PROLOG
Kota Air yang Menyimpan Ribuan Cerita
Kuala Kapuas dikenal orang sebagai Kota Air.
Bukan sekadar nama. Bukan sekadar julukan yang ditempelkan oleh papan, papan reklame di pinggir jalan atau brour wisata yang dicetak oleh Dinas Pariwisata. Kuala Kapuas adalah kota yang sungainya lebih hidup daripada jalanannya, kota yang denyutnya diukur bukan oleh lampu lalu lintas yang kadang padam karena mati lampu, melainkan oleh pasang surut air Sungai Kapuas yang mengalir sejak zaman belum ada yang mencatat sejarah.
Sebuah kota kecil di tepian sungai Kapuas yang tumbuh bersama arus, hidup bersama pasang surut, dan menyimpan lebih banyak cerita daripada yang tampak di permukaannya.
Setiap pagi, ketika matahari masih enggan menampakkan seluruh wajahnya, kabut tipis sering menggantung di atas air Sungai Kapuas Murung. Kabut itu seperti tirai putih yang membelah realitas: di satu sisi, dunia yang terlihat; di sisi lain, misteri yang tak pernah benar, benar tersibak. Perahu, perahu kecil melintas pelan, mesin cesnya berbunyi khas, memecah kesunyian pagi dengan irama yang sudah menjadi soundtrack alami kota ini. Perahu, perahu itu membelah bayangan langit yang jatuh di permukaan sungai, menciptakan riak, riak kecil yang kemudian melebar, melemah, dan akhirnya menghilang, seperti kebanyakan hal dalam hidup yang datang dan pergi tanpa pernah benar, benar dimiliki.
Di kejauhan, Dermaga Danau Mare berdiri sebagai saksi bisu. Dermaga kayu yang sudah mulai lapuk di beberapa bagian, dengan papan, papan yang bunyinya nyaring setiap kali diinjak, seolah ingin mengumumkan kepada seluruh dunia bahwa ada seseorang yang sedang berdiri di sana, sedang menunggu, sedang berharap, atau sedang merenungkan hidup yang kadang terasa terlalu berat untuk dipikul sendirian. Dermaga itu telah menyaksikan orang, orang yang datang dan pergi, membawa harapan mereka masing, masing, ada yang pulang dengan senyum, ada yang pergi dengan air mata, dan ada pula yang tidak pernah kembali lagi.
Tak jauh dari sana, berdiri Dermaga KP3, yang kini berubah menjadi salah satu ikon wisata air Kota Kuala Kapuas. Dibangun dengan kayu ulin yang kokoh, pagar besi yang dicat hijau, dan lampu, lampu hias yang diletakkan di sepanjang tepian, Dermaga KP3 adalah wajah modern kota ini. Tempat di mana anak, anak muda menghabiskan sore dengan es kelapa dan gawai, tempat di mana pasangan, pasangan baru menjanjikan cinta abadi di bawah langit jingga, tempat di mana pedagang, pedagang kecil menggantungkan mimpi mereka pada setiap tusuk sate dan setiap gelas es teh yang terjual.
Setiap sore, lampu, lampu kecil di tepian sungai mulai menyala satu per satu, seperti bintang, bintang yang terlalu cepat turun ke bumi. Lampu, lampu itu memantulkan cahaya ke air yang tenang, menciptakan ilusi bahwa sungai itu sendiri sedang tersenyum, sedang bahagia, padahal di dasar sungai yang gelap, ada arus yang tak pernah terlihat, ada ikan, ikan yang saling menerkam, ada sampah, sampah yang terbawa arus dari hulu hingga ke hilir.
Anak, anak berlarian di pinggirannya. Celana digulung hingga lutut, sesekali berteriak karena air mengenai kaki mereka. Pasangan muda duduk diam menikmati senja, kadang berbisik, kadang tertawa, kadang hanya diam dan itu sudah cukup. Sementara di seberang jalan, Rumah Jabatan Bupati Kapuas berdiri anggun menghadap sungai. Bangunan putih dengan arsitektur modern, halaman yang tertata rapi, dan lampu, lampu taman yang membuatnya terlihat seperti istana kecil di sudut kota. Rumah itu menjadi pusat berbagai aktivitas pemerintahan, rapat daerah, dan keputusan, keputusan besar yang mengatur kehidupan banyak orang. Keputusan tentang anggaran, tentang pembangunan, tentang nasib ribuan warga yang mungkin tidak pernah tahu bahwa hidup mereka ditentukan di ruang rapat ber, AC dengan meja dan kursi yang tersusun rapi.
Namun tidak semua kisah besar lahir dari ruang rapat. Sebagian justru tumbuh diam, diam di antara langkah kaki di atas dermaga kayu. Di antara suara air yang memukul tiang, tiang pelabuhan dengan irama yang sama sejak puluhan tahun lalu. Dan di antara dua hati yang dipertemukan oleh kebetulan yang tak pernah mereka rencanakan, oleh takdir yang mungkin sejak awal sudah tersusun rapi di buku kehidupan yang tidak bisa dibaca siapa pun.
Iskandar tidak pernah percaya pada cinta yang datang tiba, tiba.
Sepanjang tiga puluh tahun hidupnya, ia telah melihat terlalu banyak hubungan yang dimulai dengan api dan berakhir dengan abu. Ia melihat teman, teman kuliahnya jatuh cinta dalam semalam, menikah dalam enam bulan, dan bercerai sebelum genap setahun. Ia melihat rekan kerjanya di Banjarmasin mengganti pasangan seperti mengganti baju, selalu mencari yang baru, selalu merasa bahwa yang sekarang tidak cukup baik, dan selalu berakhir dengan kesepian yang sama.
Baginya, cinta adalah sesuatu yang tumbuh perlahan, seperti air yang mengikis batu. Pelan, tetapi pasti. Tanpa teriakan, tanpa bunga yang layu dalam seminggu, tanpa janji, janji yang menguap sebelum fajar. Cinta adalah keputusan, bukan perasaan. Cinta adalah komitmen, bukan ledakan hormon yang kebetulan terjadi di waktu yang tepat.
Itu yang selalu ia katakan pada dirinya sendiri.
Itu yang ia yakini.
Sampai pada suatu sore, di bawah langit jingga Kuala Kapuas, ia melihat seorang perempuan berdiri sendiri di ujung Dermaga KP3.
Perempuan itu tidak sedang menunggu siapa, siapa. Tidak ada tas besar yang menandakan seseorang baru turun dari kapal. Tidak ada ponsel yang ditempelkan di telinga untuk melaporkan bahwa ia sudah sampai. Tidak ada gelisah yang biasanya menyertai seseorang yang sedang dijemput.
Perempuan itu hanya berdiri. Sendiri. Dengan kedua tangan bertumpu di pagar besi yang sedikit berkarat. Matanya menatap jauh ke arah sungai, ke arah cakrawala di mana air dan langit bertemu dalam warna jingga yang terus berubah.
Namun entah mengapa, sejak detik pertama melihatnya, Iskandar merasa seolah seluruh hidupnya sedang menunggu perempuan itu datang.
Bukan karena wajahnya yang paling cantik bak bidadari yang turun dari kayangan, karena di Kuala Kapuas juga banyak perempuan cantik. Bukan karena pakaiannya yang paling modis, blouse putih sederhana dan rok panjang biru muda bukanlah sesuatu yang istimewa. Bukan karena posturnya yang paling menonjol, ia justru terlihat biasa saja, seperti ribuan perempuan lain yang lewat setiap hari.
Tapi ada sesuatu di matanya.
Sesuatu yang sulit dijelaskan dengan kata, kata.
Seperti ada sungai yang mengalir di balik matanya. Seperti ada cerita yang belum selesai, yang tidak ingin ia ceritakan kepada siapa pun, tetapi juga tidak bisa ia sembunyikan sepenuhnya. Seperti ada luka yang sudah terlalu lama, bukan karena tidak pernah diobati, tetapi karena luka itu sudah menjadi bagian dari dirinya, seperti bekas operasi yang tidak bisa dihilangkan meskipun sudah tidak terasa sakit lagi.
Dan Iskandar, tanpa sadar, tanpa izin, tanpa persiapan, mulai ingin tahu cerita di balik mata itu.
Namanya adalah Nayla.
Ia baru tahu beberapa menit kemudian, setelah kertas, kertas beterbangan, setelah ia memungutinya satu per satu, setelah ia menyelamatkan satu lembar yang hampir jatuh ke sungai. Ia tahu namanya karena perempuan itu memperkenalkan diri dengan suara yang lembut, lebih lembut dari yang ia bayangkan, lebih lembut dari yang seharusnya untuk pertemuan singkat antara dua orang asing di sebuah dermaga kecil di kota kecil.
"Saya Nayla."
Itu saja. Dua kata. Tanpa embel, embel. Tanpa senyum manis yang dibuat, buat. Tanpa basa, basi yang berlebihan.
Dan sejak pertemuan itu, Iskandar mulai memahami satu hal yang tak pernah diajarkan siapa pun kepadanya: bahwa cinta terkadang hadir bukan untuk dimiliki, melainkan hanya untuk dikenang seumur hidup. Bahwa pertemuan tidak selalu berarti awal dari kebersamaan. Bahwa seseorang bisa hadir dalam hidupmu seperti bintang jatuh: terang, indah, dan hilang sebelum sempat kamu panjatkan doa.
Karena di Kota Air yang tenang itu, ia akan belajar bahwa luka terdalam bukan berasal dari perpisahan. Melainkan dari kenyataan bahwa cinta bisa datang begitu indah, tepat ketika waktunya salah. Tepat ketika hidup sedang tidak membutuhkan kerumitan baru. Tepat ketika hati sedang dalam masa pemulihan dari luka sebelumnya.
Tapi cinta tidak pernah peduli dengan waktu.
Cinta tidak pernah peduli apakah kamu siap atau tidak.
Cinta hanya datang. Seperti air sungai yang mengalir, seperti pasang yang naik, seperti senja yang selalu tiba meskipun tidak pernah diundang.
Dan Iskandar, yang tidak pernah percaya pada cinta yang datang tiba, tiba, kini harus menerima kenyataan bahwa ia sedang jatuh cinta pada perempuan yang bahkan belum ia kenal dengan baik.
Pada perempuan yang mungkin tidak akan pernah menjadi miliknya.
Pada perempuan yang mungkin hanya singgah sebentar di hidupnya, lalu pergi seperti kabut pagi yang sirna saat matahari meninggi.
BAB 1
Senja di Dermaga KP3
Sore di Kuala Kapuas selalu datang dengan cara yang berbeda.
Tidak pernah tergesa, gesa. Tidak pernah benar, benar diam. Ia turun perlahan di atas permukaan sungai seperti selembar kain jingga yang dibentangkan langit, kain yang tidak pernah sama setiap harinya, kadang lebih merah, kadang lebih keemasan, kadang seperti sutra yang disulam dengan awan, awan tipis yang bergerak begitu lambat hingga mata tidak bisa menangkap pergerakannya secara langsung.
Warna keemasan memantul di atas air yang tenang, menciptakan ilusi bahwa sungai itu sendiri menyala dari dalam, bahwa di dasar sungai ada sesuatu yang bercahaya, menunggu untuk ditemukan. Riak, riak kecil bergerak pelan mengikuti arus, membawa bayangan rumah, rumah panggung yang berdiri di tepian dengan tiang, tiang kayu ulin yang sudah menghitam oleh usia dan air. Riak, riak itu juga membawa suara mesin ces yang lalu, lalang, suara yang sudah menjadi bagian dari soundtrack kota ini, suara yang tidak pernah terdengar asing meskipun bagi orang yang baru pertama kali datang, suara itu mungkin terdengar mengganggu.
Di Kota Air itu, senja bukan hanya pergantian waktu. Senja adalah cara kota mengingat dirinya sendiri. Senja adalah ritual kolektif di mana orang, orang berhenti sejenak dari aktivitas mereka, pedagang berhenti menata dagangan, anak, anak berhenti bermain, bahkan sungai itu sendiri terasa lebih tenang, untuk sekadar melihat langit berubah warna, untuk menghela napas, untuk mengingat bahwa hari ini telah berlalu dan besok akan datang lagi, dengan segala kemungkinan baik dan buruknya.
Iskandar berdiri di ujung Dermaga KP3, kedua tangannya masuk ke saku celana jeans biru yang sudah agak pudar warnanya. Ia memandang jauh ke arah sungai yang membelah kota, ke arah di mana air bertemu dengan langit dalam garis tipis yang semakin kabur oleh kabut tipis yang mulai terbentuk. Angin lembut berembus dari arah air, membawa aroma khas sungai, aroma air yang sedikit anyir, bercampur dengan aroma kayu basah dari tiang ulin, tiang dermaga yang mulai menua, aroma tanah dari tepian yang basah oleh pasang, dan aroma samar ikan dari perahu, perahu pedagang ikan yang baru pulang berjualan.
Sudah hampir tiga bulan ia kembali ke Kuala Kapuas.
Tiga bulan. Waktu yang cukup panjang untuk membiasakan diri dengan ritme kota kecil, tetapi juga cukup singkat untuk masih merasakan keganjilan. Setiap pagi ia masih terbangun dengan kebiasaan orang kota: tergesa, gesa, meskipun tidak ada yang perlu dikejar. Setiap malam ia masih merasa ada yang kurang: suara klakson, lampu neon yang terlalu terang, keramaian yang tidak pernah benar, benar tidur.
Setelah bertahun-tahun meninggalkan kota kecil itu, tiga belas tahun, tepatnya, terhitung sejak ia berangkat ke Banjarmasin untuk kuliah, lalu bekerja di sana, lalu membangun hidup di sana, pada akhirnya Iskandar kembali juga. Bukan karena ia benar, benar ingin pulang. Bukan karena ia rindu pada kota ini. Bukan karena ada panggilan darah yang tiba-tiba membara dalam dadanya.
Melainkan karena hidup sering kali membawa seseorang kembali ke tempat yang dulu ingin ia tinggalkan.
Iskandar tidak tahu persis kapan keinginannya untuk meninggalkan Kuala Kapuas mulai tumbuh. Mungkin ketika ia masih SMA, melihat teman, temannya yang lebih tua berangkat ke Jawa dengan mata berbinar dan koper yang hampir tidak muat di bagasi bus. Mungkin ketika ia mulai merasa bahwa kota ini terlalu kecil untuk ambisinya, bahwa tidak ada cukup ruang di sini untuk seseorang yang ingin menjadi sesuatu. Mungkin ketika ia menyadari bahwa di kota ini, semua orang tahu semua hal tentang semua orang, dan tidak ada yang benar, benar bisa menjadi dirinya sendiri karena terlalu sibuk menjaga penampilan di depan tetangga yang matanya ada di mana, mana.
Atau mungkin ketika ia mulai jatuh cinta untuk pertama kalinya, kepada seorang perempuan yang kemudian menikah dengan laki, laki lain karena "kamu akan pergi juga kan, Is? Masa depanmu tidak di sini."
Itu terjadi lima belas tahun lalu. Iskandar masih ingat nama perempuan itu: Sania. Masih ingat bagaimana ia menghabiskan berjam, jam di dermaga yang sama, duduk di bangku kayu yang sama, menatap sungai yang sama, sambil membayangkan bagaimana rasanya jika Sania memilih menunggunya. Tapi Sania tidak menunggu. Dan Iskandar tidak menyalahkannya. Karena dia juga tahu: dia memang akan pergi. Dan dia memang tidak akan kembali.
Tapi ternyata dia kembali.
Dan Sania sekarang tinggal di Palangka Raya, dengan suami yang bekerja di bank pemerintah dan dua orang anak yang wajahnya hanya ia lihat dari foto, foto yang kadang muncul di linimasa media sosial.
Begitulah hidup. Penuh dengan kembalinya ke tempat yang dulu kita tinggalkan, dan pertemuan dengan orang, orang yang dulu kita cintai dalam versi yang sudah sangat berbeda.
Ayahnya, Haji Rahman, adalah seorang pengusaha kecil. "Pengusaha kecil" adalah istilah yang tepat karena usahanya memang kecil: toko material di Jalan A.Yani yang menjual semen, paku, cat, dan segala sesuatu yang dibutuhkan orang untuk membangun atau memperbaiki rumah mereka. Toko itu sudah ada sejak Iskandar masih kecil, dan hampir tidak pernah berubah. Rak, rak kayu yang sama, lantai yang sama, bahkan debu, debu di sudut, sudut ruangan sepertinya sudah turun, temurun.
Ibunya, Bu Ratna, adalah seorang ibu rumah tangga yang menghabiskan sebagian besar waktunya di dapur, di halaman belakang yang ditanami sayuran, atau di teras depan yang selalu bersih meskipun tidak ada tamu yang datang. Ibu rumah tangga adalah pekerjaan yang paling tidak dihargai, pikir Iskandar kadang. Tidak ada gaji, tidak ada promosi, tidak ada pensiun. Tapi coba tanyakan pada anak, anak yang dibesarkan dengan kasih sayang seorang ibu, apa yang lebih berharga dari itu.
Dan ibunya memintanya pulang.
Bukan dengan tangisan. Bukan dengan paksaan. Bukan dengan drama yang biasanya menyertai permintaan seorang ibu kepada anak yang merantau. Hanya dengan satu kalimat sederhana yang membuat Iskandar tak sanggup menolak.
"Nak, rumah ini terlalu sepi kalau kamu tidak ada."
Kalimat itu diucapkan lewat telepon, pada suatu malam ketika Iskandar sedang lembur di kantor konsultan tempatnya bekerja. Di latar belakang, ia bisa mendengar suara televisi yang menyala, suara ayahnya yang batuk, batuk kecil, batuk yang sudah menjadi kebiasaan, batuk yang sudah terlalu lama sehingga tidak lagi dianggap sebagai tanda bahaya oleh siapa pun.
Dan dalam hitungan detik, Iskandar sadar: ia tidak bisa terus hidup di kota besar dengan ambisi yang entah akan membawanya ke mana. Ia tidak bisa terus mengejar sesuatu yang bahkan tidak jelas bentuknya. Ia tidak bisa terus mengabaikan dua orang tua yang usianya terus berjalan, yang rambutnya semakin putih setiap kali ia pulang, yang langkahnya semakin lambat, yang suaranya semakin lemah.
Maka Iskandar pun memutuskan untuk pulang.
Meninggalkan hiruk, pikuk kota besar yang tidak pernah tidur. Meninggalkan ambisi yang sempat ia kejar, ambisi yang sekarang terasa seperti sesuatu yang kekanak, kanakan, seperti mimpi untuk menjadi astronot ketika masih SD. Meninggalkan kehidupan yang dulu ia pikir adalah masa depannya, pekerjaan dengan gaji yang cukup, apartemen kecil yang nyaman, teman, teman yang selalu ada untuk minum kopi dan mengeluh tentang hidup.
Dan kini, setiap sore, ia sering berdiri di dermaga ini seperti seseorang yang sedang mencoba berdamai dengan masa lalu.
Bukan untuk melupakannya. Bukan pula untuk merayakannya. Hanya untuk menerima bahwa masa lalu itu ada, bahwa ia adalah bagian dari dirinya, bahwa tidak ada gunanya terus berlari dari sesuatu yang sudah terjadi.
Di belakangnya, kawasan tepian sungai mulai ramai.
Ini adalah waktu ketika Kuala Kapuas menunjukkan wajahnya yang paling hidup. Anak, anak kecil berlarian sambil tertawa, mengejar satu sama lain di antara bangku, bangku kayu yang disediakan pemerintah kota. Ibu, ibu duduk di bangku sambil mengawasi anak, anak mereka, sesekali berbicara dengan tetangga tentang harga sembako yang naik atau tentang pesta pernikahan yang akan diadakan akhir pekan ini.
Pasangan muda duduk di bangku kayu yang sama, menikmati pemandangan. Beberapa dari mereka masih malu, malu, menjaga jarak yang sopan, sesekali melirik satu sama lain dengan senyum yang tidak bisa disembunyikan. Beberapa yang lain sudah lebih akrab, duduk berdekatan, tangan bersentuhan, sesekali berbisik sesuatu yang membuat mereka tertawa kecil.
Pedagang kaki lima menyalakan lampu kecil di gerobak mereka. Lampu, lampu itu seperti kunang, kunang yang berhenti bergerak, berkerumun di sepanjang trotoar, menawarkan berbagai macam makanan: jagung bakar yang aromanya manis dan smoky, sate ayam dengan bumbu kacang yang kental, pentol yang digoreng hingga kecokelatan, es kelapa muda yang segarnya langsung terasa dari kejauhan.
Aroma jagung bakar bercampur dengan kopi hitam dari warung, warung kecil yang juga mulai membuka lapak. Aroma itu menyeruak pelan di udara, seperti undangan untuk berhenti sejenak, untuk duduk, untuk menikmati malam yang perlahan turun.
Dari kejauhan, lampu di sekitar Rumah Jabatan Bupati Kapuas mulai menyala satu per satu. Lampu, lampu taman yang berwarna kuning lembut, memantul indah di permukaan sungai yang tenang. Bangunan itu tampak tenang, berdiri anggun menghadap sungai seperti penjaga malam yang tak pernah tidur, seperti saksi bisu yang telah melihat pergantian bupati dari masa ke masa, dari yang baik hingga yang korup, dari yang dicintai hingga yang dibenci.
Kuala Kapuas masih sama seperti yang ia ingat.
Tenang. Tidak tergesa, gesa. Tidak berteriak seperti kota, kota besar yang selalu berlomba untuk menjadi yang terbaik, yang tercepat, yang terkaya.
Ramah. Orang, orang masih saling menyapa meskipun tidak kenal, masih tersenyum kepada tetangga meskipun hati sedang tidak baik, baik saja, masih membantu ketika ada yang kesusahan meskipun mereka sendiri sedang dalam kesulitan.
Dan diam, diam menyimpan banyak hal yang tak pernah diceritakan. Rahasia, rahasia kecil yang hanya diketahui oleh sungai yang mengalir, oleh angin yang berembus, oleh dermaga yang berdiri sejak zaman Belanda. Rahasia tentang perselingkuhan yang tidak pernah terbongkar, tentang hutang yang tidak pernah dibayar, tentang mimpi yang tidak pernah tercapai, tentang cinta yang tidak pernah terbalas.
Namun ada sesuatu yang berbeda sore itu.
Sesuatu yang membuat Iskandar, tanpa sadar, mengangkat wajahnya dari sungai.
Di ujung dermaga sebelah selatan, seorang perempuan berdiri sendirian.
Tidak terlalu jauh. Hanya beberapa meter dari tempatnya berdiri. Mungkin delapan atau sepuluh langkah. Jarak yang cukup dekat untuk melihat detail, tetapi cukup jauh untuk tidak mengganggu.
Perempuan itu mengenakan blouse putih sederhana—blouse berbahan katun yang sedikit longgar, dengan lengan panjang yang digulung hingga siku. Rok panjang berwarna biru muda yang jatuh hingga mata kaki, dengan sedikit lipatan di bagian pinggang. Sepatu sandal berwarna cokelat tua, sederhana, tanpa hak.
Rambut hitamnya yang panjang dibiarkan tergerai, bergerak pelan tertiup angin sungai. Rambut itu seperti tirai yang membingkai wajahnya, kadang menutupi pipi, kadang terbuka, memperlihatkan profil yang tenang dan teduh.
Tangannya bertumpu ringan di pagar besi dermaga, pagar yang sudah mulai berkarat di beberapa bagian, yang cat hijaunya sudah terkelupas oleh usia dan air. Jari, jarinya panjang dan ramping, dengan kuku yang pendek dan bersih, tanpa polesan.
Dan matanya menatap jauh ke arah air seperti sedang mencari sesuatu yang tak terlihat. Atau mungkin seseorang yang tak datang. Atau mungkin hanya sedang merenungkan sesuatu yang terlalu rumit untuk dipikirkan di tempat lain, terlalu pribadi untuk dibagikan kepada siapa pun.
Iskandar tidak tahu mengapa ia memperhatikannya begitu lama.
Mungkin karena cara perempuan itu berdiri: tegak, tetapi tidak kaku; tenang, tetapi tidak dingin; sendirian, tetapi tidak terlihat kesepian. Seperti seseorang yang sudah terbiasa dengan kesendirian, yang sudah berdamai dengan fakta bahwa tidak semua orang akan mengerti dirinya.
Mungkin karena wajahnya yang teduh: tidak terlalu mencolok, tidak terlalu biasa. Hidung mancung, bibir tipis yang sedikit pucat, alis yang tidak terlalu tebal, kulit sawo matang yang sehat. Bukan kecantikan yang membuat orang berhenti di jalan, tetapi kecantikan yang membuat orang ingin melihat lebih lama, ingin tahu lebih dalam.
Mungkin karena sorot matanya yang terlihat seperti menyimpan kesedihan. Bukan kesedihan yang baru saja terjadi, bukan air mata yang masih basah, bukan luka yang masih berdarah. Tapi kesedihan yang sudah tua, yang sudah menjadi bagian dari dirinya, yang sudah tidak terasa sakit lagi tetapi juga tidak pernah benar, benar hilang.
Atau mungkin karena sejak pulang ke kota ini, sejak tiga bulan yang lalu, ada sesuatu yang membuat hatinya berhenti terasa kosong. Dan perempuan ini, tanpa sengaja, tanpa tahu, tanpa bermaksud, telah mengisi kekosongan itu dengan kehadirannya yang sederhana.
Perempuan itu menoleh.
Mata mereka bertemu.
Hanya beberapa detik. Mungkin tiga, mungkin lima, mungkin sepuluh, Iskandar tidak bisa menghitung karena pikirannya sedang dalam keadaan kacau yang tidak bisa dijelaskan.
Tapi cukup lama untuk membuat Iskandar lupa bagaimana caranya bernapas dengan normal.
Matanya, Tuhan, matanya, gelap, dalam, seperti air sungai di malam yang tidak berbulan. Ada sesuatu di sana yang membuat Iskandar ingin terus melihat, ingin terus menyelam, meskipun ia tahu bahwa menyelam terlalu dalam bisa berbahaya.
Perempuan itu segera mengalihkan pandangan, seolah pertemuan mata tadi tidak pernah terjadi. Seolah tidak ada apa, apa. Seolah Iskandar hanyalah orang asing yang kebetulan berdiri di tempat yang sama, pada waktu yang sama, dan itu tidak berarti apa, apa.
Namun Iskandar masih diam di tempatnya.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa waktu benar, benar melambat. Seperti dalam film, film yang adegan slow motion, nya berlebihan, tetapi kali ini nyata. Suara sungai seperti menjauh, seolah, olah ia mendengarnya dari ujung terowongan yang panjang. Keramaian di belakangnya menghilang, seolah semua orang tiba, tiba dibungkam. Bahkan angin pun terasa berhenti sesaat, seolah alam ikut berhenti untuk melihat apa yang akan terjadi.
Yang tersisa hanya satu hal.
Perempuan itu.
Dan perasaan aneh di dadanya yang tidak bisa ia identifikasi. Bukan jatuh cinta, itu terlalu cepat, terlalu dramatis, terlalu klise. Mungkin hanya ketertarikan. Mungkin hanya penasaran. Mungkin hanya kebetulan yang kebetulan terasa lebih berarti dari seharusnya.
Atau mungkin. Mungkin, itu adalah awal dari sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan.
Iskandar menghela napas pelan, mencoba menertawakan dirinya sendiri.
Mustahil.
Ia bukan remaja yang mudah jatuh hati hanya karena satu tatapan singkat. Ia sudah terlalu dewasa untuk hal, hal seperti itu. Ia sudah terlalu banyak melihat bagaimana cinta bisa menjadi rumit, bagaimana perasaan bisa berubah, bagaimana janji bisa dilupakan.
Ia sudah tiga puluh tahun. Usia di mana seseorang seharusnya sudah tidak lagi percaya pada cinta pada pandangan pertama. Usia di mana seseorang seharusnya sudah belajar bahwa perasaan tidak bisa diandalkan, bahwa yang lebih penting adalah kesesuaian, kecocokan, komitmen.
Namun anehnya, semakin ia mencoba mengalihkan pandangan, semakin sulit ia berhenti memperhatikan perempuan tersebut. Seolah matanya punya kemauan sendiri. Seolah ada magnet yang tidak terlihat menarik perhatiannya ke arah sana.
Lalu tiba, tiba, sebuah map kecil di tangan perempuan itu terlepas.
Iskandar tidak tahu persis bagaimana itu terjadi. Mungkin karena tangannya licin oleh keringat, meskipun cuaca tidak terlalu panas. Mungkin karena map itu tidak ia pegang dengan erat. Mungkin karena angin yang berhembus sedikit lebih kencang dari sebelumnya. Atau mungkin hanya karena kecelakaan kecil yang terjadi setiap hari, yang biasanya tidak diperhatikan siapa pun.
Beberapa lembar kertas beterbangan tertiup angin.
Sebagian jatuh ke lantai dermaga, mendarat dengan suara lembut yang hampir tidak terdengar. Sebagian hampir terbang ke arah sungai, melayang, layang di udara seperti burung putih yang kehilangan arah.
Refleks, Iskandar bergerak cepat.
Ia tidak berpikir. Tidak menghitung risiko. Tidak bertanya, tanya apakah ini saat yang tepat untuk bertindak. Tubuhnya bergerak sebelum pikirannya sempat memproses apa yang terjadi.
Ia melangkah dan menangkap salah satu lembar sebelum jatuh ke air, sebuah gerakan yang hampir membuat ia kehilangan keseimbangan, hampir membuat ia jatuh ke sungai. Ia tidak peduli. Tangannya menjulur ke depan, jari, jarinya mencengkeram kertas itu seperti seorang kiper yang menyelamatkan gol di menit, menit akhir.
Lalu ia memungut beberapa lainnya yang berserakan di lantai kayu, sambil berjongkok dengan gerakan yang sedikit canggung, karena ia tidak ingin terlihat terlalu bersemangat meskipun sebenarnya ia sangat bersemangat.
Perempuan itu menoleh cepat.
Wajahnya terlihat terkejut, mata membesar sedikit, alis terangkat, mulut terbuka setengah. Mungkin karena ia tidak menyangka ada orang yang akan menolong. Mungkin karena ia tidak menyangka bahwa orang asing yang kebetulan berdiri di dekatnya akan bergerak secepat itu.
"Terima kasih," katanya pelan.
Suara itu lembut. Lebih lembut daripada yang Iskandar bayangkan. Lebih lembut daripada suara kebanyakan perempuan yang ia kenal. Suara yang terdengar seperti air mengalir di atas batu, batu sungai, tenang, menenangkan, membuat orang ingin mendengar lebih banyak.
Iskandar berdiri, merapikan pakaiannya yang sedikit kusut karena gerakan tadi. Ia menyerahkan kertas, kertas itu padanya, satu per satu, dengan hati, hati, seolah kertas, kertas itu adalah barang berharga yang tidak boleh rusak.
"Kalau sedikit terlambat, mungkin sudah hanyut ke sungai."
Ia mencoba terdengar santai, seperti orang yang biasa menolong orang lain, seperti ini adalah hal yang biasa terjadi padanya. Padahal jantungnya berdebar seperti orang yang baru saja lari seratus meter.
Perempuan itu tersenyum kecil.
Dan saat itulah, sesuatu di dalam dada Iskandar terasa berubah.
Senyum itu sederhana. Tidak ada usaha untuk terlihat cantik. Tidak ada niat untuk memikat. Hanya gerakan kecil bibir yang menunjukkan rasa terima kasih yang tulus.
Tapi entah mengapa, senyum itu terasa seperti sesuatu yang sudah lama ia tunggu tanpa pernah ia sadari.
Seperti secangkir kopi di pagi hari yang dingin setelah hujan semalaman. Seperti hembusan angin sejuk di tengah terik matahari. Seperti kata "selamat datang" yang diucapkan oleh rumah setelah bertahun, tahun merantau.
"Kadang," perempuan itu berkata sambil merapikan kertasnya, menyusunnya kembali ke dalam map dengan gerakan yang rapi dan teliti, "yang hanyut bukan cuma kertas."
Iskandar menatapnya sesaat.
Kalimat itu terdengar seperti sesuatu yang lebih dalam dari sekadar percakapan biasa. Seperti ada makna tersembunyi di balik kata, kata yang sederhana. Seperti perempuan ini tidak hanya berbicara tentang kertas yang hampir jatuh ke sungai, tetapi tentang sesuatu yang lebih besar, lebih pribadi, lebih menyakitkan.
"Apa maksudnya?" tanyanya.
Perempuan itu menoleh ke arah sungai lagi. Tatapannya kembali jauh, kembali ke tempat yang tidak bisa dilihat oleh mata biasa, kembali ke masa lalu yang mungkin hanya ia sendiri yang tahu.
"Kadang," katanya pelan, suaranya nyaris berbisik, seperti sedang berbicara pada dirinya sendiri, "yang paling mudah hilang justru yang paling ingin kita simpan."
Iskandar terdiam.
Untuk beberapa detik, ia tidak tahu harus menjawab apa.
Ada banyak pertanyaan yang ingin ia tanyakan. Siapa dia? Dari mana dia berasal? Apa yang ia maksud dengan kalimat itu? Apa yang ia sembunyikan di balik senyum yang sederhana namun misterius itu?
Tapi ia tidak bertanya. Karena ada kalanya, diam lebih sopan daripada pertanyaan. Karena ada kalanya, membiarkan seseorang menyimpan rahasianya adalah bentuk penghormatan tertinggi.
Perempuan itu lalu menoleh lagi, kali ini dengan senyum tipis yang seolah ingin menghapus suasana serius tadi. Senyum yang mengatakan: maaf, saya terlalu dalam, mari kita kembali ke permukaan.
"Saya Nayla."
Iskandar sedikit terlambat menyadari bahwa ia harus menjawab. Namanya terasa berat di lidah, seolah ia harus memperkenalkan diri untuk pertama kalinya dalam hidupnya.
"Iskandar."
Nayla mengangguk pelan. Matanya menatap Iskandar sebentar, tidak terlalu lama, tidak terlalu singkat. Cukup untuk membuat Iskandar merasa bahwa ia sedang dilihat, sedang diperhatikan, sedang tidak diabaikan.
"Senang bertemu dengan Anda, Iskandar."
Lalu perempuan itu berjalan pergi.
Begitu saja.
Tanpa menunggu jawaban. Tanpa berpamitan dengan kata, kata yang lebih panjang. Tanpa janji untuk bertemu lagi.
Meninggalkan Iskandar berdiri sendiri di dermaga, dengan jantung yang tiba, tiba berdetak lebih cepat daripada seharusnya, dengan perasaan yang tidak bisa ia jelaskan, dengan pikiran yang kacau seperti ombak di laut yang sedang badai.
Ia menatap punggung perempuan itu sampai menghilang di antara lampu, lampu sore Kuala Kapuas, di antara kerumunan orang yang mulai berdatangan, di antara asap yang mengepul dari gerobak, gerobak makanan, di antara senja yang perlahan berubah menjadi malam.
Dan tanpa ia sadari, senja di Kota Air hari itu bukan hanya membawa satu pertemuan. Ia membawa awal dari sebuah cerita yang kelak akan mengubah hidupnya.
Sebab Iskandar belum tahu, bahwa perempuan bernama Nayla itu akan menjadi alasan mengapa ia memahami bahwa tidak semua cinta datang untuk menetap. Sebagian datang hanya untuk meninggalkan luka yang tak pernah benar, benar sembuh. Sebagian datang seperti air bah: menghancurkan, merusak, dan setelah itu pergi, meninggalkan kehancuran yang harus dibangun kembali dari nol.
Dan Iskandar, yang tidak pernah percaya pada cinta yang datang tiba, tiba, akan belajar bahwa cinta tidak pernah peduli dengan apa yang kita percaya.
Cinta hanya datang.
Dan pergi.
Meninggalkan kita dengan pilihan: tenggelam, atau berenang ke permukaan.
Di kejauhan, lampu, lampu Rumah Jabatan Bupati terus menyala. Kapal, kapal kecil terus melintas. Pedagang, pedagang terus melayani pembeli. Dan Kuala Kapuas, Kota Air yang tenang itu, terus menjadi saksi bagi ribuan cerita yang dimulai dan berakhir setiap hari.
Cerita tentang cinta.
Cerita tentang kehilangan.
Cerita tentang orang, orang yang datang dan pergi.
Dan cerita tentang Iskandar dan Nayla, yang baru saja dimulai.
BAB 2
Perempuan di Tepi Air
Malam turun perlahan di Kuala Kapuas.
Lampu, lampu di sepanjang tepian sungai mulai memantulkan cahaya kuning ke permukaan air yang bergerak tenang. Pantulan itu seperti kunang, kunang yang tidak pernah padam, berkedip, kedip lembut di atas permukaan yang gelap, menciptakan ilusi bahwa sungai itu sendiri sedang bernapas, sedang hidup, sedang menyaksikan.
Dari kejauhan, suara mesin perahu kecil masih terdengar sesekali, suara ces yang khas, yang bagi orang Kapuas sudah menjadi seperti suara detak jantung kota ini. Suara itu memecah sunyi yang datang bersama angin malam, mengingatkan bahwa meskipun hari sudah gelap, kehidupan masih terus berjalan. Nelayan masih melaut, pedagang masih mengangkut barang, orang, orang yang pulang terlambat masih menyeberang dari satu desa ke desa lain.
Namun sejak pertemuan singkat di Dermaga KP3 sore tadi, ada sesuatu yang terasa berbeda bagi Iskandar.
Kota itu masih sama. Sungainya masih sama, dengan arus yang sama, dengan warna yang sama, dengan aroma yang sama. Langitnya masih sama, dengan bintang, bintang yang sama, dengan bulan yang sama, dengan awan, awan yang sama yang bergerak begitu lambat hingga tidak terasa bergerak.
Tetapi hatinya tidak.
Ada sesuatu yang berubah. Sesuatu yang tidak bisa ia lihat, tidak bisa ia sentuh, tidak bisa ia jelaskan dengan kata, kata. Sesuatu yang terasa seperti lubang kecil di dadanya yang tiba, tiba terisi, tanpa ia tahu kapan dan bagaimana.
Sejak pulang ke Kuala Kapuas tiga bulan lalu, hari, harinya selalu berjalan nyaris serupa. Seperti film yang diputar ulang setiap hari dengan adegan yang sama, dengan dialog yang sama, dengan akhir yang sama.
Pagi membantu ibunya di rumah, mengepel lantai yang sudah bersih, mencuci piring yang sudah tidak banyak karena hanya bertiga, menemani ibunya ke pasar untuk membeli sayuran yang sama setiap minggu.
Siang menyelesaikan pekerjaan administrasi di kantor konsultan tempat ia baru diterima bekerja. Pekerjaan yang tidak menarik, tidak menantang, tetapi cukup untuk membuatnya tidak merasa menjadi beban bagi orang tuanya.
Sore berjalan sendiri ke tepian sungai. Kadang ke Dermaga KP3, kadang ke Dermaga Danau Mare, kadang hanya duduk di bangku taman dekat bundaran sambil menatap orang, orang yang lalu lalang.
Malam kembali pulang dengan kepala penuh pikiran yang tak pernah benar, benar selesai. Pikiran tentang masa lalu yang tidak bisa diubah, tentang masa depan yang tidak jelas, tentang hidup yang terasa seperti berada di ruang tunggu stasiun: menunggu, tetapi tidak tahu menunggu apa.
Semuanya terasa datar. Seperti garis lurus yang tidak pernah naik, tidak pernah turun, tidak pernah berbelok. Seperti lagu yang hanya punya satu nada, diulang, ulang terus tanpa pernah berubah.
Teratur. Bangun jam enam, sarapan jam tujuh, berangkat kerja jam setengah delapan, pulang jam empat, ke dermaga jam setengah lima, pulang jam tujuh, makan malam, tidur. Rutinitas yang sama setiap hari, seperti hamster yang berlari di dalam roda: bergerak, tetapi tidak pernah sampai ke mana, mana.
Dan hening. Sunyi yang kadang terasa nyaman, kadang terasa seperti beban. Sunyi yang tidak pernah terganggu oleh suara tawa yang keras, oleh pertengkaran yang memecah suasana, oleh suara tangisan yang memilukan.
Sampai sore tadi.
Sampai perempuan bernama Nayla itu muncul seperti kalimat pertama dari cerita yang tidak pernah ia rencanakan. Seperti halaman kosong yang tiba, tiba dihiasi oleh tulisan tangan yang indah, yang membuat ia ingin terus membaca, terus tahu, terus berada di sana.
Iskandar duduk di ruang tamu rumah kayu yang terletak di Jalan Jenderal A. Yani.
Rumah itu sudah ada sejak ia kecil. Rumah panggung dengan tiang, tiang kayu ulin yang kokoh, yang tidak akan goyah meskipun banjir datang. Lantai kayu yang berderit setiap kali diinjak, tetapi terasa hangat di kaki telanjang. Dinding, dinding kayu yang sudah menghitam oleh usia, tetapi masih berdiri tegak seperti orang tua yang tidak mau mengaku tua.
Di ruang tamu ini, Iskandar belajar merangkak, belajar berjalan, belajar berbicara. Di ruang tamu ini, ia menyaksikan ayahnya membaca koran setiap pagi sambil minum kopi hitam tanpa gula. Di ruang tamu ini, ia mendengar ibunya menyanyikan lagu, lagu lama sambil menyetrika baju.
Dan malam ini, ia duduk di ruang tamu yang sama, sambil menatap secangkir kopi yang sudah dingin.
Kopi itu diseduh oleh ibunya satu jam yang lalu, ketika ia baru pulang dari Dermaga KP3. Saat itu kopinya masih panas, masih mengepul, masih menguarkan aroma yang harum. Sekarang, kopi itu sudah dingin, lapisan minyaknya sudah terbentuk di permukaan, tidak lagi menarik untuk diminum.
Tapi Iskandar tidak peduli. Ia tidak benar, benar ingin minum kopi. Ia hanya ingin memegang sesuatu yang hangat, meskipun kehangatan itu sudah lama hilang.
Televisi menyala tanpa benar, benar ia tonton. Gambar bergerak, suara terdengar, tetapi pikirannya jauh di tempat lain. Di dermaga. Di sore hari. Di samping perempuan bernama Nayla.
Di luar jendela, suara serangga malam bersahutan di antara pohon rambai di halaman. Jangkrik, katak, dan serangga lain yang tidak ia kenal menciptakan simfoni malam yang sudah menjadi soundtrack tidurnya sejak kecil. Suara yang biasa ia abaikan, tetapi malam ini terasa lebih keras, lebih mengganggu, seperti sedang mengolok, olok kegelisahannya.
"Dari tadi kopi itu dilihat terus. Mau diminum atau diajak bicara?"
Suara ibunya membuat Iskandar menoleh.
Bu Ratna berdiri di ambang pintu dapur sambil membawa piring kecil berisi pisang goreng hangat. Pisang goreng buatan tangan ibunya, yang selalu menjadi makanan favorit Iskandar sejak kecil, pisang kepok yang digoreng dengan tepung yang renyah di luar dan lembut di dalam, ditaburi gula halus yang membuatnya sempurna.
Wajah perempuan berusia enam puluh tahun itu masih menyimpan kelembutan yang sama seperti sejak kecil dulu. Keriput di sudut matanya tidak mengurangi kecantikannya, justru menambah kharisma, seperti buku yang sudah tua tetapi isinya semakin berharga. Rambutnya yang mulai banyak uban ditata sederhana dengan tusuk konde. Tangannya yang sudah tidak sekencang dulu masih dengan setia menyiapkan makanan untuk anak semata wayangnya.
Iskandar tersenyum tipis.
"Lagi capek saja, Bu."
Ibunya duduk di kursi seberang, meletakkan piring pisang goreng di atas meja yang sudah mulai mengelupas vernisnya. Ia menatap Iskandar dengan sorot mata yang terlalu tajam untuk sekadar menanyakan kabar.
"Capek atau sedang memikirkan seseorang?"
Iskandar hampir tersedak walau belum sempat minum.
"Memangnya kelihatan?"
Ibunya tertawa kecil. Tawa yang lembut, tawa yang hanya dimiliki oleh ibu yang mengenal anaknya lebih baik daripada anak itu mengenali dirinya sendiri.
"Kalau anak ibu sendiri, tentu kelihatan."
Iskandar hanya menggeleng sambil tersenyum kecil. Ia tahu percuma berbohong pada perempuan yang telah mengenalnya seumur hidup itu. Perempuan yang membersihkan kotoran di popoknya, yang mengajarinya berbicara, yang menggendongnya ketika ia demam, yang menemaninya ketika ia pertama kali patah hati.
"Cuma ketemu seseorang di dermaga," katanya akhirnya, setelah pertarungan batin yang singkat antara ingin berbagi dan ingin menyimpan sendiri.
Ibunya mengangkat alis. Satu alis terangkat, yang lain tetap di tempatnya, ekspresi khas yang selalu membuat Iskandar merasa seperti sedang diinterogasi.
"Perempuan?"
Iskandar diam.
Dan diamnya sudah cukup sebagai jawaban.
Bu Ratna tersenyum lebih lebar. Senyum kemenangan seorang ibu yang tebakannya selalu benar. Senyum yang mengatakan: Ibu tahu dari awal, Ibu hanya menunggu kamu mengaku.
"Namanya?"
Iskandar ragu sejenak. Ia tidak tahu apakah pantas menyebut nama perempuan asing kepada ibunya. Ia tidak tahu apakah ibunya akan langsung mencari tahu siapa perempuan itu, dari mana asalnya, siapa orang tuanya, apa pekerjaannya, seperti yang biasa dilakukan ibu, ibu di kota kecil.
Lalu ia berpikir, ah, untuk apa rahasia? Ini hanya pertemuan biasa. Tidak ada yang istimewa. Tidak ada yang perlu disembunyikan.
"Nayla," jawabnya pelan.
Nama itu terasa asing sekaligus dekat saat keluar dari bibirnya. Seperti kata dalam bahasa asing yang baru ia pelajari tetapi sudah terasa akrab. Seperti lagu yang baru pertama kali didengar tetapi langsung bisa dihafal.
Bu Ratna memperhatikan wajah anaknya cukup lama. Matanya menyapu dari dahi ke dagu, dari mata ke mulut, dari ekspresi ke ekspresi. Lalu ia berkata dengan suara yang lembut, suara yang hanya digunakan ketika ia ingin mengatakan sesuatu yang penting.
"Kadang orang datang bukan karena kebetulan, Kandar."
Iskandar menunduk menatap kopi dinginnya. Lapisan minyak di permukaan kopi itu membentuk lingkaran, lingkaran kecil yang tidak beraturan, seperti peta pulau, pulau yang tidak bernama.
"Kadang juga cuma kebetulan yang kita buat terlalu berarti."
Bu Ratna tak menjawab.
Ia hanya tersenyum tipis seperti seseorang yang tahu sesuatu yang belum diketahui orang lain. Seperti seseorang yang telah hidup cukup lama untuk mengetahui bahwa tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Bahwa setiap pertemuan, setiap perpisahan, setiap senyum, setiap air mata, semuanya sudah digariskan sejak awal.
Ia berdiri, mengambil piring kosong, dan berjalan kembali ke dapur. Di ambang pintu, ia berhenti sejenak, menoleh, dan berkata:
"Jangan biarkan kopimu dingin terlalu lama, Nak. Nanti pahit."
Lalu ia pergi, meninggalkan Iskandar dengan pikirannya yang semakin kusut, dengan kopinya yang semakin dingin, dan dengan nama Nayla yang terus berputar di kepalanya seperti rekaman yang rusak.
Keesokan paginya, Kuala Kapuas disambut langit mendung.
Awan kelabu menggantung rendah di atas sungai, seperti kapas basah yang terlalu berat untuk terbang. Udara terasa lebih sejuk dari biasanya, sejuk yang menusuk tulang, sejuk yang membuat orang ingin tetap berada di dalam selimut lebih lama.
Dari dapur rumah, aroma nasi kuning buatan ibunya memenuhi ruangan. Aroma kunyit, serai, daun pandan, dan santan bercampur menjadi satu, menciptakan aroma yang sudah menjadi signature ibunya. Aroma yang selalu membuat Iskandar lapar meskipun baru saja sarapan.
Namun pagi itu, Iskandar tidak lapar.
Pikirannya masih tertinggal di satu tempat. Dermaga KP3.
Ia bahkan tidak mengerti kenapa. Bukan pertama kalinya ia bertemu perempuan asing. Bukan pertama kalinya ia membantu seseorang yang kesusahan. Bukan pertama kalinya ia mendengar nama yang indah.
Ia hanya bertemu Nayla beberapa menit. Mungkin lima, mungkin sepuluh, mungkin kurang dari itu. Tak lebih dari percakapan singkat yang tidak berisi apa, apa: terima kasih, sama-sama, perkenalan singkat, selamat tinggal.
Tak ada janji. "Sampai jumpa lagi" tidak pernah diucapkan. "Semoga kita bertemu lagi" tidak pernah terucap.
Tak ada alasan untuk bertemu lagi. Tidak ada nomor telepon yang ditukar. Tidak ada janji untuk bertemu di tempat yang sama di waktu yang sama.
Tapi sepanjang pagi, wajah perempuan itu terus muncul di pikirannya.
Cara matanya menatap sungai. Seperti sedang berbicara dengan air. Seperti sungai itu bisa mendengar, bisa mengerti, bisa memberikan jawaban atas pertanyaan, pertanyaan yang tidak pernah ia ucapkan.
Cara rambutnya tertiup angin. Rambut hitam panjang yang bergerak seperti rumput laut di dasar lautan, lembut, mengalir, membuat orang ingin menyentuhnya meskipun tahu itu tidak pantas.
Cara ia mengatakan: "Kadang yang paling mudah hilang justru yang paling ingin kita simpan."
Kalimat itu masih terngiang di kepalanya. Iskandar sudah mengulanginya berkali, kali, mencoba mencari makna tersembunyi di balik kata, kata yang sederhana. Apakah ia sedang berbicara tentang seseorang? Tentang sesuatu? Tentang dirinya sendiri?
Dan entah mengapa, Iskandar merasa perempuan itu bukan sekadar orang asing biasa.
Ada sesuatu di matanya. Sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan. Sesuatu yang membuat ia ingin tahu lebih banyak, meskipun ia tahu bahwa rasa ingin tahu kadang adalah awal dari kehancuran.
Sore harinya, tanpa banyak berpikir, langkah Iskandar membawanya kembali ke Dermaga KP3.
Ia sendiri tak ingin mengakui alasan sebenarnya. Ia akan malu jika ketahuan bahwa ia kembali ke tempat yang sama hanya karena berharap bertemu seseorang yang tidak ia kenal. Ia akan malu jika teman, temannya tahu bahwa ia, Iskandar yang selalu logis, sekarang bertingkah seperti remaja yang sedang jatuh cinta.
Ia hanya bilang pada dirinya bahwa ia ingin menikmati senja. Itu alasan yang masuk akal. Siapa yang tidak ingin menikmati senja di tepian sungai? Siapa yang tidak ingin melihat langit berubah warna dari jingga menjadi merah menjadi ungu menjadi gelap? Itu bukan hal yang aneh. Itu bukan hal yang memalukan.
Padahal jauh di dalam hatinya, ia tahu ia sedang berharap.
Berharap perempuan itu ada di sana.
Berharap takdir cukup baik untuk mempertemukan mereka sekali lagi.
Berharap bahwa pertemuan kemarin bukan hanya kebetulan biasa, tetapi awal dari sesuatu yang lebih besar.
Angin sore bertiup lembut ketika Iskandar sampai di tepian dermaga.
Beberapa wisatawan lokal tampak sibuk berfoto dengan latar sungai. Ponsel diangkat tinggi, tinggi, senyum lebar diukir di wajah, jari membentuk simbol V yang sudah menjadi gaya universal sejak zaman nenek moyang.
Anak, anak kecil tertawa sambil memberi makan ikan di pinggir pelataran. Roti tawar disobek, sobek kecil lalu dilempar ke air, dan ikan, ikan kecil akan berebut dengan gerakan yang cepat dan gesit. Kadang ada ikan yang lebih besar muncul, dan anak, anak itu akan berteriak kegirangan.
Di kejauhan, perahu motor melintas perlahan, membawa penumpang yang pulang dari seberang. Wajah, wajah mereka tidak terlihat jelas dari jarak ini, tetapi Iskandar bisa membayangkan ekspresi lelah setelah seharian bekerja, atau ekspresi lega karena akhirnya bisa pulang ke rumah.
Ia memandang ke ujung dermaga.
Kosong.
Tak ada Nayla.
Iskandar menghela napas pelan, sedikit menertawakan dirinya sendiri.
Tentu saja. Apa yang kau harapkan, Is? Ini bukan film. Orang asing yang baru kau temui kemarin tidak akan selalu berada di tempat yang sama, menunggumu datang. Dunia tidak berputar di sekitarmu.
Ia hendak berbalik, kaki kanannya sudah setengah langkah ke belakang, tubuhnya sudah setengah berputar, ketika matanya menangkap sosok yang dikenalnya.
Di bawah pohon ketapang di sisi dermaga, dekat penjual es kelapa muda yang gerobaknya selalu ramai, perempuan itu berdiri sambil memegang buku kecil di tangannya.
Nayla.
Jantung Iskandar langsung berdetak sedikit lebih cepat.
Bukan detak yang biasa. Bukan detak yang terjadi ketika ia sedang olahraga atau sedang terkejut. Ini detak yang berbeda. Detak yang membuat dadanya terasa sesak, napasnya terasa pendek, dan pikirannya terasa kosong.
Perempuan itu belum melihatnya. Ia sedang membaca sesuatu sambil sesekali menatap sungai, seolah ia sedang mencari inspirasi dari air yang mengalir. Kadang ia menulis sesuatu di buku itu, mungkin puisi, mungkin catatan harian, mungkin daftar belanjaan, dan kadang ia hanya menatap kosong ke kejauhan, seperti sedang merenungkan sesuatu yang terlalu berat untuk dipikirkan.
Untuk sesaat Iskandar hanya berdiri diam.
Merasa aneh karena satu orang asing bisa mengubah ritme napasnya hanya dalam dua hari.
Merasa aneh karena ia, yang selalu bangga dengan kemampuannya mengendalikan emosi, sekarang seperti kehilangan kendali hanya karena melihat seorang perempuan berdiri di bawah pohon.
Lalu seperti merasakan seseorang memperhatikannya, Nayla menoleh.
Mata mereka bertemu lagi.
Dan kali ini, Nayla tersenyum lebih dulu.
"Sepertinya kita bertemu lagi."
Kalimat sederhana itu terdengar jauh lebih hangat daripada seharusnya. Seperti teh manis di pagi yang dingin. Seperti selimut tebal di malam yang hujan. Seperti kata, kata yang sudah lama tidak ia dengar tetapi tiba, tiba muncul kembali.
Iskandar mendekat perlahan. Langkahnya tidak tergesa, gesa, tetapi juga tidak terlalu lambat. Ia mencoba terlihat santai, seperti seseorang yang memang sengaja datang ke dermaga untuk menikmati senja dan kebetulan bertemu kenalan lama, meskipun kenalan itu baru dikenal kemarin.
"Mungkin Kuala Kapuas memang tidak terlalu besar."
Nayla tersenyum tipis.
"Atau mungkin sungai memang suka mempertemukan orang."
Iskandar menatap wajah perempuan itu lebih jelas dibanding kemarin. Di bawah cahaya sore yang tidak terlalu terang, wajah Nayla terlihat tenang. Tidak mencolok, tidak berlebihan, tidak dibuat, buat. Wajah yang terlihat seperti bisa ia lihat setiap hari tanpa pernah bosan.
Berhenti, Is. Jangan terlalu dalam.
Ia mengusir pikirannya sendiri.
"Apa Anda sering ke sini?" tanya Iskandar, memulai percakapan yang tidak terlalu penting, tetapi juga tidak terlalu mengancam.
Nayla mengangguk. Anggukan yang pelan, seperti gerakan dedaunan yang tertiup angin.
"Kalau sedang ingin menenangkan pikiran."
"Berhasil?"
Nayla memandang sungai. Pandangan yang sama seperti kemarin. Pandangan yang seperti sedang mencari sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh mata biasa.
"Kadang iya. Kadang malah justru makin banyak yang dipikirkan."
Jawaban itu membuat Iskandar tersenyum kecil. Senyum yang keluar tanpa direncanakan, tanpa dikendalikan.
"Berarti kita sama."
Nayla menoleh.
"Kenapa?"
"Karena saya juga datang ke sini untuk alasan yang sama."
Perempuan itu menatap Iskandar beberapa detik, seolah mencoba membaca sesuatu dari wajahnya. Seolah ia sedang mencari tahu apakah laki, laki di depannya sedang bercanda atau serius, apakah ia sedang berbasa, basi atau jujur.
Lalu untuk pertama kalinya, senyum Nayla terlihat benar, benar tulus.
Bukan senyum sopan yang diberikan kepada orang asing. Bukan senyum yang dibuat, buat untuk menyembunyikan sesuatu. Tapi senyum yang keluar dari hati, senyum yang membuat mata ikut tersenyum, senyum yang membuat orang yang melihatnya ikut merasa hangat.
Dan saat itu, Iskandar merasa sore di Kota Air menjadi jauh lebih indah daripada biasanya.
Tanpa ia sadari, ia sedang berdiri di ambang sesuatu yang akan mengubah hidupnya perlahan.
Karena kadang, cinta tidak datang dengan suara gaduh. Ia tidak datang dengan terompet yang membahana, tidak dengan bunga yang bertebaran, tidak dengan orkestra yang memainkan lagu romantis.
Ia datang pelan, seperti riak kecil di permukaan air. Hampir tak terlihat, hampir tidak terasa, tetapi cukup kuat untuk mengubah arah hati seseorang selamanya.
Dan Iskandar, yang tidak pernah percaya pada cinta yang datang tiba, tiba, mulai belajar bahwa cinta tidak pernah peduli dengan apa yang kita percaya.
Cinta hanya datang.
Dan pergi.
Meninggalkan kita dengan pilihan: menerima, atau terus berlari.
Di kejauhan, matahari mulai tenggelam. Langit berubah warna dari jingga menjadi merah keunguan, seperti lukisan yang sedang dalam proses penyelesaian. Kapal, kapal kecil terus melintas di sungai. Pedagang, pedagang mulai menyalakan lampu di gerobak mereka.
Dan dua orang yang baru saja bertemu untuk kedua kalinya, mulai menyadari bahwa pertemuan ini mungkin bukan kebetulan.
Atau mungkin kebetulan yang mereka berdua pilih untuk tidak sia, siakan.
BAB 3
Kota yang Menyimpan Rahasia
Sejak pertemuan kedua itu, ada sesuatu yang berubah dalam hari-hari Iskandar.
Bukan perubahan besar yang langsung terlihat oleh mata telanjang, bukan seperti orang yang tiba, tiba kaya raya atau tiba, tiba miskin mendadak. Bukan pula perubahan yang bisa diukur dengan angka atau dijelaskan dengan grafik. Hanya perasaan samar bahwa setiap sore kini memiliki alasan untuk ditunggu, bahwa setiap langkah menuju dermaga terasa lebih ringan, bahwa setiap helaan napas terasa lebih berarti.
Kuala Kapuas tetap berjalan seperti biasanya.
Pagi dimulai dengan suara pedagang sayur yang melintas di gang, gang kecil dengan gerobak dorong yang bunyinya kreek, kreek seperti orkestra murah yang tidak pernah padam. "Sayur! Sayur! Kol, wortel, bayam, segar, segar!" teriak mereka dengan suara serak karena sudah puluhan tahun melakukan hal yang sama. Ibu, ibu akan keluar dari rumah dengan pakaian daster dan rambut yang masih acak, acakan, menawar harga dengan keterampilan yang sudah diasah selama bertahun, tahun, lalu kembali masuk dengan plastik berisi sayuran yang akan dimasak untuk makan siang.
Siang dipenuhi hiruk pikuk kendaraan di sekitar Jalan Tambun Bungai, jalan utama yang menjadi urat nadi kota ini. Motor, motor saling bersahutan, mobil, mobil tua yang mengeluarkan asap hitam dari knalpotnya, becak, becak yang dikayuh oleh para bapak dengan topi caping di kepala. Di trotoar yang sempit, anak, anak sekolah pulang dengan seragam yang sudah kusut, tas ransel yang terlalu besar untuk punggung mereka, dan tawa yang masih polos, belum terkontaminasi oleh kesadaran bahwa dunia ini tidak selalu baik.
Malam turun bersama lampu, lampu tepian sungai yang memantul di air, menciptakan ilusi bahwa kota ini memiliki bintang, bintang di permukaan tanah. Warung, warung kopi mulai ramai oleh para bapak, bapak yang menghabiskan malam dengan berbincang tentang politik, tentang harga sawit yang jatuh, tentang masa depan anak, anak mereka yang tidak pasti.
Namun bagi Iskandar, kota itu seolah mulai memperlihatkan wajah yang berbeda. Seperti ia melihat Kuala Kapuas untuk pertama kalinya, bukan dengan mata kepala, tetapi dengan mata hati. Setiap sudut yang dulu terasa biasa kini terasa memiliki cerita. Setiap orang yang dulu tidak ia perhatikan kini terlihat unik dengan caranya masing, masing.
Dan anehnya, semua itu berawal dari satu orang.
Nayla.
"Jadi benar, akhirnya kau jatuh hati juga?"
Suara itu disertai tawa pendek yang sangat dikenalnya, tawa yang sudah ia dengar sejak masih duduk di bangku SD, tawa yang sama persis seperti dua puluh tahun lalu meskipun pemiliknya sekarang sudah berperut buncit dan berambut mulai tipis di bagian atas.
Iskandar menggeleng sambil menyesap kopi hitamnya. Kopi di warung ini terkenal pahit, pahit yang membuat lidah bergidik, pahit yang membuat mata berair, pahit yang konon katanya bisa membuat orang tetap terjaga semalaman meskipun baru minum setengah gelas.
Malam itu ia duduk di warung kopi kecil di dekat bundaran besar bersama Edo, sahabatnya sejak sekolah dasar yang tinggal di Jalan Jenderal A. Yani, hanya beberapa rumah dari rumah Iskandar. Rumah Edo lebih besar, lebih modern, dengan pagar besi yang dicat hijau dan taman kecil di halaman depan. Ayah Edo adalah pedagang sembako yang sukses, berbeda dengan ayah Iskandar yang hanya pengusaha kecil. Tapi perbedaan itu tidak pernah mengganggu persahabatan mereka.
Sejak kecil, Edo adalah satu, satunya orang yang selalu bisa membaca isi kepala Iskandar bahkan sebelum ia bicara. Seperti saudara kembar yang terpisahkan oleh rahim yang berbeda. Edo tahu kapan Iskandar sedang berbohong, tahu kapan Iskandar sedang sedih meskipun ia tersenyum, tahu kapan Iskandar sedang jatuh cinta meskipun ia mengaku tidak.
"Belum tentu," jawab Iskandar datar, berusaha terdengar tidak peduli meskipun jantungnya berdebar sedikit lebih cepat.
Edo tertawa. Tawanya keras, menggelegar, seperti suara mesin pemecah batu. Beberapa pengunjung lain menoleh sebentar, lalu kembali ke minuman mereka masing, masing. Mereka sudah terbiasa dengan Edo, pria berbadan tambun dengan suara yang tidak bisa diatur volumenya.
"Kalau belum tentu, kenapa dari tadi kau menatap jalan terus seperti tokoh utama sinetron?"
Iskandar menoleh tajam. Matanya menyipit, bibirnya mengerucut, ekspresi yang biasa ia gunakan ketika sedang kesal tetapi tidak ingin mengakuinya.
"Bisa diam tidak?"
"Tidak."
Jawaban itu datang cepat sekali, tanpa jeda, tanpa pertimbangan, seperti refleks yang sudah terlatih selama bertahun, tahun.
Edo menyandarkan tubuhnya ke kursi kayu yang berderit protes menerima beban tubuhnya yang tidak ringan. Ia menatap Iskandar dengan senyum penuh arti, senyum yang mengatakan aku tahu segalanya, kau tidak bisa menyembunyikan apa pun dariku.
"Namanya siapa?"
Iskandar diam beberapa detik sebelum menjawab pelan. Ia memainkan sendok kecil di tangannya, memutarnya di antara jari, jari, mencari keberanian untuk mengucapkan nama itu di luar kepala.
"Nayla."
Edo mengangguk pelan seolah sedang menilai nama itu, mencicipinya di lidah, merasakan getarannya di bibir. "Nayla," ulangnya, seperti sedang mencoba apakah nama itu cocok dengan sahabatnya.
"Cantik?"
Iskandar tak langsung menjawab. Ia justru menatap ke arah jalan di luar warung, ke kendaraan yang lalu lalang di bawah lampu kota yang mulai menguning karena usia. Sebuah pertanyaan yang sederhana, tetapi jawabannya terlalu rumit untuk diungkapkan dengan satu kata.
"Bukan soal cantik," katanya akhirnya, setelah pertarungan batin yang panjang.
"Lalu?"
Iskandar menghela napas pelan. Napas yang keluar seperti desahan angin di celah, celah pintu yang tidak tertutup rapat.
"Entahlah... dia seperti seseorang yang sedang menyimpan banyak hal."
Edo mengangkat alis, satu alis naik, yang lain tetap di tempatnya. Ekspresi yang sama seperti ibunda Iskandar, seperti mereka berdua diam, diam berbagi gen yang sama.
"Wah, berat sekali. Baru dua kali ketemu sudah membaca jiwa orang."
Iskandar tersenyum tipis. Senyum yang terasa pahit seperti kopi yang baru saja ia minum.
"Makanya aku malas cerita sama kau."
"Karena aku selalu benar."
"Karena kau terlalu banyak bicara."
Mereka tertawa kecil. Tawa yang akrab, tawa yang sudah menjadi milik mereka berdua sejak masih bermain kelereng di halaman sekolah dasar. Tawa yang tidak perlu dijelaskan, tidak perlu diterjemahkan, tidak perlu dimaknai, cukup dirasakan.
Sudah lama Iskandar tidak merasakan malam sesantai itu. Sejak ayahnya mulai sibuk bekerja, mungkin sejak ia mulai dewasa, sejak ia mulai mengerti bahwa hidup tidak selalu indah, banyak hal dalam dirinya ikut berubah. Ia menjadi lebih diam. Lebih sering menyimpan semuanya sendiri. Lebih jarang tertawa, lebih sering tersenyum pahit.
Namun malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa seperti dirinya yang dulu. Seperti anak kecil yang tidak tahu apa itu tekanan hidup, yang tidak tahu apa itu kekecewaan, yang tidak tahu apa itu rasa takut akan masa depan.
Dan itu karena Nayla.
Atau setidaknya, karena perasaan yang ditimbulkan oleh kehadiran Nayla dalam pikirannya.
Dua hari kemudian, Iskandar kembali bertemu sahabat lain.
Kali ini di sebuah bengkel kecil dekat Jalan Seroja, tempat Ridwan, teman semasa SMP, bekerja membantu usaha keluarganya. Bengkel itu tidak besar, mungkin hanya cukup untuk dua mobil dan beberapa motor. Dindingnya terbuat dari seng yang sudah berkarat di beberapa bagian, lantainya bercak, bercak hitam oleh oli yang tumpah, udaranya terasa panas dan pengap, dipenuhi oleh suara kunci inggris yang beradu dengan mur dan baut.
Tapi bagi Ridwan, bengkel ini adalah dunianya. Sejak SMP, ia sudah tahu bahwa ia tidak akan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Ia tidak bodoh, sebenarnya ia cukup pintar, terutama dalam matematika dan fisika. Tapi bengkel keluarganya membutuhkan tangan tambahan, dan Ridwan adalah anak yang patuh, anak yang tidak pernah membantah, anak yang selalu mengutamakan kebutuhan keluarga di atas keinginannya sendiri.
Ridwan berbeda dengan Edo. Jika Edo banyak bicara, Ridwan justru tipe orang yang mendengar lebih banyak daripada berbicara. Jika Edo adalah badai yang menggelegar, Ridwan adalah danau yang tenang. Jika Edo selalu terlihat ingin menjadi pusat perhatian, Ridwan justru lebih suka berada di pinggiran, mengamati, memperhatikan, lalu diam, diam mengambil kesimpulan.
Setelah mendengar cerita Iskandar, Ridwan hanya tersenyum kecil sambil mengelap tangannya dengan kain lap yang sudah hitam oleh oli. Lap itu sudah sangat tua, sudah bolong di beberapa bagian, tetapi masih setia menemani Ridwan setiap hari.
"Kadang kota kecil begini memang aneh," katanya, suaranya tenang seperti biasanya.
"Aneh bagaimana?"
Ridwan menatap jalan di depan bengkel. Sebuah motor tua melintas dengan suara knalpot yang bocor. Seorang ibu, ibu berjalan sambil membawa keranjang belanjaan. Dua anak kecil berlarian mengejar layang, layang yang putus.
"Orang bisa bertahun-tahun hidup di tempat yang sama tanpa benar-benar bertemu siapa pun yang berarti."
Ia lalu menoleh pada Iskandar. Matanya yang tenang itu tiba, tiba terlihat lebih dalam, lebih tajam.
"Lalu tiba, tiba seseorang datang, dan semuanya berubah."
Iskandar terdiam.
Karena untuk pertama kalinya, ia merasa ada orang lain yang mengerti perasaannya. Bukan Edo yang selalu bercanda, bukan ibunya yang selalu bijak, tetapi Ridwan yang pendiam, yang jarang berbicara, yang lebih banyak mendengar.
Dan entah mengapa, itu membuatnya merasa sedikit lega.
Tak lama kabar itu menyebar di antara lingkaran kecil sahabat lamanya.
Di sebuah malam akhir pekan, mereka berkumpul di pelataran Taman Kota, sebuah taman sederhana di pusat kota yang menjadi tempat favorit anak, anak muda untuk menghabiskan malam Minggu. Taman itu tidak besar, hanya beberapa bangku kayu, beberapa pohon peneduh, dan satu air mancur kecil yang kadang menyala, kadang tidak, tergantung pada apakah pemerintah daerah sedang punya anggaran untuk perawatannya.
Ada Anggun, teman semasa SMA yang tinggal di Jalan Tambun Bungai. Anggun adalah perempuan ceria yang sejak dulu paling suka menggoda Iskandar. Ia berkulit putih, berambut panjang sebahu, dan memiliki tawa yang bisa didengar dari jarak seratus meter. Dulu ia sempat dekat dengan Iskandar, tetapi itu hanya sebatas persahabatan, atau setidaknya itulah yang mereka berdua sepakati setelah satu malam canggung di mana Anggun mencoba menyatakan perasaan dan Iskandar dengan sopan menolak.
Ada Sahrul, sahabat semasa SMP yang tinggal di Jalan Melati, dekat kompleks pasar. Sahrul adalah tipe orang yang lucu secara tidak sengaja, ia tidak berusaha menjadi lucu, tetapi kata, katanya selalu terdengar menggelitik. Mungkin karena ia terlalu jujur, terlalu blak, blakan, terlalu tidak tahu kapan harus berhenti bicara.
Ada juga Rara, teman semasa SMA yang rumahnya di Jalan Seroja, belakang Hotel Danau Mare. Rara adalah perempuan yang paling peka membaca suasana di antara mereka semua. Ia bisa melihat ketika seseorang sedang berbohong, bisa merasakan ketika seseorang sedang sedih meskipun tidak mengatakannya, bisa tahu ketika sebuah hubungan akan berakhir sebelum hubungan itu sendiri menyadarinya.
Sementara Lukman, sahabat mereka yang kini tinggal di Desa Sriwidadi, Kecamatan Mantangai, hanya ikut melalui panggilan video karena jarak yang tak memungkinkan sering datang ke kota. Wajah Lukman di layar ponsel terlihat sedikit pecah oleh sinyal yang buruk, tetapi suaranya masih jelas, masih seperti dulu, dalam, berat, dan sedikit serak.
"Jadi sekarang Iskandar sudah mulai jatuh cinta?" kata Anggun sambil tertawa kecil. Ia duduk di bangku dengan kaki disilangkan, tangannya memegang segelas es jeruk yang sudah hampir habis.
"Belum," sahut Iskandar cepat, mungkin terlalu cepat, terlalu defensif, terlalu seperti orang yang sedang menyembunyikan sesuatu.
Rara menatapnya sambil tersenyum samar. Senyum yang tidak perlu diartikan karena semua orang sudah tahu artinya.
"Kalau belum, biasanya orang tidak akan menyangkal secepat itu."
Sahrul ikut tertawa, tertawanya nyaring dan tidak terkendali.
"Benar juga."
Di layar ponsel, suara Lukman terdengar dari video call, sedikit terpotong, potong oleh sinyal yang tidak stabil.
"Aku baru beberapa menit ikut, tapi sudah tahu dia pasti serius."
"Dari mana kau tahu?" tanya Iskandar, sedikit kesal karena semua orang seolah, olah sudah membaca pikirannya tanpa izin.
Lukman tersenyum. Di layar yang pecah itu, senyumnya tetap terlihat hangat.
"Karena selama ini kau selalu bicara logika. Sekarang kau bicara perasaan."
Suasana langsung hening beberapa detik.
Bahkan Iskandar sendiri tak bisa membantah.
Karena tanpa sadar, mereka benar.
Ia memang berubah.
Dan perubahan itu terjadi terlalu cepat, terlalu drastis, terlalu tidak seperti dirinya.
Malam semakin larut.
Satu per satu sahabatnya pulang, Anggun duluan karena harus bangun pagi untuk membuka toko, Sahrul menyusul karena istrinya sudah menelepon tiga kali, Rara pamit dengan senyum misterius yang membuat Iskandar bertanya, tanya apa maksudnya, Ridwan hanya mengangguk singkat seperti biasa, dan Edo pergi sambil berteriak, teriak karena lupa di mana ia memarkir motornya.
Tinggal Iskandar sendiri duduk di Taman Kota, memandangi lampu, lampu kota yang menari di jalan raya. Lampu, lampu itu seperti kunang, kunang raksasa, tidak pernah padam, tidak pernah lelah, terus menyala sepanjang malam seolah sedang berlomba dengan matahari.
Dari seberangnya, bangunan Rumah Sakit dr. H. Soemarno Sostroatmojo tampak samar diterpa cahaya malam, bangunan putih dengan lampu, lampu yang menyala redup, seperti tempat antara hidup dan mati, antara harapan dan keputusasaan.
Di sampingnya simpang jalan Patih Rumbih, masih ramai kendaraan melintas. Motor, motor dengan knalpot bising, mobil, mobil dengan lampu sorot yang menyilaukan, sesekali truk besar yang lewat dengan suara gemuruh seperti badai.
Setiap kendaraan itu membawa seseorang. Setiap seseorang itu punya cerita. Setiap cerita itu punya luka. Dan setiap luka itu, seperti menyimpan rahasia yang tak ingin dibagi pada siapa pun.
Iskandar menatap jalan yang masih terang.
Dan untuk pertama kalinya, ia bertanya pada dirinya sendiri:
Mengapa seseorang yang baru dua kali ia temui bisa terasa begitu dekat?
Mengapa seorang asing bisa terasa seperti seseorang yang sudah lama dikenalnya?
Mengapa sebuah nama yang baru ia dengar beberapa hari lalu bisa terasa seperti doa yang sudah sering ia panjatkan?
Dan mengapa, di kota yang selama ini terasa biasa, semua mendadak menjadi berbeda?
Ia tidak tahu jawabannya.
Namun jauh di dalam hatinya, Iskandar mulai merasakan satu hal yang perlahan tumbuh tanpa bisa dihentikan.
Perasaan yang tenang, namun berbahaya.
Perasaan yang seperti air pasang: datang perlahan, tidak terasa, tetapi ketika sadar, sudah setinggi lutut, lalu pinggang, lalu dada, lalu leher, dan kemudian kau sadar bahwa kau sudah tenggelam.
Karena kadang, cinta tidak datang seperti badai yang mengoyak atap rumah dan menerbangkan pohon, pohon.
Ia datang seperti air sungai.
Diam.
Perlahan.
Namun tanpa sadar sudah memenuhi seluruh hati.
Di tempat yang berbeda, di rumah yang sederhana di kawasan jalan lintas trans arah Mantangai, Nayla duduk di kamarnya sambil memandang langit, langit yang retak.
Lampu kamarnya hanya satu, bohlam 5 watt yang cahayanya kuning dan redup, nyaris seperti lilin yang hampir padam. Tapi Nayla lebih suka begini. Dalam gelap, ia merasa lebih aman. Dalam gelap, ia tidak perlu melihat bayangannya sendiri di cermin. Dalam gelap, ia bisa berpura, pura bahwa semuanya baik, baik saja.
Ponselnya tergeletak di samping bantal. Layar gelap. Tidak ada notifikasi. Tidak ada pesan masuk. Tidak ada panggilan tidak terjawab.
Ia tidak tahu mengapa ia berharap ada sesuatu. Atau dari seseorang.
Mungkin karena sore itu, ketika ia berdiri di Dermaga KP3, untuk pertama kalinya dalam sekian lama, ia merasa tidak sendirian.
Bukan karena Iskandar mengatakan sesuatu yang istimewa. Bukan karena Iskandar melakukan sesuatu yang heroik. Hanya karena ia ada di sana. Hanya karena ia melihatnya. Hanya karena ia menolongnya tanpa diminta, tanpa pamrih, tanpa mengharapkan imbalan.
Itu saja.
Dan itu sudah cukup untuk membuat Nayla bertanya, tanya: apakah mungkin ada orang baik di dunia ini? Apakah mungkin ada yang tulus? Apakah mungkin ada yang tidak akan pergi setelah tahu semuanya?
Ia tidak tahu jawabannya.
Tapi untuk pertama kalinya, ia ingin mencari tahu.
Di luar jendela, suara jangkrik mulai berkurang. Malam semakin larut. Kota kecil itu perlahan tertidur, bersiap untuk bangun lagi di pagi hari dengan rutinitas yang sama.
Namun di dua tempat yang berbeda, dua hati yang sama, sama terluka mulai bermimpi tentang kemungkinan.
Tentang bahwa kebahagiaan mungkin masih ada.
Tentang bahwa cinta mungkin tidak selalu menyakitkan.
Tentang bahwa seseorang mungkin datang bukan untuk pergi, tetapi untuk tinggal.
Mungkin.
BAB 4
Hujan di Danau Mare
Sore itu langit Kuala Kapuas tampak murung sejak siang.
Awan kelabu menggantung rendah di atas kota, seperti kapas basah yang terlalu berat untuk terbang. Awan, awan itu bergerak lambat, segan, seperti sedang ragu, ragu apakah akan menumpahkan isinya atau tidak. Warna langit berubah dari biru menjadi abu, abu, dari abu, abu menjadi gelap, seperti seseorang yang sedang menahan tangis, berusaha terlihat kuat meskipun sebentar lagi akan hancur.
Awan kelabu itu bukan hanya menutupi matahari, tetapi juga menutupi semangat kota. Jalanan terasa lebih sepi dari biasanya. Pedagang kaki lima yang biasanya sudah mulai berjejer sejak jam tiga sore, kali ini masih ragu, ragu membuka lapak. Beberapa memilih untuk tidak usah buka hari ini, daripada nanti basah kuyup dan dagangan rusak. Ibu, ibu yang biasanya sudah mulai berbelanja untuk persiapan makan malam, memilih untuk tetap tinggal di rumah, menunggu apakah hujan benar, benar turun atau hanya lewat.
Angin dari arah sungai berembus lebih dingin dari biasanya, membawa aroma air yang khas, aroma yang hanya muncul ketika hujan akan segera turun, aroma yang membuat hidung terasa segar tetapi juga membuat bulu kuduk merinding. Aroma itu bercampur dengan wangi tanah basah dari halaman, halaman rumah di sekitar tepian kota, tanah yang sudah lama tidak tersentuh air, yang sekarang mulai menguapkan aromanya seperti parfum alam yang terlalu kuat.
Iskandar berdiri di depan cermin kecil kamarnya untuk ketiga kalinya.
Ia sendiri tidak tahu kenapa.
Cermin itu kecil, mungkin hanya selebar papan tulis di sekolah dasar, dan sudah mulai berjamur di pinggirannya karena kelembaban kamar yang tinggi. Tapi cermin itu sudah cukup untuk memperlihatkan bayangannya dari dada ke atas, dan untuk ketiga kalinya sore itu, ia menatap bayangannya sendiri dengan perasaan tidak puas.
Kemeja biru muda yang dikenakannya sebenarnya sederhana. Bukan kemeja mahal, bukan kemeja bermerek, hanya kemeja katun yang dibelinya di toko pakaian di Pasar Melati dengan harga yang sangat bersahabat dengan dompet. Tapi entah mengapa, hari itu ia merasa kemeja itu terlalu lusuh, terlalu kusut, terlalu tidak layak untuk dikenakan di depan umum.
Rambutnya juga sudah rapi, ia sudah menyisirnya tiga kali, menggunakan sisir kayu yang sudah menemani sejak SMA. Rambutnya yang hitam dan agak tebal itu ia sisir ke samping, seperti yang biasa ia lakukan. Tapi setiap kali ia melihat ke cermin, ia merasa ada yang salah. Ada satu helai yang tidak mau diam, ada satu bagian yang terlalu mengembang, ada satu sudut yang terlalu berantakan.
Sepatu hitamnya bahkan sudah terlalu bersih untuk sekadar berjalan di tepian sungai. Ia sudah menyemirnya dua kali, pertama dengan semir cair, lalu dengan semir padat untuk hasil yang lebih mengkilap. Sepatu itu sekarang berkilau seperti baru keluar dari kotak, seperti sepatu untuk menghadiri pesta pernikahan, bukan untuk sekadar jalan, jalan sore di dermaga.
Namun entah mengapa ia tetap merasa ada yang kurang.
Mungkin bukan penampilannya yang kurang. Mungkin yang kurang adalah keberanian. Atau kepastian. Atau mungkin jawaban atas pertanyaan yang bahkan belum ia rumuskan dengan baik.
Dari luar kamar, suara ibunya terdengar.
"Kalau mau ketemu orang, jangan terlalu lama di depan kaca. Nanti orangnya keburu pulang."
Iskandar langsung menoleh ke arah pintu, meskipun pintu itu tertutup dan ia tidak bisa melihat ibunya. Wajahnya sedikit memerah, bukan karena malu, tetapi karena ketahuan.
"Ibu tahu dari mana?"
Bu Ratna tersenyum dari balik pintu. Iskandar tidak bisa melihatnya, tetapi ia bisa mendengar senyum itu dari suara ibunya. Suara yang tiba, tiba menjadi lebih lembut, lebih hangat, seperti sedang berbicara pada anak kecil yang baru saja ketahuan mengambil kue dari toples tanpa izin.
"Dari wajahmu."
Iskandar hanya menghela napas. Helaan napas yang panjang, berat, dan sedikit dramatis, seperti seorang aktor dalam sinetron yang sedang dirundung masalah percintaan.
"Belum tentu dia datang."
Ibunya mengangguk santai. Ia bisa mendengar suara anggukan itu dari balik pintu, suara gerakan kepala yang pelan, seperti seseorang yang sedang mengamini sesuatu yang sudah diketahuinya sejak awal.
"Kalau begitu kenapa parfum ayahmu ikut dipakai?"
Iskandar spontan menunduk mencium lengannya sendiri. Dan di sana, di pergelangan tangannya, tercium aroma parfum ayahnya, aroma kayu cendana yang sedikit tua, sedikit maskulin, sedikit seperti aroma orang yang sudah berumur. Parfum yang tidak pernah ia pakai sebelumnya, yang tiba, tiba ia semprotkan tanpa sadar ketika sedang sibuk memilih baju.
Bu Ratna tertawa kecil dari balik pintu. Tawa yang lembut, tawa yang tidak mengejek tetapi tetap terasa seperti kemenangan.
"Pergilah. Jangan buat perempuan menunggu. Kalau memang perempuan."
"Ibu ini..." gumam Iskandar sambil mengambil kunci motor dari meja kecil di samping tempat tidur. Kunci itu terasa dingin di tangannya, seperti mengingatkan bahwa di luar sana, dunia masih berjalan, cuaca masih tidak menentu, dan ia masih harus berhadapan dengan ketidakpastian.
Tawa ibunya masih terdengar sampai ia keluar rumah.
Tujuan Iskandar sore itu sebenarnya tidak jelas.
Ia hanya ingin berjalan. Atau setidaknya itulah alasan yang ia berikan pada dirinya sendiri ketika ia menyalakan motor, ketika ia keluar dari gang rumahnya, ketika ia membelok ke Jalan Jenderal A. Yani yang mulai ramai oleh kendaraan sore hari.
Padahal sejak pagi, pesan singkat dari Nayla terus terngiang di kepalanya.
"Kalau sore sempat, saya biasanya di sekitar Danau Mare."
Pesan sederhana. Tanpa ajakan langsung. Tanpa kata "ayo kita bertemu" atau "saya ingin bertemu kamu". Tanpa kepastian bahwa ia akan ada di sana, tanpa jaminan bahwa ia sedang menunggu.
Namun cukup untuk membuat Iskandar menghabiskan hampir setengah jam memilih baju, memilih sepatu, memilih parfum, dan berdiri di depan cermin dengan perasaan tidak puas yang tidak bisa ia jelaskan.
Sungguh bodoh, pikirnya sambil melaju di jalan yang mulai basah oleh gerimis tipis. Kau sudah tiga puluh tahun, Is. Bukan lima belas. Tidak seharusnya kau bertingkah seperti remaja yang baru pertama kali jatuh cinta.
Tapi hatinya tidak peduli dengan logika.
Ketika ia tiba di sekitar Dermaga Danau Mare, suasana sore terlihat lebih tenang dari biasanya. Mungkin karena ancaman hujan yang membuat orang, orang memilih untuk tinggal di rumah. Atau mungkin karena hari sudah menjelang senja, dan orang, orang sedang sibuk dengan aktivitas masing, masing.
Beberapa pengunjung duduk di bangku kayu sambil menikmati pemandangan, pasangan muda yang saling berbisik, seorang kakek dengan topi caping yang sedang memancing, dua orang ibu, ibu yang sibuk mengobrol sambil sesekali tertawa.
Penjual minuman dingin sibuk melayani anak, anak muda yang datang berpasangan. Es kelapa muda, es jeruk, es campur, semua dijual dengan harga yang ramah di kantong. Pedagang itu sudah puluhan tahun berjualan di tempat yang sama, sejak sebelum Dermaga Danau Mare direnovasi, sejak sebelum area ini menjadi tempat wisata favorit.
Dan di dekat pagar besi yang menghadap sungai, Nayla berdiri sendirian.
Mengenakan cardigan krem tipis, cardigan yang tampak lembut, yang membuatnya terlihat seperti seseorang yang sedang dalam masa pemulihan, yang butuh kehangatan ekstra. Rambutnya diikat longgar dengan karet hitam, beberapa helai terlepas dan bergerak, gerak ditiup angin.
Ia memandang air seperti kebiasaannya. Seperti sedang mencari sesuatu. Atau mungkin seperti sedang kehilangan sesuatu.
Jantung Iskandar kembali melakukan hal menyebalkan yang sama:
Berdetak lebih cepat dari seharusnya.
Ia mendekat perlahan. Langkahnya tidak tergesa, gesa, tetapi juga tidak terlalu lambat. Ia mencoba terlihat santai, seperti seseorang yang sedang berjalan, jalan dan kebetulan melihat kenalan.
"Kalau tahu saya datang, seharusnya saya tidak perlu pura, pura kebetulan lewat."
Nayla menoleh, lalu tertawa kecil. Tawanya pelan, seperti angin yang berembus di antara dedaunan.
"Jadi tadi itu pura, pura?"
"Lumayan."
"Buruk sekali aktingnya."
"Memang bukan bakat saya."
Senyum Nayla kali ini lebih lepas. Tidak terkekang, tidak dibuat, buat. Senyum yang memperlihatkan sedikit giginya yang putih dan rapi. Senyum yang membuat matanya berbinar meskipun langit sedang mendung.
Dan Iskandar menyadari sesuatu:
ia mulai menyukai suara tawa perempuan itu.
Bukan karena keras. Bukan karena manis. Tapi karena tawa itu terdengar seperti sesuatu yang jarang keluar. Seperti sesuatu yang berharga. Seperti air di tengah padang pasir.
Mereka berdiri berdampingan memandang sungai.
Beberapa detik.
Lalu beberapa menit.
Aneh, tapi tak ada rasa canggung. Seolah diam di antara mereka justru terasa nyaman. Seolah mereka sudah saling mengenal sejak lama, sudah melewati ribuan percakapan, sudah tidak perlu lagi basa, basi.
"Apa semua orang di Kuala Kapuas suka diam?" tanya Nayla tiba, tiba.
Iskandar menoleh. Alisnya terangkat sedikit.
"Maksudnya?"
"Setiap kali saya bertemu Anda, Anda selalu lebih banyak melihat sungai daripada bicara."
Iskandar tersenyum. Senyum yang terasa ringan, tidak dipaksakan.
"Mungkin karena sungai tidak pernah memotong pembicaraan."
Nayla mengangguk pelan. Anggukan yang dalam, seperti sedang mempertimbangkan jawaban itu dengan serius.
"Itu masuk akal."
"Dan Anda?" tanya Iskandar, membalik pertanyaan.
"Kenapa selalu ke sungai?"
Nayla memandang air yang bergerak perlahan. Air itu berwarna keabu, abuan di bawah langit mendung, tidak seindah saat matahari bersinar, tetapi tetap memikat dengan caranya sendiri.
"Karena air tidak pernah bertanya kenapa seseorang sedih."
Jawaban itu membuat Iskandar menoleh lebih serius. Ada sesuatu di nada suara Nayla, sesuatu yang membuat ia ingin bertanya lebih jauh, ingin menggali lebih dalam, ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi di balik mata yang teduh itu.
Tapi sebelum ia sempat bertanya lebih jauh,
"ISKANDAR!"
Suara keras dari belakang membuat keduanya menoleh bersamaan.
Edo datang sambil membawa dua gelas es kelapa muda di tangannya, gelas plastik bening dengan sedotan warna, warni yang mencolok. Wajahnya penuh kemenangan seperti baru menang undian, dengan senyum lebar yang memperlihatkan deretan giginya yang tidak rata.
"Wah," katanya sambil menatap Nayla dan Iskandar bergantian, matanya bergerak cepat seperti sedang menonton pertandingan tenis.
"Jadi ini alasan kau menolak ajakan ngopi."
Iskandar menutup mata sebentar. Ia menarik napas panjang, menghelanya perlahan, seolah sedang mengumpulkan seluruh kesabarannya yang tersisa.
"Edo, kau selalu muncul di saat yang salah ya?"
"Bukan salah," jawab Edo santai, tanpa sedikit pun rasa bersalah.
"Ini namanya sahabat yang peduli."
Lalu dengan percaya diri ia menoleh ke Nayla, mengulurkan salah satu gelas es kelapa yang dibawanya seolah itu adalah hadiah termahal di dunia.
"Halo. Saya Edo. Teman kecil yang sudah terlalu lama menyelamatkan hidup orang ini."
Nayla menahan tawa. Bibirnya mengerucut berusaha tidak tersenyum, tetapi matanya sudah keburu berbinar.
"Nayla."
Edo mengangguk cepat. Anggukan yang berlebihan, seperti burung pelatuk yang sedang mematuk kayu.
"Oh, jadi ini Nayla."
Iskandar langsung menatap tajam. Matanya menyipit, bibirnya mengerucut, peringatan bagi Edo untuk tidak melanjutkan kalimatnya.
"Kenapa pakai kata ini?"
Edo pura, pura tidak mendengar. Ia menyerahkan satu gelas kelapa ke Iskandar, yang diterima dengan setengah hati, lalu satu gelas lagi justru ke Nayla.
"Silakan. Gratis. Dibeli pakai uang Iskandar."
Nayla tertawa.
Kali ini lebih jelas. Lebih lepas. Lebih bebas. Tawa yang keluar dari perut, yang membuat bahunya berguncang, yang membuat matanya berbinar seperti bintang di langit yang cerah.
Dan Iskandar sadar:
ia rela membayar satu gerobak es kelapa asal bisa mendengar tawa itu lagi.
Hujan turun tiba, tiba.
Seperti biasa di kota sungai.
Awalnya hanya rintik kecil, beberapa tetes yang jatuh di tangan, di pipi, di atas air sungai yang tenang. Rintik yang hampir tidak terasa, yang membuat orang ragu apakah hujan benar, benar turun atau hanya imajinasi.
Lalu dalam hitungan detik, rintik kecil itu berubah menjadi hujan deras. Seperti ada yang membuka keran raksasa di langit, menumpahkan air tanpa ampun ke bumi. Tetesan air jatuh dengan keras, menciptakan suara gemerisik yang memekakkan telinga, membuat orang, orang berlarian mencari tempat berteduh.
"Cepat!" kata Nayla, suaranya nyaris tenggelam oleh suara hujan.
Mereka bertiga berlari kecil menuju teras samping bangunan tua dekat dermaga. Edo yang berlari paling belakang tiba lebih dulu karena mendorong Iskandar dari belakang.
"Silakan duluan, pengantin sungai."
"Diam kau," gerutu Iskandar, tetapi ia tetap berlari, tetap mengejar, tetap berusaha agar Nayla tidak kehujanan terlalu basah.
Nayla tertawa lagi sampai bahunya sedikit berguncang.
Mereka berdiri di bawah atap sempit, atap seng tua yang sudah berkarat di beberapa bagian, yang bunyinya krek, krek, krek setiap kali terkena air hujan.
Sangat sempit.
Terlalu sempit untuk tiga orang.
Edo melirik kanan, kiri, lalu ke arah hujan yang masih deras, lalu ke arah Iskandar dan Nayla yang berdiri terlalu dekat untuk ukuran orang yang baru kenal.
Lalu ia mengangguk bijak. Anggukan seorang filsuf yang baru saja menemukan makna hidup.
"Sepertinya saya harus pergi."
"Ke mana?" tanya Iskandar, sudah curiga dengan apa yang akan keluar dari mulut Edo.
"Ke tempat yang lebih tidak mengganggu."
"Kalau kau keluar hujan."
"Lebih baik basah daripada merusak suasana."
Sebelum Iskandar sempat menarik kerah bajunya, Edo sudah berlari sambil tertawa, tertawa keras yang terdengar bahkan di tengah derasnya hujan. Ia berlari menuju bangunan lain, berlindung di bawah atap yang berbeda, dengan jarak yang cukup jauh untuk tidak terlihat mengintip tetapi cukup dekat untuk tetap bisa memperhatikan.
Meninggalkan mereka berdua.
Sendiri.
Di bawah suara hujan yang jatuh seperti jutaan kelereng di atap seng.
Untuk sesaat, hanya ada suara air jatuh di atap seng dan gemuruh lembut sungai yang sedang meluap karena hujan. Suara, suara alam yang primitif, yang sudah ada sejak sebelum manusia ada, yang akan tetap ada setelah manusia punah.
Nayla menatap hujan di depan mereka.
"Teman Anda lucu."
"Kadang."
Iskandar tersenyum. Senyum yang setengah kesal, setengah sayang.
"Kadang juga menyebalkan."
"Dia sangat sayang pada Anda."
Iskandar sedikit terdiam.
Ia tak menyangka Nayla bisa menangkap itu begitu cepat. Bahwa Edo, dengan segala kebodohan dan kecerewetannya, sebenarnya adalah sahabat yang paling setia. Yang tidak akan ragu, ragu mengorbankan dirinya demi kebahagiaan Iskandar. Yang akan tetap ada meskipun seluruh dunia meninggalkannya.
"Ya," katanya pelan, nyaris tidak terdengar.
"Dia memang begitu."
Nayla tersenyum tipis. Senyum yang penuh makna, yang mengatakan bahwa ia mengerti, bahwa ia juga pernah memiliki seseorang seperti itu, bahwa ia tahu betapa berharganya memiliki sahabat sejati.
"Beruntung punya teman seperti itu."
Kalimat itu terdengar sederhana. Tapi ada sesuatu dalam nada suaranya yang membuat Iskandar merasa: mungkin Nayla sedang mengatakan sesuatu yang lebih dalam. Mungkin tentang kesepian. Mungkin tentang kehilangan. Mungkin tentang seseorang yang pernah ia miliki tetapi kini tidak lagi.
Hujan semakin deras.
Angin meniup rintiknya hingga sebagian mengenai tangan Nayla yang memegang cardigan tipisnya. Cardigan itu tidak cukup tebal untuk menahan percikan air yang terbawa angin. Iskandar melihat bagaimana Nayla menggigil sedikit, bagaimana bulu kuduknya merinding.
Refleks, Iskandar menggeser posisi sedikit lebih dekat agar tubuhnya menahan percikan hujan. Tidak banyak, mungkin hanya setengah langkah. Tapi cukup untuk membuat perbedaan.
Nayla menoleh.
Mata mereka bertemu lagi.
Jarak mereka kini sangat dekat. Terlalu dekat untuk dua orang yang baru saling kenal. Terlalu dekat untuk sekadar hubungan pertemanan. Terlalu dekat untuk tidak merasakan sesuatu.
Untuk pertama kalinya, Iskandar bisa melihat jelas: ada kesedihan samar di balik mata perempuan itu. Kesedihan yang tidak cocok dengan senyumnya yang sering ia tunjukkan. Kesedihan yang seperti tato: sudah menjadi bagian dari dirinya, tidak bisa dihapus, tidak bisa dilupakan.
Dan justru itulah yang membuat Nayla terasa semakin sulit dijelaskan.
"Iskandar..." suara Nayla pelan, nyaris berbisik.
"Ya?"
Nayla memandangnya beberapa detik. Matanya bergerak, mencari, mempertimbangkan, ragu, ragu.
Lalu ia bertanya:
"Kalau seseorang datang di hidup kita... tapi waktunya salah... menurut Anda, orang itu sebaiknya dipertahankan atau dilepaskan?"
Jantung Iskandar seperti berhenti sesaat.
Ia tidak tahu apakah itu pertanyaan biasa. Pertanyaan filosofis yang diajukan untuk mengisi waktu di tengah hujan. Atau pertanyaan yang sebenarnya ditujukan pada dirinya. Atau mungkin pertanyaan yang Nayla tanyakan pada dirinya sendiri, dan ia hanya kebetulan menjadi orang yang mendengarnya.
Hujan terus turun.
Dan di bawah langit mendung Kuala Kapuas, untuk pertama kalinya, Iskandar mulai merasa bahwa perempuan ini membawa lebih dari sekadar rasa suka.
Ia membawa rahasia.
Dan mungkin, luka.
Luka yang tidak terlihat, tetapi terasa setiap kali ia tersenyum.
Luka yang mungkin tidak akan pernah benar, benar sembuh.
Di kejauhan, Edo berdiri di bawah atap yang berbeda, menggigil kedinginan karena pakaiannya sudah basah oleh air hujan yang tidak bisa sepenuhnya ia hindari. Tapi ia tersenyum. Senyum yang puas, senyum seorang mak comblang amatir yang merasa misinya berhasil.
"Kali ini kau benar-benar jatuh, Is," bisiknya pada dirinya sendiri, suaranya nyaris tenggelam oleh hujan.
"Dan aku akan memastikan kau tidak jatuh sendirian."
BAB 5
Di Antara Hujan dan Rahasia Kota
Pertanyaan Nayla masih menggantung di udara.
Di antara suara hujan yang jatuh seperti jutaan kelereng di atap seng tua. Di antara bau kayu basah yang tercium dari tiang, tiang dermaga yang sudah berusia puluhan tahun. Di antara jarak yang terlalu dekat untuk disebut kebetulan, tetapi juga terlalu jauh untuk disebut intim.
Iskandar menatap perempuan di hadapannya, mencoba mencari apakah pertanyaan itu hanya sekadar percakapan ringan, seperti orang yang bertanya tentang cuaca atau tentang menu makan malam, atau justru sesuatu yang jauh lebih dalam, lebih pribadi, lebih berbahaya.
Namun wajah Nayla tetap tenang.
Terlalu tenang.
Seperti permukaan sungai Kapuas yang terlihat damai di pagi hari, padahal di bawahnya menyimpan arus yang tak pernah terlihat oleh mata telanjang. Arus yang bisa menyeret siapa saja yang lengah, yang bisa membawa seseorang ke tempat yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Iskandar menarik napas panjang. Udara dingin dari hujan masuk ke paru, parunya, membuat dadanya terasa segar tetapi juga sedikit perih. Ia menghela napas itu perlahan, memberi waktu pada pikirannya untuk menyusun kata, kata yang tepat.
"Kalau menurut saya…" ia akhirnya menjawab pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh suara hujan yang masih deras.
"Kadang seseorang bukan datang untuk dipertahankan."
Nayla menatapnya. Tatapan yang tidak bisa ia baca, apakah itu keterkejutan, kekecewaan, atau justru kelegaan?
"Lalu?"
Iskandar tersenyum tipis, meski sebenarnya dadanya sendiri terasa sesak oleh kalimat yang ia ucapkan. Kata, kata itu keluar dari mulutnya, tetapi ia sendiri tidak yakin apakah ia benar, benar percaya pada apa yang ia katakan.
"Mungkin dia datang untuk mengubah hidup kita."
Nayla diam.
Tatapannya kembali jatuh ke hujan di depan mereka, hujan yang mulai mereda sedikit, dari deras menjadi sedang, dari sedang menjadi rintik, rintik kecil yang masih setia jatuh meskipun tidak sebersemangat tadi.
Dan untuk beberapa detik, hanya ada suara air yang turun dari langit Kuala Kapuas, suara gemericik yang menenangkan sekaligus menyedihkan, seperti lagu pengantar tidur yang dinyanyikan oleh seseorang yang sedang patah hati.
"Jawaban Anda terlalu dewasa," katanya kemudian, suaranya sedikit lebih ringan dari sebelumnya.
Iskandar tertawa kecil. Tawa yang keluar tanpa direncanakan, tanpa dikendalikan, tawa yang lahir dari kelegaan karena suasana yang sempat tegang mulai mencair.
"Itu pujian atau sindiran?"
"Sedikit keduanya."
Untuk pertama kalinya sore itu, mereka tertawa bersama.
Tawa kecil. Sederhana. Tidak berlebihan.
Tapi cukup untuk membuat suasana yang sempat berat berubah hangat, seperti matahari yang muncul setelah hujan, seperti pelangi yang terbentuk di ufuk timur.
Dan Iskandar mulai sadar, di balik kesedihan yang dibawa Nayla, di balik mata yang selalu terlihat seperti sedang memandang sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain, perempuan itu juga menyimpan sisi yang membuat siapa pun ingin tinggal lebih lama.
Sisi yang hangat.
Sisi yang lembut.
Sisi yang membuat orang lupa bahwa di balik senyumnya, ada luka yang mungkin tidak akan pernah benar, benar sembuh.
Setelah hujan reda, langit sore berubah menjadi lebih jernih.
Awan, awan kelabu yang tadi menggantung rendah mulai bergerak ke timur, terbawa angin yang berhembus dari arah barat. Di sela, sela awan itu, matahari yang hampir tenggelam mulai memperlihatkan wajahnya, memancarkan warna keemasan yang hangat, yang membuat seluruh kota terasa seperti sedang berada di dalam lukisan.
Matahari yang hampir tenggelam memantulkan warna keemasan di atas sungai. Permukaan air yang tadi keruh oleh hujan, sekarang berubah menjadi cermin raksasa yang memantulkan langit yang mulai berwarna jingga. Riak, riak kecil masih ada, tetapi lebih tenang, seperti bekas wajah yang baru saja selesai menangis.
Jalanan kota yang basah memantulkan lampu kendaraan yang mulai menyala satu per satu. Motor, motor dengan lampu depan yang menyala redup, mobil, mobil dengan lampu kota yang berwarna kuning, sesekali truk besar dengan lampu sorot yang menyilaukan. Semua pantulan itu bercampur menjadi satu, menciptakan ilusi bahwa jalanan itu sendiri sedang menyala dari dalam.
Mereka berjalan perlahan meninggalkan dermaga. Langkah mereka tidak tergesa, gesa, mengikuti irama alam yang sedang beristirahat setelah hujan.
"Biasanya setelah hujan saya suka jalan kaki," kata Nayla, suaranya lebih ceria dari sebelumnya.
"Kota terasa lebih tenang."
Iskandar menatapnya sebentar, lalu tersenyum.
"Kalau begitu saya ikut."
"Kenapa?"
"Takut Anda hanyut."
Nayla menoleh lalu tertawa kecil. Tawa yang ringan, tawa yang tidak perlu diartikan terlalu dalam.
"Lucu juga ternyata."
"Jarang ada yang sadar."
Mereka berjalan menyusuri trotoar yang masih basah, melewati genangan, genangan air kecil yang terbentuk di lubang, lubang jalan. Kadang Iskandar harus sedikit menghindar agar air tidak mengenai sepatunya yang sudah terlalu bersih untuk sekadar jalan, jalan sore. Kadang Nayla melompat kecil melewati genangan, dan setiap kali ia melompat, rambutnya yang diikat longgar akan bergerak, gerak seperti tirai yang ditiup angin.
Mereka berjalan menuju kawasan pertokoan Sanjaya, salah satu pusat keramaian kecil di Kuala Kapuas yang selalu hidup menjelang senja.
Pertokoan Sanjaya bukanlah mal modern dengan eskalator dan pendingin udara. Pertokoan ini lebih seperti deretan ruko, ruko tua yang berdiri rapat, dengan etalase, etalase kaca yang sudah mulai buram oleh debu dan usia. Di sini, tidak ada papan reklame yang terang, benderang, tidak ada musik yang diputar dengan volume keras untuk menarik perhatian. Yang ada hanya toko, toko sederhana dengan pemilik yang sudah berjualan di tempat yang sama selama puluhan tahun.
Di sepanjang trotoar, deretan toko berdiri rapat seperti barisan prajurit yang setia pada tugasnya.
Toko ponsel dengan lampu terang memajang casing warna, warni yang berjejer rapi di etalase kaca, casing bergambar kartun, casing berwarna polos, casing dengan tulisan, tulisan motivasi yang klise. Di dalam toko itu, seorang pemuda dengan kacamata tebal sibuk memasang pelindung layar, konsentrasinya penuh, lidahnya sedikit menjulur keluar, tanda bahwa ia sedang mengerjakan sesuatu yang membutuhkan ketelitian tinggi.
Counter aksesoris penuh dengan earphone dan charger yang tergantung di rak, rak dinding. Earphone dengan berbagai merek, dari yang murah hingga yang sedikit lebih mahal. Charger dengan kabel yang panjangnya bermacam, macam, dari yang pendek hingga yang bisa mencapai dua meter.
Toko pakaian dengan manekin yang berdiri kaku di balik kaca, manekin perempuan dengan gaun, gaun yang sedikit ketinggalan zaman, manekin laki, laki dengan kemeja, kemeja kotak, kotak yang mungkin sudah tidak modis tetapi masih laku dijual.
Serta beberapa toko sparepart motor yang aroma oli dan karet barunya terasa sampai ke trotoar. Aroma yang khas, aroma yang mengingatkan pada bengkel, bengkel kecil di pinggir jalan, aroma yang bagi sebagian orang mungkin mengganggu tetapi bagi yang lain adalah aroma kenyamanan.
Lampu neon dari papan nama toko memantul di jalan yang masih basah, menciptakan pantulan, pantulan berwarna yang bergerak, gerak setiap kali ada kendaraan yang lewat. Pantulan merah, biru, kuning, hijau, semua bercampur menjadi satu, seperti lukisan abstrak yang tidak memiliki makna tetapi tetap indah untuk dilihat.
Nayla berhenti di depan sebuah toko ponsel. Matanya menatap etalase yang penuh dengan ponsel, ponsel terbaru, dengan layar yang besar dan kamera yang menjanjikan hasil foto profesional.
"Kadang saya suka heran," katanya, suaranya sedikit melamun.
"Di kota kecil seperti ini, toko handphone lebih banyak daripada toko buku."
Iskandar mengangguk. Ia sudah sering memikirkan hal yang sama. Tentang bagaimana masyarakat lebih memilih untuk menghabiskan uang mereka pada benda, benda yang memberikan hiburan instan, daripada pada benda, benda yang menuntut mereka untuk berpikir.
"Karena orang sekarang lebih suka mengisi baterai ponsel daripada isi kepala."
Nayla menoleh cepat. Matanya sedikit membesar, alisnya terangkat, ekspresi keterkejutan yang jujur, yang tidak dibuat, buat.
"Kamu sering bicara seperti itu?"
"Kata ibu saya, terlalu sering."
Nayla tertawa pelan. Tawa yang hangat, tawa yang membuat Iskandar merasa bahwa kata, katanya tidak sia, sia.
"Pantas temanmu tadi bilang kamu sebenarnya lucu."
"Edo terlalu banyak membocorkan rahasia."
"Masih ada rahasia lain?"
Iskandar berpikir sejenak. Banyak rahasia yang ia simpan. Tentang masa lalunya di Banjarmasin. Tentang perempuan yang sempat ia cintai di sana. Tentang mengapa ia memutuskan untuk pulang. Tentang mengapa ia masih belum bisa move on sepenuhnya.
Tapi ia tidak ingin membahas semua itu sekarang.
"Ada."
"Apa?"
"Saya sebenarnya lebih gugup dari yang kelihatan."
Nayla menatapnya beberapa detik. Seolah ingin memastikan apakah ia bercanda atau serius. Matanya bergerak, mencari tanda, tanda kebohongan, mencari apakah di balik senyumnya ada ketulusan.
Dan anehnya, Iskandar sendiri tidak tahu jawabannya.
Mungkin ia bercanda. Mungkin ia serius. Mungkin keduanya.
Mereka terus berjalan memutar balik hingga sampai ke Jalan Jenderal Sudirman, kawasan yang lebih ramai dari pertokoan Sanjaya.
Jalan Jenderal Sudirman adalah salah satu jalan utama di Kuala Kapuas. Lebarnya mungkin cukup untuk dua mobil berpapasan, dengan trotoar yang sempit di kiri, kanan. Di sepanjang jalan ini, berjejer toko, toko yang lebih besar, lebih modern, lebih bergengsi.
Deretan toko emas berjajar dengan etalase berkilau di bawah lampu putih terang, lampu yang sengaja dipasang untuk membuat emas, emas itu terlihat lebih berkilau, lebih menggoda, lebih membuat orang tergoda untuk membelanjakan uang tabungan mereka.
Kalung dengan liontin berbentuk hati. Cincin dengan batu permata kecil yang berwarna merah, biru, atau hijau. Gelang dengan ukiran yang rumit, yang membutuhkan keahlian khusus untuk membuatnya. Semua terpajang rapi di atas kain beludru hitam, memantulkan cahaya seperti potongan kecil mimpi yang dijual dalam kaca.
Di sisi lain jalan, beberapa toko perlengkapan sekolah masih buka meskipun jam sudah menunjukkan pukul setengah enam sore. Tas, tas ransel dengan berbagai warna dan motif tergantung di depan toko, ada yang bergambar kartun untuk anak SD, ada yang polos untuk anak SMP, ada yang lebih dewasa untuk anak SMA. Buku tulis dengan sampul yang beraneka ragam, dari yang polos hingga yang bergambar artis idola. Seragam sekolah putih abu, abu atau putih merah, tergantung pada jenjang pendidikan.
Di dekat persimpangan berdiri bangunan Bank Mandiri, kokoh dengan dinding kaca dan papan nama yang besar. Bank itu menjadi salah satu penanda pusat kota, tempat di mana orang, orang mengantre untuk mengurus uang mereka, tempat di mana mimpi, mimpi dibiayai atau dihancurkan.
Suasana jalan malam itu terasa hidup.
Motor berlalu, lalang dengan kecepatan yang bervariasi, ada yang santai, ada yang tancap gas seperti sedang balapan. Klakson berbunyi sesekali, kadang sebagai peringatan, kadang sebagai salam, kadang hanya karena pengemudinya sedang kesal.
Orang, orang saling menyapa. "E, pi kemana?" "Ke warung, mau beli rokok." "Oh, hati, hati di jalan." Percakapan singkat yang tidak berarti apa, apa, tetapi menjadi perekat sosial yang penting di kota kecil.
Pedagang kaki lima mulai membuka lapak. Gerobak, gerobak didorong ke tempat yang sudah ditentukan, kursi, kursi plastik ditata, kompor dinyalakan. Aroma makanan mulai memenuhi udara, sate ayam dengan bumbu kacang yang kental, bakso dengan kuah panas yang mengepul, nasi goreng dengan kecap yang legit.
Anak, anak muda duduk di pinggir trotoar sambil tertawa, ponsel di tangan, earphone di telinga, sesekali merekam video untuk status WhatsApp atau TikTok. Dunia mereka adalah dunia yang berbeda dari dunia orang tua mereka,dunia yang lebih cepat, lebih berisik, lebih penuh dengan distraksi.
Kuala Kapuas memang bukan kota besar.
Tapi justru itu yang membuat semuanya terasa dekat.
Tidak ada jarak yang terlalu jauh antara satu tempat dengan tempat lain. Tidak ada orang yang benar, benar asing karena semua orang terhubung melalui rantai pertemanan yang pendek. Tidak ada yang bisa benar, benar menghilang karena cepat atau lambat, seseorang akan melihatmu di suatu tempat dan melaporkannya kepada orang lain.
Dan malam itu, Iskandar merasa untuk pertama kalinya ia melihat kotanya sendiri dengan cara yang berbeda.
Bukan sebagai tempat yang membosankan, bukan sebagai tempat yang ingin ia tinggalkan, bukan sebagai tempat yang penuh dengan kenangan buruk.
Tapi sebagai tempat yang indah.
Karena Nayla berjalan di sampingnya.
Mereka berhenti di depan toko emas Hasanah, toko mas terbesar di sudut jalan, dengan etalase yang paling panjang dan lampu yang paling terang.
Nayla menatap etalase berisi cincin, cincin berkilau. Cincin emas dengan berbagai desain, dari yang sederhana hingga yang rumit. Ada yang polos tanpa hiasan, ada yang diukir dengan motif bunga, ada yang diberi batu permata kecil yang berwarna merah delima.
"Dulu waktu kecil," katanya pelan, suaranya seperti sedang bercerita pada dirinya sendiri.
"saya pernah berpikir hidup orang dewasa itu sederhana."
Iskandar menoleh. Ia bisa melihat pantulan wajah Nayla di kaca etalase, wajah yang teduh, wajah yang sedikit melamun, wajah yang sedang mengingat, ingat masa lalu yang mungkin lebih sederhana dari masa kini.
"Kenapa?"
"Karena saya pikir orang dewasa tinggal memilih siapa yang mereka cintai."
Iskandar diam.
Lampu toko memantulkan bayangan wajah mereka di kaca, dua bayangan yang berdiri berdampingan, terpisah oleh jarak beberapa sentimeter tetapi terasa seperti berada di dunia yang berbeda.
"Ternyata?" tanya Iskandar pelan, suaranya nyaris berbisik.
Nayla tersenyum kecil.
Tapi senyum itu tidak sampai ke matanya.
Senyum yang hanya gerakan bibir, tanpa cahaya di baliknya. Senyum yang dipaksakan, senyum yang digunakan untuk menyembunyikan sesuatu yang lebih dalam.
"Ternyata yang paling sulit justru mencintai orang yang tepat di waktu yang tepat."
Kalimat itu membuat langkah Iskandar terasa berhenti.
Bukan karena ia terkejut. Bukan karena ia tidak mengerti.
Tapi karena untuk pertama kalinya, ia merasa Nayla tidak sedang berbicara tentang hidup secara umum. Ia tidak sedang berkhotbah. Ia tidak sedang memberikan nasihat.
Ia sedang berbicara tentang dirinya sendiri.
Tentang hidupnya.
Tentang cintanya.
Dan mungkin...
Tentang seseorang yang sudah ada sebelum Iskandar datang.
Seseorang yang mungkin masih meninggalkan jejak di hatinya.
Seseorang yang mungkin menjadi alasan mengapa matanya selalu terlihat seperti sedang memandang sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain.
Sebelum ia sempat bertanya lebih jauh, sebelum ia sempat menggali lebih dalam tentang siapa orang itu, tentang apa yang terjadi, tentang mengapa Nayla terlihat begitu terluka, sebuah suara terdengar dari seberang jalan.
"Nayla!"
Seorang perempuan melambaikan tangan dari depan toko alat tulis. Usianya tak jauh dari Nayla, mungkin dua puluh delapan atau dua puluh sembilan. Berhijab lembut warna pastel, dengan jilbab yang terurai rapi di bahu. Wajahnya ramah, dengan senyum yang lebar dan mata yang berbinar.
Nayla menoleh.
"Oh, Dinda."
Perempuan itu menghampiri sambil tersenyum, langkahnya cepat dan ringan seperti burung yang sedang melompat, lompat di dahan. Matanya sempat melirik Iskandar, hanya sekilas, tetapi cukup untuk menangkap detail: laki, laki, tinggi, kemeja biru muda, wajah tampan namun sedikit tegang.
Lalu senyumnya berubah nakal. Senyum yang mengatakan aku tahu apa yang sedang terjadi di sini.
"Oh... jadi ini alasan kamu sulit diajak keluar akhir, akhir ini?"
Nayla langsung terlihat salah tingkah. Pipinya yang tadinya pucat mulai merona, tangannya yang tadinya tenang mulai gelisah memegang ujung cardigan.
"Dinda!"
Iskandar menahan senyum. Ia bisa melihat bahwa Dinda adalah tipe perempuan yang cerewet tetapi menyenangkan, seperti Edo, tetapi dalam versi perempuan.
Dinda mengulurkan tangan. Tangannya kecil dan lembut, dengan kuku yang pendek dan bersih.
"Saya Dinda. Teman Nayla."
"Iskandar."
Dinda mengangguk cepat. Matanya bergerak cepat dari Iskandar ke Nayla, lalu kembali ke Iskandar, seperti sedang menonton pertandingan tenis yang seru.
"Sudah lama kenal?"
"Belum," jawab Nayla cepat, mungkin terlalu cepat, terlalu defensif, terlalu seperti orang yang sedang menyembunyikan sesuatu.
"Baru beberapa kali," jawab Iskandar bersamaan, dengan nada yang lebih santai, lebih tenang.
Mereka saling menoleh.
Dinda tertawa. Tawanya nyaring dan lepas, tidak peduli dengan orang, orang di sekitar yang mungkin menoleh.
"Jawabannya beda, tapi wajah kalian sama, sama gugup."
Nayla menutup wajah sebentar dengan kedua telapak tangannya, seperti sedang berusaha menghilangkan rasa malu yang meluap, luap.
"Dinda, tolong jangan mulai."
Iskandar justru tertawa pelan.
Dan entah kenapa, melihat Nayla salah tingkah, melihat perempuan yang selalu terlihat tenang dan terkendali itu tiba, tiba menjadi canggung dan malu, adalah hal paling manis yang ia lihat malam itu.
Setelah Dinda pamit pulang, setelah ia melambaikan tangan dengan senyum jahil yang membuat Nayla menggeleng, gelengkan kepala, suasana di antara mereka berubah sedikit.
Lebih canggung.
Tapi juga lebih dekat.
Seperti dua orang yang baru saja diperkenalkan oleh teman bersama, dan sekarang harus mencari topik pembicaraan baru karena topik lama sudah habis.
Mereka kembali berjalan perlahan di trotoar yang mulai sepi. Sebagian toko sudah mulai tutup, menggulung terpal atau menutup pintu besi mereka dengan suara berisik yang menggema di sepanjang jalan.
"Maaf soal Dinda," kata Nayla, suaranya sedikit bersalah.
"Tidak apa."
Iskandar tersenyum.
"Teman Anda mirip Edo."
"Berisik?"
"Tidak tahu kapan harus diam."
Nayla tertawa lagi. Tawa yang lebih santai dari sebelumnya, tawa yang menunjukkan bahwa ia mulai merasa nyaman.
Lalu untuk sesaat, mereka sama, sama diam.
Namun kali ini, diam itu terasa berbeda.
Bukan diam canggung yang membuat orang ingin segera mencari topik pembicaraan baru. Bukan diam tegang yang membuat orang merasa tidak nyaman.
Tapi diam yang hangat.
Diam yang dalam.
Diam yang terasa seperti percakapan tanpa kata, kata.
Dan tanpa Iskandar sadari, di tengah lampu kota kecil Kuala Kapuas, di antara toko, toko yang mulai tutup dan suara malam yang mulai sunyi, sesuatu di hatinya mulai tumbuh lebih jauh dari sekadar ketertarikan.
Karena malam itu, ia mulai memahami satu hal:
kadang kota yang kecil bisa menyimpan cerita besar.
Kadang orang yang terlihat biasa bisa memiliki luka yang luar biasa.
Kadang pertemuan yang tidak direncanakan bisa menjadi awal dari sesuatu yang tidak pernah dibayangkan.
Dan kadang, di antara keramaian yang sederhana, di antara suara klakson, di antara aroma makanan, di antara lampu, lampu yang memantul di jalan basah, seseorang bisa hadir, lalu perlahan menjadi alasan mengapa hati tak lagi ingin pulang sendirian.
Di tempat yang berbeda, di sebuah rumah di kawasan Jalan Seroja, Dinda duduk di kamarnya sambil memegang ponsel.
Ia membuka aplikasi pesan, mencari nama Nayla, lalu mengetik dengan jari yang cepat, jari yang sudah terbiasa mengetik tanpa melihat keyboard.
"Dinda: Nay, siapa tuh laki-laki tadi? Ganteng lho. Jangan bilang kamu lagi deket sama dia? Jangan, jangan kamu udah jatuh cinta? Cepet cerita, jangan pelit, pelit amat. Aku kan sahabatmu. Sahabat itu berhak tahu segalanya. Termasuk soal laki-laki baru yang bikin kamu tersenyum kayak tadi."
Lalu ia menekan tombol kirim, tersenyum puas, dan menunggu.
Balasan tidak datang segera.
Dinda tidak sabar. Ia mengirim pesan lagi.
"Dinda: Nay, serius. Jangan diem aja. Aku penasaran. Orangnya kayaknya baik. Sopan. Dan matanya, Nay, matanya kayak orang yang serius. Bukan tipe laki, laki yang main, main. Jangan sia, siain."
Masih tidak ada balasan.
Dinda menghela napas, meletakkan ponsel di samping bantal, dan menatap langit, langit kamarnya yang retak.
"Semoga kali ini kamu benar, benar bahagia, Nay," bisiknya pada dirinya sendiri.
"Kamu sudah terlalu lama menderita sendirian."
Di kamarnya yang gelap, Nayla membaca pesan, pesan Dinda.
Ia tersenyum kecil.
Lalu mengetik balasan singkat.
"Nayla: Belum tahu, Din. Masih terlalu awal untuk bilang apa, apa. Tapi... dia berbeda. Dan aku takut."
Dinda membalas hampir seketika.
"Dinda: Takut kenapa? Takut jatuh cinta? Itu mah namanya sudah jatuh cinta, Nay."
Nayla tidak membalas.
Ia hanya mematikan layar ponselnya, meletakkannya di atas meja samping tempat tidur, dan memandang langit, langit yang retak.
"Takut kehilangan lagi," bisiknya pada dirinya sendiri, di dalam gelap.
"Takut setelah sekian lama sendirian, aku mulai percaya pada seseorang, lalu orang itu pergi lagi."
Air matanya jatuh.
Pelan.
Satu per satu.
Seperti rintik hujan yang jatuh di atap seng.
BAB 6
Malam di Bundaran Besar
Malam di Kuala Kapuas selalu punya caranya sendiri untuk membuat orang enggan pulang.
Bukan karena ada hiburan yang menggiurkan, tidak ada klub malam dengan lampu strobo yang berkedip, kedip, tidak ada kafe mewah dengan musik jazz yang menenangkan, tidak ada tempat nongkrong kekinian yang instagramable. Bukan pula karena ada pemandangan yang spektakuler, tidak ada gedung pencakar langit dengan lampu, lampu yang menyala sampai pagi, tidak ada jembatan gantung yang dihiasi ribuan lampu warna, warni.
Tapi ada sesuatu tentang malam di kota ini yang membuat orang ingin terus berjalan, terus duduk, terus berbincang, terus menikmati setiap detik yang berlalu. Mungkin karena udaranya yang sejuk setelah seharian terik matahari. Mungkin karena suasana yang lebih tenang, lebih damai, lebih ramah untuk merenung. Mungkin karena di malam hari, kota ini terlihat lebih jujur, tanpa kilauan matahari yang menyilaukan, tanpa debu dan polusi yang mengaburkan pandangan.
Setelah meninggalkan kawasan Jalan Jenderal Sudirman, setelah toko, toko emas mulai menutup etalase mereka satu per satu, setelah lampu, lampu terang di toko ponsel mulai diredupkan, setelah pedagang kaki lima mulai membereskan dagangan mereka, langkah Iskandar dan Nayla tanpa sadar membawa mereka ke Bundaran Besar Kuala Kapuas.
Bundaran Besar adalah salah satu titik paling dikenal di kota itu. Bukan karena ukurannya yang besar, sebenarnya tidak terlalu besar, hanya bundaran biasa dengan diameter mungkin dua puluh meter. Bukan hanya karena ada monumen megah di tengahnya, dengan beberapa lampu sorot yang menerangi area sekitarnya.
Tapi Bundaran Besar adalah jantung kota. Ibarat Jakarta, bundaran ini adalah Hotel Indonesia Roundaboutnya Kuala Kapuas. Di sinilah segala sesuatu dimulai dan berakhir. Di sinilah orang, orang berkumpul untuk merayakan kemenangan, untuk berduka atas kekalahan, untuk menunggu seseorang, atau untuk sekadar melepas lelah setelah seharian bekerja.
Bundaran itu berdiri di tengah perempatan besar, seperti jantung kecil yang menjaga denyut kota tetap hidup. Empat jalan besar bercabang dari bundaran ini, masing, masing menuju ke arah yang berbeda, masing, masing membawa cerita yang berbeda, masing, masing menjadi saksi bagi ribuan perjalanan yang dimulai dan berakhir setiap hari.
Di sisi kanan dan kirinya terbentang taman, taman kota dengan rumput yang tertata rapi, rumput yang dipotong setiap minggu oleh petugas kebersihan, yang kadang masih basah oleh embun pagi meskipun sekarang sudah malam. Taman, taman itu tidak besar, hanya beberapa meter persegi dengan bangku, bangku kayu yang dicat hijau, tempat orang, orang duduk santai sambil menikmati malam.
Lampu, lampu taman menyala lembut, menerangi jalan setapak yang biasa dipakai anak muda berjalan santai di malam hari. Lampu, lampu itu tidak terlalu terang, hanya cukup untuk melihat wajah orang yang lewat, tidak cukup untuk membaca buku atau menulis surat. Tapi justru itu yang membuat suasana terasa romantis, terasa intim, terasa seperti tempat di mana rahasia, rahasia kecil bisa dibisikkan tanpa takut terdengar.
Tak jauh dari sana ada angkringan kuliner, beberapa gerobak yang berjajar rapi di pinggir jalan, menjual berbagai macam makanan: nasi kucing dengan lauk seadanya, sate telur puyuh yang gurih, mie instan rebus dengan telur setengah matang, kopi hitam pekat yang bisa membuat mata melek semalaman.
Di sebelah angkringan itu, berdiri Taman Bacaan Asmin, sebuah perpustakaan kecil berbentuk rumah beton, dengan rak, rak buku yang tertata rapi di dalamnya. Tempat itu didirikan oleh Pemerintah Daerah yang ingin anak-anak di kota ini memiliki akses ke buku, buku berkualitas. Di malam hari, beberapa anak masih terlihat duduk di terasnya, membaca buku sambil sesekali tertawa kecil, ditemani oleh lampu minyak tanah yang kunang, kunang.
Di seberangnya tampak Rumah Makan Wong Solo, masih ramai oleh pengunjung meskipun jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Rumah makan ini sudah beberapa tahun berdiri di tempat yang sama, menjadi saksi bisu bagi ribuan pertemuan, perpisahan, dan segala sesuatu di antaranya. Aroma ayam penyetnya yang khas tercium sampai ke bundaran, membuat perut keroncongan meskipun baru saja makan.
Lampu merah Indomaret menyala terang di sudut jalan, lampu merah yang menjadi pemandangan akrab di setiap sudut kota di Indonesia, simbol dari kemudahan dan kepraktisan yang bisa diakses kapan saja, di mana saja. Dari dalam toko, terdengar suara pintu otomatis yang terbuka dan tertutup setiap kali ada pengunjung yang masuk atau keluar.
Sementara dari kejauhan, bangunan Kantor Polres Kapuas berdiri kokoh di salah satu sisi perempatan, bangunan putih dengan pilar, pilar besar, seperti benteng yang menjaga keamanan kota. Di halaman depannya, bendera merah putih berkibar pelan ditiup angin malam, sesekali terdengar suara tongkat piket yang diketuk, ketukkan oleh petugas jaga yang mulai mengantuk.
Dari bundaran itu, jalan, jalan besar seolah membelah arah kehidupan.
Ke selatan menuju pusat kota, menuju pasar, pasar yang ramai di pagi hari, menuju perkantoran yang sibuk di siang hari, menuju rumah, rumah penduduk yang berhimpitan di gang, gang sempit.
Ke timur menuju Banjarmasin, menuju kota besar dengan segala hiruk, pikuknya, menuju pelabuhan yang menghubungkan Kalimantan dengan pulau, pulau lain, menuju masa depan yang mungkin lebih cerah atau mungkin lebih suram.
Ke utara menuju Mantangai, menuju desa, desa yang masih asri dengan sawah dan hutan, menuju kehidupan yang lebih lambat, lebih tradisional, lebih dekat dengan alam.
Dan ke barat menuju Palangkaraya, menuju ibu kota provinsi dengan gedung, gedung pemerintahan yang megah, menuju universitas, universitas tempat anak, anak muda mengejar mimpi, menuju jalan, jalan lebar yang jarang macet.
Empat arah. Empat kemungkinan. Empat jalan yang bisa membawa seseorang ke tempat berbeda.
Iskandar memandang bundaran itu sesaat.
Entah kenapa, malam itu tempat itu terasa seperti simbol hidupnya sendiri.
Di persimpangan, tidak tahu harus belok ke mana. Di antara pilihan, pilihan yang semuanya tampak menjanjikan tetapi juga semuanya tampak menakutkan. Di tengah kebingungan yang tidak kunjung usai, yang semakin hari semakin membingungkan.
Dan mungkin, simbol hidup Nayla juga.
"Tempat ini indah ya," kata Nayla pelan, suaranya nyaris seperti bisikan yang hanya cukup untuk didengar oleh orang yang berdiri di sampingnya.
Iskandar menoleh.
"Bundaran?"
Nayla mengangguk. Matanya menyapu seluruh area bundaran, lampu, lampu taman yang berkedip, anak, anak yang berlarian, pasangan, pasangan yang duduk berdua, pedagang, pedagang yang sibuk melayani pembeli.
"Bukan karena besar. Tapi karena rasanya seperti semua orang di kota ini pasti pernah lewat sini."
Iskandar tersenyum. Senyum yang lahir dari pengakuan bahwa ia juga merasakan hal yang sama.
"Kalau di kota besar, orang mungkin melewati tempat seperti ini tanpa peduli."
"Kalau di kota kecil?"
"Di kota kecil..." Iskandar menatap lampu taman yang berwarna kuning lembut.
"Setiap tempat punya cerita."
Nayla menoleh menatapnya. Matanya berbinar di bawah cahaya lampu, bukan binar kegembiraan, tetapi binar ketertarikan, binar rasa ingin tahu, binar yang mengatakan bahwa ia ingin mendengar lebih banyak.
"Dan kamu?"
"Saya?"
"Punya cerita di sini?"
Iskandar tertawa kecil. Tawa yang sedikit malu, sedikit canggung, seperti seseorang yang diminta menceritakan masa lalunya di depan umum.
"Banyak. Salah satunya pernah jatuh dari sepeda di situ."
Ia menunjuk trotoar dekat taman, tepat di depan bangku kayu yang sekarang diduduki oleh sepasang kekasih yang sedang berbisik, bisik. Trotoar sudah berubah dua puluh tahun lalu, dengan ubin yang berbeda, dengan retakan yang berbeda, dengan kenangan yang berbeda.
Nayla menahan tawa. Bibirnya mengerucut berusaha tidak tersenyum, tetapi matanya sudah keburu berbinar.
"Serius?"
"Sangat memalukan."
"Kenapa?"
"Karena yang lihat satu sekolah."
Nayla tertawa lepas. Tawanya menggema di malam yang sunyi, membuat beberapa orang di sekitar menoleh sebentar, lalu kembali ke aktivitas mereka masing, masing.
Dan sekali lagi, Iskandar merasa bahwa mendengar tawa Nayla adalah sesuatu yang diam, diam mulai ia tunggu. Seperti seorang pecandu yang mulai membutuhkan dosis hariannya. Seperti seseorang yang baru sadar bahwa selama ini hidupnya terlalu sunyi tanpa suara tawa.
Mereka duduk di bangku taman dekat bundaran, bangku kayu yang dicat hijau, yang catnya sudah mulai mengelupas di beberapa bagian, memperlihatkan kayu di bawahnya yang sudah menghitam oleh usia dan air hujan.
Bangku itu cukup untuk dua orang duduk berdampingan dengan jarak yang sopan. Tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh. Jarak yang sempurna untuk memulai percakapan, untuk berbagi cerita, untuk mulai saling mengenal.
Di depan mereka, pedagang kaki lima berjejer menjual berbagai macam makanan. Jagung bakar dengan mentega dan keju yang meleleh, aromanya manis dan smoky, membuat perut keroncongan meskipun baru saja makan. Sate ayam dengan bumbu kacang yang kental, ditusuk dengan lidi bambu yang runcing, disajikan dengan lontong yang lembut. Pentol yang digoreng hingga kecokelatan, dengan tekstur renyah di luar dan lembut di dalam. Es tebu yang dingin dan manis, diperas langsung dari batang tebu yang masih segar, tanpa campuran gula atau pemanis buatan.
Aroma makanan bercampur dengan udara malam yang sejuk, menciptakan sensasi yang membuat kota terasa hidup dengan cara yang sederhana. Bukan dengan gemerlap lampu, bukan dengan gemuruh musik, bukan dengan hiruk, pikuk keramaian.
Tapi dengan hal, hal kecil: aroma jagung bakar, suara sendok yang beradu, tawa anak, anak yang berlarian, bisik, bisik pasangan yang sedang jatuh cinta.
Nayla membeli dua tusuk sate telur puyuh dari seorang pedagang yang tersenyum ramah. Pedagang itu perempuan, mungkin usia empat puluhan, dengan kerudung yang sedikit longgar dan tangan yang terampil membalik sate di atas bara api.
Satu tusuk disodorkan ke Iskandar.
"Untuk apa ini?"
"Supaya pembicaraanmu tidak terlalu serius."
"Jadi saya terlalu serius?"
"Sangat."
Iskandar menerima sate itu. Tusuk bambunya masih hangat, sedikit berasap, meninggalkan aroma kayu bakar di ujung jarinya.
"Baik. Mulai sekarang saya akan berusaha lebih santai."
Nayla tersenyum.
"Bagus."
Belum sempat Iskandar menggigit sate itu, belum sempat ia merasakan gurihnya telur puyuh yang dibalut bumbu kacang, sebuah suara keras datang dari arah belakang.
"WOOOYYY!"
Iskandar hampir menjatuhkan tusuk sate. Tangannya refleks mengencangkan genggaman, menyelamatkan telur puyuh yang hampir jatuh ke tanah.
Dari balik taman, tiba, tiba muncul Edo, Ridwan, Anggun, Sahrul, Rara. Bahkan di layar tablet yang dibawa Anggun, tablet yang agak besar dan agak berat, yang terlihat aneh dibawa, bawa di malam hari, wajah Lukman muncul lewat video call, dengan senyum lebar yang memperlihatkan deretan giginya yang putih.
Mereka semua berdiri sambil tersenyum seperti baru selesai merencanakan sesuatu yang berbahaya. Senyum yang mengatakan kami tahu apa yang kalian lakukan, dan kami datang untuk mengganggu.
Iskandar menatap mereka satu per satu.
Edo dengan senyum paling lebar, seperti baru menang lotre.
Ridwan dengan ekspresi datar seperti biasa, tetapi matanya berbinar.
Anggun dengan tangan di pinggang, seperti ibu yang sedang mengawasi anaknya berkencan.
Sahrul dengan alis terangkat, seperti sedang mengatakan nah, ketahuan.
Rara dengan senyum misterius, seperti sedang menghitung berapa detik lagi Iskandar akan mulai marah.
Lukman di layar tablet dengan latar belakang ruang tamunya yang sederhana, sesekali terputus oleh sinyal yang buruk.
Lalu Iskandar menutup mata.
Pelan.
Sangat pelan.
Seolah sedang berdoa agar semua ini hanya mimpi.
"Aku mau pindah kota."
Edo langsung tertawa paling keras. Tawanya menggema di taman malam, membuat beberapa pasangan di bangku lain menoleh.
"Belum sempat. Kami sudah menemukanmu duluan."
Nayla menatap mereka bingung. Matanya bergerak dari satu wajah ke wajah lain, mencoba memahami apa yang sedang terjadi.
Lalu ia menoleh ke Iskandar.
"Mereka semua...?"
"Musibah kolektif," jawab Iskandar datar, suaranya penuh dengan kepasrahan.
Anggun maju sambil tersenyum manis, senyum yang terlalu manis untuk menjadi tulus, senyum yang biasanya ia gunakan ketika sedang ingin menggoda seseorang.
"Halo, aku Anggun."
"Saya Nayla."
Rara ikut mendekat. Langkahnya pelan, seperti kucing yang mendekati mangsanya.
"Akhirnya ketemu juga."
Nayla mengerutkan kening kecil. Kerutan yang lucu, kerutan yang membuatnya terlihat seperti anak kecil yang sedang mencoba memecahkan teka, teki sulit.
"Akhirnya?"
Rara menatap Iskandar lalu tersenyum tipis. Senyum yang tidak perlu diartikan karena semua orang sudah tahu artinya.
"Karena beberapa hari terakhir nama kamu lebih sering muncul daripada berita kota."
"Rara..." gumam Iskandar, nada suaranya setengah memohon, setengah mengancam.
Sahrul tertawa, ikut menambahkan dengan nada yang sangat menikmati.
"Dia bahkan salah parkir tadi gara, gara melamun."
Ridwan menambahkan dengan tenang, suaranya datar seperti biasa tetapi matanya berbinar.
"Dan hampir transfer uang ke nomor yang salah."
Edo mengangguk mantap, seperti seorang saksi yang memberikan kesaksian di pengadilan.
"Karena pikirannya bukan di rekening."
Nayla menutup mulut menahan tawa. Tangannya menutup mulut, tetapi matanya sudah keburu berbinar, bahunya sudah keburu berguncang.
Sementara Iskandar merasa harga dirinya perlahan menghilang di taman kota, seperti es yang meleleh di bawah terik matahari, seperti kabut yang sirna saat pagi berganti siang.
Namun kejutan belum selesai.
"Kalau sahabatmu boleh muncul," suara lembut terdengar dari belakang Nayla, suara yang familiar, suara yang baru saja ia dengar beberapa jam yang lalu.
"masa sahabat Nayla tidak?"
Nayla menoleh cepat. Gerakannya begitu cepat hingga beberapa helai rambutnya terlepas dari ikatan dan menutupi wajahnya.
Di sana berdiri Dinda, bersama dua perempuan lain.
Mira, sahabat kampus Nayla yang pendiam, perempuan berjilbab panjang dengan kacamata tebal, yang lebih suka diam daripada berbicara, yang lebih nyaman menjadi pendengar daripada pembicara. Mira adalah tipe orang yang tidak terlihat mencolok, tetapi ketika ia berbicara, semua orang akan mendengarkan.
Dan Lina, teman kerjanya yang terkenal ceplas, ceplos, perempuan berambut pendek dengan gaya bicara yang blak, blakan, yang tidak pernah takut mengatakan apa yang ia pikirkan, yang kadang membuat orang tersinggung tetapi juga kadang membuat orang tertawa terpingkal, pingkal.
Dinda melambaikan tangan ceria, seperti seorang pemandu wisata yang sedang menyambut rombongan.
"Kami kebetulan lewat."
Iskandar melirik. Matanya menyipit, bibirnya mengerucut, ekspresi tidak percaya yang sangat khas.
"Bohong."
Dinda mengangguk. Anggukan yang jujur, tanpa rasa bersalah.
"Iya memang."
Nayla langsung tertawa sambil memegang dahi. Tangannya menutupi setengah wajah, tetapi tawanya tetap terdengar, tawanya tetap keluar, tawanya tetap tidak bisa disembunyikan.
"Ya Tuhan..."
Kini mereka duduk melingkar di taman. Sebuah lingkaran besar yang terdiri dari dua kelompok sahabat yang baru bertemu, dua orang yang sama, sama salah tingkah, dan malam yang berubah jauh lebih ramai dari rencana awal.
Bangku, bangku kayu yang tadinya cukup untuk dua atau tiga orang sekarang harus diatur ulang. Beberapa kursi plastik dipinjam dari pedagang kaki lima di dekatnya. Sebuah tikar kecil dibentangkan di atas rumput yang sedikit basah oleh embun malam.
Dan di tengah lingkaran itu, Iskandar dan Nayla duduk berdampingan, dengan jarak yang tiba, tiba terasa lebih dekat dari sebelumnya, mungkin karena ruang yang sempit, mungkin karena mereka berdua secara tidak sadar saling mendekat.
"Jadi," kata Lina sambil menatap Iskandar dengan mata yang tajam, mata yang biasa digunakan untuk menginterogasi narasumber di kantornya, karena Lina adalah seorang jurnalis di media lokal.
"kamu serius atau hanya hobi jalan sore?"
Iskandar hampir tersedak minum. Es teh yang baru saja ia pesan tiba, tiba terasa seperti air terjun yang masuk ke saluran pernapasan. Ia batuk, batuk kecil, menepuk dadanya, berusaha terlihat tenang meskipun wajahnya sudah memerah.
Nayla menatap Lina dengan ekspresi setengah panik, setengah memohon.
"Lina!"
Lina mengangkat bahu, tanpa sedikit pun rasa bersalah.
"Apa? Semua orang di sini juga mau tahu."
Dan memang, semua orang di lingkaran itu menunggu jawaban.
Edo bahkan bersandar santai di kursi plastiknya, kaki disilangkan, tangan di belakang kepala, seperti sedang menonton film favorit di bioskop.
"Nah ini saya juga mau tahu."
Iskandar memandang semua wajah di sekelilingnya. Satu per satu.
Edo dengan senyum puasnya.
Ridwan dengan ekspresi datar tetapi penuh perhatian.
Anggun dengan mata berbinar.
Sahrul dengan alis terangkat.
Rara dengan senyum misterius.
Dinda dengan tangan di dagu, seperti wasit yang menunggu keputusan final.
Mira dengan tatapan diam yang justru paling mengintimidasi.
Lina dengan senyum puas karena pertanyaannya berhasil menciptakan ketegangan.
Dan Lukman di layar tablet, yang meskipun sinyalnya buruk, tetap terlihat antusias.
Lalu ia menatap Nayla.
Nayla terlihat salah tingkah. Tangannya gelisah memegang ujung cardigan, matanya tidak berani menatap Iskandar, pipinya merona merah seperti matahari terbenam.
Tapi ia tidak mengalihkan pandangan sepenuhnya. Sekali, sekali, matanya melirik ke arah Iskandar, lalu cepat, cepat berpaling, seperti anak kecil yang ketahuan mencuri permen.
Untuk beberapa detik, suasana mendadak terasa hening.
Meskipun kendaraan tetap lewat di jalan raya di belakang mereka.
Meskipun suara pedagang tetap terdengar dari kejauhan.
Meskipun lampu kota tetap menyala seperti biasa.
Meskipun dunia di sekitar mereka tetap berjalan.
Bagi Iskandar, yang tersisa hanya Nayla.
Wajahnya yang merona.
Matanya yang gelisah.
Bibirnya yang sedikit menggigit bibir bawah, kebiasaan yang ia lakukan ketika sedang gugup.
Iskandar tersenyum kecil. Senyum yang lahir bukan dari rencana, bukan dari strategi, bukan dari keinginan untuk tampil baik di depan teman, teman.
Senyum yang lahir dari hati.
Lalu ia menjawab pelan, dengan suara yang cukup keras untuk didengar semua orang, tetapi cukup lembut untuk terasa seperti bisikan.
"Kalau hanya jalan sore, saya tidak mungkin hafal warna cardigan yang dia pakai hari pertama."
Suasana langsung meledak.
"WOOOO!" teriak Edo, hampir jatuh dari kursinya karena terlalu bersemangat.
"ASTAGA!" Anggun menutup mulut dengan kedua tangan, matanya membesar seperti piring.
"Parah!" Sahrul menepuk paha sendiri, tertawa terbahak, bahak.
"Iskandar ternyata bisa romantis!" suara Lukman terdengar dari layar tablet, meskipun terputus, putus oleh sinyal.
Ridwan hanya tersenyum tipis, salah satu senyum paling lebar yang pernah ia tunjukkan dalam satu dekade terakhir.
Rara menggeleng, gelengkan kepala, tetapi matanya berbinar.
Dinda memukul, mukul bahu Mira yang tetap diam, tetapi matanya juga berbinar.
Lina bersiul kecil, seperti wasit yang mengesahkan sebuah gol.
Nayla membeku.
Pipinya yang tadinya sudah merah kini berubah menjadi merah tua, seperti tomat yang terlalu matang. Wajahnya terasa panas, seperti sedang demam. Jantungnya berdetak begitu kencang hingga ia bisa mendengarnya sendiri, dum, dum, dum, dum, dum, seperti genderang perang yang memekakkan telinga.
Dan untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, Nayla tidak tahu harus menjawab apa.
Ia hanya diam.
Diam dengan pipi yang semakin merah.
Diam dengan jantung yang semakin kencang.
Diam dengan perasaan yang semakin tidak bisa ia kendalikan.
Namun di tengah tawa itu, di tengat kegaduhan yang diciptakan oleh sahabat, sahabat yang terlalu bersemangat, mata Dinda menangkap sesuatu.
Mobil hitam.
Di seberang jalan.
Melambat.
Berhenti sesaat.
Lalu kembali berjalan.
Dinda menatap mobil itu sedikit lebih lama. Matanya menyipit, berusaha menembus kaca gelap yang menghalangi pandangan. Siapa di dalam sana? Mengapa ia berhenti di sini? Mengapa ia melambat tepat di depan kelompok mereka?
Wajahnya berubah.
Senyum yang tadi menghiasi bibirnya perlahan memudar, digantikan oleh ekspresi serius yang jarang muncul.
Iskandar yang menyadarinya bertanya pelan.
"Kenapa?"
Dinda menoleh cepat. Terlalu cepat. Seperti seseorang yang ketahuan sedang mengintip.
"Tidak... mungkin cuma salah lihat."
Tapi Nayla yang duduk di sebelahnya langsung kehilangan senyum.
Ia juga melihat.
Mobil itu.
Warna hitam.
Model yang familiar.
Plat nomor yang meskipun tidak ia baca, tetapi sudah ia kenali dari jarak seratus meter.
Tangannya menggenggam erat ujung tas di pangkuannya, tas kecil berwarna cokelat yang biasa ia bawa ke mana, mana. Genggamannya begitu erat hingga buku, buku jarinya memutih.
Iskandar melihat perubahan itu.
Cahaya di matanya yang tadi berbinar, kini redup. Senyum di bibirnya yang tadi merekah, kini mengeras. Bahunya yang tadi santai, kini tegang.
Dan untuk pertama kalinya malam itu, ia merasa bahwa di balik tawa, di balik cahaya taman, di balik semua kebahagiaan kecil yang baru mulai tumbuh, ada sesuatu yang sedang mengikuti mereka.
Sesuatu dari masa lalu Nayla.
Sesuatu yang belum selesai.
Sesuatu yang diam, diam mengintai dari kejauhan, menunggu waktu yang tepat untuk muncul.
Dan mungkin, sesuatu yang bisa merusak semuanya sebelum benar, benar dimulai.
Di dalam mobil hitam yang melaju perlahan menjauh dari Bundaran Besar, Aldebar duduk di kursi kemudi dengan tangan mengepal erat.
Jari, jarinya yang panjang dan tegang itu mencengkeram setir seperti sedang berusaha menahan diri untuk tidak membanting sesuatu. Buku, buku jarinya memutih, urat, urat di tangannya menonjol, tanda bahwa amarahnya sedang memuncak.
Ia melihat semuanya.
Cara Nayla tertawa di dekat laki, laki itu.
Cara matanya berbinar.
Cara pipinya merona.
Cara ia terlihat... bahagia.
Bahagia.
Kata itu terasa seperti pisau di dadanya.
Nayla bahagia tanpa aku.
Ia menekan pedal gas sedikit lebih dalam. Mobil hitam itu melaju lebih kencang di jalan yang mulai sepi. Lampu, lampu kota berpendar di kaca spion, semakin mengecil, semakin menjauh.
Di sampingnya, di kursi penumpang, sebuah ponsel menyala. Layar menampilkan foto Nayla, foto lama, foto ketika rambutnya masih panjang tergerai tanpa ikatan, foto ketika senyumnya masih lepas tanpa beban, foto ketika ia masih percaya bahwa cinta adalah sesuatu yang indah.
Aldebar menatap foto itu sekilas.
Lalu menghela napas panjang.
"Kamu pikir kamu bisa bahagia dengan dia, Nay?" bisiknya pada dirinya sendiri, suararnya nyaris tenggelam oleh suara mesin.
"Kamu pikir dia akan tetap bertahan setelah tahu semuanya?"
Ia tertawa kecil. Tawa yang pahit. Tawa yang sakit.
"Tidak, Nay. Tidak ada yang bertahan."
Mobil hitam itu terus melaju, meninggalkan Bundaran Besar, meninggalkan tawa yang tidak diundang, meninggalkan kebahagiaan yang bukan miliknya.
Dan di dalam mobil itu, seorang laki, laki yang belum siap kehilangan mulai merencanakan sesuatu yang tidak akan pernah bisa dimaafkan.
BAB 7
Mobil Hitam di Simpang Kota
Tawa di taman Bundaran Besar perlahan mereda.
Seperti api unggun yang mulai kehabisan kayu bakar, seperti ombak yang surut setelah menerjang pantai, seperti euforia yang perlahan digantikan oleh kesadaran bahwa dunia tidak selalu indah.
Edo masih sesekali menyelipkan candaan di sela, sela obrolan, tentang bagaimana Iskandar sekarang punya "pengawal pribadi" yang terdiri dari dua kelompok sahabat, tentang bagaimana ia akan membuat grup WhatsApp khusus untuk memantau perkembangan hubungan mereka, tentang bagaimana ia akan menjadi "mak comblang resmi" Kuala Kapuas. Sahrul masih tertawa mendengar lelucon, lelucon Edo yang kadang lucu, kadang memuakkan. Anggun masih sibuk mengatur posisi duduk agar semua orang bisa melihat satu sama lain dengan nyaman. Ridwan masih diam dengan kopinya yang sudah dingin, sesekali melontarkan komentar singkat yang justru paling tajam. Rara masih tersenyum misterius, seperti sedang membaca sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain.
Namun Iskandar masih menangkap perubahan kecil di wajah Nayla.
Bukan perubahan yang mudah disadari semua orang. Tidak ada yang tiba, tiba berteriak, tidak ada yang tiba, tiba menangis, tidak ada yang tiba, tiba berlari meninggalkan taman. Perubahan itu halus, seperti pergeseran lempeng tektonik di dasar laut, tidak terlihat oleh mata telanjang, tetapi cukup kuat untuk menciptakan gempa yang dahsyat.
Beberapa detik sebelumnya perempuan itu tertawa lepas, pipinya memerah karena godaan teman, temannya, matanya berbinar karena kebahagiaan yang tulus. Ia terlihat seperti perempuan biasa seusianya, sedikit canggung, sedikit malu, tetapi juga sedikit bahagia.
Tetapi sejak mobil hitam itu melintas di seberang jalan, sejak kaca gelapnya melintas seperti bayangan hantu di tengah keramaian, senyum itu seolah menghilang begitu saja.
Bukan seperti lampu yang dimatikan, tetapi seperti api yang dibiarkan padam perlahan. Senyumnya masih ada, tetapi tidak lagi sampai ke mata. Matanya masih menatap, tetapi tidak lagi berbinar. Suaranya masih terdengar, tetapi tidak lagi bersemangat.
Hanya seseorang yang memperhatikan sungguh, sungguh yang akan melihatnya. Hanya seseorang yang sudah mulai peduli lebih dari yang seharusnya yang akan menangkap perubahan sekecil itu.
Dan tanpa sadar, Iskandar memang sudah mulai memperhatikan Nayla terlalu dalam.
Bukan karena ia sengaja. Bukan karena ia berusaha. Tapi karena matanya sudah terbiasa mencari Nayla di setiap keramaian, telinganya sudah terbiasa mendengar suara Nayla di setiap kebisingan, hatinya sudah terbiasa merasakan kehadiran Nayla di setiap kesunyian.
"Lho, kok tiba, tiba sunyi?" Edo memecah suasana, suaranya yang keras tiba, tiba terasa seperti suara palu yang memecah kaca.
"Padahal saya belum sempat pidato."
Sahrul langsung menyahut, tanpa jeda, tanpa pikir panjang.
"Kalau kau pidato, kita pulang semua."
"Kurang ajar."
Anggun tertawa. Tawanya yang khas, nyaring, lepas, dan sedikit mengganggu.
"Bukan kurang ajar. Itu realistis."
Suasana kembali mencair. Beberapa orang tertawa lagi, Edo tertawa paling keras karena ia memang tidak pernah bisa marah serius pada Sahrul, Anggun tertawa karena ia suka melihat Edo dan Sahrul bertengkar seperti kakak beradik, Dinda tertawa karena ia mulai menikmati dinamika kelompok ini, Mira tertawa kecil karena meskipun pendiam, ia tetap punya selera humor.
Namun Iskandar melihat Nayla hanya tersenyum tipis. Bibirnya terangkat sedikit, tetapi matanya tetap kosong. Senyum yang hanya gerakan otot, tanpa emosi, tanpa arti.
Tidak seperti sebelumnya.
Dan entah mengapa, itu cukup membuat dadanya ikut tidak tenang.
Tak lama kemudian, hujan gerimis turun lagi.
Bukan hujan deras seperti sore tadi di Dermaga Danau Mare, bukan hujan yang jatuh dengan deras seperti air terjun, bukan hujan yang memaksa orang untuk berlarian mencari tempat berteduh.
Hanya gerimis kecil.
Butiran, butiran air yang sangat kecil, hampir tidak terasa, yang jatuh lembut di bawah lampu taman seperti debu kristal yang bertebaran dari langit. Gerimis yang tidak cukup basah untuk membuat pakaian basah kuyup, tetapi cukup untuk membuat rambut sedikit lembab, cukup untuk membuat udara terasa lebih dingin, cukup untuk membuat suasana menjadi lebih melankolis.
"Sepertinya langit ikut baper," kata Rara sambil menengadah sebentar, merasakan butiran, butiran air jatuh di wajahnya.
Edo mengangguk serius. Anggukan yang berlebihan, seperti seorang ahli meteorologi yang sedang menjelaskan fenomena alam yang rumit.
"Karena dua manusia ini belum jadian."
Iskandar menatap tajam. Matanya menyipit, bibirnya mengerucut, alisnya bertaut, ekspresi yang biasanya membuat Edo mundur selangkah. Tapi malam ini Edo sedang dalam mode "tidak punya rasa takut".
"Edo."
"Apa? Saya mewakili rakyat."
"Rakyat siapa?"
"Rakyat yang penasaran."
Nayla tertawa kecil. Tawa yang pelan, hampir tidak terdengar, seperti bisikan di tengah badai. Tawa yang hadir bukan karena sesuatu yang lucu, tetapi karena ia merasa perlu untuk ikut tertawa agar tidak terlihat aneh.
Tapi Iskandar mendengar perbedaannya.
Tawa yang tadi sore di Dermaga Danau Mare, tawa yang lepas, tawa yang bebas, tawa yang keluar dari perut, itu adalah tawa yang sesungguhnya. Tawa yang tidak bisa dipalsukan, yang tidak bisa direkayasa, yang tidak bisa diproduksi oleh otot, otot wajah yang bergerak sesuai perintah.
Tawa malam ini berbeda. Tawa yang lebih pendek, lebih cepat berlalu, lebih seperti kewajiban daripada kesenangan.
Dinda yang sejak tadi diam, yang sejak mobil hitam itu lewat tidak banyak bicara, yang matanya terus bergerak gelisah, yang tangannya tidak berhenti memainkan ujung hijabnya, akhirnya berdiri.
"Sudah malam. Nayla, kita pulang saja."
Nayla menoleh.
"Sekarang?"
Dinda mengangguk pelan. Anggukan yang tidak tergesa, gesa, tetapi juga tidak bisa ditawar. Anggukan seorang sahabat yang tahu bahwa kadang, kadang, melindungi seseorang berarti membawanya pergi dari tempat yang berpotensi berbahaya.
Tatapannya memberi sesuatu yang hanya dipahami Nayla. Sebuah kode. Sebuah sinyal. Sebuah peringatan bahwa mereka harus pergi, bahwa mereka tidak bisa tinggal lebih lama, bahwa ada sesuatu yang perlu dibicarakan di tempat yang lebih aman.
Iskandar melihat itu.
Ada sesuatu yang tidak dikatakan. Ada pesan yang terlewat oleh telinganya, tetapi tertangkap oleh mata Nayla. Ada komunikasi antara dua sahabat perempuan itu yang tidak memerlukan kata, kata, yang hanya memerlukan tatapan, yang hanya memerlukan anggukan, yang hanya memerlukan pemahaman bersama.
Dan justru karena itu, ia semakin merasa ada hal yang belum ia tahu.
Hal yang membuat Nayla ketakutan.
Hal yang membuat Dinda waspada.
Hal yang membuat suasana berubah hanya karena sebuah mobil melintas.
Mereka semua berjalan ke area parkir dekat Indomaret di sudut bundaran.
Area parkir itu tidak besar, mungkin hanya cukup untuk dua puluh motor dan lima mobil. Lantainya terbuat dari aspal yang sudah mulai retak, dengan garis, garis putih yang sudah pudar oleh usia dan air hujan. Di sudutnya, ada pohon rindang yang menjadi tempat berteduh bagi pengendara motor yang sedang menunggu hujan reda.
Lampu jalan memantulkan cahaya di aspal yang masih basah, menciptakan pantulan, pantulan berwarna yang bergerak, gerak setiap kali ada kendaraan yang lewat. Pantulan merah dari lampu rem mobil, pantulan kuning dari lampu kota, pantulan putih dari lampu depan motor, semua bercampur menjadi satu, seperti lukisan abstrak yang tidak memiliki makna tetapi tetap indah untuk dilihat.
Kendaraan masih lalu lalang dari empat arah jalan besar.
Dari arah Palangkaraya, mobil, mobil dengan plat nomor KH yang melaju cukup cepat, karena jalan dari ibukota provinsi itu lebar dan lurus, tanpa banyak tikungan.
Dari arah Banjarmasin, bus, bus besar yang membawa penumpang dari kota seribu sungai, truk, truk kontainer yang membawa barang dari pelabuhan, mobil, mobil pribadi yang lelah setelah perjalanan panjang.
Dari arah Mantangai, sepeda motor yang dikendarai oleh para petani yang pulang dari kebun sawit, dengan pakaian yang masih berlumuran tanah dan wajah yang lelah tetapi lega karena akhirnya sampai di kota.
Dari arah pusat kota, becak, becak yang dikayuh pelan oleh para bapak dengan topi caping di kepala, anak, anak muda dengan motor kencang yang suka memamerkan kemampuan balap mereka di jalan yang sepi.
Di kejauhan, suara klakson terdengar bersahutan, kadang panjang sebagai peringatan, kadang pendek sebagai salam, kadang bertubi, tubi sebagai ekspresi kekesalan.
Kota kecil itu tetap hidup, meski malam semakin larut. Seperti Jakarta yang tidak pernah tidur, tetapi dalam versi yang lebih sederhana, lebih tenang, lebih bersahabat.
Saat Nayla hendak masuk ke mobil Dinda, mobil kecil berwarna putih yang sudah agak usang, dengan stiker, stiker lucu di kaca belakang dan aroma pengharum ruangan yang terlalu kuat, ia menoleh ke Iskandar.
Untuk sesaat, mereka saling diam.
Bukan diam yang canggung. Bukan diam yang kosong. Tapi diam yang penuh dengan kata, kata yang tidak terucapkan. Diam yang terasa seperti percakapan panjang tentang segala sesuatu yang tidak bisa mereka katakan di depan banyak orang.
"Terima kasih malam ini," kata Nayla pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh suara mesin mobil yang sedang dipanaskan oleh Dinda.
Iskandar tersenyum.
"Untuk apa?"
Nayla berpikir sejenak. Matanya bergerak, mencari kata, kata yang tepat, mencari cara untuk mengungkapkan sesuatu yang tidak mudah diungkapkan.
Lalu menjawab:
"Karena membuat kota ini terasa lebih hangat."
Kalimat itu sederhana. Tidak berlebihan. Tidak puitis. Tidak seperti kalimat dalam novel, novel romantis yang dibaca orang untuk melarikan diri dari kenyataan.
Tapi cukup untuk membuat semua sahabat di belakang Iskandar saling menatap heboh seperti penonton drama yang mendapat adegan favorit, seperti ketika tokoh utama akhirnya mengucapkan kata, kata yang ditunggu, tunggu setelah dua puluh episode.
Edo bahkan berbisik terlalu keras, dengan volume yang sengaja dibuat agar semua orang mendengar.
"Kalau bukan cinta, saya pensiun dari dunia perjodohan."
Iskandar hampir menyikutnya. Siku kanannya sudah terangkat setengah, siap menusuk rusuk Edo yang sensitif. Tapi Edo sudah keburu mundur selangkah, pengalaman bertahun, tahun menjadi sahabat Iskandar telah mengajarkannya untuk selalu waspada terhadap siku, siku tajam itu.
Nayla mendengar.
Dan untuk pertama kalinya malam itu, senyum di wajahnya kembali muncul.
Kecil.
Tipis.
Hampir tidak terlihat.
Tapi tulus.
Senyum yang tidak dipaksakan, yang tidak dibuat, buat, yang muncul secara alami seperti bunga yang mekar di musim semi.
Lalu mobil Dinda perlahan menjauh meninggalkan bundaran, keluar dari area parkir, membelok ke kanan memutar, lalu lurus menuju Jalan lintas trans mantangai mengantra nayla baru putar balik kea rah kota menuju jalan seroja.
Dan Iskandar tetap berdiri memandang lampu belakang mobil itu sampai benar, benar hilang di tikungan, sampai lampu merahnya mengecil, sampai akhirnya lenyap ditelan gelapnya malam, sampai tidak ada lagi yang bisa ia lihat selain bayangannya sendiri di aspal yang basah.
"Sudah pergi, bukan pindah negara."
Suara Edo membuat Iskandar menoleh.
Semua sahabatnya masih berdiri di belakang, berjejer seperti barisan tentara yang siap memberikan dukungan moral, atau setidaknya seperti barisan penonton yang siap memberikan komentar pedas.
Ridwan tersenyum tipis. Senyum yang jarang muncul, senyum yang hanya keluar ketika ia sedang merasa sangat puas dengan sesuatu.
"Wajahmu seperti orang habis kehilangan dompet."
"Lebih parah," kata Anggun, sambil menyilangkan tangan di dada.
"Dia kehilangan fokus."
Sahrul tertawa. Tawanya yang khas, tertawa dengan suara tinggi di awal lalu merendah di akhir, seperti sirine ambulan yang sedang menjauh.
"Sejak tiga hari lalu."
Rara yang sejak tadi diam, yang matanya terus mengamati perubahan ekspresi Iskandar, yang telinganya terus mendengarkan nada suaranya, yang hatinya terus merasakan apa yang ia rasakan, menatap Iskandar lebih serius.
"Kamu juga lihat kan?"
Iskandar menoleh.
"Lihat apa?"
Rara melipat tangan. Tangannya yang ramping itu dilipat di dada, seperti seorang guru yang sedang menginterogasi murid yang ketahuan bolos.
"Wajah Nayla berubah waktu mobil hitam itu lewat."
Suasana langsung sedikit hening.
Bukan hening yang kosong, tetapi hening yang penuh dengan pengakuan diam, diam. Karena ternyata bukan hanya Iskandar yang menyadarinya. Bukan hanya ia yang terlalu peka. Bukan hanya ia yang mulai peduli terlalu dalam.
Mata yang lain juga melihat. Hati yang lain juga merasakan. Kekhawatiran yang lain juga tumbuh.
Ridwan mengangguk pelan. Anggukan yang tenang, yang penuh pertimbangan, yang menunjukkan bahwa ia sudah memikirkan hal ini sejak beberapa saat yang lalu.
"Aku juga lihat."
Edo yang biasanya bercanda, yang biasanya menjadi sumber tawa di setiap kesempatan, ikut serius. Wajahnya yang biasanya cerah tiba, tiba berubah serius, seperti badut yang melepas topengnya dan memperlihatkan wajah aslinya yang lelah.
"Nomor mobilnya sempat kelihatan?"
Iskandar menggeleng.
"Tidak."
Rara menghela napas. Helaan napas yang panjang, yang berat, yang menunjukkan bahwa ia sedang mencoba menenangkan dirinya sendiri.
"Semoga cuma kebetulan."
"Tapi kalau bukan?" tanya Iskandar.
Pertanyaan itu menggantung di udara seperti asap rokok di ruangan tertutup, tidak bisa diabaikan, tidak bisa dihindari, tidak bisa dianggap tidak ada.
Tak ada yang langsung menjawab.
Hanya suara kendaraan yang melintas di simpang kota. Hanya suara klakson yang kadang panjang kadang pendek. Hanya suara angin malam yang berhembus di antara pepohonan.
Lukman dari layar tablet, yang selama ini diam, yang wajahnya terpotong, potong oleh sinyal yang buruk, yang suaranya kadang hilang kadang muncul, akhirnya berkata pelan.
Suaranya dalam, berat, dan sedikit serak, seperti suara orang yang baru bangun tidur, atau seperti suara orang yang sedang berbicara tentang sesuatu yang serius.
"Kalau seseorang terlihat bahagia, lalu tiba, tiba ketakutan hanya karena melihat satu mobil…"
Ia menatap Iskandar dari layar. Matanya yang lelah itu tiba, tiba terlihat tajam, seperti pisau yang diasah dengan hati, hati.
"Biasanya ada seseorang di masa lalunya yang belum benar, benar pergi."
Kalimat itu membuat malam mendadak terasa lebih dingin.
Bukan karena suhu yang turun. Bukan karena angin yang berhembus lebih kencang. Tapi karena kebenaran yang terkandung di dalamnya, kebenaran yang tidak ingin didengar oleh siapa pun, tetapi juga tidak bisa dibantah oleh siapa pun.
Setelah semua pulang, setelah Edo pamit dengan berteriak, teriak seperti biasa, setelah Ridwan mengangguk singkat sambil menyalakan motornya, setelah Anggun melambaikan tangan dengan senyum yang sedikit sedih, setelah Sahrul berjanji akan mengirim lokasi warung kopi favoritnya besok, setelah Rara menatap Iskandar dengan tatapan yang mengatakan hati, hati, setelah Lukman mengucapkan selamat malam dengan suara yang terputus, putus, Iskandar memilih berjalan kaki sendiri.
Ia tidak naik motor.
Ia membiarkan motornya terparkir di area parkir bundaran, dengan helm yang digantung di spion, dengan jaket yang dilipat rapi di jok.
Ia memilih berjalan kaki.
Karena kadang, berjalan kaki adalah cara terbaik untuk merenung. Karena kadang, langkah, langkah kecil bisa membawa pikiran ke tempat yang tidak bisa dijangkau oleh kendaraan bermotor. Karena kadang, kecepatan adalah musuh dari pemahaman.
Ia melewati trotoar bundaran yang mulai sepi. Lampu, lampu taman masih menyala, tetapi tidak lagi terang seperti tadi. Beberapa lampu sudah mulai redup, mungkin karena sudah tua, mungkin karena listriknya tidak stabil, mungkin karena mereka juga lelah.
Penjual kaki lima mulai membereskan dagangan. Gerobak, gerobak didorong kembali ke tempat penyimpanan, kursi, kursi plastik ditumpuk, kompor, kompor dimatikan. Beberapa dari mereka masih sibuk menghitung pendapatan hari ini, lembaran, lembaran uang kecil yang dilipat rapi, koin, koin yang digerincingkan di telapak tangan, senyum puas di wajah yang lelah.
Suara radio dari warung kopi kecil terdengar samar dari kejauhan, sebuah lagu lama, mungkin dari tahun 90, an, dengan suara penyanyi yang merdu dan lirik tentang cinta yang hilang.
Iskandar berhenti di dekat Taman Bacaan Asmin.
Perpustakaan kecil itu sudah tutup untuk malam ini. Pintu kayunya tertutup rapat, dengan gembok besar yang menggantung di gagangnya. Rak, rak buku di dalamnya hanya terlihat samar, samar melalui jendela kaca yang buram.
Beberapa buku masih tertata di rak kecil di luar, mungkin sengaja ditinggalkan untuk para pengunjung yang datang terlambat. Buku, buku dengan sampul yang sudah lusuh, dengan halaman, halaman yang menguning oleh usia, dengan bau khas kertas tua yang tidak bisa ditiru oleh buku baru.
Sebagian halaman bergerak tertiup angin malam, kresek, kresek, kresek, seperti bisikan, bisikan kecil dari masa lalu, seperti pesan, pesan yang tidak sampai ke tujuannya.
Iskandar duduk di bangku kayu di depan perpustakaan itu, bangku yang sama yang digunakan oleh anak, anak untuk membaca buku di sore hari, yang sama yang digunakan oleh para pensiunan untuk menghabiskan waktu di pagi hari.
Dan untuk pertama kalinya sejak mengenal Nayla, perasaannya bercampur dengan sesuatu yang lain.
Bukan hanya suka.
Bukan hanya penasaran.
Bukan hanya rasa ingin tahu.
Tapi kekhawatiran.
Kekhawatiran yang tumpul tetapi dalam, seperti sakit gigi yang tidak terlalu parah tetapi tidak pernah benar, benar hilang. Kekhawatiran yang muncul setiap kali ia mengingat cara Nayla menatap mobil itu, setiap kali ia mengingat bagaimana senyumnya memudar, setiap kali ia mengingat bagaimana tubuhnya menegang.
Karena kini ia mulai yakin:
Nayla bukan sekadar perempuan yang menyukai sungai dan hujan.
Nayla bukan sekadar perempuan yang suka berjalan, jalan di dermaga.
Nayla bukan sekadar perempuan yang matanya teduh dan suaranya lembut.
Ada sesuatu yang sedang ia hindari. Seseorang yang mungkin masih mengejarnya. Sebuah masa lalu yang belum selesai. Sebuah luka yang belum sembuh. Sebuah rahasia yang belum terungkap.
Dan yang lebih membuat Iskandar takut, tanpa sadar, ia mulai merasa ingin melindungi perempuan itu.
Padahal ia bahkan belum benar, benar mengenalnya.
Padahal ia bahkan belum tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Padahal ia bahkan belum punya hak untuk merasa seperti ini.
Tapi perasaan tidak pernah peduli dengan hak.
Perasaan hanya datang.
Dan pergi.
Meninggalkan kita dengan pilihan: mengakuinya, atau mengabaikannya.
Di tempat lain, di dalam mobil yang melaju pelan menuju rumah, Nayla menatap keluar jendela.
Mobil Dinda tidak besar, tidak mewah. AC, nya kadang panas kadang dingin, tergantung pada suasana hati mesinnya. Kursinya sedikit kendur di bagian tengah, bekas duduk bertahun, tahun. Tapi bagi Nayla, mobil ini adalah tempat yang aman. Tempat di mana ia tidak perlu berpura, pura kuat. Tempat di mana ia boleh menangis tanpa harus menjelaskan alasannya.
Lampu, lampu kota memantul di kaca jendela, kuning, merah, hijau, putih, semua berlalu begitu cepat, seperti kehidupan yang tidak bisa dihentikan.
Dinda yang menyetir meliriknya sebentar. Matanya bergerak dari jalan ke Nayla, lalu kembali ke jalan, lalu ke Nayla lagi, seperti sedang memastikan bahwa sahabatnya masih utuh, masih bernapas, masih hidup.
"Itu mobil yang sama," katanya pelan. Bukan pertanyaan. Pernyataan.
Nayla diam.
Dinda menggenggam setir lebih erat. Buku, buku jarinya memutih, urat, urat di tangannya menonjol, tanda bahwa ia sedang menahan amarah yang tidak tahu harus ke mana.
"Dia kembali."
Masih diam.
"Nayla... kamu harus cerita ke Iskandar."
Nayla menutup mata perlahan. Kelopak matanya terasa berat, seperti sedang menahan beban yang tidak terlihat.
"Belum."
"Kalau dia tahu dari orang lain?"
Nayla menatap gelap di luar jendela. Jalanan mulai sepi. Rumah, rumah bergantian berlalu, ada yang masih terang, ada yang sudah gelap, ada yang lampu terasnya menyala redup seperti sedang menunggu seseorang pulang.
Lalu berkata lirih, nyaris seperti bicara pada dirinya sendiri.
"Aku takut dia pergi kalau tahu."
Dinda tidak menjawab.
Ia hanya terus menyetir, terus membawa Nayla pulang, terus menjadi sahabat yang tidak akan pernah pergi meskipun tahu semua rahasia.
Dan di dalam mobil yang terus melaju di malam Kuala Kapuas, di antara lampu, lampu kota yang semakin jarang, di antara rumah, rumah yang semakin renggang, di antara pepohonan yang semakin rimbun, Nayla akhirnya sadar satu hal yang paling berbahaya:
ia mulai takut kehilangan seseorang yang seharusnya belum masuk terlalu jauh ke dalam hatinya.
Di rumahnya, di kamar yang gelap, Nayla berbaring di tempat tidur sambil memandang langit, langit yang retak.
Retakan itu sudah ada sejak ia masih kecil. Dulu ia sering menghabiskan waktu berjam, jam hanya untuk menatapnya, membayangkan bahwa retakan itu adalah peta dari negeri, negeri yang jauh, atau bahwa retakan itu adalah sungai, sungai yang mengalir di daratan yang tidak bernama.
Sekarang, retakan itu hanya mengingatkannya pada sesuatu yang hancur.
Seperti hatinya.
Seperti hidupnya.
Seperti semua yang pernah ia percayai tentang cinta.
Ponselnya bergetar di samping bantal.
Sebuah pesan masuk.
Dari Iskandar.
"Iskandar: Sampai rumah?"
Nayla menatap layar itu cukup lama. Cahaya biru dari ponselnya menerangi wajahnya di kegelapan, membuatnya terlihat seperti hantu, pucat, rapuh, dan sedikit menakutkan.
Ia ingin membalas. Ingin mengatakan bahwa ia sudah sampai, bahwa ia baik, baik saja, bahwa ia tidak perlu khawatir.
Tapi jari, jarinya tidak bergerak.
Karena jika ia membalas, percakapan akan berlanjut. Dan jika percakapan berlanjut, ia mungkin akan mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya. Atau Iskandar mungkin akan bertanya sesuatu yang tidak bisa ia jawab.
Jadi ia hanya menatap.
Menatap nama itu.
Iskandar.
Nama yang masih asing di lidahnya, tetapi sudah terasa dekat di hatinya.
Nama yang membuatnya tersenyum di pagi hari, tetapi juga membuatnya takut di malam hari.
Nama yang mungkin akan menjadi alasan ia bisa bahagia lagi, atau alasan ia hancur untuk kedua kalinya.
Akhirnya, ia mengetik balasan singkat.
"Nayla: Udah. Makasih. Selamat malam."
Lalu ia mematikan ponsel.
Meletakkannya di atas meja samping tempat tidur.
Dan menatap langit, langit yang retak sampai matanya terasa berat dan ia akhirnya tertidur, bukan karena tenang, tetapi karena lelah.
Lelah memikirkan terlalu banyak hal.
Lelah merasa takut sepanjang waktu.
Lelah menjadi dirinya sendiri.
Di rumahnya, di kamar yang juga gelap, Iskandar membaca balasan Nayla.
Singkat.
Datar.
Tidak ada emosi.
Tidak seperti Nayla yang ia kenal, yang matanya teduh, yang suaranya lembut, yang kata, katanya selalu punya makna di balik makna.
Ia ingin membalas lagi. Ingin bertanya apakah Nayla baik, baik saja. Ingin bertanya tentang mobil itu. Ingin bertanya tentang masa lalunya.
Tapi ia tidak melakukannya.
Karena ia belajar bahwa kadang, orang butuh ruang. Bahwa kadang, diam adalah bentuk penghormatan tertinggi. Bahwa kadang, tidak bertanya adalah cara terbaik untuk mengatakan aku di sini, aku menunggu, aku tidak akan pergi.
Ia meletakkan ponselnya di atas meja samping tempat tidur, meja kayu kecil yang sudah ada sejak ia SD, dengan goresan, goresan pensil yang tidak bisa dihapus, dengan bekas lingkaran gelas yang mengering.
Ia memejamkan mata.
Tapi tidur tidak kunjung datang.
Yang datang justru pertanyaan, pertanyaan yang tidak bisa ia jawab:
Siapa yang mengendarai mobil hitam itu?
Mengapa Nayla ketakutan?
Apa yang terjadi di masa lalunya?
Dan mengapa aku, yang tidak pernah percaya pada cinta yang datang tiba, tiba, sekarang tidak bisa berhenti memikirkan seorang perempuan yang bahkan belum aku kenal dengan baik?
Di luar jendela, suara jangkrik masih terdengar. Angin malam masih berhembus. Dan Kuala Kapuas, Kota Air yang tenang itu, tetap menjadi saksi bagi segala sesuatu yang dimulai dan berakhir setiap hari.
Termasuk awal dari sebuah cerita yang belum ada yang tahu akan berakhir seperti apa.
BAB 8
Jalan yang Menyimpan Jawaban
Pagi di Kuala Kapuas datang bersama cahaya yang lembut.
Matahari belum sepenuhnya tinggi ketika sinar pertamanya mulai menembus celah, celah awan, seperti jari, jari emas yang meraba, raba dalam kegelapan, mencari sesuatu untuk disentuh. Cahaya itu jatuh di atas genteng, genteng rumah yang masih basah oleh embun, menciptakan kilauan, kilauan kecil yang berkedip, kedip seperti berlian, berlian murah yang berserakan di atas atap seng.
Burung, burung mulai berkicau dari balik rimbunan pohon rambai di halaman rumah Iskandar. Kicauan mereka tidak teratur, tidak harmonis, seperti orkestra yang belum pernah latihan bersama. Tapi entah mengapa, suara itu terasa menenangkan. Mungkin karena itu adalah suara yang sama yang ia dengar setiap pagi sejak kecil. Mungkin karena konsistensi adalah bentuk kenyamanan tersendiri di dunia yang terus berubah.
Dari kejauhan, terdengar suara azan subuh dari Masjid Agung Kuala Kapuas, suara yang menggema di seluruh penjuru kota, membelah kesunyian pagi dengan panggilan untuk mengingat bahwa ada yang lebih besar dari diri kita sendiri, bahwa hidup ini bukan hanya tentang kita, bahwa di balik semua kebingungan dan kecemasan, masih ada Tuhan yang maha mendengar.
Namun Iskandar sudah terbangun sejak sebelum azan berkumandang.
Bukan karena ia ingin salat malam, meskipun ibunya pasti akan senang jika ia melakukannya. Bukan karena ada suara bising yang membangunkannya, lingkungan rumahnya relatif tenang, kecuali jika tetangga sedang memelihara ayam jantan yang suka berkokok di tengah malam.
Ia terbangun karena pikirannya tidak bisa berhenti.
Bayangan wajah Nayla, perubahan ekspresinya saat melihat mobil hitam itu, cara tangannya menggenggam ujung tas, cara bibirnya menggigit bibir bawah, semua itu terus berputar di kepalanya seperti lagu yang menolak selesai, seperti film yang diputar ulang terus, menerus tanpa bisa dihentikan.
Kadang seseorang datang begitu cepat, hingga hati belum sempat siap, namun rasa sudah terlanjur tumbuh terlalu jauh. Seperti benih yang ditanam di tanah yang belum diolah, mungkin akan tumbuh, mungkin akan mati, tetapi tidak bisa dibiarkan begitu saja.
Iskandar duduk di teras rumah sambil memegang secangkir kopi, kopi hitam tanpa gula, seperti yang biasa ia minum sejak kuliah di Banjarmasin dulu. Dulu ia belajar minum kopi hitam karena ingin terlihat dewasa, karena teman, temannya semua minum kopi hitam, karena ia pahitnya kopi hitam adalah simbol dari kedewasaan yang ingin ia capai.
Sekarang, ia minum kopi hitam karena ia sudah terbiasa dengan pahitnya. Karena pahit sudah menjadi bagian dari kesehariannya. Karena kadang, pahit lebih jujur daripada manis yang dibuat, buat.
Ia memandang jalan kecil di depan rumah yang mulai ramai oleh warga yang beraktivitas. Seorang ibu, ibu lewat dengan keranjang belanjaan di tangan, tergesa, gesa karena takut ketinggalan sayuran segar di pasar. Seorang bapak, bapak berjalan sambil mengenakan sarung, mungkin baru pulang dari masjid, mungkin baru selesai salat subuh. Seorang anak kecil berlari dengan seragam sekolah yang sedikit kebesaran, tas ransel yang terlalu berat untuk punggungnya, sepatu yang sudah mulai terkelupas di bagian depan.
Rutinitas pagi yang sama setiap hari. Hidup yang berjalan seperti biasa, tanpa peduli dengan drama yang sedang terjadi di hati seseorang.
Iskandar mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia terlalu berlebihan.
Mungkin mobil itu memang hanya kebetulan. Mungkin Nayla hanya lelah. Mungkin ia sendiri yang mulai terlalu peduli. Mungkin Nayla hanya perempuan biasa yang kebetulan punya masa lalu yang rumit, seperti semua orang. Mungkin ia hanya perlu bersabar, tidak perlu terburu, buru mengambil kesimpulan, tidak perlu membuat gunung dari setumpuk pasir.
Tapi jauh di dalam hatinya, Iskandar tahu satu hal:
ia tidak bisa lagi berpura-pura bahwa Nayla hanyalah seseorang yang kebetulan ia temui.
Ia tidak bisa lagi berpura-pura bahwa perasaannya hanya sekadar ketertarikan biasa.
Ia tidak bisa lagi berpura-pura bahwa ia tidak peduli.
"Kalau wajahmu lebih muram sedikit lagi, tetangga bisa mengira kamu habis ditolak lamaran."
Suara ibunya membuat Iskandar menoleh.
Bu Ratna berdiri di ambang pintu, masih dengan daster pagi yang sederhana, daster katun bermotif bunga, bunga kecil yang sudah luntur warnanya setelah bertahun, tahun dicuci. Rambutnya yang mulai banyak uban itu ditata sederhana dengan tusuk konde kayu yang sudah menemani sejak ia masih muda. Di tangannya, ia membawa sepiring pisang goring, pisang kepok yang digoreng dengan tepung yang renyah di luar dan lembut di dalam, ditaburi gula halus yang membuatnya sempurna.
Piring itu diletakkan di meja kecil teras, meja kayu bulat yang sudah mengelupas vernisnya, yang kakinya tidak rata sehingga sedikit goyang setiap kali ada yang menyandarkan siku di atasnya.
Ibu Ratna lalu duduk di sampingnya, di kursi plastik putih yang sudah mulai menguning oleh usia dan sinar matahari.
"Belum sampai situ, Bu."
Ibunya tersenyum. Senyum yang lembut, senyum yang penuh dengan cinta yang tidak pernah berubah meskipun waktu terus berjalan.
"Belum, atau belum berani?"
Iskandar menghela napas. Helaan napas yang panjang, yang berat, yang keluar dari dadanya seperti angin dari gua yang dalam.
"Ibu ini kenapa selalu tahu?"
"Karena dari kecil, kalau kamu sedang memikirkan sesuatu, kamu pasti minum kopi dua gelas sebelum jam delapan."
Iskandar menatap dua cangkir kosong di meja.
Dua cangkir.
Satu sudah ia habiskan setengah jam yang lalu, ketika ia pertama kali duduk di teras. Satu lagi baru saja ia habiskan beberapa menit yang lalu, ketika ia mencoba menenangkan pikirannya yang kacau.
Dua cangkir kopi hitam sebelum jam setengah tujuh pagi.
Ibunya benar.
Selalu begitu.
Sejak kecil, ibunya selalu bisa membaca pikirannya seperti membaca buku yang terbuka lebar. Tidak ada rahasia yang bisa ia sembunyikan dari perempuan yang telah mengandungnya selama sembilan bulan, yang telah menyusuinya selama dua tahun, yang telah mengajarinya berjalan dan berbicara dan menjadi manusia.
"Kalau memang dia penting," kata Bu Ratna lembut, suaranya seperti bisikan yang menenangkan di tengah badai.
"jangan cuma dipikirkan. Kadang orang tidak butuh orang yang paling sempurna. Kadang mereka hanya butuh orang yang mau tetap tinggal."
Kalimat itu sederhana.
Tidak berlebihan.
Tidak dramatis.
Tidak seperti nasihat dari buku, buku pengembangan diri yang rumit dan penuh dengan kata, kata asing.
Namun entah kenapa, pagi itu terasa seperti nasihat yang datang tepat di saat yang dibutuhkan. Seperti payung yang tiba, tiba muncul di atas kepala ketika hujan mulai turun. Seperti tangan yang terulur di tengah gelap ketika kita tersesat.
Iskandar menatap ibunya.
Bu Ratna hanya tersenyum kembali, lalu berdiri, mengambil piring kosong, dan berjalan masuk ke dalam rumah. Di ambang pintu, ia berhenti sejenak, menoleh, dan berkata:
"Jangan biarkan kopi kedua terlalu dingin, Nak. Nanti pahit."
Lalu ia pergi.
Meninggalkan Iskandar dengan pikirannya yang masih kusut, tetapi sedikit lebih tenang dari sebelumnya.
Menjelang siang, Iskandar mengendarai motornya menyusuri Jalan Tambun Bungai.
Motor itu bukan motor baru. Sebuah Honda Revo tua, tahun 2010, an, dengan bodi yang sudah mulai berbaretan di beberapa bagian, dengan knalpot yang bunyinya sedikit kasar, dengan lampu depan yang redup meskipun bohlamnya masih baru. Motor itu dulu milik ayahnya, sebelum ayahnya membeli motor baru yang lebih nyaman untuk tulang, tulangnya yang mulai rapuh.
Tapi Iskandar tidak keberatan dengan motor tua ini. Ia sudah terbiasa dengan segala kekurangannya. Ia sudah hafal suara mesinnya yang kadang tersendat, sendat di pagi hari sebelum benar, benar panas. Ia sudah hafal cara menginjak rem yang sedikit keras di bagian kiri. Ia sudah hafal cara menikung yang benar agar motor tidak oleng di jalan yang berlubang. Ia sengaja jalan memutar melewati jalan jawa, keruing hingga tembus jalan cilik kriwut kemudia melewati jalan simpang Adipura kea rah Jalan Tambun Bunga masuk ke Kota.
Jalan Tambun Bungai adalah salah satu ruas utama di Kuala Kapuas. Jalannya cukup lebar untuk dua mobil berpapasan, dengan trotoar yang sempit di kiri, kanan. Di sepanjang jalan ini, berjejer perumahan warga yang teduh, dengan halaman kecil yang dipenuhi tanaman bunga. Ada yang menanam mawar merah yang mekar sepanjang tahun, ada yang menanam melati putih yang harumnya semerbak di malam hari, ada yang hanya menanam rumput gajah yang tidak butuh perawatan ekstra.
Di beberapa sudut tampak toko sembako, toko, toko kecil dengan etalase kaca yang buram, dengan rak, rak kayu yang dipenuhi dengan barang, barang kebutuhan sehari, hari: beras, gula, minyak goreng, mie instan, telur, susu kental manis, kopi bubuk, dan segala sesuatu yang orang butuhkan untuk bertahan hidup.
Warung, warung kecil juga bertebaran di sepanjang jalan ini, warung yang menjual nasi bungkus untuk sarapan, warung yang menjual kopi dan gorengan untuk camilan sore, warung yang menjual es campur untuk pelepas dahaga di siang hari yang terik.
Lebih jauh lagi, tampak apotek murah yang ramai didatangi warga. Apotek itu tidak besar, hanya satu ruangan dengan rak, rak yang dipenuhi obat, obatan generik. Tapi harganya murah, dan pelayanannya ramah, sehingga warga sekitar lebih memilih berobat di sini daripada di puskesmas yang antreannya panjang.
Iskandar melambatkan motornya di dekat Simpang Patih Rumbih, tempat berdirinya Bank BPD Kalteng. Bank itu adalah bank daerah, bukan bank swasta besar dengan gedung pencakar langit dan lampu neon yang terang, benderang. Bangunannya sederhana, hanya dua lantai, dengan cat putih yang sedikit kusam oleh debu dan polusi. Tapi bagi warga Kuala Kapuas, bank ini adalah tempat mereka menyimpan uang hasil jerih payah, tempat mereka mengajukan kredit untuk membeli rumah atau motor, tempat mereka memulai mimpi, mimpi kecil mereka.
Di seberang bank, tampak lapangan luas dengan Stadion Panunjung Tarung dan GOR Panunjung Tarung. Stadion itu tidak besar, mungkin hanya cukup untuk lima ribu penonton. Rumputnya tidak selalu hijau, kadang menguning di musim kemarau, kadang becek di musim hujan. Tapi bagi anak, anak muda Kuala Kapuas, stadion ini adalah tempat mereka bermain sepak bola di sore hari, tempat mereka melampiaskan energi yang tidak tersalurkan, tempat mereka bermimpi menjadi pemain bola profesional meskipun tahu kemungkinannya hampir nol.
Di tribun stadion, siang itu terlihat lengang, hanya beberapa anak muda yang duduk sambil merokok, berbincang tentang sesuatu yang tidak jelas, sesekali tertawa keras yang menggema di bangku, bangku kosong.
Tak jauh dari sana, kawasan STAI Kuala Kapuas mulai ramai oleh mahasiswa yang keluar masuk kampus. STAI, Sekolah Tinggi Agama Islam, adalah salah satu perguruan tinggi tertua di kota ini. Mahasiswanya kebanyakan perempuan, dengan jilbab yang rapi dan buku, buku tebal yang selalu mereka bawa ke mana, mana. Beberapa dari mereka duduk di kantin sambil mengerjakan tugas, beberapa berjalan cepat karena takut terlambat masuk kelas, beberapa hanya berdiri di pinggir jalan sambil menunggu jemputan.
Lebih ke depan, kubah megah Masjid Agung Kuala Kapuas berdiri anggun di bawah langit siang. Kubahnya yang berwarna biru kehijauan itu memantulkan sinar matahari, menciptakan kilauan yang indah. Menaranya yang tinggi menjulang ke langit, menjadi penanda yang tak pernah gagal menarik pandangan siapa pun yang melintas.
Masjid ini bukan hanya tempat ibadah. Ia juga menjadi pusat kegiatan masyarakat: pengajian, pernikahan, even, even keagamaan, bahkan kadang rapat, rapat RT juga diadakan di sini. Di halaman masjid, beberapa anak kecil bermain kejar, kejaran, tidak peduli dengan orang, orang yang sedang berwudhu di keran, keran yang berjejer di samping.
Tak jauh dari masjid, ada Percetakan Zoe Printing, tempat di mana spanduk, spanduk, undangan pernikahan, kartu nama, dan berbagai macam kebutuhan cetak, mencetak dikerjakan. Dinding depannya dipenuhi dengan contoh, contoh cetakan: spanduk ucapan selamat datang, pamflet promosi toko, undangan pernikahan dengan desain yang bermacam, macam.
Di sebelahnya, berdiri bangunan Kantor Kodim, kokoh dengan pagar besi yang dicat hijau, dengan pos jaga di depan yang selalu dijaga oleh dua orang prajurit berseragam. Bangunan ini terasa lebih serius, lebih tegas, lebih berwibawa dibanding bangunan, bangunan lain di sekitarnya.
Di sisi jalan lain, tampak toko bangunan yang menjual semen, pasir, batu bata, kayu, dan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk membangun atau merenovasi rumah. Toko ini selalu ramai di pagi hari, karena para tukang biasanya datang sebelum jam delapan untuk membeli bahan, bahan yang akan mereka gunakan sepanjang hari.
Dan seterusnya, hingga sampai ke simpang Camuh yang sekarang menjadi jalan simpang Adipura, simpang yang menghubungkan Jalan Tambun Bungai dengan Jalan Pemuda, dengan Jalan Seroja, dengan Jalan Trans Mantangai. Simpang yang selalu ramai, selalu macet di jam, jam sibuk, selalu menjadi tempat di mana orang, orang berhenti sejenak sebelum memutuskan ke mana mereka akan pergi.
Kota itu tidak besar.
Tapi justru karena itu, setiap sudut terasa punya cerita.
Setiap toko, setiap warung, setiap bangunan, setiap pohon, semuanya telah menyaksikan ribuan pertemuan dan perpisahan, ribuan kebahagiaan dan kesedihan, ribuan mimpi yang tercapai dan mimpi yang hancur.
Dan hari itu, Iskandar merasa semua jalan di kota kecil ini seakan sedang membawanya menuju sesuatu.
Menuju seseorang.
Menuju Nayla.
Dari simpang Adipura, Iskandar berbalik arah. Ia tidak tahu persis ke mana ia ingin pergi. Ia hanya mengikuti instingnya, mengikuti kata hatinya, mengikuti sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan dengan logika.
Ia melewati kembali Jalan Tambun Bungai, lalu belok ke Jalan Seroja, lalu kembali lagi ke pusat kota. Seperti sedang berputar, putar tanpa tujuan, seperti orang yang sedang mencari sesuatu tetapi tidak tahu apa yang ia cari.
Akhirnya ia berhenti di depan sebuah toko buku kecil dekat gerbang pintu masuk kampus STAI Kuala Kapuas.
Toko buku itu tidak besar. Mungkin hanya berukuran empat kali enam meter. Dindingnya dicat putih, tetapi sudah mulai kusam oleh debu. Rak, rak bukunya terbuat dari kayu, sederhana, tidak terlalu rapi tetapi juga tidak terlalu berantakan.
Bukan karena perlu membeli apa pun.
Bukan karena ia suka membaca, meskipun sebenarnya ia cukup suka membaca, terutama novel, novel lama dan buku, buku sejarah.
Tapi karena ia melihat seseorang yang dikenalnya.
Nayla.
Perempuan itu berdiri di depan rak alat tulis sambil memeriksa beberapa buku catatan. Rambutnya diikat sederhana dengan karet hitam, beberapa helai terlepas dan membingkai wajahnya yang teduh. Ia mengenakan blouse biru muda, warna yang sama dengan blouse yang ia kenakan saat pertama kali mereka bertemu di Dermaga KP3, dengan cardigan putih yang tipis.
Dan seperti biasa, hanya dengan melihatnya, hari Iskandar terasa berubah.
Seperti langit yang tiba, tiba cerah setelah semalam hujan. Seperti udara yang tiba, tiba segar setelah seharian terik. Seperti hidup yang tiba, tiba berarti setelah sekian lama terasa kosong.
Ia masuk perlahan.
Lonceng kecil di atas pintu berbunyi ting ketika ia mendorong pintu kaca toko itu. Suara yang nyaring di keheningan toko, yang membuat kepala toko, seorang bapak paruh baya dengan kacamata tebal, menoleh sekilas, lalu kembali ke bukunya.
Nayla menoleh.
Mata mereka bertemu.
Lalu senyum kecil itu muncul lagi.
Senyum yang membuat Iskandar lupa bahwa ia belum sarapan. Senyum yang membuat ia lupa bahwa ia sudah minum dua gelas kopi sebelum jam tujuh pagi. Senyum yang membuat ia lupa bahwa ia seharusnya berada di kantor sekarang, bukan di toko buku yang sunyi ini.
"Kebetulan sekali."
Iskandar mengangkat alis. Satu alis naik, yang lain tetap di tempatnya.
"Kalau terlalu sering, masih bisa disebut kebetulan?"
Nayla menatapnya beberapa detik. Matanya bergerak, mencari, mempertimbangkan, ragu, ragu.
Lalu tersenyum.
Senyum yang lebih lebar dari sebelumnya.
"Mungkin tidak."
Jawaban itu sederhana.
Namun cukup membuat Iskandar sulit menyembunyikan senyumnya sendiri.
"Apa kamu sering ke sini?" tanya Iskandar, berdiri di samping Nayla di depan rak alat tulis.
Rak itu berisi buku, buku catatan dengan berbagai ukuran dan warna. Ada yang kecil, muat di saku. Ada yang besar, tebal, dengan kertas yang agak kasar. Ada yang sampulnya polos, ada yang bergambar bunga, bunga atau kartun lucu. Ada yang jilid spiral, ada yang jilid lem.
Nayla mengangguk sambil memegang sebuah buku catatan berwarna hijau muda, sampulnya agak licin, terbuat dari plastik tipis, dengan halaman, halaman bergaris yang rapi.
"Saya suka membeli buku tulis walaupun belum tentu dipakai."
"Kenapa?"
"Karena saya suka halaman kosong."
Iskandar mengernyit. Kerutan di dahinya membuatnya terlihat sedikit lebih tua, sedikit lebih serius, sedikit lebih seperti seseorang yang sedang berpikir keras.
"Itu terdengar seperti kalimat yang punya makna tersembunyi."
Nayla tertawa kecil. Tawa yang pelan, yang lembut, yang tidak mengganggu ketenangan toko buku.
"Mungkin."
"Dan maknanya?"
Nayla menatap buku di tangannya. Matanya menelusuri sampul hijau muda itu, menelusuri spiral yang menyatukan halaman, halaman, menelusuri garis, garis tipis yang akan menjadi tempat kata, kata dituliskan.
"Kadang halaman kosong terasa lebih jujur daripada hidup seseorang."
Iskandar terdiam.
Kalimat itu lagi, lagi terdengar indah, tapi menyisakan sesuatu yang tak selesai.
Seperti semua tentang Nayla.
Selalu ada sesuatu yang belum ia ceritakan.
Selalu ada lapisan di bawah lapisan.
Selalu ada rahasia di balik senyum.
Mereka keluar dari toko bersama.
Di depan toko, pedagang es tebu berdiri di bawah payung hijau, payung besar yang biasa digunakan untuk berjualan di pinggir jalan, dengan tulisan "ES TEBU ASLI" di atasnya dalam huruf, huruf yang agak luntur karena terkena panas dan hujan.
Beberapa mahasiswa lewat sambil bercanda, tertawa keras, saling memukul bahu, membicarakan sesuatu yang tidak penting tetapi terasa penting bagi mereka.
Suara azan zuhur dari Masjid Agung terdengar lembut dari kejauhan, suara yang menggema di antara gedung, gedung, yang mengingatkan bahwa waktu terus berjalan, bahwa siang telah tiba, bahwa malam akan segera menyusul.
Kota terasa damai.
Terlalu damai.
Seperti sebelum badai.
Sampai sebuah suara memanggil dari seberang jalan.
"Iskandar!"
Mereka menoleh.
Ternyata Anggun berdiri di depan toko sembako sambil membawa map besar, map warna cokelat yang tebal, mungkin berisi dokumen, dokumen penting, mungkin berisi laporan kerja, mungkin berisi sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan apapun.
Ia menatap Nayla.
Lalu Iskandar.
Lalu Nayla lagi.
Dan tanpa aba, aba, senyum jahil langsung muncul di wajahnya. Senyum yang mengatakan aha! ketahuan!
"Oh. Jadi rapat penting yang kamu bilang ternyata begini bentuknya?"
Iskandar memejamkan mata.
Ia menarik napas panjang, menghelanya perlahan, seolah sedang mengumpulkan seluruh kesabaran yang tersisa di dalam tubuhnya.
"Kenapa semua temanku muncul di waktu yang tidak tepat?"
Anggun mendekat sambil tertawa. Tawanya nyaring, lepas, dan tidak peduli dengan orang, orang di sekitar yang mungkin terganggu.
"Karena Tuhan tahu hidupmu terlalu sepi."
Nayla menahan tawa. Bibirnya mengerucut berusaha tidak tersenyum, tetapi matanya sudah keburu berbinar.
Anggun menatap Nayla dengan ramah, tatapan yang tulus, tanpa niat jahat, tanpa maksud tersembunyi.
"Halo, saya Anggun. Teman lama yang sering jadi korban curhat dia."
Nayla tersenyum.
"Nayla."
Anggun mengangguk kecil. Anggukan yang penuh arti, yang mengatakan oh, jadi ini dia.
"Ya, saya sudah dengar."
"Dari siapa?" tanya Nayla, sedikit penasaran, sedikit cemas.
"Dari seluruh kota."
Iskandar menatap kosong ke depan.
"Besok saya pindah ke Banjarmasin."
Anggun tertawa makin keras. Tawanya menggema di sepanjang trotoar, membuat beberapa orang menoleh sekilas, lalu kembali ke aktivitas mereka masing, masing.
Namun saat itulah, senyum di wajah Anggun perlahan memudar.
Matanya tertuju ke arah jalan, ke arah sebuah mobil yang melambat di seberang jalan.
Mobil yang sama.
Warna hitam.
Kaca gelap.
Model yang familiar.
Iskandar langsung menoleh.
Nayla membeku.
Dan untuk kedua kalinya, di tengah kota yang ramai, di siang yang terang, di antara mahasiswa yang lalu, lalang dan pedagang yang memanggil, manggil pembeli, sesuatu dari masa lalu Nayla muncul kembali di hadapan mereka.
Kali ini, lebih dekat.
Dan Iskandar mulai sadar, apa pun yang sedang disembunyikan Nayla, mungkin jauh lebih besar daripada yang ia bayangkan.
BAB 9
Seseorang dari Masa Lalu
Mobil hitam itu berhenti di seberang jalan.
Tepat di depan toko sembako tempat Anggun berdiri beberapa saat yang lalu, tepat di bawah pohon rindang yang daun, daunnya bergerak, gerak ditiup angin siang, tepat di antara dua tiang listrik yang kabelnya menjuntai tidak karuan.
Mesinnya tetap menyala. Suara dengung halus terdengar dari balik kap mesin, dengung yang bagi kebanyakan orang tidak berarti apa, apa, tetapi bagi Nayla terdengar seperti suara mesin waktu yang membawanya kembali ke masa lalu yang ingin ia lupakan.
Kacanya gelap. Terlalu gelap untuk melihat ke dalam. Seperti dinding kaca yang sengaja dibuat tidak tembus pandang, seperti tembok pembatas antara dua dunia yang tidak boleh bertemu.
Dan entah kenapa, meskipun siang Kuala Kapuas terasa hangat, dengan matahari yang cukup terik untuk membuat kulit sedikit perih, dengan suhu yang cukup panas untuk membuat keringat mengucur di dahi, udara di sekitar Iskandar mendadak terasa jauh lebih dingin.
Seperti ada yang menekan tombol AC terlalu rendah. Seperti ada angin dari kutub utara yang tiba, tiba berhembus di tengah kota tropis. Seperti ada sesuatu yang tidak beres dengan alam, tetapi alam tidak peduli dengan drama manusia.
Di antara suara kendaraan yang lewat di Jalan Tambun Bungai, motor dengan knalpot bising, mobil dengan klakson yang nyaring, becak dengan bunyi kring, kring dari bel kecil yang digantung di gagang, di antara suara azan yang masih samar dari Masjid Agung, di antara langkah orang, orang yang keluar masuk toko dengan urusan mereka masing, masing, hanya satu hal yang kini terasa nyata bagi Iskandar.
Wajah Nayla yang tiba, tiba pucat.
Bukan pucat karena kurang tidur. Bukan pucat karena sakit. Tapi pucat karena ketakutan yang mendalam, ketakutan yang sudah mendarah daging, ketakutan yang tidak bisa disembunyikan meskipun ia berusaha sekuat tenaga.
Iskandar belum pernah melihat perempuan itu kehilangan ketenangannya seperti itu.
Nayla selalu terlihat tenang. Bahkan ketika pertama kali mereka bertemu, ketika kertas, kertasnya beterbangan dan hampir jatuh ke sungai, ia tetap tenang. Bahkan ketika mereka berjalan di tengah hujan, ketika cardigan tipisnya basah dan rambutnya lepek, ia tetap tenang. Bahkan ketika Edo dan teman, temannya menggoda dengan pertanyaan, pertanyaan yang memalukan, ia tetap tenang, hanya pipinya yang merona.
Tapi sekarang, ketenangan itu hilang.
Hilang seperti kabut yang sirna saat matahari meninggi. Hilang seperti mimpi yang terlupakan saat bangun tidur. Hilang seperti sesuatu yang ternyata selama ini hanya topeng, dan topeng itu akhirnya jatuh.
Tangan Nayla yang tadi memegang buku catatan, buku berwarna hijau muda yang baru saja ia beli dari toko, perlahan gemetar. Gemetar yang hampir tidak terlihat, tetapi Iskandar melihatnya karena matanya tidak pernah lepas dari Nayla sejak mobil itu berhenti.
Jari, jarinya yang ramping itu memutih karena genggaman yang terlalu erat. Buku itu terlihat seperti akan robek kapan saja, seperti kertas yang tidak kuat menahan tekanan.
"Nayla?" suara Iskandar pelan, nyaris seperti bisikan, karena ia takut suaranya yang keras akan membuat Nayla semakin takut.
Nayla tidak langsung menjawab.
Matanya hanya tertuju ke mobil itu.
Seolah mobil itu adalah ular kobra yang siap mematuk. Seolah jika ia mengalihkan pandangan, sesuatu yang buruk akan terjadi. Seolah ia sedang berusaha memastikan bahwa mobil itu nyata, bahwa ini bukan mimpi buruk yang akan berakhir jika ia memejamkan mata.
Anggun yang berdiri di samping Iskandar ikut menatap. Wajah Anggun yang tadi masih ceria, yang tadi masih tertawa karena berhasil menggoda Iskandar, kini berubah serius. Ia bukan orang yang mudah terkejut, ia sudah terlalu sering melihat drama kehidupan sebagai wartawan lepas yang kadang meliputi peristiwa, peristiwa berat.
Tapi kali ini, ia terkejut.
"Itu mobil yang sama?" bisik Anggun, matanya tidak lepas dari mobil hitam itu.
Iskandar mengangguk pelan. Anggukan yang tidak yakin, tetapi juga tidak meragukan. Anggukan yang mengatakan aku tidak tahu pasti, tapi aku hampir yakin.
Sebelum siapa pun sempat bergerak, sebelum Iskandar sempat memutuskan apakah ia harus menarik Nayla pergi atau tetap berdiri di tempat, pintu mobil terbuka.
Perlahan.
Terlalu perlahan.
Seperti adegan dalam film horor di mana pintu membuka dengan sendirinya tanpa ada yang mendorong.
Seorang pria turun.
Tinggi. Mungkin sekitar 175 sentimeter, sedikit lebih tinggi dari Iskandar. Tubuhnya atletis, tidak terlalu kurus tidak terlalu gemuk, dengan bahu yang lebar dan postur yang tegap, postur seseorang yang terbiasa diperhatikan, yang terbiasa menjadi pusat perhatian.
Kemeja hitam. Lengan panjang, digulung hingga siku, memperlihatkan lengan yang kekar dan sedikit berbulu. Kancing atas dibiarkan terbuka, memperlihatkan sedikit dada yang bidang. Celana panjang hitam, rapi, tanpa lipatan. Sepatu pantofel hitam mengilap, sepatu yang biasanya hanya dipakai untuk acara, acara formal atau untuk orang, orang yang ingin terlihat penting.
Wajah tegas. Rahang yang kuat, sedikit kotak, dengan garis yang tegas. Hidung mancung, alis tebal, bibir tipis yang terlihat seperti tidak pernah tersenyum tulus. Rambut hitam disisir rapi ke belakang, dengan sedikit minyak rambut yang membuatnya mengkilap di bawah sinar matahari.
Usianya mungkin awal tiga puluhan. Mungkin tiga puluh dua, tiga puluh tiga. Sebaya dengan Iskandar, mungkin sedikit lebih tua. Tapi ada sesuatu di wajahnya yang membuatnya terlihat lebih dewasa, mungkin karena garis, garis halus di sekitar matanya, mungkin karena caranya menatap yang terlalu serius untuk anak muda.
Tatapannya langsung menuju Nayla.
Bukan tatapan orang asing yang penasaran.
Bukan tatapan kebetulan yang tidak sengaja bertemu.
Bukan tatapan ramah yang biasanya diberikan seseorang ketika melihat kenalan di jalan.
Tatapan seseorang yang merasa masih punya hak.
Tatapan seseorang yang belum bisa melepaskan.
Tatapan seseorang yang datang bukan untuk bertanya, tetapi untuk mengambil.
Iskandar bisa merasakannya bahkan dari jarak sepuluh meter. Ada getaran di udara, ada perubahan tekanan di atmosfer, ada sesuatu yang tidak beres dengan cara pria itu menatap Nayla.
Pria itu melangkah menyeberang jalan perlahan.
Langkahnya tidak tergesa, gesa. Tidak seperti orang yang sedang buru, buru. Tidak seperti orang yang takut kehilangan. Langkah seorang yang yakin bahwa ia berhak berada di sini, bahwa ia berhak berbicara dengan Nayla, bahwa tidak ada yang bisa menghentikannya.
Dan setiap langkahnya seperti membawa sesuatu yang tak terlihat: masa lalu.
Masa lalu yang berat. Masa lalu yang kelam. Masa lalu yang tidak ingin diingat oleh siapa pun, tetapi tetap ada, tetap membayangi, tetap menuntut untuk diselesaikan.
"Nayla."
Suara pria itu tenang. Terlalu tenang. Tenang seperti permukaan danau yang dalam, yang menyembunyikan pusaran di bawahnya. Tenang seperti suara seseorang yang sudah mempersiapkan kata, katanya berulang kali di dalam kepala, yang sudah melatih intonasi dan ekspresi di depan cermin.
Namun justru itu yang membuat suasana semakin tidak nyaman. Karena ketenangan yang dibuat, buat seringkali lebih menakutkan daripada amarah yang jujur. Karena ketika seseorang terlalu tenang, biasanya ia sedang menyembunyikan sesuatu.
Nayla menunduk sebentar, mungkin untuk mengumpulkan keberanian, mungkin untuk berdoa, mungkin hanya untuk menarik napas, sebelum akhirnya mengangkat wajah.
Matanya merah. Tidak merah karena menangis, belum. Tapi merah karena perasaan yang berkecamuk di dalam dadanya, karena amarah dan ketakutan dan kesedihan yang bercampur menjadi satu.
"Aldebar."
Iskandar menangkap nama itu.
Aldebar.
Nama yang terdengar asing, bukan nama yang biasa didengar di Kuala Kapuas, bukan nama yang populer di kalangan anak muda, nama yang terdengar seperti nama bintang atau nama raja dalam cerita, cerita kuno.
Tapi langsung terasa seperti ancaman.
Seperti nama yang jika diucapkan, udara di sekitarnya menjadi lebih dingin. Seperti nama yang jika didengar, bulu kuduk akan merinding. Seperti nama yang jika disebut, semua orang akan diam dan menunggu.
Anggun melirik Iskandar. Iskandar diam. Namun rahangnya menegang, otot, otot di rahangnya mengeras, giginya mengatup, tanda bahwa ia sedang menahan sesuatu. Bukan ketakutan. Bukan kemarahan. Tapi sesuatu di antara keduanya.
Pria bernama Aldebar itu menatap Nayla cukup lama. Matanya bergerak dari wajah Nayla ke rambutnya yang diikat longgar, ke blouse biru mudanya, ke cardigan putihnya, ke rok panjangnya, ke sepatu sandalnya, seolah sedang memastikan bahwa ini benar, benar Nayla, bahwa ia tidak salah orang, bahwa perempuan di depannya adalah perempuan yang sama yang dulu pernah ia cintai.
Lalu ia melirik ke arah Iskandar.
Tatapan itu singkat. Mungkin hanya satu detik, mungkin dua. Tapi cukup untuk menyampaikan banyak hal: penilaian, perbandingan, kecemasan, dan sedikit rasa tidak suka.
Lalu ia tersenyum tipis.
Senyum yang terlalu rapi untuk terasa tulus. Senyum yang dipelajari, yang dilatih, yang digunakan untuk situasi, situasi tertentu. Senyum yang tidak menyentuh mata, yang hanya gerakan bibir.
"Sudah lama saya cari kamu."
Nayla menggenggam buku di tangannya lebih erat. Buku hijau muda itu sekarang terlihat seperti akan remuk, seperti akan hancur di antara jari, jarinya yang gemetar.
"Untuk apa?"
Aldebar tertawa kecil. Tawa yang tidak terdengar gembira. Tawa yang pahit, tawa yang sakit, tawa seseorang yang sedang berusaha terlihat santai tetapi gagal.
"Untuk bicara. Itu saja."
"Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan."
Jawaban Nayla terdengar lembut. Tidak keras. Tidak berteriak. Tidak seperti orang yang sedang marah.
Tapi tegas.
Tegas seperti pisau yang dipotongkan ke tali. Tegas seperti pintu yang ditutup rapat. Tegas seperti batas yang tidak bisa dilewati.
Iskandar terkejut.
Karena ini pertama kalinya ia melihat Nayla berbicara setegas itu. Nayla yang selama ini ia kenal adalah Nayla yang lembut, yang kalem, yang jarang meninggikan suara, yang lebih banyak tersenyum daripada mengerutkan dahi.
Tapi Nayla yang sekarang berbeda. Nayla yang sekarang adalah Nayla yang sudah lelah. Nayla yang sudah tidak punya energi untuk bersikap sopan. Nayla yang sudah tidak peduli lagi dengan apa kata orang.
Aldebar menghela napas. Helaan napas yang panjang, yang berat, yang keluar dari dadanya seperti seseorang yang sedang menahan beban yang terlalu besar.
"Masih marah?"
Nayla menatapnya.
Matanya tidak berkedip.
"Bukan marah."
"Lalu?"
Nayla terdiam beberapa detik. Jeda yang terasa seperti abad. Jeda di mana angin berhenti berhembus, di mana suara kendaraan menghilang, di mana dunia seolah berhenti berputar.
Dan saat akhirnya bicara, suaranya jauh lebih pelan.
"Saya hanya lelah."
Kalimat itu sederhana.
Tidak berlebihan.
Tidak dramatis.
Tidak seperti dialog dalam film, film India yang panjang dan bombastis.
Tapi Iskandar merasa ada luka panjang di baliknya.
Luka yang tidak terlihat. Luka yang tidak berdarah. Luka yang tidak bisa diobati dengan plester atau perban. Luka yang hanya bisa disembuhkan oleh waktu, dan waktu, sayangnya, tidak selalu berpihak pada kita.
Suasana di trotoar seolah berubah.
Orang, orang tetap berjalan. Ibu, ibu dengan keranjang belanjaan tetap melintas. Mahasiswa tetap lalu lalang dengan buku, buku di tangan. Pedagang tetap memanggil pembeli dengan suara serak.
Seperti tidak ada yang terjadi.
Seperti tidak ada drama yang sedang berlangsung.
Seperti tiga orang yang berdiri di trotoar ini hanyalah tiga orang biasa yang sedang berbincang santai.
Tapi bagi Iskandar, dunia seakan menyempit.
Hanya ada tiga orang.
Dirinya.
Nayla.
Dan pria dari masa lalu yang tiba, tiba muncul tanpa diundang.
Aldebar menatap Nayla lebih lembut. Matanya yang tadi tajam kini sedikit melunak, seperti es yang mulai mencair di bawah sinar matahari.
"At least beri saya kesempatan menjelaskan."
Nayla menggeleng.
Gelengan yang pelan, tetapi pasti.
"Sudah terlambat."
Kalimat itu membuat dada Iskandar bergetar aneh.
Bukan karena cemburu, ia tidak punya hak untuk cemburu. Bukan karena iri, ia tidak punya alasan untuk iri. Bukan karena takut, ia tidak tahu apa yang harus ditakuti.
Tapi ada sesuatu tentang cara Nayla mengucapkannya. Sesuatu di nada suaranya. Sesuatu di matanya yang tiba, tiba berkaca, kaca.
Seolah ia pernah benar, benar mencintai pria itu.
Seolah ia pernah memberikan seluruh hatinya kepada pria itu.
Seolah ia pernah percaya bahwa pria itu adalah rumahnya.
Dan entah kenapa, pikiran itu membuat sesuatu di hati Iskandar terasa nyeri.
Bukan karena ia berhak cemburu. Ia bahkan belum punya hak apa pun. Nayla bukan miliknya. Nayla bebas memiliki masa lalu siapa pun yang ia mau.
Namun rasa itu tetap datang.
Diam, diam.
Menyakitkan.
Seperti duri yang tertusuk di tempat yang tidak bisa dijangkau.
Aldebar lalu menoleh pada Iskandar.
Tatapannya berubah. Tidak lagi lembut seperti saat menatap Nayla. Tidak lagi penuh dengan permohonan. Tapi dingin, analitis, seperti sedang menilai lawan.
"Teman baru?"
Sebelum Nayla menjawab, sebelum Nayla sempat membuka mulut untuk mengatakan sesuatu, mungkin untuk melindungi, mungkin untuk menjelaskan, mungkin hanya untuk mengalihkan perhatian, Iskandar lebih dulu mengulurkan tangan.
Tangannya terulur lurus, dengan telapak terbuka, siap untuk berjabat tangan. Sebuah gestur yang sopan, yang dewasa, yang menunjukkan bahwa ia tidak takut, bahwa ia tidak akan mundur, bahwa ia siap berhadapan dengan siapa pun.
"Iskandar."
Aldebar memandang tangan itu beberapa detik.
Matanya bergerak dari ujung jari ke pergelangan tangan, dari pergelangan tangan ke lengan, dari lengan ke wajah Iskandar.
Seperti sedang memeriksa apakah tangan ini layak untuk dijabat. Seperti sedang memutuskan apakah laki, laki ini pantas untuk dianggap sebagai ancaman.
Lalu ia menyambutnya.
Genggaman mereka singkat. Mungkin tiga detik, mungkin lima. Cukup untuk merasakan tekstur kulit masing, masing, cukup untuk merasakan kekuatan genggaman masing, masing, cukup untuk saling mengirim pesan tanpa kata, kata.
Tapi cukup untuk membuat Iskandar tahu: pria ini bukan orang yang mudah.
Genggamannya kuat, tetapi tidak berlebihan. Tidak seperti orang yang sengaja menunjukkan kekuatan. Tapi seperti orang yang memang kuat, yang tidak perlu membuktikan apa pun.
Tatapan Aldebar tetap tenang.
Tapi matanya tajam.
Seperti seseorang yang terbiasa mendapatkan apa yang ia mau. Seperti seseorang yang tidak pernah mendengar kata "tidak" dalam hidupnya. Seperti seseorang yang akan melakukan apa pun untuk mempertahankan apa yang ia anggap miliknya.
"Senang kenal," kata Aldebar.
Meski nadanya sama sekali tidak terdengar begitu.
Iskandar tersenyum tipis. Senyum yang tidak ramah, tetapi juga tidak bermusuhan. Senyum yang mengatakan aku di sini, aku tidak akan pergi, dan tidak ada yang bisa mengusirku.
"Begitu juga."
Anggun yang berdiri di samping hampir tersedak melihat suasana mendadak seperti duel tanpa music, duel di mana kedua ksatria saling mengukur kekuatan sebelum pertarungan dimulai, di mana atmosfer terasa seperti akan meledak kapan saja.
Ia pelan, pelan mundur.
Satu langkah.
Dua langkah.
Tiga langkah.
Cukup jauh untuk tidak terlibat, tetapi cukup dekat untuk tetap bisa melihat.
Lalu ia mengambil ponsel dari saku celananya, ponsel dengan casing berwarna merah muda yang sudah mulai pudar, dan mengirim pesan cepat ke grup sahabat yang bernama "Geng Kapuas (Not Really)".
"Anggun: KUMPUL SEKARANG. DRAMA BESAR. TOKO BUKU DEKAT STAI. CEPET. JANGAN BANYAK TANYA. BAWA SEMUA ORANG. INI BUKAN DRILL. ULANGI: INI BUKAN DRILL."
Pesan itu terkirim dengan bunyi whoosh yang memuaskan.
Anggun memasukkan ponsel kembali ke saku, melipat tangan di dada, dan bersiap menjadi penonton terbaik yang pernah ada.
Aldebar kembali menatap Nayla.
Matanya melunak lagi. Seperti ada dua sisi dalam dirinya: satu untuk Nayla, satu untuk dunia luar.
"Kita bicara sebentar?"
Nayla diam.
Jari, jarinya masih gemetar. Dadanya masih naik turun dengan cepat. Pikirannya masih kacau seperti ombak di laut yang sedang badai.
Iskandar menoleh padanya.
Ia ingin berkata jangan.
Ingin menahan.
Ingin melindungi.
Ingin menarik Nayla pergi dari tempat ini, membawanya ke tempat yang aman, ke tempat di mana tidak ada Aldebar, tidak ada mobil hitam, tidak ada masa lalu yang mengejar.
Tapi ia sadar.
Ia belum punya hak untuk itu.
Nayla bukan miliknya. Nayla bebas memutuskan sendiri. Nayla adalah perempuan dewasa yang bisa mengambil keputusan untuk dirinya sendiri.
Dan justru itulah yang paling menyiksa.
Bukan karena ia tidak bisa melindungi.
Tapi karena ia tidak diundang untuk melindungi.
Akhirnya Nayla mengangguk kecil.
Anggukan yang hampir tidak terlihat, seperti gerakan kepala yang tidak sengaja, seperti anggukan yang ia berikan bukan karena ia setuju, tetapi karena ia lelah melawan.
"Hanya sebentar."
Aldebar mengangguk balik.
Lalu mereka berjalan sedikit menjauh, hanya beberapa langkah, ke bawah pohon rindang di dekat trotoar depan Bank BPD Kalteng. Pohon itu besar, mungkin sudah berusia puluhan tahun, dengan akar, akar yang muncul ke permukaan tanah, dengan daun, daun yang rimbun menaungi area di bawahnya.
Aldebar berdiri menghadap Nayla. Jarak di antara mereka hanya satu meter. Cukup dekat untuk berbisik, cukup jauh untuk tidak menyentuh.
Nayla berdiri dengan tangan terkepal di samping tubuh. Ia tidak menatap Aldebar. Ia menatap tanah, menatap akar, akar pohon yang muncul ke permukaan, menatap semut, semut kecil yang berbaris membawa makanan.
Iskandar tetap berdiri di tempatnya, tidak ikut mendekat, tetapi juga tidak pergi.
Ia memberi ruang.
Tapi matanya tak pernah lepas dari Nayla.
Anggun berdiri di samping Iskandar, ikut menatap ke arah mereka berdua.
"Kamu baik, baik saja?" tanya Anggun pelan, suaranya hampir tidak terdengar.
Iskandar tersenyum tipis. Senyum yang tidak meyakinkan. Senyum yang terasa pahit di bibir.
"Belum tahu."
Dari kejauhan, Iskandar tidak bisa mendengar percakapan mereka.
Suara kendaraan terlalu keras. Suara orang, orang terlalu ramai. Suara angin yang berhembus di antara dedaunan terlalu berisik.
Tapi ia bisa melihat wajah Nayla.
Awalnya datar.
Wajah yang tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Wajah yang seperti topeng, yang dipasang untuk melindungi diri, yang tidak boleh retak.
Lalu terkejut.
Mata Nayla membesar. Alisnya terangkat. Mulutnya terbuka sedikit. Seperti mendengar sesuatu yang tidak ia duga. Seperti mengetahui sesuatu yang selama ini ia sembunyikan ternyata sudah diketahui orang lain.
Lalu sedih.
Wajah yang datar itu mulai berubah. Sudut bibirnya turun. Matanya mulai berkaca, kaca. Hidungnya mulai memerah. Tanda, tanda bahwa ia sedang menahan tangis, bahwa ia sedang berusaha sekuat tenaga untuk tidak menangis di depan pria itu.
Kemudian, air mata.
Satu tetes kecil jatuh di pipi Nayla.
Lalu satu lagi.
Lalu satu lagi.
Seperti hujan yang mulai turun satu per satu sebelum akhirnya menjadi deras.
Dan bagi Iskandar, melihat itu rasanya jauh lebih menyakitkan daripada jika luka itu ada di dirinya sendiri.
Bukan karena ia egois. Bukan karena ia ingin menjadi pusat perhatian.
Tapi karena ia mulai mencintai perempuan itu.
Dan ketika seseorang yang kita cintai menangis, kita ikut merasakan sakitnya. Bukan secara fisik, tetapi secara emosional. Seperti ada yang menarik jantung kita dari dalam dada. Seperti ada yang menusuk perut dengan pisau tumpul. Seperti ada yang meremas kepala kita perlahan, lahan.
Tanpa sadar, kakinya melangkah.
Satu langkah.
Lalu satu lagi.
Lalu satu lagi.
Tanpa izin. Tanpa pikir panjang. Tanpa perhitungan matang.
Ia hanya tahu bahwa Nayla menangis, dan ia tidak bisa berdiri diam melihat itu.
Namun sebelum ia sampai, sebelum ia sempat melewati setengah jarak antara tempatnya berdiri dan tempat Nayla berdiri, Nayla sudah berbalik.
Ia meninggalkan Aldebar begitu saja.
Tidak berpamitan.
Tidak menoleh.
Tidak memberi kesempatan untuk menjelaskan lebih lanjut.
Ia berjalan cepat menuju Iskandar.
Langsung.
Tanpa ragu.
Seperti magnet yang ditarik oleh kutub yang berlawanan. Seperti kapal yang melihat mercusuar di tengah badai. Seperti seseorang yang sedang tersesat dan akhirnya melihat jalan pulang.
Sampai akhirnya ia berhenti tepat di depan Iskandar.
Jarak mereka kini hanya setengah meter.
Cukup dekat untuk melihat setiap tetes air mata di pipinya. Cukup dekat untuk mendengar napasnya yang terengah, engah. Cukup dekat untuk merasakan panas tubuhnya yang sedikit demam karena emosi.
Nayla menatap Iskandar dengan mata yang masih basah.
Matanya merah. Pipinya basah. Hidungnya memerah. Bibirnya gemetar.
Ia terlihat rapuh.
Terlihat hancur.
Terlihat seperti seseorang yang baru saja dihantam oleh truk yang melaju kencang.
Tapi ada sesuatu di matanya.
Bukan keputusasaan.
Bukan ketakutan.
Bukan kesedihan.
Tapi... kelegaan.
Seperti setelah sekian lama berenang di lautan yang gelap, ia akhirnya melihat daratan.
Lalu Nayla berkata pelan, dengan suara yang nyaris tenggelam oleh suara kendaraan yang lewat, dengan suara yang hanya cukup untuk didengar oleh Iskandar.
"Bisa antar saya pergi dari sini?"
Iskandar tidak bertanya apa, apa.
Tidak bertanya siapa Aldebar.
Tidak bertanya apa yang terjadi.
Tidak bertanya mengapa matanya menangis.
Tidak bertanya mengapa ia tiba, tiba memintanya untuk pergi.
Ia hanya menjawab satu kalimat.
"Ke mana pun."
Tiga kata.
Sederhana.
Pendek.
Tidak berlebihan.
Tidak dramatis.
Tapi bagi Nayla, kalimat itu terdengar seperti janji. Seperti pengakuan. Seperti sesuatu yang selama ini tidak pernah ia dengar dari siapa pun.
Ke mana pun.
Bukan "ke rumahmu" atau "ke tempat yang aman" atau "ke tempat yang kamu mau".
Tapi ke mana pun.
Seperti Iskandar berkata: aku akan pergi bersamamu, tidak peduli ke mana, tidak peduli seberapa jauh, tidak peduli seberapa sulit.
Dan untuk pertama kalinya, di tengah kota Kuala Kapuas yang siang itu ramai, di antara mahasiswa yang lalu, lalang, di antara pedagang yang memanggil, manggil, di antara kendaraan yang bersahutan, di antara matahari yang terik membakar kulit, Nayla menatap Iskandar seperti seseorang yang baru saja menemukan tempat untuk merasa aman.
Dari kejauhan, Aldebar melihat semuanya.
Cara Nayla berjalan menuju Iskandar, cepat, tanpa ragu, seperti ia sudah tahu persis ke mana ia harus pergi.
Cara Iskandar berdiri di sisinya, tegap, tidak bergeming, seperti ia sudah siap untuk apa pun yang akan terjadi.
Cara mereka saling menatap, dalam, lama, seperti sedang berbicara tanpa kata, kata.
Rahang Aldebar menegang.
Tangannya mengepal di samping tubuh.
Urat, urat di lehernya menonjol, tanda bahwa amarahnya sedang memuncak, bahwa ia sedang berusaha sekuat tenaga untuk tidak melakukan sesuatu yang bodoh.
Dan untuk pertama kalinya, ia menyadari sesuatu yang tidak ia perhitungkan:
Nayla mungkin benar, benar mulai membuka hatinya untuk orang lain.
Bukan untuk kembali padanya.
Tapi untuk maju ke depan.
Tanpa dia.
Sementara di sisi lain jalan, di balik pagar stadion yang sedikit berkarat, Edo, Ridwan, Rara, dan Sahrul baru tiba.
Mereka terengah, engah. Edo bahkan sampai membungkuk, tangan di lutut, seperti baru saja selesai lari maraton. Padahal mereka hanya naik motor.
Edo melihat ke arah Iskandar dan Nayla yang berdiri berhadapan, lalu ke arah pria asing yang berdiri sendirian di bawah pohon rindang dengan wajah yang tidak bisa disembunyikan kekesalannya.
"Wah," katanya pelan, suaranya kehilangan semua nada bercandanya.
"Kita telat masuk episode penting."
Rara menatap serius. Matanya yang tajam itu bergerak cepat, membaca situasi, membaca ekspresi, membaca hal, hal yang tidak terlihat oleh orang lain.
"Bukan."
Matanya tertuju ke wajah Nayla yang masih menahan tangis, wajah yang basah oleh air mata, wajah yang pucat seperti mayat hidup, wajah yang terlihat seperti baru saja dihancurkan oleh sesuatu.
"Kita baru masuk bagian paling berbahaya."
Dan tanpa seorang pun benar, benar menyadari, cinta yang baru mulai tumbuh di antara Iskandar dan Nayla kini tidak lagi hanya tentang perasaan.
Tapi juga tentang masa lalu yang belum selesai.
Tentang luka yang belum sembuh.
Tentang orang, orang yang tidak rela melepaskan.
Tentang pertempuran yang baru saja dimulai.
BAB 10
Ke Mana Pun
"Ke mana pun."
Dua kata itu keluar begitu saja dari mulut Iskandar.
Bukan karena ia sudah merencanakannya sejak tadi. Bukan karena ia sudah mempersiapkan kata, kata itu di dalam kepala, melatih intonasi dan ekspresi di depan cermin seperti aktor yang sedang mempersiapkan peran besar. Bukan pula karena ia ingin terdengar heroik atau romantis atau berkesan.
Kata, kata itu keluar secara alami, seperti air yang mengalir dari hulu ke hilir, seperti napas yang keluar dari paru, paru, seperti detak jantung yang tidak bisa diatur oleh kemauan.
Sederhana.
Pendek.
Tidak berlebihan.
Namun bagi Nayla, kalimat itu terdengar seperti sesuatu yang sudah lama tidak ia dengar dari siapa pun, sebuah tawaran untuk tidak menjelaskan apa, apa, sebuah izin untuk menjadi rapuh tanpa takut dihakimi, sebuah janji bahwa ia tidak sendirian meskipun dunia sedang runtuh di sekelilingnya.
Ia menatap Iskandar beberapa detik.
Matanya masih basah. Genangan air mata di pelupuk matanya masih berkilau di bawah sinar matahari siang yang terik, seperti embun di daun, daun rumput di pagi hari. Pipinya masih basah oleh jejak, jejak air mata yang belum sempat kering. Hidungnya masih memerah, seperti hidung anak kecil yang habis menangis karena jatuh dari sepeda.
Tapi di balik semua itu, ada sesuatu yang berubah.
Napasnya, yang sejak tadi terengah, engah seperti orang yang baru saja berlari dari kejaran, perlahan mulai teratur. Dadanya, yang naik turun dengan cepat karena jantung yang berdebar kencang, mulai tenang. Bahunya, yang tegang seperti tali biola yang siap putus, mulai rileks.
Karena untuk pertama kalinya sejak Aldebar muncul, sejak mobil hitam itu berhenti di seberang jalan, sejak pintu mobil itu terbuka, sejak bayangan masa lalu itu keluar dan berdiri di hadapannya, Nayla merasa bahwa ia tidak sendirian.
Tanpa berkata apa, apa lagi, Iskandar mengambil helm cadangan dari motornya dan menyerahkannya.
Helm itu bukan helm bagus. Helm murahan yang dibelinya di toko aksesoris motor di Pasar Melati dengan harga yang sangat bersahabat dengan dompet. Warna hitam polos, sudah mulai baret di beberapa bagian, dengan kaca pelindung yang sudah sedikit buram karena sering terkena debu dan hujan. Tali pengikatnya sudah mulai terurai di ujungnya, tetapi masih cukup kuat untuk mengikat.
Tapi bagi Nayla, helm itu terasa seperti mahkota.
Mahkota yang tidak terbuat dari emas dan batu permata, tetapi dari perhatian dan ketulusan. Mahkota yang tidak membuatnya terlihat lebih cantik, tetapi membuatnya merasa lebih aman.
"Pakai."
Iskandar hanya mengatakan satu kata itu. Bukan perintah, tetapi juga bukan permintaan. Sesuatu di antaranya. Sesuatu yang mengatakan ini untukmu, aku ingin kamu aman, aku akan menjaga kamu.
Nayla menerimanya pelan.
Jari, jarinya yang masih sedikit gemetar itu menyentuh tangan Iskandar ketika mengambil helm, sentuhan yang tidak disengaja, tetapi juga tidak dihindari.
Singkat.
Sangat singkat.
Mungkin hanya sepersekian detik.
Namun cukup membuat jantung Iskandar kembali berdetak dengan cara yang tidak masuk akal. Bukan detak biasa yang ia rasakan setiap hari, bukan detak yang timbul karena olahraga atau ketakutan. Tapi detak yang terasa seperti ada kupu, kupu yang beterbangan di dalam dadanya, seperti ada orkestra yang memainkan simfoni di telinganya, seperti ada sesuatu yang indah sedang terjadi meskipun ia tidak tahu harus memberinya nama.
Dari belakang, Edo berbisik ke Ridwan.
"Kalau begini saya merestui."
Ridwan menatap tanpa ekspresi. Wajahnya datar seperti biasa, seperti topeng kayu yang tidak bisa menunjukkan emosi.
"Memang siapa yang minta restu?"
Rara memukul pelan lengan Edo. Pukulan yang tidak terlalu keras, tetapi cukup untuk membuat Edo mengerang pelan.
"Diam dulu. Ini bukan waktunya."
Sahrul justru mengangguk. Anggukan yang dalam, seperti seorang filsuf yang sedang merenungkan makna kehidupan.
"Justru ini waktu terbaik untuk diam."
Edo menoleh, wajahnya penuh dengan kebingungan yang tulus.
"Kenapa semua orang menyuruh saya diam?"
"Karena itu mukjizat," jawab Anggun yang baru datang menyusul, dengan napas yang masih terengah, engah karena berlari dari tempatnya berdiri tadi.
Iskandar menstarter motor.
Suara mesin motor tuanya itu menggeram pelan, seperti harimau yang baru bangun dari tidurnya. Getarannya terasa di jok, di setang, di pijakan kaki, getaran yang sudah menjadi teman setianya selama bertahun, tahun, getaran yang membuatnya merasa bahwa ia masih hidup, bahwa ia masih bergerak, bahwa ia masih bisa pergi ke mana pun yang ia mau.
Nayla duduk di belakangnya.
Awalnya menjaga jarak.
Seperti orang yang masih ragu. Seperti orang yang tidak yakin apakah ia diperbolehkan untuk dekat. Seperti orang yang sudah terlalu sering disakiti sehingga ia takut untuk menyentuh.
Tubuhnya hanya menyentuh jok motor di bagian paling pinggir, dengan jarak beberapa sentimeter dari punggung Iskandar. Tangannya tidak memegang apa pun, tidak memegang pinggang Iskandar, tidak memegang jok motor, tidak memegang apa pun kecuali helm yang baru ia kenakan.
Ia hanya duduk di sana, seperti penumpang yang tidak yakin apakah ia diizinkan untuk naik.
Lalu motor mulai bergerak.
Perlahan.
Tidak kencang.
Tidak tergesa, gesa.
Iskandar sengaja melaju pelan, lebih pelan dari biasanya, karena ia tidak ingin Nayla merasa tidak nyaman. Ia tidak ingin Nayla merasa terpaksa. Ia tidak ingin Nayla merasa bahwa ia sedang diculik atau dibawa ke tempat yang tidak ia inginkan.
Mereka meninggalkan Simpang Patih Rumbih, simpang yang ramai dengan kendaraan yang lalu, lalang, dengan klakson yang bersahutan, dengan debu yang beterbangan ditiup angin.
Mereka melewati Bank BPD Kalteng, bangunan dua lantai dengan pilar, pilar putih yang kokoh, dengan bendera merah putih yang berkibar di depannya.
Mereka menyusuri jalan yang membelah kota, jalan yang sama yang ia lalui setiap hari, tetapi kali ini terasa berbeda.
Jalan yang sama, tetapi pemandangan yang berbeda.
Matahari yang sama, tetapi cahaya yang berbeda.
Udara yang sama, tetapi napas yang berbeda.
Karena Nayla ada di belakangnya.
Karena untuk pertama kalinya, ia tidak sendirian di motor ini.
Karena ada seseorang yang mempercayakan keselamatannya kepadanya.
Mereka melewati Kantor Ketenagakerjaan, bangunan pemerintah yang tidak terlalu besar, dengan halaman yang dipenuhi oleh mobil, mobil dinas dan beberapa pohon rindang yang memberikan keteduhan.
Lampu siang mulai redup oleh awan mendung yang bergerak dari arah barat, awan, awan kelabu yang membawa janji hujan, yang membuat udara terasa lebih lembab, yang membuat kulit terasa lengket.
Beberapa anak bermain bola di lapangan kecil samping Kantor Telkom, lapangan tanah yang tidak berumput, dengan gawang dari bambu yang sudah lapuk, dengan garis, garis yang dibuat dari kapur yang sudah mulai pudar. Teriakan mereka terdengar sampai ke jalan, "GOAL!", "OFFSIDE!", "JANGAN MAIN TANGAN!", suara, suara ceria yang tidak peduli dengan drama orang dewasa di sekitarnya.
Pedagang minuman mulai membuka lapak di pinggir jalan, gerobak, gerobak es campur, es jeruk, es kelapa muda, dengan payung, payung besar yang memberi keteduhan. Beberapa pembeli sudah mulai berdatangan, duduk di kursi plastik sambil menunggu pesanan mereka.
Kuala Kapuas tetap seperti biasanya.
Tenang.
Ramah.
Hidup dengan caranya sendiri.
Namun bagi Iskandar, semuanya terasa berbeda.
Karena untuk pertama kalinya, Nayla ada di belakangnya.
Dan beberapa detik kemudian, saat motor sedikit berbelok di tikungan yang agak tajam, tikungan di depan bundaran kecil yang selalu ramai, tikungan yang membutuhkan konsentrasi ekstra, tangan Nayla perlahan memegang sisi kemejanya.
Bukan memeluk.
Bukan menggenggam erat.
Hanya menyentuh.
Ujung jari, jarinya yang dingin itu menyentuh kain kemeja Iskandar di bagian pinggang, seperti sedang menguji apakah diperbolehkan, seperti sedang bertanya apakah ini boleh.
Iskandar nyaris lupa cara bernapas.
Dadaunya terasa sesak. Tenggorokannya terasa kering. Jantungnya berdetak begitu kencang hingga ia bisa mendengarnya sendiri meskipun di telinganya hanya ada suara mesin motor dan suara angin.
Ia tidak menoleh.
Tidak berkata apa, apa.
Tidak bereaksi.
Karena ia takut jika ia bergerak, jika ia bicara, jika ia menunjukkan bahwa ia sadar dengan sentuhan itu, Nayla akan menarik tangannya.
Tapi senyum kecil tak bisa ia tahan.
Senyum yang muncul di sudut bibirnya tanpa izin, tanpa kendali, tanpa persetujuan dari otaknya.
Karena kadang, hal paling sederhana, seperti seseorang memilih untuk berpegangan, seperti seseorang memilih untuk tidak jatuh, seperti seseorang memilih untuk percaya, bisa terasa jauh lebih besar dari yang seharusnya.
Mereka terus melaju melewati Jalan Tambun Bungai.
Jalan ini sekarang lebih sepi dari biasanya, mungkin karena jam makan siang, mungkin karena orang, orang memilih untuk berlindung di dalam rumah menunggu hujan yang akan turun.
Angin membawa aroma hujan, aroma khas yang muncul ketika hujan akan segera turun, aroma tanah yang haus akan air, aroma daun, daun yang bergemerisik, aroma sesuatu yang bersih dan segar.
Deretan rumah, rumah berlalu di kiri, kanan, rumah panggung kayu dengan tiang, tiang yang kokoh, rumah batu dengan pagar besi yang dicat hijau, rumah toko dengan etalase kaca yang memajang berbagai macam barang.
Toko sembako dengan karung, karung beras yang berjejer di depan.
Apotek kecil dengan papan nama yang sudah pudar.
Percetakan dengan mesin, mesin cetak yang berbunyi krek, krek, krek dari dalam.
Warung kopi dengan aroma kopi yang tercium sampai ke jalan.
Semua berlalu seperti latar yang perlahan menghilang, seperti pemandangan di luar jendela kereta yang bergerak cepat, seperti kenangan, kenangan yang tidak penting.
Nayla tetap diam.
Namun genggamannya di kemeja Iskandar tidak dilepaskan.
Tangannya yang tadinya hanya menyentuh dengan ujung jari, kini mulai memegang lebih erat. Jari, jarinya yang dingin itu menggenggam kain kemeja Iskandar seperti sedang berpegangan pada satu, satunya hal yang nyata di tengah badai.
Dan entah kenapa, diam itu justru terasa seperti percakapan paling jujur yang pernah mereka miliki.
Diam yang mengatakan aku di sini.
Diam yang mengatakan aku percaya padamu.
Diam yang mengatakan jangan pergi.
Tanpa kata, kata.
Tanpa suara.
Tanpa penjelasan.
Hanya dua orang yang saling mengerti tanpa perlu berkata apa, apa.
"Kalau terus diam begini," kata Iskandar akhirnya, suaranya sedikit meninggi agar terdengar di atas suara angin dan mesin motor.
"orang bisa mengira saya sedang menculik."
Nayla yang sejak tadi murung, yang wajahnya masih pucat, yang matanya masih sembab, yang pikirannya masih kacau, akhirnya tertawa kecil.
Tawa yang pelan.
Hampir tidak terdengar.
Seperti desahan.
Tapi cukup membuat Iskandar merasa lega.
Leganya bukan karena ia berhasil membuat Nayla tertawa. Leganya bukan karena ia pandai melucu. Leganya karena Nayla masih bisa tertawa. Karena di tengah semua kekacauan, di tengah semua ketakutan, di tengah semua air mata, Nayla masih memiliki kemampuan untuk merasakan sesuatu yang lain selain kesedihan.
"Memangnya wajah saya seperti korban penculikan?"
"Sedikit."
"Jahat."
"Realistis."
Nayla menggeleng pelan. Gerakan yang tidak terlihat oleh Iskandar karena ia berada di belakangnya, tetapi ia bisa merasakan getaran gelengan itu di punggungnya.
"Kenapa kamu selalu mencoba melucu di saat aneh?"
Iskandar tersenyum sambil tetap menatap jalan. Matanya fokus ke depan, memperhatikan lubang, lubang di aspal, memperhatikan kendaraan di depannya, memperhatikan anak, anak yang kadang tiba, tiba menyeberang tanpa melihat kiri, kanan.
"Karena kadang orang yang sedang ingin menangis justru butuh alasan kecil untuk tertawa."
Nayla terdiam.
Jari, jarinya di kemeja Iskandar menggenggam sedikit lebih erat.
Bukan karena takut jatuh.
Bukan karena motor melaju kencang.
Tapi karena kata, kata Iskandar mengenai sesuatu di dalam dirinya yang selama ini ia sembunyikan.
Orang yang sedang ingin menangis justru butuh alasan kecil untuk tertawa.
Itu benar.
Itu sangat benar.
Dan tanpa Iskandar lihat, mata Nayla kembali berkaca, kaca.
Bukan karena sedih.
Bukan karena takut.
Bukan karena marah.
Tapi karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ada seseorang yang mencoba mengerti tanpa memaksa.
Ada seseorang yang tidak memintanya untuk bercerita, tetapi memberinya ruang untuk bernapas.
Ada seseorang yang tidak mencoba menyembuhkan lukanya, tetapi menawarkan plester sederhana berupa tawa kecil di tengah hujan.
"Berhenti di sana," kata Nayla pelan, suaranya hampir tenggelam oleh suara angin.
Iskandar memperlambat motor.
Rem tangan dan kaki bekerja bersamaan, menghasilkan bunyi decitan pelan dari kampas rem yang sudah mulai aus. Motor itu berhenti perlahan di pinggir jalan, di tempat yang tidak terlalu ramai, di tempat yang tidak terlalu sepi.
Mereka tiba di taman kota, dekat lampu merah, tak jauh dari jalan menuju arah Jalan A. Yani.
Taman ini bukan taman yang besar dan megah dengan air mancur dan lampu, lampu warna, warni. Ini adalah taman sederhana yang hanya berisi beberapa bangku kayu yang dicat hijau, beberapa pohon rindang yang memberikan keteduhan, dan satu gazebo kecil yang atapnya sudah bolong di beberapa bagian.
Tempat itu lebih sepi dari pusat kota. Hanya ada beberapa orang yang duduk santai, seorang kakek dengan topi caping yang sedang membaca koran, seorang ibu dengan anak kecil yang sedang bermain ayunan, sepasang remaja yang sedang berduaan di bangku paling ujung.
Dari sini, suara kota masih terdengar, tetapi samar, seperti radio yang diputar dari jarak jauh. Suara klakson, suara mesin, suara orang, orang, semua bercampur menjadi satu, menciptakan latar belakang yang tidak mengganggu tetapi juga tidak bisa diabaikan.
Mereka duduk berdampingan di bangku kayu yang menghadap ke arah sungai kecil yang mengalir di belakang taman. Ada air mancur kecil dalam kolam. Angin sore bergerak lembut di antara pepohonan, membuat daun, daun bergesekan satu sama lain, menciptakan suara kresek, kresek, kresek yang menenangkan. Daun, daun kering beterbangan, jatuh ke tanah, berguling, guling ditiup angin, lalu berhenti di tempat yang tidak mereka pilih.
Air kolam memantulkan langit yang mulai berubah kelabu, awan, awan mendung yang bergerak dari barat ke timur, membawa janji hujan yang mungkin akan turun sebentar lagi atau mungkin tidak jadi turun sama sekali.
Beberapa menit, tak ada yang bicara.
Hanya suara alam.
Hanya napas mereka yang perlahan, lahan menjadi seirama.
Hanya keheningan yang terasa tidak asing lagi.
Lalu Nayla berkata pelan, dengan suara yang nyaris seperti bisikan, dengan suara yang hanya cukup untuk didengar oleh orang yang duduk di sampingnya.
"Maaf."
Iskandar menoleh.
"Untuk apa?"
"Karena kamu jadi ikut dalam sesuatu yang bukan urusanmu."
Iskandar tersenyum tipis. Senyum yang lembut, senyum yang tidak mengandung beban, senyum yang mengatakan tidak apa, apa.
"Mungkin saya memang suka ikut campur."
Nayla menoleh. Matanya menatap Iskandar dengan ekspresi yang sulit dibaca—setengah bertanya, setengah tidak percaya.
"Kamu selalu begini?"
"Begini bagaimana?"
"Baik kepada orang yang belum terlalu kamu kenal."
Iskandar berpikir sejenak.
Pikirannya melayang ke masa lalu, ke orang, orang yang pernah ia temui, ke hubungan, hubungan yang pernah ia jalin, ke saat, saat di mana ia memilih untuk tidak peduli karena ia pikir itu bukan urusannya.
Lalu ia menjawab jujur.
"Tidak."
Nayla menatapnya.
"Lalu kenapa ke saya?"
Untuk pertama kalinya, Iskandar tidak langsung punya jawaban.
Karena jawaban yang ada di kepalanya terlalu jujur. Terlalu mentah. Terlalu berbahaya untuk diucapkan.
Karena sejak pertama melihat kamu di dermaga, hatiku sudah terasa berbeda.
Karena setiap kali melihat kamu tersenyum, aku merasa ingin menjaga senyum itu tetap ada.
Karena setiap kali melihat kamu sedih, aku merasa ikut terluka.
Karena kamu membuat kota ini terasa seperti rumah, bukan hanya tempat singgah.
Karena aku takut jika aku tidak baik padamu, kamu akan pergi, dan aku akan menyesal seumur hidup.
Tapi ia tidak mengucapkan semua itu.
Ia hanya berkata pelan, dengan suara yang lembut, dengan suara yang tidak berlebihan.
"Karena saya tidak suka melihat kamu menangis."
Kalimat itu membuat Nayla terdiam.
Lama.
Sangat lama.
Sampai suara sungai menjadi satu, satunya yang terdengar. Sampai suara angin menjadi latar yang tidak berarti. Sampai dunia di luar bangku ini terasa seperti tidak ada.
Dan perlahan, Nayla menundukkan kepala.
Air matanya jatuh lagi.
Tapi kali ini, bukan air mata ketakutan. Bukan air mata karena Aldebar. Bukan air mata karena masa lalu yang mengejar.
Melainkan air mata seseorang yang terlalu lama kuat sendirian, hingga lupa rasanya saat ada orang lain yang peduli.
Air mata kelegaan.
Air mata karena akhirnya ada yang melihat.
Air mata karena ia tidak sendirian lagi.
"Aldebar mantan saya."
Akhirnya kalimat itu keluar.
Setelah sekian lama disimpan di dalam hati, setelah sekian lama ditahan di ujung lidah, setelah sekian lama dipendam di dalam dada, akhirnya ia mengucapkannya.
Suara Nayla tenang.
Terlalu tenang.
Seperti seseorang yang sudah mempersiapkan kata, kata ini ratusan kali di dalam kepala, sudah melatihnya di depan cermin, sudah membisikkannya di dalam gelap ketika tidak ada yang mendengar.
Iskandar diam.
Ia tidak menyela. Tidak bertanya. Tidak memberikan komentar.
Ia hanya mendengarkan.
Karena kadang, yang dibutuhkan seseorang bukan nasihat, bukan solusi, bukan kata, kata bijak. Tapi telinga yang mendengar. Telinga yang tidak menghakimi. Telinga yang hanya ada di sana, tanpa syarat.
Nayla menatap air sungai yang mengalir pelan. Air itu berwarna keabu, abuan di bawah langit mendung, tidak sejernih biasanya, tetapi tetap mengalir, tetap bergerak, tetap hidup.
"Seseorang yang dulu pernah saya pikir akan jadi rumah."
Iskandar menatapnya. Ia bisa melihat profil Nayla dari samping, hidungnya yang mancung, bulu matanya yang panjang, dagunya yang sedikit runcing. Dan di sudut matanya, ada setitik air mata yang belum jatuh.
"Lalu?"
Nayla tersenyum pahit.
Senyum yang tidak sampai ke mata. Senyum yang terasa seperti luka. Senyum yang mengatakan aku sudah terlalu sering kecewa.
"Ternyata tidak semua rumah aman untuk ditinggali."
Iskandar menoleh pelan.
Dadanya terasa sesak. Bukan karena ia cemburu. Bukan karena ia iri. Tapi karena ia bisa merasakan sakit di balik kata, kata itu.
"Apa dia menyakitimu?"
Nayla tidak langsung menjawab.
Diamnya berkepanjangan.
Diam yang berat.
Diam yang terasa seperti mengakui sesuatu tanpa harus mengucapkannya.
Namun diamnya sudah lebih dari cukup.
Dan untuk pertama kalinya, sesuatu dalam diri Iskandar berubah.
Bukan hanya rasa suka.
Bukan hanya rasa ingin dekat.
Bukan hanya rasa penasaran.
Tapi sesuatu yang jauh lebih dalam, sesuatu yang lebih primitif, sesuatu yang lebih kuat dari sekadar emosi.
Keinginan untuk melindungi.
Keinginan untuk menjadi tempat yang aman.
Keinginan untuk mengatakan tidak apa, apa, aku di sini, kamu tidak sendirian.
Di saat yang sama, di tempat parkir seberang taman, mobil hitam itu masih berhenti.
Aldebar duduk di balik kemudi, dengan tangan yang mengepal di atas setir, dengan rahang yang mengeras, dengan napas yang keluar masuk dengan kasar.
Ia melihat semuanya dari kejauhan.
Cara Iskandar menatap Nayla, lembut, penuh perhatian, seperti Nayla adalah sesuatu yang berharga.
Cara Nayla menangis di depan pria itu, tanpa malu, tanpa takut, tanpa berpura, pura kuat.
Cara mereka duduk berdampingan, dekat, akrab, seperti dua potong puzzle yang saling melengkapi.
Dan untuk pertama kalinya, Aldebar melihat sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan:
Nayla menangis di hadapan pria lain.
Nayla merasa aman di dekat pria lain.
Nayla terlihat... berbeda.
Bukan Nayla yang ia kenal. Bukan Nayla yang selalu tegar di hadapannya. Bukan Nayla yang tidak pernah menunjukkan kelemahan.
Tapi Nayla yang asli.
Nayla yang rapuh.
Nayla yang butuh dilindungi.
Dan lebih menyakitkan lagi, pria itu membuat Nayla merasa aman.
Sesuatu yang tidak pernah berhasil ia lakukan.
Di taman kota, tanpa menyadari ada mata yang mengawasi dari kejauhan, Nayla menoleh pada Iskandar.
Matanya masih merah. Pipinya masih basah. Bibirnya masih sedikit gemetar.
Tapi ada ketenangan di sana.
Ketenangan yang tidak ia rasakan sejak lama.
Suaranya sangat pelan ketika ia bertanya.
"Kalau seseorang datang setelah hati kita hancur... apakah kita masih boleh percaya lagi?"
Iskandar menatapnya.
Pertanyaan itu sederhana. Tapi jawabannya rumit.
Karena Nayla tidak sedang bertanya tentang cinta secara umum. Ia sedang bertanya tentang dirinya. Tentang apakah ia masih pantas untuk dicintai. Tentang apakah ia masih bisa membuka hatinya setelah sekian lama terkunci.
Iskandar menatap matanya, dalam, lama, tanpa berkedip.
Lalu ia menjawab dengan suara yang sama lembutnya, dengan suara yang tidak bergetar sedikit pun.
"Kalau orang itu datang dengan tulus... mungkin bukan hati kamu yang harus takut."
Nayla mengernyit kecil. Kerutan di dahinya membuatnya terlihat seperti anak kecil yang sedang mencoba memecahkan teka, teki sulit.
"Hati, hati kenapa?"
Iskandar tersenyum.
Senyum yang lembut, senyum yang hangat, senyum yang mengatakan ini serius.
"Karena bisa jadi dia jatuh terlalu dalam."
Untuk pertama kalinya, di tengah suara sungai yang mengalir, di tengah angin yang berhembus, di tengah kota Kuala Kapuas yang tenang, Nayla tersenyum sambil menangis.
Senyum yang tulus.
Tangis yang lega.
Dan saat itulah, tanpa perlu diucapkan, mereka berdua mulai sadar, yang tumbuh di antara mereka bukan lagi sekadar kebetulan.
Bukan sekadar ketertarikan.
Bukan sekadar rasa ingin tahu.
Tapi sesuatu yang lebih dalam.
Sesuatu yang mungkin sudah ditakdirkan sejak awal.
Sesuatu yang tidak bisa mereka hindari meskipun mereka berusaha.
BAB 11
Malam di City Mall
Senja di taman kota perlahan berubah menjadi malam.
Warna jingga yang tadi masih setia menaungi langit Kuala Kapuas mulai memudar, digantikan oleh gradasi warna ungu yang dalam, lalu biru gelap, lalu hitam pekat yang hanya diterangi oleh bintang, bintang yang malu, malu muncul satu per satu. Namun sisa warna jingga masih tertinggal tipis di ufuk barat, seperti kenangan yang tidak mau benar, benar pergi, seperti bayangan yang masih setia meskipun sumber cahayanya sudah tenggelam.
Angin dari sungai berhembus pelan, membawa dingin yang lembut namun menusuk perlahan ke pori, pori kulit. Bukan dingin yang menyiksa, bukan dingin yang membuat gigi bergemeretuk, tapi dingin yang terasa seperti bisikan, bisikan bahwa malam telah tiba, bahwa hari telah berakhir, bahwa sudah saatnya untuk pulang dan beristirahat.
Suara kendaraan masih mengalun di kejauhan, seperti musik yang hanya dimengerti oleh mereka yang sedang memikirkan seseorang. Suara klakson yang kadang panjang kadang pendek, suara mesin yang kadang keras kadang lembut, suara orang, orang yang berbincang dengan volume yang bervariasi, semua bercampur menjadi satu, menciptakan simfoni kota yang tidak pernah sama setiap malamnya.
Nayla duduk diam di samping Iskandar.
Bangku kayu yang mereka duduki sudah mulai terasa keras di pantat, tetapi tidak ada dari mereka yang bergerak untuk berdiri. Mungkin karena mereka sedang menikmati momen, mungkin karena mereka tidak ingin mengakhiri pertemuan ini, mungkin karena mereka berdua sedang tenggelam dalam pikiran masing, masing.
Setelah sekian lama menyimpan semuanya sendiri, setelah berbulan, bulan, mungkin bertahun, tahun, memendam rahasia di dalam dada, menahan tangis di dalam kamar, berpura, pura kuat di depan orang tua dan teman, teman, akhirnya Nayla mengucapkan satu nama dari masa lalunya.
Aldebar.
Nama yang sejak tadi menggantung di antara mereka seperti pedang Damocles, seperti bayangan yang tidak bisa diusir, seperti hantu yang terus menghantui setiap malam.
Tapi anehnya, setelah mengatakannya, setelah nama itu keluar dari mulutnya, setelah kata, kata itu terdengar oleh telinganya sendiri, setelah rahasia itu tidak lagi hanya tinggal di dalam kepalanya, Nayla justru merasa sedikit lebih ringan.
Bukan karena lukanya hilang. Luka itu masih ada, masih terasa, masih berdarah setiap kali ia mengingatnya. Tapi ada sesuatu yang berbeda. Seperti beban yang selama ini ia pikul sendirian, kini sedikit berkurang karena ada orang lain yang tahu. Seperti tangis yang selama ini ia tahan sendirian di dalam kamar, kini ia tidak perlu menahannya lagi.
Iskandar tidak bertanya terlalu jauh. Tidak memaksa penjelasan. Tidak mencoba menjadi pahlawan dengan menawarkan solusi yang tidak diminta. Tidak berkata "sudahlah lupakan dia" atau "kamu harus move on" atau "dia tidak pantas untukmu", kata, kata klise yang sering diucapkan orang ketika tidak tahu harus berkata apa.
Ia hanya duduk di sana.
Hadir.
Menemani.
Menjadi saksi.
Dan kadang, kehadiran seperti itu, kehadiran yang tidak memaksa, yang tidak menuntut, yang tidak menghakimi, jauh lebih berarti daripada ribuan nasihat yang disampaikan dengan niat baik tetapi seringkali justru membuat seseorang merasa semakin tidak dipahami.
"Kalau terus diam begini," kata Iskandar sambil menatap sungai yang mulai gelap, permukaan airnya sekarang hanya memantulkan lampu, lampu dari seberang yang mulai menyala satu per satu.
"nanti saya benar, benar dikira penculik profesional."
Nayla menoleh.
Lalu tersenyum kecil.
Senyum yang masih terasa berat, masih belum sepenuhnya pulih, tetapi sudah ada. Dan itu sudah cukup.
"Kenapa?"
"Karena dari tadi saya membawa perempuan menangis ke tempat sepi."
Nayla akhirnya tertawa.
Tawa kecil yang muncul di sela sisa air mata, seperti matahari yang muncul di sela, sela awan setelah hujan badai. Tawa yang tidak berusaha untuk keras, tidak berusaha untuk panjang, tidak berusaha untuk meyakinkan siapa pun. Tawa yang keluar secara alami, tanpa rekayasa, tanpa paksaan.
"Cara bercandamu aneh."
"Setidaknya berhasil."
Nayla mengangguk pelan.
"Sedikit."
Iskandar tersenyum.
"Lumayan."
Malam itu, di tengah dingin sungai yang mulai merayap ke tulang, tulang, di tengah sunyi yang hanya dipecahkan oleh suara jangkrik dan sesekali suara motor yang lewat, senyum kecil itu terasa seperti kemenangan kecil bagi Iskandar.
Kemenangan yang tidak perlu dirayakan dengan pesta dan kembang api. Kemenangan yang cukup dirayakan dengan kelegaan di dalam hati.
Karena ia mulai sadar: ia tidak butuh Nayla selalu bahagia. Ia tidak butuh Nayla tertawa lepas setiap saat. Ia tidak butuh Nayla menjadi sempurna.
Ia hanya ingin menjadi alasan mengapa perempuan itu bisa tersenyum lagi.
Meskipun hanya sesekali.
Meskipun hanya sebentar.
Meskipun mungkin besok ia akan menangis lagi.
"Lapar?" tanya Iskandar tiba, tiba, memecah keheningan yang sudah mulai terasa nyaman.
Nayla mengangkat alis. Alisnya yang tipis itu terangkat sedikit, menciptakan kerutan kecil di dahinya yang membuatnya terlihat seperti anak kecil yang baru mendengar kata yang tidak dikenal.
"Kenapa tiba- tiba?"
"Karena menurut pengalaman saya, orang yang habis menangis biasanya butuh makan."
Nayla menatapnya dengan ekspresi setengah tidak percaya, setengah tertawa.
"Itu teori dari mana?"
"Dari ibu saya."
"Dan ibumu selalu benar?"
Iskandar berpikir sejenak. Pikirannya melayang ke ibunya, perempuan yang selalu tahu kapan ia berbohong, yang selalu bisa membaca pikirannya hanya dari raut wajahnya, yang selalu memberikan nasihat tepat di saat yang paling dibutuhkan.
"Hampir selalu."
Nayla tertawa pelan. Tawa yang lebih hangat dari sebelumnya, tawa yang menunjukkan bahwa ia mulai merasa nyaman, bahwa ia mulai bisa bernapas lega.
"Baiklah. Sedikit lapar."
Iskandar berdiri. Tangannya merapikan celana jeans, nya yang sedikit kusut karena terlalu lama duduk.
"Kalau begitu saya tahu tempat yang cocok."
"Ke mana?"
Iskandar menatapnya. Matanya berbinar di bawah cahaya lampu taman yang mulai menyala, lampu, lampu berwarna kuning lembut yang membuat segalanya terasa lebih hangat dari yang sebenarnya.
Lalu ia tersenyum kecil.
"Tempat yang cukup ramai supaya kamu tidak merasa sedang diculik."
Motor Iskandar melaju perlahan menyusuri kota malam.
Malam Kuala Kapuas tidak pernah benar, benar ramai seperti kota, kota besar. Tidak ada kemacetan panjang di jam pulang kerja. Tidak ada deretan klub malam dengan lampu strobo yang berkedip, kedip. Tidak ada gedung, gedung pencakar langit yang lampu, lampunya menyala sampai pagi.
Tapi ada kesibukan yang berbeda. Kesibukan yang lebih tenang, lebih manusiawi, lebih terasa seperti kehidupan yang sebenarnya.
Mereka melewati kembali Jalan Tambun Bungai, yang kini lampu, lampu tokonya mulai menyala satu per satu. Toko sembako yang masih buka meskipun hari sudah gelap, pemiliknya, seorang bapak paruh baya dengan kumis tebal, sedang duduk di kursi plastik sambil menonton televisi kecil di dalam tokonya.
Lampu, lampu jalan memantul di aspal yang masih basah oleh sisa hujan sore, hujan yang sudah berhenti beberapa jam yang lalu, tetapi meninggalkan bekasnya di mana, mana. Genangan, genangan air kecil masih ada di lubang, lubang jalan, memantulkan cahaya lampu seperti cermin, cermin kecil yang berserakan.
Warung sembako kecil masih buka. Di depannya, beberapa bapak, bapak duduk sambil minum kopi dan merokok, berbincang tentang sesuatu yang tidak jelas, mungkin tentang politik, mungkin tentang harga sawit, mungkin tentang masa depan anak, anak mereka.
Di depan Masjid Agung, beberapa orang masih duduk santai di teras setelah salat Isya. Beberapa dari mereka membaca Al, Quran dengan suara lirih, beberapa hanya duduk diam sambil menikmati udara malam yang sejuk, beberapa berbincang dengan suara pelan agar tidak mengganggu orang lain.
Apotek murah di sudut jalan terlihat ramai, beberapa orang tua sedang mengantre untuk membeli obat, mungkin untuk penyakit yang sudah lama diderita, mungkin untuk demam yang tiba, tiba menyerang anggota keluarga.
Malam Kuala Kapuas tidak pernah benar, benar ramai seperti kota besar. Namun justru itu yang membuatnya terasa akrab. Terasa seperti rumah. Terasa seperti tempat di mana seseorang bisa menjadi dirinya sendiri tanpa perlu berpura, pura.
Dari belakang, Nayla kali ini memegang lebih mantap sisi kemeja Iskandar.
Bukan karena takut jatuh. Jalannya lurus, tidak ada tikungan tajam, tidak ada lubang besar yang bisa membuat motor oleng.
Bukan karena jalan rusak. Jalan di Kuala Kapuas memang tidak mulus, tetapi tidak seburuk yang dibayangkan orang.
Mungkin karena tanpa sadar, ia mulai merasa aman.
Mungkin karena ia mulai percaya bahwa laki, laki di depannya ini tidak akan membawanya ke tempat yang buruk.
Mungkin karena ia mulai membuka pintu hatinya yang selama ini terkunci rapat.
Dan Iskandar merasakan itu.
Ia merasakan bagaimana genggaman Nayla yang tadinya hanya di ujung jari, kini lebih mantap. Ia merasakan bagaimana tubuh Nayla yang tadinya menjaga jarak, kini sedikit lebih dekat. Ia merasakan bagaimana napas Nayla yang tadinya masih terengah, engah, kini lebih tenang.
Ia tidak berkata apa, apa.
Karena kadang, diam lebih jujur daripada kata, kata.
Kadang, tindakan kecil seperti ini, seperti seseorang memilih untuk memegang lebih erat, seperti seseorang memilih untuk tidak menjaga jarak, adalah bentuk komunikasi yang paling tulus.
Mereka melewati jalan simpang Camuh, atau simpang Adipura, tergantung siapa yang menamainya, menuju ke Jalan Pemuda.
Jalan Pemuda adalah salah satu jalan yang cukup lebar di Kuala Kapuas, sering digunakan untuk acara, acara seperti karnaval atau pawai. Di siang hari, jalan ini cukup ramai dengan kendaraan yang melintas. Di malam hari, jalan ini lebih tenang, tetapi tidak sepi.
Lampu, lampu jalan di sini lebih terang dari di jalan, jalan lain, mungkin karena ini adalah jalan menuju ke pusat perbelanjaan, mungkin karena pemerintah kota ingin memberikan kesan modern, mungkin hanya karena kebetulan.
Kendaraan lalu lalang lebih ramai di kawasan itu. Motor, motor dengan knalpot bising saling bersahutan. Mobil, mobil dengan lampu sorot yang menyilaukan melintas dengan kecepatan yang bervariasi. Becak, becak yang dikayuh oleh para bapak dengan topi caping di kepala, membawa penumpang yang mungkin baru pulang dari kerja.
Beberapa keluarga terlihat berjalan santai di trotoar, ayah, ibu, dan dua orang anak, mungkin baru saja makan malam di suatu tempat, mungkin sedang menikmati waktu bersama setelah seharian sibuk dengan urusan masing, masing.
Anak, anak muda duduk di pinggir jalan sambil bercanda. Ponsel di tangan, earphone di telinga, sesekali tertawa keras yang menggema di sepanjang trotoar. Dunia mereka adalah dunia yang berbeda dari dunia orang tua mereka—dunia yang lebih cepat, lebih berisik, lebih penuh dengan distraksi.
Di kejauhan, sebuah bangunan besar mulai terlihat terang.
Megah.
Modern.
Mencolok di antara bangunan, bangunan kota yang lain.
City Mall Kuala Kapuas.
Bangunan itu berdiri seperti wajah baru kota, simbol bahwa Kuala Kapuas terus tumbuh tanpa kehilangan dirinya. Dulu, ketika Iskandar masih kecil, tidak ada mal di kota ini. Orang, orang berbelanja di pasar tradisional, di toko, toko kelontong, atau di warung, warung kecil di pinggir jalan.
Sekarang, ada mal. Dengan eskalator, dengan pendingin udara, dengan bioskop, dengan gerai, gerai makanan cepat saji yang menjual hal yang sama di setiap kota di Indonesia.
Kaca depannya memantulkan cahaya malam, menciptakan ilusi bahwa bangunan itu sendiri sedang bersinar. Tulisan besar di atas gedung—"CITY MALL"—bersinar terang dengan lampu LED yang tidak pernah padam, seperti pengingat bahwa konsumsi tidak pernah tidur, bahwa selalu ada sesuatu yang bisa dibeli, bahwa kebahagiaan mungkin bisa diperoleh dengan kartu kredit.
Di halaman depannya, lampu taman menghiasi area parkir yang dipenuhi mobil dan motor. Lampu, lampu taman itu berwarna, warni, merah, biru, hijau, kuning, seperti permen yang berserakan di lantai. Anak, anak kecil berlarian di antara mobil, mobil yang terparkir, tidak peduli dengan bahaya, tidak peduli dengan orang tua yang berteriak memperingatkan mereka.
Nayla menatap bangunan itu.
Matanya berbinar, bukan binar karena keinginan untuk berbelanja, bukan binar karena kegembiraan, tapi binar karena keheranan.
"Wah..."
Iskandar menoleh sedikit, cukup untuk melihat profil Nayla dari samping.
"Kenapa?"
"Saya belum pernah ke sini malam, malam."
Iskandar tersenyum.
"Kalau begitu malam ini pertama."
Nayla menatap punggung Iskandar beberapa detik.
Entah kenapa, kalimat sederhana itu, "malam ini pertama", terdengar lebih dalam dari seharusnya. Seperti ada makna tersembunyi di balik kata, kata itu. Seperti Iskandar tidak hanya berbicara tentang mengunjungi mal di malam hari, tetapi tentang sesuatu yang lebih besar.
Tentang pertama kalinya ia merasa aman setelah sekian lama.
Tentang pertama kalinya ia bisa tertawa tanpa beban.
Tentang pertama kalinya ia membiarkan seseorang masuk ke dalam hidupnya.
Di dalam mall, udara dingin langsung menyambut mereka.
Udara dari pendingin ruangan yang terlalu kuat, yang membuat bulu kuduk merinding, yang membuat lengan terasa dingin meskipun di luar suhunya masih cukup hangat. Udara yang terasa kering, berbeda dengan udara luar yang lembab oleh sungai dan hujan.
Suasana di dalam mall sangat berbeda dari jalanan kota. Lampu, lampu terang dari langit, langit yang tinggi, seperti matahari buatan yang tidak pernah terbenam. Suara musik pelan dari pengeras suara yang tersembunyi di balik plafon, lagu, lagu pop yang sudah diputar ribuan kali, yang liriknya tidak pernah didengar oleh siapa pun dengan sungguh, sungguh.
Aroma kopi dari kafe di sudut mall, aroma yang kuat, yang menggoda, yang membuat orang ingin duduk dan bersantai meskipun sebenarnya tidak haus atau lapar. Aroma parfum dari toko, toko pakaian, aroma yang manis, yang sedikit menusuk hidung, yang sengaja dirancang untuk membuat orang betah berbelanja lebih lama.
Anak, anak berlarian kecil di antara kerumunan, tidak peduli dengan orang dewasa yang mungkin mereka tabrak. Ibu, ibu mereka berteriak dari kejauhan, "Jangan lari, lari, nanti jatuh!" tetapi anak, anak itu tidak mendengar, atau berpura, pura tidak mendengar.
Pasangan muda berjalan berdampingan, tangan saling bergandengan, sesekali berbisik sesuatu yang membuat mereka tertawa kecil. Mereka terlihat bahagia, terlihat seperti tidak punya beban, terlihat seperti tidak tahu bahwa dunia bisa menjadi tempat yang kejam.
Beberapa keluarga sibuk memilih barang di toko, toko, ayah mendorong kereta dorong, ibu memegang daftar belanjaan, anak, anak merengek minta dibelikan mainan.
Bagi kota seperti Kuala Kapuas, City Mall bukan hanya pusat belanja. Ia sudah menjadi semacam tempat baru untuk merasa bahwa kota kecil ini pun bisa menyimpan suasana modern. Tempat di mana orang, orang bisa melarikan diri dari rutinitas, bisa berpura, pura hidup di kota besar, bisa merasakan sensasi yang biasanya hanya tersedia di tempat, tempat yang jauh dari jangkauan mereka.
Nayla berjalan pelan sambil melihat sekeliling.
Matanya bergerak dari satu toko ke toko lain, dari satu etalase ke etalase lain, dari satu lampu ke lampu lain. Wajahnya terlihat seperti anak kecil yang pertama kali masuk ke taman bermain, penuh dengan rasa ingin tahu, penuh dengan keheranan, penuh dengan kegembiraan yang tidak bisa disembunyikan.
"Kenapa?" tanya Iskandar, melihat ekspresi Nayla yang tidak biasa.
"Tidak apa."
"Wajah kamu seperti sedang masuk negara lain."
Nayla tertawa kecil. Tawa yang lebih lepas dari sebelumnya, tawa yang menunjukkan bahwa ia mulai menikmati malam ini.
"Sedikit."
"Kalau begitu saya pemandu wisatanya."
"Bayarannya mahal?"
Iskandar berpura, pura berpikir. Ia mengerutkan dahi, menatap langit, langit, mengusap dagu, semua gestur yang biasa dilakukan orang ketika sedang berpikir keras, meskipun sebenarnya sudah tahu jawabannya sejak awal.
"Cukup satu senyum."
Nayla menatapnya.
Matanya berbinar di bawah lampu mall yang terang.
Lalu tersenyum.
Senyum yang lebar, yang tulus, yang tidak dibuat, buat. Senyum yang memperlihatkan giginya yang putih dan rapi. Senyum yang membuat matanya menyipit bahagia.
"Begini?"
Iskandar diam beberapa detik.
Bibirnya terasa kering. Jantungnya berdetak lebih cepat dari seharusnya. Dadanya terasa sesak, bukan sesak karena sakit, tapi sesak karena sesuatu yang indah.
Lalu ia menjawab jujur.
"Ya. Tapi itu terlalu mahal ternyata."
Nayla tertawa.
Kali ini lebih lepas.
Lebih bebas.
Lebih seperti tawa yang seharusnya.
Tawa yang keluar dari perut, yang membuat bahunya berguncang, yang membuat matanya berbinar seperti bintang.
Dan untuk sesaat, masa lalu seperti tidak ikut masuk bersama mereka.
Untuk sesaat, Aldebar tidak ada.
Untuk sesaat, mobil hitam itu tidak pernah lewat.
Untuk sesaat, luka, luka itu tidak terasa.
Untuk sesaat, Nayla hanyalah Nayla, perempuan biasa yang sedang menikmati malam di mal bersama seseorang yang mulai ia percaya.
Mereka berhenti di sebuah kedai kopi kecil di lantai dasar.
Kedai kopi itu tidak besar, mungkin hanya cukup untuk sepuluh meja, dengan kursi, kursi yang nyaman dan lampu, lampu meja yang memberikan pencahayaan hangat. Dindingnya dihiasi dengan poster, postern film lama dan foto, foto hitam putih kota Kuala Kapuas dari zaman dahulu, sebuah upaya untuk memberikan kesan vintage, meskipun kopi yang dijual adalah kopi modern dengan nama, nama yang sulit diucapkan.
Iskandar memesan dua minuman, sebuah cappuccino untuk dirinya, sebuah caramel latte untuk Nayla. Ia tidak bertanya apa yang Nayla suka, ia hanya memesan berdasarkan insting. Dan anehnya, ketika minuman itu datang, Nayla tidak mengeluh. Ia justru tersenyum kecil, seperti senyum yang mengatakan kamu ternyata bisa menebak.
Nayla memilih roti panggang, roti tawar yang dibakar hingga kecokelatan, diolesi mentega dan gula, lalu dipotong menjadi empat bagian. Sederhana, tetapi hangat, dan di malam yang dingin seperti ini, itu adalah pilihan yang sempurna.
Mereka duduk di dekat kaca besar yang menghadap jalan malam Kuala Kapuas.
Di luar, lampu kota terlihat tenang. Lampu, lampu jalan yang berwarna kuning, lampu, lampu toko yang berwarna, warni, lampu, lampu kendaraan yang melintas, semua bercampur menjadi satu, menciptakan pemandangan yang tidak bisa dilukiskan dengan kata, kata.
Di dalam, dunia terasa hangat. Pendingin ruangan tetap menyala, tetapi kehangatan dari kopi, dari roti panggang, dari keberadaan satu sama lain, membuat dingin itu terasa tidak berarti.
Nayla memandang Iskandar.
Matanya dalam, serius, seperti sedang mencari sesuatu di wajah Iskandar, mungkin mencari ketulusan, mungkin mencari kebohongan, mungkin mencari alasan untuk percaya atau tidak percaya.
"Kenapa kamu baik sekali ke saya?"
Pertanyaan itu datang tiba, tiba.
Tidak ada peringatan. Tidak ada pembukaan. Tidak ada basa, basi.
Langsung ke inti.
Iskandar terdiam.
Jari, jarinya memutar gelas kopi pelan, gerakan yang tidak disadari, gerakan yang dilakukan ketika pikiran sedang sibuk memproses sesuatu. Lingkaran, lingkaran kecil terbentuk di permukaan kopinya, seperti pusaran, pusaran kecil yang segera menghilang.
Karena sebenarnya, ia sendiri mulai takut pada jawabannya.
Takut karena jawaban itu terlalu jujur.
Takut karena jawaban itu akan mengubah segalanya.
Takut karena setelah ia mengatakannya, tidak ada jalan untuk kembali.
Namun malam itu, entah kenapa, ia tidak ingin terus bersembunyi.
Malam itu, di kedai kopi kecil di City Mall Kuala Kapuas, di antara lampu, lampu yang hangat dan aroma kopi yang menenangkan, Iskandar merasa bahwa sudah waktunya untuk jujur.
Bukan pada Nayla.
Tapi pada dirinya sendiri.
Iskandar mengangkat wajah.
Menatap Nayla.
Matanya bertemu dengan mata Nayla, gelap, dalam, dan penuh dengan pertanyaan yang belum terjawab.
Lalu ia berkata pelan, dengan suara yang tidak bergetar meskipun hatinya bergetar hebat.
"Karena sejak pertama kali melihat kamu di dermaga... saya merasa seperti sudah mengenal kamu jauh sebelum kita bertemu."
Nayla terdiam.
Suasana di antara mereka mendadak berubah.
Bukan berubah menjadi canggung. Bukan berubah menjadi tegang. Tapi berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam, lebih berat, lebih berbahaya.
Suara mall masih ada. Orang, orang masih lalu lalang. Musik masih terdengar dari pengeras suara yang tersembunyi. Suara gelas dan sendok masih beradu dari dapur di belakang.
Tapi bagi mereka, waktu seperti melambat.
Seperti dalam film, film di mana adegan penting terjadi dalam gerakan lambat, di mana suara, suara lain menghilang, di mana yang tersisa hanya dua orang yang saling menatap.
Dan di balik kaca City Mall yang memantulkan lampu kota, lampu, lampu yang berkedip seperti bintang, bintang yang jatuh ke bumi, dua orang yang awalnya hanya dipertemukan kebetulan, yang awalnya hanya saling sapa di dermaga, yang awalnya hanya berbagi senja dan hujan, perlahan mulai berdiri di ambang sesuatu yang tidak bisa lagi disebut biasa.
Namun di seberang jalan, di balik kaca mobil hitam yang terparkir di area parkir mall, sepasang mata masih memperhatikan.
Diam.
Dingin.
Dan penuh sesuatu yang belum selesai.
Aldebar duduk di kursi kemudi, dengan tangan yang mengepal di atas setir, dengan rahang yang mengeras, dengan napas yang keluar masuk dengan kasar.
Ia melihat semuanya.
Cara mereka masuk ke mall bersama.
Cara mereka duduk di kedai kopi.
Cara mereka saling menatap.
Cara Nayla tersenyum.
Senyum yang dulu hanya untuknya.
Senyum yang sekarang diberikan kepada orang lain.
Ia mengepal setir lebih erat.
Kulit di buku, buku jarinya memutih.
Urat, urat di tangannya menonjol.
Dan di dalam dadanya, sesuatu yang rumit sedang terjadi, campuran antara amarah, kesedihan, kecemburuan, dan rasa takut kehilangan yang tidak bisa ia kendalikan.
"Kamu pikir kamu bisa bahagia dengan dia, Nay?" bisiknya pada dirinya sendiri, suaranya nyaris tidak terdengar di dalam mobil yang sunyi.
"Kamu pikir dia akan bertahan setelah tahu semuanya?"
Ia tertawa kecil. Tawa yang pahit. Tawa yang sakit.
"Tidak, Nay. Tidak ada yang bertahan."
Mobil hitam itu tetap terparkir di tempatnya.
Mesinnya mati.
Lampu, lampunya padam.
Tapi Aldebar masih di sana.
Mengawasi.
Menunggu.
Dan merencanakan.
BAB 12
Cahaya di Balik Kaca
Malam di City Mall Kuala Kapuas terasa hangat.
Aneh, karena di dalam mall pendingin udaranya justru bekerja paling keras. Suhu mungkin hanya delapan belas derajat Celsius, cukup dingin untuk membuat lengan merinding, cukup dingin untuk membuat orang yang tidak terbiasa menggigil. Tapi Iskandar tidak merasa dingin. Nayla juga tidak.
Mungkin karena kehangatan tidak selalu datang dari suhu udara. Mungkin karena kehangatan bisa datang dari dalam, dari hati yang sedang berbunga, dari perasaan yang sedang tumbuh, dari sesuatu yang tidak bisa diukur dengan termometer.
Lampu, lampu di dalam gedung memantulkan cahaya lembut pada meja kaca kecil tempat Iskandar dan Nayla duduk berhadapan. Meja itu tidak besar, mungkin hanya cukup untuk dua cangkir kopi, satu piring roti panggang, dan satu vas kecil berisi bunga plastik yang sudah mulai pudar warnanya. Tapi meja itu terasa cukup. Lebih dari cukup. Karena di atas meja inilah, di antara aroma kopi dan roti panggang, sesuatu yang penting sedang terjadi.
Di sekeliling mereka, suara langkah kaki orang, orang yang berlalu, lalang terdengar seperti musik latar yang sengaja dipasang untuk membuat suasana terasa lebih hidup. Suara denting sendok yang mengenai cangkir keramik, suara percakapan yang bercampur menjadi satu, suara mesin espresso yang bekerja di belakang—semua itu menciptakan simfoni keramaian yang justru membuat ruang di antara mereka berdua terasa lebih intim.
Namun bagi Iskandar, dunia malam itu terasa mengecil.
Mengecil hingga hanya ada satu meja. Satu meja dengan permukaan kaca yang dingin, dengan dua cangkir kopi yang masih mengepul, dengan satu piring roti panggang yang mulai dingin karena tidak ada yang menyentuhnya.
Mengecil hingga hanya ada satu perempuan. Satu perempuan dengan rambut yang diikat longgar, dengan cardigan krem tipis yang membuatnya terlihat lembut, dengan mata yang menatapnya dengan ekspresi yang tidak bisa ia baca.
Mengecil hingga hanya ada satu kalimat. Satu kalimat yang baru saja ia ucapkan, yang masih menggantung di udara, yang masih bergema di telinganya sendiri, yang masih terasa asing di lidahnya meskipun baru saja keluar dari mulutnya.
"Sejak pertama kali melihat kamu di dermaga... saya merasa seperti sudah mengenal kamu jauh sebelum kita bertemu."
Kalimat itu masih menggantung di udara.
Seperti balon yang baru dilepaskan, seperti burung yang baru terbang dari sangkar, seperti doa yang baru saja dipanjatkan, masih ada, masih terlihat, masih terasa, tetapi tidak lagi sepenuhnya dalam kendali.
Dan Iskandar sendiri baru sadar, ia baru saja mengatakan sesuatu yang selama ini bahkan belum berani ia akui pada dirinya sendiri.
Selama ini, ketika ia berjalan sendirian di Dermaga KP3 setiap sore, ketika ia menatap sungai dan bertanya, tanya mengapa hatinya terasa kosong, ketika ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa pulang ke Kuala Kapuas adalah keputusan yang tepat, selama itu, ia tidak pernah berani mengakui bahwa ada sesuatu yang hilang dari hidupnya.
Sesuatu yang bahkan tidak ia sadari keberadaannya sampai ia bertemu Nayla.
Sesuatu yang membuatnya merasa bahwa semua perjalanan hidupnya, dari Kuala Kapuas ke Banjarmasin, dari Banjarmasin kembali ke Kuala Kapuas, sebenarnya sedang membawanya ke pertemuan ini.
Sesuatu yang membuatnya percaya, untuk pertama kalinya, bahwa mungkin ada yang namanya takdir.
Nayla menatapnya.
Lama.
Bukan tatapan terkejut yang biasanya diberikan orang ketika mendengar sesuatu yang tidak terduga. Bukan tatapan takut yang biasanya diberikan orang ketika merasa terancam. Bukan tatapan bingung yang biasanya diberikan orang ketika tidak mengerti apa yang sedang terjadi.
Tapi tatapan seseorang yang sedang mencoba percaya pada sesuatu yang sudah lama tidak berani ia rasakan.
Tatapan seseorang yang hatinya sudah terlalu sering hancur, yang sudah terlalu sering kecewa, yang sudah terlalu sering berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak percaya lagi, tetapi sekarang, dihadapkan pada ketulusan yang terasa nyata, ia tidak tahu harus bersikap bagaimana.
Matanya bergerak, mencari kebohongan di wajah Iskandar, mencari tanda, tanda bahwa laki, laki di depannya ini hanya bermain, main, bahwa kata, katanya hanya basa, basi, bahwa ia hanya satu dari sekian banyak laki, laki yang akan datang dan pergi.
Tapi ia tidak menemukannya.
Yang ia temukan justru sebaliknya.
Di mata Iskandar, ia melihat ketulusan. Ketulusan yang polos, yang tidak dibuat, buat, yang tidak bisa dipalsukan meskipun dengan akting terbaik sekalipun.
Dan itu membuatnya takut.
Bukan takut pada Iskandar. Tapi takut pada dirinya sendiri. Takut pada kemungkinan bahwa ia akan percaya lagi. Takut pada kemungkinan bahwa ia akan jatuh cinta lagi. Takut pada kemungkinan bahwa ia akan hancur lagi.
"Kamu selalu bicara seperti itu ke semua perempuan?"
Akhirnya Nayla bertanya pelan. Suaranya lembut, tetapi ada getaran di dalamnya, getaran yang menunjukkan bahwa ia sedang berusaha keras untuk terlihat tenang, untuk tidak menunjukkan bahwa kata, kata Iskandar telah mengenai sesuatu yang sangat dalam di hatinya.
Iskandar tersenyum kecil.
Senyum yang tidak sombong, tidak percaya diri, tidak seperti laki, laki yang sudah terbiasa memikat perempuan. Senyum yang justru terlihat sedikit malu, sedikit canggung, seperti seseorang yang tidak terbiasa mengucapkan kata, kata seperti itu.
"Kalau saya bilang tidak, kedengarannya seperti bohong?"
Nayla mengangkat alis. Satu alis terangkat, yang lain tetap di tempatnya, ekspresi khas yang membuatnya terlihat seperti sedang menginterogasi, tetapi juga membuatnya terlihat menggemaskan.
"Sedikit."
"Kalau saya bilang cuma ke satu orang?"
Nayla mengangkat alis lagi, kali ini kedua alisnya terangkat, matanya membesar sedikit, mulutnya terbuka setengah.
"Satu orang?"
Iskandar mengangguk. Anggukan yang pelan, tetapi pasti. Anggukan yang tidak perlu diulang, tidak perlu ditegaskan, karena sudah jelas dari matanya bahwa ia serius.
"Dan orangnya sedang duduk di depan saya."
Nayla langsung menunduk.
Cepat.
Terlalu cepat.
Seperti orang yang ketahuan mencuri. Seperti orang yang baru sadar bahwa ia sedang berada di pusat perhatian. Seperti orang yang tidak siap menerima pujian.
Tapi gerakan menunduk itu tidak cukup cepat untuk menyembunyikan senyum yang gagal ia tahan.
Senyum yang muncul di sudut bibirnya tanpa izin. Senyum yang membuat pipinya merona merah. Senyum yang membuatnya terlihat seperti anak kecil yang baru diberi permen.
Dan Iskandar melihatnya.
Ia melihat bagaimana pipi Nayla berubah warna dari pucat menjadi merah muda, dari merah muda menjadi merah tua. Ia melihat bagaimana sudut bibirnya terangkat sedikit demi sedikit, seperti bunga yang mekar di waktu yang dipercepat. Ia melihat bagaimana matanya yang tadi serius sekarang berbinar, seperti bintang yang baru muncul di langit yang gelap.
Untuk pertama kalinya, Iskandar melihat Nayla benar, benar malu.
Bukan malu karena kesalahan, bukan malu karena ketahuan berbohong, bukan malu karena melakukan sesuatu yang memalukan. Tapi malu karena pujian, malu karena perhatian, malu karena seseorang mengatakan sesuatu yang membuatnya merasa istimewa.
Dan jujur saja, itu jauh lebih berbahaya daripada semua senyum yang pernah ia lihat sebelumnya.
Jauh lebih berbahaya daripada tatapan sendu Nayla di Dermaga KP3. Jauh lebih berbahaya daripada tawa Nayla di bawah hujan. Jauh lebih berbahaya daripada senyum Nayla di Pasar Melati.
Karena malu adalah bentuk kejujuran yang tidak bisa dipalsukan. Malu adalah bukti bahwa seseorang benar, benar tersentuh. Malu adalah tanda bahwa dinding yang selama ini dibangun mulai retak.
Karena saat itu, Iskandar tahu: ia sudah jatuh terlalu jauh.
Bukan lagi di pinggir jurang, bukan lagi di ambang pintu, bukan lagi di tahap "mungkin" atau "semoga". Ia sudah jatuh. Jatuh bebas. Jatuh tanpa parasut. Jatuh ke dalam sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan.
Dan yang paling membuatnya takut, ia tidak ingin diselamatkan.
"Ini tidak adil," gumam Nayla pelan, suaranya nyaris tidak terdengar di atas suara mall yang terus bergerak.
Matanya masih menunduk, masih menatap cangkir kopinya yang sudah setengah habis. Jari, jarinya memainkan gagang cangkir, memutarnya perlahan, menciptakan lingkaran, lingkaran kecil di atas meja kaca.
Iskandar menatapnya.
"Kenapa?"
"Karena saya datang ke sini ingin melupakan sesuatu."
Iskandar diam. Ia tidak bertanya "melupakan apa" karena ia sudah bisa menebak. Aldebar. Masa lalu. Luka yang belum sembuh.
Nayla menghela napas. Helaan napas yang panjang, yang berat, yang keluar dari dadanya seperti angin dari gua yang dalam.
"Sekarang malah memikirkan orang lain."
Jantung Iskandar nyaris lupa cara bekerja.
Bukan karena ia belum pernah mendengar kalimat seperti itu. Bukan karena kalimat itu istimewa secara bahasa. Bukan karena ada kata, kata rumit yang perlu diterjemahkan.
Tapi karena siapa yang mengucapkannya.
Nayla.
Nayla yang matanya selalu terlihat seperti sedang memandang sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain. Nayla yang suaranya lembut tetapi menyimpan luka. Nayla yang tersenyum tetapi matanya tetap sedih. Nayla yang selama ini ia kenal sebagai perempuan yang menjaga jarak, yang tidak mudah percaya, yang tidak mudah membuka hati.
Sekarang, Nayla mengatakan bahwa ia memikirkan orang lain.
Dan "orang lain" itu, kemungkinan besar, adalah dirinya.
Iskandar menatap Nayla.
Namun Nayla justru menatap cangkir kopinya sendiri, cangkir keramik putih dengan tulisan "City Mall Kuala Kapuas" di sampingnya. Ia menatapnya seperti sedang membaca sesuatu yang sangat penting di permukaan cangkir itu. Seperti baru sadar apa yang baru saja ia ucapkan. Seperti sedang berusaha memproses kata, katanya sendiri.
Mereka berdua sama, sama diam.
Dan diam itu kali ini bukan diam canggung. Bukan diam tegang. Bukan diam yang membuat orang ingin segera mencari topik pembicaraan baru.
Diam itu terasa seperti pengakuan kecil yang belum sepenuhnya berani diberi nama.
Seperti dua orang yang sedang berdiri di depan pintu, tahu bahwa di balik pintu itu ada sesuatu yang indah, tetapi juga tahu bahwa membuka pintu berarti tidak bisa lagi berpura, pura bahwa tidak ada apa, apa.
"Kalau begitu," kata Iskandar pelan, memecah keheningan yang sudah terlalu lama, tetapi juga tidak ingin terlalu cepat.
"saya harus minta maaf?"
Nayla menoleh. Alisnya terangkat sedikit.
"Untuk apa?"
"Karena tanpa sengaja mengganggu pikiran seseorang."
Nayla tersenyum.
Senyum yang tidak lagi malu, malu. Senyum yang lebih santai, lebih natural, lebih seperti senyum yang biasa ia tunjukkan ketika sedang nyaman dengan seseorang.
"Belum tentu mengganggu."
"Lalu?"
Nayla menatapnya.
Matanya lembut.
Lembut seperti kapas, seperti bulu, seperti sesuatu yang tidak akan melukai meskipun disentuh. Tapi di dalamnya, di balik kelembutan itu, ada sesuatu yang belum sepenuhnya tenang.
Ada keraguan.
Ada ketakutan.
Ada pertanyaan, pertanyaan yang belum terjawab.
"Mungkin... datang terlalu cepat."
Kalimat itu tidak menyakitkan. Tidak seperti tamparan, tidak seperti tusukan pisau, tidak seperti pukulan di perut.
Tapi kalimat itu cukup untuk membuat Iskandar mengerti: hati Nayla belum sepenuhnya pulih. Luka lama masih berdarah. Bayangan Aldebar masih menghantui. Dan cinta, seindah apa pun, tetap butuh waktu.
Waktu untuk sembuh.
Waktu untuk percaya.
Waktu untuk membuka hati tanpa takut akan dihancurkan lagi.
Iskandar mengangguk. Ia tidak kecewa. Tidak marah. Tidak merasa ditolak. Ia justru merasa lega, karena Nayla jujur. Nayla tidak memberikan harapan palsu. Nayla tidak mengatakan "iya" hanya untuk menyenangkannya.
Dan kejujuran itu, baginya, lebih berharga daripada seribu janji manis.
Sebelum suasana menjadi terlalu serius, sebelum mereka tenggelam terlalu dalam ke dalam pusaran perasaan yang belum siap mereka hadapi, sebuah suara tiba, tiba terdengar dari belakang.
"Maaf, boleh saya ganggu sebentar?"
Mereka menoleh bersamaan.
Seorang anak kecil berdiri di samping meja.
Mungkin umur tujuh tahun. Mungkin delapan. Sulit mengatakan dengan pasti karena badannya kecil tetapi wajahnya terlihat cukup dewasa untuk seusianya. Rambutnya hitam dan agak panjang, tidak pernah dipotong rapi. Matanya besar dan cerdas, dengan sorot yang menunjukkan bahwa ia bukan anak yang bodoh.
Ia mengenakan kaos oblong lusuh berwarna merah hati yang sudah mulai pudar, dengan gambar superhero yang hampir tidak bisa dikenali lagi karena sudah terlalu sering dicuci. Celana pendek jeans yang robek di bagian lutut, bukan robekan mode, tapi robekan sungguhan karena sering dipakai bermain. Sandal jepit hitam yang sudah mulai putus di bagian depan, disambung dengan tali rapia yang warnanya tidak sama.
Di tangannya, ia membawa beberapa tangkai mawar merah kecil. Mawar, mawar itu tidak terlalu segar, kelopaknya sudah mulai layu di beberapa bagian, warnanya tidak lagi merah terang tapi lebih ke merah tua keunguan. Batangnya sudah mulai kering, duri, durinya masih ada meskipun sudah dipotong pendek. Mawar, mawar itu dibungkus dengan plastik bening yang sudah kusut, diikat dengan karet gelang bekas yang sudah mulai getas.
"Bang," katanya polos, dengan suara yang masih khas anak, anak, sedikit sengau, sedikit cadel, tetapi cukup jelas untuk dimengerti.
"belikan bunga buat kakak itu. Biar kakaknya senyum terus."
Iskandar menatap anak itu. Lalu menatap Nayla. Lalu anak itu lagi.
Nayla langsung menahan tawa. Tangannya menutup mulut, tetapi matanya sudah keburu berbinar, bahunya sudah keburu berguncang.
"Ini jebakan ya?" bisik Iskandar, suaranya setengah serius setengah bercanda.
Anak kecil itu menggeleng serius. Gelengan yang terlalu serius untuk anak seusianya, seperti pengacara yang sedang membela kliennya di pengadilan.
"Ini rezeki."
Nayla tertawa.
Dan kali ini, tawa itu benar, benar lepas.
Tidak lagi tertahan. Tidak lagi malu, malu. Tidak lagi setengah hati.
Tawa yang keluar dari perut, yang membuat bahunya berguncang, yang membuat matanya berbinar seperti bintang, yang membuat orang yang mendengarnya ikut ingin tertawa meskipun tidak tahu apa yang lucu.
Tawa yang membuat Iskandar lupa bahwa ia sedang berada di mall, lupa bahwa ada orang, orang di sekitarnya, lupa bahwa dunia masih berputar.
Tawa yang membuat ia sadar: inilah suara yang ingin ia dengar setiap hari. Inilah senyum yang ingin ia lihat setiap pagi. Inilah kebahagiaan yang ingin ia lindungi.
Tanpa banyak bicara, Iskandar mengambil satu tangkai mawar dari tangan anak itu.
Mawar itu tidak sempurna. Kelopaknya sudah mulai layu, warnanya tidak lagi segar, baunya sudah tidak terlalu harum. Tapi di matanya, mawar itu adalah mawar tercantik yang pernah ia lihat.
Mungkin karena mawar itu akan ia berikan pada Nayla.
Mungkin karena mawar itu adalah alasan untuk melihat Nayla tersenyum lagi.
Mungkin karena mawar itu, meskipun sederhana, adalah simbol dari sesuatu yang lebih besar.
Ia membayarnya dengan selembar uang lima puluh ribuan, lebih dari harga yang pantas untuk mawar yang sudah setengah layu. Anak itu tersenyum puas, matanya berbinar, giginya yang tidak rata terlihat jelas.
"Semoga cepat jadian."
Lalu ia pergi begitu saja.
Berlari kecil menuju pengunjung lain yang mungkin akan menjadi target berikutnya. Sandal jepitnya bunyi cit, cit, cit di lantai keramik mall yang dingin. Rambutnya yang panjang bergerak, gerak naik turun mengikuti langkahnya.
Nayla menutup wajahnya sambil tertawa. Kedua telapak tangannya menutupi pipinya yang merona, tetapi tawanya tetap terdengar, tawanya tetap keluar, tawanya tetap tidak bisa disembunyikan.
"Ya Tuhan…"
Iskandar ikut tertawa. Tawa yang ringan, tawa yang lepas, tawa yang sudah lama tidak ia rasakan.
"Saya curiga seluruh kota sedang bekerja sama."
"Bisa jadi."
"Termasuk anak kecil tadi."
"Termasuk."
Iskandar menyerahkan bunga kecil itu.
Tangkai mawar merah yang sudah agak layu, dengan plastik pembungkus yang kusut, dengan karet gelang bekas yang mengikatnya.
"Ini."
Nayla menatap mawar itu. Matanya bergerak dari kelopak yang sudah mulai kecokelatan di pinggirannya, ke batang yang sudah mulai kering, ke plastik pembungkus yang kusut, ke karet gelang yang sudah mulai getas.
Lalu ia menatap Iskandar.
"Untuk apa?"
Iskandar tersenyum.
"Supaya saya tidak dimarahi semesta karena menolak takdir."
Nayla memegang bunga itu perlahan.
Jari, jarinya yang ramping dan dingin itu menyentuh batang mawar, menyentuh plastik pembungkus, menyentuh karet gelang. Ia memegangnya seperti memegang sesuatu yang sangat berharga, seperti memegang kenangan yang tidak ingin dilupakan.
Dan untuk beberapa detik, tatapan mereka bertemu begitu dekat, begitu tenang, begitu dalam, hingga Iskandar hampir lupa bahwa dunia di sekitar mereka masih bergerak.
Pengunjung mall masih lalu lalang. Musik dari pengeras suara masih terdengar. Suara gelas dan sendok masih beradu dari kedai kopi di sebelah. Tapi semua itu terasa jauh, seperti suara dari dunia lain, seperti mimpi yang tidak nyata.
Yang nyata hanyalah Nayla.
Nayla dengan mawar di tangannya.
Nayla dengan senyum di bibirnya.
Nayla dengan mata yang menatapnya seperti sedang membaca isi hatinya.
Di luar kaca mall, hujan mulai turun lagi.
Bukan hujan deras seperti sore tadi di Dermaga Danau Mare. Bukan hujan yang jatuh dengan deras seperti air terjun. Bukan hujan yang memaksa orang untuk berlarian mencari tempat berteduh.
Hujan rintik, rintik.
Butiran, butiran air yang sangat kecil, hampir tidak terasa, yang jatuh dengan lembut di atas aspal jalan yang masih basah oleh sisa hujan sebelumnya. Rintik yang tidak cukup basah untuk membuat pakaian basah kuyup, tetapi cukup untuk membuat kaca jendela menjadi buram, cukup untuk membuat lampu, lampu kendaraan terlihat berpendar.
Rintik, rintik kecil membasahi jalan Jalan Pemuda, jalan yang sekarang mulai sepi karena makin larut. Beberapa mobil masih melintas, dengan lampu depan yang menyala redup karena hujan. Lampu kendaraan memantul di aspal yang basah, menciptakan pantulan, pantulan berwarna yang bergerak, gerak, seperti kunang, kunang yang terbang rendah di atas permukaan tanah.
Kota kecil itu terlihat lebih indah di bawah hujan malam.
Mungkin karena hujan membersihkan debu, debu yang menempel di jalan, di atap rumah, di daun, daun pohon. Mungkin karena hujan membuat segalanya terlihat lebih segar, lebih bersih, lebih baru. Mungkin karena hujan memberikan alasan bagi orang, orang untuk berlindung di tempat, tempat yang hangat, untuk duduk bersama orang yang mereka sayangi, untuk berbicara tentang hal, hal yang tidak sempat mereka bicarakan di siang hari.
Nayla memandang keluar jendela.
Matanya menatap hujan yang turun di luar, rintik, rintik kecil yang jatuh di kaca, bergulir perlahan ke bawah, meninggalkan jejak, jejak air yang seperti air mata.
"Kapuas cantik saat hujan."
Iskandar menoleh.
Ia tidak menatap hujan. Ia tidak menatap kota. Ia tidak menatap lampu, lampu yang berpendar di kejauhan.
Ia menatap Nayla.
Wajahnya yang teduh di bawah cahaya lampu mall yang hangat. Rambutnya yang sedikit basah oleh air hujan yang terbawa angin ketika mereka masuk tadi. Matanya yang berbinar memandang ke luar jendela, seolah sedang melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh orang lain.
"Kamu lebih cantik waktu tersenyum."
Nayla langsung menoleh cepat.
Gerakannya begitu cepat hingga beberapa helai rambutnya terlepas dari ikatan dan terbang sebentar sebelum jatuh kembali ke tempatnya. Matanya membesar, alisnya terangkat, mulutnya terbuka sedikit—ekspresi khas ketika seseorang terkejut sekaligus malu.
"Kamu memang tidak bisa berhenti ya?"
"Tidak sejak kenal kamu."
Nayla menatapnya lama.
Matanya bergerak, mencari, mempertimbangkan, ragu, ragu.
Lalu ia tersenyum kecil.
Senyum yang lembut.
Senyum yang tulus.
Senyum yang membuat Iskandar ingin berterima kasih pada anak kecil penjual bunga tadi, karena tanpanya, mungkin ia tidak akan seberani ini.
Namun senyum itu perlahan memudar.
Seperti lampu yang diredupkan perlahan. Seperti warna yang luntur terkena air. Seperti sesuatu yang indah yang tidak bisa bertahan lama.
Karena di balik kaca, di seberang parkiran, di tempat yang sama seperti sebelumnya, mobil hitam itu masih ada.
Masih diam.
Masih menunggu.
Masih mengawasi.
Masih menjadi bayangan yang tidak bisa diusir.
Dan Nayla melihatnya.
Jari, jarinya perlahan menggenggam mawar kecil itu lebih erat. Bunga yang tadi ia pegang dengan lembut, sekarang ia genggam dengan erat, bukan karena marah, bukan karena takut, tapi karena ia butuh sesuatu untuk dipegang, sesuatu yang nyata, sesuatu yang mengingatkannya bahwa ia tidak sendirian.
Iskandar mengikuti arah pandangannya.
Lalu melihat mobil itu.
Kembali.
Untuk ketiga kalinya.
Mobil yang sama. Warna hitam yang sama. Kaca gelap yang sama. Model yang sama. Segala sesuatu tentang mobil itu terasa familiar, terasa seperti ancaman, terasa seperti masa lalu yang tidak mau mati.
Suasana hangat di meja mereka seolah retak seketika.
Seperti cermin yang jatuh ke lantai keramik. Seperti piring yang pecah karena tersenggol siku. Seperti sesuatu yang indah yang tiba, tiba hancur tanpa peringatan.
Bukan karena mobil itu melakukan apa pun. Mobil itu hanya parkir. Diam. Tidak bergerak. Tidak ada yang turun. Tidak ada yang terjadi.
Tapi kehadirannya saja sudah cukup.
Kehadirannya saja sudah cukup untuk mengingatkan Nayla bahwa masa lalu tidak pernah benar, benar pergi. Kehadirannya saja sudah cukup untuk membuat senyum di wajah Nayla memudar. Kehadirannya saja sudah cukup untuk mengubah suasana yang tadinya hangat menjadi dingin dalam hitungan detik.
Iskandar menoleh pada Nayla.
"Dia terus mengikuti kamu?"
Nayla tidak langsung menjawab.
Matanya masih tertuju pada mobil itu, seperti sedang berusaha menembus kaca gelapnya, seperti sedang berusaha melihat apakah Aldebar ada di dalam sana, seperti sedang berusaha mempersiapkan diri untuk apa pun yang akan terjadi.
Dan diam itu sudah cukup.
Diam itu sudah menjadi jawaban.
Iskandar merasakan sesuatu dalam dirinya berubah.
Bukan marah. Marah adalah perasaan yang terlalu sederhana untuk apa yang ia rasakan sekarang. Marah adalah api yang menyala, nyala tetapi cepat padam. Yang ia rasakan sekarang bukan api, tapi lahar, panas, cair, dan mengalir perlahan, menghancurkan segala sesuatu yang dilewatinya.
Bukan cemburu. Cemburu adalah perasaan yang egois, yang hanya memikirkan diri sendiri. Yang ia rasakan sekarang bukan tentang dirinya. Tentang Nayla. Tentang ketakutan yang terus ia bawa ke mana, mana. Tentang bayangan yang tidak bisa ia usir meskipun sudah berusaha sekuat tenaga.
Bukan rasa ingin melindungi. Rasa ingin melindungi adalah perasaan yang mulia, tetapi seringkali berubah menjadi merendahkan. Yang ia rasakan sekarang lebih dari sekadar ingin melindungi. Ia ingin Nayla tidak perlu dilindungi. Ia ingin Nayla bebas. Ia ingin Nayla bisa berjalan di kotanya sendiri tanpa merasa ada yang mengawasi dari balik kaca gelap.
Tapi ia tidak bisa memberikan itu. Bukan karena ia tidak mau. Tapi karena kebebasan bukan sesuatu yang bisa diberikan oleh orang lain. Kebebasan adalah sesuatu yang harus diambil sendiri.
Nayla menatap gelas kopinya yang sudah hampir habis. Sisa, sisa kopi di dasar gelas membentuk pola yang tidak beraturan, seperti peta pulau, pulau yang tidak bernama.
Suaranya nyaris berbisik ketika ia berkata.
"Saya tidak mau kamu ikut terseret."
Iskandar menatapnya serius.
Matanya tidak berkedip. Wajahnya tidak tersenyum. Suaranya tidak bercanda.
"Kalau saya memang sudah terlanjur ikut?"
Nayla mengangkat wajah.
Dan untuk pertama kalinya malam itu, mata mereka bertemu tanpa candaan, tanpa tawa, tanpa pelarian. Hanya dua hati yang perlahan sadar bahwa perasaan yang tumbuh di antara mereka mungkin jauh lebih besar daripada yang siap mereka hadapi.
Mata Nayla berkaca, kaca. Bukan karena sedih. Bukan karena takut. Tapi karena ia tidak tahu harus menjawab apa.
Karena "sudah terlanjur ikut" adalah kalimat yang tidak bisa dibantah.
Karena "sudah terlanjur ikut" adalah pengakuan bahwa tidak ada jalan untuk kembali.
Karena "sudah terlanjur ikut" adalah janji bahwa ia akan tetap ada, apa pun yang terjadi.
Dan Nayla, yang sudah terlalu sering ditinggalkan, tidak tahu harus percaya atau tidak.
Di dalam mobil hitam, Aldebar memandang ke arah mereka.
Tangannya mengepal di atas setir. Kulit di buku, buku jarinya memutih. Urat, urat di tangannya menonjol seperti tali yang ditarik terlalu kencang. Rahangnya mengeras, giginya mengatup, otot, otot di pipinya bergerak, gerak, tanda bahwa ia sedang menahan amarah yang hampir meledak.
Ia melihat bagaimana Nayla memegang mawar itu.
Mawar merah yang sudah layu. Mawar murahan yang dibeli dari anak kecil pengamen. Mawar yang tidak sebanding dengan bunga, bunga mahal yang pernah ia berikan dulu.
Tapi Nayla memegangnya seperti barang berharga.
Seperti barang yang tidak akan ia lepaskan.
Seperti barang yang berarti lebih dari sekadar bunga.
Dan Aldebar tahu.
Ia tahu bahwa mawar itu bukan hanya mawar.
Mawar itu adalah simbol.
Simbol bahwa Nayla mulai membuka hatinya untuk orang lain.
Simbol bahwa dinding yang selama ini ia bangun mulai runtuh.
Simbol bahwa ia, Aldebar, tidak lagi memiliki tempat di hati Nayla.
Dan bagi seseorang yang belum siap kehilangan, tidak ada yang lebih berbahaya daripada melihat orang yang dulu mencintainya mulai tersenyum untuk orang lain.
Ia menekan tombol starter. Mesin mobil bergemuruh pelan. Lampu depan menyala, menyorot jalan di depannya yang basah oleh hujan.
Ia ingin pergi.
Ia ingin meninggalkan tempat ini.
Ia ingin tidak melihat lagi.
Tapi tangannya tidak bisa melepaskan setir.
Matanya tidak bisa berpaling dari kaca mall.
Hatinya tidak bisa menerima kenyataan.
Jadi ia hanya duduk di sana.
Diam.
Mengamati.
Menunggu.
Dan merencanakan.
Di dalam kedai kopi, Iskandar dan Nayla masih duduk berhadapan.
Mobil hitam itu masih terparkir di tempatnya.
Hujan masih turun di luar.
Tapi di antara mereka, sesuatu telah berubah.
Bukan menjadi lebih buruk.
Bukan menjadi lebih baik.
Tapi menjadi lebih nyata.
Lebih jujur.
Lebih berbahaya.
Karena cinta yang tumbuh di tengah ancaman bukanlah cinta yang manis dan mudah.
Tapi cinta yang harus diperjuangkan.
Cinta yang harus dipertahankan.
Cinta yang mungkin pada akhirnya akan menghancurkan atau menyelamatkan.
Tidak ada yang tahu.
Termasuk mereka berdua.
BAB 13
Di Tengah Riuh Pasar Melati
Hujan di luar City Mall Kuala Kapuas terus turun dengan setia.
Rintik, rintik kecil yang sejak tadi jatuh dengan lembut di atas aspal jalan, sekarang mulai berubah menjadi lebih deras. Bukan deras seperti air yang dituang dari ember, tetapi deras seperti seseorang yang membuka keran sedikit demi sedikit, perlahan, bertahap, tetapi pasti. Butiran, butiran air yang tadinya hanya setitik kecil di kaca jendela, sekarang mulai membesar, bergabung dengan tetangganya, membentuk aliran, aliran kecil yang bergulir ke bawah meninggalkan jejak basah di permukaan kaca.
Suara hujan terdengar samar dari dalam mall, suara tiktiktik yang lembut di atap gedung, suara yang kadang menenangkan, kadang justru membuat orang semakin merenung. Suara yang seperti bisikan alam, mengingatkan bahwa di luar sana, dunia sedang dibersihkan dari debu, debu yang menempel, bahwa besok pagi semuanya akan terasa lebih segar, lebih baru, lebih bersih.
Di dalam kedai kopi, suasana hangat yang tadi sempat membangun kembali retakan, retakan di antara Iskandar dan Nayla, kini perlahan mendingin lagi. Bukan karena mereka berdua yang berubah, bukan karena percakapan mereka yang mulai kering, tetapi karena bayangan di luar sana, bayangan yang tidak bisa diusir meskipun mereka sudah berusaha untuk tidak memikirkannya.
Mobil hitam itu masih ada.
Masih di tempat yang sama.
Masih terparkir dengan mesin yang tidak pernah dimatikan, seperti binatang buas yang sedang mengintai mangsanya dari kejauhan. Lampu depannya menyala redup, tidak cukup terang untuk menarik perhatian, tetapi cukup untuk membuat orang yang mengetahuinya merasa tidak nyaman.
Nayla menggenggam mawar kecil itu lebih erat. Tangkai bunganya yang kering terasa getas di telapak tangannya, seperti tulang, tulang kecil yang siap patah kapan saja. Kelopak mawar yang sudah mulai kecokelatan di pinggirannya itu bergerak sedikit setiap kali ia bernapas, seperti sedang berbisik sesuatu yang tidak bisa didengar.
Matanya masih tertuju pada mobil itu, atau mungkin pada bayangannya sendiri di kaca, atau mungkin pada sesuatu yang sama sekali tidak berhubungan dengan keduanya. Sulit membaca ekspresi perempuan ini ketika ia sedang dalam mode pertahanan seperti sekarang.
Iskandar mengamati Nayla dari balik meja.
Ia bisa melihat bagaimana dada Nayla naik turun dengan napas yang tidak lagi setenang tadi. Bagaimana jari, jarinya yang tadi dengan lembut memegang batang mawar, kini mencengkeramnya seperti orang yang takut kehilangan. Bagaimana matanya yang tadi berbinar karena candaan anak kecil penjual bunga, kini menjadi kosong, hampa, seperti sedang melihat sesuatu yang tidak ingin ia lihat.
Dan di dalam dadanya, Iskandar merasakan sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.
Bukan amarah. Amarah adalah emosi yang terlalu sederhana untuk situasi serumit ini. Bukan cemburu. Cemburu adalah emosi yang egois, dan saat ini ia tidak sedang memikirkan dirinya sendiri. Bukan kasihan. Nayla tidak butuh dikasihani. Ia butuh dihormati.
Yang ia rasakan adalah sesuatu yang lebih kompleks. Campuran antara kekesalan pada Aldebar yang tidak bisa melepaskan, kekhawatiran pada Nayla yang terus hidup dalam ketakutan, dan rasa tidak berdaya karena ia tidak bisa melakukan apa pun selain duduk di sini dan menatap.
Kalau saja aku bisa pergi ke luar sana dan mengatakan pada Aldebar untuk pergi dan tidak pernah kembali, pikirnya. Kalau saja aku bisa memastikan bahwa Nayla tidak perlu lagi merasa terancam. Kalau saja aku bisa memberikan jaminan bahwa semuanya akan baik, baik saja.
Tapi ia tidak bisa.
Karena dunia tidak sesederhana itu. Karena Aldebar bukanlah musuh yang bisa dikalahkan dengan tinju atau kata, kata kasar. Karena Nayla bukanlah properti yang bisa dilindungi dengan cara dikurung. Karena cinta bukanlah tentang menyelamatkan, tetapi tentang menemani.
"Kita pindah tempat?"
Iskandar memecah keheningan yang sudah terlalu lama. Suaranya tidak terlalu keras, tidak terlalu pelan, pas, seperti nada yang tepat untuk memecahkan kebekuan tanpa membuat orang terkejut.
Nayla menoleh. Matanya yang tadi kosong perlahan kembali fokus, seperti kamera yang sedang mencari titik fokus yang tepat.
"Ke mana?"
Iskandar tersenyum tipis. Senyum yang tidak mengandung beban, senyum yang sengaja ia hadirkan untuk membuat Nayla merasa bahwa semuanya masih baik, baik saja, bahwa tidak ada yang perlu ditakuti, bahwa ia di sini, bahwa mereka berdua masih bisa tertawa meskipun ada bayangan di luar sana.
"Ke tempat yang lebih hidup."
Nayla mengernyit. Kerutan kecil di dahinya itu muncul lagi, kerutan yang membuatnya terlihat seperti anak kecil yang sedang mendengar kata baru untuk pertama kalinya.
"Supaya?"
"Supaya pikiran kamu tidak terus melihat ke belakang."
Kalimat itu sederhana. Tidak berlebihan. Tidak dramatis. Tapi cukup untuk membuat Nayla terdiam sejenak.
Pikiran kamu tidak terus melihat ke belakang.
Ia tidak menyadari bahwa ia memang sedang terus melihat ke belakang. Bukan hanya secara fisik, menoleh ke arah mobil hitam itu setiap beberapa menit, tetapi secara mental. Pikirannya selalu tertinggal di masa lalu, di tempat, tempat yang tidak ingin ia kunjungi, di kenangan, kenangan yang lebih baik dilupakan.
Mungkin Iskandar benar. Mungkin ia butuh tempat yang lebih hidup. Tempat yang ramai. Tempat di mana ia tidak bisa mendengar suara pikirannya sendiri. Tempat di mana ia dipaksa untuk berada di sini dan sekarang, bukan di sana dan saat itu.
Nayla memandang Iskandar sesaat.
Matanya bergerak dari dahi yang sedikit berkerut karena konsentrasi, ke mata yang teduh namun tajam, ke hidung yang mancung, ke bibir yang membentuk senyum kecil yang menenangkan, ke dagu yang sedikit runcing.
Lalu untuk pertama kalinya sejak mobil hitam itu muncul di parkiran mall, ia tersenyum kecil.
Senyum yang masih terasa berat, masih belum sepenuhnya pulih, tetapi sudah ada. Dan itu sudah cukup.
"Baik."
Iskandar mengangguk. Ia tidak perlu mengatakan apa, apa lagi. Kadang, satu kata sudah cukup untuk memulai sesuatu yang baru.
Beberapa menit kemudian, motor Iskandar melaju pelan meninggalkan area parkir City Mall.
Mobil hitam itu masih ada di tempatnya, tetapi Iskandar memilih untuk tidak menoleh. Ia tidak ingin memberi Aldebar kepuasan untuk melihat bahwa kehadirannya diperhatikan. Ia tidak ingin memberi sinyal bahwa ia takut. Ia tidak ingin memberi ruang bagi bayangan itu untuk ikut bersama mereka.
Nayla duduk di belakangnya, kali ini dengan genggaman yang lebih erat dari sebelumnya. Tangannya tidak hanya memegang sisi kemeja Iskandar, tetapi benar, benar menggenggamnya, seperti sedang berpegangan pada satu, satunya hal yang nyata di tengah kabut.
Mawar kecil itu ia selipkan di saku jaket Iskandar, bukan karena ia tidak ingin memegangnya, tetapi karena ia takut tangannya yang gemetar akan merusak kelopak, kelopaknya yang sudah rapuh. Mawar itu sekarang terlihat dari balik saku, dengan plastik pembungkusnya yang kusut dan karet gelang bekas yang mengikatnya.
Mereka melewati jalan yang mulai sepi, meninggalkan lampu, lampu mall yang terang di belakang mereka. Jalan Pemuda yang tadi masih ramai dengan kendaraan, sekarang mulai lengang. Mungkin karena hujan, mungkin karena hari sudah semakin larut, mungkin karena orang, orang memilih untuk pulang lebih awal.
Mereka melewati pertokoan yang mulai tutup satu per satu, pintu besi diturunkan dengan suara berisik yang menggema di sepanjang jalan, lampu, lampu toko diredupkan, papan, papan nama mulai padam. Kota kecil itu perlahan bersiap untuk tidur.
Tapi Iskandar tidak membawa Nayla pulang.
Ia membawanya ke tempat yang berbeda.
Ke kawasan Pasar Melati.
Pasar Melati bukanlah pasar malam seperti yang dibayangkan orang. Bukan deretan tenda, tenda warna, warni dengan lampu, lampu terang dan musik yang menggelegar. Bukan tempat di mana anak, anak muda berjalan, jalan sambil memegang gorengan dan minuman dingin.
Pasar Melati adalah pasar tradisional yang beroperasi sejak pagi hingga sore. Di siang hari, tempat ini adalah pusat kegiatan ekonomi warga Kuala Kapuas, para ibu berbelanja sayur dan daging untuk keperluan memasak, para pedagang saling menawar harga dengan suara yang nyaring, anak, anak kecil berlarian di antara kaki, kaki orang dewasa sambil membawa plastik berisi jajanan.
Tapi di malam hari, saat pasar tutup dan para pedagang pulang ke rumah masing, masing, suasana di sekitar Pasar Melati justru berubah. Deretan toko, toko di sekitarnya, toko sembako, toko pakaian, toko perlengkapan rumah, toko alat tulis, kios buah, warung makan, masih tetap buka. Lampu, lampu mereka menyala terang, menerangi trotoar yang mulai sepi.
Dan di sanalah Iskandar membawa Nayla.
Bukan ke pasar yang tutup, tetapi ke kawasan di sekitarnya yang tetap hidup meskipun malam sudah tiba. Kawasan di mana orang, orang masih beraktivitas, bukan karena mereka tidak punya tempat lain untuk pergi, tetapi karena ini adalah ritme kehidupan mereka, ini adalah cara mereka bertahan hidup, ini adalah satu, satunya dunia yang mereka kenal.
Mereka melewati Jalan yang menghubungkan pusat kota dengan Pasar Melati, jalan yang tidak terlalu lebar, hanya cukup untuk dua mobil berpapasan, dengan trotoar yang sempit di kiri, kanan. Di sepanjang jalan ini, berjejer toko, toko yang sudah berusia puluhan tahun, toko kelontong dengan etalase kaca yang buram, toko sepatu dengan sepatu, sepatu yang tergantung di depan, toko jam dengan jam, jam dinding yang berdetak bersamaan.
Lampu, lampu toko menyala terang, memantul di aspal jalan yang basah oleh hujan yang baru saja reda. Pantulan, pantulan berwarna itu bergerak, gerak setiap kali ada kendaraan yang lewat, menciptakan ilusi bahwa jalanan itu sendiri sedang bernapas.
Suara kendaraan bercampur dengan percakapan warga yang masih duduk di depan toko, beberapa bapak, bapak dengan kaus oblong dan sarung, beberapa ibu, ibu dengan daster dan kerudung longgar, beberapa anak muda dengan pakaian yang lebih modern tetapi tetap santai.
Aroma buah segar dari kios, kios buah yang masih buka tercium sampai ke jalan, aroma jeruk, apel, semangka, pisang, dan anggur yang bercampur menjadi satu, menciptakan parfum alami yang tidak bisa ditiru oleh parfum buatan pabrik. Aroma itu segar, sedikit asam, sedikit manis, dan sangat menggoda.
Di sisi kiri jalan, toko buah berjejer dengan tumpukan jeruk, apel, semangka, pisang, dan anggur yang tersusun rapi di bawah lampu kuning. Jeruk Siam Pontianak dengan kulit hijau kekuningan, apel merah yang mengkilap seperti baru dipoles, semangka besar dengan kulit hijau gelap, pisang raja yang sudah mulai menguning di ujung, ujungnya, anggur hijau yang bening seperti kelereng.
Setiap buah itu memiliki penjualnya sendiri, ibu, ibu paruh baya dengan kerudung yang sedikit longgar, bapak, bapak dengan topi caping di kepala, anak, anak muda yang membantu orang tua mereka setelah pulang sekolah. Mereka duduk di kursi plastik sambil memegang koran atau ponsel, sesekali memanggil pembeli yang lewat dengan suara yang sudah serak karena terlalu sering digunakan.
Di sisi kanan, beberapa warung kuliner menjual soto, bakso, sate, gorengan, dan es campur. Warung, warung itu tidak besar, mungkin hanya berukuran dua kali tiga meter, dengan dinding seng dan atap asbes. Meja, meja plastik diletakkan di depan, dengan kursi, kursi yang tidak pernah sama karena dikumpulkan dari berbagai sumber.
Aroma soto ayam dengan kuah kuning yang kental, aroma bakso dengan pentol yang kenyal, aroma sate dengan bumbu kacang yang pedas manis, aroma gorengan dengan minyak yang masih panas, aroma es campur dengan sirup merah dan susu kental manis, semua bercampur menjadi satu, menciptakan simfoni aroma yang membuat perut keroncongan meskipun sebenarnya tidak lapar.
Suasana itu membuat kota kecil terasa hangat.
Bukan hangat karena suhu udara, malam di Kuala Kapuas cukup sejuk, apalagi setelah hujan. Tapi hangat karena kehidupan. Karena orang, orang masih tersenyum meskipun hari sudah larut. Karena pedagang masih melayani pembeli dengan ramah meskipun mereka mungkin lelah. Karena anak, anak masih tertawa meskipun mereka mungkin tidak punya banyak mainan.
Dan tanpa sadar, suasana ini membuat Nayla sedikit lebih tenang.
Bukan tenang karena masalahnya hilang, masalahnya masih ada, Aldebar masih ada, mobil hitam itu mungkin masih mengikuti dari kejauhan. Tapi tenang karena ia bisa bernapas. Tenang karena ia bisa melihat bahwa dunia masih berjalan. Tenang karena ia tidak sendirian.
"Tempat seperti ini saya suka," kata Nayla sambil memandang sekitar, matanya bergerak dari satu toko ke toko lain, dari satu pedagang ke pedagang lain, dari satu aroma ke aroma lain.
Iskandar menoleh.
"Kenapa?"
"Karena di tempat seperti ini, hidup terasa nyata."
Iskandar tersenyum. Senyum yang lahir karena ia setuju, karena ia juga merasakan hal yang sama, karena ada kepuasan tersendiri ketika seseorang menghargai hal, hal sederhana yang selama ini ia anggap biasa.
"Di mall tidak nyata?"
Nayla tersenyum. Senyum yang lebih santai dari sebelumnya, senyum yang menunjukkan bahwa ia mulai menikmati suasana baru ini.
"Di mall orang terlihat berusaha bahagia."
Matanya menatap seorang ibu, ibu yang sedang memilih buah di kios di seberang jalan, ibu itu tersenyum kepada penjual, tetapi matanya sayu, seperti sedang memikirkan sesuatu yang berat. Di sebelahnya, seorang bapak, bapak duduk di kursi plastik sambil memegang ponsel, wajahnya datar, tidak menunjukkan ekspresi apa pun.
"Di pasar seperti ini, orang terlihat apa adanya."
Iskandar memandang para pedagang yang sibuk melayani pembeli terakhir mereka sebelum pulang. Seorang ibu penjual gorengan sedang menghitung uang receh dengan jari yang lincah, sesekali menghela napas karena hasilnya tidak sesuai harapan. Seorang bapak penjual sate sedang membalik, balik tusukan sate di atas bara api, keringat mengucur di dahinya meskipun udara tidak panas. Seorang pemuda penjual es campur sedang memeras jeruk dengan tangan yang terampil, sesekali menyeka keringat dengan lengan bajunya.
Ibu, ibu menawar harga dengan keterampilan yang sudah diasah selama bertahun, tahun, tidak malu untuk meminta potongan meskipun hanya seribu rupiah. Pedagang, pedagang mengeluh tentang modal yang terus naik, tentang pembeli yang semakin pelit, tentang pemerintah yang tidak pernah memikirkan nasib mereka.
Anak, anak berlarian di antara kaki, kaki orang dewasa, tidak peduli dengan kotoran di lantai, tidak peduli dengan orang, orang yang mungkin mereka tabrak, hanya peduli pada tawa dan kegembiraan sesaat.
Warung, warung kecil penuh dengan cerita sederhana, cerita tentang suami yang pulang terlambat, tentang anak yang nakal di sekolah, tentang harga beras yang naik lagi, tentang mimpi yang tidak kunjung tercapai.
Iskandar mengangguk pelan.
Ia tidak perlu mengatakan apa, apa karena Nayla sudah benar. Di tempat seperti ini, hidup tidak perlu berpura, pura. Tidak perlu memasang topeng. Tidak perlu tersenyum jika tidak ingin tersenyum.
"Kamu selalu melihat hal yang tidak dilihat orang lain ya?"
Nayla menoleh. Matanya bertemu dengan mata Iskandar.
"Begitu juga kamu."
Iskandar mengernyit.
"Kalau saya?"
Nayla tersenyum tipis. Senyum yang penuh arti, senyum yang mengatakan aku melihatmu, Iskandar. Aku melihat siapa dirimu sebenarnya.
"Kamu selalu tahu kapan seseorang sedang berusaha terlihat kuat."
Kalimat itu membuat Iskandar diam.
Karena untuk pertama kalinya, Nayla melihat dirinya sedalam ia melihat Nayla.
Selama ini, Iskandar mengira bahwa ia pandai menyembunyikan perasaannya. Ia mengira bahwa senyumnya cukup meyakinkan. Ia mengira bahwa tidak ada yang bisa membaca pikirannya.
Tapi Nayla membuktikan bahwa ia salah.
Nayla melihat bahwa di balik senyumnya yang tenang, di balik sikapnya yang dewasa, di balik kata, katanya yang selalu bijak, ada seseorang yang juga sedang berusaha terlihat kuat.
Seseorang yang mungkin juga memiliki luka.
Seseorang yang mungkin juga butuh ditemani.
Seseorang yang mungkin tidak sekuat yang ia tunjukkan.
Dan untuk beberapa detik, mereka hanya saling diam. Bukan diam yang canggung. Bukan diam yang tegang. Tapi diam yang penuh dengan pengakuan. Diam yang mengatakan aku melihatmu, dan itu tidak masalah. Kamu tidak perlu sempurna di depanku.
Mereka berhenti di sebuah kios buah.
Kios itu tidak besar, hanya sebuah meja kayu panjang dengan rak, rak di belakangnya, tempat berbagai macam buah ditata dengan rapi. Meja itu sudah tua, kayunya sudah mulai menghitam di beberapa bagian, tetapi masih kokoh. Di atas meja, buah, buahan disusun berdasarkan jenisnya: jeruk di keranjang anyaman, apel di rak plastik, semangka di lantai karena terlalu besar untuk ditaruh di meja.
Seorang ibu penjual tersenyum ramah.
Wajahnya bulat, dengan pipi yang tembam dan kulit yang sawo matang. Kerudungnya berwarna hijau tua, sedikit longgar di bagian dagu. Tangannya kasar dan kapalan, tanda bahwa ia sudah bertahun, tahun bekerja keras. Matanya berbinar di bawah lampu kios yang kuning, menunjukkan bahwa ia masih memiliki semangat meskipun usianya tidak lagi muda.
"Mau cari apa, Nak?"
Iskandar menunjuk mangga yang tersusun rapi di keranjang anyaman di sudut meja. Mangga itu berwarna hijau kekuningan, dengan bintik, bintik hitam di kulitnya, tanda bahwa mangga itu sudah matang dan manis.
"Yang manis."
Ibu itu menatap Nayla, lalu tersenyum penuh arti. Matanya bergerak dari Nayla ke Iskandar, lalu kembali ke Nayla, seperti sedang membaca sesuatu yang tidak terlihat oleh orang lain.
"Kalau buat yang manis di sebelah, yang ini cocok."
Nayla langsung menahan tawa. Tangannya menutup mulut, tetapi matanya sudah keburu berbinar, bahunya sudah keburu berguncang.
Iskandar menutup mata sebentar. Ia menarik napas panjang, menghelanya perlahan, seolah sedang mengumpulkan seluruh kesabaran yang tersisa di dalam tubuhnya.
"Kenapa semua orang di kota ini suka ikut campur?"
Nayla berbisik pelan, dengan suara yang hanya cukup untuk didengar oleh Iskandar.
"Mungkin wajahmu terlalu jujur."
Iskandar menoleh.
"Wajah saya kenapa?"
Nayla tersenyum.
"Wajah orang yang sedang jatuh hati."
Kali ini Iskandar benar, benar terdiam.
Bibirnya terasa kering. Tenggorokannya terasa sesak. Jantungnya berdetak begitu kencang hingga ia bisa mendengarnya sendiri, dum, dum, dum, dum, dum, seperti genderang perang yang memekakkan telinga.
Nayla justru tertawa kecil melihat ekspresinya. Tawa yang tidak mengejek, tawa yang hangat, tawa yang mengatakan aku bercanda, tapi tidak sepenuhnya bercanda.
"Sekarang kamu yang diam."
Iskandar menghela napas. Helaan napas yang panjang, yang berat, yang keluar dari dadanya seperti angin dari gua yang dalam.
"Tidak adil."
"Sedikit."
Untuk pertama kalinya malam itu, sejak mobil hitam itu muncul di parkiran mall, sejak Aldebar keluar dari mobil, sejak Nayla menangis di taman, sejak semua kekacauan itu dimulai, Nayla terlihat benar, benar menikmati kebersamaan itu.
Matanya berbinar. Pipinya merona. Bibirnya membentuk senyum yang tidak perlu diartikan karena sudah jelas artinya.
Dan Iskandar tahu.
Ia tahu bahwa momen, momen seperti ini, momen ketika Nayla melupakan sejenak semua masalahnya, momen ketika ia bisa tertawa tanpa beban, momen ketika ia terlihat seperti perempuan seusianya yang seharusnya, adalah momen yang paling berharga.
Dan ia mulai jatuh lebih jauh lagi.
Bukan lagi di pinggir jurang.
Bukan lagi di ambang pintu.
Bukan lagi di tahap "mungkin" atau "semoga".
Ia sudah jatuh.
Jatuh bebas.
Jatuh tanpa parasut.
Jatuh ke dalam sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan.
Dan yang paling membuatnya takut, ia tidak ingin diselamatkan.
Setelah membeli potongan mangga dan jeruk dingin, mangga yang sudah dikupas dan dipotong kecil, kecil, disajikan dalam plastik bening bersama tusuk gigi; jeruk yang sudah diperas menjadi jus segar, disajikan dalam gelas plastik dengan es batu yang masih utuh, mereka berjalan ke deretan kuliner.
Deretan kuliner di Pasar Melati bukanlah tempat yang mewah. Tidak ada meja kayu dengan serbet putih, tidak ada pramusaji dengan seragam rapi, tidak ada musik klasik yang diputar dengan volume rendah.
Yang ada hanya warung, warung kecil dengan meja plastik dan kursi plastik yang warnanya sudah mulai pudar. Lampu bohlam 5 watt digantung di atas setiap warung, memberikan penerangan yang cukup untuk melihat makanan, tetapi tidak cukup untuk membaca koran. Lantainya terbuat dari tanah yang dipadatkan, tidak ada ubin, tidak ada keramik.
Tapi di sinilah kehidupan terasa nyata.
Iskandar dan Nayla duduk di warung kecil dekat toko kelontong yang sudah tutup, tokonya gelap, tetapi warung di depannya masih terang. Meja plastik yang mereka duduki agak goyang karena salah satu kakinya lebih pendek dari yang lain, tetapi mereka tidak peduli. Mereka hanya menyesuaikan posisi duduk, mencari keseimbangan yang pas.
Lampu sederhana menggantung di atas meja, memberikan cahaya kuning yang hangat. Cahaya itu membuat wajah Nayla terlihat lebih lembut dari biasanya, bayangan, bayangan kecil terbentuk di bawah tulang pipinya, di bawah dagunya, di bawah hidungnya, menciptakan kontras yang indah.
Suara sendok beradu dari warung sebelah, seorang pemuda sedang makan bakso dengan lahap, suaranya nyam, nyam, nyam yang terdengar hingga ke meja mereka. Seorang ibu, ibu sedang memesan sate untuk anaknya yang masih kecil, suaranya lembut tetapi tegas.
Aroma sate ayam dari warung di depan mereka memenuhi udara, aroma daging yang dibakar di atas bara api, aroma bumbu kacang yang dicampur dengan kecap dan bawang putih, aroma lontong yang dikukus dengan daun pisang. Aroma itu menguar, menyebar, membuat perut keroncongan.
Nayla mencoba sambal terlalu banyak.
Sambal di warung itu terkenal pedas, sambal yang terbuat dari cabai rawit yang diulek kasar, dicampur dengan sedikit garam dan gula, tanpa tambahan tomat atau bawang. Warnanya merah terang, seperti api yang sedang menyala.
Nayla mengambil satu sendok sambal dan mencampurnya ke dalam kuah sotonya. Ia tidak tahu bahwa sambal di warung ini berbeda dengan sambal di tempat lain. Ia tidak tahu bahwa satu sendok sambal di sini setara dengan tiga sendok sambal di tempat lain.
Dan beberapa detik kemudian, wajahnya langsung berubah.
Pipinya yang tadinya merah muda karena dingin, sekarang berubah menjadi merah tua karena kepedasan. Matanya berair, hidungnya mengeluarkan ingus tipis, mulutnya terbuka setengah berusaha mengambil udara.
"Pedas?" tanya Iskandar, setengah khawatir setengah geli.
Nayla mengangguk cepat. Anggukan yang terlalu cepat, terlalu panik, seperti boneka yang kepalanya digerakkan naik turun dengan kencang.
Iskandar tertawa. Tawa yang tidak bisa ia tahan, tawa yang keluar begitu saja melihat ekspresi Nayla yang lucu.
"Sudah saya bilang."
"Diam."
"Minum."
Ia menyodorkan gelas es teh dinginnya, teh manis dengan es batu yang sudah mulai mencair, dengan sedotan warna merah yang sudah agak penyok karena digigit.
Nayla menatap gelas itu.
Lalu menatap Iskandar.
Matanya bertanya: kamu yakin?
"Kamu dulu."
"Kenapa?"
"Takut kamu bohong."
Iskandar menghela napas, lalu minum sedikit dari gelas itu, hanya seteguk, cukup untuk menunjukkan bahwa teh itu tidak diracuni, bahwa ia tidak sedang menjebaknya.
Lalu ia menyerahkan kembali.
Nayla meminumnya pelan.
Bibirnya menyentuh sedotan yang sama yang baru saja disentuh oleh bibir Iskandar.
Dan entah kenapa, hal kecil itu, berbagi sedotan, berbagi gelas, berbagi sesuatu yang sangat sederhana—terasa jauh lebih intim daripada yang seharusnya.
Mereka berdua sama, sama menyadarinya.
Mata mereka bertemu sejenak.
Lalu sama, sama memilih diam.
Tapi diam itu tidak canggung. Diam itu tidak tegang. Diam itu justru terasa hangat, seperti selimut di malam yang dingin, seperti pelukan yang tidak perlu dijelaskan.
Di kejauhan, Ridwan yang baru keluar dari toko perlengkapan motor bersama Sahrul melihat mereka.
Ridwan adalah tipe orang yang tidak pernah terkejut. Ia sudah melihat banyak hal dalam hidupnya, perselingkuhan, kebangkrutan, kematian, kelahiran, dan segala sesuatu di antaranya. Wajahnya jarang berubah, ekspresinya jarang berganti. Ia seperti patung yang hidup, seperti danau yang tenang, seperti batu yang tidak bisa digoyahkan oleh badai.
Tapi kali ini, matanya sedikit membesar.
Sahrul, yang berdiri di sampingnya, juga melihat.
"Minum satu gelas?" tanya Sahrul, suaranya setengah tidak percaya.
Ridwan mengangguk tenang. Anggukan yang pelan, tetapi pasti.
"Berbahaya."
"Kenapa?"
Ridwan menjawab singkat, dengan suara yang datar seperti biasa, tetapi matanya berbinar—bukan binar kegembiraan, tetapi binar kesadaran.
"Karena Iskandar tidak pernah membiarkan orang lain minum dari gelasnya."
Sahrul terdiam.
Matanya bergerak dari Iskandar dan Nayla yang sedang duduk berdua di meja plastik, ke gelas es teh yang mereka berdua minum bergantian, ke mawar kecil yang terselip di saku jaket Iskandar.
"Wah..."
Ridwan menatap mereka lagi.
"Berarti ini serius."
Sahrul mengangguk pelan.
"Lebih dari yang dia sendiri sadari."
Mereka berdua berdiri di kejauhan, tidak mendekat, tidak mengganggu. Karena mereka tahu bahwa ada momen, momen yang tidak boleh diinterupsi. Ada kebahagiaan kecil yang tidak boleh dirusak. Ada percakapan antara dua hati yang tidak boleh didengar oleh orang lain.
Namun suasana hangat itu tidak bertahan lama.
Di ujung jalan, dekat deretan toko buah, mobil hitam itu kembali terlihat.
Parkir.
Diam.
Mengawasi.
Kali ini lebih dekat dari sebelumnya. Tidak lagi di seberang jalan, tidak lagi di tempat parkir yang jauh. Tapi di sini, di Pasar Melati, di antara keramaian dan aroma makanan dan tawa anak, anak.
Seolah Aldebar ingin mengatakan: tidak peduli ke mana kamu pergi, aku akan menemukanmu. Tidak peduli seberapa jauh kamu berlari, aku akan selalu ada di belakangmu. Tidak peduli seberapa keras kamu berusaha melupakanku, aku tidak akan pernah pergi.
Senyum Iskandar perlahan hilang.
Wajahnya yang tadi santai, kini berubah serius. Matanya yang tadi berbinar, kini tajam. Rahangnya yang tadi rileks, kini mengeras.
Nayla mengikuti arah pandangannya.
Tubuhnya langsung menegang.
Bahu yang tadi rileks, kini kaku. Tangan yang tadi dengan santai memegang gelas es teh, kini menggenggam erat. Jari, jari yang tadi lincah memegang tusuk gigi, kini gemetar.
Keramaian pasar tetap berjalan. Orang, orang tetap berbelanja. Pedagang tetap memanggil pelanggan dengan suara serak. Anak, anak tetap tertawa.
Tapi di antara mereka berdua, malam mendadak terasa jauh lebih sunyi.
Sunyi seperti kuburan di tengah malam.
Sunyi seperti ruang hampa di antara bintang, bintang.
Sunyi seperti hati yang sedang hancur tetapi tidak bisa menangis.
Iskandar menatap Nayla.
Matanya dalam, serius, penuh dengan sesuatu yang tidak bisa ia sembunyikan lagi.
Suaranya rendah, berat, seperti suara dari dasar sumur yang dalam.
"Sudah cukup."
Nayla menoleh.
Matanya bertanya: cukup apa?
Iskandar memandang mobil itu, mobil hitam dengan kaca gelap yang tidak bisa ditembus, dengan mesin yang masih menyala, dengan seseorang di dalamnya yang tidak bisa melepaskan masa lalu.
Lalu ia kembali menatap mata Nayla.
Dan dengan suara yang tidak bergetar, dengan suara yang tegas tetapi lembut, ia berkata:
"Cukup kamu takut sendirian."
BAB 14
Hujan di Simpang Melati
"Cukup kamu takut sendirian."
Kalimat Iskandar menggantung di udara malam Pasar Melati, di antara aroma sate yang masih mengepul dari bara api, di antara suara sendok yang beradu dari warung sebelah, di antara tawa anak, anak yang berlarian di antara kaki, kaki orang dewasa, di antara lampu, lampu toko yang mulai padam satu per satu karena makin larut.
Kalimat itu tidak keras. Tidak dramatis. Tidak seperti dialog dalam film, film romantis yang diucapkan dengan latar belakang musik orkestra yang menggelegar. Kalimat itu keluar dengan tenang, dengan nada yang datar, dengan intonasi yang tidak naik turun.
Tapi justru karena diucapkan dengan tenang, kalimat itu terasa jauh lebih dalam.
Seperti air yang mengalir di dasar sungai, tidak terlihat, tidak terdengar, tetapi ada, dan kekuatannya cukup untuk mengikis batu yang paling keras sekalipun.
Nayla menatap Iskandar beberapa detik.
Matanya yang tadi kosong, yang tadi hanya menatap mobil hitam di ujung jalan dengan ekspresi campuran antara ketakutan dan kelelahan, kini perlahan berubah. Seperti ada lampu yang dinyalakan di ruangan yang gelap. Seperti ada jendela yang dibuka di kamar yang pengap. Seperti ada sesuatu yang hangat menyentuh dadanya yang dingin.
Di sekeliling mereka, Pasar Melati tetap hidup seperti biasanya. Malam di kawasan pasar tidak pernah benar, benar sepi, mungkin karena para pedagang yang masih membereskan dagangan, mungkin karena para pembeli yang datang terlambat, mungkin karena warung, warung kuliner yang baru mulai ramai di jam, jam begini.
Suara pedagang memanggil pembeli terdengar dari kejauhan, "Sate! Sate! Masih hangat!" "Es campur! Es campur! Segar!" "Pisang goreng! Pisang goreng!", suara, suara yang sudah menjadi bagian dari soundtrack malam di kawasan ini, suara, suara yang tidak pernah terdengar asing meskipun sudah didengar ribuan kali.
Bunyi plastik belanjaan yang digerak, gerakkan oleh ibu, ibu yang baru selesai berbelanja, kresek, kresek, kresek, seperti suara tikus yang berlarian di loteng.
Aroma sate dan gorengan masih memenuhi udara, bercampur dengan aroma asap dari gerobak, gerobak yang masih berjualan, aroma minyak goreng yang sudah dipakai berkali, kali, aroma kecap manis yang kental dan legit.
Lampu pertokoan yang memantul di jalan yang mulai basah oleh gerimis tipis yang turun lagi—rintik, rintik kecil yang hampir tidak terasa, yang tidak cukup basah untuk membuat orang berlari mencari tempat berteduh, tetapi cukup untuk membuat kaca kendaraan menjadi buram dan rambut menjadi sedikit lembab.
Namun bagi Nayla, untuk sesaat, semua suara itu seperti menjauh.
Seperti ada yang menekan tombol volume di remote kontrol, perlahan, lahan mengecilkan suara dunia hingga yang tersisa hanya bisikan.
Karena sudah lama sekali tidak ada seseorang yang mengatakan kalimat seperti itu padanya.
Bukan karena iba. Ibanya orang, orang sering memberinya rasa iba—rasa kasihan yang membuatnya merasa kecil, merasa lemah, merasa seperti korban yang perlu diselamatkan. Dan ia benci rasa iba. Ia benci ketika orang melihatnya dengan mata yang berkaca, kaca, dengan suara yang bergetar, dengan kata, kata "kasihan kamu, Nay". Itu tidak membantu. Itu hanya membuatnya merasa lebih buruk.
Bukan karena penasaran. Penasaran adalah apa yang dirasakan oleh orang, orang yang ingin tahu ceritanya bukan karena mereka peduli, tetapi karena mereka ingin bahan gosip. Mereka ingin tahu detailnya, ingin tahu bagaimana rasanya, ingin tahu siapa yang salah dan siapa yang benar, sehingga mereka bisa menceritakannya kembali kepada orang lain dengan versi yang lebih dramatis.
Bukan karena ingin tahu. Ingin tahu adalah apa yang dirasakan oleh orang, orang yang mengajukan pertanyaan, pertanyaan yang tidak perlu dijawab, yang masuk ke wilayah yang tidak semestinya, yang membuka luka lama hanya untuk melihat seperti apa bentuknya.
Tapi karena tulus.
Iskandar tidak mengatakan "kamu tidak perlu takut" atau "aku akan melindungimu" atau "jangan khawatir, aku di sini". Ia tidak menjanjikan apa pun yang mungkin tidak bisa ia tepati. Ia tidak menggembungkan egonya dengan menjadi pahlawan.
Ia hanya mengatakan: "Cukup kamu takut sendirian."
Seperti ia sadar bahwa ia tidak bisa menghilangkan ketakutan Nayla. Ketakutan itu terlalu dalam, terlalu lama, terlalu mengakar. Tapi ia bisa berbagi beban itu. Ia bisa berdiri di samping Nayla sehingga Nayla tidak perlu menghadapinya sendirian.
Dan justru itulah yang paling berbahaya bagi hatinya.
Bukan janji, janji manis yang mudah diucapkan dan mudah dilupakan.
Bukan bunga, bunga mahal yang layu dalam seminggu.
Bukan puisi, puisi romantis yang indah didengar tetapi kosong makna.
Tapi ketulusan.
Ketulusan yang sederhana.
Ketulusan yang tidak berusaha menjadi apa pun selain dirinya sendiri.
Ketulusan yang membuat Nayla ingin percaya lagi, meskipun ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak pernah percaya pada laki, laki lagi.
"Nayla."
Suara berat dari belakang membuat mereka berdua menoleh.
Suara yang tidak asing. Suara yang sudah Nayla dengar ribuan kali, di telepon, di ruang tamu rumahnya, di mobil, di restoran, di tempat, tempat yang sekarang terasa seperti kenangan yang lebih baik dilupakan.
Suara yang dulu membuatnya merasa aman. Suara yang dulu membuatnya tersenyum hanya dengan mendengarnya. Suara yang dulu menjadi alasan mengapa ia bisa tidur nyenyak di malam hari.
Sekarang, suara itu membuat bulu kuduknya merinding.
Aldebar.
Pria itu kini berdiri beberapa meter dari mereka. Tidak di seberang jalan seperti sebelumnya. Tidak di balik kaca mobil yang gelap. Tapi di sini, di Pasar Melati, di antara keramaian, di antara pedagang dan pembeli, di antara lampu, lampu toko yang mulai padam.
Mungkin ia turun dari mobil ketika Iskandar dan Nayla sedang asyik dengan mangga dan es teh mereka. Mungkin ia sudah sejak tadi berjalan di belakang mereka, mengikuti dari jarak yang aman, menunggu saat yang tepat untuk muncul. Mungkin ia tidak pernah benar, benar pergi, hanya berpindah dari satu tempat ke tempat lain, seperti bayangan yang tidak bisa diusir.
Aldebar berdiri dengan tangan di saku celana hitamnya. Kemeja hitamnya masih sama, rapi, tanpa lipatan, meskipun hari sudah larut dan hujan sudah turun. Wajahnya masih sama, tegas, tanpa ekspresi, tetapi matanya berbicara banyak.
Matanya tajam. Tidak lagi seperti saat di toko buku, ketika ia masih berusaha bersikap tenang dan terkendali. Matanya sekarang seperti pisau yang diasah, seperti api yang menyala, seperti sesuatu yang siap meledak kapan saja.
Tanpa senyum.
Tanpa basa, basi.
Tanpa ketenangan palsu yang dulu ia tunjukkan.
Aldebar berdiri di hadapan mereka dengan apa adanya, seorang laki-laki yang sedang kehilangan kendali, yang sedang berusaha mempertahankan sesuatu yang sudah bukan miliknya, yang sedang berada di ambang antara sadar dan tidak sadar bahwa ia sudah kalah.
Ia berjalan mendekat.
Satu langkah.
Dua langkah.
Tiga langkah.
Setiap langkahnya pelan, tidak tergesa, gesa, tetapi juga tidak ragu, ragu. Setiap langkahnya seperti sedang menghitung mundur menuju sesuatu, mungkin ledakan, mungkin kehancuran, mungkin kesadaran.
Dan setiap langkahnya membuat suasana di sekitar mereka berubah pelan, pelan menjadi tegang.
Seperti tali yang ditarik terlalu kencang, siap putus kapan saja.
Seperti karet gelang yang diregangkan hingga batas maksimal, siap melenting dan menyakiti siapa pun yang terkena.
Iskandar berdiri.
Refleks.
Tanpa berpikir.
Tanpa menghitung risiko.
Tanpa bertanya, tanya apakah ini saat yang tepat untuk bertindak atau lebih baik diam.
Tubuhnya bergerak sebelum pikirannya sempat memproses apa yang terjadi. Otot, otot kakinya menegang, mendorong tubuhnya berdiri dari kursi plastik yang goyang. Tangannya yang tadi santai di atas meja, kini terkepal di samping tubuh. Matanya yang tadi lembut menatap Nayla, kini tajam menatap Aldebar.
Dan posisi tubuhnya tanpa sadar sedikit bergeser ke depan Nayla.
Bukan banyak. Hanya setengah langkah. Hanya sedikit. Hanya cukup untuk membuat tubuhnya berada di antara Aldebar dan Nayla, seperti perisai yang tidak sempurna, seperti pagar yang tidak kokoh, tetapi setidaknya ada.
Gerakan kecil.
Hampir tidak terlihat.
Tapi cukup untuk membuat Nayla diam.
Karena untuk pertama kalinya, ada seseorang yang berdiri di depannya seolah berkata tanpa kata: aku di sini. Kamu tidak sendirian. Aku akan melindungimu meskipun aku tidak tahu caranya.
Bukan dengan kata, kata. Bukan dengan janji. Tapi dengan tindakan. Dengan gerakan kecil yang tidak direncanakan. Dengan keberanian yang muncul secara alami karena ia tidak tahan melihat Nayla ketakutan.
Aldebar menghentikan langkahnya.
Matanya yang tajam itu sekarang tertuju pada Iskandar. Tidak lagi pada Nayla. Seolah Nayla sudah tidak penting. Seolah pertarungan ini bukan lagi tentang Nayla, tetapi tentang dua laki, laki yang sama, sama mengaku mencintai perempuan yang sama.
Tatapannya jatuh pada posisi tubuh Iskandar, sedikit di depan Nayla, sedikit melindungi, sedikit seperti sedang mengatakan jika kamu ingin menyakitinya, kamu harus melewatiku dulu.
Lalu pada Nayla, yang berdiri di belakang Iskandar dengan tangan yang masih memegang gelas es teh yang sudah hampir habis, dengan jari, jari yang gemetar, dengan mata yang basah tetapi tidak menangis.
Lalu kembali pada Iskandar.
Tatapan Aldebar berubah. Tidak lagi tajam seperti pisau. Tidak lagi menyala seperti api. Tapi dingin. Dingin seperti es di kutub utara. Dingin seperti hati yang sudah mati. Dingin seperti sesuatu yang tidak bisa lagi dihangatkan oleh apa pun.
"Sepertinya saya mengganggu."
Nada bicaranya tenang. Terlalu tenang. Tenang seperti permukaan danau yang dalam, yang menyembunyikan pusaran di bawahnya. Tenang seperti suara seseorang yang sudah mempersiapkan kata, katanya berulang kali di dalam kepala, yang sudah melatih intonasi dan ekspresi di depan cermin, yang sudah memutuskan bahwa ia tidak akan kehilangan kendali meskipun hatinya hancur berkeping, keping.
Tapi ketenangan itu tidak meyakinkan. Ketenangan itu justru lebih menakutkan daripada amarah yang meledak, ledak. Karena ketika seseorang terlalu tenang, biasanya ia sedang menyembunyikan sesuatu. Sesuatu yang besar. Sesuatu yang berbahaya. Sesuatu yang jika keluar, tidak akan bisa dikendalikan lagi.
Iskandar menatap balik.
Matanya tidak berkedip. Wajahnya tidak berubah. Suaranya tidak bergetar.
"Kalau tahu mengganggu, harusnya dari tadi berhenti."
Nayla menoleh cepat.
Ia tidak menyangka Iskandar akan bicara seberani itu. Di matanya yang basah, ada kilatan keterkejutan, bukan keterkejutan karena takut, tetapi keterkejutan karena kagum. Karena Iskandar, yang selama ini ia kenal sebagai laki, laki pendiam yang lebih banyak diam daripada bicara, ternyata memiliki keberanian yang tidak ia duga.
Aldebar tersenyum tipis.
Senyum yang dingin.
Senyum yang tidak menyentuh mata.
Senyum yang seperti pisau yang digerakkan perlahan di atas kulit, tidak melukai tetapi membuat bulu kuduk merinding.
"Ini urusan saya dengan Nayla."
Iskandar tidak bergeming.
Tubuhnya tetap di tempatnya. Kakinya tidak mundur satu langkah pun. Tangannya tetap terkepal di samping tubuh, tetapi tidak mengepal terlalu kencang, cukup untuk menunjukkan kesiapan, tidak cukup untuk menunjukkan agresi.
"Kalau dia tidak nyaman, itu bukan cuma urusan kamu lagi."
Suasana di sekitar mereka perlahan berubah.
Orang-orang mulai melirik. Bukan karena mereka penasaran dengan drama orang asing, di kota kecil, semua orang adalah tetangga, semua orang adalah saudara, semua orang punya hak untuk tahu apa yang terjadi di lingkungan mereka.
Penjual buah berhenti menyusun jeruk. Tangannya yang tadi lincah memilah, milah jeruk berdasarkan ukuran, kini berhenti di udara, seperti patung yang tiba, tiba membeku. Matanya tertuju pada ketiga orang yang berdiri di depan warungnya, dengan ekspresi yang sulit dibaca, antara khawatir, penasaran, dan sedikit geli.
Pedagang sate melambatkan kipasnya. Tangannya yang tadi dengan ritme teratur mengipasi bara api agar tetap menyala, kini bergerak lebih lambat, seperti jarum jam yang kehabisan baterai. Matanya mengintip dari balik gerobak, dengan ekspresi seperti sedang menonton sinetron favoritnya.
Bahkan seorang ibu penjual gorengan ikut menatap dengan rasa penasaran khas kota kecil. Tangannya yang tadi sibuk membalik, balik gorengan di wajan, kini berhenti, memegang sendok besi yang setengah terangkat di udara. Matanya bergerak dari Iskandar ke Aldebar ke Nayla, lalu kembali lagi, seperti sedang mencoba menghubungkan titik, titik yang belum jelas.
Karena di kota seperti Kuala Kapuas, keributan kecil bisa terasa seperti siaran langsung nasional. Berita menyebar lebih cepat dari api di hutan kemarau. Dalam hitungan menit, semua orang akan tahu bahwa ada drama di Pasar Melati. Dalam hitungan jam, semua orang akan punya versi cerita mereka sendiri. Dalam hitungan hari, cerita itu akan berubah menjadi legenda urban yang tidak jelas mana yang benar dan mana yang tidak.
Aldebar menatap Nayla.
Matanya yang tadi dingin, yang tadi tajam, yang tadi seperti pisau, kini berubah. Berubah menjadi lembut. Lembut seperti dulu. Lembut seperti ketika mereka masih bersama. Lembut seperti ketika ia masih bisa membuat Nayla tersenyum hanya dengan menyebut namanya.
"Kamu sekarang sembunyi di belakang orang lain?"
Nayla menggenggam gelas es tehnya lebih erat.
Jari, jarinya yang ramping itu memutih karena tekanan. Plastik gelas berkerut, es batu di dalamnya bergesekan, menghasilkan suara krek, krek, krek yang pelan.
Ia bisa merasakan tatapan Aldebar menusuknya, bahkan dari balik tubuh Iskandar. Ia bisa merasakan beban dari kata, kata itu, kata, kata yang sengaja dipilih untuk menyakitkan, untuk membuatnya merasa bersalah, untuk membuatnya merasa bahwa ia melakukan sesuatu yang salah.
Tapi kali ini, Nayla tidak mundur.
Tidak seperti dulu.
Dulu, ketika Aldebar mengucapkan kata, kata seperti itu, kata, kata yang membuatnya merasa kecil, merasa bersalah, merasa bahwa semua yang salah adalah karena dirinya, ia akan menunduk. Ia akan diam. Ia akan membiarkan Aldebar berbicara dan berbicara sampai ia lelah, karena ia takut jika ia membantah, pertengkaran akan menjadi lebih besar, dan pada akhirnya ia yang akan disalahkan.
Tapi sekarang berbeda.
Mungkin karena Iskandar berdiri di depannya. Mungkin karena untuk pertama kalinya, ia merasa tidak sendirian. Mungkin karena ia sudah terlalu lama diam, dan diam tidak pernah membawa perubahan apa pun.
Nayla menatap Aldebar lurus.
Matanya yang basah, yang merah, yang masih menyimpan sisa, sisa air mata dari tadi, kini berubah. Berubah menjadi tegas. Tegas seperti tembok beton. Tegas seperti keputusan yang tidak bisa diganggu gugat. Tegas seperti seseorang yang sudah lelah berlari dan memutuskan untuk berbalik dan menghadapi pengejarnya.
"Bukan."
Suaranya tidak keras. Tidak berteriak. Tidak seperti orang yang sedang marah.
Tapi tegas.
Tegas seperti pisau yang dipotongkan ke tali.
"Saya hanya tidak mau bicara dengan orang yang tidak pernah mau mendengar."
Kalimat itu membuat Aldebar terdiam sesaat.
Untuk pertama kalinya, pria itu terlihat kehilangan kata.
Mulutnya terbuka setengah, seperti hendak mengatakan sesuatu, tetapi tidak ada suara yang keluar. Matanya yang tadi tajam, kini sedikit mengerjap, bukan karena terkejut, tetapi karena ia sedang mencerna kata, kata Nayla, mencoba mencari celah untuk membantah, mencoba mencari cara untuk memutar balik fakta.
Tapi ia tidak menemukannya.
Karena Nayla benar.
Aldebar tidak pernah benar, benar mendengar. Ia mendengar suara Nayla, tetapi ia tidak mendengar isi hatinya. Ia mendengar kata, kata Nayla, tetapi ia tidak mendengar makna di baliknya. Ia mendengar keluhan Nayla, tetapi ia selalu menganggapnya sebagai sesuatu yang berlebihan, sebagai drama yang tidak perlu, sebagai alasan untuk bertengkar.
Dan sekarang, untuk pertama kalinya, ia dihadapkan pada kebenaran itu.
Iskandar menoleh kecil pada Nayla.
Matanya yang tadi tajam menatap Aldebar, kini berubah lembut saat menatap Nayla. Ada sesuatu dalam dirinya yang terasa hangat, bukan hangat karena suhu, tetapi hangat karena kebanggaan. Karena malam itu, Nayla tidak lagi hanya terlihat rapuh. Ia juga mulai terlihat berani.
Bukan keberanian yang berisik. Bukan keberanian yang menggebu, gebu. Tapi keberanian yang tenang. Keberanian yang muncul dari kesadaran bahwa ia tidak bisa terus hidup dalam ketakutan. Keberanian yang muncul dari kelelahan, kelelahan karena terlalu lama menjadi korban.
Aldebar menghela napas.
Helaan napas yang panjang, yang berat, yang keluar dari dadanya seperti angin dari gua yang dalam. Dadanya naik turun dengan cepat, seperti orang yang baru saja selesai berlari. Tangannya yang tadi di saku celana, kini keluar, menggenggam udara kosong di samping tubuhnya.
"Kamu pikir saya datang untuk menyakiti kamu?"
Nayla tertawa kecil.
Tapi tawanya pahit.
Pahit seperti kopi tanpa gula yang diminum dalam keadaan dingin. Pahit seperti obat yang harus ditelan meskipun rasanya tidak enak. Pahit seperti kebenaran yang tidak ingin didengar oleh siapa pun.
"Bukannya itu yang selalu kamu lakukan?"
Kalimat itu seperti memukul udara di antara mereka.
Bukan seperti pukulan tinju yang keras dan berisik. Tapi seperti tusukan jarum yang kecil dan hampir tidak terasa, tetapi cukup untuk membuat seseorang tersentak, cukup untuk membuat luka yang kecil namun dalam, cukup untuk membuat darah mengalir meskipun tidak terlihat.
Iskandar tidak tahu cerita lengkapnya. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi antara Nayla dan Aldebar. Ia tidak tahu apakah Aldebar benar, benar menyakiti Nayla secara fisik, atau hanya secara emosional, atau mungkin keduanya. Ia tidak tahu apakah luka Nayla adalah luka yang terlihat atau luka yang tidak terlihat.
Namun satu hal kini jelas: yang Nayla rasakan bukan sekadar luka lama. Itu luka yang masih hidup. Luka yang masih berdarah setiap kali namanya disebut. Luka yang masih terasa sakit meskipun sudah berusaha dilupakan. Luka yang tidak akan sembuh hanya dengan waktu, karena waktu tidak selalu menyembuhkan, kadang waktu hanya membuat kita terbiasa dengan rasa sakit, bukan menghilangkannya.
Hujan mulai turun lebih deras.
Gerimis tipis yang sejak tadi setia menemani malam mereka, kini berubah menjadi hujan yang lebih serius. Bukan hujan deras seperti sore tadi di Dermaga Danau Mare, bukan hujan yang jatuh dengan deras seperti air terjun, yang memaksa orang untuk berlarian mencari tempat berteduh.
Tapi hujan yang cukup deras untuk membuat orang yang tidak berlindung menjadi basah.
Titik, titik air jatuh dari langit dengan kecepatan yang semakin meningkat, mengenai atap, atap seng dengan suara krek, krek, krek yang keras, mengenai daun, daun pohon dengan suara ples, ples, ples yang lembut, mengenai aspal jalan dengan suara ciprat, ciprat, ciprat yang basah.
Orang, orang mulai berteduh di bawah kanopi toko, kanopi, kanopi terpal yang dipasang di depan setiap toko untuk melindungi dari panas matahari di siang hari dan dari hujan di malam hari. Di bawah kanopi itu, mereka berkumpul, berdiri berdesakan, saling berbagi cerita tentang hujan yang tidak terduga, tentang cuaca yang tidak menentu, tentang kehidupan yang tidak pernah sesuai rencana.
Sebagian pedagang menutup barang dagangan mereka dengan terpal plastic, terpal biru yang sudah mulai robek di beberapa bagian, yang diikat dengan tali rapia yang tidak terlalu kuat. Mereka bergerak cepat, dengan gerakan yang sudah terlatih karena sudah ribuan kali melakukan hal yang sama. Tangan, tangan kasar mereka dengan sigap menutupi buah, buahan, sayur, sayuran, dan barang, barang lain yang tidak boleh terkena air.
Aroma tanah basah mulai tercium, aroma khas yang muncul ketika hujan jatuh di tanah yang sudah lama kering, aroma yang segar dan sedikit manis, aroma yang membuat orang ingin menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Aroma itu bercampur dengan wangi makanan dari warung, warung yang masih buka, menciptakan sensasi yang unik, yang tidak bisa ditemukan di tempat lain.
Tapi tak satu pun dari mereka bertiga bergerak.
Iskandar tetap berdiri di tempatnya, dengan tubuh sedikit di depan Nayla, dengan tangan yang masih terkepal di samping tubuh, dengan mata yang masih tajam menatap Aldebar. Air hujan mulai membasahi rambutnya, membuatnya lepek dan menempel di dahi. Beberapa tetes mengalir di pipinya, seperti air mata yang tidak ia tangisi.
Nayla tetap berdiri di belakang Iskandar, dengan gelas es teh yang sudah hampir habis di tangannya, dengan mawar kecil yang masih terselip di saku jaket Iskandar, dengan mata yang basah bukan karena hujan. Cardigan krem tipisnya mulai basah di bagian bahu, berubah warna menjadi lebih gelap, menempel di kulitnya yang dingin.
Aldebar tetap berdiri di hadapan mereka, dengan kemeja hitam yang mulai basah oleh hujan, dengan rambut yang disisir rapi ke belakang kini mulai terurai, dengan wajah yang tidak lagi setenang tadi. Air hujan mengalir di wajahnya, membasahi pipinya, membasahi bibirnya, membasahi matanya yang tidak berkedip.
Karena kadang, hujan bukan hal yang membuat seseorang menggigil.
Kadang masa lalu jauh lebih dingin.
"Dengar saya sekali saja, Nayla."
Aldebar melangkah satu langkah.
Hanya satu.
Tapi langkah itu membuat jarak di antara mereka menjadi lebih dekat. Lebih dekat dari yang seharusnya. Lebih dekat dari yang nyaman. Lebih dekat dari yang Nayla inginkan.
Iskandar langsung bergerak sedikit maju.
Bukan banyak. Hanya setengah langkah. Hanya sedikit. Tapi cukup untuk menutup celah yang tersisa di antara dirinya dan Aldebar.
Tubuhnya sekarang hanya berjarak satu lengan dari Aldebar. Cukup dekat untuk melihat setiap tetes air hujan yang jatuh di wajah Aldebar. Cukup dekat untuk mendengar napas Aldebar yang keluar masuk dengan kasar. Cukup dekat untuk merasakan panas amarah yang terpancar dari tubuhnya.
Nayla memegang lengan Iskandar pelan.
Sentuhan itu singkat.
Hampir tidak terasa.
Seperti kupu, kupu yang hinggap di kulit lalu terbang lagi.
Tapi cukup membuat Iskandar berhenti.
Ia menoleh sedikit, cukup untuk melihat wajah Nayla dari samping. Wajah Nayla basah oleh hujan dan air mata. Matanya merah, hidungnya memerah, bibirnya gemetar. Tapi di matanya, ada sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan, campuran antara ketakutan dan kepercayaan, antara keinginan untuk dilindungi dan keinginan untuk berdiri sendiri.
Nayla menggeleng kecil.
Gerakan yang hampir tidak terlihat.
Seolah berkata: biar saya sendiri.
Iskandar mengerti.
Ia tidak menarik tangannya. Ia tidak mundur. Ia hanya tidak bergerak maju lagi. Ia memberi ruang. Ruang untuk Nayla berbicara. Ruang untuk Nayla melawan ketakutannya sendiri. Ruang untuk Nayla menjadi dirinya sendiri.
Lalu Nayla menatap Aldebar.
Matanya yang tadi basah, yang tadi merah, yang tadi masih menyimpan sisa, sisa air mata, kini berubah. Berubah menjadi lebih tenang. Lebih mantap. Lebih siap.
"Saya sudah terlalu lama mendengar."
Suaranya tidak keras. Tidak berteriak. Tidak seperti orang yang sedang marah.
Tapi tegas.
Tegas seperti keputusan yang sudah lama dipikirkan.
"Sekarang giliran saya berhenti."
Aldebar menatapnya lama.
Wajahnya berubah.
Bukan marah.
Bukan sedih.
Bukan kecewa.
Tapi seperti seseorang yang baru sadar bahwa ia benar, benar sedang kehilangan sesuatu. Sesuatu yang selama ini ia anggap akan selalu ada. Sesuatu yang selama ini ia anggap miliknya. Sesuatu yang selama ini ia anggap tidak akan pernah pergi.
Dan sekarang, sesuatu itu pergi.
Di depan matanya.
Perlahan.
Pasti.
Tanpa bisa dihentikan.
"Karena dia?"
Aldebar menatap Iskandar.
Matanya tidak lagi lembut. Tidak lagi penuh dengan permohonan. Tapi dingin. Dingin seperti es. Dingin seperti pisau. Dingin seperti sesuatu yang sudah mati.
Nayla diam.
Dan diam itu justru terasa seperti jawaban.
Diam yang mengatakan: bukan karena dia. Bukan karena siapa pun. Tapi karena aku. Karena aku lelah. Karena aku tidak bisa lagi.
Tapi Aldebar tidak mendengar itu.
Yang ia dengar hanyalah diam.
Dan diam itu, baginya, adalah pengakuan bahwa Nayla memilih Iskandar.
Jantung Iskandar berdetak lebih keras.
Bukan karena bangga. Bukan karena menang. Justru karena ia tahu, hatinya kini benar, benar masuk terlalu jauh. Tidak ada jalan untuk kembali. Tidak ada pintu untuk mundur. Tidak ada tempat untuk bersembunyi.
Ia sudah terlanjur mencintai Nayla.
Dan cinta itu, seperti yang ia rasakan sekarang, tidak bisa ditarik kembali.
Aldebar tersenyum miris.
Senyum yang pahit.
Senyum yang sakit.
Senyum yang mengatakan aku kalah, tetapi aku tidak akan pergi dengan mudah.
"Kamu bahkan belum tahu siapa dia sebenarnya."
Kalimat itu bukan ditujukan pada Nayla.
Tapi pada Iskandar.
Mata Nayla langsung membesar. Wajahnya yang tadinya mulai tenang, kini kembali pucat. Lebih pucat dari sebelumnya. Pucat seperti kertas. Pucat seperti mayat. Pucat seperti seseorang yang baru sadar bahwa rahasia terbesarnya akan terbuka.
"Jangan."
Hanya satu kata.
Tapi satu kata itu penuh dengan ketakutan.
Ketakutan yang mendalam.
Ketakutan yang tidak bisa disembunyikan.
Ketakutan yang membuat Nayla terlihat seperti anak kecil yang kehilangan orang tuanya di tengah keramaian.
Namun Aldebar tetap menatap Iskandar.
Matanya tidak bergerak.
Suaranya tidak bergetar.
"Kamu pikir kamu sedang menolong dia?"
Ia berhenti sejenak.
Menarik napas.
Menghelanya perlahan.
"Kamu bahkan tidak tahu kenapa dia pergi."
"Nayla."
Iskandar menoleh pelan.
Matanya mencari mata Nayla.
Mencari jawaban.
Mencari penjelasan.
Mencari sesuatu yang bisa membuatnya mengerti.
"Apa maksud dia?"
Nayla terlihat pucat.
Lebih pucat dari sebelumnya.
Pucat seperti kapur tulis di papan hitam.
Pucat seperti susu yang sudah basi.
Pucat seperti sesuatu yang telah mati tetapi tidak mau dikubur.
Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, Nayla terlihat benar, benar takut.
Bukan takut pada Aldebar. Bukan takut pada mobil hitam. Bukan takut pada masa lalu.
Tapi takut pada kemungkinan bahwa Iskandar akan mengetahui sesuatu tentang dirinya.
Sesuatu yang selama ini ia sembunyikan.
Sesuatu yang membuatnya tidak layak untuk dicintai.
Sesuatu yang akan membuat Iskandar pergi.
Dan itu jauh lebih menyakitkan untuk dilihat daripada semua air mata yang pernah ia tumpahkan.
Hujan turun makin deras.
Lampu pertokoan Pasar Melati berpendar di jalan basah, kuning, merah, hijau, biru, semua bercampur menjadi satu, menciptakan pantulan, pantulan berwarna yang bergerak, gerak seperti aurora di kutub utara.
Orang, orang masih mengintip dari balik kios, beberapa dengan ekspresi khawatir, beberapa dengan ekspresi penasaran, beberapa dengan ekspresi geli karena mengingat drama masa muda mereka sendiri.
Kota kecil itu tetap menjadi saksi diam bagi segala sesuatu yang terjadi di dalamnya. Dinding, dinding toko yang sudah berusia puluhan tahun, lantai, lantai yang sudah dilalui ribuan kaki, udara yang sudah dihirup jutaan paru, paru—semuanya telah melihat terlalu banyak untuk terkejut lagi.
Dan di tengah hujan, di simpang kecil pasar, masa lalu Nayla akhirnya mulai mengetuk pintu yang selama ini ia kunci rapat.
Pintu yang tidak ingin ia buka.
Pintu yang di baliknya ada luka.
Pintu yang jika terbuka, tidak akan bisa ditutup kembali.
Iskandar menatap Nayla.
Bukan dengan marah.
Marah tidak akan menyelesaikan apa pun.
Bukan dengan curiga.
Curiga hanya akan membuat segalanya lebih buruk.
Bukan dengan kecewa.
Ia tidak punya hak untuk kecewa karena Nayla tidak pernah berjanji untuk menjadi sempurna.
Hanya dengan satu pertanyaan sederhana.
Satu pertanyaan yang tidak menuduh, tidak menghakimi, tidak memojokkan.
"Kamu mau saya tetap di sini?"
Nayla menatap matanya.
Matanya basah.
Matanya merah.
Matanya penuh dengan air mata yang tidak bisa lagi ditahan.
Dan untuk pertama kalinya, air matanya jatuh bukan karena takut pada Aldebar. Bukan karena takut pada mobil hitam. Bukan karena takut pada masa lalu.
Tapi karena seseorang memberinya pilihan.
Bukan memaksanya untuk memilih.
Bukan menuntutnya untuk menjawab.
Tapi memberinya pilihan.
Kamu mau saya tetap di sini?
Pilihan untuk tidak sendirian.
Pilihan untuk percaya bahwa ada orang yang tidak akan pergi.
Pilihan untuk membuka hati meskipun ia takut.
Pelan, Nayla menggenggam tangan Iskandar.
Erat.
Sangat erat.
Seperti sedang berpegangan pada satu, satunya hal yang nyata di tengah badai.
Jari, jarinya yang dingin itu meremas jari, jari Iskandar yang hangat, mencari kehangatan, mencari kepastian, mencari sesuatu yang bisa ia pegang.
Lalu berbisik lirih, dengan suara yang nyaris tenggelam oleh suara hujan, dengan suara yang hanya cukup untuk didengar oleh Iskandar.
"Jangan pergi."
Dan di tengah hujan Pasar Melati, di antara lampu, lampu yang berpendar, di antara orang, orang yang mengintip, di antara masa lalu yang mengetuk pintu, untuk pertama kalinya, Iskandar sadar bahwa yang ia rasakan pada Nayla bukan lagi sekadar rasa ingin melindungi.
Bukan lagi sekadar rasa ingin tahu.
Bukan lagi sekadar ketertarikan.
Tapi cinta.
Cinta yang tulus.
Cinta yang tidak peduli dengan masa lalu.
Cinta yang tidak peduli dengan luka.
Cinta yang tidak peduli dengan risiko.
Karena malam itu, tanpa sempat ia cegah, tanpa sempat ia tolak, tanpa sempat ia pertimbangkan, hatinya sudah memilih.
Memilih Nayla.
Memilih untuk tetap tinggal.
Memilih untuk tidak pergi meskipun mungkin itu akan menyakitkannya nanti.
Di kejauhan, di balik jendela toko yang mulai ditutup, seorang ibu penjual buah menghela napas.
"Kasihan anak muda," bisiknya pada dirinya sendiri.
"Kenapa cinta selalu serumit ini?"
Di sebelahnya, seorang bapak penjual sate mengangguk.
"Karena cinta tidak pernah sederhana, Bu. Cinta selalu datang dengan harga yang harus dibayar."
Ibu itu menatap hujan yang masih turun.
"Dan harganya?"
Bapak itu tersenyum tipis.
"Hati."
BAB 15
Rahasia yang Tertahan
Hujan di atas Pasar Melati semakin deras.
Air jatuh dari langit seperti air terjun yang tidak pernah berhenti, membasahi atap, atap seng dengan suara krek, krek, krek yang keras dan tidak beraturan, seperti orkestra yang dimainkan oleh seribu pemain yang belum pernah latihan bersama. Air mengalir di permukaan jalan yang tidak rata, membentuk aliran, aliran kecil yang mencari jalan menuju tempat yang lebih rendah, membawa serta dedaunan kering dan sampah, sampah kecil yang terbawa arus.
Lampu, lampu toko yang tadi masih menyala terang, kini mulai redup satu per satu, bukan karena listrik padam, tetapi karena para pemilik toko mulai menutup usaha mereka untuk malam ini. Pintu besi diturunkan dengan suara berisik yang menggema di sepanjang jalan, bergantian seperti suara tembakan yang tidak bersamaan. Papan, papan nama yang tadi terang benderang dengan lampu neon, kini padam, meninggalkan tulisan, tulisan yang hanya samar, samar terlihat dalam gelap.
Air menetes dari kanopi, kanopi toko yang terbuat dari terpal atau seng, membentuk tirai, tirai air yang memisahkan dunia di dalam kanopi yang kering dengan dunia di luar yang basah. Di balik tirai air itu, orang, orang masih mengintip, wajah, wajah penasaran yang muncul sesekali, lalu menghilang, lalu muncul lagi, seperti ikan, ikan di akuarium yang tidak bisa diam di tempat.
Suara kendaraan yang lewat terdengar samar bercampur dengan bunyi rintik hujan, suara klakson yang kadang panjang kadang pendek, suara mesin yang kadang keras kadang lembut, suara ban yang melewati genangan air dengan ciprat yang basah. Semua suara itu bercampur menjadi satu, menciptakan simfoni malam yang tidak pernah sama setiap harinya.
Dan di tengah semua itu, di antara hiruk, pikuk yang tidak pernah benar, benar sunyi, di antara suara, suara yang saling bertabrakan, di antara cahaya, cahaya yang saling memantul, hanya satu hal yang terasa nyata bagi Iskandar.
Tangan Nayla yang menggenggam tangannya.
Erat.
Bukan genggaman biasa. Bukan genggaman yang santai, yang bisa dilepaskan kapan saja. Tapi genggaman yang erat. Genggaman yang penuh dengan ketakutan. Genggaman yang mengatakan aku takut kau pergi, aku takut kau melepaskanku, aku takut kau akan seperti orang, orang lain yang datang dan pergi begitu saja.
Jari, jari Nayla yang dingin itu meremas jari, jari Iskandar dengan kekuatan yang tidak ia sangka, kekuatan yang lahir dari keputusasaan, dari ketakutan, dari keinginan untuk tidak sendirian. Jari, jarinya yang ramping dan dingin itu terasa seperti besi yang membeku, keras dan tidak mau melepaskan.
Dan kalimat lirih yang baru saja keluar dari bibir perempuan itu, jangan pergi, masih bergema di telinga Iskandar, masih terasa hangat meskipun suara itu keluar dari bibir yang menggigil kedinginan.
Dua kata sederhana.
Tidak ada kata "aku mencintaimu" yang klise. Tidak ada kata "aku butuh kamu" yang dramatis. Tidak ada kata "aku tidak bisa hidup tanpamu" yang berlebihan.
Hanya "jangan pergi".
Dua kata yang justru lebih berat daripada seribu janji manis.
Karena "jangan pergi" adalah pengakuan bahwa seseorang telah menjadi penting. Bahwa tanpa orang itu, ada kekosongan yang tidak bisa diisi. Bahwa kepergiannya akan meninggalkan luka yang tidak bisa disembuhkan.
Dan Iskandar, yang mendengar kalimat itu dari bibir Nayla yang gemetar, dari mata Nayla yang basah, dari hati Nayla yang hancur, merasakan sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.
Bukan kebahagiaan. Bukan kebanggaan. Bukan rasa puas karena dibutuhkan.
Tapi beban.
Beban yang berat.
Beban yang mengatakan jika aku pergi, aku akan menghancurkannya. Jika aku meninggalkannya, aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri. Jika aku tidak bisa bertahan, maka semua air mata ini akan sia, sia.
Aldebar melihat tangan mereka.
Tatapannya yang tadi dingin, yang tadi tajam, yang tadi seperti pisau yang siap menikam, kini berubah.
Bukan menjadi lebih hangat. Tidak. Aldebar tidak akan pernah lagi hangat pada Nayla. Bukan setelah semua yang terjadi. Bukan setelah ia tahu bahwa Nayla lebih memilih laki, laki lain daripada dirinya. Bukan setelah ia sadar bahwa ia telah kehilangan.
Tapi berubah menjadi sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang lebih rumit. Sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan.
Mungkin itu adalah kesedihan. Kesedihan karena melihat orang yang dicintainya memegang tangan orang lain. Kesedihan karena melihat bahwa kebahagiaan Nayla tidak lagi bersamanya. Kesedihan karena ia tidak bisa menjadi alasan mengapa Nayla tersenyum.
Mungkin itu adalah kemarahan. Kemarahan karena merasa dikhianati. Kemarahan karena merasa bahwa ia berhak atas Nayla. Kemarahan karena ia tidak bisa menerima kenyataan bahwa ia telah kalah.
Mungkin itu adalah kecemburuan. Kecemburuan yang buta. Kecemburuan yang tidak rasional. Kecemburuan yang membuat seseorang melakukan hal, hal bodoh.
Atau mungkin itu adalah kesombongan yang terluka. Kesombongan seorang laki, laki yang tidak pernah terbiasa kalah. Kesombongan seorang laki, laki yang selalu mendapatkan apa yang ia inginkan. Kesombongan yang sekarang hancur berkeping, keping di depan matanya.
Untuk pertama kalinya sejak ia muncul, sejak mobil hitam itu berhenti di seberang jalan, sejak pintu mobil itu terbuka, sejak ia turun dengan langkah yang penuh percaya diri, ketenangan Aldebar retak.
Bukan retak seperti cermin yang jatuh dan pecah berkeping, keping. Tapi retak seperti tanah di musim kemarau, retak yang halus, yang hampir tidak terlihat, tetapi cukup dalam untuk menunjukkan bahwa ada sesuatu yang salah di bawah permukaan.
Ia menatap Nayla.
Matanya yang tadi tajam, kini sayu.
Ia tersenyum kecil.
Senyum yang pahit.
Senyum yang sakit.
Senyum yang membuat Nayla hampir merasa bersalah, hampir, tetapi tidak cukup.
"Jadi sekarang kamu memilih dia?"
Suaranya tidak lagi dingin. Tidak lagi tajam. Tidak lagi seperti pisau.
Suaranya lemah.
Lemas.
Seperti orang yang baru sadar bahwa ia telah kalah dalam pertempuran yang tidak pernah ia sadari sedang berlangsung.
Nayla menggeleng pelan.
Bukan karena ia ragu. Bukan karena ia belum memutuskan. Bukan karena ia masih mempertimbangkan untuk kembali pada Aldebar.
Tapi karena Aldebar salah.
Ia tidak sedang memilih Iskandar.
Ia sedang memilih dirinya sendiri.
"Saya sedang memilih diri saya sendiri."
Kalimat itu membuat Iskandar menoleh.
Matanya yang tadi tertuju pada Aldebar, yang tadi waspada terhadap setiap gerakan pria itu, kini beralih pada Nayla. Dan di matanya, ada sesuatu yang baru. Sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Kekaguman.
Bukan kekaguman pada kecantikan Nayla, ia sudah lama kagum pada kecantikan Nayla, pada matanya yang teduh, pada senyumnya yang lembut, pada suaranya yang menenangkan. Bukan kekaguman pada keberanian Nayla, ia sudah melihat keberanian Nayla ketika ia menatap Aldebar lurus, lurus dan mengatakan "saya hanya lelah".
Tapi kekaguman pada sesuatu yang lebih dalam. Pada kesadaran bahwa Nayla tidak lagi menjadi korban. Pada keputusan Nayla untuk tidak lagi membiarkan masa lalu menentukan masa depannya. Pada keberanian Nayla untuk mengatakan bahwa ia berhak bahagia, meskipun bahagia itu tidak bersama Aldebar.
Dan entah kenapa, mendengar Nayla berkata seperti itu, dengan suara yang tidak keras, tidak berteriak, tidak dramatis, membuat Iskandar semakin ingin memahami perempuan itu lebih dalam.
Karena di balik wajah lembutnya, di balik matanya yang teduh, di balik suaranya yang lembut, ternyata Nayla menyimpan keberanian yang bahkan ia sendiri baru mulai temukan.
Keberanian untuk melawan.
Keberanian untuk berkata tidak.
Keberanian untuk memilih dirinya sendiri.
Aldebar tertawa kecil.
Tawa pahit.
Tawa yang tidak mengandung kegembiraan, tidak mengandung kelucuan, tidak mengandung apa pun selain kepahitan.
Tawa seseorang yang baru saja ditampar oleh kenyataan.
Tawa seseorang yang baru sadar bahwa selama ini ia hidup dalam ilusi.
Tawa seseorang yang tidak tahu harus tertawa atau menangis, jadi ia memilih melakukan keduanya sekaligus.
"Setelah semuanya?"
Nayla menatap lurus.
Matanya tidak berkedip.
Suaranya tidak bergetar.
"Justru karena semuanya."
Hening.
Hanya hujan.
Hanya suara air yang jatuh dari langit, yang jatuh dari atap, atap seng, yang jatuh dari daun, daun pohon, yang jatuh dari mana, mana, yang jatuh tanpa henti.
Hanya suara napas mereka bertiga, Aldebar yang terengah, engah karena emosi yang tidak bisa ia kendalikan, Iskandar yang berusaha tetap tenang meskipun jantungnya berdebar kencang, Nayla yang berusaha menarik napas dalam, dalam agar tidak pingsan.
Hanya suara detak jantung yang tidak sinkron, jantung Aldebar yang berdetak kencang karena amarah, jantung Iskandar yang berdetak kencang karena kekhawatiran, jantung Nayla yang berdetak kencang karena ketakutan.
Dan suasana yang semakin berat.
Berat seperti beban yang tidak bisa diangkat.
Berat seperti udara sebelum badai.
Berat seperti sesuatu yang akan segera meledak.
"Baik."
Aldebar mengangguk pelan.
Anggukan yang tidak meyakinkan. Anggukan yang seperti sedang menerima, tetapi sebenarnya tidak. Anggukan yang seperti sedang menyerah, tetapi sebenarnya sedang merencanakan sesuatu.
Seolah ia menerima.
Seolah ia mengakui kekalahannya.
Seolah ia sudah siap untuk pergi.
Tapi Iskandar tidak percaya.
Matanya yang tajam itu tidak melihat kepasrahan di wajah Aldebar. Ia melihat sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih berbahaya.
Ketenangan yang terlalu tenang.
Ketenangan yang seringkali menjadi pendahulu dari badai.
Aldebar menatap Iskandar sekali lagi sebelum berbalik.
Matanya yang tadi sayu, yang tadi lemah, yang tadi seperti orang yang baru sadar kalah—kini berubah lagi. Berubah menjadi tajam. Tajam seperti pisau. Tajam seperti silet. Tajam seperti sesuatu yang siap melukai.
"Kamu kelihatan seperti orang baik."
Iskandar tidak menjawab.
Ia tidak tahu harus menjawab apa. Apakah ia harus mengatakan terima kasih? Apakah ia harus mengatakan bahwa ia memang orang baik? Apakah ia harus membela diri?
Ia memilih diam.
Karena kadang, diam lebih bijak daripada seribu kata.
Aldebar melanjutkan, dengan suara yang pelan tetapi jelas, dengan suara yang sengaja dibuat agar Iskandar mendengar setiap kata dengan jelas.
"Masalahnya… orang baik biasanya paling hancur kalau tahu kenyataan."
"Nayla."
Suara Iskandar pelan. Tidak marah. Tidak menuduh. Tidak defensif.
Tapi tegas.
Tegas seperti batu karang yang tidak bisa digoyahkan ombak.
"Kalau memang ada yang harus saya tahu… biar saya dengar dari dia."
Aldebar menatap Iskandar beberapa detik.
Matanya bergerak, mencari celah, mencari kelemahan, mencari sesuatu yang bisa ia gunakan untuk menghancurkan laki, laki di depannya.
Tapi ia tidak menemukannya.
Yang ia temukan justru sebaliknya.
Keteguhan.
Keteguhan yang tidak bisa digoyahkan oleh kata, kata.
Keteguhan yang lahir dari keyakinan bahwa ia melakukan hal yang benar.
Keteguhan yang membuat Aldebar sadar bahwa ia tidak akan bisa memisahkan Iskandar dari Nayla dengan mudah.
Lalu ia tersenyum tipis.
Kali ini, senyumnya berbeda.
Bukan senyum dingin seperti sebelumnya. Bukan senyum pahit seperti tadi.
Tapi senyum yang lebih seperti... kekalahan.
Kekalahan yang diterima dengan terpaksa.
Kekalahan yang tidak bisa dihindari.
Kekalahan yang menyakitkan tetapi harus dihadapi.
Ia menoleh pada Nayla.
Matanya yang tadi tajam, kini lembut lagi. Lembut seperti dulu. Lembut seperti ketika mereka masih bersama. Lembut seperti ketika ia masih bisa membuat Nayla tersenyum hanya dengan menyebut namanya.
Tapi kelembutan itu tidak lagi membuat Nayla tersentuh.
Kelembutan itu sudah kehilangan maknanya.
Kelembutan itu terasa seperti pisau yang dibungkus sutra, tetap bisa melukai, meskipun tidak terlihat.
"Kalau suatu hari dia pergi setelah tahu semuanya… jangan salahkan siapa, siapa."
Setelah itu, Aldebar berbalik.
Perlahan.
Tidak tergesa, gesa.
Seperti seseorang yang sedang berjalan menuju eksekusi.
Langkahnya berat, tetapi tidak ragu.
Ia berjalan menembus hujan.
Air hujan jatuh di kepalanya, di bahunya, di punggungnya, membasahi kemeja hitamnya yang tadinya rapi. Tapi ia tidak peduli. Ia terus berjalan, dengan punggung yang sedikit membungkuk, dengan bahu yang sedikit merosot, dengan langkah yang tidak lagi penuh percaya diri seperti saat ia turun dari mobil tadi.
Ia membuka pintu mobil hitamnya, pintu yang sama yang membawanya ke sini, pintu yang sama yang akan membawanya pergi, dan masuk ke dalam.
Lampu mobil menyala sebentar, menerangi jalan di depannya yang basah oleh hujan. Lalu mesin bergemuruh, ban berputar, dan mobil itu perlahan bergerak maju.
Menjauh.
Meninggalkan Pasar Melati.
Meninggalkan hujan.
Meninggalkan Nayla.
Meninggalkan Iskandar.
Meninggalkan genangan air.
Dan meninggalkan sisa masa lalu yang belum sepenuhnya selesai.
Namun meski Aldebar sudah pergi, meski mobil hitam itu sudah tidak terlihat, sudah tidak terdengar, sudah tidak ada, Nayla tidak langsung melepaskan tangan Iskandar.
Ia justru menggenggamnya lebih erat.
Seperti anak kecil yang takut ditinggalkan ibunya di pasar.
Seperti orang yang tenggelam yang sedang berpegangan pada satu, satunya benda yang bisa membuatnya tetap terapung.
Seperti seseorang yang baru sadar bahwa ia hampir kehilangan sesuatu yang sangat berharga.
Tubuhnya gemetar kecil.
Bukan karena dingin. Hujan sudah mulai reda, angin sudah tidak sekencang tadi, udara sudah tidak sedingin sebelumnya.
Tapi karena setelah sekian lama, setelah berbulan, bulan, mungkin bertahun, tahun, memendam semuanya sendiri, berpura, pura kuat di depan semua orang, tersenyum meskipun hatinya hancur—ia akhirnya benar, benar menutup satu pintu dari hidupnya.
Pintu yang bernama Aldebar.
Pintu yang selama ini ia biarkan terbuka sedikit, karena ia takut jika ditutup rapat, ia akan kehilangan sesuatu.
Pintu yang selama ini ia biarkan retak, karena ia masih berharap bahwa mungkin, mungkin, Aldebar akan berubah.
Tapi sekarang, pintu itu tertutup.
Bukan karena Iskandar.
Bukan karena orang lain.
Tapi karena ia sendiri yang memutuskan untuk menutupnya.
Dan menutup pintu lama, ternyata tetap menyakitkan.
Meski yang ada di baliknya hanya luka.
Meski tidak ada lagi yang bisa ia harapkan.
Meski ia tahu bahwa ini adalah keputusan yang benar.
Karena menutup pintu berarti mengakui bahwa tidak ada lagi yang tersisa. Bahwa masa lalu adalah masa lalu. Bahwa tidak ada gunanya terus menatap ke belakang ketika depan masih penuh dengan kemungkinan.
"Nayla."
Iskandar menatapnya lembut.
Matanya yang tadi tajam menatap Aldebar, yang tadi waspada terhadap setiap gerakan pria itu, kini berubah. Berubah menjadi lembut. Lembut seperti kapas. Lembut seperti bulu. Lembut seperti sesuatu yang tidak akan melukai meskipun disentuh.
"Kita pergi dari sini dulu."
Bukan pertanyaan. Bukan perintah. Tapi sesuatu di antaranya.
Permintaan yang tidak bisa ditolak.
Tawaran yang tidak bisa diabaikan.
Ajakan yang tidak bisa tidak diikuti.
Nayla mengangguk.
Anggukan yang pelan, yang lemas, yang seperti orang yang kehabisan energi. Matanya masih merah, pipinya masih basah oleh air mata dan air hujan, bibirnya masih gemetar. Tapi ada sesuatu yang berubah di wajahnya.
Ada kelegaan.
Kelegaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata, kata.
Kelegaan yang muncul karena beban yang selama ini ia pikul sendirian, kini sedikit berkurang.
Mereka berjalan ke bawah kanopi toko, kanopi terpal biru yang sudah mulai robek di beberapa bagian, yang diikat dengan tali rapia yang tidak terlalu kuat, yang bergoyang, goyang setiap kali tertiup angin.
Mereka masih berdampingan.
Masih diam.
Masih sama, sama memikirkan terlalu banyak hal.
Di belakang mereka, ibu penjual buah yang tadi mengintip dari balik kiosnya, kini berbisik pada penjual sate di sebelahnya.
"Kayaknya ini bukan sekadar mantan."
Penjual sate mengangguk serius. Anggukan yang dalam, seperti seorang detektif yang baru saja memecahkan kasus sulit.
"Ini sudah level sinetron."
Mereka berdua saling diam.
Lalu kembali bekerja seperti tidak terjadi apa, apa.
Ibu penjual buah kembali menyusun jeruk, jeruk yang sempat berantakan karena hujan. Tangannya yang lincah itu memilah, milah jeruk berdasarkan ukuran, memisahkan yang bagus dari yang sedikit rusak. Wajahnya kembali tenang, seperti tidak ada drama yang baru saja terjadi di depan tokonya.
Penjual sate kembali mengipasi bara apinya, tangannya bergerak dengan ritme yang teratur, kiri, kanan, kiri, kanan, menciptakan angin yang membuat api tetap menyala. Aroma sate kembali tercium, menguar di udara malam yang basah.
Karena begitulah kota kecil.
Orang bisa ikut khawatir. Bisa ikut penasaran. Bisa ikut berkomentar.
Lalu tetap melayani pembeli dengan tenang.
Karena hidup tidak berhenti hanya karena drama orang lain.
Iskandar dan Nayla berhenti di depan toko yang sudah hampir tutup, toko kelontong yang pintu besinya sudah setengah diturunkan, dengan lampu di dalamnya yang sudah diredupkan. Di balik kaca yang buram, samar, samar terlihat rak, rak yang sudah kosong, lantai yang sudah disapu, dan seorang pemuda yang sedang menghitung uang hasil penjualan hari ini.
Hujan masih turun di depan mereka, tetapi tidak sederas tadi. Rintik, rintik kecil yang jatuh dengan lembut, seperti air mata yang sudah tidak lagi deras, hanya sisa, sisa dari tangis yang panjang.
Lampu toko obat di seberang jalan berkedip redup, mungkin karena listrik yang tidak stabil, mungkin karena bohlamnya sudah tua, mungkin karena tanda bahwa toko itu akan segera tutup untuk malam ini.
Aroma kopi dari warung kecil yang masih buka tercium hingga ke tempat mereka berdiri, aroma kopi hitam yang pekat, yang pahit, yang hangat. Aroma itu bercampur dengan udara basah setelah hujan, menciptakan sensasi yang unik, yang tidak bisa ditemukan di tempat lain.
Suasana malam tiba, tiba terasa sunyi, meski pasar masih ramai dengan aktivitas para pedagang yang membereskan dagangan mereka.
Sunyi seperti di dalam gereja setelah kebaktian usai.
Sunyi seperti di dalam perpustakaan ketika semua orang sedang membaca.
Sunyi seperti di dalam hati ketika sedang merenung.
Nayla akhirnya melepaskan tangan Iskandar.
Perlahan.
Satu jari demi satu jari.
Seperti sedang melepaskan sesuatu yang sangat berharga.
Seperti sedang mengucapkan selamat tinggal meskipun ia tidak ingin.
Namun rasa hangat dari genggamannya masih tertinggal di telapak tangan Iskandar. Masih terasa. Masih hangat. Masih seperti bekas pelukan yang tidak ingin dilupakan.
"Maaf."
Iskandar menoleh.
"Untuk apa?"
"Karena hidup saya ternyata lebih rumit dari yang kelihatan."
Iskandar tersenyum kecil. Senyum yang lembut, senyum yang tidak mengandung beban, senyum yang mengatakan tidak apa, apa.
"Kalau hidup terlalu sederhana, biasanya membosankan."
Nayla menatapnya.
Bibirnya sempat tersenyum, senyum kecil yang hampir tidak terlihat, senyum yang lahir karena ia tidak bisa menahan tawa meskipun sedang sedih.
Tapi matanya masih menyimpan beban.
Beban yang berat.
Beban yang tidak bisa ia lepaskan hanya dengan satu senyuman.
"Kamu tidak seharusnya masuk terlalu jauh."
"Sayangnya saya sudah telat."
Nayla menghela napas pelan.
Helaan napas yang panjang, yang berat, yang keluar dari dadanya seperti angin dari gua yang dalam.
"Kenapa?"
Pertanyaan itu terdengar sederhana.
Tapi Iskandar tahu, yang Nayla tanyakan bukan soal hujan. Bukan soal Aldebar. Bukan soal malam ini.
Yang Nayla tanyakan adalah: kenapa kamu masih di sini? Kenapa kamu tidak pergi? Kenapa kamu tidak seperti orang, orang lain yang lari ketika melihat masalah?
Iskandar menatap hujan di depan mereka, rintik, rintik kecil yang jatuh di aspal, menciptakan lingkaran, lingkaran kecil yang segera menghilang.
Lalu ia berkata pelan, dengan suara yang tidak bergetar, dengan suara yang jujur, dengan suara yang keluar dari hati.
"Karena sejak ketemu kamu… saya selalu merasa kalau saya pergi sekarang… saya akan menyesal."
Nayla terdiam.
Hujan masih turun.
Lampu, lampu kota memantul di matanya yang basah, pantulan, pantulan kecil yang bergerak, gerak, seperti bintang, bintang yang jatuh dari langit.
Dan untuk beberapa detik, ia hanya memandang Iskandar seperti sedang mencari apakah laki, laki di depannya benar, benar serius. Apakah kata, katanya benar, benar tulus. Apakah ia benar, benar akan tetap tinggal meskipun sudah tahu bahwa hidupnya rumit.
Yang membuatnya takut, jawabannya iya.
Matanya jujur.
Wajahnya jujur.
Suaranya jujur.
Semuanya jujur.
Dan kejujuran itu, yang selama ini ia cari tetapi tidak pernah ia temukan, sekarang berdiri di depannya, dengan kemeja basah oleh hujan, dengan rambut yang lepek menempel di dahi, dengan mata yang menatapnya seperti ia adalah sesuatu yang berharga.
"Aldebar bukan orang jahat," kata Nayla akhirnya, memecah keheningan yang sudah terlalu lama.
Iskandar diam.
Ia tidak menyela.
Tidak bertanya.
Tidak memberikan komentar.
Ia hanya mendengarkan.
Karena kadang, yang dibutuhkan seseorang bukan nasihat, bukan solusi, bukan kata, kata bijak. Tapi telinga yang mendengar. Telinga yang tidak menghakimi. Telinga yang hanya ada di sana, tanpa syarat.
Nayla menarik napas panjang.
"Dia hanya…"
Ia tersenyum pahit.
Senyum yang tidak sampai ke mata.
Senyum yang terasa seperti luka.
"terlalu mencintai dengan cara yang salah."
Iskandar mengangguk pelan.
Ia bisa mengerti. Mencintai dengan cara yang salah adalah hal yang paling mudah dilakukan. Karena cinta tidak datang dengan buku petunjuk. Karena cinta tidak pernah mengajarkan cara yang benar. Karena cinta seringkali buta, egois, dan merusak.
"Dan saya…"
Suara Nayla mengecil.
Hampir tidak terdengar.
Seperti bisikan di tengah badai.
"terlalu lama bertahan di tempat yang seharusnya sudah saya tinggalkan."
Kalimat itu membuat dada Iskandar terasa sesak.
Sesak seperti sedang ditindih batu besar.
Sesak seperti sedang berenang di lautan yang dalam.
Sesak seperti sedang menahan tangis yang tidak bisa keluar.
Karena ia tahu: tidak semua luka datang dari dibenci.
Kadang, luka justru datang dari dicintai dengan cara yang salah.
Kadang, luka justru datang dari bertahan terlalu lama di tempat yang tidak lagi aman.
Kadang, luka justru datang dari rasa bersalah karena tidak bisa membahagiakan orang yang mencintai kita.
Nayla menunduk.
Rambutnya yang basah menutupi wajahnya, seperti tirai yang memisahkan dirinya dari dunia luar.
"Ada hal yang belum kamu tahu tentang saya."
Iskandar tidak menjawab.
"Dan kalau kamu tahu…"
Suara Nayla nyaris berbisik.
"mungkin kamu akan mengerti kenapa saya takut."
Iskandar menatapnya lembut.
Matanya yang tadi serius, kini lembut.
Lembut seperti kapas.
Lembut seperti bulu.
Lembut seperti sesuatu yang tidak akan melukai.
"Kalau kamu belum siap cerita sekarang, tidak apa, apa."
Nayla menoleh.
Matanya bertanya: kamu tidak penasaran?
"Sangat."
"Lalu?"
Iskandar tersenyum tipis.
"Tapi saya lebih takut kalau saya memaksa… dan kamu malah menjauh."
Nayla terdiam.
Matanya yang tadi bertanya, tanya, kini berubah.
Berubah menjadi sesuatu yang lain.
Mungkin kelegaan.
Mungkin rasa terima kasih.
Mungkin cinta.
Lalu untuk pertama kalinya malam itu, setelah Aldebar datang, setelah mobil hitam itu muncul, setelah semua kekacauan itu terjadi, air mata Nayla jatuh lagi.
Tapi kali ini bukan karena luka lama.
Bukan karena ketakutan.
Bukan karena kelelahan.
Tapi karena seseorang akhirnya memilih memahami tanpa menuntut penjelasan.
Seseorang yang tidak memaksanya untuk bercerita sebelum ia siap.
Seseorang yang memberinya ruang untuk bernapas.
Seseorang yang tidak pergi meskipun ia tidak memberikan apa pun.
Tanpa sadar, Nayla melangkah lebih dekat.
Jarak di antara mereka kini tinggal beberapa inci.
Cukup dekat untuk mendengar napas masing, masing.
Cukup dekat untuk merasakan hangat tubuh masing, masing.
Cukup dekat untuk melihat setiap detail wajah masing, masing.
Hanya suara hujan.
Hanya lampu kota.
Hanya dua orang yang sama, sama mulai takut karena perasaan mereka tumbuh terlalu cepat.
Nayla menatap mata Iskandar.
Matanya basah.
Matanya merah.
Matanya penuh dengan pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh siapa pun.
Lalu berbisik sangat pelan, dengan suara yang nyaris tidak terdengar, dengan suara yang hanya cukup untuk didengar oleh Iskandar.
"Kalau saya cerita semuanya… kamu masih akan tinggal?"
Iskandar menatapnya.
Dan sebelum ia sempat menjawab, sebelum ia sempat mengucapkan kata, kata yang sudah ia siapkan di dalam hati, dari ujung jalan terdengar suara motor berhenti mendadak.
Bukan satu motor.
Banyak motor.
Suara mesin yang dimatikan bersamaan.
Suara kaki yang menginjak aspal basah.
Suara orang yang terengah, engah karena berlari.
"WOI!"
Suara Edo menggema dari kejauhan, memecah keheningan malam seperti pecahan kaca yang jatuh di lantai keramik.
Disusul Ridwan, Rara, Anggun, dan Sahrul yang datang tergesa, gesa sambil basah kuyup, pakaian mereka basah, rambut mereka lepek, sepatu mereka penuh dengan lumpur.
Edo menatap mereka berdua, Iskandar dan Nayla yang berdiri berhadapan dengan jarak yang terlalu dekat untuk ukuran teman.
Lalu menatap jarak yang terlalu dekat itu.
Mata Edo membesar.
Seperti piring.
Seperti bola.
Seperti sesuatu yang tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Ya ampun."
"Kami datang di timing yang salah ya?"
Nayla langsung mundur.
Satu langkah.
Dua langkah.
Tiga langkah.
Wajahnya yang tadinya pucat, kini memerah.
Merah seperti tomat.
Merah seperti mawar.
Merah seperti sesuatu yang terbakar.
Iskandar menutup mata pelan.
Ia menarik napas panjang.
Menghelanya perlahan.
Seolah sedang mengumpulkan seluruh kesabaran yang tersisa di dalam tubuhnya.
Dan untuk pertama kalinya malam itu, ia benar, benar ingin mendorong sahabatnya sendiri ke tengah hujan.
BAB 16
Jalan A. Yani dan Tawa yang Menyelamatkan
"Ya ampun. Kami datang di timing yang salah ya?"
Suara Edo menggantung di bawah kanopi toko Pasar Melati yang sudah mulai bocor di beberapa bagian, air menetes perlahan dari sela, sela terpal yang robek, jatuh di aspal dengan bunyi tuk, tuk, tuk yang pelan. Suara itu seperti petir kecil yang datang di saat paling tidak tepat, seperti tamu yang datang tanpa diundang di tengah pesta yang baru saja mulai hangat, seperti alarm yang berbunyi di saat seseorang baru saja terlelap dalam mimpi indah.
Nayla refleks mundur satu langkah, mungkin dua, mungkin tiga, ia sendiri tidak tahu persis karena yang ia rasakan hanya getaran di dadanya yang berdetak kencang, panas di pipinya yang merona seperti terkena demam, dan kekosongan di tangannya yang tadi menggenggam jari, jari Iskandar, sekarang hanya menggenggam udara kosong yang dingin.
Wajahnya yang tadinya pucat karena ketakutan, pucat karena Aldebar, pucat karena air mata dan hujan, kini berubah warna. Memerah. Merah seperti tomat yang baru matang. Merah seperti mawar yang mekar di musim semi. Merah seperti api yang menyala di perapian. Merah seperti sesuatu yang terbakar, dan yang terbakar bukan kulitnya, tapi hatinya. Hatinya yang tadi baru saja berani membuka pintu, sekarang menutup kembali dengan suara banting yang keras karena malu.
Iskandar menutup mata pelan.
Ia menarik napas panjang, napas yang keluar dari hidung dengan suara desisan pelan, seperti ular yang sedang marah, seperti angin yang berhembus di celah, celah pintu, seperti seseorang yang sedang berusaha mengumpulkan seluruh kesabaran yang tersisa di dalam tubuhnya setelah seharian diuji oleh takdir.
Ia membuka mata.
Di depannya, berdiri empat sahabat yang sudah ia kenal sejak kecil, sejak lutut masih lecet karena jatuh dari sepeda, sejak rambut masih dicukur pendek oleh ibu masing, masing, sejak mimpi masih sebatas menjadi pemain bola atau pilot atau presiden.
Edo dengan tubuh tambunnya yang basah kuyup, kaos oblongnya yang berwarna hijau army sekarang berubah menjadi hijau gelap karena air, menempel di perut buncitnya yang tidak bisa ia sembunyikan. Rambutnya yang biasanya disisir rapi ke samping, kini lepek menutupi dahi, beberapa helai menempel di pelipis seperti rumput laut yang terdampar di pantai. Wajahnya yang biasanya ceria, sekarang tersenyum dengan senyum yang ia sendiri tahu terlalu lebar, terlalu mencolok, terlalu "aku tahu apa yang sedang terjadi di sini".
Ridwan dengan tubuhnya yang kurus dan tinggi, berdiri di belakang Edo dengan ekspresi datar seperti biasa—wajah yang tidak pernah berubah, wajah yang seperti topeng kayu yang tidak bisa menunjukkan emosi, wajah yang membuat orang tidak pernah tahu apa yang sedang ia pikirkan. Tapi matanya, yang biasanya kosong, sekarang berbinar, bukan binar kegembiraan, tapi binar kepuasan, binar seseorang yang melihat tebakannya terbukti benar.
Rara dengan rambut panjangnya yang basah, dengan jilbabnya yang menempel di leher karena air, dengan matanya yang tajam seperti elang, mata yang melihat segalanya, mata yang tidak pernah kehilangan detail, mata yang sekarang sedang memperhatikan Nayla dengan ekspresi yang sulit dibaca. Bukan menghakimi. Bukan mengolok. Tapi seperti sedang membaca buku yang menarik, seperti sedang memecahkan teka, teki yang rumit, seperti sedang memahami sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata, kata.
Anggun dengan tubuh mungilnya, dengan jaket jeans yang basah di bagian bahu, dengan rambut sebahu yang digerai dan kini menempel di pipi. Wajahnya tersenyum, bukan senyum jahil seperti Edo, bukan senyum misterius seperti Rara, tapi senyum yang hangat, senyum yang mengatakan aku di sini, aku mendukungmu, aku tidak akan menghakimi.
Sahrul berdiri di paling pinggir, dengan perut buncit yang lebih mirip Edo daripada dirinya sendiri, dengan kaos oblong yang terlalu ketat sehingga memperlihatkan bentuk perutnya yang tidak rata, dengan senyum yang setengah geli setengah bingung, seperti orang yang tidak tahu harus bereaksi apa, jadi ia memilih untuk tersenyum.
Dan dari dalam saku celana Iskandar, ponselnya bergetar. Layar menyala. Lukman muncul di layar video call, dengan wajah yang terpotong, potong oleh sinyal yang buruk, dengan suara yang keluar masuk, dengan mata yang berbinar antusias meskipun ia tidak bisa melihat dengan jelas apa yang sedang terjadi.
"Apa yang terjadi?" suara Lukman terdengar dari speaker ponsel, sedikit terputus, putus, seperti radio yang tidak bisa menangkap frekuensi dengan sempurna. "Kenapa semua orang basah? Kenapa Nayla merah? Kenapa Iskandar mukanya kayak mau bunuh orang?"
Iskandar menghela napas lagi, helaan napas yang kesekian kalinya malam itu, helaan napas yang keluar dari dadanya seperti angin dari gua yang dalam, helaan napas yang membawa serta seluruh kekesalan dan kelelahan yang ia rasakan.
Ia tidak menjawab. Ia hanya menatap sahabat, sahabatnya satu per satu, seperti seorang jenderal yang sedang meninjau pasukannya yang tidak disiplin, seperti seorang guru yang sedang menghadapi murid, muridnya yang nakal, seperti seseorang yang sedang mempertimbangkan untuk pindah ke kota lain dan tidak memberi tahu siapa pun.
Sahrul yang berdiri di paling pinggir langsung menyikut Edo, sikutannya keras, menusuk, seperti sikut seorang kakak yang sedang marah pada adiknya yang nakal. Tulang siku Sahrul yang tajam itu mengenai lengan Edo yang gemuk, membuat Edo mengerang pelan, mengusap, usap bagian yang terkena dengan ekspresi kesakitan yang berlebihan.
"Mulutmu itu bisa libur sehari tidak?"
Edo mengangkat bahu. Bahunya yang bidang dan berisi itu naik turun dengan gerakan yang santai, tanpa rasa bersalah, tanpa penyesalan, tanpa kesadaran bahwa ia mungkin telah mengganggu momen penting.
"Saya cuma jujur."
Ridwan yang paling tenang, yang selalu menjadi penengah ketika Edo dan Sahrul bertengkar, yang selalu menjadi suara logika di tengah kekacauan, justru menatap Iskandar. Matanya yang tenang itu bergerak dari wajah Iskandar yang tegang, ke tangan Iskandar yang tergenggam erat di samping tubuh, ke posisi tubuh Iskandar yang sedikit di depan Nayla seperti sedang melindungi.
"Wajahmu seperti ingin mengubur orang."
"Karena memang ada niat," jawab Iskandar datar, suaranya tidak naik turun, tidak menunjukkan emosi, tapi matanya berbicara banyak, matanya mengatakan jika kalian tidak pergi sekarang, aku akan melakukan sesuatu yang akan kalian sesali.
Nayla yang tadi, hanya beberapa detik yang lalu, hampir menangis, hampir hancur, hampir menceritakan semua rahasianya kepada Iskandar, kini menahan tawa. Bukan tawa yang besar, bukan tawa yang menggelegar, tapi tawa kecil yang keluar dari hidung dengan suara ngik, ngik, ngik yang lucu, tawa yang ia tahan dengan menutup mulut menggunakan kedua telapak tangannya, tawa yang membuat bahunya berguncang, guncang.
Dan anehnya, di tengah suasana yang sempat begitu berat, di tengah air mata yang baru saja jatuh, di tengah rahasia yang baru saja hendak terbuka, di tengah ketakutan yang masih menggelayut di hati Nayla seperti kabut pagi yang tidak mau pergi, kehadiran para sahabat itu membuat semuanya berubah.
Tidak sepenuhnya lebih mudah. Masalah masih ada. Aldebar masih ada. Masa lalu masih membayangi. Luka masih terasa. Tapi ada sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang membuat napas terasa lebih ringan. Sesuatu yang membuat beban terasa lebih ringan. Sesuatu yang membuat langit terasa tidak serendah tadi.
Kadang, orang, orang yang paling berisik, orang, orang yang tidak pernah bisa diam, yang selalu punya komentar untuk segala hal, yang selalu muncul di saat yang paling tidak tepat, justru yang diam, diam datang untuk menyelamatkan suasana.
Bukan dengan nasihat bijak. Bukan dengan kata, kata motivasi. Bukan dengan pelukan hangat. Tapi dengan kehadiran mereka yang berisik, dengan tawa mereka yang menggelegar, dengan candaan mereka yang kadang lucu kadang memuakkan, mereka mengingatkan bahwa di tengah semua drama dan kesedihan, hidup masih berjalan. Bahwa masih ada hal, hal kecil yang bisa membuat kita tertawa. Bahwa kita tidak sendirian.
"Kalian ngapain ke sini?" tanya Iskandar, suaranya masih datar, masih tidak menunjukkan emosi, tapi matanya sudah tidak setajam tadi.
Anggun melipat tangan di dada, tangannya yang mungil dengan kuku yang dipotong pendek, dengan cincin perak di jari manis yang sudah mulai menghitam karena usia. Matanya menatap Iskandar dengan ekspresi setengah kesal setengah geli.
"Pertanyaan yang salah."
Rara mengangguk. Anggukan yang dalam, yang bijak, yang seperti seorang filsuf yang sedang memberikan kuliah.
"Yang benar: kenapa kalian malah menghilang?"
Edo menunjuk Iskandar dengan jari telunjuknya yang gemuk, jari yang ujungnya sedikit menghitam karena sering terkena oli motor, jari yang tidak pernah bisa diam, jari yang selalu menunjuk, nunjuk ketika ia sedang berbicara.
"Kami pikir kau diculik."
Sahrul menambahkan, dengan suara yang setengah serius setengah bercanda, dengan ekspresi yang tidak bisa ia sembunyikan meskipun ia berusaha.
"Lalu setelah lihat posisi tadi…"
Ia berhenti sejenak, menatap Iskandar dan Nayla bergantian, lalu tersenyum lebar, senyum yang memperlihatkan deretan giginya yang tidak rata, senyum yang mengatakan aku tahu apa yang sedang terjadi.
"ternyata bukan kamu yang diculik."
Nayla spontan menunduk sambil tertawa kecil, tawa yang keluar dari hidung dengan suara ngik, ngik, ngik lagi, tawa yang ia tahan tetapi tidak bisa ia sembunyikan, tawa yang membuat pipinya yang tadinya merah karena malu, kini semakin merah karena ia tidak bisa berhenti tertawa.
Iskandar menatap langit, langit yang masih gelap, yang masih dipenuhi awan, awan kelabu sisa hujan, yang tidak menawarkan jawaban atas pertanyaan, pertanyaan hidupnya.
"Kalau aku pindah kota, kalian jangan cari."
"Tidak usah," jawab Ridwan cepat, tanpa jeda, tanpa pikir panjang, seperti ia sudah mempersiapkan jawaban ini sejak lama, seperti ia sudah tahu bahwa Iskandar akan mengatakan kalimat ini suatu hari nanti.
"Kota ini terlalu kecil."
Semua tertawa.
Termasuk Nayla.
Dan Iskandar sadar, sudah beberapa kali malam ini, sejak Aldebar muncul, sejak mobil hitam itu berhenti di seberang jalan, sejak ketakutan itu menyergap, senyum Nayla kembali muncul.
Bukan senyum yang besar. Bukan senyum yang lebar. Tapi senyum kecil yang muncul di sudut bibirnya, senyum yang datang dan pergi seperti burung yang hinggap sebentar lalu terbang lagi. Senyum yang lahir karena orang, orang yang selalu membuat hidupnya berisik, orang, orang yang tidak pernah bisa diam, yang selalu punya komentar untuk segala hal, yang selalu muncul di saat yang paling tidak tepat berhasil membuatnya melupakan sejenak semua masalah yang membebani pundaknya.
Dan bagi Iskandar, itu sudah cukup.
Hujan mulai mereda.
Tidak berhenti sepenuhnya, tapi berkurang intensitasnya. Dari deras menjadi sedang, dari sedang menjadi rintik, rintik kecil, dari rintik, rintik menjadi gerimis tipis yang hampir tidak terasa, yang lebih seperti kabut basah daripada hujan.
Hanya tersisa gerimis tipis di lampu, lampu toko Pasar Melati yang masih menyala, lampu, lampu kuning yang memantul di genangan air, menciptakan lingkaran, lingkaran cahaya yang berkedip, kedip seperti bintang, bintang yang jatuh ke bumi.
Jalanan masih basah. Aspal yang tadinya kering dan berdebu, sekarang berwarna hitam mengkilap, memantulkan segala sesuatu yang ada di atasnya, lampu toko, bayangan orang yang lewat, sesekali mobil yang melintas dengan kecepatan lambat karena takut selip.
Pantulan cahaya dari etalase toko membuat malam terlihat lebih hidup. Etalase, etalase kaca yang sudah mulai buram karena debu dan usia, sekarang berkilau karena terkena air hujan, seperti berlian, berlian murah yang berserakan di atas meja beludru hitam.
Edo menatap Nayla sambil tersenyum, senyum yang tidak lagi jahil, senyum yang lebih ramah, senyum yang mengatakan kamu sudah kami terima, kamu bagian dari kami sekarang.
"Kami mau ambil suasana baru. Jalan sedikit ke arah Jalan Jenderal A. Yani, ikut?"
Nayla menoleh ke Iskandar.
Seolah menunggu.
Seolah meminta izin.
Seolah bertanya bolehkah aku ikut? Apakah aku sudah diizinkan untuk masuk ke dalam lingkaran pertemanan kalian? Apakah aku pantas?
Padahal sebenarnya, ia tidak perlu menunggu izin. Ia adalah perempuan dewasa. Ia bisa memutuskan sendiri. Tapi ada sesuatu dalam dirinya yang membuatnya ingin mendengar jawaban Iskandar terlebih dahulu. Mungkin karena ia ingin memastikan bahwa Iskandar tidak keberatan. Mungkin karena ia ingin merasa bahwa ia diinginkan. Mungkin karena ia sudah mulai terbiasa dengan kehadiran Iskandar di sisinya.
Iskandar mengangguk kecil.
Anggukan yang pelan, yang hampir tidak terlihat, yang hanya cukup untuk dilihat oleh Nayla.
"Kalau kamu mau."
Nayla tersenyum.
Senyum yang tulus.
Senyum yang tidak dipaksakan.
Senyum yang membuat Iskandar merasa bahwa semua kekacauan malam ini, Aldebar, mobil hitam, hujan, air mata, ketakutan, mungkin sepadan.
"Boleh."
Jawaban sederhana itu membuat Edo langsung berbisik ke Anggun, bisikan yang sengaja dibuat keras agar semua orang mendengar, bisikan yang tidak bisa disebut bisikan karena volumenya sama dengan volume bicara normal.
"Fix. Sudah masuk tahap saling menunggu jawaban."
Anggun mengangguk. Anggukan yang serius, seperti seorang hakim yang sedang memutuskan vonis.
"Parah."
Iskandar hanya menatap mereka datar, tatapan yang tidak perlu diartikan karena semua orang sudah tahu artinya: aku akan membalas kalian suatu hari nanti, dan kalian tidak akan melihatnya datang.
Namun dalam hati, ia tahu mereka tidak salah.
Beberapa menit kemudian, mereka berjalan bersama menuju Jalan Jenderal A. Yani.
Pasar Melati tertinggal di belakang mereka, lampu, lampunya yang masih menyala menjadi titik, titik kecil yang semakin mengecil, suara pedagang yang masih membereskan dagangan menjadi samar, samar, aroma makanan yang tadinya kuat kini hanya bisikan, bisikan tipis yang terbawa angin.
Mereka melewati jalan yang menghubungkan Pasar Melati dengan Jalan A. Yani, jalan yang tidak terlalu lebar, hanya cukup untuk dua mobil berpapasan, dengan trotoar yang sempit di kiri, kanan. Di sepanjang jalan ini, berjejer rumah, rumah penduduk, ada yang besar dengan pagar besi yang dicat hijau, ada yang kecil dengan pagar kayu yang sudah lapuk, ada yang sederhana dengan halaman yang ditanami bunga dan sayuran.
Lampu, lampu rumah sudah banyak yang padam, hanya menyisakan lampu teras yang menyala redup, seperti mata yang setengah terbuka, seperti orang yang sedang menunggu tapi tidak ingin terlihat menunggu.
Malam di jalan itu masih ramai. Tidak seramai pusat kota, tidak seramai Pasar Melati, tapi ramai dengan caranya sendiri. Orang, orang masih beraktivitas, bapak, bapak duduk di teras sambil merokok dan minum kopi, ibu, ibu masih sibuk membereskan dapur setelah makan malam, anak, anak masih bermain kejar, kejaran di halaman rumah dengan cahaya lampu jalan yang temaram.
Mereka melewati pertokoan yang mulai tutup, toko pakaian dengan manekin yang berdiri kaku di balik kaca, toko sepatu dengan sepatu, sepatu yang tergantung di depan, toko jam dengan jam, jam dinding yang masih berdetak meskipun tokonya sudah gelap.
Lampu, lampu pertokoan menyala terang, lampu neon yang berwarna putih kebiruan, lampu sorot yang menyilaukan, lampu taman yang berwarna, warni, semua menciptakan pemandangan yang seperti lukisan, yang seperti mimpi, yang seperti sesuatu yang terlalu indah untuk menjadi nyata.
Warung kopi dipenuhi pelanggan, bapak, bapak dengan kaus oblong dan sarung, duduk di kursi plastik sambil menyesap kopi hitam pekat yang pahit, sesekali tertawa keras ketika seseorang melontarkan lelucon yang tidak terlalu lucu.
Motor keluar masuk dari gang, gang kecil, dengan lampu depan yang menyala redup, dengan knalpot yang bunyinya bervariasi, ada yang halus seperti dengkuran kucing, ada yang kasar seperti suara mesin pemotong rumput.
Pedagang kaki lima mulai ramai di trotoar, gerobak, gerobak didorong ke tempat yang sudah ditentukan, kursi, kursi plastik ditata, kompor dinyalakan. Aroma makanan mulai memenuhi udara, mie ayam dengan kuah yang gurih, nasi goreng dengan kecap yang legit, sate ayam dengan bumbu kacang yang kental.
Suara musik dari beberapa toko bercampur dengan suara orang bercakap, lagu, lagu pop Indonesia yang diputar dengan volume sedang, lagu, lagu dangdut yang menghentak, lagu, lagu religi yang menenangkan. Semua bercampur menjadi satu, menciptakan polifoni yang kacau tetapi akrab, yang tidak akan ditemukan di kota, kota besar yang seragam dan teratur.
Jalan Jenderal A. Yani memang selalu hidup.
Sejak pagi hingga malam, sejak subuh hingga tengah malam, jalan ini tidak pernah benar, benar tidur. Mungkin karena di sinilah pusat kehidupan Kuala Kapuas. Di sinilah orang, orang mencari nafkah, di sinilah orang, orang bertemu, di sinilah orang, orang berpisah, di sinilah orang, orang menjalani hidup mereka sehari, hari.
Di sepanjang sisi jalan, berdiri toko pakaian dengan etalase yang penuh dengan baju, baju terbaru, baju batik dengan motif yang beraneka ragam, kemeja kotak, kotak dengan warna yang cerah, dress dengan potongan yang modern.
Counter ponsel dengan papan nama yang terang benderang, menjual ponsel terbaru dengan harga yang bersaing, menerima pembayaran dengan kredit, memberikan bonus berupa casing dan anti gores.
Toko roti dengan aroma yang menguar sampai ke trotoar, aroma roti bakar yang manis, aroma kue bolu yang lembut, aroma donat yang digoreng dengan minyak yang masih panas.
Mini market dengan lampu terang yang menyala 24 jam, dengan pintu kaca yang terbuka otomatis setiap kali ada pengunjung yang masuk atau keluar, dengan suara cling yang nyaring dari mesin kasir.
Kios, kios kecil yang menjual minuman dingin dan camilan, es kelapa muda yang segar, es jeruk yang asam manis, es campur dengan sirup merah dan susu kental manis, keripik singkong yang renyah, kacang atom yang gurih.
Rumah, rumah tua berdiri berdampingan dengan bangunan baru, rumah panggung kayu dengan tiang, tiang yang kokoh, rumah batu dengan pagar besi yang dicat hijau, ruko, ruko dengan etalase kaca yang buram, pertokoan modern dengan dinding keramik yang mengkilap.
Mobil lalu, lalang pelan, tidak ada yang ngebut karena jalan tidak terlalu lebar dan banyak tikungan, tidak ada yang saling mendahului karena semua orang sudah saling kenal, tidak ada yang marah, marah di jalan karena emosi tidak akan menyelesaikan masalah.
Lampu kendaraan membelah aspal basah, cahaya putih dari lampu depan mobil, cahaya kuning dari lampu depan motor, cahaya merah dari lampu rem, semua menciptakan goresan, goresan cahaya yang bergerak, gerak seperti lukisan abstrak.
Dan aroma kopi dari warung pinggir jalan terasa hangat di udara malam, aroma yang membuat orang yang lewat ingin berhenti, duduk, memesan secangkir kopi, dan melupakan sejenak semua masalah yang membebani pundak mereka.
Kuala Kapuas mungkin kota kecil.
Tapi di malam seperti itu, Jalan A. Yani terasa seperti nadi kota yang tak pernah benar, benar tidur. Jalan yang selalu bergerak, selalu berdenyut, selalu hidup. Jalan yang menjadi saksi bagi ribuan cerita yang dimulai dan berakhir setiap hari. Jalan yang menjadi tempat di mana orang, orang jatuh cinta, patah hati, bertemu, berpisah, dan kadang jika mereka beruntung, bertemu kembali.
Edo dan Sahrul sengaja berjalan lebih depan.
Mereka berdua berjalan dengan langkah yang cepat, seperti sedang terburu, buru, padahal tidak ada yang perlu dikejar. Edo berbicara dengan suara keras tentang sesuatu yang tidak penting, mungkin tentang motor barunya, mungkin tentang pacar barunya, mungkin tentang mimpi aneh yang ia alami semalam. Sahrul mendengarkan sambil sesekali tertawa, sesekali menggeleng, sesekali memukul lengan Edo karena kesal.
Ridwan dan Anggun sibuk mengobrol di belakang, Ridwan dengan suaranya yang tenang dan datar, Anggun dengan suaranya yang ceria dan bersemangat. Mereka berbicara tentang sesuatu yang tidak bisa didengar oleh Iskandar karena jaraknya terlalu jauh, mungkin tentang pekerjaan, mungkin tentang keluarga, mungkin tentang masa depan.
Rara berjalan di samping Nayla. Tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh. Jarak yang sopan, jarak yang nyaman, jarak yang memungkinkan mereka untuk berbicara jika mau, tetapi juga memungkinkan mereka untuk diam jika tidak mau.
Dan entah bagaimana, semua itu terasa terlalu teratur untuk disebut kebetulan.
Seperti ada yang mengatur posisi mereka.
Seperti ada yang sengaja membuat Edo dan Sahrul berjalan di depan agar mereka tidak mengganggu.
Seperti ada yang sengaja membuat Ridwan dan Anggun berjalan di belakang agar mereka tidak mendengar.
Seperti ada yang sengaja membuat Rara berjalan di samping Nayla agar Nayla tidak sendirian.
Iskandar menoleh ke kanan dan ke kiri, mengamati formasi yang terlalu sempurna ini.
"Kalian sengaja ya?"
Ridwan tanpa menoleh menjawab, dengan suara yang datar seperti biasa, dengan intonasi yang tidak naik turun, dengan ekspresi yang tidak berubah.
"Iya."
Satu kata. Tanpa basa, basi. Tanpa penjelasan. Tanpa rasa bersalah.
Nayla tertawa kecil.
Tawa yang pelan, yang lembut, yang tidak mengganggu ketenangan malam.
"Teman, teman kamu unik."
"Bahasa halus dari merepotkan."
"Tidak."
Nayla tersenyum.
Senyum yang hangat.
Senyum yang tulus.
"Mereka sayang sama kamu."
Kalimat itu membuat Iskandar menoleh.
Matanya bertemu dengan mata Nayla, matanya yang teduh, matanya yang sekarang tidak lagi basah oleh air mata, matanya yang mulai berbinar lagi.
"Dari mana kamu tahu?"
Nayla melihat ke depan, ke arah sahabat, sahabat Iskandar yang sengaja memberi ruang, Edo dan Sahrul yang berjalan terlalu cepat, Ridwan dan Anggun yang berjalan terlalu lambat, Rara yang berjalan di sampingnya dengan senyum yang tidak perlu diartikan.
"Karena orang yang benar, benar peduli… selalu tahu kapan harus mendekat dan kapan harus mundur."
Iskandar diam.
Karena untuk kesekian kalinya, Nayla selalu bisa melihat hal yang tidak dikatakan orang lain.
Dia melihat bahwa Edo yang berisik itu sebenarnya adalah sahabat yang paling setia. Dia melihat bahwa Ridwan yang pendiam itu sebenarnya adalah pendengar yang paling baik. Dia melihat bahwa Rara yang misterius itu sebenarnya adalah perekat yang menyatukan mereka semua.
Dia melihat hal, hal yang tidak terlihat oleh mata biasa.
Dan itu membuat Iskandar semakin yakin bahwa ia tidak salah memilih.
Mereka berhenti di sebuah warung kopi kecil di pinggir jalan.
Warung itu tidak besar, mungkin hanya berukuran tiga kali empat meter. Dindingnya terbuat dari kayu yang sudah mulai lapuk, atapnya dari seng yang sudah berkarat di beberapa bagian, lantainya dari tanah yang dipadatkan. Tapi warung ini sudah ada sejak Iskandar masih kecil, dan mungkin akan tetap ada bahkan setelah ia mati nanti.
Lampu kuning menggantung sederhana dari langit, langit, sebuah bohlam 5 watt yang cahayanya redup, yang hampir tidak cukup untuk menerangi seluruh ruangan, tapi cukup untuk membuat suasana terasa hangat dan akrab.
Beberapa kursi plastik tertata tidak beraturan, ada yang hijau, ada yang biru, ada yang merah, ada yang sudah retak di bagian dudukan tetapi masih bisa dipakai. Meja, mejanya terbuat dari kayu, dengan alas dari plastik bermotif bunga, bunga yang sudah pudar warnanya.
Aroma kopi hitam bercampur dengan udara malam yang masih lembab oleh sisa hujan, aroma yang khas, aroma yang tidak bisa ditiru oleh kopi instan atau kopi sachet, aroma yang hanya bisa dihasilkan oleh biji kopi yang disangrai dengan api sedang lalu digiling kasar dan diseduh dengan air panas.
Edo langsung duduk di kursi yang paling besar, kursi yang bisa menampung pantatnya yang lebar tanpa membuatnya merasa sesak. Ia menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi dengan ekspresi puas, seperti seorang raja yang baru saja kembali dari medan perang.
"Saya lapar karena ikut drama orang."
Sahrul mengangguk. Anggukan yang serius, seperti seorang saksi yang memberikan kesaksian di pengadilan.
"Kami semua korban emosional."
Anggun menatap Nayla dengan senyum ramah, senyum yang tidak mengandung niat jahat, senyum yang hanya ingin membuat Nayla merasa nyaman.
"Maaf ya, mereka memang begini."
Nayla tersenyum. Senyum yang tidak canggung, senyum yang menunjukkan bahwa ia sudah mulai terbiasa dengan kekacauan yang diciptakan oleh teman, teman Iskandar.
"Justru seru."
Edo menatap Iskandar dengan mata berbinar, seperti anak kecil yang baru saja dipuji oleh gurunya.
"Dengar itu? Akhirnya ada yang menerima kami."
"Bukan."
Ridwan menyeruput kopinya, kopi hitam pekat tanpa gula, yang pahitnya bisa membuat orang yang tidak terbiasa meringis, lalu menatap Nayla dengan ekspresi datar.
"Dia menerima kamu karena sedang bahagia."
Semua langsung menoleh ke Nayla.
Nayla hampir tersedak minumnya, es teh manis yang baru saja ia pesan, yang baru saja ia hirup seteguk, tiba, tiba terasa seperti air terjun yang masuk ke saluran pernapasannya. Ia batuk, batuk kecil, menepuk dadanya, berusaha terlihat tenang meskipun wajahnya sudah memerah lagi.
"Ridwan!"
Ridwan mengangkat bahu. Bahunya yang kurus itu naik turun dengan gerakan yang santai, tanpa rasa bersalah, tanpa penyesalan, tanpa kesadaran bahwa ia mungkin telah mengatakan sesuatu yang memalukan.
"Saya hanya observasi."
Iskandar tertawa kecil.
Tawa yang ringan, tawa yang lepas, tawa yang sudah lama tidak ia rasakan. Tawa yang keluar dari perutnya, yang membuat bahunya berguncang, yang membuat matanya berbinar.
Dan untuk pertama kalinya, ia melihat Nayla tertawa di tengah lingkaran sahabatnya—tawa yang lepas, tawa yang bebas, tawa yang tidak perlu disembunyikan, seolah perempuan itu sudah lama menjadi bagian dari hidup mereka.
Padahal baru beberapa hari.
Padahal baru beberapa pertemuan.
Padahal baru beberapa percakapan.
Namun beberapa orang memang datang bukan untuk terasa baru. Mereka datang seperti seseorang yang diam, diam sudah lama ditunggu. Seperti halaman kosong yang tiba, tiba dihiasi oleh tulisan tangan yang indah. Seperti lagu yang baru pertama kali didengar tetapi langsung bisa dihafal.
Di sela tawa, Iskandar memperhatikan Nayla.
Bagaimana perempuan itu tersenyum, bukan senyum sopan yang diberikan kepada orang asing, bukan senyum yang dipaksakan untuk menyembunyikan kesedihan, tapi senyum yang tulus, senyum yang keluar dari hati, senyum yang membuat matanya berbinar.
Bagaimana matanya kembali hidup, tidak lagi kosong, tidak lagi hampa, tidak lagi seperti sedang memandang sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain, tapi seperti sedang menikmati momen, seperti sedang berada di sini dan sekarang, seperti sedang tidak ingin berada di tempat lain.
Bagaimana untuk sesaat, bayangan Aldebar tak lagi terlihat di wajahnya. Bagaimana untuk sesaat, ia melupakan mobil hitam itu. Bagaimana untuk sesaat, ia menjadi Nayla yang seharusnya, perempuan seusianya yang tertawa bersama teman, teman baru, yang menikmati malam, yang tidak terbebani oleh masa lalu.
Dan malam itu, di tengah ramainya Jalan Jenderal A. Yani, di antara lampu toko yang menyala terang, di antara aroma kopi yang menguar, di antara tawa sahabat, sahabat yang berisik, Iskandar mulai mengerti satu hal.
Kadang cinta tidak datang seperti badai yang mengoyak atap rumah dan menerbangkan pohon, pohon.
Kadang ia datang seperti kota kecil di malam hari.
Pelan.
Hangat.
Dan tanpa sadar, menjadi tempat yang ingin kita pulangi.
Namun saat Nayla bangkit hendak ke meja kasir, mungkin untuk membayar, mungkin untuk memesan tambahan, mungkin hanya untuk berdiri sebentar karena duduk terlalu lama, ponselnya yang terletak di atas meja, di samping gelas es teh yang sudah hampir habis, tiba, tiba menyala.
Layar ponsel yang tadinya gelap, sekarang terang. Cahaya biru dari layar itu memancar, menerangi wajah, wajah di sekitarnya dengan cahaya yang dingin dan tidak alami.
Satu pesan masuk.
Dari nomor yang tidak disimpan.
Tapi Nayla tahu siapa yang mengirimnya. Ia tidak perlu melihat nama. Ia tidak perlu melihat foto profil. Ia cukup melihat angka, angka itu, angka, angka yang dulu sering ia hubungi, angka, angka yang dulu membuatnya tersenyum hanya dengan muncul di layar ponselnya, angka, angka yang sekarang membuat jantungnya berdetak lebih cepat karena alasan yang berbeda.
Hanya satu kalimat pendek.
"Kamu belum cerita semuanya ke dia."
Wajah Nayla langsung berubah.
Senyum yang tadi masih menghiasi bibirnya, senyum yang tadi masih hangat, yang tadi masih tulus, yang tadi masih membuatnya terlihat seperti perempuan biasa seusianya, kini lenyap dalam sekejap.
Seperti lampu yang dimatikan.
Seperti api yang dipadamkan.
Seperti warna yang luntur terkena air.
Tangan yang tadi memegang gelas es teh dengan santai, kini gemetar.
Jari, jarinya yang tadi lincah, kini kaku.
Dadanya yang tadi tenang, kini naik turun dengan cepat.
Iskandar yang duduk di sampingnya langsung menyadari perubahan itu.
Ia tidak perlu bertanya. Ia tidak perlu melihat layar ponsel. Ia cukup melihat wajah Nayla, wajah yang tadinya cerah, kini pucat seperti mayat; wajah yang tadinya penuh dengan tawa, kini kosong seperti rumah yang ditinggalkan; wajah yang tadinya menunjukkan bahwa ia sedang bahagia, kini menunjukkan bahwa ia sedang ketakutan.
"Nayla?"
Suara Iskandar pelan, lembut, tidak ingin menekan.
Nayla menatap layar ponsel.
Matanya tidak berkedip.
Bibirnya sedikit terbuka, seperti hendak mengatakan sesuatu, tapi tidak ada suara yang keluar.
Wajahnya perlahan pucat.
Bukan pucat karena kurang tidur. Bukan pucat karena sakit. Bukan pucat karena kedinginan.
Tapi pucat karena ketakutan.
Ketakutan yang mendalam.
Ketakutan yang sudah lama ia pendam.
Ketakutan yang kini muncul kembali, seperti hantu yang tidak pernah benar, benar mati.
Dan di tengah tawa sahabat, sahabat yang masih terdengar dari kejauhan, Edo masih tertawa karena Sahrul mengatakan sesuatu yang lucu, Anggun masih memukul, mukul meja karena terlalu banyak tertawa, Ridwan masih tersenyum tipis dengan kopinya yang sudah dingin, malam yang tadi terasa hangat, kini kembali berubah dingin.
Seperti musim panas yang tiba, tiba berganti menjadi musim dingin.
Seperti api unggun yang tiba, tiba padam karena kehabisan kayu bakar.
Seperti mimpi indah yang tiba, tiba berakhir karena alarm berbunyi.
Dan Iskandar, yang duduk di samping Nayla, hanya bisa menatap.
Menatap perempuan yang mulai ia cintai.
Menatap ketakutan yang tidak bisa ia hilangkan.
Menatap rahasia yang masih belum ia ketahui.
Dan berharap bahwa ia cukup kuat untuk menghadapi apa pun yang akan terjadi selanjutnya.
BAB 17
Pesan di Tengah Keramaian
Suara tawa di warung kopi Jalan Jenderal A. Yani masih terdengar.
Edo masih berdebat soal siapa yang harus membayar, dirinya sendiri atau Sahrul, atau mungkin Iskandar, atau mungkin semua orang kecuali dirinya. Argumennya berubah, ubah setiap detik, tidak konsisten, tidak logis, seperti politisi yang sedang berkampanye. Tangannya yang gemuk itu menunjuk, nunjuk ke arah Sahrul, lalu ke arah Ridwan, lalu ke arah Anggun, lalu kembali ke arah Sahrul, seperti sedang menunjukkan pemain dalam pertandingan sepak bola yang tidak jelas posisinya.
"Kamu kan yang paling tua, harusnya traktir," kata Edo pada Sahrul, dengan nada yang penuh keyakinan meskipun tidak ada dasar.
Sahrul bersandar di kursi plastiknya, kursi yang berderit protes karena menahan beban tubuhnya yang tidak ringan, sambil tersenyum puas. Wajahnya yang bulat itu memancarkan ekspresi kemenangan, seperti seorang jenderal yang baru saja memenangkan pertempuran tanpa perlu mengangkat pedang.
"Yang paling tua justru tidak punya kewajiban traktir. Yang punya kewajiban traktir adalah yang paling banyak bicara."
Edo terdiam sejenak, mulutnya terbuka setengah, otaknya bekerja keras memproses logika Sahrul yang terbalik tetapi terdengar meyakinkan. Lalu ia menunjuk dirinya sendiri, lalu menunjuk Sahrul lagi, lalu menggaruk kepalanya yang basah karena hujan.
"Itu berarti aku yang traktir?"
Sahrul mengangguk. Anggukan yang lambat, yang penuh kemenangan, yang seperti seorang guru yang sedang menguji muridnya dan murid itu gagal.
"Bagus, kau cepat belajar."
"Tapi aku tidak punya uang."
"Itu masalahmu."
Edo menatap Sahrul dengan ekspresi campuran antara kesal dan putus asa, seperti anak kecil yang baru sadar bahwa ia telah ditipu oleh temannya sendiri. Kemudian ia menoleh ke Ridwan, yang sejak tadi duduk diam dengan kopi hitam pekat di tangannya, kopi yang sudah dingin, yang lapisan minyaknya sudah terbentuk di permukaan, yang tidak lagi menarik untuk diminum.
"Ridwan, kamu di sini sebagai apa? Sebagai penonton atau sebagai penengah?"
Ridwan menyeruput kopinya, pelan, tenang, tanpa tergesa, gesa, seperti sedang menikmati setiap tetes meskipun kopinya sudah dingin dan pahit. Lalu ia menjawab dengan suara datar yang tidak pernah berubah.
"Sebagai penikmat drama."
Edo menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, seperti sedang berdoa kepada Tuhan yang tidak pernah mendengarkan doanya.
"Ya Allah, kenapa saya dikelilingi oleh orang, orang yang tidak mau bertanggung jawab?"
Anggun yang duduk di sebelahnya tertawa, tawanya nyaring dan tidak terkendali, seperti sirine mobil pemadam kebakaran yang melintas di jalan sepi. Tangannya yang mungil itu memukul, mukul meja kayu yang sudah lapuk, membuat gelas, gelas plastik di atasnya bergetar.
"Karena Tuhan tahu kau terlalu percaya diri, jadi Ia kirim kami untuk merendahkan hatimu."
Edo menoleh ke Anggun, matanya menyipit, bibirnya mengerucut, ekspresi yang sama seperti yang biasa dilakukan Iskandar ketika sedang kesal.
"Aku tidak percaya diri. Aku hanya realistis."
"Realistis tentang apa?"
"Realistis bahwa aku orang paling tampan di sini."
Semua orang di meja itu langsung menoleh ke arah Iskandar, secara refleks, seperti kompas yang selalu menunjuk ke utara, seperti mata yang selalu mencari sumber cahaya di tengah gelap. Karena meskipun Edo tidak mau mengakuinya, semua orang tahu bahwa Iskandar adalah yang paling tampan di antara mereka. Bukan karena ia sombong, bukan karena ia sengaja, tapi karena fakta adalah fakta, dan fakta tidak peduli dengan perasaan Edo.
Rara menggeleng, gelengkan kepala sambil tertawa, tawa yang pelan, yang lembut, yang tidak mengganggu, seperti suara air mengalir di atas batu, batu sungai. Matanya yang tajam itu bergerak dari Edo ke Iskandar, lalu kembali ke Edo, seperti sedang membandingkan dua benda yang tidak sebanding.
"Percaya diri itu baik, Edo. Tapi jangan berlebihan. Nanti sakit."
"Sakit apa?"
"Sakit hati ketika kenyataan berkata lain."
Edo menghela napas panjang, helaan napas yang dramatis, yang dibuat, buat, yang seperti seorang aktor dalam sinetron yang sedang dirundung masalah.
"Kenapa kalian semua selalu merendahkanku? Apa salahku menjadi orang yang paling jujur di antara kalian?"
Sahrul menatapnya dengan ekspresi datar, tanpa ekspresi, seperti patung batu yang tidak bisa digerakkan oleh badai.
"Jujur dan tidak tahu diri itu bedanya tipis, Edo. Kadang kau berada di sisi yang salah."
Edo menatap Sahrul dengan mata yang penuh dengan kepasrahan, kepasrahan seorang pejuang yang sadar bahwa ia telah kalah dalam pertempuran, bahwa ia tidak akan pernah bisa memenangkan argumen melawan teman, temannya yang lebih licin dalam berdebat.
"Baiklah. Aku traktir. Tapi hanya minuman. Makanan bayar sendiri."
"Pelit," kata semua orang bersamaan, seperti paduan suara yang sudah latihan bertahun, tahun.
Edo tersenyum puas, bukan karena ia murah hati, tapi karena ia berhasil membuat semua orang kesal, dan itu adalah bentuk kemenangan tersendiri baginya.
Semua tampak biasa.
Semua tampak hangat.
Tawa, tawa kecil masih terdengar dari berbagai sudut meja, kadang dari Edo yang melontarkan lelucon murahan, kadang dari Sahrul yang membalas dengan sindiran pedas, kadang dari Anggun yang tertawa terlalu keras hingga membuat orang lain ikut tertawa.
Ridwan masih tenang dengan kopinya yang sudah dingin, sesekali melontarkan komentar singkat yang justru paling tajam di antara semua komentar yang ada. Rara masih tersenyum misterius, seperti sedang membaca sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain, seperti sedang memikirkan sesuatu yang tidak ingin ia bagikan.
Namun di sisi meja yang lain, dunia Nayla mendadak berhenti.
Bukan seperti mobil yang berhenti di lampu merah. Bukan seperti mesin yang kehabisan bensin. Tapi seperti bumi yang berhenti berputar. Seperti waktu yang membeku. Seperti segalanya yang bergerak tiba, tiba menjadi diam, dan yang tersisa hanya suara jantungnya yang berdetak, dum, dum, dum, dum, dum, seperti genderang perang yang memekakkan telinga, seperti palu yang memukul dada dari dalam.
Di layar ponselnya hanya ada satu kalimat.
"Kamu belum cerita semuanya ke dia."
Nomor tidak dikenal.
Tanpa nama.
Tanpa foto profil.
Tanpa tanda bintang yang menandakan bahwa nomor itu tersimpan di kontaknya.
Tapi Nayla tahu siapa yang mengirimnya.
Aldebar.
Ia tidak perlu melihat nama. Ia tidak perlu melihat bukti. Ia cukup merasakannya. Seperti aroma parfum yang terlalu familiar. Seperti suara langkah kaki yang sudah ia kenal sejak lama. Seperti bayangan yang selalu mengikuti ke mana pun ia pergi.
Cara penulisan kalimat itu, tanpa sapaan, tanpa penutup, tanpa basa, basi, sudah cukup untuk mengidentifikasi pengirimnya. Aldebar tidak pernah suka basa, basi. Aldebar selalu langsung ke inti. Aldebar selalu tahu kata, kata apa yang akan melukai paling dalam, dan ia tidak pernah ragu untuk menggunakannya.
Tangannya perlahan gemetar.
Gemetar yang hampir tidak terlihat, seperti getaran daun yang tertiup angin tipis, seperti getaran senar gitar yang baru saja dipetik, seperti getaran tubuh seseorang yang sedang menahan tangis di dalam gelap. Tapi Iskandar melihatnya. Matanya yang selalu waspada, yang sejak tadi tidak pernah benar, benar lepas dari Nayla, menangkap getaran kecil itu. Getaran yang mengatakan ada sesuatu yang salah.
Dan untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, sejak pertemuan pertama di Dermaga KP3, sejak pertemuan kedua di bawah pohon ketapang, sejak pertemuan, pertemuan berikutnya yang semakin sering dan semakin dalam, Iskandar melihat ketakutan di mata Nayla yang jauh lebih besar daripada sebelumnya.
Bukan takut karena dikejar. Itu sudah biasa. Itu sudah menjadi bagian dari hidupnya. Itu sudah seperti teman yang mengganggu tetapi sudah ia kenali sejak lama.
Bukan takut karena Aldebar datang. Ia sudah menghadapi Aldebar. Ia sudah mengatakan apa yang perlu dikatakan. Ia sudah menutup pintu.
Tapi takut karena sesuatu yang disimpan sesuatu yang selama ini ia kubur dalam, dalam, yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun, yang bahkan mungkin tidak pernah ia akui pada dirinya sendiri, tak lagi bisa terus disembunyikan.
Seperti air yang terus mengalir, akhirnya akan menemukan celah. Seperti rahasia yang terus dipendam, akhirnya akan mencari jalan keluar. Seperti luka yang tidak diobati, akhirnya akan terinfeksi dan menjadi lebih parah.
Dan Nayla takut.
Bukan takut pada Aldebar.
Bukan takut pada mobil hitam.
Bukan takut pada masa lalu.
Tapi takut pada saat ketika Iskandar mengetahui semuanya.
Takut pada ekspresi yang akan muncul di wajahnya.
Takut pada kata, kata yang akan keluar dari mulutnya.
Takut pada kemungkinan bahwa ia akan pergi.
"Nayla?"
Suara Iskandar pelan.
Lembut.
Tidak menekan.
Tidak seperti interogasi.
Tapi seperti tangan yang terulur di tengah gelap.
Nayla buru, buru mematikan layar ponselnya, gerakannya cepat, panik, seperti orang yang ketahuan mencuri. Jari, jarinya yang gemetar menekan tombol power, membuat layar yang tadi terang benderang kini menjadi gelap kembali. Gelap seperti rahasia yang ia simpan. Gelap seperti masa lalu yang ia kubur. Gelap seperti ketakutan yang tidak ingin ia tunjukkan.
Terlambat.
Iskandar sudah melihat perubahan wajahnya.
Ia tidak perlu melihat isi pesan. Ia tidak perlu membaca kata, kata yang tertulis di sana. Ia cukup melihat bagaimana wajah Nayla berubah, dari tenang menjadi tegang, dari hangat menjadi dingin, dari berbinar menjadi kosong, dalam hitungan detik.
"Tidak apa, apa," kata Nayla cepat.
Terlalu cepat.
Seperti kata, kata yang keluar tanpa melalui proses berpikir.
Seperti kebohongan yang sudah sering ia ucapkan sehingga menjadi refleks.
Seperti topeng yang ia pasang setiap kali ada yang bertanya, "Kamu baik, baik saja?"
Iskandar menatapnya.
Lama.
Matanya tidak berkedip.
Wajahnya tidak berubah.
Ia tidak mengatakan "aku tahu kamu berbohong". Ia tidak mengatakan "cerita padaku". Ia tidak mengatakan "jangan sembunyi, sembunyi".
Ia hanya menatap.
Seolah sedang membaca buku yang tertutup, tetapi ia sudah tahu isinya dari sampulnya.
Lalu ia berkata pelan, dengan suara yang tidak tinggi tidak rendah, dengan suara yang sengaja dibuat agar hanya Nayla yang mendengar.
"Kalau wajah kamu lebih pucat sedikit lagi, Edo bisa pingsan karena merasa saingannya bukan manusia."
Edo yang dari kejauhan, dari ujung meja yang lain, dari tengah perdebatan tentang siapa yang harus membayar, mendengar namanya disebut. Ia langsung menoleh, dengan mata berbinar, dengan senyum lebar, dengan antusiasme yang berlebihan.
"Siapa saingan saya?"
Sahrul menepuk bahunya, tepatan yang keras, yang seperti tamparan ringan, yang dimaksudkan untuk mengingatkan bahwa tidak semua percakapan perlu diikuti.
"Kesadaran."
Semua tertawa.
Termasuk Nayla, meski hanya sebentar.
Termasuk Nayla, meski tawanya tidak lagi lepas seperti tadi.
Termasuk Nayla, meski matanya masih menyimpan ketakutan yang tidak bisa ia sembunyikan.
Dan Iskandar sadar: bahkan saat Nayla mencoba tersenyum, bahkan saat ia berusaha untuk terlihat normal, untuk terlihat seperti tidak ada yang terjadi, untuk terlihat bahwa ia baik, baik saja—matanya masih menyimpan sesuatu yang belum selesai.
Matanya masih berkata: aku belum selesai dengan masa laluku. Aku belum selesai dengan rasa takutku. Aku belum selesai dengan semua yang telah terjadi.
Dan Iskandar, yang mulai bisa membaca mata itu, mulai bisa merasakan apa yang Nayla rasakan meskipun ia tidak mengatakannya.
"Aku ke luar sebentar."
Nayla berdiri.
Gerakannya cepat, seperti orang yang ingin melarikan diri dari sesuatu. Kursi plastik yang ia duduki bergeser sedikit ke belakang, kakinya menggores lantai tanah dengan suara kreek yang pelan.
Ia tidak menatap siapa pun. Matanya lurus ke depan, menuju pintu warung yang terbuka lebar, menuju malam di luar yang masih basah oleh hujan, menuju kegelapan yang mungkin lebih ramah daripada terangnya lampu di dalam.
Iskandar refleks ikut berdiri.
Tanpa berpikir.
Tanpa menghitung.
Tanpa bertanya, tanya apakah ini saat yang tepat.
Tubuhnya bergerak sebelum pikirannya sempat memproses, seperti refleks seorang penjaga gawang yang melompat ke arah bola tanpa tahu apakah ia akan berhasil menangkapnya.
"Mau ditemani?"
Nayla menggeleng pelan.
Gelengan yang lembut, yang tidak tegas, yang seperti angin yang berhembus sebentar lalu berhenti.
"Sebentar saja."
Namun baru beberapa langkah, belum sampai ke pintu, belum melewati meja tempat Edo dan Sahrul masih berdebat, belum melewati rak, rak bumbu yang berjejer di dinding, Rara menatap Iskandar.
Matanya yang tajam itu berkata sesuatu. Bukan dengan suara. Bukan dengan kata, kata. Tapi dengan tatapan yang sudah cukup untuk dipahami oleh orang yang mengerti bahasa diam.
"Pergi."
Iskandar menoleh.
"Kenapa?"
Rara menatap lurus. Matanya tidak berkedip. Suaranya tidak tinggi, tidak rendah, pas, seperti nada yang tepat untuk mengatakan sesuatu yang serius.
"Karena dari tadi dia terlihat kuat. Padahal sebenarnya tidak."
Iskandar diam.
Ridwan menambahkan singkat, dengan suara datar yang tidak pernah berubah, dengan ekspresi yang tidak pernah menunjukkan emosi, tetapi matanya, matanya yang biasanya kosong, kini berbicara banyak.
"Kadang orang tidak bilang minta ditemani. Tapi berharap kamu tetap datang."
Edo mengangguk. Anggukan yang serius, yang jarang muncul, yang hanya muncul ketika ia sedang tidak bercanda.
"Lihat? Bahkan saya tahu itu."
Sahrul langsung menatap. Matanya menyipit, bibirnya mengerucut, ekspresi ketidakpercayaan yang sangat khas.
"Mustahil."
Edo menunjuk dada, dadanya yang bidang dan berisi, yang ia tepuk, tepuk dengan bangga seperti sedang memamerkan sesuatu yang berharga.
"Hati saya sensitif."
"Tidak," jawab Anggun datar, tanpa jeda, tanpa pikir panjang.
"Kamu hanya kepo."
Nayla yang hampir sampai ke pintu, yang tangannya sudah hampir menyentuh tirai plastik yang menggantung di ambang pintu, sempat tersenyum kecil mendengar itu.
Senyum kecil yang muncul di sudut bibirnya.
Senyum yang tidak ia tunjukkan pada siapa pun.
Senyum yang hanya untuk dirinya sendiri.
Dan Iskandar tahu, sahabat, sahabatnya memang sering berisik, sering mengganggu, sering muncul di saat yang salah, sering membuatnya ingin memindahkan mereka ke pulau terpencil, tapi malam ini, mereka tidak salah.
Di luar warung, udara malam masih dingin oleh sisa hujan.
Gerimis tipis masih turun, rintik, rintik yang hampir tidak terasa, yang lebih seperti kabut basah daripada hujan, yang membuat kulit terasa lembab tetapi tidak basah. Butiran, butiran air yang sangat kecil itu jatuh di atas aspal yang masih basah, menciptakan lingkaran, lingkaran kecil yang segera menghilang, seperti mimpi yang terlupakan saat bangun tidur.
Lampu toko di sepanjang Jalan Jenderal A. Yani memantulkan cahaya di jalan basah, cahaya kuning dari lampu, lampu toko yang masih menyala, cahaya merah dari lampu rem mobil yang lewat, cahaya putih dari lampu depan motor yang melintas. Semua cahaya itu bercampur menjadi satu, menciptakan pantulan, pantulan berwarna yang bergerak, gerak di atas aspal hitam, seperti lukisan abstrak yang tidak memiliki makna tetapi tetap indah untuk dilihat.
Beberapa motor masih lewat pelan, pengendara yang pulang larut malam, dengan wajah yang lelah, dengan mata yang sayu, dengan pikiran yang mungkin sudah di rumah bersama keluarga. Klakson tidak lagi sesering tadi, malam semakin larut, orang, orang semakin malas membunyikan klakson, semakin malas marah, semakin malas melakukan apa pun selain pulang dan tidur.
Warung kaki lima masih ramai, beberapa orang masih duduk di kursi plastik sambil menikmati makanan terakhir sebelum pulang, beberapa pedagang masih sibuk membereskan dagangan, beberapa anak muda masih tertawa, tawa di pinggir trotoar dengan ponsel di tangan.
Kota kecil itu tetap hidup, meski malam semakin larut. Seperti lampu yang tidak pernah padam. Seperti sungai yang tidak pernah berhenti mengalir. Seperti kehidupan yang tidak pernah benar, benar berhenti meskipun kadang terasa seperti berhenti.
Nayla berdiri di dekat tiang lampu, tiang lampu jalan yang tinggi, dengan lampu kuning di atasnya yang menerangi area sekitar dengan cahaya yang hangat tetapi redup. Tiang itu terbuat dari besi yang sudah mulai berkarat di beberapa bagian, dengan cat yang sudah mengelupas, dengan stiker, stiker kecil yang ditempel oleh orang, orang yang lewat.
Ia memandang layar ponselnya yang gelap.
Layar yang gelap, tetapi hatinya tidak.
Ia bisa merasakan pesan itu masih ada di sana. Masih tersimpan di memori ponselnya. Masih menunggu untuk dibaca ulang. Masih mengancam untuk direspon.
Ia tahu Iskandar datang bahkan sebelum mendengar langkahnya.
Bukan karena ia punya indra keenam. Bukan karena ia bisa merasakan kehadiran orang dari jarak jauh. Tapi karena ia sudah terbiasa dengan kehadiran Iskandar. Karena langkah Iskandar memiliki ritme yang khas—tidak cepat, tidak lambat, tidak tergesa, gesa, tetapi juga tidak ragu, ragu. Langkah yang tenang. Langkah yang meyakinkan. Langkah yang mengatakan aku di sini, aku datang, aku tidak akan pergi.
"Katanya sebentar."
Iskandar berdiri di sampingnya.
Tidak terlalu dekat. Tidak terlalu jauh. Jarak yang sopan. Jarak yang memberikan ruang. Jarak yang mengatakan aku di sini jika kamu butuh, tetapi aku tidak akan memaksa.
Nayla tersenyum tipis.
Senyum yang terasa berat, seperti mengangkat beban yang terlalu besar, seperti berjalan di lumpur yang dalam, seperti bernapas di udara yang tipis.
"Kamu memang tidak bisa diam ya?"
"Tidak kalau soal kamu."
Jawaban itu terlalu cepat.
Terlalu jujur.
Terlalu berbahaya.
Dan membuat Nayla tak langsung sanggup menatapnya.
Matanya kembali tertuju pada layar ponsel yang gelap, pada pantulan cahaya lampu jalan di permukaan kaca, pada bayangannya sendiri yang samar, samar terlihat.
"Dia masih menghubungi kamu?"
Iskandar bertanya pelan.
Suaranya tidak tinggi, tidak rendah. Tidak seperti interogasi. Tidak seperti tuduhan. Tapi seperti pertanyaan yang diajukan oleh seseorang yang benar, benar ingin tahu, yang benar, benar peduli, yang benar, benar tidak ingin membuat yang ditanya merasa tertekan.
Nayla diam beberapa saat.
Jeda yang panjang.
Jeda yang terasa seperti abad.
Jeda di mana ia mempertimbangkan untuk berbohong, mengatakan "tidak", mengatakan "itu hanya pesan salah sambung", mengatakan "itu dari teman lama yang tidak penting".
Tapi ia lelah berbohong.
Lelah berpura, pura.
Lelah mengatakan bahwa semuanya baik, baik saja padahal tidak.
Lalu ia mengangguk.
Anggukan yang pelan.
Anggukan yang hampir tidak terlihat.
Anggukan yang seperti mengakui kekalahan.
"Kenapa?"
Nayla menghela napas.
Helaan napas yang panjang, yang berat, yang keluar dari dadanya seperti angin dari gua yang dalam.
Karena ia tahu, cepat atau lambat, malam ini memang akan sampai pada titik itu. Titik di mana ia tidak bisa lagi menghindar. Titik di mana ia harus memilih: bercerita, atau kehilangan Iskandar.
"Karena dia takut."
"Takut kehilangan?"
Nayla menatap lampu jalan.
Lampu kuning yang redup.
Lampu yang menarik serangga, serangga malam untuk terbang di sekitarnya.
Lampu yang menerangi area kecil di sekitarnya, tetapi tidak mampu menembus kegelapan di luar.
"Takut rahasia saya sampai ke orang lain."
Iskandar menoleh.
Matanya mencari mata Nayla.
"Rahasia?"
Nayla menggigit bibir bawahnya pelan.
Gigitan yang tidak terlalu keras, tetapi cukup untuk meninggalkan bekas gigi di bibirnya yang pucat.
Di kejauhan, suara klakson mobil terdengar, kadang panjang, kadang pendek, kadang bertubi, tubi. Suara yang sudah menjadi bagian dari soundtrack malam, suara yang tidak pernah benar, benar diperhatikan oleh siapa pun.
Lampu toko kelontong di seberang berkedip, mungkin karena listrik yang tidak stabil, mungkin karena bohlamnya sudah tua, mungkin karena tanda bahwa toko itu akan segera tutup.
Aroma roti bakar dari gerobak kecil lewat bersama angina, aroma roti yang dibakar dengan arang, yang permukaannya gosong di beberapa bagian, yang diolesi mentega dan gula yang meleleh.
Malam Kuala Kapuas tetap indah.
Seperti biasanya.
Seperti tidak ada yang terjadi.
Seperti tidak ada perempuan yang sedang berjuang melawan masa lalunya.
Namun di dalam hati Nayla, semuanya terasa seperti di tepi jurang.
Tepi jurang yang tinggi.
Tepi jurang yang gelap.
Tepi jurang yang jika ia jatuh, tidak akan ada yang bisa menolongnya.
"Kalau saya cerita…"
Suara Nayla nyaris seperti bisikan.
Bisikan yang hanya cukup untuk didengar oleh orang yang berdiri di sampingnya.
Bisikan yang seperti doa yang tidak berani diucapkan keras, keras.
"Kamu mungkin akan mengerti kenapa dia bilang kamu bisa pergi."
Iskandar tidak langsung menjawab.
Ia hanya berdiri di sana.
Menunggu.
Tidak memaksa.
Tidak mendesak.
Tidak bertanya.
Dan bagi Nayla, sikap itu justru jauh lebih menenangkan daripada semua kalimat penghiburan yang pernah ia dengar, kalimat, kalimat klise seperti "sudahlah lupakan saja" atau "kamu harus kuat" atau "masih banyak laki, laki baik di luar sana". Kalimat, kalimat yang diucapkan dengan niat baik tetapi seringkali justru membuat seseorang merasa semakin tidak dipahami.
Karena Iskandar tidak memaksa.
Ia hanya hadir.
Hadir seperti pohon di tengah padang pasir, memberi keteduhan tanpa diminta, memberi perlindungan tanpa diundang, memberi kesejukan tanpa mengharapkan imbalan.
Hadir seperti rumah yang selalu terbuka, tidak perlu mengetuk, tidak perlu meminta izin, tidak perlu takut ditolak.
Nayla akhirnya mengangkat wajah.
Mata mereka bertemu.
Matanya yang basah, yang merah, yang masih menyimpan sisa, sisa air mata dari tadi, kini menatap Iskandar dengan tatapan yang berbeda. Bukan tatapan ketakutan. Bukan tatapan kelelahan. Tapi tatapan kepasrahan. Tatapan seseorang yang sudah lelah berlari dan memutuskan untuk berbalik dan menghadapi pengejarnya.
"Aldebar bukan hanya mantan saya."
Iskandar diam.
Ia tidak terkejut. Ia sudah menduga bahwa hubungan Nayla dan Aldebar lebih dari sekadar pacaran biasa. Ada sesuatu di cara Aldebar menatap Nayla, ada sesuatu di cara Nayla menyebut namanya, ada sesuatu di beban yang ia bawa setiap kali pria itu muncul.
Nayla menarik napas panjang.
Napas yang masuk ke paru, parunya dengan suara desisan pelan, seperti udara yang masuk ke ban yang bocor.
Lalu mengucapkan kalimat yang selama ini selalu terasa terlalu berat untuk keluar.
Kalimat yang selama ini ia pendam di dalam hati, yang ia kubur di dalam dada, yang ia bisikkan di dalam gelap ketika tidak ada yang mendengar.
"Dia tunangan saya."
Dunia seolah mendadak sunyi.
Bukan karena jalanan berhenti. Jalanan tetap ramai. Kendaraan tetap lewat. Pedagang tetap berjualan. Suara klakson masih terdengar. Suara tawa dari dalam warung masih terdengar. Suara musik dari toko sebelah masih terdengar.
Tapi bagi Iskandar, semua suara itu mendadak menjauh.
Seperti ada yang menekan tombol volume di remote kontrol, perlahan, lahan mengecilkan suara dunia hingga yang tersisa hanya bisikan.
Seperti ia sedang berada di dalam ruang hampa, di mana suara tidak bisa merambat, di mana yang ada hanya keheningan yang memekakkan telinga.
Hanya tersisa satu kalimat itu.
Dia tunangan saya.
Bukan mantan.
Bukan kekasih lama.
Bukan seseorang yang pernah singgah sebentar lalu pergi.
Tapi tunangan.
Seseorang yang pernah ia janjikan masa depan.
Seseorang yang pernah ia rencanakan untuk membangun rumah bersamanya.
Seseorang yang pernah ia cintai cukup dalam untuk mengatakan "ya, saya mau".
Beberapa detik, Iskandar tidak berkata apa, apa.
Bibirnya terasa kering. Tenggorokannya terasa sesak. Dadanya terasa seperti ditindih batu besar. Jantungnya berdetak tidak beraturan, kadang cepat, kadang lambat, kadang seperti akan berhenti.
Ia mencerna informasi itu.
Mencernanya seperti makanan yang terlalu panas, perlahan, hati, hati, tidak terburu, buru.
Aldebar adalah tunangan Nayla.
Itu menjelaskan banyak hal. Itu menjelaskan mengapa Aldebar tidak bisa melepaskan. Itu menjelaskan mengapa ia merasa masih punya hak. Itu menjelaskan mengapa Nayla begitu takut.
Bukan hanya karena ia adalah mantan kekasih.
Tapi karena ia adalah seseorang yang pernah menjadi bagian dari hidupnya secara resmi. Seseorang yang keluarganya mungkin sudah saling kenal dengan keluarganya. Seseorang yang mungkin sudah pernah duduk di ruang tamu rumah Nayla, berbicara dengan orang tuanya tentang rencana pernikahan.
Nayla menunduk.
Rambutnya yang basah menutupi wajahnya, seperti tirai yang memisahkan dirinya dari dunia luar.
Ia sudah tahu.
Sudah menduga.
Sudah menyiapkan kemungkinan terburuk.
Bahwa laki, laki di depannya mungkin akan mundur sekarang.
Bahwa semua yang mulai tumbuh, perasaan yang perlahan ia biarkan tumbuh di hatinya, kepercayaan yang perlahan ia bangun meskipun ia takut, harapan yang perlahan ia pupuk meskipun ia tahu bisa hancur kapan saja, mungkin berhenti malam ini.
Bahwa mungkin Aldebar benar.
Tidak semua orang siap tinggal setelah tahu kenyataannya.
"Apa kamu masih mencintainya?"
Pertanyaan Iskandar pelan.
Tidak marah.
Tidak menuduh.
Tidak menyakitkan.
Hanya pertanyaan.
Pertanyaan yang diajukan oleh seseorang yang ingin tahu jawabannya, bukan untuk menghakimi, tetapi untuk memahami.
Nayla menggeleng.
Pelan.
Pasti.
"Tidak."
"Yang saya takutkan bukan kehilangan dia."
"Lalu?"
Nayla menatapnya.
Air mata perlahan jatuh lagi.
Satu tetes.
Dua tetes.
Tiga tetes.
Seperti hujan yang mulai turun satu per satu sebelum akhirnya menjadi deras.
"Yang saya takutkan… kamu melihat saya berbeda."
Kalimat itu membuat dada Iskandar sesak.
Sesak seperti sedang ditindih batu besar.
Sesak seperti sedang berenang di lautan yang dalam.
Sesak seperti sedang menahan tangis yang tidak bisa keluar.
Karena di balik semua rahasia itu, di balik status tunangan yang tidak pernah ia sebutkan, di balik hubungan dengan Aldebar yang rumit, di balik semua yang belum ia ceritakan, ternyata yang Nayla takutkan bukan masa lalunya.
Bukan Aldebar.
Bukan mobil hitam.
Bukan ketakutan akan dikejar.
Tapi kehilangan dirinya.
Kehilangan Iskandar.
Kehilangan satu, satunya orang yang membuatnya merasa bahwa ia pantas untuk dicintai.
Iskandar menatap Nayla lama.
Matanya tidak berkedip.
Wajahnya tidak berubah.
Ia tidak marah. Tidak kecewa. Tidak merasa ditipu. Tidak merasa bahwa Nayla telah menyembunyikan sesuatu yang seharusnya ia ketahui sejak awal.
Ia hanya merasakan sesuatu yang lain.
Rasa haru.
Haru karena Nayla, yang selama ini terlihat begitu kuat, yang selalu tersenyum meskipun matanya sedih, yang selalu berkata "tidak apa, apa" meskipun hatinya hancur, yang selalu berusaha terlihat tegar meskipun ia rapuh, ternyata takut.
Takut kehilangan.
Takut ditinggalkan.
Takut bahwa ia tidak pantas untuk dicintai.
Perlahan, Iskandar mengulurkan tangan.
Tangannya yang hangat itu menyentuh pipi Nayla, pipi yang basah oleh air mata, pipi yang dingin oleh angin malam, pipi yang lembut seperti sutra.
Ia menghapus satu tetes air mata.
Sangat pelan.
Sangat hati, hati.
Seolah Nayla adalah sesuatu yang terlalu rapuh untuk disakiti lagi.
Seolah ia takut jika ia menggerakkan tangannya terlalu cepat, Nayla akan pecah seperti kaca.
Nayla membeku.
Tubuhnya tidak bisa bergerak.
Matanya tidak bisa berkedip.
Napasnya tertahan di tenggorokan.
Dan dengan suara yang hampir tenggelam oleh suara malam, suara klakson dari kejauhan, suara tawa dari dalam warung, suara angin yang berhembus di antara pepohonan, Iskandar berkata.
"Saya memang melihat kamu berbeda."
Nayla menahan napas.
Jantungnya berdetak begitu kencang hingga ia bisa mendengarnya sendiri , dum, dum, dum, dum, dum, seperti genderang perang yang memekakkan telinga.
Dadanya terasa sesak.
Matanya terasa panas.
Pikirannya kosong.
Dan untuk sesaat, hatinya terasa jatuh.
Jatuh ke jurang yang dalam.
Jatuh ke tempat yang gelap.
Jatuh ke tempat di mana tidak ada harapan.
Sampai Iskandar melanjutkan.
"Bukan lebih buruk."
Nayla mengerjap.
"Justru lebih berani dari yang saya kira."
Mata Nayla langsung basah.
Bukan basah karena sedih.
Bukan basah karena takut.
Bukan basah karena kecewa.
Tapi basah karena haru.
Haru karena seseorang melihatnya bukan sebagai korban, bukan sebagai beban, bukan sebagai masalah.
Tapi sebagai seseorang yang berani.
Berani bertahan.
Berani melawan.
Berani terus hidup meskipun semuanya terasa hancur.
Karena kadang, yang menyembuhkan seseorang bukan ketika masa lalunya diterima dengan lapang dada.
Bukan ketika semua kesalahannya dimaafkan.
Bukan ketika semua lukanya diobati.
Tapi ketika luka yang dibawanya, luka yang masih berdarah, luka yang belum sembuh, luka yang mungkin tidak akan pernah benar, benar sembuh, tidak membuat orang lain pergi.
Ketika seseorang tetap tinggal meskipun sudah tahu bahwa hidupnya tidak sederhana.
Ketika seseorang tidak menjauh meskipun sudah melihat betapa rapuhnya ia sebenarnya.
Dari dalam warung, Edo mengintip dari balik kaca, kaca yang buram karena uap dari kopi panas, kaca yang memantulkan cahaya lampu kuning, kaca yang membatasi dunia di dalam yang hangat dengan dunia di luar yang dingin.
Matanya yang besar itu membulat seperti piring, mulutnya terbuka setengah, tangannya memegang gelas es teh yang sudah hampir habis.
"Wah. Ini serius banget."
Sahrul ikut mengintip dari balik bahu Edo, bahunya yang lebar menghalangi setengah pandangan, tetapi ia tetap bisa melihat Iskandar dan Nayla yang berdiri berhadapan di dekat tiang lampu.
"Jangan ganggu."
Ridwan menyeruput kopinya, kopi yang sudah dingin, yang pahitnya semakin terasa karena sudah tidak panas, yang tidak lagi enak untuk diminum tetapi ia tetap meminumnya karena ia tidak suka membuang, buang.
"Untuk pertama kalinya dalam hidup… Edo tahu kapan harus diam."
Edo menoleh.
Matanya berbinar.
Senyumnya lebar.
"Saya tersentuh."
Anggun menghela napas, helaan napas yang panjang, yang dramatis, yang seperti seorang ibu yang sedang menghadapi anak, anaknya yang nakal.
"Jangan rusak momen."
Dan di bawah lampu jalan Jenderal A. Yani, di tengah ramainya kota kecil yang tak pernah benar, benar tidur, di antara suara klakson yang kadang panjang kadang pendek, di antara aroma kopi dan roti bakar yang masih menguar, dua orang yang sama, sama terluka mulai menyadari sesuatu.
Kadang cinta datang bukan untuk menghapus masa lalu.
Kadang cinta datang bukan untuk membuat luka hilang.
Kadang cinta datang bukan untuk menjanjikan kebahagiaan selamanya.
Tapi untuk tetap tinggal.
Meski sudah tahu semuanya.
Meski sudah melihat betapa rumitnya hidup seseorang.
Meski sudah menyadari bahwa tidak ada yang namanya bahagia selamanya.
Tapi tetap tinggal.
Karena itulah cinta.
Bukan tentang menemukan seseorang yang sempurna.
Tapi tentang menemukan seseorang yang tetap bertahan meskipun tahu bahwa kita tidak sempurna.
BAB 18
Rumah di Jalan Trans
Malam di Jalan Jenderal A. Yani masih ramai.
Lampu pertokoan yang memantul di aspal basah menciptakan pantulan, pantulan berwarna yang bergerak, gerak setiap kali ada kendaraan yang lewat, pantulan merah dari lampu rem mobil, pantulan kuning dari lampu kota, pantulan putih dari lampu depan motor, pantulan biru dari papan reklame toko ponsel di seberang jalan. Semua pantulan itu bercampur menjadi satu, seperti lukisan abstrak yang tidak memiliki makna tetapi tetap indah untuk dilihat, seperti kenangan yang kacau tetapi tetap berharga.
Suara motor sesekali melintas dengan kecepatan yang bervariasi, ada yang santai, ada yang tancap gas seperti sedang balapan, ada yang knalpotnya bunyi brum, brum, brum yang menggelegar seperti suara singa yang marah. Suara klakson terdengar dari kejauhan, kadang panjang sebagai peringatan, kadang pendek sebagai salam, kadang bertubi, tubi sebagai ekspresi kekesalan yang tidak perlu.
Warung kopi di trotoar masih penuh, bapak, bapak dengan kaus oblong dan sarung masih duduk santai sambil menyesap kopi hitam pekat yang pahit, sesekali tertawa keras ketika seseorang melontarkan lelucon yang tidak terlalu lucu. Ibu, ibu dengan daster dan kerudung longgar masih sibuk mengobrol tentang harga sembako yang naik, tentang anak, anak yang nakal di sekolah, tentang tetangga yang baru saja membeli mobil baru meskipun hutangnya masih banyak.
Dan dari balik kaca warung kopi kecil tempat mereka baru saja duduk, kaca yang buram karena uap dari kopi panas, kaca yang memantulkan cahaya lampu kuning dengan cara yang membuat segalanya terlihat seperti lukisan impresionis, kaca yang membatasi dunia di dalam yang hangat dengan dunia di luar yang dingin, sahabat, sahabat Iskandar masih pura, pura tidak memperhatikan.
"Pura, pura" adalah kata kuncinya.
Karena sebenarnya semua mata sesekali melirik ke arah mereka. Edo melirik setiap kali Sahrul mengatakan sesuatu yang lucu, berpura, pura hanya ingin melihat reaksi Sahrul padahal matanya sudah melirik ke arah Iskandar dan Nayla setidaknya sepuluh kali dalam dua menit terakhir. Anggun melirik setiap kali ia menyentuh ponselnya, berpura, pura hanya mengecek notifikasi padahal layar ponselnya gelap dan tidak ada notifikasi apa pun. Rara tidak perlu melirik karena ia sudah melihat semuanya dari posisinya—ia hanya perlu menggerakkan sedikit bola matanya ke kanan, dan seluruh adegan di depan tiang lampu sudah terekam jelas di retinanya.
Bahkan Ridwan, yang paling pandai berpura, pura tidak peduli, sesekali menggerakkan kepalanya sedikit ke kanan, gerakan yang hampir tidak terlihat, gerakan yang seperti orang sedang meregangkan leher karena pegal, tetapi sebenarnya sedang mengamati dari sudut matanya.
Namun bagi Nayla, dunia malam itu terasa jauh lebih sunyi.
Sunyi seperti gereja di tengah malam.
Sunyi seperti perpustakaan ketika semua orang sedang membaca.
Sunyi seperti dasar lautan yang tidak pernah tersentuh cahaya matahari.
Bukan sunyi karena tidak ada suara, suara masih ada, suara masih terdengar, suara masih memenuhi telinganya dengan segala macam frekuensi dan desibel. Tapi sunyi karena pikirannya terlalu penuh. Sunyi karena hatinya terlalu berat. Sunyi karena ia terlalu sibuk memproses apa yang baru saja terjadi, apa yang baru saja ia katakan, apa yang baru saja ia lakukan.
Aldebar adalah tunangan saya.
Kalimat itu masih bergema di kepalanya, masih terasa asing di lidahnya, masih terasa seperti mimpi buruk yang tidak bisa ia bangunkan. Kalimat yang selama berbulan, bulan, mungkin bertahun, tahun, ia pendam di dalam hati, ia kubur di dalam dada, ia bisikkan di dalam gelap ketika tidak ada yang mendengar, kini telah keluar. Keluar ke udara terbuka. Keluar ke dunia yang nyata. Keluar ke telinga Iskandar.
Dan Iskandar tidak pergi.
Itu yang paling mengejutkan.
Itu yang paling tidak ia duga.
Itu yang paling membuatnya takut.
Bukan karena ia tidak bersyukur. Bukan karena ia tidak lega. Tapi karena untuk pertama kalinya dalam sekian lama, ia memiliki sesuatu yang berharga. Sesuatu yang jika hilang, tidak akan bisa ia gantikan dengan apa pun. Sesuatu yang membuatnya ingin bertahan, meskipun bertahan terasa lebih berat daripada menyerah.
Karena setelah sekian lama, akhirnya ada seseorang yang tidak mundur setelah tahu sebagian dari hidupnya.
Dan itu justru membuat hatinya jauh lebih takut.
Bukan takut pada Aldebar. Bukan takut pada masa lalu. Bukan takut pada rahasia yang masih tersisa.
Tapi takut pada kemungkinan bahwa ia akan kehilangan Iskandar. Bahwa suatu hari nanti, Iskandar akan sadar bahwa ia terlalu berat untuk ditanggung. Bahwa suatu hari nanti, Iskandar akan lelah dan pergi. Bahwa suatu hari nanti, ia akan kembali sendirian, seperti dulu, seperti selalu.
"Aku harus pulang."
Suara Nayla pelan, nyaris seperti bisikan, seperti suara daun yang jatuh di atas tanah yang lembab.
Suaranya tidak bergetar, ia sudah belajar untuk mengendalikan getaran di suaranya, sudah belajar untuk terlihat tenang meskipun hatinya hancur, sudah belajar untuk tersenyum meskipun matanya ingin menangis. Tapi matanya, matanya yang selalu jujur, yang tidak bisa berbohong, yang selalu mengatakan apa yang sebenarnya ia rasakan, masih basah, masih merah, masih menyimpan sisa, sisa air mata yang tidak ingin ia tunjukkan.
Iskandar menatapnya.
Matanya yang teduh itu mencari mata Nayla, mencoba membaca apa yang tidak ia katakan, mencoba memahami apa yang tidak ia ungkapkan.
"Sekarang?"
Nayla mengangguk.
Anggukan yang pelan, yang lemas, yang seperti orang yang kehabisan energi. Anggukan yang mengatakan aku lelah, aku tidak bisa lagi, aku butuh istirahat.
"Kalau terlalu malam, Mama pasti khawatir."
"Mama tahu kamu keluar?"
"Tahu."
Nayla tersenyum kecil.
Senyum yang lembut, senyum yang hangat, senyum yang membuat Iskandar ingin melindunginya meskipun ia tahu Nayla tidak butuh dilindungi.
"Tapi Mama tidak tahu saya pulang dengan cerita serumit ini."
Iskandar menatapnya beberapa detik.
Matanya bergerak dari wajah Nayla yang pucat, ke matanya yang basah, ke bibirnya yang sedikit mengerucut, kebiasaan yang ia lakukan ketika sedang gugup, ketika sedang tidak yakin, ketika sedang berusaha terlihat lebih kuat dari yang sebenarnya.
Lalu ia bertanya pelan, dengan suara yang lembut, dengan suara yang tidak menekan, dengan suara yang memberikan ruang bagi Nayla untuk memilih.
"Mau saya antar?"
Nayla sempat diam.
Jeda yang singkat, tetapi terasa seperti abad.
Jeda di mana ia mempertimbangkan untuk mengatakan "tidak". Untuk mengatakan "aku bisa sendiri". Untuk mengatakan "tidak perlu repot, repot". Untuk mengatakan semua kalimat yang biasa ia ucapkan ketika ia tidak ingin merepotkan orang lain, ketika ia ingin terlihat mandiri, ketika ia ingin membuktikan bahwa ia tidak butuh siapa pun.
Tapi ia lelah.
Lelah berpura, pura kuat.
Lelah mengatakan "tidak apa, apa" ketika hatinya hancur.
Lelah berjalan sendiri ketika ia sebenarnya ingin ditemani.
Lalu ia mengangguk pelan.
Anggukan yang hampir tidak terlihat, yang hanya cukup untuk dilihat oleh Iskandar, yang seperti mengakui bahwa ia butuh seseorang, bahwa ia tidak ingin sendirian, bahwa ia menginginkan kehadiran Iskandar di sisinya.
Dan jawaban sederhana itu, entah kenapa, terasa lebih dalam daripada yang terlihat.
Lebih dalam daripada sekadar "iya, antar aku pulang".
Lebih dalam daripada sekadar "aku tidak ingin sendirian di jalan".
Lebih dalam daripada sekadar "aku butuh kamu".
Tapi seperti mengatakan: aku percaya padamu. Aku merasa aman denganmu. Aku ingin kamu menjadi bagian dari hidupku, meskipun aku takut.
Beberapa menit kemudian, motor Iskandar melaju meninggalkan pusat kota.
Suara mesin motor tuanya itu menggeram pelan, seperti harimau yang baru bangun dari tidurnya, seperti kucing yang sedang tidak mood diajak bermain, seperti suara yang sudah menjadi teman setianya selama bertahun, tahun. Getarannya terasa di jok, di setang, di pijakan kaki, getaran yang sudah biasa, yang tidak lagi ia perhatikan, tetapi malam ini terasa berbeda. Malam ini, setiap getaran terasa seperti detak jantung, setiap putaran roda terasa seperti langkah menuju sesuatu yang tidak bisa ia prediksi.
Mereka melewati kawasan menuju jalan trans arah Mantangai, jalan yang menghubungkan pusat pemerintahan dengan wilayah luar kota, jalan yang di siang hari ramai oleh truk, truk besar yang membawa kelapa sawit dari perkebunan, yang di malam hari sunyi dan sepi, hanya diterangi oleh lampu, lampu jalan yang jarang dan redup.
Jalan trans ini berbeda dengan jalan, jalan di pusat kota. Tidak ada toko, toko yang berjejer rapi, tidak ada warung, warung kopi yang ramai, tidak ada lampu, lampu neon yang terang benderang. Yang ada hanya deretan pepohonan di kiri, kanan, pohon, pohon besar yang sudah berusia puluhan tahun, dengan akar, akar yang muncul ke permukaan tanah, dengan daun, daun yang rimbun menaungi jalan di siang hari, dengan bayangan, bayangan yang menyeramkan di malam hari.
Malam semakin tenang di kawasan itu.
Sunyi yang berbeda dengan sunyi di pusat kota. Sunyi yang tidak dipecahkan oleh suara klakson atau tawa orang atau musik dari toko, toko. Sunyi yang hanya dipecahkan oleh suara jangkrik yang bersahutan dari balik semak, semak, suara angin yang berhembus di antara dedaunan, suara ban motor yang melewati aspal yang sedikit kasar.
Di sisi kiri jalan, tampak kompleks perumahan yang tertata rapi, rumah, rumah dengan pagar besi yang dicat hijau, dengan halaman yang ditanami rumput dan bunga, dengan lampu teras yang menyala redup seperti mata yang setengah terbuka. Beberapa rumah masih terang, mungkin penghuninya belum tidur, mungkin mereka sedang menonton televisi, mungkin mereka sedang menunggu anggota keluarga yang belum pulang.
Di kejauhan, berdiri megah kawasan Kantor Bupati Kapuas, bangunan putih dengan arsitektur khas melayu, dengan atap yang runcing seperti tanduk kerbau, dengan tiang, tiang yang kokoh, dengan halaman yang luas dan tertata rapi. Lampu, lampu di sekitar kantor masih menyala redup meskipun aktivitas kantor sudah selesai, mungkin untuk penerangan, mungkin untuk keamanan, mungkin hanya karena tidak ada yang mematikan.
Beberapa kendaraan dinas masih terparkir di halaman, mobil, mobil hitam dengan plat merah, mobil, mobil putih dengan tulisan "PEMKAB KAPUAS" di sampingnya, beberapa motor yang digunakan oleh petugas keamanan yang berjaga semalam suntuk.
Pohon, pohon di tepi jalan bergoyang pelan tertiup angin malam, angin yang dingin, angin yang membawa aroma tanah basah, aroma dedaunan, aroma sesuatu yang segar dan alami. Daun, daun bergesekan satu sama lain, menciptakan suara kresek, kresek, kresek yang menenangkan, seperti lagu pengantar tidur yang dinyanyikan oleh alam sendiri.
Wilayah itu berbeda dari pusat kota.
Lebih tenang. Lebih teduh. Lebih seperti tempat di mana orang, orang pulang setelah seharian bergelut dengan hiruk, pikuk dunia. Lebih seperti tempat di mana seseorang bisa melepas topeng, bisa menjadi dirinya sendiri, bisa menangis tanpa takut dilihat orang.
Nayla duduk di belakang Iskandar tanpa banyak bicara.
Diamnya bukan diam yang canggung. Bukan diam yang tegang. Bukan diam yang membuat orang ingin segera mencari topik pembicaraan baru.
Tapi diam yang nyaman.
Diam yang mengatakan aku percaya padamu.
Diam yang mengatakan aku tidak perlu bicara untuk merasa dekat denganmu.
Diam yang hanya bisa terjadi antara dua orang yang mulai saling memahami, yang mulai saling mengenal, yang mulai saling jatuh cinta.
Namun kali ini, tangannya tidak hanya memegang ujung kemeja Iskandar.
Tangannya perlahan melingkar di sisi pinggangnya.
Bukan memeluk erat. Bukan meremas kuat. Hanya melingkar. Seperti ular yang melingkar di dahan pohon, tetapi tidak melilit. Seperti sungai yang mengalir di antara bukit, bukit, tetapi tidak menghanyutkan. Seperti sesuatu yang lembut, yang hangat, yang membuat Iskandar ingin berhenti di tengah jalan dan tidak pernah pergi ke mana, mana lagi.
Iskandar hampir kehilangan fokus.
Bukan karena jalan yang berbahaya. Jalan trans ini lurus, tidak banyak tikungan, tidak banyak lubang. Bukan karena malam yang gelap. Lampu depan motornya masih menyala cukup terang untuk menerangi jalan di depannya.
Tapi karena sentuhan kecil itu, sentuhan yang tidak disengaja tetapi juga tidak dihindari, sentuhan yang seperti bisikan di telinga, sentuhan yang membuat jantungnya berdetak lebih cepat dari seharusnya, terasa seperti kepercayaan yang diberikan pelan, pelan.
Kepercayaan yang tidak diminta, tetapi diterima dengan senang hati.
Kepercayaan yang tidak diucapkan, tetapi dirasakan dengan jelas.
Kepercayaan yang mengatakan aku aman di dekatmu. Aku tidak perlu takut. Aku bisa menjadi diriku sendiri.
"Kamu diam."
Suara Nayla terdengar pelan dari belakang, pelan tetapi jelas, seperti suara yang sengaja dibuat lembut agar tidak mengganggu konsentrasi Iskandar, tetapi tetap ingin didengar.
Iskandar tersenyum.
Senyum yang tidak bisa ia lihat, tetapi Nayla bisa merasakannya dari getaran di punggungnya, dari perubahan ritme napasnya, dari cara bahunya sedikit mengendur.
"Saya sedang berusaha tetap sadar."
"Kenapa?"
"Karena kalau begini terus, saya bisa lupa jalan pulang."
Nayla tertawa kecil.
Tawa yang pelan, yang lembut, yang seperti angin yang berhembus di antara dedaunan. Tawa yang tidak mengganggu ketenangan malam, tetapi justru membuat malam terasa lebih hidup.
"Ternyata kamu masih sempat bercanda."
"Kalau saya serius terus, kamu takut."
Nayla diam beberapa detik.
Jeda di mana ia memikirkan kata, kata Iskandar, memprosesnya, merasakannya di dalam hati.
Lalu ia berbisik pelan, dengan suara yang nyaris tidak terdengar di atas suara angin dan mesin motor.
"Mungkin sekarang tidak."
Iskandar tidak menjawab.
Ia hanya terus melaju, terus membawa Nayla pulang, terus menjadi alasan mengapa Nayla merasa aman meskipun dunia di sekelilingnya terasa seperti akan runtuh kapan saja.
Namun malam itu, jalan menuju rumah Nayla terasa jauh lebih pendek daripada yang seharusnya.
Seperti waktu yang berjalan lebih cepat ketika kita sedang bahagia.
Seperti jarak yang terasa lebih dekat ketika kita tidak ingin berpisah.
Seperti sesuatu yang tidak adil, tetapi tidak bisa kita ubah.
Mereka berhenti di sebuah rumah sederhana namun asri, di kawasan perumahan depan jalur menuju kantor pemerintahan.
Perumahan ini tidak seperti perumahan di kota, kota besar yang seragam dan teratur, rumah, rumah dengan desain yang sama, dengan ukuran yang sama, dengan cat yang sama. Rumah, rumah di sini berbeda satu sama lain, ada yang besar dengan pagar besi yang dicat hijau, ada yang kecil dengan pagar kayu yang sudah lapuk, ada yang sederhana dengan halaman yang ditanami bunga dan sayuran, ada yang lebih modern dengan dinding keramik dan jendela kaca.
Tapi semuanya memiliki satu kesamaan: terasa seperti rumah. Bukan sekadar bangunan tempat berteduh. Bukan sekadar aset yang nilainya naik turun mengikuti pasar properti. Tapi rumah. Tempat di mana seseorang dilahirkan, dibesarkan, dicintai, dan dipeluk ketika mereka jatuh.
Rumah Nayla adalah salah satu yang sederhana.
Pagar putih kecil, pagar besi yang dicat putih, yang catnya sudah mulai mengelupas di beberapa bagian, memperlihatkan besi di bawahnya yang mulai berkarat. Pagar itu tidak terlalu tinggi—mungkin hanya setinggi dada orang dewasa, cukup untuk menandai batas antara milik publik dan milik pribadi, tetapi tidak cukup untuk menghalangi siapa pun yang benar, benar ingin masuk.
Halaman dengan tanaman bunga, mawar merah yang mekar sepanjang tahun, melati putih yang harumnya semerbak di malam hari, kamboja yang bunganya sering jatuh ke tanah dan mengering, beberapa pot tanaman hias yang diletakkan di teras. Halaman itu tidak luas, tidak seperti taman di istana, tetapi cukup untuk membuat rumah terasa hidup, cukup untuk membuat orang yang lewat tersenyum melihatnya.
Lampu teras menyala hangat, lampu kuning yang tidak terlalu terang, tidak terlalu redup, seperti cahaya lilin yang menari, nari ditiup angin. Lampu itu menyala setiap malam, sejak Nayla masih kecil, sejak ayahnya memasangnya untuk pertama kali, sejak ibunya selalu berkata "biarkan lampu teras menyala, supaya orang yang pulang larut tidak tersesat".
Dan suara televisi samar terdengar dari dalam rumah, suara yang tidak jelas, yang hanya berupa dengungan rendah, seperti suara lebah yang terbang di kejauhan. Mungkin ayahnya sedang menonton berita malam. Mungkin ibunya sedang menonton sinetron. Mungkin mereka berdua sedang duduk di ruang tamu, menunggu anak perempuan mereka pulang.
Rumah itu tidak besar.
Mungkin hanya dua kamar tidur, satu ruang tamu, satu dapur, satu kamar mandi. Mungkin tidak cukup untuk keluarga besar, tidak cukup untuk pesta, pesta meriah, tidak cukup untuk mengundang banyak tamu.
Tapi terasa damai.
Damai seperti danau di pagi hari.
Damai seperti bacaan doa setelah salat.
Damai seperti pelukan ibu ketika kita sedang sedih.
Nayla turun perlahan dari motor.
Gerakannya lambat, seperti tidak ingin malam ini berakhir, seperti ingin menunda detik ketika ia harus masuk ke dalam rumah dan Iskandar harus pergi.
Ia berdiri di samping motor, merapikan cardigan, nya yang sedikit kusut, menyeka air hujan yang masih menempel di wajahnya, mencoba terlihat seperti tidak ada yang terjadi.
Lalu ia menatap rumahnya.
Matanya bergerak dari pagar putih yang mulai mengelupas, ke halaman dengan tanaman bunga yang basah oleh hujan, ke lampu teras yang menyala hangat, ke pintu kayu yang tertutup rapat.
"Ini rumah saya."
Iskandar mengangguk.
Matanya juga mengamati rumah itu, dari pagar hingga atap, dari lampu teras hingga jendela kamar yang gelap. Ia mencoba membayangkan Nayla kecil berlarian di halaman itu, Nayla remaja duduk di teras sambil membaca buku, Nayla dewasa berdiri di ambang pintu sambil tersenyum menyambut tamu.
"Bagus."
Nayla tersenyum kecil.
Senyum yang lembut, senyum yang hangat, senyum yang terasa seperti rumah itu sendiri.
"Mama bilang rumah tidak harus besar. Asal nyaman untuk pulang."
Kalimat itu membuat Iskandar diam.
Karena entah kenapa, malam ini banyak hal sederhana dari Nayla yang terasa terlalu dalam.
Bukan dalam seperti lautan yang tidak bisa diukur. Tapi dalam seperti sumur yang airnya jernih dan dingin, kelihatan dasarnya, tetapi tetap membuat orang yang melihatnya merasa kecil.
Rumah tidak harus besar. Asal nyaman untuk pulang.
Mungkin itu yang selama ini ia cari. Bukan rumah yang besar dengan kamar, kamar yang tidak terpakai, bukan rumah yang mewah dengan perabotan mahal, bukan rumah yang terletak di lokasi elit dengan pemandangan kota yang indah.
Tapi rumah yang nyaman untuk pulang.
Rumah yang ketika ia sampai di depan pintu, ia merasa lega.
Rumah yang ketika ia masuk ke dalam, ia merasa aman.
Rumah yang ketika ia berbaring di tempat tidur, ia bisa tidur nyenyak tanpa perlu memikirkan apa, apa.
Dan malam itu, di depan rumah Nayla, untuk pertama kalinya Iskandar merasa bahwa ia mungkin telah menemukan rumah itu. Bukan rumah dalam bentuk bangunan dengan dinding dan atap. Tapi rumah dalam bentuk seseorang. Seseorang yang membuatnya ingin pulang. Seseorang yang membuatnya merasa bahwa perjalanan panjang yang ia tempuh selama ini, dari Kuala Kapuas ke Banjarmasin, dari Banjarmasin kembali ke Kuala Kapuas, tidak sia, sia.
Belum sempat Nayla membuka pagar, belum sempat tangannya yang masih sedikit gemetar itu menyentuh gagang besi yang sudah mulai berkarat, belum sempat ia mendorong pagar yang sedikit macet karena engselnya sudah tua, pintu rumah terbuka.
Bukan terbuka dengan suara krek yang keras. Bukan terbuka dengan tiba, tiba seperti dalam film, film horor. Tapi terbuka perlahan, lembut, seperti pintu yang dibuka oleh seseorang yang sudah lama menunggu, yang sudah tidak sabar, yang ingin segera melihat anaknya pulang.
Seorang perempuan paruh baya keluar ke teras.
Wajahnya lembut, lembut seperti kapas, seperti bulu, seperti sesuatu yang tidak akan melukai meskipun disentuh. Keriput di sudut matanya tidak mengurangi kecantikannya, justru menambah kharisma, seperti buku yang sudah tua tetapi isinya semakin berharga, seperti anggur yang sudah disimpan bertahun, tahun dan rasanya semakin nikmat.
Sorot matanya hangat, hangat seperti api unggun di malam yang dingin, seperti selimut tebal di musim hujan, seperti secangkir cokelat panas setelah seharian bekerja di luar ruangan. Sorot mata yang mengatakan aku senang kamu pulang, aku khawatir jika kamu lama, lama di luar, aku sayang kamu.
Tapi tetap penuh ketegasan khas seorang ibu. Ketegasan yang tidak perlu diucapkan dengan kata, kata, yang cukup terlihat dari cara ia berdiri, dari cara ia melipat tangan di dada, dari cara ia menatap putrinya dengan mata yang berkata kamu pikir aku tidak tahu bahwa ada yang berbeda denganmu malam ini?
"Mama belum tidur?" tanya Nayla, suaranya sedikit meninggi, seperti orang yang mencoba terlihat normal padahal sedang tidak normal.
Perempuan itu, ibunda Nayla, yang namanya akan kita kenal sebagai Bu Rahma, meskipun dalam cerita ini ia mungkin hanya disebut "ibunda Nayla" atau "ibu Nayla", menatap Nayla.
Matanya bergerak dari wajah Nayla yang pucat, ke cardigan, nya yang basah di bagian bahu, ke rambutnya yang lepek karena air hujan, ke sepatu sandalnya yang berlumuran lumpur.
Lalu matanya berpindah pada Iskandar.
Bukan tatapan curiga. Bukan tatapan menghakimi. Tapi tatapan ingin tahu. Tatapan seorang ibu yang melihat anak perempuannya pulang diantar oleh laki, laki yang tidak ia kenal, yang belum pernah ia lihat sebelumnya, yang tiba, tiba muncul di depan rumahnya pada malam hari.
Beliau tersenyum kecil.
Senyum yang ramah. Senyum yang tidak menakutkan. Senyum yang membuat Iskandar sedikit lebih tenang, meskipun jantungnya masih berdebar kencang.
"Kalau anak perempuan belum pulang, ibu mana bisa tidur?"
Nayla tersenyum salah tingkah.
Senyum yang terasa canggung, yang tidak natural, yang seperti topeng yang dipasang di wajahnya untuk menyembunyikan apa yang sebenarnya ia rasakan.
"Ma..."
Perempuan itu turun satu langkah ke teras, langkah yang pelan, yang hati, hati, seperti seseorang yang tidak ingin tergelincir di lantai yang basah oleh air hujan.
Matanya tidak lepas dari Iskandar.
"Mama pikir tadi hujan deras. Ternyata yang datang malah tamu."
Wajah Nayla langsung memerah.
Merah seperti tomat yang baru matang.
Merah seperti mawar yang mekar di musim semi.
Merah seperti api yang menyala di perapian.
Merah seperti sesuatu yang terbakar, dan yang terbakar bukan kulitnya, tapi hatinya. Hatinya yang tadi baru saja tenang, sekarang berdegup kencang lagi, seperti genderang perang yang dipukul dengan keras.
"Ma, ini..."
Iskandar segera turun dari motor.
Gerakannya cepat, seperti orang yang baru sadar bahwa ia sedang berada di depan rumah kekasihnya dan harus memberikan kesan pertama yang baik. Tangannya merapikan jaket, jaket yang sudah basah di bagian bahu, yang sudah kusut karena dipakai seharian, yang tidak akan pernah terlihat rapi meskipun ia merapikannya seratus kali.
Ia menunduk sopan, menunduk dalam, seperti yang diajarkan orang tua sejak kecil, seperti yang selalu ia lakukan ketika bertemu dengan orang yang lebih tua, seperti yang ia lakukan ketika pertama kali bertemu dengan calon mertua meskipun ia tidak tahu apakah Nayla akan menjadi istrinya suatu hari nanti.
"Malam, Bu. Saya Iskandar."
Ibu Nayla menatapnya beberapa detik.
Matanya bergerak dari wajah Iskandar yang tegang, tegang karena gugup, tegang karena takut memberikan kesan buruk, tegang karena ia tidak pernah pandai dalam situasi seperti ini, ke pakaiannya yang sederhana namun rapi, ke sikapnya yang sopan namun tidak kaku, ke caranya menunduk yang menunjukkan bahwa ia dibesarkan dengan baik.
Lalu ia tersenyum ramah.
Senyum yang tulus. Senyum yang mengatakan kamu boleh masuk, kamu tidak perlu takut, aku tidak akan menggigitmu.
"Saya ibunya Nayla. Silakan jangan berdiri di pagar seperti orang mau melamar mendadak."
Nayla langsung menutup wajah.
Kedua telapak tangannya menutupi pipinya yang merona, seperti anak kecil yang malu karena ketahuan menyembunyikan permen di bawah bantal.
"Mama!"
Iskandar nyaris tersedak oleh napasnya sendiri.
Udara yang masuk ke paru, parunya terasa seperti tersumbat di tenggorokan, membuatnya batuk, batuk kecil, menepuk dadanya, berusaha terlihat tenang meskipun wajahnya sudah memerah seperti Nayla.
Dan dari dalam rumah, terdengar suara laki, laki paruh baya.
Suara yang berat, yang dalam, yang seperti suara dari dasar sumur yang dalam. Suara yang sudah puluhan tahun menjadi kepala keluarga, yang sudah puluhan tahun mengambil keputusan, yang sudah puluhan tahun menjadi pelindung bagi istri dan anak, anaknya.
"Siapa, Mah?"
Seorang pria keluar sambil memakai kacamata baca, kacamata dengan lensa tebal yang melambung di bagian tengah, yang membuat matanya terlihat lebih besar dari aslinya, yang membuatnya terlihat seperti burung hantu yang bijaksana.
Wajah tenang, tenang seperti danau di pagi hari, tenang seperti langit yang tidak berawan, tenang seperti seseorang yang sudah tidak lagi terkejut oleh apa pun yang terjadi dalam hidupnya.
Sorot matanya tajam namun bersahabat, tajam seperti elang yang sedang mengamati mangsanya dari kejauhan, tetapi bersahabat seperti tetangga yang selalu menyapa ketika berpapasan di jalan. Mata yang telah melihat banyak hal, yang tidak mudah terkejut, yang tidak mudah terkesan, tetapi juga tidak mudah marah.
Ayah Nayla.
Beliau memandang Iskandar.
Matanya bergerak dari kepala hingga ujung kaki, mengamati, menilai, mengevaluasi. Bukan dengan sengaja. Bukan dengan niat buruk. Tapi seperti kebiasaan seorang ayah yang selalu ingin tahu siapa yang mendekati anak perempuannya.
Lalu ia menoleh ke Nayla.
Lalu kembali ke Iskandar.
Dan dengan suara yang datar, yang tidak menunjukkan emosi, yang sulit ditebak apakah ia sedang marah atau bercanda, ia berkata:
"Malam, malam begini antar anak saya? Berarti orang baik... atau nekat."
Nayla langsung menghela napas.
Helaan napas yang panjang, yang berat, yang seperti angin dari gua yang dalam. Helaan napas yang mengatakan Ya Tuhan, kenapa Papa dan Mama harus begini?
"Papa…"
Iskandar tersenyum gugup.
Senyum yang tidak bisa ia kendalikan, yang muncul begitu saja di bibirnya tanpa izin, yang membuatnya terlihat seperti anak kecil yang ketahuan mengambil kue dari toples tanpa izin.
"Mungkin dua, duanya, Pak."
Hening dua detik.
Dua detik yang terasa seperti abad.
Dua detik di mana Iskandar bisa mendengar detak jantungnya sendiri, dum, dum, dum, dum, dum, seperti genderang perang yang dipukul dengan keras.
Lalu ayah Nayla tertawa kecil.
Tawa yang pelan, yang lembut, yang tidak menggelegar seperti tawa Edo, tetapi terasa hangat. Tawa yang mengatakan aku suka kamu, kamu jujur, kamu tidak berusaha terlihat sempurna.
"Bagus. Setidaknya jujur."
Nayla menatap kedua orang tuanya bergantian.
Matanya bergerak dari ibunya yang masih tersenyum dengan senyum yang terlalu tahu, ke ayahnya yang masih mengamati Iskandar dengan mata yang terlalu tajam untuk ukuran orang yang baru pertama kali bertemu.
"Mama, Papa, jangan begitu."
Ibunya tersenyum.
Senyum yang lembut, senyum yang hangat, senyum yang mengatakan ibu hanya bercanda, tetapi tidak sepenuhnya bercanda.
"Kami hanya ingin tahu siapa yang membuat anak kami pulang sambil tersenyum."
Nayla langsung terdiam.
Mulutnya terbuka setengah, seperti hendak mengatakan sesuatu, tetapi tidak ada suara yang keluar.
Matanya membesar.
Pipinya yang tadinya sudah merah, kini semakin merah.
Karena ia baru sadar, sepanjang perjalanan pulang, dari warung kopi di Jalan A. Yani hingga ke depan rumahnya, dari saat ia melingkarkan tangannya di pinggang Iskandar hingga saat ia turun dari motor, ia memang tersenyum.
Bukan senyum yang dipaksakan. Bukan senyum yang dibuat, buat untuk menyembunyikan kesedihan. Tapi senyum yang tulus. Senyum yang keluar dari hati. Senyum yang tidak bisa ia kendalikan.
Dan itu rupanya terlihat.
Terlihat oleh ibunya yang sudah mengenalnya sejak ia masih dalam kandungan.
Terlihat oleh ayahnya yang sudah melihatnya tumbuh dari bayi hingga dewasa.
Terlihat oleh kedua orang tua yang tidak pernah berhenti memperhatikannya, meskipun ia sudah dewasa, meskipun ia sudah bisa menjaga dirinya sendiri, meskipun ia sudah tidak perlu lagi diawasi.
Ayah Nayla menatap Iskandar.
Matanya yang tadinya sedikit bercanda, kini berubah serius. Serius seperti seorang ayah yang akan menanyakan niat anak laki, laki yang mendekati putrinya.
"Kamu kerja di mana, Nak?"
Iskandar menjawab dengan suara yang tegas, tidak ragu, ragu, tidak tergesa, gesa. Seperti orang yang tahu apa yang ia katakan, yang tidak perlu berbohong, yang tidak perlu melebih, lebihkan.
"Di Kuala Kapuas juga, Pak."
"Rumah?"
"Di Jalan Jenderal A. Yani, Pak."
Ayah Nayla mengangguk pelan.
Anggukan yang tidak menunjukkan apa, apa, bukan persetujuan, bukan penolakan, hanya pengakuan bahwa ia mendengar, bahwa ia mencatat informasi itu di dalam kepalanya, bahwa ia akan mengingatnya untuk referensi di masa depan.
"Teman lama?"
Iskandar menoleh ke Nayla.
Matanya bertemu dengan mata Nayla, mata yang masih basah, yang masih merah, yang masih menyimpan sisa, sisa air mata dari tadi, tetapi juga mata yang mengatakan aku di sini, aku tidak akan membiarkanmu dihakimi sendirian.
Lalu ia tersenyum kecil.
"Belum lama kenal, Pak."
Ibunya langsung menimpali lembut, lembut seperti bulu, seperti kapas, seperti sesuatu yang tidak akan melukai meskipun disentuh, tetapi tetap tajam di dalamnya.
"Kalau belum lama tapi sudah diantar sampai rumah... biasanya hati yang duluan kenal."
"Ma!"
Nayla benar, benar ingin menghilang malam itu.
Menghilang seperti kabut yang sirna saat matahari meninggi.
Menghilang seperti mimpi yang terlupakan saat bangun tidur.
Menghilang seperti sesuatu yang tidak pernah ada.
Iskandar menunduk, menunduk untuk menyembunyikan senyum yang tidak bisa lagi disembunyikan, senyum yang muncul di sudut bibirnya tanpa izin, senyum yang mengatakan aku suka keluargamu, aku suka cara mereka bercanda, aku suka suasana hangat yang mereka ciptakan.
Namun beberapa detik kemudian, ibu Nayla menatap putrinya lebih lama.
Matanya yang tadi hangat, yang tadi penuh dengan candaan, kini berubah. Berubah menjadi lebih serius. Lebih dalam. Lebih seperti mata seorang ibu yang bisa melihat apa yang tidak terlihat oleh orang lain.
Senyumnya perlahan memudar.
Seperti lampu yang diredupkan perlahan.
Seperti warna yang luntur terkena air.
Seperti sesuatu yang indah yang tidak bisa bertahan lama.
"Nayla."
Nada suaranya berubah lembut.
Lembut seperti bisikan, tetapi tajam seperti pisau yang dibungkus sutra.
"Kamu menangis?"
Nayla langsung terdiam.
Beku.
Seperti patung.
Seperti batu.
Seperti sesuatu yang tidak bisa bergerak.
Iskandar ikut menegang.
Tubuhnya yang tadi sedikit santai, yang tadi mulai merasa nyaman dengan suasana hangat di depan rumah ini, kini kaku seperti tali yang ditarik terlalu kencang.
Ayah Nayla menatap lebih serius.
Matanya yang tadi masih bersahabat, yang tadi masih hangat, kini berubah. Berubah menjadi tajam. Tajam seperti elang yang melihat mangsanya. Tajam seperti detektif yang sedang menginterogasi tersangka.
"Kenapa?"
Malam yang tadinya hangat, yang tadinya penuh dengan candaan dan senyum dan tawa kecil, mendadak berubah pelan.
Seperti musim panas yang tiba, tiba berganti menjadi musim dingin.
Seperti api unggun yang tiba, tiba padam karena kehabisan kayu bakar.
Seperti mimpi indah yang tiba, tiba berakhir karena alarm berbunyi.
Karena untuk pertama kalinya, kedua orang tua Nayla melihat sesuatu yang selama ini berusaha disembunyikan putrinya, sesuatu yang ia simpan di balik senyum, sesuatu yang ia kubur di balik tawa, sesuatu yang ia pendam di dalam hati.
Bahwa di balik senyum yang ia tunjukkan malam ini, senyum yang tulus, senyum yang tidak dipaksakan, senyum yang keluar dari hati, masih ada luka yang belum benar, benar selesai.
Luka yang masih berdarah.
Luka yang masih terasa sakit.
Luka yang mungkin tidak akan pernah benar, benar sembuh.
Nayla menunduk.
Rambutnya yang masih basah menutupi wajahnya, seperti tirai yang memisahkan dirinya dari dunia luar, seperti dinding yang melindunginya dari tatapan, tatapan yang ingin menembus ke dalam hatinya.
"Tidak apa, apa, Ma."
Ibunya melangkah mendekat.
Langkah yang pelan, yang hati, hati, yang seperti seseorang yang mendekati burung yang sedang terluka, takut jika bergerak terlalu cepat, burung itu akan terbang dan tidak pernah kembali.
Tangannya yang lembut, tangan yang telah membesarkannya, tangan yang telah mengajarinya berjalan, tangan yang telah mengusap air matanya setiap kali ia jatuh, menggapai tangan Nayla.
"Mama tahu wajah anak Mama."
Ayahnya ikut berdiri diam.
Beliau tidak bergerak. Tidak mendekat. Tidak menjauh.
Hanya berdiri di tempatnya, dengan tangan di saku celana, dengan wajah yang tidak lagi menunjukkan ekspresi apa pun, bukan marah, bukan sedih, bukan kecewa, hanya kosong.
Tapi matanya, matanya yang tajam itu, berbicara banyak.
Matanya bertanya: siapa yang membuat anakku menangis? Siapa yang melukai hatimu? Siapa yang harus papa cari dan mintai pertanggungjawaban?
Dan tatapan beliau bergeser pada Iskandar.
Bukan curiga.
Iskandar tidak terlihat seperti orang yang akan melukai Nayla. Iskandar terlihat seperti orang yang justru akan melindungi Nayla dari apa pun, termasuk dari dirinya sendiri.
Tapi penuh pertanyaan.
Pertanyaan, pertanyaan yang tidak bisa dijawab dengan kata, kata singkat.
Siapa kamu sebenarnya? Apa hubunganmu dengan anak saya? Apa yang terjadi malam ini? Mengapa anak saya pulang dengan mata sembab dan wajah pucat? Apakah kamu terlibat? Apakah kamu bagian dari masalah atau bagian dari solusi?
Iskandar merasa dadanya mendadak berat.
Berat seperti ditindih batu besar.
Berat seperti sedang berenang di lautan yang dalam.
Berat seperti sedang menahan tangis yang tidak bisa keluar.
Karena ia sadar, malam ini bukan hanya tentang dirinya dan Nayla lagi.
Bukan hanya tentang Aldebar yang muncul di Pasar Melati.
Bukan hanya tentang mobil hitam yang mengikuti mereka ke mana pun.
Bukan hanya tentang rahasia yang mulai terbuka satu per satu.
Tapi tentang sebuah keluarga yang mulai melihat bahwa hati anak perempuan mereka sedang berada di persimpangan yang baru.
Persimpangan antara masa lalu yang masih membayangi dan masa depan yang belum pasti.
Persimpangan antara luka yang belum sembuh dan harapan yang baru mulai tumbuh.
Persimpangan antara takut untuk percaya dan ingin untuk percaya.
Dan di persimpangan itu, Iskandar berdiri.
Bukan sebagai pahlawan yang akan menyelamatkan segalanya.
Bukan sebagai penyelamat yang akan menghilangkan semua luka.
Tapi sebagai seseorang yang memilih untuk tetap tinggal.
Meskipun ia tahu bahwa tinggal di persimpangan bisa berbahaya.
Meskipun ia tahu bahwa jalan di depannya tidak selalu mulus.
Meskipun ia tahu bahwa ia mungkin akan terluka.
Tapi ia tetap tinggal.
Karena itulah cinta.
Bukan tentang menemukan jalan yang paling mudah.
Tapi tentang memilih untuk berjalan di jalan yang sulit, bersama seseorang yang membuat sulit terasa berharga.
BAB 19
Di Teras yang Tenang
Udara malam di kawasan jalan trans arah Mantangai terasa lebih sunyi dibanding pusat kota.
Bukan sunyi yang kosong, bukan sunyi yang mati. Tapi sunyi yang berbeda, sunyi yang seperti kanvas kosong yang menunggu untuk dilukis, sunyi yang seperti buku baru yang halamannya masih putih bersih, sunyi yang seperti hati yang sedang menunggu untuk diisi.
Di kawasan ini, rumah, rumah tidak berjejer rapat seperti di pusat kota. Jarak antara satu rumah dengan rumah lainnya cukup jauh, dipisahkan oleh halaman, halaman luas yang ditanami pohon pisang, pepaya, atau singkong. Beberapa rumah bahkan memiliki kebun kecil di belakang, tempat menanam cabai, tomat, dan sayuran lain untuk konsumsi sehari, hari.
Lampu halaman rumah, rumah memantulkan cahaya lembut di jalan yang masih basah oleh sisa hujan—cahaya kuning yang redup, seperti kunang, kunang yang berhenti bergerak, seperti bintang, bintang yang jatuh ke bumi dan memilih untuk tinggal di tiang, tiang beton. Setiap rumah memiliki lampu halaman dengan karakteristiknya sendiri, ada yang terang, ada yang redup, ada yang berkedip, kedip karena listrik yang tidak stabil, ada yang mati karena bohlamnya sudah putus tetapi penghuninya terlalu malas atau terlalu sibuk untuk mengganti.
Dari kejauhan, bangunan Kantor Bupati Kapuas berdiri tenang dalam gelap malam, bangunan putih dengan pilar, pilar besar, dengan bendera merah putih yang tidak lagi berkibar karena angin malam sudah berhenti, dengan lampu, lampu taman yang masih menyala meskipun tidak ada yang melihat. Bangunan itu seperti penjaga bisu yang menyaksikan setiap orang pulang pada hidupnya masing, masing, yang tidak pernah tidur meskipun semua orang sudah terlelap, yang selalu waspada meskipun tidak ada ancaman.
Namun di teras rumah Nayla, malam justru terasa semakin berat.
Berat seperti langit sebelum badai.
Berat seperti udara di ruangan yang tertutup rapat.
Berat seperti hati yang sedang menahan tangis tetapi tidak ingin menunjukkan kelemahan.
Karena satu hal sederhana yang tidak bisa disembunyikan seorang ibu: mata anaknya yang habis menangis.
Seorang ibu tidak perlu menjadi detektif untuk mengetahui apakah anaknya menangis. Seorang ibu tidak perlu melihat bukti, bukti fisik seperti mata sembab atau pipi basah. Seorang ibu cukup melihat dari cara anaknya berdiri, dari cara anaknya bernapas, dari cara anaknya menunduk ketika ditanya "kamu baik, baik saja?"
Ibu Nayla, Bu Rahma, perempuan yang telah melahirkan Nayla tiga puluh tahun yang lalu, yang telah menggendongnya ketika ia demam, yang telah menemaninya ketika ia pertama kali patah hati, tidak perlu bertanya untuk mengetahui bahwa putrinya sedang tidak baik, baik saja. Ia sudah tahu sejak Nayla melangkahkan kaki ke teras, sejak ia melihat cara Nayla tersenyum yang terlalu cepat, sejak ia mendengar suara Nayla yang sedikit serak meskipun baru saja minum es teh.
Dan sebagai seorang ibu, ia tidak bisa diam.
"Nayla."
Suara ibunya lembut, tetapi tegas.
Lembut seperti tangan yang mengusap kepala ketika kita sakit. Tegas seperti peringatan yang tidak bisa diabaikan.
"Kamu kenapa?"
Nayla menunduk.
Jari, jarinya yang masih sedikit gemetar itu menggenggam tali tasnya erat, erat—tas kecil berwarna cokelat yang biasa ia bawa ke mana, mana, tas yang sudah mulai usang di beberapa bagian, tas yang telah menemani nya melalui suka dan duka.
"Tidak apa, apa, Ma."
Kalimat itu terlalu cepat.
Terlalu biasa.
Terlalu seperti kebiasaan.
Seperti kata, kata yang sudah sering ia ucapkan sehingga menjadi refleks, seperti topeng yang sudah sering ia pasang sehingga ia lupa bahwa itu adalah topeng, seperti dinding yang sudah sering ia bangun sehingga ia lupa bahwa di balik dinding itu ada seseorang yang sedang berteriak minta tolong.
Dan justru karena itu, kalimat itu terdengar seperti kebohongan yang sudah sering diucapkan.
Kebohongan yang tidak lagi meyakinkan siapa pun, termasuk dirinya sendiri.
Ayah Nayla, Pak Rahmat, laki, laki yang telah membesarkan Nayla sejak ia masih dalam kandungan, yang telah mengajarinya naik sepeda, yang telah menemaninya ketika ia pertama kali belajar mengemudi, yang sejak tadi diam, akhirnya bicara.
Suaranya tidak tinggi, tidak rendah. Tidak marah, tidak sedih. Tapi datar. Datar seperti permukaan danau yang tenang, tetapi di bawahnya ada arus yang tidak terlihat.
"Kalau memang tidak apa, apa… kenapa suara kamu seperti orang menahan sesuatu?"
Nayla terdiam.
Mulutnya terbuka setengah, seperti hendak mengatakan sesuatu, mungkin "tidak, Papa, suaraku biasa saja", atau "aku hanya sedikit lelah, Pa", atau "tidak ada yang perlu dikhawatirkan", tetapi kata, kata itu tidak keluar.
Kata, kata itu tersangkut di tenggorokannya, seperti duri yang tidak bisa ditelan, seperti makanan yang terlalu panas, seperti sesuatu yang ingin ia katakan tetapi takut akan konsekuensinya.
Iskandar berdiri sedikit canggung di dekat motor.
Motor tuanya yang sudah mulai berbaretan di beberapa bagian itu sekarang terlihat seperti benda asing di halaman rumah yang bersih dan rapi ini. Ia tidak tahu harus berdiri di mana, tidak tahu harus melihat ke mana, tidak tahu harus berkata apa.
Ia merasa seperti masuk ke halaman cerita yang belum sepenuhnya ia pahami, cerita tentang sebuah keluarga yang sedang menghadapi kenyataan bahwa anak perempuan mereka menyimpan luka, bahwa selama ini mereka tidak melihatnya, bahwa mereka mungkin terlalu sibuk dengan hidup mereka sendiri untuk memperhatikan.
Tapi pergi saat itu juga juga terasa salah.
Pergi berarti meninggalkan Nayla sendirian menghadapi orang tuanya. Pergi berarti melepaskan tanggung jawab yang belum tentu ia miliki. Pergi berarti mengatakan bahwa ia tidak peduli, bahwa ia tidak mau terlibat, bahwa ia hanya numpang lewat.
Dan ia tidak bisa melakukan itu.
Bukan karena ia ingin terlihat baik di depan orang tua Nayla.
Bukan karena ia ingin mendapatkan simpati.
Tapi karena ia peduli.
Karena ia sudah terlanjur peduli.
Karena ia tidak bisa berpura, pura tidak peduli.
Dan seolah memahami kegalauan yang sedang ia rasakan, seolah bisa membaca pikirannya dari jarak tiga meter, ibunda Nayla menoleh padanya.
Matanya yang tadi lembut menatap Nayla, kini beralih ke Iskandar. Bukan tatapan curiga, bukan tatapan menghakimi, tapi tatapan yang mengatakan kamu juga bagian dari ini, kamu tidak bisa hanya berdiri di sana seperti patung.
"Iskandar…"
"Ya, Bu?"
"Masuk dulu. Jangan berdiri di luar seperti tamu yang habis dimarahi."
Nayla langsung menoleh.
Wajahnya yang tadinya pucat, kini sedikit memerah, bukan karena malu, tapi karena panik. Panik karena ia tidak siap mempertemukan Iskandar dengan orang tuanya di dalam rumah. Panik karena ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Panik karena ia tidak bisa mengendalikan situasi.
"Ma…"
Ibunya tersenyum kecil.
Senyum yang tidak bisa ditawar. Senyum yang mengatakan ibu sudah memutuskan, dan tidak ada yang bisa mengubah keputusan ibu.
"Kalau dia sudah mengantar sampai rumah, masa cuma sampai pagar."
Ayah Nayla mengangguk pelan.
Anggukan yang tidak tergesa, gesa, yang penuh pertimbangan, yang seperti seorang hakim yang sedang memutuskan vonis setelah mendengar semua kesaksian.
"Benar. Kalau niatnya baik, pintu rumah tidak pernah tertutup."
Kalimat itu sederhana.
Tidak berlebihan.
Tidak dramatis.
Tapi entah kenapa, membuat dada Iskandar terasa hangat.
Hangat seperti secangkir kopi di pagi yang dingin.
Hangat seperti selimut di malam yang hujan.
Hangat seperti kata "selamat datang" yang diucapkan oleh rumah setelah bertahun, tahun merantau.
Beberapa menit kemudian, mereka duduk di ruang tamu sederhana yang nyaman.
Rumah Nayla tidak besar, tetapi terasa lapang karena penataannya yang rapi dan tidak berlebihan. Setiap benda memiliki tempatnya masing, masing, dan setiap tempat hanya diisi oleh satu benda, tidak ada tumpukan koran bekas di meja, tidak ada pakaian yang bergelantungan di kursi, tidak ada debu yang menumpuk di sudut, sudut ruangan.
Sofa cokelat tua, sofa berbahan velour yang sudah mulai halus di beberapa bagian karena sering diduduki, dengan bantal, bantal kecil yang diletakkan di kedua ujungnya. Sofa ini sudah ada sejak Nayla masih SD, dan mungkin akan tetap ada sampai Nayla punya anak nanti. Sofa ini telah menyaksikan ribuan percakapan keluarga, percakapan tentang nilai rapor, tentang rencana liburan, tentang masa depan, tentang kehidupan.
Rak buku kecil di sudut ruangan, rak kayu sederhana dengan tiga tingkat, berisi buku, buku lama dengan sampul yang sudah mulai lusuh. Ada novel, novel romantis yang dibaca oleh Nayla ketika ia masih remaja, ada buku, buku motivasi yang dibeli oleh ayahnya tetapi tidak pernah selesai dibaca, ada majalah, majalah wanita yang dikoleksi oleh ibunya sejak masih muda.
Foto keluarga terpajang di dinding, foto, foto dengan bingkai kayu yang berbeda, beda, ada yang besar, ada yang kecil, ada yang berwarna, ada yang hitam putih. Foto Nayla ketika masih bayi, dengan pipi yang chubby dan rambut yang masih tipis. Foto Nayla ketika pertama kali masuk SD, dengan seragam putih merah yang terlalu besar untuk tubuhnya yang mungil. Foto Nayla ketika lulus SMA, dengan toga dan senyum lebar. Foto keluarga ketika Nayla masih kecil, dengan ketiga orang tuanya, ayah, ibu, dan Nayla, tersenyum ke arah kamera, tidak tahu bahwa masa depan akan membawa begitu banyak luka.
Aroma teh hangat memenuhi ruangan, aroma teh melati yang diseduh dengan air panas, dengan gula batu yang diletakkan di samping teko, dengan cangkir, cangkir kecil yang disusun rapi di atas nampan. Aroma itu menenangkan, seperti pelukan, seperti bisikan, seperti sesuatu yang mengingatkan bahwa tidak semua hal dalam hidup ini rumit.
Rumah itu terasa seperti rumah yang benar, benar dihuni dengan cinta.
Bukan rumah yang hanya berfungsi sebagai tempat berteduh dari hujan dan panas. Bukan rumah yang hanya berfungsi sebagai aset yang nilainya naik turun mengikuti pasar properti.
Tapi rumah.
Rumah yang hangat.
Rumah yang penuh dengan kenangan.
Rumah yang ketika pintunya terbuka, orang yang masuk langsung merasa "ah, ini rumah".
Iskandar duduk tegak, mungkin terlalu tegak, terlalu sopan, terlalu seperti orang yang sedang menghadiri wawancara kerja. Tangannya diletakkan di atas paha, jari, jarinya tidak bergerak, punggungnya tidak menyentuh sandaran sofa. Ia seperti patung yang dipahat dengan sempurna, tetapi tidak bisa bergerak.
Nayla duduk di samping ibunya, di sofa yang sama, dengan jarak yang dekat, seperti anak kecil yang sedang berlindung di balik rok ibunya. Tangannya memegang ujung baju ibunya, kebiasaan yang tidak pernah hilang meskipun ia sudah dewasa, kebiasaan yang muncul kembali ketika ia merasa takut, kebiasaan yang mengatakan aku di sini, Ma, lindungi aku.
Sementara ayahnya duduk di kursi seberang, kursi kayu dengan bantalan tipis, kursi yang sudah menjadi "takhta" nya sejak Nayla masih kecil, kursi yang selalu ia duduki setiap kali ada tamu yang datang. Beliau duduk dengan tenang, dengan kaki disilangkan, dengan tangan di atas sandaran kursi.
Suasana mendadak seperti sidang keluarga.
Dan Iskandar sadar: menghadapi Aldebar tadi, dengan tatapan tajamnya, dengan kata, kata yang menusuk, dengan kehadirannya yang mengintimidasi, ternyata jauh lebih mudah.
Karena Aldebar adalah musuh yang jelas.
Musuh yang bisa ia lihat, yang bisa ia lawan, yang bisa ia hadapi dengan keberanian dan ketegasan.
Tapi orang tua Nayla?
Mereka bukan musuh.
Mereka adalah orang tua dari perempuan yang ia cintai.
Mereka adalah orang yang akan menilai apakah ia layak untuk putri mereka.
Mereka adalah orang yang bisa memberikan restu atau menutup pintu.
Dan itu jauh lebih menakutkan.
Ayah Nayla membuka percakapan lebih dulu.
Beliau tidak menawari teh. Beliau tidak bertanya tentang perjalanan. Beliau tidak memulai dengan basa, basi tentang cuaca atau tentang jalanan yang macat.
Beliau langsung ke inti.
Seperti seorang pengusaha yang tidak suka buang waktu.
Seperti seorang ayah yang ingin segera mengetahui niat laki, laki yang mendekati putrinya.
"Jadi… Iskandar kenal Nayla dari mana?"
Nayla langsung menyela.
"Papa…"
Suaranya setengah memohon, setengah memperingatkan.
Memohon agar ayahnya tidak terlalu keras. Memperingatkan agar Iskandar tidak terlalu tegang.
Namun ayahnya mengangkat tangan pelan, gerakan yang lembut tetapi tegas, gerakan yang mengatakan papa yang bertanya, biar papa yang selesai.
"Papa cuma bertanya."
Iskandar menatap Nayla sebentar, hanya sebentar, cukup untuk memastikan bahwa ia tidak keberatan, cukup untuk meminta dukungan diam, diam, cukup untuk mengatakan aku akan menjawab sejujurnya.
Lalu ia menatap ayah Nayla.
Matanya bertemu dengan mata pria tua itu, mata yang telah melihat banyak hal, yang tidak mudah terkesan, yang tidak mudah percaya.
Dan dengan suara yang tidak bergetar, meskipun hatinya bergetar hebat, meskipun dadanya terasa sesak, meskipun tenggorokannya terasa kering, ia menjawab jujur.
"Dari dermaga, Pak."
"Dermaga?"
"Di sekitar kawasan sungai, Pak. Dermaga KP3."
Ibunya tersenyum kecil.
Senyum yang lembut, senyum yang hangat, senyum yang mengatakan oh, jadi di sanalah kalian bertemu.
"Romantis juga ternyata."
Nayla memejamkan mata.
Ia menarik napas panjang, napas yang masuk ke paru, parunya dengan suara desisan pelan, seperti udara yang masuk ke ban yang bocor, dan menghelanya perlahan, seperti sedang berusaha mengumpulkan seluruh kesabaran yang tersisa di dalam tubuhnya.
"Ma…"
Ayahnya justru bertanya datar, dengan suara yang tidak menunjukkan emosi, dengan wajah yang tidak berubah, dengan mata yang tetap tajam.
"Lalu setelah itu langsung sering bertemu?"
Iskandar tersenyum tipis.
Senyum yang tidak sombong, tidak percaya diri, tidak seperti laki, laki yang sudah terbiasa memikat perempuan. Tapi senyum yang justru terlihat sedikit malu, sedikit canggung, seperti seseorang yang tidak tahu harus menjawab apa.
"Entah sengaja atau tidak, Pak. Sepertinya kota ini terlalu kecil."
Ayah Nayla menatap beberapa detik.
Matanya bergerak dari wajah Iskandar yang tegang, tegang karena gugup, tegang karena takut memberikan kesan buruk, ke matanya yang jujur, mata yang tidak berkedip, mata yang tidak mencari, cari alasan, mata yang mengatakan aku tidak berbohong.
Lalu ia mengangguk kecil.
Anggukan yang hampir tidak terlihat, yang hanya cukup untuk dilihat oleh Iskandar, yang seperti mengatakan jawaban yang aman.
"Jawaban yang aman."
Iskandar hampir tersenyum gugup.
Hampir, tetapi tidak jadi.
Karena ia tahu bahwa "jawaban yang aman" bukan berarti "jawaban yang benar". Hanya berarti bahwa ia tidak mengatakan sesuatu yang salah. Hanya berarti bahwa ia masih dalam zona aman. Hanya berarti bahwa ujian belum selesai.
Ibunda Nayla menatap putrinya.
Matanya yang tadi hangat, yang tadi penuh dengan candaan, kini berubah. Berubah menjadi lebih lembut. Lebih dalam. Lebih seperti mata seorang ibu yang ingin tahu apa yang sebenarnya dirasakan oleh anaknya.
"Kamu nyaman dengan dia?"
Pertanyaan itu sederhana.
Tidak berbelit, belit.
Tidak seperti pertanyaan dalam wawancara kerja yang dirancang untuk menjebak.
Tidak seperti pertanyaan dalam interogasi polisi yang dirancang untuk membuat tersangka mengaku.
Tapi pertanyaan seorang ibu kepada anak perempuannya tentang laki, laki yang mendekatinya.
Kamu nyaman dengan dia?
Bukan "kamu cinta dia?" Bukan "kamu serius dengan dia?" Bukan "kamu sudah siap untuk serius?"
Tapi nyaman.
Karena seorang ibu tahu bahwa cinta bisa datang dan pergi. Bahwa ketertarikan bisa memudar. Bahwa janji bisa dilupakan.
Tapi kenyamanan?
Kenyamanan adalah sesuatu yang langka.
Kenyamanan adalah sesuatu yang tidak bisa dipalsukan.
Kenyamanan adalah sesuatu yang hanya bisa dirasakan oleh hati, tidak bisa dijelaskan oleh logika.
Nayla terdiam.
Jeda yang panjang.
Jeda yang terasa seperti abad.
Jeda di mana ia memikirkan jawabannya, memproses pertanyaan ibunya, merasakannya di dalam hati.
Pertanyaan itu sederhana. Tapi jawabannya jauh lebih rumit.
Karena nyaman adalah sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan. Sejak Aldebar. Sejak mobil hitam itu mulai muncul dalam mimpinya. Sejak ia mulai takut untuk keluar rumah sendirian. Sejak ia mulai merasa bahwa dunia ini tidak aman.
Nyaman adalah kata yang asing di lidahnya.
Nyaman adalah kata yang sudah lama tidak ia ucapkan.
Nyaman adalah kata yang bahkan tidak pernah ia pikirkan karena ia sudah lupa bagaimana rasanya.
Tapi sekarang, di depan Iskandar, ia merasa nyaman.
Bukan nyaman karena ia tidak punya masalah. Masalahnya masih banyak. Aldebar masih ada. Masa lalu masih membayangi. Luka masih terasa.
Tapi nyaman karena ia tidak perlu berpura, pura. Nyaman karena ia bisa menjadi dirinya sendiri. Nyaman karena ia tidak takut dihakimi.
Nayla menoleh pada Iskandar.
Laki, laki itu duduk tegak di sofa cokelat tua, dengan wajah yang masih tegang, dengan mata yang masih waspada, dengan tubuh yang masih kaku seperti patung.
Tapi matanya, matanya yang teduh, yang jujur, yang tidak pernah berbohong, menatapnya dengan lembut.
Lembut seperti kapas.
Lembut seperti bulu.
Lembut seperti sesuatu yang tidak akan melukai.
Dan Nayla menjawab pelan, dengan suara yang tidak bergetar, dengan suara yang jujur, dengan suara yang keluar dari hati.
"Iya."
Hanya satu kata.
Tiga huruf.
Satu suku kata.
Tapi cukup membuat seluruh ruangan ikut diam.
Diam seperti di dalam gereja setelah kebaktian usai.
Diam seperti di dalam perpustakaan ketika semua orang sedang membaca.
Diam seperti di dalam hati ketika sedang merenung.
Karena ibu Nayla melihat cara putrinya menjawab.
Bukan dari kata, katanya. Kata, kata bisa dibohongi. Bukan dari suaranya. Suara bisa dilatih.
Tapi dari matanya.
Matanya yang basah.
Matanya yang jujur.
Matanya yang mengatakan aku tidak bohong, Ma. Aku benar, benar nyaman dengan dia. Aku tidak tahu apakah ini cinta. Aku tidak tahu apakah ini akan bertahan lama. Tapi aku nyaman. Dan itu sudah cukup untuk saat ini.
Ayah Nayla melihat cara Iskandar menatap putrinya.
Bukan dari kata, katanya. Iskandar tidak mengatakan apa, apa. Bukan dari gerakannya. Iskandar tidak bergerak.
Tapi dari matanya.
Matanya yang lembut.
Matanya yang penuh perhatian.
Matanya yang mengatakan aku akan menjaganya, Pak. Aku tidak tahu apakah aku cukup baik untuknya. Tapi aku akan berusaha. Aku tidak akan pergi.
Dan Iskandar sendiri baru sadar, betapa besar arti jawaban sederhana itu.
Iya.
Satu kata yang membuatnya merasa bahwa semua perjuangannya, menemani Nayla di dermaga, bertahan di tengah hujan, menghadapi Aldebar, mendengar semua rahasia, tidak sia, sia.
Satu kata yang membuatnya ingin menjadi lebih baik.
Satu kata yang membuatnya ingin bertahan, apa pun yang terjadi.
Ibunya menggenggam tangan Nayla.
Tangannya yang hangat, tangan yang telah membesarkannya, tangan yang telah mengajarinya berjalan, tangan yang telah mengusap air matanya setiap kali ia jatuh—membungkus tangan Nayla yang dingin.
"Sudah lama Mama tidak lihat kamu pulang setenang ini."
Nayla menunduk.
Air matanya hampir jatuh.
Hampir, tetapi tidak jadi.
Ia menahannya.
Karena ia tidak ingin menangis di depan orang tuanya. Karena ia tidak ingin mereka khawatir. Karena ia sudah terlalu sering membuat mereka khawatir.
Ayah Nayla menatap putrinya lebih dalam.
Matanya yang tadi tajam, yang tadi seperti elang mengamati mangsa, kini berubah. Berubah menjadi lembut. Lembut seperti ketika ia masih menggendong Nayla kecil, seperti ketika ia pertama kali melihat Nayla tersenyum, seperti ketika ia menyadari bahwa anak perempuannya tidak lagi kecil.
Lalu suaranya melembut.
Melembut seperti angin yang berhembus di antara dedaunan.
Melembut seperti bisikan di telinga ketika sedang tidur.
Melembut seperti sesuatu yang tidak ingin menakut, nakuti, tetapi tetap ingin bertanya.
"Aldebar datang lagi?"
Ruangan mendadak sunyi.
Sunyi seperti kuburan di tengah malam.
Sunyi seperti ruang hampa di antara bintang, bintang.
Sunyi seperti hati yang sedang hancur tetapi tidak bisa menangis.
Nama itu.
Aldebar.
Nama yang tidak pernah disebutkan di rumah ini sejak Nayla memutuskan untuk membatalkan pertunangan. Nama yang menjadi semacam kutukan, jika disebut, suasana akan berubah. Nama yang menjadi pengingat bahwa tidak semua yang dimulai dengan indah berakhir dengan bahagia.
Iskandar menoleh pada Nayla.
Ia bisa melihat bagaimana tubuh Nayla menegang ketika nama itu disebut. Bagaimana bahunya yang tadi rileks, kini kaku. Bagaimana tangannya yang tadi tenang di pangkuan ibunya, kini menggenggam erat. Bagaimana napasnya yang tadi teratur, kini terengah, engah.
Nayla tidak langsung menjawab.
Matanya tertuju pada lantai, lantai keramik bermotif bunga, bunga kecil yang sudah mulai pudar warnanya, lantai yang telah dilalui ribuan langkah, lantai yang menjadi saksi bisu bagi segala sesuatu yang terjadi di rumah ini.
Namun mata yang perlahan basah itu, mata yang mulai berkaca, kaca, mata yang mulai memerah, mata yang berusaha menahan air mata tetapi tidak bisa, sudah cukup memberi jawaban.
Sudah cukup untuk membuat ayahnya menghela napas panjang.
Sudah cukup untuk membuat ibunya menggenggam tangannya lebih erat.
Sudah cukup untuk membuat Iskandar mengepalkan tangan di samping tubuhnya.
Ibunya menghela napas panjang.
Helaan napas yang berat, yang lelah, yang keluar dari dadanya seperti angin dari gua yang dalam.
Sedih.
Lelah.
Tapi bukan terkejut.
Seolah mereka sudah lama tahu hari seperti ini akan datang. Seolah mereka sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan terburuk. Seolah mereka sudah berdoa setiap malam agar anak mereka selamat, tetapi doa itu tidak cukup untuk mengusir bayangan yang terus menghantui.
"Dia mengikuti saya malam ini," kata Nayla pelan, suaranya nyaris seperti bisikan, seperti suara yang tidak ingin didengar oleh siapa pun tetapi harus keluar.
Ibunya memejamkan mata.
Kelopak matanya yang mulai keriput itu tertutup rapat, seperti sedang berdoa, seperti sedang berusaha menenangkan diri, seperti sedang memohon kepada Tuhan untuk memberi kekuatan.
Ayahnya menunduk sebentar.
Dagu yang tegas itu menyentuh dada, seperti sedang mengakui bahwa ia tidak bisa melindungi anaknya dari segala bahaya, bahwa ia tidak bisa selalu ada di sampingnya, bahwa ada hal, hal di luar kendalinya.
Lalu ayah Nayla menatap Iskandar.
Matanya yang tadi lembut kepada Nayla, kini berubah. Berubah menjadi tajam. Tajam seperti pisau. Tajam seperti interogasi. Tajam seperti seseorang yang sedang mencari kebenaran.
"Dan kamu ada di sana?"
Iskandar mengangguk.
Anggukan yang mantap, yang tidak ragu, ragu, yang mengatakan aku di sana, aku melihat semuanya, aku tidak akan membiarkan hal buruk terjadi.
"Iya, Pak."
"Dia membuat masalah?"
"Tidak sampai begitu."
Iskandar berhenti sebentar.
Jeda di mana ia memikirkan kata, kata yang tepat. Jeda di mana ia mencoba menjelaskan situasi yang rumit dengan kata, kata yang sederhana. Jeda di mana ia berusaha untuk tidak membuat orang tua Nayla semakin khawatir, tetapi juga tidak boleh berbohong.
"Tapi Nayla ketakutan."
Kalimat itu sederhana.
Tidak berlebihan.
Tidak dramatis.
Tapi cukup membuat ibunda Nayla menggenggam tangan anaknya lebih erat.
Karena terkadang, hal paling menyakitkan bagi orang tua bukan melihat anaknya menangis. Bukan melihat anaknya terluka secara fisik. Bukan melihat anaknya gagal dalam ujian atau ditolak oleh universitas impian.
Tapi mengetahui bahwa anaknya sudah terlalu sering menangis sendirian.
Bahwa anaknya sudah terlalu sering terluka tanpa mereka tahu.
Bahwa anaknya sudah terlalu sering memikul beban yang seharusnya bisa mereka bagi bersama.
Ibunya menatap Nayla.
Matanya yang tadi tertutup, kini terbuka. Terbuka lebar. Terbuka seperti jendela yang ingin melihat ke dalam hati anaknya.
"Kenapa kamu tidak bilang?"
Nayla tersenyum pahit.
Senyum yang tidak sampai ke mata.
Senyum yang terasa seperti luka.
Senyum yang mengatakan aku sudah terlalu sering menjadi beban, Ma. Aku tidak ingin menjadi beban lagi.
"Karena Mama sudah terlalu banyak khawatir."
"Nak," suara ibunya lembut, lembut seperti bisikan, lembut seperti tangan yang mengusap kepala ketika kita sakit, lembut seperti sesuatu yang ingin menenangkan tetapi juga ingin mengatakan sesuatu yang penting.
"orang tua memang diciptakan untuk khawatir."
Ayah Nayla mengangguk.
Anggukan yang dalam, yang penuh makna, yang seperti seorang filsuf yang sedang memberikan kuliah tentang kehidupan.
"Yang tidak kami mau… adalah kamu memikul semuanya sendirian."
Nayla akhirnya menunduk.
Air matanya jatuh lagi.
Bukan jatuh satu per satu seperti tadi. Tapi jatuh deras, seperti hujan yang tidak bisa lagi ditahan oleh langit. Bahunya berguncang, dadanya naik turun dengan cepat, tangannya yang memegang ujung baju ibunya gemetar hebat.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya, bukan hanya di depan Iskandar, Nayla juga mulai jujur di depan rumahnya sendiri.
Jujur tentang ketakutannya.
Jujur tentang lukanya.
Jujur tentang semua yang selama ini ia pendam.
Bukan karena ia ingin.
Tapi karena ia tidak bisa lagi.
Karena dinding yang selama ini ia bangun, dinding yang tinggi, dinding yang tebal, dinding yang kokoh, akhirnya runtuh. Runtuh oleh pertanyaan sederhana dari seorang ibu yang hanya ingin tahu apakah anaknya baik, baik saja. Runtuh oleh tatapan seorang ayah yang hanya ingin melindungi. Runtuh oleh kehadiran seorang laki, laki yang tidak mau pergi meskipun sudah tahu bahwa hidupnya rumit.
Iskandar duduk diam.
Ia merasa seperti menjadi saksi sesuatu yang sangat pribadi. Sesuatu yang seharusnya tidak ia saksikan. Sesuatu yang hanya pantas untuk keluarga.
Tapi ketika Nayla menangis, ketika air matanya jatuh deras, ketika bahunya berguncang, ketika suara tangisnya pecah di ruang tamu yang sunyi, matanya secara refleks mencari Iskandar.
Bukan ibunya. Bukan ayahnya.
Tapi Iskandar.
Dan yang membuat Nayla terdiam, yang membuat tangisnya berhenti sejenak, yang membuat napasnya tertahan, yang membuat jantungnya berdetak lebih kencang, adalah Iskandar tidak terlihat tidak nyaman.
Ia tidak melihat ke arah lain. Ia tidak melihat jam tangannya. Ia tidak melihat ponselnya. Ia tidak mencari alasan untuk pergi.
Ia hanya menatapnya dengan cara yang sama seperti tadi.
Tetap tinggal.
Diam, tetapi hadir.
Jauh, tetapi dekat.
Tidak berkata apa, apa, tetapi mengatakan segalanya.
Ayah Nayla akhirnya menatap Iskandar.
Matanya yang tadi tajam, yang tadi seperti elang mengamati mangsa, kini berubah. Berubah menjadi lebih tenang. Lebih seperti seorang ayah yang sedang berbicara dengan laki, laki yang mungkin akan menjadi menantunya suatu hari nanti.
"Kalau boleh saya bertanya satu hal."
"Silakan, Pak."
Ayah Nayla menatap lurus.
Matanya tidak berkedip.
Suaranya tidak tinggi, tidak rendah, pas, seperti nada yang tepat untuk mengatakan sesuatu yang serius.
"Kamu tahu keadaan Nayla belum sederhana. Lalu kenapa masih mau ada di dekat dia?"
Nayla langsung menoleh.
Matanya yang masih basah, yang masih merah, yang masih menyimpan sisa, sisa air mata, kini membesar. Membesar seperti piring. Membesar seperti bola. Membesar seperti sesuatu yang tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
Ibunya ikut diam.
Tangannya yang tadi menggenggam tangan Nayla, kini berhenti bergerak. Jari, jarinya yang tadi mengusap, usap punggung tangan Nayla dengan gerakan yang menenangkan, kini membeku.
Dan untuk pertama kalinya, seluruh ruangan menunggu jawaban Iskandar.
Bukan hanya ruang tamu rumah Nayla. Tapi seluruh dunia. Seluruh alam semesta. Seluruh yang ada dan yang akan ada.
Seperti waktu berhenti.
Seperti bumi berhenti berputar.
Seperti semua makhluk di langit dan di bumi menahan napas, menunggu apa yang akan keluar dari mulut laki, laki muda yang duduk di sofa cokelat tua itu.
Iskandar sempat terdiam.
Bukan karena tidak tahu harus menjawab apa.
Tapi karena untuk pertama kalinya, ia harus mengucapkan sesuatu yang bahkan belum sempat ia akui sepenuhnya pada dirinya sendiri.
Ia telah jatuh cinta pada Nayla.
Itu sudah jelas.
Tapi mengapa ia jatuh cinta?
Mengapa ia masih mau ada di dekat Nayla meskipun hidup Nayla rumit? Meskipun ada Aldebar yang mengintai? Meskipun ada mobil hitam yang mengikuti? Meskipun ada rahasia yang belum sepenuhnya terbuka?
Ia menatap Nayla.
Perempuan itu duduk di samping ibunya, dengan mata yang masih basah, dengan pipi yang masih basah oleh air mata, dengan bibir yang masih gemetar.
Ia terlihat rapuh.
Terlihat hancur.
Terlihat seperti seseorang yang sedang berjuang untuk tetap utuh.
Tapi di matanya, di balik semua air mata, di balik semua ketakutan, di balik semua luka—ada sesuatu yang membuat Iskandar tidak bisa pergi.
Ada cahaya.
Cahaya kecil yang redup, seperti bintang di langit yang terhalang awan, seperti lilin yang hampir padam, seperti sesuatu yang hampir mati tetapi masih berusaha bertahan.
Dan Iskandar ingin menjaga cahaya itu.
Ia ingin menjadi alasan mengapa cahaya itu tidak padam.
Ia ingin menjadi angin yang membuat api itu tetap menyala.
Bukan karena ia pahlawan.
Bukan karena ia baik.
Tapi karena ia tidak bisa membayangkan hidup tanpa cahaya itu.
Lalu ia menjawab pelan, dengan suara yang tidak bergetar, dengan suara yang keluar dari hati, dengan suara yang tidak perlu diragukan lagi.
"Karena sejak saya kenal Nayla… saya merasa kalau saya mundur sekarang… saya akan menyesal seumur hidup."
Ruangan hening.
Hening seperti di dalam gua yang paling dalam.
Hening seperti di dalam air yang paling tenang.
Hening seperti di dalam hati ketika sedang berdoa.
Nayla menahan napas.
Napasnya tertahan di tenggorokan, seperti tersumbat oleh sesuatu yang tidak bisa ia identifikasi.
Dadanya terasa sesak.
Matanya terasa panas.
Pipinya terasa basah, bukan oleh air mata, tapi oleh sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.
Ibunya perlahan tersenyum.
Senyum yang lembut.
Senyum yang lega.
Senyum yang mengatakan anakku, kamu akhirnya menemukan seseorang yang baik. Seseorang yang tidak akan pergi. Seseorang yang pantas untukmu.
Dan ayah Nayla menatap Iskandar cukup lama.
Matanya yang tadi tajam, yang tadi seperti elang mengamati mangsa, kini berubah. Berubah menjadi lebih lembut. Lebih seperti seorang ayah yang sedang memandang calon menantunya dengan rasa hormat.
Sampai akhirnya beliau berkata singkat, dengan suara yang tidak tinggi tidak rendah, dengan suara yang tegas tetapi tidak menakutkan.
"Jawaban berbahaya."
Iskandar menelan ludah.
Air liurnya terasa seperti menelan batu.
"Kenapa, Pak?"
Ayah Nayla bersandar pelan.
Punggungnya yang tadinya tegak, kini sedikit merendah. Tangannya yang tadinya di atas sandaran kursi, kini di pangkuan.
Lalu beliau menatap putrinya.
Matanya yang tadi tajam, kini lembut. Lembut seperti ketika ia masih menggendong Nayla kecil. Lembut seperti ketika ia pertama kali melihat Nayla tersenyum. Lembut seperti ketika ia menyadari bahwa anak perempuannya telah tumbuh menjadi perempuan dewasa yang bisa memilih jalan hidupnya sendiri.
"Karena biasanya… laki-laki yang bicara seperti itu… benar-benar serius."
Nayla menunduk.
Cepat.
Terlalu cepat.
Seperti orang yang ketahuan mencuri.
Seperti orang yang baru sadar bahwa ia sedang berada di pusat perhatian.
Seperti orang yang tidak siap menerima pujian.
Tapi gerakan menunduk itu tidak cukup cepat untuk menyembunyikan pipinya yang mulai memerah, merah seperti tomat yang baru matang, merah seperti mawar yang mekar di musim semi, merah seperti api yang menyala di perapian.
Dan Iskandar, yang melihat itu dari seberang ruangan, merasa bahwa malam ini, meskipun penuh dengan air mata dan ketakutan dan rahasia yang terbuka, adalah malam yang paling berharga dalam hidupnya.
Namun sebelum suasana menjadi terlalu hangat, sebelum semua orang larut dalam kelegaan karena rahasia telah terbuka dan jawaban telah diberikan, ponsel Nayla di atas meja tiba, tiba bergetar.
Bukan getaran biasa. Getaran yang panjang, yang terus, menerus, yang seperti seseorang yang sangat ingin direspon.
Getaran yang memecah keheningan seperti pecahan kaca yang jatuh di lantai keramik.
Semua menoleh.
Layar menyala terang di atas meja kayu kecil di samping sofa, meja yang sudah mulai mengelupas vernisnya, yang kakinya tidak rata sehingga sedikit miring, yang menjadi tempat bagi cangkir, cangkir teh yang masih mengepul.
Satu nama muncul di sana.
Atau lebih tepatnya, satu nomor.
Nomor yang tidak disimpan.
Tapi Nayla tahu siapa pengirimnya.
Aldebar.
Satu pesan baru masuk.
Dan ketika layar menyala, cahaya biru yang dingin, yang tidak alami, yang seperti cahaya dari dunia lain, semua orang di ruangan itu melihatnya.
Melihat kalimat pendek yang tertulis di sana.
"Besok pagi aku datang. Kita harus selesaikan semuanya."
Ruangan mendadak sunyi.
Sunyi seperti kuburan di tengah malam.
Sunyi seperti ruang hampa di antara bintang, bintang.
Sunyi seperti hati yang sedang hancur tetapi tidak bisa menangis.
Ibu Nayla memucat.
Wajahnya yang tadi hangat, yang tadi penuh dengan senyum, kini berubah. Berubah menjadi pucat seperti kertas, seperti kapur tulis, seperti sesuatu yang baru saja melihat hantu.
Ayah Nayla menatap layar.
Matanya yang tadi lembut, yang tadi penuh dengan kebanggaan, kini berubah. Berubah menjadi tajam. Tajam seperti pisau. Tajam seperti silet. Tajam seperti sesuatu yang siap melukai.
Iskandar menegang.
Tubuhnya yang tadi sedikit santai, yang tadi mulai merasa nyaman dengan suasana hangat di ruang tamu ini, kini kaku seperti tali yang ditarik terlalu kencang. Tangannya yang tadi tenang di pangkuan, kini mengepal. Rahangnya yang tadi rileks, kini mengeras.
Dan untuk pertama kalinya, malam di rumah yang tadi terasa hangat—yang tadi penuh dengan tawa dan senyum dan harapan, berubah menjadi awal dari sesuatu yang tak bisa lagi dihindari.
Sesuatu yang akan menguji segalanya.
Sesuatu yang akan menentukan apakah cinta yang baru mulai tumbuh ini akan bertahan atau hancur.
Sesuatu yang tidak bisa dihentikan oleh siapa pun.
BAB 20
Pagi yang Datang Terlalu Cepat
Malam di rumah Nayla yang semula hangat, yang semula dipenuhi oleh senyum dan candaan ringan yang membuat ruang tamu sederhana itu terasa seperti pelukan, mendadak berubah dingin.
Dingin seperti kuburan di tengah malam.
Dingin seperti ruang hampa di antara bintang, bintang.
Dingin seperti hati yang sedang hancur tetapi tidak bisa menangis.
Tak ada lagi suara canda. Tak ada lagi senyum kecil yang sejak tadi perlahan tumbuh di wajah Nayla, senyum yang membuat ibunya lega, senyum yang membuat ayahnya mengangguk pelan, senyum yang membuat Iskandar merasa bahwa semua perjuangannya tidak sia, sia. Tak ada lagi tawa kecil dari ibu Nayla ketika ia melihat cara putrinya menunduk malu, malu. Tak ada lagi gelengan kepala dari ayah Nayla yang pura, pura tegas tetapi matanya berbinar.
Yang tersisa hanya cahaya layar ponsel di atas meja kayu kecil yang sudah mengelupas vernisnya—cahaya biru yang dingin, yang tidak alami, yang seperti cahaya dari dunia lain, cahaya yang seharusnya tidak pernah masuk ke ruang tamu yang hangat ini, dan satu kalimat yang terasa seperti ancaman, seperti petir di siang bolong, seperti pisau yang ditusukkan ke dada ketika sedang tidak siap.
"Besok pagi aku datang. Kita harus selesaikan semuanya."
Suasana ruang tamu seketika membeku.
Membeku seperti air yang menjadi es dalam hitungan detik.
Membeku seperti waktu yang berhenti berputar.
Membeku seperti hati yang berhenti berdetak.
Ibunda Nayla menatap putrinya dengan wajah cemas, cemas yang tidak bisa disembunyikan, cemas yang merusak segala usaha untuk terlihat tenang, cemas yang membuat keriput di sudut matanya terlihat lebih dalam dari biasanya. Matanya yang tadi hangat, yang tadi penuh dengan kebanggaan karena melihat putrinya tersenyum tulus untuk pertama kalinya setelah sekian lama, kini berubah. Berubah menjadi sayu, menjadi takut, menjadi seperti mata seorang ibu yang melihat anaknya berdiri di tepi jurang dan tidak bisa berbuat apa, apa.
Ayah Nayla menghela napas panjang sambil melepas kacamata baca yang sejak tadi setia menempel di batang hidungnya, kacamata dengan lensa tebal yang melambung di bagian tengah, yang membuat matanya terlihat lebih besar dari aslinya, yang sekarang ia lipat perlahan dengan jari, jari yang gemetar—lalu meletakkannya di atas meja, di samping ponsel Nayla yang layarnya masih menyala terang. Suara kacamata menyentuh permukaan kayu terdengar seperti bunyi klik yang pelan, tetapi di dalam ruangan yang sunyi, bunyi itu terasa seperti guntur.
Sementara Iskandar duduk diam, tidak bergerak, tidak berbicara, tidak bernapas, hampir seperti patung. Tubuhnya yang tadi sedikit santai, yang tadi mulai merasa nyaman dengan suasana hangat di ruang tamu ini, kini kaku seperti batu. Tangannya yang tadi tenang di pangkuan, kini terkepal di samping tubuh—bukan mengepal karena marah, tapi mengepal karena menahan sesuatu, menahan rasa ingin melindungi yang tidak tahu harus ke mana, menahan rasa takut yang tidak berani ia akui.
Karena malam itu, masa lalu Nayla tidak lagi hanya mengintai dari kejauhan, tidak lagi hanya melintas di seberang jalan dengan mobil hitam yang kacanya gelap, tidak lagi hanya muncul tiba, tiba di Pasar Melati dengan langkah yang penuh percaya diri.
Masa lalu itu akan datang ke rumahnya sendiri.
Ke rumah yang selama ini menjadi tempat perlindungannya.
Ke rumah yang selama ini menjadi satu, satunya tempat di mana ia merasa aman.
Ke rumah yang sekarang, untuk pertama kalinya, terasa seperti tidak cukup kuat untuk melindunginya.
"Apa maksudnya ini?"
Suara ayah Nayla tenang.
Terlalu tenang.
Tenang seperti permukaan danau yang dalam, yang menyembunyikan pusaran di bawahnya. Tenang seperti suara seseorang yang sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi badai, yang sudah berlatih untuk tidak kehilangan kendali, yang sudah memutuskan bahwa ia tidak akan menunjukkan kelemahan di depan anaknya.
Tapi Iskandar bisa mendengar getaran di balik ketenangan itu. Getaran yang hampir tidak terlihat, hampir tidak terdengar, tetapi ada. Getaran yang mengatakan bahwa pria tua ini, yang telah menjadi kepala keluarga selama puluhan tahun, yang telah melindungi istri dan anaknya dari segala macam bahaya, sedang berusaha sekuat tenaga untuk tidak marah.
Nayla menunduk.
Jarinya gemetar kecil, gemetar yang tidak bisa ia kendalikan, gemetar yang muncul setiap kali namanya disebut, gemetar yang menjadi refleks setiap kali ia mengingat kembali semua yang telah terjadi.
"Papa…"
Ayahnya menatap lembut, namun tegas.
Lembut seperti ketika ia menggendong Nayla kecil yang sedang demam. Tegas seperti ketika ia melarang Nayla keluar malam ketika masih remaja.
"Papa tanya baik-baik. Dia mau datang untuk apa?"
Nayla menggigit bibir bawahnya, gigitan yang tidak terlalu keras, tetapi cukup untuk meninggalkan bekas gigi di bibirnya yang pucat, cukup untuk membuatnya merasa sakit, cukup untuk mengalihkan perhatian dari rasa sakit yang lebih besar di dalam dadanya.
Lalu dengan suara pelan, dengan suara yang nyaris seperti bisikan, dengan suara yang seperti orang yang sedang mengakui dosa di depan altar, ia berkata:
"Aldebar tidak mau menerima pembatalan pertunangan."
Ruangan seketika sunyi.
Sunyi seperti di dalam gua yang paling dalam.
Sunyi seperti di dalam air yang paling tenang.
Sunyi seperti di dalam hati ketika sedang berdoa.
Iskandar menoleh cepat.
Meskipun ia sudah tahu, meskipun Nayla sudah memberitahunya di depan warung kopi, di bawah lampu jalan, dengan air mata yang masih mengalir di pipinya, bahwa Aldebar adalah tunangannya, mendengar kata pembatalan pertunangan membuat semuanya terasa jauh lebih nyata.
Bukan sekadar mantan kekasih yang tidak bisa move on. Bukan sekadar laki, laki yang masih berharap. Tapi tunangan resmi. Seseorang yang mungkin telah duduk di ruang tamu ini berkali, kali. Seseorang yang mungkin pernah dipersilakan oleh ayah Nayla dengan senyum ramah. Seseorang yang mungkin pernah diajak bicara oleh ibu Nayla sambil tersenyum.
Dan sekarang, orang itu tidak mau menerima pembatalan.
Ibunya memegang tangan Nayla, menggenggamnya erat, seperti sedang berpegangan pada satu, satunya hal yang nyata di tengah badai, seperti sedang berusaha menahan putrinya agar tidak jatuh, seperti sedang mengatakan ibu di sini, ibu tidak akan pergi, ibu akan melindungimu.
"Sudah sejauh itu?"
Air mata Nayla jatuh pelan.
Jatuh satu per satu, seperti rintik hujan di musim kemarau, seperti tetesan air dari keran yang tidak pernah benar, benar tertutup rapat.
"Iya, Ma."
Ayah Nayla berdiri perlahan.
Gerakannya lambat, bukan karena ia sudah tua, meskipun usianya sudah tidak muda lagi, tetapi karena ia sedang berusaha mengendalikan amarah yang membara di dalam dadanya. Tangannya yang tadinya tenang di atas sandaran kursi, kini mengepal di samping tubuh. Urat, urat di tangannya menonjol, seperti akar, akar pohon yang muncul ke permukaan tanah.
Beliau berjalan ke jendela, jendela kayu dengan kaca yang sudah mulai buram oleh debu dan usia, dengan tirai tipis berwarna krem yang bergoyang, goyang setiap kali tertiup angin.
Di luar, halaman rumah yang basah oleh sisa hujan mulai mengering. Lampu teras masih menyala redup, seperti mata yang setengah terbuka, seperti orang yang sedang menunggu tetapi tidak ingin terlihat menunggu. Dari kejauhan, suara malam masih terdengar, suara jangkrik yang bersahutan, suara angin yang berhembus di antara pepohonan, suara sesekali motor yang melintas di jalan trans dengan kecepatan tinggi.
Tapi bagi ayah Nayla, suara, suara itu tidak berarti apa, apa.
Yang ia dengar hanyalah detak jantungnya sendiri yang berdetak lebih cepat dari seharusnya.
Yang ia rasakan hanyalah amarah yang mengalir di dalam darahnya.
Yang ia pikirkan hanyalah bagaimana melindungi anak perempuannya dari laki, laki yang telah membuatnya menangis terlalu sering.
"Nayla."
Beliau tetap membelakangi, punggungnya yang lebar, yang dulu menjadi tempat Nayla berlindung ketika ia kecil, yang dulu menjadi perisai dari segala macam ketakutan, kini terlihat rapuh. Rapuh seperti tembok yang mulai retak. Rapuh seperti baju besi yang mulai berkarat. Rapuh seperti seseorang yang sadar bahwa ia tidak bisa melindungi anaknya selamanya.
"Kenapa kamu tidak cerita dari awal?"
Nayla menatap punggung ayahnya.
Punggung yang dulu terlihat begitu besar ketika ia masih kecil. Punggung yang dulu menjadi tempatnya bersandar ketika ia lelah. Punggung yang sekarang terlihat sedikit membungkuk, sedikit merosot, seperti sedang menahan beban yang terlalu berat.
Dan untuk pertama kalinya, ia mendengar nada kecewa dalam suara ayahnya.
Bukan marah.
Marah akan lebih mudah dihadapi. Marah bisa dijawab dengan marah. Marah bisa dilawan dengan marah.
Tapi kecewa?
Kecewa lebih menyakitkan dari itu.
Kecewa adalah ketika seseorang yang kita cintai, seseorang yang telah berkorban banyak untuk kita, seseorang yang telah mencintai kita tanpa syarat, seseorang yang tidak pernah berhenti percaya pada kita, merasa bahwa kita telah mengecewakan mereka.
Kecewa karena anaknya memilih memikul semuanya sendiri.
Kecewa karena anaknya tidak percaya bahwa orang tuanya cukup kuat untuk membantu.
Kecewa karena anaknya lebih memilih menderita sendirian daripada berbagi beban dengan keluarga.
"Karena Nayla pikir bisa selesai sendiri."
Ayahnya menutup mata sebentar.
Kelopak matanya yang mulai keriput itu tertutup rapat, seperti sedang berdoa, seperti sedang berusaha menenangkan diri, seperti sedang memohon kepada Tuhan untuk memberi kekuatan.
Lalu ia berbalik.
Matanya, yang tadi tajam, yang tadi penuh dengan amarah yang tertahan, kini berubah. Berubah menjadi lembut. Lembut seperti ketika ia menggendong Nayla kecil. Lembut seperti ketika ia mengajar Nayla mengendarai sepeda untuk pertama kali. Lembut seperti ketika ia melepaskan tangan Nayla dan membiarkannya berjalan sendiri.
"Tidak semua luka harus kamu hadapi sendiri."
Kalimat itu sederhana.
Tidak berlebihan.
Tidak dramatis.
Tapi Nayla justru menangis lebih keras.
Bukan karena sedih.
Bukan karena takut.
Bukan karena kecewa.
Tapi karena untuk pertama kalinya, setelah sekian lama berpura, pura kuat, setelah sekian lama menyimpan semua luka di dalam hati, setelah sekian lama berjalan sendiri di tengah kegelapan—ia merasa bahwa ia tidak sendirian.
Bahwa ada orang, orang yang mencintainya.
Bahwa ada keluarga yang akan selalu ada untuknya.
Bahwa ada rumah yang selalu terbuka, tidak peduli seberapa jauh ia pergi, tidak peduli seberapa banyak ia bersalah.
Karena kadang, yang paling menyakitkan bukan masa lalu yang datang kembali.
Bukan Aldebar yang terus mengintai.
Bukan mobil hitam yang selalu muncul di mana pun ia pergi.
Tapi sadar bahwa selama ini, ia terlalu lama diam.
Terlalu lama menyimpan luka.
Terlalu lama berpikir bahwa ia harus kuat sendirian.
Iskandar duduk tanpa banyak bicara.
Ia tahu ini bukan tempatnya mengambil alih. Bukan waktunya menjadi pahlawan. Bukan saatnya untuk berdiri dan berkata, "Saya yang akan melindunginya." Karena ada saat, saat di mana seorang anak hanya butuh orang tuanya. Ada saat, saat di mana luka hanya bisa disembuhkan oleh keluarga. Ada saat, saat di mana kehadiran orang luar, sebaik apa pun niatnya, hanya akan menjadi penghalang.
Tapi ketika Nayla menangis, ketika suara tangisnya pecah di ruang tamu yang sunyi, ketika bahunya berguncang hebat, ketika ibunya memeluknya erat, erat, naluri dalam dirinya berkata sebaliknya.
Ia ingin berdiri.
Ingin mendekat.
Ingin memeluk Nayla.
Ingin mengatakan bahwa semuanya akan baik, baik saja.
Ingin melindungi.
Tapi ia juga tahu, beberapa perang harus tetap menjadi milik keluarga.
Beberapa pertempuran harus dimenangkan oleh orang tua.
Beberapa luka harus disembuhkan oleh mereka yang telah mencintai Nayla sejak sebelum ia lahir.
Ibunda Nayla menatap Iskandar pelan.
Matanya yang tadi penuh dengan cemas, yang tadi basah karena menahan tangis, kini berubah. Berubah menjadi lebih tenang. Lebih seperti seorang ibu yang sedang berbicara dengan tamu yang tidak sengaja melihat sisi kelam keluarganya.
"Maaf kamu jadi ikut melihat semua ini."
Iskandar segera menggeleng.
Gelengan yang cepat, yang tegas, yang mengatakan tidak perlu minta maaf, Bu. Saya tidak keberatan. Saya justru bersyukur bisa ada di sini.
"Tidak apa, apa, Bu."
Ayah Nayla menoleh padanya.
Tatapan beliau tenang, namun kini lebih serius. Tidak lagi seperti seorang ayah yang sedang menguji calon menantu. Tapi seperti seorang komandan yang sedang menilai apakah prajurit di depannya cukup kuat untuk ikut bertempur.
"Kamu tahu apa yang sedang kamu masuki?"
Pertanyaan itu langsung menghantam dada Iskandar.
Menghantam seperti palu godam.
Menghantam seperti gelombang tsunami.
Menghantam seperti sesuatu yang tidak bisa ia hindari.
Karena jujur, jawabannya: belum sepenuhnya.
Ia tahu Nayla punya masa lalu dengan Aldebar. Ia tahu Aldebar adalah tunangan Nayla. Ia tahu Aldebar tidak bisa melepaskan. Ia tahu ada mobil hitam yang mengikuti. Ia tahu ada rahasia yang belum terbuka.
Tapi sejauh mana? Seberapa dalam? Seberapa berbahaya?
Ia tidak tahu.
Namun ia tahu satu hal.
Ia menatap Nayla.
Perempuan itu masih menangis di pangkuan ibunya, dengan bahu yang berguncang, dengan rambut yang basah oleh air mata, dengan tubuh yang gemetar seperti dedaunan yang tertiup angin kencang.
Ia terlihat rapuh.
Terlihat hancur.
Terlihat seperti seseorang yang sedang berada di titik terendah dalam hidupnya.
Tapi di matanya, di balik semua air mata, di balik semua ketakutan, di balik semua luka—ada sesuatu yang membuat Iskandar tidak bisa pergi.
Ada harapan.
Harapan kecil yang redup, seperti bintang di langit yang terhalang awan, seperti lilin yang hampir padam, seperti sesuatu yang hampir mati tetapi masih berusaha bertahan.
Dan Iskandar tidak ingin menjadi orang yang memadamkan harapan itu.
Lalu ia berkata pelan, dengan suara yang tidak bergetar, dengan suara yang tegas, dengan suara yang keluar dari hati.
"Saya tahu Nayla tidak seharusnya menghadapi ini sendirian."
Ayah Nayla menatapnya cukup lama.
Matanya yang tadi tajam, yang tadi seperti elang mengamati mangsa, kini berubah. Berubah menjadi lebih lembut. Lebih seperti seorang ayah yang sedang melihat anak laki, laki yang pantas untuk putrinya.
Lalu ia mengangguk kecil.
Bukan karena setuju.
Bukan karena ia sudah memberikan restu.
Tapi karena beliau mulai melihat bahwa laki, laki di depannya tidak datang sekadar singgah.
Bahwa ia datang untuk tinggal.
Bahwa ia datang untuk berjuang.
Bahwa ia datang untuk menjadi bagian dari solusi, bukan bagian dari masalah.
Namun justru itu yang membuat Nayla panik.
"Tidak."
Suaranya pecah.
Pecah seperti kaca yang jatuh di lantai keramik.
Pecah seperti tangisan yang tidak bisa lagi ditahan.
Pecah seperti sesuatu yang hancur berkeping, keping.
Semua menoleh padanya.
Ibu Nayla melepaskan pelukannya sedikit, cukup untuk melihat wajah putrinya—wajah yang pucat seperti mayat, wajah yang basah oleh air mata, wajah yang menunjukkan bahwa ia sedang ketakutan setengah mati.
Ayah Nayla mengernyit, kerutan di dahinya yang dalam, yang seperti alur, alur di peta topografi, yang muncul setiap kali ia sedang memikirkan sesuatu yang serius.
Iskandar menatapnya dengan mata yang penuh Tanya, tanya yang tidak bisa ia ucapkan karena takut membuat Nayla semakin takut.
Nayla berdiri.
Tubuhnya gemetar hebat, gemetar yang tidak bisa ia kendalikan, gemetar yang seperti demam, gemetar yang seperti seseorang yang sedang berada di ambang kehancuran.
Wajahnya pucat.
Pucat seperti kertas.
Pucat seperti kapur tulis.
Pucat seperti sesuatu yang sudah mati tetapi tidak mau dikubur.
"Iskandar tidak boleh ikut."
Iskandar mengernyit.
Kerutan di dahinya yang dalam, kerutan yang biasanya muncul ketika ia sedang membaca laporan keuangan yang rumit atau ketika ia sedang mencoba memahami perilaku teman, temannya yang tidak masuk akal, kini muncul lagi.
"Kenapa?"
Nayla menatapnya dengan mata basah, mata yang merah, mata yang sembab, mata yang seperti baru saja selesai menangis sepanjang malam.
"Karena ini masalah saya."
"Justru karena itu, saya harus, "
"Tidak!"
Nada suara Nayla meninggi untuk pertama kalinya.
Meninggi seperti alarm yang berbunyi di tengah malam.
Meninggi seperti teriakan yang memecah kesunyian.
Meninggi seperti sesuatu yang selama ini tertahan, kini meledak.
Semua terdiam.
Ibu Nayla terkejut, matanya membesar, mulutnya terbuka setengah, tangannya yang tadi memegang bahu Nayla kini menggantung di udara, tidak tahu harus ke mana.
Ayah Nayla diam, diam yang tidak biasa, diam yang seperti sedang memproses apa yang baru saja terjadi, diam yang seperti sedang mencoba memahami mengapa anaknya yang biasanya lembut tiba, tiba berteriak.
Iskandar diam, diam yang terkejut, diam yang tidak menyangka bahwa Nayla bisa bersikap seperti ini, diam yang bertanya, tanya apakah ia telah melakukan sesuatu yang salah.
Nayla sendiri terkejut mendengar suaranya.
Ia tidak pernah berteriak seperti itu.
Ia bukan tipe orang yang berteriak.
Ia adalah Nayla yang lembut. Nayla yang kalem. Nayla yang lebih banyak tersenyum daripada mengerutkan dahi. Nayla yang lebih banyak diam daripada berbicara.
Tapi malam ini, ia berteriak.
Karena ia tidak bisa lagi.
Karena dinding yang selama ini ia bangun, dinding yang tinggi, dinding yang tebal, dinding yang kokoh—akhirnya runtuh. Runtuh oleh ketakutan bahwa Iskandar akan terluka karena dirinya. Runtuh oleh kecemasan bahwa orang yang baru saja ia temukan, orang yang membuatnya merasa aman untuk pertama kalinya setelah sekian lama, akan ikut hancur bersama masa lalunya.
Ia menatap Iskandar.
Matanya yang masih basah, yang masih merah, yang masih menyimpan sisa, sisa kemarahan yang meledak tiba, tiba, kini berubah. Berubah menjadi lembut. Lembut seperti kapas. Lembut seperti bulu. Lembut seperti sesuatu yang memohon untuk dimengerti.
Dan suaranya berubah lirih.
Lirih seperti bisikan.
Lirih seperti doa.
Lirih seperti sesuatu yang tidak ingin didengar oleh siapa pun, tetapi harus keluar.
"Saya tidak mau kamu ikut terluka karena saya."
Kalimat itu membuat ruangan kembali hening.
Hening seperti di dalam gereja setelah kebaktian usai.
Hening seperti di dalam perpustakaan ketika semua orang sedang membaca.
Hening seperti di dalam hati ketika sedang merenung.
Karena untuk pertama kalinya, semua orang melihat dengan jelas, bukan hanya Iskandar, bukan hanya ibu Nayla, bukan hanya ayah Nayla, ketakutan Nayla.
Ketakutan yang sebenarnya.
Bukan pada Aldebar.
Bukan pada mobil hitam.
Bukan pada masa lalu.
Tapi pada kemungkinan bahwa orang yang baru saja masuk ke hidupnya, orang yang membuatnya tersenyum, orang yang membuatnya merasa aman, orang yang membuatnya ingin percaya lagi, ikut hancur karena dirinya.
Iskandar berdiri pelan.
Gerakannya lambat, seperti seseorang yang sedang mendekati burung yang terluka—takut jika bergerak terlalu cepat, burung itu akan terbang dan tidak pernah kembali.
"Nayla."
Perempuan itu menggeleng.
Gelengan yang cepat, yang panik, yang seperti anak kecil yang sedang menolak untuk diobati lukanya karena takut perih.
"Jangan."
"Kamu tidak bisa terus melindungi semua orang sendirian."
"Dan kamu tidak harus menyelamatkan saya."
Kalimat itu keluar cepat.
Terlalu cepat.
Seperti air yang keluar dari bendungan yang jebol.
Seperti kata, kata yang keluar tanpa melalui proses berpikir.
Seperti sesuatu yang ia sesali sedetik setelah diucapkan.
Dan sesaat kemudian, wajah Nayla berubah.
Berubah seperti langit yang tiba, tiba mendung setelah cerah.
Berubah seperti warna yang luntur terkena air.
Berubah seperti seseorang yang baru sadar bahwa ia telah mengatakan sesuatu yang salah.
Karena ia sadar, kalimat itu terdengar seperti menolak.
Terdengar seperti "aku tidak butuh kamu".
Terdengar seperti "pergilah, aku tidak ingin kamu di sini".
Padahal sebenarnya, yang ia rasakan justru sebaliknya.
Ia takut.
Takut Iskandar tinggal terlalu dekat.
Takut hatinya percaya.
Takut ia mulai bergantung.
Takut suatu hari nanti Iskandar pergi, dan ia tidak bisa kembali seperti dulu.
Dan lebih takut lagi, kalau nanti Iskandar pergi, ia tidak akan bisa bangkit lagi.
Karena ia sudah terlalu sering jatuh.
Karena ia sudah terlalu sering hancur.
Karena ia sudah terlalu sering ditinggalkan.
Dan ia tidak yakin bahwa ia bisa bertahan jika dihancurkan lagi.
Mata Iskandar terluka.
Sangat kecil.
Hampir tidak terlihat.
Seperti retakan di dinding yang tidak akan dilihat orang kecuali mereka mencari dengan sengaja.
Tapi Nayla melihatnya.
Ia melihat bagaimana mata Iskandar, mata yang teduh, mata yang jujur, mata yang selama ini menatapnya dengan lembut, kini sedikit meredup.
Sedikit terluka.
Sedikit kecewa.
Sedikit bertanya, tanya apakah ia memang tidak diinginkan.
Dan Nayla langsung menyesal.
Menyesal seperti seseorang yang baru saja membuang sesuatu yang sangat berharga karena panik.
Menyesal seperti seseorang yang baru saja mengatakan kata, kata yang tidak bisa ditarik kembali.
Menyesal seperti seseorang yang baru sadar bahwa ia mungkin telah menghancurkan satu, satunya hal baik yang terjadi dalam hidupnya.
"Iskandar, saya bukan—"
"Tapi saya mau."
Nayla terdiam.
Mulutnya terbuka setengah, kata, kata yang ingin ia ucapkan tersangkut di tenggorokan seperti duri yang tidak bisa ditelan.
Iskandar menatapnya.
Matanya yang tadi sedikit terluka, kini berubah. Berubah menjadi tegas. Tegas seperti batu karang yang tidak bisa digoyahkan ombak. Tegas seperti keputusan yang tidak bisa diganggu gugat. Tegas seperti seseorang yang sudah memutuskan dan tidak akan berubah pikiran.
Suaranya tetap tenang.
Tenang seperti air danau yang tidak beriak.
Tenang seperti angin yang berhembus pelan.
Tenang seperti sesuatu yang tidak perlu berteriak untuk didengar.
"Saya tidak sedang mencoba menyelamatkan kamu."
Nayla mengerjap.
"Saya cuma tidak mau pura, pura tidak peduli."
Nayla membeku.
Beku seperti patung.
Beku seperti batu.
Beku seperti sesuatu yang tidak bisa bergerak.
Karena kadang, yang membuat hati seseorang goyah bukan kata "aku cinta kamu".
Kata, kata itu sudah terlalu sering digunakan. Sudah terlalu sering disalahgunakan. Sudah kehilangan maknanya karena terlalu banyak diucapkan di tempat yang salah, pada waktu yang salah, kepada orang yang salah.
Kadang, yang membuat hati seseorang goyah justru kalimat sederhana seperti: aku tidak bisa pura, pura tidak peduli.
Kalimat yang mengatakan: aku melihatmu. Aku melihat bahwa kamu sedang terluka. Aku melihat bahwa kamu sedang berjuang. Aku melihat bahwa kamu tidak baik, baik saja. Dan aku tidak bisa berpaling. Aku tidak bisa mengatakan bahwa ini bukan urusanku. Aku tidak bisa pergi dan pura, pura tidak tahu.
Karena itulah cinta.
Bukan tentang bunga dan cokelat dan kata, kata manis.
Tapi tentang memilih untuk tetap tinggal meskipun tinggal itu sulit.
Tentang memilih untuk tetap peduli meskipun peduli itu menyakitkan.
Tentang memilih untuk tidak pura, pura tidak melihat, meskipun melihat membuat hati hancur.
Ayah Nayla memperhatikan mereka berdua.
Matanya yang tadi tajam, yang tadi seperti elang mengamati mangsa, kini berubah. Berubah menjadi lebih tenang. Lebih seperti seorang ayah yang sedang melihat anak perempuannya dan laki, laki yang mencintainya berjuang untuk saling memahami.
Lalu ia menarik napas panjang.
Napas yang masuk ke paru, parunya dengan suara desisan pelan, seperti udara yang masuk ke ban yang bocor.
"Baik."
Semua menoleh.
"Besok pagi kalau dia datang… kita hadapi bersama."
Ibunda Nayla mengangguk pelan.
Anggukan yang tidak ragu, ragu, yang penuh keyakinan, yang mengatakan ibu setuju, ibu tidak akan membiarkan anaknya dihadang sendirian.
Nayla menatap ayahnya.
Matanya yang masih basah, yang masih merah, yang masih menyimpan sisa, sisa air mata, kini membesar. Membesar seperti piring. Membesar seperti bola. Membesar seperti sesuatu yang tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Papa…"
Ayahnya menatap putrinya.
Matanya yang tadi tenang, yang tadi seperti danau yang tidak beriak, kini berubah. Berubah menjadi lembut. Lembut seperti ketika ia menggendong Nayla kecil. Lembut seperti ketika ia mengajar Nayla mengendarai sepeda untuk pertama kali. Lembut seperti ketika ia melepaskan tangan Nayla dan membiarkannya berjalan sendiri.
"Sudah cukup. Papa tidak mau kamu takut di rumah sendiri."
Kalimat itu membuat Nayla menangis lagi.
Bukan tangis yang pecah seperti tadi. Bukan tangis yang keras dan tidak terkendali.
Tapi tangis yang pelan.
Tangis yang seperti air yang mengalir dari mata air yang tidak pernah kering.
Tangis yang mengatakan aku sudah terlalu lama takut sendirian. Aku sudah terlalu lama berpikir bahwa aku harus kuat sendiri. Aku sudah terlalu lama lupa bahwa aku punya keluarga yang selalu siap melindungiku.
Karena untuk pertama kalinya, ia tidak lagi merasa sendirian.
Malam semakin larut.
Jam dinding, jam dinding bundar dengan angka Romawi yang sudah mulai pudar, dengan jarum detik yang bergerak dengan suara tik, tik, tik yang pelan tetapi konsisten, menunjukkan hampir tengah malam.
Jam sebelas lewat empat puluh lima.
Lima belas menit menuju tengah malam.
Lima belas menit menuju hari baru.
Lima belas menit menuju pagi ketika Aldebar akan datang.
Iskandar akhirnya berdiri hendak pamit.
Ia tidak ingin pergi. Ia ingin tetap di sini, di rumah ini, di samping Nayla, melindunginya dari apa pun yang akan datang. Tapi ia juga tahu bahwa ia tidak bisa tinggal. Bahwa ia harus pulang. Bahwa ia harus mempersiapkan diri untuk besok.
"Saya pulang dulu, Pak… Bu."
Ibunda Nayla mengangguk lembut.
Matanya yang tadi penuh dengan cemas, kini sedikit lebih tenang. Mungkin karena ia sudah memutuskan bahwa besok mereka akan menghadapi Aldebar bersama, sama. Mungkin karena ia sudah menerima bahwa Iskandar adalah bagian dari tim mereka sekarang. Mungkin karena ia melihat ketulusan di mata pemuda itu.
"Hati, hati di jalan, Nak."
Ayah Nayla menatapnya.
Matanya yang tadi tajam, yang tadi seperti elang mengamati mangsa, kini berubah. Berubah menjadi lebih bersahabat. Lebih seperti seorang ayah yang sedang melepas anak laki, laki yang akan menjadi bagian dari keluarganya.
"Besok datang lagi."
Iskandar sedikit terkejut.
Matanya membesar, alisnya terangkat, mulutnya terbuka setengah, ekspresi khas ketika seseorang mendengar sesuatu yang tidak ia duga.
"Pak?"
Ayah Nayla menatap lurus.
Matanya tidak berkedip.
Suaranya tidak tinggi, tidak rendah, pas, seperti nada yang tepat untuk mengatakan sesuatu yang penting.
"Kalau memang mau tetap di dekat anak saya… jangan hanya hadir saat suasana mudah."
Nayla langsung menatap ayahnya.
Matanya yang masih basah, yang masih merah, yang masih menyimpan sisa, sisa air mata, kini membesar. Membesar karena terkejut. Membesar karena tidak menyangka bahwa ayahnya akan mengatakan sesuatu seperti itu. Membesar karena ia sadar bahwa ayahnya, yang selama ini terlihat tegas dan sulit didekati, sebenarnya telah menerima Iskandar.
Iskandar diam beberapa detik.
Jeda yang singkat, tetapi terasa seperti abad.
Jeda di mana ia memproses kata, kata ayah Nayla.
Jangan hanya hadir saat suasana mudah.
Artinya: jangan hanya datang ketika semuanya baik, baik saja. Jangan hanya datang ketika Nayla tersenyum dan tertawa. Jangan hanya datang ketika tidak ada masalah.
Tapi datang ketika badai datang. Datang ketika semuanya gelap. Datang ketika Nayla tidak bisa lagi tersenyum.
Karena itulah arti menjadi seseorang yang penting dalam hidup orang lain.
Bukan tentang hadir di saat, saat indah.
Tapi tentang hadir di saat, saat sulit.
Lalu ia menjawab mantap, dengan suara yang tidak bergetar, dengan suara yang tegas, dengan suara yang keluar dari hati.
"Iya, Pak."
Saat Iskandar melangkah ke teras, saat kakinya yang masih sedikit gemetar karena tegang menginjak lantai semen yang dingin, saat tangannya yang masih sedikit berkeringat meraih gagang pintu kayu yang sudah mulai lapuk, Nayla menyusul ke luar.
Ia tidak tahu mengapa ia menyusul.
Mungkin karena ia tidak ingin Iskandar pergi.
Mungkin karena ia ingin mengatakan sesuatu.
Mungkin karena ia hanya ingin melihat Iskandar sekali lagi sebelum malam berakhir.
Malam terasa sunyi.
Sunyi seperti di dalam gua yang paling dalam.
Sunyi seperti di dalam air yang paling tenang.
Sunyi seperti di dalam hati ketika sedang merenung.
Lampu halaman, lampu kuning yang redup, yang seperti mata yang setengah terbuka, yang seperti orang yang sedang menunggu tetapi tidak ingin terlihat menunggu, menerangi wajah mereka dengan cahaya yang hangat tetapi tidak cukup untuk menghilangkan kegelapan di sekitarnya.
Wajah Nayla yang pucat, yang basah oleh air mata, yang masih menyimpan sisa, sisa tangis, kini terlihat lebih lembut di bawah cahaya lampu. Bayangan, bayangan kecil terbentuk di bawah tulang pipinya, di bawah dagunya, di bawah hidungnya, menciptakan kontras yang indah.
Beberapa detik, tak ada yang bicara.
Hanya suara jangkrik dari kejauhan.
Hanya suara angin yang berhembus di antara pepohonan.
Hanya suara detak jantung mereka yang berdetak tidak beraturan.
Sampai Nayla berbisik pelan, dengan suara yang nyaris tidak terdengar, dengan suara yang seperti doa, dengan suara yang hanya cukup untuk didengar oleh Iskandar.
"Maaf."
Iskandar menatapnya.
"Untuk apa?"
"Karena hidup saya ternyata serumit ini."
Iskandar tersenyum kecil.
Senyum yang lembut, senyum yang hangat, senyum yang mengatakan tidak apa, apa.
"Kalau sederhana, mungkin saya tidak akan bertahan sejauh ini."
Nayla hampir tertawa.
Hampir, tetapi tidak jadi.
Karena matanya kembali basah.
Karena hatinya kembali sesak.
Karena ia sadar bahwa besok, semuanya bisa berubah.
"Kalau besok semuanya berubah…"
Iskandar memotong pelan.
"Saya datang."
Nayla menatapnya.
"Kalau kamu bilang jangan?"
Iskandar tersenyum.
Senyum yang tegas.
Senyum yang mengatakan kata, katamu tidak akan menghentikanku.
"Saya tetap datang."
Dan untuk pertama kalinya malam itu, di tengah udara dingin jalan trans, di depan rumah yang mulai dipenuhi kecemasan, di bawah lampu halaman yang redup, Nayla merasa sesuatu yang jauh lebih menakutkan daripada masa lalunya sendiri.
Ia mulai benar, benar berharap pada seseorang.
Bukan berharap bahwa Iskandar akan menyelesaikan semua masalahnya. Bukan berharap bahwa Iskandar akan menjadi pahlawan yang menyelamatkannya. Bukan berharap bahwa Iskandar akan menghilangkan semua lukanya.
Tapi berharap bahwa Iskandar akan tetap tinggal.
Berharap bahwa ketika semua ini selesai, ketika Aldebar pergi, ketika masa lalu tidak lagi membayangi, ketika luka mulai sembuh, Iskandar masih ada di sampingnya.
Berharap bahwa untuk pertama kalinya dalam hidupnya, cinta tidak akan berakhir dengan air mata.
Di dalam rumah, di balik jendela yang tertutup rapat, ibu Nayla menatap ke luar.
Matanya yang tadi penuh dengan cemas, kini sedikit basah.
Bukan basah karena sedih.
Tapi basah karena haru.
Karena ia melihat cara putrinya menatap laki, laki itu.
Cara yang sama seperti dulu, ketika ia masih muda, ketika ia menatap ayah Nayla untuk pertama kalinya.
Dan ia berdoa.
Berdoa kepada Tuhan yang maha mendengar, yang maha melihat, yang maha mengetahui.
Ya Allah, lindungilah anakku. Jangan biarkan ia terluka lagi. Jangan biarkan hatinya hancur lagi. Jika laki, laki ini adalah yang terbaik untuknya, dekatkanlah mereka. Jika tidak, berikanlah ia kekuatan untuk melepaskan.
Di sampingnya, ayah Nayla berdiri dengan tangan di saku celana.
Beliau tidak mengatakan apa, apa.
Tidak perlu.
Karena matanya sudah cukup.
Matanya yang tajam, yang seperti elang mengamati mangsa, kini berubah. Berubah menjadi lembut. Lembut seperti ketika ia menggendong Nayla kecil. Lembut seperti ketika ia mengajar Nayla mengendarai sepeda untuk pertama kali. Lembut seperti ketika ia melepaskan tangan Nayla dan membiarkannya berjalan sendiri.
Dan ia berdoa.
Berdoa dengan cara yang berbeda.
Dengan diam.
Dengan iman.
Dengan keyakinan bahwa Tuhan tidak akan memberikan ujian di luar kemampuan hamba, Nya.
Beri aku kekuatan untuk melindungi anakku, Ya Allah. Beri aku kebijaksanaan untuk mengetahui kapan harus berbicara dan kapan harus diam. Beri aku ketabahan untuk menghadapi apa pun yang akan terjadi besok.
Di teras, Iskandar menyalakan motor.
Mesin motor tuanya itu menggeram pelan, seperti harimau yang baru bangun dari tidurnya, seperti kucing yang sedang tidak mood diajak bermain, seperti suara yang sudah menjadi teman setianya selama bertahun, tahun.
Ia memakai helm, helm hitam polos yang sudah mulai baret di beberapa bagian, dengan kaca pelindung yang sudah sedikit buram karena sering terkena debu dan hujan.
Sebelum ia pergi, Nayla berkata sekali lagi.
"Terima kasih."
Iskandar menoleh.
"Untuk apa?"
Nayla tersenyum.
Senyum yang lembut.
Senyum yang hangat.
Senyum yang mengatakan aku tidak tahu bagaimana mengucapkan terima kasih yang cukup, jadi aku hanya akan mengatakan terima kasih, dan berharap kamu mengerti.
"Untuk semuanya."
Iskandar tersenyum balik.
Senyum yang mengatakan tidak perlu berterima kasih. Aku di sini bukan karena aku baik. Aku di sini karena aku peduli. Aku di sini karena aku tidak bisa tidak peduli.
Lalu ia pergi.
Meninggalkan Nayla berdiri di teras, dengan lampu halaman yang redup, dengan hati yang penuh dengan harapan dan ketakutan, dengan doa yang tidak berani ia panjatkan.
Motor Iskandar melaju perlahan meninggalkan rumah Nayla.
Jalan trans arah Mantangai yang tadi sunyi, kini semakin sunyi. Tidak ada kendaraan lain. Tidak ada suara klakson. Tidak ada suara orang.
Hanya ia dan pikirannya.
Dan pikirannya penuh dengan Nayla.
Penuh dengan air matanya.
Penuh dengan ketakutannya.
Penuh dengan kalimat terakhirnya: saya tidak mau kamu ikut terluka karena saya.
Dan Iskandar sadar, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidak takut terluka.
Ia takut kehilangan.
Ia takut tidak bisa melindungi.
Ia takut bahwa besok, ketika Aldebar datang, ia tidak akan cukup kuat.
Tapi ia juga tahu, ia tidak sendirian.
Ada ayah Nayla yang akan berdiri di sampingnya.
Ada ibu Nayla yang akan berdoa untuk mereka.
Ada Nayla yang akan berjuang.
Dan ia, Iskandar, yang tidak pernah percaya pada cinta yang datang tiba, tiba, kini percaya pada satu hal:
Cinta itu nyata.
Cinta itu tidak selalu mudah.
Cinta itu tidak selalu indah.
Tapi cinta itu layak untuk diperjuangkan.
BAB 21
Pagi yang Membawa Luka Lama
Malam berlalu terlalu cepat.
Bagi Nayla, malam itu nyaris tidak terasa seperti malam. Ia seperti jeda pendek antara satu badai dan badai berikutnya, seperti sebuah lorong gelap yang harus ia lewati sebelum tiba di ruangan yang lebih gelap, seperti sebuah napas yang ia ambil di antara dua teriakan, seperti sekejap mata yang ia tutup dan buka kembali dan ketika ia membukanya, semuanya telah berubah.
Ia tidak benar, benar tidur. Matanya tertutup, tubuhnya terbaring di atas kasur yang empuk, kepalanya bersandar di atas bantal yang sudah sejak kecil menemani tidurnya, bantal kapuk yang sudah kempes di bagian tengah, yang sarungnya berganti, ganti warna setiap kali ibunya sempat menjahitkan yang baru. Tapi pikirannya tidak pernah berhenti bergerak. Seperti roda yang terus berputar meskipun tidak ada yang mengayuh. Seperti sungai yang terus mengalir meskipun tidak ada hujan. Seperti sesuatu yang tidak bisa ia hentikan meskipun ia sudah sangat lelah.
Bayangan Aldebar muncul setiap kali ia memejamkan mata. Bukan wajah Aldebar yang ia kenal dulu—wajah yang tersenyum, wajah yang penuh dengan janji, wajah yang membuatnya percaya bahwa cinta itu indah. Tapi wajah Aldebar yang ia lihat malam ini di Pasar Melati. Wajah yang tegang. Wajah yang penuh dengan amarah yang tertahan. Wajah yang mengatakan bahwa ia tidak akan menyerah, bahwa ia akan kembali, bahwa ia tidak akan membiarkan Nayla pergi begitu saja.
Dan kalimat terakhir dari pesan itu, "Besok pagi aku datang. Kita harus selesaikan semuanya", masih terngiang di kepalanya, seperti lagu yang diputar berulang, ulang, seperti rekaman yang rusak, seperti sesuatu yang tidak bisa ia hentikan meskipun ia sudah menutup telinga dengan kedua tangan.
Besok pagi.
Pagi itu sekarang sudah di depan mata.
Matahari belum terbit. Langit di luar jendela kamarnya masih gelap, gelap seperti masa lalunya, gelap seperti ketakutannya, gelap seperti sesuatu yang tidak ingin ia lihat tetapi tidak bisa ia hindari. Tapi ada sedikit cahaya di ufuk timur, seperti janji bahwa malam tidak akan berlangsung selamanya, seperti harapan bahwa setelah badai akan ada pelangi, seperti bisikan bahwa semuanya akan baik, baik saja.
Nayla duduk di tepi tempat tidur.
Kasurnya berderit pelan, suara yang sudah ia kenal sejak kecil, suara yang biasa membuatnya nyaman, tetapi pagi ini terasa seperti suara peringatan bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi. Kakinya yang telanjang menyentuh lantai keramik yang dingin, dingin seperti ketakutannya, dingin seperti masa depan yang tidak pasti, dingin seperti sesuatu yang membuatnya ingin segera kembali ke bawah selimut dan tidak pernah keluar lagi.
Ia memandang ke luar jendela.
Jendela kamarnya menghadap ke timur, sengaja, karena ibunya ingin ia bangun dengan sinar matahari pagi, karena ayahnya percaya bahwa cahaya matahari pagi baik untuk kesehatan, karena mereka ingin anak mereka memulai setiap hari dengan cahaya, bukan dengan kegelapan.
Tapi pagi ini, Nayla tidak melihat cahaya. Yang ia lihat hanyalah awan, awan kelabu yang menggantung rendah, seperti kabut yang tidak mau pergi, seperti bayangan yang terus mengikuti, seperti sesuatu yang tidak bisa ia usir meskipun ia sudah berusaha sekuat tenaga.
Di luar, langit Kuala Kapuas masih pucat ketika pagi mulai turun perlahan.
Pucat seperti wajah Nayla semalam.
Pucat seperti kertas yang tidak pernah tersentuh tinta.
Pucat seperti sesuatu yang belum siap untuk diwarnai oleh kehidupan.
Udara di kawasan jalan trans arah Mantangai terasa sejuk, sejuk seperti embun pagi yang masih menempel di daun, daun rumput, sejuk seperti air sumur yang baru ditimba, sejuk seperti sesuatu yang membuat orang ingin menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan.
Embun masih menempel di daun, daun pepohonan di halaman rumah Nayla, daun, daun yang hijau, yang basah, yang berkilau di bawah cahaya pagi yang masih samar, samar. Embun itu seperti air mata yang tidak jatuh, seperti kesedihan yang tidak tertumpahkan, seperti sesuatu yang menunggu untuk dilepaskan tetapi tidak tahu caranya.
Dari kejauhan, bangunan Kantor Bupati Kapuas tampak tenang dalam cahaya pagi, tenang seperti biasanya, tenang seperti tidak ada yang terjadi, tenang seperti tidak peduli dengan drama yang sedang berlangsung di rumah, rumah warga di sekitarnya. Bangunan putih dengan pilar, pilar besarnya, dengan bendera merah putih yang mulai berkibar sedikit karena angin pagi yang berhembus pelan, dengan lampu, lampu taman yang masih menyala meskipun matahari sudah mulai meninggi.
Beberapa kendaraan dinas mulai lewat pelan, mobil, mobil hitam dengan plat merah, mobil, mobil putih dengan tulisan "PEMKAB KAPUAS" di sampingnya, beberapa motor yang digunakan oleh pegawai yang datang lebih awal untuk menghindari macet. Suara mesin mereka terdengar samar, samar, seperti bisikan dari dunia lain, seperti suara yang tidak penting, seperti sesuatu yang tidak akan diingat oleh siapa pun.
Kota perlahan bangun.
Seperti biasa.
Seperti tidak ada yang terjadi.
Seperti tidak ada perempuan yang sedang duduk di tepi tempat tidurnya dengan hati yang hancur dan pikiran yang kacau.
Seperti tidak ada laki, laki yang akan datang untuk menghancurkan segalanya.
Seperti tidak ada keluarga yang sedang bersiap untuk menghadapi badai.
Namun di dalam rumah Nayla, tak satu pun benar, benar tidur nyenyak.
Ibu Nayla, Bu Rahma, perempuan yang telah melahirkan Nayla tiga puluh tahun yang lalu, yang telah menggendongnya ketika ia demam, yang telah menemaninya ketika ia pertama kali patah hati, sudah duduk di meja makan sejak subuh. Sejak azan subuh berkumandang dari masjid di ujung jalan, sejak suara muadzin yang menggelegar membelah kesunyian pagi, sejak ia terbangun dan menyadari bahwa pagi ini berbeda dari pagi, pagi sebelumnya.
Secangkir teh hangat di depannya mulai dingin. Bukan karena ia tidak suka teh panas. Tapi karena ia terlalu sibuk memikirkan anaknya untuk meminumnya. Pikiran, pikiran tentang masa lalu, tentang Aldebar, tentang apa yang akan terjadi hari ini, tentang bagaimana ia harus bersikap, semua berputar di kepalanya seperti pusaran air yang tidak bisa ia hentikan.
Sesekali beliau menatap pintu, pintu kayu yang dicat putih, dengan gagang kuningan yang sudah mulai kusam karena usia, dengan kaca jendela kecil di bagian atas yang memperlihatkan halaman depan yang masih basah oleh embun. Seolah ia berharap bahwa Aldebar akan datang lebih awal, sehingga semua ini cepat selesai. Atau sebaliknya, ia berharap bahwa Aldebar tidak jadi datang, bahwa pesan itu hanya ancaman kosong, bahwa semuanya hanya mimpi buruk yang akan sirna ketika ia benar, benar bangun.
Sesekali menatap putrinya, Nayla yang duduk di kursi seberang, dengan kepala menunduk, dengan rambut yang masih terurai dan belum disisir, dengan mata yang sembab dan merah karena kurang tidur dan terlalu banyak menangis. Jantung seorang ibu hancur melihat anaknya dalam keadaan seperti ini. Hancur seperti kaca yang jatuh di lantai keramik. Hancur seperti piring yang pecah karena tersenggol siku. Hancur seperti sesuatu yang tidak bisa diperbaiki lagi.
Nayla duduk diam.
Diam seperti patung.
Diam seperti batu.
Diam seperti sesuatu yang sudah mati tetapi tidak mau dikubur.
Wajahnya pucat, lebih pucat dari semalam, lebih pucat dari biasanya, lebih pucat dari kertas yang baru keluar dari pabrik. Matanya sembab, sembab seperti orang yang baru saja selesai menangis sepanjang malam, sembab seperti orang yang tidak bisa lagi menangis karena air matanya sudah habis, sembab seperti sesuatu yang ingin menangis tetapi tidak punya air mata lagi.
Tangannya sejak tadi memegang gelas, gelas keramik putih dengan gambar bunga mawar merah di sisinya, gelas yang sudah menjadi favoritnya sejak ia masih remaja, gelas yang biasa ia gunakan setiap pagi untuk minum susu atau teh. Tapi pagi ini, gelas itu tidak pernah ia angkat ke bibir. Ia hanya memegangnya. Merasakan dinginnya. Merasakan beratnya. Merasakan sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.
Ayah Nayla, Pak Rahmat, laki, laki yang telah membesarkan Nayla sejak ia masih dalam kandungan, yang telah mengajarinya naik sepeda, yang telah menemaninya ketika ia pertama kali belajar mengemudi, membaca koran pagi.
Atau setidaknya, itulah yang ia lakukan.
Karena halaman yang sama, halaman tiga, rubrik berita daerah, tentang peresmian proyek pembangunan jalan oleh Bupati Kapuas, tak pernah dibalik. Matanya menatap kolom yang sama sejak dua puluh menit yang lalu, tanpa benar, benar membaca, tanpa benar, benar melihat, tanpa benar, benar memproses informasi yang tertulis di sana.
Pikirannya ada di tempat lain.
Pikirannya ada pada putrinya.
Pikirannya ada pada laki, laki yang akan datang hari ini.
Pikirannya ada pada bagaimana ia akan melindungi keluarganya.
Karena semua orang di rumah itu tahu, mereka sedang menunggu.
Menunggu mobil hitam itu berhenti di depan pagar.
Menunggu Aldebar turun dengan langkahnya yang penuh percaya diri.
Menunggu badai yang akan datang.
"Kalau kamu tidak siap…" ibunya berkata pelan, suaranya lembut tetapi hati, hati, seperti seseorang yang berjalan di atas telur, seperti seseorang yang tidak ingin memecahkan sesuatu yang sudah rapuh.
"kita bisa bicara nanti saja."
Nayla menggeleng.
Gelengan yang pelan, yang lemas, yang seperti orang yang kehabisan energi.
"Tidak, Ma."
Ayah Nayla menurunkan Koran, koran yang halamannya masih sama seperti tadi, yang tidak ada yang berubah, yang tidak memberikan informasi baru apa pun, dan meletakkannya di atas meja, di samping piring porselen yang masih kosong.
Matanya menatap Nayla.
"Cepat atau lambat memang harus selesai."
Nayla menatap ayahnya.
Matanya yang sembab, yang merah, yang masih menyimpan sisa, sisa air mata dari semalam, kini bertanya.
"Papa marah?"
Ayahnya diam beberapa detik.
Jeda yang panjang.
Jeda yang terasa seperti abad.
Jeda di mana ia memikirkan jawabannya, memproses pertanyaan putrinya, merasakannya di dalam hati.
Lalu ia menjawab jujur.
"Papa lebih sedih karena kamu menanggung semuanya sendirian."
Kalimat itu membuat Nayla menunduk.
Menunduk seperti anak kecil yang ketahuan berbohong.
Menunduk seperti orang yang baru sadar bahwa ia telah melakukan kesalahan.
Menunduk seperti sesuatu yang tidak bisa melihat ke atas karena takut apa yang akan ia lihat.
Karena ternyata, yang paling berat bukan menghadapi masa lalu.
Bukan menghadapi Aldebar.
Bukan menghadapi mobil hitam.
Tapi melihat orang yang mencintainya, ayahnya yang selama ini menjadi pelindungnya, ibunya yang selama ini menjadi tempatnya bersandar, dua orang yang telah mengorbankan segalanya untuknya, ikut terluka karena diamnya sendiri.
Karena jika ia tidak diam, mungkin semuanya akan berbeda.
Jika ia berbicara sejak awal, mungkin ayahnya bisa membantu.
Jika ia tidak terlalu keras kepala, mungkin ibunya tidak perlu khawatir seperti ini.
Jika ia tidak terlalu takut menjadi beban, mungkin keluarganya tidak perlu menderita karenanya.
Tapi ia diam.
Dan diamnya telah menyebabkan luka yang tidak perlu.
Pukul delapan lewat sedikit.
Matahari sudah cukup tinggi. Sinar pagi yang tadinya masih samar, samar, kini mulai terang. Cahaya keemasan masuk melalui jendela, jendela rumah, menembus tirai tipis berwarna krem, menciptakan pola, pola cahaya di lantai keramik yang sudah mulai kusam.
Suara kendaraan mulai ramai di jalan trans Mantangai. Motor, motor dengan knalpot yang bunyinya bervariasi, ada yang halus seperti dengkuran kucing, ada yang kasar seperti suara mesin pemotong rumput. Mobil, mobil dengan klakson yang kadang panjang kadang pendek. Becak, becak dengan bunyi kring, kring dari bel kecil yang digantung di gagang.
Suara azan zuhur dari masjid di ujung jalan masih terdengar, meskipun waktu zuhur belum tiba, masjid itu sering memutar rekaman azan untuk subuh, zuhur, asar, magrib, isya, setiap waktu, tanpa pernah terlewat. Suara yang sudah menjadi bagian dari soundtrack kehidupan di kota ini, suara yang mengingatkan bahwa ada yang lebih besar dari diri kita sendiri, bahwa ada Tuhan yang maha mendengar, bahwa doa tidak akan pernah sia, sia.
Tapi di dalam rumah Nayla, semua suara itu terasa jauh.
Jauh seperti dari dunia lain.
Jauh seperti dari mimpi yang tidak nyata.
Jauh seperti sesuatu yang tidak penting.
Karena yang penting hanya satu: kedatangan Aldebar.
Nayla menggenggam tangannya sendiri, menggenggam erat, seperti sedang berpegangan pada satu, satunya hal yang nyata di tengah badai. Kuku, kukunya yang pendek menusuk telapak tangannya, meninggalkan bekas, bekas setengah lingkaran yang merah. Ia tidak merasakan sakit. Atau mungkin ia merasakan, tetapi tidak peduli. Karena sakit di telapak tangan tidak sebanding dengan sakit di dalam dada.
Ibunya memperhatikan gerakan itu, gerakan kecil yang hampir tidak terlihat, tetapi tidak luput dari mata seorang ibu yang telah mengamati anaknya sejak ia masih dalam kandungan. Bu Rahma meraih tangan Nayla, membuka genggamannya perlahan, dan menggenggamnya dengan lembut. Tangannya yang hangat, tangan yang telah membesarkannya, tangan yang telah mengajarinya berjalan, tangan yang telah mengusap air matanya setiap kali ia jatuh, membungkus tangan Nayla yang dingin.
"Jangan takut, Nak. Mama di sini."
Nayla menatap ibunya.
Matanya yang sembab, yang merah, yang masih menyimpan sisa, sisa air mata, kini berkaca, kaca lagi.
"Maaf, Ma. Nayla sudah banyak merepotkan."
Ibunya tersenyum.
Senyum yang lembut.
Senyum yang hangat.
Senyum yang mengatakan tidak ada yang perlu dimaafkan, Nak. Kamu tidak pernah menjadi repot. Kamu adalah anakku. Kamu adalah bagian dari diriku. Kamu adalah alasan mengapa aku bangun setiap pagi.
"Kamu tidak pernah repot, Nak. Kamu adalah anugerah."
Air mata Nayla jatuh.
Jatuh satu per satu.
Seperti rintik hujan di musim kemarau.
Seperti tetesan air dari keran yang tidak pernah benar, benar tertutup rapat.
Seperti sesuatu yang tidak bisa ditahan lagi.
Suara motor berhenti di depan rumah.
Bukan suara mobil. Bukan suara yang berat dan menggelegar seperti mobil hitam Aldebar. Tapi suara motor, motor tua dengan mesin yang bunyinya sedikit kasar, dengan knalpot yang tidak terlalu keras, dengan suara yang sudah familiar di telinga Nayla.
Suara yang membuat jantungnya berdetak lebih cepat, bukan karena takut, tapi karena lega.
Karena ia tahu siapa yang datang.
Iskandar.
Nayla refleks menoleh ke jendela, jendela ruang tamu yang menghadap ke halaman depan, yang tertutup tirai tipis berwarna krem, yang cahaya paginya masih samar, samar.
Jantungnya berdegup keras, dum, dum, dum, dum, dum, seperti genderang perang yang memekakkan telinga.
Dia datang.
Dia benar, benar datang.
Dia menepati janjinya.
Iskandar turun dari motor tuanya, motor Honda Revo tahun 2010, an, dengan bodi yang sudah mulai berbaretan di beberapa bagian, dengan knalpot yang bunyinya sedikit kasar, dengan lampu depan yang redup meskipun bohlamnya masih baru. Ia melepas helm, helm hitam polos yang sudah mulai baret di beberapa bagian, dengan kaca pelindung yang sudah sedikit buram karena sering terkena debu dan hujan, dan menggantungnya di spion.
Ia berdiri di depan pagar, pagar putih kecil yang catnya sudah mulai mengelupas di beberapa bagian, memperlihatkan besi di bawahnya yang mulai berkarat. Wajahnya sedikit tegang, tegang seperti seseorang yang sedang bersiap untuk menghadapi sesuatu yang berat, tegang seperti seseorang yang tidak tahu apa yang akan terjadi tetapi berusaha untuk tetap tenang, tegang seperti seseorang yang ingin terlihat kuat meskipun hatinya gemetar.
Ia mengenakan kemeja sederhana, kemeja batik lengan panjang dengan warna biru tua, yang ia setrika sendiri pagi ini dengan hati, hati, yang lipatan, lipatannya masih terlihat rapi. Tidak terlalu formal, tidak terlalu santai. Pas. Seperti orang yang ingin memberikan kesan baik tetapi tidak berlebihan.
Dan tatapannya, tatapan yang sama seperti semalam, tatapan yang mengatakan aku di sini, aku tidak akan pergi, aku akan melindungimu, tertuju pada pintu rumah.
Ibunda Nayla tersenyum kecil.
Senyum yang lega.
Senyum yang mengatakan dia benar, benar datang. Dia tidak mengecewakan. Dia laki, laki yang baik.
"Dia benar, benar datang."
Ayah Nayla melirik jam dinding, jam dinding bundar dengan angka Romawi yang sudah mulai pudar, dengan jarum detik yang bergerak dengan suara tik, tik, tik yang pelan tetapi konsisten, dengan jarum panjang yang menunjuk ke angka dua belas, jarum pendek yang menunjuk ke angka delapan.
Jam menunjukkan pukul delapan lewat lima belas menit.
Tepat waktu.
Beliau mengangguk pelan.
"Tepat waktu."
Nayla menatap ke luar jendela.
Matanya yang masih basah, yang masih merah, yang masih menyimpan sisa, sisa air mata, kini berbinar.
Binar yang tidak bisa ia sembunyikan.
Binar yang mengatakan dia datang. Dia tidak membohongiku. Dia benar, benar datang.
Dan tanpa sadar, napasnya yang sejak tadi berat, berat seperti sedang menggendong batu besar, berat seperti sedang berjalan di lumpur yang dalam, berat seperti sedang berenang di lautan yang gelap, sedikit terasa lega.
Karena seseorang benar, benar menepati janjinya.
Seseorang benar, benar datang ketika ia dibutuhkan.
Seseorang benar, benar tidak meninggalkannya sendirian.
Beberapa detik kemudian, Iskandar berdiri di depan pintu.
Pintu kayu yang dicat putih, dengan gagang kuningan yang sudah mulai kusam karena usia, dengan kaca jendela kecil di bagian atas yang memperlihatkan ruang tamu di dalamnya.
Ia mengangkat tangan—tangan yang sedikit gemetar, tangan yang berkeringat meskipun pagi masih sejuk, tangan yang berusaha untuk tetap tenang meskipun hatinya berdebar kencang, dan mengetuk pintu.
Tok. Tok. Tok.
Tiga kali.
Tidak terlalu keras, tidak terlalu pelan.
Pas.
Seperti orang yang ingin sopan tetapi tidak ingin terlihat terlalu formal.
Pintu terbuka.
Nayla berdiri di ambang pintu.
Wajahnya masih pucat, pucat seperti semalam, pucat seperti tidak pernah tidur, pucat seperti orang yang sedang sakit. Matanya masih sembab, sembab seperti orang yang habis menangis sepanjang malam. Rambutnya masih terurai, tidak diikat, tidak disisir rapi, hanya dibiarkan seperti apa adanya.
Tapi matanya, matanya yang sembab, yang merah, yang masih menyimpan sisa, sisa air mata—berbicara.
Kamu datang.
Iskandar menatapnya.
Matanya bergerak dari wajah Nayla yang pucat, ke matanya yang sembab, ke rambutnya yang terurai, ke cardigan krem tipis yang ia kenakan, cardigan yang sama seperti kemarin, yang masih basah di beberapa bagian karena air hujan yang belum sepenuhnya kering.
Dan ia tersenyum.
Senyum yang lembut.
Senyum yang hangat.
Senyum yang mengatakan aku bilang aku akan datang, dan aku datang.
"Malam—"
Ia berhenti.
Lalu tersenyum gugup.
"Eh... pagi, Pak. Bu."
Dari dalam rumah, terdengar tawa kecil ibunda Nayla, tawa yang lembut, tawa yang lega, tawa yang mengatakan anak muda ini lucu juga.
"Masuk dulu, Nak."
Iskandar masuk.
Langkahnya hati, hati, seperti orang yang memasuki rumah orang lain untuk pertama kalinya, meskipun ia sudah pernah masuk semalam, meskipun ia sudah duduk di sofa cokelat tua itu, meskipun ia sudah merasakan kehangatan rumah ini.
Matanya langsung mencari Nayla.
Dan ketika tatapan mereka bertemu, ketika mata Iskandar yang teduh bertemu dengan mata Nayla yang masih basah, ketika mata Iskandar yang penuh dengan ketegasan bertemu dengan mata Nayla yang penuh dengan ketakutan, ketika mata Iskandar yang mengatakan aku di sini bertemu dengan mata Nayla yang mengatakan aku takut, tak satu pun bicara.
Tapi Nayla tahu, ia tidak sendirian lagi.
"Sudah sarapan?" tanya ibunda Nayla, sambil berjalan ke dapur, dapur sederhana dengan kompor gas dua tungku, dengan lemari kayu yang sudah mulai lapuk, dengan meja potong yang selalu bersih meskipun sudah puluhan tahun digunakan.
Iskandar menggeleng.
Gelengan yang jujur, yang tidak dibuat, buat, yang seperti orang yang tidak perlu berpura, pura.
"Belum, Bu."
Ibunya langsung berdiri, berdiri dari kursinya yang sedari tadi ia duduki, berjalan ke dapur dengan langkah yang cepat, seperti orang yang sedang memiliki misi penting.
"Bagus. Kalau mau ikut tegang, minimal perut jangan kosong."
Nayla tersenyum kecil.
Senyum yang pertama kali pagi ini.
Senyum yang kecil, yang hampir tidak terlihat, tetapi ada.
Iskandar menoleh.
Dan melihat senyum itu, senyum kecil yang muncul di sudut bibir Nayla, senyum yang mengatakan aku senang kamu di sini, meskipun aku takut, membuat ia merasa datang ke rumah ini adalah keputusan yang benar.
Keputusan yang tidak akan pernah ia sesali.
Belum sempat suasana mencair, belum sempat ibunda Nayla kembali dari dapur dengan membawa piring berisi nasi goreng dan telur mata sapi, belum sempat ayah Nayla menanyakan kabar Iskandar dengan suaranya yang datar tetapi hangat, belum sempat Nayla menawarkan minuman kepada Iskandar dengan suara yang masih serak karena semalaman tidak tidur, suara mobil berhenti terdengar dari depan rumah.
Kali ini berbeda.
Bukan suara motor, bukan suara mesin yang kasar dan tidak beraturan, bukan suara knalpot yang bunyinya seperti orang batuk, bukan suara yang sudah familiar di telinga Nayla.
Suara mobil.
Mobil besar.
Mobil dengan mesin yang berat.
Mobil dengan suara yang menggelegar seperti singa yang marah.
Mobil hitam itu.
Semua langsung diam.
Diam seperti di dalam gereja setelah kebaktian usai.
Diam seperti di dalam perpustakaan ketika semua orang sedang membaca.
Diam seperti di dalam hati ketika sedang berdoa.
Nayla membeku.
Beku seperti patung.
Beku seperti batu.
Beku seperti sesuatu yang tidak bisa bergerak.
Jari, jarinya yang tadi santai di pangkuan, kini mencengkeram ujung meja, meja kayu yang sudah mulai mengelupas vernisnya, yang kakinya tidak rata sehingga sedikit miring, yang menjadi pusat dari semua makanan yang pernah disantap oleh keluarga ini. Buku, buku jarinya memutih, urat, urat di tangannya menonjol, tanda bahwa ia sedang menahan sesuatu, mungkin teriakan, mungkin tangisan, mungkin keduanya.
Ibunya memegang tangan putrinya, menggenggamnya erat, seperti sedang berpegangan pada satu, satunya hal yang nyata di tengah badai, seperti sedang berusaha menahan putrinya agar tidak jatuh, seperti sedang mengatakan ibu di sini, ibu tidak akan pergi, ibu akan melindungimu.
Ayah Nayla berdiri perlahan.
Gerakannya lambat, bukan karena ia sudah tua, meskipun usianya sudah tidak muda lagi, tetapi karena ia sedang berusaha mengendalikan amarah yang membara di dalam dadanya. Tangannya yang tadinya tenang di atas meja, kini mengepal di samping tubuh. Urat, urat di tangannya menonjol, seperti akar, akar pohon yang muncul ke permukaan tanah.
Dan Iskandar refleks menoleh ke pintu.
Matanya yang tadi lembut menatap Nayla, kini berubah. Berubah menjadi tajam. Tajam seperti pisau. Tajam seperti silet. Tajam seperti sesuatu yang siap untuk bertarung.
Karena pagi itu, masa lalu benar, benar datang.
Pintu mobil terbuka.
Suara yang berat, suara pintu mobil mewah yang tertutup rapat, yang bahannya tebal, yang dirancang untuk meredam suara dari luar, yang sekarang terbuka dengan suara thud yang pelan tetapi tegas.
Aldebar turun.
Kemeja hitam, masih kemeja hitam yang sama, masih lengan panjang yang digulung hingga siku, masih kancing atas yang dibiarkan terbuka memperlihatkan sedikit dada yang bidang. Tapi kemeja itu sekarang terlihat lebih rapi dari kemarin, mungkin disetrika, mungkin baru, mungkin sengaja dipilih untuk memberikan kesan bahwa ia datang dengan persiapan, bahwa ia tidak main, main, bahwa ia serius.
Celana panjang hitam, masih hitam, masih rapi tanpa lipatan, masih seperti baru keluar dari lemari.
Sepatu pantofel hitam mengilap, masih mengilap seperti kemarin, mungkin lebih mengilap, mungkin baru disemir, mungkin sengaja dibuat mengilap untuk memberikan kesan bahwa ia datang dengan niat yang kuat.
Wajah tenang, tenang seperti biasanya, tenang seperti tidak ada yang terjadi, tenang seperti ia tidak datang untuk menghancurkan segalanya.
Tapi tatapan yang masih sama, tatapan yang mengatakan aku belum siap kehilangan, aku tidak akan menyerah, aku akan melakukan apa pun untuk mempertahankan apa yang aku anggap milikku—masih menempel di matanya.
Ia berdiri di depan pagar rumah Nayla.
Pagar putih kecil yang catnya sudah mulai mengelupas di beberapa bagian, yang besi di bawahnya mulai berkarat, yang menjadi batas antara dunia luar dan dunia dalam, antara publik dan privat, antara Aldebar dan Nayla.
Matanya menatap ke arah pintu rumah—pintu kayu yang dicat putih, dengan gagang kuningan yang sudah mulai kusam, dengan kaca jendela kecil di bagian atas yang samar, samar memperlihatkan bayangan orang, orang di dalamnya.
Dan untuk sesaat, udara pagi terasa jauh lebih dingin.
Dingin seperti es di kutub utara.
Dingin seperti hati yang sudah mati.
Dingin seperti sesuatu yang tidak bisa lagi dihangatkan oleh apa pun.
"Dia berani datang juga," gumam ayah Nayla, suaranya pelan tetapi penuh dengan amarah yang tertahan.
Amarah yang sudah ia pendam sejak semalam.
Amarah yang sudah ia tahan sejak Nayla menangis di ruang tamu.
Amarah yang sekarang, dengan kedatangan Aldebar, mulai mencari jalan keluar.
Nayla berbisik pelan, bisikan yang nyaris tidak terdengar, bisikan yang seperti doa, bisikan yang hanya cukup untuk didengar oleh ayahnya.
"Papa…"
Ayahnya menoleh.
Matanya yang tadi marah, kini berubah. Berubah menjadi lembut. Lembut seperti ketika ia menggendong Nayla kecil. Lembut seperti ketika ia mengajar Nayla mengendarai sepeda untuk pertama kali. Lembut seperti ketika ia melepaskan tangan Nayla dan membiarkannya berjalan sendiri.
"Tidak. Kali ini biar Papa yang bicara."
Beliau melangkah menuju pintu, langkah yang tegas, langkah yang tidak ragu, ragu, langkah yang mengatakan aku adalah kepala keluarga ini, dan aku akan melindungi keluarganya.
Namun sebelum sempat membukanya, sebelum tangannya yang gemetar karena menahan amarah menyentuh gagang kuningan yang dingin, suara Iskandar terdengar.
"Pak."
Ayah Nayla menoleh.
Iskandar berdiri.
Tubuhnya yang tadinya duduk di sofa cokelat tua, kini berdiri tegak. Tegak seperti pohon cemara yang tidak bisa digoyahkan angin. Tegak seperti batu karang yang tidak bisa dihantam ombak. Tegak seperti seseorang yang sudah siap untuk apa pun.
Wajahnya tenang, tenang seperti air danau yang tidak beriak, tenang seperti angin yang berhembus pelan, tenang seperti sesuatu yang tidak perlu berteriak untuk didengar.
Meskipun jantungnya sendiri berdetak keras.
Meskipun dadanya terasa sesak.
Meskipun tangannya gemetar di samping tubuh.
"Kalau Bapak izinkan… saya tetap di sini."
Ayah Nayla menatapnya lama.
Matanya yang tadi marah, yang tadi penuh dengan amarah yang tertahan, kini berubah. Berubah menjadi lebih tenang. Lebih seperti seorang ayah yang sedang melihat anak laki, laki yang pantas untuk putrinya.
Lalu ia mengangguk kecil.
Anggukan yang hampir tidak terlihat, yang hanya cukup untuk dilihat oleh Iskandar, yang seperti mengatakan kamu boleh tinggal, kamu bagian dari ini, kamu tidak sendirian.
"Jangan ikut bicara kalau belum perlu."
Iskandar mengangguk.
Anggukan yang mantap, yang tegas, yang mengatakan saya mengerti, Pak. Saya tidak akan ikut campur kecuali diminta. Saya hanya akan berada di sini, sebagai pendukung, sebagai saksi, sebagai seseorang yang tidak akan pergi.
"Iya, Pak."
Pintu rumah dibuka.
Perlahan.
Tidak tergesa, gesa.
Seperti seseorang yang sedang membuka pintu untuk tamu yang tidak diundang, tetapi tidak bisa menolak kedatangannya.
Udara pagi langsung masuk bersama aroma tanah basah, aroma yang khas, aroma yang muncul setelah hujan, aroma yang segar dan sedikit manis. Aroma itu bercampur dengan aroma kopi dari dapur, aroma teh dari meja makan, aroma kehangatan dari dalam rumah yang sekarang terancam oleh dingin dari luar.
Aldebar berdiri di depan.
Tatapan matanya langsung menemukan Nayla di dalam rumah, Nayla yang duduk di sofa cokelat tua, dengan wajah pucat, dengan mata sembab, dengan tubuh yang gemetar. Nayla yang terlihat seperti korban, seperti orang yang sedang dihakimi, seperti seseorang yang tidak berdaya.
Lalu berhenti pada Iskandar.
Sangat sebentar.
Hanya sepersekian detik.
Tapi cukup untuk membuat suasana berubah.
Cukup untuk mengirim pesan: kamu di sini lagi? Kamu tidak pernah pergi? Kamu benar, benar serius dengan dia?
Cukup untuk membuat Aldebar sadar bahwa Iskandar bukanlah laki, laki yang akan mundur.
Bahwa ia akan tetap di sini, apa pun yang terjadi.
Bahwa ia akan menjadi penghalang antara Aldebar dan Nayla.
"Pagi, Om."
Aldebar menunduk sopan pada ayah Nayla.
Sopan seperti dulu.
Sopan seperti ketika ia pertama kali datang ke rumah ini untuk meminang Nayla.
Sopan seperti ketika ia berjabat tangan dengan ayah Nayla dan mengatakan "saya akan menjaga putri Bapak".
Tapi kesopanan itu sekarang terasa seperti topeng.
Topeng yang menutupi niat sebenarnya.
Topeng yang menutupi amarah.
Topeng yang menutupi ketidakmampuan untuk menerima kenyataan.
Ayah Nayla berdiri tegak di depan pintu.
Tubuhnya yang tidak setinggi Aldebar, mungkin hanya setinggi bahu Aldebar, mungkin lebih pendek beberapa sentimeter, tetap terlihat kokoh. Kokoh seperti tembok benteng. Kokoh seperti gunung yang tidak bisa digoyahkan gempa. Kokoh seperti seorang ayah yang tidak akan membiarkan anaknya disakiti lagi.
"Pagi."
Suaranya datar.
Datar seperti permukaan danau yang tenang.
Tapi di bawahnya, ada arus yang siap menenggelamkan siapa pun yang berani mengganggu ketenangannya.
"Kamu datang terlalu pagi untuk orang yang tidak diundang."
Aldebar tersenyum tipis.
Senyum yang tidak sampai ke mata.
Senyum yang seperti pisau yang digerakkan perlahan di atas kulit—tidak melukai tetapi membuat bulu kuduk merinding.
"Saya hanya ingin bicara."
"Dengan siapa?"
Aldebar menatap Nayla.
Matanya yang tadi sopan, yang tadi tertunduk hormat pada ayah Nayla, kini berubah. Berubah menjadi tajam. Tajam seperti pisau. Tajam seperti silet. Tajam seperti sesuatu yang siap melukai.
"Dengan Nayla."
Ayah Nayla tidak bergeser.
Tubuhnya tetap di depan pintu.
Tangannya tetap di samping tubuh.
Matanya tetap menatap Aldebar dengan tajam.
"Bicara di sini."
Suasana langsung menegang.
Tegang seperti tali yang ditarik terlalu kencang.
Tegang seperti karet gelang yang diregangkan hingga batas maksimal.
Tegang seperti sesuatu yang siap meledak kapan saja.
Ibunda Nayla berdiri di belakang putrinya, berdiri seperti perisai, seperti pelindung, seperti seseorang yang siap menangkap putrinya jika ia jatuh. Tangannya di pundak Nayla, jari, jarinya yang hangat menekan lembut, mengirimkan pesan ibu di sini, ibu tidak akan pergi, ibu akan melindungimu.
Iskandar berdiri beberapa langkah di samping, tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh. Jarak yang sopan, jarak yang memberikan ruang bagi ayah Nayla untuk berbicara, tetapi juga cukup dekat untuk melangkah maju jika diperlukan.
Dan Nayla merasa tubuhnya kembali dingin.
Dingin seperti es.
Dingin seperti mayat.
Dingin seperti sesuatu yang sudah mati tetapi tidak mau dikubur.
Karena semua yang selama ini ia hindari, semua yang selama ini ia lari, semua yang selama ini ia kubur dalam, dalam, akhirnya berdiri tepat di depan rumahnya sendiri.
BAB 22
Nama yang Disebut di Pagi Hari
Pertanyaan Aldebar menggantung di ruang tamu yang tiba, tiba terasa jauh lebih sempit dari sebelumnya.
Bukan karena ruang tamu itu kecil. Rumah Nayla tidak besar, tetapi ruang tamunya cukup lega untuk menampung sepuluh orang duduk dengan nyaman. Tapi kehadiran Aldebar, dengan tubuhnya yang tinggi, dengan kemeja hitamnya yang rapi, dengan tatapannya yang tajam, seolah menyedot semua udara di ruangan, membuat segalanya terasa sesak, membuat setiap napas terasa seperti perjuangan.
"Karena dia?"
Tatapannya bergerak dari ayah Nayla, yang masih berdiri tegak di depan pintu dengan tangan mengepal di samping tubuh, yang matanya masih menatap Aldebar dengan amarah yang tertahan, lalu melompat melewati bahu pria tua itu, melewati lorong pendek menuju ruang tamu, dan berhenti tepat pada Iskandar.
Tajam.
Penuh dengan sesuatu yang tidak bisa ia sembunyikan lagi.
Iskandar yang duduk di sofa cokelat tua, yang tadi berdiri, tetapi kemudian duduk kembali karena ayah Nayla memintanya untuk tidak ikut bicara dulu, merasakan tatapan itu seperti pisau yang ditusukkan ke dadanya. Bukan karena ia takut. Bukan karena ia terintimidasi. Tapi karena ia bisa merasakan kebencian di balik tatapan itu. Kebencian yang buta. Kebencian yang tidak rasional. Kebencian yang lahir dari rasa takut kehilangan.
Tak ada lagi nada lembut di suara Aldebar. Suara yang dulu, mungkin bertahun, tahun lalu, pernah membuat Nayla tersenyum hanya dengan menyebut namanya, kini terdengar seperti geraman. Seperti suara binatang yang terpojok dan siap menyerang.
Tak ada lagi wajah tenang. Wajah yang dulu, mungkin ketika ia masih percaya bahwa Nayla akan kembali padanya, kini berubah menjadi sesuatu yang lain. Bukan marah. Marah adalah emosi yang jujur. Marah bisa dilihat, bisa dirasakan, bisa dihadapi. Tapi yang terlihat di wajah Aldebar sekarang adalah sesuatu yang lebih gelap. Sesuatu yang lebih berbahaya. Sesuatu yang seperti campuran antara amarah, kecemburuan, dan keputusasaan.
Yang tersisa hanya seseorang yang mulai kehilangan kendali.
Seseorang yang sadar bahwa ia tidak lagi memiliki kuasa atas situasi.
Seseorang yang melihat kenyataan di depan matanya, Nayla duduk di sofa dengan wajah pucat, Iskandar duduk di sampingnya dengan tubuh tegang, ayah Nayla berdiri di depan pintu dengan amarah yang tertahan, ibu Nayla berdiri di belakang putrinya dengan tangan di pundak, dan tidak bisa menerimanya.
Di belakang Iskandar, di belakang sofa cokelat tua yang sudah mulai kempus di bagian tengah, di belakang meja kayu yang sudah mengelupas vernisnya, di belakang rak buku kecil yang berisi novel, novel lama, Nayla mendengar pertanyaan itu. Mendengar nada suara Aldebar yang berubah. Mendengar kebencian yang tidak bisa ia sembunyikan.
Ia langsung menegang.
Tubuhnya yang tadi sudah tegang, kini semakin tegang. Seperti tali yang ditarik terlalu kencang, siap putus kapan saja. Seperti karet gelang yang diregangkan hingga batas maksimal, siap melenting dan menyakiti siapa pun yang terkena.
Ibunda Nayla menggenggam tangan putrinya lebih erat. Jari, jarinya yang hangat, yang tadi mengusap, usap punggung tangan Nayla dengan gerakan yang menenangkan, kini menggenggam erat, seperti sedang berpegangan pada satu, satunya hal yang nyata di tengah badai. Seperti sedang berusaha menahan putrinya agar tidak jatuh. Seperti sedang mengatakan ibu di sini, ibu tidak akan pergi, ibu akan melindungimu.
Ayah Nayla berdiri di depan pintu, masih di tempat yang sama, belum bergeser sedikit pun, seperti batas terakhir antara masa lalu yang mengancam dan rumah ini yang menjadi tempat perlindungan. Punggungnya yang lebar, yang dulu menjadi tempat Nayla berlindung ketika ia kecil, yang dulu menjadi perisai dari segala macam ketakutan, kini terlihat seperti tembok benteng yang tidak akan runtuh meskipun dihantam badai.
Dan Iskandar, untuk pertama kalinya, merasakan bahwa dirinya benar, benar sudah masuk ke dalam cerita yang bukan miliknya sejak awal.
Cerita tentang Nayla dan Aldebar.
Cerita tentang cinta yang berubah menjadi kepahitan.
Cerita tentang masa lalu yang tidak bisa dilupakan.
Tapi anehnya, ia tidak ingin mundur.
Ia tidak ingin pergi.
Ia tidak ingin berpura, pura bahwa ini bukan urusannya.
Karena ia sudah terlanjur peduli.
Karena ia sudah terlanjur mencintai.
Karena ia tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya hidup tanpa Nayla di dalamnya.
"Nayla."
Suara Aldebar kali ini lebih berat.
Lebih dalam.
Lebih seperti suara dari dasar sumur yang dalam.
Seperti suara seseorang yang sedang berusaha menarik napas terakhir sebelum tenggelam.
"Kamu batalkan pertunangan kita… karena laki-laki yang baru kamu kenal beberapa hari?"
Nayla membuka mulut.
Bibirnya yang pucat, yang kering, yang masih menyimpan sisa, sisa air mata dari semalam, bergerak sedikit. Seperti hendak mengatakan sesuatu. Seperti ingin membela diri. Seperti ingin menjelaskan bahwa bukan itu masalahnya. Bahwa bukan karena Iskandar. Bahwa ia sudah ingin membatalkan pertunangan itu sejak lama. Bahwa ia sudah tidak bahagia sejak lama. Bahwa ia hanya tidak punya keberanian untuk melakukannya.
Tapi sebelum kata, kata itu keluar, sebelum Nayla sempat mengucapkan sepatah kata pun, Iskandar lebih dulu melangkah.
Setengah langkah maju.
Hanya setengah langkah.
Tidak banyak.
Tidak sampai meninggalkan sofa.
Tapi cukup untuk membuat semua orang di ruangan itu melihatnya.
Cukup untuk membuat Aldebar menoleh.
Cukup untuk membuat ayah Nayla mengangkat alis.
Cukup untuk membuat ibu Nayla menarik napas.
"Jangan."
Suara Nayla cepat.
Cepat seperti kilat.
Cepat seperti refleks.
Cepat seperti seseorang yang baru sadar bahwa sesuatu yang berbahaya akan terjadi.
Semua menoleh.
Nayla menatap Iskandar.
Matanya yang masih basah, yang masih merah, yang masih menyimpan sisa, sisa air mata dari semalam, kini memohon.
Memohon agar Iskandar tidak ikut bicara.
Memohon agar Iskandar tidak terlibat lebih jauh.
Memohon agar Iskandar tidak menjadi sasaran amarah Aldebar.
Bukan karena ia tidak ingin dibela. Bukan karena ia merasa Iskandar tidak mampu. Bukan karena ia lebih memilih Aldebar.
Tapi karena ia tahu, sekali Iskandar masuk lebih jauh, sekali ia membuka mulut dan mengatakan sesuatu yang akan membuat Aldebar semakin marah, semuanya akan berubah.
Tidak akan ada jalan untuk kembali.
Aldebar tidak akan lagi melihat Iskandar sebagai "teman baru" yang tidak penting.
Tapi sebagai saingan.
Sebagai musuh.
Sebagai seseorang yang harus disingkirkan.
Dan Nayla belum siap melihat orang lain ikut terluka karena dirinya.
Belum siap melihat Iskandar, laki-laki yang selama beberapa hari terakhir menjadi satu, satunya alasan ia bisa tersenyum, terluka karena dirinya.
Belum siap memikul beban rasa bersalah yang baru.
Ayah Nayla menatap Aldebar tajam.
Matanya yang tadi masih agak tenang, masih berusaha mengendalikan amarah, masih berusaha untuk tidak meledak di depan anaknya, masih berusaha untuk menjadi kepala keluarga yang bijaksana, kini berubah.
Berubah menjadi tajam.
Tajam seperti pisau.
Tajam seperti silet.
Tajam seperti sesuatu yang siap melukai.
"Kamu datang untuk mencari jawaban. Bukan mencari keributan."
Aldebar menahan napas.
Dada bidangnya yang terbungkus kemeja hitam rapi itu naik turun dengan cepat—tanda bahwa ia sedang berusaha mengendalikan emosinya, bahwa ia sedang berusaha untuk tidak kehilangan kendali, bahwa ia sedang berusaha untuk tetap terlihat sopan di depan orang tua Nayla.
Lalu ia menunduk kecil.
Hanya sedikit.
Hanya cukup untuk menunjukkan hormat.
Tapi tidak cukup untuk menunjukkan penyesalan.
"Maaf, Om. Tapi saya berhak tahu."
Ibunda Nayla akhirnya bicara.
Suaranya yang biasanya lembut, yang biasanya penuh dengan kasih sayang, yang biasanya membuat orang yang mendengarnya merasa tenang, kini berubah.
Berubah menjadi tegas.
Tegas seperti seorang ibu yang tidak akan membiarkan anaknya disakiti lagi.
"Berhak tahu apa? Kalau anak saya sudah tidak bahagia?"
Aldebar menoleh pada beliau.
Wajahnya yang tadi tegang, yang tadi berusaha untuk tetap tenang, kini retak.
Retak untuk pertama kalinya.
Retak seperti tanah di musim kemarau.
Retak seperti cermin yang jatuh di lantai keramik.
Retak seperti sesuatu yang tidak bisa lagi ditutup, tutupi.
"Saya sayang sama Nayla, Tante."
Nayla menutup mata.
Kelopak matanya yang sembab, yang merah, yang masih menyimpan sisa, sisa air mata dari semalam, tertutup rapat.
Seperti sedang berdoa.
Seperti sedang memohon kekuatan.
Seperti sedang berusaha menahan tangis yang akan pecah kapan saja.
Karena kalimat itu, saya sayang sama Nayla, adalah kalimat yang dulu membuatnya bahagia.
Dulu, ketika Aldebar mengucapkan kalimat itu, Nayla merasa seperti berada di atas awan. Merasa bahwa ia adalah perempuan paling beruntung di dunia. Merasa bahwa cinta adalah sesuatu yang indah dan abadi.
Tapi sekarang, kalimat yang sama terasa seperti belati.
Belati yang ditusukkan ke dadanya.
Belati yang diputar perlahan.
Belati yang membuatnya ingin berteriak kesakitan tetapi tidak bisa.
Karena Aldebar mungkin benar, benar sayang padanya.
Tapi sayang yang tidak cukup.
Sayang yang tidak membuatnya bahagia.
Sayang yang justru membuatnya terperangkap.
Dan itulah hal yang paling menyakitkan.
"Kadang itu masalahnya."
Suara Nayla lirih.
Lirih seperti bisikan.
Lirih seperti doa.
Lirih seperti sesuatu yang tidak ingin didengar oleh siapa pun, tetapi harus keluar.
Semua menoleh padanya.
Ibu Nayla menggenggam tangannya lebih erat.
Ayah Nayla menatapnya dengan mata yang berkaca, kaca.
Iskandar menahan napas.
Aldebar membeku.
Nayla mengangkat wajah.
Matanya yang tadi tertutup, kini terbuka. Terbuka lebar. Terbuka seperti jendela yang ingin menampakkan isi rumahnya. Terbuka seperti buku yang halamannya sudah tidak bisa lagi disembunyikan.
Matanya basah.
Matanya merah.
Matanya masih menyimpan sisa, sisa air mata dari semalam.
Tapi kali ini suaranya jauh lebih kuat.
Lebih tegas.
Lebih seperti seseorang yang sudah tidak peduli lagi dengan konsekuensi.
"Kamu selalu bilang kamu sayang. Tapi kamu tidak pernah benar, benar bertanya apa saya baik-baik saja."
Aldebar membeku.
Beku seperti patung.
Beku seperti batu.
Beku seperti sesuatu yang tidak bisa bergerak.
Nayla melanjutkan, suaranya tidak lagi lirih. Suaranya mulai naik. Tidak sampai berteriak, tidak sampai memecahkan kaca, tapi cukup untuk membuat semua orang di ruangan itu mendengar dengan jelas.
"Semua harus sesuai cara kamu. Semua harus sesuai keinginan kamu. Dan setiap kali saya ingin bicara… kamu selalu bilang saya terlalu sensitif."
Ruangan menjadi sunyi.
Sunyi seperti di dalam gua yang paling dalam.
Sunyi seperti di dalam air yang paling tenang.
Sunyi seperti di dalam hati ketika sedang merenung.
Karena pagi itu, untuk pertama kalinya, semua yang selama ini hanya tinggal di dalam hati Nayla, semua yang selama ini tidak pernah ia katakan, semua yang selama ini ia pendam, semua yang selama ini ia simpan rapat, rapat, akhirnya keluar.
Keluar seperti air yang keluar dari bendungan yang jebol.
Keluar seperti kata, kata yang tidak bisa lagi ditahan.
Keluar seperti tangisan yang tidak bisa lagi dibendung.
Aldebar menatapnya tak percaya.
Matanya yang tadi tegang, yang tadi berusaha untuk tetap tenang, kini berubah. Berubah menjadi terkejut. Terkejut seperti seseorang yang baru sadar bahwa ia tidak mengenal orang yang ia cintai. Terkejut seperti seseorang yang baru tahu bahwa selama ini ia hidup dalam ilusi. Terkejut seperti seseorang yang baru mendengar bahwa dunia tidak berputar di sekelilingnya.
"Jadi sekarang saya yang salah?"
Nayla tertawa kecil.
Tawa yang justru terdengar lebih menyakitkan dari tangis.
Tawa yang pahit.
Tawa yang sakit.
Tawa yang mengatakan aku sudah tahu kau akan mengatakan itu. Aku sudah tahu kau tidak akan pernah mengerti. Aku sudah tahu kau tidak akan pernah berubah.
"Lihat? Bahkan sekarang pun… yang kamu dengar cuma tentang dirimu sendiri."
Kalimat itu menghantam tepat di tengah ruangan.
Menghantam seperti petir di siang bolong.
Menghantam seperti palu godam ke dinding beton.
Menghantam seperti sesuatu yang tidak bisa dihindari.
Ibunda Nayla menunduk.
Air matanya jatuh.
Jatuh diam, diam.
Jatuh tanpa suara.
Jatuh seperti tetesan air dari keran yang tidak pernah benar, benar tertutup rapat.
Ayah Nayla memejamkan mata pelan.
Kelopak matanya yang mulai keriput itu tertutup rapat, seperti sedang berdoa, seperti sedang memohon kekuatan, seperti sedang berusaha menahan amarah yang menggelegak di dalam dadanya.
Dan Iskandar, yang sejak tadi diam, yang sejak tadi hanya duduk di sofa cokelat tua dengan tangan terkepal di samping tubuh, yang sejak tadi hanya menatap dengan mata yang tidak berkedip—akhirnya benar, benar memahami.
Luka Nayla bukan karena cinta yang hilang.
Tapi karena terlalu lama tidak didengar.
Karena terlalu lama diabaikan.
Karena terlalu lama dianggap remeh.
Karena terlalu lama dipaksa untuk menuruti keinginan orang lain.
Karena terlalu lama hidup dalam bayang, bayang seseorang yang mengaku mencintainya, tetapi tidak pernah benar, benar melihat dirinya.
Aldebar menatap Iskandar lagi.
Matanya yang tadi terkejut, yang tadi tidak percaya, kini berubah. Berubah menjadi lebih tenang. Lebih seperti seseorang yang sedang mencari celah. Lebih seperti seseorang yang sedang mencari cara untuk memenangkan pertarungan.
"Dan kamu? Kamu pikir kamu mengerti dia?"
Iskandar tidak langsung menjawab.
Ia menatap Nayla dulu.
Perempuan itu duduk di samping ibunya, dengan mata yang masih basah, dengan pipi yang masih basah oleh air mata, dengan tubuh yang masih gemetar.
Ia terlihat rapuh.
Terlihat hancur.
Terlihat seperti seseorang yang sedang berjuang untuk tetap utuh.
Tapi di matanya, di balik semua air mata, di balik semua ketakutan, di balik semua luka—ada sesuatu yang membuat Iskandar tidak bisa pergi.
Ada harapan.
Harapan kecil yang redup, seperti bintang di langit yang terhalang awan, seperti lilin yang hampir padam, seperti sesuatu yang hampir mati tetapi masih berusaha bertahan.
Dan Iskandar ingin menjaga harapan itu.
Lalu ia berkata tenang, dengan suara yang tidak tinggi tidak rendah, dengan suara yang sengaja dibuat agar tidak terprovokasi, dengan suara yang keluar dari hati.
"Tidak."
Semua menoleh.
Aldebar mengernyit.
Ayah Nayla mengangkat alis.
Ibu Nayla menahan napas.
Nayla membuka matanya lebar, lebar.
"Saya belum mengerti semuanya."
Aldebar menatap tajam.
"Lalu?"
Iskandar menjawab pelan, dengan suara yang tidak bergetar, dengan suara yang tegas, dengan suara yang tidak perlu diragukan lagi.
"Tapi saya tahu satu hal."
Aldebar menunggu.
Semua menunggu.
"Dia takut saat kamu datang."
Ruangan kembali hening.
Hening seperti di dalam gereja setelah kebaktian usai.
Hening seperti di dalam perpustakaan ketika semua orang sedang membaca.
Hening seperti di dalam hati ketika sedang merenung.
Tak ada yang menyela.
Karena kadang, satu kalimat jujur, satu kalimat yang sederhana, yang tidak berbelit, belit, yang tidak berusaha untuk terdengar pintar, lebih tajam daripada seribu pembelaan yang disusun dengan rumit.
Karena Iskandar tidak mengatakan bahwa ia lebih baik dari Aldebar.
Tidak mengatakan bahwa ia lebih pantas untuk Nayla.
Tidak mengatakan bahwa Aldebar adalah orang jahat.
Ia hanya mengatakan fakta.
Fakta yang dilihatnya sendiri.
Fakta yang tidak bisa dibantah oleh siapa pun.
Dia takut saat kamu datang.
Aldebar menatap Nayla.
Matanya yang tadi tajam, yang tadi seperti pisau, yang tadi mencari celah untuk menyerang, kini berubah.
Berubah menjadi lembut.
Lembut seperti dulu.
Lembut seperti ketika mereka masih bersama.
Lembut seperti ketika ia masih bisa membuat Nayla tersenyum hanya dengan menyebut namanya.
Dan untuk pertama kalinya, ia benar, benar melihat.
Bukan hanya perempuan yang ia cintai.
Bukan hanya mantan tunangannya.
Bukan hanya seseorang yang harus ia pertahankan.
Tapi Nayla.
Nayla yang sekarang berdiri, atau lebih tepatnya duduk, dengan tubuh tegang, dengan mata basah, dengan jari gemetar, dengan napas terengah, engah.
Nayla yang sekarang terlihat seperti korban.
Nayla yang sekarang terlihat seperti seseorang yang sedang dihakimi.
Nayla yang sekarang terlihat seperti seseorang yang ingin lari tetapi tidak bisa.
Hanya karena dirinya hadir.
Hanya karena ia datang.
Hanya karena ia tidak bisa melepaskan.
Dan itu jauh lebih menyakitkan daripada penolakan.
Jauh lebih menyakitkan daripada kata "aku tidak mau".
Jauh lebih menyakitkan daripada melihat Nayla bahagia dengan laki, laki lain.
Karena ini berarti bahwa selama ini, ia tidak pernah menjadi tempat yang aman bagi Nayla.
Selama ini, ia tidak pernah menjadi rumah bagi Nayla.
Selama ini, ia justru menjadi sumber ketakutan bagi perempuan yang ia cintai.
"Saya tidak pernah mau bikin kamu takut."
Suara Aldebar mengecil.
Mengecil seperti suara anak kecil yang baru sadar bahwa ia telah melakukan kesalahan.
Mengecil seperti suara orang yang baru sadar bahwa ia telah kehilangan sesuatu yang sangat berharga.
Mengecil seperti suara seseorang yang mulai menerima kenyataan.
Nayla menatapnya.
Matanya yang masih basah, yang masih merah, yang masih menyimpan sisa, sisa air mata dari semalam, kini berubah. Berubah menjadi lebih tenang. Lebih seperti seseorang yang sudah tidak perlu marah lagi.
"Tidak semua luka dibuat dengan niat jahat."
Kalimat itu membuat Aldebar seperti kehilangan pijakan.
Kaki yang tadi berdiri tegap, kini sedikit goyah.
Punggung yang tadi tegang, kini sedikit merosot.
Bahu yang tadi tegak, kini sedikit membungkuk.
Karena untuk pertama kalinya, ia sadar: mencintai seseorang tidak selalu berarti membuatnya merasa aman.
Mencintai seseorang tidak selalu berarti membuatnya bahagia.
Mencintai seseorang tidak selalu berarti menjadi tempat yang baik untuknya.
Kadang, cinta justru menjadi racun.
Kadang, cinta justru menjadi penjara.
Kadang, cinta justru menjadi beban yang terlalu berat untuk ditanggung.
Dan mungkin selama ini, ia terlalu sibuk mempertahankan Nayla, terlalu sibuk memastikan bahwa Nayla tidak pergi, terlalu sibuk mengawasi setiap langkahnya, terlalu sibuk cemburu pada setiap laki, laki yang mendekatinya, sampai lupa mendengarkan Nayla.
Sampai lupa bertanya apa yang Nayla inginkan.
Sampai lupa bahwa cinta bukan tentang memiliki, tetapi tentang melepaskan.
Namun rasa sadar tidak selalu datang bersama penerimaan.
Kesadaran adalah langkah pertama.
Tapi langkah kedua, penerimaan, jauh lebih sulit.
Tatapan Aldebar perlahan kembali dingin.
Dingin seperti es di kutub utara.
Dingin seperti hati yang sudah mati.
Dingin seperti sesuatu yang tidak bisa lagi dihangatkan oleh apa pun.
"Kalau begitu… kenapa kamu tidak bilang dari dulu?"
Nayla menjawab lirih, dengan suara yang nyaris seperti bisikan, dengan suara yang hanya cukup untuk didengar oleh orang, orang di ruangan itu.
"Karena saya takut."
"Takut apa?"
Nayla menatapnya.
Air matanya jatuh lagi.
Jatuh satu per satu.
Seperti rintik hujan di musim kemarau.
Seperti tetesan air dari keran yang tidak pernah benar, benar tertutup rapat.
"Takut kamu tidak akan membiarkan saya pergi."
Kalimat itu seperti memukul seluruh ruangan.
Memukul seperti palu godam ke dinding beton.
Memukul seperti petir di siang bolong.
Memukul seperti sesuatu yang tidak bisa dihindari.
Ibunda Nayla menutup mulut.
Telapak tangannya yang hangat, tangan yang telah membesarkannya, tangan yang telah mengajarinya berjalan, tangan yang telah mengusap air matanya setiap kali ia jatuh, menutup mulutnya yang terbuka karena terkejut.
Air matanya jatuh.
Jatuh tanpa suara.
Jatuh tanpa bisa ditahan.
Ayah Nayla mengepalkan tangan.
Buku, buku jarinya yang sudah mulai keriput itu memutih karena tekanan.
Urat, urat di tangannya menonjol, seperti akar, akar pohon yang muncul ke permukaan tanah.
Rahangnya mengeras.
Giginya mengatap.
Matanya menatap Aldebar dengan amarah yang tidak bisa lagi disembunyikan.
Dan Iskandar merasakan sesuatu dalam dirinya menegang.
Menegang seperti tali yang ditarik terlalu kencang.
Menegang seperti karet gelang yang diregangkan hingga batas maksimal.
Menegang seperti sesuatu yang siap meledak kapan saja.
Karena pagi itu, konflik mereka bukan lagi tentang cinta.
Bukan lagi tentang siapa yang lebih pantas untuk Nayla.
Bukan lagi tentang siapa yang lebih baik.
Tapi tentang kebebasan.
Tentang hak Nayla untuk memilih.
Tentang hak Nayla untuk pergi.
Tentang hak Nayla untuk bahagia tanpa harus merasa bersalah.
Aldebar mundur setengah langkah.
Hanya setengah langkah.
Tapi setengah langkah itu terasa seperti satu mil.
Seperti jarak yang sangat jauh.
Seperti tembok yang tidak bisa ditembus.
Wajahnya berubah.
Bukan marah.
Bukan sedih.
Bukan kecewa.
Tapi seperti seseorang yang baru sadar bahwa orang yang dicintainya ternyata selama ini merasa terpenjara.
Terpenjara oleh cintanya.
Terpenjara oleh kasih sayangnya.
Terpenjara oleh ketakutannya sendiri.
Ia tertawa kecil.
Tawa yang kosong.
Tawa yang tidak mengandung kegembiraan, tidak mengandung kelucuan, tidak mengandung apa pun selain kekosongan.
Tawa seseorang yang baru sadar bahwa ia telah menjadi algojo bagi orang yang ia cintai.
"Jadi selama ini… kamu cuma bertahan karena takut?"
Nayla tidak menjawab.
Diam.
Diam yang panjang.
Diam yang berat.
Diam yang seperti mengakui sesuatu tanpa harus mengucapkannya.
Karena diamnya sudah menjadi jawaban paling jujur.
Jawaban yang tidak bisa dibantah.
Jawaban yang mengatakan iya, aku bertahan karena takut. Aku bertahan karena aku tidak punya keberanian untuk pergi. Aku bertahan karena aku pikir kamu akan berubah. Tapi kamu tidak pernah berubah. Dan aku lelah menunggu.
Beberapa detik, tak ada yang bergerak.
Tak ada yang bicara.
Tak ada yang bernapas.
Hanya suara jam dinding, jam dinding bundar dengan angka Romawi yang sudah mulai pudar, dengan jarum detik yang bergerak dengan suara tik, tik, tik yang pelan tetapi konsisten, yang terdengar.
Tik. Tik. Tik.
Seperti detak jantung.
Seperti hitungan mundur.
Seperti peringatan bahwa waktu terus berjalan, bahwa keputusan harus dibuat, bahwa tidak ada yang bisa berlari selamanya.
Lalu Aldebar menatap Iskandar.
Matanya yang tadi kosong, yang tadi hampa, kini berubah. Berubah menjadi tajam. Tajam seperti pisau. Tajam seperti silet. Tajam seperti sesuatu yang siap melukai.
"Dan kamu. Kamu pikir setelah ini semuanya selesai?"
Iskandar menatap balik.
Matanya tidak berkedip.
Wajahnya tidak berubah.
Suaranya tidak bergetar.
"Tidak."
Aldebar sedikit terkejut.
Matanya membesar sedikit, hanya sedikit, hampir tidak terlihat, tetapi Iskandar melihatnya.
Iskandar melanjutkan, dengan suara yang tenang, dengan suara yang tidak tinggi tidak rendah, dengan suara yang keluar dari hati.
"Saya tahu ini tidak sederhana. Tapi saya juga tahu… dia berhak tenang."
Aldebar menatapnya lama.
Dua laki, laki berdiri saling berhadapan, satu di ambang pintu, satu di dalam ruang tamu, terpisah oleh jarak beberapa meter, terpisah oleh sejarah yang tidak pernah mereka bagi bersama, terpisah oleh cara yang berbeda dalam mencintai perempuan yang sama.
Satu ingin memiliki.
Satu hanya ingin menjaga.
Satu ingin mempertahankan dengan cara apa pun.
Satu ingin melepaskan jika itu yang terbaik.
Satu mencintai dengan cara yang mencekik.
Satu mencintai dengan cara yang membebaskan.
Dan perbedaan itu, sekecil apa pun, adalah jurang yang tidak bisa diseberangi.
Aldebar tersenyum tipis.
Senyum yang tidak bisa diartikan.
Senyum yang seperti campuran antara kekalahan dan kebencian.
Senyum yang membuat Iskandar merasa tidak nyaman.
Namun kali ini, senyumnya menyimpan sesuatu yang membuat udara di ruangan itu berubah.
Berubah menjadi lebih dingin.
Berubah menjadi lebih berat.
Berubah menjadi lebih seperti sebelum badai.
"Kalau begitu… jaga dia baik, baik."
Nayla mengernyit.
Ibunya ikut menatap dengan mata yang penuh tanda tanya.
Ayah Nayla menegang.
Iskandar tidak bergerak.
Tapi sebelum siapa pun sempat bicara, sebelum siapa pun sempat bertanya apa maksudnya, Aldebar menoleh pada Nayla.
Matanya yang tadi tajam, yang tadi seperti pisau, kini berubah. Berubah menjadi lembut. Lembut seperti dulu. Lembut seperti ketika mereka masih bersama. Lembut seperti ketika ia masih bisa membuat Nayla tersenyum hanya dengan menyebut namanya.
Dan dengan suara yang sangat pelan, dengan suara yang nyaris seperti bisikan, dengan suara yang hanya cukup untuk didengar oleh orang, orang yang berdiri di dekatnya, ia berkata:
"Karena tidak semua yang kamu tahu tentang saya… adalah hal paling buruk yang belum kamu hadapi."
Wajah Nayla langsung pucat.
Pucat seperti kertas.
Pucat seperti kapur tulis.
Pucat seperti sesuatu yang baru saja melihat hantu.
Iskandar menoleh cepat.
"Nayla?"
Tapi Nayla tidak menjawab.
Matanya terpaku pada Aldebar.
Matanya membesar.
Mulutnya terbuka setengah.
Tangannya gemetar hebat.
Karena di balik kalimat terakhir Aldebar, di balik kata, kata yang terdengar seperti ancaman, di balik nada suara yang terdengar seperti peringatan, di balik senyum yang terlihat seperti kemenangan, ada sesuatu yang hanya Nayla yang mengerti.
Sesuatu yang selama ini belum pernah ia ceritakan kepada siapa pun.
Bukan kepada ibunya.
Bukan kepada ayahnya.
Bukan kepada Iskandar.
Bahkan mungkin tidak kepada dirinya sendiri.
Sesuatu yang ia kubur dalam, dalam, yang ia kunci rapat, rapat, yang ia pikir tidak akan pernah terbuka.
Dan pagi itu, tepat ketika satu konflik seolah selesai, ketika Aldebar tampaknya menerima kekalahan, ketika ia mengatakan "jaga dia baik, baik", ketika ia berbalik untuk pergi, konflik yang lain justru mulai terbuka.
Pintu yang selama ini Nayla kunci rapat, mulai retak.
Aldebar berbalik.
Langkahnya tidak tergesa, gesa.
Tidak seperti orang yang kalah dan ingin cepat, cepat pergi.
Tapi seperti orang yang telah meninggalkan bom waktu, dan sekarang pergi dengan tenang, menunggu ledakan.
Ia berjalan keluar halaman, melewati pagar putih kecil yang catnya sudah mulai mengelupas, melewati halaman dengan tanaman bunga yang basah oleh embun pagi, melewati lampu teras yang masih menyala redup meskipun matahari sudah cukup tinggi.
Ia membuka pintu mobilnya, pintu mobil hitam yang berat, yang bahannya tebal, yang dirancang untuk meredam suara dari luar.
Ia masuk ke dalam.
Lampu mobil menyala sebentar, menerangi halaman yang masih basah oleh embun.
Mesin bergemuruh.
Mobil itu bergerak mundur perlahan, keluar dari halaman rumah Nayla, lalu berbelok, lalu melaju meninggalkan rumah itu.
Meninggalkan keheningan.
Meninggalkan luka lama.
Meninggalkan pertanyaan yang belum terjawab.
Dan meninggalkan satu kalimat yang membuat Nayla gemetar.
"Karena tidak semua yang kamu tahu tentang saya… adalah hal paling buruk yang belum kamu hadapi."
"Nayla."
Suara Iskandar pelan.
Lembut.
Tidak menekan.
Tapi Nayla tidak menjawab.
Matanya masih terpaku pada pintu, pintu yang tadi ditutup oleh Aldebar, pintu yang sekarang tertutup rapat, pintu yang menjadi batas antara dunia di dalam dan dunia di luar.
Pikirannya berputar.
Berputar seperti pusaran air.
Berputar seperti komidi putar yang tidak bisa dihentikan.
Berputar seperti sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan.
Karena di balik kalimat terakhir Aldebar, ada sesuatu yang hanya ia yang mengerti.
Sesuatu tentang masa lalu yang tidak hanya melibatkan dirinya dan Aldebar.
Tapi juga keluarganya.
Tapi juga orang, orang yang selama ini ia cintai.
Tapi juga rahasia yang jika terbuka, akan menghancurkan segalanya.
Dan pagi itu, tepat ketika satu pintu tertutup, pintu lain terbuka.
Pintu yang tidak ingin ia buka.
Pintu yang di baliknya ada kegelapan.
Pintu yang jika ia masuki, tidak akan ada jalan untuk kembali.
BAB 23
Rahasia yang Belum Selesai
Suara mobil Aldebar menghilang perlahan dari halaman rumah.
Bukan seperti suara yang dipotong dengan pisau, tiba, tiba senyap, tiba, tiba tidak ada. Tapi seperti suara yang menjauh perlahan, mengecil sedikit demi sedikit, seperti kapal yang berlayar ke cakrawala, seperti burung yang terbang meninggalkan sarangnya, seperti sesuatu yang tidak akan kembali.
Brumm... pelan.
Brumm... lebih pelan.
Brumm... hampir tidak terdengar.
Lalu brumm terakhir yang samar, samar, seperti desahan, seperti bisikan, seperti napas terakhir seseorang sebelum meninggal.
Dan setelah itu, sunyi.
Sunyi yang total.
Sunyi yang memekakkan telinga.
Sunyi yang seperti kain kafan yang menutupi seluruh rumah.
Namun kalimat terakhir Aldebar, "Karena tidak semua yang kamu tahu tentang saya adalah hal paling buruk yang belum kamu hadapi", masih tertinggal di udara seperti bayangan yang tidak ikut pergi, seperti hantu yang tidak mau diusir, seperti duri yang tertancap di daging dan tidak bisa dicabut.
Ruangan yang tadi hangat, meskipun tegang, meskipun penuh dengan amarah dan ketakutan dan air mata, kini terasa dingin. Dingin seperti ruang mayat di rumah sakit. Dingin seperti ruang bawah tanah yang tidak pernah tersentuh matahari. Dingin seperti hati yang baru saja menerima berita bahwa seseorang yang dicintai tidak akan pernah kembali.
Tak ada yang bergerak.
Tak ada yang bicara.
Tak ada yang bernapas, atau setidaknya, napas mereka terasa seperti tidak ada, seperti sedang menahan napas di dalam air, seperti sedang berusaha untuk tidak membuat suara, seperti sedang berusaha untuk tidak menarik perhatian roh, roh jahat yang mungkin masih berkeliaran di sekitar mereka.
Hanya suara jam dinding, jam dinding bundar dengan angka Romawi yang sudah mulai pudar, dengan jarum detik yang bergerak dengan suara tik, tik, tik yang pelan tetapi konsisten, dengan jarum panjang yang menunjuk ke angka tiga, jarum pendek yang menunjuk ke angka Sembilan, yang terdengar.
Tik. Tik. Tik.
Seperti detak jantung yang berdetak tidak beraturan.
Seperti hitungan mundur menuju sesuatu yang tidak diketahui.
Seperti peringatan bahwa waktu terus berjalan, meskipun rasanya waktu berhenti.
Dan di tengah ruang tamu yang sunyi itu, Nayla berdiri membeku.
Beku seperti patung lilin di museum.
Beku seperti batu di dasar sungai yang tidak pernah bergerak.
Beku seperti sesuatu yang telah mati tetapi tidak mau dikubur.
Wajahnya perlahan kehilangan warna.
Bukan pucat seperti semalam, pucat karena kurang tidur, pucat karena terlalu banyak menangis, pucat karena ketakutan yang masih bisa dijelaskan.
Tapi pucat seperti mayat.
Pucat seperti kertas yang sudah menguning.
Pucat seperti sesuatu yang baru sadar bahwa hidupnya tidak akan pernah sama lagi.
Matanya yang tadi masih bisa menatap Aldebar dengan keberanian yang baru ia temukan, kini kosong. Kosong seperti rumah yang ditinggalkan. Kosong seperti sumur yang kering. Kosong seperti halaman yang tidak pernah ditanami.
Mulutnya terbuka setengah, seperti hendak mengatakan sesuatu, seperti ingin memanggil Aldebar kembali, seperti ingin bertanya apa maksud kalimat terakhir itu. Tapi tidak ada suara yang keluar. Hanya udara yang keluar masuk dari paru, parunya dengan suara huff, huff, huff yang pendek dan cepat, seperti orang yang sedang hyperventilasi, seperti orang yang sedang berada di ambang serangan panik.
Tangannya yang tadi menggenggam erat ujung baju ibunya, kini lemas. Jari, jarinya yang tadi kaku karena ketegangan, kini menggantung seperti tali yang putus. Telapak tangannya yang tadi dingin, kini semakin dingin, dingin seperti es, dingin seperti logam di musim dingin, dingin seperti sesuatu yang tidak memiliki kehidupan.
"Nayla."
Suara ibunya pelan.
Lembut.
Hati, hati.
Seperti seseorang yang berjalan di atas telur.
Seperti seseorang yang tidak ingin memecahkan sesuatu yang sudah rapuh.
Ibu Nayla, Bu Rahma, perempuan yang telah melahirkan Nayla tiga puluh tahun yang lalu, yang telah menggendongnya ketika ia demam, yang telah menemaninya ketika ia pertama kali patah hati, berdiri cepat.
Kursinya, kursi kayu dengan bantalan tipis, kursi yang sudah menjadi tempatnya duduk setiap pagi sambil menikmati teh hangat, hampir jatuh karena gerakannya yang terlalu cepat. Hampir, tetapi tidak jadi. Kaki kursi itu bergeser di lantai keramik dengan suara kreek yang nyaring, memecah keheningan seperti pecahan kaca yang jatuh di lantai keramik.
"Mama…"
Namun sebelum sempat menyentuh putrinya, sebelum tangannya yang hangat, yang telah membesarkannya, yang telah mengajarinya berjalan, yang telah mengusap air matanya setiap kali ia jatuh, bisa mencapai pundak Nayla, lutut Nayla melemah.
Melemah seperti rumput yang tidak disiram.
Melemah seperti balon yang kehabisan udara.
Melemah seperti sesuatu yang tidak memiliki tulang.
Tubuhnya yang tadi berdiri tegang, tegang seperti tali yang ditarik terlalu kencang, kini oleng. Oleng seperti perahu di tengah badai. Oleng seperti orang yang baru saja bangun dari pingsan. Oleng seperti sesuatu yang kehilangan keseimbangan.
Ia hampir jatuh.
Hampir.
Seperlambatnya waktu ketika sesuatu yang buruk akan terjadi, tubuh Nayla mulai jatuh ke samping, ke arah sofa cokelat tua yang empuk, tetapi tidak cukup dekat untuk mendarat dengan selamat. Kepalanya akan membentur ujung meja kayu yang tajam. Bahunya akan menghantam lantai keramik yang keras. Tangannya akan terkilir karena mencoba menahan jatuh.
Tapi Iskandar lebih dulu menahan bahunya.
Ia tidak tahu bagaimana ia bisa bergerak secepat itu. Satu detik ia masih duduk di sofa cokelat tua dengan tangan terkepal di samping tubuh, dengan pikiran yang masih kacau oleh kalimat terakhir Aldebar. Detik berikutnya, ia sudah berdiri di samping Nayla, dengan tangan yang terulur menahan bahu Nayla agar tidak jatuh.
Refleks.
Tanpa berpikir.
Tanpa menghitung.
Tanpa bertanya, tanya apakah ini saat yang tepat.
Seperti penjaga gawang yang melompat ke arah bola tanpa tahu apakah ia akan berhasil menangkapnya.
Seperti pemadam kebakaran yang berlari ke dalam gedung yang terbakar tanpa tahu apakah ia akan keluar hidup, hidup.
Seperti seseorang yang sudah tidak peduli lagi dengan risikonya sendiri, karena yang penting adalah menyelamatkan orang yang ia cintai.
"Nayla!"
Suara Iskandar panik.
Panik yang tidak bisa ia sembunyikan.
Panik yang membuat suaranya meninggi setengah oktaf.
Panik yang membuat jantungnya berdetak begitu kencang hingga ia bisa mendengarnya sendiri, dum, dum, dum, dum, dum, seperti genderang perang yang memekakkan telinga.
Nayla memejamkan mata.
Kelopak matanya yang sembab, yang merah, yang masih menyimpan sisa, sisa air mata dari semalam, tertutup rapat.
Napasnya tidak beraturan.
Huff... huff... huff...
Seperti orang yang baru saja selesai berlari maraton.
Seperti orang yang sedang berusaha menarik napas di dalam air.
Seperti orang yang sedang tenggelam.
Tangannya dingin.
Dingin seperti es.
Dingin seperti mayat.
Dingin seperti sesuatu yang sudah mati.
Bukan karena Aldebar pergi. Bukan karena ia lega bahwa pria itu akhirnya meninggalkan rumahnya. Bukan karena ia takut bahwa Aldebar akan kembali.
Tapi karena satu kalimat itu, "tidak semua yang kamu tahu tentang saya adalah hal paling buruk yang belum kamu hadapi", telah membuka pintu yang selama ini ia kunci rapat.
Pintu yang tidak pernah ia buka.
Pintu yang di baliknya ada rahasia.
Pintu yang di baliknya ada luka yang lebih tua, lebih dalam, lebih gelap dari luka yang disebabkan oleh Aldebar.
Pintu yang di baliknya ada sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak berani lihat.
Ibunda Nayla langsung memegang wajah anaknya.
Tangannya yang hangat, tangan yang telah membesarkannya, tangan yang telah mengajarinya berjalan, tangan yang telah mengusap air matanya setiap kali ia jatuh, membungkus wajah Nayla yang pucat dan dingin.
"Nayla, lihat Mama."
Suaranya lembut, tetapi tegas.
Lembut seperti tangan yang mengusap kepala ketika kita sakit.
Tegas seperti peringatan bahwa kita tidak boleh menyerah.
Mata Nayla terbuka sedikit.
Kelopak matanya yang berat, yang seperti sedang menahan beban yang tidak terlihat, terangkat perlahan.
Matanya merah.
Matanya sembab.
Matanya kosong.
Tapi ketika ia melihat wajah ibunya—wajah yang penuh dengan kerutan, yang penuh dengan kecemasan, yang penuh dengan cinta yang tidak pernah berubah—ada sedikit cahaya di sana.
Cahaya kecil yang redup, seperti bintang di langit yang terhalang awan, seperti lilin yang hampir padam, seperti sesuatu yang hampir mati tetapi masih berusaha bertahan.
Ayah Nayla berdiri kaku di dekat pintu.
Beliau tidak bergerak mendekat.
Tidak seperti ibunya yang langsung memeluk Nayla.
Tidak seperti Iskandar yang langsung menahan bahu Nayla.
Beliau hanya berdiri.
Berdiri dengan tangan mengepal di samping tubuh.
Berdiri dengan rahang mengeras.
Berdiri dengan mata yang menatap putrinya dengan ekspresi yang sulit dibaca.
Tapi wajah beliau yang biasanya tenang, yang biasanya seperti danau yang tidak beriak, kini akhirnya memperlihatkan kecemasan yang nyata.
Kecemasan yang tidak bisa lagi ia sembunyikan.
Kecemasan yang membuat keriput di dahinya terlihat lebih dalam dari biasanya.
Kecemasan yang membuat matanya, mata yang tajam seperti elang, kini sayu.
Ada apa dengan anakku?
Ada apa yang belum ia ceritakan?
Ada apa yang membuatnya hampir pingsan hanya karena satu kalimat dari Aldebar?
Pertanyaan, pertanyaan itu berputar di kepalanya seperti pusaran air yang tidak bisa dihentikan.
Tapi ia tidak bertanya.
Karena ia tahu, sekarang bukan waktunya untuk bertanya.
Sekarang adalah waktunya untuk mendukung.
Sekarang adalah waktunya untuk menjadi ayah yang kuat, meskipun hatinya hancur melihat anaknya dalam keadaan seperti ini.
Iskandar membantu Nayla duduk di sofa.
Tangannya yang hangat, hangat seperti api unggun di malam yang dingin, hangat seperti selimut tebal di musim hujan, hangat seperti secangkir cokelat panas setelah seharian bekerja di luar ruangan, menuntun tubuh Nayla yang lemas ke sofa cokelat tua yang empuk.
Nayla duduk dengan tubuh yang masih gemetar.
Gemetar seperti dedaunan yang tertiup angin kencang.
Gemetar seperti orang yang sedang menggigil kedinginan meskipun suhu ruangan normal.
Gemetar seperti sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan.
Iskandar duduk di sampingnya.
Tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh.
Jarak yang sopan.
Jarak yang memberikan ruang.
Tapi juga jarak yang mengatakan aku di sini, aku tidak akan pergi, kamu tidak sendirian.
Tangannya masih di pundak Nayla, tidak menekan, tidak memijat, hanya menempel. Seperti sedang mengatakan aku ada di sini. Rasakan kehangatanku. Kamu tidak sendirian.
Ibunda Nayla duduk di sisi lain Nayla—di samping kiri, sementara Iskandar di samping kanan. Tangannya menggenggam tangan Nayla yang dingin, berusaha menghangatkannya dengan kehangatan tubuhnya, berusaha mengirimkan pesan melalui sentuhan bahwa ibu di sini, ibu tidak akan pergi, ibu akan melindungimu.
Ayah Nayla masih berdiri di dekat pintu.
Beliau tidak mendekat.
Tapi juga tidak menjauh.
Beliau hanya berdiri di sana, dengan tangan di saku celana, dengan wajah yang berusaha terlihat tenang meskipun hatinya bergejolak.
Matanya tidak lepas dari Nayla.
Matanya yang tajam, yang seperti elang mengamati mangsa, kini lembut.
Lembut seperti ketika ia menggendong Nayla kecil.
Lembut seperti ketika ia mengajar Nayla mengendarai sepeda untuk pertama kali.
Lembut seperti ketika ia melepaskan tangan Nayla dan membiarkannya berjalan sendiri.
Beberapa menit, tak seorang pun bicara.
Hanya suara napas Nayla yang masih tidak beraturan.
Huff... huff... huff...
Seperti orang yang baru saja selesai berlari.
Seperti orang yang sedang berusaha menenangkan diri.
Seperti orang yang sedang berdoa.
Ibu Nayla mengusap punggung putrinya, gerakan yang lembut, yang berirama, yang seperti lagu pengantar tidur yang dinyanyikan tanpa suara. Gerakan yang sudah ia lakukan ribuan kali sejak Nayla masih bayi. Gerakan yang membuat Nayla merasa aman. Gerakan yang mengatakan tidak apa, apa, Nak, Mama di sini.
Ayah Nayla berdiri di dekat jendela, jendela kayu dengan kaca yang sudah mulai buram oleh debu dan usia, dengan tirai tipis berwarna krem yang bergoyang, goyang setiap kali tertiup angin.
Beliau menatap ke luar.
Halaman depan yang basah oleh embun pagi.
Pagar putih kecil yang catnya sudah mulai mengelupas.
Jalan trans yang mulai ramai oleh kendaraan.
Langit yang cerah tanpa awan, tidak seperti semalam yang mendung dan gelap, tidak seperti pagi ini yang pucat dan kelabu, tapi cerah. Cerah seperti tidak ada yang terjadi. Cerah seperti tidak peduli dengan drama yang sedang berlangsung di rumah ini. Cerah seperti alam sedang mengatakan hidup terus berjalan, baik kamu siap maupun tidak.
Iskandar duduk tak jauh dari Nayla, di ujung sofa, di tempat yang sama seperti semalam, dengan posisi yang sama seperti semalam, dengan perasaan yang berbeda.
Ia menunggu.
Karena kadang, diam adalah satu, satunya cara untuk memberi seseorang ruang agar berani bicara.
Diam adalah bentuk penghormatan tertinggi.
Diam adalah cara terbaik untuk mengatakan aku tidak akan memaksamu, aku akan menunggumu, aku akan di sini ketika kamu siap.
Akhirnya Nayla membuka mata.
Matanya yang tadi tertutup rapat, seperti sedang berdoa, seperti sedang memohon kekuatan, seperti sedang berusaha menenangkan diri, kini terbuka perlahan.
Kelopak matanya yang berat, yang seperti sedang menahan beban yang tidak terlihat, terangkat satu per satu.
Matanya merah.
Matanya sembab.
Matanya masih menyimpan sisa, sisa air mata dari semalam.
Tapi di matanya, ada sesuatu yang baru.
Bukan ketakutan.
Bukan kelelahan.
Bukan keputusasaan.
Tapi kesadaran.
Kesadaran bahwa ia tidak bisa lagi berlari.
Kesadaran bahwa ia harus menghadapi masa lalunya.
Kesadaran bahwa ia harus bercerita.
Air matanya jatuh lagi.
Tapi kali ini bukan tangis seperti semalam.
Tangis yang pecah.
Tangis yang keras.
Tangis yang tidak bisa dikendalikan.
Tangis yang keluar dari perut, yang membuat bahunya berguncang, yang membuat dadanya naik turun dengan cepat.
Tangis ini lebih tua.
Tangis ini lebih dalam.
Tangis ini lebih lama disimpan.
Tangis ini adalah tangis yang sudah ia tahan selama bertahun, tahun.
Tangis yang tidak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun.
Tangis yang hanya ia luapkan di dalam kamar, di dalam gelap, di bawah selimut, ketika tidak ada yang mendengar.
"Ada apa?"
Suara Iskandar pelan.
Lembut.
Tidak menekan.
Tidak seperti interogasi.
Tapi seperti pertanyaan yang diajukan oleh seseorang yang benar, benar ingin tahu, yang benar, benar peduli, yang benar, benar tidak ingin membuat yang ditanya merasa tertekan.
Nayla menoleh.
Matanya yang masih basah, yang masih merah, yang masih menyimpan sisa, sisa air mata, menatap Iskandar.
Lalu ia menatap ibunya.
Lalu ayahnya.
Lalu kembali ke Iskandar.
Matanya bergerak dari satu wajah ke wajah lain, dari satu ekspresi ke ekspresi lain, dari satu harapan ke harapan lain.
Mencari keberanian.
Mencari kekuatan.
Mencari alasan untuk percaya bahwa setelah ia bercerita, mereka tidak akan pergi.
Dan dengan suara nyaris berbisik, dengan suara yang seperti doa, dengan suara yang hanya cukup untuk didengar oleh orang, orang yang duduk di dekatnya, ia berkata:
"Aldebar tahu sesuatu tentang saya."
Ayah Nayla langsung menoleh.
Wajah beliau yang tadi berusaha tenang, yang tadi seperti danau yang tidak beriak, kini berubah. Berubah menjadi tegang. Tegang seperti tali yang ditarik terlalu kencang. Tegang seperti karet gelang yang diregangkan hingga batas maksimal.
Ibunda Nayla menggenggam tangan Nayla lebih erat.
Jari, jarinya yang hangat, yang tadi mengusap, usap punggung tangan Nayla dengan gerakan yang menenangkan, kini menggenggam erat, seperti sedang berpegangan pada satu, satunya hal yang nyata di tengah badai.
"Nak…"
Nayla menutup mata.
Air matanya jatuh lagi.
Jatuh satu per satu.
Seperti rintik hujan di musim kemarau.
Seperti tetesan air dari keran yang tidak pernah benar, benar tertutup rapat.
Dan Iskandar sadar: kedua orang tua Nayla tahu.
Atau setidaknya, mereka tahu sebagian.
Mereka tahu bahwa ada sesuatu yang disembunyikan oleh putri mereka.
Mereka tahu bahwa ada luka yang tidak pernah ia ceritakan.
Mereka tahu bahwa ada rahasia yang selama ini ia pendam.
Tapi mereka tidak tahu detailnya.
Mereka tidak tahu seberapa dalam.
Mereka tidak tahu seberapa gelap.
Dan mereka menunggu.
Menunggu Nayla siap untuk bercerita.
Menunggu Nayla percaya bahwa mereka cukup kuat untuk mendengar.
Menunggu Nayla berhenti merasa bahwa ia harus melindungi mereka dari kenyataan.
"Papa…"
Suara Nayla pecah.
Pecah seperti kaca yang jatuh di lantai keramik.
Pecah seperti tangisan yang tidak bisa lagi ditahan.
Pecah seperti sesuatu yang hancur berkeping, keping.
"Sudah waktunya ya?"
Ayah Nayla memejamkan mata.
Kelopak matanya yang mulai keriput itu tertutup rapat, seperti sedang berdoa, seperti sedang memohon kekuatan, seperti sedang mempersiapkan diri untuk mendengar sesuatu yang mungkin akan menghancurkannya.
Lalu ia mengangguk pelan.
Anggukan yang hampir tidak terlihat.
Anggukan yang seperti mengakui bahwa ia tidak bisa lagi melindungi putrinya dari kenyataan.
Anggukan yang seperti mengatakan iya, Nak, sudah waktunya. Papa sudah tahu ini akan datang. Papa sudah mempersiapkan diri. Tapi Papa tidak tahu apakah Papa cukup kuat untuk mendengarnya.
"Iya."
Satu kata itu membuat dada Iskandar terasa berat.
Berat seperti ditindih batu besar.
Berat seperti sedang berenang di lautan yang dalam.
Berat seperti sedang menahan tangis yang tidak bisa keluar.
Karena untuk pertama kalinya, ia melihat: bahkan orang tua Nayla sudah lama hidup dengan rahasia yang sama.
Mereka tahu bahwa ada sesuatu yang disembunyikan oleh putri mereka.
Mereka tahu bahwa putri mereka menyimpan luka.
Mereka tahu bahwa putri mereka tidak menceritakan semuanya.
Tapi mereka tidak memaksa.
Mereka tidak menginterogasi.
Mereka tidak menuntut.
Mereka hanya menunggu.
Menunggu dengan sabar.
Menunggu dengan doa.
Menunggu dengan harapan bahwa suatu hari, putri mereka akan cukup percaya untuk bercerita.
Dan hari itu, adalah hari ini.
Iskandar menatap Nayla.
Matanya yang tadi gelisah, yang tadi penuh dengan kekhawatiran, kini berubah. Berubah menjadi lebih tenang. Lebih seperti seseorang yang siap mendengar apa pun.
"Rahasia apa?"
Nayla menunduk.
Rambutnya yang masih terurai, yang tidak disisir, yang tidak diikat, yang dibiarkan seperti apa adanya, menutupi wajahnya, seperti tirai yang memisahkan dirinya dari dunia luar, seperti dinding yang melindunginya dari tatapan, tatapan yang ingin menembus ke dalam hatinya.
Tangannya gemetar di pangkuan.
Gemetar seperti dedaunan yang tertiup angin kencang.
Gemetar seperti orang yang sedang menggigil kedinginan.
Gemetar seperti sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan.
"Saya pernah..."
Ia berhenti.
Seolah kata, kata itu terlalu berat untuk diucapkan.
Seolah lidahnya tidak bisa membentuk suara yang diperlukan.
Seolah pikirannya kosong, meskipun sebenarnya terlalu penuh.
Ibunya mengusap bahunya lembut.
Usapan yang lembut, yang hangat, yang seperti bisikan tidak apa, apa, Nak. Kamu tidak sendirian. Mama di sini.
"Tidak apa, apa."
Nayla menarik napas panjang.
Napas yang masuk ke paru, parunya dengan suara desisan pelan, seperti udara yang masuk ke ban yang bocor.
Napas yang terasa seperti sedang berusaha menenangkan diri, seperti sedang berusaha mengumpulkan keberanian, seperti sedang berusaha mempersiapkan diri untuk mengatakan sesuatu yang tidak pernah ia katakan sebelumnya.
Lalu akhirnya ia berkata, dengan suara yang nyaris seperti bisikan, dengan suara yang hanya cukup untuk didengar oleh orang, orang yang duduk di dekatnya.
"Tiga tahun lalu… saya pernah hampir menikah dengan Aldebar."
Iskandar terdiam.
Ia memang tahu mereka bertunangan.
Nayla sudah memberitahunya semalam, di depan warung kopi, di bawah lampu jalan, dengan air mata yang masih mengalir di pipinya.
Tapi ada sesuatu dari cara Nayla mengatakannya kali ini, cara suaranya bergetar, cara matanya berkaca, kaca, cara jari, jarinya menggenggam ujung bajunya, yang membuat ia tahu, itu belum semuanya.
Itu baru permulaan.
Itu baru kulitnya.
Itu baru yang Nayla siap ceritakan kepada siapa pun.
Tapi ada yang lebih dalam.
Ada yang lebih gelap.
Ada yang lebih menyakitkan.
Dan itu yang akan ia ceritakan sekarang.
"Seminggu sebelum akad…"
Suara Nayla bergetar.
Bergetar seperti senar gitar yang dipetik terlalu keras.
Bergetar seperti suara orang yang sedang menahan tangis.
Bergetar seperti sesuatu yang siap pecah kapan saja.
"Saya kehilangan bayi."
Ruangan mendadak sunyi total.
Sunyi seperti di dalam kuburan di tengah malam.
Sunyi seperti di dalam ruang hampa di antara bintang, bintang.
Sunyi seperti di dalam hati ketika sedang hancur.
Iskandar membeku.
Beku seperti patung.
Beku seperti batu.
Beku seperti sesuatu yang tidak bisa bergerak.
Ia tidak tahu harus berkata apa.
Ia tidak tahu harus bereaksi bagaimana.
Ia hanya bisa menatap Nayla dengan mata yang membesar, dengan mulut yang terbuka setengah, dengan pikiran yang kosong.
Bayi.
Nayla pernah hamil.
Nayla pernah mengandung anak Aldebar.
Nayla pernah kehilangan anak itu.
Informasi itu masuk ke kepalanya seperti air yang masuk ke dalam sumur, perlahan, tapi pasti mengisi setiap sudut yang kosong.
Ibunda Nayla menangis pelan.
Tangis yang tidak pecah.
Tangis yang tidak keras.
Tangis yang seperti air yang mengalir dari mata air yang tidak pernah kering.
Air matanya jatuh satu per satu.
Jatuh di pipinya yang mulai keriput.
Jatuh di tangannya yang masih menggenggam tangan Nayla.
Jatuh di pangkuannya yang basah.
Ayah Nayla menunduk.
Dagu yang tegas itu menyentuh dada.
Pundak yang lebar itu merosot.
Seolah luka lama itu, luka yang selama ini ia pendam, luka yang selama ini ia kubur dalam, dalam, luka yang selama ini ia pikir sudah sembuh, masih sama menyakitkannya.
Seolah baru kemarin terjadi.
Seolah baru kemarin ia melihat putrinya terbaring di rumah sakit dengan wajah pucat dan mata kosong.
Seolah baru kemarin ia mendengar dokter mengatakan bahwa bayinya tidak selamat.
Dan Iskandar, yang sejak tadi merasa sudah memahami sebagian hidup Nayla, yang sejak tadi merasa sudah cukup dekat untuk mengetahui luka, lukanya, yang sejak tadi merasa sudah siap untuk menerima apa pun—akhirnya sadar, ia baru menyentuh permukaannya.
Ia baru melihat puncak gunung es.
Ia baru membaca halaman pertama dari sebuah buku yang tebal.
Ia baru mengetahui sebagian kecil dari rahasia yang selama ini Nayla simpan.
Nayla menatap kosong ke depan.
Matanya tidak melihat apa pun.
Atau mungkin ia melihat sesuatu.
Sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh orang lain.
Sesuatu yang hanya ia yang bisa melihat.
Sesuatu yang mungkin tidak akan pernah bisa ia lupakan.
"Waktu itu… saya bahkan belum sempat memberi tahu banyak orang."
Air matanya jatuh tanpa suara.
Jatuh seperti tetesan air dari keran yang tidak pernah benar, benar tertutup rapat.
Jatuh seperti rintik hujan di musim kemarau.
Jatuh seperti sesuatu yang tidak bisa ditahan lagi.
"Hanya keluarga. Dan Aldebar."
Iskandar tidak bergerak.
Ia tidak mendekat.
Ia tidak menjauh.
Ia hanya duduk di tempatnya, di ujung sofa cokelat tua, dengan tangan di pangkuan, dengan mata yang menatap Nayla.
Karena beberapa luka tidak bisa langsung disentuh dengan kata, kata.
Beberapa luka membutuhkan waktu untuk diobati.
Beberapa luka tidak akan pernah benar, benar sembuh.
Dan kadang, yang dibutuhkan seseorang bukan solusi, bukan nasihat, bukan kata, kata bijak.
Tapi kehadiran.
Kehadiran yang diam.
Kehadiran yang tidak memaksa.
Kehadiran yang mengatakan aku di sini, aku mendengarmu, aku tidak akan pergi.
"Saya pikir setelah itu…"
Nayla tersenyum pahit.
Senyum yang tidak sampai ke mata.
Senyum yang terasa seperti luka.
Senyum yang mengatakan aku sudah terlalu sering kecewa, aku sudah terlalu sering berharap, aku sudah terlalu sering percaya bahwa semuanya akan baik, baik saja.
"semuanya akan berubah."
Ibunya menutup mulut menahan tangis.
Telapak tangannya yang hangat, tangan yang telah membesarkannya, tangan yang telah mengajarinya berjalan, tangan yang telah mengusap air matanya setiap kali ia jatuh, menutup mulutnya yang terbuka karena terisak.
Air matanya jatuh.
Jatuh di antara jari, jarinya.
Jatuh di punggung tangannya.
Jatuh di pangkuannya yang basah.
Nayla melanjutkan, dengan suara yang masih sama, tenang, tetapi pahit, seperti kopi tanpa gula yang diminum dalam keadaan dingin.
"Dan memang berubah. Tapi bukan menjadi lebih baik."
Iskandar menatapnya.
Matanya yang tadi kosong, yang tadi penuh dengan keterkejutan, kini berubah. Berubah menjadi lebih dalam. Lebih seperti seseorang yang mencoba memahami, bukan hanya mendengar.
"Aldebar berubah?"
Nayla mengangguk.
Anggukan yang pelan, yang lemas, yang seperti orang yang kehabisan energi.
"Awalnya dia baik. Sangat baik. Terlalu baik."
Ia tertawa kecil.
Tawa yang nyaris menyakitkan.
Tawa yang seperti pisau yang digerakkan perlahan di atas kulit, tidak melukai tetapi membuat bulu kuduk merinding.
"Lalu rasa bersalah itu pelan, pelan berubah."
"Menjadi apa?" tanya Iskandar pelan, suaranya nyaris seperti bisikan, seperti tidak ingin mengganggu, seperti tidak ingin membuat Nayla semakin sakit.
Nayla menatapnya.
Matanya yang tadi kosong, yang tadi penuh dengan kepahitan, kini berubah. Berubah menjadi lebih terang. Lebih seperti seseorang yang sedang berusaha menjelaskan sesuatu yang rumit dengan kata, kata yang sederhana.
"Menjadi cara untuk menahan saya tetap tinggal."
Ruangan terasa semakin berat.
Berat seperti beban yang tidak bisa diangkat.
Berat seperti udara sebelum badai.
Berat seperti sesuatu yang akan segera meledak.
Nayla melanjutkan, suaranya mengecil, nyaris seperti bisikan, nyaris tidak terdengar.
"Dia selalu bilang… saya tidak boleh pergi. Karena kami sama, sama kehilangan. Karena kalau saya pergi… berarti semua rasa sakit itu sia, sia."
Iskandar mengepalkan tangan.
Buku, buku jarinya yang tadinya tenang di pangkuan, kini mengepal.
Kulit di buku, buku jarinya memutih.
Urat, urat di tangannya menonjol.
Bukan karena marah pada Nayla.
Tapi karena ia mulai mengerti.
Bukan kekerasan fisik yang dilakukan Aldebar.
Bukan bentakan.
Bukan tamparan.
Bukan luka yang terlihat.
Tapi luka yang jauh lebih sunyi.
Luka yang tidak berdarah.
Luka yang tidak meninggalkan bekas di kulit.
Luka yang justru paling sulit disembuhkan.
Seseorang yang terus mengikat orang lain dengan rasa bersalah.
Seseorang yang terus membuat orang lain merasa bahwa mereka berhutang sesuatu.
Seseorang yang terus mengatakan "kamu tidak boleh pergi karena kita sama, sama menderita".
Itu bukan cinta.
Itu adalah penjara.
Penjara yang dindingnya terbuat dari rasa bersalah.
Penjara yang jerujinya terbuat dari kenangan.
Penjara yang tidak bisa dilihat, tetapi terasa setiap hari.
"Kenapa kamu tidak cerita?"
Iskandar bertanya pelan.
Suaranya tidak tinggi, tidak rendah.
Tidak menuduh.
Tidak menyalahkan.
Tidak seperti "kenapa kamu tidak bilang dari dulu?" yang biasanya diucapkan dengan nada kesal.
Tapi seperti pertanyaan yang diajukan oleh seseorang yang benar, benar ingin tahu, yang benar, benar ingin memahami, yang benar, benar ingin membantu.
Nayla menatapnya.
Matanya yang masih basah, yang masih merah, yang masih menyimpan sisa, sisa air mata, kini berubah. Berubah menjadi lebih dalam. Lebih seperti seseorang yang sedang berusaha menjelaskan sesuatu yang tidak mudah dijelaskan.
"Karena saya malu."
"Untuk apa?"
Nayla menangis.
Air matanya jatuh deras.
Deraih seperti hujan di musim penghujan.
Deraih seperti air terjun yang tidak pernah berhenti.
Deraih seperti sesuatu yang tidak bisa lagi ditahan.
"Karena kadang saya merasa… mungkin semua memang salah saya."
Kalimat itu menghantam dada Iskandar.
Menghantam seperti palu godam ke dinding beton.
Menghantam seperti petir di siang bolong.
Menghantam seperti sesuatu yang tidak bisa dihindari.
Lebih keras dari apa pun pagi itu.
Lebih keras dari semua kata, kata Aldebar.
Lebih keras dari semua rahasia yang terbuka.
Karena yang paling kejam dari luka bukan ketika seseorang disakiti oleh orang lain. Bukan ketika dikhianati. Bukan ketika ditinggalkan.
Tapi ketika ia mulai percaya bahwa dirinya pantas disakiti.
Ketika ia mulai percaya bahwa semua yang terjadi adalah salahnya.
Ketika ia mulai percaya bahwa ia tidak layak untuk dicintai.
Itulah luka yang paling dalam.
Luka yang tidak bisa diobati oleh obat atau perban.
Luka yang hanya bisa disembuhkan oleh waktu, dan waktu, sayangnya, tidak selalu berpihak pada kita.
"Tidak."
Suara Iskandar tegas.
Tegas seperti batu karang yang tidak bisa digoyahkan ombak.
Tegas seperti keputusan yang tidak bisa diganggu gugat.
Tegas seperti seseorang yang sudah memutuskan dan tidak akan berubah pikiran.
Semua menoleh.
Ibu Nayla mengangkat kepalanya yang tadi tertunduk.
Ayah Nayla yang tadi berdiri di dekat jendela, kini berbalik.
Nayla menatap Iskandar dengan mata yang masih basah.
Iskandar menatap Nayla.
Matanya yang tadi dalam, yang tadi penuh dengan pertanyaan, kini berubah. Berubah menjadi tegas. Tegas seperti baja. Tegas seperti beton. Tegas seperti sesuatu yang tidak bisa dipatahkan.
"Jangan pernah bilang itu lagi."
Nayla membeku.
"Bukan salah kamu."
Air matanya jatuh lebih deras.
"Bukan kehilangan itu."
Tangannya gemetar.
"Dan bukan karena kamu ingin berhenti terluka."
Nayla menatapnya.
Air matanya jatuh.
Jatuh tanpa suara.
Jatuh tanpa bisa ditahan.
Jatuh seperti hujan di musim penghujan.
Karena kadang, yang paling dibutuhkan seseorang bukan solusi.
Bukan nasihat.
Bukan kata, kata bijak.
Tapi seseorang yang menolak membiarkan dirinya terus menyalahkan diri sendiri.
Seseorang yang mengatakan "kamu tidak bersalah" ketika semua orang, termasuk dirinya sendiri, berkata sebaliknya.
Seseorang yang melihat kelemahannya dan tetap memilih untuk tinggal.
Ayah Nayla menghela napas panjang.
Napas yang keluar dari dadanya seperti angin dari gua yang dalam.
Napas yang membawa serta beban yang selama ini ia pendam.
Lalu akhirnya berkata, dengan suara yang tidak tinggi tidak rendah, dengan suara yang tegas tetapi lembut, dengan suara yang keluar dari hati seorang ayah yang tidak ingin melihat anaknya menderita lagi.
"Itu sebabnya Aldebar masih merasa punya hak. Karena dia tahu luka itu. Dan selama ini Nayla selalu takut menghadapi masa lalu itu."
Ibunda Nayla menatap Iskandar.
Matanya yang tadi basah, yang tadi penuh dengan air mata, kini berubah. Berubah menjadi lebih tenang. Lebih seperti seorang ibu yang sedang menilai apakah laki, laki di depannya cukup kuat untuk putrinya.
"Dan sekarang kamu tahu semuanya."
Ruangan kembali sunyi.
Sunyi seperti di dalam gereja setelah kebaktian usai.
Sunyi seperti di dalam perpustakaan ketika semua orang sedang membaca.
Sunyi seperti di dalam hati ketika sedang merenung.
Karena pertanyaan yang tidak diucapkan menggantung di sana.
Menggantung seperti pedang Damocles.
Menggantung seperti ancaman yang tidak terlihat.
Menggantung seperti sesuatu yang harus dijawab, tetapi tidak ada yang berani bertanya.
Apakah Iskandar masih akan tetap tinggal?
Apakah setelah mengetahui semua ini, setelah mengetahui bahwa Nayla pernah hamil, bahwa Nayla pernah kehilangan bayi, bahwa Nayla memiliki masa lalu yang rumit dengan Aldebar—ia masih akan tetap di sini?
Atau ia akan pergi, seperti orang, orang lain?
Iskandar menatap Nayla.
Perempuan itu duduk dengan mata basah, wajah pucat, tubuh gemetar.
Rambutnya yang terurai basah oleh air mata.
Cardigan krem tipisnya basah di bagian bahu, mungkin oleh air mata, mungkin oleh keringat, mungkin oleh keduanya.
Tangannya yang dingin masih menggenggam erat tangan ibunya.
Ia terlihat rapuh.
Terlihat hancur.
Terlihat seperti seseorang yang sedang berada di titik terendah dalam hidupnya.
Bukan perempuan sempurna yang ia bayangkan ketika pertama kali melihatnya di Dermaga KP3.
Bukan cerita sederhana yang bisa dijelaskan dalam beberapa paragraf.
Bukan cinta yang mudah yang bisa dinikmati tanpa beban.
Tapi Nayla.
Nayla dengan segala lukanya.
Nayla dengan segala rahasianya.
Nayla dengan segala ketakutannya.
Dan justru karena itu, karena ia tidak sempurna, karena ceritanya tidak sederhana, karena cintanya tidak mudah, hati Iskandar terasa semakin jatuh.
Jatuh seperti batu yang dilepaskan dari ketinggian.
Jatuh seperti air terjun yang tidak bisa dihentikan.
Jatuh seperti sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan.
Ia menghela napas pelan.
Napas yang keluar dari dadanya seperti angin yang berhembus di antara dedaunan.
Napas yang membawa serta semua keraguan, semua ketakutan, semua pertanyaan yang selama ini berputar di kepalanya.
Lalu ia berkata, dengan suara yang tidak bergetar, dengan suara yang tegas, dengan suara yang keluar dari hati.
"Saya tidak tahu bagaimana cara menghapus luka itu."
Nayla menahan napas.
Napasnya tertahan di tenggorokan, seperti tersumbat oleh sesuatu yang tidak bisa ia identifikasi.
Dadanya terasa sesak.
Matanya terasa panas.
Pipinya terasa basah, bukan oleh air mata, tapi oleh sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.
"Tapi kalau kamu izinkan… saya bisa belajar menemani."
Nayla menutup mulutnya sendiri.
Telapak tangannya yang dingin, yang tadi menggenggam erat tangan ibunya, yang tadi gemetar hebat, kini menutup mulutnya.
Menahan tangis yang akan pecah.
Menahan teriakan yang ingin keluar.
Menahan sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan.
Air matanya jatuh di sela, sela jarinya.
Jatuh di punggung tangannya.
Jatuh di pangkuannya yang basah.
Dan di ruang tamu rumah kecil itu, di rumah dengan sofa cokelat tua yang sudah mulai kempus, dengan meja kayu yang sudah mengelupas vernisnya, dengan rak buku kecil yang berisi novel, novel lama, di pagi yang seharusnya menghancurkan segalanya, sesuatu justru mulai tumbuh lebih dalam.
Bukan karena cinta yang mudah.
Cinta yang mudah adalah cinta yang datang ketika semuanya indah. Ketika matahari bersinar, ketika bunga bermekaran, ketika tidak ada masalah. Cinta yang mudah adalah cinta yang tidak butuh perjuangan.
Tapi cinta yang tumbuh di antara Iskandar dan Nayla bukan cinta yang mudah.
Cinta yang tumbuh adalah cinta yang lahir dari luka.
Cinta yang tumbuh adalah cinta yang harus diperjuangkan.
Cinta yang tumbuh adalah cinta yang bertahan meskipun badai datang.
Karena seseorang memilih tinggal setelah tahu semuanya.
Setelah tahu bahwa Nayla tidak sempurna.
Setelah tahu bahwa Nayla memiliki masa lalu yang rumit.
Setelah tahu bahwa Nayla mungkin tidak akan pernah bisa menjadi perempuan yang ia bayangkan.
Ia tetap tinggal.
Bukan karena ia tidak punya pilihan.
Tapi karena ia memilih.
Memilih untuk tinggal.
Memilih untuk berjuang.
Memilih untuk mencintai.
BAB 24
Senja di Dermaga KP3
Setelah pagi yang terasa seperti membuka luka lama, setelah Aldebar datang dan pergi, setelah rahasia yang selama ini terkubur akhirnya keluar, setelah air mata yang tak terhitung jumlahnya jatuh di ruang tamu rumah kecil itu, siang di rumah Nayla berlalu dalam keheningan yang aneh.
Tidak lagi seberat tadi.
Tidak lagi seperti beban yang hampir menghancurkan tulang punggung.
Tidak lagi seperti udara yang terlalu tipis untuk bernapas.
Tapi juga belum benar, benar ringan.
Belum seperti beban yang sudah diangkat.
Belum seperti udara yang segar setelah hujan.
Masih ada sisa, sisa berat yang menggelayut di pundak, masih ada sisa, sisa sesak yang mengganjal di dada, masih ada sisa, sisa pertanyaan yang belum terjawab.
Ibunda Nayla, Bu Rahma, perempuan yang telah melahirkan Nayla tiga puluh tahun yang lalu, yang telah menggendongnya ketika ia demam, yang telah menemaninya ketika ia pertama kali patah hati, beberapa kali memaksa Iskandar makan siang.
Bukan memaksa dengan keras. Bukan dengan suara tinggi atau tatapan marah. Tapi memaksa dengan lembut, dengan senyum yang tidak bisa ditolak, dengan tatapan yang mengatakan kamu kurus, kamu perlu makan, kamu bagian dari keluarga kami sekarang.
"Makan dulu, Nak. Nanti kenyang. Perut kosong tidak baik untuk pikiran."
Piring nasi dengan lauk sederhana, ikan goreng, sayur bening, sambal terasi, dan lalapan mentah, diletakkan di depannya dengan penuh kasih. Piring keramik putih dengan motif bunga mawar merah di pinggirnya, piring yang sama yang digunakan untuk menyajikan makanan untuk anggota keluarga. Sendok dan garpu dari stainless steel yang sudah mulai buram karena usia, tetapi masih bersih mengkilap karena setiap hari dicuci dengan sabun dan air mengalir.
Iskandar tidak bisa menolak.
Bukan karena ia lapar, sebenarnya ia tidak merasa lapar sama sekali, perutnya terasa seperti penuh oleh sesuatu yang lain, mungkin oleh kekhawatiran, mungkin oleh rasa ingin melindungi, mungkin oleh cinta yang tidak bisa ia definisikan. Tapi karena ia tidak tega menolak kebaikan seorang ibu yang sedang berusaha merawatnya dengan cara yang ia tahu.
Ia makan perlahan.
Suapan demi suapan.
Setiap suapan terasa hambar di lidahnya, tetapi ia tetap mengunyah, tetap menelan, tetap berusaha menghabiskan apa yang diberikan.
Bukan karena nasi dan lauknya tidak enak, masakan ibunda Nayla enak, hangat, penuh dengan bumbu dan rasa yang membuat orang yang memakannya ingin tambah terus. Tapi karena pikirannya ada di tempat lain. Pikirannya masih pada Nayla. Pikirannya masih pada kata, kata yang keluar dari mulut Nayla pagi ini.
Saya pernah hampir menikah dengan Aldebar.
Seminggu sebelum akad, saya kehilangan bayi.
Saya pikir setelah itu semuanya akan berubah. Tapi berubah menjadi lebih buruk.
Dia selalu bilang saya tidak boleh pergi karena kami sama, sama kehilangan.
Karena kadang saya merasa mungkin semua memang salah saya.
Kalimat, kalimat itu berputar di kepalanya seperti rekaman yang rusak. Berputar terus, tidak mau berhenti, tidak mau memberi jeda. Setiap kali ia mencoba untuk tidak memikirkannya, kalimat, kalimat itu muncul kembali, lebih keras, lebih jelas, lebih menyakitkan.
Ayah Nayla, Pak Rahmat, laki, laki yang telah membesarkan Nayla sejak ia masih dalam kandungan, yang telah mengajarinya naik sepeda, yang telah menemaninya ketika ia pertama kali belajar mengemudi, mulai berbicara lebih santai setelah makan siang.
Beliau tidak lagi duduk di kursi seberang dengan wajah tegang dan mata tajam. Beliau duduk di kursi yang sama, kursi kayu dengan bantalan tipis yang sudah menjadi "takhta" nya sejak Nayla masih kecil, tetapi dengan postur yang lebih rileks, dengan bahu yang tidak lagi setegang tadi, dengan wajah yang tidak lagi seserius tadi.
"Kamu kerja di kantor konsultan, katanya?"
Pertanyaan yang tidak berhubungan dengan Aldebar. Tidak berhubungan dengan masa lalu. Tidak berhubungan dengan luka. Pertanyaan tentang pekerjaan, tentang kehidupan sehari, hari, tentang hal, hal yang normal dan biasa.
Iskandar menjawab dengan tenang, menjelaskan tentang pekerjaannya, tentang klien, klien yang ia tangani, tentang tantangan, tantangan yang ia hadapi. Ia tidak berbohong, tidak melebih, lebihkan, tetapi juga tidak merendahkan dirinya sendiri.
Ayah Nayla mendengarkan dengan saksama, dengan mata yang masih tajam, tetapi tidak lagi seperti elang mengamati mangsa. Kini matanya seperti seorang guru yang sedang mendengarkan muridnya bercerita. Dengan anggukan, anggukan kecil di sela, sela penjelasan Iskandar, dengan sesekali "oh, begitu" atau "hmm, menarik".
Sorot matanya masih penuh pertimbangan. Tentu saja. Beliau adalah seorang ayah. Beliau tidak akan langsung mempercayai laki, laki yang baru beberapa hari dikenal putrinya hanya karena satu malam dan satu pagi yang penuh drama. Tapi ada sedikit kehangatan di sana. Kehangatan yang tidak ada sebelumnya. Kehangatan yang tumbuh karena Iskandar tidak lari ketika mendengar rahasia Nayla. Kehangatan yang tumbuh karena Iskandar tetap tinggal meskipun sudah tahu bahwa hidup putrinya rumit.
Sementara Nayla, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, setelah berbulan, bulan, mungkin bertahun, tahun, menyimpan semuanya sendiri, berpura, pura kuat di depan semua orang, tersenyum meskipun hatinya hancur, terlihat lelah.
Lelah bukan karena kurang tidur, meskipun ia memang kurang tidur, matanya sembab, wajahnya pucat, tubuhnya terasa seperti tidak punya tenaga.
Lelah karena akhirnya berhenti pura, pura kuat.
Lelah karena akhirnya mengakui bahwa ia tidak bisa melakukannya sendiri.
Lelah karena akhirnya melepaskan topeng yang selama ini ia kenakan.
Dan justru karena itu, karena ia terlihat lelah, karena ia tidak lagi berusaha terlihat sempurna, karena ia membiarkan dirinya menjadi rapuh di depan orang, orang yang mencintainya, ia terlihat lebih manusiawi.
Lebih nyata.
Lebih seperti Nayla yang sebenarnya.
Sore harinya, ketika matahari mulai condong ke barat dan cahaya keemasan mulai masuk melalui jendela, jendela rumah, ponsel Iskandar bergetar di saku celananya.
Getaran yang singkat.
Satu getaran.
Pesan masuk.
Ia mengeluarkan ponsel dari saku, ponsel dengan casing hitam polos yang sudah mulai baret di beberapa bagian, dengan layar yang sudah sedikit retak di pojok kanan atas karena pernah jatuh, dan membuka aplikasi pesan.
Dari Edo.
Tentu saja.
Siapa lagi yang akan mengirim pesan di waktu seperti ini?
"Edo: Kalau kalian selesai jadi tokoh utama sinetron, datang ke KP3. Kami lapar. Sudah dari tadi duduk di sini, nungguin kalian kayak orang bodoh. Padahal dagangan kami sudah laku keras. Eh, maksudnya, kami sudah pesan makanan tapi belum makan karena nunggu kalian. Jadi cepet."
Iskandar tersenyum kecil membaca pesan itu.
Edo tidak pernah berubah. Selalu berisik, selalu tidak sabar, selalu membuat suasana yang tegang menjadi sedikit lebih ringan dengan kata, katanya yang tidak masuk akal.
Ponselnya bergetar lagi.
Pesan kedua.
"Edo: Dan Ridwan bilang suasana kalian terlalu berat. Kota Kapuas butuh komedi. Kata Ridwan, kalau kalian terus, terusan serius kayak gini, nanti orang, orang pada stres. Katanya, kami punya tanggung jawab moral untuk menghibur kalian. Aku setuju. Jadi cepet datang. Sebelum aku habiskan semua sate yang aku pesan."
Iskandar menatap layar ponselnya.
Lalu tanpa sadar tertawa kecil.
Tawa yang pelan, yang hampir tidak terdengar, yang seperti udara yang keluar dari hidung dengan suara ngik yang lucu.
Tawa pertama setelah pagi yang panjang dan berat.
Nayla yang duduk di teras, di kursi kayu yang sama seperti semalam, dengan posisi yang sama, dengan lampu teras yang masih menyala meskipun matahari belum sepenuhnya tenggelam, menoleh.
Wajahnya masih pucat. Matanya masih sembab. Rambutnya masih terurai. Tapi ketika ia melihat Iskandar tersenyum, ketika ia melihat sudut bibir Iskandar terangkat sedikit, ketika ia melihat mata Iskandar berbinar sedikit, ia merasa ada sesuatu yang hangat di dadanya.
"Kenapa?"
Iskandar menunjukkan ponselnya.
Layar ponsel yang retak di pojok kanan atas itu menampilkan pesan, pesan Edo.
Nayla membaca.
Matanya bergerak dari kata ke kata.
Lalu untuk pertama kalinya sejak pagi, sejak Aldebar datang, sejak rahasianya terbuka, sejak ia menangis di pangkuan ibunya, ia benar-benar tertawa.
Bukan tawa kecil yang keluar dari hidung.
Bukan tawa yang dipaksakan untuk menyenangkan orang lain.
Tapi tawa yang lepas.
Tawa yang keluar dari perut.
Tawa yang membuat bahunya berguncang.
Tawa yang membuat matanya berbinar, bukan binar dari air mata, tapi binar dari kebahagiaan yang tulus.
Tawa yang membuat Iskandar merasa bahwa semuanya akan baik, baik saja.
"Pergilah sebentar," kata ibunda Nayla dari dalam rumah.
Beliau berdiri di ambang pintu dapur, dapur sederhana dengan kompor gas dua tungku, dengan lemari kayu yang sudah mulai lapuk, dengan meja potong yang selalu bersih meskipun sudah puluhan tahun digunakan, sambil mengelap tangannya dengan handuk kecil berwarna putih yang sudah mulai kusam.
Nayla menoleh.
"Ma?"
Ibunya tersenyum lembut.
Senyum yang mengatakan ibu tahu kamu butuh udara segar. Ibu tahu kamu butuh tertawa. Ibu tahu kamu butuh melupakan sejenak semua masalah yang membebani pundakmu.
"Kamu butuh bernapas."
Ayah Nayla yang sedang membaca Koran, koran sore yang baru saja dibeli dari warung di ujung jalan, dengan halaman depan yang menampilkan berita tentang peresmian proyek pembangunan jalan oleh Bupati Kapuas, ikut mengangguk tanpa mengangkat wajah dari koran.
"Dan kalau terus di rumah… yang tegang bukan cuma kamu, kami juga."
"Pa…"
Ayahnya menatap datar di balik kacamata bacanya, kacamata dengan lensa tebal yang melambung di bagian tengah, yang membuat matanya terlihat lebih besar dari aslinya, yang membuatnya terlihat seperti burung hantu yang bijaksana.
"Papa tua. Bukan patung."
Iskandar menahan senyum.
Ia tidak mau tertawa terlalu keras di depan orang tua Nayla. Tapi sulit. Sangat sulit. Karena ayah Nayla, yang pagi ini terlihat begitu tegas dan mengintimidasi, ternyata memiliki sisi humor yang tidak terduga.
Nayla akhirnya menghela napas kecil.
Helaan napas yang keluar dari hidung dengan suara ngik yang lucu.
Napas yang mengatakan baiklah, aku pergi. Bukan karena aku ingin, tapi karena Mama dan Papa memaksa. Tapi sebenarnya aku ingin. Aku hanya tidak mau mengakuinya.
"Baik."
Dan menjelang senja, ketika langit mulai berubah warna dari biru menjadi jingga, ketika matahari mulai tenggelam di ufuk barat dengan perlahan seperti tidak ingin pergi, ketika burung, burung mulai kembali ke sarang mereka dengan suara cuit, cuit yang riuh, mereka berdua menuju salah satu tempat yang mulai menjadi wajah baru kota itu.
Dermaga KP3.
Ikon wisata air dan kuliner di Kuala Kapuas.
Tempat di mana mereka pertama kali bertemu.
Tempat di mana Iskandar melihat Nayla berdiri sendirian di ujung dermaga dengan blouse putih sederhana dan rok panjang biru muda.
Tempat di mana kertas, kertas beterbangan dan Iskandar berlari menangkapnya sebelum jatuh ke sungai.
Tempat di mana Nayla memperkenalkan diri dengan suara lembut yang membuat Iskandar lupa bagaimana caranya bernapas dengan normal.
Tempat di mana semuanya dimulai.
Senja turun indah di tepian sungai.
Langit berubah jingga keemasan.
Jingga seperti warna yang tidak bisa dilukis oleh cat apa pun. Jingga seperti warna yang hanya bisa diciptakan oleh alam ketika ia sedang dalam suasana hati yang baik. Jingga seperti warna yang membuat orang yang melihatnya ingin berhenti sejenak, menarik napas panjang, dan bersyukur bahwa mereka masih hidup untuk melihat keindahan seperti ini.
Permukaan air memantulkan cahaya seperti kaca bergerak. Air Sungai Kapuas yang biasanya berwarna cokelat keruh, kini berubah menjadi cermin raksasa yang memantulkan langit yang terbakar. Setiap riak, setiap gelombang kecil, setiap gerakan air menciptakan pantulan, pantulan yang berbeda, seperti lukisan abstrak yang tidak pernah sama setiap detiknya.
Lampu, lampu kecil di sepanjang dermaga mulai menyala satu per satu.
Lampu, lampu itu tidak besar. Masing, masing hanya bohlam kecil berwarna kuning yang diletakkan di sepanjang pagar besi dermaga. Tapi ketika semuanya menyala bersamaan, ketika puluhan bohlam kecil itu berkedip seperti kunang, kunang yang berhenti bergerak, ketika cahaya kuningnya memantul di permukaan air yang gelap, pemandangan itu terasa magis.
Seperti negeri dongeng.
Seperti dunia yang berbeda dari dunia di mana Aldebar dan mobil hitam dan rahasia, rahasia gelap itu ada.
Orang, orang duduk santai di bangku tepi sungai.
Pasangan muda dengan tangan saling bergandengan, dengan kepala yang saling bersandar, dengan bisikan, bisikan yang tidak bisa didengar oleh orang lain.
Keluarga dengan anak, anak yang berlarian, dengan ibu yang berteriak "jangan terlalu dekat ke pinggir!", dengan ayah yang sibuk mengambil foto dengan ponselnya.
Kakek, nenek yang duduk diam, hanya menatap sungai, mengingat, ingat masa lalu ketika mereka masih muda, ketika mereka juga duduk di tempat yang sama dengan orang yang sama.
Anak, anak berlari kecil di sepanjang trotoar, dengan celana yang digulung hingga lutut, dengan sepatu yang basah karena air, dengan tawa yang tidak peduli dengan masalah orang dewasa.
Penjual makanan mulai ramai melayani pembeli.
Aroma ikan bakar, ikan patin yang dibakar dengan arang, dengan bumbu kecap dan bawang yang meresap hingga ke dalam daging, dengan sambal terasi yang pedasnya membuat lidah bergidik, tercium hingga ke kejauhan.
Aroma sate ayam, daging ayam yang ditusuk dengan lidi bambu, yang dibakar di atas bara api hingga kecokelatan, dengan bumbu kacang yang kental dan gurih, menguar di udara.
Aroma jagung manis, jagung yang dibakar dengan kulitnya, dengan mentega yang meleleh di permukaannya, dengan keju parut yang ditaburkan di atasnya, membuat perut keroncongan.
Aroma kopi hitam—kopi yang diseduh dengan air panas, dengan gula aren yang memberi rasa manis alami, dengan aroma yang bisa membuat orang yang lelah menjadi segar kembali, bercampur dengan angin sungai yang lembut.
Di kejauhan, kapal kecil melintas perlahan di atas air, perahu ces dengan mesin yang bunyinya tek, tek, tek yang khas, dengan lampu depan yang menyala redup, dengan penumpang yang mungkin pulang dari seberang setelah seharian bekerja.
Perahu itu melintas seperti hantu, seperti bayangan, seperti sesuatu yang nyata tetapi terasa tidak nyata. Lampunya memantul di air, menciptakan jejak cahaya yang bergerak, gerak, seperti ular cahaya yang berenang di permukaan sungai.
Dan di tengah kota air itu, di tengah keindahan senja yang tidak akan pernah sama setiap harinya, di tengah keramaian yang hangat dan akrab, Dermaga KP3 memang terasa seperti tempat di mana orang datang bukan hanya untuk melihat senja.
Tapi untuk mengistirahatkan hati.
Untuk melupakan sejenak semua masalah.
Untuk mengingat bahwa di balik semua kesulitan, masih ada keindahan.
"WOI!"
Suara Edo terdengar lebih dulu daripada wajahnya.
Selalu begitu.
Sejak kecil, Edo tidak pernah bisa datang dengan tenang. Ia selalu datang dengan suara, dengan teriakan, dengan kehadiran yang berisik dan tidak bisa diabaikan. Seperti alarm yang berbunyi di pagi hari. Seperti petir yang menyambar di siang bolong. Seperti sesuatu yang tidak bisa tidak diperhatikan.
Mereka menoleh.
Edo melambaikan tangan dari dekat warung kuliner, warung dengan tenda biru yang sudah mulai robek di beberapa bagian, dengan meja, meja plastik yang berjejer tidak beraturan, dengan kursi, kursi yang warnanya tidak ada yang sama.
Tangannya yang gemuk itu melambai, lambai di udara seperti bendera yang berkibar di tengah angin badai. Wajahnya yang bulat itu berseri, seri seperti matahari yang baru terbit. Senyumnya yang lebar itu memperlihatkan deretan giginya yang tidak rata, gigi yang tidak pernah ia rawat dengan serius, tetapi entah mengapa terasa akrab dan menenangkan.
Di sampingnya sudah ada Ridwan, Anggun, Rara, Sahrul.
Bahkan Lukman, yang kemarin hanya bisa ikut melalui video call karena tinggal di Desa Sriwidadi, Kecamatan Mantangai, yang jaraknya cukup jauh dari pusat kota, kebetulan datang dari Mantangai sore itu.
Ia berdiri di samping Edo, dengan tubuh yang lebih kurus dari yang terlihat di layar ponsel, dengan wajah yang lebih tua dari yang ia ingat, dengan senyum yang sama seperti dulu, senyum yang ramah, senyum yang mengatakan aku senang melihat kalian semua.
"Lama amat," seru Sahrul sambil memegang tusuk sate yang sudah setengah habis.
"Kami hampir tua menunggu."
Ridwan menatap Iskandar dengan ekspresi datar seperti biasa, tetapi matanya berbinar, bukan binar kegembiraan, tapi binar kepuasan, binar seseorang yang melihat tebakannya terbukti benar.
"Lebih tepatnya Edo hampir menghabiskan semua makanan."
Edo mengangguk dengan bangga.
Anggukan yang mengatakan itu benar, dan aku tidak malu mengakuinya.
"Karena saya support mental teman dengan cara makan."
Anggun langsung menatap dengan mata menyipit, mata yang mengatakan aku tidak percaya dengan alasanmu, tapi aku terlalu malas untuk membantah.
"Itu bukan support. Itu rakus."
Nayla tertawa pelan.
Tawa yang masih kecil, yang masih belum sepenuhnya pulih, yang masih seperti bunga yang baru mulai mekar setelah musim dingin yang panjang. Tapi tawa itu tulus. Tawa itu nyata. Tawa itu mengatakan aku senang di sini, bersama kalian.
Dan mendengar tawa itu, tawa yang keluar dari bibir Nayla yang masih pucat, tawa yang membuat matanya yang masih sembab sedikit berbinar, semua sahabat Iskandar saling melirik diam, diam.
Mereka tidak perlu bicara.
Mereka tidak perlu bertukar kata.
Mereka cukup saling menatap.
Karena mereka tahu: senyum itu, senyum yang baru saja muncul di wajah Nayla, senyum yang masih malu, malu, senyum yang masih belum sepenuhnya percaya diri, sudah lama tidak muncul dari Nayla.
Mungkin sudah berbulan, bulan.
Mungkin sudah bertahun, tahun.
Mungkin sejak sebelum Aldebar.
Dan mereka, tanpa sengaja, tanpa direncanakan, tanpa diminta, telah menjadi bagian dari alasan mengapa senyum itu muncul kembali.
Mereka duduk di pinggir dermaga, di tempat yang sama seperti pertama kali Iskandar dan Nayla bertemu? Tidak. Tempat pertama mereka bertemu adalah di ujung dermaga yang lain. Tapi tempat ini tidak kalah indahnya.
Di sini, mereka bisa melihat sungai dengan lebih jelas.
Di sini, mereka bisa merasakan angin yang lebih segar.
Di sini, mereka bisa melihat lampu, lampu kota yang mulai menyala satu per satu di seberang sungai.
Lampu, lampu di seberang, lampu rumah, rumah panggung yang berdiri di tepian sungai, lampu perkantoran yang mulai diredupkan karena jam kerja sudah selesai, lampu jalan yang menyala dengan warna kuning yang hangat, memantul di permukaan air yang gelap, menciptakan pantulan, pantulan yang bergerak, gerak setiap kali ada riak.
Lampu, lampu itu seperti bintang, bintang yang jatuh ke bumi dan memilih untuk tinggal di permukaan air.
Seperti harapan, harapan yang tidak pernah padam.
Seperti doa, doa yang selalu dikabulkan.
Suasana ramai namun hangat.
Ramai seperti pasar tradisional di pagi hari, dengan suara tawa, dengan suara percakapan, dengan suara sendok dan piring yang beradu.
Hangat seperti pelukan ibu di malam yang dingin.
Hangat seperti selimut tebal di musim hujan.
Hangat seperti api unggun di tengah hutan yang gelap.
Musik pelan dari warung kopi terdengar samar, lagu, lagu pop Indonesia dari era 2000, an, yang diputar dengan volume rendah, yang liriknya tentang cinta dan kehilangan, yang membuat suasana terasa lebih melankolis tetapi juga lebih intim.
Sesekali perahu kecil melintas, perahu ces dengan mesin yang bunyinya tek, tek, tek yang khas, dengan lampu depan yang menyala redup, dengan penumpang yang mungkin pulang dari seberang setelah seharian bekerja.
Perahu itu melintas seperti bayangan, seperti hantu, seperti sesuatu yang nyata tetapi terasa tidak nyata.
Ia membelah bayangan senja di sungai Kapuas, bayangan langit yang berwarna jingga, bayangan awan yang bergerak perlahan, bayangan lampu, lampu kota yang mulai menyala.
Dan ketika perahu itu lewat, riak, riak kecil terbentuk di permukaan air, menghancurkan pantulan, pantulan untuk beberapa saat, lalu kembali tenang.
Seperti hidup.
Seperti cinta.
Seperti sesuatu yang datang dan pergi, meninggalkan riak, lalu kembali tenang.
Nayla duduk di samping Iskandar.
Tanpa sadar, atau mungkin sadar, tetapi tidak lagi peduli, jarak di antara mereka semakin tipis.
Dari setengah meter, menjadi empat puluh sentimeter.
Dari empat puluh sentimeter, menjadi tiga puluh sentimeter.
Dari tiga puluh sentimeter, menjadi dua puluh sentimeter.
Bahu mereka hampir bersentuhan.
Lengan mereka hampir bersentuhan.
Paha mereka hampir bersentuhan.
Tidak ada yang menarik diri. Tidak ada yang menjaga jarak. Tidak ada yang mengatakan "kita terlalu dekat".
Mereka hanya duduk di sana, berdampingan, menikmati senja, menikmati kehadiran satu sama lain.
Dan seperti biasa, sahabat, sahabat Iskandar langsung memperhatikan.
Edo menatap mereka dengan mata berbinar.
Matanya bergerak dari bahu Iskandar yang hampir menyentuh bahu Nayla, ke lengan Iskandar yang hampir menyentuh lengan Nayla, ke paha Iskandar yang hampir menyentuh paha Nayla.
Lalu ia berbisik, bisikan yang sengaja dibuat keras agar semua orang mendengar, bisikan yang volumenya sama dengan volume bicara normal, ke arah Anggun yang duduk di sampingnya.
"Fix. Mereka sekarang duduknya sudah level pasangan resmi."
Nayla hampir tersedak minuman.
Es teh manis yang baru saja ia hirup seteguk, es teh dengan gula aren yang manisnya pas, dengan es batu yang masih utuh, dengan sedotan warna merah yang sudah agak penyok karena digigit, tiba, tiba terasa seperti air terjun yang masuk ke saluran pernapasannya.
Ia batuk, batuk kecil.
Tangannya menutup mulut.
Pipinya yang tadi pucat, kini memerah.
Iskandar menatap datar ke arah Edo.
Matanya tidak berkedip.
Wajahnya tidak berubah.
Suaranya tidak tinggi, tidak rendah, datar, seperti Ridwan, seperti orang yang sudah tidak punya energi untuk marah.
"Kalau mulutmu bisa disewakan, kota ini bisa punya pengeras suara gratis."
Rara tertawa.
Tawanya yang lembut, yang seperti air mengalir di atas batu, batu sungai, yang menenangkan tetapi juga menggelitik.
"Edo memang dari dulu tidak bisa lihat suasana romantis."
Edo mengangguk serius.
Anggukan yang dalam, yang seperti seorang filsuf yang sedang memberikan kuliah tentang kehidupan.
"Bisa. Tapi saya dibayar."
Anggun memukul lengan Edo, pukulan yang tidak terlalu keras, tetapi cukup untuk membuat Edo mengerang pelan dan mengusap, usap bagian yang terkena.
"Diam."
Lukman yang baru datang dari Sriwidadi, dengan tubuh yang lebih kurus dari yang terlihat di layar ponsel, dengan wajah yang lebih tua dari yang ia ingat, dengan pakaian yang sederhana tetapi bersih, menatap Nayla ramah.
Matanya yang teduh, mata yang sama seperti dulu, mata yang tidak pernah berubah meskipun waktu terus berjalan, menatap Nayla dengan hangat.
"Senang akhirnya ketemu."
Ia tersenyum.
Senyum yang ramah.
Senyum yang tulus.
Senyum yang mengatakan aku sudah mendengar banyak tentangmu dari teman, teman, dan aku senang akhirnya bisa bertemu langsung.
"Dari cerita mereka, saya kira Mbak Nayla ini tokoh legenda."
Nayla tersenyum.
Senyum yang masih malu, malu, masih belum percaya diri, tetapi tulus.
"Kenapa legenda?"
Sahrul menjawab cepat, terlalu cepat, seperti orang yang sudah tidak sabar untuk mengatakan sesuatu yang sudah lama ia pendam.
"Karena Iskandar yang biasanya susah dicari… sekarang lebih mudah dicari kalau ada kamu."
Nayla menoleh ke Iskandar.
Alisnya terangkat sedikit, satu alis naik, yang lain tetap di tempatnya.
Ekspresi yang mengatakan oh, jadi selama ini kamu susah dicari? dan aku membuatmu lebih mudah dicari? dan aku tidak tahu apakah itu pujian atau sindiran.
Iskandar menghela napas.
Helaan napas yang panjang, yang berat, yang keluar dari dadanya seperti angin dari gua yang dalam.
Napas yang mengatakan saya punya teman terlalu banyak. Terlalu banyak. Dan mereka semua tidak tahu kapan harus diam.
"Saya punya teman terlalu banyak."
Ridwan menyeruput kopinya, kopi hitam pekat tanpa gula, yang pahitnya bisa membuat orang yang tidak terbiasa meringis, yang sudah dingin karena terlalu lama tidak diminum, lalu menambahkan dengan suara datar yang tidak pernah berubah.
"Dan terlalu jujur."
Di tengah tawa, di tengah kegaduhan yang diciptakan oleh sahabat, sahabat yang terlalu bersemangat, di tengah suara sendok dan piring yang beradu, di tengah aroma sate dan jagung bakar dan kopi hitam, Edo tiba, tiba berdiri.
Tubuhnya yang tambun itu terangkat dari kursi plastik yang berderit protes karena tiba, tiba kehilangan beban.
"Baik."
Semua orang menoleh.
"Karena suasana terlalu haru… saya punya permainan."
Sahrul langsung menghela napas.
Helaan napas yang panjang, yang dramatis, yang seperti seorang aktor dalam sinetron yang sedang dirundung masalah.
"Kenapa saya sudah takut?"
Edo mengangkat tangan, tangannya yang gemuk dengan jari, jari yang pendek, dengan kuku yang dipotong pendek, dengan bekas, bekas oli motor yang tidak bisa hilang meskipun sudah dicuci berkali, kali.
"Setiap orang harus menyebut satu kesan pertama tentang orang di sebelahnya."
Anggun langsung menggeleng.
Gelengan yang cepat, yang tegas, yang mengatakan tidak, tidak, tidak, aku tidak mau ikut permainan konyol ini.
"Jangan."
"Terlambat."
Edo menunjuk Nayla.
Jari telunjuknya yang gemuk, jari yang ujungnya sedikit menghitam karena sering terkena oli motor, jari yang tidak pernah bisa diam, jari yang selalu menunjuk, nunjuk ketika ia sedang berbicara, mengarah tepat ke arah Nayla.
"Dimulai dari Nayla."
Nayla tertawa kaget.
Tawa yang keluar dari mulutnya tanpa direncanakan, tanpa dikendalikan, tanpa diundang.
Tawa yang membuat matanya berbinar.
Tawa yang membuat pipinya merona.
"Saya?"
Edo mengangguk mantap.
Anggukan yang mengatakan kamu, kamu, kamu. Siapa lagi? Kamu orang baru di sini. Kamu tamu kehormatan. Kamu pusat perhatian. Jadi ya, kamu yang pertama.
"Kesan pertama tentang Iskandar."
Semua langsung diam.
Bahkan angin sungai seperti ikut menunggu.
Bahkan air sungai seperti ikut berhenti mengalir.
Bahkan lampu, lampu di seberang seperti ikut redup, menahan cahaya mereka untuk tidak mengganggu.
Iskandar menoleh ke Edo dengan mata yang menyipit, dengan bibir yang mengerucut, dengan rahang yang mengeras.
"Edo, saya bisa dorong kamu ke sungai."
"Jawab dulu."
Nayla menatap Iskandar sebentar.
Matanya bergerak dari dahi Iskandar yang sedikit berkerut, kerutan yang muncul karena kekesalan pada Edo, ke matanya yang teduh, mata yang sejak pertama kali ia lihat membuatnya merasa aman, ke hidungnya yang mancung, ke bibirnya yang tipis, ke dagunya yang sedikit runcing.
Lalu ia tersenyum kecil.
Senyum yang lembut.
Senyum yang hangat.
Senyum yang mengatakan aku sudah memikirkan jawaban ini sejak lama, aku hanya tidak punya kesempatan untuk mengatakannya.
"Kesan pertama saya…"
Ia berhenti.
Jeda yang dramatis.
Jeda yang sengaja dibuat untuk meningkatkan ketegangan.
Jeda yang membuat semua orang di meja itu menahan napas.
Mata semua orang membesar.
Telinga semua orang terjulur.
Mulut semua orang terbuka setengah.
Edo bahkan sampai menahan napas, sesuatu yang sangat langka, karena Edo tidak pernah menahan napas, Edo selalu bernapas dengan keras dan berisik seperti kuda yang kelelahan.
Nayla melanjutkan pelan, dengan suara yang lembut, dengan suara yang hanya cukup untuk didengar oleh orang, orang yang duduk di sekitarnya.
"Dia terlihat seperti orang yang pendiam."
Semua mengangguk.
Benar.
Iskandar memang pendiam.
"Tapi ternyata…"
Nayla tersenyum.
Senyum yang lebih lebar dari sebelumnya.
Senyum yang memperlihatkan sedikit giginya yang putih dan rapi.
"hatinya berisik."
Semua langsung heboh.
"WOOOOOO!"
Edo hampir menjatuhkan kursi, kursi plastik biru yang sudah retak di bagian dudukan, yang kakinya tidak rata sehingga sedikit goyang, karena terlalu bersemangat.
Rara menutup wajah sambil tertawa, kedua telapak tangannya menutupi pipinya yang merona, tetapi tawanya tetap terdengar, tawanya tetap keluar, tawanya tetap tidak bisa disembunyikan.
Anggun memukul meja, meja kayu yang sudah mulai lapuk, yang permukaannya penuh dengan bekas gelas dan piring, dengan telapak tangannya, membuat gelas, gelas plastik di atasnya bergetar dan hampir tumpah.
Sahrul sampai batuk, batuk yang keras, yang mengganggu, yang membuat orang di sekitarnya menoleh—karena ia tersedak es teh yang baru saja ia minum.
Ridwan menatap langit, langit yang mulai gelap, yang mulai dipenuhi bintang, bintang yang malu, malu muncul, seolah menyerahkan semuanya pada takdir, seolah mengatakan ini sudah di luar kendaliku, aku hanya bisa pasrah.
Iskandar sendiri hanya diam.
Diam seperti patung.
Diam seperti batu.
Diam seperti sesuatu yang tidak bisa bergerak.
Tapi telinganya memerah.
Merah seperti tomat yang baru matang.
Merah seperti mawar yang mekar di musim semi.
Merah seperti api yang menyala di perapian.
Dan Nayla melihatnya.
Ia melihat bagaimana telinga Iskandar, yang biasanya tidak pernah berubah warna, yang biasanya tetap pucat meskipun dalam situasi apa pun, kini memerah.
Dan itu membuatnya tersenyum lebih lebar.
"Sekarang Iskandar!" teriak Edo, suaranya hampir memecahkan gendang telinga orang, orang di sekitarnya.
"Tidak mau."
"Wajib."
"Tidak."
"Kalau tidak jawab, traktir."
Iskandar menatap tajam ke arah Edo.
Matanya menyipit.
Bibirnya mengerucut.
Rahangnya mengeras.
Tatapan yang biasanya membuat Edo mundur selangkah.
Tapi Edo tidak mundur.
Edo malah tersenyum lebar.
Karena Edo tahu, Iskandar tidak akan pernah benar, benar marah padanya.
Mereka sudah bersahabat sejak SD. Mereka sudah melalui banyak hal bersama. Mereka sudah saling mengenal lebih baik daripada saudara kandung.
Lalu Iskandar menyerah.
Ia menghela napas, helaan napas yang kesekian kalinya malam itu, helaan napas yang keluar dari dadanya seperti angin dari gua yang dalam, helaan napas yang mengatakan baiklah, aku kalah, aku akan menjawab, tapi jangan harap aku akan traktir.
Ia menoleh pada Nayla.
Untuk beberapa detik, senja di KP3 terasa sunyi.
Sunyi seperti di dalam gereja setelah kebaktian usai.
Sunyi seperti di dalam perpustakaan ketika semua orang sedang membaca.
Sunyi seperti di dalam hati ketika sedang merenung.
Bahkan Edo tidak bernapas.
Bahkan Ridwan berhenti menyeruput kopinya.
Bahkan Anggun berhenti memukul meja.
Bahkan Rara berhenti tertawa.
Bahkan Sahrul berhenti batuk.
Bahkan Lukman, yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya, mengangkat wajah dan menatap.
Lalu Iskandar berkata pelan, dengan suara yang tidak tinggi tidak rendah, dengan suara yang keluar dari hati, dengan suara yang jujur.
"Kesan pertama saya…"
Ia tersenyum tipis.
Senyum yang lembut.
Senyum yang hangat.
Senyum yang mengatakan aku tidak tahu bagaimana mengatakannya dengan kata, kata, jadi aku akan mengatakannya dengan cara yang paling sederhana.
"Dia terlihat kuat."
Semua diam.
"Padahal ternyata…"
Ia berhenti sejenak.
Matanya menatap Nayla.
Nayla yang duduk di sampingnya dengan mata yang masih sembab, dengan wajah yang masih pucat, dengan tubuh yang masih rapuh.
Nayla yang pagi ini menangis di pangkuan ibunya.
Nayla yang menceritakan rahasia yang selama ia pendam.
Nayla yang mengatakan kadang saya merasa mungkin semua memang salah saya.
"dia cuma terlalu lama sendirian."
Suasana mendadak berubah.
Kali ini tak ada yang bercanda.
Kali ini tak ada yang tertawa.
Kali ini tak ada yang berteriak "WOOOOOO!"
Karena kalimat itu terlalu jujur.
Karena kalimat itu terlalu dalam.
Karena kalimat itu terlalu dekat dengan kebenaran.
Dan Nayla menatap Iskandar dengan mata yang perlahan basah.
Basah bukan karena sedih.
Basah bukan karena takut.
Basah bukan karena kecewa.
Tapi basah karena haru.
Haru karena seseorang melihatnya.
Bukan hanya melihat fisiknya.
Bukan hanya melihat senyumnya.
Bukan hanya melihat pakaiannya.
Tapi melihat hatinya.
Melihat bahwa ia terlihat kuat, tetapi sebenarnya rapuh.
Melihat bahwa ia tersenyum, tetapi sebenarnya menangis.
Melihat bahwa ia bertahan, tetapi sebenarnya lelah.
Edo langsung berdiri.
Kursi plastik biru yang retak di bagian dudukan itu hampir jatuh lagi, hampir, tetapi tidak jadi, karena Edo bergerak terlalu cepat.
"Oke saya salah. Kita tidak butuh permainan lagi. Kita butuh tisu."
Semua tertawa.
Termasuk Nayla.
Termasuk Iskandar.
Termasuk Ridwan yang biasanya tidak pernah tertawa.
Termasuk Rara yang sudah sejak tadi tertawa.
Termasuk Anggun yang tawanya paling keras.
Termasuk Sahrul yang batuk, batuk di sela tawa.
Termasuk Lukman yang tertawa meskipun tidak sepenuhnya mengerti apa yang sedang terjadi.
Dan untuk pertama kalinya sejak semuanya dimulai, sejak Aldebar muncul, sejak mobil hitam itu berhenti di seberang jalan, sejak rahasia, rahasia itu terbuka, sejak air mata itu jatuh, tawa Nayla terdengar utuh.
Utuh seperti tidak ada yang pecah.
Utuh seperti tidak ada yang hilang.
Utuh seperti tidak ada yang terluka.
Bukan sekadar sopan.
Bukan sekadar menutupi luka.
Bukan sekadar memenuhi ekspektasi sosial.
Tapi tawa seseorang yang mulai merasa aman.
Tawa seseorang yang mulai percaya bahwa ia tidak sendirian.
Tawa seseorang yang mulai berani untuk bahagia lagi.
Namun di tengah suasana hangat itu, di tengah tawa yang masih bergema, di tengah aroma sate dan jagung bakar dan kopi hitam yang masih menguar, di tengah lampu, lampu dermaga yang masih menyala, Ridwan yang sejak tadi diam mendadak menatap ke arah parkiran dermaga.
Wajahnya yang biasanya datar, yang seperti topeng kayu yang tidak bisa menunjukkan emosi, yang tidak pernah berubah meskipun dalam situasi apa pun, kini berubah.
Berubah menjadi tegang.
Tegang seperti tali yang ditarik terlalu kencang.
Tegang seperti karet gelang yang diregangkan hingga batas maksimal.
Tegang seperti sesuatu yang siap meledak kapan saja.
"Is."
Iskandar menoleh.
"Apa?"
Ridwan tidak langsung menjawab.
Ia hanya menatap ke arah sebuah mobil hitam yang baru saja berhenti di ujung dermaga.
Mobil yang terasa terlalu familiar.
Mobil yang kacanya gelap.
Mobil yang mesinnya masih menyala.
Mobil yang modelnya sama.
Mobil yang warnanya sama.
Mobil yang plat nomornya mungkin sama.
Mobil yang seharusnya sudah pergi.
Mobil yang seharusnya tidak kembali.
Tapi mobil itu kembali.
Dan saat Iskandar mengikuti arah pandangannya, saat matanya menangkap bayangan mobil hitam yang terparkir di tempat yang sama seperti kemarin, di tempat yang sama seperti di Pasar Melati, di tempat yang sama seperti di mana pun Nayla pergi, dadanya langsung menegang.
Menegang seperti tali yang ditarik terlalu kencang.
Menegang seperti karet gelang yang diregangkan hingga batas maksimal.
Menegang seperti sesuatu yang siap meledak kapan saja.
Karena di tengah senja indah Dermaga KP3, di tengah tawa dan kebahagiaan yang baru saja mulai tumbuh, di tengah harapan yang baru saja mulai bersemi, di tengah cinta yang baru saja mulai berkembang, masa lalu itu ternyata belum benar, benar pergi.
Masa lalu itu masih ada.
Masih mengikuti.
Masih mengintai.
Masih menunggu.
Dan tidak akan pernah pergi sampai semuanya benar, benar selesai.
BAB 25
Bayangan di Ujung Senja
Tawa yang tadi memenuhi Dermaga KP3, tawa yang hangat, tawa yang menyembuhkan, tawa yang membuat luka, luka lama terasa sedikit lebih ringan, perlahan meredup.
Seperti api unggun yang mulai kehabisan kayu bakar, nyala apinya mengecil, warnanya berubah dari jingga terang menjadi merah redup, lalu menjadi bara yang masih panas tetapi tidak lagi menyala. Seperti ombak yang surut setelah menerjang pantai, suaranya menjadi semakin pelan, semakin jauh, semakin tidak terdengar. Seperti euforia yang perlahan digantikan oleh kesadaran bahwa dunia tidak selalu indah, bahwa kebahagiaan seringkali hanya sementara, bahwa di balik setiap senyum, ada luka yang menunggu untuk terbuka kembali.
Suara gelas, gelas plastik yang beradu masih terdengar dari warung, warung di sekitar, suara krek, krek ketika dua gelas bersentuhan, suara ples ketika es batu jatuh ke dalam gelas kosong, suara ssst ketika sedotan menembus plastik penutup.
Aroma kopi dari warung kopi di ujung dermaga masih tercium, aroma kopi hitam pekat yang diseduh dengan air panas, yang menguarkan kepahitan yang justru membuat orang yang menciumnya merasa tenang, merasa bahwa ada hal, hal yang pahit dalam hidup ini, tetapi pahit tidak selalu berarti buruk.
Musik pelan dari pengeras suara yang dipasang di tiang listrik masih terdengar, lagu, lagu pop lawas yang diputar dengan volume rendah, yang liriknya tentang cinta yang hilang, tentang kerinduan yang tidak sampai, tentang seseorang yang pergi dan tidak pernah kembali.
Lampu, lampu senja yang mulai menyala di sepanjang tepian sungai, lampu, lampu kecil berwarna kuning yang diletakkan di sepanjang pagar besi dermaga, yang memantul di permukaan air yang mulai gelap, yang menciptakan ilusi bahwa sungai itu sendiri sedang tersenyum, sedang bahagia, sedang tidak peduli dengan drama manusia yang sedang berlangsung di tepiannya.
Semua masih sama.
Suasana masih ramai. Pengunjung masih berlalu, lalang. Pedagang masih sibuk melayani pembeli. Anak, anak masih berlarian. Pasangan muda masih duduk berdua di bangku, bangku kayu.
Namun suasana di meja mereka, di meja kayu bulat yang sudah mengelupas vernisnya, dengan kursi, kursi plastik yang warnanya tidak ada yang sama, dengan taplak meja bermotif bunga, bunga yang sudah mulai pudar, berubah.
Berubah seperti warna langit yang tiba, tiba berubah dari biru menjadi kelabu. Berubah seperti suhu udara yang tiba, tiba turun beberapa derajat. Berubah seperti sesuatu yang indah yang tiba, tiba kehilangan keindahannya.
Saat sebuah mobil hitam berhenti di ujung area parkir dermaga.
Bukan di tempat parkir yang jauh. Bukan di seberang jalan. Tapi di sini, di Dermaga KP3, di area parkir yang sama dengan kendaraan pengunjung lain, di tempat yang mudah terlihat dari meja mereka, di tempat yang sengaja dipilih agar kehadirannya tidak bisa diabaikan.
Ridwan menatap lurus ke arah sana.
Raut wajahnya yang biasanya tenang, yang seperti danau yang tidak beriak, yang seperti patung batu yang tidak bisa digerakkan oleh badai, yang seperti sesuatu yang tidak pernah berubah meskipun dunia di sekitarnya hancur, kini berbeda.
Bukan berubah menjadi panik. Ridwan tidak mudah panik. Ridwan adalah tipe orang yang akan tetap tenang meskipun atap rumahnya terbakar, yang akan tetap santai meskipun ditodong pistol, yang akan tetap datar meskipun dunia kiamat.
Tapi raut wajahnya berbeda.
Ada ketegangan di sana.
Ada kewaspadaan.
Ada kesiapan untuk menghadapi sesuatu yang buruk.
Seperti seorang satpam yang melihat orang mencurigakan masuk ke area yang dijaganya. Seperti seorang detektif yang melihat petunjuk penting di tempat kejadian perkara. Seperti seorang prajurit yang melihat musuh mendekati posisinya.
"Is…"
Iskandar menoleh.
Ia melihat raut wajah Ridwan, wajah yang biasanya datar, yang biasanya tidak bisa dibaca, yang biasanya seperti buku tertutup, kini terbuka. Terbuka seperti jendela yang ingin memperlihatkan isi rumah. Terbuka seperti buku yang halamannya tidak bisa disembunyikan lagi.
Dan seketika ia tahu, bukan hanya Nayla yang mengenali mobil itu.
Ia juga mengenalinya.
Mobil hitam dengan kaca gelap.
Mobil yang sama.
Mobil yang tidak bisa ia lupakan meskipun ia hanya melihatnya beberapa kali.
Mobil yang warnanya hitam pekat seperti malam tanpa bulan.
Mobil yang kacanya gelap seperti rahasia yang tidak bisa ditembus.
Mobil yang mesinnya berbunyi dengan nada rendah seperti geraman singa yang marah.
Mobil yang plat nomornya tidak pernah ia baca, tetapi sudah ia hafal dari bentuk dan modelnya.
Mobil yang selalu muncul di tempat yang sama, pada waktu yang sama, di mana pun Nayla berada.
Mobil yang menjadi simbol dari masa lalu yang tidak mau pergi.
Mobil yang menjadi bayangan yang selalu mengikuti.
Nayla yang duduk di samping Iskandar, yang tadi tertawa lepas, yang tadi matanya berbinar, yang tadi untuk pertama kalinya dalam sekian lama merasa aman, perlahan menegang.
Tubuhnya yang tadi rileks, yang tadi bersandar santai di kursi plastik, yang tadi bahunya tidak tegang, yang tadi tangannya tidak gemetar, kini berubah.
Berubah menjadi kaku.
Kaku seperti patung lilin di museum.
Kaku seperti batu di dasar sungai yang tidak pernah bergerak.
Kaku seperti sesuatu yang tidak bisa bergerak karena takut.
Jari, jarinya yang tadi dengan santai memegang gelas es the, gelas plastik bening dengan es batu yang sudah mulai mencair, dengan sedotan warna merah yang sudah agak penyok karena digigit, dengan sisa teh manis di dasarnya, kini menggenggam erat ujung kursi.
Bukan gelas.
Tapi ujung kursi.
Kursi plastik biru yang sudah retak di bagian dudukan, yang kakinya tidak rata sehingga sedikit goyang, yang warnanya sudah pudar karena terlalu sering terkena sinar matahari dan air hujan.
Buku, buku jarinya yang ramping itu memutih karena tekanan.
Kuku, kukunya yang pendek menusuk plastik kursi, meninggalkan bekas, bekas setengah lingkaran yang kecil.
Napasnya tertahan.
Napas yang tadi keluar masuk dengan tenang, dengan ritme yang teratur, dengan suara yang pelan, dengan perasaan yang damai, kini terhenti di tenggorokan.
Seperti tersumbat oleh sesuatu yang tidak bisa ia identifikasi.
Seperti ada tangan tak terlihat yang mencekik lehernya.
Seperti udara tiba, tiba menjadi terlalu tipis untuk dihirup.
Wajahnya perlahan pucat.
Pucat seperti kertas.
Pucat seperti kapur tulis.
Pucat seperti sesuatu yang baru saja melihat hantu.
Bukan pucat karena kurang tidur, ia sudah kurang tidur semalam, matanya sudah sembab sejak pagi, wajahnya sudah pucat sejak Aldebar datang ke rumahnya.
Bukan pucat karena sakit, ia tidak sakit, secara fisik ia sehat, suhu tubuhnya normal, tekanan darahnya normal, detak jantungnya mungkin sedikit lebih cepat dari biasanya, tapi itu karena ketakutan, bukan karena penyakit.
Tapi pucat karena mobil itu.
Karena mobil hitam yang sama.
Karena mobil hitam yang seharusnya sudah pergi.
Karena mobil hitam yang seharusnya tidak kembali.
Karena mobil hitam yang seharusnya memberi mereka ruang untuk bernapas, memberi mereka waktu untuk memulihkan diri, memberi mereka kesempatan untuk melupakan.
Tapi mobil itu kembali.
Kembali seperti mimpi buruk yang tidak mau berakhir.
Kembali seperti bayangan yang tidak bisa diusir.
Kembali seperti masa lalu yang tidak pernah benar, benar pergi.
Ibunya mungkin tidak ada di sana.
Ibunya masih di rumah, mungkin sedang membereskan dapur setelah makan malam, mungkin sedang menonton televisi sambil menunggu putrinya pulang, mungkin sedang berdoa agar putrinya baik, baik saja.
Ayahnya juga tidak ikut.
Ayahnya masih di rumah, mungkin sedang membaca koran di kursi kesayangannya, mungkin sedang berbicara dengan tetangga di teras depan, mungkin sedang memikirkan bagaimana cara terbaik untuk melindungi putrinya dari laki, laki yang telah membuatnya menangis.
Namun ketakutan yang tadi pagi masih terasa, ketakutan yang menusuk seperti pisau, ketakutan yang mencekik seperti ular, ketakutan yang membuatnya ingin berlari tetapi kakinya tidak bisa bergerak, langsung kembali.
Kembali dalam hitungan detik.
Kembali seperti gelombang tsunami yang menghantam pantai.
Kembali seperti sesuatu yang tidak bisa ia hindari meskipun ia sudah berusaha sekuat tenaga.
"Nayla."
Suara Iskandar pelan.
Lembut.
Tidak menekan.
Tapi Nayla tidak menjawab.
Matanya tidak bergerak dari mobil itu.
Matanya terpaku.
Terpaku seperti seseorang yang sedang melihat ular kobra yang siap mematuk.
Terpaku seperti seseorang yang sedang melihat kecelakaan di depan matanya.
Terpaku seperti seseorang yang sedang melihat mimpi terburuknya menjadi kenyataan.
Karena dari kejauhan, dari balik kaca gelap yang tidak bisa ditembus oleh mata telanjang, dari balik dinding kaca yang sengaja dibuat agar tidak ada yang bisa melihat ke dalam, pintu mobil itu mulai terbuka.
Pintu mobil hitam yang berat, yang bahannya tebal, yang dirancang untuk meredam suara dari luar, yang sekarang terbuka dengan suara thud yang pelan tetapi tegas.
Terdengar dari jarak puluhan meter.
Terdengar meskipun di antara mereka ada suara tawa pengunjung lain, suara musik dari warung kopi, suara mesin perahu yang melintas di sungai.
Seperti suara itu sengaja dibuat keras. Seperti suara itu sengaja ingin didengar. Seperti suara itu sengaja menjadi peringatan bahwa ia datang, bahwa ia tidak akan pergi, bahwa ia akan terus datang sampai semuanya selesai.
Dan Aldebar turun perlahan.
Masih dengan wajah yang sama.
Masih dengan kemeja hitam yang sama, kemeja lengan panjang yang digulung hingga siku, yang kancing atasnya dibiarkan terbuka memperlihatkan sedikit dada yang bidang, yang terlihat rapi meskipun hari sudah sore dan ia mungkin sudah seharian berada di dalam mobil.
Masih dengan tatapan yang sama.
Tatapan yang dingin.
Tatapan yang tajam.
Tatapan yang seperti pisau.
Tatapan yang seperti silet.
Tatapan yang mengatakan aku belum selesai denganmu. Aku belum menyerah. Aku akan kembali sampai kamu mendengarkanku.
Namun kali ini, ada sesuatu yang jauh lebih dingin.
Bukan dingin seperti es di kutub utara.
Bukan dingin seperti ruang mayat di rumah sakit.
Tapi dingin seperti sesuatu yang sudah mati.
Dingin seperti hati yang tidak bisa lagi dihangatkan.
Dingin seperti seseorang yang sudah tidak peduli lagi dengan konsekuensi.
Edo yang tadinya memegang tusuk sate, tusuk bambu yang runcing di ujungnya, dengan sisa, sisa daging ayam yang masih menempel, dengan bumbu kacang yang mengering di permukaannya, menoleh ke arah mobil.
Matanya yang tadinya ceria, yang tadinya penuh dengan candaan, yang tadinya berbinar karena berhasil membuat Nayla tertawa, kini berubah.
Berubah menjadi serius.
Serius seperti orang yang sedang melihat bahaya.
Serius seperti orang yang sedang mempersiapkan diri untuk bertarung.
Serius seperti orang yang tahu bahwa ini bukan lagi waktu untuk bercanda.
Lalu ia berbisik, dengan suara yang pelan, dengan suara yang hanya cukup untuk didengar oleh Sahrul yang duduk di sampingnya.
"Wah. Ini bukan drama. Ini sudah season dua."
Anggun langsung menyikutnya.
Sikutannya keras, menusuk, seperti sikut seorang kakak yang sedang marah pada adiknya yang tidak bisa membaca situasi.
"Diam."
"Tapi benar."
"Edo."
"Baik. Saya diam."
Ia berhenti sejenak.
Matanya masih tertuju pada Aldebar yang berjalan pelan menuju arah mereka.
"Tapi lapar."
Rara menutup wajah menahan tawa gugup, tawa yang keluar bukan karena sesuatu yang lucu, tetapi karena ketegangan yang terlalu tinggi, karena saraf yang terlalu tegang, karena tubuh yang tidak tahu harus bereaksi apa selain tertawa.
Bahkan di tengah situasi seperti itu, Edo tetap berhasil terdengar tidak masuk akal.
Dan justru itu, sedikit menahan kepanikan yang mulai tumbuh di dada setiap orang di meja itu.
Sedikit.
Hanya sedikit.
Seperti plester kecil di luka besar.
Seperti setetes air di tengah gurun pasir.
Seperti seberkas cahaya di tengah kegelapan.
Aldebar berjalan pelan menuju mereka.
Langkahnya tenang.
Tidak tergesa, gesa.
Tidak seperti orang yang sedang buru, buru.
Tidak seperti orang yang takut kehilangan.
Tidak seperti orang yang ingin segera menyelesaikan sesuatu.
Langkahnya seperti orang yang yakin bahwa ia berhak berada di sini. Seperti orang yang yakin bahwa tidak ada yang bisa menghentikannya. Seperti orang yang yakin bahwa pada akhirnya, ia akan mendapatkan apa yang ia inginkan.
Tidak kasar.
Tidak ada gerakan yang tiba, tiba.
Tidak ada tangan yang mengepal.
Tidak ada rahang yang mengeras.
Tidak ada tanda, tanda fisik bahwa ia sedang marah atau kesal atau frustrasi.
Tapi justru itu yang membuat suasana terasa lebih tidak nyaman.
Karena beberapa orang tidak perlu meninggikan suara untuk membuat orang lain takut. Beberapa orang tidak perlu mengancam dengan kata, kata untuk membuat orang lain merasa terintimidasi. Beberapa orang tidak perlu menunjukkan kekerasan untuk membuat orang lain merasa tidak aman.
Mereka cukup datang.
Dengan tenang.
Dengan percaya diri.
Dengan keyakinan bahwa mereka berhak.
Dan seluruh ruang langsung berubah.
Seperti ada yang menekan tombol di remote kontrol, mengubah channel dari komedi menjadi horor. Seperti ada yang menarik saklar, mematikan lampu di ruangan yang terang, menyalakan lampu merah yang berkedip, kedip. Seperti ada yang mengubah frekuensi, mengubah suara tawa menjadi suara tangis, mengubah kebahagiaan menjadi ketakutan.
"Astaga…"
Sahrul berbisik.
Bisikannya pelan, hampir tidak terdengar, seperti udara yang keluar dari balon yang bocor.
"Dia nyari lokasi pakai radar ya?"
Ridwan tanpa menoleh menjawab, dengan suara datar yang tidak pernah berubah, dengan intonasi yang tidak naik turun, dengan ekspresi yang tidak berubah.
"Atau dari tadi memang mengikuti."
Kalimat itu membuat Iskandar menegang.
Menegang seperti tali yang ditarik terlalu kencang.
Menegang seperti karet gelang yang diregangkan hingga batas maksimal.
Menegang seperti sesuatu yang siap meledak kapan saja.
Dari tadi memang mengikuti.
Artinya: Aldebar tidak pernah pergi. Ia hanya mundur. Ia hanya memberi jarak. Ia hanya memberi mereka ilusi bahwa mereka aman. Tapi ia selalu di belakang mereka. Mengikuti setiap langkah. Melihat setiap gerakan. Mendengar setiap tawa. Menyaksikan setiap kebahagiaan.
Dan sekarang, ketika mereka mulai merasa aman, ketika tawa mulai keluar dari mulut Nayla, ketika senyum mulai muncul di wajah Nayla, ketika kebahagiaan mulai tumbuh di hati Nayla, ia muncul.
Seperti predator yang menunggu mangsanya lengah.
Seperti badai yang menunggu kapal berlayar.
Seperti sesuatu yang kejam dan tidak pernah memberikan ampun.
Nayla langsung menunduk.
Rambutnya yang masih terurai, yang tidak diikat, yang tidak disisir rapi, yang dibiarkan seperti apa adanya, menutupi wajahnya, seperti tirai yang memisahkan dirinya dari dunia luar, seperti dinding yang melindunginya dari tatapan, tatapan yang ingin menembus ke dalam hatinya.
Karena jauh di dalam dirinya, ia tahu: itu mungkin benar.
Aldebar mungkin memang mengikuti mereka.
Dari rumahnya ke Pasar Melati. Dari Pasar Melati ke City Mall. Dari City Mall ke warung kopi di Jalan A. Yani. Dari warung kopi ke Dermaga KP3.
Di mana pun mereka pergi, ia ada di belakang mereka.
Mengikuti.
Mengawasi.
Menunggu.
Dan Nayla tidak tahu kapan ini akan berakhir. Tidak tahu apakah ini akan berakhir. Tidak tahu apakah Aldebar akan berhenti. Tidak tahu apakah ia akan selamanya hidup dalam ketakutan seperti ini.
Aldebar berhenti beberapa langkah dari meja.
Jarak yang cukup untuk berbicara tanpa berteriak.
Jarak yang cukup untuk melihat wajah satu sama lain dengan jelas.
Jarak yang cukup untuk merasa bahwa ia dekat, tetapi tidak terlalu dekat.
Jarak yang cukup untuk membuat orang yang melihatnya merasa tidak nyaman, tetapi tidak cukup untuk membuat mereka berlari.
Tatapannya pertama kali bukan ke Iskandar.
Bukan ke Ridwan yang menatapnya dengan mata waspada.
Bukan ke Edo yang masih memegang tusuk sate dengan tangan yang berhenti di udara.
Bukan ke Anggun yang tangannya sudah siap memukul meja lagi.
Bukan ke Rara yang matanya menyipit seperti sedang membaca sesuatu.
Bukan ke Sahrul yang berhenti batuk.
Bukan ke Lukman yang diam membeku di kursinya.
Tapi ke Nayla.
Seolah orang lain di sana tidak benar, benar penting.
Seolah Iskandar tidak ada.
Seolah sahabat, sahabat Iskandar tidak ada.
Seolah dunia hanya terdiri dari dirinya dan Nayla.
"Nayla."
Hanya satu nama.
Tiga suku kata.
Na, y, la.
Tiga suku kata yang dulu membuat Nayla tersenyum hanya dengan mendengarnya. Tiga suku kata yang dulu membuat jantungnya berdetak lebih cepat karena alasan yang berbeda. Tiga suka kata yang dulu ia ucapkan dengan penuh kasih, dengan penuh harap, dengan penuh mimpi tentang masa depan bersama.
Tiga suku kata yang dulu adalah mantra kebahagiaan.
Tiga suku kata yang sekarang adalah mantra ketakutan.
Tiga suku kata yang membuat Nayla ingin menutup telinga dan tidak pernah mendengar lagi.
Tiga suku kata yang membuat udara di sekitar mereka terasa berat.
Berat seperti beban yang tidak bisa diangkat.
Berat seperti udara sebelum badai.
Berat seperti sesuatu yang akan meledak kapan saja.
"Kalau mau bicara," kata Iskandar tenang, dengan suara yang tidak tinggi tidak rendah, dengan suara yang sengaja dibuat agar tidak terprovokasi, dengan suara yang keluar dari hati tetapi dikendalikan oleh akal.
"jangan di sini."
Aldebar akhirnya menoleh.
Tatapan dua laki, laki itu bertemu untuk kedua kalinya.
Pertama kali di toko buku dekat STAI, ketika Aldebar baru saja turun dari mobil dan Iskandar berdiri di samping Nayla dengan tangan terkepal di samping tubuh.
Pertama kali, Iskandar masih waspada, masih belum tahu siapa Aldebar, masih belum tahu seberapa berbahaya pria ini.
Kali ini, Iskandar sudah tahu.
Sudah tahu bahwa Aldebar adalah tunangan Nayla.
Sudah tahu bahwa Nayla pernah mengandung anak Aldebar.
Sudah tahu bahwa Nayla kehilangan anak itu.
Sudah tahu bahwa Aldebar menggunakan rasa bersalah untuk menahan Nayla tetap tinggal.
Sudah tahu bahwa Aldebar adalah luka yang belum sembuh.
Dan karena tahu, ia tidak lagi hanya waspada.
Ia siap.
Siap untuk apa pun.
Namun kali ini berbeda.
Pagi tadi mereka berada di rumah Nayla. Di bawah aturan keluarga. Di ruang yang masih tertahan oleh sopan santun, oleh hormat pada orang tua, oleh batasan, batasan yang tidak bisa dilanggar.
Ayah Nayla ada di sana. Ibu Nayla ada di sana. Iskandar tidak bisa bicara sebebas yang ia inginkan karena ia harus menjaga sopan santun, karena ia harus menghormati orang tua Nayla, karena ia tidak ingin memberikan kesan buruk.
Sekarang mereka berdiri di ruang terbuka.
Dermaga KP3.
Tempat umum.
Tidak ada orang tua Nayla.
Tidak ada aturan sopan santun yang mengikat.
Hanya dia, Aldebar, Nayla, dan sahabat, sahabatnya yang siap membantunya jika diperlukan.
Dan senja di dermaga yang indah yang tadi terasa seperti pelukan hangat, yang tadi terasa seperti rumah, yang tadi terasa seperti tempat di mana luka bisa sembuh, tiba, tiba terasa seperti tempat yang terlalu sempit untuk dua hati yang saling bertahan.
Terlalu sempit untuk cinta dan kebencian.
Terlalu sempit untuk masa lalu dan masa depan.
Terlalu sempit untuk Aldebar dan Iskandar.
Aldebar tersenyum tipis.
Senyum yang tidak sampai ke mata.
Senyum yang seperti pisau yang digerakkan perlahan di atas kulit, tidak melukai tetapi membuat bulu kuduk merinding.
"Kamu cepat sekali. Baru sehari sudah jadi penjaga."
Edo pelan, pelan berbisik pada Sahrul, bisikan yang sengaja dibuat keras agar semua orang mendengar, bisikan yang volumenya sama dengan volume bicara normal, bisikan yang menunjukkan bahwa ia tidak takut pada Aldebar, bahwa ia akan tetap menjadi dirinya sendiri meskipun dalam situasi apa pun.
"Kalimatnya bagus. Tapi menyeramkan."
Sahrul menjawab dengan bisikan yang juga keras, yang juga sengaja dibuat agar didengar oleh semua orang, yang menunjukkan solidaritas pada Edo bahwa mereka berdua tidak takut.
"Sekali, kali mulutmu benar."
Edo terharu.
Matanya berbinar.
Bibirnya bergetar.
Tangannya memegang dada.
"Akhirnya saya dihargai."
Anggun menatap keduanya bergantian, matanya bergerak dari Edo ke Sahrul, dari Sahrul ke Edo, seperti sedang menonton pertandingan tenis yang tidak penting, dengan ekspresi setengah kesal setengah geli.
"Kalian bisa serius satu menit?"
"Tidak."
Jawab mereka bersamaan, tanpa jeda, tanpa koordinasi, seperti kembar yang sudah latihan sejak dalam kandungan.
Nayla yang tegang, yang tadi hampir pingsan karena ketakutan, yang tadi tubuhnya membeku seperti patung, yang tadi matanya terpaku pada mobil hitam, justru hampir tertawa karena itu.
Hampir.
Tapi tidak jadi.
Karena matanya bertemu dengan mata Aldebar.
Dan Aldebar melihat semuanya.
Ia melihat Nayla hampir tersenyum.
Ia melihat Nayla hampir tertawa.
Ia melihat sudut bibir Nayla terangkat sedikit.
Ia melihat mata Nayla yang tadinya kosong, kini berbinar sedikit.
Ia melihat bahwa di dekat Iskandar, di dekat laki, laki yang baru ia kenal beberapa hari, di dekat laki, laki yang tidak memiliki masa lalu dengannya, di dekat laki, laki yang tidak terluka olehnya, Nayla bisa menjadi dirinya sendiri.
Bisa tertawa.
Bisa tersenyum.
Bisa bahagia.
Dan itu, lebih menyakitkan daripada apa pun.
Lebih menyakitkan daripada penolakan.
Lebih menyakitkan daripada kebencian.
Lebih menyakitkan daripada amarah.
Karena itu berarti bahwa Nayla tidak pernah bahagia dengannya.
Bahwa selama ini, ketika ia mengira Nayla bahagia, Nayla hanya berpura, pura.
Bahwa selama ini, ketika ia mengira mereka sedang membangun masa depan bersama, Nayla sedang terperangkap.
Bahwa selama ini, ketika ia mengira ia mencintai Nayla dengan cara yang benar, ia justru menjadi sumber lukanya.
"Kamu terlihat bahagia."
Suara Aldebar pelan.
Pelannya tidak seperti bisikan. Pelannya seperti seseorang yang sedang berbicara pada dirinya sendiri. Pelannya seperti seseorang yang sedang merenung. Pelannya seperti seseorang yang sedang mencoba menerima kenyataan.
Nayla mengangkat wajah.
Matanya yang tadi tertunduk, yang tadi tidak berani menatap Aldebar, yang tadi lebih memilih melihat lantai dermaga yang terbuat dari kayu yang sudah mulai lapuk, kini terangkat.
Perlahan.
Satu per satu.
Seperti tirai yang dibuka perlahan untuk memperlihatkan pemandangan di baliknya.
Tatapan mereka bertemu.
Mata Aldebar yang tajam.
Mata Nayla yang basah.
Dan untuk pertama kalinya, Aldebar melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat selama berbulan, bulan terakhir, mungkin selama setahun terakhir, mungkin selama dua tahun terakhir, mungkin selama mereka bersama.
Cahaya kecil di mata Nayla.
Cahaya yang redup, seperti bintang di langit yang terhalang awan, seperti lilin yang hampir padam, seperti sesuatu yang hampir mati tetapi masih berusaha bertahan.
Tapi cahaya itu ada.
Cahaya itu nyata.
Cahaya itu bukan untuknya.
Cahaya itu untuk orang lain.
Untuk Iskandar.
Untuk laki, laki yang duduk di sampingnya dengan tubuh tegang dan mata waspada.
Untuk laki, laki yang tidak memiliki masa lalu dengannya.
Untuk laki, laki yang tidak terluka olehnya.
Untuk laki, laki yang membuat Nayla merasa aman.
"Nayla."
Suara Aldebar melembut.
Melembut seperti es yang mulai mencair di bawah sinar matahari.
Melembut seperti suara yang dulu, bertahun, tahun lalu, pernah membuat Nayla tersenyum hanya dengan menyebut namanya.
Melembut seperti seseorang yang sedang berusaha memohon, yang sedang berusaha menarik simpati, yang sedang berusaha membuat Nayla merasa bersalah.
"Kamu benar, benar mau seperti ini?"
Nayla menggenggam tangannya sendiri, bukan tangan Iskandar, bukan tangan ibunya, bukan tangan siapa pun, tapi tangannya sendiri.
Jari, jarinya yang ramping dan dingin itu saling menggenggam, seperti sedang berdoa, seperti sedang memohon kekuatan, seperti sedang berusaha menenangkan diri.
"Aldebar…"
"Jawab saya."
Nada suara itu, nada yang sedikit meninggi, nada yang sedikit memaksa, nada yang mengatakan aku tidak akan menerima penolakan, membuat Iskandar langsung berdiri.
Kursi plastik biru yang retak di bagian dudukan itu hampir jatuh karena gerakannya yang terlalu cepat. Hampir, tetapi tidak jadi. Kaki kursi itu bergeser di lantai kayu dermaga dengan suara kreek yang nyaring, memecah keheningan seperti pecahan kaca yang jatuh di lantai keramik.
Tapi Nayla lebih dulu berkata.
Dengan suara yang tidak keras.
Dengan suara yang tidak berteriak.
Dengan suara yang tidak seperti orang yang sedang marah.
Tapi tegas.
Tegas seperti pisau yang dipotongkan ke tali.
Tegas seperti pintu yang ditutup rapat.
Tegas seperti batas yang tidak bisa dilewati.
"Jangan bicara seperti itu lagi."
Aldebar terdiam.
Mulutnya yang tadi terbuka setengah, siap untuk melanjutkan kalimat, siap untuk memojokkan Nayla, siap untuk membuatnya merasa bersalah, kini tertutup.
Bibirnya yang tipis itu mengerucut.
Rahangnya yang tegas itu mengeras.
Matanya yang tajam itu berkedip.
Nayla menatapnya.
Matanya basah.
Matanya merah.
Matanya masih menyimpan sisa, sisa air mata dari pagi ini, dari semalam, dari semua malam sebelumnya.
Tapi tidak lagi serapuh kemarin.
Tidak lagi serapuh di Pasar Melati.
Tidak lagi serapuh di depan warung kopi.
Tidak lagi serapuh ketika ia memegang tangan Iskandar dan berbisik "jangan pergi".
"Saya sudah terlalu lama takut sama suara kamu."
Angin sungai berhembus pelan.
Lampu, lampu di atas air, lampu, lampu kecil berwarna kuning yang diletakkan di sepanjang pagar besi dermaga, yang memantul di permukaan air yang gelap, mulai menyala.
Satu per satu.
Seperti bintang, bintang yang muncul di langit yang gelap.
Seperti harapan, harapan yang mulai bersemi di hati yang hancur.
Seperti keberanian yang mulai tumbuh di dada yang penuh ketakutan.
Dan seluruh meja terdiam.
Bahkan Edo tidak bernapas.
Bahkan Ridwan berhenti menyeruput kopinya.
Bahkan Anggun berhenti memukul meja.
Bahkan Rara berhenti tersenyum misterius.
Bahkan Sahrul berhenti batuk.
Bahkan Lukman berhenti bergerak.
Karena untuk pertama kalinya, Nayla tidak menunduk.
Untuk pertama kalinya, Nayla tidak membiarkan Aldebar menguasai percakapan.
Untuk pertama kalinya, Nayla berbicara dengan suaranya sendiri, bukan suara yang dipaksakan untuk menyenangkan orang lain, bukan suara yang lemah karena takut, tapi suara yang keluar dari hati, suara yang mengatakan aku sudah cukup, aku tidak akan diam lagi, aku akan melawan.
Aldebar tertawa kecil.
Tawa tanpa hangat.
Tawa tanpa kegembiraan.
Tawa tanpa kelucuan.
Tawa yang pahit.
Tawa yang sakit.
Tawa yang mengatakan aku tidak percaya ini terjadi, aku tidak percaya kamu berubah, aku tidak percaya kamu berani bicara seperti itu padaku.
"Jadi sekarang kamu berani? Karena dia ada di samping kamu?"
Iskandar melangkah maju.
Satu langkah.
Hanya satu langkah.
Tidak banyak.
Tidak sampai meninggalkan meja.
Tapi cukup untuk membuat jarak di antara dia dan Aldebar menjadi lebih dekat.
Cukup untuk membuat Aldebar mengalihkan pandangannya dari Nayla ke Iskandar.
Cukup untuk membuat suasana semakin tegang.
"Cukup."
Aldebar menoleh.
Tatapannya tajam.
Tajam seperti pisau.
Tajam seperti silet.
Tajam seperti sesuatu yang siap melukai.
"Kamu mau ikut campur lagi?"
Iskandar tidak mundur.
Matanya tidak berkedip.
Wajahnya tidak berubah.
Suaranya tidak bergetar.
"Saya tidak suka lihat dia ketakutan."
Aldebar tersenyum miring.
Senyum yang tidak simetris.
Senyum yang seperti setengah tertawa, setengah marah.
Senyum yang mengatakan kamu pikir kamu bisa menjadi pahlawan?
"Dan kamu pikir kamu bisa menyelamatkan dia?"
"Tidak."
Jawaban Iskandar cepat.
Terlalu cepat.
Seperti air yang keluar dari bendungan yang jebol.
Seperti kata, kata yang keluar tanpa melalui proses berpikir.
Seperti sesuatu yang sudah ia pikirkan sejak lama, yang sudah ia persiapkan, yang sudah ia yakini.
Semua menoleh.
Edo sampai membuka mulutnya lebar, lebar, tusuk sate yang tadinya akan ia masukkan ke mulut, berhenti di udara, beberapa sentimeter dari bibirnya.
Ridwan mengangkat alis, sesuatu yang sangat langka, karena Ridwan tidak pernah mengangkat alis, Ridwan hampir tidak pernah menunjukkan ekspresi apa pun.
Rara menahan napas.
Anggun menggenggam tangan Nayla lebih erat.
Nayla menatap Iskandar dengan mata yang membesar, dengan mulut yang terbuka setengah, dengan jantung yang berdetak begitu kencang hingga ia bisa mendengarnya sendiri.
Iskandar melanjutkan, dengan suara yang tenang, dengan suara yang tidak tinggi tidak rendah, dengan suara yang keluar dari hati.
"Saya tidak sedang menyelamatkan dia. Saya cuma berdiri di tempat yang selama ini kosong."
Kalimat itu membuat suasana mendadak sunyi.
Sunyi seperti di dalam gereja setelah kebaktian usai.
Sunyi seperti di dalam perpustakaan ketika semua orang sedang membaca.
Sunyi seperti di dalam hati ketika sedang merenung.
Bahkan Edo sampai lupa makan.
Dan itu hampir mustahil.
Karena Edo tidak pernah lupa makan.
Edo bisa lupa nama pacarnya, bisa lupa janji dengan temannya, bisa lupa di mana ia memarkir motornya, tapi tidak pernah lupa makan.
Tapi kali ini, ia lupa.
Tusuk sate masih menggantung di tangannya, beberapa sentimeter dari bibirnya, tidak bergerak, tidak maju, tidak mundur.
Matanya terpaku pada Iskandar.
Mulutnya terbuka setengah.
Pikirannya kosong.
Karena kalimat Iskandar, saya cuma berdiri di tempat yang selama ini kosong, terlalu dalam untuk dicerna dengan cepat.
Terlalu jujur untuk diabaikan.
Terlalu berbahaya untuk dianggap remeh.
Aldebar menatap Iskandar cukup lama.
Matanya bergerak dari dahi Iskandar yang sedikit berkerut, kerutan yang muncul karena konsentrasi, karena ketegangan, karena kesiapan untuk menghadapi apa pun, ke matanya yang teduh, mata yang jujur, mata yang tidak berbohong, mata yang mengatakan aku tidak takut padamu, ke hidungnya yang mancung, ke bibirnya yang tipis, ke dagunya yang sedikit runcing.
Mencari kelemahan.
Mencari kebohongan.
Mencari sesuatu yang bisa ia gunakan untuk menghancurkan laki, laki di depannya.
Tapi ia tidak menemukannya.
Yang ia temukan justru sebaliknya.
Keteguhan.
Keteguhan yang tidak bisa digoyahkan oleh kata, kata.
Keteguhan yang lahir dari keyakinan bahwa ia melakukan hal yang benar.
Keteguhan yang membuat Aldebar sadar bahwa ia tidak akan bisa memisahkan Iskandar dari Nayla dengan mudah.
Lalu ia tertawa pelan.
Tawa yang lebih pelan dari sebelumnya.
Tawa yang lebih seperti desahan.
Tawa yang lebih seperti pengakuan kekalahan.
"Bagus. Sekarang saya mengerti."
Tatapannya bergeser ke Nayla.
Matanya yang tadi tajam, yang tadi seperti pisau, yang tadi mencari celah untuk menyerang, kini berubah. Berubah menjadi lembut. Lembut seperti dulu. Lembut seperti ketika mereka masih bersama. Lembut seperti ketika ia masih bisa membuat Nayla tersenyum hanya dengan menyebut namanya.
Tapi kelembutan itu tidak lagi membuat Nayla tersentuh.
Kelembutan itu sudah kehilangan maknanya.
Kelembutan itu terasa seperti pisau yang dibungkus sutra—tetap bisa melukai, meskipun tidak terlihat.
"Kamu bukan memilih dia. Kamu hanya memilih siapa pun yang membuatmu bisa lari dari saya."
Kalimat itu seperti pisau kecil.
Pisau yang kecil, tetapi tajam.
Pisau yang tidak terlihat, tetapi menusuk.
Pisau yang masuk ke dalam dada tanpa suara, tetapi meninggalkan luka yang dalam.
Nayla langsung pucat.
Lebih pucat dari sebelumnya.
Pucat seperti mayat.
Pucat seperti kertas yang sudah menguning.
Pucat seperti sesuatu yang baru sadar bahwa ketakutannya yang paling dalam mungkin benar.
Apakah aku benar, benar lari?
Apakah aku memilih Iskandar hanya karena aku ingin lari dari Aldebar?
Apakah perasaanku pada Iskandar tulus, atau hanya pelarian?
Pertanyaan, pertanyaan itu berputar di kepalanya seperti pusaran air yang tidak bisa dihentikan.
Berputar terus.
Berputar tanpa henti.
Berputar semakin kencang.
Karena di balik tuduhan itu, di balik kata, kata Aldebar yang sengaja dipilih untuk menyakitkan, untuk membuatnya ragu, untuk membuatnya merasa bersalah, ada bagian kecil dari dirinya yang diam, diam takut kalau kalimat itu benar.
Takut bahwa ia hanya menggunakan Iskandar.
Takut bahwa ia tidak benar, benar mencintai Iskandar.
Takut bahwa suatu hari nanti, ketika ia sudah benar, benar sembuh dari luka yang disebabkan Aldebar, ia akan sadar bahwa Iskandar hanyalah pelarian, dan ia akan pergi, dan Iskandar akan terluka, dan ia akan menjadi Aldebar versi lain.
"Nayla."
Suara Iskandar pelan.
Lembut.
Tidak menekan.
Seperti tangan yang terulur di tengah gelap.
Seperti bisikan yang mengatakan aku di sini, kamu tidak sendirian, aku tidak akan membiarkanmu tenggelam dalam keraguan.
Ia menoleh padanya.
Matanya yang basah, yang merah, yang masih menyimpan sisa, sisa air mata, menatap Iskandar.
Dan Iskandar hanya berkata satu kalimat.
Satu kalimat yang sederhana.
Satu kalimat yang tidak berlebihan.
Satu kalimat yang tidak dramatis.
Tapi satu kalimat yang membuat jantung Nayla berhenti sejenak.
"Lihat saya."
Nayla menatapnya.
Di tengah keramaian dermaga, di tengah suara tawa pengunjung lain, di tengah aroma sate dan jagung bakar dan kopi hitam, di tengah lampu, lampu yang memantul di permukaan air yang gelap, di tengah angin malam yang berhembus pelan, di tengah semua orang yang memperhatikan, Iskandar berkata sangat pelan, dengan suara yang hanya cukup untuk didengar oleh Nayla, dengan suara yang keluar dari hati.
"Kamu tidak sedang lari. Kamu sedang berani."
Air mata Nayla jatuh seketika.
Jatuh seperti hujan di musim penghujan.
Jatuh seperti air terjun yang tidak pernah berhenti.
Jatuh seperti sesuatu yang tidak bisa lagi ditahan.
Karena tidak ada seorang pun yang pernah mengatakan itu padanya sebelumnya.
Tidak ada seorang pun yang pernah melihat bahwa ia tidak sedang lari.
Tidak ada seorang pun yang pernah menyadari bahwa ia sedang berjuang.
Tidak ada seorang pun yang pernah mengakui bahwa ia berani.
Selama ini, semua orang melihatnya sebagai korban. Sebagai perempuan malang yang ditinggalkan. Sebagai tunangan yang membatalkan pernikahan. Sebagai seseorang yang lari dari masalah.
Tapi Iskandar melihatnya berbeda.
Iskandar melihat bahwa ia tidak sedang lari.
Ia sedang berani.
Berani untuk meninggalkan hubungan yang tidak sehat.
Berani untuk memulai hidup baru.
Berani untuk membuka hati lagi meskipun ia takut.
Berani untuk percaya bahwa ia pantas dicintai.
Dan itu, pengakuan bahwa ia berani, bahwa ia tidak lemah, bahwa ia tidak sedang lari, adalah hadiah terbesar yang pernah ia terima.
Aldebar melihat semuanya.
Melihat cara Nayla menangis, bukan tangis ketakutan seperti tadi, bukan tangis karena terpojok, tapi tangis kelegaan, tangis karena akhirnya ada yang mengerti, tangis karena ia tidak sendirian.
Melihat cara Iskandar menatap Nayla, lembut, penuh perhatian, seperti Nayla adalah sesuatu yang berharga, seperti Nayla adalah seseorang yang layak diperjuangkan, seperti Nayla adalah rumah yang ingin ia huni.
Melihat sesuatu yang akhirnya tak bisa ia pungkiri.
Ia sudah terlambat.
Bukan terlambat untuk memenangkan hati Nayla, mungkin itu sudah terjadi sejak lama, mungkin sejak pertama kali ia mendorong Nayla, mungkin sejak pertama kali ia menggunakan rasa bersalah untuk menahan Nayla tetap tinggal.
Tapi terlambat untuk memperbaiki kesalahan.
Terlambat untuk menjadi orang yang lebih baik.
Terlambat untuk menjadi tempat yang aman bagi Nayla.
Ia sudah kalah.
Kalah sebelum pertarungan dimulai.
Kalah karena ia tidak pernah menyadari bahwa yang ia perjuangkan bukan cinta, tapi kepemilikan.
Kalah karena ia tidak pernah menyadari bahwa mencintai bukan berarti memiliki.
Kalah karena ia tidak pernah menyadari bahwa melepaskan adalah bentuk cinta yang tertinggi.
Namun beberapa orang, saat sadar kehilangan, justru menjadi lebih berbahaya.
Bukan karena mereka ingin menyakiti.
Tapi karena mereka tidak tahu bagaimana menerima kenyataan.
Karena mereka tidak pernah belajar untuk kalah.
Karena mereka terbiasa mendapatkan apa yang mereka inginkan.
Aldebar mengangguk pelan.
Anggukan yang tidak meyakinkan.
Anggukan yang seperti sedang menerima, tetapi sebenarnya tidak.
Anggukan yang seperti sedang menyerah, tetapi sebenarnya sedang merencanakan sesuatu.
"Baik."
Nada suaranya terlalu tenang.
Terlalu tenang.
Tenang seperti permukaan danau yang dalam, yang menyembunyikan pusaran di bawahnya.
Tenang seperti suara seseorang yang sudah mempersiapkan diri untuk melakukan sesuatu yang tidak akan bisa dimaafkan.
Tenang seperti suara sebelum badai.
Dan justru itu yang membuat Ridwan berdiri.
Ridwan yang biasanya tidak pernah berdiri kecuali benar, benar diperlukan.
Ridwan yang biasanya lebih suka duduk diam dan mengamati.
Ridwan yang biasanya menjadi penonton, bukan pemain.
Kini berdiri.
"Is."
Iskandar menoleh sedikit.
"Apa?"
Ridwan menatap Aldebar.
Matanya yang biasanya datar, yang seperti topeng kayu yang tidak bisa menunjukkan emosi, yang tidak pernah berubah meskipun dalam situasi apa pun, kini tajam.
Tajam seperti pisau.
Tajam seperti silet.
Tajam seperti sesuatu yang siap melukai.
Lalu ia berkata pelan, dengan suara yang tidak tinggi tidak rendah, dengan suara yang hanya cukup untuk didengar oleh Iskandar dan orang, orang yang duduk di dekatnya.
"Orang yang terlalu tenang setelah kalah… biasanya belum selesai."
Suasana langsung berubah.
Berubah menjadi lebih dingin.
Berubah menjadi lebih berat.
Berubah menjadi lebih seperti sebelum badai.
Aldebar tersenyum tipis.
Senyum yang tidak bisa diartikan.
Senyum yang seperti campuran antara kekalahan dan kebencian.
Senyum yang membuat Iskandar merasa tidak nyaman.
Lalu ia mengeluarkan sebuah amplop cokelat tipis dari dalam jaketnya, jaket hitam yang tidak pernah ia lepas sejak pertama kali muncul, jaket yang mungkin menjadi semacam baju besi, jaket yang melindunginya dari dinginnya dunia luar.
Amplop itu tidak besar.
Mungkin seukuran undangan pernikahan.
Mungkin sedikit lebih kecil.
Warnanya cokelat tua, seperti warna tanah, seperti warna kulit, seperti warna sesuatu yang sudah tua dan usang.
Tidak ada tulisan di depan amplop itu.
Tidak ada nama.
Tidak ada alamat.
Tidak ada perangko.
Hanya amplop cokelat polos yang terlihat biasa, tetapi terasa berat.
Ia meletakkannya di atas meja.
Tepat di depan Nayla.
Dengan gerakan yang pelan, yang sengaja dibuat dramatis, yang seperti sedang meletakkan bom waktu.
"Kalau begitu… mungkin dia memang harus tahu."
Nayla menatap amplop itu.
Wajahnya langsung kehilangan warna.
Kehilangan warna seperti bunga yang mati di musim kemarau.
Kehilangan warna seperti langit yang kehilangan matahari.
Kehilangan warna seperti sesuatu yang baru sadar bahwa hidupnya akan berubah selamanya.
Tangannya gemetar hebat.
Gemetar seperti dedaunan yang tertiup angin kencang.
Gemetar seperti orang yang sedang menggigil kedinginan.
Gemetar seperti sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan.
Dan untuk pertama kalinya, Iskandar melihat ketakutan Nayla bukan karena Aldebar mendekat.
Bukan karena mobil hitam.
Bukan karena masa lalu.
Tapi karena sesuatu yang ada di dalam amplop itu.
Sesuatu yang selama ini ia sembunyikan.
Sesuatu yang tidak ingin ia lihat oleh siapa pun.
Sesuatu yang jika terbuka, akan mengubah segalanya.
Dan Iskandar, yang duduk di sampingnya, hanya bisa menatap.
Menatap amplop cokelat tipis di atas meja kayu yang sudah mengelupas vernisnya.
Menatap Nayla yang pucat dan gemetar.
Menatap Aldebar yang tersenyum tipis dengan senyum kemenangan.
Dan bertanya, tanya, apa lagi yang belum ia ketahui tentang perempuan yang ia cintai.
BAB 26
Amplop di Atas Meja
Senja di Dermaga KP3 yang tadi hangat, yang tadi terasa seperti pelukan ibu setelah sekian lama merantau, seperti selimut tebal di malam yang dingin, seperti secangkir cokelat panas setelah seharian bekerja di luar ruangan, perlahan berubah dingin.
Dingin seperti es yang meleleh di telapak tangan.
Dingin seperti air yang mengalir di sela, sela jari.
Dingin seperti sesuatu yang tidak bisa ditahan meskipun kita sudah berusaha sekuat tenaga.
Lampu, lampu gantung di sepanjang area kuliner, lampu, lampu kecil berwarna kuning yang diletakkan di tiang, tiang kayu, yang kabelnya menjuntai tidak karuan, yang bohlamnya ada yang masih menyala terang, ada yang sudah redup karena usia, mulai menyala satu per satu, seperti bintang, bintang yang terlalu cepat turun ke bumi, seperti kunang, kunang yang berhenti bergerak, seperti mata, mata yang terbuka di tengah kegelapan.
Pantulan cahaya dari lampu, lampu itu bergetar di permukaan sungai yang mulai gelap, menciptakan ilusi bahwa air itu sendiri sedang bernapas, sedang hidup, sedang menyaksikan segala sesuatu yang terjadi di tepiannya dengan mata yang tidak berkedip.
Aroma kopi dan ikan bakar masih memenuhi udara, aroma kopi hitam pekat yang diseduh dengan air panas, yang pahitnya bisa membuat orang yang tidak terbiasa meringis; aroma ikan patin yang dibakar dengan arang, dengan bumbu kecap dan bawang yang meresap hingga ke dalam daging, dengan sambal terasi yang pedasnya membuat lidah bergidik. Dua aroma yang sangat berbeda, tetapi entah mengapa, ketika bercampur dengan udara malam yang sejuk, menciptakan sensasi yang unik, yang tidak bisa ditemukan di tempat lain.
Namun di meja kecil dekat pagar dermaga, meja kayu bulat yang sudah mengelupas vernisnya, yang kakinya tidak rata sehingga sedikit miring, yang taplak mejanya bermotif bunga, bunga yang sudah mulai pudar karena terlalu sering dicuci, tak ada lagi yang terasa indah.
Karena sebuah amplop cokelat tipis, amplop berwarna cokelat tua seperti warna tanah, seperti warna kulit, seperti warna sesuatu yang sudah tua dan usang, amplop tanpa tulisan di depannya, tanpa nama, tanpa alamat, tanpa perangko, amplop yang terlihat biasa tetapi terasa berat seperti membawa seluruh masa lalu, terbaring diam di atas meja.
Dan wajah Nayla mendadak pucat seperti seseorang yang baru melihat hantu di siang bolong.
Pucat seperti kertas yang baru keluar dari pabrik, yang belum pernah tersentuh tinta, yang masih putih bersih tetapi terasa dingin dan mati.
Pucat seperti kapur tulis yang digunakan untuk menulis di papan hitam, yang meninggalkan jejak putih yang mudah terhapus, yang tidak pernah benar, benar melekat.
Pucat seperti seseorang yang baru sadar bahwa rahasia yang selama ia kubur, rahasia yang ia kunci rapat, rapat di dalam dadanya, rahasia yang ia pikir tidak akan pernah terbuka, rahasia yang ia harap akan mati bersama dirinya, kini terbuka.
Terbuka tanpa ia persiapkan.
Terbuka tanpa ia izinkan.
Terbuka di depan semua orang.
Bukan pucat karena kurang tidur, ia sudah kurang tidur semalam, matanya sudah sembab sejak pagi, wajahnya sudah pucat sejak Aldebar datang ke rumahnya.
Bukan pucat karena sakit, ia tidak sakit, secara fisik ia sehat, suhu tubuhnya normal, tekanan darahnya normal, detak jantungnya mungkin sedikit lebih cepat dari biasanya, tapi itu karena ketakutan, bukan karena penyakit.
Tapi pucat karena amplop itu.
Karena ia tahu apa isinya.
Karena ia tahu bahwa setelah amplop itu dibuka, tidak ada yang akan sama lagi.
Karena ia tahu bahwa rahasia yang selama ini ia jaga, rahasia yang membuatnya tidak bisa tidur di malam hari, rahasia yang membuatnya tersentak bangun dari mimpi buruk, rahasia yang membuatnya merasa bahwa ia tidak layak untuk dicintai, tidak akan bisa disembunyikan lagi.
"Nayla?"
Suara Iskandar pelan.
Lembut.
Tidak menekan.
Seperti tangan yang terulur di tengah gelap.
Seperti bisikan yang mengatakan aku di sini, kamu tidak sendirian, aku tidak akan membiarkanmu jatuh.
Tapi Nayla tidak menjawab.
Bibirnya yang pucat, yang kering, yang masih menyimpan sisa, sisa air mata dari pagi ini, dari semalam, dari semua malam sebelumnya, bergerak sedikit, seperti hendak mengatakan sesuatu, seperti ingin memanggil nama Iskandar, seperti ingin memohon agar ia tidak membuka amplop itu. Tapi tidak ada suara yang keluar. Hanya udara yang keluar dari paru, parunya dengan suara huff yang pelan, seperti balon yang kehabisan udara.
Tatapannya hanya tertuju pada amplop itu.
Amplop cokelat tipis yang tergeletak diam di atas meja kayu yang sudah mengelupas vernisnya.
Diam seperti batu.
Diam seperti patung.
Diam seperti sesuatu yang tidak bergerak, tetapi memiliki kekuatan untuk menghancurkan.
Seolah amplop itu adalah ular kobra yang siap mematuk. Seolah amplop itu adalah bom waktu yang siap meledak kapan saja. Seolah amplop itu adalah hantu yang keluar dari kubur untuk menagih hutang masa lalu.
Tangannya gemetar.
Gemetar seperti dedaunan yang tertiup angin kencang.
Gemetar seperti orang yang sedang menggigil kedinginan meskipun suhu udara normal.
Gemetar seperti sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan.
Jari, jarinya yang ramping dan panjang itu, jari yang biasa memegang pensil dengan lembut, yang biasa membalik halaman buku dengan hati, hati, yang biasa menulis kata, kata indah di buku catatan hijau mudanya, kini kaku. Kaku seperti tidak bisa digerakkan. Kaku seperti sedang mencengkeram sesuatu yang tidak terlihat. Kaku seperti sedang berusaha menahan diri untuk tidak meraih amplop itu dan merobeknya menjadi berkeping, keping.
Bibirnya sedikit terbuka, namun tak ada suara yang keluar. Hanya desahan pelan yang keluar dari sela, sela bibirnya yang kering, seperti angin yang berhembus di celah, celah pintu yang tidak tertutup rapat.
Dan itu saja sudah cukup membuat Iskandar mengerti, isi amplop itu bukan sesuatu yang kecil.
Bukan tagihan hutang.
Bukan surat pengunduran diri.
Bukan dokumen perjanjian kerjasama.
Tapi sesuatu yang akan mengubah hidup mereka.
Sesuatu yang akan membuat Nayla tidak bisa lagi berlari.
Sesuatu yang akan membuat Iskandar harus memilih: tetap tinggal, atau pergi.
Edo yang biasanya paling berisik, yang biasanya tidak pernah bisa diam, yang selalu punya komentar untuk segala hal, yang selalu muncul di saat yang paling tidak tepat dengan candaan yang kadang lucu kadang memuakkan, kali ini ikut diam.
Diam seperti patung.
Diam seperti batu.
Diam seperti sesuatu yang tidak bisa bergerak.
Tusuk sate yang tadinya akan ia masukkan ke mulut, tusuk bambu yang runcing di ujungnya, dengan sisa, sisa daging ayam yang masih menempel, dengan bumbu kacang yang mengering di permukaannya, masih menggantung di tangannya, beberapa sentimeter dari bibirnya, tidak bergerak, tidak maju, tidak mundur. Seolah waktu berhenti untuk Edo. Seolah ada yang menekan tombol pause di remote kontrol hidupnya.
Ia menatap Sahrul.
Matanya yang biasanya ceria, yang biasanya penuh dengan candaan, yang biasanya berbinar karena ia selalu menemukan sesuatu untuk ditertawakan, kini serius. Serius seperti orang yang sedang melihat kecelakaan di depan matanya. Serius seperti orang yang sedang menyaksikan temannya berdiri di tepi jurang.
Sahrul menatap balik.
Matanya yang biasanya malas, yang biasanya setengah tertutup karena kurang tidur, yang biasanya tidak terlalu peduli dengan apa pun, kini terbuka lebar. Terbuka seperti jendela yang ingin memperlihatkan isi rumah. Terbuka seperti buku yang halamannya tidak bisa disembunyikan lagi.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, sejak mereka berteman di bangku SMP, sejak mereka bermain bola bersama di lapangan tanah, sejak mereka bolos pelajaran bersama untuk pergi ke warnet, mereka berdua sepakat:
ini bukan waktu bercanda.
Ini bukan waktu untuk melontarkan lelucon murahan.
Ini bukan waktu untuk saling mengejek.
Ini adalah waktu untuk diam.
Ini adalah waktu untuk mendukung.
Ini adalah waktu untuk menjadi sahabat yang baik.
Dan tanpa perlu berkata apa pun, Edo menurunkan tusuk satenya.
Perlahan.
Seperti bendera yang diturunkan setengah tiang sebagai tanda berkabung.
Seperti senjata yang diletakkan sebagai tanda menyerah.
Seperti sesuatu yang tidak akan kembali ke tempatnya dalam waktu dekat.
Aldebar menatap Nayla.
Matanya yang tadi tajam, yang tadi seperti pisau, yang tadi mencari celah untuk menyerang, kini berubah. Berubah menjadi lebih tenang. Lebih seperti seseorang yang sudah menang, yang sudah puas, yang sudah tidak perlu lagi berusaha.
Nada suaranya tetap tenang.
Tenang seperti permukaan danau yang dalam, yang menyembunyikan pusaran di bawahnya.
Tenang seperti suara seseorang yang sudah mempersiapkan segalanya dengan matang.
Tenang seperti suara sebelum badai.
"Saya tidak mau buka di sini. Tapi kamu memaksa saya datang sejauh ini."
"Aldebar…"
Suara Nayla pecah.
Pecah seperti kaca yang jatuh di lantai keramik.
Pecah seperti tangisan yang tidak bisa lagi ditahan.
Pecah seperti sesuatu yang hancur berkeping, keping.
"Jangan."
Satu kata.
Tiga huruf.
Ja, ngan.
Tiga huruf yang keluar dari mulutnya dengan suara yang nyaris seperti bisikan, dengan suara yang seperti doa, dengan suara yang hanya cukup untuk didengar oleh orang, orang yang duduk di dekatnya.
Lirih.
Lemah.
Penuh ketakutan.
Tapi justru karena itu, satu kata itu membuat semua orang di meja itu semakin tegang.
Karena satu kata itu, satu kata pendek yang keluar dari bibir Nayla yang pucat dan gemetar, tidak seperti Nayla yang biasanya tenang, yang biasanya bisa mengendalikan emosinya, yang biasanya tidak mudah panik.
Satu kata itu menunjukkan bahwa Nayla benar, benar takut.
Bukan takut pada Aldebar.
Bukan takut pada mobil hitam.
Bukan takut pada masa lalu.
Tapi takut pada apa yang ada di dalam amplop itu.
Takut pada rahasia yang selama ini ia kubur.
Takut pada konsekuensi yang akan terjadi jika rahasia itu terbuka.
Dan ketakutan itu, ketakutan yang tulus, ketakutan yang tidak bisa disembunyikan, ketakutan yang membuat Nayla terlihat seperti anak kecil yang kehilangan orang tuanya di tengah keramaian, membuat Iskandar semakin penasaran, semakin khawatir, semakin ingin melindungi.
Iskandar menatap Aldebar tajam.
Matanya tidak berkedip.
Wajahnya tidak berubah.
Suaranya tidak bergetar.
Tapi di dalam dadanya, sesuatu sedang bergejolak.
Bukan amarah.
Amarah adalah emosi yang terlalu sederhana untuk situasi serumit ini.
Bukan cemburu.
Cemburu adalah emosi yang egois, dan saat ini ia tidak sedang memikirkan dirinya sendiri.
Bukan ketakutan.
Ketakutan adalah emosi yang membuat seseorang mundur, dan ia tidak akan mundur.
Tapi sesuatu yang lebih kompleks.
Campuran antara kekesalan pada Aldebar yang tidak bisa melepaskan, kekhawatiran pada Nayla yang terus hidup dalam ketakutan, dan rasa tidak berdaya karena ia tidak bisa melakukan apa pun selain duduk di sini dan menatap.
"Apa isi itu?"
Aldebar tersenyum kecil.
Senyum yang tidak sampai ke mata.
Senyum yang seperti pisau yang digerakkan perlahan di atas kulit, tidak melukai tetapi membuat bulu kuduk merinding.
"Sesuatu yang seharusnya dia ceritakan dari awal."
Nayla langsung menggeleng.
Gelengan yang cepat, yang panik, yang seperti anak kecil yang sedang menolak untuk diobati lukanya karena takut perih.
"Jangan…"
Iskandar menoleh cepat pada Nayla.
Matanya mencari mata Nayla.
Mencari jawaban.
Mencari penjelasan.
Mencari sesuatu yang bisa membuatnya mengerti.
Dan untuk pertama kalinya, ia melihat bukan hanya luka di mata Nayla, luka yang sudah ia lihat sejak pertama kali mereka bertemu di Dermaga KP3, luka yang membuat matanya selalu terlihat seperti sedang memandang sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain.
Tapi rasa takut.
Rasa takut yang jauh lebih dalam daripada sebelumnya.
Bukan takut pada Aldebar.
Bukan takut pada mobil hitam.
Bukan takut pada masa lalu.
Tapi takut kehilangan.
Bukan kehilangan Aldebar, ia sudah melepaskan Aldebar, sudah menutup pintu, sudah mengatakan bahwa ia tidak akan kembali.
Tapi kehilangan Iskandar.
Kehilangan satu, satunya orang yang membuatnya merasa bahwa ia pantas untuk dicintai.
Kehilangan satu, satunya orang yang melihatnya bukan sebagai korban, bukan sebagai beban, bukan sebagai masalah.
Kehilangan satu, satunya orang yang membuatnya ingin percaya lagi bahwa cinta itu nyata.
Ridwan berdiri pelan.
Gerakannya lambat, tidak tergesa, gesa, seperti seseorang yang sedang mempersiapkan diri untuk sesuatu yang besar. Kaki, kakinya yang panjang menekan lantai kayu dermaga dengan suara kreek yang pelan, seperti ratapan, seperti keluhan, seperti sesuatu yang tidak ingin mengganggu tetapi tidak bisa diam.
"Kalau niatmu mempermalukan dia… lebih baik berhenti sekarang."
Aldebar menoleh.
Tatapannya dingin.
Dingin seperti es di kutub utara.
Dingin seperti hati yang sudah mati.
Dingin seperti sesuatu yang tidak bisa lagi dihangatkan oleh apa pun.
"Ini bukan urusan kalian."
Edo akhirnya ikut berdiri.
Tubuhnya yang tambun, yang biasanya menjadi sumber tawa, yang biasanya menjadi target ejekan karena ukurannya, yang biasanya membuat orang geli melihatnya bergerak, kini berdiri tegap.
Tegap seperti tembok benteng.
Tegap seperti gunung yang tidak bisa digoyahkan gempa.
Tegap seperti seseorang yang siap melindungi temannya dengan apa pun yang ia miliki.
"Mulai sekarang jadi urusan kami."
Sahrul menoleh kaget.
Matanya membesar.
Mulutnya terbuka setengah.
"Kamu serius?"
Edo mengangguk.
Anggukan yang mantap, yang tegas, yang mengatakan saya tidak bercanda, saya tidak pernah lebih serius dari ini.
"Saya memang lucu. Tapi bukan berarti saya tidak punya batas."
Anggun menatap Edo sebentar.
Matanya yang tadi masih tegang, yang tadi masih waspada pada Aldebar, kini berubah. Berubah menjadi lebih lembut. Lebih seperti seseorang yang melihat sahabatnya melakukan sesuatu yang membuatnya bangga.
Lalu ia berbisik, dengan suara yang hanya cukup untuk didengar oleh Rara yang duduk di sampingnya.
"Akhirnya ada juga."
Edo menoleh.
Matanya berbinar.
Senyumnya lebar.
"Sakit ya tidak dipercaya."
Dalam keadaan seperti itu, di tengah ketegangan yang hampir meledak, di tengah ancaman yang menggantung di udara, di tengah amplop cokelat tipis yang tergeletak di atas meja seperti bom waktu—kalimat Edo terdengar absurd.
Absurd seperti badut yang muncul di tengah pemakaman.
Absurd seperti tawa di tengah tangisan.
Absurd seperti sesuatu yang tidak masuk akal tetapi justru membuat orang yang mendengarnya merasa sedikit lebih ringan.
Dan justru itu yang membuat suasana tak sepenuhnya runtuh.
Seperti batu terakhir yang menahan longsor.
Seperti pilar terakhir yang menahan bangunan agar tidak roboh.
Seperti harapan terakhir yang membuat mereka tidak kehilangan akal.
Aldebar menatap Iskandar lagi.
Matanya yang tadi dingin, yang tadi seperti es, kini berubah. Berubah menjadi lebih tajam. Lebih seperti seseorang yang sedang mengincar titik lemah lawannya.
"Kamu mau tahu siapa dia sebenarnya?"
Iskandar tidak menjawab.
Matanya tidak bergerak dari Aldebar.
Wajahnya tidak berubah.
Tapi di dalam dadanya, sesuatu bergerak.
Bukan ketakutan.
Bukan kegelisahan.
Tapi kesiapan.
Kesiapan untuk mendengar apa pun.
Kesiapan untuk menerima apa pun.
Kesiapan untuk tetap tinggal meskipun apa yang ia dengar akan menyakitkan.
Karena matanya kini justru tertuju pada Nayla.
Perempuan itu duduk di sampingnya dengan kepala menunduk, dengan rambut yang terurai menutupi wajahnya, dengan bahu yang berguncang kecil karena menahan tangis.
Ia tidak melihat amplop itu.
Ia tidak melihat Aldebar.
Ia tidak melihat siapa pun.
Ia hanya menunduk.
Menunduk seperti sedang berdoa.
Menunduk seperti sedang memohon agar bumi terbuka dan menelannya.
Menunduk seperti sedang berusaha menghilang dari dunia.
Dan saat itulah Iskandar sadar, apa pun isi amplop itu, Nayla takut bukan karena rahasianya akan terbuka.
Tapi karena ia takut cara Iskandar memandangnya akan berubah.
Takut bahwa setelah Iskandar tahu, ia tidak akan lagi melihat Nayla sebagai Nayla.
Takut bahwa setelah Iskandar tahu, ia akan pergi, seperti orang, orang lain.
Takut bahwa setelah Iskandar tahu, ia akan kembali sendirian, seperti dulu, seperti selalu.
"Apa itu?"
Suara Iskandar lebih tenang dari sebelumnya.
Tenang seperti air danau yang tidak beriak.
Tenang seperti angin yang berhembus pelan.
Tenang seperti sesuatu yang tidak perlu berteriak untuk didengar.
Aldebar menunjuk amplop itu.
Jari telunjuknya yang panjang dan kurus, jari yang mungkin pernah memegang tangan Nayla dengan lembut, jari yang mungkin pernah mengelus rambut Nayla dengan penuh kasih, jari yang mungkin pernah menulis surat cinta untuk Nayla, kini menunjuk ke arah amplop cokelat tipis di atas meja.
"Dokumen rumah sakit. Dan surat yang tidak pernah dia tunjukkan."
Nayla langsung memejamkan mata.
Kelopak matanya yang sembab, yang merah, yang masih menyimpan sisa, sisa air mata dari pagi ini, dari semalam, dari semua malam sebelumnya, tertutup rapat.
Seperti sedang berdoa.
Seperti sedang memohon kekuatan.
Seperti sedang berusaha menahan diri untuk tidak pingsan.
Ibunya tidak ada di sana.
Ayahnya juga tidak.
Tidak ada yang bisa melindunginya.
Tidak ada yang bisa membelanya.
Tidak ada yang bisa mengatakan "cukup, jangan lanjutkan".
Tidak ada yang bisa mengambil amplop itu dan merobeknya menjadi berkeping, keping.
Tidak ada yang bisa membawanya pergi dari tempat ini, membawanya ke tempat yang aman, membawanya ke tempat di mana masa lalu tidak bisa mengejarnya.
Namun malam itu, luka yang seharusnya tinggal di rumah, luka yang seharusnya hanya ia tangisi di dalam kamar, di dalam gelap, di bawah selimut, ketika tidak ada yang mendengar, ikut terbuka di tengah tempat ramai.
Terbuka seperti pintu yang tidak bisa ditutup lagi.
Terbuka seperti luka yang dirobek kembali.
Terbuka seperti sesuatu yang akan meninggalkan bekas yang tidak akan pernah hilang.
Rara menatap Nayla.
Matanya yang tadi tajam, yang tadi seperti sedang membaca sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain, kini lembut.
Lembut seperti kapas.
Lembut seperti bulu.
Lembut seperti sesuatu yang tidak akan melukai meskipun disentuh.
"Nay…"
Nayla tak bergerak.
Tubuhnya masih membeku.
Tangannya masih gemetar.
Matanya masih terpejam.
Lalu dengan suara sangat kecil, dengan suara yang nyaris seperti bisikan, dengan suara yang hanya cukup untuk didengar oleh Rara yang duduk di sampingnya, ia berkata.
"Jangan dibuka."
Semua terdiam.
Diam seperti di dalam gereja setelah kebaktian usai.
Diam seperti di dalam perpustakaan ketika semua orang sedang membaca.
Diam seperti di dalam hati ketika sedang merenung.
Aldebar menatap Iskandar.
Matanya yang tadi tajam, yang tadi seperti pisau, kini berubah. Berubah menjadi lebih tenang. Lebih seperti seseorang yang sudah menang, yang sudah puas, yang sudah tidak perlu lagi berusaha.
"Lihat? Dia sendiri tidak berani."
Iskandar perlahan menarik napas.
Napas yang panjang.
Napas yang dalam.
Napas yang masuk ke paru, parunya dengan suara desisan pelan, seperti udara yang masuk ke ban yang bocor.
Napas yang membawa serta semua keraguan, semua ketakutan, semua pertanyaan yang selama ini berputar di kepalanya.
Lalu ia mengambil amplop itu.
Tangannya yang hangat, hangat seperti api unggun di malam yang dingin, hangat seperti selimut tebal di musim hujan, hangat seperti secangkir cokelat panas setelah seharian bekerja di luar ruangan, menyentuh amplop cokelat tipis yang dingin.
Dingin seperti es.
Dingin seperti mayat.
Dingin seperti sesuatu yang sudah mati.
Kontras antara kehangatan tangannya dan kedinginan amplop itu terasa seperti pertemuan antara dua dunia yang berbeda.
Nayla langsung menoleh.
Wajahnya panik.
Panik seperti orang yang melihat rumahnya terbakar.
Panik seperti orang yang melihat orang yang dicintainya jatuh dari ketinggian.
Panik seperti orang yang baru sadar bahwa ia akan kehilangan sesuatu yang sangat berharga.
"Jangan…"
Suara itu nyaris hancur.
Hancur seperti kaca yang jatuh di lantai keramik.
Hancur seperti tangisan yang tidak bisa lagi ditahan.
Hancur seperti sesuatu yang pecah berkeping, keping.
Bukan marah.
Bukan melarang.
Bukan memerintah.
Tapi seperti seseorang yang benar, benar takut kehilangan satu, satunya hal baik yang baru saja datang dalam hidupnya.
Satu, satunya laki, laki yang membuatnya merasa aman.
Satu, satunya laki, laki yang membuatnya ingin percaya lagi.
Satu, satunya laki, laki yang membuatnya berpikir bahwa mungkin, mungkin, ia pantas untuk dicintai.
Iskandar memegang amplop itu beberapa detik.
Merasa beratnya.
Merasa dinginnya.
Merasa ancaman yang terkandung di dalamnya.
Lalu, tanpa membukanya, ia meletakkannya kembali di atas meja.
Perlahan.
Hati, hati.
Seolah amplop itu adalah sesuatu yang rapuh, yang bisa hancur jika tidak diperlakukan dengan lembut.
Semua menatap.
Edo sampai menahan napas, sesuatu yang sangat langka, karena Edo tidak pernah menahan napas, Edo selalu bernapas dengan keras dan berisik seperti kuda yang kelelahan.
Ridwan menghela napas pelan, napas yang keluar dari hidung dengan suara desisan tipis, seperti udara yang keluar dari balon yang bocor perlahan.
Rara menggenggam tangan Nayla lebih erat, jari, jarinya yang hangat membungkus jari, jari Nayla yang dingin, mengirimkan kehangatan, mengirimkan pesan aku di sini, kamu tidak sendirian.
Anggun menutup mulut dengan kedua telapak tangan, menahan isak yang ingin keluar, menahan tangis yang ingin pecah, menahan sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan.
Sahrul menunduk, tidak berani melihat, tidak berani mendengar, tidak berani merasakan apa yang mungkin akan terjadi.
Lukman diam membeku di kursinya, matanya terpaku pada Iskandar, mulutnya terbuka setengah, pikirannya kosong.
Aldebar mengernyit.
Matanya yang tadi tenang, yang tadi seperti seseorang yang sudah menang, kini berubah. Berubah menjadi tidak percaya.
"Kamu tidak mau tahu?"
Iskandar menatap lurus.
Matanya tidak berkedip.
Wajahnya tidak berubah.
Suaranya tidak bergetar.
"Saya mau. Tapi bukan dari kamu."
Hening.
Hening seperti di dalam gua yang paling dalam.
Hening seperti di dalam air yang paling tenang.
Hening seperti di dalam hati ketika sedang berdoa.
Angin sungai berhembus pelan, membawa aroma air yang khas, aroma kayu basah, aroma tanah, aroma sesuatu yang bersih dan segar.
Lampu, lampu senja, lampu, lampu kecil berwarna kuning yang diletakkan di sepanjang pagar besi dermaga, yang memantul di permukaan air yang gelap, masih menyala.
Pantulan cahaya di permukaan air masih bergerak, gerak setiap kali ada riak.
Pengunjung lain masih tertawa di kejauhan.
Pedagang masih sibuk melayani pembeli.
Anak, anak masih berlarian.
Tapi di meja kecil dekat pagar dermaga itu, waktu terasa berhenti.
Waktu terasa membeku.
Waktu terasa seperti tidak bergerak.
Karena Iskandar, laki, laki yang tidak pernah percaya pada cinta yang datang tiba, tiba, baru saja mengatakan sesuatu yang mengubah segalanya.
Saya mau tahu. Tapi bukan dari kamu.
Artinya: saya percaya pada Nayla. Saya percaya bahwa ia akan bercerita ketika ia siap. Saya tidak perlu kamu yang memberitahuku. Saya tidak perlu kamu yang menjadi perantara. Saya tidak perlu kamu yang membuka lukanya.
Dan untuk pertama kalinya, Aldebar terlihat benar, benar kehilangan kendali.
Bukan marah.
Bukan frustrasi.
Tapi kehilangan kendali.
Karena ia menyadari bahwa Iskandar tidak bisa diintimidasi.
Tidak bisa dimanipulasi.
Tidak bisa dibeli.
Tidak bisa ditakuti.
Tidak bisa dihancurkan dengan kata, kata.
Tidak bisa diusir dengan ancaman.
"Kamu bodoh."
Suara Aldebar tajam.
Tajam seperti pisau.
Tajam seperti silet.
Tajam seperti sesuatu yang siap melukai.
"Mungkin."
Jawab Iskandar tenang.
Tenang seperti air danau yang tidak beriak.
Tenang seperti angin yang berhembus pelan.
Tenang seperti sesuatu yang tidak perlu berteriak untuk didengar.
"Tapi saya tidak mau jadi orang yang memaksa seseorang membuka luka hanya untuk memuaskan rasa ingin tahu."
Tak ada yang bicara.
Bahkan pengunjung di meja sebelah, meja yang berisi empat orang pemuda yang sedang makan sate sambil tertawa keras, diam, diam mulai memperhatikan.
Kepala mereka menoleh ke arah meja Iskandar.
Mata mereka mengamati dari balik gelas es teh.
Telinga mereka terjulur untuk mendengar.
Karena drama itu tak lagi terdengar seperti pertengkaran biasa antara mantan kekasih yang tidak bisa move on.
Itu terdengar seperti pertarungan dua cara mencintai.
Satu yang ingin memiliki dengan cara apa pun.
Satu yang ingin melepaskan jika itu yang terbaik.
Satu yang menggunakan rasa bersalah sebagai senjata.
Satu yang menggunakan ketulusan sebagai perisai.
Satu yang menganggap cinta sebagai kepemilikan.
Satu yang menganggap cinta sebagai kebebasan.
Aldebar tertawa pendek.
Tawa yang pahit.
Tawa yang sakit.
Tawa yang mengatakan kamu pikir kamu lebih baik dariku?
"Kamu pikir itu cinta?"
Iskandar tidak menjawab.
Ia tidak perlu menjawab.
Karena jawabannya sudah jelas dari tindakannya.
Dari caranya ia tetap tinggal meskipun Nayla menangis.
Dari caranya ia tidak memaksa meskipun ia penasaran.
Dari caranya ia memilih untuk percaya pada Nayla meskipun ia belum tahu semuanya.
Aldebar menunjuk Nayla.
Jari telunjuknya yang panjang dan kurus, jari yang mungkin pernah memegang tangan Nayla dengan lembut, jari yang mungkin pernah mengelus rambut Nayla dengan penuh kasih, jari yang mungkin pernah menulis surat cinta untuk Nayla, kini menunjuk ke arah Nayla dengan gerakan yang kasar, yang penuh amarah, yang seperti sedang menuduh.
"Kamu bahkan belum tahu bahwa setelah kehilangan bayi itu… dia tidak bisa—"
"CUKUP!"
Suara Nayla pecah keras.
Pecah seperti petir di siang bolong.
Pecah seperti kaca yang jatuh di lantai keramik.
Pecah seperti tangisan yang tidak bisa lagi ditahan.
Semua membeku.
Edo sampai tersentak.
Sahrul sampai menjatuhkan tusuk sate yang dipegangnya.
Ridwan berhenti menyeruput kopi.
Anggun menutup mulut dengan kedua tangan.
Rara menarik napas tajam.
Lukman menatap dengan mata membulat.
Aldebar terdiam.
Nayla berdiri.
Tubuhnya gemetar.
Gemetar seperti dedaunan yang tertiup angin kencang.
Gemetar seperti orang yang sedang menggigil kedinginan.
Gemetar seperti sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan.
Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.
Jatuh seperti hujan di musim penghujan.
Jatuh seperti air terjun yang tidak pernah berhenti.
Jatuh seperti sesuatu yang tidak bisa lagi dibendung.
Untuk pertama kalinya, Nayla berteriak.
Bukan sekadar meninggikan suara.
Bukan sekadar bicara lebih keras.
Tapi berteriak.
Berteriak seperti orang yang sedang sekarat.
Berteriak seperti orang yang sedang berusaha melepaskan semua rasa sakit yang selama ini ia pendam.
Berteriak seperti orang yang sudah tidak peduli lagi dengan siapa yang mendengar.
Dan suara itu, suara teriakan Nayla yang memecah kesunyian malam, yang menggema di sepanjang dermaga, yang membuat pengunjung lain menoleh dengan wajah terkejut, lebih menyakitkan daripada semua tangisnya.
Lebih menyakitkan daripada air mata yang jatuh di Pasar Melati.
Lebih menyakitkan daripada kalimat "saya hanya lelah".
Lebih menyakitkan daripada pengakuan bahwa ia pernah kehilangan bayi.
Karena teriakan itu adalah suara dari seseorang yang sudah terlalu lama diam.
Terlalu lama menahan.
Terlalu lama berpura, pura kuat.
Terlalu lama membiarkan orang lain menginjak, injak hatinya.
"Aku bilang cukup."
Suaranya tidak lagi berteriak.
Tapi tegas.
Tegas seperti pisau yang dipotongkan ke tali.
Tegas seperti pintu yang ditutup rapat.
Tegas seperti batas yang tidak bisa dilewati.
Ia menatap Aldebar.
Bukan dengan takut.
Bukan lagi.
Tapi dengan luka yang akhirnya berubah menjadi keberanian.
Keberanian yang tidak lagi bergantung pada siapa pun.
Keberanian yang lahir dari kesadaran bahwa ia tidak bisa terus hidup dalam ketakutan.
Keberanian yang lahir dari kelelahan, kelelahan karena terlalu lama menjadi korban.
"Kamu boleh marah. Kamu boleh benci. Tapi jangan lagi pakai luka saya untuk menghukum saya."
Kalimat itu mengguncang meja.
Mengguncang seperti gempa bumi.
Mengguncang seperti gelombang tsunami.
Mengguncang seperti sesuatu yang mengubah segalanya.
Edo sampai menelan ludah, gluk, suara yang terdengar jelas di keheningan yang memekakkan telinga.
Ridwan menunduk, tidak berani melihat, tidak berani mendengar, tidak berani merasakan apa yang mungkin akan terjadi.
Rara ikut menangis, air matanya jatuh diam, diam, jatuh tanpa suara, jatuh seperti tetesan air dari keran yang tidak pernah benar, benar tertutup rapat.
Anggun menggenggam tangan Nayla, menggenggam erat, seperti sedang berpegangan pada satu, satunya hal yang nyata di tengah badai, seperti sedang berusaha menahan Nayla agar tidak jatuh.
Karena akhirnya, perempuan yang selama ini diam, yang selama ini menunduk, yang selama ini membiarkan Aldebar berbicara, yang selama ini menerima semua kata, kata pedas tanpa membalas, mulai melawan.
Melawan dengan caranya sendiri.
Melawan dengan suaranya sendiri.
Melawan dengan keberanian yang baru ia temukan.
Aldebar menatap Nayla.
Matanya yang tadi tajam, yang tadi seperti pisau, yang tadi mencari celah untuk menyerang, kini berubah. Berubah menjadi kosong. Kosong seperti rumah yang ditinggalkan. Kosong seperti sumur yang kering. Kosong seperti sesuatu yang kehilangan seluruh isinya.
Dan untuk pertama kalinya, tak ada jawaban yang keluar dari mulutnya.
Mulutnya terbuka setengah, seperti hendak mengatakan sesuatu, seperti ingin membela diri, seperti ingin mengatakan bahwa ia tidak bermaksud seperti itu.
Tapi tidak ada suara yang keluar.
Hanya udara.
Hanya desahan.
Hanya kekosongan.
Karena semua orang di sana melihat, bukan hanya Iskandar, bahwa yang berdiri di depan mereka bukan perempuan yang sama seperti dulu.
Bukan Nayla yang takut.
Bukan Nayla yang lemah.
Bukan Nayla yang selalu menunduk.
Tapi Nayla yang baru.
Nayla yang sudah tidak ingin hidup di bawah bayang, bayang rasa bersalah.
Nayla yang sudah tidak ingin terus, menerus dihantui oleh masa lalu.
Nayla yang sudah tidak ingin lagi menjadi korban.
"Aku kehilangan anak itu juga."
Suara Aldebar akhirnya pecah.
Pecah seperti kaca yang jatuh di lantai keramik.
Pecah seperti tangisan yang tidak bisa lagi ditahan.
Pecah seperti sesuatu yang hancur berkeping, keping.
Sunyi.
Sunyi seperti di dalam gua yang paling dalam.
Sunyi seperti di dalam air yang paling tenang.
Sunyi seperti di dalam hati ketika sedang merenung.
"Aku juga hancur. Aku juga tidak pernah sembuh."
Mata Nayla basah.
Basah seperti embun pagi di daun, daun rumput.
Basah seperti sungai yang mengalir deras setelah hujan.
Basah seperti sesuatu yang tidak bisa ditahan lagi.
"Aku tahu."
"Lalu kenapa?"
Nayla menangis.
Tangis yang pelan.
Tangis yang seperti air yang mengalir dari mata air yang tidak pernah kering.
"Karena kita sama, sama terluka… tapi hanya aku yang terus diminta tinggal di luka itu."
Kalimat itu membuat Aldebar terdiam total.
Diam seperti patung.
Diam seperti batu.
Diam seperti sesuatu yang tidak bisa bergerak.
Mulutnya yang tadi terbuka setengah, kini tertutup rapat.
Matanya yang tadi kosong, kini berkaca, kaca.
Tangannya yang tadi mengepal di samping tubuh, kini lemas.
Dan untuk pertama kalinya, tak ada lagi pembelaan yang tersisa.
Tak ada lagi kata, kata yang bisa ia ucapkan.
Tak ada lagi argumen yang bisa ia ajukan.
Karena Nayla benar.
Mereka sama, sama terluka. Mereka sama, sama kehilangan. Mereka sama, sama hancur.
Tapi hanya Nayla yang terus diminta untuk tinggal di luka itu.
Hanya Nayla yang terus diingatkan bahwa ia tidak boleh pergi karena mereka sama, sama menderita.
Hanya Nayla yang terus dipaksa untuk merasa bersalah karena tidak bisa menyelamatkan bayi mereka.
Sementara Aldebar?
Aldebar bisa marah.
Aldebar bisa melampiaskan kekesalannya pada Nayla.
Aldebar bisa mengatakan bahwa Nayla yang salah, bahwa Nayla yang terlalu sensitif, bahwa Nayla yang tidak pernah mengerti perasaannya.
Tapi Nayla tidak pernah bisa melakukan hal yang sama.
Nayla selalu diam.
Nayla selalu menahan.
Nayla selalu merasa bahwa semua yang terjadi adalah salahnya.
Dan itu tidak adil.
Itu tidak pernah adil.
Beberapa detik, tak ada suara.
Hanya sungai.
Hanya lampu senja.
Hanya orang, orang yang mendadak merasa sedang menyaksikan sesuatu yang terlalu pribadi, terlalu dalam, terlalu menyakitkan untuk dilihat.
Beberapa pengunjung mulai mengalihkan pandangan, bukan karena tidak peduli, tapi karena mereka merasa seperti sedang mengintip ke dalam rumah orang lain melalui jendela yang tidak sengaja terbuka.
Beberapa pedagang berhenti sejenak dari aktivitas mereka, tangan yang tadi sibuk membalik sate, kini berhenti di udara; mata yang tadi sibuk melayani pembeli, kini tertuju pada meja Iskandar.
Bahkan anak, anak yang tadi berlarian, kini berhenti, menatap dengan mata yang tidak mengerti apa yang sedang terjadi, tetapi merasakan bahwa ada sesuatu yang penting sedang berlangsung.
Lalu Aldebar menatap Iskandar.
Matanya yang tadi kosong, yang tadi berkaca, kaca, kini berubah. Berubah menjadi lebih tenang. Lebih seperti seseorang yang sudah menerima kekalahan, tetapi belum siap untuk pergi.
Dan berkata pelan, dengan suara yang nyaris seperti bisikan, dengan suara yang hanya cukup untuk didengar oleh orang, orang yang duduk di dekatnya.
"Kalau begitu… sekarang giliran kamu."
Iskandar mengernyit.
Kerutan di dahinya yang dalam, kerutan yang biasanya muncul ketika ia sedang membaca laporan keuangan yang rumit atau ketika ia sedang mencoba memahami perilaku teman, temannya yang tidak masuk akal, kini muncul lagi.
"Apa maksudmu?"
Aldebar tersenyum tipis.
Senyum yang membuat bulu kuduk merinding.
Senyum yang seperti campuran antara kemenangan dan kekalahan.
Senyum yang mengatakan kamu pikir kamu sudah menang? Kamu belum tahu apa, apa.
"Luka yang dia bawa… tidak berhenti di masa lalu. Lihat saja nanti."
Nayla langsung memucat.
Lebih pucat dari sebelumnya.
Pucat seperti mayat.
Pucat seperti kertas yang sudah menguning.
Pucat seperti sesuatu yang baru sadar bahwa ketakutannya yang paling dalam mungkin akan menjadi kenyataan.
"Jangan…"
Namun Aldebar sudah mundur satu langkah.
Satu langkah kecil.
Tapi satu langkah kecil yang terasa seperti satu mil.
Seperti jarak yang sangat jauh.
Seperti tembok yang tidak bisa ditembus.
Dan sebelum pergi, ia menatap Nayla sekali lagi.
Matanya yang tadi tajam, yang tadi seperti pisau, yang tadi mencari celah untuk menyerang, kini berubah. Berubah menjadi lembut. Lembut seperti dulu. Lembut seperti ketika mereka masih bersama. Lembut seperti ketika ia masih bisa membuat Nayla tersenyum hanya dengan menyebut namanya.
"Kalau suatu hari dia juga pergi… kamu akan ingat saya pernah bilang."
Setelah itu, ia berbalik.
Perlahan.
Tidak tergesa, gesa.
Seperti seseorang yang sedang berjalan menuju eksekusi.
Langkahnya berat, tetapi tidak ragu.
Ia berjalan meninggalkan meja.
Meninggalkan amplop.
Meninggalkan senja.
Meninggalkan Nayla.
Meninggalkan Iskandar.
Meninggalkan semua orang yang masih diam membeku di tempatnya.
Dan meninggalkan ketakutan baru yang jauh lebih besar dari sebelumnya.
Karena kali ini, bukan hanya masa lalu yang datang kembali.
Tapi ancaman bahwa masa lalu itu bisa menghancurkan masa depan yang baru saja mulai tumbuh.
BAB 27
Setelah Senja Pergi
Tak seorang pun langsung bergerak setelah Aldebar pergi.
Seperti patung, patung lilin di museum yang tiba, tiba kehilangan pengunjungnya. Seperti orang, orang yang sedang menonton film horor di bioskop dan tiba, tiba layar menjadi hitam. Seperti sesuatu yang membeku di tempatnya, tidak bisa bergerak, tidak bisa berbicara, tidak bisa bernapas, hanya bisa menatap kosong ke arah di mana Aldebar menghilang.
Suara langkahnya, langkah kaki yang berat, yang tegas, yang penuh dengan keyakinan bahwa ia telah meninggalkan sesuatu yang akan meledak, masih terdengar beberapa saat. Tap. Tap. Tap. Seperti detak jantung yang berdetak lambat, seperti tetesan air dari keran yang tidak pernah benar, benar tertutup rapat, seperti hitungan mundur menuju sesuatu yang tidak diketahui.
Lalu suara itu semakin mengecil.
Tap. Pelan.
Tap. Lebih pelan.
Tap. Hampir tidak terdengar.
Lalu hilang.
Tergantikan oleh suara pintu mobil yang terbuka, thud yang pelan tetapi tegas, seperti bunyi gong yang menandakan dimulainya pertandingan tinju. Suara mesin yang dinyalakan, brumm yang menggelegar sebentar, lalu mengecil menjadi dengungan rendah yang konstan, seperti suara singa yang menggeram dari kejauhan. Suara ban yang berputar di atas aspal basah, cik... cik... cik... seperti suara cambuk yang dipotong, potong.
Dan beberapa detik kemudian, suara mobil itu semakin menjauh.
Brumm... pelan.
Brumm... lebih pelan.
Brumm... nyaris tidak terdengar.
Lalu brumm terakhir yang samar, samar, seperti desahan, seperti bisikan, seperti napas terakhir seseorang sebelum meninggal.
Dan setelah itu, sunyi.
Sunyi yang total.
Sunyi yang memekakkan telinga.
Sunyi yang seperti kain kafan yang menutupi seluruh dermaga.
Mobil hitam itu meninggalkan area Dermaga KP3 bersama sisa senja yang mulai tenggelam di ufuk barat, senja yang tadi berwarna jingga keemasan, yang tadi seperti lukisan terindah yang pernah dibuat alam, yang tadi membuat semua orang yang melihatnya berhenti sejenak dan bersyukur karena masih hidup untuk menyaksikan keindahan seperti itu, kini berubah. Berubah menjadi ungu keabu, abuan, lalu biru gelap, lalu hitam pekat yang hanya diterangi oleh lampu, lampu dermaga dan bintang, bintang yang malu, malu muncul satu per satu.
Namun kalimat terakhir Aldebar, "Kalau suatu hari dia juga pergi… kamu akan ingat saya pernah bilang", masih tertinggal seperti kabut tipis di udara malam yang dingin.
Kabut yang tidak bisa diusir dengan tangan.
Kabut yang tidak bisa dihilangkan dengan kata, kata.
Kabut yang menempel di kulit, di rambut, di pakaian, di hati.
Kabut yang membuat orang yang menghirupnya merasa sesak, merasa tidak nyaman, merasa bahwa ada sesuatu yang salah tetapi tidak tahu apa.
Dan untuk pertama kalinya malam itu, yang terasa menyesakkan bukan kehadiran Aldebar.
Bukan mobil hitamnya yang terparkir di area parkir dermaga dengan mesin menyala dan lampu depan redup.
Bukan tatapannya yang tajam seperti pisau.
Bukan kata, katanya yang menusuk seperti duri.
Tapi kepergiannya.
Kepergiannya yang terlalu tenang.
Kepergiannya yang terlalu mudah.
Kepergiannya yang seperti orang yang telah meninggalkan bom waktu, dan sekarang pergi dengan tenang, menunggu ledakan.
Kepergiannya yang membuat semua orang bertanya, tanya: apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah ini benar, benar berakhir? Atau ini baru awal dari sesuatu yang lebih buruk?
Lampu, lampu di dermaga kini menyala penuh.
Tidak lagi hanya beberapa yang menyala di sepanjang pagar besi. Tapi semua lampu, lampu, lampu kecil berwarna kuning yang diletakkan di tiang, tiang kayu, lampu, lampu taman yang dipasang di area kuliner, lampu, lampu sorot yang menerangi papan nama Dermaga KP3 dari kejauhan, kini menyala bersamaan.
Seperti mata yang terbuka lebar di tengah kegelapan.
Seperti bintang, bintang yang terlalu cepat turun ke bumi.
Seperti harapan, harapan yang tidak pernah padam.
Pantulan cahaya di sungai, pantulan kuning dari lampu, lampu dermaga, pantulan putih dari lampu sorot, pantulan merah dari lampu rem mobil yang lewat di jalan seberang, pantulan biru dari papan reklame toko di kejauhan, bergerak pelan di atas permukaan air yang gelap, menciptakan ilusi bahwa sungai itu sendiri sedang bernapas, sedang hidup, sedang menari mengikuti irama malam.
Pengunjung lain mulai kembali pada meja masing, masing, meja, meja kayu bulat yang sudah mengelupas vernisnya, dengan kursi, kursi plastik yang warnanya tidak ada yang sama, dengan taplak meja bermotif bunga, bunga yang sudah mulai pudar.
Mereka yang tadi menoleh, yang tadi mengintip dari balik bahu, yang tadi berbisik, bisik sambil menunjuk ke arah meja Iskandar, kini kembali ke makanan mereka. Suara tawa mulai terdengar lagi dari kejauhan, tawa yang tidak lagi segila tadi, tawa yang lebih pelan, tawa yang seperti orang yang baru sadar bahwa mereka telah menyaksikan sesuatu yang terlalu pribadi, sesuatu yang seharusnya tidak mereka lihat.
Namun di meja kecil dekat pagar dermaga itu, meja yang sama, dengan kursi yang sama, dengan orang, orang yang sama, waktu seperti berhenti.
Nayla masih berdiri.
Tubuhnya masih gemetar.
Gemetar seperti dedaunan yang tertiup angin kencang.
Gemetar seperti orang yang sedang menggigil kedinginan.
Gemetar seperti sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan.
Matanya masih merah.
Matanya masih sembab.
Matanya masih menyimpan sisa, sisa air mata dari pagi ini, dari semalam, dari semua malam sebelumnya.
Pipinya masih basah, basah oleh air mata yang tidak sempat ia keringkan, basah oleh keringat dingin yang keluar karena ketakutan, basah oleh sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.
Sementara amplop cokelat tipis itu, amplop yang menjadi pusat dari semua ketakutan, amplop yang menjadi bom waktu yang ditinggalkan oleh Aldebar, amplop yang menjadi simbol dari rahasia yang belum terbuka, masih tergeletak di tengah meja.
Diam.
Namun terasa lebih berat daripada batu.
Lebih berat daripada besi.
Lebih berat daripada semua beban yang selama ini Nayla pikul sendirian.
Diam seperti ancaman yang tidak terucapkan.
Diam seperti rahasia yang menunggu untuk dibuka.
Diam seperti masa lalu yang tidak mau mati.
"Nay…"
Rara berdiri lebih dulu.
Perempuan dengan mata tajam yang bisa melihat apa yang tidak terlihat oleh orang lain. Perempuan dengan intuisi yang tidak pernah salah. Perempuan yang sejak tadi diam, yang sejak tadi hanya mengamati, yang sejak tadi membaca situasi dengan saksama.
Ia berdiri dengan gerakan yang lembut, seperti kucing yang bangun dari tidurnya, seperti bunga yang mekar di pagi hari, seperti sesuatu yang tidak ingin mengganggu tetapi tidak bisa diam.
Lalu ia memeluk Nayla tanpa banyak kata.
Tangannya yang ramping dan hangat, tangan yang tidak pernah gemetar, tangan yang selalu tenang meskipun dalam situasi apa pun, tangan yang menjadi tempat bersandar bagi banyak orang, melingkar di pundak Nayla yang masih gemetar.
Tidak ada kata, kata.
Tidak ada "semuanya akan baik, baik saja".
Tidak ada "jangan khawatir, kami di sini".
Tidak ada "kamu kuat, kamu bisa melewati ini".
Hanya pelukan.
Pelukan yang hangat.
Pelukan yang tulus.
Pelukan yang mengatakan aku di sini, kamu tidak sendirian, aku tidak akan pergi.
Nayla tidak langsung membalas.
Tubuhnya masih kaku.
Tangannya masih tergantung di samping tubuh.
Matanya masih kosong.
Seperti orang yang sedang dalam keadaan shock. Seperti orang yang baru saja mengalami kecelakaan. Seperti orang yang baru sadar bahwa hidupnya tidak akan pernah sama lagi.
Tapi beberapa detik kemudian, beberapa detik yang terasa seperti abad, beberapa detik di mana Rara tidak melepaskan pelukannya, beberapa detik di mana Rara terus memeluknya dengan sabar, bahunya runtuh.
Runtuh seperti tembok yang tidak bisa lagi menahan beban.
Runtuh seperti jembatan yang patah di tengah.
Runtuh seperti sesuatu yang hancur berkeping, keping.
Dan tangis yang sejak tadi ditahan, yang ia tahan di Pasar Melati, yang ia tahan di depan warung kopi, yang ia tahan di rumahnya di hadapan orang tuanya, yang ia tahan di dermaga ini di hadapan semua orang, akhirnya pecah.
Pecah seperti kaca yang jatuh di lantai keramik.
Pecah seperti tangisan yang tidak bisa lagi ditahan.
Pecah seperti sesuatu yang hancur berkeping, keping.
Tangis yang bukan lagi tentang Aldebar.
Bukan hanya tentang masa lalu.
Bukan hanya tentang rahasia yang terbuka.
Melainkan tentang kelelahan.
Kelelahan karena terlalu lama kuat sendirian.
Kelelahan karena terlalu lama berpura, pura bahwa semuanya baik, baik saja.
Kelelahan karena terlalu lama menahan tangis di dalam kamar, di dalam gelap, di bawah selimut, ketika tidak ada yang mendengar.
Kelelahan karena terlalu lama menjadi beban bagi dirinya sendiri.
Anggun mengusap mata sendiri.
Tangannya yang mungil, dengan kuku yang dipotong pendek, dengan cincin perak di jari manis yang sudah mulai menghitam karena usia, bergerak cepat, mengusap air mata yang jatuh sebelum sempat membasahi pipinya.
"Kalau aku nangis juga, berarti kita satu meja bubar."
Suaranya bergetar.
Getar yang tidak bisa ia sembunyikan.
Getar yang menunjukkan bahwa ia juga terharu, bahwa ia juga ikut merasakan sakitnya Nayla, bahwa ia juga ingin menangis tetapi berusaha tegar demi sahabatnya.
Edo yang sejak tadi diam, yang tidak bergerak, yang tidak berbicara, yang tidak makan, menatap kosong ke arah mobil hitam yang sudah tidak ada lagi.
Matanya yang biasanya ceria, yang biasanya penuh dengan candaan, yang biasanya berbinar karena ia selalu menemukan sesuatu untuk ditertawakan, kini kosong.
Kosong seperti rumah yang ditinggalkan.
Kosong seperti sumur yang kering.
Kosong seperti sesuatu yang kehilangan seluruh isinya.
Lalu ia berkata pelan, dengan suara yang tidak pernah ia gunakan sebelumnya, suara yang lembut, suara yang serius, suara yang tanpa nada bercanda sama sekali.
"Saya mau marah… tapi tiba- tiba tidak lucu."
Sahrul menepuk pundaknya.
Tepukan yang lembut, tidak seperti biasanya yang keras dan bercanda.
Tepukan yang mengatakan aku mengerti perasaanmu, aku juga merasakan hal yang sama.
"Bagus. Akhirnya kamu manusia."
Edo menoleh.
Matanya yang kosong tadi, kini sedikit berbinar.
Binar yang masih sayu, tetapi ada.
"Jangan hina saya di saat emosional."
Untuk pertama kalinya malam itu, setelah Aldebar datang, setelah mobil hitam itu muncul, setelah rahasia, rahasia itu terbuka, setelah amplop cokelat tipis itu diletakkan di atas meja seperti bom waktu, candaan itu terdengar rapuh.
Rapuh seperti kaca yang sudah retak.
Rapuh seperti kertas yang sudah basah.
Rapuh seperti sesuatu yang hampir hancur tetapi masih berusaha bertahan.
Namun justru karena itu, karena Edo masih bisa bercanda meskipun suaranya bergetar, meskipun matanya berkaca, kaca, meskipun hatinya hancur melihat apa yang terjadi pada sahabatnya, Nayla tersenyum kecil di sela tangisnya.
Senyum yang kecil.
Senyum yang hampir tidak terlihat.
Senyum yang seperti bunga yang mekar di tengah gurun pasir.
Senyum yang mengatakan terima kasih. Terima kasih karena kalian masih di sini. Terima kasih karena kalian tidak pergi. Terima kasih karena kalian membuatku tertawa meskipun aku sedang hancur.
Dan semua orang di sana tahu, kadang orang yang paling berisik, orang yang tidak pernah bisa diam, yang selalu punya komentar untuk segala hal, yang selalu muncul di saat yang paling tidak tepat dengan candaan yang kadang lucu kadang memuakkan, justru yang paling tulus bertahan.
Karena mereka tidak tahu bagaimana cara mengatakan "aku sayang kamu" dengan kata, kata. Karena mereka tidak tahu bagaimana cara menunjukkan kepedulian tanpa terlihat canggung. Karena mereka tidak tahu bagaimana cara menjadi serius tanpa terlihat konyol.
Maka mereka bercanda.
Mereka membuat lelucon.
Mereka membuat orang lain tertawa.
Karena mereka percaya bahwa tawa adalah obat terbaik untuk luka.
Dan mereka tidak salah.
Iskandar belum menyentuh amplop itu.
Sejak ia meletakkannya kembali di atas meja, setelah memegangnya beberapa detik, merasakan beratnya, merasakan dinginnya, merasakan ancaman yang terkandung di dalamnya, ia tidak menyentuhnya lagi.
Tangannya yang hangat, hangat seperti api unggun di malam yang dingin, hangat seperti selimut tebal di musim hujan, hangat seperti secangkir cokelat panas setelah seharian bekerja di luar ruangan, kini tenang di pangkuannya.
Jari, jarinya yang panjang dan ramping, jari yang biasa memegang pulpen dengan lembut, yang biasa mengetik laporan dengan cepat, yang biasa menggenggam setang motor dengan mantap, tidak bergerak.
Ia hanya menatap Nayla.
Menatap dengan sabar.
Menatap dengan pengertian.
Menatap dengan cinta.
Karena malam ini, setelah semua yang terjadi, setelah semua yang ia dengar, setelah semua yang ia lihat, ia sadar satu hal penting:
Tidak semua luka harus langsung ditanya.
Tidak semua rahasia harus langsung dibuka.
Tidak semua masa lalu harus langsung dihadapi.
Kadang, yang dibutuhkan seseorang bukan jawaban.
Bukan solusi.
Bukan nasihat.
Tapi waktu.
Waktu untuk bernapas.
Waktu untuk menenangkan diri.
Waktu untuk mengumpulkan keberanian.
Waktu untuk memutuskan apakah ia siap untuk bercerita atau belum.
"Nayla."
Suara Iskandar pelan.
Lembut.
Tidak menekan.
Seperti tangan yang terulur di tengah gelap.
Seperti bisikan yang mengatakan aku di sini, kamu tidak sendirian, aku tidak akan memaksamu.
Nayla mengangkat wajah.
Matanya yang tadi tertutup, yang terpejam rapat seperti sedang berdoa, seperti sedang memohon kekuatan, seperti sedang berusaha menenangkan diri, kini terbuka perlahan.
Kelopak matanya yang berat, yang seperti sedang menahan beban yang tidak terlihat, terangkat satu per satu.
Matanya merah.
Matanya sembab.
Matanya masih menyimpan sisa, sisa air mata dari pagi ini, dari semalam, dari semua malam sebelumnya.
Pipinya basah.
Pipinya masih basah oleh air mata yang tidak sempat ia keringkan.
Pipi yang tadi pucat, kini sedikit kemerahan karena terlalu banyak menangis.
Dan saat melihat cara Iskandar menatapnya, cara matanya yang teduh, cara matanya yang jujur, cara matanya yang tidak berubah meskipun ia sudah tahu sebagian dari rahasianya, cara matanya yang masih sama seperti ketika pertama kali mereka bertemu di Dermaga KP3, ketika ia masih berdiri sendirian di ujung dermaga dengan blouse putih sederhana dan rok panjang biru muda, air mata Nayla justru jatuh lebih deras.
Bukan deras seperti hujan di musim penghujan.
Bukan deras seperti air terjun yang tidak pernah berhenti.
Tapi deras seperti sesuatu yang tidak bisa lagi ditahan.
Karena ia melihat bahwa Iskandar tidak takut.
Tidak takut dengan masa lalunya.
Tidak takut dengan rahasianya.
Tidak takut dengan lukanya.
Tidak takut dengan dirinya.
"Kenapa kamu masih di sini?"
Pertanyaan itu keluar nyaris seperti bisikan.
Bisikan yang seperti doa.
Bisikan yang seperti ratapan.
Bisikan yang hanya cukup untuk didengar oleh Iskandar.
Pertanyaan yang sebenarnya bukan pertanyaan.
Tapi pengakuan.
Pengakuan bahwa ia tidak mengerti mengapa Iskandar masih bertahan.
Pengakuan bahwa ia tidak mengerti mengapa Iskandar tidak pergi seperti orang, orang lain.
Pengakuan bahwa ia tidak mengerti mengapa Iskandar masih menatapnya dengan cara yang sama meskipun ia sudah tahu bahwa hidupnya rumit.
Iskandar menatapnya lama.
Matanya tidak berkedip.
Wajahnya tidak berubah.
Suaranya tidak bergetar.
Lalu ia menjawab sederhana, dengan suara yang keluar dari hati, dengan suara yang jujur, dengan suara yang tidak perlu diragukan lagi.
"Karena saya belum selesai."
Nayla mengerutkan dahi.
Kerutan kecil di dahinya, kerutan yang biasanya muncul ketika ia sedang membaca buku yang rumit, ketika ia sedang mencoba memecahkan teka, teki, ketika ia sedang berusaha memahami sesuatu yang tidak mudah dipahami, kini muncul.
"Selesai apa?"
Iskandar tersenyum kecil.
Senyum yang lembut.
Senyum yang hangat.
Senyum yang mengatakan aku tidak tahu bagaimana mengatakannya dengan kata, kata, jadi aku akan mengatakannya dengan cara yang paling sederhana.
"Membuktikan kalau tidak semua orang pergi."
Ruangan di dalam hati Nayla seolah runtuh perlahan.
Runtuh seperti tembok yang tidak bisa lagi menahan beban.
Runtuh seperti jembatan yang patah di tengah.
Runtuh seperti sesuatu yang hancur berkeping, keping.
Bukan runtuh karena hancur.
Tapi runtuh karena lega.
Runtuh karena untuk pertama kalinya dalam sekian lama, ia tidak perlu lagi memegang tembok itu sendirian.
Runtuh karena ada seseorang yang bersedia memegangnya bersama.
Karena kadang, yang paling membuat seseorang hancur bukan ditinggalkan.
Bukan ketika orang yang dicintai pergi tanpa pamit.
Bukan ketika janji, janji manis dilupakan begitu saja.
Tapi ketika ia mulai percaya bahwa seseorang benar, benar akan tinggal.
Ketika ia mulai membuka hatinya setelah sekian lama terkunci rapat.
Ketika ia mulai membiarkan dirinya berharap lagi, meskipun ia tahu bahwa harapan bisa menyakitkan.
Ridwan akhirnya duduk kembali.
Kursi plastik biru yang retak di bagian dudukan itu berderit protes menerima beban tubuhnya yang kurus tetapi tinggi. Derit yang nyaring, yang mengganggu, yang memecah keheningan seperti suara pintu yang terbuka di tengah malam.
Ia tidak duduk di kursi yang sama seperti sebelumnya. Ia bergeser sedikit ke kanan, lebih dekat ke Iskandar, lebih dekat ke amplop cokelat tipis yang masih tergeletak diam di atas meja.
Tatapannya jatuh pada amplop itu.
Matanya yang biasanya datar, yang seperti topeng kayu yang tidak bisa menunjukkan emosi, yang tidak pernah berubah meskipun dalam situasi apa pun, kini tajam.
Tajam seperti pisau.
Tajam seperti silet.
Tajam seperti sesuatu yang sedang menganalisis, sedang mempertimbangkan, sedang menghitung risiko.
"Sekarang pertanyaannya… itu mau diapakan?"
Semua menoleh.
Tidak ke Ridwan.
Tapi ke amplop itu.
Amplop cokelat tipis yang tergeletak diam di atas meja kayu yang sudah mengelupas vernisnya.
Diam seperti batu.
Diam seperti patung.
Diam seperti sesuatu yang tidak bergerak, tetapi memiliki kekuatan untuk menghancurkan.
Amplop itu kini seperti pusat dari semuanya.
Pusat dari semua ketakutan.
Pusat dari semua rahasia.
Pusat dari semua konflik.
Benda kecil.
Tipis.
Ringan.
Mungkin hanya berisi beberapa lembar kertas.
Mungkin tidak lebih berat dari lima puluh gram.
Tapi terasa seperti bom.
Bom yang siap meledak kapan saja.
Bom yang akan menghancurkan segalanya.
Bom yang tidak bisa dijinakkan dengan mudah.
Sahrul menatap Iskandar.
Matanya yang biasanya malas, yang biasanya setengah tertutup karena kurang tidur, yang biasanya tidak terlalu peduli dengan apa pun, kini serius.
Serius seperti orang yang sedang memberikan nasihat penting.
Serius seperti orang yang sedang memperingatkan temannya tentang bahaya.
"Jangan dibuka di sini."
Anggun mengangguk.
Anggukan yang mantap, yang tegas, yang mengatakan aku setuju, ini bukan tempatnya.
"Setuju."
Edo mengangkat tangan.
Tangannya yang gemuk dengan jari, jari yang pendek, dengan kuku yang dipotong pendek, dengan bekas, bekas oli motor yang tidak bisa hilang meskipun sudah dicuci berkali, kali, terangkat seperti murid di sekolah yang ingin bertanya.
"Kalau dibuka sekarang, saya takut saya pingsan. Dan saya belum bayar makanan."
Rara menatap datar.
Matanya yang tadi tajam, yang tadi seperti sedang membaca sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain, kini menatap Edo dengan ekspresi setengah kesal setengah geli.
"Kamu memang tidak pernah gagal jadi aneh."
Edo mengangguk.
Anggukan yang bangga, yang percaya diri, yang mengatakan itu bakat, bukan sesuatu yang bisa dipelajari.
"Itu bakat."
Untuk pertama kalinya senja itu, setelah Aldebar datang, setelah mobil hitam itu muncul, setelah rahasia, rahasia itu terbuka, setelah amplop cokelat tipis itu diletakkan di atas meja seperti bom waktu, Iskandar tersenyum tipis.
Senyum yang kecil.
Senyum yang hampir tidak terlihat.
Senyum yang seperti sinar matahari di pagi hari setelah hujan semalaman.
Karena bahkan di tengah situasi seperti itu, di tengah ketegangan yang hampir meledak, di tengah ancaman yang menggantung di udara, di tengah amplop cokelat tipis yang tergeletak di atas meja seperti bom waktu, sahabat, sahabatnya tetap menemukan cara menjaga semuanya agar tidak runtuh.
Mereka tidak memberikan nasihat bijak. Mereka tidak memberikan kata, kata motivasi. Mereka tidak memberikan pelukan hangat.
Tapi mereka tetap menjadi diri mereka sendiri.
Edo tetap bercanda meskipun suaranya bergetar.
Sahrul tetap melontarkan sindiran meskipun matanya berkaca, kaca.
Ridwan tetap tenang meskipun hatinau mungkin berdebar.
Rara tetap misterius meskipun air matanya jatuh.
Anggun tetap ceria meskipun ia ikut menangis.
Dan mereka tetap di sini.
Tidak pergi.
Tidak lari.
Tidak berpura, pura bahwa ini bukan urusan mereka.
Itu sudah cukup.
Lebih dari cukup.
Nayla menatap amplop itu.
Wajahnya yang tadinya pucat, yang tadinya basah oleh air mata, kini kembali tegang.
Tegang seperti tali yang ditarik terlalu kencang.
Tegang seperti karet gelang yang diregangkan hingga batas maksimal.
Tegang seperti sesuatu yang siap meledak kapan saja.
"Buang saja."
Semua diam.
Diam seperti di dalam gereja setelah kebaktian usai.
Diam seperti di dalam perpustakaan ketika semua orang sedang membaca.
Diam seperti di dalam hati ketika sedang merenung.
Iskandar menoleh.
Matanya yang tadi lembut, yang tadi penuh dengan pengertian, kini berubah. Berubah menjadi lebih serius. Lebih seperti seseorang yang sedang mempertimbangkan keputusan penting.
"Kamu yakin?"
Nayla menggigit bibir.
Gigitan yang tidak terlalu keras, tetapi cukup untuk meninggalkan bekas gigi di bibirnya yang pucat.
Bekas gigi yang akan hilang dalam beberapa menit, tetapi untuk saat ini terlihat jelas.
"Kalau dibuka… semuanya bisa berubah."
Kalimat itu membuat dada Iskandar berat.
Berat seperti ditindih batu besar.
Berat seperti sedang berenang di lautan yang dalam.
Berat seperti sedang menahan tangis yang tidak bisa keluar.
Karena sebenarnya, ia sudah tahu.
Yang Nayla takutkan bukan isi amplop itu.
Bukan dokumen rumah sakit.
Bukan surat, surat lama.
Bukan rahasia, rahasia yang selama ini ia simpan.
Tapi kemungkinan bahwa setelah tahu semuanya, Iskandar akan melihatnya berbeda.
Kemungkinan bahwa setelah tahu semuanya, Iskandar akan pergi.
Kemungkinan bahwa setelah tahu semuanya, ia akan kembali sendirian, seperti dulu, seperti selalu.
"Kalau tidak dibuka?"
Tanya Ridwan pelan.
Suaranya yang biasanya datar, yang biasanya tidak menunjukkan emosi, kini sedikit berbeda.
Ada getaran di sana.
Getaran yang hampir tidak terlihat, hampir tidak terdengar, tetapi ada.
Getaran yang menunjukkan bahwa ia juga merasakan beban situasi ini.
Nayla menunduk.
Rambutnya yang masih terurai, yang tidak diikat, yang tidak disisir rapi, yang dibiarkan seperti apa adanya, menutupi wajahnya, seperti tirai yang memisahkan dirinya dari dunia luar, seperti dinding yang melindunginya dari tatapan, tatapan yang ingin menembus ke dalam hatinya.
Air matanya jatuh lagi.
Jatuh satu per satu.
Seperti rintik hujan di musim kemarau.
Seperti tetesan air dari keran yang tidak pernah benar, benar tertutup rapat.
"Berarti saya terus takut."
Dan malam itu, untuk pertama kalinya, setelah berbulan, bulan, mungkin bertahun, tahun, menyimpan semuanya sendiri, berpura, pura kuat di depan semua orang, tersenyum meskipun hatinya hancur, Nayla mengakui sesuatu yang selama ini tak pernah ia ucapkan:
ia lelah hidup dengan rasa takut.
Lelah karena setiap kali mendengar suara mobil hitam, jantungnya berdebar lebih cepat.
Lelah karena setiap kali melihat bayangan di kaca spion, ia bertanya, tanya apakah Aldebar mengikutinya.
Lelah karena setiap kali ponselnya bergetar, ia takut itu pesan dari Aldebar.
Lelah karena setiap kali ia bahagia, ada suara di dalam kepalanya yang berkata "jangan terlalu senang, ini tidak akan bertahan lama".
Lelah karena setiap kali ia mulai percaya pada seseorang, ada suara di dalam hatinya yang berkata "jangan percaya, dia akan pergi juga seperti orang, orang lain".
Lelah karena setiap kali ia ingin membuka hati, ada suara di dalam jiwanya yang berkata "jangan buka, nanti akan terluka lagi".
Lelah.
Sangat lelah.
Dan ia tidak tahu harus berbuat apa lagi.
Iskandar menarik napas panjang.
Napas yang masuk ke paru, parunya dengan suara desisan pelan, seperti udara yang masuk ke ban yang bocor.
Napas yang membawa serta semua keraguan, semua ketakutan, semua pertanyaan yang selama ini berputar di kepalanya.
Lalu ia mengambil amplop itu.
Sekali lagi.
Tangannya yang hangat, hangat seperti api unggun di malam yang dingin, hangat seperti selimut tebal di musim hujan, hangat seperti secangkir cokelat panas setelah seharian bekerja di luar ruangan—menyentuh amplop cokelat tipis yang dingin.
Dingin seperti es.
Dingin seperti mayat.
Dingin seperti sesuatu yang sudah mati.
Nayla refleks memegang tangannya.
Tangannya yang dingin, dingin seperti es, dingin seperti mayat, dingin seperti sesuatu yang sudah mati, membungkus tangan Iskandar yang hangat.
"Jangan."
Suara Nayla pecah.
Pecah seperti kaca yang jatuh di lantai keramik.
Pecah seperti tangisan yang tidak bisa lagi ditahan.
Pecah seperti sesuatu yang hancur berkeping, keping.
Sentuhan itu lembut.
Lembut seperti kapas.
Lembut seperti bulu.
Lembut seperti sesuatu yang tidak akan melukai meskipun disentuh.
Namun penuh panik.
Panik seperti orang yang sedang berusaha mencegah sesuatu yang buruk terjadi.
Panik seperti orang yang sedang berusaha menahan tembok yang akan runtuh.
Panik seperti orang yang sedang berusaha menyelamatkan satu, satunya hal yang berharga dalam hidupnya.
Dan untuk beberapa detik, tak ada yang bergerak.
Tak ada yang bicara.
Tak ada yang bernapas.
Hanya tangan Nayla di tangan Iskandar.
Tangan yang dingin menggenggam tangan yang hangat.
Tangan yang gemetar menggenggam tangan yang tenang.
Tangan yang takut melepaskan menggenggam tangan yang siap menerima apa pun.
Hanya mata mereka yang saling menatap.
Mata Nayla yang basah, yang merah, yang masih menyimpan sisa, sisa air mata, yang penuh dengan ketakutan.
Mata Iskandar yang teduh, yang jujur, yang tidak berubah, yang penuh dengan ketegasan.
Hanya malam yang mendadak terasa terlalu sunyi.
Sunyi seperti di dalam gua yang paling dalam.
Sunyi seperti di dalam air yang paling tenang.
Sunyi seperti di dalam hati ketika sedang berdoa.
"Nayla."
Suara Iskandar sangat pelan.
Sangat pelan.
Hampir tidak terdengar.
Seperti bisikan.
Seperti doa.
Seperti sesuatu yang hanya cukup untuk didengar oleh Nayla.
"Kalau kamu bilang berhenti… saya berhenti."
Mata Nayla langsung basah lagi.
Basah seperti embun pagi di daun, daun rumput.
Basah seperti sungai yang mengalir deras setelah hujan.
Basah seperti sesuatu yang tidak bisa ditahan lagi.
Karena untuk pertama kalinya, ada seseorang yang benar, benar memberinya pilihan.
Bukan memaksa.
Bukan menuntut.
Bukan memegang kendali.
Bukan mengatakan "kamu harus".
Bukan mengatakan "kamu wajib".
Bukan mengatakan "kamu tidak punya pilihan".
Tapi bertanya.
Bertanya dengan lembut.
Bertanya dengan sabar.
Bertanya dengan hormat.
Dan menunggu.
Menunggu jawabannya.
Menunggu keputusannya.
Menunggu kesiapannya.
Tanpa tekanan.
Tanpa paksaan.
Tanpa ancaman.
Nayla menutup mata.
Kelopak matanya yang sembab, yang merah, yang masih menyimpan sisa, sisa air mata dari pagi ini, dari semalam, dari semua malam sebelumnya, tertutup rapat.
Tangannya masih menggenggam tangan Iskandar.
Genggaman yang erat.
Genggaman yang seperti sedang berpegangan pada satu, satunya hal yang nyata di tengah badai.
Genggaman yang seperti sedang berusaha menahan sesuatu yang akan pergi.
Lalu sangat pelan, ia melepaskannya.
Satu jari demi satu jari.
Seperti sedang melepaskan sesuatu yang sangat berharga.
Seperti sedang mengucapkan selamat tinggal meskipun ia tidak ingin.
Seperti sedang mempersiapkan diri untuk kehilangan.
Bukan karena ia siap.
Bukan karena ia sudah tidak takut.
Bukan karena ia sudah rela.
Tapi karena ia tidak ingin lagi terus hidup dikejar masa lalu.
Karena ia tidak ingin lagi terus berlari.
Karena ia tidak ingin lagi terus bersembunyi.
Karena ia lelah.
Lelah menjadi korban.
Lelah menjadi budak ketakutan.
Lelah menjadi tawanan rahasia.
Saat membuka mata, ia menatap Iskandar.
Matanya yang tadi tertutup, kini terbuka lebar.
Matanya yang tadi basah, kini lebih basah.
Matanya yang tadi merah, kini lebih merah.
Tapi ada sesuatu yang baru di sana.
Bukan ketakutan.
Bukan kelelahan.
Bukan keputusasaan.
Tapi tekad.
Tekad untuk menghadapi apa pun.
Tekad untuk berhenti berlari.
Tekad untuk berhenti bersembunyi.
Tekad untuk berhenti menjadi korban.
Dan dengan suara gemetar, dengan suara yang nyaris seperti bisikan, dengan suara yang hanya cukup untuk didengar oleh Iskandar, ia berkata.
"Buka."
Lampu, lampu di atas sungai, lampu, lampu kecil berwarna kuning yang diletakkan di sepanjang pagar besi dermaga, yang memantul di permukaan air yang gelap, bergoyang pelan ditiup angin malam.
Angin malam yang dingin.
Angin malam yang berhembus dari arah sungai, membawa aroma air yang khas, aroma kayu basah, aroma tanah, aroma sesuatu yang bersih dan segar.
Angin malam yang membuat daun, daun pepohonan di sekitar dermaga bergesekan satu sama lain, menciptakan suara kresek, kresek, kresek yang menenangkan.
Angin malam yang seolah ikut menahan napas, menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Dan seluruh meja mendadak diam.
Diam seperti di dalam gua yang paling dalam.
Diam seperti di dalam air yang paling tenang.
Diam seperti di dalam hati ketika sedang berdoa.
Karena mereka semua tahu, setelah amplop itu dibuka, tak ada satu pun dari mereka yang akan kembali ke malam sebelumnya.
Malam yang sederhana.
Malam yang penuh dengan tawa dan candaan.
Malam yang tidak dipenuhi oleh rahasia dan air mata.
Malam yang akan mereka rindukan di kemudian hari, ketika mereka sadar bahwa kebahagiaan yang sederhana adalah yang paling berharga.
BAB 28
Isi yang Tidak Pernah Diceritakan
Suasana di Dermaga KP3 berubah sunyi.
Sunyi seperti di dalam gua yang paling dalam. Sunyi seperti di dalam air yang paling tenang. Sunyi seperti di dalam hati ketika sedang berdoa. Sunyi yang bukan hanya ketiadaan suara, karena suara masih ada, suara masih terdengar, suara masih memenuhi telinga dengan segala macam frekuensi dan desibel. Suara gemericik air sungai yang mengalir pelan di bawah dermaga, suara gesekan kursi plastik yang bergeser di lantai kayu, suara napas beberapa orang yang sama, sama menahan tegang, suara detak jantung yang berdetak tidak beraturan, suara angin malam yang berhembus di antara tiang, tiang kayu.
Tapi sunyi karena tidak ada yang berani bicara.
Karena tidak ada yang berani memecah keheningan yang rapuh ini.
Karena semua orang sedang menunggu.
Menunggu dengan napas tertahan.
Menunggu dengan jantung berdebar.
Menunggu dengan doa, doa yang tidak berani diucapkan.
Tak ada lagi suara tawa. Tawa Edo yang biasanya menggelegar seperti suara mesin pemecah batu, yang biasanya membuat orang, orang di meja sebelah menoleh setengah terganggu setengah geli, yang biasanya menjadi soundtrack setiap pertemuan mereka, kini tidak ada. Mulut Edo yang biasanya tidak pernah diam, yang selalu punya komentar untuk segala hal, yang selalu melontarkan lelucon meskipun tidak ada yang tertawa, kini terkunci rapat. Bibirnya yang tebal itu mengerucut, seperti sedang berusaha menahan sesuatu, mungkin kata, kata, mungkin tangisan, mungkin keduanya.
Tak ada lagi candaan Edo. Edo yang biasanya bisa mengubah situasi paling tegang sekalipun menjadi tawa dengan satu kalimat absurd yang keluar dari mulutnya tanpa filter, kini diam. Tangannya yang tadi memegang tusuk sate, yang tadi berhenti di udara beberapa sentimeter dari bibirnya, kini telah meletakkan tusuk sate itu di atas piring. Tusuk bambu yang runcing di ujungnya, dengan sisa, sisa daging ayam yang masih menempel, dengan bumbu kacang yang mengering di permukaannya, tergeletak di atas piring plastik putih bersama sisa, sisa makanan lain yang tidak lagi ia sentuh.
Tak ada lagi obrolan ringan tentang makanan atau lampu senja atau tentang bagaimana Edo hampir terjatuh ke sungai karena tidak melihat pijakan. Tak ada lagi pertanyaan, pertanyaan nakal dari Anggun tentang kapan Iskandar akan melamar. Tak ada lagi komentar tajam dari Ridwan yang selalu tepat sasaran. Tak ada lagi senyum misterius dari Rara yang membuat orang bertanya, tanya apa yang sedang ia pikirkan.
Yang terdengar hanya: suara air sungai yang pelan, air Sungai Kapuas yang mengalir sejak zaman sebelum manusia ada, yang akan tetap mengalir setelah manusia punah, yang tidak peduli dengan drama manusia yang sedang berlangsung di tepiannya. Suara air yang ciprat, ciprat pelan ketika ombak kecil menerjang tiang, tiang dermaga kayu yang sudah mulai lapuk. Suara air yang kresek, kresek ketika riak, riak kecil bertabrakan satu sama lain lalu menghilang.
Gesekan kursi, kursi plastik yang bergeser sedikit ketika seseorang mengubah posisi duduknya karena tidak nyaman, karena terlalu tegang, karena ingin melakukan sesuatu tetapi tidak tahu harus melakukan apa. Suara kreek yang nyaring, yang mengganggu, yang seperti jeritan kecil dari kursi, kursi tua yang sudah lelah menahan beban.
Dan napas beberapa orang yang sama, sama menahan tegang, napas yang tertahan di tenggorokan, napas yang keluar masuk dengan cepat, napas yang seperti orang yang sedang berusaha menenangkan diri tetapi tidak bisa. Napas Edo yang biasanya keras dan berisik seperti kuda yang kelelahan, kini pelan, hampir tidak terdengar, seperti ia sedang berusaha sekecil mungkin mengambil udara. Napas Rara yang biasanya tenang dan teratur, kini terputus, putus, seperti sedang menangis tetapi tidak mengeluarkan suara. Napas Nayla yang paling terdengar, huff... huff... huff, seperti orang yang baru saja selesai berlari maraton, seperti orang yang sedang berusaha menarik napas di dalam air, seperti orang yang sedang tenggelam.
Di tengah meja, di bawah cahaya lampu kuning dermaga, lampu, lampu kecil yang digantung di tiang, tiang kayu, yang kabelnya menjuntai tidak karuan, yang bohlamnya ada yang masih menyala terang, ada yang sudah redup karena usia, amplop cokelat itu terasa seperti membawa seluruh masa lalu Nayla ke malam yang seharusnya indah.
Malam yang seharusnya dihabiskan dengan tawa dan candaan.
Malam yang seharusnya dihabiskan dengan makan sate dan minum es teh.
Malam yang seharusnya dihabiskan dengan melihat lampu, lampu yang memantul di permukaan sungai.
Malam yang seharusnya dihabiskan dengan melupakan semua masalah, setidaknya untuk beberapa jam.
Tapi malam itu tidak akan menjadi malam yang indah.
Malam itu akan menjadi malam yang mengubah segalanya.
Malam itu akan menjadi malam yang akan diingat selamanya.
Malam itu akan menjadi malam di mana rahasia terbesar Nayla akhirnya terbuka.
Dan di hadapan semua orang, di hadapan Iskandar yang duduk di sampingnya dengan tubuh tegang dan mata waspada, di hadapan Edo yang tidak lagi bercanda, di hadapan Ridwan yang kopinya sudah dingin tetapi masih dipegang erat, di hadapan Anggun yang air matanya masih basah di pipi, di hadapan Rara yang tangannya masih menggenggam erat tangan Nayla, di hadapan Sahrul yang tidak lagi batuk, batuk, di hadapan Lukman yang diam membeku di kursinya, Iskandar perlahan membuka segel amplop itu.
Gerakannya lambat.
Sengaja dibuat lambat.
Seperti sedang membuka sesuatu yang sangat rapuh.
Seperti sedang membuka pintu menuju ruangan yang tidak diketahui isinya.
Seperti sedang membuka lembaran baru dalam buku kehidupan yang tidak bisa ditutup kembali.
Jari, jarinya yang panjang dan ramping, jari yang biasa memegang pulpen dengan lembut, yang biasa mengetik laporan dengan cepat, yang biasa menggenggam setang motor dengan mantap—bergerak dengan hati, hati. Tidak terburu, buru. Tidak tergesa, gesa. Seperti seorang ahli bedah yang sedang melakukan operasi yang rumit, yang tahu bahwa satu kesalahan kecil bisa berakibat fatal.
Segel amplop yang tadinya masih utuh, lem yang mengering di lipatan kertas, yang sudah berbulan, bulan atau mungkin bertahun, tahun tidak pernah dibuka, kini terlepas satu per satu. Suara kreek kertas yang robek terdengar pelan di keheningan malam, seperti bisikan, seperti ratapan, seperti sesuatu yang menandakan bahwa tidak ada jalan untuk kembali.
Nayla menunduk.
Rambutnya yang masih terurai, yang tidak diikat, yang tidak disisir rapi, yang dibiarkan seperti apa adanya, menutupi wajahnya, seperti tirai yang memisahkan dirinya dari dunia luar, seperti dinding yang melindunginya dari tatapan, tatapan yang ingin menembus ke dalam hatinya.
Ia tidak berani melihat.
Ia tidak berani melihat isi amplop itu.
Ia tidak berani melihat ekspresi Iskandar ketika membaca isi amplop itu.
Ia tidak berani melihat reaksi teman, temannya.
Ia hanya bisa menunduk.
Menunduk seperti sedang berdoa.
Menunduk seperti sedang memohon agar bumi terbuka dan menelannya.
Menunduk seperti sedang berusaha menghilang dari dunia.
Tangannya saling menggenggam erat di pangkuan, bukan tangan Iskandar, bukan tangan ibunya, bukan tangan siapa pun, tapi tangannya sendiri. Jari, jarinya yang ramping dan dingin itu saling menggenggam, seperti sedang berdoa, seperti sedang memohon kekuatan, seperti sedang berusaha menenangkan diri. Jari, jarinya yang panjang dan lentik, jari yang biasa memegang pensil dengan lembut, yang biasa membalik halaman buku dengan hati, hati, yang biasa menulis kata, kata indah di buku catatan hijau mudanya, kini kaku. Kaku seperti tidak bisa digerakkan. Kaku seperti sedang mencengkeram sesuatu yang tidak terlihat. Kaku seperti sedang berusaha menahan diri untuk tidak berlari.
Jari, jarinya dingin.
Dingin seperti es.
Dingin seperti mayat.
Dingin seperti sesuatu yang sudah mati.
Bukan karena suhu udara yang dingin, senja di Kuala Kapuas memang sejuk, apalagi setelah hujan, apalagi di tepi sungai seperti ini, tapi tidak sedingin itu. Tapi karena ketakutan. Ketakutan yang membekukan darah di pembuluh nadi. Ketakutan yang membuat aliran darah menjadi lambat. Ketakutan yang membuat tubuh kehilangan kehangatannya.
Bibirnya pucat.
Pucat seperti kertas.
Pucat seperti kapur tulis.
Pucat seperti sesuatu yang baru saja melihat hantu.
Bibir yang tipis, yang biasanya basah karena sering ia jilat ketika gugup, kini kering, pecah, pecah di beberapa bagian, seperti tanah di musim kemarau yang tidak pernah tersentuh air.
Matanya terpejam.
Kelopak matanya yang sembab, yang merah, yang masih menyimpan sisa, sisa air mata dari pagi ini, dari semalam, dari semua malam sebelumnya, tertutup rapat. Seperti sedang berdoa. Seperti sedang memohon kekuatan. Seperti sedang berusaha menahan diri untuk tidak pingsan.
Karena beberapa rahasia bukan menakutkan karena belum diketahui.
Rahasia adalah misteri. Misteri bisa diimajinasikan. Misteri bisa diremehkan. Misteri bisa dianggap tidak seburuk kenyataannya. Selama rahasia itu masih tersimpan, selama amplop itu masih tertutup, selama kertas, kertas itu belum terbaca, Nayla masih bisa berpura, pura bahwa isinya tidak seburuk yang ia bayangkan. Masih bisa berpura-pura bahwa Aldebar hanya mengancam. Masih bisa berpura, pura bahwa semuanya akan baik, baik saja.
Tapi setelah dibuka, setelah kertas, kertas itu terbaca, setelah kata, kata itu terucap, tak akan pernah bisa disimpan kembali.
Seperti air yang tumpah.
Seperti kaca yang pecah.
Seperti kata, kata yang terucap.
Tidak akan pernah bisa kembali seperti semula.
Tidak akan pernah bisa diperbaiki.
Tidak akan pernah bisa dilupakan.
Iskandar mengeluarkan isi amplop itu perlahan.
Tangannya yang hangat, hangat seperti api unggun di malam yang dingin, hangat seperti selimut tebal di musim hujan, hangat seperti secangkir cokelat panas setelah seharian bekerja di luar ruangan, kini sedikit gemetar. Gemetar yang hampir tidak terlihat, hampir tidak terasa, tetapi Nayla bisa merasakannya karena tangannya yang dingin masih menggenggam tangan Iskandar meskipun ia melepaskannya tadi. Atau mungkin Iskandar yang menggenggam tangannya. Atau mungkin mereka saling menggenggam. Tidak ada yang tahu. Yang jelas, tangan mereka bersentuhan, dan Iskandar gemetar.
Bukan satu lembar.
Bukan dua lembar.
Tapi beberapa dokumen.
Kertas, kertas yang sudah agak kusut di beberapa bagian, yang lipatannya sudah tidak rapi lagi, yang tepinya sudah mulai sedikit robek karena sering dibuka dan ditutup, karena sering dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain, karena sering menjadi beban yang ingin dibuang tetapi tidak bisa.
Foto kecil.
Foto berukuran tiga kali empat, yang biasa digunakan untuk keperluan administrasi, dengan latar belakang biru yang pudar, dengan sudut, sudut yang sudah sedikit melengkung karena usia.
Dan satu surat yang sudah agak kusut, surat yang dilipat menjadi empat bagian, yang kertasnya sudah mulai menguning di pinggirannya, yang tulisannya masih jelas tetapi sedikit memudar di beberapa tempat, seperti ingatan yang mulai kabur tetapi tidak pernah benar, benar hilang.
Ridwan menatap dari samping.
Matanya yang biasanya datar, yang seperti topeng kayu yang tidak bisa menunjukkan emosi, yang tidak pernah berubah meskipun dalam situasi apa pun, kini sedikit membesar. Membesar bukan karena terkejut, Ridwan tidak mudah terkejut, Ridwan sudah melihat banyak hal dalam hidupnya, Ridwan mungkin sudah menduga bahwa isi amplop itu tidak akan sederhana. Tapi karena ia melihat sesuatu yang tidak ia duga. Sesuatu yang membuatnya berpikir bahwa masalah Nayla lebih rumit dari yang ia bayangkan.
Rara menahan napas.
Napasnya yang tadi sudah terputus, putus, kini benar, benar berhenti. Dadanya yang bidang, dada yang biasa naik turun dengan ritme yang teratur seperti gelombang laut yang tenang, kini tidak bergerak. Seolah ia sedang menyelam di dalam air dan tidak berani mengambil napas karena takut suara napasnya akan mengganggu.
Anggun memegang tangan Nayla.
Tangannya yang mungil, dengan kuku yang dipotong pendek, dengan cincin perak di jari manis yang sudah mulai menghitam karena usia, dengan urat, urat biru yang terlihat jelas di punggung tangannya karena kulitnya yang putih, membungkus tangan Nayla yang dingin. Tidak menggenggam erat seperti tadi, tapi memegang dengan lembut, seperti memegang sesuatu yang rapuh, seperti memegang bayi yang baru lahir, seperti memegang sesuatu yang tidak ingin ia jatuhkan.
Sahrul mendadak diam.
Diam seperti patung.
Diam seperti batu.
Diam seperti sesuatu yang tidak bisa bergerak.
Bahkan batuknya yang biasa kambuh setiap kali ia terlalu banyak bicara atau terlalu banyak tertawa, tidak muncul. Seolah tubuhnya tahu bahwa ini bukan saatnya untuk batuk. Seolah tubuhnya tahu bahwa suara batuknya akan mengganggu momen yang sakral ini.
Edo bahkan lupa dengan gelas es tehnya.
Gelas plastik bening dengan es batu yang sudah mencair, dengan sedotan warna merah yang sudah agak penyok karena digigit, dengan sisa teh manis di dasarnya, tergeletak di atas meja, tidak tersentuh, tidak diminum, tidak dipegang. Tangan Edo yang gemuk, yang biasanya tidak pernah diam, yang biasanya selalu memegang sesuatu, yang biasanya selalu bergerak, kini diam di pangkuannya. Jari, jarinya yang pendek dengan kuku yang dipotong pendek, dengan bekas, bekas oli motor yang tidak bisa hilang meskipun sudah dicuci berkali, kali, tidak bergerak.
Semua menunggu.
Semua menahan napas.
Semua menatap Iskandar.
Lembar pertama adalah dokumen rumah sakit.
Kertas berwarna putih dengan kop surat Rumah Sakit dr. H. Soemarno Sostroatmojo, rumah sakit terbesar di Kuala Kapuas, rumah sakit rujukan untuk wilayah Kapuas dan sekitarnya, rumah sakit yang sudah puluhan tahun melayani masyarakat dengan segala keterbatasannya. Kop surat itu dicetak dengan tinta biru, dengan logo rumah sakit di sampingnya, gambar salib yang melambangkan pertolongan, gambar ular yang melambangkan pengobatan, gambar sesuatu yang tidak pernah benar, benar dipahami oleh orang awam.
Iskandar membaca cepat.
Matanya bergerak dari baris ke baris, dari kata ke kata, dari angka ke angka.
Jari, jarinya yang tadinya gemetar, kini berhenti gemetar. Bukan karena ia sudah tenang. Tapi karena ia sedang fokus. Fokus seperti seorang detektif yang sedang membaca bukti di tempat kejadian perkara. Fokus seperti seorang hakim yang sedang membaca berkas perkara sebelum memutuskan vonis. Fokus seperti seseorang yang sedang mencari kebenaran di balik tumpukan kata, kata medis yang rumit.
Nama pasien: Nayla Azzahra.
Nama yang sama dengan nama yang ia kenal. Nama yang sama dengan nama yang membuatnya jatuh cinta. Nama yang sama dengan nama yang sekarang tertulis di atas kertas rumah sakit, diketik dengan huruf kapital, tanpa salah ketik, tanpa koreksi.
Tanggal: 21 April 2023.
Tiga tahun lalu.
Tiga tahun yang lalu, ketika Iskandar masih sibuk dengan pekerjaannya di Banjarmasin, ketika ia masih mengejar ambisi yang sekarang terasa seperti sesuatu yang kekanak, kanakan, ketika ia masih belum tahu bahwa ada perempuan bernama Nayla yang suatu hari akan mengubah hidupnya, Nayla terbaring di rumah sakit ini, sendirian, ketakutan, terluka.
Diagnosa: komplikasi kehamilan dan trauma fisik.
Komplikasi kehamilan. Kata, kata yang terdengar medis, yang terdengar netral, yang tidak menunjukkan emosi apa pun. Tapi di balik kata, kata itu, ada rasa sakit. Ada ketakutan. Ada air mata. Ada darah. Ada nyawa yang hampir hilang.
Trauma fisik. Trauma bukan hanya pada tubuh. Tapi pada jiwa. Pada hati. Pada pikiran. Pada seluruh keberadaan seseorang.
Iskandar berhenti.
Jari, jarinya berhenti bergerak.
Matanya berhenti bergerak.
Napasnya berhenti bergerak.
Tatapannya perlahan berubah.
Berubah dari fokus menjadi terkejut.
Berubah dari terkejut menjadi sedih.
Berubah dari sedih menjadi marah.
Bukan marah pada Nayla.
Tapi marah pada Aldebar.
Marah pada dirinya sendiri karena tidak ada di sana.
Marah pada dunia karena membiarkan Nayla menderita sendirian.
Karena satu kalimat di bagian bawah, satu kalimat yang diketik dengan huruf kecil, yang tidak dicetak tebal, yang tidak diberi garis bawah, yang hampir tidak terlihat jika tidak membaca dengan saksama—membuat jantungnya menegang.
Menegang seperti tali yang ditarik terlalu kencang.
Menegang seperti karet gelang yang diregangkan hingga batas maksimal.
Menegang seperti sesuatu yang siap meledak kapan saja.
"Pasien datang dalam kondisi perdarahan akibat benturan pada bagian abdomen."
Benturan.
Bukan karena kecelakaan.
Bukan karena jatuh dari tangga.
Bukan karena sesuatu yang tidak disengaja.
Tapi benturan.
Benturan yang disengaja.
Benturan yang disebabkan oleh tangan manusia.
Benturan yang datang dari seseorang yang seharusnya melindungi, bukan melukai.
Benturan yang mengubah segalanya.
Benturan yang membuat Nayla kehilangan bayinya.
Benturan yang membuat Nayla kehilangan kepercayaannya pada cinta.
Benturan yang membuat Nayla takut untuk percaya lagi.
Iskandar mengangkat wajah perlahan.
Gerakannya lambat, seperti seseorang yang sedang mengangkat beban yang sangat berat. Lehernya yang tegang, otot, otot di lehernya menonjol, urat, urat biru terlihat jelas di bawah kulit yang tipis, bergerak dengan hati, hati, seolah takut jika bergerak terlalu cepat, sesuatu akan pecah.
Menatap Nayla.
Nayla yang masih menunduk.
Nayla yang rambutnya masih menutupi wajah.
Nayla yang tangannya masih gemetar di pangkuan.
Nayla yang bahunya masih berguncang kecil karena menahan tangis.
Nayla yang tidak berani mengangkat wajah.
Nayla yang tidak berani melihat Iskandar.
Nayla yang tidak berani mengetahui bagaimana ekspresi Iskandar setelah membaca dokumen itu.
Nayla menutup mata.
Kelopak matanya yang sembab, yang merah, yang masih menyimpan sisa, sisa air mata dari pagi ini, dari semalam, dari semua malam sebelumnya, tertutup rapat.
Air mata langsung jatuh.
Jatuh satu per satu.
Seperti rintik hujan di musim kemarau.
Seperti tetesan air dari keran yang tidak pernah benar, benar tertutup rapat.
Seperti sesuatu yang tidak bisa ditahan lagi.
Karena akhirnya, rahasia yang paling ia kubur, rahasia yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun, rahasia yang bahkan tidak pernah ia akui pada dirinya sendiri, rahasia yang ia pikir akan mati bersama dirinya, tidak lagi tersembunyi.
Rahasia itu terbuka.
Terbuka di depan Iskandar.
Terbuka di depan sahabat, sahabatnya.
Terbuka di depan semua orang.
Terbuka di tengah dermaga yang ramai.
Terbuka di bawah lampu, lampu kuning yang memantul di permukaan sungai.
Terbuka seperti luka yang dirobek kembali.
Terbuka seperti pintu yang tidak bisa ditutup lagi.
Terbuka seperti sesuatu yang akan meninggalkan bekas yang tidak akan pernah hilang.
"Apa maksud benturan?"
Suara Rara nyaris berbisik.
Bisikan yang seperti doa.
Bisikan yang seperti ratapan.
Bisikan yang hanya cukup untuk didengar oleh orang, orang yang duduk di dekatnya.
Matanya yang tadi tajam, yang seperti sedang membaca sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain, yang seperti sedang mencari kebenaran di balik kata, kata, kini lembut. Lembut seperti kapas. Lembut seperti bulu. Lembut seperti sesuatu yang tidak akan melukai meskipun disentuh.
Tapi di balik kelembutan itu, ada kemarahan.
Kemarahan yang tidak bisa ia sembunyikan.
Kemarahan yang membuat jari, jarinya yang memegang tangan Nayla gemetar.
Kemarahan yang membuat dadanya naik turun dengan cepat.
Kemarahan yang membuat matanya berkaca, kaca.
Tak ada yang menjawab.
Tak ada yang bisa menjawab.
Karena semua orang di meja itu, Edo, Ridwan, Anggun, Sahrul, Lukman, juga baru mengetahui hal ini.
Mereka juga terkejut.
Mereka juga marah.
Mereka juga sedih.
Mereka juga tidak tahu harus berkata apa.
Sampai Iskandar membuka lembar kedua.
Lembar kedua adalah dokumen yang sama, tetapi dengan catatan tambahan.
Catatan yang ditulis dengan tangan, bukan diketik, bukan dicetak, tapi ditulis dengan bolpoin biru, dengan tulisan dokter yang hampir tidak terbaca, yang seperti coretan, yang seperti kode rahasia yang hanya bisa dibaca oleh sesama dokter.
Catatan dari dokter yang menangani Nayla.
Mungkin seorang dokter kandungan.
Mungkin seorang dokter umum.
Mungkin seorang psikiater.
Tidak ada yang tahu.
Tapi isinya jelas.
"Pasien tampak mengalami tekanan psikologis berat dan menunjukkan tanda, tanda ketakutan terhadap pasangan."
Malam di dermaga mendadak terasa jauh lebih dingin.
Dingin seperti es di kutub utara.
Dingin seperti ruang mayat di rumah sakit.
Dingin seperti hati yang sudah mati.
Bukan dingin karena suhu udara, suhu masih normal, sekitar dua puluh empat derajat Celsius, masih nyaman untuk orang yang tidak sedang dalam keadaan shock.
Tapi dingin karena kata, kata itu.
Tekanan psikologis berat.
Tanda, tanda ketakutan terhadap pasangan.
Artinya: Nayla takut pada Aldebar.
Artinya: selama ini, Nayla tidak hanya terluka secara fisik.
Tapi juga terluka secara mental.
Artinya: selama ini, Nayla hidup dalam ketakutan.
Ketakutan bahwa Aldebar akan marah lagi.
Ketakutan bahwa Aldebar akan menyakitinya lagi.
Ketakutan bahwa Aldebar tidak akan pernah berubah.
Ketakutan bahwa ia tidak bisa pergi.
Ketakutan bahwa ia tidak akan pernah bisa lepas.
Dan ketakutan itu, ketakutan yang sudah berlangsung selama bertahun, tahun, ketakutan yang menjadi teman tidurnya setiap malam, ketakutan yang membuatnya tersentak bangun dari mimpi buruk, kini terbaca dengan jelas di atas kertas.
Terbaca oleh Iskandar.
Terbaca oleh sahabat, sahabatnya.
Terbaca oleh semua orang.
"Nayla…"
Suara Iskandar nyaris tak terdengar.
Nyaris bisikan.
Nyaris doa.
Nyaris ratapan.
Suara yang keluar dari tenggorokannya yang kering, yang terasa seperti mengeluarkan api, yang terasa seperti sedang berteriak tetapi tidak ada suara.
Nayla menggeleng.
Jangan.
Seolah itu satu, satunya yang mampu ia katakan.
Satu kata.
Tiga huruf.
Jangan.
Tiga huruf yang keluar dari mulutnya dengan suara yang nyaris seperti bisikan, dengan suara yang seperti doa, dengan suara yang hanya cukup untuk didengar oleh Iskandar.
Tiga huruf yang mengatakan jangan lanjutkan. Jangan baca lebih jauh. Jangan biarkan semuanya terbuka. Jangan biarkan semua orang tahu. Jangan biarkan aku hancur di depan kalian semua.
Tapi semuanya sudah terlanjur terbuka.
Kertas, kertas itu sudah terbaca.
Kata, kata itu sudah terucap.
Rahasia itu sudah tidak lagi menjadi rahasia.
Dan Nayla tidak bisa berbuat apa, apa selain menunduk, menangis, dan berharap bahwa bumi akan terbuka dan menelannya.
Edo menatap Iskandar.
Matanya yang biasanya ceria, yang biasanya penuh dengan candaan, yang biasanya berbinar karena ia selalu menemukan sesuatu untuk ditertawakan, kini kosong.
Kosong seperti rumah yang ditinggalkan.
Kosong seperti sumur yang kering.
Kosong seperti sesuatu yang kehilangan seluruh isinya.
"Is…"
Untuk pertama kalinya, suara Edo kehilangan seluruh humornya.
Suara yang biasanya keras, yang biasanya menggelegar, yang biasanya seperti suara mesin pemecah batu, kini pelan. Pelan seperti bisikan. Pelan seperti ratapan. Pelan seperti sesuatu yang tidak ingin didengar oleh siapa pun.
Karena sekarang, ini bukan lagi kisah cinta rumit antara Nayla dan Aldebar.
Bukan lagi tentang tunangan yang tidak bisa move on.
Bukan lagi tentang mantan kekasih yang masih berharap.
Ini jauh lebih gelap.
Ini adalah cerita tentang kekerasan.
Cerita tentang trauma.
Cerita tentang seorang perempuan yang selama bertahun, tahun hidup dalam ketakutan.
Cerita tentang seorang laki, laki yang menggunakan cinta sebagai kedok untuk menyakiti.
Cerita tentang bagaimana cinta bisa berubah menjadi racun.
Cerita tentang bagaimana seseorang yang kita cintai bisa menjadi sumber ketakutan terbesar dalam hidup kita.
Iskandar membuka surat terakhir.
Surat yang dilipat menjadi empat bagian.
Kertas yang sudah mulai menguning di pinggirannya, kuning seperti warna daun yang jatuh di musim gugur, kuning seperti warna sesuatu yang sudah tua dan rapuh, kuning seperti warna kenangan yang mulai memudar tetapi tidak pernah benar, benar hilang.
Tulisan tangan.
Tinta biru.
Tinta yang sudah sedikit pudar di beberapa tempat, pudar karena usia, pudar karena sering disentuh, pudar karena air mata yang jatuh di atasnya.
Tulisan Nayla.
Tulisannya rapi, teratur, dengan huruf, huruf yang jelas dan mudah dibaca. Tulisannya seperti dirinya, lembut, tenang, tetapi penuh dengan perasaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata, kata.
Tulisannya yang sama dengan tulisan di buku catatan hijau mudanya.
Tulisannya yang sama dengan tulisan yang ia gunakan untuk menuliskan daftar belanjaan, catatan harian, dan mungkin puisi, puisi yang tidak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun.
Tulisannya yang sekarang menjadi saksi bisu dari luka yang selama ini ia pendam.
Kalimat pertama langsung membuat napas Iskandar tertahan.
Napas yang masuk ke paru, parunya dengan suara desisan pelan, seperti udara yang masuk ke ban yang bocor, tiba, tiba berhenti. Seperti ada yang menutup keran udara. Seperti ada yang mencekik lehernya dari dalam.
Dada Iskandar terasa sesak.
Sesak seperti ditindih batu besar.
Sesak seperti sedang berenang di lautan yang dalam.
Sesak seperti sedang menahan tangis yang tidak bisa keluar.
Matanya yang tadi fokus membaca, kini berhenti.
Matanya yang tadi bergerak dari baris ke baris, kini terpaku pada satu kalimat.
Satu kalimat yang sederhana.
Satu kalimat yang pendek.
Tapi satu kalimat yang berbobot seperti seluruh alam semesta.
"Kalau suatu hari sesuatu terjadi padaku, mungkin ini satu, satunya cara seseorang tahu bahwa aku sebenarnya takut."
Iskandar menatap tulisan itu.
Matanya tidak berkedip.
Bibirnya tidak bergerak.
Napasnya tidak keluar.
Ia hanya menatap.
Menatap kata, kata yang ditulis oleh Nayla bertahun, tahun lalu.
Kata, kata yang ditulis ketika Nayla masih bersama Aldebar.
Kata, kata yang ditulis ketika Nayla masih terjebak dalam hubungan yang menyakitkan.
Kata, kata yang ditulis ketika Nayla sudah tidak tahu harus berpaling ke mana.
Kata, kata yang ditulis ketika Nayla sudah tidak punya siapa pun untuk meminta tolong.
Kata, kata yang ditulis ketika Nayla merasa bahwa satu, satunya cara untuk melarikan diri adalah dengan menulis.
Menulis tentang ketakutannya.
Menulis tentang rasa sakitnya.
Menulis tentang harapannya bahwa suatu hari, seseorang akan membaca surat ini dan tahu bahwa ia tidak baik, baik saja.
Dan Iskandar membaca lebih jauh.
Matanya bergerak ke baris berikutnya.
Ke kata berikutnya.
Ke kalimat berikutnya.
Setiap kata terasa seperti pisau yang menusuk dadanya.
Setiap kalimat terasa seperti silet yang mengiris hatinya.
Setiap paragraf terasa seperti palu yang menghantam kepalanya.
"Aldebar tidak pernah memukulku seperti orang lain bayangkan."
"Ia hanya sekali mendorongku saat kami bertengkar."
"Tapi satu kali itu cukup membuat semuanya berubah."
Satu kali.
Hanya satu kali.
Tapi satu kali sudah cukup.
Satu kali sudah cukup untuk menghancurkan kepercayaan.
Satu kali sudah cukup untuk membuat luka yang tidak akan pernah sembuh.
Satu kali sudah cukup untuk mengubah cinta menjadi ketakutan.
Satu kali sudah cukup untuk membuat Nayla sadar bahwa ia tidak aman.
Satu kali sudah cukup untuk membuat Nayla ingin pergi.
Tapi ia tidak pergi.
Ia bertahan.
Karena Aldebar menangis.
Karena Aldebar meminta maaf.
Karena Aldebar berjanji tidak akan mengulangi.
Karena Aldebar mengatakan bahwa ia juga kehilangan.
Karena Aldebar mengatakan bahwa jika Nayla pergi, semua rasa sakit itu akan sia, sia.
Dan Nayla percaya.
Percaya bahwa Aldebar akan berubah.
Percaya bahwa cinta bisa memperbaiki segalanya.
Percaya bahwa jika ia bertahan, semuanya akan baik, baik saja.
Tapi Aldebar tidak berubah.
Dan semuanya tidak baik, baik saja.
Nayla menangis semakin keras.
Tangis yang tidak lagi tertahan.
Tangis yang pecah seperti kaca yang jatuh di lantai keramik.
Tangis yang keluar dari perut, yang membuat bahunya berguncang, yang membuat dadanya naik turun dengan cepat.
Anggun langsung memeluknya.
Tangannya yang mungil, dengan kuku yang dipotong pendek, dengan cincin perak di jari manis yang sudah mulai menghitam karena usia, dengan urat, urat biru yang terlihat jelas di punggung tangannya karena kulitnya yang putih, melingkar di pundak Nayla yang berguncang.
Ia tidak mengatakan apa, apa.
Tidak perlu.
Karena kadang, pelukan lebih berarti daripada seribu kata.
Rara ikut menutup mulut menahan tangis.
Telapak tangannya yang hangat, tangan yang biasa memegang buku, yang biasa memegang pena, yang biasa memegang ponsel untuk mengirim pesan, pesan panjang yang tidak pernah dibalas, menutup mulutnya yang terbuka karena terisak.
Air matanya jatuh di sela, sela jarinya.
Jatuh di punggung tangannya.
Jatuh di pangkuannya yang basah.
Sementara Iskandar membaca dengan tangan gemetar.
Tangannya yang hangat, hangat seperti api unggun di malam yang dingin, hangat seperti selimut tebal di musim hujan, hangat seperti secangkir cokelat panas setelah seharian bekerja di luar ruangan, kini gemetar.
Gemetar seperti dedaunan yang tertiup angin kencang.
Gemetar seperti orang yang sedang menggigil kedinginan.
Gemetar seperti sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan.
Matanya yang tadi fokus, yang tadi bergerak dari baris ke baris, kini kabur.
Kabur karena air mata yang tidak bisa ia tahan.
Air mata yang jatuh di pipinya tanpa suara.
Air mata yang jatuh di atas kertas surat, membuat tinta sedikit luntur, membuat tulisan Nayla menjadi sedikit kabur.
Air mata yang jatuh karena ia membaca kata, kata Nayla selanjutnya.
"Ia menangis setelah itu."
"Meminta maaf berhari, hari."
"Bilang ia tidak sengaja."
"Bilang ia juga kehilangan."
"Bilang ia tidak akan mengulangi."
Ridwan memejamkan mata.
Kelopak matanya yang tipis, dengan bulu mata yang tidak terlalu panjang, dengan sedikit keriput di sudutnya karena usia, tertutup rapat.
Seperti sedang berdoa.
Seperti sedang memohon kekuatan.
Seperti sedang berusaha menahan amarah yang menggelegak di dalam dadanya.
Tangannya yang memegang kopi, kopi yang sudah dingin, yang lapisan minyaknya sudah terbentuk di permukaan, yang tidak lagi menarik untuk diminum, kini mengepal.
Buku, buku jarinya yang kurus dan panjang itu memutih karena tekanan.
Kulit di buku, buku jarinya yang tipis meregang, memperlihatkan urat, urat biru di bawahnya.
Urat, urat di tangannya menonjol, seperti akar, akar pohon yang muncul ke permukaan tanah.
Sahrul menunduk.
Dagu yang sedikit berganda itu menyentuh dada.
Pundak yang lebar itu merosot.
Matanya yang biasanya malas, yang biasanya setengah tertutup karena kurang tidur, yang biasanya tidak terlalu peduli dengan apa pun, kini tertutup rapat.
Air matanya jatuh diam, diam.
Jatuh di pangkuannya.
Jatuh di tangannya yang gemetar.
Jatuh di lantai kayu dermaga.
Karena mereka semua tahu, kadang luka terbesar bukan berasal dari kebencian.
Bukan dari musuh.
Bukan dari orang asing.
Bukan dari seseorang yang tidak kita kenal.
Melainkan dari seseorang yang kita cintai.
Dari seseorang yang kita percaya.
Dari seseorang yang berjanji untuk melindungi kita.
Dari seseorang yang kemudian menyakiti kita.
Lalu menangis.
Lalu meminta maaf.
Lalu berjanji tidak akan mengulangi.
Lalu mengulangi lagi.
Lalu menangis lagi.
Lalu meminta maaf lagi.
Lalu berjanji lagi.
Lalu mengulangi lagi.
Siklus yang tidak pernah berakhir.
Siklus yang membuat korban terjebak.
Siklus yang membuat korban berpikir bahwa merekalah yang salah.
Siklus yang membuat korban berpikir bahwa jika mereka lebih baik, pasangan mereka tidak akan marah.
Siklus yang membuat korban berpikir bahwa mereka pantas mendapatkan perlakuan itu.
Iskandar lanjut membaca.
Matanya yang kabur karena air mata, ia usap dengan punggung tangannya. Gerakan yang kasar, yang cepat, yang tidak peduli dengan air mata yang masih terus mengalir.
Ia tidak ingin berhenti.
Ia tidak bisa berhenti.
Ia harus membaca sampai selesai.
Ia harus tahu semua yang Nayla rasakan.
Ia harus tahu semua yang Nayla alami.
Ia harus tahu semua yang Nayla pendam selama ini.
"Yang paling membuatku takut bukan saat ia mendorongku."
"Tapi saat aku mulai percaya bahwa mungkin semua memang salahku."
Tangan Iskandar mengepal.
Buku, buku jarinya yang panjang dan ramping, jari yang biasa memegang pulpen dengan lembut, yang biasa mengetik laporan dengan cepat, yang biasa menggenggam setang motor dengan mantap, kini mengepal.
Kulit di buku, buku jarinya memutih.
Urat, urat di tangannya menonjol.
Kuku, kukunya yang pendek menusuk telapak tangannya, meninggalkan bekas, bekas setengah lingkaran yang merah.
Lampu dermaga, lampu, lampu kecil berwarna kuning yang diletakkan di sepanjang pagar besi, yang memantul di permukaan air yang gelap, yang menciptakan ilusi bahwa sungai itu sendiri sedang tersenyum, memantul di matanya.
Matanya yang basah.
Matanya yang merah.
Matanya yang penuh dengan amarah yang tidak bisa ia salurkan.
Namun di dalam dadanya, sesuatu sedang berubah.
Bukan menjadi lebih tenang.
Tapi menjadi lebih panas.
Lebih seperti api yang menyala di perapian.
Lebih seperti lahar yang mengalir di gunung berapi.
Lebih seperti sesuatu yang siap meledak.
Bukan cemburu.
Cemburu adalah emosi yang egois, dan saat ini ia tidak sedang memikirkan dirinya sendiri.
Tapi amarah.
Amarah yang murni.
Amarah yang jujur.
Amarah yang lahir karena melihat orang yang dicintainya diperlakukan tidak adil.
Amarah yang lahir karena mengetahui bahwa selama ini, Nayla hidup dalam ketakutan yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun.
Amarah yang lahir karena menyadari bahwa Aldebar, laki, laki yang mengaku mencintai Nayla, laki, laki yang bertunangan dengan Nayla, laki, laki yang seharusnya melindungi Nayla, telah melakukan hal yang tidak bisa dimaafkan.
Bukan hanya mendorong Nayla.
Tapi membuat Nayla percaya bahwa semua itu salahnya.
Membuat Nayla percaya bahwa ia pantas diperlakukan seperti itu.
Membuat Nayla percaya bahwa ia tidak berhak bahagia.
Membuat Nayla percaya bahwa ia tidak berhak pergi.
Membuat Nayla percaya bahwa ia harus bertahan.
Membuat Nayla percaya bahwa cinta adalah penderitaan.
Dan itu, lebih dari dorongan fisik, lebih dari benturan yang menyebabkan ia kehilangan bayinya—adalah kejahatan yang sesungguhnya.
Nayla akhirnya menutup wajahnya.
Kedua telapak tangannya yang dingin, dingin seperti es, dingin seperti mayat, dingin seperti sesuatu yang sudah mati, menutupi wajahnya yang basah oleh air mata.
Jari, jarinya yang panjang dan lentik, jari yang biasa memegang pensil dengan lembut, yang biasa membalik halaman buku dengan hati, hati, yang biasa menulis kata, kata indah di buku catatan hijau mudanya, kini menekan pelipisnya, menekan pipinya, menekan matanya, seperti sedang berusaha menahan sesuatu yang akan pecah.
"Saya tidak mau kamu tahu seperti ini…"
Suara itu hancur.
Hancur seperti kaca yang jatuh di lantai keramik.
Hancur seperti tangisan yang tidak bisa lagi ditahan.
Hancur seperti sesuatu yang pecah berkeping, keping.
Suara yang keluar dari sela, sela jarinya, dari sela, sela tangannya yang menutup wajah, dari sela, sela tangannya yang gemetar.
Suara yang membuat semua orang di meja itu semakin sedih.
Suara yang membuat Edo menunduk lebih dalam.
Suara yang membuat Ridwan memejamkan mata lebih erat.
Suara yang membuat Rara menangis lebih keras.
Suara yang membuat Anggun memeluk Nayla lebih erat.
Suara yang membuat Sahrul mengepalkan tangan.
Suara yang membuat Lukman diam membeku.
Iskandar menatapnya.
Matanya yang basah, yang merah, yang penuh dengan amarah yang tidak bisa ia salurkan, kini berubah. Berubah menjadi lembut. Lembut seperti kapas. Lembut seperti bulu. Lembut seperti sesuatu yang tidak akan melukai meskipun disentuh.
Tapi di dalamnya, ada luka.
Luka karena melihat Nayla dalam keadaan seperti ini.
Luka karena mengetahui bahwa selama ini, Nayla menderita sendirian.
Luka karena tidak bisa melakukan apa pun selain menatap.
"Kenapa kamu simpan sendiri?"
Nayla tertawa kecil di sela tangis.
Tawa yang menyakitkan.
Tawa yang pahit.
Tawa yang seperti kopi tanpa gula yang diminum dalam keadaan dingin.
Tawa yang seperti obat yang harus ditelan meskipun rasanya tidak enak.
Tawa yang seperti kebenaran yang tidak ingin didengar oleh siapa pun.
"Karena saya malu."
"Untuk apa?"
Nayla menatapnya.
Matanya yang basah, yang merah, yang masih menyimpan sisa, sisa air mata, kini terbuka lebar.
Terbuka seperti jendela yang ingin memperlihatkan isi rumah.
Terbuka seperti buku yang halamannya tidak bisa disembunyikan lagi.
Terbuka seperti sesuatu yang tidak bisa lagi ia sembunyikan.
"Karena saya masih sempat mencintainya setelah semuanya."
Kalimat itu membuat seluruh meja diam.
Diam seperti di dalam gereja setelah kebaktian usai.
Diam seperti di dalam perpustakaan ketika semua orang sedang membaca.
Diam seperti di dalam hati ketika sedang merenung.
Karena itulah luka paling rumit.
Luka yang tidak bisa dijelaskan dengan logika.
Luka yang tidak bisa diobati dengan obat.
Luka yang tidak bisa disembuhkan dengan waktu.
Ketika seseorang tahu ia pernah disakiti.
Ketika seseorang tahu ia tidak diperlakukan dengan baik.
Ketika seseorang tahu ia harus pergi.
Namun sebagian hatinya masih sempat berharap.
Masih sempat percaya bahwa orang itu akan berubah.
Masih sempat mencintai meskipun cinta itu menyakitkan.
Masih sempat bertahan meskipun bertahan itu menyiksa.
Dan kemudian, setelah semuanya berakhir, setelah ia berhasil pergi, setelah ia berhasil melepaskan—ia masih mencintai.
Bukan orang yang sama.
Tapi kenangan tentang orang itu.
Kenangan tentang saat, saat ketika semuanya masih indah.
Kenangan tentang janji, janji yang tidak pernah ditepati.
Kenangan tentang cinta yang perlahan berubah menjadi racun.
Dan rasa bersalah karena masih mencintai orang yang telah menyakitinya.
Rasa bersalah karena tidak bisa membenci sepenuhnya.
Rasa bersalah karena masih ada bagian kecil dari hatinya yang merindukan masa lalu.
Itulah luka yang paling rumit.
Luka yang tidak akan pernah benar, benar sembuh.
Luka yang akan tetap ada, seperti bekas luka di kulit, tidak sakit lagi, tetapi tidak pernah hilang.
"Bukan salah kamu."
Iskandar berkata pelan.
Suaranya tidak tinggi, tidak rendah.
Tidak menghakimi.
Tidak menyalahkan.
Tidak seperti "kenapa kamu masih mencintainya?" yang biasanya diucapkan dengan nada kesal.
Tapi seperti pernyataan.
Pernyataan yang sederhana.
Pernyataan yang jujur.
Pernyataan yang keluar dari hati.
Nayla menggeleng.
Gelengan yang pelan, yang lemas, yang seperti orang yang kehabisan energi.
"Kamu tidak mengerti."
"Kalau begitu jelaskan."
Mata Nayla membesar.
Membesar seperti piring.
Membesar seperti bola.
Membesar seperti sesuatu yang tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
Karena tidak ada nada marah di suara Iskandar.
Tidak ada nada jijik.
Tidak ada nada kecewa.
Tidak ada nada menghakimi.
Tidak ada nada "aku sudah tahu semua, dan aku tidak suka dengan apa yang aku dengar".
Hanya satu hal: ia ingin tetap mendengar.
Ia ingin tetap mendengar cerita Nayla.
Ia ingin tetap mendengar apa pun yang Nayla katakan.
Ia ingin tetap mendengar meskipun itu menyakitkan.
Ia ingin tetap mendengar meskipun itu membuatnya marah.
Ia ingin tetap mendengar meskipun itu membuatnya ingin menghancurkan sesuatu.
Karena ia percaya bahwa Nayla butuh didengar.
Karena ia percaya bahwa Nayla butuh seseorang yang mau mendengar tanpa menghakimi.
Karena ia percaya bahwa dengan mendengar, ia bisa memahami.
Karena ia percaya bahwa dengan memahami, ia bisa membantu.
Karena ia percaya bahwa dengan membantu, ia bisa menyembuhkan.
Bukan menyembuhkan luka Nayla.
Tapi menyembuhkan luka hatinya sendiri.
Luka karena melihat Nayla menderita.
Luka karena tidak bisa melakukan apa pun.
Luka karena merasa tidak cukup baik.
Nayla menatap sungai yang gelap.
Air Sungai Kapuas yang mengalir sejak zaman sebelum manusia ada.
Air yang gelap, yang tidak bisa ditembus oleh cahaya.
Air yang menyimpan rahasia di dasarnya.
Air yang tidak pernah berhenti mengalir, meskipun kadang terasa seperti berhenti.
Air yang menjadi saksi bisu bagi segala sesuatu yang terjadi di tepiannya.
Air yang tidak pernah mengeluh.
Air yang tidak pernah menuntut.
Air yang tidak pernah menghakimi.
Lalu akhirnya berkata, dengan suara yang nyaris seperti bisikan, dengan suara yang hanya cukup untuk didengar oleh Iskandar.
"Malam itu kami bertengkar. Karena saya bilang saya ingin menunda pernikahan."
Ia menarik napas panjang.
Napas yang masuk ke paru, parunya dengan suara desisan pelan, seperti udara yang masuk ke ban yang bocor.
Napas yang terasa seperti sedang berusaha menenangkan diri, seperti sedang berusaha mengumpulkan keberanian, seperti sedang berusaha mempersiapkan diri untuk mengatakan sesuatu yang tidak pernah ia katakan sebelumnya.
"Dia marah."
Suaranya pecah.
Pecah seperti kaca yang jatuh di lantai keramik.
Pecah seperti tangisan yang tidak bisa lagi ditahan.
Pecah seperti sesuatu yang hancur berkeping, keping.
"Saya mundur."
"Lalu saya jatuh."
"Setelah itu… bayi kami tidak selamat."
Air mata kembali jatuh.
Jatuh deras.
Deraih seperti hujan di musim penghujan.
Deraih seperti air terjun yang tidak pernah berhenti.
Deraih seperti sesuatu yang tidak bisa lagi ditahan.
"Dan sejak hari itu… saya tidak pernah tahu siapa yang lebih saya benci, dia… atau diri saya sendiri."
Tak ada yang bisa langsung menjawab.
Tak ada yang bisa langsung memberikan kata, kata penghiburan.
Tak ada yang bisa langsung mengatakan "tidak apa, apa" karena ini bukan "tidak apa, apa".
Ini adalah luka yang besar.
Luka yang dalam.
Luka yang tidak bisa disembuhkan dengan kata, kata.
Luka yang membutuhkan waktu.
Waktu yang lama.
Waktu yang mungkin tidak cukup.
Dan malam itu, di Dermaga KP3, di bawah lampu, lampu kuning yang memantul di permukaan sungai, misteri yang selama ini menggantung, misteri tentang masa lalu Nayla, misteri tentang mengapa ia takut pada Aldebar, misteri tentang mengapa ia tidak bisa melepaskan, akhirnya berubah menjadi kebenaran.
Aldebar bukan hanya masa lalu Nayla.
Ia adalah luka yang selama ini hidup diam, diam di dalam dirinya.
Luka yang tidak mau pergi.
Luka yang terus berdarah setiap kali namanya disebut.
Luka yang membuat Nayla takut untuk percaya lagi.
Luka yang membuat Nayla merasa bahwa ia tidak pantas untuk dicintai.
Luka yang membuat Nayla merasa bahwa semua yang terjadi adalah salahnya.
Dan Iskandar, yang duduk di sampingnya, hanya bisa menatap.
Menatap perempuan yang ia cintai.
Menatap luka yang tidak bisa ia hapus.
Menatap air mata yang tidak bisa ia keringkan.
Menatap masa lalu yang tidak bisa ia ubah.
Dan berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan menjadi Aldebar versi lain.
Bahwa ia tidak akan pernah menyakiti Nayla.
Bahwa ia tidak akan pernah membuat Nayla takut.
Bahwa ia akan menjadi tempat yang aman bagi Nayla.
Bahwa ia akan menjadi rumah yang nyaman untuk pulang.
Namun saat Iskandar hendak menutup surat itu, saat ia melipat kembali kertas, kertas yang sudah mulai kusut, saat ia berusaha memasukkannya kembali ke dalam amplop cokelat tipis, saat ia ingin mengakhiri malam yang panjang dan berat ini, satu lembar kecil terjatuh dari dalam amplop.
Lembar yang tidak ia lihat sebelumnya.
Lembar yang terselip di antara dokumen, dokumen lain.
Lembar yang mungkin sengaja disembunyikan di bagian paling bawah.
Foto.
Ukuran kecil.
Mungkin tiga kali empat.
Sudutnya sedikit sobek, sobek seperti seseorang yang pernah mencoba merobeknya tetapi tidak tega, seperti seseorang yang ingin menghancurkannya tetapi tidak bisa, seperti seseorang yang menyimpannya meskipun ia tahu foto itu seharusnya tidak ia simpan.
Iskandar mengambilnya.
Jari, jarinya yang masih gemetar, gemetar seperti dedaunan yang tertiup angin kencang, gemetar seperti orang yang sedang menggigil kedinginan, gemetar seperti sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan, mengambil foto itu dari atas meja.
Lalu wajahnya berubah.
Berubah seperti langit yang tiba, tiba mendung setelah cerah.
Berubah seperti warna yang luntur terkena air.
Berubah seperti seseorang yang baru melihat hantu di siang bolong.
Bukan pucat seperti Nayla.
Bukan pucat karena takut.
Tapi pucat karena terkejut.
Terkejut yang luar biasa.
Terkejut yang membuatnya lupa bernapas.
Terkejut yang membuat jantungnya berhenti berdetak sejenak.
Ridwan ikut menoleh.
Matanya yang biasanya datar, yang seperti topeng kayu yang tidak bisa menunjukkan emosi, yang tidak pernah berubah meskipun dalam situasi apa pun, kini membesar.
Membesar seperti piring.
Membesar seperti bola.
Membesar seperti sesuatu yang tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Is…"
"Apa itu?"
Iskandar menatap foto itu cukup lama.
Matanya tidak berkedip.
Bibirnya tidak bergerak.
Napasnya tidak keluar.
Ia hanya menatap.
Menatap wajah, wajah dalam foto itu.
Wajah yang ia kenal.
Wajah yang ia cintai.
Wajah yang ia benci.
Wajah yang ia rindukan.
Wajah yang ia sesali.
Wajah yang ia sesali tidak pernah ia kenal lebih dalam.
Lalu perlahan mengangkatnya ke arah cahaya.
Cahaya lampu kuning dermaga yang redup.
Cahaya yang tidak cukup terang untuk menerangi seluruh foto.
Tapi cukup untuk membuat Iskandar melihat dengan jelas.
Dan malam itu, di bawah lampu Dermaga KP3, misteri itu justru menjadi lebih gelap.
Karena di dalam foto itu, bukan hanya Nayla dan Aldebar yang terlihat.
Ada seseorang lain berdiri di belakang mereka.
Seseorang yang berdiri agak di belakang, tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh.
Seseorang yang wajahnya tidak sepenuhnya jelas karena fokus kamera tertuju pada Nayla dan Aldebar.
Tapi seseorang yang Iskandar kenali dari postur tubuhnya, dari cara ia berdiri, dari pakaian yang ia kenakan.
Seseorang yang sangat dikenal Iskandar.
Seseorang yang sejak kecil menjadi rumah baginya.
Seseorang yang selalu ia hormati.
Seseorang yang selalu ia banggakan.
Seseorang yang tidak pernah ia bayangkan berada dalam foto ini.
Seseorang yang tidak pernah ia bayangkan memiliki hubungan dengan Nayla dan Aldebar.
Seseorang yang tidak pernah ia bayangkan menyembunyikan sesuatu darinya.
Dan orang itu adalah.
Ayah Iskandar sendiri.
BAB 29
Wajah di Dalam Foto
Angin malam di Dermaga KP3 mendadak terasa lebih dingin.
Dingin seperti es yang meleleh di telapak tangan. Dingin seperti air yang mengalir di sela, sela jari. Dingin seperti sesuatu yang tidak bisa ditahan meskipun kita sudah berusaha sekuat tenaga. Dingin yang menusuk hingga ke tulang, hingga ke sumsum, hingga ke bagian paling dalam dari hati yang selama ini ia kira sudah tidak bisa lagi terluka.
Bukan dingin karena suhu udara yang turun, suhu masih normal, sekitar dua puluh tiga derajat Celsius, masih nyaman untuk orang yang tidak sedang dalam keadaan shock. Bukan dingin karena angin yang berhembus lebih kencang, angin masih sama seperti tadi, pelan, lembut, sesekali membawa aroma sungai yang khas, aroma kayu basah, aroma tanah, aroma sesuatu yang bersih dan segar. Tapi dingin karena sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan termometer. Sesuatu yang datang dari dalam. Sesuatu yang membuat bulu kuduk merinding, membuat rambut di lengan berdiri, membuat kulit terasa seperti ditusuk, tusuk jarum kecil.
Suara sungai masih mengalir pelan di bawah dermaga, air Sungai Kapuas yang mengalir sejak zaman sebelum manusia ada, yang akan tetap mengalir setelah manusia punah, yang tidak peduli dengan drama manusia yang sedang berlangsung di tepiannya. Suara ciprat, ciprat pelan ketika ombak kecil menerjang tiang, tiang dermaga kayu yang sudah mulai lapuk. Suara kresek, kresek ketika riak, riak kecil bertabrakan satu sama lain lalu menghilang. Suara yang sama seperti puluhan tahun lalu, seperti ratusan tahun lalu, seperti sejak sungai ini pertama kali terbentuk.
Lampu, lampu di tepian air, lampu, lampu kecil berwarna kuning yang diletakkan di sepanjang pagar besi dermaga, yang memantul di permukaan sungai yang gelap, yang menciptakan ilusi bahwa sungai itu sendiri sedang tersenyum, sedang bahagia, sedang tidak peduli dengan drama manusia yang sedang berlangsung di tepiannya, tetap memantul indah. Pantulan kuning itu bergerak, gerak setiap kali ada riak, seperti kunang, kunang yang menari di atas air, seperti bintang, bintang yang jatuh ke bumi dan memilih untuk tinggal di permukaan sungai, seperti harapan, harapan yang tidak pernah padam.
Pengunjung lain masih tertawa di kejauhan, tawa yang tidak lagi segila tadi, tawa yang lebih pelan, tawa yang seperti orang yang baru sadar bahwa mereka telah menyaksikan sesuatu yang terlalu pribadi, sesuatu yang seharusnya tidak mereka lihat. Tawa yang membuat Iskandar sadar bahwa dunia di sekitarnya masih berjalan, bahwa hidup masih berjalan, bahwa tidak peduli seberapa hancur hatinya saat ini, matahari akan tetap terbit besok pagi, sungai akan tetap mengalir, dan orang, orang akan tetap tertawa.
Warung, warung masih melayani pembeli, pedagang sate masih sibuk membalik tusukan di atas bara api, pedagang jagung bakar masih sibuk mengoleskan mentega dan keju, pedagang es teh masih sibuk menuangkan teh manis ke dalam gelas plastik yang berisi es batu. Asap mengepul dari gerobak, gerobak, bercampur dengan aroma makanan dan udara malam yang lembab.
Namun di meja kecil dekat pagar dermaga itu, meja kayu bulat yang sudah mengelupas vernisnya, yang kakinya tidak rata sehingga sedikit miring, yang taplak mejanya bermotif bunga, bunga yang sudah mulai pudar karena terlalu sering dicuci, dunia Iskandar seolah berhenti.
Berhenti seperti jarum jam yang tidak lagi bergerak. Berhenti seperti film yang berhenti di tengah adegan. Berhenti seperti napas yang tertahan di tenggorokan.
Karena di tangannya, di dalam foto kecil yang baru jatuh dari amplop cokelat tipis itu—foto berukuran tiga kali empat, dengan sudut, sudut yang sudah sedikit melengkung karena usia, dengan permukaan yang sudah sedikit buram karena sering disentuh, dengan tinta yang sudah mulai memudar di beberapa bagian, terdapat satu wajah yang seharusnya tidak ada di sana.
Wajah yang terlalu ia kenal.
Wajah yang sejak kecil menjadi rumah baginya.
Wajah yang selalu ia lihat setiap pagi di meja makan.
Wajah yang selalu ia lihat setiap malam di ruang tamu.
Wajah yang selalu tersenyum ketika ia pulang dari perantauan.
Wajah yang selalu berkata "kamu sudah makan, Nak?" ketika ia baru saja tiba di rumah.
Wajah yang selalu menjadi tempatnya bertanya ketika ia bingung menghadapi hidup.
Wajah yang selalu menjadi teladannya, panutannya, inspirasinya.
Wajah yang tidak pernah ia bayangkan memiliki hubungan dengan masa lalu Nayla.
Wajah yang tidak pernah ia bayangkan hadir dalam foto yang diambil di rumah sakit.
Wajah yang tidak pernah ia bayangkan menjadi bagian dari rahasia yang selama ini disembunyikan oleh Nayla dan Aldebar.
Ayahnya sendiri.
Haji Rahman.
Laki, laki yang membesarkannya bersama Ibunya, Bu Ratna. Tapi ada sesuatu tentang foto ini yang membuat Iskandar merasa bahwa ia tidak mengenal ayahnya sebaik yang ia kira.
"Is?"
Suara Ridwan pelan.
Pelannya tidak seperti bisikan. Pelannya seperti seseorang yang sedang berbicara pada dirinya sendiri. Pelannya seperti seseorang yang sedang merenung. Pelannya seperti seseorang yang sedang mencoba menerima kenyataan yang tidak masuk akal.
Ridwan menatap perubahan wajah sahabatnya. Wajah Iskandar yang biasanya tenang, yang seperti danau yang tidak beriak, yang seperti langit yang tidak berawan, yang seperti sesuatu yang tidak mudah terkejut, kini pucat. Pucat seperti kertas. Pucat seperti kapur tulis. Pucat seperti sesuatu yang baru saja melihat hantu di siang bolong. Pucat seperti orang yang baru sadar bahwa dunianya tidak seperti yang ia bayangkan.
Sahrul ikut mendekat. Tubuhnya yang tambun bergeser di kursi plastik biru yang retak di bagian dudukan, membuat kursi itu berderit protes. Matanya yang biasanya malas, yang biasanya setengah tertutup karena kurang tidur, yang biasanya tidak terlalu peduli dengan apa pun, kini terbuka lebar. Terbuka seperti jendela yang ingin memperlihatkan isi rumah. Terbuka seperti buku yang halamannya tidak bisa disembunyikan lagi.
"Kenapa?"
Namun Iskandar tak langsung menjawab.
Tangannya membeku. Jari, jarinya yang tadinya gemetar, gemetar seperti dedaunan yang tertiup angin kencang, kini diam. Diam seperti batu. Diam seperti patung. Diam seperti sesuatu yang tidak bisa bergerak.
Matanya terpaku. Terpaku pada foto kecil di tangannya. Terpaku pada wajah yang terlalu ia kenal. Terpaku pada kenyataan yang tidak masuk akal. Terpaku pada pertanyaan, pertanyaan yang mulai berputar di kepalanya seperti pusaran air yang tidak bisa dihentikan.
Napasnya tertahan. Napas yang tadi keluar masuk dengan cepat, seperti orang yang baru saja selesai berlari, seperti orang yang sedang berusaha menenangkan diri, seperti orang yang sedang berusaha tidak pingsan, kini berhenti. Seperti ada yang menutup keran udara. Seperti ada yang mencekik lehernya dari dalam.
Karena dalam foto itu, foto yang diambil di rumah sakit, foto yang memperlihatkan Nayla dan Aldebar berdiri di depan sebuah gedung rumah sakit, foto yang wajah Nayla tampak pucat, pucat seperti sekarang, pucat seperti ketika ia pertama kali melihat foto ini, pucat seperti ketika ia mengingat kembali semua yang terjadi, Aldebar memegang bahu Nayla. Tangannya yang besar dan kekar, tangan yang mungkin pernah memeluk Nayla dengan lembut, tangan yang mungkin pernah mengusap rambut Nayla dengan penuh kasih, tangan yang mungkin pernah menulis surat cinta untuk Nayla, kini memegang bahu Nayla dengan cara yang aneh. Bukan memegang dengan lembut, bukan memegang dengan penuh kasih, tapi memegang seperti sedang memiliki. Memegang seperti sedang mengatakan kamu milikku, kamu tidak boleh pergi, kamu tidak boleh lepas dariku.
Dan di belakang mereka, sedikit buram, sedikit buram karena fokus kamera tertuju pada Nayla dan Aldebar, sedikit buram karena jarak yang agak jauh, sedikit buram karena mungkin tangan yang memegang kamera sedikit gemetar, namun jelas, sangat jelas bagi Iskandar yang telah melihat wajah itu setiap hari selama tiga puluh tahun hidupnya.
Seorang pria berpeci hitam.
Peci hitam yang biasa dikenakan ayahnya setiap kali pergi ke masjid. Peci hitam yang sudah menemani ayahnya sejak Iskandar masih kecil. Peci hitam yang sudah usang di beberapa bagian, yang warnanya sudah tidak hitam pekat lagi tapi lebih ke hitam keabu, abuan, yang bentuknya sudah tidak lagi sempurna karena sering dicuci dan sering dipakai.
Pria itu sedang berbicara dengan dokter. Dokter berjas putih, dengan stetoskop melingkar di leher, dengan raut wajah yang serius, dengan tangan yang memegang clipboard berisi dokumen, dokumen medis. Wajah pria itu tidak sepenuhnya terlihat karena ia sedang menoleh ke arah dokter, tetapi Iskandar bisa mengenali postur tubuhnya, cara ia berdiri, cara ia meletakkan tangan di saku celana, cara ia sedikit membungkuk ketika berbicara dengan seseorang yang lebih rendah.
Pria itu adalah Haji Rahman.
Ayah Iskandar.
Ayahnya sendiri.
Laki, laki yang selama tiga puluh tahun ini ia kenal sebagai sosok yang jujur, yang baik, yang tidak pernah menyembunyikan sesuatu darinya.
Laki, laki yang selalu mengajarinya untuk berkata jujur, untuk tidak berbohong, untuk tidak menyembunyikan rahasia.
Laki, laki yang selalu mengatakan "jika kamu punya masalah, cerita pada Ayah. Ayah akan selalu ada untukmu."
Laki, laki yang sekarang, dari foto ini, terlihat seperti memiliki rahasia.
Rahasia yang bahkan tidak pernah ia ceritakan pada anaknya.
Rahasia yang berhubungan dengan Nayla.
Rahasia yang berhubungan dengan Aldebar.
Rahasia yang berhubungan dengan masa lalu yang kelam.
Rahasia yang jika terbuka, akan mengubah segalanya.
"Ya Allah…"
Rara menutup mulut.
Telapak tangannya yang hangat, tangan yang biasa memegang buku, yang biasa memegang pena, yang biasa memegang ponsel untuk mengirim pesan, pesan panjang yang tidak pernah dibalas, menutup mulutnya yang terbuka karena terkejut.
Matanya yang tadi tajam, yang tadi seperti sedang membaca sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain, kini membesar. Membesar seperti piring. Membesar seperti bola. Membesar seperti sesuatu yang tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Air matanya yang tadi sudah jatuh, kini jatuh lebih deras. Jatuh di sela, sela jarinya. Jatuh di punggung tangannya. Jatuh di pangkuannya yang basah.
Anggun menatap tak percaya.
Matanya yang biasanya ceria, yang biasanya penuh dengan candaan, yang biasanya berbinar karena ia selalu menemukan sesuatu untuk ditertawakan, kini kosong. Kosong seperti rumah yang ditinggalkan. Kosong seperti sumur yang kering. Kosong seperti sesuatu yang kehilangan seluruh isinya.
Bibirnya yang biasanya selalu tersenyum, bibir yang tebal, yang merah, yang selalu ia poles dengan lipstik warna pink muda, kini bergetar. Bergetar seperti suara orang yang sedang menahan tangis.
Edo bahkan sampai berdiri.
Tubuhnya yang tambun, yang biasanya menjadi sumber tawa, yang biasanya menjadi target ejekan karena ukurannya, yang biasanya membuat orang geli melihatnya bergerak, kini berdiri tegap. Tegap seperti tembok benteng. Tegap seperti gunung yang tidak bisa digoyahkan gempa. Tegap seperti seseorang yang siap melindungi temannya dengan apa pun yang ia miliki.
Kursi plastik biru yang retak di bagian dudukan itu hampir jatuh karena gerakannya yang terlalu cepat. Hampir, tetapi tidak jadi. Kaki kursi itu bergeser di lantai kayu dermaga dengan suara kreek yang nyaring, memecah keheningan seperti pecahan kaca yang jatuh di lantai keramik.
"Sebentar."
Suaranya tidak lagi bercanda.
Suaranya tidak lagi ringan.
Suaranya tidak lagi seperti biasanya.
Suaranya berat.
Berat seperti beban yang tidak bisa diangkat.
Berat seperti batu besar yang menghimpit dada.
Berat seperti sesuatu yang tidak ingin ia ucapkan tetapi harus.
"Kenapa ayahmu ada di situ?"
Pertanyaan itu menggantung di udara.
Menggantung seperti pedang Damocles.
Menggantung seperti ancaman yang tidak terlihat.
Menggantung seperti sesuatu yang harus dijawab, tetapi tidak ada yang berani bertanya.
Menggantung seperti bom waktu yang siap meledak kapan saja.
Tidak ada yang bisa menjawab.
Karena pertanyaan itu bukan hanya mengejutkan mereka.
Bukan hanya membuat mereka terkejut.
Bukan hanya membuat mereka bertanya, tanya.
Pertanyaan itu menghantam Iskandar lebih keras daripada apa pun malam itu.
Lebih keras daripada semua kata, kata Aldebar.
Lebih keras daripada semua rahasia yang terbuka.
Lebih keras daripada semua air mata yang jatuh.
Karena ini bukan tentang Nayla.
Ini bukan tentang Aldebar.
Ini bukan tentang masa lalu.
Ini tentang keluarganya sendiri.
Ini tentang ayahnya sendiri.
Ini tentang laki, laki yang selama ini ia hormati, ia kagumi, ia cintai.
Ini tentang laki, laki yang mungkin memiliki peran dalam penderitaan Nayla.
Ini tentang laki, laki yang mungkin memilih diam ketika seharusnya berbicara.
Ini tentang laki, laki yang mungkin memilih menyembunyikan kebenaran ketika seharusnya mengungkapkannya.
Nayla yang sejak tadi menangis, yang sejak tadi menunduk, yang sejak tadi rambutnya menutupi wajah, yang sejak tadi bahunya berguncang, perlahan mengangkat wajah.
Gerakannya lambat.
Seperti seseorang yang sedang mengangkat beban yang sangat berat.
Seperti seseorang yang sedang berusaha keluar dari lumpur yang dalam.
Seperti seseorang yang sedang berusaha bangkit setelah jatuh.
Rambutnya yang basah oleh air mata, rambut hitam panjang yang biasanya diikat rapi, yang biasanya disisir dengan hati, hati, yang biasanya menjadi salah satu keindahannya, kini menempel di pipi, di dahi, di leher. Beberapa helai masuk ke mulutnya, tetapi ia tidak peduli. Ia tidak merasakannya. Yang ia rasakan hanyalah ketakutan.
Matanya yang sembab, yang merah, yang masih menyimpan sisa, sisa air mata dari pagi ini, dari semalam, dari semua malam sebelumnya, kini melihat foto di tangan Iskandar.
Dan wajahnya langsung berubah.
Berubah seperti langit yang tiba, tiba mendung setelah cerah.
Berubah seperti warna yang luntur terkena air.
Berubah seperti seseorang yang baru sadar bahwa rahasia yang paling ia takutkan terbuka, akhirnya terbuka.
Bukan kaget.
Bukan terkejut.
Bukan tidak percaya.
Tapi seperti seseorang yang baru sadar bahwa rahasia yang dikubur terlalu dalam akhirnya menemukan jalan keluar sendiri.
Seperti air yang terus mengalir, akhirnya akan menemukan celah.
Seperti api yang terus menyala, akhirnya akan membakar segalanya.
Seperti kebenaran yang terus ditutup, tutupi, akhirnya akan terungkap juga.
"Nayla…"
Suara Iskandar serak.
Serak seperti orang yang baru saja berteriak sekuat tenaga.
Serak seperti orang yang kehilangan suaranya karena menangis.
Serak seperti orang yang sedang berusaha mengatakan sesuatu tetapi kata, kata tidak mau keluar.
Tangannya gemetar, gemetar seperti dedaunan yang tertiup angin kencang, gemetar seperti orang yang sedang menggigil kedinginan, gemetar seperti sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan—saat memperlihatkan foto itu.
Foto kecil yang sekarang menjadi pusat dari semua pertanyaan.
Foto kecil yang sekarang menjadi bukti bahwa ayahnya terlibat.
Foto kecil yang sekarang menjadi awal dari konflik baru yang lebih besar.
"Kenapa ayah saya ada di sini?"
Pertanyaan itu sederhana.
Pertanyaan itu pendek.
Pertanyaan itu tidak bertele, tele.
Tapi pertanyaan itu seperti pisau.
Pisau yang tajam.
Pisau yang menusuk.
Pisau yang masuk ke dalam dada tanpa suara, tetapi meninggalkan luka yang dalam.
Pisau yang tidak bisa dicabut karena jika dicabut, darah akan mengucur deras dan tidak akan bisa dihentikan.
Nayla menunduk.
Air matanya jatuh satu per satu.
Jatuh seperti rintik hujan di musim kemarau.
Jatuh seperti tetesan air dari keran yang tidak pernah benar, benar tertutup rapat.
Jatuh seperti sesuatu yang tidak bisa ditahan lagi.
Dan untuk pertama kalinya malam itu, tatapan Iskandar bukan hanya penuh kasih, seperti biasanya, seperti ketika ia menatap Nayla di Dermaga KP3 untuk pertama kali, seperti ketika ia menatap Nayla di bawah pohon ketapang, seperti ketika ia menatap Nayla di Pasar Melati, seperti ketika ia menatap Nayla di warung kopi, seperti ketika ia menatap Nayla di depan rumahnya.
Ada luka di sana.
Luka karena merasa ada sesuatu yang selama ini tak pernah diceritakan padanya.
Luka karena merasa bahwa orang yang paling ia percaya, ayahnya sendiri, menyembunyikan sesuatu darinya.
Luka karena merasa bahwa Nayla, yang selama ini ia cintai, juga menyembunyikan sesuatu darinya.
Luka karena merasa bahwa ia hidup dalam kebohongan.
Luka karena merasa bahwa ia tidak cukup baik untuk dipercaya.
Luka karena merasa bahwa ia tidak cukup penting untuk diberitahu.
Luka yang tidak akan sembuh dengan mudah.
Luka yang akan terus berdarah setiap kali ia mengingat malam ini.
Luka yang akan menjadi bekas yang tidak akan pernah hilang.
"Nayla."
Suara Iskandar kali ini lebih pelan.
Lebih lembut.
Lebih seperti bisikan.
Tapi tidak kurang tajam.
Tidak kurang menusuk.
Tidak kurang menyakitkan.
"Jawab saya."
Nayla menutup mata.
Kelopak matanya yang sembab, yang merah, yang masih menyimpan sisa, sisa air mata dari pagi ini, dari semalam, dari semua malam sebelumnya, tertutup rapat.
Seperti sedang berdoa.
Seperti sedang memohon kekuatan.
Seperti sedang mempersiapkan diri untuk mengatakan sesuatu yang tidak pernah ia katakan sebelumnya.
Karena ia tahu, setelah ini, tidak ada lagi jalan kembali.
Setelah ini, semuanya akan berubah.
Setelah ini, Iskandar mungkin akan membencinya.
Setelah ini, ia mungkin akan kehilangan satu, satunya orang yang membuatnya merasa bahwa ia pantas untuk dicintai.
Tapi ia juga tahu, ia tidak bisa terus menyembunyikan kebenaran.
Ia tidak bisa terus membiarkan Iskandar hidup dalam ketidaktahuan.
Ia tidak bisa terus menjadi beban bagi orang yang ia cintai.
Jadi ia membuka mata.
Matanya yang basah, yang merah, yang masih menyimpan sisa, sisa air mata, menatap Iskandar.
Dan dengan suara yang nyaris tak keluar, dengan suara yang seperti doa, dengan suara yang hanya cukup untuk didengar oleh Iskandar, ia berkata:
"Itu… ayahmu…"
Ia berhenti.
Mencoba bernapas.
Mencoba mengumpulkan keberanian.
Mencoba mempersiapkan diri untuk mengatakan kata, kata yang selama ini tidak pernah sanggup ia katakan.
Namun justru tangisnya semakin pecah.
Pecah seperti kaca yang jatuh di lantai keramik.
Pecah seperti tangisan yang tidak bisa lagi ditahan.
Pecah seperti sesuatu yang hancur berkeping, keping.
Ibunya tidak ada di sana. Ibunya masih di rumah, mungkin sedang membereskan dapur setelah makan malam, mungkin sedang menonton televisi sambil menunggu putrinya pulang, mungkin sedang berdoa agar putrinya baik, baik saja.
Ayahnya juga tidak. Ayahnya masih di rumah, mungkin sedang membaca koran di kursi kesayangannya, mungkin sedang berbicara dengan tetangga di teras depan, mungkin sedang memikirkan bagaimana cara terbaik untuk melindungi putrinya dari laki, laki yang telah membuatnya menangis.
Tidak ada yang bisa melindunginya.
Tidak ada yang bisa membelanya.
Tidak ada yang bisa mengatakan "cukup, jangan lanjutkan".
Tidak ada yang bisa mengambil foto itu dari tangan Iskandar dan merobeknya menjadi berkeping, keping.
Tidak ada yang bisa membawanya pergi dari tempat ini, membawanya ke tempat yang aman, membawanya ke tempat di mana masa lalu tidak bisa mengejarnya.
Dan malam itu, ia harus mengucapkan sendiri hal yang selama ini tak pernah sanggup ia katakan.
Hal yang selama ini ia pendam di dalam hati.
Hal yang selama ini ia kubur di dalam dada.
Hal yang selama ini ia bisikkan di dalam gelap ketika tidak ada yang mendengar.
Hal yang membuatnya tidak bisa tidur di malam hari.
Hal yang membuatnya tersentak bangun dari mimpi buruk.
Hal yang membuatnya merasa bahwa ia tidak layak untuk dicintai.
Hal yang membuatnya merasa bahwa ia adalah sumber dari semua masalah.
"Ayahmu yang membawa saya ke rumah sakit malam itu."
Semua membeku.
Beku seperti patung lilin di museum.
Beku seperti batu di dasar sungai yang tidak pernah bergerak.
Beku seperti sesuatu yang telah mati tetapi tidak mau dikubur.
Tak ada suara.
Bahkan Edo tidak bernapas.
Edo yang biasanya bernapas dengan keras dan berisik seperti kuda yang kelelahan, kini tidak bergerak. Dadanya yang bidang, dada yang biasa naik turun dengan cepat karena napasnya yang pendek, pendek—kini tidak bergerak. Seolah ia sedang menyelam di dalam air dan tidak berani mengambil napas karena takut suara napasnya akan mengganggu.
Bahkan Ridwan berhenti menyeruput kopinya. Kopi hitam pekat tanpa gula yang sudah dingin, yang lapisan minyaknya sudah terbentuk di permukaan, yang tidak lagi menarik untuk diminum, masih dipegang di tangannya, tetapi tidak bergerak. Tangannya yang kurus dan panjang, tangan yang biasa memegang kunci inggris, yang biasa memegang obeng, yang biasa memegang berbagai macam alat bengkel, kini diam. Diam seperti patung.
Bahkan Anggun berhenti memukul meja. Tangannya yang mungil, dengan kuku yang dipotong pendek, dengan cincin perak di jari manis yang sudah mulai menghitam karena usia, masih di udara, setengah terangkat, seperti sedang bersiap untuk memukul meja lagi tetapi tiba, tiba lupa mengapa ia memukul meja.
Bahkan Rara berhenti tersenyum misterius. Senyum yang biasanya menghiasi bibirnya—senyum yang membuat orang bertanya, tanya apa yang sedang ia pikirkan, senyum yang membuat orang merasa bahwa ia tahu sesuatu yang tidak diketahui orang lain, kini hilang. Hilang seperti kabut yang sirna saat matahari meninggi. Hilang seperti mimpi yang terlupakan saat bangun tidur.
Bahkan Sahrul berhenti batuk. Batuknya yang biasa kambuh setiap kali ia terlalu banyak bicara atau terlalu banyak tertawa, tidak muncul. Seolah tubuhnya tahu bahwa ini bukan saatnya untuk batuk. Seolah tubuhnya tahu bahwa suara batuknya akan mengganggu momen yang sakral ini.
Bahkan Lukman, yang sejak tadi diam membeku di kursinya, tidak bergerak. Matanya yang tadinya menatap layar ponsel, yang tadinya sibuk dengan dunia maya yang tidak penting, kini menatap Iskandar. Menatap dengan mata yang penuh dengan pertanyaan. Menatap dengan mata yang penuh dengan kekhawatiran.
Karena satu kalimat itu, ayahmu yang membawa saya ke rumah sakit malam itu, langsung mengubah semuanya.
Mengubah segalanya.
Mengubah cara pandang mereka terhadap Iskandar.
Mengubah cara pandang mereka terhadap ayah Iskandar.
Mengubah cara pandang mereka terhadap seluruh cerita ini.
Ini bukan lagi tentang Nayla dan Aldebar.
Ini bukan lagi tentang mantan tunangan yang tidak bisa move on.
Ini bukan lagi tentang kekerasan dalam pacaran.
Ini tentang keluarga.
Ini tentang keterlibatan orang tua.
Ini tentang rahasia yang disembunyikan oleh orang yang seharusnya menjadi panutan.
Ini tentang pengkhianatan terhadap kepercayaan.
Ini tentang luka yang semakin dalam.
Iskandar menatapnya tak percaya.
Matanya yang tadi sayu, yang tadi penuh dengan luka, yang tadi berkaca, kaca, kini membesar.
Membesar seperti piring.
Membesar seperti bola.
Membesar seperti sesuatu yang tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Apa?"
Suaranya tidak lagi pelan.
Suaranya tidak lagi lembut.
Suaranya meninggi.
Meninggi seperti alarm yang berbunyi di tengah malam.
Meninggi seperti teriakan yang memecah kesunyian.
Meninggi seperti sesuatu yang selama ini tertahan, kini meledak.
Nayla mengangguk pelan.
Anggukan yang pelan, yang lemas, yang seperti orang yang kehabisan energi.
Anggukan yang seperti mengakui kesalahan.
Anggukan yang seperti mengakui bahwa ia telah menyembunyikan sesuatu yang sangat penting.
Anggukan yang seperti mengakui bahwa ia tidak berani mengatakan kebenaran dari awal.
"Malam itu… saya keluar rumah sendirian."
Air matanya jatuh.
Jatuh seperti hujan di musim penghujan.
Jatuh seperti air terjun yang tidak pernah berhenti.
Jatuh seperti sesuatu yang tidak bisa lagi ditahan.
"Saya berjalan ke jalan besar."
Suaranya pecah.
Pecah seperti kaca yang jatuh di lantai keramik.
Pecah seperti tangisan yang tidak bisa lagi ditahan.
Pecah seperti sesuatu yang hancur berkeping, keping.
"Saya tidak tahu harus ke mana. Saya hanya ingin pergi."
Ridwan menunduk.
Dagu yang tegas itu menyentuh dada.
Pundak yang lebar itu merosot.
Matanya yang biasanya tajam, yang seperti elang mengamati mangsa, kini sayu.
Air matanya jatuh diam, diam.
Jatuh di pangkuannya.
Jatuh di tangannya yang gemetar.
Jatuh di lantai kayu dermaga.
Rara memegang tangan Nayla.
Tangannya yang hangat, tangan yang biasa memegang buku, yang biasa memegang pena, yang biasa memegang ponsel untuk mengirim pesan, pesan panjang yang tidak pernah dibalas, membungkus tangan Nayla yang dingin.
Tidak menggenggam erat.
Tidak memegang dengan keras.
Tapi memegang dengan lembut.
Memegang seperti sedang memegang sesuatu yang sangat rapuh.
Memegang seperti sedang memegang bayi yang baru lahir.
Memegang seperti sedang memegang sesuatu yang tidak ingin ia jatuhkan.
Anggun ikut menahan napas.
Dadanya yang bidang, dada yang biasa naik turun dengan ritme yang teratur seperti gelombang laut yang tenang, kini tidak bergerak.
Seolah ia sedang menyelam di dalam air dan tidak berani mengambil napas karena takut suara napasnya akan mengganggu.
Matanya yang tadi ceria, yang tadi penuh dengan candaan, yang tadi berbinar karena ia selalu menemukan sesuatu untuk ditertawakan, kini kosong.
Kosong seperti rumah yang ditinggalkan.
Kosong seperti sumur yang kering.
Kosong seperti sesuatu yang kehilangan seluruh isinya.
Nayla melanjutkan, dengan suara yang semakin pelan, dengan suara yang semakin lirih, dengan suara yang hampir tidak terdengar.
"Saya hanya ingin pergi. Saya hanya ingin lari dari semuanya. Saya hanya ingin menghilang."
Ia menarik napas panjang.
Napas yang masuk ke paru, parunya dengan suara desisan pelan, seperti udara yang masuk ke ban yang bocor.
Napas yang terasa seperti sedang berusaha menenangkan diri, seperti sedang berusaha mengumpulkan keberanian, seperti sedang berusaha mempersiapkan diri untuk mengatakan sesuatu yang tidak pernah ia katakan sebelumnya.
"Lalu saya pingsan di pinggir jalan."
Ia menatap Iskandar.
Matanya yang basah, yang merah, yang masih menyimpan sisa, sisa air mata, kini penuh dengan rasa bersalah.
Rasa bersalah yang mendalam.
Rasa bersalah yang tidak bisa ia hapus.
Rasa bersalah yang membuatnya merasa bahwa ia adalah sumber dari semua masalah.
"Dan orang yang menemukan saya… ayahmu."
Dada Iskandar terasa sesak.
Sesak seperti ditindih batu besar.
Sesak seperti sedang berenang di lautan yang dalam.
Sesak seperti sedang menahan tangis yang tidak bisa keluar.
Karena mendadak, seluruh malam itu, seluruh pertemuan dengan Nayla, seluruh percakapan dengan Nayla, seluruh perjalanan bersama Nayla, seluruh perasaan yang tumbuh di hatinya untuk Nayla—berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih rumit.
Bukan hanya tentang Nayla.
Bukan hanya tentang Aldebar.
Bukan hanya tentang cinta dan luka.
Tapi tentang keluarganya sendiri.
Tapi tentang ayahnya sendiri.
Tapi tentang laki, laki yang selama ini ia hormati, ia kagumi, ia cintai.
Laki, laki yang mungkin memiliki peran dalam penderitaan Nayla.
Laki, laki yang mungkin memilih diam ketika seharusnya berbicara.
Laki, laki yang mungkin memilih menyembunyikan kebenaran ketika seharusnya mengungkapkannya.
Laki, laki yang mungkin telah mengkhianati kepercayaannya.
Laki, laki yang mungkin tidak seperti yang ia bayangkan.
"Kenapa…"
Suara Iskandar berat.
Berat seperti beban yang tidak bisa diangkat.
Berat seperti batu besar yang menghimpit dada.
Berat seperti sesuatu yang tidak ingin ia ucapkan tetapi harus.
"kenapa saya tidak pernah tahu?"
Nayla menatap kosong ke sungai.
Air Sungai Kapuas yang gelap.
Air yang mengalir sejak zaman sebelum manusia ada.
Air yang menyimpan rahasia di dasarnya.
Air yang tidak pernah berhenti mengalir, meskipun kadang terasa seperti berhenti.
Air yang menjadi saksi bisu bagi segala sesuatu yang terjadi di tepiannya.
Air yang sekarang menjadi satu, satunya yang bisa ia tatap tanpa merasa bersalah.
"Karena ayahmu minta saya diam."
Semua menoleh.
Edo sampai spontan berseru.
"HAH?"
Suaranya keras.
Keras seperti petir di siang bolong.
Keras seperti palu godam yang menghantam dinding beton.
Keras seperti sesuatu yang memecah keheningan yang telah lama terjaga.
Anggun langsung menyikutnya.
Sikutannya keras, menusuk, seperti sikut seorang kakak yang sedang marah pada adiknya yang tidak bisa membaca situasi.
Tulang siku Anggun yang tajam itu mengenai lengan Edo yang gemuk, membuat Edo mengerang pelan, mengusap, usap bagian yang terkena dengan ekspresi kesakitan yang berlebihan.
Namun kali ini, tak ada yang bisa menyalahkan reaksi itu.
Karena semua orang sama terkejutnya.
Bahkan Ridwan, yang biasanya tidak pernah terkejut, yang biasanya bisa tetap tenang meskipun atap rumahnya terbakar, yang biasanya bisa tetap santai meskipun ditodong pistol, kini terkejut.
Matanya yang biasanya datar, yang seperti topeng kayu yang tidak bisa menunjukkan emosi, kini membesar.
Membesar seperti piring.
Membesar seperti bola.
Membesar seperti sesuatu yang tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
Bahkan Rara, yang biasanya bisa membaca situasi dengan cepat, yang biasanya sudah tahu apa yang akan terjadi sebelum terjadi, kini terkejut.
Tangannya yang tadi memegang tangan Nayla dengan lembut, kini menggenggam erat.
Menggenggam seperti sedang berpegangan pada satu, satunya hal yang nyata di tengah badai.
Menggenggam seperti sedang berusaha menahan Nayla agar tidak jatuh.
Menggenggam seperti sedang berusaha menahan dirinya sendiri agar tidak pingsan.
Bahkan Sahrul, yang biasanya tidak terlalu peduli dengan apa pun, yang biasanya lebih memilih diam dan mendengarkan, kini terkejut.
Mulutnya terbuka setengah.
Matanya membulat.
Alisnya terangkat.
Ekspresi khas seseorang yang baru mendengar sesuatu yang tidak masuk akal.
"Ayah saya?"
Suara Iskandar meninggi lagi.
Meninggi seperti alarm yang berbunyi di tengah malam.
Meninggi seperti teriakan yang memecah kesunyian.
Meninggi seperti sesuatu yang selama ini tertahan, kini meledak.
"Kenapa?"
Nayla menggigit bibir.
Gigitan yang tidak terlalu keras, tetapi cukup untuk meninggalkan bekas gigi di bibirnya yang pucat.
Bekas gigi yang akan hilang dalam beberapa menit, tetapi untuk saat ini terlihat jelas.
Bekas gigi yang menjadi simbol dari rasa sakit yang tidak bisa ia ungkapkan dengan kata, kata.
Bekas gigi yang menjadi simbol dari rahasia yang selama ini ia pendam.
Bekas gigi yang menjadi simbol dari kebohongan yang terpaksa ia lakukan.
Lalu berbisik, dengan suara yang nyaris tidak terdengar, dengan suara yang seperti doa, dengan suara yang hanya cukup untuk didengar oleh Iskandar.
"Karena ayahmu mengenal ayah Aldebar."
Malam itu, suasana di dermaga benar, benar berubah.
Berubah seperti warna langit yang tiba, tiba berubah dari biru menjadi kelabu.
Berubah seperti suhu udara yang tiba, tiba turun beberapa derajat.
Berubah seperti sesuatu yang indah yang tiba, tiba kehilangan keindahannya.
Berubah seperti mimpi indah yang tiba, tiba berubah menjadi mimpi buruk.
Bukan hanya karena kata, kata Nayla.
Tapi karena implikasinya.
Implikasi bahwa ayah Iskandar dan ayah Aldebar memiliki hubungan.
Implikasi bahwa ayah Iskandar mungkin tahu lebih banyak dari yang ia katakan.
Implikasi bahwa ayah Iskandar mungkin terlibat dalam menutupi kesalahan Aldebar.
Implikasi bahwa ayah Iskandar mungkin memilih untuk melindungi keluarga Aldebar daripada melindungi Nayla.
Implikasi bahwa ayah Iskandar mungkin tidak sebaik yang ia bayangkan.
Implikasi bahwa Iskandar mungkin tidak mengenal ayahnya sebaik yang ia kira.
Ridwan langsung mengernyit.
Kerutan di dahinya yang dalam, yang seperti alur, alur di peta topografi, yang muncul setiap kali ia sedang memikirkan sesuatu yang serius, kini muncul.
"Tunggu. Sejak kapan?"
Nayla menjawab pelan, dengan suara yang masih bergetar, dengan suara yang masih dipenuhi dengan air mata.
"Mereka sahabat lama."
Iskandar membeku.
Beku seperti patung.
Beku seperti batu.
Beku seperti sesuatu yang tidak bisa bergerak.
Karena sepanjang hidupnya, sejak ia masih kecil, sejak ia mulai bisa mengingat, sejak ia mulai mengerti apa arti persahabatan, ayahnya memang pernah beberapa kali menyebut nama keluarga Aldebar.
Tidak sering.
Hanya sesekali.
Hanya sepintas.
Hanya ketika ada acara tertentu.
Hanya ketika ada pertemuan bisnis.
Hanya ketika ada sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan.
Tak pernah penting.
Tak pernah berarti.
Tak pernah menarik perhatiannya.
Sampai malam ini.
Sampai sekarang.
Sampai Nayla mengucapkan kalimat itu.
Mereka sahabat lama.
Artinya: ayah Iskandar dan ayah Aldebar sudah saling kenal sejak lama.
Artinya: ayah Iskandar mungkin sudah tahu tentang Aldebar sejak lama.
Artinya: ayah Iskandar mungkin sudah tahu tentang hubungan Aldebar dan Nayla sejak lama.
Artinya: ayah Iskandar mungkin sudah tahu tentang kekerasan yang dilakukan Aldebar pada Nayla sejak lama.
Artinya: ayah Iskandar mungkin memilih untuk diam.
Artinya: ayah Iskandar mungkin memilih untuk melindungi Aldebar.
Artinya: ayah Iskandar mungkin memilih untuk tidak peduli pada Nayla.
Artinya: ayah Iskandar mungkin tidak seperti yang ia bayangkan.
"Setelah saya dibawa ke rumah sakit…"
Nayla menunduk.
Rambutnya yang basah oleh air mata, rambut hitam panjang yang biasanya diikat rapi, yang biasanya disisir dengan hati, hati, yang biasanya menjadi salah satu keindahannya, kini menempel di pipi, di dahi, di leher. Beberapa helai masuk ke mulutnya, tetapi ia tidak peduli. Ia tidak merasakannya. Yang ia rasakan hanyalah rasa bersalah.
"ayahmu yang menelepon keluarga saya."
"Lalu?"
Nayla menatap Iskandar.
Dan itulah bagian yang paling berat.
Bagian yang selama ini tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun.
Bagian yang membuatnya tidak bisa tidur di malam hari.
Bagian yang membuatnya tersentak bangun dari mimpi buruk.
Bagian yang membuatnya merasa bahwa ia tidak layak untuk dicintai.
Bagian yang membuatnya merasa bahwa ia adalah sumber dari semua masalah.
Bagian yang membuatnya merasa bahwa ia tidak berhak bahagia.
Bagian yang membuatnya merasa bahwa ia harus terus menderita.
"Beliau bilang… kalau masalah ini tersebar… dua keluarga bisa hancur."
Iskandar mematung.
Mematung seperti patung lilin di museum.
Mematung seperti batu di dasar sungai yang tidak pernah bergerak.
Mematung seperti sesuatu yang telah mati tetapi tidak mau dikubur.
Pikirannya kosong.
Kosong seperti rumah yang ditinggalkan.
Kosong seperti sumur yang kering.
Kosong seperti sesuatu yang kehilangan seluruh isinya.
Ia tidak tahu harus merasakan apa.
Marah?
Marah pada siapa?
Marah pada Nayla?
Marah pada ayahnya?
Marah pada Aldebar?
Marah pada dirinya sendiri?
Sedih?
Sedih karena Nayla harus menderita sendirian?
Sedih karena ayahnya memilih diam?
Sedih karena ia tidak tahu apa, apa?
Sedih karena ia tidak bisa membantu?
Kecewa?
Kecewa pada ayahnya?
Kecewa pada Nayla?
Kecewa pada dirinya sendiri?
Kecewa pada seluruh situasi ini?
Kecewa pada kehidupan?
Campuran dari semuanya.
Campuran yang tidak bisa ia pisahkan.
Campuran yang membuat kepalanya pusing.
Campuran yang membuat dadanya sesak.
Campuran yang membuat matanya ingin menangis tetapi tidak bisa.
Karena pria yang selama ini ia hormati, yang selama ini ia kagumi, yang selama ini ia cintai, yang selama ini menjadi panutannya, yang selama ini menjadi teladannya, yang selama ini menjadi tempatnya bertanya ketika ia bingung menghadapi hidup, yang selama ini menjadi rumahnya, ternyata pernah menjadi bagian dari rahasia yang menghancurkan Nayla.
Meskipun mungkin niatnya baik.
Meskipun mungkin untuk melindungi.
Meskipun mungkin ia tidak bermaksud jahat.
Meskipun mungkin ia hanya ingin menjaga perdamaian.
Meskipun mungkin ia hanya ingin menghindari konflik.
Tetapi tetap saja, diam kadang bisa melukai sama dalamnya dengan kesalahan.
Diam kadang bisa menghancurkan sama hebatnya dengan kebohongan.
Diam kadang bisa membunuh sama pastinya dengan pisau.
Diam kadang bisa meninggalkan luka yang tidak akan pernah sembuh.
Diam kadang bisa membuat seseorang merasa bahwa ia tidak penting.
Diam kadang bisa membuat seseorang merasa bahwa ia tidak layak untuk dibela.
Diam kadang bisa membuat seseorang merasa bahwa ia sendirian.
Diam kadang bisa membuat seseorang merasa bahwa tidak ada yang peduli padanya.
"Kenapa kamu tidak pernah cerita?"
Iskandar bertanya lagi.
Dan kali ini, pertanyaan itu terdengar seperti luka.
Luka yang terbuka.
Luka yang berdarah.
Luka yang tidak bisa disembunyikan.
Luka yang membutuhkan jawaban.
Luka yang membutuhkan penjelasan.
Luka yang membutuhkan kebenaran.
Nayla menatapnya.
Matanya merah.
Matanya sembab.
Matanya masih menyimpan sisa, sisa air mata dari pagi ini, dari semalam, dari semua malam sebelumnya.
"Karena saya takut."
"Takut apa?"
Nayla menjawab dengan suara yang hampir hilang.
Suara yang seperti bisikan.
Suara yang seperti doa.
Suara yang hanya cukup untuk didengar oleh Iskandar.
"Takut kamu akan melihat ayahmu berbeda."
"Dan lebih takut lagi… kamu akan melihat saya sebagai masalah."
Kalimat itu membuat Iskandar menutup mata.
Kelopak matanya yang berat, yang seperti sedang menahan beban yang tidak terlihat, yang seperti sedang menahan tangis yang tidak bisa keluar, tertutup rapat.
Karena justru malam ini, yang ia rasakan bukan Nayla sebagai masalah.
Bukan Nayla yang menjadi sumber dari semua kebingungannya.
Bukan Nayla yang membuat hidupnya rumit.
Tapi dirinya sendiri.
Dirinya yang ternyata begitu dekat dengan luka yang tak pernah ia tahu.
Dirinya yang ternyata hidup dalam ketidaktahuan.
Dirinya yang ternyata tidak mengenal ayahnya sebaik yang ia kira.
Dirinya yang ternyata tidak sebaik yang ia bayangkan.
Dirinya yang ternyata tidak bisa melindungi Nayla dari masa lalunya.
Dirinya yang ternyata tidak bisa berbuat apa, apa selain menatap dan bertanya.
Edo pelan, pelan duduk.
Kursi plastik biru yang retak di bagian dudukan itu berderit protes menerima beban tubuhnya yang tidak ringan. Derit yang nyaring, yang mengganggu, yang seperti jeritan kecil dari kursi tua yang sudah lelah menahan beban.
Lalu bergumam, dengan suara yang pelan, dengan suara yang tidak seperti biasanya, dengan suara yang kehilangan seluruh humornya.
"Ini bukan lagi drama cinta. Ini sudah drama keluarga."
Sahrul menatapnya.
Matanya yang biasanya malas, yang biasanya setengah tertutup karena kurang tidur, yang biasanya tidak terlalu peduli dengan apa pun, kini serius.
Serius seperti orang yang sedang memberikan nasihat penting.
Serius seperti orang yang sedang memperingatkan temannya tentang bahaya.
"Kali ini saya setuju."
Untuk pertama kalinya, tak ada satu pun dari mereka yang bisa menganggap semuanya ringan.
Bahkan Edo yang biasanya bisa mengubah situasi paling tegang sekalipun menjadi tawa dengan satu kalimat absurd yang keluar dari mulutnya tanpa filter, kini diam.
Bahkan Ridwan yang biasanya bisa tetap tenang meskipun dunia di sekitarnya hancur, kini tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
Bahkan Rara yang biasanya bisa membaca situasi dengan cepat dan memberikan nasihat yang tepat, kini tidak tahu harus berkata apa.
Bahkan Anggun yang biasanya bisa membuat orang tertawa dengan celetukannya, kini hanya bisa diam dan menangis.
Bahkan Sahrul yang biasanya tidak terlalu peduli dengan apa pun, kini ikut merasakan beban situasi ini.
Karena ini bukan lagi tentang Nayla.
Ini bukan lagi tentang Aldebar.
Ini bukan lagi tentang cinta dan luka.
Ini tentang keluarga.
Ini tentang pengkhianatan.
Ini tentang rahasia.
Ini tentang kebohongan.
Ini tentang kepercayaan yang hancur.
Ini tentang sesuatu yang tidak bisa diperbaiki dengan kata, kata maaf.
Iskandar memegang foto itu erat.
Jari, jarinya yang panjang dan ramping, jari yang biasa memegang pulpen dengan lembut, yang biasa mengetik laporan dengan cepat, yang biasa menggenggam setang motor dengan mantap, kini menggenggam foto itu dengan erat.
Erat seperti sedang berpegangan pada satu, satunya hal yang nyata di tengah badai.
Erat seperti sedang berusaha menahan sesuatu yang akan pergi.
Erat seperti sedang berusaha menahan diri agar tidak hancur.
Tangannya gemetar.
Gemetar seperti dedaunan yang tertiup angin kencang.
Gemetar seperti orang yang sedang menggigil kedinginan.
Gemetar seperti sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan.
Ia menatap wajah ayahnya di foto.
Wajah yang ia kenal sejak ia masih kecil.
Wajah yang selalu tersenyum ketika ia pulang dari sekolah.
Wajah yang selalu berkata "kamu sudah makan, Nak?" ketika ia baru saja tiba di rumah.
Wajah yang selalu menjadi tempatnya bertanya ketika ia bingung menghadapi hidup.
Wajah yang selalu menjadi teladannya, panutannya, inspirasinya.
Wajah yang sekarang, dari foto ini, terlihat seperti orang asing.
Orang asing yang tidak ia kenal.
Orang asing yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
Orang asing yang memiliki rahasia.
Orang asing yang menyembunyikan sesuatu darinya.
Orang asing yang mungkin tidak seperti yang ia bayangkan.
Lalu ia menatap Nayla.
Perempuan yang duduk di sampingnya dengan mata basah, dengan wajah pucat, dengan tubuh gemetar.
Perempuan yang telah membuatnya jatuh cinta.
Perempuan yang telah membuatnya ingin menjadi lebih baik.
Perempuan yang telah membuatnya ingin bertahan.
Perempuan yang telah membuatnya ingin melindungi.
Perempuan yang sekarang, di hadapannya, terlihat seperti sedang menunggu vonis.
Menunggu apakah ia akan pergi atau tetap tinggal.
Menunggu apakah ia akan marah atau mengerti.
Menunggu apakah ia akan membencinya atau tetap mencintainya.
Dan untuk beberapa detik, Nayla benar, benar takut.
Takut bahwa akhirnya, inilah titik di mana Iskandar mulai menjauh.
Titik di mana ia sadar bahwa hidupnya terlalu rumit.
Titik di mana ia sadar bahwa ia tidak cukup kuat.
Titik di mana ia sadar bahwa ia tidak bisa terus, menerus menjadi pahlawan.
Titik di mana ia sadar bahwa ia harus pergi untuk menyelamatkan dirinya sendiri.
Titik di mana ia sadar bahwa cinta tidak selalu cukup.
Titik di mana ia sadar bahwa kadang, melepaskan adalah pilihan yang terbaik.
Namun yang dilakukan Iskandar justru berbeda.
Ia tidak marah.
Ia tidak pergi.
Ia tidak membenci.
Ia tidak menjauh.
Ia tidak menuduh.
Ia tidak menyalahkan.
Ia tidak mengatakan "kenapa kamu tidak bilang dari dulu?"
Ia tidak mengatakan "aku kecewa padamu."
Ia tidak mengatakan "aku tidak tahu apakah aku bisa terus bersama kamu setelah ini."
Ia melangkah mendekat.
Satu langkah.
Dua langkah.
Tiga langkah.
Langkah yang pelan.
Langkah yang hati, hati.
Langkah yang seperti sedang mendekati burung yang terluka, takut jika bergerak terlalu cepat, burung itu akan terbang dan tidak pernah kembali.
Ia duduk di depan Nayla.
Di lantai kayu dermaga yang dingin.
Di lantai yang terbuat dari papan, papan kayu yang sudah mulai lapuk, yang bunyinya kreek, kreek setiap kali diinjak, yang celah, celahnya cukup lebar untuk melihat air sungai di bawahnya.
Ia tidak peduli dengan kotoran.
Ia tidak peduli dengan debu.
Ia tidak peduli dengan pandangan orang, orang di sekitarnya.
Ia hanya peduli pada Nayla.
Lalu dengan suara pelan, namun penuh luka, dengan suara yang keluar dari hati, dengan suara yang tidak bergetar meskipun hatinya bergetar hebat, ia berkata:
"Kenapa kamu pikir… saya akan meninggalkan kamu karena kesalahan yang bukan milikmu?"
Nayla menatapnya.
Matanya yang basah, yang merah, yang masih menyimpan sisa, sisa air mata, kini membesar.
Membesar seperti piring.
Membesar seperti bola.
Membesar seperti sesuatu yang tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
Air matanya jatuh.
Jatuh deras.
Deraih seperti hujan di musim penghujan.
Deraih seperti air terjun yang tidak pernah berhenti.
Deraih seperti sesuatu yang tidak bisa lagi ditahan.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya, ia sadar sesuatu yang paling menakutkan:
ia sudah mencintai laki, laki itu lebih dalam daripada yang ingin ia akui.
Lebih dalam daripada yang ia siapkan.
Lebih dalam daripada yang ia kira.
Lebih dalam daripada yang ia bayangkan.
Lebih dalam daripada yang ia takutkan.
Lebih dalam daripada yang ia impikan.
Lebih dalam daripada yang ia doakan.
Lebih dalam daripada yang ia sesali.
Lebih dalam daripada yang ia sangka.
Dan ia tidak tahu harus berbuat apa.
Ia hanya bisa menangis.
Menangis karena lega.
Menangis karena takut.
Menangis karena bahagia.
Menangis karena sedih.
Menangis karena semua perasaan bercampur menjadi satu.
Menangis karena untuk pertama kalinya dalam sekian lama, ia merasa bahwa ia tidak sendirian.
Menangis karena untuk pertama kalinya dalam sekian lama, ia merasa bahwa ada seseorang yang akan tetap tinggal meskipun ia sudah tahu semua rahasianya.
Menangis karena untuk pertama kalinya dalam sekian lama, ia merasa bahwa ia pantas untuk dicintai.
Namun sebelum Nayla sempat menjawab, sebelum ia sempat mengatakan apa yang ingin ia katakan, sebelum ia sempat membalas kata, kata Iskandar dengan kata, kata yang sama dalamnya, sebelum ia sempat memeluk Iskandar dan mengatakan "terima kasih telah tetap tinggal", ponsel Iskandar di atas meja tiba, tiba bergetar.
Getaran yang panjang.
Getaran yang terus, menerus.
Getaran yang seperti seseorang yang sangat ingin direspon.
Getaran yang memecah keheningan seperti pecahan kaca yang jatuh di lantai keramik.
Semua menoleh.
Layar ponsel yang tadinya gelap, yang tadinya tidak menarik perhatian siapa pun, kini menyala terang.
Cahaya biru yang dingin, yang tidak alami, yang seperti cahaya dari dunia lain.
Cahaya yang membuat semua orang di meja itu berhenti bernapas sejenak.
Cahaya yang membuat jantung mereka berdetak lebih cepat.
Cahaya yang membuat mereka bertanya, tanya: siapa yang menelepon di saat seperti ini?
Satu nama muncul di sana.
Satu nama yang membuat Iskandar membeku.
Satu nama yang membuat dadanya terasa sesak.
Satu nama yang membuat matanya berkaca, kaca lagi.
Satu nama yang membuat tangannya gemetar lebih hebat.
Satu nama yang membuatnya lupa bernapas.
Satu nama yang membuatnya sadar bahwa malam ini belum berakhir.
Satu nama yang membuatnya sadar bahwa badai belum usai.
Satu nama yang membuatnya sadar bahwa kebenaran masih belum sepenuhnya terungkap.
Satu nama yang membuatnya sadar bahwa ia harus menghadapi lebih dari sekadar masa lalu Nayla.
Satu nama yang membuatnya sadar bahwa ia harus menghadapi masa lalunya sendiri.
Ayah.
Dan malam di Dermaga KP3 belum selesai mengguncang hidup mereka.
Malam itu baru setengah jalan.
Malam itu masih menyimpan lebih banyak rahasia.
Malam itu masih menyimpan lebih banyak luka.
Malam itu masih menyimpan lebih banyak air mata.
Malam itu masih menyimpan lebih banyak kebenaran.
Malam itu masih menyimpan lebih banyak kejutan.
Malam itu masih menyimpan lebih banyak pelajaran.
Malam itu masih menyimpan lebih banyak perubahan.
Malam itu masih menyimpan lebih banyak segalanya.
Dan Iskandar, dengan foto ayahnya di tangan, dengan amplop cokelat tipis yang masih terbuka di atas meja, dengan Nayla yang menangis di sampingnya, dengan sahabat, sahabatnya yang menatap dengan cemas, harus memutuskan.
Apakah ia akan mengangkat telepon itu atau tidak.
Apakah ia akan mendengar suara ayahnya atau tidak.
Apakah ia akan bertanya atau tidak.
Apakah ia akan marah atau tidak.
Apakah ia akan memaafkan atau tidak.
Apakah ia akan tetap tinggal atau pergi.
Apakah ia akan terus mencintai atau berhenti.
Apakah ia akan bertahan atau menyerah.
Apakah ia akan menjadi pahlawan atau korban.
Apakah ia akan menjadi bagian dari solusi atau bagian dari masalah.
Dan ia tidak tahu jawabannya.
Ia hanya tahu satu hal: malam ini, semuanya akan berubah.
BAB 30
Telepon dari Masa yang Diam
Ponsel di atas meja terus bergetar.
Getaran yang panjang, yang terus, menerus, yang seperti seseorang yang sangat ingin direspon, yang tidak mau menyerah, yang akan terus mencoba sampai akhirnya diangkat atau sampai baterainya habis. Getaran yang membuat ponsel itu bergerak, gerak di atas permukaan kayu yang sudah mengelupas vernisnya, seperti ikan yang terdampar di daratan dan berusaha kembali ke air. Getaran yang membuat gelas, gelas plastik di dekatnya ikut bergetar, menciptakan suara kring, kring pelan yang mengganggu, seperti suara bel pintu di tengah malam yang sunyi.
Satu nama menyala di layar, membelah suasana malam yang sudah terlalu sesak, sesak seperti ruangan yang terlalu penuh dengan orang, sesak seperti dada yang terlalu penuh dengan perasaan yang tidak bisa diungkapkan, sesak seperti hati yang terlalu penuh dengan luka yang tidak bisa disembuhkan.
Ayah.
Lampu dermaga, lampu, lampu kecil berwarna kuning yang diletakkan di sepanjang pagar besi, yang memantul di permukaan air yang gelap, yang menciptakan ilusi bahwa sungai itu sendiri sedang tersenyum, sedang bahagia, sedang tidak peduli dengan drama manusia yang sedang berlangsung di tepiannya, masih menyala. Pantulan cahaya di permukaan air masih bergerak, gerak setiap kali ada riak, seperti kunang, kunang yang menari di atas air, seperti bintang, bintang yang jatuh ke bumi dan memilih untuk tinggal di permukaan sungai, seperti harapan, harapan yang tidak pernah padam.
Suara sungai masih mengalir di bawah dermaga, air Sungai Kapuas yang mengalir sejak zaman sebelum manusia ada, yang akan tetap mengalir setelah manusia punah, yang tidak peduli dengan drama manusia yang sedang berlangsung di tepiannya. Suara ciprat, ciprat pelan ketika ombak kecil menerjang tiang, tiang dermaga kayu yang sudah mulai lapuk. Suara kresek, kresek ketika riak, riak kecil bertabrakan satu sama lain lalu menghilang. Suara yang sama seperti puluhan tahun lalu, seperti ratusan tahun lalu, seperti sejak sungai ini pertama kali terbentuk.
Namun di dada Iskandar, semuanya terasa berhenti.
Berhenti seperti jarum jam yang tidak lagi bergerak. Berhenti seperti film yang berhenti di tengah adegan. Berhenti seperti napas yang tertahan di tenggorokan. Berhenti seperti dunia yang berhenti berputar. Berhenti seperti waktu yang membeku.
Ia hanya menatap nama itu.
Ayah.
Tiga huruf.
A, ya, h.
Tiga huruf yang selama tiga puluh tahun ini selalu membuatnya merasa aman. Tiga huruf yang selalu membuatnya merasa bahwa ada seseorang yang akan melindunginya. Tiga huruf yang selalu membuatnya merasa bahwa ia tidak sendirian. Tiga huruf yang selalu membuatnya merasa bahwa ada rumah yang selalu terbuka untuknya. Tiga huruf yang selalu membuatnya merasa bahwa ada tempat yang selalu bisa ia pulangi.
Tiga huruf yang sekarang membuat dadanya sesak.
Sesak seperti ditindih batu besar.
Sesak seperti sedang berenang di lautan yang dalam.
Sesak seperti sedang menahan tangis yang tidak bisa keluar.
Seolah malam yang tadi hanya tentang Nayla, tentang Aldebar, tentang mobil hitam, tentang rahasia, rahasia yang terbuka, tentang luka, luka yang selama ini disembunyikan, mendadak berubah menjadi tentang dirinya juga.
Tentang ayahnya.
Tentang keluarganya.
Tentang laki, laki yang selama ini ia hormati, ia kagumi, ia cintai.
Tentang laki, laki yang mungkin tidak seperti yang ia bayangkan.
Tentang laki, laki yang mungkin telah menyembunyikan sesuatu darinya.
Tentang laki, laki yang mungkin telah memilih diam ketika seharusnya berbicara.
Tentang laki, laki yang mungkin telah mengkhianati kepercayaannya.
Tentang laki, laki yang mungkin telah menjadi bagian dari luka Nayla.
"Angkat."
Suara Ridwan pelan.
Pelannya tidak seperti bisikan. Pelannya seperti seseorang yang sedang berbicara pada dirinya sendiri. Pelannya seperti seseorang yang sedang merenung. Pelannya seperti seseorang yang sedang memberikan nasihat tanpa ingin terlihat menggurui.
Iskandar masih diam.
Matanya masih tertuju pada layar ponsel yang terus bergetar.
Layar yang menampilkan nama ayahnya.
Layar yang menampilkan foto ayahnya, foto yang diambil ketika ulang tahun pernikahan orang tuanya yang ke, 30, ketika ayahnya masih tersenyum lebar, ketika matanya masih berbinar, ketika ia masih terlihat seperti ayah yang baik, ayah yang jujur, ayah yang tidak pernah menyembunyikan sesuatu.
Layar yang sekarang terasa seperti tuduhan.
Tuduhan bahwa selama ini ia hidup dalam kebohongan.
Tuduhan bahwa selama ini ia tidak mengenal ayahnya sebaik yang ia kira.
Tuduhan bahwa selama ini ia terlalu naif.
Tuduhan bahwa selama ini ia terlalu percaya.
Nayla menatapnya dengan mata basah.
Matanya yang merah, yang sembab, yang masih menyimpan sisa, sisa air mata dari pagi ini, dari semalam, dari semua malam sebelumnya, kini penuh dengan sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.
Bukan ketakutan.
Bukan kecemasan.
Bukan rasa bersalah.
Tapi rasa bersalah.
Rasa bersalah karena ia telah menjadi penyebab konflik antara Iskandar dan ayahnya.
Rasa bersalah karena ia telah membawa masalah ke dalam keluarga Iskandar.
Rasa bersalah karena ia telah merusak gambaran Iskandar tentang ayahnya.
Rasa bersalah karena ia tidak bisa menyelesaikan masalahnya sendiri.
Rasa bersalah karena ia harus melibatkan orang lain.
Rasa bersalah karena ia lemah.
Rasa bersalah karena ia tidak cukup kuat.
Rasa bersalah karena ia tidak cukup berani.
"Kalau kamu mau…"
Suara Nayla lirih.
Lirih seperti bisikan.
Lirih seperti doa.
Lirih seperti sesuatu yang tidak ingin didengar oleh siapa pun, tetapi harus keluar.
"jangan diangkat."
Semua menoleh.
Semua orang di meja itu, Edo, Ridwan, Rara, Anggun, Sahrul, Lukman, menoleh ke arah Nayla.
Mata mereka bertanya, tanya.
Mereka tidak mengerti mengapa Nayla mengatakan itu.
Mereka tidak mengerti mengapa Nayla melarang Iskandar mengangkat telepon dari ayahnya.
Mereka tidak mengerti apa yang ada di pikiran Nayla.
Tapi Iskandar mengerti.
Ia mengerti bahwa Nayla tidak sedang melarang.
Ia mengerti bahwa Nayla tidak sedang memerintah.
Ia mengerti bahwa Nayla tidak sedang mencoba mengendalikan situasi.
Ia mengerti bahwa Nayla sedang takut.
Takut bahwa Iskandar akan marah pada ayahnya.
Takut bahwa Iskandar akan membenci ayahnya.
Takut bahwa Iskandar akan kecewa pada ayahnya.
Takut bahwa Iskandar akan terluka.
Takut bahwa Iskandar akan hancur.
Takut bahwa Iskandar akan kehilangan sosok ayah dalam hidupnya.
Takut bahwa Iskandar akan menyesal.
Takut bahwa Iskandar akan menyalahkannya.
Takut bahwa ia akan kehilangan Iskandar.
Nayla menggigit bibir.
Gigitan yang tidak terlalu keras, tetapi cukup untuk meninggalkan bekas gigi di bibirnya yang pucat.
Bekas gigi yang akan hilang dalam beberapa menit, tetapi untuk saat ini terlihat jelas.
Bekas gigi yang menjadi simbol dari rasa sakit yang tidak bisa ia ungkapkan dengan kata, kata.
Bekas gigi yang menjadi simbol dari rahasia yang selama ini ia pendam.
Bekas gigi yang menjadi simbol dari kebohongan yang terpaksa ia lakukan.
Bekas gigi yang menjadi simbol dari ketakutannya.
Bekas gigi yang menjadi simbol dari keinginannya untuk melindungi Iskandar, meskipun ia tahu ia tidak berhak.
Air matanya jatuh.
Jatuh satu per satu.
Seperti rintik hujan di musim kemarau.
Seperti tetesan air dari keran yang tidak pernah benar, benar tertutup rapat.
Seperti sesuatu yang tidak bisa ditahan lagi.
"Saya tidak mau hidup kamu ikut rusak karena saya."
Kalimat itu membuat dada Iskandar sesak.
Sesak seperti ditindih batu besar.
Sesak seperti sedang berenang di lautan yang dalam.
Sesak seperti sedang menahan tangis yang tidak bisa keluar.
Karena bahkan di saat seperti ini, di saat ia baru saja mengetahui bahwa ayahnya terlibat dalam rahasia yang menghancurkan Nayla, di saat ia baru saja mengetahui bahwa ayahnya memilih diam ketika seharusnya berbicara, di saat ia baru saja mengetahui bahwa ayahnya mungkin tidak seperti yang ia bayangkan, Nayla masih lebih takut menjadi beban daripada kehilangan dirinya sendiri.
Nayla masih lebih takut merusak hidup Iskandar daripada kehilangan Iskandar.
Nayla masih lebih takut menjadi sumber masalah daripada kehilangan cinta.
Nayla masih lebih takut menjadi penyebab kesedihan daripada kehilangan kebahagiaan.
Itulah Nayla.
Nayla yang selalu memikirkan orang lain sebelum dirinya sendiri.
Nayla yang selalu merasa bahwa semua yang terjadi adalah salahnya.
Nayla yang selalu merasa bahwa ia tidak pantas untuk dicintai.
Nayla yang selalu merasa bahwa ia adalah beban.
Nayla yang selalu merasa bahwa ia tidak berhak bahagia.
Nayla yang selalu merasa bahwa ia harus menderita.
Nayla yang selalu merasa bahwa ia harus sendirian.
Ponsel itu terus bergetar.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Setiap getaran terasa seperti pukulan di dada Iskandar.
Setiap getaran terasa seperti peringatan bahwa waktu terus berjalan.
Setiap getaran terasa seperti tekanan untuk memutuskan.
Setiap getaran terasa seperti tuntutan untuk bertindak.
Setiap getaran terasa seperti sesuatu yang tidak bisa ia hindari.
Lalu Iskandar menarik napas panjang.
Napas yang masuk ke paru, parunya dengan suara desisan pelan, seperti udara yang masuk ke ban yang bocor.
Napas yang membawa serta semua keraguan, semua ketakutan, semua pertanyaan yang selama ini berputar di kepalanya.
Napas yang terasa seperti sedang berusaha menenangkan diri, seperti sedang berusaha mengumpulkan keberanian, seperti sedang berusaha mempersiapkan diri untuk menghadapi apa pun yang akan terjadi.
Dan mengangkat telepon itu.
Jarinya yang masih gemetar, gemetar seperti dedaunan yang tertiup angin kencang, gemetar seperti orang yang sedang menggigil kedinginan, gemetar seperti sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan—menekan tombol hijau di layar ponsel.
Tombol yang menandakan bahwa ia siap mendengar.
Tombol yang menandakan bahwa ia siap menerima apa pun.
Tombol yang menandakan bahwa ia tidak akan lari.
Tombol yang menandakan bahwa ia akan menghadapi semuanya.
Tombol yang menandakan bahwa ia adalah laki, laki dewasa yang bisa mengambil keputusan sendiri.
Klik.
Suara panggilan tersambung.
Suara yang familiar.
Suara yang sudah ia dengar sejak ia masih kecil.
Suara yang selalu menenangkannya.
Suara yang selalu membuatnya merasa aman.
Suara yang sekarang terasa seperti ancaman.
"Halo."
Suara Iskandar terdengar berat.
Berat seperti beban yang tidak bisa diangkat.
Berat seperti batu besar yang menghimpit dada.
Berat seperti sesuatu yang tidak ingin ia ucapkan tetapi harus.
Berat seperti suara seseorang yang sedang berusaha menahan tangis.
Berat seperti suara seseorang yang sedang berusaha terlihat kuat meskipun hancur.
Di ujung sana, suara pria tua yang sangat ia kenal, suara yang selalu ia dengar setiap pagi di meja makan, suara yang selalu ia dengar setiap malam di ruang tamu, suara yang selalu menjadi penutup doa sebelum ia tidur, suara yang selalu menjadi pembuka hari ketika ia bangun, terdengar pelan.
Pelannya tidak seperti bisikan. Pelannya seperti seseorang yang sedang berbicara pada dirinya sendiri. Pelannya seperti seseorang yang sedang merenung. Pelannya seperti seseorang yang sedang mencoba mencari kata, kata yang tepat.
"Is… kamu di mana?"
Iskandar menatap foto di tangannya.
Foto yang memperlihatkan ayahnya berdiri di belakang Nayla dan Aldebar di rumah sakit.
Foto yang menjadi bukti bahwa ayahnya terlibat.
Foto yang menjadi bukti bahwa ayahnya menyembunyikan sesuatu.
Foto yang menjadi bukti bahwa ayahnya tidak seperti yang ia bayangkan.
"Di KP3."
Beberapa detik hening.
Hening seperti di dalam gua yang paling dalam.
Hening seperti di dalam air yang paling tenang.
Hening seperti di dalam hati ketika sedang berdoa.
Hening yang membuat Iskandar bisa mendengar detak jantungnya sendiri, dum, dum, dum, dum, dum, seperti genderang perang yang memekakkan telinga.
Hening yang membuat Iskandar bisa mendengar napas ayahnya di ujung sana, napas yang tidak lagi sekuat dulu, napas yang mulai tersengal, sengal karena usia, napas yang menunjukkan bahwa ayahnya juga sedang tegang.
Lalu suara ayahnya berubah.
Berubah menjadi lebih pelan.
Berubah menjadi lebih lembut.
Berubah menjadi lebih seperti seseorang yang sedang mempersiapkan diri untuk mengatakan sesuatu yang berat.
"Kamu sudah tahu ya?"
Malam itu, kalimat paling sederhana justru terasa paling menghancurkan.
Karena Iskandar tidak perlu bertanya lagi.
Ayahnya memang tahu.
Sejak awal.
Sejak malam Nayla ditemukan pingsan di pinggir jalan.
Sejak Nayla dibawa ke rumah sakit.
Sejak Aldebar dan keluarganya datang.
Sejak semuanya terjadi.
Ayahnya tahu.
Ayahnya tahu bahwa Nayla terluka.
Ayahnya tahu bahwa Aldebar yang menyebabkannya.
Ayahnya tahu bahwa Nayla kehilangan bayinya.
Ayahnya tahu bahwa Nayla sendirian.
Ayahnya tahu bahwa Nayla butuh pertolongan.
Tapi ayahnya memilih diam.
Ayahnya memilih untuk tidak cerita pada Iskandar.
Ayahnya memilih untuk menyimpan rahasia itu sendiri.
Ayahnya memilih untuk melindungi Aldebar dan keluarganya.
Ayahnya memilih untuk mengorbankan Nayla.
Dan itu yang paling menyakitkan.
Bukan karena ayahnya terlibat.
Tapi karena ayahnya memilih diam.
Karena diam adalah pilihan.
Karena diam adalah keputusan.
Karena diam adalah tindakan.
Karena diam bisa melukai.
Karena diam bisa membunuh.
Karena diam bisa menghancurkan.
Tatapan Nayla langsung jatuh.
Matanya yang tadi masih berusaha tegar, yang tadi masih berusaha menahan tangis, yang tadi masih berusaha terlihat kuat—kini menunduk.
Menunduk seperti sedang berdoa.
Menunduk seperti sedang memohon agar bumi terbuka dan menelannya.
Menunduk seperti sedang berusaha menghilang dari dunia.
Menunduk seperti sedang tidak berani melihat reaksi Iskandar.
Menunduk seperti sedang tidak berani mendengar apa yang akan Iskandar katakan selanjutnya.
Menunduk seperti sedang mempersiapkan diri untuk kehilangan.
Sementara Iskandar memejamkan mata.
Kelopak matanya yang berat, yang seperti sedang menahan beban yang tidak terlihat, yang seperti sedang menahan tangis yang tidak bisa keluar, tertutup rapat.
Ia tidak ingin menangis di depan Nayla.
Ia tidak ingin menangis di depan sahabat, sahabatnya.
Ia tidak ingin menangis di depan semua orang.
Ia ingin terlihat kuat.
Ia ingin terlihat tegar.
Ia ingin terlihat seperti laki, laki yang bisa diandalkan.
Tapi air matanya tetap jatuh.
Jatuh diam, diam.
Jatuh tanpa suara.
Jatuh di pipinya.
Jatuh di dagunya.
Jatuh di tangannya yang masih memegang ponsel.
Jatuh di foto ayahnya.
Jatuh di amplop cokelat tipis yang masih terbuka di atas meja.
Jatuh di lantai kayu dermaga.
Jatuh di sela, sela papan yang retak, jatuh ke air sungai yang gelap, jatuh ke tempat yang tidak akan pernah kembali.
"Kenapa Ayah tidak pernah cerita?"
Suara itu bukan marah.
Bukan teriakan.
Bukan bentakan.
Bukan tuduhan.
Bukan amarah.
Bukan kebencian.
Bukan kekecewaan.
Tapi suara yang lebih menyakitkan dari itu.
Kecewa.
Kecewa yang dalam.
Kecewa yang tulus.
Kecewa yang jujur.
Kecewa yang keluar dari hati.
Kecewa yang tidak bisa disembunyikan.
Kecewa yang tidak bisa dipalsukan.
Kecewa yang tidak bisa dihindari.
Kecewa yang datang karena seseorang yang ia cintai, seseorang yang ia percaya, seseorang yang ia hormati, seseorang yang ia kagumi, seseorang yang ia jadikan panutan, telah mengecewakannya.
Suara seseorang yang baru sadar bahwa rumahnya sendiri pernah menyimpan rahasia.
Suara seseorang yang baru sadar bahwa orang tuanya tidak selalu benar.
Suara seseorang yang baru sadar bahwa dunia tidak seindah yang ia bayangkan.
Suara seseorang yang baru sadar bahwa kebenaran kadang lebih menyakitkan daripada kebohongan.
Suara seseorang yang baru sadar bahwa cinta tidak selalu cukup.
Di ujung telepon, ayahnya menghela napas panjang.
Helaan napas yang panjang, yang berat, yang keluar dari dadanya seperti angin dari gua yang dalam.
Helaan napas yang membawa serta beban yang selama ini ia pendam.
Helaan napas yang menunjukkan bahwa ia juga sedang berusaha menahan tangis.
Helaan napas yang menunjukkan bahwa ia juga terluka.
Helaan napas yang menunjukkan bahwa ia juga manusia.
"Karena Ayah pikir itu cara terbaik."
Iskandar tertawa kecil.
Tawa yang kosong.
Tawa yang tidak mengandung kegembiraan, tidak mengandung kelucuan, tidak mengandung apa pun selain kekosongan.
Tawa seseorang yang baru sadar bahwa orang yang ia cintai bisa melakukan kesalahan besar.
Tawa seseorang yang baru sadar bahwa niat baik tidak selalu berakhir baik.
Tawa seseorang yang baru sadar bahwa melindungi tidak selalu berarti menyelamatkan.
Tawa seseorang yang baru sadar bahwa diam tidak selalu emas.
"Cara terbaik untuk siapa?"
Tak ada jawaban.
Tak ada suara dari ujung telepon.
Hanya keheningan.
Keheningan yang panjang.
Keheningan yang berat.
Keheningan yang menyakitkan.
Keheningan yang seperti pengakuan.
Keheningan yang seperti penyesalan.
Keheningan yang seperti permintaan maaf yang tidak bisa diucapkan.
Keheningan yang seperti doa yang tidak didengar.
Keheningan yang seperti harapan yang pupus.
Dan justru diam itu, diam yang panjang, diam yang berat, diam yang menyakitkan, diam yang seperti pengakuan, menjadi jawaban yang paling berat.
Jawaban yang mengatakan Ayah tidak tahu, Nak. Ayah pikir Ayah melakukan yang terbaik. Ayah pikir Ayah melindungi semua orang. Ayah pikir Ayah menjaga perdamaian. Ayah pikir Ayah melakukan hal yang benar. Tapi Ayah salah. Ayah salah besar. Dan Ayah tidak tahu bagaimana memperbaikinya.
"Ayah hanya ingin tidak ada keluarga yang hancur."
Iskandar menatap Nayla.
Perempuan itu duduk di sampingnya dengan mata basah, dengan wajah pucat, dengan tubuh gemetar.
Perempuan yang telah ia cintai.
Perempuan yang telah membuatnya ingin menjadi lebih baik.
Perempuan yang telah membuatnya ingin bertahan.
Perempuan yang sekarang terlihat seperti sedang menunggu vonis.
Lalu ia berkata pelan, dengan suara yang tidak bergetar, dengan suara yang tegas, dengan suara yang keluar dari hati.
"Tapi Nayla sudah hancur duluan."
Semua di meja itu terdiam.
Diam seperti di dalam gereja setelah kebaktian usai.
Diam seperti di dalam perpustakaan ketika semua orang sedang membaca.
Diam seperti di dalam hati ketika sedang merenung.
Karena kalimat itu, Tapi Nayla sudah hancur duluan, akhirnya mengucapkan sesuatu yang selama ini tak pernah dikatakan siapa pun.
Bahwa yang paling penting bukanlah menjaga keutuhan keluarga Aldebar.
Bukan menjaga hubungan baik antara dua keluarga.
Bukan menghindari skandal.
Bukan menjaga nama baik.
Tapi Nayla.
Nayla yang terluka.
Nayla yang kehilangan bayinya.
Nayla yang trauma.
Nayla yang sendirian.
Nayla yang tidak mendapatkan keadilan.
Nayla yang dikorbankan demi kenyamanan orang lain.
Nayla yang tidak pernah dilindungi oleh siapa pun.
Nayla yang harus menderita sendirian.
Nayla yang harus menanggung rasa sakit sendirian.
Nayla yang harus memulihkan diri sendirian.
Nayla yang harus melupakan sendirian.
Nayla yang harus bangkit sendirian.
Nayla yang harus kuat sendirian.
Dan itu tidak adil.
Itu tidak pernah adil.
Di seberang telepon, suara ayahnya terdengar lebih lirih.
Lebih lembut.
Lebih seperti bisikan.
Lebih seperti doa.
Lebih seperti permintaan maaf.
"Iskandar. Bawa Nayla pulang. Ayah mau bicara."
Iskandar menegang.
Tubuhnya yang tadi sedikit rileks, yang tadi mulai tenang setelah melampiaskan kekesalannya—kini kembali tegang.
Tegang seperti tali yang ditarik terlalu kencang.
Tegang seperti karet gelang yang diregangkan hingga batas maksimal.
Tegang seperti sesuatu yang siap meledak kapan saja.
"Kenapa sekarang?"
Karena suara ayahnya kali ini terdengar berbeda.
Bukan hanya menyesal.
Bukan hanya sedih.
Bukan hanya kecewa.
Tapi takut.
Takut yang tidak bisa disembunyikan.
Takut yang membuat suaranya bergetar.
Takut yang membuat napasnya tersengal, sengal.
Takut yang membuat kata, katanya terputus, putus.
Takut yang membuat Iskandar bertanya, tanya: apa yang ayah takutkan? Apa yang belum ayah ceritakan? Apa yang masih ayah sembunyikan?
Dan itu membuat bulu kuduk Iskandar merinding.
Merinding seperti ada angin dingin yang berhembus di tengah malam yang panas.
Merinding seperti ada tangan tak terlihat yang menyentuh pundaknya.
Merinding seperti ada sesuatu yang tidak beres.
"Ada sesuatu yang belum kamu tahu."
Kalimat itu membuat Nayla mengangkat kepala.
Matanya yang tadi menunduk, yang tadi tidak berani melihat Iskandar, yang tadi tidak berani mendengar apa yang akan Iskandar katakan selanjutnya, kini terangkat.
Matanya yang basah, yang merah, yang masih menyimpan sisa, sisa air mata, kini membesar.
Membesar seperti piring.
Membesar seperti bola.
Membesar seperti sesuatu yang tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Apa maksud Ayah?"
Suaranya nyaris seperti bisikan.
Bisikan yang seperti doa.
Bisikan yang seperti ratapan.
Bisikan yang hanya cukup untuk didengar oleh Iskandar.
Namun suara di telepon menjawab perlahan, dengan suara yang nyaris tidak terdengar, dengan suara yang seperti orang yang sedang mengakui dosa di depan altar.
"Yang terjadi malam itu… bukan seperti yang Nayla ingat."
Semua membeku.
Beku seperti patung lilin di museum.
Beku seperti batu di dasar sungai yang tidak pernah bergerak.
Beku seperti sesuatu yang telah mati tetapi tidak mau dikubur.
Beku seperti air yang berubah menjadi es dalam hitungan detik.
Beku seperti waktu yang berhenti berputar.
Beku seperti dunia yang berhenti bergerak.
"Apa?"
Suara Nayla hampir hilang.
Hilang seperti suara yang ditelan angin.
Hilang seperti suara yang tenggelam dalam air.
Hilang seperti suara yang tidak pernah ada.
Wajahnya pucat.
Lebih pucat dari sebelumnya.
Pucat seperti mayat.
Pucat seperti kertas yang sudah menguning.
Pucat seperti sesuatu yang baru sadar bahwa hidupnya tidak akan pernah sama lagi.
Tangannya gemetar hebat.
Gemetar seperti dedaunan yang tertiup angin kencang.
Gemetar seperti orang yang sedang menggigil kedinginan.
Gemetar seperti sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan.
Matanya membesar.
Membesar seperti piring.
Membesar seperti bola.
Membesar seperti sesuatu yang tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
Iskandar berdiri.
Kursi plastik biru yang retak di bagian dudukan itu hampir jatuh karena gerakannya yang terlalu cepat. Hampir, tetapi tidak jadi. Kaki kursi itu bergeser di lantai kayu dermaga dengan suara kreek yang nyaring, memecah keheningan seperti pecahan kaca yang jatuh di lantai keramik.
"Ayah, maksud Ayah apa?"
Suaranya tidak lagi pelan.
Suaranya tidak lagi lembut.
Suaranya meninggi.
Meninggi seperti alarm yang berbunyi di tengah malam.
Meninggi seperti teriakan yang memecah kesunyian.
Meninggi seperti sesuatu yang selama ini tertahan, kini meledak.
Tapi sebelum jawaban datang, sebelum suara ayahnya menjelaskan apa maksud kalimat itu, sebelum rahasia terakhir terbuka, sebelum kebenaran yang selama ini tersembunyi terungkap, telepon mendadak terputus.
Tut.
Suara yang pelan.
Suara yang seperti tamparan.
Suara yang seperti pukulan di perut.
Suara yang seperti sesuatu yang jatuh dan pecah.
Layar kembali gelap.
Gelap seperti masa lalu.
Gelap seperti rahasia.
Gelap seperti ketakutan.
Gelap seperti sesuatu yang tidak ingin dilihat.
Gelap seperti malam tanpa bulan.
Dan di tengah suara malam yang tiba, tiba sunyi, sunyi seperti di dalam gua yang paling dalam, sunyi seperti di dalam air yang paling tenang, sunyi seperti di dalam hati ketika sedang merenung, tak satu pun dari mereka bisa bernapas lega.
Karena ternyata, rahasia malam itu masih belum selesai.
Masih ada yang belum terbuka.
Masih ada yang belum diceritakan.
Masih ada yang disembunyikan.
Masih ada yang ditutup, tutupi.
Masih ada yang tidak ingin diketahui.
Masih ada yang tidak ingin diingat.
Masih ada yang tidak ingin dihadapi.
Masih ada luka yang lebih dalam.
Masih ada kebohongan yang lebih besar.
Masih ada pengkhianatan yang lebih kejam.
Masih ada rahasia yang lebih gelap.
"Apa maksudnya bukan seperti yang aku ingat?"
Suara Nayla gemetar.
Gemetar seperti dedaunan yang tertiup angin kencang.
Gemetar seperti orang yang sedang menggigil kedinginan.
Gemetar seperti sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan.
Ia menatap Iskandar.
Wajahnya pucat.
Pucat seperti kertas.
Pucat seperti kapur tulis.
Pucat seperti sesuatu yang baru saja melihat hantu.
Jari, jarinya dingin.
Dingin seperti es.
Dingin seperti mayat.
Dingin seperti sesuatu yang sudah mati.
"Is… apa maksudnya?"
Untuk pertama kalinya, Iskandar tidak tahu harus menjawab apa.
Mulutnya terbuka setengah, seperti hendak mengatakan sesuatu, mungkin "aku tidak tahu", mungkin "kita akan mencari tahu", mungkin "semuanya akan baik, baik saja", tetapi kata, kata itu tidak keluar.
Kata, kata itu tersangkut di tenggorokannya, seperti duri yang tidak bisa ditelan, seperti makanan yang terlalu panas, seperti sesuatu yang ingin ia katakan tetapi takut akan konsekuensinya.
Karena sekarang, bukan hanya cinta mereka yang diuji.
Bukan hanya kesabaran mereka yang diuji.
Bukan hanya ketulusan mereka yang diuji.
Tapi seluruh kebenaran yang selama ini menjadi dasar rasa bersalah Nayla.
Seluruh ingatan yang selama ini ia yakini.
Seluruh masa lalu yang selama ini ia sesali.
Seluruh luka yang selama ini ia pendam.
Seluruh air mata yang selama ini ia tumpahkan.
Seluruh mimpi buruk yang selama ini ia alami.
Seluruh ketakutan yang selama ini ia rasakan.
Mungkin semuanya tidak seperti yang ia ingat.
Mungkin semuanya tidak seperti yang ia pikirkan.
Mungkin semuanya tidak seperti yang ia yakini.
Mungkin ada yang salah dengan ingatannya.
Mungkin ada yang tidak ia lihat.
Mungkin ada yang tidak ia dengar.
Mungkin ada yang tidak ia sadari.
Mungkin ada yang sengaja disembunyikan darinya.
Mungkin ada yang sengaja diubah.
Mungkin ada yang sengaja diputarbalikkan.
Mungkin ada yang sengaja dihilangkan.
Dan itu, lebih dari semua yang telah terjadi, lebih dari semua luka yang ia rasakan, lebih dari semua air mata yang ia tumpahkan, adalah yang paling menakutkan.
Bukan karena kebenaran itu menyakitkan.
Tapi karena selama ini, ia mungkin salah.
Salah tentang apa yang terjadi.
Salah tentang siapa yang bersalah.
Salah tentang siapa yang harus disalahkan.
Salah tentang siapa yang harus dimaafkan.
Salah tentang siapa yang harus dibenci.
Salah tentang siapa yang harus dicintai.
Dan jika itu benar, maka seluruh hidupnya adalah kebohongan.
Seluruh penderitaannya adalah kesia, siaan.
Seluruh air matanya adalah kebodohan.
Seluruh rasa sakitnya adalah ketidakpahaman.
Seluruh ketakutannya adalah tidak berdasar.
Seluruh luka yang ia bawa selama ini mungkin tidak perlu ia bawa.
Seluruh beban yang ia pikul selama ini mungkin tidak perlu ia pikul.
Seluruh rasa bersalah yang ia rasakan selama ini mungkin tidak perlu ia rasakan.
Dan itu, lebih dari apa pun, adalah kebenaran yang paling sulit diterima.
"Jangan pergi."
Nayla tiba, tiba berdiri.
Semua menoleh.
Gerakannya cepat, terlalu cepat untuk seseorang yang tubuhnya masih gemetar, terlalu cepat untuk seseorang yang wajahnya masih pucat, terlalu cepat untuk seseorang yang matanya masih basah.
Kursi plastik biru yang retak di bagian dudukan itu jatuh ke belakang dengan suara kreek yang keras, seperti jeritan, seperti ratapan, seperti sesuatu yang patah.
Ia menatap Iskandar dengan mata penuh air.
Matanya yang merah, yang sembab, yang masih menyimpan sisa, sisa air mata dari pagi ini, dari semalam, dari semua malam sebelumnya, kini penuh dengan ketakutan.
Ketakutan yang tidak bisa ia sembunyikan.
Ketakutan yang membuatnya terlihat seperti anak kecil yang kehilangan orang tuanya di tengah keramaian.
"Kalau kamu pergi malam ini… saya takut kamu tidak akan kembali."
Kalimat itu membuat semua sahabat terdiam.
Diam seperti di dalam gereja setelah kebaktian usai.
Diam seperti di dalam perpustakaan ketika semua orang sedang membaca.
Diam seperti di dalam hati ketika sedang merenung.
Karena itulah pertama kalinya Nayla benar, benar mengucapkan ketakutan paling jujur dalam hatinya.
Bukan tentang Aldebar.
Bukan tentang masa lalu.
Bukan tentang rahasia.
Bukan tentang luka.
Bukan tentang rasa sakit.
Tapi tentang Iskandar.
Tentang laki, laki yang telah membuatnya merasa aman.
Tentang laki, laki yang telah membuatnya ingin percaya lagi.
Tentang laki, laki yang telah membuatnya ingin bertahan.
Tentang laki, laki yang telah membuatnya ingin hidup.
Tentang laki, laki yang mungkin akan pergi.
Tentang laki, laki yang mungkin tidak akan kembali.
Tentang laki, laki yang mungkin akan menjadi kenangan.
Tentang laki, laki yang mungkin akan menjadi luka baru.
Tentang laki, laki yang mungkin akan menjadi penyesalan.
Tentang laki, laki yang mungkin akan menjadi kehilangan terbesar dalam hidupnya.
Iskandar menatapnya lama.
Lampu, lampu dermaga, lampu, lampu kecil berwarna kuning yang diletakkan di sepanjang pagar besi, yang memantul di permukaan air yang gelap, memantul di matanya.
Matanya yang basah.
Matanya yang merah.
Matanya yang penuh dengan luka.
Matanya yang penuh dengan pertanyaan.
Matanya yang penuh dengan kebingungan.
Matanya yang penuh dengan ketakutan.
Matanya yang penuh dengan cinta.
Angin malam berhembus pelan, membawa aroma sungai yang khas, aroma kayu basah, aroma tanah, aroma sesuatu yang bersih dan segar, meniup lembut rambut Nayla yang masih terurai.
Rambutnya yang basah oleh air mata, rambut hitam panjang yang biasanya diikat rapi, yang biasanya disisir dengan hati, hati, yang biasanya menjadi salah satu keindahannya, bergerak, gerak seperti tirai yang ditiup angin.
Suara musik dari warung kopi di ujung dermaga masih terdengar samar, lagu, lagu pop lawas yang diputar dengan volume rendah, yang liriknya tentang cinta dan kehilangan, yang membuat suasana terasa lebih melankolis tetapi juga lebih intim.
Dan di tengah kota air yang tenang, di tengah sungai yang mengalir pelan, di tengah lampu, lampu yang memantul indah, di tengah orang, orang yang masih tertawa di kejauhan, hati mereka justru berada di puncak badai.
Badai yang tidak terlihat.
Badai yang tidak terasa.
Badai yang hanya mereka berdua yang merasakan.
Badai yang menguji segalanya.
Badai yang akan menentukan segalanya.
Badai yang akan mengubah segalanya.
"Nayla…"
Suara Iskandar pelan.
Pelannya tidak seperti bisikan. Pelannya seperti seseorang yang sedang berbicara pada dirinya sendiri. Pelannya seperti seseorang yang sedang merenung. Pelannya seperti seseorang yang sedang mencoba mencari kata, kata yang tepat.
"Kalau saya tidak pergi… kita tidak akan pernah tahu semuanya."
Air mata Nayla jatuh.
Jatuh deras.
Deraih seperti hujan di musim penghujan.
Deraih seperti air terjun yang tidak pernah berhenti.
Deraih seperti sesuatu yang tidak bisa lagi ditahan.
"Tapi kalau kamu pergi… bagaimana kalau semuanya berubah?"
Pertanyaan itu begitu sederhana.
Tiga kata.
Bagaimana kalau semuanya berubah?
Tiga kata yang tidak membutuhkan jawaban karena jawabannya sudah jelas.
Tiga kata yang justru membuat Iskandar semakin sadar akan risiko yang ia ambil.
Tiga kata yang membuatnya sadar bahwa ia bisa kehilangan segalanya.
Tiga kata yang membuatnya sadar bahwa cinta tidak selalu cukup.
Tiga kata yang membuatnya sadar bahwa kadang, melepaskan adalah pilihan yang terbaik.
Tiga kata yang membuatnya sadar bahwa kadang, bertahan adalah pilihan yang paling berisiko.
Namun terasa seperti pisau.
Pisau yang tajam.
Pisau yang menusuk.
Pisau yang masuk ke dalam dada tanpa suara, tetapi meninggalkan luka yang dalam.
Pisau yang tidak bisa dicabut karena jika dicabut, darah akan mengucur deras dan tidak akan bisa dihentikan.
Karena sesungguhnya, itulah ketakutan terbesar dalam cinta:
bukan kehilangan masa lalu.
Bukan kehilangan kenangan.
Bukan kehilangan janji.
Bukan kehilangan waktu.
Tapi kehilangan seseorang.
Tepat ketika hati mulai percaya.
Tepat ketika hati mulai terbuka.
Tepat ketika hati mulai merasa aman.
Tepat ketika hati mulai berharap.
Tepat ketika hati mulai bermimpi.
Tepat ketika hati mulai hidup.
Tepat ketika hati mulai mencintai.
Edo menunduk.
Wajahnya yang biasanya ceria, yang biasanya penuh dengan candaan, yang biasanya berbinar karena ia selalu menemukan sesuatu untuk ditertawakan, kini muram.
Muram seperti langit sebelum hujan.
Muram seperti malam tanpa bintang.
Muram seperti hati yang sedang hancur.
Ia tidak bisa bercanda.
Ia tidak bisa tertawa.
Ia tidak bisa mengatakan sesuatu yang lucu.
Ia hanya bisa menunduk dan berdoa.
Berdoa agar sahabatnya tidak hancur.
Berdoa agar sahabatnya kuat.
Berdoa agar sahabatnya bahagia.
Berdoa agar sahabatnya mendapatkan yang terbaik.
Rara ikut menangis.
Air matanya jatuh diam, diam.
Jatuh di pipinya.
Jatuh di dagunya.
Jatuh di pangkuannya.
Jatuh di lantai kayu dermaga.
Jatuh di sela, sela papan yang retak, jatuh ke air sungai yang gelap, jatuh ke tempat yang tidak akan pernah kembali.
Ia tidak bisa berkata, kata.
Ia hanya bisa menangis.
Menangis karena ia merasakan apa yang Nayla rasakan.
Menangis karena ia tahu bagaimana rasanya takut kehilangan seseorang yang dicintai.
Menangis karena ia tahu bagaimana rasanya ingin bertahan tetapi tidak bisa.
Menangis karena ia tahu bagaimana rasanya ingin pergi tetapi tidak tega.
Menangis karena ia tahu bagaimana rasanya berada di persimpangan antara cinta dan ketakutan.
Anggun menggenggam tangan Nayla.
Tangannya yang mungil, dengan kuku yang dipotong pendek, dengan cincin perak di jari manis yang sudah mulai menghitam karena usia, membungkus tangan Nayla yang dingin.
Tidak menggenggam erat.
Tidak memegang dengan keras.
Tapi memegang dengan lembut.
Memegang seperti sedang memegang sesuatu yang sangat rapuh.
Memegang seperti sedang memegang bayi yang baru lahir.
Memegang seperti sedang memegang sesuatu yang tidak ingin ia jatuhkan.
Memegang seperti sedang mengatakan aku di sini, kamu tidak sendirian, aku tidak akan pergi.
Iskandar melangkah mendekat.
Satu langkah.
Dua langkah.
Tiga langkah.
Langkah yang pelan.
Langkah yang hati, hati.
Langkah yang seperti sedang mendekati burung yang terluka—takut jika bergerak terlalu cepat, burung itu akan terbang dan tidak pernah kembali.
Sangat dekat.
Cukup dekat hingga Nayla bisa mendengar napasnya.
Cukup dekat hingga Nayla bisa merasakan hangat tubuhnya.
Cukup dekat hingga Nayla bisa melihat setiap detail wajahnya, dahi yang sedikit berkerut karena konsentrasi, mata yang teduh dan jujur, hidung yang mancung, bibir yang tipis, dagu yang sedikit runcing.
Cukup dekat hingga Nayla bisa melihat air mata di matanya.
Air mata yang tidak lagi ia sembunyikan.
Air mata yang jatuh di pipinya.
Air mata yang jatuh di dagunya.
Air mata yang jatuh di bajunya.
Air mata yang jatuh di tangannya.
Air mata yang jatuh di mana, mana.
Air mata yang mengatakan bahwa ia juga takut.
Air mata yang mengatakan bahwa ia juga tidak ingin kehilangan.
Air mata yang mengatakan bahwa ia juga manusia.
Dengan lembut, Iskandar menghapus air mata di pipi Nayla.
Jarinya yang hangat, hangat seperti api unggun di malam yang dingin, hangat seperti selimut tebal di musim hujan, hangat seperti secangkir cokelat panas setelah seharian bekerja di luar ruangan, menyentuh pipi Nayla yang basah.
Pipi yang dingin.
Pipi yang pucat.
Pipi yang basah oleh air mata.
Pipi yang lembut seperti sutra.
Pipi yang telah menahan begitu banyak tangis.
Pipi yang telah menjadi saksi bisu bagi begitu banyak luka.
Pipi yang sekarang disentuh dengan lembut oleh seseorang yang mencintainya.
Lalu berkata pelan, dengan suara yang tidak bergetar, dengan suara yang tegas, dengan suara yang keluar dari hati.
"Kalau setelah tahu semuanya… saya tetap memilih kembali…"
Ia menatap mata Nayla.
Matanya yang basah, yang merah, yang masih menyimpan sisa, sisa air mata, kini berbinar.
Binar yang redup, seperti bintang di langit yang terhalang awan, seperti lilin yang hampir padam, seperti sesuatu yang hampir mati tetapi masih berusaha bertahan.
"Apakah kali ini kamu mau berhenti takut?"
Nayla menangis.
Tangis yang pecah.
Tangis yang keras.
Tangis yang tidak bisa lagi ditahan.
Tangis yang keluar dari perut, yang membuat bahunya berguncang, yang membuat dadanya naik turun dengan cepat.
Karena pertanyaan itu, apakah kali ini kamu mau berhenti takut?, jauh lebih menakutkan daripada semua rahasia.
Jauh lebih menakutkan daripada Aldebar.
Jauh lebih menakutkan daripada mobil hitam.
Jauh lebih menakutkan daripada masa lalu.
Jauh lebih menakutkan daripada luka.
Jauh lebih menakutkan daripada rasa sakit.
Jauh lebih menakutkan daripada kehilangan.
Sebab untuk menjawabnya, ia harus mengakui sesuatu yang sejak awal terus ia hindari.
Sesuatu yang selama ini ia pendam.
Sesuatu yang selama ini ia kubur.
Sesuatu yang selama ini ia takutkan.
Sesuatu yang selama ini ia lari.
Sesuatu yang selama ini ia ingkari.
Sesuatu yang selama ini ia tolak.
Sesuatu yang selama ini ia benci.
Sesuatu yang selama ini ia sesali.
Sesuatu yang selama ini ia rindukan.
Sesuatu yang selama ini ia harapkan.
Sesuatu yang selama ini ia impikan.
Sesuatu yang selama ini ia doakan.
Cinta.
Cinta pada Iskandar.
Cinta yang telah tumbuh tanpa ia sadari.
Cinta yang telah mengakar tanpa ia izinkan.
Cinta yang telah memenuhi hatinya tanpa ia persilakan.
Cinta yang membuatnya ingin berhenti takut.
Cinta yang membuatnya ingin percaya lagi.
Cinta yang membuatnya ingin hidup lagi.
Cinta yang membuatnya ingin bahagia lagi.
Nayla menatap Iskandar.
Matanya yang basah, yang merah, yang masih menyimpan sisa, sisa air mata, kini berbinar.
Binar yang terang.
Binar yang seperti matahari di pagi hari.
Binar yang seperti bintang di langit yang cerah.
Binar yang seperti api unggun di malam yang dingin.
Binar yang seperti harapan yang tidak pernah padam.
Lalu dengan suara bergetar, dengan suara yang nyaris seperti bisikan, dengan suara yang hanya cukup untuk didengar oleh Iskandar, dengan suara yang keluar dari hati, dengan suara yang tidak bisa lagi ia sembunyikan, dengan suara yang jujur, dengan suara yang tulus, ia akhirnya berkata:
"Aku sudah terlanjur mencintaimu."
Semua di meja itu membeku.
Beku seperti patung lilin di museum.
Beku seperti batu di dasar sungai yang tidak pernah bergerak.
Beku seperti sesuatu yang telah mati tetapi tidak mau dikubur.
Bahkan Iskandar sendiri.
Bahkan Iskandar yang sudah menduga, yang sudah merasakan, yang sudah tahu, masih terkejut.
Terkejut karena mendengar kata, kata itu langsung dari mulut Nayla.
Terkejut karena Nayla akhirnya mengaku.
Terkejut karena cinta yang selama ini ia rasakan ternyata tidak bertepuk sebelah tangan.
Terkejut karena perempuan yang ia cintai ternyata juga mencintainya.
Terkejut karena kebahagiaan yang selama ini ia impikan ternyata mungkin terjadi.
Karena setelah semua luka, semua rahasia, semua ketakutan, semua air mata, semua pengorbanan, semua perjuangan, kalimat itu akhirnya keluar juga.
Bukan di tempat yang sempurna.
Bukan di waktu yang mudah.
Bukan di situasi yang ideal.
Bukan di latar yang romantis.
Tapi justru di puncak kekacauan.
Justru ketika semuanya terasa paling kacau.
Justru ketika badai sedang paling dahsyat.
Justru ketika ombak sedang paling tinggi.
Justru ketika langit sedang paling gelap.
Justru ketika semuanya terasa paling mustahil.
Itulah cinta.
Cinta tidak pernah datang di waktu yang tepat.
Cinta tidak pernah datang di tempat yang sempurna.
Cinta tidak pernah datang di situasi yang ideal.
Cinta datang ketika kita paling tidak siap.
Cinta datang ketika kita paling tidak menginginkannya.
Cinta datang ketika kita paling tidak membutuhkannya.
Tapi cinta juga datang ketika kita paling membutuhkannya.
Cinta juga datang ketika kita paling siap menerimanya.
Cinta juga datang ketika kita paling tidak berharap.
Cinta juga datang ketika kita paling tidak mencari.
Cinta juga datang ketika kita paling tidak menginginkan.
Air mata Nayla jatuh semakin deras.
Deraih seperti hujan di musim penghujan.
Deraih seperti air terjun yang tidak pernah berhenti.
Deraih seperti sesuatu yang tidak bisa lagi ditahan.
"Dan itu yang paling aku takutkan."
Karena untuk pertama kalinya, ia tidak takut pada masa lalu.
Tidak takut pada Aldebar.
Tidak takut pada mobil hitam.
Tidak takut pada rahasia.
Tidak takut pada luka.
Tidak takut pada rasa sakit.
Tidak takut pada kehilangan.
Ia takut pada Iskandar.
Takut pada perasaannya sendiri.
Takut pada cinta yang ia rasakan.
Takut pada kemungkinan bahwa cinta itu akan berakhir.
Takut pada kemungkinan bahwa Iskandar akan menjadi orang berikutnya yang harus ia relakan pergi.
Takut pada kemungkinan bahwa ia akan kembali sendirian.
Takut pada kemungkinan bahwa ia akan kembali hancur.
Takut pada kemungkinan bahwa ia tidak akan bisa bangkit lagi.
Takut pada kemungkinan bahwa ia akan menyesal.
Takut pada kemungkinan bahwa ia akan membenci dirinya sendiri.
Takut pada kemungkinan bahwa ia tidak akan pernah bisa mencintai lagi.
Iskandar menatapnya.
Diam.
Lama.
Matanya tidak berkedip.
Wajahnya tidak berubah.
Suaranya tidak keluar.
Ia hanya menatap.
Menatap perempuan yang ia cintai.
Menatap perempuan yang baru saja mengatakan bahwa ia juga mencintainya.
Menatap perempuan yang sedang menangis karena takut kehilangan.
Menatap perempuan yang telah melalui begitu banyak penderitaan.
Menatap perempuan yang masih bertahan meskipun semuanya terasa mustahil.
Menatap perempuan yang membuatnya ingin menjadi lebih baik.
Menatap perempuan yang membuatnya ingin bertahan.
Menatap perempuan yang membuatnya ingin hidup.
Lalu ia memeluk Nayla.
Di tengah lampu, lampu dermaga, lampu, lampu kecil berwarna kuning yang diletakkan di sepanjang pagar besi, yang memantul di permukaan air yang gelap, yang menciptakan ilusi bahwa sungai itu sendiri sedang tersenyum, sedang bahagia, sedang tidak peduli dengan drama manusia yang sedang berlangsung di tepiannya.
Di tengah sahabat, sahabat yang terdiam, Edo, Ridwan, Rara, Anggun, Sahrul, Lukman, yang tidak tahu harus berkata apa, yang hanya bisa menatap dengan mata basah, yang hanya bisa berdoa dalam hati.
Di tengah malam kota Kapuas yang perlahan larut, malam yang semakin larut, semakin sunyi, semakin dingin, semakin gelap, semakin misterius.
Dan di dekat telinga Nayla, Iskandar berbisik, dengan suara yang pelan, dengan suara yang lembut, dengan suara yang keluar dari hati, dengan suara yang tidak bergetar meskipun hatinya bergetar hebat.
"Kalau begitu… tunggu saya kembali."
Nayla memejamkan mata.
Kelopak matanya yang sembab, yang merah, yang masih menyimpan sisa, sisa air mata dari pagi ini, dari semalam, dari semua malam sebelumnya, tertutup rapat.
Air matanya jatuh.
Jatuh di bahu Iskandar.
Jatuh di bajunya.
Jatuh di tangannya.
Jatuh di mana, mana.
Karena kadang, puncak sebuah cinta bukan ketika dua orang akhirnya bersama.
Bukan ketika mereka saling mengucapkan "aku cinta kamu".
Bukan ketika mereka berjanji untuk setia.
Bukan ketika mereka merencanakan masa depan.
Bukan ketika mereka membangun rumah.
Bukan ketika mereka memiliki anak.
Bukan ketika mereka menua bersama.
Tapi saat keduanya sadar, mereka saling mencintai tepat ketika keadaan mungkin memisahkan mereka.
Tepat ketika badai sedang paling dahsyat.
Tepat ketika ombak sedang paling tinggi.
Tepat ketika langit sedang paling gelap.
Tepat ketika semuanya terasa paling mustahil.
Tepat ketika mereka paling tidak siap.
Tepat ketika mereka paling tidak menginginkannya.
Tepat ketika mereka paling tidak membutuhkannya.
Dan itu, cinta yang lahir di tengah badai, cinta yang bertahan meskipun semuanya terasa mustahil, cinta yang tidak menyerah meskipun diuji terus, menerus, adalah cinta yang paling kuat.
Cinta yang paling sejati.
Cinta yang paling abadi.
Cinta yang tidak akan pernah mati.
Cinta yang akan terus hidup meskipun badai berlalu.
Cinta yang akan terus tumbuh meskipun waktu terus berjalan.
Cinta yang akan terus bersinar meskipun gelap melanda.
Cinta yang akan terus menjadi cahaya di tengah kegelapan.
Di kejauhan, air sungai Kapuas terus mengalir.
Tenang.
Gelap.
Menyimpan rahasia.
Menyimpan luka.
Menyimpan air mata.
Menyimpan tangis.
Menyimpan tawa.
Menyimpan cinta.
Menyimpan harapan.
Menyimpan doa.
Dan malam itu, di bawah langit Kuala Kapuas, langit yang gelap, langit yang dipenuhi bintang, bintang yang malu, malu muncul, langit yang menjadi saksi bisu bagi segala sesuatu yang terjadi di bawahnya—cinta mereka akhirnya lahir.
Justru di waktu yang mungkin paling salah.
Justru di waktu yang paling tidak tepat.
Justru di waktu yang paling tidak mereka duga.
Justru di waktu yang paling tidak mereka rencanakan.
Justru di waktu yang paling tidak mereka inginkan.
Tapi itulah cinta.
Cinta tidak pernah peduli dengan waktu.
Cinta tidak pernah peduli dengan tempat.
Cinta tidak pernah peduli dengan situasi.
Cinta tidak pernah peduli dengan logika.
Cinta tidak pernah peduli dengan alasan.
Cinta tidak pernah peduli dengan risiko.
Cinta hanya datang.
Cinta hanya hadir.
Cinta hanya mengalir.
Cinta hanya bertahan.
Cinta hanya hidup.
Dan tidak ada yang bisa menghentikannya.
EPILOG
Ketika Cinta Menemukan Jalannya
Malam di Dermaga KP3 berakhir bukan dengan jawaban.
Bukan dengan pelukan panjang yang menghapus semua air mata. Bukan dengan ciuman di bawah lampu, lampu kuning yang memantul di permukaan sungai. Bukan dengan kata "aku cinta kamu" yang diucapkan berulang, ulang sampai terdengar seperti mantra. Bukan dengan janji, janji manis tentang masa depan yang akan dihabiskan bersama.
Melainkan dengan janji.
Sebuah janji sederhana yang diucapkan pelan, di tengah lampu, lampu sungai yang berkedip seperti bintang, bintang yang terlalu cepat turun ke bumi, di tengah udara kota air yang lembut dan basah oleh embun malam, di tengah sunyi yang hanya dipecahkan oleh suara jangkrik dan sesekali suara perahu ces yang melintas di kejauhan.
"Tunggu saya kembali."
Empat kata.
Tung, gu sa, ya kem, ba, li.
Empat kata yang keluar dari mulut Iskandar dengan suara yang tidak bergetar, dengan suara yang tegas, dengan suara yang keluar dari hati yang paling dalam. Empat kata yang tidak mengandung keraguan, tidak mengandung ketakutan, tidak mengandung kebimbangan. Empat kata yang seperti sumpah, seperti doa, seperti mantra yang akan mengikat mereka meskipun jarak dan waktu dan keadaan berusaha memisahkan.
Dan bagi Nayla, kalimat itu, empat kata sederhana yang diucapkan oleh seorang laki, laki yang baru ia kenal beberapa minggu, yang telah melihat sisi tergelap dari hidupnya, yang telah mendengar rahasia yang paling ia kubur, yang telah menyaksikan air mata yang paling ia sembunyikan—jauh lebih menenangkan daripada seribu kepastian.
Karena selama hidupnya, ia terlalu sering mendengar orang berkata "jangan pergi". Aldebar selalu berkata "jangan pergi" dengan nada yang penuh ancaman, dengan tatapan yang tajam, dengan tangan yang mengepal, dengan suara yang seperti geraman singa yang marah. Orang tuanya sering berkata "jangan pergi" dengan nada yang penuh kekhawatiran, dengan mata yang cemas, dengan tangan yang gemetar, dengan suara yang seperti doa yang tidak yakin akan dikabulkan.
Namun hanya Iskandar yang berkata: "Saya akan kembali."
Bukan "jangan pergi" yang memintanya untuk tetap tinggal di tempat yang tidak nyaman.
Bukan "jangan pergi" yang memintanya untuk mengorbankan kebahagiaannya demi orang lain.
Bukan "jangan pergi" yang memintanya untuk bertahan di situasi yang tidak sehat.
Tapi "saya akan kembali" yang menjanjikan bahwa ia tidak akan ditinggalkan.
Tapi "saya akan kembali" yang menjanjikan bahwa ada seseorang yang akan datang menjemputnya.
Tapi "saya akan kembali" yang menjanjikan bahwa ia tidak sendirian.
Tapi "saya akan kembali" yang menjanjikan bahwa ada masa depan yang menunggu.
Tapi "saya akan kembali" yang menjanjikan bahwa cinta itu nyata.
Malam itu Iskandar benar, benar pergi.
Bukan untuk meninggalkan.
Bukan untuk melarikan diri.
Bukan untuk bersembunyi.
Bukan untuk menyerah.
Bukan untuk berhenti.
Melainkan untuk menghadapi semua hal yang selama ini diam di belakang hidup mereka.
Untuk menghadapi ayahnya.
Untuk menghadapi kebenaran yang belum sepenuhnya terungkap.
Untuk menghadapi rahasia yang masih tersembunyi.
Untuk menghadapi masa lalu yang belum selesai.
Untuk menghadapi luka yang belum sembuh.
Untuk menghadapi ketakutan yang masih membayangi.
Untuk menghadapi semuanya.
Ia pulang ke rumahnya di kawasan jalan Jenderal A. Yani, jalan yang sama yang selalu ia lalui setiap hari, jalan yang sama yang menjadi saksi bisu bagi pertemuan, pertemuan dengan Nayla, jalan yang sama yang lampu, lampunya masih menyala meskipun malam semakin larut, jalan yang sama yang trotoarnya masih basah oleh sisa hujan.
Motor tuanya melaju pelan di jalan yang mulai sepi. Tidak ada kendaraan lain selain beberapa truk besar yang melintas dari arah Banjarmasin menuju Palangkaraya, dengan lampu sorot yang menyilaukan, dengan suara mesin yang menggelegar seperti singa yang marah, dengan debu yang beterbangan di belakangnya. Iskandar menepi ke pinggir, membiarkan truk, truk itu lewat, lalu melanjutkan perjalanan dengan kecepatan yang sama.
Ia membawa foto kecil, foto yang jatuh dari amplop cokelat tipis, foto yang memperlihatkan ayahnya berdiri di belakang Nayla dan Aldebar di rumah sakit. Foto yang menjadi bukti bahwa ayahnya terlibat. Foto yang menjadi bukti bahwa ayahnya menyembunyikan sesuatu. Foto yang menjadi bukti bahwa ayahnya tidak seperti yang ia bayangkan.
Ia membawa dokumen, dokumen lama, lembar, lembar kertas yang sudah mulai menguning di pinggirannya, yang tulisannya sudah mulai pudar di beberapa tempat, yang lipatannya sudah tidak rapi lagi. Dokumen rumah sakit yang mencatat diagnosis Nayla. Surat yang ditulis oleh Nayla bertahun, tahun lalu, yang mengungkapkan ketakutannya, yang menjadi saksi bisu dari penderitaannya.
Dan ia membawa hati yang tak lagi sama, hati yang telah diisi oleh cinta untuk Nayla, hati yang telah dilukai oleh pengakuan Nayla, hati yang telah dibingungkan oleh rahasia yang terbuka, hati yang telah dihancurkan oleh keterlibatan ayahnya, hati yang telah diuji oleh semuanya, hati yang masih berdetak meskipun terasa seperti akan berhenti kapan saja.
Di ruang tamu rumah yang sejak kecil terasa akrab, rumah panggung dengan tiang, tiang kayu ulin yang kokoh, dengan lantai kayu yang berderit setiap kali diinjak, dengan dinding, dinding kayu yang sudah menghitam oleh usia, dengan foto, foto keluarga yang terpajang di dinding, dengan aroma kopi dan pisang goreng yang masih tercium dari dapur, untuk pertama kalinya ia duduk berhadapan dengan ayahnya bukan sebagai anak kecil yang mencari perlindungan.
Bukan sebagai anak kecil yang berlindung di balik kaki ayahnya ketika ada badai.
Bukan sebagai anak kecil yang memegang erat tangan ayahnya ketika takut.
Bukan sebagai anak kecil yang menangis di pangkuan ayahnya ketika jatuh dari sepeda.
Bukan sebagai anak kecil yang tersenyum ketika ayahnya pulang dari kerja.
Tapi sebagai laki, laki.
Sebagai laki, laki dewasa yang sedang menuntut kebenaran.
Sebagai laki, laki dewasa yang tidak akan menerima jawaban "untuk kebaikanmu" atau "kamu belum cukup umur untuk mengerti" atau "suatu hari nanti kamu akan paham".
Sebagai laki, laki dewasa yang berhak tahu.
Sebagai laki, laki dewasa yang berhak marah.
Sebagai laki, laki dewasa yang berhak kecewa.
Sebagai laki, laki dewasa yang berhak bertanya.
Sebagai laki, laki dewasa yang berhak mendapatkan jawaban.
Ayahnya, Haji Rahman, laki, laki yang telah membesarkannya sendirian setelah ibunya meninggal? Tidak. Ibunya, Bu Ratna, masih hidup, masih sehat, masih memasak pisang goreng untuknya setiap pagi. Tapi ada sesuatu tentang malam ini yang membuat Iskandar merasa bahwa ia tidak mengenal ayahnya sebaik yang ia kira. Laki, laki berusia 65 tahun dengan rambut yang sudah hampir seluruhnya putih, dengan kumis tebal yang masih hitam pekat, dengan mata yang masih tajam meskipun sudah sering dibantu kacamata baca, dengan postur yang masih tegap meskipun punggungnya mulai membungkuk oleh usia.
Beliau duduk di kursi kesayangannya, kursi malas berbahan kulit sintetis yang sudah mulai mengelupas di beberapa bagian, yang sudah kempes di bagian tengah karena sering diduduki, yang sudah menjadi tempatnya membaca koran setiap pagi, menonton televisi setiap malam, dan terkadang tertidur di sore hari.
Di tangannya, beliau memegang secangkir teh hangat, teh melati dengan gula batu, yang sudah menjadi minuman favoritnya sejak muda, yang aroma khasnya selalu memenuhi ruang tamu setiap malam, yang sekarang sudah tidak lagi mengepul karena sudah dingin.
Di hadapannya, Iskandar duduk di sofa yang sama yang biasa ia duduki ketika masih kecil, sofa cokelat tua berbahan velour yang sudah mulai halus di beberapa bagian karena sering diduduki, yang bantal, bantalnya sudah kempes, yang pegasnya sudah mulai terasa di beberapa tempat.
Dan malam itu, semua yang selama bertahun, tahun dikubur, semua yang selama bertahun, tahun disembunyikan, semua yang selama bertahun, tahun tidak pernah dibicarakan, semua yang selama bertahun, tahun menjadi beban diam, diam, akhirnya terbuka.
Ayah Iskandar memang mengenal keluarga Aldebar.
Bukan sekadar kenal. Bukan sekadar bertemu di acara, acara resmi. Bukan sekadar menyapa ketika berpapasan di jalan. Bukan sekadar hubungan bisnis yang biasa.
Mereka pernah seperti saudara.
Sahabat lama.
Rekan usaha.
Keluarga yang saling percaya.
Ayah Aldebar, Haji Faisal, seorang pengusaha sukses yang memiliki beberapa toko material di Kuala Kapuas dan Palangkaraya, adalah teman sekolah ayah Iskandar sejak SMP. Mereka duduk di bangku yang sama, berbagi buku catatan ketika salah satu dari mereka lupa membawa, saling meminjam uang jajan ketika dompet sedang kosong, bolos pelajaran bersama untuk pergi ke sungai berenang, dan saling menutupi ketika guru bertanya.
Mereka lulus SMA bersama, lalu berpisah ketika ayah Iskandar memilih untuk bekerja di Banjarmasin sementara ayah Aldebar memilih untuk meneruskan usaha keluarganya di Kuala Kapuas. Tapi jarak tidak pernah memisahkan persahabatan mereka. Surat menyurat masih menjadi kebiasaan ketika itu, lalu telepon rumah, lalu ponsel ketika teknologi mulai berkembang. Mereka tetap berhubungan, tetap saling mengunjungi, tetap saling mendukung dalam suka dan duka.
Ketika ayah Iskandar memutuskan untuk kembali ke Kuala Kapuas dan membuka toko material sendiri, ayah Aldebarlah yang membantunya. Memberikan modal, memberikan saran, memberikan koneksi, memberikan kepercayaan. Tanpa bantuan ayah Aldebar, toko material Haji Rahman mungkin tidak akan pernah berdiri, atau mungkin akan bangkrut di tahun, tahun pertama.
Mereka seperti saudara.
Dan seperti saudara, mereka saling percaya.
Saling percaya bahwa tidak ada rahasia di antara mereka.
Saling percaya bahwa mereka akan selalu jujur satu sama lain.
Saling percaya bahwa mereka akan saling melindungi.
Saling percaya bahwa mereka akan saling membantu dalam kesulitan.
Saling percaya bahwa persahabatan mereka lebih penting dari apa pun.
Sampai malam itu.
Malam ketika Nayla ditemukan pingsan di pinggir jalan.
Malam ketika ayah Iskandar tidak hanya melihat seorang gadis pingsan.
Beliau melihat kemungkinan dua keluarga bisa saling menghancurkan.
Kemungkinan bahwa persahabatan yang telah dibangun selama puluhan tahun bisa hancur dalam semalam.
Kemungkinan bahwa toko material yang telah susah payah ia bangun bisa tutup karena konflik.
Kemungkinan bahwa nama baik keluarganya bisa tercoreng.
Kemungkinan bahwa anaknya, Iskandar, akan terlibat dalam masalah yang tidak perlu.
Kemungkinan bahwa semua yang telah ia bangun selama ini akan runtuh.
Dan dalam sekejap, ia membuat keputusan.
Keputusan yang akan ia sesali seumur hidup.
Keputusan yang akan menghancurkan Nayla.
Keputusan yang akan membuat anaknya kecewa.
Keputusan yang akan merusak kepercayaan keluarganya.
Keputusan yang akan menjadi beban yang tidak bisa ia lepaskan.
Keputusan untuk diam.
Karena ternyata, yang menyebabkan Nayla jatuh malam itu bukan hanya pertengkaran dengan Aldebar.
Bukan hanya karena Aldebar mendorongnya.
Bukan hanya karena ia kehilangan keseimbangan.
Bukan hanya karena ia terjatuh dan bayinya tidak selamat.
Ada seseorang lain yang selama ini tak pernah disebut.
Seseorang yang datang malam itu dengan amarah yang membara.
Seseorang yang membawa masalah yang lebih besar dari sekadar pertengkaran pasangan kekasih.
Seseorang yang tidak pernah ia bayangkan akan terlibat.
Seseorang yang memiliki hubungan dengan keluarganya.
Seseorang yang memiliki kekuasaan.
Seseorang yang memiliki pengaruh.
Seseorang yang memiliki segalanya untuk dipertaruhkan.
Seseorang yang akan melakukan apa pun untuk melindungi dirinya sendiri.
Seseorang yang datang malam itu karena urusan keluarga.
Bukan karena cinta.
Bukan karena kecemburuan.
Bukan karena perselingkuhan.
Bukan karena hutang.
Bukan karena dendam.
Tapi karena sesuatu yang lebih rumit.
Sesuatu yang melibatkan bisnis.
Sesuatu yang melibatkan uang.
Sesuatu yang melibatkan kekuasaan.
Sesuatu yang melibatkan politik.
Sesuatu yang melibatkan nama baik.
Sesuatu yang melibatkan masa depan.
Sesuatu yang membuat ayah Iskandar tidak bisa diam.
Sesuatu yang membuat ayah Iskandar harus memilih.
Sesuatu yang membuat ayah Iskandar mengorbankan Nayla demi melindungi orang lain.
Dan orang itu, adalah kakak Aldebar sendiri.
Pertengkaran di rumah itu malam itu jauh lebih besar daripada yang Nayla ingat.
Jauh lebih keras.
Jauh lebih kacau.
Jauh lebih menakutkan.
Jauh lebih traumatis.
Jauh lebih dari sekadar Aldebar yang marah karena Nayla ingin menunda pernikahan.
Kakak Aldebar, sebut saja namanya Andika, laki, laki berusia 38 tahun yang mengelola sebagian besar bisnis keluarga, yang dikenal sebagai sosok yang tegas dan ambisius, yang tidak segan, segan menggunakan cara, cara tidak terhormat untuk mencapai tujuannya, datang malam itu dengan amarah yang tidak bisa dijelaskan.
Ada masalah bisnis. Ada kerugian besar. Ada hutang yang tidak bisa dibayar. Ada ancaman dari pihak lain. Ada tekanan dari keluarga. Ada tuntutan yang tidak bisa dipenuhi. Ada sesuatu yang membuat Andika kehilangan kendali.
Dan ketika ia melihat Aldebar dan Nayla bertengkar, ketika ia mendengar Nayla mengatakan ingin menunda pernikahan, ketika ia mendengar Aldebar berteriak, ketika ia melihat situasi yang sudah memanas, sesuatu dalam dirinya meledak.
Ia berteriak.
Ia membanting pintu.
Ia mendorong meja.
Ia memecahkan gelas.
Ia menghampiri Nayla.
Ia mengatakan sesuatu yang tidak bisa diingat oleh Nayla karena semuanya terjadi terlalu cepat.
Lalu Nayla jatuh.
Bukan karena Aldebar mendorongnya.
Tapi karena ia mencoba menghindari Andika yang tiba-tiba melangkah ke arahnya.
Ia mundur.
Kaki belakangnya mengenai kaki kursi.
Ia kehilangan keseimbangan.
Dan jatuh.
Perutnya mengenai ujung meja.
Rasa sakit yang luar biasa.
Darah.
Terimaan.
Panggilan ambulans.
Rumah sakit.
Dan setelah itu, semuanya menjadi kabur.
Nayla tidak bisa mengingat detailnya.
Trauma.
Ingatan yang terpotong, potong.
Fragmen, fragmen yang tidak bisa ia satukan.
Wajah, wajah yang muncul dan menghilang.
Suara, suara yang berteriak dan berbisik.
Tangan, tangan yang menyentuhnya.
Jarum, jarum yang menusuk kulitnya.
Monitor yang berbunyi bip, bip, bip.
Lampu, lampu yang terlalu terang.
Dan rasa sakit yang luar biasa.
Rasa sakit yang tidak hanya fisik.
Tapi juga mental.
Rasa sakit yang membuatnya ingin mati.
Rasa sakit yang membuatnya ingin menghilang.
Rasa sakit yang membuatnya ingin tidak pernah bangun lagi.
Dan karena trauma, karena rasa sakit yang luar biasa, karena tekanan psikologis yang berat, sebagian ingatan Nayla terkunci.
Terkunci seperti pintu yang tidak bisa dibuka.
Terkunci seperti buku yang halamannya direkatkan.
Terkunci seperti kenangan yang terlalu menyakitkan untuk diingat.
Ia tidak ingat bahwa Andika ada di sana malam itu.
Ia hanya ingat Aldebar.
Aldebar yang marah.
Aldebar yang berteriak.
Aldebar yang mendorongnya.
Aldebar yang menjadi penyebab semuanya.
Itu yang ia yakini.
Itu yang ia ceritakan pada keluarganya.
Itu yang menjadi dasar rasa sakitnya.
Itu yang menjadi dasar ketakutannya.
Itu yang menjadi dasar kebenciannya.
Itu yang menjadi dasar keputusannya untuk pergi.
Itu yang menjadi dasar semua yang ia rasakan selama tiga tahun terakhir.
Tapi itu tidak sepenuhnya benar.
Tidak sepenuhnya salah.
Tapi juga tidak sepenuhnya benar.
Aldebar memang bersalah.
Bersalah karena tidak melindungi Nayla.
Bersalah karena membiarkan kakaknya datang dalam keadaan marah.
Bersalah karena tidak menghentikan kakaknya ketika situasi mulai memanas.
Bersalah karena tidak segera membawa Nayla ke rumah sakit ketika ia jatuh.
Bersalah karena setelah itu, ia memilih rasa bersalah sebagai cara menahan Nayla tetap tinggal.
Bersalah karena ia menggunakan kehilangan bayi mereka sebagai senjata untuk membuat Nayla merasa bersalah.
Bersalah karena ia tidak pernah benar, benar meminta maaf.
Bersalah karena ia tidak pernah benar, benar berubah.
Bersalah karena ia terus mengulangi pola yang sama.
Bersalah karena ia tidak bisa melepaskan.
Bersalah karena ia tidak bisa menerima kenyataan.
Tapi Aldebar tidak mendorong Nayla.
Itu yang tidak diingat oleh Nayla.
Itu yang tidak pernah ia ceritakan.
Itu yang membuat ayah Iskandar memilih diam.
Karena jika Nayla tahu bahwa ada orang lain yang terlibat, bahwa bukan hanya Aldebar yang marah, bahwa ada kakak Aldebar yang juga bertanggung jawab, maka masalahnya akan menjadi lebih besar.
Jauh lebih besar.
Bukan hanya dua keluarga yang akan terlibat.
Tapi seluruh jaringan bisnis.
Tapi seluruh relasi politik.
Tapi seluruh koneksi yang telah dibangun selama puluhan tahun.
Tapi seluruh investasi.
Tapi seluruh masa depan.
Dan ayah Iskandar, yang selama ini menjadi bagian dari jaringan itu, yang selama ini menikmati hasil dari hubungan itu, yang selama ini bergantung pada koneksi itu, tidak bisa membiarkan itu terjadi.
Ia memilih diam.
Ia memilih untuk melindungi keluarga Aldebar.
Ia memilih untuk melindungi investasinya.
Ia memilih untuk melindungi masa depannya.
Ia memilih untuk melindungi anaknya, dengan caranya sendiri, meskipun caranya salah.
Ia memilih untuk mengorbankan Nayla.
Namun satu hal yang paling berat, satu hal yang tidak pernah diceritakan oleh ayah Iskandar kepada siapa pun, satu hal yang bahkan tidak pernah ia akui pada dirinya sendiri, satu hal yang membuatnya tidak bisa tidur di malam hari, satu hal yang membuatnya tersentak bangun dari mimpi buruk, satu hal yang membuatnya tidak bisa menatap Iskandar di mata selama bertahun, tahun, adalah bahwa selama ini, Aldebar juga hidup dengan rasa bersalah yang sama.
Rasa bersalah yang tidak bisa ia lepaskan.
Rasa bersalah yang membuatnya tidak bisa move on.
Rasa bersalah yang membuatnya terus berusaha mempertahankan Nayla.
Rasa bersalah yang membuatnya tidak bisa menerima bahwa Nayla pergi.
Rasa bersalah yang membuatnya terus mengikuti Nayla.
Rasa bersalah yang membuatnya terus mengancam.
Rasa bersalah yang membuatnya terus menyakiti.
Bukan karena ia jahat.
Bukan karena ia tidak mencintai Nayla.
Tapi karena ia tidak tahu bagaimana cara mengatasi rasa bersalahnya.
Karena ia tidak pernah belajar untuk menerima kesalahan.
Karena ia tidak pernah belajar untuk meminta maaf dengan tulus.
Karena ia tidak pernah belajar untuk melepaskan.
Karena ia tidak pernah belajar bahwa cinta tidak selalu berarti memiliki.
Karena ia tidak pernah belajar bahwa kadang, melepaskan adalah bentuk cinta yang tertinggi.
Dan itu, lebih dari segalanya, adalah tragedi dari cerita ini.
Bukan hanya Nayla yang terluka.
Bukan hanya Iskandar yang kecewa.
Bukan hanya ayah Iskandar yang bersalah.
Tapi Aldebar juga.
Aldebar juga manusia.
Aldebar juga punya luka.
Aldebar juga punya ketakutan.
Aldebar juga punya rasa bersalah.
Aldebar juga butuh dimaafkan.
Aldebar juga butuh dilepaskan.
Aldebar juga butuh sembuh.
Tapi tidak ada yang memberinya itu.
Keluarga Aldebar memilih melindunginya dengan cara yang salah, menutupi kesalahannya, membantunya menghindari tanggung jawab, membiarkannya terus hidup dalam ilusi bahwa ia bisa mempertahankan Nayla.
Ayah Iskandar memilih diam, tidak memberinya nasihat, tidak menegurnya, tidak membantunya menyadari kesalahannya.
Nayla memilih pergi, tanpa benar, benar menjelaskan, tanpa benar, benar memberi kesempatan untuk berubah, tanpa benar, benar menutup dengan baik.
Dan Aldebar terjebak.
Terjebak dalam rasa bersalah yang tidak bisa ia lepaskan.
Terjebak dalam kenangan yang tidak bisa ia lupakan.
Terjebak dalam cinta yang tidak bisa ia akhiri.
Terjebak dalam harapan yang tidak bisa ia realisasikan.
Terjebak dalam dirinya sendiri.
Ketika Iskandar mendengar semuanya, ketika ayahnya menceritakan semuanya dengan suara yang bergetar, dengan mata yang basah, dengan tangan yang gemetar, ia tidak langsung marah.
Ia tidak berteriak.
Ia tidak membanting pintu.
Ia tidak pergi meninggalkan rumah.
Ia tidak mengatakan "aku benci Ayah".
Ia tidak mengatakan "aku tidak akan pernah memaafkan Ayah".
Ia tidak mengatakan "Ayah sudah menghancurkan hidupku".
Ia hanya duduk diam.
Diam seperti patung.
Diam seperti batu.
Diam seperti sesuatu yang tidak bisa bergerak.
Pikirannya kosong.
Kosong seperti rumah yang ditinggalkan.
Kosong seperti sumur yang kering.
Kosong seperti sesuatu yang kehilangan seluruh isinya.
Ia mencerna semua informasi yang diberikan ayahnya.
Mencernanya seperti makanan yang terlalu panas, perlahan, hati, hati, tidak terburu, buru.
Mencernanya seperti obat yang pahit, ditelan meskipun tidak enak, karena ia tahu itu perlu.
Mencernanya seperti kebenaran yang menyakitkan, diterima meskipun sulit, karena ia tahu tidak ada gunanya menyangkal.
Karena kadang, yang paling sulit diterima bukan kebohongan.
Kebohongan bisa dimaafkan.
Kebohongan bisa dilupakan.
Kebohongan bisa diabaikan.
Kebohongan bisa dibenarkan.
Kebohongan bisa dijelaskan.
Tapi kenyataan bahwa orang, orang yang kita cintai, orang, orang yang kita percaya, orang, orang yang kita hormati, orang, orang yang kita jadikan panutan, kadang membuat keputusan salah karena mereka juga takut.
Karena mereka juga manusia.
Karena mereka juga tidak sempurna.
Karena mereka juga bisa berbuat salah.
Karena mereka juga bisa mengecewakan.
Karena mereka juga bisa melukai.
Karena mereka juga butuh dimaafkan.
Itulah yang paling sulit diterima.
Bukan bahwa ayahnya bersalah.
Tapi bahwa ayahnya adalah manusia.
Manusia yang bisa salah.
Manusia yang bisa takut.
Manusia yang bisa lemah.
Manusia yang bisa khilaf.
Manusia yang bisa mengecewakan.
Manusia yang bisa melukai.
Manusia yang butuh dimaafkan.
"Ayah salah."
Hanya itu yang dikatakan ayahnya.
Hanya itu yang keluar dari mulut pria tua yang selama ini menjadi panutannya.
Hanya itu yang bisa ia katakan setelah menceritakan semuanya.
Hanya itu yang tersisa setelah bertahun, tahun menyimpan rahasia.
Hanya itu yang bisa ia persembahkan sebagai permintaan maaf.
Suara seorang pria tua yang akhirnya lelah menyimpan rahasia terlalu lama.
Suara seorang pria tua yang akhirnya sadar bahwa diamnya telah menyebabkan penderitaan.
Suara seorang pria tua yang akhirnya mengakui bahwa ia salah.
Suara seorang pria tua yang akhirnya meminta maaf.
Suara seorang pria tua yang akhirnya menangis.
"Ayah pikir diam bisa menyelamatkan semua orang. Ternyata justru membuat semuanya lebih terluka."
Iskandar menatap ayahnya.
Matanya yang basah, yang merah, yang masih menyimpan sisa, sisa air mata, bertemu dengan mata ayahnya yang juga basah, yang juga merah, yang juga menyimpan sisa, sisa air mata.
Dan untuk pertama kalinya, ia tidak melihat seorang ayah yang selalu benar.
Seorang ayah yang tidak pernah salah.
Seorang ayah yang selalu tahu apa yang terbaik.
Seorang ayah yang selalu bisa diandalkan.
Seorang ayah yang sempurna.
Ia melihat seorang manusia.
Manusia yang juga pernah muda.
Manusia yang juga pernah takut.
Manusia yang juga pernah salah.
Manusia yang juga pernah mengecewakan.
Manusia yang juga pernah terluka.
Manusia yang juga butuh dimaafkan.
Manusia yang juga butuh dikasihani.
Manusia yang juga butuh dicintai.
Dan dalam tatapan itu, Iskandar memutuskan.
Memutuskan untuk memaafkan.
Bukan karena ayahnya pantas dimaafkan.
Bukan karena kesalahan ayahnya tidak besar.
Bukan karena luka yang ditimbulkan tidak dalam.
Bukan karena ia tidak marah.
Bukan karena ia tidak kecewa.
Bukan karena ia tidak sakit hati.
Tapi karena ia tidak ingin membawa beban kemarahan seumur hidup.
Tapi karena ia tidak ingin menjadi seperti Aldebar yang tidak bisa melepaskan.
Tapi karena ia tidak ingin hidup dalam kepahitan.
Tapi karena ia ingin menjadi lebih baik dari itu.
Tapi karena ia ingin memulai yang baru.
Tapi karena ia ingin bahagia.
Tapi karena ia mencintai ayahnya.
Pagi harinya, sebelum matahari benar-benar tinggi, sebelum embun pagi mengering, sebelum burung, burung berhenti berkicau, sebelum jalanan mulai ramai oleh kendaraan, Iskandar berdiri di depan rumah Nayla.
Rumah itu masih sama.
Halaman kecil dengan tanaman bunga yang basah oleh embun pagi, mawar merah yang mekar sepanjang tahun, melati putih yang harumnya semerbak di pagi hari, kamboja yang bunganya sering jatuh ke tanah dan mengering, beberapa pot tanaman hias yang diletakkan di teras.
Pagar putih kecil yang catnya sudah mulai mengelupas di beberapa bagian, memperlihatkan besi di bawahnya yang mulai berkarat, yang menjadi batas antara dunia luar dan dunia dalam, antara publik dan privat, antara orang asing dan keluarga.
Lampu teras yang masih menyala redup meskipun matahari sudah cukup tinggi, lampu kuning yang tidak terlalu terang, tidak terlalu redup, seperti cahaya lilin yang menari, nari ditiup angin, seperti mata yang setengah terbuka, seperti orang yang sedang menunggu tetapi tidak ingin terlihat menunggu.
Jalan trans yang mulai ramai oleh kendaraan menuju pusat kota, motor-motor dengan knalpot yang bunyinya bervariasi, mobil, mobil dengan klakson yang kadang panjang kadang pendek, becak, becak dengan bunyi kring, kring dari bel kecil yang digantung di gagang.
Udara pagi yang masih segar, sejuk seperti air sumur yang baru ditimba, segar seperti embun yang masih menempel di daun, daun rumput, bersih seperti hati yang baru saja dimaafkan.
Namun kali ini, Iskandar datang bukan membawa pertanyaan.
Ia datang membawa jawaban.
Jawaban yang telah ia cari semalaman.
Jawaban yang telah ia perjuangkan.
Jawaban yang telah ia dapatkan dari ayahnya.
Jawaban yang akan mengubah segalanya.
Jawaban yang akan membebaskan Nayla dari rasa bersalah.
Jawaban yang akan membebaskan Nayla dari ketakutan.
Jawaban yang akan membebaskan Nayla dari masa lalu.
Jawaban yang akan membebaskan Nayla untuk mencintai lagi.
Jawaban yang akan membebaskan mereka berdua untuk memulai yang baru.
Nayla membuka pintu.
Pintu kayu yang dicat putih, dengan gagang kuningan yang sudah mulai kusam karena usia, dengan kaca jendela kecil di bagian atas yang memperlihatkan ruang tamu di dalamnya, dengan suara kreek yang nyaring setiap kali dibuka, terbuka perlahan.
Wajahnya masih sembab, sembab seperti orang yang baru saja selesai menangis sepanjang malam, sembab seperti orang yang tidak bisa lagi menangis karena air matanya sudah habis, sembab seperti orang yang kelelahan secara fisik dan mental.
Matanya merah, merah seperti tomat yang baru matang, merah seperti mawar yang mekar di musim semi, merah seperti api yang menyala di perapian, merah seperti sesuatu yang terbakar, dan yang terbakar bukan kulitnya, tapi hatinya. Hatinya yang semalaman tidak bisa tidur, yang semalaman memikirkan Iskandar, yang semalaman bertanya, tanya apakah Iskandar akan kembali.
Pipinya basah, basah oleh air mata yang tidak sempat ia keringkan, basah oleh keringat dingin yang keluar karena cemas, basah oleh sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.
Rambutnya tidak disisir, rambut hitam panjang yang biasanya diikat rapi, yang biasanya disisir dengan hati, hati, yang biasanya menjadi salah satu keindahannya, kini terurai, kusut, kering, seperti rumput yang tidak pernah disiram.
Ia terlihat seperti seseorang yang semalaman tidak tidur.
Seperti seseorang yang semalaman menunggu.
Seperti seseorang yang semalaman berdoa.
Seperti seseorang yang semalaman berharap.
Seperti seseorang yang semalaman takut.
Seperti seseorang yang semalaman menangis.
Seperti seseorang yang semalaman bertanya, tanya: apakah Iskandar akan kembali? Apakah ia akan menepati janjinya? Apakah ia akan tetap tinggal setelah tahu semuanya? Apakah ia akan pergi seperti orang, orang lain? Apakah ia akan menjadi kenangan? Apakah ia akan menjadi luka baru? Apakah ia akan menjadi penyesalan?
Dan saat melihat Iskandar berdiri di sana, di depan pagar putih yang catnya sudah mulai mengelupas, di bawah lampu teras yang masih menyala redup, di antara bunga, bunga yang basah oleh embun pagi—hal pertama yang ia lakukan bukan bicara.
Ia hanya menatap.
Menatap dengan mata yang masih basah.
Menatap dengan mata yang masih merah.
Menatap dengan mata yang masih penuh dengan pertanyaan.
Menatap dengan mata yang masih penuh dengan ketakutan.
Menatap dengan mata yang masih penuh dengan harapan.
Seolah memastikan bahwa laki, laki itu benar, benar kembali.
Seolah memastikan bahwa ini bukan mimpi.
Seolah memastikan bahwa ia tidak sedang berhalusinasi.
Seolah memastikan bahwa Iskandar tidak akan menghilang seperti bayangan.
Seolah memastikan bahwa ia tidak sendirian.
"Kamu datang."
Suara Nayla nyaris seperti bisikan.
Bisikan yang seperti doa.
Bisikan yang seperti ratapan.
Bisikan yang hanya cukup untuk didengar oleh Iskandar.
Iskandar tersenyum kecil.
Senyum yang lembut.
Senyum yang hangat.
Senyum yang mengatakan aku bilang aku akan kembali, dan aku kembali.
"Saya bilang saya kembali."
Dan kalimat sederhana itu, saya bilang saya kembali, membuat mata Nayla langsung basah.
Basah seperti embun pagi di daun, daun rumput.
Basah seperti sungai yang mengalir deras setelah hujan.
Basah seperti sesuatu yang tidak bisa ditahan lagi.
Air matanya jatuh.
Jatuh satu per satu.
Seperti rintik hujan di musim kemarau.
Seperti tetesan air dari keran yang tidak pernah benar, benar tertutup rapat.
Seperti sesuatu yang tidak bisa ditahan lagi.
Karena setelah semalaman menunggu, setelah semalaman berdoa, setelah semalaman berharap, setelah semalaman takut, setelah semalaman menangis, setelah semalaman bertanya, Tanya, laki-laki itu benar, benar kembali.
Laki-laki yang ia cintai.
Laki-laki yang membuatnya merasa aman.
Laki-laki yang membuatnya ingin percaya lagi.
Laki-laki yang membuatnya ingin hidup lagi.
Laki-laki yang membuatnya ingin bahagia lagi.
Laki-laki yang tidak meninggalkannya.
Laki-laki yang menepati janjinya.
Laki-laki yang tidak seperti orang, orang lain.
Mereka duduk di teras rumah.
Teras yang sederhana, dengan lantai semen yang sudah mulai retak di beberapa bagian, dengan kursi, kursi kayu yang sudah mulai lapuk, dengan meja kecil yang sudah mengelupas vernisnya, dengan pot, pot tanaman yang berjejer tidak beraturan, dengan lampu teras yang masih menyala meskipun matahari sudah cukup tinggi.
Tak ada sahabat.
Tak ada keramaian.
Tak ada suara kota selain pagi yang pelan, suara burung yang berkicau di pohon rambai, suara ayam berkokok dari kejauhan, suara motor yang sesekali melintas di jalan trans, suara orang, orang yang mulai beraktivitas.
Hanya mereka berdua.
Hanya Iskandar dan Nayla.
Hanya dua orang yang telah melalui badai bersama.
Hanya dua orang yang masih berdiri meskipun badai telah berlalu.
Hanya dua orang yang memilih untuk bertahan.
Hanya dua orang yang memilih untuk tidak menyerah.
Hanya dua orang yang memilih untuk saling percaya.
Hanya dua orang yang memilih untuk saling mencintai.
Dan kebenaran yang akhirnya tidak lagi berdiri di antara mereka.
Kebenaran yang telah Iskandar dapatkan dari ayahnya.
Kebenaran yang akan membebaskan Nayla.
Kebenaran yang akan menyembuhkan luka Nayla.
Kebenaran yang akan mengubah segalanya.
Iskandar menceritakan semuanya.
Pelan.
Hati, hati.
Tanpa menyembunyikan apa pun.
Tanpa melebih, lebihkan.
Tanpa mengurangi.
Tanpa mengubah.
Tanpa menafsirkan.
Ia menceritakan apa yang ia dengar dari ayahnya.
Ia menceritakan tentang kakak Aldebar.
Ia menceritakan tentang urusan bisnis.
Ia menceritakan tentang hutang.
Ia menceritakan tentang ancaman.
Ia menceritakan tentang tekanan.
Ia menceritakan tentang amarah.
Ia menceritakan tentang bagaimana Nayla jatuh bukan karena Aldebar mendorongnya, tapi karena ia mencoba menghindari Andika.
Ia menceritakan tentang bagaimana ayahnya memilih diam.
Ia menceritakan tentang bagaimana ayahnya menyesal.
Ia menceritakan tentang bagaimana Aldebar juga hidup dengan rasa bersalah.
Ia menceritakan tentang bagaimana Aldebar tidak tahu bagaimana melepaskan.
Ia menceritakan tentang bagaimana semua orang dalam cerita ini—Nayla, Aldebar, ayahnya, keluarga Aldebar—adalah korban dari keadaan.
Ia menceritakan tentang bagaimana tidak ada yang benar, benar jahat.
Ia menceritakan tentang bagaimana semua orang hanya berusaha melindungi diri mereka sendiri.
Ia menceritakan tentang bagaimana semua orang membuat kesalahan.
Ia menceritakan tentang bagaimana semua orang butuh dimaafkan.
Dan saat cerita itu selesai, Nayla hanya diam.
Diam seperti patung.
Diam seperti batu.
Diam seperti sesuatu yang tidak bisa bergerak.
Air matanya jatuh perlahan.
Jatuh satu per satu.
Seperti rintik hujan di musim kemarau.
Seperti tetesan air dari keran yang tidak pernah benar, benar tertutup rapat.
Seperti sesuatu yang tidak bisa ditahan lagi.
Bukan karena luka baru.
Bukan karena ketakutan baru.
Bukan karena kekecewaan baru.
Bukan karena kemarahan baru.
Tapi karena untuk pertama kalinya, ia tahu satu hal penting:
selama ini, ia memikul rasa bersalah yang bahkan bukan sepenuhnya miliknya.
Selama ini, ia menyalahkan Aldebar atas sesuatu yang tidak sepenuhnya salah Aldebar.
Selama ini, ia membenci Aldebar karena ia pikir Aldebar yang mendorongnya.
Selama ini, ia tidak tahu bahwa ada orang lain yang terlibat.
Selama ini, ia tidak tahu bahwa ingatannya tidak lengkap.
Selama ini, ia hidup dalam kebohongan.
Selama ini, ia menderita karena kebohongan.
Selama ini, ia menangis karena kebohongan.
Selama ini, ia takut karena kebohongan.
Selama ini, ia tidak bisa move on karena kebohongan.
Selama ini, ia tidak bisa mencintai karena kebohongan.
Dan sekarang, kebohongan itu terbuka.
Terbuka seperti pintu yang tidak bisa ditutup lagi.
Terbuka seperti luka yang dirobek kembali.
Terbuka seperti sesuatu yang akan meninggalkan bekas yang tidak akan pernah hilang.
Tapi juga terbuka seperti jendela yang membiarkan cahaya masuk.
Terbuka seperti pintu yang membiarkan udara segar masuk.
Terbuka seperti sesuatu yang membebaskan.
Terbuka seperti awal yang baru.
"Aku capek, Is."
Suara Nayla lirih.
Lirih seperti bisikan.
Lirih seperti doa.
Lirih seperti ratapan.
Lirih seperti sesuatu yang ingin keluar tetapi tidak punya kekuatan.
"Saya tahu."
"Aku capek takut."
Iskandar menggenggam tangannya.
Tangannya yang hangat, hangat seperti api unggun di malam yang dingin, hangat seperti selimut tebal di musim hujan, hangat seperti secangkir cokelat panas setelah seharian bekerja di luar ruangan, membungkus tangan Nayla yang dingin.
Dingin seperti es.
Dingin seperti mayat.
Dingin seperti sesuatu yang sudah mati.
Tapi perlahan, kehangatan Iskandar mulai merambat.
Dari ujung jari ke telapak tangan.
Dari telapak tangan ke pergelangan.
Dari pergelangan ke lengan.
Dari lengan ke bahu.
Dari bahu ke dada.
Dari dada ke hati.
Dan Nayla merasakannya.
Kehangatan yang selama ini ia cari.
Kehangatan yang selama ini ia rindukan.
Kehangatan yang selama ini ia butuhkan.
Kehangatan yang membuatnya ingin hidup.
Kehangatan yang membuatnya ingin bertahan.
Kehangatan yang membuatnya ingin bahagia.
"Kalau begitu… kita pelan, pelan belajar berhenti."
Nayla menatapnya.
Matanya yang basah, yang merah, yang masih menyimpan sisa, sisa air mata, kini berbinar.
Binar yang redup, seperti bintang di langit yang terhalang awan, seperti lilin yang hampir padam, seperti sesuatu yang hampir mati tetapi masih berusaha bertahan.
"Kalau aku jatuh lagi?"
Iskandar tersenyum lembut.
Senyum yang hangat.
Senyum yang menenangkan.
Senyum yang mengatakan aku di sini, aku tidak akan pergi, aku akan menangkapmu.
"Berarti giliran saya yang menangkap."
Dan Nayla akhirnya tertawa di tengah air matanya sendiri.
Tawa kecil.
Tawa yang pelan.
Tawa yang seperti air mengalir di atas batu, batu sungai.
Tawa yang seperti angin yang berhembus di antara dedaunan.
Tawa yang seperti sinar matahari di pagi hari.
Tawa yang seperti awal yang baru.
Tawa yang seperti harapan.
Tawa yang seperti cinta.
Tawa yang jauh lebih jujur daripada semua senyumnya selama ini.
Tawa yang mengatakan aku percaya padamu, aku percaya pada kita, aku percaya bahwa semuanya akan baik, baik saja.
Beberapa bulan kemudian, Kuala Kapuas tetap menjadi kota air.
Sungainya tetap mengalir, air Sungai Kapuas yang mengalir sejak zaman sebelum manusia ada, yang akan tetap mengalir setelah manusia punah, yang tidak peduli dengan drama manusia yang sedang berlangsung di tepiannya.
Senjanya tetap indah, langit berubah warna dari biru menjadi jingga, dari jingga menjadi merah, dari merah menjadi ungu, dari ungu menjadi gelap, seperti lukisan yang tidak pernah selesai, seperti puisi yang tidak pernah usai.
Bundaran besar tetap ramai, kendaraan lalu, lalang dari empat arah, orang, orang menyeberang dengan tergesa, gesa, pedagang kaki lima berjajar di trotoar, anak, anak muda duduk di bangku taman sambil tertawa.
Pasar tetap hidup, para ibu berbelanja sayur dan daging untuk keperluan memasak, para pedagang saling menawar harga dengan suara yang nyaring, anak, anak kecil berlarian di antara kaki, kaki orang dewasa sambil membawa plastik berisi jajanan, aroma buah dan sayur dan ikan dan daging bercampur menjadi satu.
Dan Dermaga KP3 tetap menjadi tempat orang datang untuk mencari tenang, duduk di bangku kayu sambil menikmati senja, memandang lampu, lampu yang memantul di permukaan sungai, mendengar suara air yang menenangkan, melupakan sejenak semua masalah yang membebani pundak.
Namun bagi Nayla, kota itu tak lagi terasa seperti tempat yang menyimpan luka.
Bukan lagi tempat yang membuatnya tersentak setiap kali melihat mobil hitam.
Bukan lagi tempat yang membuatnya bertanya, tanya apakah Aldebar mengikutinya.
Bukan lagi tempat yang membuatnya takut untuk keluar rumah sendirian.
Bukan lagi tempat yang membuatnya ingin lari dan bersembunyi.
Bukan lagi tempat yang membuatnya merasa terperangkap.
Melainkan tempat di mana hatinya akhirnya menemukan jalan pulang.
Tempat di mana ia belajar bahwa luka bisa sembuh.
Tempat di mana ia belajar bahwa ketakutan bisa diatasi.
Tempat di mana ia belajar bahwa ia tidak sendirian.
Tempat di mana ia belajar bahwa ia pantas dicintai.
Tempat di mana ia belajar bahwa cinta itu nyata.
Tempat di mana ia belajar bahwa kebahagiaan itu mungkin.
Tempat di mana ia belajar bahwa masa lalu tidak harus menentukan masa depan.
Tempat di mana ia belajar bahwa ia bisa memulai yang baru.
Tempat di mana ia belajar bahwa ia bisa bahagia.
Aldebar memilih pergi ke luar kota.
Bukan karena kalah.
Bukan karena membenci.
Bukan karena dendam.
Bukan karena ingin melupakan.
Bukan karena ingin dilupakan.
Bukan karena menyerah.
Tapi karena untuk pertama kalinya, ia sadar: mencintai seseorang kadang berarti berhenti memintanya tinggal.
Kadang, cinta bukan tentang mempertahankan.
Kadang, cinta bukan tentang memiliki.
Kadang, cinta bukan tentang mengejar.
Kadang, cinta adalah tentang melepaskan.
Kadang, cinta adalah tentang membiarkan orang yang kita cintai pergi, karena kita tahu itu yang terbaik untuk mereka.
Kadang, cinta adalah tentang menerima bahwa kita tidak bisa menjadi kebahagiaan mereka.
Kadang, cinta adalah tentang berhenti menjadi sumber rasa sakit mereka.
Kadang, cinta adalah tentang memaafkan diri sendiri.
Kadang, cinta adalah tentang memulai yang baru.
Dan meski terlambat, meski ia baru menyadarinya setelah Nayla pergi, setelah Nayla menemukan orang lain, setelah Nayla bahagia tanpa dirinya, itu tetap bentuk cinta.
Bukan cinta yang sempurna.
Bukan cinta yang indah.
Bukan cinta yang membahagiakan.
Tapi cinta yang jujur.
Cinta yang dewasa.
Cinta yang rela.
Cinta yang tulus.
Cinta yang melepaskan.
Sebelum pergi, ia meninggalkan sepucuk surat untuk Nayla.
Surat yang ditulis dengan tangan, dengan tinta hitam, dengan kertas berwarna krem.
Surat yang berisi permintaan maaf.
Surat yang berisi pengakuan.
Surat yang berisi penyesalan.
Surat yang berisi harapan.
Surat yang berisi doa.
Surat yang berisi pelepasan.
Surat yang berisi akhir.
"Nayla, maafkan aku. Maafkan aku karena tidak bisa menjadi orang yang kau butuhkan. Maafkan aku karena telah menyakitimu. Maafkan aku karena telah membuatmu takut. Maafkan aku karena telah membuatmu merasa bersalah. Maafkan aku karena telah membuatmu merasa tidak berharga. Maafkan aku karena telah membuatmu merasa tidak layak dicintai. Maafkan aku karena telah membuatmu merasa bahwa semua yang terjadi adalah salahmu. Maafkan aku karena tidak bisa melepaskanmu lebih awal. Maafkan aku karena telah membuatmu menderita. Maafkan aku karena telah membuang waktumu. Maafkan aku karena telah merusak hidupmu.
Aku pergi bukan karena aku tidak mencintaimu. Aku pergi karena aku mencintaimu. Aku pergi karena aku sadar bahwa aku tidak bisa membuatmu bahagia. Aku pergi karena aku sadar bahwa kebahagiaanmu tidak lagi bersamaku. Aku pergi karena aku sadar bahwa kau pantas mendapatkan yang lebih baik. Aku pergi karena aku sadar bahwa kau pantas mendapatkan seseorang yang tidak akan membuatmu takut. Aku pergi karena aku sadar bahwa kau pantas mendapatkan seseorang yang akan membuatmu merasa aman. Aku pergi karena aku sadar bahwa kau pantas mendapatkan seseorang yang akan membuatmu tersenyum. Aku pergi karena aku sadar bahwa kau pantas mendapatkan seseorang yang akan membuatmu bahagia.
Jangan menangis untukku. Aku tidak pantas menerima air matamu. Jangan merindukanku. Aku tidak pantas berada dalam hatimu. Jangan memaafkanku jika kau belum siap. Aku tidak pantas menerima maafmu. Tapi jika suatu hari nanti kau merasa kuat, jika suatu hari nanti kau merasa ikhlas, jika suatu hari nanti kau merasa rela—maafkanlah aku. Bukan karena aku pantas dimaafkan. Tapi karena kau pantas untuk tidak terbebani oleh rasa benci. Kau pantas untuk bebas. Kau pantas untuk bahagia. Kau pantas untuk hidup. Kau pantas untuk mencintai. Kau pantas untuk dicintai.
Selamat tinggal, Nayla. Terima kasih untuk semua kenangan. Terima kasih untuk semua cinta. Terima kasih untuk semua pelajaran. Terima kasih untuk semua luka. Terima kasih untuk semua air mata. Terima kasih untuk semua tawa. Terima kasih untuk semua yang telah kau berikan. Terima kasih untuk menjadi bagian dari hidupku. Aku akan selalu mengingatmu. Bukan dengan rasa sakit. Tapi dengan rasa syukur. Karena kau telah mengajarkanku apa arti cinta. Karena kau telah mengajarkanku apa arti kehilangan. Karena kau telah mengajarkanku apa arti melepaskan. Karena kau telah mengajarkanku apa arti menjadi manusia.
Aldebar."
Nayla membaca surat itu berkali, kali. Membaca sampai kertasnya basah oleh air matanya. Membaca sampai tulisannya mulai luntur. Membaca sampai ia hafal setiap kata. Membaca sampai ia tidak bisa membedakan mana yang basah karena air mata, mana yang basah karena hujan.
Lalu ia menyimpannya.
Menyimpannya di dalam amplop yang sama.
Menyimpannya di dalam laci meja samping tempat tidurnya.
Menyimpannya sebagai kenangan.
Menyimpannya sebagai pengingat.
Menyimpannya sebagai pelajaran.
Menyimpannya sebagai penutup.
Menyimpannya sebagai akhir.
Bukan untuk dibuka lagi.
Bukan untuk dibaca lagi.
Bukan untuk dikenang dengan rasa sakit.
Tapi untuk dikenang sebagai bagian dari perjalanan hidupnya.
Sebagai bagian dari cerita yang membentuk dirinya.
Sebagai bagian dari luka yang membuatnya lebih kuat.
Sebagai bagian dari masa lalu yang harus ia lepaskan.
Sedangkan Iskandar dan Nayla, mereka tidak langsung menjadi kisah sempurna.
Tidak seperti cerita dalam film, film romantis di mana setelah semua konflik selesai, pasangan utama hidup bahagia selamanya tanpa masalah.
Tidak seperti dongeng di mana pangeran dan putri menikah dan hidup bahagia selamanya tanpa pernah bertengkar.
Tidak seperti mimpi di mana semuanya indah dan tidak pernah ada masalah.
Karena cinta yang lahir dari luka tidak pernah berjalan tanpa bekas.
Luka itu tidak hilang. Luka itu hanya menjadi bekas. Bekas yang tidak sakit lagi, tetapi tetap ada. Bekas yang mengingatkan bahwa mereka pernah terluka. Bekas yang mengingatkan bahwa mereka pernah berjuang. Bekas yang mengingatkan bahwa mereka pernah bertahan. Bekas yang mengingatkan bahwa mereka pernah menang.
Ada hari, hari ketika Nayla masih takut.
Hari-hari ketika ia terbangun di tengah malam karena mimpi buruk tentang Aldebar. Hari-hari ketika ia melihat mobil hitam di jalan dan jantungnya berdetak lebih cepat. Hari-hari ketika ia mendengar suara keras dan tubuhnya menegang. Hari, hari ketika ia merasa tidak layak dicintai. Hari-hari ketika ia merasa bahwa Iskandar akan pergi. Hari-hari ketika ia ingin lari dan bersembunyi. Hari-hari ketika ia merasa bahwa semuanya akan hancur lagi.
Ada malam, malam ketika Iskandar masih diam terlalu lama.
Malam, malam ketika ia memikirkan ayahnya. Malam, malam ketika ia bertanya, tanya apakah ia sudah benar, benar memaafkan ayahnya. Malam, malam ketika ia merasa kecewa. Malam, malam ketika ia merasa marah. Malam, malam ketika ia merasa bersalah karena telah marah. Malam, malam ketika ia merasa tidak tega. Malam, malam ketika ia merasa bahwa ia seharusnya bisa melakukan lebih. Malam, malam ketika ia merasa bahwa ia gagal sebagai anak.
Ada masa ketika bayangan lama datang tanpa diundang.
Bayangan tentang masa lalu. Bayangan tentang luka. Bayangan tentang ketakutan. Bayangan tentang air mata. Bayangan tentang tangis. Bayangan tentang kehilangan. Bayangan tentang pengkhianatan. Bayangan tentang kekecewaan. Bayangan tentang semua yang telah terjadi.
Tapi kali ini, mereka tidak lagi berjalan sendiri.
Mereka berjalan bersama.
Berpegangan tangan.
Saling mendukung.
Saling menguatkan.
Saling mengingatkan.
Saling memaafkan.
Saling mencintai.
Dan kadang, cinta bukan tentang siapa yang datang lebih dulu.
Bukan tentang siapa yang paling lama tinggal.
Bukan tentang siapa yang paling banyak berkorban.
Bukan tentang siapa yang paling sempurna.
Bukan tentang siapa yang paling pantas.
Kadang, cinta hanyalah tentang siapa yang tetap memilih bertahan setelah mengetahui semuanya.
Setelah mengetahui luka pasangannya.
Setelah mengetahui ketakutan pasangannya.
Setelah mengetahui kelemahan pasangannya.
Setelah mengetahui kegagalan pasangannya.
Setelah mengetahui masa lalu pasangannya.
Setelah mengetahui rahasia pasangannya.
Setelah mengetahui semua sisi gelap pasangannya.
Dan tetap memilih untuk tinggal.
Tetap memilih untuk bertahan.
Tetap memilih untuk mencintai.
Tetap memilih untuk berjuang.
Tetap memilih untuk tidak menyerah.
Tetap memilih untuk percaya.
Tetap memilih untuk berharap.
Tetap memilih untuk bahagia.
Suatu sore, ketika langit berwarna jingga keemasan, ketika lampu, lampu dermaga mulai menyala satu per satu, ketika aroma sate dan jagung bakar dan kopi hitam mulai tercium di udara, mereka kembali duduk di Dermaga KP3 Kuala Kapuas
Tempat yang sama.
Tempat di mana mereka pertama kali bertemu.
Tempat di mana kertas, kertas beterbangan dan Iskandar berlari menangkapnya sebelum jatuh ke sungai.
Tempat di mana Nayla memperkenalkan diri dengan suara lembut yang membuat Iskandar lupa bagaimana caranya bernapas.
Tempat di mana semuanya dimulai.
Tempat di mana mereka jatuh cinta.
Tempat di mana mereka berbagi luka.
Tempat di mana mereka berbagi air mata.
Tempat di mana mereka berbagi tawa.
Tempat di mana mereka berbagi harapan.
Tempat di mana mereka berbagi mimpi.
Tempat di mana mereka berbagi cinta.
Matahari tenggelam perlahan di ufuk barat, seperti tidak ingin pergi, seperti ingin menikmati momen ini lebih lama, seperti ingin menjadi saksi bagi kebahagiaan yang baru saja mulai tumbuh. Langit berubah warna dari jingga menjadi merah, dari merah menjadi ungu, dari ungu menjadi gelap, seperti lukisan yang sedang dalam proses penyelesaian, seperti puisi yang sedang dalam proses penulisan, seperti cinta yang sedang dalam proses pertumbuhan.
Lampu, lampu mulai menyala, lampu, lampu kecil berwarna kuning yang diletakkan di sepanjang pagar besi dermaga, yang memantul di permukaan air yang gelap, yang menciptakan ilusi bahwa sungai itu sendiri sedang tersenyum, sedang bahagia, sedang ikut merayakan.
Angin lembut menyentuh wajah mereka, membawa aroma sungai yang khas, aroma kayu basah, aroma tanah, aroma sesuatu yang bersih dan segar.
Nayla menatap air, air Sungai Kapuas yang gelap, yang mengalir sejak zaman sebelum manusia ada, yang akan tetap mengalir setelah manusia punah, yang menjadi saksi bisu bagi segala sesuatu yang terjadi di tepiannya.
Lalu bertanya pelan, dengan suara yang lembut, dengan suara yang hangat, dengan suara yang keluar dari hati.
"Kalau waktu itu aku tidak datang ke hidup kamu?"
Iskandar menoleh.
Matanya yang teduh, yang jujur, yang tidak pernah berubah, bertemu dengan mata Nayla yang juga teduh, yang juga jujur, yang juga tidak pernah berubah.
Tersenyum.
Senyum yang lembut.
Senyum yang hangat.
Senyum yang mengatakan aku tidak bisa membayangkan hidup tanpamu.
"Bukan kamu yang datang di waktu salah."
Nayla menatapnya.
Matanya bertanya.
"Cuma saya yang terlambat mengenali bahwa kamu adalah rumah."
Sungai Kapuas masih mengalir seperti biasanya.
Airnya yang gelap, yang tenang, yang mengalir sejak zaman dulu, yang akan tetap mengalir setelah manusia punah masih menjadi saksi bisu bagi segala sesuatu yang terjadi di tepiannya.
Dermaga Danau Mare masih ramai oleh langkah, langkah orang yang datang dan pergi, ada yang datang dengan senyum, ada yang pergi dengan air mata, ada yang datang dengan harapan, ada yang pergi dengan kecewa, ada yang datang dengan cinta, ada yang pergi dengan luka.
Lampu, lampu di Dermaga KP3 masih memantulkan cahaya ke permukaan air yang tenang, menciptakan ilusi bahwa sungai itu sendiri sedang tersenyum, sedang bahagia, sedang tidak peduli dengan drama manusia yang sedang berlangsung di tepiannya.
Dan Rumah Jabatan Bupati masih berdiri di tepi sungai, bangunan putih dengan arsitektur khas melayu, dengan pilar, pilar besar, dengan halaman yang luas dan tertata rapi, dengan lampu, lampu taman yang masih menyala meskipun malam semakin larut, menjadi saksi kota yang terus bergerak ke depan.
Namun bagi Iskandar, Kuala Kapuas tidak lagi hanya tentang sebuah kota.
Bukan lagi tentang tempat yang dulu ingin ia tinggalkan.
Bukan lagi tentang tempat yang membuatnya merasa terkekang.
Bukan lagi tentang tempat yang penuh dengan kenangan buruk.
Bukan lagi tentang tempat yang membosankan.
Bukan lagi tentang tempat yang tidak menawarkan masa depan.
Kota itu telah berubah menjadi tempat di mana ia pernah mencintai seseorang dengan sepenuh hati, lalu belajar melepaskannya tanpa pernah benar, benar pergi.
Tempat di mana ia belajar bahwa cinta tidak selalu berarti memiliki.
Tempat di mana ia belajar bahwa kehilangan tidak selalu berarti akhir.
Tempat di mana ia belajar bahwa luka bisa sembuh.
Tempat di mana ia belajar bahwa ketakutan bisa diatasi.
Tempat di mana ia belajar bahwa ia bisa menjadi lebih baik.
Tempat di mana ia belajar bahwa ia bisa berubah.
Tempat di mana ia belajar bahwa ia bisa bahagia.
Tempat di mana ia belajar bahwa ia bisa mencintai.
Tempat di mana ia belajar bahwa ia bisa dicintai.
Karena ada cinta yang memang ditakdirkan untuk tinggal.
Ada cinta yang datang untuk menetap.
Ada cinta yang menjadi rumah.
Ada cinta yang tidak pernah pergi.
Ada cinta yang bertahan meskipun badai datang.
Ada cinta yang bertahan meskipun waktu terus berjalan.
Ada cinta yang bertahan meskipun segalanya berubah.
Ada cinta yang abadi.
Dan ada pula cinta yang hanya datang sebentar.
Ada cinta yang datang untuk mengajarkan sesuatu.
Ada cinta yang datang untuk memberi pelajaran.
Ada cinta yang datang untuk membuka mata.
Ada cinta yang datang untuk menyembuhkan luka.
Ada cinta yang datang untuk pergi.
Ada cinta yang datang untuk menjadi kenangan.
Ada cinta yang datang untuk menjadi luka.
Ada cinta yang datang untuk menjadi penyesalan.
Ada cinta yang datang untuk menjadi awal yang baru.
Dan Iskandar, yang tidak pernah percaya pada cinta yang datang tiba, tiba, akhirnya belajar bahwa cinta tidak pernah peduli dengan apa yang kita percaya. Cinta hanya datang. Cinta hanya hadir. Cinta hanya mengalir. Cinta hanya bertahan. Cinta hanya hidup. Cinta hanya menjadi apa adanya.
Dan di kota yang dikenal sebagai Kota Air, kota yang aman, kota yang indah, kota yang ramah, Iskandar akhirnya memahami satu hal:
bahwa terkadang, cinta terindah adalah cinta yang datang tepat di waktu yang salah.
Bukan karena waktu yang salah membuat cinta itu menjadi kurang indah.
Tapi karena waktu yang salah membuat cinta itu terasa lebih berharga.
Karena cinta yang lahir di tengah badai adalah cinta yang paling kuat.
Karena cinta yang bertahan meskipun semuanya terasa mustahil adalah cinta yang paling sejati.
Karena cinta yang tidak menyerah meskipun diuji terus, menerus adalah cinta yang paling abadi.
Karena cinta yang datang di waktu yang salah mengajarkan kita bahwa cinta tidak pernah salah.
Yang salah adalah waktu.
Yang salah adalah keadaan.
Yang salah adalah ketakutan kita.
Yang salah adalah keraguan kita.
Yang salah adalah keegoisan kita.
Tapi cinta? Cinta tidak pernah salah.
Di kota air yang tenang itu, di antara sungai yang mengalir pelan, di antara lampu, lampu yang memantul indah, di antara orang, orang yang masih tertawa di kejauhan, di antara dermaga yang menjadi saksi bisu bagi ribuan cerita yang dimulai dan berakhir setiap hari, di antara luka yang pernah hampir menghancurkan segalanya, cinta akhirnya tidak lagi terasa seperti kesalahan.
Cinta akhirnya terasa seperti rumah.
Cinta akhirnya terasa seperti pulang.
Cinta akhirnya terasa seperti damai.
Cinta akhirnya terasa seperti bahagia.
Cinta akhirnya terasa seperti syukur.
Cinta akhirnya terasa seperti berkah.
Cinta akhirnya terasa seperti anugerah.
Cinta akhirnya terasa seperti segalanya.
Karena pada akhirnya, cinta selalu menemukan jalannya sendiri.
Cinta selalu menemukan jalannya pulang.
Cinta selalu menemukan jalannya ke hati yang paling terluka sekalipun.
Cinta selalu menemukan jalannya ke hati yang paling tertutup sekalipun.
Cinta selalu menemukan jalannya ke hati yang paling takut sekalipun.
Cinta selalu menemukan jalannya ke hati yang paling ragu sekalipun.
Cinta selalu menemukan jalannya ke hati yang paling hancur sekalipun.
Cinta selalu menemukan jalannya ke hati yang paling gelap sekalipun.
Cinta selalu menemukan jalannya ke hati yang paling sunyi sekalipun.
Cinta selalu menemukan jalannya ke hati yang paling kehilangan sekalipun.
Dan ketika cinta akhirnya tiba, ketika cinta akhirnya bersinar, ketika cinta akhirnya memenuhi, semua luka menjadi cerita, semua air mata menjadi pelajaran, semua ketakutan menjadi kenangan, semua kehilangan menjadi pertemuan, semua keraguan menjadi keyakinan, semua kegelapan menjadi cahaya.
Karena itulah cinta.
Cinta tidak pernah menyerah.
Cinta tidak pernah berhenti.
Cinta tidak pernah mati.
Cinta selalu hidup.
Cinta selalu bertahan.
Cinta selalu menang.
TAMAT
Anang
30 Januari 2025 19:28:34
Lanjutkan mas... Semoga website desa pian semakin maju...