MAWAR YANG TUMBUH DI ATAS LUKA
Sebuah Kisah tentang Kehilangan, Pengorbanan, dan Cinta yang Mekar Setelah Badai
Oleh: Slamet Riyadi
DISCLAIMER
Novel ini merupakan karya fiksi. Nama tokoh, peristiwa, dialog, dan konflik yang terdapat di dalam cerita merupakan hasil imajinasi penulis. Apabila terdapat kesamaan nama, tempat, atau peristiwa dengan kejadian nyata, hal tersebut semata-mata merupakan kebetulan.
Latar Kota Kuala Kapuas, berbagai kawasan, ikon kota, serta destinasi wisatanya digunakan sebagai unsur pendukung cerita untuk memperkuat suasana dan karakter narasi.
PROLOG
Mawar yang Tumbuh di Atas Luka
Tidak semua bunga tumbuh di taman yang subur.
Ada bunga yang lahir dari tanah yang retak karena kemarau panjang.
Ada bunga yang tumbuh di antara reruntuhan harapan.
Dan ada mawar yang mekar tepat di atas luka yang belum sepenuhnya sembuh.
Di Kota Kuala Kapuas, di tepian Sungai Kapuas yang tak pernah berhenti mengalir, lima anak muda dipertemukan oleh takdir.
Mereka datang dengan luka masing-masing.
Mereka mencintai.
Mereka kehilangan.
Mereka berkorban.
Dan ketika badai kehidupan menghancurkan segalanya, mereka harus memilih:
bertahan bersama luka...
atau menemukan cinta yang tumbuh dari puing-puing kehancuran.
BAB I
Senja di Dermaga KP3
Senja selalu memiliki cara yang unik untuk membuat seseorang mengenang sesuatu.
Kadang ia membawa pulang kebahagiaan.
Kadang ia menyeret kembali luka-luka yang selama ini berusaha dilupakan.
Dan bagi Herlambang, senja di Kota Kuala Kapuas selalu memiliki satu nama yang tak pernah bisa ia lepaskan dari ingatan.
Amanda.
Langit sore itu membentang jingga di atas Sungai Kapuas yang tenang. Cahaya matahari yang mulai tenggelam memantul di permukaan air, menciptakan kilauan keemasan yang bergerak mengikuti riak kecil sungai.
Di kawasan Dermaga KP3 Kuala Kapuas, aktivitas masyarakat mulai melambat. Beberapa perahu motor melintas membawa penumpang dari seberang sungai. Pedagang kaki lima mulai menata dagangan mereka di sepanjang tepian. Anak-anak berlarian sambil tertawa di area terbuka dekat dermaga.
Suasana itu terasa hidup.
Namun di antara keramaian tersebut, seorang pemuda berdiri sendiri di pagar pembatas dermaga.
Namanya Herlambang.
Usianya dua puluh enam tahun.
Tubuhnya tinggi dengan kulit sawo matang khas anak sungai. Wajahnya tidak bisa disebut tampan seperti aktor film, tetapi sorot matanya selalu memancarkan keteduhan yang membuat orang mudah merasa nyaman berada di dekatnya.
Ia mengenakan kemeja lengan panjang berwarna biru tua yang digulung sampai siku.
Tatapannya mengarah ke sungai.
Entah apa yang sedang dipikirkannya.
Atau mungkin seseorang yang sedang dipikirkannya.
"Herlambang!"
Suara seorang perempuan memecah lamunannya.
Ia menoleh.
Seorang gadis berlari kecil menghampirinya sambil melambaikan tangan.
Rambut panjangnya bergerak mengikuti langkahnya.
Wajahnya cerah.
Matanya berbinar.
Senyumnya mampu membuat siapa saja lupa pada kesedihan.
Amanda.
Seperti biasa.
Selalu datang bersama cahaya.
"Kamu ngelamun lagi?" tanya Amanda sambil berdiri di sampingnya.
Herlambang tersenyum kecil.
"Enggak."
"Bohong."
"Kenapa?"
"Soalnya setiap aku datang, kamu selalu kelihatan kayak orang yang lagi mikirin beban negara."
Amanda tertawa.
Herlambang ikut tertawa meskipun sebenarnya tidak sepenuhnya mendengarkan.
Karena setiap kali Amanda berada di dekatnya, ia selalu sibuk mengendalikan perasaannya sendiri.
Perasaan yang sudah lama tumbuh.
Terlalu lama.
Dan terlalu dalam.
Namun tidak pernah berani ia ungkapkan.
Tak lama kemudian, dua orang lainnya datang dari arah taman kota.
Seorang perempuan berambut sebahu yang mengenakan jaket abu-abu.
Dan seorang lelaki bertubuh besar yang selalu membawa kamera ke mana-mana.
Mereka adalah Kirana dan Hendra.
Kirana melambaikan tangan.
"Maaf telat!"
"Biasalah," sahut Amanda. "Kalau Kirana nggak telat, berarti dunia sedang tidak baik-baik saja."
"Woy!"
Mereka tertawa bersama.
Hendra kemudian mengangkat kameranya.
"Jangan bergerak."
Klik.
Klik.
Klik.
"Aku belum siap!" protes Amanda.
"Justru foto terbaik itu yang alami."
"Aku hapus nanti."
"Coba aja kalau berani."
Suasana semakin hangat.
Persahabatan mereka sudah berlangsung sejak masa kuliah.
Meski memiliki karakter berbeda-beda, mereka selalu menemukan alasan untuk berkumpul.
Amanda yang ceria.
Kirana yang tegas.
Hendra yang humoris.
Dan Herlambang yang lebih banyak mendengarkan dibanding berbicara.
Mereka adalah empat sahabat yang hampir tidak pernah terpisahkan.
Setidaknya sampai hari itu.
Hari ketika takdir mulai menyusun cerita yang kelak mengubah hidup mereka semua.
Menjelang malam, mereka memutuskan berjalan menyusuri tepian Sungai Kapuas.
Lampu-lampu mulai menyala.
Pantulan cahaya di permukaan sungai terlihat seperti ribuan bintang yang jatuh ke air.
Amanda berjalan paling depan.
Ia selalu bersemangat jika membicarakan mimpi-mimpinya.
"Aku pengen suatu hari nanti bisa keliling Indonesia."
"Kamu bahkan belum pernah ke Kalimantan Timur," kata Hendra.
"Makanya itu."
"Terus uangnya dari mana?"
Amanda tertawa.
"Nanti juga ada jalannya."
"Kata orang yang saldo rekeningnya sering menyentuh titik kritis."
Semua tertawa.
Termasuk Herlambang.
Namun diam-diam ia memperhatikan Amanda.
Setiap gerakannya.
Setiap senyumnya.
Setiap cara ia memandang masa depan.
Tanpa Amanda sadari, Herlambang telah menghabiskan bertahun-tahun untuk mencintainya dalam diam.
Tidak pernah meminta balasan.
Tidak pernah berharap terlalu jauh.
Ia hanya ingin Amanda bahagia.
Meski mungkin kebahagiaan itu tidak bersamanya.
Malam semakin turun.
Angin sungai bertiup lebih dingin.
Ketika mereka berhenti di ujung dermaga, Amanda tiba-tiba memandang langit yang mulai gelap.
"Warna senja hari ini bagus banget."
"Iya," jawab Kirana.
"Aku suka senja."
"Kenapa?" tanya Hendra.
Amanda tersenyum.
"Karena senja mengajarkan satu hal."
"Apa?"
"Bahwa sesuatu yang indah pun harus rela pergi."
Mereka terdiam.
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun entah mengapa membuat Herlambang merasa ada sesuatu yang mengusik hatinya.
Seolah-olah semesta sedang memberikan isyarat.
Bahwa tidak semua yang dicintai akan bisa dimiliki.
Bahwa tidak semua yang diperjuangkan akan tetap tinggal.
Dan bahwa suatu hari nanti, badai besar akan datang menghancurkan kehidupan mereka.
Namun malam itu, mereka belum mengetahuinya.
Mereka masih tertawa.
Masih bercanda.
Masih menikmati persahabatan yang tampak begitu sempurna.
Tanpa menyadari bahwa takdir telah berdiri di kejauhan.
Menunggu waktu yang tepat untuk menguji hati mereka.
Dan di antara cahaya lampu dermaga yang berpendar di atas Sungai Kapuas, sebuah kisah panjang tentang kehilangan, pengorbanan, luka, dan cinta mulai perlahan dituliskan oleh waktu.
BAB II
Lelaki yang Selalu Datang Terlambat
Pagi di Kota Kuala Kapuas selalu dimulai dengan cara yang sederhana.
Suara mesin klotok yang melintas di Sungai Kapuas.
Riuh pedagang yang membuka lapak di pasar.
Aroma kopi dari warung-warung kecil di pinggir jalan.
Dan embun yang masih menggantung di dedaunan sebelum matahari sepenuhnya menguasai langit.
Namun bagi Herlambang, pagi itu terasa berbeda.
Semalam, setelah pertemuan mereka di Dermaga KP3, kalimat Amanda terus berputar di kepalanya.
"Karena sesuatu yang indah pun harus rela pergi."
Kalimat sederhana.
Tetapi entah mengapa terasa seperti pertanda.
Sejak kecil, Herlambang bukan tipe orang yang pandai mengungkapkan isi hatinya.
Ia lebih sering memendam daripada bercerita.
Lebih sering mendengarkan daripada didengarkan.
Dan lebih sering mengalah daripada memaksa.
Sifat itulah yang membuat banyak orang menyukainya.
Namun sifat itu pula yang selama bertahun-tahun membuatnya tidak pernah berani mengatakan satu hal yang paling ingin ia katakan kepada Amanda.
Bahwa ia mencintainya.
Pukul delapan pagi.
Kafe kecil di kawasan Jalan Tambun Bungai mulai ramai.
Amanda sudah duduk di meja dekat jendela.
Di depannya terdapat secangkir kopi susu dan sebuah laptop yang terbuka.
Jari-jarinya bergerak cepat di atas papan ketik.
Sesekali ia mengernyitkan dahi.
Sesekali tersenyum sendiri.
Lima belas menit berlalu.
Orang yang ditunggu belum datang.
Amanda melirik jam tangan.
Lalu menghela napas panjang.
"Telat lagi..."
Tidak perlu berpikir lama.
Ia sudah tahu siapa penyebabnya.
Herlambang.
Lelaki yang selalu datang terlambat.
Sepuluh menit kemudian.
Pintu kafe terbuka.
Seorang lelaki masuk dengan wajah sedikit panik.
Kemeja putih.
Tas selempang hitam.
Dan rambut yang tampak belum sempat dirapikan dengan sempurna.
Herlambang.
"Aku minta maaf..."
Amanda langsung menyilangkan tangan.
"Berapa menit?"
"Dua puluh."
"Tiga puluh."
"Dua puluh lima."
"Tiga puluh dua."
Herlambang tersenyum kaku.
Amanda menggelengkan kepala.
"Aku heran, kenapa kamu selalu telat."
"Macet."
"Kuala Kapuas?"
"Ban bocor."
"Kamu naik motor baru."
"Bangun kesiangan."
"Nah, itu baru alasan yang masuk akal."
Amanda tertawa.
Herlambang ikut tertawa.
Meski dalam hati ia sadar.
Amanda benar.
Ia memang sering terlambat.
Bukan hanya terlambat datang ke pertemuan.
Tetapi juga terlambat dalam banyak hal.
Terlambat menyampaikan perasaan.
Terlambat mengambil keputusan.
Terlambat memperjuangkan apa yang sebenarnya sangat ia inginkan.
Mereka menghabiskan pagi itu membahas banyak hal.
Pekerjaan.
Rencana masa depan.
Cerita-cerita kecil yang sering kali tidak penting tetapi selalu menyenangkan untuk dibicarakan bersama.
Amanda selalu menjadi pendengar yang baik.
Dan Herlambang selalu menikmati setiap detik kebersamaan mereka.
Kadang-kadang ia bertanya pada dirinya sendiri.
Apa Amanda pernah menyadari bahwa cara ia memandangnya berbeda dari cara seorang sahabat memandang sahabatnya?
Mungkin tidak.
Atau mungkin Amanda sengaja tidak ingin tahu.
Menjelang siang.
Ponsel Amanda berdering.
Wajahnya langsung berubah cerah.
Sangat cerah.
Senyum yang muncul berbeda dari biasanya.
Herlambang memperhatikannya diam-diam.
"Siapa?" tanyanya.
Amanda tersenyum.
"Teman."
"Teman siapa?"
"Ya teman."
"Teman laki-laki?"
Amanda tertawa.
"Kenapa? Cemburu?"
Herlambang langsung tersedak kopi.
Amanda semakin tertawa.
"Wajahmu lucu kalau gugup."
"Aku enggak gugup."
"Iya, iya."
Amanda kembali melihat layar ponselnya.
Lalu mulai mengetik balasan.
Jari-jarinya bergerak cepat.
Senyumnya tidak hilang.
Entah mengapa.
Ada sesuatu yang terasa tidak nyaman di dada Herlambang.
Perasaan yang sulit dijelaskan.
Seolah-olah ada seseorang yang perlahan memasuki ruang yang selama ini hanya dihuni oleh dirinya dan Amanda.
Sore harinya.
Mereka kembali berkumpul di Taman Askari.
Kirana sudah lebih dulu datang.
Hendra sibuk memotret suasana taman.
Anak-anak bermain sepeda.
Pedagang menjajakan makanan.
Keluarga-keluarga duduk menikmati sore.
Kuala Kapuas terlihat begitu damai.
Namun kedamaian itu tidak berlangsung lama.
Karena untuk pertama kalinya, Amanda membawa seseorang.
Seorang lelaki asing.
Tubuhnya tinggi.
Berpenampilan rapi.
Wajahnya bersih.
Dan senyumnya penuh percaya diri.
Amanda melambaikan tangan.
"Hai semuanya!"
Keempat sahabat itu menoleh.
Amanda berjalan mendekat.
Di sampingnya, lelaki itu ikut melangkah.
"Nih, kenalin."
Amanda tersenyum.
"Ini Jonatan."
Herlambang merasa sesuatu dalam dirinya berhenti sesaat.
Seperti detik jam yang mendadak macet.
Jonatan mengulurkan tangan.
"Halo."
Hendra langsung menyambut ramah.
Kirana tersenyum sopan.
Namun Herlambang membutuhkan beberapa detik lebih lama sebelum akhirnya menjabat tangan lelaki itu.
"Herlambang."
"Senang kenal."
"Sama."
Jonatan tampak santai.
Mudah bergaul.
Pandai berbicara.
Dalam waktu singkat ia sudah bisa membuat semua orang tertawa.
Termasuk Amanda.
Terutama Amanda.
Dan untuk pertama kalinya sejak mengenal gadis itu, Herlambang melihat Amanda memandang seseorang dengan cara yang berbeda.
Cara yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Matahari mulai tenggelam.
Langit kembali berwarna jingga.
Sama seperti kemarin.
Namun perasaan Herlambang tidak lagi sama.
Di bangku taman itu, ia duduk sambil memperhatikan Amanda dan Jonatan yang sedang berbincang.
Tertawa.
Saling menggoda.
Saling memperhatikan.
Dan untuk pertama kalinya.
Sebuah ketakutan muncul di dalam hatinya.
Ketakutan yang selama ini selalu berhasil ia hindari.
Bagaimana jika suatu hari Amanda benar-benar jatuh cinta kepada orang lain?
Bagaimana jika orang itu bukan dirinya?
Bagaimana jika selama ini ia terlalu lama menunggu?
Terlalu lama diam?
Terlalu lama berharap?
Herlambang memandang langit yang perlahan gelap.
Lalu tersenyum pahit.
Mungkin selama ini ia bukan hanya lelaki yang selalu datang terlambat ke setiap pertemuan.
Mungkin ia juga lelaki yang terlambat menyatakan cinta.
Dan kadang-kadang...
orang yang datang terlambat hanya bisa menyaksikan kebahagiaan itu diberikan kepada orang lain.
Di kejauhan, Amanda tertawa lagi.
Suara yang selama ini menjadi alasan Herlambang bertahan.
Namun sore itu, suara yang sama mulai terasa seperti pisau yang perlahan menggores hatinya.
Tanpa darah.
Tanpa luka yang terlihat.
Tetapi cukup dalam untuk membuatnya sulit bernapas.
Sementara di atas Sungai Kapuas, senja kembali tenggelam.
Membawa serta sebuah pertanyaan yang belum memiliki jawaban.
Apakah Herlambang akan terus diam?
Ataukah ia akhirnya akan berani memperjuangkan cinta yang telah ia simpan selama bertahun-tahun?
BAB III
Gadis yang Menyukai Langit Senja
Ada orang yang menyukai pagi karena membawa harapan.
Ada yang menyukai malam karena menghadirkan ketenangan.
Namun Amanda selalu menyukai senja.
Baginya, senja adalah waktu yang paling jujur.
Ia tidak secerah pagi yang penuh janji.
Tidak pula segelap malam yang menyimpan misteri.
Senja adalah peralihan.
Tempat pertemuan antara perpisahan dan harapan.
Tempat langit mengajarkan bahwa sesuatu yang indah tidak harus dimiliki selamanya untuk menjadi berharga.
Dan mungkin karena itulah Amanda selalu merasa dekat dengan senja.
Tanpa pernah menyadari bahwa hidupnya sendiri kelak akan menjadi seperti langit senja itu.
Indah.
Namun menyimpan perpisahan.
Hari Sabtu itu, langit Kuala Kapuas tampak cerah.
Matahari bersinar lembut.
Angin dari Sungai Kapuas bertiup pelan membawa aroma air dan tanah yang khas.
Amanda berdiri di balkon lantai dua rumahnya yang sederhana di kawasan Selat Tengah.
Di tangannya terdapat secangkir teh hangat.
Matanya menatap langit.
Sejak kecil, Amanda memang memiliki kebiasaan yang aneh menurut sebagian orang.
Ia suka memperhatikan langit.
Pagi.
Siang.
Sore.
Bahkan malam.
Baginya, langit selalu memiliki cerita.
Dan setiap warna yang muncul seolah menyimpan pesan yang berbeda.
"Amanda!"
Suara ibunya terdengar dari bawah.
Amanda menoleh.
"Iya, Bu?"
"Mau sarapan atau mau menikah sama langit itu?"
Amanda tertawa kecil.
"Turun, Bu."
"Sudah dingin makanannya."
"Iya."
Amanda berjalan masuk ke dalam rumah sambil tersenyum.
Ibunya selalu mengatakan bahwa suatu hari nanti ia akan menemukan seseorang yang juga mencintai langit seperti dirinya.
Amanda hanya tertawa setiap kali mendengarnya.
Karena sejauh ini, ia belum pernah bertemu orang seperti itu.
Di mata banyak orang, Amanda adalah perempuan yang hampir sempurna.
Cantik.
Pintar.
Ramah.
Dan memiliki mimpi yang besar.
Ia bekerja sebagai staf administrasi pada sebuah perusahaan swasta di Kuala Kapuas.
Penghasilannya cukup baik.
Ia juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan komunitas literasi.
Namun di balik semua itu, Amanda menyimpan kegelisahan yang jarang diketahui orang lain.
Ia takut menjalani hidup yang biasa-biasa saja.
Takut terjebak dalam rutinitas tanpa makna.
Takut suatu hari menyesali impian yang tidak pernah diperjuangkannya.
Karena itulah ia selalu ingin melihat dunia lebih luas.
Ia ingin bepergian.
Menulis.
Mengenal banyak tempat.
Mengabadikan banyak cerita.
Mungkin terdengar sederhana.
Tetapi bagi Amanda, mimpi itu sangat berarti.
Sore harinya.
Amanda menerima pesan dari Jonatan.
Pesan yang membuat wajahnya tersenyum sejak pagi.
"Sore ini sempat ketemu?"
Amanda mengetik balasan.
"Di mana?"
Tak lama kemudian jawaban datang.
"Bukit Ngalangkang."
Amanda tersenyum.
Bukit Ngalangkang merupakan salah satu tempat favorit anak muda Kuala Kapuas untuk menikmati pemandangan kota dari ketinggian.
Dari sana, Sungai Kapuas terlihat membelah kota seperti pita panjang berwarna perak.
Saat senja, pemandangannya sangat indah.
Dan Amanda sangat menyukai tempat itu.
Menjelang pukul lima sore.
Amanda tiba di Bukit Ngalangkang.
Angin berembus lembut.
Langit mulai berubah warna.
Oranye.
Keemasan.
Lalu perlahan menjadi merah muda.
Jonatan sudah menunggu di salah satu gazebo.
Mengenakan kemeja hitam dan celana jeans.
Saat melihat Amanda datang, ia langsung berdiri.
"Kamu tepat waktu."
Amanda tertawa.
"Tentu saja."
"Beda dengan seseorang yang kita kenal."
Amanda langsung tahu siapa yang dimaksud.
"Herlambang?"
Jonatan mengangguk sambil tersenyum.
Amanda ikut tersenyum.
Entah mengapa nama Herlambang selalu membuatnya merasa nyaman.
Seperti rumah yang sudah lama dikenalnya.
Namun kenyamanan dan cinta adalah dua hal yang berbeda.
Setidaknya itulah yang selama ini ia yakini.
Mereka duduk berdampingan memandangi langit.
Beberapa saat tidak ada yang berbicara.
Hanya menikmati suasana.
Kemudian Jonatan membuka percakapan.
"Kamu benar-benar suka senja ya?"
Amanda mengangguk.
"Banget."
"Kenapa?"
Amanda tersenyum kecil.
Pertanyaan itu sudah terlalu sering ia dengar.
Namun jawabannya selalu sama.
"Karena senja itu jujur."
"Jujur bagaimana?"
"Dia tidak berusaha menjadi pagi."
"Dia juga tidak berusaha menjadi malam."
Jonatan memperhatikan wajah Amanda.
Amanda melanjutkan.
"Senja menerima dirinya apa adanya."
"Walaupun sebentar."
"Walaupun harus menghilang."
"Tapi tetap indah."
Jonatan tersenyum.
"Kamu unik."
Amanda tertawa kecil.
"Kata orang-orang juga begitu."
"Dan aku suka itu."
Kalimat itu membuat Amanda sedikit gugup.
Untuk pertama kalinya.
Sementara itu.
Di tempat lain.
Herlambang sedang duduk sendirian di tepian Sungai Kapuas dekat Dermaga KP3.
Ponselnya berada di samping.
Tidak ada pesan.
Tidak ada panggilan.
Ia tahu Amanda sedang pergi.
Ia juga tahu dengan siapa Amanda pergi.
Meski tidak ada yang memberitahunya secara langsung.
Perasaan kadang bisa mengetahui sesuatu lebih cepat daripada logika.
Herlambang memandangi air sungai yang terus mengalir.
Kemudian tersenyum tipis.
Pahit.
Sudah bertahun-tahun ia menyimpan perasaan itu.
Namun sampai hari ini.
Ia masih belum mampu mengatakannya.
Dan kini seseorang mulai memasuki kehidupan Amanda.
Seseorang yang tampaknya memiliki keberanian yang tidak pernah ia miliki.
Saat matahari hampir tenggelam sepenuhnya, Amanda berdiri di tepi bukit.
Angin meniup rambut panjangnya.
Langit di hadapannya begitu indah.
Jonatan berdiri beberapa langkah di sampingnya.
Kemudian berkata pelan.
"Amanda."
"Hm?"
"Aku senang bisa mengenalmu."
Amanda menoleh.
Tatapan mereka bertemu.
Beberapa detik yang terasa lebih lama dari seharusnya.
Lalu Amanda tersenyum.
"Aku juga."
Untuk pertama kalinya, ada getaran kecil di hatinya.
Getaran yang selama ini belum pernah muncul ketika bersama siapa pun.
Termasuk Herlambang.
Dan di saat yang sama, tanpa Amanda sadari, langkah takdir mulai bergerak semakin jauh.
Membawa dirinya menuju jalan yang tampak indah dari kejauhan.
Namun menyimpan badai yang belum terlihat.
Sebab tidak semua senja berakhir dengan malam yang tenang.
Ada senja yang menjadi pertanda datangnya hujan.
Ada senja yang menjadi awal dari kehilangan.
Dan ada senja yang diam-diam sedang menyiapkan luka bagi orang-orang yang sedang jatuh cinta.
Di langit Kuala Kapuas, warna jingga perlahan menghilang.
Meninggalkan sisa cahaya yang semakin redup.
Sementara itu, di hati Herlambang, sebuah ketakutan mulai tumbuh.
Ketakutan bahwa kali ini ia benar-benar akan kehilangan Amanda.
Sebelum sempat mengatakan bahwa ia mencintainya.
BAB IV
Kedatangan Jonatan
Tidak semua orang datang ke dalam hidup seseorang untuk menetap.
Sebagian datang hanya untuk singgah.
Sebagian datang untuk mengubah jalan cerita.
Dan sebagian lagi datang sebagai badai yang mula-mula terlihat seperti angin sepoi-sepoi.
Saat pertama kali bertemu Jonatan, tidak seorang pun menyangka bahwa lelaki itu kelak akan menjadi pusat dari begitu banyak kebahagiaan, air mata, pengorbanan, dan luka.
Termasuk Amanda.
Termasuk Herlambang.
Dan bahkan Jonatan sendiri.
Kuala Kapuas memasuki awal musim kemarau.
Langit biru membentang hampir setiap hari.
Aktivitas masyarakat di tepian Sungai Kapuas berlangsung seperti biasa.
Perahu-perahu kecil hilir mudik membawa penumpang dan barang.
Pedagang memenuhi kawasan pasar.
Anak-anak berlarian di lapangan terbuka dekat taman kota.
Namun bagi Amanda, beberapa minggu terakhir terasa berbeda.
Namanya semakin sering muncul di layar ponselnya.
Jonatan.
Pagi hari.
Siang hari.
Bahkan menjelang tidur malam.
Pesan-pesan mereka semakin panjang.
Obrolan-obrolan mereka semakin akrab.
Mula-mula tentang pekerjaan.
Kemudian tentang hobi.
Lalu tentang keluarga.
Dan akhirnya tentang mimpi-mimpi yang selama ini mereka simpan sendiri.
Jonatan ternyata bukan lelaki yang hanya pandai berbicara.
Ia juga pendengar yang baik.
Ia tahu kapan harus bercanda.
Tahu kapan harus serius.
Dan tahu bagaimana membuat Amanda merasa dihargai.
Hal yang perlahan membuat hati Amanda mulai terbuka.
Suatu sore mereka kembali bertemu.
Kali ini di kawasan wisata tepian Sungai Kapuas.
Langit sedang cerah.
Angin sungai bertiup lembut.
Amanda mengenakan blouse putih sederhana dan celana panjang berwarna krem.
Sedangkan Jonatan tampil rapi seperti biasanya.
Mereka berjalan menyusuri tepian sungai.
Sesekali berhenti untuk melihat perahu yang melintas.
Sesekali tertawa membicarakan hal-hal kecil.
"Aku selalu suka tempat seperti ini," kata Jonatan.
Amanda menoleh.
"Kenapa?"
"Tenang."
"Enggak banyak suara kendaraan."
"Dan sungai selalu punya cerita."
Amanda tersenyum.
"Persis seperti yang sering aku pikirkan."
"Berarti kita cocok."
Amanda tertawa kecil.
Namun diam-diam kalimat itu meninggalkan getaran yang tidak biasa di hatinya.
Di tempat lain.
Herlambang sedang duduk di kantor.
Tumpukan berkas berada di hadapannya.
Komputer menyala.
Telepon berdering beberapa kali.
Namun pikirannya sama sekali tidak berada di sana.
Pikirannya berada di tepian Sungai Kapuas.
Bersama seseorang yang tidak sedang bersamanya.
Ponselnya bergetar.
Pesan masuk dari Hendra.
"Lagi apa?"
"Kerja."
"Bohong."
"Kenapa?"
"Kalau kerja enggak mungkin balas secepat itu."
Herlambang tersenyum kecil.
Kemudian sebuah pesan lain muncul.
"Amanda lagi jalan sama Jonatan."
Senyumnya perlahan menghilang.
Meskipun sebenarnya ia sudah menduga.
Tetap saja terasa berbeda ketika mendengar kenyataan itu secara langsung.
Ada rasa sesak yang tidak bisa dijelaskan.
Bukan karena Amanda melakukan kesalahan.
Bukan pula karena Jonatan merebut sesuatu darinya.
Karena Amanda bukan miliknya.
Tidak pernah.
Namun hati tetaplah hati.
Ia tidak selalu tunduk pada logika.
Malam harinya.
Kelima sahabat itu kembali berkumpul di sebuah warung kopi dekat taman kota.
Amanda datang bersama Jonatan.
Untuk pertama kalinya.
Secara resmi.
Sebagai seseorang yang kini menjadi bagian dari lingkaran pertemanan mereka.
Jonatan duduk di antara mereka dengan santai.
Tidak canggung.
Tidak berusaha berlebihan.
Dalam waktu singkat ia berhasil membuat suasana hidup.
Hendra yang biasanya paling banyak bicara bahkan beberapa kali kalah cepat dalam melontarkan lelucon.
Amanda tampak bahagia.
Sangat bahagia.
Dan itu tidak luput dari perhatian Herlambang.
Mata Amanda terlihat berbeda.
Cara ia tersenyum berbeda.
Cara ia memandang Jonatan juga berbeda.
Seolah ada cahaya baru yang muncul di dalam dirinya.
Cahaya yang selama ini tidak pernah Herlambang lihat.
Di tengah obrolan, Jonatan tiba-tiba bertanya.
"Herlambang."
"Iya?"
"Kata Amanda kamu sahabat paling lamanya."
Amanda langsung tertawa.
"Dia itu sahabat yang paling sabar."
"Sabar atau terlalu pendiam?" tanya Jonatan.
"Pendiam."
"Kamu enggak pernah marah?"
Herlambang tersenyum.
"Kadang."
"Aku enggak percaya."
Semua tertawa.
Namun tidak seorang pun tahu bahwa saat itu Herlambang sedang berjuang keras menyembunyikan badai yang berkecamuk di dalam hatinya.
Malam semakin larut.
Satu per satu pengunjung mulai meninggalkan warung.
Ketika Amanda dan Jonatan berjalan menuju area parkir, Kirana memperhatikan Herlambang.
Sudah lama ia mengenalnya.
Terlalu lama.
Cukup lama untuk mengetahui kapan lelaki itu sedang berpura-pura baik-baik saja.
"Kamu sakit?" tanya Kirana.
Herlambang menoleh.
"Enggak."
"Kamu bohong."
Herlambang tertawa kecil.
"Kamu kebanyakan baca novel."
"Kamu cemburu ya?"
Herlambang terdiam.
Hanya beberapa detik.
Namun cukup bagi Kirana untuk mendapatkan jawabannya.
Perempuan itu menghela napas pelan.
Hatinya ikut terasa sakit.
Karena selama ini ia mencintai Herlambang dalam diam.
Dan sekarang ia menyaksikan lelaki itu mencintai Amanda dengan cara yang sama.
Diam-diam.
Tanpa keberanian.
Tanpa kepastian.
Tanpa balasan.
Malam itu, setelah semua pulang, Herlambang memilih berjalan sendiri menuju Dermaga KP3.
Lampu-lampu kota memantul di permukaan sungai.
Angin malam terasa lebih dingin dari biasanya.
Ia berdiri di ujung dermaga.
Memandangi air yang terus mengalir.
Tak pernah berhenti.
Tak pernah kembali.
Persis seperti waktu.
Dan mungkin seperti kesempatan.
Karena semakin hari, Amanda terlihat semakin dekat dengan Jonatan.
Sedangkan dirinya tetap berada di tempat yang sama.
Menjadi sahabat.
Menjadi pendengar.
Menjadi orang yang selalu ada.
Tetapi tidak pernah menjadi pilihan.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Herlambang mulai bertanya pada dirinya sendiri.
Apakah cinta yang terlalu lama disimpan akan tetap menjadi cinta?
Atau perlahan berubah menjadi penyesalan?
Di atas Sungai Kapuas, bulan mulai muncul dari balik awan.
Sementara jauh di dalam hati Herlambang, sebuah luka kecil mulai terbentuk.
Luka yang belum terlihat.
Namun kelak akan tumbuh semakin dalam.
Dan dari luka itulah, suatu hari nanti, akan tumbuh sebuah mawar yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
BAB V
Luka Pertama
Ada luka yang datang karena pengkhianatan.
Ada luka yang datang karena kehilangan.
Namun ada pula luka yang lahir dari sebuah kenyataan sederhana:
orang yang kita cintai ternyata sedang belajar mencintai orang lain.
Luka seperti itu tidak berdarah.
Tidak meninggalkan bekas yang terlihat.
Tetapi mampu membuat seseorang terjaga sepanjang malam, memandangi langit-langit kamar, sambil bertanya kepada dirinya sendiri di mana ia terlambat melangkah.
Dan bagi Herlambang, luka itu mulai tumbuh perlahan.
Hari demi hari.
Seperti retakan kecil pada kaca yang mula-mula nyaris tak terlihat, tetapi terus melebar hingga akhirnya menghancurkan seluruh permukaan.
Seminggu setelah pertemuan terakhir mereka di warung kopi, sesuatu berubah.
Bukan perubahan besar yang bisa langsung dilihat. Tapi perubahan kecil yang justru lebih menyakitkan karena terjadi diam-diam.
Awalnya hanya status WhatsApp.
Herlambang tidak sengaja melihat foto Amanda dan Jonatan di sebuah kafe. Pukul sembilan malam. Latar lampu-lampu kota yang memantul di sungai. Amanda tersenyum lebar. Jonatan di sampingnya, sama-sama memegang gelas minuman yang sama.
"Malam yang indah," tulis Amanda sebagai keterangan.
Herlambang menatap foto itu cukup lama. Lalu menggulir layar ke bawah. Menghindari godaan untuk melihat lagi.
Keesokan harinya, giliran cerita dari Hendra yang datang.
"Mampus lo, Lam," kata Hendra sambil menyandarkan tubuh di kursi kantor Herlambang. "Kemarin Jonatan jemput Amanda pulang. Bawa bunga lagi."
Herlambang tidak mengangkat wajah dari berkas yang sedang ia baca.
"Biasalah," jawabnya datar.
"Biasa? Bawa bunga mawar merah, Lam. Mawar merah itu bukan buat teman."
Diam.
Hendra menghela napas. "Lo nggak kenapa-kenapa?"
"Kenapa aku harus kenapa-kenapa?"
Hendra ingin berkata sesuatu. Tapi urung. Ia hanya menepuk pundak Herlambang lalu pergi.
Meninggalkan Herlambang sendirian dengan berkas yang sama. Halaman yang sama. Paragraf yang sama. Tidak maju-maju karena matanya sudah tidak fokus sejak tadi.
Dua hari kemudian, Kirana yang datang dengan cerita berbeda.
"Mereka jalan bareng lagi," kata perempuan itu pelan. Bukan bergosip. Hanya menyampaikan. Seperti seseorang yang melaporkan cuaca.
Mereka sedang duduk di kantin kampus tempat kerja Kirana. Herlambang datang meminjam buku. Padahal ia tidak benar-benar membutuhkan buku.
"Di mana?" tanyanya, berusaha terdengar biasa.
"Taman Askari. Kemarin sore."
Herlambang mengangguk. Taman Askari. Tempat favorit Amanda. Tempat favorit mereka dulu.
"Mereka keliatan bahagia," tambah Kirana. Matanya mencari-cari reaksi di wajah Herlambang.
Herlambang tersenyum. Senyum yang ia latih. "Baguslah."
Kirana tidak membantah. Tapi ia tahu. Karena ia sendiri sedang merasakan hal yang sama. Menyaksikan orang yang dicintai bahagia dengan orang lain. Dan tidak bisa berbuat apa-apa selain tersenyum.
Herlambang mulai menghindari pertemuan grup.
Bukan karena marah. Bukan karena benci. Tapi karena setiap kali melihat Amanda dan Jonatan bersama, ada sesuatu di dadanya yang terasa seperti ditekan perlahan. Tidak sakit. Tidak nyaman. Hanya sesak.
Tapi menghindar tidak semudah yang dibayangkan.
Karena Amanda mulai menyadari.
"Kamu jarang muncul," tulis Amanda dalam pesan. "Ayo kumpul lagi. Aku kangen."
Herlambang membaca pesan itu berulang kali. Jempolnya bergerak ke atas papan ketik. Lalu berhenti. Lalu bergerak lagi. Lalu berhenti lagi.
"Oke," balasnya akhirnya. Satu kata yang terasa seperti menelan duri.
Dua puluh empat jam kemudian.
Pukul sepuluh malam. Herlambang sedang sendirian di kamar ketika ponselnya berdering.
Nama Amanda muncul di layar.
Ia mengangkatnya dengan senyum yang sudah terukir sebelum suara Amanda terdengar. Sebuah kebiasaan lama. Sejak kuliah. Setiap Amanda menelepon, ia selalu tersenyum lebih dulu. Bahkan sebelum tahu kabar apa yang akan dibawa.
"Halo?"
"Herlambang, aku mau cerita."
Suara Amanda terdengar berbeda. Ada getar bahagia yang tidak biasa. Getar yang membuat jantung Herlambang berdetak lebih cepat. Bukan karena ikut bahagia. Tapi karena ia takut akan apa yang akan didengarnya.
"Apa?"
"Aku dan Jonatan..."
Amanda berhenti sejenak. Terdengar tarikan napas. Lalu ia melanjutkan dengan suara yang hampir berbisik, seperti seseorang yang sedang membagikan rahasia paling berharga dalam hidupnya.
"Aku rasa aku mulai suka sama dia."
Dunia Herlambang berhenti berputar.
Untuk beberapa detik ia tidak mampu berkata apa-apa. Ponselnya terasa dingin di telinga. Sementara dadanya terasa terbakar. Bukan api. Tapi sesuatu yang lebih panas. Lebih kering. Lebih menghancurkan.
"Herlambang? Masih di sana?"
"Iya." Suaranya terdengar aneh di telinganya sendiri. Seperti suara orang asing. Seperti suara yang keluar dari tubuh yang bukan miliknya.
"Kamu diam banget."
"Aku cuma... terkejut."
Bohong.
Ia tidak terkejut.
Ia sudah melihat tanda-tandanya sejak lama. Sejak Jonatan pertama kali muncul. Sejak Amanda mulai lebih sering menyebut nama itu. Sejak senyum Amanda mulai berbeda ketika membacakan pesan dari lelaki itu.
Yang membuatnya diam bukanlah keterkejutan.
Tapi rasa sakit yang tiba-tiba menyerbu tanpa peringatan. Rasa sakit yang ia pikir sudah ia persiapkan. Ternyata tidak ada persiapan yang cukup untuk mendengar langsung dari mulut Amanda bahwa hatinya telah berpindah ke orang lain.
"Kamu enggak marah kan?" tanya Amanda. Ada sedikit kekhawatiran di suaranya. Tapi juga kelegaan. Seperti seseorang yang akhirnya melepaskan beban.
"Enggak. Kenapa aku harus marah?"
Herlambang tersenyum. Meskipun Amanda tidak bisa melihatnya. Senyum yang ia latih selama bertahun-tahun. Senyum yang menyembunyikan segalanya. Senyum yang menjadi tameng ketika hatinya sedang hancur.
"Kamu kan sahabat terbaikku. Aku butuh restu kamu."
Restu.
Kata itu seperti pisau.
Amanda, bukan restu yang kamu butuhkan. Tapi keberanianku untuk mengatakan bahwa selama ini aku yang lebih dulu mencintaimu.
Tapi tidak ada satu pun kalimat itu keluar. Tertahan di tenggorokan. Berubah menjadi debu sebelum sempat diucapkan.
"Kamu dapat restuku."
Suara Herlambang terdengar datar. Sengaja dibuat datar. Agar tidak bergetar. Agar tidak pecah. Agar Amanda tidak curiga bahwa di seberang sana, ada seseorang yang hancur.
Amanda tertawa kegirangan di seberang sana.
"Makasih, Lam!"
Panggilan itu. Lam. Panggilan yang hanya Amanda yang boleh menggunakannya. Kini terasa seperti siksaan. Setiap suku kata adalah duri.
Mereka mengobrol beberapa menit lagi. Amanda bercerita tentang Jonatan. Tentang bagaimana lelaki itu memperhatikannya. Tentang bagaimana ia merasa nyaman. Tentang bagaimana ia merasa "ditemukan".
Herlambang mendengarkan semuanya. Mengangguk pada kalimat-kalimat yang tidak terlihat. Tersenyum pada nada kegirangan yang terus mengalir dari seberang.
Dan ketika telepon berakhir, ia masih memegang ponsel di telinga.
Suara putus.
Lalu sunyi.
Lalu ia menatap langit-langit kamar.
Lalu air mata pertama jatuh tanpa suara.
Lalu ia berbisik pada dirinya sendiri:
"Kamu terlambat lagi, Herlambang."
Kembali ke sore itu.
Sore itu, Herlambang duduk di sebuah bangku kayu di kawasan Taman Askari. Di tangannya terdapat segelas kopi dingin yang sudah lama tidak disentuh. Matanya memandang ke arah jalan setapak yang membelah taman.
Ia datang lebih awal. Bukan karena ingin cepat bertemu. Tapi karena ia ingin memiliki waktu sendiri sebelum harus berbagi ruang dengan mereka berdua.
Tiga puluh menit berlalu.
Lalu Amanda datang.
Ia tidak datang sendiri.
Jonatan berjalan di sampingnya, membawa dua gelas minuman. Senyum mereka mengembang bersamaan. Ada keserasian yang tidak bisa dipalsukan. Ada kebahagiaan yang tumpah dari cara mereka berjalan, cara mereka tertawa, cara mereka saling menatap seolah dunia hanya berisi mereka berdua.
Herlambang menggenggam gelas kopinya lebih erat. Menekan kukunya ke permukaan styrofoam hingga meninggalkan bekas. Hanya untuk merasakan sesuatu selain sakit yang menggerogoti dadanya.
"Hai!" Amanda melambaikan tangan.
Herlambang tersenyum. Atau setidaknya berusaha tersenyum.
"Hai."
"Kamu lama nunggu?"
"Baru sebentar."
Padahal hampir empat puluh menit. Tapi tidak ada gunanya mengatakan yang sebenarnya. Tidak ada gunanya mengatakan bahwa ia datang lebih awal karena ia butuh waktu untuk menenangkan diri sebelum melihat Amanda bersama Jonatan.
Amanda duduk di sebelahnya. Jonatan duduk di sisi lain.
Jarak yang biasanya ditempati Herlambang kini telah berubah.
Dan perubahan kecil itu terasa jauh lebih besar daripada yang terlihat.
"Kita tadi habis dari toko buku," kata Amanda.
"Masa?"
"Iya." Amanda mengeluarkan sebuah novel dari tasnya. Wajahnya tampak berbinar. "Sudah lama aku cari buku ini."
Jonatan tersenyum. "Hampir satu jam dia muter-muter di dalam toko."
Amanda tertawa. "Namanya juga cari harta karun."
"Kalau aku sih menyerah dari lima belas menit pertama."
Amanda kembali tertawa.
Herlambang ikut tersenyum. Namun di dalam dadanya ada sesuatu yang perlahan terasa sesak. Bukan hanya karena Jonatan tahu kebiasaan Amanda. Tapi karena Herlambang teringat sesuatu.
Dulu, saat mereka masih kuliah, Amanda pernah memintanya menemani berjam-jam mencari buku di toko yang sama. Herlambang tidak pernah mengeluh. Ia bahkan menikmatinya. Hanya untuk melihat Amanda tersenyum.
Kini Jonatan yang melakukan hal yang sama.
Dan Herlambang hanya bisa duduk di samping.
Menjadi penonton dalam hidupnya sendiri.
Menjelang magrib, mereka berjalan menuju tepian Sungai Kapuas. Langit mulai berubah warna menjadi oranye dan keemasan. Amanda seperti biasa berhenti beberapa kali untuk memotret senja.
Jonatan dengan sabar menunggu. Sesekali membantu mengambilkan sudut gambar yang lebih baik. Sekali waktu, ia menarik lengan Amanda agar tidak terlalu dekat dengan tepian dermaga yang licin.
Amanda tertawa. Tidak melepaskan.
Herlambang berjalan beberapa langkah di belakang. Diam.
Ia mencoba tidak memperhatikan. Tapi matanya terus tertarik pada Amanda. Pada cara perempuan itu menatap Jonatan. Pada cara ia menyentuh lengan Jonatan saat tertawa. Pada cara ia menggantungkan harapannya pada lelaki lain.
Hendra berjalan di sampingnya.
"Lo kenapa sih diem aja? Biasanya lo banyak gaya."
Herlambang tersenyum tipis. "Capek."
"Kerjaan lagi?"
Herlambang hanya mengangguk.
Ia tidak ingin berbohong lebih banyak dari yang sudah ia lakukan. Tapi ia juga tidak bisa mengatakan yang sebenarnya. Aku capek melihat mereka. Aku capek berpura-pura. Aku capek menjadi orang yang selalu mengalah.
Kirana memperhatikan semuanya dari kejauhan.
Perempuan itu melihat bagaimana rahang Herlambang mengeras setiap kali Amanda menyentuh Jonatan. Bagaimana napasnya terdengar lebih berat. Bagaimana matanya berkaca-kaca sepersekian detik sebelum ia mengalihkan pandangan.
Dan Kirana tahu.
Ia tahu Herlambang sedang terluka.
Sama seperti dirinya.
Saat mereka sampai di ujung dermaga, Amanda berdiri menghadap sungai. Angin sore memainkan rambut panjangnya. Jonatan berdiri di sampingnya.
Lalu sesuatu terjadi.
Amanda hampir kehilangan keseimbangan karena terpeleset di lantai kayu yang licin. Ia terhuyung. Jonatan dengan sigap meraih tangannya. Bukan hanya meraih. Ia memegang pinggang Amanda untuk menahannya.
Hanya sesaat.
Sangat singkat.
Namun cukup.
Cukup bagi Herlambang untuk merasakan sesuatu runtuh di dalam dirinya.
Bukan karena Jonatan menyentuh Amanda. Tapi karena Amanda tidak melepaskan. Ia justru tertawa. Lalu berkata, "Untung ada kamu."
Jonatan ikut tertawa. "Untung aku cepet."
Mereka berdua tertawa. Sementara di belakang mereka, Herlambang membeku.
"Untung ada kamu."
Kalimat itu dulu pernah ia dengar dari Amanda. Saat ia membantunya mengerjakan skripsi. Saat ia menemaninya pulang larut malam. Saat ia selalu ada ketika yang lain pergi.
Kini kalimat yang sama ditujukan untuk orang lain.
Herlambang memasukkan ponselnya ke saku. Bukan karena ingin menyimpannya. Tapi karena tangannya mulai bergetar. Terlalu lemas. Terlalu gemetar.
Ia menunduk. Menghitung ubin kayu di bawah kakinya.
Satu. Dua. Tiga. Berhenti. Lupa. Mulai lagi.
Ia melakukan itu hanya untuk mengalihkan pikirannya dari apa yang baru saja dilihat dan didengarnya.
Tapi tidak berhasil.
Malam harinya, Herlambang tidak langsung pulang.
Ia tidak bisa pulang. Karena kamarnya akan terlalu sunyi. Karena ia akan terlalu lama menatap langit-langit. Karena ia takut menangis di depan ibunya.
Ia memilih berjalan sendiri menyusuri kawasan tepian sungai. Lampu-lampu kota memantulkan cahaya ke permukaan air. Suasana malam Kuala Kapuas terasa tenang. Tetapi pikirannya jauh dari tenang.
Ia berhenti di sebuah gazebo kosong. Duduk sendirian.
Dari kejauhan, ia bisa melihat Dermaga KP3. Tempat di mana ia dan Amanda sering menghabiskan waktu selepas kuliah. Tempat di mana Amanda pernah berkata, "Herlambang, kamu tuh sahabat terbaik yang pernah aku punya."
Sahabat.
Selalu sahabat.
Tidak lebih.
Tidak kurang.
Herlambang mengeluarkan ponselnya. Membuka foto lama. Foto empat sahabat itu ketika masih kuliah. Amanda. Kirana. Hendra. Dan dirinya.
Saat itu semuanya terasa sederhana. Tidak ada rasa cemburu. Tidak ada ketakutan kehilangan. Tidak ada luka. Hanya persahabatan. Hanya kebersamaan.
Kini semuanya mulai berubah.
Perlahan. Namun pasti.
Ia memperbesar foto. Memperhatikan wajah Amanda. Wajah yang sama. Senyum yang sama. Tapi dulu senyum itu sering ia saksikan dari dekat. Kini ia harus berbagi dengan orang lain.
Herlambang menutup foto itu.
Lalu membuka aplikasi pesan.
Jarinya bergerak ke nama Amanda. Ia ingin mengetik sesuatu. Ingin mengaku. Ingin mengatakan bahwa ia tidak bisa terus seperti ini.
Amanda, aku mencintaimu. Sejak dulu. Sejak sebelum Jonatan datang. Sejak sebelum kamu tahu.
Tapi jarinya berhenti.
Seperti biasa. Seperti selalu.
Ponselnya bergetar.
Pesan masuk dari Amanda.
"Makasih ya udah datang tadi."
Herlambang menatap layar cukup lama. Lalu membalas.
"Sama-sama."
Beberapa detik kemudian pesan baru muncul.
"Kamu kenapa? Dari tadi kelihatan diam."
Herlambang tersenyum pahit.
Andai Amanda tahu alasan sebenarnya. Andai Amanda tahu bahwa setiap kali ia melihatnya bersama Jonatan, ada bagian kecil dari dirinya yang terasa hilang. Andai Amanda tahu bahwa selama bertahun-tahun ia telah menyimpan satu perasaan yang tidak pernah berani ia ucapkan. Andai Amanda tahu bahwa malam ini, untuk pertama kalinya, ia menangis tersedu-sedu di gazebo yang sepi ini.
Namun seperti biasa.
Ia memilih diam.
"Capek kerja aja."
Balasan singkat. Datar. Aman.
Amanda langsung membalas.
"Jangan terlalu dipaksain kerjanya."
"Istirahat yang cukup."
"Jaga kesehatan."
Kalimat sederhana. Perhatian sederhana. Tetapi justru itu yang membuat hati Herlambang semakin sakit. Karena Amanda tetap baik kepadanya. Tetap peduli. Tetap menganggapnya penting. Namun sebagai sahabat. Hanya sahabat.
Dan mungkin tidak akan pernah lebih dari itu.
Malam semakin larut. Angin sungai bertambah dingin. Gazebo yang tadinya terasa sempit kini terasa terlalu luas untuk satu orang.
Herlambang memandang ke arah langit yang dipenuhi bintang.
Bintang-bintang itu dulu pernah ia tunjukkan pada Amanda. Saat mereka sedang menunggu hujan reda di tempat yang sama. Saat Amanda berkata, "Lam, suatu hari nanti aku ingin pergi ke tempat yang langitnya lebih indah dari ini."
Dan ia menjawab, "Aku ikut."
Amanda tertawa. "Sahabat selamanya ya?"
Selamanya.
Kata yang indah. Tapi kadang selamanya seorang sahabat adalah kutukan bagi seseorang yang ingin lebih.
Herlambang menutup matanya.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia mengakui sesuatu kepada dirinya sendiri.
Ia sedang kalah.
Bukan kalah dari Jonatan. Bukan kalah dalam persaingan. Karena cinta bukan perlombaan. Ia kalah oleh ketakutannya sendiri. Kalah oleh keberaniannya yang tak pernah cukup besar untuk mengatakan apa yang selama ini tersimpan di hati. Kalah oleh waktu yang terus berjalan tanpa pernah ia manfaatkan.
Dan kini, ketika Amanda perlahan berjalan menjauh menuju seseorang yang lain, ia hanya bisa berdiri di tempat.
Menyaksikan. Tanpa mampu melakukan apa-apa.
Sebuah luka kecil lahir malam itu.
Luka pertama.
Luka yang kelak akan menjadi awal dari badai panjang yang mengubah hidup mereka semua.
Dan tanpa Herlambang sadari, di tempat lain, beberapa kilometer dari gazebo itu, Kirana sedang duduk di kamarnya yang gelap.
Ia juga memegang ponsel. Ia juga membuka foto yang sama. Foto empat sahabat itu.
Namun matanya tidak tertuju pada Amanda. Matanya tertuju pada Herlambang. Pada senyum lelaki itu yang kini terasa semakin jauh. Pada mata lelaki itu yang bahkan dalam foto pun terlihat sedang memandang Amanda.
Kirana menatap foto itu cukup lama. Lalu meletakkan ponselnya di samping bantal.
Ia tidak menangis. Tidak malam ini. Karena ia sudah lelah menangis untuk seseorang yang bahkan tidak tahu ia ada di sana. Ia sudah lelah menjadi bayangan di belakang bayangan.
Tapi bukan berarti ia tidak merasakan luka yang sama.
Kirana menggenggam bantalnya erat-erat. Memejamkan mata.
"Aku juga mencintaimu, Herlambang."
Bisiknya dalam hati.
"Tapi aku mungkin tidak akan pernah seberani itu untuk mengatakannya."
Dan malam itu, di dua tempat yang berbeda, dua orang sedang terluka karena cinta.
Satu mencintai seseorang yang tidak melihatnya.
Satu lagi mencintai seseorang yang melihatnya hanya sebagai sahabat.
Luka yang berbeda.
Namun rasa sakit yang sama.
BAB VI
Taman Askari yang Menjadi Saksi
Terkadang sebuah tempat bukan hanya menyimpan kenangan.
Ia juga menyimpan rahasia.
Menyimpan tawa yang pernah menggema.
Menyimpan air mata yang jatuh diam-diam.
Menyimpan harapan yang tumbuh perlahan.
Dan menyimpan luka yang tak pernah sempat diucapkan.
Bagi Herlambang, Taman Askari adalah tempat seperti itu.
Di sanalah ia dan Amanda sering menghabiskan sore sepulang kuliah dahulu.
Di sanalah mereka pernah duduk berjam-jam membicarakan mimpi-mimpi masa depan.
Di sanalah Amanda pernah menangis ketika gagal meraih sesuatu yang sangat diinginkannya.
Dan di sanalah Herlambang selalu berada untuk menguatkannya.
Tanpa pernah meminta apa pun sebagai balasan.
Namun kini, tempat yang sama perlahan berubah menjadi saksi bahwa seseorang yang dicintainya sedang berjalan menuju kehidupan yang tidak lagi melibatkannya sebagai tokoh utama.
Sore itu, langit Kuala Kapuas dihiasi awan tipis.
Matahari masih bersinar hangat ketika Amanda mengirim pesan ke grup mereka.
"Sore ini kumpul di Taman Askari ya."
Hendra menjadi orang pertama yang membalas.
"Siap, Bos."
Kirana hanya mengirim emoji jempol.
Sedangkan Herlambang menatap pesan itu cukup lama sebelum akhirnya menulis:
"Oke."
Sebenarnya ia ingin menolak.
Belakangan ini setiap pertemuan justru membuat hatinya semakin berat.
Namun ia juga tahu dirinya tidak akan pernah sanggup mengatakan tidak kepada Amanda.
Maka seperti biasa, ia datang.
Membawa senyum yang dipaksakan.
Dan hati yang semakin lelah menyimpan rahasia.
Ketika Herlambang tiba, Amanda sudah berada di sana.
Perempuan itu duduk di bawah pohon ketapang besar yang menjadi salah satu ikon Taman Askari.
Mengenakan blouse biru muda dan celana panjang hitam.
Rambutnya tergerai tertiup angin.
Ia tampak cantik.
Terlalu cantik bagi seseorang yang sedang berusaha dilupakan.
Dan yang membuat dada Herlambang kembali sesak adalah seseorang yang duduk di samping Amanda.
Jonatan.
Seperti biasa.
"Herlambang!"
Amanda melambaikan tangan.
Herlambang berjalan mendekat.
Berusaha terlihat biasa.
Berusaha terlihat baik-baik saja.
Padahal di dalam dirinya ada ribuan hal yang tidak baik-baik saja.
"Duduk sini."
Amanda menggeser sedikit tempatnya.
Herlambang duduk.
Namun kini ada Jonatan di antara mereka.
Jarak yang hanya beberapa puluh sentimeter.
Tetapi terasa seperti ribuan kilometer.
Tak lama kemudian Hendra dan Kirana datang.
Suasana kembali ramai.
Mereka berbicara tentang pekerjaan.
Tentang berita terbaru.
Tentang rencana liburan.
Tentang banyak hal.
Namun Herlambang lebih sering diam.
Mendengarkan.
Memperhatikan.
Terutama memperhatikan Amanda dan Jonatan.
Ada sesuatu yang berubah.
Sesuatu yang semakin jelas terlihat.
Amanda kini mulai terbiasa menggantungkan perhatiannya kepada Jonatan.
Ketika ada sesuatu yang lucu, ia melihat Jonatan terlebih dahulu.
Ketika ada sesuatu yang menarik, Jonatan menjadi orang pertama yang diajak berbagi.
Dan ketika tertawa, sorot matanya selalu mencari lelaki itu.
Hal-hal kecil.
Sangat kecil.
Tetapi cukup untuk menjelaskan semuanya.
Menjelang petang, suasana taman menjadi semakin indah.
Lampu-lampu mulai menyala.
Anak-anak masih bermain.
Pasangan muda berjalan santai di jalur pejalan kaki.
Sementara angin sore berembus lembut membawa aroma sungai.
Amanda berdiri.
"Ayo foto."
Hendra langsung mengangkat kameranya.
"Ini baru tugas yang aku suka."
Mereka berdiri berjajar.
Kirana di sebelah Amanda.
Amanda di sebelah Jonatan.
Herlambang berada di ujung.
Hendra mengatur timer.
Lalu berlari ikut bergabung.
Kilatan kamera menyala beberapa kali.
Klik.
Klik.
Klik.
Sebuah foto sederhana.
Sebuah momen biasa.
Namun bertahun-tahun kemudian, foto itu akan menjadi salah satu kenangan paling menyakitkan yang pernah dimiliki Herlambang.
Karena di dalam foto itu semua orang tersenyum.
Padahal tidak semua hati sedang bahagia.
Setelah sesi foto selesai, Amanda mengajak Jonatan berjalan sebentar mengelilingi taman.
"Kami muter dulu ya."
"Silakan," jawab Hendra.
Amanda tersenyum.
Lalu pergi bersama Jonatan.
Meninggalkan Herlambang, Kirana, dan Hendra.
Untuk beberapa saat tidak ada yang berbicara.
Sampai akhirnya Hendra menghela napas.
"Pasti jadi ya."
Herlambang pura-pura tidak mengerti.
"Apa?"
"Mereka."
Tidak ada jawaban.
Karena jawaban itu sudah terlalu jelas.
Di kejauhan, Amanda dan Jonatan terlihat berjalan berdampingan.
Terkadang tertawa.
Terkadang berhenti membicarakan sesuatu.
Pemandangan yang sangat biasa.
Tetapi cukup membuat Herlambang merasa menjadi orang asing dalam hidupnya sendiri.
Kirana diam-diam memperhatikan wajah lelaki itu.
Dan semakin lama, semakin jelas terlihat bahwa Herlambang sedang berusaha keras menyembunyikan rasa sakitnya.
"Kalau capek, enggak apa-apa berhenti."
Suara Kirana terdengar pelan.
Herlambang menoleh.
"Maksudmu?"
"Kamu tahu maksudku."
Tatapan mereka bertemu beberapa detik.
Lalu Herlambang tersenyum kecil.
Senyum yang justru terlihat lebih menyedihkan daripada tangisan.
"Kalau semua perasaan bisa dihentikan semudah itu, mungkin enggak akan ada orang yang patah hati."
Kirana terdiam.
Karena ia memahami kalimat itu lebih baik daripada siapa pun.
Ia sendiri sedang mengalami hal yang sama.
Saat matahari benar-benar tenggelam, Amanda dan Jonatan kembali.
Wajah Amanda terlihat lebih cerah daripada biasanya.
Ada kebahagiaan yang sulit disembunyikan.
Kemudian sesuatu terjadi.
Sesuatu yang selama ini diam-diam ditunggu banyak orang.
Dan diam-diam ditakuti oleh Herlambang.
Amanda berdiri di tengah mereka.
Senyumnya mengembang.
Lalu berkata pelan.
"Aku mau kasih tahu sesuatu."
Hendra langsung menyeringai.
"Waduh."
"Apa lagi?"
Amanda melirik Jonatan.
Jonatan tersenyum.
Amanda tampak sedikit malu.
Kemudian menarik napas dalam-dalam.
"Aku sama Jonatan... sekarang resmi pacaran."
Dunia terasa berhenti sesaat bagi Herlambang.
Suara taman.
Suara anak-anak.
Suara kendaraan.
Semuanya seolah menjauh.
Yang tersisa hanya kalimat itu.
"Aku sama Jonatan sekarang resmi pacaran."
Hendra langsung bersorak.
"Wah! Selamat!"
Amanda tertawa.
Jonatan tersenyum.
Kirana memaksa dirinya ikut tersenyum.
Dan Herlambang...
berusaha melakukan hal yang sama.
Meski rasanya seperti seseorang sedang meremas jantungnya perlahan.
"Selamat ya."
Hanya itu yang mampu ia ucapkan.
Amanda menoleh.
Tatapan mereka bertemu.
Amanda tersenyum hangat.
"Tolong doain ya."
Herlambang mengangguk.
"Tentu."
Namun dalam hatinya, sesuatu sedang runtuh.
Bukan karena Amanda memilih Jonatan.
Amanda berhak mencintai siapa pun yang ia inginkan.
Yang menghancurkannya adalah kesadaran bahwa kesempatan yang selama ini ia miliki akhirnya benar-benar hilang.
Bukan direbut.
Melainkan hilang karena tidak pernah ia gunakan.
Malam turun di Taman Askari.
Lampu-lampu kota menyala satu per satu.
Sementara para pengunjung mulai meninggalkan taman.
Namun bagi Herlambang, malam itu akan selalu dikenang.
Karena Taman Askari telah menjadi saksi dari sesuatu yang tidak pernah ia inginkan terjadi.
Hari ketika Amanda menemukan cintanya.
Dan hari ketika ia kehilangan harapannya.
Sebuah luka baru lahir.
Lebih dalam dari sebelumnya.
Lebih sunyi.
Lebih menyakitkan.
Dan tanpa disadari siapa pun, luka itulah yang kelak akan menjadi tanah tempat tumbuhnya mawar yang paling indah.
Tetapi untuk saat itu...
yang ada hanyalah kesedihan.
Dan seorang lelaki yang tersenyum untuk menyembunyikan patah hatinya.
BAB VII
Kirana dan Rahasia yang Disembunyikan
Ada rahasia yang disimpan karena malu.
Ada rahasia yang disimpan karena takut.
Dan ada rahasia yang disimpan karena seseorang tahu bahwa mengungkapkannya hanya akan membawa luka yang lebih besar.
Kirana mengenal jenis rahasia yang terakhir.
Rahasia yang telah ia simpan begitu lama hingga menjadi bagian dari dirinya sendiri.
Rahasia tentang seseorang yang selalu ada di dekatnya, tetapi tak pernah benar-benar melihat ke arahnya.
Seseorang yang selama bertahun-tahun memenuhi ruang hatinya.
Seseorang yang bernama Herlambang.
Namun berbeda dengan malam-malam sebelumnya, kali ini Kirana tidak hanya menangis.
Ia marah.
Malam setelah pengakuan Amanda dan Jonatan di Taman Askari terasa panjang bagi banyak orang.
Amanda menghabiskan malam itu dengan perasaan berbunga-bunga.
Jonatan tak henti-hentinya mengirim pesan.
Hendra merasa bahagia karena akhirnya dua sahabatnya menemukan cinta.
Herlambang menghabiskan malam dengan menatap langit-langit kamar sambil mencoba menerima kenyataan.
Dan Kirana?
Kirana duduk di tepi tempat tidurnya.
Ponsel masih menggenggam di tangan.
Pesan dari Amanda masih terbuka di layar.
"Makasih ya sudah selalu dukung aku."
Kirana ingin membalas.
Ingin mengetik sesuatu yang jujur.
"Sebenarnya aku tidak mendukung kamu."
"Sebenarnya aku iri."
"Sebenarnya aku juga mencintai seseorang yang tidak pernah melihatku."
Namun jarinya tidak bergerak.
Ia hanya menatap layar.
Lama.
Sangat lama.
Lalu mengetik satu kalimat yang sama sekali tidak jujur.
"Sama-sama."
Dikirim.
Ponselnya terlepas dari genggaman.
Jatuh ke atas kasur.
Kirana menangis.
Bukan isak tangis yang keras.
Bukan ratapan yang terdengar.
Hanya air mata yang mengalir deras di atas pipi yang mulai memerah karena menahan sesuatu yang terlalu lama dipendam.
Ia menggigit bibir bawahnya hingga hampir berdarah.
Hanya untuk mencegah suara apa pun keluar.
Karena malam itu ia tidak hanya menyaksikan Amanda mendapatkan orang yang dicintainya.
Ia juga menyaksikan Herlambang kehilangan orang yang dicintainya.
Dan yang paling menyakitkan, ia tidak mampu melakukan apa-apa.
Bukan karena tidak punya kekuatan.
Tapi karena tidak punya hak.
Kirana berdiri di depan jendela kamarnya.
Dari kejauhan terlihat lampu-lampu Kota Kuala Kapuas yang masih menyala.
Angin malam berembus perlahan.
Membawa aroma sungai yang samar-samar terasa hingga ke rumahnya.
Ponselnya bergetar lagi.
Masih Amanda.
"Masih bangun?"
Kirana mengusap matanya.
Berusaha terlihat baik-bik saja.
Padahal ia tidak baik-baik saja.
"Masih."
"Aku bahagia banget hari ini."
Kirana menutup matanya sesaat.
Lalu tersenyum pahit.
Senin, yang bahkan tidak terlihat oleh siapa pun.
"Aku ikut senang."
Amanda langsung membalas.
"Makasih ya sudah selalu dukung aku."
Kirana menatap layar cukup lama.
Hingga matanya kabur.
Lalu perlahan ia mengetik kalimat yang sebenarnya ia tujukan untuk dirinya sendiri.
"Kalau orang yang kita sayang bahagia, kita juga harus ikut bahagia kan?"
Pesan terkirim.
Amanda membalas dengan emoji peluk.
Namun Amanda tidak pernah tahu bahwa air mata Kirana jatuh kembali saat membaca balasan itu.
Amanda tidak pernah tahu bahwa kalimat "kita juga harus ikut bahagia" adalah kebohongan terbesar yang pernah Kirana katakan.
Karena tidak. Ia tidak ikut bahagia.
Ia justru hancur.
Dan yang paling menyedihkan, ia harus tersenyum.
Harus berkata "aku ikut senang".
Harus berpura-pura bahwa hatinya tidak terbakar.
Keesokan paginya, Kirana memutuskan pergi ke sebuah kedai kopi kecil dekat tepian Sungai Kapuas.
Bukan karena ia ingin minum kopi.
Tapi karena ia ingin kabur.
Kabur dari rumah yang tiba-tiba terasa terlalu sempit.
Kabur dari bayangan Herlambang yang terus menghantuinya.
Tempat itu tidak terlalu ramai.
Ia sering datang ke sana ketika ingin menyendiri.
Namun pagi itu, ketika memasuki kedai, ia melihat seseorang yang sangat dikenalnya.
Seseorang yang justru ingin ia hindari.
Herlambang.
Lelaki itu duduk sendirian di pojok ruangan.
Secangkir kopi hitam berada di depannya.
Sudah hampir dingin.
Tetapi belum banyak diminum.
Tatapannya kosong.
Seolah pikirannya berada di tempat lain.
Mungkin bersama Amanda.
Seperti biasa.
Kirana berhenti beberapa detik.
Hatinya berteriak: Pergi. Jangan dekati dia. Kamu hanya akan semakin sakit.
Namun kakinya tidak mendengar.
Ia berjalan mendekat.
"Boleh duduk?"
Herlambang menoleh.
Sedikit terkejut.
"Oh... Kirana."
"Kok sendirian?"
Herlambang tersenyum tipis.
"Kamu juga."
Kirana duduk.
Beberapa saat mereka hanya diam.
Bukan keheningan yang nyaman.
Tapi keheningan dua orang yang sama-sama terluka dan tidak ingin mengakuinya.
"Kamu enggak apa-apa?"
Akhirnya Kirana bertanya.
Padahal ia tahu jawabannya.
Ia tahu Herlambang tidak baik-baik saja.
Ia juga tahu tidak ada yang bisa ia lakukan untuk mengubahnya.
Herlambang tertawa kecil.
Tawa yang terdengar lebih seperti desahan lelah.
"Pertanyaan yang aneh."
"Kenapa?"
"Karena kamu sudah tahu jawabannya."
Kirana terdiam.
Memang benar.
Ia tahu.
Terlalu tahu.
Dan justru karena itu hatinya terasa semakin berat.
Karena mengetahui kesedihan seseorang yang kita cintai tanpa bisa menghapusnya adalah bentuk siksaan tersendiri.
"Amanda bahagia."
Suara Herlambang terdengar pelan.
Hampir seperti bisikan.
Kirana mengangguk.
"Iya."
"Itu yang penting."
"Tapi kamu sedih."
Herlambang tersenyum.
Senyum yang tidak sampai ke matanya.
Senyum yang membuat hati Kirana semakin hancur.
"Kadang dua hal itu bisa terjadi bersamaan."
Kirana menunduk.
Tangannya yang berada di atas meja menggenggam erat.
Ia ingin berteriak.
Tidak, Herlambang. Tidak seharusnya kamu menderita seperti ini.
Kamu pantas bahagia.
Kamu pantas dicintai.
Aku bisa mencintaimu.
Aku sudah mencintaimu sejak lama.
Tapi tidak ada satu pun kalimat itu keluar.
Karena ia sedang mengalaminya juga.
Ia sedih.
Tetapi tetap ingin Herlambang bahagia.
Sama seperti Herlambang yang sedih tetapi tetap ingin Amanda bahagia.
Mungkin beginilah rasanya mencintai tanpa memiliki.
Mungkin beginilah rasanya menjadi orang yang selalu melihat dari kejauhan.
Menunggu.
Berharap.
Tapi tidak pernah terpilih.
Pagi berubah menjadi siang.
Percakapan mereka mengalir pelan.
Membahas banyak hal.
Tentang pekerjaan.
Tentang masa depan.
Tentang kehidupan.
Namun mereka sama-sama menghindari satu topik.
Cinta.
Karena cinta adalah luka yang sedang mereka sembunyikan.
Di sela-sela percakapan, Kirana beberapa kali hampir membuka mulut.
Hampir berkata, "Herlambang, bagaimana kalau aku yang memilihmu?"
Tapi setiap kali ia melihat wajah lelaki itu—masih diliputi bayangan Amanda—ia tahu.
Ia tahu jawabannya sebelum bertanya.
Herlambang tidak akan pernah melihatnya.
Bukan karena Kirana tidak cukup baik.
Tapi karena hati Herlambang sudah lama terisi.
Dan pengisinya bukan dirinya.
Saat hendak pulang, Herlambang berdiri lebih dulu.
"Makasih ya."
Kirana menatapnya.
"Kok makasih?"
"Sudah mau dengar aku ngomong."
Kirana tersenyum kecil.
Senyuman yang ia latih bertahun-tahun agar tidak terlihat pahit.
"Memangnya selama ini aku enggak pernah dengar?"
Herlambang tertawa.
Lalu untuk pertama kalinya pagi itu, wajahnya terlihat sedikit lebih ringan.
Mungkin karena akhirnya ada seseorang yang memahami perasaannya.
Tanpa harus banyak bertanya.
Tanpa harus banyak menjelaskan.
Kirana membalas senyumnya.
Namun di dalam hatinya, ia berteriak.
Jangan tersenyum seperti itu padaku.
Karena setiap senyummu membuat aku semakin sulit melepaskanmu.
Dan melihat senyum itu, hati Kirana kembali sakit.
Bukan sakit yang tajam.
Tapi sakit yang tumpul.
Sakit yang terus menekan.
Karena semakin jelas bahwa perhatian sekecil apa pun darinya tidak pernah mampu mengubah arah hati Herlambang.
Hati lelaki itu masih berada pada Amanda.
Dan mungkin akan selalu begitu.
Malam harinya.
Kirana membuka sebuah kotak kecil yang selama ini disimpannya di lemari.
Bukan kotak biasa.
Tempat itu adalah makam bagi segala harapan yang tidak pernah ia perjuangkan.
Di dalamnya terdapat berbagai benda sederhana.
Foto lama saat mereka masih kuliah—di foto itu Herlambang berdiri di sampingnya, tersenyum ke arah kamera, tapi Kirana tahu senyum itu untuk Amanda yang sedang memotret.
Tiket bioskop yang pernah mereka tonton bersama—padahal saat itu rombongan besar, bukan hanya berdua. Tapi bagi Kirana, kehadiran Herlambang di satu ruangan yang sama sudah cukup.
Catatan kecil hasil rapat organisasi kampus—coretan tangan Herlambang di sudut kertas yang tanpa sengaja jatuh dan ia pungut.
Dan satu benda yang paling ia jaga.
Bukan sebuah surat.
Tapi tiga surat.
Surat-surat yang pernah ia tulis bertahun-tahun lalu.
Dalam kurun waktu berbeda.
Dalam perasaan yang sama.
Surat pertama ditulis saat mereka masih semester awal.
Saat Kirana mulai menyadari bahwa debaran di dadanya setiap kali melihat Herlambang bukan sekadar kegugupan biasa.
Isinya pendek.
Hanya beberapa baris.
Namun jujur.
Herlambang, aku suka kamu. Mungkin kamu tidak akan pernah membaca ini. Tidak apa-apa. Aku hanya ingin menulisnya.
Surat kedua ditulis saat Herlambang mulai menunjukkan ketertarikannya pada Amanda secara kasatmata.
Saat Kirana menyadari bahwa perlombaan yang bahkan tidak pernah ia ikuti telah berakhir tanpa ia sempat mulai.
Isinya lebih panjang.
Lebih lirih.
Mungkin aku bukan yang kamu cari. Tapi biarkan aku tetap di sini. Di sampingmu. Sebagai teman. Karena lebih baik memiliki sedikit daripada kehilangan sepenuhnya.
Surat ketiga ditulis malam ini.
Setelah ia melihat Herlambang patah hati.
Setelah ia menyaksikan sendiri bagaimana lelaki itu tersenyum padahal sedang terluka.
Kirana mengambil pulpen.
Membuka selembar kertas kosong.
Herlambang,
Aku tahu kamu tidak akan pernah membaca ini. Tidak akan pernah tahu bahwa selama ini ada seseorang yang menangis diam-diam setiap kali kamu menangis karena Amanda.
Tapi aku harus menulisnya. Untuk diriku sendiri. Agar suatu hari nanti, ketika aku benar-benar bisa melepaskanmu, aku punya bukti bahwa aku pernah mencintai seseorang dengan segenap hati—meskipun aku tidak pernah cukup berani untuk mengatakannya.
Jaga dirimu. Dan ketika kamu bahagia nanti... aku akan ikut bahagia. Sungguhan. Bukan pura-pura.
Dari seseorang yang selalu ada di belakangmu,
Kirana
Ia tidak menambahkan "dengan cinta".
Karena terlalu menyakitkan.
Perlahan ia melipat surat itu.
Memasukkannya ke dalam kotak.
Bersama surat pertama dan kedua.
Bersama semua harapan yang tidak pernah sampai.
Air mata kembali jatuh.
Namun kali ini ia tidak berusaha menghapusnya.
Karena terkadang, menangis adalah satu-satunya cara untuk tetap kuat.
Dan karena tidak ada yang melihat.
Tidak ada yang perlu tahu.
Di luar rumah, hujan mulai turun.
Rintik-rintik kecil membasahi jalanan Kuala Kapuas.
Lampu-lampu kota tampak buram di balik tirai air.
Kirana berjalan menuju jendela.
Menempelkan telapak tangannya pada kaca yang dingin.
Ia menatap ke arah rumah Herlambang.
Meskipun tidak mungkin terlihat dari jarak sejauh itu.
Selamat malam, Herlambang.
Semoga kamu bahagia.
Meskipun bahagia itu bukan denganku.
Sementara di dalam kamar, Kirana memeluk kotak itu erat-erat.
Rahasia yang selama bertahun-tahun ia simpan masih tetap menjadi rahasia.
Tiga surat yang tidak pernah dikirim.
Tiga versi dirinya yang tidak pernah berani berbicara.
Tidak seorang pun tahu.
Tidak Amanda.
Tidak Hendra.
Bahkan Herlambang sendiri tidak pernah menyadarinya.
Bahwa selama ini ada seseorang yang mencintainya dengan cara yang sama seperti ia mencintai Amanda.
Diam-diam.
Tulus.
Dan tanpa harapan untuk memiliki.
Namun untuk pertama kalinya malam itu, Kirana membuat sebuah keputusan.
Keputusan kecil yang hanya ia ketahui sendiri.
Besok.
Ia akan mulai belajar melepaskan.
Perlahan.
Sepotong demi sepotong.
Mungkin butuh waktu berbulan-bulan.
Mungkin bertahun-tahun.
Tapi ia akan mencoba.
Karena cinta yang tidak pernah diperjuangkan juga berhak untuk diikhlaskan.
Di luar, hujan mulai reda.
Dan di dalam kamarnya, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Kirana tertidur tanpa memeluk bantal sambil menangis.
Bukan karena lukanya sembuh.
Tapi karena ia memilih untuk berhenti menyakiti dirinya sendiri.
Namun waktu belum selesai menulis cerita mereka.
Karena sebentar lagi, sebuah peristiwa akan datang.
Sebuah badai kecil yang perlahan akan mengubah hubungan mereka semua.
Dan ketika badai itu tiba, rahasia yang selama ini tersembunyi mungkin tidak akan bisa disimpan lebih lama lagi.
Tapi untuk malam ini, biarkan Kirana beristirahat.
Biarkan ia memeluk rahasianya.
Karena besok, ia harus tersenyum lagi.
Seperti biasa.
Seolah tidak ada yang salah.
Seolah hatinya tidak sedang berdarah.
BAB VIII
Hujan di Bukit Ngalangkang
Tidak semua badai datang dengan petir dan angin yang mengamuk.
Sebagian datang dalam bentuk kesalahpahaman.
Dalam bentuk kalimat yang tidak selesai diucapkan.
Dalam bentuk perasaan yang terlalu lama disembunyikan.
Dan sering kali, badai yang paling menghancurkan justru lahir dari hal-hal kecil yang dianggap sepele.
Hari itu, tidak seorang pun menyadari bahwa hujan yang turun di Bukit Ngalangkang akan menjadi awal dari retakan pertama dalam hubungan mereka.
Retakan yang perlahan membesar.
Retakan yang kelak mengubah arah hidup mereka semua.
Hari Minggu sore.
Langit Kuala Kapuas sejak siang tampak mendung.
Awan kelabu bergerak pelan dari arah utara.
Angin terasa lebih dingin dari biasanya.
Namun hal itu tidak menghalangi rencana Amanda untuk mengajak sahabat-sahabatnya menikmati senja di Bukit Ngalangkang.
Tempat favoritnya sejak dulu.
Tempat di mana langit selalu terlihat lebih luas.
Dan tempat di mana ia pertama kali merasakan getaran aneh ketika bersama Jonatan.
Mereka sepakat bertemu pukul lima sore.
Amanda datang bersama Jonatan.
Hendra datang dengan kamera kesayangannya.
Kirana datang membawa payung lipat karena merasa cuaca tidak bersahabat.
Sedangkan Herlambang...
Seperti biasa.
Datang paling akhir.
"Kamu telat lagi." Amanda langsung menyambutnya dengan kalimat itu.
Herlambang tertawa kecil. "Mungkin sudah jadi takdir."
"Bukan takdir. Kebiasaan."
Hendra ikut tertawa. "Kalau lomba terlambat, Herlambang juara nasional."
Amanda menimpali. "Mungkin internasional."
Mereka tertawa bersama.
Namun di balik tawa itu, ada sesuatu yang mulai berubah. Amanda kini lebih banyak berdiri di dekat Jonatan. Lebih sering berbicara dengan Jonatan. Lebih sering tertawa karena Jonatan.
Dan setiap kali Herlambang melihatnya, hatinya kembali diingatkan pada kenyataan yang terus berusaha ia terima.
Menjelang senja.
Mereka berjalan menuju area pandang utama di Bukit Ngalangkang.
Dari sana terlihat bentangan Kota Kuala Kapuas.
Sungai Kapuas membelah kota seperti pita panjang berwarna keperakan.
Perahu-perahu kecil tampak bergerak perlahan di kejauhan.
Lampu-lampu kota mulai menyala satu per satu.
Pemandangan yang selalu berhasil membuat Amanda terpesona.
"Indah sekali." Amanda tersenyum.
Jonatan berdiri di sampingnya. "Masih kalah."
Amanda menoleh. "Kalah dari apa?"
Jonatan menatapnya beberapa detik. "Dari kamu."
Amanda langsung tertawa malu. "Wah, mulai gombal."
"Tapi berhasil."
Amanda memukul pelan lengan Jonatan. Mereka tertawa bersama.
Di belakang mereka, Herlambang pura-pura sibuk memandangi langit. Padahal sebenarnya ia sedang berusaha mengabaikan rasa sesak yang kembali muncul di dadanya.
Sementara itu, Kirana diam-diam memperhatikan semuanya.
Ia memperhatikan Amanda. Memperhatikan Jonatan. Dan memperhatikan Herlambang.
Perempuan itu mulai menyadari sesuatu. Setiap kali Amanda tertawa bersama Jonatan, Herlambang akan diam. Setiap kali Amanda terlihat bahagia, Herlambang akan tersenyum. Tetapi senyum itu selalu terasa berbeda. Seolah ada luka yang berusaha disembunyikan di baliknya.
Dan melihat itu semua membuat hati Kirana semakin tidak tenang. Karena ia tahu bagaimana rasanya mencintai seseorang yang tidak pernah melihat ke arah kita.
Ketika matahari hampir tenggelam, suara gemuruh terdengar dari kejauhan.
Hendra mendongak. "Wah. Aku rasa hujan."
Belum sempat ada yang menjawab, angin bertiup lebih kencang. Daun-daun bergoyang. Langit berubah semakin gelap. Lalu setetes air jatuh. Disusul tetes kedua. Kemudian ketiga.
Dan dalam hitungan menit, hujan turun deras.
"Ayo lari!" Amanda berteriak sambil tertawa.
Mereka berhamburan menuju gazebo terdekat. Namun karena panik, Amanda terpeleset di jalan setapak yang licin. Tubuhnya hampir jatuh. Untung Jonatan dengan cepat meraih tangannya.
Amanda langsung memeluk lengan Jonatan untuk menjaga keseimbangan. Mereka tertawa.
Sementara Herlambang yang berada hanya beberapa langkah di belakang berhenti sejenak. Bukan karena hujan. Bukan karena jalan licin. Melainkan karena pemandangan itu kembali menusuk hatinya.
Mereka akhirnya tiba di gazebo.
Hujan turun semakin deras.
Air membentuk tirai putih yang menutupi pemandangan kota.
Angin dingin berembus dari berbagai arah.
Amanda menggigil.
Jonatan segera melepaskan jaketnya. "Pakai ini."
Amanda menggeleng. "Nanti kamu kedinginan."
"Aku enggak apa-apa."
Amanda akhirnya menerima.
Sebuah tindakan sederhana. Tetapi cukup membuat suasana di gazebo berubah. Hendra tersenyum. Amanda tersenyum. Jonatan tersenyum.
Hanya Herlambang yang memilih memandang hujan.
Dan hanya Kirana yang memperhatikan Herlambang.
Beberapa menit kemudian, dalam keheningan yang hanya diisi suara hujan, Amanda tiba-tiba menoleh ke arah Herlambang.
"Jonatan tadi bertanya kenapa kamu tidak pernah pacaran."
Herlambang mengangkat alis. Tidak menyangka percakapan akan ke arah itu. "Lalu?"
"Aku bilang mungkin kamu belum menemukan orang yang tepat."
Diam.
Udara di gazebo terasa berubah. Bukan karena hujan. Tapi karena sesuatu yang mengambang di antara kalimat-kalimat yang tidak diucapkan.
Herlambang tersenyum. Bukan senyum bahagia. Tapi senyum yang lahir dari tempat yang paling lelah di dalam hatinya.
"Atau mungkin," katanya pelan, "aku sudah menemukannya sejak lama. Tapi dia tidak pernah sadar."
Sunyi.
Sangat sunyi.
Bahkan suara hujan yang deras pun terasa seperti bising jauh.
Amanda menatap Herlambang. Matanya mencari-cari makna di balik kalimat itu. "Maksudmu?"
Herlambang menatap balik. Untuk beberapa detik, terjadi percakapan bisu di antara mereka. Percakapan yang tidak pernah berani mereka lakukan. Percakapan tentang surat yang tidak pernah dikirim. Tentang perasaan yang tidak pernah diucapkan. Tentang enam tahun yang berlalu tanpa ada yang cukup berani.
"Tidak ada," kata Herlambang akhirnya. "Lupakan."
Ia mengalihkan pandangan ke arah hujan. Berusaha terlihat biasa. Berusaha terlihat bahwa tidak ada yang baru saja terjadi. Berusaha terlihat bahwa ia tidak baru saja meletakkan bom waktu di tengah-tengah mereka.
Tapi sudah terlambat.
Amanda tidak bisa melupakan.
"Kamu serius?" tanyanya. Suaranya berubah. Tidak lagi ringan seperti tadi. Ada nada yang berbeda. Nada yang membuat semua orang di gazebo itu ikut terdiam.
Hendra meneguk saliva. Kirana menggenggam tangannya sendiri. Jonatan bergerak gelisah. Ia tidak mengerti sepenuhnya apa yang sedang terjadi, tapi ia bisa merasakan ketegangan yang tiba-tiba meledak.
Herlambang masih menatap hujan.
"Tidak usah dibahas," katanya.
"Tapi kamu baru saja mengatakan—"
"Amanda." Herlambang memotong. Suaranya terdengar lebih keras dari yang ia inginkan. "Tolong."
Satu kata. Tolong.
Bukan permintaan. Bukan ancaman. Tapi pinta.
Dan untuk pertama kalinya, Amanda menyadari bahwa ada sesuatu di balik sikap tenang Herlambang selama ini. Sesuatu yang selama ini berusaha ia sembunyikan. Sesuatu yang mungkin sudah seharusnya ia sadari sejak lama.
Jonatan akhirnya angkat bicara. "Mungkin kita harus—"
"Tidak perlu." Herlambang berdiri. "Aku ke luar dulu."
"Herlambang, di luar hujan!" Kirana memperingatkan.
Tapi Herlambang sudah berjalan meninggalkan gazebo. Tubuhnya segera basah kuyup. Tapi ia tidak peduli. Karena hujan terasa lebih hangat daripada api yang sedang membakar dadanya.
Keheningan yang ditinggalkan Herlambang terasa lebih berat daripada teriakan.
Amanda masih terdiam. Matanya menatap ke arah pintu gazebo tempat Herlambang pergi. Hujan membentuk tirai putih yang menyembunyikan sosok lelaki itu.
"Apa yang baru saja terjadi?" tanya Jonatan pelan.
Tidak ada yang menjawab.
Hendra menunduk. Kirana menggigit bibirnya. Dan Amanda... Amanda tidak tahu harus menjawab apa. Karena ia sendiri tidak mengerti. Atau mungkin ia mengerti. Tapi tidak siap untuk menerimanya.
Di luar, di tengah hujan yang semakin deras, Herlambang berjalan tanpa tujuan.
Air mengalir dari rambutnya ke wajah. Membasahi kemeja yang menempel di tubuhnya. Tapi ia tidak merasakan dingin. Yang ia rasakan hanyalah panas. Panas karena malu. Panas karena marah pada dirinya sendiri. Panas karena kalimat yang tidak seharusnya ia ucapkan.
"Atau mungkin aku sudah menemukannya sejak lama. Tapi dia tidak pernah sadar."
Ia mengutuk dirinya sendiri.
Kenapa ia mengatakan itu? Kenapa ia tidak bisa diam seperti biasanya? Kenapa ia membiarkan luka dan kelelahan berbicara mewakili dirinya?
Karena ia lelah.
Lelah berpura-pura. Lelah melihat Amanda bahagia dengan orang lain. Lelah menjadi sahabat yang selalu mengerti padahal hatinya hancur.
Tapi itu bukan alasan. Bukan alasan untuk merusak persahabatan yang selama bertahun-tahun ia jaga.
Herlambang berhenti di bawah sebuah pohon besar. Berteduh sementara. Tangan yang sedari tadi mengepal kini perlahan terbuka. Ia menunduk. Air matanya bercampur dengan air hujan. Tidak terlihat. Tidak akan pernah ada yang tahu.
Hujan mulai reda satu jam kemudian.
Mereka akhirnya memutuskan pulang.
Perjalanan kembali ke kota terasa jauh lebih sunyi dibanding saat berangkat. Amanda memilih lebih banyak diam. Jonatan mencoba mencairkan suasana. Hendra sesekali melontarkan lelucon. Namun tidak banyak berhasil.
Herlambang duduk di kursi belakang. Tubuhnya masih basah. Ia tidak mengganti pakaian karena tidak ada yang bisa ia ganti. Wajahnya menatap ke luar jendela. Tidak mengatakan apa-apa selama perjalanan.
Amanda beberapa kali menoleh ke belakang. Ingin mengatakan sesuatu. Tapi setiap kali melihat wajah Herlambang yang datar, ia urung melakukannya.
Jonatan menggenggam tangan Amanda di atas jok mobil. Memberi dukungan diam-diam. Tapi kali ini, genggaman itu tidak terasa hangat seperti biasanya. Karena pikiran Amanda masih berada di gazebo. Masih bergema dengan kalimat Herlambang.
"Atau mungkin aku sudah menemukannya sejak lama."
Malam itu.
Amanda duduk di kamarnya sambil memandangi hujan di luar jendela.
Ia masih memikirkan ucapan Herlambang.
Memikirkan nada suaranya.
Memikirkan cara ia menatap.
Memikirkan semua hal yang selama ini tidak pernah ia perhatikan.
Sementara di tempat lain, Herlambang duduk sendirian di teras rumah. Masih dalam keadaan basah. Rambutnya masih setengah basah. Ibunya sudah memintanya mandi dan berganti pakaian, tapi ia hanya mengangguk dan duduk di sana.
Memikirkan hal yang sama.
Dan untuk pertama kalinya dalam persahabatan mereka, muncul jarak yang sebelumnya tidak pernah ada.
Jarak yang lahir bukan karena kebencian.
Bukan karena pertengkaran besar.
Bukan karena kesalahan fatal.
Melainkan karena perasaan yang tidak pernah menemukan jalan keluar.
Dan karena sebuah kalimat yang tidak sengaja terucap.
Sementara hujan terus turun di atas Kota Kuala Kapuas.
Membasahi jalan-jalan.
Membasahi Sungai Kapuas.
Dan perlahan membasahi akar-akar luka yang mulai tumbuh di hati mereka.
Tanpa mereka sadari, badai yang sesungguhnya belum datang.
Karena setelah hujan ini, sebuah rahasia lama akan kembali muncul.
Sebuah surat yang tidak pernah dikirim.
Sebuah pengakuan yang tidak pernah sampai.
Dan sebuah cinta yang terlalu lama disimpan.
BAB IX
Surat yang Tidak Pernah Dikirim
Ada kata-kata yang terlalu sulit diucapkan.
Bukan karena tidak penting.
Justru karena terlalu penting.
Karena sekali terucap, hidup mungkin tidak akan pernah kembali sama.
Karena itulah sebagian orang memilih menulis.
Menuangkan seluruh isi hati ke dalam lembaran kertas.
Menyusun perasaan menjadi kalimat.
Mengubah kerinduan menjadi paragraf.
Mengubah cinta menjadi tulisan.
Namun tidak semua surat berakhir di tangan penerimanya.
Sebagian tetap tersimpan di dalam laci.
Menguning dimakan waktu.
Menjadi saksi bisu dari sebuah perasaan yang tidak pernah sampai.
Dan Herlambang memiliki satu surat seperti itu.
Tiga hari setelah hujan di Bukit Ngalangkang, hubungan Herlambang dan Amanda masih terasa canggung.
Mereka tidak bertengkar.
Tidak saling membenci.
Namun ada jarak yang perlahan muncul di antara mereka.
Pesan yang biasanya panjang kini hanya beberapa baris.
Percakapan yang biasanya hangat kini terasa formal.
Dan bagi Herlambang, itu lebih menyakitkan daripada pertengkaran.
Karena ia sadar bahwa dirinya sendiri yang menyebabkan semuanya.
Malam itu, setelah pulang kerja, Herlambang duduk sendirian di kamarnya.
Hujan tipis turun di luar.
Suara air menetes dari atap terdengar berirama.
Lampu meja menyala redup.
Di depannya terdapat sebuah kotak kayu tua yang sudah lama tidak ia buka.
Kotak itu tersimpan di sudut lemari.
Tertutup debu tipis.
Dan berisi sesuatu yang selama bertahun-tahun tidak pernah berani ia sentuh.
Perlahan ia membuka tutupnya.
Di dalam kotak itu terdapat banyak kenangan.
Foto-foto lama.
Tiket bioskop.
Catatan kuliah.
Kartu ucapan ulang tahun.
Dan di bagian paling bawah, terselip sebuah amplop berwarna krem.
Amplop yang sudut-sudutnya mulai menguning.
Herlambang menatapnya cukup lama.
Jantungnya berdegup pelan.
Seolah amplop itu bukan sekadar kertas.
Melainkan bagian dari masa lalu yang belum pernah benar-benar selesai.
Dengan hati-hati ia mengambilnya.
Lalu membuka lipatan surat di dalamnya.
Tulisan tangan itu masih jelas.
Tulisan tangannya sendiri.
Tulisan yang dibuat enam tahun lalu.
Saat mereka masih mahasiswa.
Saat segalanya masih terasa sederhana.
Saat Amanda belum mengenal Jonatan.
Dan saat Herlambang masih percaya bahwa suatu hari ia akan memiliki keberanian untuk mengatakan semuanya.
Ia mulai membaca.
Amanda,
Aku tidak tahu apakah suatu hari surat ini akan sampai kepadamu atau tidak.
Aku bahkan tidak tahu apakah aku akan cukup berani memberikannya.
Tetapi ada sesuatu yang sudah terlalu lama kusimpan sendirian.
Aku menyukaimu.
Bukan sejak kemarin.
Bukan sejak bulan lalu.
Tetapi sejak aku mulai mengenalmu.
Herlambang berhenti membaca.
Menutup matanya.
Ingatan itu kembali datang.
Hari ketika ia menulis surat tersebut.
Enam tahun lalu.
Sore di kampus.
Amanda sedang mengikuti rapat organisasi.
Herlambang duduk sendirian di perpustakaan.
Di hadapannya terdapat selembar kertas kosong.
Butuh hampir dua jam sebelum ia berhasil menulis kalimat pertama.
Dan butuh tiga hari untuk menyelesaikan surat itu.
Bukan karena tidak tahu apa yang ingin dikatakan.
Melainkan karena terlalu banyak yang ingin dikatakan.
Amanda bukan hanya perempuan yang ia sukai.
Amanda telah menjadi bagian dari hidupnya.
Bagian dari hari-harinya.
Bagian dari mimpi-mimpinya.
Ketika surat itu selesai ditulis, Herlambang sebenarnya berniat memberikannya.
Ia bahkan sudah memasukkannya ke dalam tas.
Sudah membawanya ke kampus.
Sudah melihat Amanda dari kejauhan.
Namun tepat saat itu, ia melihat Amanda tertawa bersama teman-temannya.
Bahagia.
Tanpa beban.
Dan tiba-tiba keberaniannya menghilang.
Bagaimana jika surat itu justru merusak persahabatan mereka?
Bagaimana jika Amanda menjauh?
Bagaimana jika Amanda tidak merasakan hal yang sama?
Pertanyaan demi pertanyaan membuat langkahnya berhenti.
Dan akhirnya surat itu kembali pulang bersamanya.
Tidak pernah diberikan.
Tidak pernah dibaca Amanda.
Tidak pernah sampai.
Malam kembali ke masa kini.
Herlambang menghela napas panjang.
Kemudian melanjutkan membaca.
Aku tidak berharap kamu membalas perasaanku.
Aku hanya ingin kamu tahu.
Bahwa ada seseorang yang selalu merasa bahagia setiap kali melihatmu tersenyum.
Seseorang yang selalu merasa tenang ketika mendengar suaramu.
Dan seseorang yang diam-diam menjadikanmu alasan untuk menjadi lebih baik setiap hari.
Tangannya sedikit bergetar.
Bukan karena surat itu.
Melainkan karena penyesalan yang datang bersamanya.
Jika saja waktu bisa diulang.
Jika saja dulu ia lebih berani.
Jika saja surat itu pernah sampai.
Mungkin hidup akan berbeda.
Atau mungkin tidak.
Namun setidaknya ia tidak akan terus bertanya-tanya seperti sekarang.
Keesokan harinya.
Takdir mempermainkan mereka.
Tanpa sengaja, Kirana datang ke rumah Herlambang.
Ia ingin mengembalikan sebuah buku yang dipinjam beberapa minggu sebelumnya.
Namun saat Herlambang sedang membuat minuman di dapur, sebuah amplop jatuh dari meja.
Kirana membungkuk mengambilnya.
Dan melihat nama yang tertulis di bagian depan.
Amanda.
Jantung Kirana langsung berdegup.
Ia mengenali tulisan tangan itu.
Tulisan Herlambang.
Saat Herlambang kembali ke ruang tamu, wajahnya langsung berubah.
"Kirana..."
Perempuan itu mengangkat amplop tersebut.
Tatapan mereka bertemu.
Untuk beberapa detik tidak ada yang berbicara.
Lalu Kirana bertanya pelan.
"Ini surat buat Amanda?"
Herlambang menghela napas panjang.
Lama sekali.
Seolah sedang melepaskan beban yang selama bertahun-tahun dipikulnya sendirian.
"Iya."
"Kapan ditulis?"
"Enam tahun lalu."
Kirana menunduk.
Hatinya terasa semakin sesak.
Enam tahun.
Berarti selama enam tahun pula Herlambang mencintai Amanda.
Dan selama enam tahun pula dirinya mencintai Herlambang.
Betapa kejamnya cinta yang tidak menemukan jalan pulang.
"Kenapa enggak pernah diberikan?"
Pertanyaan itu keluar begitu saja.
Herlambang tersenyum pahit.
"Karena aku pengecut."
"Bukan."
"Aku cuma takut."
"Takut kehilangan Amanda."
"Dan akhirnya aku tetap kehilangan dia."
Kalimat itu menggantung di udara.
Membuat suasana menjadi sunyi.
Kirana menggenggam amplop itu perlahan.
Lalu mengembalikannya.
"Tidak semua orang yang diam itu pengecut."
"Kadang mereka hanya terlalu menjaga sesuatu yang berharga."
Herlambang menatapnya.
Untuk pertama kalinya, ia melihat kesedihan yang sangat dalam di mata Kirana.
Namun ia tidak memahami sumbernya.
Belum.
Malam kembali turun di Kuala Kapuas.
Di luar, Sungai Kapuas mengalir seperti biasa.
Tenang.
Seolah tidak peduli pada kisah manusia yang terus berubah.
Sementara di dalam kamarnya, Herlambang kembali menyimpan surat itu ke dalam kotak.
Kotak yang telah menjadi makam bagi begitu banyak harapan.
Ia tidak tahu bahwa takdir sedang bergerak diam-diam.
Bahwa suatu hari nanti surat itu akan kembali muncul.
Bahwa suatu hari Amanda akan mengetahui semuanya.
Dan bahwa sebuah surat yang tidak pernah dikirim bisa mengubah hidup banyak orang.
Karena terkadang, bukan surat yang sampai yang paling berbahaya.
Melainkan surat yang terlalu lama disembunyikan.
Surat yang menyimpan cinta.
Penyesalan.
Dan rahasia yang belum selesai.
BAB X
Malam Festival Sungai Kapuas
Malam memiliki caranya sendiri untuk menyembunyikan luka.
Di bawah cahaya lampu, orang-orang bisa tertawa meskipun hatinya sedang hancur.
Di tengah keramaian, seseorang bisa merasa lebih kesepian daripada saat sendirian.
Dan pada malam Festival Sungai Kapuas itu, ribuan lampu yang menghiasi tepian sungai tidak mampu menerangi kegelisahan yang tumbuh di hati beberapa orang.
Karena tidak semua orang datang ke festival untuk merayakan kebahagiaan.
Sebagian datang hanya untuk menyaksikan sesuatu yang perlahan menjauh dari genggamannya.
Festival Sungai Kapuas selalu menjadi acara yang paling ditunggu masyarakat Kuala Kapuas.
Setiap tahun, kawasan tepian sungai berubah menjadi lautan cahaya.
Stan kuliner berjajar di sepanjang jalan.
Lampion warna-warni menggantung di atas area pejalan kaki.
Perahu-perahu hias berlayar di atas sungai membawa lampu yang berkilauan seperti bintang jatuh.
Malam itu, ribuan orang memenuhi kawasan festival.
Udara terasa hangat.
Suasana begitu meriah.
Namun di balik semua kemeriahan itu, hati Herlambang justru terasa semakin sunyi.
Amanda datang mengenakan gaun sederhana berwarna biru muda.
Warna favoritnya.
Rambut panjangnya terurai rapi.
Senyumnya mengembang sejak turun dari kendaraan.
Di sampingnya berjalan Jonatan.
Mengenakan kemeja hitam yang membuat penampilannya terlihat semakin berwibawa.
Mereka tampak serasi.
Terlalu serasi.
Dan pemandangan itulah yang pertama kali dilihat Herlambang ketika tiba di lokasi.
Ada sesuatu yang terasa menusuk dadanya.
Meski ia sudah berusaha membiasakan diri.
Meski ia sudah berulang kali mengatakan kepada dirinya sendiri bahwa Amanda berhak bahagia.
Tetap saja.
Menyaksikan kenyataan secara langsung jauh lebih sulit daripada sekadar membayangkannya.
"Herlambang!"
Amanda melambaikan tangan.
Seperti biasa.
Hangat.
Ramah.
Tulus.
Herlambang membalas lambaian itu.
Berusaha tersenyum.
Berusaha terlihat normal.
Namun Kirana yang berdiri tak jauh darinya dapat melihat bahwa senyum itu semakin hari semakin berat.
Malam semakin ramai.
Mereka berjalan bersama menyusuri area festival.
Mencicipi berbagai makanan.
Berfoto di depan dekorasi lampion.
Dan sesekali berhenti menikmati pemandangan Sungai Kapuas yang dipenuhi cahaya.
Amanda terlihat sangat bahagia.
Jonatan selalu berada di sisinya.
Membantu membawakan barang-barang yang dibeli Amanda.
Mengambilkan minuman.
Membukakan jalan di tengah kerumunan.
Hal-hal kecil yang mungkin terlihat sederhana.
Namun cukup membuat Amanda merasa diperhatikan.
Di tengah keramaian, Hendra tiba-tiba menggoda.
"Kalian kapan nikah?"
Amanda langsung tersedak minuman.
"Hendra!"
Jonatan tertawa.
"Kok langsung lompat sejauh itu?"
"Ya siapa tahu. Kan sudah cocok."
Amanda tersipu malu.
Wajahnya memerah.
Sementara Jonatan hanya tersenyum.
Namun senyum itu menyimpan sesuatu.
Sesuatu yang belum dipahami oleh siapa pun malam itu.
Mereka kemudian berhenti di area panggung utama.
Sebuah grup musik lokal sedang tampil.
Lagu-lagu cinta mengalun di udara malam.
Amanda menikmati pertunjukan dengan antusias.
Sesekali ikut bernyanyi.
Sesekali tertawa.
Dan setiap kali Amanda tertawa, Herlambang kembali merasakan luka kecil yang sama.
Luka yang semakin lama semakin akrab dengannya.
Lalu sesuatu terjadi.
Ponsel Jonatan berdering di tengah lagu yang sedang dimainkan.
Lelaki itu melihat layar.
Dan wajahnya berubah.
Hanya sesaat.
Sangat cepat.
Namun cukup bagi Herlambang yang kebetulan berdiri tak jauh di belakangnya untuk melihatnya.
"Sebentar, aku angkat dulu."
Jonatan berjalan menjauh dari Amanda.
Menuju area yang lebih sepi di balik stan makanan.
Amanda tidak memperhatikan.
Matanya masih tertuju pada panggung.
Tapi Herlambang memperhatikan.
Ia melihat Jonatan berbicara dengan ekspresi yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
Bukan gelisah karena pekerjaan.
Bukan cemas karena urusan biasa.
Tapi gelisah seperti orang yang sedang berusaha menyembunyikan sesuatu.
Seperti orang yang sedang dikejar masa lalu.
Herlambang tidak mendengar apa pun.
Jaraknya terlalu jauh.
Namun firasatnya tiba-tiba tidak enak.
Siapa yang menelepon Jonatan di tengah malam seperti ini?
Dan mengapa ia harus pergi menjauh untuk menjawabnya?
Ketika Jonatan kembali, wajahnya sudah kembali tersenyum.
Seperti tidak terjadi apa-apa.
"Ada apa?" tanya Amanda santai.
"Hanya rekan kantor. Ada masalah proyek."
Jonatan menjawab terlalu cepat.
Terlalu siap.
Amanda mengangguk.
Tidak bertanya lebih lanjut.
Namun Herlambang masih memperhatikan.
Dan sesuatu dalam dirinya bergerak.
Bukan cemburu.
Bukan iri.
Tapi perasaan aneh yang tidak bisa ia jelaskan.
Seolah-olah ada badai kecil yang sedang bergerak mendekat.
Dan tidak ada seorang pun yang menyadarinya.
Saat lagu terakhir dimainkan, langit malam dihiasi pesta kembang api.
Ledakan cahaya berwarna-warni memantul di permukaan Sungai Kapuas.
Semua orang bersorak.
Anak-anak menunjuk ke langit.
Pasangan-pasangan saling mendekat.
Amanda menatap ke atas dengan mata berbinar.
"Indah sekali..."
Jonatan berdiri di sampingnya.
"Iya."
Amanda tersenyum.
Kemudian tanpa sadar menggenggam tangan Jonatan.
Gerakan yang sangat alami.
Sangat spontan.
Namun cukup membuat waktu seolah berhenti bagi seseorang yang sedang menyaksikannya.
Herlambang.
Untuk beberapa detik, suara kembang api terasa jauh.
Sorak-sorai pengunjung terasa samar.
Yang terlihat hanya Amanda.
Dan tangan yang sedang digenggamnya.
Bukan tangannya.
Melainkan tangan Jonatan.
Mungkin bagi orang lain itu hal biasa.
Tetapi bagi Herlambang, momen itu terasa seperti pengakuan tanpa kata.
Bahwa Amanda benar-benar telah menemukan seseorang yang ingin ia pilih.
Dan orang itu bukan dirinya.
Kirana yang berdiri di dekat Herlambang diam-diam memperhatikan.
Ia melihat bagaimana rahang Herlambang mengeras.
Bagaimana sorot matanya berubah.
Bagaimana ia berusaha mengalihkan pandangan.
Dan saat itu, untuk pertama kalinya, Kirana benar-benar ingin memeluk lelaki itu.
Bukan sebagai sahabat.
Melainkan sebagai seseorang yang memahami seluruh luka yang sedang ia rasakan.
Namun tentu saja ia tidak melakukannya.
Karena cintanya sendiri masih menjadi rahasia yang terkunci rapat.
Kembang api perlahan mereda.
Satu per satu.
Hingga akhirnya hanya tersisa kepulan asap di langit malam.
Mereka duduk di tepian sungai.
Angin malam bertiup lembut.
Lampu-lampu festival masih berkilauan di permukaan air.
Amanda tampak lebih tenang.
"Aku suka malam seperti ini."
"Kenapa?" tanya Jonatan.
Amanda tersenyum.
"Karena rasanya semua orang terlihat bahagia."
Kalimat itu membuat Herlambang menunduk.
Kadang kebahagiaan memang terlihat jelas dari luar.
Namun tidak semua orang yang tersenyum sedang benar-benar bahagia.
Dan malam itu, Herlambang tersenyum.
Padahal hatinya tidak.
Menjelang pulang, Jonatan mengantar Amanda menuju area parkir.
Hendra sibuk memotret suasana malam untuk yang terakhir kalinya.
Kirana berjalan pelan di samping Herlambang.
Untuk beberapa saat mereka tidak berbicara.
Sampai akhirnya Kirana berkata pelan.
"Kamu masih mencintainya ya?"
Langkah Herlambang terhenti.
Ia menoleh.
Tatapan mereka bertemu.
Lalu perlahan Herlambang tersenyum.
Senyum yang penuh kelelahan.
"Aku bahkan enggak tahu bagaimana cara berhenti."
Jawaban itu membuat hati Kirana kembali retak.
Karena ia mengetahui sesuatu yang Herlambang sendiri belum pahami.
Bahwa ada seseorang yang juga tidak tahu bagaimana cara berhenti mencintainya.
Di kejauhan, mobil Jonatan mulai bergerak.
Membawa Amanda pulang dengan hati berbunga-bunga.
Amanda tidak tahu bahwa malam itu, di sela-sela kembang api dan tawa, Jonatan menerima telepon dari seseorang.
Amanda tidak tahu bahwa wajah Jonatan sempat berubah pucat.
Amanda tidak tahu bahwa ada rahasia yang mulai merambat naik ke permukaan.
Tapi Herlambang melihatnya.
Meski ia tidak mengerti apa artinya.
Meski ia tidak tahu bahwa telepon itu dari seorang perempuan bernama Nadia.
Namun firasatnya tidak berbohong.
Badai sedang mendekat.
Dan tidak ada seorang pun yang siap.
Malam Festival Sungai Kapuas berakhir dengan gemerlap cahaya yang perlahan padam.
Stan-stan mulai ditutup.
Lampion-lampion mulai dimatikan.
Pengunjung satu per satu meninggalkan kawasan tepian sungai.
Bagi Herlambang, malam itu menjadi penanda bahwa ia semakin tertinggal.
Semakin jauh dari Amanda.
Semakin dekat dengan kenyataan yang selama ini berusaha ia hindari.
Sementara itu, Amanda pulang dengan hati berbunga-bunga.
Ia tersenyum di sepanjang perjalanan.
Memejamkan mata ketika mobil melaju pelan menyusuri Sungai Kapuas yang gelap.
Tanpa ia sadari, malam itu Jonatan telah membuat sebuah keputusan besar.
Bukan keputusan tentang masa depan mereka berdua.
Tapi keputusan tentang bagaimana ia akan menghadapi masa lalunya.
Dan Amanda tidak tahu bahwa di balik senyum Jonatan sepanjang malam, ada kegelisahan yang tidak pernah ia tunjukkan.
Karena telepon dari Nadia malam itu hanya berisi satu kalimat pendek:
"Kita harus bicara. Soal Arga."
Namun itu adalah cerita untuk malam yang lain.
Untuk babak berikutnya dari badai yang belum terlihat.
Dan langkah berikutnya bernama...
lamaran.
BAB XI
Janji di Bawah Lampu Kota
Terkadang hidup tidak memberi kesempatan kedua.
Ia hanya memberi satu momen.
Satu pilihan.
Satu keberanian.
Dan ketika momen itu berlalu, yang tersisa hanyalah penyesalan.
Malam itu, di bawah cahaya lampu Kota Kuala Kapuas yang berkilauan di tepian Sungai Kapuas, takdir kembali menulis satu babak baru.
Babak yang membawa kebahagiaan bagi seseorang.
Namun menjadi awal dari kehilangan besar bagi seseorang yang lain.
Sudah hampir dua minggu berlalu sejak Festival Sungai Kapuas.
Hubungan Amanda dan Jonatan semakin dekat.
Mereka mulai dikenal banyak orang sebagai pasangan yang serasi.
Amanda yang lembut dan penuh mimpi.
Jonatan yang dewasa dan penuh perhatian.
Ke mana pun mereka pergi, selalu ada cerita tentang kebersamaan mereka.
Amanda bahkan mulai memperkenalkan Jonatan kepada keluarganya.
Dan keluarga Amanda menerimanya dengan baik.
Hal itu membuat Amanda semakin yakin.
Bahwa mungkin inilah orang yang selama ini dikirim Tuhan untuk menemani hidupnya.
Sementara itu, Herlambang berusaha menjalani hari-harinya seperti biasa.
Ia tetap bekerja.
Tetap berkumpul bersama sahabat-sahabatnya.
Tetap tersenyum ketika bertemu Amanda.
Namun di balik semua itu, ada kelelahan yang perlahan menggerogoti dirinya.
Kelelahan karena terus berpura-pura.
Kelelahan karena harus menyaksikan kebahagiaan yang tidak bisa ia miliki.
Dan yang paling berat, kelelahan karena terus menyimpan perasaan yang tidak pernah menemukan jalan keluar.
Malam itu Amanda menerima pesan dari Jonatan.
"Besok malam jangan ada acara ya."
Amanda tersenyum.
"Kenapa?"
"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan."
"Serius banget."
"Memang serius."
Amanda mencoba bertanya lebih lanjut.
Namun Jonatan tidak memberikan penjelasan.
Ia hanya meminta Amanda datang ke kawasan tepian Sungai Kapuas keesokan malam.
Amanda penasaran.
Tetapi juga berdebar.
Entah mengapa firasatnya mengatakan bahwa sesuatu yang penting akan terjadi.
Keesokan malam.
Langit Kuala Kapuas tampak bersih.
Bintang-bintang bertaburan.
Lampu-lampu kota memantulkan cahaya ke permukaan Sungai Kapuas.
Udara terasa sejuk.
Amanda tiba di lokasi dengan jantung yang berdebar lebih cepat dari biasanya.
Ia mengenakan gaun sederhana berwarna krem.
Rambutnya tergerai rapi.
Saat tiba, ia melihat Jonatan sudah menunggu di sebuah area pandang yang menghadap langsung ke sungai.
Lampu-lampu kecil menghiasi sekeliling tempat itu.
Sederhana.
Namun indah.
Sangat indah.
Amanda tersenyum.
"Kamu bikin acara apa ini?"
Jonatan tertawa kecil.
"Bukan acara."
"Lalu?"
"Sesuatu yang sudah lama ingin aku lakukan."
Nada suaranya berbeda.
Lebih serius.
Lebih tenang.
Dan entah mengapa membuat Amanda gugup.
Mereka berjalan perlahan menuju pagar pembatas tepian sungai.
Di depan mereka, air Sungai Kapuas mengalir tenang.
Perahu-perahu kecil tampak seperti titik cahaya yang bergerak di kejauhan.
Beberapa saat mereka hanya diam.
Menikmati suasana malam.
Sampai akhirnya Jonatan berbicara.
"Amanda."
"Hm?"
"Aku pernah berpikir bahwa hidup hanya tentang pekerjaan."
Amanda menoleh.
Jonatan tersenyum tipis.
"Lalu aku bertemu kamu."
Amanda merasakan jantungnya berdetak semakin cepat.
"Aku suka caramu melihat dunia."
"Aku suka caramu memperhatikan hal-hal kecil."
"Aku suka caramu tersenyum."
Amanda menunduk.
Pipinya mulai memanas.
Namun Jonatan belum selesai.
"Aku enggak tahu masa depan seperti apa yang akan kita hadapi."
"Aku juga enggak bisa janji hidup akan selalu mudah."
"Tapi aku tahu satu hal."
Amanda mengangkat wajahnya perlahan.
Tatapan mereka bertemu.
Dan untuk pertama kalinya malam itu, Jonatan terlihat benar-benar serius.
"Amanda."
"Aku ingin masa depanku ada kamu di dalamnya."
Dunia terasa hening.
Hanya suara angin dan aliran sungai yang terdengar.
Lalu Jonatan mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya.
Amanda membeku.
Matanya membesar.
Jantungnya berdegup sangat keras.
"Amanda."
"Maukah kamu menjadi pendamping hidupku?"
Untuk beberapa detik Amanda tidak mampu berkata apa-apa.
Semua terasa seperti mimpi.
Ia memandang Jonatan.
Memandang kotak kecil itu.
Memandang cahaya lampu kota yang memantul di air.
Kemudian air mata perlahan menggenang di pelupuk matanya.
Bukan karena sedih.
Melainkan karena haru.
Karena bahagia.
Jonatan masih menunggu jawabannya.
Dengan jantung yang mungkin sama gugupnya.
Sampai akhirnya Amanda tersenyum.
Senyum yang begitu indah.
Senyum yang selama ini membuat banyak orang jatuh hati kepadanya.
Termasuk Herlambang.
Namun malam itu senyum itu diberikan kepada Jonatan.
Dan hanya kepada Jonatan.
Amanda mengangguk pelan.
"Iya."
Satu kata.
Namun cukup untuk mengubah banyak hal.
Jonatan tersenyum lega.
Kemudian memeluk Amanda.
Sementara air mata Amanda akhirnya jatuh.
Malam itu.
Di bawah lampu-lampu kota.
Di tepian Sungai Kapuas.
Mereka membuat sebuah janji.
Janji tentang masa depan.
Janji tentang kebersamaan.
Janji yang mereka yakini akan bertahan selamanya.
Meskipun takdir diam-diam telah menyiapkan jalan yang berbeda.
Keesokan harinya.
Kabar itu menyebar.
Amanda dan Jonatan resmi bertunangan.
Hendra menjadi orang pertama yang menelepon Amanda.
Kirana mengirim ucapan selamat.
Semua tampak bahagia.
Semua tampak mendukung.
Termasuk Herlambang.
Setidaknya dari luar.
Saat Amanda sendiri datang memberitahunya, Herlambang hanya tersenyum.
"Selamat ya."
Amanda tersenyum lebar.
"Makasih."
"Kamu bahagia?"
Amanda mengangguk.
"Sangat."
Dan saat melihat senyum itu, Herlambang sadar bahwa apa pun yang ia rasakan tidak lagi penting.
Karena yang terpenting bagi Amanda saat ini adalah Jonatan.
Bukan dirinya.
Malam itu Herlambang kembali berjalan sendirian menuju Dermaga KP3.
Lampu-lampu kota memantul di permukaan sungai.
Persis seperti malam ketika Jonatan melamar Amanda.
Namun suasana di hatinya jauh berbeda.
Untuk pertama kalinya, ia benar-benar merasa kehilangan.
Bukan karena Amanda pergi.
Karena Amanda masih ada.
Masih menjadi sahabatnya.
Masih bisa ia temui.
Namun kini Amanda telah memberikan masa depannya kepada orang lain.
Dan tidak ada lagi ruang bagi mimpi yang selama ini ia simpan diam-diam.
Di atas Sungai Kapuas, angin malam berembus perlahan.
Membawa pergi harapan-harapan yang tidak pernah sempat diperjuangkan.
Sementara jauh di dalam hati Herlambang, sebuah keputusan mulai tumbuh.
Keputusan yang akan mengubah hidupnya.
Keputusan untuk pergi.
Meninggalkan Kuala Kapuas.
Meninggalkan Amanda.
Dan mencoba melupakan cinta yang tidak pernah menjadi miliknya.
BAB XII
Lelaki yang Memilih Pergi
Terkadang seseorang tidak pergi karena tidak lagi mencintai.
Justru karena terlalu mencintai.
Karena bertahan di tempat yang sama hanya membuat luka semakin dalam.
Karena setiap pertemuan menghadirkan harapan yang seharusnya sudah lama dikuburkan.
Dan karena ada kalanya satu-satunya cara untuk menyelamatkan diri adalah menjauh dari sumber kesedihan itu sendiri.
Herlambang akhirnya sampai pada titik itu.
Titik ketika ia harus memilih.
Tetap tinggal dan terus terluka.
Atau pergi, meskipun tidak ada jaminan bahwa jarak akan mampu menyembuhkan hatinya.
Kuala Kapuas masih sama seperti biasanya.
Sungai Kapuas tetap mengalir tenang.
Perahu-perahu kecil tetap hilir mudik membawa penumpang.
Anak-anak tetap bermain di tepian sungai menjelang sore.
Namun bagi Herlambang, kota itu tidak lagi terasa sama.
Karena hampir di setiap sudut kota terdapat kenangan tentang Amanda.
Di Taman Askari.
Di Dermaga KP3.
Di warung kopi dekat jalan utama.
Di toko buku tempat mereka pernah menghabiskan waktu berjam-jam.
Bahkan di bangku-bangku taman yang tampak biasa saja.
Semuanya menyimpan cerita.
Dan setiap cerita terasa seperti luka yang terus dibuka kembali.
Dua minggu sebelum keputusannya, Herlambang tanpa sengaja melihat sebuah postingan lowongan pekerjaan.
Bukan karena ia sengaja mencari. Bukan karena ia tidak puas dengan pekerjaannya sekarang. Tapi karena matanya tertahan pada satu kalimat di bagian bawah iklan tersebut:
"Kesempatan untuk memulai hidup baru."
Tiga kata.
Tiga kata yang seolah-olah ditulis khusus untuknya.
Ia membaca seluruh deskripsi lowongan itu. Perusahaan konstruksi besar di Jakarta. Posisi yang lebih baik. Gaji yang lebih tinggi. Kesempatan karier yang lebih menjanjikan.
Dulu, ia mungkin akan memikirkannya berminggu-minggu. Tapi kali ini, ada sesuatu yang berbeda. Ada suara kecil di kepalanya yang berkata, "Ini jalanmu. Ambil."
Ia menyimpan lowongan itu diam-diam. Tidak memberitahu siapa pun. Bukan karena ia ingin merahasiakan. Tapi karena ia belum yakin. Atau mungkin ia sudah yakin, tapi belum siap mengakuinya.
Seminggu kemudian, pada pukul dua dini hari, Herlambang terbangun dari tidurnya.
Bukan karena mimpi buruk. Bukan karena suara berisik. Tapi karena pikirannya tidak bisa berhenti. Seperti kaset rusak yang memutar adegan yang sama berulang kali.
Adegan Amanda tertawa bersama Jonatan.
Adegan Jonatan meraih tangan Amanda saat di dermaga.
Adegan Amanda berkata, "Untung ada kamu."
Adegan-adegan kecil yang terlihat biasa bagi orang lain. Tapi baginya, setiap adegan adalah paku yang menusuk dadanya perlahan.
Ia duduk di tepi tempat tidur. Menatap gelap di luar jendela. Lampu kota Jakarta masih menyala di kejauhan. Tapi pikirannya bukan di Jakarta. Pikirannya di Kuala Kapuas. Bersama Amanda. Bersama seseorang yang tidak pernah benar-benar menjadi miliknya.
Herlambang meraih ponselnya.
Bukan untuk menelepon. Bukan untuk mengirim pesan. Tapi untuk membuka aplikasi lowongan pekerjaan yang ia simpan seminggu lalu. Jarinya bergerak lambat. Seolah-olah ia masih ragu. Seolah-olah ada bagian dari dirinya yang berharap ia akan mengurungkan niat.
Namun ia tetap melanjutkan.
Ia mengunggah CV-nya. Menulis surat lamaran singkat. Mengirimkannya sebelum otaknya sempat menghentikan tangannya.
Terkirim.
Satu kata di layar ponsel.
Tapi rasanya seperti ia baru saja menekan tombol yang akan mengubah seluruh hidupnya.
Tiga hari kemudian, balasan datang.
Herlambang diterima.
Surat elektronik itu terbuka di layar komputernya. Ia membacanya berulang kali. Bukan karena tidak percaya. Tapi karena ia sedang menghitung konsekuensinya.
Jika ia menerima tawaran ini, ia akan meninggalkan Kuala Kapuas dalam dua minggu. Ia akan meninggalkan keluarganya. Ia akan meninggalkan Hendra. Ia akan meninggalkan Kirana. Dan ia akan meninggalkan Amanda.
Selamanya?
Ia tidak tahu. Mungkin tidak selamanya. Tapi cukup lama untuk melupakan. Atau setidaknya, cukup lama untuk belajar tidak lagi sakit setiap kali mendengar namanya.
Tangannya bergerak perlahan di atas papan ketik. Lalu ia mengetik satu kalimat sederhana.
Saya menerima tawaran pekerjaan tersebut.
Setelah itu, ia menekan tombol kirim.
Dan dalam hitungan detik, sebuah keputusan besar telah dibuat.
Keputusan yang akan mengubah hidupnya.
Ia menyandarkan tubuhnya di kursi. Menatap langit-langit kantor yang putih dan suram. Lalu tersenyum. Bukan senyum bahagia. Tapi senyum lega. Seperti seseorang yang akhirnya berhenti berlari dan memutuskan untuk pindah arah.
Sore harinya, Herlambang mengajak Hendra bertemu di sebuah kedai kopi dekat Sungai Kapuas.
Hendra datang dengan wajah santai seperti biasa. Tertawa tentang hal-hal kecil. Bercerita tentang pekerjaan. Mengeluh tentang macetnya Kuala Kapuas akhir-akhir ini.
Namun senyumnya perlahan menghilang ketika mendengar kabar itu.
"Kamu serius?"
Herlambang mengangguk. "Iya."
"Kapan berangkat?"
"Dua minggu lagi."
Hendra terdiam. Lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi. Matanya menatap Herlambang dengan ekspresi yang tidak bisa ia sembunyikan. Bukan marah. Bukan kecewa. Tapi sedih. Sedih karena ia tahu persis mengapa sahabatnya ini pergi.
"Ini karena Amanda?"
Pertanyaan itu datang begitu saja. Dan untuk pertama kalinya, Herlambang tidak berusaha mengelak. Tidak ada gunanya lagi.
"Iya."
Hendra menghela napas panjang. Lama sekali. Seperti sedang menelan sesuatu yang pahit. "Aku sudah menduga."
Beberapa saat mereka hanya diam. Suara kendaraan dari jalan raya terdengar samar. Di kejauhan, Sungai Kapuas terlihat berkilauan diterpa cahaya sore. Warna keemasan yang dulu selalu mereka nikmati bersama.
"Kamu yakin ini solusi?" tanya Hendra akhirnya.
Herlambang tersenyum tipis. "Aku enggak tahu."
"Lalu kenapa pergi?"
Herlambang menunduk. Jari-jarinya menggenggam cangkir kopi yang sudah dingin. Lalu ia berbicara. Perlahan. Jujur. Tanpa topeng. Tanpa senyum palsu yang selama ini ia kenakan setiap kali bertemu orang.
"Aku capek, Hendra."
Hendra tidak menyela.
"Aku capek berpura-pura baik-baik saja. Aku capek pura-pura cuma menganggap Amanda sebagai sahabat. Aku capek melihat mereka bersama setiap hari. Aku capek menjadi orang yang selalu mengerti padahal hatiku hancur."
Suaranya bergetar di kalimat terakhir.
Hendra menunduk. Tidak ada lelucon yang bisa ia gunakan untuk mencairkan suasana. Tidak ada kata-kata ringan yang mampu menghapus luka sahabatnya. Yang bisa ia lakukan hanyalah mendengar. Dan itu sudah cukup.
Malam itu, setelah berpisah dengan Hendra, Herlambang berjalan menuju Dermaga KP3.
Tempat yang selalu ia datangi ketika pikirannya sedang penuh. Langit mulai gelap. Lampu-lampu kota menyala satu per satu. Angin sungai bertiup lembut, membawa aroma air dan tanah yang khas.
Dan seperti biasa, kenangan datang tanpa diundang.
Ia teringat hari pertama bertemu Amanda. Saat ospek kampus. Amanda tersesat di antara gedung-gedung fakultas. Wajahnya panik. Rambutnya diikat asal. Dan Herlambang, yang saat itu sedang duduk di bawah pohon sambil membaca buku, merasa kasihan sekaligus geli melihatnya.
"Kamu cari gedung mana?" tanyanya.
"Fakultas Ekonomi," jawab Amanda dengan napas tersengal.
"Ini Fakultas Teknik. Kamu salah gedung."
Wajah Amanda langsung pucat. "Aduh, aku udah muter satu jam!"
Herlambang tertawa. "Aku antar."
Saat itu ia tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari nanti ia akan mencintai perempuan itu sedalam ini.
Dan ia juga tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari nanti ia harus pergi untuk melupakan dirinya.
Herlambang memejamkan mata. Menghirup udara malam yang dingin. Lalu berbisik pada dirinya sendiri:
"Kamu bukan lari, Herlambang. Kamu sedang menyelamatkan diri."
Keesokan harinya.
Amanda menghubunginya. Suaranya terdengar berbeda. Tidak seperti biasanya. Ada nada ragu yang tidak pernah ia dengar sebelumnya.
"Herlambang."
"Ya?"
"Aku dengar dari Hendra."
Herlambang sudah tahu percakapan ini akan datang. Ia sudah mempersiapkan diri. Atau setidaknya ia berpikir demikian.
"Apa?"
"Kamu mau pindah kerja."
"Iya."
Amanda terdiam beberapa detik. Mungkin sedang mencari kata-kata yang tepat. Atau mungkin sedang menahan sesuatu.
"Kenapa enggak bilang?"
"Belum sempat."
"Kapan berangkat?"
"Dua minggu lagi."
Di seberang telepon terdengar keheningan. Keheningan yang aneh. Bukan keheningan kosong. Tapi keheningan yang penuh dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak berani diucapkan.
"Aku bakal kehilangan sahabat terbaikku."
Kalimat Amanda terdengar pelan. Hampir seperti bisikan. Namun cukup membuat dada Herlambang terasa sesak.
Sahabat.
Selalu sahabat. Dan mungkin memang hanya itu tempat yang tersedia untuknya di hati Amanda.
"Kita masih bisa telepon," kata Herlambang. Berusaha terdengar ringan.
Amanda tertawa kecil. Tawa yang tidak sampai ke matanya. "Tidak sama."
"Masih bisa video call."
"Tetap tidak sama."
Untuk sesaat, Herlambang hampir ingin mengatakan semuanya. Mengatakan alasan sebenarnya. Mengatakan bahwa ia pergi karena tidak sanggup lagi melihat Amanda bersama lelaki lain. Mengatakan bahwa ia mencintainya. Bahwa ia selalu mencintainya. Bahwa ia sudah mencintainya sejak sebelum Jonatan datang.
Tapi seperti biasa. Keberanian itu tidak pernah datang.
Sebaliknya, ia hanya tersenyum. Meskipun Amanda tidak bisa melihatnya.
"Aku cuma ingin mencoba sesuatu yang baru."
Kebohongan kecil. Yang terdengar lebih mudah daripada mengatakan kebenaran.
Malam-malam berikutnya terasa semakin berat.
Kirana mengetahui rencana keberangkatan Herlambang. Dan kabar itu menghantamnya seperti badai. Bukan badai yang datang dengan petir dan angin. Tapi badai yang datang dalam bentuk keheningan yang mencekik.
Karena selama ini, meskipun Herlambang tidak pernah mencintainya, setidaknya lelaki itu masih berada di kota yang sama. Masih bisa ditemui. Masih bisa dilihat. Masih bisa didengar suaranya.
Namun kini bahkan itu pun akan hilang.
Suatu sore, Kirana berdiri sendirian di Taman Askari. Memperhatikan bangku tempat mereka sering duduk bersama. Bangku kayu yang sudah mulai lapuk dimakan usia. Tapi masih kokoh berdiri. Berbeda dengan hatinya yang mulai hancur.
Langit sedang berwarna jingga.
Amanda sedang bersama Jonatan.
Hendra sedang bekerja.
Dan Herlambang sedang mempersiapkan kepindahannya.
Kirana memejamkan mata. Menahan air mata yang perlahan mulai jatuh. Takdir terasa begitu kejam. Orang yang dicintainya memilih pergi. Dan orang yang dicintai Herlambang justru tetap tinggal.
"Aku juga bisa pergi, Herlambang," bisiknya dalam hati. "Tapi aku tidak pernah punya alasan. Karena aku tidak dikejar oleh apa pun selain bayanganmu."
Seminggu kemudian. Tiket keberangkatan telah dibeli. Barang-barang mulai dikemas.
Kamar Herlambang yang dulu penuh dengan buku dan kenangan kini terlihat lebih kosong. Koper besar berdiri di sudut. Beberapa kardus berisi barang-barang yang tidak bisa ia tinggalkan. Dan di atas meja, sebuah kotak kayu tua masih berada di tempatnya.
Kotak itu.
Kotak yang menyimpan surat yang tidak pernah dikirim.
Herlambang duduk di tepi tempat tidur. Menatap kotak itu cukup lama. Tangan yang terulur ragu-ragu. Apakah ia harus membawanya? Apakah ia harus meninggalkannya? Apakah ia harus membuangnya?
Pada akhirnya, ia memasukkan kotak itu ke dalam koper.
Bukan karena ia ingin mengingat. Tapi karena ia belum siap melupakan.
Malam itu, sebelum tidur, ia membuka foto lama di ponselnya. Foto empat sahabat di Taman Askari. Amanda tersenyum. Kirana tersenyum. Hendra tersenyum. Dan ia sendiri tersenyum.
Tapi tidak ada satupun dari mereka yang benar-benar bahagia saat foto itu diambil.
Herlambang menutup foto itu. Meletakkan ponsel di samping bantal. Lalu memejamkan mata.
"Besok semuanya berbeda," bisiknya.
Dan untuk pertama kalinya, ia tidak tahu apakah itu kabar baik atau kabar buruk.
Seminggu kemudian. Tiket keberangkatan telah dibeli. Barang-barang mulai dikemas. Semuanya semakin nyata. Dan semakin dekat.
Namun tidak seorang pun tahu bahwa keputusan Herlambang untuk pergi bukanlah akhir dari cerita. Justru sebaliknya. Itulah awal dari babak baru yang lebih rumit. Lebih menyakitkan. Dan lebih tak terduga.
Karena di saat Herlambang mencoba meninggalkan masa lalunya, badai pertama sedang mulai bergerak menuju kehidupan Amanda dan Jonatan. Sebuah badai yang perlahan akan meruntuhkan kebahagiaan yang selama ini tampak sempurna.
Dan ketika badai itu datang, tidak ada seorang pun yang siap menghadapinya.
BAB XIII
Kepergian yang Menyisakan Sunyi
Tidak semua perpisahan diiringi tangisan.
Sebagian justru terjadi dalam senyap.
Tanpa pelukan yang lama.
Tanpa kata-kata dramatis.
Tanpa janji yang berlebihan.
Namun justru perpisahan yang sunyi sering kali meninggalkan luka yang paling dalam.
Karena setelah semuanya berlalu, barulah seseorang menyadari bahwa ada bagian dari hidupnya yang ikut pergi.
Dan pagi itu, di Kota Kuala Kapuas yang masih diselimuti kabut tipis, seseorang akan pergi meninggalkan begitu banyak hal yang tidak pernah sempat ia selesaikan.
Hari keberangkatan Herlambang akhirnya tiba.
Matahari bahkan belum sepenuhnya muncul ketika ia sudah terjaga.
Koper besar berdiri di sudut kamar.
Beberapa kardus berisi buku dan dokumen telah dikirim lebih dulu ke kota tujuan.
Kamar yang selama bertahun-tahun menjadi saksi berbagai mimpi dan kesedihannya kini terlihat lebih kosong.
Herlambang duduk di tepi tempat tidur.
Menatap sekeliling ruangan.
Ada perasaan aneh yang sulit dijelaskan.
Perasaan antara lega dan sedih.
Antara ingin pergi dan ingin tetap tinggal.
Di atas meja, sebuah kotak kayu tua masih berada di tempatnya.
Kotak yang menyimpan surat yang tidak pernah dikirim kepada Amanda.
Perlahan ia mengambil kotak itu.
Membukanya.
Mengeluarkan amplop berwarna krem yang sudah mulai menguning.
Untuk beberapa saat ia hanya memandanginya.
Lalu tersenyum tipis.
Senyum yang penuh kelelahan.
"Sudah cukup."
Suara itu keluar pelan.
Hanya untuk dirinya sendiri.
Ia memasukkan kembali surat itu ke dalam kotak.
Kemudian menyimpannya di dalam koper.
Untuk pertama kalinya setelah enam tahun, surat itu ikut bepergian bersamanya.
Seolah masa lalu yang belum selesai masih enggan ditinggalkan.
Di tempat lain, Amanda baru saja bangun ketika ponselnya berbunyi.
Pesan dari Hendra.
"Hari ini Herlambang berangkat."
Amanda langsung terdiam.
Meski sudah mengetahui jadwal keberangkatan itu, kenyataannya tetap terasa berbeda.
Terlalu cepat.
Terlalu nyata.
Ia menatap layar ponselnya cukup lama.
Lalu segera bersiap.
Tanpa banyak berpikir.
Tanpa sarapan.
Tanpa menunggu Jonatan.
Ia hanya tahu satu hal.
Ia harus menemui Herlambang sebelum terlambat.
Terminal keberangkatan mulai ramai.
Orang-orang datang dan pergi membawa koper serta harapan masing-masing.
Suara pengumuman terdengar sesekali dari pengeras suara.
Herlambang berdiri bersama Hendra.
Keduanya lebih banyak diam.
Karena persahabatan yang terlalu lama sering kali tidak membutuhkan banyak kata.
"Kamu pasti balik kan?"
Hendra akhirnya bertanya.
Herlambang tersenyum.
"Pasti."
"Jangan lupa kami."
"Mana mungkin."
"Kalau sukses jangan sombong."
Herlambang tertawa kecil.
Dan untuk sesaat suasana terasa lebih ringan.
Namun senyum itu perlahan menghilang ketika matanya menangkap sosok yang sedang berlari kecil dari kejauhan.
Amanda.
Perempuan itu datang dengan napas sedikit terengah.
Rambutnya masih sedikit berantakan.
Seolah berangkat terburu-buru.
Dan entah mengapa, melihat Amanda datang membuat hati Herlambang kembali bergetar.
Seperti bertahun-tahun yang lalu.
"Kamu enggak bilang mau berangkat sepagi ini."
Amanda masih mencoba mengatur napasnya.
Herlambang tersenyum.
"Takut kamu repot."
"Aku tetap datang."
"Aku tahu."
Amanda menatapnya beberapa detik.
Ada sesuatu di matanya.
Kesedihan.
Kehilangan.
Atau mungkin sekadar rasa berat karena harus berpisah dengan sahabat lama.
"Kamu jaga diri baik-baik ya."
Amanda berkata pelan.
"Kamu juga."
"Jangan lupa makan."
"Kamu juga."
"Jangan kebanyakan kerja."
"Kamu juga."
Amanda tertawa kecil.
Matanya mulai berkaca-kaca.
"Kenapa jadi kayak mau pergi selamanya?"
Herlambang ikut tersenyum.
Padahal di dalam dadanya ada ribuan kalimat yang ingin keluar.
Kalimat yang selama ini selalu ia tahan.
Untuk beberapa detik mereka hanya saling menatap.
Dan untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun, Herlambang benar-benar ingin mengatakan semuanya.
Tentang surat itu.
Tentang cintanya.
Tentang alasan kepergiannya.
Tentang semua yang tidak pernah berani ia ucapkan.
Namun seperti sebelumnya.
Ia kembali kalah.
Kalah oleh ketakutan.
Kalah oleh keadaan.
Kalah oleh kenyataan bahwa Amanda telah memilih orang lain.
"Terima kasih."
Amanda tiba-tiba berkata.
Herlambang mengernyit.
"Untuk apa?"
"Untuk semuanya."
Amanda tersenyum.
"Karena selama ini kamu selalu ada."
Kalimat sederhana.
Namun cukup membuat hati Herlambang terasa hangat sekaligus hancur dalam waktu yang bersamaan.
Tak lama kemudian Jonatan datang.
Membawa senyum ramah seperti biasa.
Ia menyalami Herlambang dengan erat.
"Semoga sukses di tempat baru."
"Makasih."
"Kalau pulang ke Kuala Kapuas kabari."
"Pasti."
Jonatan tidak pernah tahu bahwa lelaki yang sedang ia salami pernah mencintai perempuan yang akan menjadi istrinya.
Dan mungkin memang lebih baik demikian.
Pengumuman keberangkatan akhirnya terdengar.
Saat yang sejak tadi berusaha mereka tunda akhirnya tiba.
Herlambang mengangkat kopernya.
Memandang sahabat-sahabat yang berdiri di hadapannya.
Hendra.
Amanda.
Jonatan.
Dan beberapa saat kemudian, seseorang datang tergesa-gesa dari arah pintu masuk.
Kirana.
Perempuan itu berhenti beberapa langkah dari mereka.
Napasnya masih tersengal.
Namun ia tetap tersenyum.
Meski matanya tampak sembab.
"Kupikir aku terlambat."
Herlambang tersenyum hangat.
"Untung belum."
Mereka saling menatap beberapa detik.
Dan untuk pertama kalinya, Herlambang melihat sesuatu yang berbeda di mata Kirana.
Kesedihan yang jauh lebih dalam daripada yang pernah ia lihat sebelumnya.
Namun sekali lagi, ia tidak memahami artinya.
Pelukan perpisahan pun terjadi.
Dengan Hendra.
Dengan Amanda.
Dengan Jonatan.
Dan terakhir dengan Kirana.
Saat memeluk Herlambang, tangan Kirana sedikit bergetar.
Seolah ada sesuatu yang ingin ia katakan.
Sesuatu yang selama bertahun-tahun tertahan.
Namun kata-kata itu tetap tidak keluar.
Tetap terkunci di dalam hatinya.
Kemudian Herlambang melangkah pergi.
Perlahan.
Menjauh.
Semakin jauh.
Hingga akhirnya menghilang di balik pintu keberangkatan.
Dan saat sosok itu benar-benar lenyap dari pandangan, Amanda menundukkan kepala.
Hendra menghela napas panjang.
Sedangkan Kirana akhirnya tidak mampu lagi menahan air matanya.
Hari itu, Kota Kuala Kapuas tetap berjalan seperti biasa.
Sungai Kapuas tetap mengalir.
Perahu-perahu tetap berlayar.
Matahari tetap terbit dan tenggelam.
Namun bagi mereka yang ditinggalkan, ada sesuatu yang berubah.
Ada ruang kosong yang tiba-tiba terasa sangat nyata.
Ada keheningan yang sebelumnya tidak pernah ada.
Ada sunyi yang perlahan menetap.
Dan jauh di dalam perjalanan menuju kota barunya, Herlambang memandang keluar jendela.
Menyaksikan Kuala Kapuas semakin menjauh.
Tanpa ia sadari, takdir baru saja membuka lembaran berikutnya.
Karena beberapa minggu setelah kepergiannya, sebuah kabar mengejutkan akan datang.
Kabar yang mengguncang kehidupan Amanda.
Kabar yang membuat semua orang mulai mempertanyakan apakah kebahagiaan benar-benar bisa bertahan selamanya.
Dan kabar itu berasal dari seseorang yang paling mereka percaya.
Jonatan.
BAB XIV
Rahasia di Balik Senyum Jonatan
Tidak semua senyum lahir dari kebahagiaan.
Sebagian adalah topeng.
Sebagian adalah benteng.
Dan sebagian lagi adalah cara seseorang menyembunyikan badai yang sedang menghancurkan hidupnya dari dalam.
Selama ini, Amanda mengenal Jonatan sebagai lelaki yang tenang. Dewasa. Penuh perhatian. Selalu tahu bagaimana membuat orang lain merasa nyaman. Di mata banyak orang, Jonatan nyaris sempurna.
Amanda pun mempercayainya. Sepenuhnya. Tanpa keraguan. Tanpa prasangka.
Namun manusia selalu memiliki sisi yang tidak terlihat. Sisi yang hanya muncul ketika waktu memaksanya keluar dari persembunyian.
Dan waktu itu kini mulai mendekat.
Sudah hampir satu bulan sejak Herlambang meninggalkan Kuala Kapuas.
Kehidupan berjalan seperti biasa.
Amanda masih bekerja. Masih sesekali bertemu Hendra dan Kirana. Masih rutin berkomunikasi dengan Herlambang melalui pesan singkat. Namun ada yang berubah. Amanda menjadi lebih pendiam. Lebih sering melamun. Lebih sering memeriksa ponselnya dengan perasaan tidak tenang.
Kirana menyadarinya. Tapi ia tidak tahu harus bertanya dari mana.
Di mata orang lain, hubungan Amanda dan Jonatan justru semakin serius. Kedua keluarga mulai saling mengenal. Rencana pernikahan mulai dibicarakan. Tanggal belum ditentukan, tetapi arah hubungan mereka sudah jelas.
Semua tampak berjalan sempurna. Setidaknya dari luar.
Dari dalam, Amanda merasakan kegelisahan yang tidak bisa ia jelaskan. Bukan karena kurangnya cinta. Bukan karena kurangnya perhatian. Tapi karena Jonatan, untuk pertama kalinya, terlihat seperti menyembunyikan sesuatu.
Tiga minggu sebelum kabar itu keluar, tanda-tanda kecil mulai bermunculan.
Pertama, panggilan telepon yang aneh.
Suatu malam, ketika mereka sedang bersantai di ruang tamu rumah Jonatan, ponselnya berdering. Jonatan melihat layar. Wajahnya berubah. Hanya sesaat. Sangat cepat. Namun cukup bagi Amanda yang kebetulan menoleh.
"Siapa?" tanyanya.
Jonatan tersenyum. "Bukan siapa-siapa. Nomor tidak dikenal."
Ia mematikan panggilan itu. Memasukkan ponsel ke saku. Lalu kembali tersenyum seperti biasa. Amanda tidak bertanya lebih lanjut. Namun jauh di dalam hatinya, ada sesuatu yang mengganjal. Sebab Jonatan tidak pernah mematikan panggilan di depannya. Tidak pernah.
Kedua, kegelisahan yang tidak biasa.
Beberapa hari kemudian, mereka sedang makan malam berdua. Jonatan tampak gelisah. Matanya sesekali menatap ponsel yang diletakkan terbalik di atas meja—sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya.
"Jonatan," panggil Amanda.
Lelaki itu tersentak. "Ya?"
"Kamu baik-baik saja?"
"Iya. Kenapa?"
"Kamu kelihatan tidak fokus."
Jonatan tertawa kecil. Tawa yang terdengar dipaksakan. "Maaf. Pekerjaan sedang menumpuk."
Amanda mengangguk. Tidak ingin memperkeruh suasana. Namun ia memperhatikan bagaimana Jonatan tetap gelisah sepanjang malam. Bagaimana ia bolak-balik memeriksa ponselnya. Bagaimana ia menghela napas setiap kali membaca sesuatu di layar.
Saat Amanda pergi ke kamar kecil, ia melihat Jonatan menerima telepon. Terburu-buru. Hampir panik. Lelaki itu berjalan keluar restoran untuk menjawabnya.
Amanda berdiri di balik pintu kaca. Tidak bermaksud menguping. Namun ia bisa melihat wajah Jonatan di luar sana. Wajah yang pucat. Wajah yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
Ketika Jonatan kembali masuk, Amanda sudah duduk kembali di tempatnya. Tersenyum. Berpura-pura tidak melihat apa-apa.
"Siapa tadi?" tanyanya santai.
"Rekan kantor." Jawaban Jonatan terlalu cepat. Terlalu siap.
Amanda hanya mengangguk. Namun malam itu, untuk pertama kalinya, ia tidak bisa tidur dengan tenang.
Ketiga, foto yang tidak sengaja terlihat.
Suatu sore, Jonatan meminta Amanda melihat-lihat foto-foto dari liburan mereka beberapa waktu lalu. Namun ketika Jonatan menggulir ke bawah, sebuah foto lain muncul. Foto seorang anak laki-laki. Mungkin sekitar empat atau lima tahun. Senyumnya lebar. Matanya bulat dan cerah.
Jonatan langsung mematikan layar. Begitu cepat. Begitu panik.
"Apa itu?" tanya Amanda.
"Foto keponakan." Jonatan tersenyum. Terlalu cepat. "Anaknya adik sepupuku."
Amanda tidak bertanya lebih lanjut. Namun ia tidak bisa mengabaikan sesuatu yang aneh. Sebab jika itu hanya foto keponakan, mengapa Jonatan begitu panik? Mengapa ia langsung mematikan layar?
Dan mengapa mata anak itu terasa sangat familiar?
Malam itu, Amanda berbaring di tempat tidur. Memikirkan foto tersebut. Memikirkan mata anak itu. Dan tanpa sadar, sebuah pertanyaan muncul di benaknya.
Anak itu... mirip Jonatan.
Ia segera mengusir pikiran itu. Menganggapnya sebagai kebetulan. Menganggapnya sebagai kekhawatiran yang berlebihan.
Namun pikiran itu tidak pergi. Ia justru semakin mengakar. Menunggu waktu yang tepat untuk muncul kembali.
Hari-hari berikutnya, perubahan itu semakin terlihat.
Jonatan semakin sering menghilang. Pesan-pesan Amanda kadang baru dibalas beberapa jam kemudian. Telepon sering tidak diangkat. Dan yang paling aneh, Jonatan mulai beberapa kali membatalkan janji secara mendadak.
Alasannya selalu pekerjaan. Rapat. Atau urusan keluarga. Alasan yang terdengar masuk akal. Namun terlalu sering untuk dianggap kebetulan.
Suatu malam, Amanda mencoba menelepon Jonatan. Tidak diangkat. Ia mencoba lagi. Tetap tidak diangkat. Beberapa menit kemudian sebuah pesan masuk.
"Maaf, lagi ada urusan. Nanti aku telepon balik."
Amanda membaca pesan itu berkali-kali. Jarinya menggenggam ponsel erat-erat. Lalu ia sadar sesuatu. Pesan itu berbeda. Biasanya Jonatan mengetik panjang. Bercerita. Setidaknya memberi alasan yang masuk akal.
Kali ini hanya satu kalimat. Dangkal. Terburu-buru. Seperti orang yang sedang panik.
Beberapa hari kemudian, kegelisahan Amanda mencapai puncaknya.
Karena untuk pertama kalinya sejak mereka bersama, Jonatan membatalkan pertemuan keluarga yang telah direncanakan jauh-jauh hari. Bukan sekadar membatalkan. Ia membatalkannya melalui pesan. Singkat. Tanpa penjelasan.
"Ada urusan mendadak. Kita undur aja dulu."
Amanda membaca pesan itu berulang kali. Ia mencoba menelepon. Tidak diangkat. Mencoba lagi. Tetap tidak diangkat.
Satu jam kemudian Jonatan membalas.
"Maaf. Aku sedang menghadapi masalah lama."
Masalah lama.
Dua kata yang justru melahirkan seribu pertanyaan baru.
Masalah apa? Mengapa baru muncul sekarang? Mengapa Jonatan tidak pernah menceritakannya? Dan yang paling penting—apakah masalah itu berkaitan dengan anak dalam foto itu?
Amanda tidak bisa tidur malam itu. Ia duduk di tepi tempat tidur. Memeluk bantal. Menahan air mata yang tidak tahu harus jatuh ke mana.
Sementara Amanda gelisah di rumahnya, di tempat lain—di sebuah hotel kecil di pinggiran kota—Jonatan sedang duduk sendirian di dalam kamar.
Ponselnya berada di atas meja. Layar masih menyala memperlihatkan nama Amanda. Namun bukan itu yang membuat wajahnya terlihat muram.
Melainkan sebuah amplop putih yang berada tepat di depannya.
Amplop yang baru diterimanya siang tadi. Amplop yang berisi sesuatu yang selama ini berusaha ia lupakan. Sesuatu yang kini kembali menghantuinya.
Jonatan tidak membuka amplop itu segera. Ia hanya menatapnya. Seolah-olah dengan tidak membukanya, ia bisa berpura-pura bahwa semua ini tidak terjadi. Seolah-olah dengan menunda, masa lalu akan kembali terkubur.
Tapi ia tahu. Tidak ada jalan mundur.
Dengan tangan gemetar, ia perlahan membuka amplop tersebut.
Beberapa lembar dokumen. Dan sebuah foto lama.
Foto seorang anak laki-laki. Anak yang sama yang pernah tanpa sengaja Amanda lihat di ponselnya. Anak yang matanya sangat mirip dengannya.
Anak yang kini ia tahu namanya.
Arga.
Untuk beberapa saat ia hanya menatap foto itu tanpa bergerak. Seolah masa lalu yang selama ini terkubur tiba-tiba bangkit kembali. Dan kali ini, ia tidak bisa lagi menguburnya.
Di samping amplop itu, ponselnya yang lain—nomor lama yang sudah bertahun-tahun tidak ia gunakan—berbunyi. Satu pesan masuk.
Jonatan membacanya. Wajahnya semakin pucat.
"Jonatan, aku enggak minta banyak. Coba kamu lihat fotonya. Matanya sama persis dengan matamu. Kamu enggak bisa terus lari."
Dari Nadia.
Nama yang sudah bertahun-tahun tidak ia dengar. Nama yang sengaja ia kubur bersama masa lalunya. Nama yang kini kembali, membawa serta seorang anak kecil.
Jonatan memejamkan mata.
Ia teringat pertemuan pertama dengan Amanda. Teringat bagaimana perempuan itu dengan polosnya bertanya, "Kamu enggak punya masa lalu yang rumit kan?"
Ia menjawab, "Enggak."
Itu adalah kebohongan pertama yang ia ucapkan pada Amanda.
Dan sejak saat itu, ia terus berbohong. Bukan karena jahat. Tapi karena takut. Takut kehilangan Amanda sebelum memilikinya. Takut masa lalu yang kelam akan menghancurkan masa depan yang ia impikan. Takut bahwa suatu hari nanti, kebohongan kecil itu akan tumbuh menjadi raksasa yang melahap semuanya.
Dan hari itu telah tiba.
"Kenapa sekarang..."
Suara Jonatan terdengar lirih. Hampir seperti bisikan. Bukan kepada siapa pun. Hanya kepada dirinya sendiri.
Ia meremas rambutnya frustrasi. Ada ketakutan yang belum pernah terlihat sebelumnya di wajahnya. Ada kecemasan yang tidak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun. Termasuk Amanda.
Ponselnya bergetar lagi. Pesan lain dari Nadia.
"Aku akan ke Kuala Kapuas minggu depan. Kita harus bicara. Untuk Arga."
Jonatan menutup matanya. Air mata pria itu akhirnya jatuh.
Untuk Arga.
Dua kata yang tidak bisa ia tolak. Dua kata yang mengingatkannya bahwa ia tidak hanya sedang bermain dengan perasaan Amanda. Tapi juga dengan kehidupan seorang anak kecil.
Ia membuka mata. Lalu mengetik balasan singkat.
"Baik. Kita bicara."
Pesan terkirim.
Jonatan meletakkan ponselnya. Dan untuk pertama kalinya, ia mengakui pada dirinya sendiri bahwa tidak ada jalan mundur. Masa lalu yang ia kubur selama bertahun-tahun kini telah bangkit. Dan ia harus menghadapinya.
Meskipun itu berarti kehilangan Amanda.
Di luar jendela hotel, hujan mulai turun.
Rintik demi rintik. Membasahi kaca. Membentuk aliran air yang perlahan turun.
Persis seperti air mata yang selama ini ia tahan.
Sementara di balkon rumahnya, Amanda masih berdiri. Masih menunggu. Masih berharap bahwa semuanya hanya akan menjadi mimpi buruk yang berlalu ketika pagi tiba.
Namun ia tidak tahu bahwa badai yang sesungguhnya belum datang.
Di sisi lain, jauh dari Kuala Kapuas, Herlambang menerima pesan dari Hendra.
"Jonatan aneh akhir-akhir ini. Kayak ada yang dia sembunyiin. Amanda juga jadi murung."
Herlambang membaca pesan itu berulang kali. Jempolnya bergerak ke atas papan ketik. Ia ingin mengetik sesuatu. Ingin bertanya kabar Amanda secara langsung. Ingin menelepon. Ingin memastikan bahwa semuanya baik-baik saja.
Namun jarinya berhenti.
"Bukan urusanmu lagi," bisik hatinya. "Dia sudah punya Jonatan. Dia sudah memilih."
Ia meletakkan ponselnya. Lalu menatap keluar jendela apartemennya. Langit malam di kota perantauannya tampak muram. Awan hitam menggantung rendah. Seolah akan turun hujan. Persis seperti perasaannya.
Entah mengapa, untuk pertama kalinya sejak pergi dari Kuala Kapuas, ia merasa gelisah. Sangat gelisah. Seolah ada sesuatu yang buruk sedang mendekat.
Ia tidak tahu apa. Ia tidak tahu bagaimana.
Tapi firasatnya mengatakan bahwa badai akan segera datang. Dan ketika badai itu tiba, tidak ada seorang pun yang siap menghadapinya.
Beberapa hari kemudian, sebuah nama dari masa lalu Jonatan akan muncul. Membawa seorang anak kecil. Membawa sebuah rahasia yang selama ini disembunyikan.
Rahasia yang cukup kuat untuk mengguncang hubungan Amanda dan Jonatan hingga ke akarnya. Rahasia yang akan membuat Amanda mempertanyakan semua yang selama ini ia percayai.
Dan rahasia itu bernama Nadia.
Dan seorang anak laki-laki bernama Arga.
BAB XV
Perempuan dari Masa Lalu
Masa lalu tidak selalu tinggal di belakang.
Kadang ia berjalan diam-diam.
Mengikuti dari kejauhan.
Menunggu saat yang tepat untuk kembali muncul.
Dan ketika ia datang, ia sering membawa sesuatu yang belum selesai.
Sebuah janji.
Sebuah luka.
Sebuah kesalahan.
Atau seseorang yang pernah ditinggalkan.
Jonatan tidak pernah menyangka bahwa masa lalu yang selama ini berusaha ia kubur akan kembali mengetuk pintunya.
Apalagi dengan cara seperti ini.
Pagi itu Kuala Kapuas diselimuti mendung.
Langit tampak kelabu sejak subuh.
Amanda sedang berada di kantor ketika ponselnya bergetar.
Pesan dari Jonatan.
"Bisa ketemu sore ini?"
Amanda membaca pesan itu beberapa kali.
Sudah hampir seminggu terakhir Jonatan terlihat berbeda.
Lebih pendiam.
Lebih sering menghilang.
Lebih sulit ditebak.
Dan Amanda mulai merasa bahwa pertemuan sore ini mungkin akan menjelaskan semuanya.
"Bisa."
Balasnya singkat.
Namun sejak saat itu, perasaannya tidak tenang.
Sementara itu, di sebuah hotel sederhana yang terletak tidak jauh dari pusat kota, seorang perempuan berdiri di depan cermin.
Usianya sekitar tiga puluh tahun.
Wajahnya cantik.
Namun tampak lelah.
Seolah telah melalui perjalanan panjang yang tidak mudah.
Di atas meja terdapat sebuah foto lama.
Foto dirinya bersama Jonatan.
Foto yang diambil bertahun-tahun lalu.
Saat mereka masih percaya bahwa cinta bisa mengalahkan segalanya.
Perempuan itu menatap foto tersebut.
Lalu memejamkan mata.
"Sudah waktunya."
Bisiknya pelan.
Namanya Nadia.
Nama yang sudah bertahun-tahun tidak pernah terdengar dalam kehidupan Jonatan.
Nama yang sengaja disimpan rapat-rapat.
Nama yang tidak pernah diceritakan kepada Amanda.
Bukan karena Jonatan ingin berbohong.
Tetapi karena ia berharap kisah itu benar-benar telah berakhir.
Namun kenyataan berkata lain.
Sore menjelang ketika Amanda tiba di sebuah kafe yang menghadap Sungai Kapuas.
Jonatan sudah menunggu.
Wajahnya terlihat lebih pucat daripada biasanya.
Bahkan senyum yang selalu menjadi ciri khasnya kini nyaris tidak terlihat.
Amanda langsung duduk.
"Kamu kenapa sebenarnya?"
Jonatan terdiam.
Tidak langsung menjawab.
Tangannya saling menggenggam di atas meja.
Seolah sedang berusaha mengumpulkan keberanian.
"Amanda..."
Nada suaranya terdengar berat.
"Ada sesuatu yang harus aku ceritakan."
Jantung Amanda langsung berdegup lebih cepat.
Perasaannya tiba-tiba tidak enak.
Sangat tidak enak.
"Sebelum aku mengenal kamu..."
Jonatan berhenti sejenak.
Menghela napas panjang.
"Aku pernah bertunangan."
Amanda membeku.
Untuk beberapa detik ia tidak mampu berkata apa-apa.
Bukan karena Jonatan pernah memiliki masa lalu.
Semua orang punya masa lalu.
Tetapi karena selama ini ia tidak pernah mendengar cerita itu.
Tidak pernah sekalipun.
"Kamu tidak pernah cerita."
Suara Amanda terdengar pelan.
"Aku tahu."
"Kenapa?"
Karena malu.
Karena sakit.
Karena berharap semuanya sudah selesai.
Banyak jawaban muncul di kepala Jonatan.
Namun tidak satu pun terasa cukup.
"Aku pikir itu sudah berakhir."
Akhirnya hanya itu yang keluar dari mulutnya.
Amanda masih diam.
Menunggu.
Karena ia tahu cerita itu belum selesai.
"Nadia datang kembali."
Nama itu menggantung di udara.
Nama yang asing bagi Amanda.
Tetapi jelas tidak asing bagi Jonatan.
Terlihat dari cara lelaki itu mengucapkannya.
Dengan beban.
Dengan penyesalan.
Dan dengan ketakutan.
"Siapa dia sekarang?"
Amanda bertanya.
Jonatan menatap meja.
Lalu menjawab perlahan.
"Perempuan yang pernah hampir menjadi istriku."
Kalimat itu terasa seperti batu yang dijatuhkan ke permukaan air yang tenang.
Gelombangnya langsung menyebar ke mana-mana.
Amanda mencoba tetap tenang.
Mencoba berpikir jernih.
Namun di dalam dadanya muncul sesuatu yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
Keraguan.
"Kenapa hubungan kalian berakhir?"
Amanda bertanya.
Jonatan kembali terdiam.
Pertanyaan sederhana.
Tetapi jawabannya jauh lebih rumit.
Lima tahun lalu.
Saat Jonatan masih merintis karier.
Ia dan Nadia telah bertunangan.
Mereka merencanakan masa depan bersama.
Merencanakan rumah.
Merencanakan keluarga.
Merencanakan kehidupan yang panjang.
Namun sebuah kecelakaan mengubah semuanya.
Keluarga Nadia mengalami masalah besar.
Mereka pindah ke luar daerah.
Komunikasi mulai renggang.
Kesalahpahaman muncul.
Pertengkaran terjadi.
Dan pada akhirnya hubungan itu hancur.
Tanpa penjelasan yang benar-benar tuntas.
Tanpa perpisahan yang layak.
Tanpa penutupan yang jelas.
"Aku pikir semuanya selesai."
Jonatan berkata pelan.
"Tapi ternyata tidak."
Amanda menatapnya.
"Lalu kenapa dia datang sekarang?"
Pertanyaan itu membuat Jonatan memejamkan mata.
Karena itulah bagian yang paling sulit.
Bagian yang selama beberapa hari terakhir menghancurkan ketenangannya.
"Nadia bilang..."
Jonatan berhenti.
Suara napasnya terdengar berat.
"Nadia bilang ada sesuatu yang harus aku tanggung jawabkan."
Amanda merasakan tubuhnya menegang.
"Apa maksudnya?"
Jonatan tidak langsung menjawab.
Dan justru keheningan itu membuat Amanda semakin takut.
Di tempat lain.
Nadia duduk sendirian di sebuah bangku taman dekat tepian sungai.
Tatapannya kosong mengarah ke aliran Sungai Kapuas.
Di tangannya terdapat sebuah foto kecil.
Foto seorang anak laki-laki berusia sekitar empat tahun.
Anak yang memiliki mata yang sangat mirip dengan seseorang.
Seseorang bernama Jonatan.
Sementara itu Amanda masih menunggu jawaban.
Detik demi detik terasa sangat panjang.
Sampai akhirnya Jonatan berkata dengan suara hampir berbisik.
"Nadia bilang... anak itu anakku."
Dunia Amanda terasa berhenti.
Suara kendaraan di luar kafe menghilang.
Suara angin dari sungai menghilang.
Semua seolah lenyap.
Yang tersisa hanya satu kalimat.
"Anak itu anakku."
Amanda menatap Jonatan tanpa berkedip.
Mencari tanda bahwa semua ini hanya kesalahpahaman.
Bahwa semua ini tidak benar.
Bahwa semua ini bisa dijelaskan dengan mudah.
Namun yang ia lihat justru kebingungan.
Ketakutan.
Dan rasa bersalah.
"Apa itu benar?"
Pertanyaan itu keluar dengan suara yang nyaris tidak terdengar.
Jonatan menunduk.
"Aku tidak tahu."
Dan jawaban itulah yang paling menakutkan.
Karena ketidaktahuan sering kali lebih mengerikan daripada kebenaran itu sendiri.
Di luar kafe, hujan mulai turun.
Rintik-rintik kecil membasahi tepian Sungai Kapuas.
Sementara di dalam ruangan, hubungan yang selama ini terlihat sempurna mulai retak untuk pertama kalinya.
Retak kecil.
Namun cukup dalam untuk mengubah segalanya.
Dan tanpa Amanda sadari, badai yang sesungguhnya baru saja dimulai.
Karena setelah ini akan muncul pertanyaan yang lebih besar.
Lebih menyakitkan.
Dan lebih sulit dijawab.
Jika anak itu benar anak Jonatan...
lalu di mana posisi Amanda dalam semua ini?
BAB XVI
Hati yang Mulai Retak
Tidak ada hubungan yang hancur dalam satu malam.
Semuanya selalu dimulai dari retakan kecil.
Sebuah keraguan.
Sebuah pertanyaan yang tidak terjawab.
Sebuah rahasia yang terlambat diungkapkan.
Dan ketika retakan itu muncul, kepercayaan yang selama ini berdiri kokoh perlahan mulai goyah.
Amanda merasakan hal itu.
Untuk pertama kalinya sejak mengenal Jonatan.
Untuk pertama kalinya sejak menerima lamarannya.
Dan untuk pertama kalinya sejak ia membayangkan masa depan bersama lelaki itu.
Hujan masih turun ketika Amanda meninggalkan kafe.
Langkahnya terasa berat.
Pikirannya penuh.
Dadanya sesak.
Ia bahkan tidak mengingat bagaimana perjalanan pulang yang baru saja dilaluinya. Kalimat Jonatan terus terngiang di kepalanya.
"Nadia bilang anak itu anakku."
Kalimat itu seperti gema yang terus berulang. Tidak mau hilang. Tidak mau pergi.
Sesampainya di rumah, Amanda langsung masuk ke kamar. Ia tidak ingin berbicara dengan siapa pun. Tidak ingin menjawab pertanyaan ibunya. Tidak ingin menerima telepon.
Tapi semakin ia berusaha melupakan, semakin pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan.
Bagaimana jika itu benar?
Bagaimana jika Jonatan memang memiliki anak?
Bagaimana jika selama ini ada bagian besar dari hidup Jonatan yang tidak pernah ia ketahui?
Dan yang paling menyakitkan...
Mengapa Jonatan baru menceritakannya sekarang?
Amanda duduk di tepi tempat tidur. Matanya menatap kosong ke arah jendela.
Hujan membasahi kaca. Membentuk garis-garis air yang perlahan turun. Ia menyadari bahwa garis-garis itu persis seperti air mata yang akhirnya jatuh dari matanya.
Bukan karena ia membenci Jonatan.
Bukan karena ia ingin meninggalkan lelaki itu.
Tetapi karena kepercayaannya sedang diuji.
Dan tidak ada yang lebih menyakitkan daripada mulai meragukan seseorang yang selama ini begitu dipercaya.
Amanda menggenggam ujung bantalnya erat-erat. Bukan untuk menenangkan diri. Tapi untuk menahan sesuatu yang ingin pecah. Ia tidak ingin menangis. Tapi air mata tetap jatuh.
Bukan isak tangis yang keras. Bukan ratapan yang terdengar. Hanya air mata yang mengalir deras di atas pipi yang mulai memerah karena menahan sesuatu yang terlalu lama dipendam.
Ia menggigit bibir bawahnya hingga hampir berdarah. Hanya untuk mencegah suara apa pun keluar.
Sementara itu, di rumahnya, Jonatan duduk sendirian di ruang tamu.
Lampu sengaja dimatikan. Hanya cahaya dari luar jendela yang menerangi ruangan. Ponselnya berada di atas meja. Layar menunjukkan nama Amanda. Belasan kali ia mencoba menelepon. Belasan kali pula panggilannya tidak dijawab.
Jonatan mengusap wajahnya. Lelah. Sangat lelah.
Selama ini ia percaya masa lalu itu telah selesai. Telah terkubur. Telah menjadi bagian dari hidup yang tidak perlu lagi dibicarakan.
Namun kini semuanya kembali.
Dan lebih buruk dari yang pernah ia bayangkan.
Karena kali ini bukan hanya dirinya yang terluka.
Amanda ikut terluka.
Ia menatap langit-langit ruangan yang gelap. Untuk pertama kalinya, ia tidak tahu harus berbuat apa. Untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa segala usahanya untuk memperbaiki semuanya mungkin tidak akan pernah cukup.
Di tempat lain, Kirana menerima pesan singkat dari Amanda.
"Besok bisa ketemu?"
Hanya satu kalimat. Tapi Kirana langsung memahami. Ada sesuatu yang terjadi. Dan firasatnya mengatakan bahwa sesuatu itu berkaitan dengan Jonatan.
Ia membalas singkat. "Bisa. Di tempat biasa?"
"Iya."
Kirana meletakkan ponselnya. Ia menatap keluar jendela kamarnya. Hujan masih turun. Samar-samar ia bisa mendengar suara air yang jatuh ke tanah.
Ia tidak tahu apa yang terjadi. Tapi ia tahu Amanda sedang tidak baik-baik saja. Dan sebagai sahabat, yang bisa ia lakukan hanyalah hadir.
Keesokan harinya mereka bertemu di sebuah kedai kopi kecil yang biasa mereka datangi.
Amanda tampak berbeda. Wajahnya pucat. Matanya sembab. Dan senyumnya nyaris tidak terlihat. Bahkan cara ia memegang cangkir kopinya pun terlihat berbeda—lebih erat, lebih gemetar.
Kirana langsung menggenggam tangannya.
"Apa yang terjadi?"
Amanda mencoba bertahan. Namun begitu mendengar pertanyaan itu, pertahanannya runtuh. Air mata yang sejak semalam ditahannya akhirnya jatuh.
Dengan suara bergetar, Amanda menceritakan semuanya. Tentang Nadia. Tentang pertunangan lama. Tentang anak yang kemungkinan adalah anak Jonatan. Dan tentang kebingungan yang kini menguasai pikirannya.
Jari-jarinya yang menggenggam cangkir kopi mulai memutih karena tekanan. Kirana memperhatikan itu. Tapi tidak mengatakan apa pun.
Kirana mendengarkan tanpa menyela. Tanpa menghakimi. Tanpa memberikan kesimpulan tergesa-gesa.
Setelah Amanda selesai bercerita, suasana menjadi sunyi. Hanya suara mesin kopi dari kejauhan yang terdengar.
"Aku harus bagaimana?" Amanda bertanya. Matanya penuh kebingungan.
Kirana menghela napas pelan. "Aku enggak bisa memutuskan untukmu."
Amanda menunduk.
"Tapi aku rasa kamu berhak tahu semuanya."
Bukan "mendapatkan seluruh kebenaran" yang terdengar filosofis. Tapi "tahu semuanya" yang lebih langsung, lebih nyata.
Amanda mengangguk pelan. Karena itulah yang sebenarnya paling ia inginkan. Bukan jawaban yang menyenangkan. Melainkan jawaban yang jujur.
Sore harinya, Hendra juga mengetahui kabar itu. Dan reaksinya hampir sama. Terkejut. Tidak percaya. Bingung.
"Jonatan enggak pernah cerita apa-apa," katanya.
Amanda hanya menggeleng. "Ke aku juga enggak."
Untuk pertama kalinya, lingkaran persahabatan mereka dipenuhi ketegangan. Bukan karena pertengkaran. Melainkan karena ketidakpastian. Tidak ada yang tahu mana yang benar. Tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi lima tahun lalu.
Dan ketidakpastian itulah yang perlahan menggerogoti semuanya.
Malam harinya, Amanda akhirnya menerima telepon dari Jonatan.
Beberapa detik ia hanya menatap layar. Jantungnya berdetak lebih cepat. Lalu ia mengangkatnya.
"Halo."
Suara Jonatan terdengar lelah. "Amanda."
Mereka sama-sama diam. Tidak tahu harus memulai dari mana.
"Aku minta maaf." Itulah kalimat pertama yang keluar dari mulut Jonatan.
Amanda memejamkan mata. "Maaf untuk apa?"
"Karena tidak pernah cerita."
"Atau karena menyembunyikan semuanya?"
Pertanyaan itu membuat Jonatan terdiam. Karena ia sendiri tidak tahu perbedaannya lagi.
"Aku tidak pernah berniat membohongimu," akhirnya ia berkata. "Aku cuma berpikir semuanya sudah selesai."
Amanda menahan air mata. "Tapi ternyata belum selesai, Jonatan."
Kalimat itu terdengar lirih. Namun cukup tajam untuk membuat dada Jonatan terasa sesak.
Malam itu percakapan mereka berlangsung lama. Namun tidak banyak menghasilkan jawaban. Karena jawaban yang mereka cari belum ada. Belum diketahui. Belum terbukti.
Dan selama kebenaran belum ditemukan, hati Amanda akan terus berada di antara percaya dan ragu.
Jauh di kota tempatnya bekerja sekarang, Herlambang menerima telepon dari Hendra.
Malam sudah larut. Lampu apartemennya masih menyala. Ketika mendengar cerita tentang Jonatan dan Nadia, Herlambang terdiam cukup lama. Sangat lama.
"Amanda bagaimana?" Itu pertanyaan pertama yang ia ajukan.
Hendra menghela napas. "Hancur."
Satu kata. Tapi cukup untuk membuat Herlambang menutup matanya. Ada rasa sakit yang kembali muncul. Karena meskipun telah pergi jauh, satu hal tidak pernah berubah.
Ia masih peduli pada Amanda.
Mungkin terlalu peduli.
Di luar jendela apartemennya, hujan mulai turun. Sementara di Kuala Kapuas, hujan juga turun di tempat yang sama.
Seolah alam sedang meratapi sesuatu yang belum selesai.
Amanda duduk sendiriani di kamarnya. Memandangi cincin pertunangan yang melingkar di jarinya.
Cincin yang dulu membuatnya begitu bahagia. Cincin yang dulu ia tunjukkan pada semua orang dengan bangga. Cincin yang menjadi simbol bahwa ia telah menemukan seseorang yang ingin ia habiskan sisa hidup bersamanya.
Kini cincin itu terasa berat. Bukan secara fisik. Tapi secara makna.
Ia memutar cincin itu di jarinya. Bolak-balik. Diam-diam.
Ia bertanya pada dirinya sendiri: Apakah ia benar-benar mengenal lelaki yang akan menjadi suaminya?
Atau selama ini ia hanya mengenal senyum yang dikenakan Jonatan untuk menyembunyikan rahasianya?
Amanda melepas cincin itu. Meletakkannya di atas meja samping tempat tidur.
Cincin itu terlihat kecil di atas permukaan kayu. Sepi. Sendiri.
Persis seperti perasaannya malam itu.
Sementara di suatu tempat di Kuala Kapuas, Nadia sedang memegang sebuah dokumen.
Dokumen yang bisa mengubah segalanya. Dokumen yang mungkin akan membuktikan kebenaran. Atau justru menghancurkan lebih banyak hati.
Ia menatap dokumen itu lama. Lalu mengetik pesan pada Jonatan.
"Kita harus bicara. Aku tidak bisa terus menyimpan ini sendirian."
Pesan terkirim.
Nadia meletakkan ponselnya. Lalu menatap keluar jendela. Hujan masih turun.
Badai belum selesai. Mungkin baru saja dimulai.
BAB XVII
Anak yang Membawa Badai
Anak-anak lahir tanpa membawa kesalahan.
Mereka tidak memilih siapa ayahnya.
Tidak memilih siapa ibunya.
Tidak memilih dalam keadaan seperti apa mereka dilahirkan.
Namun terkadang, kehadiran seorang anak mampu mengguncang kehidupan banyak orang dewasa.
Bukan karena anak itu salah.
Melainkan karena orang-orang di sekelilingnya menyimpan terlalu banyak rahasia.
Dan kini, seorang anak laki-laki kecil yang tidak memahami apa-apa tentang cinta, pengkhianatan, atau masa lalu, tanpa sadar telah menjadi pusat dari badai yang mulai menghantam kehidupan Amanda dan Jonatan.
Pagi itu, langit Kuala Kapuas tampak muram.
Awan tebal menggantung rendah.
Udara terasa lembap setelah hujan semalaman.
Amanda berdiri di depan jendela kantornya.
Tatapannya kosong.
Pikirannya masih dipenuhi percakapan terakhir dengan Jonatan.
Belum ada jawaban.
Belum ada kepastian.
Hanya pertanyaan demi pertanyaan yang terus berputar di kepalanya.
Di sisi lain kota, Jonatan sedang duduk berhadapan dengan Nadia di sebuah rumah makan yang sepi.
Ini adalah pertemuan pertama mereka setelah bertahun-tahun.
Tidak ada senyum.
Tidak ada nostalgia.
Tidak ada kehangatan.
Yang ada hanya ketegangan.
Dan masa lalu yang belum selesai.
Nadia tampak lebih dewasa dibandingkan lima tahun lalu.
Namun ada kesedihan yang tidak bisa disembunyikan dari wajahnya.
Sementara Jonatan terlihat jauh lebih lelah daripada biasanya.
Mereka duduk dalam diam cukup lama.
Sampai akhirnya Jonatan berbicara.
"Apa yang sebenarnya terjadi, Nadia?"
Perempuan itu mengangkat pandangannya.
Matanya berkaca-kaca.
"Aku lelah menyimpan semuanya sendirian."
Jawaban itu terdengar sederhana.
Namun begitu berat.
Terlalu berat.
"Aku tidak datang untuk menghancurkan hidupmu."
Nadia melanjutkan.
"Aku juga tidak datang untuk merebut apa pun."
"Lalu kenapa sekarang?"
Suara Jonatan terdengar pelan.
Nadia menunduk.
Tangannya menggenggam erat sebuah map cokelat yang sejak tadi berada di atas meja.
Karena pertanyaan itu adalah bagian tersulit.
Selama lima tahun, Nadia membesarkan seorang anak laki-laki seorang diri.
Tanpa bantuan.
Tanpa kehadiran seorang ayah.
Tanpa pernah menceritakan siapa sebenarnya ayah anak itu.
Bukan karena membenci Jonatan.
Melainkan karena keadaan saat itu terlalu rumit.
Terlalu banyak kesalahpahaman.
Terlalu banyak luka.
Dan terlalu banyak ego yang membuat keduanya berjalan ke arah yang berbeda.
Namun waktu tidak bisa menghentikan pertanyaan seorang anak.
Semakin besar anak itu tumbuh, semakin sering ia bertanya.
"Di mana ayahku?"
"Kenapa teman-temanku punya ayah?"
"Apakah ayahku masih hidup?"
Pertanyaan-pertanyaan itu perlahan menghancurkan pertahanan Nadia.
Karena tidak ada ibu yang kuat melihat anaknya terus mencari jawaban yang tidak dimilikinya.
"Aku tidak bisa terus berbohong kepadanya."
Nadia berkata pelan.
Air mata mulai menggenang di matanya.
"Dia berhak tahu siapa ayahnya."
Jonatan memejamkan mata.
Untuk pertama kalinya ia mulai memahami alasan Nadia datang.
Namun itu belum menjawab pertanyaan terbesar.
"Apakah kamu yakin dia anakku?"
Ruangan terasa hening.
Sangat hening.
Bahkan suara sendok dan gelas dari meja lain terasa jauh.
Nadia perlahan membuka map yang dibawanya.
Kemudian mengeluarkan beberapa lembar dokumen.
Salah satunya adalah akta kelahiran.
Lalu beberapa foto.
Foto seorang anak laki-laki yang sedang tersenyum.
Mengenakan seragam taman kanak-kanak.
Bermain bola.
Berlari di taman.
Dan dalam setiap foto itu, Jonatan melihat sesuatu yang membuat dadanya bergetar.
Mata anak itu.
Mata yang sangat mirip dengan matanya sendiri.
"Namanya Arga."
Suara Nadia bergetar.
"Umurnya lima tahun."
Jonatan menatap foto itu cukup lama.
Semakin lama.
Semakin sulit baginya bernapas.
Karena meskipun belum ada bukti pasti, ada sesuatu dalam dirinya yang mulai percaya.
Sementara itu, Amanda menerima pesan dari Jonatan.
"Aku bertemu Nadia hari ini."
Amanda menatap layar ponselnya.
Jantungnya kembali berdegup lebih cepat.
"Lalu?"
Balasnya.
Beberapa menit berlalu.
Namun tidak ada jawaban.
Dan justru keheningan itulah yang membuat Amanda semakin takut.
Sore hari, Amanda memutuskan pergi ke tepian Sungai Kapuas.
Tempat yang biasanya membuat pikirannya lebih tenang.
Namun kali ini tidak berhasil.
Semakin lama ia duduk di sana, semakin banyak bayangan buruk yang muncul.
Bagaimana jika anak itu benar-benar anak Jonatan?
Bagaimana jika Jonatan memilih kembali kepada masa lalunya?
Bagaimana jika dirinya hanya menjadi persinggahan?
Amanda menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Ia tidak pernah membayangkan bahwa cinta yang selama ini terlihat begitu indah bisa berubah serumit ini.
Di kota lain, Herlambang kembali menerima kabar dari Hendra.
Percakapan mereka berlangsung cukup lama malam itu.
Dan setiap informasi baru membuat hati Herlambang semakin tidak tenang.
Bukan karena ia membenci Jonatan.
Bukan pula karena ia berharap hubungan Amanda berakhir.
Tetapi karena ia tidak tahan membayangkan Amanda terluka.
"Aku rasa Amanda benar-benar terpukul."
Kata Hendra melalui telepon.
Herlambang terdiam.
Lalu berjalan menuju jendela apartemennya.
Lampu-lampu kota tampak berkilauan di kejauhan.
Namun pikirannya berada jauh di Kuala Kapuas.
Bersama seseorang yang tidak pernah benar-benar berhasil ia lupakan.
Malam itu Jonatan akhirnya bertemu Arga.
Pertemuan yang selama lima tahun tidak pernah terjadi.
Pertemuan yang mengubah segalanya.
Anak laki-laki itu sedang bermain mobil-mobilan ketika Nadia membawanya masuk ke ruang tamu.
"Arga."
Panggil Nadia lembut.
Anak itu menoleh.
Lalu melihat Jonatan.
Mata mereka bertemu.
Dan untuk sesaat, dunia terasa berhenti.
"Halo."
Kata Jonatan pelan.
Arga hanya menatapnya.
Penuh rasa ingin tahu.
Penuh kepolosan.
Penuh pertanyaan yang belum pernah terjawab.
Kemudian anak itu bertanya sesuatu yang membuat jantung Jonatan seolah berhenti berdetak.
"Om ini ayahku ya?"
Tidak ada kemarahan.
Tidak ada kebencian.
Hanya pertanyaan polos seorang anak kecil.
Namun pertanyaan itu terasa lebih berat daripada apa pun yang pernah Jonatan hadapi dalam hidupnya.
Di luar rumah, langit mulai gelap.
Awan hitam berkumpul.
Angin bertiup lebih kencang.
Seolah alam pun memahami bahwa badai yang sebenarnya baru saja dimulai.
Karena setelah pertemuan itu, Jonatan akan dihadapkan pada pilihan yang mustahil.
Memilih Amanda.
Atau bertanggung jawab atas masa lalu yang tiba-tiba kembali hadir dalam hidupnya.
Dan pilihan itu akan menentukan nasib semua orang yang terlibat.
Termasuk seorang lelaki bernama Herlambang yang telah berusaha pergi, tetapi takdir perlahan mulai menariknya kembali ke Kuala Kapuas.
BAB XVIII
Jalan yang Mulai Berpisah
Tidak semua perpisahan diawali oleh pertengkaran.
Tidak semua cinta berakhir karena pengkhianatan.
Kadang dua orang saling mencintai, saling menjaga, bahkan saling memperjuangkan.
Namun hidup menghadapkan mereka pada persimpangan yang berbeda.
Dan ketika itu terjadi, yang paling menyakitkan bukanlah kehilangan.
Melainkan menyadari bahwa dua hati yang pernah berjalan searah perlahan mulai menempuh jalan yang berbeda.
Pertanyaan Arga masih terngiang di kepala Jonatan.
"Om ini ayahku ya?"
Suara polos itu terus berputar seperti gema yang tidak mau berhenti.
Malam itu, setelah meninggalkan rumah Nadia, Jonatan mengendarai mobilnya tanpa tujuan.
Jalanan Kuala Kapuas yang mulai sepi terbentang di hadapannya.
Lampu-lampu jalan memantul di kaca depan.
Namun pikirannya berada di tempat lain.
Di masa lalu.
Di Amanda.
Dan pada seorang anak kecil yang mungkin adalah darah dagingnya sendiri.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, Jonatan merasa benar-benar kehilangan arah.
Selama ini ia selalu tahu apa yang harus dilakukan.
Ketika menghadapi pekerjaan.
Ketika menghadapi masalah keluarga.
Ketika menghadapi tantangan hidup.
Namun kali ini berbeda.
Karena apa pun keputusan yang diambil, seseorang pasti akan terluka.
Sementara itu Amanda duduk sendirian di teras rumah.
Langit malam tampak gelap.
Hujan yang sejak sore menggantung akhirnya turun perlahan.
Ia memegang ponselnya.
Menunggu.
Namun tidak ada pesan baru dari Jonatan.
Tidak ada kabar.
Tidak ada penjelasan.
Hanya keheningan.
Dan keheningan itu perlahan berubah menjadi jarak.
Dulu mereka bisa mengobrol berjam-jam.
Bercerita tentang hal-hal kecil.
Tentang pekerjaan.
Tentang masa depan.
Tentang mimpi-mimpi sederhana yang ingin diwujudkan bersama.
Kini setiap percakapan terasa berat.
Seolah ada tembok tak terlihat yang berdiri di antara mereka.
Dan Amanda mulai menyadari sesuatu yang menakutkan.
Bukan hanya kepercayaannya yang retak.
Hubungan mereka juga mulai retak.
Keesokan harinya Jonatan akhirnya datang menemui Amanda.
Mereka bertemu di Taman Askari.
Tempat yang dulu sering menjadi saksi tawa mereka.
Namun siang itu suasananya berbeda.
Langit mendung.
Angin bertiup pelan.
Dan di antara mereka ada kecanggungan yang belum pernah ada sebelumnya.
Amanda menatap Jonatan.
Wajah lelaki itu terlihat jauh lebih tua dibandingkan beberapa minggu lalu.
Matanya dipenuhi kelelahan.
Dan untuk pertama kalinya, Amanda melihat seseorang yang sedang berjuang melawan dirinya sendiri.
"Bagaimana?"
Amanda akhirnya bertanya.
Suara yang pelan.
Namun sarat makna.
Jonatan menunduk.
Lama sekali.
Lalu mengangkat wajahnya.
"Aku bertemu anak itu."
Amanda merasakan dadanya menegang.
"Dan?"
"Aku belum tahu pasti."
Jawaban itu tidak memberikan ketenangan.
Namun setidaknya kejujuran masih ada.
"Kamu akan tes DNA?"
Amanda bertanya.
Jonatan mengangguk perlahan.
"Iya."
"Itu yang paling benar."
Mereka kembali diam.
Karena keduanya tahu bahwa hasil tes itu mungkin akan mengubah hidup mereka selamanya.
"Amanda..."
Jonatan memanggil pelan.
"Aku minta maaf."
Amanda tersenyum tipis.
Senyum yang terasa rapuh.
"Kamu sudah bilang itu berkali-kali."
"Dan aku akan terus bilang sampai kamu bosan mendengarnya."
Kalimat itu biasanya akan membuat Amanda tertawa.
Namun kali ini tidak.
Karena luka yang sedang mereka hadapi terlalu besar untuk disembuhkan oleh kata maaf.
Lalu sesuatu berubah.
Amanda tidak tahu apa yang membuatnya tiba-tiba kehilangan kesabaran.
Mungkin karena kata "maaf" yang terus berulang tanpa perubahan.
Mungkin karena kelelahannya sendiri.
Mungkin karena ia lelah menjadi orang yang selalu mengerti.
"Aku enggak bisa terus begini, Jonatan."
Jonatan terkejut.
"Maksudmu?"
"Kamu bilang kamu akan memperbaiki semuanya. Tapi apa yang sudah kamu perbaiki?"
Suara Amanda mulai meninggi.
Untuk pertama kalinya sejak mereka bersama.
"Kamu masih sibuk dengan Arga. Kamu masih sibuk dengan Nadia. Kamu bahkan tidak pernah bertanya bagaimana perasaanku!"
Jonatan terdiam.
Wajahnya pucat.
"Aku mencoba, Amanda."
"Mencoba?"
Amanda tertawa pahit.
Tawa yang tidak lucu.
Tawa yang keluar dari tempat yang paling lelah di dalam hatinya.
"Atau kamu hanya merasa bersalah? Ada perbedaan besar antara mencintai seseorang karena kamu benar-benar mencintainya, dan mencintai seseorang karena kamu takut kehilangan!"
Kalimat itu menggantung di udara.
Tajam.
Dan terlalu jujur.
Jonatan menggenggam tangannya.
"Amanda, aku serius—"
Amanda melepaskan genggaman itu.
Bukan dengan marah.
Tapi dengan ketenangan yang justru lebih menakutkan.
"Jangan."
Satu kata.
Lembut.
Tapi menghancurkan.
Keheningan yang keras mengikuti.
Bahkan suara angin pun terasa ikut berhenti.
Mereka berdua duduk tanpa saling menatap.
Seperti dua orang asing yang tidak sengaja berbagi bangku yang sama.
Bukan lagi sepasang kekasih yang sedang berjuang mempertahankan cinta mereka.
Di sudut taman yang lain, Kirana melihat mereka dari kejauhan.
Bukan sengaja.
Ia memang sedang berada di sana.
Dan ketika melihat Amanda serta Jonatan duduk bersama dengan jarak yang terasa begitu lebar, hatinya dipenuhi rasa iba.
Bukan karena hubungan mereka bermasalah.
Melainkan karena ia melihat dua orang yang sama-sama terluka.
Dua orang yang sama-sama kehilangan arah.
Selama ini Kirana sering merasa iri kepada Amanda.
Karena Amanda dicintai oleh Herlambang.
Karena Amanda memiliki kebahagiaan yang tidak pernah ia miliki.
Namun kini, untuk pertama kalinya, rasa iri itu menghilang.
Yang tersisa hanya empati.
Mungkin tidak ada yang benar-benar menang dalam cinta, pikirnya.
Mungkin kita semua hanya saling terluka dengan cara yang berbeda.
Pertengkaran kecil itu tidak berlangsung lama.
Tidak ada teriakan.
Tidak ada sumpah serapah.
Tidak ada drama besar.
Hanya kalimat-kalimat pendek yang tajam.
Hanya diam-diam yang panjang.
Hanya kesadaran bahwa sesuatu telah berubah dan tidak bisa kembali.
"Aku pulang dulu."
Amanda berdiri.
Jonatan tidak menahan.
Ia hanya mengangguk.
Karena ia tahu, kali ini Amanda benar.
Ia memang terlalu sibuk dengan masa lalunya.
Terlalu sibuk menjadi ayah bagi Arga.
Terlalu sibuk menanggung rasa bersalah kepada Nadia.
Sampai lupa bahwa hubungan juga membutuhkan kehadiran.
Sampai lupa bahwa Amanda juga butuh diperhatikan.
Bukan hanya sebagai tunangan yang pengertian.
Tapi sebagai seseorang yang dicintai.
Dan tanpa sengaja, ia telah meninggalkan ruang kosong.
Ruang yang seharusnya ia isi.
Ruang yang perlahan mulai terasa terlalu besar untuk dijembatani hanya dengan kata "maaf".
Sore itu, Amanda pulang dengan hati yang semakin berat.
Bukan karena pertengkaran.
Tapi karena pertengkaran itu membuktikan sesuatu yang selama ini ia hindari.
Ada luka yang terlalu besar untuk dilewati bersama.
Dan mungkin, untuk pertama kalinya, ia harus menerima bahwa tidak semua hubungan dirancang untuk bertahan selamanya.
Ia berjalan perlahan menyusuri tepian Sungai Kapuas.
Air sungai mengalir tenang.
Tidak peduli dengan kekacauan yang sedang terjadi di hatinya.
Malam harinya Hendra menelepon Herlambang.
Seperti biasa.
Memberikan kabar terbaru dari Kuala Kapuas.
Tentang Amanda.
Tentang Jonatan.
Tentang Nadia.
Dan tentang Arga.
Herlambang mendengarkan tanpa banyak bicara.
Namun setiap cerita membuat pikirannya semakin gelisah.
Ia sudah berusaha membangun hidup baru.
Berusaha fokus pada pekerjaan.
Berusaha melupakan masa lalu.
Namun setiap kali nama Amanda disebut, seluruh pertahanannya runtuh.
"Aku rasa Amanda butuh seseorang."
Kata Hendra di ujung telepon.
Herlambang terdiam.
Sangat lama.
Hingga Hendra kembali bertanya.
"Kamu masih di sana?"
"Iya."
"Kamu kepikiran pulang?"
Pertanyaan itu membuat Herlambang menatap langit malam di luar apartemennya.
Hujan turun perlahan di kota perantauannya.
Persis seperti malam ketika ia meninggalkan Kuala Kapuas.
Dulu ia pergi karena tidak tahan melihat Amanda bahagia dengan orang lain.
Kini ia gelisah karena mendengar Amanda tidak bahagia dengan orang lain.
Ironis.
"Aku enggak tahu."
Jawabnya pelan.
Namun jauh di dalam hatinya, ia sudah tahu.
Jari-jarinya sudah membuka aplikasi pemesanan tiket.
Matanya sudah membaca jadwal penerbangan.
Ia mulai memikirkan kemungkinan itu.
Kemungkinan untuk kembali.
Bukan untuk merebut Amanda.
Bukan untuk memanfaatkan keadaan.
Tetapi karena ia tidak tahan melihat seseorang yang dicintainya menghadapi semuanya sendirian.
Hari-hari berikutnya berlalu dengan lambat.
Amanda dan Jonatan semakin jarang bertemu.
Bukan karena mereka ingin menjauh.
Melainkan karena keduanya sama-sama tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Jonatan sibuk mengurus proses pemeriksaan yang akan menentukan kebenaran tentang Arga.
Amanda sibuk berusaha menenangkan hatinya yang terus dihantui ketidakpastian.
Dan tanpa mereka sadari, jarak itu semakin hari semakin lebar.
Seperti retakan pada dinding yang awalnya kecil, lalu melebar, lalu tidak bisa lagi diperbaiki.
Suatu malam Amanda membuka galeri foto di ponselnya.
Foto-foto pertunangan mereka muncul satu per satu.
Senyum.
Pelukan.
Tatapan penuh harapan.
Semua tampak begitu bahagia.
Seolah diambil dari kehidupan orang lain.
Bukan kehidupannya sekarang.
Ia menatap foto itu lama.
Lalu jarinya bergerak ke ikon tempat sampah.
"Hapus?"
Ponsel bertanya.
Jarinya menggantung di atas layar.
Ia tidak bisa menekan "Hapus".
Juga tidak bisa menekan "Batal".
Air mata perlahan jatuh membasahi pipinya.
Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, Amanda bertanya kepada dirinya sendiri:
Apakah cinta selalu cukup untuk mempertahankan sebuah hubungan?
Ataukah ada luka yang terlalu besar untuk dilewati bersama?
Ia tidak tahu jawabannya.
Dan justru ketidaktahuan itulah yang paling menyakitkan.
Di waktu yang hampir bersamaan, Jonatan menerima pesan dari laboratorium.
Hasil pemeriksaan telah selesai.
Dokumen akan diberikan esok pagi.
Jawaban yang selama ini mereka tunggu akhirnya akan datang.
Jawaban yang mungkin menyatukan kembali jalan mereka.
Atau justru membuat jalan itu berpisah selamanya.
Jonatan menatap pesan itu di layar ponselnya.
Tangannya dingin.
Napasnya berat.
Besok, semuanya akan berubah.
Sementara ratusan kilometer dari Kuala Kapuas, Herlambang berdiri di depan meja kerjanya.
Lampu apartemen masih menyala meski sudah larut.
Di atas meja, sebuah tiket perjalanan terbentang.
Tanggal keberangkatan: besok pagi.
Ia menatap tiket itu.
Lalu menatap layar ponsel yang masih menampilkan foto lama.
Foto empat sahabat di Taman Askari.
Amanda tersenyum di foto itu.
Kirana tersenyum.
Hendra tersenyum.
Ia sendiri tersenyum.
Namun tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar bahagia saat foto itu diambil.
Mungkin itu pelajaran pertama tentang cinta, pikir Herlambang.
Tidak semua senyum lahir dari kebahagiaan.
Ia melipat tiket itu.
Memasukkannya ke dalam saku.
Lalu mematikan lampu.
Besok, ia akan pulang.
Bukan untuk merebut.
Bukan untuk menyatakan cinta.
Tapi karena ada seseorang yang sedang terluka.
Dan ia tidak bisa lagi berdiam diri di kejauhan.
Malam di Kuala Kapuas semakin larut.
Lampu-lampu dermaga tetap menyala.
Sungai Kapuas tetap mengalir seperti biasa.
Namun bagi tiga orang yang hidupnya telah dipertemukan oleh cinta dan takdir, malam itu menjadi batas antara kehidupan yang lama dan kehidupan yang baru.
Jonatan yang mulai menyadari bahwa ia mungkin kehilangan Amanda sebelum sempat mempertahankannya.
Amanda yang mulai bertanya-tanya apakah ia masih punya kekuatan untuk bertahan.
Dan Herlambang yang sedang dalam perjalanan pulang.
Pulang ke kota yang sama.
Pulang ke masa lalu yang belum selesai.
Pulang ke pertanyaan yang belum terjawab.
BAB XIX
Kepulangan yang Tak Direncanakan
Ada perjalanan yang direncanakan berbulan-bulan.
Ada perjalanan yang dipersiapkan dengan matang.
Namun ada pula perjalanan yang lahir dari sesuatu yang lebih sederhana.
Kerinduan.
Kekhawatiran.
Dan hati yang diam-diam masih mencari alasan untuk kembali.
Herlambang tidak pernah menyangka bahwa dirinya akan membeli tiket pulang secepat ini.
Belum genap tiga bulan sejak ia meninggalkan Kuala Kapuas.
Belum lama sejak ia meyakinkan dirinya bahwa pergi adalah pilihan terbaik.
Namun malam itu, ketika layar ponselnya menampilkan bukti pemesanan tiket, ia sadar bahwa beberapa hal tidak bisa dikalahkan oleh logika.
Termasuk cinta yang tidak pernah benar-benar selesai.
Pagi hari di kota tempat Herlambang bekerja terasa sibuk seperti biasa.
Gedung-gedung tinggi menjulang.
Kendaraan memenuhi jalan raya.
Orang-orang berjalan tergesa-gesa mengejar waktu.
Namun di tengah semua kesibukan itu, pikiran Herlambang justru berada jauh di seberang sana. Di sebuah kota kecil yang dibelah oleh Sungai Kapuas. Di sebuah kota yang menyimpan terlalu banyak kenangan.
Ia duduk di ruang kerjanya. Dokumen-dokumen pekerjaan tersusun rapi di meja. Namun sulit baginya untuk berkonsentrasi. Semalam ia hampir tidak tidur. Percakapan dengan Hendra terus terngiang di kepalanya.
Tentang Amanda.
Tentang Jonatan.
Tentang hasil pemeriksaan yang akan segera keluar.
Tentang ketidakpastian yang sedang menghancurkan banyak hati.
"Pak Herlambang?"
Suara rekan kerjanya membuat ia tersadar.
"Hm?"
"Rapat lima belas menit lagi."
"Oh, iya."
Herlambang mengangguk. Namun bahkan selama rapat berlangsung, pikirannya tetap mengembara. Karena untuk pertama kalinya sejak pergi, hatinya tidak lagi berada di tempat ia bekerja. Hatinyalah yang sudah lebih dulu pulang ke Kuala Kapuas.
Dua hari sebelumnya.
Pukul sebelas malam. Herlambang baru saja selesai mandi dan bersiap tidur. Pakaian kerja besok sudah ia siapkan di kursi. Lampu kamar sudah ia matikan.
Hanya lampu meja kecil yang masih menyala.
Ponselnya bergetar. Pesan dari Hendra.
"Lo bangun?"
Herlambang membalas dengan malas. "Iya. Kenapa?"
Hendra tidak membalas dengan pesan. Ia menelepon.
Suara Hendra di seberang sana terdengar berbeda. Tidak seperti biasanya. Tidak ada candaan. Tidak ada gurauan. Hanya nada serius yang jarang sekali keluar dari mulut sahabatnya itu.
"Lam, gue mau cerita sesuatu."
"Tentang apa?"
Hendra menarik napas panjang. "Tentang Amanda."
Mendengar nama itu, Herlambang langsung duduk di tepi tempat tidur. Ada yang tidak beres. Ia bisa merasakannya dari nada suara Hendra.
"Ada apa?"
"Jonatan ternyata punya masa lalu, Lam. Serius."
Hendra bercerita panjang lebar. Tentang Nadia. Tentang anak kecil yang tiba-tiba muncul. Tentang hasil tes DNA yang akan segera keluar. Tentang Amanda yang hancur. Tentang Jonatan yang tidak kalah hancur.
Herlambang mendengarkan semuanya dalam diam. Tidak menyela. Tidak bertanya. Hanya mendengar.
Dan ketika telepon itu berakhir, ia masih duduk di tepi tempat tidur. Menatap dinding kamar yang kosong. Pikirannya kosong. Hatinya berantakan.
Ia ingin mengabaikan. Ingin berkata pada dirinya sendiri, "Bukan urusanmu lagi. Dia sudah punya Jonatan."
Tapi ia tidak bisa.
Bukan karena ia masih berharap. Bukan karena ia ingin merebut Amanda dari Jonatan. Tapi karena Amanda terluka. Dan ia tidak tahan membayangkan Amanda sendirian menghadapi semua itu.
Herlambang berbaring kembali. Memejamkan mata. Berusaha tidur.
Tapi tidur tidak kunjung datang.
Pukul dua dini hari.
Herlambang terbangun. Atau mungkin ia tidak pernah benar-benar tidur. Hanya berbaring dengan mata terpejam sementara pikirannya terus bekerja.
Ia meraih ponselnya.
Membuka aplikasi pemesanan tiket.
Jarinya bergerak lambat. Memasukkan rute: kota tempatnya bekerja sekarang → Kuala Kapuas. Memasukkan tanggal: besok.
Jarinya berhenti di atas tombol "Lanjutkan ke pembayaran."
Apa yang akan ia lakukan di Kuala Kapuas? Apa yang akan ia katakan pada Amanda? Apa yang akan ia katakan pada Jonatan? Apa yang akan ia katakan pada semua orang yang bertanya mengapa ia pulang?
Ia tidak tahu jawaban untuk semua pertanyaan itu.
Tapi jarinya tetap menekan tombol.
Pembayaran berhasil. Tiket Anda telah dikonfirmasi.
Herlambang menatap layar ponselnya. Bukti pemesanan tiket terpampang di sana. Waktu keberangkatan: besok pagi. Nomor kursi: 14A.
Tidak ada yang istimewa. Hanya selembar tiket digital. Tapi rasanya seperti ia baru saja menekan tombol yang akan mengubah hidupnya lagi.
Untuk kedua kalinya dalam waktu singkat.
Ia meletakkan ponsel di samping bantal. Lalu menatap langit-langit kamar yang gelap.
"Apa yang sedang aku lakukan?"
Tidak ada jawaban.
Yang ada hanya detak jantung yang berdebar cepat. Dan keyakinan aneh bahwa ia mengambil keputusan yang benar.
Pukul enam pagi. Herlambang sudah berdiri di depan pintu apartemennya. Koper kecil di tangan. Ransel di punggung.
Ia melihat sekeliling ruangan sekali lagi. Meja kerja. Rak buku. Sofa yang jarang ia gunakan. Jendela yang menghadap ke timur, tempat matahari terbit setiap pagi.
"Aku akan kembali," bisiknya pada ruangan itu.
Entah apakah ia sedang meyakinkan ruangan itu atau meyakinkan dirinya sendiri.
Lalu ia melangkah keluar. Menutup pintu. Dan pergi.
Di dalam pesawat, Herlambang duduk di kursi dekat jendela. Awan-awan putih membentang di bawahnya. Langit biru terlihat tak bertepi.
Ia menatap keluar. Tapi tidak benar-benar melihat apa pun. Pikirannya masih penuh. Masih kacau. Masih mencoba merangkai alasan yang masuk akal untuk kepulangannya.
"Aku pulang karena pekerjaan ada di Kuala Kapuas." Bohong.
"Aku pulang karena ingin melihat keluarga." Sebagian benar, tapi bukan alasan utama.
"Aku pulang karena Amanda butuh seseorang."
Itu.
Itulah alasan sebenarnya.
Tapi ia tidak akan pernah mengakuinya. Bahkan mungkin pada dirinya sendiri.
Sementara Herlambang masih di udara, di Kuala Kapuas hari berjalan seperti biasa. Atau setidaknya berusaha berjalan seperti biasa.
Amanda hampir tidak bisa menikmati sarapannya. Ibunya beberapa kali memperhatikan wajah putrinya.
"Kamu sakit?"
Amanda menggeleng. "Cuma kurang tidur."
Padahal bukan itu penyebabnya. Yang membuatnya tidak bisa tidur adalah hari ini. Hari ketika hasil pemeriksaan akan keluar. Hari ketika kebenaran akhirnya akan mengetuk pintu.
Jonatan juga merasakan hal yang sama. Sejak subuh ia sudah terjaga. Bahkan kopi yang biasanya mampu menenangkan pikirannya tidak lagi membantu. Karena tidak ada yang bisa menenangkan seseorang yang sedang menunggu keputusan besar dari takdir.
Pukul sembilan pagi. Jonatan tiba di laboratorium.
Tangannya terasa dingin. Napasnya lebih berat dari biasanya. Di ruang tunggu yang sepi itu, ia merasa waktu berjalan sangat lambat. Setiap menit terasa seperti satu jam. Setiap detik terasa seperti ujian.
Ketika petugas akhirnya memanggil namanya, jantungnya berdetak keras.
Dokumen itu berada di dalam amplop putih. Tertutup rapat. Sederhana. Namun mungkin berisi jawaban yang akan mengubah seluruh hidupnya.
Jonatan menerima amplop tersebut. Mengucapkan terima kasih. Lalu keluar dari gedung.
Namun ia tidak langsung membukanya. Ia hanya duduk di dalam mobil. Menatap amplop itu cukup lama. Sangat lama. Seolah takut terhadap apa yang akan ditemukannya.
Menjelang siang.
Ponsel Amanda akhirnya bergetar. Nama Jonatan muncul di layar.
Amanda langsung mengangkatnya. "Jonatan?"
Di seberang sana terdengar napas berat. Sangat berat. Dan hanya dari suara itu saja, Amanda langsung tahu bahwa sesuatu telah terjadi.
"Amanda..." Suara Jonatan terdengar serak. "Aku sudah dapat hasilnya."
Amanda memejamkan mata. Jantungnya terasa ingin melompat keluar. "Dan?"
Keheningan. Beberapa detik yang terasa seperti keabadian.
Kemudian Jonatan berkata pelan. "Hasilnya positif."
Dunia Amanda seperti berhenti berputar.
Positif. Satu kata. Namun cukup untuk mengubah segalanya.
Arga memang anak Jonatan. Tidak ada kesalahan. Tidak ada keraguan. Tidak ada lagi ruang untuk menyangkal. Kebenaran yang selama ini mereka tunggu akhirnya datang.
Dan kebenaran itu lebih berat daripada yang dibayangkan.
Amanda menundukkan kepala. Matanya mulai berkaca-kaca. Ia tidak marah. Tidak berteriak. Tidak menangis saat itu juga. Karena terkadang seseorang terlalu terkejut untuk menunjukkan reaksi apa pun.
Di dalam mobilnya, Jonatan memejamkan mata. Air mata perlahan jatuh. Bukan karena ia tidak menerima Arga. Melainkan karena ia tahu konsekuensi dari kebenaran itu. Ia tahu hidupnya tidak akan pernah sama lagi.
Dan ia tahu hubungan dengan Amanda baru saja memasuki ujian terberatnya.
Sore harinya.
Kabar itu sampai ke telinga Hendra. Lalu sampai kepada Kirana.
Dan beberapa jam kemudian, sampai kepada seseorang yang baru saja mendarat di Bandara Kuala Kapuas.
Herlambang.
Herlambang baru saja turun dari pesawat ketika ponselnya bergetar.
Pesan dari Hendra.
"Hasilnya keluar."
"Arga benar anak Jonatan."
Ia membaca pesan itu berulang kali. Tidak bergerak. Tidak berkata apa-apa. Penumpang lain berlalu-lalang di sekitarnya. Suara pengumuman bandara terdengar sayup.
Tapi bagi Herlambang, semua itu terasa jauh.
Ia hanya berdiri di tengah keramaian. Memegang ponsel yang menampilkan kabar yang sudah ia duga, tapi tetap saja menusuk.
Setelah beberapa saat, ia menarik napas panjang. Memasukkan ponsel ke saku. Lalu berjalan menuju area pengambilan bagasi.
Ia tidak tahu apa yang akan ia lakukan. Tidak tahu apa yang akan ia katakan. Tidak tahu apakah kepulangannya akan membawa kebaikan atau justru memperkeruh keadaan.
Tapi ia sudah di sini.
Dan untuk saat ini, itu sudah cukup.
Senja mulai turun di Kuala Kapuas.
Herlambang berdiri di luar terminal bandara. Menatap langit yang mulai berubah warna menjadi jingga. Angin khas Kuala Kapuas yang membawa aroma sungai menyambutnya.
"Aku pulang," bisiknya pelan.
Bukan kepada siapa pun. Hanya kepada dirinya sendiri. Dan kepada kota yang dulu ia tinggalkan.
Sementara di tepian Sungai Kapuas, beberapa kilometer dari bandara, Amanda duduk sendirian. Menatap air yang terus mengalir.
Tanpa menyadari bahwa seseorang yang pernah menjadi bagian terpenting dalam hidupnya sedang dalam perjalanan pulang.
Pulang ke kota yang sama.
Pulang ke masa lalu yang belum selesai.
Dan pulang tepat ketika hidup Amanda mulai runtuh satu demi satu.
Karena terkadang, takdir mempertemukan kembali dua orang bukan saat mereka saling mencari. Melainkan saat salah satu dari mereka sedang kehilangan arah.
BAB XX
Pertemuan di Dermaga yang Sama
Ada tempat-tempat yang menyimpan kenangan lebih kuat daripada waktu.
Tempat yang tetap berdiri ketika musim berganti.
Tetap ada ketika manusia datang dan pergi.
Tetap menjadi saksi ketika cinta tumbuh, ketika harapan lahir, dan ketika hati patah.
Bagi Herlambang dan Amanda, salah satu tempat itu adalah Dermaga KP3 Kuala Kapuas.
Dermaga sederhana di tepian Sungai Kapuas yang telah menyimpan terlalu banyak cerita tentang mereka.
Tentang persahabatan.
Tentang tawa.
Tentang rahasia.
Dan tentang cinta yang tidak pernah menemukan keberanian untuk diucapkan.
Pesawat yang membawa Herlambang mendarat menjelang malam.
Udara Kuala Kapuas yang lembap langsung menyambutnya begitu ia keluar dari terminal kedatangan.
Sudah beberapa bulan ia meninggalkan kota ini.
Namun anehnya, semuanya terasa begitu akrab.
Seolah waktu tidak pernah benar-benar bergerak.
Hendra adalah orang pertama yang menjemputnya.
Begitu melihat sahabatnya berjalan membawa koper, Hendra langsung tersenyum lebar.
"Lama juga kau pergi."
Herlambang tertawa kecil.
"Baru beberapa bulan."
"Bagi kami terasa lama."
Mereka saling berpelukan.
Pelukan sederhana antara dua sahabat yang telah melalui banyak hal bersama.
Di sepanjang perjalanan menuju kota, Hendra menceritakan berbagai hal.
Tentang pekerjaan.
Tentang teman-teman lama.
Tentang perubahan kecil yang terjadi selama Herlambang pergi.
Namun pada akhirnya, pembicaraan itu kembali ke satu nama yang selalu muncul.
Amanda.
"Dia makin pendiam."
Kata Hendra pelan.
Herlambang tidak menjawab.
Hanya menatap lampu-lampu jalan yang melintas di luar jendela mobil.
"Aku enggak pernah lihat Amanda seperti ini."
Lanjut Hendra.
"Dia berusaha kuat."
"Tapi kelihatan kalau dia capek."
Kata-kata itu membuat dada Herlambang terasa berat.
Karena ia mengenal Amanda.
Terlalu mengenalnya.
Amanda adalah tipe perempuan yang selalu berusaha tersenyum meski sedang terluka.
Dan justru itulah yang membuat luka-lukanya sering tidak terlihat.
Malam itu Herlambang tidak langsung menemui siapa pun.
Ia memilih beristirahat di rumah keluarganya.
Namun pikirannya tetap gelisah.
Tidur tidak kunjung datang.
Kenangan demi kenangan terus berdatangan.
Dan tanpa sadar, menjelang subuh, satu keputusan muncul di benaknya.
Pagi hari.
Saat matahari baru mulai naik di ufuk timur.
Herlambang berjalan menuju Dermaga KP3.
Tempat yang selalu menjadi tujuan ketika hatinya sedang penuh.
Sungai Kapuas tampak tenang pagi itu.
Kabut tipis masih menggantung di atas permukaan air.
Beberapa perahu nelayan melintas perlahan.
Suara burung terdengar dari kejauhan.
Semuanya terasa damai.
Namun tidak dengan hati Herlambang.
Ia berdiri di ujung dermaga.
Memandangi aliran sungai yang terus bergerak menuju hilir.
Dan tanpa sadar, pikirannya kembali pada Amanda.
Tentang tawa perempuan itu.
Tentang mimpi-mimpinya.
Tentang surat yang masih tersimpan rapi di dalam kotak kayunya.
Tentang cinta yang tidak pernah berhasil ia lupakan.
Langkah kaki tiba-tiba terdengar dari belakang.
Pelan.
Teratur.
Herlambang tidak langsung menoleh.
Sampai sebuah suara yang sangat dikenalnya terdengar.
"Herlambang?"
Jantungnya seolah berhenti berdetak.
Perlahan ia berbalik.
Dan di sana.
Berdiri beberapa meter darinya.
Amanda.
Perempuan itu mengenakan blus sederhana berwarna putih.
Rambut panjangnya tergerai tertiup angin sungai.
Wajahnya terlihat lebih kurus dibandingkan beberapa bulan lalu.
Dan matanya...
Matanya menyimpan kesedihan yang belum pernah Herlambang lihat sebelumnya.
Untuk beberapa detik mereka hanya saling memandang.
Seolah sama-sama memastikan bahwa apa yang dilihat benar-benar nyata.
Amanda yang pertama tersenyum.
Meski senyum itu tampak rapuh.
"Kamu benar-benar pulang."
Herlambang ikut tersenyum.
"Iya."
Amanda berjalan mendekat.
Masih sulit mempercayainya.
"Aku pikir kamu baru pulang bulan depan."
"Aku juga pikir begitu."
Amanda tertawa kecil.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama.
Dan mendengar tawa itu membuat hati Herlambang terasa hangat.
Mereka kemudian duduk di bangku kayu dekat dermaga.
Tempat yang dulu sering mereka datangi.
Tempat yang hampir tidak berubah.
Berbeda dengan kehidupan mereka.
"Aku dengar semuanya."
Kata Herlambang hati-hati.
Amanda langsung memahami maksudnya.
Tentang Jonatan.
Tentang Arga.
Tentang hasil tes DNA.
Tentang semua kekacauan yang sedang terjadi.
Amanda menundukkan kepala.
Lalu mengangguk pelan.
"Aku juga enggak pernah membayangkan semuanya akan seperti ini."
Untuk beberapa saat mereka hanya mendengarkan suara air sungai.
Tidak ada yang terburu-buru berbicara.
Karena terkadang kehadiran seseorang saja sudah cukup menjadi penghiburan.
"Apa kamu baik-baik saja?"
Tanya Herlambang.
Amanda tersenyum tipis.
Pertanyaan yang sederhana.
Namun justru membuat matanya mulai berkaca-kaca.
Karena sudah terlalu lama tidak ada yang menanyakan hal itu dengan tulus.
"Aku enggak tahu."
Jawab Amanda jujur.
Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini terjadi, air mata akhirnya jatuh.
Herlambang tidak berkata apa-apa.
Tidak memberikan nasihat.
Tidak mencoba menyelesaikan masalah.
Ia hanya duduk di samping Amanda.
Membiarkan perempuan itu menangis.
Membiarkan semua beban yang selama ini dipendam perlahan keluar.
Sementara itu, di tempat lain, Jonatan sedang berdiri di depan rumah Nadia.
Melihat Arga bermain di halaman.
Perasaan bersalah dan tanggung jawab bercampur menjadi satu.
Dan semakin lama ia bersama anak itu, semakin kuat ikatan yang mulai tumbuh.
Namun Jonatan tidak tahu bahwa pada saat yang sama, Amanda sedang duduk bersama Herlambang di dermaga yang pernah menjadi bagian penting dari masa lalu mereka.
Tidak ada yang salah terjadi.
Tidak ada kata cinta yang diucapkan.
Tidak ada pengkhianatan.
Namun sesuatu yang lain mulai tumbuh.
Sesuatu yang selama ini tertidur.
Ketika Amanda akhirnya menghapus air matanya, ia menoleh kepada Herlambang.
"Lama ya sejak terakhir kita duduk di sini."
Herlambang tersenyum.
"Lumayan."
Amanda menatap aliran Sungai Kapuas.
Lalu berkata pelan.
"Aku kangen masa-masa dulu."
Kalimat itu sederhana.
Namun membuat jantung Herlambang berdetak sedikit lebih cepat.
Karena ia pun merasakan hal yang sama.
Pagi terus beranjak siang.
Matahari mulai menghangatkan dermaga.
Namun jauh di balik ketenangan itu, takdir kembali bergerak.
Perlahan.
Diam-diam.
Seperti aliran Sungai Kapuas yang tampak tenang di permukaan tetapi menyimpan arus kuat di bawahnya.
Karena pertemuan di dermaga itu bukanlah kebetulan.
Melainkan awal dari sesuatu yang akan mengubah hubungan mereka.
Sesuatu yang akan membuat Amanda mulai melihat Herlambang dengan cara yang berbeda.
Dan sesuatu yang akan membuat Jonatan menyadari bahwa kehilangan tidak selalu datang karena orang berhenti mencintai.
Kadang kehilangan datang karena terlalu banyak luka yang dibiarkan tumbuh.
BAB XXI
Ketika Hati Mencari Tempat Pulang
Ada perbedaan antara rumah dan tempat pulang.
Rumah adalah bangunan yang melindungi tubuh dari hujan dan panas.
Sedangkan tempat pulang adalah seseorang yang mampu menenangkan hati ketika dunia terasa terlalu berat.
Tidak semua orang beruntung memiliki keduanya.
Dan tidak semua orang langsung menyadari di mana tempat pulangnya berada.
Kadang seseorang harus tersesat lebih dulu.
Harus terluka lebih dulu.
Harus kehilangan arah lebih dulu.
Baru kemudian memahami ke mana sebenarnya hatinya ingin kembali.
Setelah pertemuan di Dermaga KP3 pagi itu, Amanda merasa sedikit lebih tenang.
Bukan karena masalahnya selesai.
Bukan karena jawaban telah ditemukan.
Tetapi karena untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu terakhir, ia tidak merasa sendirian.
Ada seseorang yang mendengarkan tanpa menghakimi.
Seseorang yang tidak memaksanya untuk kuat.
Seseorang yang tidak meminta penjelasan.
Seseorang yang hanya hadir.
Dan terkadang, kehadiran jauh lebih berharga daripada seribu nasihat.
Hari-hari berikutnya, Herlambang beberapa kali bertemu Amanda.
Kadang di kedai kopi dekat Sungai Kapuas.
Kadang di Taman Askari.
Kadang hanya berbincang melalui telepon ketika malam mulai larut.
Semuanya terjadi secara alami.
Tanpa direncanakan.
Tanpa maksud tersembunyi.
Seperti dua sahabat lama yang kembali menemukan ruang untuk berbagi cerita.
Namun perlahan, ada sesuatu yang berubah.
Sesuatu yang bahkan Amanda sendiri belum mampu menjelaskannya.
Suatu sore mereka duduk di bangku taman yang menghadap hamparan rumput hijau.
Anak-anak berlarian di kejauhan.
Beberapa keluarga menikmati akhir pekan.
Sementara langit Kuala Kapuas mulai berubah menjadi warna keemasan.
Amanda menatap senja.
Lalu berkata pelan.
"Kamu tahu?"
"Hm?"
"Aku baru sadar sesuatu."
"Apa?"
Amanda tersenyum tipis.
"Selama ini, setiap kali aku punya masalah, orang pertama yang ingin aku hubungi selalu kamu."
Herlambang terdiam.
Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
Namun ia berusaha tetap tenang.
"Masa?"
Amanda tertawa kecil.
"Iya."
"Sejak kuliah."
"Sejak pertama kali kita berteman."
Herlambang menatap ke arah sungai.
Karena jika ia menatap Amanda terlalu lama, mungkin perasaannya akan terlihat.
Dan itu adalah sesuatu yang selama bertahun-tahun berusaha ia sembunyikan.
Di tempat lain, kehidupan Jonatan semakin rumit.
Setelah hasil tes DNA keluar, ia mulai membagi waktunya antara pekerjaannya, Amanda, dan Arga.
Ia berusaha bertanggung jawab.
Berusaha menjadi ayah.
Berusaha tetap mempertahankan hubungan yang telah ia bangun bersama Amanda.
Namun semuanya tidak semudah yang dibayangkan.
Karena setiap kali melihat Arga tersenyum, muncul rasa bersalah yang begitu besar.
Lima tahun.
Lima tahun seorang anak tumbuh tanpa mengenalnya.
Dan waktu selama itu tidak bisa diganti hanya dengan niat baik.
Sementara Amanda mulai merasakan jarak yang semakin nyata.
Jonatan tetap berusaha.
Tetap menghubunginya.
Tetap menunjukkan perhatian.
Namun pikirannya kini terbagi.
Dan Amanda bisa merasakannya.
Suatu malam Jonatan mengajak Amanda makan malam.
Mereka duduk berhadapan seperti biasa.
Namun suasananya terasa berbeda.
Percakapan sering terputus.
Keheningan lebih banyak hadir.
Dan senyum yang dulu begitu mudah muncul kini terasa dipaksakan.
Amanda memperhatikan wajah Jonatan.
Untuk pertama kalinya ia menyadari bahwa lelaki itu sedang berjuang menghadapi sesuatu yang jauh lebih besar daripada dirinya sendiri.
Dan anehnya, kesadaran itu tidak membuatnya lebih dekat.
Justru membuatnya semakin jauh.
Ketika makan malam selesai, Jonatan menggenggam tangan Amanda.
"Aku akan memperbaiki semuanya."
Amanda tersenyum.
Namun senyum itu terasa hambar.
Karena ia tidak lagi yakin apa arti kata "semuanya".
Apakah semuanya berarti hubungan mereka?
Ataukah kehidupan Jonatan bersama Arga?
Ataukah masa lalu yang kembali datang?
Malam itu Amanda pulang dengan hati yang semakin bingung.
Ia berjalan perlahan menuju teras rumah.
Duduk sendirian di bawah cahaya lampu.
Lalu tanpa sadar membuka daftar kontak di ponselnya.
Matanya berhenti pada satu nama.
Herlambang.
Jarinya ragu-ragu.
Namun akhirnya ia menekan tombol panggil.
Telepon tersambung.
Dan suara yang sangat dikenalnya terdengar di seberang sana.
"Halo?"
Amanda tersenyum tanpa sadar.
"Halo."
"Kok belum tidur?"
"Enggak bisa tidur."
"Ada apa?"
Amanda terdiam sesaat.
Lalu menjawab jujur.
"Aku cuma ingin ngobrol."
Percakapan itu berlangsung hampir satu jam.
Tentang hal-hal sederhana.
Tentang masa kuliah.
Tentang kenangan lama.
Tentang tempat-tempat yang pernah mereka kunjungi bersama.
Dan tanpa Amanda sadari, selama satu jam itu ia tertawa lebih banyak daripada selama beberapa minggu terakhir.
Setelah telepon ditutup, Amanda memandangi langit malam.
Ada perasaan hangat yang sulit dijelaskan.
Perasaan nyaman.
Perasaan aman.
Perasaan yang sudah lama tidak ia rasakan.
Sementara itu, di kamarnya, Herlambang duduk dalam diam.
Ponselnya masih berada di tangannya.
Hatinya dipenuhi kebahagiaan kecil yang tidak berani ia akui.
Karena ia tahu dirinya berada di wilayah yang berbahaya.
Wilayah antara harapan dan kenyataan.
Wilayah yang dulu pernah menghancurkannya.
Namun takdir seolah memiliki rencana sendiri.
Karena beberapa hari kemudian, sebuah kejadian tak terduga akan membuat Amanda mulai melihat masa lalunya dengan cara yang berbeda.
Dan kejadian itu berhubungan dengan sebuah kotak kayu tua.
Kotak yang selama bertahun-tahun disimpan Herlambang.
Kotak yang berisi surat yang tidak pernah dikirim.
Surat yang ditulis untuk Amanda enam tahun lalu.
Surat yang mungkin akan mengubah seluruh jalan cerita mereka.
BAB XXII
Surat yang Akhirnya Ditemukan
Ada rahasia yang berhasil disimpan selama bertahun-tahun.
Tersembunyi di balik senyum.
Terkunci di dalam diam.
Tertidur di antara lembar-lembar kenangan yang perlahan menguning dimakan waktu.
Namun tidak ada rahasia yang bisa bersembunyi selamanya.
Cepat atau lambat, takdir akan menemukan jalannya sendiri.
Membuka apa yang selama ini ditutup rapat.
Mengungkap apa yang selama ini disembunyikan.
Dan ketika saat itu tiba, hidup tidak pernah kembali sama.
Pagi itu Kuala Kapuas diselimuti cahaya matahari yang lembut.
Langit biru terbentang bersih.
Angin dari Sungai Kapuas bertiup pelan membawa aroma air dan tanah yang khas.
Herlambang sedang membantu ibunya membersihkan gudang kecil di belakang rumah. Tempat yang sudah lama tidak disentuh. Tempat yang dipenuhi kardus lama, buku-buku usang, dan berbagai benda yang menyimpan jejak masa lalu.
"Ada banyak barangmu di sini," kata ibunya sambil mengangkat sebuah kardus.
Herlambang tersenyum. "Sebagian bahkan aku sudah lupa."
Mereka tertawa kecil. Lalu kembali membereskan barang-barang lama.
Sampai akhirnya tangan Herlambang menyentuh sebuah kotak kayu yang sangat dikenalnya.
Kotak itu. Kotak yang selama bertahun-tahun menyimpan surat untuk Amanda. Kotak yang selalu ia bawa setiap kali berpindah tempat. Kotak yang menjadi rumah bagi perasaan yang tidak pernah sempat diucapkan.
Perlahan ia membersihkan debu yang menempel di permukaannya. Lalu membukanya.
Surat itu masih ada. Masih tersimpan rapi. Masih sama seperti enam tahun lalu. Masih belum pernah sampai kepada pemilik namanya.
Herlambang tersenyum pahit. Sejenak ia kembali menjadi mahasiswa yang gugup menulis kata demi kata dengan tangan gemetar. Mahasiswa yang jatuh cinta kepada sahabatnya sendiri. Mahasiswa yang terlalu takut kehilangan hingga memilih diam.
"Masih kamu simpan?" Suara ibunya membuat ia tersadar.
Herlambang menoleh. "Ibu tahu?"
Ibunya tertawa kecil. "Ibu ini ibumu."
Perempuan paruh baya itu duduk di sampingnya. Lalu memandang surat tersebut.
"Enam tahun ya?"
Herlambang mengangguk. "Iya."
"Lama sekali."
"Memang."
Ibunya terdiam beberapa saat. Lalu berkata pelan. "Kadang yang paling menyakitkan bukan ditolak. Tapi tidak pernah mencoba."
Kalimat itu sederhana. Namun menghantam hati Herlambang lebih kuat daripada apa pun.
Sementara itu, di tempat lain, Amanda sedang berada di rumah Kirana.
Mereka berdua menghabiskan akhir pekan dengan berbincang santai. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Amanda terlihat sedikit lebih ceria. Meski bayangan tentang Jonatan dan Arga masih belum sepenuhnya hilang.
Kirana memperhatikan sahabatnya. Lalu berkata pelan, "Kamu berubah."
Amanda mengangkat alis. "Maksudnya?"
"Kamu lebih sering tersenyum akhir-akhir ini."
Amanda tertawa kecil. "Masa?"
"Iya."
Amanda berpikir sejenak. Lalu tanpa sadar sebuah nama muncul di benaknya.
Herlambang.
Dan saat nama itu muncul, ada kehangatan kecil yang ikut hadir. Sesuatu yang membuatnya sendiri bingung.
Sore harinya, Amanda memutuskan mengunjungi rumah keluarga Herlambang. Bukan untuk tujuan khusus. Hanya karena ia sedang ingin berkunjung.
Sudah lama ia tidak datang ke sana. Dan ibunda Herlambang selalu menganggapnya seperti anak sendiri.
Ketika tiba, Herlambang sedang pergi ke toko bangunan membeli beberapa keperluan rumah. Yang ada hanya ibunya.
"Amanda!" sambut perempuan itu dengan hangat.
Amanda langsung tersenyum. "Mau ganggu sebentar, Bu."
"Mana ada ganggu."
Mereka mengobrol cukup lama. Tentang pekerjaan. Tentang keluarga. Tentang berbagai hal ringan. Suasana terasa hangat dan akrab, seperti biasa.
Sampai kemudian ibunda Herlambang berdiri. "Amanda, kamu bisa tunggu di ruang tamu ya. Ibu mau ke dapur sebentar."
"Boleh, Bu."
Ibu Herlambang belum sempat beranjak ketika ia teringat sesuatu.
"Eh, Amanda. Kamu tahu kamar Herlambang kan? Kamu bisa lihat-lihat dulu di sana kalau mau. Barang-barangnya masih berantakan habis pindahan dari Jakarta."
Amanda tersenyum. "Boleh, Bu?"
"Silakan saja. Kamu kan sudah seperti anak sendiri."
Amanda berjalan menuju kamar Herlambang. Kamar yang dulu sering ia datangi semasa kuliah. Tidak banyak berubah. Hanya lebih berantakan karena proses pindahan.
Beberapa kardus masih belum sepenuhnya dibongkar. Buku-buku bertumpuk di sudut meja. Pakaian masih bergantungan di sandaran kursi.
Amanda tersenyum melihat kekacauan itu. "Masih sama seperti dulu," gumamnya.
Ia berjalan menyusuri kamar, matanya mengamati satu per satu benda yang berserakan. Kenangan-kenangan lama muncul perlahan.
Di sudut ruangan, di bawah tumpukan buku dan kertas, Amanda melihat sebuah kotak kayu tua.
Bukan kotak mewah. Sederhana. Dengan ukiran sederhana di permukaannya. Tapi ada sesuatu yang membuat Amanda tertarik. Mungkin karena kotak itu terlihat berbeda dari barang-barang lain. Mungkin karena kotak itu terlihat sengaja disimpan, bukan sekadar diletakkan.
Amanda berjongkok. Tangannya meraih kotak itu. Tapi di tengah jalan, ia berhenti.
"Apa ini hak aku?"
Ia ragu. Kotak itu bukan miliknya. Mungkin berisi barang pribadi Herlambang. Mungkin berisi sesuatu yang tidak seharusnya ia lihat.
Tapi rasa penasaran mengalahkan keraguan.
Ia menggeser tumpukan buku di atasnya. Lalu mengambil kotak itu.
Berat. Tidak terlalu berat. Tapi terasa padat, seperti berisi sesuatu yang penting.
Amanda membawa kotak itu ke dekat jendela, di mana cahaya sore masih masuk dengan cukup terang. Lalu ia duduk di lantai, kotak itu di pangkuannya.
Tangannya membuka tutup kotak.
Awalnya ia hanya melihat beberapa foto lama. Foto mereka berempat saat kuliah. Foto Herlambang bersama teman-temannya. Foto pemandangan sungai yang samar-samar ia ingat.
Lalu beberapa kartu ucapan. Catatan kuliah dengan tulisan tangan Herlambang yang rapi. Tiket bioskop yang sudah lusuh.
Amanda tersenyum melihat semua itu. Kenangan-kenangan lama yang terasa hangat.
Dan kemudian...
Matanya berhenti.
Di bagian paling bawah kotak, terselip sebuah amplop. Bukan amplop biasa. Warna krem, sudah menguning di sudut-sudutnya. Kertasnya terlihat tua, seperti sudah bertahun-tahun tidak pernah disentuh.
Dan di bagian depan amplop itu, tertulis satu nama.
Tulisan tangan Herlambang.
Amanda.
Jantung Amanda berdetak lebih cepat.
Ia tidak tahu mengapa. Belum ada alasan untuk panik. Bisa jadi itu hanya surat biasa. Surat undangan. Surat ucapan terima kasih. Atau sekadar catatan kecil yang tidak berarti.
Tapi ada sesuatu di tulisan itu. Sesuatu yang membuatnya yakin bahwa ini bukan surat biasa.
Tangannya mulai bergetar saat mengambil amplop itu.
"Amanda..." — nama dirinya tertulis di sana, dengan tinta yang sudah sedikit pudar.
Ia membuka lipatan amplop. Kertas di dalamnya terasa rapuh di ujung jarinya.
Lalu ia mulai membaca.
Amanda,
Aku tidak tahu apakah suatu hari surat ini akan sampai kepadamu atau tidak. Aku bahkan tidak tahu apakah aku akan cukup berani memberikannya.
Tetapi ada sesuatu yang sudah terlalu lama kusimpan sendirian.
Aku menyukaimu.
Bukan sejak kemarin. Bukan sejak bulan lalu.
Tetapi sejak aku mulai mengenalmu.
Air mata Amanda jatuh.
Bukan karena sedih. Bukan karena marah. Tapi karena ia tidak pernah tahu. Tidak pernah sedikit pun menyadari.
Ia terus membaca. Setiap kalimat adalah luka. Setiap kata adalah penyesalan. Setiap paragraf adalah cinta yang selama ini bersembunyi di balik senyum Herlambang yang selalu ia anggap biasa.
"Aku tidak berharap kamu membalas perasaanku. Aku hanya ingin kamu tahu. Bahwa ada seseorang yang selalu merasa bahagia setiap kali melihatmu tersenyum."
"Seseorang yang selalu merasa tenang ketika mendengar suaramu."
"Dan seseorang yang diam-diam menjadikanmu alasan untuk menjadi lebih baik setiap hari."
Amanda tidak bisa berhenti menangis.
Surat itu bukan sekadar surat. Itu adalah potongan hati Herlambang yang selama enam tahun ia simpan sendiri. Potongan hati yang tidak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun. Potongan hati yang ia bawa ke mana-mana, bahkan saat ia memutuskan pergi dari Kuala Kapuas.
Enam tahun.
Enam tahun Herlambang mencintainya. Dan tidak pernah sekali pun mengatakannya.
Tiba-tiba begitu banyak hal yang selama ini terasa biasa mulai memiliki arti yang berbeda. Perhatian Herlambang. Kesabarannya. Kehadirannya. Kesetiaannya sebagai sahabat.
Semuanya berubah makna.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Amanda mulai melihat masa lalu dari sudut pandang yang sama sekali berbeda.
Amanda masih duduk di lantai, surat itu masih di tangannya, air mata masih mengalir di pipinya, ketika pintu kamar terbuka.
Ia tidak menyadarinya.
Tapi suara langkah kaki yang masuk membuatnya menoleh.
Herlambang.
Dengan kantong belanja di tangan. Masih tersenyum. Masih tidak menyadari apa yang sedang terjadi.
Senyum itu langsung hilang dari wajahnya ketika matanya menangkap pemandangan di hadapannya.
Amanda. Duduk di lantai dekat jendela. Wajahnya basah. Matanya merah. Dan di tangannya... surat itu.
Kotak kayu terbuka di sampingnya.
Surat yang selama enam tahun ia simpan. Surat yang tidak pernah ia berikan. Surat yang seharusnya tidak pernah ditemukan siapa pun.
Surat itu sekarang berada di tangan Amanda.
Darah Herlambang seperti berhenti mengalir.
Kantong belanja di tangannya jatuh ke lantai. Bunyi plastik yang mengerut terdengar keras di tengah keheningan yang tiba-tiba menyergap ruangan.
"Amanda..." Suaranya nyaris tidak terdengar. Hampir seperti bisikan. "Itu bukan..."
Tapi tidak ada gunanya.
Amanda sudah membaca semuanya.
Mereka saling memandang.
Tidak ada yang berbicara. Tidak ada yang bergerak.
Hanya ada keheningan. Keheningan yang berat. Keheningan yang penuh dengan enam tahun pertanyaan yang tidak pernah terjawab. Keheningan yang menyimpan terlalu banyak perasaan yang selama ini terkubur.
Di luar, angin sore masih bertiup lembut. Suara burung terdengar dari kejauhan. Tapi di dalam ruangan itu, waktu terasa berhenti.
Amanda perlahan mengangkat surat itu. "Ini... kamu tulis kapan?"
Suaranya bergetar. Sangat rapuh.
Herlambang menunduk. Tidak bisa menatap matanya. "Enam tahun lalu."
"Enam tahun..." Amanda mengulang kata itu. Seolah sedang mencoba memahaminya. Seolah sedang mencoba mengukur seberapa lama enam tahun itu.
"Kenapa tidak pernah kamu berikan?"
Herlambang tidak menjawab.
"Kenapa, Lam?" Suara Amanda meninggi sedikit. Bukan marah. Tapi putus asa. "Kenapa kamu diam saja selama enam tahun?"
Herlambang masih menunduk. Tangannya mengepal di samping tubuh. Lalu ia menjawab, dengan suara yang teramat pelan.
"Karena aku takut kehilangan kamu."
Kalimat itu menggantung di udara.
Amanda menutup matanya. Air mata kembali jatuh.
Takut kehilangan.
Dan selama enam tahun, Herlambang memilih diam. Memilih menjadi sahabat. Memilih tersenyum setiap kali Amanda bercerita tentang lelaki lain. Memilih pergi ketika Amanda memilih Jonatan.
Semua karena takut kehilangan.
Tapi pada akhirnya, ia tetap kehilangan. Bukan kehilangan Amanda sebagai pacar—karena Amanda tidak pernah menjadi miliknya. Tapi kehilangan kesempatan. Kehilangan waktu. Kehilangan enam tahun yang seharusnya bisa ia gunakan untuk memperjuangkan perasaannya.
Herlambang akhirnya mengangkat wajahnya.
Matanya bertemu dengan mata Amanda. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidak mencoba menyembunyikan apa pun.
"Maaf," katanya. "Aku tidak pernah bermaksud..."
"Jangan minta maaf." Amanda memotong. "Jangan."
Ia berdiri. Surat itu masih digenggam erat di tangannya.
"Aku yang harus minta maaf," lanjutnya. "Karena selama ini aku terlalu sibuk dengan hidupku sendiri. Terlalu sibuk dengan Jonatan. Sampai tidak pernah menyadari bahwa ada seseorang yang selama ini selalu ada untukku."
Herlambang menggeleng. "Bukan salahmu. Aku yang memilih diam."
"Tapi kenapa?"
"Karena..." Herlambang berhenti. Mencari kata-kata yang tepat. "Karena aku pikir, lebih baik kamu bahagia dengan orang lain daripada kehilangan kamu sepenuhnya."
Amanda menunduk.
Di luar, matahari mulai tenggelam. Cahaya sore yang masuk melalui jendela berubah warna menjadi jingga keemasan.
Dan di dalam ruangan itu, dua orang yang selama enam tahun berjalan beriringan tanpa pernah benar-benar jujur, akhirnya berdiri di hadapan satu sama lain tanpa topeng.
Rahasia yang selama ini terkubur akhirnya telah ditemukan.
Dan setelah hari ini, tidak akan ada lagi cara untuk kembali menjadi seperti dulu.
BAB XXIII
Cinta yang Terlambat Diketahui
Ada cinta yang datang tepat waktu.
Ada cinta yang tumbuh perlahan hingga akhirnya menemukan jalannya.
Namun ada pula cinta yang baru diketahui ketika segalanya sudah terlambat.
Ketika seseorang telah memilih jalan lain.
Ketika hati sudah terikat pada janji yang berbeda.
Ketika waktu yang seharusnya menjadi sahabat justru berubah menjadi penyesalan.
Dan cinta seperti itulah yang kini berdiri di antara Amanda dan Herlambang.
Diam.
Rapuh.
Namun begitu nyata.
Ruang tamu itu terasa sangat sunyi.
Suara jam dinding terdengar lebih keras dari biasanya.
Angin sore yang masuk melalui jendela seakan ikut menahan napas.
Herlambang berdiri mematung di dekat pintu.
Sementara Amanda masih duduk dengan surat di tangannya.
Surat yang selama enam tahun tersimpan dalam diam.
Surat yang baru saja mengubah begitu banyak hal.
Untuk beberapa saat tidak ada yang berbicara.
Tidak ada yang tahu harus memulai dari mana.
"Amanda..." Suara Herlambang terdengar pelan. Nyaris seperti bisikan.
Amanda mengangkat wajahnya. Matanya masih merah. Masih basah. Namun bukan karena sedih semata. Melainkan karena terlalu banyak hal yang tiba-tiba ia pahami.
"Semua itu benar?" tanyanya perlahan.
Herlambang menatap surat yang berada di tangan Amanda. Lalu mengembuskan napas panjang. Tidak ada lagi alasan untuk bersembunyi. Tidak ada lagi tempat untuk menghindar.
"Iya."
Hanya satu kata. Namun terasa lebih berat daripada ribuan kalimat.
Amanda menunduk. Air mata kembali jatuh. Bukan karena marah. Bukan karena kecewa. Tetapi karena ada bagian dalam dirinya yang tiba-tiba terasa sesak.
"Kenapa kamu enggak pernah bilang?" Pertanyaan itu akhirnya keluar.
Herlambang tersenyum tipis. Senyum yang pahit. "Karena aku takut."
"Takut apa?"
"Takut kehilangan kamu."
Amanda memejamkan mata. Kalimat itu menghantam hatinya begitu dalam.
"Aku pikir lebih baik mencintaimu diam-diam daripada kehilanganmu sepenuhnya," lanjut Herlambang.
Amanda tidak segera menjawab.
Ia menatap surat itu lagi. Lalu menatap Herlambang. Lalu menunduk. Lalu mengangkat wajahnya lagi. Gerakan yang berulang. Seperti sedang mencoba memahami sesuatu yang terlalu besar untuk dicerna sekaligus.
Jari-jarinya menggenggam erat surat itu hingga kertasnya sedikit kusut. Bukan karena marah. Tapi karena ia tidak tahu harus menyalurkan perasaannya ke mana.
Herlambang memperhatikan itu. Ingin berkata sesuatu. Tapi urung.
Akhirnya Amanda berkata, dengan suara yang nyaris tidak terdengar:
"Enam tahun, Lam. Enam tahun."
"Iya."
"Kamu menyimpan ini sendirian?"
"Iya."
"Tidak pernah cerita ke siapa pun?"
"Tidak."
"Aku minta maaf," kata Herlambang.
Amanda menggeleng. "Jangan. Jangan minta maaf."
Herlambang terdiam.
"Kamu tidak melakukan kesalahan apa pun," lanjut Amanda. "Kamu hanya... mencintai. Dan menyimpannya sendiri. Selama enam tahun."
Suaranya pecah di akhir kalimat.
"Aku yang tidak pernah sadar. Aku yang terlalu sibuk dengan hidupku sendiri. Aku yang—" Ia tidak bisa melanjutkan.
Herlambang melangkah mendekat. Satu langkah. Dua langkah. Lalu berhenti. Tidak berani terlalu dekat.
"Amanda, ini bukan salah siapa pun."
"Tapi—"
"Ini hanya... hidup. Kadang hidup membawa kita ke jalan yang berbeda. Bukan karena kita salah memilih. Tapi karena kita belum tahu apa yang sebenarnya kita butuhkan."
Matahari mulai tenggelam di luar jendela.
Cahaya sore yang masuk perlahan berubah warna.
Dari putih menjadi keemasan.
Lalu jingga.
Lalu merah muda.
Lalu perlahan menghilang.
Mereka masih duduk di ruang tamu itu.
Tidak banyak berbicara.
Tapi juga tidak diam sepenuhnya.
Ada kalimat-kalimat pendek yang terucap di sela-sela keheningan.
Ada tawa kecil ketika mengingat kenangan lama.
Ada air mata yang jatuh ketika menyadari betapa banyak waktu yang terbuang.
Amanda akhirnya berdiri.
"Aku harus pulang."
Herlambang mengangguk. "Aku antar."
"Tidak usah."
Mereka berjalan menuju pintu. Amanda berhenti di ambang pintu. Berbalik. Menatap Herlambang.
Untuk beberapa detik, tidak ada yang bergerak.
Lalu Amanda berkata: "Terima kasih."
Herlambang mengernyit. "Untuk apa?"
"Untuk surat itu. Untuk semuanya."
Ia tidak menunggu jawaban. Langsung melangkah keluar. Meninggalkan Herlambang yang masih berdiri di pintu, menatap punggungnya yang perlahan menjauh.
Amanda tidak langsung pulang.
Ia berhenti di sebuah bangku taman yang tidak jauh dari rumah Herlambang. Duduk sendirian. Surat itu masih ia genggam.
Malam mulai turun. Lampu-lampu jalan menyala satu per satu.
Ia membaca surat itu sekali lagi. Bukan kalimat demi kalimat. Tapi melompat-lompat. Matanya berhenti pada bagian-bagian tertentu.
"Aku tidak berharap kamu membalas perasaanku. Aku hanya ingin kamu tahu."
"Aku menyukaimu. Bukan sejak kemarin. Bukan sejak bulan lalu. Tetapi sejak aku mulai mengenalmu."
"Jika suatu hari nanti kau menemukan surat ini, mungkin aku sudah belajar menerima bahwa tidak semua cinta harus dimiliki untuk tetap menjadi cinta."
Amanda menutup surat itu. Menekannya ke dada.
Ada yang hangat di dadanya. Tapi juga ada yang sakit. Sesak.
Sementara itu, di tempat lain, Jonatan sedang bermain bersama Arga.
Anak kecil itu tertawa ketika Jonatan mengajarinya menerbangkan layang-layang di lapangan dekat sungai. Langit sore berwarna jingga. Layang-layang itu melayang tinggi, seakan bebas dari segala masalah yang membelenggu orang-orang dewasa di bawahnya.
"Papa, lihat! Tinggi!" teriak Arga.
Jonatan tersenyum. "Iya, Nak. Pandai sekali."
Untuk pertama kalinya, Jonatan merasakan kebahagiaan sebagai seorang ayah. Kebahagiaan yang sederhana. Yang tidak membutuhkan Amanda atau siapa pun. Hanya dia dan anaknya.
Namun ia tidak tahu bahwa pada saat yang sama, di tempat yang berbeda, sesuatu yang jauh lebih berbahaya sedang terjadi.
Bukan pengkhianatan.
Bukan perselingkuhan.
Melainkan perubahan hati.
Perubahan yang tumbuh perlahan. Diam-diam. Tanpa disadari.
Dan perubahan itu sering kali lebih sulit dihentikan daripada badai terbesar sekalipun.
Malam itu, sebelum tidur, Amanda membuka kembali surat lama tersebut.
Ia membaca satu kalimat yang membuat air matanya jatuh sekali lagi.
"Jika suatu hari nanti kau menemukan surat ini, mungkin aku sudah belajar menerima bahwa tidak semua cinta harus dimiliki untuk tetap menjadi cinta."
Amanda menutup matanya. Surat itu ia letakkan di atas meja samping tempat tidur. Di samping foto lamanya bersama Herlambang semasa kuliah.
Ia tidak sengaja menaruhnya di sana. Atau mungkin sengaja. Ia sendiri tidak tahu.
Yang ia tahu, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia mulai mempertanyakan isi hatinya sendiri.
Jauh di luar sana, takdir sedang menyiapkan pertemuan lain.
Pertemuan yang akan memaksa Amanda memilih.
Antara janji yang telah ia bangun bersama Jonatan.
Atau perasaan yang perlahan tumbuh kembali kepada Herlambang.
Bukan pilihan yang mudah.
Bukan pilihan yang bisa dibuat dalam semalam.
Tapi pilihan yang harus dibuat.
Karena cinta yang terlambat diketahui tidak bisa selamanya bersembunyi di balik kata "maaf" dan "seharusnya".
BAB XXIV
Senja yang Membingungkan Hati
Hati manusia adalah tempat yang aneh.
Ia mampu menyimpan cinta selama bertahun-tahun.
Mampu bertahan dalam penantian yang panjang.
Namun ia juga mampu berubah tanpa suara.
Tanpa peringatan.
Tanpa tanda-tanda yang jelas.
Dan perubahan itu sering kali baru disadari ketika semuanya sudah terlanjur terjadi.
Amanda mulai merasakan hal itu.
Perlahan.
Diam-diam.
Dan justru karena diam-diam, perasaan itu terasa semakin menakutkan.
Sejak menemukan surat Herlambang, hidup Amanda seperti kehilangan keseimbangannya.
Di siang hari ia tetap bekerja seperti biasa.
Tetap tersenyum kepada rekan-rekannya.
Tetap menjalani rutinitas yang sama.
Namun setiap kali sendirian, pikirannya kembali pada surat itu.
Pada tulisan tangan yang telah menguning.
Pada kalimat-kalimat yang ditulis dengan kejujuran yang selama enam tahun tidak pernah ia ketahui.
Dan pada lelaki yang selama ini selalu ada di sisinya.
Sore itu Amanda kembali duduk di tepian Sungai Kapuas.
Matahari mulai turun perlahan.
Langit berubah menjadi perpaduan warna jingga, merah muda, dan keemasan.
Air sungai memantulkan cahaya senja seperti hamparan kaca yang berkilau.
Biasanya pemandangan seperti itu membuatnya tenang.
Namun tidak hari ini.
Karena hari ini pikirannya dipenuhi dua nama.
Jonatan.
Dan Herlambang.
Jonatan adalah masa depan yang pernah ia pilih.
Lelaki yang melamarnya.
Lelaki yang berusaha membangun hidup bersamanya.
Lelaki yang masih ia sayangi.
Sedangkan Herlambang...
Amanda mengembuskan napas panjang.
Nama itu kini terasa berbeda.
Tidak lagi sesederhana sahabat.
Tidak lagi semudah dulu.
Tiba-tiba ponselnya bergetar.
Sebuah pesan masuk.
Dari Jonatan.
"Besok aku mau ngajak kamu ketemu. Ada sesuatu yang penting."
Amanda membaca pesan itu beberapa kali.
Lalu membalas singkat.
"Baik."
Namun setelah pesan itu terkirim, hatinya justru semakin tidak tenang.
Karena ia tahu.
Cepat atau lambat.
Ia harus menghadapi kenyataan.
Dan kenyataan itu tidak akan mudah.
Di tempat lain, Jonatan sedang duduk di beranda rumah Nadia.
Arga bermain bola di halaman.
Tawa anak itu sesekali terdengar memecah kesunyian sore.
Jonatan memperhatikan setiap gerakan putranya.
Masih terasa aneh menyebut Arga sebagai putranya.
Namun setiap hari yang berlalu membuat kenyataan itu semakin nyata.
"Dia senang kalau kamu datang."
Kata Nadia pelan.
Jonatan tersenyum.
"Aku juga senang."
Nadia menatapnya beberapa saat.
Lalu berkata hati-hati.
"Amanda sudah tahu semuanya?"
Jonatan mengangguk.
"Dan?"
Jonatan tidak langsung menjawab.
Karena bahkan dirinya sendiri tidak tahu bagaimana menjelaskan keadaan yang sedang terjadi.
"Aku rasa dia sedang menjauh."
Katanya akhirnya.
Nadia terdiam.
Ada rasa bersalah yang kembali muncul di dalam dirinya.
Bukan karena kehadirannya.
Melainkan karena ia tahu kehidupannya telah membawa badai ke dalam hubungan dua orang yang saling mencintai.
Malam mulai turun.
Lampu-lampu kota Kuala Kapuas menyala satu per satu.
Sementara Amanda masih duduk di tepi sungai.
Sendirian.
Memandangi langit yang perlahan berubah gelap.
Langkah kaki seseorang terdengar mendekat.
Amanda menoleh.
Dan melihat Herlambang.
Lelaki itu membawa dua gelas kopi.
Seperti kebiasaannya sejak dulu.
Tanpa banyak bicara.
Tanpa perlu bertanya.
Seolah selalu tahu apa yang dibutuhkan Amanda.
"Duduk boleh?"
Tanya Herlambang.
Amanda tersenyum tipis.
"Boleh."
Mereka duduk berdampingan.
Menatap senja yang hampir menghilang.
Tidak ada pembicaraan selama beberapa menit.
Namun keheningan itu terasa nyaman.
Tidak canggung.
Tidak memaksa.
Seperti dua orang yang sudah saling memahami bahkan tanpa kata-kata.
"Senjanya bagus ya."
Kata Amanda akhirnya.
Herlambang mengangguk.
"Tapi enggak sebagus dulu."
Amanda menoleh.
"Kenapa?"
Karena dulu ada kamu yang selalu cerewet mengomentari bentuk awan.
Karena dulu ada tawa yang lebih sering terdengar.
Karena dulu hatinya tidak serumit sekarang.
Namun tentu saja Herlambang tidak mengucapkan semua itu.
"Dulu kita lebih sering menikmati senja."
Jawabnya sederhana.
Amanda tersenyum.
Lalu kembali menatap cakrawala.
"Herlambang."
Panggilnya pelan.
"Iya?"
"Kalau waktu bisa diulang..."
Amanda berhenti.
Herlambang menoleh.
Jantungnya perlahan mulai berdetak lebih cepat.
"...apa kamu tetap akan menulis surat itu?"
Untuk beberapa saat Herlambang hanya diam.
Memandangi matahari yang hampir tenggelam sepenuhnya.
Lalu ia tersenyum.
Senyum yang lembut.
Sedikit sedih.
Sedikit ikhlas.
"Iya."
Jawabnya.
Amanda menunduk.
"Walaupun tahu aku mungkin enggak akan pernah membacanya?"
"Iya."
"Kenapa?"
Karena cinta tidak selalu tentang memiliki.
Karena beberapa perasaan memang lahir untuk dijaga.
Karena mencintaimu pernah menjadi bagian terindah dalam hidupku.
Namun sekali lagi, semua kalimat itu hanya bergema di dalam hati Herlambang.
"Aku enggak pernah menyesal menulisnya."
Katanya pelan.
Amanda tidak mampu menjawab.
Karena dadanya tiba-tiba terasa sesak.
Dan untuk pertama kalinya, muncul pertanyaan yang membuatnya takut.
Sangat takut.
Bagaimana jika selama ini orang yang paling memahami dirinya bukan Jonatan?
Melainkan Herlambang.
Bagaimana jika selama ini tempat pulang yang ia cari ternyata selalu berada di dekatnya?
Langit semakin gelap.
Lampu-lampu dermaga mulai menyala.
Dan di tengah keheningan malam yang perlahan turun, Amanda menyadari bahwa dirinya sedang berdiri di persimpangan hati yang paling rumit dalam hidupnya.
Sementara itu, tanpa sepengetahuan mereka, seseorang melihat kebersamaan itu dari kejauhan.
Seseorang yang baru saja datang ke dermaga.
Seseorang yang tidak pernah berniat menguping.
Namun terlambat untuk pergi.
Jonatan.
Ia berdiri beberapa puluh meter dari sana.
Memandang Amanda dan Herlambang yang duduk berdampingan di bawah cahaya senja terakhir.
Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, sebuah ketakutan baru muncul di dalam hatinya.
Ketakutan bahwa bukan hanya masa lalunya yang mengancam hubungan mereka.
Melainkan seseorang yang selama ini selalu berada di dekat Amanda.
Seseorang bernama Herlambang.
BAB XXV
Lelaki yang Datang Terlalu Awal dan Terlalu Terlambat
Takdir memiliki cara yang aneh untuk mempermainkan waktu.
Kadang seseorang datang terlalu cepat, ketika hati belum siap menerimanya.
Kadang seseorang datang terlalu lambat, ketika hati telah terikat pada orang lain.
Dan ada kalanya seseorang mengalami keduanya sekaligus.
Datang terlalu awal untuk dicintai.
Namun juga terlalu terlambat untuk diperjuangkan.
Itulah yang dirasakan Herlambang malam itu.
Dan mungkin, tanpa ia sadari, itulah pula yang sedang dirasakan Amanda.
Namun ada satu lagi perasaan yang tidak pernah ia ucapkan kepada siapa pun.
Perasaan yang paling jujur.
Perasaan yang paling brutal.
Perasaan yang ia simpan di bagian paling gelap dari hatinya.
"Aku benci menjadi pilihan kedua. Tapi aku lebih benci jika bukan aku yang dipilih."
Malam itu, kalimat itu bergema di kepalanya berulang-ulang.
Seperti kutukan.
Seperti pengakuan.
Seperti luka yang tidak mau sembuh.
Jonatan berdiri di ujung dermaga.
Angin malam bertiup pelan dari arah Sungai Kapuas.
Lampu-lampu kota memantulkan cahaya ke permukaan air yang bergerak perlahan.
Dari kejauhan ia melihat Amanda dan Herlambang masih duduk berdampingan.
Tidak ada yang berlebihan.
Tidak ada sentuhan.
Tidak ada pelukan.
Tidak ada kata-kata yang bisa disebut pengkhianatan.
Namun justru itulah yang membuat dadanya terasa semakin sesak.
Karena ia melihat sesuatu yang lebih berbahaya.
Bukan hasrat.
Bukan gairah.
Bukan cinta yang menyala-nyala.
Kenyamanan.
Kenyamanan dua orang yang sudah saling mengenal selama bertahun-tahun. Kenyamanan yang tidak perlu diucapkan karena sudah mengalir begitu saja. Kenyamanan yang tidak bisa ia berikan kepada Amanda, tidak peduli seberapa keras ia berusaha.
Jonatan mengenal Amanda.
Ia tahu bagaimana perempuan itu tertawa.
Bagaimana ia tersenyum.
Bagaimana ia menatap seseorang ketika merasa aman.
Dan malam itu, semua hal itu ada ketika Amanda bersama Herlambang.
Bukan bersama Jonatan.
Untuk beberapa saat Jonatan hanya berdiri diam.
Lalu perlahan berbalik.
Memilih pergi tanpa memperlihatkan dirinya.
Bukan karena marah.
Bukan karena cemburu buta.
Melainkan karena ia belum siap menghadapi apa yang baru saja dilihatnya.
Dan karena ia takut jika terus berdiri di sana, ia akan melihat sesuatu yang lebih jauh lagi.
Sesuatu yang mungkin akan menghancurkan sisa-sisa harapan yang masih ia genggam.
Di sisi lain, Amanda sama sekali tidak mengetahui keberadaan Jonatan.
Ia masih duduk bersama Herlambang.
Menikmati malam yang perlahan turun.
Namun ada yang berbeda malam ini.
Ada keheningan yang tidak biasa.
Bukan keheningan yang canggung.
Bukan keheningan yang nyaman.
Tapi keheningan di mana sesuatu yang berat sedang berusaha diucapkan.
Setelah beberapa lama, Herlambang membuka suara.
"Amanda."
"Iya?"
"Maaf aku pergi dulu dulu."
Amanda menoleh. "Kenapa tiba-tiba?"
Herlambang tersenyum tipis. "Bukan tiba-tiba. Aku sudah lama ingin bilang. Tapi tidak pernah berani."
Amanda terdiam. Menunggu.
"Aku pergi karena aku tidak tahan lagi, Amanda," lanjut Herlambang. Suaranya pelan. Jujur. "Bukan karena pekerjaan. Bukan karena ingin mencoba hal baru. Tapi karena aku tidak tahan melihat kamu bersama Jonatan."
Setiap kata jatuh seperti batu ke permukaan air yang tenang. Menciptakan riak yang terus melebar.
"Setiap kali kamu tertawa karena dia, aku merasa ada yang hilang dari diriku. Setiap kali kamu memandangnya, aku harus berpaling agar tidak menangis."
Amanda menggigit bibirnya. Tidak tahu harus berkata apa.
"Aku tahu itu egois," Herlambang melanjutkan. "Kamu berhak bahagia dengan siapa pun. Tapi aku tidak bisa terus berpura-pura bahwa melihatmu bahagia dengan orang lain cukup membuatku bahagia. Karena tidak. Itu tidak pernah cukup."
Udara di sekitar mereka terasa berat.
"Aku benci menjadi pilihan kedua, Amanda." Suaranya bergetar. Hampir pecah. "Tapi aku lebih benci jika bukan aku yang dipilih."
Amanda tidak bisa menjawab.
Bukan karena tidak ada yang ingin ia katakan. Tapi karena terlalu banyak yang ingin ia katakan, dan semuanya terjebak di tenggorokannya.
Ia menatap sungai yang gelap. Lampu-lampu kota memantul di permukaan air, menciptakan ilusi bintang-bintang yang jatuh.
"Aku tidak pernah tahu," katanya akhirnya. Suaranya hampir tidak terdengar.
"Aku tahu."
"Kenapa tidak pernah bilang?"
Herlambang tertawa kecil. Tawa yang pahit. "Karena aku takut."
"Takut apa?"
"Takut kehilangan kamu. Dan pada akhirnya, aku tetap kehilangan kamu."
Amanda menunduk. Jari-jarinya menggenggam erat ujung bajunya.
Malam semakin larut. Lampu-lampu dermaga mulai berkedip. Beberapa perahu terakhir melintas di sungai yang gelap.
Akhirnya mereka pulang.
Berjalan berdampingan dalam diam.
Namun percakapan singkat itu terus tinggal di kepala Amanda.
Lelaki ini mencintainya selama enam tahun. Lelaki ini memilih pergi demi menjaga perasaannya sendiri. Lelaki ini tetap kembali ketika mengetahui dirinya sedang terluka. Dan semua itu dilakukan tanpa pernah meminta apa pun.
Tanpa pernah meminta apa pun.
Amanda mengulang kalimat itu dalam benaknya.
Dan untuk pertama kalinya ia bertanya pada dirinya sendiri: Apa yang sudah ia berikan pada Herlambang selama ini? Apa balasan untuk semua kesetiaan itu? Hanya status "sahabat"? Hanya "makasih ya" dan "kamu sahabat terbaikku"?
Ia menutup matanya. Ada rasa bersalah yang mulai tumbuh. Bersamaan dengan perasaan lain yang tidak berani ia akui.
Sementara itu, Jonatan menghabiskan malamnya sendirian.
Di dalam kamar yang terasa lebih sunyi dari biasanya.
Ponselnya berada di atas meja.
Beberapa kali ia mencoba menghubungi Amanda.
Namun urung dilakukan.
Jempolnya melayang di atas layar.
Mengetik satu kalimat. Lalu menghapusnya.
Mengetik lagi. Menghapus lagi.
"Amanda, aku tahu kamu sedang bersama Herlambang." Hapus.
"Aku melihat kalian di dermaga." Hapus.
"Apa yang kalian bicarakan?" Hapus.
Terlalu posesif. Terlalu cemburu. Terlalu menunjukkan bahwa ia tidak percaya.
Padahal bukan itu masalahnya.
Ia takut.
Bukan takut kehilangan Amanda karena Herlambang. Itu sudah terlalu jelas. Ia takut karena ia mulai menyadari sesuatu yang lebih dalam.
Selama beberapa minggu terakhir, ia terlalu sibuk memperbaiki masa lalunya. Terlalu sibuk belajar menjadi ayah bagi Arga. Terlalu sibuk menanggung rasa bersalah kepada Nadia. Sampai lupa bahwa hubungan juga membutuhkan kehadiran. Sampai lupa bahwa Amanda juga butuh diperhatikan. Bukan hanya sebagai tunangan yang pengertian. Tapi sebagai seseorang yang dicintai.
Dan mungkin, tanpa sengaja, ia telah meninggalkan ruang kosong.
Ruang yang seharusnya ia isi.
Ruang yang kini mulai diisi oleh orang lain.
Ia meletakkan ponselnya.
Menutup mata.
Dan untuk pertama kalinya, ia bertanya pada dirinya sendiri:
"Apa aku memang pantas untuk Amanda?"
Keesokan harinya Jonatan akhirnya menemui Amanda.
Mereka bertemu di sebuah kafe yang tidak jauh dari pusat kota. Bukan tempat yang biasa mereka kunjungi. Sengaja dipilih tempat netral. Seolah keduanya sudah tahu bahwa percakapan ini akan berbeda.
Amanda datang tepat waktu. Tidak lebih awal. Tidak terlambat.
Namun senyumnya tidak lagi sama. Bukan senyum yang dulu membuat Jonatan jatuh hati. Bukan senyum yang penuh harapan. Tapi senyum yang ragu. Senyum yang bertanya-tanya.
Jonatan langsung menyadarinya. Seperti biasa. Ia selalu bisa membaca Amanda.
Dan justru karena itu, ia semakin takut.
"Amanda."
"Ya?"
"Kita harus bicara."
Amanda mengangguk pelan. Karena ia juga tahu percakapan ini tidak bisa terus ditunda. Karena ia juga memiliki sesuatu yang harus diucapkan. Sesuatu yang mungkin akan menyakiti mereka berdua.
Untuk beberapa saat mereka hanya saling memandang.
Seolah sama-sama mencari keberanian.
Seolah sama-sama takut menjadi orang yang memulai.
"Aku tahu semuanya berubah," kata Jonatan akhirnya. Suaranya pelan. Lelah. Seperti orang yang sudah lelah berlari dari kenyataan.
Amanda menunduk. Jari-jarinya menggenggam cangkir kopi yang sudah dingin. "Aku juga merasakannya."
"Aku enggak mau kehilangan kamu."
Tangannya meraih tangan Amanda di atas meja. Genggaman yang dulu terasa hangat. Kini terasa seperti seseorang yang berpegangan pada benda yang mulai lepas.
Amanda memejamkan mata. Kemudian perlahan menarik tangannya.
Bukan dengan marah. Tapi dengan lembut.
"Jonatan."
"Iya."
"Aku sayang kamu. Aku masih sayang kamu."
Jonatan terdiam. Menunggu. Karena ia tahu ada kata "tapi" yang akan mengikuti.
Tapi kata itu tidak datang. Karena Amanda tidak tega mengatakannya.
Namun keheningan itu sudah cukup. Jonatan memahami.
Ia mengusap wajahnya dengan tangan yang bebas. Untuk pertama kalinya ia merasa benar-benar kalah. Bukan kepada Herlambang. Bukan kepada siapa pun. Melainkan kepada waktu.
"Herlambang orang baik," katanya tiba-tiba.
Amanda terkejut. "Apa?"
"Aku sering iri sama dia." Jonatan tertawa kecil. Tawa yang pahit. "Iri karena dia sudah mengenalmu lebih lama. Iri karena dia tahu hal-hal kecil tentangmu yang aku harus pelajari dari awal."
Amanda tidak bisa menjawab.
"Tapi aku juga iri karena..." Jonatan berhenti. Menelan sesuatu di tenggorokannya. "Karena dia punya keberanian untuk pergi saat dia tahu dia sedang terluka. Sementara aku... aku masih di sini. Berusaha mempertahankan sesuatu yang mungkin memang tidak layak dipertahankan."
"Jonatan..."
"Biarkan aku bicara. Karena mungkin setelah ini, aku tidak akan punya kesempatan lagi."
Jonatan menarik napas panjang.
"Aku enggak akan menghalangi kamu, Amanda. Apapun keputusanmu."
Amanda mengangkat wajahnya. Matanya berkaca-kaca.
"Tapi aku ingin kamu tahu..." Jonatan menatapnya lurus. "Aku tidak menyesal memilih kamu. Dulu. Sekarang. Selamanya."
Air mata Amanda jatuh.
Dan untuk pertama kalinya, ia tidak bisa membedakan apakah ia menangis karena sedih, karena bahagia, atau karena kehilangan.
Mungkin semuanya sekaligus.
Di tempat lain, tanpa sepengetahuan mereka berdua, Herlambang sedang membantu Hendra memperbaiki sebuah papan nama di dekat kawasan wisata tepian Sungai Kapuas.
Matahari mulai naik. Keringat membasahi dahinya. Namun pikirannya tidak berada di sana. Pikirannya berada di kafe yang entah di mana. Bersama Amanda. Bersama Jonatan. Bersama percakapan yang tidak ia ketahui isinya.
Hendra yang bekerja di sampingnya mulai menyadari bahwa sahabatnya tidak fokus.
"Kamu kenapa?"
Herlambang menggeleng. "Enggak."
"Kamu enggak bisa bohong sama aku."
Herlambang berhenti memegang palu. Ia menatap papan nama yang setengah terpasang. Lalu berkata pelan.
"Hendra."
"Iya?"
"Kamu pernah merasa jadi pilihan kedua?"
Hendra terdiam. "Maksudmu?"
"Kamu dicintai. Tapi bukan yang pertama. Bukan yang utama. Kamu dipilih karena yang pertama tidak tersedia. Bukan karena kamu lebih baik."
Hendra tidak segera menjawab. Karena ia mengerti arah pembicaraan ini.
"Kadang aku benci menjadi pilihan kedua." Suara Herlambang bergetar sedikit. "Tapi..." Ia berhenti. Menghela napas panjang. Lalu tersenyum. Senyum yang sama sekali tidak lucu. "Aku lebih benci jika bukan aku yang dipilih."
Hendra tidak bisa berkata apa-apa. Hanya meletakkan tangan di pundak sahabatnya. Karena terkadang, tidak ada kata-kata yang cukup untuk menghibur seseorang yang sedang berperang dengan hatinya sendiri.
Malam kembali turun di Kuala Kapuas.
Sungai Kapuas mengalir tenang seperti biasa.
Lampu-lampu dermaga memantulkan cahaya ke permukaan air.
Namun di balik ketenangan itu, tiga hati sedang menghadapi badai masing-masing.
Jonatan yang berjuang mempertahankan apa yang masih tersisa, namun mulai belajar melepaskan.
Amanda yang mulai kehilangan kepastian, dan takut pada apa yang akan ia temukan jika ia jujur pada dirinya sendiri.
Dan Herlambang yang tidak pernah berani berharap terlalu jauh, namun diam-diam memendam kalimat paling jujur yang tidak pernah ia ucapkan:
Aku benci menjadi pilihan kedua. Tapi aku lebih benci jika bukan aku yang dipilih.
Karena terkadang takdir menghadirkan seseorang pada waktu yang salah.
Bukan karena ia bukan orang yang tepat.
Melainkan karena hidup telah lebih dulu menuliskan cerita yang berbeda.
Namun takdir juga belum selesai bekerja.
Karena beberapa hari lagi, Amanda akan membuat keputusan yang mengejutkan semua orang.
Keputusan yang tidak hanya mengubah hidupnya.
Tetapi juga mengubah kehidupan Jonatan, Herlambang, Nadia, bahkan Arga.
Sebuah keputusan yang lahir dari kejujuran paling sulit yang pernah ia ucapkan.
Dan keputusan itu akan menjawab pertanyaan yang selama ini mengganjal di hati Herlambang: Apakah ia selamanya hanya akan menjadi pilihan kedua? Ataukah kali ini, untuk pertama kalinya, ia akan dipilih sebagai yang pertama?
BAB XXVI
Kejujuran yang Menyakiti Semua Orang
Tidak semua kebohongan lahir dari niat buruk.
Dan tidak semua kejujuran membawa kebahagiaan.
Kadang seseorang berbohong karena takut menyakiti.
Namun pada akhirnya, kebohongan hanya menunda luka.
Sementara kejujuran, meski menyakitkan, adalah satu-satunya jalan menuju ketenangan.
Amanda mulai memahami hal itu.
Dan pemahaman itu menuntunnya pada keputusan yang paling sulit dalam hidupnya.
Keputusan yang akan melukai banyak orang.
Termasuk dirinya sendiri.
Beberapa hari setelah pertemuannya dengan Jonatan di kafe, Amanda menjadi lebih banyak diam.
Ia tetap bekerja.
Tetap menjalani rutinitas.
Tetap tersenyum ketika bertemu orang lain.
Namun di dalam dirinya berlangsung pertarungan yang tidak pernah berhenti.
Setiap malam ia memikirkan hal yang sama.
Tentang Jonatan.
Tentang Herlambang.
Tentang masa depan.
Tentang dirinya sendiri.
Ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa semua ini hanya kebingungan sementara.
Bahwa perasaannya akan kembali seperti dulu.
Bahwa waktu akan memperbaiki semuanya.
Namun semakin ia mencoba menyangkal, semakin jelas suara hatinya terdengar.
Dan justru itulah yang membuatnya takut.
Karena Amanda bukan perempuan yang mudah menyerah.
Ia bukan tipe orang yang meninggalkan seseorang saat keadaan sulit.
Tetapi ada satu hal yang tidak bisa ia paksakan.
Perasaan.
Pagi itu Amanda kembali datang ke tepian Sungai Kapuas.
Tempat yang akhir-akhir ini menjadi ruang pelariannya.
Langit tampak cerah.
Perahu-perahu kecil bergerak perlahan di atas air.
Anak-anak berlarian di sekitar kawasan wisata tepian sungai.
Semuanya tampak biasa.
Namun hati Amanda terasa sangat berat.
Ia akhirnya menghubungi Kirana.
"Aku butuh bicara."
Satu jam kemudian mereka bertemu di sebuah gazebo dekat taman kota.
Kirana langsung tahu bahwa sesuatu yang besar sedang terjadi.
Karena wajah Amanda tampak jauh lebih serius daripada biasanya.
"Apa yang terjadi?"
Tanya Kirana.
Amanda mengembuskan napas panjang.
Lalu menatap sahabatnya.
"Aku rasa aku sudah tahu apa yang harus aku lakukan."
Kirana terdiam.
Menunggu.
"Aku enggak bisa lanjut seperti ini."
Jantung Kirana langsung berdegup lebih cepat.
"Soal Jonatan?"
Amanda mengangguk.
Air matanya mulai menggenang.
"Aku masih peduli sama dia."
"Kalau begitu?"
Amanda menunduk.
Lama.
Sangat lama.
"Peduli ternyata enggak selalu berarti cinta."
Kalimat itu membuat Kirana ikut terdiam.
Karena ia tahu betapa beratnya Amanda mengucapkan hal tersebut.
Bukan karena Amanda tidak menghargai Jonatan.
Justru sebaliknya.
Amanda sangat menghargainya.
Sangat menyayanginya.
Namun rasa yang dulu begitu kuat perlahan berubah.
Dan semakin lama ia berpura-pura, semakin besar luka yang akan tercipta.
Malam harinya Amanda menghubungi Jonatan.
"Aku ingin ketemu."
Pesan itu membuat Jonatan langsung memahami bahwa sesuatu akan terjadi.
Sesuatu yang mungkin sudah lama ia takutkan.
Mereka bertemu di Dermaga KP3.
Tempat yang beberapa waktu terakhir menjadi saksi begitu banyak perubahan.
Langit malam tampak tenang.
Lampu-lampu dermaga memantul di permukaan Sungai Kapuas.
Angin bertiup pelan.
Jonatan datang lebih dulu.
Seperti biasa.
Namun kali ini ia tidak merasa sedang menunggu seseorang yang dicintainya.
Ia merasa seperti seseorang yang sedang menunggu vonis.
Ketika Amanda datang, jantungnya langsung berdebar.
Mereka duduk berhadapan.
Tidak ada senyum.
Tidak ada basa-basi.
Hanya dua orang yang sama-sama tahu bahwa malam ini akan mengubah segalanya.
Amanda memulai lebih dulu.
"Maaf."
Satu kata itu langsung membuat dada Jonatan terasa sesak.
Karena terkadang seseorang sudah mengetahui isi percakapan hanya dari kalimat pertama.
"Amanda..."
Amanda menggeleng perlahan.
Air mata mulai mengalir.
"Tolong biarkan aku bicara."
Jonatan terdiam.
"Aku sudah mencoba."
Suara Amanda bergetar.
"Aku benar-benar sudah mencoba."
Setiap kata terasa seperti pisau yang perlahan mengiris hati mereka berdua.
"Aku mencoba memahami semuanya."
"Aku mencoba menerima keadaan."
"Aku mencoba tetap menjadi orang yang sama."
Air mata semakin deras mengalir di pipinya.
"Tapi aku enggak bisa bohong terus sama diriku sendiri."
Jonatan menunduk.
Tangannya mengepal.
Karena akhirnya kalimat itu datang.
Kalimat yang sejak beberapa hari terakhir selalu ia takutkan.
"Aku rasa kita harus berhenti."
Sunyi.
Sangat sunyi.
Bahkan suara air sungai terasa jauh.
Jonatan memejamkan mata.
Lama sekali.
Tidak ada kemarahan.
Tidak ada teriakan.
Tidak ada tuduhan.
Karena jauh di dalam hatinya, ia sudah mengetahui kemungkinan ini.
Dan justru itulah yang paling menyakitkan.
"Apa karena Herlambang?"
Tanyanya pelan.
Amanda langsung menangis.
"Bukan."
Lalu ia berhenti sejenak.
"Bukan hanya karena itu."
Jawaban jujur yang justru terasa lebih menyakitkan.
Karena untuk pertama kalinya mereka mengakui kenyataan yang selama ini berusaha dihindari.
Bahwa hati Amanda memang mulai berubah.
Dan perubahan itu tidak terjadi dalam semalam.
Jonatan menatap sungai yang gelap.
Air matanya akhirnya jatuh.
Untuk pertama kalinya sejak dewasa.
Karena kehilangan seseorang yang dicintai ternyata jauh lebih menyakitkan daripada semua masalah yang pernah ia hadapi.
"Aku mencintaimu."
Katanya lirih.
Amanda menangis semakin keras.
"Aku tahu."
"Aku juga pernah mencintaimu."
Kalimat itu menghancurkan sesuatu di dalam diri Jonatan.
Bukan karena Amanda berhenti mencintainya.
Melainkan karena kata "pernah" terdengar begitu final.
Begitu tidak bisa ditarik kembali.
Malam itu mereka berpisah tanpa pertengkaran.
Tanpa kebencian.
Tanpa dendam.
Hanya dua orang yang sama-sama terluka.
Sama-sama kehilangan.
Dan sama-sama gagal melawan waktu.
Sementara itu, di rumahnya, Herlambang sama sekali tidak mengetahui apa yang sedang terjadi.
Ia sedang memperbaiki rak buku tua milik ayahnya.
Menjalani malam seperti biasa.
Tanpa menyadari bahwa di tempat lain, Amanda baru saja mengakhiri sebuah hubungan yang selama ini menjadi bagian penting dalam hidupnya.
Dan tanpa menyadari bahwa mulai malam ini, takdir perlahan membuka jalan baru yang selama bertahun-tahun tertutup.
Namun jalan baru itu tidak akan mudah.
Karena hati Jonatan yang patah belum benar-benar selesai.
Karena Nadia masih membawa masa lalu yang rumit.
Karena Amanda sendiri belum sepenuhnya memahami perasaannya.
Dan karena Herlambang masih belum percaya bahwa kebahagiaan bisa benar-benar datang untuk dirinya.
Malam di Kuala Kapuas semakin larut.
Lampu-lampu dermaga tetap menyala.
Sungai Kapuas tetap mengalir seperti biasa.
Namun bagi empat orang yang hidupnya telah dipertemukan oleh cinta dan takdir, malam itu menjadi batas antara kehidupan yang lama dan kehidupan yang baru.
BAB XXVII
Setelah Perpisahan
Tidak ada yang benar-benar siap menghadapi perpisahan.
Bahkan ketika perpisahan itu sudah terlihat datang dari kejauhan.
Bahkan ketika tanda-tandanya sudah muncul satu per satu.
Bahkan ketika hati diam-diam telah mempersiapkan diri.
Karena pada akhirnya, kehilangan tetaplah kehilangan.
Dan tidak ada cara yang benar-benar mudah untuk menerimanya.
Malam setelah pertemuan di dermaga itu menjadi malam yang panjang bagi Jonatan.
Mungkin malam terpanjang dalam hidupnya.
Ia mengemudikan mobil tanpa tujuan menyusuri jalan-jalan Kota Kuala Kapuas yang mulai sepi.
Lampu-lampu pertokoan satu per satu padam.
Warung-warung kopi mulai tutup.
Namun pikirannya tidak menemukan tempat untuk beristirahat.
Suara Amanda terus terngiang di kepalanya.
"Aku rasa kita harus berhenti."
Kalimat sederhana.
Tidak kasar.
Tidak penuh kemarahan.
Namun justru karena diucapkan dengan lembut, luka yang ditinggalkannya terasa semakin dalam.
Beberapa kali Jonatan memarkir mobilnya di pinggir jalan.
Berusaha menenangkan diri.
Namun setiap kali memejamkan mata, yang muncul adalah kenangan.
Hari pertama bertemu Amanda.
Percakapan pertama mereka.
Pertunangan yang dulu terasa begitu membahagiakan.
Mimpi-mimpi yang pernah mereka bangun bersama.
Semuanya datang beriringan.
Dan semuanya kini berubah menjadi masa lalu.
Sementara itu, Amanda duduk di kamarnya.
Lampu sengaja dimatikan.
Hanya cahaya bulan yang masuk melalui jendela.
Air matanya sudah berhenti.
Namun kesedihan masih tinggal.
Banyak orang berpikir bahwa orang yang mengakhiri hubungan akan lebih mudah melupakan.
Padahal sering kali tidak demikian.
Karena memutuskan pergi dari seseorang yang pernah dicintai juga membutuhkan keberanian yang besar.
Dan keberanian itu selalu meninggalkan luka.
Amanda memeluk lututnya.
Lalu memandangi langit malam.
Ada rasa lega.
Namun ada pula rasa bersalah.
Keduanya bercampur menjadi satu.
Membuat hatinya terasa kosong.
Di rumahnya, Kirana menerima telepon dari Amanda malam itu.
Mereka berbicara cukup lama.
Tidak banyak yang dibahas.
Karena kadang seseorang hanya membutuhkan teman untuk mendengarkan.
"Apakah aku jahat?"
Tanya Amanda tiba-tiba.
Kirana langsung menggeleng.
Meski Amanda tidak bisa melihatnya.
"Kamu jujur."
"Tapi aku menyakiti dia."
"Kadang kejujuran memang menyakitkan."
Jawab Kirana pelan.
Amanda terdiam.
Karena jauh di dalam hatinya, ia tahu sahabatnya benar.
Esok paginya, kabar perpisahan itu mulai diketahui oleh orang-orang terdekat mereka.
Hendra menjadi salah satu yang pertama mengetahuinya.
Saat mendengar cerita dari Amanda, lelaki itu hanya bisa mengembuskan napas panjang.
"Akhirnya terjadi juga."
Katanya lirih.
Bukan karena ia menginginkan perpisahan itu.
Melainkan karena ia telah melihat tanda-tandanya sejak lama.
Namun ada satu orang yang belum mengetahui apa pun.
Herlambang.
Pagi itu ia sedang membantu ayahnya memperbaiki pagar rumah.
Keringat membasahi dahinya.
Tangannya dipenuhi debu kayu.
Dan pikirannya sama sekali tidak mengarah ke hal-hal rumit yang sedang terjadi.
Sampai akhirnya ponselnya berdering.
Nama Hendra muncul di layar.
"Halo?"
Di seberang sana terdengar suara Hendra yang tidak biasanya.
Lebih serius.
Lebih pelan.
"Kamu lagi sibuk?"
"Enggak terlalu."
"Aku mau kasih tahu sesuatu."
Herlambang berhenti bekerja.
Entah mengapa tiba-tiba hatinya merasa tidak tenang.
"Apa?"
Beberapa detik keheningan berlalu.
Lalu Hendra berkata:
"Jonatan dan Amanda sudah putus."
Dunia seperti berhenti bergerak.
Herlambang tidak langsung menjawab.
Tangannya masih memegang palu.
Namun pikirannya kosong.
"Apa?"
Ia bahkan tidak yakin telah mendengar dengan benar.
"Semalam."
Hendra menjelaskan singkat.
Tentang pertemuan di dermaga.
Tentang keputusan Amanda.
Tentang perpisahan yang akhirnya terjadi.
Semakin lama mendengar, semakin berat napas Herlambang.
Karena perasaan pertama yang muncul bukanlah bahagia.
Melainkan sedih.
Sedih untuk Amanda.
Sedih untuk Jonatan.
Sedih untuk semua hal yang tidak berjalan sebagaimana mestinya.
"Kasihan Jonatan."
Katanya pelan.
Hendra terdiam beberapa saat.
Lalu berkata:
"Dan bagaimana dengan Amanda?"
Pertanyaan itu membuat Herlambang menutup mata.
Karena tentu saja ia memikirkan Amanda.
Terlalu memikirkannya.
Namun justru itulah yang membuat ia takut.
Takut jika orang lain menganggap dirinya menunggu kegagalan hubungan Amanda.
Padahal tidak pernah demikian.
"Aku cuma ingin dia bahagia."
Jawabnya akhirnya.
Dan itu adalah kalimat paling jujur yang pernah keluar dari hatinya.
Sementara itu, Jonatan memutuskan mengambil cuti beberapa hari.
Ia membutuhkan waktu.
Membutuhkan ruang.
Membutuhkan kesempatan untuk menerima kenyataan.
Hari itu ia datang ke rumah Nadia.
Bukan sebagai lelaki yang sedang mengejar cinta.
Melainkan sebagai ayah yang sedang berusaha belajar menjadi bagian dari hidup anaknya.
Arga langsung berlari menyambutnya.
"Papa datang!"
Untuk sesaat Jonatan terdiam.
Kata itu masih terasa asing.
Namun sekaligus menghangatkan sesuatu di dalam dirinya.
Ia mengangkat Arga ke dalam pelukan.
Dan untuk pertama kalinya sejak perpisahan itu, muncul sedikit cahaya di tengah gelap yang sedang ia rasakan.
Karena mungkin ada hal-hal yang telah hilang.
Namun ada pula hal-hal baru yang sedang menunggu untuk ditemukan.
Di sore yang sama, Amanda kembali berjalan menuju Dermaga KP3.
Sendirian.
Langit Kuala Kapuas mulai berubah warna.
Senja perlahan turun.
Persis seperti hari-hari sebelumnya.
Namun kali ini ada sesuatu yang berbeda.
Karena untuk pertama kalinya sejak mengakhiri hubungannya dengan Jonatan, ia merasa tidak lagi berlari dari perasaannya sendiri.
Ia sedang belajar menerima.
Belajar memahami.
Belajar mendengarkan suara hatinya.
Dan tanpa ia sadari, beberapa meter di belakangnya, seseorang sedang berjalan menuju tempat yang sama.
Seseorang yang selama bertahun-tahun selalu datang ketika hidupnya sedang berada di persimpangan.
Seseorang yang belum mengetahui bahwa takdir baru saja membuka sebuah pintu yang selama ini tertutup.
Seseorang bernama Herlambang.
Sementara matahari perlahan tenggelam di balik aliran Sungai Kapuas, dua jalan yang selama bertahun-tahun berjalan sejajar mulai bergerak menuju satu titik pertemuan.
Namun sebelum mereka sampai di sana, Amanda harus terlebih dahulu menghadapi satu pertanyaan yang paling sulit dijawab.
Apakah perasaannya kepada Herlambang lahir karena cinta?
Ataukah hanya karena ia sedang kehilangan seseorang?
Dan jawaban atas pertanyaan itu akan menentukan masa depan mereka berdua.
BAB XXVIII
Hati yang Tak Lagi Bisa Berbohong
Ada saatnya seseorang mampu menyembunyikan perasaannya dari dunia.
Mampu tersenyum ketika terluka.
Mampu tertawa ketika hatinya sedang menangis.
Mampu meyakinkan dirinya bahwa semuanya baik-baik saja.
Namun ada satu hal yang tidak bisa dibohongi selamanya.
Hati.
Karena hati memiliki caranya sendiri untuk berbicara.
Dan ketika suara itu akhirnya terdengar jelas, tidak ada lagi tempat untuk bersembunyi.
Senja turun perlahan di atas Kota Kuala Kapuas.
Langit berubah menjadi lautan warna jingga yang memantul di permukaan Sungai Kapuas.
Perahu-perahu kecil bergerak perlahan menuju tepian.
Sementara lampu-lampu dermaga mulai menyala satu per satu.
Amanda duduk sendirian di bangku kayu yang menghadap sungai.
Tempat yang kini terasa seperti ruang pengakuan bagi segala kegelisahannya.
Sudah hampir dua minggu sejak perpisahannya dengan Jonatan.
Dua minggu yang terasa jauh lebih panjang dari seharusnya.
Pada awalnya ia mengira rasa sedih itu akan mendominasi semuanya.
Namun ternyata yang lebih mengganggunya adalah pertanyaan yang terus muncul setiap malam.
Tentang Herlambang.
Tentang lelaki yang selama ini selalu berada di dekatnya.
Tentang surat yang terlambat ditemukan.
Tentang perhatian yang selama bertahun-tahun dianggap biasa.
Kini semuanya terasa berbeda.
Amanda menghela napas panjang.
Lalu memejamkan mata.
Ia mencoba jujur kepada dirinya sendiri.
Untuk pertama kalinya.
Tanpa alasan.
Tanpa pembenaran.
Tanpa ketakutan.
Dan jawaban yang muncul justru membuat dadanya berdebar.
Karena ketika ia merasa sedih, orang pertama yang ingin ia temui adalah Herlambang.
Ketika ia merasa bingung, orang pertama yang ingin ia hubungi adalah Herlambang.
Ketika ia ingin berbagi cerita, nama yang muncul di pikirannya adalah Herlambang.
Bukan Jonatan.
Bukan siapa pun.
Herlambang.
Air mata perlahan mengalir di pipinya.
Bukan karena sedih.
Melainkan karena akhirnya ia menerima sesuatu yang selama ini berusaha ia hindari.
Perasaannya telah berubah.
Dan perubahan itu ternyata sudah berlangsung jauh lebih lama daripada yang ia sadari.
"Hati memang menyebalkan ya?"
Suara seseorang membuat Amanda tersentak.
Ia menoleh.
Herlambang berdiri di sana. Membawa dua gelas kopi. Seperti biasa. Seperti yang selalu ia lakukan sejak dulu. Tanpa diminta. Tanpa dijadwalkan. Hanya karena ia tahu Amanda ada di sini.
Amanda tertawa kecil. Bukan tawa bahagia. Tapi tawa lega. Seperti seseorang yang tidak sadar sedang menahan napas, lalu akhirnya diizinkan bernapas.
"Kenapa kamu selalu muncul?"
Herlambang ikut tersenyum. "Karena tempat favoritmu cuma ini."
Dia duduk di samping Amanda. Menyerahkan satu gelas kopi. Amanda menerimanya. Jari-jari mereka bersentuhan sebentar. Hanya sebentar. Tapi cukup untuk membuat jantung Amanda berdetak lebih cepat.
Malam itu terasa berbeda.
Bukan karena tempatnya. Bukan karena kopinya. Bukan karena senjanya yang lebih indah dari biasanya.
Tapi karena untuk pertama kalinya, Amanda tidak lagi melihat Herlambang sebagai sekadar sahabat.
Ia memperhatikan wajah lelaki itu diam-diam. Garis rahangnya yang tegas. Tatapan matanya yang teduh. Senyumnya yang selalu membuatnya merasa aman.
Semua hal kecil yang selama ini tidak pernah benar-benar ia perhatikan. Kini terlihat begitu jelas.
Tiba-tiba Amanda menyadari sesuatu.
Herlambang tidak banyak berubah.
Yang berubah adalah dirinya.
"Kenapa lihat-lihat begitu?" tanya Herlambang sambil tertawa.
Amanda langsung mengalihkan pandangan. "Masa?"
"Iya."
Amanda tersipu. Herlambang ikut bingung. Karena selama bertahun-tahun Amanda tidak pernah bersikap seperti itu kepadanya.
Keheningan kembali hadir.
Bukan keheningan yang canggung.
Tapi keheningan yang dipenuhi sesuatu yang belum berani diucapkan.
"Amanda." Herlambang memanggil pelan.
"Iya?"
"Kamu baik-baik saja?"
Pertanyaan sederhana itu membuat Amanda tersenyum. Karena Herlambang selalu menanyakan hal yang sama. Bukan tentang pekerjaan. Bukan tentang masalah. Bukan tentang orang lain. Tapi tentang dirinya.
"Aku mulai membaik," jawab Amanda.
Herlambang mengangguk lega. "Itu bagus."
Amanda menatap sungai. Lampu-lampu kota memantul di permukaan air yang bergerak perlahan. Lalu berkata pelan.
"Aku takut."
Herlambang langsung menoleh. "Takut apa?"
Amanda menggigit bibir bawahnya. Berusaha mencari kata-kata yang tepat. "Aku takut membuat keputusan yang salah."
Herlambang tersenyum tipis. "Semua orang takut soal itu."
"Tapi bagaimana kalau keputusan itu mengubah semuanya?"
Herlambang terdiam sejenak. Matanya menyusuri aliran sungai yang tenang. Lalu berkata pelan. "Kalau itu keputusan yang jujur, biasanya akan membawa kita ke tempat yang seharusnya."
Amanda memandangnya. Dan tanpa sadar, jantungnya berdetak semakin cepat.
Malam semakin larut.
Lampu-lampu kota memantul di permukaan sungai.
Angin membawa aroma air dan tanah yang khas.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Amanda merasa damai.
Bukan karena masalahnya selesai.
Bukan karena hidupnya menjadi mudah.
Melainkan karena ia akhirnya berhenti berbohong kepada dirinya sendiri.
Ia tidak hanya menyayangi Herlambang.
Ia mulai mencintainya.
Pengakuan itu masih di dalam hati. Belum diucapkan. Belum dibagikan. Belum diketahui siapa pun.
Tapi setidaknya, ia tidak lagi berlari.
Di tempat lain, Jonatan sedang duduk bersama Arga di halaman rumah Nadia.
Anak kecil itu tertidur di pangkuannya setelah bermain seharian. Wajahnya tenang. Napasnya teratur. Sesekali tersenyum dalam tidurnya. Mungkin sedang bermimpi tentang layang-layang yang terbang tinggi.
Jonatan menatap wajah putranya. Lalu tersenyum tipis.
Luka di hatinya memang belum sembuh. Mungkin masih akan membutuhkan waktu yang panjang. Tapi perlahan ia mulai menerima kenyataan.
Bahwa beberapa orang hadir untuk menemani sebagian perjalanan. Bukan seluruh perjalanan.
Dan Amanda mungkin adalah salah satunya.
Ia mendekap Arga sedikit lebih erat. Bukan untuk melupakan. Tapi untuk mengingatkan dirinya bahwa masih ada yang membutuhkannya. Masih ada yang mencintainya. Mungkin dengan cara yang berbeda. Tapi cinta tetaplah cinta.
Kembali ke dermaga.
Amanda dan Herlambang masih duduk di sana. Tidak banyak berbicara. Tidak perlu.
Karena kadang hati tidak membutuhkan kata-kata. Ia hanya membutuhkan keberanian untuk mengakui apa yang sebenarnya dirasakan.
Dan malam itu, di bawah langit Kuala Kapuas yang dipenuhi cahaya bintang, Amanda akhirnya mengetahui satu hal yang tidak lagi bisa ia sangkal.
Namun takdir masih menyimpan satu ujian terakhir.
Satu badai yang akan menentukan apakah cinta yang selama ini tumbuh dalam diam benar-benar akan mekar.
Atau justru kembali terluka.
Dan badai itu akan datang dari seseorang yang selama ini dianggap telah selesai dengan masa lalunya.
Seseorang yang bernama Nadia.
BAB XXIX
Perempuan yang Kembali Membuka Luka Lama
Tidak semua badai datang dari langit yang gelap.
Tidak semua luka lahir dari orang yang dibenci.
Kadang badai datang dari seseorang yang pernah menjadi bagian penting dalam hidup kita.
Seseorang yang sudah dianggap selesai.
Sudah dianggap menjadi masa lalu.
Sudah dianggap tidak akan pernah kembali mengubah apa pun.
Namun takdir sering kali memiliki cara yang berbeda.
Ia suka membuka kembali pintu-pintu lama yang belum benar-benar tertutup.
Dan kali ini, pintu itu bernama Nadia.
Enam tahun lalu. Sebelum Jonatan mengenal Amanda. Sebelum surat Herlambang ditulis. Sebelum semuanya dimulai.
Nadia adalah gadis ceria dengan senyum yang mudah mengembang. Ia dekat dengan Herlambang, dekat dengan Amanda, dekat dengan semua orang. Ia juga diam-diam menyukai Jonatan. Jauh sebelum Jonatan mengenal Amanda. Jauh sebelum semua cerita ini dimulai.
Namun Jonatan tidak pernah melihatnya.
Jonatan selalu sibuk dengan masa depannya sendiri. Jonatan terlalu sibuk untuk menyadari bahwa ada seorang gadis yang selalu tersenyum setiap kali namanya disebut.
"Jonatan, kamu tidak lihat Nadia sering di perpustakaan?" tanya Herlambang suatu hari.
"Nadia? Yang mana?"
"Yang rambut sebahu. Suka bawa buku puisi."
"Oh. Dia baik. Tapi bukan tipenya."
Jonatan tidak pernah tahu. Nadia mendengar percakapan itu dari balik rak buku. Dan untuk pertama kalinya, ia menangis di perpustakaan kampus.
Dan ketika Jonatan mulai mendekati Amanda, Nadia sakit.
Bukan karena marah pada Amanda. Tapi karena ia tahu rasanya mencintai seseorang yang tidak pernah melihat ke arah kita.
Maka ketika ia secara tidak sengaja menemukan surat Herlambang untuk Amanda—surat yang tertinggal di meja perpustakaan—sesuatu dalam dirinya berubah.
Bukan niat jahat.
Bukan kebencian.
Tapi ada suara kecil di kepalanya yang berkata:
"Kalau Amanda tahu Herlambang mencintainya, mungkin Amanda akan memilih Herlambang. Dan Jonatan... Jonatan akan bebas. Lalu mungkin... mungkin Jonatan akan melihatku."
Itu egois. Ia tahu.
Tapi cinta kadang membuat orang melakukan hal-hal bodoh.
Nadia menunjukkan surat itu pada Amanda. Bukan untuk menyakiti. Tapi untuk mengarahkan. Dengan harapan bahwa Amanda akan memilih Herlambang, dan Jonatan akan menjadi miliknya.
Itu tidak terjadi.
Amanda membaca surat itu. Amanda menangis. Amanda bingung.
Tapi ketika Nadia berkata, "Mungkin Herlambang hanya sedang kagum. Mungkin tidak serius. Jonatan lebih pasti," — Amanda mendengarnya.
Bukan karena Nadia jahat.
Tapi karena Nadia takut kehilangan kesempatan untuk dicintai oleh Jonatan.
Karena Nadia juga seorang perempuan yang lelah menjadi bayangan.
Itu adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya.
Dan selama enam tahun, ia memikulnya sendirian.
Beberapa hari setelah malam di dermaga bersama Herlambang, Amanda mulai menjalani hidup dengan lebih tenang.
Ia tidak lagi memaksakan diri untuk melupakan sesuatu. Tidak lagi berusaha menyangkal apa yang dirasakannya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia membiarkan hatinya berbicara.
Namun justru ketika semuanya mulai terasa lebih damai, sebuah kabar datang. Kabar yang membuat ketenangan itu kembali terusik.
Pagi itu Kirana datang ke kantor Amanda. Wajahnya tampak ragu-ragu.
"Amanda. Aku dengar sesuatu."
"Soal Jonatan."
Amanda mengangkat kepala. Nama itu masih mampu membuatnya terdiam sesaat. Bukan karena cintanya belum selesai. Tapi karena luka yang ditinggalkan masih terlalu baru.
"Katanya Nadia mau pindah ke Kuala Kapuas."
Amanda membeku. Tangannya yang sedang memegang pena berhenti bergerak. "Apa?"
Kirana mengangguk pelan. "Arga sudah mulai dekat sama Jonatan. Dan kabarnya Nadia dapat tawaran pekerjaan di sini."
Untuk beberapa saat Amanda hanya diam. Bukan karena cemburu. Bukan karena marah. Tapi karena ia tahu—jika Nadia benar-benar pindah, maka kehidupan Jonatan akan berubah sepenuhnya. Dan ia tidak lagi menjadi bagian di dalamnya.
Sore harinya kabar itu ternyata benar. Jonatan sendiri yang menghubunginya.
Mereka bertemu di sebuah kafe kecil dekat kawasan taman kota. Tempat yang netral. Seolah luka yang tersisa tidak perlu dihadapkan pada kenangan-kenangan lama.
Tidak ada lagi suasana canggung. Tidak ada ketegangan. Hanya dua orang yang sedang belajar menjadi dewasa terhadap masa lalu mereka.
"Nadia jadi pindah?" tanya Amanda.
"Iya."
"Dan Arga?"
"Ikut."
Amanda menatap cangkir kopinya yang sudah dingin. "Aku ikut senang buat Arga."
Ia sungguh-sungguh. Tidak ada kepalsuan. Tidak ada rasa pahit yang tersisa.
Jonatan tersenyum tipis. Senyum yang tidak lagi mencoba menyembunyikan segalanya. "Terima kasih."
Untuk beberapa saat mereka hanya duduk dalam diam. Sampai akhirnya Jonatan berkata:
"Aku pernah marah sama Herlambang."
Amanda terkejut. "Kenapa?"
Jonatan tertawa kecil. Tawa yang lelah. "Karena aku pikir dia mengambil kamu dariku."
Amanda terdiam.
"Tapi sekarang aku sadar." Jonatan menatap keluar jendela, matanya mengikuti aliran Sungai Kapuas. "Dia enggak pernah mengambil apa pun. Kamu bukan benda, Amanda. Kamu bukan barang yang bisa diambil atau dipindahkan."
Amanda menunduk.
"Kamu memilih dia karena kamu ingin memilih dia. Bukan karena dia merebutmu dariku. Dan aku... aku harus menerima itu."
Sore itu, untuk pertama kalinya, Amanda merasa ada satu beban yang akhirnya terangkat dari hatinya.
Namun ia belum tahu bahwa badai sebenarnya belum datang.
Malam harinya, Herlambang menerima telepon dari Hendra.
"Kamu di rumah?"
"Iya."
"Aku ke sana."
Dua puluh menit kemudian Hendra tiba. Tanpa banyak basa-basi: "Nadia mencari kamu."
Herlambang mengernyit. "Untuk apa?"
Hendra menggeleng. "Enggak tahu. Tapi katanya penting. Urusan masa lalu."
Masa lalu. Dua kata yang tidak pernah ia sukai.
Keesokan harinya, mereka bertemu. Nadia memilih kafe kecil di tepian Sungai Kapuas. Tempat yang dulu sering mereka kunjungi bersama.
Nadia tampak berbeda. Lebih dewasa. Lebih tenang. Tapi ada kesedihan yang masih tersisa di matanya. Kesedihan yang sudah lama ia bawa. Yang tidak pernah benar-benar ia sembuhkan.
Setelah percakapan ringan tentang kabar, Nadia akhirnya masuk ke tujuan sebenarnya.
"Herlambang, aku mau minta maaf."
"Untuk apa?"
Nadia menunduk. Lama. Sangat lama. Seolah sedang mengumpulkan keberanian yang selama enam tahun ia pendam.
"Aku juga mencintai Jonatan waktu itu."
Herlambang membeku.
"Aku mencintai Jonatan. Jauh sebelum Amanda mengenalnya. Tapi dia tidak pernah melihatku."
Nadia berbicara dengan suara yang bergetar tapi tidak menangis. Ia sudah lelah menangis.
"Ketika aku menemukan suratmu untuk Amanda... aku melihat kesempatan."
Herlambang menatapnya. Tidak marah. Tidak kecewa. Hanya terkejut.
"Aku menunjukkan surat itu pada Amanda. Dan ketika dia bingung... aku bilang mungkin kamu tidak serius. Bahwa kamu hanya sedang kagum. Bahwa Jonatan lebih pasti."
Nadia menggigit bibirnya.
"Aku iri, Herlambang. Iri karena kamu mencintai seseorang dengan setulus itu. Iri karena Amanda memiliki dua lelaki hebat yang mencintainya. Sementara aku... aku selalu menjadi orang yang melihat dari kejauhan."
Herlambang tidak segera menjawab. Ia membiarkan Nadia menangis. Membiarkan semua beban yang selama enam tahun dipendam perlahan keluar.
Lalu ia berkata pelan. "Kamu enggak sendiri."
Nadia mengangkat wajahnya.
"Kirana juga mencintaiku. Bertahun-tahun. Dan aku tidak pernah tahu."
Nadia terkejut.
"Kita semua menyakiti seseorang tanpa sengaja, Nadia. Kamu menyakiti Amanda. Tapi kamu juga menyakiti dirimu sendiri. Aku menyakiti Kirana. Tapi aku juga tidak bisa memaksakan hati."
Nadia terdiam.
"Maafmu aku terima. Tapi maaf itu bukan untukku. Maaf itu untuk Amanda."
Nadia mengusap matanya. "Aku tahu. Akan aku sampaikan. Pada waktunya."
Di luar jendela, Sungai Kapuas terus mengalir seperti biasa. Airnya tidak pernah berhenti. Tidak peduli berapa banyak luka yang dibawa oleh orang-orang di tepiannya.
Sementara itu, Amanda yang sama sekali tidak mengetahui pertemuan tersebut sedang menatap senja dari Dermaga KP3.
Cahaya jingga memantul di permukaan Sungai Kapuas. Angin sore bermain-main dengan rambut panjangnya.
Ponselnya bergetar. Pesan singkat dari Herlambang.
"Nanti malam aku cerita sesuatu."
Amanda tersenyum kecil. Mengetik balasan.
"Baik. Aku tunggu."
Lalu ia menatap senja lagi. Tanpa menyadari bahwa masa lalu sedang bergerak mendekat. Membawa sebuah kebenaran yang selama bertahun-tahun terkubur.
Kebenaran yang akan membuatnya marah.
Kebenaran yang akan membuatnya menangis.
Kebenaran yang akan membuatnya mempertanyakan semua pilihan yang pernah ia buat.
Tapi juga kebenaran yang pada akhirnya akan membebaskannya.
BAB XXX
Rahasia yang Mengubah Segalanya
Ada rahasia yang hanya menyimpan rasa malu.
Ada rahasia yang hanya menyimpan penyesalan.
Namun ada pula rahasia yang mampu mengubah seluruh makna sebuah kehidupan.
Rahasia yang membuat seseorang melihat masa lalu dengan cara yang berbeda.
Rahasia yang membuat luka lama kembali terasa.
Dan rahasia yang membuat seseorang bertanya-tanya:
Bagaimana jika dulu semuanya tidak terjadi seperti ini?
Malam itu, Herlambang duduk diam di hadapan Nadia.
Di luar kafe, lampu-lampu Kota Kuala Kapuas memantulkan cahaya ke permukaan Sungai Kapuas yang mengalir tenang.
Namun di dalam dirinya, tidak ada ketenangan.
Karena ia tahu, perempuan di hadapannya belum selesai berbicara.
Nadia menundukkan kepala.
Kedua tangannya saling menggenggam di atas meja.
Seolah sedang mengumpulkan keberanian untuk membuka sesuatu yang telah lama disimpannya.
"Herlambang..."
"Iya?"
"Aku harus jujur sekarang."
Suara Nadia terdengar lirih.
Dan entah mengapa, jantung Herlambang mulai berdegup semakin cepat.
"Apa yang sebenarnya terjadi dulu?"
Tanyanya.
Nadia memejamkan mata sesaat.
Lalu berkata pelan:
"Enam tahun lalu..."
"Sebelum Amanda menerima Jonatan."
"Sebelum mereka mulai dekat."
"Amanda pernah tahu tentang perasaanmu."
Dunia seakan berhenti.
Herlambang menatap Nadia tanpa berkedip.
"Apa?"
Nadia mengangguk perlahan.
Air matanya mulai menggenang.
"Dia pernah tahu."
Untuk beberapa detik Herlambang tidak mampu berkata apa-apa.
Karena selama enam tahun terakhir, ia selalu percaya bahwa Amanda tidak pernah mengetahui apa pun.
Bahwa surat itu tidak pernah terbaca.
Bahwa rahasianya tersimpan sempurna.
Namun ternyata...
Semuanya tidak seperti yang ia bayangkan.
"Bagaimana bisa?"
Suara Herlambang terdengar hampir seperti bisikan.
Nadia menarik napas panjang.
"Waktu itu..."
"Aku menemukan surat yang kamu tulis."
Jantung Herlambang seperti diremas.
Surat itu.
Surat yang selama ini ia kira hanya tersimpan di dalam kotak kayu.
"Aku membacanya."
Herlambang memejamkan mata.
Dan untuk pertama kalinya, kemarahan kecil muncul di dalam dirinya.
"Kamu membaca surat pribadi orang lain?"
Nadia mengangguk.
"Aku salah."
"Aku tahu."
"Tapi itu bukan kesalahan terbesarku."
Suasana kembali sunyi.
Karena kalimat berikutnya terasa jauh lebih berat.
"Aku menunjukkan surat itu kepada Amanda."
Herlambang membeku.
Lalu Nadia melanjutkan:
"Dia membacanya."
"Dia menangis."
"Dan dia bingung."
Dada Herlambang terasa sesak.
Amanda pernah tahu.
Amanda pernah membaca.
Amanda pernah menangis.
Dan selama enam tahun ia tidak pernah mengetahui semua itu.
"Kalau begitu..."
Suara Herlambang bergetar.
"Kenapa dia tidak pernah bilang?"
Nadia menunduk semakin dalam.
Karena bagian inilah yang selama bertahun-tahun menghantuinya.
"Karena aku bilang sesuatu padanya."
Herlambang menatap tajam.
"Apa?"
Air mata Nadia akhirnya jatuh.
"Aku bilang kalau kamu tidak serius."
Keheningan.
Sangat sunyi.
Seolah bahkan suara sungai di luar sana ikut menghilang.
"Aku bilang kamu hanya sedang kagum."
"Aku bilang kamu akan melupakan semuanya."
"Aku bilang kalau Jonatan jauh lebih pasti."
Setiap kalimat terasa seperti pukulan yang menghantam masa lalu.
Dan saat itulah Herlambang akhirnya memahami.
Mengapa Amanda tidak pernah memberi tanda apa pun.
Mengapa Amanda memilih Jonatan.
Mengapa surat itu seperti tidak pernah ada.
Karena seseorang telah mengubah cara Amanda memahaminya.
Nadia menangis.
"Aku pikir aku membantu."
"Aku pikir aku sedang melindunginya."
"Aku pikir aku melakukan hal yang benar."
"Tapi ternyata aku salah."
Herlambang tidak segera menjawab.
Karena ia sendiri tidak tahu apa yang harus dirasakan.
Marah?
Kecewa?
Sedih?
Atau hanya lelah menghadapi kenyataan bahwa takdir mereka ternyata pernah berubah karena sebuah kesalahpahaman.
Sementara itu, di tempat lain, Amanda sedang berada di rumah.
Membuka kembali surat lama yang kini hampir ia hafal seluruh isinya.
Tanpa mengetahui bahwa pada saat yang sama, potongan besar dari masa lalunya sedang terbuka.
Potongan yang selama ini hilang.
Potongan yang mungkin menjelaskan mengapa hidup mereka berjalan ke arah yang berbeda.
Malam semakin larut ketika pertemuan antara Herlambang dan Nadia berakhir.
Sebelum pergi, Nadia berkata pelan:
"Kalau ada satu hal yang paling aku sesali dalam hidup..."
"Itu adalah hari ketika aku memutuskan diam setelah Amanda membaca surat itu."
Lalu ia pergi.
Meninggalkan Herlambang sendirian di tepi Sungai Kapuas.
Lelaki itu berdiri cukup lama.
Memandangi aliran sungai yang berkilau diterpa cahaya lampu malam.
Enam tahun.
Enam tahun ia percaya bahwa takdir telah memilih jalannya.
Namun malam ini ia mengetahui sesuatu yang berbeda.
Mungkin takdir tidak sepenuhnya salah.
Mungkin manusialah yang terkadang mengubah arah jalan yang sudah hampir bertemu.
Dan untuk pertama kalinya sejak menemukan kembali Amanda, muncul pertanyaan yang selama ini tidak pernah berani ia pikirkan.
Bagaimana jika waktu itu Amanda memilih dirinya?
Namun hidup tidak bisa diulang.
Masa lalu tidak bisa diperbaiki.
Yang bisa dilakukan hanyalah melangkah ke depan.
Dan tanpa Herlambang sadari, langkah itu akan segera membawanya pada sebuah pertemuan yang selama bertahun-tahun ditunggu oleh hati mereka berdua.
Pertemuan yang akan menentukan apakah mawar yang tumbuh di atas luka akhirnya benar-benar mekar.
Ataukah kembali layu sebelum sempat berbunga.
EPILOG
Mawar yang Tumbuh di Atas Luka
Luka tidak selalu menghancurkan seseorang.
Kadang luka justru mengajarkan arti kehilangan.
Mengajarkan arti kesabaran.
Mengajarkan arti mencintai tanpa harus memiliki.
Dan dari luka yang paling dalam, sering kali tumbuh sesuatu yang paling indah.
Beberapa bulan kemudian.
Musim hujan mulai meninggalkan Kuala Kapuas.
Langit kembali cerah.
Sungai Kapuas mengalir tenang seperti biasa.
Di Dermaga KP3, tempat yang selama bertahun-tahun menjadi saksi begitu banyak cerita, dua orang berdiri berdampingan.
Amanda.
Dan Herlambang.
Tidak ada lagi rahasia.
Tidak ada lagi surat yang tersembunyi.
Tidak ada lagi kata-kata yang dipendam.
Hanya dua hati yang akhirnya memilih untuk jujur.
Amanda menatap sungai yang berkilau diterpa cahaya senja.
Lalu tersenyum.
"Aku pernah berpikir kita terlambat."
Herlambang ikut tersenyum.
"Mungkin memang terlambat."
Amanda menoleh.
"Tapi ternyata belum terlambat untuk bahagia."
Angin sore berembus lembut.
Membawa aroma sungai yang selalu mereka kenal.
Di kejauhan, suara anak-anak bermain terdengar riang.
Di antara mereka ada Arga.
Berlari sambil tertawa.
Dan tidak jauh darinya berdiri Jonatan.
Lelaki itu kini menjalani kehidupan yang berbeda.
Bukan kehidupan yang pernah ia rencanakan.
Namun kehidupan yang akhirnya ia terima dengan lapang hati.
Sebagai seorang ayah.
Sebagai seseorang yang belajar berdamai dengan kehilangan.
Sementara Nadia juga telah menemukan jalannya sendiri.
Menyembuhkan kesalahan masa lalu dengan keberanian untuk mengakuinya.
Karena setiap orang dalam cerita ini pernah terluka.
Namun tidak semua luka harus berakhir dengan kehancuran.
Ada luka yang berubah menjadi pelajaran.
Ada luka yang berubah menjadi kedewasaan.
Dan ada luka yang berubah menjadi bunga.
Amanda menggenggam tangan Herlambang.
Untuk pertama kalinya tanpa keraguan.
Tanpa ketakutan.
Tanpa penyesalan.
Matahari perlahan tenggelam di balik Sungai Kapuas.
Menciptakan warna keemasan yang memantul di permukaan air.
Dan di bawah langit senja Kuala Kapuas yang indah, sebuah cinta yang selama bertahun-tahun tumbuh dalam diam akhirnya menemukan rumahnya.
Karena pada akhirnya, mawar yang paling indah bukanlah mawar yang tumbuh di taman yang sempurna.
Melainkan mawar yang berhasil mekar di atas luka.
TAMAT
Anang
30 Januari 2025 19:28:34
Lanjutkan mas... Semoga website desa pian semakin maju...