CERPAN SENANDUNG RINDU
Sebuah Cerita tentang Cinta, Jarak, Kehilangan, Pengampunan, dan Jalan Pulang
Oleh: Slamet Riyadi
SENJA YANG MENYIMPAN NAMA
Senja di Kuala Kapuas selalu datang dengan cara yang berbeda.
Kadang ia hadir dengan warna jingga yang perlahan merambat di permukaan sungai. Kadang hanya berupa langit kelabu yang menyisakan cahaya tipis di antara awan. Namun bagi sebagian orang, senja bukan sekadar pergantian siang menuju malam.
Senja adalah waktu ketika kenangan menjadi lebih mudah kembali.
Di tepian sungai, seorang perempuan berdiri memandangi air yang bergerak perlahan.
Namanya Larasati Nirmala.
Sudah hampir tiga tahun ia tidak datang ke tempat itu.
Bukan karena tidak ingin.
Justru karena terlalu banyak hal yang tersimpan di sana.
Laras memandang perahu kecil yang melintas. Suara mesinnya terdengar semakin jauh, kemudian lenyap ditelan suara angin.
Tangannya memegang pagar tepian sungai.
Dulu, di tempat itulah seseorang pernah berdiri di sampingnya.
Seseorang yang pernah mengatakan bahwa sungai tidak pernah benar-benar memisahkan dua orang yang saling mengingat.
Namanya adalah Yoga Adi Pratama.
Laras menarik napas panjang.
"Sudah tiga tahun," gumamnya.
Tiga tahun sejak laki-laki itu pergi.
Tiga tahun sejak sebuah janji yang tidak pernah benar-benar selesai.
Tiga tahun sejak Laras memutuskan untuk berhenti bertanya.
Namun sore itu, tanpa ia kehendaki, kenangan kembali datang.
Dan bersama kenangan itu, sebuah senandung lama terdengar dalam ingatannya.
Suara Yoga.
Suara yang tidak pernah benar-benar merdu.
Tetapi entah mengapa selalu mampu membuat Laras tersenyum.
KETIKA HUJAN MEMPERTEMUKAN MEREKA
Tiga tahun sebelumnya, pertemuan mereka bermula dari sesuatu yang sangat sederhana.
Hujan.
Sore itu hujan turun cukup deras di Kuala Kapuas.
Laras yang baru selesai bekerja terpaksa berteduh di sebuah kedai kopi sederhana di pinggir jalan.
Ia masuk dengan pakaian yang sedikit basah.
"Permisi," katanya kepada pelayan.
"Silakan, Mbak."
Laras memilih meja di sudut ruangan.
Tidak lama kemudian seorang laki-laki yang duduk di meja sebelah menoleh kepadanya.
Laki-laki itu membawa sebuah kamera.
Ia sedang memperhatikan foto di layar kameranya.
Beberapa saat kemudian, ia berkata,
"Kalau boleh saya tebak, Anda tidak suka hujan."
Laras menoleh.
"Kenapa?"
"Karena wajah Anda seperti orang yang baru saja kehilangan sesuatu."
Laras mengernyit.
"Anda selalu menebak orang yang baru dikenal?"
"Tidak."
"Lalu kenapa saya?"
"Karena saya sering salah."
Laras tertawa kecil.
"Kalau begitu tebakan Anda memang salah."
"Berarti Anda suka hujan?"
"Saya suka hujan."
"Syukurlah."
"Kenapa Anda lega?"
"Karena kalau Anda tidak suka hujan, berarti saya harus meminta maaf kepada hujan."
Laras tertawa.
"Anda aneh."
"Yoga."
"Apa?"
"Nama saya Yoga."
Laras mengangguk.
"Laras."
"Senang berkenalan."
"Begitu saja?"
Yoga tersenyum.
"Untuk pertemuan pertama, bukankah nama sudah cukup?"
Laras memandang laki-laki itu.
Ada sesuatu yang sederhana dari cara Yoga berbicara.
Tidak berlebihan.
Tidak dibuat-buat.
Hujan masih turun.
Pelayan datang membawa pesanan.
"Kopi susu untuk Mbak."
Laras mengangguk.
Yoga melihat cangkir di meja Laras.
"Anda suka kopi?"
"Kadang."
"Kalau saya setiap hari."
"Kenapa?"
"Karena kopi tidak pernah bertanya kenapa kita datang."
Laras tersenyum.
"Filosofis sekali."
"Padahal sebenarnya saya tidak tahu harus bicara apa."
"Berarti Anda memang suka bicara."
"Kalau dengan orang yang menarik, iya."
Laras menatapnya.
"Anda baru mengenal saya beberapa menit."
"Justru itu."
"Bagaimana bisa tahu saya menarik?"
Yoga menunjuk buku yang dibawa Laras.
"Orang yang membaca buku sendirian ketika hujan biasanya punya dunia sendiri."
"Dan itu berarti menarik?"
"Menurut saya."
Laras membuka bukunya.
"Kalau begitu, jangan ganggu dunia saya."
Yoga tertawa.
"Baik."
Namun beberapa menit kemudian mereka kembali berbicara.
Tentang buku.
Tentang pekerjaan.
Tentang Kuala Kapuas.
Tentang sungai.
Tentang kehidupan.
Mereka tidak tahu bahwa percakapan sederhana sore itu akan menjadi awal dari sebuah kisah yang bertahan bertahun-tahun dalam ingatan.
KOTA AIR DAN DUA HATI
Setelah pertemuan pertama, Yoga dan Laras semakin sering bertemu.
Kadang mereka sengaja membuat janji.
Kadang pertemuan terjadi tanpa direncanakan.
Kuala Kapuas menjadi ruang bagi keduanya untuk saling mengenal.
Mereka berjalan di tepian sungai.
Duduk di sebuah warung sederhana.
Berbincang hingga malam.
Yoga sering membawa kameranya.
Ia suka memotret sungai, perahu, jalanan, pasar, dan wajah-wajah masyarakat yang ditemuinya.
Suatu sore Laras bertanya,
"Kenapa kamu suka fotografi?"
Yoga memandang kamera di tangannya.
"Karena foto bisa menyimpan sesuatu yang tidak bisa kita tahan."
"Maksudnya?"
"Waktu."
Laras terdiam.
"Waktu tidak pernah mau berhenti," lanjut Yoga. "Tapi foto membuat kita bisa melihat kembali satu detik yang sudah lewat."
"Berarti kamu takut kehilangan?"
Yoga tersenyum.
"Semua orang takut kehilangan."
"Termasuk kamu?"
"Terutama saya."
Laras menatap sungai.
"Aku justru takut terlalu banyak menyimpan."
"Kenapa?"
"Karena kalau sesuatu sudah tidak ada, kenangan bisa menjadi beban."
Yoga menatapnya.
"Kalau orangnya masih ada?"
Laras menoleh.
"Kenapa bertanya begitu?"
"Iseng."
"Kamu sering bertanya yang tidak ada jawabannya."
"Mungkin karena saya ingin mendengar jawaban dari kamu."
Laras tersenyum.
"Kalau orangnya masih ada, kenangan bukan beban."
"Kenapa?"
"Karena kita masih bisa membuat kenangan baru."
Yoga tersenyum.
"Berarti kita harus membuat banyak kenangan."
Laras menggeleng.
"Jangan terlalu banyak."
"Kenapa?"
"Takut suatu hari nanti kita tidak mampu mengingat semuanya."
Yoga tertawa.
"Kalau begitu saya akan memotretnya."
"Jangan semua."
"Kenapa?"
"Karena ada hal-hal yang cukup disimpan di hati."
Kalimat itu membuat Yoga diam.
Entah mengapa, sore itu terasa berbeda.
Mungkin sejak saat itulah mereka mulai menyadari bahwa hubungan mereka telah berubah.
Tidak lagi sekadar pertemanan.
CINTA YANG TUMBUH TANPA PERMISI
Cinta tidak selalu datang dengan pernyataan.
Kadang ia tumbuh perlahan.
Melalui perhatian kecil.
Melalui pesan sederhana.
Melalui pertanyaan, "Sudah makan?"
Melalui seseorang yang mengingat kopi kesukaan kita.
Melalui seseorang yang tahu kapan kita sedang sedih meskipun kita mengatakan baik-baik saja.
Begitulah hubungan Yoga dan Laras.
Tidak ada tanggal pasti ketika mereka mulai saling mencintai.
Suatu malam Yoga mengantar Laras pulang.
Sebelum turun dari kendaraan, Laras berkata,
"Yoga."
"Ya?"
"Terima kasih."
"Untuk?"
"Sudah selalu ada."
Yoga tersenyum.
"Kalau kamu membutuhkan saya, saya ada."
"Jangan berkata begitu."
"Kenapa?"
"Karena suatu hari nanti mungkin aku benar-benar membutuhkanmu."
Yoga terdiam.
Laras membuka pintu.
Namun sebelum turun, Yoga berkata,
"Laras."
"Ya?"
"Kalau suatu hari nanti kamu membutuhkan saya, jangan takut menghubungi."
Laras menatapnya.
"Kenapa?"
"Karena saya mungkin juga membutuhkan kamu."
Laras tersenyum.
"Selamat malam, Yoga."
"Selamat malam."
Malam itu Laras masuk ke rumah dengan perasaan berbeda.
Ia berdiri di depan cermin.
Kemudian tersenyum sendiri.
"Sepertinya aku sudah jatuh cinta."
JANJI DI TEPI SUNGAI
Hubungan mereka berjalan hampir dua tahun.
Mereka tidak pernah mengumumkan hubungan mereka kepada banyak orang.
Namun orang-orang terdekat sudah mengetahuinya.
Bagi Laras, Yoga adalah tempat untuk bercerita.
Bagi Yoga, Laras adalah seseorang yang membuatnya merasa tidak sendirian.
Suatu sore mereka duduk di tepi sungai.
Langit mulai berubah warna.
Yoga berkata,
"Kalau suatu hari saya pergi, kamu akan bagaimana?"
Laras langsung menoleh.
"Pergi ke mana?"
"Entahlah. Maksud saya, kalau pekerjaan membawa saya ke tempat lain."
"Jangan."
Yoga tertawa.
"Saya cuma bertanya."
"Aku tidak suka pertanyaan seperti itu."
"Kenapa?"
"Karena terdengar seperti perpisahan."
Yoga terdiam.
Kemudian ia berkata,
"Kalau saya pergi, saya akan kembali."
"Kamu yakin?"
"Yakin."
"Bagaimana kalau jaraknya jauh?"
"Kita bicara."
"Kalau komunikasinya sulit?"
"Kita cari cara."
"Kalau kamu sibuk?"
"Saya tetap akan mengabari."
"Kalau suatu hari kamu berubah?"
Yoga memandang Laras.
"Saya akan mengatakan kepadamu."
"Kalau aku yang berubah?"
"Saya akan bertanya kenapa."
Laras tersenyum.
"Jawabanmu mudah."
"Karena saya tidak ingin kehilangan kamu."
Laras menunduk.
"Jangan membuat janji yang terlalu indah."
"Kenapa?"
"Karena janji yang indah paling sakit ketika tidak ditepati."
Yoga menggenggam tangan Laras.
"Saya tidak tahu masa depan."
"Lalu?"
"Tapi saya tahu apa yang saya inginkan hari ini."
"Apa?"
"Saya ingin tetap bersamamu."
Laras menatapnya.
Sungai terus mengalir.
Dan sore itu mereka percaya bahwa cinta yang mereka miliki akan mampu melewati apa pun.
Mereka belum tahu bahwa hidup sering kali menguji seseorang bukan ketika semuanya mudah, tetapi ketika impian dan cinta berdiri di dua jalan yang berbeda.
TAWARAN ITU DATANG
Kabar itu datang pada suatu malam.
Yoga mengajak Laras bertemu.
Wajahnya tampak serius.
"Ada apa?" tanya Laras.
"Saya mendapat tawaran pekerjaan."
"Di mana?"
"Jakarta."
Laras diam.
"Kapan?"
"Sebulan lagi."
"Berapa lama?"
"Saya belum tahu."
Laras menatap meja.
"Jadi kamu akan pergi?"
"Iya."
"Sudah kamu pikirkan?"
"Sudah."
"Berapa lama?"
"Beberapa minggu."
Laras mengangguk pelan.
"Dan keputusanmu?"
"Saya ingin mencoba."
"Aku tahu."
Yoga menatapnya.
"Saya takut kamu marah."
"Aku tidak marah."
"Benarkah?"
"Aku sedih."
Yoga terdiam.
Laras melanjutkan,
"Aku tidak pernah ingin menjadi alasan kamu berhenti mengejar impian."
"Saya tahu."
"Tapi aku juga tidak ingin kamu menganggap aku akan selalu baik-baik saja ketika kamu pergi."
"Saya tidak berpikir begitu."
"Kalau begitu, dengarkan aku."
Laras menatap mata Yoga.
"Kalau kamu pergi, jangan hanya membawa impianmu. Bawa juga tanggung jawab terhadap perasaan orang yang kamu tinggalkan."
Yoga menunduk.
"Saya mengerti."
"Dan jangan berjanji akan selalu ada kalau kamu sendiri tidak yakin."
"Saya akan berusaha."
"Jangan berusaha untuk membuatku tenang. Berusahalah karena kamu benar-benar ingin mempertahankan hubungan ini."
Yoga mengangguk.
"Saya ingin."
Laras menarik napas.
"Kalau begitu pergi."
Yoga menatapnya.
"Benarkah?"
"Iya."
"Tapi..."
"Aku tidak akan menahanmu."
Mata Yoga mulai berkaca.
"Terima kasih."
Laras tersenyum.
"Jangan berterima kasih."
"Kenapa?"
"Karena aku belum tahu apakah nanti aku akan kuat."
PERPISAHAN
Hari keberangkatan Yoga tiba.
Hujan turun sejak pagi.
Laras datang menemuinya.
Mereka berdiri dalam diam.
Yoga membawa tas.
Kamera tergantung di bahunya.
"Laras."
"Ya?"
"Jaga diri."
"Kamu juga."
"Saya akan sering menghubungi."
Laras tersenyum.
"Jangan berjanji."
"Saya serius."
"Aku tahu."
"Kalau saya sibuk..."
"Kita bicarakan."
"Kalau saya terlambat membalas..."
"Aku akan mengerti."
"Kalau..."
Laras memotong.
"Yoga."
"Ya?"
"Jangan terlalu banyak mengatakan kalau."
Yoga terdiam.
"Aku ingin mengingatmu seperti ini."
"Seperti apa?"
"Sebagai seseorang yang sedang mengejar impiannya."
Yoga mendekat.
"Boleh saya memelukmu?"
Laras mengangguk.
Mereka berpelukan.
Tidak lama.
Namun cukup untuk menyimpan banyak hal yang tidak mampu mereka katakan.
Sebelum pergi, Yoga berkata,
"Saya akan pulang."
Laras menatapnya.
"Kalau kamu pulang, pulanglah karena ingin pulang."
"Apa maksudmu?"
"Jangan pulang karena kasihan."
Yoga mengangguk.
"Saya mengerti."
Kemudian ia pergi.
Laras berdiri memandang kendaraan yang membawanya semakin jauh.
Air matanya jatuh.
Bukan karena ia tidak mendukung.
Tetapi karena ia tahu, sejak hari itu, hidup mereka akan berubah.
JARAK YANG PERLAHAN MENGUBAH
Pada awalnya semuanya berjalan baik.
Yoga mengirim foto.
Laras membalas.
Mereka menelepon.
Mereka bercerita.
Namun kehidupan di kota besar ternyata tidak semudah yang dibayangkan.
Pekerjaan Yoga semakin padat.
Waktu semakin sedikit.
Pesan-pesan menjadi pendek.
Telepon semakin jarang.
Suatu malam Laras menunggu hingga pukul sebelas.
Tidak ada kabar.
Pukul dua belas.
Tetap tidak ada.
Pukul satu dini hari, pesan masuk.
Maaf, baru selesai kerja.
Laras mengetik.
Kamu sudah makan?
Balasan datang beberapa menit kemudian.
Sudah. Aku capek sekali. Besok kita bicara.
Laras menatap layar.
Besok.
Kata itu kembali muncul.
Hari demi hari.
Minggu demi minggu.
"Besok" menjadi tempat bagi semua percakapan yang tidak pernah terjadi.
Suatu malam Laras akhirnya berkata,
"Yoga, aku ingin bicara."
"Ada apa?"
"Aku merasa kita semakin jauh."
"Jauh secara fisik saja."
"Tidak."
Yoga diam.
"Kita juga jauh dalam percakapan."
"Saya sedang banyak pekerjaan."
"Aku tahu."
"Kalau tahu, kenapa kamu mempermasalahkannya?"
"Karena aku bukan hanya ingin tahu kabarmu."
"Lalu?"
"Aku ingin menjadi bagian dari hidupmu."
"Kamu tetap bagian dari hidup saya."
"Tapi aku tidak merasakannya."
Yoga menarik napas.
"Laras, saya sedang berjuang."
"Aku tahu."
"Saya tidak ingin gagal."
"Aku tidak pernah meminta kamu berhasil setiap hari."
"Saya hanya butuh waktu."
"Berapa lama?"
Yoga diam.
"Berapa lama, Yoga?"
"Saya tidak tahu."
"Itulah yang membuatku takut."
"Kenapa?"
"Karena aku tidak tahu apakah aku sedang menunggu seseorang yang sedang berjuang atau seseorang yang sedang perlahan meninggalkanku."
Yoga tidak menjawab.
Laras menutup telepon.
Air matanya jatuh.
Bukan karena mereka bertengkar.
Tetapi karena ia merasa sudah mulai berbicara dengan orang yang berbeda.
PESAN TERAKHIR
Beberapa bulan kemudian, komunikasi mereka semakin buruk.
Sampai suatu malam Yoga mengirim pesan.
Laras, mungkin kita perlu memberi ruang.
Laras membaca pesan itu berkali-kali.
Ia tidak langsung menjawab.
Kemudian mengetik:
Ruang untuk apa?
Tidak ada jawaban.
Beberapa menit kemudian:
Saya sedang mencoba memahami hidup saya sendiri.
Laras menatap layar.
Ia ingin marah.
Ingin bertanya.
Ingin memaksa.
Namun akhirnya ia hanya menulis:
Kalau itu yang kamu butuhkan, aku akan menghormatinya.
Tidak ada pesan berikutnya.
Malam itu hubungan mereka tidak benar-benar berakhir.
Tidak ada kata putus.
Tidak ada ucapan selamat tinggal.
Hanya ada jarak yang semakin lebar.
Dan akhirnya mereka berhenti saling menghubungi.
TIGA TAHUN KEMUDIAN
Tiga tahun berlalu.
Laras menjalani hidupnya.
Ia bekerja.
Bertemu teman.
Membaca.
Sesekali bepergian.
Namun setiap kali senja datang, ia masih teringat Yoga.
Sahabatnya, Maya Anindita, pernah bertanya,
"Kamu masih menyimpan fotonya?"
Laras tersenyum.
"Ada beberapa."
"Kenapa tidak dihapus?"
"Untuk apa?"
"Supaya tidak teringat."
Laras menggeleng.
"Menghapus foto tidak menghapus kenangan."
"Jadi kamu masih mencintainya?"
Laras terdiam.
"Aku tidak tahu."
"Kamu selalu menjawab begitu."
"Karena aku memang tidak tahu."
Maya menatapnya.
"Kalau suatu hari Yoga kembali?"
Laras memandang sungai.
"Aku tidak tahu."
"Kalau dia meminta kesempatan kedua?"
Laras tersenyum tipis.
"Kesempatan kedua bukan hadiah."
"Lalu?"
"Kesempatan kedua harus dibangun."
Maya mengangguk.
"Berarti masih ada kemungkinan?"
Laras tidak menjawab.
Ia hanya memandang sungai.
NAMA ITU KEMBALI
Malam itu, ponsel Laras bergetar.
Satu pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.
Laras, ini Yoga Adi Pratama.
Jantung Laras seketika berdegup lebih cepat.
Ia duduk.
Membaca pesan itu sekali lagi.
Kemudian pesan kedua masuk.
Saya sudah kembali ke Kuala Kapuas.
Laras memejamkan mata.
Tiga tahun.
Nama itu akhirnya kembali muncul.
Pesan ketiga.
Kalau kamu bersedia, saya ingin bertemu.
Laras tidak langsung membalas.
Ia berjalan menuju jendela.
Memandang malam.
Kemudian kembali mengambil ponsel.
Ia mengetik:
Besok sore. Tepian sungai.
Balasan datang.
Baik.
Laras meletakkan ponsel.
Ia tidak tahu apa yang akan terjadi.
Namun untuk pertama kalinya setelah tiga tahun, masa lalu mengetuk pintu yang selama ini ia tutup.
PERTEMUAN KEMBALI
Yoga sudah menunggu ketika Laras tiba.
Ia terlihat lebih dewasa.
Ada sesuatu yang berbeda dari wajahnya.
Namun Laras masih mengenal tatapan itu.
"Hai," kata Yoga.
"Hai."
"Terima kasih sudah datang."
"Kamu yang meminta bertemu."
"Iya."
Mereka duduk.
Beberapa saat tidak ada yang berbicara.
Akhirnya Yoga berkata,
"Saya ingin meminta maaf."
Laras menatap sungai.
"Untuk apa?"
"Untuk semuanya."
"Semua terlalu banyak."
"Untuk pergi tanpa benar-benar menjelaskan."
Laras diam.
"Untuk membuatmu menunggu."
"Aku tidak menunggu."
Yoga menoleh.
"Kamu tidak?"
"Tidak."
"Lalu?"
"Aku hanya belum selesai berdamai."
Yoga mengangguk.
"Saya mengerti."
"Tidak. Kamu belum tentu mengerti."
Yoga terdiam.
Laras melanjutkan,
"Selama tiga tahun aku bertanya-tanya apakah aku tidak cukup penting bagimu."
Yoga menunduk.
"Itu bukan karena kamu."
"Tapi kamu membuatku merasa begitu."
"Saya tahu."
"Kenapa kamu pergi seperti itu?"
Yoga menarik napas.
"Karena saya gagal."
"Gagal?"
"Saya datang ke Jakarta dengan harapan besar. Saya ingin membuktikan bahwa saya bisa. Tetapi ternyata pekerjaan itu tidak berjalan seperti yang saya bayangkan."
"Kenapa kamu tidak mengatakannya?"
"Saya malu."
"Padaku?"
"Pada diriku sendiri."
Laras menatapnya.
"Saya merasa kalau saya pulang dalam keadaan gagal, saya tidak pantas menemuimu."
Laras tersenyum pahit.
"Yoga, aku tidak pernah mencintai keberhasilanmu."
"Saya tahu sekarang."
"Kamu seharusnya tahu sejak dulu."
"Saya tahu."
"Tidak."
Yoga menatapnya.
"Kamu baru mengetahuinya setelah kehilangan."
Yoga mengangguk perlahan.
"Mungkin benar."
APAKAH RINDU MASIH MEMILIKI TEMPAT?
Yoga mengeluarkan sesuatu dari tasnya.
Sebuah kotak kecil.
Laras mengenalinya.
"Ini..."
"Masih ingat?"
"Kamu masih menyimpannya?"
"Selama tiga tahun."
Laras membuka kotak itu.
Di dalamnya ada gelang sederhana.
Tulisan kecil masih terlihat.
Pulanglah jika hatimu masih menemukan jalan.
Laras menatap Yoga.
"Kamu masih membawanya?"
"Iya."
"Kenapa?"
"Karena setiap kali saya merasa ingin menyerah, saya membaca tulisan itu."
"Kenapa tidak mengembalikannya?"
"Karena saya belum merasa pulang."
Laras terdiam.
Yoga melanjutkan,
"Saya tidak datang untuk meminta kamu langsung kembali."
"Bagus."
"Saya juga tidak datang membawa janji."
"Lebih bagus."
"Saya hanya ingin kamu tahu bahwa saya menyesal."
Laras menarik napas.
"Penyesalan tidak mengubah masa lalu."
"Saya tahu."
"Tapi bisa mengubah cara kita menjalani masa depan."
Yoga mengangguk.
"Itu yang saya inginkan."
"Dan kalau aku tidak mau?"
"Saya akan menerima."
"Kalau aku tidak bisa percaya lagi?"
"Saya akan mengerti."
"Kalau aku membutuhkan waktu?"
"Saya akan menunggu."
Laras menatapnya.
"Kamu bilang tidak meminta aku menunggu."
"Saya tidak meminta."
"Lalu?"
"Saya hanya mengatakan apa yang akan saya lakukan."
Laras tersenyum kecil.
"Setidaknya kali ini kamu jujur."
SENANDUNG YANG KEMBALI TERDENGAR
Sejak hari itu, Yoga dan Laras tidak langsung kembali menjadi pasangan.
Mereka memulai dari awal.
Seperti dua orang yang pernah saling mengenal tetapi harus kembali belajar mengenal.
Mereka bertemu.
Berbicara.
Tertawa.
Kadang membicarakan masa lalu.
Kadang memilih diam.
Suatu sore mereka duduk di sebuah kedai kopi.
Yoga menyeruput kopinya.
"Masih terlalu manis."
Laras tertawa.
"Dulu kamu yang bilang."
"Iya."
"Kenapa tetap pesan?"
Yoga menatapnya.
"Karena beberapa hal memang ingin saya rasakan kembali."
Laras menggeleng.
"Kamu sekarang semakin pandai membuat kalimat."
"Pengalaman."
Mereka tertawa.
Kemudian Yoga mulai bersenandung.
Laras langsung mengenalinya.
"Lagu itu."
"Masih ingat?"
"Bagaimana aku bisa lupa?"
"Suara saya masih jelek?"
"Lebih jelek."
Yoga tertawa.
"Tapi dulu kamu suka."
"Siapa bilang?"
"Kamu tidak pernah menyuruh saya berhenti."
Laras tersenyum.
"Karena kalau aku menyuruh berhenti, kamu pasti terus bernyanyi."
"Betul."
Mereka tertawa bersama.
Untuk pertama kalinya, kenangan masa lalu tidak terasa menyakitkan.
Ia terasa hangat.
SENANDUNG RINDU
Sore itu mereka kembali ke tepian sungai.
Matahari perlahan turun.
Langit Kuala Kapuas berubah menjadi warna keemasan.
Yoga berdiri di samping Laras.
"Apakah kamu masih takut?" tanyanya.
"Takut apa?"
"Takut saya pergi lagi."
Laras diam.
"Sedikit."
"Saya juga."
"Kamu takut?"
"Iya."
"Kenapa?"
"Takut kembali menyakitimu."
Laras menatapnya.
"Kita tidak bisa hidup hanya dengan takut."
"Saya tahu."
"Kalau begitu?"
"Kita jalani perlahan."
Laras mengangguk.
Yoga memandang sungai.
"Dulu saya berpikir pulang itu berarti kembali ke tempat."
"Lalu sekarang?"
"Pulang ternyata berarti kembali kepada sesuatu yang membuat kita merasa menjadi diri sendiri."
Laras tersenyum.
"Dan apa yang membuatmu merasa seperti itu?"
Yoga tidak langsung menjawab.
Ia menatap Laras.
"Kamu."
Laras menunduk.
"Jangan membuatku menangis."
"Saya tidak bermaksud."
"Aku sudah terlalu banyak menangis karena kamu."
Yoga tersenyum sedih.
"Maaf."
Laras menggeleng.
"Jangan minta maaf lagi."
"Lalu?"
"Belajar."
"Saya akan belajar."
Mereka berdiri dalam diam.
Suara air sungai terdengar perlahan.
Dari kejauhan terdengar seseorang bersenandung.
Laras tersenyum.
"Dengar."
Yoga diam.
"Senandung itu."
"Iya."
"Dulu aku mengira rindu adalah sesuatu yang harus dilawan."
"Dan sekarang?"
"Rindu ternyata tidak perlu dilawan."
"Lalu?"
"Cukup diterima."
Yoga mengangguk.
"Karena rindu membuktikan bahwa pernah ada seseorang yang sangat berarti."
Laras menatap sungai.
"Dan kalau orang itu kembali?"
Yoga bertanya.
"Haruskah kita menerimanya?"
Laras menoleh.
"Tidak selalu."
"Kalau begitu?"
"Kita lihat apakah dia benar-benar pulang."
Yoga tersenyum.
"Saya akan membuktikannya."
"Jangan dengan kata-kata."
"Lalu?"
"Dengan waktu."
Yoga mengangguk.
"Saya mengerti."
Senja semakin turun.
Lampu-lampu kota mulai menyala.
Pantulan cahaya bergerak di atas air.
Kuala Kapuas kembali menjadi kota yang tenang.
Namun bagi Laras, sore itu terasa berbeda.
Ia tidak lagi berdiri di tepi sungai sebagai seseorang yang menunggu masa lalu.
Ia berdiri sebagai seseorang yang telah berdamai dengannya.
Di sampingnya ada Yoga Adi Pratama.
Laki-laki yang pernah pergi.
Laki-laki yang pernah membuatnya kecewa.
Laki-laki yang pernah membuatnya bertanya-tanya tentang arti sebuah penantian.
Tetapi juga laki-laki yang akhirnya kembali bukan dengan janji besar, melainkan dengan keberanian untuk mengakui kesalahan.
Laras tersenyum.
"Yoga."
"Ya?"
"Kalau suatu hari nanti kamu harus pergi lagi?"
"Saya akan mengatakan kepadamu."
"Kalau aku takut?"
"Saya akan mendengarkan."
"Kalau kita bertengkar?"
"Kita selesaikan."
"Kalau jarak datang lagi?"
"Kita hadapi bersama."
Laras mengangguk.
"Kalau kamu rindu?"
Yoga tersenyum.
"Saya akan pulang."
"Jangan hanya berkata."
"Saya akan membuktikan."
Mereka berjalan perlahan meninggalkan tepian sungai.
Tidak bergandengan tangan.
Tidak ada janji yang berlebihan.
Hanya dua orang yang memilih untuk berjalan dalam arah yang sama.
Dan ketika langkah mereka semakin jauh, senandung yang terdengar dari kejauhan kembali mengalun.
Senandung tentang rindu.
Tentang seseorang yang pernah pergi.
Tentang seseorang yang pernah menunggu.
Tentang luka yang akhirnya menemukan pengampunan.
Tentang cinta yang tidak lagi menuntut kesempurnaan.
Dan tentang rumah yang ternyata bukan sekadar tempat untuk kembali.
Rumah adalah perasaan ketika seseorang tidak lagi takut kehilangan dirinya sendiri ketika mencintai orang lain.
Di bawah langit senja Kuala Kapuas, Laras akhirnya memahami satu hal:
rindu tidak selalu meminta seseorang kembali.
Kadang rindu hanya ingin memastikan bahwa cinta yang pernah ada tidak menjadi sia-sia.
Namun ketika seseorang benar-benar kembali dengan hati yang berbeda, rindu bisa berubah menjadi sesuatu yang lebih indah.
Ia menjadi kesempatan.
Kesempatan untuk memulai lagi.
Bukan mengulang masa lalu.
Melainkan menciptakan masa depan dengan pelajaran yang telah diberikan masa lalu.
Sungai Kuala Kapuas terus mengalir.
Airnya membawa pantulan cahaya senja menuju kejauhan.
Seperti waktu yang tidak pernah berhenti.
Seperti kehidupan yang selalu bergerak.
Dan seperti cinta yang, meskipun pernah tersesat, pada akhirnya dapat menemukan jalan pulangnya sendiri.
Yoga Adi Pratama telah pulang.
Dan Larasati Nirmala tidak lagi menunggunya.
Mereka hanya berjalan bersama.
Karena kali ini, tidak ada yang menunggu.
Tidak ada yang meninggalkan.
Hanya ada dua hati yang memilih untuk saling menjaga.
Sementara senandung rindu terus mengalun pelan di antara suara sungai dan angin senja.
Senandung yang dahulu lahir dari kehilangan.
Kini berubah menjadi lagu tentang pulang.
Slamet riyadi
22 Agustus 2026 21:18:02
Trims sarannya mas anang, moga sriwidadi bisa mengembangkan perpus digital...