi panji dari ayahmu. Tapi ingat, panji bukan kain. Panji adalah hati. Jagalah hatimu. Jangan biarkan dunia membuatnya keras."
Baskara mengangguk—meskipun ia tidak tahu apa artinya.
Lelaki tua itu menghilang. Digantikan oleh seorang pemuda dengan wajah berseri.
"Halo, Baskara. Namaku Jojo. Aku sahabat ayahmu."
Baskara tersenyum.
"Aku tidak bisa melihatmu tumbuh dewasa. Tapi aku akan menjagamu dari sini. Janji."
Jojo tersenyum, lalu menghilang.
Baskara bermimpi tentang banyak hal. Tentang sendang, tentang bintang, tentang panji. Tentang cinta dan pengampunan. Tentang perjuangan dan ketabahan.
Ia terbangun dengan tangisan. Tapi bukan tangis ketakutan. Tangis bahagia.
Keesokan paginya, kabar kelahiran Baskara menyebar ke seluruh desa. Warga berdatangan membawa beras, gula, telur, dan hadiah sederhana lainnya.
Pak Tani yang sudah sangat tua datang dengan langkah tertatih. Wajahnya keriput, matanya sayu, tapi ia masih bisa tersenyum.
"Nak, ini kambing. Buat anakmu. Biar minumnya banyak."
Panji terharu. "Pak Tani, ini terlalu berat."
"Ah, tidak berat. Aku sudah tua. Tidak punya siapa-siapa. Anggap saja kakek untuk Baskara."
Wawan datang dengan sepeda. "Nji, ini aku belikan baju bayi. Yang terbaik di pasar."
Bayu membawa kayu bakar. "Buat anget-anget. Anak kecil gampang kedinginan."
Sari membawa selimut rajut buatannya sendiri. "Ini, untuk Baskara. Aku buat seminggu."
Warga desa berbondong-bondong. Mereka bahagia. Baskara adalah anak desa. Anak perjuangan. Anak harapan.
Mintarsih menangis. "Nji, lihat. Warga sayang sama kita."
Panji memeluk istrinya. "Iya, Tin. Mereka keluarga kita."
Ketika Baskara berusia empat puluh hari, Panji membawanya ke Sendang Kiskenda. Ini ritual adat untuk memperkenalkan anak pada leluhur.
Panji duduk di tepi sendang, menggendong Baskara. Air sendang berwarna biru keemasan, tenang, damai.
"Nak, ini sendang. Tempat ayah dulu bermimpi. Tempat ayah belajar tentang kehidupan."
Baskara tertawa kecil. Tangannya yang mungil meraih air sendang.
"Leluhur, saya Panji, anak Sastro, mempersembahkan anak saya, Baskara, kepada kalian. Jagalah ia. Bimbinglah ia. Jangan biarkan ia tersesat seperti ayahnya dulu."
Angin bertiup. Air sendang bergelombang kecil.
"Nak, lihat. Leluhur menyambutmu."
Baskara tertawa lagi.
Panji menatap langit. Bintang-bintang mulai muncul. Tidak jatuh kali ini. Hanya bersinar.
"Bapak, Jojo, Mbah Guno, Eyang Jenggala—kalian lihat? Aku sudah menjadi ayah. Aku sudah memiliki keluarga. Aku sudah memenangkan perjuangan."
Ia tersenyum.
"Tapi perjuangan Baskara baru akan dimulai. Dan aku akan ada di sampingnya. Setiap langkah. Sampai aku tiada nanti."
Baskara tumbuh menjadi anak yang cerdas dan pemberani. Ia mewarisi mata ibunya yang lembut, dan keteguhan hati ayahnya. Setiap malam, Panji bercerita tentang Jojo, tentang Sastro, tentang Ki Guno, tentang perjuangan melawan ketidakadilan.
Dan Baskara mendengar dengan saksama.
Suatu malam, ketika Baskara berusia lima tahun, ia bertanya pada Panji.
"Ayah, kenapa panji itu penting?"
Panji memandang anaknya. "Karena panji adalah harapan, Nak. Selama panji masih berkibar, selama itu pula perjuangan belum usai."
"Lalu kapan perjuangan usai, Ayah?"
Panji tersenyum. "Tidak pernah, Nak. Perjuangan akan terus berlanjut dari generasi ke generasi. Dari kakek ke ayah. Dari ayah ke kamu. Dari kamu ke anak-anakmu nanti."
Baskara mengangguk. "Aku akan menjadi pejuang, Ayah. Seperti Ayah. Seperti Jojo. Seperti Ki Guno."
Panji memeluk anaknya. "Aku tahu, Nak. Aku tahu."
Di kejauhan, di tepi Sendang Kiskenda, airnya berwarna biru keemasan. Tenang. Damai.
Dan di langit, bintang-bintang mulai jatuh lagi.
Malam seribu bintang yang keempat.
Bab 38: Sekolah Adat Modern
Sepuluh tahun telah berlalu sejak Baskara lahir. Panji kini berusia empat puluh tahun. Rambutnya mulai beruban di pelipis, wajahnya dipenuhi kerutan tipis oleh pekerjaan dan waktu, tetapi matanya masih menyala seperti dulu—api perjuangan yang tak pernah padam.
Desa Sumbermaya berubah drastis. Bukan menjadi desa modern yang kehilangan jati diri, tetapi desa yang maju tanpa meninggalkan akar. Koperasi desa kini memiliki puluhan unit usaha: toko, lumbung padi, penggilingan padi sendiri, bahkan kebun bibit yang memasok kebutuhan tanaman ke desa-desa tetangga. Jalan desa sudah diaspal, bukan oleh proyek investor, tetapi oleh kerja gotong royong warga. Listrik masuk ke setiap rumah dari mikrohidro yang dibangun di Sungai Kecil.
Tapi Panji tidak puas. Ada satu mimpi yang belum tercapai: mendirikan sekolah.
Bukan sekolah biasa. Sekolah yang mengajarkan ilmu modern—matematika, sains, bahasa—tetapi juga mengajarkan adat, filsafat leluhur, dan budi pekerti. Sekolah di mana anak-anak desa tidak perlu pergi ke kota untuk belajar, dan tidak perlu meninggalkan kampung halaman untuk meraih masa depan.
Panji mengumpulkan warga. Ia memaparkan idenya di balai desa. Warga mendukung. Mereka mengumpulkan dana, menyumbangkan tanah, bekerja bergotong royong membangun gedung sederhana.
Sekolah itu diberi nama "Sekolah Adat Modern Panji Lintang" —Panji Bintang. Sebagai penghormatan pada perjuangan Panji dan bintang-bintang yang selalu menaungi desa.
Baskara, yang kini berusia sepuluh tahun, menjadi murid pertama sekolah itu. Ia duduk di bangku paling depan, dengan seragam putih biru—warna bendera desa. Matanya berbinar. Ia tidak sabar belajar dari ayahnya.
Tapi Panji tidak mengajar. Ia hanya menjadi kepala sekolah. Guru-guru didatangkan dari kota—relawan dari LSM, mahasiswa yang sedang tugas akhir, bahkan beberapa warga desa yang pandai. Panji mengajar satu mata pelajaran: filsafat adat. Itu pun hanya sekali seminggu.
"Kita harus mendidik generasi penerus," kata Panji pada Mintarsih suatu malam. "Baskara dan teman-temannya adalah panji masa depan. Jika mereka gagal, perjuangan kita sia-sia."
Lokasi sekolah dipilih di tanah bekas kebun kopi milik Kartiman, yang setelah Kartiman meninggal diwariskan pada Mintarsih. Mintarsih tidak keberatan. Bahkan, ia yang pertama mengusulkan.
"Tanah ini tidak akan berarti apa-apa jika tidak digunakan untuk anak-anak kita," kata Mintarsih di depan warga.
Pak Tani yang sudah sangat tua—usia sembilan puluh tahun—berdiri dengan tongkat. "Saya dulu tidak bisa sekolah. Buta huruf. Saya tidak mau anak-anak kita seperti saya."
Warga lain mengangguk setuju.
Mereka bergotong royong. Wawan memimpin pembangunan. Bayu mengatur logistik. Sari mengurusi konsumsi. Panji mengawasi dari pagi hingga malam.
Baskara kecil ikut mengangkat batu bata. Tangannya mungil, tetapi semangatnya besar.
"Ayah, kenapa kita harus bangun sekolah?" tanyanya.
"Agar kau dan teman-temanmu bisa belajar, Nak. Agar kau tidak perlu menderita seperti ayah dulu."
"Apakah ayah dulu menderita?"
Panji tersenyum. "Penderitaan adalah guru yang baik, Nak. Tapi tidak semua pelajaran harus datang dari penderitaan. Ada pelajaran yang bisa datang dari buku."
Suatu malam, sebelum tidur, Baskara bertanya pada Panji.
"Ayah, siapa itu Jojo?"
Panji terkejut. "Kenapa kau bertanya begitu, Nak?"
"Bu Sari pernah cerita. Katanya, Jojo adalah pahlawan desa. Ia mati melindungi warga."
Panji menghela napas. Ia mengambil kain panji dari lemari.
"Ini, Nak. Lihat bintang-bintang kecil yang ayah jahit di kain ini?"
Baskara mengamati. "Ada tiga, Ayah."
"Satu untuk Kakek Sastro. Satu untuk Mbah Ki Guno. Dan satu untuk Jojo."
Baskara menunjuk bintang yang terjahit paling rapi. "Ini yang untuk Jojo?"
"Iya. Jojo adalah sahabat ayah. Sejak kecil. Kami bertiga dengan ibumu, bersumpah setia di bawah pohon beringin."
"Lalu kenapa Jojo mati?"
Panji menceritakan semuanya. Tentang Jojo yang tersesat, tentang kecemburuan, tentang pengkhianatan, dan tentang pertobatan. Tentang bagaimana Jojo menahan amukan massa dan meregang nyawa untuk melindungi warga desa.
Baskara mendengar dengan saksama. Matanya berkaca-kaca.
"Ayah, apakah Jojo bahagia di surga?"
Panji tersenyum. "Jojo bahagia, Nak. Karena ia mati sebagai pahlawan. Bukan sebagai pecundang."
"Aku ingin menjadi seperti Jojo, Ayah."
"Tidak, Nak. Jangan seperti Jojo."
Baskara bingung. "Kenapa?"
"Karena Jojo mati muda. Ayah tidak ingin kau mati muda. Ayah ingin kau hidup panjang, menikah, punya anak, dan melihat anak-anakmu tumbuh dewasa. Itu yang diinginkan Jojo juga."
Baskara mengangguk. "Baiklah, Ayah. Aku akan hidup panjang. Tapi aku akan tetap berjuang seperti Jojo."
Peresmian sekolah dihadiri oleh Camat dan perwakilan dari kabupaten. Warga desa hadir semua. Panji berdiri di podium, mengenakan beskap hitam dan kain panji di bahu.
"Anak-anak," ucap Panji lantang. "Hari ini adalah hari bersejarah. Untuk pertama kalinya, Desa Sumbermaya memiliki sekolah sendiri. Bukan sekolah biasa. Sekolah adat modern. Di sini, kalian akan belajar matematika, sains, bahasa. Tapi kalian juga akan belajar tentang adat, tentang leluhur, tentang arti menjadi manusia."
Baskara duduk di barisan depan, mendengarkan dengan penuh perhatian.
"Kalian adalah panji masa depan. Kalian yang akan melanjutkan perjuangan kami. Bukan melawan musuh dengan kekerasan. Tapi melawan kebodohan dengan ilmu. Melawan keserakahan dengan keadilan. Melawan kebencian dengan cinta."
Warga bertepuk tangan.
Pak Tani yang duduk di kursi roda menangis. "Seandainya dulu aku bisa sekolah, mungkin aku tidak akan jadi petani miskin seumur hidup."
Mintarsih memegang tangannya. "Pak Tani, Baskara dan anak-anak lain adalah wujud mimpi Bapak. Biarkan mereka yang mewujudkannya."
Kelas pertama filsafat adat diadakan pada hari Jumat sore. Panji berdiri di depan papan tulis. Papan itu hitam, dengan kapur putih di tangannya.
"Anak-anak, siapa di antara kalian yang tahu apa arti kata 'panji'?"
Seorang murid perempuan bernama Dewi angkat tangan. "Bendera, Pak!"
"Benar. Tapi lebih dari itu. Panji adalah simbol. Simbol kehadiran. Simbol perjuangan. Simbol harapan."
Baskara angkat tangan. "Ayah, apakah panji bisa diraba?"
Panji tersenyum. "Pertanyaan bagus, Nak." Ia mengambil kain panji dari lehernya.
"Ini panji. Bisa diraba. Tapi panji yang sesungguhnya tidak bisa diraba. Ia ada di sini." Ia menunjuk dadanya.
"Di hati?"
"Iya, Nak. Di hati. Panji adalah kesadaran bahwa hidup ini singkat, dan kita harus mengisinya dengan kebaikan. Panji adalah keberanian untuk mengatakan benar itu benar, dan salah itu salah. Panji adalah cinta yang tidak pernah padam meskipun badai menerjang."
Murid-murid diam, mencoba memahami.
"Kalau kalian belum mengerti, tidak apa-apa. Nanti kalian akan mengerti ketika sudah dewasa. Yang penting, jangan pernah lupa bahwa kalian adalah panji. Kalian adalah harapan desa ini."
Di sekolah itu, ada seorang anak pendatang bernama Raka. Ia pindahan dari kabupaten, anak seorang pengusaha yang bangkrut karena ulah Pak Rahmat dulu. Raka pemalu, sering diejek teman-teman.
Suatu hari, Baskara melihat Raka menangis di belakang kelas.
"Raka, kenapa kau menangis?"
Raka mengusap air matanya. "Tidak ada."
"Bohong. Aku lihat kau menangis."
Raka terdiam. Lalu ia berkata, "Temanku di kabupaten bilang, aku anak pengkhianat. Ayahku dulu dekat dengan Pak Rahmat. Sekarang ayahku bangkrut, dan teman-temanku meninggalkanku."
Baskara duduk di samping Raka.
"Ayahku bilang, tidak ada anak yang mewarisi dosa orang tuanya. Setiap orang lahir suci. Dan setiap orang berhak memulai hidup baru."
Raka mengangkat wajah. "Benarkah?"
"Benar. Ayahku dulu juga difitnah sebagai pembakar gudang. Ia diusir dari desa. Tapi ia bangkit. Dan sekarang ia menjadi kepala sekolah."
Raka tersenyum. "Ayahmu hebat."
"Iya. Dan ayahmu juga pasti hebat. Setiap ayah hebat di mataku."
Sejak hari itu, Baskara dan Raka menjadi sahabat. Mereka duduk sebangku, bermain bersama, belajar bersama.
Panji melihat persahabatan itu. Ia tersenyum. "Dia seperti aku dulu," gumamnya. "Membela yang lemah. Semoga nasibnya tidak seperti aku."
Panji dan Mintarsih duduk di teras rumah. Langit malam cerah. Bintang-bintang bersinar.
"Nji, apa kau senang dengan sekolah ini?"
Panji mengangguk. "Senang, Tin. Tapi juga khawatir."
"Khawatir apa?"
"Mendidik anak tidak mudah. Mereka punya pikiran sendiri. Mereka bisa salah arah."
"Itu risiko, Nji. Tapi kita tidak bisa melindungi mereka selamanya. Mereka harus belajar dari kesalahan sendiri."
"Seperti kita dulu?"
"Seperti kita dulu."
Panji memegang tangan Mintarsih. "Tin, terima kasih. Kau selalu menjadi penopangku."
"Kau tidak perlu berterima kasih, Nji. Kita suami istri. Kita sehidup semati."
Mereka berdua diam. Menikmati ketenangan malam.
"Nji, apa kau kangen Jojo?"
Panji menghela napas. "Setiap hari, Tin. Setiap hari aku berjalan ke makam Jojo. Aku bersihkan rumput di sekitarnya. Aku doakan ia."
"Aku juga, Nji. Aku juga."
Suatu hari, Baskara mengambil kain panji dari lemari tanpa sepengetahuan Panji. Ia mengenakannya di bahu, lalu berlari ke luar rumah.
Mintarsih melihatnya. "Baskara! Itu milik ayahmu! Kembalikan!"
Baskara tidak mendengar. Ia terus berlari ke arah pohon beringin.
Panji yang sedang di kebun melihat anaknya berlari dengan kain panji. Ia tidak marah. Ia tersenyum.
"Biarkan, Tin. Ia ingin merasakan menjadi panji."
Mintarsih menghela napas. "Tapi itu pusaka, Nji!"
"Pusaka tidak berguna jika tidak digunakan, Tin. Biarkan ia belajar."
Baskara berdiri di bawah pohon beringin dengan kain panji di bahu. Ia meniru ayahnya—berdiri tegap, menatap langit, seperti seorang pemimpin.
"Suatu hari nanti, aku akan menjadi seperti Ayah," bisiknya. "Aku akan membela yang lemah. Aku akan melawan ketidakadilan. Aku akan menjadi panji yang tak pernah padam."
Angin bertiup. Daun-daun beringin bergoyang.
Seperti ada yang tersenyum di antara pepohonan.
Pada ulang tahunnya yang kelima puluh, Panji memanggil Baskara yang kini berusia dua puluh tahun.
"Nak, ayah sudah tua. Ayah tidak bisa terus memimpin sekolah ini."
Baskara terkejut. "Ayah, Ayah masih sehat."
"Tubuh sehat, tapi hati lelah, Nak. Ayah ingin beristirahat. Ayah ingin fokus pada keluarga, pada ibumu."
"Lalu siapa yang akan memimpin sekolah?"
Panji menatap anaknya. "Kau, Nak."
Baskara terdiam.
"Kau sudah belajar di sini. Kau sudah lulus. Kau sudah mengajar sebagai guru sukarela. Ayah tahu kau mampu."
"Ayah, aku belum siap."
"Kau tidak perlu siap, Nak. Kau hanya perlu berani. Seperti ayah dulu."
Baskara menunduk. Lalu ia mengangkat wajah.
"Baik, Ayah. Aku akan coba."
"Bukan coba, Nak. Lakukan."
Baskara mengangguk. "Baik, Ayah. Aku akan lakukan."
Panji memeluk anaknya. "Ayah bangga padamu, Nak."
"Aku juga bangga pada Ayah, Ayah."
Sekolah Adat Modern Panji Kirana terus berkembang. Lulusan-lulusannya tidak hanya menjadi petani atau buruh, tetapi juga guru, pengusaha, aktivis, dan pemimpin di berbagai bidang. Mereka membawa semangat adat ke mana pun mereka pergi.
Baskara menjadi kepala sekolah muda yang visioner. Ia mengembangkan kurikulum, membangun laboratorium sains sederhana, dan menjalin kerja sama dengan universitas di kabupaten.
Panji dan Mintarsih menikmati masa tua mereka dengan tenang. Setiap sore, mereka duduk di bawah pohon beringin, memandang anak-anak desa bermain.
"Nji, apa kau bahagia?" tanya Mintarsih suatu sore.
Panji tersenyum. "Bahagia, Tin. Karena perjuangan kita tidak sia-sia. Desa kita aman. Anak kita baik. Leluhur kita tersenyum."
"Apa lagi yang kau inginkan?"
"Aku hanya ingin mati dengan tenang, Tin. Di sampingmu. Di desa ini."
Mintarsih memegang tangan Panji. "Jangan bicara soal mati, Nji. Kita masih panjang."
Panji tertawa. "Kita sudah tua, Tin. Tidak apa-apa bicara soal mati. Mati adalah bagian dari kehidupan."
Di kejauhan, di tepi Sendang Kiskenda, airnya berwarna biru keemasan. Tenang. Damai.
BAB 39: RAMA KEMBALI
Dua puluh tahun telah berlalu sejak Rama dipenjara. Dua puluh tahun yang terasa seperti dua abad bagi pria yang dulunya sombong, penuh ambisi, dan terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan. Kini, di usia empat puluh lima tahun, Rama keluar dari penjara sebagai orang yang berbeda.
Penjara mengubahnya. Tidak secara instan. Butuh bertahun-tahun untuk meruntuhkan tembok kesombongan yang ia bangun sejak kecil. Butuh ribuan malam sendirian di sel sempit untuk menyadari bahwa uang tidak bisa membeli segalanya. Butuh jutaan tetes air mata untuk memahami bahwa kebahagiaan sejati tidak pernah ia miliki, bahkan ketika ia masih bebas.
Rama kehilangan segalanya. Ayahnya, Pak Rahmat, meninggal dua tahun setelah ia dipenjara. Ibunya, Bu Dewi, menyusul setahun kemudian. Rumah mewah mereka disita negara. Tidak ada saudara yang mau menampung. Teman-teman bisnisnya menghilang seperti ditelan bumi.
Yang tersisa hanyalah kenangan pahit dan penyesalan yang tidak pernah benar-benar hilang.
Ketika pintu penjara terbuka untuk terakhir kalinya, Rama tidak punya tempat tujuan. Ia hanya punya satu nama dalam benaknya: Desa Sumbermaya. Bukan untuk balas dendam—ia sudah tidak punya energi untuk itu. Tapi untuk meminta maaf. Untuk mengakui kesalahan. Untuk memulai hidup baru dari titik nol, di tempat di mana semuanya berawal.
Perjalanan dari penjara ke desa memakan waktu dua hari. Rama berjalan kaki, menumpang truk, kadang tidak makan. Bajunya lusuh, tubuhnya kurus, rambutnya memutih di pelipis. Tidak ada yang mengenalinya ketika ia tiba di pinggir Desa Sumbermaya.
Ia berdiri di bawah pohon beringin—pohon yang dulu ia lihat ketika pertama kali datang bersama orang tuanya. Pohon yang menyaksikan keangkuhan masa lalunya. Pohon yang kini menyaksikan kerendahan hatinya.
Ia berlutut. Ia mencium tanah.
"Tuhan, aku pulang. Bukan untuk menang. Tapi untuk kalah. Bukan untuk membenci. Tapi untuk meminta maaf."
Matahari baru naik setinggi tombak. Kabut tipis masih menyelimuti desa. Burung-burung mulai berkicau di dahan pohon beringin.
Wawan, yang kini berusia lima puluh tahun dan masih setia berjaga di pos keamanan desa, sedang menyeduh kopi di termos tuanya. Ia sudah bertugas sejak subuh, seperti biasa.
Dari kejauhan, ia melihat seorang laki-laki kurus berjalan ke arah desa. Bajunya compang-camping. Wajahnya kusam. Rambutnya memutih di pelipis. Ia berjalan tertatih, seperti orang yang kelelahan setelah perjalanan jauh.
Wawan mengerutkan dahi. Ada yang aneh dengan laki-laki itu. Cara jalannya. Bentuk tubuhnya. Sesuatu yang familiar, tapi ia tidak bisa menunjuknya.
Ia meletakkan termos kopinya. Tangannya meraih pentungan di samping kursi.
"Hei, kamu! Berhenti!" teriak Wawan.
Laki-laki itu berhenti. Ia menoleh.
Wawan terkejut setengah mati. Kopi di tangannya tumpah.
"Rama? Kamu... kamu Rama?"
Rama mengangguk pelan. Wajahnya menunduk. Matanya tidak berani menatap Wawan.
"Rama... yang dulu? Anak Pak Rahmat? Yang... yang..."
Rama memotong. "Yang jahat, Wan. Yang hampir menghancurkan desa ini. Yang memenjarakan Panji. Yang memaksa Mintarsih menikah dengannya."
Wawan mundur selangkah. Tangannya menggenggam pentungan lebih erat.
"Kamu mau apa? Balas dendam? Kita sudah tidak punya apa-apa lagi untuk kau rampas!"
Rama menggeleng. Matanya basah.
"Saya tidak punya dendam, Wan. Saya sudah dua puluh tahun di penjara. Saya sudah kehilangan segalanya. Ayah, ibu, harta, teman. Tidak ada yang tersisa."
"Lalu kenapa kau kembali?"
Rama mengangkat wajah. Matanya merah.
"Saya kembali untuk minta maaf. Pada Panji. Pada Mintarsih. Pada semua warga desa. Pada semua yang pernah saya sakiti."
Wawan masih curiga. "Kamu bohong! Ini pasti jebakan!"
"Saya tidak bohong, Wan. Apa gunanya berbohong? Lihatlah saya. Saya tidak punya apa-apa. Baju ini pun saya dapat dari bagasi truk yang saya tumpangi. Saya tidak punya uang. Tidak punya senjata. Tidak punya preman bayaran. Hanya niat."
Wawan menghela napas. Ia tidak tahu harus percaya atau tidak.
"Tunggu di sini. Jangan bergerak. Aku panggil Panji."
Namun sebelum Wawan sempat melangkah, seorang lelaki tua muncul dari balik pohon beringin.
Mbah Karta. Usianya sudah sembilan puluh tahun lebih. Wajahnya keriput. Jalannya tertatih dengan tongkat kayu. Tapi matanya masih tajam. Matanya masih menyala.
Ia adalah keturunan ketujuh dari Pak Tani. Dan seperti kakek buyutnya, ia tidak kenal ampun pada musuh desa.
"Aku dengar dari mana-mana," kata Mbah Karta dengan suara parau. "Rama kembali."
Wawan mundur. "Mbah, saya mau panggil Panji dulu..."
"Tidak usah. Aku yang akan bicara dengan pengkhianat ini."
Mbah Karta berjalan mendekati Rama. Setiap langkahnya terasa berat. Bukan karena usia. Tapi karena amarah yang terpendam selama dua puluh tahun.
Rama menunduk lebih dalam. "Mbah... maafkan saya..."
"Maaf?" Mbah Karta tertawa pahit. "Kau pikir dengan mengucapkan 'maaf' semuanya selesai? Dengar, Rama."
Ia mengangkat tongkatnya.
"Keluargamu dulu hampir menghancurkan desa ini. Ayahmu menyuap Kades Tirta. Seta dan Rahul memalsukan dokumen. Preman-premanmu mengintimidasi warga. Panji diusir. Mintarsih hampir dinikahi paksa. Jojo... Jojo mati!"
Tongkat itu diturunkan. Bukan untuk memukul. Tapi untuk menunjuk wajah Rama.
"Jojo mati karena preman-preman yang dulu bekerja untuk keluargamu! Preman yang datang untuk membalas dendam pada Seta, tapi malah membunuh Jojo!"
Rama jatuh berlutut. Air matanya jatuh ke tanah.
"Saya tahu, Mbah. Saya tahu. Saya menyesal. Saya tidak bisa mengembalikan Jojo. Saya tidak bisa mengembalikan apa pun. Tapi saya..."
"Kau apa?"
"Saya ingin mencoba. Memulai dari awal. Menebus kesalahan. Sekecil apa pun."
Mbah Karta menghela napas. Ia memandang Rama lama.
"Kau tahu, dulu kakek buyutku, Pak Tani, paling keras menentang Jojo. Ia bilang, 'Jojo pengkhianat. Jojo tidak pantas hidup di desa ini.' Tapi kemudian Jojo mati menyelamatkan nyawanya."
Rama menangis.
"Pak Tani menyesal sampai akhir hayatnya. Ia tidak pernah bisa memaafkan dirinya sendiri karena dulu terlalu keras pada Jojo. Aku tidak ingin seperti kakek buyutku. Aku tidak ingin menyesal karena tidak memberi kesempatan."
Mbah Karta menurunkan tongkatnya.
"Tapi aku juga tidak akan langsung percaya padamu. Kau harus membuktikan. Bukan dengan kata-kata. Tapi dengan perbuatan."
Rama mengangguk. "Saya akan buktikan, Mbah. Janji."
Wawan berlari ke Sekolah Adat Modern. Panji sedang mengajar filsafat adat di kelas tiga. Murid-muridnya mendengarkan dengan saksama ketika pintu terbuka.
"Nji! Nji!" teriak Wawan terengah-engah.
Panji menoleh. Wajahnya tenang. "Ada apa, Wan?"
"Rama. Rama kembali."
Papan tulis hampir jatuh dari tangan Panji. Ia menatap Wawan, mencari kebohongan di matanya. Tidak ada. Wawan serius.
"Rama? Rama yang dulu? Anak Pak Rahmat?"
"Iya. Sekarang di bawah pohon beringin. Ia bilang mau minta maaf."
Seluruh kelas terdiam. Murid-murid saling berpandangan. Beberapa dari mereka tidak tahu siapa Rama. Tapi mereka bisa merasakan ketegangan di udara.
Panji meletakkan kapur di papan tulis. Ia mengambil napas panjang.
"Anak-anak, ibu guru yang akan menggantikan saya. Bapak ada urusan."
Ia keluar kelas. Wawan mengikuti.
"Nji, kau yakin mau menemuinya? Mbah Karta sudah hampir memukulnya tadi."
"Justru karena itu aku harus cepat. Jangan sampai ada kekerasan."
Panji berjalan ke pohon beringin dengan langkah mantap. Pikirannya berputar cepat—mengingat masa lalu, mengingat penderitaan, mengingat Jojo yang mati, mengingat Mintarsih yang hampir dinikahi paksa.
Namun, ia juga mengingat ajaran Eyang Jenggala: "Setiap orang berhak mendapat kesempatan kedua."
Ia mengingat kata-kata Jojo sebelum meninggal: "Biarkan mereka yang salah menyesal dengan sendirinya."
Ia mengingat kata-kata Ki Guno: "Kebencian tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Kebencian hanya melahirkan kebencian baru."
Rama masih berdiri di bawah pohon beringin. Kepalanya tertunduk. Bajunya lusuh. Tubuhnya kurus. Wajahnya kusam. Tidak ada lagi sisa-sisa pemuda sombong yang dulu datang dengan mobil mewah dan sepatu mengkilap.
Mbah Karta berdiri di sampingnya, masih memegang tongkat. Beberapa warga lain mulai berdatangan. Mereka penasaran. Ada yang marah, ada yang hanya ingin melihat.
Ketika jarak Panji dan Rama hanya beberapa meter, Rama berlutut.
Bukan setengah berlutut. Bukan sekadar menunduk. Tapi berlutut sungguhan—kedua lutut menyentuh tanah, kepala tertunduk hingga nyaris menyentuh rumput.
"Panji... aku minta maaf."
Suaranya parau. Air matanya jatuh ke tanah.
Seluruh warga yang hadir terdiam. Ini bukan Rama yang mereka kenal. Ini orang yang berbeda.
Panji tidak segera menjawab. Ia menatap Rama lama. Matanya tidak marah. Juga tidak iba. Hanya datar. Seperti air sendang yang tenang.
"Berdiri, Rama. Jangan berlutut. Kau bukan budakku."
Rama tidak bergerak. "Saya rela jadi budakmu. Saya rela apa pun. Asal kau maafkan saya."
"Maaf tidak bisa dipaksakan, Rama. Maaf harus datang dari hati."
Rama mengangkat wajah. Matanya sembab. Wajahnya basah.
"Saya tahu, Panji. Saya tidak minta kau memaafkan saya sekarang. Saya hanya... ingin memulai. Dari awal. Dari titik nol."
Panji menghela napas. "Bangun dulu. Mari kita duduk. Aku ingin mendengar ceritamu."
Ia mengulurkan tangannya pada Rama.
Rama menatap tangan itu. Tangannya gemetar ketika menerimanya.
"Ini... ini tangan yang dulu aku minta dipotong oleh ayahku," bisiknya. "Tangan yang sama yang sekarang menolongku berdiri."
Panji tersenyum tipis. "Hidup itu berputar, Rama. Hari ini kau di bawah, besok bisa di atas. Hari ini kau di atas, besok bisa jatuh."
Mereka berdua duduk di akar pohon beringin. Seperti dua orang asing yang bertemu di persimpangan jalan. Seperti dua orang yang dulunya musuh, kini duduk berdampingan.
Rama menarik napas panjang. Tangannya masih gemetar. Ia memegang lututnya untuk menenangkan diri.
"Panji, dua puluh tahun di penjara. Aku kehilangan segalanya. Ayah, ibu, harta, teman. Tidak ada yang menjenguk. Tidak ada yang peduli."
Panji mendengar dengan saksama. Tidak menyela.
"Pada tahun-tahun awal, aku masih marah. Aku masih ingin balas dendam. Aku benci padamu, pada Jojo, pada Mintarsih, pada semua warga desa."
"Lalu kenapa berubah?"
Rama tersenyum pahit. "Karena kesendirian, Panji. Kesendirian mengajarkanku banyak hal. Bahwa uang tidak penting. Bahwa kekuasaan tidak abadi. Bahwa yang tersisa hanyalah... penyesalan."
Ia berhenti. Menelan ludah.
"Suatu malam, aku terbangun dan menangis. Aku teringat wajah Mintarsih. Bukan karena aku masih mencintainya. Tapi karena aku sadar, aku hampir menghancurkan hidupnya. Demi apa? Demi ambisiku. Demi kesombonganku."
Panji diam. Wajahnya tidak berubah.
"Semenjak itu, aku berubah. Aku ikut kegiatan kerohanian di penjara. Aku membaca buku-buku. Aku belajar bahwa kebahagiaan sejati tidak datang dari luar, tapi dari dalam."
Rama menunduk lagi. "Dan sekarang, aku di sini. Bukan dengan tangan hampa. Tapi dengan niat tulus. Saya minta maaf, Panji. Untuk semuanya. Untuk semua penderitaan yang saya sebabkan. Untuk semua air mata yang saya buat. Untuk Jojo... untuk kematian Jojo..."
"Jojo?" Panji menatap Rama. "Kau tahu tentang Jojo?"
"Saya dengar di penjara. Dari seorang sipir yang berasal dari desa tetangga. Jojo mati melindungi warga dari preman. Preman yang dulu bekerja untuk ayahku. Preman yang dendam karena Rahul dipenjara."
Air mata Rama jatuh lagi.
"Jojo mati karena dosa keluargaku, Panji. Aku... aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri."
Panji menatap langit. Awan putih bergerak pelan di atas pohon beringin. Burung-burung terbang berkelompok.
"Rama, kau tahu? Aku juga pernah membencimu. Sangat. Aku ingin kau mati. Aku ingin kau merasakan apa yang aku rasakan."
Rama hanya diam. Tidak berani mengangkat wajah.
"Tapi kemudian Jojo mati. Jojo mengajarkanku bahwa kebencian tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Jojo mengajarkanku bahwa memaafkan adalah keberanian tertinggi."
Rama mengangkat wajah. "Jojo... Jojo pasti orang yang baik."
"Dia bukan orang baik, Rama. Dia orang yang pernah tersesat. Seperti kau. Seperti aku. Seperti kita semua. Tapi ia kembali. Ia bertobat. Dan ia mati sebagai pahlawan."
Rama menangis. "Aku... aku tidak tahu... Jojo... maafkan aku..."
Panji memegang bahu Rama. Genggamannya kuat. Tidak marah. Tidak menghakimi.
"Jojo sudah memaafkanmu, Rama. Sebelum ia mati, ia berpesan, 'Jangan balas dendam. Biarkan mereka yang salah menyesal dengan sendirinya.'"
"Aku menyesal, Panji. Sungguh. Setiap hari. Setiap malam. Selama dua puluh tahun."
"Aku tahu. Dan itu sudah cukup."
Kabar kedatangan Rama menyebar cepat ke seluruh desa. Warga berdatangan ke pohon beringin. Ada yang marah, ada yang penasaran, ada yang ingin main hakim sendiri.
Mbah Karta masih berdiri di samping, tongkatnya siap diayunkan kapan saja.
Seorang ibu bernama Bu Wati—yang dulu tanahnya hampir diambil alih oleh Seta—maju ke depan. Wajahnya merah oleh amarah.
"Rama! Kau berani kembali ke desa ini? Setelah semua yang kau lakukan? Suamiku dipukul premanmu! Kakiku pincang karena diinjak-injak ketika demo!"
Rama tidak menjawab. Ia hanya menunduk.
Seorang pemuda bernama Galih—generasi baru yang lahir setelah perjuangan Panji—bertanya pada ibunya, "Bu, siapa orang itu?"
"Dia Rama, Nak. Anak pengusaha yang dulu mau mengambil tanah desa kita. Dia jahat. Dia musuh desa kita."
Galih mengepal. "Kalau begitu, kita harus usir dia!"
Ia maju. Beberapa pemuda lain mengikuti.
Panji berdiri. "Berhenti."
Semua orang membeku.
"Tidak ada yang akan mengusir siapa pun. Tidak ada yang akan memukul siapa pun. Rama datang ke sini dengan niat baik. Kita akan dengar dia."
Seorang pemuda protes. "Pak Panji, dia musuh!"
"Musuh bisa berubah menjadi teman, Nak. Bukankah kita belajar itu dari Jojo? Jojo dulu juga musuh. Tapi ia mati sebagai pahlawan desa."
Pemuda itu terdiam.
Mbah Karta maju ke depan. Ia berdiri di samping Rama.
"Warga Sumbermaya, dengarkan saya. Saya Mbah Karta, keturunan Pak Tani. Kakek buyut saya dulu paling keras menentang Jojo. Ia bilang, 'Jojo pengkhianat. Jojo tidak pantas hidup di desa ini.'"
Warga mendengar dengan saksama.
"Tapi kemudian Jojo mati menyelamatkan nyawa kakek buyut saya. Dan kakek buyut saya menyesal sampai akhir hayatnya. Ia tidak pernah bisa memaafkan dirinya sendiri. Setiap malam, ia berdoa di makam Jojo. Setiap malam, ia menangis."
Mbah Karta menghela napas.
"Saya tidak ingin seperti kakek buyut saya. Saya tidak ingin menyesal karena tidak memberi kesempatan. Rama datang ke sini dengan niat baik. Saya melihat matanya. Ia tidak berbohong."
Warga berbisik.
"Tapi saya juga tidak akan langsung percaya padanya. Rama harus membuktikan. Bukan dengan kata-kata. Tapi dengan perbuatan. Ia akan tinggal di gubuk Seta. Ia akan bekerja di kebun bersama. Ia akan membersihkan sendang. Dan kita akan lihat apakah ia benar-benar berubah."
Warga mulai mengangguk. Beberapa masih tidak setuju, tapi tidak ada yang berani membantah Mbah Karta.
Mintarsih datang bersama Baskara. Wajahnya tenang, tapi matanya berkaca-kaca. Baskara menuntun ibunya. Ia sudah dewasa sekarang—berusia dua puluh tahun, tubuhnya tegap, wajahnya mirip Panji di masa muda.
Ketika Mintarsih berdiri di depan Rama, suasana semakin hening.
Rama mengangkat wajah. Matanya bertemu dengan mata Mintarsih.
"Mintarsih... maafkan aku. Aku hampir memaksamu menikah denganku. Aku... aku malu."
Mintarsih menghela napas. Ia memandang Rama lama. Laki-laki yang dulu begitu angkuh, begitu penuh ambisi, sekarang kurus dan hancur.
"Rama, aku sudah memaafkanmu sejak lama. Aku berdoa untukmu setiap malam. Bukan karena aku baik. Tapi karena aku tidak ingin hatiku dipenuhi kebencian."
Rama menangis. "Terima kasih, Mintarsih. Terima kasih."
"Aku tidak akan bilang selamat datang. Tapi aku juga tidak akan mengusirmu. Buktikan bahwa kau layak berada di desa ini."
Rama mengangguk. "Aku akan buktikan, Tin. Janji."
Baskara yang sejak tadi diam, berjalan mendekati Rama.
"Kamu Rama?"
Rama mengangguk. "Iya, Nak. Kamu siapa?"
"Aku Baskara. Anak Panji dan Mintarsih."
Rama terkejut. "Anak... anak mereka? Sebesar ini?"
"Aku dua puluh tahun, Rama. Sama lamanya dengan kau di penjara."
Rama tertegun.
"Kata Ayah, kau dulu jahat. Kau mau mengambil tanah desa. Kau mau menikahi ibuku paksa. Itu benar?"
"Benar, Nak. Aku jahat."
"Tapi sekarang Ayah bilang kau berubah. Apakah itu benar?"
Rama menggigit bibir. "Aku berusaha, Nak. Aku berusaha menjadi baik."
Baskara mengulurkan tangannya. "Kalau begitu, selamat datang di desa kami. Kami tidak akan membencimu. Tapi kami juga tidak akan langsung mempercayaimu. Kau harus membuktikan."
Rama menerima tangan Baskara. Tangannya gemetar.
"Aku akan buktikan, Nak. Aku janji."
Baskara tersenyum tipis. "Bagus. Karena ayahku mengajarkan bahwa setiap orang berhak mendapat kesempatan kedua. Tapi kesempatan kedua tidak gratis. Kau harus membayarnya dengan kerja keras dan ketulusan."
Rama diberi tempat tinggal di sebuah gubuk kecil dekat sendang. Gubuk yang sama yang dulu ditempati Seta sebagai bagian dari hukumannya. Dindingnya bambu, atapnya rumbia, lantainya tanah. Sederhana. Bahkan, terlalu sederhana.
Tapi Rama tidak mengeluh.
Ia duduk di kursi bambu di depan gubuk, memandang Sendang Kiskenda yang berwarna biru keemasan di bawah cahaya bulan. Airnya tenang. Ikan-ikan kecil berenang di tepi.
Ia teringat Seta. Laki-laki yang dulu menjadi kaki tangannya. Laki-laki yang licik dan penuh tipu daya. Seta yang bertobat di akhir hidupnya. Seta yang meninggal dalam damai di gubuk ini.
"Seta," bisiknya. "Kau beruntung. Kau sempat bertobat sebelum mati. Aku... aku masih di sini. Masih harus berjuang."
Ia memandang tangannya sendiri. Tangan yang dulu gemar menghitung uang. Tangan yang dulu gemar menunjuk-nunjuk. Tangan yang sekarang kasar dan penuh kapalan karena bekerja di kebun bersama.
"Panji," bisiknya lagi. "Aku tidak akan mengecewakanmu."
Malam itu, Panji mengundang Rama ke rumahnya. Mintarsih memasak makan malam—sayur asem, tempe goreng, sambal terasi, dan ikan asin. Sederhana. Tapi bagi Rama yang sudah dua puluh tahun makan nasi penjara, ini adalah hidangan terlezat yang pernah ia rasakan.
"Ini, makan. Kau pasti lapar," kata Mintarsih sambil menyodorkan sepiring nasi.
Rama makan dengan lahap. Air matanya jatuh ke piring.
"Ini... enak sekali. Aku sudah lama tidak makan masakan rumah."
Panji tersenyum. "Nikmati, Rama. Besok kita bicarakan masa depanmu."
"Tentang apa?"
"Tentang pekerjaan. Tentang tempat tinggal. Tentang bagaimana kau bisa berkontribusi pada desa ini."
Rama terkejut. "Kau... kau mau memberiku pekerjaan? Setelah semua yang kulakukan?"
"Rama, desa ini bukan desa balas dendam. Desa ini desa pengampunan. Jojo mengajarkanku itu. Ki Guno mengajarkanku itu. Eyang Jenggala mengajarkanku itu."
Rama menunduk. "Panji, aku tidak pantas."
"Tidak ada yang pantas, Rama. Termasuk aku. Termasuk Jojo. Termasuk semua orang. Tapi kita berusaha menjadi pantas. Setiap hari."
Baskara yang ikut makan bersama bertanya, "Ayah, apa Rama akan tinggal di sini selamanya?"
"Terserah dia, Nak. Jika ia membuktikan bahwa ia berubah, ia boleh tinggal. Jika tidak, ia harus pergi."
Rama mengangguk. "Aku akan buktikan, Panji. Aku janji."
Rama bekerja di kebun bersama setiap hari. Ia datang sebelum matahari terbit, pulang setelah matahari terbenam. Ia tidak pernah mengeluh. Ia tidak pernah meminta istirahat.
Warga desa masih menatapnya curiga. Beberapa masih meludah ketika berpapasan. Beberapa masih menghina di belakang. Tapi Rama tidak membalas. Ia hanya diam. Ia terus bekerja.
Suatu hari, Mbah Karta datang ke kebun. Ia berdiri di pinggir, memandang Rama yang sedang membajak tanah dengan cangkul.
"Rama, kemari."
Rama berjalan mendekat, menunduk hormat.
"Mbah, ada apa?"
"Kakek lihat kau bekerja keras. Kakek lihat kau tidak mengeluh. Kakek lihat kau tidak marah ketika dihina."
Rama diam.
"Tapi itu belum cukup. Kakek masih ingat masa lalu. Kakek masih ingat penderitaan desa ini karena keluargamu."
"Saya tahu, Mbah. Saya tidak minta dimaafkan dengan cepat. Saya hanya minta kesempatan."
Mbah Karta menghela napas. "Kesempatan sudah kau dapatkan. Sekarang buktikan."
Ia berbalik dan pergi. Rama kembali bekerja.
Suatu sore, Baskara duduk di samping Panji di teras rumah. Panji sedang merokok klobot—kebiasaan yang ia warisi dari Ki Guno, meskipun Mintarsih selalu melarang.
"Jadi Ayah, apa Rama benar-benar berubah?" tanya Baskara.
Panji menghembuskan asap. "Hanya waktu yang bisa menjawab, Nak. Tapi selama ia berusaha, kita harus mendukungnya. Itu yang diajarkan Jojo padaku."
"Bahwa setiap orang pantas mendapat kesempatan kedua?"
"Bukan hanya itu." Panji menatap anaknya. "Bahwa dendam tidak akan pernah mengembalikan orang yang sudah mati. Tapi pengampunan bisa menyelamatkan yang masih hidup."
Baskara merenung. "Aku masih sulit memaafkan Rama, Ayah. Aku masih ingat ibu dulu menangis setiap malam karena dijodohkan dengan dia."
"Itu wajar, Nak. Memaafkan butuh waktu. Tapi jangan biarkan ketidakmampuanmu memaafkan membuatmu menjadi pahit."
"Apa yang harus aku lakukan?"
"Berdoa untuknya. Setiap malam. Doakan agar ia benar-benar berubah. Doakan agar ia diberi kekuatan. Karena doa adalah bentuk pengampunan yang paling tulus."
Baskara mengangguk. "Aku akan coba, Ayah."
Setiap malam, sebelum tidur, Rama berjalan ke makam Jojo. Makam itu terletak di pemakaman desa, tidak jauh dari gubuknya. Sebuah batu nisan sederhana dengan ukiran nama. Di sampingnya, selalu ada bunga segar—ditaruh oleh Panji setiap pagi.
Rama berlutut di depan makam itu. Ia tidak membawa bunga. Ia hanya membawa penyesalan.
"Jojo," bisiknya. "Maafkan aku. Aku tidak bisa mengembalikan nyawamu. Tapi aku akan menjaga desa yang kau cintai. Itu janjiku."
Ia menunduk. Air matanya jatuh ke tanah.
"Aku tidak pantas memohon apa pun padamu. Tapi izinkan aku tinggal di sini. Izin kan aku berusaha."
Angin malam bertiup. Daun-daun beringin bergoyang. Suara gemerisik seperti bisikan.
Rama mengangkat wajah. Bintang-bintang di timur berkedip terang.
"Terima kasih, Jojo. Terima kasih."
Perlahan, warga mulai menerima Rama. Bukan karena mereka lupa. Tapi karena mereka melihat perubahan yang tulus. Rama tidak banyak bicara. Ia hanya bekerja. Membantu siapa pun yang membutuhkan. Memperbaiki jalan yang rusak. Membersihkan sendang. Memperbaiki atap rumah warga yang bocor.
Suatu hari, seorang ibu bernama Bu Yati kehilangan dompetnya. Ia menangis karena di dalamnya ada uang untuk berobat anaknya. Rama mendengar. Tanpa diminta, ia mengumpulkan uang dari saku kerjanya—tidak banyak, tapi cukup.
"Ini, Bu. Untuk berobat anak Ibu."
Bu Yati terkejut. "Rama... kau... kenapa kau..."
"Saya tidak bisa mengembalikan dompet Ibu. Tapi saya bisa membantu."
Bu Yati menangis. "Terima kasih, Rama. Maaf... maaf aku dulu jahat padamu."
"Tidak usah minta maaf, Bu. Saya yang seharusnya minta maaf."
Sejak hari itu, bisikan-bisikan kebencian mulai berkurang. Warga mulai menyapa Rama. Mulai mengajaknya ngobrol. Mulai menganggapnya bagian dari desa.
Bukan karena mereka lupa. Tapi karena mereka memilih untuk memaafkan.
Pada suatu malam, ketika bintang-bintang mulai jatuh untuk ketiga belas kalinya, Rama duduk di tepi sendang. Airnya biru keemasan. Ikan-ikan kecil berenang riang.
Panji datang dari kejauhan.
"Rama, belum tidur?"
Rama menoleh. "Belum, Nji. Menikmati malam."
Panji duduk di sampingnya. "Kau tahu, malam ini adalah malam seribu bintang."
"Seperti malam ketika kau dilahirkan?"
Panji tersenyum. "Kau ingat?"
"Aku ingat semuanya, Nji. Setiap detail. Kedatangan keluarganya ke desa. Mobil mewah. Kemewahan. Kesombongan. Aku membenci desa ini pada awalnya."
"Dan sekarang?"
Rama memandang langit. Bintang jatuh melesat.
"Sekarang... aku ingin mati di desa ini. Aku ingin dikubur di samping Jojo."
Panji menepuk bahunya. "Kau akan baik-baik saja di sini, Rama. Kami akan menjagamu."
"Aku tidak pantas dijaga, Nji."
"Kau pantas, Rama. Setiap orang pantas."
Rama menghabiskan sisa hidupnya di Desa Sumbermaya. Ia tidak pernah menikah. Tidak pernah punya anak. Ia hanya bekerja, berdoa, dan setiap malam, sebelum tidur, ia berjalan ke makam Jojo.
Ia meninggal pada usia tujuh puluh tahun, dengan tenang, di gubuk kecil dekat sendang. Wajahnya tersenyum.
Warga desa memakamkannya di samping makam Jojo—sesuai permintaannya.
Di batu nisannya, terukir satu kalimat:
"Rama. Telah kembali. Telah diampuni."
Bab 40: Rahul Mati di Tangan Takdir
Keadilan tidak selalu datang dari pengadilan. Kadang, ia datang dengan cara yang tidak bisa dijelaskan oleh logika. Kadang, ia datang sebagai peringatan bagi mereka yang masih hidup. Kadang, ia datang sebagai misteri yang tidak pernah terpecahkan.
Dua tahun telah berlalu sejak Rama kembali ke Desa Sumbermaya dan memulai hidup barunya. Seta sudah mati dengan tenang di gubuknya. Rama hidup sebagai petani biasa, tidak lagi disegani, tidak lagi ditakuti. Tapi satu nama masih tersisa dari jaringan kejahatan masa lalu: Rahul.
Rahul tidak pernah kembali ke desa setelah bebas dari penjara. Ia memilih hidup di kabupaten, menjadi preman bayaran untuk pengusaha-pengusaha kecil. Tubuhnya yang tambun semakin gemuk, wajahnya semakin bengis, dan hatinya semakin keras. Ia tidak pernah menyesali perbuatannya. Ia tidak pernah meminta maaf. Ia bahkan bangga dengan masa lalunya.
"Setidaknya aku tidak munafik seperti Seta," katanya suatu kali pada teman-temannya. "Aku jahat dari awal sampai akhir. Tidak pura-pura baik di ujung hayat."
Tapi takdir berkata lain.
Pada suatu malam yang gelap, ketika hujan deras mengguyur kabupaten, Rahul sedang mengendarai truknya pulang dari pekerjaan. Ia mabuk—seperti biasa. Jalanan licin. Lalu lintas sepi.
Di tikungan tajam dekat jembatan tua, truk itu oleng. Rem blong. Ban tergelincir.
Truk itu terjun ke jurang sedalam lima puluh meter. Tubuh Rahul hancur berkeping-keping.
Kecelakaan itu aneh. Tidak ada bekas rem di aspal. Tidak ada saksi mata. Tidak ada penyebab yang jelas. Polisi menyimpulkan sebagai kecelakaan tunggal akibat kelalaian pengemudi.
Tapi warga Desa Sumbermaya tidak percaya itu hanya kecelakaan.
"Mungkin itu kutukan leluhur," bisik Pak Tani ketika mendengar kabar itu.
"Seta mati tenang karena ia bertobat. Tapi Rahul mati mengerikan karena ia tidak pernah bertobat."
Panji tidak percaya pada kutukan. Tapi ia juga tidak bisa menjelaskan keanehan kematian Rahul. Ia hanya diam. Ia hanya bersyukur bahwa tidak ada lagi yang perlu ditakuti dari masa lalu.
"Biarkan Tuhan yang menghakimi," katanya pada Mintarsih. "Kita hanya perlu melanjutkan hidup."
Pagi itu, Wawan datang ke rumah Panji dengan wajah pucat.
"Nji, ada kabar buruk."
Panji yang sedang sarapan bersama Mintarsih dan Baskara menoleh. "Apa?"
"Rahul... meninggal."
Mintarsih terkejut. "Meninggal? Karena apa?"
"Kecelakaan truk. Tadi malam di tikungan dekat jembatan tua. Truknya terjun ke jurang. Tubuhnya hancur."
Baskara yang mendengar itu bertanya, "Rahul yang dulu preman, Ayah?"
Panji mengangguk. "Iya, Nak. Yang dulu mengintimidasi warga desa."
"Apakah ia jahat?"
"Sangat jahat, Nak. Ia tidak pernah menyesali perbuatannya."
Baskara diam. Ia merenung.
Mintarsih memegang tangan Panji. "Nji, apa ini pertanda?"
Panji menghela napas. "Aku tidak tahu, Tin. Tapi satu hal yang aku yakin: hidup ini singkat. Kita harus memanfaatkannya sebaik mungkin."
Kabar kematian Rahul menyebar cepat ke seluruh desa. Warga bergerombol di balai desa, berbisik-bisik.
"Kutukan leluhur," kata Pak Tani dengan suara parau. "Saya sudah duga sejak lama."
Seorang ibu menimpali, "Iya. Seta mati tenang karena ia bertobat. Tapi Rahul... ia mati mengerikan."
Yang lain menambahkan, "Jangan main-main dengan adat. Leluhur melihat semuanya."
Bayu yang masih muda tidak percaya. "Ah, itu hanya kebetulan. Kecelakaan biasa."
Pak Tani menatap Bayu tajam. "Nak, kau masih muda. Kau belum melihat banyak hal. Tapi percayalah, tidak ada yang kebetulan di dunia ini."
Wawan mencoba menengahi. "Sudah, jangan dibesar-besarkan. Yang penting, Rahul sudah meninggal. Kita bisa hidup tenang tanpa ketakutan."
Tapi bisikan tentang kutukan leluhur tidak pernah benar-benar berhenti. Setiap kali ada warga yang bertengkar atau berbuat curang, orang akan berbisik, "Hati-hati, nanti seperti Rahul."
Rama duduk di tepi Sendang Kiskenda, seorang diri. Wajahnya muram.
Panji mendekati. "Rama, kau kenapa?"
"Panji... aku dengar kabar tentang Rahul."
"Kau sedih?"
Rama menggeleng. "Bukan sedih. Aku... takut."
"Takut apa?"
Rama menunduk. "Aku dulu juga jahat. Aku juga tidak bertobat dengan sungguh-sungguh. Aku hanya... terpaksa."
Panji duduk di samping Rama. "Takut itu wajar, Rama. Tapi jangan biarkan ketakutan melumpuhkanmu."
"Apakah leluhur akan mengutukku juga?"
Panji menghela napas. "Rama, aku tidak percaya pada kutukan. Tapi aku percaya pada karma. Setiap perbuatan ada konsekuensinya. Kau sudah menjalani konsekuensi: dua puluh tahun penjara. Sekarang kau hidup baru. Tidak perlu takut."
"Apa kau yakin?"
"Yakin." Panji memegang bahu Rama. "Yang penting sekarang, kau terus berbuat baik. Terus membuktikan bahwa kau berubah. Leluhur tidak buta. Mereka melihat usahamu."
Rama mengangguk pelan. "Terima kasih, Panji. Kau selalu membuatku merasa lebih baik."
Malam itu, Baskara tidak bisa tidur. Ia keluar kamar dan menemukan Panji sedang duduk di teras.
"Ayah, aku mau tanya."
"Tanya apa, Nak?"
"Apakah benar ada kutukan leluhur?"
Panji tersenyum. "Kau percaya pada kutukan?"
Baskara menggeleng. "Aku tidak tahu. Tapi semua warga bilang kematian Rahul karena kutukan."
Panji menghela napas. "Nak, leluhur tidak mengutuk. Leluhur memberkati. Tapi alam punya hukumnya sendiri. Hukum sebab-akibat. Rahul mati karena ia ceroboh, karena ia mabuk, karena ia tidak pernah mendengarkan nasihat siapa pun. Itu bukan kutukan. Itu konsekuensi."
"Tapi kenapa Seta mati tenang?"
"Karena Seta bertobat. Ia mengakui kesalahannya. Ia menjalani hukuman adat dengan ikhlas. Ketenangan batinnya membuat kematiannya tenang."
Baskara merenung.
"Nak, hidup ini tentang pilihan. Setiap hari kita memilih: menjadi baik atau jahat. Jika kita memilih jahat, kita tidak perlu kutukan untuk dihukum. Hidup itu sendiri yang akan menghukum kita."
"Aku mengerti, Ayah."
"Bagus. Sekarang tidur. Besok sekolah."
Wawan dan Bayu penasaran dengan kematian Rahul. Mereka pergi ke lokasi kecelakaan di kabupaten, ditemani Rama yang tahu jalan.
Tempat itu sunyi. Jembatan tua masih berdiri kokoh. Tapi bekas truk yang terjun masih terlihat: ban bekas di tebing, pecahan kaca di dasar jurang.
Bayu bergidik. "Seram juga tempat ini."
Rama berdiri di tepi jurang. "Dulu, aku sering lewat sini bersama Rahul. Ia selalu ugal-ugalan. Pernah kuingatkan, tapi ia tidak pernah peduli."
Wawan menggeleng. "Sudahlah, kita pulang. Tidak ada yang bisa kita lakukan di sini."
Mereka bertiga berbalik. Tapi sebelum melangkah, Bayu melihat sesuatu di semak-semak.
"Itu... apa itu?" tanyanya.
Wawan mendekat. Ia mengambil benda itu. Sebuah kalung bertuliskan nama "RAHUL" dengan rantai yang sudah putus.
"Aneh," kata Wawan. "Kalung ini masih di sini. Tidak hanyut."
Rama memandang kalung itu. "Mungkin ini pertanda."
"Pertanda apa?"
"Bahwa ia tidak boleh dilupakan. Bahwa kematiannya adalah peringatan bagi kita semua."
Wawan melemparkan kalung itu kembali ke semak. "Ayo pulang. Aku tidak betah di sini."
Malam itu, Baskara bermimpi aneh. Ia melihat seorang laki-laki tambun dengan wajah bengis berdiri di tepi jurang. Laki-laki itu memegang kemudi truk yang oleng.
"Kau siapa?" tanya Baskara dalam mimpi.
"Aku Rahul. Kau anak Panji?"
"Iya."
Rahul tertawa. "Kau tahu? Ayahmu dulu merepotkanku. Saya benci padanya."
"Kenapa kau benci ayahku?"
"Karena ia baik. Orang baik membuat orang jahat seperti aku terlihat buruk."
Baskara diam.
"Tapi aku tidak menyesal. Tidak seperti Seta yang munafik. Aku jahat sampai akhir. Dan lihat, aku mati dengan cara yang keren."
"Keren? Mati mabuk dan terjun ke jurang? Itu tidak keren."
Rahul terdiam. Wajahnya berubah.
"Kau anak Panji," katanya pelan. "Bibirmu tajam seperti ayahmu."
"Ayahku mengajarkanku untuk berkata jujur."
Rahul menghela napas. "Sudahlah. Aku tidak punya waktu untuk debat. Aku hanya ingin bilang: jaga ayahmu. Karena ia orang baik. Dan orang baik langka di dunia ini."
Rahul menghilang.
Baskara terbangun. Tubuhnya basah oleh keringat.
"Ibu," panggilnya.
Mintarsih yang kebetulan belum tidur masuk ke kamar. "Ada apa, Nak?"
"Aku bermimpi tentang Rahul."
Mintarsih terkejut. "Apa katanya?"
"Ia bilang, ayah orang baik. Dan aku harus menjaga ayah."
Mintarsih memeluk Baskara. "Itu pesan dari alam lain, Nak. Kita harus mendengarkan."
Panji dan Mintarsih duduk di samping makam Jojo. Rumput di sekitarnya sudah tinggi. Panji membersihkannya dengan sabit kecil.
"Jo, kau tahu? Rahul mati." Panji berbicara pada nisan Jojo.
Angin bertiup. Daun-daun bergoyang.
"Aku tidak senang. Aku tidak sedih. Aku hanya... lega. Karena satu-satunya orang yang masih menyimpan dendam pada desa kita sudah tiada."
Mintarsih memegang tangan Panji. "Nji, apa sekarang kita benar-benar aman?"
"Tidak ada yang benar-benar aman, Tin. Tapi setidaknya, tidak ada musuh yang terlihat. Sekarang kita hanya perlu menjaga apa yang sudah kita bangun."
Mereka berdua diam. Menikmati ketenangan sore.
"Nji, apa kau percaya pada kutukan?"
Panji tersenyum. "Aku percaya pada keadilan, Tin. Entah itu datang dari Tuhan, dari alam, atau dari tangan manusia. Rahul mati karena kesalahannya sendiri. Itu bukan kutukan. Itu hukum sebab-akibat."
"Apa kau takut mati, Nji?"
Panji menghela napas. "Dulu, aku takut. Sekarang... tidak. Karena aku sudah melihat banyak kematian. Dan aku belajar bahwa kematian bukan akhir. Ia hanya pintu menuju sesuatu yang baru."
"Kau yakin?"
"Yakin, Tin. Karena ayahku, Ki Guno, Eyang Jenggala, Jojo, Seta, bahkan Rahul—mereka semua sudah melewati pintu itu. Dan suatu hari, kita juga akan melewatinya."
Mintarsih menyandarkan kepalanya di bahu Panji. "Aku tidak ingin kau pergi lebih dulu, Nji."
"Kita tidak pernah tahu, Tin. Tapi selama kita masih bersama, mari kita nikmati setiap momen."
Warga desa menggelar doa bersama untuk arwah Rahul. Bukan karena mereka sayang. Tapi karena mereka ingin menenangkan desa.
Kades Tirta yang sudah sangat tua—hampir seumur Pak Tani—memimpin doa.
"Ya Tuhan, ampunilah dosa-dosa almarhum Rahul. Ia telah banyak berbuat jahat. Tapi kami tidak berhak menghakiminya. Hanya Engkau yang tahu isi hatinya."
Warga mengaminkan.
Pak Tani bergumam, "Semoga arwahnya tenang. Meskipun ia tidak tenang semasa hidup."
Wawan menimpali, "Setidaknya, desa kita bersih dari orang-orang jahat. Sekarang kita bisa fokus membangun."
Doa selesai. Warga pulang.
Panji berdiri di depan balai desa, memandang warga yang meninggalkan halaman.
Rama mendekatinya. "Panji, aku minta izin untuk ikut membangun desa. Sepenuh waktu."
Panji menatap Rama. "Kau yakin?"
"Yakin. Aku tidak punya apa-apa lagi. Tapi aku punya tenaga dan waktu. Biarkan aku membantu."
"Baik. Mulai besok, kau ikut Wawan di kebun bersama."
"Terima kasih, Panji."
Kematian Rahul menjadi babak penutup dari masa kelam Desa Sumbermaya. Setelah itu, tidak ada lagi preman, tidak ada lagi intimidasi, tidak ada lagi ketakutan. Warga hidup damai. Sawah-sawah menghijau. Sendang Kiskenda tetap bening abadi.
Panji dan Mintarsih menikmati masa tua mereka dengan tenang. Mereka sesekali mengunjungi makam Jojo, makam Sastro, makam Ki Guno, dan bahkan makam Seta—bukan karena mereka lupa, tapi karena mereka ingat bahwa pengampunan adalah bagian dari kehidupan.
Baskara tumbuh menjadi pemuda yang bijaksana. Ia tidak mewarisi dendam ayahnya. Ia mewarisi kebaikan ayahnya.
Suatu malam, ketika bintang-bintang mulai jatuh lagi—malam seribu bintang yang kelima—Baskara bertanya pada Panji.
"Ayah, apa yang akan terjadi pada desa ini setelah Ayah dan Ibu tiada?"
Panji tersenyum. "Desa ini akan tetap hidup, Nak. Karena bukan ayah yang menjaganya. Tapi adat, leluhur, dan panji yang tak pernah padam. Dan kau, Baskara, adalah panji berikutnya."
Bab 41: Panji Tua, Bintang Tetap Bersinar
Waktu berjalan tanpa permisi. Seperti air sungai yang mengalir, tidak pernah kembali, tidak pernah berhenti. Panji kini berusia tujuh puluh tahun. Rambutnya putih semua, wajahnya dipenuhi kerutan, jalannya perlahan tertatih, tetapi matanya—matanya masih menyala. Api perjuangan itu tidak pernah padam, meskipun raganya mulai rapuh.
Mintarsih juga tua. Rambutnya yang hitam dulu kini beruban, kulitnya keriput, tangannya gemetar. Tapi ia masih tersenyum setiap pagi, masih memasak untuk Panji, masih duduk di sampingnya di teras rumah, memandang sawah-sawah yang menghijau.
Baskara kini berusia empat puluh tahun. Ia sudah menikah dengan seorang perempuan desa bernama Ratri, dan dikaruniai dua orang anak: Kirana (perempuan, 10 tahun) dan Arjuna (laki-laki, 7 tahun). Mereka tinggal tidak jauh dari rumah Panji, sehingga setiap sore cucu-cucu itu berlarian ke rumah kakeknya, minta diceritakan tentang masa lalu.
Desa Sumbermaya telah berubah menjadi desa yang makmur. Sekolah Adat Modern Panji Kirana telah meluluskan ratusan siswa. Banyak dari mereka yang menjadi guru, dokter, insinyur, bahkan ada yang menjadi pejabat di kabupaten. Tapi mereka tidak pernah melupakan desa asal. Setiap tahun, mereka pulang untuk acara bersih desa, untuk upacara adat, untuk sekadar bernostalgia.
Panji tidak lagi menjadi kepala sekolah. Ia sudah pensiun sejak sepuluh tahun lalu. Tiga kali seminggu, ia masih mengajar filsafat adat untuk anak-anak—sebagai guru sukarela. Karena baginya, berhenti mengajar berarti berhenti hidup.
Pada malam ketika bintang-bintang jatuh untuk keenam kalinya dalam hidupnya, Panji memanggil Kirana dan Arjuna ke ruang tamu. Ia memegang sebuah kotak kayu kecil—kotak yang selama puluhan tahun ia simpan di bawah tempat tidurnya.
"Nak," panggilnya pada kedua cucunya. "Kemari. Kakek mau memberi sesuatu."
Lintang—gadis kecil berusia sepuluh tahun dengan mata cerdas dan rambut panjang diikat dua—berlari masuk. Arjuna menyusul di belakang, dengan senyum khasnya yang nakal.
"Kakek! Kakek mau kasih apa?" tanya Kirana antusias.
Panji tertawa kecil. "Kakek mau kasih hadiah. Tapi bukan mainan."
Arjuna mengerutkan dahi. "Kalau bukan mainan, apa?"
"Ini." Panji membuka kotak kayu itu. Di dalamnya, terbungkus kain beludru merah yang sudah lusuh, terdapat sebuah jimat kecil berbentuk bintang dari logam tua. Jimat itu adalah Tumbal Lintang—jimat yang diberikan Nini Gendheng pada malam kelahirannya, yang konon hanya aktif pada malam seribu bintang.
Kirana mengambil jimat itu dengan hati-hati. "Wah, cantik. Tapi apa gunanya, Kek?"
"Jimat ini adalah pusaka. Pemberian Nini Gendheng—dukun beranak yang membantu kelahiran Kakek dulu."
Arjuna menatap jimat itu dengan rasa ingin tahu. "Saktikah, Kek?"
Panji menggeleng. "Tidak. Jimat ini tidak sakti. Ia hanya pengingat."
"Pengingat apa, Kek?"
"Pengingat bahwa Kakek tidak pernah sendirian. Bahwa ada bintang-bintang di langit yang selalu menjaga. Bahwa panji seribu bintang itu nyata."
Panji menyandarkan tubuhnya di kursi kayu. Matanya menerawang ke kejauhan—ke masa lalu yang tidak pernah benar-benar meninggalkannya.
"Kakek lahir di malam seribu bintang," mulai Panji. "Waktu itu, langit dipenuhi bintang jatuh. Ribuan. Puluhan ribu. Seluruh desa keluar rumah untuk melihat."
Kirana terpana. "Benarkah, Kek?"
"Benar. Ibu Kakek—buyut kalian, Srintil—hampir pingsan karena proses persalinan yang lama. Tapi Nini Gendheng, dukun beranak itu, bilang, 'Jangan takut. Anak ini dijaga bintang.'"
Arjuna bergidik. "Seram, Kek."
"Tidak seram, Nak. Indah. Karena sejak saat itu, Kakek tahu bahwa hidup ini bukan kebetulan. Ada yang merancang. Ada yang menjaga."
Panji mengambil jimat itu dari tangan Lintang.
"Ini jimatnya. Kakek pakai selama puluhan tahun. Tapi sekarang, Kakek tidak butuh lagi."
"Kenapa, Kek?" tanya Lintang.
"Karena Kakek sudah tua. Dan sebentar lagi, Kakek akan pergi."
Kirana dan Arjuna terdiam.
Mintarsih yang dari dapur mendengar, mengusap air matanya. Ia tidak ikut masuk. Ia tahu ini saatnya Panji bicara dengan cucu-cucunya.
Arjuna bertanya dengan suara kecil. "Kakek mau pergi ke mana?"
Panji tersenyum. "Kakek mau pergi ke tempat yang indah, Nak. Tempat di mana kakek bertemu dengan buyut kalian, dengan Kakek Sastro, dengan Mbah Ki Guno, dengan Eyang Jenggala, dengan Paman Jojo."
Kirana matanya berkaca-kaca. "Kakek jangan pergi. Kirana belum siap."
"Tidak ada yang pernah siap, Nak. Tapi kematian tidak menunggu kita siap. Ia datang kapan pun ia mau."
"Kakek takut mati?" tanya Arjuna.
Panji menggeleng. "Dulu, Kakek takut. Sekarang... tidak. Karena Kakek sudah melihat banyak kematian. Kakek belajar bahwa mati adalah bagian dari hidup. Seperti siang dan malam. Seperti musim hujan dan kemarau. Semua silih berganti."
"Apa yang terjadi setelah mati, Kek?" tanya Lintang.
"Tidak ada yang tahu pasti, Nak. Tapi Kakek percaya, kita kembali ke asal kita. Ke alam semesta. Ke debu bintang. Dan energi kita akan menyatu dengan leluhur, dengan alam, dengan Tuhan."
Arjuna memeluk Panji. "Kakek, aku tidak mau Kakek mati."
Panji membelai rambut Arjuna. "Kakek juga tidak mau. Tapi Kakek sudah tua. Tubuh ini sudah lelah. Biarkan Kakek beristirahat."
Panji mengambil jimat itu dan menggantungkannya di leher Lintang.
"Nak, ini untukmu."
Kirana terkejut. "Untuk Lintang, Kek? Tapi Kirana masih kecil."
"Kamu perempuan tertua. Kamu yang harus menjaga pusaka ini. Nanti ketika kamu sudah dewasa, kamu wariskan pada anak-anakmu."
"Apa yang harus Kirana lakukan dengan jimat ini?"
"Simpan. Dan setiap kali kamu merasa sendirian, pegang jimat ini. Ingatlah bahwa kamu tidak sendirian. Ada leluhur yang menjaga. Ada bintang-bintang di langit yang menerangimu."
Arjuna bertanya, "Kalau aku, Kek? Aku dapat apa?"
Panji tersenyum. "Kamu dapat nama. Arjuna. Nama yang kuat. Jadilah pemanah yang tangguh. Lindungi kakakmu. Lindungi desa ini. Lindungi yang lemah."
Arjuna mengangguk mantap. "Aku akan jaga Kak Lintang, Kek. Janji."
Baskara dan Ratri masuk ke ruang tamu. Mereka melihat Kirana memegang jimat di lehernya, dan Panji sedang tersenyum.
"Ayah, ada apa?" tanya Baskara.
Panji menatap anaknya. "Ayah sedang mewariskan pusaka pada cucu-cucu ayah."
Ratri bertanya, "Pusaka apa, Pak?"
"Tumbal Lintang. Jimat dari Nini Gendheng yang menemani ayah seumur hidup."
Baskara terkejut. "Ayah, itu pusaka berharga. Kenapa tidak diwariskan pada saya?"
Panji menggeleng. "Kamu sudah dewasa, Nak. Kamu sudah punya panjimu sendiri. Sekarang giliran mereka."
Baskara mengangguk. "Baik, Ayah. Aku mengerti."
Mintarsih keluar dari dapur. Wajahnya basah.
"Tin, kemari," panggil Panji.
Mintarsih duduk di samping suaminya.
"Tin, aku sudah bicara dengan cucu-cucu kita. Mereka tahu bahwa kakeknya akan pergi."
Mintarsih menangis. "Nji, jangan bicara begitu."
"Kita harus bicara, Tin. Karena waktu kita tidak lama lagi."
Malam itu, setelah Baskara dan Ratri pulang, Kirana dan Arjuna pamit pulang sambil memegang jimat bergantian. Panji dan Mintarsih duduk di kursi bambu di teras, seperti puluhan tahun yang lalu.
"Tin," panggil Panji.
"Apa, Nji?"
"Kau ingat ketika kita masih muda? Ketika kita pertama kali bertemu di tepi kali?"
Mintarsih tersenyum. "Aku ingat. Waktu itu aku kehilangan sandal. Dan kau mencarikannya."
"Kau menangis. Aku heran, kenapa seorang gadis kecil menangis karena sandal."
"Karena itu satu-satunya sandal yang aku punya," kata Mintarsih. "Dan karena aku tidak punya siapa-siapa selain ayahku."
"Sekarang kau punya banyak orang, Tin. Punya aku. Punya Baskara. Punya Ratri. Punya Kirana dan Arjuna."
Mintarsih menyandarkan kepalanya di bahu Panji. "Aku tidak akan punya siapa-siapa kalau kau pergi, Nji."
"Kau akan punya Baskara. Kau akan punya cucu-cucu kita. Dan kau akan punya kenangan tentang kita."
"Aku tidak ingin kenangan, Nji. Aku ingin kau."
Panji memeluk istrinya. "Tin, kita sudah hidup bersama lima puluh tahun. Itu sudah lebih dari cukup."
Malam itu, Kirana bermimpi. Ia melihat seorang lelaki tua duduk di tepi sendang, dengan rambut putih panjang menjuntai hingga ke tanah. Lelaki itu tersenyum padanya.
"Kamu Lintang?"
"Iya. Kamu siapa?"
"Namaku Ki Guno. Aku dulu kepala adat di desa ini. Aku gurunya kakekmu."
Kirana terkesima. "Kakek sering cerita tentang Mbah Ki Guno."
"Kakekmu orang baik, Nak. Ia tidak pernah menyerah meskipun hidupnya berat."
"Kirana tahu, Mbah. Kirana bangga pada kakek."
Ki Guno tersenyum. "Jimat yang kau pegang itu, rawat baik-baik. Suatu hari nanti, kau akan mengerti artinya."
"Arti apa, Mbah?"
"Bahwa hidup ini singkat. Bahwa kematian pasti datang. Bahwa yang tersisa hanyalah cinta dan pengampunan."
Ki Guno menghilang. Kirana terbangun. Ia memegang jimat di lehernya. Jimat itu hangat.
"Ibu," panggilnya.
Ratri masuk ke kamar. "Ada apa, Nak?"
"Kirana bermimpi. Kirana bertemu Mbah Ki Guno."
Ratri terkejut. "Mbah Ki Guno? Yang sudah meninggal puluhan tahun lalu?"
"Iya, Bu. Ia bilang, Kirana harus menjaga jimat ini."
Ratri memeluk Lintang. "Tidurlah, Nak. Besok kita kunjungi kakek lagi."
Pagi itu, Panji berjalan ke Sendang Kiskenda. Jalannya tertatih, ditopang tongkat kayu. Kirana dan Arjuna menemani di sampingnya.
"Sekarang, lihat," kata Panji sambil duduk di tepi sendang. Airnya biru keemasan, tenang, damai.
"Ini sendang, Nak. Tempat Kakek dulu bermimpi. Tempat Kakek belajar tentang kehidupan."
Kirana duduk di samping kakeknya. "Cantik sekali, Kek."
"Ajarkan pada anak-anakmu nanti, Nak. Bahwa sendang ini adalah pusaka. Ia tidak boleh dirusak. Ia tidak boleh dijual."
Arjuna bertanya, "Kek, apa yang Kakek lihat di sendang dulu?"
Panji tersenyum. "Kakek melihat masa depan. Tapi tidak detail. Hanya bayangan. Cukup untuk membuat Kakek takut, tapi juga cukup untuk membuat Kakek siap."
"Apa Kakek takut?"
"Dulu, iya. Sekarang, tidak. Karena Kakek tahu, apa pun yang terjadi, bintang-bintang akan selalu bersinar."
Panji melepas kain panji dari lehernya. Kain itu kini sudah sangat tua, hampir rapuh. Tapi bintang-bintang kecil yang ia jahit dulu masih terlihat.
"Ini, Nak. Pegang."
Kirana dan Arjuna memegang kain itu bergantian.
"Kain ini adalah panji. Bukan panji kerajaan. Bukan panji perang. Tapi panji kehidupan. Simbol bahwa kita tidak sendirian. Simbol bahwa leluhur selalu menjaga."
Arjuna bertanya, "Kenapa ada bintang-bintang di sini, Kek?"
"Bintang yang besar untuk Kakek Sastro. Bintang yang sedang untuk Mbah Ki Guno. Bintang yang kecil untuk Paman Jojo. Mereka semua sudah tiada. Tapi mereka hidup di sini." Panji menunjuk dadanya.
Kirana menangis. "Kirana akan merindukan Kakek."
Panji mengusap air mata cucunya. "Kakek juga akan merindukan kalian. Tapi Kakek tidak akan pernah benar-benar pergi. Kakek akan ada di sini." Ia menunjuk jimat di leher Lintang.
"Di dalam jimat?"
"Bukan di dalam jimat. Di dalam hatimu. Setiap kali kau ingat Kakek, setiap kali kau cerita tentang Kakek pada anak-anakmu, Kakek akan hidup kembali."
Mereka bertiga berjalan pulang dari sendang. Matahari mulai condong ke barat. Langit berwarna jingga keemasan.
Kirana memegang tangan kakeknya. Arjuna memegang tangan lainnya.
"Kek," panggil Arjuna.
"Apa, Nak?"
"Aku akan menjadi seperti Kakek. Aku akan melindungi desa ini. Aku akan menjaga sendang. Aku akan menjadi pahlawan."
Panji tersenyum. "Kau tidak perlu menjadi pahlawan, Nak. Cukup menjadi orang baik. Itu sudah lebih dari cukup."
Mereka sampai di rumah. Mintarsih sudah menunggu di teras.
"Nak, ayo cuci tangan. Makan malam sudah siap."
Kirana dan Arjuna berlari masuk.
Panji duduk di kursi bambu. Mintarsih duduk di sampingnya.
"Nji, kau bahagia?"
Panji mengangguk. "Bahagia, Tin. Karena kita berhasil. Desa ini aman. Anak kita baik. Cucu kita cerdas. Leluhur tersenyum."
"Apa lagi yang kau inginkan?"
"Aku hanya ingin mati dengan tenang. Di sampingmu. Di rumah ini."
Mintarsih memegang tangan Panji. "Jangan bicara soal mati, Nji. Kita masih punya waktu."
Panji tersenyum. "Iya, Tin. Kita masih punya waktu."
Di kejauhan, bintang-bintang mulai muncul satu per satu. Tidak jatuh kali ini. Hanya bersinar. Terang. Damai.
Seperti mata Panji yang tak pernah padam.
Panji hidup hingga usia delapan puluh tahun. Ia meninggal pada suatu pagi, dengan tenang, di pangkuan Mintarsih, setelah sarapan bubur dan sayur asem. Wajahnya tersenyum. Tangannya masih memegang kain panji.
Seluruh desa berkabung. Baskara memimpin pemakaman. Kirana dan Arjuna menangis di sisi makam.
Tapi malam itu, ketika bintang-bintang mulai jatuh untuk ketujuh kalinya, Kirana tersenyum.
"Kakek," bisiknya. "Kirana akan menjaga jimat ini. Kirana akan menjaga desa ini. Kirana akan menjadi panji, seperti Kakek."
Bintang di timur berkedip.
Seperti senyum Panji dari surga.
BAB 42: MALAM TERAKHIR PANJI
Panji tahu waktunya sudah dekat.
Bukan karena sakit. Bukan karena firasat. Tapi karena alam memberinya tanda. Seminggu terakhir, ia sering bermimpi tentang Sastro, tentang Ki Guno, tentang Eyang Jenggala, tentang Jojo. Mereka tersenyum, mengulurkan tangan, seolah mengundangnya pulang.
Ia juga melihat bintang di timur semakin terang dari biasanya. Bintang itu—bintang yang selalu ia anggap sebagai arwah ayahnya—kini bersinar seperti matahari kecil di tengah malam.
Pada pagi terakhirnya, Panji bangun lebih awal dari biasanya. Ia duduk di teras rumah, memandang sawah-sawah yang menghijau. Kabut tipis masih menyelimuti desa. Burung-burung mulai berkicau di dahan pohon beringin.
Mintarsih masih tidur di dalam. Ia tidak membangunkannya. Ia ingin menikmati kesunyian pagi seorang diri.
Tapi kesunyian itu tidak bertahan lama.
Baskara datang dengan tergopoh dari arah timur. Wajahnya cemas. Ia bermimpi buruk tadi malam—mimpi tentang ayahnya berjalan ke sendang, lalu menghilang ditelan cahaya.
"Ayah, kenapa bangun pagi sekali?" tanyanya sambil duduk di samping Panji.
Panji tersenyum. Matanya yang mulai keruh masih bisa memancarkan kehangatan.
"Ayah ingin melihat matahari terbit, Nak. Mungkin untuk terakhir kalinya."
Baskara terkejut. Wajahnya mendadak pucat. "Ayah, jangan bicara begitu."
"Kita harus bicara, Nak. Karena waktu Ayah tidak lama lagi."
Baskara duduk di samping ayahnya. Matanya basah. Tangannya gemetar. Ia memegang tangan ayahnya—tangan yang dulu kuat mencangkul, kini kurus dan dingin.
"Ayah, aku belum siap."
Panji menatap anaknya. Matanya lembut. "Tidak ada yang pernah siap, Nak. Tapi kematian tidak menunggu kita siap. Ia datang kapan pun ia mau. Seperti tamu yang tidak diundang."
Panji meminta Baskara memanggil semua keluarga: Mintarsih, Ratri, Lintang, Arjuna, dan beberapa kerabat dekat. Mereka berkumpul di ruang tamu rumah panggung di ujung barat—rumah yang sama tempat Panji dilahirkan delapan puluh tahun lalu.
Rumah itu sudah tua. Dinding bambunya sudah beberapa kali diperbaiki. Atap rumbianya sudah diganti dengan seng. Tapi fondasinya masih kokoh. Seperti Panji. Tubuhnya rapuh, tapi hatinya masih kuat.
Panji duduk di kursi kayu—kursi yang sama yang dulu diduduki Sastro, ayahnya. Di kursi itulah Sastro menghembuskan napas terakhir, tujuh puluh tahun lalu. Kini giliran Panji.
Ia dikelilingi oleh orang-orang yang ia cintai. Mintarsih di samping kanannya. Baskara di samping kirinya. Ratri, menantunya, berdiri di belakang Baskara. Kirana dan Arjuna, cucu-cucunya, duduk di lantai di depan kakinya.
"Anak-anak, cucu-cucu, istriku," ucap Panji dengan suara lirih. Suarara tidak lagi sekuat dulu. Tapi kata-katanya masih tajam.
"Hari ini adalah hari terakhirku."
Mintarsih menangis. "Nji, jangan bilang begitu. Kau masih sehat. Kau masih kuat."
"Ibu, biarkan Ayah bicara," potong Baskara lembut. Tangannya memegang pundak ibunya.
Panji melanjutkan. "Saya tidak punya harta berharga. Tidak punya tanah luas. Tidak punya uang simpanan. Yang saya punya hanyalah nama baik, dan panji ini."
Ia melepas kain panji dari lehernya. Kain itu kini sangat tua, hampir rapuh. Tapi bintang-bintang kecil yang ia jahit dulu—bintang untuk Sastro, untuk Ki Guno, untuk Jojo—masih terlihat. Jahitannya sudah longgar, tapi tidak lepas.
"Panji ini saya wariskan pada kalian. Bukan sebagai benda pusaka. Tapi sebagai pengingat. Bahwa perjuangan tidak pernah usai. Bahwa keadilan harus terus ditegakkan. Bahwa cinta dan pengampunan adalah kekuatan sejati."
Kirana menangis. Air matanya jatuh ke pangkuan. "Kakek, Kirana tidak tega. Kirana masih kecil. Kirana belum siap kehilangan Kakek."
Panji mengusap rambut Lintang. Tangannya yang keriput dan gemetar membelai lembut kepala cucunya.
"Kakek sayang kamu, Nak. Jadilah perempuan yang kuat. Seperti nenekmu. Jangan cengeng. Jangan takut. Dunia akan mencoba menjatuhkanmu. Tapi kau harus berdiri. Lagi dan lagi."
Arjuna memeluk kakeknya. Pelukannya erat. Seperti tidak mau melepaskan.
"Kakek, aku akan menjaga keluarga. Janji. Aku akan menjaga Lintang. Aku akan menjaga Nenek. Aku akan menjaga Bapak dan Ibu."
Panji tersenyum. "Aku tahu, Nak. Kamu anak pemberani. Seperti Jojo. Tapi jangan mati muda seperti dia. Hidup panjang. Bahagia. Punya anak banyak."
Arjuna terisak. "Kakek... aku sayang Kakek."
"Aku juga sayang kamu, Nak. Sayang sekali."
Setelah semua keluarga keluar—Kirana dan Arjuna diantar Ratri ke dapur, Baskara pergi menjemput Rama—Panji memanggil Mintarsih untuk tinggal bersamanya sebentar.
"Tin, kemari."
Mintarsih duduk di samping suaminya. Wajahnya basah. Matanya merah. Ia sudah menangis sejak tadi pagi, tapi ia berusaha kuat. Untuk Panji. Untuk anak-anak. Untuk cucu-cucu.
"Nji, kenapa kau pergi duluan? Aku tidak kuat tanpamu."
Panji memegang tangan Mintarsih. Tangannya dingin, tapi genggamannya kuat. Masih kuat.
"Tin, kita sudah hidup bersama lima puluh tahun. Lima puluh tahun, Tin. Setengah abad. Lebih dari cukup. Aku sudah bahagia. Kau sudah bahagia. Apa lagi yang kita cari di dunia ini?"
Mintarsih menangis lebih keras. "Aku masih ingin bersama kau, Nji. Aku masih ingin melihat kau tersenyum setiap pagi. Aku masih ingin memasak untukmu. Aku masih ingin..."
"Ini sudah tua, Tin. Ini sudah cukup. Dan ini sudah mati. Tinggal menunggu waktu."
"Nji... jangan..."
Panji membelai rambut istrinya yang putih. Rambut yang dulu hitam legam, kini putih semua. Seperti salju di puncak gunung.
"Tin, kita tidak akan pernah benar-benar berpisah. Aku akan pergi lebih dulu. Tapi aku akan menunggumu di sana. Di tepi sendang yang lebih indah. Dengan air yang lebih jernih. Dengan bintang yang lebih terang."
Mintarsih memeluk Panji. Pelukannya erat. Seperti ingin menyatukan tulang dan daging mereka menjadi satu.
"Aku akan merindukanmu, Nji. Setiap hari. Setiap jam. Setiap menit. Sampai aku menyusulmu nanti."
"Aku akan menunggumu, Tin. Jangan terburu-buru. Nikmati hidup. Bersama Baskara. Bersama Kirana dan Arjuna. Mereka butuh kau."
Rama yang kini sudah tua—rambutnya putih semua, jalannya tertatih, matanya sayu—dipanggil oleh Baskara. Ia tinggal di gubuk kecil dekat sendang, sama seperti dulu. Tiga puluh tahun sudah ia tinggal di desa itu. Tiga puluh tahun ia bekerja, berdoa, dan setiap malam berjalan ke makam Jojo.
"Rama, Ayah ingin bertemu denganmu," kata Baskara dari pintu gubuk.
Rama terkejut. "Panji? Ada apa?"
Dia berjalan ke rumah Panji dengan perasaan campur aduk. Langkahnya lambat. Tongkatnya menekan tanah setiap kali melangkah. Ia sudah tua. Tapi ia masih bisa berjalan. Masih bisa bekerja. Masih bisa membantu.
Ketika tiba di rumah Panji, ia melihat Panji duduk di kursi kayu di ruang tamu. Wajahnya pucat. Matanya cekung. Tapi senyumnya masih sama. Senyum yang dulu ia benci, kini ia rindukan.
"Rama, duduklah."
Rama duduk di kursi kayu di hadapan Panji. "Panji, kau tidak apa-apa?"
Panji tersenyum. "Aku baik-baik saja, Rama. Hanya... sebentar lagi aku pergi."
Rama terdiam. Ia menunduk. Tangannya yang keriput menggenggam lututnya.
"Aku ingin mengucapkan terima kasih padamu, Rama."
Rama terkejut. "Terima kasih? Apa yang kau ucapkan terima kasih padaku? Aku dulu menyakitimu. Aku dulu memfitnahmu. Aku dulu..."
Panji menggeleng pelan. "Kau dulu memang menyakitiku. Tapi tanpa kau, aku tidak akan menjadi seperti sekarang. Tanpa musuh, kita tidak akan pernah tahu seberapa kuat kita."
Rama menunduk lebih dalam. Air matanya jatuh ke lantai.
"Panji, aku minta maaf. Untuk semuanya. Untuk semua penderitaan yang aku sebabkan. Untuk semua air mata yang aku buat. Untuk Jojo..."
Panji mengulurkan tangannya. Tangannya yang keriput, gemetar, tapi masih hangat.
"Aku sudah memaafkanmu, Rama. Sejak lama. Sejak kau pertama kali berlutut di bawah pohon beringin dan mencium tanah. Sekarang, berjabat tanganlah denganku sebagai saudara."
Rama menerima tangan Panji. Tangannya gemetar. Air matanya jatuh ke tangan mereka yang bertaut.
"Panji, kau orang baik. Terlalu baik untuk dunia ini."
Panji tersenyum. "Tidak ada yang terlalu baik, Rama. Kita semua sedang belajar. Kau belajar menjadi rendah hati. Aku belajar memaafkan. Jojo belajar kembali. Setiap orang punya pelajarannya sendiri."
Sore itu, matahari mulai condong ke barat. Langit berwarna jingga keemasan. Awan-awan tipis bergerak pelan, seperti sedang berlari mengejar waktu.
Panji meminta Baskara mengantarnya ke Sendang Kiskenda. Ia ingin melihat sendang untuk terakhir kalinya.
Baskara menuntun ayahnya perlahan. Kirana dan Arjuna berjalan di belakang, diam, tidak berani bersuara. Mereka tahu ini saat yang sakral.
Setiba di tepi sendang, Panji duduk di batu yang sama tempat ia duduk ketika masih kecil bersama Ki Guno. Batu itu sudah licin karena usianya yang ratusan tahun. Tapi masih kokoh. Masih bisa menahan tubuh Panji yang kurus.
Air sendang biru keemasan. Ikan-ikan kecil berenang riang. Lumut-lumut di bebatuan sudah dibersihkan oleh warga setiap minggu. Sendang ini tidak berubah. Tidak akan pernah berubah.
"Nak," panggilnya pada Baskara. "Lihat sendang ini. Ia tidak berubah sejak Kakekmu masih kecil. Ia tetap bening. Tetap damai. Ia tidak pernah marah meskipun orang membuang sampah ke dalamnya. Ia tidak pernah menuntut meskipun orang mengambil ikannya."
Baskara duduk di samping ayahnya. "Kenapa sendang ini tidak pernah berubah, Ayah?"
Panji tersenyum. "Karena ia dijaga oleh leluhur. Karena ia tidak pernah serakah. Ia memberi tanpa meminta. Ia mengalir tanpa mengeluh. Itulah yang harus kau pelajari, Nak. Jadilah seperti sendang. Bermanfaat. Tidak merusak. Tidak menuntut."
Kirana bertanya, "Kakek, apakah Kakek akan kembali ke sendang setelah mati?"
Panji memandang cucunya. Matanya berkaca-kaca.
"Mungkin, Nak. Atau mungkin Kakek akan menjadi bintang. Setiap kali kau melihat bintang jatuh, ingatlah Kakek. Ingatlah bahwa Kakek tidak pernah benar-benar pergi. Kakek ada di setiap tetes air sendang. Di setiap helai daun pohon beringin. Di setiap senyum orang yang kau cintai."
Matahari terbenam. Langit berwarna jingga keemasan. Bintang-bintang mulai muncul satu per satu.
Panji tidak mau pulang. Ia ingin menunggu bintang jatuh.
"Baskara, temani ayah di sini. Biarkan yang lain pulang."
Mintarsih menggeleng. "Aku tidak akan meninggalkanmu, Nji. Di mana kau pergi, aku akan ikut. Di mana kau tinggal, aku akan di sana."
"Baiklah, Tin. Kau boleh tinggal."
Mereka bertiga—Panji, Mintarsih, dan Baskara—duduk di tepi sendang. Kirana dan Arjuna diantar pulang oleh Ratri. Mereka menangis. Mereka tidak ingin pergi. Tapi Ratri membujuk mereka dengan lembut.
Langit semakin gelap. Bintang-bintang semakin terang. Dan kemudian, bintang pertama jatuh.
Bukan bintang biasa. Bintang itu besar. Terang. Melesat pelan dari timur ke barat, meninggalkan jejak cahaya panjang seperti air mata dari langit.
Panji tersenyum. Matanya berbinar untuk terakhir kalinya.
"Mereka datang menjemputku."
Mintarsih menangis. "Nji, jangan pergi sekarang. Belum waktunya. Aku belum siap."
"Sudah waktunya, Tin. Aku tidak bisa menolak. Mereka sudah menungguku sejak lama. Sastro. Ki Guno. Eyang Jenggala. Jojo. Mereka semua di sana."
Panji memandang Baskara. Matanya sayu, tapi masih penuh cinta.
"Nak, janji pada Ayah."
Baskara menangis. Air matanya jatuh ke pangkuan. "Janji apa, Ayah?"
"Jaga ibumu. Jangan biarkan ia sendirian. Jangan biarkan ia kelaparan. Jangan biarkan ia sakit tanpa obat."
Baskara mengangguk. "Aku janji, Ayah."
"Jaga desa ini. Jaga sendang ini. Jangan biarkan serakah menghancurkan apa yang sudah kita bangun. Jangan biarkan investor asing masuk. Jangan biarkan anak-anak desa kehilangan arah."
"Aku janji, Ayah."
"Jaga panji ini. Wariskan pada anak-anakmu. Pada cucu-cucumu. Pada cicit-cicitmu. Ceritakan tentang Jojo. Tentang perjuangannya. Tentang pertobatannya. Tentang kematiannya."
Baskara terisak. "Aku janji, Ayah. Aku akan melakukan semuanya."
Panji memandang Mintarsih. Matanya lembut. Penuh cinta.
"Tin, terima kasih untuk segalanya. Untuk cintamu. Untuk kesetiaanmu. Untuk lima puluh tahun yang indah. Untuk semua tawa. Untuk semua air mata. Untuk semua pelukan di malam hari."
Mintarsih memeluk Panji. Pelukannya erat. Seperti tidak mau melepaskan.
"Nji, aku sayang kamu. Sampai mati. Sampai kapan pun. Sampai setelah mati."
"Juga sampai setelah mati, Tin. Karena cinta tidak berakhir di liang lahat. Ia terus hidup. Di hati. Di ingatan. Di doa."
Langit semakin terang oleh bintang jatuh. Bukan puluhan, tapi ratusan. Ribuan. Seperti malam ketika Panji dilahirkan delapan puluh tahun lalu.
Panji melepas jimat Tumbal Kirana dari lehernya. Jimat itu kini hangat—hangat seperti telapak tangan ibunya dulu.
"Ini, Baskara. Simpan. Wariskan pada anak-anakmu nanti."
Baskara menerima jimat itu dengan hormat. Tangannya gemetar. "Aku akan menjaganya, Ayah. Aku akan menjaganya seperti Ayah menjagaku."
Panji menatap langit. Bintang jatuh paling terang melesat dari timur ke barat. Lebih terang dari yang lain. Lebih pelan. Lebih anggun.
"Itu... Bapak," bisiknya. "Bapak datang menjemputku."
Mintarsih memeluk Panji erat-erat.
"Tin, lepaskan. Aku harus pergi."
"Tidak, Nji. Aku tidak bisa. Aku tidak tega."
"Kau harus bisa, Tin. Untuk Baskara. Untuk Kirana dan Arjuna. Untuk desa ini. Mereka butuh kau. Mereka butuh nenek yang kuat. Bukan nenek yang hancur karena kehilangan."
Perlahan, Mintarsih melepaskan pelukannya. Tangannya masih memegang tangan Panji. Tidak mau lepas.
Panji tersenyum. Ia memandang Baskara untuk terakhir kali.
"Nak, jadilah panji yang tak pernah padam."
Baskara menangis. "Aku akan coba, Ayah."
"Bukan coba. Lakukan."
"Iya, Ayah. Aku akan lakukan. Aku janji."
Panji memejamkan matanya. Dadanya masih naik turun. Perlahan. Lembut. Seperti ombak yang surut dari pantai.
Mintarsih memegang tangannya. Baskara memegang tangan yang lain. Air mata mereka jatuh ke tangan Panji.
"Nji," bisik Mintarsih. "Kau tidak sendirian. Kami di sini. Kami tidak akan pernah meninggalkanmu."
Panji tersenyum. Bibirnya bergerak, seperti ingin berkata sesuatu, tapi tidak ada suara yang keluar.
Baskara mendekatkan telinganya ke bibir ayahnya.
"Ayah bilang apa?"
Panji menarik napas terakhir. Bibirnya berbisik pelan—sangat pelan, hampir tidak terdengar.
"Jojo... aku... menyusul..."
Lalu dadanya berhenti naik turun.
Tangannya yang dingin menggenggam erat tangan Mintarsih dan Baskara—masih erat, meskipun jantungnya sudah berhenti berdetak.
Panji telah pergi.
Mintarsih menjerit. Jeritan yang keluar dari dasar jiwanya. Jeritan yang sudah ia tahan sejak pertama kali tahu Panji sakit. Jeritan yang tidak bisa lagi ia bendung.
"Nji! Nji! Jangan pergi! Jangan tinggalkan aku!"
Baskara memeluk ibunya. "Ibu, Ayah sudah tenang. Lihat, ia tersenyum."
Mintarsih menatap wajah Panji.
Benar. Sudut bibirnya naik. Senyum damai. Senyum yang sama ketika ia pertama kali melihat Panji di tepi kali, enam puluh tahun lalu, ketika ia masih kecil dan kehilangan sandal.
"Nji... kau bahagia di sana?"
Tidak ada jawaban.
Tapi di langit, bintang jatuh paling terang melesat dari timur ke barat. Bukan satu, tapi dua. Seperti sepasang mata. Seperti sepasang jiwa yang terbang bersama.
Seperti senyum. Seperti salam perpisahan. Seperti janji yang tidak pernah mati.
Kabar kematian Panji menyebar cepat ke seluruh desa. Warga berdatangan ke sendang—tempat di mana Panji menghembuskan napas terakhir. Mereka menangis. Mereka berdoa. Mereka mengucapkan selamat jalan pada pahlawan desa.
Pak Tani—yang sudah berusia seratus tahun lebih, duduk di kursi roda, matanya rabun, telinganya hampir tuli—diantar oleh Wawan. Wajahnya tua, keriput, penuh oleh waktu. Tapi ia masih bisa menangis.
"Panji... kau pergi. Siapa yang akan menjaga desa ini?" Suaranya parau. Tangannya gemetar.
Wawan menjawab, "Kami, Pak Tani. Kami yang akan menjaga. Baskara. Lintang. Arjuna. Kami semua."
Sari yang sudah tua—rambutnya putih semua, jalannya tertatih—menangis di bahu Bayu.
"Panji orang baik. Ia tidak pernah membenci siapa pun. Bahkan pada musuhnya. Ia memaafkan Seta. Ia memaafkan Rahul. Ia memaafkan Rama. Ia... ia mengajarkan kami arti pengampunan."
Rama datang dengan langkah tertatih. Tongkatnya menekan tanah. Wajahnya basah oleh air mata.
Ia berlutut di sisi jenazah Panji. Tidak peduli tanahnya basah. Tidak peduli bajunya kotor.
"Panji, maafkan aku. Aku tidak pernah cukup baik padamu. Aku tidak pernah bisa membalas kebaikanmu. Tapi kau tetap baik padaku. Kau tetap memaafkanku. Kau... kau memberiku tempat tinggal. Kau memberiku pekerjaan. Kau memberiku hidup baru."
Mintarsih memegang tangan Rama. Tangannya dingin, tapi genggamannya kuat.
"Dia sudah memaafkanmu, Rama. Sejak lama. Sejak kau pertama kali berlutut di bawah pohon beringin."
Panji dimakamkan keesokan harinya di pemakaman desa, di sisi makam Sastro dan Jojo. Tepat di tengah-tengah. Seperti penanda bahwa ia adalah jembatan antara dua generasi.
Baskara memimpin doa. Suaranya lantang, meskipun matanya basah.
"Ya Tuhan, terimalah roh ayah kami, Panji bin Sastro, di sisi-Mu. Ampunilah dosa-dosanya. Terimalah amal ibadahnya. Lapangkanlah kuburnya. Terangilah kegelapannya."
Warga mengamini.
Mintarsih duduk di kursi kayu, matanya kosong, tangannya memegang kain panji. Ia tidak menangis. Air matanya sudah habis semalam. Yang tersisa hanya rasa hampa yang tidak bisa ia gambarkan dengan kata-kata.
Kirana dan Arjuna menangis di sisi neneknya.
"Kakek pergi, Nek," isak Lintang. Wajahnya basah. Hidungnya ingusan.
"Iya, Nak. Kakek pergi ke tempat yang indah. Tempat di mana tidak ada kesedihan. Tidak ada air mata. Tidak ada rasa sakit."
"Apakah Kirana akan bertemu Kakek lagi?"
Mintarsih memeluk cucunya. "Suatu hari nanti, Nak. Ketika saatnya tiba. Ketika bintang-bintang jatuh lagi. Kakek akan datang menjemput kita."
Arjuna memeluk neneknya dari sisi lain. "Nek, Arjuna akan menjaga Nenek. Arjuna tidak akan mengecewakan Kakek."
Mintarsih tersenyum. "Aku tahu, Nak. Kakek juga tahu."
Tanah mulai menutupi liang lahat. Suaranya berat. Membumi. Seperti ketukan terakhir pada pintu perpisahan.
Satu per satu warga melemparkan bunga. Mawar. Melati. Kenanga. Aromanya bercampur dengan bau tanah basah.
Baskara berdiri di depan makam ayahnya. Ia memegang segenggam tanah.
"Ayah, kau sudah berjuang. Kau sudah menang. Sekarang istirahatlah. Kami akan melanjutkan perjuanganmu. Aku janji."
Tanah ia taburkan ke liang lahat.
Mintarsih berdiri. Jalannya tertatih. Baskara menawarkan diri menopang, tapi ia menolak.
"Aku bisa, Nak. Aku harus kuat. Untuk ayahmu."
Ia melemparkan segenggam tanah.
"Nji, tunggu aku di sana. Aku akan menyusul. Jangan pergi terlalu jauh."
Malam itu, bintang jatuh masih berlangsung. Ribuan. Puluhan ribu. Langit terang benderang seperti siang.
Mintarsih duduk di teras rumah, sendirian. Rumah panggung di ujung barat itu sunyi. Hanya suara jangkrik dan sesekali anjing menggonggong di kejauhan.
Baskara menawarkan diri menemani, tapi ia menolak.
"Aku ingin sendiri, Nak. Aku ingin bicara dengan ayahmu."
Baskara mengangguk. "Baik, Ibu. Aku di dalam jika Ibu butuh. Pintu tidak akan pernah terkunci."
Mintarsih menatap langit.
"Nji, kau lihat? Aku masih di sini. Aku masih menunggumu. Setiap hari. Setiap malam."
Bintang jatuh melesat. Seperti jawaban. Seperti bisikan.
"Tapi aku tidak akan menangis. Karena kau sudah bahagia. Dan kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku. Dulu, ketika kita masih muda, kau selalu berkata, 'Tin, aku tidak pantas untukmu. Aku tidak punya apa-apa.' Tapi aku tidak pernah peduli."
Air matanya jatuh. Tapi ia tersenyum.
"Aku hanya ingin kau. Hanya kau. Dari dulu sampai sekarang. Dari sekarang sampai selama-lamanya."
Ia memegang kain panji di pangkuannya. Kain itu masih hangat.
"Kain ini akan kujaga. Sampai aku mati. Lalu akan kuserahkan pada Lintang. Biarlah ia yang meneruskan. Biarlah ia yang menjadi panji berikutnya."
Diam. Sunyi.
"Malam seribu bintang. Yang ketujuh dalam hidupmu. Mungkin yang terakhir untukmu. Tapi aku tahu, kau tidak akan pernah benar-benar pergi. Kau akan selalu ada. Di setiap bintang. Di setiap senyum. Di setiap doa yang kami panjatkan."
Ia tersenyum. Senyum yang sama ketika ia pertama kali melihat Panji di tepi kali—ketika ia masih kecil, kehilangan sandal, dan seorang bocah laki-laki datang membantunya.
"Selamat jalan, Nji. Sampai jumpa di lain waktu. Di tempat yang lebih indah. Di sendang yang lebih jernih. Di bawah bintang yang lebih terang."
Di kejauhan, di timur, satu bintang bersinar lebih terang dari yang lain.
Bukan bintang jatuh. Bukan meteor. Tapi bintang yang diam. Tetap. Abadi.
Seperti sepasang mata yang menatap dengan penuh cinta.
Seperti senyum yang tidak pernah pudar.
Seperti cinta yang tak pernah mati.
Baskara duduk di kursi kayu di ruang tamu. Lampu minyak menyala redup. Ratri duduk di sampingnya, memegang tangannya.
"Kak, apa Ibu baik-baik saja?" tanya Ratri pelan.
Baskara menghela napas. "Ibu kuat. Lebih kuat dari yang aku kira. Tapi aku tahu, di dalam hatinya, ia hancur."
"Kita jaga Ibu, Kak. Bersama."
"Iya. Kita jaga. Seperti yang Ayah pesan."
Kirana dan Arjuna sudah tidur di kamar belakang—kamar yang dulu ditempati Srintil, nenek buyut mereka. Mereka kelelahan setelah menangis seharian.
Baskara berjalan ke jendela. Ia menatap ibunya yang masih duduk di teras, sendirian, memandang langit.
"Ibu," bisiknya. "Aku tidak akan mengecewakan Ayah. Aku akan menjaga Ibu. Aku akan menjaga desa ini. Aku akan menjadi panji yang tak pernah padam."
Di kejauhan, bintang di timur berkedip.
Seperti senyum. Seperti restu. Seperti cinta yang tak pernah mati.
Bab 43: Mintarsih Menulis Babad
Setahun telah berlalu sejak kepergian Panji. Desa Sumbermaya masih berduka, tapi kehidupan terus berjalan. Sawah-sawah tetap menghijau, sendang Kiskenda tetap bening, dan sekolah adat modern tetap mengajar generasi muda. Tapi ada kekosongan yang tidak bisa diisi. Sebuah kursi di teras rumah yang tidak lagi diduduki. Sebuah tongkat di sudut ruangan yang tidak lagi dipakai. Sebuah nama yang selalu disebut dalam doa setiap malam.
Mintarsih kini tinggal sendirian di rumah panggung di ujung barat. Baskara dan Ratri sering menjenguk, kadang mengajaknya tinggal bersama, tapi Mintarsih menolak.
"Rumah ini adalah kenangan terakhirku dengan ayahmu," katanya pada Baskara. "Aku tidak bisa meninggalkannya."
Kirana dan Arjuna datang setiap sore. Mereka duduk di pangkuan neneknya, mendengarkan cerita tentang masa lalu. Tentang Panji, tentang Jojo, tentang perjuangan melawan ketidakadilan.
Tapi Mintarsih merasa cerita lisan tidak cukup. Suatu hari, ketika sedang membersihkan lemari kayu tua, ia menemukan tumpukan kertas kosong dan sebotol tinta yang masih tersisa. Itu adalah kertas dan tinta milik Panji—yang dulu ia gunakan untuk mencatat ajaran Eyang Jenggala.
Mintarsih mengambil kertas itu. Ia duduk di kursi bambu di teras. Ia menatap langit yang cerah.
"Aku akan menulis, Nji," bisiknya. "Aku akan menulis kisahmu. Agar anak cucu kita tidak melupakan perjuanganmu."
Ia mulai menulis. Tangannya gemetar karena usia, tapi tulisannya rapi. Kata per kata. Bab per bab. Dari awal hingga akhir.
Dari kelahiran Panji di malam seribu bintang. Dari pertemuannya dengan Jojo dan Mintarsih. Dari pengkhianatan dan pengampunan. Dari perjuangan melawan Rama, Seta, dan Rahul. Dari kemenangan dan kekalahan. Dari cinta yang tidak pernah padam.
Mintarsih menulis setiap hari. Pagi, siang, sore. Kadang di teras rumah, kadang di tepi sendang, kadang di bawah pohon beringin. Ia tidak lelah. Karena ia tahu, ini adalah tugas terakhirnya untuk Panji.
Suatu sore, Kirana datang ke rumah Mintarsih dan menemukan neneknya sedang menekuri tumpukan kertas.
"Nek, apa yang Nenek tulis?" tanya Kirana penasaran.
Mintarsih tersenyum. "Nenek sedang menulis babad, Nak. Kisah tentang kakekmu."
"Babad? Seperti cerita zaman dulu?"
"Iya. Agar kelak ketika Nenek dan Kakek sudah tiada, kalian masih punya cerita. Bukan hanya lisan, tapi juga tulisan."
Kirana duduk di samping neneknya. "Boleh Kirana baca?"
"Tentu. Tapi nanti setelah selesai. Sekarang masih banyak yang harus ditulis."
"Kirana bisa bantu, Nek?"
Mintarsih memandang cucunya. "Kamu bisa baca dan menulis?"
"Bisa, Nek. Di sekolah, Kirana paling pintar mengarang."
Mintarsih tertawa kecil. "Seperti kakekmu dulu. Ia juga pintar mengarang. Tapi bukan cerita fiksi. Cerita perjuangan."
"Kirana ingin seperti Kakek."
"Jadilah dirimu sendiri, Nak. Tapi jangan lupakan ajaran kakekmu."
Baskara sedang membersihkan rumah ibunya ketika ia menemukan tumpukan kertas di atas meja. Ia membaca beberapa halaman.
"Panji lahir di malam seribu bintang. Langit terang benderang. Nini Gendheng, dukun beranak, berkata, 'Anak ini akan membawa panji yang tidak bisa dilihat.'"
Baskara terharu. Ia memegang naskah itu dengan hati-hati.
"Ibu," panggilnya. "Ini... ini luar biasa."
Mintarsih yang sedang duduk di teras menoleh. "Apa yang luar biasa, Nak?"
"Ibu menulis babad tentang Ayah. Ini... ini akan menjadi pusaka bagi keluarga kita."
Mintarsih menggeleng. "Bukan hanya untuk keluarga kita, Nak. Untuk desa ini. Untuk siapa pun yang membaca."
"Boleh aku membantu Ibu menerbitkannya?"
Mintarsih terkejut. "Menerbitkan? Maksudmu menjadi buku?"
"Iya, Bu. Agar banyak orang bisa membaca. Agar perjuangan Ayah tidak dilupakan."
Mintarsih diam. Lalu ia tersenyum.
"Baiklah, Nak. Tapi setelah aku selesai menulis."
"Kapan selesainya, Bu?"
Mintarsih memandang tumpukan kertas yang masih kosong. "Masih banyak yang harus ditulis, Nak. Dari awal hingga akhir. Dari kelahiran hingga kematian."
Pada suatu malam, Mintarsih menulis tentang Jojo. Tangannya gemetar. Air matanya jatuh ke kertas.
"Jojo adalah sahabat Panji sejak kecil. Mereka bersumpah setia di bawah pohon beringin. Tapi Jojo tersesat. Ia iri. Ia pergi. Ia bergabung dengan musuh."
Ia berhenti. Menghapus air mata.
"Tapi Jojo kembali. Ia bertobat. Ia mengaku di depan umum. Ia menjalani hukuman adat. Dan pada akhirnya, ia mati sebagai pahlawan—menahan amukan massa yang hendak membunuh Seta."
Kirana yang belum tidur mendekat. "Nek, Nenek menangis?"
Mintarsih mengusap air matanya. "Nenek ingat Jojo, Nak. Ia sahabat kakekmu. Ia juga sahabat Nenek."
"Ceritakan tentang Jojo, Nek."
Mintarsih menceritakan semuanya. Tentang Jojo yang cengeng, tentang Jojo yang iri, tentang Jojo yang berubah, tentang Jojo yang gugur.
Kirana menangis. "Kasihan Jojo."
"Tidak, Nak. Jojo bahagia. Karena ia mati dengan cara yang mulia."
Hari-hari berlalu. Mintarsih terus menulis. Ia menulis tentang perjuangan melawan Rama, tentang debat di balai desa, tentang pengusiran Panji dari desa, tentang pengasingan di kota, tentang pertemuan dengan Eyang Jenggala di Gunung Selatan.
Ia menulis tentang Seta dan Rahul, tentang pemalsuan dokumen, tentang intimidasi, tentang kebakaran gudang. Ia menulis tentang ketidakadilan, tentang keserakahan, tentang kekuasaan yang buta.
Ia juga menulis tentang kemenangan. Tentang warga yang bersatu, tentang koperasi desa, tentang sekolah adat modern. Tentang bagaimana desa kecil itu bangkit melawan kapitalisme dan korupsi.
Baskara sesekali membaca lembaran-lembaran yang sudah selesai. Ia terkesima.
"Ibu, ini lebih dari sekadar babad. Ini adalah pelajaran hidup."
Mintarsih tersenyum. "Itulah yang ingin ayahmu wariskan. Bukan harta. Tapi pelajaran."
Salah satu bab yang paling sulit ditulis oleh Mintarsih adalah bab tentang cinta. Bukan karena ia tidak tahu, tapi karena terlalu banyak kenangan.
"Aku bertemu Panji ketika aku berusia lima tahun, di tepi kali. Aku kehilangan sandal. Ia mencarikannya. Sejak saat itu, aku tahu, ia bukan anak biasa."
Ia berhenti. Memandang langit-langit.
"Kami tumbuh bersama. Bermain bersama. Berjuang bersama. Dan pada suatu sore di gudang kopi, ketika hujan deras mengguyur desa, ia menciumku untuk pertama kalinya."
Mintarsih tersenyum sendiri.
"Aku menunggunya bertahun-tahun. Ia ragu. Ia merasa tidak pantas. Tapi aku tahu, ia adalah satu-satunya. Dan pada akhirnya, kami menikah di bawah panji seribu bintang."
Arjuna yang datang berlari-lari masuk. "Nek, Nek! Aku bawa mangga!"
Mintarsih menyimpan kertasnya. "Mangga dari mana, Nak?"
"Dari kebun di belakang sekolah. Banyak yang jatuh."
"Kamu baik, Nak. Nenek sedang menulis. Besar nanti, kamu harus bisa membaca tulisan nenek."
"Apa yang Nenek tulis?"
"Cerita tentang kakekmu. Tentang perjuangan. Tentang cinta."
Mintarsih menulis tentang ramalan Nini Gendheng.
"Panji lahir di malam seribu bintang. Nini Gendheng, dukun beranak yang sudah sangat tua, berkata, 'Anak ini akan membawa panji. Ia akan berkeping-keping, tapi akan utuh kembali.'"
Ia berhenti. Merenung.
"Ramalan itu terbukti. Panji berkeping-keping. Ia diusir. Ia difitnah. Ia kehilangan orang-orang yang dicintai. Tapi ia tetap utuh. Ia tetap baik. Ia tetap memaafkan."
Baskara masuk. "Ibu, sudah malam. Istirahatlah."
"Sebentar lagi, Nak. Nenek mau menyelesaikan bab ini."
"Ibu, jangan paksa diri. Kesehatan Ibu lebih penting."
Mintarsih menghela napas. "Kamu benar, Nak. Besok dilanjutkan."
Ia menyimpan kertas dan tintanya. Baskara membantunya berjalan ke kamar.
"Ibu, aku bangga padamu."
"Bangga kenapa?"
"Karena Ibu menulis babad ini. Ini akan menjadi warisan berharga."
Mintarsih tersenyum. "Tidak ada yang berharga selain cinta, Nak. Ingat itu."
Setelah tiga bulan menulis tanpa henti, Mintarsih akhirnya menyelesaikan naskahnya. Seratus lembar kertas penuh dengan tinta. Tulisannya rapi, meskipun kadang gemetar karena usia.
Ia menjilid naskah itu dengan benang dan kain beludru merah—sisa dari kain panji Panji.
Ia duduk di kursi bambu di teras. Ia memegang naskah itu erat-erat.
"Nji," bisiknya. "Aku sudah selesai. Aku sudah menulis kisahmu. Semoga ada yang membaca. Semoga ada yang belajar."
Ia memanggil Baskara, Ratri, Lintang, dan Arjuna.
"Ini, Nak. Babad tentang ayahmu. Bacalah. Dan ketika kalian sudah dewasa, bacakan pada anak-anak kalian."
Baskara menerima naskah itu dengan hormat. "Aku akan menjaganya, Ibu. Seperti Ibu menjaga Ayah dulu."
Kirana bertanya, "Nek, apa Nenek bahagia setelah menulis ini?"
Mintarsih mengangguk. "Bahagia, Nak. Seperti bertemu Kakekmu lagi. Setiap kali menulis, Nenek merasa Kakek ada di samping Nenek."
Arjuna memeluk neneknya. "Nek, kalau Arjuna besar, Arjuna akan cetak buku ini. Banyak. Agar semua orang bisa baca."
Mintarsih tertawa. "Kamu ini, bisnis sekali."
"Iya, Nek. Arjuna mau jadi pengusaha. Tapi pengusaha yang baik. Seperti Kakek."
Malam itu, setelah semua pulang, Mintarsih memanggil Kirana untuk tinggal bersamanya.
"Lintang, Nenek ingin berpesan."
"Apa, Nek?"
"Jimat Tumbal Kirana yang dulu kakek berikan padamu, simpan baik-baik. Dan babad ini, nanti setelah Nenek tiada, kau yang menjaganya."
Kirana terkejut. "Nek, kenapa Lintang? Bukannya Kirana masih kecil?"
"Kamu perempuan tertua dalam keluarga ini. Tanggung jawab ada di pundakmu."
"Nenek belum mati, Nek. Jangan bicara begitu."
"Semua orang akan mati, Nak. Nenek juga. Tapi yang penting adalah apa yang kita tinggalkan. Kakekmu meninggalkan panji. Nenek meninggalkan babad. Kau akan meninggalkan apa?"
Kirana menunduk. "Kirana belum tahu, Nek."
"Kau masih muda, Nak. Masih panjang jalan yang harus kau tempuh. Tapi ingatlah, apa pun yang kau lakukan, lakukanlah dengan hati. Seperti kakekmu."
Kirana menangis. "Kirana akan merindukan Nenek."
Mintarsih memeluk cucunya. "Nenek juga akan merindukanmu, Nak. Tapi Nenek akan selalu ada. Di dalam babad ini. Di dalam jimat itu. Di dalam hatimu."
Malam itu, Mintarsih bermimpi. Ia berdiri di tepi Sendang Kiskenda. Airnya biru keemasan. Di seberang sendang, Panji berdiri tersenyum.
"Tin, kau sudah selesai menulis?"
Mintarsih mengangguk. "Sudah, Nji. Aku sudah menulis semuanya."
"Terima kasih, Tin. Itu hadiah terindah untukku."
"Kau senang?"
"Aku senang. Karena kisahku tidak akan mati. Ia akan terus hidup, dari generasi ke generasi."
Mintarsih menangis. "Nji, aku rindu."
"Jangan menangis, Tin. Kita akan bertemu lagi. Tidak lama lagi."
"Aku kangen, Nji. Aku ingin pulang."
"Pulanglah, Tin. Aku menunggumu."
Mintarsih terbangun. Wajahnya basah. Ia memegang kain panji di samping bantalnya.
"Nji, aku akan segera menyusul. Tunggu aku."
Keesokan harinya, Mintarsih memanggil seluruh keluarga. Ia duduk di kursi kayu, ditemani Baskara dan Ratri.
"Anak-anak, cucu-cucu," ucapnya lirih. "Babad tentang kakek kalian sudah selesai. Saya titipkan pada kalian."
Ia menyerahkan naskah itu pada Baskara.
"Nak, simpan di lemari kayu. Di samping kain panji. Dan jangan biarkan dimakan rayap."
"Baik, Ibu."
Mintarsih memandang semua keluarganya. Matanya berkaca-kaca.
"Saya sudah tua. Saya tidak akan lama lagi. Tapi saya bahagia. Karena perjuangan kakek kalian tidak sia-sia. Desa ini aman. Kalian semua baik. Leluhur tersenyum."
Kirana dan Arjuna menangis.
"Sekarang, saya ingin sendiri. Baskara, antar adik-adikmu pulang."
Baskara mengangguk. "Baik, Ibu. Istirahatlah."
Mereka semua keluar. Mintarsih duduk sendirian di kursi bambu di teras. Ia memandang sawah-sawah yang menghijau. Memandang langit yang cerah.
"Nji," bisiknya. "Aku sudah melakukan tugasku. Sekarang, aku siap pulang."
Di kejauhan, bintang di timur bersinar terang.
Seperti senyum Panji. Seperti janji yang tidak pernah mati.
Mintarsih meninggal dua minggu kemudian, dengan tenang, dalam tidurnya, di kursi bambu di teras rumah. Tangannya memegang kain panji. Wajahnya tersenyum.
Baskara menemukannya keesokan paginya. Ia tidak menangis. Ia hanya berlutut di depan ibunya.
"Ibu, kau sudah bersama Ayah sekarang. Bahagialah di sana."
Kirana dan Arjuna menangis di sisi neneknya.
"Nek, Nek... Kirana akan menjaga jimat ini. Kirana akan menjaga babad ini. Kirana tidak akan mengecewakan."
Ratri memeluk anak-anaknya. "Nenek kalian sudah bahagia. Ia sudah bertemu kakek."
Seluruh desa berkabung. Mintarsih dimakamkan di sisi makam Panji. Dua insan yang terpisah oleh kematian, kini bersatu kembali dalam tanah.
Dan di atas makam mereka, sehelai kain panji berkibar pelan, ditiup angin sore.
Seperti cinta yang tak pernah mati. Seperti perjuangan yang tak pernah usai. Seperti bintang yang tak pernah padam.
BAB 44: BASKARA MENJADI PEMIMPIN
Kematian Mintarsih meninggalkan kekosongan yang mendalam, tidak hanya bagi keluarga tetapi juga bagi seluruh Desa Sumbermaya. Dua pilar utama—Panji dan Mintarsih—telah tiada. Desa kehilangan pemimpin dan ibu spiritualnya. Tapi seperti yang diajarkan Panji, kehidupan harus terus berjalan. Perjuangan tidak berhenti karena kematian.
Baskara, kini berusia lima puluh tujuh tahun, harus mengambil alih kepemimpinan yang dulu dipegang ayahnya. Ia bukan lagi anak muda yang ragu. Ia adalah pria dewasa yang telah belajar dari ayahnya selama bertahun-tahun, baik melalui kata-kata maupun teladan.
Ia menjadi ketua koperasi desa menggantikan Panji. Ia juga menjadi kepala sekolah adat modern, meskipun ia menunjuk Wawan—yang sudah tua—sebagai kepala sekolah harian. Baskara lebih suka fokus pada pengembangan ekonomi dan advokasi kebijakan.
Tapi tantangan tidak pernah berhenti. Generasi baru pemuda desa, yang lahir setelah perjuangan Panji, memiliki cara pandang yang berbeda. Mereka tidak mengalami langsung penderitaan masa lalu. Mereka lebih terbuka pada modernisasi, lebih mudah terpengaruh oleh budaya luar, dan kadang menganggap adat sebagai kuno dan tidak relevan.
Beberapa pemuda bahkan mulai mendekati investor dari kota—investor yang menjanjikan pembangunan mal, hotel, dan industri pariwisata. Mereka membawa uang, membawa janji, dan mulai meluluhkan hati warga yang sudah lama hidup dalam keterbatasan.
Baskara tidak anti-modernisasi. Ia pernah belajar di kota. Ia tahu bahwa kemajuan itu perlu. Tapi ia juga tahu, seperti yang diajarkan ayahnya, modernisasi tidak boleh menghilangkan akar. Desa boleh maju, tapi adat harus tetap hidup. Tanah leluhur tidak boleh dijual.
Suatu malam, setelah rapat koperasi yang alot, Baskara duduk di tepi Sendang Kiskenda. Airnya biru keemasan. Ia memegang kain panji peninggalan ayahnya.
"Ayah," bisiknya. "Aku tidak sekuat dirimu. Aku tidak sepintar dirimu. Aku tidak sebijaksana dirimu. Tapi aku akan berusaha. Aku tidak akan mengecewakanmu."
Angin malam bertiup. Daun-daun beringin bergoyang.
Seperti bisikan. Seperti doa. Seperti restu.
Balai desa penuh sesak. Baskara duduk di kursi ketua—kursi yang dulu diduduki Panji. Warga hadir semua. Wawan, Bayu, Sari, Mbah Karta , Rama, dan puluhan warga lainnya.
"Bapak, Ibu, saudara-saudara," ucap Baskara lantang. "Hari ini kita akan membahas masa depan koperasi desa. Dalam tiga bulan terakhir, penjualan kita turun dua puluh persen."
Warga berbisik.
Seorang pemuda bernama Galih—generasi baru yang lulus SMA di kota—berdiri. "Pak Baskara, maaf, saya ingin menyampaikan pendapat."
"Silakan, Galih."
"Menurut saya, koperasi kita sudah ketinggalan zaman. Model bisnis tradisional tidak akan mampu bersaing dengan pasar modern. Kita harus berani berubah. Buka diri pada investor. Bangun mal. Bangun hotel. Bawa wisatawan ke desa kita."
Warga berbisik lebih keras.
Baskara tenang. "Galih, saya setuju bahwa kita perlu berubah. Tapi perubahan tidak boleh menghilangkan akar kita. Desa ini tidak akan menjadi desa pariwisata yang menjual tanah leluhur. Desa ini akan menjadi desa agrobisnis yang berkelanjutan."
Pemuda lain bernama Dewi berdiri. "Pak Baskara, dengan segala hormat, kami tidak mengalami masa sulit seperti generasi Bapak. Kami ingin hidup modern. Kami ingin desa ini maju. Apa salahnya menerima investor? Mereka berjanji akan membangun jalan, listrik, dan memberikan lapangan kerja."
Baskara menghela napas. "Dewi, kau tahu siapa investor itu?"
"Mereka dari PT. Sumber Makmur Sejahtera."
Baskara tersenyum pahit. "Galih, Dewi, kalian tahu sejarah PT. Sumber Makmur Sejahtera? Dulu, perusahaan itu dipimpin oleh Pak Rahmat—ayah Rama. Mereka ingin mengambil tanah adat kita secara paksa. Mereka memalsukan dokumen. Mereka menyewa preman. Ayah saya, Panji, hampir dihancurkan oleh mereka."
Galih dan Dewi terdiam.
"Sekarang, mereka datang dengan wajah baru. Tapi hati yang sama? Saya tidak tahu. Tapi saya tidak akan mengambil risiko."
Pak Tani yang duduk di kursi roda angkat bicara. "Baskara benar. Aku masih ingat penderitaan dulu. Jangan sampai sejarah terulang."
Warga mulai mengangguk setuju.
Setelah rapat, Baskara duduk di tepi Sendang Kiskenda. Rama mendekatinya.
"Baskara, boleh aku duduk?"
"Silakan, Rama."
Mereka berdua duduk berdampingan.
"Baskara, aku tahu aku tidak berhak memberi nasihat. Tapi aku ingin bilang: jangan terlalu keras pada generasi muda."
Baskara menatap Rama. "Maksudmu?"
"Mereka tidak mengalami apa yang kita alami. Mereka tidak bisa diminta mengerti hanya dengan cerita. Mereka butuh bukti. Mereka butuh model. Tunjukkan bahwa koperasi bisa maju tanpa investor. Buktikan bahwa adat tidak kuno. Jadilah teladan, seperti ayahmu dulu."
Baskara menghela napas. "Kau benar, Rama. Aku terlalu emosional."
"Itu wajar. Kau mewarisi hati ayahmu yang panas. Tapi juga warisilah kebijaksanaannya."
"Terima kasih, Rama."
Rama berdiri. "Aku pulang dulu. Besok aku bantu di kebun."
"Rama, satu lagi."
"Apa?"
"Terima kasih sudah berubah. Ayah pasti bangga padamu."
Rama tersenyum. "Aku tidak pantas dibanggakan. Tapi aku berusaha."
Lintang—kini berusia dua puluh tahun, mahasiswi semester akhir di universitas kabupaten—pulang ke desa untuk liburan. Ia duduk di samping ayahnya di teras rumah.
"Ayah, aku dengar ada masalah dengan pemuda desa."
Baskara mengangguk. "Mereka ingin menerima investor. Mereka menganggap koperasi kita ketinggalan zaman."
"Apa yang akan Ayah lakukan?"
"Ayah tidak tahu, Nak. Ayah hanya tahu bahwa tanah adat tidak boleh dijual."
Kirana memegang tangan ayahnya. "Ayah, aku belajar ekonomi di universitas. Aku bisa membantu. Kita bisa buat proposal bisnis yang menarik. Kita tunjukkan bahwa koperasi kita potensial. Kita cari investor yang etis, yang tidak mengambil tanah. Ada kok, Ayah. Investor yang peduli pada adat dan lingkungan."
Baskara menatap anaknya. "Kau yakin?"
"Yakin, Ayah. Aku tidak akan membiarkan desa ini hancur. Ini warisan Kakek. Ini warisan Nenek."
Baskara memeluk Lintang. "Ayah bangga padamu, Nak."
"Aku hanya melakukan tugas, Ayah. Seperti yang diajarkan Kakek."
Kirana berhasil mengundang seorang investor muda bernama Faisal, pengusaha sosial yang fokus pada pengembangan desa berkelanjutan. Faisal datang ke desa dengan timnya, disambut hangat oleh Baskara dan warga.
Mereka mengadakan rapat di balai desa. Galih dan Dewi hadir. Rama juga hadir.
Faisal membuka presentasi. "Selamat siang, warga Desa Sumbermaya. Saya Faisal dari PT. Nusantara Lestari. Kami adalah perusahaan yang bergerak di bidang pengembangan desa berkelanjutan. Kami tidak membeli tanah. Kami bermitra dengan desa. Kami membantu pemasaran produk-produk desa. Kami membantu promosi wisata alam dan budaya. Tanah tetap milik desa. Keuntungan dibagi adil."
Warga berbisik.
Baskara bertanya, "Apa bukti bahwa perusahaan Anda tidak seperti PT. Sumber Makmur Sejahtera dulu?"
Faisal tersenyum. "Pak Baskara, saya mengerti kekhawatiran Bapak. Saya sudah membaca babad yang ditulis oleh almarhumah Mintarsih. Saya tahu sejarah desa ini. Perusahaan kami memiliki sertifikasi etika bisnis. Kami diaudit setiap tahun oleh lembaga independen. Dan kami bersedia membuat perjanjian di atas materai, dengan sanksi berat jika melanggar."
Kirana menambahkan, "Ayah, saya sudah meneliti perusahaan ini. Reputasinya baik. Mereka sudah bekerja sama dengan dua puluh desa di seluruh Indonesia."
Baskara diam. Ia memandang Wawan, Bayu, Sari, dan Pak Tani.
Pak Tani mengangguk. "Coba saja, Nak. Tapi awasi mereka. Jangan sampai seperti dulu."
Baskara menghela napas. "Baik. Kami setuju untuk kerja sama percobaan selama satu tahun."
Warga bersorak.
Setelah rapat, Galih dan Dewi mendekati Baskara.
"Pak Baskara, kami minta maaf," kata Galih dengan wajah menunduk.
Baskara menatap mereka. "Minta maaf untuk apa?"
"Kami dulu terlalu terburu-buru. Kami hampir menjual desa ini ke investor yang salah."
Dewi menambahkan, "Kami baru sadar setelah Kirana menjelaskan sejarah. Kami tidak tahu bahwa PT. Sumber Makmur Sejahtera adalah perusahaan yang dulu hampir menghancurkan desa."
Baskara tersenyum. "Kalian tidak perlu minta maaf. Kalian hanya ingin desa ini maju. Itu bukan dosa. Yang penting, kita belajar dari masa lalu. Jangan ulangi kesalahan yang sama."
Galih mengangguk. "Kami akan membantu Pak Baskara. Kami tidak akan berkhianat."
"Aku tahu. Aku percaya."
Baskara dan Kirana berjalan ke makam Panji dan Mintarsih. Mereka membawa bunga dan dupa.
"Kakek, Nenek," bisik Lintang. "Kirana sudah membantu Ayah. Kirana tidak akan biarkan desa ini hancur."
Baskara menaburkan bunga di atas makam.
"Ayah, Ibu. Perjuangan kalian belum selesai. Tapi kami akan melanjutkannya. Dengan cara kami sendiri. Jangan khawatir."
Angin bertiup. Daun-daun bergoyang.
Kirana memegang jimat Tumbal Kirana di lehernya. Jimat itu hangat.
"Kakek, Kirana merasakan kehangatan. Apa Kakek ada di sini?"
Tidak ada jawaban. Tapi Kirana tersenyum.
Satu tahun kerja sama dengan PT. Nusantara Lestari membuahkan hasil. Produk-produk desa—kopi, madu, kerajinan tangan—laku keras di pasar kota dan bahkan mulai diekspor. Wisatawan mulai berdatangan, tertarik pada keindahan alam dan budaya desa.
Tapi tidak ada yang berlebihan. Jumlah wisatawan dibatasi. Homestay dikelola oleh warga. Tidak ada hotel besar. Tidak ada mal. Desa tetap asri. Sendang Kiskenda tetap bening.
Baskara berdiri di podium di acara panen raya. Warga hadir semua.
"Bapak, Ibu, saudara-saudara," ucapnya lantang. "Satu tahun kita bekerja sama dengan PT. Nusantara Lestari. Hasilnya? Pendapatan koperasi naik tiga puluh persen. Desa kita semakin dikenal. Tapi yang terpenting, kita tidak menjual tanah adat. Kita tidak kehilangan jati diri."
Warga bertepuk tangan.
"Ini adalah kemenangan kita bersama. Tapi ini bukan akhir. Ini adalah awal. Desa kita akan terus maju. Tapi ingatlah ajaran ayah saya, Panji: kemajuan tanpa adat adalah kematian. Tetaplah berpegang pada akar kita."
Galih dan Dewi maju ke depan. Mereka membawa karangan bunga untuk Baskara.
"Pak Baskara, ini dari kami. Generasi muda. Terima kasih telah membimbing kami."
Baskara terharu. "Terima kasih, Nak. Tapi bukan aku yang membimbing. Ayahku. Ibuku. Leluhur kita. Mereka yang membimbing kita semua."
Malam itu, Baskara duduk sendirian di tepi Sendang Kiskenda. Airnya biru keemasan. Bintang-bintang bersinar.
"Ayah, Ibu," bisiknya. "Kami berhasil. Desa ini aman. Koperasi maju. Generasi muda mulai mengerti. Kalian tidak perlu khawatir lagi."
Ia memegang kain panji yang selalu ia bawa.
"Aku akan terus berjuang. Seperti yang Ayah ajarkan. Aku akan menjadi panji yang tak pernah padam."
Ia menatap bintang di timur. Bintang itu berkedip.
"Ayah, apakah kau tersenyum?"
Diam. Tapi angin malam berbisik.
Kirana datang dari belakang. "Ayah, Kirana ikut."
"Kau tidak tidur, Nak?"
"Kirana ingin menemani Ayah. Seperti Nenek dulu menemani Kakek."
Baskara memeluk anaknya. "Kau baik, Nak. Ayah bangga."
Mereka berdua duduk di tepi sendang, memandang langit. Bintang-bintang jatuh—tidak banyak, hanya beberapa. Tapi cukup untuk mengingatkan bahwa keajaiban itu nyata.
"Ayah," panggil Kirana pelan.
"Apa, Nak?"
"Apa Kakek bahagia di sana?"
Baskara tersenyum. "Kakek bahagia, Nak. Karena perjuangannya tidak sia-sia. Karena kita masih menjaga desa ini. Karena cintanya masih hidup."
"Kirana akan menjaga cinta itu, Ayah. Sampai mati."
"Aku tahu, Nak. Aku tahu."
Baskara memimpin Desa Sumbermaya selama dua puluh tahun. Di bawah kepemimpinannya, desa berkembang pesat tanpa kehilangan jati diri. Ia tidak sehebat Panji dalam perang, tidak sepintar Panji dalam filsafat. Tapi ia memiliki sesuatu yang tidak dimiliki ayahnya: pendidikan modern dan jaringan luas.
Ia menggabungkan ajaran adat dengan ilmu manajemen modern. Ia menjadikan koperasi desa sebagai model bagi desa-desa lain di Indonesia. Ia juga memastikan bahwa Lintang—yang sekarang menjadi dosen ekonomi di universitas kabupaten—mewarisi semangat perjuangan kakeknya.
Pada suatu malam, ketika Baskara sudah berusia enam puluh lima tahun dan mulai pensiun, ia memanggil Kirana dan Arjuna.
"Nak, Ayah sudah tua. Ayah tidak bisa memimpin selamanya. Sekarang giliran kalian."
Kirana terkejut. "Ayah, Kirana masih sibuk di universitas."
"Kau bisa bagi waktu, Nak. Desa ini butuh pemimpin muda. Dan kau, Arjuna, bisa membantu kakakmu."
Arjuna mengangguk. "Aku siap, Ayah."
Baskara menyerahkan kain panji pada Lintang.
"Ini, Nak. Warisan kakekmu. Sekarang kau yang menjaganya."
Kirana menerima kain itu dengan tangan gemetar. "Ayah, Kirana tidak pantas."
"Kau pantas, Nak. Kakekmu juga tidak merasa pantas dulu. Tapi ia belajar. Dan kau juga akan belajar."
Kirana menangis. Baskara memeluknya.
"Jangan menangis, Nak. Ini bukan akhir. Ini awal."
Dua puluh tahun telah berlalu sejak Mintarsih menulis babad. Desa Sumbermaya terus berkembang. Koperasi desa yang didirikan Panji kini menjadi tulang punggung ekonomi warga. Sekolah Adat Modern Panji Kirana telah meluluskan ratusan siswa yang tersebar di berbagai bidang.
Baskara, putra Panji, kini berusia empat puluh lima tahun. Ia menikah dengan Ratri, seorang perempuan desa yang setia mendampinginya membangun koperasi. Mereka dikaruniai dua orang anak: Kirana (perempuan) dan Arjuna (laki-laki).
Kirana tumbuh menjadi gadis cerdas yang mewarisi mata ibunya yang lembut dan keteguhan hati kakeknya, Panji. Ia belajar di sekolah adat modern yang didirikan kakeknya, kemudian melanjutkan pendidikan ke kota dan menjadi dosen ekonomi di universitas kabupaten.
Arjuna, adiknya, memilih jalur yang berbeda. Ia menjadi pengusaha di kota, sukses membangun jaringan distribusi produk-produk desa. Tapi ia tidak pernah melupakan asalnya. Setiap bulan, ia pulang ke desa membawa oleh-oleh dan berita dari kota.
Kini, setelah Mintarsih tiada, Baskara harus mengambil alih kepemimpinan yang dulu dipegang orang tuanya. Ia bukan lagi anak muda yang ragu. Ia adalah pria dewasa yang telah belajar dari Panji dan Mintarsih selama bertahun-tahun. Namun, cobaan pertama telah menunggunya: generasi muda desa mulai tergiur oleh janji-janji investor dari kota.
Baskara memimpin Desa Sumbermaya selama dua puluh tahun. Di bawah kepemimpinannya, desa berkembang pesat tanpa kehilangan jati diri. Ia tidak sehebat Panji dalam perang, tidak sepintar Panji dalam filsafat. Tapi ia memiliki sesuatu yang tidak dimiliki ayahnya: pendidikan modern dan jaringan luas.
Ia menggabungkan ajaran adat dengan ilmu manajemen modern. Ia menjadikan koperasi desa sebagai model bagi desa-desa lain di Indonesia. Ia juga memastikan bahwa Lintang—yang sekarang menjadi dosen ekonomi di universitas kabupaten—mewarisi semangat perjuangan kakeknya.
Pada suatu malam, ketika Baskara sudah berusia enam puluh lima tahun dan mulai pensiun, ia memanggil Kirana dan Arjuna.
"Nak, Ayah sudah tua. Ayah tidak bisa memimpin selamanya. Sekarang giliran kalian."
Kirana terkejut. "Ayah, Kirana masih sibuk di universitas."
"Kau bisa bagi waktu, Nak. Desa ini butuh pemimpin muda. Dan kau, Arjuna, bisa membantu kakakmu."
Arjuna mengangguk. "Aku siap, Ayah."
Baskara menyerahkan kain panji pada Lintang.
"Ini, Nak. Warisan kakekmu. Sekarang kau yang menjaganya."
Kirana menerima kain itu dengan tangan gemetar. "Ayah, Kirana tidak pantas."
"Kau pantas, Nak. Kakekmu juga tidak merasa pantas dulu. Tapi ia belajar. Dan kau juga akan belajar."
Kirana menangis. Baskara memeluknya.
"Jangan menangis, Nak. Ini bukan akhir. Ini awal."
Bab 45: Kirana dan Generasi Baru
Dua puluh tahun kemudian, dunia berubah drastis. Teknologi digital merambah ke seluruh pelosok, termasuk Desa Sumbermaya. Internet masuk. Smartphone menjadi milik hampir setiap warga. Anak-anak muda desa lebih akrab dengan media sosial daripada dengan sendang Kiskenda.
Lintang, kini berusia empat puluh tahun, adalah seorang dosen ekonomi di universitas kabupaten. Ia tidak pernah membayangkan akan kembali memimpin desa. Tapi ketika Baskara pensiun dan warga memintanya menjadi kepala desa, ia tidak bisa menolak.
"Ini panggilan darah," katanya pada Arjuna yang kini menjadi pengusaha sukses di kota. "Kakek dan ayah sudah berjuang. Sekarang giliranku."
Arjuna mendukung penuh. Ia bahkan mendanai kampanye Lintang. Tapi Kirana tidak butuh uang untuk menang. Warga sudah mengenalnya sejak kecil, sebagai cucu Panji, sebagai gadis cerdas yang membawa investor etis ke desa.
Kirana terpilih sebagai kepala desa dengan suara hampir bulat.
Tapi jabatan tidak datang dengan kemudahan. Era digital membawa tantangan baru yang tidak pernah dibayangkan oleh Panji dan Mintarsih.
Perusahaan teknologi global mulai melirik Desa Sumbermaya. Bukan untuk membangun pabrik, tapi untuk mengambil data. Mereka menawarkan aplikasi pemesanan tiket wisata, aplikasi e-commerce untuk produk desa, aplikasi pinjaman online. Kedengarannya modern, tapi jebakannya halus.
Generasi muda desa—yang lahir setelah perjuangan Panji—sangat antusias. Mereka tidak pernah mengalami intimidasi fisik, tidak pernah merasakan ketakutan di bawah bayang-bayang preman. Mereka hanya melihat uang mudah dan kemudahan instan.
Kirana harus berhadapan dengan dua musuh: kapitalisme digital yang licin, dan generasi mudanya sendiri yang buta sejarah.
Ia ingat pesan Baskara sebelum meninggal: "Lintang, jaga desa ini. Jangan biarkan mereka mengambil apa yang sudah diperjuangkan kakekmu."
Kirana menggenggam jimat Tumbal Kirana di lehernya. Jimat itu hangat.
"Kakek," bisiknya. "Bantu aku. Aku tidak sekuat dirimu. Tapi aku akan berusaha."
Balai desa penuh sesak. Kirana duduk di kursi ketua—kursi yang sama yang dulu diduduki Panji, lalu Baskara. Warga hadir semua. Arjuna hadir dari kota. Wawan dan Bayu sudah tiada, tapi Sari masih hidup meskipun sudah sangat tua dan duduk di kursi roda. Galih dan Dewi—kini berusia empat puluh tahun—menjadi warga senior yang dihormati.
"Bapak, Ibu, saudara-saudara," ucap Kirana lantang. "Hari ini kita akan membahas tawaran dari PT. Data Nusantara. Mereka ingin membuat aplikasi pemesanan tiket wisata dan e-commerce untuk produk desa kita."
Seorang pemuda bernama Rangga—lulusan teknologi informasi dari kota, sekarang menjadi pengangguran terdidik—berdiri. "Bu Lintang, ini peluang besar! Desa kita bisa masuk ke pasar global! Wisatawan bisa pesan homestay dari mana saja. Produk kita bisa dijual ke seluruh Indonesia!"
Seorang pemudi bernama Kirana menambahkan, "Aku sudah lihat aplikasi mereka. Bagus. Mudah. Dan mereka tidak meminta tanah. Hanya data."
Kirana tenang. "Rangga, Kirana, apa kalian sudah membaca perjanjian kerja samanya dengan teliti?"
Rangga menggeleng. "Belum, Bu. Tapi mereka bilang ini standar."
Kirana menghela napas. "Tidak ada yang namanya 'standar' dalam bisnis, Rangga. Setiap kata dalam kontrak harus dibaca. Dan aku sudah membacanya."
Ia mengeluarkan setumpuk dokumen.
"Dalam kontrak ini, data desa kita—data wisatawan, data penjualan, data kebiasaan belanja warga—akan menjadi milik mereka. Selamanya. Mereka boleh menjual data kita ke pihak ketiga. Tanpa persetujuan kita."
Warga berbisik.
Kirana terkejut. "Apa? Tidak disebutkan itu di presentasi mereka."
"Karena mereka tidak akan memberitahumu. Tugas kita adalah membaca."
Rangga masih bersikeras. "Tapi Bu, kita tidak bisa menolak teknologi. Desa kita akan tertinggal."
Kirana tersenyum. "Aku tidak menolak teknologi, Rangga. Aku menolak eksploitasi. Kita bisa membuat aplikasi sendiri. Dengan programmer lokal. Dengan server yang kita kelola. Data tetap milik kita."
"Tapi biayanya mahal, Bu."
Arjuna berdiri. "Aku akan membiayai. Anggap saja sumbangan untuk desa."
Warga terkejut.
Arjuna melanjutkan, "Aku tidak ingin desa ini dikuasai perusahaan asing. Kakekku sudah berjuang melawan itu. Ayahku juga. Sekarang giliranku."
Sari yang sudah sangat tua angkat bicara. "Lintang, aku mendukungmu. Jangan sampai desa ini jatuh ke tangan mereka lagi."
Warga mulai mengangguk setuju.
Setelah rapat, Kirana dan Arjuna duduk di tepi Sendang Kiskenda. Airnya biru keemasan seperti dulu.
"Kak, terima kasih sudah mendanai," kata Lintang.
Arjuna tersenyum. "Itu tugas saya sebagai saudara. Kakek selalu bilang, keluarga harus saling membantu."
"Kakek juga bilang, jangan jadi pengusaha serakah."
"Aku ingat. Itu sebabnya aku tidak pernah mengambil untung dari desa. Aku hanya ingin membantu."
Mereka berdua diam.
"Kak, apa kita akan mampu?" tanya Kirana ragu.
"Kita harus mampu. Untuk Kakek. Untuk Ayah. Untuk desa ini."
Kirana memegang jimat di lehernya. "Kakek, doakan kami."
Angin bertiup. Daun-daun beringin bergoyang.
Rangga datang ke kantor desa dengan wajah kesal.
"Bu Lintang, saya kecewa."
Kirana menatapnya. "Kecewa kenapa?"
"Saya sudah belajar teknologi di kota. Saya tahu potensi desa ini. Tapi Bu Kirana malah menolak investor yang bisa membawa kemajuan."
Kirana menghela napas. "Rangga, duduklah. Aku ingin cerita."
Rangga duduk di kursi.
"Kakekku, Panji, dulu berjuang melawan pengusaha yang ingin mengambil tanah desa. Mereka menggunakan uang, preman, dan pengacara. Kakekku hampir mati. Sahabatnya, Jojo, mati tertusuk parang."
Rangga terdiam.
"Sekarang, musuhnya berbeda. Mereka tidak pakai preman. Mereka pakai kontrak. Mereka tidak pakai pentungan. Mereka pakai data. Tapi tujuannya sama: menguasai desa kita. Menjadikan kita budak modern."
"Aku tidak tahu, Bu."
"Sekarang kau tahu. Dan aku tidak marah padamu. Aku hanya ingin kau sadar. Bahwa perjuangan belum selesai. Hanya bentuknya yang berubah."
Rangga menunduk. "Maaf, Bu. Saya terlalu naif."
"Tidak apa-apa. Kau masih muda. Dan aku butuh bantuanmu."
"Bantuan apa?"
"Aku ingin kau memimpin tim pengembang aplikasi kita. Aku ingin kau buktikan bahwa anak desa bisa membuat teknologi sendiri."
Rangga mengangkat wajah. Matanya berbinar. "Saya siap, Bu."
Rangga mengumpulkan pemuda-pemuda desa yang memiliki kemampuan teknologi informasi. Mereka bekerja di balai desa setiap malam, mengembangkan aplikasi "Panji Lintang" —aplikasi pemesanan tiket wisata dan e-commerce untuk produk desa.
Kirana sesekali mengawasi. Ia tidak paham teknologi, tapi ia paham bisnis. Ia memastikan bahwa aplikasi itu ramah pengguna, aman, dan data tetap menjadi milik desa.
Arjuna menyediakan server di kantornya di kota. Galih dan Dewi membantu mengkurasi produk-produk desa.
Setelah enam bulan, aplikasi itu siap diluncurkan.
Rangga berdiri di podium di acara peluncuran. "Ini adalah aplikasi buatan anak desa. Bukan buatan perusahaan asing. Data kita aman. Keuntungan tetap di desa."
Warga bertepuk tangan.
Kirana tersenyum. "Aku bangga pada kalian. Ini adalah awal dari perjuangan baru. Jangan pernah menyerah."
Aplikasi "Panji Lintang" sukses. Wisatawan meningkat. Penjualan produk desa meningkat. Warga bahagia. Tapi kesuksesan menarik perhatian.
Sebuah perusahaan teknologi raksasa dari luar negeri, PT. Global Data, tertarik. Mereka ingin mengakuisisi aplikasi desa. Tawaran besar. Jutaan rupiah.
Kirana dipanggil oleh perwakilan mereka di kantor kabupaten.
"Bu Lintang, kami tawarkan dua miliar rupiah untuk aplikasi 'Panji Lintang'. Anda bisa membuat aplikasi baru. Tapi aplikasi ini menjadi milik kami."
Kirana diam. Pikirannya melayang ke masa lalu. Ke perjuangan kakeknya. Ke pengorbanan Jojo.
"Maaf," katanya akhirnya. "Aplikasi ini tidak untuk dijual. Ini milik desa. Milik warga."
Perwakilan itu terkejut. "Anda sadar, Bu? Dua miliar! Bisa untuk membangun sekolah, jalan, fasilitas umum."
"Kami sudah punya sekolah. Sudah punya jalan. Yang kami butuhkan adalah kemandirian. Bukan uang instan."
"Aplikasi ini tidak akan berkembang tanpa kami."
"Kami akan kembangkan sendiri. Perlahan. Tapi pasti."
Perwakilan itu menggeleng. "Anda keras kepala, Bu."
Kirana tersenyum. "Warisan keluarga."
Kirana dan Arjuna berdiri di depan makam Panji dan Mintarsih. Bunga ditabur. Dupa dinyalakan.
"Kakek, Nenek," bisik Lintang. "Kami ditawari dua miliar untuk aplikasi desa. Kami menolak. Apakah itu keputusan yang benar?"
Angin bertiup. Daun-daun bergoyang.
Arjuna memegang bahu Lintang. "Keputusan yang benar, Lin. Kakek pasti bangga."
"Tapi kadang aku ragu, Kek. Apa Kakek juga pernah ragu?"
Arjuna tersenyum. "Setiap orang pernah ragu. Tapi yang membedakan adalah keberanian untuk tetap pada pendirian."
Mereka berdua diam.
"Sekarang, kita pulang. Masih banyak pekerjaan."
Kirana mengumpulkan generasi muda desa di balai desa. Mereka duduk melingkar. Ada Rangga, Kirana, dan puluhan lainnya.
"Anak-anak," ucap Lintang. "Kalian adalah masa depan desa ini. Kakek saya dulu berjuang melawan penjajah modern. Ayah saya melanjutkan. Sekarang giliran kalian."
Mereka mendengar dengan saksama.
"Jangan pernah jual tanah adat. Jangan pernah jual data desa. Jangan pernah korbankan masa depan untuk keuntungan sesaat."
Rangga angkat bicara. "Bu Lintang, apakah teknologi itu musuh?"
Kirana menggeleng. "Teknologi bukan musuh. Keserakahan yang musuh. Teknologi bisa menjadi alat yang hebat jika digunakan dengan bijak."
Kirana bertanya, "Apa yang harus kami lakukan?"
"Belajar. Jangan hanya belajar teknologi. Tapi belajar sejarah. Belajar adat. Belajar filsafat. Karena tanpa akar, sehebat apa pun teknologi kalian, kalian akan mudah tumbang."
Mereka mengangguk.
"Dan ingatlah, kalian tidak sendirian. Ada leluhur yang menjaga. Ada bintang-bintang di langit yang menerangi. Ada panji yang tak pernah padam."
Pada malam ketika bintang jatuh untuk kedelapan kalinya, Kirana duduk di tepi Sendang Kiskenda. Airnya biru keemasan. Bintang-bintang jatuh silih berganti.
Ia memegang jimat di lehernya. Jimat itu hangat.
"Kakek, Nenek, Ayah, Ibu," bisiknya. "Kami masih di sini. Desa ini masih aman. Kami tidak menyerah."
Bintang jatuh paling terang melesat dari timur ke barat.
"Terima kasih sudah menjaga kami. Sekarang, biarkan kami yang menjaga."
Ia berdiri. Ia berjalan pulang.
Di belakangnya, bintang-bintang terus jatuh. Seperti senyum. Seperti doa. Seperti restu.
Kirana tersenyum.
"Panji seribu bintang," bisiknya. "Kami adalah panji berikutnya. Dan kami takkan pernah padam."
Kirana memimpin Desa Sumbermaya hingga usia tujuh puluh tahun. Ia pensiun dengan damai, meninggalkan desa yang lebih maju, lebih mandiri, dan lebih sadar akan pentingnya adat.
Ia mewariskan jimat Tumbal Kirana pada putrinya, Sekar. Dan kain panji pada anaknya, Joko.
Ia menulis buku tentang perjuangan keluarganya, melanjutkan babad yang ditulis Mintarsih.
Dan pada suatu malam, ketika bintang jatuh untuk kesembilan kalinya, Kirana pergi dengan tenang, dalam tidurnya, dengan senyum di wajah.
"Kakek, Nenek," bisiknya sebelum menghembuskan napas terakhir. "Aku pulang."
BAB 46: PUSAKA YANG DITEMUKAN KEMBALI
Tahun 2125. Dunia telah berubah. Bukan seperti yang dibayangkan oleh para futuris di abad sebelumnya. Tidak ada mobil terbang. Tidak ada kota di atas awan. Yang ada justru sebaliknya: peradaban manusia mundur ke era yang lebih sederhana setelah serangkaian bencana global yang menghancurkan peradaban industri.
Perang iklim, wabah, dan keruntuhan ekonomi telah menyapu bersih kota-kota besar. Yang tersisa hanyalah desa-desa yang mampu bertahan—desa-desa yang tidak terlalu bergantung pada teknologi, yang masih menjaga kearifan lokal, yang masih menghormati alam.
Salah satu desa yang bertahan adalah Desa Sumbermaya. Berkat ajaran Panji dan generasi penerusnya, desa itu telah menjadi model peradaban berkelanjutan. Tanah adat tidak pernah dijual. Sendang Kiskenda tetap bening. Hutan di sekitarnya masih lebat. Warga hidup sederhana, tapi cukup.
Namun, waktu tidak pernah ramah pada peninggalan fisik. Rumah-rumah tua mulai lapuk. Balai desa yang dulu menjadi pusat perjuangan, kini hanya tinggal puing-puing. Perpustakaan desa—yang didirikan oleh Lintang, cucu Panji, pada tahun 2080—ratusan tahun kemudian hancur tertimbun tanah longsor.
Pada tahun 2125, seorang arkeolog muda bernama Kartika — keturunan ketujuh dari Panji dan Mintarsih — melakukan ekspedisi penggalian di lokasi reruntuhan perpustakaan desa. Ia adalah buyut dari Lintang, kepala desa perempuan yang pada abad ke-22 memimpin perlawanan melawan Nusantara Digi dan pertama kali membangun perpustakaan desa. Nama Kartika sendiri diberikan untuk menghormati Eyang Kartiman, kakek buyut dari pihak Mintarsih yang telah berjuang bersama Panji di masa lalu.
Kartika ditemani oleh dua rekannya: Jaya, seorang sejarawan dari komunitas ilmuwan yang tersisa, dan Maya, seorang konservator yang ahli dalam merestorasi naskah kuno.
Mereka bekerja selama berminggu-minggu, menyisir puing-puing, mencari artefak yang masih bisa diselamatkan. Dan pada suatu sore, ketika matahari mulai condong ke barat, Jaya menemukan sesuatu.
"Kartika! Kemari! Cepat!" teriak Jaya.
Kartika berlari. Di tangannya, Jaya memegang sebuah kotak kayu yang sudah lapuk. Di atas kotak itu, terukir samar: "Babad Panji Lintang".
Kartika menatap kotak itu dengan takjub. Tangannya gemetar.
"Ini... ini tulisan kakek buyutku. Aku kenali aksaranya."
Maya mendekat. "Ayo buka. Tapi hati-hati. Kayunya sudah rapuh."
Jaya mencongkel kotak itu dengan alat khusus. Perlahan. Sabar.
Setelah beberapa menit, kotak itu terbuka. Di dalamnya, terbungkus kain beludru merah yang sudah hampir hancur, terdapat setumpuk naskah kuno. Kertasnya menguning, tintanya mulai pudar. Tapi tulisannya masih terbaca.
Kartika mengambil naskah itu dengan hati-hati. Ia membaca halaman pertama.
"Babad Panji Lintang: Kisah Perjuangan Panji, Mintarsih, dan Jojo dalam Melawan Ketidakadilan. Ditulis oleh Mintarsih, istri Panji, pada tahun 2040."
Air mata Kartika jatuh. "Ini... ini babad asli. Yang hilang ratusan tahun lalu."
Maya mengusap bahu Kartika. "Kamu beruntung, Kar. Tidak banyak arkeolog yang menemukan peninggalan leluhurnya sendiri."
Jaya tersenyum. "Ini penemuan besar. Bukan hanya untuk desa kita. Tapi untuk seluruh peradaban."
Malam itu, di tenda perkemahan penggalian, Kartika duduk di bawah lampu minyak—sama seperti yang digunakan leluhurnya dulu. Ia membaca babad itu dari awal hingga akhir. Kata per kata. Bab per bab.
Ia membaca tentang kelahiran Panji di malam seribu bintang, tentang ramalan Nini Gendheng, tentang persahabatan tiga bocah di bawah pohon beringin, tentang pengkhianatan Jojo, tentang perjuangan melawan Rama, Seta, dan Rahul.
Ia membaca tentang penderitaan, tentang pengasingan, tentang pertemuan dengan Eyang Jenggala, tentang pusaka ketiga, tentang kemenangan, tentang kematian Jojo, tentang pernikahan, tentang kelahiran Baskara, tentang sekolah adat modern.
Ia membaca tentang Mintarsih yang menulis babad ini di usianya yang senja, dengan tangan gemetar, dengan air mata, dengan cinta.
Ia membaca tentang Lintang—nenek buyutnya dari pihak ayah—yang melawan kapitalisme digital di awal abad ke-22. Tentang Sekar yang melawan Nusantara Digi. Tentang Kirana, putri Sekar, yang kemudian mendirikan museum virtual. Tentang semua generasi yang menjaga panji tetap berkibar.
Kartika tidak bisa berhenti menangis. Ia menangis bukan karena sedih. Tapi karena haru. Karena bangga. Karena merasa terhubung dengan leluhurnya yang telah berjuang begitu keras.
Jaya dan Maya tidak mengganggu. Mereka tahu ini momen pribadi.
Kartika keluar dari tenda. Langit malam cerah. Bintang-bintang mulai jatuh—tidak banyak, hanya beberapa. Tapi cukup untuk mengingatkan pada kisah-kisah yang ia baca.
Ia memegang jimat di lehernya—jimat Tumbal Kirana yang diwariskan dari generasi ke generasi, dari Panji hingga kepadanya. Jimat itu hangat.
"Kakek buyut," bisiknya. "Aku menemukan babadmu. Aku membaca kisahmu. Aku tidak akan melupakanmu."
Bintang jatuh melesat.
"Aku akan menjaga desa ini. Aku akan menjaga sendang ini. Aku akan menjadi panji, seperti yang kau ajarkan."
Jaya mendekat. "Kartika, sudah malam. Istirahatlah."
"Sebentar lagi, Jay. Aku ingin menikmati malam ini."
"Malam seribu bintang?"
Kartika tersenyum. "Iya. Malam seribu bintang. Seperti malam ketika Kakek buyutku dilahirkan. Seperti malam ketika ia menikah. Seperti malam ketika anaknya lahir. Seperti malam ketika ia wafat."
Jaya terkesima. "Keluargamu punya banyak sejarah."
"Dan sejarah itu sekarang ada di tanganku. Aku harus menjaganya."
Keesokan paginya, Kartika mengumpulkan warga Desa Sumbermaya—keturunan dari warga yang dulu, yang sekarang sudah jarang mengingat sejarah. Mereka berkumpul di balai desa yang baru, yang dibangun di atas fondasi balai desa lama.
"Warga Desa Sumbermaya," ucap Kartika lantang. "Saya punya kabar baik. Babad tentang leluhur kita—tentang Panji, Mintarsih, Jojo—telah ditemukan."
Warga berbisik.
"Saya akan mengembalikan naskah ini ke desa. Bukan ke museum. Bukan ke universitas. Tapi ke sini. Ke tempat ia seharusnya berada."
Seorang tetua bernama Mbah Karta—keturunan ketujuh dari Pak Tani—bertanya, "Nak, apa isi babad itu?"
Kartika tersenyum. "Isinya adalah ajaran. Tentang keberanian. Tentang pengampunan. Tentang cinta. Tentang perjuangan melawan keserakahan."
"Bacakan, Nak. Agar kami bisa belajar."
Kartika mengangguk. Ia membuka babad itu dan mulai membaca.
"Pada suatu malam, ketika bintang-bintang jatuh dari langit, lahirlah seorang anak laki-laki di ujung barat Desa Sumbermaya. Ia dinamai Panji."
Warga mendengar dengan saksama.
"Sejak kecil, ia sudah berbeda. Ia bisa melihat arwah. Ia bisa mendengar bisikan leluhur. Tapi ia tidak pernah menyombongkan diri."
Mata warga mulai berkaca-kaca.
"Ia berjuang melawan ketidakadilan. Ia difitnah, diusir, diasingkan. Tapi ia tidak pernah membenci. Ia memaafkan. Ia mengampuni. Ia menjadi panji yang tak pernah padam."
Setelah upacara penyerahan babad, Kartika berjalan ke pemakaman desa. Makam-makam kuno masih ada, meskipun beberapa sudah tidak terbaca.
Ia menemukan makam Panji dan Mintarsih—batu nisannya masih berdiri, meskipun tulisannya sudah nyaris hilang. Di sampingnya, makam Jojo, Sastro, Ki Guno, Baskara, Kirana (nenek buyutnya dari generasi perlawanan digital), dan Sekar.
Kartika berlutut. Ia menaburkan bunga.
"Kakek, Nenek, Eyang, Paman, Buyut... aku datang. Aku keturunan kalian. Aku membaca kisah kalian. Aku bangga."
Angin bertiup. Daun-daun beringin bergoyang.
"Aku akan menjaga desa ini. Aku akan menjaga sendang. Aku akan menjadi panji, seperti yang kalian ajarkan."
Jaya dan Maya berdiri di kejauhan, memberi ruang.
"Kakek Panji, aku tidak akan mengecewakan."
Kartika memutuskan untuk menulis ulang babad itu. Bukan mengganti. Tapi menyalin dengan aksara modern, menambahkan catatan-catatan dari hasil penelitian arkeologi, serta menceritakan apa yang terjadi pada desa setelah generasi Panji.
Ia menulis di bawah pohon beringin—pohon yang sama yang dulu menjadi saksi sumpah tiga bocah. Pohon itu kini sudah sangat besar, akarnya menjalar ke mana-mana, daunnya lebat.
Ia menulis tentang Baskara yang memodernisasi desa tanpa meninggalkan adat. Tentang Kirana yang melawan kapitalisme digital di awal abad ke-22. Tentang Sekar yang meneruskan perjuangan ibunya melawan Nusantara Digi. Tentang Kirana yang membangun museum virtual. Tentang Bimo yang nyaris khianat dan bertobat. Tentang dirinya sendiri, yang menemukan babad dan mengembalikannya ke desa.
Ia menulis di malam hari, di bawah lampu minyak—seperti Mintarsih dulu.
Jaya bertanya, "Kartika, apa kau tidak lelah?"
Kartika menggeleng. "Tidak, Jay. Ini tugasku. Seperti yang diajarkan leluhurku."
"Apa yang akan kau lakukan setelah selesai?"
"Aku akan menyimpan naskah asli di perpustakaan desa yang baru. Dan salinannya akan kusebarkan ke seluruh desa. Agar semua orang bisa membaca. Agar tidak ada yang melupakan."
Setelah satu tahun, perpustakaan desa yang baru selesai dibangun. Kartika meresmikannya dengan upacara adat—sama seperti yang dilakukan Panji dulu untuk sekolah adat modern, dan seperti yang dilakukan Kirana untuk perpustakaan pertama.
Warga hadir semua. Mbah Karta duduk di kursi kehormatan. Jaya dan Maya ikut merayakan.
Kartika berdiri di podium.
"Hari ini, kita meresmikan perpustakaan desa. Di dalamnya, akan tersimpan babad asli peninggalan Mintarsih, istri Panji. Juga salinan-salinannya untuk kalian baca."
Warga bertepuk tangan.
"Kisah leluhur kita tidak boleh mati. Mereka berjuang bukan untuk diri mereka sendiri. Tapi untuk kita. Untuk anak cucu. Untuk desa ini."
Mbah Karta berdiri dengan tongkat. "Kartika, kau membuat kami bangga. Seperti kakek buyutmu dulu."
Kartika menunduk hormat. "Terima kasih, Mbah. Saya hanya meneruskan."
"Doakan kami, Nak. Semoga desa ini tetap aman."
"Kami akan menjaganya, Mbah. Janji."
Malam terakhir ekspedisi penggalian, Kartika duduk di tepi Sendang Kiskenda. Airnya masih biru keemasan—tidak berubah selama berabad-abad.
Ia memegang jimat di lehernya.
"Kakek buyut, besok aku kembali ke komunitas ilmiah. Aku akan menyebarkan babad ini. Aku akan ceritakan kisahmu ke seluruh dunia."
Angin bertiup.
"Tapi aku akan kembali. Setiap tahun. Untuk memastikan desa ini aman. Untuk berziarah ke makam kalian."
Bintang jatuh melesat.
"Terima kasih untuk semuanya. Untuk perjuangan. Untuk pengorbanan. Untuk cinta."
Ia menatap langit. Bintang di timur bersinar terang.
"Kakek Panji, apakah kau tersenyum?"
Diam. Tapi air sendang beriak kecil.
Seperti senyum.
Seperti jawaban.
Seperti cinta yang tak pernah mati.
Kartika menuliskan sebuah pesan di akhir salinan babad yang ia buat. Ia tulis dengan aksara modern, agar mudah dibaca oleh siapa pun.
"Kepada generasi yang membaca ini,
Aku, Kartika, keturunan ketujuh dari Panji dan Mintarsih, mewariskan kisah ini kepadamu. Bukan untuk dibanggakan. Tapi untuk dipelajari.
Perjuangan melawan ketidakadilan tidak pernah usai. Bentuknya berubah, tapi esensinya sama. Jangan pernah menjual tanah leluhur. Jangan pernah mengorbankan masa depan untuk keuntungan sesaat. Jaga adat. Jaga alam. Jaga sesama.
Dan ingatlah, kau tidak sendirian. Ada leluhur yang menjaga. Ada bintang-bintang di langit yang menerangi. Ada panji yang tak pernah padam.
Salam,
Kartika
Tahun 2125."
Kartika dan timnya meninggalkan Desa Sumbermaya keesokan paginya. Mereka membawa salinan babad, sementara naskah asli disimpan di perpustakaan desa.
Di perjalanan, Kartika menatap langit. Bintang-bintang masih terlihat, meskipun mulai redup karena matahari akan terbit.
"Kakek buyut," bisiknya. "Aku akan menyebarkan kisahmu. Aku akan memastikan tidak ada yang melupakan."
Bintang terakhir jatuh di ufuk timur.
Seperti salam perpisahan.
Seperti janji.
Seperti panji yang tak pernah padam.
Dan demikianlah, kisah Panji, Mintarsih, dan Jojo terus hidup. Dari generasi ke generasi. Dari mulut ke mulut. Dari hati ke hati.
Babad yang ditemukan oleh Kartika menjadi salah satu naskah paling berharga di perpustakaan-perpustakaan seluruh dunia. Bukan karena nilainya sebagai artefak kuno. Tapi karena ajarannya yang universal: bahwa cinta lebih kuat dari kebencian, bahwa pengampunan lebih mulia dari dendam, bahwa perjuangan tidak pernah sia-sia.
Desa Sumbermaya menjadi desa wisata sejarah. Orang-orang datang dari berbagai penjuru untuk belajar tentang Panji, untuk merasakan ketenangan Sendang Kiskenda, untuk duduk di bawah pohon beringin tempat tiga bocah bersumpah setia.
Dan setiap malam seribu bintang, warga desa masih mengadakan upacara adat. Mereka menari, menyanyi, dan bercerita. Mereka mengenang Panji. Mereka mengenang Mintarsih. Mereka mengenang Jojo.
Mereka adalah panji yang tak pernah padam.
BAB 47: GENERASI DIGITAL — SEKAR MELAWAN NUSANTARA DIGI
Tahun 2100. Dunia telah berubah drastis sejak zaman Panji. Perusahaan-perusahaan teknologi raksasa menguasai hampir setiap aspek kehidupan manusia. Mereka tahu apa yang kita beli, ke mana kita pergi, dengan siapa kita bicara, bahkan apa yang kita pikirkan sebelum kita mengatakannya. Data adalah minyak baru. Dan seperti minyak, ia diperebutkan, dicuri, dan sering kali menjadi sumber bencana.
Desa Sumbermaya, berkat ajaran Panji yang dijaga turun-temurun, masih bertahan sebagai oase di tengah gurun kapitalisme digital. Warga masih bercocok tanam, masih menjaga sendang, masih berkumpul di balai desa untuk bermusyawarah. Tapi tekanan dari luar semakin kuat.
Nusantara Digi, perusahaan teknologi terbesar di Nusantara, mengincar desa itu. Bukan untuk tanahnya—tanah tidak lagi berharga seperti dulu. Yang mereka incar adalah data. Data pertanian organik yang sukses selama ratusan tahun. Data pola tanam yang adaptif terhadap perubahan iklim. Data kearifan lokal yang tidak bisa ditemukan di laboratorium mana pun.
Mereka datang dengan senyum, membawa tablet canggih, dan janji kemakmuran. Mereka membuka pusat pelatihan digital gratis. Mereka memberikan smartphone pada setiap warga. Mereka mengajak anak-anak muda desa magang di kantor pusat mereka di kota.
Dan perlahan, tanpa disadari, data desa mulai mengalir ke server Nusantara Digi.
Sekar—cicit Kirana (arkeolog), keturunan kesembilan dari Panji dan Mintarsih—adalah kepala desa termuda dalam sejarah Sumbermaya. Usianya baru dua puluh lima tahun ketika ia terpilih. Wajahnya masih muda, tapi matanya sudah tua—mewarisi ketajaman Panji dan kebijaksanaan Mintarsih.
Ia melihat apa yang terjadi. Ia melihat generasi muda desanya terpesona oleh kilau teknologi. Ia melihat data desa dikuras tanpa izin. Ia melihat Nusantara Digi membangun pusat data raksasa di bukit timur—tanpa izin, tanpa pemberitahuan, tanpa persetujuan warga.
Namun, ketika ia mulai bersuara, ia tidak disambut dengan tepuk tangan. Ia disambut dengan keraguan dan amarah.
Balai desa yang baru—dibangun di atas fondasi balai lama—kembali penuh sesak. Sekar duduk di kursi ketua, kursi yang sama yang dulu diduduki Panji, Baskara, Lintang, dan Sekar (neneknya). Di belakangnya, kain panji tua tergantung dengan bangga—kain peninggalan Eyang Jenggala yang sudah berusia hampir dua abad.
Warga desa hadir semua. Yang tertua adalah Mbah Tirta, keturunan ketujuh dari Pak Tani, usianya sudah sembilan puluh tahun, tapi matanya masih jernih. Yang termuda adalah bayi yang digendong ibunya.
Tapi suasana tidak seperti biasanya. Ada ketegangan di udara. Sesuatu yang tidak bisa dilihat, tapi bisa dirasakan.
Sekar berdiri. "Bapak, Ibu, saudara-saudara. Hari ini kita berkumpul untuk membahas kehadiran Nusantara Digi di desa kita."
Seorang pemuda bernama Bimo—lulusan teknik informatika dari kota, kini bekerja sebagai karyawan Nusantara Digi—berdiri. Wajahnya penuh semangat. Matanya berbinar. Ia mengenakan jaket seragam Nusantara Digi dengan bangga.
"Bu Sekar, Nusantara Digi adalah berkah bagi desa kita. Mereka membangun pusat data. Mereka membuka lapangan kerja. Anak-anak muda desa bisa bekerja tanpa harus merantau ke kota. Lihat saya! Saya sekarang punya gaji tetap. Saya bisa membeli motor. Saya bisa membeli smartphone baru!"
Warga berbisik setuju. Beberapa pemuda lain mengangguk-angguk.
Sekar tenang. "Bimo, apa kau sudah membaca kontrak kerja sama yang mereka tawarkan?"
Bimo mengangguk cepat. "Sudah, Bu. Standar. Tidak ada yang aneh. Saya baca semuanya."
"Bimo, kau lulusan teknik informatika. Kau tahu bahwa dalam kontrak itu, data desa kita—data pertanian, data pola tanam, data kesehatan warga, data kebiasaan belanja—akan menjadi milik mereka selamanya. Mereka boleh menjual data kita ke pihak ketiga. Tanpa persetujuan kita. Tanpa bagi hasil."
Bimo terdiam. Wajahnya sedikit pucat.
Seorang pemudi bernama Wulan berdiri. Wajahnya tidak setuju. "Bu Sekar, dengan segala hormat, kami tidak merasa dirugikan. Selama ini kami hidup biasa-biasa saja. Tidak ada yang berubah. Apa salahnya menerima bantuan dari perusahaan besar?"
Sekar tersenyum tipis. "Wulan, dulu kakek buyutku, Panji, juga dibilang berlebihan ketika ia menolak investor pabrik. Banyak warga yang marah padanya. Mereka bilang Panji menghalangi pembangunan. Mereka bilang Panji kolot."
Wulan mendengarkan.
"Tapi lihatlah sekarang. Tanah adat kita masih utuh. Desa kita masih merdeka. Kita tidak dijajah oleh perusahaan mana pun. Itu karena ia berani berkata 'tidak' pada keserakahan, meskipun sendirian."
Mbah Tirta angkat bicara. Suaranya parau, tapi lantang. "Sekar, aku ingat cerita buyutku tentang Panji. Panji dulu berjuang melawan preman dan koruptor. Sekarang, musuhnya mungkin berbeda. Tapi aku percaya padamu. Apa pun keputusanmu, aku dukung."
Namun, tidak semua warga sependapat dengan Mbah Tirta.
Seorang bapak dari barisan belakang berdiri. Wajahnya merah. "Bu Sekar, saya rasa Ibu terlalu kaku! Zaman sudah berubah! Kita tidak bisa terus-terusan hidup seperti nenek moyang kita! Kita butuh kemajuan! Kita butuh teknologi!"
Warga lain ikut bersuara. "Setuju! Kita butuh Nusantara Digi!"
Sekar menatap mereka satu per satu. Matanya tidak marah. Hanya sedih.
"Baiklah. Kita tidak perlu memutuskan hari ini. Mari kita kaji lebih dalam. Tapi saya ingin kalian ingat: leluhur kita tidak berjuang dua abad untuk menjual desa ini."
Rapat berakhir tanpa keputusan. Tapi keretakan sudah terjadi. Warga desa terpecah menjadi dua kubu: yang pro-Nusantara Digi dan yang anti. Sekar berada di kubu minoritas.
Tiga bulan kemudian, pusat data Nusantara Digi di bukit timur mulai beroperasi. Izin sudah turun dari pemerintah kabupaten—entah bagaimana caranya. Sekar tidak sempat mengajukan gugatan karena biaya dan waktu.
Warga yang pro-Nusantara Digi gembira. Anak-anak muda desa mendapat pekerjaan. Mereka pulang dengan baju rapi, smartphone baru, dan uang saku yang lumayan. Mereka membeli motor, membeli TV, membeli kulkas.
Desa Sumbermaya mulai berubah. Bukan fisiknya—rumah-rumah masih sama, sawah-sawah masih hijau. Tapi jiwanya. Warga mulai sibuk dengan ponsel mereka masing-masing. Anak-anak muda lebih asyik scrolling media sosial daripada membantu orang tua di sawah.
Dan data desa terus mengalir. Data pertanian. Data pola tanam. Data kebiasaan belanja. Data kesehatan. Data lokasi. Data segalanya.
Sekar melihat semua itu dengan cemas. Ia sudah memperingatkan. Tapi tidak ada yang mendengarkan.
Suatu sore, Sekar duduk di teras rumahnya, memegang tablet yang berisi laporan tentang pencurian data. Wajahnya muram.
Bimo datang dengan langkah ragu. Wajahnya tidak lagi penuh semangat seperti dulu. Ada kerutan di dahinya.
"Bu Sekar, saya mau bicara."
"Silakan, Bimo. Duduk."
Bimo duduk di kursi bambu di samping Sekar. Ia memegang kepalanya.
"Bu, saya... saya mulai merasa tidak enak."
"Tentang apa?"
"Tentang Nusantara Digi. Saya mulai melihat ada yang aneh. Data desa kita digunakan untuk sesuatu yang tidak saya mengerti. Saya tidak diberi akses penuh ke server. Hanya bagian kecil."
Sekar menghela napas. "Aku sudah bilang, Bimo. Dari awal."
"Saya tahu, Bu. Tapi... tapi saya pikir Ibu terlalu berlebihan. Sekarang saya sadar."
"Kesadaran itu datang terlambat, Bimo. Tapi tidak apa-apa. Masih ada waktu."
Bimo mengangkat wajah. Matanya basah. "Bu, apa yang harus saya lakukan?"
"Kembali. Gunakan ilmunya untuk membangun desa, bukan untuk menjual desa. Tapi hati-hati. Jika kau berbalik melawan mereka, kau akan mendapat ancaman."
"Saya siap, Bu. Saya tidak takut."
Tidak semua warga senang dengan sikap Sekar. Beberapa justru menyalahkannya.
Pada suatu hari, ketika Sekar sedang berjalan ke balai desa, sekelompok ibu-ibu menghentikannya. Di depan mereka, Bu Yati—yang anaknya bekerja di Nusantara Digi.
"Bu Sekar, saya dengar Ibu mau menggugat Nusantara Digi," kata Bu Yati dengan nada tidak ramah.
Sekar berhenti. "Iya, Bu. Saya sedang mempersiapkannya."
"Jangan, Bu! Anak saya bekerja di sana. Kalau Ibu menggugat, anak saya bisa dipecat. Keluarga saya bisa kelaparan!"
Ibu lain menambahkan, "Ibu tidak memikirkan kami, Bu Sekar! Ibu hanya memikirkan sejarah! Tapi sejarah tidak bisa memberi makan keluarga kami!"
Sekar terdiam. Ia menatap mereka satu per satu.
"Bu Yati, Bu Karta, saya mengerti kekhawatiran Ibu. Tapi coba Ibu pikir: apa jadinya jika data desa kita dijual ke pihak asing? Pola tanam kita bisa dipatenkan oleh perusahaan. Suatu hari nanti, kita tidak bisa lagi menanam dengan cara leluhur karena sudah dilindungi hak cipta oleh mereka."
Bu Yati tidak peduli. "Itu masih lama, Bu. Yang penting sekarang anak saya punya kerja."
Bu Karta menambahkan, "Ibu terlalu kaku, Bu Sekar. Zaman sudah berubah. Kita harus beradaptasi."
Sekar menghela napas panjang. "Baiklah, saya tidak akan memaksa. Tapi ingat pesan saya: suatu hari nanti, kalian akan menyesal."
Ia melanjutkan perjalanan. Di belakangnya, ibu-ibu itu bergumam tidak puas.
Tekanan tidak hanya datang dari warga, tetapi juga dari Nusantara Digi sendiri.
Pak Hendra—eksekutif muda dengan jas rapi—memanggil Bimo ke kantornya di pusat data bukit timur.
"Bimo, saya dengar kau mulai ragu dengan proyek ini," kata Pak Hendra sambil merokok. Asapnya mengepul tipis di ruang ber-AC.
Bimo menunduk. "Saya hanya berpikir, Pak. Apakah data desa kita aman?"
"Tentu aman. Kami perusahaan besar. Kami punya protokol keamanan tingkat tinggi."
"Lalu mengapa data desa kita digunakan untuk riset pasar di luar negeri? Saya melihat ada transfer data ke server di Singapura."
Pak Hendra berhenti merokok. Matanya menyipit.
"Kau tahu, Bimo. Aku suka karyawan yang cerdas. Tapi aku tidak suka karyawan yang terlalu ingin tahu."
"Maaf, Pak. Saya hanya..."
"Kau hanya harus fokus pada pekerjaanmu. Jangan bertanya tentang hal-hal di luar tanggung jawabmu."
Pak Hendra berdiri. Ia berjalan ke arah Bimo dan menepuk bahunya—tepukan yang terasa berat.
"Bimo, kau punya masa depan cerah di perusahaan ini. Jangan sia-siakan dengan bertanya hal-hal yang tidak perlu. Lagipula..." Ia tersenyum licik. "Keluargamu sekarang hidup enak karena gajimu, kan? Rumahmu sudah direnovasi. Adikmu bisa sekolah. Ibu mu bisa berobat."
Bimo terdiam.
"Jadi, lupakan saja apa yang kau lihat. Dan terus bekerja."
Pak Hendra keluar. Bimo duduk di kursinya, memegang kepala. Ia terjebak.
Malam itu, Sekar pergi ke rumah Bimo tanpa sepengetahuan siapa pun. Rumah Bimo sederhana—dinding bata, atap seng, tapi sudah lebih baik dari sebelumnya. Hasil kerja di Nusantara Digi.
Bimo terkejut melihat Sekar di depan pintunya.
"Bu Sekar? Ada apa?"
"Bimo, aku mau bicara."
Bimo mempersilakan Sekar masuk. Mereka duduk di ruang tamu. Lampu minyak menyala—listrik sedang padam.
"Bimo, aku tahu kau ditekan oleh Pak Hendra."
Bimo terkejut. "Bagaimana Ibu tahu?"
"Karena ada yang memberitahuku. Wulan. Ia bekerja di bagian administrasi. Ia melihat catatan panggilanmu ke pengacara."
Bimo menunduk. "Saya... saya hampir menyerah, Bu. Pak Hendra mengancam akan memecat saya. Dan jika saya dipecat, keluarga saya... ibu saya..."
"Aku tahu, Bimo. Itu yang mereka lakukan. Mereka menjerat orang dengan uang, lalu mengancam akan mengambilnya kembali jika tidak patuh."
"Apa yang harus saya lakukan, Bu?"
Sekar memegang bahu Bimo. "Kau harus memilih. Apakah kau ingin menjadi budak mereka seumur hidup, atau kau ingin bebas?"
"Bebas, Bu. Tapi..."
"Tidak ada tapi. Aku akan membantumu. Kita akan buat aplikasi sendiri. Aplikasi desa. Data tetap milik desa. Keuntungan untuk desa. Dan kau akan memimpinnya."
Bimo mengangkat wajah. Matanya basah. "Ibu... Ibu yakin?"
"Sekar yakin. Tapi kau harus siap berkorban. Mereka akan memecatmu. Mereka akan memfitnahmu. Mereka akan membuatmu menjadi kambing hitam."
"Saya siap, Bu. Saya tidak akan mengecewakan."
Sekar menggandeng Lembaga Bantuan Hukum Masyarakat Adat yang didirikan oleh keturunan Maya—aktivis LSM yang dulu membantu Panji. Mereka mengajukan gugatan ke pengadilan.
Tapi prosesnya berat. Nusantara Digi memiliki tim pengacara yang tangguh. Mereka membantah setiap argumen Sekar. Mereka menyebut data desa sebagai "kontribusi sukarela" warga.
Sekar membawa manuskrip babad asli—peninggalan Mintarsih yang ditemukan oleh Kirana (arkeolog). Ia membacakan penggalan sejarah di ruang sidang.
"Yang Mulia, desa ini sudah berjuang selama dua abad melawan keserakahan. Panji, kakek buyut saya, berjuang melawan pencurian tanah. Saya, sekarang, berjuang melawan pencurian data. Mohon keadilan."
Hakim terkesima. "Apakah itu naskah asli?"
"Ya, Yang Mulia. Usianya lebih dari seratus tahun. Ini bukti bahwa desa kami memiliki tradisi perlawanan terhadap ketidakadilan."
Pengacara Nusantara Digi tertawa. "Yang Mulia, sejarah tidak relevan dengan kasus ini. Yang relevan adalah hukum positif."
Hakim menggeleng. "Sejarah sangat relevan, Pengacara. Hukum tanpa sejarah buta."
Tapi perjuangan tidak mudah. Sidang ditunda berkali-kali. Saksi-saksi diintimidasi. Bukti-bukti hilang.
Sekar hampir putus asa.
Di tengah persidangan, server aplikasi "Tani Lestari" yang sedang dikembangkan Bimo diserang oleh peretas. Data hampir dicuri. Tapi Bimo dan timnya sigap. Mereka memblokir serangan dan melacak sumbernya.
Bimo melapor ke Sekar. "Bu, serangan ini berasal dari alamat IP milik Nusantara Digi."
Sekar tidak terkejut. "Apa buktinya?"
"Kami sudah kumpulkan. Lengkap."
"Laporkan ke polisi. Dan kita akan umumkan ke media."
Keesokan harinya, berita tentang upaya peretasan Nusantara Digi menyebar luas. Publik marah. Pemerintah turun tangan. Nusantara Digi dijatuhi sanksi berat dan kehilangan kepercayaan publik.
Pak Hendra dipecat. Perusahaan itu hampir bangkrut.
Sekar tidak merasa puas. Ia hanya lega.
"Kita harus tetap waspada," katanya pada Bimo. "Musuh tidak akan pernah berhenti. Mereka hanya akan berganti strategi."
Setelah enam bulan persidangan yang melelahkan, hakim akhirnya memutuskan: kemenangan untuk Desa Sumbermaya. Pusat data di bukit timur harus dibongkar. Izin dicabut. Data warga yang sudah diambil harus dikembalikan.
Tapi kemenangan itu tidak serta-merta membuat desa kembali damai. Warga yang kehilangan pekerjaan marah pada Sekar. Mereka menggelar demo di depan balai desa.
"Bu Sekar, kami tidak punya kerja sekarang!"
"Anak-anak kami menganggur!"
"Kembalikan Nusantara Digi!"
Sekar berdiri di podium. Wajahnya lelah, tapi matanya masih menyala.
"Saudara-saudara, saya mengerti kemarahan kalian. Tapi percayalah, ini untuk kebaikan jangka panjang. Kita akan bangun sistem sendiri. Kita tidak butuh perusahaan yang mencuri data kita."
"Kapan?! Kapan kita bisa mandiri?!"
"Segera. Bimo dan timnya sedang mengembangkan aplikasi 'Tani Lestari'. Dalam beberapa bulan, kita akan punya platform sendiri."
"Kami tidak percaya!"
Sekar menghela napas. Ia mengerti. Rasa sakit karena kehilangan pekerjaan tidak bisa disembuhkan dengan janji.
Ia turun dari podium. Ia masuk ke dalam balai desa. Ia duduk di kursi ketua, memegang kepalanya.
Mbah Tirta mendekat. "Nak, kau tidak sendiri. Aku di sini. Leluhur di sini."
Sekar mengangkat wajah. "Mbah, aku lelah."
"Lelah itu wajar, Nak. Tapi jangan menyerah. Panji dulu juga lelah. Tapi ia tidak pernah menyerah."
Setahun kemudian, Bimo berhasil meluncurkan aplikasi "Tani Lestari" —aplikasi pertanian pintar buatan anak desa. Aplikasi itu membantu petani memprediksi cuaca, mendeteksi hama, dan menjual hasil panen langsung ke konsumen tanpa perantara.
Tapi awalnya, warga tidak percaya. Mereka masih trauma dengan kegagalan sebelumnya.
Sekar harus turun langsung ke sawah, mendampingi Bimo, menunjukkan cara menggunakan aplikasi itu.
"Bu, lihat! Aplikasi ini memprediksi akan ada hama dalam tiga hari!" seru Bimo di depan petani.
Petani itu mengerutkan dahi. "Masa sih?"
"Coba saja, Pak. Tidak ada ruginya."
Tiga hari kemudian, hama benar-benar datang. Petani itu sempat panik, tapi Bimo sudah memberikan solusi: pestisida organik yang ramah lingkungan. Hasil panennya selamat.
Sejak saat itu, warga mulai percaya.
Sekar meresmikan aplikasi "Tani Lestari" di balai desa. Warga hadir semua. Bimo berdiri di sampingnya.
"Ini adalah kemenangan kita," ucap Sekar lantang. "Kita tidak perlu Nusantara Digi. Kita bisa buat sendiri. Kita bisa mandiri."
Bimo menambahkan, "Aplikasi ini gratis untuk warga desa. Keuntungan dari layanan premium akan masuk ke kas desa. Data tetap milik kita. Tidak ada yang dicuri."
Warga bertepuk tangan. Bu Yati—yang dulu paling keras menentang Sekar—menangis.
"Bu Sekar, maafkan saya. Saya dulu bilang Ibu terlalu kaku. Ternyata Ibu benar."
Sekar tersenyum. "Tidak perlu minta maaf, Bu. Kita semua belajar."
Wulan bertanya, "Bu Sekar, apa Nusantara Digi akan diam saja?"
Sekar menggeleng. "Mereka tidak akan diam. Tapi kita juga tidak akan diam. Kita akan terus belajar. Terus beradaptasi. Tapi tidak akan pernah kehilangan jati diri."
Pada malam ketika bintang jatuh untuk kesebelas kalinya, Sekar duduk di tepi Sendang Kiskenda. Airnya biru keemasan. Bintang-bintang jatuh silih berganti.
Ia memegang jimat di lehernya.
"Kakek buyut," bisiknya. "Dua abad sudah perjuangan ini berlangsung. Dan kita masih di sini. Desa ini masih berdiri. Sendang ini masih bening."
Ia menatap langit.
"Aku hampir menyerah, Kakek. Tapi aku ingat kata-kata Kakek: 'Jangan pernah menyerah, Nak. Karena panji tidak akan pernah padam.'"
Ia tersenyum.
"Sekarang, aku mengerti. Perjuangan tidak selalu berakhir dengan kemenangan instan. Kadang, kita harus kalah dulu untuk belajar. Kadang, kita harus dihina dulu untuk membuktikan."
Bintang jatuh melesat.
"Aku tidak tahu berapa lama lagi aku bisa menjaga. Tapi aku akan mewariskan pada anakku nanti. Dan anaknya. Dan seterusnya. Karena panji ini tidak akan pernah padam."
Sekar memimpin Desa Sumbermaya hingga usia tujuh puluh tahun. Ia pensiun dengan damai, meninggalkan desa yang lebih maju, lebih mandiri, dan lebih sadar akan pentingnya melindungi data sebagai bagian dari kedaulatan.
Aplikasi "Tani Lestari" yang dirintisnya berkembang menjadi platform pertanian digital terbesar di Nusantara—bukan karena diakuisisi perusahaan raksasa, tapi karena dipercaya oleh ribuan petani.
Bimo menjadi kepala teknologi desa yang disegani. Ia tidak pernah melupakan bagaimana ia hampir menjadi pengkhianat.
Wulan menjadi sekretaris desa yang cekatan. Ia menikah dengan Bimo dan dikaruniai dua orang anak.
Mbah Tirta meninggal pada usia seratus tahun, dengan tenang, di pangkuan keluarganya. Pesan terakhirnya: "Jaga sendang. Jaga data. Jaga panji."
Sekar mewariskan jimat Tumbal Kirana pada putrinya, Lintang—nama yang diulang dari generasi ke generasi. Dan kain panji pada anaknya, Joko.
Ia menulis buku tentang perjuangan digital desa, melanjutkan babad yang ditulis Mintarsih dan Kirana (arkeolog).
Dan pada suatu malam, ketika bintang jatuh untuk kedua belas kalinya, Sekar pergi dengan tenang, dalam tidurnya, dengan senyum di wajah.
"Kakek, Nenek," bisiknya sebelum menghembuskan napas terakhir. "Aku pulang. Aku sudah melakukan tugasku. Maaf jika aku hampir menyerah. Tapi aku tidak menyerah. Aku bertahan. Untuk kalian. Untuk desa ini. Untuk panji."
Bab 48: Ancaman Baru — Pengkhianatan dari Dalam
Kemenangan atas Nusantara Digi bukanlah akhir dari perjuangan. Sekar tahu itu. Seperti yang diajarkan Panji dulu, musuh tidak akan pernah menyerah. Mereka hanya akan berganti strategi. Dan strategi paling berbahaya adalah yang datang dari dalam.
Dua tahun setelah pengusiran Nusantara Digi, desa Sumbermaya memasuki era digital yang lebih mandiri. Aplikasi "Tani Lestari" digunakan oleh seluruh petani desa. E-commerce desa menjual produk hingga ke luar pulau. Wisatawan datang melalui aplikasi pemesanan homestay yang juga dikembangkan sendiri.
Tapi kesuksesan menarik perhatian. Tidak hanya dari perusahaan luar, tapi juga dari orang-orang dalam desa yang mulai tergiur oleh keuntungan materi.
Bimo—pemuda yang dulu kembali ke pangkuan desa dan membantu mengembangkan aplikasi—kini mulai berubah. Ia sering bepergian ke kota untuk "urusan pengembangan". Ia pulang dengan pakaian baru, smartphone terbaru, dan gaya bicara yang berbeda. Ia mulai mengeluh tentang sistem bagi hasil, tentang aturan-aturan yang menurutnya "menghambat inovasi".
Sekar melihat perubahan itu. Ia ingat kisah Jojo dalam babad yang ia baca berkali-kali. "Pengkhianatan tidak selalu datang dari musuh. Kadang, ia datang dari sahabat sendiri."
Sekar tidak ingin mengulangi sejarah yang sama. Tapi ia juga tidak mau menuduh tanpa bukti. Ia memilih untuk mengamati. Memberi ruang. Berharap bahwa Bimo hanya sedang mengalami kebingungan sementara.
Tapi pada suatu malam, ketika ia secara tidak sengaja melihat Bimo keluar dari mobil mewah di pinggir desa—mobil dengan logo yang tidak ia kenali—hatinya berdebar.
"Ia bertemu siapa?" bisiknya.
Ia memutuskan untuk menyelidiki. Bukan karena ia tidak percaya pada Bimo. Tapi karena ia tidak percaya pada keserakahan.
Balai desa kembali penuh. Rapat koperasi diadakan untuk membahas evaluasi tahunan. Sekar duduk di kursi ketua. Bimo duduk di kursi kepala teknologi, di sampingnya.
Sekar membuka rapat. "Saudara-saudara, pendapatan koperasi tahun ini naik empat puluh persen. Ini berkat kerja keras kita semua."
Warga bertepuk tangan.
Bimo berdiri. "Bu Sekar, saya punya usul."
"Silakan, Bimo."
"Saya mengusulkan kita membuka aplikasi 'Tani Lestari' untuk investor. Biar berkembang lebih cepat. Biar bisa bersaing di pasar global."
Warga berbisik.
Sekar tenang. "Bimo, kita sudah sepakat bahwa aplikasi ini milik desa. Data milik desa. Keuntungan milik desa. Apa yang berubah?"
Bimo menghela napas. "Bu, dunia bergerak cepat. Kalau kita terlalu kaku, kita akan tertinggal. Investor bisa membawa modal, teknologi, dan pasar."
Seorang petani tua bernama Pak Karta—keturunan kelima dari Pak Tani—berdiri. "Bimo, kakek saya dulu berpesan: jangan pernah serahkan desa pada investor. Mereka hanya akan mengambil keuntungan dan pergi."
Bimo tersenyum. "Pak Karta, zaman sudah berubah. Investor sekarang tidak seperti dulu. Mereka punya etika."
Pak Karta tertawa pahit. "Zaman berubah, tapi manusia tidak pernah berubah. Keserakahan tetap keserakahan."
Sekar mengangkat tangan. "Baik, kita tidak perlu memutuskan hari ini. Bimo, buat proposal. Kita bahas minggu depan."
Bimo mengangguk. Tapi matanya kecewa.
Setelah rapat, Sekar duduk di teras rumah Mbah Tirta. Teh panas disajikan. Udara sore terasa sejuk.
"Mbah, apa pendapat Mbah tentang usul Bimo?"
Mbah Tirta menghela napas. "Nak, kakek buyutku dulu berjuang melawan investor pabrik. Sekarang, bentuknya beda, tapi esensinya sama."
"Mbah pikir Bimo salah?"
"Mbah tidak bilang salah. Mbah hanya bilang, hati-hati. Uang bisa mengubah orang. Bahkan orang yang paling baik sekalipun."
Sekar menunduk. "Saya lihat Bimo berubah, Mbah. Cara bicaranya. Cara berpakaiannya. Ia sering ke kota."
Mbah Tirta menatap Sekar. "Kau curiga?"
"Saya tidak ingin curiga, Mbah. Tapi saya juga tidak mau buta."
"Lakukan apa yang kakek buyutmu dulu. Selidiki. Tapi jangan menuduh sebelum punya bukti."
Malam itu, Sekar mengikuti Bimo secara diam-diam. Ia tidak sendiri. Ia ditemani Wulan—pemudi yang dulu sempat mendukung Nusantara Digi, tapi kini berbalik membela desa.
Mereka bersembunyi di balik semak dekat pinggir desa, di mana Bimo biasa bertemu dengan seseorang dari kota.
Tak lama, sebuah mobil hitam tiba. Dari mobil itu turun seorang pria berjas rapi. Bimo menyambutnya dengan hormat.
"Siapa itu?" bisik Wulan.
Sekar menggeleng. "Aku tidak tahu. Tapi wajahnya familiar."
Pria itu berbicara dengan suara pelan. Sekar dan Wulan tidak bisa mendengar. Tapi mereka melihat Bimo menerima sebuah amplop cokelat tebal.
Sekar teringat. Kisah Seta dan Rahul dalam babad. Amplop cokelat. Suap. Pengkhianatan.
Darahnya mendidih. Tapi ia menahan diri. Belum waktunya.
Wulan tidak bisa diam. Keesokan harinya, ia pergi ke rumah Bimo dan menanyainya langsung.
"Bimo, aku lihat kau bertemu dengan orang asing semalam. Siapa dia? Dan apa isi amplop yang kau terima?"
Bimo terkejut. Wajahnya pucat. "Kau... kau mengikutiku?"
"Aku tidak. Aku kebetulan lewat."
"Bohong!"
Wulan tenang. "Bimo, aku tahu kau orang baik. Aku tahu kau ingin desa ini maju. Tapi apa yang kau lakukan? Siapa orang itu?"
Bimo diam. Lalu ia duduk di kursi. Wajahnya menunduk.
"Ia perwakilan dari PT. Digital Nusantara—perusahaan bayangan yang didirikan oleh mantan eksekutif Nusantara Digi. Mereka ingin mengakuisisi 'Tani Lestari' dengan harga tinggi."
Wulan terkejut. "Bimo, kau tahu itu salah!"
"Aku tahu, Lan. Tapi mereka tawarkan dua miliar. Dengan uang itu, kita bisa membangun desa ini lebih baik. Sekolah baru. Puskesmas baru. Jalan yang lebih bagus."
"Tapi dengan mengorbankan kemerdekaan desa? Kakek buyut kita dulu berjuang untuk itu!"
Bimo menangis. "Aku bingung, Lan. Aku ingin desa ini maju. Tapi aku juga tidak ingin mengkhianati leluhur."
Wulan memegang bahu Bimo. "Kembalilah, Bimo. Masih ada waktu."
Bimo pergi ke rumah Sekar malam itu. Wajahnya pucat, matanya sembab.
"Bu Sekar, saya minta maaf."
Sekar yang sedang membaca babad di teras menatapnya. "Minta maaf untuk apa, Bimo?"
Bimo berlutut. Air matanya jatuh.
"Saya sudah dihubungi oleh PT. Digital Nusantara—perusahaan bayangan dari mantan eksekutif Nusantara Digi. Mereka menawari saya dua miliar untuk membantu mereka mengakuisisi aplikasi 'Tani Lestari'."
Sekar tidak terkejut. Ia sudah menduga.
"Saya sudah menerima uang muka lima ratus juta. Tapi saya belum menandatangani kontrak. Saya... saya tidak tega."
Sekar berdiri. Ia membantu Bimo berdiri.
"Bimo, kau tahu apa yang dulu terjadi pada Jojo?"
Bimo mengangguk. "Saya tahu. Saya membaca babad."
"Jojo dulu mengkhianati Panji. Ia pergi. Ia memihak musuh. Tapi ia kembali. Ia mengaku. Dan ia mati sebagai pahlawan."
Bimo menunduk.
"Aku tidak akan menghukummu, Bimo. Tapi kau harus memperbaiki kesalahanmu. Kembalikan uang itu. Laporkan perusahaan itu ke polisi. Dan mulai lagi dari awal."
Bimo mengangkat wajah. "Bu Sekar, apa Ibu bisa memaafkan saya?"
Sekar tersenyum. "Memaafkan adalah keberanian tertinggi, Bimo. Itu diajarkan Panji. Aku tidak hanya memaafkanmu. Aku juga bangga karena kau berani mengaku."
Bimo menangis di bahu Sekar.
Sekar dan Bimo pergi ke kantor polisi di kabupaten. Mereka membawa bukti-bukti: rekaman percakapan, transfer uang, dan kontrak yang belum ditandatangani.
Polisi bertindak cepat. PT. Digital Nusantara diusut. Ternyata perusahaan itu didirikan oleh Andre—keponakan Pak Hendra, eksekutif Nusantara Digi yang dulu dipecat.
Andre ditangkap. Perusahaan itu dibubarkan. Uang muka yang diterima Bimo disita negara.
Bimo tidak dipenjara karena ia menjadi saksi dan mengaku sebelum kerugian terjadi. Namun, ia dijatuhi hukuman sosial: membersihkan Sendang Kiskenda selama satu tahun penuh—sama seperti hukuman adat yang dulu dijalani Seta dan Jojo.
Bimo menerima hukuman itu dengan ikhlas.
"Aku pantas menerima ini," katanya pada Sekar. "Aku hampir menjadi pengkhianat."
Warga desa terpecah. Ada yang setuju dengan hukuman adat untuk Bimo. Ada yang menganggapnya terlalu berat. Ada yang menganggapnya terlalu ringan.
Pak Karta angkat bicara. "Dulu, Seta dihukum seumur hidup. Jojo juga dihukum membersihkan sendang. Bimo hanya setahun? Itu terlalu ringan!"
Wulan membela Bimo. "Bimo mengaku sebelum semuanya terjadi. Ia tidak merugikan desa. Ia juga yang membantu mengembangkan aplikasi 'Tani Lestari'. Ia pantas diberi kesempatan."
Sekar menengahi. "Ini bukan tentang berat ringannya hukuman. Ini tentang pembelajaran. Bimo sudah belajar. Ia sudah menyesal. Ia akan membersihkan sendang sebagai simbol pembersihan diri."
Mbah Tirta mendukung Sekar. "Sekar benar. Hukuman bukan untuk balas dendam. Tapi untuk mendidik. Bimo masih muda. Ia punya masa depan."
Warga akhirnya setuju.
Setiap pagi, sebelum matahari terbit, Bimo sudah berada di Sendang Kiskenda. Ia membersihkan lumut, menyapu daun-daun kering, memastikan air tetap jernih.
Sekar sesekali datang membawakannya sarapan.
"Bimo, kau tidak sendiri," kata Sekar suatu pagi.
Bimo tersenyum. "Terima kasih, Bu. Saya... saya tidak pantas diperlakukan sebaik ini."
"Jojo dulu juga merasa tidak pantas. Tapi Panji tetap memaafkannya."
"Apa yang membuat Panji bisa memaafkan?"
Sekar menghela napas. "Karena ia tahu, kebencian tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Kebencian hanya melahirkan kebencian baru."
Bimo diam. Lalu ia berkata, "Saya akan membuktikan bahwa saya berubah, Bu. Janji."
Setahun berlalu. Bimo selesai menjalani hukumannya. Sendang Kiskenda lebih bersih dari sebelumnya. Bimo bahkan menanam bunga-bunga di tepinya, membuat sendang itu semakin indah.
Pada upacara penyucian diri, Sekar memanggil Bimo ke depan balai desa.
"Bimo, kau sudah menjalani hukumanmu. Leluhur telah menyaksikan. Sekarang, kau boleh kembali menjadi warga desa seutuhnya."
Bimo menunduk hormat. "Terima kasih, Bu. Saya tidak akan mengulangi kesalahan."
Wulan tersenyum padanya. Pak Karta mengangguk setuju.
Sekar melanjutkan, "Bimo, aku tunjuk kau sebagai kepala tim teknologi desa. Kembangkan 'Tani Lestari' lebih lanjut. Tapi ingat, data milik desa. Jangan pernah korbankan kemerdekaan demi keuntungan sesaat."
Bimo mengangguk mantap. "Siap, Bu. Saya tidak akan mengecewakan."
Malam itu, Sekar dan Bimo berjalan ke makam Panji, Mintarsih, dan Jojo.
Bimo berlutut di depan makam Jojo.
"Paman Jojo, aku hampir menjadi seperti dirimu dulu. Tapi aku kembali. Aku bertobat. Semoga kau memaafkanku."
Angin bertiup. Daun-daun beringin bergoyang.
Sekar memegang bahu Bimo. "Jojo sudah memaafkanmu, Bimo. Ia tahu rasanya tersesat. Ia juga tahu rasanya kembali."
Mereka berdua berdiri.
Bimo menatap bintang di timur. "Kakek Panji, terima kasih untuk ajarannya. Aku akan menjaga desa ini. Aku akan menjadi panji, seperti yang kau ajarkan."
Bintang itu berkedip.
Seperti senyum. Seperti restu. Seperti cinta yang tak pernah mati.
Bimo menjadi salah satu pemimpin teknologi terbaik di Desa Sumbermaya. Ia mengembangkan "Tani Lestari" menjadi aplikasi pertanian pintar yang digunakan oleh ribuan petani di seluruh Nusantara. Ia tidak pernah mengambil keuntungan untuk diri sendiri. Semua keuntungan masuk ke kas desa.
Ia juga mendirikan "Sekolah Digital Panji Lintang" —sekolah yang mengajarkan teknologi digital sekaligus adat dan filsafat. Murid-muridnya tidak hanya pintar secara teknis, tapi juga memiliki hati yang bersih.
Sekar bangga padanya. Pada suatu upacara adat, ia memeluk Bimo di depan warga.
"Bimo, kau adalah bukti bahwa orang yang pernah tersesat bisa kembali. Dan ketika ia kembali, ia bisa menjadi lebih baik dari sebelumnya."
Bimo menangis. "Terima kasih, Bu Sekar. Terima kasih untuk kesempatan kedua."
"Jangan berterima kasih padaku. Berterima kasihlah pada leluhur yang mengajarkan kita bahwa pengampunan adalah keberanian tertinggi."
Bimo mengangguk.
Dan di kejauhan, di tepi Sendang Kiskenda, airnya tetap biru keemasan. Tenang. Damai.
Seperti hati yang telah dimaafkan. Seperti jiwa yang telah merdeka.
Bab 49: Panji Abad 22 — Sekar dan Pusaka Digital
Tahun 2120. Sekar telah memimpin Desa Sumbermaya selama hampir dua puluh tahun. Di bawah kepemimpinannya, desa tidak hanya bertahan, tetapi berkembang menjadi pusat inovasi pertanian digital yang diakui secara nasional. Aplikasi "Tani Lestari" kini digunakan oleh lebih dari lima ribu petani di tiga puluh desa di seluruh Nusantara. Desa Sumbermaya menjadi model bagi desa-desa lain yang ingin mandiri secara ekonomi tanpa kehilangan jati diri.
Tapi Sekar tidak puas. Ia merasa ada satu tugas yang belum selesai. Sebuah warisan yang harus ia selesaikan sebelum ia pensiun.
Ia ingin mengubah kain panji—pusaka fisik peninggalan Eyang Jenggala yang berusia hampir dua abad—menjadi pusaka digital. Sebuah catatan permanen yang tidak akan lapuk dimakan waktu, tidak akan luntur ditelan bencana, dan bisa diakses oleh siapa pun di mana pun.
Bukan untuk mengganti. Tapi untuk melengkapi. Karena dunia berubah. Generasi baru lebih akrab dengan layar daripada dengan kain. Mereka perlu belajar dengan cara mereka sendiri.
Sekar mengumpulkan tim: Bimo (kepala teknologi), Wulan (sejarawan desa), Mbah Tirta (tetua adat), dan Lintang—putrinya yang kini berusia dua puluh tahun, seorang mahasiswi ilmu komputer di universitas kabupaten.
Mereka bekerja selama berbulan-bulan. Mendigitalkan setiap halaman babad, setiap catatan, setiap ajaran. Mereka menambahkan video wawancara dengan warga tua yang masih mengingat cerita lisan dari kakek buyut mereka. Mereka menambahkan rekaman suara, musik tradisional, dan animasi yang menggambarkan perjuangan Panji.
Proyek itu dinamai "Panji Abad 22" .
Pada suatu malam, ketika bintang jatuh untuk kedua belas kalinya, Sekar duduk di tepi Sendang Kiskenda, memegang tablet yang berisi pusaka digital itu. Airnya biru keemasan. Bintang-bintang jatuh silih berganti.
"Kakek buyut," bisiknya. "Aku sudah mengubah warisanmu menjadi bentuk yang baru. Maafkan aku jika ini salah. Tapi aku hanya ingin agar kisahmu tidak pernah mati."
Tablet itu hangat di tangannya—bukan karena baterai, tapi karena sesuatu yang tidak bisa dijelaskan.
Seperti restu. Seperti senyum. Seperti cinta yang tak pernah padam.
Balai desa, malam hari. Sekar duduk di kursi ketua. Di hadapannya, Bimo, Wulan, Mbah Tirta, dan putrinya Lintang. Lampu minyak dinyalakan—bukan karena listrik mati, tapi untuk menciptakan suasana seperti zaman dulu.
"Bapak, Ibu, saudara-saudara," ucap Sekar. "Saya panggil kalian semua karena ada proyek besar yang ingin saya kerjakan."
Bimo bertanya, "Proyek apa, Bu?"
"Saya ingin mendigitalkan warisan leluhur kita. Semua babad, semua ajaran, semua cerita. Saya ingin membuat pusaka digital yang tidak akan pernah rusak."
Wulan terkejut. "Bu, apakah itu tidak melanggar adat?"
Sekar menggeleng. "Bukan melanggar. Melengkapi. Dulu, Panji menyimpan ajaran di kain. Mintarsih menulis di kertas. Kirana (arkeolog) menyimpan di perpustakaan. Sekarang, zaman digital. Generasi muda lebih nyaman dengan layar. Kita harus beradaptasi."
Mbah Tirta menghela napas. "Nak, kakek buyutku dulu bilang, 'Adat bukanlah sesuatu yang kaku. Ia hidup. Ia berubah. Yang penting ruhnya tetap sama.' Aku setuju dengan proyekmu."
Kirana bersemangat. "Aku bisa bantu, Bu! Aku mahasiswa ilmu komputer. Aku bisa bikin aplikasi dan website."
Sekar tersenyum. "Itu sebabnya aku memanggilmu, Nak."
Bimo masih ragu. "Bu, maaf, saya ingin jujur. Mendigitalkan warisan itu berat. Dana, waktu, tenaga. Apakah sepadan?"
Sekar menatap Bimo. "Bimo, kau ingat ketika kau hampir menjual aplikasi 'Tani Lestari'?"
Bimo menunduk. "Saya ingat, Bu. Itu kesalahan terbesar saya."
"Apa yang menyelamatkanmu?"
Bimo berpikir. "Kesadaran. Bahwa apa yang saya lakukan salah. Dan... pengampunan dari Ibu dan warga."
Sekar mengangguk. "Kesadaran itu datang dari mana? Dari cerita. Dari babad. Dari ajaran leluhur. Bahwa pengkhianatan tidak pernah berakhir baik. Bahwa pengampunan adalah keberanian."
Bimo mulai mengerti.
"Nah, sekarang bayangkan jika cerita itu tidak tersimpan dengan baik. Jika anak cucu kita tidak tahu sejarah. Mereka akan mudah tergiur, mudah disesatkan, mudah menjadi pengkhianat."
Bimo mengangguk. "Saya mengerti, Bu. Saya dukung."
Kirana dan Wulan berkeliling desa untuk mengumpulkan data. Mereka mewawancarai warga tua yang masih mengingat cerita lisan dari kakek buyut mereka.
Mbah Parto—usia sembilan puluh lima tahun, keturunan kelima dari Pak Burhan—masih ingat cerita tentang Jojo.
"Nak, buyutku dulu cerita tentang Jojo. Katanya, Jojo itu sahabat Panji. Ia sempat khianat. Tapi ia kembali. Dan ia mati sebagai pahlawan."
Wulan bertanya, "Mbah, apa pesan yang ditinggalkan Jojo?"
Mbah Parto menangis. "Jojo bilang, jangan pernah iri pada sahabatmu. Iri hanya akan menghancurkan persahabatan."
Kirana mencatat semuanya di tabletnya. Ia juga merekam suara Mbah Parto.
"Terima kasih, Mbah. Cerita Mbah akan abadi selamanya."
Bimo memimpin tim pengembang aplikasi "Panji Abad 22" . Mereka bekerja siang dan malam. Aplikasi itu tidak hanya berisi teks, tetapi juga video, audio, animasi, dan bahkan virtual reality yang memungkinkan pengguna merasakan suasana Desa Sumbermaya di zaman Panji.
Seorang programmer muda bernama Rizki bertanya, "Bang Bimo, apa kita harus memasukkan semua detail? Ini berat banget."
Bimo menggeleng. "Harus, Rizki. Ini bukan aplikasi biasa. Ini pusaka digital. Generasi mendatang akan belajar dari sini. Jangan setengah-setengah."
Rizki mengangguk.
Bimo menambahkan, "Dan ingat, semua data ini milik desa. Jangan pernah salin ke server pribadi. Jangan pernah bagikan tanpa izin."
Rizki tersenyum. "Siap, Bang. Saya belajar dari kasus Bimo dulu."
Bimo tertawa kecil. "Kamu jangan jadi seperti aku dulu."
"Tidak, Bang. Saya ingin jadi seperti Bimo sekarang."
Sekar dan Kirana berdiri di depan makam Panji dan Mintarsih. Bunga ditabur. Dupa dinyalakan.
"Nak," panggil Sekar. "Kakek buyutmu dulu berjuang melawan ketidakadilan. Ia tidak pernah menyerah. Ia tidak pernah membenci. Ia hanya terus berjuang."
Kirana mendengarkan dengan saksama.
"Sekarang, giliranmu. Setelah aku pensiun, kau yang akan memimpin desa ini. Bukan dengan kekerasan. Tapi dengan ilmu, dengan kebijaksanaan, dengan cinta."
Kirana memegang tangan ibunya. "Bu, aku belum siap."
"Tidak ada yang pernah siap, Nak. Tapi kau harus berani. Seperti kakek buyutmu."
Kirana menatap makam Panji. "Kakek, doakan aku."
Angin bertiup. Daun-daun beringin bergoyang.
Seperti jawaban. Seperti restu.
Setelah satu tahun bekerja, aplikasi "Panji Abad 22" siap diluncurkan. Acara peluncuran diadakan di balai desa, dihadiri oleh warga desa, perwakilan dari pemerintah kabupaten, dan beberapa jurnalis.
Sekar berdiri di podium. Kain panji tua tersampir di bahunya. Di tangannya, ia memegang tablet.
"Bapak, Ibu, saudara-saudara. Hari ini, kita meluncurkan pusaka digital. Namanya 'Panji Abad 22' ."
Warga bertepuk tangan.
"Aplikasi ini berisi babad asli yang ditulis oleh Mintarsih, istri Panji. Juga wawancara dengan warga tua, animasi perjuangan, dan tur virtual ke tempat-tempat bersejarah di desa kita."
Mbah Tirta berdiri. "Nak, apakah ini tidak menggantikan kain panji?"
Sekar menggeleng. "Tidak, Mbah. Kain panji tetap akan kita rawat. Ini pelengkap. Agar generasi muda yang lebih akrab dengan gadget bisa belajar."
Mbah Tirta tersenyum. "Baiklah. Aku restui."
Warga bersorak.
Kirana maju ke depan. Ia menunjukkan cara menggunakan aplikasi "Panji Abad 22" .
"Ini, Bapak, Ibu. Pertama, buka aplikasi. Kalian akan disambut dengan gambar Sendang Kiskenda."
Layar tablet menunjukkan sendang yang indah.
"Klik di sini, kalian bisa membaca babad. Klik di sini, kalian bisa mendengar rekaman suara Mbah Parto yang bercerita tentang Jojo."
Mbah Parto yang hadir di acara itu menangis haru.
"Klik di sini, kalian bisa melihat animasi perjuangan Panji. Dan klik di sini, kalian bisa melakukan tur virtual ke makam Panji, ke pohon beringin, ke sendang."
Warga terpesona.
Seorang ibu bertanya, "Nak, apakah ini gratis?"
Kirana mengangguk. "Gratis, Bu. Selamanya. Untuk semua warga desa. Untuk semua orang di Nusantara. Karena ini warisan budaya bangsa."
Warga bertepuk tangan lagi.
Malam setelah peluncuran, Sekar memanggil Kirana ke ruang tamu. Ia menyerahkan tablet yang berisi pusaka digital.
"Nak, ini aku titipkan padamu."
Kirana terkejut. "Bu, kenapa bukan Ibu yang menyimpan?"
"Aku sudah tua, Nak. Aku tidak akan lama lagi. Kau yang muda. Kau yang akan menjaga."
"Tapi Bu..."
Sekar memotong. "Lintang, kakek buyutmu dulu mewariskan kain panji pada generasi berikutnya. Aku mewariskan pusaka digital padamu. Tugasmu adalah menjaganya. Mengembangkannya. Dan mewariskannya pada anak-anakmu nanti."
Kirana menangis. "Bu, aku tidak sehebat Ibu."
"Kau tidak perlu sehebat aku. Kau hanya perlu menjadi dirimu sendiri. Dan ingatlah, kau tidak sendirian. Ada leluhur yang menjaga. Ada bintang-bintang di langit yang menerangi."
Kirana memeluk ibunya.
Malam itu, Kirana bermimpi. Ia berdiri di tepi Sendang Kiskenda. Di sampingnya, seorang lelaki tua dengan rambut putih panjang—Panji.
"Kakek?" bisik Lintang.
Panji tersenyum. "Kau tahu, aku tidak pernah membayangkan bahwa ajaranku akan bertahan selama ini."
Kirana terharu. "Kakek, aku membaca babad. Aku tahu perjuangan Kakek."
"Perjuanganku tidak seberapa, Nak. Yang berat adalah menjaga. Mempertahankan. Itu yang dilakukan oleh generasi setelah aku. Termasuk ibumu. Termasuk kau."
"Aku takut, Kakek. Aku tidak sekuat Kakek."
Panji menggeleng. "Kau tidak perlu sekuat aku. Kau hanya perlu setulus aku."
Kirana menangis.
"Jagalah desa ini, Nak. Jagalah sendang. Jagalah kain panji. Dan jagalah pusaka digital yang ibumu buat. Karena itu semua adalah panji yang tak pernah padam."
Panji menghilang.
Kirana terbangun. Wajahnya basah. Ia memegang tablet di samping bantalnya. Tablet itu hangat.
"Kakek," bisiknya. "Aku akan menjaganya. Janji."
Sekar duduk di tepi Sendang Kiskenda, seorang diri. Langit malam cerah. Bintang-bintang bersinar. Tidak jatuh kali ini. Hanya bersinar terang.
Ia memegang jimat Tumbal Kirana di lehernya. Jimat itu hangat.
"Kakek buyut," bisiknya. "Aku sudah melakukan tugasku. Aku sudah menjaga desa. Aku sudah mewariskan pusaka. Sekarang, aku lelah."
Angin bertiup lembut.
"Aku ingin pulang, Kakek. Aku ingin beristirahat."
Ia memejamkan mata.
Bintang di timur berkedip lebih terang dari biasanya.
Seperti memanggil. Seperti menyambut. Seperti cinta yang tak pernah mati.
Sekar meninggal dua minggu kemudian, dengan tenang, dalam tidurnya, di kursi bambu di teras rumah—tempat yang sama di mana Panji dan Mintarsih dulu menghabiskan masa tua mereka. Wajahnya tersenyum. Tangannya memegang kain panji. Tablet pusaka digital ada di sampingnya.
Seluruh desa berkabung. Kirana memimpin pemakaman. Ia menangis di sisi makam ibunya.
"Bu, kau sudah bersama Kakek sekarang. Istirahatlah. Aku akan menjaga desa ini. Aku akan menjaga pusaka. Aku tidak akan mengecewakan."
Bimo dan Wulan menangis di belakang. Mbah Tirta memimpin doa.
Dan di langit, bintang-bintang mulai jatuh. Ribuan. Puluhan ribu.
Malam seribu bintang yang ketiga belas.
Seperti malam ketika Panji dilahirkan. Seperti malam ketika ia menikah. Seperti malam ketika ia mati.
Seperti siklus yang tidak pernah berakhir.
Seperti panji yang tak pernah padam.
Bab 50: Panji Seribu Bintang (Penutup Sejati)
Tahun 2125. Matahari terbit di atas Desa Sumbermaya seperti biasa. Kabut tipis menyelimuti sawah-sawah yang menghijau. Burung-burung berkicau di dahan-dahan pohon beringin. Sendang Kiskenda masih bening, airnya biru keemasan, ikan-ikan kecil berenang riang.
Desa itu telah berubah dalam dua abad terakhir. Rumah-rumah panggung kini berdampingan dengan bangunan modern berarsitektur hijau. Jalan desa diaspal dengan material ramah lingkungan. Panel surya menghiasi atap-atap rumah. Tapi semangatnya tidak berubah. Adat masih dijunjung. Leluhur masih dihormati. Panji masih berkibar.
Lintang—putri Sekar, keturunan kesepuluh dari Panji dan Mintarsih—kini berusia dua puluh lima tahun. Ia baru saja menyelesaikan studi doktoralnya di bidang ilmu komputer dan warisan budaya. Ia kembali ke desa untuk mengabdi, seperti yang diajarkan ibunya.
Ia membawa sebuah proyek besar: Museum Virtual Panji Kirana —sebuah platform realitas virtual yang memungkinkan pengguna dari seluruh dunia merasakan pengalaman hidup di Desa Sumbermaya, mengikuti jejak perjuangan Panji, duduk di bawah pohon beringin, dan mendengar bisikan leluhur.
Tapi sebelum ia meluncurkan proyek itu, ia ingin melakukan sesuatu yang lebih sederhana, lebih pribadi. Ia ingin duduk di tepi Sendang Kiskenda, seorang diri, pada malam seribu bintang yang keempat belas. Ia ingin merenung. Ia ingin berdoa. Ia ingin mengucapkan terima kasih pada semua leluhurnya.
Malam itu, langit cerah. Bintang-bintang mulai jatuh satu per satu. Kirana memegang jimat Tumbal Kirana di lehernya—jimat yang telah diwariskan dari generasi ke generasi, dari Panji ke Baskara, dari Baskara ke Kirana (neneknya), dari Kirana ke Sekar, dari Sekar ke dirinya.
Jimat itu hangat.
"Kakek buyut," bisiknya. "Aku di sini. Aku anak cucumu. Aku membaca kisahmu. Aku bangga menjadi keturunanmu."
Air sendang beriak kecil.
"Aku akan menjaga desa ini. Aku akan menjaga sendang. Aku akan menjaga panji. Aku berjanji."
Bintang jatuh melesat.
Seperti senyum. Seperti restu. Seperti cinta yang tak pernah mati.
Keesokan paginya, Kirana memanggil seluruh warga desa ke balai. Mereka datang dengan antusias. Bimo dan Wulan yang kini sudah setengah baya, duduk di barisan depan. Mbah Tirta sudah tiada, digantikan oleh Mbah Karta—keturunan keenam dari Pak Tani.
"Bapak, Ibu, saudara-saudara," ucap Kirana lantang. "Hari ini saya ingin mengumumkan sesuatu."
Warga berbisik.
"Setelah dua abad perjuangan, kita masih di sini. Desa kita masih berdiri. Sendang kita masih bening. Adat kita masih hidup."
Warga bertepuk tangan.
"Saya ingin mengajak kita semua untuk merayakan. Bukan dengan pesta mewah. Tapi dengan upacara adat sederhana. Membersihkan sendang bersama. Menabur bunga di makam leluhur. Dan di malam hari, kita akan menari di bawah pohon beringin, di bawah panji seribu bintang."
Bimo berdiri. "Lintang, apa arti semua ini?"
Kirana tersenyum. "Ini adalah perayaan bahwa kita masih hidup. Bahwa perjuangan belum usai, tapi kita tidak pernah menyerah. Bahwa panji ini tidak akan pernah padam."
Mbah Karta berdiri dengan tongkat. "Nak, kakek buyutku dulu bercerita tentang perayaan serupa. Waktu itu, Panji masih muda. Ia baru saja memenangkan pertarungan melawan Rama."
Kirana mengangguk. "Sekarang, kita merayakan kemenangan yang berbeda. Kemenangan melawan kapitalisme digital. Kemenangan melawan pengkhianatan dari dalam. Kemenangan untuk tetap menjadi diri sendiri."
Warga bersorak.
Pagi itu, seluruh warga desa turun ke Sendang Kiskenda. Mereka membawa sapu lidi, ember, dan kain lap. Anak-anak kecil ikut membantu. Tertawa riuh memecah kesunyian.
Kirana memimpin. Ia masuk ke air sendang, merasakan dinginnya air yang tidak pernah berubah selama dua abad.
"Ini sendang yang sama yang dilihat oleh Panji," katanya pada Bimo yang berdiri di tepi.
Bimo tersenyum. "Dua abad, Lin. Luar biasa."
"Ceritanya akan terus hidup. Selama kita menjaganya."
Mereka bekerja bergotong royong. Mengambil lumut. Menyapu daun kering. Memastikan air tetap jernih.
Wulan yang duduk di tepi sambil memegang ember, berkata, "Lintang, apa kau percaya bahwa sendang ini dijaga oleh leluhur?"
Kirana mengangguk. "Aku percaya, Lan. Bukan secara mistis. Tapi secara nyata. Leluhur kita menjaga dengan cara mewariskan nilai-nilai. Dengan cara mengajarkan kita untuk tidak serakah. Dengan cara mengingatkan kita bahwa alam bukan musuh, tapi sahabat."
Wulan mengangguk. "Makasih, Lin. Aku jadi ingat lagi ajaran-ajaran dulu."
Setelah sendang bersih, Kirana memimpin ziarah ke makam leluhur. Mereka berjalan beriringan, membawa bunga dan dupa.
Pertama, ke makam Panji dan Mintarsih. Batu nisannya masih berdiri kokoh, meskipun tulisannya nyaris tak terbaca. Kirana berlutut. Ia menaburkan bunga.
"Kakek, Nenek. Kami datang. Kami anak cucu kalian. Desa ini masih aman. Kami akan terus menjaganya."
Kedua, ke makam Jojo. Makamnya sederhana, hanya batu hitam dengan ukiran nama. Tapi setiap tahun, warga selalu menabur bunga paling banyak di makam ini.
"Paman Jojo, terima kasih untuk pengorbananmu. Tanpamu, mungkin desa ini sudah hancur."
Ketiga, ke makam Baskara, Sekar, dan leluhur lainnya. Satu per satu Kirana berdoa.
Bimo yang berdiri di belakang berkata, "Lin, aku merinding. Rasanya seperti ada yang memperhatikan kita."
Kirana tersenyum. "Mereka memperhatikan, Bimo. Mereka selalu memperhatikan."
Malam tiba. Langit gelap tanpa bulan, tapi bintang-bintang bersinar terang. Seluruh warga desa berkumpul di bawah pohon beringin—pohon yang sama yang dulu menjadi saksi sumpah tiga bocah.
Pohon itu kini sangat besar. Akarnya menjalar ke mana-mana, seperti tangan-tangan yang melindungi. Daunnya lebat, meneduhkan seluruh lapangan.
Kirana berdiri di depan. Di tangannya, ia memegang kain panji tua.
"Malam ini, kita berkumpul di bawah pohon beringin. Tempat di mana Panji, Mintarsih, dan Jojo berjanji setia. Tempat di mana semuanya dimulai."
Warga diam, khidmat.
"Aku akan membacakan penggalan babad. Tentang malam ketika mereka bertiga bersumpah."
Kirana membuka tabletnya—pusaka digital yang dibuat ibunya. Ia membaca dengan suara lantang.
"Aku, Panji, anak Sastro, bersumpah. Aku, Mintarsih, anak Kartiman, bersumpah. Aku, Jojo, anak Burhan, bersumpah. Bahwa kami bertiga akan bersahabat selamanya. Tidak akan saling meninggalkan. Tidak akan saling menyakiti. Suka dan duka bersama. Sampai kapan pun."
Warga terharu. Beberapa menangis.
Bimo berkata, "Lin, apa janji itu masih berlaku sampai sekarang?"
Kirana mengangguk. "Janji itu tidak pernah mati, Bimo. Ia hidup dalam diri kita. Dalam setiap tindakan kita. Dalam setiap keputusan kita untuk saling membantu, saling memaafkan, saling menjaga."
Setelah pembacaan babad, warga mulai menari. Tarian tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Gerakannya sederhana, tapi penuh makna. Menggambarkan siklus kehidupan: menanam, menuai, berduka, bersukacita.
Kirana menari di tengah, dikelilingi oleh warga. Ia tidak menari dengan indah, tapi dengan hati.
Wulan bergabung. Bimo ikut meskipun kaku. Anak-anak kecil tertawa riang.
Di atas mereka, bintang-bintang jatuh silih berganti. Malam seribu bintang yang keempat belas.
Mbah Karta yang duduk di kursi roda, menitikkan air mata. "Indah," bisiknya. "Seperti dulu, ketika aku masih kecil."
Seorang anak bertanya pada ibunya, "Bu, kenapa bintang jatuh?"
"Ibu tidak tahu, Nak. Tapi kakek buyut ibu dulu bilang, bintang jatuh adalah air mata leluhur yang bahagia melihat anak cucunya tetap bersatu."
Anak itu tersenyum. "Kalau begitu, aku akan tersenyum pada bintang, Bu."
"Kenapa?"
"Supaya leluhur bahagia."
Ibunya memeluk anak itu.
Setelah tarian usai, warga pulang satu per satu. Kirana dan Bimo duduk di tepi Sendang Kiskenda. Airnya biru keemasan, memantulkan cahaya bintang.
"Lin," panggil Bimo.
"Apa?"
"Apa kau takut? Masa depan. Desa ini. Semua tanggung jawab yang kau pikul."
Kirana menghela napas. "Takut, Bimo. Sangat takut. Tapi kakek buyutku dulu juga takut. Ia tidak pernah menyembunyikannya."
"Lalu apa yang membuatnya kuat?"
"Bukan kekuatan. Tapi keyakinan. Bahwa ia tidak sendirian. Ada leluhur di belakangnya. Ada keluarga di sampingnya. Ada warga di sekelilingnya."
Bimo mengangguk.
"Dan sekarang, aku juga tidak sendirian. Ada kau. Ada Wulan. Ada Mbah Karta. Ada semua warga. Kalau kita bersatu, tidak ada yang bisa mengalahkan kita."
Bimo tersenyum. "Aku akan selalu di sini, Lin. Membantu. Menjaga. Seperti Jojo dulu."
"Tapi jangan mati seperti Jojo, Bimo. Aku tidak kuat kehilangan sahabat."
Mereka berdua tertawa.
Mbah Karta minta diantar ke sendang oleh cucunya. Ia ingin bicara dengan Kirana berdua.
"Nak, duduklah di sampingku."
Kirana duduk di kursi roda itu.
"Aku sudah tua, Lin. Aku tidak akan lama lagi. Tapi aku tenang. Karena kau di sini."
"Mbah..."
Mbah Karta memotong. "Dengarkan pesanku. Jaga adat. Tapi jangan kaku. Adat hidup, ia berubah. Yang penting ruhnya tetap sama."
"Apa ruhnya, Mbah?"
"Gotong royong. Saling menghormati. Tidak serakah. Itu intinya. Panji dulu mengajarkan itu. Mintarsih menuliskan itu. Sekar melestarikan itu. Sekarang giliranmu."
Kirana menangis. "Aku akan menjaganya, Mbah. Janji."
Mbah Karta tersenyum. "Aku tahu. Aku percaya."
Malam semakin larut. Bintang-bintang mulai berhenti jatuh. Hanya satu yang tersisa—bintang paling terang di timur.
Kirana memandangnya. "Kakek, apakah itu kau?"
Bintang itu berkedip.
"Aku akan melanjutkan perjuanganmu. Aku tidak akan mengecewakan."
Ia memegang jimat di lehernya. Jimat itu hangat.
"Terima kasih untuk semuanya. Untuk perjuangan. Untuk pengorbanan. Untuk cinta."
Ia berdiri. Ia berjalan pulang.
Di belakangnya, bintang terakhir jatuh.
Melesat pelan. Anggun. Penuh makna.
Seperti senyum perpisahan. Seperti janji yang tidak pernah mati.
Fajar menyingsing. Langit timur memerah. Kirana masih duduk di teras rumahnya—rumah panggung di ujung barat yang sama, yang telah berdiri selama dua abad.
Bimo datang dengan segelas kopi. "Lin, kau tidak tidur?"
"Tidak bisa, Bimo. Pikiranku penuh."
"Pikirkan apa?"
"Tentang masa depan. Tentang bagaimana kita akan menjaga desa ini di era yang terus berubah."
Bimo duduk di sampingnya. "Kita akan menjaga bersama. Seperti yang diajarkan leluhur."
Kirana tersenyum. "Kau benar."
Mereka berdua diam, menikmati kopi, menikmati fajar.
Wulan datang membawa jajan pasar. "Sarapan, kalian!"
Mereka bertiga tertawa.
Kirana memandang sawah-sawah yang mulai keemasan. Memandang sendang yang biru keemasan. Memandang pohon beringin yang kokoh.
"Kakek," bisiknya. "Kami masih di sini. Kami akan terus di sini. Sampai kapan pun."
Angin pagi bertiup. Daun-daun bergoyang.
Seperti bisikan. Seperti doa. Seperti restu.
Kirana meluncurkan Museum Virtual Panji Kirana pada tahun 2126. Platform itu digunakan oleh jutaan orang di seluruh dunia. Mereka belajar tentang Panji, tentang Mintarsih, tentang Jojo, tentang perjuangan melawan ketidakadilan dalam berbagai bentuknya.
Desa Sumbermaya menjadi pusat studi warisan budaya. Akademisi, peneliti, dan wisatawan datang dari berbagai negara. Mereka belajar tentang kearifan lokal, tentang ekonomi adil luhur, tentang bagaimana sebuah desa kecil bisa bertahan selama dua abad melawan kapitalisme dan korupsi.
Kirana tidak pernah berhenti bekerja. Ia mengajar di sekolah adat modern, mengembangkan teknologi baru, dan terus menjaga adat.
Ia menikah dengan Bimo pada tahun 2127. Wulan menjadi saksi. Seluruh desa hadir.
Di malam pernikahan mereka, bintang jatuh lagi. Malam seribu bintang yang kelima belas.
Kirana memandang langit. "Kakek," bisiknya. "Kau tersenyum?"
Bintang jatuh melesat.
Seperti jawaban. Seperti restu. Seperti cinta yang tak pernah mati.
EPILOG
Catatan dari Masa Depan (Tahun 2150)
Aku, Lintang—cicit dari Kirana sebelumnya, keturunan kedua belas dari Panji dan Mintarsih—menulis catatan ini di tepi Sendang Kiskenda. Airnya masih biru keemasan. Bintang-bintang mulai muncul satu per satu. Tidak jatuh malam ini. Hanya bersinar. Terang. Damai.
Aku baru saja selesai membaca babad yang ditulis oleh Mintarsih dua abad lalu. Aku menangis. Aku tersenyum. Aku bangga.
Desa Sumbermaya masih berdiri. Sendang Kiskenda masih bening. Pohon beringin masih kokoh. Panji masih berkibar.
Kami tidak pernah menjual tanah adat. Kami tidak pernah mengorbankan masa depan untuk keuntungan sesaat. Kami tidak pernah melupakan sejarah.
Perjuangan melawan ketidakadilan tidak pernah usai. Bentuknya berubah, tapi esensinya sama. Dulu tanah. Lalu data. Sekarang? Mungkin sesuatu yang lain. Tapi kami siap. Karena kami punya panji.
Panji seribu bintang.
Panji yang tak pernah padam.
TAMAT
Anang
30 Januari 2025 19:28:34
Lanjutkan mas... Semoga website desa pian semakin maju...