NOVEL
SAHABAT SEJATI TAK PERNAH PERGI
Kisah Persahabatan yang Melampaui Waktu, Jarak, dan Takdir
DISCLAIMER
Novel ini adalah karya fiksi murni. Seluruh tokoh, nama, tempat, dan peristiwa adalah hasil imajinasi penulis, atau digunakan secara fiktif. Tidak ada kemiripan yang disengaja dengan orang hidup atau meninggal, maupun peristiwa nyata. Cerita tentang persahabatan, kesetiaan, dan cinta ini sepenuhnya rekaan. Penulis tidak bermaksud mewakili atau merujuk pada pihak mana pun.
Selamat membaca.
Oleh: SLAMET RIYADI
PROLOG
Yang Terlambat Dengar, Bukan Berarti Tidak Pernah Jadi
Tidak ada yang istimewa dari malam itu.
Hujan turun seperti biasanya di kota yang tidak pernah benar-benar tidur. Air mengalir di parit-parit pinggir jalan, membawa daun-daun kering dan plastik bekas. Lampu-lampu kota memantul di aspal basah, menciptakan ilusi bahwa jalanan dipenuhi bintang-bintang kecil yang patah. Di sebuah rumah sederhana, di ujung gang yang mungkin tidak akan pernah masuk peta digital mana pun, seorang laki-laki duduk di kursi kayu dekat jendela. Tangannya memegang secangkir teh yang sudah dingin sejak sejam lalu. Matanya tidak benar-benar melihat ke luar. Ia sedang berada di tempat lain, di waktu lain.
Usianya baru dua puluh delapan tahun, tetapi matanya jika Anda berani menatap cukup lama, mengandung kelelahan yang tidak semestinya dimiliki seorang pemuda. Bukan kelelahan karena bekerja terlalu keras, meskipun ia bekerja sangat keras. Bukan pula kelelahan karena mimpi yang belum tercapai, meskipun banyak mimpinya masih tersimpan rapi di dalam kotak kayu di sudut kamar. Kelelahan itu berasal dari menahan. Dari menyimpan sesuatu terlalu lama. Dari memilih untuk menjadi bayangan, ketika sebenarnya ia ingin menjadi matahari.
Laki-laki itu bernama Agus Sabara.
Di atas meja di depannya, sebuah ponsel butut dengan layar retak di sudut kanan atas tiba-tiba bergetar. Agus tidak bergerak. Dia tahu getaran itu. Getaran itu selalu datang dari nama yang sama, dari nada dering yang khusus ia buat bertahun-tahun lalu ketika ia masih cukup bodoh untuk percaya bahwa cukup dengan menjadi sahabat, rasa sakit karena tidak dipilih tidak akan pernah muncul.
Ponsel itu bergetar lagi.
Agus menghela napas panjang. Dia mengambil ponselnya, mengusap layar dengan ibu jari yang sedikit gemetar, bukan karena dingin, tapi karena kebiasaan lama yang tidak pernah hilang: setiap kali nama itu muncul, detak jantungnya selalu berubah ritme.
Pesan masuk dari: Mbak Titik
“Gus... aku di sini. Di tempat biasa. Sendirian.”
Agus membaca pesan itu tiga kali. Tidak ada emoji. Tidak ada tanda seru. Hanya sebuah titik di akhir kalimat, sebuah titik yang terasa lebih berat daripada ribuan kata yang tidak terucap.
Ia tahu persis apa artinya “tempat biasa” dan “sendirian”.
Tempat biasa adalah kedai kopi kecil di sisi selatan kota, persis di tikungan jalan yang berseberangan dengan taman lama yang sudah tidak terawat sejak sepuluh tahun lalu. Di kedai itu, selalu ada meja pojok dengan dua kursi. Satu kursi selalu menghadap ke pintu, karena Titik suka melihat siapa yang masuk. Satu kursi lainnya membelakangi dinding, karena Agus tidak pernah suka dikagetkan dari belakang. Meja itu sudah menjadi saksi bisu dari empat belas tahun perjalanan mereka: dari tawa saat masih remaja, tangis karena putus cinta, kebodohan saat mabuk kepayang setelah salah satu kekasih Titik pergi tanpa pamit, hingga keheningan, keheningan yang paling sering terjadi akhir-akhir ini, yaitu ketika dua orang sahabat duduk berhadapan tanpa bicara, tapi mengerti segalanya.
Tidak ada yang pernah memesan meja itu. Pegawai kedai sudah hafal. Bahkan pelanggan lain pun tahu: meja pojok itu milik “Mbak Titik dan Mas Agus”. Begitu mereka memanggilnya.
Dan malam itu, hanya Titik yang ada di sana.
Agus mengetik balasan. Menghapus. Mengetik lagi. Menghapus lagi. Jari-jarinya seolah kehilangan kemampuan untuk merangkai kata, meskipun pikirannya sangat jernih. Dia ingin menulis:
“Aku datang. Seperti biasa. Seperti selalu.”
Tapi itu terlalu teatrikal. Dia bukan pahlawan dalam film India. Dia hanya Agus, tetangga dua rumah di depan rumah Titik, teman bermain layang-layang, teman curhat, teman yang selalu datang saat semua orang pergi, teman yang tidak pernah dianggap lebih dari itu.
Akhirnya ia hanya menulis:
“Tunggu. Lima belas menit.”
Ia tidak perlu menulis siapa. Titik tahu pasti yang akan datang hanyalah satu orang di dunia ini yang selalu bisa datang meskipun tengah malam, meskipun hujan, meskipun lelah, meskipun sebenarnya hatinya sedang sakit karena harus datang sebagai sahabat, bukan sebagai sesuatu yang lain.
Agus mengenakan jaket jeans biru lusuh yang sudah ia miliki sejak SMA, yang kantong kirinya robek kecil sehingga setiap kali ia memasukkan tangan, ujung jari kelingkingnya selalu menyentuh kain di baliknya. Jaket itu bukan jaket terbaiknya, tetapi ia selalu memakainya ketika akan menemui Titik dalam kondisi seperti ini, kondisi di mana Titik sedang hancur, dan Agus perlu menjadi versi dirinya yang paling autentik, yang paling tidak berpura-pura.
Ia mengambil kunci motor butut yang warnanya sudah memudar, melangkah keluar rumah tanpa mematikan lampu teras. Sebab ia tahu, entah jam dua atau tiga pagi nanti, ia akan kembali, dan ia tidak suka pulang ke rumah yang gelap.
Hujan masih turun. Tidak deras, tetapi cukup untuk membuat jaketnya basah dalam lima menit. Ia menyalakan motor, menarik napas dalam-dalam, lalu teringat pada suatu sore, lima belas tahun lalu, ketika ia pertama kali menyadari bahwa perasaannya terhadap “Mbak Titik” tidak sama dengan perasaannya terhadap teman-teman perempuan lainnya.
Saat itu Agus baru berusia tiga belas tahun. Titik lima belas. Mereka sedang duduk di bawah pohon mangga besar di kampung, yang sudah ditebang sejak delapan tahun lalu karena dianggap mengganggu aliran listrik. Titik sedang bercerita tentang seorang cowok kelas dua SMA yang baru pindah ke kampung mereka. Cowok itu bernama Dharma, berkulit putih, suka bermain gitar, dan menurut Titik, “sangat romantis”.
Agus mendengarkan. Seperti biasa. Ia mendengarkan dengan saksama, mengangguk, tertawa di bagian-bagian yang lucu, dan menghela napas di bagian-bagian yang menurutnya menggelikan. Tapi sore itu, ada sesuatu yang berbeda. Ketika Titik berkata, “Aku rasa aku suka sama dia, Gus,” sesuatu di dada Agus terasa seperti diiris perlahan dengan pisau tumpul.
Bukan sakit yang menyentak. Bukan pula sakit yang membuatnya ingin menangis. Sakit itu lebih seperti: kesadaran bahwa ada sesuatu yang tidak akan pernah menjadi miliknya, dan ia tidak bisa marah karena tidak pernah mempertaruhkan apa pun.
Sejak sore itu, Agus belajar satu hal: ia akan menjadi sahabat terbaik yang pernah dimiliki Titik. Sampai kapan pun. Sampai Titik menemukan cinta sejatinya, menikah, punya anak, dan agak lupa pada Agus. Itu tidak apa-apa. Yang penting, Agus ada di setiap episode penting kehidupan Titik.
Setidaknya, itu yang ia yakini selama lima belas tahun.
Tapi malam ini, di atas motor yang melaju pelan menerobos rintik hujan, Agus merasa ada yang ganjil. Cekukan di dadanya terasa lebih penuh dari biasanya. Seolah-olah semua perasaan yang ia tahan selama lima belas tahun mulai mendesak, mencari jalan keluar, seperti akar pohon beringin yang merusak fondasi rumah karena tidak ada ruang untuk tumbuh.
“Kamu bilang mau jadi sahabat, Gus,” gumamnya pada diri sendiri, air hujan membasahi pipinya. “Jadi jangan berubah jadi sesuatu yang lain. Dia butuh kamu sebagai sahabat. Bukan sebagai beban lain yang harus dia pikirkan.”
Ia menginjak gas sedikit lebih dalam.
Kedai Kopi “Singgah” , itulah nama tempat yang dimaksud Titik. Sebuah kedai kecil dengan papan kayu yang tulisannya sudah mengelupas, dikelola oleh seorang janda paruh baya bernama Bu Lastri, yang sudah hafal pesanan kedua langganan setianya: segelas es kopi susu gula aren untuk Titik, dan segelas teh jahe panas untuk Agus.
Malam itu, ketika Agus memasuki kedai, bel pintu dari logam murah berbunyi “kring” tidak merdu. Bu Lastri yang sedang menyeka gelas di belakang meja hanya melambai kecil, lalu mengangguk ke arah meja pojok.
Di meja itu, Titik Mukti Aryanti duduk dengan punggung sedikit membungkuk. Rambutnya yang sebahu dibiarkan terurai, tidak diikat seperti biasanya. Ia memakai kaus lengan panjang berwarna abu-abu yang agak longgar, membuatnya terlihat lebih kurus dari biasanya. Sebuah gelas es kopi susu sudah setengah habis di depannya, dengan tetesan air embun membasahi permukaan meja kayu yang tidak beralas taplak.
Agus berjalan mendekat. Setiap langkah terasa berat, seolah lantai kedai berubah menjadi pasir hisap. Ia tidak tahu bagaimana ekspresi wajahnya saat itu, tetapi ia berusaha memasang wajah netral: bukan terlalu ceria karena itu tidak pantas, bukan terlalu muram karena itu akan membuat Titik semakin terpuruk.
Ia duduk di kursi favoritnya, yang membelakangi dinding. Selama beberapa detik, tidak ada yang bicara. Hanya suara tetesan air dari ujung jaket Agus ke lantai keramik yang sebagian ubinnya sudah retak.
Titik mengangkat wajah.
Matanya merah. Tidak sembab seperti orang yang habis menangis lama, tetapi ada genangan di sudut matanya yang belum sempat ia hapus sepenuhnya. Itu adalah jenis tangisan yang tidak meledak-ledak, tetapi justru lebih menyayat: tangisan yang ditahan, yang keluar perlahan, seperti air dari keran yang tidak pernah benar-benar bisa ditutup rapat.
“Kamu basah,” kata Titik. Suaranya parau. Tidak seperti suara khasnya yang biasanya tajam dan energik.
“Hujan,” jawab Agus singkat.
“Tadinya aku bilang jangan datang. Tapi sudah terlanjur kuketik.”
“Tapi kamu tetap kirim.”
Titik menarik napas. Tangannya meraih gelas es kopi, tetapi hanya memutar-mutarnya, tidak meminum. “Gus...”
“Ya, Mbak.”
“Aku gagal lagi.”
Agus tidak bertanya gagal dalam hal apa. Tidak perlu. Ia sudah tahu dari nada suara Titik, dari cara Titik mengucapkan kata “gagal” dengan penekanan pada huruf ‘g’ di awal dan huruf ‘l’ di akhir, seolah ia sedang memuntahkan sesuatu yang pahit.
“Yang mana?” tanya Agus pelan.
“Yang ke berapa ya? Gue hitung... Rendra, Robi, Handoko, Andika si pengangguran itu, terus Edo si usahawan sok sultan, terus yang terakhir... Arman. Arman yang katanya lulusan luar negeri, Gus. Yang gue ceritain dua bulan lalu itu. Yang gue bilang ‘beda dari yang lain’.”
Agus ingat persis. Dua bulan lalu Titik datang dengan wajah berseri-seri, sesuatu yang jarang ia lihat dalam setahun terakhir. Titik bercerita tentang Arman, seorang pria berusia tiga puluh dua tahun, bekerja di perusahaan konsultan internasional, berkacamata, suka membaca buku sejarah, dan menurut Titik, “sangat dewasa”.
Agus mendengarkan saat itu, seperti biasa. Ia tersenyum, mengangguk, memberi masukan secukupnya. Ia sudah berhenti memberi peringatan, karena peringatannya tidak pernah didengarkan. Atau didengarkan tetapi diabaikan. Atau diabaikan tetapi kemudian terbukti benar, tetapi Titik tidak pernah bilang, “Kamu benar, Gus.” Yang ada hanya keheningan, lalu Titik muncul lagi dengan cerita baru.
“Apa yang terjadi?” tanya Agus.
Titik tertawa kecil. Bukan tawa bahagia. Tawa itu pahit, seperti orang yang menertawakan kebodohannya sendiri.
“Dia menikah, Gus. Bukan sama gue. Sama cewek lain. Cewek yang keluarganya selevel dengan keluarganya. Gue? Gue cuma anak kampung yang kebetulan kerja di perusahaan bonafide. Cukup buat diajak kencan, tapi tidak cukup untuk dibawa ke pelaminan. Dia bilang, ‘Titik, kamu luar biasa. Tapi dunia tidak sesederhana perasaan.’ Sialan, kan?”
Agus tidak menjawab. Ia hanya menatap wajah Titik yang mulai merekah perlahan, bukan merekah seperti bunga, tetapi merekah seperti tanah kering yang mulai retak karena terlalu lama tidak dihujani kebahagiaan sejati.
“Mbak,” kata Agus akhirnya.
“Hm?”
“Kapan terakhir kali kamu makan?”
Titik terkejut dengan pertanyaan itu. Bukan karena tidak relevan, tetapi karena ia tidak menyangka percakapan akan berbelok ke sana. “Apa hubungannya?”
“Karena kamu kelihatan kurus, Mbak. Gelap di bawah mata kamu semakin menghitam. Dan kopi yang kamu minum itu sudah setengah gelas, tapi gula arennya masih mengendap di bawah. Artinya kamu tidak benar-benar menikmati kopi itu, kamu hanya butuh sesuatu untuk dipegang.”
Titik terdiam.
Ia tidak tahu harus berkata apa. Karena apa yang dikatakan Agus benar. Selalu benar. Dan terkadang, memiliki seseorang yang selalu benar tentang dirimu itu tidak selalu nyaman. Itu membuatmu telanjang. Itu membuatmu tidak bisa bersembunyi.
“Aku makan,” jawab Titik akhirnya, sedikit defensif.
“Kapan?”
“...Lusa.”
Agus menghela napas. Ia bangkit dari kursinya, berjalan ke konter tempat Bu Lastri, lalu memesan semangkuk mie ayam dan segelas susu hangat. Bu Lastri mengangguk tanpa banyak tanya. Seperti biasa.
Kembali ke meja, Agus duduk dan berkata, “Nanti pesanan datang, kamu habiskan. Jangan protes.”
“Gue nggak laper.”
“Itu bukan laper, Mbak. Itu putus asa. Dan putus asa tidak boleh disamakan dengan laper, karena putus asa butuh ditangani, laper butuh dimakan. Sekarang kamu lagi laper. Percayalah.”
Titik menggigit bibir bawahnya.
Di luar, hujan mulai reda. Sesekali terdengar suara klakson mobil dari jalan raya yang tidak terlalu jauh dari kedai. Seorang pengamen lewat di depan pintu, menyanyikan lagu lama tentang cinta yang tak sampai, lalu pergi ketika Bu Lastri memberi uang receh.
“Gus,” kata Titik tiba-tiba.
“Ya.”
“Kenapa sih lo nggak pernah marah ke gue?”
“Marah kenapa?”
“Gue tuh dari SMA sampe sekarang, udah berganti pacar kayak ganti baju. Lo selalu dengerin. Selalu. Lo nggak pernah bilang, ‘Mbak, lo tuh aneh.’ Atau ‘Mbak, mungkin masalahnya ada di lo.’ Lo cuma diem, trus beberapa hari kemudian lo datang bawa makanan, atau anter gue jalan-jalan, atau sekedar duduk di samping gue tanpa ngomong apa-apa. Kenapa?”
Pertanyaan itu menggantung di udara, di antara uap teh jahe yang mulai menghilang dan aroma kopi yang tertinggal di cangkir.
Agus menatap meja kayu di depannya. Ia bisa melihat pantulan wajahnya sendiri di genangan air yang tidak sengaja tumpah dari gelas Titik. Wajah itu tampak lelah, juga takut. Takut jika ia menjawab jujur, segalanya akan berubah. Dan perubahan adalah hal yang paling tidak ia inginkan, karena ia sudah sangat nyaman dengan posisinya sebagai sahabat, meskipun posisi itu perlahan membunuhnya dari dalam.
“Karena itu tugas sahabat, Mbak,” jawab Agus akhirnya. Terdengar hambar, bahkan di telinganya sendiri.
Titik menatap Agus dengan tatapan yang berbeda dari biasanya. Ada sesuatu di sana, semacam pertanyaan yang tidak diajukan karena takut mendengar jawabannya.
“Lo tahu, kadang gue mikir...”
“Mikir apa?”
Titik menggeleng. “Nggak jadi. Mie ayam lo dateng tuh.”
Bu Lastri datang membawa nampan. Mangkuk mie ayam mengepul, ditaburi bawang goreng dan irisan daun bawang. Di sampingnya, segelas susu hangat dengan sedikit kayu manis, pesanan khusus Agus untuk Titik setiap kali ia datang dalam keadaan seperti ini.
“Mbak, Bu Lastri bikinin yang special. Habiskan ya,” kata Bu Lastri ramah sambil mengedip.
Titik tersenyum tipis. “Makasih, Bu.”
Bu Lastri pergi meninggalkan mereka berdua lagi di meja pojok itu. Kedai mulai sepi. Hanya tersisa satu pelanggan lain di ujung ruangan, seorang bapak-bapak paruh baya yang asyik dengan ponselnya, sesekali tersenyum sendiri.
Agus mengambil sendok, menyodok mie ayam itu, lalu mendorong mangkuk ke depan Titik. “Mulai.”
“Lo makan juga,” kata Titik.
“Nanti di rumah. Sekarang kamu dulu.”
Titik menurut. Ia makan perlahan, seperti orang yang lupa rasanya makanan hangat. Setelah tiga suapan, tiba-tiba air matanya jatuh. Bukan isak tangis yang keras, tetapi air mata yang mengalir deras tanpa suara, sambil terus mengunyah mie.
Agus tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya mengambil tisu dari saku jaketnya (dia selalu membawa tisu sejak SMA, karena Titik mudah menangis) dan meletakkannya di samping tangan Titik.
“Gus,” Titik berkata dengan suara gagap, “kenapa semua lelaki yang gue temui selalu pergi?”
“Karena mereka bukan yang tepat, Mbak.”
“Kapan gue akan nemu yang tepat? Gue udah hampir tiga puluh, Gus. Rata-rata teman gue udah nikah. Yang belum punya anak, setidaknya udah tunangan. Gue? Gue bahkan nggak tahu rasanya punya hubungan yang lebih dari satu tahun. Semua kandas. Semua.”
“Belum waktunya, Mbak.”
“Jangan kasih gue jawaban klise kayak gitu, Gus! Gue capek denger ‘belum waktunya’ dan ‘Allah punya rencana indah’ dan omongan manis lainnya. Gue capek, Gus. Gue benar-benar capek.”
Suara Titik meninggi sedikit, cukup membuat bapak-bapak di ujung ruangan menoleh sekilas, lalu kembali ke ponselnya.
Agus menunduk. Ia menatap teh jahe di tangannya yang sudah tidak mengepul lagi.
“Mbak...”
“Apa?”
“Gue bilang begini ya. Mungkin agak kasar. Tapi tolong denger.”
Titik berhenti mengunyah. Ia meletakkan sendoknya. Matanya masih basah.
Agus mengangkat wajah. Matanya bertemu dengan mata Titik. Dan untuk pertama kalinya dalam lima belas tahun, Agus membiarkan sedikit saja dari dinding yang ia bangun retak cukup untuk melewatkan secercah cahaya, meskipun tidak terlalu terang.
“Mbak,” katanya pelan, “mungkin selama ini Mbak salah fokus.”
“Maksud lo?”
“Mbak selalu mencari cinta pada orang yang belum Mbak kenal karakternya. Mbak jatuh pada pesona awal, pada gombalan, pada penampilan, pada janji-janji manis yang diucapkan di restoran mahal atau di taman saat matahari terbenam. Tapi Mbak lupa, cinta sejati itu tidak datang dengan dramatis. Ia datang dengan cara yang membosankan. Dengan cara tidak pernah pergi meskipun tidak pernah dijanjikan apa pun. Dengan cara hadir tanpa diminta, membantu tanpa disuruh, diam ketika tidak dibutuhkan bicara, dan bicara ketika dibutuhkan diam.”
Titik menatap Agus. Lama. Terlalu lama. Seolah ia sedang melihat sesuatu yang selama ini terhalang kabut, dan perlahan kabut itu mulai menipis.
“Lo bicara tentang siapa, Gus?” tanya Titik dengan suara nyaris berbisik.
Agus tersenyum. Senyum yang tidak sampai ke mata. Senyum yang lahir dari luka lama dan keputusan untuk tetap bertahan meskipun terluka.
“Tentang siapa saja yang selama ini Mbak lewati karena Mbak terlalu sibuk mencari cinta yang gemerlap,” jawab Agus dengan hati-hati.
Titik terdiam.
Mie ayam di depannya masih setengah. Susu hangatnya mulai dingin. Hujan di luar benar-benar berhenti. Seseorang membuka pintu kedai, bel logam berbunyi “kring” dan dunia terus berputar, tidak peduli bahwa di meja pojok itu, dua orang sahabat sedang berada di persimpangan yang tidak pernah mereka rencanakan.
Titik menghela napas panjang.
“Gus,” katanya.
“Ya.”
“Lo... kenapa nggak pernah pacaran?”
Pertanyaan itu seperti pukulan telak di ulu hati Agus.
Ia bisa berbohong. Ia bisa berkata, “Aku terlalu sibuk kerja,” atau “Aku belum nemu yang cocok,” atau “Aku masih fokus nabung dulu.” Semua itu adalah kebohongan yang enak, yang sudah ia siapkan sejak lama, seperti mantel yang tergantung di pintu, siap dipakai kapan saja.
Tapi malam itu, di kedai kopi kecil dengan lantai retak dan papan nama mengelupas, setelah melihat Titik menangis di atas mie ayam, setelah menahan segala sesuatu terlalu lama, Agus memilih untuk menjawab dengan jujur. Hanya sedikit. Hanya secukupnya. Tidak terlalu banyak karena ia takut, tetapi tidak terlalu sedikit karena ia lelah.
“Karena dari dulu gue cuma bisa melihat satu orang, Mbak. Dan orang itu tidak pernah melihat gue sebagai lebih dari seorang sahabat.”
Kalimat itu keluar begitu saja. Tidak direncanakan. Tidak diukur. Ia keluar seperti napas yang ditahan terlalu lama, seperti air yang akhirnya menembus bendungan yang rapuh.
Titik membeku.
Sendok di tangannya jatuh perlahan ke atas meja, berbunyi “pling” kecil. Matanya membesar, tidak percaya. Ia membuka mulut, tetapi tidak ada suara yang keluar. Hanya ada udara. Dan keheningan. Dan kesadaran yang mulai merayap seperti kabut pagi yang menyelimuti desa: pelan, dingin, dan tidak bisa dihindari.
“Gus...” bisik Titik.
“Makan mi-nya, Mbak,” kata Agus cepat, memotong. “Nanti keburu dingin.”
Ia tidak berani menatap Titik. Ia hanya menunduk, memutar-mutar gelas teh jahe yang sudah lama kosong.
Di sudut kedai, Bu Lastri mulai menyapu lantai. Bunyi sapu lidi berdesir pelan, ritmis, seperti jantung yang berusaha tenang setelah lari terlalu jauh.
Dan di meja pojok itu, Titik Mukti Aryanti untuk pertama kalinya dalam hidupnya tidak tahu harus berkata apa.
Karena baru saja, dalam tiga puluh detik, seluruh persahabatan yang ia yakini selama ini, yang ia anggap aman, nyaman, steril dari drama, bergetar di fondasinya.
Dan Agus Sabara, pemuda yang usianya dua tahun lebih muda, yang selama ini ia anggap adik, teman, tempat curhat, dan pelabuhan darurat, tiba-tiba berdiri di hadapannya dengan wujud yang berbeda: bukan lagi bayangan, tetapi seseorang dengan perasaan yang selama ini ia abaikan karena terlalu sibuk dengan dramanya sendiri.
Kedai kopi itu masih berdiri sampai sekarang, meskipun papan namanya sudah diganti tiga kali. Meja pojok dengan dua kursi masih ada. Bu Lastri sudah tiada, digantikan oleh anaknya yang tidak terlalu ramah tetapi tetap melayani dengan baik. Hujan tidak pernah benar-benar berhenti di kota itu.
Tapi malam itu, malam ketika Agus menjawab jujur, adalah malam pertama dari rangkaian panjang menuju titik nadir Titik Mukti Aryanti dan juga awal dari sebuah akhir yang tidak pernah ia duga: bahwa sahabat sejati yang selama ini ia anggap "hanya teman" adalah satu-satunya orang yang tidak pernah pergi, bahkan ketika ia berkata jujur dan mempertaruhkan segalanya.
Tapi cerita itu masih panjang.
Kita baru sampai di prolog.
BAB I
POHON MANGGA, LAYANG-LAYANG, DAN JANJI YANG TIDAK DITULIS
Arloji dinding berbentuk matahari di ruang tamu rumah Agus menunjukkan pukul setengah empat sore. Jarum detiknya bergerak dengan suara tik.. tik.. tik yang terdengar jelas karena tidak ada suara lain selain dengung kipas angin tua di sudut ruangan yang kadang berputar kadang tidak, seolah sedang malas bekerja.
Agus Sabara, bocah laki-laki berusia delapan tahun dengan rambut ikal yang tidak pernah mau rapi meski sudah disisir tiga kali, sedang duduk di lantai teras rumahnya. Di pangkuannya, sebuah buku gambar bergaris yang sampul depannya sudah sobek dan diperbaiki dengan lakban bening. Tangannya memegang pensil 2B yang sudah pendek, kira-kira seukuran jari kelingkingnya. Ia menggambar sesuatu: sebuah pohon besar dengan akar yang menjalar, dan di bawah pohon itu, dua orang kecil berdiri bergandengan tangan.
“Gambar apa, Le?” tiba-tiba suara neneknya dari balik pintu dapur.
Agus tidak menoleh. “Pohon mangga, Eyang. Yang di ujung gang itu.”
“Lho, itu kan pohonnya Pak Lurah. Katanya mau ditebang?”
“Belum, Eyang. Masih ada. Aku sama Mbak Titik tadi pagi main di bawahnya.”
Neneknya mendekat, membungkuk sedikit untuk melihat gambar itu. Matanya yang mulai rabun menyipit. “Yang satunya lagi gambar siapa?”
“Itu Mbak Titik,” kata Agus, lalu menunjuk gambar kecil di sebelahnya. “Yang ini aku.”
“Lho, kok tangannya pegang-pegang?”
“Itu lagi janjian, Eyang. Kami berjanji akan selalu berteman. Sampai kapan pun.”
Neneknya tersenyum. Senyum yang hanya dimiliki oleh orang tua yang sudah melihat terlalu banyak pasang manusia berpisah karena waktu, jarak, dan takdir, sehingga ia tahu bahwa janji anak-anak tidak pernah sekuat keyakinan mereka. Tapi ia tidak mengatakan itu. Ia hanya mengelus rambut ikal Agus dan berkata, “Bagus, Le. Semoga kalian kuat.”
Agus tidak mengerti maksud “kuat” dalam konteks itu. Baginya, menjadi teman itu mudah. Tinggal bilang “Aku mau berteman denganmu”, lalu selesai. Tidak ada yang rumit. Tidak seperti pelajaran matematika yang membuat kepalanya pusing, atau tulisan tegak bersambung yang membuat jarinya kram.
Jam menunjukkan pukul lima sore ketika seseorang mengetuk pagar rumah Agus. Bukan ketukan keras, tetapi tiga ketukan pendek yang diikuti dengan suara kecil, “Gus... Gus... ayo main!”
Agus yang sedang asyik memotong kertas bekas untuk dibuat layang-layang, langsung melompat berdiri. Ia tidak perlu melihat ke luar jendela untuk tahu siapa yang memanggil. Suara itu sudah sangat dikenalnya: suara seorang anak perempuan yang sedikit serak di bagian akhir kalimat, seperti orang yang baru selesai berteriak, meskipun sebenarnya tidak.
“Mbak Titik!” teriak Agus sambil berlari ke depan. Ia membuka pintu pagar yang sedikit berat karena engselnya sudah berkarat.
Di depan pagar berdiri seorang gadis kecil dengan rambut diikat dua ekor kuda, memakai kaus merah muda pudar yang sudah sedikit kekecilan sehingga pergelangan tangannya terlihat agak panjang, dan celana pendek jeans yang bolong di lutut kirinya. Itu adalah Titik Mukti Aryanti. Usianya baru sepuluh tahun, tetapi posturnya lebih tinggi dari anak perempuan seusianya, dan giginya masih ada yang ompong di bagian depan gigi seri kanannya baru copot kemarin karena jatuh dari sepeda.
“Ayo, liat! Aku punya ini!” Titik membawa sebuah botol plastik bekas minuman bersoda, yang di dalamnya berisi air sabun dan sebuah sedotan berbentuk cincin.
“Gelembung!” seru Agus.
“Bukan cuma gelembung biasa, Gus. Ini gelembung raksasa. Aku belajar dari tante tetanggaku. Katanya, kalau dikasih sedikit gula, gelembungnya bisa lebih kuat.”
“Gak percaya.”
“Coba aja.”
Mereka berdua lari ke halaman kosong di samping rumah Pak RT, sebuah lapangan rumput ilalang yang tidak terlalu terawat, tetapi cukup luas untuk berlarian. Beberapa anak lain sudah berkumpul di sana: ada Andi yang sedang asyik dengan kelerengnya, Sari yang membawa boneka kain, dan dua anak laki-laki kembar yang Agus tidak hafal namanya karena jarang ikut main.
Titik membuka tutup botol plastiknya, memasukkan sedotan, lalu meniup perlahan. Gelembung mulai terbentuk, awalnya kecil, lalu membesar, hingga akhirnya lepas dari sedotan dan terbang perlahan, berkilauan terkena sinar matahari sore yang berwarna jingga keemasan.
“Wuih, gede banget!” kata Agus takjub.
“Kan aku bilang,” Titik tersenyum bangga. “Ini resep rahasia. Nggak boleh kasih tahu siapa pun.”
“Kalau aku kasih tahu, gimana?”
“Aku gampar, ah.”
Mereka tertawa. Agus mengambil sedotan dari tangan Titik dan mencoba meniup gelembung sendiri. Yang keluar hanya gelembung-gelembung kecil yang pecah dalam dua detik.
“Kamu salah, Gus, jangan kebanyakan napas. Pelan-pelan, kayak ngunyah permen karet.”
Agus mencoba lagi. Kali ini gelembung yang keluar sedikit lebih besar. Ia tersenyum puas.
“Nah, gitu, dong.”
Sari si boneka kain mendekat. “Mbak Titik, besok aku pindah.”
Titik berhenti meniup. “Pindah ke mana?”
“Ke Jakarta. Ikut Bapak.”
Jakarta. Bagi anak-anak seusia mereka, Jakarta adalah nama kota yang sering disebut di televisi, dengan gambarnya gedung-gedung tinggi dan mobil yang macet di mana-mana. Tidak lebih dari itu.
“Kapan balik?” tanya Agus.
Sari mengangkat bahu. “Bapak bilang, mungkin lama. Nggak tahu.”
Tak satu pun dari mereka yang benar-benar memahami arti “lama” pada usia itu. Yang mereka tahu, besok Sari pergi, dan mungkin mereka tidak akan bertemu lagi.
Titik menggenggam tangan Sari. “Kita foto dulu. Aku punya kamera.”
Kamera yang dimaksud Titik adalah sebuah mainan kamera plastik murahan yang tidak bisa memotret, hanya memiliki tombol yang jika ditekan akan mengeluarkan suara “klik” dan lampu kecil berkedip. Mereka bergantian berpose, tertawa, dan bersalaman dengan kikuk.
Sore itu, untuk pertama kalinya, Titik belajar bahwa pertemuan tidak selalu abadi. Seseorang bisa pergi kapan saja. Dan ia tidak suka perasaan itu.
Dua minggu setelah Sari pindah, suasana kampung terasa lebih sepi. Tempat main yang biasa ramai berubah menjadi sunyi. Andi jarang keluar karena sedang les tambahan. Anak kembar itu pindah ke rumah nenek mereka di desa lain. Tinggal Agus dan Titik yang paling sering bertahan di lapangan rumput ilalang itu.
Suatu hari, Titik mengajak Agus ke pohon mangga besar milik Pak Lurah.
Pohon itu sangat tua. Konon kata orang-orang, umurnya sudah lebih dari setengah abad. Batangnya sangat besar hingga tiga anak laki-laki dewasa tidak cukup untuk merentangkan tangan mengelilinginya. Akarnya muncul ke permukaan tanah, membentuk seperti kursi-kursi alami yang nyaman untuk diduduki. Daunnya rimbun, menaungi area seluas setengah lapangan badminton.
Agus dan Titik duduk di atas akar pohon yang paling besar, saling berhadapan dengan sebuah buku tulis bergaris di antara mereka.
“Ini surat janji,” kata Titik dengan nada serius. Matanya bulat, alisnya menyatu sedikit di tengah karena konsentrasi. “Kita akan menulis janji persahabatan. Siapa pun yang melanggar, dia dihukum berdiri di bawah pohon ini saat hujan.”
“Hukuman berat amat, Mbak,” protes Agus.
“Ya, biar jera.”
Titik mengambil pulpen bolpoin murah warna biru yang tintanya sering putus-putus. Ia mulai menulis dengan tulisan besar dan agak miring ke kanan, khas anak-anak yang baru belajar menulis rapi:
“SURAT JANJI PERSAHABATAN”
“Kami yang bertanda tangan di bawah ini:”
“Nama: Titik Mukti Aryanti, umur 10 tahun”
“Nama: Agus Sabara, umur 8 tahun”
“Dengan ini bersumpah akan menjadi sahabat selamanya. Tidak akan saling meninggalkan. Tidak akan saling mengkhianati. Jika ada yang sakit, yang satunya wajib menjenguk. Jika ada yang sedih, yang satunya wajib menghibur. Janji ini berlaku selamanya, tidak peduli jarak dan waktu.”
“Yang melanggar: KENA SIAL 7 TAHUN.”
Agus membaca ulang. “Tujuh tahun, Mbak? Kok lama banget?”
“Ya, biar takut.”
“Kalau kita meninggal duluan gimana?”
Titik memukul lengan Agus pelan. “Jangan bicara gitu, Le. Kita masih panjang umur.”
Agus menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Terus, ini ditandatangani pakai apa?”
“Pakai sidik jari. Tapi kita nggak punya bantalan stempel. Pakai ini aja.” Titik mengambil sebuah lidi yang jatuh dari pohon, lalu membakar ujungnya dengan korek yang ia bawa dari rumah. Ujung lidi menjadi hitam seperti arang.
“Ini untuk apa?” tanya Agus.
“Ini tintanya.” Titik mengoleskan ujung lidi yang hangus itu ke ibu jari Agus. “Sekarang tempelkan di kertas.”
Agus menurut. Jejak hitam dari ibu jarinya membekas di sudut kanan bawah kertas. Kemudian Titik melakukan hal yang sama pada ibu jarinya sendiri, lalu menempelkannya di samping sidik jari Agus.
“Selesai,” kata Titik dengan bangga. “Sekarang kita resmi jadi sahabat sejati.”
Mereka berjabat tangan dengan kikuk, seperti orang dewasa yang baru selesai menandatangani kontrak penting. Lalu mereka tertawa, karena dari lima jari yang dijabatkan, dua di antaranya masih hitam terkena arang lidi.
Titik melipat kertas itu kecil-kecil, lalu menyelipkannya di saku celananya. “Aku yang simpan, ya. Kamu gampang ilang barang.”
“Ih, Mbak, nggak gitu. Aku juga bisa jaga.”
“Kamu pernah keilangan sepatu padahal cuma dipakai ke belakang rumah.”
“Itu... bukan salah aku. Sepatunya yang kabur.”
Mereka tertawa lagi. Matahari mulai condong ke barat, memanjangkan bayangan pohon mangga hingga menyentuh pagar rumah Pak RT. Suara azan magrib mulai terdengar dari pengeras suara masjid yang sedikit sember.
Agar tidak pulang dengan tangan kotor, mereka berlari ke selokan kecil di ujung gang untuk mencuci ibu jari yang masih kehitaman. Air selokan itu keruh, tetapi bagi mereka, itu cukup.
“Gus,” kata Titik sambil membasuh jarinya.
“Ya, Mbak.”
“Kamu... akan selalu jadi sahabatku, kan?”
“Iya, Mbak. Janji.”
“Sampai kapan pun?”
“Sampai kapan pun.”
Titik tersenyum. Senyum yang begitu lebar hingga terlihat lubang ompong di gigi depannya. Senyum yang tidak tahu bahwa di masa depan, ia akan melanggar janji ini tanpa sengaja, berulang-ulang, karena cinta-cinta palsu yang datang silih berganti, dan Agus akan tetap di sana setia, diam, dan perlahan terluka.
Tapi itu cerita nanti. Sore itu, di selokan pinggir gang dengan tangan yang belepotan arang, mereka hanyalah dua anak-anak yang percaya bahwa persahabatan adalah hal paling mudah di dunia.
Lima tahun berlalu tanpa terasa.
Agus yang kini berusia tiga belas tahun, duduk di bangku kelas dua SMP. Tubuhnya yang dulu kurus mulai berisi, suaranya yang dulu masih terdengar seperti anak kecil mulai berubah menjadi lebih berat di beberapa nada. Rambut ikalnya tetap sama, tidak pernah mau rapi dan ia sudah berhenti berusaha untuk membuatnya rapi.
Titik Mukti Aryanti kini berusia lima belas tahun, duduk di bangku kelas satu SMA. Ia sudah tidak memakai kaus kekecilan dan celana jeans bolong. Kini ia lebih suka memakai kemeja putih dan rok abu-abu seperti seragam SMA-nya, dengan sepatu pantofel hitam yang selalu ia semir setiap Minggu pagi. Rambutnya tidak lagi diikat dua ekor kuda, melainkan dibiarkan tergerai sebahu dengan jepit kecil di samping kiri.
Mereka masih sering bertemu, tetapi tidak setiap hari seperti dulu. Agus mulai sibuk dengan les matematika dan ekstrakurikuler basket. Titik sibuk dengan organisasi OSIS dan tugas-tugas SMA yang menurutnya "jauh lebih berat daripada zaman SMP".
Pohon mangga Pak Lurah sudah ditebang tiga tahun lalu. Kata orang, pohon itu mengganggu aliran listrik. Di tempatnya sekarang berdiri sebuah tiang listrik beton yang tinggi, dengan kabel-kabel menjuntai seperti rambut kusut raksasa.
Lapangan rumput ilalang tempat mereka bermain gelembung kini sudah dipaving dan dijadikan lapangan voli desa. Tidak ada lagi rumput liar. Tidak ada lagi gelembung sabun yang terbang di sore hari.
Tapi surat janji persahabatan yang ditulis dengan arang lidi itu masih ada. Disimpan oleh Titik di dalam stoples biskuit bekas, di bawah tumpukan buku catatan lama.
Titik tidak pernah membuka stoples itu. Tapi ia tahu, isinya masih ada.
Suatu malam Jumat, Agus di rumah sendirian. Orang tuanya sedang pergi ke pengajian di kampung sebelah. Neneknya sudah tiada dua tahun lalu, pergi dengan tenang sambil menggenggam tangan Agus dan berbisik: “Nak, jaga orang yang kamu sayang. Jangan sampai dia pergi tanpa kamu sempat bilang apa yang sebenarnya kamu rasa.”
Agus waktu itu belum paham maksudnya. Ia mengira neneknya hanya sedang mengigau karena demam.
Sekarang, duduk di teras rumah yang sama dengan buku gambar yang sama (meski halamannya sudah hampir habis), Agus mulai merasakan beratnya kata-kata neneknya. Bukan karena ia sakit atau apa. Tapi karena belakangan ini, Titik sering bercerita tentang seseorang.
“Gus, lo tahu nggak Rendra?” kata Titik suatu sore di depan rumah Agus, seminggu yang lalu. Mata Titik berbinar-binar seperti bola lampu.
“Rendra yang mana?” tanya Agus sambil memperbaiki ban sepedanya yang bocor.
“Rendra ketua OSIS SMA-ku. Ganteng, Gus. Gila, gua nggak pernah lihat cowok seganteng itu. Kulitnya putih, rambutnya ikal kayak kamu tapi lebih rapi, dan dia jago main gitar. Kemarin waktu acara pensi, dia mainin lagu Dewa, gue lebur.”
Agus mendongak. Ada sesuatu di perutnya yang terasa tidak enak. Seperti setelah makan terlalu cepat, atau minum es sambil makan gorengan panas tidak sakit, tapi tidak nyaman.
“Lo suka sama dia, Mbak?” tanya Agus. Suaranya terdengar datar. Bahkan ia sendiri tidak menyadari bahwa ia sedang menahan sesuatu.
Titik tersenyum malu-malu. “Jangan bilang siapa-siapa, ya.”
“Ya.”
“Gue suka banget, Gus. Rasanya tuh... gue deg-degan setiap kali papasan sama dia di koridor. Apalagi kalau dia senyum. Astaga, gue lemes, sumpah.”
Perut Agus semakin terasa aneh. Ia mencoba fokus pada ban sepeda yang bocor. Ia menusukkan karet tambal, menggosoknya, lalu menekannya kuat-kuat. Tangannya gemetar sedikit, tetapi ia tidak tahu kenapa.
“Kamu nggak kenapa-napa, Gus?” tanya Titik, menyadari keganjilan.
“Enggak. Tangan gue kotor.”
“Kotor sama gemeteran itu beda, Le.”
“Ya, kebanyakan pegang lem ban.”
Titik tidak mempertanyakan lebih lanjut. Ia terlalu sibuk membayangkan wajah Rendra, gitar Rendra, senyum Rendra. Dunianya saat itu hanya berisi satu nama: Rendra, Rendra, Rendra.
Agus menyelesaikan tambal bannya, memompa angin dengan pompa tangan tua yang sudah berkarat. Keringat mengucur di dahinya, bukan karena panas, tetapi karena sesuatu yang tidak bisa ia beri nama, sesuatu yang baru pertama kali ia rasakan dalam hidupnya.
Malam itu, setelah Titik pulang, Agus masuk ke kamarnya dan membuka buku gambar lamanya. Ia melihat gambar pohon mangga dan dua orang kecil bergandengan tangan. Untuk pertama kalinya, ia bertanya pada dirinya sendiri:
“Kenapa perasaan ini berbeda? Kenapa aku tidak suka mendengar Mbak Titik suka sama cowok lain? Cowok itu kan kakak kelasnya. Aku cuma adik kelas. Aku dua tahun lebih muda. Tidak mungkin... tidak mungkin aku... kan?”
Agus menutup buku gambar itu dengan cepat, seolah halaman-halamannya bisa melihat rasa malunya. Ia membaringkan tubuh di atas kasur, memeluk bantal guling, dan berusaha tidur. Tapi di matanya, setiap kali terpejam, yang muncul adalah wajah Titik saat ia bilang “gue lebur” dengan mata berbinar, pipi merona, dan senyum yang tidak pernah ia berikan pada Agus.
“Itu karena aku sahabatnya,” pikir Agus. “Aku bukan pacar. Jadi ya wajar saja dia tidak tersenyum seperti itu padaku.”
Logika itu terdengar masuk akal. Tapi hatinya tidak setuju. Hatinya berteriak sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak berani mendengarkan.
Dua bulan kemudian, Titik datang ke rumah Agus dengan mata sembab.
Hujan turun cukup deras. Titik tidak memakai payung. Rambutnya basah, bajunya basah, bahkan sepatu pantofel hitam kesayangannya itu juga basah.
“Mbak, kenapa?!” seru Agus kaget. Ia menarik tangan Titik masuk ke teras rumah.
Titik tidak menjawab. Ia hanya duduk di kursi kayu, menunduk, bahunya bergetar.
Agus mengambil handuk bersih dari kamar mandi, menyelimutkan ke bahu Titik. Ia berlari ke dapur untuk membuat teh jahe panas, resep yang ia pelajari dari neneknya dulu untuk orang yang sedang kedinginan atau sedang patah hati (neneknya pintar membaca situasi).
Setelah teh jahe itu disodorkan, Titik meminumnya seteguk dua teguk, lalu meletakkan gelasnya di atas meja dengan tangan gemetar.
“Gus...,” suaranya parau.
“Iya, Mbak.”
“Rendra... ternyata sudah punya pacar.”
Agus membeku. Matanya tidak berkedip selama beberapa detik. Ia rasakan campuran antara lega dan simpati, dua perasaan yang saling bertabrakan. Lega karena Rendra bukan milik Titik. Simpati karena Titik terluka. Tapi ia tidak boleh menunjukkan rasa lega itu. Ia harus menunjukkan simpati sepenuhnya, karena itulah yang dilakukan sahabat sejati.
“Gimana ceritanya, Mbak?” tanya Agus hati-hati.
“Tadi gue liat dia lagi di kantin, pegangan tangan sama cewek dari kelas sebelah. Gue kira cuma teman. Tapi pas gue tanyain ke temennya, ternyata mereka udah jadian dari sebelum gue masuk SMA. Sialan, Gus, gue ngerasa tolol banget. Selama ini gue berharap, gue suka sama dia, gue mimpiin dia, ternyata dia udah punya orang.”
Air mata Titik mulai jatuh. Awalnya setetes dua tetes, lalu semakin deras, mengalir di pipinya yang dingin terkena air hujan.
Agus tidak tahu harus berkata apa. Kecerdasannya dalam matematika tidak membantunya untuk merangkai kata-kata yang tepat. Keterampilannya bermain basket tidak mengajarkannya cara menyeka air mata orang lain tanpa membuat situasi menjadi canggung.
Maka ia melakukan satu-satunya hal yang ia tahu: ia duduk di samping Titik, mengambil handuk yang tadi sudah diselimutkan, lalu menyeka rambut Titik yang masih basah. Perlahan. Hati-hati. Seperti ia dulu menyeka bulu kucing peliharaannya yang kehujanan.
“Gus, kenapa sih cowok suka nyakitin?” tanya Titik sambil terisak.
“Nggak semua cowok kayak gitu, Mbak.”
“Ya enak aja lo bilang. Hampir semua cowok brengsek.”
Agus terkekeh kecil. “Mbak, umur lo baru 15 tahun. Masih panjang waktunya buat nemu yang bener.”
“Kamu ngebela cowok-cowok brengsek itu ya?”
“Nggak, Mbak. Gue ngebela lo. Gue cuma bilang, jangan tutup hati cuma karena satu orang.”
Titik mengangkat wajah. Matanya merah. Hidungnya juga merah. Ia menatap Agus dengan tatapan yang sulit diartikan: campuran antara terima kasih dan kelelahan.
“Kamu beda, Gus. Kamu nggak kayak cowok-cowok lain.”
“Kenapa emangnya?”
“Kamu nggak pernah menyakiti gue.”
Agus tersenyum. Tapi di dalam dadanya, ada suara yang berkata: “Tapi aku juga tidak pernah cukup berani untuk membuatmu bahagia.”
Ia tidak mengucapkannya. Ia hanya berkata, “Ya iyalah, Mbak. Gue kan sahabat lo.”
Titik mengangguk. Ia menyeka matanya dengan lengan bajunya, lalu meminum teh jahe sampai habis. “Gue boleh numpang tidur di sini? Gue males pulang. Ntar dibilangin ibu gue mulu.”
“Boleh. Kasur gue lo pake. Gue tidur di ruang tamu.”
“Makasih, Gus.”
“Janji, Mbak.”
Malam itu, Agus tidak bisa tidur.
Ia terbaring di kursi panjang ruang tamu yang tidak terlalu nyaman, mendengarkan suara hujan yang mulai reda. Dari balik pintu kamarnya yang tidak tertutup rapat, ia dapat mendengar napas Titik yang mulai teratur, tanda bahwa ia sudah tertidur.
Agus membuka matanya. Ia menatap langit-langit rumah yang retak di beberapa bagian, menelusuri setiap retakan dengan matanya seolah sedang membaca peta kehidupan.
“Kenapa perasaan ini tidak pernah hilang?” pikirnya. “Dia sedih karena cowok lain, aku sedih karena dia sedih. Tapi jujur, ada bagian kecil dari diriku yang lega. Aku jahat, ya?”
Ia memejamkan mata.
“Tidak. Aku hanya manusia.”
Ia tidak tahu bahwa rasa lega itu akan tumbuh menjadi bias, menjadi zona nyaman yang kelak akan membuatnya bertahan bertahun-tahun hanya sebagai background dalam kehidupan Titik. Ia tidak tahu bahwa kesetiaan, jika tidak diimbangi dengan keberanian, akan berubah menjadi penjara yang indah.
Tapi semua itu masih terlalu jauh untuk dipikirkan oleh Agus yang baru berusia tiga belas tahun. Malam itu, ia hanya ingin Titik tidur nyenyak, bangun dengan mata tidak sembab, dan kembali tersenyum, meskipun senyum itu bukan untuknya.
Esok paginya, Titik bangun lebih dulu. Ia sudah memasak mi instan di dapur Agus, lengkap dengan telur mata sapi dan irisan sosis, sesuatu yang tidak pernah diajarkan ibunya tetapi ia pelajari dari menonton acara masak di televisi.
“Heh, bangun, Le, udah siang!” teriak Titik sambil menggedor-gedor pintu kamar yang ia kira ditempati Agus.
Tidak ada jawaban.
Titik membuka pintu kamar, dan Agus tidak ada di sana. Ia balik ke ruang tamu, dan menemukan Agus sudah duduk di kursi dengan wajah pucat. Di pangkuannya, selimut tipis menutupi tubuhnya.
“Lo kenapa, Gus?” tanya Titik panik.
“Masuk angin, kali. Tidur di kursi gak pake selimut tebel.”
“Ya ampun, lo kan udah gue kasih kasur. Kenapa lo nggak tidur di kamar?”
“Kasurnya buat lo, Mbak. Kan udah gue bilang.”
Titik menghela napas kesal sekaligus iba. Ia membawa semangkuk mi instan dan menyodorkannya ke hadapan Agus. “Makan. Terus lo minum obat.”
Agus tersenyum tipis. “Makasih, Mbak.”
“Ini balasan lo jagain gue kemaren.”
Mereka makan mi instan bersama di meja ruang tamu, dengan dua sendok dan satu mangkok yang mereka bagi berdua, karena Titik hanya memasak satu porsi, dan Agus dengan murah hati menawarkan untuk berbagi.
Di luar, matahari mulai menampakkan wajahnya, menyinari sisa-sisa genangan air hujan. Seorang penjual sayur lewat dengan sepeda tuanya, berteriak dengan suara khas: “Sayuuur... sayuuur....”
Dan di meja ruang tamu rumah Agus yang sederhana itu, dua orang sahabat menghabiskan mi instan yang sudah sedikit lembek, tanpa tahu bahwa episode-episode serupa akan terulang berkali-kali dalam lima belas tahun ke depan: Titik patah hati, Agus menemani, lalu Agus yang sakit, lalu Titik yang repot.
Siklus yang tidak pernah mereka sadari adalah tarian lambat menuju satu sama lain atau menuju kehancuran salah satu dari mereka.
Setelah kejadian Rendra, Titik sempat “puasa” dari urusan hati selama beberapa bulan. Ia fokus belajar, ikut lomba karya ilmiah, dan bahkan sempat naik peringkat di kelasnya. Agus lega. Ia berharap Titik akan bertahan dalam fase tanpa drama percintaan ini setidaknya sampai lulus SMA.
Tapi harapannya pupus ketika suatu hari di awal tahun ajaran baru, Titik datang dengan senyum yang berbeda senyum yang sudah sangat dikenal Agus: senyum jatuh cinta.
“Gus, gue kenalan sama cowok, nih. Namanya Robi. Dia anak IPS, ganteng, pinter, dan yang paling penting...,” Titik berhenti sejenak untuk efek dramatis, “DIA JOMBLO.”
Agus yang sedang membaca komik di beranda rumah, menghela napas panjang. “Mbak, yang terakhir gitu juga bilangnya jomblo.”
“Yang terakhir kan boong, Gus. Ini beda. Gue udah investigasi. Gue tanya ke lima temannya, gue stalk media sosialnya, gue bahkan samperin rumahnya diam-diam. Asli jomblo.”
“Mbak, lo kayak detektif cinta.”
“Biarin, yang penting akurat.”
Agus menutup komiknya. Ia menatap wajah Titik yang berseri-seri, wajah yang sama ketika dulu ia bercerita soal Rendra. Dan perut yang dulu terasa aneh mulai merayap lagi. Kali ini lebih kuat. Lebih tajam.
“Lo mau deketin dia, Mbak?”
“Enggak tahu. Kita udah sering papasan di kantin. Dia sering lirik gue, loh. Gue pikir, mungkin dia juga suka.”
“Atau mungkin dia cuma liatin bekas kuah bakso di baju lo.”
“Gus, lo jahat!”
Mereka tertawa. Tapi tawa Agus tidak pernah sampai ke matanya. Matanya tetap datar, seperti permukaan danau yang tenang di atas pusaran air yang kuat.
Titik tidak pernah melihat itu. Ia tidak pernah diajari untuk membaca mata orang yang sedang menyembunyikan sesuatu.
Robi masuk ke kehidupan Titik seperti angin putting beliung: cepat, berisik, dan meninggalkan kerusakan.
Tiga minggu pertama, semuanya indah. Mereka berdua saling mengirim pesan dari HP monokrom yang hanya bisa menampilkan dua baris teks. Mereka bertemu di perpustakaan sekolah dengan alasan “belajar bersama”, padahal lebih banyak berbisik daripada membaca buku. Titik pulang dengan pipi merona, bibirnya sedikit bengkak karena sering tersenyum.
Agus menyaksikan semua itu dari kejauhan. Ia tidak bisa protes. Ia tidak punya hak. Ia hanya sahabat. Sahabat tidak boleh iri. Sahabat harus bahagia melihat sahabatnya bahagia.
“Benar, kan?” tanyanya pada langit malam yang tidak pernah menjawab.
Dua bulan kemudian, Robi mulai menunjukkan wajah aslinya. Ia sering membatalkan janji di menit terakhir. Ia pernah tidak muncul saat janji temu di toko buku, dan Titik menunggu dua jam di tengah hujan. Alasannya: lupa.
“Lupa gitu aja, Mbak?” tanya Agus ketika Titik bercerita dengan mata cekung.
“Dia bilang dia banyak tugas.”
“Tugas apa yang bikin dia lupa sama janji yang udah dia buat?”
“Gus, jangan nyerang. Lo kan nggak kenal Robi.”
“Gue kenal lo, Mbak. Dan gue nggak suka liat lo diperlakukan kayak gitu.”
Titik terdiam. Itu pertama kalinya Agus berbicara sekritis itu tentang salah satu mantan (atau calon mantan) Titik. Ada nada tegas dalam suaranya yang biasanya tidak ada. Nada yang membuat Titik sedikit bergidik, bukan karena takut, tetapi karena ia tidak terbiasa mendengar Agus seperti itu.
“Dia cuma butuh waktu, Gus. Gue percaya dia.”
“Percaya itu boleh, Mbak. Tapi jangan buta.”
Kalimat itu terngiang di kepala Titik selama seminggu. Seminggu yang penuh dengan air mata, karena Robi akhirnya ketahuan masih dekat dengan mantan pacarnya. Saat dikonfrontasi, Robi bilang, “Kamu bukan siapa-siapa, Titik. Kita belum pacaran. Jadi jangan ngatur-ngatur hidupku.”
Patah hati yang kedua. Lebih dalam dari yang pertama.
Kali ini, Titik tidak datang ke rumah Agus dengan air mata. Ia datang dengan amarah. Ia memukul bantal di ruang tamu Agus berulang-ulang, sambil berteriak, “COWOK BREngsek! COWOK BREngsek!” hingga suaranya serak dan tangannya lelah.
Agus membiarkannya. Ia mengambil air minum, lalu meletakkannya di samping Titik. Setelah Titik tenang, Agus berkata:
“Mbak, gue nggak akan bilang ‘gue udah bilang’. Karena itu nggak membantu. Yang gue bilang: sekarang lo tahu ciri-ciri cowok yang suka pura-pura. Jadi ke depannya, lo lebih pinter.”
Titik menatap Agus dengan mata merah. “Gus, kenapa lo nggak marah ke gue? Gue kan tolol. Gue nggak dengerin lo.”
“Karena memarahimu tidak akan mengembalikan waktu, Mbak. Tapi mendukungmu akan membuatmu kuat.”
Titik menangis lagi. Kali ini bukan karena Robi, tetapi karena ia menyadari bahwa satu-satunya cowok yang tidak pernah menyakitinya adalah Agus, tetapi ia tidak pernah menganggap Agus sebagai lebih dari seorang sahabat.
Mungkin, pikir Titik, karena Agus terlalu dekat. Terlalu aman. Terlalu tidak berbahaya. Dan Titik, pada usianya yang masih lima belas tahun, masih mencari gemerlap. Bukan ketenangan.
Malam itu, setelah Titik pulang, Agus masuk ke kamarnya dan mengeluarkan buku gambar lamanya. Halaman demi halaman ia buka, sampai tiba di halaman terakhir yang masih kosong.
Ia mengambil pensil yang sudah pendek itu, lalu menggambar sesuatu yang baru: sebuah perempuan dengan rambut tergerai sebahu, mengenakan seragam SMA, berdiri di bawah pohon yang tidak jelas. Di sampingnya, seorang laki-laki yang lebih pendek sedikit, memegang handuk yang diselimutkan ke bahu perempuan itu.
Ia memberi judul di bawah gambar itu, dengan tulisan rapi yang tidak biasa ia lakukan:
“Sahabat sejati tidak pernah pergi. Tapi kadang, dia ingin menjadi lebih."
Kemudian ia menutup buku itu, menyimpannya di bawah tumpukan pakaian dalam lemarinya, dan memutuskan untuk tidur.
Besok ia akan tetap tersenyum untuk Titik.
Besok ia akan tetap menjadi sahabat.
Karena ia tidak punya pilihan lain.
Atau, ia punya pilihan, tetapi ia terlalu takut untuk mengambilnya.
BAB II
KERTAS KUSUT, SURAT KALENG, DAN RAHASIA YANG TIDAK DIBISIKKAN
Tiga bulan setelah Robi menghilang dari kehidupan Titik seperti debu yang tertiup angin, suasana kampung memasuki musim kemarau yang paling panjang dalam sedekade terakhir. Tanah-tanah di kebun belakang rumah mulai retak, rumput ilalang di bekas lapangan voli menguning dan mati, dan pohon-pohon pisang di samping kali merunduk lesu, seperti orang yang terlalu lama berpuasa.
Agus duduk di bangku kayu panjang di beranda rumahnya, seorang diri. Sebuah buku pelajaran IPA terbuka di pangkuannya, tetapi matanya tidak membaca. Pandangannya menerawang jauh, melewati pagar rumah, melewati gang sempit yang biasa dilalui Titik setiap kali ia pulang sekolah, hingga ke ujung jalan yang berbelok ke kiri, arah rumah Titik.
Hari itu adalah hari ulang tahun Agus yang keempat belas. Tidak ada yang istimewa. Ibunya hanya membuat telur ceplok dengan nasi goreng untuk sarapan, lengkap dengan kerupuk udang yang agak melempem karena sudah semalam dibiarkan terbuka. Ayahnya yang bekerja sebagai kuli bangunan sudah berangkat sejak subuh. Tidak ada kado. Tidak ada pesta. Di kampung mereka, ulang tahun anak bukanlah peristiwa besar. Yang terpenting adalah anak itu masih hidup, masih sehat, dan masih rajin membantu orang tua.
Tapi Agus berharap setidaknya ada satu orang yang ingat.
Dia memandangi ponsel butut di sampingnya, buah tangan dari kakak sepupunya yang sudah bekerja di Jakarta. Ponsel itu hanya bisa untuk SMS dan telepon, tidak ada kamera, tidak ada lagu polifonik yang kekinian. Tapi cukup untuk menerima pesan. Cukup untuk menerima ucapan.
Tidak ada pesan masuk.
Tidak ada satu pun.
Agus menghela napas panjang, lalu menutup buku pelajarannya. Ia hendak masuk ke rumah ketika dari kejauhan terdengar suara sepeda tua yang remnya berdecit. Suara itu semakin lama semakin dekat, disertai dengan suara perempuan yang sedikit terengah-engah, “Gus... Gus, lo di rumah?!”
Jantung Agus berdegup lebih cepat. Ia berusaha memasang wajah biasa-biasa saja, tidak terlalu antusias, tidak terlalu cuek. Seimbang, seperti yang ia lakukan setiap kali Titik muncul.
“Ya, Mbak,” jawabnya dari beranda.
Titik mengayuh sepedanya dengan susah payah. Kaus oblong putih yang ia pakai basah oleh keringat di bagian ketiak dan punggung. Rambutnya yang sebahu dikuncir kuda tidak rapi, beberapa helai lepas dan menempel di pipi. Ia membawa sebuah plastik hitam yang di dalamnya terlihat benda persegi panjang, seperti kotak.
“Gue nyari lo ke rumah, ke lapangan, ke warnet, ke rumah si Andi, ke mana-mana, lo ternyata di rumah doang!” Titik menghentikan sepedanya di depan pagar, lalu turun dengan napas tersengal-sengal.
“Ya, emangnya gue kemana, Mbak?” tanya Agus jengah. “Gue tiap hari di rumah.”
“Tapi tadi gue lewat sini, lo nggak ada.”
“Tadi gue di belakang. Bantuin ibu jemur beras.”
Titik membuka pagar tanpa permisi, seperti biasa, lalu melangkah masuk ke halaman rumah Agus. Ia meletakkan plastik hitam di meja kayu beranda, lalu duduk di bangku di seberang Agus.
“Tutup mata,” perintah Titik.
“Kenapa?”
“Tutup aja, gue bilang.”
“Mbak, jangan-jangan lo mau nipu,” kata Agus curiga.
“Gue nggak akan nipu anak kelahiran 14 Agustus jam 10 malem.”
Agus terkejut. “Lo inget?”
“Ya iyalah, OON. Lo itu sahabat gue. Masa gue lupa ultah lo?”
Sesuatu yang hangat mengalir di dada Agus. Hangat seperti teh jahe buatan neneknya dulu, tetapi lebih meresap, lebih dalam. Ia tidak tahu harus berkata apa, jadi ia hanya menurut. Ia menutup matanya dengan kedua telapak tangan.
Dia mendengar suara plastik dibuka, sesuatu diletakkan di atas meja kayu, lalu jari-jari Titik yang sedikit kasar, karena sering mencuci pakaian tanpa sarung tangan, meraba tangannya dan memandu untuk menyentuh benda itu.
“Buka,” kata Titik.
Agus membuka matanya.
Di depannya, sebuah buku gambar baru. Bukan buku gambar biasa, ini buku gambar dengan sampul tebal berwarna biru laut, kertasnya agak kaku dan licin, cocok untuk pensil warna atau cat air. Di sampulnya, Titik telah menulis dengan spidol hitam:
“Untuk Agus Sabara, sahabat sejati yang tidak pernah pergi. Dari Titik Mukti Aryanti.”
Agus memegang buku itu dengan hati-hati, seolah benda itu terbuat dari kaca dan bisa pecah jika ia terlalu kuat menggenggam.
“Mbak... ini mahal,” katanya lirih.
“Nggak kok. Beli di toko buku dekat sekolah. Harganya cuma... ah, nggak usah dipikirin. Yang penting lo suka.”
“Tapi Mbak, lo kan lagi nabung buat beli sepatu baru. Sepatu lo udah bolong.”
“Ya, gue belanja prioritas, Le. Sepatu bolong masih bisa dipake. Tapi sahabat yang ultah tanpa kado? Itu kriminal.”
Agus tertawa. Tawa yang tulus, yang tidak perlu dipaksakan, yang keluar dari perut dan naik ke tenggorokan dan pecah di bibirnya. Itu adalah tawa paling jujur yang ia keluarkan dalam beberapa bulan terakhir.
“Makasih, Mbak,” katanya. Matanya sedikit basah, tetapi ia menahannya.
“Jangan nangis, Le, cemen,” Titik mencibir, tetapi matanya juga berbinar. “Gue juga punya satu untuk gue. Nanti kita gambar bersama, kayak dulu.”
“Janji?”
“Janji.”
Mereka berjabat tangan kecil, seperti yang mereka lakukan di bawah pohon mangga dulu. Dan untuk sesaat, Agus merasa bahwa menjadi sahabat tidak terlalu buruk. Bahkan, ia mulai berpikir bahwa menjadi sahabat mungkin adalah bentuk cinta yang paling murni, tanpa tuntutan, tanpa kepemilikan, tanpa janji-janji indah yang pada akhirnya hanya menjadi sampah setelah hati hancur.
Tapi pemikiran itu tidak bertahan lama.
Karena tepat keesokan harinya, Titik datang lagi, tetapi kali ini dengan cerita baru. Dan cerita baru itu lagi-lagi tentang lelaki lain.
“Gus, gue tadi ketemu cowok baru.”
Titik duduk di beranda yang sama, di bangku yang sama, tetapi hari itu ekspresinya berbeda. Mulutnya tidak bisa berhenti tersenyum. Matanya menyala seperti kembang api. Bahkan rambutnya yang ia biarkan tergerai tampak lebih berkilau atau setidaknya itu yang Agus lihat melalui lensa kecemburuan yang mulai terbentuk.
“Siapa lagi, Mbak?” tanya Agus. Tangannya sedang memotong kertas untuk membuat layang-layang, kegiatan yang sudah lama tidak ia lakukan, tetapi ia butuh alasan untuk tidak menatap mata Titik.
“Namanya Handoko. Dia usahawan, Le. Usahawan!”
“Usahawan umur berapa?”
“Dua puluh lima.”
“Mbak, kalian selisih sepuluh tahun.”
“Jadi?”
“Jadi... nggak apa-apa sih, cuma...”
“Cuma apa?”
Agus menahan diri. Ia hampir mengatakan, “Cuma, apa lo nggak mikir kalau dia udah terlalu tua buat lo? Mungkin dia udah punya istri? Mungkin dia cari cuma-cuma?” Tapi ia tidak mengatakan itu. Karena terakhir kali ia terlalu kritis soal Robi, Titik menganggapnya iri. Padahal ia tidak iri, setidaknya itulah yang ia yakini.
“Cuma, kenalin dulu baik-baik, Mbak. Jangan langsung terburu-buru.”
“Enggak, kok. Kita baru kenalan. Dia kenalan sama gue lewat temennya temen gue. Pokoknya yang jelas, dia orangnya baik, dewasa, mapan, dan dia naksir gue.”
“Dia bilang begitu?”
“Ya, nggak langsung, sih. Tapi temen gue bilang, dia suka lihatin gue. Pokoknya, gue punya feeling bagus sama dia.”
Feeling bagus. Agus ingin sekali berkata bahwa feeling Titik selama ini tidak pernah akurat, setidaknya dalam hal memilih lelaki. Tapi jika ia mengatakan itu, Titik akan marah dua hari, lalu kembali lagi dengan cerita baru setelah masalahnya selesai. Jadi ia memilih diam.
“Ya sudah, Mbak. Hati-hati.”
Titik tersenyum. Ia menepuk pundak Agus agak keras, seperti tepukan sayang seorang kakak pada adiknya. Plak. Terdengar nyaring, tetapi tidak sakit.
“Makasih, Gus. Lo emang sahabat terbaik.”
Agus tersenyum. Senyum yang tidak pernah dikembalikan oleh siapapun dengan arti yang sama.
Pacaran dengan Handoko berbeda dengan pengalaman Titik sebelumnya. Jika Rendra dan Robi adalah badai singkat yang cepat berlalu, Handoko seperti sungai yang mengalir tenang tetapi dalam. Ia membawa Titik ke restoran-restoran mewah yang belum pernah Titik kunjungi. Ia menjemput Titik dengan mobil, bukan mobil mewah, tetapi bagi Titik yang biasa naik angkot berdesakan, itu sudah keajaiban. Ia membelikan Titik hadiah-hadiah kecil: parfum, buku, perhiasan imitasi yang tetap membuat Titik merasa seperti putri.
Dan Titik, yang haus akan perhatian, dengan cepat tenggelam.
Agus menyaksikan semua itu dari pinggir lapangan. Ia mendengar cerita-cerita Titik setiap Sabtu sore, di beranda rumahnya. Ia mendengar tentang Handoko yang "baik banget", "dewasa banget", "ngertiin gue banget". Setiap kali, Agus hanya mengangguk.
Tapi di suatu malam, Agus melihat sesuatu yang membuat darahnya mendidih.
Saat itu ia kebetulan pulang dari warnet (tempat ia bermain game online dengan teman-temannya) sekitar pukul sembilan malam. Jalan kampung gelap karena lampu penerangan jalan mati sejak tiga minggu lalu. Ia mengayuh sepeda perlahan, berusaha menghindari lubang-lubang di aspal.
Di tikungan dekat rumah Titik, ia melihat sebuah mobil terparkir. Bukan mobil biasa, tetapi mobil dengan kaca gelap yang di bagian dalamnya samar-samar terlihat ada dua orang.
Satu orang adalah Titik.
Satu orang lagi, tangan pria itu berada di paha Titik. Agus tidak bisa melihat dengan jelas, tetapi posisi tangan itu jelas bukan sekadar tangan yang bertumpu di jok mobil.
Agus mengerem sepedanya. Jantungnya berdegup kencang. Ia ingin sekali turun, menghampiri mobil itu, mengetuk kaca, lalu menggedor kepala pria itu sampai jera. Tapi ia tidak bergerak. Ia hanya diam, menatap dari kejauhan, merasakan ada sesuatu yang pecah di dalam dadanya.
Setelah lima menit, mobil itu pergi. Titik keluar dari mobil, berjalan menuju pagar rumahnya, lalu menengok ke kiri dan ke kanan. Jika ia menengok sedikit ke arah Agus, ia akan melihat bayangan anak laki-laki di atas sepeda yang diam membeku. Tapi Titik tidak menengok. Ia masuk ke rumahnya, menutup pintu, dan mati lampu di terasnya menyala.
Agus mengayuh sepedanya pulang. Di kamar, ia tidak bisa tidur. Ia membuka buku gambar baru pemberian Titik, lalu menulis di halaman pertama, dengan tulisan yang tidak rapi karena tangannya gemetar:
“Kenapa aku tidak berani? Kenapa aku hanya bisa diam? Aku takut kehilangan dia sebagai sahabat, tapi bukankah aku sudah kehilangan dia sedikit demi sedikit?”
Ia menutup buku itu, lalu memeluknya hingga tertidur.
Dua bulan kemudian, Handoko menghilang.
Tidak ada pesan. Tidak ada telepon. Tidak ada kabar.
Titik menelepon nomor Handoko berkali-kali. Tidak pernah diangkat. Ia mendatangi kantor Handoko, tetapi resepsionis bilang Handoko sudah tidak bekerja di sana sejak sebulan lalu. Ia menghubungi teman yang memperkenalkan mereka, dan teman itu hanya bisa mengangkat bahu: “Maaf, Tik, aku juga nggak tahu. Dia orangnya memang seperti itu.”
Titik hancur. Lebih hancur dari sebelumnya.
Kali ini, ia tidak datang ke rumah Agus. Tidak. Ia mengurung diri di kamarnya selama empat hari. Tidak mau makan. Tidak mau mandi. Ibunya panik dan datang ke rumah Agus untuk meminta tolong.
“Le, coba kamu bicara sama Titik. Dia nggak mau buka pintu. Cuma kamu yang bisa,” kata ibu Titik dengan mata basah, tangannya menggenggam erat pergelangan tangan Agus.
Agus bergegas ke rumah Titik. Ia mengetuk pintu kamar Titik.
“Mbak, buka.”
Tidak ada jawaban.
“Mbak Titik, gue. Agus.”
Diam.
“Mbak, gue bawain makanan. Ibu lo khawatir. Buka, ya.”
Dari balik pintu, terdengar suara isak tangis yang ditahan. Agus meletakkan kepalanya di pintu. Ia bisa mendengar napas Titik yang tersengal-sengal, seperti orang yang baru saja berlari maraton, tetapi tidak pernah sampai garis finish.
“Mbak, gue nggak akan pergi dari sini sampe lo buka pintu. Dan gue janji, gue nggak akan nanya apa-apa soal Handoko. Kecuali lo mau cerita. Sekarang buka.”
Tiga menit kemudian, terdengar bunyi klik dari dalam kamar. Pintu terbuka perlahan.
Titik berdiri di balik pintu dengan kondisi yang menyayat hati: rambutnya kusut tak terurus, wajahnya pucat pasi, matanya sembab dan cekung, bibirnya pecah-pecah karena dehidrasi, dan bajunya, kaus yang sama ia pakai empat hari lalu, berbau apek.
Agus tidak mengatakan apa-apa. Ia langsung memeluk Titik.
Bukan pelukan canggung dengan tepukan di punggung. Bukan pelukan singkat yang berakhir setelah tiga detik. Ini pelukan yang lama, pelukan yang ingin mengatakan, “Aku di sini. Aku tidak akan ke mana-mana. Kamu tidak sendiri.”
Titik menangis di bahu Agus. Tangis yang tertahan sejak empat hari lalu akhirnya meledak. Ia menjerit kecil, mengguncang tubuh Agus dengan isak tangis yang tidak terkendali, sementara Agus tetap memeluknya, tangannya mengusap-usap punggung Titik yang terasa lebih kurus dari biasanya.
“He was nothing, Gus. He was nothing but a liar,” bisik Titik di sela-sela tangisnya.
“I know, Mbak.”
“Why... why does it always happen to me?”
“Karena Mbak terlalu baik dan orang-orang sering memanfaatkan kebaikan,” jawab Agus dengan suara serak, matanya juga basah, tetapi ia tidak akan menangis. Ia harus kuat untuk Titik. Selalu begitu.
Malam itu, Agus membersihkan kamar Titik yang berantakan. Ia mengambil piring-piring kotor di meja belajar, menyapu remah-remah biskuit di lantai, membuka jendela yang sudah empat hari tidak dibuka, dan mengganti sprei yang terkena noda air mata dan keringat.
Ia memasak mi instan di dapur rumah Titik, lalu menyuapi Titik seperti menyuapi anak kecil. Titik makan dengan mata sayu, kadang berhenti di tengah jalan karena tangisnya tersedak, lalu melanjutkan lagi.
“Gus, lo nggak bosan? Lo nggak capek?” tanya Titik setelah setengah mangkuk mi habis.
“Capek, Mbak. Bukan karena ngerjain ini. Tapi karena lihat Mbak selalu disakitin.”
“Kenapa lo nggak bilang dari awal kalau Handoko itu red flag?”
“Karena Mbak nggak akan denger.”
“Coba aja bilang.”
“Oke, lain kali gue bilang. Siap-siap aja.”
Titik tersenyum tipis. Senyum pertama dalam empat hari. Senyum yang membuat Agus merasa bahwa ia melakukan sesuatu yang benar.
Setelah Handoko, Titik mengalami masa resesi cinta yang cukup lama. Tidak ada lelaki baru selama hampir satu tahun. Ia fokus pada ujian nasional, mengikuti bimbingan belajar, dan kadang-kadang mengajak Agus belajar bersama, meskipun Agus dua tahun di bawahnya, ia cukup pinter untuk membantu Titik yang lemah dalam matematika.
“Gini, Mbak, kan soal ini pake rumus phytagoras. Sisi miring kuadratnya sama dengan jumlah kuadrat sisi tegaknya,” jelas Agus sambil mencorat-coret kertas.
“Aduh, Gus, gue pusing.”
“Ya, kalau Mbak sering bolos les matematika, ya pusing.”
“Lo sok tau, ya.”
“Gue tau, Mbak. Lo malah bola-bali ke mal pas jam les. Andi cerita.”
Titik memukul lengan Agus pelan. “Kamu nih, mata-matanya siapa sih?”
“Mata-mata jujur, Mbak. Tugas sahabat.”
Mereka tertawa. Di ruang tamu rumah Agus yang berantakan oleh buku dan kertas, dua manusia muda itu belajar bersama sampai malam. Ibu Agus menyuguhkan kopi dan pisang goreng. Ayah Agus yang pulang kerja ikut nimbrung, bercerita tentang proyek bangunan yang sedang ia kerjakan, dan Titik mendengarkan dengan penuh perhatian, sesuatu yang tidak sering ia lakukan di rumahnya sendiri.
“Mas Agus ini anak baik, Mbak Titik,” kata ayah Agus sambil mengunyah pisang goreng. “Jangan sampai Mbak Titik tinggalin ya.”
“Nggak, Pak. Saya nggak akan tinggalin Agus,” jawab Titik. “Dia sahabat saya.”
Agus tersenyum, tetapi senyumnya samar. Ia mendengar kata “sahabat” seperti mendengar lonceng yang sama berulang kali. Lama-lama, nada lonceng itu berubah dari merdu menjadi menusuk.
Kelas tiga SMA adalah tahun yang melelahkan bagi Titik. Tuntutan untuk lulus dengan nilai baik, tekanan orang tua untuk melanjutkan ke universitas favorit, dan kekosongan hati yang belum terisi membuatnya kadang terjaga hingga larut malam.
Suatu malam, sekitar pukul sebelas, Agus menerima SMS dari Titik:
“Gus, lo bangun? Gue nggak bisa tidur.”
Agus yang sedang asyik membaca novel siluman di kamar, langsung membalas:
“Kenapa, Mbak?”
“Kepikiran banyak hal.”
“Kayak apa?”
“Masa depan. Kuliah. Nanti gue ke Jakarta, lo di Bandung. Jarak. Kita bakal gimana?”
Agus terdiam cukup lama. Jarak. Ia belum pernah memikirkan itu secara serius. Selama ini Titik selalu ada di kampung yang sama, di jalan yang sama, bahkan di udara yang sama. Ia bisa menjenguk kapan saja. Tapi jika Titik kuliah di Jakarta dan ia di Bandung, maka ada selat dan gunung yang memisahkan mereka.
“Kita tetep sama aja, Mbak. Sahabat sejati nggak kenal jarak,” balas Agus, setengah yakin, setengah tidak.
“Lo serius?”
“Janji.”
“Janji pake apa?”
“Janji pake surat janji kita dulu.”
“Itu udah lima tahun lalu, Gus.”
“Janji nggak kenal masa berlaku, Mbak.”
Beberapa menit kemudian, Titik membalas dengan satu kalimat yang membuat Agus tersenyum kecut:
“Lo tuh sahabat paling sabar di dunia, Gus. Semoga gue suatu hari nemu cowok kayak lo. Tapi yang lebih ganteng dikit.”
Agus tidak membalas. Ia hanya meletakkan ponselnya di dada, menatap langit-langit, dan berbisik pada dirinya sendiri:
“Kenapa harus yang lebih ganteng, Mbak? Kenapa nggak aku saja?”
Pertanyaan itu menggantung di udara malam yang lembab, tidak terjawab, dan tidak akan pernah ia ucapkan dengan keras.
Titik lulus SMA dengan nilai yang cukup baik. Tiga bulan kemudian, ia diterima di Universitas Indonesia, jurusan Ilmu Komunikasi. Agus yang saat itu masih duduk di kelas dua SMA, ikut bangga. Ia membantu Titik mengepak barang-barang yang akan dibawa ke Jakarta, menuliskan daftar kebutuhan kos, dan bahkan menyelipkan amplop kecil berisi uang pemberian ibunya untuk "modal awal anak rantau".
“Gus, lo nanti di Bandung, jangan lupain gue,” kata Titik di stasiun kereta api, di hari keberangkatannya. Mata Titik berkaca-kaca. Kedua orang tuanya sudah pamit dan menunggu di mobil.
“Nggak mungkin, Mbak.”
“Janji?”
“Janji. Kita sahabat sejati.”
Titik memeluk Agus. Pelukan yang cukup lama. Agus bisa mencium aroma sampo Titik, campuran jeruk dan sesuatu yang manis. Ia menutup mata, berusaha mengabadikan momen itu dalam memorinya, karena ia tidak tahu kapan bisa memeluk lagi.
“Lo jaga diri, ya,” kata Titik sambil melepaskan pelukan.
“Mbak juga.”
Kereta api mulai bersiul. Titik bergegas naik. Dari balik kaca kereta, ia melambaikan tangan. Agus membalas lambaian itu dengan senyum yang ia usahakan setulus mungkin.
Kereta itu perlahan meninggalkan stasiun. Semakin kecil, semakin kecil, hingga akhirnya lenyap di ujung rel.
Agus masih berdiri di peron bahkan setelah kereta tidak terlihat. Angin stasiun menerpa rambut ikalnya yang tidak pernah mau rapi. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan.
“Ini awal dari segalanya, Gus,” pikirnya. “Entah awal dari kehilangan, atau awal dari sesuatu yang lain. Kita lihat saja.”
Ia berbalik, berjalan keluar stasiun dengan tas selempang yang sedikit berat, bukan karena isinya, tetapi karena berat yang ia rasakan di dadanya.
Episode Jakarta – Bandung
Selama dua tahun pertama Titik di Jakarta, komunikasi mereka intens. Surat menyurat masih menjadi andalan, karena bagi Agus, menulis surat lebih romantis daripada SMS. Ia membeli amplop bermotif, kertas bergaris tipis, dan pulpen dengan tinta hitam yang tidak mudah luntur. Setiap minggu, ia mengirimkan satu surat untuk Titik. Kadang berisi cerita tentang sekolah, tentang teman-teman barunya di Bandung setelah ia lulus dan kuliah di Universitas Padjajaran, tentang lagu-lagu baru yang ia dengar, tentang buku-buku yang ia baca.
Titik membalasnya dengan surat yang lebih pendek, kadang hanya dua paragraf, tetapi cukup membuat Agus tersenyum selama berhari-hari.
Di tahun pertama kuliah, Titik belum bercerita soal lelaki. Agus lega. Mungkin, pikir Agus, Titik sedang fokus belajar atau mungkin ia mulai muak dengan drama percintaan.
Agus salah.
Di awal tahun kedua, Titik tiba-tiba mengirim surat dengan ketebalan yang luar biasa. Lima halaman. Tulisannya kecil-kecil dan padat, seperti orang yang banyak cerita dan takut kehabisan ruang.
Isinya: Titik jatuh cinta pada kakak tingkatnya di BEM. Namanya Andre. Seorang mahasiswa Ilmu Politik yang aktif di demonstrasi, suka berdebat, dan tidak takut pada siapapun.
“Dia beda, Gus. Dia punya prinsip. Dia nggak main-main. Gue suka banget sama dia,” tulis Titik di paragraf ketiga.
Agus membaca surat itu tiga kali. Di pembacaan pertama, ia merasakan sesak di dada. Di pembacaan kedua, ia merasakan marah, bukan pada Titik, tetapi pada dirinya sendiri karena masih berharap. Di pembacaan ketiga, ia hanya merasa lelah.
Ia membalas surat itu dengan singkat:
“Mbak, hati-hati. Tapi selamat. Semoga kali ini bahagia.”
Titik membalas lagi dengan tiga halaman yang isinya mendetail soal Andre: Andre suka kopi hitam tanpa gula, Andre tidak suka keramaian, Andre pernah ikut aksi turun ke jalan sampai ditangkap polisi dan dibebaskan setelah semalam di penjara. Andre adalah tipe lelaki yang selama ini Titik cari: berani, tegas, dan tidak manja.
Agus tidak membalas surat itu. Ia hanya menyimpannya di dalam stoples biskuit bersama surat-surat lama yang lain, termasuk surat kaleng yang di dalamnya ia tulis perasaannya yang tidak pernah ia kirimkan.
Andre bertahan selama delapan bulan. Rekor terpanjang Titik dalam menjalin hubungan.
Titik patah hati ketika Andre memilih untuk fokus pada skripsinya dan dalam kata-kata Andre, “tidak ingin diganggu dengan urusan perasaan”.
“Gus, dia bilang gue ganggu,” Titik bercerita lewat telepon, suaranya bergetar.
“Lo nggak ganggu, Mbak.”
“Tapi dia bilang gitu.”
“Mungkin dia yang nggak siap komitmen. Jangan salahin diri lo sendiri.”
“Gus, lo bisa ke Jakarta nggak? Minggu ini?”
Agus mengecek dompetnya. Uang saku dari orang tua pas-pasan. Tiket kereta ekonomi dari Bandung ke Jakarta menghabiskan sepertiga dari uang sakunya untuk satu bulan. Ia akan makan mi instan selama tiga minggu.
“Oke, Mbak. Sabtu gue ke sana.”
“Makasih, Gus. Lo sahabat terbaik.”
Agus tersenyum pahit di ujung telepon. Ya, sahabat terbaik. Itu saja.
Di Jakarta, Agus menemani Titik berkeliling kota tanpa tujuan. Mereka naik bus TransJakarta dari ujung ke ujung, duduk di kursi yang sama, sesekali turun untuk membeli es kelapa di pinggir jalan. Titik bercerita tentang Andre, tentang bagaimana ia merasa ditolak, tentang bagaimana ia bertanya-tanya apakah ada yang salah dengan dirinya.
“Nggak ada yang salah sama Mbak, Mbak. Mbak cuma belum ketemu yang tepat,” kata Agus sambil menyeruput es kelapa.
“Kapan, Gus? Kapan gue nemu yang tepat?”
“Lagi di proses, Mbak. Semua lagi di proses.”
“Lo yakin?”
“Gue yakin.”
Matahari di Jakarta sore itu panas menyengat. Agus membayangkan jika ia tinggal di Jakarta, mungkin ia bisa lebih sering menemani Titik seperti ini. Tapi ia tidak punya uang untuk pindah. Ia hanya seorang mahasiswa biasa dengan kehidupan biasa.
Malamnya, mereka makan di warung tenda pinggir jalan. Satu porsi nasi goreng, dua sendok. Berbagi seperti biasa.
“Gus, lo nggak pacaran? Lo di Bandung kan banyak cewek,” tanya Titik sambil mengunyah.
“Nggak ada yang cocok, Mbak.”
“Lo terlalu pilih-pilih kali.”
“Bukan. Gue... lagi fokus kuliah.”
Titik menatap Agus dengan mata yang tajam. “Lo yakin nggak ada yang lo suka?”
Agus menunduk. Ia mengaduk nasi gorengnya yang sudah dingin. “Ada sih, Mbak.”
“Siapa? Coba cerita.”
“Nggak usah, Mbak. Nanti juga gue cerita kalau waktunya tepat.”
“Ah, pelit.”
Agus tersenyum. Jika Titik tahu bahwa jawaban dari semua pertanyaannya tentang cinta sudah duduk tepat di depannya, sedang berbagi nasi goreng di warung tenda pinggir jalan dengan sendok yang sama, mungkin ia akan tertawa. Atau mungkin ia akan diam.
Tapi Agus tidak ingin mengambil risiko. Ia sudah melihat bagaimana Titik memperlakukan mereka yang jatuh cinta padanya: ia akan menjaga jarak, takut merusak persahabatan.
Dan Agus tidak ingin dijaga jaraknya. Ia ingin tetap dekat. Walaupun dekat itu menyakitkan.
BAB III
SAAT JARAK MENJADI PELAJARAN PALING PAHIT
Bandung dikenal sebagai kota yang dingin dan romantis. Udara pegunungannya mampu membuat siapapun yang menghirupnya merasa sedikit lebih melankolis dari biasanya. Kabut tipis yang turun setiap pagi menyelimuti jalanan berkelok seperti selendang yang sengaja ditinggalkan oleh langit. Dan hujan di Bandung, ah, hujan di Bandung memiliki irama yang berbeda. Ia tidak terburu-buru seperti hujan Jakarta yang ingin segera selesai. Ia turun dengan lambat, bergeming, seolah ingin mengatakan, “Duduklah. Renungkan hidupmu. Aku tidak akan pergi dalam waktu dekat.”
Agus Sabara kini berusia enam belas tahun. Ia bukan lagi bocah bertubuh kurus yang rambut ikalnya tidak pernah rapi. Tubuhnya mulai mengembang, bukan ke samping tetapi ke atas, tingginya kini mencapai seratus tujuh puluh dua sentimeter, masih terus bertambah. Bahunya mulai bidang, sebuah anugerah dari ayahnya yang bekerja sebagai kuli bangunan, tubuh yang terbiasa dengan beban fisik. Tangannya tidak lagi mungil seperti anak SMP; kini besar dengan urat-urat yang mulai terbentuk di punggungnya, bekas dari rutinitas membantu ayahnya mengangkat kayu dan semen saat libur kuliah.
Tapi matanya tetap sama. Mata coklat tua yang terlalu dalam untuk anak seusianya. Mata yang telah melihat terlalu banyak patah hati, bukan patah hatinya sendiri, tetapi patah hati orang yang ia sayangi, yang terasa lebih sakit daripada patah hati pribadi.
Ia duduk di pinggiran Lapangan Gasibu, sebuah ruang terbuka hijau yang tidak terlalu hijau di tengah Kota Bandung. Di pangkuannya, sebuah buku catatan lusuh tempat ia menulis puisi-puisi buruk yang tidak akan pernah ia tunjukkan pada siapapun. Sebuah botol air mineral setengah kosong di sampingnya, dihisapnya sekali-sekali untuk melegakan tenggorokan yang terasa perih karena debu dan polusi.
Seorang pengamen mendekat, membawa gitar akustik yang tiga senarnya sudah putus dan diganti dengan senar bekas yang tidak seragam nadanya. Pengamen itu duduk di samping Agus tanpa permisi, lalu berbisik, “Mau lagu apa, Mas? Ada lagu cinta, lagu patah hati, lagu galau. Lengkap.”
Agus tersenyum kecut. “Ada lagu tentang sahabat yang jatuh cinta sama sahabatnya sendiri, tapi nggak berani ngomong?”
Pengamen itu mengernyit. “Wah, itu lagu tema hidup gue dulu, Mas. Judulnya ‘Tambatan Hati yang Nggak Pernah Nambat’. Mau gue bawain?”
“Boleh.”
Pengamen itu mulai memetik gitar dengan jari-jari yang kapalan. Lagu yang ia mainkan tidak pernah Agus dengar sebelumnya, mungkin lagu ciptaan sendiri, atau mungkin lagu orang yang sudah lama tenggelam dan hanya hidup di arena-arena pinggiran seperti ini. Liriknya sederhana:
“Dari dulu aku di sini, di sampingmu, tapi kau tak pernah lihat. Dari dulu aku berbisik, tapi kau dengar yang lain. Sampai kapan aku harus diam, sampai kapan aku jadi pilihan terakhir...”
Agus mendengarkan dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Ia mengeluarkan koin lima ratus rupiah dari sakunya, meletakkannya di kotak bekas biskuit yang diletakkan pengamen di atas tanah. Pengamen itu mengangguk, tersenyum tanpa pernah berhenti bernyanyi.
Saat lagu selesai, pengamen itu berkata, “Mas, kalau gue boleh saran. Jangan terlalu lama diam. Nanti keburu orang yang lo sayang malah nikah sama orang lain. Itu pengalaman gue.”
“Tapi gue takut, Bang.”
“Takut apa?”
“Takut kehilangan dia sebagai teman. Gue nggak tega kalau hubungan kami jadi canggung.”
Pengamen itu menghela napas panjang, lalu berdiri, menggendong gitarnya. “Mas, teman itu banyak yang bisa ganti. Tapi yang bener-bener lo cintai, cuma satu. Jangan sampe lo nyesel di kemudian hari. Soalnya gue nyesel sampe sekarang.”
Ia pergi meninggalkan Agus yang masih duduk di pinggir lapangan dengan pikiran yang lebih kusut dari sebelumnya.
Pukul tiga sore, ponsel Agus bergetar.
Pesan dari: Mbak Titik
“Gus, lo lagi di mana? Aku udah sampe Bandung. Turun di Stasiun Hall. Jemput dong.”
Agus terkesiap. Ia sama sekali tidak tahu bahwa Titik akan datang ke Bandung. Sehari sebelumnya mereka memang berSMS-an seperti biasa, tetapi Titik tidak pernah menyebutkan rencana untuk bepergian. Ini adalah salah satu ciri khas Titik Mukti Aryanti: suka membuat kejutan, entah itu kejutan yang menyenangkan atau mengerikan.
Agus bergegas berdiri, hampir menjatuhkan botol air mineralnya. Ia berlari kecil menuju jalan untuk mencari angkot jurusan Stasiun Hall. Badannya yang berkeringat karena terburu-buru membuat kaus oblong putihnya basah di punggung.
Di stasiun, ia menemukan Titik berdiri di depan pintu masuk, dikelilingi oleh dua koper besar dan satu ransel penuh.
Titik telah berubah. Tidak lagi terlihat seperti gadis SMA dengan kuncir kuda dan sepatu pantofel hitam. Sekarang, ia adalah perempuan dewasa muda: rambutnya yang sebahu ia cat coklat muda, sedikit bergelombang di ujung. Ia memakai kemeja flanel merah kotak-kotak yang dikenakan longgar di atas celana jins ketat hitam. Sepatu kets berwarna putih agak kotor karena perjalanan. Dan matanya, matanya yang dulu selalu bersinar, kini tampak lebih redup. Ada lingkaran hitam tipis di bawahnya, tanda bahwa ia tidak cukup tidur.
“Mbak, kok nggak bilang-bilang?” tanya Agus sambil mendekat.
“Kejutan, dong,” jawab Titik dengan senyum tipis. Senyum yang tidak sampai ke matanya.
Agus merasa ada yang tidak beres. Instingnya yang sudah diasuh selama bertahun-tahun untuk membaca Titik langsung aktif. Ia menatap wajah Titik lebih dalam. Ada kerutan halus di dahinya, tanda bahwa ia sedang memikirkan sesuatu yang berat. Bibirnya sedikit menggigit bibir bawah, kebiasaan yang ia lakukan sejak kecil ketika sedang cemas.
“Ada apa, Mbak?” tanya Agus tanpa basa-basi.
Titik tidak langsung menjawab. Ia menunduk, menggulung ujung kemeja flanelnya dengan jari-jari yang gelisah. “Bisa ngobrol nggak? Di tempat yang sepi?”
“Bisa. Tapi koper lo gede-gede. Lo mau nginep?”
“Ya, gue mau nginep seminggu. Ibu lo udah gue telepon, beliau bilang boleh.”
Agus terkejut. “Seminggu? Mbak, lo nggak kuliah?”
“Libur. Lagi libur.” Jawaban Titik terdengar datar, terlalu datar, seperti seseorang yang sedang berbohong.
Agus tidak mempertanyakan lebih lanjut. Ia mengangkat dua koper Titik, satu di tangan kanan, satu di tangan kiri, sementara Titik membawa ransel. Mereka berjalan keluar stasiun, mencari angkot jurusan Ciumbuleuit, tempat kos-kosan Agus berada.
Di dalam angkot yang penuh sesak dengan penumpang yang pulang kerja, mereka berdua duduk bersebelahan di kursi paling belakang. Agus meletakkan koper-koper itu di pangkuannya, ribet, tetapi tidak ada pilihan lain. Tubuhnya terhimpit antara jendela dan tubuh Titik yang sesekali bergeser karena angkot yang oleng.
“Mbak,” bisik Agus di sela suara mesin angkot yang bising.
“Hm?”
“Lo kurusan.”
Titik tidak menjawab.
“Mbak, lo juga kelihatan kurang tidur.”
Titik tetap diam.
“Dan lo nggak bawa oleh-oleh,” lanjut Agus mencoba bercanda.
Titik tersenyum kecil, lalu menepuk pundak Agus. “Nanti gue beliin. Janji.”
“Janji pake apa?”
“Janji pake surat janji kita.”
Mereka berdua tersenyum, tetapi senyum itu mengambang di udara seperti gelembung sabun yang siap pecah setiap saat.
Kos-kosan Agus berada di lantai dua sebuah rumah petak yang diubah menjadi kamar-kamar kecil. Ukuran kamarnya hanya tiga kali empat meter, cukup untuk satu ranjang single, satu meja belajar yang berantakan dengan buku-buku dan kertas, dan satu lemari kecil yang pintunya sudah miring sehingga sulit ditutup. Lantainya terbuat dari keramik murah yang beberapa ubinnya retak dan berlubang kecil. Temboknya bercat putih kusam, dihiasi beberapa poster band favorit yang mulai mengelupas di sudut-sudutnya.
Tapi jendela kamar ini menghadap ke timur, sehingga setiap pagi, sinar matahari masuk dan membangunkan Agus dengan hangat. Dan di malam hari, ia bisa melihat bintang-bintang, setidaknya yang tidak tertutup polusi.
“Maaf, kecil, Mbak,” kata Agus sambil membuka pintu.
“Nggak apa-apa. Gue pernah tidur di kosan yang lebih kecil dari ini,” jawab Titik sambil menjatuhkan ranselnya di atas ranjang. Ia berjalan ke jendela, membukanya lebar-lebar, lalu menghirup udara Bandung yang dingin. “Wah, enak banget udaranya. Jakarta sumpek.”
“Mau minum?” tanya Agus sambil membuka kulkas mini (pinjaman dari pemilik kos, bukan miliknya).
“Air putih aja.”
Agus menuangkan air ke dalam gelas plastik bening yang sudah mulai keruh karena sering dicuci. Ia menyodorkannya ke Titik, yang menerimanya dengan kedua tangan, sesuatu yang tidak pernah Titik lakukan di kampung dulu. Dulu ia menerima apa pun dengan satu tangan sambil melongo. Sekarang ada kesopanan yang baru, yang membuat Agus merasa bahwa ia dan Titik tidak lagi sama.
“Mbak, cerita. Gue tahu lo ada masalah.”
Titik duduk di ranjang, menyandar ke dinding, memeluk bantal guling milik Agus. Ia menatap langit-langit kamar yang retak di beberapa bagian, bergerak-gerak diikuti oleh bayangan lampu neon yang tidak terlalu terang.
“Gue... putus sama Andre,” kata Titik akhirnya.
Agus menghela napas. “Itu udah lama, Mbak.”
“Bukan. Bukan Andre yang dulu. Gue lupa kasih tahu lo. Setelah Andre, gue pacaran lagi. Namanya Farhan. Dia anak Teknik. Orangnya baik, Gus. Baik banget.”
Agus mengepalkan tangannya di belakang punggung, di luar pandangan Titik. Lagi? Lagi? pikirnya. Kapan Mbak Titik berhenti? Kapan ia sadar bahwa berganti pacar seperti berganti baju tidak akan pernah membuatnya bahagia?
“Mbak, lo nggak cerita sama gue,” kata Agus akhirnya, berusaha menekan nada kecewa dalam suaranya.
“Sengaja, Gus. Gue mau cerita langsung. Soalnya...” Titik menggigit bibir bawahnya, “Soalnya ini yang paling sakit.”
Agus duduk di lantai, membelakangi lemari yang pintunya tidak bisa ditutup itu. Ia memeluk lututnya, posisi yang sering ia lakukan ketika ia akan mendengarkan cerita berat. “Cerita, Mbak. Gue denger.”
Dan Titik bercerita.
Farhan adalah anak Teknik Mesin Universitas Indonesia, angkatan yang sama dengan Titik. Mereka bertemu di sebuah pameran teknologi kampus, di mana Farhan memamerkan robot buatannya. Titik, yang saat itu sedang bertugas meliput acara tersebut untuk majalah kampus, terpukau oleh cara Farhan menjelaskan robot itu, tidak seperti anak teknik kebanyakan yang bicara dengan istilah-istilah rumit; Farhan menjelaskan dengan analogi sederhana, sesekali menyelipkan candaan, dan matanya, matanya jujur.
Mereka mulai dekat. Berbagi cerita. Berbagi riset. Berbagi sandwich di kantin. Dan akhirnya, setelah tiga bulan dekat, Farhan menyatakan cinta.
“Dia orangnya baik, Gus,” ulang Titik dengan nada getir. “Dia nggak pernah marah. Nggak pernah cemburuan. Dia support apa pun yang gue lakuin. Bahkan waktu gue bilang gue mau ikut demonstrasi mahasiswa, dia cuma bilang, ‘Tik, pakai jaket tebel, nanti dinginan.’”
“Terus masalahnya di mana?” tanya Agus.
“Gue nggak tahu. Mungkin gue yang aneh. Mungkin gue nggak bisa nerima kebaikan. Mungkin gue butuh drama, butuh tantangan, butuh sesuatu yang bikin jantung gue berdebar. Dan Farhan... dia terlalu tenang. Terlalu aman. Gue jadi... bosen.”
Kalimat terakhir itu menusuk Agus seperti sembilu. Terlalu aman. Terlalu tenang. Bukankah itu yang selama ini ia tawarkan pada Titik? Keamanan. Ketenangan. Kehadiran yang tidak pernah berubah. Dan Titik, rupanya, menganggap itu sebagai kebosanan.
“Mbak, lo sadar nggak dengan apa yang lo omongin?” suara Agus sedikit bergetar.
“Sadar. Itulah kenapa gue sakit. Karena gue tahu Farhan orang baik. Tapi gue nggak bisa memaksakan perasaan. Gue udah coba, Gus. Gue udah coba bertahan. Tapi setiap kali liat mukanya yang terlalu sabar, setiap kali denger suaranya yang terlalu lembut, gue malah... ilfil.”
Ilfil. Kata itu terlalu kasar untuk diucapkan tentang seseorang yang tulus mencintai. Agus menunduk, memejamkan mata. Ia membayangkan jika suatu hari nanti ia mengungkapkan perasaannya kepada Titik, lalu Titik berkata hal yang sama tentang dirinya: “Kamu terlalu aman, Gus. Aku bosan.”
Dunia akan hancur.
“Terus sekarang gimana, Mbak?” tanya Agus.
“Gue udah putusin minggu lalu. Dia nangis, Gus. Farhan nangis di depan gue. Dan gue nggak nangis. Gue cuma berdiri di situ, beku, ngerasa kayak monster. Orang baik disakiti, dan gue pelakunya.”
Titik mulai menangis. Kali ini bukan tangis karena disakiti lelaki lain, tetapi tangis karena menyadari bahwa ia sendiri yang menjadi sumber luka.
Agus bergerak dari lantai, duduk di samping Titik di ranjang. Ia tidak memeluknya; ia hanya meletakkan tangannya di punggung Titik, gerakan melingkar kecil yang menenangkan, seperti yang ia lakukan dulu pada kucing kampung yang ketakutan.
“Mbak, lo bukan monster,” kata Agus pelan.
“Gue ngerasa kayak monster, Gus.”
“Monster itu nggak pernah ngerasa bersalah. Lo ngerasa bersalah, jadi lo bukan monster.”
Titik menangis lebih keras. Wajahnya membenamkan diri di bantal guling yang masih bau keringat Agus. Bahunya bergetar hebat. Agus terus mengusap-usap punggungnya, tidak berhenti, tidak mempercepat, tidak memperlambat. Seperti ombak yang tenang di pantai.
“Farhan... dia bilang, ‘Mungkin kamu belum siap untuk cinta yang sederhana, Tik. Kamu masih butuh badai.’ Dan gue tahu dia benar. Tapi gue nggak bisa mengubah diri gue.”
“Kita nggak bisa memaksakan perasaan, Mbak. Itu bukan salah lo.”
“Tapi kenapa gue selalu menyakiti orang baik?”
Agus tidak menjawab. Karena ia tidak ingin mengatakan, “Karena lo belum cukup dewasa untuk menghargai yang sederhana.” Itu terlalu kejam. Ia juga tidak ingin mengatakan, “Karena lo terlalu sibuk mencari cinta yang gemerlap sampai lo buta dengan yang ada di depan lo.” Itu terlalu bias, karena yang ada di depan Titik saat ini adalah dirinya, Agus dan ia tidak ingin terkesan sedang mempromosikan diri.
Jadi ia hanya diam. Dan sesekali berkata, “Udah, Mbak. Nangis aja dulu. Besok kita pikirin.”
Hujan turun di Bandung malam itu. Deras. Disertai angin yang menggerakkan daun-daun pohon mahoni di depan kos-kosan. Agus menutup jendela kamarnya rapat-rapat, tetapi suara hujan masih terdengar, mendendangkan lagu-lagu melankolis yang sudah ia hafal di luar kepala.
Titik sudah berganti pakaian, meminjam kaus oblong Agus yang kebesaran untuk ukuran tubuhnya. Ia duduk di ranjang dengan selimut tipis melilit tubuhnya, rambutnya yang masih sedikit basah karena kehujanan sebelum masuk kos. Di tangannya, sebuah buku catatan Agus yang ia ambil dari meja belajar tanpa izin, buku yang berisi puisi-puisi buruk tentang seorang perempuan yang tidak pernah disebut namanya.
“Gus, ini puisi lo?” tanya Titik sambil membuka halaman acak.
Agus yang sedang menyeduh teh di dapur kecil di luar kamar, buru-buru masuk. “Mbak, jangan baca itu!” Ia merebut buku itu dari tangan Titik, tetapi Titik lebih cepat—ia sudah membaca setidaknya satu bait.
“Di antara ribuan bintang di langit, aku hanya melihat satu. Bukan yang terang, bukan yang besar. Tapi yang selalu ada di tempat yang sama. Setiap malam. Setia.”
“Wah, ini buat siapa?” tanya Titik dengan nada usil.
Agus merebut buku itu dan menyembunyikannya di balik bajunya. “Nggak buat siapa-siapa. Iseng.”
“Iseng gitu nulis puisi romantis? Curiga, gue.”
“Mbak, mending lo minum teh, daripada baca-baca punya orang.”
Titik tertawa. Untuk pertama kalinya malam itu, ia tertawa tulus. Tawa yang membuat kerutan di dahinya menghilang sejenak, membuat matanya kembali bersinar seperti dulu, membuat Agus lupa bahwa ia baru saja nyaris ketahuan menyembunyikan perasaan yang sudah ia pendam sejak usia tiga belas tahun.
“Gus, lo tuh kalau lagi jatuh cinta pasti lucu ya? Sembunyi-sembunyi gini.”
“Siapa bilang gue jatuh cinta?”
“Ya dari puisinya jelas, lah. Itu bukan puisi tentang gunung atau laut.”
“Bisa aja.”
“Bohong.”
Agus tidak menjawab. Ia menuangkan teh jahe panas ke dalam dua gelas, lalu memberikan satu ke Titik. Titik menerimanya dengan kedua tangan, kebiasaan barunya yang entah kapan mulai.
Mereka minum teh berdua di ranjang sempit yang hanya muat untuk satu orang jika dipakai tidur biasa. Kaki mereka bersentuhan di bawah selimut, tetapi tidak ada yang menarik diri. Itu adalah kenyamanan yang sudah terbangun selama bertahun-tahun: bahwa mereka bisa bersentuhan tanpa ada arti lebih. Atau setidaknya, tanpa ada yang mengakuinya.
“Gus,” kata Titik setelah setengah gelas teh habis.
“Ya.”
“Lo pacaran nggak sekarang?”
“Enggak.”
“Kenapa? Lo kan ganteng, pinter, baik. Pasti banyak yang mau.”
Agus tertawa kecil. “Mbak, lo nggak usah ngegombalin gue. Gue mah biasa aja.”
“Gue serius. Lo tuh tipe yang disukai cewek-cewek.”
“Lho, Mbak kan cewek. Mbak suka gue?”
Pertanyaan itu keluar begitu saja, seperti sendawa yang tidak sengaja terdengar di ruang sunyi. Agus sendiri terkejut. Ia tidak berniat mengatakan itu. Tetapi mulutnya bergerak lebih cepat dari otaknya, sesuatu yang jarang terjadi, biasanya ia sangat mengontrol setiap kata yang keluar.
Titik terdiam. Matanya membulat, lalu menyipit, lalu membulat lagi, seperti emoji yang berganti-ganti dengan cepat.
“Gue nggak ngomong gitu,” kata Titik akhirnya, sedikit salah tingkah.
“Bercanda, Mbak.”
“Ya, gue tahu. Bacot lo.”
Mereka tertawa, tetapi tawa itu canggung. Ada sesuatu yang mengambang di antara mereka, seperti partikel debu yang menari-nari di depan lampu neon, terlihat, tetapi tidak bisa ditangkap.
Malam itu, Agus tidur di lantai dengan beralaskan kardus bekas dan selimut tipis yang tidak cukup hangat. Titik tidur di ranjang dengan bantal guling yang masih Agus peluk setiap malam. Sebelum memejamkan mata, Titik berkata, “Gus, makasih, ya.”
“Untuk apa, Mbak?”
“Untuk selalu ada. Gue nggak tahu kenapa, tapi setiap gue jatuh, lo selalu ada yang nangkep. Lo kayak jaring pengaman.”
“Jaring pengaman kadang perlu, Mbak.”
“Tapi jaring pengaman nggak pernah dipilih jadi tujuan utama.”
Agus tersenyum dalam gelap. “Ya, karena kalau jaring pengaman jadi tujuan utama, orang nggak akan pernah jatuh. Dan kadang, orang butuh jatuh untuk belajar.”
Titik tidak menjawab. Agus mendengar napasnya yang mulai teratur, tanda bahwa ia tertidur. Agus berguling di atas kardusnya, menatap langit-langit kamar yang retak, dan berbisik pada dirinya sendiri:
“Tapi bagaimana kalau aku lelah menjadi jaring pengaman? Bagaimana kalau aku ingin menjadi tujuan?”
Hujan di luar mulai reda. Sesekali masih terdengar gemuruh kecil dari kejauhan, seperti raksasa yang mendengkur. Agus memejamkan mata, berusaha mematikan pikirannya yang tidak pernah mau tidur.
Pagi harinya, Agus bangun dengan tubuh pegal-pegal karena tidur di lantai. Ia menemukan Titik sudah tidak di ranjang. Jendela kamar terbuka lebar, dan dari luar terdengar suara Titik sedang bicara dengan seseorang, mungkin pemilik kos, mungkin tetangga.
Agus mengucek matanya, berdiri, lalu meregangkan badan. Ia melangkah ke luar kamar dan menemukan Titik di dapur kecil, sedang memasak mi instan dengan tambahan telur dan sawi. Sebuah pemandangan yang sudah lama tidak ia lihat: Titik yang repot-repot memasak untuknya.
“Bangun, Le? Cuci muka dulu, mi-nya hampir mateng,” kata Titik tanpa menengok.
Agus tersenyum. Ada rasa hangat di dadanya, seperti api unggun di malam yang dingin. “Mbak, lo curi-curi bahan makanan gue?”
“Ya iyalah, gue kan tamu. Tamu harus dimanjakan.”
“Ini kebalikannya, Mbak. Tamu yang manjain tuan rumah.”
“Pokoknya makan, gausah banyak bacot.”
Mereka makan mi instan di meja belajar yang berantakan, duduk bersebelahan di kursi plastik yang sedikit oleng. Titik bercerita tentang rencananya menginap seminggu: ingin jalan-jalan ke Lembang, ke Tangkuban Perahu, ke pasar terapung, ke kafe-kafe terkenal di Bandung. Agus mendengarkan sambil mengangguk, pura-pura antusias, padahal pikirannya melayang ke tempat lain.
Seandainya, pikir Agus. Seandainya setiap pagi seperti ini. Seandainya Titik selalu di sini. Seandainya aku cukup berani untuk mengatakan bahwa aku ingin ini setiap hari, bukan hanya seminggu.
Tapi ia tidak mengatakan itu. Ia hanya berkata, “Oke, Mbak. Nanti gue anter.”
Satu minggu di Bandung berlalu seperti mimpi yang terlalu indah untuk diingat terlalu lama.
Mereka pergi ke Lembang, naik jeep wisata, berfoto di kebun stroberi dengan latar belakang gunung yang diselimuti kabut. Mereka ke Tangkuban Perahu, di mana Titik takut ketinggian dan memegang erat lengan Agus sepanjang perjalanan. Mereka ke kafe-kafe dengan interior instagramable, minum kopi mahal yang tidak sebanding dengan rasanya, dan tertawa karena uang mereka hampir habis. Mereka jalan-jalan malam di Jalan Braga, lampu-lampu kuning temaram membuat segalanya terasa seperti film lama.
Di setiap momen itu, Agus merasakan sesuatu yang mendekati kebahagiaan sempurna, tetapi tidak pernah sepenuhnya sempurna, karena ia tahu ini sementara. Titik akan kembali ke Jakarta. Kehidupan akan berjalan seperti biasa. Dan Agus akan kembali menjadi background, menjadi suara di telepon, menjadi teks di layar ponsel, menjadi jaring pengaman yang tidak pernah dipilih.
Di malam terakhir sebelum Titik kembali ke Jakarta, mereka duduk di emperan toko yang sudah tutup, di pinggir Jalan Braga yang mulai sepi. Jam menunjukkan pukul sebelas lewat. Sesekali mobil melintas dengan lampu yang menyilaukan.
“Gus,” kata Titik sambil menatap langit yang sedikit terang karena polusi cahaya.
“Ya.”
“Lo tahu nggak, seminggu ini adalah minggu paling tenang dalam setahun terakhir buat gue.”
“Serius?”
“Serius. Nggak ada drama. Nggak ada cowok yang bikin pusing. Cuma jalan-jalan, makan, tidur, bangun, ulang lagi. Sederhana. Tapi gue ngerasa... damai.”
Agus menoleh ke arah Titik. Wajah Titik diterangi lampu toko yang masih menyala samar. Hidung mancungnya, bulu matanya yang lentik, dan senyum tipis di bibirnya, semua terlihat seperti lukisan yang terlalu indah untuk dimiliki.
“Mbak,” kata Agus, “kenapa lo nggak mencari cinta yang sederhana saja? Yang tidak perlu drama, tidak perlu badai? Cinta yang berjalan pelan tapi pasti?”
Titik menghela napas. “Gue nggak tahu, Gus. Mungkin gue belum cukup dewasa untuk itu. Atau mungkin... gue belum menemukan orang yang membuat cinta sederhana itu terasa cukup.”
Agus ingin sekali berkata, “Aku di sini, Mbak. Aku selalu di sini. Apakah aku tidak cukup?”
Tapi yang keluar dari mulutnya adalah, “Semoga Mbak segera menemukannya.”
Titik tersenyum, lalu menepuk pundak Agus. “Makasih, Gus. Lo sahabat terbaik yang pernah gue punya.”
Sahabat terbaik. Dua kata yang sudah ia dengar ribuan kali, tetapi setiap kali, rasanya seperti pisau yang menusuk perlahan. Tidak mematikan. Hanya membuatnya mati rasa sedikit demi sedikit.
Mereka berjalan pulang dalam diam. Kakinya melangkah seirama, seperti sudah berlatih bertahun-tahun. Bayangan mereka di aspal basah menyatu, seolah menjadi satu—, kenyataannya, mereka adalah dua dunia yang berbeda.
Keesokan harinya, Agus mengantar Titik ke Stasiun Hall. Mereka berdiri di peron, dikelilingi oleh penumpang lain yang sibuk dengan ponsel dan koper mereka.
“Gus, jaga diri,” kata Titik.
“Mbak juga. Jangan gampang jatuh cinta sama orang yang salah.”
“Lo juga, Le. Jangan terus-terusan jadi jomblo.”
“Gue bahagia kok.”
“Bohong.”
Titik memeluk Agus. Pelukan yang cukup lama. Agus bisa merasakan detak jantung Titik yang berdegup normal, tidak berpacu, tidak melambat. Biasa saja. Seperti pelukan pada teman. Seperti pelukan pada saudara.
Kereta mulai bersiul. Titik melepas pelukan, lalu naik ke kereta tanpa menengok. Agus melihat punggungnya yang semakin kecil, rambut coklat mudanya yang tergerai, dan koper merahnya yang terseret-seret.
Kereta perlahan meninggalkan stasiun.
Agus masih berdiri di peron sampai kereta benar-benar hilang dari pandangan. Udara Bandung yang dingin menusuk kulitnya, tetapi ia tidak bergerak.
“Sampai kapan aku begini?” pikirnya. “Sampai kapan aku menunggu seseorang yang bahkan tidak tahu bahwa aku menunggu?”
Ia mengeluarkan ponselnya dari saku celana. Sebuah pesan masuk dari Titik, dikirim tiga menit yang lalu:
“Makasih untuk minggu ini, Gus. Kamu selalu menjadi alasan aku percaya bahwa ada yang baik di dunia ini. Jangan berubah, ya. Love you, sahabatku ❤️”
Agus membaca pesan itu berkali-kali. Matanya tertuju pada kata “sahabatku” yang dicetak tebal oleh perasaan. Ia ingin membalas, “I love you too, Mbak. Bukan sebagai sahabat. Tapi sebagai... aku tidak tahu. Sebagai apa? Sebagai seseorang yang ingin lebih.”
Tapi jarinya mengetik: “Love you too, Mbak. Hati-hati di jalan. Kabari gue kalau udah sampe.”
Ia mengirim pesan itu, lalu mematikan ponselnya.
Di peron Stasiun Hall yang mulai sepi, Agus Sabara menangis untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama. Ia menangis tanpa suara, air mata mengalir di pipinya yang dingin. Seorang petugas kebersihan melintas, melihatnya, lalu berjalan pergi, tahu bahwa ada kesedihan yang tidak perlu diusik.
Agus tidak tahu mengapa ia menangis. Apakah karena ia merindukan Titik yang baru saja pergi? Atau karena ia merindukan versi dirinya yang dulu, yang tidak tahu apa itu patah hati? Atau karena ia menyesal tidak pernah cukup berani untuk mengubah sahabat menjadi kekasih?
Mungkin semuanya.
Mungkin tidak ada satupun.
Yang ia tahu, hatinya terasa sakit. Dan rasa sakit itu tidak akan hilang hanya dengan menangis di peron stasiun.
Pulang ke kos, Agus membuka buku gambar pemberian Titik empat tahun lalu. Sampul biru lautnya sudah sedikit pudar, pinggirannya mulai robek karena sering dibuka dan ditutup. Ia membuka halaman-halaman awal, membaca kembali coretan-coretan lamanya: gambar pohon mangga, gambar dua anak kecil bergandengan tangan, gambar tangan yang membubuhkan sidik jari arang lidi.
Di halaman terakhir, ia menulis satu kalimat:
“Mungkin aku memang ditakdirkan menjadi saksi, bukan pemain utama dalam hidupnya. Dan jika itu takdirku, aku akan menjalaninya. Karena sahabat sejati tak pernah pergi, meskipun hatinya pergi berkali-kali.”
Ia menutup buku itu, menyimpannya di bawah tumpukan pakaian dalam lemarinya, tempat yang sama sejak dulu. Lalu ia tidur, meskipun matanya tidak mau terpejam.
Di Jakarta, di atas kereta yang melaju ke timur, Titik Mukti Aryanti juga tidak bisa tidur. Ia membuka ponselnya, membaca pesan yang ia kirimkan ke Agus, lalu bergumam pada dirinya sendiri, “Kenapa aku mengatakan ‘love you as a friend’ padahal aku tahu dia... ah, tidak. Aku terlalu takut kehilangan dia sebagai sahabat. Lebih baik begini.”
Ia mematikan ponselnya, memejamkan mata, dan berusaha tidur. Di kepalanya, satu nama masih berkecamuk: Agus. Agus. Agus.
Tapi ia bilang pada dirinya sendiri itu hanya rasa sayang seorang adik. Tidak lebih. Tidak kurang.
Dan kebohongan itu terasa cukup, setidaknya untuk sementara waktu.
BAB IV
KETIKA BANDUNG BERTEMU JAKARTA DALAM HENING
Tahun 2008 menjadi titik balik bagi Agus Sabara. Bukan karena ia lulus dari bangku SMA dengan nilai yang membanggakan, meskipun ia lulus dengan cukup baik, jauh dari sempurna tetapi tidak pernah gagal. Bukan pula karena ia diterima di Universitas Padjadjaran, jurusan yang ia pilih dengan setengah hati karena itulah yang paling dekat dengan rumah dan paling murah biaya hidupnya. Bukan. Titik balik itu terjadi di sebuah malam yang kelam, di sebuah gang sempit di belakang kampus, ketika Agus menyadari bahwa menjadi dewasa berarti belajar hidup dengan luka yang tidak pernah sembuh.
Ia baru saja selesai mengikuti kegiatan orientasi mahasiswa, sebuah ritual tahunan yang lebih mirip siksaan halus daripada pengenalan kampus. Badannya pegal karena dipaksa berdiri berjam-jam di bawah terik matahari, suaranya serak karena harus menyanyikan lagu-lagu aneh ciptaan kakak tingkat yang liriknya lebih mirip mantra, dan hatinya... hatinya sedang kosong.
Kosong bukan karena tidak ada perasaan. Kosong karena perasaan itu sudah ia kubur terlalu dalam, sehingga yang tersisa hanya lubang hitam yang tidak bisa diisi dengan apa pun. Bukan dengan prestasi, bukan dengan teman baru, bukan dengan kesibukan organisasi, bukan bahkan dengan doa-doa panjang yang ia panjatkan setiap malam.
Agus duduk di bangku taman kampus yang sudah banyak coretan nama dan kata-kata kotor. Di tangannya, sebatang rokok. Ia tidak perokok. Tidak pernah merokok seumur hidupnya. Sepanjang masa kanak-kanak hingga remaja, ia selalu mengejek teman-temannya yang merokok, mengatakan mereka bodoh karena membakar uang untuk merusak paru-paru sendiri. Tetapi malam itu, ia membeli sebungkus rokok murah di warung depan kampus, dengan sisa uang jajan yang seharusnya ia gunakan untuk membeli buku.
Rokok itu terasa pahit di bibir. Asapnya menyengat hidung, membuat matanya berair. Batuk-batuk kecil ia lakukan pada isapan pertama, kedua, ketiga. Tetapi ia terus merokok, bukan karena ia menikmatinya, tetapi karena ia ingin merasakan sesuatu yang lain selain rasa sakit di dadanya.
Ponselnya bergetar.
Pesan dari: Mbak Titik
“Gus, gue baru putus lagi. Cowok baru. Namanya Dimas. Gue kira dia beda. Ternyata sama aja. Minta tolong jemput gue di Stasiun? Jam 10 nanti.”
Agus membaca pesan itu, lalu menatap layar ponselnya dengan mata sayu. Lagi. Lagi. Lagi. Kata itu berputar-putar di kepalanya seperti rekaman rusak.
“Mbak, gue capek,” balas Agus, jujur untuk pertama kalinya.
“Capek kenapa?”
“Capek denger cerita Mbak yang itu-itu lagi. Kayak lagu yang diputer berulang.”
Titik tidak membalas selama lima menit. Agus hampir berpikir bahwa ia telah pergi terlalu jauh, bahwa ia telah melukai perasaan Titik dengan kejujurannya. Tapi kemudian ponselnya bergetar lagi.
“Maaf, Gus. Gue tahu gue egois. Tapi lo satu-satunya orang yang gue punya.”
Agus memejamkan mata. Asap rokok masih mengepul di sela-sela jarinya, membentuk pusaran-pusaran kecil yang meliuk sebelum lenyap diterpa angin malam.
“Jam berapa kereta Mbak sampe?” balasnya akhirnya.
“Jam 10 malam. Di Stasiun Gambir.”
“Oke. Gue jemput.”
Ia mematikan rokok, membuangnya ke got terdekat dengan rasa jijik pada dirinya sendiri. “Kapan kamu berhenti menjadi budak perasaan, Gus? Kapan kamu sadar bahwa kamu tidak harus selalu ada?” pikirnya.
Tetapi ia tahu jawabannya: tidak akan pernah. Selama jantungnya masih berdetak, selama ia masih bisa berjalan dan mengangkat kakinya, ia akan selalu ada untuk Titik. Bukan karena ia lemah, tetapi karena ia telah memilih dan pilihan itu tidak bisa ia ubah, bahkan jika ia ingin.
Agus naik kereta dari Bandung ke Jakarta malam itu. Ia tidak punya tiket terusan; ia hanya membeli tiket ekonomi yang paling murah, yang membuatnya harus duduk bersila di lorong karena semua kursi sudah penuh. Di sampingnya, seorang ibu-ibu dengan dua anak kecil yang rewel sepanjang perjalanan. Bau keringat bercampur dengan bau makanan bungkus yang dibuka di dalam gerbong. Seorang pria di depannya batuk-batuk tanpa menutup mulut. Dan Agus? Agus hanya diam, menatap jendela kaca yang hitam, memantulkan wajahnya yang lelah.
“Untuk apa semua ini?” tanyanya pada bayangan dirinya yang buram. “Untuk seorang perempuan yang bahkan tidak tahu bahwa kamu datang dari Bandung ke Jakarta hanya untuk menjemputnya karena dia putus dengan cowok lain? Untuk seorang perempuan yang tidak akan pernah memandangmu lebih dari seorang sahabat?”
Bayangan itu tidak menjawab. Bayangan itu hanya diam, sama seperti dia.
Kereta tiba di Stasiun Gambir pukul 22.15, lima belas menit lebih lambat dari jadwal. Agus turun dengan kaki sedikit semutan karena terlalu lama duduk bersila. Ia berjalan cepat menuju pintu keberangkatan, matanya menyapu kerumunan orang mencari sosok yang sangat ia kenali meskipun dari jarak seratus meter sekalipun.
Ia menemukan Titik di sudut ruangan dekat loket tiket. Ia duduk di lantai dengan lutut ditekuk, dagu bertumpu pada lutut itu, kedua tangannya memeluk betisnya. Sebuah koper kecil di sampingnya, ransel merah di punggungnya. Wajahnya pucat. Matanya merah. Tidak menangis, tetapi seperti orang yang baru saja berhenti menangis dan masih mencoba mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya.
Agus mendekat. Ia tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya duduk di samping Titik, di lantai stasiun yang dingin dan sedikit berdebu, lalu meletakkan tangannya di punggung Titik. Gerakan melingkar yang sama. Irama yang sama. Seperti pemutar rekaman yang sudah dikunci pada lagu yang sama selama bertahun-tahun.
“Gue nggak tahu kenapa gue selalu dateng ke lo, Gus,” kata Titik dengan suara parau. “Padahal gue tahu lo capek dengerin cerita gue. Tapi gue nggak punya siapa-siapa lagi.”
“Mbak punya banyak teman.”
“Teman banyak. Tapi yang bisa jadi tempat pulang cuma lo.”
Agus tersenyum pahit. Tempat pulang. Kata-kata itu seperti pisau bermata dua: indah didengar, tetapi menyakitkan karena berarti ia hanya dikunjungi ketika badai datang, dan ditinggalkan ketika langit cerah.
“Cerita, Mbak,” kata Agus. “Tapi ceritanya sambil jalan. Gue laper. Kita makan dulu.”
Mereka berjalan ke warung soto pinggir jalan yang tidak jauh dari stasiun, tempat langganan Agus setiap kali ia ke Jakarta. Warung itu hanya berupa tenda biru yang sedikit robek di satu sisi, dengan meja-meja plastik dan kursi-kursi yang patah kakinya. Tapi soto-nya enak. Hangat. Dan di malam yang dingin seperti itu, semangkuk soto terasa seperti pelukan dari ibu yang berada ribuan kilometer jauhnya.
Titik memesan soto ayam campur, tanpa jeroan. Agus memesan soto daging dengan tambahan emping. Mereka makan dalam diam—diam yang sudah menjadi ciri khas hubungan mereka: diam yang tidak perlu diisi dengan kata-kata, diam yang berarti "aku di sini," diam yang lebih terdengar daripada seribu kalimat.
Setelah mangkuk soto hampir habis, Titik mulai bercerita.
Dimas, si cowok baru yang "beda dari yang lain", ternyata tidak beda sama sekali. Dia adalah laki-laki yang sama seperti Rendra, Robi, Handoko, Andre, Farhan, dan semua nama yang telah Agus lupa tetapi lukanya masih ia rasakan. Dimas pandai bicara, pandai merayu, pandai membuat Titik merasa menjadi perempuan paling istimewa di dunia selama tiga bulan pertama. Kemudian, perlahan, ia mulai menunjukkan siapa dirinya sebenarnya.
“Dia selingkuh, Gus,” kata Titik dengan sendok berhenti di tengah perjalanan menuju mulutnya. “Bukan sama satu cewek. Tapi dua.”
Agus mengunyah empingnya pelan. “Mbak tahu gimana?”
“Temen gue lihat dia di mal dengan cewek lain. Terus gue konfrontasi. Dia bilang itu adiknya. Tapi adik nggak pegang-pegang tangan kayak gitu, Gus. Adik nggak nyender di bahu kakaknya kayak orang pacaran. Gue bukan orang tolol.”
Titik meletakkan sendoknya. Matanya mulai berkaca-kaca, tetapi ia menahannya. Ia menggigit bibir bawahnya keras-keras, sampai hampir berdarah dan mengambil napas dalam-dalam.
“Gue konfrontasi lagi, lebih keras. Akhirnya dia ngaku. Dia bilang dia emang suka main sama banyak cewek. Dan gue cuma satu dari sekian banyak.”
Titik mulai menangis. Bukan tangis histeris seperti biasanya, tetapi tangis yang lebih dewasa: diam, tertahan, seperti air yang merembes dari retakan bendungan yang tidak bisa diperbaiki dengan plester biasa.
Agus menatap mangkuk sotonya yang sudah hampir kosong. Ia ingin mengatakan banyak hal. Ia ingin mengatakan, “Mbak, berapa kali lagi Mbak mau jatuh dengan tipe cowok yang sama? Kapan Mbak belajar bahwa cinta bukan tentang gemerlap, tapi tentang ketulusan?” Tapi kata-kata itu terasa terlalu kejam untuk diucapkan di depan Titik yang sedang hancur.
Jadi ia hanya berkata, “Mbak sudah makan. Sekarang Mbak mau ke mana? Gue antar.”
“Gue nggak tahu, Gus. Gue nggak mau pulang ke kos. Malu sama teman-teman sekamar. Mereka udah bilang Dimas red flag dari awal, tapi gue nggak denger.”
“Ya ke kos gue aja di Bandung. Nggak ada teman sekamar, soalnya cuma gue sendiri.”
“Lo nggak keberatan?”
“Kalau gue keberatan, gue nggak akan jemput Mbak dari Stasiun Gambir jam 10 malam.”
Titik tersenyum. Senyum yang tidak sepenuhnya sampai ke mata, tetapi cukup untuk membuat Agus merasa bahwa semua perjalanan melelahkannya malam ini sedikit lebih berarti.
Mereka naik kereta terakhir dari Jakarta ke Bandung. Jam menunjukkan pukul setengah satu dini hari. Kereta hampir kosong; hanya beberapa orang yang tertidur di kursi-kursi dengan mulut terbuka dan koper di pangkuan mereka.
Agus dan Titik duduk berhadapan di kursi dekat jendela. Di antara mereka, secangkir kopi susu hangat dari vending machine yang rasanya lebih mirip air gula beraroma kopi. Titik memeluk ransel merahnya, matanya setengah terpejam. Sesekali ia membuka mata, menatap Agus yang sedang membaca novel tipis, bukan karena ia benar-benar membaca, tetapi karena ia butuh alasan untuk tidak menatap Titik terlalu lama.
“Gus,” panggil Titik.
“Hm.”
“Lo nggak pernah cerita soal cinta lo. Selama ini, lo nggak pernah cerita lo suka siapa, lo pernah putus, lo pernah sakit hati. Lo kayak... batu. Nggak ada cerita.”
Agus menutup novelnya. “Ada yang pernah bilang, semakin besar cintamu pada seseorang, semakin kamu diam tentangnya.”
“Itu bijak banget. Siapa yang bilang?”
“Gue.”
Titik tertawa kecil. “Sombong.”
“Bukan sombong, Mbak. Tapi gue memang percaya itu. Cinta yang paling dalam adalah cinta yang tidak perlu diumumkan. Cinta yang cukup dengan tindakan.”
“Jadi lo lagi jatuh cinta sekarang?” tanya Titik dengan mata setengah mengintip.
Agus terdiam. Pertanyaan itu sederhana, tetapi jawabannya bisa menghancurkan segalanya. Ya, aku jatuh cinta. Dan orang itu sedang duduk di depan saya, minum kopi susu hangat dari vending machine, ransel merahnya ia peluk seperti anak kecil memeluk boneka, dan ia tidak tahu bahwa setiap kali ia datang dengan patah hati, ia sedang mematahkan hati saya sedikit demi sedikit.
“Nggak, Mbak. Gue lagi fokus kuliah,” jawab Agus datar.
“Dasar konyol , lu.”
“Bukan konyol. Realistis.”
Mereka berdua tertawa. Tawa yang terdengar sedikit memecah kesunyian malam di kereta yang melaju pelan menuju Bandung.
Titik tidak tahu bahwa tepat di samping kirinya, di dalam saku jaket Agus, ada sebuah foto kecil yang sudah lusuh karena sering dipegang. Foto itu diambil lima tahun lalu, di kampung, di bawah pohon mangga yang sekarang sudah menjadi tiang listrik. Titik tertawa lebar dalam foto itu, gigi ompongnya terlihat, rambut kuncir duanya melambai tertiup angin. Agus berdiri di sampingnya, tersenyum kecil, tidak tahu bahwa foto itu akan ia simpan seumur hidup.
Di kos-kosan Bandung, mereka berdua berbagi ranjang sempit malam itu, bukan karena romantis, tetapi karena Agus tidak tega melihat Titik tidur di lantai yang dingin. Agus sudah menawarkan untuk tidur di lantai seperti biasa, tetapi Titik melarang.
“Nggak, lo juga capek. Tidur di ranjang aja bareng. Ranjangnya kan agak gede. Kita bisa tidur saling membelakangi,” kata Titik dengan nada memerintah.
Agus ragu, tetapi ia akhirnya menurut.
Mereka tidur saling membelakangi, dengan jarak sekitar dua puluh sentimeter di antara punggung mereka. Agus bisa merasakan kehangatan tubuh Titik meskipun tidak bersentuhan. Ia bisa mencium aroma sampo Titik yang sama, jeruk dan sesuatu yang manis, aroma yang sudah ia kenali sejak mereka masih anak-anak.
“Gus,” bisik Titik dari balik punggungnya.
“Ya.”
“Lo tidur?”
“Belum.”
“Makasih ya buat hari ini.”
“Sama-sama, Mbak.”
“Gue janji, gue nggak akan nyusahin lo terus-terusan.”
“Mbak, lo nggak pernah nyusahin. Yang nyusahin itu cowok-cowok brengsek yang Mbak temuin.”
Ada keheningan beberapa saat. Kemudian Titik berguling, sehingga punggung mereka tidak lagi saling membelakangi. Sekarang tubuh Titik menghadap punggung Agus. Ia menarik selimut hingga menutupi bahu mereka berdua.
“Gus, lo tahu kenapa gue selalu datang ke lo?” bisik Titik.
“Kenapa?”
“Karena lo adalah satu-satunya cowok yang nggak pernah bikin gue merasa jelek. Lo nggak pernah ngebuat gue merasa kurang. Lo nggak pernah ngebuat gue merasa tolol. Lo cuma... ada. Dan cukup.”
Agus memejamkan mata. Air mata meleleh dari sudut matanya, jatuh ke bantal, tanpa suara. Jika saja Mbak tahu bahwa aku juga punya ego, juga punya batas kesabaran, juga bisa hancur. Aku hanya pandai menyembunyikannya.
“Mbak,” kata Agus sambil berusaha mengontrol suaranya agar tidak bergetar.
“Hm.”
“Coba Mbak tidur, udah malem. Besok kita ngobrol lagi.”
“Janji?”
“Janji.”
Titik berguling kembali ke posisi semula, menarik napas panjang, dan dalam beberapa menit kemudian, Agus mendengar napasnya yang mulai teratur, tanda bahwa ia tertidur lelap setelah berhari-hari mungkin tidak bisa tidur nyenyak.
Agus tidak bisa tidur. Ia berguling perlahan, menatap punggung Titik yang naik turun mengikuti irama napasnya. Rambut coklat mudanya berantakan di atas bantal. Tangan kanannya yang menjuntai di tepi ranjang membuat Agus ingin meraihnya, mengecupnya, membisikkan sesuatu yang sudah ia pendam sejak tiga belas tahun lalu.
Tapi ia tidak melakukannya. Ia hanya menatap, seperti seorang astronom yang menatap bintang dari balik teleskop: dekat dalam pandangan, tetapi tak terjangkau dalam kenyataan.
Pagi harinya, Agus bangun lebih dulu. Ia menemukan tubuhnya dalam posisi berbeda: ia tidak lagi saling membelakangi dengan Titik. Tiba-tiba, pada suatu saat di tengah malam, ia telah berguling dan kini menghadap ke arah Titik. Dan lebih dari itu, lengan kanannya, lengan kanannya entah bagaimana, terselip di bawah leher Titik, seperti bantal hidup. Kepala Titik bersandar di dadanya, rambutnya yang kusut menempel di dagu Agus yang sedikit berjenggot tipis.
Agus membeku. Jantungnya berdegup kencang, seperti akan melompat keluar dari dadanya. Ia tidak berani bergerak. Tidak berani menarik napas terlalu dalam. Tidak berani melakukan apa pun karena takut membangunkan Titik atau lebih tepatnya, takut jika Titik bangun dan menyadari posisi mereka, lalu terjadi sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan.
Ia memejamkan mata, mulai menghitung napas. Satu... dua... tiga... hingga seratus. Ia mencoba menenangkan jantungnya yang berdegup seperti genderang perang.
“Ini tidak berarti apa-apa,” pikirnya. “Kami hanya tidur, secara tidak sengaja bergerak, secara tidak sengaja menjadi dekat. Tidak ada yang istimewa. Ini bukan cinta. Ini hanya gravitasi dan kelelahan.”
Ia mengulangi mantra itu terus-menerus di kepalanya, sampai akhirnya ia benar-benar percaya. Atau setidaknya, ia cukup mampu membohongi dirinya sendiri untuk sementara waktu.
Sepuluh menit kemudian, Titik mulai bergerak. Ia menggeliat pelan, matanya masih terpejam, lalu, tanpa sadar, tangannya meraih sesuatu. Sesuatu itu adalah tangan Agus. Ia menggenggamnya, seperti anak kecil yang meraih boneka tidurnya.
Agus berhenti bernapas.
Titik membuka matanya perlahan. Matanya masih sayu, setengah sadar, lalu menatap ke arah tangan yang ia genggam. Ia melihat jari-jari Agus yang besar dan kasar, urat-urat di punggung tangannya yang terlihat jelas, dan warna kulitnya yang sawo matang karena sering terkena matahari.
Ia melepas genggaman itu dengan cepat, seperti terkena sengatan listrik.
“Aduh, maaf, Gue... ngelindur kali,” kata Titik sambil duduk dengan kaget. Wajahnya merah, bukan merah karena malu, tetapi merah karena gugup. Atau mungkin Agus hanya membayangkannya.
“Nggak apa-apa, Mbak. Gue juga kadang ngelindur,” kata Agus sambil ikut duduk, menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Kita tidur... kayak gitu semalaman?”
“Nggak tahu. Gue juga baru sadar tadi.”
“Oh.”
“Ya.”
Keheningan canggung menyelimuti kamar kos yang sempit itu. Suara burung di luar jendela berbunyi cuit.. cuit.. cuit, seolah menertawakan mereka berdua.
Titik turun dari ranjang, berjalan ke kamar mandi tanpa menengok. Agus mendengar suara air mengalir, suara sikat gigi, suara Titik bergumam sendiri tidak jelas.
Ia menunduk, menatap tangannya yang baru saja digenggam oleh Titik. Masih terasa hangatnya. Atau mungkin itu hanya ilusi.
Mereka menghabiskan akhir pekan di Bandung dengan kegiatan yang biasa saja. Pergi ke toko buku, membeli beberapa novel, Titik membeli novel roman yang sampulnya gambar cowok ganteng tanpa baju, Agus membeli buku biografi tokoh yang tidak ia kenal. Makan siang di warung tenda pinggir jalan yang menjual nasi liwet dengan sambal terasi yang pedasnya bukan main. Minum kopi di kafe yang dindingnya penuh dengan stiker band indie. Pulang ke kos, menonton film di laptop Agus yang kualitas gambarnya sudah mulai berkurang karena terlalu lama dipakai, duduk bersebelahan di ranjang dengan selimut yang sama, dan sesekali bahu mereka bersentuhan.
Setiap kali bahu mereka bersentuhan, Agus merasakan listrik kecil menyambar di sekujur tubuhnya. Tapi ia tidak bergerak. Ia hanya duduk diam, menatap layar, berpura-pura terpaku pada alur film yang sebenarnya tidak ia ikuti.
Titik juga tidak bergerak. Ia membiarkan bahunya bersentuhan dengan bahu Agus, dan untuk pertama kalinya, ia bertanya-tanya dalam hati: “Kenapa rasanya nyaman? Kenapa tidak ada rasa deg-degan seperti saat dengan cowok-cowok lain? Kenapa yang ada hanya rasa tenang?”
Tapi ia tidak melanjutkan pertanyaan itu. Ia takut dengan jawabannya.
Minggu malam, Titik harus kembali ke Jakarta. Agus mengantarnya ke Stasiun Hall, seperti biasa.
Di peron, sebelum kereta datang, Titik menatap Agus dengan tatapan yang berbeda. Ada sesuatu di matanya yang tidak pernah ada sebelumnya: keraguan. Keraguan apakah selama ini ia telah melewatkan sesuatu yang penting. Keraguan apakah selama ini ia terlalu sibuk mencari cinta di luar, sementara cinta yang paling tulus selalu ada di sampingnya.
“Gus,” kata Titik.
“Ya, Mbak.”
“Lo... bahagia nggak jadi sahabat gue?”
Pertanyaan itu terlalu berat untuk jam sembilan malam di stasiun yang bising. Agus menelan ludah, memikirkan jawaban yang paling jujur tetapi tidak terlalu menghancurkan.
“Ada saatnya bahagia. Ada saatnya nggak. Kayak hidup pada umumnya, Mbak.”
“Tapi lo nggak pernah menyesal?”
“Menyesal apa?”
“Menyesal... jadi sahabat gue. Yang selalu gue repotin, yang selalu gue kasih cerita patah hati, yang selalu gue jadikan jaring pengaman.”
Agus tersenyum. Senyum yang tulus, senyum yang tidak perlu dipaksakan, senyum yang lahir dari kesadaran bahwa meskipun ia terluka, ia tidak akan memilih jalan yang berbeda jika diberi kesempatan untuk mengulang.
“Mendengar cerita patah hati Mbak itu melelahkan, Mbak. Tapi mendengar Mbak bahagia itu membuat semua lelah hilang.”
Titik menunduk. Agus melihat setetes air mata jatuh dari matanya, membasahi ujung sepatu kets putihnya.
“Kereta udah dateng, Mbak,” kata Agus pelan.
Titik mengangkat wajah. Ia memeluk Agus erat-erat, lebih erat dari biasanya, lebih lama dari biasanya.
“Gus, lo janji,” bisiknya di telinga Agus.
“Janji apa, Mbak?”
“Janji lo nggak akan pergi. Janji lo tetap ada, apa pun yang terjadi.”
“Janji, Mbak. Sahabat sejati tak pernah pergi.”
Kereta bersiul. Titik melepas pelukan, lalu naik ke kereta tanpa menengok, karena jika ia menengok, ia mungkin akan turun lagi, dan ia tidak tahu apa yang akan terjadi setelahnya.
Kereta perlahan menjauh. Agus berdiri di peron, menatap kereta yang semakin kecil, menghilang di ujung rel.
Ia mengeluarkan ponselnya, membuka pesan lama dari Titik, dan membaca satu kalimat yang membuatnya tersenyum kecut:
“Love you, sahabatku.”
Hari itu, untuk pertama kalinya, Agus tidak membalas pesan itu. Ia hanya mematikan ponselnya, memasukkannya ke saku, dan berjalan keluar stasiun dengan langkah yang berat, tetapi hatinya terasa sedikit lebih ringan.
Karena untuk pertama kalinya, ia melihat keraguan di mata Titik. Dan keraguan itu memberinya harapan, harapan yang mungkin palsu, mungkin nyata, tetapi cukup untuk membuatnya bertahan untuk beberapa bulan ke depan.
BAB V
DI ANTARA RIBUAN LANGKAH, ADA SATU YANG TAK PERNAH PAMIT
Dua tahun berlalu seperti sungai yang mengalir tanpa pernah bertanya apakah kita siap atau tidak untuk terbawa arus. Agus Sabara kini memasuki usia dua puluh dua tahun, seorang mahasiswa semester akhir di Universitas Padjadjaran yang sedang berjibaku dengan skripsi yang tak kunjung menemukan titik terang. Titik Mukti Aryanti, yang telah dua tahun lebih tua, sudah lulus dan bekerja di sebuah perusahaan ekspor-impor di kawasan Sudirman, Jakarta. Dunia mereka terpisah oleh jarak seratus lima puluh kilometer, oleh gunung dan lembah, oleh kesibukan yang berbeda, dan oleh satu hal yang tak pernah mereka bicarakan: perasaan yang terus tumbuh di satu sisi, dan kebutaan yang terus bertahan di sisi lain.
Namun jarak bukanlah musuh utama bagi Agus. Musuh utamanya adalah rutinitas Titik yang kembali lagi ke pola lama: jatuh cinta, patah hati, jatuh cinta lagi, patah hati lagi. Seperti roda yang berputar tanpa pernah berhenti, seperti gelas yang terus diisi air lalu dibiarkan tumpah, seperti lagu yang sama yang diputar ulang dengan volume yang semakin keras setiap kali.
Malam itu, hujan turun dengan derasnya di Bandung. Agus duduk di kamar kos-kosannya yang sempit, di hadapan laptop pinjaman teman yang layar retak di sudut kanan atas. Di atas meja, tumpukan buku referensi skripsi berdebu, beberapa di antaranya bahkan belum ia buka. Sebuah cangkir kopi hitam tanpa gula di samping laptop, sudah dingin sejak sejam lalu.
Skripsinya tentang analisis kebijakan public, topik yang ia pilih bukan karena ia suka, tetapi karena ia ingin membuktikan bahwa ia bisa menyelesaikan sesuatu yang sulit. Mungkin itu juga alasan mengapa ia bertahan selama bertahun-tahun dalam persahabatan yang terasa seperti perang tanpa ujung: ia ingin membuktikan bahwa ia bisa setia, bahwa ia tidak seperti laki-laki lain yang datang dan pergi, bahwa ia bisa menjadi pelabuhan yang tidak pernah menutup dermaga.
Ponselnya bergetar.
Pesan dari: Mbak Titik
“Gus, gue nggak tahu harus gimana lagi. Semua cowok kayak udah punya template yang sama. Baik di awal, jahat di akhir. Gue capek capek capek capek capek!!!”
Agus membaca pesan itu dengan mata sayu. Ia sudah mendengar cerita tentang cowok terbaru Titik: seorang pengusaha muda bernama Edo, kaya raya, suka mentraktir ke tempat-tempat mewah, membelikan Titik tas branded dan sepatu mahal. Di awal, Titik bilang, “Gus, ini orang beda banget. Dia dewasa, mapan, serius.”
Itu tiga bulan lalu.
Sekarang, berdasarkan pesan yang baru masuk, Edo ternyata sama seperti yang lain: punya istri. Bukan istri yang sudah dicerai, bukan istri yang pisah ranjang, tetapi istri sah yang tinggal di rumah mewah di kawasan Menteng dan sedang hamil anak pertama mereka.
Agus menghela napas panjang. Ia ingin sekali menjawab dengan sarkas—“Mbak, gue udah bilang dari awal,” atau “Mbak, lo punya radar orang brengsek atau gimana sih?” tetapi ia menahan diri. Sarkasme tidak akan menyembuhkan luka Titik. Sarkasme hanya akan membuatnya merasa lebih bodoh, lebih gagal, lebih hancur.
“Mbak, lo lagi di mana?” balas Agus.
“Di apartemen gue. Sendirian. Semua orang pergi.”
“Lo udah makan?”
“Nggak.”
“Makan dulu. Paling nggak roti atau mi instan.”
“Gue nggak napsu makan, Gus.”
“Makan bukan karena napsu. Makan karena lo butuh energi buat nangis. Nangis itu melelahkan.”
Titik tidak membalas selama sepuluh menit. Agus sudah hampir mematikan ponselnya ketika pesan baru masuk:
“Gue kadang mikir, Gus. Apa iya salah gue? Apa iya gue yang terlalu cepet jatuh cinta? Atau gue yang terlalu baper? Atau gue yang terlalu gampang percaya?”
Agus menyandarkan punggungnya di kursi. Matanya menatap langit-langit kamar yang retak. Retakan itu semakin lebar dari tahun ke tahun, seperti hatinya yang perlahan merekah, tidak kentara, tetapi pasti.
“Mbak salah satu hal: Mbak terlalu baik untuk dunia yang kejam. Dan orang-orang jahat hobi banget sama orang baik. Bukan salah Mbak. Dunianya yang gombal.”
“Lo selalu bilang gitu, Gus. Tapi gue muak jadi korban terus.”
“Mbak bukan korban. Mbak hanya belum bertemu dengan orang yang tepat.”
“Kapan, Gus? Kapan?”
Agus tidak bisa menjawab. Karena jawaban yang sebenarnya ada di mulutnya, di ujung lidahnya, siap untuk dimuntahkan kapan saja: “Sekarang, Mbak. Saya. Saya orang yang tepat. Saya orang yang tidak akan pernah pergi, tidak akan pernah selingkuh, tidak akan pernah membuatmu menangis karena laki-laki lain. Saya di sini. Saya selalu di sini. Kenapa Mbak tidak melihat saya?”
Tapi ia tidak mengetik itu. Ia hanya mengetik:
“Nanti, Mbak. Nanti juga ketemu. Sabar.”
“Gue udah nggak punya sabar lagi, Gus.”
“Kalau gitu, gue yang akan bersabar untuk Mbak.”
Titik membalas dengan satu kalimat yang membuat Agus tersenyum kecut:
“Lo tuh aneh, Gus. Kenapa sih lo nggak pernah marah sama gue? Kenapa lo nggak pernah bilang ‘Gue juga punya hidup, Mbak, gue nggak bisa setiap saat jadi tempat lo curhat’?”
“Karena gue sudah memilih, Mbak. Dan pilihan gue adalah menjadi tempat Mbak curhat. Mau sampai kapan pun.”
“Gue nggak layak punya sahabat kayak lo.”
“Itu bukan Mbak yang menentukan. Itu gue.”
Titik tidak membalas lagi. Agus menduga ia sudah tertidur, atau mungkin menangis di atas bantal, atau mungkin melakukan hal-hal yang tidak ingin ia pikirkan karena akan membuatnya cemas.
Ia mematikan laptop, merapikan buku-buku yang berserakan, lalu tidur dengan pakaian yang sama seperti yang ia kenakan seharian.
Di dalam gelap kamar yang hanya diterangi lampu merah dari indikator laptop yang masih menancap di stopkontak, Agus berbisik pada dirinya sendiri:
“Sampai kapan, Gus? Sampai kapan kamu kuat?”
Tidak ada yang menjawab.
Sabtu pagi di pekan yang sama, Agus memutuskan untuk datang ke Jakarta.
Ia tidak memberi tahu Titik. Ia ingin membuat kejutan, bukan kejutan romantis, melainkan kejutan sahabat. Kadang, hal terbaik yang bisa dilakukan untuk seseorang yang sedang hancur adalah hadir tanpa diundang, datang tanpa diminta, dan berada di sana tanpa syarat.
Ia naik kereta ekonomi pagi buta, jam setengah lima subuh. Stasiun Hall masih sepi, hanya beberapa orang dengan koper dan wajah ngantuk. Ia duduk di kursi favoritnya di dekat jendela, membawa ransel kecil berisi baju ganti, buku catatan, dan satu botol air putih. Perjalanan dari Bandung ke Jakarta memakan waktu sekitar tiga jam, cukup lama untuk merenung, cukup pendek untuk tidak merasa sendirian.
Selama perjalanan, ia menulis di buku catatannya:
“Aku sudah tidak ingat lagi kapan tepatnya aku jatuh cinta padanya. Mungkin saat ia menuntunku pulang ketika aku tersesat di usia delapan tahun. Mungkin saat ia membela aku ketika anak-anak kampung mengejek rambut ikalku. Mungkin saat ia menangis di bahuku karena Rendra, karena Robi, karena Handoko, karena Andre, karena Farhan, karena Dimas, karena Edo, dan karena semua nama yang akan datang sesudahnya. Atau mungkin, aku tidak pernah jatuh cinta padanya dalam satu waktu. Mungkin aku jatuh cinta setiap hari, sedikit demi sedikit, tanpa pernah sadar, sampai suatu hari aku membuka mata dan menyadari bahwa ia telah menjadi seluruh isi kepalaku.”
Ia menutup buku catatan itu, menyimpannya di dalam ransel, lalu menatap pemandangan di luar jendela: sawah-sawah hijau, bukit-bukit kecil, langit yang mulai berwarna jingga karena matahari terbit.
“Mbak Titik, aku datang,” bisiknya. “Aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan ketika bertemu denganmu. Aku hanya tahu aku harus ada. Dan mungkin, hanya mungkin, kali ini aku akan sedikit lebih jujur.”
Di apartemen Titik, suasana seperti kuburan.
Titik membuka pintu pukul sepuluh pagi dengan mata sembab, rambut kusut, dan bau badan yang tajam—tanda bahwa ia belum mandi sejak dua hari lalu. Kaus oblong putih yang ia pakai sudah kusut dan kotor di bagian kerah. Celana pendeknya juga sama. Ia memegang segelas kopi hitam yang sudah dingin, dan di meja ruang tamu, berserakan tisu bekas dan piring-piring kotor.
“Mbak, lo kelihatan kayak mayat hidup,” kata Agus sambil masuk, tanpa menunggu izin.
“Makasih pujiannya,” jawab Titik dengan suara serak. Ia tidak terkejut melihat Agus. Mungkin ia sudah menduga bahwa suatu saat sahabatnya itu akan muncul, karena Agus selalu muncul di waktu yang paling kacau. Itulah sifat Agus.
Agus meletakkan ranselnya di sofa. Ia membuka kulkas Titik, menemukan hanya dua butir telur, sepotong keju, dan setengah liter susu yang sudah mendekati tanggal kedaluwarsa. Ia mengeluarkan telur dan keju itu, lalu pergi ke dapur.
“Lo mau masak?” tanya Titik.
“Mbak duduk aja, jangan gerak. Lo bau.”
“Kasar amat.”
“Jujur namanya, bukan kasar.”
Agus memasak dengan cekatan. Telur dadar keju, dilipat rapi, dipotong menjadi delapan bagian kecil. Roti tawar panggang dengan mentega tipis. Susu yang hampir kedaluwarsa ia hangatkan dengan sedikit madu, cairan hangat yang menenangkan tenggorokan. Ia menyusun semua di atas nampan, lalu membawanya ke ruang tamu.
“Makan,” perintah Agus sambil meletakkan nampan di meja.
“Nggak laper.”
“Gue gak peduli laper atau enggak. Makan.”
Titik mendelik, tetapi akhirnya mengambil satu potong telur dadar. Ia mengunyah perlahan, seperti orang yang lupa bagaimana rasanya mengunyah. Agus duduk di seberangnya, menatap dengan saksama.
“Gus, lo sadar nggak, lo tuh kadang rese banget?” kata Titik di sela kunyahan.
“Sadar. Tapi Mbak tetap makan.”
“Jawabannya nggak logis.”
“Cinta juga nggak logis, Mbak.”
Titik berhenti mengunyah. Kalimat Agus barusan menggantung di udara, seperti burung yang tidak tahu harus hinggap di mana. Titik menatap Agus dengan mata yang terlalu dalam untuk sekadar sahabat. Tapi Agus hanya tersenyum, lalu berdiri meninggalkan ruang tamu menuju kamar mandi, bukan untuk buang air, tetapi untuk mengalihkan perhatian.
“Ngomong apa tadi, Gus? Cinta nggak logis. Kenapa kau harus mengatakan itu? Kenapa kau tidak bisa diam?” hatinya berteriak.
Ia mencuci mukanya dengan air dingin, menatap bayangannya di cermin yang sedikit buram karena jamuran di sudut-sudutnya. Bayangan itu menatap balik dengan mata yang lelah, mata yang sudah terlalu banyak menyimpan rahasia.
“Berani, Gus?” bisik bayangan itu. “Hari ini? Di sini? Setelah semua yang terjadi? Atau kau akan menjadi pengecut lagi?”
Agus membasuh wajahnya sekali lagi, lalu mengeringkannya dengan handuk kecil yang sudah mulai tipis karena terlalu sering dicuci.
“Tidak hari ini,” bisiknya. “Dia masih rapuh. Aku tidak akan menambah bebannya.”
Sepanjang hari, mereka melakukan hal-hal sederhana yang sudah menjadi ritual: mencuci piring kotor yang menumpuk, menyapu lantai apartemen yang berdebu, menonton film komedi di Netflix (Titik tertawa di beberapa bagian, Agus tidak mendengar suara tawa itu selama dua bulan terakhir), berjalan-jalan ke minimarket di bawah apartemen untuk membeli camilan, lalu duduk di balkon kecil apartemen yang hanya cukup untuk dua orang.
Di balkon itu, pemandangan yang mereka lihat bukanlah pemandangan indah—hanya gedung demi gedung, jalan raya yang macet, dan langit Jakarta yang abu-abu karena polusi. Tapi bagi Agus, duduk di balkon bersama Titik adalah kemewahan yang tidak bisa dibeli dengan uang.
“Gus,” kata Titik setelah menghabiskan sebungkus keripik kentang.
“Ya.”
“Menurut lo, kenapa ya gue selalu gagal? Apa gue terlalu banyak tuntutan? Apa gue terlalu tinggi standar? Apa gue yang emang nggak pantes dicintai?”
Agus memutar kepalanya ke arah Titik. Wajah Titik tidak lagi separah pagi, setidaknya ia sudah mandi, mengganti baju, dan rambutnya sudah disisir. Tapi matanya tetap cekung, tanda bahwa luka di hatinya belum sembuh, mungkin belum akan sembuh dalam waktu dekat.
“Mbak,” kata Agus, “kegagalan Mbak dalam urusan cinta bukan karena Mbak tidak pantes dicintai. Mbak gagal karena Mbak mencari cinta di tempat yang salah. Mbak jatuh pada orang-orang yang pandai bicara tetapi miskin bukti. Mbak memilih gemerlap, padahal yang Mbak butuhkan adalah ketenangan.”
“Maksud lo, gue harus cari cowok yang membosankan?”
“Bukan membosankan. Tapi konsisten. Bukan yang setiap hari bikin jantung lo dag-dig-dug, tapi yang setiap hari membuat lo merasa aman. Bukan yang gombalannya bikin lo meleleh, tapi yang tindakannya membuat lo percaya.”
Titik terdiam. Ia memainkan ujung rambutnya, kebiasaan lama yang ia lakukan sejak kecil ketika sedang berpikir keras.
“Lo kayak lagi ngomongin diri lo sendiri, Gus,” kata Titik akhirnya, dengan suara pelan.
Deg. Jantung Agus berhenti berdetak sepersekian detik.
“Apa?” tanyanya, berusaha terdengar santai.
“Gue bilang, lo kayak lagi ngomongin diri lo sendiri. Coba lihat: lo konsisten, lo bikin gue merasa aman, lo nggak pernah gombal tapi tindakan lo selalu bikin gue... nyaman. Lo tuh kayak... deskripsi yang lo kasih barusan. Persis.”
Agus mencibir, berusaha menyembunyikan rasa gugup yang menjalar di sekujur tubuhnya. “Mbak, jangan bercanda.”
“Gue nggak bercanda. Coba lo pikir. Selama ini, cowok-cowok yang gue ceritain ke lo, mereka semua punya satu kesamaan: mereka datang dengan gegap gempita, terus pergi tanpa pamit. Tapi lo? Lo nggak pernah datang dengan drama, tapi lo juga nggak pernah pergi. Lo kayak... batu. Jelek, nggak menarik, nyebelin kadang, tapi kokoh.”
“Mbak, gue batu?”
“Iya. Batu yang nggak gue sadari selama ini ada di taman belakang rumah gue. Batu yang gue lewati setiap hari tanpa gue lirik. Batu yang gue injak-injak tanpa gue sadari kalau batu itu sebenarnya pondasi rumah gue.”
Agus tidak bisa berkata apa-apa. Mulutnya terasa kering. Lidahnya seperti tersedak kata-kata yang sudah ia siapkan selama bertahun-tahun.
“Ini saatnya,” pikirnya. “Dia sudah membuka pintu. Dia sudah memberi isyarat. Jika tidak sekarang, kapan lagi?”
Tapi kemudian ia melihat sesuatu di mata Titik: ketakutan. Bukan ketakutan akan jawaban Agus, melainkan ketakutan terhadap apa yang akan terjadi jika Agus menjawab dengan jujur. Seolah-olah Titik sedang berdiri di tepi jurang, dan ia tahu bahwa jika Agus mendorongnya, ia akan jatuh atau terbang. Dan ia tidak tahu mana yang lebih menakutkan.
“Mbak,” kata Agus akhirnya.
“Hm.”
“Batu itu... dia bisa saja bilang sesuatu sekarang. Tapi dia memilih diam. Karena dia tahu, pemilik rumah belum siap untuk merenovasi. Masih ada banyak retakan yang harus diperbaiki dulu.”
Titik menatap Agus dengan mata yang berkaca-kaca. “Lo lagi ngomong kiasan, ya?”
“Bukan kiasan, Mbak. Ini kode. Terserah Mbak mau baca atau tidak.”
Mereka berdua terdiam. Angin Jakarta yang hangat dan berdebu menerpa wajah mereka. Dari suatu tempat di kejauhan, terdengar suara azan magrib, meskipun sebenarnya waktu masih menunjukkan pukul empat sore. Mungkin pengeras suara masjid itu rusak. Atau mungkin ini pertanda.
Titik menggigit bibir bawahnya. Ia tahu persis apa yang coba disampaikan Agus. Telah bertahun-tahun ia mencurigai, bertahun-tahun ia mengabaikan, bertahun-tahun ia pura-pura tidak melihat. Karena jika ia mengakui bahwa Agus mungkin lebih dari sekadar sahabat, maka seluruh peta dunianya akan berubah. Dan Titik Mukti Aryanti belum siap untuk perubahan sebesar itu.
“Gus,” kata Titik pelan.
“Ya.”
“Gue mungkin... tahu apa yang lo coba katakan. Tapi gue mohon, jangan katakan sekarang. Gue masih butuh waktu. Gue masih pusing. Gue masih belum tahu apa yang gue rasakan. Jangan buat semuanya semakin rumit.”
Agus menghela napas panjang. Ia tidak marah. Ia tidak kecewa. Ia sudah menduga jawaban seperti ini akan keluar. Titik belum siap. Mungkin tidak akan pernah siap. Dan Agus harus belajar menerima bahwa mencintai seseorang bukan berarti ia harus memiliki orang itu.
“Oke, Mbak,” katanya datar. “Gue tunggu. Sabar itu kan sudah jadi spesialisasi gue.”
Titik tersenyum getir. “Maaf, Gus.”
“Nggak usah minta maaf. Mbak nggak salah apa-apa.”
Matahari mulai terbenam di balik gedung-gedung. Langit Jakarta berubah warna menjadi jingga kemerahan, diselingi awan tipis yang tampak seperti kapas terbakar. Agus menatap pemandangan itu, berusaha mengabadikannya dalam memorinya, seperti ia selalu mengabadikan setiap momen bersama Titik, karena ia tidak pernah tahu kapan momen terakhir mereka akan tiba.
Agus pulang ke Bandung keesokan harinya, Minggu sore. Titik mengantarnya ke Stasiun Gambir, seperti yang selalu ia lakukan. Mereka berjalan berdampingan di antara kerumunan penumpang yang sibuk dengan koper dan tiket.
Di peron, sebelum Agus naik ke kereta, Titik meraih tangan Agus. Ia menggenggamnya erat, bukan seperti genggaman sahabat, tetapi seperti genggaman seseorang yang takut kehilangan.
“Gus,” kata Titik.
“Ya.”
“Lo tahu kan... lo penting buat gue. Sangat penting. Mungkin lo nggak tahu seberapa penting.”
“Gue tahu, Mbak. Dan Mbak juga penting buat gue.”
“Tapi gue belum bisa... lo tahu...”
“Gue paham, Mbak. Jangan dipaksakan.”
Titik melepas genggamannya, lalu memeluk Agus. Pelukan yang singkat, tetapi hangat. Pelukan yang terasa berbeda dari biasanya ada sesuatu di sana, meskipun belum bisa ia beri nama.
Kereta bersiul. Agus naik. Ia duduk di kursi dekat jendela, menatap Titik yang masih berdiri di peron, melambaikan tangan.
Kereta mulai bergerak. Perlahan, Titik menjadi semakin kecil, semakin kecil, hingga akhirnya lenyap di antara kerumunan.
Agus mengeluarkan ponselnya. Satu pesan masuk dari Titik, dikirim beberapa detik yang lalu:
“Makasih untuk akhir pekan ini, Gus. Lo selalu datang di waktu yang tepat, bahkan ketika gue nggak minta. Itu sebabnya lo sahabat sejati. Jangan berubah. See you soon ❤️”
Agus membaca pesan itu berulang-ulang. Matanya berhenti pada kata "sahabat". Sahabat. Kata itu lagi. Selalu itu. Tidak pernah berubah.
Ia membalas:
“See you soon, Mbak. Jaga diri. Jangan lupa makan. Kalau butuh sesuatu, hubungi gue. Siapa pun dan kapan pun. Gue akan ada. Janji.”
Ia mengirim pesan itu, lalu mematikan ponselnya. Kereta melaju meninggalkan Jakarta, meninggalkan Titik, meninggalkan semua kata yang tidak terucap.
Di dalam gerbong yang ramai oleh penumpang lain, Agus Sabara menangis. Bukan tangis yang keras, bukan tangis yang histeris, tetapi tangis yang diam, seperti sungai di bawah tanah yang mengalir tanpa pernah dilihat siapa pun.
Ia menangisi momen yang hilang. Ia menangisi keberanian yang tak pernah ia miliki. Ia menangisi cinta yang tetap menjadi rahasia.
Di Stasiun Gambir, Titik Mukti Aryanti masih berdiri di peron. Ia tidak bergerak, bahkan setelah kereta benar-benar hilang dari pandangan. Ia memegang ponselnya, membaca balasan Agus, dan air matanya jatuh tanpa suara.
“Kenapa aku tidak berani, Gus? Kenapa aku begitu takut kehilangan persahabatan kita sehingga aku membiarkan cinta sejatiku lewat begitu saja?”
Pertanyaan itu tidak terjawab.
BAB VI
LELAKI-LELAKI YANG DATANG DAN PERGI, DAN SATU YANG TAK PERNAH BERANJAK
Tahun 2012 menjadi tahun yang sulit bagi Agus Sabara, bukan karena ia gagal dalam sidang skripsinya, ia lulus dengan nilai yang cukup membanggakan, meskipun tidak cumlaude, bukan pula karena ia kesulitan mencari pekerjaan, ia diterima di sebuah lembaga swadaya masyarakat di Bandung sebagai peneliti junior dengan gaji yang pas-pasan. Tahun itu sulit karena Titik Mukti Aryanti, perempuan yang selama ini menjadi pusat gravitasinya, mengalami apa yang mungkin disebut sebagai "krisis seperempat abad".
Titik kini berusia dua puluh enam tahun. Dalam dua tahun terakhir, setelah Edo si pengusaha brengsek itu, ia berkencan dengan setidaknya empat pria lagi, kesemuanya berakhir dengan cara yang sama: kandas. Ada Doni, rekan kerjanya di kantor, yang ternyata sudah bertunangan dengan orang lain. Ada Andika, pria yang ia kenal dari aplikasi kencan, yang menghilang setelah tiga bulan tanpa pesan atau salam. Ada Surya, teman kuliahnya dulu, yang ternyata hanya mencari "kesenangan sesaat" dan tidak serius. Dan yang terakhir, ada Reno, seorang seniman jalanan yang ditemuinya di acara festival musik, yang katanya "mencintai kebebasan" dan terbukti bebas berselingkuh dengan tiga perempuan sekaligus.
Agus mendengar semua cerita itu, satu per satu, melalui telepon di malam hari, melalui pesan singkat di sela-sela kerjanya, melalui kunjungan dadakan Titik ke Bandung atau kunjungan Agus ke Jakarta, setiap kali Titik merasa dunianya runtuh.
Dan setiap kali, Agus melakukan hal yang sama: mendengarkan, memasak makanan hangat, membersihkan kamar atau apartemen Titik yang berantakan, menemaninya dengan kehadiran yang tidak banyak bicara, lalu pulang dengan perasaan yang semakin berat di dadanya.
“Mbak,” kata Agus suatu malam di teras apartemen Titik, ketika ia sedang berkunjung setelah Reno yang brengsek itu ketahuan selingkuh. “Gue mau tanya sesuatu. Dan gue minta Mbak jawab jujur.”
“Apa?” tanya Titik sambil memegang segelas susu hangat yang dibuatkan Agus.
“Apakah Mbak pernah berpikir untuk... berhenti? Berhenti mencari? Berhenti memaksakan diri? Cukup fokus pada diri Mbak sendiri untuk sementara waktu?”
“Maksud lo, jomblo?”
“Bukan cuma jomblo, Mbak. Tapi bener-benar berhenti. Tidak aktif mencari. Tidak membuka hati untuk siapa pun. Tidak install aplikasi kencan. Tidak menggoda atau digoda. Cuma... sendiri. Dan belajar menikmatinya.”
Titik terdiam. Ia menatap gelas susu di tangannya, memutar-mutarnya perlahan, melihat riak kecil di permukaan.
“Gue nggak tahu, Gus. Gue nggak pernah nyaman sendiri. Dari kecil, gue selalu butuh seseorang untuk diajak bicara, untuk diceritain, untuk dijadikan sandaran. Kalau gue sendiri, gue kaya... kehilangan sebagian dari diri gue.”
“Mungkin itu masalahnya, Mbak. Mbak nggak pernah belajar menjadi utuh sendirian. Jadi setiap kali hubungan gagal, Mbak merasa kehilangan separuh diri, padahal separuh itu sebenarnya tidak pernah pergi. Yang pergi hanya ilusi.”
Titik meletakkan gelasnya di atas meja. “Lo sekarang kayak psikolog, Gus.”
“Gue cuma khawatir, Mbak. Lo kelihatan semakin kurus. Mata lo cekung. Lo kerja seharian, malemnya begadang, paginya minum kopi, sorenya galau karena cowok. Itu nggak sehat.”
“Lo juga nggak sehat, Gus. Jomblo terus. Kerja mulu. Nggak pernah rekreasi. Nggak pernah pacaran. Lo tuh... lo tuh keliatan kayak orang yang nungguin sesuatu yang nggak akan datang.”
Agus tersenyum getir. Dia tidak tahu. Pikirnya. Dia benar-benar tidak tahu bahwa sesuatu yang ia nantikan itu adalah dirinya sendiri. Dan ia juga tidak tahu bahwa kedatangannya bukanlah hal yang mustahil—Agus hanya menunggu, setia, sabar, dan perlahan terluka.
“Gue bahagia kok, Mbak,” kata Agus sambil berdiri, mengakhiri percakapan sebelum terlalu dalam. “Sekarang, Mbak tidur. Besok gue temuin Mbak sarapan sebelum gue balik ke Bandung.”
Di Bandung, kehidupan Agus berjalan seperti sungai yang tenang. Pagi-pagi ia pergi ke kantor LSM tempatnya bekerja, meneliti kebijakan pemerintah tentang pendidikan dan kemiskinan. Sore hari ia pulang ke kos-kosannya yang sempit, mandi, memasak sendiri, lalu membaca buku atau menulis puisi-puisi buruk yang tidak akan pernah ia tunjukkan pada siapa pun. Malam hari ia tidur, atau begadang jika Titik menelepon dengan cerita baru yang membuatnya sulit memejamkan mata.
Teman-temannya di kantor mulai bertanya, “Mas Agus, punya pacar nggak?”
“Nggak.”
“Ganteng, pinter, baik. Masa nggak ada yang mau?”
“Belum nemu yang cocok.”
“Kriteria apa sih?”
Agus selalu terdiam ketika ditanya tentang kriteria. Bukan karena ia tidak tahu, tetapi karena kriteria itu hanya satu: dia harus Titik. Dan tidak ada kriteria lain yang bisa menggantikan. Tidak ada wajah lain yang bisa ia bayangkan di sampingnya saat tidur. Tidak ada suara lain yang ingin ia dengar setiap pagi. Tidak ada nama lain yang ingin ia panggil dengan sebutan "sayang".
“Yang penting baik dan setia,” jawab Agus diplomatis. Teman-temannya mengangguk, lalu kembali ke pekerjaan masing-masing. Mereka tidak tahu bahwa "baik dan setia" adalah sifat yang Agus miliki sendiri. Bahwa ia sedang mencari versi perempuan dari dirinya dan versi itu sedang sibuk patah hati di Jakarta dengan laki-laki lain.
Suatu Minggu pagi di awal tahun 2013, Agus mendapat telepon yang membuatnya terjaga dari tidur yang tidak nyenyak.
“Gus, gue di Rumah Sakit,” suara Titik di ujung telepon terdengar lemah, seperti orang yang kehabisan tenaga.
Agus langsung duduk, jantungnya berdegup kencang. “Sakit apa, Mbak? Kenapa? Di mana? Lo sendiri?”
“Di RS Fatmawati. Maag akut. Udah tiga hari nggak bisa makan. Tadi pagi muntah darah. Temen sekantor anterin. Sekarang lagi di UGD.”
“Gue ke sana. Tunggu.”
“Nggak usah, Gus. Lo kan kerja.”
“Mbak, lo muntah darah. Darah. Warna merah yang biasanya ada di dalam tubuh tapi sekarang keluar lewat mulut. Itu bukan ‘nggak usah’. Itu darurat.”
Titik tidak menjawab. Agus mendengar suara perawat di latar belakang memanggil nama Titik untuk pemeriksaan lanjutan.
“Gue matiin dulu, Gus. Dokter manggil.”
Telepon terputus.
Agus berdiri, tangannya gemetar. Ia membuka lemari, mengambil jaket tebal, meskipun cuaca di Bandung tidak terlalu dingin, lalu mengisi ranselnya dengan baju ganti, uang, dan buku catatan. Ia menelepon kantor, memberitahu bahwa ia tidak akan masuk hari Senin karena ada keperluan mendesak. Atasan di kantornya menggerutu, tetapi mengizinkan.
Ia naik kereta pukul sembilan pagi. Perjalanan kali ini terasa lebih lama dari biasanya. Setiap menit terasa seperti satu jam. Setiap stasiun yang dilewati terasa seperti satu abad.
Di kereta, ia menelepon teman sekantor Titik yang mengantarnya ke rumah sakit, seorang perempuan bernama Mia yang sudah ia kenal sekilas saat acara kantor Titik tahun lalu.
“Mbak Mia, keadaan Mbak Titik gimana?”
“Udah dirawat di ruang rawat inap. Kata dokternya, maag kronis. Dinding lambungnya iritasi parah karena pola makan nggak teratur dan stres berkepanjangan. Dia harus istirahat total setidaknya seminggu.”
“Stres berkepanjangan?” tanya Agus, padahal ia sudah tahu jawabannya. Stres Titik berasal dari pekerjaan yang menuntut, tekanan orang tua untuk segera menikah, dan yang terparah: laki-laki-laki brengsek yang datang silih berganti.
“Iya, Mas. Mbak Titik akhir-akhir ini sering ngeluh susah tidur, makan nggak teratur, dan dia cerita soal... lo tahu lah, masalah asmara.”
Agus menghela napas. “Saya di kereta sekarang. Mungkin sampe Jakarta jam setengah satu. Tolong jagain Mbak Titik sampai saya datang.”
“Iya, Mas. Mbak Titik beruntung punya sahabat kayak Mas Agus.”
Agus tidak menjawab. Beruntung? Atau sial? pikirnya. Karena jika ia tidak memiliki sahabat seperti saya, mungkin ia akan belajar mandiri lebih cepat. Mungkin ia tidak akan begitu bergantung. Mungkin ia akan belajar memilih laki-laki dengan lebih bijak.
Tapi pemikiran itu terlalu kejam. Ia membuangnya dari kepalanya.
Di rumah sakit, Agus menemukan Titik terbaring lemah di ranjang nomor 12, ruang rawat inap kelas tiga yang berbagi dengan tiga pasien lain. Tirai biru tipis memisahkan satu ranjang dengan ranjang lainnya, tetapi tidak cukup untuk memberikan privasi sejati. Bau disinfektan menyengat di hidung, campur aduk dengan bau makanan rumah sakit yang tidak pernah enak.
Titik memakai baju pasien bergaris biru putih, rambutnya diikat asal, wajahnya pucat pasi. Ada infus di tangan kirinya, selang oksigen di hidungnya. Matanya terpejam, tetapi Agus tahu ia tidak tidur—bibirnya bergerak-gerak kecil, tanda bahwa ia sedang berbicara dengan suara di kepalanya.
Agus duduk di kursi plastik di samping ranjang Titik. Ia meletakkan ranselnya di lantai, lalu meraih tangan Titik yang tidak terpasang infus. Tangan itu terasa dingin dan kurus, seperti ranting kering yang siap patah tertiup angin.
“Mbak,” bisik Agus.
Titik membuka matanya perlahan. Melihat Agus, sekejap matanya berkaca-kaca. “Lo dateng,” bisiknya.
“Gue dateng, Mbak. Seperti biasa.”
“Maag gue kambuh, Gus. Muntah darah.”
“Mbak. Muntah darah itu karena maag.”
Titik tertawa kecil, tetapi tawa itu segera berubah menjadi batuk. Agus buru-buru mengambil air minum dari meja samping, menyodorkan sedotan ke mulut Titik. Titik meminumnya sedikit, lalu menghela napas.
“Maag gue kambuh karena seminggu ini gue hampir nggak makan,” kata Titik.
“Kenapa nggak makan?”
“Karena patah hati lagi.”
Agus sudah menduga. “Siapa lagi, Mbak?”
“Yang terbaru. Namanya Arman. Dia calon pegawai negeri sipil. Orangnya baik, Gus. Bener-bener baik. Tapi...” Titik berhenti, menelan ludah, “Tapi dia nggak serius sama gue. Dia bilang dia belum siap komitmen. Tiga bulan pacaran, selama itu juga dia main belakang gue dengan cewek lain.”
Agus tidak mengatakan gue sudah bilang. Ia tidak mengatakan apa lagi yang lo harapkan dari laki-laki yang lo kenal dari aplikasi kencan? Ia tidak mengatakan sejak kapan lo belajar memilih? Ia hanya diam, meremas tangan Titik sedikit lebih erat.
“Mbak,” katanya setelah beberapa saat.
“Hm.”
“Mulai sekarang, Mbak fokus sembuh dulu. Nggak usah mikirin cowok. Nggak usah mikirin kerja. Nggak usah mikirin omongan orang tua. Mbak izin cuti. Istirahat total. Gue akan temani Mbak selama masa perawatan.”
“Lo bisa cuti kerja?”
“Gue minta cuti. Nggak dikasih? Gue cabut. Cari kerja lain.”
“Jangan sembrono, Gus.”
“Mbak, gue nggak sembrono. Lo lebih penting dari kerjaan.”
Titik menatap Agus dengan mata yang sulit diartikan. Ada rasa terima kasih di sana, tetapi ada juga sesuatu yang lain, mungkin rasa bersalah, mungkin rasa bingung, mungkin rasa yang belum bisa ia beri nama.
“Gus, lo nggak takut,” bisik Titik, “kalau gue jadi terlalu bergantung sama lo?”
“Mbak, gue sudah bertahun-tahun memposisikan diri sebagai tempat Mbak bergantung. Kalau gue takut, gue akan pergi dari dulu.”
“Tapi gue nggak bisa membalas kebaikan lo.”
“Mbak, sahabat sejati nggak pernah minta balasan.”
Titik menutup matanya. Setetes air mata jatuh dari sudut matanya, membasahi bantal rumah sakit yang putih bersih. Agus menyekanya dengan ujung jarinya. Halus. Lembut. Seperti ia menyeka air mata Titik untuk yang kesekian kalinya.
Selama lima hari Titik dirawat, Agus tidak pernah meninggalkan rumah sakit kecuali untuk membeli makanan atau mengganti pakaian di kos-kosan temannya yang tinggal di Jakarta Selatan. Ia tidur di kursi plastik yang sama, dengan bantal dari jaket yang dilipat, dan selimut dari jas hujan yang ia bawa dari Bandung.
Setiap pagi, ia membeli bubur ayam untuk sarapan Titik, bubur yang lembut, tanpa kacang, tanpa kerupuk, sesuai instruksi dokter. Siang hari, ia membacakan novel yang Titik pinjam dari perpustakaan rumah sakit, dengan suara yang monoton dan kadang salah mengartikan kata. Sore hari, ia memandu Titik berjalan-jalan kecil di lorong rumah sakit, berpegangan tangan, melangkah lambat seperti lansia.
Malam hari, ketika lampu rumah sakit diredupkan dan pasien lain sudah tertidur, Agus dan Titik berbicara dengan suara berbisik. Mereka berbicara tentang masa kecil, tentang pohon mangga yang sudah ditebang, tentang surat janji persahabatan yang masih disimpan Titik di dalam stoples biskuit.
“Lo ingat nggak, waktu kecil kita pernah bikin surat janji?” tanya Titik.
“Ingat. Surat janji yang pake sidik jari arang lidi.”
“Itu masih ada di rumah gue di kampung. Gue simpan di stoples biskuit Khong Guan.”
“Masih ada? Itu udah hampir dua puluh tahun lalu.”
“Masih. Kadang-kadang gue buka, lihat-lihat, terus ingat kita berdua.”
Agus tersenyum. “Lo bacain dulu bunyinya.”
Titik memejamkan mata, berusaha mengingat. Suaranya berbisik di kegelapan ruangan:
“Kami yang bertanda tangan di bawah ini, Titik Mukti Aryanti dan Agus Sabara, dengan ini bersumpah akan menjadi sahabat selamanya. Tidak akan saling meninggalkan. Tidak akan saling mengkhianati. Jika ada yang sakit, yang satunya wajib menjenguk. Jika ada yang sedih, yang satunya wajib menghibur. Janji ini berlaku selamanya, tidak peduli jarak dan waktu. Yang melanggar: kena sial 7 tahun.”
Titik tertawa kecil di bagian “sial 7 tahun”. “Gue waktu kecil edan, ya, bikin hukuman kayak gitu.”
“Kreatif, Mbak. Bukan edan.”
“Lo ingat semua tulisannya?”
“Setiap kata. Karena gue sudah membaca surat itu ribuan kali, walaupun lo yang simpan.”
Titik terdiam. Ada kehangatan yang ia rasakan, tetapi ia tidak tahu apakah kehangatan itu berasal dari selimut rumah sakit atau dari kalimat terakhir Agus.
“Gus, lo mau minta apa pun sama gue, sekarang gue kasih. Karena lo udah jagain gue terus-terusan.”
Agus terdiam cukup lama. Udara di ruangan terasa dingin. Suara napas pasien di ranjang sebelah terdengar berat dan tidak teratur.
“Katakan bahwa kau mencintaiku.” Itu yang ingin ia ucapkan. “Katakan bahwa kau melihatku bukan hanya sebagai sahabat. Katakan bahwa selama ini kau terlalu takut kehilangan aku, padahal kau tidak akan kehilangan aku apa pun yang terjadi.”
Tapi yang keluar dari mulutnya adalah:
“Gue minta Mbak janji satu hal.”
“Apa?”
“Setelah sembuh, Mbak tidak akan mencari-cari drama cinta lagi. Mbak akan fokus pada kesehatan dan kebahagiaan Mbak sendiri. Mbak tidak akan membuka hati untuk laki-laki mana pun setidaknya selama satu tahun. Beri diri Mbak waktu untuk pulih sepenuhnya.”
Titik terdiam. “Satu tahun? Itu lama.”
“Lama? Mbak, kita sudah bersahabat hampir dua puluh tahun. Satu tahun itu cuma sebutir pasir di padang pasir.”
“Tapi gue takut... gue takut kesepian.”
“Mbak tidak akan kesepian. Karena Mbak punya gue. Dan gue tidak akan pergi ke mana-mana.”
Titik menutup matanya. Air mata merembes lagi, untuk yang kesekian kalinya dalam lima hari ini. Tapi kali ini, air matanya tidak keluar karena patah hati akibat laki-laki. Air matanya keluar karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia menyadari bahwa kebahagiaan mungkin tidak harus datang dengan gemuruh. Kebahagiaan bisa datang dengan langkah kaki yang pelan, suara yang lembut, dan kehadiran yang tidak pernah berubah.
“Janji,” bisik Titik akhirnya. “Gue janji.”
Agus meremas tangan Titik. Itu cukup.
Titik keluar dari rumah sakit setelah lima hari. Agus mengantarnya pulang ke apartemen, merapikan tempat tidurnya, mengisi kulkas dengan makanan sehat—buah-buahan, sayuran, susu, dan bubur instan untuk jaga-jaga jika maagnya kambuh lagi.
“Gue balik ke Bandung besok pagi, Mbak,” kata Agus.
“Jangan, masih lama seminggu lagi.”
“Kerjaan gue numpuk. Nanti gue dipecat.”
“Ya udah, tapi hari Senin lo balik lagi. Janji?”
“Janji.”
Sebelum pergi, Titik memeluk Agus dari belakang saat Agus sedang mencuci piring di dapur sebuah kejutan yang membuat Agus membeku, tangannya berhenti bergerak, spons cuci piring terjatuh ke dalam air sabun.
“Mbak, kenapa?” tanya Agus dengan suara yang sedikit lebih tinggi dari biasanya.
“Gue mau bilang makasih,” bisik Titik, wajahnya menempel di punggung Agus. “Tapi makasih aja rasanya nggak cukup. Lo udah nyelesain banyak hal dalam hidup gue, Gus. Tapi lo sendiri nggak pernah minta apa-apa. Itu bikin gue ngerasa... nggak enak.”
“Mbak, nggak usah mikirin gitu.”
“Tapi gue pengen lo tahu satu hal.”
“Apa?”
Titik melepas pelukannya. Ia memutar tubuh Agus perlahan, sehingga mereka berhadapan. Jarak antara wajah mereka hanya beberapa senti. Agus bisa melihat setiap pori di wajah Titik, setiap bulu mata yang lentik, setiap kerutan halus di sudut matanya karena terlalu banyak menangis.
“Gue,” kata Titik pelan, “mungkin nggak bisa membalas kebaikan lo. Tapi gue berjanji pada diri gue sendiri: gue nggak akan mencari-cari drama lagi. Gue akan berusaha jadi pribadi yang lebih baik. Supaya suatu hari, jika lo butuh gue, gue siap membantu lo seperti lo membantu gue.”
Agus tersenyum. Senyum yang tulus, senyum yang sedikit memecah dinding yang sudah ia bangun selama bertahun-tahun.
“Itu yang ingin gue dengar, Mbak. Bukan balasan. Tapi tekad.”
Titik tersenyum balik. Senyum yang lebih cerah dari senyum-senyum sebelumnya. Senyum yang tidak sakit karena cinta yang gagal, tetapi bahagia karena memiliki sahabat yang tidak pernah pergi.
Satu tahun berlalu.
Tahun itu adalah tahun yang paling tenang dalam kehidupan Titik Mukti Aryanti dalam satu dekade terakhir. Ia tidak pacaran. Tidak mendekati siapa pun. Tidak menginstall aplikasi kencan. Tidak menggoda siapa pun, dan tidak digoda siapa pun setidaknya tidak dengan serius. Ia fokus pada pekerjaannya, naik pangkat menjadi kepala divisi kecil di perusahaannya. Ia mulai rutin berolahraga, ikut kelas yoga, dan belajar memasak, bukan hanya mi instan dengan telur, tetapi makanan sehat yang bervariasi.
Agus sesekali datang ke Jakarta, atau Titik yang datang ke Bandung. Mereka bertemu sebulan sekali atau dua bulan sekali. Tidak ada drama. Tidak ada air mata. Hanya tawa, cerita-cerita ringan tentang kerja, tentang hal-hal konyol yang terjadi di sekitar mereka, tentang masa depan yang mulai mereka rencanakan, masing-masing untuk dirinya sendiri, tetapi kadang bersinggungan.
“Gue lagi mikir, Gus,” kata Titik suatu hari ketika mereka berdua sedang duduk di kafe di Bandung, tempat favorit Agus yang menyajikan kopi tubruk dengan harga murah.
“Mikir apa, Mbak?”
“Gue udah hampir dua puluh tujuh. Teman-teman gue banyak yang nikah. Orang tua mulai nanyain kapan. Tapi gue nggak merasa tertekan. Aneh.”
“Itu namanya dewasa, Mbak.”
“Dulu gue panik kalau lihat teman nikah. Sekarang gue cuma bilang ‘selamat’ dan lanjut minum kopi.”
“Itu namanya sehat, Mbak.”
Titik tertawa. “Lo tuh kayak komentator hidup gue. Semua dikasih label.”
“Tugas sahabat, Mbak.”
“Tugas lo banyak amat.”
“Makanya gue nggak punya waktu buat pacaran.”
Keduanya tertawa. Tawa yang tidak canggung, tawa yang lahir dari kenyamanan yang sudah terbangun selama bertahun-tahun. Tawa yang tidak perlu diterjemahkan.
Tapi ketenangan tidak pernah abadi.
Di bulan keempat belas setelah janji satu tahun itu, artinya Titik sudah melewati batas yang ia janjikan, seorang pria masuk ke dalam kehidupannya. Bukan dengan cara yang dramatis, bukan dengan bunga atau puisi atau gombalan yang berlebihan. Pria itu datang secara sederhana: sebagai klien baru di kantornya. Pria itu bernama Reza. Seorang pengusaha muda yang bergerak di bidang properti. Umurnya tiga puluh tahun, janda (cerai) tanpa anak, berkacamata, suka membaca novel sejarah, dan tidak suka keramaian.
Titik tidak berniat jatuh cinta. Ia berusaha keras untuk menjaga jarak. Ia mengingat janjinya pada Agus, bukan janji satu tahun, tetapi janji untuk tidak mencari drama, untuk fokus pada dirinya sendiri. Ia mengingat bagaimana laki-laki sebelumnya selalu menghancurkannya. Ia takut.
Tapi Reza berbeda.
Reza tidak memaksa. Reza tidak menggombal. Reza tidak mengajak ke tempat mewah atau membelikan hadiah mahal. Reza hanya... ada. Ia datang ke kantor Titik untuk urusan bisnis, mengajak diskusi sambil makan siang di kantin sederhana, lalu kembali ke kantornya tanpa pesan-pesan aneh di malam hari. Ia memberi ruang. Ia tidak menelepon berlebihan. Ia tidak cemburu.
Dan anehnya, Titik justru merasa tertarik. Bukan karena penasaran, tetapi karena dalam diri Reza, ia melihat sesuatu yang selama ini ia abaikan: ketenangan. Ketenangan yang selama ini ia tolak karena ia menganggapnya membosankan. Ketenangan yang selama ini ia cari di tempat yang salah. Ketenangan yang sebenarnya selalu ada di sampingnya, hanya saja ia tidak pernah menyadari karena ia terlalu sibuk dengan badai.
Setelah tiga bulan berkenalan, Reza menyatakan cinta. Tidak di restoran mewah, tidak di atas bukit saat matahari terbenam. Ia menyatakan cinta di kantin kantor, sambil mengunyah nasi goreng dan es teh manis.
“Titik, aku suka sama kamu,” kata Reza datar.
Titik hampir tersedak. “Apa?”
“Aku suka sama kamu. Bukan karena kamu cantik atau pintar, kamu memang cantik dan pintar, tapi bukan itu yang membuatku suka. Aku suka sama kamu karena kamu orang yang sederhana. Kamu nggak banyak tuntutan. Kamu nggak suka drama. Kamu membuatku merasa... tenang.”
Titik terdiam. Kata “tenang” itu menusuk sesuatu di dadanya. Selama ini ia berpikir bahwa ia harus menawarkan drama untuk dicintai. Bahwa ia harus berteriak, menangis, cemburu, marah, barulah cinta itu nyata. Tapi Reza mencintainya justru karena ketenangan. Ketenangan yang ia pelajari selama satu tahun terakhir. Ketenangan yang ia pelajari dari... Agus.
“Reza,” kata Titik setelah beberapa saat, “aku butuh waktu. Banyak waktu. Bukan karena aku tidak suka sama kamu. Tapi karena aku takut. Aku punya masa lalu yang buruk dengan laki-laki. Aku sering terluka. Aku tidak ingin melukaimu atau dilukai olehmu.”
Reza tersenyum. Senyum yang tidak banyak menuntut. “Aku akan menunggu. Tidak perlu terburu-buru. Kita jalan pelan-pelan.”
Titik mengangguk. Di dalam dadanya, ada perasaan yang aneh: apakah ini yang dimaksud dengan cinta yang sehat? Apakah ini yang selama ini coba diajarkan Agus padanya?
Malam itu, Titik menelepon Agus. Dengan suara yang sedikit gemetar, bukan karena takut, tetapi karena gugup—ia bercerita tentang Reza. Tentang bagaimana Reza berbeda. Tentang bagaimana ia tidak merasa terburu-buru. Tentang bagaimana ia merasa aman.
Agus mendengarkan. Seperti biasa. Ia mendengarkan dengan saksama, mengangguk di ujung telepon meskipun Titik tidak bisa melihatnya. Ia berkata, “Mbak, gue seneng. Akhirnya Mbak menemukan seseorang yang membuat Mbak merasa tenang.”
“Tapi gue takut, Gus. Takut ini cuma ilusi.”
“Mbak, cinta sejati tidak membuat kita takut. Cinta sejati membuat kita merasa aman meskipun tidak tahu apa yang akan terjadi.”
“Lo yakin Reza orang yang tepat?”
“Gue nggak tahu, Mbak. Gue bukan peramal. Tapi dari cerita Mbak, dia berbeda. Dia tidak memaksa. Dia memberi ruang. Itu pertanda baik.”
Titik terdiam. “Gus, lo nggak... keberatan?”
Pertanyaan itu ambigu. Keberatan dalam arti apa? Keberatan karena ia akan kehilangan teman curhat? Atau keberatan karena...
“Mbak, gue tidak pernah keberatan dengan kebahagiaan Mbak,” potong Agus cepat. “Itu tugas gue sebagai sahabat.”
Titik menghela napas. “Makasih, Gus.”
“Sama-sama, Mbak. Sekarang tidur. Besar masih banyak yang harus Mbak pikirin.”
Titik tertawa. “Iya, iya. Selamat malam, Gus.”
“Selamat malam, Mbak.”
Telepon terputus. Agus meletakkan ponselnya di atas meja. Ia menatap layar ponsel yang mulai meredup, membaca nama “Mbak Titik” yang masih tertera di panggilan terakhir.
Ia tersenyum. Senyum yang sakit. Senyum yang tahu bahwa ia mungkin akan kehilangan Titik untuk selamanya kali ini, bukan karena Titik mati atau pergi jauh, tetapi karena Titik menemukan kebahagiaan dengan laki-laki lain. Dan laki-laki lain itu, berdasarkan cerita Titik, baik. Tidak brengsek. Tidak manipulatif. Mungkin, benar-benar layak.
Jika dia bahagia, aku bahagia, pikir Agus. Aku sudah berjanji akan menjadi sahabat sejati. Dan sahabat sejati tidak boleh iri.
Ia membuka buku catatannya, menulis satu kalimat:
“Hari ini, dia bercerita tentang laki-laki yang membuatnya merasa aman. Aku tersenyum mendengarnya. Aku tidak tahu apakah laki-laki itu akan bertahan atau pergi. Tapi aku tahu satu hal: aku akan tetap di sini. Jika dia bahagia, aku bahagia. Jika dia patah hati lagi, aku akan ada. Karena itulah arti sahabat sejati.”
Ia menutup buku catatan itu, mematikan lampu, dan tidur dengan perasaan yang berat tetapi lega. Berat karena hatinya terluka. Lega karena Titik akhirnya belajar untuk tenang.
Dan mungkin, pikir Agus sebelum terlelap, mungkin suatu hari nanti, ketika Titik benar-benar lelah dengan semua drama dan badai, ia akan melihat ke samping dan menyadari bahwa selama ini ada satu orang yang tidak pernah pergi. Dan mungkin, hanya mungkin, pada saat itu, ia akan memilih orang itu.
Tapi bukan sekarang.
Tidak sekarang.
Agus memeluk bantal gulingnya. Di dalam gelap kamar yang hanya diterangi lampu merah dari indikator laptop, ia menangis, diam-diam, seperti yang selalu ia lakukan.
BAB VII
KETIKA BADAI BERHENTI, PELABUHAN TAK PERNAH TUTUP
Tiga bulan setelah Titik mulai serius dengan Reza, hubungan mereka berjalan seperti sungai di musim kemarau: tenang, tidak banyak riak, dan membuat siapa pun yang memandangnya merasa damai. Agus mendengar cerita-cerita tentang Reza dari Titik, bukan lagi melalui telepon tengah malam dengan isak tangis di latar belakang, tetapi melalui obrolan santai di siang hari, ketika Titik sedang istirahat makan siang dan Agus sedang menunggu data penelitiannya diolah.
“Gus, Reza itu orangnya kalem banget,” cerita Titik sambil tertawa kecil. “Kemarin gue marah-marah karena dapet email klien yang ngeselin. Reza cuma bilang, ‘Tik, ambil napas dulu. Kamu mau kopi?’ Itu doang. Nggak ikut marah. Nggak bilang ‘sabar’ atau ‘udah, santai’. Cuma nawarin kopi.”
“Terus gimana?” tanya Agus.
“Ya gue minum kopi. Terus gue lupa kenapa gue marah.”
“Efektif.”
“Iya, efektif. Abis gue pikir-pikir, mungkin yang gue butuh dulu tuh bukan kata-kata bijak atau solusi instan. Tapi kopi dan seseorang yang nggak panik.”
Agus tersenyum mendengar itu. Aku juga bisa membawakanmu kopi, Mbak, pikirnya. Dan aku juga tidak pernah panik menghadapi amarahmu. Bedanya, kopiku mungkin nggak seenak kopi Reza. Aku cuma punya kopi tubruk sasetan tiga ribuan.
Titik melanjutkan bercerita tentang Reza: tentang bagaimana Reza tidak suka pamer kekayaan, bagaimana Reza lebih memilih makan di warung tenda daripada restoran mahal, bagaimana Reza tidak pernah cemburu buta tetapi juga tidak cuek, bagaimana Reza mengajaknya naik sepeda keliling kota pada Minggu pagi, aktivitas yang tidak pernah Titik bayangkan akan ia sukai, tetapi ternyata menyenangkan.
“Gus, gue ngerasa aneh,” kata Titik di akhir ceritanya.
“Aneh kenapa?”
“Gue nggak terbiasa dengan hubungan yang... baik-baik aja. Biasanya, di fase ini, cowok-cowok sebelumnya udah mulai nunjukin sifat asli mereka. Tapi Reza? Dia konsisten. Dari awal sampai sekarang, dia orangnya sama. Nggak berubah. Malah mungkin tambah baik.”
“Itu yang namanya orang dewasa, Mbak. Bukan aneh.”
“Tapi perasaan gue juga aneh. Gue nggak deg-deg-an kayak dulu. Gue nggak gelisah kalau dia telat bales pesan. Gue nggak cemburu kalau dia ngobrol sama cewek lain. Gue cuma... tenang. Dan ketenangan itu bikin gue takut.”
“Takut kenapa?”
“Takut ini bukan cinta. Takut gue cuma ngejalanin.”
Agus terdiam cukup lama. Ia memikirkan kalimat yang tepat untuk merespon kekhawatiran Titik. Ia bisa saja mengatakan, “Cinta sejati tidak harus membuatmu deg-degan, Mbak. Cinta sejati membuatmu merasa di rumah.” Tapi kalimat itu terlalu klise. Terlalu mudah.
“Mbak,” kata Agus akhirnya, “coba Mbak bayangin satu hari tanpa Reza.”
“Maksudnya?”
“Bayangin Mbak bangun pagi, sarapan sendiri, pergi kerja sendiri, pulang sendiri, tidur sendiri, dan nggak ada yang Mbak ceritain tentang hal-hal receh yang terjadi seharian. Apakah Mbak merasa kehilangan? Atau Mbak merasa biasa saja?”
Titik terdiam. Agus mendengar suara napasnya di ujung telepon, sedikit lebih cepat dari biasanya.
“Gue... gue nggak bisa bayangin,” kata Titik akhirnya. Suaranya sedikit bergetar. “Reza udah jadi bagian dari rutinitas gue. Gue cerita apa pun ke dia. Bahkan hal-hal yang dulu cuma gue ceritain ke lo.”
Agus tersenyum pahit. Pergeseran. Pikirnya. Dia mulai bercerita ke orang lain. Dia tidak lagi hanya bergantung padaku. Ini seharusnya membuatku lega. Lalu kenapa rasanya seperti ditusuk?
“Nah,” kata Agus dengan nada riang yang dipaksakan, “itu tandanya Mbak sayang sama dia. Mungkin bukan cinta yang berapi-api, tapi cinta yang tumbuh perlahan. Dan cinta yang tumbuh perlahan biasanya lebih kuat daripada cinta yang datang dengan ledakan.”
“Lo yakin?”
“Gue bukan ahli cinta, Mbak. Tapi gue sudah melihat Mbak jatuh cinta berkali-kali. Yang dulu-dulu, Mbak selalu deg-degan, cemburu, gelisah, dan semuanya berakhir sama: patah hati. Kali ini berbeda. Kali ini Mbak tenang. Mungkin itu pertanda baik.”
“Lo nggak pengen gue putus sama dia?”
Pertanyaan itu menggantung di udara seperti pisau yang siap jatuh. Agus bisa merasakan bahwa Titik sedang menguji sesuatu. Menguji kesetiaan Agus. Atau mungkin menguji perasaannya sendiri.
“Mbak,” kata Agus pelan, “yang Mbak lakukan dengan cinta Mbak adalah urusan Mbak. Gue cuma bisa kasih pendapat. Tujuan gue bukan supaya Mbak putus atau lanjut. Tujuan gue adalah supaya Mbak bahagia. Kalau Reza bikin Mbak bahagia, maka gue akan support. Kalau suatu hari Reza bikin Mbak nangis, gue akan datang dengan membawa bubur ayam dan tisu.”
Titik tertawa. Tawa yang lega, tawa yang mengatakan bahwa ia mendapatkan jawaban yang ia butuhkan.
“Makasih, Gus. Lo emang sahabat terbaik. Gue sayang lo.”
“Gue juga sayang Mbak. Sekarang balik kerja. Bos lo mungkin udah nyari.”
“Iya, iya. Dadah, Gus.”
“Dadah, Mbak.”
Telepon terputus. Agus meletakkan ponselnya di atas meja, lalu menatap kosong ke dinding kosnya yang retak. Dia bilang dia sayang aku, pikirnya. Tapi apa artinya? Sayang sebagai teman? Sayang sebagai saudara? Atau sayang sebagai...
Ia tidak melanjutkan pertanyaan itu. Ia sudah lelah berandai-andai.
Pertengahan tahun 2014, Agus mendapat promosi di tempat kerjanya. Dari peneliti junior menjadi peneliti madya, dengan gaji yang sedikit lebih besar dan tanggung jawab yang jauh lebih besar. Ia kini memimpin tim kecil yang meneliti kebijakan pendidikan di daerah tertinggal. Pekerjaan itu membuatnya sering bepergian ke luar kota, ke tempat-tempat yang jauh dari Bandung, jauh dari Jakarta, jauh dari Titik.
Titik juga sibuk. Perusahaannya sedang menggarap proyek besar dengan klien asing, sehingga ia sering lembur hingga larut malam. Komunikasi antara mereka mulai berkurang. Bukan karena sengaja menjauh, tetapi karena waktu dan energi yang tidak lagi bersahabat.
Dulu, mereka bisa bertelepon selama satu jam setiap malam. Sekarang, kadang hanya sekedar pesan singkat di pagi hari: “Selamat pagi, Gus. Jaga diri.” atau “Mbak, jangan lupa makan. Udah sering telat.”
Agus merindukan suara Titik. Ia merindukan tawa Titik yang khas, tawa yang sedikit serak di akhir. Ia merindukan cerita-cerita Titik tentang drama kantor, tentang klien-klien aneh, tentang macetnya Jakarta. Ia merindukan kehadiran fisik Titik, duduk di kafe, berbagi makanan, bahunya yang bersentuhan dengan bahunya.
Tapi ia tidak boleh mengeluh. Ia sudah memilih menjadi sahabat. Dan sahabat tidak boleh menuntut.
Suatu malam di bulan November, Agus mendapat telepon dari nomor asing. Ia hampir tidak mengangkatnya karena biasanya telepon dari nomor tak dikenal adalah penawaran asuransi atau pinjaman online. Tapi ia mengangkatnya, karena di lubuk hatinya yang paling dalam, ia merasa ada yang tidak beres.
“Mas Agus?” suara perempuan di ujung telepon. Bukan Titik. Suaranya mirip, tetapi bukan.
“Iya. Saya dengan siapa?”
“Saya Mia. Teman sekantor Mbak Titik. Kita pernah ketemu di rumah sakit dulu.”
Agus langsung duduk tegak. Ada sesuatu dalam nada suara Mia yang membuatnya gelisah. “Ada apa, Mbak Mia?”
“Mbak Titik... dia kecelakaan.”
Dunia Agus berhenti berputar selama dua detik. Ia tidak mendengar suara apa pun selain detak jantungnya sendiri yang berdebar seperti genderang perang.
“Kecelakaan apa? Di mana? Parah nggak?” tanyanya dengan suara yang berusaha ia kendalikan tetapi gagal.
“Kecelakaan motor. Dia dihajar dari belakang pas lagi bonceng sama Reza. Reza selamat, cuma luka-luka ringan. Tapi Mbak Titik... kepalanya terbentur aspal. Dia pingsan dan belum sadar. Sekarang di UGD RS Pusat Pertamina.”
“Saya ke sana. Tolong jagain dia sampai saya datang.”
“Iya, Mas.”
Telepon terputus. Agus berdiri, tangannya gemetar hebat. Ia tidak tahu harus mulai dari mana. Kopernya masih kosong. Uangnya pas-pasan. Tiket kereta terakhir ke Jakarta sudah lewat. Tidak ada bus malam yang berangkat dalam satu jam ke depan.
Ia teringat pada motor bututnya yang diparkir di bawah pohon. Motor tua yang biasa ia gunakan untuk pergi ke kantor. Motor yang sudah berkarat di beberapa bagian, yang suaranya keras seperti orang batuk, yang tidak pernah ia gunakan untuk perjalanan jauh karena ia takut mogok di tengah jalan.
Tidak ada pilihan. Ia akan naik motor.
Bandung ke Jakarta via Puncak memakan waktu sekitar empat jam jika naik mobil. Naik motor bisa lebih cepat, jika ia berani melaju kencang. Tapi malam hari, jalanan licin, dan ia belum makan sejak siang.
“Tidak peduli,” pikirnya. “Mbak Titik terbaring di UGD. Aku harus ada di sana.”
Ia mengisi tangki motor dengan uang terakhirnya, memakai jaket tebal dan helm yang kaca depannya sudah buram karena baret. Ia menelepon bosnya, memberi tahu bahwa ia cuti darurat, dan tanpa menunggu jawaban, ia menghidupkan mesin motornya.
Brummm...
Motor tua itu menggerung, seperti tidak setuju diajak bepergian jauh, tetapi tetap melaju.
Perjalanan dari Bandung ke Jakarta via Puncak malam itu adalah perjalanan paling mencekam dalam hidup Agus. Jalanan berkelok dan gelap, lampu penerangan hanya ada di beberapa titik. Kabut tipis mulai turun di ketinggian, membasahi kaca helmnya yang sudah buram, membuatnya harus sering mengerem untuk mengusap kaca dengan jari.
Ia mengingat-ingat doa yang diajarkan ibunya semasa kecil. Doa untuk orang yang sedang dalam perjalanan. Doa untuk orang yang sakit. Doa untuk dirinya sendiri yang sedang ketakutan setengah mati.
“Ya Allah, lindungi Mbak Titik. Jangan ambil dia sekarang. Dia masih punya banyak mimpi. Dia masih belum sempat bahagia dengan cinta sejatinya. Dia masih... dia masih belum tahu bahwa aku mencintainya. Beri dia waktu. Tolong, beri dia waktu.”
Motor terus melaju. Sesekali truk besar melintas, menyorotnya dengan lampu tinggi yang menyilaukan. Agus membiarkan mereka lewat, lalu mengejar lagi. Kecepatannya stabil di 80 kilometer per jam, terlalu cepat untuk motor butut, terlalu lambat untuk rasa cemas yang membakar dadanya.
Ponselnya berdering. Mia.
“Mas Agus, Mbak Titik udah sadar. Tapi dia masih lemes banget. Dokter bilang ada gegar otak ringan dan beberapa luka di kaki. Harus rawat inap seminggu.”
Agus menghela napas lega yang panjang. Udara dingin Puncak masuk ke paru-parunya, menyegarkan tetapi juga menusuk.
“Makasih, Mbak Mia. Tolong sampaikan ke Mbak Titik, gue lagi di jalan. Nggak lama lagi sampai.”
“Iya, Mas. Hati-hati di jalan.”
Telepon terputus. Agus menginjak gas sedikit lebih dalam.
Dua jam kemudian, Agus tiba di RS Pusat Pertamina, Jakarta Timur. Wajahnya merah kedinginan, tangannya kebas karena terlalu lama memegang setang motor, punggungnya sakit karena postur yang salah. Jaket tebalnya basah oleh embun dan keringat dingin. Helm yang ia buka meninggalkan bekas lingkaran merah di dahinya.
Ia berlari ke UGD. Di koridor, ia melihat Reza duduk di kursi plastik, tangan kanannya diperban, wajahnya lelah dan cemas. Agus hampir tidak mengenali Reza dari foto-foto yang pernah dikirim Titik, kini ia terlihat lebih tua, lebih kusut, lebih rapuh.
“Mas Agus?” Reza berdiri ketika melihat Agus mendekat.
“Iya. Mbak Titik di mana?”
“Di ruang observasi. Dia sebentar lagi dipindah ke ruang rawat inap. Dokter bilang dia beruntung, tidak ada pendarahan internal. Tapi dia masih pusing dan mual. Mungkin gegar otak.”
“Boleh lihat?”
“Boleh. Cuma jangan lama-lama. Dia butuh istirahat.”
Agus mengangguk. Ia masuk ke ruang observasi, ruangan kecil dengan beberapa ranjang yang dipisahkan tirai. Di ranjang pojok, ia menemukan Titik.
Titik terbaring dengan leher disangga penahan, kepalanya diperban melingkar, lengan kirinya juga diperban. Matanya terpejam, kulitnya pucat, bibirnya mengelupas karena dehidrasi. EKG di sampingnya berbunyi bip... bip... bip... dengan irama yang teratur, setidaknya jantungnya masih kuat.
Agus duduk di kursi di samping ranjang. Ia meraih tangan Titik, tangan yang sama yang pernah ia genggam ribuan kali. Saat bergandengan di kampung dulu, saat nonton film bersama, saat di kereta, saat di rumah sakit sebelumnya. Tangan itu terasa lebih kurus dari biasanya, dan lebih dingin.
“Mbak,” bisik Agus. “Gue di sini. Kayak biasa.”
Titik membuka matanya perlahan. Matanya sayu, fokusnya masih buyar, tetapi ketika melihat Agus, senyum tipis muncul di bibirnya yang pecah-pecah.
“Gus,” bisiknya. Suaranya parau, nyaris tidak terdengar.
“Iya, Mbak. Jangan banyak bicara. Istirahat dulu.”
“Lo... bawa motor dari Bandung?”
“Iya.”
“Gila... lo gila, Gus.”
“Biar gue gila. Yang penting Mbak selamat.”
Titik menutup matanya. Setetes air mata jatuh dari sudut matanya, membasahi bangsal rumah sakit. Agus menyekanya dengan ujung jari, seperti yang selalu ia lakukan.
Malam itu, Agus tidak pulang. Ia tidur di kursi samping ranjang Titik, dengan jaket tebalnya sebagai bantal. Sesekali ia terjaga ketika perawat masuk untuk mengecek tekanan darah atau mengganti infus. Setiap kali, matanya langsung menuju ke wajah Titik, memastikan bahwa dadanya masih naik turun, bahwa ia masih bernapas, bahwa ia masih hidup.
Selama seminggu Titik dirawat, Agus dan Reza bergantian menjaganya. Reza menjaga pada pagi hingga sore karena ia harus mengatur kantornya yang sempat terbengkalai. Agus menjaga pada sore hingga malam, karena ia bisa bekerja dari rumah sakit, laptop pinjaman kantor, sinyal wi-fi yang lemot, dan kopi dari mesin vending yang rasanya seperti air sabun.
Reza dan Agus tidak banyak bicara. Bukan karena tidak akrab, tetapi karena mereka tidak tahu harus bicara apa. Ada keanehan dalam dinamika mereka: dua orang yang sama-sama mencintai Titik, tetapi dengan cara yang berbeda. Reza mencintai Titik sebagai kekasih, penuh dengan rencana masa depan, dengan mimpi-mimpi tentang pernikahan, tentang anak, tentang rumah. Agus mencintai Titik sebagai sahabat atau lebih tepatnya, sebagai seseorang yang memilih untuk menyembunyikan cintanya di balik label persahabatan, karena ia takut kehilangan.
Suatu malam, ketika Titik sedang tidur nyenyak, Reza mengajak Agus bicara di kantin rumah sakit yang sepi.
“Mas Agus,” kata Reza sambil memegang segelas kopi yang sudah dingin.
“Iya.”
“Aku ingin minta maaf.”
“Minta maaf untuk apa?”
“Karena... karena aku merasa, mungkin ini egois, tapi aku merasa kamu lebih pantas untuk Titik daripada aku.”
Agus terkejut. Ia tidak menyangka Reza akan mengatakan itu. “Apa maksud kamu?”
Reza tersenyum getir. “Aku sudah dengar cerita tentang kamu dari Titik. Kamu sahabatnya sejak kecil. Kamu selalu ada di setiap jatuh bangunnya. Kamu yang menjenguknya ketika dia sakit, yang menghiburnya ketika dia patah hati, yang datang dari Bandung ke Jakarta hanya untuk memastikan dia baik-baik saja. Aku baru mengenalnya setahun. Kamu sudah mengenalnya seumur hidup.”
“Itu karena aku sahabatnya. Bukan... bukan pacar.”
“Tapi kamu mencintainya, kan?”
Pertanyaan itu seperti pukulan di ulu hati. Agus menunduk, menatap kopi di tangannya yang juga sudah dingin.
“Aku... tidak tahu harus menjawab apa,” katanya akhirnya.
“Kamu tidak perlu menjawab. Aku sudah tahu dari cara kamu melihatnya. Dari caramu menyeka air matanya. Dari caramu datang meskipun kamu harus menempuh perjalanan berbahaya di malam hari. Kamu mencintainya. Mungkin lebih dalam daripada aku.”
Agus menghela napas. “Kalau kamu sudah tahu, kenapa kamu tidak mundur? Kenapa kamu masih bertahan?”
“Karena aku juga mencintainya,” jawab Reza tegas. “Dan aku percaya bahwa cinta bukan tentang siapa yang paling pantas, tetapi tentang siapa yang bisa membuatnya bahagia. Kamu membuatnya merasa aman, tetapi aku... aku membuatnya merasa dicintai sebagai perempuan. Setidaknya itu yang ia katakan.”
Agus tersenyum pahit. Dicintai sebagai perempuan. Itu yang tidak pernah ia berikan pada Titik. Ia selalu mencintai Titik sebagai sahabat atau setidaknya itulah yang ia tunjukkan. Ia tidak pernah cukup berani untuk menunjukkan bahwa ia bisa menjadi kekasih, bahwa ia bisa menjadi suami, bahwa ia bisa menjadi ayah dari anak-anaknya.
“Reza,” kata Agus, “aku tidak akan merebut Titik darimu. Bukan karena aku tidak berani, tetapi karena aku menghormati pilihannya. Jika dia memilihmu, maka aku akan mendukung. Tapi jika suatu hari kamu menyakitinya, aku tidak akan tinggal diam.”
Reza mengangguk. “Aku mengerti. Dan aku berjanji, aku tidak akan menyakitinya.”
Mereka berjabat tangan di kantin rumah sakit yang sunyi dua orang yang sama-sama mencintai satu perempuan, tetapi dengan peran yang berbeda. Jabat tangan yang terasa berat, karena di dalamnya tersimpan janji dan pengakuan yang tidak terucap.
Titik pulang dari rumah sakit seminggu kemudian. Keadaannya masih lemah, tetapi sudah bisa berjalan pelan-pelan dengan bantuan tongkat. Dokter melarangnya bekerja setidaknya dua minggu ke depan, dan melarangnya melakukan aktivitas berat, termasuk naik motor, naik mobil jarak jauh, atau hal-hal yang membutuhkan konsentrasi tinggi.
Agus hendak kembali ke Bandung. Sebelum pergi, ia duduk di samping ranjang Titik di apartemennya. Titik sekarang bisa tidur di ranjang sendiri, tidak perlu di rumah sakit.
“Gus,” kata Titik sambil memegang tangan Agus.
“Ya.”
“Makasih udah datang. Udah nemenin. Udah jadi... lo.”
“Sama-sama, Mbak.”
“Lo tahu nggak, pas gue jatuh dari motor, gue nggak takut mati.”
Agus menatap Titik heran. “Serius? Mampus jatuh dari motor di jalan tol?”
“Serius. Yang gue takutin bukan kematian. Yang gue takutin adalah gue nggak sempat bilang sesuatu ke lo.”
Deg. Jantung Agus berdegup lebih cepat. “Bilang apa, Mbak?”
Titik menggigit bibir bawahnya. Matanya berkaca-kaca. Ia memegang erat tangan Agus, seperti anak kecil yang takut kehilangan mainan kesayangannya.
“Gus, selama ini gue mungkin egois. Gue selalu menganggap lo sebagai sahabat, tempat curhat, tempat pulang, tempat bersandar. Tapi gue nggak pernah nanya, apa lo nyaman dengan posisi itu? Apa lo nggak capek jadi jaring pengaman gue terus-terusan? Apa lo nggak punya keinginan untuk menjadi... lebih?”
Agus terdiam. Pertanyaan itu sudah lama ia tunggu, tetapi sekarang ketika tiba, ia tidak tahu harus menjawab apa.
“Mbak,” katanya pelan, “jika gue bilang bahwa gue ingin lebih, apa yang akan Mbak lakukan?”
Titik menutup matanya. Air mata mengalir di pipinya.
“Gue nggak tahu, Gus. Gue masih sayang sama Reza. Tapi gue juga nggak bisa membayangkan hidup tanpa lo. Gue bingung. Otak gue masih pusing karena benturan. Gue nggak bisa mikir jernih.”
Agus menghela napas. Ia meraih wajah Titik dengan kedua tangannya, menatap matanya dalam-dalam.
“Mbak,” katanya, “gue tidak akan menanyakan itu sekarang. Mbak masih sakit. Pikiran Mbak masih kacau. Mbak fokus dulu buat sembuh. Nanti, kalau Mbak sudah benar-benar sehat, kalau Mbak sudah benar-benar tahu apa yang Mbak inginkan, kita bicara lagi.”
“Tapi bagaimana kalau gue memilih Reza?” bisik Titik.
“Maka gue akan ikhlas. Dan gue akan tetap menjadi sahabat Mbak. Seperti janji kita.”
Titik menangis. Ia memeluk Agus erat-erat, tangisnya tersedu-sedu. Agus membelai rambutnya, seperti ia membelai rambut Titik saat mereka masih kecil, ketika Titik jatuh dari sepeda dan lututnya berdarah. Ritme yang sama. Kasih sayang yang sama.
Tapi kali ini ada sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang tidak bisa ia pungkiri: di dalam dadanya, ada rasa sakit yang luar biasa. Rasa sakit karena ia tahu, mungkin ia akan kalah. Mungkin Reza yang akan dipilih Titik. Mungkin ia akan kembali ke posisi semula: sahabat, jaring pengaman, pelabuhan darurat. Tidak lebih.
Dan ia harus rela. Karena itulah arti mencintai secara tulus: mengutamakan kebahagiaan orang yang dicintai, meskipun kebahagiaan itu tidak melibatkan dirinya.
Agus kembali ke Bandung keesokan harinya. Ia naik kereta, karena motornya ia titipkan di bengkel langganannya di Jakarta untuk perbaikan besar-besaran, setelah dipaksa kencang dari Bandung, motornya mogok di Cikampek dan harus di-towing ke bengkel terdekat.
Selama perjalanan pulang, ia membuka buku catatannya dan menulis:
“Aku mencintainya sejak aku berusia tiga belas tahun. Itu dua belas tahun yang lalu. Dua belas tahun aku menyembunyikan perasaan ini, berharap suatu hari ia akan melihatku. Sekarang, ia hampir melihat. Tapi ia masih ragu. Dan mungkin, ia akan memilih yang lain. Hari ini, untuk pertama kalinya, aku belajar bahwa cinta sejati tidak selalu berarti memiliki. Cinta sejati bisa berarti melepaskan, dan tetap berada di sampingnya, meskipun hatimu hancur berkeping-keping.”
Ia menutup buku catatan itu, menyimpannya di ransel, dan menatap pemandangan di luar jendela. Sawah-sawah hijau, bukit-bukit kecil, langit yang cerah tanpa awan.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Agus Sabara tidak menangis. Ia hanya diam. Dan dalam keheningan itu, ia merasakan sesuatu yang aneh: kedamaian.
Bukan kedamaian karena ia telah menerima takdirnya. Tapi kedamaian karena ia tahu, apa pun yang terjadi, ia sudah melakukan yang terbaik. Ia sudah setia. Ia sudah hadir.
Dan itu sudah cukup.
BAB VIII
SAAT KITA BERJALAN PELAN-PELAN MENUJU TITIK NADIR
Tahun 2015 bergulir seperti ban yang sudah aus, masih berputar, tetapi sudah tidak memiliki daya cengkeram yang kuat terhadap aspal kehidupan. Agus melanjutkan rutinitasnya di Bandung, meneliti kebijakan pendidikan di daerah-daerah yang bahkan tidak terpikirkan oleh para pembuat kebijakan di Jakarta. Pekerjaan itu memberinya kepuasan batin yang tidak bisa diukur dengan rupiah: ia merasa berguna, merasa bahwa keberadaannya di muka bumi ini memiliki arti bagi sesuatu yang lebih besar daripada drama percintaannya dengan Titik.
Tapi pada malam-malam tertentu, ketika kabut Bandung turun terlalu tebal dan angin bertiup terlalu dingin, ia merasa kesepian. Bukan kesepian karena tidak ada orang di sekitarnya—ia punya teman-teman kantor yang asyik, punya tetangga kos yang kadang ngajak ngopi, punya keluarga di kampung yang masih menelepon setiap minggu. Kesepian yang ia rasakan lebih dalam dari itu: kesepian karena tidak ada yang benar-benar tahu isi hatinya. Tidak ada yang tahu bahwa di sela-sela laporan penelitian dan rapat koordinasi, ia menyisipkan nama Titik dalam doanya setiap kali sujud.
Sementara itu, hubungan Titik dengan Reza memasuki fase yang lebih serius. Reza mulai membicarakan pernikahan. Ia sudah bertemu dengan orang tua Titik di kampung, dan orang tua Titik, yang sudah lama resah melihat putri semata wayangnya belum juga menikah di usia kepala tiga, langsung memberikan restu dengan antusiasme yang hampir berlebihan.
“Gus, gue ditanyain mama kapan nikah,” keluh Titik suatu malam saat menelepon Agus. Suaranya lelah, campuran antara kesal dan bingung.
“Terus Mbak jawab apa?” tanya Agus sambil merebahkan diri di ranjang kosnya yang sempit.
“Jawabnya ya... ‘doain aja, Ma’. Gue masih bingung, Gus. Gue sayang Reza. Gue yakin dia orang baik. Tapi gue nggak tahu kenapa, gue masih ngerasa ada yang kurang.”
“Kurang apa?”
“Gue nggak tahu. Mungkin gue yang nggak pernah puas.”
Agus terdiam. Ia ingin berkata, “Mungkin yang kurang adalah aku, Mbak. Mungkin kamu tidak akan pernah merasa cukup dengan siapapun karena kamu tidak pernah memberikan kesempatan pada orang yang paling mencintaimu.” Tapi ia tidak bisa. Kata-kata itu terlalu egois, terlalu mengada-ada.
“Mbak,” katanya akhirnya, “cinta itu nggak selalu tentang merasa cukup. Kadang, cinta adalah pilihan. Pilihan untuk bertahan, untuk membangun, untuk membuat sesuatu yang tadinya biasa saja menjadi luar biasa karena kalian membangunnya bersama.”
“Lo lagi ngomong filosofi lagi, Gus. Gue pusing.”
“Ya udah, gue omongin yang sederhana. Apakah Reza membuat kamu ingin menjadi versi terbaik dari diri kamu?”
Titik terdiam cukup lama. “Iya,” jawabnya pelan. “Dia membuatku ingin lebih baik. Bukan karena dia menuntut, tapi karena dia memberi contoh. Dia rajin, disiplin, bertanggung jawab. Gue jadi malu kalau malas-malasan.”
“Nah, itu. Kalau dia membuatmu ingin menjadi lebih baik, itu pertanda baik.”
“Tapi kenapa gue masih ragu, Gus?”
“Karena Mbak manusia. Manusia wajar ragu. Apalagi Mbak punya masa lalu yang buruk dengan laki-laki. Tidak apa-apa ragu. Yang tidak boleh adalah membiarkan keraguan menghentikan Mbak untuk maju.”
Titik menghela napas panjang. “Kapan lo jadi sebijak ini, Gus?”
“Sejak gue sering dengerin curhatan Mbak. Otak gue terlatih untuk bijak, soalnya kalau nggak, gue bisa stress.”
Titik tertawa. Tawa itu melegakan Agus, meskipun di dalam hatinya ia tahu bahwa ia sedang membantu Titik untuk memilih laki-laki lain. Ironis. Tapi itulah peran sahabat sejati: membahagiakan orang yang dicintai, meskipun kebahagiaan itu tidak melibatkan dirinya.
Pertengahan tahun 2015, Agus mendapat kabar bahwa ibunya jatuh sakit. Bukan sakit ringan, tetapi sakit yang membuatnya harus dirawat di rumah sakit selama dua minggu. Agus cuti kerja dan pulang ke kampung untuk merawat ibunya. Di kampung, ia bertemu lagi dengan masa lalunya: rumah-rumah yang dulu ia singgahi, gang-gang sempit tempat ia bermain kejar-kejaran dengan Titik, dan bekas pohon mangga yang kini hanya tinggal tunggul.
Suatu malam, ketika ibunya sudah tidur, Agus berjalan sendirian ke bekas lokasi pohon mangga itu. Tunggul pohonnya sudah hampir rata dengan tanah, tetapi akar-akarnya masih membekas, seperti jaringan bawah tanah yang tidak pernah benar-benar mati.
Ia duduk di atas tunggul itu, merasakan sisa-sisa kehangatan dari masa lalu. Di tempat inilah ia dan Titik bertemu setiap sore. Di tempat inilah Titik menulis surat janji persahabatan dengan sidik jari arang lidi. Di tempat inilah Agus untuk pertama kalinya merasakan bahwa memiliki sahabat adalah hal terindah di dunia, sebelum ia menyadari bahwa perasaannya terhadap sahabatnya itu bukan sekadar persahabatan.
Pesan dari: Mbak Titik
“Gus, lo di kampung ya? Gue kangen. Kapan balik ke Bandung?”
Agus tersenyum membaca pesan itu. Kangen. Kata yang sering mereka ucapkan, tetapi Apakah Titik tahu bahwa rasa kangen Agus tidak pernah surut, bahkan ketika mereka baru saja bertemu?
“Lusa, Mbak. Ibu udah mulai membaik.”
“Hati-hati, ya. Jangan lupa makan.”
“Mbak juga. Jangan lupa makan, jangan kebanyakan kopi, jangan stres.”
“Iya, Gus. Gue beruntung punya lo”
“Gue juga beruntung punya Mbak.”
Pesan berhenti di situ. Agus mematikan ponselnya, menatap langit malam di kampung yang masih bersih dari polusi cahaya. Bintang-bintang bertaburan, seperti garam yang ditebarkan Tuhan di atas lembaran langit yang hitam pekat.
“Aku mencintaimu, Mbak,” bisiknya kepada bintang-bintang. “Dan mungkin tidak akan pernah cukup berani untuk mengatakannya langsung. Tapi bintang-bintang tahu. Dan itu cukup.”
Titik memasuki usianya yang ke-28 pada bulan Agustus 2015. Agus datang ke Jakarta untuk merayakannya, bersama Reza dan beberapa teman kantor Titik. Mereka mengadakan pesta kecil di apartemen Titik, makanan pesan dari katering, kue ulang tahun dengan lilin berbentuk angka 28, balon-balon warna-warni yang merepotkan karena terus melayang ke langit-langit.
Agus membawa kado: sebuah buku gambar baru, sama persis dengan buku gambar yang ia berikan pada Titik saat ia masih kecil. Sampul biru laut yang sama, kertas tebal yang sama, bahkan tulisannya pun sama:
“Untuk Titik Mukti Aryanti, sahabat sejati yang tidak pernah pergi. Dari Agus Sabara.”
Titik membuka kado itu dengan mata berkaca-kaca. “Gus, ini sama persis kayak dulu.”
“Iya, karena gue ingin Mbak ingat bahwa sejak kecil sampai sekarang, gue tidak pernah berubah.”
“Kamu berubah, Gus. Kamu jadi lebih ganteng.”
“Mbak, jangan gombal. Nanti Reza cemburu.”
Reza yang sedang memotong kue di dapur, berteriak, “Nggak cemburu, Mas. Mbak Titik memang jujur. Mas Agus memang ganteng.”
Semua orang tertawa. Agus tersenyum, tetapi senyumnya samar. Di tengah tawa dan kebahagiaan, ia merasa seperti tamu di pestanya sendiri. Semua orang merayakan kebahagiaan Titik, tetapi tidak ada yang tahu bahwa di sudut ruangan, ada seseorang yang hatinya berdarah-darah menyaksikan perempuan yang ia cintai tersenyum dengan laki-laki yang bukan dirinya.
Titik membuka buku gambar itu, melihat halaman-halaman kosong yang siap diisi dengan kenangan-kenangan baru. Di halaman pertama, Agus sudah menuliskan sebuah puisi pendek:
“Seperti bintang yang setia pada malammu,
Seperti laut yang tak pernah berpaling dari pantaimu,
Aku akan tetap di sini,
Meskipun kau tak pernah tahu,
Betapa berat rasanya tersenyum,
Ketika hatiku menangis untukmu.”
Titik membaca puisi itu dalam hati. Matanya berhenti pada baris terakhir. Ia menatap Agus yang sedang berbincang dengan teman kantornya tentang topik yang tidak penting, mungkin tentang harga bahan pokok, mungkin tentang kemacetan di Bandung, mungkin tentang sesuatu yang tidak berhubungan dengan puisi itu sama sekali.
“Apakah ini?” pikir Titik. “Apakah ini sebuah pernyataan?”
Ia menutup buku itu dengan cepat, seolah halaman-halamannya bisa melihat kegugupannya. Ia tidak berani bertanya pada Agus saat itu. Ia tidak berani di tengah pesta ulang tahunnya, di tengah tawa dan balon dan kue.
Malam itu, setelah semua tamu pulang, Titik membuka buku gambar itu lagi. Ia membaca puisi itu berulang-ulang, mencoba menangkap arti tersembunyi di balik baris-baris sederhana itu.
“Seperti bintang yang setia pada malammu”—itu pengakuan kesetiaan.
“Seperti laut yang tak pernah berpaling dari pantaimu”—itu janji untuk tidak pernah pergi.
“Aku akan tetap di sini”—itu pernyataan posisi.
“Meskipun kau tak pernah tahu”—itu keluhan halus.
“Betapa berat rasanya tersenyum, ketika hatiku menangis untukmu”—itu... itu adalah pernyataan cinta. Bukan persahabatan. Cinta.”
Titik menutup buku itu, meletakkannya di atas meja, lalu duduk di sofa dengan kepala di tangan. Pikirannya kacau.
“Reza,” pikirnya. “Aku punya Reza. Reza baik, Reza mencintaiku, Reza ingin menikahiku. Lalu apa arti puisi ini? Apa arti Agus? Apa arti perasaanku yang tiba-tiba berubah ketika membaca puisinya?”
Ia tidak bisa tidur malam itu. Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia tidak menelepon Agus untuk meminta nasihat. Karena kali ini, orang yang ingin ia tanyai adalah sumber kebingungannya sendiri.
Dua minggu setelah pesta ulang tahun, Agus menerima telepon dari Titik di saat yang tidak biasa: jam sepuluh pagi, di tengah-tengah jam kerjanya.
“Gus, gue putus sama Reza.”
Agus terdiam. Tangannya berhenti mengetik laporan. Udara di ruangan kantornya yang biasa-biasa saja tiba-tiba terasa berat.
“Kenapa, Mbak?” tanyanya dengan suara yang berusaha tenang.
“Karena gue nggak bisa. Gue udah coba. Gue udah usaha. Tapi setiap kali bayangin nikah sama dia, gue nggak bisa. Ada sesuatu yang menghalangi.”
“Menghalangi apa?”
“Gue nggak tahu. Mungkin... mungkin gue belum siap. Mungkin gue masih cinta sama seseorang yang lain.”
Jantung Agus berdegup kencang. Seseorang yang lain. Siapa? Apakah mungkin... dirinya?
Orang yang lain itu, siapapun dia, telah mengganggu ketenangan hati Titik. Entah itu bayangan masa lalu, atau seseorang dari kejauhan yang tak pernah ia sadari kehadirannya. Yang jelas, hubungan yang selama ini terasa aman bersama Reza, tiba-tiba goyang.
“Mbak, lo yakin? Reza orang baik. Dia sayang lo. Dia mungkin laki-laki terbaik yang pernah Mbak temui.”
“Gue tahu. Tapi gue nggak bisa memaksakan perasaan. Gue udah coba, Gus. Gue udah paksain diri gue. Tapi setiap kali dia bilang ‘Aku cinta kamu’, gue malah ngerasa bersalah. Karena gue nggak bisa bilang balik dengan tulus.”
Agus menghela napas panjang. Ia memejamkan mata, membayangkan wajah Titik di ujung telepon—mungkin sedang duduk di balkon apartemennya, memeluk bantal, matanya merah karena menangis, rambutnya berantakan.
“Ini saatnya,” pikirnya. “Dia sedang rapuh. Dia sedang bingung. Dan jika aku mengatakan sesuatu sekarang, aku bisa kehilangan dia selamanya—atau mendapatkan dia. Tidak ada tengah-tengah.”
“Mbak,” kata Agus.
“Ya.”
“Gue mau bilang sesuatu. Tapi gue janji, Mbak nggak akan marah.”
“Bilang aja.”
Agus menarik napas dalam-dalam. Jantungnya berdegup kencang, seperti akan melompat keluar dari dadanya. Lidahnya terasa kering, seperti digosok dengan ampelas. Tapi ia harus mengatakan ini. Setelah belasan tahun, ia harus.
“Mbak, selama ini gue...”
Telepon terputus.
“Mbak? Mbak? Mbak Titik?”
Sinyal hilang. Agus menelepon kembali. Tidak diangkat. Menelepon lagi. Trending. Menelepon lagi. Langsung menuju voicemail.
Ia panik. Apakah Titik sengaja mematikan telepon? Apakah sinyalnya memang hilang? Apakah ia mengatakan sesuatu yang salah? Ia belum mengatakan apa pun, hanya memulai kalimat. Apakah Titik sudah menduga dan memutuskan untuk tidak mendengarkan?
Ia mencoba menghubungi Mia, teman sekantor Titik. Mia bilang Titik tidak masuk kerja hari itu. Ia minta izin cuti mendadak.
Agus duduk di kursinya, keringat dingin mengucur di dahinya. “Kamu bodoh, Gus,” makinya dalam hati. “Kamu hampir saja merusak segalanya. Mungkin ini pertanda bahwa kamu tidak boleh mengatakan itu. Mungkin nasibmu memang hanya menjadi sahabat, dan kau harus menerimanya.”
Ia tidak menghubungi Titik lagi hari itu. Ia membiarkan ponselnya sunyi, membiarkan pikirannya tenang, membiarkan hatinya berdarah diam-diam.
Sore harinya, pesan masuk dari Titik:
“Maaf, Gus. Tadi sinyal hilang. Gue lagi di kampung. Lagi butuh sendiri. Gue matiin HP dulu ya. Nanti gue hubungi lagi. Love you.”
Agus membaca pesan itu berulang-ulang. Love you. Dua kata yang selama ini ia dengar dari Titik, tetapi selalu diikuti oleh kata sahabatku atau bro atau yaudahlah. Kali ini tidak. Kali ini hanya Love you.
Apakah itu artinya sesuatu? Atau hanya kebiasaan mengetik yang tidak disengaja?
Ia memutuskan untuk tidak banyak berpikir. Ia membalas:
“Iya, Mbak. Istirahat yang cukup. Jangan lupa makan. Gue selalu di sini kalau Mbak butuh.”
Titik menghilang selama sebulan.
Ia tidak menelepon, tidak mengirim pesan, tidak mengunggah apapun di media sosial. Agus hanya mendapat kabar dari Mia bahwa Titik masih di kampung, membantu orang tuanya berjualan di pasar, dan kelihatan lebih tenang dari biasanya.
“Mbak Titik kurusan, Mas,” kata Mia. “Tapi matanya lebih hidup. Seperti orang yang baru saja memutuskan sesuatu yang penting.”
Agus penasaran, tetapi ia tidak mau memaksa. Ia menghormati ruang yang dibutuhkan Titik. Bukankah selama ini ia selalu memberi ruang? Bukankah selama ini ia selalu menunggu? Beberapa minggu lagi tidak akan membuat perbedaan.
Ia kembali ke rutinitasnya. Bangun pagi, pergi ke kantor, meneliti, menulis laporan, pulang, memasak, tidur. Sesekali main ke kampung untuk menjenguk ibunya yang sudah sembuh total. Sesekali bertemu teman-teman lama di Bandung, minum kopi, tertawa tentang hal-hal konyol yang tidak berhubungan dengan Titik.
Tapi di setiap celah kehidupannya, ia merindukan Titik. Ketika ia menyalakan motor bututnya, ia membayangkan membonceng Titik. Ketika ia memasak mi instan, ia membayangkan berbagi dengan Titik. Ketika ia tidur di ranjang sempitnya, ia membayangkan Titik ada di sampingnya.
“Aku gila,” pikirnya. “Aku benar-benar gila karena terus berharap pada seseorang yang bahkan tidak tahu bahwa aku berharap.”
Satu bulan kemudian, pada suatu malam di bulan September, Agus mendapat telepon dari Titik.
“Gus.”
“Mbak. Lama nggak dengar suara Mbak.”
“Maaf. Gue butuh waktu.”
“Nggak apa-apa. Gue paham.”
“Gue... gue mau cerita.”
“Cerita apa, Mbak?”
Titik menarik napas panjang. Agus mendengar suara angin di latar belakang, mungkin Titik sedang di balkon, menghadap malam Jakarta yang gelap dan sepi.
“Gue sudah mengambil keputusan, Gus. Keputusan yang mungkin tidak akan gue ambil kalau gue tidak meluangkan waktu sebulan di kampung, di tempat kita dulu bermain, di bawah pohon mangga yang sudah tinggal tunggulnya.”
“Keputusan apa, Mbak?”
“Gue... gue mencintai seseorang. Bukan Reza. Bukan cowok-cowok gila yang pernah gue temui. Tapi seseorang yang selama ini selalu ada, yang tidak pernah pergi, yang menjadi jaring pengaman gue, yang datang setiap kali gue jatuh, yang membawakan makanan ketika gue sakit, yang menulis puisi di buku gambar yang sampulnya biru laut.”
Agus berhenti bernapas.
“Mbak... jangan main-main,” bisiknya.
“Gue nggak main-main, Gus. Gue mencintai lo. Bukan sebagai sahabat. Tapi sebagai... sebagai seseorang yang ingin gue habiskan sisa hidup bersama. Gue sudah menolak perasaan ini selama bertahun-tahun. Gue bilang pada diri gue, ‘Ah, dia cuma teman. Dia cuma adik. Dia cuma jaring pengaman.’ Tapi setiap kali gue hampir kehilangan lo, setiap kali lo hampir mati di jalanan Puncak demi menjenguk gue di rumah sakit, gue sadar: gue nggak bisa kehilangan lo. Bukan sebagai sahabat. Tapi sebagai segalanya.”
Air mata Agus jatuh. Bukan tangis histeris, tetapi tangis yang mengalir tanpa suara, seperti sungai di bawah tanah yang akhirnya menemukan celah untuk keluar.
“Mbak,” katanya dengan suara tersendat. “Mbak yakin? Mbak nggak bingung? Mbak nggak takut kalau ini hanya... perasaan sementara?”
“Gue sudah sebulan memikirkan ini, Gus. Sebulan. Di kampung. Sendirian. Tanpa HP. Tanpa distraksi. Hanya gue dan kenangan kita. Dan setiap hari, gue semakin yakin. Gue bukan anak kecil lagi. Gue hampir tiga puluh tahun. Gue sudah cukup umur untuk tahu perbedaan antara cinta dan ketergantungan. Dan ini cinta. Cinta yang sebenarnya.”
“Tapi Mbak... gue dua tahun lebih muda.”
“Gue nggak peduli.”
“Tapi Mbak... gue nggak kaya. Pekerjaan gue biasa aja.”
“Gue nggak peduli.”
“Tapi Mbak... gue nggak punya mobil, nggak punya rumah, nggak punya...”
“GUS!” potong Titik keras. “Gue nggak peduli dengan semua itu. Selama ini gue pacaran sama cowok kaya, cowok mapan, cowok ganteng, cowok yang katanya ‘sempurna’. Semuanya berakhir menyakitkan. Tapi lo? Lo tidak sempurna. Lo menyebalkan kadang. Lo terlalu sabar. Lo terlalu baik. Tapi lo adalah satu-satunya orang yang tidak pernah membuat gue merasa sendirian. Dan itu lebih berharga daripada semua harta di dunia.”
Agus terdiam. Air matanya terus mengalir, tetapi di dalam dadanya, ada sesuatu yang mekar, seperti bunga yang tumbuh di tengah padang pasir, setelah menunggu hujan selama bertahun-tahun.
“Mbak,” katanya akhirnya, “gue sudah mencintai Mbak sejak gue berusia tiga belas tahun. Mungkin lebih awal dari itu. Tapi gue terlalu takut untuk mengaku. Takut kehilangan persahabatan kita. Takut Mbak akan menjauh. Takut Mbak akan melihat gue sebagai orang yang berbeda. Jadi gue memilih diam. Dan selama bertahun-tahun, gue menonton Mbak jatuh cinta pada laki-laki lain, patah hati, jatuh lagi, patah hati lagi. Dan setiap kali, gue harus tersenyum, mendengarkan, membantu, padahal di dalam hati gue, gue ingin berteriak, ‘Lihat aku! Aku di sini! Aku tidak akan pergi! Kenapa kau tidak melihatku?!”
“Gus...”
“Tapi gue tidak pernah berteriak. Karena gue sudah memutuskan bahwa menjadi sahabat sejati adalah bentuk cinta tertinggi. Bahwa mencintai seseorang berarti mengutamakan kebahagiaannya di atas kebahagiaanmu sendiri. Dan jika kebahagiaannya adalah bersama laki-laki lain, maka gue akan ikhlas. Meskipun itu membunuh gue sedikit demi sedikit.”
Titik menangis di ujung telepon. Tangisnya keras, tidak ditahan-tahan lagi.
“Gus, maafkan gue. Maafkan gue karena gue buta. Maafkan gue karena gue egois. Maafkan gue karena gue baru sadar sekarang, setelah gue menghancurkan banyak hati, termasuk hatimu.”
“Mbak, tidak ada yang perlu dimaafkan. Karena tidak ada yang salah. Yang salah adalah takdir yang mempertemukan kita terlalu cepat atau terlalu lambat. Tapi sekarang, Mbak sudah melihat. Dan itu sudah cukup.”
“Gus... gue sayang lo. Bukan sebagai sahabat. Sebagai... sebagai calon suami gue. Kalau lo mau.”
Agus tersenyum. Senyum yang paling tulus dalam hidupnya. Senyum yang lahir setelah menunggu lima belas tahun.
“Mbak, apakah lo serius menikah dengan gue? Dengan status gue yang sekarang? Dengan kondisi hati lo yang masih rapuh? Dengan masa lalu lo yang penuh luka? Lo nggak takut kalau nanti lo menyesal?”
“Gue takut, Gus. Tapi gue lebih takut kehilangan lo. Dan gue lebih takut kalau lo memilih pergi. Jadi... jangan pergi, Gus. Jangan pernah.”
“Gue tidak akan pergi, Mbak. Sahabat sejati tak pernah pergi. Dan sekarang, jika Mbak mengizinkan, gue ingin menjadi lebih dari sahabat. Gue ingin menjadi suami Mbak.”
Titik menangis lagi. Tangis bahagia. Tangis yang setelah sekian lama, akhirnya tumpah tanpa rasa sakit.
“Besok, Gus. Besok gue ke Bandung. Kita bicara langsung. Kita bicara semuanya. Tidak ada yang disembunyikan lagi.”
“Besok, Mbak. Gue tunggu.”
Telepon terputus. Agus meletakkan ponselnya di atas meja. Ia menatap langit-langit kamarnya yang retak, sama seperti ketika ia masih mahasiswa dua tahun lalu. Retakan itu semakin lebar, tetapi kini ia tidak merasa terganggu. Retakan itu mengingatkannya bahwa dinding tidak harus sempurna untuk menjadi kokoh. Bahwa cinta tidak harus sempurna untuk menjadi abadi.
Ia bangkit, berjalan ke lemari, mengambil stoples biskuit tua yang sudah ia simpan selama bertahun-tahun. Di dalam stoples itu, surat-surat lama, buku catatan, dan foto-foto usang.
Ia mengambil surat janji persahabatan yang ditulis dengan sidik jari arang lidi. Kertasnya sudah menguning, tintanya sudah pudar, tetapi sidik jarinya dan sidik jari Titik masih terlihat jelas di sudut kanan bawah.
Ia membaca surat itu sekali lagi, dengan suara berbisik:
“Kami yang bertanda tangan di bawah ini, Titik Mukti Aryanti dan Agus Sabara, dengan ini bersumpah akan menjadi sahabat selamanya. Tidak akan saling meninggalkan. Tidak akan saling mengkhianati. Jika ada yang sakit, yang satunya wajib menjenguk. Jika ada yang sedih, yang satunya wajib menghibur. Janji ini berlaku selamanya, tidak peduli jarak dan waktu.”
Agus tersenyum.
“Janji ini akan kami perpanjang, Mbak. Bukan lagi sebagai sahabat. Tapi sebagai suami istri. Dan janji itu tidak akan pernah berakhir, bahkan setelah maut memisahkan kita.”
Ia menyimpan surat itu kembali, mematikan lampu, dan tidur dengan nyenyak untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama.
BAB IX
PELABUHAN TERAKHIR YANG TAK PERNAH DIRENCANAKAN
Hujan turun di Bandung ketika Titik Mukti Aryanti turun dari kereta pukul sembilan pagi. Stasiun Hall yang biasanya ramai oleh pedagang asongan dan calo taksi, pagi itu terasa lebih sunyi. Mungkin karena hujan, mungkin karena hari Minggu, atau mungkin karena Titik sedang melihat dunia dengan perspektif yang berbeda, seperti orang yang baru sadar dari tidur panjang dan menemukan bahwa warna-warna di sekitarnya lebih tajam dari yang ia ingat.
Ia tidak membawa banyak barang. Hanya satu ransel kecil berwarna merah, ransel yang sama yang ia bawa saat pertama kali Agus menjemputnya di stasiun ini bertahun-tahun lalu. Ransel itu sudah usang, talinya pernah putus dan dijahit ulang dengan benang kasar, tetapi masih ia pakai karena ia tidak bisa melepaskan benda-benda yang menyimpan memori.
Titik berdiri di pintu keluar stasiun, menatap rintik hujan yang membasahi aspal. Ia tidak membawa payung. Ia sengaja tidak membawa payung, karena ia tahu Agus akan datang menjemput dengan jaket hujan biru lusuhnya, dan mereka akan berbagi satu jaket itu sambil berlari-lari kecil ke tempat parkir motor, seperti yang mereka lakukan berkali-kali di masa lalu.
Dan benar saja. Dari kejauhan, ia melihat sesosok laki-laki dengan jaket biru lusuh berlari mendekat. Rambut ikalnya basah kuyup, pipinya merah kedinginan, tetapi senyumnya, senyum itu tidak pernah berubah sejak ia kecil. Senyum yang sedikit miring ke kiri, yang muncul dari sudut bibirnya dan merambat ke seluruh wajahnya seperti matahari terbit di pagi hari.
“Mbak!” teriak Agus sambil melambai.
Titik tidak menjawab. Ia hanya tersenyum. Dan untuk pertama kalinya, ia membiarkan dirinya merasakan apa yang selama ini ia tolak: getaran di dadanya ketika melihat Agus. Bukan getaran karena gugup atau cemas, tetapi getaran karena ia merasa pulang.
Agus sampai di depannya dengan napas tersengal. “Mbak, hujan gini nggak bawa payung?”
“Sengaja.”
“Sengaja biar gue yang basah?”
“Biar kita basah bareng.”
Mereka berdua tertawa. Agus membuka jaket hujannya, menaikkannya ke atas kepala mereka berdua, sebuah tenda darurat dari kain biru yang terlalu kecil untuk dua orang. Mereka berdua harus berjalan beriringan dengan bahu bersentuhan, langkah mereka tidak sinkron, kaki Titik menginjak genangan air beberapa kali.
“Mbak, lo basah kuyup nanti. Gue anterin ke kosan, ganti baju dulu,” kata Agus.
“Ke kosan lo dulu. Baju gue ada di ransel.”
“Mbak bawa baju ganti ke kosan gue?”
“Ya. Gue rencana nginep seminggu.”
Agus tertawa. “Seminggu? Mbak, lo kerja?”
“Cuti. Gue bilang mau pulang kampung.”
“Ini kampung lo, Mbak? Bandung?”
“Bandung bukan kampung gue. Tapi lo ada di sini. Jadi ini rumah.”
Agus tidak menjawab. Ia hanya tersenyum, lalu mempercepat langkah menuju parkiran motor, berusaha melindungi Titik dari guyuran hujan yang semakin deras.
Di kos-kosan Agus, suasana masih sama seperti terakhir kali Titik menginap, hanya saja lebih berantakan. Buku-buku berserakan di lantai, pakaian kotor menumpuk di keranjang cucian yang sudah meluap, piring-piring kotor di wastafel masih belum dicuci sejak kemarin, dan bau kopi instan menyengat di seluruh ruangan.
“Maaf, berantakan,” kata Agus sambil buru-buru merapikan tumpukan pakaian di kursi. “Gue nggak tahu Mbak akan datang secepat ini. Kirain sore.”
“Nggak apa-apa. Gue pernah lihat kosan lo lebih berantakan dari ini.”
“Kapan?”
“Pas lo masih mahasiswa. Waktu itu ada tumpukan buku di mana-mana. Gue hampir nggak bisa jalan.”
Agus tertawa. “Ya, itu masa-masa sulit.”
Titik meletakkan ranselnya di ranjang, ranjang sempit yang sama yang pernah ia tiduri bersama Agus, dengan saling membelakangi di malam yang dingin. Ranjang yang sama yang menjadi saksi bisu ketika mereka terbangun dalam pelukan tanpa sengaja, dan saling pura-pura tidak ingat.
“Gus,” kata Titik sambil duduk di tepi ranjang.
“Ya.”
“Duduk. Kita harus bicara.”
Agus menelan ludah. Ia duduk di kursi plastik di seberang Titik, dengan jarak sekitar satu meter. Tangannya menggenggam erat lututnya sendiri, tanda bahwa ia gugup. Sangat gugup.
“Mbak,” katanya, “sebelum Mbak bicara, gue mau minta maaf.”
“Minta maaf kenapa?”
“Karena semalam, gue hampir bilang sesuatu di telepon. Sesuatu yang mungkin nggak pantas gue bilang saat Mbak sedang rapuh. Maaf, Mbak. Gue egois.”
Titik menggeleng. “Kamu nggak egois, Gus. Justru sebaliknya. Kamu terlalu tidak egois. Selama ini, kamu selalu mengutamakan kebahagiaanku di atas kebahagiaanmu sendiri. Kamu rela menahan sakit hati puluhan tahun hanya karena takut kehilangan aku sebagai sahabat. Itu bukan egois. Itu... itu adalah bentuk cinta paling murni yang pernah aku lihat.”
Agus menunduk. Matanya mulai berkaca-kaca, tetapi ia menahannya. “Mbak, jangan. Gue nggak mau Mbak bilang hal-hal manis cuma karena Mbak sedang sentimental.”
“Ini bukan sentimental, Gus. Ini keputusan.”
“Keputusan apa?”
Titik berdiri, berjalan mendekati Agus, lalu berlutut di depannya, sehingga wajah mereka sejajar. Ia meraih kedua tangan Agus yang kasar, mengamati setiap garis di telapak tangan itu, setiap kapalan di ujung jari, setiap urat yang timbul di punggung tangan.
“Tangan ini,” bisik Titik, “telah menyeka air mataku puluhan kali. Tangan ini memasak untukku ketika aku sakit. Tangan ini memegang setang motor menembus gelapnya malam Puncak hanya untuk menjengukku di rumah sakit. Tangan ini menulis puisi untukku di buku gambar yang sampulnya biru laut. Tangan ini... selama ini aku anggap sebagai tangan sahabat. Padahal, ini adalah tangan yang akan aku genggam sampai akhir hidupku.”
Agus tidak bisa menahan air matanya lagi. Ia menangis, bukan isak tangis, tetapi air mata yang mengalir deras di pipinya, jatuh ke tangan Titik yang menggenggam tangannya.
“Mbak, jangan bercanda,” katanya dengan suara tersendat.
“Gue tidak bercanda, Gus. Gue seribu persen serius.”
“Tapi Mbak... Mbak baru putus dari Reza. Mbak masih bingung. Mbak mungkin hanya butuh pelarian. Gue nggak mau jadi pelarian. Gue nggak mau jadi alternatif. Gue mau jadi pilihan utama. Dan kalau Mbak belum siap memilih gue sebagai pilihan utama, lebih baik kita tetap seperti dulu. Sakit, tapi aman.”
Titik menggeleng kuat. “Dengar, Gus. Gue sudah sendirian di kampung selama sebulan. Gue tidak bawa HP. Gue tidak baca media sosial. Gue hanya duduk di teras rumah, melihat sawah, dan memikirkan hidup gue. Gue memikirkan semua laki-laki yang pernah gue temui. Rendra, Robi, Handoko, Andre, Farhan, Dimas, Edo, Arman, Reza... semua. Dan di akhir perenungan itu, gue hanya menemukan satu nama yang tidak pernah pergi: Agus Sabara. Satu nama. Hanya satu.”
Agus terdiam. Ia menatap mata Titik yang coklat tua, yang kini tidak lagi redup seperti beberapa tahun terakhir. Matanya bersinar, sama seperti ketika ia masih kecil, ketika ia menulis surat janji di bawah pohon mangga.
“Mbak...”
“Belum selesai,” potong Titik. “Gue tidak memilih lo karena gue putus asa. Gue tidak memilih lo karena gue tidak punya pilihan lain. Gue punya banyak pilihan lain, Gus. Di kantor, ada tiga cowok yang setiap hari berusaha deketin gue. Teman kuliah gue yang dulu, ada dua yang masih single dan mapan. Bahkan teman mama pun pernah nawarin anaknya. Tapi gue menolak semuanya. Bukan karena gue tidak tertarik. Tapi karena hati gue sudah tidak bisa menerima siapa pun selain lo.”
“Tapi Mbak...”
“Gus, berapa kali gue harus bilang? Gue cinta lo. Bukan sebagai sahabat. Gila. Sudah. Berapa kali?”
Agus tertawa di sela tangisnya. Tawa yang campur aduk dengan isak, seperti orang yang terlalu bahagia sehingga tidak tahu harus mengekspresikan dengan apa.
“Mbak,” katanya, “gue mau Mbak yakin. Seratus persen yakin. Karena gue tidak akan kuat kalau suatu hari Mbak bangun dan bilang, ‘Gus, maaf, gue salah.’ Gue tidak akan kuat.”
“Lo tidak perlu kuat sendirian, Gus. Karena mulai sekarang, kita akan kuat bersama.”
Titik meraih wajah Agus dengan kedua tangannya. Ia mengusap air mata di pipi Agus dengan ibu jarinya, perlahan, seperti ia menyeka kaca yang buram.
“Gus, selama ini lo selalu jadi orang yang kuat buat gue. Sekarang, giliran gue yang mau jadi kuat buat lo. Lo boleh nangis. Lo boleh lemah. Lo boleh takut. Karena gue akan ada di sini. Sama seperti lo selalu ada untuk gue.”
Agus menutup matanya. Ia merasakan kehangatan tangan Titik di pipinya, dan untuk pertama kalinya, ia membiarkan dirinya menjadi rapuh di hadapan Titik.
“Mbak,” bisiknya, “gue cinta Mbak. Sejak gue kelas dua SMP. Mungkin sejak sebelum itu. Sejak Mbak menuntun gue pulang ketika gue tersesat. Gue cinta Mbak, dan gue sudah lelah menyembunyikannya.”
Titik tersenyum. Senyum paling lebar yang pernah ia tunjukkan dalam setahun terakhir.
“Akhirnya,” bisiknya. “Setelah lima belas tahun, lo ngomong juga.”
“Mbak tahu?”
“Gue mungkin buta, Gus. Tapi tidak segitu butanya. Gue sudah curiga sejak lo selalu datang setiap kali gue patah hati. Gue sudah curiga sejak lo menulis puisi-puisi cinta di buku catatan lo yang lo sembunyiin di bawah tumpukan baju. Gue sudah curiga sejak lo selalu memesan teh jahe panas untuk gue, karena lo tahu gue kedinginan, padahal gue tidak pernah bilang.”
“Terus kenapa Mbak diam saja?”
“Karena gue takut. Takut kalau gue mengakuinya, persahabatan kita akan berubah. Takut kalau ternyata gue salah, dan lo cuma baik karena lo memang orang baik. Takut kalau-kalau... gue tidak pantas dicintai oleh orang sebaik lo.”
Agus menggeleng. “Mbak, Mbak itu pantas. Mbak pantas dicintai oleh siapa pun. Termasuk gue.”
Mereka berdua terdiam. Hujan di luar semakin reda, hanya tersisa rintik-rintik kecil yang jatuh dari talang air, menciptakan irama yang tenang.
“Gus,” kata Titik.
“Ya.”
“Lo mau nikah sama gue?”
Pertanyaan itu melayang di udara, menggantung di antara mereka seperti burung yang tidak tahu harus hinggap di mana. Agus membeku. Mulutnya terbuka setengah, tetapi tidak ada suara yang keluar.
“Mbak... Mbak yakin?” tanyanya dengan suara serak.
“Gue tidak akan bertanya kalau tidak yakin.”
“Tapi Mbak... kita belum pacaran. Kita belum melalui tahap pacaran. Mbak langsung mau nikah?”
Titik tertawa kecil. “Gus, kita sudah ‘pacaran’ tanpa label selama dua puluh tahun. Lo tahu semua sisi terburukku. Lo tahu aku pemarah, cemburuan, kadang egois, suka ngambek tanpa alasan, suka mempersulit hal-hal yang sederhana. Dan lo tetap di sini. Lo tidak pergi. Apa lagi yang perlu kita uji coba?”
“Tapi Mbak..."
“Gus, stop berkata ‘tapi’. Aku capek mendengar ‘tapi’. Aku sudah mendengar ‘tapi’ dari mulutku sendiri selama bertahun-tahun. ‘Aku suka sama Agus, tapi dia dua tahun lebih muda.’ ‘Aku nyaman sama Agus, tapi mungkin ini hanya rasa sayang sahabat.’ ‘Aku ingin bersama Agus, tapi aku takut merusak persahabatan kita.’ Semua ‘tapi’ itu hanya alasan. Alasan untuk tidak mengambil risiko. Dan aku lelah hidup dalam ketakutan.”
Agus menunduk. Ia menggenggam erat tangan Titik yang masih memegang wajahnya.
“Mbak, kalau Mbak serius... gue akan bahagia. Tapi gue bukan orang kaya. Pekerjaan gue biasa. Rumah gue belum punya. Tabungan gue pas-pasan. Apakah Mbak rela hidup sederhana dengan gue?”
Titik mengusap pipi Agus sekali lagi. “Gus, aku tidak menikahi lo karena harta lo. Aku menikahi lo karena lo adalah satu-satunya orang yang membuatku merasa aman di dunia yang gila ini. Aku menikahi lo karena aku tahu, di samping lo, aku tidak perlu berpura-pura menjadi seseorang yang bukan diriku. Aku menikahi lo karena aku lelah mencari cinta di tempat yang salah, dan aku sadar bahwa cinta sejati sudah ada di depan mataku selama ini.”
Agus tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya bisa menangis. Dan untuk pertama kalinya, Titik tidak berusaha menghentikannya. Ia membiarkan Agus menangis di pangkuannya, membelai rambut ikalnya yang basah, dan berbisik, “Sudah, Gus. Tidak perlu kuat lagi. Aku di sini.”
Mereka berdua menangis dalam pelukan di kamar kos yang sempit, dengan buku-buku berantakan di lantai, dengan pakaian kotor menumpuk di keranjang, dengan bau kopi instan yang menyengat di seluruh ruangan.
Tidak ada yang sempurna. Tidak ada yang mewah. Tidak ada yang sesuai dengan skenario drama romantis yang sering ditayangkan di televisi.
Tapi itulah cinta mereka: berantakan, tidak terencana, penuh luka, tetapi nyata.
Dan itu sudah cukup.
Tiga hari kemudian, Agus dan Titik memutuskan untuk memberi tahu orang tua masing-masing.
Perjalanan ke kampung terasa seperti perjalanan waktu. Mereka naik bus bersama, duduk bersebelahan di kursi dekat jendela. Sesekali, Titik menyandarkan kepalanya di bahu Agus. Sesekali, Agus menggenggam tangan Titik dan tidak melepaskannya.
“Gus,” bisik Titik.
“Hm?”
“Apa mama lo akan setuju? Gue kan lebih tua dua tahun.”
“Mama gue sudah tahu sejak lama. Dulu pas gue masih SMA, mama pernah bilang, ‘Le, kalau kamu suka sama Mbak Titik, bilang saja. Jangan dipendam.’ Tapi gue nggak pernah bilang.”
“Terus mama gue? Mama gue keras. Dia pasti akan protes karena lo belum mapan.”
“Gue akan bicara dengan mama Mbak. Gue akan buktikan bahwa gue serius. Gue akan cari kerja yang lebih baik. Gue akan... apa pun yang mama Mbak minta, gue usahakan.”
Titik menatap Agus dengan mata berbinar. “Lo yakin bisa?”
“Gue tidak yakin. Tapi gue akan berusaha. Karena Mbak berharga.”
Titik tersenyum. Ia menggenggam tangan Agus lebih erat. “Gus, lo tahu apa yang membuat gue jatuh cinta sama lo?”
“Apa?”
“Bukan karena lo baik, bukan karena lo setia, bukan karena lo selalu ada. Tapi karena lo tidak pernah menyerah pada gue. Meskipun gue sudah berkali-kali jatuh, meskipun gue sudah berkali-kali memilih yang salah, lo tidak pernah bilang, ‘Sudahlah, Mbak, lo hopeless.’ Lo selalu percaya bahwa suatu hari gue akan sadar. Dan sekarang, gue sadar. Tidak telat, kan?”
Agus menggeleng. “Tidak pernah telat, Mbak. Tidak akan pernah.”
Di kampung, mereka berdua mendatangi rumah orang tua Titik lebih dulu.
Rumah itu masih sama seperti dulu: dinding kayu yang dicat hijau pudar, halaman yang ditanami bunga sepatu, dan di belakang rumah, dulu ada pohon mangga besar, sekarang hanya tersisa tunggulnya.
Ibu Titik sedang duduk di teras, mengupas bawang untuk lauk makan siang. Melihat Agus dan Titik datang bersama, ia sedikit terkejut. “Lho, Titik, kamu ngajak Agus? Ada apa?”
“Ada yang mau gue bicarakan, Ma,” kata Titik sambil duduk di samping ibunya.
Ayah Titik yang sedang membaca koran di dalam rumah, mendengar suara ribut dan keluar. “Agus? Jarang-jarang kamu ke sini. Ada perlu?”
Agus menelan ludah. Ia merasakan jantungnya berdebar seperti genderang perang. Tangan Titik menyentuh lengannya dari belakang, memberi semangat.
“Pak, Bu,” kata Agus dengan suara yang berusaha ia buat tegas, “saya mau meminang Titik.”
Keheningan menyelimuti ruangan selama beberapa detik.
Ibu Titik berhenti mengupas bawang. Pisau di tangannya terhenti di tengah jalan. Ayah Titik menurunkan kacamatanya, menatap Agus dengan sorot tajam.
“Kamu serius?” tanya ayah Titik.
“Serius, Pak.”
“Kamu kerja apa sekarang?”
“Peneliti di LSM, Pak. Gaji tidak besar. Tapi saya akan berusaha.”
“Kamu punya rumah?”
“Belum, Pak. Saya masih ngekos di Bandung.”
“Kamu punya tabungan?”
“Ada, Pak. Tidak banyak. Tapi cukup untuk... memulai.”
Ayah Titik menghela napas panjang. Ibu Titik meletakkan bawang dan pisaunya, lalu menatap putrinya.
“Tik, kamu yakin? Kamu ini anak satu-satunya kami. Kami ingin yang terbaik buat kamu.”
“Ma, Pa,” kata Titik sambil meraih tangan kedua orang tuanya, “Agus adalah yang terbaik. Mungkin dia tidak kaya, mungkin dia tidak seterkenal cowok-cowok lain yang pernah pacaran sama aku. Tapi dia adalah satu-satunya yang tidak pernah meninggalkan aku. Satu-satunya yang selalu ada di saat aku susah maupun senang. Satu-satunya yang membuat aku ingin menjadi lebih baik. Jika kalian tidak merestui kami, aku akan tetap memilihnya. Tapi akan lebih bahagia jika kalian merestui.”
Ayah Titik terdiam cukup lama. Ia menatap Agus, menatap putrinya, lalu menatap istrinya.
“Dulu,” kata ayah Titik pelan, “waktu kamu kecil, kamu sering main sama Agus di bawah pohon mangga. Kamu selalu pulang dengan lutut lecet dan pakaian kotor. Mama kamu marah-marah. Tapi kamu tetap bahagia. Dan setiap kali kamu bahagia, kami sebagai orang tua juga bahagia.”
Ia berdiri, berjalan mendekati Agus, lalu meletakkan tangannya di pundak pemuda itu.
“Nak Agus,” katanya, “saya tidak tahu apakah kamu mampu membuat anak saya bahagia. Tapi setahu saya, selama ini hanya kamulah yang pernah membuat dia tersenyum setelah dia menangis. Hanya kamulah yang datang ketika dia sakit. Hanya kamulah yang tidak pernah pergi meskipun dia sudah berkali-kali patah hati. Jika itu bukan cinta, saya tidak tahu apa namanya.”
Agus menunduk, matanya basah. “Terima kasih, Pak.”
“Saya belum bilang ‘ya’,” kata ayah Titik dengan nada tegas namun hangat. “Saya hanya bilang, saya melihat. Beri kami waktu.”
Ibu Titik mengangguk. “Kami doakan yang terbaik untuk kalian berdua.”
Titik memeluk orang tuanya, menangis bahagia. Agus hanya bisa berdiri di samping, tersenyum, berusaha tidak ikut menangis.
Di rumah Agus, percakapan berlangsung lebih singkat. Ibu Agus, yang sudah sakit-sakitan tetapi masih memiliki senyum paling hangat di kampung itu, langsung memeluk Titik ketika mendengar kabar tersebut.
“Akhirnya,” bisik ibu Agus sambil memeluk Titik erat. “Akhirnya kamu sadar juga, Nak. Anak saya ini sudah sabar menunggu kamu sejak SMP.”
“Ibu tahu?” tanya Titik terkejut.
“Ibu tahu segalanya. Ibu lihat bagaimana Agus menulis namamu di buku catatannya. Ibu lihat bagaimana dia selalu cemas setiap kali kamu pergi. Ibu lihat bagaimana dia menangis diam-diam di kamar ketika kamu cerita tentang cowok-cowok lain. Ibu hanya diam, karena ibu percaya bahwa cinta sejati akan menemukan jalannya sendiri.”
Agus memeluk ibunya. “Maaf, Ma, saya tidak bilang dari dulu.”
“Tidak perlu minta maaf, Le. Yang penting sekarang kamu bahagia. Ibu hanya minta satu.”
“Apa, Ma?”
“Jaga dia. Jaga Titik. Dia perempuan yang baik, meskipun dia sering salah pilih laki-laki. Sekarang dia sudah memilihmu. Jangan sia-siakan.”
“Ibu, saya tidak akan menyia-nyiakannya. janji.”
Ibu Agus tersenyum. “Ibu tahu. Ibu tahu kamu anak baik.”
Tiga bulan kemudian, setelah berbagai persiapan dan negosiasi keluarga, Agus Sabara dan Titik Mukti Aryanti resmi menikah.
Pernikahan mereka tidak mewah. Tidak ada gedung bertingkat, tidak ada dekorasi bunga impor, tidak ada katering mahal. Mereka menikah di kampung, di halaman rumah orang tua Titik, di bawah tenda putih sederhana yang sedikit lusuh. Makanannya nasi kotak dari katering langganan kampung, lauknya ayam goreng, tempe orek, dan sambal terasi. Tamunya hanya keluarga dekat dan beberapa sahabat, tidak lebih dari lima puluh orang.
Titik memakai kebaya putih sederhana, tanpa riasan tebal, tanpa hiasan kepala yang rumit. Agus memakai kemeja putih dan jas hitam pinjaman dari sepupunya. Mereka berdiri di depan penghulu, saling bergandengan tangan, dan mengucapkan janji suci.
“Saya terima nikahnya Titik Mukti Raryanti Binti Suherman dengan mas kawi seperagkat alat sholat dan uang sebesar bsatu juta rupiah di bayar tunai…”, Uacap Agus Sabara dengansuara lntang dan lacar.,
Suara Agus bergetar di beberapa bagian. Titik tersenyum di sampingnya, matanya berkaca-kaca.
Setelah ijab kabul selesai, setelah ucapan “sah” menggema di halaman rumah, mereka berdua duduk di pelaminan sederhana, dua kursi plastik yang dilapisi kain merah, sambil diserbu oleh keluarga yang ingin bersalaman dan memberi doa.
“Selamat, ya, Le,” kata ibu Agus sambil menangis.
“Selamat, Tik,” kata ibu Titik juga menangis.
Ayah Titik hanya mengangguk, tetapi Agus melihat setetes air mata jatuh dari sudut matanya, air mata pertama yang ia lihat dari seorang pria yang selama ini ia kenal sebagai sosok keras dan tidak banyak bicara.
Di akhir acara, ketika semua tamu sudah pulang dan hanya tersisa keluarga inti, Agus dan Titik duduk di teras rumah, di tempat yang dulu menjadi saksi bisu pertemuan mereka sebagai anak-anak, sekarang menjadi saksi awal pernikahan mereka.
“Gus,” kata Titik sambil menyandarkan kepalanya di bahu Agus.
“Ya.”
“Kita sudah menikah.”
“Iya, Mbak. Nyata?”
“Nyata. Akhirnya.”
“Mbak, lo nggak nyesel?”
“Kalau lo berhenti nanya ‘lo nyesel nggak’, gue akan lebih yakin.”
Agus tertawa. “Maaf. Kebiasaan.”
“Tidak apa-apa. Suatu saat nanti, ketika kita sudah tua dan rambut kita sudah putih, mungkin lo akan berhenti nanya. Tapi sampai saat itu tiba, gue akan terus menjawab: gue tidak menyesal. Tidak pernah. Tidak akan pernah.”
Mereka berdua diam, menikmati malam yang sunyi. Angin kampung berhembus pelan, membawa bau tanah basah dan bunga sepatu dari halaman rumah.
“Gus,” kata Titik lagi.
“Ya.”
“Kita sudah sahabat selama dua puluh tahun. Sekarang kita suami istri. Apa bedanya?”
Agus berpikir sejenak. “Dulu, kalau lo sakit, gue jenguk. Sekarang, kalau lo sakit, gue yang rawat.”
“Dulu juga lo rawat gue.”
“Iya, tapi dulu gue pulang ke kosan setelah lo sembuh. Sekarang, gue akan tetap di samping lo. Tidak akan pulang ke mana-mana.”
Titik tersenyum. Ia menggenggam tangan Agus, merasakan kehangatan yang tidak pernah ia sadari selama ini.
“Gus, lo tahu apa yang paling gue syukuri hari ini?”
“Apa?”
“Bukan karena kita menikah. Tapi karena gue tidak perlu kehilangan lo sebagai sahabat untuk mendapatkan lo sebagai suami. Lo tetap menjadi sahabat sejatiku. Dan sekarang, lo juga jadi kekasih, suami, dan kelak akan jadi ayah dari anak-anak kita.”
Agus memeluk Titik. Pelukan yang tidak perlu dijelaskan dengan kata-kata. Pelukan yang mengatakan: “Aku di sini. Selamanya. Karena sahabat sejati tak pernah pergi—bahkan setelah menjadi suami istri sekalipun.”
Malam itu, di kampung yang sunyi, di bawah langit yang bertabur bintang, Agus dan Titik mengawali babak baru dalam kehidupan mereka. Babak yang tidak akan sempurna, tetapi akan mereka jalani bersama.
Karena mereka sudah belajar bahwa cinta sejati bukan tentang menemukan seseorang yang sempurna, tetapi tentang melihat ketidaksempurnaan seseorang dan memilih untuk tetap bertahan.
BAB X
SAKIT DALAM DIAM, SEMBUH DALAM BERSAMA
Hidup setelah pernikahan tidak langsung seperti dongeng. Agus dan Titik tidak tiba-tiba hidup dalam istana dengan pelayan dan kuda putih. Mereka tinggal di kos-kosan sempit Agus di Bandung selama tiga bulan pertama, karena Agus belum memiliki rumah sendiri dan Titik belum menemukan pekerjaan di Bandung, ia memutuskan untuk mengundurkan diri dari perusahaan di Jakarta, demi memulai hidup baru di kota yang dingin dan penuh kenangan ini.
Pagi pertama setelah menikah, mereka terbangun dalam pelukan di ranjang sempit yang sama yang pernah menjadi saksi bisu kegugupan mereka bertahun-tahun lalu. Ranjang itu sama, tetapi perasaan mereka berbeda. Kini, tidak ada lagi saling membelakangi; tidak ada lagi jarak dua puluh sentimeter yang sengaja mereka ciptakan.
Titik membuka mata, melihat wajah Agus yang masih terlelap. Wajah yang sama yang ia lihat sejak kecil, hanya sekarang ada kumis tipis di atas bibirnya, ada kerutan halus di sudut matanya karena terlalu banyak begadang, dan ada senyum samar di bibirnya meskipun sedang tidur, seolah mimpinya sedang indah.
“Akhirnya,” pikir Titik. “Setelah dua puluh tahun, aku bangun di sampingnya sebagai istrinya, bukan sebagai teman tidur darurat. Aneh. Rasanya seperti mimpi.”
Ia mengulurkan tangan, menyentuh pipi Agus dengan lembut. Kulitnya kasar karena janggut yang baru tumbuh, tetapi hangat. Hangat seperti api unggun di malam yang dingin.
Agus membuka matanya perlahan. Melihat Titik yang sudah terjaga, ia tersenyum. “Mbak, sudah bangun? Mau gue bikinin sarapan?”
“Lo tuh kalau sudah jadi suami, jangan panggil gue ‘Mbak’ lagi. Panggil ‘Titik’, panggil ‘Sayang’, panggil apa kek. ‘Mbak’ itu kedengaran formal banget.”
“Maaf, kebiasaan. Sudah dua puluh tahun, Mb…eh, Titik.”
Titik tertawa. “Belajar, Gus. Pelan-pelan. Nanti juga terbiasa.”
Agus mencoba mengucapkan nama Titik tanpa embel-embel “Mbak”. Rasanya aneh, seperti gigi yang tanggal dan digantikan dengan gigi palsu, fungsinya sama, tetapi tidak terasa alami. “Titik,” katanya pelan. “Titik Mukti Aryanti Sabara.”
“Kok kedengaran aneh?”
“Kedengaran... resmi. Kayak di undangan.”
Mereka berdua tertawa. Tawa pagi di kamar kos yang sempit, dengan sinar matahari yang masuk melalui jendela, menciptakan berkas-berkas cahaya di sela-sela debu yang beterbangan.
“Gus,” kata Titik.
“Ya.”
“Gue bahagia.”
Agus menatap Titik. Matanya mencari kebohongan, tetapi tidak menemukan apa pun selain ketulusan. “Gue juga bahagia, Mb.. Titik.”
“Tapi kenapa lo masih kelihatan seperti orang yang sedang tidak percaya?”
“Karena... gue nggak percaya. Setelah gue menunggu selama lima belas tahun, Mimpi itu nyata, tapi gue masih takut bangun kapan saja.”
Titik meraih tangan Agus, meletakkannya di dadanya. “Rasakan detak jantung gue. Ini nyata. Gue nyata. Pernikahan kita nyata.”
Agus merasakan detak jantung Titik yang berdetak dengan irama stabil, tidak berpacu seperti biasanya ketika ia cemas atau takut. Ini adalah detak jantung yang tenang. Detak jantung orang yang telah menemukan ketenangan.
“Titik,” kata Agus pelan.
“Hm.”
“Gue janji, gue akan berusaha menjadi suami yang baik. Tidak akan pernah menyakiti lo. Tidak akan pernah membuat lo nangis.”
“Berjanjilah pada dirimu sendiri, Gus. Janji tidak perlu diucapkan, karena yang penting adalah tindakan. Dan selama ini, tindakanmu sudah membuktikan segalanya.”
Mereka berpelukan di ranjang sempit itu, menikmati kehangatan pagi yang tidak akan pernah mereka lupakan.
Tiga bulan pertama pernikahan mereka penuh dengan penyesuaian. Agus yang sudah terbiasa hidup sendiri harus belajar berbagi ruang dengan orang lain. Titik yang terbiasa hidup di apartemen modern dan modis harus belajar menerima kenyataan bahwa kamar mandi kos-kosan Agus tidak memiliki pemanas air, bahwa dapur hanya berupa kompor dua tungku dan wastafel kecil di sudut ruangan, bahwa ada kecoa yang kadang lewat dengan santainya seperti pemilik rumah.
“Gus, ada kecoa!” teriak Titik suatu malam ketika sedang mencuci piring.
“Di mana?”
“Di lantai! Di samping kakimu!”
Agus melihat ke bawah. Seekor kecoa besar sedang berjalan di lantai, tidak terburu-buru, seolah sedang menikmati jalan-jalan sore.
“Oh, si Kecoa,” kata Agus santai.
“Si Kecoa? Lo kasih nama?”
“Iya, itu kecoa yang dulu sering gue lihat di dapur. Gue panggil Jojo.”
“Jojo?!”
“Iya, singkatan dari Joko. Karena dia setia.”
Titik melongo. “Lo... lo ini aneh, Gus.”
Agus tertawa. Ia mengambil sapu, mengebut Jojo ke luar pintu dengan gerakan yang lembut—tidak sampai membunuhnya.
“Lo tidak membunuhnya?!” Titik terkejut.
“Dia tidak mengganggu. Dia cuma mencari makan.”
“Ini rumah kita, Gus! Rumah kita! Kita bebas membunuh kecoa yang masuk tanpa izin!”
“Titik, sayang, ini bukan rumah. Ini kos-kosan. Kecoa punya hak tinggal juga.”
Titik menghela napas frustrasi. “Lo konyol, tahu? Tapi... gue nggak bisa marah.”
“Karena?”
“Karena lo tersenyum cengir gitu, mana tega gue.”
Mereka berdua tertawa, melupakan kecoa itu. Dan malam itu, untuk pertama kalinya, Titik merasa bahwa hidup sederhana tidak selalu berarti menderita. Hidup sederhana bisa berarti bahagia, jika bahagia itu ditemani orang yang tepat.
Agus sadar bahwa gajinya sebagai peneliti junior tidak akan cukup untuk menghidupi istri dan, kelak, anak-anak mereka. Ia mulai mencari pekerjaan tambahan. Malam hari, setelah pulang dari kantor, ia menulis artikel lepas untuk beberapa media online dengan honor yang tidak seberapa. Akhir pekan, ia membuka les privat matematika untuk anak-anak SMA di sekitar kos.
Titik melihat Agus pulang dengan mata cekung, punggung membungkuk, pakaian kusut seperti tidak disetrika selama seminggu. Ia merasa bersalah. Ia tidak bekerja; ia masih dalam masa transisi, belum menemukan pekerjaan yang cocok di Bandung. Setiap hari ia hanya di kos, melamar pekerjaan via internet, atau pergi ke pusat-pusat pelatihan untuk meningkatkan keterampilan.
Suatu malam, ketika Agus pulang pukul sepuluh setelah mengajar les privat, Titik tidak tahan lagi.
“Gus,” katanya, “gue nggak tega lihat lo kayak gini. Gue bersalah. Gue cuma di rumah, nggak ngapa-ngapain, sementara lo kerja dari pagi sampai malam.”
Agus meletakkan tasnya, duduk di samping Titik. Wajahnya pucat dan lelah, tetapi matanya tetap lembut. “Titik, lo lagi berusaha. Lo belum nemu kerja yang cocok. Itu bukan salah lo.”
“Tapi gue bisa bantu. Gue bisa buka jualan online. Gue bisa jadi guru privat juga. Gue bisa...”
“Titik.” Agus meraih tangan Titik, menatap matanya. “Gue menikahi lo bukan karena gue butuh uang lo. Gue menikahi lo karena gue ingin merawat lo. Biarkan gue yang bekerja dulu. Nanti kalau lo sudah nemu kerja, lo bisa bantu. Tapi sekarang, fokus dulu untuk beradaptasi dengan kehidupan baru lo di Bandung. Itu sudah cukup berat.”
Titik menangis. Ia memeluk Agus, yang masih basah oleh keringat karena seharian bekerja.
“Gus, kenapa lo baik banget? Gue nggak pantas. Gue nggak pernah baik ke lo selama ini. Gue egois, selalu cerita soal cowok-cowok lain di depan lo, padahal lo mungkin sakit hati. Gue selalu hanya datang pas susah, lalu pergi pas senang. Dan lo tetap di sini. Tidak pergi.”
Agus membelai rambut Titik. “Itu yang namanya cinta, sayang. Bukan tentang pantas atau tidak pantas. Tapi tentang pilihan. Dan aku sudah memilihmu sejak lama. Tidak akan aku ubah pilihan itu.”
Di bulan keempat pernikahan, Titik akhirnya mendapat pekerjaan di sebuah perusahaan penerbitan di Bandung. Pekerjaannya sebagai editor, dengan gaji yang sedikit lebih rendah dari yang ia terima di Jakarta, tetapi cukup untuk membantu ekonomi rumah tangga.
Mereka berdua mulai mencari kontrakan yang lebih layak, tidak terlalu mewah, tetapi setidaknya memiliki dapur yang lebih besar, kamar mandi dengan pemanas air, dan satu kamar tidur yang cukup untuk mereka berdua (bukan ranjang sempit yang nyaris tidak muat untuk dua orang dewasa).
Mereka menemukan sebuah kontrakan kecil di daerah Ciumbuleuit, tidak jauh dari kos Agus dulu. Rumah itu berukuran 6x8 meter, terdiri dari kamar tidur, ruang tamu yang menyatu dengan dapur, dan kamar mandi di belakang. Halamannya sempit, tetapi cukup untuk menjemur pakaian dan meletakkan pot-pot kecil berisi tanaman.
“Ini mahal, Gus,” kata Titik ragu ketika pertama kali melihat harga sewa.
“Tidak mahal, Titik. Ini standar. Dan kita berdua bekerja. Kita bisa.”
“Tapi tabungan kita...”
“Tabungan kita akan bertambah. Yang penting sekarang kita punya tempat yang nyaman. Lo nggak bisa terus-terusan tinggal di kos yang ada kecoa bernama Jojo.”
Titik tertawa. “Jojo mungkin pindah ke kontrakan baru.”
“Jojo tidak diundang.”
Akhirnya, mereka memutuskan untuk menyewa kontrakan itu. Hari pertama pindah, mereka hanya memiliki sedikit barang: kasur lipat, lemari plastik, kompor portabel, piring dan gelas beberapa buah, dan satu set alat sholat yang dihadiahkan orang tua Titik.
Mereka duduk di lantai kontrakan yang masih berdebu, menatap sekeliling dengan senyum bahagia yang tidak bisa disembunyikan.
“Gus,” kata Titik.
“Ya.”
“Kita punya rumah.”
Agus tersenyum. “Bukan rumah, Titik. Ini kontrakan. Tapi suatu hari, insya Allah, kita akan punya rumah sungguhan.”
“Aku tidak peduli rumah atau kontrakan. Yang penting, kita ada di sini. Bersama.”
Mereka berpelukan di lantai yang berdebu, dikelilingi oleh kardus-kardus bekas pindahan, sementara sinar matahari sore masuk melalui jendela dan menciptakan pola-pola cahaya di dinding putih yang masih bersih.
Di bulan kelima pernikahan, Agus jatuh sakit.
Awalnya hanya batuk-batuk kecil. Lalu demam yang datang dan pergi. Lalu sakit perbagian, bukan sakit biasa, tetapi sakit yang membuatnya meringis setiap kali menelan makanan, sakit yang membuatnya kehilangan nafsu makan selama berhari-hari.
“Gus, lo makan,” pinta Titik suatu malam, membawakan sepiring nasi dengan lauk telur dadar dan sayur bening.
“Nggak bisa, Titik. Perut gue sakit kalau makan.”
“Lo harus makan. Lo kurus. Lo kelihatan kayak orang sakit parah.”
Agus tersenyum pucat. “Ya gue memang sakit, Titik. Itu sebabnya lo bilang ‘sakit parah’.”
“Gus, jangan bercanda. Lo bikin gue worried.”
Titik memaksa Agus pergi ke puskesmas keesokan harinya. Hasil pemeriksaan awal menunjukkan indikasi maag kronis. Dokter memberi obat dan menyarankan istirahat total setidaknya satu minggu.
Agus mengikuti saran dokter, selama tiga hari. Di hari keempat, ia sudah beranjak ke kantor karena ada laporan yang harus segera diselesaikan. Di hari kelima, ia pulang dengan muka pucat pasi dan langsung pingsan di depan pintu kontrakan.
Titik yang saat itu sedang memasak di dapur, mendengar suara benturan keras. Ia berlari ke depan dan menemukan Agus tergeletak di lantai, keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya, bibirnya kebiruan.
“Gus! Gus! Bangun! Jangan bercanda!” teriak Titik panik.
Agus tidak merespon.
Titik berteriak minta tolong. Tetangga depan rumah membantu mengangkat Agus ke dalam mobil dan membawanya ke rumah sakit terdekat.
Di UGD, dokter mendiagnosa bahwa maag kronis Agus telah menyebabkan tukak lambung dan pendarahan internal. Ia harus dirawat inap setidaknya satu minggu dan menjalani transfusi darah jika kondisinya memburuk.
Titik menangis di samping ranjang Agus. Ia memegang tangan suaminya yang dingin, meremasnya erat-erat, seolah jika ia melepas, Agus akan pergi selamanya.
“Gus, lo janji,” bisiknya sambil terisak. “Lo janji nggak akan pergi. Lo janji lo akan sembuh. Lo janji kita akan hidup bersama sampai tua. Lo janji, Gus. Lo janji.”
Agus, yang masih setengah sadar, membuka matanya perlahan. “Aku janji, Titik. Aku tidak akan pergi. Aku masih punya banyak janji yang belum aku tepati.”
“Janji apa?” tanya Titik sambil menyeka air matanya.
“Janji untuk menjadi suami yang baik. Janji untuk membelikan lo rumah. Janji untuk punya anak dengan lo. Janji untuk... untuk tidak meninggalkan lo sendirian.”
Titik menangis lebih keras. Ia memeluk Agus, meskipun banyak kabel infus yang menghalangi.
“Lo bodoh, Gus. Udah sakit gini masih mikirin janji.”
“Janji itu penting, Titik.”
“Janji yang paling penting sekarang: lo sembuh. Itu saja.”
Agus tersenyum. “Janji.”
Selama seminggu Agus dirawat, Titik tidak pernah meninggalkan rumah sakit kecuali untuk pulang mandi dan mengganti pakaian. Ia tidur di kursi samping ranjang, persis seperti yang pernah dilakukan Agus untuknya bertahun-tahun lalu.
Ia mengganti posisi infus ketika perawat sibuk, membacakan buku untuk Agus ketika ia tidak bisa tidur, menyuapi bubur ketika Agus mulai diperbolehkan makan lunak, dan menemaninya berjalan-jalan kecil di lorong rumah sakit ketika kekuatannya mulai pulih.
“Titik,” kata Agus suatu sore ketika mereka berdua duduk di taman kecil rumah sakit, di bangku kayu yang panas terkena sinar matahari.
“Hm.”
“Terima kasih.”
“Terima kasih untuk apa?”
“Untuk... untuk tidak pergi. Padahal gue sakit dan repot.”
Titik menatap Agus dengan tatapan heran. “Gus, lo sakit karena terlalu keras bekerja untuk kita. Kalau ada yang harus berterima kasih, itu gue. Karena gue yang belum bisa membantu lo dengan maksimal.”
“Titik, lo udah membantu. Kehadiran lo saja sudah cukup. Lo nggak perlu melakukan apa pun.”
“Gue nggak bisa hanya ‘hadir’, Gus. Gue juga mau berkontribusi.”
“Lo sudah berkontribusi. Dengan menjadi alasan gue ingin terus hidup.”
Titik terdiam. Ia tidak tahu harus membalas kalimat itu dengan apa. Hatinya terasa hangat, matanya berkaca-kaca, tetapi ia tidak ingin menangis lagi. Ia sudah terlalu banyak menangis minggu ini.
“Gus, lo harus janji satu hal lagi.”
“Apa?”
“Janji lo tidak akan terlalu memaksakan diri. Janji lo akan menjaga kesehatan. Janji lo akan bilang ke gue kalau lo capek, kalau lo sakit, kalau lo butuh bantuan. Jangan diam saja. Jangan dipendam. Selama ini lo terlalu kuat sendirian. Sekarang kita berdua. lo izinkan gue untuk ikut memikul beban lo.”
Agus menggenggam tangan Titik. “Janji, Titik. Janji.”
Mereka berdua duduk di bangku taman rumah sakit, dengan matahari sore yang mulai condong ke barat, dan angin Bandung yang berhembus sejuk. Tidak ada yang sempurna, Agus masih pucat, Titik masih lelah, dan keuangan mereka menipis karena biaya berobat. Tapi mereka bahagia. Bahagia karena mereka masih bersama.
Setelah pulang dari rumah sakit, Agus dan Titik memutuskan untuk mengubah gaya hidup mereka. Agus mengurangi lembur, meskipun itu berarti pendapatannya berkurang. Titik mengambil pekerjaan sampingan sebagai penulis lepas untuk majalah perempuan, menulis artikel tentang gaya hidup sehat dengan honor yang lumayan.
Mereka mulai memasak sendiri, tidak membeli makanan di luar. Mereka belajar tentang makanan yang baik untuk penderita maag, menghindari pedas, asam, dan berminyak. Mereka berolahraga ringan setiap pagi, berjalan kaki keliling kompleks kontrakan sebelum berangkat kerja.
Agus yang dulu kurus dan pucat, kini mulai terlihat lebih berisi, lebih sehat. Titik yang dulu sering stres, kini lebih tenang, lebih rileks. Mereka belajar bahwa kesehatan bukan hanya tentang fisik, tetapi juga tentang mental—tentang bagaimana saling mendukung, saling menguatkan, saling mengingatkan.
“Gus,” kata Titik suatu pagi ketika mereka sedang sarapan bubur ayam buatan sendiri.
“Ya.”
“Gue bersyukur.”
“Bersyukur karena?”
“Karena lo sakit dulu. Bukan karena gue senang lo sakit. Tapi karena sakit lo mengajarkan gue banyak hal. Tentang arti menjaga, tentang arti merawat, tentang arti menjadi istri. Dulu, gue hanya tahu cara diterima. Sekarang, gue belajar cara memberi.”
Agus tersenyum. “Gue juga bersyukur, Titik.”
“Bersyukur karena?”
“Karena gue punya lo. Sehat atau sakit, kaya atau miskin, lo tetap di sini. Itu sudah lebih dari cukup.”
Mereka berdua melanjutkan sarapan dalam diam. Diam yang nyaman. Diam yang tidak perlu diisi dengan kata-kata.
Tahun pertama pernikahan mereka telah mengajarkan bahwa cinta tidak selalu tentang kebahagiaan yang sempurna. Kadang, cinta adalah tentang sakit yang dihadapi bersama. Kadang, cinta adalah tentang lelah yang dibagi berdua. Kadang, cinta adalah tentang bangkit setiap kali jatuh, dan tersenyum setiap kali ingin menangis.
Dan mereka berdua—Agus yang setia, Titik yang akhirnya sadar, telah belajar pelajaran itu dengan cara yang paling sulit, tetapi juga paling bermakna.
BAB XI
KETIKA TAKDIR MENULISKAN NAMA KITA DALAM SATU BARIS
Setahun setelah pernikahan, hidup Agus dan Titik berjalan seperti air sungai di musim penghujan: kadang deras, kadang tenang, tetapi tidak pernah berhenti mengalir. Mereka telah beradaptasi dengan ritme kehidupan sebagai pasangan suami istri, bangun pagi, sarapan bersama, berangkat kerja masing-masing, pulang sore, memasak bersama, menonton film di laptop, tidur bergandengan tangan. Rutinitas yang sederhana, tetapi bagi mereka, terasa seperti kemewahan yang tidak bisa dibeli dengan uang.
Agus kini bekerja lebih santai. Ia masih menjadi peneliti di LSM yang sama, tetapi jam kerjanya lebih fleksibel karena ia sudah dianggap senior. Ia tidak perlu lembur setiap malam seperti dulu. Ia bisa pulang tepat waktu, membantu Titik memasak, atau sekadar duduk di teras kontrakan sambil membaca buku dan menunggu istrinya pulang.
Titik, di sisi lain, mulai menunjukkan bakatnya sebagai editor. Ia dipromosikan menjadi koordinator tim editor di perusahaan penerbitannya, dengan tanggung jawab yang lebih besar dan gaji yang lebih layak. Ia tidak lagi merasa minder karena kontribusinya terhadap ekonomi rumah tangga kini hampir sebanding dengan Agus, bahkan kadang sedikit lebih.
“Gus, gue dapat bonus,” kata Titik suatu malam sambil melompat-lompat kegirangan di ruang tamu kontrakan mereka yang sempit.
“Bonus apa?” tanya Agus yang sedang merebahkan diri di kasur sambil membaca novel.
“Bonus akhir tahun. Dua kali gaji!”
Agus duduk. Matanya membulat. “Serius?”
“Serius! Cek rekening gue!”
Agus mengambil ponsel Titik, membuka aplikasi mobile banking, dan matanya nyaris copot melihat jumlah yang tertera. “Ini... ini gede banget, Titik.”
“Iya! Kita bisa pakai buat DP rumah!”
“DP rumah?”
“Iya, Gus. Kita kan sudah hampir dua tahun nikah. Kontrakan ini mulai terasa sempit. Apalagi kalau nanti kita punya anak...”
Agus tersenyum mendengar kata “punya anak”. Selama ini, mereka belum pernah membahasnya secara serius. Pernikahan mereka masih baru, dan Agus masih dalam masa pemulihan dari sakitnya. Tapi mendengar Titik berbicara tentang anak, tentang masa depan, membuat jantungnya berdegup dengan irama yang berbeda.
“Kamu serius, Titik? Kamu mau kita cari rumah?”
“Serius, Gus. Gue sudah kalkulasi. Dengan bonus ini, ditambah tabungan kita, kita bisa DP rumah sederhana di daerah pinggiran Bandung. Cicilannya, dengan gaji kita berdua, insya Allah sanggup.”
“Tapi Titik, rumah itu komitmen jangka panjang. Kalau tiba-tiba kita...”
“Gus, jangan pesimis.” Titik duduk di samping Agus, meraih tangannya. “Kita sudah melalui banyak hal. Sakit, miskin, pindah-pindah. Tapi kita tetap bersama. Lo percaya nggak, ke depan kita akan lebih baik?”
Agus menatap mata Titik. Matanya tidak lagi redup seperti dulu. Tidak lagi dipenuhi kebingungan dan kegelisahan. Yang ada hanya keyakinan. Keyakinan yang tumbuh dari perjalanan panjang mereka berdua.
“Aku percaya, Titik. Kalau kamu yang bilang, aku percaya.”
Mereka mulai mencari rumah di akhir pekan. Setiap Sabtu dan Minggu, mereka berkeliling kota Bandung dan sekitarnya, mengunjungi perumahan-perumahan sederhana yang harganya masih masuk akal. Ada yang terlalu jauh dari pusat kota, ada yang terlalu kecil, ada yang terlalu mahal, ada yang terlalu jelek kondisinya.
“Gus, yang ini bagaimana?” tanya Titik sambil menunjuk sebuah iklan rumah di aplikasi properti.
Agus membaca deskripsinya: “Rumah type 36, di daerah Cimenyan, harga 350 juta. DP 50 juta. Cicilan 2,5 juta per bulan.”
“Cimenyan? Lumayan jauh dari kantor lo, Titik.”
“Tapi udaranya sejuk. Dan harganya masuk akal.”
“Kita lihat dulu. Jangan langsung percaya foto. Foto bisa bohong.”
Akhir pekan berikutnya, mereka mengunjungi rumah itu. Rumah tipe 36 dengan dua kamar tidur, satu kamar mandi, ruang tamu yang menyatu dengan ruang keluarga, dan dapur kecil di belakang. Halamannya tidak luas, tetapi cukup untuk taman kecil dan jemuran.
Titik langsung jatuh cinta. “Gus, ini rumah kita,” katanya sambil berputar-putar di ruang tamu yang masih kosong.
“Belum, Titik. Kita belum beli.”
“Tapi gue sudah bayangin. Di sini gue taruh sofa, di sana lemari TV, di dapur gue pasang rak piring, di belakang gue tanam bunga...”
Agus tersenyum melihat antusiasme istrinya. “Kita cek dulu sertifikatnya, cek kondisi bangunannya, cek tetangganya, cek akses jalannya. Jangan sampai termakan hype.”
“Lo tuh terlalu rasional, Gus.”
“Bukan rasional, Titik. Ini investasi seumur hidup. Kita nggak bisa main-main.”
Mereka menghabiskan sebulan untuk proses survei, negosiasi, dan pengurusan dokumen. Akhirnya, di bulan Desember 2017, dua bulan sebelum ulang tahun pernikahan mereka yang kedua, Agus dan Titik resmi memiliki rumah sendiri.
Bukan rumah mewah. Bukan rumah besar. Bukan rumah dengan desain interior yang instagramable.
Tapi rumah mereka.
Hari pertama pindah, mereka hanya memiliki kasur, lemari plastik, kompor portabel, dan beberapa kotak berisi pakaian dan buku-buku. Mereka duduk di lantai keramik yang masih berdebu, saling memandang, lalu tertawa tanpa alasan yang jelas.
“Gus,” kata Titik.
“Ya.”
“Kita punya rumah.”
“Iya, Titik. Akhirnya.”
“Lo nggak nyangka, kan?”
“Jujur, nggak. Dulu waktu gue masih ngekos di Bandung, gue tidur di lantai beralas kardus. Sekarang... sekarang gue punya rumah. Dengan lo. Istri gue.”
Titik memeluk Agus. “Ini baru awal, Gus. Masih banyak mimpi-mimpi kita yang belum terwujud.”
“Mimpi apa lagi, Titik?”
Titik melepas pelukan, menatap wajah Agus dengan senyum misterius.
“Mimpi tentang anak.”
Deg. Jantung Agus berdegup kencang. “Maksud lo...”
“Gue mau punya anak, Gus. Anak kita. Yang mewarisi kebaikan lo, mewarisi keteguhan lo, mewarisi kesabaran lo. Dan mungkin sedikit sifat keras kepala gue, biar tidak terlalu polos.”
Agus terdiam. Tangannya gemetar. Bukan karena takut, tetapi karena bahagia yang terlalu besar sehingga tubuhnya tidak tahu bagaimana mengekspresikannya.
“Titik,” katanya pelan, “kamu yakin? Kita baru punya rumah, keuangan kita masih...”
“Gus, kalau kita terus menunggu ‘siap’, tidak akan pernah ada yang namanya siap. Yang penting kita berusaha, dan kita percaya bahwa rezeki anak sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa.”
Agus memeluk Titik erat-erat. Ia menangis, menangis bahagia, menangis syukur, menangis karena setelah sekian lama berjuang sendirian, kini ia memiliki seseorang yang berjuang bersamanya.
“Titik, makasih.”
“Makasih untuk apa?”
“Makasih sudah memilih gue. Makasih sudah bertahan. Makasih sudah mau membangun mimpi ini bersama gue.”
Titik mengusap punggung Agus yang terisak. “Gus, jangan berterima kasih. Kita ini tim. Kita bahagia bersama, kita susah bersama, kita mimpi bersama. Tidak ada yang lebih dari itu.”
Malam pertama di rumah baru mereka, mereka tidak melakukan banyak hal. Hanya duduk di teras, menikmati angin Bandung yang dingin, menatap langit yang bertabur bintang, dan sesekali saling tersenyum tanpa berkata apa-apa.
Karena mereka tahu, perjalanan masih panjang. Masih banyak rintangan yang akan mereka hadapi. Masih banyak mimpi yang akan mereka kejar.
Tapi mereka juga tahu, selama mereka bersama, tidak ada yang tidak mungkin.
Tiga bulan kemudian, di bulan Maret 2018, Titik terlambat datang bulan.
Awalnya ia tidak terlalu memikirkan. Telat seminggu, dua minggu, tiga minggu. Ia menganggapnya sebagai efek stres karena adaptasi di rumah baru dan pekerjaan yang menumpuk. Tapi ketika telat memasuki minggu keempat, ia mulai curiga.
Ia membeli test pack di apotek dekat rumah, tanpa memberi tahu Agus. Pagi-pagi buta, sebelum Agus bangun, ia pergi ke kamar mandi dan melakukan tes.
Dua garis.
Dua garis merah yang jelas, tidak samar, tidak tipis. Dua garis yang mengubah segalanya dalam sekejap.
Titik duduk di lantai kamar mandi, menatap test pack di tangannya dengan mata basah. Ia tidak tahu harus tertawa atau menangis. Ia melakukan keduanya secara bersamaan, tertawa kecil, menangis kecil, campur aduk menjadi satu.
“Gus,” bisiknya. “Kita akan jadi orang tua.”
Ia keluar dari kamar mandi, menemukan Agus masih tertidur di kasur dengan posisi miring ke kanan, mulutnya sedikit terbuka, rambut ikalnya berantakan.
Titik duduk di samping Agus, mengelus rambutnya pelan. “Gus, bangun.”
“Hm... lima menit lagi,” gumam Agus sambil memeluk bantal.
“Gus, bangun. Sekarang.”
Agus membuka mata satu, lalu dua. Melihat wajah Titik yang basah oleh air mata, ia langsung duduk. “Ada apa, Titik? Kenapa lo nangis?”
“Gue nggak nangis. Gue... gue bahagia.”
“Bahagia kenapa?”
Titik menyodorkan test pack ke depan wajah Agus.
Agus membaca. Diam. Membaca lagi. Diam lagi. Matanya membesar, kemudian berkaca-kaca, kemudian air matanya jatuh.
“Titik... ini... ini beneran?”
“Beneran. Gue test dua kali. Hasilnya sama.”
“Kita... kita akan punya anak?”
“Iya, Gus. Kita akan punya anak.”
Agus memeluk Titik. Ia menangis seperti anak kecil, isak tangis yang tidak bisa ia tahan, yang keluar dari dadanya dengan keras dan bebas. Ia tidak peduli jika tetangga mendengar. Ia tidak peduli jika dunia tahu. Istrinya hamil. Ia akan menjadi ayah.
“Titik,” katanya sambil terisak, “makasih. Makasih. Makasih.”
“Sudah, Gus, jangan nangis. Nanti anak kita nangis juga.”
“Iya... iya... gue berusaha.”
Tapi ia tetap menangis. Dan Titik membiarkannya, sambil mengelus rambut suaminya dan tersenyum bahagia.
Kehamilan Titik berjalan tidak mudah.
Di trimester pertama, ia mengalami morning sickness yang parah. Ia mual hampir sepanjang hari, tidak bisa mencium bau masakan, dan sering muntah apa pun yang ia makan. Berat badannya turun drastis, membuat Agus cemas setengah mati.
“Titik, lo harus makan,” pinta Agus setiap malam, membawakan sepiring kecil bubur dan sup ayam bening, satu-satunya makanan yang kadang bisa diterima perut Titik.
“Gue udah coba, Gus. Tapi mualnya nggak berhenti.”
“Gue bawa lo ke dokter lagi. Mungkin perlu vitamin tambahan.”
“Tidak usah, Gus. Ini normal. Kata dokter, morning sickness itu tanda kehamilan sehat.”
“Sehat tapi kurusan? Logikanya mana?”
Titik tertawa lemas. “Lo tuh terlalu logis, Gus.”
“Ya, karena gue peneliti.”
“Sekarang lo teliti cara membuat istri lo bahagia meskipun sedang mual.”
Agus berpikir sejenak, lalu pergi ke dapur. Ia membuat es jeruk peras segar dengan madu—tanpa gula, tanpa es batu (karena Titik tidak boleh terlalu dingin). Ia menyajikannya di gelas favorit Titik, gelas warna kuning bergambar bunga matahari.
Titik meminumnya sedikit demi sedikit. Matanya berbinar. “Enak, Gus.”
“Serius? Nggak mual?”
“Sedikit. Tapi segar.”
Agus tersenyum lega. “Nanti gue buatkan lagi. Setiap hari.”
“Lo jadi suami yang baik, Gus.”
“Gue belajar dari lo.”
“Belajar apa dari gue?”
“Belajar bahwa cinta tidak selalu tentang hal-hal besar. Kadang, cinta ada di es jeruk peras buatan tangan di saat perut sedang mual.”
Titik menangis. Bukan karena sedih, tetapi karena hatinu terharu.
“Gus, lo jangan buat gue nangis terus. Nanti anak kita cengeng.”
“Biarkan dia cengeng. Asal dia tahu bahwa orang tuanya saling mencintai.”
Trimester kedua lebih mudah. Morning sickness mulai berkurang, perut Titik mulai membesar, dan ia mulai bisa makan dengan lahap. Agus yang sebelumnya cemas, kini mulai tenang. Ia bahkan mulai berani memegang perut Titik, merasakan gerakan-gerakan kecil dari calon anak mereka.
“Gus, dia gerak,” kata Titik suatu malam sambil memegang tangan Agus dan menempelkannya di perutnya.
Agus merasakan sesuatu, seperti gelembung udara yang pecah, atau seperti sayap kupu-kupu yang mengepak pelan.
“Aku merasakannya, Titik. Aku merasakannya!” Agus hampir berteriak.
“Dia kuat. Seperti bapaknya.”
“Dia juga sehat. Seperti mamaknya.”
Mereka berdua tersenyum. Malam itu, mereka menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk merasakan gerakan-gerakan kecil dari janin di perut Titik. Setiap tendangan, setiap pukulan, setiap geliat, semuanya terasa seperti keajaiban.
“Gus,” kata Titik.
“Ya.”
“Kita kasih nama apa?”
Agus berpikir. “Gue sudah memikirkan ini sejak lama.”
“Sejak kapan?”
“Sejak gue tahu lo hamil.”
“Baru kemarin, Gus.”
“Iya, dan gue sudah tidak bisa tidur memikirkan nama.”
Titik tertawa. “Coba sebut.”
“Kalau laki-laki, gue namai Tegar.”
“Tegar? Kenapa Tegar?”
“Karena dia lahir dari perjalanan yang penuh jatuh bangun. Dari kisah persahabatan yang tidak mudah. Dari cinta yang harus menunggu lima belas tahun. Dia akan menjadi simbol ketegaran kita. Bahwa tidak ada badai yang tidak bisa kita lewati, selama kita bersama.”
Titik meneteskan air mata. “Tegar Sabara. Kedengaran kuat.”
“Dan kalau perempuan?” tanya Agus.
“Kalau perempuan, gue namai Setia.”
“Setia? Kenapa Setia?”
“Karena gue ingin dia mewarisi keteguhan lo. Kesetiaan yang tidak goyah meskipun badai menerjang. Kesetiaan yang memilih untuk tetap tinggal meskipun ada seribu alasan untuk pergi.”
Agus memeluk Titik. Ia tidak menangis, ia sudah terlalu sering menangis belakangan ini. Tapi hatinya terasa penuh, seperti gelas yang berisi air hingga ke tepian, dan satu tetes lagi akan membuatnya tumpah.
“Titik, kita diberkati.”
“Iya, Gus. Kita sangat diberkati.”
Di bulan September 2018, tepatnya tanggal 14, pukul tiga pagi, Titik terbangun dengan rasa sakit yang hebat di perutnya. Kontraksi. Sud waktunya.
“Gus... Gus, bangun,” bisiknya sambil mengguncang lengan Agus yang tidur di sampingnya.
Agus terbangun dengan mata masih sayu. “Ada apa, Titik?”
“Bayinya... dia mau keluar.”
Agus langsung duduk, jantungnya berdegup kencang. “Sekarang? Tapi baru sembilan bulan, kurang satu minggu, kan?”
“Bayi tidak tahu kalender, Gus. Dia mau keluar sekarang.”
Agus panik. Ia berlari ke kamar mandi, ke dapur, ke ruang tamu, lalu kembali ke kamar—tanutah harus melakukan apa. Titik yang melihat kepanikan suaminya, tertawa di sela rasa sakit.
“Gus, tas bersalin sudah siap di lemari. Ambil. Terus telepon tetangga depan minta antar ke rumah sakit. Terus telepon mama gue. Terus...”
“Iya, iya, gue kerjakan semua. Lo fokus ngatur napas.”
Agus bergegas melakukan semuanya. Tangannya gemetar, suaranya bergetar, tetapi ia berusaha tenang, setidaknya untuk Titik.
Di rumah sakit, proses persalinan berlangsung selama delapan jam. Titik menjalani kontraksi yang semakin lama semakin kuat. Agus menemani di sampingnya, memegang tangannya, menyeka keringat di dahinya, membisikkan kata-kata penyemangat.
“Titik, lo kuat. Lo sudah melewati banyak hal. Ini hanya satu lagi.”
“Gus, sakiiiit,” teriak Titik.
“Gue tahu, sayang. Tapi sabar. Sebentar lagi kita lihat wajahnya.”
Setelah delapan jam perjuangan, akhirnya, pukul sebelas siang, terdengar tangisan bayi yang keras dan lantang.
Dokter mengangkat bayi itu, membersihkannya, lalu menyerahkannya ke pangkuan Titik.
“Selamat, Ibu. Anak laki-laki. Berat 3,2 kilogram, panjang 50 sentimeter. Sehat dan kuat.”
Titik menangis. Agus menangis. Mereka berdua menangis melihat makhluk kecil di pelukan mereka—mata yang masih terpejam, tangan mungil yang mengepal, kulit yang kemerahan, rambut tipis yang ikal seperti rambut Agus.
“Tegar,” bisik Titik. “Nak, namamu Tegar. Tegar Sabara.”
Bayi itu membuka matanya, mata yang coklat, seperti mata Titik, tetapi sorotnya tenang, seperti Agus.
Agus mencium kening Tegar, lalu mencium kening Titik.
“Terima kasih,” bisiknya pada Titik. “Untuk semuanya.”
“Untuk apa, Gus?”
“Untuk perjuangan lo. Untuk kepercayaan lo. Untuk... untuk memilih gue sebagai suami lo.”
Titik tersenyum lelah. “Tidak perlu berterima kasih, Gus. Ini juga anak lo. Ini keluarga kita. Ini hadiah dari Tuhan atas semua kesabaran lo selama ini.”
Mereka bertiga, Ayah, Ibu, dan Anak, berada dalam pelukan di ruang bersalin yang dingin. Di luar, hujan turun dengan derasnya. Angin bertiup kencang.
Tapi di dalam ruangan itu, ada kehangatan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Kehangatan yang datang dari cinta yang telah menempuh perjalanan panjang, melewati waktu, jarak, dan takdir.
Di ruang rawat inap, setelah semua keluarga pulang dan hanya tersisa mereka bertiga, Agus dan Titik duduk di samping ranjang.
Tegar tertidur nyenyak di dekapan Agus, dengan mulut mungilnya yang sedikit terbuka, tangannya yang menggenggam jari Telunjuk Agus dengan erat, meskipun ia sedang tidur, ia tidak mau melepaskan.
“Dia kuat, Gus,” kata Titik sambil mengusap rambut Tegar.
“Dia tegar. Sesuai namanya.”
“Lo lihat matanya? Coklat, kayak mata gue.”
“Tapi ikalnya kayak rambut gue. Tidak pernah mau rapi.”
Mereka tertawa kecil, takut membangunkan Tegar.
“Gus,” bisik Titik.
“Ya.”
“Kita berhasil.”
“Berhasil apa, Titik?”
“Berhasil melewati semua rintangan. Berhasil membangun keluarga. Berhasil... membahagiakan satu sama lain. Meskipun jalannya tidak mudah.”
Agus mengangguk. “Ini baru awal, Titik. Masih banyak yang harus kita perjuangkan. Tapi selama kita bersama, aku tidak takut.”
Titik menyandarkan kepalanya di pundak Agus. Mereka berdua menatap Tegar yang tertidur, dan untuk pertama kalinya, mereka merasakan apa yang disebut sebagai kebahagiaan sempurna.
Bukan karena mereka kaya. Bukan karena mereka terkenal. Bukan karena mereka memiliki segalanya.
Tapi karena mereka memiliki satu sama lain.
Dan itu sudah lebih dari cukup.
BAB XII
TEGAR: BUAH CINTA YANG TUMBUH DARI TANAH KESABARAN
Kehadiran Tegar mengubah segalanya. Rumah kontrakan sederhana di Cimenyan yang tadinya terasa cukup luas untuk dua orang, kini mendadak terasa sempit. Setiap sudut dipenuhi oleh barang-barang bayi: popok, dot, botol susu, baju-baju mungil, kereta dorong, dan tumpukan mainan yang entah dari mana asalnya, sebagian hadiah dari keluarga, sebagian hasil pembelian online oleh Titik di saat-saat insomnia karena begadang merawat Tegar.
Agus pulang kerja lebih awal setiap hari. Ia tidak ingin melewatkan momen-momen kecil dalam pertumbuhan putranya: senyum pertama Tegar, gelak tawa pertamanya, saat ia belajar tengkurap, saat ia mulai merangkak, saat ia berdiri dengan bantuan meja, saat ia mengambil langkah pertamanya yang sempoyongan lalu jatuh dan menangis, lalu bangkit lagi, seperti namanya.
“Lihat, Titik! Dia jalan!” teriak Agus suatu sore ketika Tegar, yang saat itu berusia sebelas bulan, melangkahkan kakinya yang mungil sejauh tiga langkah sebelum jatuh terduduk di lantai.
Titik yang sedang menyiapkan susu di dapur, berlari ke ruang tamu. “Ampun, Gus, beneran? Dia jalan?”
“Asli! Gue liat sendiri! Dia ambil tiga langkah!”
Mereka berdua bersorak seperti pendukung tim sepak bola yang baru saja mencetak gol. Tegar yang tidak mengerti mengapa orang tuanya bersorak, ikut tertawa dan bertepuk tangan mungilnya—meskipun ia baru saja jatuh.
“Tegar, nak, kamu hebat!” Titik memeluk putranya erat-erat, menciumi pipinya yang tembam.
Agus merekam momen itu dengan ponselnya, tangannya sedikit gemetar karena haru. Ia akan menyimpan video ini selamanya. Ketika Tegar besar nanti, ia akan menunjukkan bahwa tegarnya anak itu sudah terlihat sejak ia mulai belajar berjalan.
Malam hari adalah waktu tersulit. Tegar termasuk bayi yang aktif di malam hari. Ia sering terbangun pukul satu atau dua dini hari, menangis meraung-raung minta disusui atau digendong. Agus dan Titik bergantian bangun. Kadang, jika Tegar sangat rewel, mereka bergantian setiap dua jam.
“Gus, gue yang jagain. Lo tidur, besok lo kerja,” kata Titik ketika Tegar terbangun pukul tiga pagi.
“Nggak, Titik. Lo yang tidur. Lo capek seharian ngurus dia.”
“Lo yang capek, Gus. Lo dari kantor langsung pulang, main sama Tegar, bantuin gue masak, bersihin rumah. Lo istirahat.”
“Titik...”
“Gus, jangan debat. Gue istri lo. Gue paham kondisi lo. Sekarang tidur. Gue yang bangun.”
Agus menurut. Ia berbaring, tetapi tidak bisa tidur. Ia mendengar Titik menggendong Tegar, berjalan mondar-mandir di ruang tamu sambil menyanyikan lagu nina bobo dengan suara serak karena kantuk.
“Tidurlah sayangku... tidurlah permata hati... Bunda di sini menjagamu...”
Air mata Agus jatuh di atas bantal. Bukan karena sedih, tetapi karena haru. Ia membayangkan dulu, ketika ia masih kecil, ibunya mungkin juga menyanyikan lagu yang sama untuknya. Ia membayangkan bagaimana perjuangan seorang ibu, terutama Titik, yang dulunya tidak pernah terbayang bisa menjadi pengasuh anak, karena ia sendiri sering kesulitan mengurus dirinya sendiri.
Tapi Titik telah berubah. Pernikahan dan kehadiran Tegar telah mengubahnya menjadi perempuan yang lebih kuat, lebih sabar, lebih dewasa. Ia tidak lagi mencari-cari drama, tidak lagi bergantung pada orang lain untuk kebahagiaannya. Ia menemukan kebahagiaannya dalam tangisan Tegar, dalam tawa Tegar, dalam pelukan kecil dari tangan mungil putranya.
“Aku bangga padamu, Titik,” bisik Agus dalam hati. “Aku bangga menjadi suamimu.”
Di usia satu tahun, Tegar mulai menunjukkan kepribadiannya. Ia anak yang cerdas dan cepat belajar. Sebelum usianya genap satu tahun, ia sudah bisa mengucapkan beberapa kata: “Ma... ma...” untuk mama, “Pa... pa...” untuk papa, dan “Mam... mam...” untuk makan.
Titik yang dulunya tidak sabaran, kini belajar menjadi ibu yang penuh kesabaran. Ia mengajarkan Tegar kata-kata baru setiap hari, membacakan buku cerita bergambar, menyanyikan lagu-lagu anak, dan sesekali menangis diam-diam ketika Tegar rewel dan ia tidak tahu harus berbuat apa.
“Gus, gue ngerasa gagal jadi ibu,” curhat Titik suatu malam ketika Tegar akhirnya tertidur setelah berjam-jam menangis.
“Kenapa lo bilang gitu?” tanya Agus sambil mengusap punggung Titik.
“Tadi Tegar nangis terus, gue nggak tahu kenapa. Gue sudah ganti popok, sudah gue susui, sudah gue gendong, sudah gue ajak main, tetap nangis. Gue frustrasi. Gue malah marah-marah. Gue teriak di depan dia. Dan dia malah nangis lebih keras.”
Agus memeluk istrinya. “Titik, lo tidak gagal. Menjadi ibu itu nggak mudah. Tidak ada yang sempurna. Yang penting lo sudah berusaha. Tegar tahu lo sayang dia. Percaya deh.”
“Lo yakin, Gus?”
“Yakin. Lo lihat matanya? Setiap kali dia lihat lo, matanya berbinar. Dia sayang lo. Dia nggak akan ingat lo marah. Yang dia ingat adalah pelukan lo, ciuman lo, suara lo saat menyanyikan lagu nina bobo.”
Titik menangis di pundak Agus. “Gue sayang kalian, Gus. Lo dan Tegar. Kalian adalah segalanya buat gue.”
“Kita juga sayang lo, Titik. Lebih dari apa pun.”
Pekerjaan Agus sebagai peneliti di LSM berkembang. Ia mulai dikenal sebagai salah satu peneliti muda yang kredibel di bidang kebijakan pendidikan. Beberapa universitas mengundangnya sebagai pembicara dalam seminar. Beberapa media nasional mewawancarainya untuk artikel tentang pendidikan di daerah tertinggal.
Agus tidak pernah membayangkan bahwa hidupnya akan seperti ini. Dulu, ketika ia masih menjadi mahasiswa yang tidur di lantai beralas kardus, ia hanya bermimpi bisa lulus dan mendapat pekerjaan yang layak. Kini, ia memiliki istri yang mencintainya, anak yang lucu dan cerdas, rumah sederhana, dan karier yang mulai diakui.
Ia sadar bahwa semua ini adalah hasil dari ketekunan dan kesabaran—dan juga restu dari Tuhan yang Maha Kuasa.
“Titik,” kata Agus suatu malam setelah Tegar tidur. Mereka berdua duduk di teras rumah, menikmati teh jahe panas buatan Agus, resep warisan neneknya.
“Ya.”
“Gue bersyukur.”
“Bersyukur untuk apa?”
“Bersyukur karena dulu gue nggak pernah menyerah. Kalau gue menyerah, mungkin gue tidak akan punya semua ini.”
Titik menggenggam tangan Agus. “Gue juga bersyukur, Gus.”
“Bersyukur karena?”
“Karena dulu gue akhirnya sadar. Sadar bahwa cinta sejati tidak datang dengan gemerlap. Sadar bahwa orang yang selama ini gue cari sudah ada di depan mata. Sadar bahwa kebahagiaan tidak harus mewah—cukup sederhana, asalkan bersama orang yang tepat.”
Mereka berdua terdiam. Angin malam di Cimenyan terasa sejuk, membawa aroma daun-daun basah dan tanah. Sesekali terdengar suara jangkrik, menciptakan irama alam yang menenangkan.
“Titik, gue mau minta maaf.”
“Minta maaf untuk apa?”
“Untuk lima belas tahun yang lalu... ketika gue tidak cukup berani untuk mengaku. Mungkin kalau gue mengaku lebih awal, kita tidak perlu menunggu selama itu. Mungkin kita tidak perlu melalui banyak patah hati yang tidak perlu.”
Titik menggeleng. “Gus, jangan minta maaf. Justru karena kita melalui semua itu, kita menjadi dewasa. Kita belajar dari kesalahan. Kita belajar menghargai apa yang kita miliki sekarang. Kalau dulu kita langsung pacaran, mungkin kita malah tidak akan bertahan. Kita belum matang. Kita masih buta.”
“Kamu yakin?”
“Yakin. Takdir menuliskan kisah kita dengan cara yang sempurna. Tidak terlalu cepat, tidak terlalu lambat. Tepat pada waktunya. Ketika aku sudah cukup dewasa untuk mencintai dengan tulus. Dan ketika kamu sudah cukup kuat untuk menjadi imam bagiku.”
Agus tersenyum. Ia mencium kening Titik—lembut, penuh kasih.
“Aku mencintaimu, Titik Mukti Aryanti Sabara.”
“Aku juga mencintaimu, Agus Sabara. Lebih dari yang bisa aku ungkapkan dengan kata-kata.”
Tegar tumbuh menjadi anak yang aktif dan cerdas. Di usia dua tahun, ia sudah bisa berbicara dalam kalimat pendek. Ia bisa menyebut nama-nama hewan, menghitung angka satu sampai sepuluh, dan menyanyikan lagu-lagu anak dengan lantang meskipun nadanya kadang tidak tepat.
Tegar juga anak yang penuh rasa ingin tahu. Ia sering bertanya tentang hal-hal yang membuat Agus dan Titik terkadang kesulitan menjawab.
“Pa, kenapa langit biru?” tanya Tegar suatu sore ketika mereka berdua duduk di teras.
Agus berpikir. Bagaimana menjelaskan teori Rayleigh scattering kepada anak berusia dua tahun?
“Karena Allah suka warna biru, Nak,” jawab Agus akhirnya.
“Tapi Pa, kenapa awan putih?”
“Karena awan itu kapasnya Allah.”
“Terus kenapa rumput hijau?”
“Karena kalau rumput merah, nanti kelinci salah sangka.”
Tegar tertawa. Ia belum mengerti logika di balik jawaban Agus, tetapi ia senang mendengar suara ayahnya yang lembut dan hangat.
“Pa, Tegar sayang Pa,” kata Tegar sambil memeluk lengan Agus.
Agus terharu. “Pa juga sayang Tegar. Lebih dari apa pun di dunia ini.”
“Lebih dari Bunda?”
“Sama-sama sayang. Bunda dan Papa sama-sama sayang Tegar.”
“Tapi Pa lebih sayang Bunda kan?”
Agus tertawa. Anak ini terlalu cerdas untuk usianya. “Iya, Pa sayang Bunda. Tapi sayang Pa ke Tegar berbeda. Pa sayang Tegar sebagai anak. Pa sayang Bunda sebagai istri. Tidak bisa dibandingkan.”
“Ooo...” Tegar mengangguk, meskipun sepertinya tidak sepenuhnya mengerti.
Titik yang sedang memasak di dapur, mendengar percakapan itu dan tersenyum. Ia bersyukur memiliki suami yang baik dan anak yang cerdas. Ia bersyukur telah melewati badai-badai hidup dan akhirnya tiba di pelabuhan yang tenang.
Suatu hari, ketika Tegar sedang tidur siang, Titik membuka lemari tua di kamar, lemari yang sejak dulu tidak pernah ia buka karena hanya berisi barang-barang lama. Ia menemukan sebuah stoples biskuit Khong Guan yang sudah berdebu.
Ia mengambil stoples itu, membuka tutupnya, dan mengeluarkan isinya: surat-surat lama, foto-foto usang, dan selembar kertas yang sudah menguning, surat janji persahabatan yang ditulis dengan sidik jari arang lidi.
Titik membaca surat itu dengan hati yang bergetar:
“Kami yang bertanda tangan di bawah ini, Titik Mukti Aryanti dan Agus Sabara, dengan ini bersumpah akan menjadi sahabat selamanya. Tidak akan saling meninggalkan. Tidak akan saling mengkhianati. Jika ada yang sakit, yang satunya wajib menjenguk. Jika ada yang sedih, yang satunya wajib menghibur. Janji ini berlaku selamanya, tidak peduli jarak dan waktu.”
Ia ingat saat itu: usianya sepuluh tahun, Agus delapan tahun. Mereka duduk di bawah pohon mangga besar, dengan lidi yang dibakar ujungnya sebagai “tinta”. Mereka tertawa ketika sidik jari mereka belepotan arang. Mereka tidak tahu bahwa janji itu akan bertahan seumur hidup.
“Titik, lo lihat apa?” tiba-tiba suara Agus dari belakang.
Titik terkejut. “Gus, lo bangun? Lo kan tidur?”
“Tegar bangun. Saya gendong, tapi dia minta Bunda.” Agus mendekat, melihat surat di tangan Titik.
“Itu surat janji kita,” kata Agus dengan senyum hangat.
“Lo masih ingat?”
“Ingat. Setiap kata. Gue hafal di luar kepala.”
“Gue bersyukur, Gus, kita tidak melanggar janji itu.”
“Iya, Titik. Hukuman tujuh tahun sial tidak jadi kita terima.”
Mereka berdua tertawa. Tegar yang digendong Agus, ikut tertawa—meskipun ia tidak mengerti apa yang lucu.
“Pa, Bunda, Tegar mau ikut janji juga,” kata Tegar polos.
“Janji apa, Nak?” tanya Titik.
“Janji Tegar sayang Pa dan Bunda selamanya. Sampai Tegar besar.”
Agus dan Titik saling pandang. Mata mereka basah. Mereka memeluk Tegar erat-erat—anak kecil yang lahir dari cinta yang telah menempuh perjalanan panjang, yang tumbuh dari tanah kesabaran, yang dinamai Tegar karena ia adalah simbol keteguhan hati di tengah badai kehidupan.
“Kita berdoa, Nak,” kata Agus sambil mengusap rambut ikal Tegar. “Kita berdoa agar janji itu kuat.”
“Aamiin,” kata Titik.
“Aamiin,” kata Tegar, meskipun ia belum sepenuhnya mengerti arti doa. Tapi ia mengerti bahwa orang tuanya sedang bahagia. Dan kebahagiaan orang tuanya adalah kebahagiaannya juga.
BAB XIII
KETIKA MASA LALU DATANG MENGETUK PINTU
Pandemi COVID-19 melanda dunia di awal tahun 2020, mengubah segalanya dalam waktu yang sangat singkat. Agus bekerja dari rumah, Titik juga bekerja dari rumah. Tegar yang seharusnya mulai masuk playgroup, terpaksa harus belajar di rumah. Rumah kontrakan sederhana mereka yang tadinya terasa cukup luas, kini berubah menjadi kantor, sekolah, dan tempat tinggal sekaligus, sebuah perpaduan yang melelahkan tetapi juga mempererat ikatan keluarga.
Agus duduk di ruang tamu yang telah disulap menjadi ruang kerjanya, laptop terbuka di depannya, headset menempel di telinga, mengikuti rapat daring dengan rekan-rekan kantornya. Di sudut ruangan, Titik duduk di meja lipat kecil, mengedit naskah buku pelajaran untuk penerbitan tempatnya bekerja. Di lantai, Tegar bermain balok-balok warna-warni sambil sesekali bertanya, “Pa, ini warna apa?” atau “Bunda, Tegar mau susu.”
“Bentar, Nak, Bunda sedang kerja,” jawab Titik tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptopnya.
Tegar cemberut. Ia beranjak ke arah Agus, menarik ujung kemeja ayahnya. “Pa, Tegar mau main sama Pa.”
“Sebentar, Pa rapat, Nak. Nanti setelah Pa selesai, Pa ajak main.”
“Janji?”
“Janji.”
Tegar mengangguk, lalu kembali ke balok-baloknya. Agus tersenyum melihat kepatuhan anaknya. Tegar memang anak yang mudah diatur, tidak rewel, tidak banyak menuntut. Mungkin itu warisan dari Agus yang dulu juga anak yang penurut. Atau mungkin itu karena Tegar sudah belajar sejak kecil bahwa orang tuanya sibuk, tetapi tetap menyayanginya.
Pandemi mengajarkan mereka banyak hal. Bahwa kebersamaan tidak selalu tentang liburan ke tempat wisata atau makan di restoran mewah. Kebersamaan bisa hanya tentang duduk bersama di ruang tamu yang sempit, masing-masing dengan kesibukannya sendiri, tetapi sesekali saling tersenyum atau bertukar kabar.
“Gus, gue rindu liburan,” keluh Titik suatu malam ketika mereka berdua duduk di teras, menikmati teh jahe panas, kebiasaan yang tidak pernah mereka tinggalkan.
“Liburan ke mana, Titik?”
“Ke mana saja. Ke kampung, ke pantai, ke gunung. Pokoknya ke luar rumah. Rasanya kita sudah berbulan-bulan tidak pergi ke mana-mana.”
“Iya. Tapi ini demi kebaikan kita. Kita harus menjaga kesehatan. Tegar masih kecil, belum bisa divaksin.”
“Gue tahu. Tapi gue capek, Gus. Capek di rumah terus. Capek kerja di rumah. Capek ngurus Tegar tanpa bantuan siapa pun.”
Agus memegang tangan Titik. “Gue mengerti, Titik. Tapi kita kuat. Kita sudah melewati masa-masa yang lebih sulit dari ini. Ingat waktu gue sakit dulu? Ingat waktu kita masih ngekos dengan kecoa bernama Jojo?”
Titik tertawa. “Jojo. Gue heran lo masih ingat nama kecoa.”
“Semua kenangan penting, Titik. Bahkan yang konyol sekalipun.”
Mereka berdua tertawa. Tawa yang melegakan, tawa yang mengingatkan bahwa meskipun dunia sedang dilanda krisis, mereka masih memiliki satu sama lain.
Di pertengahan tahun 2020, Agus menerima pesan dari seseorang yang tidak pernah ia duga akan menghubunginya: Reza, mantan pacar Titik.
Pesan dari: Reza
“Mas Agus, apa kabar? Saya Reza. Maaf mengganggu. Bisa bicara sebentar? Telepon atau ketemu? Ini penting.”
Agus membaca pesan itu berulang-ulamg. Jantungnya berdegup tidak nyaman. Reza. Laki-laki yang dulu hampir menikahi Titik. Laki-laki yang sempat membuat Agus cemburu buta meskipun ia tidak mau mengakuinya. Laki-laki yang baik hati, yang pernah bilang di kantin rumah sakit, “Aku merasa kamu lebih pantas untuk Titik daripada aku.”
Apa yang ia inginkan setelah tiga tahun? Apakah ia akan merebut Titik kembali? Atau ada urusan lain yang lebih serius?
Agus memutuskan untuk tidak memberi tahu Titik terlebih dahulu. Ia akan bicara dengan Reza sendirian, mencari tahu maksud kedatangannya. Jika itu masalah yang melibatkan Titik, baru ia akan memberitahu istrinya.
Ia membalas pesan Reza: “Bisa telepon sekarang.”
Beberapa detik kemudian, ponselnya berdering.
“Mas Agus, terima kasih bersedia bicara,” suara Reza di ujung telepon terdengar lebih tua, lebih lelah dari yang ia ingat.
“Ada apa, Reza?”
“Saya... saya minta maaf sebelumnya. Ini mungkin tidak pantas. Tapi saya tidak tahu harus minta tolong kepada siapa lagi.”
“Tolong apa?”
“Saya... saya akan menikah. Sebentar lagi. Sebenarnya sudah diundang, tetapi... calon istri saya, keluarganya meminta saya untuk mengundang mantan-mantan saya secara resmi. Sebagai bentuk... entahlah, mungkin transparansi. Mereka ingin tahu bahwa saya tidak memiliki beban masa lalu. Dan Titik adalah salah satu mantan yang paling serius. Saya ingin meminta izin kepada Mas Agus untuk mengundang Titik dan Anda juga, tentu saja. Bukan untuk apa-apa, hanya untuk formalitas. Dan jika Anda berdua tidak nyaman, saya sangat mengerti.”
Agus terdiam. Ia tidak menyangka Reza akan meminta hal seperti ini. Mengundang mantan pacar ke pernikahan? Sungguh aneh. Tapi ia juga tidak bisa menolak mentah-mentah. Reza adalah orang baik. Reza tidak pernah menyakiti Titik. Reza justru yang disakiti oleh Titik ketika ia memutuskan hubungan dulu.
“Reza, saya tidak bisa memutuskan sendiri. Saya harus bicara dengan Titik.”
“Tentu, Mas. Saya mengerti. Saya hanya minta tolong disampaikan saja. Jika berdua tidak mau datang, tidak apa-apa. Sama sekali tidak apa-apa.”
“Baik, nanti saya sampaikan.”
“Terima kasih, Mas Agus. Oh iya, satu lagi. Saya salut dengan Anda. Anda berdua, maksud saya. Setelah Titik memutuskan saya dulu, saya benar-benar hancur. Tapi ketika saya mendengar Anda berdua menikah... saya justru lega. Karena saya tahu, hanya Anda yang pantas untuk Titik. Hanya Anda yang bisa membuatnya bahagia.”
Agus tersenyum tipis. “Terima kasih, Reza. Saya doakan pernikahan Anda lancar dan bahagia.”
“Aamiin. Terima kasih, Mas.”
Telepon terputus.
Agus menatap layar ponselnya, memikirkan kata-kata Reza. Hanya Anda yang pantas untuk Titik. Apakah benar demikian? Atau Reza hanya bersikap baik karena ia sudah move on?
Ia berjalan ke ruang tamu, menemukan Titik sedang mengajari Tegar menggambar. Tegar menggambar lingkaran tidak beraturan lalu berkata, “Bunda, ini Pa.” Titik tertawa. “Pa bentuknya lingkaran? Pa kan orang, Nak.” “Iya, tapi Pa suka lingkaran.” “Sejak kapan Pa suka lingkaran?” “Tegar tahu. Pa suka peluk Bunda. Pelukan itu lingkaran.”
Titik terharu mendengar jawaban putranya. Ia mencium pipi Tegar. “Kamu hebat, Nak. Bunda sayang kamu.”
Agus mendekat, duduk di samping mereka. “Titik, gue mau cerita sesuatu.”
“Apa, Gus?”
“Reza menelepon gue tadi.”
Titik berhenti menggambar. Tangannya membeku di atas kertas. “Reza? Yang dulu? Mantan gue?”
“Iya.”
“Dia ngapain? Dia minta balikan? Ya Tuhan, Gus, gue nggak mau...”
“Tenang, Titik. Bukan itu.” Agus meraih tangan Titik. “Dia mau menikah. Dia minta izin untuk mengundang kita berdua. Sebagai formalitas. Katanya keluarga calon istrinya minta dia mengundang semua mantannya. Biar transparan.”
Titik terdiam. Matanya menerawang, seperti sedang mengingat-ingat masa lalu.
“Reza,” bisiknya. “Dia orang baik, Gus. Gue yang dulu jahat sama dia. Gue yang memutuskan dia tanpa alasan yang jelas. Padahal dia nggak pernah salah apa-apa.”
“Itu sudah lewat, Titik. Masa lalu.”
“Tapi gue masih merasa bersalah.”
“Maka datang ke pernikahannya adalah cara untuk melepaskan rasa bersalah itu. Kita datang, ucapkan selamat, dan doakan dia bahagia. Tidak perlu lebih dari itu.”
Titik menatap Agus. “Lo nggak cemburu? Lo nggak keberatan?”
“Kenapa gue harus cemburu? Lo sudah menjadi istri gue. Kita sudah punya anak. Reza sudah move on. Tidak ada yang perlu dicemburui.”
Titik memeluk Agus. “Gue beruntung punya suami seperti lo.”
“Titik, ini bukan tentang beruntung. Ini tentang pilihan. Dan lo sudah memilih gue. Sekarang kita jalani pilihan itu bersama.”
Akhir pekan berikutnya, Agus dan Titik datang ke pernikahan Reza. Acara digelar di sebuah gedung sederhana di Jakarta Selatan, dengan protokol kesehatan yang ketat karena pandemi masih berlangsung. Mereka memakai masker, membawa hand sanitizer, dan duduk di kursi yang sudah diatur jaraknya.
Reza tampak berbeda. Ia lebih montok dari yang Titik ingat, jenggotnya tebal, dan matanya—matanya terlihat bahagia. Di sampingnya, seorang perempuan dengan gaun putih sederhana, wajahnya manis, senyumnya ramah.
“Itu istrinya,” bisik Titik. “Cantik.”
“Ya. Mereka cocok,” jawab Agus.
Setelah akad nikah selesai, Reza mendekati meja tempat Agus dan Titik duduk.
“Mas Agus, Mbak Titik,” sapanya dengan senyum hangat. “Terima kasih sudah datang.”
“Selamat ya, Reza,” kata Titik. “Istri kamu cantik.”
“Terima kasih, Mbak. Saya juga dengar Anda berdua sudah punya anak. Selamat ya.”
“Iya, namanya Tegar.”
“Tegar. Nama yang kuat. Semoga dia tumbuh menjadi pribadi yang tegar seperti namanya.”
Mereka berbincang sebentar, lalu Reza pamit karena harus melayani tamu lain.
Sepanjang acara, Titik tidak banyak bicara. Ia hanya tersenyum, mengobrol ringan dengan beberapa orang yang ia kenal dulu, dan sesekali menggenggam tangan Agus—seolah meyakinkan dirinya bahwa masa lalunya benar-benar telah berlalu.
Di mobil, dalam perjalanan pulang, Titik tiba-tiba menangis.
“Titik, kenapa?” tanya Agus panik.
“Gue... gue senang, Gus. Reza bahagia. Dia menemukan orang yang tepat. Dan gue juga bahagia. Karena gue menemukan lo. Tapi gue nggak tahu kenapa, gue nangis.”
Agus tersenyum. Ia mengusap punggung Titik dengan lembut. “Itu namanya lega, Titik. Lo lega karena beban masa lalu akhirnya terbayar. Lo melihat Reza bahagia, dan lo tahu bahwa lo tidak perlu merasa bersalah lagi. Itu pertanda baik.”
Lo yakin, Gus?”
“Yakin. Sekarang, fokus pada keluarga kita. Mereka sudah bahagia, kita juga harus bahagia.”
Titik menyeka air matanya, lalu tersenyum. “Gue sayang lo, Gus.”
“Gue juga sayang lo, Titik. Sekarang tidur. Perjalanan masih panjang.”
Mereka melanjutkan perjalanan pulang dalam diam—diam yang nyaman, diam yang mengantar mereka ke rumah, ke Tegar, ke kehidupan yang telah mereka bangun bersama dari nol.
Pandemi berlangsung lebih lama dari perkiraan siapa pun. Tahun 2021, mereka masih bekerja dari rumah. Tegar mulai bosan tidak bertemu teman-teman sebayanya. Ia sering bertanya, “Pa, kenapa Tegar tidak boleh ke sekolah? Tegar ingin punya teman.”
Agus dan Titik bingung harus menjawab apa. Tegar masih terlalu kecil untuk memahami konsep virus dan pandemi. Mereka tidak bisa menjelaskan bahwa dunia sedang sakit, bahwa orang-orang harus menjaga jarak, bahwa ada bahaya yang tidak terlihat yang mengintai di luar sana.
“Tegar, Nak,” kata Agus sambil menggendong putranya, “Bumi sedang istirahat. Allah kasih waktu Bumi untuk beristirahat. Jadi kita juga harus istirahat di rumah. Nanti setelah Bumi sehat, kita bisa main lagi.”
“Kapan Bumi sehat, Pa?”
“Nanti, Nak. Kita doakan bersama.”
“Baik, Pa. Tegar mau doa.”
Mereka bertiga berdoa bersama di ruang tamu yang sempit. Doa sederhana, tidak panjang-panjang, tetapi tulus. Titik menangis di sela doa. Agus memegang tangannya.
Pandemi mengajarkan mereka bahwa kebahagiaan tidak tergantung pada kondisi eksternal. Kebahagiaan adalah pilihan. Mereka memilih untuk bahagia meskipun dunia sedang kacau. Mereka memilih untuk bersyukur meskipun banyak hal yang tidak berjalan sesuai rencana. Mereka memilih untuk saling menguatkan meskipun rasa lelah dan cemas kadang menyelimuti.
BAB XIV
PELUKAN YANG MENYEMBUHKAN LUKA LAMA
Vaksinasi massal mulai digalakkan di awal tahun 2021. Agus dan Titik segera mendaftar, berharap pandemi segera berakhir dan kehidupan bisa kembali normal. Tegar masih terlalu kecil untuk divaksin, sehingga mereka tetap berhati-hati—masker ganda, hand sanitizer di mana-mana, dan tidak mengunjungi tempat keramaian.
Namun, pandemi bukan satu-satunya badai yang harus mereka hadapi. Di bulan Maret 2021, Agus mendapat kabar duka: ibunya, yang selama beberapa tahun terakhir kesehatannya terus menurun, akhirnya menghembuskan napas terakhir di kampung.
“Titik, mama gue...” Agus tidak mampu menyelesaikan kalimat. Suaranya pecah, tangannya gemetar memegang ponsel.
Titik yang sedang menyuapi Tegar makan, langsung meletakkan sendok dan memeluk suaminya. “Gus, kita pulang. Sekarang.”
Perjalanan ke kampung terasa seperti mimpi buruk. Sepanjang jalan, Agus tidak banyak bicara. Ia hanya diam, menatap jendela, sesekali menyeka air mata yang jatuh tanpa suara. Titik menggenggam tangannya erat-erat, sesekali mengusap punggungnya, memberikan kehangatan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Tegar, yang masih terlalu kecil untuk mengerti arti kematian, hanya bertanya, “Pa, kenapa Pa sedih? Pa sakit?”
“Nenek pergi ke surga, Nak,” jawab Agus dengan suara bergetar. “Pa sedih karena Pa akan kangen Nenek.”
“Tegar juga kangen Nenek.”
Anak kecil itu memeluk lengan Agus, berusaha menghibur ayahnya dengan caranya sendiri.
Di kampung, suasana duka menyelimuti. Rumah orang tua Agus dipenuhi oleh kerabat dan tetangga yang datang untuk melayat. Ibu Agus terbaring tenang di dalam peti, wajahnya tampak damai, seperti sedang tidur.
Agus duduk di samping peti ibunya, memegang tangan dingin yang dulu sering membelai rambut ikalnya. Ia teringat pada nasihat-nasihat ibunya, pada doa-doanya yang tak pernah putus, pada kesabarannya menghadapi anak laki-laki satu-satunya yang keras kepala.
“Ma,” bisik Agus, “maafin Agus ya, Ma. Agus belum sempat membahagiakan Ibu. Agus belum sempat membeli rumah besar untuk Ibu.”
Titik yang mendengar bisikan itu, ikut menangis. Ia duduk di samping Agus, memeluk suaminya, dan berbisik, “Ibu pasti sudah bangga dengan lo, Gus. Ibu lihat lo sekarang sudah jadi suami yang baik, ayah yang baik. Itu lebih dari cukup.”
Pemakaman berlangsung sederhana, karena pandemi masih membatasi jumlah orang yang bisa hadir. Agus memimpin doa, meskipun suaranya bergetar di beberapa bagian. Titik berdiri di sampingnya, sesekali memegang tangannya untuk memberikan kekuatan.
Setelah pemakaman, mereka menginap di rumah orang tua Agus yang kini hanya ditinggali oleh ayah Agus, seorang pria tua yang berusaha tegar tetapi matanya jelas-jelas basah.
“Pak, Agus minta maaf,” kata Agus pada ayahnya sebelum mereka kembali ke Bandung.
“Maafin apa, Le?”
“Agus belum bisa merawat Ibu dengan baik. Agus jauh di Bandung, jarang pulang.”
“Kamu sudah merawat Ibu sepanjang hidupnya, Le. Ibu bangga sama kamu. Ibu selalu bilang, ‘Anak saya Agus itu anak baik. Tidak pernah menyusahkan. Selalu berusaha. Dan dia berhasil.’ Sekarang, tugas kamu merawat keluargamu. Istri dan anakmu. Itu yang Ibu mau.”
Agus memeluk ayahnya, menangis di pundak pria tua yang tingginya sekarang lebih pendek darinya. “Pak, Agus janji akan sering pulang. Janji.”
“Jangan janji kalau tidak yakin, Le. Yang penting kamu bahagia. Itu doa Ibu dan Bapak.”
Kembali ke Bandung, Agus jatuh dalam kesedihan yang mendalam. Ia tidak lagi banyak bicara. Ia bekerja dengan mekanis, melakukan rutinitas tanpa semangat. Malam hari, ia sering terbangun dan duduk di teras sendirian, menatap langit, seolah mencari ibunya di antara bintang-bintang.
Titik khawatir. Ia belum pernah melihat Agus seperti ini. Agus yang selalu kuat, selalu tegar, selalu menjadi tempat bersandar, kini rapuh.
Suatu malam, Titik menemani Agus di teras.
“Gus,” katanya pelan.
“Ya.”
“Lo bisa cerita ke gue. Gue siap mendengar.”
Agus terdiam cukup lama. Udara malam di Cimenyan terasa dingin, menusuk hingga ke tulang.
“Titik,” katanya akhirnya, “gue nggak tahu harus bagaimana. Selama ini, mama selalu jadi alasan gue bertahan. Di masa-masa tersulit, mama selalu bilang, ‘Le, sabar. Allah punya rencana.’ Sekarang mama nggak ada. Gue... gue kehilangan.”
Titik meraih tangan Agus. “Gus, lo tidak kehilangan. Ibu lo masih ada di hati lo. Dalam ingatan lo. Dalam doa lo. Dan lo masih punya gue. Lo masih punya Tegar. Keluarga lo masih utuh.”
“Gue tahu, Titik. Tapi gue butuh waktu.”
“Gue akan memberi lo waktu. Tapi jangan larut terlalu lama. Tegar butuh ayahnya. Gue butuh suami gue. Bukan orang yang terbawa arus kesedihan.”
Agus menatap Titik. Matanya merah, lelah, tetapi ada secercah cahaya, cahaya yang muncul karena ia tidak sendirian.
“Makasih, Titik.”
“Tidak perlu berterima kasih, Gus. Kita berdua. Ingat itu.”
Perlahan, Agus mulai pulih. Bukan berarti ia melupakan ibunya, ia tidak akan pernah. Tapi ia belajar untuk melanjutkan hidup, untuk menjadikan kenangan tentang ibunya sebagai sumber kekuatan, bukan sumber kesedihan.
Tegar, yang polos tidak mengerti kesedihan ayahnya, justru menjadi obat terbaik. Setiap hari, ia berlari kecil ke arah Agus, memeluk kakinya, dan berkata, “Pa, Tegar sayang Pa. Tegar doakan Pa bahagia.”
Agus tersenyum. Ia menggendong Tegar, mencium pipinya yang tembam. “Pa bahagia, Nak. Karena Pa punya Bunda dan Tegar.”
Suatu sore, ketika mereka bertiga duduk di ruang tamu, menonton film animasi kesukaan Tegar, Titik tiba-tiba berkata, “Gus, gue mau minta maaf.”
“Minta maaf untuk apa?”
“Dulu, waktu lo masih kecil, lo selalu cerita tentang ibu lo. Tentang bagaimana beliau sabar, bagaimana beliau baik, bagaimana beliau selalu mendukung lo. Dan gue... gue tidak pernah benar-benar mendengarkan. Gue terlalu sibuk dengan drama gue sendiri. Maaf, Gus.”
Agus menggeleng. “Titik, itu masa lalu. Yang penting sekarang lo ada di sini. Lo mendengarkan. Itu sudah cukup.”
“Tapi gue ingin lo tahu bahwa gue menghargai ibu lo. Beliau telah melahirkan dan membesarkan laki-laki hebat yang akhirnya menjadi suami gue. Tanpa beliau, gue tidak akan memiliki lo.”
“Lo mau nambah adik, Pa?” tiba-tiba Tegar memotong.
Agus dan Titik terkejut, lalu tertawa. “Belum, Nak. Nanti kalau Tegar sudah besar,” jawab Agus.
“Tegar mau adik perempuan.”
“Kok perempuan?”
“Biar Tegar bisa jadi kakak yang baik.”
Mereka bertiga tertawa. Tawa yang telah lama tidak terdengar di rumah itu. Tawa yang mengusir sisa-sisa duka.
Di bulan November 2021, Agus mendapat tawaran pekerjaan baru: menjadi dosen tidak tetap di salah satu universitas swasta di Bandung. Tawaran ini datang dari rekannya sesama peneliti yang juga mengajar di sana. Gajinya tidak besar, tetapi Agus senang karena ia bisa berbagi ilmunya dengan generasi muda.
“Titik, gue mau ngajar,” kata Agus suatu malam selesai magrib.
“Ngajar di mana?”
“Di Universitas Pasundan. Jadi dosen tidak tetap. Lumayan, bisa tambah penghasilan.”
“Lo yakin? Lo kan sudah sibuk dengan penelitian. Nanti lo kelelahan lagi.”
“Gue akan atur waktu, Titik. Lo jangan khawatir.”
“Tapi...”
“Titik, gue janji akan jaga kesehatan. Gue tidak akan mengulang kesalahan dulu. Gue akan berhenti jika tubuh gue tidak kuat.”
Titik menghela napas. Ia tahu Agus sudah bulat dengan keputusannya. “Baik, Gus. Tapi janji. Jangan memaksakan diri.”
“Janji.”
Agus mulai mengajar di awal tahun 2022. Mahasiswanya kebanyakan seusia adiknya, masih muda dan penuh semangat. Agus menikmati proses mengajar, ia merasa berguna, merasa bahwa ilmunya tidak hanya berhenti di laporan penelitian, tetapi juga bisa menginspirasi orang lain.
Suatu hari, salah satu mahasiswinya, bernama Sari, gadis berhijab dengan kacamata tebal—datang ke ruang dosen setelah kuliah selesai.
“Pak Agus, saya mau bertanya.”
“Silakan.”
“Apakah bapak punya pengalaman hidup yang bisa dibagikan? Tentang perjuangan, tentang kegagalan, tentang cinta? Siapa tahu bisa menginspirasi kami.”
Agus tersenyum. “Banyak, Sari. Tapi yang paling berkesan adalah tentang persahabatan.”
“Persahabatan?”
“Iya. Tentang bagaimana saya mencintai sahabat saya sejak kecil, tetapi tidak pernah berani mengaku. Tentang bagaimana saya melihat dia jatuh cinta pada laki-laki lain berkali-kali, patah hati berkali-kali, dan saya hanya bisa diam. Tentang bagaimana akhirnya dia sadar, dan kita menikah. Tentang bagaimana kita membangun keluarga dari nol, melewati sakit, pandemi, dan kematian orang tua.”
Sari mendengarkan dengan mata berbinar. “Itu... indah sekali, Pak.”
“Tidak selalu indah, Sari. Banyak sakitnya. Tapi sakit itu membuat kita lebih kuat.”
“Apa pesan bapak untuk kami, anak muda?”
“Jangan terburu-buru mencari cinta. Jangan jatuh pada gemerlap yang sementara. Belajarlah untuk tenang. Karena cinta sejati tidak datang dengan petir dan kilat. Ia datang dengan langkah pelan, setia, dan tidak pernah pergi. Dan kadang, ia sudah ada di depan matamu, hanya saja kau terlalu sibuk melihat ke jauh sehingga tidak menyadarinya.”
Sari mengangguk, merekam setiap kata dalam hatinya. “Terima kasih, Pak Agus. Saya akan ingat pesan bapak.”
Pulang ke rumah, Agus menceritakan percakapannya dengan Sari kepada Titik. Titik mendengarkan sambil tersenyum.
“Lo jadi dosen yang baik, Gus,” katanya.
“Belum tahu. Masih belajar.”
“Tapi lo sudah menginspirasi. Itu lebih dari cukup.”
“Titik.”
“Ya.”
“Gue bersyukur.”
“Bersyukur untuk apa hari ini?”
“Bersyukur karena dulu gue tidak pernah menyerah pada lo. Kalau gue menyerah, mungkin gue tidak akan memiliki semua ini. Tidak akan memiliki rumah ini, tidak akan memiliki Tegar, tidak akan memiliki kesempatan mengajar, tidak akan memiliki kebahagiaan sederhana yang terasa luar biasa ini.”
Titik memeluk Agus. “Gus, lo jangan terus-terusan melihat ke belakang. Jangan terus menerus bersyukur untuk masa lalu. Lihat ke depan. Kita masih punya banyak waktu untuk membuat kenangan baru.”
“Iya, Titik. Lo benar.”
Tegar yang sedang asyik menggambar di lantai, tiba-tiba mengangkat kertas gambarnya. “Pa, Bunda, lihat! Ini keluarga Tegar.”
Agus dan Titik melihat gambar itu. Tiga sosok manusia yang digambar dengan lingkaran tidak beraturan: satu besar (Agus), satu sedang (Titik), dan satu kecil (Tegar). Mereka bergandengan tangan di bawah gambar matahari yang tersenyum.
“Ini kita, Pa. Kita bahagia,” kata Tegar polos.
Agus dan Titik saling pandang, lalu tersenyum.
“Iya, Nak,” kata Agus. “Kita bahagia.”
BAB XV
KETIKA HATI YANG LELAH AKHIRNYA PULANG
Tahun 2022 membawa angin segar bagi dunia. Pandemi mulai mereda, aktivitas masyarakat perlahan kembali normal. Agus dan Titik akhirnya bisa keluar rumah tanpa rasa cemas yang berlebihan. Tegar bisa mulai bermain dengan anak-anak seusianya di lingkungan sekitar, sebuah kebahagiaan kecil yang dulu mereka anggap remeh, kini terasa sangat berharga.
Tegar kini berusia empat tahun, memasuki masa pra-sekolah. Ia anak yang cerdas dan mudah bergaul. Guru-gurunya di PAUD sering memuji kepintarannya dalam berhitung dan membaca. Ia juga anak yang penyayang, sering berbagi bekal dengan teman yang tidak membawa makanan, sering memeluk teman yang menangis, sering membantu guru merapikan mainan.
“Pa, Bunda, hari ini Tegar dapat bintang,” cerita Tegar suatu sore sambil menunjukkan buku penghubung yang di dalamnya terdapat stiker bintang emas.
“Hebat, Nak,” puji Agus sambil mengelus rambut ikal putranya.
“Guru bilang Tegar anak baik.”
“Kamu memang anak baik, Nak. Karena kamu punya orang tua yang baik,” kata Titik sambil tersenyum bangga.
Di malam hari, ketika Tegar sudah tidur, Agus dan Titik duduk di ruang tamu sambil menonton televise, sesuatu yang jarang mereka lakukan karena biasanya mereka lebih memilih bercakap-cakap atau membaca buku. Malam itu, ada sebuah film romantis yang ditayangkan di salah satu stasiun televisi swasta.
Film itu bercerita tentang sepasang sahabat kecil yang terpisah karena keluarga, kemudian bertemu lagi di usia dewasa, saling jatuh cinta, dan akhirnya menikah. Mirip dengan kisah mereka, tetapi dengan bumbu-bumbu dramatis yang tidak dialami Agus dan Titik, tidak ada pesawat jatuh, tidak ada amnesia, tidak ada orang tua yang melarang mati-matian.
“Gus, lihat tuh, mirip kita,” kata Titik.
“Mirip? Mana? Mereka ketemu lagi setelah puluhan tahun, kita sih ketemu terus.”
“Ya, intinya sama. Sahabat kecil yang akhirnya jadi suami istri.”
“Itu klise, Titik.”
“Tapi klise yang indah.”
Agus tertawa. “Lo tuh suka film romantis, ya? Padahal dulu lo bilang film romantis itu bikin lo sakit hati.”
“Dulu. Sekarang gue sudah punya cerita romantis sendiri. Jadi gue bisa menonton tanpa sakit hati.”
“Cerita romantis lo gimana, Titik?”
“Cerita tentang seorang perempuan yang buta selama dua puluh tahun, sampai akhirnya dia sadar bahwa cinta sejati ada di depan matanya. Dan ketika dia sadar, cinta itu masih setia menunggu. Tidak pergi ke mana-mana.”
Agus tersenyum. Ia memeluk Titik. “Cerita romantis yang bagus. Siapa penulisnya?”
“Tuhan, Gus. Tuhan yang menulis.”
Di pertengahan tahun 2022, Agus mendapat kabar bahwa ayahnya sakit. Bukan sakit biasa, tetapi sakit yang memerlukan perawatan intensif di rumah sakit. Agus dan Titik segera pulang ke kampung, meninggalkan Tegar di rumah neneknya (orang tua Titik) untuk sementara waktu.
Di rumah sakit, Agus menemukan ayahnya terbaring lemah. Pria tua yang dulu tegar dan jarang sakit itu, kini hanya tinggal tulang dibalut kulit. Matanya cekung, tangannya keriput, suaranya parau.
“Le,” bisik ayah Agus ketika melihat putranya datang.
“Pak, Agus di sini.”
“Maafkan Bapak, Le. Bapak tidak bisa menjadi ayah yang baik untukmu.”
Agus menangis. “Pak, jangan bicara begitu. Bapak adalah ayah terbaik. Bapak yang mengajari Agus arti kerja keras. Bapak yang membiayai sekolah Agus meskipun harus banting tulang. Bapak yang selalu mendukung Agus meskipun Agus tidak pernah menjadi anak yang hebat.”
“Kamu hebat, Le. Kamu lebih hebat dari Bapak. Kamu lulus kuliah, punya pekerjaan tetap, punya istri baik, punya anak cerdas. Bapak bangga.”
Agus memegang tangan ayahnya yang dingin. “Pak, bertahan, ya. Jangan pergi sekarang. Agus belum siap kehilangan Bapak.”
“Setiap anak harus siap kehilangan orang tuanya, Le. Itu hukum alam. Yang penting, jangan berduka terlalu lama. Kamu punya keluarga sendiri yang harus kamu jaga.”
Ayah Agus bertahan selama tiga minggu. Tiga minggu yang penuh dengan air mata, doa, dan kenangan. Agus tidak pernah meninggalkan sisi ayahnya kecuali untuk makan dan mandi. Titik bergantian menjaga, kadang juga mengurus administrasi rumah sakit dan berkomunikasi dengan dokter.
Di akhir minggu ketiga, ayah Agus mengembuskan napas terakhirnya dengan tenang, tidak dalam kesakitan, tidak dalam keterkejutan, tetapi seperti orang yang lelah dan akhirnya diizinkan beristirahat.
Agus tidak menangis histeris seperti ketika ibunya meninggal. Ia hanya diam, duduk di samping jenazah ayahnya, memegang tangan yang sudah tidak lagi hangat.
“Pak,” bisiknya, “istirahatlah. Agus akan baik-baik saja. Agus berjanji.”
Titik memeluk Agus dari belakang. “Gus, kamu kuat.”
“Gue harus kuat, Titik. Untuk Tegar. Untuk lo. Untuk keluarga kita.”
Setelah pemakaman, Agus dan Titik kembali ke Bandung. Rumah yang dulu terasa hangat, kini terasa sepi. Agus kehilangan semangat untuk melakukan banyak hal. Ia bekerja dengan mekanis, mengajar tanpa antusias, dan di malam hari ia hanya duduk diam di teras.
Tegar, yang kini berusia empat tahun, mulai mengerti bahwa ayahnya sedang sedih. Ia sering mendekati Agus, memeluknya, dan berkata, “Pa, Tegar sayang Pa. Pa jangan sedih.”
Agus tersenyum tipis. “Pa tidak sedih, Nak. Pa hanya... merindukan Kakek dan Nenek.”
“Mereka di surga ya, Pa?”
“Iya, Nak. Mereka di surga.”
“Tegar doakan mereka bahagia di surga.”
“Aamiin, Nak.”
Titik melihat perubahan pada diri Agus. Ia menjadi lebih pendiam, lebih sensitif, dan lebih sering termenung. Titik khawatir Agus akan jatuh dalam depresi seperti setelah kematian ibunya dulu.
Suatu malam, Titik memutuskan untuk membawa Agus berjalan-jalan ke tempat-tempat yang dulu sering mereka kunjungi saat masih pacaran atau lebih tepatnya, saat masih dalam masa “tidak jelas” antara sahabat dan kekasih.
Mereka berdua pergi ke Lembang, tempat dulu mereka bermain gelembung sabun atau setidaknya, tempat yang mirip dengan masa kecil mereka. Mereka duduk di sebuah kafe sederhana yang menghadap ke perkebunan teh, menikmati teh jahe panas, minuman yang selalu menemani mereka sejak dulu.
“Gus,” kata Titik.
“Ya.”
“Ingat waktu kita ke Lembang dulu? Waktu lo masih kuliah di Bandung, dan gue main ke Bandung buat healing setelah patah hati?”
“Ingat.”
“Waktu itu lo bilang, ‘Mbak, cinta sejati tidak datang dengan dramatis. Ia datang dengan cara membosankan. Dengan cara tidak pernah pergi.’”
“Gue masih ingat. Lo bilang gue terlalu bijak buat anak seusia itu.”
“Dan sekarang, lo lihat? Lo ternyata benar. Cinta sejati tidak selalu tentang drama. Tentang bagaimana kita tetap bersama meskipun tidak ada yang spektakuler.”
Agus tersenyum. “Lo jadi bijak, Titik.”
“Gue belajar dari lo.”
Mereka berdua tertawa. Tawa pertama Agus setelah berminggu-minggu.
“Titik,” kata Agus setelah tawa mereda.
“Ya.”
“Makasih udah bertahan sama gue. Makasih udah tidak pergi ketika gue lagi jatuh. Makasih udah menjadi istri yang sabar.”
“Gus, ini tugas gue. Sebagai istri, sebagai sahabat, sebagai pendamping hidup lo. Lo tidak perlu berterima kasih.”
“Tapi gue tetap berterima kasih.”
“Ya sudah, sama-sama.”
Mereka berdua diam, menikmati pemandangan perkebunan teh yang hijau membentang. Di kejauhan, Gunung Tangkuban Perahu terlihat gagah dengan kabut tipis di puncaknya.
“Titik, gue sembuh,” kata Agus tiba-tiba.
“Sembuh dari apa?”
“Dari kesedihan. Setelah mama dan papa pergi, gue merasa kehilangan arah. Tapi lihatlah ke sekeliling. Ada lo yang setia menemani. Ada Tegar yang lucu dan cerdas. Ada rumah yang kita bangun bersama. Ada pekerjaan yang gue nikmati. Ada masa depan yang masih panjang. Gue tidak sendirian. Gue tidak akan pernah sendirian.”
Titik menangis. Ia memeluk Agus erat-erat.
“Gus, lo bikin gue nangis.”
“Maaf, Titik. Tapi gue senang lo nangis. Karena itu artinya lo peduli.”
Mereka berdua berpelukan di kafe Lembang yang sepi, dengan teh jahe yang mengepul di hadapan mereka. Tidak ada yang sempurna, langit mendung, angin dingin menusuk, dan beberapa pengamen mulai mendekat. Tapi bagi mereka, ini adalah momen yang sempurna. Momen ketika dua jiwa yang telah melalui banyak badai akhirnya menemukan ketenangan dalam pelukan satu sama lain.
Pulang dari Lembang, Agus seperti orang yang baru lahir kembali. Ia lebih bersemangat dalam bekerja, lebih antusias dalam mengajar, dan lebih perhatian terhadap Titik dan Tegar.
Ia mulai meluangkan waktu untuk bermain dengan Tegar setiap sore. Mereka bermain bola di halaman belakang, atau sekadar berlarian kejar-kejaran sambil tertawa. Kadang, Agus mengajak Tegar berkebun, menanam cabai dan tomat di pot-pot bekas yang mereka susun di samping rumah.
“Pa, ini cabai kapan panen?” tanya Tegar sambil memegang daun kecil yang baru tumbuh.
“Beberapa bulan lagi, Nak. Sabar.”
“Tegar tidak sabar, Pa.”
“Belajar sabar, Nak. Semua yang baik membutuhkan waktu. Seperti Pa dulu menunggu Bunda.”
“Pa menunggu Bunda? Kenapa Pa tidak langsung nembak Bunda?”
Agus tertawa. “Karena Pa takut Bunda bilang tidak.”
“Tapi Bunda mau kan sama Pa?”
“Akhirnya mau. Setelah Pa tunggu lima belas tahun.”
“Wah, lama banget!”
“Iya, Nak. Tapi hasilnya indah, kan? Bunda jadi istri Pa, Tegar jadi anak Pa.”
Tegar mengangguk, meskipun ia tidak sepenuhnya mengerti konsep waktu selama lima belas tahun. Baginya, lima belas menit saja sudah terasa seperti selamanya.
Titik yang mendengar percakapan itu dari dapur, tersenyum. Anak ini, pikirnya, akan tumbuh menjadi laki-laki yang baik. Seperti ayahnya.
Di bulan Desember 2022, mereka memutuskan untuk merayakan Natal dan Tahun Baru di kampung, bersama keluarga besar. Ini adalah pertama kalinya setelah pandemi mereka bisa berkumpul dengan semua saudara tanpa rasa takut.
Rumah orang tua Titik yang dulu sepi, kini ramai oleh suara tawa dan canda. Tegar senang sekali karena ia punya banyak sepupu untuk bermain. Mereka berlarian di halaman, main petak umpet, main kelereng (meskipun Tegar belum terlalu paham aturannya), dan makan camilan bersama-sama.
“Tik, lihat anak kita,” kata Agus sambil menunjuk ke arah Tegar yang sedang tertawa lepas bersama sepupunya.
“Dia bahagia, Gus.”
“Kita juga bahagia, Titik.”
“Iya. Akhirnya.”
Malam Tahun Baru, mereka berdua duduk di teras rumah, sama seperti ketika mereka masih anak-anak. Langit di kampung masih bersih dari polusi, sehingga bintang-bintang terlihat jelas, bertebaran seperti garam yang ditebarkan Tuhan di atas lembaran langit yang hitam pekat.
“Ingat dulu, waktu kita kecil, kita sering duduk di sini?” tanya Titik.
“Ingat. Kadang sambil makan jambu air, kadang sambil liatin bintang.”
“Kita dulu sering bertengkar, ya?”
“Iya. Lo keras kepala, gue juga keras kepala.”
“Tapi kita tetap berteman.”
“Karena sahabat sejati tak pernah pergi. Itu janji kita, bukan?”
Titik tersenyum. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Agus. “Janji yang tidak pernah kita langgar.”
“Meskipun banyak yang mencoba memisahkan kita.”
“Tapi kita tetap bersama.”
“Selamanya.”
Tegar yang berlari ke arah mereka, ikut duduk di pangkuan Agus. “Pa, Bunda, lihat bintang itu! Besar sekali.”
“Itu bintang kejora, Nak,” kata Agus. “Bintang yang paling terang di pagi hari.”
“Tegar mau jadi bintang kejora.”
“Nanti kalau Tegar besar, Tegar bisa jadi bintang kejora untuk banyak orang. Dengan menjadi orang yang berguna, orang yang baik, orang yang membawa cahaya.”
“Tegar mau, Pa. Tegar janji.”
Mereka bertiga duduk di teras rumah kampung yang sederhana, di bawah langit yang bertabur bintang, menunggu pergantian tahun.
Tidak ada pesta mewah, tidak ada kembang api, tidak ada konfeti.
Tapi ada kehangatan. Ada cinta. Ada keluarga.
Dan itu sudah lebih dari cukup.
BAB XVI
MENJADI SAHABAT DALAM IKATAN PERNIKAHAN
Usia pernikahan Agus dan Titik memasuki tahun ketujuh. Bukan angka yang istimewa bagi kebanyakan orang, tetapi bagi mereka, setiap tahun yang dilalui bersama terasa seperti keajaiban. Mengingat perjalanan panjang yang mereka tempuh, dari sahabat kecil yang bertengkar soal jambu air, remaja yang saling menjauh karena salah satu terlalu sibuk patah hati, dewasa yang akhirnya menemukan satu sama lain, hingga kini menjadi suami istri yang membesarkan seorang anak laki-laki yang mulai menunjukkan kecerdasannya yang luar biasa.
Tegar kini berusia enam tahun. Ia sudah masuk sekolah dasar, tepatnya di sebuah SD negeri tidak jauh dari rumah kontrakan mereka. Setiap pagi, Agus mengantarnya dengan motor butut yang sama, motor yang dulu ia gunakan untuk menembus malam Puncak ketika Titik kecelakaan. Motor itu sudah tua, kadang bermasalah, tetapi Agus tidak tega menggantinya. Terlalu banyak kenangan yang tertambat di setang dan joknya yang mulai robek.
“Pa, besok Tegar mau naik motor lagi,” kata Tegar sambil memeluk pinggang Agus dari belakang, wajahnya menempel di jaket ayahnya yang sudah mulai pudar warnanya.
“Setiap hari kan naik motor, Nak.”
“Tapi Tegar suka. Anginnya sejuk. Dan Tegar bisa peluk Pa.”
Agus tersenyum. “Nanti kalau Tegar besar, Tegar yang bonceng Pa, ya.”
“Iya, Pa. Tegar janji. Nanti Tegar beli motor besar, bonceng Pa keliling Bandung.”
“Janji, Nak.”
“Janji.”
Titik yang mendengar percakapan itu dari dalam rumah, tersenyum sambil melanjutkan menyiapkan bekal untuk Tegar. Dua laki-laki dalam hidupku, pikirnya, sama-sama keras kepala, sama-sama penyayang, dan sama-sama tidak pernah mau repot-repot merapikan rambut ikalnya.
Ia teringat pada masa kecil Agus. Rambut ikalnya yang tidak pernah rapi meski sudah disisir berkali-kali. Dan sekarang, Tegar mewarisi rambut ikal yang sama persis. Ia kadang bercanda pada Agus, “Gus, lo nularin gen rambut kusut ke anak lo.” Dan Agus hanya akan tertawa, lalu membalas, “Gen rambut ikal itu gen kesabaran, Titik. Lo lihat, orang yang sabar biasanya rambutnya ikal.” “Alasan,” jawab Titik. “Fakta,” balas Agus.
Di usia pernikahan ketujuh, mereka mulai merasakan apa yang disebut sebagai gelombang kehidupan rumah tangga. Tidak ada hubungan yang sempurna, tidak ada pernikahan yang tanpa konflik. Mereka bertengkar, kadang karena hal besar, kadang karena hal sepele.
Suatu malam, mereka bertengkar tentang rencana keuangan. Agus ingin menabung untuk membeli rumah, bukan kontrakan lagi, tetapi rumah sungguhan yang bisa mereka wariskan untuk Tegar. Titik setuju, tetapi ia juga ingin Tegar bisa masuk sekolah swasta yang lebih baik, dengan fasilitas yang lebih lengkap.
“Gus, rumah bisa nanti. Pendidikan Tegar tidak bisa nanti. Dia sudah kelas satu SD. Masa depan dia ditentukan sekarang.”
“Titik, SD negeri tidak kalah berkualitas. Gue sendiri lulusan SD negeri. Lihat hasilnya.”
“Lo pengecualian, Gus. Tegar mungkin butuh lebih dari itu.”
“Maksud lo, gue tidak cukup baik untuk jadi contoh?”
“Bukan itu, Gus. Jangan memutarbalikkan kata-kata gue.”
“Lo yang memutarbalikkan. Lo bilang SD negeri tidak cukup baik untuk Tegar. Itu artinya lo meragukan kualitas pendidikan yang gue terima dulu, yang membuat gue jadi sekarang.”
“Gus, lo tuh sekarang jadi defensif banget. Apa susahnya kalau kita coba cari informasi tentang sekolah swasta? Setidaknya lihat dulu. Jangan langsung menolak.”
“Karena gue tahu biaya sekolah swasta. Mahal. Kita belum punya rumah. Jangan sampai kita kehilangan prioritas.”
“Prioritas lo apa, Gus? Dinding? Atap? Bata? Sementara anak lo butuh pendidikan yang baik?”
“Bukannya SD negeri juga baik? Lo tuh suka meremehkan.”
“Gue tidak meremehkan! Gue realistis.”
“Realistis atau konsumtif?”
“Agus!”
“Titik!”
Mereka berdua berteriak. Tegar yang sedang bermain di kamar, keluar dengan wajah ketakutan. “Pa, Bunda, kenapa?” Matanya basah, dagunya bergetar.
Agus dan Titik langsung diam. Mereka saling pandang, lalu sama-sama menunduk.
“Tidak ada apa-apa, Nak,” kata Titik sambil membungkuk, memeluk Tegar. “Bunda dan Papa hanya bertukar pendapat. Lain kali Bunda dan Papa tidak akan berdebat di depan Tegar. Maaf, ya.”
“Tegar takut, Bunda.”
“Jangan takut, Nak. Bunda dan Papa sayang satu sama lain. Bunda dan Papa tidak akan berpisah. Janji.”
Agus mendekat, ikut memeluk mereka berdua. “Maaf, Nak, Pa tadi keras kepala. Pa janji tidak akan berdebat lagi di depan Tegar.”
Mereka bertiga berpelukan di ruang tamu yang sempit, dengan TV yang masih menyiarkan acara berita tentang kenaikan harga bahan pokok. Tidak ada yang peduli dengan berita itu. Yang mereka pedulikan hanya pelukan yang mengikat mereka dalam kehangatan.
Malam itu, setelah Tegar tidur, Agus dan Titik berbicara dengan suara pelan di ruang tamu.
“Maaf, Titik. Gue tadi emosi.”
“Gue juga maaf, Gus. Gue terlalu memaksakan kehendak.”
“Kita cari solusi bersama, ya. Bukan saling serang.”
“Iya. Kita tim. Bukan lawan.”
Mereka berdua tersenyum. Mereka menghabiskan sisa malam dengan mencari informasi tentang sekolah-sekolah, negeri dan swasta, membandingkan biaya, fasilitas, kurikulum, dan jarak dari rumah. Pada pukul sebelas malam, mereka menemukan kompromi: SD negeri di dekat rumah sudah cukup baik, tetapi mereka akan mendaftarkan Tegar ke les tambahan untuk mata pelajaran yang membutuhkan pendalaman.
“Jadi, tetap negeri?” tanya Titik.
“Tetap negeri, dengan tambahan les. Setuju?”
“Setuju. Dan gue minta maaf karena gue terlalu membandingkan.”
“Gue juga minta maaf karena gue terlalu defensif.”
“Kita berdua keras kepala.”
“Seperti Tegar.”
Mereka tertawa. Tawa yang melegakan, tawa yang mengingatkan bahwa pertengkaran tidak selalu berarti retaknya hubungan. Kadang, pertengkaran adalah cara untuk saling memahami, setelah debu mereda, dan kedua belah pihak bersedia untuk mendengarkan.
Di bulan Juni 2023, Agus mendapat kejutan ulang tahun dari Titik. Bukan kejutan besar, hanya kue bolu sederhana buatan tangan Titik (yang pertama kali berhasil setelah beberapa kali gagal), secangkir kopi tubruk kesukaannya, dan sebuah amplop coklat yang di dalamnya berisi tiket pesawat untuk mereka berdua.
“Titik, ini tiket pesawat? Ke mana?”
“Ke Jakarta. Cuma dua hari. Tegar titip sama mama gue di kampung. Kita liburan berdua. Sudah lama tidak berdua saja.”
“Titik, ini... mahal.”
“Tidak kok. Tiket promo. Yang penting kita bisa quality time berdua. Ingat, pernikahan tidak hanya tentang anak. Pernikahan juga tentang kita berdua.”
Agus memeluk Titik. Ia hampir menangis, bukan karena haru, tetapi karena selama ini ia terlalu fokus pada pekerjaan dan Tegar sehingga lupa bahwa istrinya juga butuh perhatian.
“Terima kasih, Titik. Ini hadiah terbaik dalam hidup gue.”
“Jangan lebay, Gus. Ini cuma tiket pesawat promo.”
“Bukan tiketnya. Tapi lo yang masih ingat bahwa kita butuh waktu berdua. Itu yang terbaik.”
Mereka berdua pergi ke Jakarta untuk dua hari. Bukan perjalanan mewah, mereka hanya berjalan-jalan di kota tua, naik bus wisata, makan di warung pinggir jalan, dan menginap di hotel budget yang tidak terlalu bagus tetapi bersih.
Tapi bagi mereka, dua hari itu adalah perjalanan yang paling berkesan. Mereka berbicara tentang banyak hal—bukan tentang Tegar, bukan tentang pekerjaan, bukan tentang keuangan. Mereka berbicara tentang mimpi-mimpi lama yang belum tercapai, tentang kenangan-kenangan lucu semasa kecil, tentang hal-hal konyol yang tidak pernah mereka bagikan pada siapa pun.
“Gus, ingat waktu kita kecil, kita pernah membuat surat janji dengan sidik jari arang lidi?” tanya Titik sambil berjalan di kawasan Kota Tua, Jakarta.
“Ingat. Surat itu masih lo simpan, kan?”
“Masih. Di stoples biskuit Khong Guan. Gue simpan baik-baik. Suatu hari nanti, ketika Tegar sudah besar, kita tunjukkan surat itu. Biar dia tahu bahwa orang tuanya dulu juga punya janji suci, bahkan sebelum menikah.”
“Janji untuk menjadi sahabat sejati selamanya.”
“Dan kita tidak melanggar janji itu, Gus.”
“Iya, Titik. Kita tidak melanggar.”
Mereka berdua tersenyum. Di tengah hiruk-pikuk kota Jakarta yang panas dan berdebu, mereka merasa seperti berada di bawah pohon mangga di kampong, tempat di mana semuanya dimulai.
Di akhir tahun 2023, Agus memutuskan untuk berhenti menjadi dosen tidak tetap. Bukan karena ia lelah, tetapi karena kantornya memberikan promosi menjadi kepala divisi penelitian. Tanggung jawabnya semakin besar, gajinya meningkat, dan waktunya menjadi lebih terbatas.
“Lo yakin, Gus?” tanya Titik ragu.
“Yakin. Gue tidak bisa membagi waktu terlalu banyak. Tegar butuh perhatian. Lo juga butuh perhatian. Dan gue butuh istirahat yang cukup.”
“Tapi impian lo mengajar?”
“Impian gue bukan mengajar, Titik. Impian gue adalah memiliki keluarga yang bahagia. Dan itu sudah gue capai. Mengajar hanya pelengkap.”
Agus mengundurkan diri dengan hormat di awal tahun 2024. Universitas tempatnya mengajar sempat keberatan, tetapi mereka mengerti. Agus bukan lagi mahasiswa yang bisa membagi waktu untuk segalanya. Ia adalah seorang ayah, seorang suami, dan seorang profesional yang ingin fokus pada prioritasnya.
Tegar yang kini berusia enam tahun, mulai mengerti bahwa ayahnya tidak lagi mengajar. Suatu malam, ia bertanya, “Pa, kenapa Pa tidak ngajar lagi? Tegar suka lihat Pa ngajar.”
“Karena Pa ingin lebih banyak waktu dengan Tegar.”
“Tapi Pa kan tetap sibuk.”
“Pa akan usahakan tidak terlalu sibuk. Pa janji, setiap sore Pa akan main dengan Tegar. Setiap akhir pekan Pa akan ajak Tegar jalan-jalan.”
“Janji?”
“Janji. Surat janji.”
“Surat janji apa, Pa?”
“Surat janji yang dulu Pa buat dengan Bunda. Dengan sidik jari arang lidi.”
Tegar tertawa. “Arang lidi? Konyol!”
“Memang konyol, Nak. Tapi janji tetap janji. Tidak peduli seberapa konyol caranya.”
BAB XVII
SAAT AGUS MENJADI PELABUHAN TERAKHIR TITIK
Titik Mukti Aryanti Sabara memasuki usianya yang ke-37 pada bulan Agustus 2024. Sebuah usia yang tidak lagi muda, tetapi juga belum bisa disebut tua. Usia di mana seorang perempuan biasanya sudah mapan dalam karier, sudah mantap dalam rumah tangga, dan sudah mulai memikirkan masa pensiun serta tabungan pendidikan anak.
Titik telah mencapai semua itu. Kariernya sebagai koordinator tim editor di perusahaan penerbitannya berjalan dengan baik. Ia mendapat kepercayaan untuk menangani proyek-proyek besar, termasuk menerjemahkan buku-buku internasional ke dalam bahasa Indonesia. Gajinya kini setara dengan Agus, bahkan kadang lebih jika ada proyek bonus.
Dari segi materi, mereka tidak kaya, tetapi tidak kekurangan. Cukup untuk menyekolahkan Tegar, cukup untuk mencicil rumah (setelah perdebatan panjang akhirnya mereka membeli rumah sederhana secara kredit), cukup untuk sesekali berlibur ke tempat yang tidak terlalu mahal.
Namun, di usia yang juga menginjak kepala tiga, Titik kadang merasakan kegelisahan yang tidak bisa ia jelaskan. Bukan karena tidak bahagia. Ia bahagia. Sangat bahagia. Tapi ada sesuatu yang mengganjal di dadanya—seperti ada satu lembar puzzle yang belum terpasang, meskipun gambar di puzzle itu sudah hampir sempurna.
“Gus,” kata Titik suatu malam sambil merebahkan diri di pangkuan Agus di sofa ruang tamu. Tegar sudah tidur, dan mereka memiliki waktu berdua yang langka.
“Ya.”
“Lo pernah ngerasa nggak, kadang ada sesuatu yang nggak beres meskipun semuanya beres? Kayak... ada yang kurang.”
Agus menghentikan gerakan tangannya yang sedang mengusap rambut Titik. “Maksud lo?”
“Gue nggak tahu. Mungkin gue pikun. Mungkin old and crazy.”
“Kamu tidak pikun, Titik. Mungkin kamu sedang merindukan sesuatu. Apa yang kamu rindukan?”
Titik terdiam. Ia memejamkan mata, merasakan kehangatan tubuh Agus. “Mungkin... gue merindukan masa-masa ketika kita masih berjuang. Waktu masih ngekos, dengan kecoa Jojo, dengan uang pas-pasan, tetapi kita punya mimpi-mimpi besar.”
“Kamu rindu susah?”
“Bukan susahnya. Tapi semangatnya. Semangat bahwa kita akan melewati segalanya bersama. Sekarang semuanya sudah mapan. Tidak ada yang perlu diperjuangkan lagi.”
Agus tersenyum. “Kamu salah, Titik. Mempertahankan apa yang sudah kita capai adalah perjuangan yang lebih berat daripada meraihnya. Dan kita masih harus berjuang untuk masa depan Tegar. Dan untuk masa depan kita saat tua nanti. Perjuangan tidak pernah berhenti. Yang berhenti hanya detak jantung.”
Titik menatap Agus. Matanya berkaca-kaca. “Lo tahu, Gus. Kadang gue bertanya-tanya, apa yang membuat gue pantas mendapatkan lo.”
“Kamu tidak mendapatkan saya karena pantas, Titik. Kamu mendapatkan saya karena kamu memilih saya. Itu saja.”
Di awal tahun 2025, sebuah kejutan datang dari kantor Agus. Lembaga tempatnya bekerja mendapat dana hibah besar dari yayasan asing untuk penelitian tentang transformasi pendidikan di daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal). Agus ditunjuk sebagai koordinator tim untuk wilayah Nusa Tenggara Timur.
Artinya, ia harus sering bepergian ke luar kota. Bukan hanya ke luar kota, tetapi ke luar pulau. Bukan hanya beberapa hari, tetapi bisa berminggu-minggu.
“Gus, serius? Lo harus ke NTT?” tanya Titik ketika Agus menyampaikan kabar itu.
“Iya. Proyek ini penting, Titik. Bisa mengubah nasib pendidikan di daerah-daerah yang sangat membutuhkan.”
“Tapi... berapa lama lo di sana?”
“Pertama, dua minggu. Setelah itu, sebulan sekali mungkin seminggu. Tergantung kebutuhan.”
Titik terdiam. Ia tidak ingin menghalangi karier suaminya. Ia tahu betapa Agus peduli dengan dunia pendidikan. Ia juga tahu bahwa proyek ini adalah kesempatan besar bagi Agus untuk mengembangkan karier dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Tapi ia juga merasa cemas. Selama ini, mereka selalu bersama. Jarak terjauh mereka hanya beberapa jam—Bandung ke Jakarta, Jakarta ke Bandung. Sekarang, Agus akan berada di pulau seberang, di tempat yang akses komunikasinya mungkin terbatas.
“Titik, kamu tidak setuju?” tanya Agus melihat raut wajah istrinya.
“Bukan tidak setuju, Gus. Tapi... gue takut.”
“Takut apa?”
“Takut... ini awal dari perpisahan.”
Agus terkejut. “Apa? Titik, kita tidak akan berpisah. Ini hanya pekerjaan. Saya akan pulang. Janji.”
“Janji pakai apa?”
“Janji pakai sidik jari arang lidi. Janji yang tidak pernah kita langgar.”
Titik tersenyum kecut. “Lo janji, Gus. Lo janji jaga kesehatan. Lo janji telepon setiap hari. Lo janji kalau ada apa-apa, lo langsung pulang.”
“Janji, Titik. Janji.”
Mereka berpelukan—pelukan yang terasa lebih erat dari biasanya, pelukan yang terasa seperti mengikat waktu agar tidak berlalu terlalu cepat.
Dua minggu pertama Agus di NTT adalah masa yang sulit bagi Titik. Ia harus mengatur semuanya sendirian: mengantar Tegar ke sekolah, bekerja, memasak, membersihkan rumah, menemani Tegar belajar, dan tidur sendirian di ranjang yang terlalu luas untuk satu orang.
Setiap malam, ia menunggu telepon dari Agus. Kadang Agus menelepon tepat waktu, kadang terlambat karena sinyal di pelosok NTT yang tidak menentu. Titik selalu cemas jika Agus tidak segera menelepon, membayangkan hal-hal buruk: kecelakaan, sakit, atau mungkin... mungkin Agus bertemu dengan seseorang di sana.
Irasional. Sangat irasional. Tapi kecemasan tidak mengenal logika.
“Bunda, Pa kapan pulang?” tanya Tegar suatu malam ketika sedang makan malam berdua.
“Dua hari lagi, Nak.”
“Tegar kangen Pa.”
“Bunda juga kangen.”
“Tegar mau ngomong sama Pa.”
“Nanti, ya, Nak. Pa sedang bekerja.”
Titik membiarkan Tegar menelepon Agus. Agus mengangkat, suararnya terdengar lelah tetapi senang mendengar suara putranya.
“Pa, Tegar kangen. Tegar mau Pa pulang.”
“Pa juga kangen, Nak. Pa akan pulang dua hari lagi. Janji.”
“Tegar tunggu, Pa. Tegar doakan Pa sehat.”
“Aamiin, Nak. Doakan Pa terus, ya.”
“Iya, Pa.”
Titik mengambil alih telepon. “Gus, lo sehat?”
“Sehat, Titik. Jangan khawatir.”
“Lo makan?”
“Makan. Walaupun makannya kadang tidak teratur.”
“Gus, lo jangan...”
“Titik, saya janji akan menjaga kesehatan. Saya tidak mau sakit jauh dari kamu.”
“Lo jangan sakit sama sekali.”
“Janji.”
Telepon terputus karena sinyal. Titik memegang ponselnya, berusaha menahan air mata. Tegar mendekat, memeluknya. “Bunda jangan sedih. Pa akan pulang.”
“Bunda tidak sedih, Nak. Bunda hanya... kangen.”
Agus pulang setelah dua minggu. Ia tampak lebih kurus, lebih hitam karena terik matahari NTT, dan lebih lelah. Tapi matanya—matanya bersinar seperti orang yang baru saja menyelesaikan sebuah misi penting.
“Titik!” teriaknya ketika melihat istrinya sudah berdiri di pintu.
“Gus!” Titik berlari, melompat, memeluk suaminya erat-erat.
“Awas, jatuh,” kata Agus sambil menahan tubuh Titik.
“Gue kangen, Gus.”
“Gue juga kangen, Titik. Banget.”
Tegar yang berlari dari ruang tamu, ikut memeluk kaki Agus. “Pa, Pa, Tegar juga kangen.”
Agus menurunkan Titik, lalu membungkuk memeluk Tegar. “Pa kangen Tegar. Tegar tumbuh besar selama Pa pergi.”
“Iya, Pa. Tegar punya nilai bagus di sekolah. Bunda lihat, ya?”
“Hebat, Nak. Pa bangga.”
Mereka bertiga masuk ke rumah, duduk di ruang tamu, dan berbicara berjam-jam. Agus bercerita tentang pengalamannya di NTT: tentang anak-anak di pedalaman yang harus berjalan kaki puluhan kilometer untuk sampai ke sekolah, tentang guru-guru yang mengajar dengan fasilitas seadanya, tentang semangat belajar yang tidak pernah padam meskipun segalanya serba terbatas.
Titik mendengarkan dengan seksama. Ia bangga pada suaminya, tidak hanya karena Agus pekerja keras, tetapi karena ia melakukan pekerjaan yang benar-benar berarti bagi sesama.
“Gus,” kata Titik setelah cerita panjang itu selesai.
“Ya.”
“Gue minta maaf.”
“Minta maaf untuk apa?”
“Karena dulu gue sempat cemburu buta. Sempat takut lo akan pergi. Sempat takut lo akan berubah. Sekarang gue sadar, lo tidak akan pernah pergi. Lo tidak akan pernah berubah. Lo akan tetap menjadi Agus Sabara yang gue kenal sejak kecil.”
Agus tersenyum. Ia meraih tangan Titik. “Dan kamu, Titik, tetap menjadi perempuan yang saya cintai sejak kecil. Meskipun kadang kamu keras kepala, kadang kamu cemburuan, kadang kamu membuat saya pusing dengan drama-dramamu.”
“Gue tidak bikin drama lagi, Gus.”
“Tadi cemburu buta itu namanya drama.”
Titik tertawa memukul lengan Agus. “Sialan, lo.”
Tegar yang ikut tertawa meskipun tidak mengerti lelucon orang tuanya.
Proyek di NTT berlangsung selama satu tahun. Agus bolak-balik Bandung-NTT setiap bulan. Kadang Titik ikut, kadang tidak. Kadang Tegar ikut, kadang tidak. Mereka belajar untuk beradaptasi dengan ritme baru, bahwa jarak bukanlah penghalang bagi cinta yang sejati.
Titik belajar untuk lebih mandiri. Ia tidak lagi cemas berlebihan ketika Agus pergi. Ia mengisi waktu luangnya dengan menekuni hobi baru: melukis. Bukan lukisan profesional, hanya coretan-corekan di kanvas kecil yang ia pajang di dinding ruang tamu.
Agus, di sisi lain, belajar untuk lebih pandai membagi waktu. Ia tidak lagi bekerja seperti zombie; ia menyempatkan diri untuk menelepon setiap hari, mengirim foto-foto pemandangan NTT yang indah, dan membawa oleh-oleh khas untuk Titik dan Tegar setiap kali pulang.
“Pa, Tegar mau ikut ke NTT,” pinta Tegar suatu hari ketika Agus bersiap untuk berangkat.
“Kamu sekolah, Nak. Tidak bisa.”
“Liburan nanti, Pa.”
“Liburan nanti, Pa ajak ke NTT. Ke pantai. Lihat laut.”
“Janji?”
“Janji, Nak. Janji surat janji.”
Tegar tertawa. Ia sudah paham bahwa “surat janji” adalah kode rahasia antara ayah dan bundanya—janji yang tidak akan pernah dilanggar.
Pada akhir tahun 2025, proyek di NTT selesai. Agus kembali ke posisinya semula di kantor, tetapi dengan pengalaman dan koneksi yang lebih luas. Ia ditawari untuk memimpin proyek serupa di daerah lain, tetapi ia menolak, setidaknya untuk sementara waktu.
“Gue perlu istirahat, Titik,” katanya.
“Jangan berhenti, Gus. Ini kesempatan lo.”
“Kesempatan bisa datang lagi. Keluarga hanya satu.”
Titik tidak membantah. Ia tahu Agus sudah bulat dengan keputusannya.
Mereka menghabiskan akhir tahun dengan liburan singkat ke Pangandaran, pantai yang tidak terlalu jauh dari Bandung. Mereka bermain air, membangun istana pasir, makan ikan bakar di pinggir pantai, dan menikmati matahari terbenam yang spektakuler.
“Pa, Bunda, lihat! Mataharinya mau tenggelam,” teriak Tegar sambil menunjuk ke arah barat.
“Indah, ya, Nak,” kata Agus.
“Kayak lukisan.”
“Iya. Lukisan Tuhan.”
Matahari terbenam di ufuk barat, meninggalkan sisa-sisa warna jingga kemerahan di langit. Ombak bergulung pelan, menyapu kaki mereka yang basah.
Titik menyandarkan kepalanya di bahu Agus. “Gus.”
“Ya.”
“Terima kasih.”
“Terima kasih untuk apa?”
“Untuk menjadi pelabuhan terakhir gue. Untuk tidak pernah pergi meskipun gue sudah membuat lo menunggu terlalu lama. Untuk menjadi suami yang sabar. Untuk menjadi ayah yang baik. Untuk menjadi... lo.”
Agus tersenyum. Ia mencium kening Titik. “Dan terima kasih, Titik. Karena akhirnya kamu pulang. Karena akhirnya kamu memilih pelabuhan ini. Karena kamu membuat hidup saya berarti.”
Mereka berdua diam, menatap laut, menikmati kebersamaan yang terasa begitu sempurna.
Tegar yang asyik bermain air, tiba-tiba berlari ke arah mereka. “Pa, Bunda, Tegar mau naik perahu!”
“Besok, Nak. Besok kita naik perahu. Sekarang kita nikmati sunset dulu.”
“Tapi Tegar tidak sabar.”
“Belajar sabar, Nak. Seperti Pa menunggu Bunda.”
“Lama, Pa?”
“Lima belas tahun, Nak.”
“Wah, Tegar tidak bisa.”
Mereka bertiga tertawa. Tawa yang menggema di pinggir pantai Pangandaran, tawa yang mengusir sisa-sisa lelah, tawa yang menjadi melodi penutup babak baru dalam kehidupan mereka.
Karena mereka tahu, perjalanan masih panjang. Masih banyak suka dan duka yang akan mereka hadapi. Masih banyak mimpi yang akan mereka kejar.
Tapi mereka juga tahu, selama mereka bersama, sebagai sahabat, sebagai suami istri, sebagai keluarga—tidak ada badai yang tidak bisa mereka lewati.
BAB XVIII
KETIKA CINTA YANG MENUNGGU BERTAHUN-TAHUN AKHIRNYA
Tahun 2025 membawa perubahan besar bagi keluarga kecil Agus dan Titik. Rumah kontrakan sederhana di Cimenyan yang telah menjadi saksi bisu perjuangan mereka selama bertahun-tahun, akhirnya harus mereka tinggalkan. Bukan karena diusir atau tidak mampu membayar sewa, tetapi karena mereka akhirnya memiliki rumah sendiri, sebuah rumah type 36 di perumahan sederhana di pinggiran Bandung, yang dibeli dengan uang tabungan hasil kerja keras mereka berdua selama bertahun-tahun.
Hari pertama pindah adalah hari yang paling melelahkan sekaligus paling membahagiakan. Agus dan Titik mengangkut kardus-kardus berisi pakaian, buku, peralatan dapur, dan mainan Tegar dari kontrakan lama ke rumah baru. Mereka tidak menyewa jasa pindahan karena ingin menghemat biaya. Hanya mengandalkan motor butut Agus dan jasa ojek online untuk barang-barang yang lebih besar.
“Gus, gue capek banget,” keluh Titik sambil duduk di lantai ruang tamu yang masih kosong. Debu-debu halus beterbangan di udara, terkena sinar matahari sore yang masuk melalui jendela.
“Sebentar lagi selesai, Titik. Tinggal dua kardus lagi.”
“Dua kardus itu berat-berat, Gus. Berisi buku-buku lo.”
“Buku-buku itu berharga, Titik. Bukan berat fisiknya, tapi berat ilmiahnya.”
“Alasan.”
Mereberdua tertawa. Tegar yang asyik berlarian di halaman belakang yang masih gersang, tiba-tiba masuk ke rumah dengan wajah penuh debu. “Pa, Bunda, Tegar nemu pohon!”
“Pohon apa, Nak?” tanya Agus.
“Pohon kecil. Mungkin bisa ditanam.”
Agus melihat ke arah yang ditunjuk Tegar. Di sudut halaman belakang, tumbuh sebuah pohon kecil, mungkin bibit mangga yang terbawa angin atau dibuang oleh burung. Tingginya baru sekitar setengah meter, daunnya hijau segar, batangnya mungil tetapi terlihat kokoh.
“Itu pohon mangga, Nak,” kata Agus sambil mendekat.
“Bisa berbuah, Pa?”
“Beberapa tahun lagi. Sabar.”
“Tegar tidak sabar.”
“Belajar sabar, Nak. Semua yang baik membutuhkan waktu.”
Titik yang mendengarkan percakapan itu tersenyum. Ia ingat betul pada pohon mangga besar di kampung yang menjadi saksi janji persahabatan mereka dulu. Pohon itu sudah ditebang, tetapi takdir menumbuhkan pohon mangga baru di halaman rumah mereka, seolah alam ikut merestui babak baru kehidupan mereka.
Malam pertama di rumah baru, mereka tidak memiliki banyak perabotan. Hanya kasur di lantai, kompor portabel di dapur, dan lemari plastik di kamar. Tegar tidur di antara Agus dan Titik, memeluk boneka beruang kesayangannya.
“Pa, Bunda,” bisik Tegar di tengah kegelapan.
“Ya, Nak,” jawab Titik.
“Tegar senang punya rumah baru.”
“Bunda juga senang, Nak.”
“Pa juga senang,” kata Agus.
“Tegar doa semoga kita bahagia di rumah ini.”
“Aamiin, Nak.”
Mereka bertiga tertidur dalam pelukan, di rumah baru yang masih beraroma cat dan semen, dengan suara jangkrik di luar yang menciptakan irama malam yang menenangkan.
Usia Tegar menginjak tujuh tahun di bulan Maret 2025. Ia sudah duduk di bangku kelas dua SD, dan prestasinya di sekolah terus meningkat. Ia bukan anak yang paling pintar di kelas, tetapi ia adalah anak yang paling disukai oleh guru dan teman-temannya karena sikapnya yang ramah dan suka menolong.
“Pa, hari ini Tegar diminta guru jadi ketua kelas,” cerita Tegar suatu sore sambil meletakkan tasnya di kursi.
“Wah, hebat, Nak. Tapi tanggung jawab jadi ketua kelas berat, lo.”
“Tegar siap, Pa. Tegar mau jadi pemimpin yang baik.”
“Seperti apa pemimpin yang baik?”
“Pemimpin yang mendengarkan. Yang tidak marah-marah. Yang membela teman yang benar. Kayak Pa.”
Agus terharu mendengar jawaban putranya. Ia memeluk Tegar erat-erat. “Pa bangga sama Tegar.”
“Pa, kenapa Pa nangis?”
“Pa tidak nangis. Pa cuma... alergi debu.”
“Tapi rumah sudah bersih, Pa.”
“Ya, masih ada debu. Debu halus yang tidak kelihatan.”
Titik yang sedang memasak di dapur, mendengar percakapan itu dan tersenyum. Dua laki-laki keras kepala dalam hidupku, pikirnya. Satu yang tidak mau mengakui bahwa dia menangis karena haru. Dan satu lagi yang terlalu polos untuk melihat kebohongan ayahnya.
Ia melanjutkan memasak. Malam itu, mereka makan malam bersama dengan menu sederhana: nasi, ayam goreng, tempe orek, dan sayur bening. Bukan hidangan mewah, tetapi disantap dengan penuh kebahagiaan.
Di bulan Agustus 2025, Titik mendapat kabar yang mengubah hidupnya: perusahaan penerbitan tempatnya bekerja akan membuka cabang di Bandung, dan ia diminta untuk menjadi kepala editor di cabang tersebut.
“Gus, gue dipromosikan!” teriak Titik ketika pulang kerja, masih di depan pintu.
“Serius? Jadi apa?”
“Kepala editor cabang Bandung. Gaji naik, tanggung jawab naik, tapi yang paling penting, gue tidak perlu ke Jakarta lagi. Gue bisa di sini. Setiap hari. Bersama lo dan Tegar.”
Agus berdiri, memeluk istrinya. “Titik, ini kabar terbaik tahun ini.”
“Gue juga nggak nyangka. Selama ini gue bolak-balik Bandung-Jakarta, capek. Sekarang, tetap di Bandung. Kita bisa punya waktu lebih banyak sebagai keluarga.”
Tegar yang berlari menghampiri, ikut memeluk orang tuanya. “Bunda, Tegar senang Bunda tidak usah pergi ke Jakarta lagi.”
“Bunda juga senang, Nak. Sekarang Bunda bisa antar jemput Tegar setiap hari.”
“Janji, Bunda?”
“Janji, Nak. Janji surat janji.”
Tegar tertawa. Ia sudah tahu bahwa surat janji orang tuanya tidak pernah dilanggar.
Promosi Titik membawa angin segar bagi keuangan keluarga. Mereka bisa mempercepat cicilan rumah, menabung lebih banyak untuk pendidikan Tegar, dan sesekali berlibur ke tempat yang lebih jauh.
Agus, di sisi lain, mulai dikenal sebagai peneliti senior yang kredibel di bidangnya. Ia sering diundang sebagai pembicara di seminar-seminar nasional, dan beberapa artikelnya dimuat di jurnal internasional.
Namun, kesibukan mereka berdua tidak membuat mereka lupa pada satu sama lain. Setiap malam, mereka masih menyempatkan diri untuk berbincang-bincang, bukan tentang pekerjaan, tetapi tentang hal-hal ringan. Tentang Tegar, tentang tetangga baru, tentang rencana liburan, tentang masa kecil, tentang masa depan.
“Gus,” kata Titik suatu malam sambil merebahkan diri di pangkuan Agus di sofa baru mereka.
“Ya.”
“Apa lo nggak nyesal menikah dengan gue?”
“Nyesal? Kenapa nyesal?”
“Dulu gue kan cewek yang susah. Sering ganti pacar. Sering bikin lo sakit hati. Gue bukan tipe cewek idaman.”
Agus menggeleng. “Titik, tidak ada yang namanya tipe idaman. Yang ada hanya orang yang tepat. Dan lo adalah orang yang tepat untuk gue. Mungkin lo butuh waktu lama untuk menyadari itu, tapi lo akhirnya sadar. Itu yang penting.”
“Tapi apa lo nggak capek nunggu?”
“Capek. Tapi lo sepadan.”
Titik menangis. Bukan sedih, tetapi haru. Ia menyesali masa lalunya yang penuh drama, tetapi ia juga bersyukur bahwa masa lalu itu membawanya ke Agus.
“Gus, gue janji akan jadi istri yang baik. Selamanya.”
“Lo sudah jadi istri yang baik, Titik. Sejak hari pertama kita menikah.”
Mereka berdua diam, menikmati keheningan malam. TV menyala tanpa suara, menayangkan acara yang tidak mereka perhatikan. Di kamar, Tegar tertidur dengan boneka beruang di pelukannya.
Di usia pernikahan yang memasuki tahun kesembilan, mereka merasa lebih dekat dari sebelumnya.
Desember 2025. Liburan akhir tahun. Agus, Titik, dan Tegar memutuskan untuk pulang ke kampung. Bukan hanya untuk berlibur, tetapi untuk merayakan tahun baru bersama keluarga besar.
Rumah orang tua Titik yang dulu terasa besar, kini terasa lebih sempit—bukan karena rumahnya mengecil, tetapi karena keluarga mereka bertambah. Cucu-cucu berlarian di halaman, para menantu sibuk membantu di dapur, dan orang tua Titik tersenyum bahagia melihat kehangatan keluarga yang mereka bangun.
“Tik, lo kurusan,” kata ibu Titik sambil memegang pipi putrinya.
“Iya, Ma. Banyak kerjaan.”
“Jangan lupa makan. Jangan seperti dulu, sering sakit-sakitan.”
“Iya, Ma. Sekarang ada Agus yang jagain.”
Ibu Titik menatap Agus dengan penuh kasih. “Agus, terima kasih ya sudah merawat anak saya.”
“Tugas saya, Bu. Merawat istri itu kewajiban.”
“Lo tahu, dulu saya sebenarnya ragu waktu Titik bilang mau nikah sama lo. Bukan karena lo tidak baik, tetapi karena lo masih muda dan belum mapan. Tapi lihat sekarang. Lo sudah punya rumah, punya pekerjaan tetap, punya anak yang cerdas. Saya bangga.”
Agus tersenyum. “Terima kasih, Bu. Doa Ibu yang membuat saya bisa sampai di sini.”
Malam tahun baru, mereka berkumpul di halaman rumah. Kembang api menyala di kejauhan, menciptakan warna-warni di langit malam yang gelap. Tegar berjingkrak-jingkrak kegirangan, bersorak setiap kali ada kembang api baru yang meledak.
“Selamat tahun baru, Gus,” bisik Titik di telinga Agus.
“Selamat tahun baru, Titik.”
“Apa resolusi lo?”
“Tidak ada. Resolusi hanya untuk orang yang tidak tahu apa yang mereka inginkan. Gue sudah tahu apa yang gue inginkan. Dan gue sudah memilikinya.”
Titik tersenyum. “Apa yang lo inginkan?”
“Kamu. Tegar. Keluarga kita. Itu saja.”
“Itu saja?”
“Itu lebih dari cukup.”
Mereka berdua berpelukan di bawah langit yang dipenuhi kembang api, sementara Tegar asyik bermain dengan sepupunya.
Tidak ada yang sempurna. Rumah mereka masih sederhana. Mobil mereka masih motor butut. Tabungan mereka tidak sebesar artis sinetron. Tapi mereka memiliki satu hal yang tidak dimiliki banyak orang: cinta yang telah teruji oleh waktu, jarak, dan takdir.
Tahun 2026 dimulai dengan baik.
Januari, Agus mendapat tawaran untuk menerbitkan buku. Bukan fiksi, tetapi buku non-fiksi tentang pendidikan di daerah tertinggal berdasarkan pengalamannya di NTT. Ia ragu-ragu karena tidak pernah menulis buku sepanjang itu, tetapi Titik mendorongnya.
“Gus, lo harus terbitin. Pengalaman lo berharga. Jangan simpan sendiri.”
“Tapi gue bukan penulis, Titik.”
“Lo peneliti. Peneliti menulis. Itu pekerjaan lo.”
“Laporan penelitian beda dengan buku.”
“Ya, beda. Buku lebih mudah dibaca. Itulah gunanya. Orang awam bisa mengerti.”
Akhirnya, dengan bantuan Titik yang berprofesi sebagai editor, Agus mulai menulis bukunya. Malam-malam, setelah Tegar tidur, mereka berdua duduk di ruang tamu. Agus mengetik di laptop, Titik membaca dan memberi koreksi. Mereka bekerja sama seperti tim yang solid, saling mengisi, saling melengkapi.
“Gus, paragraf ini terlalu panjang. Nanti pembaca bosan.”
“Tapi ini data penting.”
“Data penting bisa disajikan dalam bentuk tabel atau poin-poin. Tidak harus paragraf panjang.”
“Lo editor galak, Titik.”
“Kalau tidak galak, buku lo tidak akan laku.”
Mereka tertawa. Tegar yang terbangun karena haus di tengah malam, melihat orang tuanya masih bekerja. “Pa, Bunda, belum tidur?”
“Sebentar lagi, Nak. Tegar tidur lagi, ya.”
“Tegar tidak bisa tidur tanpa Bunda.”
“Ikut Bunda.” Titik memangku Tegar, sambil terus mengoreksi naskah Agus. Tegar tertidur dalam beberapa menit, kepalanya bersandar di dada Titik.
Agus menatap pemandangan itu, istrinya yang memangku anaknya sambil bekerja—dan hatinya terasa hangat.
“Titik, makasih ya.”
“Makasih untuk apa?”
“Untuk semuanya.”
“Kita berdua, Gus. Tidak perlu berterima kasih.”
BukuAgus selesai pada bulan Juni 2026. Proses penerbitan memakan waktu beberapa bulan, tetapi pada akhirnya, buku itu terbit di bulan November, tepat sebelum ulang tahun pernikahan mereka yang kesembilan.
Acara launching buku sangat sederhana, hanya di kantor LSM tempat Agus bekerja. Tidak banyak tamu, tetapi yang hadir adalah orang-orang yang benar-benar peduli: rekan-rekan kerja, beberapa mahasiswa, dan tentu saja, Titik dan Tegar.
“Terima kasih semuanya,” kata Agus di depan podium sederhana. “Buku ini tidak akan terwujud tanpa dukungan istri saya, Titik Mukti Aryanti Sabara, yang juga menjadi editor buku ini. Dan tanpa doa anak saya, Tegar Sabara, yang setiap malam berdoa agar papanya sukses.”
Tegar tersenyum lebar. Titik menangis.
“Buku ini tentang perjuangan anak-anak di daerah tertinggal untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Tentang guru-guru yang mengajar dengan fasilitas seadanya. Tentang semangat yang tidak pernah padam meskipun segalanya terbatas. Semoga buku ini bermanfaat.”
Acara selesai. Mereka pulang dengan senyum dan rasa bangga.
“Gus, lo hebat,” kata Titik di perjalanan pulang.
“Kita hebat, Titik. Tanpa lo, buku ini tidak akan sebaik ini.”
“Lo yang nulis.”
“Lo yang mengedit.”
“Ya sudah, kita hebat.”
Mereka tertawa. Tegar yang duduk di antara mereka, ikut tertawa meskipun tidak paham apa yang lucu.
Tahun berganti. Kenangan terus tercipta.
Di usia pernikahan yang mendekati satu dekade, Agus dan Titik merasa bahwa mereka baru saja memulai. Masih banyak mimpi-mimpi yang belum tercapai: ingin naik haji bersama, ingin melihat Tegar lulus SMA, ingin memiliki rumah yang lebih besar, ingin pensiun dengan tenang di kampung.
Tapi mereka tidak terburu-buru.
Karena mereka tahu, selama mereka bersama—sebagai sahabat, sebagai suami istri, sebagai ayah dan ibu, segala sesuatu akan indah pada waktunya.
BAB XIX
TEGAR: KETIKA ANAK KECIL ITU BERTANYA TENTANG CINTA
Tegar Sabara kini berusia delapan tahun. Ia bukan lagi balita yang lucu dengan pipi tembam dan tawa cengal-cengal. Ia adalah anak laki-laki yang mulai menunjukkan kecerdasan di atas rata-rata, rasa ingin tahu yang tak pernah puas, dan kepekaan emosional yang kadang membuat Agus dan Titik terperangah.
“Pa, Bunda, hari ini di sekolah ada pelajaran tentang cinta,” kata Tegar suatu sore sambil meletakkan tasnya di kursi ruang tamu. Matanya berbinar-binar, seperti baru saja menemukan rahasia alam semesta.
Agus yang sedang membaca Koran, kebiasaan barunya setelah pensiun dari kesibukan ekstra, menurunkan kacamatanya. “Cinta? Pelajaran tentang cinta di sekolah dasar?”
“Iya, Pa. Bu Guru bilang, cinta itu perasaan sayang yang kuat. Bisa ke orang tua, ke teman, ke adik, ke hewan peliharaan, bahkan ke Tuhan.”
“Bu Guru lo benar,” kata Titik sambil menyodorkan segelas susu hangat untuk Tegar.
“Tapi Bu Guru juga bilang, cinta beda dengan suka. Suka itu sementara, cinta itu selamanya.” Tegar meminum susunya seteguk, lalu melanjutkan, “Tegar bingung, Pa. Tegar suka sama banyak teman. Tapi Tegar tidak tahu apakah Tegar cinta sama mereka.”
Agus tersenyum. Ia menepuk sofa di sampingnya. “Duduk, Nak. Pa jelaskan.”
Tegar duduk di samping ayahnya, memeluk bantal sofa yang agak kempes karena terlalu sering dipakai. Titik ikut duduk di seberang, ingin mendengar bagaimana suaminya akan menjelaskan konsep cinta kepada anak delapan tahun.
“Nak,” kata Agus, “cinta itu seperti pohon mangga di belakang rumah kita.”
“Pohon mangga? Yang kecil itu?”
“Iya. Waktu pertama kali kita pindah ke sini, pohon itu baru setinggi lutut Pa. Daunnya sedikit, batangnya kurus. Tapi setiap hari Pa siram, setiap hari Pa kasih pupuk, setiap hari Pa lihat tumbuhnya. Pelan-pelan, pohon itu jadi besar. Sekarang, pohon itu sudah setinggi kepala Pa. Suatu hari, pohon itu akan berbuah.”
“Terus apa hubungannya dengan cinta?” tanya Tegar, masih bingung.
“Cinta itu seperti merawat pohon, Nak. Tidak cukup hanya suka. Suka cuma bilang, ‘Aku suka pohon ini, warnanya hijau, daunnya bagus.’ Tapi cinta adalah ketika kamu tetap merawatnya meskipun daunnya rontok, meskipun batangnya terkena hama, meskipun buahnya asam. Kamu tetap merawatnya. Kamu tidak pergi.”
Tegar terdiam. Matanya menerawang, seperti sedang mencoba memproses informasi baru.
“Jadi, Pa sayang Bunda karena Pa merawat Bunda?”
“Iya. Pa merawat Bunda bukan hanya ketika Bunda sehat dan cantik, tetapi juga ketika Bunda sakit, ketika Bunda sedih, ketika Bunda marah-marah tidak jelas.”
“Gue tidak marah-marah tidak jelas, Gus!” potong Titik setengah bercanda.
“Itu contoh, Titik.” Agus tersenyum. “Nak, yang Pa maksud adalah, cinta tidak selalu tentang perasaan yang enak. Kadang cinta itu melelahkan, kadang cinta itu menyakitkan. Tapi kamu tetap bertahan, karena kamu tahu bahwa di balik semua itu, ada kebahagiaan yang lebih besar.”
Tegar mengangguk, meskipun Agus tidak yakin anaknya benar-benar memahami.
“Pa, Bunda, Tegar cinta sama Pa dan Bunda,” kata Tegar tiba-tiba sambil memeluk orang tuanya.
Agus dan Titik saling pandang, lalu tersenyum. Mereka membalas pelukan Tegar—pelukan hangat yang mengingatkan bahwa meskipun dunia sering kejam, ada cinta yang tumbuh di rumah kecil mereka.
Minggu pagi, seperti biasa, adalah waktu keluarga. Agus, Titik, dan Tegar sarapan bersama di halaman belakang, di bawah pohon mangga yang kini sudah setinggi dua meter. Mereka tidak punya meja taman yang bagus—hanya tikar plastik yang dialas di tanah, dan piring-piring sederhana yang dijejerkan di atasnya.
“Pa, kapan pohon ini berbuah?” tanya Tegar sambil mengunyah roti bakar buatan Titik.
“Beberapa tahun lagi, Nak. Sabar.”
“Tegar tidak sabar. Tegar ingin makan mangga dari pohon sendiri.”
“Nanti, Nak. Semua yang baik membutuhkan waktu.”
“Kayak Papa nunggu Bunda, ya?”
Agus dan Titik terkejut. “Kamu tahu tentang itu?” tanya Titik.
“Tahu. Tegar kan tidak buta. Tegar lihat foto-foto lama Bunda. Bunda dulu cantik. Pacar Bunda banyak. Tapi Bunda akhirnya milih Pa.” Tegar berkata dengan nada polos yang membuat orang tuanya tersipu malu.
“Tegar, dari mana kamu tahu soal pacar Bunda?” tanya Agus.
“Tante Mia cerita. Waktu kita ke Jakarta tahun lalu.”
“Tante Mia mulut emang kompor,” gerutu Titik setengah kesal.
“Tapi Tegar senang Bunda milih Pa. Karena Pa baik. Pa tidak pernah marah. Pa sabar. Pa sayang Bunda.”
Agus tersenyum. “Pa sayang Bunda, iya. Tapi Pa juga sayang Tegar. Sama-sama sayang.”
“Pa sayang Bunda lebih dulu, kan? Karena Tegar lahir belakangan.”
“Iya. Pa sayang Bunda sejak Pa masih kecil. Sejak umur delapan tahun.”
“Wah, lama banget! Berapa tahun itu, Pa?”
“Dua puluh delapan tahun, Nak.”
“Tegar baru delapan tahun. Berarti Pa sayang Bunda selama tiga setengah kali umur Tegar?”
Agus tertawa. “Perhitunganmu tepat, Nak. Kamu pintar matematika.”
“Tegar mau pintar kayak Pa. Nanti Tegar jadi peneliti. Meneliti tentang cinta.”
“Cinta tidak perlu diteliti, Nak. Cinta cukup dirasakan.”
Tegar mengangguk. Ia menyandarkan kepalanya di pangkuan Agus, menikmati hangatnya sinar matahari pagi.
Titik yang melihat adegan itu, tiba-tiba merasa dadanya sesak, bukan sakit, tetapi penuh. Penuh dengan rasa syukur yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Dua puluh delapan tahun menunggu, pikirnya. Dan hasilnya adalah ini: seorang suami yang setia, seorang anak yang cerdas dan penuh kasih, dan sebuah keluarga yang sederhana tetapi bahagia.
Ia tidak menyesal. Tidak sedikit pun.
Di usia sembilan tahun, Tegar mulai menunjukkan minat yang besar pada sains dan alam. Ia suka mengamati serangga di halaman belakang, mengoleksi batu-batu aneh yang ia temukan di pinggir jalan, dan membaca buku ensiklopedia bergambar yang dibelikan Agus dari toko buku bekas.
“Pa, lihat! Tegar nemu ulat bulu,” teriak Tegar suatu sore sambil berlari ke dalam rumah dengan kedua tangan memegang daun yang di atasnya terdapat seekor ulat bulu hijau.
“Awas kena bulunya, Nak! Nanti gatal,” kata Titik panik.
“Tegar hati-hati, Bunda. Tegar pakai daun, tidak pegang langsung.”
Agus mendekat, mengamati ulat itu dengan saksama. “Itu ulat kupu-kupu, Nak. Nanti kalau sudah besar, dia akan berubah jadi kepompong, lalu jadi kupu-kupu.”
“Benarkah, Pa?”
“Benar. Itu namanya metamorfosis. Perubahan bentuk dari ulat jadi kupu-kupu.”
“Kok bisa berubah, Pa?”
“Itu keajaiban alam, Nak. Allah yang menciptakan.”
Tegar mengamati ulat itu dengan mata berbinar. “Tegar mau lihat dia jadi kupu-kupu.”
“Kamu harus sabar, Nak. Prosesnya lama.”
“Tegar akan sabar. Tegar akan rawat dia.”
Agus membantu Tegar membuat rumah sederhana untuk ulat itu, sebuah toples plastik bekas yang dilubangi tutupnya untuk udara, dialasi daun-daun segar. Setiap hari, Tegar memberi makan ulat itu dengan daun-daun baru, membersihkan kotorannya, dan mengamati perubahannya.
“Mirip kayak Pa dulu,” kata Titik suatu malam, setelah Tegar tidur.
“Mirip apa?” tanya Agus.
“Mirip lo yang sabar merawat gue. Lo merawat gue puluhan tahun, meskipun gue tidak kunjung berubah. Dan akhirnya, gue berubah. Kayak ulat jadi kupu-kupu.”
Agus tersenyum. “Lo sekarang kupu-kupu, Titik?”
“Gue sekarang istri lo. Lebih indah dari kupu-kupu.”
“Sombong.”
“Realistis.”
Mereka tertawa pelan, takut membangunkan Tegar.
Setelah beberapa minggu, ulat itu berubah menjadi kepompong. Tegar hampir setiap hari mengecek kepompong itu, berharap melihat perubahan. Agus harus terus mengingatkannya untuk sabar.
“Pa, kok belum jadi kupu-kupu?” tanya Tegar suatu hari dengan nada frustrasi.
“Prosesnya lama, Nak. Bisa berminggu-minggu. Ulat harus berjuang di dalam kepompong. Dia harus mengubah seluruh tubuhnya. Itu tidak mudah.”
“Tegar tidak sabar.”
“Belajar sabar, Nak. Seperti Pa dulu menunggu Bunda.”
“Lima belas tahun, Pa?”
“Iya, Nak. Lima belas tahun.”
“Wah, Tegar tidak sanggup.”
“Kamu tidak perlu menunggu selama itu, Nak. Kamu hanya perlu menunggu beberapa minggu. Itu sudah hebat.”
Akhirnya, setelah tiga minggu, kupu-kupu itu keluar dari kepompong. Sayapnya masih basah, mengkilap, berwarna oranye dengan bintik-bintik hitam di tepinya.
“Pa, Bunda, lihat! Kupu-kupu! Cantik!” teriak Tegar histeris.
Agus dan Titik berlari ke halaman belakang. Di dalam toples plastik itu, seekor kupu-kupu sedang merentangkan sayapnya, mencoba terbang meskipun ruangnya terbatas.
“Kita lepaskan, Nak,” kata Agus.
“Tapi Tegar sayang sama dia.”
“Kalau kamu sayang, kamu harus melepaskannya. Biar dia bebas. Biar dia terbang. Seperti Pa dulu melepaskan Bunda untuk mencari cintanya sendiri. Dan akhirnya Bunda kembali.”
Tegar menatap ayahnya, lalu menatap kupu-kupu itu. Ia membuka tutup toples, dan kupu-kupu itu terbang keluar—perlahan, sedikit sempoyongan, lalu semakin tinggi, semakin jauh, hingga akhirnya lenyap di antara dedaunan pohon mangga.
“Selamat jalan, kupu-kupu,” bisik Tegar. “Terima kasih sudah mengajari Tegar tentang kesabaran.”
Agus memeluk putranya. “Kamu hebat, Nak. Pa bangga.”
“Pa, Tegar sayang Pa.”
“Pa juga sayang Tegar. Lebih dari apa pun.”
Pelajaran tentang cinta dari Bu Guru, penjelasan Agus tentang pohon mangga dan metamorfosis, serta kisah perjuangan orang tuanya, semua itu membentuk cara pandang Tegar tentang cinta. Ia menjadi anak yang lebih bijak dari usianya.
Suatu hari, seorang teman sekelasnya, seorang gadis bernama Laras, jatuh sakit dan tidak masuk sekolah selama seminggu. Tegar meminta izin kepada Titik untuk menjenguknya.
“Bunda, Tegar mau jenguk Laras.”
“Laras teman sekelas kamu?”
“Iya, Bunda. Dia sakit. Tegar khawatir.”
Titik tersenyum. “Kamu sayang sama Laras?”
“Iya, Bunda. Tapi Tegar tidak tahu itu suka atau cinta.”
“Apa bedanya?”
“Suka itu sementara. Cinta itu selamanya. Tegar belum tahu apakah Tegar akan sayang Laras selamanya.”
Titik terkaget-kaget mendengar analisis putranya. Anak ini, pikirnya, terlalu cerdas untuk usianya.
“Bunda izinkan kamu jenguk Laras, asalkan kamu jaga kesehatan. Pakai masker, cuci tangan, jangan terlalu dekat-dekat.”
“Iya, Bunda. Terima kasih.”
Tegar pergi menjenguk Laras dengan diantar oleh Agus. Mereka membawa buah-buahan dan sedikit mainan untuk menghibur Laras yang sedang terbaring lemah di rumahnya.
“Tegar, kamu baik sekali,” kata Laras dengan suara lemah.
“Tidak apa-apa. Kamu teman Tegar. Tegar harus jenguk.”
Laras tersenyum. Meskipun pipinya pucat dan matanya sayu, senyum itu terasa hangat.
Sepulang dari rumah Laras, Tegar bertanya pada Agus di dalam mobil. “Pa, apakah Tegar boleh mencintai seseorang?”
“Tentu, Nak. Tapi di usia kamu, cinta yang paling utama adalah cinta kepada orang tua, kepada keluarga, kepada Tuhan, kepada teman-teman, kepada alam. Cinta kepada lawan jenis nanti, ketika kamu sudah dewasa. Ketika kamu sudah siap secara mental dan emosional.”
“Kapan Tegar dewasa, Pa?”
“Prosesnya lama, Nak. Perlu waktu.”
“Kayak ulat jadi kupu-kupu?”
“Iya, Nak. Kayak ulat jadi kupu-kupu. Kamu harus melewati masa kepompong dulu. Masa di mana kamu belajar, bermain, tumbuh, dan menjadi pribadi yang lebih baik.”
Tegar mengangguk. Ia tidak benar-benar mengerti, tetapi ia percaya pada ayahnya.
Malam itu, dalam doanya sebelum tidur, Tegar berbisik, “Ya Allah, terima kasih untuk Pa dan Bunda. Terima kasih untuk Laras. Terima kasih untuk kupu-kupu. Tolong jadikan Tegar pribadi yang sabar, seperti Pa. Aamiin.”
Titik yang mendengar doa itu, menangis haru. Ia memeluk Tegar erat-erat. “Aamiin, Nak. Bunda sayang kamu.”
“Bunda, Tegar sayang Bunda.”
“Sampai kapan?”
“Selamanya, Bunda. Janji.”
Tegar mengulurkan jari kelingkingnya. Titik mengaitkan jarinya dengan jari kelingking Tegar—seperti yang dulu ia lakukan dengan Agus di bawah pohon mangga, dengan sidik jari arang lidi.
Maka, janji itu pun diwariskan ke generasi berikutnya.
BAB XX
PELABUHAN TERAKHIR: SAHABAT SEJATI TAK PERNAH PERGI
Tahun 2027 tidak membawa kejutan besar bagi keluarga kecil Agus dan Titik. Tidak ada promosi besar, tidak ada pindahan ke rumah mewah, tidak ada kenaikan pangkat yang spektakuler. Tahun itu berjalan seperti tahun-tahun sebelumnya: tenang, sederhana, tetapi dipenuhi dengan kebahagiaan-kebahagiaan kecil yang sering luput dari perhatian mereka di masa lalu ketika masih sibuk mengejar gemerlap.
Tapi bagi Agus, tahun itu terasa istimewa. Bukan karena apa yang terjadi, tetapi karena apa yang tidak terjadi: tidak ada air mata Titik karena laki-laki lain, tidak ada drama percintaan yang memusingkan, tidak ada patah hati yang perlu ia obati. Yang ada hanya rutinitas yang terasa seperti pelukan panjang—hangat, aman, dan membuatnya merasa bahwa semua perjuangan selama dua puluh delapan tahun itu sangat sepadan.
Pagi itu, seperti biasa, Agus bangun lebih dulu. Ia membuka jendela kamar, membiarkan sinar matahari masuk dan menyapa wajah Titik yang masih terlelap. Wajah itu, wajah yang sama yang ia lihat sejak kecil, kini telah berubah. Ada kerutan halus di sudut mata Titik, tanda bahwa ia sering tersenyum dan sering menangis. Ada uban di pelipisnya, meskipun ia selalu berusaha menutupinya dengan pewarna rambut. Kulitnya tidak sekencang dulu, tubuhnya tidak seringan ketika masih remaja.
Tapi bagi Agus, Titik tetap cantik. Bahkan mungkin lebih cantik dari sebelumnya. Karena kecantikan yang sekarang bukan lagi kecantikan fisik yang fana, tetapi kecantikan jiwa yang terpancar dari matanya yang teduh, dari senyumnya yang ikhlas, dari pelukannya yang hangat.
“Titik,” bisik Agus sambil mengelus rambut istrinya.
“Hm... lima menit lagi,” gumam Titik, masih setengah tidur.
“Bangun, sayang. Gue buatin sarapan.”
“Gue nggak laper.”
“Lo selalu bilang nggak laper, tapi setelah gue buatin, lo habisin.”
Titik membuka satu mata, lalu menutupnya lagi. “Gue mau telur dadar.”
“Telur dadar, roti panggang, susu hangat. Pesanan siap dalam lima belas menit.”
“Lo jadi suami baik, Gus.”
“Lo jadi istri manja, Titik.”
Titik tertawa kecil, lalu berguling dan tidur lagi.
Agus tersenyum. Ia berjalan ke dapur, mulai memecahkan telur ke dalam mangkuk, menambahkan sedikit garam dan merica, lalu mengocoknya dengan garpu. Bunyi klik-klik-klik dari garpu yang memukul mangkuk menciptakan irama pagi yang sudah sangat ia kenali. Ini adalah ritual yang tidak pernah membosankan—memasak untuk istri dan anaknya.
Tegar muncul dari kamarnya dengan mata masih sayu, rambut ikalnya berantakan seperti tidak pernah disisir seumur hidup.
“Pa, masak apa?” tanyanya sambil mengucek mata.
“Telur dadar, Nak. Kamu mau?”
“Mau. Tapi minta tambah sosis.”
“Sosis habis. Nanti Pa beli.”
“Ya sudah, telur dadar saja.”
Tegar duduk di kursi dapur, memperhatikan ayahnya memasak dengan saksama. Anak itu suka mengamati, mungkin karena ia mewarisi sifat Agus yang teliti, atau mungkin karena ia sedang belajar menjadi laki-laki yang kelak akan memasak untuk keluarganya sendiri.
“Pa,” kata Tegar.
“Ya, Nak.”
“Tegar mau tanya.”
“Tanya apa?”
“Kapan Pa tahu bahwa Pa cinta sama Bunda?”
Agus berhenti mengaduk telur. Ia menoleh ke arah putranya. Wajah Tegar serius—bukan wajah anak kecil yang sedang iseng bertanya, tetapi wajah seseorang yang benar-benar ingin tahu.
“Pa tahu sejak Pa masih kecil, Nak. Sejak umur Tegar sekarang.”
“Delapan tahun?”
“Iya, delapan tahun. Mungkin lebih muda dari itu.”
“Tapi kenapa Pa baru nikah sama Bunda pas Pa sudah dewasa?”
“Karena cinta tidak selalu harus memiliki, Nak. Kadang, cinta berarti membiarkan orang yang kita cintai mencari kebahagiaannya sendiri, meskipun itu tidak melibatkan kita.”
“Tapi Bunda akhirnya balik ke Pa.”
“Iya, karena Bunda sadar bahwa yang selama ini ia cari sebenarnya sudah ada di depan matanya. Butuh waktu lama bagi Bunda untuk menyadari itu. Tapi Pa tidak menyesal menunggu.”
Tegar mengangguk, meskipun Agus tidak yakin anaknya sepenuhnya memahami.
“Tegar akan seperti Pa,” kata Tegar tiba-tiba. “Tegar akan sabar. Tegar akan menunggu. Tegar tidak akan terburu-buru.”
“Kamu masih kecil, Nak. Jangan pikirkan itu sekarang. Fokus belajar, bermain, tumbuh menjadi pribadi yang baik.”
“Iya, Pa. Tapi Tegar hanya ingin Pa tahu, Tegar bangga punya ayah seperti Pa.”
Agus terharu. Ia memeluk Tegar erat-erat, hampir melupakan telur dadar yang mulai matang di wajan. “Pa juga bangga punya anak seperti Tegar.”
Titik yang sudah bangun dan berdiri di ambang pintu dapur, mendengar percakapan itu. Matanya berkaca-kaca. Dua laki-laki dalam hidupku, pikirnya. Satu telah menungguku selama dua puluh delapan tahun. Satu lagi baru berusia sembilan tahun, tetapi sudah memiliki kebijaksanaan melebihi usianya. Aku perempuan paling beruntung di dunia.pagi
Setelah sarapan, mereka bertiga duduk di ruang tamu sambil menonton televisi. Sebuah sinetron romantis sedang ditayangkan, adegan di mana seorang pria berlutut di depan perempuan yang dicintainya, menyatakan cinta dengan latar belakang matahari terbenam di pantai.
“Ck, lebay,” komentar Agus.
“Romantis, tahu,” bantah Titik.
“Kalau gue berlutut di depan lo di pantai, lo malah ngomong, ‘Gus, bangun, nanti celana lo basah kena air laut.’”
Titik tertawa. “Ya iya lah. Pantai kan basah. Nggak logis kalau berlutut di pantai.”
“Nah, itu. Lo terlalu logis.”
“Gue realistis.”
“Realistis atau tidak romantis?”
“Gue romantis, tapi dengan cara gue sendiri.”
“Cara lo gimana?”
“Gue memilih lo sebagai suami, setelah sekian banyak cowok yang gue temui. Itu romantis, kan?”
Agus tersenyum. “Romantis versi lo memang aneh, Titik.”
“Yang penting lo terima.”
“Ya, gue terima. Karena gue juga aneh.”
Tegar yang mendengar percakapan itu, ikut tertawa, meskipun lagi-lagi tidak paham apa yang lucu.
Minggu itu, mereka memutuskan untuk berlibur ke kampung. Sudah hampir setahun mereka tidak pulang, karena kesibukan masing-masing. Orang tua Titik sudah mulai tua, ayahnya sering lupa, ibunya mulai sulit berjalan karena rematik. Agus ingin memanfaatkan waktu yang tersisa sebelum semuanya terlambat.
Perjalanan dari Bandung ke kampung memakan waktu sekitar empat jam dengan mobil sewaan. Tegar asyik melihat pemandangan di luar jendela, sawah hijau, bukit-bukit kecil, sungai yang berkelok-kelok. Sesekali ia bertanya tentang nama-nama desa yang mereka lewati, dan Agus dengan sabar menjawab satu per satu.
“Pa, kampung Pa dan Bunda indah.”
“Iya, Nak. Udara sejuk, pemandangan asri, orang-orang ramah.”
“Tegar ingin punya kampung.”
“Kampung lo di sini, Nak. Kampung lo adalah tempat Pa dan Bunda dilahirkan. Suatu hari, ketika lo sudah besar, lo akan merindukan tempat ini.”
“Kayak Pa dulu?”
“Iya, kayak Pa dulu.”
Mereka tiba di kampung saat matahari mulai condong ke barat. Rumah orang tua Titik masih sama seperti dulu, dinding kayu yang dicat hijau pudar, halaman yang ditanami bunga sepatu, dan bekas pohon mangga yang kini hanya tinggal tunggul.
“Rumah Nenek,” bisik Tegar sambil turun dari mobil.
Ibu Titik sudah menunggu di teras, meskipun ia kesulitan berdiri terlalu lama. “Tik, Le, Tegar, kalian datang!” serunya dengan suara parau karena usia.
“Ma, sehat?” tanya Titik sambil memeluk ibunya.
“Sehat. Alhamdulillah. Kamu? Kurusan.”
“Banyak kerjaan, Ma.”
“Kerjaan jangan lupa makan. Jangan seperti dulu.”
“Iya, Ma. Sekarang ada Agus yang jagain.”
Ibu Titik menatap Agus dengan penuh kasih. Agus hanya tersenyum, lalu membantu membawakan barang-barang dari mobil.
Di dalam rumah, ayah Titik sedang duduk di kursi goyang, membaca koran dengan kaca mata tebal. Melihat mereka datang, ia tersenyum, senyum yang jarang ia tunjukkan ketika Titik masih kecil.
“Agus,” sapanya.
“Pak, sehat?”
“Sehat. Alhamdulillah. Kamu? kerjaan lancar?”
“Lancar, Pak. Doa Bapak dan Ibu.”
Malam itu, mereka makan malam bersama. Menu sederhana: sayur asem, ikan asin, sambal terasi, dan lalapan mentah. Tegar yang tidak terbiasa dengan sambal terasi, kepedasan, minum air putih seteguk demi seteguk sambil terus makan, tidak mau kalah dengan sepupu-sepupunya yang sudah terbiasa.
“Tegar, jangan kebanyakan sambal,” kata Titik khawatir.
“Tegar kuat, Bunda. Tegar anak laki-laki.”
“Anak laki-laki boleh, asal nggak sakit perut.”
“Tegar tidak sakit perut.”
Dua jam kemudian, Tegar mengeluh perutnya sakit. Titik menghela napas. “Makanya, gue bilang.”
Tegar hanya tersenyum malu.
Malam itu, ketika semua sudah tidur, Agus dan Titik duduk di teras. Di tempat yang sama, dua puluh sembilan tahun lalu, mereka berdua membuat surat janji persahabatan dengan sidik jari arang lidi. Langit malam di kampung masih sama, bertabur bintang, tanpa polusi cahaya.
“Gus,” kata Titik.
“Ya.”
“Apa yang paling lo ingat dari malam pembuatan surat janji dulu?”
“Waktu itu lo bilang, ‘Kalau ada yang sakit, yang satunya wajib menjenguk.’ Dan kita sudah buktikan itu, Titik. Lo jenguk gue waktu gue sakit maag. Gue jenguk lo berkali-kali.”
“Lo yang paling sering jenguk gue, Gus. Gue yang jatuh sakit hati.”
“Sakit hati juga sakit, Titik.”
“Tapi lo tidak pernah menjenguk sakit hati gue dengan wajah cemberut. Lo selalu datang dengan senyum.”
“Karena gue tahu, lo butuh senyum, bukan wajah masam.”
Titik menyandarkan kepalanya di bahu Agus. “Gus, gue bersyukur.”
“Bersyukur untuk apa?”
“Untuk semuanya. Untuk perjalanan panjang ini. Untuk sakit yang kita lewati bersama. Untuk air mata yang kita hapus bersama. Untuk tawa yang kita bagi bersama. Untuk lo. Untuk Tegar. Untuk keluarga ini.”
Agus mencium kening Titik. “Gue juga bersyukur, Titik. Dulu, ketika gue masih kecil, gue tidak pernah membayangkan bahwa hidup gue akan seindah ini. Gue pikir, gue hanya akan menjadi orang biasa, hidup biasa, mati biasa. Tapi lo membuat semuanya luar biasa.”
“Gue hanya jadi diri gue sendiri, Gus.”
“Dan diri lo itu luar biasa, Titik. Mungkin lo tidak pernah menyadarinya. Mungkin lo terlalu sibuk mengejar cinta-cinta palsu sehingga lupa melihat ke dalam diri lo sendiri.”
“Tapi lo melihatnya.”
“Gue melihatnya sejak pertama kali gue bertemu lo. Sejak lo menuntun gue pulang ketika gue tersesat. Sejak lo berkata, ‘Nama aku Titik. Titik itu titik, bukan koma.’”
Titik tertawa. “Lo masih ingat itu?”
“Setiap kata. Setiap intonasi. Setiap ekspresi wajah lo.”dalam
Mereka berdua diam. Angin kampung berhembus pelan, membawa aroma tanah basah dan bunga sepatu. Sesekali terdengar suara anjing menggonggong di kejauhan, atau suara daun-daun yang bergesekan karena angin.
“Gus,” kata Titik lagi.
“Ya.”
“Gue sayang lo. Bukan sebagai sahabat. Tapi sebagai suami. Sebagai pendamping hidup. Sebagai segalanya.”
“Gue juga sayang lo, Titik. Sebagai sahabat, sebagai istri, sebagai segalanya.”
Mereka berdua tersenyum. Di bawah langit yang bertabur bintang, di kampung yang menjadi saksi bisu awal persahabatan mereka, dua manusia yang telah melalui perjalanan panjang akhirnya menemukan apa yang selama ini mereka cari, bukan cinta yang sempurna, tetapi cinta yang tulus. Bukan kebahagiaan yang tanpa masalah, tetapi kebahagiaan yang bertahan di tengah masalah.
Keesokan paginya, sebelum kembali ke Bandung, Agus, Titik, dan Tegar berjalan ke bekas lokasi pohon mangga. Yang tersisa hanya tunggul, tetapi akar-akarnya masih membekas di tanah.
“Di sini, Pa dan Bunda dulu membuat janji,” kata Agus.
“Janji apa, Pa?” tanya Tegar.
“Janji untuk menjadi sahabat selamanya. Tidak peduli jarak dan waktu. Tidak peduli suka maupun duka.”
“Dan Pa serta Bunda tidak melanggar janji itu?”
“Tidak pernah, Nak. Tidak akan pernah.”
Tegar mengangguk. Ia berlutut di samping tunggul pohon itu, memegang tanahnya dengan tangan mungilnya. “Tegar juga berjanji.”
“Janji apa, Nak?” tanya Titik.
“Tegar akan menjadi anak yang baik. Tegar akan membahagiakan Pa dan Bunda. Tegar akan meneruskan janji ini kepada anak cucu Tegar nanti. Bahwa sahabat sejati tak pernah pergi.”
Agus dan Titik saling pandang. Mata mereka basah. Mereka memeluk Tegar di bawah sinar matahari pagi yang hangat.
“Aamiin, Nak,” bisik mereka bersamaan.
Perjalanan pulang ke Bandung terasa lebih ringan. Tegar tertidur di jok belakang dengan boneka beruang di pelukannya. Agus menyetir dengan tenang, sesekali menoleh ke kanan untuk melihat Titik yang juga setengah tertidur.
Inilah yang namanya kebahagiaan, pikir Agus. Bukan tentang harta, bukan tentang popularitas, bukan tentang pencapaian yang megah. Tapi tentang momen-momen kecil seperti ini, bersama keluarga, dalam perjalanan pulang, dengan orang yang kita cintai.
Ia teringat pada nasihat neneknya, puluhan tahun lalu: “Nak, jaga orang yang kamu sayang. Jangan sampai dia pergi tanpa kamu sempat bilang apa yang sebenarnya kamu rasa.”
Dan Agus pun akhirnya mengatakannya. Mungkin tidak dengan kata-kata yang puitis. Mungkin tidak dengan puisi di buku catatan, atau dengan surat cinta berbalut amplop bermotif. Tapi dengan tindakan, dengan kesetiaan yang tidak pernah goyah, dengan kehadiran yang tidak pernah pudar, dengan cinta yang tidak pernah meminta imbalan.
Karena cinta sejati, seperti yang ia pelajari selama dua puluh sembilan tahun, bukanlah tentang memiliki. Cinta sejati adalah tentang menjadi pelabuhan terakhir, tempat orang yang kita cintai bisa berlabuh setelah lelah berlayar. Cinta sejati adalah tentang tetap berada di sana, meskipun tidak pernah dipilih. Cinta sejati adalah tentang memaafkan, tentang menunggu, tentang sabar, dan tentang ikhlas.
Dan itulah yang Agus lakukan.
Sore hari, mereka tiba di rumah. Tegar masih tertidur lelap, sehingga Agus menggendongnya dari mobil ke kamar. Titik membereskan barang-barang bawaan, lalu membuat teh jahe panas, minuman yang selalu menemani mereka sejak dulu.
“Gus,” panggil Titik dari dapur.
Agus menghampiri. “Ada apa, Titik?”
“Gue mau kasih lo sesuatu.”
“Apa?”
Titik mengeluarkan sebuah stoples biskuit Khong Guan dari lemari dapur, stoples yang sama yang ia simpan sejak kecil. Ia membuka tutupnya, mengeluarkan isinya: surat-surat lama, foto-foto usang, dan selembar kertas menguning dengan sidik jari arang lidi di sudut kanan bawah.
Itu surat janji persahabatan mereka.
“Lo masih simpan?” tanya Agus, matanya berkaca-kaca.
“Selamanya, Gus. Dan gue ingin memberikan ini kepada lo. Jaga surat ini. Simpan baik-baik. Karena ini adalah bukti bahwa kita telah berjanji, sebagai sahabat sejati.”
Agus menerima surat itu dengan tangan gemetar. Ia membaca setiap kata, setiap kalimat, setiap sidik jari yang sudah lusuh.
“Kami yang bertanda tangan di bawah ini, Titik Mukti Aryanti dan Agus Sabara, dengan ini bersumpah akan menjadi sahabat selamanya. Tidak akan saling meninggalkan. Tidak akan saling mengkhianati. Jika ada yang sakit, yang satunya wajib menjenguk. Jika ada yang sedih, yang satunya wajib menghibur. Janji ini berlaku selamanya, tidak peduli jarak dan waktu.”
Agus meneteskan air mata. Titik juga. Mereka berpelukan di dapur, di rumah sederhana yang telah mereka bangun dari nol, dengan perjuangan dan pengorbanan yang tidak pernah mereka hitung.
“Titik,” bisik Agus.
“Ya, Gus.”
“Gue tidak akan pernah pergi. Sampai kapan pun.”
“Gue juga, Gus. Terima kasih sudah menjadi sahabat sejati yang tidak pernah pergi. Bahkan ketika gue buta, bahkan ketika gue melukai lo berkali-kali, bahkan ketika gue hampir memilih yang lain.”
“Itu masa lalu, Titik. Sekarang kita di sini. Bersama. Selamanya.”
Mereka berdua diam, menikmati pelukan yang terasa seperti rumah.
Di ruang tengah, tegarbangun dari tidurnya. Ia berjalan ke dapur, mengucek mata, dan melihat orang tuanya berpelukan. Tanpa banyak bicara, ia ikut memeluk mereka dari samping.
“Pa, Bunda, Tegar juga mau,” katanya polos.
Agus dan Titik tertawa. Mereka memeluk Tegar erat-erat, sebuah pelukan yang mengikat tiga generasi, yang menyatukan masa lalu, masa kini, dan masa depan.
“Tegar,” kata Agus.
“Ya, Pa.”
“Ingat selalu, Nak. Sahabat sejati tak pernah pergi. Itu adalah janji Pa dan Bunda. Dan itu adalah janji yang harus kamu pegang teguh seumur hidupmu.”
“Iya, Pa. Tegar ingat. Tegar janji.”
Matahari bersinar di luar jendela. Burung-burung berkicau di pohon mangga yang mulai tumbuh tinggi. Angin berhembus sejuk, membawa aroma bunga sepatu dari pot di halaman depan.
Tidak ada yang sempurna. Rumah mereka masih sederhana. Hidup mereka masih biasa. Tapi mereka memiliki satu hal yang tidak dimiliki banyak orang: cinta yang telah teruji oleh waktu, jarak, takdir, sakit, air mata, dan jutaan kenangan.
Dan itulah yang akan mereka wariskan kepada Tegar, dan kepada anak cucu mereka kelak.
Bahwa cinta sejati tidak selalu datang dengan gemerlap.
Kadang, ia datang dengan langkah pelan.
Setia.
Tidak pernah pergi.
EPILOG
SEPOTONG KERTAS KUNING, SEPOHON MANGGA, DAN SEBUAH JANJI YANG TAK PERNAH PUDAR
Tegar Sabara sekarang telah berusia empat puluh tahun. Rambutnya yang ikal, warisan dari ayahnya, mulai beruban di pelipis. Keningnya, mirip dengan ibunya, mulai berkerut karena terlalu banyak berpikir dan terlalu sering tersenyum. Ia adalah seorang dosen di universitas negeri di Bandung, mengajar tentang kebijakan pendidikan, persis seperti yang dulu dilakukan ayahnya. Ia menikah dengan seorang perempuan baik-baik bernama Laras, gadis kecil yang dulu ia jenguk ketika sakit, yang kini telah menjadi ibu dari dua orang anak mereka: laki-laki bernama Bima (12 tahun) dan perempuan bernama Sari (9 tahun).
Di teras rumahnya yang sederhana di pinggiran Bandung, Tegar duduk bersama kedua anaknya. Di pangkuannya, sebuah stoples biskuit Khong Guan, stoples yang sama yang dulu disimpan oleh Titik, yang kemudian diberikan kepada Agus, dan sebelum Agus meninggal sepuluh tahun lalu, ia berpesan: “Nak, simpan ini. Suatu hari, ketika anak-anakmu sudah cukup besar, ceritakan kepada mereka.”
Tegar membuka tutup stoples itu. Wajahnya diterangi oleh sinar matahari sore yang jingga. Bima dan Sari mendekat, penasaran.
“Pa, apa itu?” tanya Sari.
“Ini, Nak, adalah harta karun keluarga kita.”
“Harta karun? Emas? Berlian?” tanya Bima dengan mata berbinar.
Tegar tertawa. “Bukan. Ini lebih berharga dari emas dan berlian.”
Ia mengeluarkan selembar kertas kuning dari stoples itu. Kertasnya sudah rapuh, pinggirannya robek di beberapa tempat, dan tintanya sudah pudar. Tapi sidik jari arang lidi di sudut kanan bawah masih terlihat jelas.
“Apa itu, Pa?” tanya Sari lagi.
“Ini surat janji. Janji antara Kakek Agus dan Nenek Titik. Mereka membuatnya ketika masih kecil, Kakek berusia delapan tahun, Nenek sepuluh tahun. Mereka duduk di bawah pohon mangga di kampung, dan dengan ujung lidi yang dibakar, mereka membubuhkan sidik jari di kertas ini.”
Tegar membaca surat itu dengan suara bergetar, meskipun ia sudah hafal isinya di luar kepala:
“Kami yang bertanda tangan di bawah ini, Titik Mukti Aryanti dan Agus Sabara, dengan ini bersumpah akan menjadi sahabat selamanya. Tidak akan saling meninggalkan. Tidak akan saling mengkhianati. Jika ada yang sakit, yang satunya wajib menjenguk. Jika ada yang sedih, yang satunya wajib menghibur. Janji ini berlaku selamanya, tidak peduli jarak dan waktu.”
Bima dan Sari mendengarkan dengan saksama.
“Kakek dan Nenek waktu kecil sudah bersahabat, Pa?” tanya Bima.
“Bukan hanya bersahabat, Nak. Kakek sudah mencintai Nenek sejak kecil. Tapi Kakek tidak pernah mengaku karena takut kehilangan persahabatan mereka.”
“Terus Nenek? Nenek juga cinta sama Kakek?”
“Nenek butuh waktu lama untuk menyadari itu. Nenek terlalu sibuk mencari cinta di tempat yang salah. Sampai akhirnya, setelah bertahun-tahun patah hati, Nenek sadar bahwa cinta sejati ada di depan matanya.”
“Lalu mereka menikah?” tanya Sari.
“Iya, mereka menikah. Dan dari pernikahan mereka, lahirlah Pa. Dan dari Pa, lahirlah kalian.”
Tegar menyimpan kembali surat itu ke dalam stoples dengan hati-hati.
“Pa, cerita tentang Kakek dan Nenek dong,” pinta Sari.
Tegar tersenyum. Ia mulai bercerita, tentang masa kecil Agus dan Titik di kampung, tentang pohon mangga yang menjadi saksi janji mereka, tentang surat-surat yang dikirim dari Bandung ke Jakarta, tentang kesetiaan Agus yang tidak pernah pudar meskipun Titik jatuh cinta pada laki-laki lain berkali-kali.
Ia bercerita tentang bagaimana Agus selalu datang ketika Titik sakit, bahkan harus menembus malam Puncak dengan motor butut hanya untuk menjenguk Titik yang kecelakaan.
Ia bercerita tentang bagaimana Titik akhirnya sadar, setelah sekian lama, bahwa selama ini ia telah mencari cinta di tempat yang salah.
Ia bercerita tentang pernikahan sederhana mereka, tentang perjuangan membangun rumah tangga dari nol, tentang lahirnya Tegar, tentang sakit dan sehat yang mereka lewati bersama.
Ia bercerita tentang kematian, tentang bagaimana Agus meninggal sepuluh tahun lalu dengan tenang, di pangkuan Titik, sambil berbisik, “Titik, aku tidak akan pergi. Aku hanya pergi lebih dulu. Kita bertemu lagi nanti, ya?”
Dan Titik, yang saat itu sudah berusia enam puluh tujuh tahun, menjawab sambil tersenyum di tengah air mata, “Aku akan menunggumu, Gus. Seperti dulu kamu menungguku.”
“Dan Nenek Titik?” tanya Bima. “Nenek masih hidup?”
“Masih, Nak. Nenek sekarang tinggal di kampung, di rumah yang dulu. Setiap hari, Nenek duduk di teras, memandang ke bekas pohon mangga, dan tersenyum, seolah ia sedang berbicara dengan Kakek.”
Tegar menatap langit yang mulai gelap. Di kejauhan, bintang pertama muncul di ufuk timur.
“Pa,” kata Sari, “Tegar mau bersahabat selamanya dengan Bima.”
“Tentu, Nak. Kalian saudara. Kalian harus saling menjaga.”
“Tegar juga mau membuat surat janji, kayak Kakek dan Nenek.”
Tegar tersenyum. Ia mengambil buku catatan dari saku bajunya, merobek selembar kertas, lalu memberikan pulpen kepada Sari.
“Tulis, Nak.”
Sari mulai menulis dengan tulisan anak-anak yang masih belum rapi:
“Kami yang bertanda tangan di bawah ini, Sari Sabara dan Bima Sabara, dengan ini bersumpah akan menjadi saudara selamanya. Tidak akan saling meninggalkan. Tidak akan saling membenci. Jika ada yang sakit, yang satunya wajib menjenguk. Jika ada yang sedih, yang satunya wajib menghibur. Janji ini berlaku selamanya, tidak peduli jarak dan waktu.”
“Bagus, Nak,” puji Tegar. “Sekarang, tanda tangan pakai sidik jari.”
“Tapi kita tidak punya arang lidi, Pa.”
“Pakai pulpen saja. Kakek dan Nenek dulu pakai arang lidi karena tidak punya pulpen. Tapi janji tetap janji. Tidak peduli alatnya.”
Sari dan Bima membubuhkan sidik jari mereka di sudut kanan bawah kertas itu.
“Janji, ya,” kata Sari.
“Janji,” jawab Bima.
Mereka berjabat tangan, seperti yang dulu dilakukan Agus dan Titik di bawah pohon mangga.
Tegar menatap kedua anaknya dengan mata basah. Ia ingat pada pesan ayahnya sebelum meninggal:
*“Nak, cinta sejati tidak selalu tentang memiliki. Cinta sejati adalah tentang menjadi pelabuhan terakhir. Tentang tetap berada di sana, meskipun tidak pernah dipilih. Tentang memaafkan, tentang menunggu, tentang sabar, dan tentang ikhlas. Ajarkan itu kepada anak-anakmu. Supaya mereka tidak mengulang kesalahan yang sama.”
Tegar berjanji akan melakukannya. Dan malam itu, di teras rumahnya yang sederhana, ia sudah memulai.
Di kampung, seratus kilometer dari Bandung, seorang perempuan tua duduk di teras rumah kayu yang dicat hijau pudar. Rambutnya putih semua, wajahnya dipenuhi kerutan, tetapi matanya, matanya masih sama seperti dulu: coklat, teduh, dan penuh kasih.
Itu adalah Titik Mukti Aryanti Sabara.
Di pangkuannya, sebuah buku gambar lama dengan sampul biru laut. Buku itu sudah lusuh, halaman-halamannya menguning, tetapi tidak ada satu halaman pun yang robek. Ia membuka halaman pertama, membaca puisi yang ditulis oleh Agus puluhan tahun lalu:
“Seperti bintang yang setia pada malammu,
Seperti laut yang tak pernah berpaling dari pantaimu,
Aku akan tetap di sini,
Meskipun kau tak pernah tahu,
Betapa berat rasanya tersenyum,
Ketika hatiku menangis untukmu.”
Titik tersenyum. Ia mendekap buku itu erat-erat, seolah sedang mendekap Agus yang telah tiada.
“Gus,” bisiknya. “Aku masih di sini. Menjaga janji kita. Tidak akan saling meninggalkan. Meskipun maut memisahkan kita, aku akan terus menunggumu. Sampai kita bertemu lagi di surga.”
Di kejauhan, di bekas lokasi pohon mangga, sebatang pohon baru mulai tumbuh. Tingginya baru setengah meter, daunnya hijau segar, batangnya mungil tetapi terlihat kokoh.
Titik menatap pohon itu dan tersenyum.
*“Seperti cinta kita, Gus. Tumbuh dari tanah yang keras, diterpa badai, tetapi tidak pernah mati. Sahabat sejati tak pernah pergi. Bahkan kematian tidak bisa memisahkan kita.”
Ia memejamkan mata. Angin kampung berhembus pelan, membawa aroma tanah basah dan bunga sepatu.
Dan di dalam tidurnya yang abadi, Agus Sabara tersenyum, karena ia tahu, janji yang mereka buat di bawah pohon mangga, dengan sidik jari arang lidi, tidak pernah dilanggar.
Sahabat sejati tak pernah pergi.
Bahkan setelah maut memisahkan.
Bahkan setelah dunia berakhir.
TAMAT.
Anang
30 Januari 2025 19:28:34
Lanjutkan mas... Semoga website desa pian semakin maju...