NOVEL
JURAGAN KODOK
Cinta dan Lumpur di Bawah Cahaya Petromaks
“Kadang rezeki datang dari suara yang paling ingin kita diamkan.”
Oleh: Slamet Riyadi
PROLOG
Suara dari Pinggir Rawa
Di desa kecil bernama Sungai Rintik, malam tidak pernah benar-benar sunyi.
Ketika matahari tenggelam di balik hamparan rawa Kalimantan Tengah, suara kodok mulai bangun dari lumpur.
Mula-mula satu.
Lalu dua.
Lalu ratusan.
Suara mereka memenuhi udara seperti paduan suara yang tak pernah diminta siapa pun.
Bagi warga desa, suara itu adalah hal biasa.
Sebagian menganggapnya penanda musim.
Sebagian menganggapnya sahabat malam.
Sebagian lagi percaya,
kodok adalah penjaga sawah yang tak terlihat.
Namun bagi Junet, suara itu adalah kutukan.
Setiap malam,
tepat di samping rumah kayunya,
hamparan sawah rawa menjadi panggung konser yang tak pernah selesai.
“Krook... krook... kroooook...”
Junet sering menutup kepala dengan bantal.
Kadang melempar sandal.
Kadang memaki ke arah sawah seperti orang kehilangan akal.
“Kalau bisa, satu kampung ini saya pindahkan ke gunung!”
gerutunya.
Dari balik dinding, ibunya hanya berkata,
“Jangan marahi sesuatu yang belum kau pahami.”
Junet tidak pernah peduli.
Baginya,
kodok tetap kodok.
Menjijikkan.
Berisik.
Dan tidak berguna.
Sampai suatu malam,
seorang sahabat datang membawa kabar
yang mengubah segalanya.
Katanya,
kodok bisa dijual mahal.
Dan sejak malam itulah,
suara yang dulu ingin ia lenyapkan,
perlahan berubah menjadi suara
yang justru mengubah hidupnya.
Tentang uang.
Tentang cinta.
Tentang sahabat.
Tentang pengkhianatan.
Dan tentang seorang perempuan bernama Jayanti
yang datang diam-diam
di antara lumpur dan cahaya petromaks.
Karena kadang,
hal yang paling kita benci,
justru menjadi jalan menuju hidup
yang tak pernah kita bayangkan.
BAB 1
Konser Tengah Malam
Malam di Desa Sungai Rintik selalu punya cara sendiri untuk memperkenalkan dirinya.
Bukan dengan lampu-lampu kota.
Bukan dengan deru kendaraan.
Bukan pula dengan suara musik dari radio.
Melainkan dengan satu suara yang selalu datang dari arah sawah belakang rumah Junet.
“Krook... krook... kroooook...”
Suara itu datang dari rawa.
Dari lumpur.
Dari genangan air yang mengelilingi pematang.
Dari ribuan mulut kecil yang seolah sepakat untuk membuat hidup seseorang sengsara.
Dan seseorang itu adalah Junet.
Ia terbangun dengan mata setengah merah.
Rambut acak-acakan.
Sarung melorot setengah.
Wajah kusut seperti orang baru kalah judi tiga malam berturut-turut.
Ia duduk di dipan kayunya.
Menatap langit-langit.
Lalu menarik napas panjang.
“Ya Tuhan...”
gumamnya.
“Mereka mulai lagi.”
“Krook... krook... kroook...”
Junet menutup telinga dengan bantal.
Namun suara itu justru terasa makin dekat.
Seolah para kodok itu tahu
ada satu manusia yang sedang sangat membenci mereka.
Ia melempar bantal ke lantai.
Bangkit.
Membuka jendela.
Lalu berteriak ke arah sawah.
“DIAM KALIAN!”
Kodok-kodok itu tidak peduli.
Malah terdengar satu suara lebih keras dari yang lain.
“KROOOOOK!”
Junet terdiam.
Lalu menatap sawah.
“Kurang ajar.
Sekarang ada yang berani jawab.”
Dari dapur terdengar suara ibunya.
“Kalau mau marah, marah sama manusia.
Kodok tidak pernah balas dendam.”
Junet mendengus.
“Mak, saya ini bukan marah.
Saya ini dizalimi suara alam.”
Ibunya hanya tertawa kecil dari dalam rumah.
Pagi harinya,
cerita Junet marah pada kodok sudah sampai ke warung kopi.
Di desa kecil,
kabar sering berjalan lebih cepat daripada orangnya.
Di warung milik Mak Darmi, sahabat-sahabat Junet sudah duduk melingkar.
Ada Rahmat, yang selalu merasa bisa membaca masa depan dari apa saja.
Ada Nardi, yang selalu lupa alasan datang.
Dan tentu saja Emen, yang sejak lahir sepertinya memang dikirim Tuhan untuk membuat orang lain pusing.
Begitu Junet datang,
Emen langsung menepuk meja.
“Nah, ini dia!”
Rahmat mengangguk serius.
“Orang yang semalam bertengkar dengan dunia amfibi.”
Nardi menoleh bingung.
“Amfibi itu siapa?”
Emen menatapnya.
“Kodok, Dardi.”
Nardi mengernyit.
“Lho, kenapa tadi saya pikir itu nama kepala dusun?”
Warung langsung pecah oleh tawa.
Junet meletakkan gelas kopi keras-keras.
“Kalian ini bukan sahabat.
Kalian penonton penderitaan orang.”
Emen menyeringai.
“Bukan penderitaan.
Ini hiburan pagi.”
Rahmat mengangkat telunjuk.
Wajahnya mendadak serius seperti dukun kampung.
“Aku semalam sudah hitung dari arah bulan.”
Junet melirik.
“Apalagi sekarang?”
Rahmat berbisik pelan.
“Kodok-kodok itu bukan sembarang kodok.”
Nardi ikut mencondongkan badan.
“Terus?”
Rahmat menatap Junet.
“Mereka sedang memilih pemimpin baru.”
Junet menghela napas.
“Lalu?”
Rahmat menunjuk Junet.
“Dan mereka sepertinya memilih kamu.”
Warung kembali meledak oleh tawa.
Bahkan Mak Darmi sampai menutup mulut dengan ujung jilbab.
Junet menatap langit-langit warung.
“Ya Allah, kenapa saya berteman dengan orang-orang gagal waras begini?”
Belum sempat ia minum kopinya,
tiga anak kecil muncul di depan warung.
Talia yang berumur sepuluh tahun.
Dadang sebelas tahun.
Dan Bambang yang paling besar, dua belas tahun,
tapi mulutnya seperti sudah empat puluh.
Mereka berdiri sambil menahan tawa.
Lalu serempak berteriak:
“Pagi, JURAGAN KODOK!”
Seluruh warung langsung hening setengah detik.
Lalu pecah oleh tawa.
Junet memejamkan mata.
“Bambang.”
suaranya datar.
“Kalau kau tidak cepat pergi,
bapakmu saya suruh bayar hutang kopiku.”
Bambang menjulurkan lidah.
“Kalau marah nanti kodoknya ikut marah!”
Dadang menambahkan,
“Semalam saya dengar kodok panggil nama Bang Junet!”
Talia tertawa.
“Katanya mau dilamar!”
Ketiganya lari sambil tertawa.
Emen hampir tersedak kopi.
Rahmat sampai memukul meja.
Nardi ikut tertawa,
meski ia belum sepenuhnya paham.
Junet menatap mereka.
“Lucu?”
Emen menghapus air mata.
“Sedikit.”
“Sedikit?”
“Banyak.”
Rahmat menatap Junet dengan wajah misterius.
“Jangan remehkan pertanda alam.”
Junet mendengus.
“Kalau kau bilang lagi soal takdir kodok,
kopi ini saya siram ke wajahmu.”
Rahmat mengangguk bijak.
“Marah adalah tanda penolakan terhadap kebenaran.”
Nardi mengangkat tangan.
“Kalau saya lapar tandanya apa?”
Emen cepat menjawab.
“Tandanya otakmu kerja terlalu keras.”
Nardi mengangguk.
“Oh pantas.”
Junet menatap kosong.
Kadang ia tidak tahu
yang lebih melelahkan:
suara kodok,
atau teman-temannya.
Menjelang siang,
mereka duduk di bawah pohon rambai dekat sawah.
Angin rawa berembus pelan.
Bau lumpur naik bersama panas matahari.
Di kejauhan terdengar suara kodok kecil dari sela rumput.
Junet menatap sawah itu dengan kesal.
“Kenapa harus rumah saya yang dekat rawa?”
Emen menjawab santai.
“Karena kodok juga butuh tetangga.”
Nardi ikut mengangguk.
“Iya, supaya mereka tidak kesepian.”
Junet menatap dua sahabatnya.
“Aku kadang berharap kalian bertiga menikah dengan kodok.”
Rahmat tersenyum misterius.
“Siapa bilang belum?”
Junet menatapnya.
“Rahmat.”
“Iya?”
“Diam.”
Namun di antara tawa siang itu,
sebuah kalimat dari Emen tiba-tiba mengubah arah semuanya.
Emen menyeruput kopi dinginnya.
Lalu berkata santai,
“Padahal kalau di kota,
katanya daging kodok mahal.”
Junet menoleh.
“Apaan?”
Rahmat mengangguk.
“Aku pernah dengar juga.
Restoran Cina suka.”
Nardi ikut bicara,
“Yang dimakan paha sama badannya.”
Junet menatap mereka satu per satu.
Untuk pertama kalinya sejak semalam,
matanya tidak lagi penuh kesal.
Melainkan penasaran.
“Serius?”
Emen mengangkat bahu.
“Entahlah.
Tapi sepupu sepupuku pernah bilang,
satu kilo bisa mahal.”
Rahmat mengangguk seperti sedang meramal nasib negara.
“Bisa jadi itu pertanda.”
Junet menyipitkan mata.
“Pertanda apa?”
Rahmat tersenyum kecil.
“Bahwa yang paling kamu benci...
mungkin justru yang akan mengubah hidupmu.”
Semua tertawa mendengar Rahmat.
Bahkan Junet ikut mendengus.
Namun entah kenapa,
kalimat itu tinggal lebih lama di kepalanya
dibanding suara tawa teman-temannya.
Ia menoleh ke arah sawah.
Ke arah rawa.
Ke arah suara yang setiap malam membuatnya kesal.
Dan untuk pertama kalinya,
Junet tidak lagi mendengar suara kodok
sebagai gangguan.
Ia mulai mendengarnya
sebagai kemungkinan.
Malam itu,
ketika suara kodok kembali memenuhi rumahnya,
Junet tidak menutup telinga.
Ia justru duduk di jendela.
Mendengarkan.
Menghitung.
Memperhatikan.
Lalu pelan-pelan ia tersenyum sendiri.
Suara yang semalam terdengar seperti kutukan,
malam itu mulai terdengar seperti peluang.
Dan tanpa ia sadari,
malam itulah
awal dari segala kekacauan
yang kelak membuat satu desa mengenalnya dengan nama:
Juragan Kodok.
BAB 2
Harga Seekor Kodok
Sejak percakapan di bawah pohon rambai siang itu, ada sesuatu yang berubah di kepala Junet.
Malam yang biasanya terasa seperti hukuman,
tiba-tiba berubah menjadi seperti pasar yang belum dibuka.
Setiap suara dari arah rawa kini terdengar berbeda.
“Krook... krook...”
Bukan lagi gangguan.
Melainkan bunyi yang seperti sedang berbisik:
uang... uang... uang...
Junet tahu itu terdengar gila.
Tetapi di desa kecil seperti Sungai Rintik,
di mana harga pupuk naik lebih cepat daripada hasil panen,
gagasan gila kadang terdengar jauh lebih masuk akal daripada kenyataan.
Maka malam itu,
untuk pertama kalinya,
Junet tidak mengumpat pada kodok.
Ia malah menghitung.
“Kalau satu kilo..Rp 125.000….” gumamnya.
“Lalu kalau semalam dapat lima kilo...”
Ia mengerutkan kening.
Jari-jarinya bergerak seperti menghitung warisan keluarga kerajaan.
Dari dapur, ibunya menatap heran.
“Kau kenapa?”
Junet menoleh cepat.
“Tidak apa-apa, Mak.”
Maknya menyipitkan mata.
“Kalau kau bilang tidak apa-apa sambil senyum sendiri,
biasanya justru ada yang berbahaya.”
Junet tersenyum kecil.
“Ini bukan bahaya.”
“Lalu?”
Junet menatap sawah gelap di belakang rumah.
“Mungkin rezeki.”
Ibunya menghela napas pelan.
Seolah baru sadar anaknya mulai terserang sesuatu yang tidak bisa diobati dengan minyak kayu putih.
Keesokan paginya,
Junet sudah duduk paling depan di warung Mak Darmi.
Emen yang baru datang langsung berhenti di pintu.
“Ini pasti serius.”
Rahmat menatap.
“Kenapa?”
Emen menunjuk.
“Junet datang sebelum kopi matang.”
Nardi ikut masuk sambil membawa sandal sebelah.
“Kenapa kita di sini?”
Semua menoleh.
Emen menghela napas.
“Nardi.”
“Iya?”
“Kau sadar tidak sandalmu satu?”
Nardi menunduk.
Melihat kakinya.
Lalu terdiam.
“Oh.”
Ia berpikir sejenak.
“Pantas kaki kiri saya dingin.”
Warung langsung pecah tawa.
Junet bahkan tak sempat ikut tertawa.
Pikirannya masih dipenuhi satu hal.
“Harga.”
Rahmat duduk.
“Harga apa?”
Junet mendekat.
“Harga kodok.”
Tiba-tiba meja itu diam.
Emen mengangkat alis.
“Kau serius?”
“Sangat.”
Nardi mengangguk.
“Bagus. Berarti semalam aku tidak salah dengar.”
Junet menatapnya.
“Kau dengar apa?”
Nardi menjawab polos.
“Kupikir semalam kodok di belakang rumahmu bilang:
jual kami.”
Tawa kembali pecah.
Junet memijat pelipis.
Kadang serius di dekat orang-orang itu
sama sulitnya dengan menyuruh hujan berhenti.
Rahmat mengusap dagunya seperti orang pintar.
“Kalau mau tahu harga pasti,
tanya Mirna.”
“Mirna?” Junet mengernyit.
“Ya.”
Emen menyahut.
“Di kampung ini kalau soal jual beli,
Mirna bisa tahu harga sebelum barangnya lahir.”
Junet mengangguk pelan.
Itu masuk akal.
Mirna memang terkenal punya bakat dagang sejak kecil.
Ia pernah menjual kerupuk mentah ke anak-anak dengan nama
kerupuk edisi terbatas
dan laku.
Bahkan Pak Sabar pernah bilang:
“Kalau Mirna lahir di kota,
bank bisa bangkrut.”
Menjelang siang,
Junet menemui Mirna di kios kecil dekat jalan desa.
Mirna sedang menata gula dan sabun.
Matanya tajam.
Gerakannya cepat.
Senyumnya tipis seperti orang yang selalu menghitung untung.
Mirna melirik Junet.
“Jarang-jarang kamu datang ke sini tanpa utang.”
Junet berdehem.
“Aku mau tanya.”
Mirna menyandarkan tangan.
“Kalau soal cinta, salah orang.”
“Bukan.”
Junet mendekat.
“Kalau daging kodok...
berapa harganya?”
Mirna terdiam.
Lalu menatap Junet lama.
“Kamu bercanda?”
“Tidak.”
Mirna mengangkat alis.
“Kamu mau makan atau jual?”
“Jual.”
Mirna meletakkan sabun pelan.
Wajahnya berubah serius.
“Kalau bersih,
bagian paha dan badan,
di kota bisa lumayan.”
“Berapa?”
“ Sekitar Rp 125.000 sampai Rp 130.000,” Mirna menyebut angka.
Junet terdiam.
“Sebanyak itu?”
Mirna mengangguk.
“Kalau kualitas bagus.”
Junet menelan ludah.
“Kualitas bagus itu bagaimana?”
Mirna menjawab seperti guru.
“Dipisah dari kepala.
Kaki depan dibuang.
Kulit dibersihkan.
Yang diambil badan sama paha belakang.”
Junet mendengarkan serius.
Mirna melanjutkan.
“Dicuci bersih.
Disusun.
Dikemas dengan es.
Baru dikirim.”
Junet diam.
Suara kodok semalam tiba-tiba terasa jauh lebih mahal dari sebelumnya.
Saat Junet keluar dari kios,
ia hampir bertabrakan dengan seseorang.
Keranjang rotan di tangan perempuan itu nyaris jatuh.
“Eh!”
Junet refleks menangkap keranjang itu.
Seorang gadis menatapnya dengan mata bulat.
Wajahnya teduh.
Kulitnya sawo matang.
Rambutnya diikat sederhana.
Dan entah kenapa,
untuk beberapa detik,
Junet lupa cara bicara.
Perempuan itu mengerutkan kening.
“Kamu mau pegang keranjang saya lama sekali?”
Junet tersadar cepat.
Lepas tangan.
“Oh, maaf.”
Perempuan itu tersenyum tipis.
“Melamun?”
Junet gugup.
“Bukan.
Saya... tadi...”
ia menoleh ke kios Mirna.
“Sedang menghitung kodok.”
Perempuan itu terdiam.
Lalu tertawa kecil.
“Kalimat itu baru pertama kali saya dengar.”
Junet menelan ludah.
“Jayanti ya?”
Perempuan itu mengangguk.
“Kamu tahu nama saya?”
Junet salah tingkah.
“Satu desa juga tahu.”
Jayanti tersenyum.
“Semoga bukan karena utang.”
Lalu ia pergi.
Meninggalkan aroma daun pandan dari keranjang rotannya.
Dan meninggalkan Junet berdiri seperti orang yang baru saja dipukul angin.
Mirna muncul di pintu kios.
Memandang Junet.
“Kalau mau jual kodok,
jangan ikut beku seperti patung.”
Junet menoleh.
“Dia tadi ketawa ya?”
Mirna mengangguk.
“Sayangnya bukan karena lucu.”
Sore itu,
Junet kembali ke warung.
Begitu duduk,
Emen langsung bertanya.
“Jadi?”
Junet menatap kosong.
“Mahal.”
Rahmat mengangguk bijak.
“Sudah kuduga.”
Emen menyipitkan mata.
“Kenapa wajahmu seperti habis lihat hantu cantik?”
Junet diam.
Nardi tiba-tiba berkata,
“Pasti ketemu Jayanti.”
Semua menoleh.
Junet mengernyit.
“Kok kau tahu?”
Nardi berpikir lama.
Lalu menjawab,
“Karena tadi saya juga lihat.
Tapi lupa bilang.”
Warung meledak tawa.
Emen menepuk meja.
“Nah.
Mulai lengkap.
Ada kodok.
Ada uang.
Ada perempuan.”
Rahmat tersenyum misterius.
“Aku sudah lihat dari arah angin.”
Junet mendesah.
“Jangan mulai.”
Rahmat mengangguk tenang.
“Bukan soal usaha.”
“Lalu?”
Rahmat menatap Junet.
“Yang berbahaya bukan kodoknya.”
Semua diam menunggu.
Rahmat menunjuk dada Junet.
“Yang berbahaya nanti hatimu.”
Junet mendengus.
Namun diam-diam,
untuk pertama kalinya,
ia tidak tahu mana yang lebih mengganggu:
suara kodok di belakang rumahnya
atau suara tawa seorang perempuan
yang terus terngiang di kepalanya.
Dan sejak hari itu,
Junet tahu satu hal:
ia mungkin sedang mengejar rezeki.
Tetapi tanpa sadar,
hidup mulai menyiapkan sesuatu yang jauh lebih rumit.
BAB 3
Perburuan Pertama yang Memalukan
Malam pertama selalu terdengar lebih berani daripada kenyataannya.
Sore itu,
sejak matahari belum benar-benar tenggelam,
Junet sudah mondar-mandir di belakang rumah seperti orang menunggu keputusan besar.
Di sudut dapur,
ibunya memperhatikan sambil membersihkan ikan asin.
“Kau mau pergi perang?”
Junet menoleh.
“Bukan.”
“Lalu kenapa wajahmu seperti mau ditinggal nikah?”
Junet menghela napas.
“Mak ini selalu berlebihan.”
Ibunya tersenyum tipis.
“Kalau anak laki-laki mulai mandi dua kali sebelum magrib,
biasanya bukan soal kerja.”
Junet terdiam.
Karena memang malam itu,
untuk pertama kalinya dalam hidup,
ia mandi sebelum turun ke sawah.
Bukan karena lumpur.
Tetapi karena tadi sore ia melihat Jayanti lewat di jalan kecil dekat rumah.
Dan sejak itu,
otaknya tidak lagi bisa tenang.
Di halaman belakang,
alat-alat “perburuan” sudah siap.
Satu lampu petromaks tua.
Karung goni.
Jaring kecil.
Senter.
Dan ember plastik biru yang bocor sedikit di samping.
Emen datang paling dulu.
Begitu melihat perlengkapan itu,
ia langsung tertawa.
“Ini mau cari kodok atau mau pindah rumah?”
Junet menatap datar.
“Kalau mau ikut, diam.”
Rahmat datang menyusul sambil membawa tongkat bambu.
“Aku sudah hitung arah angin.
Malam ini hasilmu banyak.”
Nardi datang terakhir.
Membawa sendal sebelah lagi.
Junet memejamkan mata.
“Nardi.”
“Iya?”
“Sendalmu.”
Nardi menunduk.
Lalu terdiam.
“Oh iya.”
Ia menatap kaki satunya.
“Pantas dari tadi rasanya miring.”
Emen langsung tertawa sampai membungkuk.
Rahmat menggeleng.
Bahkan Junet tidak bisa menahan senyum kecil.
Tak lama kemudian,
dua orang lagi datang:
Eko dan Ahmat.
Eko, seperti biasa,
wajahnya serius seperti petugas sensus.
Ahmat berdiri dengan tangan di belakang punggung,
menatap sawah seperti filsuf yang tersesat ke desa.
“Aku sebenarnya kurang setuju,” kata Ahmat.
Junet menghela napas.
“Mulai.”
Ahmat mengangguk pelan.
“Alam bukan untuk dieksploitasi berlebihan.”
Emen menyela.
“Belum juga turun, ceramah sudah mulai.”
Ahmat tak peduli.
“Kita harus menjaga keseimbangan.”
Rahmat menatap sawah.
“Menurutku kodok juga sudah rapat.”
“Rapat apa?” tanya Nardi.
Rahmat menjawab tenang.
“Rapat evakuasi.”
Emen kembali tertawa.
Eko hanya mengusap wajah.
“Kalau kalian selesai bercanda, kita mulai?”
Semua diam.
Karena dari semua orang,
hanya Eko yang bisa membuat kekacauan terasa seperti rapat resmi.
Langit mulai gelap.
Petromaks dinyalakan.
Fsssshhh...
Cahaya kuning perlahan menyala,
membelah gelap rawa.
Suara kodok mulai muncul dari segala arah.
Krook... krook... kroook...
Junet menatap sawah.
Malam terasa berbeda saat ia berdiri di tepinya.
Lumpur hitam berkilat.
Kabut tipis naik perlahan.
Air diam memantulkan cahaya seperti kaca pecah.
Tiba-tiba semuanya terasa lebih menyeramkan.
Emen menepuk bahunya.
“Kalau takut, bilang.”
Junet mendengus.
“Aku bukan takut.”
Rahmat menatap sawah.
“Kalau ada yang pegang kakimu dari bawah jangan panik.”
Junet langsung menoleh.
“Apa?”
Rahmat tersenyum.
“Bercanda.”
Nardi ikut bertanya,
“Memang ada ya?”
Junet menutup mata.
Kadang ia merasa,
musuh terbesarnya bukan kodok.
Tapi teman-temannya sendiri.
Junet melangkah turun ke lumpur.
Blup.
Kakinya langsung tenggelam sampai mata kaki.
Ia membeku.
Emen tertawa.
“Baru masuk sudah ditelan sawah.”
Junet mendelik.
“Diam.”
Ia melangkah lagi.
Lalu lagi.
Lampu petromaks di tangan.
Karung di pundak.
Jaring di tangan satunya.
Kodok-kodok mulai terlihat.
Mata mereka memantul terkena cahaya.
Hijau.
Diam.
Memandang balik.
Jantung Junet berdebar.
“Yang mana dulu?” bisiknya.
Rahmat dari atas pematang berteriak,
“Yang kelihatan kaya mertua.”
“Aku belum punya mertua!”
“Makanya pilih dulu!”
Emen hampir jatuh tertawa.
Junet melihat seekor besar di dekat rumpun padi.
Ia perlahan mendekat.
Kodok itu diam.
Junet menurunkan jaring pelan-pelan.
Sedikit lagi.
Sedikit lagi.
Dan..,
BYUR!
Kakinya terpeleset.
Tubuhnya jatuh ke air lumpur.
Petromaks nyaris terlempar.
Karung terbang.
Air menyembur tinggi.
Kodoknya meloncat pergi.
Dan suara tawa meledak dari atas pematang.
“HAHAHAHA!”
Emen sampai duduk di tanah.
Nardi ikut tertawa walau belum tahu lucunya bagian mana.
Rahmat memegang perut.
Bahkan Eko menoleh sambil menahan senyum.
Junet bangkit pelan.
Tubuhnya penuh lumpur dari kepala sampai lutut.
Rambut basah.
Wajah hitam kecokelatan.
Sarungnya berubah warna.
Ia berdiri seperti makhluk rawa yang gagal lahir sempurna.
Emen terengah.
“Ya Allah...
kodoknya satu,
yang tertangkap malah manusia.”
Dan saat itulah,
suara tawa lain terdengar dari samping.
Lembut.
Jernih.
Dan sangat tidak diharapkan.
Junet menoleh.
Di tepi pematang sebelah,
berdiri Jayanti.
Membawa keranjang kecil.
Bersama Laila dan Neli yang sedang pulang dari rumah bibinya.
Laila langsung menutup mulut.
Namun bahunya gemetar menahan tawa.
Neli malah berkata polos,
“Bang Junet,
itu cara nangkap kodok atau mandi malam?”
Jayanti berusaha menahan senyum.
Namun gagal.
Ia tertawa kecil.
Dan bagi Junet,
suara tawa itu terasa jauh lebih memalukan
daripada jatuh ke lumpur.
Junet berdiri beku.
Muka panas.
Lumpur dingin.
Harga diri tenggelam.
Jayanti menatapnya.
Lalu berkata pelan,
“Kalau mau menangkap kodok...”
Ia menahan senyum.
“Biasakan jangan lebih ribut dari kodoknya.”
Laila langsung tertawa keras.
Neli ikut-ikutan.
Bahkan Emen nyaris tersedak sendiri.
Junet menatap langit malam.
Mungkin inilah malam
saat martabat seseorang resmi meninggalkan tubuhnya.
Jayanti melangkah mendekat ke tepi sawah.
“Lampunya terlalu tinggi,” katanya.
“Cahayanya bikin mereka lari.”
Junet berkedip.
“Kamu tahu?”
Jayanti mengangguk.
“Dulu waktu kecil saya sering ikut bapak.”
Junet menatapnya.
Untuk pertama kalinya,
ia melihat Jayanti bukan hanya cantik.
Tetapi juga tahu hal-hal
yang tak ia duga.
Jayanti menunjuk.
“Dekati pelan.
Jangan banyak suara.
Jangan injak air keras.”
Emen dari belakang berbisik,
“Wah.
Sekarang pelatihan privat.”
Junet ingin melempar lumpur ke mukanya.
Dengan wajah setengah mati malu,
Junet mencoba lagi.
Kali ini lebih pelan.
Lampu direndahkan.
Langkah dipelankan.
Napas ditahan.
Seekor kodok besar diam di dekat rumput.
Junet mendekat.
Pelan.
Pelan.
Lalu,
CUP!
Jaring turun.
Kodok itu berhasil masuk.
Junet terdiam.
Ia mengangkat jaring perlahan.
Kodok besar itu meloncat di dalam.
Dari atas pematang,
semua bersorak.
“Berhasil!”
“Juragan!”
“Tidak sia-sia mandi lumpur!”
Emen bertepuk tangan berlebihan.
Jayanti tersenyum kecil.
“Kan bisa.”
Dan anehnya,
dari semua pujian malam itu,
hanya dua kata itu
yang paling membuat dada Junet terasa aneh.
Saat Jayanti dan teman-temannya pergi,
Laila masih sempat berteriak:
“Bang Junet!
Kalau besok jatuh lagi, kami nonton lagi!”
Neli menambahkan,
“Biar bawa kursi!”
Emen hampir pingsan tertawa.
Junet hanya menatap punggung Jayanti yang menjauh di bawah cahaya bulan.
Kodok pertama ada di tangannya.
Tapi malam itu,
ia sadar satu hal:
yang benar-benar berhasil menangkap sesuatu malam itu,
mungkin bukan dirinya.
Karena diam-diam,
seseorang telah menangkap hatinya
lebih cepat daripada ia menangkap kodok.
Malam terus berjalan.
Suara rawa terus hidup.
Dan di bawah cahaya petromaks,
perburuan pertama yang memalukan itu
justru menjadi malam
yang tak pernah benar-benar bisa Junet lupakan.
BAB 4
Senyum di Pinggir Sawah
Sejak malam jatuh ke lumpur itu,
hidup Junet mulai terasa tidak tenang dengan cara yang berbeda.
Biasanya yang mengganggu tidurnya adalah suara kodok.
Sekarang bukan.
Sekarang yang terus muncul di kepalanya justru satu hal yang jauh lebih berbahaya:
senyum Jayanti.
Senyum kecil di pinggir sawah.
Senyum yang muncul setelah berkata,
“Kan bisa.”
Kalimat sederhana.
Dua kata pendek.
Namun entah kenapa,
lebih sulit dilupakan daripada lumpur yang semalam menempel sampai ke telinga.
Pagi harinya,
Junet duduk di warung dengan wajah kosong.
Emen menatap lama.
Lalu menyesap kopi.
“Aku tahu wajah itu.”
Junet melirik.
“Wajah apa?”
“Wajah orang yang semalam tidak hanya menangkap kodok.”
Rahmat mengangguk pelan.
“Aku juga melihat tanda-tandanya.”
Nardi ikut mendekat.
“Tanda apa?”
Rahmat menjawab dengan tenang.
“Matanya kosong,
tapi hatinya ramai.”
Nardi terdiam.
Lalu mengangguk.
“Oh.
Seperti kambing Pak Ramlan waktu hilang.”
Warung langsung meledak oleh tawa.
Junet memijat pelipis.
“Kenapa aku tidak pernah punya teman normal?”
Emen menepuk bahunya.
“Karena hidupmu terlalu sepi kalau waras semua.”
Eko yang sejak tadi diam akhirnya bicara,
“Jadi malam ini lanjut?”
Junet mengangguk.
“Lanjut.”
Emen menyeringai.
“Cari kodok atau cari Jayanti?”
Junet melempar kulit kacang.
Emen menghindar sambil tertawa.
Menjelang sore,
Junet pulang membawa ember hasil tangkapan semalam.
Tidak banyak.
Namun cukup membuatnya mulai percaya
bahwa ide gilanya memang mungkin berhasil.
Di belakang rumah,
Mirna datang memeriksa hasil tangkapannya.
Ia jongkok.
Memeriksa satu per satu.
Lalu mengangguk.
“Lumayan.”
Junet tersenyum.
“Lumayan itu bagus?”
Mirna menatapnya datar.
“Untuk orang yang semalam jatuh dulu sebelum dapat satu,
ini termasuk keajaiban.”
Junet menghela napas.
“Ternyata satu kampung sudah tahu.”
Mirna berdiri.
“Di desa ini,
orang jatuh ke sawah lebih cepat terkenal daripada orang menikah.”
Junet tak bisa membantah.
Sore itu,
untuk pertama kalinya,
Junet mencoba membersihkan kodok hasil tangkapan.
Ia duduk di belakang rumah dengan pisau kecil.
Ember di samping.
Air bersih.
Dan wajah yang jauh lebih tegang
daripada saat pertama turun ke rawa.
Ibunya menatap dari dapur.
“Kau yakin?”
Junet mengangguk.
“Katanya harus dibersihkan sebelum dikirim.”
Ibunya mendekat.
Melihat Junet memegang seekor kodok dengan ekspresi seperti orang sedang memegang dosa.
“Mulai dari kepala,” kata ibunya.
Junet menelan ludah.
“Kepala?”
Ibunya mengangguk tenang.
“Potong.
Lalu kulitnya ditarik.
Kaki depan dibuang.
Yang diambil paha sama badannya.”
Junet diam.
Emen yang tiba-tiba muncul dari pagar langsung berkata,
“Kalau lihat wajahmu,
kodoknya yang kasihan.”
Junet menoleh tajam.
“Kenapa kau selalu muncul tanpa diundang?”
Emen menyeringai.
“Karena hidupmu terlalu lucu untuk dilewatkan.”
Dengan tangan gemetar,
Junet mulai memotong.
Pisau terlalu miring.
CIPRAT.
Air terciprat ke wajahnya sendiri.
Emen tertawa keras.
“Ya Allah, bahkan kodoknya balas dendam!”
Junet menutup mata.
“Satu hari aku benar-benar akan kubenamkan kau ke lumpur.”
Nardi yang baru datang menatap.
“Kok kepala kodoknya di situ?”
Emen menjawab cepat.
“Supaya nanti bisa jadi saksi.”
Nardi mengangguk serius.
“Oh.”
Junet menatap kosong ke langit.
Kadang ia tidak tahu
mengapa hidupnya dikelilingi manusia-manusia seperti itu.
Namun setelah beberapa ekor,
tangannya mulai terbiasa.
Kepala dipotong.
Kulit ditarik.
Kaki depan dibuang.
Bagian paha dan badan dicuci bersih.
Lalu disusun di baskom berisi air dingin.
Mirna yang datang kembali melihat,
mengangguk pelan.
“Nah.
Begitu.
Kalau rapi begini,
harga bisa naik.”
Junet tersenyum kecil.
“Berarti benar bisa jadi usaha.”
Mirna menatapnya.
“Kalau kau tidak keburu jatuh cinta dulu.”
Junet hampir menjatuhkan pisau.
“Siapa?”
Mirna mengangkat alis.
“Jangan pura-pura.
Satu desa bisa lihat.”
Emen menambahkan,
“Bahkan kodok pun tahu.”
Nardi mengangguk.
“Iya, semalam ada yang bunyinya beda.”
Junet menatap mereka.
“Aku menyesal kenal kalian.”
Malam datang lagi.
Petromaks kembali menyala.
Namun malam itu,
Junet tidak langsung turun ke sawah.
Ia berdiri di pematang.
Menatap air.
Mendengar suara malam.
Dan benar saja.
Dari ujung jalan kecil,
Jayanti datang membawa keranjang.
Sendirian.
Junet pura-pura melihat sawah.
Padahal jantungnya sudah lebih ribut daripada kodok.
Jayanti berhenti.
Melihat ember kecil di tangan Junet.
“Malam ini tidak jatuh lagi?”
Junet tersenyum canggung.
“Saya sedang berusaha menjaga nama baik.”
Jayanti tertawa kecil.
“Bagus.
Karena semalam nama baiknya sudah hampir tenggelam.”
Junet tertawa juga.
Meski sedikit malu.
Untuk pertama kalinya,
percakapan mereka terasa ringan.
Tidak canggung.
Tidak kikuk.
Seperti dua orang
yang diam-diam mulai nyaman.
Jayanti duduk di tepi pematang.
“Memang mau serius jual?”
Junet mengangguk.
“Mau coba.”
“Tidak jijik?”
Junet menatap sawah.
“Awalnya iya.”
“Sekarang?”
Junet melirik Jayanti.
“Sekarang ada alasan buat bertahan.”
Jayanti menoleh.
“Alasan apa?”
Junet diam sepersekian detik.
Lalu cepat berkata,
“Karena harganya lumayan.”
Jayanti menatapnya beberapa detik.
Lalu tersenyum kecil.
Senyum yang seperti tahu
bahwa Junet sedang menyembunyikan jawaban sebenarnya.
Angin malam bergerak pelan.
Petromaks bergoyang sedikit.
Cahayanya memantul di air.
Jayanti menatap rawa.
“Dulu saya suka suara ini.”
“Suara kodok?”
Ia mengangguk.
“Waktu kecil,
bapak bilang itu tanda sawah masih hidup.”
Junet diam.
Kalimat itu sederhana.
Namun entah kenapa terasa dalam.
Jayanti menoleh.
“Kamu masih benci?”
Junet menatap suara-suara malam itu.
Lalu menggeleng pelan.
“Sekarang tidak terlalu.”
“Kenapa?”
Junet tersenyum tipis.
“Karena ternyata...
kadang sesuatu yang berisik
bisa membawa hal baik.”
Jayanti terdiam.
Pipinya sedikit memerah.
Namun ia pura-pura melihat sawah.
Dari kejauhan,
suara Emen terdengar.
“WOOOI JURAGAN!”
“Kalau pacaran jangan lupa kerja!”
Junet langsung menoleh marah.
Emen berdiri jauh sambil tertawa.
Rahmat di sampingnya mengangguk seperti pendeta.
Nardi melambai tanpa paham situasi.
Jayanti menahan tawa.
Junet menghela napas.
“Teman-temanku memang bencana.”
Jayanti tersenyum.
“Tapi lucu.”
Junet menatapnya.
“Yang lucu mereka.
Kenapa saya yang malu?”
Jayanti tertawa.
Dan malam itu,
untuk pertama kalinya,
Junet merasa suara paling indah di pinggir sawah
bukan lagi suara kodok.
Melainkan tawa seseorang
yang perlahan mulai memenuhi hatinya.
Sebelum pulang,
Jayanti berdiri.
Merapikan keranjangnya.
Lalu berkata pelan,
“Besok malam kalau turun lagi...”
Junet menoleh.
“Iya?”
Jayanti tersenyum kecil.
“Jangan jatuh.”
Lalu ia pergi.
Meninggalkan Junet berdiri sendiri di pematang
dengan senyum bodoh di wajahnya.
Dari jauh,
Emen berteriak,
“Kalau begini bukan juragan kodok.
Ini juragan kasmaran!”
Dan untuk pertama kalinya,
Junet tidak membantah.
Karena mungkin,
diam-diam,
itu memang benar.
Malam itu,
di bawah cahaya petromaks,
Junet menangkap lebih banyak kodok daripada biasanya.
Namun bukan itu yang membuat dadanya terasa penuh.
Melainkan karena di antara suara rawa,
ia mulai mendengar sesuatu yang baru:
sebuah perasaan
yang tumbuh perlahan
di pinggir sawah.
BAB 5
Rezeki dari Lumpur
Pagi di Desa Sungai Rintik datang bersama kabut tipis yang melayang di atas sawah.
Bagi sebagian orang,
pagi berarti kopi panas.
Bagi sebagian lain,
pagi berarti memeriksa padi.
Namun bagi Junet pagi itu,
pagi berarti satu baskom berisi daging kodok bersih
yang semalaman ia simpan di atas es.
Untuk pertama kalinya,
ia menatap hasil tangkapannya
bukan dengan rasa jijik.
Tetapi dengan harapan.
Di dalam baskom aluminium itu,
tersusun rapi potongan kodok:
bagian paha belakang dan badan.
Kulit sudah dibersihkan.
Kepala dibuang.
Kaki depan dipisahkan.
Air dingin masih menetes dari daging putih pucat itu.
Semalam,
tangannya gemetar saat membersihkan.
Dua kali pisau hampir melukai jari.
Tiga kali Emen menertawakannya.
Dan empat kali Nardi lupa kenapa mereka duduk di belakang rumah.
Tapi pagi itu,
semuanya tampak seperti hasil kerja sungguhan.
Ibunya berdiri di pintu dapur.
Melihat anaknya menatap baskom seperti orang menatap masa depan.
“Kau seperti orang jatuh cinta.”
Junet tersenyum kecil.
“Mungkin memang.”
Ibunya mengangkat alis.
“Dengan kodok?”
Junet mendengus.
“Dengan kemungkinan.”
Maknya hanya menggeleng pelan.
Karena kadang,
anak muda memang suka jatuh cinta pada hal yang aneh-aneh.
Pagi itu juga,
Mirna datang untuk memeriksa hasil.
Ia membuka penutup baskom.
Melihat sebentar.
Lalu mengangguk.
“Lumayan.”
Junet langsung bertanya,
“Lumayan itu artinya berapa?”
Mirna menyebut angka.
Junet terdiam.
“Segitu?”
Mirna mengangguk.
“Kalau kualitas begini.”
Junet memandang isi baskom lagi.
Sulit percaya bahwa sesuatu yang seminggu lalu ia maki tiap malam,
kini bisa berubah menjadi uang sebanyak itu.
Emen yang berdiri di dekat pagar langsung bersiul.
“Wah.
Dari lumpur jadi rupiah.”
Rahmat mengangguk pelan.
“Aku sudah bilang,
alam sedang bicara.”
Nardi ikut mengangguk.
“Iya.
Semalam saya hampir dengar mereka bilang terima kasih.”
Emen menoleh.
“Kau yakin bukan suara perutmu?”
Nardi berpikir.
“Bisa juga.”
Junet menahan tawa.
Kadang bahkan di saat serius,
teman-temannya tetap seperti kutukan yang menyenangkan.
Sore harinya,
hasil pertama itu dikirim lewat mobil pickup yang menuju kota kecamatan.
Baskom diganti kotak styrofoam.
Diisi es.
Ditutup rapat.
Lalu diberi nama pembeli di kota.
Junet ikut mengangkatnya dengan tangan sendiri.
Seolah kalau tidak begitu,
uangnya tidak akan benar-benar terasa nyata.
Saat pickup mulai bergerak,
dadanya ikut berdebar.
Bukan karena takut.
Tetapi karena untuk pertama kalinya,
ia merasa sedang mengirim bagian dari mimpinya sendiri.
Dua hari kemudian,
uang pertama itu datang.
Tidak banyak.
Namun cukup untuk membuat mata Junet membesar.
Lembar-lembar rupiah itu terlipat di tangannya.
Masih hangat dari saku kurir.
Masih berbau perjalanan jauh.
Junet memandangnya lama.
Bukan karena nominalnya.
Tetapi karena selama ini,
ia tak pernah membayangkan
bahwa suara yang dulu membuatnya ingin melempar sandal
bisa berubah menjadi sesuatu yang bisa ia pegang.
Ibunya menatap dari dapur.
“Sudah percaya?”
Junet mengangguk pelan.
“Sudah.”
Maknya tersenyum tipis.
“Sekarang jangan lupa siapa yang kasih.”
Junet menatap uang.
Lalu menatap sawah di belakang rumah.
Untuk pertama kalinya,
ia merasa rawa itu bukan lagi gangguan.
Tetapi guru.
Kabar itu menyebar cepat.
Terlalu cepat.
Di desa kecil,
uang selalu punya suara sendiri.
Sore itu warung Mak Darmi lebih ramai dari biasanya.
Emen langsung berteriak begitu Junet datang.
“Nah!
Juragan datang!”
Talia, Bambang, dan Dadang yang sedang main kelereng ikut bersorak.
“Juragan Kodok!”
“Bang Junet kaya!”
“Traktir es!”
Junet menghela napas.
Belum juga kaya,
beban sosial sudah datang duluan.
Mak Darmi tertawa kecil.
“Kalau sudah punya uang,
kopi jangan utang lagi.”
Junet mendengus.
“Baru sekali jual,
sudah seperti pemilik perusahaan.”
Rahmat menatap serius.
“Biasanya memang begitu awalnya.”
Eko menyela.
“Yang penting jangan besar kepala.”
Emen menambahkan,
“Kalau besar kodoknya tidak muat.”
Warung kembali tertawa.
Namun di sudut warung,
ada satu orang yang tidak ikut tertawa.
Dahlan.
Ia duduk sambil mengaduk kopi.
Tatapannya dingin.
Wajahnya datar.
Dahlan memang teman lama mereka.
Namun sejak kecil,
ia selalu sulit melihat orang lain lebih dulu berhasil.
Terutama Junet.
Karena selama ini,
Junet selalu dikenal sebagai pemuda yang paling banyak mengeluh.
Bukan yang paling mungkin sukses.
Dan kadang,
orang yang terbiasa merasa lebih tinggi
paling sulit menerima
ketika seseorang yang dulu ia remehkan
mulai berdiri sejajar.
Dahlan menatap Junet.
Lalu tersenyum tipis.
“Lumayan juga.”
Nada suaranya terdengar biasa.
Tapi sesuatu di matanya tidak.
Junet mengangguk.
“Alhamdulillah.”
Dahlan menyeruput kopi.
“Cuma jangan terlalu senang dulu.”
Emen menoleh.
“Kenapa?”
Dahlan mengangkat bahu.
“Usaha dari lumpur kadang cepat tenggelam.”
Warung mendadak sedikit sunyi.
Kalimat itu terdengar seperti candaan.
Namun tidak sepenuhnya.
Pak Ramlan yang duduk dekat jendela ikut menghela napas.
“Saya sih pesimis.”
Semua menoleh.
Pak Ramlan memang terkenal bisa pesimis terhadap apa pun.
Bahkan saat panen bagus,
ia masih bisa bilang:
“Takutnya tikus ikut bahagia.”
Junet menatapnya.
“Kenapa pesimis?”
Pak Ramlan mengangkat bahu.
“Karena biasanya kalau sesuatu terlalu cepat bagus,
nanti jatuhnya juga cepat.”
Pak Sabar yang ironisnya paling tidak sabaran langsung menyela.
“Sudah lah!
Belum apa-apa kalian bikin orang patah semangat.”
Pak Ramlan mendesah.
“Makanya saya bilang saya pesimis.”
Emen tertawa.
“Pak Ramlan bahkan pesimis terhadap optimismenya sendiri.”
Semua tertawa.
Kecuali Dahlan.
Ia tetap diam.
Dan Junet mulai menyadari,
diam seseorang kadang jauh lebih berbahaya
daripada omongan.
Menjelang magrib,
Junet berjalan pulang melewati pematang.
Uang hasil pertama masih tersimpan di saku bajunya.
Ia tidak sadar,
seseorang sedang memperhatikannya dari kejauhan.
Jayanti.
Perempuan itu berdiri membawa keranjang kecil.
Matanya jatuh pada senyum tipis di wajah Junet.
“Kamu kelihatan berbeda.”
Junet berhenti.
“Berbeda bagaimana?”
Jayanti tersenyum kecil.
“Seperti orang yang baru menemukan alasan untuk tidak marah pada malam.”
Junet tertawa pelan.
“Mungkin.”
Jayanti melirik saku bajunya.
“Sudah dibayar?”
Junet mengangguk.
“Sudah.”
Jayanti menatapnya.
“Senang?”
Junet berpikir sebentar.
Lalu berkata jujur.
“Lebih takut.”
Jayanti mengernyit.
“Takut kenapa?”
Junet menatap sawah.
“Takut jadi orang yang salah karena terlalu suka uang.”
Jayanti terdiam beberapa saat.
Lalu berkata pelan,
“Itu justru tanda kamu masih waras.”
Junet menatapnya.
Untuk pertama kalinya,
ia merasa ada orang
yang tidak hanya melihat hasilnya.
Tetapi juga melihat dirinya.
Namun dari kejauhan,
Dahlan melihat mereka berbicara.
Ia berdiri di bawah pohon pisang.
Memandang Junet.
Memandang Jayanti.
Memandang uang yang mulai datang.
Dan di dalam dadanya,
sesuatu yang kecil mulai tumbuh.
Bukan marah.
Bukan iri biasa.
Melainkan rasa tidak suka
yang pelan-pelan mencari bentuk.
Karena bagi orang seperti Dahlan,
melihat orang lain bahagia
kadang terasa seperti penghinaan.
Malam itu,
Junet duduk di beranda rumah.
Uang hasil pertamanya terlipat rapi di meja.
Lampu petromaks menggantung.
Suara kodok kembali terdengar dari rawa.
Namun malam itu,
suara itu tak lagi terdengar seperti gangguan.
Ia terdengar seperti pengingat.
Bahwa rezeki kadang memang datang dari tempat paling tak terduga.
Tetapi bersama rezeki,
sering kali datang pula sesuatu yang lain:
mata orang.
harapan orang.
dan iri hati orang.
Dan Junet belum tahu,
bahwa uang pertama dari lumpur itu
bukan hanya membuka jalan baru.
Ia juga mulai membuka pintu
bagi masalah yang jauh lebih besar.
BAB 6
Juragan Dadakan
Di desa kecil seperti Sungai Rintik, kabar tidak pernah berjalan sendirian.
Ia selalu membawa tambahan.
Dibumbui.
Dilebihkan.
Dipelintir.
Lalu disebarkan dari satu teras ke teras lain seperti asap dapur yang tak bisa ditahan.
Dan dalam waktu kurang dari seminggu,
Junet yang biasanya dikenal hanya sebagai pemuda yang suka mengomel pada suara kodok,
mendadak punya julukan baru.
Juragan Kodok.
Awalnya hanya candaan anak-anak.
Namun seperti semua julukan di desa,
semakin dibantah,
semakin melekat.
Pagi itu,
Junet baru keluar rumah ketika tiga bocah langganan pengganggu sudah berdiri di depan pagar.
Talia dengan tangan di pinggang.
Dadang dengan wajah sok serius.
Bambang seperti biasa dengan mulut paling cepat.
Begitu melihat Junet,
mereka serempak berteriak:
“Pagi, Juragan!”
Junet menghela napas.
“Kalau kalian tidak cepat pergi,
nanti saya suruh tangkap kodok semalam suntuk.”
Bambang menyeringai.
“Kalau begitu kami minta gaji.”
Dadang menimpali,
“Minimal bonus paha kodok.”
Talia tertawa.
“Atau bonus ketemu Kak Jayanti!”
Junet langsung melotot.
“Siapa ngajarin kalian ngomong begitu?”
Ketiganya menunjuk arah warung.
Dan tentu saja,
itu artinya satu orang.
Emen.
Junet berjalan cepat ke warung.
Benar saja,
Emen sudah duduk santai sambil makan pisang goreng.
Begitu melihat Junet datang,
ia tersenyum lebar.
“Nah.
Juragan datang.”
Junet meletakkan gelas kopi agak keras.
“Kau ngajarin anak-anak itu?”
Emen pura-pura bingung.
“Ajarin apa?”
“Panggil aku juragan.”
Emen mengangkat bahu.
“Bukan salahku.
Mereka cuma cepat menangkap realita.”
Nardi yang duduk di samping tiba-tiba ikut bicara.
“Semalam saya juga manggil kambing saya juragan.”
Semua menoleh.
“Kenapa?” tanya Rahmat.
Nardi mengernyit.
“Entahlah.
Saya lupa.”
Warung langsung pecah oleh tawa.
Junet memegang kepala.
Kadang ia merasa,
usaha kodoknya belum membuat kaya,
tapi sudah membuat sabarnya habis duluan.
Rahmat menyeruput kopi.
Lalu menatap Junet dengan gaya seperti orang baru membaca takdir.
“Ini baru permulaan.”
Junet mendesah.
“Jangan mulai.”
Rahmat tetap tenang.
“Setelah nama naik,
biasanya cobaan ikut datang.”
Emen mengangguk.
“Betul.
Terutama kalau mulai dekat sama Jayanti.”
Junet hampir tersedak kopi.
“Kenapa semua orang bicara soal dia?”
Emen menatapnya polos.
“Karena semua orang lihat caramu menatap dia.”
Junet diam.
Eko yang biasanya paling sedikit bicara,
ikut angkat suara.
“Memang terlihat.”
Junet menoleh.
“Kamu juga?”
Eko mengangguk.
“Kamu menangkap kodok lebih tenang
daripada kalau dia lewat.”
Warung kembali tertawa.
Junet menutup muka dengan tangan.
Tidak ada tempat aman di desa kecil.
Bahkan rasa suka pun bisa jadi tontonan umum.
Namun semakin hari,
hasil tangkapan Junet memang makin baik.
Ia mulai paham cara berjalan di lumpur.
Tahu tempat kodok besar bersembunyi.
Mengerti cara menangkap tanpa membuat air gaduh.
Di belakang rumah,
ember demi ember mulai terisi.
Pengolahan pun makin rapi.
Kepala dipotong.
Kulit ditarik bersih.
Kaki depan dibuang.
Bagian paha dan badan dicuci dengan air dingin.
Lalu disusun dalam kotak styrofoam berisi es.
Mirna yang beberapa kali membantu memeriksa kualitas,
akhirnya mengangguk puas.
“Sekarang sudah seperti usaha sungguhan.”
Junet tersenyum.
“Berarti bisa berkembang?”
Mirna meliriknya.
“Bisa.
Asal kamu ingat satu hal.”
“Apa?”
“Uang bisa bikin orang berubah.”
Junet tertawa kecil.
“Kalau saya?”
Mirna menjawab datar.
“Kamu?
Kamu bisa lebih bahaya.
Karena kamu berubah sambil tersenyum.”
Junet tak tahu itu pujian atau peringatan.
Sore itu,
Pak Sabar datang ke rumah.
Seperti biasa,
namanya sangat tidak cocok dengan sifatnya.
Belum sampai duduk,
ia sudah bicara cepat.
“Net! Ini usaha bisa ditambah tidak?”
Junet bingung.
“Ditambah bagaimana?”
Pak Sabar mendekat.
“Saya punya dua anak pengangguran.
Kalau mereka ikut cari,
hasil dibagi.”
Belum sempat Junet menjawab,
Pak Ramlan ikut datang dari belakang.
Namun seperti biasa,
wajahnya pesimis.
“Menurut saya jangan terlalu berharap.”
Pak Sabar mendelik.
“Belum mulai sudah pesimis.”
Pak Ramlan menghela napas.
“Karena biasanya kalau orang kampung lihat uang,
yang datang duluan bukan kerja.”
“Lalu apa?”
Pak Ramlan menjawab datar.
“Ribut.”
Junet terdiam.
Karena untuk pertama kalinya,
kalimat pesimis Pak Ramlan terdengar masuk akal.
Malam berikutnya,
Junet turun ke rawa bersama Eko dan Ahmat.
Eko membawa karung.
Ahmat membawa lampu.
Junet memimpin di depan.
Ahmat masih sempat berkata,
“Jangan berlebihan mengambil.
Harus tetap seimbang.”
Eko menatapnya.
“Kau bisa diam sebentar?”
Ahmat menghela napas.
“Aku hanya menjaga nurani kelompok.”
Dari belakang terdengar suara Emen.
“Nuraninya satu.
Mulutnya tujuh.”
Rahmat tertawa pelan.
Nardi ikut tertawa walau tak tahu bagian mana yang lucu.
Mereka menangkap banyak malam itu.
Lebih banyak dari biasanya.
Dan saat kembali,
wajah Junet dipenuhi lumpur dan senyum.
Namun dari kejauhan,
seseorang memperhatikan.
Dahlan.
Ia berdiri di dekat pohon kelapa,
menatap ember-ember penuh itu.
Matanya dingin.
Semakin hari,
Junet semakin sering dikelilingi teman.
Semakin sering dipanggil orang.
Semakin sering disebut.
Semakin sering dilihat Jayanti.
Dan bagi Dahlan,
itu mulai terasa seperti sesuatu
yang seharusnya miliknya.
Keesokan paginya,
Dahlan duduk di warung lebih dulu.
Saat Junet datang,
ia menatap sambil tersenyum tipis.
“Sekarang sibuk ya.”
Junet duduk.
“Lumayan.”
Dahlan mengaduk kopi.
“Banyak orang mau ikut.”
Junet mengangguk.
“Iya.”
Dahlan menatapnya.
“Jangan lupa.
Kadang usaha bukan hancur karena rugi.”
Junet melirik.
“Karena apa?”
Dahlan tersenyum kecil.
“Karena terlalu percaya pada orang.”
Suasana meja mendadak sedikit dingin.
Emen berhenti bercanda.
Rahmat ikut diam.
Bahkan Nardi merasa ada sesuatu meski tak paham.
Junet menatap Dahlan.
Untuk pertama kalinya,
candaan desa terasa mulai berubah menjadi sesuatu yang lain.
Sesuatu yang lebih halus.
Lebih tajam.
Lebih berbahaya.
Sore harinya,
Junet bertemu Jayanti di pinggir sawah.
Jayanti menatapnya sambil tersenyum.
“Sekarang terkenal.”
Junet mendesah.
“Kalau terkenal begini rasanya capek.”
Jayanti tertawa kecil.
“Belum jadi orang kota saja sudah mengeluh.”
Junet menatapnya.
“Aku lebih takut kehilangan tenang.”
Jayanti memandang sawah.
Lalu berkata pelan,
“Kadang bukan uang yang mengubah hidup.”
Junet menoleh.
“Lalu?”
Jayanti menatapnya singkat.
“Cara orang memandang kita.”
Kalimat itu sederhana.
Namun entah kenapa terasa berat.
Karena Junet mulai sadar,
sejak uang pertama itu datang,
ia bukan lagi sekadar Junet yang lama.
Sekarang ia menjadi sesuatu yang lain.
Seseorang yang mulai diperhatikan.
Mulai dibicarakan.
Mulai diinginkan.
Dan mungkin,
mulai tidak disukai.
Malam itu,
di bawah lampu petromaks,
Junet duduk sendiri di beranda.
Suara kodok kembali memenuhi udara.
Namun di sela suara malam,
ia mulai mendengar sesuatu yang baru.
Bukan dari rawa.
Melainkan dari manusia.
Bisik-bisik.
Harapan.
Dan iri hati.
Karena menjadi juragan dadakan
ternyata jauh lebih rumit
daripada sekadar menangkap kodok.
BAB 7
Sawah yang Mulai Gelisah
Awalnya hanya bisik-bisik kecil.
Seperti angin yang bergerak pelan di atas padi.
Tak jelas dari mana datangnya.
Tak terdengar keras.
Namun lama-lama merambat dari satu rumah ke rumah lain,
dari warung ke pematang,
dari mulut orang-orang yang tak pernah benar-benar diam.
Dan di desa Sungai Rintik,
bisik kecil sering kali tumbuh lebih cepat daripada rumput liar.
Pagi itu,
Pak Sabar datang ke sawah lebih awal dari biasanya.
Ia berdiri di pematang sambil menatap petakan sawah miliknya.
Wajahnya berkerut.
Tangan kirinya memegang caping.
Tangan kanannya sibuk mengusir nyamuk.
“Ini aneh...”
gumamnya.
Biasanya,
setiap pagi,
suara kodok masih terdengar dari sela-sela lumpur.
Kadang satu.
Kadang puluhan.
Namun pagi itu,
sawah terasa terlalu sunyi.
Pak Sabar menoleh ke kiri.
Lalu ke kanan.
“Sepi amat.”
Tak lama,
Pak Ramlan datang dari petakan sebelah sambil membawa cangkul.
Wajahnya seperti biasa:
pesimis bahkan sebelum matahari naik.
Pak Sabar menatapnya.
“Lan.
Kau merasa tidak?”
Pak Ramlan mendesah panjang.
“Kalau soal hidup, saya merasa banyak.”
“Bukan itu.”
Pak Sabar menunjuk sawah.
“Kodok.”
Pak Ramlan berhenti.
Mendengar.
Memang benar.
Tidak ada suara.
Ia mengangguk pelan.
“Nah.
Saya sudah bilang.”
Pak Sabar menatap.
“Bilang apa?”
Pak Ramlan menatap jauh.
“Kalau sesuatu terlalu cepat diambil,
alam biasanya diam dulu sebelum marah.”
Pak Sabar menghela napas.
“Pagi-pagi jangan langsung menakut-nakuti.”
Pak Ramlan menjawab datar.
“Saya bukan menakut-nakuti.
Saya hanya konsisten pesimis.”
Siang itu,
warung Mak Darmi lebih ramai dari biasanya.
Topik pembicaraan hanya satu.
Kodok.
Mak Darmi bahkan sampai berkata,
“Dulu orang ke warung bahas beras.
Sekarang bahas kaki kodok.”
Emen tertawa.
“Karena zaman berubah, Mak.”
Nardi yang sedang makan pisang goreng tiba-tiba bertanya,
“Kita ini sedang bahas siapa?”
Semua menoleh.
Rahmat menghela napas.
“Kadang saya iri.
Hidupmu ringan sekali.”
Nardi tersenyum.
“Karena saya sering lupa beban.”
Emen sampai memukul meja karena tertawa.
Namun di sudut warung,
suasana tidak semuanya ringan.
Pak Sabar mulai bicara lebih keras.
“Semalam saya cek sawah.
Memang berkurang.”
Pak Ramlan mengangguk.
“Pasti berkurang.”
Pak Sabar mendelik.
“Jangan mengangguk dulu.
Belum selesai saya bicara.”
Pak Ramlan menghela napas.
“Saya mengangguk bukan setuju.
Saya sudah pesimis dari kemarin.”
Beberapa orang tertawa.
Namun tidak semua.
Karena di desa kecil,
ketika penghasilan seseorang mulai terlihat,
orang lain mulai mencari apa yang bisa disalahkan.
Dan semua mata perlahan mengarah ke satu nama.
Junet.
Junet yang baru datang langsung merasa udara warung berbeda.
Tidak panas.
Tidak marah.
Tetapi dingin.
Dingin seperti orang-orang yang sedang menimbang sesuatu.
Emen mencoba mencairkan suasana.
“Nah, juragan datang.”
Namun kali ini,
tidak banyak yang tertawa.
Junet duduk pelan.
Matanya menangkap tatapan beberapa orang.
Lalu Pak Sabar berkata terus terang.
“Net,
kodok di sawah mulai sedikit.”
Warung langsung sunyi.
Junet menatapnya.
“Sedikit bagaimana?”
Pak Ramlan menjawab sebelum Pak Sabar sempat bicara.
“Ya sedikit.
Namanya juga berkurang.”
Pak Sabar menatap jengkel.
“Biarkan saya yang ngomong.”
Pak Ramlan mengangkat bahu.
“Silakan.
Hasilnya tetap saya pesimis.”
Beberapa orang tertawa kecil,
tapi cepat reda.
Pak Sabar mencondongkan badan.
“Kami cuma khawatir.
Kalau terus diambil,
nanti sawah bagaimana?”
Junet terdiam.
Ia memang belum memikirkan itu.
Selama ini yang ia lihat hanya:
kodok banyak.
Permintaan ada.
Uang masuk.
Ia belum benar-benar berpikir
bahwa sesuatu yang terlihat melimpah
bisa saja punya batas.
Ahmat yang sejak tadi diam akhirnya angkat bicara.
“Saya sudah bilang dari awal.”
Emen menoleh.
“Nah, ceramah dimulai.”
Ahmat tak peduli.
“Alam bukan hanya soal rezeki.
Alam itu keseimbangan.”
Eko mengangguk pelan.
Untuk pertama kalinya,
ia tidak menyanggah.
Rahmat menatap meja.
“Semalam aku mimpi sawah sepi.”
Nardi ikut menoleh.
“Saya juga mimpi.”
Semua menatap.
“Mimpi apa?” tanya Emen.
Nardi berpikir lama.
Lalu menjawab,
“Saya lupa.”
Warung kembali pecah tawa,
meski kali ini tidak benar-benar menghapus ketegangan.
Dari sudut warung,
Dahlan akhirnya bicara.
Nada suaranya santai.
Terlalu santai.
“Kadang memang begitu.”
Semua menoleh.
Dahlan menyeruput kopi.
“Kalau orang baru pegang uang,
sering lupa melihat sekeliling.”
Kalimat itu ringan.
Namun tajam.
Junet menatapnya.
“Kau mau bilang apa?”
Dahlan tersenyum tipis.
“Aku?
Tidak bilang apa-apa.”
Ia meletakkan gelas pelan.
“Aku cuma takut nanti satu desa ikut bayar
karena satu orang terlalu semangat.”
Warung kembali hening.
Dan kali ini,
tidak ada yang tertawa.
Junet pulang sore itu dengan kepala lebih berat dari biasanya.
Di belakang rumah,
ember-ember kosong terbalik.
Pisau dibersihkan.
Kotak es tertata rapi.
Semuanya tampak seperti usaha yang mulai tumbuh.
Namun untuk pertama kalinya,
Junet melihat semuanya dengan rasa berbeda.
Bukan bangga.
Tetapi ragu.
Suara dari warung tadi masih terngiang:
sawah bagaimana?
Ia berdiri lama memandang rawa.
Dulu ia membenci suara kodok.
Lalu ia melihatnya sebagai uang.
Sekarang,
ia mulai bertanya:
apakah ia sedang mengambil terlalu banyak?
Saat matahari hampir tenggelam,
Jayanti datang membawa daun pisang dari kebun ibunya.
Melihat wajah Junet,
ia langsung tahu ada sesuatu.
“Kamu kenapa?”
Junet menatap sawah.
“Kalau sesuatu yang bikin kita hidup...
justru pelan-pelan kita habiskan sendiri,
itu namanya apa?”
Jayanti diam beberapa saat.
Lalu berkata pelan,
“Kadang itu namanya manusia.”
Junet menoleh.
Jayanti duduk di pematang.
Memandang air yang mulai gelap.
“Dari kecil aku lihat orang kampung begini.
Waktu ikan banyak,
semua ditangkap.
Waktu kayu banyak,
semua ditebang.”
Ia menatap Junet.
“Kadang kita baru sadar nilainya
setelah jumlahnya berkurang.”
Junet diam.
Karena untuk pertama kalinya,
ia merasa bukan sedang berburu kodok.
Mungkin ia sedang berburu sesuatu yang lebih rumit:
batas antara rezeki dan keserakahan.
Dari kejauhan,
Dahlan berdiri di bawah pohon pisang.
Melihat Junet dan Jayanti berbicara.
Melihat kegelisahan yang mulai tumbuh.
Dan diam-diam,
senyum tipis muncul di sudut bibirnya.
Karena ia tahu satu hal:
Kadang,
orang tidak perlu menghancurkan lawannya.
Cukup membuat satu kampung
mulai meragukannya.
Malam itu,
Junet turun ke sawah seperti biasa.
Petromaks menyala.
Kabut turun.
Lumpur dingin menyentuh kaki.
Namun malam terasa berbeda.
Suara kodok memang masih ada.
Tapi tidak seramai dulu.
Dan untuk pertama kalinya,
di tengah suara rawa,
Junet mendengar sesuatu yang tak pernah ia dengar sebelumnya:
kegelisahan.
Bukan dari sawah.
Melainkan dari dirinya sendiri.
Karena ternyata,
yang mulai gelisah bukan hanya sawah.
Tetapi seluruh desa.
Dan perlahan,
nama Juragan Kodok
yang dulu terdengar lucu,
mulai berubah menjadi
sesuatu yang bisa memecah orang-orang di sekitarnya.
BAB 8
Musyawarah di Balai Desa
Di desa seperti Sungai Rintik, masalah kecil jarang tetap kecil.
Ia biasanya tumbuh perlahan.
Dibicarakan di warung.
Dibawa ke dapur.
Diselipkan di antara obrolan panen.
Lalu suatu hari,
tanpa terasa,
masalah itu sudah sampai ke kantor desa.
Dan ketika sebuah persoalan sudah masuk ke kantor desa,
artinya urusan itu bukan lagi milik satu orang.
Ia sudah menjadi milik semua orang.
Pagi itu,
pengumuman ditempel di papan dekat warung Mak Darmi.
Kertas putih.
Tulisan tangan.
Cap stempel merah di bawah.
UNDANGAN MUSYAWARAH DESA
Membahas dampak penangkapan kodok di area persawahan warga.
Begitu membaca itu,
Emen langsung menoleh ke Junet.
“Nah.
Sekarang resmi.
Kamu bukan cuma juragan.”
Junet menatap datar.
“Lalu?”
Emen menyeringai.
“Kamu sudah jadi agenda pemerintah.”
Nardi yang berdiri di belakang ikut membaca.
Lalu mengangguk.
“Wah.”
Rahmat melirik.
“Kau paham?”
Nardi berpikir sebentar.
Lalu menjawab,
“Tidak.
Tapi saya ikut tegang.”
Warung pecah tawa,
meski kali ini tawa terasa lebih pendek.
Karena semua tahu:
musyawarah desa bukan tempat bercanda terlalu lama.
Balai desa sore itu lebih ramai dari biasanya.
Kursi plastik disusun berbaris.
Kipas tua berputar pelan di langit-langit.
Bau kayu, kopi, dan tanah basah bercampur menjadi satu.
Di depan duduk:
Pak Lurah,
Pak Agus,
dan beberapa perangkat desa.
Pak Agus, yang terkenal paling intelek di kampung,
sedang membuka buku catatan tebal.
Pak Sabar duduk di barisan depan.
Pak Ramlan duduk di sampingnya dengan wajah seolah sudah tahu semua akan berakhir buruk.
Dahlan duduk agak belakang,
diam,
namun matanya terus memperhatikan.
Junet datang bersama Eko, Ahmat, Rahmat, Emen, dan Nardi.
Begitu ia masuk,
beberapa kepala langsung menoleh.
Tak ada yang berkata apa-apa.
Namun tatapan orang kadang lebih keras daripada suara.
Pak Lurah membuka musyawarah dengan suara tenang.
“Kita kumpul bukan untuk saling menyalahkan.”
Pak Ramlan langsung berdehem kecil.
“Biasanya kalau begitu,
ujungnya tetap saling menyalahkan.”
Pak Sabar menyikutnya.
“Diam dulu.”
Pak Lurah melanjutkan.
“Kita hanya ingin cari jalan terbaik.”
Ia menatap semua warga.
“Karena sawah ini milik kita bersama.
Alam ini juga milik bersama.”
Junet duduk diam.
Tangannya saling menggenggam.
Untuk pertama kalinya,
ia merasa usahanya yang kecil
telah berubah menjadi sesuatu yang lebih besar dari dirinya.
Pak Agus berdiri.
Membuka catatannya.
“Secara logika,” katanya,
“kodok memang membantu ekosistem sawah.”
Nardi berbisik ke Emen,
“Ekosistem itu siapa?”
Emen menjawab cepat,
“Keluarga besar kodok.”
Nardi mengangguk.
“Oh.”
Pak Agus melanjutkan.
“Kalau populasi terlalu berkurang,
hama bisa meningkat.”
Pak Sabar mengangguk cepat.
“Nah itu yang saya takutkan.”
Pak Ramlan ikut bicara,
“Dan saya lebih takut lagi.”
Pak Sabar menoleh kesal.
“Kau ini selalu lebih takut.”
Pak Ramlan mengangkat bahu.
“Itu bakat.”
Beberapa warga tertawa kecil.
Ketegangan sedikit mencair.
Namun tidak lama.
Pak Lurah menatap Junet.
“Net.
Kamu mau bicara?”
Balai desa langsung sunyi.
Junet menelan ludah.
Berdiri perlahan.
Ia menatap wajah-wajah yang dikenalnya sejak kecil.
Tetangga.
Petani.
Orang-orang yang dulu tertawa bersamanya.
Sekarang sebagian menatap dengan ragu.
“Aku...”
Junet menarik napas.
“Awalnya cuma mau cari tambahan.”
Suara kipas tua terdengar berdecit.
“Aku tidak pernah berniat merusak sawah siapa pun.”
Pak Sabar mengangguk pelan.
Namun Dahlan dari belakang tiba-tiba menyela.
“Tapi hasilnya mulai terasa.”
Suasana langsung berubah.
Junet menoleh.
“Apa maksudmu?”
Dahlan bersandar santai.
“Kalau semua orang diam,
masalah tetap ada.”
Pak Lurah mengangkat tangan.
“Bicara bergantian.”
Namun Dahlan tetap menatap Junet.
“Awalnya satu ember.
Lalu dua.
Lalu tiga.”
Ia tersenyum tipis.
“Kalau terus begitu,
sawah kita mau jadi apa?”
Junet merasakan sesuatu naik di dadanya.
Bukan marah biasa.
Tetapi perasaan seperti sedang diadili oleh orang yang diam-diam menunggu ia jatuh.
“Aku tidak ambil dari sawah orang sembarangan.”
Dahlan mengangkat alis.
“Lalu kodoknya tahu batas tanah?”
Beberapa orang mulai berbisik.
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun cukup untuk membuat suasana berubah.
Junet menatap Dahlan.
Untuk pertama kalinya,
ia benar-benar melihat
bahwa masalah ini mungkin bukan hanya soal kodok.
Tetapi soal iri.
Ahmat berdiri.
“Kalau boleh saya bicara.”
Emen berbisik,
“Nah.
Ceramah resmi dimulai.”
Ahmat tak peduli.
“Masalah ini bukan tentang Junet saja.”
Ia menatap warga.
“Masalahnya adalah kita tidak punya aturan.
Kalau ada usaha baru,
harus ada batas.”
Pak Agus mengangguk.
“Itu masuk akal.”
Eko ikut bicara.
“Kita bisa atur zona.
Atau jumlah tangkapan.”
Pak Sabar mengangguk cepat.
“Nah itu.
Bukan langsung dilarang.”
Pak Ramlan mendesah.
“Meski saya tetap pesimis.”
Emen langsung menyela.
“Pak Ramlan bahkan kalau hujan emas pun pasti bilang licin.”
Balai desa akhirnya tertawa.
Bahkan Pak Lurah ikut tersenyum tipis.
Untuk beberapa saat,
suasana yang tegang itu kembali seperti desa:
hangat,
berisik,
dan sedikit absurd.
Namun Dahlan belum selesai.
Ia berdiri pelan.
“Masalahnya bukan cuma kodok.”
Semua menoleh.
Dahlan menatap Junet.
Lalu berkata,
“Masalahnya karena sekarang ada orang yang merasa bisa jalan sendiri.”
Junet mengernyit.
“Apa maksudmu?”
Dahlan tersenyum kecil.
“Dulu kita teman.
Sekarang kau sibuk sendiri.
Semua tentang uang.
Semua tentang usaha.”
Balai desa kembali sunyi.
Kalimat itu lebih tajam
karena terdengar seperti luka lama.
Dan untuk pertama kalinya,
Junet sadar:
yang retak bukan hanya hubungan dengan warga.
Tetapi juga dengan orang-orang terdekat.
Jayanti yang sejak tadi duduk di belakang bersama Nela dan Laila,
akhirnya berdiri.
Semua menoleh.
Jarang ada perempuan muda bicara di tengah musyawarah desa.
Jayanti menatap Pak Lurah.
Lalu berkata pelan namun jelas.
“Kalau boleh..saya mau menyampaikan pendapat.”
Pak Lurah mengangguk.
“Silakan.”
Jayanti menatap semua orang.
“Yang salah bukan mencari rezeki.”
Ia menoleh ke Junet.
Lalu kembali ke warga.
“Yang salah kalau rezeki dicari tanpa memikirkan akibat.”
Balai desa hening.
Jayanti melanjutkan.
“Tapi yang salah juga kalau seseorang langsung disalahkan
sebelum dia diberi kesempatan memperbaiki.”
Junet menatap Jayanti.
Diam.
Karena kadang,
seseorang bisa membela kita
dengan cara yang jauh lebih menyentuh
daripada seribu kata dari mulut sendiri.
Pak Lurah akhirnya mengetuk meja.
“Baik.”
Semua kembali diam.
“Mulai malam ini,
penangkapan dihentikan sementara.”
Junet menegang.
Pak Lurah melanjutkan.
“Sampai kita buat aturan desa.
Jumlah.
Wilayah.
Dan tata kelola.”
Pak Ramlan mengangguk.
“Saya tetap pesimis,
tapi ini lumayan.”
Pak Sabar mendelik.
“Kau ini memang sulit bahagia.”
Beberapa warga tertawa kecil.
Namun Junet tidak.
Karena di dadanya,
ada sesuatu yang terasa jatuh.
Bukan marah.
Bukan kecewa.
Melainkan kesadaran:
usaha yang baru saja tumbuh
mungkin harus berhenti
sebelum benar-benar berjalan.
Saat warga mulai bubar,
Dahlan melewati Junet.
Berhenti sebentar.
Lalu berkata pelan,
“Kadang yang cepat naik...
cepat juga turunnya.”
Lalu ia pergi.
Meninggalkan Junet berdiri sendiri di tengah balai desa
yang perlahan mulai kosong.
Di luar,
langit mulai gelap.
Jayanti menghampirinya.
“Kamu marah?”
Junet menatap halaman balai yang basah.
“Tidak tahu.”
Jayanti diam beberapa saat.
Lalu berkata lembut,
“Kadang hidup memang tidak melarang kita berjalan.”
Junet menoleh.
“Lalu?”
Jayanti tersenyum tipis.
“Hidup hanya ingin tahu
apakah kita tahu kapan harus berhenti.”
Junet menatapnya lama.
Dan di tengah suara malam yang mulai turun,
ia sadar satu hal:
konflik yang sebenarnya
baru saja dimulai.
Karena setelah musyawarah itu,
yang mulai berubah bukan hanya usaha Junet.
Tetapi seluruh hubungan di sekitarnya.
Dan di desa kecil,
tidak ada yang lebih berbahaya
daripada ketika orang-orang yang dulu tertawa bersama
mulai saling memandang dengan curiga.
BAB 9
Sahabat Menjadi Lawan
Setelah musyawarah di balai desa, suasana Sungai Rintik berubah pelan-pelan.
Tidak ada pertengkaran besar.
Tidak ada teriakan.
Tidak ada pintu dibanting.
Namun justru itu yang membuatnya terasa lebih berat.
Karena kadang,
hubungan tidak rusak oleh ledakan.
Kadang ia retak
karena diam yang terlalu lama.
Pagi di warung Mak Darmi biasanya penuh tawa.
Biasanya ada suara Emen.
Ada pertanyaan aneh Nardi.
Ada ramalan Rahmat.
Ada sindiran Pak Ramlan yang selalu pesimis.
Namun pagi itu,
bahkan suara sendok yang menyentuh gelas terdengar lebih jelas.
Junet datang seperti biasa.
Duduk seperti biasa.
Memesan kopi seperti biasa.
Tetapi tak ada yang benar-benar sama.
Emen masih tersenyum,
namun senyumnya lebih pendek.
Eko masih mengangguk,
namun tidak langsung bicara.
Rahmat tetap menatap langit,
seolah mencari pertanda yang tidak kunjung datang.
Dan Dahlan,
duduk di sudut,
terlalu tenang.
Mak Darmi meletakkan kopi di depan Junet.
“Minum.”
Junet mengangguk pelan.
Dari sebelah,
Pak Ramlan mendesah.
“Saya sudah bilang.”
Pak Sabar yang duduk di samping langsung menoleh.
“Kau bilang apa lagi sekarang?”
Pak Ramlan menyeruput kopi.
“Kalau uang masuk,
biasanya teman keluar.”
Emen menghela napas.
“Pak Ramlan ini kalau pagi bukan sarapan.
Tapi pesimisme.”
Warung tertawa kecil.
Namun tawa itu tak benar-benar menghapus dingin.
Junet mencoba memecah suasana.
“Rahmat.”
Rahmat menoleh.
“Iya?”
“Semalam ada ramalan?”
Rahmat mengangguk pelan.
“Ada.”
Junet menunggu.
Rahmat menatap cangkir kopi.
Lalu berkata,
“Kadang musuh tidak datang dari orang yang tidak kenal.”
Junet mengerutkan kening.
“Lalu?”
Rahmat menatapnya.
“Kadang justru dari orang
yang terlalu lama berdiri dekat.”
Warung mendadak sunyi.
Emen berhenti tersenyum.
Eko menunduk.
Bahkan Nardi yang biasanya terlambat paham,
kali ini ikut merasa suasana berubah.
Junet menatap Rahmat.
Lalu perlahan menoleh ke arah Dahlan.
Dahlan hanya tersenyum tipis.
Senyum yang terlalu tenang.
Sore harinya,
Junet mendapati sesuatu yang aneh di belakang rumah.
Salah satu perangkap bambunya patah.
Tali jaring putus.
Kotak penyimpanan bergeser.
Ia berdiri diam.
Melihat.
Memeriksa.
Menghitung.
Itu bukan rusak karena angin.
Seseorang telah menyentuhnya.
Eko yang datang belakangan ikut memeriksa.
“Ini sengaja.”
Junet mengangguk pelan.
“Aku juga tahu.”
Emen yang berdiri di belakang langsung berkomentar,
“Kalau ini hantu,
berarti hantunya iri.”
Nardi menatap bambu patah.
“Kalau manusia?”
Emen menjawab cepat,
“Berarti manusia itu lebih menyeramkan.”
Tak ada yang tertawa kali ini.
Karena semua tahu,
Emen mungkin sedang bercanda.
Tapi bisa jadi ia benar.
Malamnya,
mereka berkumpul di beranda rumah Junet.
Hanya berlima:
Junet, Eko, Emen, Rahmat, dan Nardi.
Ahmat tidak datang.
Katanya sedang membantu pamannya.
Namun Junet tahu,
sejak musyawarah,
Ahmat mulai menjaga jarak.
Junet duduk sambil menatap petromaks.
“Menurut kalian siapa?”
Tak ada yang langsung menjawab.
Eko akhirnya berkata,
“Orang yang tahu tempat ini.”
Rahmat menambahkan,
“Orang yang tahu kapan kamu tidak di rumah.”
Emen menoleh.
“Dan orang yang terlalu peduli.”
Nardi mengangkat tangan pelan.
“Saya tahu satu orang.”
Semua menoleh.
Nardi berpikir lama.
Lalu berkata,
“Tapi saya lupa namanya.”
Emen menepuk jidat.
“Ya Tuhan.”
Untuk pertama kalinya malam itu,
Junet tertawa kecil.
Kadang bahkan di tengah masalah,
Nardi tetap bisa menjadi jeda yang tidak sengaja.
Namun keesokan harinya,
kecurigaan itu mulai menemukan bentuk.
Junet lewat di belakang warung
dan mendengar suara dari dalam.
Suara Dahlan.
“Dia mulai merasa besar.”
Junet berhenti.
Dari celah papan,
ia melihat Dahlan sedang bicara dengan dua pemuda kampung.
“Kalau dibiarkan,
nanti sawah orang pun bisa dia anggap miliknya.”
Salah satu pemuda bertanya,
“Serius?”
Dahlan mengangguk.
“Kalian lihat sendiri.
Dulu dia siapa?”
Junet diam.
Dahlan melanjutkan,
“Sekarang baru pegang uang sedikit,
sudah jalan sendiri.”
Junet merasakan dadanya menegang.
Bukan karena marah.
Tetapi karena sakit.
Karena tak ada yang lebih menyakitkan
daripada mendengar seseorang yang pernah duduk satu meja
pelan-pelan mengubah cerita tentangmu.
Junet masuk ke warung.
Pintu kayu terbuka keras.
Semua menoleh.
Dahlan berhenti bicara.
Namun tidak terlihat terkejut.
Junet menatapnya.
“Kau punya masalah sama aku?”
Warung langsung hening.
Dahlan menyesap kopi dulu.
Baru menjawab.
“Kalau aku bilang iya?”
Junet melangkah mendekat.
“Kenapa?”
Dahlan menatapnya lurus.
“Karena kau berubah.”
Junet mengerutkan kening.
“Semua orang berubah.”
Dahlan tersenyum tipis.
“Tidak semua orang lupa siapa yang ada saat dia belum punya apa-apa.”
Kalimat itu menggantung di udara.
Berat.
Pahit.
Dan terlalu jujur untuk langsung dibantah.
Emen mencoba mencairkan.
“Kalau mau berantem,
jangan dekat pisang goreng.
Nanti saya rugi.”
Tak ada yang tertawa.
Eko berdiri.
“Sudah.”
Namun Dahlan belum selesai.
Ia berdiri pelan.
Lebih dekat pada Junet.
“Dulu kita sama-sama.”
katanya.
“Sekarang kau bicara seolah semua hasilmu sendiri.”
Junet menatapnya.
“Aku tidak pernah bilang begitu.”
Dahlan tertawa kecil.
“Tapi caramu diam sudah cukup.”
Junet terdiam.
Karena kadang,
seseorang tidak marah pada apa yang kita katakan.
Kadang mereka marah
pada apa yang mereka rasakan sendiri.
Di sudut warung,
Pak Agus yang sejak tadi diam akhirnya berkata,
“Masalah terbesar desa bukan uang.”
Semua menoleh.
Pak Agus menutup bukunya.
“Masalah terbesar desa adalah
ketika iri hati mulai memakai wajah persahabatan.”
Warung langsung sunyi.
Dahlan menatap Pak Agus.
Namun tak membalas.
Karena beberapa kalimat memang terlalu tepat
untuk dilawan.
Malam itu,
Junet duduk sendiri di pinggir sawah.
Petromaks tidak dinyalakan.
Ia hanya duduk dalam gelap.
Mendengar suara kodok.
Mendengar air.
Mendengar dirinya sendiri.
Jayanti datang pelan-pelan.
Duduk di sampingnya tanpa bicara.
Cukup lama mereka diam.
Lalu Jayanti bertanya pelan,
“Karena Dahlan?”
Junet mengangguk.
“Rasanya aneh.”
katanya.
“Kalau orang asing benci, mungkin biasa.”
Ia menatap gelap rawa.
“Tapi kalau sahabat sendiri mulai menjauh...
rasanya seperti kehilangan rumah.”
Jayanti diam beberapa saat.
Lalu berkata lembut,
“Kadang orang tidak benar-benar marah
karena kita berubah.”
Junet menoleh.
“Lalu?”
Jayanti menatap air.
“Mereka marah
karena takut kita tidak lagi membutuhkan mereka.”
Junet terdiam.
Kalimat itu masuk pelan.
Namun tepat.
Dan seperti biasa,
Jayanti selalu tahu cara mengatakan hal yang tidak bisa Junet jelaskan sendiri.
Di kejauhan,
Dahlan berdiri di pematang seberang.
Melihat mereka berdua.
Melihat Junet yang duduk bersama Jayanti.
Melihat sesuatu yang dulu diam-diam juga ia inginkan.
Dan malam itu,
untuk pertama kalinya,
iri hati di dalam dirinya
berubah menjadi keputusan.
Bukan lagi sekadar rasa tidak suka.
Tetapi niat.
Junet tidak melihatnya.
Ia hanya menatap air hitam di depannya.
Mendengar suara rawa.
Dan untuk pertama kalinya,
suara kodok tidak terdengar seperti gangguan.
Yang mengganggu justru kenyataan
bahwa kadang,
yang paling melukai kita
bukan orang yang datang sebagai musuh.
Tetapi orang
yang dulu pernah kita panggil sahabat.
BAB 10
Cinta yang Mulai Menjauh
Kadang,
masalah tidak datang untuk menghancurkan hidup sekaligus.
Ia datang pelan-pelan.
Seperti kabut pagi di atas rawa.
Tipis.
Nyaris tak terlihat.
Namun perlahan menutupi semuanya.
Dan yang pertama kali diselimuti kabut itu
bukan usaha Junet.
Melainkan hatinya sendiri.
Setelah musyawarah desa,
setelah tatapan orang mulai berubah,
setelah Dahlan mulai menebar cerita ke mana-mana,
Junet merasa sesuatu mulai bergeser.
Bukan di sawah.
Bukan di warung.
Bukan di rumah.
Tetapi pada Jayanti.
Perempuan yang biasanya tersenyum lebih dulu,
kini lebih sering menunduk.
Yang dulu berhenti di pematang,
kini hanya lewat sambil mengangguk kecil.
Yang dulu duduk menemani di bawah cahaya petromaks,
kini seolah selalu punya alasan untuk pulang lebih cepat.
Awalnya Junet menganggap itu perasaannya saja.
Namun lama-lama,
bahkan orang seperti Nardi pun bisa melihatnya.
Pagi itu di warung,
Nardi menatap Junet lama.
“Ada yang hilang.”
Junet mengernyit.
“Apa?”
Nardi berpikir.
Lama sekali.
Semua menunggu.
Lalu ia berkata,
“Senyummu.”
Emen yang sedang minum kopi sampai terbatuk.
“Ya Tuhan.
Sekali-kali dia benar.”
Rahmat mengangguk pelan.
“Memang.”
Junet menghela napas.
“Tidak ada apa-apa.”
Emen menyandarkan badan.
“Kalau tidak ada apa-apa,
kenapa kau lihat jalan tiap lima menit?”
Eko yang diam sejak tadi ikut bicara.
“Karena menunggu seseorang.”
Junet menoleh.
“Kalian semua sekarang kerjaannya ngawasin aku?”
Emen tertawa.
“Bukan ngawasin.
Kamu terlalu mudah dibaca.”
Pak Ramlan yang duduk dekat jendela ikut berkomentar.
“Biasanya beginilah.”
Semua menoleh.
Pak Sabar mengeluh,
“Kau lagi?”
Pak Ramlan mengangguk.
“Kalau masalah datang,
rezeki sering ikut diuji dari hati.”
Emen menatap.
“Pak Ramlan ini pesimisnya sudah seperti puisi.”
Untuk pertama kalinya pagi itu,
Junet tersenyum tipis.
Tapi memang hanya tipis.
Karena di dalam dada,
ia tahu mereka tidak salah.
Siang harinya,
Junet melihat Jayanti di sumur belakang rumah Nela.
Matahari turun miring.
Angin membawa bau daun basah.
Suara burung rawa terdengar jauh.
Junet mendekat pelan.
“Jayanti.”
Jayanti menoleh.
Lalu tersenyum kecil.
Namun berbeda.
Tidak sehangat biasanya.
“Kamu sibuk?”
Jayanti menggeleng.
“Tidak.”
Namun tangannya tetap sibuk menggulung tali timba.
Seolah ada sesuatu yang sengaja ia hindari.
Junet berdiri beberapa langkah darinya.
“Aku salah apa?”
Jayanti berhenti.
Tangannya diam di atas tali.
“Kenapa tanya begitu?”
“Karena kamu berubah.”
Jayanti menunduk.
Tidak langsung menjawab.
Dan diam itu justru lebih menyesakkan
daripada jawaban apa pun.
Beberapa saat kemudian,
Jayanti berkata pelan.
“Bukan aku yang berubah.”
Junet mengernyit.
“Lalu?”
Jayanti menatapnya.
Mata yang biasanya lembut
kini tampak penuh sesuatu yang sulit dijelaskan.
“Kamu.”
Junet terdiam.
Jayanti menarik napas pelan.
“Dulu kamu marah pada suara kodok.
Sekarang kamu marah pada semua orang.”
“Aku tidak marah.”
Jayanti tersenyum tipis.
Sedih.
“Kamu tidak sadar saja.”
Kalimat itu sederhana.
Namun menghantam lebih keras daripada tuduhan.
Karena kadang,
orang yang paling mengenal kita
adalah orang pertama yang melihat perubahan kecil
yang kita sendiri belum berani akui.
Junet menatap tanah.
“Aku cuma capek.”
Jayanti mengangguk.
“Aku tahu.”
“Lalu?”
Jayanti memegang ember.
Suaranya hampir berbisik.
“Aku takut.”
Junet menoleh.
“Takut apa?”
Jayanti diam beberapa detik.
Lalu berkata,
“Takut yang sedang kamu kejar
membuat kamu kehilangan dirimu sendiri.”
Junet terdiam.
Di belakang mereka,
angin menggerakkan daun pisang.
Air sumur bergoyang pelan.
Dan tiba-tiba,
jarak dua langkah di antara mereka
terasa lebih jauh daripada seluruh sawah desa.
Dari kejauhan,
Laila yang lewat bersama Neli sempat melihat mereka.
Laila berbisik,
“Waduh.
Ini bukan suasana kodok.
Ini suasana patah hati.”
Neli mengangguk.
“Kalau patah hati bisa dijual,
Bang Junet kaya lagi.”
Mereka tertawa kecil lalu cepat pergi,
karena bahkan mereka tahu:
ada beberapa momen
yang tak pantas diganggu.
Malam itu,
Junet turun ke sawah sendirian.
Tanpa Emen.
Tanpa Rahmat.
Tanpa siapa-siapa.
Ia membawa petromaks.
Karung.
Jaring.
Namun malam terasa berbeda.
Lampu kuning yang dulu terasa hangat,
sekarang justru terasa sunyi.
Suara kodok masih ada.
Air masih bergerak.
Kabut masih turun.
Tetapi sesuatu di dalam dirinya
tidak lagi sama.
Ia menangkap satu kodok.
Lalu dua.
Lalu tiga.
Namun setiap kali tangannya bergerak,
yang terngiang justru suara Jayanti:
“Aku takut kamu kehilangan dirimu sendiri.”
Junet berhenti di tengah sawah.
Menatap pantulan wajahnya sendiri di air lumpur.
Dan untuk pertama kalinya,
ia benar-benar bertanya:
Sejak kapan
ia mulai berubah menjadi seseorang
yang bahkan dirinya sendiri
hampir tidak kenal?
Di tepi sawah seberang,
tanpa Junet sadari,
Dahlan berdiri dalam gelap.
Melihat.
Menunggu.
Dan di wajahnya,
terselip senyum kecil.
Karena kadang,
orang yang ingin menjatuhkan kita
tidak perlu mendorong.
Mereka hanya perlu menunggu
sampai hidup kita sendiri
pelan-pelan menciptakan jaraknya.
Keesokan paginya,
desas-desus baru mulai beredar.
Bukan lagi tentang kodok.
Bukan lagi soal sawah.
Tetapi tentang Jayanti.
Tentang kedekatannya dengan Junet.
Tentang tatapan.
Tentang pertemuan malam.
Tentang cerita yang dibesar-besarkan.
Dan seperti biasa,
Dahlan selalu tahu
bagaimana caranya membuat satu cerita kecil
terdengar seperti skandal besar.
Di warung,
Emen mendengar lebih dulu.
Ia langsung mendekati Junet.
“Masalah baru.”
Junet menoleh.
“Apa lagi?”
Emen menatapnya.
“Sekarang bukan soal usaha.”
Junet mengernyit.
“Lalu?”
Emen menjawab pelan.
“Soal Jayanti.”
Junet membeku.
Rahmat yang duduk di samping hanya berkata lirih,
“Aku sudah lihat tanda-tandanya.”
Nardi ikut mengangguk.
“Saya juga.”
Emen menatap.
“Kau lihat apa?”
Nardi berpikir.
Lalu menjawab,
“Entahlah.
Tapi saya ikut tegang.”
Untuk pertama kalinya,
tak ada yang tertawa.
Karena kali ini,
bahkan lelucon pun terasa tidak cukup.
Sore itu,
Junet melihat Jayanti berjalan pulang lebih cepat.
Biasanya ia menoleh.
Biasanya ia tersenyum.
Biasanya ada sesuatu.
Namun kali ini,
Jayanti hanya berjalan lurus
seolah tak ingin memperpanjang apa pun.
Dan Junet berdiri di pinggir sawah,
memandang punggung perempuan itu menjauh,
dengan perasaan yang jauh lebih berat
daripada ember kodok mana pun yang pernah ia angkat.
Karena ternyata,
kehilangan uang bisa dicari lagi.
Kehilangan kesempatan bisa diperbaiki.
Tetapi ketika seseorang
yang diam-diam mulai menjadi rumah
perlahan memilih menjauh,
bahkan suara rawa
pun terasa lebih sepi
daripada biasanya.
Malam turun perlahan.
Petromaks menyala.
Kodok bernyanyi.
Kabut turun.
Namun malam itu,
untuk pertama kalinya,
Junet tidak merasa ditemani oleh suara rawa.
Ia justru merasa sendiri.
Karena di antara semua hal
yang mulai menjauh darinya,
yang paling ia takutkan
bukan usaha.
bukan sahabat.
bukan nama.
Melainkan Jayanti.
BAB 11
Malam Tanpa Suara
Ada malam-malam tertentu di desa sungai rintik
yang terasa lebih sunyi daripada biasanya.
Bukan karena angin berhenti.
Bukan karena hujan reda.
Bukan karena manusia memilih diam.
Tetapi karena alam sendiri
seperti sedang menahan napas.
Dan malam itu,
untuk pertama kalinya dalam hidupnya,
Junet mendengar sesuatu
yang jauh lebih menakutkan
daripada suara kodok.
Kesunyian.
Sejak sore,
langit sudah terlihat aneh.
Kabut turun terlalu cepat.
Angin bergerak pelan.
Burung-burung rawa terbang rendah,
seolah sedang menghindari sesuatu yang tak terlihat.
Pak Ramlan yang lewat depan rumah
bahkan berhenti sambil menatap langit.
“Saya tidak suka malam begini.”
Junet yang sedang membersihkan jaring menoleh.
“Kenapa?”
Pak Ramlan menghela napas.
“Karena biasanya kalau alam terlalu diam,
besok ada masalah.”
Emen yang duduk di pagar langsung tertawa.
“Pak Ramlan kalau lihat pelangi pun bisa curiga.”
Pak Ramlan mengangguk tenang.
“Karena saya konsisten.”
Nardi yang berdiri di samping ikut bertanya,
“Kalau saya diam begini,
berarti besok juga ada masalah?”
Emen menatapnya.
“Kalau kau diam,
justru itu mukjizat.”
Semua tertawa kecil.
Namun entah kenapa,
malam itu,
bahkan tawa pun terasa tidak benar-benar ringan.
Junet tetap turun ke sawah.
Sendirian.
Ia membawa petromaks.
Karung kosong.
Jaring.
Dan pikiran yang sejak beberapa hari terakhir
tak pernah benar-benar tenang.
Tentang warga.
Tentang Dahlan.
Tentang Jayanti.
Namun saat kakinya menyentuh lumpur,
ia langsung berhenti.
Biasanya,
begitu petromaks menyala,
puluhan mata kecil memantul dari sela rumput.
Suara kodok bersahutan dari segala arah.
Rawa seperti orkestra yang tak pernah tidur.
Malam itu,
tidak ada.
Junet mengangkat lampu lebih tinggi.
Hanya air hitam.
Kabut tipis.
Padi yang bergerak pelan.
Dan sunyi.
Ia melangkah lebih jauh.
Blup.
Blup.
Lumpur menelan kaki sampai mata kaki.
Namun tetap tak ada suara.
Junet menoleh ke kanan.
Ke kiri.
Ke belakang.
Tetap sama.
Sunyi.
Dada Junet mulai terasa sempit.
Karena ia baru sadar:
selama ini ia mengira
yang mengganggunya adalah suara kodok.
Padahal tanpa suara itu,
malam justru terasa jauh lebih menyeramkan.
“Ini tidak normal...”
gumamnya pelan.
Ia berjalan sampai petakan sawah sebelah.
Lalu ke pematang kecil dekat rawa belakang.
Lalu ke saluran air.
Tetap tidak ada.
Bahkan seekor pun.
Junet berdiri diam.
Petromaks bergoyang kecil di tangannya.
Cahaya kuning memantul di wajahnya yang pucat.
Dan untuk pertama kalinya,
ia merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya:
takut.
Dari kejauhan terdengar suara langkah.
Junet menoleh cepat.
Ternyata Eko.
“Kenapa kau belum pulang?” tanya Eko.
Junet menatap sawah.
“Kau dengar?”
Eko diam.
Mendengarkan.
Wajahnya perlahan berubah.
“Sepi.”
Junet mengangguk.
“Tidak ada satu pun.”
Eko menatap rawa gelap.
Lalu berkata pelan,
“Ini bukan karena ditangkap.”
Junet menoleh.
“Lalu?”
Eko menggeleng.
“Kalau cuma berkurang, masih ada.
Ini hilang.”
Kalimat itu membuat udara terasa lebih dingin.
Karena benar.
Ini bukan sedikit.
Ini lenyap.
Mereka pulang lebih cepat malam itu.
Dan ketika sampai di warung Mak Darmi,
ternyata beberapa orang sudah lebih dulu berkumpul.
Pak Sabar.
Pak Ramlan.
Ahmat.
Rahmat.
Bahkan Mirna.
Begitu melihat Junet,
Pak Sabar langsung bertanya.
“Di sawahmu juga?”
Junet terdiam.
Lalu mengangguk.
Pak Sabar menatap meja.
“Sawah saya juga.”
Rahmat memejamkan mata.
“Aku sudah merasa.”
Emen melirik.
“Kali ini jangan bilang kau mimpi.”
Rahmat membuka mata.
“Bukan mimpi.”
“Lalu?”
Rahmat berkata lirih,
“Kadang sebelum sesuatu hilang,
alam selalu memberi tanda.
Cuma manusia jarang mau mendengar.”
Warung mendadak sunyi.
Bahkan Emen tidak menyela.
Di sudut warung,
Dahlan duduk sambil minum kopi.
Tenang.
Terlalu tenang.
Junet memperhatikannya.
Dahlan tidak terlihat terkejut.
Tidak panik.
Tidak heran.
Seolah ia sudah tahu.
Perasaan dingin merambat di dada Junet.
Bukan karena rawa.
Tetapi karena firasat.
Pak Agus datang beberapa menit kemudian.
Membawa senter besar dan catatan kecil.
Ia menatap satu per satu wajah warga.
Lalu berkata,
“Kalau hilang serempak,
berarti ada penyebab.”
Pak Sabar bertanya cepat,
“Penyebab apa?”
Pak Agus menjawab pelan,
“Racun.
Air tercemar.
Atau ada yang sengaja.”
Kata terakhir itu
langsung menggantung di udara.
Sengaja.
Semua orang saling menatap.
Tak ada yang bicara.
Namun semua memikirkan hal yang sama.
Nardi tiba-tiba mengangkat tangan.
“Saya tahu.”
Semua menoleh.
Emen memijat kening.
“Ya ampun.
Apa lagi?”
Nardi menatap serius.
“Mungkin mereka pindah.”
Pak Sabar mengerutkan dahi.
“Pindah ke mana?”
Nardi berpikir lama.
Lalu menjawab,
“Ke desa sebelah.”
Warung hening dua detik.
Lalu Emen tertawa keras.
Bahkan Pak Agus sampai menunduk menahan senyum.
Namun tawa itu hanya sebentar.
Karena sesudahnya,
sunyi kembali.
Dan kali ini,
sunyi itu terasa lebih berat.
Junet duduk di bangku kayu.
Menatap gelas kopi yang sudah dingin.
Selama ini,
ia takut usahanya berhenti.
Namun tidak seperti ini.
Bukan karena warga melarang.
Bukan karena ia menyerah.
Tetapi karena sesuatu di sawah
benar-benar berubah.
Dan di dalam dirinya,
satu pertanyaan mulai tumbuh:
Apakah ini kebetulan?
Atau seseorang memang menginginkan semua ini terjadi?
Saat semua mulai bubar,
Junet keluar warung.
Udara malam terasa lebih dingin.
Kabut turun sampai ke lutut.
Sawah tampak seperti lautan hitam.
Dan di ujung jalan kecil,
Jayanti berdiri.
Membawa lampu kecil.
Menatapnya.
“Kamu juga dengar?”
Junet mengangguk pelan.
Jayanti menatap sawah.
Wajahnya samar diterpa cahaya.
“Aneh ya...”
Junet bertanya,
“Apa?”
Jayanti menjawab pelan.
“Kadang kita baru sadar
suara itu penting,
setelah ia benar-benar hilang.”
Junet menatapnya lama.
Karena bukan hanya suara kodok
yang sedang ia rasakan hilang.
Tetapi juga sesuatu di antara mereka.
Dari kejauhan,
di balik batang pisang,
sepasang mata mengawasi.
Diam.
Tidak bergerak.
Dahlan.
Dan di wajahnya,
ada senyum tipis
yang tidak terlihat oleh siapa pun.
Malam itu,
Junet tidak tidur.
Ia duduk di beranda
hingga petromaks hampir padam.
Tidak ada suara kodok.
Tidak ada suara rawa.
Tidak ada nyanyian malam.
Hanya suara dirinya sendiri
yang akhirnya berani bertanya:
Mungkin selama ini,
yang hilang bukan hanya kodok.
Mungkin kepercayaan.
Mungkin persahabatan.
Mungkin cinta.
Dan mungkin,
seseorang sedang memastikan
semuanya hilang
satu per satu.
BAB 12
Hama dari Balik Keserakahan
Kesunyian malam ternyata bukan pertanda terakhir.
Ia hanya pembuka.
Karena beberapa hari setelah suara kodok menghilang,
desa Sungai Rintik mulai mendengar suara lain.
Suara yang jauh lebih kecil.
Namun jauh lebih merusak.
Suara belalang.
Suara serangga.
Suara daun padi yang perlahan habis dimakan.
Dan dari situlah,
orang-orang mulai percaya
bahwa sawah yang kehilangan kodok
sedang menagih sesuatu.
Pagi itu,
teriakan Pak Sabar terdengar sampai ujung jalan.
“Ya Allah!”
Junet yang sedang mencuci ember di belakang rumah langsung menoleh.
Tak lama kemudian,
suara langkah orang mulai ramai di pematang.
Satu per satu warga keluar rumah.
Anak-anak berlari.
Ibu-ibu berdiri di pagar.
Di desa kecil,
teriakan satu orang
selalu bisa mengumpulkan satu kampung.
Junet ikut berjalan ke sawah.
Dan begitu sampai,
ia langsung mengerti.
Daun padi di petakan milik Pak Sabar
berlubang-lubang.
Beberapa batang mulai menguning.
Belalang kecil meloncat ke mana-mana.
Ulat menempel di batang.
Dan di atas lumpur,
serangga air bergerak liar
seolah tak lagi punya pemangsa.
Pak Sabar berdiri dengan wajah panik.
“Habis sawahku!”
Pak Ramlan yang berdiri di belakang langsung mendesah.
“Nah.
Saya sudah bilang.”
Pak Sabar menoleh marah.
“Kalau kau datang cuma buat bilang itu,
lebih baik pulang.”
Pak Ramlan mengangguk tenang.
“Saya memang mau pulang.”
Emen yang baru datang langsung berbisik,
“Pak Ramlan ini bahkan kalau kiamat datang,
masih sempat bilang ‘saya sudah duga.’”
Beberapa orang tertawa kecil.
Namun tidak lama.
Karena kali ini,
tak ada yang benar-benar lucu.
Pak Agus jongkok memeriksa batang padi.
Ia mengangkat satu daun.
Melihat bekas gigitan.
Lalu menatap sekeliling.
“Ini mulai parah.”
Junet bertanya pelan,
“Karena kodok?”
Pak Agus mengangguk.
“Bisa jadi.
Kodok pemakan serangga.
Kalau rantainya putus,
hama naik.”
Kalimat itu sederhana.
Namun bagi Junet,
rasanya seperti batu yang jatuh tepat di dada.
Ia tahu apa artinya.
Meskipun belum tentu semua salahnya,
namanya akan tetap jadi orang pertama yang disebut.
Dan benar saja.
Dari belakang,
Dahlan bersuara cukup keras
agar semua orang mendengar.
“Kalau bukan karena kodok diambil besar-besaran,
tidak mungkin begini.”
Suasana langsung berubah.
Beberapa orang menoleh ke Junet.
Tatapan yang dulu penuh candaan,
kini mulai berisi tuduhan.
Junet menatap Dahlan.
“Kau jangan asal bicara.”
Dahlan melangkah maju.
“Lalu siapa yang tiap malam masuk sawah?”
Junet diam.
Dahlan melanjutkan,
“Siapa yang jual ke kota?”
“Siapa yang bilang kodok itu rezeki?”
Junet mengepalkan tangan.
Bukan karena tidak punya jawaban.
Tetapi karena beberapa tuduhan
lebih sulit dilawan
saat sebagian orang memang ingin percaya.
Pak Sabar menatap Junet.
Tidak marah.
Namun kecewa.
“Net...
kami cuma takut.”
Kalimat itu justru lebih berat.
Karena marah bisa dibalas.
Tapi kecewa,
sering kali hanya bisa ditanggung.
Junet menunduk.
Ia ingin menjelaskan.
Ingin bilang ia juga tidak tahu.
Ingin bilang ia tak pernah bermaksud begini.
Namun semua kata terasa terlambat.
Rahmat berdiri di samping Junet.
“Tidak semua salah dia.”
Semua menoleh.
Rahmat berkata pelan,
“Kadang yang merusak bukan yang terlihat.”
Dahlan menyeringai.
“Lalu siapa?”
Rahmat menatap sawah.
“Keserakahan.”
Pak Ramlan mengangguk.
“Nah.
Yang ini saya setuju.”
Emen menoleh.
“Pertama kali dalam hidup saya lihat Pak Ramlan setuju tanpa pesimis.”
Pak Ramlan menjawab datar.
“Saya tetap pesimis.
Cuma sekarang lebih puitis.”
Bahkan di tengah ketegangan,
Emen nyaris tertawa.
Namun Junet tidak.
Karena kata itu terus terngiang di kepalanya:
keserakahan.
Siang itu,
warga mulai membicarakan satu hal.
Penyemprotan.
Pembersihan.
Dan kemungkinan menghentikan seluruh aktivitas penangkapan.
Bagi sebagian orang,
masalahnya sederhana.
Kodok hilang.
Hama datang.
Salahkan Junet.
Bagi sebagian lain,
itu terlalu mudah.
Namun di desa,
orang sering memilih jawaban paling cepat
daripada kebenaran paling rumit.
Sore harinya,
Junet duduk sendiri di belakang rumah.
Ember kosong terbalik.
Pisau tergeletak.
Kotak es tak terpakai.
Untuk pertama kalinya,
semua alat itu terlihat bukan seperti usaha.
Melainkan seperti bukti.
Bukti bahwa sesuatu pernah dimulai dengan niat baik
lalu berubah menjadi beban.
Jayanti datang pelan membawa air minum.
Ia duduk di samping tanpa bicara.
Beberapa saat mereka hanya diam.
Lalu Jayanti berkata,
“Semua orang sedang takut.”
Junet menatap tanah.
“Termasuk kamu?”
Jayanti diam.
Lalu menjawab jujur.
“Iya.”
Junet menoleh.
“Takut sama aku?”
Jayanti menatapnya lama.
“Takut kamu terlalu keras menyalahkan diri sendiri.”
Junet terdiam.
Karena dari semua kemungkinan,
itulah jawaban yang paling tidak ia duga.
“Aku tidak mau begini,”
kata Junet pelan.
“Aku tahu.”
“Aku cuma mau hidup berubah.”
Jayanti tersenyum tipis.
Sedih.
“Kadang hidup memang berubah.”
Ia menatap sawah yang mulai kuning.
“Tapi tidak selalu sesuai cara yang kita mau.”
Angin sore bergerak pelan.
Daun padi bergesekan.
Suara serangga terdengar dari kejauhan.
Dan untuk pertama kalinya,
Junet merasa bukan hanya sawah yang rusak.
Tetapi juga dirinya sendiri.
Malamnya,
Pak Agus datang ke rumah Junet.
Membawa lampu senter.
Wajah serius.
Langkah pelan.
Ibunya mempersilakan masuk.
Pak Agus duduk di kursi kayu.
Menatap Junet lama.
Lalu berkata,
“Saya percaya satu hal.”
Junet mengangkat kepala.
“Apa?”
Pak Agus menatap lurus.
“Ini bukan sekadar karena kodok ditangkap.”
Junet mengernyit.
“Maksudnya?”
Pak Agus merendahkan suara.
“Kalau alam terganggu, iya.
Tapi hilangnya terlalu cepat.
Hama datang terlalu serempak.”
Junet menatapnya.
Dada kembali terasa dingin.
“Bapak curiga?”
Pak Agus mengangguk pelan.
“Ada yang bermain.”
Kalimat itu membuat udara di rumah mendadak berat.
Junet menelan ludah.
“Siapa?”
Pak Agus diam sebentar.
Lalu berkata,
“Saya belum tahu.”
Ia menatap Junet.
“Tapi hati-hati.
Kadang orang yang iri
lebih berbahaya daripada hama.”
Setelah Pak Agus pulang,
Junet duduk lama di beranda.
Menatap sawah gelap.
Menatap malam.
Menatap kesalahan yang belum tentu sepenuhnya miliknya.
Dan di balik semua suara malam,
ia mulai memahami sesuatu:
Kadang keserakahan bukan hanya soal uang.
Kadang seseorang bisa merusak banyak hal
bukan karena ingin kaya.
Tetapi karena tidak tahan
melihat orang lain bahagia.
Di kejauhan,
di bawah bayangan pohon kelapa,
Dahlan berdiri sendiri.
Menatap rumah Junet.
Dengan mata yang dingin.
Dan senyum kecil
yang pelan-pelan mulai terlihat seperti sesuatu
yang jauh lebih gelap
daripada iri hati biasa.
Karena yang sedang menyerang sawah Sungai Rintik
mungkin memang hama.
Namun yang mulai menyerang hidup Junet
bukan lagi sekadar nasib.
Melainkan seseorang
yang perlahan sedang menunggu
sampai semuanya benar-benar hancur.
BAB 13
Menebus Kesalahan
Ada saat dalam hidup
ketika seseorang berhenti bertanya,
“Siapa yang salah?”
dan mulai bertanya,
“Apa yang masih bisa diperbaiki?”
Malam setelah Pak Agus datang,
Junet tidak tidur.
Ia duduk di beranda rumah sampai lampu petromaks mengecil.
Di depannya,
sawah gelap terbentang seperti luka panjang
yang belum tahu bagaimana cara sembuh.
Suara kodok masih belum kembali.
Hama masih bergerak di batang padi.
Bisik-bisik warga masih berputar di kepala.
Namun untuk pertama kalinya,
Junet tidak merasa marah.
Ia merasa malu.
Bukan pada warga.
Bukan pada desa.
Tetapi pada dirinya sendiri.
Karena kadang,
penyesalan paling berat
bukan datang saat orang lain menyalahkan kita.
Melainkan saat hati kita sendiri
mulai ikut mengiyakan.
Pagi itu,
sebelum matahari tinggi,
Junet sudah berdiri di depan rumah Pak Agus.
Pak Agus baru selesai menyapu halaman
saat melihat Junet datang dengan wajah serius.
“Pagi-pagi begini?”
Junet mengangguk.
“Aku mau bantu.”
Pak Agus mengangkat alis.
“Bantu apa?”
Junet menarik napas.
“Memperbaiki sawah.”
Pak Agus menatapnya beberapa detik.
Lalu tersenyum tipis.
“Bagus.
Berarti kamu belum selesai jadi orang baik.”
Junet menunduk.
“Aku tidak tahu masih bisa atau tidak.”
Pak Agus menepuk bahunya pelan.
“Orang yang datang pagi-pagi untuk memperbaiki salah,
biasanya masih bisa.”
Tak lama kemudian,
mereka berjalan ke sawah bersama.
Pak Agus membawa buku catatan.
Junet membawa cangkul.
Eko ikut membawa ember.
Rahmat datang dengan wajah serius.
Emen datang sambil membawa kopi.
“Kalau mau menebus dosa,
jangan lupa minum dulu.”
Nardi datang terakhir.
Membawa sandal beda warna.
Emen menatap.
“Kau sadar?”
Nardi menunduk.
Lalu mengangguk.
“Sekarang iya.”
Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari,
Junet tersenyum kecil.
Kadang,
hal kecil seperti kebodohan sahabat
cukup untuk mengingatkan
bahwa hidup belum sepenuhnya gelap.
Mereka mulai memeriksa sawah satu per satu.
Pak Agus menunjukkan batang padi yang rusak.
Daun yang berlubang.
Jejak ulat.
Bekas serangga.
Junet jongkok di lumpur.
Menatap semuanya lebih dekat.
Dan semakin lama ia melihat,
semakin besar rasa bersalah itu tumbuh.
Rahmat berdiri di samping.
Lalu berkata pelan,
“Kadang manusia baru belajar
setelah kehilangan suara yang dulu ia benci.”
Junet menatap lumpur.
“Kenapa semua omonganmu sekarang seperti orang tua?”
Rahmat mengangkat bahu.
“Mungkin karena hidupmu mulai seperti novel sedih.”
Emen menyela.
“Tidak.
Ini novel lucu yang pura-pura sedih.”
Bahkan Pak Agus tertawa kecil.
Dan di tengah sawah yang mulai rusak,
tawa itu terdengar seperti napas pertama
setelah sekian lama tenggelam.
Namun saat mereka sampai di saluran air kecil
di sisi timur sawah,
Pak Agus tiba-tiba berhenti.
Ia jongkok.
Mengangkat air dengan tangan.
Menciumnya.
Lalu wajahnya berubah.
“Aneh.”
Junet mendekat.
“Apa?”
Pak Agus menunjuk air.
“Bau.”
Junet ikut mencium.
Samar.
Tipis.
Seperti bahan kimia.
Eko ikut jongkok.
“Pestisida.”
Junet mengerutkan kening.
“Dari mana?”
Pak Agus menatap saluran kecil yang mengarah ke rawa belakang.
“Bukan dari sawah warga.”
Junet menoleh cepat.
“Bapak yakin?”
Pak Agus mengangguk.
“Kalau ini masuk dari saluran,
berarti ada yang menuang dari atas.”
Suasana mendadak diam.
Rahmat menatap air.
Emen tak lagi bercanda.
Bahkan Nardi ikut serius,
meski mungkin belum sepenuhnya paham.
Junet menelan ludah.
Tiba-tiba semua terasa masuk akal:
kodok menghilang,
hama datang,
dan semuanya terjadi terlalu cepat.
Pak Agus benar.
Seseorang memang bermain.
Mereka mengikuti aliran air kecil itu
sampai ke belakang rumpun pisang tua.
Di sana,
tergeletak satu jeriken plastik kosong.
Junet mengangkatnya.
Labelnya sudah basah,
namun masih terbaca sebagian.
Pestisida.
Bukan milik petani biasa.
Bukan barang yang dipakai sembarangan.
Dan seseorang sengaja membuangnya di sana.
Emen menatap jeriken itu.
Lalu berbisik,
“Ini bukan lagi soal kodok.”
Pak Agus mengangguk.
“Tidak.”
Junet menatap jeriken di tangannya.
Tangannya perlahan mengepal.
Bukan karena marah.
Karena kini,
untuk pertama kalinya,
ia tahu:
bukan semua ini terjadi karena dirinya.
Tetapi karena ada orang
yang sengaja membuat semuanya terlihat seperti salahnya.
Sore itu,
Junet pulang dengan lumpur sampai lutut.
Jayanti sudah menunggu di depan rumah.
Membawa daun singkong dari kebun ibunya.
Melihat wajah Junet,
ia langsung tahu ada sesuatu.
“Kamu menemukan sesuatu?”
Junet mengangguk pelan.
“Air diracun.”
Jayanti terdiam.
Matanya melebar.
“Siapa?”
Junet menatap jauh ke arah sawah.
“Aku belum tahu.”
Jayanti memandangnya beberapa saat.
Lalu berkata lembut,
“Tapi sekarang kamu tahu
tidak semua beban harus kamu tanggung sendiri.”
Junet menatapnya.
Kalimat itu sederhana.
Namun setelah berhari-hari tenggelam dalam rasa bersalah,
kata-kata itu terasa seperti tangan
yang menariknya ke permukaan.
Mereka duduk di pematang menjelang senja.
Matahari turun merah.
Padi bergoyang pelan.
Rawa berkilau seperti kaca gelap.
Jayanti memandang sawah.
“Kadang manusia aneh.”
Junet menoleh.
“Kenapa?”
Jayanti tersenyum tipis.
“Alam yang rusak disalahkan.
Orang yang terluka dicurigai.
Yang diam justru paling berbahaya.”
Junet terdiam.
Karena dalam benaknya,
hanya ada satu wajah
yang terus muncul.
Dahlan.
Malamnya,
Emen datang bersama Eko dan Rahmat.
Mereka duduk di beranda.
Junet meletakkan jeriken kosong di tengah.
Semua memandang benda itu.
Eko berkata singkat,
“Jadi benar.”
Rahmat menatap pelan.
“Aku sudah merasa.”
Emen langsung menoleh.
“Sekali lagi kau bilang sudah merasa,
aku lempar kau ke kolam.”
Rahmat tersenyum kecil.
“Kalau dilempar, jangan lupa ramalanku benar.”
Nardi yang baru datang melihat jeriken.
Lalu bertanya,
“Ini punya siapa?”
Semua diam.
Untuk pertama kalinya,
tidak ada yang menjawab cepat.
Karena semua mulai memikirkan nama yang sama.
Namun tak satu pun berani mengucapkannya.
Junet menatap teman-temannya.
“Aku mau memperbaiki semuanya.”
Emen mengangkat alis.
“Bagaimana?”
Junet memandang sawah gelap di depan rumah.
“Aku mau kembalikan kodok.”
Semua menoleh.
Nardi bahkan sampai berkedip.
“Kodok yang mana?”
Emen mendesah.
“Yang belum sempat kau lupakan.”
Junet tersenyum tipis.
Lalu berkata lebih pelan.
“Kalau aku pernah mengambil terlalu banyak dari rawa...
mungkin sekarang aku harus mengembalikannya.”
Pak Agus yang diam-diam datang dari pagar
mendengar kalimat itu.
Lalu mengangguk.
“Itu baru namanya menebus.”
Malam itu,
untuk pertama kalinya setelah sekian lama,
Junet merasa langkahnya mulai jelas.
Ia belum tahu siapa pelakunya.
Belum tahu bagaimana menghadapi semuanya.
Belum tahu apakah warga akan percaya lagi.
Namun satu hal mulai pasti:
Ia tidak lagi sekadar ingin membela diri.
Ia ingin memperbaiki.
Karena kadang,
cara terbaik menebus kesalahan
bukan dengan banyak bicara.
Melainkan dengan berani
mengembalikan sesuatu
yang pernah kita ambil dari kehidupan.
Dan di tempat lain,
di bawah cahaya lampu rumah yang redup,
Dahlan berdiri sendiri.
Mendengar kabar bahwa Junet menemukan jejak racun.
Wajahnya tetap tenang.
Namun untuk pertama kalinya,
senyum di bibirnya
tidak lagi terasa penuh kemenangan.
Karena ia mulai sadar:
orang yang hampir jatuh
kadang justru menjadi lebih berbahaya
saat memutuskan untuk bangkit.
BAB 14
Api di Pinggir Rawa
Ada kebakaran yang terlihat oleh mata.
Ada juga kebakaran
yang lebih dulu menyala di dalam hati manusia.
Dan sering kali,
api yang paling berbahaya
bukan yang membakar kayu.
Melainkan yang membakar iri,
harga diri,
dan dendam yang terlalu lama disimpan sendiri.
Malam itu,
kedua api itu akhirnya bertemu.
Sejak menemukan jeriken pestisida di saluran air,
Junet tidak lagi bisa memandang sawah dengan cara yang sama.
Setiap pematang terasa menyimpan jejak.
Setiap bayangan terasa menyembunyikan seseorang.
Setiap langkah di lumpur seperti membawa rahasia.
Ia mulai memperhatikan lebih banyak.
Bukan hanya hama.
Bukan hanya air.
Tetapi juga orang-orang.
Dan dari semua wajah di desa,
hanya satu yang semakin sulit terlihat jujur.
Dahlan.
Dahlan justru tampak terlalu tenang.
Ia masih duduk di warung.
Masih minum kopi.
Masih tersenyum tipis.
Masih menyapa orang-orang seperti tak terjadi apa-apa.
Namun ada sesuatu dalam caranya menatap Junet
yang tak lagi sama.
Bukan seperti teman lama.
Melainkan seperti orang
yang sedang menunggu sesuatu meledak.
Sore itu,
Pak Agus memanggil Junet ke balai kecil belakang rumahnya.
Di sana sudah ada:
Eko,
Rahmat,
Emen,
dan Nardi yang lagi-lagi memakai sandal berbeda.
Emen menatap kaki Nardi.
“Kau sengaja?”
Nardi menunduk.
Lalu menjawab polos,
“Supaya kalau lari, orang bingung.”
Bahkan dalam suasana tegang,
semua masih tertawa kecil.
Karena kadang,
tawa kecil adalah satu-satunya cara
agar rasa takut tidak terdengar terlalu jelas.
Pak Agus meletakkan sesuatu di meja.
Sebuah tutup jeriken.
Warna biru.
Sedikit retak.
Junet mengernyit.
“Itu?”
Pak Agus menatapnya.
“Saya lihat di belakang rumah Dahlan.”
Semua diam.
Rahmat menatap pelan.
“Berarti...”
Pak Agus mengangguk.
“Saya belum bisa menuduh.
Tapi terlalu banyak yang mengarah.”
Junet mengepalkan tangan.
“Kenapa dia lakukan itu?”
Tak ada yang langsung menjawab.
Karena kadang,
alasan paling menyakitkan justru yang paling sederhana.
Iri.
Emen menghela napas.
“Karena orang bisa menerima lapar.”
Ia menatap Junet.
“Tapi tidak semua orang bisa menerima
melihat temannya lebih dulu kenyang.”
Tak ada yang bercanda setelah itu.
Karena kalimat Emen,
untuk pertama kalinya,
terdengar terlalu serius.
Pak Agus berkata pelan,
“Kita tidak bisa langsung menuduh.”
Junet menatap.
“Lalu?”
Pak Agus menatap sawah dari jendela.
“Kadang orang yang bersalah
akan membuka dirinya sendiri.”
Eko mengangguk.
“Kita tunggu.”
Junet menggeleng.
“Aku capek menunggu.”
Pak Agus menatap lurus.
“Kalau begitu,
buat dia panik.”
Malam itu,
Junet sengaja berjalan ke warung
membawa jeriken kosong di tangannya.
Warung langsung sunyi saat ia masuk.
Mak Darmi berhenti menuang kopi.
Pak Sabar menoleh.
Pak Ramlan bahkan lupa mengeluh.
Dan Dahlan,
duduk di sudut seperti biasa.
Junet meletakkan jeriken itu di meja.
Bunyi plastik menghantam kayu
terdengar keras di warung yang mendadak diam.
“Aku nemu ini.”
Tak ada yang bicara.
Junet menatap satu per satu.
Lalu akhirnya menatap Dahlan.
“Di saluran air.”
Dahlan menatap jeriken itu.
Wajahnya tenang.
Terlalu tenang.
Lalu ia tertawa kecil.
“Lalu?”
Junet melangkah mendekat.
“Lalu ada orang yang sengaja meracuni rawa.”
Warung terasa seperti menahan napas.
Dahlan bersandar santai.
“Kalau begitu cari saja orangnya.”
Junet menatap tajam.
“Aku sedang melihatnya.”
Suasana langsung pecah.
Pak Sabar berdiri.
“Net!”
Pak Ramlan ikut berdiri.
“Nah.
Saya tahu ini akan buruk.”
Emen berbisik,
“Pak Ramlan bahkan marah pun tetap pesimis.”
Namun tak ada yang menanggapi.
Karena kali ini,
semua mata tertuju pada Junet dan Dahlan.
Dahlan berdiri pelan.
Lebih dekat.
Matanya dingin.
“Kau pikir semua orang bodoh?”
Junet menahan napas.
“Tidak.
Tapi aku tahu ada yang terlalu takut aku bangkit.”
Dahlan tertawa pendek.
Pahit.
“Bangkit?”
Ia melangkah lebih dekat.
“Kau pikir kau siapa sekarang?”
Junet tak mundur.
Dahlan menatapnya dengan mata penuh sesuatu
yang selama ini ia sembunyikan.
“Dulu kita sama-sama.”
Suaranya rendah.
Namun tajam.
“Dulu kita duduk satu warung.
Makan satu meja.
Mimpi sama-sama.”
Ia tersenyum miring.
“Tapi sejak kau mulai dipanggil juragan,
kau lupa menoleh.”
Junet terdiam.
Karena di balik semua tuduhan,
ada luka lama
yang tak pernah benar-benar dibicarakan.
“Aku tidak pernah merasa lebih tinggi dari kalian.”
Dahlan menatap tajam.
“Tapi kau membuat kami merasa lebih rendah.”
Kalimat itu menghantam seluruh warung.
Sunyi.
Tidak ada yang bergerak.
Karena untuk pertama kalinya,
yang keluar bukan kemarahan.
Tetapi kebenaran yang pahit.
Kadang,
iri bukan lahir karena kebencian.
Kadang iri lahir
karena seseorang terlalu dekat
untuk tidak membandingkan hidup.
Junet menatap Dahlan.
“Jadi kau lakukan itu?”
Dahlan diam.
Namun matanya sudah menjawab.
Dan kadang,
diam adalah pengakuan paling keras.
Sebelum siapa pun sempat bicara lagi,
teriakan terdengar dari luar.
“Api! Api!”
Warung langsung gempar.
Semua berlari keluar.
Di pinggir rawa belakang,
api kecil sudah menyambar rumput kering.
Merambat cepat.
Menjilat semak.
Membakar bambu tua.
Kabut malam memerah.
Asap naik ke udara.
Orang-orang berteriak panik.
Junet membeku.
Karena api itu tepat di dekat tempat
ia biasa menyimpan perangkap dan peralatan.
“Ambil air!”
teriak Pak Agus.
Warga berhamburan.
Ember dilempar.
Jerigen diisi.
Anak-anak berlari.
Ibu-ibu menjerit.
Bambang berteriak,
“Bang Junet, kodoknya mau bikin sate!”
Talia memukul bahunya.
“Diam kau!”
Bahkan di tengah kepanikan,
anak-anak tetap anak-anak.
Junet berlari mendekat.
Panas langsung menyambar wajah.
Di belakangnya,
Eko membantu.
Emen membawa ember sambil masih sempat berteriak,
“Kalau saya gosong,
tolong jangan kubur dengan sandal Nardi!”
Nardi menatap bingung.
“Kenapa sandal saya?”
Tak ada yang menjawab.
Api mulai membesar.
Rumput rawa kering memang tak banyak,
tetapi cukup untuk membuat nyala merambat cepat.
Junet melihat satu sosok berdiri jauh di tepi gelap.
Dahlan.
Diam.
Tak membantu.
Tak bergerak.
Hanya menatap.
Dan saat mata mereka bertemu,
Junet akhirnya tahu.
Api ini bukan kebetulan.
Dengan ember terakhir,
mereka akhirnya memadamkan nyala.
Asap masih mengepul.
Tanah hitam.
Rumput hangus.
Bau terbakar memenuhi udara.
Semua orang berdiri terengah.
Pak Sabar mengusap wajah.
“Ini sudah gila.”
Pak Ramlan mengangguk.
“Saya setuju.”
Emen langsung menoleh.
“Kalau Pak Ramlan sudah setuju,
berarti memang parah.”
Namun tak ada yang tertawa.
Karena kali ini,
tak ada yang lucu.
Junet berdiri di pinggir tanah hangus.
Memandang sisa asap tipis.
Memandang gelap rawa.
Memandang sesuatu yang dulu ia kira cuma rasa iri.
Ternyata bukan.
Sudah berubah menjadi kebencian.
Jayanti datang dari kerumunan.
Wajahnya cemas.
Matanya mencari Junet.
Begitu melihatnya selamat,
ia mengembuskan napas lega.
Lalu berkata pelan,
“Sekarang kamu tahu.”
Junet menatapnya.
“Tahu apa?”
Jayanti memandang tanah hitam.
“Bahwa ada orang
yang rela membakar desa kecil ini
hanya untuk melihatmu jatuh.”
Junet mengepalkan tangan.
Namun untuk pertama kalinya,
ia tidak merasa ingin marah.
Ia merasa jelas.
Sangat jelas.
Karena sekarang,
ia bukan lagi melawan nasib.
Ia sedang menghadapi seseorang
yang pernah ia anggap saudara.
Di kejauhan,
Dahlan sudah menghilang ke gelap malam.
Namun jejaknya
kini tak lagi bisa disembunyikan.
Dan untuk pertama kalinya,
Junet sadar:
yang terbakar malam itu
bukan hanya rumput di pinggir rawa.
Tetapi sisa-sisa persahabatan
yang tak mungkin kembali seperti dulu.
BAB 15
Suara yang Kembali
Setelah api di pinggir rawa malam itu, desa Sungai Rintik berubah.
Bukan berubah seperti orang kota berubah,
cepat,
keras,
lalu lupa.
Desa berubah dengan cara yang lebih sunyi.
Orang-orang masih pergi ke sawah.
Warung Mak Darmi masih buka.
Pak Ramlan masih pesimis.
Nardi masih sering lupa.
Namun di balik semua itu,
ada sesuatu yang telah bergeser.
Orang-orang kini tak lagi memandang Junet hanya sebagai
Juragan Kodok.
Mereka mulai melihatnya sebagai seseorang
yang juga terluka.
Dan kadang,
seseorang baru benar-benar dianggap manusia
setelah orang lain melihat luka yang ia sembunyikan.
Sejak malam kebakaran,
Dahlan menghilang beberapa hari.
Tak ada yang tahu ke mana ia pergi.
Ada yang bilang ke rumah saudaranya.
Ada yang bilang ke kota.
Ada yang bilang hanya bersembunyi karena malu.
Pak Sabar berkata,
“Kalau memang dia yang buat semua,
harusnya dari dulu saya curiga.”
Pak Ramlan langsung mengangguk.
“Saya sudah curiga.”
Emen menoleh.
“Kapan?”
Pak Ramlan menjawab datar.
“Sekarang.”
Warung akhirnya tertawa.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama,
tawa itu terdengar sungguh-sungguh.
Karena terkadang,
sebuah desa tidak sembuh lewat penjelasan.
Ia sembuh lewat orang-orang
yang kembali bisa tertawa bersama.
Junet sendiri tidak lagi turun berburu.
Ember-ember dibiarkan kosong.
Pisau dibungkus kain.
Karung disimpan di sudut dapur.
Ia justru lebih sering berada di sawah,
membantu Pak Agus dan warga
memulihkan saluran air.
Mereka membersihkan lumpur.
Membuang sisa racun.
Menanam rumput rawa kembali.
Melepaskan bibit-bibit kecil ke parit.
Bukan bibit padi.
Bibit kodok.
Beberapa warga sempat heran.
Pak Sabar menggaruk kepala.
“Seumur hidup,
baru kali ini saya lihat orang
memelihara hal yang dulu dibenci.”
Junet tersenyum tipis.
“Mungkin karena saya terlambat sadar.”
Pak Agus menatapnya.
“Tidak.
Kamu belum terlambat.”
Junet mengernyit.
“Kenapa?”
Pak Agus tersenyum kecil.
“Karena orang yang terlambat sadar
biasanya tidak mau kembali.”
Anak-anak desa justru paling senang melihat Junet berubah.
Bambang berdiri di pinggir parit sambil tertawa.
“Bang Junet sekarang jadi bapak angkat kodok!”
Talia langsung menimpali,
“Jangan-jangan nanti dia bikin sekolah kodok.”
Dadang ikut berteriak,
“Bang! Kalau kodoknya nikah, undang kami ya!”
Nardi yang kebetulan lewat mengangguk.
“Itu ide bagus.”
Emen memukul jidat.
“Kenapa kau selalu mendukung hal yang salah?”
Nardi berpikir.
Lalu menjawab,
“Karena saya sering terlambat sadar.”
Kali ini,
bahkan Junet ikut tertawa.
Dan untuk pertama kalinya,
ia merasa suara tawa di desa
terdengar lebih merdu
daripada suara uang yang pernah ia hitung sendiri.
Hari-hari berlalu pelan.
Hama mulai berkurang.
Daun padi kembali hijau.
Air rawa kembali jernih.
Namun satu hal masih belum kembali.
Suara malam.
Setiap malam,
Junet masih duduk di beranda.
Mendengar.
Menunggu.
Tetapi rawa masih sunyi.
Dan dalam sunyi itu,
ia belajar sesuatu:
tidak semua yang hilang
bisa segera kembali.
Kadang alam pun butuh waktu
untuk memaafkan manusia.
Suatu malam,
Jayanti datang membawa dua gelas teh panas.
Ia duduk di samping Junet seperti dulu.
Tanpa banyak kata.
Tanpa jarak yang canggung.
Mereka memandang rawa gelap di depan rumah.
Angin malam lembut.
Bulan menggantung pucat.
Kabut turun tipis di atas air.
Junet berkata pelan,
“Aku pikir semuanya sudah terlambat.”
Jayanti menoleh.
“Apanya?”
Junet tersenyum kecil.
“Semua.”
Jayanti terdiam beberapa saat.
Lalu berkata lembut,
“Kadang yang terlambat
bukan perubahannya.”
Junet menoleh.
“Lalu?”
Jayanti memandang sawah.
“Kadang manusianya saja
yang terlalu lama mau mengerti.”
Junet menatap perempuan itu lama.
Dan seperti biasanya,
Jayanti selalu bisa mengatakan sesuatu
yang terdengar sederhana
namun tinggal lebih lama di hati.
Malam semakin larut.
Mereka duduk diam.
Tanpa bicara.
Tanpa perlu menjelaskan.
Lalu tiba-tiba,
krek...
krek...
krek...
Junet membeku.
Jayanti tersenyum.
Suara itu datang dari parit kecil.
Lalu dari ujung sawah.
Lalu dari rumpun pandan.
Lalu dari seluruh rawa.
Satu.
Dua.
Sepuluh.
Puluhan.
Suara kodok.
Kembali.
Junet menoleh ngina gelap,
seolah takut ia hanya membayangkan.
Namun suara itu makin jelas.
Rawa yang selama berminggu-minggu sunyi,
akhirnya bernapas lagi.
Junet menunduk pelan.
Entah kenapa,
dadanya terasa penuh.
Bukan sedih.
Bukan bahagia.
Sesuatu di antaranya.
Sesuatu yang hanya datang
ketika seseorang akhirnya memahami
arti kehilangan.
Jayanti menatapnya.
“Kamu dengar?”
Junet mengangguk.
Pelan.
“Iya.”
Jayanti tersenyum.
“Suaramu kembali.”
Junet menatapnya.
“Bukan.”
Jayanti mengernyit.
“Lalu?”
Junet memandang rawa.
Memandang malam.
Memandang kehidupan yang diam-diam mengajarinya.
“Bukan suara mereka yang kembali.”
Ia tersenyum tipis.
“Yang kembali itu aku.”
Jayanti menatapnya beberapa saat.
Lalu tertawa kecil.
“Baru kali ini aku lihat
orang jatuh cinta karena kodok.”
Junet ikut tertawa.
“Kalau bukan karena mereka,
mungkin aku tak pernah duduk di sini dengan kamu.”
Jayanti menunduk,
tersenyum malu.
Dan di bawah cahaya bulan,
diiringi suara rawa yang hidup kembali,
jarak di antara mereka
yang sempat menjauh
akhirnya pelan-pelan menghilang.
Di kejauhan,
Pak Ramlan yang sedang lewat berhenti di jalan.
Mendengar suara kodok.
Melihat Junet dan Jayanti di beranda.
Ia menghela napas.
Pak Sabar yang kebetulan lewat bertanya,
“Kenapa?”
Pak Ramlan menatap rawa.
Lalu berkata,
“Saya salah.”
Pak Sabar sampai menoleh.
“Seumur hidup baru dengar.”
Pak Ramlan mengangguk.
“Kodok memang berisik.”
Ia menatap Junet.
“Tapi ternyata
ada suara yang kalau hilang,
desa bisa terasa kosong.”
Pak Sabar tersenyum kecil.
Dan malam itu,
bahkan orang paling pesimis di ngina
akhirnya mengakui:
tidak semua yang ngin
adalah gangguan.
Kadang,
suara yang paling sering kita keluhkan
justru yang diam-diam menjaga hidup kita tetap utuh.
Junet duduk lebih dekat pada Jayanti.
Rawa kembali bernyanyi.
Sawah kembali hidup.
Desa kembali bernapas.
Dan untuk pertama kalinya,
suara yang dulu membuatnya sulit tidur
justru terdengar seperti rumah.
Karena pada akhirnya,
hidup sering mengajarkan dengan cara yang aneh.
Apa yang awalnya mengganggu,
bisa menjadi rezeki.
Apa yang awalnya rezeki,
bisa menjadi ujian.
Dan apa yang hampir hilang,
kadang justru membuat kita memahami
apa yang benar-benar pantas dijaga.
Malam itu,
di bawah cahaya lampu petromaks yang redup,
di antara suara kodok yang kembali,
Junet akhirnya mengerti:
ia bukan pernah menjadi
Juragan Kodok.
Ia hanya seorang lelaki biasa
yang terlalu lama belajar bahwa
kadang,
yang paling berharga dalam hidup
bukan sesuatu yang bisa dijual,
melainkan sesuatu
yang memilih kembali.
EPILOG
Hari yang Tetap Berjalan
Hari-hari sesudah itu
tidak berubah menjadi sempurna.
Karena hidup di desa,
seperti juga hidup di mana pun,
tidak pernah benar-benar berjalan seperti cerita yang terlalu manis.
Masih ada sawah yang harus ditanami.
Masih ada lumpur yang harus diinjak.
Masih ada hujan yang datang tanpa permisi.
Masih ada manusia yang kadang salah memahami satu sama lain.
Namun ada satu hal yang berbeda.
Sungai Rintik tidak lagi terasa seperti desa yang sama.
Dan Junet pun bukan lagi lelaki yang sama.
Pagi-pagi sekali,
ketika embun masih menggantung di ujung daun padi,
Junet sudah berdiri di pinggir sawah.
Bukan dengan karung.
Bukan dengan ngina.
Bukan dengan petromaks.
Melainkan dengan cangkul di bahu
dan wajah yang jauh lebih tenang.
Ia memeriksa saluran air.
Membersihkan pematang.
Melepas beberapa bibit kecil ke parit.
Kadang berhenti hanya untuk mendengar.
Suara kodok kini sudah menjadi bagian dari pagi.
Bukan lagi gangguan.
Tetapi pengingat.
Bahwa sesuatu yang pernah hampir hilang
kadang datang kembali
bukan untuk mengulang masa lalu,
melainkan untuk mengajarkan cara baru memandang hidup.
Di warung Mak Darmi,
cerita tentang Junet tetap belum berhenti.
Namun kali ini,
nada ceritanya sudah berubah.
Bukan lagi ejekan.
Bukan lagi bisik-bisik.
Bukan lagi tuduhan.
Kini lebih sering jadi bahan candaan.
Emen menepuk bahu Junet sambil tertawa.
“Dulu kau pemburu kodok.
Sekarang jadi penjaga kodok.”
Nardi mengangguk.
“Itu namanya perkembangan karakter.”
Semua menoleh.
Emen sampai mengerutkan dahi.
“Kau tahu karakter?”
Nardi berpikir.
Lalu menjawab,
“Tidak.
Tapi kalimatnya bagus.”
Warung pun pecah oleh tawa.
Pak Sabar menggeleng sambil minum kopi.
“Kalau dulu ada yang bilang
kodok bisa bikin satu ngina berubah,
saya pasti tidak percaya.”
Pak Ramlan menyeruput pelan.
Lalu berkata,
“Saya juga tidak percaya.”
Semua diam menunggu.
Pak Ramlan melanjutkan,
“Karena biasanya saya lebih cepat curiga.”
Warung kembali tertawa.
Dan seperti biasa,
Pak Ramlan tetap menjadi orang
yang bisa terdengar pesimis
bahkan saat sedang bahagia.
Tentang Dahlan,
orang-orang akhirnya tahu kebenaran sedikit demi sedikit.
Tidak ada pengadilan besar.
Tidak ada drama panjang.
Tidak ada balas dendam.
Hanya rasa malu.
Kadang,
di desa kecil,
hukuman paling berat
bukan penjara.
Melainkan ketika semua orang tahu
bahwa kita pernah kehilangan diri sendiri
karena iri pada hidup orang lain.
Dahlan memilih pergi ke kota beberapa waktu.
ngina yang benar-benar tahu kapan ia kembali.
Dan Junet pun tak pernah lagi membicarakannya.
Karena beberapa luka
lebih baik dibiarkan menjadi pelajaran
daripada dijadikan ngina untuk membenci lebih lama.
Jayanti tetap datang seperti biasa.
Kadang membawa the.
Kadang membawa singkong rebus.
Kadang hanya membawa diam
yang terasa jauh lebih nyaman daripada banyak kata.
Mereka tidak pernah benar-benar mengucapkan
kata cinta
dengan cara seperti orang-orang di film.
Tidak ada janji berlebihan.
Tidak ada puisi panjang.
Tidak ada sumpah yang dibuat-buat.
Namun setiap sore,
saat mereka duduk di pematang
memandang cahaya matahari tenggelam di rawa,
semua terasa sudah cukup.
Karena pada usia tertentu,
cinta bukan lagi soal siapa yang paling pandai mengucapkan.
Tetapi siapa yang tetap tinggal
saat hidup sedang tidak mudah.
Suatu senja,
Jayanti bertanya sambil memandang sawah.
“Kalau bisa kembali ke dulu,
kamu masih mau menangkap kodok?”
Junet tersenyum kecil.
Ia menatap rawa.
Mendengar suara yang dulu ia benci.
Lalu menjawab pelan,
“Mungkin tetap.”
Jayanti menoleh heran.
“Kenapa?”
Junet tertawa kecil.
“Karena kalau bukan karena suara mereka,
mungkin aku tidak pernah belajar
cara mendengar hidup.”
Jayanti menatapnya lama.
Lalu tersenyum.
Dan senja itu terasa begitu tenang,
seolah alam sendiri ikut memahami
bahwa beberapa orang memang harus tersesat dulu
sebelum akhirnya menemukan arah pulang.
Anak-anak desa masih tetap sama.
Bambang masih suka berteriak dari jauh.
“Bang Junet!
Kodokmu manggil!”
Talia langsung menyahut,
“Bukan kodoknya.
Itu calon istrinya!”
Dadang tertawa paling keras.
Sementara Nardi yang lewat malah ikut menoleh ke sawah,
benar-benar mencari suara siapa yang memanggil.
Emen sampai duduk memegangi perut.
“Kita ini hidup di ngina,
atau tinggal di dalam sandiwara?”
Pak Agus yang kebetulan lewat hanya tersenyum.
“Keduanya.”
Dan mungkin memang begitu.
Karena kehidupan desa
selalu punya cara sendiri
untuk membuat luka terasa ringan,
dengan humor kecil
yang tumbuh dari kebersamaan.
Musim terus berganti.
Air pasang datang.
Air surut pergi.
Padi dipanen.
Benih ditanam lagi.
Langit cerah.
Langit mendung.
Hari lahir.
Hari berlalu.
Dan seperti semua hal dalam hidup,
waktu tidak pernah berhenti.
Ia terus berjalan.
Membawa manusia
dari satu kesalahan ke pelajaran berikutnya.
Dari satu kehilangan ke pengertian baru.
Dari satu luka ke bentuk kedewasaan
yang tidak pernah diajarkan siapa pun.
Junet akhirnya memahami satu hal
yang dulu tak pernah ia mengerti.
Bahwa hidup bukan tentang
mengubah gangguan menjadi uang.
Bukan tentang
mengubah kesempatan menjadi keuntungan.
Bukan pula tentang
menang dari orang lain.
Tetapi tentang belajar:
bahwa sesuatu yang kecil,
yang sering kita remehkan,
yang sering kita keluhkan,
kadang justru diam-diam menjaga
keseimbangan hidup kita sendiri.
Malam kembali turun di Sungai Rintik.
Lampu rumah satu per satu menyala.
Kabut turun pelan.
Petromaks di teras bergoyang diterpa ngina.
Junet duduk di beranda.
Jayanti di sampingnya.
Tanpa banyak kata.
Dan dari hamparan rawa di depan rumah,
suara kodok kembali bersahut-sahutan
seperti doa yang tak pernah selesai.
Junet menutup mata sejenak.
Lalu tersenyum.
Karena akhirnya ia tahu,
tidak semua yang berisik
adalah gangguan.
Kadang,
suara yang paling sering kita keluhkan
justru suara yang diam-diam mengingatkan:
bahwa hidup,
sesulit apa pun,
akan selalu menemukan caranya sendiri
untuk terus berjalan.
***SELESAI***
Anang
30 Januari 2025 19:28:34
Lanjutkan mas... Semoga website desa pian semakin maju...