PROLOG — Cahaya dari Awan Biru
Pagi itu embun masih menggantung di ujung dedaunan ketika matahari perlahan naik dari balik perbukitan Desa Suralaya. Cahaya keemasan menyelinap di antara rumah-rumah kayu yang berdiri rapi di sepanjang jalan desa yang kini tak lagi sama seperti beberapa tahun lalu.
Dulu, Suralaya hanyalah desa sunyi yang nyaris tak terdengar namanya di peta kabupaten. Sebuah kampung kecil yang berjalan lambat, tertinggal oleh zaman, seolah hanya menjadi penonton dari perubahan dunia di luar sana. Jalanan masih berbatu dan berlubang di musim hujan. Listrik hanya menyala di beberapa rumah. Anak-anak muda berbondong-bondong merantau ke kota, meninggalkan orang tua yang bertahan dengan sawah dan ladang yang hasilnya tak menentu.
Namun hari itu, suasananya berbeda.
Di kantor desa yang baru direnovasi, beberapa warga sudah duduk menunggu pelayanan administrasi. Seorang ibu muda tersenyum ketika surat keterangan yang ia butuhkan selesai hanya dalam hitungan menit. Seorang petani tua memandangi layar komputer di depan perangkat desa dengan tatapan takjub, seakan belum percaya bahwa sesuatu yang dahulu terasa rumit kini bisa selesai dengan begitu mudah.
Di dinding ruangan, sebuah layar digital menampilkan data penduduk, jadwal kegiatan desa, hingga informasi potensi wisata yang mulai dikenal banyak orang dari luar wilayah. Tiga tahun lalu, belum ada yang membayangkan hal ini bisa terjadi. Tiga tahun lalu, warga Suralaya masih sibuk dengan urusan masing-masing, tenggelam dalam rutinitas yang tak pernah berubah.
Semua itu bermula dari satu perjalanan.
Perjalanan menuju Desa Awan Biru.
Desa yang pernah membuka mata banyak orang di Suralaya bahwa kemajuan tidak harus menghapus akar tradisi. Bahwa teknologi bukan musuh desa. Dan bahwa perubahan bisa tumbuh dari tempat yang paling sederhana dari kegelisahan seorang pemuda yang tidak ingin melihat desanya terus tertinggal.
Di antara orang-orang yang sibuk pagi itu, berdirilah seorang pemuda yang memandang semuanya dengan diam.
Muhammad Ilham.
Usianya dua puluh enam tahun. Posturnya sedang, tidak terlalu tinggi tetapi tegap karena kebiasaannya berjalan kaki menyusuri bukit dan hutan sejak kecil. Rambutnya hitam dan sedikit berombak, sering kali terlihat berantakan karena ia jarang peduli pada penampilan. Namun matanya, matanya adalah yang paling mencolok. Bukan karena bentuknya yang indah, tetapi karena sorotnya. Ada ketenangan di sana, tapi juga kegelisahan yang tak pernah benar-benar padam.
Pemuda yang dahulu hanya dikenal sebagai anak desa biasa yang gemar berjalan menyusuri bukit dan hutan. Kini namanya mulai dikenal sebagai salah satu penggerak perubahan di Suralaya. Bukan karena ia paling pintar. Bukan karena ia paling berani. Tetapi karena ia pernah percaya pada sesuatu yang tak banyak orang percaya: bahwa desa kecil mereka layak memiliki masa depan.
Ilham melangkah perlahan keluar dari kantor desa. Dari halaman, ia memandang perbukitan hijau yang mengelilingi Suralaya. Angin pagi berembus lembut membawa aroma tanah basah yang begitu akrab sejak kecil. Di kejauhan terdengar suara anak-anak sekolah yang berjalan sambil tertawa, ransel merah dan biru tergantung di punggung mungil mereka. Seorang bocah laki-laki mengejar temannya sambil berteriak, "Tungguin, Ra! Jalan cepet amat sih!" Mereka tertawa bersama, riuh rendah tanpa beban.
Suara itu membuat Ilham tersenyum kecil.
Semua tampak seperti keberhasilan. Semua tampak seperti kemenangan. Namun entah mengapa, pagi itu hatinya justru terasa gelisah. Ia tidak tahu dari mana perasaan itu datang. Hanya saja, semakin besar perubahan yang datang ke sebuah tempat, semakin besar pula sesuatu yang diam-diam ikut mengintai di belakangnya.
Dan Ilham mulai merasakan bayangan itu.
Seorang lelaki paruh baya keluar dari kantor desa sambil membawa secangkir kopi panas. Pakaiannya sederhana, kemeja batik lengan panjang yang sudah agak lusuh di bagian kerah, celana kain hitam, dan sandal jepit. Wajahnya dipenuhi garis-garis halus yang menandakan usianya yang tak lagi muda. Matanya cekung, tetapi tajam. Itu Kades Raditya, kepala desa yang telah memimpin Suralaya selama dua periode.
"Masih pagi-pagi sudah termenung," sapa Kades Raditya sambil berdiri di samping Ilham. Suaranya serak karena kebiasaan merokok di masa muda, namun hangat dan akrab. "Ada yang mengganggu pikiranmu, Nak?"
Ilham menoleh. "Pagi, Pak Kades. Tidak ada yang istimewa. Hanya saja..."
"Hanya saja?"
"Pikiran ini terasa seperti sedang menunggu sesuatu. Saya tidak tahu apa."
Kades Raditya menghela napas panjang, lalu menyesap kopinya. "Kadang ketika seseorang sudah terlalu lama bergerak, ia lupa bahwa diam juga bagian dari perjalanan. Mungkin kau butuh istirahat, Nak. Jalan-jalan ke pantai atau ke gunung. Lepaskan penat."
Ilham tersenyum tipis. "Mungkin, Pak. Tapi bukan itu rasanya."
"Lalu apa?"
Ilham terdiam cukup lama. Matanya menatap bukit di kejauhan. "Saya tidak tahu, Pak. Saya hanya merasa ada sesuatu yang bergerak di luar sana. Sesuatu yang tidak bisa kita lihat, tapi perlahan mendekat."
Kades Raditya mengerutkan dahi, lalu menepuk bahu Ilham pelan. "Kau ini kadang terlalu peka, Nak. Tapi bukan berarti perasaanmu salah. Hanya saja, jangan biarkan ketakutan yang tak jelas menguasaimu. Kita sudah melalui banyak hal bersama. Apa pun yang datang, kita hadapi."
Ilham mengangguk meski hatinya masih gelisah.
Sementara itu, di dalam kantor desa, dua perangkat desa sedang sibuk menyiapkan data untuk laporan bulanan. Seorang perempuan muda dengan kacamata tebal di hidungnya menatap layar komputer dengan saksama. Tangannya bergerak cepat di atas keyboard, matanya menyipit membaca angka-angka yang bertebaran di spreadsheet.
Itu Nisa, salah satu anak muda yang ikut menggerakkan digitalisasi Suralaya. Usianya dua puluh tiga tahun. Wajahnya bulat dengan pipi tembam yang membuatnya terlihat lebih muda dari usianya. Ia lulusan D3 Manajemen Informatika dari sebuah politeknik di kota, dan merupakan salah satu orang pertama yang kembali ke desa setelah menyelesaikan studinya.
"Nis, data pengunjung wisata bulan lalu udah masuk semua belum?" tanya seorang pemuda yang duduk di meja sebelah. Rambutnya dicat cokelat kemerahan, sedikit berantakan namun masih terlihat rapi. Wajahnya tampan dengan senyum yang mudah mengembang. Itu Rendi, pengelola media sosial desa yang kreatif dan energik.
"Udah, Ren. Tinggal input," jawab Nisa tanpa mengalihkan pandangan dari layar. "Tapi aku ragu dengan angka dari kelompok sadar wisata Cibatu. Mereka laporannya selalu telat dan sering salah hitung."
Rendi menyandarkan kursinya sambil menghela napas. "Ya ampun, itu lagi-lagi Pak Kirno? Beliau memang agak gaptek, Nis. Sabar aja."
"Aku sabar kok," balas Nisa sambil tersenyum tipis. "Tapi kalau setiap bulan begini terus, aku yang jadi repot. Masa data pengunjung desa wisata salah terus? Padahal kita sudah kasih pelatihan."
Rendi terkekeh. "Pak Kirno itu lebih paham bercocok tanam daripada ngitung pengunjung, Nis. Biarin aja, nanti kita bantu di akhir bulan."
Seorang perempuan lain masuk ke ruangan dengan langkah cepat. Ia membawa setumpuk kertas dan buku catatan. Itu Aulia, pengelola wisata desa yang dulunya bekerja sebagai staf administrasi di sebuah hotel berbintang di Jakarta. Usianya dua puluh delapan tahun, sedikit lebih tua dari Ilham. Penampilannya rapi, kemeja putih, blazer hitam tipis, rambut panjang yang diikat ke belakang. Wajahnya tegas namun ramah.
"Aduh, Nis, tolong cek data pemesanan homestay untuk bulan depan. Ada rombongan dari Jakarta yang minta tiga puluh kamar," kata Aulia sambil meletakkan kertas di meja Nisa.
Nisa mengerang pelan. "Tiga puluh? Aulia, homestay kita total cuma dua puluh lima!"
"Iya, makanya aku minta tolong didistribusi ke desa tetangga. Mereka juga punya kapasitas," jawab Aulia santai. "Kan tujuan kita membangun jaringan."
Rendi bersiul kecil. "Wa, lumayan tuh. Wisata Suralaya makin laris."
Aulia tersenyum puas. "Itu hasil kerja keras kita semua, termasuk Mas Ilham. Tanpa dia, mungkin kita masih jalan di tempat."
Nama Ilham membuat Nisa dan Rendi mengangguk setuju. Bukan tanpa alasan. Ilham adalah orang yang pertama kali mengusulkan perjalanan ke Desa Awan Biru. Ia yang mengajak Angga, Rendi, dan beberapa pemuda lainnya untuk belajar tentang digitalisasi desa. Ia yang meyakinkan warga yang skeptis bahwa teknologi tidak akan merusak tradisi. Ia yang rela berhari-hari keliling desa untuk mendata potensi wisata dan hasil bumi.
Dan kini, Suralaya mulai menuai hasilnya.
Namun di balik semua kesibukan itu, Ilham justru semakin tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Setelah meninggalkan kantor desa, ia berjalan menyusuri jalan setapak menuju rumahnya. Rumah kayu sederhana dengan halaman yang ditumbuhi rumput dan beberapa pot bunga yang dirawat oleh ibunya, Laila. Rumah itu tidak besar, hanya tiga kamar dan satu ruang tamu yang menyatu dengan dapur. Namun bagi Ilham, tempat itu adalah pus dunianya.
"Ayah sedang ke sawah?" tanya Ilham ketika melihat ibunya sedang menyapu teras.
Laila mengangguk. Rambutnya yang mulai beruban disanggul sederhana. Wajahnya lelah tapi matanya masih bersinar. "Iya, katanya mau lihat padi yang mulai menguning. Pulang-pulang nanti bawa petai, katanya."
Ilham tersenyum. "Bapak memang tidak bisa diam."
"Kamu juga," balas Laila sambil tersenyum. "Dari kecil sudah suka jalan-jalan. Sekarang malah lebih parah. Kemarin-kemarin sampai ke Awan Biru, sekarang mau ke mana lagi?"
Ilham tertawa kecil. "Belum tahu, Bu. Mungkin tidak ke mana-mana dulu."
"Syukurlah," Laila menghela napas lega. "Ibu sudah kangen masakanmu. Jarang pulang kalau sedang sibuk proyek desa."
Ilham masuk ke rumah dan duduk di kursi bambu di ruang tamu. Matanya menatap langit-langit kayu yang sudah menghitam karena usia. Di telinganya masih terngiang suara anak-anak sekolah yang tertawa tadi pagi. Suara yang dulu nyaris tak terdengar karena sekolah desa sepi murid.
Perubahan memang datang. Tapi bersama perubahan, datang pula sesuatu yang lain.
Ia teringat surat yang tiba di meja kerjanya kemarin sore.
Sore sebelumnya, langit Suralaya berwarna oranye ketika Ilham baru saja selesai rapat koordinasi dengan kelompok sadar wisata. Ia berjalan menuju kantor desa untuk mengambil jaket yang tertinggal. Di meja kerjanya, sebuah amplop putih polos tergeletak.
Tak ada nama pengirim. Tak ada stempel. Hanya namanya yang tertulis di bagian depan dengan tulisan tangan yang rapi namun asing.
Ilham membukanya perlahan.
Di dalamnya hanya selembar kertas kecil dengan satu kalimat pendek:
"Ketika dua langit memilih jalan berbeda, siapa yang akan kau jaga?"
Ia membacanya berulang kali. Tidak ada penjelasan. Tidak ada tanda tangan. Tidak ada petunjuk apa pun.
Mula-mula ia mengira itu lelucon dari teman. Mungkin Angga yang iseng, atau Rendi yang suka bercanda. Tapi tidak, Angga tidak mungkin menulis kalimat seperti itu. Rendi juga tidak. Gaya tulisannya terlalu serius.
Lalu siapa?
Ilham membolak-balik amplop itu. Tidak ada apa-apa.
Kalimat itu terus berputar di kepalanya sepanjang malam. Dua langit. Jalan berbeda. Siapa yang akan kau jaga? Seperti teka-teki yang tak memiliki jawaban. Atau mungkin peringatan yang belum bisa ia pahami.
Kembali ke pagi ini, Ilham masih memikirkan surat itu ketika suara sepeda motor terdengar mendekat dari ujung jalan.
Sebuah motor trail berwarna hitam berhenti di depan rumah Ilham. Seorang lelaki muda turun sambil melepas helmnya. Wajahnya tampak asing, namun sorot matanya menunjukkan ia datang dengan tujuan yang jelas. Usianya sekitar dua puluh lima tahun, sedikit lebih muda dari Ilham. Tubuhnya kekar dengan kulit sawo matang. Rambutnya pendek dan rapi.
"Assalamu'alaikum," ucap lelaki itu sambil tersenyum sopan. Senyumnya lebar, memperlihatkan deretan gigi putih yang rapi.
"Wa'alaikumussalam," jawab Ilham, meletakkan cangkir kopinya. "Ada yang bisa saya bantu?"
Lelaki itu mengeluarkan map cokelat dari tas punggungnya.
"Apakah saya sedang berbicara dengan Muhammad Ilham?"
Ilham mengangguk pelan.
"Saya Rafi," katanya sambil mengulurkan tangan. Jabatannya kuat tapi tidak berlebihan. "Saya datang dari Desa Lembah Selatan."
Nama desa itu terasa asing di telinga Ilham. Ia pernah mendengar sekilas dari beberapa warga yang sering bepergian ke kota, namun belum pernah berkunjung ke sana. Yang ia tahu, Lembah Selatan berada di seberang pegunungan, sekitar empat jam perjalanan dengan kendaraan. Sebuah desa yang katanya juga mulai berkembang, tapi entah sejauh mana.
"Silakan duduk dulu," kata Ilham mempersilakan sambil menarik kursi kayu.
Rafi duduk dengan hati-hati, seolah menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Ia meletakkan map di atas meja kayu yang sudah usang.
"Maaf mengganggu waktu istirahat Bapak," kata Rafi sopan.
"Tidak apa-apa. Saya memang sedang tidak melakukan apa-apa," jawab Ilham sambil menuangkan kopi untuk tamunya. "Kopi hitam, bisa?"
"Bisa. Terima kasih."
Mereka duduk di bangku kayu di teras. Angin pagi berembus lembut membawa aroma tanah basah dari sawah yang baru selesai disiram hujan semalam. Suara burung berkicau dari pohon mangga di samping rumah. Beberapa ekor ayam berkeliaran di halaman, mematuk-matuk tanah mencari cacing.
Rafi menyerahkan map itu kepada Ilham.
"Kami datang membawa undangan resmi dari kepala desa kami."
Ilham membuka map tersebut perlahan. Di dalamnya terdapat surat dengan stempel resmi desa—lambang Lembah Selatan bergambar gunung dan sungai. Tulisan di bagian atas tertulis jelas:
UNDANGAN KUNJUNGAN DAN BERBAGI INOVASI DESA
Matanya bergerak membaca isi surat itu dengan saksama.
Pemerintah Desa Lembah Selatan mengundang Muhammad Ilham dan perwakilan Desa Suralaya untuk hadir dalam pertemuan khusus membahas pengembangan digitalisasi desa, wisata berbasis masyarakat, dan kerja sama antarwilayah.
Acara akan diselenggarakan pada:
*Hari/Tanggal: Rabu-Kamis, 15-16 April 2026*
*Waktu: Pukul 09.00 WIB - selesai*
Tempat: Balai Desa Lembah Selatan
Kami sangat berharap Bapak berkenan hadir untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan. Akomodasi dan transportasi akan ditanggung oleh panitia.
Tanggalnya tiga hari lagi.
Ilham mengangkat pandangannya. Matanya menatap Rafi dengan sorot heran.
"Kenapa saya?"
Rafi tersenyum tipis, seolah sudah menduga pertanyaan itu.
"Karena nama Suralaya sedang banyak dibicarakan."
Ilham terdiam.
Rafi melanjutkan, "Kami mendengar bagaimana desa ini berubah setelah belajar dari Desa Awan Biru. Kami ingin belajar langsung dari orang yang terlibat di dalamnya. Bukan hanya dari laporan atau artikel. Tapi dari seseorang yang benar-benar mengalami perjalanan itu."
Ilham tidak langsung menjawab. Ia memandang kembali surat di tangannya. Kata-kata itu terdengar sederhana, bahkan membanggakan. Tetapi ada sesuatu yang terasa ganjil. Sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan, tapi terasa seperti ketidakberesan kecil dalam sebuah lukisan yang tampak sempurna.
"Kenapa harus saya sendiri?" tanya Ilham. "Banyak orang lain di Suralaya yang lebih tahu tentang digitalisasi desa. Ada Nisa, ada Rendi, bahkan Pak Kades sendiri lebih paham kebijakannya."
Rafi terlihat ragu sejenak, lalu menjawab pelan.
"Karena kepala desa kami secara khusus meminta Anda."
Jawaban itu justru membuat Ilham semakin heran.
Ia tidak pernah bertemu siapa pun dari Lembah Selatan. Tidak pernah berbicara dengan mereka. Bahkan nyaris tak mengenal desa itu. Lalu bagaimana mungkin seseorang di sana mengetahui namanya? Dan memintanya secara khusus?
Ilham menutup map itu perlahan. Jari-jarinya menekan lipatan kertas, seolah mencoba menekan rasa penasaran yang mulai membesar.
"Siapa kepala desa kalian?"
Rafi menatapnya sejenak sebelum menjawab.
"Namanya Pak Rahman. Rahman Hidayat."
Mendengar nama itu, Ilham merasa sesuatu bergerak dalam ingatannya. Nama itu terasa tidak asing, seolah pernah ia dengar sebelumnya, namun ia tak bisa mengingat dari mana. Mungkin dari obrolan di pertemuan desa. Mungkin dari artikel tentang desa-desa inovatif. Tapi samar.
"Beliau bilang," lanjut Rafi, "kadang sebuah desa tidak cukup hanya belajar dari keberhasilan. Kadang mereka harus belajar dari orang yang pernah melewati perjalanan. Bukan hanya hasilnya, tapi prosesnya. Termasuk kegagalan dan keraguan."
Ilham memandang wajah tamunya dalam diam.
Kalimat itu terdengar lebih seperti pesan daripada undangan. Seolah seseorang sengaja memilih kata-kata itu untuk menyentuh sesuatu di dalam dirinya. Kegagalan dan keraguan. Dua hal yang jarang dibicarakan orang ketika berbicara tentang kesuksesan.
Di kejauhan, lonceng kecil dari kantor desa terdengar berdentang, menandakan jam pelayanan telah dimulai. Warga mulai berdatangan satu per satu. Ada yang membawa berkas, ada yang hanya duduk di bangku kayu depan kantor sambil mengobrol.
Suralaya kini sibuk. Suralaya kini berkembang. Suralaya kini dikenal.
Dan justru karena itulah, Ilham mulai merasa perjalanan baru ini mungkin bukan sekadar kunjungan biasa.
Rafi berdiri sambil merapikan tasnya. Ia menyandang tas ransel cokelat yang tampak sudah cukup sering dipakai, ada sobekan kecil di bagian samping yang dijahit kasar.
"Kami menunggu jawaban sebelum malam besok," katanya. "Kalau Anda bersedia, kami akan menjemput. Tolong sampaikan juga pada perangkat desa lainnya."
Ilham mengangguk pelan.
"Baik. Saya pikirkan dulu."
Rafi tersenyum, lalu menyalakan motornya kembali. Dalam hitungan detik, suara mesin itu menghilang di tikungan jalan desa yang dipenuhi kabut pagi.
Ilham masih berdiri di teras dengan map di tangannya.
Tatapannya kosong menembus sawah yang terbentang di depan rumah. Padi mulai menguning, pertanda panen akan segera tiba. Namun pikirannya tidak di sana.
Satu surat misterius dengan kalimat yang meresahkan. Satu undangan dari desa asing dengan permintaan yang aneh. Dan satu nama yang terasa seperti bayangan dari masa lalu, atau mungkin pertanda dari masa depan.
Angin kembali bertiup pelan.
Di atas langit Suralaya, awan bergerak perlahan. Tenang. Diam. Seolah tak terjadi apa-apa.
Namun Ilham tahu, kadang perubahan besar selalu datang dengan cara yang paling sunyi.
Dan pagi itu, tanpa benar-benar ia sadari, langkah pertamanya menuju persimpangan baru telah dimulai.
BAB 1 — Undangan dari Lembah Selatan
Pagi di Desa Suralaya selalu datang dengan cara yang sama. Kabut tipis turun perlahan dari punggung bukit, menyelimuti atap-atap rumah warga yang masih basah oleh embun malam. Dari kejauhan terdengar suara ayam berkokok bersahutan, berpadu dengan langkah para petani yang mulai berjalan menuju ladang sebelum matahari naik terlalu tinggi.
Namun pagi itu, bagi Muhammad Ilham, semuanya terasa sedikit berbeda.
Sejak membaca surat tanpa nama semalam, pikirannya belum benar-benar tenang. Kalimat pendek itu terus terngiang di kepalanya seperti gema yang tak mau hilang. Ia bahkan terbangun dua kali di tengah malam, berkeringat dingin meskipun suhu udara sedang tidak terlalu panas.
"Ketika dua langit memilih jalan berbeda, siapa yang akan kau jaga?"
Kalimat itu seperti cermin yang sengaja ditempatkan di hadapannya. Sebuah pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban cepat, melainkan perenungan panjang. Ilham sudah berusaha menepisnya sebagai lelucon seseorang. Mungkin gurauan dari teman lama. Mungkin hanya permainan orang iseng yang ingin mengganggu pikirannya.
Tetapi entah mengapa, hati kecilnya mengatakan bahwa surat itu bukan sesuatu yang bisa diabaikan begitu saja.
Setelah Rafi pergi, Ilham memutuskan untuk mencari Angga.
Angga adalah sahabatnya sejak kecil. Mereka bersekolah bersama di SD dan SMP desa, lalu berpisah ketika Angga melanjutkan ke SMK di kota sementara Ilham memilih bertahan di desa. Namun pertemanan mereka tidak pernah renggang. Bahkan setelah Angga kembali ke desa dua tahun lalu, mereka semakin sering menghabiskan waktu bersama, bekerja, berdiskusi, atau sekadar duduk diam menikmati sore.
Rumah Angga tidak jauh dari rumah Ilham. Hanya berjarak sekitar dua ratus meter ke arah timur, di tepi jalan yang sama. Rumahnya juga terbuat dari kayu, dengan cat hijau pudar yang sudah mengelupas di beberapa bagian. Halamannya lebih luas dari rumah Ilham, karena Angga memiliki kebun kecil di belakang rumah tempat ia menanam cabai dan tomat.
Ilham berjalan kaki menyusuri jalan desa yang mulai ramai. Beberapa warga menyapanya dengan senyum hangat. Seorang ibu yang sedang menjemur pakaian di halaman rumahnya berteriak, "Mas Ilham, titip salam buat Ibunya ya!"
"Iya, Bu," jawab Ilham sambil tersenyum.
Seorang bapak yang sedang duduk di warung kopi dekat perempatan mengangkat tangan. "Ilham, main ke sini dulu! Kopi baru seduh!"
Ilham tertawa kecil. "Nanti dulu, Pak. Saya mau ke rumah Angga dulu."
"Oke, nanti mampir ya!"
Suralaya memang seperti itu. Setiap orang saling mengenal. Setiap orang menyapa. Suasana kekeluargaan masih sangat terasa meskipun desa mulai berubah. Mungkin itulah yang membuat Ilham betah tinggal di sini.
Angga sedang duduk di teras rumahnya sambil memegang ponsel ketika Ilham tiba. Rambutnya yang sebentar lagi akan panjang diikat kuncir kecil di belakang. Wajahnya cenderung bulat dengan kulit yang lebih terang dari Ilham. Matanya sipit, sering kali menyipit ketika sedang serius atau bercanda.
"Dari tadi kulihat kau diam saja," sapa Angga sambil mengangkat alis.
Ilham duduk di kursi kayu di sampingnya tanpa permisi. "Ada yang perlu kita bicarakan."
"Serius banget mukamu. Ada masalah?"
Ilham mengeluarkan map cokelat dari sakunya dan menyerahkannya.
Angga membukanya perlahan. Matanya menyusuri isi surat itu dengan saksama. Alisnya berkerut, lalu mengembang lagi. Bibirnya bergerak-gerak membaca dalam hati. Setelah selesai, ia mengangkat wajah.
"Desa Lembah Selatan?" suaranya sedikit meninggi.
Ilham mengangguk.
"Mereka ingin kita datang tiga hari lagi."
Angga terdiam sesaat. Lalu ia bersiul kecil.
"Bukankah ini kabar baik? Berarti nama Suralaya makin dikenal."
"Harusnya begitu," jawab Ilham pelan. "Tapi aku tidak merasa seperti itu."
Angga menatap sahabatnya dalam diam. Ia mengenal Ilham cukup lama untuk tahu bahwa kegelisahan seperti ini bukan sesuatu yang muncul tanpa alasan. Ilham bukan tipe orang yang mudah cemas. Ia lebih sering tenang, bahkan dalam situasi sulit sekalipun. Jadi jika ia merasa tidak nyaman, pasti ada sesuatu.
"Karena surat misterius itu?" tanya Angga.
Ilham menoleh cepat.
"Kau tahu?"
Angga tersenyum tipis.
"Wajahmu terlalu mudah dibaca. Semalam kau terlihat gelisah setelah ke kantor. Aku pikir ada yang mengganggumu."
Ilham tertunduk sambil mengusap keningnya. Ada kerutan di antara dua alisnya, tanda bahwa pikirannya sedang bekerja keras.
"Aku tidak tahu kenapa, Ang. Semakin hari aku merasa semuanya mulai berubah."
Angga menyandarkan punggungnya ke kursi kayu. Kayu itu berderit pelan menahan beban tubuhnya yang tidak terlalu berat. Angga bertubuh sedang, sedikit lebih berisi dari Ilham.
"Berubah bagaimana?" tanyanya.
Ilham tidak langsung menjawab. Matanya menatap halaman rumah Angga yang sederhana. Ada ayunan kayu tua di bawah pohon manga, bekas ayunan masa kecil mereka yang sudah tidak pernah digunakan lagi.
"Kau ingat dulu, waktu kita pertama kali ke Awan Biru?"
Angga mengangguk. "Ingat. Kita naik bus antarkota, lalu dilanjut ojek. Perjalanan hampir enam jam. Sampai di sana, kita kelelahan tapi langsung disambut hangat sama warga. Mereka memasakkan nasi liwet untuk kita."
Ilham tersenyum mengingatnya. "Herman yang menjemput kita di perbatasan desa. Wajahnya dingin waktu itu, kirain orangnya galak. Ternyata dia hanya pemalu."
Angga tertawa. "Iya. Tapi setelah kenal, dia paling banyak bercerita tentang digitalisasi desa. Dia jelaskan semuanya dengan sabar, meskipun kita sering bolak-balik nanya hal yang sama."
"Dan kita belajar banyak di sana," lanjut Ilham. "Kita belajar bahwa perubahan tidak harus datang dari kota. Kita belajar bahwa teknologi bisa membantu tanpa merusak tradisi. Kita belajar bahwa desa kecil pun bisa berdiri dengan caranya sendiri."
Keheningan menyelimuti mereka sejenak.
"Tapi sekarang," Ilham melanjutkan dengan suara lebih pelan, "aku merasa hubungan kita dengan Awan Biru mulai berubah."
Angga mengerutkan dahi. "Maksudmu?"
"Dalam beberapa bulan terakhir, komunikasi kita dengan mereka mulai berkurang. Dulu kita sering teleponan, ngobrol tentang perkembangan desa masing-masing. Sekarang? Herman bahkan jarang membalas pesan. Wati juga. Aku tidak tahu kenapa."
Angga menghela napas. "Barangkali mereka juga sibuk. Awan Biru juga berkembang, sama seperti kita."
"Mungkin," jawab Ilham. "Tapi rasanya ada yang berbeda. Dulu kita merasa seperti satu keluarga. Sekarang... rasanya seperti hanya tinggal formalitas. Seperti orang yang dulu dekat, tapi sekarang menjaga jarak."
Angga menatap langit yang mulai cerah. Awan putih bergerak lambat di atas bukit.
"Kau merindukan masa itu?" tanyanya.
Ilham tersenyum kecil. "Kadang aku merindukan ketika semua belum serumit sekarang. Ketika perubahan masih terasa seperti petualangan, bukan seperti beban."
Pembicaraan mereka terhenti ketika suara langkah kaki terdengar dari dalam rumah. Seorang perempuan paruh baya keluar dengan membawa nampan berisi dua gelas es teh dan sepiring pisang goreng. Itu ibu Angga, Bu Ratna. Wajahnya mirip dengan Angga, sipit, bulat, dan selalu tersenyum.
"Lho, Mas Ilham datang. Kok nggak bilang-bilang?" sapa Bu Ratna ramah sambil meletakkan nampan di meja.
"Baru datang, Bu," jawab Ilham. "Makasih pisang gorengnya."
"Sama-sama. Kalian ini suka ngobrol panjang kalau ketemu. Tadi pagi Angga sudah cerita kalau mungkin ada undangan dari desa lain. Beneran?"
Ilham mengangguk. "Iya, Bu. Dari Desa Lembah Selatan."
Bu Ratna mengerutkan dahi. "Lembah Selatan? Di mana itu?"
"Di seberang pegunungan, Bu. Sekitar empat jam perjalanan."
"Wah, jauh juga. Kalian berangkat berdua?"
"Belum tahu, Bu. Masih kami pikirkan."
Bu Ratna mengangguk sambil melipat tangan di depan perut. "Hati-hati di jalan kalau jadi berangkat. Jangan lupa bawa bekal dan jas hujan. Jalan pegunungan kadang tidak menentu."
"Iya, Bu. Terima kasih."
Bu Ratna masuk kembali ke dalam rumah, meninggalkan mereka berdua.
Angga mengambil segelas es teh dan menyesapnya pelan. "Jadi, gimana? Kita terima undangannya?"
Ilham memegang gelasnya tanpa meminumnya. Jari-jarinya memutar-mutar gelas di atas meja.
"Ada satu hal lagi yang membuatku gelisah."
"Apa?"
Ilham mengeluarkan ponselnya. Ia membuka pesan singkat yang diterima Angga kemarin malam. Pesan dari Herman.
Angga membaca pesan itu. Matanya melebar.
"Jangan datang ke Lembah Selatan sebelum kalian tahu siapa yang sebenarnya menunggu di sana."
Kalimat itu sama misteriusnya dengan surat yang diterima Ilham. Bahkan lebih mengerikan, karena datang dari seseorang yang mereka kenal dan percaya.
"Menurutmu, kenapa Herman mengirim pesan itu?" tanya Angga.
Ilham menggeleng. "Aku tidak tahu. Tapi Herman tidak pernah bicara tanpa alasan. Kalau dia memperingatkan kita, pasti ada sesuatu."
"Kita telepon dia sekarang?"
Ilham mengangguk.
Ia menekan nomor Herman. Beberapa kali panggilan gagal. Sinyal di Suralaya memang tidak selalu bagus, terutama di pagi hari ketika banyak orang menggunakan ponsel. Tapi setelah tiga kali mencoba, akhirnya sambungan terjalin.
"Herman?" sapa Ilham.
"Halo, Ilham." Suara Herman di seberang terdengar berat dan pelan. Seperti orang yang sedang lelah atau tidak ingin didengar orang lain.
"Kami menerima pesanmu. Maksudnya apa?"
Herman terdiam cukup lama. Di kejauhan terdengar suara kendaraan melintas di desa Awan Biru.
"Ilham, aku tidak bisa bicara banyak sekarang. Tapi percayalah, aku mengirim pesan itu karena aku peduli padamu dan Suralaya."
"Tapi kenapa? Apa yang salah dengan Lembah Selatan?"
Herman menghela napas. Suaranya mengecil, seperti berbisik.
"Rahman... kepala desa mereka... dia bukan orang yang sederhana. Dia punya agenda yang lebih besar dari sekadar belajar digitalisasi desa. Aku tidak bisa menjelaskan semuanya lewat telepon. Tapi tolong, pikirkan baik-baik sebelum kau pergi ke sana."
Ilham merasakan dadanya sesak.
"Kau tahu sesuatu, Herman. Ceritakan."
"Tidak sekarang. Aku akan coba hubungi lagi nanti malam. Tapi yang jelas, jangan percaya begitu saja pada apa pun yang mereka katakan."
Panggilan terputus.
Ilham menatap layar ponselnya. Herman menutup telepon lebih cepat dari biasanya. Biasanya ia selalu mengucapkan salam sebelum memutus sambungan. Kali ini tidak.
Angga menatap Ilham dengan cemas.
"Apa katanya?"
Ilham menceritakan percakapan singkat itu. Angga mendengarkan dengan saksama, wajahnya semakin serius.
"Ini aneh," kata Angga akhirnya. "Kenapa Herman tidak bisa menjelaskan sekarang? Apa dia dalam tekanan? Atau takut disadap?"
Ilham menggeleng. "Aku tidak tahu. Tapi satu hal yang jelas: Lembah Selatan bukan sekadar desa yang ingin belajar."
"Jadi kita batalkan saja?" tanya Angga. "Tidak semua undangan harus kita datangi."
Ilham menunduk menatap map cokelat di tangannya. Ia membuka surat itu lagi, membaca ulang kalimat demi kalimat. Semua terdengar resmi dan sopan. Tidak ada yang mencurigakan secara tertulis.
Namun di balik kertas resmi itu, ada sesuatu yang bergerak.
"Kalau aku tidak datang," kata Ilham pelan, "aku tidak akan pernah tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi."
Angga menghela napas panjang.
"Kau selalu seperti itu."
Ilham tersenyum tipis.
"Karena perjalanan kadang bukan tentang memilih jalan yang aman."
"Lalu tentang apa?"
Ilham menatap langit di atas rumah-rumah desa. Langit biru dengan awan putih yang bergerak lambat. Langit yang sama seperti kemarin, namun terasa berbeda.
"Memastikan kita tidak salah arah."
Sepanjang hari itu, Ilham tidak bisa konsentrasi. Ia mencoba membantu ayahnya di sawah, tetapi pikirannya terus melayang ke Lembah Selatan. Ia membayangkan seperti apa desa itu. Seperti apa Rahman. Seperti apa rencana yang disembunyikan di balik undangan.
Hasan, ayah Ilham, memperhatikan kegelisahan anaknya. Lelaki tua itu baru saja selesai membersihkan rumput di pematang sawah. Keringat membasahi kemeja lusuhnya yang lengan pendek. Topi caping lebar menutupi kepalanya dari terik matahari.
"Nak," panggil Hasan sambil duduk di tepi pematang.
Ilham yang sedang membenamkan kaki di lumpur menoleh.
"Iya, Yah?"
"Ada yang mengganggumu."
Bukan pertanyaan, melainkan pernyataan.
Ilham tersenyum kecut. "Apa Bapak bisa membaca pikiran?"
Hasan tertawa kecil. Suaranya serak karena usia, tetapi masih kuat. "Bukan membaca pikiran. Hanya melihat wajahmu yang cemberut sejak tadi. Biasanya kalau di sawah, kau selalu bersiul. Hari ini tidak."
Ilham berjalan ke arah ayahnya lalu duduk di sampingnya. Lumpur masih melekat di betisnya. Air mengalir pelan di saluran irigasi di depan mereka.
"Bapak, kalau ada undangan dari desa lain untuk berbagi pengalaman, apakah sebaiknya saya terima?"
Hasan mengangkat alis. "Tergantung. Undangan dari mana?"
"Lembah Selatan."
Hasan mengerutkan dahi. "Lembah Selatan? Dengar-dengar desa itu lumayan maju. Tapi aku tidak pernah ke sana."
"Bapak tahu siapa kepala desanya?"
"Rahman, kalau tidak salah. Namanya cukup dikenal di kalangan kepala desa se-kabupaten. Katanya orangnya ambisius. Tapi aku tidak pernah bertemu langsung."
Ambisius.
Kata itu membuat Ilham bergidik tipis. Ambisi bisa menjadi kebaikan jika diarahkan dengan benar. Tapi bisa juga menjadi racun jika tidak terkendali.
"Kenapa kau bertanya, Nak?" Hasan menatap Ilham. "Kau ragu?"
Ilham mengangguk. "Ada beberapa hal yang membuat saya tidak nyaman. Surat misterius, pesan peringatan dari Awan Biru, dan... firasat saya sendiri."
Hasan terdiam cukup lama. Ia mengambil sebatang rokok dari saku kemejanya, lalu menyalakannya dengan korek api tua. Asap tipis mengepul ke udara.
"Nak, Bapak tidak bisa memutuskan untukmu. Tapi satu hal yang Bapak tahu: kau bukan orang yang mudah takut. Kalau firasatmu mengatakan ada yang tidak beres, mungkin memang ada yang tidak beres."
"Jadi sebaiknya saya tidak usah pergi?"
Hasan menggeleng. "Bapak tidak bilang begitu. Kadang, untuk mengetahui kebenaran, kita harus berani masuk ke tempat yang tidak nyaman. Tapi jangan lupa bekal. Bawa orang yang kau percaya. Dan jangan ragu untuk pulang jika merasa ada yang aneh."
Ilham merenung sejenak.
"Bapak tidak melarang saya?"
Hasan tersenyum. "Kau sudah dewasa, Nak. Sudah punya tanggung jawab sendiri. Bapak hanya bisa mendoakan. Tapi ingat, apa pun yang terjadi, rumah ini tetap terbuka untukmu."
Ilham tersenyum. Dadanya terasa hangat meskipun tubuhnya basah oleh lumpur dan keringat.
"Terima kasih, Yah."
Hasan mengusap rambut Ilham dengan kasar, seperti yang sering ia lakukan ketika Ilham masih kecil.
"Pokoknya pulang sebelum Magrib. Ibu sudah masak rendang."
Sore itu, Ilham mengumpulkan beberapa orang di kantor desa.
Selain Angga, ia memanggil Nisa dan Rendi. Juga Aulia yang kebetulan masih menyelesaikan laporan di ruang belakang. Mereka duduk di ruang pertemuan kecil, sebuah ruangan berukuran 4x5 meter dengan meja kayu panjang dan kursi-kursi plastik warna-warni.
Ilham menjelaskan tentang undangan dari Lembah Selatan. Ia juga menceritakan tentang surat misterius dan pesan dari Herman, tanpa menyembunyikan detail.
Nisa yang mendengarkan dengan saksama mengerutkan kening. "Jadi, Mas Ilham curiga ada yang tidak beres?"
"Iya," jawab Ilham. "Tapi aku tidak punya bukti. Hanya firasat."
Rendi menyandarkan kursinya. "Firasat itu penting, Mas. Tapi kita juga tidak bisa menolak undangan begitu saja tanpa alasan jelas. Nanti dianggap sombong."
Aulia mengangguk. "Rendi benar. Suralaya sedang dalam masa membangun hubungan dengan desa-desa lain. Kalau kita menolak undangan tanpa alasan yang masuk akal, citra kita bisa tercoreng."
Ilham menghela napas. "Jadi menurut kalian, sebaiknya kita terima?"
"Menerima undangan tidak berarti kita harus setuju dengan semua yang mereka minta," kata Aulia. "Kita bisa datang, mendengarkan, lalu memutuskan setelahnya."
"Tapi kalau memang ada bahaya?" tanya Angga. Suaranya tegas. "Herman memperingatkan kita. Dia tidak mungkin melakukannya tanpa alasan."
Aulia berpikir sejenak. "Kita bisa mencari informasi lebih dulu tentang Lembah Selatan. Mungkin ada yang kita lewatkan."
Nisa mengangkat tangannya. "Aku bisa mencari di internet. Tapi informasi tentang desa-desa biasanya terbatas. Paling hanya artikel berita atau profil di website resmi."
"Lakukan saja," kata Ilham. "Cari apa pun yang bisa kita dapatkan."
Setelah pertemuan singkat itu, Ilham berjalan keluar kantor desa. Matahari mulai condong ke barat, mewarnai langit dengan jingga dan ungu. Suara adzan Ashar terdengar dari musala kecil di ujung jalan.
Ia berjalan menyusuri jalan desa yang mulai sepi. Sebagian warga sudah pulang ke rumah masing-masing, bersiap untuk shalat dan makan malam.
Di perempatan, ia melihat sekelompok anak-anak masih bermain bola di lapangan tanah. Mereka tertawa dan berteriak riang, tidak peduli dengan sore yang mulai gelap. Seorang bocah laki-laki berlari sambil menendang bola karet, lalu jatuh tersungkur. Teman-temannya tertawa, lalu membantunya berdiri.
Ilham tersenyum. Ada masa ketika ia juga seperti mereka. Masa ketika dunia hanya sebatas lapangan bola dan sungai di belakang rumah. Masa ketika masalah terbesar adalah bola yang tersangkut di pohon atau sandal yang hilang terseret arus.
Sekarang, dunia terasa jauh lebih luas. Dan masalahnya jauh lebih rumit.
Malamnya, Ilham duduk di teras rumah ditemani secangkir teh jahe buatan ibunya. Laila sedang membersihkan dapur di dalam, sesekali menyapa Ilham dari balik jendela.
"Jangan terlalu larut, Nak. Besok masih harus bangun pagi."
"Iya, Bu. Sebentar lagi."
Ia membuka ponselnya. Ada pesan dari Nisa.
"Mas, aku cari informasi tentang Lembah Selatan. Yang kutemukan: mereka mulai digitalisasi dua tahun lalu, dibantu oleh investor swasta. Namanya PT Nusantara Digital Mandiri. Desa mereka disebut-sebut sebagai percontohan digitalisasi tercepat di wilayah selatan. Tapi tidak banyak artikel yang membahas detail programnya. Aneh."
"Aneh kenapa?" balas Ilham.
"Biasanya kalau desa sukses, banyak media yang meliput. Tapi Lembah Selatan jarang muncul di berita. Seperti mereka sengaja menjaga profil rendah."
Ilham mengerutkan dahi. Profil rendah untuk desa yang mengklaim sukses? Itu tidak biasa. Biasanya desa-desa yang berhasil suka mempublikasikan keberhasilan mereka untuk menarik kunjungan dan investasi.
"Terus ada yang lain?" tanyanya.
"Investornya, PT Nusantara Digital Mandiri. Perusahaan ini cukup besar, bergerak di bidang pengembangan infrastruktur digital untuk daerah. Tapi aku cek profilnya, tidak banyak informasi tentang proyek-proyek mereka di desa. Hanya disebutkan bahwa mereka memiliki tim ahli di bidang IT dan manajemen."
Ilham mengetik balasan, "Ok, besok kita bahas lagi. Istirahat dulu."
Ia mematikan ponsel dan menatap langit malam. Bintang-bintang bertaburan, terang dan jauh. Di kejauhan, terdengar suara jangkrik yang bersahutan.
PT Nusantara Digital Mandiri.
Nama itu terdengar terlalu besar untuk sebuah proyek desa. Biasanya investor swasta masuk ke desa dengan skema corporate social responsibility atau kemitraan. Tapi dari cerita Nisa, sepertinya keterlibatan perusahaan ini cukup dalam.
Dan itu membuat Ilham semakin penasaran sekaligus waspada.
Dini harinya, sekitar pukul dua, ponsel Ilham bergetar.
Ia terbangun karena suara getaran yang cukup keras di atas meja kayu. Matanya masih berat, tapi ia meraih ponsel dan melihat layar.
Pesan dari Herman.
"Ilham, maaf tadi aku buru-buru menutup telepon. Ada yang harus kau tahu."
Ilham duduk di tepi tempat tidur. Matanya mengucek-ngucek, berusaha fokus.
"Apa?"
"Rahman datang ke Awan Biru setahun lalu. Ia ingin mengajak kami bergabung dalam jaringan desa digital yang dikendalikan oleh PT Nusantara Digital Mandiri. Katanya desa kami akan mendapat bantuan dana, pelatihan, dan akses pasar."
"Lalu?"
"Kami menolak. Bukan karena tidak butuh bantuan. Tapi karena syaratnya terlalu mengikat. Desa yang bergabung harus menandatangani kontrak eksklusif. Semua data desa, hasil bumi, wisata, harus dikelola melalui platform mereka. Dan mereka punya hak untuk menentukan harga dan distribusi."
Ilham membaca pesan itu berulang kali. Jantungnya berdegup lebih cepat.
"Itu berarti desa-desa kehilangan kendali atas sumber daya mereka sendiri."
"Tepat sekali. Itu sebabnya kami menolak. Tapi setelah kami tolak, Rahman tidak terima. Ia bilang kami akan menyesal. Dan beberapa bulan kemudian, kami mendengar kabar bahwa ia mulai mendekati desa-desa lain, termasuk Suralaya."
Ilham menggenggam ponselnya erat-erat.
"Kenapa kau tidak bilang dari dulu?"
"Karena kami tidak menyangka dia akan secepat itu bergerak. Kami pikir dia hanya mengancam. Ternyata serius. Ilham, hati-hati. Jangan sampai Suralaya terjebak dalam perjanjian yang merugikan."
"Terima kasih, Herman. Aku akan bicara dengan tim besok pagi."
"Sama-sama. Jaga dirimu. Dan jangan katakan pada siapa pun bahwa kau mendapat informasi ini dariku. Aku tidak tahu sejauh mana jaringan mereka."
Ilham mengirim emoji jempol, lalu mematikan ponsel.
Malam itu, ia tidak bisa tidur lagi.
Ia berbaring di tempat tidur, menatap langit-langit kamar yang gelap. Pikirannya berputar cepat, menyusun dan membongkar berbagai kemungkinan.
Lembah Selatan bukan sekadar desa yang ingin belajar. Mereka adalah bagian dari jaringan yang lebih besar. Jaringan yang ingin mengendalikan desa-desa melalui digitalisasi. Dan Suralaya adalah target berikutnya.
Pertanyaannya sekarang: apakah ia akan tetap datang ke Lembah Selatan, atau membatalkan semuanya?
Pagi berikutnya, Ilham mengumpulkan tim lagi. Kali ini di ruang tamu rumahnya, karena kantor desa belum buka.
Nisa, Rendi, Aulia, dan Angga duduk di kursi-kursi bambu yang sudah agak reyot. Laila menyuguhkan kopi dan pisang goreng, lalu masuk ke dapur meninggalkan mereka.
Ilham menceritakan isi pesan Herman. Semua mendengarkan dengan saksama. Wajah mereka berubah dari rasa ingin tahu menjadi serius, lalu cemas.
"Jadi, ini bukan sekadar kunjungan belajar biasa?" tanya Rendi.
"Bukan," jawab Ilham. "Ini adalah upaya untuk menarik kita ke dalam jaringan yang mereka kendalikan."
Nisa menghela napas. "Aku sudah curiga waktu mencari informasi tentang investornya. Tidak banyak data publik tentang proyek mereka. Itu tanda bahaya. Biasanya perusahaan yang transparan akan mempublikasikan proyek-proyek mereka."
Aulia mengangguk. "Aku setuju. Tapi kita juga tidak bisa menuduh tanpa bukti. Mungkin mereka hanya belum siap mempublikasikan semuanya."
"Atau mungkin mereka sengaja menyembunyikan," potong Angga ketus. "Kita tidak bisa mengambil risiko. Aku usul kita batalkan saja."
Ruangan hening.
Semua mata tertuju pada Ilham.
Ia berdiri dan berjalan ke jendela. Matanya menatap halaman depan yang ditumbuhi rumput dan beberapa ekor ayam yang sedang mematuk tanah.
"Bagaimana kalau kita tetap datang?" katanya pelan.
Angga menoleh cepat. "Apa? Setelah semua yang kau ceritakan?"
Ilham berbalik. "Dengar dulu. Kita datang sebagai utusan resmi dari Suralaya. Kita tidak akan menandatangani apa pun. Kita hanya mendengarkan, mengamati, dan mencari tahu sejauh mana rencana mereka. Dengan begitu, kita bisa mendapatkan informasi yang lebih akurat. Bukan hanya dari Herman, tapi dari sumber pertama."
Rendi mengangguk pelan. "Itu bisa jadi strategi yang bagus. Kita bisa jadi mata-mata, semacam investigasi."
Nisa mengerutkan dahi. "Tapi berbahaya. Kalau mereka tahu kita hanya pura-pura setuju, bisa-bisa kita dalam masalah."
"Kita tidak akan pura-pura setuju," tegas Ilham. "Kita akan datang sebagai tamu yang ingin belajar. Tidak lebih. Kalau mereka menawarkan sesuatu yang mencurigakan, kita tolak dengan sopan."
Aulia menghela napas. "Aku setuju dengan Ilham. Menolak undangan tanpa alasan jelas hanya akan menimbulkan kecurigaan dari mereka. Mungkin mereka akan mencari cara lain untuk mendekati Suralaya. Lebih baik kita hadapi langsung, dengan kepala dingin dan kewaspadaan tinggi."
Angga masih terlihat ragu. "Tapi bagaimana kalau mereka memaksa?"
Ilham tersenyum tipis. "Kita di desa mereka, bukan di penjara. Kita bisa pergi kapan saja. Lagipula, kita tidak sendirian. Ada kalian semua."
Angga menghela napas panjang. "Baiklah. Tapi kalau ada yang aneh-aneh, kita langsung cabut. Setuju?"
"Setuju," kata Ilham.
"Setuju," ucap Nisa dan Rendi bersamaan.
Aulia mengangguk.
Keputusan telah diambil.
Dua hari kemudian, Rafi datang lagi ke Suralaya. Kali ini ia membawa mobil tua berwarna abu-abu yang tampaknya sudah sering digunakan untuk perjalanan jauh. Kap mobilnya sedikit penyok di bagian depan, dan kaca spion kanan retak di sudutnya.
"Sudah siap?" tanyanya dengan senyum ramah.
Ilham mengangguk. Di sampingnya, Angga membawa tas kecil berisi pakaian dan perlengkapan mandi.
"Kami berangkat berdua saja?" tanya Angga.
Rafi mengangguk. "Perjalanan cukup jauh. Jalan menuju Lembah Selatan tidak mudah. Melewati hutan dan perbukitan. Kalau terlalu banyak penumpang, mobil bisa berat."
Ilham berpamitan dengan orang tuanya. Hasan menepuk pundaknya. Laila memeluknya sebentar sambil berbisik, "Hati-hati, Nak."
"Iya, Bu. Doakan kami."
Nisa dan Rendi melambaikan tangan dari depan kantor desa. "Hati-hati di jalan, Mas! Bawa oleh-oleh!" teriak Rendi sambil tertawa.
Ilham tersenyum. "Nanti kita beli oleh-oleh kalau ada."
Mobil mulai bergerak meninggalkan Suralaya. Ilham menatap ke belakang, melihat desanya perlahan mengecil di balik kabut pagi. Rumah-rumah kayu, sawah hijau, bukit-bukit yang menjulang. Semua tampak tenang.
Namun hatinya tidak tenang.
Ia tahu perjalanan ini bukan sekadar kunjungan biasa. Ini adalah langkah pertama memasuki wilayah yang belum ia kenal. Wilayah yang mungkin menyimpan jebakan.
Mobil melaju melewati jalan beraspal yang mulai rusak di beberapa bagian. Mereka melewati perkebunan teh yang membentang luas di lereng bukit, lalu masuk ke kawasan hutan pinus yang rimbun. Pepohonan tinggi menjulang di kiri kanan jalan, sesekali diselingi oleh sungai kecil yang airnya jernih.
Rafi tidak banyak bicara. Ia hanya sesekali menjelaskan medan atau menunjuk wilayah yang mereka lewati.
"Di sebelah kiri itu ada desa wisata yang mulai berkembang," katanya sambil menunjuk ke arah perbukitan. "Namanya Desa Cibitung. Mereka punya air terjun yang cukup terkenal."
Ilham memperhatikan dengan saksama. "Apakah desa itu juga bagian dari jaringan Lembah Selatan?"
Rafi menggeleng. "Belum. Tapi Pak Rahman sudah beberapa kali mengadakan pertemuan dengan kepala desa mereka."
Angga yang duduk di kursi belakang menyelidik. "Untuk apa?"
Rafi terdiam sejenak. "Saya tidak tahu detailnya. Saya hanya sopir."
Jawaban itu diplomatis, tapi Ilham bisa menangkap ada sesuatu yang disembunyikan. Rafi mungkin tahu lebih banyak dari yang ia katakan, tapi ia tidak mau berbagi informasi.
Empat jam perjalanan terasa jauh lebih panjang dari biasanya. Mereka melewati jalan berbatu, menuruni lereng curam, menembus hutan kecil, lalu menyusuri tepian sungai yang panjang. Beberapa kali mobil terperosok ke dalam lubang, membuat mereka harus turun dan mendorong.
"Maaf, jalannya memang belum bagus," kata Rafi sambil mengusap keringat.
"Tidak apa-apa," jawab Ilham. "Kami sudah biasa."
Ketika matahari mulai condong ke barat, mobil itu akhirnya berhenti di sebuah dataran tinggi.
Rafi mematikan mesin. Suara mesin yang berisik selama empat jam akhirnya padam, digantikan oleh kesunyian yang diisi oleh suara angin dan kicauan burung.
"Kita sudah sampai."
Ilham turun perlahan.
Di hadapannya terbentang sebuah desa yang membuatnya terdiam.
Rumah-rumah kayu berdiri rapi di lereng perbukitan. Jalan-jalan desa tampak bersih, terbuat dari batu-batu kecil yang disusun rapi. Lampu tenaga surya terpasang di beberapa sudut, meskipun saat itu belum menyala karena masih sore. Antena kecil berdiri di dekat kantor desa. Anak-anak bermain di lapangan terbuka sambil tertawa, mengejar bola plastik.
Desa itu tampak maju. Bukan maju seperti kota, tetapi maju dengan cara yang teratur dan rapi. Semua tampak tertata. Tidak ada sampah berserakan. Tidak ada rumah yang tampak reot. Bahkan pagar-pagar rumah pun terlihat seragam, terbuat dari kayu yang dicat putih.
Tapi bukan itu yang membuat Ilham diam.
Yang membuatnya tertegun adalah suasananya.
Tak ada keramahan seperti yang dulu ia rasakan saat pertama kali tiba di Awan Biru. Di Awan Biru, warga keluar dari rumah mereka, tersenyum, menyapa, bahkan ada yang langsung mengajak makan. Di sini, warga hanya melirik sekilas, lalu melanjutkan aktivitas mereka. Seperti tidak peduli. Atau seperti sudah diatur untuk tidak terlalu ramah.
Tak ada senyum hangat yang menyapa. Tak ada rasa akrab yang mengalir alami.
Semua terlihat indah. Namun terasa asing.
Seolah desa itu menyimpan sesuatu di balik ketenangannya.
"Selamat datang di Lembah Selatan," kata Rafi.
Ilham memandang langit di atas desa itu. Awan tipis menggantung rendah. Cahayanya indah, keemasan karena matahari sore. Namun terasa dingin. Seperti cahaya yang tidak menghangatkan.
Dan saat itulah Ilham mengerti mengapa hatinya gelisah sejak awal.
Desa ini memang maju. Tetapi kemajuan yang ia lihat di sini berbeda dengan yang pernah ia pelajari di Awan Biru.
Di Awan Biru, teknologi hadir untuk menjaga manusia. Di sana, warga tetap tersenyum, tetap ramah, tetap terbuka. Teknologi hanyalah alat, bukan tujuan.
Di Lembah Selatan, teknologi terasa seperti sedang mengubah manusia. Segala sesuatu tampak terlalu sempurna. Terlalu teratur. Terlalu... mati.
Angga berdiri di sampingnya.
"Kau merasakan juga?" bisiknya. Suaranya hampir tidak terdengar, seperti takut ada yang mendengar.
Ilham menjawab pelan.
"Iya."
Rafi menoleh.
"Apa?"
Ilham menggeleng.
"Tidak apa. Ayo, kita ke kantor desa."
Mereka berjalan menuju kantor desa yang berdiri di tengah dataran. Bangunannya megah dibanding desa-desa lain di sekitarnya. Dinding kayunya dipadukan dengan kaca besar, memberi kesan modern yang mencolok. Di depan bangunan, sebuah papan nama besar bertuliskan: KANTOR DESA LEMBAH SELATAN — PUSAT INOVASI DIGITAL.
Di pintu masuk, seorang pria paruh baya berdiri menunggu.
Tubuhnya tegap, tinggi sekitar 175 cm. Wajahnya tenang, dengan garis-garis tegas di sekitar rahang. Rambutnya hitam dengan sedikit uban di pelipis. Matanya tajam, seperti bisa menembus pikiran orang yang diajak bicara. Ia mengenakan kemeja batik lengan panjang berwarna biru tua, celana kain hitam, dan sepatu pantofel mengkilap.
Begitu melihat Ilham, pria itu tersenyum kecil. Senyum yang terlatih, tidak terlalu lebar, tidak terlalu tipis. Pas di ukuran formal.
"Selamat datang, Muhammad Ilham."
Ilham berhenti.
Ia belum pernah bertemu pria itu sebelumnya. Namun cara pria itu menyebut namanya terasa seolah mereka sudah saling mengenal lama. Seperti ada hubungan yang tidak terucapkan.
"Saya Rahman," katanya sambil mengulurkan tangan. "Kepala Desa Lembah Selatan."
Ilham menyambut tangannya. Hangat. Tapi entah kenapa, terasa seperti menyimpan sesuatu. Jabatannya kuat, menunjukkan kekuasaan.
"Terima kasih sudah datang," lanjut Rahman. "Saya sudah lama menunggu pertemuan ini."
Ilham menatap matanya.
"Menunggu saya?"
Rahman tersenyum tipis.
"Kadang seseorang tidak datang ke sebuah tempat karena undangan."
Ia berhenti sejenak, menatap Ilham dengan sorot yang sulit diartikan.
"Kadang karena takdir memang membawanya ke sana."
Kalimat itu sederhana. Namun cukup membuat Ilham merasakan sesuatu yang tak nyaman menjalar di dadanya. Seperti ada yang menggelitik, tapi tidak bisa digaruk.
Angga menoleh pelan ke arah Ilham.
Tatapan mereka bertemu.
Keduanya tahu hal yang sama:
Perjalanan ini bukan sekadar kunjungan antar desa.
Dan tanpa mereka sadari, mereka baru saja melangkah masuk ke dalam sesuatu yang jauh lebih besar daripada yang mereka bayangkan.
Di atas Lembah Selatan, langit perlahan berubah warna. Jingga bercampur ungu, indah namun mencekam.
Dan untuk pertama kalinya, Ilham melihat dengan jelas, bahwa tidak semua langit memiliki cahaya yang sama.
BAB 2 — Jejak yang Mulai Berubah
Matahari perlahan tenggelam di balik perbukitan Lembah Selatan. Langit yang sebelumnya jingga kini berubah menjadi gradasi ungu keabu-abuan, dengan bintang-bintang mulai bermunculan satu per satu. Udara dingin pegunungan mulai turun, membawa embun tipis yang membasahi rerumputan di halaman balai desa.
Muhammad Ilham berdiri di beranda kantor desa, matanya menatap pemandangan desa yang mulai gelap. Lampu-lampu jalan tenaga surya menyala otomatis, memancarkan cahaya pucat kehijauan di sepanjang jalan batu. Dari kejauhan, terdengar suara adzan Magrib berkumandang dari musala desa. Suaranya lirih, terbawa angin, seperti bisikan yang mengingatkan bahwa di desa yang tampak maju ini, masih ada sisa-sisa tradisi yang bertahan.
Rahman telah mengajak mereka masuk ke dalam kantor desa untuk beristirahat sejenak. Seorang perempuan muda bernama Sari, perangkat desa yang tadi ikut menyambut, menyuguhkan teh hangat dan kue-kue tradisional di ruang tamu balai. Ruangan itu cukup luas, berukuran sekitar 8x10 meter, dengan lantai keramik putih mengkilap yang kontras dengan dinding kayu berukir. Ada sofa panjang berwarna cokelat di tengah ruangan, meja kaca di depannya, dan beberapa kursi kayu di sudut.
Ilham memilih untuk tidak duduk di sofa. Ia lebih memilih berdiri di beranda, menghirup udara dingin yang menusuk hidung. Angga duduk di kursi kayu dekat pintu, matanya waspada mengamati sekeliling.
"Tidak suka dengan tempat ini?" tanya Angga pelan, hanya cukup terdengar untuk Ilham.
Ilham menggeleng. "Bukan tidak suka. Hanya... tidak biasa."
"Tempatnya terlalu rapi, ya?"
Ilham mengangguk. "Iya. Terlalu rapi. Rumah-rumah kayu biasanya punya karakter. Ada yang miring, ada yang catnya mengelupas, ada yang halamannya ditumbuhi rumput liar. Tapi di sini... semuanya seragam. Seperti desa buatan."
Angga menghela napas. "Mungkin mereka memang serius menata desa. Tidak ada yang salah dengan itu."
"Tidak ada yang salah," Ilham mengakui. "Tapi perasaan ini tidak bisa bohong. Ada yang aneh."
Sari keluar dari balai desa sambil membawa nampan kosong. Perempuan itu berusia sekitar dua puluh delapan tahun, tinggi, dengan rambut panjang yang diikat ke belakang. Wajahnya cukup cantik, dengan kulit sawo matang dan mata yang teduh. Ia tersenyum ramah ketika melihat Ilham masih di beranda.
"Mas Ilham, silakan masuk. Udara di sini dingin, nanti bisa masuk angin," katanya dengan suara lembut.
Ilham tersenyum tipis. "Terima kasih, Mbak Sari. Saya suka udara dingin. Di Suralaya juga dingin, walau mungkin tidak sedingin ini."
"Ah, iya. Lembah Selatan memang lebih tinggi dari Suralaya. Ketinggiannya sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut."
"Cukup tinggi," komentar Ilham. "Cocok untuk pertanian sayuran."
Sari mengangguk. "Iya, sebagian besar warga bertani sayur. Kubis, wortel, kentang. Dulu hasilnya dijual ke tengkulak dengan harga murah. Tapi sekarang sudah ada sistem digital, petani bisa menjual langsung ke pembeli."
"Melalui platform desa?"
"Platform dari mitra kami, PT Nusantara Digital Mandiri."
Nama itu kembali muncul. Ilham menangkapnya dengan saksama.
"PT NDM?" tanyanya pura-pura tidak tahu. "Saya belum pernah mendengar. Apa mereka perusahaan teknologi?"
Sari mengangguk. "Iya, mereka spesialis pengembangan digitalisasi desa. Platform mereka sangat membantu kami. Semua data desa, hasil pertanian, wisata, dikelola melalui satu sistem."
"Menarik," kata Ilham. "Mungkin saya bisa belajar lebih banyak tentang sistem itu."
Sari tersenyum. "Tentu. Pak Rahman akan menjelaskan semuanya besok. Sekarang istirahat dulu. Kamar untuk Bapak dan Mas Angga sudah disiapkan."
Ilham mengucapkan terima kasih, lalu masuk ke dalam.
Kamar tamu yang disediakan cukup nyaman. Ada dua tempat tidur kayu dengan kasur tebal, lemari kecil, dan jendela yang menghadap ke halaman belakang balai desa. Dinding kamar terbuat dari kayu, tapi lantainya keramik putih seperti di ruang tamu. Sebuah pemanas ruangan berdiri di sudut, meskipun udara malam tidak terlalu dingin untuk membutuhkannya.
Angga merebahkan diri di salah satu tempat tidur. "Wah, ini lebih mewah dari kamarku di rumah."
Ilham tertawa kecil. "Jangan keburu betah. Kita di sini bukan untuk liburan."
"Tahu, tahu. Aku hanya bercanda."
Ilham duduk di tepi tempat tidur. Matanya menatap langit-langit kamar yang terbuat dari kayu berkualitas baik. Tidak ada retak atau rembesan air. Semua tampak baru dan terawat.
"Ang," panggilnya pelan.
"Hmm?"
"Kau perhatikan tidak, semua di sini terlihat baru?"
Angga mengangkat alis. "Maksudmu?"
"Rumah-rumah, jalanan, balai desa, bahkan kamar ini. Semuanya terlihat baru atau baru direnovasi. Padahal kata Rafi, digitalisasi baru berjalan dua tahun. Dalam dua tahun, mereka bisa membangun atau merenovasi hampir seluruh desa?"
Angga terdiam, memikirkan hal itu.
"Memang aneh," akunya akhirnya. "Di Suralaya, renovasi kantor desa saja memakan waktu hampir setahun karena keterbatasan dana."
"Itu yang membuatku bertanya-tanya," kata Ilham. "Dari mana dana mereka? PT NDM pasti mengucurkan banyak uang. Tapi untuk apa? Perusahaan tidak akan berinvestasi besar-besaran tanpa imbalan."
"Kau pikir mereka punya agenda tersembunyi?"
Ilham mengangguk. "Herman sudah memperingatkan kita. Aku tidak akan mengabaikannya."
Malam itu, setelah shalat Isya, Rahman mengundang mereka untuk makan malam di rumahnya.
Rumah Rahman terletak di ujung desa, di lereng bukit yang menghadap langsung ke lembah. Bangunannya lebih besar dari rumah-rumah lain, dengan halaman yang luas dan pagar besi tinggi. Di depan rumah, sebuah lampu taman menerangi jalan setapak dari batu alam.
Ilham dan Angga diantar oleh Dimas, perangkat desa muda yang tadi siang ikut berkeliling. Dimas berusia sekitar tiga puluh tahun, bertubuh kurus dengan wajah yang selalu tersenyum. Ia ramah, bahkan terlalu ramah, seperti berusaha membuat tamunya nyaman dengan segala cara.
"Mas Ilham, Mas Angga, silakan masuk," kata Dimas sambil membuka pintu pagar.
Mereka masuk ke halaman rumah. Di sana sudah terlihat beberapa orang duduk di kursi-kursi taman. Ada Rahman, tentu saja, juga seorang perempuan yang ternyata istrinya, Bu Yanti, perempuan berusia sekitar lima puluh tahun dengan wajah bulat dan rambut pendek. Ada juga Sari dan Rafi, serta dua orang laki-laki lain yang tidak Ilham kenal.
"Selamat malam," sapa Rahman dengan ramah. "Silakan duduk. Makan malamnya sederhana saja, masakan istri saya."
Bu Yanti tersenyum malu-malu. "Maaf kalau tidak enak. Saya hanya bisa masak makanan biasa."
Ilham duduk di kursi yang tersedia. Angga duduk di sampingnya.
Makanan yang disajikan tidak sederhana sama sekali. Ada nasi liwet dengan lauk ayam bakar, pepes ikan, sayur asem, tempe mendoan, dan sambal terasi. Aroma rempah-rempah tercium kuat, membuat perut Ilham keroncongan meskipun ia sudah makan camilan sore tadi.
"Ini luar biasa, Bu," puji Ilham setelah mencicipi ayam bakar. "Ayamnya empuk dan bumbunya meresap."
Bu Yanti tersenyum senang. "Terima kasih, Mas. Resep dari ibu saya dulu."
Rahman tertawa kecil. "Setiap ada tamu penting, istri saya selalu mengeluarkan jurus andalannya."
"Tamunya juga penting," tambah Bu Yanti sambil melirik suaminya. "Bapak sudah menunggu kedatangan Mas Ilham sejak lama."
Ilham mengangkat alis. "Menunggu saya? Saya hanya pemuda desa biasa."
Rahman menghela napas. "Bukan biasa, Ilham. Saya sudah membaca tentang perjalanan Suralaya. Tentang bagaimana desa itu berubah setelah belajar dari Awan Biru. Tentang peran Anda di dalamnya."
"Saya hanya bagian kecil dari tim," Ilham merendah.
"Jangan merendahkan diri," potong Rahman tegas tapi tetap sopan. "Perubahan besar selalu dimulai dari seseorang yang berani memulai. Anda adalah orang itu untuk Suralaya."
Suasana menjadi hening sejenak.
Angga memecah kesunyian dengan bertanya, "Pak Rahman, kalau boleh tahu, apa yang membuat Bapak tertarik pada Suralaya? Bukan hanya Suralaya, tetapi juga Awan Biru?"
Rahman menyandarkan tubuhnya di kursi. Matanya menatap langit malam yang dipenuhi bintang.
"Saya ingin membangun sesuatu yang besar," katanya akhirnya. "Bukan hanya untuk Lembah Selatan, tetapi untuk seluruh desa di kawasan ini. Desa-desa kita selama ini terpinggirkan. Kita hanya penonton dari kemajuan yang terjadi di kota. Padahal, kita punya potensi yang luar biasa."
"Saya setuju," kata Ilham. "Tapi pembangunan jaringan desa harus didasari oleh kerja sama yang setara, bukan ketergantungan."
Rahman tersenyum. "Tentu. Itulah mengapa saya ingin belajar dari Suralaya. Dari cara Anda membangun desa tanpa kehilangan kemandirian."
Kalimat itu terdengar benar. Terlalu benar. Seperti jawaban yang sudah dipersiapkan.
Setelah makan malam, Ilham dan Angga berjalan kembali ke balai desa ditemani oleh Dimas. Jalanan sepi. Lampu-lampu desa menyala redup, menciptakan bayangan panjang di aspal.
"Mbak Sari tadi cerita tentang sistem digital yang digunakan Lembah Selatan," kata Ilham kepada Dimas. "Menurut Mas Dimas, apa kelebihan sistem itu?"
Dimas berpikir sejenak. "Kelebihannya, semua terintegrasi. Data penduduk, pertanian, wisata, keuangan, semuanya dalam satu platform. Jadi warga tidak perlu repot-repot menggunakan banyak aplikasi."
"Tapi apakah warga tidak kesulitan beradaptasi? Banyak warga desa yang gaptek."
"Pada awalnya iya," akui Dimas. "Tapi PT NDM memberikan pelatihan intensif. Bahkan mereka mengirim tim pendamping yang tinggal di desa selama tiga bulan."
"Tim pendamping?" Ilham penasaran. "Berapa orang?"
"Lima orang. Mereka mengajar warga cara menggunakan aplikasi, mengelola data, bahkan pemasaran digital."
"Lalu setelah tiga bulan, mereka pergi?"
Dimas mengangguk. "Iya. Tapi sistemnya tetap berjalan. Warga sudah terbiasa."
Angga yang berjalan di samping Ilham bersiul kecil. "Hebat. Dalam tiga bulan, mereka bisa mengubah warga yang gaptek menjadi melek digital."
Dimas tersenyum bangga. "Itu berkat kerja keras semua pihak."
Ilham tidak berkata apa-apa. Dalam pikirannya, ia menghitung. Lima orang tim pendamping selama tiga bulan, ditambah biaya pelatihan, pengadaan perangkat, renovasi desa, semua itu membutuhkan dana yang tidak sedikit. PT NDM pasti menginvestasikan miliaran rupiah untuk Lembah Selatan.
Pertanyaannya: apa imbalannya?
Kembali di kamar, Ilham tidak bisa tidur. Ia duduk di kursi dekat jendela, memandang gelap di luar. Angga sudah terlelap dengan posisi miring, mulutnya terbuka sedikit, mendengkur pelan.
Ilham mengeluarkan ponselnya. Sinyal di kamar lumayan bagus. Ia membuka pesan dari Herman yang belum sempat ia balas.
"Ilham, hati-hati. Jangan sampai Suralaya terjebak dalam perjanjian yang merugikan."
Ia membalas: "Kami sudah sampai di Lembah Selatan. Semua tampak normal. Tapi ada yang aneh. Aku akan cari tahu lebih lanjut."
Pesan terkirim. Ia menunggu balasan, tapi tidak ada.
Mungkin Herman sudah tidur. Atau mungkin ia sengaja tidak membalas karena alasan tertentu.
Ilham mematikan ponsel dan kembali menatap ke luar jendela.
Di kejauhan, ia melihat sebuah bangunan yang masih menyala lampunya. Bangunan itu terletak di pinggir desa, agak terpisah dari rumah-rumah lain. Dari jendela kamarnya, Ilham bisa melihat papan nama di depan bangunan itu, meskipun tulisannya tidak terbaca jelas dalam gelap.
Pusat Inovasi dan Jaringan Desa, kata Angga tadi siang. Tempat di mana peta besar dengan garis-garis merah itu dipajang.
Ilham bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi di balik dinding bangunan itu.
Pagi berikutnya, Ilham bangun lebih awal dari biasanya. Matahari baru saja muncul di balik bukit, menyinari lembah dengan cahaya keemasan. Kabut tipis masih menggantung di antara rumah-rumah, menciptakan pemandangan yang indah dan misterius.
Ia membangunkan Angga yang masih mendengkur nyenyak.
"Ang, bangun. Hari sudah siang."
Angga menggerutu sambil membalikkan badan. "Sejam lagi, hmm..."
"Ayo, kita tidak mau ketinggalan sarapan."
"Kau dan perutmu," gumam Angga sambil duduk dengan mata masih setengah terbuka.
Mereka bersiap-siap, lalu berjalan menuju ruang makan balai desa. Sari sudah menunggu dengan sarapan sederhana: bubur ayam, pisang goreng, dan kopi.
"Selamat pagi," sapa Sari ramah. "Selamat menikmati."
"Terima kasih, Mbak," kata Ilham sambil duduk.
Angga langsung menyantap bubur ayam dengan lahap. "Enak, Mbak. Masakan siapa ini?"
"Masakan saya sendiri," jawab Sari tersenyum. "Semoga cocok di lidah."
Setelah sarapan, Sari mengajak mereka berkeliling desa lagi. Kali ini ia sendiri yang menjadi pemandu, karena Rafi sedang ada keperluan lain.
Mereka berjalan menyusuri jalan desa yang bersih. Beberapa warga mulai beraktivitas. Seorang bapak membuka warung kopi di pinggir jalan. Seorang ibu menjemur pakaian di halaman rumah. Anak-anak berlarian menuju sekolah.
"Desa ini terasa tenang," komentar Angga.
Sari mengangguk. "Warga di sini memang pendiam. Tapi baik kok. Hanya saja, mereka kurang terbiasa dengan orang baru."
"Kenapa?" tanya Ilham.
Sari menghela napas. "Dulu, sebelum desa ini maju, sering ada oknum yang datang menjanjikan bantuan tapi akhirnya menipu. Jadi warga agak waspada dengan orang luar."
"Tapi sekarang desa sudah maju. Apakah masih ada yang menipu?"
"Sudah tidak ada. Tapi trauma itu masih terasa."
Ilham mengangguk mengerti. Trauma memang bisa bertahan lama.
Mereka berjalan melewati sebuah bangunan yang menarik perhatian Ilham. Bangunan itu adalah Pusat Inovasi dan Jaringan Desa yang semalam ia lihat dari jendela. Sekarang, di siang hari, bangunan itu tampak lebih besar dari yang ia kira. Dinding kacanya memantulkan cahaya matahari, membuatnya berkilauan.
"Itu pusat inovasi kami," kata Sari bangga. "Di situlah semua data desa dikelola. Juga tempat pelatihan digital untuk warga."
"Boleh kami lihat ke dalam?" tanya Ilham.
Sari mengangguk. "Tentu. Pak Rahman sudah mengizinkan."
Mereka masuk ke dalam bangunan itu. Ruangannya luas, dengan lantai keramik putih mengkilap seperti di balai desa. Di dinding, peta besar dengan garis-garis merah masih terpajang seperti kemarin. Namun kali ini, ada lebih banyak informasi yang bisa Ilham lihat.
Dia mendekati peta itu. Matanya menyusuri setiap garis, setiap nama desa, setiap simbol yang tertera.
Ada tujuh desa yang terhubung dalam peta itu: Lembah Selatan, Suralaya, Awan Biru, Cikalong, Karangmulya, Cipatat, dan Cibitung. Garis-garis merah menghubungkan mereka ke satu titik pusat: Lembah Selatan.
"Ini rencana jangka panjang Pak Rahman," jelas Sari. "Dia ingin semua desa di kawasan selatan terhubung dalam satu jaringan digital. Sehingga distribusi hasil bumi, promosi wisata, dan pertukaran informasi bisa berjalan lancar."
"Tampak ambisius," kata Angga.
"Memang. Tapi Pak Rahman yakin ini bisa terwujud."
Ilham menatap peta itu lama. Ada satu detail yang membuatnya merinding.
Di sudut kanan bawah peta, tertulis dalam huruf kecil: Hak kelola data sepenuhnya berada di tangan PT Nusantara Digital Mandiri.
Ia menunjuk ke arah tulisan itu.
"Mbak Sari, apa maksudnya ini?"
Sari mendekat dan membaca tulisan itu. Wajahnya sedikit berubah, tetapi ia berusaha tetap tenang.
"Itu... itu bagian dari perjanjian kerjasama kami dengan PT NDM. Mereka yang mengembangkan sistem, jadi mereka yang memiliki hak kelola data."
"Termasuk data desa lain yang bergabung?"
Sari terdiam. Ia tampak tidak siap menjawab pertanyaan itu.
Ilham tidak memaksa. Ia hanya mengangguk, lalu berjalan menjauh dari peta.
Dalam hatinya, alarm berbunyi keras.
Hak kelola data sepenuhnya di tangan swasta. Itu bukan kerja sama. Itu penjajahan digital.
Sepanjang sisa hari itu, Ilham mengamati dengan saksama.
Ia melihat bagaimana warga Lembah Selatan menggunakan aplikasi di ponsel mereka untuk segala keperluan, dari membayar listrik hingga memesan pupuk. Ia melihat bagaimana petani memasukkan data hasil panen ke dalam sistem, lalu menerima pembayaran langsung ke rekening mereka tanpa melalui tengkulak. Ia melihat bagaimana pemilik homestay menerima pesanan dari wisatawan melalui platform desa.
Semua tampak efisien. Semua tampak modern.
Tapi Ilham juga melihat hal-hal lain.
Ia melihat seorang petani yang mencoba menjual hasil panennya di luar sistem, tetapi tidak mendapat izin dari perangkat desa. Ia melihat seorang ibu yang bingung menggunakan aplikasi, lalu dimarahi oleh anaknya yang sudah terbiasa dengan teknologi. Ia melihat seorang pemuda yang duduk termenung di teras rumah, karena usahanya sebagai pengepul sayur tradisional bangkrut setelah sistem digital diterapkan.
Perubahan selalu membawa korban. Itu tidak bisa dihindari.
Tapi di Lembah Selatan, korban itu tampak lebih banyak dari yang diakui.
Malamnya, Ilham dan Angga kembali ke kamar.
Ilham duduk di kursi dekat jendela, matanya kosong menatap langit malam.
"Ada yang kau temukan?" tanya Angga.
Ilham mengangguk. "Banyak."
Ia menceritakan tentang tulisan di peta itu, tentang hak kelola data, tentang petani yang tidak bisa menjual di luar sistem, tentang pemuda yang kehilangan mata pencaharian.
Angga mendengarkan dengan saksama.
"Jadi, ini bukan sekadar kerja sama?"
"Bukan," kata Ilham tegas. "Ini adalah upaya menguasai desa-desa melalui digitalisasi. Mereka yang menguasai data, menguasai segalanya. Harga, distribusi, akses pasar, semua ditentukan oleh platform. Desa hanya jadi pemasok, bukan pemilik."
"Lalu apa yang harus kita lakukan?"
Ilham menghela napas panjang.
"Besok pagi, kita akan bertemu dengan Rahman. Aku akan bertanya langsung tentang semua ini. Dan jika perlu, aku akan menolak tawaran mereka."
"Kau yakin?" Angga tampak ragu. "Kita masih di wilayah mereka. Belum tahu apa yang bisa terjadi."
"Aku yakin," kata Ilham. "Kita tidak datang ke sini untuk menjadi korban berikutnya."
BAB 3 — Dua Langit yang Berbeda
Malam itu, Ilham tidak bisa memejamkan mata sama sekali.
Bukan karena dingin yang menusuk hingga ke tulang, meskipun suhu di Lembah Selatan memang jauh lebih rendah dibanding Suralaya. Bukan pula karena suara jangkrik dan katak yang bersahutan di kejauhan, menciptakan simfoni alam yang justru biasa ia dengar di rumah.
Bukan.
Ilham tidak bisa tidur karena pikirannya terlalu sibuk. Terlalu banyak pertanyaan yang belum terjawab. Terlalu banyak kejanggalan yang tersebar di sekitarnya seperti serpihan kaca, kecil, tajam, dan siap melukai jika tidak hati-hati.
Di tempat tidur sebelah, Angga sudah terlelap dengan posisi superman: tengkurap, satu tangan menjuntai di tepi kasur, mulut terbuka sedikit, dan suara dengkuran yang naik turun tidak beraturan. Ilham tersenyum kecil melihat sahabatnya itu. Angga memang bisa tidur di mana saja, kapan saja, dalam situasi apa pun. Itu adalah bakat langka yang tidak dimiliki oleh Ilham.
Ia duduk di tepi kasur, meraih ponsel dari atas meja kecil di samping tempat tidur. Layar ponsel menyala, menunjukkan pukul 02.33 dini hari. Tidak ada notifikasi dari Herman. Tidak ada pesan balasan dari pesan yang ia kirim tadi malam.
Mungkin Herman benar-benar tidak bisa dihubungi. Atau mungkin, dan ini yang lebih mengkhawatirkan, Herman sengaja menjaga jarak karena takut sesuatu terjadi padanya.
Ilham membuka catatan kecil di ponselnya, sebuah file bernama "LEMBAH SELATAN - TEMUAN". Ia mengetik poin-poin yang ia catat sepanjang hari:
- Desa terlalu rapi, seragam, seperti "dibuat".
2. Warga pendiam, tidak ramah seperti desa pada umumnya. Mungkin karena trauma? Atau karena diatur?
3. PT Nusantara Digital Mandiri (NDM) sebagai investor utama. Hak kelola data sepenuhnya di tangan swasta.
4. Ada peta jaringan tujuh desa dengan pusat di Lembah Selatan. Nama Suralaya dan Awan Biru sudah tercantum tanpa izin.
5. Sistem digital sangat terintegrasi, tapi warga kehilangan alternatif. Petani tidak bisa menjual di luar sistem. Pengusaha kecil bangkrut.
*6. Rahman terlalu ambisius. Kata-katanya terdengar seperti sudah dipersiapkan, tidak spontan.*
7. Pesan Herman: "Jangan percaya siapa pun di sana."
8. Surat misterius: "Ketika dua langit memilih jalan berbeda, siapa yang akan kau jaga?"
Ilham membaca ulang poin terakhir. Dua langit. Apa artinya? Apakah dua langit itu merujuk pada Suralaya dan Lembah Selatan? Atau Suralaya dan Awan Biru? Atau mungkin sesuatu yang lebih personal, dua pilihan dalam hidupnya?
Ia menghela napas panjang. Udara dingin masuk ke paru-paru, terasa segar tapi juga menusuk.
Di luar jendela, langit masih gelap gulita. Bintang-bintang bertaburan, terang dan jauh. Tidak ada bulan malam ini, membuat kegelapan terasa lebih pekat.
Ilham memejamkan mata. Ia mencoba berdoa, meminta petunjuk, meskipun ia tidak yakin doa akan dijawab secepat itu. Terkadang, jawaban datang bukan dalam bentuk suara atau tanda, melainkan dalam bentuk ketenangan batin. Dan malam itu, ketenangan itu belum datang.
Pukul 05.30, suara adzan Subuh berkumandang dari musala desa. Suaranya lirih tapi jernih, terbawa angin pagi yang dingin. Ilham yang tidak tidur semalaman langsung bangkit dari posisi berbaring. Ia sebenarnya hanya merebahkan badan, tidak benar-benar tidur.
Ia membangunkan Angga dengan menggoyang-goyangkan bahu sahabatnya itu.
"Ang, bangun. Sudah subuh."
Angga hanya bergumam, "Hmm... lima menit lagi..."
"Angga!"
"Iya, iya. Awas kalau ternyata masih malam."
Angga duduk dengan mata masih terpejam. Rambutnya berantakan, pipinya merah karena tertindih bantal. Ilham tertawa kecil melihatnya.
"Wajahmu kusut seperti ayam kehujanan."
"Kau juga tidak lebih baik," balas Angga sambil mengucek mata. "Kok matamu merah? Kau tidak tidur?"
"Iya."
"Semalaman?"
"Iya."
Angga menghela napas. "Ilham, kadang aku khawatir sama kamu. Pikiranmu itu terus bekerja tanpa istirahat. Suatu saat bisa korsleting."
Ilham tersenyum tipis. "Mungkin setelah urusan ini selesai, aku akan tidur tiga hari berturut-turut."
"Janji?"
"Janji."
Mereka berwudhu dengan air dingin dari kran di kamar mandi. Airnya dingin sekali, membuat kulit merinding. Angga menggerutu sepanjang wudhu, tapi Ilham justru merasa segar. Dingin itu membantunya berpikir lebih jernih.
Setelah shalat, mereka berjalan ke ruang makan. Sari sudah ada di sana, menyiapkan sarapan. Pagi itu menunya nasi goreng dengan telur mata sapi, kerupuk, dan teh panas.
"Selamat pagi," sapa Sari ceria. "Semoga tidurnya nyenyak."
Ilham dan Angga hanya mengangguk sopan. Tidak perlu mengatakan bahwa tidur mereka tidak nyenyak sama sekali.
Rahman datang beberapa menit kemudian. Ia mengenakan kemeja batik lengan panjang warna hijau tua, dipadukan dengan celana kain hitam. Rambutnya disisir rapi. Wajahnya segar, seperti orang yang tidur cukup dan tidak memiliki beban.
"Selamat pagi, anak-anak muda," sapanya dengan suara ceria. "Bagaimana tidurnya?"
"Baik, Pak," jawab Ilham diplomatis.
Rahman duduk di seberang mereka. Ia mengambil sepiring nasi goreng dan makan dengan lahap.
"Hari ini kita akan mengadakan pertemuan dengan perangkat desa dan beberapa tokoh masyarakat," kata Rahman di sela-sela makan. "Saya ingin Anda berdua berbagi pengalaman tentang Suralaya. Bagaimana perubahan dimulai, bagaimana tantangannya, bagaimana mengatasi keraguan warga."
Ilham mengangguk. "Baik, Pak. Saya akan coba menjelaskan sebaik mungkin."
"Dan juga," lanjut Rahman, "saya ingin mendengar pendapat Anda tentang rencana jaringan desa yang kami usulkan."
Nah, itu dia.
Ilham menatap Rahman lekat-lekat. "Pak Rahman, boleh saya bertanya sesuatu sebelumnya?"
"Silakan."
"Di peta jaringan yang dipajang di Pusat Inovasi, nama Suralaya dan Awan Biru sudah tercantum. Juga beberapa desa lain. Apakah desa-desa itu sudah setuju bergabung?"
Rahman tersenyum. Senyum yang sama seperti kemarin, terlatih, tidak terlalu lebar, tidak terlalu tipis.
"Beberapa sudah kami ajak bicara. Ada yang setuju, ada yang masih berpikir. Tapi kami mencantumkan nama mereka sebagai proyeksi. Sebagai gambaran bahwa kami serius dengan rencana ini."
"Tanpa izin mereka?"
Rahman mengangkat alis. "Ini hanya peta internal, Ilham. Bukan dokumen resmi. Kami tidak bermaksud mencatut nama siapa pun."
Ilham tidak puas dengan jawaban itu, tapi ia tidak ingin terlihat konfrontatif di depan Sari dan perangkat desa lain yang mulai berdatangan.
"Baiklah," katanya. "Kami akan dengarkan usulan Bapak dengan seksama."
Pertemuan dimulai pukul 09.00 di balai desa.
Ruangan yang kemarin masih sepi kini dipenuhi orang. Ada sekitar empat puluh orang yang hadir, perangkat desa, kepala dusun, tokoh masyarakat, ketua kelompok tani, ketua kelompok wisata, dan beberapa warga yang dianggap mewakili. Suasana ruangan hangat karena banyak orang, meskipun di luar udara masih dingin.
Rahman duduk di kursi utama di depan ruangan, dengan Ilham dan Angga di kursi kehormatan di sampingnya. Di kursi lain, duduk Sari, Dimas, Rafi, dan beberapa orang yang belum Ilham kenal.
Rahman membuka pertemuan dengan sambutan singkat.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat pagi dan salam sejahtera untuk kita semua. Pertama-tama, mari kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT karena pada hari ini kita bisa berkumpul di ruangan ini dalam keadaan sehat walafiat."
Beberapa orang mengucap "Aamiin" pelan.
"Hari ini kita kedatangan tamu istimewa dari Desa Suralaya, saudara Muhammad Ilham dan saudara Angga Putra Pratama. Mereka adalah pemuda yang berperan besar dalam transformasi digital Suralaya, desa yang dulunya tidak dikenal, kini menjadi percontohan bagi banyak desa di kabupaten ini."
Beberapa orang bertepuk tangan. Ilham tersenyum sopan sambil sedikit membungkukkan badan.
"Kita akan mendengar pengalaman mereka, belajar dari keberhasilan mereka, dan juga berdiskusi tentang kemungkinan kerja sama antara Lembah Selatan dan Suralaya," lanjut Rahman. "Saya persilakan saudara Ilham untuk menyampaikan materi."
Ilham berdiri dan berjalan ke depan ruangan. Ia membawa ponsel yang terhubung ke proyektor. Nisa sudah membantunya menyiapkan slide presentasi sebelum berangkat, meskipun Ilham lebih suka bicara tanpa slide.
"Selamat pagi, Bapak/Ibu sekalian," mulainya dengan suara tenang. "Saya Muhammad Ilham dari Suralaya. Saya di sini bukan sebagai ahli atau tokoh penting. Saya hanya anak desa biasa yang kebetulan terlibat dalam proses perubahan di desa saya."
Beberapa orang tersenyum mendengar kerendahan hatinya.
"Perubahan di Suralaya tidak terjadi dalam semalam. Tidak juga dalam setahun. Perjalanan kami dimulai tiga tahun lalu, ketika sekelompok pemuda desa memutuskan untuk belajar dari Desa Awan Biru tentang digitalisasi desa."
Ia melanjutkan dengan menceritakan proses awal: bagaimana mereka meyakinkan warga yang skeptis, bagaimana mereka memulai dengan hal-hal kecil seperti pendataan penduduk digital, bagaimana mereka membangun sistem informasi wisata, bagaimana mereka melibatkan generasi muda yang kembali ke desa.
Ilham berbicara dengan lugas, tanpa basa-basi. Ia tidak berusaha terlihat pintar atau hebat. Ia hanya bercerita seperti seorang teman yang sedang berbagi cerita di warung kopi.
Warga Lembah Selatan mendengarkan dengan saksama. Beberapa mengangguk-angguk. Beberapa mencatat di buku kecil. Seorang ibu paruh baya di barisan depan bahkan menangis tersedu ketika Ilham menceritakan tentang seorang petani tua yang akhirnya bisa menjual hasil panennya langsung ke pembeli tanpa tengkulak.
"Perubahan itu indah," kata Ilham di akhir presentasinya. "Tapi perubahan juga menyakitkan. Ada yang kehilangan pekerjaan karena sistem baru. Ada yang merasa terpinggirkan karena tidak bisa mengikuti teknologi. Itu sebabnya, perubahan harus dilakukan dengan hati-hati, dengan memastikan tidak ada yang tertinggal."
Ruangan hening sejenak.
Kemudian tepuk tangan bergemuruh.
Rahman berdiri dan berjalan ke depan. Ia menepuk pundak Ilham.
"Luar biasa, Mas Ilham. Terima kasih untuk ceritanya."
Ilham kembali ke kursinya. Angga menyenggol sikunya.
"Kau hebat, Ham," bisik Angga. "Aku sampai merinding."
"Diam kau," balas Ilham tersenyum.
Setelah presentasi, acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dan diskusi.
Seorang lelaki paruh baya dengan kumis tebal mengangkat tangan. Wajahnya garang, dengan alis tebal menyatu di tengah. Ia mengenakan kemeja kotak-kotak dan topi petani.
"Mas Ilham, saya Kirno dari Desa Suralaya," katanya.
Ilham terkejut. "Pak Kirno? Bapak di sini?"
Kirno tersenyum. "Iya, saya diundang khusus oleh Pak Rahman. Saya sudah dua hari di sini."
Ilham tidak tahu bahwa Kirno, salah satu tokoh masyarakat Suralaya yang ikut merintis digitalisasi, juga diundang. Ini baru pertama kali ia melihat Kirno di Lembah Selatan.
"Maaf, saya baru tahu," kata Ilham. "Apa yang Bapak tanyakan?"
Kirno berdiri. "Saya ingin bertanya kepada Pak Rahman. Saudara Ilham sudah bercerita tentang perubahan di Suralaya. Sekarang, bagaimana dengan Lembah Selatan? Apa yang sudah Bapak lakukan untuk desa Bapak sendiri?"
Pertanyaan itu langsung menohok.
Ruangan menjadi hening. Semua mata tertuju pada Rahman.
Rahman tersenyum tenang. "Pertanyaan bagus, Pak Kirno. Baiklah, saya akan jelaskan."
Ia berdiri dan berjalan ke depan ruangan. Tangannya meraih remote proyektor, lalu menampilkan slide yang berisi data dan grafik.
"Lembah Selatan mulai bertransformasi dua tahun lalu, setelah saya bertemu dengan perwakilan PT Nusantara Digital Mandiri. Mereka menawarkan program percepatan digitalisasi desa dengan pendekatan terintegrasi."
Slide berganti. Grafik menunjukkan peningkatan pendapatan desa, peningkatan kunjungan wisata, peningkatan efisiensi distribusi hasil pertanian.
"Dalam dua tahun, pendapatan desa naik tiga kali lipat. Angka kemiskinan turun dari dua puluh persen menjadi delapan persen. Tingkat pengangguran hampir nol. Anak-anak muda yang dulu merantau ke kota, sekarang kembali ke desa."
Beberapa warga bertepuk tangan. Wajah mereka berseri-seri, bangga dengan apa yang telah dicapai.
Tapi Ilham melihat sesuatu yang lain.
Ia melihat seorang pemuda di barisan belakang yang tidak bertepuk tangan. Wajahnya muram, matanya menatap lantai. Di samping pemuda itu, seorang perempuan tua menggenggam tangannya erat-erat.
Ilham bertanya-tanya siapa mereka.
"Tapi," lanjut Rahman, "semua keberhasilan ini tidak membuat kami berpuas diri. Kami ingin terus belajar, terus berkembang. Itulah mengapa kami mengundang saudara Ilham dan tim dari Suralaya. Kami ingin belajar bagaimana membangun desa yang tidak hanya maju secara materi, tetapi juga kuat secara sosial dan budaya."
Kirno mengangguk. "Jawaban yang baik, Pak Rahman. Tapi izinkan saya bertanya lagi. Apakah di Lembah Selatan ada warga yang keberatan dengan sistem digital ini? Atau semua warga mendukung?"
Rahman terdiam sejenak.
"Iya," akunya akhirnya. "Ada beberapa warga yang keberatan. Tapi kami yakinkan bahwa perubahan ini untuk kebaikan bersama."
"Berapa banyak?" desak Kirno.
"Kurang lebih... sepuluh persen."
"Sepuluh persen dari berapa jiwa?"
"Lima ribu jiwa."
"Berarti sekitar lima ratus orang. Itu jumlah yang besar, Pak Rahman. Lima ratus orang yang mungkin kehilangan mata pencaharian, atau merasa terpinggirkan, atau tidak bisa beradaptasi dengan teknologi."
Ruangan mulai ramai dengan bisik-bisik. Rahman tampak tidak nyaman dengan pertanyaan-pertanyaan Kirno.
"Pak Kirno, kami tidak mengabaikan mereka. Ada program pelatihan khusus untuk warga yang kesulitan beradaptasi."
"Apakah program itu berhasil?"
"Untuk sebagian, iya."
"Untuk sebagian lagi?"
Rahman tidak menjawab.
Kirno menghela napas. "Pak Rahman, saya tidak bermaksud menyerang. Saya hanya ingin mengingatkan bahwa perubahan yang meninggalkan terlalu banyak orang di belakang, pada akhirnya akan menciptakan masalah baru yang lebih besar."
Ilham tercengang mendengar Kirno. Ia tidak pernah melihat sisi ini dari lelaki tua yang dulu hanya ia kenal sebagai petani lugu yang suka bercerita tentang masa mudanya. Kirno ternyata memiliki pemikiran yang tajam dan berani menyuarakan kebenaran.
Setelah sesi tanya jawab, acara dilanjutkan dengan diskusi kelompok. Peserta dibagi menjadi beberapa kelompok untuk membahas topik-topik spesifik: pertanian, wisata, UMKM, dan tata kelola desa.
Ilham bergabung dengan kelompok pertanian. Di sana ia bertemu dengan beberapa petani Lembah Selatan, termasuk pemuda muram yang tadi ia lihat di barisan belakang.
Pemuda itu bernaman Jono, usia dua puluh tiga tahun. Ia adalah anak seorang petani sayur yang sejak kecil membantu orang tuanya di ladang. Sebelum digitalisasi, keluarga Joko bisa menjual hasil panen ke pasar tradisional dengan harga yang cukup baik. Mereka punya langganan tetap, para pedagang sayur dari kota yang datang setiap minggu.
Tapi setelah sistem digital diterapkan, semua berubah.
"Aplikasi itu menentukan harga," cerita Jono dengan suara lirih, seperti takut didengar orang lain. "Kalau kami jual di luar aplikasi, kami kena sanksi. Hasil panen tidak boleh dijual ke siapa pun kecuali melalui platform."
"Sanksinya apa?" tanya Ilham.
"Hasil panen disita. Pernah tetangga saya coba menjual ke pedagang langganan lama. Besoknya, petugas desa datang ke ladang dan mengambil semua sayur yang sudah siap panen. Katanya itu pelanggaran kontrak."
Ilham merinding mendengarnya. "Kontrak? Bapak menandatangani kontrak dengan PT NDM?"
Jono mengangguk. "Semua petani menandatangani. Waktu itu, kami diberi tahu bahwa ini syarat untuk mendapatkan bantuan bibit, pupuk, dan alat pertanian modern. Kami tidak membaca detailnya karena terlalu panjang dan rumit. Lagipula, kami tidak punya pilihan."
"Dengan siapa Bapak menandatangani kontrak? Dengan PT NDM langsung atau dengan desa?"
"Dengan PT NDM. Tapi Pak Rahman yang menjadi saksi."
Ilham mencatat semua informasi ini di dalam ponselnya, diam-diam agar tidak menarik perhatian.
"Apakah ada petani lain yang mengalami hal serupa?"
Jono mengangguk. "Banyak. Tapi mereka takut bicara. Katanya, kalau melawan, bantuan akan dicabut dan mereka tidak bisa lagi menggunakan sistem. Padahal, semua pembeli sekarang cuma lihat aplikasi. Kalau tidak terdaftar di aplikasi, tidak ada yang mau beli."
Itulah masalahnya. Sistem digital tidak hanya menjadi alat, tetapi juga menjadi gerbang. Mereka yang tidak masuk ke dalam sistem, tersingkir dari pasar.
Ilham menghela napas. Ia teringat pada pesan Herman. "Jangan sampai Suralaya terjebak dalam perjanjian yang merugikan."
Suralaya belum terjebak. Tapi Lembah Selatan sudah.
Siang harinya, setelah diskusi kelompok selesai, Ilham mencari Kirno. Ia menemukan lelaki tua itu duduk di bangku taman dekat balai desa, menikmati kopi panas dan pemandangan bukit.
"Pak Kirno," sapa Ilham sambil duduk di sampingnya.
"Mas Ilham," balas Kirno tersenyum. "apa, kau sudah makan siang?"
"Belum, Pak. Nanti saja. Saya ingin bicara."
Tentang apa? Bukannya kita bisa bicara di Suralaya nanti?"
"Ini tentang Lembah Selatan. Saya dengar Bapak sudah dua hari di sini. Apa yang Bapak temukan?"
Kirno menghela napas panjang. Ia menyesap kopinya, lalu menatap langit yang mulai berawan.
"Banyak, Mas. Banyak yang membuat hati ini tidak tenang."
"Apa maksud Bapak?"
Kirno menoleh ke kiri dan kanan, memastikan tidak ada orang di sekitar. Kemudian ia menurunkan suaranya.
"Desa ini... ada yang salah. Warga di sini seperti hidup dalam ketakutan. Mereka tidak berani bicara terbuka. Setiap kali aku bertanya tentang sistem digital, mereka menjawab dengan kalimat standar: 'bagus, membantu, terima kasih Pak Rahman.' Tapi mata mereka... mata mereka berkata lain."
Ilham mengangguk. "Saya juga merasakannya."
"Lalu ada PT NDM itu," lanjut Kirno. "Aku coba cari informasi tentang perusahaan itu. Katanya sih perusahaan teknologi. Tapi kantornya di mana? Direkturnya siapa? Aku tanya ke warga, tidak ada yang tahu. Bahkan Pak Rahman sendiri tidak mau bicara detail."
"Apakah Bapak sudah bertemu langsung dengan perwakilan PT NDM?"
Kirno menggeleng. "Mereka tidak pernah datang ke desa. Semuanya diatur melalui Pak Rahman. Semua komunikasi lewat dia. Seperti... seperti dia adalah satu-satunya pintu."
Pintu tunggal. Itu istilah yang tepat.
"Pak Kirno, menurut Bapak, apa yang harus kita lakukan?"
Kirno terdiam cukup lama. Jari-jarinya yang keriput memegang cangkir kopi dengan erat.
"Pulang," katanya akhirnya. "Kita pulang ke Suralaya, lalu kita bicarakan ini dengan Pak Kades dan yang lain. Kita harus melindungi desa kita. Jangan sampai Suralaya berakhir seperti Lembah Selatan."
Ilham mengangguk. "Besok pagi kita pulang. Tapi sebelum itu, saya harus bicara dengan Pak Rahman. Saya harus menyampaikan bahwa Suralaya tidak akan bergabung dengan jaringan ini."
"Kau yakin? Bisa-bisa dia marah."
"Biarlah. Saya tidak datang ke sini untuk menyenangkan siapa pun."
Kirno tersenyum. "Kau hebat, Mas Ilham. Tidak banyak pemuda sepertimu."
Ilham tersenyum malu. "Saya hanya melakukan apa yang benar, Pak."
Malam harinya, sebelum pertemuan penentuan yang dijadwalkan besok pagi, Ilham meminta waktu untuk berbicara empat mata dengan Rahman.
Rahman menerima permintaan itu. Ia mengajak Ilham ke ruang kerjanya di kantor desa, sebuah ruangan berukuran sedang dengan meja kayu besar, kursi-kursi kulit, lemari arsip, dan peta wilayah di dinding.
"Silakan duduk," kata Rahman sambil menunjuk kursi di depan mejanya.
Ilham duduk. Ia menatap Rahman lekat-lekat.
"Pak Rahman, saya akan terus terang."
Rahman mengangguk. "Silakan. Saya juga lebih suka komunikasi yang terbuka."
"Suralaya tidak akan bergabung dengan jaringan desa yang Bapak usulkan."
Keheningan menggantung di antara mereka.
Rahman tidak terkejut. Wajahnya tetap tenang, seperti sudah mendengar kalimat itu sebelumnya.
"Boleh saya tahu alasannya?" tanyanya.
"Karena jaringan yang Bapak bangun bukan kerja sama yang setara. Ini adalah sistem kendali terpusat di mana Lembah Selatan dan PT NDM memegang kendali penuh atas data, harga, distribusi, dan akses pasar. Desa-desa lain hanya menjadi pemasok, bukan mitra."
Rahman menghela napas. "Kau telah salah paham, Ilham."
"Apakah saya salah? Hak kelola data sepenuhnya di tangan PT NDM. Itu tertulis jelas di peta Bapak."
Rahman terdiam.
"Petani di sini tidak bisa menjual hasil panen di luar sistem. Mereka kena sanksi jika melanggar. Kontrak yang mereka tandatangani tidak adil. Banyak yang tidak membaca detailnya karena terlalu rumit."
Rahman masih diam.
"Pak Rahman, saya tidak tahu apa tujuan Bapak sebenarnya. Tapi saya tahu satu hal: perubahan yang baik adalah perubahan yang membebaskan, bukan yang mengungkung. Sistem yang Bapak bangun di sini... mengungkung."
Rahman menatap Ilham lama. Matanya yang biasanya tenang kini menyimpan sesuatu yang sulit diartikan, mungkin kemarahan, mungkin kekecewaan, mungkin juga kesedihan.
"Kau masih muda, Ilham," katanya akhirnya. "Kau belum melihat bagaimana dunia bekerja. Kadang, untuk mencapai kebaikan yang besar, kita harus melakukan hal-hal yang tidak populer."
"Kebaikan yang besar dengan mengorbankan banyak orang? Maaf, Pak, saya tidak bisa menerima itu."
Rahman berdiri dari kursinya. Ia berjalan ke jendela, memandang gelap di luar.
"Baiklah," katanya. "Saya hargai pendirianmu. Tapi jangan harap saya akan berhenti. Suralaya tetap akan menjadi bagian dari jaringan ini, entah kau suka atau tidak."
Ilham merasakan dadanya sesak. "Apa maksud Bapak?"
Rahman berbalik. Senyumnya kembali tersungging, tapi kali ini terasa dingin.
"Kau akan lihat nanti. Sekarang, istirahatlah. Besok pagi kita akan bicara lagi."
Ilham bangkit dan berjalan keluar ruangan. Hatinya berdebar tidak karuan.
"Suralaya tetap akan menjadi bagian dari jaringan ini, entah kau suka atau tidak."
Apa maksudnya? Apakah Rahman sudah memiliki cara untuk memaksa Suralaya bergabung? Atau ada orang dari Suralaya sendiri yang bekerja sama dengannya?
Pertanyaan itu terus menghantuinya sepanjang malam.
Di kamar, Angga sudah menunggu dengan cemas.
"Gimana?" tanyanya begitu Ilham masuk.
Ilham menceritakan semua yang terjadi. Angga mendengarkan dengan wajah semakin serius.
"Jadi, dia tidak terima penolakan kita?"
"Iya. Bahkan dia bilang Suralaya tetap akan jadi bagian dari jaringannya."
Angga mengusap wajahnya kasar. "Ini gila. Kita harus pulang sekarang. Malam ini juga."
"Tidak bisa. Jalannya gelap dan berbahaya. Kita tunggu sampai pagi."
"Tapi kalau mereka mengurung kita?"
Ilham menggeleng. "Tidak mungkin. Mereka tidak akan berani. Kita tamu resmi, bukan tahanan."
Angga tidak yakin, tapi ia tidak bisa memaksa.
Malam itu, mereka bergantian menjaga. Angga tidur lebih dulu, lalu Ilham yang berjaga. Pukul tiga dini hari, mereka bertukar posisi. Ilham tidur dengan satu mata terbuka, waspada terhadap suara-suara mencurigakan di luar.
Tidak ada yang terjadi.
Pagi datang dengan tenang. Matahari terbit di balik bukit, menyinari lembah dengan cahaya keemasan. Burung-burung berkicau. Ayam berkokok. Semua tampak normal.
Tapi Ilham tahu, di balik ketenangan itu, ada badai yang sedang mengumpulkan kekuatan.
BAB 4 — Bisikan di Balik Kemajuan
Pagi itu, langit Lembah Selatan tidak seperti biasanya.
Bukan karena warna atau bentuk awannya yang berbeda. Bukan pula karena angin yang bertiup lebih kencang atau suhu yang tiba-tiba turun drastis. Tidak. Secara fisik, semuanya masih sama seperti kemarin, langit biru pucat dengan guratan awan tipis yang bergerak lambat, gunung-gunung di kejauhan yang masih diselimuti kabut, udara dingin yang menusuk pori-pori.
Namun bagi Muhammad Ilham, pagi itu terasa berbeda. Seperti ada lapisan tak kasat mata yang menyelimuti seluruh desa, membungkus setiap sudut dengan keheningan yang mencekik. Suara ayam berkokok terdengar sayup-sayup, seperti dari kejauhan yang sangat jauh. Langkah kaki warga yang lalu-lalang di jalan batu terasa berat, tidak bersemangat. Bahkan cahaya matahari yang masuk melalui jendela kamarnya terasa redup, seolah enggan menyinari tempat ini.
Ilham berdiri di depan jendela kamar, matanya menatap kosong ke arah balai desa yang mulai ramai oleh persiapan pertemuan. Ia tidak tidur semalaman, lagi. Matanya sembab, merah di sudut-sudutnya, dengan lingkaran hitam di bawah mata yang membuatnya tampak sepuluh tahun lebih tua. Rambutnya berantakan, tidak disisir seperti biasa. Kemeja yang ia kenakan semalaman masih melekat di tubuhnya, kusut dan penuh kerutan.
Di belakangnya, Angga sudah bangun dan sedang melipat selimut dengan gerakan mekanis, seperti robot yang kehabisan baterai. Wajahnya juga tidak segar. Rambutnya yang biasa diikat kuncir sekarang terurai kusut, menutupi setengah wajahnya. Matanya sayu, menahan kantuk yang belum sempat terbayar.
"Mau sarapan dulu?" tanya Angga, suaranya serak karena semalaman tidak banyak bicara.
Ilham menggeleng. "Tidak lapar."
"Kamu harus makan. Hari ini kita akan banyak bicara. Perut kosong bikin pikiran keruh."
Ilham menoleh, tersenyum tipis. "Sejak kapan kamu jadi penasihat kesehatan?"
"Sejak aku melihat wajahmu yang kayak mayat hidup." Angga berjalan mendekat dan menepuk bahu Ilham. "Ayo. Minimal minum teh hangat. Biar tubuhmu tidak kaku."
Ilham menghela napas. Angga benar. Tidak makan hanya akan memperburuk kondisinya. Ia butuh tenaga untuk menghadapi apa pun yang akan terjadi hari ini.
Mereka berjalan menuju ruang makan. Di lorong, mereka berpapasan dengan Sari yang sedang terburu-buru membawa tumpukan kertas.
"Selamat pagi, Mas Ilham, Mas Angga," sapa Sari dengan ramah meskipun napasnya tersengal. "Sarapan sudah siap di ruang makan. Maaf, saya tidak bisa menemani karena harus menyiapkan ruang pertemuan."
"Tidak apa-apa, Mbak," jawab Ilham. "Kami bisa ambil sendiri."
Sari tersenyum, lalu berjalan cepat meninggalkan mereka.
Di ruang makan, hanya ada beberapa orang. Seorang bapak tua duduk di sudut sambil membaca koran. Dua orang ibu sedang makan bubur sambil berbisik-bisik. Di meja utama, sudah tersedia nasi uduk, telur dadar, tempe goreng, dan teh hangat.
Ilham mengambil sepiring kecil dan duduk di kursi dekat jendela. Angga mengambil porsi lebih besar, seperti biasa dan duduk di seberangnya.
"Kamu cuma makan segitu?" tanya Angga sambil mengunyah telur.
"Cukup."
"Jangan heran kalau nanti perutmu keroncongan di tengah pertemuan."
Ilham tidak menjawab. Matanya terus menatap ke luar jendela, mengamati warga yang mulai berdatangan ke balai desa.
Ada yang berjalan sendiri, ada yang berkelompok. Sebagian besar berpakaian sederhana—kemeja lusuh, celana kain, sandal jepit. Beberapa perempuan mengenakan kerudung dan baju panjang. Tidak ada yang tampak bergembira. Wajah-wajah mereka datar, seperti topeng yang tidak bisa mengungkapkan apa yang sebenarnya mereka rasakan.
"Itu Jono," kata Angga sambil menunjuk ke arah seorang pemuda yang berjalan sendirian di pinggir jalan.
Ilham mengikuti arah tunjuk Angga. Jono, pemuda muram yang kemarin bercerita tentang kontrak tidak adil, berjalan dengan langkah gontai, tangan di saku celana, kepala menunduk. Ia tidak bergabung dengan kerumunan lain. Ia seperti berusaha menghilang, menjadi tidak terlihat.
"Ingin aku panggil?" tanya Angga.
Ilham menggeleng. "Tidak di sini. Terlalu banyak mata. Nanti kita cari dia setelah pertemuan."
Pertemuan dimulai pukul 09.00 tepat.
Balai desa yang kemarin masih bisa menampung empat puluh orang, hari ini penuh sesak. Hampir seratus orang memadati ruangan. Kursi-kursi plastik warna-warni ditata berbaris rapi, tetapi masih belum cukup. Beberapa warga terpaksa berdiri di belakang, berdesakan dengan yang lain. Udara di dalam ruangan panas dan pengap, bercampur apek keringat dan parfum murahan.
Rahman berdiri di depan ruangan, di samping papan tulis putih yang sudah penuh dengan tulisan dan diagram. Ia mengenakan kemeja batik lengan panjang warna biru tua, celana bahan hitam, dan sepatu pantofel mengkilap. Rambutnya disisir rapi dengan minyak rambut yang membuatnya berkilau di bawah lampu. Wajahnya segar, tersenyum lebar, seperti orang yang percaya diri dengan apa yang akan ia sampaikan.
Di samping Rahman, duduk para perangkat desa: Sari, Dimas, Rafi, dan beberapa orang lain yang tidak Ilham kenal. Di kursi kehormatan di depan, duduk Ilham dan Angga, juga Kirno yang datang dari Suralaya. Kirno duduk dengan tenang, tangan dilipat di dada, wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apa pun.
Rahman membuka pertemuan dengan sambutan yang panjang dan penuh semangat. Ia berbicara tentang visi besar Lembah Selatan, tentang pentingnya kerja sama antar desa, tentang masa depan yang lebih cerah dengan teknologi digital.
Kata-katanya mengalir deras, seperti air sungai di musim hujan, deras, tak terbendung, dan membawa segala sesuatu yang dilewatinya. Ia menyebut angka-angka statistik yang mengesankan: peningkatan pendapatan tiga kali lipat, penurunan kemiskinan dua belas persen, serapan tenaga kerja muda yang hampir seratus persen.
Warga bertepuk tangan di setiap jeda. Tepuk tangan itu serempak, seperti sudah dilatih. Namun Ilham memperhatikan bahwa tidak semua orang bertepuk tangan dengan semangat. Beberapa hanya menepuk pelan, sekadar formalitas. Beberapa lainnya tidak bertepuk tangan sama sekali—mereka hanya diam, menunduk, atau menatap kosong ke depan.
Setelah sambutan, Rahman mempersilakan Ilham untuk berbicara lagi.
"Saudara Ilham akan menyampaikan pengalamannya tentang digitalisasi di Suralaya. Kita semua bisa belajar dari desa tetangga yang juga sudah sukses bertransformasi."
Ilham berdiri. Ia berjalan ke depan ruangan dengan langkah tenang, meskipun jantungnya berdebar kencang. Ia bisa merasakan tatapan seratus pasang mata tertuju padanya, ada yang penuh harap, ada yang skeptis, ada yang waspada, ada yang tidak peduli.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh," mulainya.
"Wa'alaikumussalam," jawab beberapa orang di ruangan, tidak serempak.
"Sebelum saya berbicara tentang Suralaya, saya ingin bertanya kepada Bapak/Ibu sekalian."
Ruangan hening.
"Apakah Bapak/Ibu bahagia dengan perubahan yang terjadi di desa ini?"
Pertanyaan itu sederhana. Namun efeknya seperti batu yang dijatuhkan ke kolam yang tenang, riaknya menyebar ke segala arah, menciptakan gelombang kecil yang tidak terduga.
Warga saling berpandangan. Beberapa tampak bingung. Beberapa tampak gelisah. Seorang ibu di barisan depan menunduk, tangannya meremas ujung kerudungnya erat-erat.
Rahman tersenyum, tetapi senyumnya sedikit kaku. "Tentu saja bahagia, Mas Ilham. Lihatlah sendiri bagaimana desa kita berkembang."
Ilham menatap Rahman. "Saya tidak bertanya kepada Bapak, Pak Rahman. Saya bertanya kepada warga."
Keheningan yang lebih dalam menyelimuti ruangan.
"Silakan, Bapak/Ibu. Saya tidak akan menggigit. Saya hanya ingin mendengar pendapat Bapak/Ibu. Apakah Bapak/Ibu bahagia?"
Seorang bapak di barisan tengah mengangkat tangan. Wajahnya tua, keriput, dengan janggut putih yang tidak terawat. Matanya sayu, tapi ada kilatan keberanian di dalamnya.
"Saya, Mas," katanya dengan suara parau.
"Silakan, Pak."
Bapak itu berdiri dengan susah payah, lututnya tampak kaku. Ia memegang bahu anak muda di sampingnya untuk menjaga keseimbangan.
"Nama saya Karto. Saya petani sayur sejak umur dua puluh tahun. Sekarang umur saya enam puluh tujuh."
Ilham mengangguk. "Silakan, Pak Karto."
Pak Karto menghela napas panjang. "Dulu, sebelum ada sistem digital ini, saya bisa jual sayur ke pasar tradisional. Harganya tidak selalu bagus, tapi saya punya kebebasan. Saya bisa tawar-menawar dengan pembeli. Saya bisa pilih mau jual ke siapa."
"Dan sekarang?"
Pak Karto terdiam. Matanya berkaca-kaca.
"Sekarang... saya tidak punya pilihan. Semua lewat aplikasi. Harga sudah ditentukan. Saya cuma bisa terima atau tidak jual. Tapi kalau tidak jual, sayur saya busuk. Jadi ya... saya terima saja."
Ruangan sunyi. Suasana berubah menjadi tegang.
Rahman berdiri. "Pak Karto, bukankah pendapatan Bapak meningkat setelah menggunakan sistem digital? Bukankah Bapak sekarang tidak perlu repot mencari pembeli?"
Pak Karto menggeleng. "Pendapatan saya dulu naik, iya. Tapi sekarang... sekarang turun lagi. Soalnya biaya operasionalnya tinggi. Aplikasi ini potong biaya administrasi, biaya platform, biaya pengiriman. Hitung-hitung, sama saja."
Rahman mencoba memotong. "Pak Karto, mungkin Bapak kurang memahami detail, "
"Pak Rahman," Ilham memotong dengan sopan, "biarkan beliau bicara."
Rahman terdiam. Wajahnya sedikit memerah.
Ilham menatap Pak Karto. "Silakan lanjutkan, Pak."
Pak Karto mengusap matanya yang basah dengan punggung tangan. "Saya tidak mau ribut. Saya hanya ingin berkata bahwa... perubahan ini tidak seindah yang dikatakan. Ada banyak dari kami yang menderita diam-diam."
Setelah Pak Karto duduk, beberapa warga lain mulai angkat bicara. Seorang ibu mengeluh tentang anaknya yang tidak bisa melanjutkan sekolah karena biaya yang semakin mahal. Seorang pemuda mengeluh tentang lapangan pekerjaan yang semakin sempit karena semua sudah diatur oleh sistem. Seorang bapak lain mengeluh tentang hutang yang menumpuk karena gagal panen.
Rahman berusaha menenangkan, tetapi suaranya tenggelam oleh gelombang keluhan yang mulai tidak terkendali.
Sari dan Dimas berusaha menenangkan warga, tetapi mereka hanya bisa diam ketika melihat bahwa warga yang selama ini pendiam dan patuh, tiba-tiba seperti menemukan keberanian untuk bersuara.
Ilham berdiri di depan ruangan, tidak bicara. Ia hanya mendengarkan. Ia membiarkan warga meluapkan apa yang selama ini terpendam.
Angga dari belakang mengacungkan jempol. Kirno tersenyum kecil.
Setelah hampir satu jam sesi curah pendapat yang panas, Rahman akhirnya berhasil menenangkan suasana. Ia berjanji akan mengevaluasi sistem dan mendengarkan aspirasi warga. Tapi janji itu terdengar kosong, seperti kata-kata yang sudah sering diucapkan dan dilupakan.
Pertemuan dilanjutkan dengan agenda lain yang lebih teknis, tetapi Ilham sudah tidak berkonsentrasi. Pikirannya melayang ke tempat lain.
Ia mengamati ruangan. Matanya menelusuri setiap sudut, setiap wajah. Lalu ia melihat sesuatu yang membuatnya berhenti.
Di sudut ruangan, di belakang kerumunan warga yang berdiri, ada seorang pria yang tidak seperti yang lain. Pria itu tidak mengenakan pakaian sederhana seperti warga desa. Ia mengenakan kemeja putih lengan panjang, celana bahan hitam, dan sepatu pantofel, mirip dengan yang dikenakan Rahman. Rambutnya pendek dan rapi. Wajahnya tampan, dengan rahang tegas dan mata yang tajam. Tangannya memegang ponsel, dan ia sesekali mengetik sesuatu.
Yang paling mencolok: pria itu tidak pernah bertepuk tangan. Tidak pernah tersenyum. Tidak pernah bereaksi terhadap apa pun yang terjadi di ruangan itu. Ia hanya berdiri diam, mengamati, seperti burung pemangsa yang sedang mengincar mangsa.
Ilham menyenggol Angga. "Lihat ke sana," bisiknya.
Angga mengikuti arah pandang Ilham. "Siapa itu?"
"Tidak tahu. Tapi dia tidak seperti warga desa."
"Barangkali perangkat desa dari desa lain? Atau dari PT NDM?"
Ilham mengangguk. "Mungkin."
Pria itu seolah merasakan tatapan Ilham. Ia menoleh, dan mata mereka bertemu. Sekejap, lalu pria itu mengalihkan pandangannya kembali ke ponsel, tidak terganggu.
Tapi Ilham tahu. Pria itu bukan orang biasa.
Setelah pertemuan usai, Ilham mencari Jono.
Ia menemukan pemuda itu sedang duduk di teras rumahnya, sebuah rumah kayu kecil yang terletak di pinggir desa, agak terpencil dari pemukiman lain. Rumah itu tampak lusuh, berbeda dengan rumah-rumah lain yang rapi dan terawat. Cat dindingnya mengelupas, atapnya bolong di beberapa bagian, dan halamannya ditumbuhi rumput liar yang tidak terurus.
Jono duduk di kursi kayu reyot sambil merokok. Asap tipis mengepul dari mulutnya, lalu lenyap ditiup angin. Wajahnya muram, matanya sayu, kulitnya kusam karena terlalu banyak bekerja di bawah matahari tanpa perlindungan yang cukup.
"Mas Jono," sapa Ilham.
Jono menoleh. Matanya sedikit terkejut melihat Ilham dan Angga berdiri di depan pagar rumahnya.
"Mas Ilham? Ada apa?"
"Boleh kami masuk?"
Jono ragu sejenak, lalu mengangguk. Ia berdiri dan membuka pintu pagar.
"Maaf, rumahnya tidak seberapa," katanya malu-malu.
"Tidak apa-apa," kata Ilham. "Rumah saya juga sederhana."
Mereka masuk ke dalam rumah. Ruang tamunya kecil, hanya berisi satu kursi kayu, satu meja kecil, dan lemari tua di sudut. Lantainya tanah, tidak diplester. Dinding kayu bolong di sana-sini, angin masuk dengan bebas.
"Silakan duduk," kata Jono sambil menarik kursi kayu untuk Ilham dan Angga. Ia sendiri duduk di lantai beralas tikar anyaman yang sudah usang.
Ilham dan Angga duduk di kursi. Mereka berdua merasa tidak enak, seperti tamu yang terlalu besar untuk rumah sekecil ini.
"Maaf mengganggu waktu istirahat Mas Jono," kata Ilham. "Saya hanya ingin bicara sedikit."
Jono mengangguk. "Tidak apa-apa. Lagipula, saya tidak punya banyak kegiatan."
"Mas Jono masih bertani?"
Jono menggeleng. "Sekarang tidak. Saya berhenti setelah... setelah sistem digital itu diterapkan."
"Kenapa?"
Jono menarik napas panjang. Cerita itu seperti luka yang belum sembuh, tetapi ia tahu ia harus membukanya jika ingin dibantu.
"Saya dulu punya langganan tetap di pasar kota. Setiap minggu, saya kirim sayuran ke sana. Harganya bagus, karena kualitas sayur saya bagus. Tapi setelah sistem digital, pembeli langganan saya tidak bisa lagi membeli langsung. Mereka harus beli melalui aplikasi. Dan di aplikasi, harga sayur saya ditentukan lebih murah dari harga pasar. Katanya untuk 'menstandardisasi harga'."
"Jadi Mas Jono rugi?"
"Rugi besar. Saya protes ke Pak Rahman, tapi beliau bilang ini demi kebaikan bersama. Semua petani harus tunduk pada sistem."
"Tapi kenapa Mas Jono berhenti? Kenapa tidak tetap bertani meskipun harga lebih murah?"
Jono tersenyum pahit. "Karena saya tidak punya pilihan, Mas. Aplikasi itu menentukan berapa banyak sayur yang bisa saya jual. Tidak boleh lebih. Kalau saya tanam lebih, kelebihannya tidak bisa dijual. Saya harus buang atau biarkan busuk. Saya tidak tega melihat hasil jerih payah saya terbuang sia-sia."
Ilham menunduk. Ia bisa merasakan kepedihan Jono. Menjadi petani itu sulit. Kerja keras dari pagi hingga sore, berpeluh keringat di bawah terik matahari, hanya untuk melihat hasilnya tidak dihargai. Itu lebih menyakitkan daripada gagal panen karena hama atau kekeringan.
"Apakah ada petani lain yang mengalami hal serupa?" tanya Angga.
Jono mengangguk. "Banyak. Tapi kebanyakan diam. Mereka takut."
"Takut apa?"
Jono menurunkan suaranya. "Takut diusir dari desa. Takut bantuan dicabut. Takut... dimusuhi."
"Dimusuhi? Oleh siapa?"
Jono tidak menjawab. Ia hanya menatap lantai dengan mata kosong.
Ilham memutuskan untuk tidak memaksa. Ia berganti topik.
"Mas Jono, saya dengar dulu Mas Jono aktif di kegiatan pemuda desa. Ada apa dengan organisasi pemuda sekarang?"
Jono menghela napas. "Bubar. Semua pemuda yang kritis dipaksa bubar. Sekarang hanya ada organisasi pemuda yang dikendalikan oleh desa."
"Oleh Pak Rahman?"
Jono mengangguk pelan.
Ilham dan Angga saling berpandangan. Semakin dalam mereka menyelidiki, semakin banyak hal mengerikan yang mereka temukan.
Dari rumah Jono, Ilham dan Angga berjalan kembali ke balai desa. Langit mulai mendung. Awan hitam bergerak cepat dari arah barat, menandakan hujan akan segera turun.
"Semakin kita menggali, semakin gelap," kata Angga.
Ilham mengangguk. "Iya. Seperti bawang, dikupas satu lapis, ternyata masih ada lapis lain. Dan setiap lapis lebih busuk dari sebelumnya."
"Apa yang akan kita lakukan dengan informasi ini?"
"Kita kumpulkan dulu. Nanti kita laporkan ke Pak Kades dan teman-teman di Suralaya. Mereka harus tahu."
"Tapi bagaimana dengan Lembah Selatan? Apa kita bisa membantu mereka?"
Ilham terdiam. Pertanyaan Angga tepat sasaran. Mereka tidak bisa hanya mengambil informasi lalu pergi, membiarkan warga Lembah Selatan terperangkap dalam sistem yang mengungkung mereka.
Tapi apa yang bisa mereka lakukan? Mereka hanya tamu. Mereka tidak punya kekuasaan di sini.
"Kita lihat nanti," kata Ilham akhirnya. "Yang penting sekarang, kita pastikan Suralaya tidak mengalami nasib yang sama."
Hujan mulai turun ketika mereka tiba di balai desa. Gerimis tipis yang perlahan menjadi deras. Air membasahi tanah, menciptakan genangan di halaman yang tidak rata.
Mereka berlari kecil menuju pintu masuk, berusaha menghindari hujan yang semakin deras. Di emperan balai desa, mereka melihat seseorang berdiri di bawah atap sambil merokok.
Pria itu.
Pria dengan kemeja putih yang tadi pagi berdiri di sudut ruangan. Sekarang ia berdiri di emperan, menghadap ke arah hujan, sesekali mengisap rokoknya. Asap tipis mengepul, lalu buyar diterpa angin.
Ilham dan Angga berhenti di pintu masuk. Mereka tidak langsung masuk. Ada perasaan ingin tahu yang mendorong Ilham untuk mendekati pria itu.
"Selamat siang," sapa Ilham.
Pria itu menoleh. Matanya tajam, dingin, seperti pisau yang baru diasah.
"Selamat siang," balasnya datar.
"Saya Ilham dari Suralaya. Bapak siapa?"
Pria itu tersenyum tipis. Senyum yang tidak sampai ke mata.
"Nama saya Andi. Saya dari PT Nusantara Digital Mandiri."
Ilham sudah menduga. "Andi... jabatannya?"
"Manajer Proyek."
"Ah, jadi Bapak yang mengawasi implementasi sistem digital di sini?"
Andi mengangguk. "Sebagian. Saya juga mengawasi beberapa desa lain."
"Desa lain? Selain Lembah Selatan?"
Andi tidak menjawab. Ia hanya menatap Ilham dengan sorot yang sulit diartikan.
"Mas Ilham, saya dengar Mas Ilham menolak tawaran kerja sama dari Pak Rahman."
Ilham terkejut. Informasi itu seharusnya hanya diketahui oleh beberapa orang. Bagaimana Andi bisa tahu? Apakah Rahman sudah melaporkannya? Atau... ada yang lain?
"Saya belum membuat keputusan final," kata Ilham diplomatis.
Andi tertawa kecil. Tawa yang tidak ramah. "Terserah Mas Ilham. Tapi saya sarankan Mas Ilham mempertimbangkan ulang. Kerja sama dengan kami menguntungkan banyak pihak."
"Termasuk PT NDM?"
"Termasuk kami, tentu saja. Kami juga perusahaan. Kami butuh keuntungan."
"Keuntungan apa yang Bapak dapat dari desa-desa?"
Andi menghela napas. "Data, Mas Ilham. Data itu lebih berharga daripada emas. Dengan data, kami bisa mengembangkan produk, menentukan harga, mengendalikan pasar. Desa-desa ini adalah tambang emas bagi kami."
Ilham merasakan bulu kuduknya berdiri. Andi bicara dengan sangat blak-blakan, seolah tidak peduli bahwa apa yang ia katakan itu mengerikan.
"Dan Bapak tidak merasa bersalah? Mengambil keuntungan dari desa-desa yang seharusnya mandiri?"
Andi tertawa lagi. "Bersalah? Tidak. Ini bisnis, Mas Ilham. Tidak ada tempat untuk perasaan dalam bisnis. Desa-desa ini butuh kami. Tanpa kami, mereka akan tetap tertinggal. Jadi ini hubungan simbiosis mutualisme. Kami untung, mereka untung."
"Tapi warga tidak bahagia."
"Kebahagiaan bukan urusan kami. Urusan kami adalah efisiensi dan profit."
Ilham terdiam. Ia tidak tahu harus berkata apa. Andi adalah tipe orang yang tidak bisa disentuh oleh logika moralitas. Baginya, semuanya adalah angka dan keuntungan.
"Maaf, saya harus pergi. Ada rapat dengan Pak Rahman," kata Andi sambil membuang puntung rokoknya ke tanah.
Ia berjalan masuk ke balai desa, meninggalkan Ilham dan Angga di emperan dengan pikiran yang kacau.
Angga mengelus dadanya. "Astaga. Orang itu dingin sekali."
"Iya," kata Ilham. "Dia bukan sekadar karyawan. Dia adalah eksekutor."
"Eksekutor?"
"Orang yang menjalankan rencana besar. Dan rencana itu... sangat mengerikan."
Hujan reda menjelang sore.
Ilham dan Angga memutuskan untuk berjalan-jalan lagi, mencari informasi tambahan sebelum pertemuan penentuan besok pagi. Mereka menyusuri jalan desa yang basah, sesekali menyapa warga yang mereka temui.
Sebagian besar warga enggan bicara. Mereka hanya tersenyum tipis, lalu berjalan cepat meninggalkan Ilham dan Angga. Seperti ada perintah tidak tertulis untuk tidak berbicara dengan orang asing.
Tapi tidak semua warga seperti itu.
Seorang ibu paruh baya yang sedang membersihkan teras rumahnya memanggil mereka.
"Mas, Mas, sini dulu."
Ilham dan Angga mendekat. Ibu itu mengamati sekeliling dengan waspada, lalu berkata dengan suara berbisik, "Kalian dari Suralaya?"
"Iya, Bu."
Ibu itu menghela napas. "Awas, Mas. Hati-hati di sini. Banyak yang tidak beres."
"Maksud Ibu?"
Ibu itu tidak menjawab. Ia hanya menunjuk ke arah Pusat Inovasi dan Jaringan Desa, lalu menggerakkan telunjuknya melingkar di samping telinga, isyarat "gila" atau "tidak waras".
"Di sana pusat masalah," bisiknya. "Jangan terlalu percaya sama Pak Rahman. Dan jangan percaya sama orang-orang dari PT itu."
"Kenapa, Bu?"
Ibu itu menggeleng. "Tidak bisa cerita di sini. Nanti malam, kalau kalian mau, datang ke rumah saya. Rumah paling ujung desa, yang catnya biru. Aku tunggu jam sembilan."
Sebelum Ilham sempat bertanya lebih lanjut, ibu itu sudah masuk ke dalam rumah dan menutup pintu.
Ilham dan Angga saling berpandangan.
"Kita datang nanti malam?" tanya Angga.
Ilham mengangguk. "Kita datang."
Malam itu, mereka berdua keluar dari kamar setelah memastikan tidak ada yang mengawasi. Mereka berjalan menyusuri lorong belakang kantor desa, memanfaatkan kegelapan untuk bersembunyi dari pandangan.
Rumah paling ujung desa dengan cat biru ternyata tidak terlalu jauh. Hanya sekitar lima ratus meter dari balai desa, di tepi jalan setapak yang menurun ke arah sungai.
Mereka mengetuk pintu pelan.
Pintu terbuka. Ibu itu menyilakan mereka masuk.
Di dalam rumah, selain ibu itu, ada tiga orang lain: seorang bapak tua, seorang pemuda, dan seorang perempuan muda. Wajah mereka tegang, seperti orang yang sedang bersiap untuk melakukan sesuatu yang berbahaya.
"Silakan duduk," kata ibu itu. "Nama saya Mak Tum. Ini suami saya, Pak Dullah. Ini anak saya, Wawan. Dan ini keponakan saya, Dewi."
Ilham dan Angga duduk di lantai beralas tikar. Rumah ini lebih sederhana dari rumah Jono, hanya satu ruangan dengan dinding bambu dan atap rumbia. Lampu minyak menyala redup di sudut, menerangi wajah-wajah mereka dengan cahaya kuning keemasan.
"Kami dengar Mas Ilham menolak kerja sama dengan Pak Rahman," kata Pak Dullah. Suaranya berat, dalam, seperti suara dari dalam sumur.
"Iya, Pak. Saya rasa sistem yang diterapkan di sini tidak adil."
Pak Dullah mengangguk. "Kau benar. Tidak adil. Tapi apa kau tahu mengapa sistem itu bisa berjalan?"
Ilham menggeleng.
"Karena ada orang-orang dari desa sendiri yang membantu mereka."
Ilham terkejut. "Maksud Bapak?"
Pak Dullah menghela napas. "Pak Rahman tidak bekerja sendiri. Ia punya kaki tangan. Orang-orang desa yang diberi imbalan untuk mengawasi warga lain, melaporkan siapa yang protes, siapa yang tidak patuh."
"Siapa mereka?"
Pak Dullah menyebut beberapa nama. Ilham terkejut mendengar nama-nama itu, beberapa di antaranya adalah perangkat desa yang ia anggap ramah dan membantu. Sari? Dimas? Rafi? Apakah mereka juga terlibat?
"Sari dan Dimas tahu tentang ini?" tanya Ilham.
Pak Dullah mengangguk. "Mereka tahu. Tapi mereka tidak berani melawan. Mereka juga terikat kontrak. Kalau melawan, mereka bisa dipecat dan diusir dari desa."
Ilham menunduk. Semakin rumit. Tidak hanya warga biasa yang menjadi korban, tetapi juga perangkat desa yang terjebak dalam sistem yang mereka bantu jalankan.
"Lalu apa yang bisa kami lakukan?" tanya Angga.
Pak Dullah menatap Ilham dan Angga bergantian. "Kalian bisa jadi saksi. Kalian bisa membawa cerita ini ke luar. Biar orang tahu apa yang sebenarnya terjadi di Lembah Selatan."
"Tapi apakah tidak berbahaya bagi kalian? Kalau ketahuan kalian bicara pada kami?"
Mak Tum tersenyum pahit. "Kami sudah tidak punya banyak yang bisa diambil, Mas. Rumah ini sudah hampir roboh. Sawah kami sudah diambil alih. Apa lagi yang bisa mereka ambil?"
Ilham merasakan dadanya sesak. Ia ingin menangis mendengar kata-kata Mak Tum, tapi ia menahan.
"Baik, Pak, Bu. Saya akan membawa cerita ini ke Suralaya. Saya akan berusaha membantu sebisa saya."
Pak Dullah mengangguk. "Hati-hati di jalan, Mas. Dan jangan percaya siapa pun di sini. Bahkan orang yang tampaknya baik sekalipun."
Saat Ilham dan Angga berjalan kembali ke balai desa, langit sudah gelap gulita. Bintang-bintang bersinar terang, tapi tidak cukup untuk menerangi jalan. Mereka menggunakan ponsel sebagai senter.
"Berat," kata Angga tiba-tiba.
"Iya," jawab Ilham.
"Kita membawa pulang cerita yang tidak ringan."
"Iya."
"Apakah kita bisa membantu mereka?"
Ilham berhenti berjalan. Ia menatap langit malam yang luas, penuh bintang, seolah mengingatkannya bahwa dunia ini masih besar dan mereka hanyalah dua pemuda desa biasa.
"Aku tidak tahu, Ang. Tapi setidaknya kita tidak akan diam."
Mereka melanjutkan perjalanan dalam diam, ditemani suara jangkrik dan angin malam yang dingin.
BAB 5 — Retaknya Jembatan Lama
Malam itu, setelah pertemuan rahasia di rumah Mak Tum, Ilham dan Angga kembali ke balai desa dengan langkah gontai. Bukan karena lelah secara fisik, meskipun perjalanan bolak-balik menyusuri jalan desa yang gelap dan berbatu memang cukup menguras tenaga, tetapi karena beban pikiran yang semakin berat.
Sepanjang perjalanan pulang, tidak ada satu kata pun yang terucap di antara mereka. Angga berjalan di belakang Ilham, sesekali menyinari jalan dengan lampu ponselnya. Ilham berjalan di depan, matanya lurus ke depan, tetapi pikirannya melayang jauh ke tempat yang tidak bisa ia kendalikan.
Informasi yang mereka dapatkan malam ini terlalu berat. Terlalu banyak. Terlalu mengerikan.
Bukan hanya tentang sistem digital yang mengungkung warga. Bukan hanya tentang kontrak tidak adil yang memaksa petani tunduk pada harga yang sudah ditentukan. Bukan hanya tentang PT NDM yang dengan dinginnya mengakui bahwa data desa adalah tambang emas bagi mereka.
Tapi juga tentang pengkhianatan dari orang-orang terdekat.
"Pak Rahman tidak bekerja sendiri. Ia punya kaki tangan. Orang-orang desa yang diberi imbalan untuk mengawasi warga lain, melaporkan siapa yang protes, siapa yang tidak patuh."
Itu kata Pak Dullah. Lelaki tua yang rumahnya nyaris roboh itu menyebutkan nama-nama. Beberapa di antaranya sudah Ilham duga, orang-orang yang terlalu patuh, terlalu sigap, terlalu bersemangat dalam menjalankan perintah Rahman.
Tapi ada satu nama yang membuat Ilham terdiam lama.
Sari.
Sari, perangkat desa yang ramah, yang selalu tersenyum, yang menyajikan teh hangat setiap pagi, yang matanya teduh dan suaranya lembut. Sari yang tampak begitu peduli pada tamu, begitu perhatian, begitu... tulus.
Apakah semua itu hanya topeng?
Ilham tidak tahu. Ia tidak ingin menuduh tanpa bukti. Tapi perasaannya mengatakan bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan Sari. Bukan karena ia jahat, mungkin Sari juga korban, seperti Pak Dullah dan yang lain. Mungkin Sari terpaksa melakukan semua itu karena terikat kontrak, karena takut dipecat, karena takut diusir dari desa yang ia cintai.
Atau mungkin Sari benar-benar percaya pada sistem yang ia jalankan. Mungkin Sari termasuk orang yang beruntung dalam sistem ini, mungkin ia mendapatkan keuntungan, fasilitas, atau kekuasaan yang tidak didapatkan warga biasa.
Ilham tidak tahu. Dan itu yang paling menyakitkan: ketidaktahuan.
Mereka tiba di balai desa sekitar pukul 22.30. Lampu-lampu di lorong masih menyala redup, menerangi jalan menuju kamar mereka. Tidak ada orang di sekitar. Suasana sunyi, hanya terdengar suara angin yang menerpa dedaunan di halaman.
Angga membuka pintu kamar dengan hati-hati. Ia masuk lebih dulu, memeriksa apakah ada yang mengintai atau menyusup. Setelah memastikan semuanya aman, ia memberi isyarat pada Ilham untuk masuk.
Ilham masuk dan langsung duduk di tepi tempat tidur. Tubuhnya terasa berat, seperti habis mengangkat karung padi seharian. Matanya perih, kepalanya pusing, dan perutnya keroncongan karena sejak siang hanya makan sepiring kecil nasi uduk.
"Kau makan dulu," kata Angga seolah bisa membaca pikiran Ilham. Ia mengambil tas ransel yang dibawa dari Suralaya, mengeluarkan bungkus plastik berisi nasi dan lauk pauk.
"Bu Laila menyiapkan ini sebelum kita berangkat. Katanya untuk jaga-jaga kalau lauk di sini tidak cocok."
Ilham tersenyum tipis. Ibunya memang selalu berpikir jauh ke depan. Di tas ranselnya juga ada obat-obatan sederhana, jas hujan lipat, bahkan sandal cadangan.
"Makasih, Bu," gumam Ilham dalam hati sambil mengambil nasi bungkus itu.
Ia makan perlahan, lahap meskipun nasi sudah dingin dan lauknya sedikit basi. Angga ikut makan di sampingnya, mengambil porsi lebih besar karena porsi makannya memang selalu lebih besar.
"Menurutmu," kata Angga di sela-sela mengunyah, "apakah kita bisa mempercayai Mak Tum dan Pak Dullah?"
Ilham berhenti mengunyah. Pertanyaan itu sebenarnya juga berkecamuk di kepalanya.
"Kenapa? Kau curiga pada mereka?"
Angga menggeleng. "Bukan curiga. Tapi kita tidak kenal mereka. Baru bertemu sekali. Cerita mereka bisa saja bohong. Mungkin mereka punya agenda sendiri. Mungkin mereka ingin kita menjadi alat untuk melawan Pak Rahman."
Ilham terdiam. Angga punya poin yang valid. Dalam situasi seperti ini, siapa pun bisa berbohong. Pak Rahman bisa berbohong. PT NDM bisa berbohong. Mak Tum dan Pak Dullah juga bisa berbohong.
"Tapi," lanjut Angga, "ada satu hal yang membuatku cenderung percaya pada mereka."
"Apa?"
Angga menatap Ilham. "Mata mereka. Ketika Pak Dullah bercerita tentang sawahnya yang diambil alih, matanya berkaca-kaca. Itu bukan mata orang yang berbohong. Itu mata orang yang terluka."
Ilham mengangguk pelan. Ia juga melihatnya. Luka di mata Pak Dullah terlalu tulus untuk dipalsukan.
"Tapi tetap kita harus berhati-hati," kata Ilham. "Kita tidak tahu sejauh mana jaringan mereka. Mungkin Mak Tum dan Pak Dullah adalah korban. Tapi bisa juga mereka bagian dari perangkap yang lebih besar."
"Perangkap?"
"Iya. Mungkin mereka sengaja disuruh seseorang untuk memberikan informasi palsu, agar kita mengambil langkah yang salah."
Angga menghela napas panjang. "Semakin lama kita di sini, semakin rumit."
"Iya. Itu sebabnya kita harus segera pulang. Besok pagi setelah pertemuan, kita langsung pamit."
"Setuju."
Pukul 23.30, setelah selesai makan dan membersihkan diri, Ilham berbaring di tempat tidur. Matanya terpejam, tetapi pikirannya masih terjaga. Ia mencoba menyusun ulang semua informasi yang didapatkan dalam dua hari terakhir.
Ia membayangkan sebuah peta besar seperti yang ada di Pusat Inovasi. Di peta itu, ada titik-titik yang mewakili desa-desa: Lembah Selatan, Suralaya, Awan Biru, Cikalong, Karangmulya, Cipatat, Cibitung. Garis-garis merah menghubungkan mereka ke satu pusat: Lembah Selatan.
Tapi Ilham menambahkan detail baru di peta imajinasinya. Ia menambahkan titik lain: PT Nusantara Digital Mandiri. Dari titik itu, ada garis tebal berwarna hitam yang menuju ke Lembah Selatan. Lalu dari Lembah Selatan, garis-garis merah menyebar ke desa-desa lain.
Itu bukan jaringan kerja sama. Itu adalah jaringan pengendalian.
PT NDM mengendalikan Lembah Selatan. Lembah Selatan mengendalikan desa-desa lain. Dan di setiap desa, ada orang-orang yang menjadi "mata" dan "tangan" untuk memastikan semua berjalan sesuai rencana.
Ilham membuka mata. Ia menatap langit-langit kamar yang gelap.
Siapa "mata" dan "tangan" di Suralaya?
Pertanyaan itu tiba-tiba muncul dan tidak bisa ia singkirkan. Jika Lembah Selatan memiliki kaki tangan di desa-desa lain, mungkinkah Suralaya juga sudah dimasuki?
Siapa? Siapa yang mungkin bekerja sama dengan Rahman?
Ilham mencoba mengingat-ingat. Selama ini, hanya sedikit orang yang tahu tentang perjalanan Suralaya secara detail. Ada Kades Raditya, tentu saja. Ada Kirno, Santo, Sugi, para tokoh masyarakat. Ada Nisa, Rendi, Aulia, anak-anak muda yang mengelola digitalisasi. Ada Angga, sahabatnya.
Dan ada satu nama lagi.
- Haris.
Haris adalah perangkat desa yang bertanggung jawab di bidang administrasi dan pengembangan desa. Ia orang yang cerdas, teliti, dan sangat menguasai seluk-beluk pemerintahan desa. Ia juga yang paling sering berkomunikasi dengan desa-desa lain, termasuk Lembah Selatan.
Ilham tidak ingin mencurigai Haris. Tapi nalurinya mengatakan bahwa jika ada seseorang di Suralaya yang berpotensi menjadi "mata" Rahman, itu adalah Haris.
Tapi jangan menuduh tanpa bukti, pikir Ilham. Bukti dulu, baru bicara.
Ia memejamkan mata kembali. Perlahan, kantuk mulai menyapanya. Suara Angga yang mulai mendengkur di sampingnya menjadi semacam musik pengantar tidur.
Sebelum benar-benar terlelap, Ilham sempat berdoa dalam hati. Bukan doa yang panjang dan formal, hanya bisikan kecil: "Ya Allah, lindungi Suralaya. Lindungi orang-orang yang aku cintai. Dan beri aku kekuatan untuk menghadapi apa pun yang akan terjadi besok."
Pagi itu, Ilham bangun lebih awal dari biasanya. Bukan karena ia sudah cukup tidur, ia hanya tidur sekitar tiga jam, tetapi karena gelisah yang tidak bisa ia kendalikan.
Ia duduk di tepi tempat tidur, memandang Angga yang masih terlelap dengan posisi superman khasnya. Angga mendengkur pelan, kadang diselingi gumaman tidak jelas. Ilham tersenyum kecil. Di tengah situasi yang mencekak seperti ini, Angga tetap bisa tidur nyenyak. Itu mungkin kelebihan yang paling ia iri dari sahabatnya itu.
Ilham berjalan ke kamar mandi, membasuh wajah dengan air dingin yang menyegarkan. Ia melihat bayangannya di cermin, mata sembab, lingkaran hitam di bawah mata, rambut berantakan. Ia tampak seperti orang yang baru saja kehilangan sesuatu, meskipun ia tidak tahu persis apa yang hilang.
Setelah shalat Subuh, ia duduk di beranda balai desa sambil menyesap teh hangat yang dibuat sendiri dari dispenser di ruang makan. Udara pagi masih dingin, kabut tipis masih menggantung di antara rumah-rumah. Dari kejauhan, terdengar suara adzan yang baru saja usai, digantikan oleh kokok ayam dan kicauan burung.
"Mas Ilham?"
Ilham menoleh. Sari berdiri di pintu balai desa, masih mengenakan pakaian tidur, daster panjang bermotif bunga dan kerudung yang tidak terlalu rapi. Wajahnya masih mengantuk, matanya sayu.
"Selamat pagi, Mbak Sari. Maaf, saya mengambil teh tanpa izin."
Sari tersenyum. "Tidak apa-apa. Itu untuk tamu kok. Mas Ilham bangun sekali. Baru jam setengah enam."
"Tidak bisa tidur."
Sari berjalan mendekat dan duduk di kursi kayu di samping Ilham. Jaraknya tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh. Cukup untuk berbicara tanpa berteriak.
"Mas Ilham tampak gelisah sejak kemarin," kata Sari. "Ada yang mengganggu pikiran?"
Ilham menatap Sari. Wajah perempuan itu teduh, matanya jujur. Atau setidaknya terlihat jujur.
Apakah ini topeng? pikir Ilham. Atau Sari benar-benar tulus?
"Mbak Sari," kata Ilham akhirnya, "boleh saya bertanya sesuatu yang agak pribadi?"
Sari mengangguk. "Silakan."
"Mbak Sari bahagia di sini? Di Lembah Selatan? Dengan sistem digital yang berjalan?"
Sari terdiam. Matanya menatap ke kejauhan, ke arah bukit yang masih diselimuti kabut.
"Pertanyaan yang sulit, Mas," jawabnya pelan.
"Kenapa sulit?"
"Karena... bahagia itu relatif. Ada yang bahagia dengan sistem ini, ada yang tidak. Saya pribadi... saya bersyukur karena sistem ini memberi saya pekerjaan, penghasilan yang layak, dan kesempatan untuk belajar banyak hal. Tapi..."
"Tapi?"
Sari menghela napas. "Tapi saya juga melihat teman-teman saya yang kesulitan. Petani yang tidak bisa menjual hasil panennya dengan harga layak. Pemuda yang kehilangan pekerjaan karena usahanya bangkrut. Ibu-ibu yang bingung menggunakan aplikasi."
"Lalu kenapa Mbak Sari tidak melakukan sesuatu untuk membantu mereka?"
Sari menunduk. Tangannya memainkan ujung kerudung.
"Apa yang bisa saya lakukan, Mas? Saya hanya perangkat desa. Saya tidak punya kekuasaan untuk mengubah sistem. Saya hanya bisa menjalankan perintah."
"Tapi Mbak Sari bisa bersuara. Bisa menyampaikan keluhan warga ke Pak Rahman."
Sari tersenyum pahit. "Saya sudah, Mas. Berkali-kali. Tapi jawabannya selalu sama: 'Ini demi kebaikan bersama. Bersabarlah. Semua butuh proses.'"
Ilham diam. Ia bisa merasakan keputusasaan dalam suara Sari.
"Mbak Sari," katanya hati-hati, "apa Mbak Sari tahu tentang... kaki tangan?"
Sari menoleh cepat. Wajahnya berubah. Matanya melebar, lalu menyipit.
"Maksud Mas Ilham?"
"Orang-orang yang disuruh mengawasi warga lain. Melaporkan siapa yang protes, siapa yang tidak patuh."
Sari terdiam lama. Begitu lama sehingga Ilham mengira ia tidak akan menjawab.
"Aku tahu," bisiknya akhirnya. Suaranya nyaris tak terdengar. "Tapi aku tidak bisa sebut nama. Aku takut."
Ilham merasakan dadanya sesak. Jadi itu benar. Ada kaki tangan. Ada mata-mata di antara warga sendiri.
"Apakah Mbak Sari salah satu dari mereka?"
Pertanyaan itu keluar begitu saja. Ilham tidak berniat menuduh, tetapi ia harus tahu.
Sari menatap Ilham. Matanya berkaca-kaca. Ia menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan sesuatu.
"Tidak," jawabnya tegas. "Aku bukan mata-mata. Tapi aku tahu siapa mereka. Dan aku tahu mereka melakukan itu bukan karena jahat. Mereka juga korban."
"Korban bagaimana?"
"Mereka diancam. Kalau tidak mau menjadi mata-mata, mereka akan dipecat. Atau diusir dari desa. Atau... lebih buruk."
"Lebih buruk seperti apa?"
Sari menggeleng. "Aku tidak bisa cerita. Maaf, Mas. Aku sudah terlalu banyak bicara."
Ia berdiri dan berjalan cepat ke dalam balai desa, meninggalkan Ilham dengan pertanyaan yang semakin banyak.
Pertemuan penentuan dimulai pukul 09.00, seperti yang dijadwalkan.
Ruangan balai desa kembali penuh. Wajah-wajah yang kemarin terlihat antusias, hari ini tampak lebih tegang. Mungkin karena gelombang keluhan yang meledak kemarin masih membekas. Atau mungkin karena mereka tahu bahwa hari ini adalah hari pengambilan keputusan.
Rahman berdiri di depan ruangan. Wajahnya masih tersenyum, tetapi senyumnya tidak lagi secerah kemarin. Ada sedikit kerutan di dahinya, tanda bahwa ia sedang tidak nyaman.
"Selamat pagi, Bapak/Ibu sekalian," mulainya. "Hari ini kita akan mengambil keputusan penting tentang masa depan kerja sama antar desa. Setelah mendengar presentasi dari saudara Ilham kemarin, dan setelah diskusi yang cukup panjang, saya ingin mendengar kesimpulan dari saudara Ilham."
Ia menoleh ke arah Ilham. "Silakan, Mas Ilham."
Ilham berdiri. Ia berjalan ke depan ruangan dengan langkah tenang. Matanya menatap satu per satu wajah yang hadir, ada yang penuh harap, ada yang skeptis, ada yang waspada, ada yang tidak peduli.
Ia melihat Pak Karto di barisan depan, lelaki tua yang kemarin berani bersuara. Ia melihat Jono di barisan belakang, pemuda muram dengan luka di matanya. Ia melihat Mak Tum dan Pak Dullah di sudut ruangan, tersembunyi di balik kerumunan.
Ia melihat Sari, yang matanya masih sembab, duduk di kursi perangkat desa dengan wajah datar.
Ia melihat Andi, pria dari PT NDM, berdiri di belakang Rahman dengan tangan di saku, wajah dingin tanpa ekspresi.
Dan ia melihat Kirno, lelaki tua dari Suralaya, yang duduk tenang di kursi kehormatan, menunggu.
"Bapak/Ibu sekalian," mulainya. "Saya bukan siapa-siapa. Saya hanya pemuda desa biasa yang kebetulan terlibat dalam perubahan di Suralaya. Saya tidak punya kekuasaan untuk memutuskan apa pun untuk desa Bapak/Ibu. Tapi saya punya tanggung jawab untuk menyampaikan apa yang saya lihat dan rasakan."
Ia berhenti sejenak, menarik napas dalam-dalam.
"Saya melihat desa yang maju secara teknologi. Saya melihat data yang rapi, infrastruktur yang baik, dan sistem yang terintegrasi. Itu semua adalah prestasi yang luar biasa."
Beberapa warga mengangguk.
"Tapi saya juga melihat ketidakadilan. Saya melihat petani yang tidak bisa menjual hasil panennya dengan harga layak. Saya melihat warga yang kehilangan mata pencaharian karena usaha mereka bangkrut. Saya melihat orang-orang yang hidup dalam ketakutan, takut bersuara, takut melawan, takut kehilangan segalanya."
Ruangan menjadi hening. Beberapa warga menunduk. Beberapa lainnya saling berpandangan.
"Saya tidak tahu apakah sistem digital yang berjalan di sini adalah solusi terbaik. Tapi saya tahu satu hal: perubahan yang baik adalah perubahan yang membebaskan, bukan yang mengungkung. Perubahan yang baik adalah perubahan yang melibatkan semua pihak, bukan yang dipaksakan dari atas. Perubahan yang baik adalah perubahan yang meninggalkan ruang bagi mereka yang tidak bisa mengikuti kecepatan teknologi."
Ia menatap Rahman.
"Oleh karena itu, dengan segala hormat, saya menyampaikan bahwa Suralaya tidak akan bergabung dengan jaringan desa yang Bapak usulkan."
Ruangan bergemuruh. Bukan dengan tepuk tangan, tetapi dengan bisik-bisik yang keras. Warga saling bertanya, saling berkomentar. Beberapa tampak lega, beberapa tampak kecewa, beberapa tampak bingung.
Rahman berdiri. Wajahnya merah menahan emosi.
"Mas Ilham, saya hormati pendapat Anda. Tapi saya rasa Anda tidak melihat gambaran besarnya. Sistem ini adalah masa depan. Desa-desa yang tidak bergabung akan tertinggal."
"Masa depan seperti apa, Pak?" tanya Ilham. "Masa depan di mana desa kehilangan kendali atas sumber dayanya sendiri? Masa depan di mana warga hidup dalam ketakutan? Masa depan di mana segelintir orang menikmati keuntungan sementara yang lain menderita?"
"Tidak sesederhana itu."
"Memang tidak sesederhana itu. Tapi prinsip dasarnya sederhana: keadilan. Apakah sistem ini adil, Pak? Apakah Bapak bisa berdiri di sini dan mengatakan bahwa semua warga Bapak diperlakukan adil?"
Rahman terdiam.
Pak Karto tiba-tiba berdiri. "Saya dukung Mas Ilham!" serunya dengan suara parau. "Saya tidak mau sistem ini terus berjalan! Saya mau jual sayur bebas seperti dulu!"
Beberapa warga lain mulai bersuara mendukung. Suasana semakin memanas.
Andi dari PT NDM berjalan mendekati Rahman dan berbisik sesuatu di telinganya. Wajah Rahman berubah. Ia mengangguk, lalu berdiri.
"Baiklah," katanya. "Kita tidak perlu memaksakan diri. Lembah Selatan akan tetap maju dengan atau tanpa Suralaya. Pertemuan ini saya nyatakan selesai."
Ia berbalik dan berjalan keluar ruangan, diikuti oleh Andi dan beberapa perangkat desa.
Warga mulai berhamburan keluar. Ada yang kecewa, ada yang marah, ada yang bingung.
Ilham kembali ke kursinya. Angga menepuk pundaknya.
"Kau hebat, Ham. Aku bangga padamu."
Ilham hanya tersenyum tipis. Dadanya masih berdebar. Ia baru saja melakukan sesuatu yang mungkin akan membawa konsekuensi besar bagi Suralaya.
Kirno berjalan mendekat. "Mas Ilham, kita harus segera pulang. Aku tidak suka dengan suasana di sini."
"Iya, Pak. Kita pamit sekarang."
Sebelum pergi, Ilham mencari Sari untuk berpamitan. Ia menemukan perempuan itu sedang duduk di ruang belakang balai desa, sendirian, menatap dinding kosong.
"Mbak Sari."
Sari menoleh. Matanya merah.
"Mas Ilham. Mau pulang?"
"Iya. Terima kasih atas keramahannya selama kami di sini."
Sari tersenyum tipis. "Sama-sama. Maaf jika kami tidak bisa menjamu dengan baik."
"Tidak apa-apa. Mbak Sari... pesan saya, jaga diri baik-baik. Dan jangan takut untuk bersuara."
Sari mengangguk, tetapi matanya kosong. Ilham tahu kata-katanya mungkin tidak akan mengubah apa pun.
Ia berjalan keluar. Angga dan Kirno sudah menunggu di mobil yang dikemudikan Rafi.
Rafi tersenyum seperti biasa. "Siap, Mas?"
"Iya. Terima kasih sudah mengantar."
Mobil mulai bergerak meninggalkan Lembah Selatan. Ilham menoleh ke belakang. Desa itu perlahan menjauh, tertutup kabut pagi.
Ia tidak tahu kapan atau apakah ia akan kembali ke sini. Tapi ia tahu, desa ini akan terus hidup dalam ingatannya sebagai peringatan, peringatan tentang apa yang terjadi ketika perubahan tidak dikelola dengan bijak.
Perjalanan pulang terasa lebih lama dari perjalanan pergi. Bukan karena jaraknya yang bertambah, tetapi karena suasana hati yang berat. Ilham diam sepanjang perjalanan, hanya sesekali menjawab pertanyaan Kirno tentang Suralaya.
Angga juga diam. Matanya menatap ke luar jendela, melihat pemandangan hutan pinus yang berlalu cepat.
Rafi tidak banyak bicara. Ia hanya fokus menyetir, sesekali menyalip kendaraan lambat di depannya.
Mereka tiba di Suralaya sekitar pukul 15.00. Matahari masih tinggi, terik menyinari sawah-sawah yang menguning.
Ilham turun dari mobil. Udara Suralaya terasa berbeda, lebih hangat, lebih ramah, lebih... seperti rumah.
Nisa dan Rendi sudah menunggu di depan kantor desa.
"Mas Ilham!" seru Nisa sambil melambaikan tangan. "Akhirnya pulang! Kami kangen!"
Rendi menyusul. "Gimana? Seru tidak perjalanannya?"
Ilham tersenyum. "Seru dan melelahkan. Nanti kita cerita."
Kades Raditya keluar dari kantor. Wajahnya tenang, tetapi matanya penuh rasa ingin tahu.
"Nak Ilham, mari ke ruang saya. Kita bicara."
Ilham mengangguk. Ia menoleh pada Angga. "Kau ikut?"
"Iya."
Mereka bertiga masuk ke ruang Kades Raditya. Ruangan itu sederhana, meja kayu besar, kursi-kursi kayu, lemari arsip, dan peta Suralaya di dinding.
Kades Raditya duduk di kursinya. Ilham dan Angga duduk di seberang.
"Ceritakan semuanya," kata Kades Raditya. "Dari awal hingga akhir."
Ilham mulai bercerita. Ia menceritakan tentang sambutan Rahman yang ramai tapi dingin, tentang desa yang terlalu rapi, tentang warga yang pendiam, tentang sistem digital yang mengungkung, tentang PT NDM yang mengendalikan data, tentang petani yang tidak bisa menjual hasil panen dengan harga layak, tentang Pak Karto yang berani bersuara, tentang Mak Tum dan Pak Dullah yang hidup dalam ketakutan, tentang Sari yang terjebak di antara dua pilihan.
Ia juga menceritakan tentang pertemuan penentuan, tentang penolakannya, dan tentang reaksi Rahman yang tidak terima.
Kades Raditya mendengarkan dengan saksama. Wajahnya berubah dari serius menjadi cemas, lalu menjadi marah, lalu kembali serius.
"Jadi, Lembah Selatan sudah dikuasai oleh PT NDM?" tanyanya.
"Sepertinya begitu, Pak. Desa itu seperti... laboratorium. Mereka menguji sistem di sana, dan jika berhasil, mereka akan memperluas ke desa-desa lain."
"Termasuk Suralaya?"
"Iya, Pak. Nama Suralaya sudah tercantum di peta jaringan mereka, tanpa izin kita."
Kades Raditya menghela napas panjang. "Ini serius. Kita harus waspada."
"Ada satu hal lagi, Pak," kata Ilham.
"Apa?"
"Pak Rahman bilang, 'Suralaya tetap akan menjadi bagian dari jaringan ini, entah kau suka atau tidak.' Sepertinya dia sudah punya rencana untuk memaksa kita bergabung."
Kades Raditya mengerutkan dahi. "Maksudnya? Apa dia punya orang di dalam Suralaya?"
Ilham dan Angga saling berpandangan.
"Itu yang kami khawatirkan, Pak," kata Angga. "Mungkin ada yang sudah bekerja sama dengan dia dari sini."
Kades Raditya diam cukup lama. Jari-jarinya mengetuk meja kayu, menciptakan irama yang tidak beraturan.
"Kita tidak bisa menuduh siapa pun tanpa bukti," katanya akhirnya. "Tapi kita juga tidak bisa mengabaikan kemungkinan itu. Mulai sekarang, kita harus lebih berhati-hati dalam berbagi informasi. Dan kita harus segera menghubungi Awan Biru."
Ilham mengangguk. "Saya akan hubungi Herman malam ini."
"Baik. Sekarang, kalian istirahat dulu. Laporan lengkapnya bisa disusun besok."
Ilham dan Angga berdiri, berpamitan, lalu keluar dari ruangan.
Malam itu, setelah shalat Isya, Ilham duduk di teras rumahnya. Langit cerah, bintang-bintang bertaburan. Angin malam berembus sejuk, membawa aroma tanah basah dari sawah.
Ia membuka ponselnya dan menekan nomor Herman.
Tiga kali panggilan, tidak ada jawaban.
Keempat kalinya, suara di seberang terdengar.
"Halo?"
"Herman, ini Ilham."
Herman terdiam sejenak. "Ilham. Kau sudah pulang?"
"Iya. Baru saja tadi siang."
"Bagaimana perjalanannya?"
Ilham menceritakan semuanya dengan singkat. Herman mendengarkan tanpa memotong.
"Kau melakukan hal yang benar," kata Herman setelah Ilham selesai. "Jangan biarkan Suralaya jatuh ke tangan mereka."
"Tapi Herman, Pak Rahman bilang Suralaya tetap akan jadi bagian dari jaringan mereka. Sepertinya dia sudah punya rencana."
Herman terdiam lama. "Kita harus bicara langsung," katanya akhirnya. "Bukan lewat telepon. Aku khawatir saluran kita tidak aman."
"Kapan?"
"Besok. Aku akan ke Suralaya. Kita bertemu di tempat biasa."
"Baik. Hati-hati di jalan."
"Kamu juga. Jaga dirimu."
Panggilan terputus. Ilham memejamkan mata.
Besok, Herman akan datang. Dan mungkin, kita akan mendapatkan jawaban.
BAB 6 — Hujan di Bukit Sunyi
Malam itu, setelah percakapan telepon dengan Herman, Ilham tidak bisa tidur. Bukan karena dingin atau suara jangkrik yang biasa ia dengar setiap malam. Bukan pula karena rindu pada kamarnya sendiri yang sederhana, yang dinding kayunya sudah lapuk dimakan usia.
Ilham tidak bisa tidur karena kepalanya terlalu penuh.
Ia berbaring di tempat tidur, mata terbuka lebar menatap langit-langit kamar yang gelap. Di telinganya masih terngiang suara Herman: "Kita harus bicara langsung. Aku khawatir saluran kita tidak aman."
Saluran tidak aman. Artinya, Herman takut percakapan mereka disadap. Disadap oleh siapa? Oleh orang-orang Lembah Selatan? Atau oleh seseorang yang lebih dekat, mungkin seseorang dari Suralaya sendiri?
Pikiran itu seperti belati yang terus menusuk dadanya. Tidak dalam, tapi berulang-ulang. Cukup untuk membuatnya tidak nyaman, cukup untuk membuatnya gelisah, cukup untuk membuatnya mempertanyakan setiap orang yang selama ini ia anggap teman.
Siapa yang mungkin menjadi "mata" Rahman di Suralaya?
Ilham mencoba mengingat-ingat setiap interaksinya dengan orang-orang desa dalam beberapa bulan terakhir. Siapa yang paling sering bertanya tentang perjalanan ke Awan Biru? Siapa yang paling antusias dengan perkembangan digitalisasi? Siapa yang paling sering memuji Rahman dan Lembah Selatan?
Tiba-tiba sebuah nama muncul.
- Haris.
Haris adalah perangkat desa yang bertanggung jawab di bidang pengembangan. Ia orang yang cerdas, ramah, dan sangat membantu dalam banyak hal. Tapi belakangan ini, Ilham merasa ada yang aneh dengan Haris. Sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.
Misalnya, ketika Ilham pertama kali menerima surat undangan dari Lembah Selatan, Haris adalah orang pertama yang membacanya. Bukan karena ia kebetulan ada di kantor, tetapi karena ia meminta izin khusus untuk melihatnya.
"Wah, Lembah Selatan? Desa itu lagi naik daun, Mas," kata Haris waktu itu dengan mata berbinar. "Pak Rahman kepala desanya terkenal ambisius. Banyak desa yang sudah diajak kerja sama."
Ilham tidak terlalu memperhatikan saat itu. Tapi sekarang, mengingat kembali, nada suara Haris terasa aneh. Terlalu antusias. Seperti orang yang sudah tahu lebih banyak dari yang ia katakan.
Atau ketika Ilham mengadakan rapat kecil untuk membahas undangan itu, Haris bersikeras ingin ikut. "Saya bisa bantu urusan administrasi, Mas," katanya. "Lagipula, saya sudah kenal baik dengan perangkat desa Lembah Selatan. Waktu pelatihan lintas desa dulu, saya sering komunikasi dengan mereka."
Sudah kenal baik. Mungkin itulah kuncinya. Haris memiliki akses ke Lembah Selatan jauh sebelum Ilham menerima undangan. Mungkin ia sudah terlibat dalam pembicaraan dengan Rahman tanpa sepengetahuan orang lain.
Tapi Ilham tidak ingin menuduh tanpa bukti. Tuduhan tanpa bukti sama berbahayanya dengan pengkhianatan itu sendiri. Tuduhan bisa menghancurkan nama baik seseorang, menghancurkan persahabatan, menghancurkan kepercayaan yang sudah dibangun bertahun-tahun.
Bukti dulu, pikir Ilham. Bukti, baru bicara.
Ia memejamkan mata. Perlahan, kantuk mulai menyapanya. Bukan kantuk yang nyenyak, tetapi kantuk yang gelisah, penuh mimpi buruk tentang desa yang hancur, tentang sahabat yang berbalik menghunus pisau, tentang langit yang terbelah menjadi dua.
Pukul 05.30, suara adzan Subuh membangunkan Ilham dari tidurnya yang dangkal. Ia bangkit, merasakan seluruh tubuhnya pegal, seperti habis melakukan perjalanan jauh. Padahal ia hanya berbaring semalaman.
Setelah shalat, ia duduk di teras rumah. Langit masih gelap, bintang-bintang masih bertaburan, tetapi di ufuk timur sudah mulai terlihat semburat jingga pucat. Udara pagi dingin menusuk, membuat kulitnya merinding.
Laila, ibunya, keluar dari dapur sambil membawa nampan berisi segelas teh jahe dan pisang goreng. Wajahnya tenang, tetapi matanya menyelidik.
"Kamu tidak tidur semalaman lagi, Nak?" tanyanya sambil meletakkan nampan di meja kayu di depan Ilham.
Ilham tersenyum tipis. "Tidur, Bu. Cuma tidak nyenyak."
"Pikiranmu terlalu banyak. Ibu bisa lihat dari matamu." Laila duduk di kursi di samping Ilham. "Cerita pada Ibu. Mungkin Ibu bisa bantu."
Ilham terdiam sejenak. Ia ingin bercerita, tetapi ia tidak ingin membebani ibunya dengan masalah yang mungkin terlalu berat. Laila bukan lagi muda. Wajahnya sudah dipenuhi kerutan, rambutnya sudah banyak yang putih. Tangannya yang dulu kuat menggendong Ilham sekarang sudah keropos dan gemetar jika terlalu lama memegang sesuatu.
"Hanya masalah pekerjaan, Bu. Tidak usah Ibu pikirkan," jawab Ilham akhirnya.
Laila menghela napas. "Kamu selalu bilang begitu. Padahal Ibu tahu, kalau ada yang mengganggumu, kamu tidak akan tenang sampai masalahnya selesai. Itu sudah sifatmu dari kecil."
Ilham tersenyum. Ibunya benar. Ia memang tidak bisa diam jika ada masalah yang belum terselesaikan.
"Baik, Bu. Nanti kalau semuanya sudah selesai, Ibu akan saya ceritakan semuanya."
"Janji?"
"Janji."
Laila menepuk paha Ilham pelan, lalu berdiri dan kembali ke dapur. Ilham meminum teh jahe itu perlahan, menikmati hangatnya yang menyebar ke seluruh tubuh. Pisang gorengnya renyah di luar, lembut di dalam, buatan ibu yang tidak pernah gagal membuatnya merasa sedikit lebih baik.
Pukul 08.00, Ilham sudah berada di kantor desa.
Kades Raditya belum datang. Beberapa perangkat desa sudah mulai beraktivitas, menata berkas, membersihkan ruangan, menyiapkan komputer. Nisa dan Rendi juga sudah ada, duduk di meja mereka sambil sarapan bubur ayam dari warung depan.
"Mas Ilham, sudah sarapan?" tanya Nisa sambil mengunyah.
"Sudah. Kamu? Kok baru makan jam segini?"
"Tadi bangun kesiangan," jawab Nisa sambil tersenyum malu. "Malamnya begadang nonton drakor."
Rendi terkekeh. "Drakor lagi, Nis. Kapan kerjanya?"
"Kerja juga kok, Ren. Aku bukan tipe orang yang bisa kerja terus tanpa hiburan."
Ilham tersenyum mendengar mereka bertengkar ringan. Di tengah situasi yang berat seperti ini, candaan Nisa dan Rendi terasa seperti pelepas penat. Mereka adalah dua anak muda yang paling aktif dalam digitalisasi Suralaya. Nisa cekatan dan teliti, Rendi kreatif dan energik. Mereka berdua adalah aset berharga bagi desa.
"Mas Ilham," panggil Rendi tiba-tiba.
"Iya?"
"Gimana ceritanya tentang Lembah Selatan? Kok dari kemarin Mas Ilham dan Mas Angga tidak banyak cerita?"
Ilham menghela napas. "Nanti, kalau semuanya sudah lengkap. Kita akan adakan pertemuan khusus."
"Wah, serem juga," komentar Nisa. "Kayaknya ada yang serius."
"Memang serius."
Rendi dan Nisa saling berpandangan, lalu mengangguk. Mereka tidak memaksa.
Pukul 10.00, Herman tiba di Suralaya.
Ia datang sendiri, mengendarai motor trail yang sama seperti yang dulu ia gunakan ketika pertama kali menjemput Ilham di perbatasan desa Awan Biru. Motor itu sekarang sudah lebih lusuh, stangnya bengkok sedikit, dan knalpotnya berbunyi kasar. Tapi Herman tetap sama seperti dulu, wajah tenang, mata tajam, dan senyum yang jarang muncul tapi hangat ketika muncul.
"Assalamu'alaikum," sapa Herman sambil turun dari motor.
"Wa'alaikumussalam," jawab Ilham sambil menyambut dengan jabat tangan erat. "Terima kasih sudah datang, Herman."
"Tentu. Ini penting."
Mereka berjalan ke ruang pertemuan kecil di belakang kantor desa. Angga sudah menunggu di sana, duduk di kursi kayu sambil memainkan ponselnya. Ia berdiri ketika melihat Herman masuk.
"Herman! Lama tidak bertemu," sapa Angga sambil merangkul Herman. Tubuh Herman lebih kurus dari terakhir kali mereka bertemu, dan wajahnya tampak lebih lelah.
"Kamu juga kurusan, Ang," balas Herman. "Jangan-jangan kamu diet?"
Angga tertawa. "Diet apaan. Banyak kerja saja."
Mereka bertiga duduk di meja bundar. Tidak ada orang lain di ruangan itu. Pintu ditutup rapat.
Herman mengeluarkan sebuah amplop cokelat dari tas ranselnya. Amplop itu tebal, berisi beberapa lembar kertas.
"Ini adalah dokumen yang berhasil saya kumpulkan tentang PT NDM dan koneksi mereka dengan Lembah Selatan," kata Herman sambil meletakkan amplop di atas meja. "Butuh waktu berminggu-minggu untuk mendapatkannya. Beberapa dari sumber yang cukup berisiko."
"Berisiko bagaimana?" tanya Angga.
Herman menghela napas. "Sumber yang memberi saya dokumen ini... dia sekarang tidak bisa dihubungi. Nomornya mati. Rumahnya kosong. Tetangganya bilang dia pindah mendadak tanpa memberi tahu siapa pun."
Ilham merasakan bulu kuduknya berdiri. "Kau pikir dia...?"
"Disiksa? Ditekan? Dipaksa pergi? Aku tidak tahu. Tapi yang jelas, dia menghilang setelah memberikan dokumen ini padaku."
Ruangan menjadi sunyi. Suara AC yang berdengung pelan tiba-tiba terasa sangat keras.
Herman membuka amplop itu dan mengeluarkan lembaran-lembaran kertas. Beberapa di antaranya adalah dokumen resmi dengan stempel dan tanda tangan. Beberapa lagi adalah catatan tulisan tangan yang tidak rapi. Beberapa adalah foto kopi kontrak dan perjanjian.
"Ini kontrak antara PT NDM dengan Desa Lembah Selatan," jelas Herman sambil menunjuk dokumen pertama. "Tanda tangan Pak Rahman, disaksikan oleh notaris. Kontrak ini memberi PT NDM hak eksklusif untuk mengelola data desa, platform digital, dan semua transaksi ekonomi yang terjadi di desa."
"Untuk jangka waktu berapa?" tanya Ilham.
"Lima belas tahun. Dengan opsi perpanjangan sepuluh tahun."
Angga bersiul kecil. "Dua puluh lima tahun. Itu setengah generasi."
"Iya. Dalam jangka waktu itu, desa tidak bisa bekerja sama dengan pihak lain untuk pengembangan digital. Semua harus melalui PT NDM. Jika melanggar, desa dikenakan denda yang sangat besar, sampai miliaran rupiah."
Ilham membaca dokumen itu dengan saksama. Bahasa hukumnya rumit, tetapi ia bisa memahami intinya. Kontrak itu sangat menguntungkan PT NDM dan sangat merugikan desa.
"Ini baru kontrak dengan desa," lanjut Herman. "Ada juga kontrak dengan warga perorangan. Kontrak petani, kontrak pemilik homestay, kontrak pelaku UMKM. Semua hampir sama: mengikat, tidak adil, dan memberi kekuasaan penuh kepada PT NDM."
"Tapi kenapa warga mau menandatangani?" tanya Angga.
Herman tersenyum pahit. "Karena mereka tidak diberi pilihan. Waktu itu, PT NDM datang dengan program bantuan besar-besaran. Bantuan bibit, pupuk, alat pertanian, pelatihan, dan akses pasar. Tapi semua bantuan itu diberikan dengan syarat: menandatangani kontrak. Warga yang tidak menandatangani tidak mendapat bantuan. Dan karena sebagian besar warga miskin, mereka tidak punya pilihan selain menerima."
"Diikat dengan kemiskinan," gumam Ilham. "Itu taktik klasik."
"Iya. Tapi ada yang lebih parah."
"Apa?"
Herman mengeluarkan satu lembar kertas lagi. Kertas itu sudah kusut, seperti pernah diremas lalu diluruskan kembali. Tulisan di atasnya hampir tidak terbaca, tetapi masih bisa diidentifikasi.
"Ini adalah daftar nama orang-orang yang menjadi 'mitra' PT NDM di desa-desa sasaran. Mereka adalah warga lokal yang direkrut untuk membantu pelaksanaan program. Tugas mereka: mengawasi warga lain, melaporkan aktivitas yang mencurigakan, dan memastikan tidak ada yang melanggar kontrak."
Ilham mengambil kertas itu dan membacanya perlahan. Ada sekitar dua puluh nama. Beberapa nama asing baginya, mungkin warga Lembah Selatan atau desa-desa lain. Tapi satu nama membuatnya berhenti.
- Haris.
Nama itu tertulis di urutan ketiga, dengan keterangan: Koordinator Wilayah Suralaya.
Ilham memejamkan mata. Dadanya terasa sesak, seperti ada yang meremas jantungnya.
"Jadi benar," bisiknya. "Haris... terlibat."
Angga yang membaca dari samping juga terdiam. Wajahnya pucat.
"Aku tidak percaya," katanya. "Haris? Dia orang yang baik. Selalu membantu. Selalu tersenyum. Tidak mungkin..."
"Orang yang baik bisa melakukan hal-hal buruk jika mereka punya alasan," kata Herman pelan. "Mungkin Haris punya alasan. Mungkin dia butuh uang. Mungkin dia diancam. Atau mungkin... dia benar-benar percaya bahwa sistem ini akan membantu Suralaya."
"Tapi dia tidak bilang pada kita," tegas Ilham. "Dia tidak pernah bilang apa pun tentang keterlibatannya dengan Lembah Selatan. Itu sudah pengkhianatan."
Ruangan hening lagi.
Herman melanjutkan, "Ada lagi yang harus kalian tahu. PT NDM tidak hanya beroperasi di Lembah Selatan. Mereka juga sudah masuk ke tiga desa lain: Cikalong, Karangmulya, dan Cipatat. Prosesnya sama: bantuan besar-besaran, kontrak mengikat, pengawasan ketat."
"Dan target berikutnya adalah Suralaya dan Awan Biru?"
Herman mengangguk. "Suralaya dan Awan Biru adalah dua desa yang paling diperhitungkan. Karena kalian berhasil bertransformasi secara mandiri, tanpa bantuan PT NDM. Itu membuat PT NDM tidak suka. Mereka ingin mengendalikan semua desa di kawasan ini, dan kalian adalah penghalang."
"Maka mereka berusaha meluluhkan kita dengan pendekatan manis," kata Ilham. "Undangan, jamuan, pujian. Lalu jika tidak berhasil, mereka akan menggunakan cara lain."
"Seperti ancaman Pak Rahman: 'Suralaya tetap akan menjadi bagian dari jaringan ini, entah kau suka atau tidak.'"
Angga mengusap wajahnya kasar. "Ini gila. Kita sedang berhadapan dengan organisasi yang sangat terorganisir."
"Iya," kata Herman. "Itu sebabnya kita harus bersatu. Awan Biru, Suralaya, dan desa-desa lain yang belum terjangkit. Kita harus membangun jaringan perlawanan."
"Perlawanan?" Ilham mengangkat alis. "Kata itu terlalu kuat."
"Kata yang tepat," tegas Herman. "Kita sedang melawan ketidakadilan. Melawan penjajahan digital. Melawan sistem yang mengorbankan rakyat kecil untuk kepentingan segelintir orang. Itu perlawanan, Ilham. Jangan takut menggunakan kata itu."
Ilham terdiam. Herman benar. Selama ini ia berpikir bahwa yang mereka lakukan hanyalah "menjaga desa" atau "melindungi kemandirian." Tapi pada intinya, itu adalah perlawanan. Perlawanan terhadap kekuatan yang lebih besar yang ingin menguasai mereka.
"Baik," kata Ilham akhirnya. "Kita lawan. Tapi kita harus pintar. Kita tidak bisa bertindak gegabah."
"Setuju," kata Herman. "Langkah pertama, kita harus mengamankan dokumen-dokumen ini. Aku akan meninggalkan salinannya pada kalian. Simpan di tempat yang aman."
"Langkah kedua?"
"Kita harus mencari tahu siapa saja yang sudah terpengaruh di Suralaya. Selain Haris, mungkin masih ada yang lain. Kita harus tahu siapa teman dan siapa lawan."
Angga mengangguk. "Aku bisa bantu mencari informasi. Aku punya banyak kenalan di berbagai kalangan."
"Langkah ketiga," lanjut Herman, "kita harus menghubungi desa-desa lain yang sudah terjangkit. Bantu mereka keluar dari kontrak jika memungkinkan. Tapi itu tidak mudah. Kontraknya sangat mengikat."
"Ada advokat yang bisa membantu?" tanya Ilham.
Herman menggeleng. "Advokat biasa takut. PT NDM punya tim hukum yang kuat. Tapi aku sedang menghubungi Lembaga Bantuan Hukum di kota. Mereka mungkin bersedia membantu secara pro bono."
"Baik. Kita kerjakan satu per satu."
Setelah Herman pergi, ia tidak mau makan siang karena harus segera kembali ke Awan Biru, Ilham dan Angga duduk di teras kantor desa sambil menikmati angin siang yang panas.
"Berat," kata Angga.
"Iya."
"Kita sekarang tahu siapa pengkhianatnya. Tapi apa yang bisa kita lakukan? Belum ada bukti kuat selain daftar nama dari Herman."
Ilham menghela napas. "Kita tidak bisa menuduh Haris hanya berdasarkan daftar nama itu. Kita butuh bukti yang lebih konkret. Mungkin dokumen yang ditandatangani Haris sendiri, atau rekaman percakapan, atau saksi mata."
"Bagaimana kita mendapatkannya?"
"Kita pantau. Kita amati. Kita cari celah."
Angga mengangguk. "Aku akan mulai besok. Aku akan bergaul lebih dekat dengan Haris, mencari tahu siapa saja teman-temannya, ke mana ia pergi, dengan siapa ia bicara."
"Hati-hati, Ang. Jangan sampai ketahuan."
"Aku tahu."
Mereka berdua terdiam. Di kejauhan, suara anak-anak sekolah pulang bergema riang. Mereka tertawa, berlarian, tidak tahu menahu tentang kegelapan yang sedang mengintai desa mereka.
Sore itu, Ilham memutuskan untuk berjalan ke Bukit Sunyi.
Bukit Sunyi adalah sebutannya untuk bukit kecil di pinggir Desa Suralaya, sekitar lima belas menit berjalan kaki dari rumah Ilham. Tempat itu tidak terlalu tinggi, hanya sekitar seratus meter di atas permukaan desa, tetapi pemandangannya indah. Dari puncak bukit, Ilham bisa melihat seluruh Suralaya terbentang di bawah, sawah hijau, rumah-rumah kayu, sungai kecil yang berkelok, dan gunung-gunung di kejauhan.
Tempat itu dulu sering ia datangi ketika masih remaja. Di sanalah ia merenung, memimpikan masa depan, bertanya-tanya apakah desanya akan selamanya tertinggal. Di sanalah ia pertama kali berbicara pada Angga tentang keinginannya untuk belajar dari desa lain. Di sanalah ia mendapat ide untuk pergi ke Awan Biru.
Dan sekarang, ia kembali ke Bukit Sunyi untuk mencari ketenangan.
Ia berjalan perlahan menyusuri jalan setapak yang semakin menanjak. Rumput-rumput liar tumbuh subur di pinggir jalan, beberapa sudah setinggi pinggang. Pepohonan pinus berdiri tegak di kiri kanan, menciptakan keteduhan meskipun matahari masih terik.
Sesampainya di puncak, Ilham duduk di bawah pohon beringin tua yang sudah ada sejak ia kecil. Pohon itu besar, akarnya menjalar ke mana-mana seperti ular raksasa yang membeku. Daunnya lebat, menciptakan kanopi alami yang melindunginya dari panas.
Dari ketinggian itu, Ilham melihat Suralaya. Desanya terlihat damai. Asap dapur mengepul tipis dari rumah-rumah warga. Anak-anak bermain di lapangan. Petani mulai pulang dari sawah dengan cangkul di pundak.
Semua tampak baik-baik saja, pikir Ilham. Tapi di balik ketenangan ini, ada badai yang sedang mengumpulkan kekuatan.
Ia membayangkan apa yang akan terjadi jika sistem digital Lembah Selatan diterapkan di Suralaya. Petani kehilangan kendali atas hasil panennya. Pemuda kehilangan pekerjaan. Warga hidup dalam ketakutan, takut bersuara, takut melawan. Desa yang dulu hangat dan ramah berubah menjadi desa yang dingin dan mati.
Tidak. Ia tidak akan membiarkan itu terjadi.
Langit mulai berubah. Dari timur, awan hitam bergerak cepat, menandakan hujan akan segera turun. Ilham seharusnya segera pulang, tetapi ia memilih untuk tetap duduk.
Biarlah hujan turun. Mungkin hujan bisa membersihkan pikirannya yang kacau.
Tetes pertama jatuh di dahinya. Dingin. Lalu tetes kedua di pipinya. Ketiga di tangannya. Kemudian semakin banyak.
Hujan turun dengan derasnya.
Ilham tidak berlindung. Ia membiarkan air hujan membasahi seluruh tubuhnya. Rambutnya basah, bajunya basah, celananya basah. Air mengalir di wajahnya, bercampur dengan air mata yang tidak ia sadari keluar.
Ia menangis.
Bukan karena lemah. Bukan karena takut. Tapi karena lelah. Lelah memikirkan semuanya sendirian. Lelah menahan beban yang seharusnya tidak ia pikul sendiri. Lelah menjadi "pahlawan desa" yang diharapkan semua orang, padahal ia hanya manusia biasa dengan keterbatasan.
Di tengah hujan itu, ia mendengar suara langkah kaki mendekat.
Ilham menoleh.
Angga berdiri di sampingnya, basah kuyup, membawa payung yang tidak ia buka.
"Aku tahu kau akan ke sini," kata Angga.
Ilham tersenyum tipis. "Kau tahu aku selalu."
Angga duduk di samping Ilham, di bawah pohon beringin yang tidak lagi melindungi mereka karena hujan terlalu deras. Mereka berdua basah, tetapi tidak ada yang peduli.
"Menangislah," kata Angga. "Tidak ada yang melihat. Hanya aku."
Ilham tidak bisa menahan lagi. Ia menangis tersedu-sedu, bahunya bergetar, tangannya menutup wajah. Angga hanya duduk di sampingnya, tidak berkata apa-apa, tidak berusaha menghibur. Karena kadang, yang dibutuhkan seseorang bukanlah kata-kata hikmah atau nasihat bijak, tetapi kehadiran seseorang yang mau duduk di sampingnya dalam diam.
Setelah beberapa lama, tangis Ilham reda. Ia mengusap wajahnya dengan tangan basah, menghapus air mata yang bercampur air hujan.
"Maaf," katanya. "Aku tidak biasanya seperti ini."
"Tidak apa-apa," kata Angga. "Kamu manusia, bukan robot. Wajar kalau kadang merasa lelah."
"Aku takut, Ang."
"Takut apa?"
Ilham menatap ke arah desa yang mulai kabur oleh tirai hujan.
"Aku takut kita kalah. Takut Suralaya jatuh ke tangan mereka. Takut semua yang sudah kita bangun hancur dalam sekejap."
Angga menghela napas. "Kita bisa kalah. Itu selalu mungkin. Tapi setidaknya kita bertarung. Setidaknya kita tidak menyerah tanpa perlawanan."
"Apakah itu cukup?"
"Untuk apa?"
"Untuk... ketenangan. Untuk bisa tidur nyenyak di malam hari. Untuk tidak merasa bersalah."
Angga terdiam sejenak. "Aku tidak tahu. Mungkin ya, mungkin tidak. Tapi yang aku tahu, Ilham, kau tidak sendirian. Aku di sini. Herman di sini. Nisa, Rendi, Aulia, Pak Kades, semua orang yang percaya pada kita, mereka di sini. Kita tidak akan membiarkanmu berjuang sendirian."
Ilham menatap Angga. Wajah sahabatnya itu basah, rambutnya menempel di dahi, matanya sayu. Tapi ada ketegasan di sana. Ada keyakinan.
"Terima kasih, Ang."
"Jangan berterima kasih. Itu tugas sahabat."
Hujan mulai reda. Perlahan, butiran-butiran air berkurang, digantikan oleh gerimis tipis yang terasa lembut di kulit. Awan hitam mulai bergerak ke timur, meninggalkan langit yang bersih dan biru pucat.
Matahari sore muncul dari balik awan, menyinari lembah dengan cahaya keemasan. Pelangi terbentang di kejauhan, dari bukit ke bukit, seperti janji bahwa setelah badai selalu ada keindahan.
Ilham berdiri. Tubuhnya terasa ringan, meskipun basah.
"Ayo pulang," katanya.
Angga berdiri di sampingnya. "Ibu akan marah kalau melihat kita basah kuyup."
"Biarlah. Ibu sudah terbiasa melihatku pulang dalam keadaan basah."
Mereka berjalan menuruni bukit bersama, meninggalkan jejak kaki di tanah basah. Di belakang mereka, pelangi masih setia menghiasi langit.
Saat tiba di rumah, Laila langsung berteriak melihat Ilham basah kuyup.
"Ya Allah, Nak! Kamu kehujanan? Cepat mandi! Nanti masuk angin!"
Ilham tersenyum. "Iya, Bu. Maaf."
Ia masuk ke kamar mandi, mengganti pakaian basah dengan yang kering. Air hangat mengalir di tubuhnya, menghangatkan tulang-tulang yang kedinginan.
Setelah mandi, ia duduk di ruang tamu sambil memegang segelas jahe hangat buatan ibunya. Angga juga sudah mandi dan berganti pakaian, ia meminjam baju Ilham yang agak kekecilan, membuatnya terlihat lucu.
"Makasih, Bu Laila," kata Angga.
"Sama-sama, Nak. Lain kali jangan biarkan Ilham duduk di hujan. Dia itu keras kepala, tapi kamu harusnya bisa mengingatkannya."
Angga tertawa. "Saya sudah mencoba, Bu. Tapi Ilham lebih keras kepala dari yang saya kira."
Laila menggeleng-gelengkan kepala, lalu masuk ke dapur.
Ilham dan Angga duduk berdua di ruang tamu. Rumah terasa hangat, meskipun di luar udara masih dingin bekas hujan.
"Besok kita mulai," kata Ilham.
"Iya. Aku akan mulai memantau Haris."
"Tapi hati-hati. Jangan sampai dia curiga."
"Tenang. Aku lebih licik dari yang kau kira."
Ilham tersenyum. "Aku tahu."
Malam itu, untuk pertama kalinya sejak perjalanan ke Lembah Selatan, Ilham tidur dengan nyenyak. Tidak ada mimpi buruk. Tidak ada gelisah. Hanya kegelapan yang nyaman dan keheningan yang damai.
Mungkin karena hujan telah membersihkan pikirannya. Atau mungkin karena ia tahu, apa pun yang terjadi, ia tidak sendirian.
BAB 7 — Surat dari Awan Biru
Pagi itu, Suralaya bangun dengan langit yang masih bersih bekas hujan semalam. Embun tebal membasahi dedaunan, menciptakan kilauan perak di bawah sinar matahari yang baru saja muncul dari balik bukit. Burung-burung berkicau lebih riang dari biasanya, seolah ikut bersyukur karena badai telah berlalu.
Namun bagi Muhammad Ilham, pagi itu tidak sekadar tentang keindahan alam. Ada agenda penting yang harus ia selesaikan.
Sejak subuh, ia sudah duduk di ruang tamu rumahnya, ditemani secangkir kopi hitam pekat dan sebatang pensil di tangannya. Di depannya terbuka sebuah buku catatan tebal, buku yang selama ini ia gunakan untuk mencatat segala hal tentang perjalanan desanya: ide-ide, masalah, solusi, nama-nama, dan sekarang, daftar orang-orang yang mungkin terlibat dalam jaringan Lembah Selatan.
Ia menulis dengan rapi, meskipun tangannya sedikit gemetar karena kopi yang terlalu panas atau karena sarafnya yang tegang.
Nama-nama yang disebut Herman dalam daftar "mitra" PT NDM di Suralaya:
- M. Haris (Koordinator Wilayah)
- (nama lain, masih harus dikonfirmasi)
Ilham menatap nama itu lama. Haris. Ia membayangkan wajah lelaki itu, rambutnya yang selalu disisir rapi, kacamatanya yang tebal, senyumnya yang ramah, dan caranya berbicara yang selalu terdengar meyakinkan.
Apakah semua itu hanya topeng?
Ia menghela napas. Pensilnya berhenti bergerak. Ia tidak bisa menulis lebih lanjut karena ia tidak memiliki nama lain. Herman hanya memberinya satu nama untuk Suralaya. Tapi Herman juga mengatakan bahwa daftar itu mungkin belum lengkap. Ada kemungkinan bahwa selain Haris, masih ada orang lain di Suralaya yang menjadi "mata" Rahman.
Siapa? Dan sejauh mana keterlibatan mereka?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepalanya seperti kaset yang macet.
Pukul 08.00, Angga datang dengan membawa dua bungkus nasi pecel dari warung Bu Srintil di ujung jalan. Warung itu terkenal dengan sambal kacangnya yang pedas dan gurih, dan selalu menjadi pilihan sarapan favorit warga Suralaya.
"Kau sudah makan?" tanya Angga sambil meletakkan bungkusan di meja.
"Belum. Masih sibuk mencatat."
"Makan dulu. Perut kosong bikin otak lemot."
Ilham tersenyum. Angga selalu seperti itu, memperhatikan hal-hal kecil yang sering dilupakan orang lain. Mungkin itulah sebabnya mereka bisa berteman selama ini. Angga melengkapi kekurangan Ilham, dan sebaliknya.
Mereka makan bersama di teras rumah. Suasana pagi masih sejuk, angin bertiup pelan membawa aroma tanah basah dan bunga melati dari halaman depan.
"Kau sudah punya rencana?" tanya Angga di sela-sela mengunyah.
"Iya. Hari ini aku akan ke kantor desa, bertemu Pak Kades. Aku akan laporkan semua temuan kita, termasuk daftar dari Herman. Setelah itu, kita akan panggil Haris untuk dimintai klarifikasi."
Angga berhenti mengunyah. "Langsung panggil? Bukankah itu terlalu frontal?"
"Harus. Semakin lama kita diam, semakin besar kesempatan dia untuk beraksi. Kita tidak tahu apa yang sudah dia lakukan selama ini."
"Tapi bagaimana kalau dia menyangkal?"
"Kita punya bukti. Daftar nama dari Herman adalah bukti yang cukup kuat."
Angga terdiam sejenak. "Baik. Aku ikut."
Pukul 09.00, Ilham dan Angga sudah berada di ruang Kades Raditya. Ruangan itu sederhana, dengan meja kayu jati yang sudah berusia puluhan tahun, kursi-kursi rotan yang mulai reyot, dan lemari arsip besi yang catnya mengelupas. Di dinding, foto-foto kegiatan desa terpajang rapi, dokumentasi perjalanan ke Awan Biru, pelatihan digitalisasi, panen raya, dan acara-acara desa lainnya.
Kades Raditya duduk di kursinya, membaca laporan yang ditulis Ilham dengan saksama. Wajahnya berubah-ubah, kadang mengerut, kadang mengangguk, kadang menggeleng pelan.
Setelah selesai, ia meletakkan kertas itu di atas meja. Matanya menatap Ilham dan Angga bergantian.
"Ini serius," katanya. Suaranya berat, seperti orang yang sedang berusaha menahan amarah.
"Sangat serius, Pak," jawab Ilham.
"Kau yakin dengan daftar nama ini?"
"Yakin. Herman memberikannya langsung. Dan Herman bukan orang yang suka berbohong."
Kades Raditya menghela napas panjang. Ia berdiri dan berjalan ke jendela, memandang halaman kantor yang mulai ramai oleh warga yang datang untuk mengurus administrasi.
"Haris sudah bekerja di kantor ini selama lima tahun," katanya pelan. "Dia orang yang cerdas, rajin, dan selalu membantu. Aku tidak pernah melihat tanda-tanda bahwa dia terlibat dalam hal-hal seperti ini."
"Orang yang pandai bersembunyi tidak akan menunjukkan tanda-tanda, Pak," kata Angga.
Kades Raditya menoleh. "Kau benar. Tapi kita tidak bisa menuduh tanpa mendengarkan penjelasannya terlebih dahulu. Panggil dia ke sini. Sekarang."
Ilham berdiri. "Baik, Pak."
Ia keluar ruangan dan berjalan ke ruang kerja Haris, yang berada di ujung lorong sebelah timur kantor desa. Ruangan itu kecil, hanya cukup untuk satu meja, satu kursi, dan satu lemari arsip. Pintunya setengah terbuka.
Ilham mengetuk pelan.
"Mas Haris?"
Haris yang sedang menatap layar komputer menoleh. Wajahnya tersenyum seperti biasa.
"Mas Ilham? Ada apa?"
"Pak Kades memanggil. Ada yang ingin dibicarakan."
Haris mengerutkan dahi, tetapi ia berdiri dan mengikuti Ilham tanpa bertanya lebih lanjut.
Di ruang Kades Raditya, suasana terasa berbeda. Biasanya ruangan ini hangat dan akrab, tetapi hari ini terasa dingin dan formal. Kades Raditya duduk di kursinya dengan wajah serius. Angga duduk di kursi samping, tangan dilipat di dada. Ilham duduk di seberang Haris, tepat di hadapannya.
Haris duduk di kursi yang disediakan, tampak tenang tetapi matanya sedikit gelisah.
"Ada apa, Pak?" tanyanya.
Kades Raditya tidak langsung menjawab. Ia membuka laci mejanya, mengeluarkan sebuah amplop cokelat, copy dari dokumen yang diberikan Herman, lalu meletakkannya di atas meja.
"Haris, aku ingin kau jujur padaku," kata Kades Raditya. "Apakah kau terlibat dalam jaringan Lembah Selatan?"
Haris terdiam. Wajahnya berubah pucat dalam sekejap. Matanya melebar, lalu menyipit, lalu melebar lagi. Tangannya yang tadinya santai di pangkuan, sekarang mengepal erat.
"Pak, saya tidak mengerti maksud Bapak," katanya, suaranya sedikit bergetar.
Ilham membuka amplop itu dan mengeluarkan daftar nama dari Herman. Ia menunjukkan pada Haris.
"Ini daftar nama 'mitra' PT NDM di desa-desa sasaran. Nama Mas Haris ada di urutan ketiga, sebagai Koordinator Wilayah Suralaya."
Haris membaca daftar itu. Wajahnya semakin pucat, sampai hampir seputih kertas.
"Siapa yang memberi Anda daftar ini?" tanyanya.
"Itu tidak penting," potong Kades Raditya. "Yang penting, apakah itu benar?"
Haris menunduk. Bahunya bergetar. Untuk beberapa saat, tidak ada suara apa pun di ruangan itu. Hanya detak jarum jam dinding yang terdengar jelas, seperti penghitung waktu untuk sebuah pengakuan.
"Iya," bisik Haris akhirnya. "Itu benar."
Ruangan menjadi sunyi. Kades Raditya memejamkan mata, seperti sedang berusaha menenangkan diri. Angga menggigit bibir bawahnya, menahan amarah. Ilham hanya diam, menunggu.
"Ceritakan semuanya," kata Kades Raditya. "Dari awal."
Haris mengangkat kepalanya. Matanya merah, berkaca-kaca. Air mata mulai mengalir di pipinya.
"Semuanya dimulai setahun yang lalu," katanya dengan suara parau. "Saya dihubungi oleh seseorang dari PT NDM. Namanya Andi. Dia bilang bahwa perusahaannya ingin bekerja sama dengan Suralaya untuk pengembangan digitalisasi desa. Mereka menawarkan bantuan dana, pelatihan, dan akses pasar."
"Kenapa kau tidak melapor ke saya?" tanya Kades Raditya.
"Karena Andi bilang, ini masih tahap awal. Belum ada keputusan resmi. Dia hanya ingin saya menjadi 'penghubung', seseorang yang bisa memberi informasi tentang kondisi Suralaya, potensi desa, dan orang-orang yang berpengaruh di sini."
"Jadi kau memberi mereka informasi tentang Suralaya?"
Haris mengangguk pelan. "Iya. Awalnya hanya data umum. Jumlah penduduk, mata pencaharian, potensi wisata, hasil bumi. Tidak ada yang rahasia. Tapi lama-lama... mereka minta lebih."
"Apa yang mereka minta?"
"Informasi tentang orang-orang. Siapa yang pro perubahan, siapa yang anti, siapa yang mudah dipengaruhi, siapa yang sulit diajak kompromi."
Ilham merasakan dadanya sesak. "Termasuk informasi tentang saya?"
Haris menunduk. "Iya. Termasuk Mas Ilham."
"Kau beri tahu mereka tentang perjalanan kita ke Awan Biru? Tentang hubungan kita dengan Herman? Tentang rencana-rencana kita?"
Haris mengangguk tanpa mengangkat kepalanya.
Ilham mengepalkan tangannya. Ia ingin berteriak, ingin membanting meja, ingin menghajar Haris sampai babak belur. Tapi ia menahan. Kemarahan tidak akan menyelesaikan masalah.
"Kau tahu apa yang kau lakukan, Haris?" kata Angga dengan suara dingin. "Kau mengkhianati desa kita. Kau mengkhianati kepercayaan kami."
Haris menangis tersedu. "Aku tahu! Aku tahu! Tapi aku tidak punya pilihan!"
"Tidak punya pilihan bagaimana?" bentak Kades Raditya.
Haris mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata. "Mereka mengancam saya. Andi bilang, kalau saya tidak mau bekerja sama, PT NDM akan memblokir semua bantuan yang sudah mereka janjikan untuk Suralaya. Bantuan itu sudah saya laporkan ke Pak Kades sebagai 'hibah dari donatur anonim'. Saya sudah terlanjur. Saya takut ketahuan. Saya takut dipecat. Saya takut... diusir."
Kades Raditya menghela napas panjang. "Kau bodoh, Haris. Kau sangat bodoh."
"Iya, saya bodoh. Saya minta maaf."
"Maaf tidak cukup," kata Ilham. Suaranya tenang, tetapi dingin. "Kau harus membantu kami memperbaiki kesalahan ini."
Haris mengangkat kepalanya. "Maksud Mas Ilham?"
"Kau tahu rencana PT NDM untuk Suralaya? Apa yang akan mereka lakukan selanjutnya?"
Haris mengusap air matanya dengan punggung tangan. "Mereka sudah menyiapkan proposal kerja sama. Pak Rahman akan datang ke Suralaya bulan depan untuk mempresentasikannya secara resmi. Proposal itu sudah saya baca. Isinya mirip dengan kontrak di Lembah Selatan, bantuan besar-besaran dengan imbalan hak kelola data."
"Dan kau akan menjadi penghubung lagi?"
Haris menggeleng. "Tidak. Aku tidak akan. Aku sudah muak dengan semua ini. Aku hanya butuh jalan keluar."
Kades Raditya berdiri. "Kau akan mendapat jalan keluar, Haris. Tapi kau harus membantu kami. Kau harus memberi kami semua informasi yang kau punya tentang PT NDM, tentang rencana mereka, tentang orang-orang yang terlibat. Dan setelah itu, kau harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu."
Haris mengangguk. "Baik, Pak. Aku akan membantu apa pun yang Bapak perintahkan."
Setelah Haris keluar dari ruangan, dengan wajah pucat dan langkah gontai, Kades Raditya duduk kembali di kursinya. Ia tampak lelah, sepuluh tahun lebih tua dari biasanya.
"Apa yang akan kita lakukan?" tanya Angga.
Kades Raditya menatap Ilham. "Menurutmu?"
Ilham berpikir sejenak. "Kita harus menggagalkan rencana mereka sebelum bulan depan. Kita harus menyebarkan informasi ke desa-desa lain tentang bahaya PT NDM. Dan kita harus memperkuat sistem pertahanan kita sendiri."
"Pertahanan?"
"Sistem digital kita harus benar-benar mandiri. Jangan sampai ada celah yang bisa mereka manfaatkan. Dan kita harus lebih berhati-hati dalam berbagi informasi dengan pihak luar."
Kades Raditya mengangguk. "Setuju. Aku akan menginstruksikan semua perangkat desa untuk tidak memberikan data apa pun kepada siapa pun tanpa sepengetahuanku."
"Aku akan menghubungi Herman lagi," kata Ilham. "Kita harus membangun koalisi desa-desa yang menolak PT NDM. Awan Biru, Suralaya, dan mungkin desa-desa lain yang belum terjangkit."
"Lalu bagaimana dengan desa-desa yang sudah terjangkit?" tanya Angga. "Seperti Lembah Selatan, Cikalong, Karangmulya?"
Ilham menghela napas. "Itu lebih sulit. Tapi kita tidak bisa mengabaikan mereka. Kita harus cari cara untuk membantu warga di sana keluar dari kontrak yang mengikat."
"Kita butuh advokat," kata Kades Raditya. "Aku punya kenalan di LBH Kota. Akan kuhubungi."
"Baik, Pak. Kita kerjakan satu per satu."
Sore itu, setelah rapat panjang dengan Kades Raditya dan beberapa perangkat desa terpercaya, Ilham pulang ke rumah dengan perasaan campur aduk. Ada lega karena pengkhianat sudah terungkap, tetapi juga ada sedih karena pengkhianat itu adalah temannya sendiri.
Ia duduk di teras rumah, memandang matahari yang mulai tenggelam di balik bukit. Langit berwarna jingga keemasan, indah dan damai.
"Mas Ilham!"
Ilham menoleh. Seorang pemuda berdiri di depan pagar rumahnya, mengendarai sepeda motor butut yang knalpotnya bunyi kasar. Pemuda itu tidak asing, ia adalah kurir antar desa yang sering mengantar surat dan paket.
"Ada apa, Din?" tanya Ilham.
Kurir itu turun dari motor dan menghampiri. Ia mengeluarkan sebuah amplop dari tas selempangnya.
"Ini surat untuk Mas Ilham. Dari Awan Biru."
Ilham mengambil amplop itu. Tangannya sedikit gemetar. Amplop itu berwarna cokelat muda, tertutup rapi dengan lem, dan di atasnya tertulis namanya dengan tulisan tangan yang rapi, tulisan Herman.
"Makasih, Din."
"Sama-sama, Mas."
Kurir itu pergi. Ilham masuk ke dalam rumah, duduk di ruang tamu, dan membuka amplop itu perlahan, seperti orang yang membuka peti harta karun, atau peti pandora.
Di dalamnya ada tiga lembar kertas. Lembar pertama adalah surat tulisan tangan Herman. Lembar kedua adalah dokumen resmi yang dicetak komputer. Lembar ketiga adalah foto hitam-putih yang agak buram.
Ilham membaca surat Herman terlebih dahulu.
Ilham,
Maaf aku tidak bisa menyampaikan ini secara langsung. Ada situasi yang tidak memungkinkan. Aku sedang diawasi. Aku tidak tahu oleh siapa, tapi aku yakin ada yang memantau gerak-gerikku.
Setelah aku meninggalkan Suralaya kemarin, aku mendapat informasi baru yang sangat penting. Aku tidak bisa menyampaikannya lewat telepon atau pesan singkat. Itu sebabnya aku mengirim surat ini melalui kurir.
Ilham, pengkhianatan di Suralaya tidak hanya melibatkan Haris. Ada satu nama lagi yang mungkin tidak kau duga.
Nama itu ada di dokumen kedua. Aku tidak akan menyebutnya di sini. Lihat sendiri.
Dokumen itu adalah daftar lengkap "mitra" PT NDM di seluruh desa sasaran. Aku mendapatkannya dari sumber yang sama dengan daftar sebelumnya, tapi kali ini lebih lengkap. Di dalamnya, ada dua nama dari Suralaya. Satu sudah kau tahu. Satu lagi... aku yakin kau akan terkejut.
Foto ketiga adalah bukti pertemuan antara orang itu dengan perwakilan PT NDM di sebuah kafe di kota, tiga bulan lalu. Aku tidak tahu bagaimana sumberku mendapat foto itu, tapi aku yakin itu asli.
Ilham, hati-hati. Jangan percaya pada siapa pun sebelum kau punya bukti. Bahkan pada orang yang paling kau percaya sekalipun.
Aku akan mencoba menghubungimu lagi minggu depan, jika situasinya sudah aman.
Tetap jaga diri.
*** Herman***
Ilham meletakkan surat itu di meja. Tangannya gemetar hebat. Ia mengambil dokumen kedua, daftar lengkap "mitra" PT NDM.
Matanya menyusuri nama-nama itu satu per satu.
Lembah Selatan: 12 nama.
Cikalong: 8 nama.
Karangmulya: 6 nama.
Cipatat: 5 nama.
Awan Biru: 3 nama.
Suralaya: 2 nama.
Nama pertama: M. Haris.
Nama kedua: Ilham membaca, dan dunia terasa berhenti berputar.
Nama kedua: Angga Putra Pratama.
Ilham memejamkan mata. Ia membacanya sekali lagi. Angga Putra Pratama. Sahabatnya. Temannya sejak kecil. Orang yang selalu ada di sampingnya. Orang yang tadi pagi masih membawakannya nasi pecel.
Tidak mungkin, pikirnya. Angga tidak mungkin.
Ia mengambil foto ketiga. Foto hitam-putih, agak buram, tapi cukup jelas untuk menunjukkan dua orang sedang duduk di sebuah kafe. Meja kecil, cangkir kopi, latar belakang jendela kaca dengan tulisan "Coffee Shop" terbalik.
Satu orang adalah Andi, manajer proyek PT NDM yang ditemui Ilham di Lembah Selatan. Ia yakin itu Andi, meskipun foto itu diambil dari samping.
Satu orang lagi adalah Angga. Wajahnya jelas terlihat, rambut ikal khasnya, kemeja flanel yang sering ia kenakan, dan jam tangan di pergelangan kirinya yang selalu ia pakai sejak SMA.
Ilham meletakkan foto itu di meja. Dadanya terasa sesak, seperti ada yang menusuk-nusuk. Matanya panas, tetapi air mata tidak mau keluar. Hanya ada kekosongan yang sangat dalam.
Angga.
Sahabatku.
Pengkhianat.
Ia teringat pada semua momen bersama Angga. Perjalanan ke Awan Biru, begadang di kantor desa menyusun proposal, tertawa di warung kopi, berbagi makanan, berbagi rahasia, berbagi mimpi.
Apakah semua itu palsu? Apakah Angga hanya berpura-pura? Apakah setiap senyumnya, setiap tawanya, setiap dukungannya hanyalah bagian dari skenario yang sudah dirancang?
Ilham tidak tahu. Pikirannya terlalu kacau untuk berpikir jernih.
Pukul 19.00, Angga datang ke rumah Ilham seperti biasa. Ia membawa gorengan dan es teh manis, camilan favorit mereka berdua.
"Hei, Ham," sapa Angga ceria sambil masuk ke ruang tamu. "Aku beli pisang goreng dan tahu isi dari Bu Srintil. Yang hangat-hangat."
Ia berhenti ketika melihat wajah Ilham yang pucat dan mata yang merah.
"Kamu kenapa? Sakit?"
Ilham tidak menjawab. Ia hanya menatap Angga dengan sorot yang tidak pernah ia tunjukkan sebelumnya, sorot kecewa, marah, dan sedih bercampur menjadi satu.
"Ham?" Angga mulai gelisah. "Ada apa? Cerita dong."
Ilham menggeser amplop cokelat di atas meja ke arah Angga.
"Baca."
Angga mengambil amplop itu dengan ragu. Ia mengeluarkan isinya, surat Herman, daftar nama, dan foto.
Ia membaca surat Herman. Wajahnya berubah.
Ia membaca daftar nama. Wajahnya memucat.
Ia melihat foto. Tangannya gemetar. Foto itu jatuh ke lantai.
"Ham... aku bisa jelaskan..." suaranya parau, hampir tidak terdengar.
Ilham berdiri. Matanya menatap Angga dengan dingin.
"Jelaskan. Aku dengar."
Angga menunduk. Bahunya bergetar. Air mata mulai mengalir di pipinya.
"Aku... aku terpaksa, Ham. Mereka mengancam keluargaku. Ayahku sedang sakit parah. Ibu tidak punya pekerjaan. Adikku masih sekolah. Aku butuh uang."
"Jadi kau menjual desa demi uang?"
"Bukan menjual desa! Aku hanya memberi mereka informasi! Informasi umum! Tidak ada yang rahasia!"
"Informasi tentang Suralaya adalah rahasia, Ang! Data penduduk, potensi desa, rencana pengembangan, itu semua adalah aset desa! Kau tidak berhak memberikannya pada orang lain tanpa izin!"
Angga menangis tersedu. "Aku tahu! Aku salah! Tapi aku tidak punya pilihan!"
"Kita selalu punya pilihan, Ang. Kau bisa bilang padaku. Kau bisa bilang pada Pak Kades. Kita bisa cari solusi bersama. Tapi kau memilih jalan sendiri. Jalan yang mengkhianati kita semua."
Ilham berjalan ke pintu dan membukanya lebar-lebar.
"Kau pergi sekarang. Aku tidak bisa melihat wajahmu."
"Ham..."
"PERGI!"
Angga terhuyung berdiri. Wajahnya basah oleh air mata. Ia berjalan keluar rumah dengan langkah gontai, seperti orang yang baru saja kehilangan segalanya.
Ilham menutup pintu dan bersandar di dinding. Dadanya naik turun, napasnya terengah-engah. Air mata yang tertahan akhirnya jatuh juga.
Ia menangis. Bukan karena lemah. Tapi karena kehilangan.
Kehilangan sahabat yang selama ini ia anggap saudara.
Malam itu, Ilham tidak bisa tidur. Ia duduk di ruang tamu, memandangi foto Angga dan Andi yang masih tergeletak di lantai.
Ia teringat pada kalimat dalam surat misterius itu:
"Ketika dua langit memilih jalan berbeda, siapa yang akan kau jaga?"
Sekarang ia mengerti. Dua langit itu adalah persahabatan dan kebenaran. Dan ia harus memilih.
Ia memilih kebenaran. Meskipun itu berarti kehilangan sahabatnya.
BAB 8 — Persimpangan Dua Langit
Malam itu, setelah Angga pergi, rumah Ilham terasa lebih sunyi dari biasanya.
Bukan sunyi yang nyaman, sunyi yang diisi oleh suara jangkrik dan angin malam yang berembus pelan. Bukan. Ini adalah sunyi yang mencekik, sunyi yang membuat Ilham merasa seperti berada di dalam ruangan hampa tanpa udara. Setiap sudut rumah yang biasanya hangat dan akrab, kini terasa asing dan dingin.
Ilham masih duduk di kursi bambu di ruang tamu, posisi yang sama sejak Angga keluar dari rumahnya dua jam lalu. Tubuhnya tidak bergerak, hanya matanya yang sesekali berkedip, menatap foto hitam-putih yang masih tergeletak di lantai. Foto itu sudah ia ambil dan letakkan di meja, tetapi bayangan Angga dan Andi duduk di kafe itu masih melekat di retina matanya.
Bagaimana mungkin?
Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya seperti rekaman rusak yang tidak bisa berhenti. Bagaimana mungkin Angga, sahabatnya sejak kecil, teman seperjuangannya dalam suka dan duka, orang yang selalu ada di sampingnya ketika dunia terasa berat, bagaimana mungkin ia tega mengkhianati desa mereka sendiri?
Ilham mencoba mengingat-ingat. Apakah ada tanda-tanda? Apakah ada perubahan perilaku Angga dalam beberapa bulan terakhir yang luput dari perhatiannya?
Ia mengingat kembali.
Tiga bulan lalu, Angga mulai sering pergi ke kota. Alasannya bermacam-macam: mengurus administrasi kendaraan, membeli perlengkapan desa, menemani ibunya berobat. Ilham tidak pernah curiga karena alasan-alasan itu masuk akal.
Dua bulan lalu, Angga mulai jarang mengikuti rapat malam. Ia bilang capek, atau ada urusan keluarga. Ilham memaklumi karena Angga memang sedang sibuk mengurus ayahnya yang sakit.
Satu bulan lalu, Angga mulai terlihat lebih sering memegang ponsel, sesekali tersenyum sendiri membaca pesan. Ilham mengira Angga sedang dekat dengan seseorang, mungkin ada gadis yang sedang ia dekati. Ia tidak pernah bertanya karena ia menghormati privasi sahabatnya.
Dan aku tidak pernah curiga. Aku terlalu percaya padanya.
Itulah yang paling menyakitkan. Bukan pengkhianatan itu sendiri, tetapi kenyataan bahwa Ilham, yang selalu bangga dengan kemampuannya membaca orang, tidak melihat apa pun. Ia buta. Ia membiarkan ular masuk ke dalam rumahnya sendiri, dan ia bahkan memberi ular itu minum.
Laila, ibunya, keluar dari kamar sekitar pukul 22.00. Ia terkejut melihat Ilham masih duduk di ruang tamu dengan wajah pucat dan mata merah.
"Nak, kamu belum tidur?" tanyanya sambil mendekat.
Ilham tidak menjawab. Ia hanya menatap ibunya dengan sorot kosong.
Laila duduk di samping Ilham. Tangannya yang keriput mengusap punggung tangan anaknya.
"Ada apa? Cerita sama Ibu."
Ilham menggigit bibir bawahnya. Ia ingin bercerita, tetapi kata-kata terasa berat di lidah. Bagaimana ia menjelaskan bahwa sahabatnya, anak yang sering makan di rumahnya, yang ia anggap seperti saudara sendiri, adalah pengkhianat?
"Bu," bisiknya akhirnya, "Angga... Angga ternyata bekerja sama dengan Lembah Selatan."
Laila terdiam. Matanya melebar, lalu menyipit.
"Maksudmu? Angga? Anaknya Bu Ratna?"
Ilham mengangguk pelan.
"Dia memberi informasi tentang Suralaya ke PT NDM. Sudah berbulan-bulan. Aku baru tahu malam ini."
Laila menghela napas panjang. Sebagai ibu yang bijaksana, ia tahu bahwa anaknya sedang berada di titik terendah dalam hidupnya. Bukan karena gagal atau kalah, tetapi karena dikhianati oleh orang terdekat.
"Kamu sudah bicara sama dia?"
"Iya. Dia mengaku. Katanya dia terpaksa karena keluarganya butuh uang. Ayahnya sakit, ibunya tidak punya pekerjaan, adiknya masih sekolah."
"Lalu?"
"Lalu aku suruh dia pergi. Aku tidak bisa melihat wajahnya."
Laila mengangguk pelan. "Keputusan yang berat, Nak. Tapi Ibu yakin kamu punya alasan."
"Aku marah, Bu. Sangat marah. Tapi di dalam hati, aku juga sedih. Angga bukan orang jahat. Dia hanya... tersesat."
"Orang yang tersesat masih bisa ditemukan jalannya, Nak. Tapi dia harus mau kembali."
Ilham menatap ibunya. "Apa Ibu pikir aku harus memaafkannya?"
Laila tersenyum tipis. "Memaafkan tidak berarti melupakan, Nak. Memaafkan berarti memberi kesempatan pada seseorang untuk memperbaiki kesalahannya. Tapi itu keputusanmu, bukan keputusan Ibu."
Ilham terdiam. Pikirannya berkecamuk.
Pukul 06.00 pagi berikutnya, Ilham sudah berada di kantor desa. Ia tidak tidur semalaman. Matanya sembab, wajahnya pucat, dan langkahnya sempoyongan seperti orang yang baru sembuh dari sakit parah.
Kades Raditya baru saja tiba ketika Ilham masuk ke ruangannya.
"Nak Ilham? Kamu sudah di sini? Baru jam enam."
"Maaf, Pak. Saya tidak bisa tidur. Ada hal penting yang harus saya laporkan."
Kades Raditya mengamati wajah Ilham. Ada yang berbeda. Ada luka di sana, luka yang tidak terlihat tetapi terasa.
"Silakan duduk. Ceritakan."
Ilham duduk di kursi depan meja Kades Raditya. Ia mengeluarkan amplop cokelat dari tasnya, amplop yang sama yang ia terima dari kurir kemarin.
"Pak, semalam saya menerima surat dari Herman. Isinya... mengejutkan."
Ia mengeluarkan dokumen-dokumen itu satu per satu. Surat Herman, daftar lengkap "mitra" PT NDM, dan foto Angga bersama Andi.
Kades Raditya membaca semuanya dengan saksama. Wajahnya berubah dari serius menjadi terkejut, lalu menjadi marah, lalu kembali serius.
"Angga?" suaranya nyaris tidak percaya. "Anak Angga? Temanmu?"
Ilham mengangguk pelan. "Saya sudah konfirmasi langsung semalam. Dia mengaku."
Kades Raditya meletakkan kertas-kertas itu di atas meja. Tangannya gemetar, bukan karena takut, tetapi karena marah.
"Anak muda ini... apa yang dia pikirkan? Mengkhianati desa sendiri demi uang?"
"Dia bilang dia terpaksa, Pak. Ayahnya sakit, ibunya tidak punya pekerjaan, adiknya masih sekolah. Dia butuh uang."
"Setiap orang punya masalah, Ilham. Tapi tidak semua orang menyelesaikan masalah dengan mengkhianati orang lain."
"Iya, Pak. Saya setuju. Tapi..."
"Tapi apa?"
Ilham menghela napas. "Tapi saya kenal Angga sejak kecil. Dia bukan orang jahat. Dia hanya... tersesat. Mungkin kita bisa memberinya kesempatan untuk memperbaiki kesalahan."
Kades Raditya menatap Ilham lama. "Kamu terlalu baik, Nak. Terkadang kebaikanmu bisa dimanfaatkan orang lain."
"Saya tidak baik, Pak. Saya hanya... tidak ingin kehilangan sahabat."
Kades Raditya menghela napas panjang. "Baik. Kita panggil Angga. Kita dengar penjelasannya secara resmi. Tapi ingat, Ilham, apapun keputusan kita nanti, konsekuensi tetap harus dijalani."
"Iya, Pak. Saya mengerti."
Angga datang ke kantor desa sekitar pukul 08.00.
Ia dipanggil melalui pesan singkat oleh Kades Raditya. Tidak disebutkan alasannya, tetapi Angga sudah tahu. Wajahnya pucat, matanya sembab, dan rambutnya berantakan, tanda bahwa ia juga tidak tidur semalaman.
Ketika masuk ke ruang Kades Raditya, ia melihat Ilham duduk di kursi samping, tidak menatapnya. Ia melihat Kades Raditya duduk di balik meja dengan wajah serius. Ia melihat Nisa dan Rendi juga ada di ruangan itu, duduk di kursi di sudut, wajah mereka campuran antara terkejut dan kecewa.
"Silakan duduk, Angga," kata Kades Raditya.
Angga duduk di kursi yang disediakan, tepat di hadapan Kades Raditya. Jaraknya hanya satu meter, tetapi terasa seperti jurang yang tak terlewati.
"Angga, aku panggil kamu ke sini karena ada hal serius yang perlu kita bicarakan," kata Kades Raditya. "Kami punya bukti bahwa kamu terlibat dalam jaringan Lembah Selatan sebagai mitra PT NDM. Apa kamu mau menjelaskan?"
Angga menunduk. Bahunya bergetar. Air mata mulai menetes di pangkuannya.
"Iya, Pak," bisiknya. "Itu benar."
Ruangan menjadi hening. Nisa menutup mulutnya dengan tangan. Rendi menggeleng-gelengkan kepala.
"Ceritakan semuanya," kata Kades Raditya. "Jangan ada yang disembunyikan."
Angga mengangkat kepalanya. Wajahnya basah oleh air mata.
"Semuanya dimulai sekitar lima bulan lalu, Pak. Waktu itu, saya dihubungi oleh seseorang bernama Andi. Dia bilang dia dari PT NDM. Dia menawari saya kerja sama."
"Kerja sama seperti apa?"
"Dia minta saya memberikan informasi tentang Suralaya. Data penduduk, potensi desa, rencana pengembangan, dan... dan tentang orang-orang yang berpengaruh di sini."
"Termasuk Ilham?"
Angga mengangguk pelan. "Termasuk Mas Ilham."
Kades Raditya menghela napas. "Berapa banyak informasi yang sudah kamu berikan?"
"Banyak, Pak. Hampir semua yang mereka minta."
"Dan sebagai imbalannya?"
"Uang. Setiap bulan saya mendapat transfer ke rekening. Jumlahnya... cukup besar. Cukup untuk biaya berobat ayah, biaya sekolah adik, dan kebutuhan sehari-hari."
Rendi yang dari tadi diam, akhirnya bersuara. "Mas Angga, kenapa tidak bilang sama kami? Kalau Mas Angga butuh uang, kami bisa bantu. Kita kan teman."
Angga tersenyum pahit. "Aku malu, Ren. Aku tidak mau merepotkan kalian. Aku pikir aku bisa mengatasi semuanya sendiri."
"Tapi lihatlah sekarang," kata Nisa dengan suara lirih. "Kamu malah terjerumus lebih dalam."
"Iya. Aku salah. Aku tahu."
Kades Raditya berdiri dan berjalan ke jendela. Ia memandang halaman kantor yang mulai ramai oleh warga yang datang mengurus administrasi.
"Angga, apa yang kamu lakukan adalah pelanggaran serius. Kamu telah mengkhianati kepercayaan desa. Kamu telah membahayakan masa depan Suralaya."
Angga menunduk semakin dalam.
"Tapi," lanjut Kades Raditya, "karena kamu mengakui kesalahanmu dan bersedia membantu kami, hukumanmu akan diringankan. Kamu akan dicopot dari semua jabatan di desa. Kamu tidak boleh terlibat dalam kegiatan digitalisasi desa untuk sementara waktu. Dan kamu harus mengembalikan semua uang yang sudah kamu terima dari PT NDM."
Angga mengangkat kepalanya. "Saya rela, Pak. Saya akan mengembalikan semuanya."
"Ada satu syarat lagi," kata Kades Raditya.
"Apa, Pak?"
"Kamu harus menjadi mata-mata kami."
Ilham, Nisa, dan Rendi menoleh ke arah Kades Raditya dengan terkejut.
"Maksud Bapak?" tanya Ilham.
Kades Raditya berbalik. "Angga sudah punya hubungan dengan PT NDM. Mereka percaya padanya. Kita bisa memanfaatkan itu untuk mendapatkan informasi tentang rencana-rencana mereka."
Angga terdiam. "Bapak ingin saya... memata-matai mereka?"
"Bukan memata-matai. Menjadi sumber informasi. Kamu tetap berkomunikasi dengan mereka seperti biasa. Tapi setiap informasi yang kamu dapatkan, kamu laporkan ke kami."
"Tapi bagaimana kalau mereka tahu?"
"Kita akan hati-hati. Kamu hanya memberi mereka informasi yang tidak berbahaya. Informasi umum yang sudah mereka ketahui. Sementara itu, kita akan mengamati gerak-gerik mereka."
Angga menatap Ilham. Ilham mengangguk pelan.
"Baik, Pak," kata Angga. "Saya akan lakukan."
Setelah pertemuan itu, Ilham dan Angga berjalan keluar dari kantor desa bersama. Mereka tidak berbicara. Hanya berjalan berdampingan di sepanjang jalan desa yang mulai ramai.
Mereka berhenti di bawah pohon beringin tua di pinggir jalan, tempat yang dulu sering menjadi tempat mereka berteduh setelah bermain bola seharian.
"Maaf, Ham," bisik Angga. "Aku benar-benar minta maaf."
Ilham tidak menjawab. Ia hanya menatap ke depan, ke arah sawah yang menguning.
"Aku tahu maaf tidak cukup. Tapi aku akan berusaha memperbaiki semuanya."
Ilham menghela napas. "Kau tahu, Ang, yang paling menyakitkan bukan karena kau mengkhianati desa. Tapi karena kau tidak percaya padaku."
Angga menunduk.
"Kau pikir aku akan menolak membantu? Kau pikir aku akan membiarkan keluargamu menderita? Kau kenal aku sejak kecil, Ang. Apakah aku pernah menolak membantu teman?"
"Tidak pernah."
"Lalu kenapa kau tidak bilang?"
Angga mengusap matanya yang basah. "Karena aku takut, Ham. Aku takut kau akan melihatku lemah. Aku takut kau akan kecewa padaku."
"Akhirnya aku tetap kecewa, Ang. Bahkan lebih kecewa karena kau menyembunyikan semuanya."
"Aku tahu. Aku bodoh."
Ilham menoleh. Matanya menatap Angga dengan sorot yang sulit diartikan, ada marah, ada sedih, ada kecewa, tetapi juga ada sedikit kerinduan akan sahabat lamanya yang dulu.
"Kita masih bisa memperbaiki ini," kata Ilham. "Tapi butuh waktu. Dan butuh kepercayaan. Kau harus membangun kepercayaan itu dari awal."
Angga mengangguk. "Aku akan lakukan apa pun."
"Baik. Mulai sekarang, kita bekerja sama. Tapi jangan harap semuanya akan kembali seperti dulu. Luka ini butuh waktu untuk sembuh."
"Aku mengerti."
Mereka berdua berdiri di bawah pohon beringin itu, dua sahabat yang retak hubungannya, tetapi masih berusaha untuk tetap berdiri bersama. Seperti pohon beringin yang akarnya menjalar ke mana-mana, hubungan mereka mungkin tidak akan pernah lagi sesederhana dulu, tetapi akar yang sudah tertanam terlalu dalam untuk sekadar dicabut.
Siang itu, Ilham mengadakan pertemuan darurat di balai desa.
Hadir dalam pertemuan itu: Kades Raditya, Kirno, Sugi, Santo (tokoh-tokoh masyarakat), Nisa, Rendi, Aulia (tim digitalisasi), dan beberapa perangkat desa terpercaya. Juga hadir Herman yang datang dari Awan Biru, dan tentu saja Angga yang duduk di sudut ruangan dengan wajah malu-malu.
Ilham berdiri di depan ruangan. Ia memandang satu per satu wajah yang hadir, wajah-wajah yang selama ini menjadi teman seperjuangannya.
"Bapak/Ibu sekalian," mulainya. "Saya kumpulkan Bapak/Ibu di sini untuk membahas situasi yang sangat serius. Desa kita sedang dalam ancaman."
Ia menjelaskan semuanya. Dari awal perjalanan ke Lembah Selatan, temuan-temuan tentang PT NDM, kontrak-kontrak yang mengikat, daftar "mitra" yang menjadi mata-mata, hingga pengakuan Haris dan Angga.
Ruangan menjadi hening. Beberapa orang terlihat terkejut, beberapa marah, beberapa takut.
"Saya tidak akan menyebutkan nama-nama di sini," lanjut Ilham. "Yang terlibat sudah kami tangani secara internal. Yang penting sekarang adalah bagaimana kita melindungi desa dari ancaman yang lebih besar."
Kirno mengangkat tangan. "Mas Ilham, apa yang bisa kami lakukan?"
Ilham menghela napas. "Pertama, kita harus memperkuat sistem keamanan data kita. Jangan sampai ada informasi desa yang bocor ke pihak luar tanpa izin. Kedua, kita harus membangun koalisi dengan desa-desa lain yang juga menolak PT NDM. Ketiga, kita harus membantu desa-desa yang sudah terjebak untuk keluar dari kontrak mereka."
"Itu tidak mudah," kata Santo. "Desa-desa yang sudah terikat kontrak pasti akan kesulitan keluar."
"Iya, tidak mudah. Tapi kita harus coba. Kita sudah menghubungi LBH di kota. Mereka bersedia membantu secara pro bono."
Sugi mengangguk. "Baik. Apa pun yang bisa kami bantu, kami siap."
Kades Raditya berdiri. "Saya sebagai kepala desa akan bertanggung jawab penuh atas langkah-langkah yang kita ambil. Saya minta dukungan dari Bapak/Ibu sekalian."
Ruangan bergemuruh dengan ucapan setuju.
Pertemuan selesai sekitar pukul 16.00. Warga mulai berhamburan keluar, meninggalkan ruangan yang kini terasa lebih lapang.
Herman mendekati Ilham.
"Kau hebat, Ilham. Kamu bisa mengendalikan situasi dengan baik."
Ilham tersenyum tipis. "Aku tidak hebat. Aku hanya melakukan apa yang harus dilakukan."
"Tentang Angga..." Herman ragu sejenak. "Aku tahu dia sahabatmu. Maaf jika informasiku menyakitkan."
"Tidak perlu minta maaf. Itu yang benar. Aku lebih baik tahu kebenaran daripada hidup dalam kebohongan."
Herman menepuk bahu Ilham. "Kau kuat, Ilham. Lebih kuat dari yang kau kira."
"Atau mungkin aku hanya pandai menyembunyikan kelemahanku."
Herman tersenyum. "Itu juga bentuk kekuatan."
Mereka berjalan keluar bersama. Di halaman kantor desa, matahari sore mulai condong ke barat, menyinari Suralaya dengan cahaya keemasan.
"Besok aku akan kembali ke Awan Biru," kata Herman. "Aku akan laporkan semua ini ke Pak Iwan dan tim. Kita akan mulai membangun koalisi."
"Baik. Aku akan menunggu kabar darimu."
"Hati-hati, Ilham. Jangan percaya pada siapa pun sebelum kau punya bukti."
"Kau juga."
Mereka berjabat tangan, lalu Herman pergi dengan motornya, meninggalkan Ilham yang berdiri di halaman kantor desa sendirian.
Malam itu, Ilham duduk di teras rumahnya. Langit cerah, bintang-bintang bertaburan. Angin malam berembus sejuk, membawa aroma bunga melati dari halaman depan.
Ia membuka ponselnya. Ada pesan dari Angga yang masuk sepuluh menit lalu.
"Ham, aku tahu kau mungkin masih marah. Tapi aku ingin kau tahu bahwa aku akan berusaha sekuat tenaga untuk memperbaiki semuanya. Aku tidak akan mengecewakanmu lagi. Maaf."
Ilham membaca pesan itu berulang kali. Jarinya menggantung di atas keyboard, ragu hendak membalas atau tidak.
Akhirnya, ia mengetik balasan singkat:
"Besok kita mulai bekerja. Jangan datang terlambat."
Beberapa detik kemudian, Angga membalas dengan stiker animasi yang mengacungkan jempol. Stiker yang dulu sering mereka gunakan ketika masih akrab.
Ilham tersenyum kecil. Senyum pertama setelah dua hari yang melelahkan.
Ia mematikan ponsel dan menatap langit malam. Di kejauhan, dua bintang bersinar sangat terang, berdekatan tetapi tidak menyentuh. Seperti dua sahabat yang retak, tetapi masih berusaha tetap berada di langit yang sama.
BAB 9 — Ketika Kepercayaan Diuji
Pagi itu, Suralaya bangun dengan langit yang cerah tanpa secuil awan pun. Matahari terbit dari balik bukit timur, menyinari lembah dengan cahaya keemasan yang hangat dan menenangkan. Burung-burung berkicau riang di pepohonan, seolah ikut menyambut hari baru yang penuh harapan.
Namun di balik keindahan alam itu, suasana di kantor desa Suralaya terasa berbeda. Ada ketegangan yang tidak kasat mata tetapi terasa oleh setiap orang yang masuk ke dalamnya. Para perangkat desa yang biasanya bercanda dan tertawa di pagi hari, kini lebih banyak diam. Mereka berbicara dengan suara pelan, seperti takut ada yang mendengar.
Muhammad Ilham tiba di kantor desa pukul 07.30, lebih awal dari biasanya. Ia sudah mandi dan berpakaian rapi, kemeja batik lengan panjang warna biru muda, celana kain hitam, dan sepatu kulit yang jarang ia pakai. Rambutnya disisir rapi, tidak berantakan seperti biasanya. Wajahnya masih pucat dan matanya masih sembab, tetapi ia berusaha tersenyum pada setiap orang yang ditemuinya.
"Selamat pagi, Mas Ilham," sapa Nisa yang sudah duduk di mejanya sejak pukul tujuh. Wajah perempuan itu tampak lelah, seperti orang yang tidak tidur nyenyak.
"Selamat pagi, Nis. Kamu sudah sarapan?"
"Belum. Masih belum nafsu makan."
Ilham menghela napas. "Kamu harus makan. Hari ini kita akan banyak bekerja."
"Iya, Mas. Nanti saya beli bubur."
Ilham berjalan ke ruang Kades Raditya. Pintu ruangan itu sudah terbuka, tanda bahwa kepala desa sudah datang lebih awal. Biasanya Kades Raditya baru datang sekitar pukul delapan atau setengah sembilan. Pagi ini, ia sudah ada di ruangannya sejak pukul tujuh.
"Selamat pagi, Pak," sapa Ilham sambil masuk.
Kades Raditya sedang duduk di kursinya, memegang secangkir kopi hitam yang sudah tidak mengepul lagi, tanda bahwa ia sudah duduk di sana cukup lama. Wajahnya tenang, tetapi matanya menyimpan kegelisahan yang tidak bisa ia sembunyikan.
"Selamat pagi, Nak. Silakan duduk."
Ilham duduk di kursi depan meja. Ia mengamati wajah Kades Raditya. Lelaki tua itu tampak lebih tua dari biasanya. Kerutan di dahinya semakin dalam, dan uban di pelipisnya semakin banyak.
"Pak, bagaimana perasaan Bapak pagi ini?" tanya Ilham hati-hati.
Kades Raditya tersenyum tipis. "Seperti biasa. Tua, lelah, tapi masih bersemangat."
"Bukan itu maksud saya."
"Bapak tahu. Kamu bertanya tentang situasi desa, tentang Angga, tentang Haris, tentang ancaman dari Lembah Selatan." Kades Raditya menyesap kopinya yang sudah dingin. "Jujur, Nak, saya tidak tahu harus merasa apa. Marah? Kecewa? Takut? Semuanya bercampur menjadi satu."
"Itu wajar, Pak."
"Tapi sebagai kepala desa, saya tidak bisa terbawa perasaan. Saya harus tegas. Saya harus melindungi desa ini."
Ilham mengangguk. "Itulah mengapa saya kagum pada Bapak."
Kades Raditya tertawa kecil. "Jangan kagum dulu. Belum ada yang kita selesaikan."
Pukul 08.30, Angga datang ke kantor desa.
Ia datang dengan berjalan kaki, tidak mengendarai motor seperti biasanya. Wajahnya pucat, matanya sayu, dan langkahnya sempoyongan. Rambutnya yang biasa diikat kuncir kini terurai kusut, menutupi setengah wajahnya. Ia mengenakan kemeja lusuh dan celana jeans yang sudah pudar warnanya.
Beberapa perangkat desa yang melihatnya menunduk, tidak berani menatap matanya. Mereka sudah tahu. Kabar tentang pengkhianatan Angga sudah menyebar seperti api di padang rumput kering. Tidak ada yang tahu persis dari mana kabar itu berasal, tetapi dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam, semua orang di kantor desa sudah mendengarnya.
Angga berjalan menuju ruang Kades Raditya. Setiap langkahnya terasa berat, seperti kakinya terbenam di lumpur. Ia bisa merasakan tatapan tajam dari orang-orang yang ia lewati, ada yang penuh amarah, ada yang penuh iba, ada yang penuh rasa ingin tahu.
Ia mengetuk pintu ruangan.
"Masuk," suara Kades Raditya dari dalam.
Angga masuk. Di dalam ruangan, sudah ada Ilham dan Kades Raditya. Juga Nisa dan Rendi yang dipanggil khusus untuk membantu administrasi.
"Silakan duduk, Angga," kata Kades Raditya.
Angga duduk di kursi yang disediakan, tepat di hadapan Kades Raditya. Ia tidak berani menatap siapa pun. Matanya hanya tertuju pada lantai keramik putih yang mengkilap.
"Angga, kita panggil kamu ke sini untuk membahas langkah-langkah selanjutnya," kata Kades Raditya. "Kemarin kamu sudah mengakui kesalahanmu dan bersedia membantu. Hari ini kita akan mulai bekerja."
Angga mengangkat kepalanya. Matanya merah, tapi tidak ada air mata.
"Siap, Pak. Saya akan lakukan apa pun yang Bapak perintahkan."
"Baik. Pertama, kita perlu informasi tentang rencana PT NDM ke depan. Kapan mereka akan datang ke Suralaya? Siapa yang akan datang? Apa yang akan mereka tawarkan?"
Angga menghela napas. "Pak Rahman dan timnya rencananya akan datang bulan depan, tanggal 10. Mereka akan mengadakan pertemuan dengan Bapak dan perangkat desa untuk mempresentasikan proposal kerja sama."
"Apakah kamu tahu isi proposal itu?"
"Saya sudah melihat draft-nya. Isinya sama dengan kontrak di Lembah Selatan. Bantuan dana untuk digitalisasi, pelatihan SDM, pengembangan wisata, dan akses pasar. Tapi sebagai imbalannya, PT NDM akan mendapatkan hak kelola data desa selama dua puluh lima tahun."
Rendi bersiul kecil. "Dua puluh lima tahun. Itu hampir seperempat abad."
"Iya. Dalam jangka waktu itu, desa tidak bisa bekerja sama dengan pihak lain untuk pengembangan digital. Semua harus melalui PT NDM."
Nisa mencoret-coret sesuatu di buku catatannya. "Ini jelas merugikan. Kenapa mereka berani menawarkan kontrak seperti itu?"
"Karena mereka tahu banyak desa yang putus asa," jawab Angga. "Desa-desa yang tidak punya akses ke teknologi, tidak punya dana untuk berkembang, tidak punya koneksi ke pasar. Mereka datang dengan tawaran yang terlalu menggiurkan untuk ditolak."
Kades Raditya menghela napas. "Dan mereka menggunakan kelicikan untuk memastikan desa-desa itu terikat."
"Iya, Pak."
Setelah diskusi panjang, mereka menyusun rencana.
Pertama, Angga akan tetap berkomunikasi dengan Andi dan Rahman seolah tidak terjadi apa-apa. Ia akan memberi mereka informasi yang sudah disetujui, informasi umum yang tidak membahayakan Suralaya, untuk menjaga kepercayaan mereka.
Kedua, tim digitalisasi Suralaya yang dipimpin Nisa dan Rendi akan mengaudit seluruh sistem keamanan data. Mereka akan memastikan tidak ada celah yang bisa dimanfaatkan PT NDM untuk mengakses informasi desa secara ilegal.
Ketiga, Ilham akan menghubungi desa-desa tetangga untuk membangun koalisi penolakan terhadap PT NDM. Ia akan berbagi informasi tentang bahaya kontrak eksklusif dan bagaimana cara melindungi desa dari praktik-praktik semacam itu.
Keempat, Kades Raditya akan menghubungi LBH di kota untuk mempersiapkan bantuan hukum jika diperlukan. Ia juga akan melaporkan praktik PT NDM ke pemerintah kabupaten dan provinsi.
"Semua ini harus dilakukan dengan hati-hati," tegas Kades Raditya. "Kita tidak tahu sejauh mana jaringan mereka. Bisa saja mereka punya orang-orang di pemerintahan yang bisa mempersulit kita."
Ilham mengangguk. "Saya setuju, Pak. Kita harus bergerak dari bawah, membangun kekuatan dari desa-desa. Jangan sampai mereka bisa mengisolasi kita."
"Baik. Kita mulai hari ini juga."
Pukul 10.00, Ilham meninggalkan kantor desa untuk menemui Kirno di rumahnya.
Kirno adalah salah satu tokoh masyarakat yang paling dihormati di Suralaya. Ia bukan orang kaya atau berpendidikan tinggi. Ia hanya petani biasa yang hidup sederhana. Tapi ia memiliki kearifan lokal yang tidak dimiliki banyak orang. Ia tahu cara membaca situasi, cara mendekati orang, cara menyelesaikan masalah tanpa kekerasan.
Rumah Kirno terletak di pinggir desa, dekat dengan sawah yang ia garap sendiri. Rumah itu sederhana, terbuat dari kayu dengan atap seng, berukuran tidak terlalu besar tetapi cukup untuk ia dan istrinya yang sudah tua. Halamannya ditumbuhi rumput dan beberapa pohon pisang.
Ilham mengetuk pintu kayu yang sudah usang.
"Pak Kirno!"
Beberapa saat kemudian, pintu terbuka. Kirno berdiri di ambang pintu dengan kaus oblong lusuh dan sarung kotak-kotak. Wajahnya keriput, matanya cekung, tetapi senyumnya masih hangat seperti dulu.
"Mas Ilham? Masuk, masuk. Ibu sedang masak sayur asem. Kita makan siang bareng."
Ilham tersenyum. "Terima kasih, Pak. Tapi maaf, saya tidak bisa lama. Ada hal penting yang ingin saya bicarakan."
Kirno mengangguk. "Silakan duduk di teras. Ibu akan bawakan kopi."
Mereka duduk di teras rumah. Kursi kayu yang reyot berderit ketika diduduki. Di depan mereka, hamparan sawah menguning terbentang luas, dengan gunung-gunung di kejauhan sebagai latar belakang.
"Ada apa, Mas?" tanya Kirno.
Ilham menghela napas. "Pak, desa kita dalam bahaya."
Ia menceritakan semuanya. Tentang Lembah Selatan, PT NDM, kontrak-kontrak yang mengikat, mata-mata di dalam desa, dan rencana mereka untuk menguasai Suralaya.
Kirno mendengarkan dengan saksama. Wajahnya berubah dari tenang menjadi serius, lalu menjadi marah, lalu kembali tenang.
"Jadi Angga dan Haris terlibat?" tanyanya.
"Iya, Pak. Tapi mereka sudah mengakui kesalahan dan bersedia membantu."
Kirno menghela napas panjang. "Anak-anak muda... kadang mereka lupa bahwa desa ini adalah rumah mereka. Bukan hanya tempat tinggal, tapi rumah. Tempat di mana mereka dilahirkan, dibesarkan, dan kelak akan dimakamkan."
"Iya, Pak. Itulah mengapa saya datang ke sini. Saya butuh bantuan Bapak."
"Apa yang bisa saya bantu?"
"Bapak punya banyak koneksi dengan desa-desa tetangga. Bapak juga dihormati oleh tokoh-tokoh masyarakat di sana. Saya ingin Bapak membantu saya membangun koalisi desa-desa yang menolak PT NDM."
Kirno terdiam sejenak. Matanya menatap sawah di depannya, tempat ia menghabiskan hampir seluruh hidupnya.
"Baik," katanya akhirnya. "Aku akan bantu. Tapi kita harus pintar. Jangan sampai mereka tahu lebih dulu. Kita bergerak diam-diam, seperti akar di bawah tanah."
Ilham mengangguk. "Itulah yang saya pikirkan."
"Malam ini aku akan kumpulkan beberapa tokoh dari desa tetangga. Kita bisa bertemu di rumahku, atau di tempat yang lebih aman."
"Di rumah Bapak saja. Tempat yang tidak mencolok."
"Baik. Jam delapan malam. Aku tunggu."
Pukul 14.00, Ilham kembali ke kantor desa.
Di ruang digitalisasi, Nisa dan Rendi sedang sibuk memeriksa sistem keamanan data. Layar komputer mereka menampilkan baris-baris kode yang tidak bisa dipahami oleh orang awam. Jari-jari Nisa menari-nari di atas keyboard, sementara Rendi mencatat sesuatu di buku.
"Bagaimana, Nis?" tanya Ilham.
Nisa mengangkat kepalanya. Wajahnya tegang. "Ada yang aneh, Mas."
"Aneh bagaimana?"
"Beberapa hari sebelum kita berangkat ke Lembah Selatan, ada aktivitas mencurigakan di server kita. Seseorang mengakses file-file data penduduk dari luar jaringan."
Ilham merasakan jantungnya berdegup lebih cepat. "Siapa?"
"Aku tidak tahu persis. Tapi IP address-nya mengarah ke kota. Kemungkinan besar itu Andi atau tim PT NDM."
"Apakah mereka berhasil mengambil data?"
Nisa menghela napas. "Sebagian. Tapi tidak semuanya. Sistem kita cukup aman. Mereka hanya bisa mengakses file-file yang tidak terlalu penting."
"File apa saja?"
"Data jumlah penduduk, sebaran usia, tingkat pendidikan, mata pencaharian. Data umum yang sebenarnya bisa mereka cari sendiri di internet."
Rendi menambahkan, "Tapi yang mengkhawatirkan, Mas, mereka mencoba meretas sistem keamanan kita. Mereka gagal, tapi itu pertanda bahwa mereka serius."
Ilham mengusap wajahnya. "Kita harus memperkuat sistem. Jangan sampai mereka berhasil lain kali."
"Sudah, Mas," kata Nisa. "Aku sudah mengganti semua password dan menambahkan lapisan keamanan baru. Semoga cukup."
"Semoga?"
Nisa tersenyum tipis. "Dalam dunia digital, tidak ada yang benar-benar aman, Mas. Tapi setidaknya kita sudah melakukan yang terbaik."
Ilham mengangguk. "Terima kasih, Nis. Terima kasih, Ren. Kalian hebat."
Rendi tertawa kecil. "Jangan dipuji, Mas. Nanti kami minta naik gaji."
"Naik gaji? Gaji kalian saja belum pernah saya bayar."
"Nggak apa-apa, Mas. Kerja untuk desa itu ibadah."
Ilham tersenyum. Di tengah situasi yang berat seperti ini, candaan Rendi terasa seperti oksigen di ruangan yang pengap.
Pukul 19.00, Ilham sudah bersiap untuk pergi ke rumah Kirno.
Ia memakai pakaian yang tidak mencolok, kaos hitam dan celana jeans gelap. Ia juga membawa senter kecil dan ponsel yang sudah diisi penuh. Angga akan menjemputnya dalam beberapa menit lagi.
Laila, ibunya, keluar dari dapur sambil membawa bungkusan plastik.
"Nak, ini bekal. Jangan lupa makan. Ibu tahu kamu sering lupa makan kalau sedang sibuk."
Ilham menerima bungkusan itu. "Terima kasih, Bu."
"Ibu tidak tahu apa yang sedang kamu kerjakan. Tapi Ibu yakin itu untuk kebaikan desa. Hati-hati di jalan."
"Iya, Bu. Doakan kami."
"Ibu selalu berdoa untukmu, Nak. Setiap saat."
Ilham memeluk ibunya sebentar. Laila kecil dan kurus, kepalanya hanya sebatas dada Ilham. Ia mencium rambut ibunya yang sudah banyak beruban, menikmati kehangatan yang hanya bisa diberikan oleh seorang ibu.
Suara klakson motor terdengar dari depan rumah. Angga sudah datang.
Ilham melepaskan pelukannya. "Saya pergi, Bu."
"Hati-hati."
Angga mengendarai motor bututnya dengan kecepatan sedang. Ilham duduk di belakang, membawa tas ransel kecil berisi bekal dan catatan-catatan penting.
Sepanjang perjalanan, mereka tidak berbicara. Hubungan mereka masih canggung setelah pengkhianatan itu. Ilham belum sepenuhnya bisa mempercayai Angga lagi, meskipun ia sudah memaafkannya. Memaafkan itu mudah; melupakan itu sulit. Mempercayai kembali itu lebih sulit lagi.
Mereka tiba di rumah Kirno pukul 19.45. Di halaman rumah, sudah terlihat beberapa sepeda motor dan mobil tua terparkir. Tamu-tamu sudah mulai berdatangan.
Ilham dan Angga masuk ke dalam rumah. Ruang tamu Kirno yang sederhana sudah dipenuhi oleh sekitar dua puluh orang. Ada tokoh-tokoh masyarakat dari Suralaya, ada juga dari desa-desa tetangga: Cikalong, Karangmulya, Cipatat, dan Cibitung.
Kirno berdiri di depan ruangan, menyambut satu per satu tamunya. Wajahnya berseri-seri, meskipun matanya tetap waspada.
"Mas Ilham, Mas Angga, silakan masuk. Kita tunggu beberapa orang lagi."
Ilham duduk di kursi yang disediakan. Ia mengamati wajah-wajah yang hadir. Beberapa ia kenal, beberapa tidak. Sebagian besar adalah orang-orang tua, berpengalaman, dan dihormati di desa masing-masing. Tapi ada juga beberapa anak muda, mungkin perwakilan dari organisasi pemuda atau tim digitalisasi desa mereka.
Pukul 20.00, semua tamu sudah hadir. Kirno menutup pintu dan memulai pertemuan.
"Bapak/Ibu sekalian, terima kasih sudah datang di malam hari. Saya tahu perjalanan dari desa Bapak/Ibu tidak dekat. Tapi ini penting. Desak-desa kita sedang dalam ancaman."
Ruangan hening. Semua mata tertuju pada Kirno.
Kirno menunjuk ke arah Ilham. "Mas Ilham, silakan."
Ilham berdiri. Ia berjalan ke depan ruangan, berdiri di samping Kirno. Matanya menatap satu per satu wajah yang hadir.
"Bapak/Ibu, saya Muhammad Ilham dari Suralaya. Beberapa dari Bapak/Ibu mungkin sudah mengenal saya, beberapa mungkin belum. Tapi yang jelas, saya di sini bukan untuk menggurui. Saya di sini untuk berbagi informasi."
Ia mulai bercerita. Tentang perjalanannya ke Lembah Selatan, tentang temuan-temuannya, tentang PT NDM, tentang kontrak-kontrak yang mengikat, tentang petani yang kehilangan kendali atas hasil panennya, tentang warga yang hidup dalam ketakutan.
Ia berbicara dengan tenang, tetapi kata-katanya tajam. Ia tidak berteriak, tidak memukul meja, tidak menggunakan retorika yang berlebihan. Ia hanya bercerita seperti seorang teman yang sedang berbagi pengalaman.
Ketika ia selesai, ruangan hening beberapa saat. Kemudian seorang lelaki paruh baya dari Desa Cikalong berdiri.
"Saya Pak Sartono dari Cikalong. Mas Ilham, apa yang Bapak katakan itu sangat mengkhawatirkan. Tapi bagaimana kami tahu bahwa ini benar? Mungkin saja Bapak salah informasi. Mungkin saja PT NDM adalah perusahaan yang baik."
Ilham mengangguk. "Pertanyaan yang bagus, Pak Sartono. Saya punya bukti."
Ia mengeluarkan dokumen-dokumen dari tas ranselnya, foto kopi kontrak Lembah Selatan, daftar nama "mitra" PT NDM, dan foto-foto pertemuan rahasia.
"Ini adalah kontrak antara PT NDM dengan Desa Lembah Selatan. Silakan Bapak baca sendiri. Di sini tertulis dengan jelas bahwa hak kelola data desa sepenuhnya berada di tangan PT NDM selama dua puluh lima tahun. Desa tidak bisa bekerja sama dengan pihak lain. Jika melanggar, desa dikenakan denda miliaran rupiah."
Pak Sartono mengambil dokumen itu dan membacanya. Wajahnya berubah.
"Ini... ini gila."
"Iya, Pak. Itulah mengapa kami harus bersatu. Jangan sampai desa-desa kita jatuh ke tangan mereka."
Seorang perempuan muda dari Desa Karangmulya berdiri. "Mas Ilham, apa yang bisa kami lakukan?"
Ilham menghela napas. "Pertama, jangan pernah menandatangani kontrak apa pun dengan PT NDM sebelum berkonsultasi dengan kami atau dengan LBH. Kedua, perkuat sistem keamanan data desa. Jangan biarkan informasi desa bocor ke pihak luar. Ketiga, sebarkan informasi ini ke desa-desa lain. Semakin banyak yang tahu, semakin sulit bagi PT NDM untuk beraksi."
"Bagaimana dengan desa-desa yang sudah terlanjur menandatangani kontrak?" tanya Pak Sartono.
"Kita akan bantu mereka keluar. LBH di kota sudah siap membantu. Tapi butuh waktu dan keberanian."
Ruangan mulai ramai dengan diskusi. Beberapa orang berbicara dengan suara keras, beberapa berbisik-bisik, beberapa hanya diam mendengarkan.
Kirno berdiri lagi. "Bapak/Ibu, kita tidak perlu terburu-buru mengambil keputusan malam ini. Yang penting kita sudah tahu. Yang penting kita sudah diperingatkan. Pulanglah, bicarakan dengan keluarga dan masyarakat di desa masing-masing. Minggu depan kita kumpul lagi."
Pertemuan bubar sekitar pukul 22.00. Para tamu berhamburan keluar, menuju kendaraan mereka masing-masing. Beberapa menghampiri Ilham untuk berjabat tangan dan bertanya lebih lanjut.
Ilham menjawab semua pertanyaan dengan sabar, meskipun ia sudah sangat lelah.
Pukul 22.30, Ilham dan Angga meninggalkan rumah Kirno.
Mereka berboncengan motor dalam diam. Jalan desa gelap, hanya diterangi oleh cahaya bintang dan sesekali lampu rumah warga yang masih menyala.
"Ham," panggil Angga tiba-tiba.
"Iya?"
"Aku bangga padamu."
Ilham terdiam.
"Kamu bisa mengubah kemarahan menjadi tindakan. Bukan banyak orang yang bisa melakukan itu."
Ilham menghela napas. "Aku tidak marah lagi, Ang. Aku hanya... lelah."
"Kita semua lelah. Tapi kita tidak berhenti."
"Tidak. Kita tidak berhenti."
Mereka melanjutkan perjalanan dalam diam, tetapi kali ini diamnya tidak lagi canggung. Ada kehangatan kecil yang mulai tumbuh kembali di antara mereka. Mungkin butuh waktu, mungkin butuh banyak air mata, tetapi persahabatan sejati tidak mati hanya karena satu kesalahan.
Pukul 23.00, Ilham tiba di rumah. Ia masuk dengan pelan, tidak ingin membangunkan ibunya yang sudah pasti tidur.
Ia melepas sepatu, meletakkan tas ransel di kursi, dan merebahkan diri di tempat tidur. Tubuhnya terasa sangat berat, seperti habis mendaki gunung seharian.
Sebelum memejamkan mata, ia membuka ponselnya. Ada pesan dari Herman.
"Ilham, besok aku akan ke Suralaya lagi. Aku bawa kabar baik. Kita bertemu jam 10 di kantor desa."
Ilham membalas: "Baik. Aku tunggu."
Ia mematikan ponsel dan memejamkan mata. Pikirannya masih berputar, tetapi kelelahan akhirnya memenangkan pertempuran.
Ia tertidur dengan senyum tipis di wajahnya. Senyum yang lahir dari harapan, bahwa besok akan ada kabar baik, bahwa perjuangan mereka tidak sia-sia, bahwa kepercayaan yang retak bisa diperbaiki.
BAB 10 — Jalan yang Dipilih
Pagi itu, Suralaya diselimuti kabut tipis yang turun dari punggung bukit, membasahi dedaunan dan rerumputan dengan embun yang berkilauan di bawah sinar matahari. Udara dingin menusuk pori-pori, tetapi tidak sedingin pagi-pagi sebelumnya di Lembah Selatan. Ada kehangatan yang tersisa di udara Suralaya, mungkin karena desa ini masih memegang erat tradisi dan kebersamaan, mungkin karena Ilham sudah kembali ke rumahnya sendiri.
Ilham bangun pukul 06.00, lebih lambat dari biasanya. Tubuhnya masih terasa pegal setelah semalam begadang untuk pertemuan di rumah Kirno. Ia meregangkan otot-ototnya yang kaku, lalu berjalan ke kamar mandi untuk membasuh wajah dengan air dingin.
Air itu terasa menyegarkan, menghapus sisa-sisa kantuk yang masih melekat di matanya. Ia menatap bayangannya di cermin, wajah yang sama, tetapi dengan lingkaran hitam di bawah mata yang semakin dalam. Rambutnya yang biasanya ia biarkan berantakan, pagi ini ia sisir rapi. Ia ingin terlihat segar untuk pertemuan dengan Herman.
Setelah shalat Subuh dan sarapan sederhana berupa nasi goreng buatan ibunya, Ilham bersiap-siap. Ia mengenakan kemeja putih lengan panjang yang ia setrika sendiri—sesuatu yang jarang ia lakukan karena biasanya Laila yang menyetrika pakaiannya. Tapi pagi ini, ia ingin melakukan semuanya sendiri. Mungkin sebagai bentuk tekad bahwa ia siap menghadapi apa pun yang akan terjadi.
Laila memperhatikan anaknya dari dapur. Matanya menyimpan kebanggaan yang tidak diucapkan, tetapi terasa hangat.
"Nak, kamu hari ini berbeda," kata Laila sambil menyeka meja dapur dengan lap basah.
"Berbeda bagaimana, Bu?"
"Kamu terlihat lebih... dewasa. Seperti sudah memikul beban yang sangat berat, tapi tidak mengeluh."
Ilham tersenyum tipis. "Bukannya saya sudah dewasa, Bu? Usia sudah dua puluh enam."
"Dewasa itu bukan soal usia, Nak. Dewasa itu soal bagaimana seseorang menghadapi masalah. Dan kamu, sejak pulang dari Lembah Selatan, kamu berubah. Kamu lebih tenang, lebih tegas, dan lebih... bijaksana."
Ilham tidak menjawab. Ia hanya menunduk, menerima pujian ibunya dengan hati yang hangat.
"Ibu hanya berpesan," lanjut Laila, "jangan lupa berdoa. Apa pun yang terjadi, Tuhan selalu bersama orang-orang yang berusaha."
"Iya, Bu. Terima kasih."
Pukul 09.30, Ilham sudah berada di kantor desa.
Suasana kantor pagi itu berbeda dari biasanya. Tidak ada tawa, tidak ada candaan, tidak ada suara ribut dari warga yang mengurus administrasi. Semua berjalan dengan tenang, seperti air sungai yang mengalir tanpa riak. Para perangkat desa duduk di meja masing-masing, menatap layar komputer atau berkas-berkas dengan wajah serius. Mereka sudah tahu bahwa hari ini adalah hari penting.
Nisa dan Rendi sudah ada di ruang digitalisasi, memeriksa sistem untuk kesekian kalinya. Wajah Nisa tegang, matanya menyipit membaca baris-baris kode di layar. Rendi duduk di sampingnya, sesekali mencatat sesuatu di buku.
"Mas Ilham," sapa Nisa ketika melihat Ilham masuk.
"Bagaimana, Nis? Apakah semuanya aman?"
Nisa mengangguk. "Sejauh ini aman, Mas. Tidak ada aktivitas mencurigakan sejak dua hari lalu. Mungkin mereka sadar bahwa kita sudah tahu."
"Atau mereka sedang menyusun strategi baru," tambah Rendi.
Ilham menghela napas. "Kita harus selalu waspada. Jangan lengah."
Kades Raditya keluar dari ruangannya. Wajahnya tenang, tetapi matanya tajam. Ia mengenakan kemeja batik lengan panjang warna cokelat muda, pakaian terbaiknya untuk acara-acara penting.
"Nak Ilham, Herman sudah datang. Ia di ruang tamu."
Ilham berjalan ke ruang tamu kantor desa. Herman sudah duduk di kursi kayu, ditemani oleh secangkir kopi yang masih mengepul. Di sampingnya ada seorang perempuan muda yang tidak Ilham kenal, wajahnya tegas, rambutnya pendek sebahu, dan matanya cerdas. Ia mengenakan kemeja putih dan celana bahan hitam, seperti seorang aktivis atau pengacara.
"Ilham," sapa Herman sambil berdiri. Mereka berjabat tangan erat.
"Herman. Terima kasih sudah datang."
"Ini teman saya, Sari. Sari dari LBH Kota. Dialah yang akan membantu kita."
Perempuan itu berdiri dan mengulurkan tangan. Jabatannya kuat, tegas, tidak canggung.
"Sari Wulandari. Saya advokat. Herman sudah bercerita banyak tentang perjuangan desa ini."
Ilham tersenyum. "Terima kasih, Mbak Sari, sudah bersedia membantu."
"Sama-sama. Ini tugas saya. Melindungi masyarakat dari ketidakadilan."
Mereka duduk bersama. Kades Raditya, Ilham, Herman, dan Sari duduk melingkar di meja bundar. Nisa dan Rendi bergabung kemudian, membawa laptop dan catatan. Angga juga dipanggil masuk, meskipun ia duduk agak terpisah, di kursi di sudut ruangan.
Sari membuka tas kerjanya dan mengeluarkan setumpuk dokumen.
"Baik, saya sudah mempelajari kontrak antara PT NDM dengan Desa Lembah Selatan. Juga kontrak-kontrak dengan warga perorangan. Kesimpulan saya: kontrak ini sangat merugikan desa dan warga. Banyak klausul yang melanggar undang-undang."
"Pelanggaran apa saja, Mbak?" tanya Kades Raditya.
Sari membuka satu per satu dokumen itu. "Pertama, klausul tentang hak kelola data. Data desa adalah aset publik yang tidak bisa diberikan kepada pihak swasta secara eksklusif tanpa pengawasan pemerintah. Ini melanggar Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik."
"Kedua," lanjut Sari, "klausul tentang sanksi bagi warga yang menjual hasil panen di luar platform. Ini melanggar hak warga untuk memilih saluran distribusi. Ini juga bisa dikategorikan sebagai praktik monopoli yang dilarang oleh Undang-Undang Anti Monopoli."
"Ketiga, klausul tentang jangka waktu dua puluh lima tahun. Ini terlalu lama dan tidak proporsional. Kontrak kerjasama antara desa dan swasta seharusnya maksimal lima tahun, dengan opsi perpanjangan yang disetujui bersama."
Ilham merasa lega mendengar penjelasan Sari. Jadi apa yang mereka curigai selama ini benar, kontrak itu ilegal.
"Lalu apa yang bisa kita lakukan, Mbak?" tanya Nisa.
Sari tersenyum. "Kita bisa menggugat. Tapi menggugat butuh waktu, tenaga, dan biaya. Alternatif yang lebih cepat adalah melakukan negosiasi dengan PT NDM untuk membatalkan kontrak secara damai."
"Apakah mereka bersedia?" tanya Kades Raditya.
"Itu yang akan kita cari tahu. Tapi kita harus punya kekuatan tawar. Kita harus menunjukkan bahwa kita tidak sendirian. Bahwa ada banyak desa yang bersatu melawan praktik mereka."
Herman mengangguk. "Itulah mengapa kita membangun koalisi. Semakin banyak desa yang bergabung, semakin besar tekanan pada PT NDM dan pemerintah."
Pertemuan berlangsung hingga siang.
Mereka menyusun strategi dalam tiga tahap. Tahap pertama: menggalang kekuatan di tingkat desa. Kirno dan timnya akan terus mengunjungi desa-desa tetangga, menyebarkan informasi, dan mengajak mereka bergabung dalam koalisi.
Tahap kedua: melakukan pendekatan ke pemerintah kabupaten. Kades Raditya akan melaporkan praktik PT NDM ke Bupati dan DPRD, meminta mereka untuk meninjau ulang izin operasional perusahaan tersebut.
Tahap ketiga: menyiapkan gugatan hukum jika negosiasi gagal. Sari akan mempersiapkan berkas-berkas dan menggalang dukungan dari LBH nasional.
"Kita punya waktu sekitar tiga minggu sebelum rencana kedatangan Rahman ke Suralaya," kata Ilham. "Kita harus sudah siap sebelum itu."
"Setuju," kata Kades Raditya. "Kita akan gunakan waktu ini sebaik mungkin."
Angga yang dari tadi diam akhirnya bersuara. "Pak, saya punya informasi tambahan."
Semua menoleh ke arah Angga.
"Andi menelepon saya tadi pagi. Katanya, Rahman akan mempercepat kunjungannya. Bukan bulan depan, tapi minggu depan."
Ruangan menjadi hening.
"Minggu depan? Kapan tepatnya?" tanya Kades Raditya.
"Tanggal 5. Lima hari lagi."
Ilham merasakan dadanya sesak. Waktu semakin sempit.
"Mengapa mereka mempercepat?" tanya Herman.
Angga menghela napas. "Karena mereka tahu kita sudah bergerak. Mereka punya mata-mata di sini. Mungkin ada yang melaporkan pertemuan di rumah Kirno kemarin malam."
Ruangan menjadi tegang. Mata-mata masih ada. Meskipun Haris dan Angga sudah tertangkap, mungkin masih ada yang lain, orang yang belum teridentifikasi.
"Kita tidak punya waktu untuk mencari mata-mata sekarang," kata Kades Raditya. "Yang terpenting, kita harus bersiap. Lima hari adalah waktu yang sangat singkat, tapi bukan tidak mungkin."
"Iya, Pak," kata Ilham. "Kita akan kerjakan semuanya dalam lima hari."
Setelah pertemuan, Ilham dan Angga berjalan ke kantin kecil di belakang kantor desa. Kantin itu sederhana, hanya tenda terpal dengan beberapa kursi plastik dan meja kayu panjang. Bu Srintil, pemilik kantin, sudah menyiapkan nasi rames untuk mereka berdua.
Mereka makan dalam diam. Suasana masih canggung, tetapi tidak sedingin beberapa hari lalu.
"Ham," panggil Angga akhirnya.
"Iya?"
"Maafkan aku. Sekali lagi. Atas semuanya."
Ilham menatap Angga. Wajah sahabatnya itu terlihat lebih tua dari biasanya. Ada kerutan di dahi yang tidak ada sebelumnya. Matanya sayu, tetapi jujur.
"Aku sudah memaafkanmu, Ang. Tapi memaafkan tidak berarti melupakan. Dan memaafkan tidak berarti semuanya akan kembali seperti dulu."
"Aku tahu. Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku menyesal. Sangat menyesal. Dan aku akan berusaha seumur hidupku untuk memperbaiki kesalahan ini."
Ilham menghela napas. "Kita lihat saja nanti. Yang penting sekarang, kita fokus pada tugas kita. Lima hari lagi mereka datang."
"Iya. Aku siap."
Empat hari berikutnya terasa seperti sebulan.
Ilham dan timnya bekerja tanpa kenal lelah. Siang dan malam, mereka berkumpul di kantor desa atau di rumah Kirno, menyusun strategi, menghubungi desa-desa, mempersiapkan dokumen, dan melatih warga untuk menghadapi kemungkinan terburuk.
Kirno berhasil menggalang dukungan dari sepuluh desa di kawasan selatan. Mereka semua berjanji akan mendukung Suralaya dalam menolak PT NDM. Beberapa di antaranya bahkan sudah mulai mempersiapkan gugatan hukum dengan bantuan Sari.
Kades Raditya bertemu dengan Bupati dan DPRD. Awalnya Bupati bersikap netral, bahkan cenderung mendukung PT NDM karena perusahaan itu dianggap membawa investasi ke daerah. Tapi setelah Kades Raditya menunjukkan bukti-bukti pelanggaran, Bupati berjanji akan meninjau ulang izin PT NDM.
Sari berhasil menghubungi LBH nasional yang bersedia membantu secara pro bono. Mereka mengirimkan tim advokat yang akan datang ke Suralaya sehari sebelum kedatangan Rahman.
Nisa dan Rendi berhasil memperkuat sistem keamanan data Suralaya. Mereka juga memasang perangkat lunak pendeteksi intrusi yang akan memberi peringatan jika ada upaya peretasan dari luar.
Angga terus berkomunikasi dengan Andi, memberi mereka informasi yang sudah disetujui, informasi umum yang tidak membahayakan Suralaya, untuk menjaga kepercayaan mereka. Ia juga berhasil merekam beberapa percakapan yang bisa dijadikan bukti.
Ilham sendiri yang menjadi koordinator semua gerakan ini. Ia berkeliling desa, berbicara dengan warga, meyakinkan mereka untuk tidak takut, dan mempersiapkan mereka untuk menghadapi kedatangan Rahman.
"Warga Suralaya harus bersatu," katanya dalam sebuah pertemuan warga di kantor desa. "Jangan biarkan mereka memecah belah kita. Jangan biarkan mereka mengintimidasi kita. Kita punya hak untuk menolak. Kita punya hak untuk menentukan masa depan kita sendiri."
Warga bertepuk tangan. Mereka percaya pada Ilham. Mereka percaya pada Kades Raditya. Mereka percaya pada desa mereka.
Hari kelima tiba.
Tanggal 5, seperti yang diinformasikan Angga, Rahman datang ke Suralaya.
Ia datang dengan rombongan besar: Andi dari PT NDM, dua orang advokat, dan beberapa staf. Mereka mengendarai dua mobil mewah berwarna hitam, dengan kaca film gelap yang tidak tembus pandang.
Mobil-mobil itu berhenti di halaman kantor desa. Warga yang melihat dari kejauhan berkerumun, ingin tahu apa yang akan terjadi. Beberapa di antaranya sudah bersiap dengan spanduk penolakan, meskipun Ilham meminta mereka untuk tidak berbuat gaduh.
"Kita akan hadapi mereka dengan kepala dingin," kata Ilham. "Jangan beri mereka alasan untuk menuduh kita anarkis."
Rahman turun dari mobil. Ia mengenakan setelan jas lengkap, sesuatu yang tidak biasa untuk seorang kepala desa. Wajahnya tersenyum ramah, tetapi matanya tajam, seperti elang yang mengincar mangsa.
"Selamat pagi, Suralaya," sapanya dengan suara lantang.
Kades Raditya menyambut di pintu masuk kantor. "Selamat pagi, Pak Rahman. Silakan masuk."
Mereka masuk ke ruang pertemuan. Ruangan itu sudah disiapkan dengan kursi-kursi yang tertata rapi, meja bundar di tengah, dan air mineral di setiap tempat duduk.
Ilham duduk di samping Kades Raditya. Di sampingnya duduk Sari, advokat dari LBH. Herman juga hadir, mewakili Awan Biru. Angga duduk di barisan belakang, tidak terlihat tetapi siap siaga.
Rahman dan timnya duduk di seberang. Andi duduk di samping Rahman, wajahnya datar tanpa ekspresi. Dua advokat duduk di sisi lain, dengan setumpuk dokumen di depan mereka.
Rahman membuka pertemuan dengan sambutan ramah.
"Terima kasih atas sambutannya, Pak Kades. Kami datang ke sini dengan niat baik. Kami ingin menawarkan kerja sama yang saling menguntungkan antara PT NDM dan Desa Suralaya."
Kades Raditya tersenyum tipis. "Kami dengar tentang kerja sama Bapak di Lembah Selatan. Menarik."
"Ah, Lembah Selatan adalah salah satu keberhasilan kami. Desa itu sekarang maju pesat. Pendapatan desa naik tiga kali lipat. Angka kemiskinan turun drastis. Anak-anak muda kembali ke desa."
"Tapi kami juga dengar ada warga yang tidak bahagia," potong Ilham.
Rahman menatap Ilham. Senyumnya sedikit mengendur. "Mas Ilham, setiap perubahan pasti ada yang tidak puas. Itu hal yang wajar. Yang penting, mayoritas warga merasakan manfaatnya."
"Apakah Bapak punya data tentang kepuasan warga Lembah Selatan?" tanya Sari.
Rahman mengerutkan dahi. "Maaf, Ibu siapa?"
"Sari Wulandari. Advokat dari LBH Kota. Saya mewakili masyarakat Suralaya dan beberapa desa lain yang ingin menolak kerja sama dengan PT NDM."
Ruangan menjadi hening. Wajah Rahman berubah. Senyumnya hilang.
"Menolak? Sebelum mendengar penawaran kami?"
"Kami sudah mendengar cukup banyak tentang penawaran Bapak," kata Kades Raditya. "Dan kami memutuskan untuk menolak."
Rahman terdiam. Ia menatap Kades Raditya, lalu Ilham, lalu Sari, lalu kembali ke Kades Raditya.
"Boleh saya tahu alasannya?"
"Kontrak Bapak tidak adil," kata Ilham tegas. "Hak kelola data desa selama dua puluh lima tahun? Itu bukan kerja sama, itu pengambilalihan."
"Dan klausul sanksi bagi warga yang menjual hasil panen di luar platform," tambah Sari. "Itu melanggar hak warga dan undang-undang anti monopoli."
Andi yang dari tadi diam akhirnya bersuara. "Kontrak itu sudah disetujui oleh notaris dan pemerintah kabupaten. Semua legal."
"Legal belum tentu adil," kata Kades Raditya. "Dan kami punya tim advokat yang siap menggugat kontrak itu ke pengadilan."
Rahman berdiri. Wajahnya memerah.
"Bapak Kades, saya hormati Bapak. Tapi keputusan ini akan merugikan Suralaya. Desa Bapak akan tertinggal. Desa-desa lain akan melesat maju, sementara Suralaya tetap jalan di tempat."
"Lebih baik jalan di tempat dengan martabat, daripada maju dengan cara menjual diri," kata Kades Raditya tenang.
Ruangan hening lagi.
Rahman menghela napas. Ia berbalik pada timnya dan berbisik sesuatu. Kemudian ia kembali menatap Kades Raditya.
"Baiklah, saya hormati keputusan Bapak. Tapi jangan harap kami akan berhenti. Kami akan terus mendekati desa-desa lain. Dan suatu hari, Suralaya akan terisolasi."
"Itu risiko yang siap kami ambil," kata Ilham.
Rahman menatap Ilham dengan sorot tajam. "Kau masih muda, Ilham. Kau belum melihat bagaimana dunia bekerja. Suatu hari, kau akan menyesali keputusanmu."
"Lebih baik menyesal karena mempertahankan prinsip, daripada menyesal karena menjualnya."
Rahman tidak menjawab. Ia memberi isyarat pada timnya untuk bersiap pergi.
Mereka berjalan keluar ruangan dengan langkah cepat. Wajah mereka kesal, kecewa, marah. Di halaman kantor, warga yang sudah berkumpul meneriakkan yel-yel penolakan. Tidak ada kekerasan, hanya suara-suara lantang yang menyuarakan pendapat mereka.
"Suralaya merdeka! Tolak PT NDM! Tolak penjajahan digital!"
Rahman dan timnya masuk ke mobil dan pergi dengan cepat, meninggalkan debu di belakang mereka.
Di dalam ruang pertemuan, Ilham duduk di kursinya, dadanya naik turun. Ia tidak menyangka bahwa perlawanan akan berjalan semulus ini. Ia mengira Rahman akan berdebat lebih keras, atau mungkin mengancam. Tapi ternyata mereka pergi begitu saja.
"Apakah ini sudah berakhir?" tanya Nisa.
Sari menggeleng. "Belum. Mereka pasti akan kembali dengan strategi lain. Tapi untuk hari ini, kita menang."
Kades Raditya berdiri dan berjalan ke jendela. Ia memandang warga yang masih berkumpul di halaman, meneriakkan yel-yel kemenangan.
"Ini baru awal," katanya. "Perjuangan masih panjang. Tapi setidaknya, kita sudah memilih jalan. Jalan yang menurut kita benar."
Ilham berdiri dan berjalan ke samping Kades Raditya. Mereka berdua memandang warga Suralaya yang bersorak-sorak.
"Apakah Bapak yakin dengan keputusan ini, Pak?" tanya Ilham.
Kades Raditya menoleh. Matanya tenang, tetapi dalam.
"Tidak ada yang benar-benar yakin dalam hidup, Nak. Tapi kita harus memilih. Dan aku memilih untuk percaya pada warganya, bukan pada investor asing."
Ilham mengangguk. "Saya juga."
Mereka berdua berdiri di sana, di balik jendela kaca yang tembus pandang, menyaksikan masyarakat yang mereka cintai merayakan kemenangan kecil. Di luar, matahari bersinar cerah, awan putih bergerak lambat, dan angin membawa aroma tanah basah dari sawah yang menguning.
Suralaya masih berdiri. Mungkin tidak semaju desa-desa lain. Mungkin akan tertinggal untuk sementara waktu. Tapi Suralaya masih memiliki jiwa. Dan jiwa itu tidak bisa dibeli dengan uang, tidak bisa diambil alih dengan kontrak, tidak bisa dihancurkan oleh siapa pun.
Tiga bulan kemudian.
Musim panen tiba di Suralaya. Sawah-sawah yang menguning bergelombang ditiup angin, menciptakan pemandangan yang indah dan menenangkan. Para petani mulai memanen padi dengan sukacita, diiringi suara ketam dan tawa riang.
Di kantor desa, suasana kembali normal. Warga berdatangan mengurus administrasi. Nisa dan Rendi sibuk dengan layar komputer mereka. Aulia mengatur jadwal wisata yang mulai ramai dikunjungi.
Angga sudah kembali bekerja, meskipun tidak lagi dipercaya untuk menangani data-data sensitif. Ia lebih banyak membantu di bagian administrasi umum, mengantar surat, menyortir berkas, dan hal-hal kecil lainnya. Ia tidak mengeluh. Ia menerima konsekuensi dari kesalahannya dengan lapang dada.
Haris memilih mengundurkan diri dari perangkat desa. Ia pindah ke kota dan membuka usaha kecil-kecilan. Sesekali ia masih mengirim kabar pada Ilham, meminta maaf dan berterima kasih karena tidak dilaporkan ke polisi. Ilham selalu membalas pesannya dengan singkat: "Jaga diri."
Hubungan Ilham dan Angga masih belum sepenuhnya pulih. Mereka masih berteman, masih bekerja sama, masih duduk bersama di warung kopi. Tapi ada jarak yang tidak bisa dijelaskan, seperti celah kecil di antara dua kepingan puzzle yang dulu sangat rapat.
Mungkin butuh waktu. Mungkin butuh pengorbanan. Mungkin butuh air mata. Tapi Ilham yakin, persahabatan sejati tidak mati hanya karena satu kesalahan.
Sore itu, Ilham berdiri di Bukit Sunyi, tempat yang dulu sering ia datangi ketika dunia terasa terlalu bising. Tempat yang menjadi saksi bisu perjalanannya ke Awan Biru, pengkhianatan Angga, dan kemenangan kecil Suralaya.
Angin sore berembus lembut, membawa aroma rumput kering dan tanah basah. Di bawah, hamparan sawah menguning membentang luas, dengan rumah-rumah kayu yang berasap tipis dari dapur warga yang memasak untuk makan malam.
Ia mendengar langkah kaki mendekat dari belakang. Tanpa menoleh, ia sudah tahu siapa itu.
"Masih suka menyendiri rupanya," kata Angga sambil berdiri di samping Ilham.
"Kadang tempat sunyi justru lebih jujur."
Angga tertawa kecil. "Kau mulai terdengar seperti orang tua."
Ilham tersenyum. Mereka berdiri tanpa bicara beberapa saat, menikmati angin sore yang membawa kesejukan.
"Ang," panggil Ilham.
"Iya?"
"Terima kasih. Atas bantuanmu selama ini. Tanpamu, mungkin kita tidak akan bisa mengalahkan mereka."
Angga menghela napas. "Aku hanya memperbaiki kesalahanku sendiri."
"Tapi tidak semua orang punya keberanian untuk memperbaiki kesalahan. Banyak yang memilih lari."
"Kau juga punya keberanian, Ham. Kau berani memilih jalan yang sulit. Jalan yang mungkin tidak populer, tapi benar."
Ilham menatap langit yang mulai berwarna jingga. Dua burung terbang beriringan di kejauhan, melintasi bukit dan lembah, bebas tanpa beban.
"Apa yang akan kita lakukan selanjutnya?" tanya Angga.
Ilham tersenyum. "Kita lanjutkan perjalanan. Masih banyak desa yang perlu kita bantu. Masih banyak ketidakadilan yang perlu kita lawan. Dan kita tidak akan berhenti sampai desa-desa kita benar-benar merdeka."
Angga mengangguk. "Aku ikut. Ke mana pun."
Mereka berdua berdiri di atas bukit itu, dua sahabat yang retak tetapi masih berusaha berdiri bersama. Di bawah, Suralaya terbentang damai, desa yang mereka cintai, desa yang mereka perjuangkan, desa yang tidak akan pernah mereka biarkan jatuh ke tangan siapa pun.
Matahari perlahan tenggelam di balik bukit. Langit berubah menjadi gradasi jingga, ungu, dan biru. Dua warna yang berbeda, tetapi bersatu dalam harmoni yang sempurna.
Seperti dua langit yang dulu terasa bertentangan, kini tampak sama.
Seperti dua sahabat yang dulu terpisah oleh pengkhianatan, kini berjalan kembali berdampingan.
Seperti Suralaya yang dulu tertinggal, kini melangkah maju dengan kepalanya tegak.
Perjalanan masih panjang. Tapi setidaknya, mereka sudah memilih jalan.
Jalan yang menurut mereka benar.
EPILOG — Langit yang Sama
Tiga bulan telah berlalu sejak pertemuan bersejarah itu.
Musim berganti perlahan di Desa Suralaya. Pagi-pagi yang dulu hanya dipenuhi kabut kini kembali ramai oleh suara warga yang datang ke kantor desa, anak-anak yang berangkat sekolah, dan langkah para petani yang menyusuri pematang sawah dengan semangat yang tak pernah benar-benar hilang.
Di halaman kantor desa, layar informasi digital tetap menyala. Data pelayanan berjalan seperti biasa. Anak-anak muda masih sibuk mengelola media desa. Dan kehidupan terus bergerak.
Namun bagi Muhammad Ilham, tidak ada satu pun yang benar-benar sama.
Karena setelah Lembah Selatan, ia belajar satu hal yang tak pernah diajarkan oleh perjalanan mana pun sebelumnya: bahwa membangun desa ternyata jauh lebih mudah daripada menjaga hati orang-orang di dalamnya. Bahwa kemajuan tanpa keadilan hanyalah bentuk lain dari penindasan. Dan bahwa persahabatan sejati tidak diukur dari berapa lama ia bertahan, tetapi dari seberapa kuat ia bangkit kembali setelah retak.
Setelah Rahman dan timnya pergi dari Suralaya, kabar tentang penolakan desa itu menyebar cepat ke desa-desa lain.
Desa Cikalong, yang tadinya hampir menandatangani kontrak dengan PT NDM, memutuskan untuk membatalkan setelah mendengar penjelasan dari Kirno dan timnya. Desa Karangmulya menyusul. Desa Cipatat juga. Satu per satu, desa-desa di kawasan selatan mulai membuka mata.
PT NDM tidak tinggal diam. Mereka mencoba pendekatan lain, menawarkan bantuan lebih besar, mengirim tim negosiasi baru, bahkan mencoba menyuap beberapa oknum perangkat desa. Tapi kali ini, desa-desa sudah bersatu. Mereka saling mengingatkan, saling melindungi, saling menguatkan.
LBH Nasional yang dipimpin oleh Sari berhasil menggugat kontrak PT NDM dengan Lembah Selatan ke pengadilan. Prosesnya panjang dan melelahkan, tetapi pada akhirnya pengadilan memutuskan bahwa kontrak itu batal demi hukum karena mengandung klausul yang melanggar undang-undang.
Rahman mengundurkan diri sebagai kepala desa Lembah Selatan. Ia digantikan oleh seorang perempuan bernama Ibu Yanti, mantan bendahara desa yang selama ini diam-diam mengumpulkan bukti-bukti pelanggaran Rahman. Di bawah kepemimpinan Ibu Yanti, Lembah Selatan mulai membenahi sistem digitalnya. PT NDM diusir dari desa. Warga kembali diberikan kebebasan untuk memilih saluran distribusi hasil panen mereka.
Proses pemulihan Lembah Selatan tidak mudah. Banyak warga yang masih trauma. Banyak petani yang kehilangan mata pencaharian karena selama dua tahun bergantung pada sistem yang sekarang sudah tidak berjalan. Tapi mereka tidak sendirian. Suralaya dan desa-desa lain mengirim bantuan, bibit, pupuk, pelatihan, dan dukungan moral.
"Kita semua satu keluarga," kata Ilham dalam sebuah pertemuan antar desa di Lembah Selatan. "Apa yang terjadi pada kalian, terjadi pada kami. Dan kita akan bangkit bersama."
Warga Lembah Selatan menangis mendengar kata-kata itu. Untuk pertama kalinya dalam dua tahun, mereka merasa tidak sendirian.
Sementara itu, di Suralaya, kehidupan terus berjalan.
Nisa dan Rendi berhasil mengembangkan aplikasi baru yang memungkinkan petani menjual hasil panen langsung ke konsumen tanpa perantara. Aplikasi itu sederhana, tidak secanggih buatan PT NDM, tetapi sepenuhnya dimiliki dan dikelola oleh desa. Petani bebas menentukan harga, bebas memilih pembeli, dan tidak ada potongan biaya yang memberatkan.
Aulia mengembangkan wisata desa dengan konsep "digital minimalis", menggunakan teknologi secukupnya, tanpa mengorbankan interaksi manusia dan kearifan lokal. Wisatawan yang datang tidak hanya menikmati keindahan alam, tetapi juga belajar tentang budaya desa, bertani, dan membuat kerajinan tangan.
Kades Raditya pensiun setelah dua periode memimpin. Ia digantikan oleh seorang pemuda pilihan warga, bukan Ilham, karena Ilham menolak dicalonkan. "Saya lebih suka bekerja di belakang layar," katanya. "Biarkan yang muda-muda yang memimpin."
Pemuda yang terpilih bernama Dimas, bukan Dimas dari Lembah Selatan, tetapi Dimas asli Suralaya, seorang sarjana pertanian yang kembali ke desa setelah lulus dari universitas negeri. Ia adalah tipe pemimpin yang energik, inovatif, tetapi tetap menghormati tradisi.
Ilham menjadi penasihat desa untuk urusan digitalisasi dan pengembangan. Ia tidak lagi sibuk dengan rapat-rapat melelahkan, tetapi lebih banyak berkeliling desa, berbicara dengan warga, mendengarkan keluhan mereka, dan mencari solusi bersama.
Suatu sore, Ilham duduk di teras rumahnya, ditemani secangkir kopi hitam buatan ibunya. Langit mulai berwarna jingga, pertanda matahari akan segera tenggelam.
Angga datang dengan dua gelas es teh manis, kebiasaan lama mereka yang tidak pernah berubah.
"Kopi lagi? Nanti sakit perut," kata Angga sambil meletakkan es teh di meja.
"Kopi hitam tidak bikin sakit perut. Itu mitos."
"Mitos atau bukan, kamu tetap harus mengurangi."
Ilham tersenyum. Ia mengambil es teh itu dan menyesapnya. Manis, segar, seperti masa kecil mereka dulu.
"Kangen juga minum es teh buatan Bu Srintil," katanya.
"Ya iyalah. Kamu sudah tiga bulan tidak mampir ke warungnya. Bu Srintil sampai bertanya-tanya."
"Bilang saja saya sibuk."
"Bilang sendiri. Saya bukan kurir."
Mereka tertawa bersama. Tawa yang sudah lama tidak terdengar di antara mereka.
"Apa kau bahagia, Ham?" tiba-tiba Angga bertanya.
Ilham menatap sahabatnya. "Apa maksudmu?"
"Kau sudah melalui banyak hal. Pengkhianatan, pertarungan, kemenangan. Apa kau bahagia dengan semua itu?"
Ilham terdiam sejenak. Ia memandang langit yang mulai gelap, bintang-bintang mulai bermunculan satu per satu.
"Bahagia itu relatif, Ang. Tapi aku merasa... damai. Aku merasa bahwa apa yang kita lakukan adalah benar. Bahwa perjuangan kita tidak sia-sia. Bahwa desa ini, dan desa-desa lain, sekarang lebih aman."
Angga mengangguk. "Aku juga merasa damai. Meskipun aku masih membayar kesalahan masa lalu, tapi setidaknya aku sudah di jalan yang benar."
"Kau sudah di jalan yang benar, Ang. Jangan ragu."
"Terima kasih, Ham. Karena masih mau menerimaku sebagai teman."
Ilham menepuk pundak Angga. "Kita saudara, Ang. Bukan hanya teman. Saudara tidak selalu setuju, tidak selalu sejalan, tapi tetap saudara."
Angga tersenyum. Matanya berkaca-kaca, tetapi ia menahan air mata.
Mereka berdua duduk di teras itu, menikmati malam yang tenang. Di kejauhan, suara anak-anak bermain masih terdengar riang. Lampu-lampu desa mulai menyala satu per satu, menciptakan pemandangan yang indah dan damai.
Satu minggu kemudian, Ilham menerima surat dari Herman.
Surat itu tidak panjang, hanya beberapa kalimat yang ditulis dengan tulisan tangan Herman yang rapi.
Ilham,
Aku menulis surat ini bukan untuk mengabarkan kabar buruk atau kabar baik. Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih. Atas perjuanganmu, atas keberanianmu, atas keteguhanmu.
Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Mungkin PT NDM akan bangkit lagi dengan nama lain. Mungkin ada perusahaan lain yang mencoba hal serupa. Tapi selama ada orang-orang seperti kita, selama ada desa-desa yang bersatu, selama ada kepercayaan yang dijaga, kita tidak akan pernah kalah.
Terima kasih telah menjadi sahabat.
***Herman***
Ilham membaca surat itu berulang kali. Ia tersenyum, lalu melipatnya rapi dan menyimpannya di dalam buku catatan kesayangannya, buku yang berisi seluruh perjalanan Suralaya dari awal hingga sekarang.
Buku itu tebal, penuh dengan catatan, coretan, dan gambar-gambar kasar. Setiap halaman menyimpan kenangan: tentang perjalanan ke Awan Biru, tentang pertemuan-pertemuan di balai desa, tentang suka dan duka, tentang tawa dan air mata, tentang pengkhianatan dan pengampunan, tentang kemenangan dan kekalahan.
Ilham menutup buku itu dan meletakkannya di rak.
Perjalanan masih panjang. Tapi setidaknya, ia sudah memilih jalan.
Jalan yang menurutnya benar.
Matahari perlahan tenggelam di balik bukit. Cahayanya membelah langit menjadi dua warna: jingga dan biru. Seperti dua dunia yang dulu terasa berbeda.
Namun kini, Ilham memandang keduanya dengan cara yang baru.
Ia akhirnya mengerti: tidak semua perjalanan membawa seseorang menemukan tempat baru. Sebagian perjalanan justru membawa seseorang kembali pada hal paling sederhana, tentang siapa yang layak dipercaya, tentang apa yang pantas dijaga, dan tentang jalan mana yang masih bisa membuat seseorang pulang tanpa kehilangan dirinya sendiri.
Ilham menatap langit itu lama.
Langit yang dulu terasa terpisah. Kini tampak sama.
Dan di dalam hatinya, ia tahu satu hal: jejak petualangan ini mungkin telah sampai di satu akhir. Tetapi selama masih ada langkah, selama masih ada harapan, dan selama masih ada desa yang ingin dijaga, cerita itu tidak akan pernah benar-benar selesai.
TAMAT
Anang
30 Januari 2025 19:28:34
Lanjutkan mas... Semoga website desa pian semakin maju...