ROMAN EPIK
DI BAWAH BAYANG - BAYANG ASMARA
Sebuah Roman Epik Tentang Merajut Kasih Senja di Kaki Langit Tegorejo
Oleh: Slamet Riyadi
DISCLAIMER
Novel ini adalah karya fiksi. Seluruh nama tokoh, tempat, peristiwa, dan dialog yang ditampilkan hanyalah hasil imajinasi penulis. Meskipun latar tempat menggunakan nama-nama yang benar-benar ada di Desa Tegorejo, Kecamatan Pegandon, Kabupaten Kendal, seperti Dusun Kersan, Dusun Cegunan, Jalan Raya Pegandon, Jalan Randu Gembyang, SMPN I Pegandon, dan SMAN I Pegandon, segala peristiwa dan karakter yang terlibat tidak mewakili keadaan sebenarnya. Kesamaan nama, ciri fisik, atau peristiwa dengan orang atau kejadian sesungguhnya hanyalah kebetulan belaka. Penulis tidak bermaksud menyinggung pihak mana pun.
PROLOG
Tegorejo, 2023 – Kaki langit yang tak pernah lelah memeluk senja
Langit Tegorejo memiliki warna yang berbeda dari tempat lain. Bukan sekadar jingga atau merah muda, tapi campuran rindu dan harap yang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang pernah kehilangan sesuatu yang berharga di sana atau yang pernah bertaruh nyawa untuk mempertahankannya.
Di tanah datar yang memisahkan Dusun Kersan dari Dusun Cegunan, angin berbisik lembut membawa aroma tanah basah dan padi yang mulai menguning. Jalan Randu Gembyang dengan deretan pohon randu yang menjulang tinggi seperti prajurit-prajurit tua yang tak pernah lelah menjaga rahasia, menjadi saksi bisu ribuan langkah yang berlalu, ribuan doa yang dipanjatkan dalam diam, dan ribuan air mata yang jatuh tanpa suara.
Tapi malam ini, di bawah pohon randu tertua yang akarnya sudah menyatu dengan tanah Tegorejo sejak zaman penjajahan, duduk seorang lelaki tua. Rambutnya putih seperti kapuk randu yang bertebaran di angin. Wajahnya penuh keriput, tapi matanya… matanya masih menyala. Bukan dengan amarah, tapi dengan kenangan yang tak pernah pudar.
Di sampingnya, seorang nenek bersandar lembut. Meskipun usia sudah merenggut kecantikan masa mudanya, senyumnya masih sama seperti puluhan tahun lalu. Senyum yang dulu mampu membuat seorang pemuda miskin dari Dusun Cegunan berani melawan seluruh dunia.
"Ceritakan lagi, Yang," pinta sang nenek dengan suara lirih namun penuh harap. "Ceritakan bagaimana kita selamat."
Kakek itu tersenyum kecil. Sebuah senyum yang lahir dari lubuk hati yang paling dalam. Ia menggenggam tangan istrinya, tangan yang keriput tapi masih hangat, tangan yang tak pernah lepas dari genggamannya meskipun badai menerjang.
"Kau sudah hafal cerita itu, Yan," jawabnya. "Sudah ribuan kali kau dengar."
"Tapi aku tak pernah bosan, Yang. Karena setiap kali kau ceritakan, aku selalu diingatkan bahwa cinta kita tak pernah kebetulan. Cinta kita adalah kemenangan."
Lelaki itu terdiam. Matanya menerawang jauh, menembus waktu, menembus kabut kenangan yang tebal. Kembali ke tahun 1998. Tahun di mana segalanya hampir hancur. Tahun di mana ia harus memilih: menyerah atau bertempur.
Ia memilih bertempur.
Tegorejo, 1998 – Dua puluh lima tahun yang lalu
Tahun 1998 bukan sekadar angka. Ini adalah tahun di mana negeri ini berguncang. Reformasi bergemuruh di ibu kota. Mahasiswa turun ke jalan. Orde tumbang. Tapi jauh di pelosok Kendal, di desa kecil yang bahkan tak masuk peta, ada peristiwa yang tak kalah dahsyat: seorang gadis desa bernama Ariyanti jatuh cinta pada seorang pemuda miskin bernama Akang Supriyadi.
Dan karena cinta itu, segalanya hampir terbakar.
Keluarga Akang, kuli tani yang hidup di bawah garis kemiskinan, tinggal di gubuk reyot di Dusun Cegunan. Dinding anyaman bambu yang bolong di sana-sini. Lantai tanah yang becek saat hujan. Atap rumbia yang bocor di tujuh tempat. Tapi di dalam gubuk itulah, seorang pahlawan sejati dibesarkan. Bukan dengan harta, tapi dengan kehormatan.
Ayah Akang meninggalkan mereka sejak Akang masih kecil. Lelaki pengecut itu kabur ke Jakarta bersama perempuan lain, meninggalkan istri dan tiga anaknya dengan utang yang menggunung. Sejak itu, Akang menjadi kepala keluarga di usia dua belas tahun.
Setiap hari, sebelum subuh, Akang sudah bangun. Mencari kayu bakar di kebun milik tetangga dekat Jalan Randu Gembyang. Membantu ibunya menjual gorengan di pinggir Jalan Raya Pegandon. Baru setelah itu ia berjalan kaki dua kilometer menuju SMPN I Pegandon, tanpa sepatu yang layak, tanpa tas yang bagus, tanpa uang jajan.
Tapi ia tak pernah mengeluh.
Karena ibunya selalu berbisik di telinganya setiap malam, sebelum tidur: "Nak, kemiskinan bukanlah dosa. Yang dosa adalah menyerah pada kemiskinan. Kau harus sekolah setinggi mungkin. Biar Ibu yang banting tulang. Kau hanya perlu jadi anak yang baik dan pintar."
Dan Akang menepati janjinya. Nilainya selalu terbaik di kelas. Gurunya bangga. Teman-temannya segan. Tapi ada satu hal yang tak pernah bisa dibeli dengan nilai bagus: harga diri di mata orang kaya.
Di SMAN I Pegandon, tempat Akang melanjutkan sekolah setelah lulus SMP, ia hanya dianggap sebagai "anak miskin dari Cegunan" yang pantasnya bekerja di sawah, bukan duduk di bangku sekolah favorit.
Tapi Akang tak peduli. Karena di sekolah itulah ia bertemu Ariyanti.
Ariyanti, gadis dari Dusun Kersan, adalah kebalikan dari Akang dalam banyak hal. Ia juga miskin. Ayahnya meninggal tertimpa pohon saat bekerja di hutan. Ibunya menjadi janda yang harus membesarkan Ariyanti dan dua adiknya sendirian. Tapi Ariyanti memiliki senjata yang tak dimiliki Akang: lidah yang tajam dan keberanian yang menggebu-gebu.
Dari semua murid di SMAN I Pegandon, Ariyanti adalah satu-satunya yang tak pernah membungkuk di depan kekayaan Rahmadi. Ia satu-satunya yang berani menatap mata para guru yang pilih kasih. Ia satu-satunya yang membela anak-anak miskin yang diejek oleh anak-anak kaya.
Dan ketika ia pertama kali melihat Akang, pemuda kurus dengan seragam lusuh tapi mata menyala, sesuatu bergerak di hatinya. Bukan karena iba. Ariyanti benci orang yang merasa iba padanya. Tapi karena pengakuan. Ia melihat bayangannya sendiri di mata Akang. Sama-sama pejuang. Sama-sama tak kenal menyerah.
Mereka tak langsung jatuh cinta. Tidak. Kisah mereka dimulai dari pertempuran kecil sehari-hari: saling membela saat diejek, saling meminjamkan catatan, saling menguatkan saat lelah.
Lalu suatu senja di Jalan Randu Gembyang, ketika mereka berjalan pulang bersama seperti biasa, Akang bergumam pelan:
"Ari… kalau suatu hari nanti aku jadi orang sukses, aku ingin bangunkan sekolah di Tegorejo. Sekolah gratis untuk semua anak miskin."
Ariyanti berhenti melangkah. Ia menatap Akang lama. Lalu tersenyum.
"Kalau begitu, aku akan jadi guru pertama di sekolah itu, Kang."
Dan di bawah pohon randu yang rimbun, dengan langit jingga di atas kepala mereka, dua hati yang rapuh tapi tak kenal menyerah itu mulai berdetak dalam satu irama.
Mereka tak tahu bahwa di balik tanah yang datar itu, sepasang mata jahat memperhatikan mereka.
Mata Rahmadi.
Rahmadi bukanlah musuh biasa.
Ia adalah anak tunggal pengusaha paling kaya di Kecamatan Pegandon. Ayahnya memiliki pabrik penggilingan padi, puluhan hektar sawah, serta rumah mewah di Jalan Raya Pegandon yang selalu dijaga satpam. Ibunya adalah ketua organisasi wanita yang disegani, yang selalu tersenyum manis di depan publik tapi kejam di belakang.
Rahmadi tumbuh dalam kemewahan. Mobil mewah, pakaian mahal, uang tak terbatas. Tapi ada satu hal yang tak pernah ia miliki: cinta tulus.
Ayahnya sibuk dengan wanita simpanan. Ibunya sibuk menjaga citra. Rahmadi dibesarkan oleh pembantu. Ia belajar bahwa segala sesuatu bisa dibeli dengan uang. Teman, hormat, bahkan cinta.
Dan ketika ia pindah dari Semarang ke SMAN I Pegandon, dibuang oleh ayahnya agar tak mengganggu kehidupan mesumnya di ibukota, ia melihat Ariyanti. Pertama kali ia melihat gadis itu, ia menginginkannya. Bukan karena ia jatuh cinta. Rahmadi tak pernah belajar apa itu cinta. Ia hanya tahu nafsu memiliki.
Tapi Ariyanti menolaknya. Dengan tegas. Dengan dingin. Bahkan dengan sedikit jijik.
"Maaf, Mas Rahmadi. Saya bukan barang yang bisa dibeli."
Kata-kata itu menusuk jantung Rahmadi. Bukan karena patah hati, tapi karena harga dirinya terluka untuk pertama kalinya. Dan di otaknya yang sakit, satu keyakinan mengakar: Jika aku tak bisa memilikinya, tak seorang pun boleh memilikinya, terutama laki-laki miskin dari Cegunan itu.
Perang pun dimulai.
Tapi Rahmadi tak tahu satu hal.
Akang Supriyadi dan Ariyanti bukanlah korban yang lemah.
Mereka adalah pejuang yang lahir dari rahim penderitaan.
Dan di Tegorejo, di kaki langit yang tak pernah lelah memeluk senja, para pejuang tak pernah mati dengan mudah.
Mereka hanya menunggu saat yang tepat untuk bangkit, mengacungkan kepalan tangan, dan berbisik pada angin:
"Kita masih di sini. Kita takkan pernah menyerah. Dan cinta kami… akan menjadi kemenangan terbesar yang pernah desa ini lihat."
Angin di Tegorejo berembus lebih kencang.
Pohon-pohon randu bergoyang seolah berbisik.
Dan di tahun 2023, seorang kakek di bawah pohon randu tertua menutup matanya, tersenyum, lalu berkata pada istrinya:
"Baiklah, Yan. Aku akan ceritakan semuanya. Dari awal hingga akhir. Tentang bagaimana kita hampir mati. Tentang bagaimana kita hampir menyerah. Tentang bagaimana kita bangkit. Dan tentang bagaimana kita… menang."
Maka dimulailah kisah heroik yang tak pernah dilupakan Tegorejo.
Kisah tentang dua pejuang yang merajut kasih di bawah bayang-bayang asmara.
Ini adalah cerita mereka.
Ini adalah kemenangan mereka.
Dan ini baru permulaan.
BAB 1
SENJA PERTAMA DI JALAN RANDU GEMBYANG
Di mana Ariyanti pertama kali menyadari bahwa matanya tak sengaja selalu mencari satu sosok di antara kerumunan.
Tegorejo, awal Maret 1998 – Musim hujan belum benar-benar pergi
Langit masih menyisakan mendung di ufuk timur ketika Ariyanti membuka matanya. Namun yang pertama kali ia sadari bukanlah visual, tapi aroma: tanah basah yang meresap melalui celah-celah anyaman bambu, bercampur dengan bau minyak tanah dari lampu yang baru saja Ibu matikan, dan sedikit tegangnya anyaman bambu yang lembap setelah semalaman diguyur gerimis.
Dari balik dinding kamarnya yang sempit, ia bisa mendengar ayam jantan tetangga berkokok bersahutan, suara yang sudah ia kenali sejak kecil, yang tak pernah absen meskipun hujan atau panas. Juga suara Ibu yang sudah bergerak di dapur; suara ulekan yang menghaluskan bumbu, suara daun pisang yang diremas-remas, suara nasi yang dimasak dalam kuali besar.
Hari ini adalah hari pertama masuk sekolah setelah liburan panjang. Dua minggu penuh ia membantu Ibu berjualan di pasar, dua minggu tangannya terasa perih karena mengupas bawang dan menggoreng tempe. Tapi itu tak masalah. Ariyanti duduk di bangku kelas 2 SMAN I Pegandon, sebuah prestasi yang tidak semua anak desa mampu raih.
Tasnya sudah ia siapkan semalam. Buku-buku dengan sampul coklat kertas minyak, karena plastik terlalu mahal, tersusun rapi berdasarkan jadwal. Tempat pensil dari bekas kotak obat berisi dua pensil, satu penghapus yang sudah mengecil, dan satu penggaris patah yang masih bisa dipakai. Bekal nasi dan lauk tempe orek, tempe yang sengaja Ibu goreng kering agar tidak cepat basi.
Semua tertata. Semua siap.
Ia berdiri di depan cermin pecah yang ditempel di dinding kamarnya. Satu retakan membagi bayangannya menjadi dua, seolah mengingatkan bahwa hidup tidak pernah utuh-utuh aman. Tapi Ariyanti tak peduli. Seragam putih abu-abu itu memang sedikit longgar di bahunya, karena ini seragam warisan dari kakak kelas yang sudah lulus. Ibu membelinya seharga setengah harga karena ada noda kuning di kerah belakang, tapi sudah hilang setelah direndam pemutih semalaman.
Yang penting bersih. Yang penting tidak bolong. Yang penting ia bisa sekolah.
Aku harus jadi guru, bisiknya dalam hati, suara itu selalu sama setiap pagi. Aku harus mengangkat derajat Ibu.
Ia melangkah keluar kamar. Ibunya, seorang perempuan dengan rambut mulai memutih di usia yang masih empat puluhan, sedang membungkus nasi dengan daun pisang. Wajahnya lelah, matanya sembab karena baru sempat tidur sekitar jam sebelas malam dan bangun lagi jam tiga. Tapi senyumnya tetap hangat saat melihat Ariyanti.
Ada kerutan di sudut mata Ibu yang dulu tidak ada. Ada urat-urat biru di tangannya yang dulu halus. Ada bungkuk di punggungnya yang dulu tegap.
Tapi senyumnya tidak berubah. Itulah yang Ariyanti ingat setiap hari.
"Yan , sarapan dulu," kata Ibunya.
"Enggak, Bu. Nanti saja di sekolah. Nasi buat dijual saja."
"Kamu ini. Ibu masih punya. Masa anak Ibu sampai tidak sarapan."
Mereka bertengkar kecil, tapi bukan pertengkaran sungguhan. Ini adalah ritual yang sudah berlangsung bertahun-tahun, tarian kecil antara keinginan Ibu untuk memberi dan keengganan Ariyanti untuk menerima. Akhirnya Ariyanti duduk di kursi bambu yang sudah hampir reot, menghadap meja kayu dengan satu kaki lebih pendek dari yang lain, disangga batu bata merah.
Sepiring nasi hangat dengan lauk sepotong tahu goreng. Tidak mewah. Tapi hangat. Cukup untuk mengisi energi seorang pejuang.
Ariyanti makan pelan-pelan. Ia ingin setiap butir nasi terasa di lidahnya. Ia ingin menghargai setiap tetes keringat Ibu yang membungkusnya.
Setelah selesai, ia mencuci piringnya sendiri di ember plastik di belakang rumah. Airnya dingin, sumur di Dusun Kersan memang terkenal dingin. Ujung jarinya terasa kebas. Tapi ia sudah terbiasa.
"Bu, aku berangkat."
"Ibu doakan."
Doa Ibu tidak pernah panjang. Tidak pernah bertele-tele. Hanya empat kata yang sama setiap hari: "Semoga selamat, Nak." Dan itu sudah cukup.
Pukul 06.45 – Jalan Randu Gembyang
Ariyanti berangkat jalan kaki dari Dusun Kersan. Sepatu sekolahnya sudah agusol, sol depan dan belakang sudah tipis, bisa dilihat dari luar. Di bagian kanan ada lubang kecil yang ia tutupi dengan plastik hitam dari dalam. Tapi masih kuat dipakai. Masih bisa dijalankan.
Tas selempangnya ia sanggul di pundak kanan. Tas itu terlalu berat untuk ukuran tas perempuan seusianya, penuh buku, catatan, dan bekal. Tapi Ariyanti tidak pernah mengeluh.
Kaki ini kuat. Pundak ini bisa memikul.
Jalan Randu Gembyang terbentang di depannya seperti lorong waktu. Di kanan-kiri, pohon randu tua menjulang tinggi. Tingginya mungkin setara dengan rumah dua lantai, atau lebih. Batangnya sebesar pelukan tiga orang dewasa. Akar-akarnya besar dan menjalar ke tanah seperti urat-urat naga yang tertidur, kadang membuat tonjolan di aspal yang bisa bikin tersandung jika tidak hati-hati.
Ariyanti sudah hafal setiap tonjolan itu. Kakinya otomatis melompati tanpa perlu melihat.
Daun-daun randu yang lebat membuat jalan ini teduh meskipun matahari sudah mulai naik. Sinar matahari menembus celah-celah daun, jatuh ke aspal seperti bercak-bercak emas. Ariyanti suka jalan ini. Sepi. Tenang. Hanya suara daun yang bergesekan dan sesekali burung yang bertengger di dahan.
Di sela-sela pohon itu, sesekali ia melihat pemandangan sawah yang mulai menguning. Padi-padi bergoyang lembut ditiup angin pagi. Burung-burung beterbangan dalam formasi yang acak. Suara jangkrik dan belalang bergantian menyanyikan lagu pagi yang sama setiap hari.
Ariyanti berjalan cepat. Kakinya sudah hafal setiap batu, setiap belokan, setiap pohon. Ia bisa berjalan sambil memejamkan mata, pernah ia coba sekali, dan nyaris jatuh ke selokan. Sejak itu ia tidak mengulangi lagi.
Tapi pagi ini, ada yang berbeda.
Ia merasakannya sebelum melihatnya. Seperti ada arus udara yang berubah arah. Seperti ada keheningan yang tiba-tiba menyergap di tengah keramaian suara alam.
Di kejauhan, ia melihat seorang laki-laki berjalan dari arah berlawanan.
Laki-laki itu kurus. Sangat kurus. Seragam putih abu-abunya tampak kusut, lipatan-lipatan tidak beraturan yang menjadi tanda bahwa pakaian itu disetrika dengan arang, bukan setrika listrik. Di leher belakang, kerahnya mulai rapuh, benang-benangnya terurai sedikit. Di siku kanan, ada bekas jahitan yang warnanya tidak persis sama dengan warna dasar seragam.
Rambutnya agak panjang, melebihi telinga, dan sedikit acak-acakan, seperti orang yang tidak punya waktu untuk bercermin di pagi hari.
Tapi matanya... matanya tajam.
Bukan tajam dalam arti galak. Tapi tajam seperti mata elang yang sedang memantau mangsa. Mata yang sudah terbiasa melihat sesuatu di kejauhan sebelum orang lain melihatnya. Mata yang lahir dari kebutuhan untuk selalu waspada.
Siapa dia?
Ariyanti tak mengenalnya. Barangkali siswa baru. Atau siswa dari dusun lain yang biasanya tidak pernah lewat sini, karena siapa yang mau memilih jalan yang lebih jauh? Jalan Randu Gembyang ke sekolah sebenarnya lebih panjang seratus meter dari jalan utama, tapi Ariyanti tetap memilihnya karena lebih teduh.
Mereka berpapasan.
Dalam hitungan detik, mungkin kurang dari tiga detik, beberapa hal terjadi:
Pertama, ia mencium aroma sabun colek. Bukan sabun mandi mahal. Sabun colek warna hijau yang dijual di warung dengan harga seribu per bungkus. Aromanya khas, tajam, dan menyengat di pagi yang dingin.
Kedua, ia mendengar suara langkah yang tidak terburu-buru. Langkah kaki yang yakin, tahu persis ke mana ia akan melangkah.
Ketiga, mata mereka bertemu.
Laki-laki itu menunduk sedikit. Bukan karena takut—tidak ada sedikit pun rasa takut di matanya. Tapi karena sikap sopan desa yang sudah mendarah daging sejak kecil. Sebuah gerakan otomatis yang tidak perlu dipikirkan.
Ariyanti membalas anggukan singkat.
Tidak ada kata.
Tidak ada senyum.
Hanya pandangan sekilas.
Dan kemudian mereka berpisah.
Ariyanti terus berjalan. Ia berusaha fokus pada jalan di depannya, pada daun-daun randu yang mulai berguguran, pada suara jangkrik yang semakin sayup. Tapi sesuatu menariknya—sebuah dorongan yang tidak bisa ia jelaskan—dan ia menoleh ke belakang.
Hanya sekejap. Hampir tak terasa.
Ia melihat punggung laki-laki itu yang terus berjalan, semakin kecil, lalu tertutup oleh batang pohon randu yang besar.
Siapa dia? pikir Ariyanti.
Tapi pertanyaan itu ia kubur dalam-dalam. Bukan urusannya. Bukan urusannya sama sekali.
Pukul 07.15 – Halaman SMAN I Pegandon
Suasana hari pertama selalu ramai. Siswa-siswa berkerumun di halaman sekolah dalam kelompok-kelompok kecil. Ada yang sibuk bercerita tentang liburan—siapa yang ke Semarang, siapa yang ke Kendal kota, siapa yang hanya di rumah membantu orang tua. Ada yang asyik membandingkan sepatu baru—sepatu merek yang tidak pernah Ariyanti dengar namanya. Ada yang hanya diam, menunggu bel sambil menguap.
Ariyanti masuk ke gerbang utama dengan langkah pasti. Ia tidak punya teman dekat yang bisa diajak bercerita. Tidak karena ia tidak disukai—tapi karena ia berbeda.
Kebanyakan teman sekelasnya berasal dari keluarga mampu. Ayah mereka pegawai negeri, pedagang, atau pemilik toko. Mereka naik motor atau diantar mobil. Uang jajan mereka cukup untuk membeli camilan setiap istirahat.
Sementara Ariyanti? Ia berjalan kaki. Ia membawa bekal nasi bungkus. Ia tidak punya uang jajan.
Dan yang paling mengganggu mereka: Ariyanti miskin tapi tidak pernah mau mengalah. Ketika ada guru yang pilih kasih, ia protes. Ketika ada teman yang dirugikan, ia membela. Ketika ada yang merendahkannya karena kemiskinannya, ia tidak menunduk.
Gadis miskin yang sombong, begitu kata mereka.
Tapi Ariyanti tak peduli.
Ia langsung menuju kelas 2 IPA 1.
Di lorong sekolah, ia berpapasan dengan seorang guru yang ia hormati: Bu Sumi, guru Bahasa Indonesia. Perempuan setengah baya dengan rambut disanggul rapi, berkacamata tebal yang membuat matanya terlihat lebih besar dari aslinya. Ia selalu membawa buku ke mana pun ia pergi—bukan buku pelajaran, tapi novel tebal yang sampulnya sudah terlipat-lipat karena sering dibaca.
Setiap guru punya aura masing-masing. Pak Burhan, guru Matematika, bau tembakau dan keringat. Bu Dewi, guru Biologi, wangi minyak rambut dan bedak. Tapi Bu Sumi? Bu Sumi berbau buku. Kertas tua, tinta cetak, sedikit perekat dari punggung buku yang mulai terlepas.
Baunya tidak pernah berubah selama bertahun-tahun. Dan Ariyanti suka bau itu.
"Halo, Ariyanti," sapa Bu Sumi ramah. Suaranya lembut, seperti orang yang terbiasa membaca puisi dengan lantang.
"Halo, Bu Sumi. Selamat datang kembali."
"Kamu tambah dewasa saja. Tinggi, ya?"
Ariyanti tersenyum malu. Tidak ada yang pernah memujinya seperti itu. Orang-orang di desa hanya bilang "Anaknya Siti Aminah itu jangkung." Tapi Bu Sumi bilang "tinggi"—seolah-olah itu adalah sesuatu yang baik.
"Sudah, masuk sana. Nanti kita bertemu di jam pelajaran."
Di dalam kelas
Kelas 2 IPA 1 terletak di ujung lorong lantai dua. Jendelanya menghadap ke timur—tepat ke arah matahari terbit. Di pagi hari seperti ini, sinar matahari masuk melalui kaca-kaca yang sudah buram karena debu dan usia, menciptakan berkas cahaya yang jatuh di lantai semen.
Ariyanti memilih bangku paling depan, dekat jendela. Ia sengaja memilih posisi itu karena dua alasan: agar bisa fokus pada papan tulis—karena ia tidak punya kacamata dan matanya mulai agak rabun, dan agar bisa melihat langit di sela-sela pelajaran.
Langit. Itulah satu hal yang selalu bisa ia nikmati tanpa biaya.
Teman-temannya mulai berdatangan. Kebanyakan dari mereka adalah wajah-wajah lama yang sudah ia kenal sejak kelas satu. Wajah-wajah yang kadang menyapanya, kadang mengabaikannya. Ariyanti sudah terbiasa.
Tapi ada beberapa wajah baru. Siswa pindahan dari sekolah lain. Ariyanti tak terlalu memperhatikan—sampai...
Sebuah keributan kecil terjadi di pintu kelas.
"Permisi, ini kelas 2 IPA 1?"
Ariyanti mengangkat kepala.
Dan jantungnya—yang biasanya tenang, yang tidak pernah berdebar kencang untuk siapa pun—berdetak lebih cepat.
Itu laki-laki yang ia temui di Jalan Randu Gembyang tadi pagi.
Seragamnya masih sama kusutnya. Rambutnya masih acak-acakan. Bahkan lipatan di kerah belakangnya masih sama—tidak ada yang berubah.
Tapi sekarang, di bawah cahaya lampu kelas yang buram, Ariyanti bisa melihat wajahnya lebih jelas: rahang tegas yang kontras dengan tubuhnya yang kurus; alis tebal yang sedikit menyatu di tengah; kulit sawo matang yang tidak pucat meskipun jelas kurang gizi; dan matanya... sama tajamnya.
Kenapa jantungku berdebar? pikirnya panik. Aku bahkan tidak tahu namanya.
"Ya, ini kelas 2 IPA 1. Kamu anak baru? Silakan masuk," kata ketua kelas, Budi—seorang laki-laki berbadan tegap yang ayahnya pemilik toko elektronik satu-satunya di Pegandon.
Laki-laki itu mengucapkan terima kasih. Suaranya pelan, hampir lirih, tapi jelas.
Lalu ia berjalan menuju bangku kosong di belakang.
Melewati meja Ariyanti.
Hanya sekejap. Tapi mata mereka bertemu lagi—kali ini lebih lama dari tadi pagi. Satu detik? Dua detik?
Laki-laki itu tersenyum kecil.
Bukan senyum percaya diri yang penuh arti. Bukan senyum genit yang sudah dilatih. Tapi senyum kecil yang sederhana, yang mungkin hanya berarti: "Kita sudah bertemu sekali hari ini, ya?" atau "Terima kasih sudah tidak menghindar."
Ariyanti membalas dengan anggukan dingin—atau setidaknya ia berusaha dingin. Tapi di dalam dadanya, sesuatu bergerak. Sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan. Bukan jatuh cinta—ia tidak percaya cinta pada pandangan pertama. Tapi rasa penasaran yang menggebu-gebu.
Kenapa mataku selalu mencari dia?
Setiap kali ia tidak di depan mataku, pikiranku melayang padanya.
Setiap kali ada keributan di pintu, aku berharap itu dia.
Aku bahkan tidak tahu namanya.
Istirahat pertama – Kantin sekolah
Kantin SMAN I Pegandon adalah bangunan semi permanen dengan atap asbes dan lantai semen yang retak di beberapa bagian. Enam bangku kayu panjang disusun dalam tiga baris. Di pojok kanan, ada dapur kecil tempat ibu-ibu menjual makanan: nasi goreng, bakso, mie instan, dan aneka gorengan.
Baunya campur aduk—minyak goreng bekas, kecap manis, sedikit bawang goreng, dan asap dari kompor minyak tanah.
Ariyanti duduk di pojok, menyendiri di bangku kayu panjang yang catnya mulai mengelupas. Nasi bungkus dari ibunya sudah ia buka: nasi putih yang agak pera karena dimasak dengan kayu bakar, tempe orek yang sedikit kecut—tanda sudah sejak semalam, dan sambal terasi yang masih segar.
Tempe orek kecut masih bisa dimakan. Tidak enak, tapi bisa ditelan.
Air minumnya hanya air putih dari dispenser sekolah—air yang rasanya sedikit kapur, tapi gratis.
Ia makan pelan-pelan. Tidak perlu terburu-buru. Ia tidak punya siapa pun yang menunggunya di meja lain.
Tiba-tiba, bayangan menutupi cahaya di depannya.
Ariyanti mendongak.
Laki-laki dari tadi pagi berdiri di hadapannya, membawa nasi bungkus dengan lauk seadanya—Ariyanti bisa melihat dari jauh: nasi putih, satu potong tahu goreng, dan sambal terlihat di ujung daun pisang. Tangan kirinya memegang gelas plastik bening berisi es teh—warnanya sudah keruh, tanda teh murah dengan gula batu seadanya.
"Boleh duduk di sini?" tanyanya sopan.
Ariyanti mengangguk. "Silakan."
Laki-laki itu duduk di seberangnya. Jarak di antara mereka sekitar satu meter—meja kayu yang sama, dua sisi yang berseberangan.
Mereka makan dalam diam selama beberapa menit.
Di kejauhan, di meja lain, teman-teman sekelas Ariyanti berbisik-bisik. Sesekali mereka melirik ke arah mereka berdua. Tidak penting. Ariyanti tidak peduli.
Laki-laki itu memecah kesunyian. "Aku Akang. Akang Supriyadi. Lulusan dari SMPN I Pegandon. Rumahku di Dusun Cegunan, belakang bukit sana."
Suaranya sedikit serak—mungkin karena udara pagi. Tapi ada kehangatan di dalamnya. Kehangatan yang tidak sesuai dengan penampilannya yang kumal dan kurus.
"Ariyanti," jawabnya. "Dusun Kersan. Seberang bukit."
"Kita tetangga, ya? Cuma dipisah bukit kecil."
Akang tersenyum lagi. Sekarang, Ariyanti bisa melihat detail senyumnya: bibirnya tipis, agak kering—tanda kurang minum—tapi ketika tersenyum, muncul lesung pipit di pipi kirinya. Hanya satu.
Lesung pipit satu, pikir Ariyanti. Aneh. Belum pernah lihat sebelumnya.
"Tapi jaraknya lumayan. Lumayan untuk ditempuh jalan kaki."
"Aku sudah biasa. Sejak SD, aku jalan kaki ke sekolah. Dulu lebih jauh lagi. Sekolah dasar di desa sebelah, jalannya tanah, kalau hujan becek sampai mata kaki. Pernah terpeleset, jatuh ke sawah. Sepatu karetku penuh lintah."
Ariyanti hampir tertawa. Tapi ia menahan. "Kok di sini? SMA Negeri 1 Pegandon kan jauh dari Cegunan."
Akang mengunyah nasinya. Ia makan dengan lahap, seperti orang yang sudah terbiasa makan dengan cepat karena waktu terbatas. Tapi tidak terburu-buru. Setiap suapan dikunyah dengan baik.
"Karena ini satu-satunya SMA negeri di kecamatan ini yang punya jurusan IPA. Aku mau jadi insinyur pertanian."
Insinyur pertanian.
Kata-kata itu keluar dari mulut laki-laki kurus dengan seragam kusut dan sepatu karet usang. Di sekolah yang penuh dengan anak-anak kaya yang bercita-cita menjadi dokter, insinyur, pengacara—tapi dari mulut Akang, kata-kata itu tidak terdengar seperti mimpi kosong.
Matanya berbinar saat mengatakan itu.
Ariyanti bisa melihat binar itu. Bukan sekadar kilatan bias cahaya di retina. Tapi binar yang lahir dari keyakinan.
Binar yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang sudah jatuh berkali-kali dan memilih untuk bangun lagi.
Untuk pertama kalinya pagi ini, Ariyanti tersenyum.
"Insinyur pertanian?"
"Ya. Sawah di Tegorejo ini masih tradisional. Hasilnya sedikit—satu hektar paling cuma 4 ton padahal bisa 6-7 ton kalau pakai metode modern. Irigasinya juga masih sederhana, bergantung sama hujan. Kalau kemarau panjang, padi gagal panen. Aku ingin mengubahnya. Aku ingin bantu petani-petani di sini."
Ariyanti terdiam.
Laki-laki ini tidak hanya bermimpi untuk dirinya sendiri. Ia bermimpi untuk desanya.
Di dunia yang penuh dengan orang yang hanya peduli pada diri sendiri, ia masih punya ruang di hatinya untuk orang lain.
Laki-laki ini berbeda.
"Kalau kamu?" Akang balik bertanya. "Cita-citamu apa?"
Ariyanti menunduk sebentar. Bukan karena malu—tapi karena pertanyaan itu selalu ia simpan untuk dirinya sendiri.
"Aku mau jadi guru. Mengajar anak-anak desa. Biar mereka tidak buta huruf seperti... seperti orang tuaku yang tidak sempat sekolah."
Kata-kata itu keluar lebih berat dari yang ia kira.
Ayahnya meninggal ketika ia masih kecil. Ibu membesarkannya sendirian. Ibu tidak pernah mengeluh. Tapi Ariyanti tahu: Ibu menyesal tidak bisa sekolah. Ibu pernah cerita, suatu malam saat hujan deras, sambil menatap hujan di luar jendela: "Yan , Ibu dulu juga pintar. Rangking dua di SD. Tapi tidak punya biaya untuk lanjut ke SMP."
Ibu tidak pernah menyalahkan siapa pun. Tapi Ariyanti bisa mendengar beban di setiap kata yang diucapkan.
Akang terdiam. Ada keheningan beberapa detik—cukup lama untuk membuat suasana berubah.
"Kita punya mimpi yang sama," kata Akang akhirnya. "Membangun desa ini."
"Bukan mimpi yang sama. Tapi mimpi yang sejalan. Aku ingin sawahnya maju. Kamu ingin anak-anaknya pintar."
"Kalau digabung?"
Ariyanti mengangkat alis. "Digabung?"
"Desa yang maju pertaniannya, dan penduduknya pintar-pintar. Bukankah itu yang kita inginkan?"
Ariyanti tidak menjawab. Tapi ia tersenyum lagi.
Bel istirahat pertama berbunyi. Suara bel tua yang nyaring dan sedikit fals karena sudah berkarat.
Waktu terus berjalan. Lima belas menit telah berlalu.
Tapi bagi Ariyanti, rasanya baru beberapa saat.
Ia tidak ingin pergi. Dan dari cara Akang menatapnya—tatapan yang tidak bisa ia artikan—mungkin ia juga sama.
Pulang sekolah – Senja di Jalan Randu Gembyang
Matahari mulai condong ke barat. Langit Tegorejo berubah menjadi lautan jingga yang memukau—perpaduan warna oranye, merah muda, dan ungu tipis di ufuk. Awan-awan tipis seperti goresan kuas Tuhan yang sedang melukis mahakarya.
Di kejauhan, sembilan belas menit lagi matahari akan benar-benar tenggelam. Ariyanti tahu persis waktunya. Ia sudah menghitung sejak kecil: dari pertigaan hingga rumahnya, butuh tujuh belas menit berjalan normal. Artinya, ia akan tiba di rumah dua menit setelah matahari tenggelam.
Tepat seperti biasanya.
Ariyanti melangkah pulang sendirian. Ranselnya terasa lebih ringan dari pagi—mungkin karena isinya sudah berkurang, atau mungkin karena pikirannya sedang melayang ke tempat lain.
Tapi tak lama, ia mendengar langkah kaki di belakangnya. Bukan langkah sembarangan—langkah yang sengaja dipercepat untuk menyusul, tapi tidak terburu-buru.
Akang berjalan cepat mendekat.
"Ari... boleh jalan bareng? Rumahku di Cegunan kan lewat Kersan dulu."
Dia memanggilku Ari. Seperti kita sudah kenal lama. Seperti kita sudah bertahun-tahun bersahabat.
"Terserah," jawab Ariyanti pura-pura dingin.
Padahal di dalam hati, ia bersorak. Bukan sorak kemenangan atau kegirangan remaja—tapi sorak kecil yang hanya ia akui pada dirinya sendiri.
Mereka berjalan berdampingan di bawah naungan pohon-pohon randu. Jarak antara mereka sekitar setengah meter—cukup jauh untuk tidak terlihat seperti pasangan, cukup dekat untuk mendengar detak jantung masing-masing jika suasana hening.
Sesekali angin bertiup, membawa daun-daun kering yang berguguran seperti hujan musim gugur—walaupun Indonesia tidak memiliki empat musim, namun Tegorejo memiliki musim gugurnya sendiri ketika daun randu mulai menipis di bulan Maret hingga April.
"Nanti aku yang belok ke kiri menuju dusunku. Kamu lurus terus ke Kersan," kata Akang ketika mereka sampai di pertigaan.
Di tempat itu, langit terbuka lebar—tanpa pohon randu yang menghalangi. Senja tampak begitu dekat. Seolah-olah mereka bisa menyentuhnya.
Ariyanti mengangguk.
Mereka berhenti.
Mata mereka bertemu.
Untuk pertama kalinya, Ariyanti tidak membuang muka. Ia menatap mata Akang dengan sengaja. Dan di sana, di kedalaman pupil hitam yang dalam, ia melihat sesuatu.
Kelembutan.
Bukan kelembutan yang dibuat-buat. Bukan kelembutan yang dipelajari dari film atau novel roman. Tapi kelembutan yang lahir dari kesulitan. Kelembutan yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang tahu apa artinya menderita dan memilih untuk tidak menjadi pahit.
"Ari... sampai ketemu besok," ucap Akang.
"Ya. Sampai ketemu."
Akang berbalik dan melangkah ke arah barat, menuju Dusun Cegunan yang mulai gelap diterpa senja. Bayangannya memanjang di aspal yang mulai dingin, semakin panjang, semakin panjang, lalu menghilang di tikungan.
Ariyanti berdiri diam, memandangi punggung Akang yang semakin menjauh.
Kakinya terasa berat untuk melanjutkan perjalanan. Matanya enggan berpaling.
Kenapa mataku selalu mencarinya?
Setiap kali ia tidak di depan mataku, pikiranku melayang padanya.
Setiap kali aku memejamkan mata, aku melihat senyumnya dengan lesung pipit satu di pipi kirinya.
Aku bahkan tidak tahu namanya beberapa jam yang lalu. Dan sekarang?
Sekarang aku tahu namanya. Aku tahu mimpinya. Aku tahu desanya. Aku tahu ia mewakili rasa sakit yang sama dengan rasa sakitku.
Dan aku tahu: aku tidak ingin berhenti mencarinya.
Ariyanti menghela napas.
Yang ia tahu, senja di Jalan Randu Gembyang hari ini berbeda.
Lebih hangat.
Lebih indah.
Lebih berarti.
Seperti ada janji yang belum diucapkan.
Seperti ada cerita yang baru saja dimulai.
Malam harinya – Rumah Ariyanti di Dusun Kersan
Ariyanti berbaring di atas kasus tipisnya—kapuk yang sudah mulai menggumpal di beberapa sisi, membuat permukaannya tidak rata. Seprai katun tipis bergambar bunga-bunga pudar sudah dicuci berkali-kali hingga warnanya hampir putih.
Matanya menatap langit-langit anyaman bambu. Di sela-sela anyaman, ia bisa melihat sedikit langit malam di luar. Sesekali bintang kerlip.
Di telinganya masih terngiang suara Akang: "Aku ingin mengubah sawah di Tegorejo."
Ia tersenyum sendiri.
Dasar laki-laki aneh. Miskin kayak gitu—sekolah aja susah, pakai seragam kusut, sepatu karet, bekal nasi bungkusan—kok mikir mau jadi insinyur? Mau mengubah sawah? Mau bantu petani?
Dia bahkan tidak yakin apakah besok ia bisa makan siang atau tidak.
Tapi di sudut hatinya yang paling dalam, di ruang yang paling jarang ia jamah, Ariyanti tahu:
Akang berbeda.
Akang bukan pemuda desa biasa. Bukan laki-laki yang pasrah pada kemiskinan dan berkata "yo wes rapopo, uwis nasibe." Tidak. Akang adalah api yang menyala di tengah kegelapan.
Dan Ariyanti—tanpa sadar—mulai terbakar.
Api kecil di ujung jemari. Belum menyala. Tapi sudah hangat.
Di tempat lain – Rumah mewah di Jalan Raya Pegandon
Di ruang tamu besar dengan sofa kulit mahal yang baunya masih baru—tanda belum lama dibeli—seorang pemuda berdiri di depan jendela kaca yang membentang dari lantai hingga hampir plafon.
Ia memegang secangkir kopi. Bukan kopi tubruk seperti yang biasa diminum warga desa. Tapi kopi arabika, diseduh dengan mesin, disaring dengan kertas khusus, dan diaduk dengan sendok perak yang berat di tangan.
Namanya Rahmadi.
Esok hari adalah hari pertamanya di SMAN I Pegandon. Ayahnya memindahkannya dari Semarang dengan alasan "ingin dekat dengan keluarga". Tapi Rahmadi tahu sebenarnya: ayahnya malu padanya.
Di Semarang, Rahmadi pernah ketahuan menyiksa kucing tetangga hanya untuk bersenang-senang. Bukan karena ia benci kucing. Tapi karena ia bosan. Dan ketika bosan, ia butuh hiburan. Dan hiburan terbaik baginya adalah melihat makhluk hidup menderita.
Ayahnya harus membayar keluarga tetangga itu dua puluh juta rupiah agar tidak melapor ke polisi. Dan keesokan harinya, Rahmadi sudah berada di mobil menuju Kendal.
"Besok aku mulai," bisik Rahmadi pada dirinya sendiri. Ia menatap bayangannya di kaca jendela. Penampilannya sempurna—rambut rapi, kulit bersih, kemeja lengan panjang yang tidak perlu ia setrika karena sudah dikirim dari laundry dengan lipatan rapi.
"Besok aku akan tunjukkan pada mereka semua siapa aku."
Ia tersenyum.
Senyum yang tidak pernah sampai ke matanya.
Di Semarang, mereka takut padaku. Di Pegandon, mereka juga akan takut.
Dan kalau ada gadis cantik di sana...
Ia membayangkan wajah-wajah polos gadis desa yang mudah terpesona dengan mobil mewah, uang, dan pesona laki-laki kota.
...dia akan jadi milikku.
Rahmadi meneguk kopinya. Hangat. Pahit. Memuaskan.
Di luar, angin malam bertiup kencang. Daun-daun randu berguguran di kegelapan.
Tanda badai akan datang.
Tanda Tegorejo tidak akan pernah sama lagi.
. BAB 2
DUA DUSUN, SATU HATI
Ariyanti dari Kersan dan Akang dari Cegunan, dua dusun yang terpisah oleh beberapa kilometer jalan tanah namun dipertemukan oleh sekolah yang sama: SMPN I Pegandon.
Tegorejo, tiga tahun sebelumnya, 1995.
Sebelum SMAN I Pegandon, sebelum senja di Jalan Randu Gembyang, sebelum Rahmadi datang membawa badai, Ariyanti dan Akang sudah pernah bertemu. Bukan sekali, tapi berkali kali. Hanya saja mereka tak pernah benar benar melihat satu sama lain.
Di kelas yang sama. Di bangku yang terpisah hanya beberapa meter. Selama tiga tahun penuh. Dan tidak pernah sekalipun mereka mengobrol lebih dari sepuluh kalimat.
Beginilah cara Tuhan bekerja. Ia mempertemukan dua orang pada waktu yang tepat, bukan pada waktu yang kita inginkan. Dan pada tahun 1995, waktu itu belum tepat. Mereka masih terlalu muda. Masih terlalu rapuh. Masih perlu ditempa oleh kesulitan masing masing sebelum layak untuk saling menguatkan.
Kisah mereka dimulai jauh lebih awal, di bangku SMPN I Pegandon, sekolah menengah satu satunya di kecamatan itu, dengan dinding cat putih yang mulai mengelupas di beberapa sudut, dengan lapangan upacara yang berlubang lubang, dengan ruang kelas yang jendelanya tidak semuanya bisa ditutup rapat.
Namun Tuhan, yang maha merajut takdir, punya cara-Nya sendiri untuk mempertemukan dua hati yang kelak akan berjuang bersama melawan dunia.
Dua hati yang saat itu masih tidak tahu bahwa mereka sedang dipertemukan.
Dua hati yang saat itu masih sibuk dengan luka masing masing.
Dua hati yang kelak akan menjadi legenda di desa kecil ini.
Dua Dusun yang Bersebelahan
Dusun Kersan dan Dusun Cegunan terpisah oleh sekitar dua kilometer jalan tanah. Bukan bukit. Bukan sungai. Hanya jalan tanah yang berlubang di sana sini, yang jika musim hujan berubah menjadi kubangan lumpur setinggi mata kaki.
Di sisi timur, dekat dengan Jalan Raya Pegandon, terletak Dusun Kersan. Rumah rumah di sini sebagian besar terbuat dari batu bata merah, meskipun banyak juga yang masih berdinding anyaman bambu di bagian belakang. Penduduknya kebanyakan buruh pabrik, pedagang kecil, dan beberapa pegawai negeri yang setiap pagi berangkat ke kantor dengan sepeda motor.
Udara di Kersan sedikit lebih ramai. Suara burung pukul lima pagi bercampur dengan suara mesin sepeda motor yang dipanaskan di halaman rumah. Bau kopi tubruk dan gorengan pagi hari menyebar dari warung warung kecil di pinggir jalan.
Di sisi barat, sekitar dua kilometer dari pertigaan aspal, terletak Dusun Cegunan. Rumah rumah di Cegunan hampir semuanya masih berdinding anyaman bambu beratapkan rumbia, daun kelapa kering yang disusun rapi, namun tetap bocor jika hujan terlalu deras.
Jalan menuju Cegunan tidak pernah diaspal. Sepeda motor bisa masuk saat musim kemarau, tapi saat musim hujan, hanya sepeda motor trail atau orang yang cukup nekat yang berani melewatinya.
Warga Kersan memandang rendah warga Cegunan. Mereka menyebutnya "wong gunung" meskipun tidak ada gunung di sana. Hanya tanah datar yang sedikit lebih tinggi. Mereka bilang, "Wong Cegunan kuwi kasar, ora iso ngaji, durung pada maju."
Sebaliknya, warga Cegunan menganggap warga Kersan sombong. Mereka berbisik di balik punggung setiap kali melihat warga Kersan lewat dengan motor baru yang jelas dibeli dengan kredit. "Banyakan gaya, tapi utang nggak kebayar," kata mereka.
Dua dusun yang bersebelahan, jarak antara batas terluar Kersan dan batas terluar Cegunan tidak lebih dari tiga kilometer. Tapi hatinya terpisah lebih jauh dari jarak fisik yang memisahkan mereka.
Dan di antara dua dusun yang bermusuhan itu, hiduplah dua remaja yang tak pernah peduli pada kebencian warisan orang dewasa. Mereka tidak peduli dari dusun mana seseorang berasal. Mereka hanya peduli pada satu hal, apakah orang itu baik atau tidak. Dan di dunia yang terus mengajarkan mereka untuk membenci, mereka memilih untuk tidak mendengarkan.
Pertemuan Pertama yang Tak Disadari
Awal tahun ajaran 1995, SMPN I Pegandon.
Hari pertama masuk SMP selalu menjadi hari yang menegangkan bagi para siswa baru. Mereka berdesakan di papan pengumuman yang terbuat dari triplek tebal berwarna hijau tua, mencari nama mereka tertera di kelas mana. Siku mendorong siku. Pundak menyenggol pundak. Napas dan bau keringat bercampur jadi satu.
Ariyanti berdiri di barisan paling depan. Tubuhnya kecil untuk seusianya. Ia termasuk yang terpendek di antara siswa baru perempuannya. Tapi sikapnya tidak kenal takut. Matanya yang coklat gelap menyusuri deretan nama di kertas pengumuman dengan sabar, baris per baris, dari atas ke bawah.
Kelas 1A, Ariyanti, Dusun Kersan.
Ia menghela napas lega. Lega yang tidak ia tunjukkan di wajah, tapi bisa dirasakan di dadanya yang berdebar lebih lambat sekarang.
Kelas 1A adalah kelas unggulan, kelas khusus untuk siswa dengan nilai ujian masuk tertinggi. Hanya ada satu kelas unggulan per angkatan, dan masuk ke sana berarti mendapat guru guru terbaik, materi tambahan, dan peluang lebih besar untuk melanjutkan ke SMA favorit.
Ibunya akan bangga. Ibu akan tersenyum dengan mata yang berkaca kaca seperti ketika Ariyanti lulus SD dengan peringkat pertama. Ariyanti sudah bisa membayangkannya.
"Yan , Ibu nangis bukan karena sedih," akan kata Ibu nanti. "Ibu nangis karena Ibu tidak menyangka anak Ibu sepintar ini."
Di belakangnya, seorang laki laki dengan seragam yang terlalu besar untuk tubuhnya juga sedang mencari nama.
Seragam putih biru itu, warna khas SMP, kelihatan seperti karung yang diikat di tubuhnya. Lengan bajunya terlalu panjang, hampir menutupi setengah jari tangannya. Celananya juga kebesaran, berkumpul di mata kaki dengan lipatan yang tidak rapi.
Tapi bukan karena ia membeli ukuran yang salah. Seragam itu milik kakak laki lakinya yang kawin lari dua tahun lalu dan tidak pernah membawa barang barangnya. Ibunya tidak punya uang untuk membeli seragam baru. Jadi Akang, begitu namanya, memakai seragam itu apa adanya. Kebesaran, tidak masalah. Asal bisa sekolah.
Ia lebih tinggi dari kebanyakan anak seusianya. Tapi badannya kurus kering, tidak berisi sama sekali. Perut sedikit cekung di bawah tulang rusuk. Lengan bawahnya hanya tulang yang dibungkus kulit tipis, dengan urat urat biru yang tampak jelas. Ini adalah tanda tanda kurang gizi yang sudah berlangsung bertahun tahun.
Tapi matanya berbeda. Matanya tidak mencerminkan kelemahan tubuhnya. Matanya sayu, ya. Ada lingkaran hitam di bawahnya dari tidur yang tidak pernah cukup. Wajahnya juga lelah, lelah karena setiap hari ia harus bangun pukul empat untuk membantu ibunya sebelum berangkat sekolah.
Tapi di balik kelelahan itu, di balik sayu yang tampak dari luar, ada api kecil yang terus menyala. Api yang tidak bisa padam meskipun angin kehidupan terus menerus berusaha meniupnya.
Kelas 1A, Akang Supriyadi, Dusun Cegunan.
Laki laki itu tersenyum tipis. Tidak lebar. Tidak penuh kemenangan. Hanya sedikit lengkungan di bibir tipisnya yang kering.
Lalu ia berbalik.
Di kerumunan yang padat itu, dalam pusaran tubuh dan bahu dan siku yang saling bertabrakan, bahu mereka hampir bersentuhan.
Ariyanti menoleh sekilas. Tidak sengaja. Hanya karena ada gerakan di samping kirinya.
Akang juga. Matanya bergerak ke arah sumber gerakan di samping kanannya.
Mereka bertatapan.
Setengah detik. Mungkin kurang.
Dalam setengah detik itu, yang terjadi hanyalah dua pasang mata bertemu. Tidak ada kilatan cahaya. Tidak ada musik romantis yang tiba tiba muncul di latar belakang. Tidak ada hati yang berdetak lebih cepat atau perut yang tiba tiba terasa seperti dikejar kupu kupu.
Hanya dua anak desa dengan beban masing masing yang kebetulan berada di tempat yang sama pada waktu yang sama.
Lalu Akang menghilang di antara lautan kepala.
Ariyanti melanjutkan berjalan.
Tidak ada rasa. Tidak ada getaran. Hanya dua anak desa yang sama sama sibuk dengan urusannya masing masing.
Tapi benih takdir sudah ditanam. Dan benih itu, meskipun kecil, meskipun tidak terlihat, meskipun tidak disadari oleh siapapun, akan tumbuh. Perlahan. Diam diam. Hingga kelak menjadi pohon yang kokoh. Atau pohon yang harus bertahan di tengah badai.
Teman Sekelas, Bukan Teman Dekat
Selama tiga tahun di SMPN I Pegandon, ribuan hari, puluhan ribu jam pelajaran, Ariyanti dan Akang duduk di kelas yang sama. Mereka melihat wajah satu sama lain hampir setiap hari kerja. Kalau dihitung, mungkin ribuan kali mata mereka bertemu, meskipun hanya sekilas, meskipun tanpa makna.
Tapi mereka bukan teman dekat. Bahkan, bisa dibilang mereka hampir tidak pernah berbicara.
Ariyanti adalah gadis yang pendiam di sekolah. Ia bukan tipe yang sulit bergaul. Ia hanya tidak melihat perlunya basa basi. Ia berbicara jika ditanya. Ia berbicara jika ada hal penting yang perlu disampaikan. Ia berbicara jika ada ketidakadilan yang harus ia lawan.
Dan karena ia pintar, rangking satu di kelas selama tiga tahun berturut turut, guru guru menyukainya. "Ariyanti anak yang baik," kata wali kelasnya dalam rapat evaluasi. "Pendiam, tapi cerdas."
Tapi teman temannya agak takut. Bukan takut fisik. Ariyanti kecil dan kurus, tidak mungkin menakutkan secara fisik. Tapi ada sesuatu di matanya yang membuat orang berpikir dua kali sebelum menggodanya. Matanya yang tajam, yang bisa menatap seseorang tanpa berkedip lebih lama dari yang nyaman, membuat orang merasa sedang dihakimi.
"Kenapa sih dia sombong banget?" bisik mereka di belakang punggungnya.
"Mungkin karena dia anak Kersan. Katanya orang Kersan sombong sombong."
"Tapi bukannya dia miskin? Anak janda, katanya."
"Miskin sombong. Paling parah."
Ariyanti mendengar bisikan bisikan itu. Tapi ia tidak pernah membalas. Tidak pernah menangis. Tidak pernah mengeluh pada guru. Ia hanya diam. Dan diamnya itu kadang lebih menusuk daripada seribu kata makian.
Akang, sebaliknya, adalah anak yang pendiam juga, tapi dengan cara yang berbeda.
Jika Ariyanti diam karena ia memilih untuk diam, Akang diam karena ia tidak punya energi untuk berbicara. Setiap kata yang ia ucapkan terasa seperti menguras tenaga yang sudah sangat terbatas. Bangun jam empat, membantu ibu berjualan, berjalan kaki lima kilometer ke sekolah, belajar dengan perut yang biasanya kosong hingga istirahat pertama. Semua itu membuatnya lelah. Sangat lelah.
Tapi ia tidak pernah mengeluh.
Ia tetap membantu teman temannya yang kesulitan pelajaran, meskipun ia sendiri kelaparan. Ia akan menjelaskan rumus matematika dengan sabar, berkali kali jika perlu, tanpa meminta imbalan apapun.
"Kang, kamu pinter banget sih," kata seorang teman suatu hari. "Kamu les di mana?"
Akang tersenyum malu. "Nggak les. Cuma baca buku."
"Bapakmu guru?"
Akang terdiam sebentar. "Bapakku lagi di luar kota."
Ia tidak pernah bilang bahwa bapaknya hilang. Tidak pernah bilang bahwa ia tidak tahu apakah bapaknya masih hidup atau sudah mati. Tidak pernah bilang bahwa ia menangis setiap malam di tahun tahun pertama setelah bapaknya pergi, sebelum akhirnya ia belajar bahwa menangis tidak mengubah apa pun.
Ia juga sering tidak makan siang.
Bukan karena ia tidak lapar. Perutnya keroncongan keras setiap kali jam istirahat tiba. Tapi uang sakunya habis untuk membeli buku. Buku pelajaran bekas dari kakak kelas, buku cerita dari pasar loak, buku apa pun yang bisa ia dapatkan dengan harga murah.
"Kang, kamu kenapa nggak makan siang?" seorang teman pernah bertanya.
"Nggak lapar," jawab Akang singkat.
Padahal perutnya berbunyi lagi. Padahal ia sudah tidak makan apa pun sejak bubur hangat buatan ibunya pukul lima pagi.
Teman itu tidak percaya, tapi tidak mau bertanya lebih lanjut. Ia hanya mengangguk dan kembali ke mejanya.
Tapi ada yang aneh.
Meskipun mereka tidak pernah mengobrol serius, mungkin hanya kata "permisi", "maaf", atau "kamu tahu PR halaman berapa?", Akang selalu menatap Ariyanti dengan cara yang berbeda.
Bukan tatapan mata keranjang seperti yang dilakukan beberapa siswa laki laki kepada perempuan yang mereka sukai. Bukan tatapan penuh nafsu yang membuat tidak nyaman. Tapi tatapan penasaran.
Seperti ia sedang membaca sebuah buku yang belum ia pahami. Seperti ia mencoba mengartikan kode rahasia yang tidak bisa dipecahkan. Seperti ia bertanya tanya dalam hati, "Siapa sebenarnya gadis ini? Mengapa ia sendirian terus? Mengapa ia tidak seperti yang lain?"
Dan Ariyanti, di sela sela kesibukannya membaca buku atau mencatat pelajaran, kadang menangkap tatapan itu.
Merasa ada yang melihat, ia akan mengangkat kepala. Mata mereka akan bertemu sejenak. Lalu Akang akan buru buru membuang muka ke arah lain, kadang ke jendela, kadang ke papan tulis, kadang ke buku di depannya, dengan wajah yang sedikit merah.
Laki laki aneh dari Cegunan, pikir Ariyanti setiap kali itu terjadi. Mungkin dia hanya kasihan padaku. Atau mungkin dia sedang menghakimiku seperti yang lain.
Dan ia akan kembali ke bukunya. Mengabaikan.
Mereka tidak pernah terlibat konflik. Mereka juga tidak pernah terlibat cerita. Hanya dua anak desa yang duduk di ruang yang sama, di planet yang sama, tapi berada di galaksi yang berbeda.
Hingga suatu hari, segalanya berubah.
Hujan Lebat di Bulan November
SMPN I Pegandon, sore hari, hujan deras.
Hujan mulai turun sejak jam pelajaran terakhir, sekitar pukul setengah dua.
Awalnya hanya gerimis kecil, butir butir air yang jatuh perlahan, hampir malas malasan. Cukup untuk membuat udara menjadi lembap dan dingin, tapi tidak cukup untuk mengganggu aktivitas. Beberapa siswa membuka jendela lebar lebar, menikmati angin segar yang masuk.
Tapi dalam waktu kurang dari setengah jam, gerimis berubah menjadi deras.
Awan hitam menggulung di atas Pegandon dari arah selatan, seperti raksasa yang sedang merangkak mendekat. Suara gemuruh menggelegar di kejauhan, pertanda bahwa badai sedang dalam perjalanan. Sesekali kilat menyambar, menerangi langit yang kelabu dengan cahaya putih kebiruan yang menakutkan.
Air mengalir deras di selokan depan sekolah. Dalam beberapa menit, selokan yang biasanya hanya genangan kecil itu berubah menjadi sungai kecil yang airnya keruh kecoklatan, membawa serta daun daun kering dan sampah plastik.
Petir menyambar nyambar. Beberapa siswa perempuan berteriak kecil setiap kali ada sambaran yang terlalu dekat. Bahkan guru guru pun terlihat gelisah, sesekali menatap ke luar jendela dengan dahi berkerut.
Ketika bel pulang berbunyi pukul setengah tiga, langit sudah gelap seperti malam.
Semua siswa berlarian keluar kelas, berdesakan di serambi sekolah yang sempit, berharap orang tua mereka datang menjemput.
Satu per satu, mobil dan motor datang. Satu per satu, siswa menghilang di balik jas hujan atau paYan g.
Hingga akhirnya, hanya tersisa dua orang.
Ariyanti. Akang.
Ariyanti berdiri di teras kelas, menggigil.
Bukan menggigil biasa. Gigil yang membuat giginya bergemeletuk tidak terkendali, yang membuat tangannya yang ia lipat di dada tidak mampu menghangatkan tubuhnya. Baju seragamnya basah karena ia kehujanan saat berlari dari lapangan upacara ke ruang kelas tadi. Kain putih dan biru itu menempel di kulitnya, dingin dan tidak nyaman.
Tasnya ia peluk erat erat. Bukan karena takut basah. Tas itu sudah basah juga. Tapi karena ia butuh sesuatu untuk dipeluk.
Ibunya sedang sakit. Flu berat sejak tiga hari lalu. Badannya panas, batuknya tidak kunjung reda, dan ia terlalu lemah untuk berjalan ke warung, apalagi ke sekolah. Tidak mungkin Ibu menjemput. Tidak mungkin Ibu bisa naik motor dalam kondisi seperti itu.
Ariyanti sudah pasrah harus pulang ke Dusun Kersan dengan jalan kaki. Hujan hujanan. Sore sore. Gelap gelapan.
"Jalannya becek," pikirnya cemas. "Sepatu karetku bisa rusak. Solnya sudah tipis. Satu satunya sepatu yang kumiliki untuk sekolah."
Ia tidak punya uang untuk membeli sepatu baru. Tidak punya.
Di sudut lain, di teras kelas yang berbeda sekitar dua puluh meter dari tempat Ariyanti berdiri, Akang juga menunggu.
Ia tidak punya paYan g. Ia juga tidak punya uang untuk naik angkot. Uang sakunya hari ini habis untuk membeli buku bekas cerita petualangan setebal dua jari dari kakak kelas yang akan lulus. Buku itu ada di dalam tasnya sekarang, terbungkus plastik bekas yang ia kumpulkan dari sampah pasar dan ia setrika sendiri agar bisa dijadikan pelindung.
Jarak dari sekolah ke Dusun Cegunan sekitar tujuh kilometer. Cukup jauh. Tapi ia sudah terbiasa pulang dalam kondisi apapun. Hujan, panas, badai, sekalipun.
Sejak SD, ia sudah berjalan kaki ke sekolah. Dulu sekolah dasarnya di desa tetangga, sekitar empat kilometer dari rumah. Melewati jalan tanah yang berlubang. Menyusuri tepi sawah yang airnya kadang naik saat hujan deras.
Tapi matanya tetap mencuri pandang ke arah Ariyanti.
Gadis itu menggigil. Terlihat dari sini, bahkan dengan jarak dua puluh meter dan hujan deras sebagai penghalang, Akang bisa melihat bahunya yang naik turun cepat. Tanda kedinginan yang parah.
Wajahnya pucat. Tangannya memeluk tas. Ia tidak membawa paYan g. Tidak ada jas hujan. Hanya seragam tipis yang sudah basah.
"Kenapa tidak dijemput?" pikir Akang. "Atau keluarganya miskin seperti keluarganya? Atau lebih parah, tidak ada yang peduli padanya?"
Ia memikirkan kata "peduli". Sebuah kata asing yang jarang ia alami.
Seekor anjing liar menggonggong di kejauhan, mungkin di rumah kepala desa yang ada di ujung jalan. Gonggongannya nyaring, memantul mantul di antara dinding dinding sekolah yang basah.
Hujan semakin deras.
Akang mengambil napas panjang. Dalam dalam. Hingga dadanya terasa penuh. Lalu ia menghelanya perlahan.
Ada dua suara di kepalanya.
Satu suara berbisik, "Jangan ikut campur. Kau tidak punya apa apa untuk ditawarkan. PaYan gmu bocor. Kau juga basah. Kau bahkan tidak cukup makan hari ini. Apa yang bisa kau bantu?"
Tapi suara lain, lebih lembut, lebih dalam, lebih manusiawi, berbisik lebih keras. "Dia butuh bantuan. Dan kau bisa membantu. Kau punya paYan g. Meskipun bocor. Setidaknya bisa melindungi kepala."
Suara pertama mencibir, "PaYan g bocor? Itu tidak akan membuatnya kering."
Suara kedua menjawab, "Tidak harus membuatnya kering. Cukup membuatnya tahu bahwa ia tidak sendirian."
Akang menggigit bibirnya.
Lalu, tanpa benar benar yakin dengan keputusannya, ia melangkah. Mendekati Ariyanti.
Langkahnya ragu. Setiap langkah berat, seperti kakinya tertanam di tanah basah. Hampir saja ia berbalik. Hampir saja ia membatalkan niatnya.
Tapi ia terus melangkah.
"Ariyanti," panggilnya.
Suaranya hampir tenggelam oleh derasnya hujan dan gemuruh petir di kejauhan. Tapi Ariyanti mendengar.
Ia menoleh. Matanya sedikit terkejut. Mungkin karena ia tidak menyangka ada orang yang masih tersisa di sekolah selain dirinya. Atau mungkin karena yang memanggilnya adalah laki laki aneh dari Cegunan yang selalu menatapnya tanpa alasan jelas.
"Ya?"
"Kamu... kamu pulang ke Kersan, kan?"
"Iya."
Akang menarik napas lagi. Ini bagian yang sulit.
"Aku... punya paYan g bocor. Nggak terlalu bagus. Tapi lumayan buat melindungi kepala."
Ariyanti terdiam.
Ia tidak terbiasa menerima bantuan dari siapa pun. Sejak kecil, ia sudah belajar bahwa bantuan biasanya datang dengan harga. Mungkin tidak hari ini. Mungkin tidak besok. Tapi suatu hari nanti, orang yang membantunya akan menagih.
Dan ia tidak punya apa pun untuk dibayarkan.
"Nggak usah," jawabnya singkat. Sedikit lebih keras dari yang ia maksudkan.
"Aku juga ke Cegunan lewat Kersan. Kita satu jalan. Nggak merepotkan kok."
Mereka beradu pandang.
Akang berusaha tersenyum. Ia tahu senyumnya mungkin tidak menarik. Bibirnya kering, kulitnya kusam, wajahnya lelah. Tapi ia berusaha. Ia ingin senyum itu menyampaikan, "Aku tidak akan menagih apa pun. Aku hanya ingin membantu."
Ariyanti melihat mata laki laki itu.
Matanya jujur. Tidak ada maksud buruk di sana. Tidak ada kebohongan. Tidak ada agenda tersembunyi. Tidak ada rasa iba yang merendahkan, jenis iba yang membuat seseorang merasa lebih tinggi dari orang yang ia bantu.
Hanya kesederhanaan. Hanya keinginan untuk melakukan hal yang benar.
"Baiklah," katanya akhirnya.
Payung Yang Bocor dan Hati yang Mulai Terbuka
Payung Yang itu biru tua.
Atau mungkin dulunya biru tua. Sekarang warnanya sudah memudar di beberapa bagian, berubah menjadi biru pucat keabu abuan. Di tiga tempat, tepatnya di sisi kanan depan, di ujung kiri, dan di tengah dekat gagang, kainnya bolong. Lubang lubang kecil, tidak lebih besar dari ibu jari, tapi cukup untuk membiarkan air hujan menetes.
Di bawah payung Yang itu, mereka berdua berjalan.
Akang memegang payung Yang dengan tangan kanannya. Tingginya sekitar sepuluh sentimeter di atas kepala Ariyanti. Tidak cukup tinggi, tidak cukup rendah. Ia berusaha memposisikan payung Yang itu sedemikian rupa sehingga bolong bolongnya tidak tepat di atas kepala Ariyanti. Ini sulit, seperti menari dengan tiga lubang yang ingin basah.
Jarak dari SMPN I Pegandon ke pertigaan Jalan Randu Gembyang sekitar dua kilometer. Biasanya, dengan berjalan normal, jarak itu bisa ditempuh dalam dua puluh menit, dua puluh lima jika sambil ngobrol.
Tapi kali ini, karena hujan dan jalan becek, mereka butuh hampir empat puluh menit.
Setiap langkah, kaki Ariyanti tenggelam sedikit di tanah yang lembek. Sepatu karetnya yang sudah tipis tidak mampu menahan air. Kaus kakinya basah. Telapak kakinya yang sudah mulai lecet terasa perih.
Tapi ia tidak mengeluh.
Akang juga tidak mengeluh, meskipun kondisi kakinya mungkin lebih buruk. Sepatu karet yang ia pakai bukanlah sepatu sekolah yang layak. Itu sepatu karet bekas kakaknya, dengan sol yang sudah hampir licin. Di bagian kanan, ada sobekan kecil yang ia tambal dengan plastik bekas dan lem karet.
Tapi ia tetap berjalan. Tegap. Tidak terburu buru.
Mereka berjalan dalam diam yang canggung.
Hanya suara hujan yang jatuh ke tanah basah, suara gemercik air di aspal, suara cipratan di lumpur, suara tetesan di daun daun randu yang basah. Dan cipratan air dari sepatu yang terdengar.
Langkah mereka tidak seirama. Ariyanti sedikit lebih cepat, Akang sedikit lebih lambat. Kadang jarak mereka terpaut, kadang mereka beriringan.
"Terima kasih," ucap Ariyanti akhirnya.
Suaranya hampir tenggelam oleh hujan, tapi Akang mendengar.
"Ya, sama sama."
"Kamu... dari Cegunan, kan?"
"Iya. Kamu dari Kersan. Kita beda dusun."
"Tapi sekolahnya sama. Kelasnya sama."
"Ya."
Diam lagi.
Ariyanti melirik Akang dari sudut matanya.
Laki laki ini kurus. Sangat kurus. Bahkan dalam kegelapan sore yang gelap, ia bisa melihat bentuk tulang selangkanya yang menonjol di bawah seragam basah. Tangan yang memegang payung Yang juga kurus, urat urat biru terlihat jelas di punggung tangannya.
Seragamnya basah kuyup. Meskipun ia memegang payung Yang untuk mereka berdua, posisinya di samping sedikit, tidak persis di bawah payung Yang. Sebagian besar tubuhnya tetap terkena hujan. Pundak kirinya basah. Lengan kirinya basah. Kaki kirinya basah.
Tapi ia tidak pernah mengeluh. Tidak sekali pun.
"Kamu nggak takut ya pulang ke Cegunan sendirian?" tanya Ariyanti. Ia tidak tahu harus bicara apa lagi, tapi diam yang terlalu lama terasa lebih canggung.
"Biasa. Udah dari SD."
"Bukannya jalannya jelek? Banyak orang bilang lewat sini setelah gelap itu berbahaya."
Akang tersenyum kecil. "Yang berbahaya itu bukan tempatnya, tapi orang orang jahat yang lewat. Selama kita nggak nyari masalah, biasanya aman."
"Kamu terlalu percaya diri."
"Mungkin. Tapi aku sudah terbiasa."
Ia tidak mengatakan bahwa ia sudah dirampok dua kali. Dulu, waktu masih SD. Dua kali, di jalan yang sama. Uang sakunya yang hanya lima ratus rupiah diambil paksa. Ia tidak melawan. Tidak berguna. Dan setelah itu ia belajar. Jangan bawa uang banyak. Jangan pamer. Jangan terlihat takut.
Tapi ia tidak perlu menceritakan semua itu.
Hujan mulai reda saat mereka tiba di pertigaan, tempat di mana Jalan Randu Gembyang bercabang dua. Lurus ke Dusun Kersan, belok kiri ke Dusun Cegunan.
Dari sini, Ariyanti harus lurus terus. Sekitar satu kilometer lagi. Jalan yang lebih mudah, aspal meskipun berlubang, tapi tidak becek.
Akang belok kiri. Tidak ada aspal. Hanya tanah berbatu, becek, gelap. Jalan setapak yang hanya bisa dilalui dengan hati hati.
"Ini paYan gnya," kata Akang, menyerahkan payung Yang itu pada Ariyanti.
"Kamu nggak pakai?"
"Aku udah basah. Nggak masalah."
"Tapi..."
"Udah. Bawa saja. Nanti kalau ketemu, kembalikan."
Akang tidak menunggu jawaban Ariyanti.
Ia langsung berbalik dan berjalan cepat ke arah dusunnya.
Tanpa paYan g. Tanpa jaket. Hanya dengan seragam basah yang menempel di tubuh kurusnya.
Dan punggungnya, punggung yang sejak tadi ia lihat dari belakang, semakin kecil, semakin kecil, hingga akhirnya tertelan oleh gelap dan hujan rintik yang masih tersisa.
Ariyanti berdiri di pertigaan itu, memegang payung Yang biru tua yang bocor di tiga tempat.
Hatinya berdesir aneh.
Laki laki aneh, pikirnya lagi.
Tapi kali ini, kata "aneh" tidak terdengar sinis di kepalanya. Tidak berbisa. Tidak menusuk.
Lebih seperti rasa ingin tahu.
Dan rasa ingin tahu, seperti yang akan ia pelajari bertahun tahun kemudian, seringkali adalah awal dari sesuatu yang lebih besar dari yang kita kira.
Mengembalikan Payung Yang dipinjam
Tiga hari kemudian, kantin SMPN I Pegandon.
Payung Yang itu sudah kering sekarang.
Ariyanti menjemurnya di belakang rumah selama dua hari berturut turut, membolak balikkannya setiap beberapa jam agar tidak ada bagian yang tersisa basah. Kain biru tuanya tidak lagi mengeluarkan bau apek, setidaknya tidak terlalu menyengat.
Ia melipatnya dengan rapi. Tidak persis seperti cara orang melipat paying Yang pada umumnya, tapi cukup rapi untuk dimasukkan ke dalam tas tanpa terlalu banyak ruang terbuang.
Hari ini, ia akan mengembalikannya.
Saat jam istirahat pertama, Ariyanti mencari Akang. Biasanya ia duduk sendirian di pojok kantin, di bangku paling ujung dekat pohon mangga.
Dan benar saja. Akang ada di sana.
Duduk menyendiri. Di bangku kayu yang sama. Sepiring nasi bungkus di depannya, tahu goreng dan sambal, tidak lebih. Dan segelas air putih bening.
Tidak ada es teh. Tidak ada camilan. Hanya nasi, tahu, dan air.
Ariyanti menghampiri.
"Akang."
Akang menoleh. Matanya sedikit terkejut, mungkin karena tidak menyangka akan diajak bicara oleh Ariyanti di luar jam pelajaran.
"Payugnya. Makasih."
Ia menaruh payung itu di atas meja, di antara piring Akang dan gelas airnya.
"Oke. Sama sama."
Tapi Ariyanti tidak langsung pergi.
Ia malah duduk di seberang Akang.
Di kursi yang biasanya tidak pernah ia duduki, di sisi meja yang berlawanan, tepat di hadapan laki laki kurus dengan kemeja kebesaran itu.
Ia menatap piring Akang. Nasi masih utuh. Tahu goreng masih utuh. Belum tersentuh.
Lalu ia menatap gelas air. Masih penuh.
"Kamu tadi beli apa? Kok cuma minum air putih?" tanyanya.
Akang tersenyum canggung, senyum yang terlalu cepat muncul dan terlalu cepat menghilang. "Nggak laper."
"Bohong. Tadi jam ke tiga perutmu keroncongan. Aku denger dari belakang."
Akang terdiam. Wajahnya memerah.
Bukan merah karena marah atau tersinggung. Tapi merah karena malu. Karena ketahuan. Karena rahasia sederhananya, bahwa ia sering tidak makan siang karena uang sakunya habis untuk membeli buku, sekarang diketahui oleh orang lain.
Ariyanti tidak menunggu jawaban.
Ia mengeluarkan kotak bekalnya dari tas, sebuah kotak besi berwarna merah dengan gambar bunga bunga kecil yang sudah memudar. Dibuka perlahan. Di dalamnya, nasi putih hangat, telur dadar yang masih utuh, dan sambal terasi di sudut kotak.
Ia membelah nasi itu menjadi dua dengan sendok plastik yang ia bawa. Tidak rapi. Tidak proporsional. Sebagian lebih besar, sebagian lebih kecil. Tapi cukup untuk dua orang.
"Ini. Makan."
Ia menyerahkan separuh nasi dengan telur dadar dan sedikit sambal pada Akang.
"Ari, nggak usah. Itu buat kamu sendiri."
"Aku sudah sarapan tadi. Ibu buatkan bubur. Jadi kenyang sampai siang."
Bubur. Betul. Ibu memang membuatkan bubur. Tapi bubur itu hanya air panas beras, sedikit garam, dan daun bawang. Tidak mengenyangkan. Tidak cukup untuk bertahan hingga siang.
Tapi Akang tidak perlu tahu itu.
"Makan saja."
Mereka beradu argumen sebentar. Kata kata pendek yang saling memantul seperti bola pingpong.
"Nggak usah, Ari."
"Makan."
"Nanti kamu laper."
"Aku nggak laper."
"Ini bekalmu."
"Ini bekal kita sekarang."
Pada akhirnya, Akang menerima.
Mereka makan berdua di kantin yang sepi.
Siswa lain sudah pada kembali ke kelas atau ke perpustakaan. Hanya beberapa orang yang tersisa, dan semuanya duduk jauh dari mereka.
Sesekali mereka berbicara. Tentang pelajaran. Tentang guru yang galak. Tentang PR matematika yang susah.
Tapi kebanyakan diam.
Dan diam itu, anehnya, tidak lagi canggung.
Diam itu terasa akrab. Seperti dua orang yang sudah saling kenal bertahun tahun, yang tidak perlu banyak bicara untuk mengerti satu sama lain.
"Kang, kenapa kamu selalu pakai sepatu itu?" Ariyanti menunjuk sepatu karet hitam di kaki Akang, sepatu yang sama sejak pertama kali ia lihat tiga tahun lalu, yang sekarang tampak lebih usang dari sebelumnya.
"Ini satu satunya sepatuku. Dulu punya kakak. Tapi kakakku udah nggak tinggal di rumah."
"Kenapa?"
Akang menunduk. Matanya tidak lagi menatap Ariyanti. Ia memainkan sisa nasi di piringnya dengan sendok plastik, tidak benar benar makan, hanya menggesek gesekkan.
"Kawin lari. Sama laki laki dari luar kota. Ayahku... ayahku udah pergi juga. Jadi sekarang cuma tinggal aku sama Ibu."
"Pergi ke mana?"
Akang mengangkat bahu, gerakan yang berat, seperti beban di pundaknya sudah terlalu lama ia pikul. "Nggak tahu."
"Apa dia akan kembali?"
"Nggak tahu."
Ada sesuatu di suaranya. Bukan kemarahan. Bukan kesedihan yang meledak ledak. Tapi kepasrahan yang dingin, yang lahir dari bertahun tahun berharap dan terus kecewa.
Ariyanti menggigit bibirnya.
Ia tahu perasaan itu. Ia mengenalnya dengan sangat baik.
Ayahnya juga pergi. Meninggal, bukan hilang. Tertimpa pohon waktu bekerja di hutan. Tapi pada akhirnya sama. Seorang anak yang ditinggalkan oleh orang tua, yang harus dewasa sebelum waktunya, yang harus menjadi lebih kuat dari yang seharusnya.
"Dari dulu aku sendiri, Ari. Hampir nggak punya teman. Orang orang di dusunku bilang aku aneh karena aku selalu bawa buku ke mana mana. Mereka bilang anak miskin nggak usah sekolah tinggi tinggi. Cukup jadi buruh tani kayak bapak bapak mereka."
Suara Akang datar. Tidak bergetar. Tidak naik turun. Tapi justru itu yang membuatnya lebih menyayat.
Ariyanti menggigit bibirnya lebih keras.
Ia tahu persis apa yang Akang rasakan. Bukan hanya mengerti, tapi tahu. Karena ia juga mendengar kata kata yang sama dari tetangga tetangganya di Dusun Kersan.
"Lho, Ariyanti, anak janda kok sekolah tinggi tinggi? Nanti jadi perawan tua."
"Wong wadon yo cukup ngaji karo masak, nggak usah muluk muluk."
"Sekolahmu ya hanya untuk jadi buruh pabrik. Sudahlah."
Ia mendengar semua itu.
Ia tidak pernah menangis.
Tapi setiap malam, ketika lampu sudah padam dan hanya suara jangkrik yang terdengar, ia bertanya pada dirinya sendiri, "Kenapa menjadi miskin harus disertai dengan menjadi kecil?"
"Kang," kata Ariyanti, dan suaranya lebih tegas dari yang ia kira.
Akang mengangkat kepala.
"Jangan pernah dengerin mereka. Mereka hanya takut."
"Takut apa?"
"Takut kalau kita yang miskin ini suatu hari nanti melampaui mereka. Takut bahwa anak anak yang mereka rendahkan akan menjadi lebih sukses dari anak anak mereka. Takut bahwa sistem yang selama ini menguntungkan mereka akan runtuh."
Akang menatap Ariyanti lama.
Di mata gadis itu, di kedalaman pupil coklat gelap yang tidak pernah ia lihat sedekat ini sebelumnya, ia melihat api yang sama dengan api yang selama ini ia coba padamkan di dalam dirinya sendiri.
Api yang berkata, "Aku tidak akan menyerah."
Api yang berkata, "Mereka bisa merendahkanku, tapi mereka tidak bisa menghentikanku."
Api yang berkata, "Aku akan keluar dari lingkaran kemiskinan ini, entah dengan cara apa pun."
"Ari," bisiknya. "Kamu... hebat."
Bukan pujian. Bukan rayuan. Tapi pengakuan.
Ariyanti tersenyum, tapi senyum yang pahit. "Hanya karena aku nggak punya pilihan lain, Kang. Kalau aku lemah, aku mati."
Mereka berdua diam sejenak.
Kata kata itu berat. Mungkin terlalu berat untuk anak seusia mereka. Tapi itu nyata. Dan untuk pertama kalinya, mereka berdua merasa tidak sendirian dalam kenyataan itu.
Dari hari itu, mereka tidak lagi sekadar teman sekelas.
Mereka menjadi sekutu.
Dua jiwa yang terluka, dua pejuang yang lelah, dua anak desa yang bertekad untuk tidak tinggal diam di bawah bayang bayang kemiskinan dan kebodohan.
Dan ketika mereka berjalan keluar dari kantin bersama, berdampingan, tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh, sesuatu berubah di antara mereka.
Sesuatu yang tidak bisa mereka beri nama.
Tapi sesuatu yang akan terus tumbuh.
Dua Dusun, Satu Impian
Hari hari berlalu. Perpustakaan SMPN I Pegandon.
Perpustakaan SMPN I Pegandon bukanlah perpustakaan yang mewah.
Ruangan itu dulunya adalah ruang kelas yang tidak terpakai, dengan ukuran sekitar lima kali tujuh meter. Dua jendela besi berjeruji, satu di sisi utara dan satu di sisi selatan, menjadi satu satunya sumber cahaya alami. Di dalamnya, ada tiga rak kayu buatan tangan. Rak rak yang tidak presisi ukurannya, dengan beberapa papan yang sudah melengkung karena terlalu banyak menahan beban.
Buku bukunya juga tidak banyak. Mungkin tiga atau empat ratus eksemplar. Kebanyakan adalah buku pelajaran dan ensiklopedia bekas yang sumbangannya dari pemerintah. Beberapa novel tipis. Beberapa buku kumpulan puisi.
Tapi bagi Ariyanti dan Akang, perpustakaan ini adalah surga.
Setiap jam istirahat, mereka akan berjalan ke sana bersama. Duduk di meja panjang yang sama, di kursi yang sama, di sisi yang sama. Dan mereka akan membaca.
Ariyanti suka puisi. Ia bisa menghabiskan waktu berjam jam hanya untuk membaca satu puisi berulang ulang, mencoba memahami setiap kata, setiap baris, setiap makna tersembunyi. Puisi puisi Chairil Anwar adalah favoritnya. Kata katanya yang keras, yang tidak minta maaf, yang teriak meskipun hanya bisikan.
Akang suka sains. Buku buku tentang pertanian, tentang biologi, tentang fisika. Ia membaca semuanya dengan rasa ingin tahu yang tidak pernah puas. Kadang ia membuat catatan di buku tulisnya, catatan yang rapi, dengan diagram dan panah panah yang menghubungkan satu konsep dengan konsep lainnya.
Terkadang mereka bertukar catatan.
Terkadang mereka berbagi bekal, jika Ariyanti membawa lebih, atau jika Akang kebetulan punya uang lebih untuk membeli jajanan di kantin.
Terkadang mereka hanya diam membaca, menikmati keberadaan satu sama lain tanpa perlu basa basi.
Dan prestasi mereka melesat.
Ariyanti menjadi juara umum di kelasnya. Tidak ada yang mengejutkan. Ia memang pintar. Tapi yang mengejutkan adalah bahwa ia tidak hanya unggul di mata pelajaran yang ia sukai, tapi juga di mata pelajaran yang ia benci, seperti matematika yang membuat kepalanya pusing, tapi tetap ia taklukkan dengan kerja keras dan tekad.
Akang tidak kalah.
Ia menjadi langganan juara lomba sains tingkat kecamatan. Setiap tahun, ia diutus mewakili sekolah, dan setiap tahun ia pulang dengan piala. Medali. Sertifikat. Kadang uang pembinaan yang tidak seberapa, tapi cukup untuk membeli beberapa buku baru.
Guru guru mulai melirik mereka.
"Anak anak ini istimewa," kata Bu Sumi, guru Bahasa Indonesia yang nantinya akan menjadi seperti ibu kedua bagi mereka, dalam rapat evaluasi guru. "Mereka punya bakat, dan mereka punya tekad. Sayangnya..."
Bu Sumi tidak melanjutkan.
Tapi semua guru di ruangan itu tahu apa yang tidak diucapkan.
Sayangnya mereka miskin.
Dan di negeri ini, pada tahun 1997, pada tahun 1998, dan mungkin selamanya, kemiskinan adalah tembok tertinggi untuk meraih mimpi.
Tembok yang tidak bisa dipanjat dengan nilai bagus.
Tembok yang tidak bisa dihancurkan dengan tekad.
Tembok yang hanya bisa dihadang dengan keberuntungan, atau dengan orang orang baik yang bersedia membantu.
Tapi Ariyanti dan Akang tidak peduli dengan tembok itu.
Mereka tidak punya waktu untuk meratapi ketidakadilan. Mereka hanya terus berjalan. Bersama.
Suatu sore di Jalan Randu Gembyang.
Pohon randu bergoyang lembut ditiup angin. Daun daunnya yang lebat membuat suasana di bawahnya teduh meskipun matahari masih cukup tinggi. Di kejauhan, burung burung terbang dalam formasi acak, pulang ke sarang masing masing.
Akang dan Ariyanti berjalan berdampingan, seperti biasa.
"Ari, kita lulus SMP tahun depan. Kamu mau ke SMA mana?" tanya Akang.
"SMAN I Pegandon. Itu satu satunya SMA negeri di kecamatan ini."
"Aku juga."
"Tapi kan jaraknya jauh dari Cegunan."
"Aku udah biasa jalan kaki. Dulu lebih jauh lagi."
Ariyanti tersenyum.
Ia menatap langit jingga di depan mereka. Langit yang mulai berubah warna, dari biru pucat menjadi oranye keemasan, lalu perlahan menjadi merah muda di ufuk barat.
"Kang, kamu tahu? Dulu aku kira kita tak akan pernah bisa dekat."
"Kenapa?" suara Akang sedikit bingung, seolah tidak mengerti mengapa hal itu perlu dikira kira.
"Karena kita dari dusun yang berbeda. Orang tuaku bilang jangan berteman dengan orang Cegunan. 'Wong Cegunan kuwi kasar. Ora iso ngaji. Ora iso sekolah.'"
Akang tertawa kecil.
Bukan tawa mengejek. Tapi tawa getir yang lahir dari ironi.
"Ibuku juga bilang jangan terlalu dekat dengan orang Kersan. 'Wong Kersan kuwi sombong. Pamer melulu. Senenge ngremehke wong miskin.'"
Mereka berdua terdiam sejenak, mencerna absurditas dari apa yang baru saja mereka katakan.
"Aneh," kata Ariyanti akhirnya. "Kita diajari membenci, tapi ternyata kita sama."
"Sama sama miskin."
"Sama sama ingin sekolah tinggi."
"Sama sama berjuang."
Kata kata itu tidak perlu diucapkan lebih lanjut. Mereka sudah saling mengerti.
Mereka berhenti di pertigaan, tempat yang sama, di bawah pohon randu yang sama, di senja yang sama. Seperti biasa, waktu berpisah.
"Ari, sampai besok."
"Ya. Hati hati di jalan."
Akang melangkah pergi ke arah Dusun Cegunan, ke barat, ke arah matahari yang mulai tenggelam.
Ariyanti berdiri diam, menatap punggungnya.
Laki laki itu sekarang lebih tinggi dari tiga tahun lalu. Lebih tegap, meskipun masih kurus. Bahunya mulai melebar, tanda tanda masa puber yang bekerja sebagaimana mestinya. Dan cara ia berjalan lebih percaya diri.
Dia berubah, pikir Ariyanti. Dan mungkin aku juga.
Ia tidak tahu kapan tepatnya ia mulai memperhatikan Akang bukan hanya sebagai teman sekelas. Mungkin saat paYan g bocor itu. Mungkin saat mereka berbagi nasi di kantin. Mungkin saat ia mendengar Akang berkata, "Aku ingin mengubah desaku."
Yang ia tahu, sekarang, di pertigaan ini, melihat punggung Akang yang semakin menjauh, ada sesuatu di dadanya yang tidak bisa ia jelaskan.
Bukan sakit. Bukan bahagia. Tapi sesuatu di antaranya.
Sesuatu yang membuat ia ingin terus berjalan di samping laki laki itu.
Janji yang Terlupakan
Tepat sehari sebelum kelulusan SMPN I Pegandon. Halaman belakang sekolah.
Halaman belakang SMPN I Pegandon adalah area yang jarang dikunjungi siswa.
Di sana hanya ada rumput liar yang tumbuh setinggi mata kaki, beberapa batu besar yang mungkin dulunya fondasi bangunan tua, dan lapangan sepak bola yang mulai gelap karena matahari sudah hampir tenggelam. Rumput lapangan itu tidak pernah hijau, selalu kecoklatan, tipis, dengan tanah liat yang keras di bawahnya.
Tapi tempat ini memiliki satu keistimewaan. Dari sini, seseorang bisa melihat Jalan Randu Gembyang yang terbentang di kejauhan.
Dan sore itu, Ariyanti dan Akang duduk di atas salah satu batu besar itu, berdua saja.
"Besok kita resmi lulus, Ari," kata Akang.
"Ya. Rasanya seperti mimpi. Tiga tahun terasa cepat."
Terlalu cepat, pikirnya dalam hati. Aku belum siap berpisah.
Tapi ia tidak mengucapkannya.
"Apa rencanamu setelah lulus? Selain masuk SMAN I Pegandon."
Ariyanti berpikir. Bukan tentang rencana, ia sudah punya rencana sejak SD. Tapi tentang bagaimana mengatakannya dengan kata kata yang tidak terdengar muluk muluk.
"Aku ingin buat ibuku bangga. Aku ingin jadi guru. Guru yang baik. Yang nggak pilih kasih."
Kata kata sederhana. Tapi di baliknya ada beban yang tidak sederhana. Tanggung jawab seorang anak perempuan tunggal yang harus mengangkat derajat keluarganya.
"Aku yakin kamu bisa," kata Akang.
Dan anehnya, Ariyanti percaya.
"Kamu, Kang?"
Akang mengambil napas panjang.
Ia menatap ke arah Jalan Randu Gembyang, jalan yang menjadi saksi bisu perjalanan mereka pulang pergi sekolah selama tiga tahun. Dari kejauhan, pohon pohon randu tampak seperti barisan prajurit yang berjaga di sepanjang jalan.
"Aku ingin mengubah desaku. Aku ingin buktikan kalau anak Cegunan juga bisa jadi insinyur. Bisa jadi orang sukses."
Mata Akang berbinar. Binar yang tidak pernah pudar meskipun tubuhnya terus digerogoti kemiskinan dan kelaparan.
Mereka terdiam.
Angin malam berembus pelan. Bukan angin yang dingin menusuk. Tapi angin yang hangat, yang membawa aroma tanah dan daun daun kering.
"Kang," kata Ariyanti tiba tiba.
"Ya."
"Janji ya. Lima belas tahun lagi, kita bertemu di sini lagi. Kita lihat sejauh mana mimpi kita."
Akang menatap Ariyanti. Matanya yang biasanya tajam, waspada, kini lembut.
"Lima belas tahun?"
"Iya. Cukup lama untuk menjadi siapa pun yang kita inginkan."
Di mata Akang, ada keraguan. Bukan tentang janjinya. Tapi tentang dunia di luar sana. Dunia yang tidak selalu berpihak pada orang miskin. Dunia yang senang menghancurkan mimpi.
Tapi di balik keraguan itu, ada juga harapan.
"Janji."
Tanpa sadar, jari kelingking mereka saling bertautan.
Janji anak desa yang polos.
Janji yang mungkin, atau mungkin tidak, akan mereka ingat di masa depan.
Janji yang akan menjadi salah satu dari sedikit hal yang membuat mereka bertahan di saat saat tergelap.
Itu adalah momen terakhir mereka sebagai anak SMP.
Setelah itu, hidup berubah. Badai datang. Rahmadi muncul. Fitnah, kebakaran, kecelakaan, koma, penculikan. Semua yang tidak mereka bayangkan. Semua yang tidak mereka minta.
Dan mereka harus berjuang lebih keras dari sebelumnya.
Tapi itu cerita lain.
Yang jelas, di antara Dusun Kersan dan Dusun Cegunan, di Jalan Randu Gembyang yang mereka lalui setiap hari, di bawah langit yang mulai gelap, di sore terakhir mereka sebagai anak SMP, cinta mulai tumbuh.
Perlahan.
Diam diam.
Tapi pasti.
Seperti akar pohon randu yang menjalar ke tanah.
Tak terlihat.
Tapi kuat.
Takdir Tak Pernah Berpaling
Tiga tahun kemudian. SMAN I Pegandon, kelas 2 IPA 1.
Sekarang, tiga tahun setelah janji di halaman belakang SMP, Ariyanti berdiri di Jalan Randu Gembyang yang sama.
Di sampingnya, Akang yang dulu kurus sekarang sudah menjadi pemuda yang lebih berisi. Tidak gemuk. Ia tidak mungkin gemuk dengan kehidupan yang ia jalani. Tapi lebih tegap. Bahunya lebih bidang. Rahangnya lebih tegas.
Dan matanya masih sama. Masih tajam. Masih menyala.
Mereka tak lagi anak SMP.
Mereka siswa kelas 2 SMAN I Pegandon.
Dan kisah mereka, yang dimulai dari pertemuan tak sengaja di papan pengumuman, yang terusik oleh paYan g bocor di hujan deras, yang diperkuat oleh berbagi nasi di kantin sepi, baru saja memasuki babak yang paling gelap.
"Ari," kata Akang, memecah lamunan mereka.
"Ya."
"Kamu ingat janji kita waktu SMP?"
Janji apa, hampir Ariyanti bertanya. Tapi ia ingat. Janji di halaman belakang sekolah. Janji tentang lima belas tahun.
"Lima belas tahun belum lewat, Kang. Masih dua belas tahun lagi."
Akang tersenyum. Lesung pipit satu di pipi kirinya, yang selalu muncul setiap kali ia tersenyum tulus, terlihat jelas.
"Kita sudah bertahan sejauh ini. Aku yakin kita bisa bertahan lebih lama."
Tapi ada sesuatu di balik senyumnya. Sesuatu yang tidak bisa ia sembunyikan.
"Kenapa bicara seperti itu?" tanya Ariyanti curiga. "Seolah olah kita akan berpisah?"
Akang tak menjawab.
Dia hanya menatap ke arah Jalan Randu Gembyang, jalan yang sama yang dulu mereka lalui pulang pergi, jalan yang menjadi saksi bisu perjalanan mereka selama tiga tahun SMP.
"Kang, ada apa?"
"Tidak ada. Aku hanya merasa... badai akan datang. Badai besar. Dan aku takut aku tak akan cukup kuat untuk melindungimu."
Ariyanti meraih tangan Akang.
Tangannya dingin. Dingin seperti dulu, saat hujan deras di sore itu. Tapi kali ini, tidak dingin karena basah. Dingin karena ketakutan.
"Kita hadapi bersama, Kang. Seperti dulu. Seperti saat hujan, saat paYan g bocor itu. Kita basah sama sama. Tapi kita sampai ke tujuan."
Akang menatap Ariyanti dalam dalam.
Di mata gadis itu, ia melihat semuanya.
Kekuatan.
Keteguhan.
Cinta.
"Ari. Terima kasih," bisiknya.
"Untuk apa?"
"Untuk menjadi satu satunya orang yang percaya padaku."
Ariyanti tidak menjawab.
Ia hanya menggenggam tangan Akang lebih erat.
Di kejauhan, langit barat mulai memerah.
Senja di Tegorejo kembali datang.
Dan di bawah pohon randu tertua, pohon yang telah menyaksikan pertemuan pertama mereka, pertengkaran kecil mereka, pengakuan diam diam mereka, dua hati yang telah melalui begitu banyak badai sejak SMPN I Pegandon kini berdetak semakin keras.
Karena mereka tahu, yang terburuk belum datang.
Tapi mereka juga tahu, selama bersama, tidak ada yang tidak mungkin.
BAB 3
RAHASIA DI BALIK POHON RANDU
Akang menyimpan rahasia keluarga yang tak pernah diceritakan pada siapa pun. Tapi Ariyanti, tanpa sengaja, menemukan petunjuk pertamanya.
Tegorejo, Maret 1998. Dua minggu setelah pertemuan pertama di SMAN I Pegandon.
Langit masih gelap ketika Akang Supriyadi membuka matanya. Dari balik dinding anyaman bambu kamarnya yang sempit, ia bisa mendengar suara ibunya yang sudah bergerak di dapur. Suara ulekan yang menghaluskan bumbu. Suara minyak yang dipanaskan di wajan. Suara daun pisang yang diremas-remas untuk membungkus dagangan. Bau tempe dan tahu yang mulai digoreng menyebar hingga ke kamarnya, bercampur dengan bau tanah lembap dari luar.
Tapi pagi ini berbeda. Akang tidak langsung bangun seperti biasanya. Ia hanya berbaring di atas kasus tipis yang kapuknya sudah menggumpal di sana sini, menatap langit-langit yang bolong di tiga tempat. Melalui lubang-lubang itu, ia bisa melihat langit masih gelap pekat, belum ada tanda-tanda fajar.
Tangannya meraba di bawah bantal, mencari sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan setiap pagi sejak ia bisa mengingat. Benda kecil, dingin, dengan bentuk yang sudah hafal di telapak tangannya.
Sebuah liontin.
Liontin perak berbentuk daun randu. Bentuknya tidak sempurna, tidak rapi. Ukiran di permukaannya sudah mulai pudar karena usia, tergesek oleh keringat dan gesekan dengan benda lain. Tapi jika diperhatikan dengan teliti di bawah cahaya, masih terlihat garis-garis halus yang membentuk tulang daun. Di dalam liontin yang bisa dibuka seperti kotak kecil itu, tersimpan foto usang seorang laki-laki berjas militer. Foto hitam putih, sudah menguning di tepinya, dengan seorang laki-laki yang tersenyum tipis. Bukan senyum lebar penuh kemenangan. Senyum tipis yang hanya terlihat di sudut bibir, senyum yang seolah-olah menyembunyikan sesuatu.
Wajah itu samar-samar mirip dengan Akang sendiri. Bentuk rahang yang sama. Garis alis yang sama. Bahkan cara tersenyum yang sama—tidak pernah lebar, selalu setengah-setengah, seperti takut menunjukkan kebahagiaan secara utuh.
Ayah, bisik Akang dalam hati, seperti yang ia lakukan setiap pagi. Di mana kau sekarang?
Pertanyaan yang sama. Selama bertahun-tahun. Dan tidak pernah ada jawaban.
Ia belum pernah menceritakan liontin ini pada siapa pun. Bukan pada ibunya. Bukan pada teman-temannya. Bukan pada siapa pun. Karena jika ia bercerita, ia harus menjelaskan tentang ayahnya. Dan untuk menjelaskan tentang ayahnya, ia harus mengakui bahwa ia tidak tahu apa-apa. Tidak tahu apakah ayahnya masih hidup. Tidak tahu apakah ayahnya sudah mati. Tidak tahu apakah ayahnya adalah pahlawan atau pengkhianat.
Dan ketidaktahuan itu, anehnya, lebih menyakitkan daripada kepastian apa pun.
Sebuah Nama yang Tak Pernah Disebut
Rumah Akang, Dusun Cegunan, pukul 04.30.
"Akong! Bangun! Nanti kesiangan!" suara ibunya dari dapur memecah keheningan. Suaranya tidak keras, tidak berteriak seperti ibu-ibu lain di desa yang suaranya bisa terdengar sampai tiga rumah. Tapi ada nada mendesak di dalamnya, nada yang lahir dari kebiasaan mengatur segalanya sendiri karena tidak ada suami yang membantu.
Akang segera menyembunyikan liontin itu di bawah bantalnya. Bukan karena takut—ibunya tidak pernah melarangnya menyimpan benda itu. Tapi ada rasa bersalah yang ganjil setiap kali ia memegang liontin itu di depan ibunya. Seperti ia sedang mengungkit luka lama yang sudah coba ibunya tutup dengan kerja keras dan kesibukan.
Ia bangkit dari tempat tidur. Kasur tipis itu mengeluarkan bunyi berderit, suara yang sudah hafal di telinganya sejak kecil. Kakinya mencari sandal jepit di lantai tanah yang dingin. Dengan langkah mengantuk, ia meraih ember plastik biru yang sudah penyok di satu sisi, lalu keluar untuk mengambil air dari sumur di belakang rumah.
Sumur itu dangkal. Hanya sekitar tiga meter, tidak seperti sumur-sumur di desa lain yang bisa mencapai sepuluh meter. Di musim kemarau, airnya sering keruh, kadang hanya setinggi satu meter dari dasar, bahkan pernah kering total selama dua minggu. Ibu harus meminta izin ke tetangga untuk mengambil air. Saat itu, Akang masih SD, dan ia ingat bagaimana ibunya berjalan bolak-balik dengan dua ember di tangan, wajahnya lelah tapi tidak pernah mengeluh.
Tapi pagi ini, airnya cukup jernih. Mungkin karena hujan semalam. Mungkin juga karena keberuntungan. Akang membasuh wajahnya dengan air dingin yang menyegarkan, mengguyur sekujur tubuh, membiarkan air itu membasuh sisa-sisa kantuk yang masih melekat.
Fokus, katanya dalam hati, seperti mantra yang ia ulang setiap pagi. Kamu harus fokus pada sekolah. Pada Ariyanti. Pada masa depan. Bukan pada masa lalu.
Tapi masa lalu tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya bersembunyi, menunggu waktu yang tepat untuk muncul kembali. Seperti bayangan yang tidak bisa dihilangkan meskipun kita berlari sekencang apa pun.
Sepanjang pagi itu, Akang berusaha bersikap normal. Ia membantu ibunya menggoreng tempe, pisang, dan tahu isi. Tangan kanannya membolak-balik gorengan dengan sumpit panjang, tangan kirinya sesekali menambah kayu bakar di bawah tungku. Asap mengepul, membuat matanya perih. Tapi ia sudah terbiasa.
Ia juga mengantarkan dagangan ke warung Bu Tri di pinggir Jalan Raya Pegandon. Perjalanan itu memakan waktu sekitar dua puluh menit, menyusuri jalan setapak yang berlubang, melewati rumah-rumah warga yang masih gelap karena belum pada bangun. Warung Bu Tri adalah satu-satunya warung yang mau menerima titip dagangan ibunya, setelah warung lain menolak karena "gorengan kampung tidak laku". Bu Tri baik. Ia tidak pernah menawar harga, dan selalu membayar tepat waktu.
Akang berjalan kaki ke sekolah bersama bayang-bayang pertanyaan yang tak pernah terjawab. Bayang-bayang tentang seorang laki-laki yang meninggalkannya ketika ia masih terlalu kecil untuk mengerti apa artinya ditinggalkan. Bayang-bayang tentang seorang ayah yang wajahnya hanya ia kenal dari foto usang.
Namun di balik ketenangannya, di balik senyum ramah yang ia berikan pada setiap orang yang menyapanya, di balik sikap rendah hati yang membuat semua guru menyukainya, ada luka yang tak kunjung sembuh. Luka yang ia sembunyikan di balik semua itu, luka yang hanya muncul ketika malam tiba dan ia sendirian di kamar.
Luka itu bernama Sersan Mayor Purn Suprapto.
Nama ayahnya.
Ariyanti yang Mulai Curiga
SMAN I Pegandon, jam istirahat pertama.
Ariyanti duduk di bangku taman dekat lapangan upacara. Di pangkuannya, sebuah buku puisi karya Chairil Anwar terbuka di halaman tengah. Puisi "Aku" adalah yang sedang ia baca. "Kalau sampai waktuku, aku mau tak seorang kan merayu." Kata-kata itu biasa ia baca berkali-kali, tapi pagi ini matanya tidak benar-benar membaca. Pikirannya melayang ke tempat lain.
Matanya mengamati Akang yang duduk sendirian di pojok lapangan, di bawah pohon asam yang sudah tua. Akang sedang menggambar sesuatu di buku catatannya dengan pensil. Tidak, bukan menggambar. Matanya tidak fokus pada gambar. Ia hanya memegang pensil dan menggoreskan sesuatu tanpa tujuan, seperti orang yang sedang berpikir keras.
Dia berbeda hari ini, pikir Ariyanti. Ada yang ganjil.
Sejak mereka semakin dekat, sejak paYan g bocor itu, sejak berbagi nasi di kantin, Ariyanti mulai belajar membaca bahasa tubuh Akang. Bukan karena ia sengaja mempelajarinya. Tapi karena ia mulai memperhatikan. Dan ketika seseorang mulai memperhatikan, hal-hal kecil yang dulu tidak terlihat menjadi sangat jelas.
Saat bahu Akang tegang seperti itu, saat bahunya naik sedikit dan tidak rileks seperti biasanya, artinya ada beban di pikirannya. Saat matanya sayu seperti itu, dengan lingkaran hitam di bawahnya yang lebih gelap dari biasanya, artinya ia tidak tidur nyenyak semalam. Saat ia menarik napas panjang lalu menghelanya perlahan, seperti yang ia lakukan sekarang, dengan dada yang naik lalu turun dengan sangat lambat, artinya ia sedang mengingat sesuatu yang menyakitkan.
Ariyanti menutup bukunya. Buku puisi itu ia selipkan di bawah lengan. Ia berdiri, merapikan rok seragamnya yang sedikit naik, lalu berjalan mendekati Akang dengan langkah yang tidak terlalu cepat, tidak terlalu lambat.
"Kang," sapanya pelan. Cukup pelan agar tidak terdengar oleh orang lain, tapi cukup keras untuk didengar Akang.
Akang terkejut. Bukan terkejut yang pura-pura, tapi terkejut yang membuat pensil di tangannya hampir jatuh. Ia langsung menutup buku gambarnya. Terlalu cepat. Terlalu mencurigakan. Seolah-olah ada sesuatu di buku itu yang tidak boleh dilihat siapa pun.
"Ya, Ari? Ada apa?" Suaranya sedikit lebih tinggi dari biasanya.
"Kamu kenapa? Dari tadi melamun terus."
Akang tersenyum. Tapi Ariyanti sudah bisa membedakan senyum Akang yang asli dengan senyum Akang yang dibuat-buat. Senyum yang dibuat-buat hanya sampai di bibir. Tidak sampai ke mata. Dan senyum pagi ini adalah senyum yang dibuat-buat.
"Nggak apa-apa. Cuma... banyak pikiran."
"Pikiran tentang apa?"
Akang menghela napas. "Tentang pelajaran. Ulangan minggu depan. Aku belum siap."
Ariyanti menatapnya tajam. Tatapan yang tidak berkedip, yang membuat orang merasa sedang diinterogasi. "Bohong. Kamu selalu siap. Nilaimu bahkan lebih bagus dari niliku. Ulangan minggu depan? Kamu sudah hafal materinya sejak minggu lalu."
Akang membuang muka. Matanya mencari sesuatu yang bisa ia lihat agar tidak harus menatap Ariyanti. "Ari, tolong. Jangan dipaksa."
Ariyanti terdiam. Bukan karena ia tidak ingin tahu. Tapi karena ia tahu batas. Ia tahu bahwa memaksa seseorang yang belum siap bercerita hanya akan membuat orang itu semakin tertutup. Dan ia tidak ingin itu terjadi pada Akang.
"Baiklah," katanya akhirnya, setelah beberapa detik hening yang terasa seperti menit. "Tapi kalau kamu butuh tempat berbagi, aku selalu ada. Ingat itu."
Akang mengangguk. "Terima kasih, Ari."
Tapi di dalam hati Akang, ada suara yang berbisik, lirih tapi jelas. "Kau tidak bisa memberitahunya. Rahasia ini terlalu berat. Terlalu berbahaya. Untukmu. Untuknya. Untuk semua orang."
Penemuan Tak Sengaja di Jalan Randu Gembyang
Senja hari. Jalan Randu Gembyang.
Seperti biasa, Ariyanti dan Akang berjalan pulang bersama. Langit di barat mulai berubah warna, dari biru pucat menjadi kuning keemasan, lalu oranye, lalu merah muda di ujung cakrawala. Warna-warna itu bercampur seperti cat yang diaduk di atas palet, menciptakan gradasi yang tidak pernah berulang dua kali. Di Tegorejo, setiap senja berbeda. Itulah yang membuatnya istimewa.
Angin berembus lembut, tidak terlalu kencang, tidak terlalu lambat. Membawa aroma daun randu yang khas, aroma yang tidak pernah ia temukan di tempat lain. Daun randu memiliki bau yang sedikit manis, sedikit pahit, seperti campuran antara madu dan tanah basah. Aneh, pikir Ariyanti, bagaimana sebuah pohon bisa memiliki bau seperti itu.
Mereka berjalan beriringan seperti biasa. Kadang berbicara tentang pelajaran. Kadang bercanda tentang guru-guru yang aneh, tentang Pak Burhan yang pelit nilai, tentang Bu Dewi yang jalannya seperti bebek. Kadang hanya diam, menikmati langkah kaki yang seirama.
Tapi Ariyanti merasa ada jarak yang tidak biasa di antara mereka hari ini. Bukan jarak fisik. Mereka tetap berjalan berdampingan, bahu mereka kadang hampir bersentuhan. Tapi jarak di hati. Sesuatu yang mengambang di antara mereka, seperti kabut tipis yang tidak bisa diurai.
Saat mereka melewati pohon randu tertua di sepanjang jalan itu, pohon yang batangnya sebesar pelukan tiga orang dewasa, Akang tiba-tiba berhenti.
"Ari, tunggu di sini dulu. Aku mau... ke belakang pohon itu. Sebentar saja."
Ariyanti mengangkat alis. "Ke belakang pohon? Buang air kecil?"
Akang tersenyum canggung. Senyum yang janggal. "Bukan. Aku hanya... ingin mengambil sesuatu."
"Ambil sesuatu? Di balik pohon? Apa yang bisa disimpan di balik pohon selain batu dan akar?" tanya Ariyanti, setengah bercanda.
"Percayalah. Sebentar saja."
Ariyanti mengangkat bahu. "Terserah." Ia berdiri di pinggir jalan sambil memandangi langit senja, mencoba menikmati keindahan yang sedang berlalu.
Akang masuk ke balik rimbunan akar pohon randu yang besar. Akar-akar itu menjalar ke tanah seperti ular raksasa yang tertidur, ada yang setebal lengan orang dewasa, ada yang hanya sebesar jari. Di antara akar-akar itu, di tempat yang tidak terlihat dari jalan, ada sebuah lubang kecil yang ditutupi batu pipih. Batu itu tidak mencolok. Siapa pun yang lewat tidak akan menyadari bahwa itu bukan batu biasa.
Dengan hati-hati, Akang menggeser batu itu. Tangannya gemetar. Bukan karena takut ketahuan, tapi karena setiap kali ia melakukan ini, ia membuka luka lama yang tidak pernah benar-benar sembuh.
Di dalam lubang itu, tersimpan sebuah kotak kayu kecil. Kayu jati, dulu mungkin berwarna coklat mengkilap, tapi sekarang sudah usam. Di beberapa sudut, ada bekas dimakan rayap. Tutupnya tidak lagi rapat, melorot sedikit di sisi kiri.
Ia membuka kotak itu.
Di dalamnya, seperti yang ia tahu, ada foto-foto lama yang sudah menguning. Ada secarik surat dengan tulisan tangan laki-laki yang rapi tapi tergesa-gesa, seolah-olah penulisnya sedang terburu-buru atau sedang dalam tekanan. Dan ada liontin perak kembar, sama persis dengan liontin yang ia simpan di bawah bantalnya. Tapi liontin ini lebih besar, sedikit lebih berat, dengan ukiran peta dan tanggal di bagian belakang. Tanggal 3 Maret 1990. Tanggal yang tidak ia mengerti. Tanggal yang mungkin hanya berarti bagi ayahnya.
Akang menghela napas. Napas yang dalam, yang keluar dari paru-paru yang terasa penuh oleh beban. Ia mengambil surat itu dan membaca kembali, untuk yang kesekian kalinya. Ia sudah hafal isinya. Setiap kata. Setiap tanda baca. Bahkan setiap noda air yang mengering di kertas.
"Kang, anakku... Maafkan Bapak. Bapak tidak bisa pulang. Bapak bersalah pada banyak orang. Tapi Bapak tidak bersalah pada negara. Jangan pernah ikuti jejak Bapak. Jadilah lebih baik. Jadilah orang yang Bapak tidak pernah bisa menjadi."
Tanda tangan: Suprapto.
Air mata Akang menetes. Ia cepat-cepat menyekanya dengan lengan bajunya sebelum ada yang jatuh ke kertas surat itu. Surat itu adalah satu-satunya yang ia miliki. Jika rusak, tidak akan ada gantinya.
"Bapak, di mana kau sekarang? Apakah kau masih hidup?" bisiknya lirih, seperti bisikan seorang anak kecil yang sedang memanggil ayahnya di tengah keramaian.
Dari kejauhan, Ariyanti yang tidak sabar mulai bergerak menghampiri. Bukan karena ingin mengintip. Tapi karena Akang sudah terlalu lama. Lima menit. Sepuluh menit. Tidak biasanya ia menghilang begitu lama.
"Akang?" panggilnya pelan, sambil melangkah hati-hati di antara akar-akar pohon.
Akang kaget setengah mati. Bukan kaget biasa. Tapi kaget yang membuat seluruh tubuhnya tersentak. Ia berusaha menutup kotak kayu itu, tapi tangannya gemetar hebat. Kotak itu terjatuh dari genggamannya. Isinya berhamburan ke tanah. Foto-foto berserakan. Surat itu terbang sebentar sebelum jatuh ke daun-daun kering. Liontin perak menggelinding, berhenti di dekat kaki Ariyanti.
Ariyanti melihat semuanya.
Foto-foto seorang laki-laki berseragam militer. Laki-laki dengan senyum tipis yang sama seperti senyum Akang. Laki-laki dengan bentuk rahang yang sama seperti Akang. Laki-laki dengan alis yang sama seperti Akang.
Surat-surat usang dengan tulisan tangan yang sudah mulai pudar, beberapa kata bahkan tidak terbaca lagi.
Dan liontin perak berbentuk daun randu. Dua buah. Satu di tangan Akang yang masih gemetar. Satu lagi tergeletak di tanah di samping kakinya.
Ariyanti membeku.
Dunia berhenti sejenak. Suara jangkrik yang sedari tadi nyaring tiba-tiba sayup. Angin yang berembus pelan tiba-tiba berhenti. Waktu terasa berhenti.
"Kang... apa ini?" suaranya hampir tidak keluar. Hanya bisikan yang nyaris tenggelam di tengah senja yang mulai gelap.
Akang tidak menjawab. Ia hanya terduduk di atas akar pohon, wajahnya pucat, tangannya masih gemetar, air matanya masih mengalir.
Dan di situlah, di antara akar-akar pohon randu tertua, di senja yang mulai gelap, rahasia yang selama ini ia simpan akhirnya terbongkar. Bukan karena ia sengaja membukanya. Tapi karena takdir berkata lain.
Diam yang Berat
Di bawah pohon randu, suasana hening.
Mereka berdua duduk bersandar pada akar pohon randu yang besar. Jarak di antara mereka tidak lebih dari satu meter. Kotak kayu itu sudah tertutup rapi, diletakkan di antara mereka seperti pemisah yang tidak terucapkan. Langit di atas mereka mulai gelap. Burung-burung pulang ke sarang, sesekali terdengar kicauan yang sayup. Suara jangkrik mulai menggantikan suara siang dengan ritme yang teratur.
Akang menunduk dalam-dalam. Tangannya, yang masih gemetar, menggenggam erat liontin perak itu. Genggamannya terlalu erat, sampai buku-buku jarinya memutih. Seolah-olah jika ia melepaskannya, ia akan kehilangan satu-satunya hubungan yang ia miliki dengan ayahnya.
"Ari," katanya akhirnya, suaranya parau, seperti orang yang baru saja menangis lama. "Apa yang kamu lihat?"
"Foto ayahmu. Surat-surat. Liontin."
"Ya."
"Dia tentara?"
Akang mengangguk pelan. Gerakan yang hampir tidak terlihat.
"Dia... sudah meninggal?"
Akang menggeleng. "Aku tidak tahu. Tidak ada yang tahu. Bahkan Ibu tidak tahu."
Ariyanti terdiam. Kata-kata itu, "tidak tahu", terasa lebih berat daripada "ya" atau "tidak". Ada sesuatu yang menyedihkan di dalamnya. Sesuatu tentang harapan yang tidak pernah terpenuhi, tentang kepastian yang tidak pernah datang.
"Akang, tolong ceritakan. Aku tidak akan menghakimi. Aku janji."
Akang menarik napas panjang. Udara malam terasa dingin di paru-parunya. Dingin yang menusuk, yang membuat dadanya terasa sesak.
"Ayahku, Suprapto. Dia tentara dengan pangkat Sersan Mayor. Dia ditugaskan di Aceh pada tahun 1990. Aku masih kelas 2 SD waktu itu."
"Lalu?"
"Awalnya dia masih sering kirim surat. Setiap bulan, kadang setiap dua minggu. Surat-surat itu selalu kami tunggu. Ibu akan membacakan suratnya untukku, karena saat itu aku belum lancar membaca. Surat-suratnya selalu berisi kabar baik. Tentang teman-temannya di sana. Tentang pemandangan gunung yang indah. Tentang bagaimana ia rindu kampung halaman."
Akang berhenti sebentar. Tenggorokannya terasa kering.
"Kadang juga kirim uang. Tidak banyak, tapi cukup untuk membeli buku dan keperluan sekolah. Tapi sejak tahun 1992... semua berhenti. Surat tidak pernah datang lagi. Uang juga tidak. Ibu sudah menunggu berbulan-bulan. Setiap hari, ketika pos lewat, Ibu akan keluar rumah, menanyakan apakah ada surat untuk kami. Jawabannya selalu sama. Tidak ada."
"Bukannya tentara punya komunikasi resmi dengan keluarga?" tanya Ariyanti.
"Seharusnya. Tapi Ibu sudah lapor ke komandan ayah. Mereka datang ke rumah, dua orang laki-laki berseragam, dengan wajah yang tidak enak. Mereka bilang ayahku... hilang dalam tugas. Tidak ditemukan mayatnya. Tidak ada kabar. Hanya hilang."
Kata "hilang" terasa lebih berat dari "mati". Ariyanti merasakannya. Mati adalah kepastian. Hilang adalah ketidakpastian yang berkepanjangan. Hilang berarti tidak ada kuburan untuk diziarahi. Hilang berarti tidak ada kepastian kapan harus berhenti berharap. Hilang adalah ruang kosong yang tidak bisa diisi oleh apa pun.
"Akang... aku ikut sedih."
"Ari, ini bukan hanya tentang sedih. Ini tentang... rasa bersalah."
"Bersalah? Kenapa?"
"Aku tidak tahu apakah ayahku benar-benar tentara yang baik atau... atau dia melakukan sesuatu yang buruk. Surat-suratnya itu penuh dengan permintaan maaf. 'Maafkan Bapak. Bapak tidak bisa pulang. Bapak bersalah.' Tapi dia tidak pernah menjelaskan untuk apa minta maaf."
Ariyanti meraih tangan Akang. Tangannya dingin, seperti es. Dan gemetar, seperti daun yang tertiup angin.
"Kang, apapun yang terjadi di masa lalu ayahmu, itu bukan salahmu. Dan itu tidak menentukan siapa dirimu."
Akang menatap Ariyanti. Matanya basah. Ada harapan di sana, harapan yang rapuh seperti kaca.
"Kamu yakin?"
"Aku yakin. Aku mengenalmu, Akang Supriyadi. Bukan dari desas-desus. Bukan dari gosip tetangga. Tapi dari pengalamanku sendiri bersamamu. Kamu anak yang jujur, pekerja keras, baik hati. Kamu tidak pernah menyakiti siapa pun. Kamu selalu membantu teman-temanmu meskipun kamu sendiri kekurangan. Apapun dosa ayahmu, itu miliknya. Bukan milikmu."
Akang tidak bisa menahan air matanya lagi. Ia tidak ingin menangis. Ia sudah berusaha menahannya. Tapi tangis itu keluar dengan sendirinya, seperti air yang mencari celah di antara bebatuan. Ia menangis tersedu-sedu di bahu Ariyanti, menangis untuk semua tahun yang ia habiskan dengan harapan yang pupus, untuk semua malam yang ia lalui dengan pertanyaan yang tidak terjawab.
Ariyanti tidak berbicara. Ia hanya memeluknya erat-erat. Tangannya yang dingin merangkul bahu Akang yang sempit. Ia tidak mengatakan "jangan nangis" karena ia tahu bahwa menangis kadang adalah satu-satunya obat. Ia hanya membiarkan laki-laki di depannya melepaskan semua beban yang selama bertahun-tahun ia pendam sendirian.
Angin malam berembus. Daun-daun randu berguguran di sekitar mereka, jatuh ke tanah dengan suara yang hampir tidak terdengar.
Diam itu berat. Tapi di dalam diam itu, ada kelegaan. Akhirnya, seseorang tahu. Akhirnya, ia tidak sendirian membawa rahasia ini.
Janji untuk Mencari Kebenaran
Malam mulai sempurna. Jalan Randu Gembyang gelap gulita, tidak ada lampu penerangan di sepanjang jalan ini. Hanya cahaya bulan yang tipis, terhalang oleh awan, yang menerangi jalan setapak di antara pohon-pohon randu. Kunang-kunang terbang di sana sini, sesekali berkedip seperti bintang kecil yang jatuh ke bumi. Suara jangkrik dan katak sawah bergantian menyanyikan lagu malam yang sama setiap hari.
"Ari," kata Akang, setelah air matanya kering. Matanya merah. Wajahnya basah. Tapi ada ketenangan yang tidak ada sebelumnya.
"Ya."
"Aku tidak akan selamanya diam. Suatu hari, aku akan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada ayahku. Apakah dia mati, apakah dia masih hidup, apakah dia pengkhianat atau pahlawan. Aku harus tahu."
"Dan aku akan membantumu, Kang."
Akang menggeleng. "Tidak, Ari. Ini urusanku. Aku tidak mau membahayakanmu."
"Bahaya? Apa yang berbahaya dari mencari tahu kebenaran?"
"Aku tidak tahu. Tapi surat ayahku... ada sesuatu di balik kata-katanya. Sesuatu yang tidak ia tuliskan. Aku takut jika aku menggali terlalu dalam, aku akan menemukan sesuatu yang... tidak bisa aku terima."
Ariyanti menatapnya. Di matanya, ada tekad yang tidak bisa dibantah.
"Kang, kamu lupa siapa aku. Aku Ariyanti dari Kersan. Aku tidak takut pada bahaya. Aku sudah terbiasa dengan bahaya sejak kecil. Bahaya kelaparan. Bahaya tidak bisa sekolah. Bahaya dijauhi teman karena miskin. Aku sudah melewati semuanya. Aku hanya takut pada satu hal."
"Apa?"
"Kebohongan. Aku takut pada kebohongan. Dan selama ini, kamu sudah berbohong padaku, Kang. Kamu menyembunyikan semua ini."
Akang menunduk. "Maaf."
"Jangan minta maaf. Aku tidak marah. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa kamu tidak perlu menyembunyikan apa pun dariku."
Akang menatapnya lama. Di mata gadis itu, ia melihat api yang sama yang dulu membuatnya jatuh hati. Api keberanian yang tidak pernah padam. Api keteguhan yang tidak pernah goyah. Api cinta yang tidak pernah lelah.
"Baiklah," katanya akhirnya, setelah hening yang panjang. "Bersama."
Mereka berjabat tangan. Tapi jabatan tangan itu tidak bertahan lama. Perlahan, tanpa ada yang memulai, tanpa ada yang mengucapkan kata-kata romantis, jabatan tangan itu berubah menjadi genggaman. Jari-jari mereka saling mengunci, telapak tangan mereka bertemu, hangat di tengah malam yang dingin.
Bukan genggaman yang erat. Tidak perlu erat. Cukup. Cukup untuk menyampaikan bahwa mereka ada di sini, bersama.
Dan di bawah pohon randu tertua itu, di tengah gelapnya malam yang hanya diterangi kunang-kunang dan cahaya bulan yang samar, cinta mereka bertambah kuat. Bukan karena kata-kata manis. Bukan karena janji-janji besar. Tapi karena mereka berdua memilih untuk jujur. Dan kejujuran, dalam hubungan apa pun, adalah fondasi yang paling kokoh.
Rahasia yang Terbongkar di Rumah Ariyanti
Dusun Kersan, rumah Ariyanti, pukul 20.00.
Ariyanti pulang lebih lambat dari biasanya. Biasanya, ia tiba di rumah sebelum magrib. Masih ada waktu untuk membantu Ibu menyiapkan makan malam, membersihkan rumah, dan mengaji sebentar sebelum tidur. Tapi hari ini, ia baru sampai ketika lampu minyak tanah di rumahnya sudah mulai meredup.
Ibunya sudah cemas. Ibu sedang duduk di teras, tangannya berhenti mengelus kucing kampung yang sejak tadi tidur di pangkuannya. Matanya tajam menatap Ariyanti yang baru masuk ke halaman.
"Dari mana saja, Yan ? Hari sudah gelap. Ibu khawatir."
"Tadi hujan, Bu. Ari berteduh dulu."
Ibunya menatap Ariyanti curiga. Ibu mengangkat kepala, menengok ke langit yang cerah, penuh bintang, tidak ada tanda-tanda hujan.
"Hujan? Langit cerah."
Ariyanti tersenyum canggung. "Maksudku, mau hujan. Tapi ternyata tidak jadi."
Ibunya menghela napas. Napas panjang yang mengandung seribu makna. "Ariyanti, Ibu tidak buta. Ibu lihat kamu jalan pulang dengan laki-laki itu. Anak Cegunan, kan?"
Ariyanti terdiam. Tidak ada gunanya berbohong. Ibunya bukan orang bodoh yang bisa dibohongi dengan alasan-alasan klise.
"Ya, Bu. Namanya Akang. Teman sekelas."
"Jangan terlalu dekat dengannya, Yan . Anak Cegunan itu... keluarganya bermasalah."
Ariyanti menatap ibunya tajam. Matanya yang biasanya teduh, kini menyala. "Ada apa dengan keluarganya, Bu?"
Ibunya ragu sejenak. Ia tampak berperang dengan dirinya sendiri, antara ingin melindungi anaknya dan ingin tetap adil. Akhirnya, ia menepuk bangku di sampingnya, mempersilakan Ariyanti duduk.
"Ibu dengar dari tetangga. Bapaknya Akang itu tentara. Tapi... dia hilang. Hilang dalam tugas, katanya. Tapi kabar buruknya, dia diduga terlibat dalam sesuatu yang... tidak baik."
"Apa maksud Ibu?"
"Ibu tidak tahu persis. Tapi yang jelas, keluarga itu punya masa lalu yang gelap. Masa lalu yang tidak ingin Ibu kamu terlibat di dalamnya."
Ariyanti menggigit bibirnya. Darahnya mendidih. Bukan mendidih karena amarah yang meledak-ledak, tapi mendidih yang dingin, yang membuat tubuhnya bergetar.
"Bu, kita juga miskin. Kita juga tidak punya masa lalu yang bersih. Ayah dulu meninggal dengan hutang yang belum lunas. Kakek dulu sering berutang ke sana kemari, bahkan ada yang sampai tidak dibayar sampai beliau meninggal. Apakah itu berarti aku harus malu pada keluarga sendiri?"
"Ariyanti!"
"Maaf, Bu. Tapi aku tidak bisa membenci seseorang hanya karena gosip tetangga. Aku tidak bisa menjauhi seseorang hanya karena desas-desus yang belum tentu benar. Aku kenal Akang. Bukan dari cerita orang. Tapi dari pengalamanku sendiri dengannya. Dia baik. Dia pekerja keras. Dia jujur. Dan dia tidak pantas dihakimi hanya karena dosa ayahnya, yang bahkan belum tentu benar."
Ibunya terdiam. Tidak menyangka anaknya sekeras ini. Selama ini, Ariyanti selalu menurut. Tidak pernah membantah. Tidak pernah melawan. Tapi malam ini, ia melihat sisi lain dari anaknya.
"Ari, Ibu hanya ingin melindungimu."
"Aku tahu, Bu. Tapi biar aku yang memutuskan siapa yang pantas menjadi temanku. Biar aku yang memilih. Bukan tetangga. Bukan desas-desus. Bukan masa lalu yang tidak aku ketahui kebenarannya."
Ariyanti berdiri. Ia tidak menunggu jawaban ibunya. Ia langsung masuk ke kamarnya, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia membanting pintu. Pintu anyaman bambu itu tidak bisa membanting keras-keras, hanya berbunyi "kreek" sedikit lebih keras dari biasanya, tapi cukup untuk menyampaikan pesannya.
Di dalam kamar, ia merebahkan diri di kasurnya. Kapuk yang sudah menggumpal menusuk punggungnya, tapi ia tidak peduli. Air mata mengalir di pipinya. Bukan air mata sedih. Tapi air mata marah. Marah pada tetangga yang suka bergosip tentang hal yang tidak mereka ketahui. Marah pada dunia yang begitu cepat menghakimi seseorang tanpa mau mengenalnya terlebih dahulu. Marah pada dirinya sendiri, karena ia merasa tidak cukup kuat untuk melindungi Akang dari kebencian orang-orang.
Tapi aku akan belajar, janjinya dalam hati. Aku akan belajar menjadi lebih kuat. Untuk Akang. Untuk kita.
Ia memejamkan mata. Di balik kelopak matanya, ia melihat wajah Akang. Wajah yang selalu tersenyum meskipun sedang terluka. Wajah yang tidak pernah mengeluh meskipun beban hidup begitu berat.
Aku tidak akan meninggalkanmu, Kang, janjinya dalam hati. Aku tidak peduli dengan masa lalu ayahmu. Aku tidak peduli dengan gosip tetangga. Aku peduli padamu. Hanya kamu.
Kegelapan yang Mengintai dari Jauh
Di tempat lain, rumah mewah di Jalan Raya Pegandon.
Rahmadi berdiri di balkon lantai dua rumahnya. Dari ketinggian itu, ia bisa melihat seluruh desa Tegorejo. Rumah-rumah kecil dengan lampu temaram, sawah-sawah yang gelap, pohon-pohon randu yang bergoyang tertiup angin malam.
Di tangannya, sebuah foto. Foto yang baru saja ia dapatkan hari ini.
Foto Ariyanti.
Ia merebutnya dari teman sekelas yang diam-diam ia suruh memotret. Tanpa sepengetahuan gadis itu. Tanpa sepengetahuan siapa pun. Foto itu diambil dari kejauhan, dari balik jendela kelas. Ariyanti sedang membaca buku di perpustakaan, tidak tahu bahwa ia sedang diintai.
Cantik, pikir Rahmadi. Rambutnya hitam panjang, diikat ekor kuda. Wajahnya bersih tanpa make-up. Tidak seperti gadis-gadis di Semarang yang sudah belajar merias wajah sejak SMP. Tapi keras kepala. Seperti kuda liar yang perlu dijinakkan. Seperti burung yang tidak mau masuk ke dalam sangkar.
Ia tersenyum. Senyum yang tidak pernah sampai ke matanya. Senyum yang hanya berupa lengkungan bibir, tanpa cahaya di baliknya.
"Pak Rahmadi," suara dari balik pintu. Danu, asisten pribadinya. Suaranya rendah, tidak pernah terlalu keras. "Laporan dari sekolah. Akang dan Ariyanti semakin dekat. Mereka bahkan sering pulang bersama."
Rahmadi mengepalkan tangannya. Foto di tangannya kusut di satu sisi, tapi ia tidak peduli.
"Danu, aku ingin kau cari tahu semua tentang laki-laki itu. Keluarganya. Masa lalunya. Kelemahannya. Setiap orang punya rahasia kotor. Setiap orang punya sesuatu yang ingin disembunyikan. Aku yakin dia juga punya."
"Baik, Pak."
"Dan jangan setengah-setengah. Aku bayar kamu mahal untuk informasi, bukan untuk kerjaan setengah hati."
"Baik, Pak."
Rahmadi menatap langit malam yang gelap. Bintang-bintang terlihat samar, tertutup polusi cahaya dari rumah-rumah mewah di sekitarnya. Di Semarang, ia tidak pernah melihat bintang sebanyak ini. Di Semarang, langit selalu cerah, tapi bintang-bintang seolah malu-malu untuk muncul. Di Tegorejo, bintang-bintang berani menunjukkan diri. Dan itu mengganggunya. Sesuatu yang berani, menurut Rahmadi, harus ditundukkan.
"Akang Supriyadi," bisiknya. "Kau pilih gadis yang salah untuk dicintai. Dan kau pilih musuh yang salah untuk dilawan."
Ia meremas foto Ariyanti di tangannya. Wajah Ariyanti di foto itu menjadi kusut, terlipat di beberapa bagian. Lalu ia melemparkannya ke lantai.
"Malam ini, kita mulai bergerak."
Malam yang Panjang di Dusun Cegunan
Rumah Akang, pukul 21.30.
Akang tiba di rumah dengan langkah gontai, langkah orang yang tidak lagi punya energi untuk mengangkat kaki dengan sempurna. Sepatu karetnya kotor oleh tanah, ada lumpur yang menempel di sisi kanan. Ia tidak membersihkannya seperti biasanya.
Ibunya sudah menunggu di depan pintu. Wajahnya cemas. Bukan cemas biasa, tapi cemas yang membuat kerutan di dahinya semakin dalam. Ibu sudah berdiri di teras sejak magrib, menatap ke arah jalan setapak yang gelap, berharap melihat bayangan anaknya.
"Kang, dari mana saja? Ibu sudah mau lapor polisi!" suaranya tinggi, sedikit memecah, ada nada ketakutan yang tidak bisa disembunyikan.
"Maaf, Bu. Tadi aku... berteduh di jalan."
"Dari tadi tidak hujan! Langit cerah. Kamu bohong!"
Akang tidak menjawab. Ia tidak punya energi untuk berbohong lebih jauh, juga tidak punya energi untuk mengatakan kebenaran. Ia hanya diam, lalu langsung masuk ke kamarnya, menutup pintu anyaman bambu itu, dan bersandar di dinding.
Dinding itu tipis. Ia bisa mendengar ibunya masih berdiri di luar, mungkin masih di teras, mungkin sedang menangis. Tapi ia tidak bisa keluar. Tidak sekarang.
Ia mengeluarkan liontin perak dari sakunya.
Liontin itu dingin. Dingin seperti malam. Tapi dingin yang menyenangkan, dingin yang membuatnya sadar bahwa ia masih hidup, bahwa ia masih punya sesuatu yang berharga.
Ayah... di mana kau? Bisiknya tanpa suara, hanya gerakan bibir.
Ia teringat kata-kata Ariyanti di bawah pohon randu tadi sore. "Apapun dosa ayahmu, itu miliknya. Bukan milikmu."
Kata-kata itu menenangkan, tapi tidak cukup untuk meredakan semua kegelisahannya. Masih ada yang mengganjal di dadanya. Sesuatu tentang surat-surat itu. Sesuatu tentang permintaan maaf yang tidak pernah dijelaskan. Sesuatu tentang rahasia yang masih tersembunyi.
"Aku harus mencari tahu kebenaran," bisiknya. Entah untuk dirinya sendiri, untuk ibunya, atau untuk kedamaian yang tidak pernah ia rasakan. "Entah itu menyakitkan atau tidak. Entah itu akan menghancurkanku atau tidak. Aku harus tahu."
Ia menyembunyikan liontin itu di bawah bantal, lalu merebahkan diri. Matanya terpejam, tapi tidur tidak kunjung datang. Pertanyaan-pertanyaan berputar di kepalanya seperti pusaran air yang tidak bisa dihentikan.
Siapa ayahku sebenarnya?
Apa yang ia lakukan di Aceh?
Apakah ia masih hidup?
Dan jika ia masih hidup, mengapa ia tidak pernah pulang?
Apakah ia malu? Apakah ia takut? Apakah ia sudah memiliki keluarga baru di tempat lain?
Ia tidak punya jawaban. Hanya pertanyaan. Hanya lubang yang semakin dalam setiap kali ia menggali.
Tapi ia tahu, suatu hari, ia akan mendapatkannya.
Dan ia belum tahu, jawaban itu akan datang lebih cepat dari yang ia duga. Dan jawaban itu akan lebih gelap dari yang ia bayangkan.
Fajar yang Menjadi Awal Segalanya
Keesokan harinya. Jalan Randu Gembyang, pukul 06.00.
Matahari baru saja muncul dari balik pohon-pohon randu di timur. Kabut tipis masih menyelimuti sawah-sawah, seperti selimut putih yang tidak mau beranjak. Embun membasahi rumput di pinggir jalan, membuat ujung sepatu Ariyanti basah saat ia melangkah. Burung-burung mulai bernyanyi, menyambut hari baru dengan suara yang nyaring.
Ariyanti berjalan sendirian menuju sekolah. Matanya sembab karena kurang tidur. Semalam, ia berguling-guling di kasurnya, tidak bisa memejamkan mata. Pikirannya terus melayang pada Akang, pada rahasia yang ia temukan, pada ibunya yang melarangnya dekat dengan laki-laki itu.
Tapi langkahnya tetap tegap. Bahunya tetap tegak. Matanya tetap menatap ke depan.
Di kejauhan, ia melihat sesosok laki-laki berdiri di bawah pohon randu tertua. Pundaknya sedikit membungkuk, tangannya di saku celana. Ia menunggu dengan sabar, tidak bergerak, seperti patung yang ditempatkan di situ sejak malam.
Akang.
"Pagi, Ari," sapanya ketika Ariyanti cukup dekat. Senyum tipis di bibirnya. Senyum yang berbeda dari kemarin. Bukan senyum yang dibuat-buat. Tapi senyum yang tulus, meskipun sedikit letih.
"Pagi, Kang. Kamu sudah lama di sini?"
"Aku sengaja datang lebih awal. Aku ingin... minta maaf."
"Maaf untuk apa?"
"Untuk membuatmu terbebani dengan masalah keluargaku. Itu bukan urusanmu. Aku egois."
Ariyanti menatapnya tajam. Tatapan yang sama seperti kemarin, yang membuat Akang merasa sedang dihakimi. Tapi kali ini, ada kehangatan di dalamnya.
"Kang, dengarkan aku. Masalahmu adalah masalahku juga. Kita sudah berjanji untuk bersama-sama, ingat?"
"Janji?" Akang mengernyit. "Kapan kita berjanji?"
"Di kantin, saat kita berbagi nasi. Kamu bilang kita akan hadapi semuanya bersama. Itu janji, meskipun tidak diucapkan."
Akang terdiam.
"Tapi ini terlalu berat."
"Tidak ada yang terlalu berat jika kita hadapi bersama. Kapan kau belajar menyerah, Kang? Aku tidak pernah mengenalmu sebagai pengecut."
Akang menghela napas. Lalu ia tersenyum. Senyum tulus yang pertama kali ia tunjukkan sejak kemarin. Senyum yang membuat lesung pipit satu di pipi kirinya muncul.
"Terima kasih, Ari. Aku tidak pantas memiliki sahabat seperti kamu."
"Sahabat?" Ariyanti tersenyum nakal. "Siapa bilang aku hanya sahabat?"
Akang tercengang. Mulutnya terbuka sedikit, seperti orang yang sedang berusaha mencerna informasi yang membingungkan.
Tapi Ariyanti sudah berjalan lebih dulu, meninggalkan Akang yang masih berdiri di bawah pohon randu dengan wajah sedikit merah. Ia berjalan cepat, tidak menoleh, meskipun hatinya berdebar-debar.
"Tunggu, Ari! Maksud kamu apa?"
"Carilah sendiri jawabannya!" teriak Ariyanti tanpa menoleh. Suaranya memantul-mantul di antara pohon-pohon randu, membuat burung-burung terbang berhamburan.
Akang menggeleng-gelengkan kepala, tapi senyumnya tidak bisa hilang. Ia bergegas menyusul Ariyanti dengan langkah yang lebih cepat dari biasanya.
Di Jalan Randu Gembyang yang sunyi itu, dengan fajar yang semakin terang dan kabut yang mulai mencair, dua hati yang sudah terluka oleh rahasia dan masa lalu mulai berdetak dalam irama yang sama.
Mereka belum tahu bahwa Rahmadi sudah mulai bergerak.
Mereka belum tahu bahwa rahasia keluarga Akang lebih dalam dan lebih berbahaya dari yang mereka duga.
Mereka belum tahu bahwa badai besar sedang mengintai di balik cakrawala.
Tapi mereka tahu satu hal. Tidak ada yang bisa memisahkan mereka.
Bukan dusun yang berbeda. Bukan gosip tetangga. Bukan masa lalu yang kelam. Dan bahkan bukan Rahmadi sekalipun.
Karena mereka sudah berjanji. Meskipun janji itu tidak diucapkan dengan keras, tidak disaksikan oleh siapa pun, tidak tertulis di atas kertas.
Janji di bawah pohon randu. Janji antara dua hati yang sama-sama terluka. Janji yang akan mereka buktikan, dalam suka dan duka, dalam sakit dan bahagia, dalam hidup dan mati.
BAB 4
MATAHARI DI PELATARAN SMAN I PEGANDON
Lulus SMP, mereka masuk SMAN I Pegandon. Di sinilah konflik dimulai. Rahmadi, siswa pindahan dari Semarang, langsung mencuri perhatian.
Tegorejo, Juli 1997 – Awal tahun ajaran baru di SMAN I Pegandon
Matahari terik menyinari halaman SMAN I Pegandon ketika ratusan siswa baru memadati lapangan upacara. Seragam putih abu-abu masih baru dan rapi. Wajah-wajah penuh harap dan sedikit gugup.
Di antara kerumunan itu, berdirilah Ariyanti dan Akang Supriyadi. Mereka lolos seleksi masuk SMA favorit se-Kecamatan Pegandon dengan nilai yang memuaskan. Ariyanti bahkan masuk 5 besar se-Kabupaten Kendal.
"Ini dia, Kang. SMA negeri satu-satunya di kecamatan ini," bisik Ariyanti sambil menatap gedung berlantai dua yang megah menurut ukuran desa.
"Kita beruntung bisa diterima di sini, Ari," jawab Akang. Matanya berbinar. "Sekarang perjuangan sesungguhnya dimulai."
Mereka belum tahu bahwa di balik kegembiraan itu, ada badai yang sudah menunggu. Badai bernama Rahmadi.
Kedatangan Siswa Misterius dari Semarang
Ruang Kelas 1 IPA 1 – hari pertama
Ariyanti dan Akang duduk bersebelahan di bangku paling depan—kebiasaan mereka sejak SMP. Mereka sudah saling kenal, saling percaya, dan saling menguatkan.
Bel masuk berbunyi. Semua siswa duduk rapi.
Bu Sumi—guru Bahasa Indonesia yang pindah dari SMPN I Pegandon ke SMAN I Pegandon—masuk dengan senyum khasnya.
"Selamat pagi, anak-anak. Selamat datang di SMAN I Pegandon. Tahun ini kalian akan menghadapi banyak tantangan. Tapi percayalah, kalian bisa melewatinya."
Ia lalu membaca daftar nama siswa.
"Akang Supriyadi... Ariyanti... Budi Santoso... Siti Fatimah..." dan seterusnya.
Tiba-tiba, pintu kelas terbuka.
Seorang pemuda berdiri di ambang pintu. Tinggi, tegap, berkulit putih bersih dengan rambut hitam legam yang ditata rapi. Seragamnya berbeda dari yang lain—lebih mahal, lebih modis, dan tampak baru tanpa setrikaan kusut.
Ia membawa tas kulit hitam yang jelas bermerek. Di pergelangan tangannya, arloji stainless steel berkilau.
"Maaf, Bu. Saya terlambat," ucapnya dengan suara bariton yang dalam. Tidak ada nada menyesal.
Bu Sumi mengerutkan dahi. "Kamu siswa baru?"
"Rahmadi, Bu. Pindahan dari Semarang. Ayah saya sudah mengurus administrasinya."
Bu Sumi memeriksa daftar. "Oh, iya. Ada namamu. Silakan masuk. Duduk di bangku kosong bagian belakang."
Rahmadi melangkah masuk. Ia tidak berjalan biasa—ia berjalan seperti raja yang melewati rakyatnya. Matanya meneliti satu per satu wajah di kelas.
Saat matanya bertemu dengan Ariyanti, ia berhenti sejenak.
Senyum kecil terukir di bibirnya.
Ariyanti merasakan tatapan itu. Tidak nyaman. Sangat tidak nyaman.
Ia menunduk, berpura-pura membaca buku.
Rahmadi melanjutkan langkah ke bangku belakang. Tapi ia tidak langsung duduk. Ia berdiri di samping meja seorang siswa laki-laki yang duduk sendirian.
"Kursi ini kosong?" tanyanya dingin.
"I-iya," jawab siswa itu gugup.
Rahmadi duduk. Ia meletakkan tasnya dengan hati-hati, lalu menyandarkan tubuh di kursi seolah-olah kursi itu takhta kerajaan.
Hari pertama, dan ia sudah membuat semua orang tidak nyaman, pikir Ariyanti.
Pesona Rahmadi yang Mematikan
Istirahat pertama – kantin SMAN I Pegandon
Halaman kantin tiba-tiba ramai oleh bisik-bisik. Semua mata tertuju pada satu meja: meja tempat Rahmadi duduk bersama beberapa siswa yang sudah bergabung dengannya.
"Kamu tahu? Ayahnya pemilik pabrik penggilingan padi terbesar di Pegandon," bisik seorang siswi kepada temannya.
"Rumahnya di Jalan Raya Pegandon. Yang besar itu lho!"
"Katanya dia pindahan dari Semarang karena... masalah."
"Apa masalahnya?"
"Entahlah. Tapi lihat saja. Dia berbeda."
Rahmadi tampak menikmati perhatian itu. Ia memesan segelas jus alpukat dan seporsi nasi goreng—harga satu porsi sama dengan uang jajan Akang seminggu.
Ia makan dengan gaya yang terlatih, seperti orang yang terbiasa dengan sendok garpu mahal dan restoran berbintang.
Ariyanti mengamati dari kejauhan. Akang duduk di sampingnya, menikmati nasi bungkus sederhana.
"Apa dia seterkenal itu?" tanya Ariyanti.
"Katanya sih begitu," jawab Akang. "Tapi aku tidak suka caranya melihatmu tadi."
"Kenapa?"
"Seperti... dia menilai sesuatu. Seperti kau ini barang yang ingin ia beli."
Ariyanti tersentak. Akang jarang bicara sekeras itu tentang seseorang.
"Kang, kamu cemburu?"
Akang tersedak nasinya. "Cemburu? Aku tidak cemburu. Aku hanya... waspada."
Ariyanti tersenyum. Dasar laki-laki, pikirnya. Gampang sekali terbaca.
Insiden di Perpustakaan
Jam pelajaran terakhir – Perpustakaan SMAN I Pegandon
Ariyanti sedang asyik membaca buku biografi RA Kartini di sudut perpustakaan yang sepi. Ia suka tempat ini. Sepi, tenang, dan penuh dengan buku-buku yang membawanya ke dunia lain.
Tiba-tiba, bayangan menutupi cahaya di depannya.
Rahmadi berdiri di hadapannya, tersenyum dengan senyum yang terlalu sempurna untuk menjadi tulus.
"Ariyanti, kan?" sapanya.
Ariyanti mengangkat kepala. "Iya. Ada yang bisa saya bantu?"
"Tidak. Aku hanya ingin berkenalan. Aku Rahmadi."
"Sudah tahu."
"Boleh aku duduk?"
"Silakan. Tapi aku sedang membaca."
Rahmadi duduk di kursi seberang Ariyanti. Ia menaruh siku di atas meja, menopang dagu, lalu menatap Ariyanti tanpa berkedip.
"Kamu berbeda dari gadis-gadis lain di sini."
Ariyanti tidak menoleh dari bukunya. "Maksudmu?"
"Kamu tidak sibuk mencari perhatian. Kamu serius dengan pendidikan. Aku suka itu."
"Hmm."
"Kamu tahu? Di Semarang, gadis-gadis seperti kamu jarang. Mereka kebanyakan sibuk dengan make-up dan pacaran."
Ariyanti menutup bukunya. Ia menatap Rahmadi dengan mata datar.
"Mas Rahmadi, saya bukan gadis Semarang. Saya gadis desa yang harus bekerja keras untuk bisa sekolah. Jadi kalau tidak ada keperluan, mohon jangan ganggu waktu belajar saya."
Rahmadi terkejut. Tidak ada yang pernah bicara padanya seperti itu.
Ia tersenyum. Bukan senyum marah, tapi senyum tertarik.
"Baiklah. Aku tunggu sampai kau siap bicara."
Ia berdiri dan berjalan keluar. Tapi di pintu, ia menoleh.
"Ariyanti, kau menarik. Sangat menarik."
Ariyanti mendengus. Laki-laki aneh, pikirnya.
Tapi di balik ketenangannya, jantungnya berdebar tidak nyaman. Ada firasat buruk yang tidak bisa ia jelaskan.
Rahmadi Mulai Bergerak
Rumah Rahmadi – Jalan Raya Pegandon, malam hari
Rahmadi duduk di ruang kerjanya yang megah. Di hadapannya, Danu—asisten pribadinya yang setia—berdiri tegap.
"Apa yang kau temukan?" tanya Rahmadi dingin.
Danu membuka map tebal. "Laki-laki yang dekat dengan Ariyanti bernama Akang Supriyadi. Dari Dusun Cegunan. Status ekonomi: sangat miskin. Ayahnya hilang di Aceh. Ibu penjual gorengan."
"Ayahnya hilang?"
"Tentara. Dilaporkan hilang dalam tugas tahun 1992. Tidak pernah ditemukan."
Rahmadi mengerutkan dahi. "Hilang? Atau desersi?"
"Tidak ada informasi lebih lanjut."
"Gali lebih dalam. Aku yakin ada rahasia di sana. Keluarga miskin biasanya penuh masalah. Aku bisa gunakan itu untuk menghancurkannya."
"Baik, Pak."
Rahmadi berdiri, berjalan ke jendela, menatap gelapnya malam Tegorejo.
"Danu, aku tidak suka bersaing. Apalagi dengan laki-laki miskin seperti dia. Aku akan hancurkan reputasinya. Aku akan pastikan Ariyanti benci padanya. Dan pada akhirnya... dia akan jadi milikku."
Danu mengangguk. "Apa pun perintah Bapak."
Ujian Pertama Rahmadi
Keesokan harinya – di kelas
Pak Burhan, guru Matematika yang terkenal galak, memberikan soal ujian mendadak. Semua murid panik, kecuali Ariyanti dan Akang yang sudah belajar jauh-jauh hari.
Rahmadi duduk di belakang, tenang seperti tidak ada masalah. Tapi ia tidak mengerjakan soal. Ia hanya menulis sesuatu di secarik kertas.
Saat jam pelajaran hampir berakhir, ia melipat kertas itu kecil-kecil, lalu melemparkannya ke arah Ariyanti.
Kertas itu jatuh tepat di meja Ariyanti.
Ariyanti menoleh. Rahmadi tersenyum dan mengangguk.
Dengan rasa penasaran, Ariyanti membuka kertas itu.
"Ariyanti, kamu seperti matahari di pelataran sekolah ini. Semua orang ingin dekat denganmu, tapi hanya aku yang tahu caranya membuatmu bersinar lebih terang. Tolak Akang. Pilih aku. Kau tidak akan rugi."
Ariyanti meremas kertas itu. Wajahnya memerah—bukan karena malu, tapi karena marah.
Ia berdiri. Semua mata tertuju padanya.
"Pak Burhan, saya mau izin ke belakang."
"Ada apa, Ariyanti?"
"Saya mau buang sampah," katanya sambil berjalan ke keranjang sampah di pojok kelas.
Ia membuang kertas itu tanpa membaca ulang. Lalu kembali ke tempat duduknya dengan tenang.
Akang meliriknya. "Apa itu tadi?" bisiknya.
"Sampah," jawab Ariyanti singkat.
Rahmadi di belakang hanya tersenyum. Ia tidak marah. Ia justru semakin terpikat.
Gadis ini sulit. Tapi aku suka tantangan, pikirnya.
Persaingan yang Semakin Memanas
Sore hari – Jalan Randu Gembyang
Akang dan Ariyanti berjalan pulang seperti biasa. Tapi suasana tidak seperti biasanya. Ariyanti diam seribu bahasa.
"Ari, ada apa? Kamu kenapa?" tanya Akang cemas.
Ariyanti berhenti. Ia menoleh ke Akang.
"Kang, kau harus hati-hati dengan Rahmadi."
"Kenapa?"
"Aku rasa dia... tidak suka padamu. Dan dia akan melakukan apa pun untuk menjauhkanmu dariku."
Akang menghela napas. "Aku sudah duga. Dia anak orang kaya yang terbiasa menang sendiri. Tapi aku tidak takut padanya."
"Kamu tidak takut? Dia punya uang, koneksi, dan preman bayaran."
"Ari, aku hidup di Cegunan sepanjang hidupku. Aku sudah terbiasa dengan kesulitan. Aku tidak takut pada orang seperti dia. Tapi aku takut pada satu hal."
"Apa?"
"Aku takut kehilanganmu."
Ariyanti tersentak. Jantungnya berdegup kencang.
"Kang... kau tidak akan kehilangan aku. Selama kau berjuang, aku di sini."
Mereka berpegangan tangan di bawah pohon randu. Matahari di barat mulai tenggelam, meninggalkan semburat jingga yang memukau.
Tapi di balik bukit, Rahmadi melihat semuanya dari kejauhan. Ia mengintai dengan teropong kecil dari balik mobil mewahnya.
"Kalau begitu, ini perang," bisiknya.
Rencana Keji Rahmadi
Rumah Rahmadi – malam itu
"Danu, aku ingin kau lakukan sesuatu. Besok, sebarkan rumor. Katakan Akang Supriyadi adalah anak tentara desersi yang lari dari tanggung jawab."
Danu mengerutkan dahi. "Bapak yakin? Itu bisa menimbulkan masalah besar."
"Semakin besar masalahnya, semakin baik. Aku ingin reputasinya hancur. Aku ingin semua orang membencinya. Aku ingin Ariyanti malu bersamanya."
"Tapi kalau terbukti tidak benar..."
"Ayahku punya pengacara terbaik se-Kendal. Aku tidak takut. Lakukan saja."
Danu mengangguk. "Baik, Pak."
Rahmadi tersenyum puas. Ini baru awal, Akang Supriyadi. Kau akan merasakan sakit yang belum pernah kau rasakan sebelumnya.
Pagi yang Berubah Menjadi Mimpi Buruk
Keesokan harinya – SMAN I Pegandon
Sejak pagi, suasana sekolah terasa aneh. Para siswa berbisik-bisik, menunjuk ke arah Akang yang sedang berjalan menuju kelas.
"Akang itu anak tentara desersi, tahu?"
"Iya, katanya ayahnya lari dari tugas."
"Wajar kalau miskin. Keluarga pengecut."
"Harusnya dia malu bersekolah di sini."
Akang mendengar semua itu. Wajahnya pucat. Langkahnya terhenti.
Ariyanti yang berjalan di sampingnya meraih tangannya. "Kang, jangan dengarkan mereka."
"Ari... bagaimana mereka tahu? Aku tidak pernah cerita ke siapa pun."
"Itu Rahmadi. Pasti dia."
Akang menggigit bibir. Ia mengepalkan tangan. Ingin rasanya ia menerjang Rahmadi dan menghancurkan wajah tampannya.
Tapi Ariyanti menahannya. "Jangan, Kang. Kalau kau terpancing, dia menang."
"Jadi aku harus diam?"
"Tidak. Tapi kita harus cerdas. Kita butuh bukti bahwa ini semua fitnah. Dan kita butuh sekutu."
Akang menatap Ariyanti. Di mata gadis itu, ia melihat kecerdasan yang tidak dimiliki oleh anak-anak seusianya.
"Kau benar. Maaf, aku hampir emosi."
"Kita hadapi bersama, Kang. Ingat janji kita."
Mereka melangkah masuk ke kelas dengan kepala tegak. Bisik-bisik masih terdengar. Tatapan sinis masih menusuk.
Tapi mereka tidak peduli.
Mereka tahu, badai baru saja dimulai.
Dan mereka akan bertahan—sampai titik darah penghabisan.
BAB 5
KEDATANGAN RAHMADI
Anak pengusaha sukses yang baru kembali dari ibukota. Tampan, kaya, dan terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan. Dan kali ini, ia menginginkan Ariyanti.
Tegorejo, Juli 1997 – Dua minggu sebelum tahun ajaran baru dimulai
Matahari masih rendah di ufuk timur ketika sebuah mobil hitam Mercedes-Benz mewah melaju pelan di sepanjang Jalan Raya Pegandon. Debu beterbangan di belakang ban mobil itu, menyisakan kepulan asap yang membuat warga sekitar menoleh.
Mobil itu berhenti di depan gerbang besi rumah terbesar di desa—rumah dengan halaman luas, pagar tinggi, dan satpam berseragam lengkap.
Dari kursi belakang, seorang pemuda berusia enam belas tahun turun dengan gaya malas. Rambutnya rapi disisir ke belakang. Wajahnya tampan dengan garis rahang tegas. Kulitnya putih bersih—kontras dengan kebanyakan pemuda desa yang sawo matang karena terik matahari.
Ia mengenakan kemeja lengan panjang berwarna krem, celana bahan hitam, dan sepatu pantofel mengkilap.
Namanya Rahmadi.
"Akhirnya... kembali ke neraka kecil ini," gumamnya sinis sambil menatap rumah megah di depannya.
Tegorejo. Desa yang ia benci sejak kecil. Desa yang terlalu sunyi, terlalu miskin, terlalu... membosankan.
Tapi kali ini, ia tidak punya pilihan. Ayahnya memindahkannya dari Semarang setelah ia "bermasalah" di sekolah sebelumnya. Istilah "bermasalah" adalah eufemisme lembut untuk: menganiaya seorang siswa sampai masuk rumah sakit.
Rahmadi tidak menyesal. Ia hanya kesal karena harus meninggalkan kehidupan glamor di ibukota.
Tapi mungkin... mungkin desa ini tidak seburuk yang ia kira.
Mungkin ada sesuatu—atau seseorang—yang membuatnya betah.
Rahmadi dan Masa Lalunya yang Kelam
Rumah Rahmadi – ruang tengah yang megah
Rahmadi duduk di sofa kulit mahal sambil menatap lukisan pemandangan di dinding—lukisan yang dibeli ayahnya seharga puluhan juta rupiah. Tapi ia tidak melihat keindahan lukisan itu. Ia hanya melihat angka.
Semua punya harga, pikirnya. Semua bisa dibeli.
Pintu ruang tengah terbuka. Seorang laki-laki paruh baya dengan perut buncit dan rambut mulai memutih masuk. Itulah H. Rahmat, ayah Rahmadi. Pengusaha sukses pemilik Pabrik Penggilingan Padi Sumber Makmur—bisnis terbesar di Kecamatan Pegandon.
"Nak, bagaimana kamarnya? Sudah nyaman?" tanya H. Rahmat dengan suara lembut yang tidak biasa.
Rahmadi tidak menoleh. "Biasa saja. Kecil."
"Kecil? Rumah ini 600 meter persegi. Kamarnya 6x8 meter."
"Tidak sebesar kamarku di Semarang."
- Rahmat menghela napas. Anak ini selalu sulit. Sejak ibunya meninggal saat Rahmadi berusia 10 tahun, ia menjadi tidak terkendali. H. Rahmat sibuk dengan bisnis dan wanita simpanan. Ia tidak punya waktu untuk mendidik anaknya dengan benar.
"Kamu di sini untuk memulai hidup baru, Nak. Buat ayah bangga. Jangan ulangi kesalahan di Semarang."
Rahmadi menoleh. Matanya dingin. "Kesalahan? Ayah bilang itu kesalahan? Anak itu menggangguku. Aku hanya mengajarinya sopan santun."
"Kau buat dia masuk ICU."
"Dan Ayah bayar keluarganya. Masalah selesai."
- Rahmat terdiam. Ia tidak punya jawaban.
"Pokoknya, mulai besok kau sekolah di SMAN I Pegandon. Aku sudah urus administrasinya. Jangan bikin malu keluarga."
Rahmadi tidak menjawab. Ia berdiri dan berjalan menuju kamarnya di lantai atas.
Di tengah tangga, ia berhenti. "Ayah, apa di sekolah itu ada gadis cantik?"
- Rahmat mengerutkan dahi. "Apa?"
"Aku hanya bertanya. Atau Ayah tidak tahu? Ayah terlalu sibuk dengan perempuan simpanan Ayah untuk memperhatikan hal-hal seperti itu?"
- Rahmat memucat. "Rahmadi!"
Tapi Rahmadi sudah naik ke atas, meninggalkan ayahnya yang gemetar marah.
Hari Pertama Rahmadi di SMAN I Pegandon
Pukul 07.00 – gerbang SMAN I Pegandon
Mobil Mercedes hitam itu berhenti tepat di depan gerbang sekolah. Semua siswa menoleh. Bahkan satpam sekolah pun tidak berani menyuruh mobil itu minggir.
Rahmadi turun dengan gaya dingin. Ia tidak memakai seragam putih abu-abu seperti siswa lain—karena ayahnya sudah mengatur agar ia mendapatkan seragam khusus dari penjahit ternama di Semarang.
Seragam putih abu-abu yang sama, tapi bahannya sutra, pikirnya tersenyum.
Ia melangkah masuk ke halaman sekolah dengan langkah percaya diri. Beberapa siswi berbisik-bisik dan tersipu. Beberapa siswa laki-laki menatapnya dengan campuran kagum dan iri.
Rahmadi menikmati perhatian itu. Ia seorang aktor, dan sekolah ini adalah panggungnya.
Tapi saat ia memasuki lorong menuju ruang guru, ia melihat sesuatu yang membuatnya berhenti.
Seorang gadis berdiri di dekat papan pengumuman, sedang membaca jadwal pelajaran. Rambutnya hitam panjang diikat ekor kuda. Wajahnya bersih tanpa make-up. Kulitnya sawo matang. Badannya sederhana.
Tapi ada sesuatu di matanya. Sesuatu yang tidak dimiliki oleh gadis-gadis yang selama ini ia temui di Semarang.
Api, pikir Rahmadi. Gadis ini punya api di matanya.
Ia mendekati gadis itu. "Permisi. Kamu siswa baru?"
Gadis itu menoleh. Matanya bertemu dengan Rahmadi. Tidak ada rasa gugup. Tidak ada rasa malu. Hanya ketenangan yang dingin.
"Iya. Nama saya Ariyanti. Ada yang bisa saya bantu?"
Rahmadi tersenyum. Senyum terbaik yang ia miliki. "Aku juga siswa baru. Namaku Rahmadi. Boleh aku minta tolong ditunjukkan ruang guru?"
"Lurus saja, belok kiri, di ujung lorong," jawab Ariyanti singkat. Lalu ia kembali membaca papan pengumuman.
Rahmadi tidak pergi. Ia masih berdiri di sana, menatap Ariyanti.
"Ariyanti, aku tidak tahu di mana belok kirinya. Antar aku, ya?"
Ariyanti menghela napas. Ia menunjuk ke arah lorong. "Lihat itu? Ada papan bertuliskan 'Ruang Guru'. Tinggal ikuti saja."
"Aku ingin ditemani."
"Maaf, saya tidak punya waktu. Bel masuk sebentar lagi."
Ariyanti berbalik dan berjalan meninggalkan Rahmadi yang masih berdiri dengan mulut sedikit terbuka.
Tidak ada yang pernah menolaknya seperti itu.
Rahmadi tersenyum. Bukan senyum marah, tapi senyum penasaran.
"Gadis ini berbeda," bisiknya. "Dan aku akan memilikinya."
Rahmadi Mulai Menyusun Strategi
Istirahat pertama – kantin sekolah
Rahmadi duduk di meja khusus yang tiba-tiba "kosong" ketika ia datang. Beberapa siswa berusaha mendekatinya, mencoba menjilat.
"Mas Rahmadi, boleh duduk di sini?" tanya seorang siswa dengan nada memelas.
"Terserah."
Mereka duduk di sekitar Rahmadi seperti pengawal setia. Rahmadi tidak peduli dengan mereka. Matanya terus mengawasi Ariyanti yang sedang duduk di pojok kantin bersama Akang—laki-laki kurus dengan seragam lusuh.
Siapa laki-laki itu? pikir Rahmadi.
Ia memanggil salah satu siswa di meja. "Hei, kau. Siapa nama laki-laki yang duduk dengan Ariyanti?"
Siswa itu menoleh. "Oh, itu Akang Supriyadi. Anak dari Dusun Cegunan. Miskin. Tapi pinter. Ranking satu di kelas."
Ranking satu? Rahmadi mengernyit. Miskin tapi pinter? Kombinasi yang berbahaya.
"Apa hubungan mereka?"
"Teman dekat, kayaknya. Dari SMP sudah satu kelas. Sering pulang bareng."
Teman dekat? Atau lebih dari itu?
Rahmadi mengepalkan tangannya di bawah meja. Aku tidak suka persaingan. Apalagi dari laki-laki miskin seperti dia.
Ia memanggil Danu—asisten pribadinya yang selalu mengawasi dari kejauhan.
"Danu, aku ingin kau cari tahu semua tentang Akang Supriyadi. Keluarganya, masa lalunya, kelemahannya."
Danu mengangguk. "Siap, Pak."
"Dan satu lagi. Aku ingin kau belikan bunga. Mawar merah. Seratus tangkai. Kirim ke rumah Ariyanti besok pagi."
Danu mengerjab. "Seratus tangkai, Pak? Itu..."
"Kau dengar aku. Lakukan saja."
Seratus Tangkai Mawar yang Menggemparkan
Keesokan harinya – Dusun Kersan, pukul 06.00
Dusun Kersan terbangun oleh hiruk-pikuk yang tidak biasa. Sebuah mobil box berhenti di depan rumah sederhana milik Ariyanti. Dua orang pria berpakaian rapi turun sambil membawa ratusan tangkai mawar merah segar.
"Ariyanti? Kami antar pesanan bunga," kata salah satu pria itu.
Ibu Ariyanti keluar rumah dengan wajah bingung. "Bunga? Untuk siapa? Kami tidak pesan bunga."
"Ini untuk Ariyanti. Dari seorang Mas Rahmadi."
Seluruh tetangga keluar rumah. Mereka bergosip. Mereka berdecak kagum. Mereka iri.
Ariyanti yang baru bangun tidur keluar kamar dengan rambut acak-acakan. Ia melihat tumpukan mawar merah di teras rumahnya. Matanya membulat.
"Apa ini?"
"Hadiah dari Mas Rahmadi, Mbak."
Ariyanti menghela napas panjang. Ia berjalan ke tumpukan bunga itu, mengambil satu tangkai, lalu mencium aromanya sebentar.
"Kembalikan semua," katanya tegas.
"Maaf, Mbak?"
"Saya bilang, kembalikan semua. Saya tidak menerima hadiah dari orang yang tidak saya kenal."
Pria antarannya bingung. "Tapi Mbak, ini sudah dibayar lunas. Mahal, lho."
"Itu urusan dia. Bukan urusan saya."
Ariyanti masuk ke rumah dan membanting pintu anyaman bambu itu.
Ibu Ariyanti hanya bisa menggelengkan kepala. Anaknya memang keras kepala. Terlalu keras kepala.
Tetangga-tetangga bergosip lebih keras. "Anak jadah itu sombong, ya. Dapat bunga mahal ditolak."
"Padahal anaknya Rahmadi, anak konglomerat."
"Mungkin dia malu. Pacarnya kan anak Cegunan yang miskin itu."
Ariyanti mendengar semua gosip itu dari dalam rumah. Tapi ia tidak peduli. Ia hanya ingin satu orang: Akang.
Pertemuan Rahasia di Jalan Randu Gembyang
Pukul 06.30 – Jalan Randu Gembyang
Ariyanti berangkat ke sekolah lebih pagi dari biasanya. Ia ingin bertemu Akang sebelum Rahmadi sempat melakukan sesuatu yang lebih gila.
Di bawah pohon randu tertua, Akang sudah menunggu.
"Ari, aku dengar... ada bunga mawar seratus tangkai di rumahmu," kata Akang dengan nada datar.
Ariyanti menatapnya. "Kau cemburu?"
"Tidak. Aku hanya... khawatir."
"Tentang apa?"
"Rahmadi tidak akan menyerah begitu saja, Ari. Dia anak orang kaya yang terbiasa menang. Dan kau... kau tidak bisa dibeli. Itu yang membuatnya semakin tergila-gila."
Ariyanti meraih tangan Akang. "Kang, aku tidak peduli dengan bunga, uang, atau mobil mewahnya. Aku hanya peduli padamu. Ingat itu."
Akang tersenyum tipis. "Aku tahu. Tapi aku juga tahu bahwa orang seperti Rahmadi bisa berbahaya. Aku tidak mau kau terluka karena aku."
"Kita sudah berjanji, Kang. Kita hadapi bersama."
Mereka berpelukan sebentar. Hangat. Aman.
Tapi dari kejauhan, di balik rimbunan pohon randu, Rahmadi melihat semuanya.
Ia datang lebih pagi karena ingin "kebetulan" bertemu Ariyanti. Tapi yang ia lihat justru adegan yang membakar hatinya.
Tangannya mengepal. Giginya mengerat.
"Akang Supriyadi... kau akan menyesal pernah dekat dengannya," bisik Rahmadi.
Ia berbalik dan berjalan ke arah sekolah dengan langkah berat.
Di kepalanya, skenario-skenario keji mulai tersusun.
Sisi Gelap Rahmadi yang Mulai Terlihat
Rumah Rahmadi – malam hari
Rahmadi duduk di kamarnya, memegang ponsel mahal yang langka pada masanya. Ia menelepon Danu.
"Danu, apa yang kau temukan tentang Akang?"
"Banyak hal menarik, Pak. Ayahnya, Sersan Mayor Suprapto, hilang di Aceh tahun 1992. Diduga desersi. Atau lebih buruk: terlibat dalam pelanggaran HAM."
Rahmadi tersenyum jahat. "Bagus. Itu amunisi yang sempurna."
"Ada lagi, Pak. Akang sering bolos sekolah? Tidak. Nilainya buruk? Tidak. Dia hampir tidak punya kelemahan."
"Setiap orang punya kelemahan, Danu. Kau tidak menemukannya karena kau tidak cukup dalam menggali."
"Maaf, Pak."
"Besok, sebarkan rumor tentang ayah Akang. Bilang dia anak tentara desersi. Bilang keluarganya menerima uang haram. Lakukan secara pelan-pelan. Jangan langsung kentara."
"Baik, Pak."
"Danu, satu lagi. Aku ingin kau selidiki apakah Akang punya pacar lain? Atau mantan? Atau apa pun yang bisa kau gunakan untuk membuat Ariyanti cemburu."
"Baik, Pak. Saya akan lakukan yang terbaik."
Rahmadi mematikan telepon. Ia berjalan ke jendela kamarnya, menatap bintang-bintang di langit malam.
"Ariyanti, kau tidak tahu apa yang akan aku lakukan untuk mendapatimu. Dan kau tidak siap untuk itu."
Ia tersenyum. Senyum yang sama sekali tidak manusiawi.
Rahmadi Mendekati Ariyanti dengan Cara Halus
Keesokan harinya – di kelas
Rahmadi duduk di belakang Ariyanti. Ia sengaja meminta Bu Sumi untuk memindahkan tempat duduknya—dengan alasan ingin lebih dekat dengan papan tulis karena mata minusnya.
Ariyanti tahu itu alasan bodoh. Ia bisa membaca tulisan di papan dari jarak 10 meter.
Tapi ia tidak protes. Biarlah. Tidak akan mengubah apa pun.
Saat pelajaran Bahasa Indonesia, Bu Sumi meminta siswa maju ke depan untuk membacakan puisi karya mereka sendiri.
Rahmadi mengangkat tangan. "Saya, Bu."
Bu Sumi terkejut. Selama ini Rahmadi tidak pernah mengangkat tangan. "Silakan, Rahmadi."
Rahmadi berdiri. Ia melirik Ariyanti sekilas, lalu mulai membaca.
"Di bawah randu, aku menunggumu
Di tengah senja yang setia
Bukan uang atau harta yang kuberi
Tapi hatiku yang hanya untukmu"
Kelas terdiam. Beberapa siswi berdecak kagum. Rahmadi memang tampan dan sekarang terbukti bisa merangkai kata-kata romantis.
Tapi Ariyanti hanya diam. Ia tahu puisi itu untuknya. Tapi ia tidak terkesan.
Rahmadi tidak pernah serius, pikirnya. Ini semua hanya permainan.
Akang yang duduk di samping Ariyanti mengepalkan tangannya di bawah meja. Laki-laki itu benar-benar keterlaluan.
Setelah kelas usai, Akang menghampiri Rahmadi di lorong.
"Rahmadi, aku ingin bicara."
Rahmadi menoleh dengan senyum sinis. "Ada apa, Kang? Ada masalah?"
"Jangan main-main dengan Ariyanti."
"Main-main? Aku serius, Kang. Aku serius ingin mendekatinya. Atau kau punya hak untuk melarang?"
"Ariyanti bukan milik siapa pun."
"Tepat sekali. Dia bukan milik siapa pun. Termasuk milikmu."
Mereka berhadapan. Laki-laki miskin dari Cegunan versus anak konglomerat dari Semarang.
Semua siswa berhenti dan menonton.
"Kang, dia bukan ladang garam yang bisa kau klaim sebagai milikmu. Dia punya hak memilih. Dan aku yakin, cepat atau lambat, dia akan memilihku," kata Rahmadi perlahan.
"Kau terlalu percaya diri."
"Bukan percaya diri. Tapi karena aku kenal perempuan. Mereka bilang tidak, tapi sebenarnya mereka suka perhatian. Dan aku punya banyak perhatian untuk diberikan."
Akang gemetar marah. Ia ingin meninju wajah tampan itu. Tapi Ariyanti tiba-tiba muncul di antara mereka.
"Sudah, Kang. Jangan buang energimu untuk dia."
Ariyanti menarik tangan Akang dan membawanya pergi.
Rahmadi hanya tersenyum. "Lari terus, Akang. Kau tidak bisa lari selamanya."
Konflik Keluarga Rahmadi
Malam itu – rumah Rahmadi
- Rahmat memanggil Rahmadi ke ruang kerjanya.
"Ayah dengar kau kirim seratus tangkai mawar ke rumah seorang gadis miskin di Kersan."
Rahmadi duduk santai di kursi hadapan ayahnya. "Iya."
"Kenapa kau buang-buang uang untuk hal bodoh seperti itu?"
"Karena aku suka gadis itu. Aku ingin dia jadi milikku."
- Rahmat menghela napas. "Nak, kau ini anak orang kaya. Jangan merendahkan diri dengan gadis desa. Cari yang sederajat."
"Tidak ada yang sederajat dengan kita, Ayah. Keluarga kita yang paling kaya di kecamatan ini. Jadi semua perempuan di sini di bawah kita."
"Tapi..."
"Ayah tidak usah ikut campur. Urusan cinta adalah urusanku."
- Rahmat terdiam. Ia tidak punya kuasa atas anaknya. Ia sudah kehilangan kendali sejak Rahmadi kecil.
"Baiklah. Tapi jangan bikin masalah. Ayah tidak mau nama keluarga kita tercemar."
Rahmadi berdiri. "Nama keluarga Ayah sudah tercemar sejak Ayah selingkuh di belakang Ibu."
- Rahmat memucat.
Rahmadi pergi meninggalkan ayahnya yang terdiam di kursi.
Ariyanti yang Tak Tergoyahkan
Jalan Randu Gembyang – sore yang mendung
Ariyanti dan Akang berjalan pulang. Langit kelabu. Awan hitam menggulung di barat. Tanda hujan akan segera turun.
"Kang, kau tahu? Rahmadi bukan ancaman," kata Ariyanti tiba-tiba.
"Kenapa kau bilang begitu?"
"Karena dia tidak kenal aku. Dia hanya kenal bayang-bayang yang ia ciptakan tentang diriku. Dia jatuh cinta pada fantasinya sendiri, bukan padaku."
Akang tersenyum. "Kamu bijak, Ari."
"Aku hanya realistis. Orang kayak Rahmadi terbiasa dengan kemudahan. Kalau dia sadar aku tidak mudah, dia akan pergi sendiri."
"Dan kalau dia tidak pergi?"
Ariyanti berhenti. Ia menatap Akang dengan mata penuh tekad.
"Kalau dia tidak pergi, kita lawan. Bersama."
Tetesan hujan mulai turun. Satu per satu. Lalu semakin deras.
Mereka berlari berteduh di bawah pohon randu terdekat.
"Ari, ingat paYan g bocor kita dulu?" tanya Akang sambil tertawa.
"Ingat. Aku masih menyimpannya."
"Benarkah?"
"Iya. Sebagai pengingat bahwa kita sudah melewati banyak badai. Dan ini juga akan kita lewati."
Hujan deras mengguyur Tegorejo. Tapi di bawah pohon randu, Akang dan Ariyanti berpegangan tangan.
Mereka tidak tahu bahwa di balik rintik hujan, Rahmadi berdiri di bawah paYan g hitam besar yang dipegang Danu. Ia mengamati mereka dari kejauhan.
"Menarik," bisik Rahmadi.
"Ada apa, Pak?" tanya Danu.
"Mereka pikir mereka kuat karena punya satu sama lain. Tapi mereka lupa, aku punya segalanya. Uang, kekuasaan, dan waktu. Aku bisa menunggu. Aku bisa menghancurkan mereka perlahan."
"Jadi rencana Bapak?"
"Lanjutkan. Sebarkan rumor tentang ayah Akang. Tapi jangan sampai merusak reputasiku. Aku harus tetap tampak sempurna di depan Ariyanti."
"Baik, Pak."
Rahmadi berbalik dan berjalan menuju mobil mewahnya.
Hujan terus mengguyur.
Dan badai sesungguhnya belum benar-benar datang.
BAB 6
PERSEMBAHAN RATUSAN MAWAR
Rahmadi mengirimkan seratus tangkai mawar ke rumah Ariyanti di Dusun Kersan. Seluruh desa gempar. Ariyanti hanya tersenyum tipis, lalu memberikannya pada ibunya.
Tegorejo, Juli 1997. Dua minggu setelah Rahmadi tiba di SMAN I Pegandon.
Matahari belum sepenuhnya terbit ketika Dusun Kersan dikejutkan oleh pemandangan yang belum pernah mereka lihat seumur hidup. Sebuah mobil box putih, dengan logo florist terbesar di Kendal terpampang di kedua sisinya, berhenti tepat di depan rumah sederhana milik keluarga Ariyanti. Mesinnya masih menyala, mengeluarkan suara dengung rendah yang membangunkan ayam-ayam tetangga dari tidurnya.
Bukan satu atau dua, tapi seratus tangkai mawar merah segar dikeluarkan dari mobil itu oleh dua orang pria berseragam rapi. Kelopaknya masih basah oleh embun pagi, beberapa tetes air masih menempel di permukaan merah tua yang lembut. Batangnya hijau segar, dipotong rapi dengan sudut empat puluh lima derajat, tanpa duri. Duri-duri itu sengaja dibuang, satu per satu, mungkin oleh tukang florist yang telaten. Seolah-olah Rahmadi ingin mengatakan bahwa cintanya tanpa duri, tanpa luka, tanpa risiko.
Tapi Ariyanti tahu lebih baik. Ia tahu bahwa setiap mawar punya duri, meskipun duri itu sudah dibuang. Durinya akan tumbuh lagi. Dan Rahmadi sendiri, dengan senyum manisnya yang tidak pernah sampai ke mata, adalah duri yang paling tajam di antara semuanya.
Ratusan tangkai mawar itu kemudian dirangkai dalam vas-vas plastik transparan, beberapa diikat dengan pita satin merah, beberapa lagi dibiarkan longgar dalam plastik pembungkus bening. Seluruh pekarangan rumah Ariyanti yang hanya berukuran tiga kali empat meter berubah menjadi lautan merah. Wangi mawar yang pekat menyebar ke seluruh gang, bercampur dengan bau tanah basah dan asap dapur yang masih mengepul dari cerobong rumah warga.
Dusun Kersan belum pernah melihat kemewahan seperti ini. Bahkan saat pernikahan anak Pak Lurah sekalipun, bunga yang digunakan hanya anyaman janur dan beberapa pot tanaman hias pinjaman dari tetangga. Tapi seratus tangkai mawar? Itu adalah kemewahan yang tidak masuk akal. Itu adalah pamer kekayaan yang tidak tahu diri. Itu adalah pernyataan perang.
Geger di Dusun Kersan
Pukul 05.45. Rumah Ariyanti.
"Yan ! Yan ! Bangun! Ada orang asing di depan rumah!" teriak Ibu Ariyanti dari dapur. Suaranya campuran antara kaget dan cemas, naik satu oktaf lebih tinggi dari biasanya. Ibu memegang centong kayu di tangan kanannya, masih ada sisa adonan tempe yang menempel di ujungnya.
Ariyanti yang baru saja selesai mengambil air wudhu untuk salat subuh keluar rumah dengan rambut masih terbalut kain. Matanya masih setengah sadar, masih menyisakan kantuk yang enggan pergi. Ia mengucek-ngucek kelopak matanya dengan punggung tangan, berusaha menyesuaikan pandangan dengan cahaya matahari pagi yang mulai menyilaukan.
Di depan pagar anyaman bambu yang sudah reot di beberapa bagian, berdiri dua orang pria berseragam rapi. Kemeja putih lengan panjang, celana bahan hitam, sepatu pantofel mengkilap. Mereka membawa kertas pesanan berwarna pink dan senyum ramah yang sudah dilatih di depan cermin berkali-kali. Di belakang mereka, mobil box putih masih menyala, pintu belakangnya terbuka lebar, memperlihatkan ratusan tangkai mawar yang masih tersisa.
"Selamat pagi. Apakah ini rumah saudari Ariyanti?" tanya salah satu dari mereka, yang lebih tinggi. Suaranya ramah, tapi ada nada terburu-buru di dalamnya, seperti orang yang ingin segera menyelesaikan tugas.
Ariyanti mengerjap. "Iya. Saya Ariyanti."
Pria itu tersenyum lega, seolah-olah khawatir ia salah alamat. "Ada pesanan bunga untuk Anda. Dari seorang Mas Rahmadi. Seratus tangkai mawar merah pilihan. Tolong ditandatangani di sini."
Dia mengulurkan kertas pesanan dan pulpen. Pulpen itu merek mahal, berwarna hitam dengan klip emas. Ariyanti tidak pernah memegang pulpen semewah itu seumur hidupnya.
Tapi Ariyanti tidak mengambilnya. Ia justru menatap ke belakang pria itu, ke halaman rumahnya yang sempit. Di sana, bertumpuk-tumpuk vas bunga plastik berisi puluhan mawar merah. Beberapa sudah dirangkai indah dengan pita satin, beberapa masih terpisah dalam plastik pembungkus bening. Ada yang diletakkan di atas kursi bambu, ada yang di tanah, ada yang digantung di pagar karena tidak muat lagi.
Seluruh pekarangan rumahnya yang hanya berukuran tiga kali empat meter berubah menjadi taman bunga dadakan. Lahan yang biasanya ia gunakan untuk menjemur pakaian dan ibu gunakan untuk menanam beberapa pot cabang kini tertutup seluruhnya oleh warna merah.
"Apa-apaan ini?" gumam Ariyanti. Suaranya tidak keras, tapi cukup untuk didengar oleh para tetangga yang mulai berkerumun di sekitar pagar.
Ibu Ariyanti keluar rumah. Begitu melihat tumpukan mawar yang membanjiri halaman, mulutnya menganga. Centong kayu di tangannya hampir jatuh. Wajahnya berubah pucat, lalu merah, lalu pucat lagi.
"Astaga... seratus?" bisiknya, suaranya nyaris tidak terdengar. "Ini... ini berapa harganya, Mas?"
Pria antar itu tersenyum bangga, seolah ia sendiri yang memetik dan merangkai mawar-mawar itu. "Tidak usah dipikirkan, Bu. Yang penting sudah dilunasi. Totalnya sekitar lima juta rupiah."
Mendengar angka itu, Ibu Ariyanti memegang dada. Tangannya yang lain meraih tiang pagi untuk menahan tubuhnya yang terasa lemas. Lima juta! Itu setara dengan penghasilan keluarganya selama setahun lebih. Setahun kerja keras berjualan gorengan dari pagi hingga malam. Setahun menghemat pengeluaran untuk bisa menyekolahkan Ariyanti. Setahun menunda membeli baju baru atau memperbaiki atap yang bocor.
Dan sekarang, semua uang itu dihabiskan hanya untuk bunga. Bunga yang akan layu dalam seminggu.
Ariyanti menatap ibunya sebentar. Ia melihat kebingungan di mata ibunya, juga sedikit kegoyahan. Ibu mungkin tergoda. Siapa yang tidak tergoda oleh kemewahan seperti ini?
Tapi Ariyanti tidak.
"Ibu tidak terima," kata Ariyanti. Suaranya tegas, tidak ada ruang untuk tawar-menawar.
Pria antar itu mengerjap. "Tapi Mbak..."
"Saya bilang tidak terima. Bawa kembali semua. Saya tidak butuh."
Pria itu tampak bingung, mungkin karena ini pertama kalinya ia menemui pelanggan yang menolak pesanan yang sudah dibayar lunas. "Tapi Mbak, ini sudah dibayar... Mahal, lho..."
Ariyanti menatapnya dingin. "Itu urusan yang membayar. Bukan urusan saya. Saya tidak meminta. Saya tidak butuh. Sekarang bawa kembali."
Sebelum pria itu sempat menjawab, puluhan tetangga sudah berkerumun di depan rumah Ariyanti. Mereka datang dari berbagai penjuru dusun. Ada yang masih memakai sarung, rambutnya masih acak-acakan karena baru bangun tidur. Ada yang rambutnya masih basah, baru saja keramas. Ada yang sambil menggendong anak kecil yang masih mengantuk, pipinya masih merah karena tertindih bantal.
Mereka berbisik-bisik, saling berbagi informasi dengan cara yang khas warga desa, setengah berbisik tapi cukup keras untuk didengar oleh orang yang menjadi bahan pembicaraan.
"Wah, Ariyanti, dapat bunga dari anak konglomerat!"
"Bagus-bagus, Yan . Kamu beruntung. Jangan ditolak."
"Masa anak miskin dapat pacar kaya, masih mau nolak?"
"Kurang ajar, Ariyanti. Kamu itu siapa? Sombong banget."
Kata-kata itu melayang ke telinga Ariyanti satu per satu, seperti panah yang ditembakkan dari berbagai arah. Ada yang tajam, ada yang tumpul, tapi semuanya bertujuan sama: melukai.
Ariyanti mendengar semua komentar itu. Ia bisa merasakan tatapan iri, tatapan heran, tatapan curiga dari tetangga-tetangganya. Tapi ia tidak bergeming. Bahunya tidak menunduk. Matanya tidak berkaca-kaca.
"Ibu, tolong bantu saya mengembalikan semua bunga ini," pinta Ariyanti pada ibunya.
Ibu Ariyanti ragu. Matanya terus menatap tumpukan mawar merah itu. Warnanya begitu cantik. Wanginya begitu harum. Seumur hidup, ia belum pernah memiliki bunga semewah ini.
"Yan , ini... ini cantik, lho," kata Ibu dengan suara lemah. "Mungkin Mas Rahmadi tulus..."
"Ibu." Ariyanti menatap ibunya tajam. "Apa Ibu lupa? Laki-laki itu tidak kita kenal. Kita tidak tahu bagaimana sifatnya. Kita tidak tahu apa maunya. Dia hanya ingin pamer. Dia hanya ingin merendahkan kita. Bunga ini bukan hadiah. Ini umpan."
Kata "umpan" itu terasa berat di telinga Ibu Ariyanti. Ia terdiam. Anaknya memang keras kepala, selalu begitu sejak kecil. Tapi kali ini, ia tahu anaknya tidak salah.
Tetangga-tetangga tidak setuju. Mereka terus berbisik, terus bergosip, terus menghakimi. Suasana semakin panas. Seorang ibu-ibu bahkan berteriak dari kejauhan, "Dasar kurang ajar, sombong!"
Dan di tengah kerumunan itu, seorang pemuda berdiri diam di pinggir jalan, di belakang barisan tetangga yang paling belakang. Ia tidak bergerak. Tidak bersuara. Matanya tertuju pada satu titik.
Akang Supriyadi.
Ia melihat semuanya dari kejauhan. Ia melihat tumpukan mawar merah yang membanjiri halaman rumah Ariyanti. Ia melihat raut muka Ariyanti yang dingin dan tegas. Ia melihat kebingungan di wajah Ibu Ariyanti. Ia melihat tatapan iri tetangga-tetangga.
Dadanya sesak. Bukan sesak karena cemburu seperti yang mungkin dipikir orang lain. Tapi sesak karena marah. Marah pada Rahmadi yang keterlaluan. Marah pada dunia yang begitu mudah menghakimi.
Rahmadi tidak cukup mengirim bunga. Ia juga sengaja mempublikasikannya. Ia mengirim bunga di pagi hari, saat semua orang sedang bangun. Ia memilih mobil box dengan logo florist yang mencolok. Ia memastikan bahwa seluruh desa tahu.
Itu bukan hadiah, pikir Akang. Itu bukan pernyataan cinta. Itu pernyataan perang.
Dan perang ini baru saja dimulai.
Ariyanti yang Tak Tergoyahkan
Pukul 06.15. Halaman rumah Ariyanti.
Setelah negosiasi alot yang berlangsung hampir setengah jam, para pengantar bunga itu akhirnya pergi. Mereka membawa hampir semua mawar. Mobil box putih itu melaju perlahan meninggalkan Dusun Kersan, meninggalkan bekas roda di tanah yang masih lembap oleh embun.
Hanya beberapa tangkai yang tersisa. Ibu Ariyanti memohon pada Ariyanti, dengan mata yang berbinar-binar, dengan suara yang sedikit memelas.
"Yan , biar Ibu simpan lima tangkai. Untuk hiasan rumah. Tidak apa-apa, kan?"
Ariyanti menghela napas. Ia melihat mata ibunya. Mata yang sudah tua, yang sudah keriput di sudutnya, yang sudah lelah oleh kehidupan. Tapi di pagi itu, mata itu berbinar seperti mata anak kecil yang melihat mainan baru.
Ia tidak tega.
"Baiklah, Bu. Tapi jangan pernah Ibu anggap itu dari Rahmadi. Itu dari Allah yang memberi kita keindahan untuk dinikmati."
Ibu Ariyanti tersenyum lebar, senyum yang membuat kerutan di wajahnya semakin dalam, tapi senyum yang tulus. Ia segera mengambil ember bekas cat tembok yang sudah tidak terpakai, mengisinya dengan air bersih dari sumur, lalu dengan hati-hati merangkai lima mawar merah di dalamnya.
"Sekarang rumah kita wangi, Yan ," kata Ibu sambil menata posisi mawar-mawar itu agar terlihat indah.
Ariyanti tersenyum tipis. Ibu memang polos, pikirnya. Ibu masih bisa bahagia dengan hal-hal kecil seperti ini. Mungkin itulah rahasia Ibu bisa bertahan selama ini. Bukan karena ia kuat. Tapi karena ia tidak pernah kehilangan kemampuan untuk menikmati keindahan, meskipun keindahan itu datang dari orang yang salah.
Ariyanti masuk ke kamar untuk berganti pakaian. Di balik pintu anyaman bambu yang tipis, ia berdiri diam sejenak. Ia mendengar suara Ibu yang masih sibuk di luar, memindahkan ember bekas cat ke sudut teras yang teduh, bergumam kecil tentang betapa cantiknya bunga-bunga itu.
Rahmadi, pikir Ariyanti. Kau pikir dengan bunga kau bisa beli hatiku? Kau keliru besar.
Ia memutuskan untuk tidak memberi reaksi apa pun. Tidak marah. Tidak senang. Tidak peduli. Karena bagi Ariyanti, cara terbaik melawan orang seperti Rahmadi adalah dengan mengabaikannya. Orang seperti Rahmadi hidup dari perhatian. Jika tidak ada yang memperhatikan, ia akan mati perlahan.
Tapi Ariyanti belum tahu bahwa Rahmadi bukanlah orang yang mudah mati. Ia adalah gulma yang akarnya dalam, yang akan tumbuh lagi meskipun sudah dicabut berkali-kali.
Akang yang Terluka Diam-diam
Pukul 06.30. Pertigaan Jalan Randu Gembyang.
Akang menunggu Ariyanti di bawah pohon randu tertua, seperti biasa sejak mereka mulai akrab. Tapi pagi ini, wajahnya terlihat muram. Pundaknya yang biasanya tegap sedikit membungkuk. Matanya sayu, sayu yang membuat lingkaran hitam di bawahnya semakin jelas. Tangannya menggenggam erat tas punggung lusuhnya, terlalu erat sampai buku-buku jarinya memutih.
Dari sini, ia bisa melihat kerumunan di depan rumah Ariyanti. Meskipun jaraknya cukup jauh, ia bisa melihat tumpukan warna merah di halaman rumah itu. Warna merah yang mencolok, yang memekakkan mata, yang seolah-olah berteriak, "Lihat aku! Aku bisa melakukan ini! Aku bisa membeli apa pun!"
"Pagi, Kang," sapa Ariyanti tiba-tiba dari belakang. Suaranya tenang, seperti biasa. Tidak ada beban di dalamnya.
Akang terkejut. Pundaknya mengangkat, lalu kembali ke posisi semula. "Ari... maaf, aku tidak sadar kamu datang."
"Mikirin apa?"
"Tidak ada."
"Bohong." Ariyanti berjalan ke sampingnya, berdiri tepat di sebelah kirinya. "Kau mikirin bunga mawar itu, kan?"
Akang terdiam. Tidak bisa menyangkal. Lidahnya terasa kelu. Matanya tidak berani menatap Ariyanti.
"Kang, dengarkan aku." Ariyanti menatapnya. Matanya teduh, tidak ada kemarahan di sana. "Aku sudah suruh mereka bawa kembali. Hampir semua. Ibu cuma simpan lima tangkai untuk hiasan rumah."
"Aku tidak cemburu, Ari."
"Aku tahu. Tapi kau terluka."
Akang menggigit bibirnya. Bibir bawahnya tergigit kuat, sampai hampir berdarah. Ia tidak ingin menangis. Ia tidak ingin terlihat lemah. Tapi dadanya terasa seperti diremas-remas oleh tangan raksasa yang tidak terlihat.
"Ari, kenapa dia? Kenapa dia memilihmu? Apakah dia tahu kau sudah... dimiliki?"
Ariyanti mengerutkan dahi. "Dimiliki?" Suaranya naik sedikit, terdengar seperti orang yang tersinggung. "Aku bukan barang, Kang. Aku tidak dimiliki siapa pun."
Akang menyadari kesalahannya. "Aku minta maaf. Maksudku... apakah dia tahu bahwa kau dan aku..."
Ariyanti menghela napas. "Kang, tidak ada yang pasti antara aku dan kamu. Kita belum pacaran. Kita belum berkomitmen. Kita hanya... kita hanya dua orang yang suka menghabiskan waktu bersama."
Kata-kata itu menusuk. Akang merasakannya di ulu hatinya.
"Tapi yang jelas," lanjut Ariyanti, "hatiku sudah memilih. Dan pilihanku bukan orang yang menghujani bunga mawar seratus tangkai. Pilihanku adalah orang yang berbagi nasi bungkus denganku di kantin sekolah. Pilihanku adalah orang yang rela basah kuyup memegang paYan g bocor untukku. Pilihanku adalah orang yang tidak pernah mengeluh meskipun hidupnya lebih berat dari yang aku bayangkan."
Akang menatap Ariyanti. Di mata gadis itu, ia melihat kejujuran yang tidak bisa ia ragukan. Ia melihat ketulusan yang tidak bisa ia sangkal.
"Aku hanya takut kehilanganmu, Ari."
"Kau tidak akan kehilangan aku kalau kau tidak menyerah. Tapi kalau kau terus menerus cemburu buta, kalau kau terus menerus meragukan pilihanku, kau akan membuatku lelah. Dan aku tidak mau lelah, Kang. Aku sudah cukup lelah dengan hidup."
Akang meraih tangan Ariyanti. Tangannya dingin. Tangannya gemetar. Tapi genggamannya erat.
"Aku janji tidak akan cemburu buta. Tapi izinkan aku khawatir. Izinkan aku merasa tidak aman kadang-kadang. Karena kamu terlalu berharga untuk kehilangan."
"Kau boleh khawatir. Tapi jangan biarkan kekhawatiranmu mengalahkan logikamu. Rahmadi ingin kita bertengkar. Rahmadi ingin kita saling curiga. Rahmadi ingin kita hancur dari dalam. Itu tujuannya. Jangan beri dia kepuasan itu."
Akang menarik napas panjang. Udara pagi yang dingin masuk ke paru-parunya, menyegarkan, tapi tidak cukup untuk menenangkan jantungnya yang masih berdebar kencang.
"Kau benar. Maaf."
Mereka berjalan bersama menuju sekolah. Tangan mereka bergandengan, meskipun hanya sebentar, hanya sampai tikungan pertama di mana orang-orang mulai terlihat. Mereka melepaskannya tanpa kata-kata, tanpa isyarat, hanya dengan kesepakatan diam-diam.
Dan di balik rimbunan pohon randu, seseorang merekam mereka dengan kamera tersembunyi. Lensa kamera itu mengikuti mereka dari kejauhan, merekam setiap gerakan, setiap senyum, setiap genggaman tangan.
Danu tersenyum puas. Bosnya akan senang dengan laporan hari ini.
Dampak Bunga Mawar di Seluruh Desa
Sepanjang hari itu, berita tentang seratus tangkai mawar menyebar seperti api di padang rumput kering di musim kemarau. Tidak ada yang bisa menghentikannya. Dari mulut ke mulut, dari warung ke warung, dari pasar ke pasar.
Di warung kopi depan Jalan Raya Pegandon, para bapak-bapak yang sedang menikmati kopi tubruk dan rokok kretek seusai subuh berbincang dengan suara keras.
"Anak H. Rahmat itu habis-habisan, ya," kata Pak Darmo, pedagang sayur yang biasa mangkal di pinggir jalan. "Beliin bunga seratus tangkai buat anak janda di Kersan. Padahal baru kenal beberapa minggu."
"Dibilangin, anak muda zaman sekarang," sahut Pak Karto, petani yang sedang duduk di kursi bambu sambil memegang daun pisang berisi nasi dan lauk seadanya. "Boros. Dulu saya pacaran sama istri saya, cukup dengan membawakannya setangkai bunga dari kebun tetangga. Sekarang? Seratus tangkai? Buat apa?"
"Buat pamer, Pak," kata Pak Lurah yang kebetulan mampir membeli kopi. "Anak-anak muda zaman sekarang sukanya pamer. Pamer harta. Pamer kekayaan. Pamer siapa yang paling bisa."
"Tapi ceweknya nolak, katanya," tambah Pak Karto.
Pak Lurah menghela napas. "Itu namanya anak baik. Bukan karena sombong. Tapi karena dia tahu mana yang pantas dan mana yang tidak."
"Wah, anaknya Siti Aminah itu memang keras kepala. Saya kenal dari kecil."
Mereka tertawa bersama. Tawa yang tidak bisa menyembunyikan bahwa mereka juga iri. Bahwa mereka juga bertanya-tanya dalam hati, kenapa bukan anak saya yang dikirimi bunga seratus tangkai?
Di pasar Pegandon, para ibu-ibu yang sedang memilih sayur dan lauk untuk keperluan sehari-hari juga tidak ketinggalan.
"Bu, dengar kabar? Ariyanti, anaknya Siti Aminah, dikirimi bunga mawar seratus tangkai sama anak konglomerat. Tapi katanya dia nolak."
"Halah, pura-pura," timpal yang lain sambil memilih cabai merah yang masih segar. "Masa anak miskin nolak orang kaya? Di kampung ini, mana ada anak perempuan yang rela menolak lamaran orang kaya?"
"Tapi keluarganya H. Rahmat itu serem, lho. Katanya bisnisnya banyak hutang. Katanya mereka punya preman bayaran yang suka mengintimidasi orang yang berhutang."
"Hutang atau enggak, yang jelas lebih kaya daripada kita. Anaknya dikasih mobil, dikasih rumah, dikasih uang. Masa nolak?"
"Iya juga sih. Tapi Ariyanti itu anaknya pinter, Bu. Rangking satu. Mungkin dia punya prinsip."
"Prinsip? Prinsip tidak bisa dimakan, Bu. Prinsip tidak bisa membayar sekolah."
Mereka melanjutkan berbisik. Lidah mereka tidak pernah lelah. Mulut mereka tidak pernah puas.
Di SMAN I Pegandon, para siswa juga tidak ketinggalan. Gosip menyebar lebih cepat dari pelajaran matematika yang sulit dipahami.
"Akhirnya Rahmadi gerak cepat, ya," kata Budi, ketua kelas, kepada teman-temannya di kantin. "Kirain dia cuma pamer doang. Ternyata serius."
"Cewek pinter itu kayaknya susah ditaklukkan, deh," sahut Andri, teman sebangku Budi. "Mungkin dia lebih suka yang biasa-biasa aja."
"Maksudmu Akang?" Budi tertawa. "Hahaha, laki-laki miskin itu? Apa yang dia punya? Dia bahkan tidak punya sepatu yang layak!"
"Cinta itu tidak memandang harta, Bud."
"Kata siapa?" Budi menyeringai. "Cinta itu buta, tapi kalau miskin, tambah buta."
Mereka tertawa keras, tanpa merasa bersalah, tanpa menyadari bahwa di sudut lain kantin, ada orang yang mendengar dan hatinya terluka.
Siti Fatimah, teman sekelas Ariyanti, duduk sendirian di bangku paling pojok. Di depannya, sepiring nasi goreng sudah dingin. Ia tidak menyentuhnya. Matanya tertuju pada Ariyanti yang sedang berbicara dengan Akang di meja seberang.
Kenapa semua laki-laki memperhatikan dia? bisik Siti dalam hati. Aku juga cantik. Aku juga pintar. Aku juga rajin. Tapi tidak ada yang mengirimiku bunga mawar seratus tangkai. Tidak ada yang menatapku seperti Rahmadi menatap Ariyanti. Tidak ada yang peduli padaku.
Di dalam dadanya, benih iri mulai tumbuh. Kecil. Tidak terlihat. Tapi akarnya sudah menjalar, mencari makanan, mencari tempat untuk bersarang.
Benih itu kelak akan disiram oleh Rahmadi menjadi pohon pengkhianatan yang rindang. Dan Siti, yang tidak tahu bahwa ia sedang dimanfaatkan, akan dengan senang hati menyiraminya setiap hari.
Reaksi Rahmadi atas Penolakan Itu
Rumah Rahmadi, setelah pulang sekolah.
Rahmadi duduk di ruang kerjanya yang ber-AC, kursi kulit hitam yang empuk, di hadapannya meja kayu mahoni yang mengkilap. Di atas meja itu, ada laporan tebal yang disusun Danu. Laporan tentang Ariyanti, tentang Akang, tentang reaksi tetangga, tentang apa pun yang terjadi di desa kecil itu.
Danu berdiri di sampingnya, tegap seperti patung, menunggu perintah berikutnya.
"Dia menolak semua? Bahkan tidak menyisakan satu pun?" suara Rahmadi datar, tidak menunjukkan emosi.
Danu mengangguk. "Hampir semua dikembalikan, Tuan. Ibunya cuma minta lima tangkai. Untuk hiasan rumah, katanya."
Rahmadi tersenyum. Tapi Danu sudah terlalu lama bekerja untuk Rahmadi, ia tahu bahwa senyum ini tidak baik. Senyum ini adalah senyum sebelum badai.
"Menarik," kata Rahmadi sambil memainkan pulpen di tangannya. Pulpen itu berwarna hitam, mahal, berat. "Semakin keras dia menolak, semakin aku ingin memilikinya."
"Tuan tidak marah?"
"Marah? Kenapa harus marah? Ini justru membuatku semakin tertantang." Rahmadi meletakkan pulpennya. Matanya menatap ke luar jendela, ke arah desa yang terlihat dari kejauhan. "Gadis-gadis di Semarang terlalu mudah. Begitu dikasih mobil, langsung luluh. Begitu diajak ke restoran mahal, langsung meleleh. Tapi Ariyanti? Dia butuh lebih dari itu. Dia butuh tantangan. Dan aku suka tantangan."
"Apa rencana Tuan selanjutnya?"
Rahmadi berdiri. Ia berjalan ke jendela, membuka tirai lebar-lebar. Sinar matahari sore masuk, menyilaukan.
"Kita tunggu dulu. Biarkan rumor tentang ayah Akang menyebar. Biarkan masyarakat menekannya dari luar. Aku tidak perlu mengotori tanganku. Biarkan mereka yang melakukan pekerjaan kotorku."
"Tapi Tuan, apakah itu cukup?"
Rahmadi berbalik. Matanya dingin. "Ariyanti pikir dia kuat. Tapi semua orang punya titik lemah, Danu. Semua orang. Dan aku akan menemukan titik lemahnya. Entah itu ibunya, entah itu adik-adiknya, entah itu Akang sendiri. Aku akan menemukannya."
Danu mengangguk. Ia sudah mendengar nada ini berkali-kali. Nada yang berarti bahwa Rahmadi sedang merencanakan sesuatu yang besar. Sesuatu yang kejam. Sesuatu yang akan menghancurkan.
"Baik, Tuan. Saya akan menyiapkan semuanya."
Lima Mawar yang Berbicara
Malam itu. Rumah Ariyanti.
Ariyanti duduk di teras rumahnya, bersandar pada dinding anyaman bambu yang dingin. Di depannya, lima mawar merah yang dirangkai ibunya dalam ember bekas cat terlihat seperti bara api yang hampir padam di bawah sinar lampu minyak tanah yang berkedip-kedip.
Wangi mawar masih tercium, meskipun tidak sekuat pagi tadi. Wangi yang sedikit memabukkan, yang membuat kepalanya terasa ringan.
"Ibu, apa Ibu tidak heran?" tanya Ariyanti tiba-tiba. Matanya tidak lepas dari mawar-mawar itu.
"Hernan sama apa, Yan ?" Ibu Ariyanti yang sedang duduk di sampingnya, mengelus-elus rambut panjang Ariyanti dengan jari-jarinya yang kasar karena kerja keras.
"Rahmadi. Kenapa dia bisa begitu... nekat? Kita tidak kenal dia. Kita tidak punya hubungan apa pun. Tiba-tiba dia mengirim seratus tangkai mawar, seperti orang gila."
Ibu Ariyanti mendekati anaknya. Ia berhenti mengelus rambut, lalu meraih tangan Ariyanti. Tangan Ibu hangat, meskipun kasar.
"Yan , Ibu dulu juga pernah muda. Ibu juga pernah didekati laki-laki kaya. Dulu, waktu Ibu masih gadis, sebelum menikah dengan ayahmu, ada seorang saudagar yang ingin meminang Ibu. Rumahnya besar, hartanya banyak, dia baik juga. Tapi Ibu memilih ayahmu."
"Kenapa Ibu memilih ayah?" Ariyanti menatap ibunya. Ini cerita yang belum pernah ia dengar sebelumnya.
"Karena ayahmu tidak pernah membuat Ibu merasa kecil. Ayahmu tidak pernah membuat Ibu merasa berhutang. Dengan ayahmu, Ibu bebas. Itu yang paling penting, Yan . Kebebasan untuk menjadi diri sendiri. Kebebasan untuk tidak perlu terus-menerus berterima kasih. Kebebasan untuk tidak perlu merasa bahwa hidup kita tergantung pada belas kasihan orang lain."
Ariyanti menunduk. Jarinya memainkan ujung sarung yang ia kenakan.
"Aku memilih Akang, Bu."
"Ibu tahu."
"Ibu tidak marah?"
"Kenapa Ibu harus marah?" Ibu Ariyanti tertawa kecil. Tawa yang lembut, yang membuat kerutan di wajahnya semakin dalam. "Akang anak baik. Miskin memang, tapi baik. Tidak sombong. Tidak pernah merendahkan orang lain. Rajin. Dan Ibu lebih percaya orang miskin yang baik daripada orang kaya yang pura-pura baik."
"Tapi tetangga-tetangga bilang Ibu bodoh. Bilang Ibu seharusnya mendorongku menerima Rahmadi. Katanya, 'Zaman sekarang, yang penting kaya. Urusan baik atau tidak, nomor dua.'"
Ibu Ariyanti diam sebentar. Matanya menerawang jauh, ke masa lalu, ke masa ketika ia masih muda dan harus membuat pilihan yang sama.
"Yan , dulu Ibu dibilang bodoh juga. Keluarga Ibu marah-marah. Tetangga bergosip. Mereka bilang Ibu gila, menolak saudagar kaya demi laki-laki miskin yang tidak punya apa-apa. Tapi lihat sekarang. Ibu bahagia. Ibu tidak pernah menyesal. Sementara saudagar itu? Sudah tiga kali kawin cerai, hartanya habis untuk biaya pengadilan."
Ariyanti tersenyum. "Ibu bijak."
"Ibu bukan bijak, Yan ." Ibu Ariyanti mengusap kepala anaknya. "Ibu hanya sudah tua dan banyak lihat sampah di dunia ini. Ibu sudah lihat banyak perempuan yang memilih kaya tapi sengsara. Ibu tidak ingin itu terjadi padamu."
Mereka berdua tertawa kecil. Tawa yang tidak keras, tawa yang hangat, tawa yang hanya terdengar di malam hari ketika semua orang sudah tidur.
Malam di Dusun Kersan terasa lebih hangat dari biasanya. Entah karena mawar-mawar itu, entah karena kehadiran Ibu, entah karena Ariyanti akhirnya merasa yakin dengan pilihannya.
Rahmadi pikir dengan bunga dia bisa membeliku, pikir Ariyanti sambil menatap mawar terakhir sebelum tidur. Dia tidak tahu bahwa yang paling berharga di dunia ini tidak bisa dibeli dengan uang. Tidak dengan seratus tangkai mawar. Tidak dengan lima juta rupiah. Tidak dengan seluruh harta bendanya sekalipun.
Kunjungan Malam Rahmadi
Pukul 21.00. Jalan Randu Gembyang, sekitar seratus meter dari rumah Ariyanti.
Sebuah mobil hitam mewah berhenti di pinggir jalan yang gelap. Lampu depannya dimatikan. Mesinnya dimatikan. Hanya suara jangkrik dan angin malam yang terdengar.
Rahmadi turun. Ia berdiri di pinggir jalan, menatap ke arah rumah gadis yang menjadi obsesinya. Rumah kecil dengan dinding anyaman bambu yang sudah rapuh, atap rumbia yang sudah menghitam oleh usia, pekarangan sempit yang pagi tadi dipenuhi mawar merah dan sekarang hanya menyisakan lima tangkai di ember bekas cat.
"Dia tinggal di tempat seperti ini," gumam Rahmadi, nyaris tidak percaya. "Dan dia masih berani menolakku?"
Danu yang duduk di kursi sopir menoleh. "Tuan, apakah kita akan mendekat?"
"Tidak. Aku hanya ingin melihat. Aku ingin tahu seperti apa hidupnya. Aku ingin tahu apa yang membuatnya begitu... sombong."
Rahmadi mengamati rumah itu dengan saksama. Dari balik celah anyaman bambu yang tidak terlalu rapat, ia bisa melihat bayangan dua orang. Ariyanti dan ibunya. Mereka sedang duduk di teras, mungkin sedang mengobrol, mungkin sedang menikmati malam.
"Aku bisa belikan dia rumah baru," kata Rahmadi, lebih kepada dirinya sendiri. "Rumah yang lebih besar. Lebih bagus. Lebih mewah. Dengan listrik 24 jam, dengan kamar mandi di dalam, dengan dapur yang tidak perlu pakai kayu bakar. Tapi dia lebih memilih tinggal di gubuk reyot ini bersama ibu janda yang miskin."
"Tuan, saya rasa..."
Rahmadi mengangkat tangan, menyuruh Danu diam. "Aku tidak butuh nasihatmu, Danu. Aku hanya butuh kau melakukan apa yang aku perintah. Mengerti?"
"Baik, Tuan."
Rahmadi menatap rumah itu sekali lagi. Di matanya, ada campuran antara amarah, rasa penasaran, dan sesuatu yang lain. Sesuatu yang mirip dengan kekaguman, meskipun ia tidak akan pernah mengakuinya.
Gadis ini berbeda, pikirnya. Dan aku akan memilikinya. Entah dengan cara apa pun.
"Bawa aku pulang."
Mobil hitam itu melaju pelan meninggalkan Dusun Kersan. Lampu depannya baru dinyalakan setelah mobil mencapai tikungan, agar tidak menarik perhatian. Ariyanti tidak pernah tahu bahwa ia diam-diam diamati. Tidak pernah tahu bahwa seorang pemuda dengan mata dingin berdiri di depan rumahnya, merencanakan sesuatu yang akan mengubah hidupnya selamanya.
Ariyanti Memberikan Mawar Itu pada Ibunya
Keesokan paginya. Rumah Ariyanti, sebelum berangkat sekolah.
Ariyanti sudah siap dengan seragam putih abu-abunya. Tas selempang sudah di pundak. Rambutnya diikat ekor kuda rapi. Tapi sebelum melangkahkan kaki keluar pagar, ia berhenti sejenak.
Ia memetik satu tangkai mawar merah dari ember bekas cat di teras. Kelopaknya masih segar, masih ada embun pagi yang menempel di permukaannya yang lembut. Batangnya hijau, tidak terlalu panjang, tidak terlalu pendek.
Ia menghampiri ibunya yang sedang menyiapkan dagangan di dapur. Ibu sedang membungus nasi dengan daun pisang, jari-jarinya yang cekatan melipat daun dengan rapi.
"Ibu, ini untuk Ibu."
Ibu Ariyanti terkejut. Tangannya berhenti. Ia menoleh, melihat mawar merah di tangan anaknya.
"Ini kan mawar dari... itu lho." Ibu tidak menyebut nama Rahmadi. Tidak perlu.
Ariyanti tersenyum. "Iya. Tapi sekarang bukan lagi milik Rahmadi. Sekarang ini milik Ibu. Karena Ibu yang merawatnya dan membuatnya tetap segar. Karena Ibu yang berhak atas keindahannya, bukan dia."
Ibu Ariyanti hampir menangis. Matanya berkaca-kaca. Tangannya yang masih memegang daun pisang bergetar.
"Astaga, Ariyanti. Kamu tahu? Ini pertama kalinya dalam 15 tahun Ibu menerima bunga dari anak Ibu sendiri. Sejak ayahmu meninggal, tidak ada yang pernah memberi Ibu bunga."
Ariyanti tersenyum. Senyum yang hangat, senyum yang membuat Ibu Ariyanti semakin ingin menangis.
"Aku tidak punya uang untuk beli bunga, Bu. Tapi aku bisa kasih yang ini. Mawar ini mungkin hadiah dari orang yang salah, tapi sekarang sudah menjadi milik kita. Dan kita bisa memaknai ulang. Kita bisa mengubahnya menjadi sesuatu yang baik."
Ibu Ariyanti memeluk anaknya. Pelukan yang erat, yang hangat, yang membuat Ariyanti merasakan detak jantung ibunya yang berdebar kencang.
"Kamu adalah bunga terindah yang pernah Ibu miliki, Yan . Tidak perlu mawar-mawar ini. Tidak perlu seratus tangkai. Tidak perlu lima juta rupiah. Kamu sudah cukup. Kamu lebih dari cukup."
Ariyanti membalas pelukan ibunya. Matanya basah, tapi ia tidak menangis. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak mudah menangis. Untuk menjadi kuat. Untuk menjadi seperti ibunya.
Rahmadi pikir dengan bunga dia bisa membeliku, pikirnya sekali lagi, kali ini dengan keyakinan yang lebih kuat. Dia tidak tahu bahwa yang paling berharga di dunia ini tidak bisa dibeli. Bahwa cinta sejati tidak bisa dipaksakan. Bahwa hati seorang perempuan, jika sudah memilih, tidak akan tergoyahkan oleh harta benda.
Dan ia berjanji pada dirinya sendiri, untuk yang kesekian kalinya, bahwa ia tidak akan pernah menyerah. Tidak pada Rahmadi. Tidak pada tekanan. Tidak pada dunia yang ingin menjatuhkannya.
Ia akan bertahan. Untuk ibunya. Untuk Akang. Untuk dirinya sendiri.
Akang yang Bangkit
Pukul 07.15. SMAN I Pegandon.
Akang datang ke sekolah dengan sikap yang berbeda. Tidak ada lagi yang namanya menunduk ketika dilewati Rahmadi di lorong. Tidak ada lagi yang namanya menghindari tatapan sinis teman-temannya. Tidak ada lagi yang namanya merasa kecil di hadapan mereka yang lebih kaya.
Sebaliknya, ia berjalan dengan kepala tegak. Dadanya sedikit membusung. Matanya menatap lurus ke depan, tidak ke kiri, tidak ke kanan, tidak ke bawah.
Rahmadi yang melihat itu dari kejauhan mengerutkan dahi. "Kenapa laki-laki itu tiba-tiba berubah?" pikirnya. "Apa yang membuatnya percaya diri? Apa yang membuatnya tidak lagi takut? Apa yang membuatnya... berbeda?"
Saat jam istirahat, Akang menghampiri Rahmadi di kantin.
Rahmadi yang sedang duduk di meja khusus bersama pengawalnya tersenyum sinis. "Ada apa, Kang? Mau minta sisa mawar yang tidak diambil Ariyanti? Masih ada beberapa tangkai di gudang, lho. Boleh saya kasih gratis."
Akang tidak terpancing. Wajahnya tetap tenang. Matanya tetap menatap Rahmadi tanpa rasa takut.
"Rahmadi, aku ingin bilang terima kasih."
Rahmadi mengerjap. "Terima kasih? Untuk apa?"
"Untuk bunga mawar itu."
Rahmadi bingung. Alisnya naik. "Maksudmu?"
Akang tersenyum. Senyum yang tulus, senyum yang tidak dibuat-buat, senyum yang bahkan membuat orang yang melihatnya merasa hangat.
"Ariyanti memberikan mawar itu pada ibunya. Ibunya senang sekali. Kata Ibu Ariyanti, itu adalah bunga pertama yang ia terima dalam 15 tahun terakhir. Sejak suaminya meninggal, tidak ada yang pernah memberinya bunga. Tapi sekarang, berkatmu, ibunya tersenyum. Ibunya bahagia."
Rahmadi terdiam. Wajahnya berubah tegang. Ini tidak sesuai rencana. Ini tidak seperti yang ia bayangkan.
"Jadi, terima kasih sudah membuat ibu Ariyanti bahagia. Meskipun itu tidak disengaja. Meskipun niatmu mungkin bukan itu. Tapi terima kasih."
Akang berbalik. Ia berjalan meninggalkan Rahmadi yang tercengang di kursinya, mulutnya sedikit terbuka, matanya sedikit melotot.
Dasar laki-laki miskin kurang ajar, gerutu Rahmadi dalam hati. Tapi ia tidak mengucapkannya dengan suara keras. Ia hanya mengepalkan tangannya di bawah meja, kuku-kukunya menusuk telapak tangan sendiri.
Tapi Akang tidak mendengar gerutuan itu. Ia sudah duduk di samping Ariyanti di meja seberang, berbagi bekal sederhana seperti biasa. Nasi bungkus dengan lauk tempe orek dan sambal terasi. Tidak mewah. Tapi cukup.
"Ari, aku bilang terima kasih pada Rahmadi tadi," bisik Akang sambil menyuap nasi.
Ariyanti terbelalak. "Apa? Kenapa?"
"Karena mawar itu membuat ibumu bahagia. Itu yang terpenting bagiku. Bukan siapa yang mengirimnya. Bukan dari mana asalnya. Tapi bahwa ada kebahagiaan di matamu dan di mata ibumu."
Ariyanti tersenyum. "Kau ini aneh, Kang."
"Aneh yang baik, kan?"
"Mungkin."
Mereka tertawa bersama. Tawa yang ringan, tawa yang tidak terbebani, tawa yang membuat orang di sekitar mereka ikut tersenyum meskipun tidak tahu apa yang lucu.
Dan di sudut lain kantin, Siti Fatimah menatap mereka dengan mata penuh iri. Matanya tidak berkedip. Tangannya menggenggam erat sendok yang sudah dingin.
Kenapa tidak ada yang memperhatikanku seperti itu? Kenapa semua orang selalu melihat Ariyanti? Kenapa Ariyanti begitu beruntung? Apa yang salah denganku?
Ia menghela napas. Lalu melanjutkan makan sendirian. Sendirian seperti biasa. Sendirian seperti yang sudah ia jalani selama ini. Tapi di dalam dadanya, benih iri itu tumbuh sedikit lebih besar, sedikit lebih kuat, sedikit lebih berbahaya.
Dan Siti, yang tidak tahu bahwa ia sedang berjalan di tepi jurang, terus melangkah dengan mata tertutup.
Awal dari Sesuatu yang Berbahaya
Sore itu. Jalan Randu Gembyang.
Akang dan Ariyanti berjalan pulang seperti biasa. Langit sore berwarna jingga, seperti biasanya. Awan-awan tipis bergerak perlahan, seperti guratan kuas di kanvas biru yang tak terbatas.
Burung-burung beterbangan di kejauhan, pulang ke sarang masing-masing. Suara jangkrik mulai terdengar sayup-sayup, pertanda bahwa malam akan segera tiba.
"Kang, apakah kita akan baik-baik saja?" tanya Ariyanti tiba-tiba. Matanya menatap ke depan, tidak menatap Akang.
"Apa maksudmu?" Akang menoleh, sedikit bingung dengan pertanyaan yang tiba-tiba.
"Rahmadi. Dia tidak akan menyerah. Aku tahu. Aku bisa merasakannya. Orang seperti dia tidak terbiasa dengan penolakan. Dan ketika dia tidak terbiasa dengan sesuatu, dia tidak akan berhenti sampai dia mendapatkannya."
Akang berhenti melangkah. Ia menatap Ariyanti dalam-dalam. Matanya mencari-cari sesuatu di wajah Ariyanti. Ketakutan? Keraguan? Ketidakpastian?
Yang ia temukan hanyalah ketenangan. Ketenangan yang aneh, yang tidak biasa untuk seorang gadis seusianya yang sedang dikejar-kejar oleh orang kaya gila.
"Ari, aku tidak tahu masa depan. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi besok, atau lusa, atau tahun depan. Tapi yang aku tahu, selama kita bersama, tidak ada yang tidak mungkin. Aku sudah kehilangan ayahku. Aku sudah kehilangan terlalu banyak dalam hidupku. Aku tidak mau kehilangan kamu juga."
Ariyanti meraih tangan Akang. Genggamannya erat. Hangat. Meyakinkan.
"Kamu tidak akan kehilangan aku, Kang. Bukan karena aku mudah dipegang. Bukan karena aku tidak punya pilihan. Tapi karena aku sudah memilih. Aku sudah memilih sejak lama, bahkan sebelum kamu sadar. Dan aku tidak akan mengubah pilihanku. Tidak untuk Rahmadi. Tidak untuk siapa pun. Tidak untuk uang sebesar apa pun."
Mereka berpegangan tangan di bawah langit jingga. Langit yang mulai berubah warna menjadi merah muda, lalu ungu, lalu gelap.
Dan di kejauhan, di balik rimbunan pohon randu yang lebat, bayangan Rahmadi kembali muncul. Kali ini ia tidak sendiri. Ada sesosok perempuan di sampingnya, dengan kerudung biru muda yang menutupi rambut hitamnya.
Siti Fatimah.
"Apa yang kau lihat, Siti?" tanya Rahmadi, suaranya rendah, hampir berbisik.
Siti menggigit bibirnya. Bibir bawahnya tergigit kuat, sampai hampir berdarah. Matanya tidak berkedip, terus menatap ke arah Akang dan Ariyanti yang masih berpegangan tangan, tidak tahu bahwa mereka sedang diamati.
"Mereka berdua," bisik Siti. Suaranya nyaris tidak terdengar, bahkan oleh Rahmadi yang berdiri tepat di sampingnya.
"Aku tahu. Dan aku tidak suka." Rahmadi menatap Siti dari sudut matanya. "Mau bantu aku memisahkan mereka?"
Siti ragu. Jantungnya berdebar kencang. Telapak tangannya berkeringat. Ia tahu ini salah. Ia tahu ini dosa. Tapi godaan itu terlalu besar.
"Aku... aku tidak mau menyakiti Ariyanti. Dia sahabatku."
"Kau tidak perlu menyakiti dia." Rahmadi tersenyum. Senyum yang manis, senyum yang meyakinkan, senyum yang membuat Siti lupa bahwa di balik senyum itu ada racun yang mematikan. "Kau hanya perlu... mendekatiku. Membuat Ariyanti tahu bahwa kau lebih baik darinya. Membuatnya iri. Membuatnya sadar bahwa ia tidak spesial."
Siti menatap Rahmadi. Laki-laki tampan, kaya, dan penuh pesona ini menawarkan sesuatu yang selama ini ia idam-idamkan. Perhatian. Pengakuan. Kesempatan untuk tidak selalu berada di bayang-bayang Ariyanti.
"Baiklah," bisik Siti setelah hening yang panjang. Suaranya bergetar. "Aku akan membantumu."
Rahmadi tersenyum lebar. Senyum kemenangan. Senyum yang mengatakan bahwa satu langkah lagi menuju kemenangan telah ia capai.
Satu langkah lagi. Satu korban lagi. Satu hati lagi yang ia hancurkan.
Dan Siti, yang tidak tahu bahwa ia sedang berjalan ke dalam perangkap, mengikuti Rahmadi seperti anak domba yang mengikuti serigala berbulu domba.
Di kejauhan, di bawah pohon randu, Akang dan Ariyanti masih berpegangan tangan, tidak tahu bahwa malam akan semakin gelap, dan bahwa badai yang sesungguhnya belum benar-benar datang.
BAB 7
TOLAKAN PERTAMA
Ariyanti dengan halus namun tegas menolak perhatian Rahmadi. "Maaf, Mas Rahmadi. Hati saya sudah punya tujuan."
Tegorejo, akhir Juli 1997. Tiga hari setelah insiden seratus tangkai mawar.
Matahari terik menyengat pelataran SMAN I Pegandon saat bel istirahat pertama berbunyi. Suara bel tua yang nyaring dan sedikit fals itu menggema di seluruh area sekolah, memecah kebisuan yang sudah berlangsung sejak jam pelajaran pertama dimulai. Para siswa berhamburan keluar kelas. Ada yang menuju kantin dengan langkah cepat, ingin segera mengisi perut yang sudah keroncongan sejak jam kedua. Ada yang ke perpustakaan, mencari ketenangan di antara tumpukan buku. Ada yang hanya duduk-duduk di bawah pohon rindang di halaman sekolah, menikmati angin pagi yang masih segar.
Tapi hari ini berbeda.
Sejak pagi, suasana sudah terasa tegang. Ada sesuatu di udara, sesuatu yang tidak terlihat tapi bisa dirasakan oleh semua orang. Seperti sebelum badai. Seperti sebelum petir menyambar.
Rahmadi terlihat lebih serius dari biasanya. Wajahnya yang biasanya dipenuhi senyum percaya diri, pagi itu terlihat kaku. Bibirnya yang biasa melengkung membentuk senyum manis, kini lurus tanpa ekspresi. Ia tidak banyak bicara, tidak banyak bercanda dengan Danu dan pengawalnya yang setia. Matanya terus mengawasi Ariyanti dari kejauhan. Tidak seperti biasanya. Biasanya ia mengawasi dengan diam-diam, dengan tatapan menyelinap yang sulit ditangkap. Tapi pagi ini, tatapannya terang-terangan. Seperti elang yang mengintai mangsa, seperti ular yang siap menerkam, seperti pemangsa yang tidak sabar.
Ariyanti merasakan tatapan itu. Ia bisa merasakannya di tengkuknya, seperti ada titik panas yang membakar kulitnya. Ia tahu hari ini Rahmadi akan melakukan sesuatu. Firasatnya tidak pernah salah. Firasat ini yang dulu membuatnya selamat dari kecelakaan kecil saat masih SD, yang membuatnya memilih jalan berbeda ketika ada bahaya di depan. Firasat ini, yang kadang ia anggap sebagai anugerah sekaligus kutukan, kini berbisik keras di telinganya.
Biarlah, pikir Ariyanti sambil terus menulis catatan di buku tebalnya. Pena murahnya menari di atas kertas, mencatat rumus-rumus fisika yang tadi dijelaskan Pak Burhan. Aku sudah siap.
Dia tidak tahu apakah dia benar-benar siap. Tapi dia tahu bahwa dia tidak punya pilihan. Ketika seseorang seperti Rahmadi mengejarmu, satu-satunya pilihan adalah berdiri tegak dan menghadapinya. Berlari hanya akan membuatnya semakin bersemangat mengejar.
Rahmadi Menyusun Strategi
Rumah Rahmadi, dini hari sebelum sekolah. Jam menunjukkan pukul 04.30.
Rahmadi sudah bangun dan duduk di ruang kerjanya. Matanya masih sayu, tapi pikirannya sudah jernih. Ia tidak bisa tidur nyenyak semalaman. Penolakan tidak langsung dari Ariyanti—dalam bentuk pemberian mawar kepada ibunya—terasa seperti tamparan di wajahnya. Tamparan yang tidak bisa ia balas karena tidak ada yang bisa ia pukul.
Di hadapannya, Danu menyajikan laporan tebal tentang Ariyanti dan Akang. Laporan itu disusun rapi dalam map berwarna coklat. Ada foto-foto, ada wawancara dengan beberapa sumber, ada catatan-catatan kecil tentang kebiasaan, teman, dan keluarga.
"Apa yang kau temukan tentang gadis itu, Danu?" suara Rahmadi serak, mungkin karena kurang tidur, mungkin karena emosi yang terpendam.
Danu membuka file. Gerakannya rapi, terlatih, seperti pelayan istana yang sudah berpengalaman. "Ariyanti, 16 tahun. Putri satu-satunya dari pasangan Alm. Slamet Riyadi dan Siti Aminah. Ayahnya meninggal tertimpa pohon saat bekerja di hutan pada tahun 1990, ketika Ariyanti berusia sekitar 7 tahun. Ibunya bekerja sebagai pengepul hasil bumi dan penjual gorengan. Ekonomi keluarga sangat pas-pasan. Rumahnya berdinding anyaman bambu, atapnya masih rumbia, listrik belum masuk ke dapur."
"Apa kelemahannya?" Rahmadi memotong. Ia tidak butuh cerita panjang tentang kemiskinan mereka. Ia sudah bisa melihatnya dari rumah reyot itu.
Danu menghela napas sejenak, menyusun kata-kata. "Tidak ada kelemahan signifikan yang bisa kami temukan, Tuan. Ia pintar, rangking satu di kelas. Disiplin, tidak pernah terlambat, tidak pernah bolos. Sangat dihormati oleh guru-gurunya. Bahkan Bu Sumi, guru yang paling keras di sekolah itu, sangat menyukainya. Satu-satunya yang bisa menjadi celah adalah rasa ibanya pada ibunya yang janda dan kedua adiknya yang masih kecil. Juga... cintanya pada Akang."
Rahmadi menghela napas. Cinta. Kata yang paling ia benci. Kata yang tidak pernah ia rasakan seumur hidupnya. Kata yang ia anggap sebagai kelemahan, sebagai kebodohan, sebagai penyakit yang menyerang orang-orang lemah.
"Apa yang membuat laki-laki miskin itu begitu istimewa di matanya?" Rahmadi bertanya, tapi suaranya terdengar lebih seperti gumaman kepada dirinya sendiri.
"Menurut informasi, mereka sudah dekat sejak SMP. Akang sering membantu Ariyanti secara diam-diam. Meminjamkan catatan, berbagi bekal, kadang mengantarnya pulang. Mereka juga berbagi mimpi yang sama. Akang ingin jadi insinyur pertanian, Ariyanti ingin jadi guru. Mereka ingin mengangkat derajat keluarga dan membangun desa ini."
Mimpi. Kata yang paling ia remehkan. Mimpi adalah mimpi. Tidak ada yang bisa dimakan. Tidak ada yang bisa dibeli. Tidak ada yang bisa dipamerkan.
"Danu," Rahmadi berdiri dari kursinya. Ia berjalan ke cermin besar di sudut ruangan, mengamati bayangannya sendiri. Wajahnya tampan, tidak ada yang bisa membantah. Tubuhnya tegap, pakaiannya rapi, parfumnya mahal. "Aku tidak peduli dengan mimpi mereka. Aku tidak peduli dengan masa lalu mereka. Aku hanya ingin Ariyanti. Hari ini, aku akan bicara langsung dengannya. Tidak ada perantara. Tidak ada bunga. Tidak ada puisi. Aku akan bertanya langsung. Maukah ia menjadi milikku?"
"Tuan yakin?" Danu tidak ragu-ragu. Ia hanya ingin memastikan. "Bukankah lebih baik mendekati secara perlahan? Membangun kepercayaan terlebih dahulu? Memahami karakternya sebelum menyatakan perasaan?"
Rahmadi tertawa. Tertawa pahit. "Aku sudah melakukan pendekatan perlahan, Danu. Dua minggu aku bersabar. Dua minggu aku tersenyum pada gadis-gadis kampung yang tidak tahu apa-apa. Dua minggu aku menahan diri untuk tidak menghancurkan Akang. Dan hasilnya? Dia memberikanku mawar pada ibunya. Mawar yang aku kirim untuknya, dia berikan pada ibunya!"
Rahmadi membanting sisir di tangan ke lantai. Sisir kayu mahal itu pecah menjadi dua.
"Aku muak, Danu. Aku muak dengan semua ini. Hari ini aku ingin jawaban tegas. Ya atau tidak. Langsung. Tidak ada basa-basi."
Danu mengangguk. Ia sudah terlalu lama bekerja untuk Rahmadi. Ia tahu bahwa ketika Rahmadi sudah seperti ini, tidak ada gunanya melawan. "Baik, Tuan. Apa pun perintah Tuan."
Rahmadi berdiri tegak di depan cermin. Ia merapikan seragamnya. Menyisir rambutnya dengan sisir cadangan yang diambil dari laci meja. Menyemprotkan parfum mahal dari botol berwarna hitam pekat.
Hari ini, Ariyanti, pikirnya sambil tersenyum pada bayangannya sendiri. Kau akan tahu bahwa tidak ada yang bisa menolak Rahmadi.
Pagi yang Mencekam
SMAN I Pegandon, pukul 07.00.
Ariyanti tiba di sekolah bersama Akang seperti biasa. Mereka berjalan beriringan melewati gerbang utama, disambut oleh bisik-bisik teman-teman yang masih belum selesai membicarakan insiden bunga mawar. Suara-suara lirih yang sebenarnya tidak lirih sama sekali, suara-suara yang sengaja dibuat pelan tapi cukup keras untuk didengar.
"Tuh, Ariyanti datang. Katanya dia nolak Rahmadi."
"Pura-pura sombong. Ntar juga luluh. Cewek-cewek tuh gitu, keras di awal, meleleh di akhir."
"Tapi Akang di sampingnya terus. Apa mereka pacaran? Kok deket banget sih?"
"Ya mana tahu. Yang penting kita lihat aja. Nanti juga ketahuan."
Ariyanti tidak menghiraukan semua itu. Telinganya sudah dilatih untuk menyaring suara-suara yang tidak penting. Matanya sudah terbiasa untuk tidak melihat tatapan-tatapan yang tidak bersahabat. Ia berjalan ke kelas dengan langkah tegap, dengan kepala tegak, dengan bahu yang tidak menunduk.
Tapi hari ini, di depan pintu kelas, Rahmadi berdiri.
Ia bersandar pada kusen pintu. Sikapnya santai, seperti tidak ada yang istimewa. Tapi tidak ada yang istimewa adalah hal yang paling istimewa dari Rahmadi hari ini. Biasanya ia duduk di dalam kelas, atau bergaul dengan pengawalnya, atau sibuk dengan ponselnya. Tapi pagi ini, ia memilih berdiri di depan pintu. Menunggu.
Tangannya disilangkan di dada. Matanya menatap lurus ke arah Ariyanti. Bibirnya membentuk senyum tipis, senyum yang tidak sampai ke mata, senyum yang seperti topeng.
"Pagi, Ariyanti," sapanya. Suaranya rendah, pelan, tapi jelas. Hampir seperti bisikan, tapi bisikan yang sengaja dibuat agar semua orang di sekitarnya bisa mendengar.
"Pagi, Mas Rahmadi." Suara Ariyanti datar. Tidak ada nada ramah, tidak ada nada bermusuhan. Hanya datar. Seperti ia sedang berbicara pada tembok.
"Bisa bicara sebentar? Setelah jam pelajaran pertama?"
Ariyanti menatap Rahmadi. Di matanya, ia melihat keseriusan yang tidak biasa. Tidak ada senyum manis yang dibuat-buat. Tidak ada kilatan percaya diri yang berlebihan. Hanya keseriusan. Dan di balik keseriusan itu, ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang mirip dengan... kegelisahan?
Ini dia, pikir Ariyanti. Jantungnya berdetak lebih cepat, tapi ia berusaha tetap tenang. Ini momen yang aku tunggu-tunggu. Ini momen di mana semuanya akan jelas.
"Baik. Di mana?"
"Di perpustakaan. Sepulang jam pertama."
"Setuju."
Rahmadi tersenyum. Senyum yang terlihat lega, seperti orang yang baru saja selesai mengerjakan tugas berat. Lalu ia berjalan masuk ke kelas dengan langkah ringan.
Akang yang ada di belakang Ariyanti meraih tangannya. Genggamannya erat, sedikit panik. "Ari, kau yakin?"
Ariyanti menatap Akang. Di mata Akang, ia melihat ketakutan. Bukan ketakutan pada Rahmadi, tapi ketakutan kehilangan. "Aku harus, Kang. Aku tidak bisa terus-terusan menghindar. Aku harus jelaskan padanya dengan tegas. Kalau tidak sekarang, kapan? Biarkan dia menggantung terus?"
"Aku ikut." Bukan tawaran. Bukan saran. Tapi pernyataan.
"Tidak." Ariyanti menggeleng. "Ini urusanku. Aku harus selesaikan sendiri. Kalau kamu ikut, dia akan menganggapku lemah. Dia akan menganggapku tidak bisa bicara tanpa laki-laki di sampingku."
Akang ragu. Matanya bergerak ke arah kelas, lalu kembali ke Ariyanti. Ia ingin melawan. Ia ingin memaksa. Tapi ia tahu Ariyanti lebih keras kepala dari dirinya.
"Baik." Akang menghela napas. "Tapi kalau dia macam-macam, teriak saja. Aku akan datang. Aku akan datang meskipun harus menghancurkan pintu."
Ariyanti tersenyum. "Kau ini seperti satpam pribadiku."
"Hanya untukmu," kata Akang, dan untuk pertama kalinya pagi itu, senyumnya kembali.
Mereka masuk ke kelas bersama. Rahmadi sudah duduk di bangkunya, di barisan paling belakang, dekat jendela. Matanya mengikuti Ariyanti dari belakang, seperti bayangan yang tidak bisa diusir.
Jam Pertama yang Terasa Seperti Abad
Kelas 2 IPA 1. Pelajaran Matematika bersama Pak Burhan.
Ariyanti duduk di bangku depan, seperti biasa. Mejanya dekat dengan papan tulis, persis di baris pertama, kolom kedua. Dari sini, ia bisa melihat tulisan Pak Burhan dengan jelas, meskipun tanpa kacamata. Tapi hari ini, ia tidak bisa fokus.
Rumus-rumus yang ditulis Pak Burhan di papan tulis seolah-olah menari-nari tanpa makna. Angka-angka yang biasanya ia pahami dengan mudah, sekarang tampak seperti hieroglif Mesir kuno. Huruf-huruf Yan ani yang biasanya ia hafal, sekarang terasa asing.
Pikirannya melayang. Bukan ke masa lalu. Bukan ke masa depan. Tapi ke pertemuan setelah jam pertama ini. Ke perpustakaan. Ke meja baca dekat jendela. Ke Rahmadi yang duduk di seberangnya.
Jangan emosi, pesan Ariyanti pada dirinya sendiri. Jangan kasar. Tapi harus tegas.
Jelaskan bahwa hatimu sudah untuk orang lain. Jelaskan bahwa kau tidak tertarik pada uang atau kekuasaan. Jelaskan bahwa kau hanya ingin hidup sederhana bersama Akang.
Tapi akankah Rahmadi mengerti? Akankah ia menerima?
Ariyanti ragu. Ia sudah melihat jenis orang seperti Rahmadi sebelumnya. Mungkin tidak sekaya Rahmadi, mungkin tidak sekuat Rahmadi, tapi pola yang sama. Orang-orang yang terbiasa menang. Orang-orang yang tidak pernah mendengar kata "tidak". Orang-orang yang menganggap dunia ini adalah panggung mereka dan orang lain adalah figuran.
Ketika mereka menginginkan sesuatu, mereka akan mendapatkannya. Dengan cara apa pun.
Tapi aku harus berani, pikir Ariyanti sambil menggenggam penanya erat-erat. Aku bukan barang yang bisa diperjualbelikan. Bukan properti yang bisa dimiliki. Bukan mainan yang bisa dipinjam dan dikembalikan.
Pak Burhan menulis rumus baru di papan tulis. Bunyi kapur yang menggesek papan terdengar nyaring di telinga Ariyanti.
Di bangku belakang, Rahmadi juga tidak fokus.
Tangannya memainkan pulpen mahal hadiah dari ayahnya. Pulpen berwarna hitam, dengan ukiran nama inisial di ujungnya. Matanya terus menatap belakang kepala Ariyanti. Rambutnya yang hitam, diikat ekor kuda, dengan beberapa helai lepas di sekitar leher.
Ia menyusun kata-kata dalam kepalanya. Mencari kalimat yang tepat. Kalimat yang tidak terlalu memaksa, tidak terlalu lemah. Kalimat yang menunjukkan kekuasaan tapi tidak sampai menakutkan. Kalimat yang menunjukkan ketertarikan tapi tidak sampai merendahkan.
"Ariyanti, aku suka padamu. Aku ingin kau jadi pacarku. Aku akan belikan apa pun yang kau mau."
Rahmadi menggeleng dalam hati. Tidak. Terlalu materialistis. Terdengar seperti aku mencoba membelinya.
"Ariyanti, semenjak aku pindah ke sini, hanya kau yang membuatku merasa hidup. Kau berbeda dari yang lain. Aku tidak bisa berhenti memikirkanmu."
Lebih baik, pikirnya. Tapi masih kurang. Masih terdengar seperti aku terlalu lemah. Terlalu manja. Terlalu... membutuhkan.
"Ariyanti, aku tahu aku bukan laki-laki baik. Tapi denganku, kau tidak perlu susah. Denganku, kau bisa sekolah setinggi mungkin. Denganku, kau bisa hidup layak. Maukah kau memberiku kesempatan?"
Rahmadi tersenyum puas. Itu dia. Kombinasi antara kejujuran dan tawaran praktis. Kombinasi antara kerendahan hati dan kekuasaan. Kombinasi antara "aku tidak sempurna" dan "aku bisa memberimu segalanya".
Kali ini, aku tidak akan gagal.
Pak Burhan membalikkan badan. Wajahnya yang keras menatap ke arah Rahmadi. "Rahmadi, perhatikan. Jangan melamun."
Rahmadi tersenyum sopan. "Baik, Pak."
Tapi pikirannya tetap pada Ariyanti. Tidak bisa pergi. Tidak mau pergi.
Pertemuan di Perpustakaan
Perpustakaan SMAN I Pegandon, setelah jam pertama berakhir.
Perpustakaan sedang sepi. Hanya beberapa siswa yang membaca di sudut ruangan, duduk di kursi-kursi kayu yang sudah tua. Mereka asyik dengan buku masing-masing, tidak peduli dengan dunia luar. Pustakawan, Bu Lastri, seorang perempuan setengah baya dengan rambut disanggul rapi dan kacamata tebal, sedang sibuk merapikan buku di rak belakang. Suara buku-buku yang digesekkan terdengar sayup-sayup.
Rahmadi sudah menunggu di meja baca dekat jendela. Meja kayu panjang dengan permukaan yang sedikit tergores, cukup untuk dua orang duduk berhadapan. Ia memilih tempat itu dengan sengaja. Di sini, sinar matahari pagi masuk melalui jendela kaca yang sedikit buram, jatuh tepat di wajahnya jika ia duduk di posisi yang tepat. Cahaya alami, pikirnya, akan membuat wajahnya terlihat lebih tampan. Strategi klasik yang sudah ia pelajari dari majalah-majalah pria mahal.
Ariyanti datang tepat waktu. Tidak terlalu cepat, tidak terlalu lambat. Tidak terburu-buru, tidak terkesan malas. Ia melangkah dengan tenang, seolah-olah ini adalah pertemuan biasa, bukan pertemuan yang akan menentukan banyak hal.
Ia duduk di seberang Rahmadi, menjaga jarak. Siku di atas meja, tangan kiri di atas tangan kanan. Tubuhnya sedikit condong ke belakang, seperti orang yang sedang bersiap untuk mendengarkan ceramah yang tidak terlalu menarik.
"Terima kasih sudah datang," ucap Rahmadi memulai. Suaranya rendah, sedikit lebih lembut dari biasanya.
"Ada apa, Mas Rahmadi? Katanya mau bicara." Ariyanti tidak membuang waktu. Tidak ada basa-basi. Tidak ada pemanasan.
Rahmadi menarik napas panjang. Dadanya naik, lalu turun perlahan. Ini adalah pertama kalinya dalam hidupnya ia merasa gugup di hadapan seorang perempuan. Ariyanti tidak seperti yang lain. Ariyanti tidak mudah terpengaruh. Ariyanti tidak bisa dibeli.
"Ariyanti, aku akan terus terang." Rahmadi menatap mata Ariyanti. Matanya coklat gelap, dalam, sulit ditebak. "Aku suka padamu. Sejak pertama kali aku melihatmu di lorong sekolah, di hari pertamaku di sini, aku tahu kau berbeda. Aku tidak bisa berhenti memikirkanmu. Aku ingin kau jadi... pacarku."
Ariyanti tidak terkejut. Wajahnya tetap datar. Tidak ada perubahan ekspresi. Tidak ada kilatan di mata. Tidak ada gerakan di alis. Sudah ia duga. Sudah ia persiapkan sejak semalam.
"Mas Rahmadi, terima kasih atas ketulusannya. Tapi saya minta maaf."
Rahmadi mengerutkan dahi. Minta maaf untuk apa? "Minta maaf untuk apa?"
"Karena saya tidak bisa menerima perasaan Mas."
Keheningan. Suara jam dinding berdetak keras di telinga Rahmadi. Detik demi detik. Debur demi debur. Seperti palu godam yang menghantam dadanya.
"Kenapa?" suara Rahmadi sedikit naik, sedikit bergetar. "Apa aku kurang tampan? Apa aku kurang kaya? Apa aku kurang baik? Katakan. Apa yang kurang dariku?"
"Bukan itu masalahnya, Mas Rahmadi." Ariyanti menggeleng pelan.
"Lalu apa?"
Ariyanti menatap Rahmadi lurus ke matanya. Tidak berkedip. Tidak bergerak. Matanya tegas, seperti sedang mengucapkan sumpah.
"Maaf, Mas Rahmadi. Hati saya sudah punya tujuan."
Tujuan. Bukan "orang lain". Bukan "Akang". Tapi "tujuan". Sebuah kata yang terdengar lebih terhormat, lebih bermartabat, lebih tidak bisa diganggu gugat.
Rahmadi terdiam. Kata-kata itu menusuk dadanya. Bukan seperti pisau. Tapi seperti jarum. Kecil. Tajam. Masuk ke sela-sela tulang rusuk, menusuk jantungnya perlahan-lahan.
"Siapa? Akang?" Rahmadi tersenyum sinis, tapi senyum itu tidak meyakinkan. "Laki-laki miskin dari Cegunan itu?"
"Bukan soal miskin atau kaya, Mas. Tapi soal siapa yang ada di hati saya."
"Apa yang dia punya yang tidak aku punya?" Rahmadi bertanya, dan untuk pertama kalinya, suaranya terdengar seperti anak kecil yang kehilangan mainan favorit.
Ariyanti berpikir sejenak. Bukan karena ia tidak tahu jawabannya. Tapi karena ia ingin merangkai kata-katanya dengan baik. Tidak ingin melukai lebih dari yang diperlukan.
"Dia tidak punya apa-apa, Mas. Dia miskin. Dia bahkan kadang tidak makan siang karena uang sakunya habis untuk membeli buku. Tapi karena itulah dia tulus. Dia tidak mendekati saya karena uang. Dia tidak mendekati saya karena status. Dia tidak mendekati saya karena saya berguna untuk masa depannya. Dia mendekati saya karena... saya."
Rahmadi mengepalkan tangannya di bawah meja. Kuku-kukunya menusuk telapak tangan. Ia tidak merasakan sakit. Yang ia rasakan hanyalah amarah.
"Aku juga tulus!" Rahmadi membantah. Suaranya meninggi sedikit, hampir pecah.
"Apakah Mas Rahmadi tulus?" Ariyanti menatapnya dengan mata yang teduh tapi menusuk. "Atau Mas hanya terbiasa menang? Mas merasa tertantang karena saya menolak perhatian Mas. Mas tidak terbiasa mendengar kata tidak. Mas tidak terbiasa kalah. Itu bukan cinta, Mas. Itu ego."
Rahmadi tergugu. Tidak ada yang pernah bicara padanya seblak itu. Tidak ada yang pernah membongkar topengnya seperti itu. Tidak ada yang pernah berani.
"Ariyanti, kau tidak tahu siapa aku." Rahmadi mencoba menguasai diri. Suaranya kembali rendah, tapi ada getar di dalamnya. "Aku bisa melakukan apa saja untuk orang yang aku cintai."
"Tapi saya tidak ingin Mas melakukan apa pun untuk saya, Mas Rahmadi." Ariyanti tidak bergeming. "Yang saya ingin hanyalah Mas menghormati pilihan saya."
Mereka berhadapan dalam diam yang tegang. Sinar matahari yang masuk melalui jendela bergerak perlahan, meninggalkan wajah Rahmadi, jatuh ke lantai. Seolah-olah alam ikut menolaknya.
Akhirnya, Rahmadi berdiri. Kursinya bergeser ke belakang dengan suara nyaring. Wajahnya pucat. Matanya merah menahan amarah. Dadanya naik turun dengan cepat.
"Kau akan menyesal, Ariyanti." Suara Rahmadi dingin. Dingin seperti es. Dingin seperti malam. Dingin seperti pisau yang baru diasah.
"Kalau menyesal berarti saya memilih yang salah, Mas." Ariyanti tetap duduk. Tidak bergerak. Tidak berkedip. "Tapi saya tidak menyesal. Karena saya yakin dengan pilihan saya."
Rahmadi tidak menjawab. Ia hanya berbalik dan berjalan keluar perpustakaan. Langkahnya berat, terdengar di lantai keramik yang dingin. Sepatu pantofel mahalnya mengeluarkan bunyi yang teratur, lambat, seperti orang yang sedang berusaha mengendalikan diri.
Ariyanti tetap duduk di kursinya. Tangannya, yang tadinya tegar, kini mulai gemetar. Ia menggigit bibirnya. Bibir bawahnya tergigit kuat, sampai hampir berdarah.
"Aku berhasil," bisiknya dalam hati. Tapi mengapa rasanya seperti baru saja memicu bom waktu? Mengapa dadanya terasa sesak, tidak lega? Mengapa ada firasat buruk yang tidak bisa ia usir?
Ia memejamkan mata. Menghitung sampai sepuluh. Lalu membukanya lagi.
Besok adalah hari baru, pikirnya. Dan aku akan terus berjuang.
Amukan Rahmadi di Rumah
Rumah Rahmadi, sepulang sekolah.
"AAARRRGGGHHH!"
Rahmadi membanting vas bunga di ruang tamunya. Vas kristal mahal hadiah dari ayahnya, berwarna biru laut dengan ukiran bunga di permukaannya, pecah berkeping-keping di lantai marmer yang mengkilap. Air dan sisa-sisa bunga mawar yang kemarin masih segar, kini berhamburan. Kelopak-kelopak merah jatuh di atas pecahan kaca, seperti darah di atas salju.
"Danu! Danu!" teriak Rahmadi dengan suara yang hampir tidak manusiawi.
Danu berlari masuk. Wajahnya pucat. Bukan karena takut, tapi karena ia tahu bahwa badai sedang terjadi. "Ada apa, Tuan?"
"Aku ditolak!" Rahmadi melempar bantal sofa ke arah Danu. Bantal empuk itu tidak mengenai sasaran, jatuh di lantai dekat kaki Danu. "Gadis itu menolakku! Lebih memilih laki-laki miskin dari Cegunan itu daripada aku!"
Danu terdiam. Ia tidak berani berkata apa-apa. Tidak berani memberikan nasihat. Tidak berani menunjukkan ekspresi apa pun selain ekspresi netral yang sudah ia latih bertahun-tahun.
"Apa aku tidak cukup baik untuknya? Apa aku tidak cukup tampan? Apa aku tidak cukup kaya?" Rahmadi berjalan mondar-mandir di ruangan. Langkahnya cepat, tidak teratur. "Apa lagi yang dia mau? Apa yang kurang dariku?"
"Tuan sudah lebih dari cukup, Tuan." Danu memilih kata-katanya dengan hati-hati. "Mungkin Ariyanti hanya... belum mengerti. Mungkin dia belum melihat kebaikan Tuan. Mungkin butuh waktu."
"Belum mengerti?" Rahmadi tertawa pahit. Tertawa yang tidak lucu, yang menakutkan. "Sudah jelas aku yang terbaik di sekolah ini! Sudah jelas tidak ada yang bisa menandingi aku! Sudah jelas aku yang paling kaya, paling tampan, paling berkuasa!"
"Tuan..." Danu ragu. "Mungkin kita perlu pendekatan lain. Bukan dengan rayuan, tapi dengan..."
"Apa?" Rahmadi berhenti berjalan. Matanya menyala.
"Tekanan." Danu menelan ludah. "Jika Tuan tidak bisa mendapatkannya secara halus, mungkin Tuan bisa membuatnya tidak punya pilihan. Jika tidak ada pilihan, ia akan memilih Tuan."
Rahmadi mengerutkan dahi. "Maksudmu?"
Danu mendekat. Suaranya berbisik, seperti orang yang sedang membagikan rahasia kematian. "Keluarga Ariyanti miskin, Tuan. Ibunya bekerja di pabrik penggilingan padi milik ayah Tuan, bukan? Jika kita ancam pecat ibunya, ekonomi keluarga Ariyanti akan hancur. Ia tidak akan bisa sekolah. Adik-adiknya tidak akan bisa makan. Lalu kita tawarkan bantuan. Dengan syarat."
Rahmadi tersenyum. Senyum yang perlahan-lahan muncul di bibirnya, seperti sinar matahari di balik awan gelap. Tapi senyum ini tidak hangat. Senyum ini dingin. Senyum yang membuat Danu merinding.
"Kau jenius, Danu. Aku suka caramu berpikir."
Tapi di balik senyum itu, di balik suara yang terdengar puas itu, ada kegelapan yang semakin dalam. Kegelapan yang akan menelan siapa saja yang mendekat.
Rahmadi berjalan ke jendela. Membuka tirai lebar-lebar. Di luar, bulan mulai muncul, bulat, terang, indah. Tapi Rahmadi tidak melihat keindahan. Ia hanya melihat target.
Ariyanti, kau pikir dengan menolakku, kau akan bebas? pikirnya sambil tersenyum pada bayangannya sendiri di kaca jendela. Kau keliru. Aku baru saja memulai permainan ini.
Akang yang Menunggu dengan Cemas
Jalan Randu Gembyang, sepulang sekolah.
Akang menunggu Ariyanti di bawah pohon randu tertua, seperti biasa. Tapi tidak seperti biasa, wajahnya penuh kekhawatiran. Tidak ada senyum. Tidak ada sapaan ramah. Hanya ada dahi berkerut dan bibir yang terus bergerak tanpa suara, seperti orang yang sedang berdoa.
Ia sudah tidak sabar. Puluhan kali matanya menatap ke arah sekolah, berharap melihat bayangan Ariyanti muncul. Puluhan kali jantungnya berdebar lebih cepat setiap kali melihat seseorang berjalan dari arah itu, lalu berdebar lebih lambat lagi ketika ternyata bukan Ariyanti.
Tas ranselnya ia letakkan di tanah. Tangannya ia masukkan ke saku celana. Lalu ia tarik lagi. Lalu ia masukkan lagi. Tidak tenang. Tidak bisa tenang.
"Ari!" teriaknya begitu melihat Ariyanti muncul dari kejauhan. Suaranya hampir pecah, nyaris seperti tangisan.
Ariyanti berjalan mendekat. Wajahnya letih. Ada lingkaran hitam di bawah matanya, meskipun ia tidur cukup semalam. Pundaknya sedikit membungkuk, seperti sedang memikul beban yang terlalu berat. Tapi senyumnya tetap terpasang. Senyum yang dipaksakan, yang tidak sampai ke mata, tapi senyum yang tetap ia usahakan demi Akang.
"Bagaimana?" tanya Akang. Tangannya sudah terulang, ingin meraih Ariyanti, tapi ia menahan diri. "Dia apa-apain kamu?"
Ariyanti menghela napas. "Dia bilang suka sama aku. Aku bilang maaf, hatiku sudah punya tujuan."
"Lalu?" Akang tidak bisa menyembunyikan kecemasannya. Matanya membulat. Tangannya yang ada di saku terkepal.
"Lalu dia marah. Bilang aku akan menyesal."
Akang menghela napas. Udara panas sore itu terasa seperti api di paru-parunya. "Aku khawatir, Ari. Orang seperti Rahmadi tidak bisa menerima penolakan. Mereka terbiasa menang. Mereka tidak tahu cara kalah."
"Aku tahu, Kang." Ariyanti menatap Akang. Matanya teduh, meskipun ada kelelahan di sana. "Tapi aku harus tegas. Aku tidak bisa selamanya menghindar. Kalau aku terus menghindar, dia akan terus mengejar. Lebih baik dihadapi sekarang daripada dipanjang-panjangkan."
"Apa rencanamu sekarang?" Akang bertanya. Bukan karena ia tidak punya rencana sendiri. Tapi karena ia ingin tahu, ingin terlibat, ingin menjadi bagian dari apapun yang akan Ariyanti lakukan.
"Aku akan tetap sekolah. Tetap belajar. Tetap meraih mimpiku." Ariyanti mengangkat dagunya. Matanya menatap ke langit, ke awan-awan yang bergerak perlahan. "Aku tidak akan membiarkan seseorang seperti Rahmadi menghancurkan hidupku. Aku tidak akan memberinya kepuasan itu."
Akang meraih tangan Ariyanti. Tangannya dingin. Tangannya menggigil.
"Aku akan selalu di sampingmu, Ari. Apapun yang terjadi."
"Terima kasih, Kang." Ariyanti tersenyum. Senyum yang tulus kali ini. Senyum yang membuat Akang lupa bahwa ada Rahmadi, ada ancaman, ada masa depan yang tidak pasti. "Aku tahu."
Mereka berjalan pulang bergandengan tangan. Langkah mereka seirama, seperti sudah latihan bertahun-tahun. Kaki mereka tidak saling menginjak. Bahu mereka tidak saling bertabrakan.
Mereka tidak tahu bahwa di balik rimbunan pohon, di balik semak-semak yang lebat, di balik daun-daun randu yang bergoyang, Danu sedang merekam mereka dengan kamera tersembunyi. Lensa kamera itu mengikuti mereka dari kejauhan, merekam setiap langkah, setiap senyum, setiap genggaman tangan.
Danu tersenyum. Laporan hari ini akan sangat berharga. Bosnya akan puas.
Dampak Penolakan di Sekolah
Keesokan harinya. SMAN I Pegandon.
Sejak pagi, suasana sekolah terasa berbeda. Ada keheningan yang tidak biasa, seperti orang sedang menahan napas. Para siswa yang biasanya ramai, berisik, dan sulit diatur, pagi itu lebih sunyi. Bahkan suara burung pun terdengar lebih nyaring dari biasanya.
Rahmadi tidak masuk sekolah. Sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya sejak ia pindah ke Pegandon. Meja di barisan paling belakang, dekat jendela, kosong. Buku-bukunya tidak ada. Tas kulit hitamnya tidak tergantung di samping meja.
Tapi diam-diam, para pengawalnya menyebarkan berita. Dari mulut ke mulut. Dari bangku ke bangku. Dari kelas ke kelas.
"Katanya Ariyanti nolak Rahmadi."
"Wah, berani banget dia. Anak orang kaya ditolak mentah-mentah. Padahal orang tuanya bisa beli seluruh desa ini kalau mau."
"Awas, nanti dia kenapa-kenapa. Orang kayak Rahmadi itu dendamnya panjang. Nggak main-main."
Siti Fatimah yang mendengar kabar itu tersenyum sinis. Ia sedang duduk di bangku dekat jendela, sendirian, tidak ada yang mendekatinya.
"Akhirnya dia merasakan juga," pikirnya sambil memainkan ujung buku catatannya. "Selama ini dia selalu mendapat perhatian. Selalu menjadi pusat segalanya. Sekarang dia tahu bagaimana rasanya jadi aku. Jadi orang yang tidak pernah dilihat, tidak pernah diperhatikan, tidak pernah dianggap penting."
Tapi Siti tidak bahagia. Ia tidak merasakan kepuasan seperti yang ia bayangkan. Ada sesuatu yang aneh di dadanya. Sesuatu yang tidak bisa ia beri nama.
"Kenapa Rahmadi begitu terobsesi pada Ariyanti?" bisiknya dalam hati, lebih kepada dirinya sendiri. "Apa yang Ariyanti punya yang tidak aku punya? Apa dia lebih cantik? Apa dia lebih pintar? Apa dia lebih baik? Aku juga cantik. Aku juga pintar. Aku juga rajin. Tapi tidak ada yang pernah mengirimiku bunga seratus tangkai. Tidak ada yang pernah menatapku seperti Rahmadi menatap Ariyanti. Tidak ada yang pernah peduli padaku."
Rasa iri yang selama ini ia pendam, yang ia kubur dalam-dalam, yang ia pura-pura tidak ada, mulai tumbuh. Tidak seperti tanaman yang tumbuh perlahan. Tapi seperti api yang menyala di musim kemarau. Cepat. Membara. Tidak bisa dipadamkan.
Rasa iri itu merambat ke akar-akar kebencian. Kebencian pada Ariyanti. Kebencian pada Rahmadi. Kebencian pada dunia. Kebencian pada dirinya sendiri.
Dan Siti, yang tidak menyadari bahwa ia sedang dimakan api dari dalam, hanya bisa terdiam. Menatap kosong ke luar jendela. Menunggu sesuatu yang tidak ia ketahui.
Kunjungan Tak Terduga ke Rumah Ariyanti
Sore itu. Rumah Ariyanti di Dusun Kersan.
Ariyanti baru saja selesai membantu ibunya membersihkan rumah. Lantai tanah yang dipadatkan sudah disapu bersih. Perabotan seadanya sudah ditata rapi. Dapur sudah dibersihkan dari sisa-sisa memasak siang tadi.
Ia sedang duduk di teras, menikmati angin sore yang mulai sejuk, ketika seseorang mengetuk pagar anyaman bambu yang reot.
"Selamat sore," sapa seseorang dengan suara lembut. Suara yang familier, suara yang menenangkan, suara yang membuat Ariyanti langsung tahu siapa yang datang.
Ariyanti menoleh. Ia terkejut. Matanya membulat. Mulutnya sedikit terbuka.
Bu Sumi. Guru Bahasa Indonesianya. Perempuan setengah baya dengan rambut disanggul rapi dan kacamata tebal. Ia berdiri di depan pagar dengan senyum ramah. Di tangannya, sebuah kantong plastik berisi buah-buahan.
"Bu Sumi? Ada apa? Ada masalah dengan sekolah?" Ariyanti berdiri, tangannya merapikan ujung bajunya yang sedikit naik.
"Tidak, sayang. Ibu hanya ingin bicara denganmu. Boleh masuk?" Bu Sumi tersenyum. Senyum yang hangat, senyum yang membuat Ariyanti merasa aman.
"Silakan, Bu." Ariyanti membuka pagar. Anyaman bambu itu berdecit pelan, seperti orang tua yang mengeluh karena dibangunkan dari tidur.
Bu Sumi masuk ke rumah sederhana itu. Matanya menjelajahi setiap sudut. Dinding anyaman bambu yang sudah mulai rapuh di beberapa bagian. Lantai tanah yang dipadatkan, bersih, tapi tetap tanah. Perabotan seadanya. Kursi bambu yang kakinya sudah tidak sama panjang, diganjal batu bata. Meja kayu dengan satu laci yang tidak bisa ditutup rapat.
"Rumahmu sederhana sekali, Ari," kata Bu Sumi. Bukan menghakimi. Bukan merendahkan. Tapi mengamati.
"Maaf, Bu. Tidak seperti rumah guru." Ariyanti menunduk. Bukan malu. Tapi sadar akan perbedaan.
"Jangan minta maaf, Ari." Bu Sumi menepuk bahu Ariyanti. Tangannya hangat. "Kesederhanaan adalah guru terbaik dalam hidup. Ibu juga dulu miskin. Waktu kecil, Ibu tinggal di rumah yang tidak jauh berbeda dengan ini. Lantai tanah, dinding bambu, atap rumbia. Dan Ibu tidak malu. Ibu bangga, karena dari situlah Ibu belajar menjadi kuat."
Ariyanti tersenyum. Matanya berkaca-kaca. "Bu Sumi mau minum? Hanya teh pahit dan gula batu."
"Itu sudah lebih dari cukup, Ari."
Mereka duduk di teras. Ibu Ariyanti keluar dari dapur, menyapa Bu Sumi, lalu ikut menemani. Wajahnya sedikit tegang, seperti orang yang sedang was-was. Mungkin ia takut Bu Sumi membawa kabar buruk tentang Ariyanti. Mungkin ia takut anaknya bermasalah di sekolah.
"Bu Sumi, ada apa sebenarnya?" tanya Ariyanti. Ia tidak suka basa-basi. Ia ingin langsung ke inti.
Bu Sumi menatap Ariyanti dalam-dalam. Matanya serius, tapi tidak mengancam.
"Ari, Ibu dengar kau menolak Rahmadi."
Ariyanti terdiam. Matanya tidak bisa menghindar dari tatapan Bu Sumi.
"Seluruh sekolah tahu, Bu." Suara Ariyanti pelan. "Rasanya semua orang sudah bicara tentang itu."
"Dan Ibu bangga padamu, Ari."
Ariyanti terkejut. "Bangga?"
"Iya." Bu Sumi mengangguk. "Karena kau berani mengatakan tidak pada kekuasaan dan uang. Itu tidak mudah, Ari. Tidak mudah untuk melawan arus. Tidak mudah untuk menolak tawaran yang begitu menggiurkan. Banyak perempuan seusiaku dulu jatuh pada bujuk rayu laki-laki kaya, dan berakhir sengsara. Mereka memilih kemewahan, tapi kehilangan kebebasan. Mereka memilih kenyamanan, tapi kehilangan harga diri."
Ibu Ariyanti yang mendengar itu mengangguk pelan. Matanya berkaca-kaca.
"Benar kata Bu Sumi, Yan . Ibu bangga." Ibu Ariyanti meraih tangan Ariyanti. "Ibu tahu ini tidak mudah. Ibu tahu kau berjuang sendirian. Tapi Ibu bangga karena kau tidak menjual diri. Ibu bangga karena kau tetap pada pendirianmu."
Ariyanti hampir menangis. "Tapi Bu Sumi, aku takut. Rahmadi bilang aku akan menyesal." Suaranya bergetar. Dinding yang selama ini ia bangun untuk terlihat kuat, mulai retak.
Bu Sumi menghela napas. "Dia memang bisa berbahaya, Ari. Aku sudah mengamatinya sejak dia datang. Anak itu tumbuh dalam keluarga yang salah. Ia tidak pernah merasakan cinta sejati. Ia hanya tahu memiliki, menguasai, menaklukkan."
"Tapi kau tidak sendirian, Ari." Bu Sumi menatap Ariyanti dengan mata yang tajam tapi penuh kasih. "Ibu akan membantumu. Juga Pak Dullah, penjaga sekolah. Dia tahu banyak tentang keluarga Rahmadi. Dia pernah bekerja di sana."
"Bu Sumi tahu tentang keluarga Rahmadi?" Ariyanti penasaran.
Bu Sumi menghela napas. "Ibu tahu lebih dari yang seharusnya. Tapi itu cerita lain, Ari. Nanti, kalau waktunya tepat, Ibu akan ceritakan. Yang penting sekarang, kau harus tetap kuat. Jangan pernah takut pada mereka yang hanya punya uang tapi tidak punya hati. Uang bisa habis. Tapi hati yang baik, harga diri yang teguh, dan kebenaran yang dipegang, tidak akan pernah bisa diambil oleh siapa pun."
Ariyanti mengangguk. Air matanya akhirnya jatuh. Bukan air mata sedih. Tapi air mata lega. Lega karena ada yang membelanya. Lega karena tidak sendirian.
"Terima kasih, Bu. Aku akan berusaha."
Bu Sumi berdiri. Rok panjangnya ia rapikan. "Ibu harus pulang, Ari. Masih ada rapat guru sebentar lagi."
Ia berjalan ke pagar. Ariyanti mengantarnya.
Sebelum melangkah keluar, Bu Sumi berbalik. "Ingat, Ari. Dalam setiap pertempuran, pahlawan membutuhkan sekutu. Kau punya Ibu. Kau punya Akang. Kau punya Pak Dullah. Kau punya banyak orang yang peduli padamu. Kau tidak sendirian."
Setelah Bu Sumi pergi, Ariyanti termenung lama di teras rumahnya. Matanya menatap ke arah Jalan Randu Gembyang yang mulai gelap. Di kejauhan, pohon-pohon randu bergoyang lembut.
Rahmadi mungkin punya uang, pikirnya. Tapi aku punya sesuatu yang lebih berharga. Orang-orang yang peduli padaku. Cinta yang tulus. Harga diri yang tidak bisa dibeli.
Dan itu tidak akan pernah cukup untuk membuatku menyerah.
Rencana Balas Dendam Rahmadi
Rumah Rahmadi, malam itu.
Rahmadi duduk di ruang kerjanya. Wajahnya dingin. Tidak ada ekspresi. Matanya kosong, seperti orang yang sedang melihat ke dalam kekosongan. Di hadapannya, Danu dan dua preman bayaran berdiri tegap. Mereka tidak berani bergerak. Tidak berani bersuara.
"Danu, apa rencanamu?" suara Rahmadi datar. Tidak tinggi. Tidak rendah. Seperti orang yang sedang membacakan daftar belanja.
Danu maju selangkah. "Tuan, kita akan mulai dari Ibunya Ariyanti. Ibu Siti Aminah bekerja di pabrik penggilingan padi milik ayah Tuan, bukan? Sebagai buruh lepas, pencuci gudang. Gajinya kecil, tapi cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya."
"Lalu?" Rahmadi tidak sabar.
"Jika kita pecat dia. Cari alasan apa pun. Tidak disiplin. Sering bolos. Mencuri. Terserah. Ekonomi keluarga Ariyanti akan hancur. Mereka tidak akan bisa membayar sekolah. Mereka tidak akan bisa makan tiga kali sehari."
Rahmadi tersenyum. Senyum yang tidak sampai ke mata.
"Lalu setelah itu?" tanyanya.
"Setelah itu, kita tawarkan bantuan." Danu mendekat, suaranya berbisik, seperti orang yang sedang membagikan rahasia. "Kita bilang pada Ariyanti bahwa kita bisa membantu. Kita bisa membiayai sekolahnya. Kita bisa membiayai pengobatan ibunya. Kita bisa memberi pekerjaan pada ibunya lagi. Tapi dengan satu syarat."
"Syarat apa?"
"Ariyanti mau menjadi pacar Tuan. Atau setidaknya, mau menjauhi Akang."
Rahmadi tertawa. Tertawa kecil. Tertawa yang menakutkan.
"Bagus, Danu. Lakukan."
"Ada satu lagi, Tuan." Danu ragu sejenak. "Akang. Kita perlu menghancurkan reputasinya. Rumor tentang ayahnya yang desersi sudah mulai menyebar, tapi belum cukup untuk menghancurkannya sepenuhnya. Kita perlu bukti palsu bahwa Akang juga terlibat dalam sesuatu yang ilegal. Perjudian. Pencurian. Apa pun."
Rahmadi mengerutkan dahi, lalu tersenyum jahat. "Kau punya ide?"
"Kita bisa menyuruh salah satu preman kita berpura-pura menjadi teman Akang. Mengajaknya terlibat dalam perjudian kecil-kecilan. Atau mencuri di pasar. Lalu kita rekam. Lalu kita sebarkan."
"Rencana bagus, Danu." Rahmadi mengangguk puas. "Eksekusi segera. Aku tidak sabar melihat mereka menderita."
"Baik, Tuan."
Rahmadi berdiri dan berjalan ke jendela. Di luar, bulan bersinar terang. Bulat. Sempurna. Seperti obsesinya.
"Ariyanti, kau pikir dengan menolakku, kau akan bebas?" Rahmadi berbisik pada bayangan bulan. "Kau keliru. Aku baru saja memulai permainan ini. Dan permainan ini belum akan berakhir sampai aku menang."
Ariyanti yang Tak Kenal Takut
Malam itu. Rumah Ariyanti.
Ariyanti tidak bisa tidur. Ia sudah berguling-guling di kasurnya sejak jam sembilan. Tapi matanya tidak bisa terpejam. Pikirannya kacau, seperti lautan yang sedang badai.
Ia berbaring di kasur tipisnya, menatap langit-langit anyaman bambu. Melalui celah-celah anyaman, ia bisa melihat sedikit langit malam. Bintang-bintang berkedip, seolah-olah menyapanya, seolah-olah mengatakan bahwa ia tidak sendirian.
Ia ingat kata-kata Bu Sumi: "Kau tidak sendirian."
Ia ingat genggaman tangan Akang: "Aku akan selalu di sampingmu."
Ia ingat pelukan ibunya: "Ibu bangga padamu."
Ariyanti tersenyum di tengah gelap. Senyum yang tidak terlihat siapa pun, tapi terasa di hatinya.
"Rahmadi, kau punya uang. Kau punya kekuasaan. Kau punya preman. Tapi aku punya cinta. Dan cinta, cinta sejati, lebih kuat dari uang. Lebih kuat dari kekuasaan. Lebih kuat dari apa pun yang kau miliki."
Ia memejamkan mata. Lagu jangkrik di luar rumahnya terdengar seperti lagu pengantar tidur. Lagu yang sama setiap malam, tapi tidak pernah membuatnya bosan. Lagu yang mengingatkannya bahwa di dunia yang keras ini, masih ada yang sederhana, masih ada yang indah, masih ada yang layak diperjuangkan.
"Besok adalah hari baru," bisiknya. "Dan aku akan terus berjuang. Tidak untuk siapa pun. Tapi untuk diriku sendiri. Untuk ibuku. Untuk Akang. Untuk masa depan yang aku percaya akan ada."
Ia membalikkan badan. Kasurnya berderit pelan.
"Rahmadi bisa melakukan apa pun yang dia mau. Tapi dia tidak akan pernah bisa membeliku. Karena aku bukan barang. Aku bukan properti. Aku adalah manusia. Dan manusia punya hak untuk memilih."
Ariyanti menarik selimut tipisnya hingga menutupi dagu.
"Dan aku sudah memilih."
Malam semakin larut. Jangkrik-jangkrik mulai lelah bernyanyi. Satu per satu, mereka berhenti, hingga hanya tinggal beberapa yang masih bersuara sayup-sayup.
Di rumah lain di Dusun Kersan, lampu-lampu mulai padam. Warga beristirahat setelah seharian bekerja. Tidak ada yang tahu bahwa di sebuah rumah kecil dengan dinding anyaman bambu, seorang gadis berusia enam belas tahun sedang berperang melawan kecemasannya sendiri.
Dan di rumah megah di Jalan Raya Pegandon, Rahmadi juga tidak bisa tidur. Ia duduk di kursi empuknya, menatap langit-langit yang tinggi. Pikirannya penuh dengan rencana balas dendam.
Perang baru saja dimulai. Dan kedua belah pihak sama-sama tidak tahu siapa yang akan keluar sebagai pemenang.
BAB 8
API CEMBURU
Rahmadi murka. Bukan karena cinta, tapi karena harga dirinya terluka. Dan ia mulai menyusun rencana.
Tegorejo, awal Agustus 1997. Seminggu setelah penolakan Ariyanti.
Api cemburu tidak pernah lahir dari cinta sejati. Ia lahir dari luka harga diri, dari ambisi yang kandas, dari obsesi yang tidak terpenuhi. Ia lahir dari kehancuran kecil yang terjadi di dalam diri seseorang ketika ia menyadari bahwa dunia tidak berputar di sekelilingnya. Dan tidak ada yang lebih berbahaya daripada laki-laki yang terbiasa menang, yang sejak kecil tidak pernah mendengar kata "tidak", yang semua keinginannya selalu terpenuhi, tapi tiba-tiba harus merasakan kekalahan untuk pertama kalinya dalam hidupnya.
Rahmadi adalah laki-laki itu.
Sejak Ariyanti menolaknya dengan tegas di perpustakaan, ia berubah. Bukan perubahan yang terjadi dalam semalam, tapi perubahan yang perlahan-lahan menggerogoti dirinya dari dalam, seperti kanker yang tidak terlihat tapi terus menyebar.
Senyumnya yang dulu manis, senyum yang telah ia latih di depan cermin sejak kecil, senyum yang membuat guru-guru terpikat dan siswa-siswi terpesona, kini berubah menjadi seringai dingin. Bibirnya masih bisa melengkung, tapi tidak ada kehangatan di baliknya. Hanya kepahitan. Hanya kesombongan yang terluka.
Matanya yang dulu hangat, yang bisa menatap seseorang dengan intensitas yang membuat orang lain merasa istimewa, kini berubah menjadi tatapan menusuk. Tatapan yang membuat orang ingin menghindar. Tatapan yang berkata, "Kau telah membuatku marah, dan kau akan membayarnya."
Dan di dalam dadanya, di ruang yang paling dalam, di tempat di mana ia menyembunyikan semua kegelapannya, api cemburu membakar segalanya. Rasa malu karena ditolak di depan umum. Rasa sakit karena harus mengakui bahwa ada laki-laki lain yang lebih dipilih. Rasa marah karena ia tidak terbiasa kalah.
Tapi bukan cinta yang membakar api itu. Rahmadi tidak sedang jatuh cinta. Ia tidak tahu apa itu cinta. Ia tidak pernah diajari. Ayahnya tidak pernah mengajarkan. Ibunya meninggal sebelum sempat mengajarkan. Yang ia tahu hanyalah memiliki. Yang ia kenal hanyalah menguasai. Yang ia pahami hanyalah menaklukkan.
Itu adalah ego.
Dan ego yang terluka, ego yang tidak terpuaskan, ego yang terbiasa menang lalu tiba-tiba kalah, adalah mesin perang yang paling kejam. Tidak ada yang bisa menghentikannya. Tidak ada yang bisa menenangkannya. Tidak ada yang bisa membujuknya untuk berhenti, kecuali kehancuran total. Entah kehancuran musuhnya, atau kehancurannya sendiri.
Malam Kekalahan Rahmadi
Rumah Rahmadi, pukul 02.00 dini hari.
Rahmadi tidak bisa tidur. Kasur king size-nya yang empuk, dengan sprei sutra impor yang dingin di kulit, terasa seperti ranjang neraka. Bantal-bantal mahal yang biasa ia rangkul untuk tidur nyenyak, pagi ini terasa seperti batu. Ia sudah berguling-guling sejak pukul sepuluh malam. Ke kiri. Ke kanan. Tengkurap. Telentang. Tidak ada posisi yang nyaman.
Matanya tak kunjung terpejam. Setiap kali ia memejamkan kelopak mata, yang ia lihat adalah wajah Ariyanti. Bukan wajah Ariyanti yang tersenyum seperti yang ia bayangkan. Tapi wajah Ariyanti dengan tatapan dingin saat mengucapkan kata-kata itu di perpustakaan. Tatapan yang seolah-olah sedang menghakimi dirinya. Tatapan yang berkata, "Kau tidak istimewa. Kau hanya biasa saja. Kau hanya anak kaya yang biasa saja."
"Maaf, Mas Rahmadi. Hati saya sudah punya tujuan."
"Bukan soal miskin atau kaya. Tapi soal siapa yang ada di hati saya."
"Apakah Mas Rahmadi tulus? Atau Mas hanya terbiasa menang?"
Rahmadi membanting bantal ke tembok. Bantal sutra mahal itu jatuh ke lantai dengan suara lembut, tidak memuaskan sama sekali. Ia ingin membanting sesuatu yang keras, sesuatu yang pecah, sesuatu yang membuat suara berisik.
"AAAAARRRGGGHHH!" teriaknya ke bantal lain yang ia remas-remas dengan kedua tangannya. Suaranya teredam, tidak ada yang mendengar kecuali dirinya sendiri.
Ia bangkit dari tempat tidur, kaki telanjangnya menginjak lantai marmer yang dingin. Dinginnya tidak terasa. Yang ia rasakan hanyalah panas di dadanya, panas yang tidak bisa ia keluarkan. Ia berjalan ke kamar mandi, membuka keran, dan membasuh wajahnya dengan air dingin.
Air itu mengalir di wajahnya, membasahi rambutnya yang acak-acakan, menetes ke leher, ke dada. Tapi tidak cukup untuk mendinginkan amarahnya.
Di cermin, ia melihat pantulan dirinya. Rambut acak-acakan, tidak rapi seperti biasanya. Mata merah, bukan karena menangis, tapi karena kurang tidur dan amarah yang tidak terkendali. Wajah pucat, pucat seperti orang yang sedang sakit. Di matanya, ada lingkaran hitam yang tidak biasa.
Siapa laki-laki itu? pikirnya sambil menatap bayangannya sendiri di cermin yang basah. Laki-laki miskin dari Cegunan. Tidak punya apa-apa. Tidak punya mobil. Tidak punya rumah bagus. Tidak punya uang. Tidak punya masa depan. Tidak punya apa pun! Tapi dia berani merebut apa yang menjadi hakku!
Hak.
Kata itu muncul begitu saja di kepalanya. Hak. Ariyanti adalah haknya. Bukan karena ia mencintainya. Bukan karena ia menginginkannya dengan tulus. Tapi karena ia kaya. Karena ia tampan. Karena ia berkuasa. Dan orang yang kaya, tampan, dan berkuasa berhak atas apa pun yang ia inginkan.
Rahmadi tidak menyadari bahwa ia menganggap Ariyanti sebagai hak. Sebagai properti. Sebagai sebuah trophy yang harus ia dapatkan karena ia pantas mendapatkannya. Ia tidak menyadari bahwa di situlah letak kesalahannya. Bahwa cinta tidak bisa dipaksakan. Bahwa hati manusia bukanlah barang yang bisa dibeli.
Ia keluar dari kamar mandi. Air masih menetes dari rambutnya, membasahi kemeja tidurnya yang tipis. Tangannya meraih ponsel mahal dari meja samping tempat tidur. Jari-jarinya menekan tombol panggilan cepat.
"Danu." Suaranya serak, parau, seperti orang yang baru saja berteriak lama. "Datang ke rumah. Sekarang."
"Tuan, ini sudah jam 2 pagi..." suara Danu di seberang sana terdengar mengantuk, tidak yakin.
"Aku tidak peduli." Rahmadi memotong. Suaranya meninggi. "Datang!"
Pukul 02.30. Ruang kerja Rahmadi.
Danu datang dengan kemeja kusut yang terlihat seperti baru dipakai terburu-buru, rambutnya acak-acakan, matanya masih sayu, masih menyisakan kantuk. Ia berdiri di hadapan Rahmadi yang duduk di kursi kerjanya dengan wajah dingin, dengan mata yang menyala, dengan aura yang mengancam.
Lampu ruangan hanya satu yang menyala, di sudut meja, membuat bayangan Rahmadi di dinding membesar seperti monster.
"Tuan, ada apa?" suara Danu hati-hati, seperti orang yang berjalan di atas kaca.
"Aku tidak bisa menerima ini, Danu."
"Menerima apa?" Danu bertanya, meskipun ia sudah tahu jawabannya.
"Penolakan itu." Rahmadi menatap Danu. Matanya tajam, seperti elang yang sedang mengintai mangsa. "Aku Rahmadi. Anak H. Rahmat. Aku tidak terbiasa ditolak."
Danu menghela napas. Napas yang panjang, napas yang mengandung kelelahan. Ia sudah menduga ini akan terjadi. Sudah menduga sejak Ariyanti menolak bunga mawar itu. Sudah menduga sejak Rahmadi pulang dengan wajah pucat dari perpustakaan.
"Tuan, mungkin kita harus..." Danu mencoba memberikan saran, mencoba menjadi suara nalar di tengah kegelapan.
"Diam!" Rahmadi membentak. Suaranya memantul di dinding ruangan, membuat Danu langsung membeku. "Aku tidak minta nasihat. Aku minta eksekusi."
"Eksekusi apa, Tuan?" Danu menelan ludah. Ia sudah mendengar nada ini sebelumnya. Nada yang berarti bahwa Rahmadi sedang merencanakan sesuatu yang besar. Sesuatu yang kejam. Sesuatu yang tidak bisa ditarik kembali.
Rahmadi berdiri. Kursi rotan mahal di belakangnya bergeser ke belakang dengan suara yang mengganggu. Ia berjalan ke papan tulis putih yang menempati hampir seperempat dinding ruang kerjanya. Papan tulis yang biasanya ia gunakan untuk menulis rencana bisnis, target penjualan, dan strategi marketing ayahnya.
Tapi malam ini, papan tulis itu akan digunakan untuk tujuan yang berbeda.
Ia mengambil spidol merah. Warna merah. Warna darah. Warna amarah. Warna peringatan.
Ia mulai menulis dengan goresan yang tebal, dengan tekanan yang kuat, sampai spidol itu berdecit di permukaan papan.
TARGET 1: HANCURKAN AKANG SUPRIYADI.
TARGET 2: BUAT ARIYANTI KEHILANGAN SEMUA PILIHAN.
TARGET 3: PASTIKAN ARIYANTI DATANG PADAKU DENGAN SUKA RELA.
Danu membaca daftar itu dengan dahi berkerut. Tiga target. Tiga target yang semakin berat, semakin dalam, semakin berbahaya. Hancurkan. Buat kehilangan. Pastikan. Kata-kata yang tidak meninggalkan ruang untuk ampun.
"Tuan, apakah ini tidak terlalu... ekstrem?" Danu bertanya dengan suara pelan, hampir berbisik, seperti orang yang takut membangunkan singa tidur.
"Ekstrem?" Rahmadi berbalik. Matanya menyala. Wajahnya merah padam. "Mereka yang memulai perang ini, Danu. Bukan aku. Ariyanti menolakku di depan umum. Di perpustakaan, di mana siapa pun bisa masuk. Di mana Bu Lastri bisa mendengar. Di mana mungkin saja ada siswa lain yang mengintip. Itu penghinaan. Dan penghinaan harus dibalas."
"Tapi Tuan, bukankah sebaiknya kita..." Danu mencoba lagi. Ia belum menyerah. Mungkin masih ada harapan untuk membujuk Rahmadi agar tidak mengambil jalan yang terlalu gelap.
"Danu." Rahmadi memotongnya. Suaranya dingin. Dingin seperti es. Dingin seperti malam. Dingin seperti kematian. "Kau dibayar untuk melakukan apa yang aku perintah, bukan untuk berpikir. Lakukan saja."
Danu mengangguk pasrah. Tidak ada gunanya melawan. Tidak ada gunanya mencoba menjadi suara nalar. Rahmadi sudah terlalu jauh tenggelam dalam amarahnya.
"Baik, Tuan. Apa langkah pertama?"
Rahmadi tersenyum jahat. Senyum yang tidak pernah sampai ke matanya. Senyum yang hanya berupa lengkungan bibir, tanpa cahaya.
"Kita mulai dari rumor tentang ayah Akang. Tentara desersi. Hilang di Aceh. Tapi jangan hanya rumor. Kita perlu bukti."
"Bukti palsu, Tuan?" Danu sudah mulai memahami arah pemikiran Rahmadi.
"Terserah. Yang penting orang-orang percaya bahwa ayah Akang adalah tentara desersi dan pengecut. Bahwa ia lari dari tanggung jawab. Bahwa ia meninggalkan keluarganya dengan sengaja. Bahwa keluarganya tidak layak dihormati."
"Baik, Tuan. Saya akan urus." Danu mencatat di buku kecilnya.
"Dan satu lagi." Rahmadi berjalan mondar-mandir di ruangan. Langkahnya teratur, berirama, seperti predator yang sedang mengelilingi mangsanya. "Aku ingin kau selidiki apakah Akang punya catatan kriminal. Atau apa pun yang bisa kita gunakan untuk menjebloskannya ke penjara."
Danu mengangguk. "Akan saya usahakan, Tuan."
Rahmadi duduk kembali di kursinya. Ia menatap papan tulis itu dengan puas. Tiga target. Tiga target yang akan ia capai satu per satu. Tiga target yang akan membawanya pada kemenangan.
"Perang sudah dimulai, Akang Supriyadi." Rahmadi berbisik pada bayangannya sendiri di kaca jendela yang gelap. "Dan kali ini, aku tidak akan kalah. Aku tidak pernah kalah. Dan aku tidak akan mulai kalah sekarang."
Di luar, bulan bersinar terang. Tapi cahayanya tidak cukup untuk menembus kegelapan yang sedang tumbuh di ruangan itu.
Pagi yang Berbeda Bagi Akang
Dusun Cegunan, pukul 05.00.
Akang bangun lebih pagi dari biasanya. Di rumahnya yang gelap, di kamar yang hanya diterangi cahaya bulan yang masuk melalui celah-celah anyaman bambu, ia sudah terbangun sejak pukul setengah lima. Tidak ada alarm yang membangunkannya. Tidak ada suara dari luar yang mengusik tidurnya. Tapi ia tetap terbangun, seperti ada yang memanggil namanya dari dalam tidurnya.
Ia tidak tidur nyenyak semalaman. Pikirannya terus menerus memikirkan Ariyanti. Wajah Ariyanti saat ia melangkah pulang dari perpustakaan. Wajah Ariyanti yang letih tapi tegar. Wajah Ariyanti yang berkata, "Aku tidak menyesal." Tapi juga memikirkan Rahmadi. Wajah Rahmadi yang pucat saat keluar dari perpustakaan. Wajah Rahmadi yang tidak bisa menyembunyikan amarahnya. Wajah Rahmadi yang seperti bom waktu yang siap meledak.
Laki-laki itu tidak akan diam, pikir Akang sambil duduk di tepi kasurnya. Kaki telanjangnya menyentuh lantai tanah yang dingin. Dinginnya menyebar ke seluruh tubuh, tapi tidak cukup untuk menenangkan pikirannya. Dia pasti akan melakukan sesuatu. Dia pasti akan membalas. Orang seperti Rahmadi tidak akan membiarkan penolakan begitu saja.
Akang berwudhu di kamar mandi belakang rumah. Air sumur dingin mengguyur tubuhnya, membuat bulu kuduknya merinding. Tapi ia tidak mengeluh. Ia sudah terbiasa. Lalu ia salat subuh dengan khusyuk. Lebih khusyuk dari biasanya. Lebih lama dari biasanya. Usai salat, ia tidak langsung beranjak dari sajadah. Ia tetap duduk, tangan terangkat, berdoa dengan suara lirih yang hampir tidak terdengar.
"Ya Allah, lindungi Ariyanti." Suaranya bergetar. "Lindungi ibunya. Lindungi kami dari kejahatan orang-orang yang dzalim. Beri aku kekuatan untuk melindungi orang yang aku cintai. Beri aku kesabaran untuk menghadapi ujian. Beri aku keyakinan bahwa kebenaran akan menang."
Ia tidak pernah sekeras ini dalam berdoa. Seumur hidupnya, ia berdoa seperti orang biasa. Cukup. Tidak berlebihan. Tidak terlalu lama. Tapi pagi ini, ia merasa perlu. Ia merasa bahwa doa adalah satu-satunya senjata yang tidak bisa dirampas oleh Rahmadi.
Setelah selesai, ia membantu ibunya menyiapkan dagangan gorengan. Ibu sudah bangun sejak pukul empat, seperti biasa. Suara minyak yang dipanaskan di wajan sudah terdengar sejak Akang masih di kamar mandi. Bau tempe, tahu, dan pisang mulai menyebar ke seluruh rumah.
Mereka bekerja dalam diam yang nyaman. Ibu menggoreng. Akang membungkus. Tidak perlu banyak bicara. Tidak perlu saling menatap. Cukup dengan berada di dekat satu sama lain sudah cukup. Hanya suara minyak mendidih, suara daun pisang yang diremas-remas, dan ayam berkokok di kejauhan yang terdengar.
"Kang," panggil ibunya tiba-tiba, setelah sekian lama hanya terdengar suara gorengan yang dibalik-balik.
"Ya, Bu?"
"Kamu sedang ada masalah, ya?"
Akang terkejut. Tangannya berhenti membungkus. Ia menatap ibunya. Ibu tidak menatapnya balik. Ibu masih fokus pada gorengan di wajan. Tapi ada sesuatu di suaranya. Sesuatu yang mengatakan bahwa Ibu tahu lebih dari yang ia tunjukkan.
"Kenapa Ibu bilang begitu?" Akang mencoba tenang. Suaranya berusaha datar.
"Ibu tahu dari wajahmu." Ibu Akang membalikkan tempe goreng dengan sumpit panjang. "Sejak beberapa hari ini, kamu terlihat gelisah. Matamu sayu. Bahumu tegang. Kamu tidak pernah seperti ini sebelumnya. Ada apa? Apakah tentang gadis itu? Ariyanti?"
Akang terdiam. Tidak bisa berbohong pada ibunya. Tidak pernah bisa. Sejak kecil, ibunya selalu bisa membaca pikirannya. Seolah-olah ada benang tak terlihat yang menghubungkan hati mereka.
"Iya, Bu."
"Ibu dengar dia dikirimi bunga seratus tangkai oleh anak H. Rahmat." Bukan pertanyaan. Ibu sudah tahu. Semua orang sudah tahu.
"Iya, Bu."
"Dan dia menolaknya?" Ibu Akang menoleh. Matanya menatap Akang.
"Iya, Bu." Akang menunduk. "Karena aku."
Ibu Akang tersenyum. Senyum yang hangat, yang membuat kerutan di wajahnya semakin dalam, yang membuat mata ibunya berbinar seperti bintang.
"Anak itu baik. Setia. Ibu suka."
Akang mengangkat kepala. Matanya berkaca-kaca. "Tapi Bu, Rahmadi tidak akan diam. Dia akan melakukan sesuatu. Aku takut. Aku takut dia akan menyakiti Ariyanti. Atau menyakiti Ibu. Atau menyakiti kita semua."
Ibu Akang berhenti menggoreng. Ia menatap anaknya dengan mata penuh kasih. Mata yang sudah melihat banyak penderitaan, tapi tetap memilih untuk melihat kebaikan.
"Kang, Ibu tidak punya harta. Ibu tidak punya kekuasaan. Ibu tidak punya mobil mewah atau rumah besar. Tapi Ibu punya doa." Ibu Akang meraih tangan Akang. Tangannya hangat. Tangannya penuh dengan minyak goreng. Tapi hangat. "Dan Ibu akan selalu mendoakanmu dan Ariyanti. Jangan takut pada orang yang punya uang tapi tidak punya hati. Karena uang bisa habis, Danu. Harta bisa lenyap. Kekuasaan bisa runtuh. Tapi hati yang baik akan selalu menang."
Akang tidak bisa menahan air matanya lagi. Air matanya jatuh. Ia memeluk ibunya, yang tubuhnya lebih kecil darinya, yang bahunya lebih sempit, yang tangannya penuh kapalan.
"Ibu, apa Ibu tidak takut kalau keluarga Rahmadi memecat Ibu dari pabrik?" suaranya teredam di bahu ibunya.
Ibu Akang tertawa kecil. Tawa yang ringan, tawa yang tidak terbebani, tawa yang membuat Akang bertanya-tanya bagaimana ibunya bisa tetap tertawa di saat seperti ini.
"Biarlah, Kang. Ibu sudah biasa miskin." Ibu Akang mengelus rambut Akang. "Ibu sudah biasa hidup dengan sedikit. Ibu sudah biasa tidak punya. Yang tidak biasa, yang tidak pernah Ibu lakukan, adalah hidup tanpa kehormatan. Ibu tidak akan menjual kehormatan Ibu hanya untuk pekerjaan. Dan Ibu tidak ingin kamu melakukan itu juga."
"Terima kasih, Bu." Akang memeluk ibunya lebih erat. "Aku akan berusaha menjadi anak yang membuat Ibu bangga."
"Kamu sudah membuat Ibu bangga, Kang. Sejak kamu kecil. Sejak kamu bisa membaca. Sejak kamu tidak menyerah meskipun hidup sulit." Ibu Akang melepaskan pelukan. Matanya juga basah. "Sekarang, bantu Ibu membungkus. Nanti kamu terlambat sekolah."
Akang mengangguk. Tangannya yang gemetar mulai membungkus lagi. Tapi kali ini, ada keyakinan di dalamnya. Ada tekad. Api perjuangan yang mulai menyala.
Rumor Mulai Menyebar
SMAN I Pegandon, jam istirahat pertama.
Hari itu, suasana sekolah berbeda. Ada keheningan yang tidak biasa, tapi juga ada keramaian yang tidak biasa. Para siswa tidak berbicara tentang pelajaran. Tidak berbicara tentang guru. Tidak berbicara tentang PR yang belum selesai. Mereka berbisik-bisik di setiap sudut. Di kantin. Di koridor. Di halaman sekolah. Di dalam kelas. Di mana-mana.
Tatapan mereka tertuju pada satu orang. Akang. Yang sedang duduk di kantin bersama Ariyanti. Sepiring nasi bungkus di depannya. Tahu goreng dan sambal. Tidak lebih. Ariyanti di sampingnya, membawa bekal yang sama sederhananya. Mereka makan seperti biasa, tidak tahu bahwa mereka sedang menjadi tontonan.
"Kamu dengar? Ayahnya Akang itu tentara desersi."
"Iya, katanya lari dari tugas di Aceh. Kabur. Meninggalkan keluarganya."
"Dasarnya pengecut. Anaknya juga pasti pengecut. Bawaan dari bapaknya."
"Pantasan miskin. Keluarga tidak punya harga diri. Wajar kalau susah."
"Jangan dekat-dekat sama dia. Nanti ketularan sial."
Kata-kata itu melayang di udara. Tidak terlalu keras, tidak terlalu pelan. Cukup untuk didengar oleh orang yang menjadi sasaran, tapi tidak cukup untuk bisa dilaporkan pada guru. Senjata klasik perundungan verbal.
Akang tidak bisa mendengar bisik-bisik itu dari kejauhan. Telinganya tidak setajam itu. Tapi Ariyanti bisa. Ia sudah terbiasa dengan bisik-bisik sejak kecil. Ia sudah belajar membaca gerak bibir dari kejauhan. Ia melihat bibir-bibir yang bergerak, mata-mata yang melirik, dan senyum-senyum sinis di sudut ruangan.
"Kang," panggil Ariyanti pelan, sambil menyuap nasi ke mulutnya. Wajahnya tidak berubah. Tidak ada tanda-tanda kepanikan.
"Ya?" Akang mendongak.
"Kita pindah ke tempat lain, yuk." Ariyanti meletakkan sendoknya. "Perpustakaan saja. Lebih sepi."
"Kenapa?" Akang mengernyit. Ia tidak mengerti. Biasanya mereka makan di kantin. Biasanya tidak masalah.
Ariyanti ragu. Ia tidak ingin membuat Akang paranoid. Tapi ia juga tidak ingin terus-terusan mendengar bisikan-bisikan jahat itu. "Aku... tidak enak di sini."
Akang menatap sekeliling. Ia baru sadar. Matanya bergerak perlahan dari satu sudut ke sudut lain. Di meja sebelah kiri, dua orang siswa sedang berbisik sambil sesekali menunjuk ke arahnya. Di meja sebelah kanan, seorang siswi menatapnya dengan ekspresi jijik. Di belakang, beberapa siswa yang biasanya tidak pernah memperhatikannya, kini menatapnya dengan curiga.
Ada apa ini? pikirnya. Jantungnya berdebar lebih cepat. Kenapa semua orang menatapku seperti itu? Apa yang salah?
Tapi ia tidak bertanya lebih lanjut. Tidak ingin membuat Ariyanti khawatir. Tidak ingin menambah beban.
"Baiklah." Akang berdiri. "Ayo ke perpustakaan."
Mereka berdua berdiri dan berjalan keluar kantin. Di belakang mereka, bisik-bisik semakin keras. Tidak lagi berusaha disembunyikan. Seperti air bah yang akhirnya jebol.
"Tuh, kabur, dia. Mungkin malu."
"Wajar, jadi anak pengecut. Malu sama bapaknya."
"Kasihan Ariyanti. Dekat sama anak pengecut."
Mereka tidak tahu bahwa Rahmadi, yang duduk di meja paling pojok di kantin, yang biasanya ditemani oleh Danu dan beberapa preman bayaran, tersenyum puas. Senyum kemenangan. Senyum kepuasan. Senyum yang mengatakan bahwa rencana pertamanya berjalan lancar.
"Rencana berjalan lancar," bisiknya pada Danu yang berdiri di sampingnya, setia seperti bayangan. "Rumor mulai menyebar. Sebentar lagi, semua orang akan membencinya."
Danu mengangguk. "Langkah selanjutnya, Tuan?"
"Kita tunggu." Rahmadi menyandarkan tubuhnya di kursi. Matanya tidak lepas dari punggung Akang yang semakin menjauh. "Biarkan rumor ini berkembang sendiri. Semakin lama dibiarkan, semakin besar. Semakin besar, semakin sulit dibantah."
Danu mengangguk lagi. "Baik, Tuan."
Rahmadi mengambil minumannya. Segelas es teh manis. Ia menyesapnya perlahan. Dingin. Segar. Memuaskan.
Seperti kemenangan.
Akang Mengetahui Kebenaran
Perpustakaan SMAN I Pegandon, setelah jam pelajaran ketiga.
Perpustakaan yang biasanya sepi, sore itu terasa lebih sepi dari biasanya. Hanya ada Akang dan Ariyanti di meja belakang, dekat rak buku sastra yang jarang disentuh. Suasana tenang. Hanya suara lembaran buku yang dibalik dan napas mereka yang terdengar. Ariyanti membaca puisi. Akang membaca buku biologi. Seperti biasa.
Tiba-tiba, langkah kaki terdengar dari pintu masuk. Langkah yang ragu-ragu, seperti orang yang tidak yakin boleh masuk atau tidak. Siti Fatimah muncul dari balik rak buku. Wajahnya tampak ragu. Matanya gelisah. Tangannya memegang erat buku catatan, meskipun bukan buku yang akan ia baca.
"Akang, aku... aku ingin bicara," katanya, suaranya hampir berbisik.
Akang mengangkat kepala. "Ada apa, Siti?" Suaranya ramah. Tidak ada kecurigaan. Ia belum tahu apa yang akan terjadi.
Siti menatap Ariyanti sekilas. Matanya bertemu dengan mata Ariyanti. Ada sesuatu di sana. Rasa bersalah. Rasa tidak enak. Rasa takut. Lalu ia kembali ke Akang.
"Aku dengar ada rumor tentang ayahmu." Suara Siti pelan, seperti orang yang sedang membagikan rahasia kematian. "Katanya... ayahmu desersi."
Akang membeku. Seluruh tubuhnya terasa kaku. Darahnya berhenti mengalir sejenak. Dunia berhenti berputar.
"Apa?" suaranya hampir tidak keluar.
"Iya." Siti melanjutkan, meskipun jelas ia tidak nyaman. "Sudah menyebar sejak pagi. Hampir semua siswa membicarakannya. Aku kasihan sama kamu. Aku pikir kamu harus tahu."
Akang memucat. Wajahnya yang tadinya sawo matang, berubah menjadi pucat seperti kapur. Tangannya, yang tadinya memegang buku biologi dengan santai, kini gemetar hebat. Buku itu hampir jatuh. Ia mengepalkannya erat-erat, sampai buku-buku jarinya memutih.
"Kang..." Ariyanti meraih tangannya. Tangannya dingin. Tangannya basah oleh keringat.
"Aku tidak apa-apa," jawab Akang. Suaranya datar. Tidak naik. Tidak turun. Tapi datar itu lebih menakutkan dari teriakan. Matanya berkaca-kaca. Ia menahan sesuatu. Sesuatu yang ingin keluar, tapi ia tahan.
Siti melanjutkan, meskipun ia tahu ini bukan waktu yang tepat. Mungkin ia merasa perlu mengatakan semuanya sekarang juga, sebelum keberaniannya habis. "Ada yang bilang, rumor itu sengaja disebar oleh..."
"Siapa?" potong Akang. Matanya menatap Siti. Tajam. Menusuk.
Siti ragu. Ia menelan ludah. Ia melihat ke Ariyanti, lalu kembali ke Akang. "Rahmadi. Kata Danu, asistennya, Rahmadi yang menyuruh. Aku dengar sendiri dari teman yang mendengar Danu membicarakan itu."
Ariyanti mengepalkan tangannya di bawah meja. "Aku tahu. Sudah kuduga." Suaranya dingin. Marah. Tapi marah yang terkendali.
Siti menghela napas. Napas yang panjang, seperti orang yang baru saja menyelesaikan tugas berat. "Aku hanya ingin kalian tahu. Aku tidak suka dengan apa yang terjadi. Aku tidak setuju dengan cara Rahmadi. Anggap saja ini sebagai... permintaan maafku karena dulu pernah jadi mata-mata Rahmadi."
Ariyanti menatap Siti. Matanya bertemu. "Kamu serius?"
"Serius." Siti mengangguk. Matanya jujur. "Aku sadar Rahmadi itu tidak baik. Dia hanya memanfaatkanku. Aku hanya boneka untuknya. Aku tidak mau ikut-ikutan lagi."
Akang mengangguk. "Terima kasih, Siti." Suaranya masih datar, tapi ada kehangatan di dalamnya. Kehangatan yang membuat Siti lega.
Siti pergi. Langkahnya cepat, seperti orang yang ingin segera meninggalkan tempat yang tidak nyaman.
Ariyanti menoleh pada Akang. "Kang, kita harus melakukan sesuatu."
"Apa yang bisa kita lakukan, Ari?" Akang menatap meja. Matanya kosong. Tidak fokus. "Kita hanya anak miskin. Dia punya uang, preman, koneksi. Apa yang bisa kita lakukan?"
"Kita punya satu senjata yang tidak dia miliki, Kang." Suara Ariyanti tegas. "Kebenaran."
Akang menatap Ariyanti. Mata gadis itu menyala. Menyala seperti api. Api yang tidak bisa dipadamkan oleh angin. Api yang menyala di tengah kegelapan.
"Kamu mau cari tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan ayahmu?" tanya Ariyanti. Bukan pertanyaan. Tapi ajakan. Tawaran. Undangan untuk berperang bersama.
Akang ragu. Selama ini ia selalu menghindari masa lalu. Selama ini ia selalu lari dari pertanyaan tentang ayahnya. Selama ini ia selalu memendam rasa penasaran. Tapi mungkin sekarang saatnya.
"Baik." Akang mengangguk. "Tapi dari mana kita mulai?"
"Ayahmu tentara, kan?" Ariyanti sudah mulai berpikir. Matanya bergerak cepat, seperti sedang membaca buku. "Berarti ada arsip. Ada dokumentasi. Ada rekan-rekannya. Kita bisa cari tahu. Kita bisa cari bukti."
"Ari, ini tidak mudah." Akang menatap Ariyanti. Ada kekhawatiran di matanya. "Bisa berbahaya. Keluarga Rahmadi punya banyak preman. Mereka tidak segan-segan menyakiti orang."
"Aku tidak takut, Kang." Ariyanti tersenyum. Senyum yang tegar. Senyum yang mengatakan bahwa ia sudah siap untuk apa pun. "Yang penting ayahmu terbukti tidak bersalah. Yang penting kebenaran terungkap. Aku tidak peduli dengan bahaya."
Akang tersenyum. Untuk pertama kalinya hari itu, senyumnya kembali. "Terima kasih, Ari. Aku tidak tahu harus membalas kebaikanmu."
"Kau tidak perlu membalas." Ariyanti meraih tangannya. Genggamannya erat. Hangat. "Cukup jadi dirimu sendiri. Cukup jangan menyerah."
Mereka berdua terdiam. Di perpustakaan yang sepi itu, di antara tumpukan buku-buku tua yang berdebu, di bawah cahaya matahari sore yang masuk melalui jendela kaca yang buram, mereka berjanji pada diri sendiri.
Tidak akan menyerah. Tidak akan diam. Akan mencari kebenaran. Akan membuktikan bahwa Akang dan keluarganya tidak seperti yang digosipkan.
Dan Rahmadi, dengan semua uang dan kekuasaannya, tidak akan bisa menghentikan mereka.
Rencana Rahmadi Mulai Berjalan
Rumah Rahmadi, malam itu.
Rahmadi duduk di kursi empuknya, di ruang kerjanya yang ber-AC. Di hadapannya, Danu berdiri dengan laporan. Laporan tentang penyebaran rumor. Laporan tentang reaksi siswa. Laporan tentang bagaimana Akang mulai terisolasi.
"Danu, bagaimana perkembangan rumor?" suara Rahmadi santai. Ia sedang memegang gelas berisi jus jeruk segar. Diseruputnya perlahan.
"Sudah menyebar luas, Tuan." Danu membuka buku catatannya. "Banyak siswa yang mulai memandang sinis pada Akang. Beberapa guru juga mulai mendengar, tapi mereka belum berkomentar."
"Bagus." Rahmadi tersenyum. "Sekarang giliran langkah kedua."
"Apa langkah kedua, Tuan?" Danu sudah menyiapkan pulpen.
"Kita serang ekonominya." Rahmadi meletakkan gelasnya. "Ibu Akang bekerja di pabrik ayahku, bukan?"
"Iya, Tuan." Danu mengangguk. "Sebagai buruh cuci gudang. Gajinya kecil, hanya sekitar seribu per hari."
"Suruh mandor pecat dia." Rahmadi bersandar di kursinya. "Cari alasan apa pun. Tidak disiplin. Sering bolos. Mencuri. Terserah. Yang penting dia keluar."
"Tuan..." Danu ragu. "Bukankah itu terlalu kejam? Ibunya tidak tahu apa-apa. Ibu Akang adalah wanita tua yang sudah bekerja keras selama bertahun-tahun. Dia tidak terlibat dalam konflik ini."
"Aku tidak peduli, Danu." Rahmadi menatap Danu. Matanya dingin. "Yang penting Akang menderita. Kalau dia menderita, Ariyanti akan kasihan. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa karena dia juga miskin. Pada saat itu, aku akan datang sebagai pahlawan. Aku akan menawarkan bantuan. Aku akan menjadi satu-satunya jalan keluar."
Danu menghela napas. Tidak ada gunanya melawan. "Baik, Tuan. Saya lakukan."
"Danu." Rahmadi memanggil lagi sebelum Danu berbalik. "Aku ingin kau lakukan ini dengan cepat. Aku tidak sabar."
"Baik, Tuan."
Danu pergi. Rahmadi sendirian lagi di ruang kerjanya. Ia menatap papan tulis putih di depannya. Tiga target. Target pertama sudah berjalan. Target kedua akan segera berjalan. Target ketiga akan menyusul.
"Akhirnya, semuanya berjalan sesuai rencana," bisiknya sambil tersenyum pada bayangannya sendiri di kaca jendela yang gelap. Senyum yang tidak pernah sampai ke matanya.
Ibu Akang Dipecat
Pabrik Penggilingan Padi Sumber Makmur, dua hari kemudian.
Ibu Akang datang ke pabrik seperti biasa. Ia sudah bekerja di sini selama lima tahun. Sejak suaminya hilang. Sejak ia harus menjadi ayah sekaligus ibu untuk Akang. Gajinya tidak besar. Hanya cukup untuk membeli beras, sayur, dan sedikit lauk. Tapi cukup untuk menyekolahkan Akang. Cukup untuk membuat mereka tetap hidup.
Pagi itu, ia memakai baju kerjanya yang lusuh. Kain sarung yang sudah tipis di beberapa bagian. Kaus oblong yang sudah kusam warnanya. Rambutnya diikat sederhana. Ia berjalan ke gudang, tempat biasa ia bekerja. Di tangannya, ember plastik dan lap kain.
"Bu Supriyadi," panggil mandor pabrik dari belakang.
Ibu Akang menoleh. "Iya, Pak?"
Mandor itu adalah laki-laki paruh baya dengan perut buncit dan kumis tebal. Wajahnya tidak enak. Matanya menghindar.
"Maaf, mulai hari ini Ibu tidak perlu datang lagi." Suaranya pelan, seperti orang yang sedang menyampaikan berita duka.
Ibu Akang terkejut. Tangannya berhenti. Ember di tangan kanannya hampir jatuh. "Kenapa, Pak? Apa saya melakukan kesalahan?"
"Ini sudah keputusan atas, Bu." Mandor itu menghela napas. Tangannya meremas-remas ujung bajunya. "Saya hanya menjalankan perintah."
"Tapi Pak, saya sudah lima tahun bekerja di sini." Suara Ibu Akang mulai bergetar. "Saya tidak pernah bolos. Tidak pernah terlambat. Tidak pernah curang. Bahkan saat hujan deras, saya tetap datang. Saya juga tidak pernah minta kenaikan gaji. Kenapa tiba-tiba dipecat?"
Mandor itu terdiam. Ia tidak bisa menjawab.
"Pak, tolong beri saya alasan yang jelas." Ibu Akang menatap mandor itu. Matanya berkaca-kaca, tapi ia tidak menangis. "Saya butuh pekerjaan ini. Anak saya butuh biaya sekolah."
Mandor itu menghela napas lagi. Napas yang panjang, napas yang berat. "Maaf, Bu. Saya tidak bisa bicara banyak. Yang jelas, ini perintah langsung dari keluarga H. Rahmat."
Ibu Akang terdiam. Ia paham. Tiba-tiba semuanya menjadi jelas. Ini bukan tentang kinerjanya. Ini bukan tentang disiplin. Ini tentang Akang. Ini tentang Ariyanti. Ini tentang dendam Rahmadi.
Ia tidak menangis. Ia hanya mengangguk. Perlahan. Dengan berat. "Baiklah, Pak. Saya terima."
Ia berbalik. Ia berjalan keluar dari gudang. Ember dan lap kain masih di tangannya.
Sebelum melangkah keluar, ia berhenti. Ia menoleh ke belakang. "Tapi tolong sampaikan pada H. Rahmat," katanya, suaranya tegas, tidak gemetar. "Kezaliman tidak akan dibiarkan oleh Tuhan. Orang yang menindas orang miskin akan mendapatkan balasannya. Entah di dunia, entah di akhirat."
Ia berjalan keluar pabrik dengan kepala tegak. Bahunya tidak menunduk. Langkahnya tidak goyah. Di dalam hati, ia berdoa. Bukan doa kemarahan. Bukan doa kebencian. Tapi doa kesabaran.
"Ya Allah, jangan biarkan anakku hancur karena kejahatan orang-orang ini. Beri aku kekuatan untuk tetap tegar. Beri aku kesabaran untuk tidak membenci. Beri aku keyakinan bahwa Engkau bersama orang-orang yang sabar."
Akang Mengetahui Ibu Dipecat
Rumah Akang, sore itu.
Akang pulang sekolah lebih cepat dari biasanya. Ia ingin membantu ibunya berjualan gorengan di pasar malam. Biasanya ia membantu di sore hari, setelah pulang sekolah. Tapi sesampainya di rumah, ia melihat pemandangan yang tidak biasa.
Ibunya duduk di teras. Tidak di dapur. Tidak di depan tungku. Hanya duduk. Di kursi bambu yang sudah reot. Menatap kosong ke arah jalan. Wajahnya murung. Tidak seperti biasanya.
"Bu, ada apa?" tanya Akang sambil meletakkan tasnya di kursi.
Ibu Akang tersenyum. Senyum pahit. Senyum yang dipaksakan. "Tidak apa-apa, Kang. Ibu hanya... lelah."
"Ibu bohong." Akang mendekat. Ia duduk di samping ibunya. "Wajah Ibu tidak seperti biasanya. Ada apa? Cerita."
Ibu Akang menghela napas. "Ibu dipecat, Kang."
Akang terkejut. Jantungnya berdetak lebih cepat. "Dipecat? Kenapa? Apa yang Ibu lakukan?"
"Katanya perintah dari atas." Ibu Akang menggenggam tangan Akang. "Dari keluarga H. Rahmat."
Akang mengepalkan tangannya. Darahnya mendidih. Amarah yang selama ini ia tahan, tiba-tiba meledak.
"Rahmadi!" teriaknya. Suaranya memecah keheningan sore. "Pasti Rahmadi! Hanya dia yang bisa melakukan ini!"
Ia berbalik. Ia hendak keluar rumah. Langkahnya cepat, marah. Tangan kanannya sudah mengepal, siap untuk memukul.
Ibu Akang menarik tangannya. "Kang, mau kemana?"
"Aku mau ke rumah Rahmadi." Akang berusaha melepaskan genggaman ibunya. "Aku mau minta pertanggungjawaban. Aku mau tanya dia, berhak apa dia memecat Ibu?"
"Tidak, Kang. Jangan." Ibu Akang menarik lebih erat. "Itu yang dia inginkan. Dia ingin kamu marah. Dia ingin kamu bertindak bodoh. Dia ingin kamu datang ke rumahnya dengan emosi, sehingga dia punya alasan untuk mencelakakanmu."
"Aku tidak peduli, Bu!" Akang hampir berteriak. Matanya merah. "Dia sudah terlalu jauh! Dia memecat Ibu tanpa alasan! Dia menyebarkan fitnah tentang ayah! Dia terus mengganggu Ariyanti! Kapan kita akan melawan?"
Ibu Akang memeluk anaknya. Erat. Hangat. Seperti dulu ketika Akang masih kecil dan takut dengan guntur.
"Kang, Ibu tidak punya siapa-siapa lagi selain kamu." Suara Ibu bergetar. "Jangan biarkan Ibu kehilangan anak Ibu hanya karena amarah sesaat."
Akang terdiam. Tangannya yang mengepal perlahan-lahan terbuka. Bahunya yang tegang mulai rileks.
"Kita akan melawan, Kang." Ibu Akang melepaskan pelukan. Ia menatap mata anaknya. "Tapi bukan dengan kekerasan. Bukan dengan amarah. Tapi dengan kesabaran. Dengan kerja keras. Dengan membuktikan bahwa kita lebih baik dari mereka."
Ia menangis di pangkuan ibunya. Tangis yang tidak bisa ia tahan lagi. Tangis yang keluar dari lubuk hatinya yang paling dalam.
"Maafkan aku, Bu. Maafkan aku." Suaranya tersendat. "Aku lemah. Aku tidak bisa melindungi Ibu. Aku tidak bisa melindungi Ariyanti. Aku hanya anak miskin yang tidak punya apa-apa."
"Kamu tidak lemah, Kang." Ibu Akang mengelus rambut anaknya. "Kamu hanya manusia. Dan manusia boleh lelah. Manusia boleh menangis. Manusia boleh marah. Asalkan tidak menyerah. Asalkan tidak berhenti berjuang."
Malam itu, Akang berjanji pada dirinya sendiri. Bukan janji yang diucapkan dengan keras. Tapi janji yang tertulis di hati.
"Aku akan membalas semua ini. Bukan dengan kekerasan. Tapi dengan kesuksesan. Aku akan buktikan bahwa anak miskin dari Cegunan bisa menjadi lebih hebat dari anak konglomerat seperti Rahmadi. Aku akan buktikan bahwa aku layak untuk Ariyanti. Aku akan buktikan bahwa ibuku tidak salah memilih untuk tetap bertahan."
Ariyanti Merasakan Dampaknya
Dusun Kersan, malam yang sama.
Ariyanti baru saja selesai membantu ibunya membersihkan rumah. Lantai tanah sudah disapu. Perabotan sudah ditata. Pakaian sudah dilipat. Ia sedang duduk di teras, menikmati angin malam yang sejuk, ketika ibunya keluar dari dapur sambil mengelap tangan dengan kain.
"Yan , Ibu dengar kabar buruk." Suara ibunya pelan, tapi serius.
Ariyanti menoleh. "Apa, Bu?"
"Ibu Akang dipecat dari pabrik." Ibu Ariyanti duduk di samping anaknya. "Karena masalah Akang dengan Rahmadi."
Ariyanti terhenyak. Jantungnya berdetak lebih cepat. Dadanya terasa sesak. "Apa? Ibu Akang dipecat? Kenapa?"
"Iya." Ibu Ariyanti menghela napas. "Seluruh desa sudah tahu. Katanya, Rahmadi sengaja menyuruh mandornya memecat Ibu Akang tanpa alasan yang jelas. Hanya karena Ibu Akang adalah ibunya Akang."
Ariyanti menggigit bibirnya. Bibir bawahnya tergigit kuat, sampai hampir berdarah. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia tidak ingin menangis. Ia tidak ingin terlihat lemah. Tapi air mata itu tetap datang.
"Ini semua karena aku," bisiknya, suaranya hampir tidak terdengar. "Kalau aku tidak pernah menolak Rahmadi. Kalau aku menerima saja mawar itu. Kalau aku pura-pura tertarik padanya. Mungkin Ibu Akang tidak akan dipecat. Mungkin mereka tidak akan menderita."
Ibu Ariyanti memeluk anaknya. "Jangan salahkan dirimu, Yan . Jangan." Tangannya mengelus rambut Ariyanti perlahan. "Ini semua ulah Rahmadi. Dia yang jahat. Dia yang kejam. Bukan kamu. Jangan pernah memikirkan untuk menerima Rahmadi hanya demi menyelamatkan orang lain. Itu tidak akan berakhir baik."
"Aku harus bantu Akang, Bu." Ariyanti melepaskan pelukan. Matanya merah, tapi ada tekad di sana. "Aku harus bantu keluarganya. Mereka menderita karena aku. Karena penolakanku."
"Kamu mau bantu bagaimana?" Ibu Ariyanti menatap anaknya. Matanya penuh kekhawatiran. "Kamu juga miskin, Yan . Kita juga tidak punya apa-apa. Uang kita hanya cukup untuk makan."
"Aku bisa mencari kerja sambilan." Ariyanti sudah berpikir. "Menjadi guru les untuk anak-anak SD. Atau membantu membersihkan rumah orang kaya. Atau mencuci pakaian. Apa pun. Aku rela."
Ibu Ariyanti menghela napas. "Yan , jangan mengorbankan masa depanmu hanya untuk rasa bersalah."
"Ini bukan rasa bersalah, Bu." Ariyanti menatap ibunya. Matanya jernih. Tidak ada keraguan. "Ini cinta."
Ibu Ariyanti terdiam. Ia tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya bisa memeluk anaknya lebih erat.
Malam itu, di rumah sederhana di Dusun Kersan, seorang ibu berdoa untuk anaknya. Dan seorang anak berjanji untuk tidak menyerah pada cintanya.
Rahmadi Mendekati Ariyanti dengan Cara Licik
Keesokan harinya. SMAN I Pegandon.
Rahmadi menghampiri Ariyanti di perpustakaan saat jam istirahat. Perpustakaan sedang sepi. Hanya ada beberapa siswa di sudut ruangan. Bu Lastri, pustakawan, sedang sibuk merapikan buku di rak belakang.
Rahmadi duduk di seberang Ariyanti tanpa izin. Wajahnya ramah. Senyumnya manis. Seolah-olah tidak terjadi apa-apa antara mereka. Seolah-olah ia tidak pernah ditolak. Seolah-olah ia tidak pernah merencanakan kehancuran.
"Ariyanti, boleh bicara sebentar?" suaranya rendah, lembut.
Ariyanti menatapnya dingin. Buku yang sedang ia baca ia tutup. "Ada apa, Mas Rahmadi?"
"Aku dengar Ibu Akang dipecat." Rahmadi memasang ekspresi prihatin. Alisnya berkerut. Bibirnya sedikit cemberut. Seperti orang yang benar-benar peduli. "Aku ikut prihatin, Ariyanti. Ibu Akang adalah wanita tua yang baik. Tidak seharusnya dia diperlakukan seperti itu."
Ariyanti mengepalkan tangannya di bawah meja. Orang ini munafik! Orang ini biang keroknya! Orang ini yang menyuruh pemecatan itu!
"Aku juga dengar itu ulahmu, Mas Rahmadi." Suara Ariyanti dingin. Tajam. Tidak ada basa-basi.
Rahmadi mengangkat alis. Ekspresi terkejut yang dibuat-buat. "Ulahku? Maksudmu, Ariyanti? Apa hubungannya aku dengan pemecatan Ibu Akang?"
"Jangan pura-pura, Mas Rahmadi." Ariyanti menatapnya lurus. "Kau tahu. Kau yang menyuruh mandornya memecat Ibu Akang. Kau pikir aku tidak tahu? Kau pikir aku bodoh?"
Rahmadi tersenyum. Senyum yang sabar, senyum yang merendahkan. "Tuduhan berat, Ariyanti. Apa buktinya?"
"Aku tidak butuh bukti." Ariyanti berdiri. Tangannya menekan meja. "Aku tahu kau jahat. Aku tahu kau kejam. Aku tahu kau tidak akan berhenti sampai aku menyerah. Tapi aku tidak akan menyerah, Mas Rahmadi. Tidak akan. Selama aku masih hidup."
Rahmadi juga berdiri. Wajahnya tidak berubah. Masih ramah. Masih sabar. Tapi di matanya, ada kilatan amarah yang tidak bisa ia sembunyikan.
"Kalau begitu, kenapa kau tidak menerima tawaranku, Ariyanti?" suaranya masih rendah, tapi ada nada mengancam di dalamnya. "Aku bisa bantu keluarga Akang. Aku bisa kasih ibunya pekerjaan lagi. Aku bisa membiayai sekolah Akang. Aku bahkan bisa membiayai kuliahnya nanti. Aku bisa melakukan semuanya. Tapi dengan satu syarat."
Ariyanti menatap Rahmadi dengan mata penuh kebencian. Kebencian yang tidak bisa ia sembunyikan lagi.
"Tidak, terima kasih, Mas Rahmadi." Suaranya tegas. Tidak ada ruang untuk tawar-menawar. "Uang harammu tidak akan pernah aku sentuh. Bantuanmu tidak akan pernah aku terima. Aku lebih baik mati kelaparan daripada berhutang budi padamu."
Rahmadi tertawa kecil. Tawa yang dingin. Tawa yang menakutkan.
"Keras kepala, Ariyanti." Ia menggeleng-gelengkan kepala. "Tapi aku suka. Aku suka wanita yang keras kepala. Karena semakin keras kepala, semakin menarik untuk ditaklukkan."
Ia berbalik. Ia berjalan keluar perpustakaan. Langkahnya santai, seperti orang yang tidak punya beban.
Ariyanti menggigil. Laki-laki itu benar-benar monster. Bukan monster yang mengaum dan menerkam. Tapi monster yang tersenyum sambil meracuni perlahan-lahan. Monster yang paling berbahaya.
Tekad Akang dan Ariyanti
Jalan Randu Gembyang, sepulang sekolah.
Akang dan Ariyanti berjalan pulang bersama. Langit sore berwarna jingga, seperti biasa. Awan-awan tipis bergerak perlahan, seperti guratan kuas di kanvas biru yang tak terbatas. Burung-burung beterbangan di kejauhan, pulang ke sarang masing-masing.
Tapi tidak ada keindahan yang mereka rasakan sore itu. Yang ada hanya luka. Hanya kemarahan. Hanya ketidakadilan yang terus menumpuk di pundak mereka.
"Kang, aku ikut bertanggung jawab atas pemecatan ibumu." Suara Ariyanti pelan, nyaris berbisik.
Akang menoleh. "Ari, jangan. Ini bukan salahmu."
"Aku yang memicu Rahmadi dengan penolakanku." Ariyanti menunduk. "Kalau aku tidak menolaknya, mungkin dia tidak akan sejauh ini."
"Dan aku yang tidak bisa melindungi ibuku." Akang juga menunduk. "Aku yang tidak bisa berbuat apa-apa selain diam dan menerima."
Mereka berdua terdiam. Langkah kaki mereka seirama, tapi hati mereka terasa berat. Lalu Ariyanti meraih tangan Akang. Genggamannya erat.
"Kang, kita harus keluar dari masalah ini." Suaranya tegas. "Kita tidak bisa terus-terusan terpuruk. Kita harus fokus pada sekolah. Kita harus belajar lebih giat. Kita harus buktikan bahwa kita lebih baik dari mereka. Bahwa kemiskinan tidak akan menghentikan kita."
"Aku tahu, Ari." Akang menghela napas. "Tapi rasanya sulit. Setiap hari ada saja masalah baru. Setiap hari ada saja yang ingin menjatuhkan kita. Aku lelah, Ari. Aku sangat lelah."
"Kita hadapi satu per satu, Kang." Ariyanti menatap Akang. Matanya menyala. "Hari ini, kita sudah tahu Rahmadi tidak akan berhenti. Besok, kita harus siap dengan serangan berikutnya. Lusa, kita akan lebih kuat. Dan seterusnya, sampai kita menang."
Akang mengangguk. "Kau benar, Ari. Aku tidak boleh menyerah. Aku tidak boleh lemah. Untuk ibuku. Untukmu. Untuk masa depan kita."
Mereka berjalan bergandengan tangan. Di bawah pohon randu tertua, di tempat yang sama sejak mereka masih di SMP, di tempat di mana semuanya dimulai, mereka berjanji pada diri sendiri.
Tidak ada yang bisa memisahkan kami. Bukan Rahmadi. Bukan uang. Bukan kekuasaan. Bukan fitnah. Bukan tekanan. Bukan apa pun.
Api cemburu Rahmadi memang menyala. Membara. Menghanguskan apa pun yang ia lewati.
Tapi api perjuangan Akang dan Ariyanti menyala lebih terang.
Dan api yang terang, pada akhirnya, akan mengalahkan api yang membabi buta.
BAB 9
FITNAH DI JALAN RAYA PEGANDON
Rumor mulai beredar. Akang disebut sebagai pencuri. Semua berawal dari selebaran misterius yang tersebar di Jalan Raya Pegandon.
Tegorejo, pertengahan Agustus 1997. Dua minggu setelah ibu Akang dipecat.
Fajar belum sepenuhnya terbit ketika Jalan Raya Pegandon, arteri utama yang menghubungkan dusun-dusun di Kecamatan Pegandon, mulai berdenyut dengan aktivitas warga. Langit masih berwarna biru gelap di barat, tapi sudah mulai memudar menjadi abu-abu di timur, seperti kanvas yang sedang dicat perlahan-lahan oleh sang pencipta. Pedagang sayur sudah membuka lapaknya sejak pukul setengah lima, menata kol, wortel, dan cabai merah di atas anyaman bambu. Buruh pabrik berjalan kaki menuju tempat kerja, ada yang sendiri, ada yang berkelompok, ada yang sambil menggendong bekal nasi bungkus. Anak-anak berlarian menuju sekolah, seragam putih merah mereka masih bersih, belum terkena debu perjalanan.
Tapi pagi itu berbeda.
Ada sesuatu di udara, sesuatu yang tidak bisa dilihat tapi bisa dirasakan. Seperti sebelum badai. Seperti sebelum petir menyambar. Seperti ada yang tidak beres.
Di tiang listrik beton yang menjulang di pinggir jalan, di tembok toko kelontong yang catnya sudah mengelupas, di pohon-pohon randu tua yang berjajar di sepanjang jalan, bahkan di pintu mushola desa yang terbuat dari kayu jati tua, puluhan selebaran misterius menempel. Tidak satu atau dua, tapi puluhan. Beberapa masih basah oleh lem yang baru dioleskan, beberapa sudah mulai mengering dan sedikit mengelupas di sudutnya.
Kertas HVS berwarna putih bersih, kontras dengan tembok kusam dan batang pohon yang kecoklatan. Tulisan hitam tebal, dengan font yang rapi, seolah-olah dicetak di percetakan profesional, bukan ditulis tangan seperti selebaran pada umumnya. Seolah-olah dibuat oleh seseorang yang memiliki akses ke mesin cetak, yang memiliki uang untuk mencetak dalam jumlah banyak, yang memiliki keberanian untuk melakukan ini secara terang-terangan.
Dan isinya, bagi siapa pun yang membacanya, akan membuat bulu kuduk berdiri.
Bukan karena menakutkan. Tapi karena kejam. Karena fitnah tidak pernah terlihat mengerikan saat pertama kali dibaca. Fitnah terlihat seperti berita. Seperti fakta. Seperti kebenaran. Sampai kemudian kita sadar bahwa itu semua bohong. Tapi saat kita sadar, sudah terlambat. Karena fitnah sudah menyebar. Fitnah sudah menjadi "kebenaran" di mata banyak orang.
"WAWASAN MASYARAKAT!" demikian judul selebaran itu, dengan huruf kapital semua, dicetak tebal, seolah-olah ingin berteriak dari kertas. "KENALI PENJAHAT DI SEKITAR KITA!"
Lalu di bawahnya, dalam huruf yang sedikit lebih kecil tapi masih sangat terbaca:
"Akang Supriyadi, warga Dusun Cegunan, adalah pencuri sepeda motor yang selama ini meresahkan warga. Ia beraksi di malam hari dengan memanfaatkan kegelapan. Hati-hati jangan sampai menjadi korban berikutnya."
"Jika melihatnya, segera laporkan pada pihak keamanan desa."
Tidak ada nama. Tidak ada tanda tangan. Tidak ada sumber yang bisa dipertanggungjawabkan.
Hanya selebaran. Hanya kertas. Hanya fitnah.
Tapi itu sudah cukup. Lebih dari cukup untuk menghancurkan seseorang.
Selebaran Misterius di Pagi Buta
Pukul 05.00. Jalan Raya Pegandon.
Seorang pedagang sayur bernama Pak Darmo adalah orang pertama yang menemukan selebaran itu. Pak Darmo sudah berusia lima puluh delapan tahun, kulitnya hitam legam karena setiap hari terkena sinar matahari sejak muda. Tangannya kasar, kapalan, dengan urat-urat biru yang menonjol. Ia sudah berjualan sayur di pinggir Jalan Raya Pegandon sejak dua puluh tahun lalu, sejak masih muda dan baru menikah.
Pagi itu, seperti biasa, ia sedang menggelar dagangannya. Anyaman bambu ia bentangkan di tanah, lalu satu per satu ia menata sayuran yang baru ia beli dari pasar induk. Kol, wortel, sawi hijau, cabai merah, bawang merah, bawang putih, tomat, terong, kacang panjang. Semua tertata rapi, terpisah berdasarkan jenisnya.
Matanya secara tidak sengaja tertuju pada selembar kertas yang menempel di pohon randu di depannya. Pohon randu tua yang sudah ada sejak ia masih kecil, yang batangnya sebesar pelukan dua orang dewasa, yang akarnya menjalar keluar dari tanah seperti ular raksasa yang sedang tidur.
Pak Darmo mendekat. Ia membaca. Matanya yang mulai rabun karena usia menyipit, mencoba menangkap tulisan-tulisan di kertas itu.
"Akang Supriyadi?" gumamnya, suaranya pelan, hampir tidak terdengar. "Bukankah itu anak dari Bu Supriyadi yang baru dipecat dari pabrik? Laki-laki muda kurus yang setiap pagi lewat sini membawa buku tebal? Yang selalu tersenyum meskipun seragamnya kusut dan sepatunya bolong?"
Pak Darmo mengernyit. Ia mengingat-ingat. Ia sudah sering melihat pemuda itu lewat. Setiap pagi, sekitar pukul enam lewat, pemuda itu akan berjalan cepat menyusuri Jalan Raya Pegandon menuju ke arah sekolah. Kadang sendirian. Kadang bersama gadis berkerudung biru muda yang katanya anaknya Bu Siti Aminah dari Kersan.
"Masa sih?" gumam Pak Darmo lagi, kali dengan suara sedikit lebih keras. "Anak itu keliatan baik-baik. Sering nyapa saya. Kadang beli sayur juga buat ibunya."
Tapi selebaran itu tidak sendirian. Pak Darmo mengangkat kepalanya, melihat ke kiri dan ke kanan. Di tiang listrik di seberang jalan, selebaran serupa juga menempel. Di tembok toko kelontong milik Pak Hadi, juga. Di gerbang SD Negeri Pegandon yang baru saja dibuka oleh penjaga sekolah, juga. Bahkan di pintu mushola desa yang belum dibuka untuk salat subuh, juga.
Pak Darmo menggeleng-gelengkan kepala. "Ada-ada saja," gerutunya sambil kembali ke lapaknya. Ia tidak mengambil selebaran itu. Bukan urusannya. Bukan dagangannya. Ia hanya pedagang sayur. Tugasnya hanya menjual sayur, bukan ikut campur urusan fitnah.
Dalam waktu kurang dari satu jam, seluruh Jalan Raya Pegandon dipenuhi oleh selebaran itu. Di pagar-pagar rumah. Di pohon-pohon randu. Di tembok-tembok toko. Di baliho-baliho reklame yang sudah usang. Di mana-mana.
Seperti wabah kertas yang menyebar tanpa bisa dihentikan.
Seperti virus yang tidak bisa dilihat tapi sudah menginfeksi banyak orang.
Seperti api di padang rumput kering di musim kemarau.
Warga Mulai Bergosip
Pukul 06.00. Warung kopi samping Jalan Raya Pegandon.
Warung kopi milik Pak Narto selalu ramai di pagi hari. Warung sederhana dengan atap asbes dan dinding anyaman bambu, meja-meja kayu panjang yang sudah hitam oleh usia, kursi-kursi bambu yang kakinya tidak sama panjang. Di sini, para bapak-bapak berkumpul setiap pagi. Ada yang minum kopi tubruk dengan gula batu. Ada yang makan nasi uduk dengan lauk tempe goreng dan sambal. Ada yang hanya duduk, merokok kretek, dan membaca koran.
Tapi pagi itu, tidak ada yang membaca koran. Tidak ada yang peduli dengan berita tentang gejolak politik di ibu kota atau krisis ekonomi yang sedang melanda negeri. Semua mata tertuju pada selembar kertas yang dipegang oleh Pak Lurah, yang baru saja duduk di kursi paling ujung.
"Kamu baca selebaran itu, Pak?" tanya Pak Karto, petani yang sawahnya tidak jauh dari jalan raya. Tangannya memegang cangkir kopi, tapi tidak diminum-minum.
"Iya," jawab Pak Lurah sambil menghela napas. "Katanya anak Cegunan itu pencuri sepeda motor."
"Awas, ya. Jangan dekat-dekat sama dia." Pak RT yang duduk di seberang ikut bersuara. "Anak-anak saya sering main di luar. Saya tidak mau mereka bergaul dengan pencuri."
"Tapi masa sih?" Pak Karto mengernyit. "Anaknya kelihatan pendiam. Sering bawa buku. Saya lihat dia lewat setiap pagi. Tidak seperti anak yang suka maling."
"Ah, itu kamu, Pak Karto." Pak RT menggeleng-gelengkan kepala. "Orang jahat kan tidak kelihatan dari luarnya. Yang kelihatan baik-baik, bisa saja perampok. Yang kelihatan alim, bisa saja penipu. Kamu belum cukup pengalaman?"
"Benar juga sih." Pak Karto mengangkat bahu. "Tapi tetap saja, saya kasihan sama anak itu. Difitnah kayak gini."
"Fitnah atau bukan, kita lihat saja nanti." Pak Lurah memotong. "Yang penting, hati-hati dulu. Jaga keluarga masing-masing."
Mereka mengangguk-angguk. Setuju. Tapi di dalam hati, masing-masing punya pendapat sendiri. Beberapa percaya. Beberapa ragu. Beberapa hanya ikut-ikutan.
Di pasar Pegandon, para ibu-ibu juga tidak ketinggalan. Pasar Pegandon adalah pasar tradisional yang sudah berusia puluhan tahun. Bangunannya semi permanen, atapnya seng, lantainya semen yang retak di sana sini. Bau ikan asin dan sayur segar bercampur menjadi satu. Suara tawar-menawar terdengar riuh dari berbagai sudut.
Di lapak Bu Darmi, penjual bumbu dapur, beberapa ibu sedang memilih bawang dan cabai.
"Bu, baca selebaran itu?" tanya Bu RT, yang juga sedang berbelanja. "Anak Cegunan yang katanya dekat sama Ariyanti itu, lho."
"Astaga... pencuri?" Bu Darmi menghentikan tangannya yang sedang memilih cabai. "Kasihan Ariyanti. Dekat sama pencuri."
"Ibu Ariyanti pasti malu." Bu RT menggeleng-gelengkan kepala. "Anaknya pacaran dengan pencuri. Citra keluarga jadi jelek."
"Ya sudah, Bu. Jangan ikut campur. Urusan mereka." Bu Darmi kembali memilih cabai, tapi matanya tetap melirik.
"Tapi kan kasihan juga." Ibu lain yang belum disebut namanya ikut nimbrung. "Ariyanti itu anaknya pinter. Rangking satu. Sayang kalau terlibat dengan penjahat."
"Penjahat atau bukan, kita belum tahu." Bu Darmi menghela napas. "Yang jelas, kita jangan ikut-ikutan fitnah. Nanti dosa."
"Tapi selebaran itu, Bu..."
"Selebaran itu bisa siapa pun yang bikin." Bu Darmi memotong. "Kita tidak tahu siapa yang nyebarin. Bisa saja orang yang iri. Bisa saja orang yang punya dendam."
Para ibu itu terdiam. Sebagian setuju. Sebagian tidak. Tapi di balik ucapan "jangan ikut campur", di balik ucapan "kita belum tahu", mata mereka tetap melirik ke arah rumah Ariyanti yang tidak jauh dari pasar. Telinga mereka tetap mendengar setiap gosip yang beredar. Mulut mereka tetap bergerak, berbisik, bergosip, menghakimi.
Dusun Kersan. Rumah Ariyanti.
Seorang tetangga, Bu RT, datang ke rumah Ariyanti dengan wajah panik. Wajahnya merah, napasnya tersengal-sengal, seolah-olah ia baru saja berlari jauh.
"Bu Siti! Bu Siti!" teriaknya dari luar pagar. Suaranya keras, hampir memecah keheningan pagi yang masih tersisa. Tangannya meremas-remas selebaran yang ia sobek dari pohon randu di depan rumahnya.
Ibu Ariyanti yang sedang membersihkan halaman keluar rumah. Sapu lidi masih di tangannya. "Ada apa, Bu RT? Pagi-pagi sudah ribut."
"Lihat ini!" Bu RT menyodorkan selebaran itu ke wajah Ibu Ariyanti. "Anakmu terlibat dengan pencuri! Baca! Baca!"
Ibu Ariyanti mengambil selebaran itu. Tangannya agak gemetar. Matanya membaca perlahan, baris per baris, kata demi kata.
"Akang Supriyadi... pencuri sepeda motor... meresahkan warga..."
Wajah Ibu Ariyanti memucat. Bukan pucat karena takut. Tapi pucat karena marah. Marah karena fitnah. Marah karena ada orang yang tega melakukan ini pada anak muda yang tidak bersalah.
"Ini fitnah, Bu RT!" suara Ibu Ariyanti meninggi, tidak biasanya. "Akang bukan pencuri! Saya kenal dia! Dia anak baik!"
"Iya, Bu. Saya juga tidak bilang dia pencuri." Bu RT mencoba menenangkan, tapi matanya tetap berbinar-binar, seperti orang yang sedang menikmati drama. "Tapi sudah tersebar luas, Bu. Seluruh desa sudah baca. Awas nanti citra keluarga kamu jelek. Kamu kan punya anak gadis. Jangan sampai terlibat dengan orang yang bermasalah. Nanti susah cari jodoh."
Ibu Ariyanti menggigit bibirnya. Ia ingin membentak. Ia ingin mengusir Bu RT dari halamannya. Tapi ia menahan diri.
"Terima kasih informasinya, Bu RT." Suaranya dingin. "Saya akan bicara dengan Ariyanti."
Bu RT pergi dengan wajah puas. Puas karena sudah menyampaikan "kabar baik". Puas karena menjadi orang pertama yang membawa berita. Puas karena merasa penting.
Ibu Ariyanti masuk ke rumah. Ariyanti baru saja bangun. Rambutnya masih acak-acakan. Matanya masih mengantuk. Ia sedang mengambil air wudhu di kamar mandi belakang ketika ibunya memanggil.
"Ibu, kenapa?" tanya Ariyanti sambil mengelap wajahnya dengan handuk tipis.
"Yan , baca ini." Ibu Ariyanti memberikan selebaran itu pada anaknya. Tangannya masih gemetar.
Ariyanti membaca. Baris pertama. Baris kedua. Baris ketiga. Matanya membelalak. Tangannya gemetar. Dadanya sesak.
"Ini... ini Rahmadi." Suaranya parau. "Pasti Rahmadi. Hanya dia yang bisa melakukan ini. Hanya dia yang punya motif."
"Aku juga curiga begitu, Yan ." Ibu Ariyanti duduk di samping anaknya. "Tapi kita tidak punya bukti. Kita tidak bisa menuduh tanpa bukti."
"Aku harus kasih tahu Akang." Ariyanti berdiri. Ia ingin segera pergi. Ia ingin segera menemui Akang.
"Jangan dulu, Yan ." Ibu Ariyanti menarik tangan anaknya. "Kita pikirkan dulu. Kalau kamu langsung menemui Akang di depan umum, orang-orang akan curiga. Mereka akan berpikir kalian bersekongkol."
"Tapi Bu..."
"Sabarlah, Yan ." Ibu Ariyanti mengelus tangan anaknya. "Kita cari tahu dulu siapa yang menyebarkan selebaran ini. Kita kumpulkan bukti. Kita lapor polisi. Jangan terburu-buru."
Ariyanti menghela napas. Ia merasa terjebak. Terjebak di antara keinginan untuk melindungi Akang dan kenyataan bahwa ia tidak bisa berbuat banyak. Terjebak di antara amarah dan ketidakberdayaan.
"Baik, Bu," katanya akhirnya. "Aku akan sabar. Tapi aku tidak bisa diam selamanya."
Akang Menemukan Selebaran Itu
Pukul 06.30. Jalan Randu Gembyang.
Akang berjalan ke sekolah seperti biasa. Langkahnya tidak tergesa-gesa, tidak terlalu lambat. Ransel di punggungnya berisi buku-buku tebal dan bekal nasi bungkus yang disiapkan ibunya sejak subuh.
Pagi ini, langit cerah. Matahari mulai meninggi, meninggalkan semburat jingga di ufuk timur. Burung-burung mulai bernyanyi. Angin pagi berhembus sejuk, membawa aroma daun randu yang khas.
Akang melewati Jalan Randu Gembyang dengan langkah ringan, meskipun hatinya berat. Berat karena ibunya belum mendapat pekerjaan baru. Berat karena uang tabungan semakin menipis. Berat karena ia harus memutar otak untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Tapi hari ini, ada yang aneh.
Setiap pohon randu yang ia lewati, ada kertas menempel. Di batang pohon, di dahan rendah yang bisa dijangkau tangan manusia, bahkan ada yang sudah terlepas dan terbang tertiup angin, berputar-putar di udara seperti dedaunan kering di musim kemarau.
Akang mengernyit. Apa ini? Kenapa ada kertas di mana-mana? Biasanya tidak ada.
Ia mendekati salah satu pohon randu yang paling dekat dengan jalan setapak. Dengan hati-hati, ia mencabut selebaran yang menempel di batang pohon. Kertas itu agak susah dilepas, lembeknya masih basah.
Mata Akang bergerak cepat. Membaca judul. Membaca isi. Membaca baris demi baris.
"WAWASAN MASYARAKAT... KENALI PENJAHAT DI SEKITAR KITA... Akang Supriyadi... pencuri sepeda motor... meresahkan warga..."
Wajah Akang berubah pucat. Bukan pucat karena takut. Tapi pucat karena syok. Dadanya sesak, seperti ada yang menekan dadanya dengan batu besar. Tangannya gemetar.
Pencuri? Aku?
Sepeda motor? Aku bahkan tidak bisa mengendarai sepeda motor!
Ia membaca ulang. Sekali lagi. Dua kali lagi. Kata-kata itu tetap sama. Tuduhan itu tetap sama. Fitnah itu tetap sama.
"Jika melihatnya, segera laporkan pada pihak keamanan desa."
Laporkan? Mereka mau melaporkanku? pikir Akang, masih tidak percaya dengan apa yang ia baca. Aku tidak pernah mencuri! Aku bahkan tidak pernah memegang sepeda motor seumur hidupku!
Ia memandang ke kiri dan ke kanan. Beberapa orang yang lewat menatapnya dengan curiga. Seorang ibu-ibu yang sedang berjalan ke pasar menarik tangan anaknya yang masih kecil menjauh, seolah-olah Akang adalah monster yang siap menerkam. Seorang bapak-bapak yang sedang duduk di teras rumahnya menggerutu pelan, mulutnya komat-kamit, tidak jelas apa yang ia katakan.
Ini mimpi buruk, pikir Akang. Kertas-kertas ini tidak mungkin nyata. Ini pasti mimpi. Aku akan segera bangun.
Ia memejamkan mata. Menghitung sampai tiga. Membuka mata lagi.
Kertas-kertas itu masih ada. Masih menempel di pohon-pohon randu. Masih berserakan di tanah. Masih terbang tertiup angin.
Ini nyata. Dan ini baru awal.
Akang tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Tapi ia tahu satu hal: ini bukan kecelakaan. Ini bukan kebetulan. Ini adalah serangan. Dan hanya satu orang yang mungkin melakukan ini. Hanya satu orang yang punya motif.
Rahmadi.
Akang mengepalkan selebaran itu di tangannya. Kertas itu meremuk, berkerut, hampir robek. Tapi ia tidak peduli.
Ia terus berjalan. Menuju sekolah. Menuju tempat di mana ia akan menghadapi tatapan curiga dari teman-temannya, dari guru-gurunya, dari semua orang.
Rahmadi Menikmati Hasil Kerjanya
Rumah Rahmadi, pukul 07.00.
Rahmadi duduk di ruang makannya yang mewah. Meja makan panjang dari kayu jati mengkilap, di atasnya terhampar taplak putih bersih. Di atas taplak itu, sepiring nasi goreng kampung dengan udang besar yang masih mengeluarkan uap, segelas jus alpukat kental dengan susu kental manis yang mengental di pinggir gelas, dan sepiring roti panggang dengan selai impor yang berwarna merah tua.
Rahmadi menyantap sarapannya dengan lahap. Ia menggunakan garpu dan pisau, seperti orang Eropa di film-film. Setiap suapan dikunyah perlahan, dinikmati, seperti orang yang sadar bahwa makanannya mahal.
"Danu, bagaimana laporan pagi ini?" tanyanya tanpa mengangkat kepala. Pisau dan garpunya masih sibuk memotong roti panggang.
Danu berdiri di sampingnya, tegap seperti patung. Tangannya memegang buku catatan tebal. "Selebaran sudah tersebar di seluruh Jalan Raya Pegandon, Tuan. Juga di beberapa gang di Dusun Kersan dan Cegunan. Tim kita bekerja sejak pukul tiga pagi, tepat sebelum subuh."
"Reaksi warga?" Rahmadi menyuap nasi goreng ke mulutnya.
"Aneka ragam, Tuan." Danu membuka catatannya. "Ada yang percaya, ada yang ragu. Ada yang marah, ada yang tidak peduli. Tapi kebanyakan... mulai curiga pada Akang. Beberapa warga bahkan sudah mulai menghindar."
Rahmadi tersenyum puas. Senyum yang lebar, senyum yang tulus, senyum yang jarang muncul di wajahnya. "Bagus. Itu yang aku mau. Jangan sampai mereka tenang. Buat mereka terus bergosip, terus curiga, terus takut. Biarkan fitnah ini bekerja seperti kanker. Merusak dari dalam. Pelan-pelan. Tidak terlihat. Tapi mematikan."
"Langkah selanjutnya, Tuan?" Danu sudah menyiapkan pulpen.
"Kita tunggu." Rahmadi menyesap jus alpukatnya. Dingin. Segar. Memuaskan. "Biarkan fitnah ini berkembang sendiri. Semakin lama dibiarkan, semakin besar. Semakin besar, semakin sulit dibantah. Seperti bola salju yang menggelinding di lereng gunung."
"Tapi bagaimana jika Akang membantah, Tuan?" Danu bertanya. Bukan karena ragu, tapi karena ia ingin tahu arah pemikiran Rahmadi. "Jika ia pergi ke polisi, atau meminta klarifikasi ke Pak Lurah?"
Rahmadi meletakkan gelasnya. Ia menatap Danu dengan mata yang dingin, tapi ada api di dalamnya.
"Apa yang bisa dia lakukan, Danu?" Suara Rahmadi pelan, tapi menusuk. "Dia hanya anak miskin dari Cegunan. Tidak punya uang. Tidak punya koneksi. Tidak punya pengacara. Tidak ada yang akan mempercayainya. Orang lebih percaya selebaran misterius daripada kata-kata anak Cegunan. Karena selebaran misterius itu... misterius. Dan orang selalu takut pada misteri. Orang selalu percaya pada misteri. Karena misteri tidak bisa dibantah."
Rahmadi memotong roti panggangnya dengan hati-hati. Pisau tajam itu meluncur mulus di permukaan roti yang renyah, membelahnya menjadi dua bagian yang sama persis.
"Ini baru awal, Akang." Rahmadi berbisik pada bayangannya sendiri di atas meja makan yang mengkilap. "Yang terburuk belum datang. Jauh, jauh, jauh lebih buruk."
Akang di Sekolah – Tatapan Sinis
SMAN I Pegandon, pukul 07.15.
Akang memasuki gerbang sekolah dengan langkah berat. Bukan berat karena lelah. Tapi berat karena beban. Beban yang tidak terlihat, tapi terasa di setiap langkahnya.
Ia sudah membaca selebaran itu. Sudah membacanya berulang-ulang sampai ia hafal setiap kata, setiap huruf, setiap tanda baca. Ia sudah merasakan tatapan curiga orang-orang di jalan, bisik-bisik yang tidak lagi disembunyikan, senyum-senyum sinis yang menyakitkan meskipun tidak ada yang mengucapkan kata-kata kasar.
Tapi ia belum siap dengan tatapan teman-temannya. Belum siap dengan perlakuan mereka. Belum siap dengan kenyataan bahwa orang-orang yang kemarin masih menyapanya ramah, hari ini akan menjauh seolah-olah ia penyakit menular.
"Tuh, Akang datang." Bisik seorang siswa di dekat pintu gerbang. Suaranya cukup keras untuk didengar oleh Akang, tapi ia pura-pura tidak mendengar.
"Katanya dia pencuri sepeda motor." Bisik siswa lain, dengan nada setengah bergidik.
"Serius? Masa sih? Dia kelihatan biasa-biasa saja."
"Baca selebaran di Jalan Raya, Pak. Udah tersebar luas. Sampai di sekolah juga ada yang nempel. Satpam sudah bersih-bersih, tapi gosipnya sudah kemana-mana."
"Awas, jangan dekat-dekat. Nanti ilang motor kita. Motor baru, lho."
Akang mendengar semua bisikan itu. Suara-suara lirih yang sebenarnya tidak lirih sama sekali. Suara-suara yang sengaja dibuat pelan tapi cukup keras untuk menusuk telinganya. Suara-suara yang seperti jarum, kecil tapi tajam, menusuk kulitnya satu per satu.
Ia menunduk. Bukan karena malu. Tapi karena ia tidak ingin melihat ekspresi wajah mereka. Karena ia takut apa yang akan ia lihat di mata mereka. Karena ia tahu bahwa di mata mereka, ia sekarang adalah monster. Pencuri. Penjahat. Orang yang harus dihindari.
Dadanya sakit. Sakit sekali. Sakit seperti diremas-remas oleh tangan raksasa yang tidak terlihat.
Kenapa semua orang begitu cepat percaya pada fitnah? pikirnya. Kenapa tidak ada yang bertanya? Kenapa tidak ada yang mau mendengar sisiku? Kenapa selebaran anonim lebih dipercaya daripada diriku yang nyata, yang hidup, yang bisa bicara?
Ia berjalan menuju kelas. Setiap langkah terasa seperti berjalan di atas lumpur. Berat. Lambat. Melelahkan.
Di depan pintu kelas, Rahmadi berdiri bersandar pada kusen. Tangannya disilangkan di dada. Senyum sinis di bibir. Matanya menatap Akang dengan puas, seperti orang yang sedang menonton pertunjukan yang menghibur.
"Pagi, Kang." Suara Rahmadi ringan, hampir ceria. "Kok mukanya pucat? Kurang tidur? Atau... habis beraksi semalam? Laku berapa, Kang?"
Akang menatap Rahmadi tajam. Matanya hampir menyala. Dadanya naik turun cepat. Tangannya mengepal.
"Aku tahu ini ulahmu, Rahmadi." Suara Akang rendah, bergetar menahan amarah.
Rahmadi mengangkat alis. Ekspresi terkejut yang dibuat-buat. "Ulahku? Apa maksudmu, Kang? Aku tidak mengerti."
"Selebaran itu. Kamu yang nyebar." Akang tidak membuang waktu. Tidak perlu basa-basi.
Rahmadi tertawa. Tawa yang tidak tulus. Tawa yang dingin. Tawa yang membuat bulu kuduk Akang berdiri.
"Aku? Kenapa aku harus repot-repot menyebarkan selebaran tentang kamu?" Rahmadi mendekat. Jarak wajah mereka hanya beberapa sentimeter. "Kamu pikir kamu penting, Kang? Kamu pikir aku peduli? Kamu hanyalah... sampah di jalanan. Tidak ada yang peduli jika kamu mati."
Akang tidak mundur. Matanya tetap menatap Rahmadi. "Karena kamu ingin menghancurkanku. Karena kamu tidak bisa menerima kenyataan bahwa Ariyanti memilih aku, bukan kamu."
Rahmadi tersenyum. Senyum yang penuh kebencian. "Kamu menghancurkan dirimu sendiri, Kang. Aku hanya membantu prosesnya. Mempercepat apa yang sudah seharusnya terjadi."
Akang mengepalkan tangan. Ingin rasanya ia meninju wajah tampan itu. Ingin rasanya ia membalas semua perlakuan kejam yang ia terima. Ingin rasanya ia membungkam senyum sinis itu dengan tinjunya.
Tapi Ariyanti tiba-tiba muncul di antara mereka. Wajahnya dingin. Tangannya menarik tangan Akang.
"Cukup, Kang. Jangan terpancing." Suara Ariyanti tegas. "Itu yang dia mau. Dia ingin kamu marah. Dia ingin kamu terpancing. Dia ingin kamu melakukan kekerasan, sehingga dia punya alasan untuk mencelakakanmu."
Ariyanti menarik tangan Akang dan membawanya masuk ke kelas. Rahmadi hanya tersenyum. Senyum yang mengatakan bahwa ia menang. Senyum yang mengatakan bahwa ia telah berhasil membuat Akang marah. Senyum yang mengatakan bahwa ia akan terus melakukan ini sampai Akang hancur.
"Selamat berjuang, Kang," bisik Rahmadi sambil melambaikan tangan. "Kamu akan butuh doa."
Ariyanti Membela Akang
Di dalam kelas. Sebelum bel masuk.
Suasana kelas tegang. Semua siswa sudah duduk di bangku masing-masing. Tapi tidak ada yang benar-benar fokus pada buku. Mata mereka tertuju pada satu titik. Akang. Yang duduk di bangkunya dengan wajah pucat, tangan gemetar, mata sayu.
Ariyanti berdiri dari bangkunya. Ia berjalan ke depan kelas. Di depan papan tulis. Di hadapan semua teman-temannya.
Wajahnya tegang. Bibirnya tertutup rapat. Tangannya, yang biasanya ia silangkan di dada saat berpikir, kini ia letakkan di samping tubuh. Tegap. Berani.
Ia tidak bisa diam.
"Teman-teman, aku ingin bicara." Suaranya lantang, tapi tidak berteriak. Cukup keras untuk didengar oleh semua orang di ruangan itu.
Semua siswa menoleh. Mereka terkejut. Ariyanti jarang bicara di depan umum. Ariyanti biasanya pendiam, hanya fokus pada buku, tidak peduli dengan dunia di sekitarnya. Tapi pagi ini, ia bicara. Dan semua orang tahu bahwa ini penting.
"Aku tahu kalian semua sudah membaca selebaran misterius yang tersebar pagi ini." Ariyanti menatap satu per satu temannya. Matanya bergerak perlahan dari kiri ke kanan, dari barisan depan ke barisan belakang. "Sebagai teman sekelas Akang, sebagai orang yang paling dekat dengannya, aku ingin meluruskan. Akang bukan pencuri."
Seorang siswa laki-laki di barisan belakang berani bersuara. Budi, anak yang suka pamer dan sering bergosip. "Tapi buktinya, Ari? Ada selebaran. Sudah tersebar di mana-mana."
Ariyanti menatap Budi. Tatapan yang tajam, yang membuat Budi gelagapan.
"Selebaran misterius, Budi." Suara Ariyanti dingin. "Tanpa nama. Tanpa tanggal. Tanpa sumber yang jelas. Tanpa tanda tangan. Tanpa saksi. Tanpa bukti. Itu bukan bukti, Budi. Itu fitnah."
"Lalu siapa yang nyebarin?" tanya siswa lain, seorang perempuan yang duduk di barisan depan, dekat jendela.
"Aku tidak tahu." Ariyanti menghela napas. "Tapi aku yakin seseorang sengaja ingin menghancurkan nama baik Akang. Seseorang yang iri, seseorang yang dendam, seseorang yang tidak bertanggung jawab. Dan kita semua tidak boleh termakan fitnah."
Dari barisan paling belakang, suara Rahmadi menyahut. Pelan, tapi jelas. "Kata siapa itu fitnah, Ariyanti? Mungkin memang benar. Mungkin Akang memang pencuri. Mungkin selama ini dia hanya pura-pura baik. Kau tidak pernah tahu."
Ariyanti menatap Rahmadi. Matanya tidak berkedip.
"Kalau benar, Mas Rahmadi, mana buktinya?" Suara Ariyanti tegas. "Bukti bahwa Akang pernah mencuri? Laporan polisi? Saksi mata? Pengakuan? Barang bukti? Tidak ada. Tidak ada, Mas Rahmadi. Yang ada hanyalah selebaran misterius. Dan selebaran misterius adalah fitnah. Sampai terbukti sebaliknya."
Rahmadi terdiam. Ia tidak bisa menjawab.
"Karena itu fitnah," lanjut Ariyanti. Suaranya melembut, tapi tetap tegas. "Dan fitnah adalah dosa besar. Dalam agama kita, dalam hukum kita, dalam akal sehat kita, fitnah lebih kejam dari pembunuhan. Karena fitnah membunuh reputasi. Fitnah membunuh nama baik. Fitnah membunuh masa depan seseorang. Jangan sampai kita ikut berdosa dengan ikut menyebarkannya. Jangan sampai kita menjadi bagian dari kejahatan ini."
Kelas menjadi hening. Sunyi. Sepi. Hanya suara detak jam dinding yang terdengar.
Beberapa siswa mulai merasa malu. Mereka menunduk, tidak berani menatap Ariyanti. Beberapa lainnya masih ragu, masih belum yakin, masih bertanya-tanya. Tapi setidaknya, Ariyanti sudah melakukan sesuatu. Setidaknya, ada yang berani bicara. Setidaknya, kebenaran mulai bersuara.
Akang yang duduk di bangkunya menunduk. Matanya basah. Air mata hampir jatuh, tapi ia tahan.
Ariyanti membelaku, pikirnya. Di saat semua orang menudingku. Di saat semua orang menghakimiku. Di saat semua orang percaya pada fitnah. Dia tetap di sisiku. Dia tidak pernah pergi.
Ia menggenggam tangannya sendiri erat-erat.
Terima kasih, Ari. Aku tidak tahu harus membalas kebaikanmu.
Bu Sumi Bertindak
Ruang guru. Setelah jam pelajaran pertama.
Bu Sumi memanggil Akang ke ruang guru. Wajahnya serius. Tidak ada senyum. Tidak ada sapaan ramah. Hanya tatapan serius yang membuat Akang gugup.
"Kang, Ibu sudah dengar tentang selebaran itu." Bu Sumi duduk di kursinya. Ia menunjuk kursi di depannya, mempersilakan Akang duduk. "Ceritakan dari awal."
Akang duduk. Tangannya gemetar. Ia berusaha tenang.
"Iya, Bu." Suaranya pelan, hampir berbisik. "Selebaran itu muncul pagi ini. Di Jalan Raya Pegandon. Di pohon-pohon randu. Di tembok-tembok. Di mana-mana."
"Kamu tahu siapa di balik ini?" Bu Sumi menatap Akang. Matanya tajam, seperti sedang membaca buku.
Akang ragu. Ia tidak ingin menuduh tanpa bukti. Tapi ia juga tidak bisa berbohong pada Bu Sumi.
"Sejujurnya, Bu, aku curiga pada Rahmadi." Akang menunduk. "Tapi aku tidak punya bukti. Aku hanya punya firasat."
Bu Sumi mengangguk. "Ibu juga curiga sama dia, Kang. Sejak awal, Ibu tidak pernah percaya dengan sikap manisnya. Ada sesuatu di matanya. Sesuatu yang tidak tulus. Ibu sudah bertahun-tahun mengajar. Ibu bisa membaca orang."
"Apa yang harus aku lakukan, Bu?" Akang mengangkat kepala. Matanya berbinar, berharap.
Bu Sumi menarik napas panjang. Ia berpikir sejenak, menyusun strategi, menentukan langkah.
"Pertama, jangan panik." Suaranya tenang, seperti orang yang sudah terbiasa menghadapi masalah. "Kedua, jangan terpancing untuk melakukan kekerasan. Itu yang dia mau. Dia ingin kamu marah, ingin kamu emosi, ingin kamu bertindak bodoh. Jangan beri dia kepuasan itu."
"Ketiga?" Akang bertanya.
"Ketiga, kumpulkan bukti." Bu Sumi berdiri. Ia berjalan ke papan tulis kecil di ruang guru, mengambil kapur, dan mulai menulis. "Bukti bahwa selebaran itu dicetak di suatu tempat. Kertas HVS seperti itu tidak bisa dicetak di rumah. Harus di percetakan. Ada percetakan yang menyediakan jasa cetak cepat di Pegandon. Ibu akan cari tahu."
"Tapi Bu, apa tidak berbahaya?" Akang khawatir. "Rahmadi punya preman. Saya tidak ingin Ibu celaka karena saya."
Bu Sumi tersenyum. Senyum yang hangat, yang membuat Akang sedikit tenang.
"Kang, Ibu sudah tua." Suara Bu Sumi lembut. "Ibu sudah tidak takut mati. Ibu sudah hampir pensiun. Ibu tidak punya banyak waktu lagi di dunia ini. Jika Ibu bisa membantu seorang anak yang tidak bersalah sebelum Ibu pergi, itu lebih dari cukup."
"Terima kasih, Bu." Akang hampir menangis. Matanya basah. "Saya tidak tahu harus membalas kebaikan Ibu."
"Balas dengan menjadi orang sukses, Kang." Bu Sumi mengusap kepala Akang. "Balas dengan membuktikan bahwa fitnah tidak akan mengalahkanmu. Balas dengan menjadi lebih baik dari mereka."
Dampak Fitnah di Dusun Cegunan
Dusun Cegunan, sore hari.
Akang pulang ke rumah dengan hati berat. Sepanjang perjalanan, ia sudah membayangkan tatapan tetangganya. Tatapan curiga. Tatapan sinis. Tatapan yang membuatnya merasa seperti kriminal.
Tapi kenyataannya lebih buruk dari bayangannya.
Ketika ia melewati rumah Pak RW, yang terletak di ujung gang masuk Dusun Cegunan, Pak RW memanggilnya dari teras. Suaranya tidak ramah seperti biasanya. Ada nada tegang di dalamnya, nada yang membuat Akang merinding.
"Kang, sini dulu," panggil Pak RW, tangannya memberi isyarat.
Akang mendekat. Langkahnya berat, seperti orang yang berjalan ke tiang gantungan. "Ada apa, Pak?"
Pak RW menghela napas. Tangannya memegang selebaran yang sama, yang sudah ia sobek dari pagar rumahnya.
"Ini soal selebaran, Kang." Suara Pak RW pelan, tapi serius. "Kamu tahu, kan?"
Akang mengangguk. "Iya, Pak."
"Apa benar kamu... melakukan itu?" Mata Pak RW menatap Akang. Mencari kejujuran. Mencari kebohongan. Mencari jawaban.
"Tidak, Pak." Akang menatap balik. Matanya jujur. "Saya tidak pernah mencuri. Saya tidak tahu cara mengendarai sepeda motor. Saya bahkan tidak pernah naik sepeda motor. Itu fitnah, Pak. Seseorang sengaja ingin menghancurkan saya."
Pak RW menghela napas lagi. Napas yang panjang, napas yang berat.
"Saya percaya kamu, Kang." Suaranya melembut. "Saya sudah kenal kamu sejak kecil. Saya tahu kamu anak baik. Tapi warga lain belum tentu. Mereka minta kamu klarifikasi di pertemuan desa nanti malam. Mereka ingin mendengar langsung dari mulutmu."
"Pertemuan desa, Pak?" Akang mengernyit.
"Iya." Pak RW mengangguk. "Jam delapan di balai desa. Kamu harus datang, Kang. Kalau tidak, mereka akan menganggap kamu bersalah. Mereka akan menganggap kamu takut. Mereka akan menganggap kamu lari dari tanggung jawab."
Akang menggigit bibirnya. Bibir bawahnya tergigit kuat, sampai hampir berdarah.
"Baik, Pak." Suaranya bergetar, tapi tegas. "Saya akan datang. Saya akan klarifikasi. Saya akan buktikan bahwa saya tidak bersalah."
Ia melanjutkan perjalanan pulang. Di depan rumahnya, ibunya sudah menunggu. Wajah ibunya cemas, matanya merah, sepertinya baru saja menangis.
"Kang, Ibu dengar..." suara Ibu Akang parau, pecah.
"Iya, Bu." Akang memeluk ibunya. "Saya tahu. Nanti malam ada pertemuan desa. Saya harus klarifikasi."
Ibu Akang memeluk anaknya erat-erat. "Jangan takut, Kang. Ibu akan datang mendampingi. Ibu tidak akan membiarkan mereka menghakimi kamu sendirian."
"Terima kasih, Bu." Akang menangis di bahu ibunya. "Aku tidak tahu harus bagaimana tanpa Ibu."
"Kamu tidak akan pernah tahu, Kang." Ibu Akang mengelus rambut anaknya. "Karena Ibu tidak akan pernah pergi."
Ariyanti Ikut Campur
Rumah Ariyanti, sore itu.
Ariyanti baru saja pulang sekolah ketika ia mendengar kabar tentang pertemuan desa dari Marni, yang datang dengan napas tersengal-sengal.
"Ari, ada pertemuan desa nanti malam!" Marni hampir berteriak. "Tentang Akang! Mereka mau mengadili dia! Katanya warga marah!"
Ariyanti terkejut. Jantungnya berdebar lebih cepat.
"Bu, aku harus pergi ke balai desa nanti malam." Ariyanti menatap ibunya.
"Ngapain?" Ibu Ariyanti mengernyit.
"Mendampingi Akang." Suara Ariyanti tegas. "Dia difitnah. Dia butuh dukungan. Kalau dia sendirian, mereka akan semakin berani. Mereka akan semakin mudah menghakimi."
Ibu Ariyanti ragu. Wajahnya berubah tegang.
"Yan , ini urusan desa." Suara Ibu Ariyanti pelan, hati-hati. "Jangan ikut campur. Nanti kamu juga ikut kena imbasnya. Nanti mereka juga akan membenci kamu. Nanti citramu juga akan jelek."
Ariyanti menatap ibunya. Matanya tidak berkedip.
"Aku tidak peduli, Bu." Suaranya tegas. "Yang benar harus dibela. Yang salah harus diluruskan. Aku tidak akan diam melihat Akang dihakimi oleh orang-orang yang tidak tahu apa-apa."
Ibu Ariyanti menghela napas. Ia melihat matanya anaknya. Mata yang sama seperti matanya dulu, ketika ia masih muda dan berani melawan dunia untuk membela kebenaran.
"Ibu ikut, Yan ." Suara Ibu Ariyanti tiba-tiba melembut.
Ariyanti terkejut. "Bu ikut?"
"Iya." Ibu Ariyanti mengangguk. "Ibu juga tidak suka fitnah. Ibu juga tidak suka ketidakadilan. Ibu akan bicara di depan warga. Ibu akan membela Akang. Karena Ibu tahu dia anak baik."
Ariyanti tersenyum. "Terima kasih, Bu."
Pertemuan Desa yang Menegangkan
Balai Desa Tegorejo, pukul 20.00.
Balai desa yang biasanya sepi, malam itu penuh sesak. Puluhan warga dari Dusun Kersan dan Cegunan berkumpul. Ada yang duduk di kursi-kursi kayu panjang yang disusun berjajar. Ada yang berdiri di pinggir, bersandar pada dinding yang catnya sudah mengelupas. Ada yang berdesakan di pintu, karena tidak kebagian tempat.
Bau keringat, kopi, dan rokok kretek bercampur menjadi satu. Suara bisik-bisik terdengar dari berbagai sudut. Suasana tegang, seperti sebelum badai.
Pak Lurah, seorang pria paruh baya berkumis tebal dengan perut sedikit buncit, berdiri di depan. Ia memukul meja dengan palu kayu.
"Baik, kita mulai." Suaranya lantang, memotong kebisingan. "Saya minta saudara Akang Supriyadi maju ke depan."
Akang berdiri dari kursinya di barisan belakang. Tangannya gemetar. Kakinya terasa lemas, seperti terbuat dari kapas. Ia berusaha tegar. Ia menarik napas panjang, lalu menghelanya perlahan.
Ia maju ke depan. Berdiri di hadapan puluhan pasang mata yang menatapnya dengan curiga. Dengan benci. Dengan prasangka.
"Akang," kata Pak Lurah. "Apa tanggapanmu tentang selebaran yang menyebutmu sebagai pencuri sepeda motor?"
Akang menarik napas lagi. Udara di balai desa terasa panas, pengap, membuat dadanya sesak.
"Pak Lurah, bapak-bapak, ibu-ibu." Suaranya bergetar di awal, tapi ia berusaha menguatkannya. "Saya tidak pernah mencuri. Saya tidak tahu cara mengendarai sepeda motor. Saya tidak punya teman yang punya sepeda motor. Saya bahkan tidak pernah naik sepeda motor seumur hidup saya. Mana mungkin saya mencuri sesuatu yang tidak bisa saya kendarai?"
Seorang warga dari barisan belakang bersuara. Suaranya keras, hampir berteriak. "Tapi buktinya ada selebaran, Kang! Tidak mungkin selebaran itu muncul begitu saja!"
"Itu fitnah, Pak." Akang menatap ke arah suara itu. "Seseorang sengaja menyebarkannya. Seseorang yang ingin menghancurkan nama baik saya. Seseorang yang punya motif dan kemampuan untuk mencetak selebaran dalam jumlah banyak."
"Siapa yang mau menghancurkan nama baikmu? Kamu kan bukan siapa-siapa?" warga lain menyahut.
Akang ragu. Ia tidak ingin menyebut nama. Tidak ingin menuduh tanpa bukti. Tapi ia juga tidak bisa diam.
"Karena... karena saya dekat dengan Ariyanti." Suara Akang pelan, tapi jelas. "Dan ada orang yang tidak suka dengan kedekatan kami. Orang itu kaya. Orang itu punya kekuasaan. Orang itu terbiasa mendapatkan apa pun yang ia mau. Dan ketika ia tidak bisa mendapatkan Ariyanti, ia marah. Ia ingin menghancurkan saya."
Semua mata tertuju pada Ariyanti yang duduk di barisan belakang, di samping ibunya. Ia tidak menunduk. Ia tidak menghindar. Ia malah berdiri.
"Pak Lurah, saya Ariyanti. Saya ingin bicara."
"Silakan." Pak Lurah mengangguk.
Ariyanti maju ke depan. Berdiri di samping Akang. Tidak takut. Tidak ragu.
"Saya bisa pastikan bahwa Akang bukan pencuri." Suaranya lantang, tegas. "Saya kenal dia sejak SMP. Tiga tahun kami sekelas. Saya tahu kebiasaannya. Saya tahu teman-temannya. Saya tahu sifatnya. Dia orang yang jujur, pekerja keras, dan tidak pernah mengambil hak orang lain."
"Tapi kata siapa?" warga yang tadi bersuara kembali bertanya.
"Kata saya." Ariyanti menatap warga itu. "Sebagai orang yang paling dekat dengannya. Jika dia pencuri, pasti saya tahu. Jika dia penjahat, pasti saya sudah lama menjauh. Tapi saya tidak menjauh. Saya justru semakin dekat. Karena saya tahu dia tidak bersalah."
Seorang warga lain, seorang laki-laki paruh baya dengan wajah sinis, bersuara. "Mungkin kamu diajak komplotan, Ari. Mungkin kamu ikut menikmati hasil curiannya."
Ariyanti tidak terpancing. Suaranya tetap tenang.
"Saya tidak akan mengorbankan reputasi saya, Pak. Saya tidak akan mengorbankan masa depan saya, hanya untuk membela pencuri. Tapi karena dia tidak bersalah, saya bela. Saya bela karena itu yang benar. Saya bela karena saya tidak bisa diam melihat fitnah."
Ibu Ariyanti juga berdiri dari kursinya. Suaranya lantang, hampir tidak pernah terdengar sekeras ini sebelumnya.
"Saya ibu Ariyanti." Ia berjalan ke depan, berdiri di samping anaknya. "Saya juga kenal Akang. Saya sering melihatnya di rumah saya. Saya sering mengobrol dengannya. Dia anak baik. Santun. Tidak kasar. Tidak pernah membuat masalah. Tidak mungkin dia mencuri."
Ibu Akang, yang sedari tadi duduk diam di barisan depan, juga berdiri. Ia berjalan ke depan, bergabung dengan mereka.
"Saya ibunya." Suara Ibu Akang bergetar, tapi tegas. "Saya tahu anak saya. Dia tidak pernah mencuri. Bahkan uang saku yang saya berikan, selalu habis untuk buku, bukan untuk foya-foya. Tidak pernah sekali pun ia pulang membawa barang yang bukan miliknya. Tidak pernah."
Pak Lurah mengangkat tangan. "Baik, baik. Kita dengar semua. Tapi masalahnya, kita tidak punya bukti bahwa Akang bersalah. Kita juga tidak punya bukti bahwa dia tidak bersalah. Saran saya, kita serahkan masalah ini ke pihak berwajib."
"Laporan polisi?" tanya seorang warga.
"Iya." Pak Lurah mengangguk. "Biar polisi yang menyelidiki. Kalau Akang benar bersalah, dia akan diproses sesuai hukum. Kalau tidak, fitnah ini bisa diusut. Dan penyebar fitnah bisa dihukum."
Akang mengangguk. "Saya setuju, Pak Lurah. Saya akan lapor polisi besok. Saya tidak takut. Karena saya tidak bersalah."
Rahmadi yang Resah
Rumah Rahmadi, malam itu.
Rahmadi duduk di kursi empuknya, di ruang kerjanya yang dingin karena AC. Wajahnya tidak tenang. Matanya gelisah. Tangannya memainkan pulpen, memutarnya di antara jari-jari.
"Danu, apa yang terjadi di pertemuan desa?" tanyanya, suaranya sedikit meninggi.
Danu berdiri di sampingnya. "Warga terpecah, Tuan. Ada yang percaya fitnah, ada yang membela Akang. Ada yang marah, ada yang tidak peduli. Tapi yang lebih parah... Akang akan lapor polisi besok."
Rahmadi mengepalkan tangannya. Pulpen di tangannya patah menjadi dua.
"Sial!" bentaknya. "Ini tidak sesuai rencana! Mereka seharusnya menghakimi dia! Mereka seharusnya mengucilkannya! Bukan malah membiarkan dia lapor polisi!"
"Harus kita hentikan, Tuan?" Danu bertanya. Suaranya tenang, profesional.
"Bagaimana caranya?" Rahmadi menatap Danu.
"Kita bisa mengintimidasi Akang." Danu sudah menyiapkan rencana. "Atau menyogok polisi. Polisi di sini mudah disogok, Tuan. Beberapa juta rupiah sudah cukup."
Rahmadi berpikir. Matanya bergerak cepat, seperti sedang menghitung risiko.
"Polisi di sini memang mudah disogok." Rahmadi berdiri. Ia berjalan ke jendela. "Tapi risiko terlalu besar. Ayahku tidak akan senang kalau namanya terseret. Dan jika ini sampai ke telinga ibu tiriku, dia akan menggunakannya untuk menjatuhkan ayahku."
"Lalu apa rencana Tuan?" Danu mencatat di buku kecilnya.
"Kita biarkan dulu." Rahmadi menatap langit malam yang gelap. "Biarkan dia lapor polisi. Tidak akan ada bukti yang mengarah padaku. Aku sudah bersih-bersih. Tidak ada yang bisa menghubungkan selebaran itu dengan aku."
"Baik, Tuan."
Rahmadi menatap langit malam. Bintang-bintang terlihat samar, terhalang oleh awan tipis.
"Ini perang, Akang." Rahmadi berbisik pada bayangannya sendiri di kaca jendela. "Dan aku tidak akan kalah. Aku tidak pernah kalah."
Akang Melapor Polisi
Polsek Pegandon, keesokan harinya.
Akang datang ke kantor polisi didampingi Ariyanti, ibunya, Bu Sumi, dan Pak Lurah. Wajah mereka serius, tegang, tapi penuh tekad.
Seorang petugas piket, polisi muda dengan kumis tipis, menyambut mereka. "Ada yang bisa kami bantu?"
"Kami mau lapor tentang fitnah yang tersebar di Jalan Raya Pegandon," kata Pak Lurah.
Petugas itu mengernyit. "Fitnah? Ada korban?"
"Akang Supriyadi. Anak saya," kata Ibu Akang, suaranya bergetar.
Petugas itu memanggil seorang polisi yang lebih senior. Seorang pria dengan wajah tegas, kumis tebal, dan mata yang tajam. Bripka Joko.
"Silakan duduk." Bripka Joko mempersilakan mereka duduk di kursi-kursi kayu di ruang pelaporan. "Ceritakan dari awal."
Akang menceritakan semuanya. Dari awal hingga akhir. Selebaran misterius di Jalan Raya Pegandon. Tuduhan bahwa ia pencuri. Dampak fitnah terhadap kehidupannya. Bisik-bisik di sekolah. Tatapan curiga tetangga. Pertemuan desa.
Bripka Joko mencatat dengan saksama. Tangannya bergerak cepat di atas kertas.
"Ada bukti lain?" tanyanya setelah Akang selesai.
Bu Sumi maju. "Saya sudah selidiki, Pak." Suaranya tenang, seperti orang yang sudah menyiapkan data. "Kertas HVS seperti ini hanya bisa dicetak di percetakan besar. Ada tiga percetakan di Pegandon yang punya mesin cetak cepat. Dua saya sudah datangi. Mereka tidak pernah mencetak selebaran itu. Yang ketiga adalah Percetakan Sumber Makmur, milik keluarga H. Rahmat."
Bripka Joko mengangkat alis. "H. Rahmat? Pengusaha pabrik beras itu?"
"Iya." Bu Sumi mengangguk. "Saya curiga ada hubungannya dengan keluarga itu. Tapi saya tidak punya bukti. Saya minta polisi melakukan penyelidikan."
Bripka Joko mengangguk. "Baik. Kami akan tindak lanjuti."
Ketenangan di Tengah Badai
Jalan Randu Gembyang, senja harinya.
Akang dan Ariyanti berjalan pulang bersama, seperti biasa. Langit jingga di atas kepala mereka, seperti biasa. Angin berembus lembut, seperti biasa. Tapi tidak ada yang biasa sore itu.
"Kang, kamu takut?" tanya Ariyanti. Suaranya pelan, hampir berbisik.
"Aku takut, Ari." Akang menggenggam tangan Ariyanti. "Tapi aku tidak sendirian."
"Benar." Ariyanti membalas genggaman Akang. "Kamu tidak sendirian. Aku di sini. Bu Sumi di sini. Ibumu di sini. Ibuku di sini. Pak Lurah di sini. Kita semua di sini."
"Aku tidak tahu bagaimana masa depanku." Akang menatap langit jingga. "Tapi aku tahu satu hal. Aku tidak akan menyerah. Aku tidak akan menyerah pada fitnah. Aku tidak akan menyerah pada Rahmadi. Aku tidak akan menyerah pada kehidupan."
Ariyanti meraih tangan Akang. Genggamannya erat. Hangat.
"Kita lalui ini bersama, Kang. Seperti dulu. Seperti saat paYan g bocor. Seperti saat berbagi nasi. Seperti saat kita berjanji di bawah pohon ini."
Mereka berpegangan tangan di bawah pohon randu tertua. Fitnah, rumor, kebencian, semua itu nyata. Semua itu menyakitkan. Semua itu hampir menghancurkan.
Tapi cinta juga nyata. Dan cinta, kadang, lebih kuat dari fitnah.
Kadang. Tidak selalu. Tapi kadang.
Dan di sore itu, di bawah pohon randu tertua, di senja yang mulai gelap, Akang dan Ariyanti memilih untuk percaya bahwa cinta mereka adalah salah satu dari "kadang" itu.
BAB 10
TANGIS IBU
Ibu Ariyanti, seorang janda yang membesarkan tiga anak sendirian, memohon pada Ariyanti untuk menjauhi Akang. "Ibu takut kehilangan pekerjaan di toko milik keluarga Rahmadi."
Tegorejo, akhir Agustus 1997 – Seminggu setelah fitnah selebaran
Malam itu, langit Tegorejo gelap tanpa bulan. Awan hitam menggulung di ufuk timur, tanda hujan akan segera turun. Tapi di rumah kecil Dusun Kersan, suasana lebih kelam dari langit di luar.
Ariyanti baru saja pulang dari menemani Akang melapor ke polisi. Ia lelah, baik secara fisik maupun mental. Tapi ia belum tahu bahwa badai sesungguhnya sedang menunggunya di rumah.
Badai bernama air mata ibunya.
Ibu Ariyanti yang Mulai Berubah
Sejak selebaran fitnah tersebar, Ibu Ariyanti—yang biasa dipanggil Bu Siti Aminah—berubah. Wanita berusia 43 tahun yang biasanya ceria dan ramah itu kini lebih banyak diam. Matanya sayu. Wajahnya pucat. Senyumnya nyaris hilang.
Ariyanti mengira ibunya hanya lelah karena bekerja keras. Tapi malam ini, ia akan sadar bahwa ada yang jauh lebih serius.
"Yan , makan dulu," panggil Bu Siti dari dapur.
"Iya, Bu. Sebentar."
Ariyanti duduk di meja makan sederhana—meja kayu tua dengan kaki patah yang sudah disambung berkali-kali. Di atasnya, nasi hangat, sayur bening, dan lauk tempe goreng.
Dua adiknya, Rizki (10 tahun) dan Fathur (7 tahun) , sudah makan lebih dulu dan sekarang bermain di teras.
"Makasih, Bu," kata Ariyanti sambil menyantap nasi.
Bu Siti tidak menjawab. Ia hanya duduk di seberang Ariyanti, menatap anaknya dengan mata penuh pertanyaan.
"Ibu kenapa?" tanya Ariyanti, merasakan keanehan.
"Tidak apa-apa. Makan saja."
Tapi Ariyanti tidak percaya. Ada sesuatu di mata ibunya. Sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Ketakutan.
Panggilan dari Mandor Pabrik
Sore sebelumnya – pukul 15.00
Bu Siti sedang membersihkan rumah ketika seorang laki-laki paruh baya mengendarai sepeda motor berhenti di depan pagarnya.
"Bu Siti!" panggil laki-laki itu.
Bu Siti keluar. "Ada apa, Pak Mandor?"
Pak Mandor—nama panggilan untuk Bapak Sunarto, mandor pabrik penggilingan padi tempat Bu Siti bekerja—turun dari sepeda motornya. Wajahnya tampak tidak enak.
"Bu, saya mau kasih tahu. Dua hari lagi, toko kelontong di Jalan Raya Pegandon buka lowongan. Saya dengar gajinya lumayan."
Bu Siti bingung. "Lho, Pak Mandor. Saya masih kerja di pabrik, kok. Kenapa disuruh pindah?"
Pak Mandor menghela napas. "Soalnya... bu, maaf... ada perintah dari atas."
"Perintah dari atas? Maksudnya?"
"Keluarga H. Rahmat. Mereka minta semua karyawan yang... yang punya hubungan dengan Akang Supriyadi segera dipecat."
Bu Siti membeku. "Tapi saya tidak punya hubungan dengan Akang. Anak saya yang dekat dengannya. Saya tidak terlibat."
"Saya tahu, Bu. Tapi mereka tidak peduli. Yang penting, Bu Siti dianggap terlalu dekat dengan keluarga Akang. Jadi... lebih baik Bu Siti cari kerja di tempat lain sebelum dipecat secara paksa."
Bu Siti terdiam. Darahnya berdesir dingin.
"Pak Mandor, saya sudah 12 tahun bekerja di pabrik itu. Sejak suami saya meninggal. Apa tidak ada pertimbangan?"
"Maaf, Bu. Saya hanya menjalankan perintah."
Pak Mandor pergi meninggalkan Bu Siti yang berdiri di depan pagar dengan tubuh gemetar.
12 tahun. Ia telah mengabdi selama 12 tahun. Dan sekarang, hanya karena anaknya dekat dengan Akang—hanya karena Ariyanti menolak Rahmadi—ia harus kehilangan mata pencaharian?
Bu Siti masuk ke rumah. Ia tidak menangis. Belum. Tapi dadanya sesak.
Keputusan di Malam Hari
Malam itu – setelah Ariyanti pulang
Bu Siti menunggu sampai Rizki dan Fathur tidur. Ia memanggil Ariyanti ke ruang tengah. Hanya lampu minyak tanah yang menerangi ruangan itu, membuat bayangan mereka berdua menari-nari di dinding anyaman bambu.
"Yan , duduk. Ibu mau bicara."
Ariyanti duduk di tikar pandan di hadapan ibunya. "Ada apa, Bu?"
Bu Siti menarik napas panjang. Ia sudah menyiapkan kata-kata ini sejak sore. Tapi mengucapkannya jauh lebih sulit dari yang ia bayangkan.
"Yan , Ibu minta kamu... menjauhi Akang."
Ariyanti terkejut. "Apa? Kenapa, Bu?"
Bu Siti menunduk. Tangannya gemetar. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Ibu takut kehilangan pekerjaan di toko milik keluarga Rahmadi."
"Toko? Ibu kan kerja di pabrik penggilingan padi. Bukan di toko."
"Mereka punya toko kelontong besar di Jalan Raya Pegandon. Ibu sudah dengar dari Pak Mandor. Semua karyawan yang punya hubungan dengan Akang akan dipecat. Termasuk Ibu."
"Tapi Ibu tidak punya hubungan dengan Akang. Aku yang..."
"Ibu tahu. Tapi mereka tidak peduli. Mereka tahu kamu dekat dengan Akang. Mereka tahu Ibu ibumu. Itu sudah cukup alasan untuk memecat Ibu."
Ariyanti terdiam. Ia tidak pernah membayangkan dampak dari pilihannya akan sejauh ini.
"Bu, ini tidak adil."
"Sejak kapan dunia ini adil, Yan ?"
Ariyanti tidak bisa menjawab.
Tangis Ibu yang Tertahan
"Yan , Ibu tidak punya siapa-siapa selain kamu," lanjut Bu Siti, suaranya mulai pecah. "Ayahmu sudah meninggal. Ibu hanya punya kamu, Rizki, dan Fathur. Kalau Ibu dipecat, kita tidak punya uang untuk makan, untuk sekolah, untuk hidup."
"Tapi Bu, Akang tidak bersalah. Dia korban fitnah. Rahmadi yang jahat."
"Ibu tahu. Ibu tahu Akang anak baik. Tapi ibu juga tahu bahwa melawan orang sekaya Rahmadi itu seperti melawan angin. Kita hanya rakyat kecil, Yan . Kita tidak punya kekuatan."
"Kita punya kebenaran, Bu!"
"Kebenaran tidak bisa membeli beras, Ariyanti! Kebenaran tidak bisa membayar sekolah adik-adikmu! Kebenaran tidak bisa menyembuhkan Ibu kalau Ibu sakit!"
Bu Siti akhirnya menangis. Tangis yang ia tahan sejak sore. Tangis yang keluar dari lubuk hatinya yang paling dalam.
Ariyanti belum pernah melihat ibunya menangis seperti ini. Ibunya adalah perempuan tangguh yang selalu tersenyum meskipun hidup keras. Tapi malam ini, tangguh itu runtuh.
"Ibu minta maaf, Yan . Ibu egois. Ibu hanya ingin keluarga kita selamat."
Ariyanti memeluk ibunya. "Bu, jangan nangis. Aku tidak tega."
"Janji, Yan . Janji sama Ibu. Jauhi Akang. Setidaknya untuk sementara waktu. Sampai situasinya mendingan."
Ariyanti tidak bisa menjawab. Ia hanya memeluk ibunya semakin erat.
Pertarungan Batin Ariyanti
Kamar Ariyanti – tengah malam
Ariyanti tidak bisa tidur. Ia berbaring di kasur tipisnya, menatap langit-langit anyaman bambu, memikirkan dua pilihan yang sama-sama menyakitkan.
Jika ia menurut pada ibunya: Akang akan sendirian. Akang akan makin terpuruk. Akang akan kehilangan satu-satunya orang yang percaya padanya.
Jika ia tidak menurut pada ibunya: Ibunya akan dipecat. Adik-adiknya tidak bisa sekolah. Keluarganya bisa kelaparan.
"Kenapa harus aku yang memilih?" bisiknya dalam hati. "Kenapa dunia ini begitu kejam pada orang miskin?"
Ia teringat kata-kata Akang: "Kita hadapi bersama."
Tapi bagaimana cara menghadapi masalah yang mengancam keluarganya sendiri?
Air mata Ariyanti menetes. Ia tidak menangis keras-keras. Ia hanya membiarkan air matanya mengalir di pipi, membasahi bantal kapuk yang sudah kusam.
Ya Allah, beri aku petunjuk, doanya dalam hati. Aku tidak tahu harus memilih apa.
Akang yang Tidak Tahu Apa-Apa
Keesokan harinya – Jalan Randu Gembyang, pagi hari
Akang menunggu Ariyanti di bawah pohon randu tertua seperti biasa. Tapi Ariyanti tidak datang.
15 menit. 30 menit. 1 jam.
Akang mulai cemas. Ia memutuskan untuk berjalan ke Dusun Kersan menuju rumah Ariyanti.
Sesampainya di depan pagar anyaman bambu, ia melihat Ariyanti sedang duduk di teras, memandang kosong ke arah sawah.
"Ari!" panggil Akang.
Ariyanti menoleh. Matanya merah. Wajahnya pucat.
"Kang... maaf, aku tidak bisa ke sekolah hari ini."
"Kenapa? Kamu sakit?"
Ariyanti menggeleng. "Ibuku... dia minta aku menjauhimu."
Akang terdiam seperti disambar petir. "Apa?"
"Ibu takut kehilangan pekerjaan. Rahmadi mengancam akan memecat semua karyawan yang punya hubungan denganmu."
Akang memucat. Rahmadi. Lagi-lagi Rahmadi.
"Ari, ini..."
"Aku tidak tahu harus apa, Kang. Aku tidak bisa mengorbankan keluargaku. Tapi aku juga tidak bisa mengorbankanmu."
Akang masuk ke halaman rumah Ariyanti, duduk di sampingnya.
"Ari, aku tidak akan memaksamu memilih. Tapi aku ingin kau tahu: apapun keputusanmu, aku akan menerimanya. Karena aku tidak ingin menjadi sumber masalah bagi keluargamu."
Ariyanti menatap Akang. Matanya berkaca-kaca. "Kang, aku..."
"Tidak usah dijawab sekarang. Pikirin dulu. Aku akan tetap di sekolah. Aku akan tetap belajar. Aku akan tetap berjuang. Dan kalau suatu hari nanti kamu memutuskan untuk kembali, aku akan menunggumu."
Akang berdiri. Ia menatap Ariyanti sekali lagi, lalu berbalik pergi.
Ariyanti hanya bisa menangis di teras rumahnya.
Rahmadi Mendengar Kabar
Rumah Rahmadi – siang itu
"Danu, apa kabar terbaru?"
"Bu Siti, ibu Ariyanti, dikabarkan meminta Ariyanti menjauhi Akang. Dia takut dipecat."
Rahmadi tersenyum puas. "Bagus. Akhirnya dia sadar."
"Tapi Ariyanti sendiri belum sepenuhnya menurut, Tuan. Dia masih bimbang."
"Kita beri tekanan lebih. Besok, suruh mandor pabrik memanggil Bu Siti. Bilang bahwa pemecatan akan dilakukan minggu depan jika Ariyanti masih dekat dengan Akang."
"Baik, Tuan."
"Dan satu lagi. Aku ingin kau siapkan hadiah untuk Ariyanti."
"Hadiah apa, Tuan?"
"Seratus tangkai mawar lagi. Tapi kali ini, antar langsung ke rumahnya. Jangan pakai perantara."
"Tuan yakin?"
"Aku yakin. Sekarang dia dalam posisi lemah. Keluarganya terancam. Saatnya aku masuk sebagai pahlawan."
Seratus Mawar Kedua
Keesokan harinya – rumah Ariyanti, pukul 16.00
Hujan gerimis turun saat sebuah mobil hitam berhenti di depan rumah Ariyanti. Rahmadi turun sendiri, membawa setangkai mawar merah—hanya satu, bukan seratus.
Ia mengetok pagar anyaman bambu.
"Selamat sore."
Bu Siti yang keluar terperanjat melihat siapa yang datang. "Ma... Mas Rahmadi?"
"Selamat sore, Bu. Saya ingin bertemu Ariyanti."
Ariyanti yang mendengar suara itu keluar dari kamarnya. Wajahnya dingin.
"Ada apa, Mas Rahmadi?"
"Ariyanti, aku tahu situasimu sulit. Aku tahu ibumu terancam dipecat. Aku datang bukan untuk memperparah, tapi untuk membantu."
"Membantu bagaimana?"
"Aku bisa memastikan ibumu tetap bekerja. Bahkan aku bisa menaikkan gajinya. Tapi ada syaratnya."
"Syarat apa?"
"Kau mau dekat denganku. Tidak usah jadi pacar. Cukup teman dekat. Biar ayahku melihat bahwa kau tidak bermasalah."
Ariyanti tertawa pahit. "Jadi kau mau aku berpura-pura?"
"Bukan pura-pura. Tapi... memberi kesempatan."
Ariyanti menatap mawar di tangan Rahmadi. Mawar merah segar, tapi bagi Ariyanti, warnanya seperti darah.
"Terima kasih tawarannya, Mas Rahmadi. Tapi saya tidak butuh."
"Ariyanti..."
"Saya tidak butuh belas kasihan. Saya tidak butuh uang kotor. Dan saya tidak akan mengkhianati Akang hanya karena tekanan."
Rahmadi menghela napas. "Kau keras kepala."
"Aku lebih suka disebut berprinsip."
Rahmadi meletakkan mawar itu di pagar. "Simpan saja. Pikirkan lagi."
Ia berbalik dan pergi.
Ariyanti mengambil mawar itu dan membuangnya ke selokan.
Air Mata Ibu yang Kedua
Malam itu – rumah Ariyanti
Setelah Rahmadi pergi, Bu Siti duduk di teras. Wajahnya pucat. Tangannya gemetar.
"Yan , kamu bilang apa pada Rahmadi?"
"Saya tolak, Bu."
Bu Siti menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Yan ... kenapa kamu begitu?"
"Karena aku tidak bisa berbohong, Bu. Aku tidak bisa berpura-pura dekat dengan laki-laki yang aku benci, hanya demi uang."
"Ibu tidak minta kamu dekat sama dia. Ibu minta kamu jauhi Akang. Itu saja."
"Tapi Bu, menjauhi Akang berarti mengaku bahwa fitnah itu benar. Itu berarti membiarkan Rahmadi menang."
"Biarlah dia menang, Yan . Yang penting kita selamat."
"Selamat? Selamat dalam kemiskinan? Selamat dalam ketakutan? Bu, itu bukan hidup namanya. Itu hanya... bertahan."
Bu Siti menangis lagi. Tangis yang lebih keras dari sebelumnya.
"Ibu tidak tahu harus apa, Yan . Ibu hanya perempuan janda miskin. Ibu tidak punya kekuatan."
Ariyanti memeluk ibunya. "Kita punya kekuatan, Bu. Kita punya keberanian. Kita punya kebenaran. Dan kita punya Allah."
Bu Siti terdiam. Anaknya berbicara seperti orang dewasa. Seperti orang yang sudah melihat terlalu banyak penderitaan.
"Kamu yakin, Yan ?"
"Aku yakin, Bu. Aku tidak tahu bagaimana jalannya, tapi aku yakin Allah tidak akan membiarkan orang dzalim menang selamanya."
Keputusan Ariyanti
Pagi harinya – Jalan Randu Gembyang
Ariyanti berangkat ke sekolah. Di bawah pohon randu tertua, Akang sudah menunggu.
"Ari... kamu jadi ke sekolah?"
"Iya."
"Keputusanmu?"
Ariyanti menatap Akang. Matanya teduh. Tidak ada keraguan lagi.
"Aku tidak bisa menjauhimu, Kang. Bukan karena aku tidak sayang ibu atau adik-adikku. Tapi karena aku tahu, menyerah pada Rahmadi bukanlah solusi. Dia hanya akan makin semena-mena."
"Ari, tapi ibumu..."
"Aku sudah bicara dengan Ibu. Ibu belum setuju. Tapi aku akan terus membujuknya. Aku akan cari kerja sambilan. Aku akan bantu cari nafkah. Kita tidak akan membiarkan Rahmadi mengendalikan hidup kita."
Akang meraih tangan Ariyanti. "Aku ikut bantu."
"Bantu apa?"
"Aku juga bisa cari kerja sambilan. Kita lakukan ini bersama."
Mereka berpegangan tangan di bawah pohon randu.
Air mata ibu memang berat. Tapi cinta yang teguh, kadang, lebih berat lagi untuk dikalahkan.
BAB 11
PERTEMUAN DI BENGKEL
Akang bekerja paruh waktu di bengkel dekat Jalan Randu Gembyang. Suatu malam, bengkel itu dirusak orang tak dikenal.
Tegorejo, awal September 1997. Sepekan setelah ibu Ariyanti memintanya menjauhi Akang.
Tekanan ekonomi mulai terasa di rumah Akang seperti dinding yang perlahan-lahan merapat, menghempaskan napas dari ruang yang semakin sempit. Sejak ibunya dipecat dari pabrik milik keluarga Rahmadi dengan alasan yang tidak jelas, pemasukan keluarga mereka nyaris nol. Tidak ada lagi uang yang masuk setiap akhir pekan. Tidak ada lagi beras yang bisa dibeli dalam jumlah banyak. Tidak ada lagi tabungan kecil yang disisihkan untuk keadaan darurat.
Ibu Akang masih berjualan gorengan setiap pagi di pinggir Jalan Raya Pegandon, seperti yang sudah ia lakukan sejak Akang masih kecil. Tapi omzetnya tidak sebanding dengan kebutuhan sehari-hari. Minyak goreng naik harga. Tepung naik harga. Gas untuk memasak juga naik harga. Tapi harga jual gorengan tidak bisa naik. Jika dinaikkan, pelanggan akan pindah ke warung lain.
Akang melihat ibunya semakin kurus. Tidak ada yang berubah secara drastis dalam semalam. Tapi perlahan, seperti air yang merembes melalui celah-celah dinding, Ibu Akang mulai makan lebih sedikit. Ia beralasan sudah kenyang. Tapi Akang tahu. Ia tahu bahwa ibunya menyisakan makanan untuknya.
Akang tidak bisa tinggal diam. Ia harus membantu ibunya. Bukan karena ia dipaksa, tapi karena ia tidak tega melihat ibunya berjuang sendirian. Karena ia sudah cukup dewasa untuk memikul beban. Karena ia adalah anak laki-laki satu-satunya yang tersisa di rumah itu.
Maka, diam-diam, ia mencari kerja sambilan sepulang sekolah.
Pencarian itu membawanya ke sebuah bengkel las di pinggir Jalan Randu Gembyang, tidak jauh dari pohon randu tertua yang biasa menjadi tempatnya bertemu Ariyanti. Bengkel itu tidak besar, tidak mewah, tidak terlihat dari jalan utama. Hanya sebuah bangunan semi permanen dengan dinding seng berkarat dan atap asbes yang sudah berumur. Di depannya, berserakan potongan-potongan besi, plat baja, dan teralis jendela setengah jadi. Di pintu masuk, tergantung papan kayu yang ditulis dengan cat putih, huruf-hurufnya sudah mulai pudar karena panas dan hujan: "BENGKEL LAS KARYO – Terima Pesanan Teralis, Pagar, dan Konstruksi Besi."
Bengkel itu milik Pak Karyo, seorang laki-laki paruh baya dengan tangan penuh kapalan dan wajah ramah yang membuat orang merasa aman hanya dengan melihatnya. Kulitnya hitam legam oleh terik matahari dan percikan api las yang tak terhitung jumlahnya. Matanya kecil, tapi tajam. Di sela-sela jari tangannya yang kasar, terselip rokok kretek yang hampir tidak pernah padam.
Ia adalah tetangga dari Dusun Cegunan, tinggal tidak jauh dari rumah Akang. Rumahnya di belakang bengkel, hanya dipisahkan oleh dinding seng tipis. Sejak kecil, Akang sudah mengenalnya sebagai sosok yang pendiam tapi baik hati.
Dan di bengkel itulah, Akang menemukan bukan hanya pekerjaan. Tapi juga awal dari petaka yang tak terduga. Awal dari rangkaian kejadian yang akan mengubah hidupnya selamanya.
Akang Mulai Bekerja
Senja pertama Akang di bengkel, pukul 16.30.
Matahari mulai condong ke barat. Sinar jingganya masuk melalui celah-celah dinding seng bengkel, menciptakan garis-garis cahaya yang jatuh di lantai tanah yang dipadatkan. Debu-debu beterbangan di udara, menari-nari dalam cahaya senja.
Pak Karyo berdiri di depan meja kerjanya, memegang helm las yang sudah usang. Helm itu dulunya berwarna biru tua, tapi sekarang warnanya sudah memudar menjadi abu-abu kecoklatan, dengan goresan-goresan hitam bekas percikan api di mana-mana. Kaca pelindungnya sudah diganti berkali-kali, terlihat dari bingkai yang tidak rapi di beberapa sisi.
"Kang, kamu tahu cara mengelas?" tanya Pak Karyo sambil mengamati Akang dari ujung rambut hingga ujung kaki. Matanya yang kecil menyipit, menilai.
Akang mengangguk malu-malu. "Sedikit, Pak. Dulu diajarin bapak sebelum... sebelum beliau pergi."
"Pergi ke mana?" Pak Karyo bertanya tanpa maksud ingin tahu. Hanya basa-basi.
"Entahlah, Pak." Akang menunduk. "Hilang. Sudah lama."
Pak Karyo tidak bertanya lebih lanjut. Ia sudah cukup tua dan cukup bijak untuk tahu kapan harus berhenti bertanya. Ia hanya mengangguk, lalu menghela napas.
"Mau belajar lebih dalam?" Suara Pak Karyo melembut. "Kerja di sini tidak hanya butuh tenaga, tapi juga ketelitian. Satu kesalahan kecil bisa membuat teralis miring. Satu las yang kurang kuat bisa membuat pagar ambruk. Kamu harus sabar."
"Siap, Pak. Aku mau belajar." Mata Akang berbinar. Binar yang jarang muncul akhir-akhir ini.
Pak Karyo tersenyum. Senyum yang hangat, senyum yang membuat kerutan di wajahnya semakin dalam. Anak ini berbeda dari pemuda-pemuda lain di desa. Pemuda-pemuda lain sibuk dengan pacaran, dengan foya-foya, dengan hal-hal yang tidak berguna. Tapi Akang? Ia tidak malu bertanya. Ia tidak gengsi belajar. Ia hanya ingin bekerja keras. Hanya ingin membantu ibunya. Hanya ingin bertahan hidup.
"Baik." Pak Karyo mengangguk. "Gajinya tidak besar. Lima ribu per hari. Kamu datang setelah pulang sekolah, kerja sampai jam 7 malam. Kalau lembur, saya hitung terpisah."
"Terima kasih, Pak." Akang menunduk dalam-dalam. "Saya terima."
Mulai hari itu, Akang menghabiskan waktu sore hingga malamnya di bengkel las milik Pak Karyo. Tidak ada hari libur. Tidak ada waktu untuk bermalas-malasan. Setiap hari sepulang sekolah, ia langsung bergegas ke bengkel, berganti pakaian dengan kaus oblong hitam yang sudah bolong di beberapa tempat, lalu bekerja hingga malam.
Ia belajar mengelas besi, memotong plat dengan gerinda, dan merakit teralis jendela. Tangannya, yang dulu hanya terbiasa memegang buku dan pulpen, kini mulai kasar terkena percikan api las. Telapak tangannya melepuh, jari-jarinya luka tergores besi tajam. Wajahnya yang dulu bersih, kini hitam oleh debu besi yang menempel di kulit. Matanya kadang perih karena asap las yang tidak sempat ia hindari.
Tapi matanya tetap berbinar.
Karena setiap rupiah yang ia hasilkan, akan ia berikan pada ibunya. Setiap tetes keringat yang jatuh ke lantai bengkel yang berdebu, adalah bentuk cinta pada keluarga. Setiap luka di tangannya adalah bukti bahwa ia tidak akan menyerah.
Ariyanti awalnya tidak tahu. Akang tidak memberi tahu karena ia tidak mau Ariyanti khawatir. Ia tidak ingin menambah beban di pundak Ariyanti yang sudah berat. Ia tidak ingin Ariyanti merasa bersalah karena dialah alasan ibunya dipecat.
Tapi suatu hari, Ariyanti penasaran. Akang selalu pulang lebih sore dari biasanya. Ketika ditanya, ia hanya bilang ada tugas tambahan di sekolah. Tapi Ariyanti tidak percaya. Ia sudah terlalu lama mengenal Akang untuk tidak bisa membedakan kebohongan dari kebenaran.
Ia memutuskan untuk mencari tahu.
Ariyanti Datang ke Bengkel
Sore itu, pukul 17.15.
Ariyanti menyusuri Jalan Randu Gembyang ke arah barat. Langkahnya cepat, tidak seperti biasanya. Biasanya ia berjalan santai, menikmati pohon-pohon randu yang bergoyang ditiup angin, menikmati suara burung yang pulang ke sarang, menikmati senja yang mulai datang.
Tapi sore itu, ia tidak menikmati apa pun. Pikirannya hanya tertuju pada satu hal. Akang. Ke mana ia pergi? Apa yang ia sembunyikan?
Ia melewati pohon randu tertua, pohon yang menjadi saksi bisu pertemuan pertama mereka, pertengkaran kecil mereka, pengakuan diam-diam mereka. Ia melewati pertigaan yang biasa mereka lalui setiap pulang sekolah. Ia terus berjalan ke barat, ke arah yang jarang ia lewati.
Hingga akhirnya, ia melihat sebuah bengkel las. Bangunan sederhana dengan dinding seng berkarat dan atap asbes yang sudah berumur. Di depannya, berserakan potongan-potongan besi yang sudah berkarat di beberapa bagian. Di pintu masuk, tergantung papan kayu dengan tulisan yang hampir tidak terbaca.
"BENGKEL LAS KARYO – Terima Pesanan Teralis, Pagar, dan Konstruksi Besi."
Dari kejauhan, Ariyanti melihat sesosok laki-laki kurus dengan kaus oblong hitam penuh debu besi sedang mengelas sesuatu. Percikan api berpendar jingga di bawah sinar matahari senja, seperti kembang api kecil yang lahir dan mati dalam sekejap.
Laki-laki itu memegang alat las dengan tangan kanan. Tangan kirinya memegang besi yang akan disambung. Percikan api beterbangan ke mana-mana, ada yang jatuh di lantai tanah, ada yang jatuh di lengan bajunya, ada yang jatuh di wajahnya. Tapi ia tidak bergerak. Tidak menghindar. Ia hanya fokus pada pekerjaannya.
Laki-laki itu adalah Akang.
"Akang!" teriak Ariyanti.
Akang terkejut. Tubuhnya tersentak. Alat las di tangannya hampir terjatuh. Ia menurunkan helm lasnya dengan gerakan cepat, lalu menatap ke arah suara. Matanya membulat. Wajahnya memerah, bukan karena panas las, tapi karena malu. Karena ketahuan.
"Ari? Kamu kok di sini?" suaranya sedikit tergagap.
"Aku yang harusnya nanya." Ariyanti berjalan mendekat. Langkahnya tegas, seperti orang yang sedang marah. Tapi matanya tidak marah. Matanya khawatir. "Kamu kerja di sini tanpa bilang-bilang aku?"
"Maaf." Akang menunduk. "Aku tidak mau kamu khawatir."
"Maka dari itu aku jadi makin khawatir." Ariyanti menghela napas. Tangannya ingin meraih tangan Akang, tapi ia menahan diri. "Sejak kapan?"
"Seminggu yang lalu."
"Seminggu?" Ariyanti hampir berteriak. "Kamu sudah bekerja seminggu dan tidak bilang aku? Lalu selama ini kamu bilang tugas tambahan di sekolah? Kamu bohong, Kang."
Akang tidak menjawab. Ia hanya menunduk lebih dalam.
Pak Karyo yang mendengar suara ribut keluar dari bengkel. Tangannya masih memegang palu besi, sepertinya sedang memperbaiki sesuatu. Matanya mengamati Ariyanti dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Kang, ada tamu?" tanyanya, suaranya ramah.
"Iya, Pak. Ini teman saya, Ariyanti." Akang memperkenalkan dengan suara pelan.
Pak Karyo mengamati Ariyanti lebih lama. Gadis ini berbeda dari kebanyakan gadis desa yang hanya tahu berdandan dan bergosip. Matanya cerdas. Sikapnya tegas. Dan yang paling penting, ia datang ke sini bukan untuk main-main, tapi karena ia peduli.
"Wah, cantik." Pak Karyo tersenyum. Senyum yang membuat kerutan di wajahnya semakin dalam. "Pacarnya, Kang?"
Akang tersipu. Wajahnya yang hitam oleh debu besi berubah menjadi merah marun di beberapa bagian. "Bu... belum, Pak."
"Tapi mau jadi pacar?" goda Pak Karyo sambil mengedipkan satu matanya. "Jangan malu-malu, Kang. Saya juga dulu muda."
Ariyanti tersenyum malu. "Maaf, Pak. Saya hanya teman."
"Baik, baik." Pak Karyo mengangkat kedua tangannya, pura-pura menyerah. "Saya tidak ikut campur urusan anak muda. Urusan hati itu rumit. Saya sudah tua, tidak mau pusing. Yang penting kerja jangan diganggu."
Ia kembali masuk ke bengkel, meninggalkan Akang dan Ariyanti berdua di depan pintu.
Ariyanti menatap Akang. Matanya lembut, tapi ada nada kecewa di dalamnya. "Kang, pulang dulu. Ajak aku ke belakang. Kita bicara."
Akang mengangguk. Ia meletakkan alat lasnya di atas meja kerja, lalu berjalan ke belakang bengkel. Ariyanti mengikutinya.
Di belakang bengkel, ada tumpukan besi tua dan potongan plat berserakan di tanah. Bau karat dan oli bekas tercium menyengat. Di sudut, ada sebuah drum bekas yang digunakan sebagai tempat sampah, sudah penuh dengan sisa-sisa potongan besi kecil.
Mereka berdiri berhadapan. Jarak di antara mereka hanya satu meter. Tapi rasanya jauh.
Perbincangan di Balik Tumpukan Besi
"Kang, kenapa kamu bekerja di sini tanpa bilang aku?" Suara Ariyanti tidak marah. Tapi ada nada kecewa yang dalam. "Aku kan bisa bantu."
"Ari, ini tanggung jawabku." Akang menatap tanah. Matanya tidak berani menatap Ariyanti. "Ibuku dipecat karena aku. Karena aku tidak mau menjauhi kamu. Karena aku melawan Rahmadi. Aku harus cari uang untuk keluarga."
"Tapi kamu juga sekolah, Kang." Ariyanti menghela napas. Matanya menatap tangan Akang yang penuh luka dan kapalan. "Kamu masih harus belajar. Kamu masih harus mengerjakan PR. Kamu masih harus mempersiapkan ujian. Jangan sampai kerja mengganggu belajarmu."
"Aku sudah atur waktu." Akang mengangkat kepalanya. Matanya bertemu dengan mata Ariyanti. "Pulang sekolah langsung ke sini. Aku bawa buku. Kalau sepi, aku belajar sambil jaga bengkel. Pak Karyo mengizinkan."
Ariyanti terdiam. Ia melihat Akang. Laki-laki ini tidak pernah mengeluh. Tidak pernah. Sejak pertama kali ia mengenalnya di SMP, sejak paYan g bocor di hujan deras, sejak berbagi nasi di kantin, sejak ibunya dipecat, sejak difitnah sebagai pencuri, Akang tidak pernah mengeluh.
Ia hanya terus berjalan. Meskipun jalannya terjal. Meskipun kakinya lecet. Meskipun tubuhnya lelah. Ia hanya terus berjalan.
"Aku ikut bantu," kata Ariyanti tiba-tuka.
Akang mengerjap. "Apa?"
"Aku bisa bantu. Di sini. Setelah pulang sekolah. Aku bisa bersih-bersih. Aku bisa merapikan peralatan. Aku bisa melakukan apa pun yang Pak Karyo perlukan."
"Ari, tidak usah." Akang menggeleng. "Ini cukup aku saja. Kamu sudah punya banyak urusan. Kamu harus menjaga ibumu. Kamu harus membantu adik-adikmu. Kamu harus belajar."
"Kang." Ariyanti menatap Akang. Matanya tegas. "Kita sudah berjanji. Kita hadapi semua bersama. Ingat? Di bawah pohon randu. Saat paYan g bocor. Saat hujan. Kita basah sama-sama. Kita sampai ke tujuan bersama."
"Tapi Ari..."
"Jangan jadi pahlawan sendirian, Kang." Ariyanti memotong. "Pahlawan sendirian hanya ada di film. Di dunia nyata, pahlawan butuh teman. Pahlawan butuh bantuan. Dan aku di sini."
Pak Karyo yang mendengar percakapan mereka dari kejauhan tersenyum. Ia berdiri di pintu bengkel, setengah badan di dalam, setengah badan di luar. Tangannya memegang rokok yang hampir habis.
"Anak zaman sekarang beda," gumamnya sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Dulu saya pacaran cuma jalan-jalan. Ke sawah. Ke sungai. Ke bukit. Paling banter bawa makanan seadanya. Tapi mereka? Mereka malah kerja sama. Saling bantu. Saling mendukung."
Ia berjalan mendekati mereka. Rokok di tangannya ia buang ke tanah, lalu dipijak dengan sepatu boot yang sudah usang.
"Nak Ariyanti," panggilnya. "Kamu bisa bantu bersih-bersih bengkel. Gajinya tiga ribu per hari. Soalnya kamu datangnya sore, cuma bisa sampai jam 6. Nanti gelap, bahaya."
Ariyanti tersenyum. "Terima kasih, Pak. Saya terima."
Akang menatap Ariyanti dengan mata berkaca-kaca. Mulutnya bergerak, ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak ada suara yang keluar.
"Ari, aku tidak tahu harus bilang apa," bisiknya akhirnya.
"Bilang terima kasih saja."
"Terima kasih."
"Sudah." Ariyanti tersenyum. "Sekarang kembali kerja. Nanti keburu gelap."
Mereka tersenyum. Senja di Jalan Randu Gembyang terasa lebih hangat dari biasanya.
Di kejauhan, matahari mulai tenggelam. Langit berwarna jingga keemasan. Burung-burung pulang ke sarang. Angin berembus lembut, membawa aroma daun randu yang khas.
Ada kedamaian di sore itu. Kedamaian yang akan segera terusik.
Kedatangan Sosok Misterius
Tiga hari kemudian. Pukul 19.00. Bengkel mulai sepi.
Akang sedang menyapu lantai bengkel. Debu besi dan kotoran menumpuk di sapu lidi, membentuk gundukan hitam keabu-abuan. Di luar, langit sudah gelap. Hanya lampu minyak tanah yang menerangi bengkel itu, menciptakan bayangan-bayangan yang menari-nari di dinding seng.
Ariyanti sudah pulang setengah jam yang lalu. Ibunya memintanya pulang lebih awal karena ada tetangga yang sedang sakit dan perlu ditemani. Ariyanti tidak ingin pergi. Ia ingin membantu Akang menyelesaikan pekerjaan. Tapi Akang memaksanya pulang.
"Kamu sudah banyak membantu, Ari. Aku bisa selesaikan sisanya."
Ariyanti menghela napas. "Baik. Tapi hati-hati, Kang. Jangan terlalu malam."
"Iya. Aku janji."
Ariyanti pergi. Akang sendirian.
Pak Karyo juga sudah masuk ke rumahnya yang berada tepat di belakang bengkel, dipisahkan oleh pintu kayu tipis yang tidak pernah dikunci. Sejak istrinya meninggal tiga tahun lalu, Pak Karyo tinggal sendirian. Anak-anaknya sudah merantau ke Jakarta dan hanya pulang setahun sekali.
Hanya Akang yang tersisa.
Suara sapu lidi di lantai tanah berirama lambat. Sswit. Sswit. Sswit. Sesekali terdengar suara besi-besi tua yang bergesekan karena tertiup angin.
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari luar. Bukan satu atau dua langkah. Tapi banyak. Teratur. Sinkron. Seperti langkah orang-orang yang sudah terbiasa bergerak bersama.
Akang mengangkat kepalanya. Sapu di tangannya berhenti bergerak.
"Selamat malam," sapa seorang laki-laki dengan suara berat. Suara yang dalam, seperti gema di gua.
Akang menoleh.
Di pintu bengkel, berdiri tiga orang laki-laki. Dua di antaranya bertubuh besar dan kekar, dengan lengan yang penuh tato dan wajah yang tidak ramah. Yang ketiga, lebih kecil, dengan tubuh kurus dan wajah yang tertutup topeng kain hitam. Hanya matanya yang terlihat. Mata yang dingin. Mata yang seperti sedang menilai.
"Mau pesan apa, Pak?" tanya Akang ramah. Ia berusaha tersenyum, meskipu dadanya sudah berdebar tidak karuan. Tangannya yang memegang sapu mulai gemetar.
Laki-laki bertopeng itu tertawa. Tawa yang tidak sampai ke mata. Tawa yang membuat bulu kuduk Akang berdiri.
"Bukan pesan," katanya, suaranya sengaja dibuat pelan, hampir berbisik, tapi menusuk. "Kami mau kasih pesan."
"Pesan apa, Pak?" Akang masih berusaha tenang.
"Berhenti kerja di sini."
Akang mengernyit. "Kenapa, Pak? Saya kerja dengan baik. Tidak pernah bikin masalah. Hasil lasan saya juga tidak pernah mengecewakan. Pak Karyo bisa menilai."
"Kamu sendiri yang masalah, Kang." Laki-laki bertopeng itu mendekat. Jarak wajahnya hanya beberapa sentimeter dari Akang. "Atau lebih tepatnya... kedekatanmu dengan Ariyanti."
Akang membeku. Dadanya terasa seperti ditusuk. Bukan karena ketakutan. Tapi karena kemarahan.
Rahmadi, pikirnya. Pasti Rahmadi. Hanya dia yang punya motif. Hanya dia yang bisa menyuruh preman seperti ini.
"Laki-laki itu yang nyuruh kalian?" suara Akang dingin. Matanya menatap laki-laki bertopeng itu tanpa berkedip.
"Tidak usah banyak tanya, Kang." Laki-laki itu tersenyum. Senyum yang tidak terlihat karena tertutup topeng, tapi Akang bisa merasakannya. "Yang penting, minggu depan kami tidak mau lihat kamu di sini. Kalau masih nekat... bengkel ini akan kami hancurkan. Tidak hanya bengkel. Rumahmu juga. Ibumu juga. Pacarmu juga."
Mereka berbalik pergi. Langkah mereka berat, terdengar di tanah yang becek karena hujan sore tadi.
Akang berdiri di tempatnya. Tubuhnya gemetar. Bukan karena takut. Tapi karena marah. Marah yang tidak bisa ia luapkan. Marah yang menggelegak di dadanya.
Rahmadi, pikirnya lagi. Kau sudah jatuh terlalu dalam. Terlalu dalam untuk bisa kembali.
Ia mengepalkan tangannya. Kuku-kukunya menusuk telapak tangan sendiri. Tapi ia tidak merasakan sakit. Yang ia rasakan hanyalah amarah.
Tapi aku tidak akan menyerah, janjinya dalam hati. Aku tidak akan menyerah pada mereka. Aku tidak akan menyerah pada Rahmadi. Aku tidak akan menyerah.
Akang Cerita pada Pak Karyo
Malam itu. Rumah Pak Karyo.
Akang duduk di kursi bambu di ruang tamu Pak Karyo. Ruangan sederhana dengan dinding papan kayu yang sudah lapuk di beberapa bagian. Di sudut, ada rak piring dari kayu jati tua, berisi piring-piring dan gelas yang sudah jarang dipakai. Lantainya tanah, dipadatkan, disapu bersih. Satu lampu minyak tanah menerangi ruangan itu, menciptakan bayangan yang bergoyang-goyang.
Pak Karyo duduk di seberangnya, memegang cangkir kopi pahit tanpa gula. Wajahnya serius. Tidak ada senyum. Tidak ada canda.
"Pak, saya harus cerita sesuatu," kata Akang. Suaranya pelan, hampir tidak terdengar.
Pak Karyo mengangguk. "Ceritakan, Kang."
Akang menarik napas panjang. Udara malam terasa dingin di paru-parunya. Lalu ia mulai bercerita. Dari awal hingga akhir. Dari mawar seratus tangkai. Dari penolakan Ariyanti. Dari fitnah selebaran. Dari ancaman pemecatan ibunya. Dari kebakaran bengkel? Belum. Itu belum terjadi. Tapi ia sudah merasakan bahwa ancaman itu akan segera menjadi nyata.
Ia juga menceritakan tentang tiga laki-laki yang datang ke bengkel sore tadi. Tentang ancaman mereka. Tentang peringatan mereka. Tentang mata dingin di balik topeng.
Pak Karyo menghela napas panjang. Ia menyesap kopinya, lalu meletakkan cangkir di meja kayu yang sudah usang.
"Anak itu benar-benar keterlaluan," katanya, menggeleng-gelengkan kepala. "H. Rahmat memang orangnya keras, tapi tidak sekonyol anaknya. Dulu waktu saya bikin pagar rumah mereka, H. Rahmat masih mau diajak bicara. Masih mau berunding. Tapi anaknya? Sudah jelas keterlaluan."
"Maaf, Pak." Akang menunduk. "Saya tidak sengaja membawa masalah ke bengkel ini. Saya hanya ingin bekerja. Saya tidak tahu kalau..."
"Kamu jangan minta maaf, Kang." Pak Karyo memotong. "Yang salah bukan kamu. Yang salah orang yang gila hormat. Yang salah orang yang tidak bisa menerima kenyataan. Yang salah orang yang pakai preman untuk menyelesaikan masalah."
"Pak Karyo tidak takut?"
Pak Karyo tertawa. Tawa yang keras, yang menggema di ruangan sempit itu. "Takut? Saya sudah 30 tahun kerja di bidang ini, Kang. Sudah ribuan teralis dan pagar saya buat. Saya sudah menghadapi preman, begal, bahkan perampok. Saya tidak takut pada preman bayaran. Mereka hanya besar di badan, tapi kecil di hati."
"Tapi Pak..."
"Dengar, Kang." Pak Karyo menatap Akang. Matanya serius. "Saya kenal baik keluarga H. Rahmat. Saya pernah bikin pagar rumah mereka 10 tahun lalu. Saya dengar cerita-cerita tentang mereka dari tetangga-tetangga. H. Rahmat itu orangnya tidak terlalu buruk. Dia hanya sibuk, terlalu sibuk untuk mengurus anaknya. Tapi anaknya... sudah jelas keterlamban, keterlaluan, keterlaluan."
"Jadi, Pak?"
"Jangan khawatir." Pak Karyo mengangkat cangkir kopinya lagi. "Saya akan bicara dengan Pak Lurah. Beliau orangnya tegas. Beliau tidak akan membiarkan preman-preman ini berkeliaran di desa kita."
"Terima kasih, Pak." Akang menunduk dalam-dalam.
"Kamu pulang, Kang." Pak Karyo mengusir dengan gerakan tangan. "Istirahat. Besok kerja seperti biasa. Jangan takut. Saya di sini."
Akang berdiri. Ia berjalan ke pintu, lalu berbalik. "Pak, terima kasih sudah mau menerima saya kerja di sini. Saya tidak tahu harus membalas."
"Balas dengan kerja keras, Kang." Pak Karyo tersenyum. "Itu sudah lebih dari cukup."
Malam Penghancuran
Dua malam kemudian. Pukul 23.00.
Tengah malam buta. Jalan Randu Gembyang sunyi. Tidak ada suara kendaraan. Tidak ada suara orang. Tidak ada suara apapun selain suara jangkrik yang tidak pernah lelah bernyanyi, suara angin yang berembus pelan di sela-sela daun randu, dan suara daun-daun kering yang berguguran satu per satu.
Bulan bersinar terang. Bulat. Sempurna. Seperti mata yang terbuka lebar, menatap bumi dari ketinggian. Tapi cahayanya tidak cukup untuk menembus kegelapan di sekitar bengkel las. Pohon-pohon randu yang rindang menciptakan bayangan-bayangan tebal, tempat-tempat gelap yang sempurna untuk bersembunyi.
Tiga bayangan bergerak cepat di sepanjang Jalan Randu Gembyang. Mereka datang dengan sepeda motor tanpa lampu, tanpa suara, seperti hantu yang melayang di atas aspal yang becek. Di tangan mereka, linggis besi yang berat dan balok-balok kayu yang tebal.
Mereka berhenti di depan bengkel.
"Cepat," bisik salah satu dari mereka. Suaranya serak, seperti orang yang sering berteriak. "Jangan lama-lama."
Mereka turun dari sepeda motor. Langkah mereka cepat, tidak berisik, seperti kucing yang sedang mengintai mangsa.
Crack!
Kaca jendela bengkel pecah. Pecahannya berhamburan ke lantai tanah, berserakan seperti tetesan air yang membeku. Suara keras itu memecah keheningan malam, membuat burung-burung yang tidur di pohon randu terbang berhamburan.
Dhug! Dhug! Dhug!
Linggis menghantam mesin las. Besi-besi tua itu mengeluarkan suara nyaring, seperti ratapan. Linggis menghantam tabung gas. Tabung gas itu terguling, menggelinding di lantai, lalu berhenti di sudut ruangan. Linggis menghantam peralatan lainnya. Palu. Tang. Gerinda. Semua berserakan di lantai, rusak, hancur, tidak bisa dipakai lagi.
Sebuah tabung gas kecil terguling dan bocor. Suara desisan nyaring terdengar di seluruh ruangan, seperti ular yang marah. Gas memenuhi udara, baunya menusuk hidung.
"Bakar!" teriak salah satu dari mereka.
Mereka menyiramkan bensin ke tumpukan kain dan kardus di sudut bengkel. Bensin itu mengalir lambat, meresap ke dalam kain, menetes ke lantai tanah. Baunya menyengat.
Korek api dinyalakan.
Api langsung membesar.
Dalam hitungan menit, bengkel las Pak Karyo terbakar. Api menjalar dengan cepat, melalap segala yang bisa terbakar. Kain. Kardus. Kayu. Kertas. Semuanya terbakar. Asap hitam mengepul ke langit malam, membumbung tinggi, seperti tiang raksasa yang menghubungkan bumi dengan langit.
Tiga bayangan itu kabur. Mereka meninggalkan sepeda motornya. Tidak sempat mengambilnya. Terlalu panik. Terlalu takut ketahuan.
Mereka berlari ke arah barat, menghilang di antara pohon-pohon randu.
Di belakang mereka, api terus membesar.
Di belakang mereka, bengkel las Pak Karyo hangus terbakar.
Di belakang mereka, kehidupan sederhana itu berubah menjadi abu.
Akang Mendengar Kabar
Dusun Cegunan, pukul 05.00. Akang baru bangun tidur.
"Akong! Akong!" teriak Ibu Akang dari luar. Suaranya panik. Suaranya hampir pecah. Suaranya seperti orang yang sedang melihat kematian.
Akang yang masih setengah tidur keluar rumah dengan mata masih mengantuk. Rambutnya acak-acakan. Kaus oblongnya terbalik, tidak rapi.
"Ada apa, Bu?" tanyanya sambil mengucek mata.
"Tadi malam bengkel Pak Karyo kebakaran!" Ibu Akang hampir berteriak. Tangannya gemetar memegang selempang kain yang ia gunakan untuk berjualan. "Aku dengar dari tetangga. Ada yang melihat api dari kejauhan. Ada yang mendengar suara ledakan. Katanya bengkelnya ludes, Kang. Ludes terbakar!"
Akang terhenyak.
Dunia berhenti berputar sejenak. Suara-suara di sekitarnya menghilang. Wajah ibunya yang panik menjadi buram, seperti dilihat dari balik kaca buram.
Tidak... pikirnya. Tidak mungkin.
Ini tidak mungkin terjadi.
Pak Karyo baik padaku. Pak Karyo memberi aku pekerjaan. Pak Karyo percaya padaku. Pak Karyo tidak takut pada preman bayaran. Pak Karyo berjanji akan bicara dengan Pak Lurah.
Dan sekarang bengkelnya terbakar.
Karena aku.
Karena aku menerima kerja di sana.
Karena aku tidak mau menjauhi Ariyanti.
Karena aku melawan Rahmadi.
Ia tidak sempat sarapan. Tidak sempat berganti pakaian. Tidak sempat mengucapkan kata-kata. Ia langsung berlari. Berlari sekencang mungkin. Kakinya yang tidak beralas sepatu terluka oleh kerikil-kerikil tajam di jalan setapak. Tapi ia tidak peduli.
Ia berlari menuju Jalan Randu Gembyang.
Kakinya terasa seperti tertimpa ribuan beban. Tapi ia terus berlari.
Sesampainya di lokasi, ia hanya bisa terdiam.
Bengkel itu sudah rata dengan tanah. Dinding-dinding seng yang kemarin masih berdiri kokoh, kini hanya tinggal kerangka hitam yang melengkung oleh panas. Atap asbes yang kemarin masih melindungi dari panas dan hujan, kini hancur berkeping-keping. Mesin las yang kemarin masih ia gunakan, kini hanya tinggal tumpukan besi hangus yang tidak bisa dikenali lagi.
Bau asap masih terasa menyengat. Bau terbakar. Bau kematian.
Beberapa tetangga sudah berkumpul. Mereka berdiri di pinggir jalan, bergosip dengan suara setengah berbisik. Mata mereka penuh rasa ingin tahu, tapi tidak ada yang berani mendekat.
"Katanya dibakar orang."
"Iya, sengaja. Ada bekas bensin di lantai."
"Pak Karyo semalam belum pulang. Katanya di rumah saudaranya di Kendal."
"Kasihan. Siapa yang tega? Beliau orangnya baik. Tidak pernah punya musuh."
"Entahlah. Mungkin dendam lama."
Akang tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya berlutut di depan puing-puing bengkel yang hangus. Lututnya terasa sakit karena tertusuk kerikil dan serpihan kaca. Tapi ia tidak peduli.
Air matanya jatuh. Bukan air mata sedih. Tapi air mata marah. Marah pada dirinya sendiri. Marah pada Rahmadi. Marah pada dunia yang tidak adil.
Ia menangis. Tidak keras. Tidak histeris. Hanya air mata yang mengalir di pipi yang hitam oleh debu dan abu.
"Kang," suara lembut dari belakang.
Ariyanti.
Ia berdiri di samping Akang. Matanya juga merah. Pakaiannya masih basah di beberapa bagian, sepertinya ia juga berlari dari rumah.
"Aku dengar kabarnya dari ibuku." Suaranya parau. "Aku langsung ke sini."
"Ari..." Akang menatap Ariyanti. Matanya basah. "Ini semua karena aku. Semua ini karena aku."
"Jangan salahkan dirimu, Kang." Ariyanti meraih tangan Akang. Tangannya dingin. Tapi genggamannya erat. "Yang salah pelaku pembakaran. Yang salah orang yang menyuruh mereka. Dan itu pasti Rahmadi. Hanya dia yang punya motif."
"Aku harus lapor polisi."
"Aku ikut."
Mereka berdua berdiri. Menatap puing-puing bengkel yang masih mengepulkan asap tipis. Di kejauhan, matahari mulai terbit. Sinar keemasan jatuh di atas reruntuhan, menciptakan bayangan-bayangan yang panjang.
Rahmadi sudah melewati batas.
Dan kini, mereka tidak akan tinggal diam.
Polisi Mulai Menyelidiki
Polsek Pegandon, pukul 09.00.
Akang, Ariyanti, dan Pak Karyo (yang baru pulang dari Kendal setelah mendengar kabar) duduk di kursi-kursi kayu di ruang pelaporan. Wajah mereka lelah. Pakaian mereka masih kotor oleh debu dan abu. Bau asap masih menempel di baju mereka.
Bripka Joko, polisi senior dengan kumis tebal dan mata tajam, memimpin pemeriksaan. Bukunya terbuka. Pulpen di tangannya siap mencatat.
"Jadi, bengkel Bapak dibakar orang tidak dikenal?" tanyanya pada Pak Karyo.
"Iya, Pak." Pak Karyo mengangguk. Wajahnya muram. Matanya berkaca-kaca. "Saya yakin ini bukan kebetulan. Sebelumnya, anak buah saya, Akang, sudah diancam oleh tiga laki-laki suruhan seseorang."
Bripka Joko mengerutkan dahi. "Suruhan siapa?"
Akang yang duduk di samping Pak Karyo menjawab, "Saya curiga Rahmadi, anak H. Rahmat. Karena sebelumnya dia sudah melakukan banyak hal untuk menghancurkan saya. Fitnah selebaran. Memecat ibu saya. Sekarang bengkel ini."
"Bukti?" Bripka Joko menatap Akang.
Akang menunduk. "Belum ada, Pak. Tapi saya yakin."
Bripka Joko menghela napas. "Kita tidak bisa bekerja hanya berdasarkan keyakinan, Nak. Kita butuh bukti. Saksi mata, rekaman, atau barang bukti."
"Pak, semalam saat kebakaran, ada sepeda motor tertinggal." Pak Karyo mengingat-ingat. "Saya lihat dari kejauhan, dua motor masih parkir di depan bengkel. Mungkin milik pelaku. Tapi pagi ini sudah hilang."
"Berarti mereka kembali mengambilnya." Bripka Joko mencatat. "Atau mungkin warga sekitar yang memindahkan. Saya akan periksa."
Ia mencatat semua keterangan dengan saksama. Setiap kata. Setiap detail. Setiap petunjuk kecil.
"Kami akan selidiki, Nak." Bripka Joko menutup bukunya. "Tapi saya jujur, kasus seperti ini sulit diungkap tanpa saksi. Pembakaran biasanya dilakukan malam hari, saat sepi. Pelaku memilih waktu yang tepat. Mereka juga biasanya memakai topeng atau penutup wajah."
Akang menunduk. "Jadi tidak ada yang bisa dilakukan, Pak?"
"Kita tunggu perkembangan." Bripka Joko berdiri. "Sementara, jaga diri baik-baik. Jangan berjalan sendirian di malam hari. Laporkan segera jika ada hal yang mencurigakan."
Rahmadi Merayakan Kemenangan
Rumah Rahmadi, siang itu.
Rahmadi duduk di kursi empuknya, di ruang kerjanya yang dingin oleh AC. Di depannya, Danu berdiri dengan laporan.
"Danu, bagaimana kabarnya?" suara Rahmadi santai. Tangannya memegang gelas berisi jus jeruk segar. Diseruputnya perlahan.
"Berhasil, Tuan." Danu tersenyum. "Bengkel itu ludes terbakar. Tidak ada yang tersisa. Bahkan untuk diperbaiki pun tidak bisa. Harus dibangun dari nol."
Rahmadi tertawa lepas. Tawa yang keras, yang menggema di ruangan itu. "Bagus! Itu baru namanya pelajaran! Akang pikir dia bisa bekerja seenaknya? Pikir dia bisa bebas dari aku? Aku akan hancurkan semua tempat yang menerima dia bekerja. Aku akan pastikan tidak ada yang berani memberinya pekerjaan."
"Tapi Tuan, polisi mulai menyelidiki." Danu mengingatkan. "Mereka sudah memeriksa lokasi. Mereka juga sudah memanggil beberapa saksi."
"Ayahku punya koneksi dengan kapolsek, Danu." Rahmadi tersenyum sinis. "Saya tidak takut. Ayahku sudah mentraktir kapolsek makan di restoran mahal minggu lalu. Mereka berteman baik. Tidak akan ada yang berani menyentuh aku."
"Ada kabar lain, Tuan." Danu membuka catatannya. "Sepeda motor yang digunakan anak buah Tuan tertinggal di lokasi. Tapi sudah diamankan. Sudah dibawa ke bengkel lain untuk diubah warna dan plat nomornya."
Rahmadi menghela napas. "Ganti yang baru untuk mereka. Tapi suruh mereka lebih hati-hati. Jangan sampai ketahuan. Jangan sampai ada jejak yang mengarah ke kita."
"Baik, Tuan." Danu mencatat.
Rahmadi berdiri. Ia berjalan ke jendela. Membuka tirai lebar-lebar. Sinar matahari sore masuk, menyilaukan.
"Akang, kau pikir kau bisa melawan?" Rahmadi berbisik pada bayangannya sendiri di kaca jendela. "Kau hanya butiran debu di depanku. Aku akan injak-injak kau sampai hancur. Sampai tidak ada yang tersisa."
Ia tersenyum.
Senyum yang dingin.
Senyum yang kejam.
Senyum yang tidak pernah sampai ke matanya.
Tekad Baru Akang dan Ariyanti
Jalan Randu Gembyang, senja hari.
Akang dan Ariyanti berjalan di antara puing-puing bengkel yang hangus. Langit jingga di atas mereka seolah-olah ikut berduka. Burung-burung tidak beterbangan seperti biasa. Angin tidak berembus lembut seperti biasa.
Yang ada hanya abu. Hanya debu. Hanya sisa-sisa kehidupan yang hangus terbakar.
"Ari, aku hampir menyerah." Suara Akang pelan. Parau. Seperti orang yang baru saja selesai menangis.
"Jangan, Kang." Ariyanti meraih tangannya. "Jangan menyerah. Kalau kamu menyerah, mereka menang."
"Bayangkan, Ari." Akang menatap puing-puing di depannya. "Ibuku dipecat. Aku difitnah sebagai pencuri. Sekarang bengkel yang memberi aku harapan, yang memberi aku pekerjaan, yang memberi aku kesempatan untuk membantu ibuku, hangus terbakar. Apa selanjutnya? Rumahku? Ibuku? Kamu?"
Ariyanti tidak menjawab. Ia hanya menggenggam tangan Akang lebih erat.
"Kang, aku takut juga." Suaranya bergetar. "Aku takut setiap hari. Aku takut setiap kali aku berjalan sendirian. Aku takut setiap kali aku melihat mobil hitam melintas di dekat rumahku. Tapi kalau kita menyerah, Rahmadi menang. Dan aku tidak akan pernah bisa menerima itu."
"Apa yang bisa kita lakukan, Ari?" Akang menatap Ariyanti. Matanya kosong. Tidak ada binar di sana.
"Kita kumpulkan bukti." Ariyanti menatap balik. Matanya menyala. "Kita cari saksi. Kita laporkan ke polisi. Kita bicara pada Pak Lurah. Kita bicara pada guru-guru. Kita bicara pada semua orang yang mau mendengar. Kita tidak sendirian, Kang. Kita tidak sendirian."
Akang menatap Ariyanti.
Di mata gadis itu, ia melihat api. Bukan api yang membakar bengkelnya. Tapi api yang berbeda. Api yang lebih besar. Api yang lebih terang. Api yang tidak bisa dipadamkan oleh angin.
Api perjuangan.
Api kebenaran.
Api cinta.
"Ari, kenapa kamu begitu kuat?" suara Akang nyaris berbisik.
Ariyanti tersenyum. "Karena aku punya kamu, Kang. Karena aku punya seseorang yang pantas aku perjuangkan. Karena aku punya alasan untuk tidak menyerah. Dan aku tidak akan pernah membiarkan siapa pun menghancurkan orang yang aku cintai."
Mereka berpelukan di bawah pohon randu tertua.
Api memang bisa membakar bengkel.
Api bisa menghanguskan kayu.
Api bisa melelehkan besi.
Tapi api tidak bisa membakar semangat.
Api tidak bisa menghanguskan tekad.
Api tidak bisa melelehkan cinta.
Satu bengkel hancur.
Tapi ribuan tekad lahir dari abunya.
Dan dari puing-puing yang hangus itu, dari debu dan abu yang beterbangan, dari sisa-sisa keputusasaan yang hampir mengalahkan, Akang dan Ariyanti berdiri.
Bersama.
Tidak menyerah.
Tidak akan pernah menyerah.
BAB 12
TUDUHAN PALSU
Akang dituduh sebagai dalang perusakan bengkel milik teman Rahmadi. Polisi datang ke rumahnya di Cegunan.
Tegorejo, pertengahan September 1997. Seminggu setelah bengkel Pak Karyo terbakar.
Kebakaran bengkel las di Jalan Randu Gembyang masih menjadi buah bibir hangat di seluruh penjuru desa. Di warung kopi, di pasar, di musholla, di balai desa, di mana pun warga berkumpul, topik pembicaraan selalu sama. Siapa yang membakar? Mengapa dibakar? Apakah ada hubungannya dengan Akang, pemuda miskin dari Cegunan yang beberapa waktu lalu difitnah sebagai pencuri?
Namun, kabar yang lebih mengejutkan datang dua hari kemudian. Sebuah bengkel lain, milik Samsul, seorang pengusaha bengkel yang dikenal dekat dengan keluarga Rahmadi, juga dilaporkan rusak parah. Bukan terbakar seperti bengkel Pak Karyo, tapi dirusak. Peralatannya berserakan di lantai, dindingnya jebol di beberapa bagian, dan barang-barang berharga raib. Sebuah aksi yang tampak seperti perampokan, tapi terlalu terencana untuk disebut perampokan biasa.
Dan yang lebih mengerikan, Akang Supriyadi dituduh sebagai dalangnya.
Selebaran baru kembali tersebar semalam. Bukan lagi tentang fitnah pencurian sepeda motor yang mudah dibantah. Tapi tuduhan yang lebih berat, yang lebih sulit dihapus, yang lebih menghancurkan. Perusakan, pencurian dengan pemberatan, konspirasi kriminal. Kata-kata berat yang membuat siapa pun yang mendengarnya bergidik.
"Akang Supriyadi, dalang perusakan bengkel milik Samsul. Bersama komplotannya, ia merusak dan mencuri puluhan juta rupiah. Warga diminta waspada dan segera melapor jika melihat yang bersangkutan."
Tidak ada nama. Tidak ada tanda tangan. Tidak ada sumber.
Tapi itu sudah cukup.
Polisi pun bergerak. Suatu pagi yang dingin, ketika kabut masih menyelimuti sawah-sawah dan embun masih membasahi rumput di pinggir jalan, sebuah mobil patroli warna putih melaju pelan memasuki Dusun Cegunan. Lampu rotatornya tidak menyala, sirinenya tidak berbunyi, tapi kehadirannya sudah cukup untuk membawa ketakutan yang belum pernah dirasakan warga dusun itu sebelumnya.
Anak-anak berlarian ke dalam rumah. Ibu-ibu mengintip dari balik pintu anyaman bambu. Bapak-bapak berhenti mengangkat cangkul di sawah, menatap mobil itu dengan mata penuh tanda tanya.
Mobil polisi berhenti tepat di depan rumah Akang.
Dan dunia Akang, yang sudah goyah, runtuh seketika.
Pagi yang Mencekam di Dusun Cegunan
Pukul 06.15. Rumah Akang.
Akang baru saja selesai salat subuh. Sajadah pandan yang sudah usang masih terhampar di lantai tanah. Ia baru saja selesai berdoa, memohon kepada Allah agar diberikan kekuatan, agar diberikan jalan keluar, agar ibunya yang sakit-sakitan dan difitnah sebagai pencuri, serta bengkel Pak Karyo yang terbakar, semuanya bisa berlalu.
Ia berdiri, melipat sajadah, lalu berjalan ke dapur membantu ibunya membereskan peralatan jualan gorengan. Ibu Akang masih terlihat lemas. Semalam ia tidak tidur nyenyak. Matanya sembab, tangannya gemetar saat mengambil minyak goreng dari botol bekas.
"Bu, saya saja yang menyiapkan," kata Akang. "Ibu istirahat."
"Tidak, Kang. Ibu tidak apa-apa."
Mereka bekerja dalam diam. Hanya suara minyak yang mulai dipanaskan dan suara ayam berkokok di kejauhan yang terdengar.
Tiba-tiba, suara motor terdengar dari luar. Bukan satu atau dua motor. Tapi banyak. Suara knalpot yang bervariasi, dari yang halus hingga yang berisik. Suara yang tidak biasa di pagi buta seperti ini.
"Ibu, ada tamu," kata Akang polos. Ia mengira mungkin rombongan pengajian atau tetangga yang butuh bantuan.
Ia keluar rumah. Langkahnya ringan, tidak curiga.
Di depan pagar anyaman bambu yang sudah reot, berdiri dua orang polisi berseragam lengkap. Pakaian coklat khaki mereka rapi, sepatu pantofel hitam mengkilap, topi pet di kepala. Di belakang mereka, sebuah mobil hitam terparkir, dan di balik kacanya, sesosok bayangan tersenyum.
Danu. Asisten Rahmadi. Wajahnya tidak bisa disembunyikan meskipun dari balik kaca film gelap. Senyum sinisnya terlihat jelas.
Akang membeku. Jantungnya berdebar lebih cepat. Tangan yang sedari tadi santai di saku celana, kini mengepal.
"Selamat pagi. Apakah ini rumah saudara Akang Supriyadi?" tanya seorang polisi. Suaranya tegas, formal, tidak ada nada ramah di dalamnya. Hanya formalitas. Hanya tugas.
"Saya Akang." Suara Akang pelan, berusaha tenang. "Ada yang bisa dibantu, Pak?"
Polisi itu membuka buku catatan dari saku dadanya. Gerakannya lambat, sengaja, seperti orang yang ingin membuat efek dramatis. "Kami dari Polsek Pegandon. Saudara dilaporkan terlibat dalam kasus perusakan dan pencurian di bengkel milik Samsul, warga Jalan Raya Pegandon, dua hari lalu. Kami minta saudara ikut ke kantor polisi untuk dimintai keterangan."
Akang membeku. Seluruh tubuhnya terasa kaku. Perusakan? Pencurian? Aku?
"Pak, saya tidak melakukan apa-apa." Suara Akang naik sedikit, tidak bisa disembunyikan lagi keterkejutannya. "Saya bahkan tidak tahu bengkel Samsul di mana. Saya tidak pernah ke sana. Saya tidak kenal Samsul."
"Itu nanti dibuktikan, Nak." Polisi itu tidak bergeming. Wajahnya datar, tidak menunjukkan simpati atau antipati. Hanya tugas. "Sekarang ikut kami."
Ibu Akang yang mendengar suara ribut keluar rumah. Tangannya masih memegang centok kayu. Wajahnya pucat begitu melihat polisi.
"Kang... ada apa?" suaranya gemetar, nyaris pecah.
"Tenang, Bu." Akang berusaha tersenyum, tapi senyumnya pahit. "Tidak ada apa-apa. Saya hanya dimintai keterangan. Sebentar lagi saya pulang."
"Tapi... tapi..."
Polisi yang lebih tua, mungkin kepala regu, bersuara. "Ibu tenang saja. Kami hanya meminta keterangan. Belum ada penetapan tersangka. Belum ada bukti yang cukup. Ibu tidak perlu khawatir."
Tapi Ibu Akang tetap khawatir. Matanya tidak berhenti menatap anaknya. Tangannya tidak berhenti gemetar.
Mobil polisi itu hanya muat untuk dua orang. Jadi Akang dibonceng motor oleh polisi yang lebih muda, yang sejak tadi diam. Motor polisi berwarna putih biru itu menyala, suaranya meraung.
Akang naik ke belakang. Tangannya memegang bahu polisi itu.
Ia menoleh ke belakang. Melihat ibunya yang berdiri di depan rumah. Ibu berdiri di tengah pintu, tubuhnya kecil di antara anyaman bambu yang reot. Tangannya mengenggam ujung sarung, mengelusnya berulang-ulang, seperti orang yang sedang berdoa.
"Ya Allah, lindungi anakku," bisik Ibu Akang, nyaris tidak terdengar.
Mobil polisi melaju. Motor polisi mengikuti.
Ibu Akang hanya bisa berdiri di depan rumahnya, menangis, sambil menggenggam ujung sarungnya yang basah oleh air mata.
Di kejauhan, para tetangga mulai berkerumun di pinggir jalan. Mereka berbisik-bisik, saling bertanya, saling bergosip. Tidak ada yang mendekat. Tidak ada yang menawarkan bantuan. Hanya ada rasa ingin tahu. Hanya ada gosip. Hanya ada kepuasan melihat orang lain jatuh.
"Akang dibawa polisi!" bisik seorang tetangga.
"Katanya dia dalang perusakan bengkel Samsul."
"Astaga, masa sih? Anak itu kelihatan pendiam."
"Pendiam tapi jahat. Banyak juga. Hati-hati."
Mereka tidak tahu. Mereka tidak mau tahu. Mereka hanya ingin bergosip.
Akang di Kantor Polisi
Polsek Pegandon, pukul 07.30.
Akang duduk di kursi kayu di ruang penyidikan yang dingin. Dindingnya dicat putih kusam. Di beberapa sudut, cat sudah mengelupas, memperlihatkan plester abu-abu di bawahnya. Lantainya keramik putih, retak di beberapa bagian. Udara di ruangan ini pengap, tidak ada jendela yang terbuka, hanya satu kipas angin di pojok yang berputar lambat, tidak cukup untuk mendinginkan ruangan.
Di depannya, dua polisi duduk di balik meja. Bripka Joko, polisi yang sudah ia kenal dari kasus fitnah selebaran sebelumnya. Wajahnya tegas, tapi matanya tidak setajam yang lain. Masih ada sedikit keramahan di sana.
Brigadir Rudi, polisi lain yang lebih muda, dengan kumis tipis yang baru mulai tumbuh. Matanya dingin, seperti orang yang sudah bosan dengan pekerjaannya, atau seperti orang yang sudah menerima uang dari seseorang untuk bersikap keras.
"Kang, saya ulangi pertanyaan." Bripka Joko membuka buku catatannya. "Di mana kamu tanggal 12 September jam 8 malam?"
Akang menarik napas. Udara di ruangan ini terasa panas di paru-parunya. "Saya di rumah, Pak. Saya tidak kemana-mana. Sepulang sekolah, saya langsung pulang. Tidak mampir ke mana pun."
"Siapa saksi?"
"Ibu saya, Pak. Tetangga mungkin ada yang lihat."
Bripka Joko menghela napas. "Kami sudah wawancara tetangga, Kang. Mereka bilang rumahmu gelap malam itu. Lampu mati. Mereka tidak yakin apakah kamu ada di rumah atau tidak."
"Tapi Pak, lampu di rumah saya memang tidak terang." Akang sedikit meninggikan suara. Bukan marah, tapi putus asa. "Listrik di Cegunan tidak stabil. Kadang mati. Kadang redup. Bukan berarti saya tidak ada di rumah."
"Kesaksian ibu, maaf, tidak terlalu kuat." Brigadir Rudi menyela. Suaranya dingin, tidak bersahabat. "Karena dianggap subjektif. Ibu akan membela anaknya. Siapa pun akan begitu."
Akang terdiam.
Dia mengerti sekarang. Ini sudah diatur. Mereka sudah menyiapkan segalanya. Saksi. Bukti. Bahkan polisi. Semuanya sudah diatur oleh Rahmadi dari balik meja makannya yang mahal.
Brigadir Rudi membuka map tebal di depannya. Kertas-kertas berserakan, foto-foto berserakan. "Kami punya bukti, Kang." Suaranya meninggi sedikit, seperti orang yang sedang membacakan vonis. "Sidik jari di lokasi kejadian yang cocok dengan sidik jari kamu."
Akang terperanjat. Seluruh tubuhnya terasa disambar petir. "Sidik jari saya? Tidak mungkin, Pak! Saya tidak pernah ke bengkel itu! Saya bahkan tidak tahu alamatnya!"
"Laboratorium sudah memeriksa, Kang." Brigadir Rudi tidak bergeming. "Cocok. Persentase kemiripan 95 persen. Itu angka yang sangat tinggi."
"Pasti palsu!" Akang hampir berteriak. Tangannya yang diborgol gemetar hebat. "Sidik jari bisa dipalsukan! Itu sudah diketahui! Di koran sering ada berita tentang sidik jari palsu!"
Bripka Joko menghela napas. Ia menatap Akang, lalu menatap Brigadir Rudi, lalu kembali ke Akang.
"Kang, saya pribadi tahu kamu mungkin korban fitnah." Suaranya melembut, hampir seperti ayah yang sedang menasihati anaknya. "Tapi bukti sementara mengarah padamu. Kamu harus bisa membuktikan sebaliknya. Kamu harus punya alibi yang kuat. Kamu harus punya saksi yang tidak bisa dibantah."
"Apa yang harus saya lakukan, Pak?" Suara Akang pelan, lelah. Matanya sayu.
"Carilah alibi yang kuat, Kang." Bripka Joko menutup bukunya. "Siapa pun yang bisa membuktikan bahwa kamu ada di rumah jam 8 malam tanggal 12 September. Bukan ibumu. Bukan keluarga. Orang lain. Tetangga. Guru. Siapa pun."
Akang mengangguk. "Saya akan coba, Pak."
"Kamu bisa pulang sekarang, Kang." Bripka Joko berdiri. "Tapi jangan ke mana-mana. Kami akan panggil lagi jika diperlukan."
Warga Cegunan Mulai Berbalik
Dusun Cegunan, siang itu.
Kabar bahwa Akang dibawa ke polisi menyebar cepat. Lebih cepat dari api di musim kemarau. Lebih cepat dari gosip di pasar. Dalam waktu kurang dari satu jam, seluruh dusun sudah membicarakannya.
Di warung kopi milik Pak Mardi, yang terletak di pinggir jalan utama dusun, para bapak-bapak duduk di kursi bambu sambil memegang cangkir kopi pahit. Rokok kretek menyala di tangan masing-masing, asapnya membubung ke langit-langit yang hitam oleh jelaga.
"Anak Supriyadi itu akhirnya ketahuan juga," kata Pak RW, yang baru saja datang dengan sepeda motornya. Wajahnya merah, mungkin karena panas, mungkin karena malu.
"Saya sudah bilang, Pak." Pak RT menggeleng-gelengkan kepala. "Anak pencuri ya jadi pencuri. Bawaan dari bapaknya. Bapaknya tentara desersi, anaknya pencuri. Apel jatuh tidak jauh dari pohonnya."
"Tapi jangan-jangan dia difitnah, Pak?" Pak Karto, yang sudah kenal Akang sejak kecil, berani bersuara. "Saya lihat anak itu baik-baik. Sering bantu saya di sawah. Tidak minta imbalan."
"Ah, Pak Karto, kamu terlalu baik." Pak RW mengangkat bahu. "Penjahat kan tidak kelihatan dari luarnya. Yang kelihatan baik, bisa jadi jahat. Yang kelihatan jahat, bisa jadi baik. Kita tidak pernah tahu."
"Kasihan ibunya." Pak Karto menghela napas. "Sendirian lagi. Suaminya hilang. Anaknya di penjara. Siapa yang akan merawatnya?"
"Ibunya juga harus bertanggung jawab." Suara Pak RT tajam. "Orang tua yang tidak bisa mendidik anak. Makanya anaknya jadi penjahat."
"Ya, ya, kita jangan ikut campur terlalu dalam." Pak RW mengangkat tangannya. "Biar polisi yang menangani. Kita hanya warga biasa."
Mereka mengangguk-angguk. Setuju. Tapi di dalam hati, masing-masing sudah punya pendapat sendiri. Dan pendapat itu, bagi sebagian besar, sudah menghakimi Akang bersalah.
Di pasar Pegandon, para ibu-ibu juga tidak ketinggalan.
"Nak, beli bawangnya lima ribu ya... Bu, dengar kabar? Akang, anak Cegunan yang dekat sama Ariyanti, dibawa polisi." Bu RT yang sedang memilih cabai merah berbisik pada Bu Darmi.
"Astaga, kenapa?" Bu Darmi menghentikan tangannya.
"Katanya merusak bengkel Samsul. Yang bengkel di pinggir jalan raya itu, lho." Bu RT matanya berbinar-binar, menikmati drama.
"Masa sih? Anak itu kelihatan pendiam."
"Pendiam tapi jahat. Banyak juga."
"Kasihan Ariyanti. Dekat sama penjahat."
"Ibu Ariyanti pasti malu. Anaknya pacaran dengan penjahat."
"Ya sudah, Bu. Jangan ikut campur. Urusan mereka."
Tapi di balik ucapan "jangan ikut campur", mata mereka tetap melirik. Telinga mereka tetap mendengar. Mulut mereka tetap bergosip.
Ibu Akang mendengar semua bisikan itu saat ia berjalan ke warung untuk membeli beras. Setiap langkah terasa berat. Setiap bisikan terasa seperti tamparan. Setiap tatapan curiga terasa seperti tusukan.
Ia tidak membalas. Ia tidak punya energi untuk membalas. Ia hanya berdoa dalam hati, berjalan cepat, membeli beras seperlunya, lalu pulang.
Sampai di rumah, ia langsung bersimpuh di sajadah. Sajadah pandan yang sudah usang, yang sudah ia gunakan sejak menikah. Ia tidak menggantinya karena tidak punya uang. Tapi sajadah itu sudah cukup. Sajadah itu sudah menjadi saksi bisu setiap doa yang ia panjatkan selama bertahun-tahun.
"Ya Allah." Suaranya bergetar, tangisnya tertahan. "Engkau tahu anakku tidak bersalah. Engkau tahu dia hanya korban. Engkau tahu dia tidak pernah mencuri, tidak pernah merusak, tidak pernah menyakiti siapa pun. Tolonglah kami. Beri kami jalan keluar. Beri kami keadilan."
Ia sujud. Dahimya menyentuh lantai tanah yang dingin.
Lima belas menit kemudian, pintu anyaman bambu terbuka.
Ariyanti.
"Bu, Akang di mana?" suara Ariyanti panik. Matanya merah, sepertinya juga habis menangis. "Saya dengar dia dibawa polisi."
Ibu Akang mengangkat kepalanya. Wajahnya basah oleh air mata.
"Iya, Yan ." Suaranya parau. "Mereka bilang Akang merusak bengkel Samsul. Mereka bilang ada sidik jari Akang di lokasi."
"Aku tahu itu fitnah." Ariyanti menggigit bibirnya. Tangannya mengepal. "Pasti Rahmadi. Hanya dia yang punya motif. Hanya dia yang bisa memalsukan sidik jari."
"Apa yang bisa kita lakukan, Yan ?" Ibu Akang menatap Ariyanti dengan mata penuh harap. "Kita hanya orang miskin. Tidak punya uang. Tidak punya pengacara. Tidak punya koneksi."
"Kita cari saksi, Bu." Ariyanti meraih tangan Ibu Akang. Tangannya hangat. "Saya akan cari siapa pun yang melihat Akang di rumah saat kejadian. Saya tidak akan berhenti sampai saya menemukannya."
Ariyanti Mencari Saksi
Dusun Cegunan, siang hingga sore.
Ariyanti berkeliling Dusun Cegunan. Sendirian. Tanpa kenal takut. Setiap rumah ia datangi, setiap pintu ia ketuk, setiap warga ia tanya dengan sopan.
"Maaf, Bu. Maaf, Pak. Apakah Bapak atau Ibu melihat Akang di rumahnya pada tanggal 12 September jam 8 malam?"
Jawabannya hampir selalu sama.
Dari rumah pertama, seorang ibu-ibu paruh baya yang sedang menjemur pakaian di halaman menggeleng. "Lupa, Nak. Saya sudah tua. Ingatan saya sudah tidak bagus."
Dari rumah kedua, seorang bapak-bapak yang sedang memperbaiki pagar bambu yang reot menggeleng. "Waktu itu malam, Nak. Saya sudah tidur. Saya tidak tahu."
Dari rumah ketiga, seorang remaja yang sedang bermain dengan adiknya menjawab dengan curiga. "Kamu kan pacarnya? Masak kamu nggak tahu dia pencuri?"
Ariyanti tersentak. Dadanya sakit. Tapi ia tidak marah.
"Dia bukan pencuri, Mas. Itu fitnah." Suaranya tegas, tidak bergetar.
"Ya sudah. Terserah kamu." Remaja itu mengangkat bahu, lalu masuk ke rumah, meninggalkan Ariyanti sendirian di depan pintu.
Dari rumah keempat, kelima, keenam, hingga kesepuluh, jawabannya sama. Tidak tahu. Lupa. Tidak ingat.
Ariyanti hampir menangis. Matanya sudah basah. Kakinya terasa seperti terbuat dari kapas. Tapi ia tidak menyerah. Ia terus berjalan ke ujung dusun, ke rumah yang paling terpencil, di belakang perkebunan pisang.
Rumah Mbah Putri.
Mbah Putri adalah seorang nenek tua berusia 70 tahun. Tubuhnya sudah bungkuk, matanya sudah kabur, telinganya sudah kurang mendengar. Rumahnya sederhana, terbuat dari anyaman bambu dan atap rumbia. Di halaman depan, beberapa ekor ayam kampung berkeliaran mencari makan.
Ariyanti mengetuk pintu.
"Permisi, Mbah. Ariyanti."
Mbah Putri keluar dari rumah. Wajahnya keriput, rambutnya putih semua. Matanya menyipit, mencoba mengenali siapa yang datang.
"O, Ariyanti. Anaknya Siti Aminah? Masuk, Nak."
"Maaf, Mbah. Saya hanya mau bertanya." Ariyanti duduk di kursi bambu yang disodorkan Mbah Putri. "Apakah Mbah melihat Akang di rumahnya pada tanggal 12 September jam 8 malam?"
Mbah Putri mengernyit. Matanya yang kabur menatap ke kejauhan, seperti sedang mencoba mengingat.
"Coba... tunggu ya." Suaranya pelan, seperti bisikan. "Saya ingat, malam itu saya sakit. Pusing. Saya duduk di teras sambil minum jahe. Rumah Akang kelihatan dari sini, kan? Lumayan jauh, tapi kelihatan."
Mbah Putri berhenti sebentar.
"Lampu rumahnya menyala. Tidak terang-terang amat, tapi cukup untuk melihat bayangan. Saya lihat bayangan dua orang: Ibu Akang dan Akang sendiri. Mereka duduk di teras. Saya ingat karena saya iri. Saya sendirian, tidak punya anak."
Ariyanti tercekat. Matanya berkaca-kaca.
"Nenek yakin, Mbah?" suaranya bergetar.
"Mbah Putri tersenyum. Senyum yang membuat kerutan di wajahnya semakin dalam. "Saya mungkin sudah tua, Nak. Mata saya masih sehat. Ini masih bisa melihat. Itu hari Selasa malam. Saya ingat karena besoknya saya ke puskesmas. Perut saya sakit. Dokter bilang maag."
Ariyanti tidak bisa menahan air matanya lagi. Ia menangis.
"Nenek, Mbah." Suaranya tersendat. "Maukah Nenek menjadi saksi di polisi? Akang dituduh merusak bengkel. Polisi punya bukti palsu. Mbah adalah satu-satunya yang melihat."
Mbah Putri terdiam. Matanya menatap Ariyanti. Matanya yang tua, keriput, tapi masih jernih.
"Nak, saya hanya nenek tua." Suaranya pelan. "Saya tidak sekolah. Saya tidak bisa baca tulis. Polisi pasti nggak percaya."
"Nenek tidak perlu baca tulis, Mbah." Ariyanti meraih tangan Mbah Putri. Tangannya keriput, kasar, tapi hangat. "Nenek hanya perlu mengatakan yang sebenarnya. Nenek hanya perlu bersumpah. Itu sudah cukup. Tolong, Mbah. Akang tidak bersalah. Dia difitnah orang jahat. Jika tidak ada yang membelanya, dia bisa masuk penjara. Dia masih muda. Dia punya mimpi."
Mbah Putri menghela napas. Panjang. Berat.
"Baiklah, Nak." Mbah Putri mengangguk. "Demi kebenaran, saya mau. Saya sudah tua. Saya tidak takut mati. Saya sudah lihat pendudukan Jepang, perang kemerdekaan, pemberontakan PRRI. Preman-preman itu tidak akan membuat saya takut."
Ariyanti memeluk Mbah Putri.
"Terima kasih, Mbah. Nenek pahlawan."
"Bukan pahlawan, Nak." Mbah Putri mengelus kepala Ariyanti. "Hanya saksi. Hanya orang tua yang ingin kebenaran tidak mati."
Rahmadi Mengintai
Dusun Cegunan, sore hari.
Rahmadi datang ke Dusun Cegunan dengan mobil hitamnya. Ia ingin melihat langsung penderitaan Akang. Ia ingin melihat raut wajah putus asa, mata sembab, bahu menunduk. Ia ingin menikmati kemenangannya.
Tapi yang ia lihat justru Ariyanti sedang berjalan meninggalkan rumah Mbah Putri. Wajah Ariyanti tidak putus asa. Matanya tidak sembab. Bahunya tidak menunduk. Ia berjalan dengan tegap, seperti orang yang baru saja menemukan harta karun.
"Danu, ke mana Ariyanti?" Rahmadi mengerutkan dahi.
"Sepertinya baru saja dari rumah nenek tua di ujung dusun, Tuan." Danu menatap ke arah rumah Mbah Putri. "Namanya Mbah Putri. Janda. Tidak punya anak."
"Curiga." Rahmadi menghela napas. "Selidiki. Aku tidak mau ada saksi yang bisa membebaskan Akang. Cari tahu apa yang mereka bicarakan. Cari tahu apakah nenek itu melihat sesuatu."
"Baik, Tuan."
Rahmadi turun dari mobil. Ia berjalan mendekati Ariyanti.
"Ariyanti."
Ariyanti menoleh. Wajahnya langsung berubah dingin. Matanya tajam.
"Rahmadi." Suaranya dingin. "Kau datang untuk melihat penderitaan Akang? Untuk menikmati apa yang kau lakukan?"
"Aku datang untuk memastikan keadilan tegak, Ariyanti." Rahmadi tersenyum. Senyum yang manis, yang meyakinkan, yang membuat banyak orang terpesona. Tapi tidak Ariyanti.
"Keadilan?" Ariyanti tertawa pahit. "Atau kezaliman yang kau kemas dengan kata-kata indah? Kau menyuruh polisi menangkap Akang dengan bukti palsu. Kau menyuruh premanmu mengancam saksi. Kau menyuruh ayahmu memecat ibu Akang. Itu keadilan?"
"Ariyanti, kenapa susah-susah membela laki-laki pencuri itu?" Rahmadi tidak terpancing. Suaranya tetap tenang. "Dia hanya memanfaatkanmu. Dia hanya ingin dekat denganmu karena kamu cantik. Setelah dia mendapatkan apa yang dia mau, dia akan meninggalkanmu."
"Kau tidak kenal Akang." Ariyanti menatap Rahmadi lurus. "Kau tidak tahu apa-apa tentang dia. Kau hanya melihat dia sebagai penghalang. Kau hanya ingin menyingkirkannya."
"Aku hanya tahu bukti, Ariyanti." Rahmadi mengangkat bahu. "Dan bukti mengatakan dia bersalah."
"Bukti palsu, maksudmu." Ariyanti tidak bergeming.
Rahmadi mendekat. Terlalu dekat. Hanya beberapa sentimeter dari wajah Ariyanti.
"Ariyanti, kau bisa selamatkan Akang." Suaranya berbisik, seperti orang yang sedang membagikan rahasia. "Dengan satu syarat."
Ariyanti mundur selangkah. Dadanya berdebar, tapi ia berusaha tenang. "Syarat apa?"
"Terima lamaranku." Rahmadi tersenyum. "Jadi tunanganku. Aku akan tarik laporan polisi. Aku akan bebaskan Akang. Aku akan kasih ibunya pekerjaan lagi. Aku akan bayar semua biaya pengobatannya."
Ariyanti tertawa. Tertawa pahit.
"Kau pikir aku akan menjual harga diriku hanya untuk membebaskan Akang?" Suaranya meninggi. "Kau pikir aku akan mengkhianati cintaku hanya karena uang dan kekuasaan? Kau keliru, Rahmadi. Aku akan membebaskan Akang dengan kebenaran. Bukan dengan pengkhianatan."
"Kau bodoh, Ariyanti."
"Mungkin. Tapi aku lebih baik mati bodoh daripada hidup sebagai budakmu."
Rahmadi tersenyum lagi. "Aku tunggu jawabanmu."
Ia berbalik pergi.
Ariyanti gemetar. Tapi ia tidak menangis. Ia tidak akan memberi Rahmadi kepuasan melihatnya lemah.
Ibu Akang Jatuh Sakit
Rumah Akang, malam itu.
Tekanan psikologis yang luar biasa, fitnah yang terus menerus, ketakutan akan masa depan anaknya, semua itu akhirnya meruntuhkan Ibu Akang. Badannya panas. Suhu tubuhnya naik hingga hampir 40 derajat. Kepalanya pusing. Ia hanya terbaring lemas di kasur, selimut tipis menutupi tubuhnya yang menggigil.
Ariyanti yang masih di dusun itu segera membantu. Ia memasak bubur di dapur darurat yang hanya menggunakan tungku kayu bakar. Ia menyeduh jahe dengan madu, berharap bisa menurunkan panas. Ia memijat pelipis Ibu Akang dengan lembut, dengan tangan yang gemetar.
"Bu, jangan sakit." Suara Ariyanti bergetar. "Akang butuh Ibu. Kami semua butuh Ibu."
"Ibu tidak kenapa-kenapa, Yan ." Suara Ibu Akang lirih, parau. "Ibu hanya... lelah. Lelah dengan semua ini. Lelah dengan fitnah. Lelah dengan ketidakadilan."
"Bu, aku sudah nemuin saksi." Ariyanti meraih tangan Ibu Akang. Tangannya panas. "Mbah Putri. Dia melihat Akang di rumah malam kejadian. Dia bersedia menjadi saksi di polisi."
Ibu Akang membuka matanya. Matanya yang sayu, yang merah, yang basah oleh air mata.
"Benarkah, Yan ?"
"Benar, Bu." Ariyanti mengangguk. "Besok pagi kita akan temui pengacara di Kendal. Bu Sumi sudah mengatur semuanya. Pengacaranya teman lama Bu Sumi. Pro bono. Tidak bayar."
"Ada pengacara yang mau bantu kita?" Ibu Akang hampir tidak percaya. "Kita kan miskin. Tidak punya uang untuk membayar pengacara."
"Bu Sumi bilang, Pak Bambang itu pengacara yang baik, Bu." Ariyanti tersenyum. "Dia suka membantu orang miskin yang terzalimi. Ini bukan pertama kalinya dia menangani kasus seperti ini."
Ibu Akang menangis. Tangis haru. Tangis lega.
"Terima kasih, Yan ." Suaranya tersendat. "Ibu tidak tahu harus membalas kebaikanmu. Ibu tidak punya apa-apa untuk membalas."
"Bu, Akang orang baik." Ariyanti menggenggam tangan Ibu Akang lebih erat. "Orang baik harus dibela. Orang baik tidak boleh dikalahkan oleh orang jahat. Itu sudah cukup balasannya."
Mbah Putri Diancam
Keesokan paginya. Rumah Mbah Putri.
Sebelum Ariyanti sempat menjemput Mbah Putri ke pengacara, sang nenek sudah diteror oleh orang tak dikenal. Tengah malam, sekitar jam satu, dua orang laki-laki datang ke rumahnya. Mereka mengetok pintu keras-keras, hampir merobohkan anyaman bambu yang sudah rapuh.
"Mbah!" teriak mereka. "Buka pintunya!"
Mbah Putri yang sudah tidur terbangun. Jantungnya berdebar kencang. Tapi ia tidak takut. Ia sudah terlalu tua untuk takut.
Ia membuka pintu.
Dua orang laki-laki bertubuh besar berdiri di depannya. Wajah mereka dingin. Mata mereka tajam.
"Mbah, jangan ikut campur urusan ini." Suara salah satu dari mereka berat, mengancam. "Ini bukan urusan Mbah. Ini urusan orang kaya. Mbah hanya orang miskin. Nanti Mbah celaka."
Mbah Putri yang sudah berusia 70 tahun itu tidak gentar. Matanya yang keriput menatap laki-laki itu tanpa berkedip.
"Saya sudah tua, Nak." Suaranya tenang. "Saya sudah dekat dengan kematian. Saya tidak takut mati. Tapi saya takut pada Allah. Saya takut berdusta. Saya tidak bisa berdusta hanya karena disuruh preman seperti kalian."
Laki-laki itu terdiam. Tidak menyangka mendapat jawaban seberani itu.
"Pikirkan lagi, Mbah." Suaranya melembut sedikit, tapi masih mengancam. "Mbah tidak punya siapa-siapa. Tidak punya anak. Tidak punya cucu. Jika Mbah celaka, siapa yang akan mengurus pemakaman Mbah?"
"Saya sudah siap mati, Nak." Mbah Putri tersenyum. "Kapan pun. Di mana pun. Bagaimana pun. Saya tidak takut."
Laki-laki itu menghela napas. Ia melempar batu ke atap rumah Mbah Putri. Suara keras terdengar, genteng rumbia berlubang.
"Ini peringatan terakhir, Mbah."
Mereka pergi. Meninggalkan Mbah Putri sendirian di ambang pintu.
Ketika Ariyanti datang, Mbah Putri sudah siap. Ia memakai pakaian terbaiknya. Kain batik coklat tua yang hanya ia pakai saat kondangan. Kebaya putih yang sudah menguning di ketiak. Rambutnya disisir rapi.
"Nek, ada apa ini?" Ariyanti terkejut melihat atap rumah yang berlubang. "Ada yang rusak?"
"Ada tamu semalam, Nak." Mbah Putri tersenyum. "Yang menyuruh saya diam. Yang mengancam akan mencelakakan saya."
"Nek, tidak usah ikut." Ariyanti menarik tangan Mbah Putri. "Nanti Nek kenapa-kenapa. Saya tidak tega."
"Kamu pikir saya takut, Nak?" Mbah Putri menepuk tangan Ariyanti. "Saya sudah 70 tahun, Nak. Saya masih kecil waktu Jepang datang. Saya lihat penderitaan. Saya lihat kematian. Saya lihat orang-orang dibantai di depan mata saya. Saya tidak takut pada preman bayaran."
Tapi, Mbah...
Mbah Putri mengangkat tangannya. "Saya sudah memutuskan, Nak. Saya akan menjadi saksi. Saya akan membela kebenaran. Saya tidak akan membiarkan anak muda yang tidak bersalah dipenjara karena ulah orang jahat."
Ariyanti memeluk Mbah Putri.
"Terima kasih, Mbah." Matanya basah. "Nenek pahlawan."
"Bukan pahlawan, Nak." Mbah Putri mengelus kepala Ariyanti. "Hanya saksi. Hanya nenek tua yang ingin kebenaran tidak mati sebelum ia mati."
Pertemuan dengan Pengacara
Kantor Pengacara di Kendal, siang itu.
Kantor Lembaga Bantuan Hukum Kendal terletak di sebuah bangunan tua peninggalan Belanda. Dindingnya tebal, catnya putih, jendelanya besar dengan kaca-kaca tebal. Di depan pintu, terpampang plakat kayu dengan tulisan "LBH KENDAL – Melayani Masyarakat Miskin".
Bu Sumi sudah menunggu di depan kantor. Wajahnya tegang, tapi senyumnya tetap hangat.
Bersamanya, seorang laki-laki paruh baya berkacamata tebal. Kacamata bulat dengan bingkai emas, membuatnya terlihat seperti dosen universitas. Rambutnya sudah mulai beruban di pelipis, tapi matanya masih tajam.
"Selamat siang. Bu Siti, Ariyanti, dan Mbah Putri, kan?" sapanya ramah, sambil mengulurkan tangan.
"Iya, Pak." Ibu Akang menjabat tangannya. Tangannya gemetar.
"Silakan masuk."
Di dalam ruangan, Pak Bambang mempersilakan mereka duduk di kursi-kursi kayu yang mengelilingi meja panjang. Dinding ruangan dipenuhi dengan foto-foto, piagam, dan plakat. Di sudut, ada lemari kaca berisi buku-buku tebal.
Pak Bambang mendengarkan cerita Ariyanti dari awal. Dari mawar seratus tangkai. Dari penolakan. Dari fitnah selebaran. Dari pemecatan ibu Akang. Dari ancaman preman. Dari pembakaran bengkel. Dari tuduhan palsu. Dari sidik jari yang dipalsukan.
Ia mendengarkan dengan saksama. Matanya tidak berkedip. Tangannya mencatat dengan cepat. Kadang ia bertanya. Kadang ia mengangguk. Kadang ia menghela napas.
"Ini kasus klasik, Bu." Pak Bambang menutup buku catatannya. "Kriminalisasi lawan politik atau lawan cinta. Yang kuat ingin menyingkirkan yang lemah. Yang kaya ingin menghancurkan yang miskin. Yang berkuasa ingin memenjarakan yang tidak bersalah."
"Apakah Akang bisa dibebaskan, Pak?" Ibu Akang bertanya dengan suara bergetar.
"Bisa, Bu." Pak Bambang mengangguk. "Untungnya, kita punya saksi. Mbah Putri."
Mbah Putri yang dari tadi diam, mengangguk. "Saya siap bersumpah di pengadilan, Pak. Saya siap mengatakan yang sebenarnya."
"Bagus." Pak Bambang tersenyum. "Saya akan membuat surat gugatan praperadilan untuk menuntut keabsahan penangkapan Akang. Juga akan lapor balik ke polisi tentang fitnah dan pemerasan yang dilakukan Rahmadi."
"Apakah kita akan menang, Pak?" Ariyanti bertanya.
"Keadilan tidak selalu menang, Nak." Pak Bambang menghela napas. "Tapi kita akan berusaha. Kita akan berjuang. Karena jika kita tidak berjuang, keadilan pasti kalah."
Ariyanti hampir menangis.
"Terima kasih, Pak." Suaranya bergetar. "Kami tidak tahu harus membalas kebaikan Bapak."
"Balas dengan menjadi orang sukses, Nak." Pak Bambang menepuk bahu Ariyanti. "Itu balasan terbaik. Buktikan bahwa orang miskin tidak kalah oleh orang kaya. Buktikan bahwa kebenaran tidak mati oleh kekuasaan."
Rahmadi Gelisah
Rumah Rahmadi, sore itu.
Rahmadi duduk di kursi empuknya, di ruang kerjanya yang dingin oleh AC. Wajahnya tidak tenang. Matanya gelisah. Tangannya memainkan pulpen, memutarnya di antara jari-jari.
"Danu, apa yang terjadi?" Rahmadi meninggikan suara. "Kenapa tiba-tiba ada pengacara LBH yang turun? Siapa yang memanggil mereka?"
"Sepertinya Bu Sumi, Tuan." Danu berdiri di sampingnya, tegap, tapi ada gugup di matanya. "Bu Sumi yang menghubungi LBH. Bu Sumi yang meminta mereka turun tangan. Bu Sumi yang menjadi otak di balik semua ini."
"Bu Sumi." Rahmadi menyebut nama itu dengan penuh kebencian. "Lagi-lagi Bu Sumi. Wanita tua itu sudah terlalu banyak ikut campur. Seharusnya dia sudah pensiun. Seharusnya dia diam di rumah, merawat cucu, tidak ikut campur urusan orang lain."
"Apa yang harus kita lakukan, Tuan?" Danu bertanya.
"Kita punya bukti sidik jari." Rahmadi mengepalkan tangannya. "Biarkan polisi bekerja. Pengacara kampungan dari LBH tidak akan bisa mengalahkan kita. Mereka tidak punya uang. Tidak punya koneksi. Tidak punya pengalaman."
"Tapi saksi, Tuan."
Rahmadi menghela napas. "Urus saksi itu. Beri dia uang. Lima puluh juta. Seratus juta. Berapa pun. Tawari dia. Suruh dia diam. Suruh dia mengaku tidak melihat apa-apa."
"Dan jika dia menolak, Tuan?"
Rahmadi berdiri. Ia berjalan ke jendela. Membuka tirai. Sinar matahari sore masuk, menyilaukan.
"Ancam dia, Danu." Suaranya dingin. "Ancam keluarganya. Ancam tetangganya. Setiap orang punya titik lemah. Cari titik lemahnya. Jika dia masih menolak, kita akan buat dia menyesal."
"Baik, Tuan."
Rahmadi berjalan mondar-mandir. Langkahnya cepat, tidak teratur.
Ini pertama kalinya ia merasa tidak nyaman.
Ada yang salah dengan rencananya.
Ada yang tidak beres.
Ada yang tidak bisa ia kendalikan.
"Bu Sumi," bisiknya. "Aku akan hancurkan kau bersama Akang. Tunggu saja."
Akang Dibebaskan
Polsek Pegandon, dua hari kemudian.
Atas dorongan LBH Kendal, bukti sidik jari yang sebelumnya dianggap kuat akhirnya dipertanyakan. Pak Bambang mengajukan keberatan dengan alasan sidik jari bisa dipalsukan dan tidak ada saksi yang melihat Akang di lokasi.
Polisi akhirnya mengakui bahwa bukti sidik jari tidak cukup kuat. Apalagi dengan adanya saksi Mbah Putri yang dianggap kredibel karena tidak punya kepentingan dengan siapa pun, tidak punya hubungan keluarga dengan Akang, dan tidak punya alasan untuk berbohong.
Akang Supriyadi dibebaskan.
Pintu sel tahanan yang sempit, gelap, dan bau pesing itu terbuka. Akang keluar. Wajahnya lelah. Matanya sayu. Pakaiannya kusut. Tapi matanya, matanya masih menyala.
Ia keluar dari kantor polisi. Di depan pagar polsek, Ariyanti, Ibu Akang, Mbah Putri, Bu Sumi, dan Pak Lurah sudah menunggu.
"Kang!" teriak Ariyanti. Ia berlari kecil, lalu memeluk Akang erat-erat.
"Aku pikir aku tidak akan keluar, Ari." Suara Akang parau. "Aku pikir mereka akan menahanku lebih lama. Aku pikir..."
"Kita belum menang, Kang." Ariyanti melepaskan pelukan. Matanya merah, tapi senyumnya tetap terpasang. "Tapi setidaknya, kita belum kalah. Masih ada perjuangan panjang di depan. Tapi hari ini, kita menang."
Pak Bambang mendekat. Tangannya memegang map tebal berisi berkas-berkas.
"Kang, ini baru awal." Suaranya serius. "Kita masih harus membuktikan bahwa sidik jari itu palsu. Kita masih harus mencari tahu siapa di baliknya. Kita masih harus membawa Rahmadi ke pengadilan. Tapi setidaknya, kau bebas untuk sementara."
"Terima kasih, Pak." Akang menunduk dalam-dalam. "Saya tidak tahu harus..."
"Jangan berterima kasih, Kang." Pak Bambang tersenyum. "Buktikan bahwa kau layak dibela. Buktikan bahwa kau tidak bersalah. Buktikan bahwa kebenaran akan menang."
Mbah Putri yang dari tadi diam, berjalan mendekat. Tangannya yang keriput meraih tangan Akang.
"Nak, saya sudah tua." Suaranya pelan. "Saya sudah dekat dengan kematian. Tapi saya masih diberi kesempatan untuk melihat kebenaran menang. Jangan sia-siakan kesempatan ini. Jaga dirimu. Jaga ibumu. Jaga Ariyanti."
Akang menangis. Ia memeluk Mbah Putri.
"Terima kasih, Mbah. Saya tidak tahu harus membalas."
"Balas dengan menjadi orang baik, Nak." Mbah Putri mengelus kepala Akang. "Itu sudah cukup."
Jalan Randu Gembyang, senja itu.
Akang dan Ariyanti berjalan beriringan. Langit jingga di atas mereka. Angin berembus lembut, membawa aroma pohon randu yang khas. Burung-burung beterbangan di kejauhan, pulang ke sarang masing-masing.
"Kang, kau takut?" tanya Ariyanti.
"Aku takut, Ari." Akang menggenggam tangan Ariyanti. "Tapi aku tidak sendirian."
"Benar. Kamu tidak sendirian. Aku di sini. Bu Sumi di sini. Mbah Putri di sini. Pak Bambang di sini. Kita semua di sini."
"Aku tidak tahu bagaimana masa depanku." Akang menatap langit jingga. "Tapi aku tahu satu hal. Aku tidak akan menyerah. Aku tidak akan menyerah pada fitnah. Aku tidak akan menyerah pada Rahmadi. Aku tidak akan menyerah pada kehidupan."
Ariyanti meraih tangan Akang. Genggamannya erat. Hangat.
"Kita akan lawan mereka, Kang." Suaranya tegas. "Dengan kebenaran."
"Apa cukup?" Akang menatap Ariyanti. Matanya mencari kepastian.
"Kebenaran tidak pernah cukup dengan sendirinya, Kang." Ariyanti tersenyum. "Tapi dengan keberanian, kebenaran bisa menang. Kita sudah membuktikannya hari ini. Kita akan terus membuktikannya."
Mereka berpegangan tangan di bawah pohon randu tertua.
Tuduhan palsu telah gagal.
Akang bebas.
Tapi Rahmadi belum menyerah.
Dan pertempuran yang sesungguhnya, baru akan dimulai.
BAB 13
SAKSI BISU
Marni, sahabat Ariyanti, melihat sesuatu malam itu. Namun ia ketakutan. Rahmadi mengancam keluarganya.
Tegorejo, akhir September 1997. Seminggu setelah Akang dibebaskan dari tahanan.
Kebebasan Akang adalah kemenangan kecil. Seperti setitik cahaya di tengah gelap yang pekat. Seperti seteguk air di tengah padang pasir yang tandus. Seperti napas lega di tengah sesak yang mencekik. Tapi Ariyanti tahu, di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, bahwa pertempuran sesungguhnya belum dimenangkan. Ini baru babak pertama. Masih banyak babak yang harus dilalui. Masih banyak luka yang akan didapat. Masih banyak air mata yang akan jatuh.
Rahmadi masih bebas. Ia masih bisa tersenyum di balik meja makannya yang mahal, masih bisa memerintah Danu dan preman-preman bayarannya, masih bisa merencanakan kejahatan berikutnya. Bukti-bukti palsu masih beredar, masih menempel di pohon-pohon randu, masih berserakan di jalanan, masih menghuni pikiran warga yang mudah percaya pada fitnah.
Dan yang paling mengkhawatirkan, yang paling mendesak, yang paling menentukan bagi masa depan mereka semua, seseorang melihat sesuatu malam kebakaran bengkel Pak Karyo. Seseorang yang matanya tidak gagal menangkap detail-detail penting di tengah gelapnya malam. Seseorang yang bisa menjadi kunci untuk membongkar seluruh kejahatan yang selama ini tersembunyi di balik tirai kekayaan dan kekuasaan.
Seseorang itu adalah Marni.
Marni, sahabat dekat Ariyanti sejak SMP. Gadis sederhana dari Dusun Kersan, rumahnya tidak jauh dari rumah Ariyanti, hanya terpisah oleh tiga rumah dan sebuah kebun pisang yang rimbun. Sejak kecil, mereka sudah bersama. Bermain di sawah, belajar di perpustakaan desa yang hanya berisi beberapa buku tua, berjalan kaki ke sekolah bersama, berbagi bekal saat salah satu dari mereka tidak punya uang untuk membeli makanan di kantin.
Marni adalah gadis pendiam. Ia tidak banyak bicara, tidak suka menjadi pusat perhatian, lebih suka berada di belakang layar, membantu tanpa perlu diakui. Ia pemalu, sering menunduk saat diajak bicara oleh orang yang tidak terlalu dikenal. Tapi di balik diamnya, ia sangat setia. Sangat setia pada sahabatnya. Sangat setia pada kebenaran. Sangat setia pada apa yang ia yakini benar.
Tapi malam itu, di Jalan Randu Gembyang yang gelap, di bawah pohon-pohon randu yang bergoyang ditiup angin malam, di dekat bengkel las milik Pak Karyo, Marni melihat sesuatu yang mengubah segalanya. Bukan hanya hidupnya. Tapi hidup Ariyanti, Akang, dan semua orang yang terlibat dalam pertarungan melawan kejahatan keluarga H. Rahmat.
Ia melihat. Ia mendengar. Ia mencium bau bensin yang menyengat. Ia menyaksikan api yang membakar. Dan ia membawa pulang pengetahuan itu dalam dadanya yang ketakutan, menyembunyikannya di tempat paling rahasia, berharap tidak ada yang akan menanyakannya.
Sayangnya, Rahmadi juga tahu bahwa Marni melihat.
Dan Rahmadi, seperti yang sudah kita ketahui, tidak akan tinggal diam.
Malam Itu – Kilas Balik
Tanggal 12 September 1997, pukul 19.45.
Marni baru saja pulang dari membantu ibunya berjualan di pasar malam Jalan Raya Pegandon. Pasar malam itu hanya ada setiap hari Selasa dan Kamis, dari pukul lima sore hingga jam sembilan malam. Ibunya berjualan nasi goreng dan mie instan, dengan gerobak dorong yang sudah berkarat di beberapa bagian. Marni membantu mencuci piring, mengambilkan minuman, dan kadang melayani pembeli ketika ibunya kewalahan.
Malam itu, pasar lebih ramai dari biasanya. Mungkin karena besok hari libur. Mungkin karena banyak perantau yang pulang. Mungkin juga karena tidak ada yang istimewa, hanya kebetulan. Marni lelah. Kaki dan tangannya pegal. Tapi ia tidak mengeluh. Ia sudah terbiasa.
Ia berjalan kaki melewati Jalan Randu Gembyang. Jalan pintas menuju Dusun Kersan. Biasanya, ia tidak pernah lewat sini sendirian di malam hari. Jalan ini terkenal sepi dan gelap. Tidak ada lampu penerangan. Hanya pohon-pohon randu yang rimbun, menciptakan bayangan-bayangan tebal yang menakutkan.
Tapi malam itu, ia memilih lewat sini. Karena ia lelah. Karena kaki perempuannya sakit setelah berjongkok terlalu lama mencuci piring. Karena ia ingin cepat sampai di rumah.
Langit gelap. Tidak ada bulan. Awan tebal menutupi seluruh langit, menghalangi cahaya bintang. Hanya sesekali cahaya lampu dari rumah-rumah yang redup di kejauhan, seperti kunang-kunang yang kehilangan arah. Angin malam berhembus cukup kencang, membuat dedaunan randu bergesekan satu sama lain, menciptakan suara gemerisik yang menyeramkan.
Saat ia melewati tikungan dekat bengkel Pak Karyo, ia melihat sesuatu yang membuatnya berhenti.
Dua sepeda motor tanpa lampu terparkir di depan bengkel. Motor-motor besar, jenis trail, dengan ban kasar yang siap melibas berbagai medan. Mesinnya tidak dimatikan, masih menyala, mengeluarkan suara geraman pelan seperti singa yang mengintai mangsa.
Empat orang laki-laki berdiri di sekelilingnya. Tiga di antaranya bertubuh besar dan kekar, dengan lengan penuh tato dan wajah yang tidak ramah. Yang keempat, seorang laki-laki yang lebih kecil dari yang lain, bertubuh kurus, dengan jaket hitam dan topi baseball menutupi sebagian wajahnya. Tapi posturnya, gaya berdirinya, cara ia menggerakkan tangannya, semuanya familiar.
Rahmadi?
Marni tidak yakin. Gelap. Jaraknya agak jauh, sekitar tiga puluh meter. Tapi cahaya dari bengkel yang masih menyala sedikit menerangi area itu, cukup untuk melihat garis-garis wajah samar-samar. Cukup untuk melihat bahwa laki-laki kurus itu memiliki rahang yang tegas, alis yang tebal, dan hidung mancung.
Gelap, tapi Marni merasa tidak salah.
Ia melihat mereka membawa ember-ember kecil. Ember cat berwarna putih, bekas cat tembok, masih ada sisa-sisa cat menempel di dinding ember. Ember-ember itu tidak kosong. Dari kejauhan, Marni bisa mencium bau bensin yang menyengat. Bau yang tidak mungkin tidak ia kenali. Sejak kecil, ia sudah sering mencium bau bensin di dekat pom bensin dekat rumahnya. Bau yang tajam, menusuk hidung, membuat kepal sedikit pusing.
Mereka mau bakar bengkel itu?
Marni ketakutan. Jantungnya berdebar kencang, seperti akan melompat keluar dari dadanya. Tangannya gemetar. Kakinya terasa lemas, seperti terbuat dari kapas. Tapi ia tidak bisa berlari. Tidak bisa bergerak. Tubuhnya membeku.
Ia bersembunyi di balik pohon randu besar, pohon yang sama yang sering menjadi tempat bertemu Ariyanti dan Akang. Batangnya besar, cukup untuk menutupi tubuhnya yang kecil. Ia tidak berani bernapas. Ia menahan napas, menahan suara, berharap tidak ada yang melihatnya.
Ia melihat api menyala. Pertama kecil, hanya percikan. Lalu membesar, merambat ke tumpukan kain dan kardus. Lalu menjalar ke dinding, ke atap, ke seluruh bengkel.
Ia melihat keempat laki-laki itu kabur. Mereka berlari ke arah mobil hitam yang terparkir tidak jauh dari lokasi. Mobil itu langsung melaju cepat, lampu depannya dinyalakan setelah mobil agak jauh, seolah-olah tidak ingin menarik perhatian.
Marni terdiam lama. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Ia hanya bisa berjalan pulang dengan gemetar, dengan tubuh yang terasa lemas, dengan pikiran yang kacau, dengan dada yang sesak.
Dan ia memutuskan untuk diam.
"Aku tidak boleh bilang siapa-siapa," bisiknya dalam hati, berulang-ulang, seperti mantra. "Aku takut. Aku takut. Aku takut."
Marni yang Berubah
Beberapa hari setelah kebakaran. SMAN I Pegandon.
Ariyanti mulai menyadari ada yang tidak beres dengan sahabatnya.
Marni, yang biasanya ceria dan banyak bicara, tiba-tiba pendiam. Bukan pendiam yang biasanya, yang masih mau tersenyum jika diajak bercanda, yang masih mau mengangguk jika ditanya. Tapi pendiam yang aneh, yang menakutkan, yang membuat Ariyanti merinding.
Wajah Marni pucat. Bukan pucat seperti orang yang kurang tidur sekali dua kali. Tapi pucat seperti orang yang sudah tidak tidur berhari-hari, seperti orang yang sedang sakit parah, seperti orang yang sedang menahan beban yang terlalu berat.
Matanya sayu. Ada lingkaran hitam di bawah matanya, warna keunguan yang tidak pernah ada sebelumnya. Matanya juga merah, seperti habis menangis, atau seperti sedang menahan tangis.
"Marni, kamu sakit?" tanya Ariyanti di kantin. Ia menyentuh dahi Marni. Tidak panas. Tapi dingin. Dingin yang tidak biasa.
Marni menggeleng cepat. Terlalu cepat. "Enggak. Aku sehat."
"Kamu bohong." Ariyanti menatap Marni. Matanya tidak berkedip. "Matamu merah. Kayak kurang tidur."
"Pikirin aja." Marni membuang muka. "Banyak PR."
"Sejak kapan kamu stres PR?" Ariyanti tidak percaya. "Kamu kan pinter. Kamu selalu selesai lebih awal. PR tidak pernah jadi masalah buat kamu."
Marni tidak menjawab. Ia hanya menunduk, memainkan jari-jarinya. Jari-jarinya gemetar. Jari-jari yang biasanya lincah memegang pulpen, kini terlihat kaku dan kikuk.
"Marni, ada apa sebenarnya?" Ariyanti meraih tangan Marni. Tangannya dingin. "Kamu bisa cerita sama aku. Apa pun. Sumpah. Aku tidak akan bilang siapa-siapa."
"Tidak ada, Ari." Marni melepaskan tangannya. Gerakannya kasar, tidak seperti biasanya. "Aku hanya... lelah."
Marni berdiri dan berjalan pergi, meninggalkan Ariyanti sendirian di bangku kantin.
Ariyanti menatap punggung Marni yang semakin menjauh. Ada yang aneh. Ada yang tidak beres. Dan ia bertekad untuk mencari tahu.
Rahmadi Mencium Bau
Rumah Rahmadi, tiga hari setelah kebakaran.
Rahmadi duduk di kursi empuknya, di ruang kerjanya yang dingin oleh AC. Wajahnya tenang, tapi matanya gelisah. Tangannya memainkan pulpen mahal, memutarnya di antara jari-jari, sesekali mengetuk-ngetukkan ujungnya ke meja kayu mahoni.
"Danu, aku dengar ada saksi mata." Rahmadi tidak menatap Danu. Matanya tertuju pada jendela, pada langit di luar yang mulai gelap.
Danu yang berdiri di sampingnya mengangguk. "Iya, Tuan. Namanya Marni. Teman sekelas Ariyanti. Rumahnya di Dusun Kersan, tidak jauh dari rumah Ariyanti. Rumahnya kecil, dinding anyaman bambu, atap rumbia. Keluarganya miskin. Ayahnya buruh tani, ibunya penjual nasi goreng di pasar malam."
"Apakah dia melihat sesuatu malam itu?" Rahmadi bertanya, suaranya dingin.
"Kami belum tahu pasti, Tuan." Danu menghela napas. "Tapi kami curiga. Rumahnya tidak jauh dari lokasi. Dan ia pulang melewati Jalan Randu Gembyang malam itu, sekitar jam kejadian."
Rahmadi berhenti memainkan pulpennya. Ia menatap Danu. "Aku tidak mau ambil risiko, Danu. Temui dia. Beri dia uang. Suruh diam. Katakan bahwa tidak ada yang perlu ia ingat. Katakan bahwa ia tidak melihat apa-apa. Katakan bahwa ia sedang tidur di rumah malam itu."
"Baik, Tuan." Danu mencatat di buku kecilnya.
"Bagaimana kalau dia menolak?" Rahmadi bertanya, meskipun ia sudah tahu jawabannya.
"Ancam keluarganya, Tuan." Danu tidak ragu. "Semua orang punya titik lemah. Marni pasti punya. Ayahnya, ibunya, adik-adiknya. Jika ia tidak peduli pada dirinya sendiri, ia pasti peduli pada mereka."
Rahmadi tersenyum. "Kau selalu bisa diandalkan, Danu. Lakukan."
Kunjungan Malam yang Menakutkan
Dusun Kersan, pukul 20.30, dua hari kemudian.
Marni sedang belajar di kamarnya. Kamar sempit dengan dinding anyaman bambu, lantai tanah yang dipadatkan, dan satu lampu minyak tanah yang menerangi meja belajar dari kayu bekas. Bukunya terbuka di halaman tengah, tapi matanya tidak membaca. Pikirannya melayang ke tempat lain. Ke malam kebakaran itu. Ke api yang membakar. Ke bayangan-bayangan yang berlari. Ke mobil hitam yang melaju cepat.
Tiba-tiba, ia mendengar suara ribut di luar. Suara orang memanjat pagar anyaman bambu yang reot. Suara orang berjalan di halaman. Suara ketukan keras di pintu depan.
"Selamat malam! Buka pintunya!" suara laki-laki dari luar, berat, mengancam.
Ayah Marni, Pak Rasiman, seorang buruh tani yang sederhana, dengan tubuh kurus dan wajah keriput karena terik matahari, membuka pintu. Tangannya masih memegang sendok, sepertinya baru saja makan malam.
"Ada apa? Malam-malam begini?" suaranya tenang, tapi matanya waspada.
Di depan pintu berdiri Danu, dengan kemeja batik rapi dan senyum sinis. Di belakangnya, dua preman bayaran bertubuh besar dengan wajah dingin, tangan disilangkan di dada.
"Kami ingin bicara dengan Marni." Danu tidak membuang waktu. Langsung ke inti.
"Anak saya sedang belajar." Pak Rasiman tidak bergeming. "Ada keperluan apa? Malam-malam begini?"
"Ini urusan pribadi, Pak." Danu tersenyum. Senyum yang ramah, tapi tidak sampai ke mata. "Bapak jangan ikut campur. Ini urusan antara kami dan Marni."
Marni yang mendengar suara itu keluar dari kamarnya. Wajahnya pucat. Tangannya gemetar. Ia sudah menduga. Ia sudah tahu ini akan terjadi.
"Ada apa?" suaranya pelan, nyaris berbisik.
Danu mendekat. Langkahnya pelan, seperti kucing mendekati tikus. "Marni, kami tahu kamu melihat sesuatu malam kebakaran bengkel. Tuan Rahmadi tidak suka orang yang suka mencampuri urusan yang bukan haknya. Tuan Rahmadi tidak suka saksi mata. Tuan Rahmadi lebih suka jika semua orang diam."
Marni terdiam. Mulutnya terkunci. Lidahnya terasa kelu.
"Tuan Rahmadi baik hati." Danu terus berbicara. Suaranya menurun, hampir berbisik. "Dia memberi kamu pilihan. Pertama, terima uang ini." Danu mengeluarkan amplop tebal dari saku jaketnya. Amplop coklat, tebal, berisi uang puluhan juta. "Lupakan apa yang kamu lihat. Lupakan apa yang kamu dengar. Lupakan apa yang kamu bau. Kamu tidak melihat apa-apa malam itu. Kamu sedang tidur di rumah. Kamu tidak tahu apa-apa."
"Kedua." Danu mendekat lebih dekat. Wajahnya hanya beberapa sentimeter dari wajah Marni. "Tolak. Dan keluarga kamu akan menyesal. Ayahmu. Ibumu. Adik-adikmu. Semua akan menyesal."
Ayah Marni terperanjat. Wajahnya berubah merah padam. "Maksud kalian? Kalian mengancam?"
"Bukan ancam, Pak." Danu tersenyum lagi. "Himbauan. Peringatan. Nasihat. Terserah Bapak mau menyebutnya apa."
Pak Rasiman maju selangkah. Dadanya membusung. "Keluarga kami miskin, Nak. Tapi kami tidak takut pada preman seperti kalian. Kami sudah biasa hidup susah. Kami tidak takut mati."
Salah satu preman di belakang Danu menarik kerah baju Pak Rasiman. Kain sarung yang tipis itu hampir robek. "Bapak jangan sok berani, ya. Bapak hanya buruh tani. Bapak tidak punya siapa-siapa. Jika Bapak celaka, tidak ada yang akan membela Bapak."
Marni menangis. Air matanya jatuh deras. "Sudah! Sudah! Aku diam!" suaranya nyaris pecah. "Aku tidak akan bilang apa-apa! Aku tidak akan bicara pada siapa pun! Aku tidak akan menjadi saksi! Janji!"
Danu tersenyum puas. "Bagus. Itu pilihan bijak, Marni."
Ia meletakkan amplop tebal itu di meja. "Ini untuk jaga-jaga. Untuk biaya sekolah. Untuk makan. Jangan khawatir, Marni. Selama kamu diam, selama kamu tidak bicara, selama kamu tidak menjadi saksi, keluarga kamu aman. Tuan Rahmadi tidak akan menyakiti orang yang diam."
Mereka pergi. Langkah mereka berat, terdengar di tanah becek.
Marni jatuh terduduk di lantai. Tubuhnya lemas. Tangannya gemetar. Ia menangis tersedu-sedu.
"Ayah..." bisiknya. "Maafkan aku. Aku pengecut."
Pak Rasiman memeluk anaknya. "Bukan salahmu, Nak. Ini salah mereka. Ini salah orang-orang jahat."
Marni Menjauh dari Ariyanti
Keesokan harinya. SMAN I Pegandon.
Ariyanti mencoba mendekati Marni seperti biasa. Tapi Marni menghindar. Bukan hanya sekali. Berkali-kali. Setiap kali Ariyanti mendekat, Marni berbalik, mencari alasan untuk pergi, atau sekadar menunduk dan tidak menjawab.
Saat jam istirahat, Marni tidak duduk di samping Ariyanti di kantin, seperti kebiasaan mereka sejak SMP. Ia memilih duduk di bangku paling pojok, sendirian, di bawah pohon asam yang jarang dikunjungi orang. Bekalnya tidak ia buka. Air minumnya tidak ia sentuh. Ia hanya duduk, menatap kosong ke arah lapangan upacara.
"Marni, kenapa kamu menghindar?" Ariyanti duduk di samping Marni tanpa izin. Ia tidak peduli jika Marni tidak mengundang.
"Aku tidak menghindar, Ari." Marni tidak menatap Ariyanti. Matanya tetap pada lapangan upacara.
"Iya. Bohong." Ariyanti meraih tangan Marni. Tangannya dingin. "Kita sahabat sejak SMP. Aku tahu kamu dari kecil. Aku tahu kalau kamu berbohong. Jadi, cerita."
Marni menunduk. Rambutnya yang panjang menutupi wajahnya. "Ari, maaf. Aku tidak bisa cerita."
"Tentang apa?" Ariyanti bertanya, suaranya melembut.
"Aku hanya... tidak bisa." Marni menggeleng. "Ini bukan urusanmu. Ini urusanku. Biarkan aku sendiri."
Ariyanti tidak menyerah. "Mar, kita sahabat. Apa pun masalahmu, aku akan bantu. Kamu tahu itu. Kamu tidak perlu takut."
Marni melepaskan tangannya. Kasar. Tidak seperti biasanya. "Tidak, Ari. Kali ini kamu tidak bisa bantu. Tidak ada yang bisa bantu. Biarkan aku sendiri."
Marni berdiri. Ia berjalan pergi. Cepat. Tidak menoleh.
Ariyanti hanya bisa memandang, bingung dan cemas.
Apa yang terjadi pada Marni? Apa yang ia sembunyikan?
Ariyanti Mulai Curiga
Rumah Ariyanti, sore itu.
Ariyanti cerita pada ibunya tentang perubahan sikap Marni. Ibu Ariyanti sedang membersihkan beras di dapur, tangannya yang cekatan memisahkan kotoran dari butiran-butiran putih.
"Bu, Marni jadi aneh." Ariyanti duduk di kursi bambu dekat ibunya. "Dia menghindar. Matanya merah terus. Kayak orang yang habis nangis atau kurang tidur."
"Kamu tanya kenapa?" Ibu Ariyanti tidak berhenti membersihkan beras.
"Dia diam." Ariyanti menghela napas. "Cuma bilang tidak bisa cerita. Bilang ini bukan urusanku."
Ibu Ariyanti menghela napas. Ia berhenti membersihkan beras. Ia menatap anaknya.
"Yan , Ibu dengar dari tetangga." Suaranya pelan. "Dua malam yang lalu ada tamu tak diundang di rumah Marni. Dua preman dan satu orang yang katanya asistennya Rahmadi. Namanya Danu."
Ariyanti terperanjat. Jantungnya berdebar lebih cepat. "Mereka mengancam Marni?"
"Sepertinya begitu, Yan ." Ibu Ariyanti mengangguk. "Marni mungkin melihat sesuatu malam kebakaran bengkel. Itu sebabnya Rahmadi mengancam. Itu sebabnya Marni takut."
"Ibu juga curiga begitu." Ibu Ariyanti mengelus rambut Ariyanti. "Tapi kita tidak punya bukti. Hanya firasat."
"Aku harus bicara dengan Marni." Ariyanti berdiri. Ia ingin segera pergi.
"Jangan memaksanya, Yan ." Ibu Ariyanti menarik tangan anaknya. "Dia takut. Kamu bisa membahayakan dia. Rahmadi punya preman. Jika dia tahu Marni masih bicara, dia akan marah."
Ariyanti terdiam.
Di dalam hatinya, amarah berkecamuk.
Rahmadi, kau benar-benar kejam. Kau tidak hanya menghancurkan hidup Akang. Kau juga menghancurkan orang-orang di sekitarnya.
Marni yang Terjepit
Rumah Marni, malam itu.
Marni tidak bisa tidur. Ia sudah berguling-guling di kasurnya sejak jam sembilan. Tapi matanya tidak bisa terpejam. Setiap kali ia memejamkan kelopak mata, ia melihat api. Api yang membakar bengkel Pak Karyo. Api yang menjalar dengan cepat, melalap segala yang bisa terbakar. Api yang mengepulkan asap hitam ke langit malam.
Ia juga mendengar suara. Suara pecahan kaca. Suara linggis yang menghantam besi. Suara teriakan. Suara mobil hitam yang melaju cepat.
Dan ia melihat wajah. Wajah-wajah preman yang dingin. Wajah Danu yang tersenyum sinis. Wajah Rahmadi yang tersembunyi di balik topi baseball.
Amplop tebal pemberian Danu masih tergeletak di meja belajarnya. Ia tidak berani menyentuhnya. Tidak berani memindahkannya. Tidak berani membukanya. Uang itu terasa kotor, panas, dan membakar hatinya.
"Aku harus diam," pikirnya, berulang-ulang. "Kalau aku bicara, keluargaku celaka. Ayahku bisa dipecat. Ibuku bisa diancam. Adik-adikku bisa disakiti."
Tapi di sisi lain, ia melihat bagaimana Akang menderita karena fitnah. Bagaimana ia difitnah sebagai pencuri, hampir masuk penjara, hanya karena ia dekat dengan Ariyanti. Ia melihat bagaimana Ariyanti berjuang, siang dan malam, mengorbankan waktu dan tenaganya, untuk membela kebenaran. Ia melihat bagaimana Rahmadi terus berbuat jahat tanpa dihukum, seolah-olah ia kebal hukum, seolah-olah ia tidak bisa disentuh.
"Aku tidak tega," bisiknya dalam hati. "Ariyanti adalah sahabatku. Akang tidak bersalah. Mereka tidak pantas menderita."
Ia teringat kata-kata ayahnya, yang diucapkan suatu malam ketika mereka duduk di teras bersama, menikmati angin malam yang sejuk. "Nak, keadilan mungkin lambat, Nak. Mungkin sangat lambat. Mungkin tidak datang di masa hidupku atau hidupmu. Tapi jangan pernah menjadi bagian dari ketidakadilan. Jangan pernah diam ketika melihat kejahatan. Jangan pernah membiarkan rasa takut mengalahkan kebenaran."
Marni menangis. Lagi. Air matanya jatuh membasahi bantal kapuk yang sudah tipis.
Apa yang harus kulakukan?
Pertemuan Rahasia dengan Bu Sumi
Keesokan harinya. Perpustakaan sekolah, jam istirahat.
Marni mencari Bu Sumi. Ia berjalan menyusuri koridor, matanya mencari-cari. Jantungnya berdebar kencang. Telapak tangannya berkeringat. Ia gugup. Takut. Tidak yakin.
Bu Sumi sedang merapikan buku di rak paling belakang, dekat jendela yang menghadap ke lapangan upacara. Kacamata tebalnya diletakkan di atas meja, matanya menyipit membaca judul-judul buku yang sudah usang.
"Bu, saya ingin bicara." Suara Marni pelan, nyaris berbisik.
Bu Sumi menoleh. Wajahnya sedikit terkejut. "Ada apa, Marni? Kamu pucat sekali. Sakit?"
"Bu, saya... saya melihat sesuatu malam kebakaran bengkel." Marni tidak bisa menahan diri lagi. Air matanya jatuh. Tangannya gemetar.
Bu Sumi mengernyit. Matanya serius. "Apa maksudmu, Marni?"
Marni menarik napas panjang. Udara di perpustakaan terasa dingin di paru-parunya.
"Saya melihat mereka, Bu." Suaranya bergetar. "Orang-orang yang membakar bengkel itu. Empat orang. Tiga preman besar. Dan satu orang... satu orang yang saya yakin Rahmadi."
Bu Sumi menutup pintu perpustakaan. Ia menarik kursi, mempersilakan Marni duduk.
"Ceritakan semuanya, Marni. Dari awal. Jangan ada yang disembunyikan."
Marni menceritakan semuanya. Tentang malam itu di Jalan Randu Gembyang. Tentang dua sepeda motor tanpa lampu. Tentang empat orang laki-laki. Tentang ember-ember berisi bensin. Tentang api yang membakar. Tentang mobil hitam yang kabur.
"Dan kamu yakin yang kamu lihat adalah Rahmadi?" Bu Sumi bertanya, matanya tidak berkedip.
Marni mengangguk. "Yakin, Bu. Posturnya, gaya berdirinya, cara ia menggerakkan tangannya. Walaupun gelap, saya yakin. Saya tidak salah."
"Kenapa kamu baru cerita sekarang, Marni?" Bu Sumi bertanya, suaranya melembut.
Marni menangis. Tangisnya pecah. "Karena mereka mengancam keluarga saya, Bu. Kemarin malam, asisten Rahmadi datang ke rumah. Namanya Danu. Dia bawa dua preman. Mereka kasih uang. Banyak. Mereka suruh saya diam. Mereka bilang jika saya bicara, keluarga saya celaka."
Bu Sumi memeluk Marni. Tangannya yang keriput mengelus rambut Marni.
"Kamu sudah sangat berani, Nak." Suara Bu Sumi lembut, seperti ibu yang menenangkan anaknya. "Ibu bangga padamu. Tidak mudah untuk melawan ketakutan. Tidak mudah untuk memilih kebenaran di atas keselamatan."
"Tapi Bu, saya takut." Marni terisak di bahu Bu Sumi. "Saya takut mereka akan menyakiti ayah saya. Saya takut mereka akan menyakiti ibu saya. Saya takut mereka akan menyakiti adik-adik saya."
"Kita lindungi keluarga kamu, Marni." Bu Sumi melepaskan pelukan. Matanya menatap Marni. "Ibu akan bicara dengan Pak Lurah. Ibu akan bicara dengan polisi. Kamu tidak sendirian. Kita semua di sini."
Rahmadi Tahu Marni Membelot
Rumah Rahmadi, sore itu.
"Danu! Apa katamu Marni sudah bicara dengan Bu Sumi?" Rahmadi membentak. Wajahnya merah padam. Matanya menyala.
"Maaf, Tuan." Danu menunduk. "Saya baru tahu. Katanya Marni pergi ke perpustakaan dan bicara dengan Bu Sumi sekitar satu jam yang lalu. Tidak ada yang tahu isi pembicaraannya. Tapi bisa dipastikan Marni membocorkan sesuatu."
Rahmadi melempar gelas ke dinding. Gelas kristal mahal itu pecah berkeping-keping, air dan es batu berhamburan di lantai marmer.
"Sial!" Rahmadi berdiri. Ia berjalan mondar-mandir. "Siapa yang memberitahu? Siapa yang menyuruhnya bicara?"
"Belum tahu, Tuan." Danu masih menunduk. "Tapi kami curiga Ariyanti atau Akang yang memengaruhinya. Atau mungkin Bu Sumi sendiri yang mendekatinya."
"Pergi ke rumah Marni sekarang." Rahmadi berhenti berjalan. Ia menatap Danu. "Beri dia pelajaran. Jangan sampai dia bicara lebih banyak. Jangan sampai dia menjadi saksi. Jangan sampai dia menghancurkan rencana kita."
"Tapi Tuan, polisi mulai curiga." Danu mengangkat kepalanya. "Bukan ide bagus melakukan intimidasi sekarang. Jika Marni lapor polisi, kita bisa terkena pasal baru."
"Kalau dia bicara pada polisi, kita yang repot!" Rahmadi meninggikan suara.
"Tuan, mungkin kita bisa pendekatan lain." Danu mencoba menenangkan. "Tawari Marni lebih banyak uang. Atau tawari beasiswa untuk adiknya. Atau tawari pekerjaan untuk ayahnya. Semua orang bisa dibeli, Tuan. Semua orang punya harga."
Rahmadi menghela napas. "Baik. Lakukan. Tapi kalau dia masih membangkang, kalau dia masih bersikeras menjadi saksi, jangan ragu pakai cara keras. Aku tidak peduli dengan risikonya."
"Baik, Tuan."
Marni Semakin Tertekan
Rumah Marni, malam itu.
Marni baru saja selesai makan malam. Nasi dengan lauk tempe goreng dan sayur bening. Sederhana. Seperti biasa. Tidak ada yang istimewa. Keluarganya duduk di ruang tengah yang sempit, ditemani lampu minyak tanah yang berkedip-kedip.
Tiba-tiba, ponsel ayahnya berdering. Ponsel tua, hanya bisa digunakan untuk telepon dan SMS, tidak ada fitur-fitur canggih seperti ponsel sekarang. Pak Rasiman mengangkatnya.
"Halo?"
Suara di seberang sana tidak dikenal. Berat. Dingin. Mengancam.
"Pak Rasiman?"
"Iya. Siapa ini?"
"Saya dari kakaknya Rahmadi." Suara itu pelan, tapi jelas. "Ada yang ingin saya sampaikan. Kami tahu Marni bicara dengan Bu Sumi hari ini tentang sesuatu yang bukan urusannya. Kami tidak suka. Kami tidak suka orang yang ikut campur."
Pak Rasiman memucat. Tangannya gemetar.
"Tolong sampaikan pada Marni." Suara itu melanjutkan. "Diam lebih baik. Lupakan apa yang ia lihat. Lupakan apa yang ia dengar. Lupakan apa yang ia tahu. Jika ia masih bersikeras menjadi saksi, kami akan kecewa. Dan jika kami kecewa, keluarga Bapak akan menyesal."
Tut.
Pak Rasiman menurunkan ponselnya. Wajahnya pucat.
"Marni." Suaranya parau. "Kamu bicara apa dengan Bu Sumi hari ini?"
Marni menunduk. Air matanya jatuh. "Ayah... aku hanya cerita tentang kebakaran bengkel. Aku hanya bilang apa yang aku lihat. Aku hanya ingin membantu. Aku hanya ingin..."
"Kamu tahu siapa pelakunya?" Pak Rasiman memotong.
"Tapi Ayah..."
"Jangan main-main, Nak." Pak Rasiman berdiri. Wajahnya tegang. "Keluarga kita hanya rakyat kecil. Kita tidak punya uang. Tidak punya kekuasaan. Tidak punya preman. Lawan orang seperti Rahmadi itu bunuh diri."
"Tapi Ayah, yang benar harus dibela." Marni mengangkat kepalanya. Matanya merah. "Yang salah harus diluruskan. Aku tidak bisa diam melihat ketidakadilan."
"Yang benar bisa membunuh kita, Marni!" Pak Rasiman hampir berteriak. "Ayah tidak bisa kehilangan kamu. Ayah tidak bisa kehilangan ibu. Ayah tidak bisa kehilangan adik-adikmu. Ayah lebih rela hidup dalam ketidakadilan daripada hidup tanpa kalian."
Marni menangis. Pak Rasiman juga menangis.
Malam itu, Marni berdoa lama. Sangat lama. Ia bersimpuh di sajadah usang, menangis, memohon petunjuk pada Allah.
Ia tidak tahu harus memilih antara kebenaran dan keselamatan keluarganya.
Ia hanya bisa berdoa. Dan berharap. Dan menunggu.
Ariyanti Mengetahui Marni adalah Saksi
Pertemuan rahasia di rumah Bu Sumi, malam itu juga.
Bu Sumi memanggil Ariyanti, Akang, dan Pak Lurah ke rumahnya. Rumah Bu Sumi terletak di pinggir Jalan Randu Gembyang, tidak jauh dari pohon randu tertua. Rumahnya sederhana, dinding bata putih, atap genteng merah, halaman depan ditumbuhi berbagai tanaman hias.
Marni juga hadir, meskipun dengan perasaan campur aduk. Wajahnya pucat. Matanya sembab. Tangannya gemetar.
"Ari, Akang, Pak Lurah." Bu Sumi membuka pertemuan. "Marni adalah saksi kunci. Dia melihat Rahmadi dan anak buahnya membakar bengkel Pak Karyo."
Ariyanti terperanjat. Matanya membulat. "Marni? Kamu melihat semuanya?"
Marni mengangguk pelan. "Maaf, Ari." Suaranya bergetar. "Aku takut. Mereka mengancam keluargaku. Mereka kasih uang. Mereka bilang jika aku bicara, keluarga aku celaka."
Ariyanti memeluk Marni. Erat. "Kamu tidak perlu minta maaf, Mar. Kamu sudah sangat berani. Kamu sudah melakukan lebih dari yang seharusnya."
"Sekarang masalahnya." Pak Lurah memotong. Wajahnya serius. "Bagaimana kita melindungi Marni dan keluarganya? Rahmadi pasti sudah tahu bahwa Marni membelot. Dia pasti akan melakukan sesuatu."
Bu Sumi menjawab, "Marni dan keluarganya akan sementara tinggal di rumah saya. Rumah saya cukup besar, ada kamar kosong di belakang. Dan rumah saya aman. Tidak mudah dimasuki orang asing. Saya juga akan minta polisi untuk patroli rutin di sekitar."
"Apa yang bisa kami lakukan?" tanya Akang.
"Kamu fokus mengumpulkan bukti lain." Bu Sumi menatap Akang. "Juga, jaga diri baik-baik. Kamu juga incaran Rahmadi. Jangan lengah. Rahmadi tidak akan tinggal diam."
Marni Berani Bicara
Polsek Pegandon, keesokan paginya.
Marni datang ke kantor polisi didampingi Bu Sumi, Ariyanti, dan Pak Lurah. Wajahnya tegang, tapi matanya tegas. Ia sudah memutuskan. Ia tidak akan mundur.
Bripka Joko menerima mereka di ruang pelaporan. Wajahnya serius.
"Marni, kamu siap memberikan kesaksian?" tanyanya.
Marni gemetar. Ia menatap Ariyanti. Ariyanti mengangguk, memberi semangat.
"Saya siap, Pak." Suara Marni pelan, tapi jelas.
Marni menceritakan semuanya. Dari awal hingga akhir. Malam itu di Jalan Randu Gembyang. Empat orang laki-laki. Dua sepeda motor. Ember-ember bensin. Api yang membakar. Mobil hitam yang kabur.
"Apakah kamu yakin yang kamu lihat adalah Rahmadi?" Bripka Joko bertanya.
"Yakin, Pak." Marni mengangguk. "Walaupun gelap, saya tidak salah. Posturnya. Gaya berdirinya. Cara ia menggerakkan tangannya. Saya kenal."
"Bisa bersumpah di pengadilan?"
"Bisa, Pak."
Bripka Joko mencatat semua keterangan dengan saksama. Setiap kata. Setiap detail. Setiap petunjuk kecil.
"Ini bukti kuat." Bripka Joko menutup bukunya. "Kami akan panggil Rahmadi untuk dimintai keterangan."
Rahmadi Dipanggil Polisi
Rumah Rahmadi, siang itu.
Seorang petugas polisi datang membawa surat panggilan. Amplop putih, segel polisi, tulisan tegas di sampulnya.
"Kami minta saudara Rahmadi hadir di Polsek Pegandon besok pagi untuk dimintai keterangan terkait kasus kebakaran bengkel las di Jalan Randu Gembyang."
- Rahmat yang menerima surat itu memucat. Tangannya gemetar. "Ada apa ini?"
"Anak Bapak diduga terlibat dalam kebakaran bengkel las di Jalan Randu Gembyang, Pak." Petugas itu tidak bergeming. "Kami hanya menjalankan tugas."
- Rahmat memanggil Rahmadi. Wajahnya tegang.
"Kamu ada hubungan dengan kebakaran itu, Nak?"
Rahmadi tenang. Wajahnya tidak berubah. "Tidak, Ayah. Ini pasti fitnah. Lagi-lagi fitnah. Mereka tidak bisa mengalahkan aku dengan cara-cara bersih, jadi mereka pakai fitnah."
"Tapi polisi punya saksi, Nak."
"Saksi bisa dibeli, Ayah." Rahmadi tersenyum. "Atau diancam. Atau dipaksa. Saksi bukan bukti yang kuat."
- Rahmat menghela napas. "Aku akan panggil pengacara, Nak. Jangan bicara apa pun di polisi tanpa didampingi pengacara. Jangan menjawab pertanyaan mereka. Jangan menandatangani apa pun sebelum aku dan pengacara membaca."
"Baik, Ayah."
Rahmadi masuk ke kamarnya. Ia mengunci pintu. Ia menghubungi Danu melalui ponsel.
"Danu, Marni sudah bicara." Suaranya dingin. "Aku dipanggil polisi besok."
"Maaf, Tuan." Suara Danu di seberang sana terdengar gugup. "Saya gagal membungkamnya. Saya sudah coba segala cara. Uang. Ancaman. Tapi dia tetap bicara."
"Ini bukan salahmu, Danu." Rahmadi menghela napas. "Tapi kita harus siap. Suruh anak buah kita mengaku. Cari dua atau tiga orang yang mau dipenjara demi uang. Beri mereka uang banyak. Biar mereka yang dipenjara, bukan aku."
"Baik, Tuan."
Akang dan Ariyanti Mendukung Marni
Rumah Bu Sumi, sore itu.
Setelah memberikan kesaksian di polisi, Marni lemas. Tubuhnya gemetar. Matanya merah. Ia seperti orang yang baru saja selesai berperang.
Ariyanti memeluknya erat. "Kamu hebat, Mar. Kamu sangat hebat. Aku bangga padamu."
"Aku takut, Ari." Marni terisak di bahu Ariyanti. "Apa mereka akan mencelakai keluargaku? Apa mereka akan menyakiti ayahku, ibuku, adik-adikku? Aku tidak tega jika mereka celaka karena aku."
Bu Sumi yang mendengar itu menjawab, "Ibu sudah bicara dengan Pak Lurah, Marni. Keluarga kamu akan diamankan. Rumah kamu akan dijaga oleh petugas keamanan desa. Polisi juga akan patroli rutin di sekitar."
"Terima kasih, Bu." Marni melepaskan pelukan. Matanya masih basah. "Saya tidak tahu harus membalas kebaikan Ibu."
"Balas dengan menjadi saksi yang jujur, Marni." Bu Sumi tersenyum. "Balas dengan tidak mundur. Balas dengan membantu kebenaran menang."
Akang menghampiri Marni. Wajahnya serius.
"Marni, aku tidak bisa membalas apa yang kamu lakukan." Suaranya pelan, tapi jelas. "Tapi aku janji. Janji, dengan nama Allah. Jika suatu saat kamu butuh bantuan, apa pun itu, aku akan datang. Aku tidak akan pernah lupa jasamu."
Marni tersenyum tipis. "Bantu Ariyanti, Kang. Dia yang paling sering membantuku selama ini. Sejak SMP. Sejak dulu. Dia tidak pernah lelah. Dia tidak pernah menyerah. Bantu dia. Jaga dia. Itu sudah lebih dari cukup."
Mereka semua tersenyum.
Ada kelegaan di hati mereka. Kelegaan karena Marni akhirnya berani bicara. Kelegaan karena kebenaran mulai terungkap. Kelegaan karena tidak sendirian.
Tapi juga ada ketakutan. Ketakutan akan apa yang akan dilakukan Rahmadi selanjutnya. Ketakutan akan balas dendam. Ketakutan akan masa depan yang tidak pasti.
Ketenangan di Tengah Badai
Jalan Randu Gembyang, senja itu.
Akang dan Ariyanti berjalan pulang bersama, melewati pohon randu tertua. Langit jingga di atas mereka, seperti biasa. Awan-awan tipis bergerak perlahan, seperti guratan kuas di kanvas biru yang tak terbatas. Burung-burung beterbangan di kejauhan, pulang ke sarang masing-masing.
"Ari, akhirnya ada saksi." Akang menggenggam tangan Ariyanti.
"Iya." Ariyanti membalas genggaman Akang. "Marni berani. Aku kagum. Aku tidak menyangka ia seberani itu. Selama ini ia terlihat pendiam, pemalu, tidak percaya diri. Tapi ternyata, di dalam dirinya, ada keberanian yang luar biasa."
"Kita harus lindungi dia, Ari." Akang menatap Ariyanti. "Kita harus pastikan dia tidak celaka. Rahmadi pasti akan marah. Pasti akan mencari cara untuk membungkamnya."
"Kita lindungi semua, Kang." Ariyanti tersenyum. "Kita lawan Rahmadi bersama. Bukan hanya kita berdua. Tapi Marni, Bu Sumi, Pak Lurah, Pak Dullah, semua. Kita tidak sendirian."
Mereka berpegangan tangan.
Di kejauhan, pohon-pohon randu bergoyang lembut tertiup angin senja. Daun-daun kering berguguran satu per satu, jatuh ke tanah seperti air mata yang tertahan lama.
Rahmadi mungkin kuat. Rahmadi mungkin kaya. Rahmadi mungkin punya preman. Tapi mereka tidak sendirian.
Dan di Tegorejo, senja selalu berpihak pada kebenaran.
Setidaknya, itulah yang mereka yakini.
Setidaknya, itulah yang membuat mereka terus berjuang.
BAB 14
GURU YANG BIJAKSANA
Bu Sumi, guru Bahasa Indonesia, mulai curiga dengan semua yang terjadi. Diam-diam, ia menyelidiki.
Tegorejo, awal Oktober 1997. Dua minggu setelah Marni memberikan kesaksian.
Bu Sumi bukan guru biasa. Di usianya yang ke-52, ia telah mengajar selama 28 tahun. Bukan waktu yang singkat. Bukan sekadar karier. Tapi panggilan jiwa. 14 tahun di SMPN I Pegandon, 14 tahun di SMAN I Pegandon. Ribuan murid telah ia didik. Dari yang paling pintar hingga yang paling nakal. Dari yang paling kaya hingga yang paling miskin.
Puluhan kasus perundungan, ketidakadilan, dan masalah remaja telah ia tangani. Ia sudah melihat segala macam bentuk kebaikan dan keburukan manusia. Ia sudah melihat bagaimana uang bisa membeli kebahagiaan, tapi juga bisa membeli kesengsaraan. Ia sudah melihat bagaimana kekuasaan bisa digunakan untuk menolong, tapi juga untuk menindas.
Tapi kasus ini berbeda. Bu Sumi bisa merasakannya dalam tulangnya. Bukan sekadar firasat. Tapi keyakinan. Ada sesuatu yang busuk di desa kecil ini. Sesuatu yang berbau uang, kekuasaan, dan kejahatan terorganisir. Bukan kejahatan jalanan yang kasar dan terlihat. Tapi kejahatan kelas atas yang rapi, tersembunyi, dan dilindungi oleh uang dan koneksi.
Di pusat semua itu, ada seorang siswa bernama Rahmadi. Dan di belakangnya, keluarganya yang disegani. Keluarga H. Rahmat. Nama yang membuat warga desa bergidik. Nama yang membuat pejabat desa hormat. Nama yang membuat polisi berpikir dua kali sebelum bertindak.
Bu Sumi tidak takut. Ia sudah terlalu tua untuk takut pada orang kaya. Ia sudah terlalu lama mengajar untuk takut pada ancaman. Ia sudah terlalu sering melihat ketidakadilan untuk diam. Yang ia takutkan hanyalah satu: kebenaran akan terkubur sebelum sempat bersinar. Fitnah akan menjadi kebenaran. Pelaku akan menjadi korban. Dan korban akan menjadi terdakwa.
Maka, diam-diam, ia mulai menyelidiki. Bukan dengan terang-terangan. Bukan dengan pengeras suara. Tapi dengan cara seorang guru: mengamati, membaca, menghubungkan, dan akhirnya, bertindak.
Bu Sumi tahu bahwa ini berbahaya. Tapi ia juga tahu bahwa ada saatnya seseorang harus berani meskipun takut. Ada saatnya seseorang harus melawan meskipun sendirian. Ada saatnya seseorang harus memilih kebenaran di atas keselamatan.
Dan bagi Bu Sumi, saat itu adalah sekarang.
Firasat Seorang Guru
SMAN I Pegandon, jam istirahat pertama.
Bu Sumi duduk di ruang guru, di kursinya yang sudah usang, di tempat yang sama selama 14 tahun terakhir. Di depannya, secangkir kopi pahit yang sudah dingin. Kopi tubruk tanpa gula, hitam pekat seperti warna malam. Ia tidak menyentuhnya sejak setengah jam lalu.
Matanya tidak fokus pada kertas koreksi ujian di depannya. Kertas-kertas itu hanya setumpuk coretan yang tidak bermakna. Pikirannya melayang ke tempat lain. Ke peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam beberapa minggu terakhir.
Selebaran misterius di Jalan Raya Pegandon. Fitnah bahwa Akang adalah pencuri. Kebakaran bengkel Pak Karyo yang hangus terbakar. Tuduhan palsu bahwa Akang merusak bengkel Samsul. Sidik jari yang dipalsukan. Saksi yang diancam.
Semuanya mengarah pada satu nama. Rahmadi. Seperti benang merah yang menghubungkan satu peristiwa dengan peristiwa lainnya. Seperti jejak kaki yang sama di setiap tempat kejadian perkara.
Bu Sumi menghela napas. Napas panjang yang mengandung kelelahan, kekecewaan, dan kemarahan.
Ia teringat pada 14 tahun lalu. Tahun 1983. Ketika ia masih mengajar di SMPN I Pegandon. Ada kasus serupa. Seorang siswa kaya, anak seorang pengusaha terkemuka di Kendal, menyiksa temannya sampai cacat. Siswa itu tidak pernah dihukum. Orang tuanya membayar keluarga korban. Korban pindah ke luar kota. Dan semuanya dilupakan.
Waktu itu, Bu Sumi masih muda. Masih takut. Masih ragu. Ia hanya bisa diam. Tidak berbuat apa-apa. Tidak melapor pada polisi. Tidak berbicara pada kepala sekolah. Tidak membela korban. Ia hanya diam. Dan diamnya itu menghantuinya hingga hari ini.
Setiap kali ia mengingat peristiwa itu, ia merasa mual. Ia merasa bersalah. Ia merasa telah mengkhianati profesi sebagai guru. Seorang guru seharusnya membela muridnya. Seorang guru seharusnya menjadi pelindung. Tapi ia tidak melakukan apa pun.
"Tidak akan aku ulangi kesalahan yang sama," bisik Bu Sumi dalam hati. Suaranya pelan, tapi tekadnya keras. "Tidak akan. Tidak akan. Tidak akan."
Ia menutup buku koreksinya. Merapikan pulpen di tempatnya. Meraih tas kulitnya yang sudah usang. Lalu berdiri.
"Bu Sumi mau ke mana? Jam masih istirahat," tanya Pak Rahmat, guru Matematika yang duduk di meja sebelah. Wajahnya penuh rasa ingin tahu.
"Mau ke perpustakaan," jawab Bu Sumi tanpa menatapnya. "Ada buku yang harus saya cari."
Tapi Bu Sumi tidak pergi ke perpustakaan. Ia keluar dari gerbang sekolah, berjalan kaki menyusuri Jalan Raya Pegandon yang panas dan berdebu, lalu menuju ke kantor Pak Lurah Tegorejo.
Ada yang lebih penting dari buku. Ada yang lebih mendesak dari koreksi ujian. Ada nyawa anak-anak yang harus diselamatkan.
Pertemuan dengan Pak Lurah
Kantor Lurah Tegorejo, pukul 10.30.
Kantor Lurah Tegorejo adalah bangunan sederhana dengan dinding bata putih dan atap genteng merah. Di depan, ada halaman sempit yang ditumbuhi rumput liar dan beberapa pot bunga yang tidak terawat. Di dalam, ruangan sempit dengan meja kayu besar di tengah, kursi-kursi kayu di sekelilingnya, dan lemari arsip di sudut.
Pak Lurah, Bapak Heri Susanto, adalah laki-laki berusia 45 tahun dengan kumis tebal dan wajah jujur. Wajah yang tidak mudah berbohong. Mata yang tidak mudah dialihkan. Ia mengenal Bu Sumi sejak kecil. Mereka tumbuh di Tegorejo bersama. Bermain di sawah, belajar di sekolah yang sama, saling mengenal keluarga masing-masing.
"Bu Sumi, ada apa gerangan pagi-pagi sudah ke sini?" sapa Pak Lurah ramah sambil berdiri dari kursinya. "Biasanya kan Bapak yang datang ke sekolah. Ada acara? Atau ada masalah dengan guru-guru?"
"Pak Heri, saya tidak mau basa-basi." Bu Sumi duduk di kursi yang ditawarkan tanpa menunggu dipersilakan. Wajahnya serius. "Saya butuh data."
"Data tentang apa?" Pak Lurah mengernyit.
"Tentang keluarga H. Rahmat."
Pak Lurah terdiam. Wajahnya berubah tegang. Matanya bergerak cepat, seperti sedang menghitung risiko.
"Bu Sumi, hati-hati." Suaranya pelan, hampir berbisik. "Keluarga itu berpengaruh. Mereka punya uang. Mereka punya koneksi. Mereka punya preman. Jangan main-main dengan mereka."
"Saya tahu, Pak." Bu Sumi tidak bergeming. "Tapi ada kejahatan yang terjadi, Pak. Anak-anak saya menjadi korban. Akang dituduh sebagai pencuri, padahal dia tidak bersalah. Marni diancam karena menjadi saksi. Bengkel Pak Karyo dibakar. Dan di balik semua itu, ada Rahmadi. Dan di belakang Rahmadi, ada ayahnya."
Pak Lurah menghela napas panjang. Napas yang berat, yang mengandung kelelahan dan kekhawatiran.
"Ibu Sumi, saya sudah tahu." Suaranya melembut. "Saya sudah mendengar semua itu. Tapi saya tidak bisa berbuat banyak. Saya hanya lurah. Kekuasaan saya terbatas."
"Tapi Bapak punya data." Bu Sumi menatap Pak Lurah. "Bapak punya arsip. Bapak punya laporan-laporan warga yang tidak pernah ditindaklanjuti. Bapak punya bukti-bukti yang selama ini disimpan di lemari besi itu."
Pak Lurah terdiam. Ia menatap Bu Sumi lama. Lalu ia berdiri, berjalan ke lemari besi di belakang mejanya. Lemari besi tua berwarna abu-abu, sudah berkarat di beberapa bagian. Ia membukanya dengan kombinasi angka yang rumit.
Dari dalam, ia mengeluarkan map tebal. Map coklat yang sudah usang, dengan tali pengikat yang sudah putus di beberapa bagian.
"Ini yang saya punya." Pak Lurah meletakkan map itu di meja. "Laporan warga tentang H. Rahmat dan bisnisnya. Praktik monopoli beras. Penyuapan aparat desa. Intimidasi pada petani yang menolak menjual tanah. Bahkan... dugaan kekerasan terhadap warga yang melawan."
Bu Sumi membaca map itu dengan saksama. Matanya bergerak cepat dari satu lembar ke lembar berikutnya. Tangannya gemetar saat membaca detail-detail yang mengerikan.
"Pak Heri, ini bukti yang sangat kuat." Bu Sumi mengangkat kepalanya. "Kenapa tidak dilaporkan ke polisi?"
Pak Lurah menghela napas lagi. "Karena polisi juga takut pada mereka, Bu. Kepala Polsek Pegandon adalah teman dekat H. Rahmat. Mereka sering makan bersama. Mereka main golf bersama di Semarang. Mereka punya hubungan bisnis yang tidak jelas."
"Tapi sekarang ada saksi, Pak." Bu Sumi menutup map itu. "Marni. Murid saya. Gadis kecil yang tidak punya kepentingan apa pun. Ia melihat Rahmadi dan anak buahnya membakar bengkel. Ia bersedia bersumpah di pengadilan."
Pak Lurah terkejut. Matanya membulat. "Marni? Gadis kecil yang pendiam itu? Yang suka bawa kamera ke mana-mana?"
"Iya." Bu Sumi mengangguk. "Ia berani, Pak. Ia sudah memberikan kesaksian di polisi. Sekarang ia dan keluarganya tinggal di rumah saya, diamankan."
Pak Lurah berdiri. Wajahnya berubah tegang.
"Bu Sumi, ini serius." Suaranya meninggi sedikit. "Kita harus koordinasi dengan polisi. Bukan polsek. Tapi polres. Bripka Joko bisa dipercaya. Saya akan panggil dia sekarang juga."
Bu Sumi Mulai Menyusun Puzzle
Rumah Bu Sumi, malam itu.
Bu Sumi tidak bisa tidur. Ia sudah berganti pakaian, sudah minum susu hangat, sudah membaca Al-Qur'an beberapa halaman. Tapi matanya tidak bisa terpejam. Pikirannya terus bekerja, seperti mesin yang tidak bisa dimatikan.
Ia duduk di ruang kerjanya. Ruangan kecil di pojok rumah, hanya berukuran 3x4 meter. Dindingnya dipenuhi peta dan foto-foto lama Tegorejo. Peta desa yang sudah menguning di tepinya, foto-foto hitam putih zaman Belanda, gambar-gambar pohon randu yang dilukis dengan pensil oleh murid-muridnya dulu.
Di mejanya, berserakan catatan, surat kabar, dan foto-foto yang ia kumpulkan diam-diam dalam beberapa minggu terakhir. Foto Rahmadi yang ia ambil dari majalah sekolah. Foto H. Rahmat dari koran. Foto Danu yang ia potret diam-diam saat Danu sedang menunggu Rahmadi di halaman sekolah.
Bu Sumi mengambil isolasi dari laci. Ia menempelkan foto Rahmadi di tengah papan buletin putih yang ia pasang khusus untuk kasus ini.
"Siapa kau sebenarnya, Nak?" bisiknya sambil menatap foto Rahmadi. "Anak orang kaya yang manja? Atau monster yang sedang tumbuh?"
Ia menambahkan foto H. Rahmat di sisi kanan, Danu di sisi kiri, dan foto-foto preman yang sering terlihat bersama mereka di bawah. Lalu ia menambahkan foto Akang, Ariyanti, dan Marni di sisi lain.
Garis-garis penghubung mulai ia buat dengan spidol merah. Rahmadi menyukai Ariyanti. Ariyanti menolak. Rahmadi marah. Rahmadi ingin menghancurkan Akang. Fitnah. Kebakaran. Tuduhan palsu.
Tapi ada yang janggal. Ada yang tidak masuk akal. Ada yang tidak terhubung.
"Kenapa Rahmadi begitu berani?" gumam Bu Sumi, lebih kepada dirinya sendiri. "Kenapa ia merasa tidak tersentuh hukum? Kenapa polisi seolah-olah takut padanya? Kenapa Pak Lurah juga ragu untuk bertindak?"
Bu Sumi mengambil foto H. Rahmat dari papan buletin. Ia membolak-balik map yang diberikan Pak Lurah. Meneliti setiap lembar, setiap baris, setiap angka.
Matanya berhenti pada satu baris di dokumen keuangan. Sebuah transfer dana dari rekening pribadi H. Rahmat ke rekening pribadi Kepala Kepolisian Sektor Pegandon. Puluhan juta rupiah. Dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Transfer rutin setiap bulan. Seperti gaji.
Bu Sumi tersenyum pahit.
Jadi itu jawabannya.
Bukan hanya kekayaan. Bukan hanya preman. Tapi perlindungan dari aparat. H. Rahmat tidak hanya menyuap polisi. Ia membeli mereka. Membuat mereka menjadi bagian dari kejahatannya. Membuat mereka tidak bisa bergerak.
Bu Sumi menempelkan foto Kepala Polsek di papan buletin. Lalu menarik garis dari H. Rahmat ke foto itu. Kata "SUAP" ia tulis dengan huruf kapital merah.
"Mulai terlihat polanya," bisik Bu Sumi. "Sekarang, bagaimana cara menjebak mereka?"
Mengunjungi Pak Dullah
Keesokan harinya. Rumah Pak Dullah, penjaga sekolah.
Pak Dullah adalah penjaga SMAN I Pegandon yang sudah bekerja selama 20 tahun. Sejak sekolah ini masih bernama SMEA, sejak dindingnya masih bata ekspos tanpa cat, sejak jendelanya masih terbuat dari kayu jati yang kokoh.
Ia juga mantan sopir keluarga H. Rahmat di masa lalu. Bekerja di sana selama 5 tahun, sebelum dipecat dengan alasan yang tidak jelas. Tidak ada yang tahu persis mengapa ia dipecat. Ada yang bilang karena ia mencuri. Ada yang bilang karena ia meminta kenaikan gaji. Ada yang bilang karena ia mengetahui terlalu banyak.
Rumah Pak Dullah sederhana. Terletak di pinggir Dusun Cegunan, tidak jauh dari rumah Akang. Dinding anyaman bambu yang sudah rapuh di beberapa bagian, atap rumbia yang sudah menghitam oleh usia, lantai tanah yang dipadatkan.
Bu Sumi datang ke rumahnya pada sore hari, setelah jam sekolah usai.
"Pak Dullah, selamat sore." Bu Sumi tersenyum ramah.
"Bu Sumi?" Pak Dullah terkejut. Matanya membulat. "Ada apa? Ada masalah di sekolah?"
"Tidak, Pak." Bu Sumi duduk di kursi bambu yang ditawarkan. "Saya hanya ingin bicara. Bisa?"
"Bisa, Bu." Pak Dullah duduk di seberangnya. Wajahnya waspada.
Bu Sumi tidak bertele-tele. "Pak Dullah, saya tahu Bapak dulu bekerja pada keluarga H. Rahmat."
Pak Dullah terdiam. Wajahnya berubah tegang. Tangannya yang tadinya santai di pangkuan, kini mengepal.
"Saya tidak mau bicara tentang itu, Bu." Suaranya pelan, hampir berbisik. "Sudah lama. Saya sudah lupa."
"Kenapa, Pak?" Bu Sumi menatap Pak Dullah. "Kenapa Bapak tidak mau bicara?"
"Karena... saya takut, Bu." Pak Dullah menunduk. "Saya takut. Dulu saya dipecat karena saya tahu terlalu banyak. Saya hampir dibunuh. Saya selamat karena lari."
"Apa yang Bapak takutkan, Pak?" Bu Sumi meraih tangan Pak Dullah. Tangannya kasar, kapalan, dan gemetar.
"Bu Sumi, H. Rahmat itu bukan orang baik." Suara Pak Dullah nyaris tidak terdengar. "Dia... dia punya masa lalu yang kelam. Dia preman. Dia merebut bisnis orang dengan paksa. Tapi saya tidak bisa bicara. Nanti saya celaka. Saya sudah tua. Saya tidak mau mati sia-sia."
"Pak Dullah, ada anak-anak yang menjadi korban kejahatan mereka." Bu Sumi menggenggam tangan Pak Dullah lebih erat. "Akang, Ariyanti, Marni. Mereka hanya anak-anak. Mereka tidak bersalah. Mereka tidak tahu apa-apa. Tapi mereka menderita. Akang hampir masuk penjara. Marni diancam. Ariyanti hidup dalam ketakutan setiap hari."
"Dan hanya Bapak yang bisa membantu." Bu Sumi melanjutkan. "Hanya Bapak yang punya informasi. Hanya Bapak yang pernah berada di dalam. Bapak adalah kunci untuk membongkar semua ini."
Pak Dullah menangis. Air matanya jatuh di pipi yang keriput.
"Bu, saya sudah tua." Suaranya tersendat. "Saya tidak punya siapa-siapa. Istri saya sudah meninggal. Anak-anak saya pergi merantau. Saya tidak mau mati dalam ketakutan. Tapi saya juga tidak mau mati sebelum kebenaran terungkap."
"Bapak tidak akan mati, Pak Dullah." Bu Sumi mengusap air mata Pak Dullah. "Saya akan lindungi Bapak. Pak Lurah akan lindungi Bapak. Bripka Joko akan lindungi Bapak. Kita akan lindungi semua saksi. Bapak tidak sendirian."
Pak Dullah terdiam panjang. Matanya menatap lantai tanah. Pikirannya melayang ke masa lalu.
"Baik, Bu." Pak Dullah menghela napas. "Saya akan cerita. Tapi saya minta jaminan keselamatan. Untuk saya. Untuk keluarga saya."
"Bapak mendapatkannya, Pak Dullah." Bu Sumi tersenyum. "Sumpah demi Allah, saya akan lindungi Bapak."
Rahasia Kelam Keluarga Rahmadi
Rumah Pak Dullah, suasana hening.
Pak Dullah mulai bercerita. Suaranya pelan, seperti takut didengar dinding. Matanya menerawang jauh, menembus waktu, kembali ke masa lalu yang kelam.
"Bu, H. Rahmat itu dulunya bukan pengusaha sukses." Pak Dullah memegang cangkir kopi pahit yang sudah dingin. "Dia preman. Anak buahnya puluhan. Mereka menguasai pasar, mengatur setoran, memeras pedagang. Tapi H. Rahmat punya ambisi lebih besar. Ia ingin jadi pengusaha. Ia ingin dihormati. Ia ingin dilupakan masa lalunya."
"Cara pertama yang ia lakukan?" Pak Dullah menghela napas. "Merebut pabrik penggilingan padi milik Pak Hadi. Pak Hadi adalah pengusaha kecil, hanya punya satu pabrik, warisan dari orang tuanya. H. Rahmat ingin pabrik itu. Ia tawari uang. Pak Hadi menolak. Ia tawari lagi dengan harga lebih tinggi. Pak Hadi tetap menolak."
"Maka H. Rahmat menggunakan cara lain." Pak Dullah menyesap kopinya. "Suatu malam, rumah Pak Hadi dibakar. Tidak ada korban jiwa, tapi rumah itu ludes. Pak Hadi dan keluarganya selamat karena sedang pergi ke luar kota. Tapi semua harta bendanya habis."
Bu Sumi terperanjat. "Mirip seperti kasus bengkel Pak Karyo?"
"Sama persis, Bu." Pak Dullah mengangguk. "Polisi waktu itu disogok. Kasusnya tidak pernah dituntaskan. H. Rahmat bebas. Pak Hadi trauma. Ia menjual pabriknya dengan harga murah. H. Rahmat membelinya."
"Lalu tentang Rahmadi?" Bu Sumi bertanya.
"Rahmadi dibesarkan dalam lingkungan itu, Bu." Pak Dullah menggeleng-gelengkan kepala. "Sejak kecil, ia melihat ayahnya melakukan kekerasan, penyuapan, dan kejahatan. Ia melihat ayahnya dihormati karena kekayaan, bukan karena kebaikan. Ia melihat ayahnya tidak pernah dihukum, meskipun melakukan kejahatan."
"Dan ibunya?" Bu Sumi bertanya.
Pak Dullah terdiam. Wajahnya berubah tegang.
"Ibunya, Hj. Fatimah, meninggal dalam kondisi aneh." Suaranya berbisik. "Ada yang bilang bunuh diri. Ada yang bilang... dibunuh. Tidak ada yang tahu pasti. Yang jelas, H. Rahmat menikah lagi dengan perempuan muda hanya beberapa bulan setelah kematian Hj. Fatimah. Rahmadi tidak pernah akur dengan ibu tiri dan adik-adik tirinya. Ia merasa tidak diinginkan. Ia merasa tidak dicintai."
"Mungkin itu sebabnya ia tumbuh menjadi pribadi yang dingin dan kejam." Bu Sumi menghela napas. "Anak yang tidak pernah merasakan kasih sayang akan sulit mencintai orang lain."
"Pak Dullah, apa yang bisa kita lakukan?" Bu Sumi bertanya. "Kita punya saksi. Kita punya bukti. Tapi kita butuh lebih."
"Kita butuh bukti tertulis, Bu." Pak Dullah menatap Bu Sumi. "Bukti transaksi penyuapan. Bukti kepemilikan ilegal. Bukti ancaman pada saksi. Saya dulu sempat menyimpan beberapa dokumen saat bekerja di sana. Saya tahu mereka akan membuang saya suatu hari. Jadi saya ambil diam-diam."
"Di mana dokumen itu sekarang, Pak?" Bu Sumi hampir tidak bisa menahan diri.
"Di pohon randu tertua di Jalan Randu Gembyang." Pak Dullah tersenyum. "Ada lubang di akar pohon itu. Di sebelah utara, dekat batu besar yang berlumut. Saya sembunyikan amplop plastik di dalamnya. Sudah bertahun-tahun tidak pernah saya buka."
Bu Sumi tercekat. Pohon randu tertua. Tempat yang sama di mana Akang dan Ariyanti sering bertemu. Tempat yang sama yang menjadi saksi bisu perjalanan cinta mereka.
"Besok kita ambil, Pak Dullah." Bu Sumi berdiri.
"Jangan siang, Bu." Pak Dullah menggeleng. "Malam. Lebih aman. Tidak banyak orang. Tidak ada yang melihat."
"Setuju."
Misi Malam di Bawah Pohon Randu
Malam itu. Pukul 22.00. Jalan Randu Gembyang.
Bu Sumi, Pak Dullah, dan diam-diam Akang diajak ikut. Akang tahu persis letak pohon randu tertua. Ia sudah ribuan kali melewatinya. Setiap pulang sekolah. Setiap pergi ke bengkel. Setiap bertemu Ariyanti.
"Malam gelap. Tidak ada bulan," bisik Akang, matanya menatap langit yang pekat.
"Semakin baik," jawab Bu Sumi. "Tidak ada yang melihat kita. Tidak ada yang tahu kita di sini."
Mereka bertiga berjalan menyusuri Jalan Randu Gembyang yang sunyi. Hanya suara jangkrik dan angin malam yang terdengar. Daun-daun randu bergesekan satu sama lain, menciptakan suara gemerisik yang menyeramkan. Sesekali burung hantu bersuara dari kejauhan.
Pak Dullah berjongkok di akar pohon randu tertua. Pohon yang sama, akar yang sama, tempat yang sama seperti 10 tahun lalu ketika ia menyembunyikan dokumen-dokumen itu. Tangannya meraba-raba di antara akar-akar yang menjalar, mencari lubang yang sudah lama tidak ia sentuh.
"Ini dia," bisiknya.
Ia mengeluarkan sebuah amplop plastik tebal yang terbungkus rapi. Plastiknya sudah kusam, berdebu, tapi masih utuh. Isinya masih kering. Tidak terkena air tanah.
"Kita bawa ke rumah Bu Sumi," kata Pak Dullah sambil berdiri.
Tiba-tiba, lampu senter menyala dari kejauhan. Cahaya putih yang menyilaukan.
"Siapa di sana?" suara laki-laki dari arah cahaya.
Bu Sumi, Pak Dullah, dan Akang membeku.
Hampir Tertangkap
Jalan Randu Gembyang, pukul 22.15.
Senter itu milik seorang petugas keamanan desa yang sedang patroli malam. Namanya Mas Heri, laki-laki muda berusia 25 tahun yang baru saja bergabung dengan tim keamanan desa.
"Bu Sumi? Pak Dullah? Itu kalian?" Mas Heri mendekat, senternya masih menyala.
Bu Sumi tenang. Wajahnya tidak berubah. "Iya, Mas Heri. Lagi... jalan-jalan malam. Tidak bisa tidur. Udara di rumah panas."
"Jalan-jalan malam di sini?" Mas Heri mengernyit. "Berbahaya, Bu. Banyak preman berkeliaran. Banyak kejahatan terjadi di sini malam-malam."
"Ada Pak Dullah dan Akang, Mas." Bu Sumi tersenyum. "Aman kok. Kami tidak sendirian."
Mas Heri mengamati mereka bertiga. Matanya berhenti pada amplop plastik yang dipegang Pak Dullah. "Itu apa, Pak?"
Pak Dullah gugup. Tangannya gemetar. "Ini... ini... dokumen lama. Mau saya bawa ke rumah anak saya."
Mas Heri tidak bertanya lebih lanjut. Mungkin ia malas. Mungkin ia tidak ingin tahu.
"Baik, Bu. Hati-hati." Mas Heri berbalik. "Laporkan kalau ada yang mencurigakan."
"Terima kasih, Mas."
Mereka bertiga melanjutkan perjalanan dengan langkah cepat. Hampir berlari. Sesampainya di rumah Bu Sumi, mereka langsung masuk dan mengunci pintu dari dalam.
"Kita hampir ketahuan," kata Akang, dadanya masih berdebar kencang. "Jantungku ras mau copot."
"Tapi kita berhasil, Kang." Bu Sumi membuka amplop plastik itu dengan hati-hati. "Kita berhasil."
Isi Amplop yang Mengguncang
Rumah Bu Sumi, tengah malam.
Bu Sumi, Pak Dullah, dan Akang duduk mengelilingi meja makan kayu yang sudah usang. Lampu minyak tanah menerangi ruangan dengan cahaya temaram. Dokumen-dokumen dari amplop itu berserakan di atas meja, seperti kepingan puzzle yang akhirnya terkumpul.
"Astaga..." Bu Sumi tercekat. Tangannya gemetar memegang selembar kertas.
Di hadapannya, bukti transfer dana dari rekening H. Rahmat ke rekening pribadi Kepala Polsek Pegandon. Puluhan juta rupiah. Dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Transfer rutin setiap bulan. Jumlahnya terus meningkat dari tahun ke tahun.
Juga foto-foto H. Rahmat bersama preman-preman yang dikenal sebagai eksekutor lapangan. Foto-foto mereka di restoran mewah, di klub malam, di tempat-tempat yang tidak pantas untuk seorang pengusaha terhormat.
Juga rekaman kaset kecil. Rekaman percakapan H. Rahmat dengan seseorang yang diduga pejabat. Isinya tidak jelas, tapi dari intonasi suaranya, terdengar seperti negosiasi suap.
"Ini adalah bom waktu, Bu Sumi." Pak Dullah menggeleng-gelengkan kepala. "Jika dokumen ini bocor, keluarga H. Rahmat akan hancur. Pengaruh mereka akan runtuh. Preman-preman mereka akan lari."
"Kita harus salinan semua ini." Bu Sumi mengatur dokumen-dokumen itu. "Aslinya kita simpan di tempat aman. Salinannya kita berikan pada Bripka Joko dan LBH. Mereka yang akan menindaklanjuti."
"Aku bisa fotokopi di sekolah besok pagi," kata Akang. "Mesin fotokopi di ruang guru. Kuncinya ada di laci meja Bu Sumi. Saya tahu."
"Kamu yakin, Kang?" Bu Sumi menatap Akang. "Ini berbahaya. Jika ketahuan, kamu bisa celaka."
"Aku yakin, Bu." Akang mengangguk. "Aku sudah biasa bangun pagi. Sekolah sepi jam 6. Tidak ada orang. Satpam juga belum masuk. Saya bisa masuk lewat jendela belakang."
"Baik. Tapi hati-hati." Bu Sumi menyerahkan dokumen-dokumen itu. "Jangan sampai ada yang melihat. Jangan sampai ada yang tahu."
Rahmadi Mencium Sesuatu
Rumah Rahmadi, dini hari.
Rahmadi tidak bisa tidur. Ia sudah berguling-guling di kasurnya sejak jam 11 malam. Tapi pikirannya gelisah. Ada firasat buruk yang tidak bisa ia jelaskan.
Ia bangkit, meraih ponselnya, dan menekan tombol panggilan cepat.
"Danu." Suaranya serak. "Aku dapat informasi bahwa Bu Sumi, Pak Dullah, dan Akang berkumpul di rumah Bu Sumi tengah malam tadi."
"Informasi dari siapa, Tuan?" suara Danu di seberang sana masih mengantuk.
"Dari mata-mata kita di desa. Petugas keamanan desa melihat mereka di Jalan Randu Gembyang sekitar jam 10 malam. Mereka membawa amplop plastik."
"Apa yang mereka lakukan?" Danu bertanya.
"Aku tidak tahu." Rahmadi berjalan mondar-mandir di kamarnya. "Tapi aku tidak suka. Aku tidak suka jika mereka berkumpul tanpa sepengetahuanku. Aku tidak suka jika mereka membawa amplop plastik. Pasti ada sesuatu yang mereka sembunyikan."
"Harus kita selidiki, Tuan?"
"Cari tahu." Rahmadi menghela napas. "Awasi mereka. Jangan sampai mereka mengganggu rencana kita. Jika perlu, intai rumah Bu Sumi. Cari tahu apa yang mereka rencanakan."
"Baik, Tuan."
Rahmadi berjalan ke jendela. Membuka tirai. Langit malam gelap tanpa bintang.
"Bu Sumi, guru sok bijak itu." Rahmadi tersenyum sinis. "Kau pikir kau bisa melawanku? Kau pikir kau bisa mengalahkan keluargaku? Aku akan hancurkan kau bersama semua yang kau bela. Tunggu saja."
Fotokopi Rahasia di Sekolah
Pagi harinya. SMAN I Pegandon, pukul 05.45.
Akang datang paling pagi di antara semua siswa. Matahari baru saja muncul di ufuk timur. Kabut tipis masih menyelimuti lapangan sekolah. Burung-burung mulai bernyanyi, menyambut hari baru.
Satpam sekolah, Pak Mujiono, yang baru saja membuka gerbang, mengernyit heran melihat Akang sudah datang.
"Kang, kok pagi-pagi?" tanyanya sambil menguap. "Jam baru setengah enam, lho. Masih satu jam sebelum bel masuk."
"Ada tugas dari Bu Sumi, Pak." Akang tersenyum. "Mau fotokopi. Banyak. Takut tidak keburu kalau nanti."
"Baik. Hati-hati." Pak Mujiono tidak bertanya lebih lanjut.
Akang masuk ke ruang guru. Ruangan itu masih gelap, hanya diterangi cahaya matahari pagi yang masuk melalui celah-celah tirai. Mesin fotokopi berdiri di pojok, di samping lemari arsip.
Akang menyalakan mesin fotokopi. Suara mesin yang hangat memenuhi ruangan. Ia menyalakan lampu meja Bu Sumi, lalu satu per satu menyalin dokumen dari amplop plastik itu.
Tangannya gemetar. Matanya tidak berhenti mengecek pintu. Setiap kali ada suara, ia menoleh. Setiap kali ada bayangan di luar jendela, ia berhenti.
Jangan sampai ada yang melihat, pikirnya. Jangan sampai ada yang tahu. Jika ketahuan, semuanya akan hancur.
Setelah selesai, ia menyimpan dokumen asli dalam tas, dokumen salinan dalam map terpisah. Asli untuk Bu Sumi. Salinan untuk Bripka Joko dan LBH.
Ia keluar ruang guru. Di halaman, ia berpapasan dengan Pak Dullah yang sedang menyapu halaman.
"Sudah, Kang?" tanya Pak Dullah pelan.
"Sudah, Pak." Akang mengangguk. "Aman."
"Bagus." Pak Dullah tersenyum. "Jangan ceritakan pada siapa pun. Ini rahasia kita."
"Iya, Pak."
Bu Sumi Bertemu Bripka Joko
Polsek Pegandon, siang itu.
Bu Sumi datang ke kantor polisi dengan map tebal. Wajahnya serius. Matanya tajam. Ia tidak mengenakan pakaian guru seperti biasanya, tapi pakaian biasa. Kemeja putih lengan panjang, rok batik, dan kerudung coklat.
"Bu Sumi, ada apa?" Bripka Joko yang sedang duduk di mejanya mengernyit.
"Saya punya sesuatu, Pak." Bu Sumi duduk di kursi yang ditawarkan. "Saya punya bukti bahwa H. Rahmat menyuap Kepala Polsek."
Bripka Joko memucat. Wajahnya berubah tegang. "Bu Sumi, ini tuduhan serius. Jangan main-main."
"Ini bukan tuduhan, Pak." Bu Sumi membuka map itu. "Ini bukti. Rekening koran. Transfer dana. Foto-foto. Rekaman kaset."
Bripka Joko mengambil dokumen-dokumen itu. Matanya membaca baris per baris, angka per angka. Wajahnya semakin pucat.
"Bu Sumi, dari mana Anda mendapatkan ini?" suaranya hampir berbisik.
"Saya tidak bisa cerita, Pak." Bu Sumi menatap Bripka Joko. "Tapi percayalah, ini asli. Ini bukan rekayasa. Ini bukan fitnah."
"Kita harus lapor ke polres Kendal, Bu." Bripka Joko berdiri. "Kasus ini terlalu besar untuk ditangani Polsek. Terlalu banyak kepentingan. Terlalu banyak pihak yang terlibat."
"Saya setuju, Pak." Bu Sumi juga berdiri. "Tapi hanya salinan yang Bapak bawa. Asli saya simpan di tempat aman. Saya tidak mau dokumen ini jatuh ke tangan yang salah."
"Bu Sumi, ini berbahaya." Bripka Joko menatap Bu Sumi. "Keluarga H. Rahmat bisa melakukan apa saja untuk melindungi diri mereka. Mereka punya preman. Mereka punya uang. Mereka punya koneksi."
"Saya tahu, Pak." Bu Sumi tersenyum pahit. "Tapi saya sudah tua. Saya tidak takut mati. Yang saya takutkan adalah kebenaran terkubur sebelum saya mati."
Tekad Bu Sumi
Rumah Bu Sumi, malam itu.
Bu Sumi duduk di ruang kerjanya. Sendirian. Lampu minyak tanah menerangi ruangan dengan cahaya temaram. Di depannya, papan buletin yang sudah penuh dengan foto, dokumen, dan garis-garis penghubung.
Semua mengarah pada satu kesimpulan. Keluarga H. Rahmat bukan sekadar keluarga pengusaha sukses. Mereka adalah organisasi kriminal yang beroperasi di balik kedok bisnis yang sah. Mereka membeli polisi. Mereka mengintimidasi saksi. Mereka membakar properti. Mereka menghancurkan hidup orang-orang yang melawan.
Bu Sumi menutup matanya. Ia lelah. Sangat lelah. Tapi ia tidak bisa berhenti.
"Aku mungkin hanya seorang guru tua," bisiknya. "Tapi aku tidak akan membiarkan kejahatan merajalela di depan mataku. Aku tidak akan membiarkan anak-anakku menjadi korban. Aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama 14 tahun lalu."
Ia membuka laci mejanya. Di dalamnya, sebuah buku catatan kecil berisi nama-nama saksi yang bersedia berbicara. Marni. Pak Dullah. Pak Karyo. Pak Lurah. Dan beberapa warga lain yang pernah menjadi korban H. Rahmat.
"Kita akan menang, Nak." Bu Sumi tersenyum pada bayangannya sendiri di kaca jendela. "Mungkin tidak sekarang. Mungkin tidak besok. Tapi suatu hari nanti. Kebenaran akan menang."
Rahmadi Gelisah
Rumah Rahmadi, malam yang sama.
Rahmadi duduk di kursi empuknya, di ruang kerjanya yang dingin oleh AC. Wajahnya tegang. Matanya gelisah.
"Danu, aku dengar Bu Sumi bertemu Bripka Joko hari ini." Suaranya dingin.
"Benar, Tuan." Danu berdiri di sampingnya, tegap. "Dan Bripka Joko langsung pergi ke Polres Kendal setelah pertemuan itu. Dia membawa map tebal."
"Sial!" Rahmadi membanting gelas ke meja. "Apa dia membawa sesuatu? Apa dia punya bukti? Apa dia tahu sesuatu?"
"Aku tidak tahu, Tuan." Danu menunduk. "Tapi sebaiknya kita bersiap. Bu Sumi bukan lawan yang bisa dianggap remeh. Dia cerdas. Dia punya jaringan. Dia dihormati banyak orang."
"Panggil ayahku." Rahmadi berdiri. "Kita bicara. Sekarang."
- Rahmat datang dengan wajah tegang. Ia sudah mendengar kabar dari sumbernya sendiri.
"Aku sudah dengar." H. Rahmat duduk di kursi di hadapan Rahmadi. "Bu Sumi mengacau. Dia terlalu banyak ikut campur. Dia harus dihentikan."
"Apa yang harus kita lakukan, Ayah?" Rahmadi bertanya.
"Kita tutup mulut Bu Sumi." H. Rahmat tersenyum sinis. "Tapi jangan dengan kekerasan. Itu akan menimbulkan kecurigaan. Kita hancurkan reputasinya. Sebarkan rumor bahwa dia menerima suap dari keluarga Akang. Bilang dia guru korup. Bilang dia memeras siswa."
"Ayah yakin itu berhasil?" Rahmadi bertanya.
"Kita tidak punya pilihan, Nak." H. Rahmat menghela napas. "Yang penting polisi tidak bergerak sebelum kita siap. Yang penting Bu Sumi tidak punya kredibilitas untuk didengar."
Bu Sumi Mendapat Ancaman
Keesokan paginya. SMAN I Pegandon.
Bu Sumi datang ke sekolah seperti biasa. Naik sepeda motor tua, dengan keranjang di depan berisi buku-buku dan koreksi ujian. Ia tersenyum pada satpam, menyapa beberapa guru, lalu masuk ke ruang guru.
Tapi di meja kerjanya, ada amplop putih tanpa nama pengirim. Amplop itu diletakkan di atas tumpukan buku, sengaja, agar langsung terlihat.
Bu Sumi membukanya.
Selembar kertas putih, dengan tulisan ketik, huruf kapital semua.
"BU SUMI, BERHENTI MENCAMPURI URUSAN YANG BUKAN HAK ANDA. INI URUSAN KELUARGA H. RAHMAT. BUKAN URUSAN GURU KAMPUNG SEPERTI ANDA. BERHENTI, ATAU KAMI YANG AKAN MEMBERHENTIKAN ANDA. INI PERINGATAN TERAKHIR."
Bu Sumi membaca surat itu berulang-ulang. Tangannya tidak gemetar. Matanya tidak berkedip. Ia hanya tersenyum pahit.
"Peringatan?" bisiknya. "Aku sudah tua, Nak. Aku sudah dekat dengan kematian. Aku tidak takut mati. Aku tidak takut pada preman. Aku tidak takut pada orang kaya."
Ia meremas amplop itu. Kertasnya kusut, hancur di tangannya.
"Tapi aku takut pada Allah. Dan Allah tidak akan pernah berdiam diri melihat kezaliman. Allah bersama orang-orang yang dizalimi. Allah bersama orang-orang yang berjuang untuk kebenaran."
Bu Sumi membuang amplop itu ke tempat sampah.
Lalu ia membuka buku koreksinya, mengambil pulpen, dan mulai bekerja seperti biasa.
Seolah-olah tidak ada ancaman.
Seolah-olah tidak ada ketakutan.
Seolah-olah tidak ada yang bisa menghentikannya.
BAB 15
JANJI DI BAWAH RANDU
Di bawah pohon randu tertua, Ariyanti dan Akang berjanji takkan pernah menyerah. "Entah apa pun yang terjadi, aku menunggumu," bisik Ariyanti.
Tegorejo, pertengahan Oktober 1997. Sepekan setelah Bu Sumi mengumpulkan bukti-bukti.
Langit Tegorejo sore itu berbeda. Tidak seperti biasanya yang jingga cerah dengan gradasi oranye keemasan yang menenangkan. Kali ini langit berwarna merah darah. Merah tua di ufuk barat, perlahan memudar menjadi ungu gelap di timur. Awan-awan bergerak cepat, tidak seperti biasanya yang malas-malasan. Angin bertiup lebih kencang dari biasanya, membuat dedaunan bergesekan dengan suara gemerisik yang hampir seperti bisikan.
Seolah-olah alam ikut merasakan beban yang dipikul dua insan muda di bawah pohon randu tertua. Seolah-olah langit turut berduka atas apa yang telah mereka lalui. Seolah-olah angin berbisik, "Kalian tidak sendirian. Alam pun bersamamu."
Ariyanti dan Akang berdiri berhadapan. Jarak di antara mereka tidak lebih dari satu meter. Cukup dekat untuk merasakan hangat napas masing-masing. Cukup jauh untuk membuat mereka menyadari bahwa dunia di sekeliling mereka sedang bergerak cepat tanpa bisa mereka kendalikan.
Di antara mereka, angin berembus membawa daun-daun randu kering yang beterbangan seperti pesan-pesan dari masa lalu. Daun-daun yang dulu hijau dan segar, kini kering dan rapuh, siap menjadi pupuk bagi tanah di bawahnya. Seperti perjalanan manusia. Seperti cinta. Seperti kehidupan.
Mereka sudah melalui banyak badai bersama. Fitnah yang menyebar seperti wabah, melukai nama baik tanpa ampun. Kebakaran yang menghanguskan bengkel tempat Akang mencari nafkah, menghancurkan satu-satunya harapan ekonomi keluarganya. Tuduhan palsu yang hampir memenjarakan Akang, yang membuatnya duduk di sel tahanan yang dingin dan gelap. Penahanan yang memisahkannya dari ibunya yang sakit. Ancaman pada keluarga yang membuat mereka hidup dalam ketakutan setiap hari. Tekanan sosial dari tetangga yang lebih suka bergosip daripada membantu.
Tapi badai terbesar belum datang. Dan mereka tahu itu. Mereka bisa merasakannya di udara, seperti bau hujan sebelum badai turun. Mereka bisa mendengarnya di kejauhan, seperti gemuruh yang masih samar-samar. Mereka bisa melihatnya di mata satu sama lain, seperti bayangan gelap yang tidak bisa diusir.
Maka di bawah pohon yang telah menyaksikan ribuan senja, di bawah pohon yang akarnya menjalar seperti naga yang tertidur, di bawah pohon yang daunnya berguguran setiap musim kemarau, mereka mengikat janji.
Bukan janji manis ala remaja yang mudah luruh oleh waktu. Bukan janji yang diucapkan tanpa beban, tanpa resiko, tanpa pengorbanan. Tapi janji suci dua pejuang yang siap mati untuk kebenaran dan cinta.
Janji yang akan menjadi cahaya di tengah kegelapan yang semakin pekat.
Senja yang Berat
Jalan Randu Gembyang, pukul 17.30.
Akang dan Ariyanti berjalan beriringan, seperti biasa. Langkah mereka seirama, seperti sudah latihan bertahun-tahun. Namun langkah mereka terasa lebih berat dari biasanya. Bukan karena lelah fisik. Bukan karena jalanan yang rusak. Tapi karena beban batin yang terus bertumpuk di pundak mereka, seperti karung beras yang semakin berat setiap hari.
Hari itu, Akang menerima kabar yang membuat jantungnya terasa remuk. Ibunya, yang selama ini ia kira hanya lelah karena terlalu banyak bekerja, ternyata divonis dokter menderita sakit maag kronis. Bukan maag biasa yang bisa diobati dengan obat warung. Tapi maag kronis yang sudah berlangsung bertahun-tahun tanpa disadari, diperparah oleh stres dan pola makan yang tidak teratur.
"Kang, ibumu harus istirahat total," kata dokter Puskesmas. "Tidak boleh bekerja berat. Tidak boleh stres. Harus makan teratur. Juga harus minum obat ini selama tiga bulan ke depan."
Akang menerima resep obat dari tangan dokter. Kertas itu terasa berat di tangannya. Biaya pengobatan menggunung. Sementara pemasukan keluarga nyaris nol. Ibu tidak bisa berjualan gorengan lagi, setidaknya untuk sementara waktu. Satu-satunya pemasukan adalah dari kerja sambilan Akang di bengkel Pak Karyo yang sekarang tinggal puing-puing hangus.
Ariyanti juga menerima kabar buruk. Ibunya ditelepon seseorang tak dikenal pada malam sebelumnya. Suara di seberang sana, berat dan dingin, mengatakan, "Bu, suruh anakmu menjauhi Akang. Atau Bapak akan celaka. Kami tahu Bapak masih sakit. Jangan sampai Bapak kumat lagi karena ulah anak Ibu."
Ibu Ariyanti tidak cerita pada Ariyanti. Ia tidak ingin anaknya semakin khawatir. Tapi Ariyanti mendengar dari Marni, yang mendengar dari ibunya, yang mendengar dari tetangga. Di desa seperti Tegorejo, rahasia hampir tidak mungkin bertahan lebih dari 24 jam.
Keduanya diam di sepanjang perjalanan. Hanya suara debu yang terinjak dan angin yang berembus terdengar. Tidak ada yang membuka suara. Tidak ada yang berani memulai. Karena mereka tahu, apa pun yang akan mereka bicarakan, akan membuka luka yang sudah dalam.
"Ari," Akang memecah kesunyian. Suaranya parau, seperti orang yang baru saja selesai menangis.
"Ya, Kang." Suara Ariyanti pelan.
"Apa kita akan baik-baik saja?" Akang bertanya. Matanya menatap langit merah darah, tidak berani menatap Ariyanti.
Ariyanti berhenti melangkah. Ia menatap Akang. Di mata laki-laki itu, ia melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Bukan keraguan biasa yang datang dan pergi. Tapi keraguan yang dalam, yang mengakar, yang membuat bahunya terlihat lebih kecil dari biasanya. Bukan karena lemah. Tapi karena lelah. Lelah yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Lelah yang hanya bisa dirasakan oleh orang yang sudah terlalu lama berjuang sendirian.
"Aku tidak tahu, Kang." Ariyanti menggenggam tangan Akang. Tangannya dingin. "Tapi aku tahu satu hal."
"Apa?" Akang menatap Ariyanti. Matanya mencari harapan.
"Aku tidak akan menyerah." Suara Ariyanti tegas. Tidak ada keraguan. Tidak ada ketakutan. Hanya tekad yang membaja. "Apapun yang terjadi. Seberat apapun ujiannya. Sejauh apapun jalan yang harus kita tempuh. Aku tidak akan menyerah. Bukan pada Rahmadi. Bukan pada fitnah. Bukan pada kemiskinan. Bukan pada apa pun."
Berhenti di Bawah Pohon Randu
Mereka tiba di pohon randu tertua. Pohon yang sama tempat mereka pertama kali berbagi cerita tentang mimpi, ketika masih duduk di bangku SMP. Pohon yang sama tempat Akang menyembunyikan liontin ayahnya, di antara akar-akar yang menjalar. Pohon yang sama tempat mereka berlindung dari hujan deras, dengan paYan g biru tua yang bocor di tiga tempat.
Pohon itu telah berusia ratusan tahun. Batangnya sebesar pelukan tiga orang dewasa, dengan kulit yang keras dan berkerut seperti wajah orang tua. Akar-akarnya menjalar ke tanah seperti ular raksasa yang tertidur, ada yang setebal lengan orang dewasa, ada yang hanya sebesar jari. Daun-daunnya masih hijau meskipun kemarau panjang, meskipun panas terik membakar tanah di sekitarnya.
"Ari, aku mau bicara," kata Akang. Matanya menatap pohon itu, tidak menatap Ariyanti.
"Tentang apa, Kang?" Ariyanti bersandar pada batang pohon. Tangannya menyentuh kulit pohon yang keras dan dingin.
Akang mengambil napas panjang. Udara sore terasa panas di paru-parunya.
"Aku sering berpikir, Ari. Sering. Setiap malam sebelum tidur. Setiap pagi setelah bangun. Apakah pantas aku mencintaimu?"
Ariyanti terdiam. Dadanya terasa sesak.
"Aku miskin, Ari. Bukan hanya pas-pasan. Tapi miskin. Miskin yang sebenarnya. Miskin yang membuat aku kadang tidak makan siang. Miskin yang membuat aku memakai seragam kakak yang sudah lusuh. Miskin yang membuat ibuku terbaring sakit karena tidak bisa membeli obat yang cukup."
"Aku tidak punya apa-apa, Ari." Akang melanjutkan, suaranya bergetar. "Tidak punya rumah yang bagus. Tidak punya uang di bank. Tidak punya sepeda motor. Tidak punya prospek masa depan yang jelas. Keluargaku bermasalah. Ayahku hilang entah ke mana, meninggalkan kami tanpa kabar selama bertahun-tahun. Ibuku sakit-sakitan, tidak bisa bekerja lagi."
"Aku hanya menyusahkanmu, Ari." Air mata Akang jatuh. "Setiap hari aku hanya menambah bebanmu. Setiap hari kamu harus khawatir tentangku. Setiap hari kamu harus memikirkan caranya membantu keluargaku. Aku tidak pantas untukmu. Aku hanya akan menghancurkan masa depanmu."
Ariyanti terdiam. Udara di sekitarnya terasa berhenti bergerak. Angin tidak berembus. Daun-daun tidak bergerak. Burung-burung tidak bernyanyi. Hanya ada keheningan yang memekakkan telinga.
"Akang." Ariyanti memanggil namanya. Bukan "Kang" seperti biasa. Tapi "Akang". Nama lengkapnya. Seperti orang yang sedang bersumpah.
"Kau pikir cinta itu tentang uang?" Suara Ariyanti tegas. "Kau pikir cinta itu tentang status sosial? Kau pikir cinta itu tentang keluarga yang sempurna? Kau pikir cinta itu bisa diukur dengan kekayaan?"
"Bukan, Ari. Tapi..."
"Tidak ada tapi, Akang." Ariyanti memotong. Suaranya meninggi sedikit, tapi tidak marah. "Aku mencintaimu bukan karena apa yang kau punya. Bukan karena harta bendamu. Bukan karena masa depanmu. Bukan karena prospek karirmu. Aku mencintaimu karena siapa dirimu."
"Diri yang seperti apa?" Akang bertanya, matanya masih basah.
"Karena kau baik, Akang." Ariyanti meraih wajah Akang dengan kedua tangannya. Wajahnya kurus, kusam, tapi matanya menyala. "Karena kau pekerja keras, tidak pernah mengeluh, tidak pernah menyerah meskipun dunia terus-menerus menjatuhkanmu. Karena kau selalu berusaha menjadi lebih baik, meskipun semua orang berkata bahwa kau tidak akan pernah bisa. Karena kau tidak pernah berhenti belajar, meskipun perutmu keroncongan dan uang sakumu habis untuk membeli buku."
"Karena kau tidak pernah membenci, meskipun banyak orang membencimu. Karena kau tidak pernah balas menyakiti, meskipun banyak orang menyakiti. Karena kau tetap tersenyum, meskipun air mata hampir jatuh."
Akang tidak bisa menahan tangisnya. Air matanya mengalir deras di pipi yang hitam oleh debu.
"Ari, aku..." suaranya tersendat.
"Kang, dengarkan aku." Ariyanti memeluknya. "Aku tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Mungkin Rahmadi akan semakin kejam. Mungkin kita akan kehilangan segalanya. Mungkin kita akan dipisahkan. Tapi satu yang aku tahu. Satu yang aku yakini. Satu yang tidak akan pernah berubah."
Ia melepaskan pelukan. Matanya menatap mata Akang.
"Aku akan menunggumu, Kang. Entah apa pun yang terjadi. Sampai kapan pun. Seberat apapun ujiannya. Aku akan menunggu."
Janji di Bawah Randu
Ariyanti meraih kedua tangan Akang. Tangannya dingin, seperti es. Sedikit gemetar, seperti daun yang tertiup angin. Tapi matanya... matanya menyala. Menyala seperti api yang tidak bisa dipadamkan oleh badai apapun.
"Kang, ulangi setelah aku." Suaranya pelan, tapi jelas.
"Apa?" Akang masih terisak.
"Aku, Akang Supriyadi."
Akang mengusap air matanya dengan lengan baju. "Aku, Akang Supriyadi."
"Berjanji pada Ariyanti."
"Berjanji pada Ariyanti."
"Bahwa sekeras apa pun badai menerpa."
"Bahwa sekeras apa pun badai menerpa."
"Aku tidak akan pernah menyerah pada cinta kita."
"Aku tidak akan pernah menyerah pada cinta kita."
Air mata Akang jatuh lagi. Ariyanti juga menangis. Tapi mereka tersenyum. Senyum yang keluar dari lubuk hati yang paling dalam. Senyum yang mengatakan bahwa mereka tidak akan menyerah. Senyum yang mengatakan bahwa mereka percaya.
"Sekarang giliranku," kata Ariyanti.
Ia memejamkan mata sebentar. Menarik napas panjang. Lalu membukanya. Matanya jernih. Tidak ada keraguan.
"Aku, Ariyanti."
"Aku, Ariyanti," bisik Akang, mengikuti.
"Berjanji pada Akang Supriyadi."
"Berjanji pada Akang Supriyadi."
"Bahwa sejauh apa pun jarak memisahkan kita."
"Bahwa sejauh apa pun jarak memisahkan kita."
"Aku akan selalu menunggu. Entah apa pun yang terjadi."
"Aku akan selalu menunggu. Entah apa pun yang terjadi."
Mereka berpelukan. Di bawah pohon randu tertua. Di senja yang merah darah, seperti langit sedang menangis bersama mereka. Dengan air mata yang mengalir deras, seperti hujan yang turun di musim kemarau.
Dan alam pun seolah turut menyaksikan. Angin berembus lebih kencang, menggerakkan daun-daun randu. Daun-daun kering berguguran seperti konfeti alam, jatuh di sekitar mereka, menutupi tanah yang kering.
Burung-burung berhenti bernyanyi. Seolah-olah mereka hormat pada janji yang baru saja diucapkan. Seolah-olah mereka mengerti bahwa ini bukan janji biasa.
Janji ini adalah janji seumur hidup. Janji yang hanya diucapkan sekali dalam seumur hidup. Janji yang akan mereka ingat sampai tua, sampai rambut mereka memutih, sampai gigi mereka ompong, sampai cucu-cucu mereka bertanya tentang masa lalu.
Kenangan Masa Lalu
Setelah air mata mereka kering, setelah tangis mereka reda, setelah dada mereka tidak lagi sesak, mereka duduk bersandar di akar pohon randu. Akar yang besar itu seperti kursi alami, nyaman meskipun keras.
Langit mulai gelap. Di timur, bintang-bintang mulai bermunculan satu per satu, seperti lampu-lampu kecil yang dinyalakan oleh tangan tak terlihat. Di barat, senja merah darah perlahan memudar menjadi ungu tua, lalu hitam.
"Kang, kau ingat pertama kali kita bertemu?" tanya Ariyanti. Matanya menatap bintang pertama yang muncul di langit.
"SMP, kelas 1A." Akang tersenyum mengingat. "Kamu duduk di depan, di barisan pertama dekat jendela. Aku di belakang, di barisan ketiga. Paling ujung."
"Kamu tidak pernah bicara padaku." Ariyanti tertawa kecil. "Selama satu semester penuh. Padahal kita sekelas."
"Kamu terlalu dingin, Ari." Akang menggeleng-gelengkan kepala. "Aku takut. Setiap kali aku mau bicara, kamu menatapku dengan tatapan tajam itu. Seperti orang yang sedang menghakimi. Rasanya seperti sedang diinterogasi polisi."
Ariyanti tertawa. "Aku dingin? Kamu lebih dingin. Aku sudah menunggumu bicara sejak minggu pertama. Tapi kamu diem aja. Sok sibuk baca buku. Sok tidak peduli."
"Aku tidak dingin, Ari." Akang membela diri. "Aku pemalu. Aku tidak terbiasa bicara dengan perempuan. Terutama perempuan secantik dan sepintar kamu."
"Pemalu atau sombong?"
"Pemalu. Sumpah."
Mereka tertawa bersama. Tawa yang jarang terdengar akhir-akhir ini. Tawa yang membuat lupa sejenak bahwa ada Rahmadi, ada fitnah, ada ancaman, ada sakit, ada ketakutan.
"Kang, apa kau ingat saat paYan g bocor itu?" Ariyanti bertanya, matanya berbinar.
"PaYan g biru tua. Warna biru pudar, hampir abu-abu. Bolong di tiga tempat." Akang tersenyum. "Kamu pinjam, terus baru dikembalikan tiga hari kemudian."
"Aku sengaja, Kang." Ariyanti tersenyum nakal. "Aku sengaja tidak mengembalikan cepat-cepat. Padahal paYan g itu sudah kering sehari setelah hujan reda."
Akang menoleh. Matanya membulat. "Sengaja?"
"Iya." Ariyanti mengangguk. "Aku sengaja. Aku ingin alasan untuk bicara lagi denganmu. Karena setelah hujan itu, kita tidak pernah ngobrol lagi selama beberapa hari. Dan aku... aku tidak suka. Aku rindu suaramu."
Akang tersenyum. "Jadi sejak SMP kamu sudah suka aku?"
"Bukan suka, Kang." Ariyanti menggeleng. "Penasaran."
"Penasaran kenapa?"
"Penasaran kenapa laki-laki miskin dari Cegunan ini begitu percaya diri. Padahal dia tidak punya apa-apa. Seragamnya kusut, sepatunya bolong, bekalnya cuma nasi dan tahu goreng. Tapi matanya... matanya selalu menyala. Seperti orang yang tahu persis apa yang ia inginkan dalam hidup."
Akang tertawa. "Aku punya keberanian, Ari. Aku punya mimpi. Dulu, ketika semuanya gelap, mimpi adalah satu-satunya lampu yang menyala. Dan aku tidak mau mematikannya."
"Sekarang aku tahu, Kang." Ariyanti menggenggam tangan Akang. "Keberanian dan mimpi lebih berharga dari harta. Lebih berharga dari uang. Lebih berharga dari apa pun yang bisa dibeli."
Mereka terdiam. Menikmati kebersamaan yang mungkin tidak akan mereka dapatkan lagi dalam waktu lama. Menikmati kehangatan yang mungkin akan menjadi kenangan di masa sulit nanti.
Firasat Buruk
"Kang, aku punya firasat buruk." Ariyanti memecah keheningan.
Akang mengernyit. "Firasat apa, Ari?"
"Aku merasa Rahmadi akan melakukan sesuatu yang lebih kejam." Suara Ariyanti pelan, hampir berbisik. "Lebih dari yang sudah-sudah. Lebih dari fitnah. Lebih dari kebakaran. Lebih dari tuduhan palsu. Lebih dari penahanan. Lebih dari ancaman pada ibu kita."
Akang menghela napas. "Aku juga, Ari. Bu Sumi bilang kita harus siap untuk yang terburuk. Kata Bu Sumi, orang yang sudah merasa terpojok biasanya akan bertindak nekat. Tanpa pikir panjang. Tanpa perhitungan. Hanya emosi."
"Kita harus lindungi keluarga kita, Kang." Ariyanti menatap Akang. Matanya serius. "Ibu kita. Adik-adik kita. Mereka tidak tahu apa-apa. Mereka tidak terlibat dalam semua ini. Tapi mereka yang paling rentan. Mereka yang paling mudah disakiti."
"Iya." Akang mengangguk. "Aku sudah minta Pak Lurah untuk meningkatkan patroli di malam hari. Sekitar rumahku. Sekitar rumahmu. Sekitar rumah Bu Sumi tempat Marni dan keluarganya tinggal."
"Bu Sumi juga sudah memindahkan Marni dan keluarganya ke rumahnya." Ariyanti menghela napas. "Rumah Bu Sumi cukup besar. Kamar belakangnya kosong. Sudah dibersihkan. Marni dan ibunya tidur di sana. Ayahnya kadang pulang ke rumah sendiri untuk mengecek, tapi tidak pernah menginap."
"Kita hanya bisa berdoa, Ari." Akang menggenggam tangan Ariyanti. "Berdoa semuanya berakhir dengan baik. Berdoa kita semua selamat. Berdoa kebenaran menang."
Mereka berpegangan tangan. Hangat. Meskipun malam mulai dingin, meskipun angin malam berembus menusuk tulang, tangan mereka tetap hangat. Kehangatan yang tidak bisa dijelaskan oleh ilmu pengetahuan. Kehangatan yang hanya dimiliki oleh dua orang yang saling mencintai.
Liontin Perak
"Ari, aku mau tunjukkan sesuatu." Akang melepaskan genggaman tangannya. Tangannya merogoh saku celana.
Ia mengeluarkan liontin perak berbentuk daun randu. Liontin yang biasa ia simpan di bawah bantal, yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapa pun, yang hanya ia pegang ketika sedang sendiri di malam hari.
"Ini liontin ayahku." Akang menyerahkan liontin itu pada Ariyanti.
Ariyanti menerimanya dengan hati-hati, seperti sedang memegang benda yang sangat rapuh. Tangannya membuka penutup liontin itu. Di dalamnya, foto usang seorang laki-laki berjas militer. Wajah yang sama seperti yang ia lihat di balik pohon randu beberapa waktu lalu.
"Cantik." Ariyanti mengamati setiap detail liontin itu. Ukiran daun randu di permukaan. Tanggal di bagian dalam. "Di dalamnya ada foto ayahmu. Dan ada ukiran tanggal. 3 Maret 1990. Aku belum tahu artinya."
"Aku juga tidak tahu, Ari." Akang menghela napas. "Ayahku menghilang tahun 1992. Dua tahun setelah tanggal itu. Aku tidak tahu apa hubungannya. Aku tidak tahu apakah tanggal itu penting. Ayahku tidak pernah menjelaskan."
"Mungkin suatu hari kau akan tahu, Kang." Ariyanti mengembalikan liontin itu. "Mungkin kebenaran akan terungkap. Mungkin kau akan bertemu ayahmu lagi. Mungkin dia masih hidup. Mungkin dia baik-baik saja."
"Aku berharap, Ari." Akang memasukkan liontin itu kembali ke sakunya, tepat di atas jantungnya. "Tapi entah kapan. Entah apakah aku masih punya cukup umur untuk menunggu."
Ariyanti memegang tangan Akang. "Kamu akan tahu, Kang. Aku yakin. Tepat pada waktunya. Ketika kamu sudah siap. Ketika kamu sudah cukup kuat. Ketika kamu tidak akan hancur oleh kebenaran itu."
Akang tersenyum. "Kamu selalu bisa membuatku merasa lebih baik, Ari."
"Ayah, beri aku kekuatan," bisik Akang dalam hati, tangannya masih memegang liontin di sakunya. "Beri aku kekuatan untuk bertahan. Beri aku kekuatan untuk melindungi orang yang aku cintai. Beri aku kekuatan untuk menemukanmu suatu hari nanti."
Rahmadi Mengintai dari Kejauhan
Di balik rimbunan pohon, sekitar 200 meter dari lokasi.
Mobil hitam berhenti di pinggir Jalan Randu Gembyang. Lampu depannya dimatikan. Mesinnya dimatikan. Hanya suara jangkrik dan angin malam yang terdengar.
Rahmadi duduk di kursi belakang, di balik kaca film gelap yang tidak tembus pandang. Matanya menatap ke arah pohon randu tertua. Dari kejauhan, ia melihat dua bayangan manusia yang sedang duduk bersandar di akar pohon. Bayangan yang saling berdekatan. Bayangan yang membuat dadanya terasa panas.
"Mereka masih di sana," bisik Danu dari kursi sopir. Matanya juga mengikuti arah pandangan Rahmadi.
"Biarkan." Suara Rahmadi dingin. "Aku ingin melihat mereka menderita. Aku ingin melihat mereka bahagia sebentar. Karena sebentar lagi, kebahagiaan itu akan aku hancurkan. Aku akan meremukkannya seperti kaca. Aku akan membakarnya seperti bengkel itu."
"Tuan, bukankah kita harus..." Danu tidak melanjutkan kalimatnya. Ia tahu Rahmadi tidak suka disela.
"Aku tahu apa yang aku lakukan, Danu." Rahmadi tersenyum jahat. Senyum yang tidak pernah sampai ke matanya. "Biarkan mereka bahagia sebentar. Biarkan mereka tertawa sebentar. Biarkan mereka berpelukan sebentar. Karena besok, lusa, atau minggu depan, aku akan hancurkan kebahagiaan itu. Aku akan pastikan mereka tidak pernah bisa tersenyum lagi."
"Besok aku akan kirim orang ke rumah masing-masing." Rahmadi melanjutkan. "Beri mereka ultimatum. Ariyanti harus memilih. Menerimaku, atau keluarganya hancur. Ibunya bisa kehilangan pekerjaan lagi. Adik-adiknya bisa dikeluarkan dari sekolah. Rumahnya bisa kebakaran. Apa pun. Terserah. Yang penting, dia tidak punya pilihan."
"Tuan yakin?" Danu bertanya, sekali lagi, dengan risiko dimarahi.
"Aku tidak pernah segila ini, Danu." Rahmadi tertawa. Tertawa kecil yang menakutkan. "Dan aku tidak akan kalah. Aku tidak pernah kalah. Dan aku tidak akan mulai kalah sekarang."
Perpisahan Sementara
Pohon randu, pukul 19.00. Malam mulai gelap. Langit sudah hitam pekat. Bintang-bintang bertaburan di langit, seperti lampu-lampu kecil yang tidak pernah padam.
"Ari, kita harus pulang." Akang berdiri, membersihkan debu dari celananya. "Nanti ibu khawatir. Ibu sudah sering gelisah kalau aku pulang malam."
"Iya." Ariyanti juga berdiri. "Aku juga harus bantu ibu bersih-bersih. Ibu sudah mulai bisa berjalan, tapi masih cepat lelah."
Debu-debu menempel di seragam mereka. Tidak ada yang peduli. Debu bisa dibersihkan. Tapi janji yang baru saja diucapkan, tidak akan bisa dihapus oleh waktu.
"Kang, janji kita ya." Ariyanti menatap Akang. Matanya berbinar di bawah cahaya bintang.
"Janji apa, Ari?"
"Janji di bawah pohon ini. Apa pun yang terjadi, seberat apapun ujian yang datang, sekelam apapun malam yang akan kita lalui, kita tidak akan menyerah."
"Aku tidak akan lupa, Ari." Akang menggenggam tangan Ariyanti. "Sampai kapan pun. Sampai mati. Janji."
Mereka berpelukan sebentar. Hangat. Singkat. Tapi bermakna. Pelukan yang mengatakan, "Aku di sini. Aku tidak akan pergi. Aku tidak akan meninggalkanmu."
"Aku mencintaimu, Akang Supriyadi."
Ariyanti mengucapkannya untuk pertama kalinya dalam hidupnya. Tanpa ragu. Tanpa malu. Tanpa takut ditolak. Hanya cinta. Cinta yang murni. Cinta yang tidak butuh balasan. Cinta yang ikhlas.
Akang terkejut. Dadanya berdegup kencang. Matanya berkaca-kaca. Tapi ia tersenyum.
"Aku juga mencintaimu, Ariyanti. Sejak pertama kali kau membelah nasi bungkusmu untukku di kantin SMP. Sejak kau mengembalikan paYan g biru tua itu setelah tiga hari. Sejak kau tersenyum untuk pertama kalinya di hadapanku."
Mereka tertawa. Lalu berpisah.
Akang berjalan ke arah Dusun Cegunan, ke barat, ke arah rumahnya yang gelap. Ariyanti berjalan ke arah Dusun Kersan, ke timur, ke arah rumahnya yang juga gelap.
Mereka berdua tahu, besok tidak akan mudah. Besok akan ada badai. Besok Rahmadi akan melancarkan serangan berikutnya. Besok, mungkin lusa, atau minggu depan, semuanya bisa berakhir.
Tapi malam ini, mereka punya janji. Janji yang akan menjadi cahaya di tengah kegelapan. Janji yang akan menjadi pegangan ketika semuanya terasa putus asa. Janji yang akan membuat mereka terus berjalan meskipun kaki terasa patah.
Malam ini, mereka punya cinta. Dan cinta, kadang, lebih kuat dari segalanya.
Doa Ibu di Dua Rumah
Dusun Kersan. Rumah Ariyanti.
Ariyanti tiba di rumah dengan hati hangat. Ia tersenyum sendiri, mengingat janji di bawah pohon randu, mengingat pelukan hangat, mengingat kata-kata cinta yang baru saja diucapkan.
Ibunya sedang duduk di teras. Wajahnya tenang, tapi matanya sayu. Tangan kanannya memegang tasbih, jari-jarinya bergerak perlahan menghitung butir demi butir.
"Yan , kamu lama sekali." Suara Ibu Ariyanti lembut.
"Maaf, Bu." Ariyanti duduk di samping ibunya. "Tadi ngobrol dengan Akang. Banyak yang harus kami bicarakan."
Ibu Ariyanti tidak marah. Ia hanya tersenyum.
"Yan , Ibu sudah tidak bisa melarangmu lagi." Suaranya melembut. "Ibu sudah lelah melarang. Ibu sudah lelah khawatir. Ibu sudah lelah takut. Ibu hanya bisa mendoakan."
"Terima kasih, Bu." Ariyanti memeluk ibunya.
"Ibu sudah berdamai dengan diri Ibu sendiri, Yan ." Ibu Ariyanti mengelus rambut anaknya. "Kalau memang Akang pilihanmu, Ibu restui. Ibu sudah lihat sendiri bagaimana dia memperjuangkanmu. Ibu sudah lihat sendiri bagaimana dia tidak pernah menyerah. Ibu sudah lihat sendiri bagaimana dia rela bekerja dengan kaki gips demi membantu biaya rumah sakit Ibu. Laki-laki seperti itu, langka, Yan . Jangan sampai lepas."
Ariyanti memeluk ibunya erat-erat. "Terima kasih, Bu. Aku sayang Ibu."
"Ibu juga sayang kamu, Nak." Ibu Ariyanti mencium kening anaknya. "Sekarang tidur. Besok kamu harus kuat."
Dusun Cegunan. Rumah Akang.
Akang tiba di rumah. Lampu di teras masih menyala. Ibunya sedang terbaring di kasur di ruang tengah. Matanya terbuka, menatap langit-langit anyaman bambu.
"Kang, kamu dari mana?" suara Ibu Akang lirih, parau.
"Dari Jalan Randu Gembyang, Bu." Akang duduk di samping ibunya. "Bareng Ariyanti."
Ibu Akang tersenyum lemah. Senyum yang membuat kerutan di wajahnya semakin dalam.
"Anak itu baik, Kang." Ibu Akang meraih tangan Akang. Tangannya dingin. "Dia setia. Dia tidak pernah meninggalkanmu meskipun banyak masalah. Jangan sampai kehilangan dia."
"Aku tidak akan, Bu." Akang menggenggam tangan ibunya. "Janji."
"Janji." Ibu Akang tersenyum.
Ibu Akang meraih tangan Akang dengan kedua tangannya. "Ibu hanya bisa mendoakan, Kang. Ibu tidak punya harta untuk diwariskan. Ibu tidak punya tanah untuk diberikan. Ibu tidak punya emas untuk dibagikan. Tapi Ibu punya doa. Dan Ibu yakin, doa Ibu didengar Allah."
"Terima kasih, Bu." Akang mencium tangan ibunya. "Aku sayang Ibu."
"Ibu juga sayang kamu, Nak." Ibu Akang mengelus kepala Akang. "Sekarang tidur. Besok kamu harus kuat. Untuk Ariyanti. Untuk keluarga. Untuk dirimu sendiri."
Malam yang Tenang Sebelum Badai
Tegorejo, pukul 21.00.
Di seluruh desa, lampu-lampu mulai padam satu per satu. Rumah-rumah menjadi gelap. Pintu-pintu terkunci. Warga beristirahat setelah seharian bekerja di sawah, di pasar, di pabrik, di toko.
Hanya suara jangkrik yang terdengar, konser malam yang sama setiap hari. Sesekali anjing menggonggong di kejauhan, mungkin melihat bayangan yang mencurigakan, mungkin hanya mimpi buruk.
Tapi di hati Akang dan Ariyanti, di dua rumah yang terpisah oleh beberapa kilometer jalan tanah, api janji terus menyala. Tidak redup. Tidak padam. Tidak bergoyang ditiup angin.
Mereka tahu besok akan ada badai. Besok Rahmadi akan melancarkan serangan. Besok mungkin lusa, atau minggu depan, semuanya akan berakhir.
Tapi mereka juga tahu, mereka tidak sendirian.
Bu Sumi bersama mereka. Guru tua yang bijaksana itu tidak akan menyerah sebelum keadilan ditegakkan.
Pak Dullah bersama mereka. Penjaga sekolah yang dulu menjadi sopir keluarga H. Rahmat itu telah memilih kebenaran di atas keselamatan.
Marni bersama mereka. Sahabat pendiam yang berani menjadi saksi meskipun diancam.
Pak Lurah bersama mereka. Pejabat desa yang tidak mau tunduk pada tekanan.
Bripka Joko mulai bergerak. Polisi jujur yang mulai mengumpulkan bukti.
Dan Allah selalu bersama hamba-Nya yang berjuang di jalan kebenaran. Itu yang mereka yakini. Itu yang membuat mereka kuat.
Janji yang Tersimpan dalam Angin
Pohon randu tertua, tengah malam.
Angin malam berembus di antara daun-daun randu. Daun-daun bergesekan satu sama lain, menciptakan suara gemerisik yang hampir seperti bisikan.
Seolah-olah pohon tua itu merekam janji dua anak manusia yang baru saja diucapkan di bawahnya. Seolah-olah pohon itu akan menjadi saksi bisu yang akan tetap di sini lama setelah manusia-manusia itu pergi. Seolah-olah pohon itu akan menceritakan janji ini pada angin, lalu angin akan membawanya ke seluruh penjuru desa, ke seluruh penjuru dunia.
Daun-daun randu berguguran satu per satu. Jatuh ke tanah yang kering. Menjadi pupuk bagi pohon itu sendiri. Menjadi saksi bisu yang tidak bisa bicara, tapi bisa mengingat.
Pohon itu telah melihat ribuan senja. Puluhan pasang kekasih. Ratusan janji. Janji-janji yang manis, janji-janji yang pahit, janji-janji yang ditepati, janji-janji yang dilanggar.
Tapi janji malam ini berbeda.
Karena janji ini bukan tentang cinta yang manis yang hanya bertahan di saat senang. Bukan tentang cinta yang mudah, yang tidak butuh perjuangan. Bukan tentang cinta yang hanya menginginkan kebahagiaan tanpa kesedihan.
Janji ini adalah tentang cinta yang bertahan di tengah api. Cinta yang tidak padam meskipun badai menerpa. Cinta yang tidak luntur meskipun fitnah menyiram. Cinta yang tidak mati meskipun maut mengintai.
Dan pohon randu tua itu tahu, janji seperti ini tidak mudah dilupakan. Bahkan oleh waktu sekalipun. Bahkan oleh kematian sekalipun. Bahkan oleh apapun yang akan terjadi di masa depan.
Pohon itu akan tetap di sini. Berdiri kokoh. Menyaksikan generasi demi generasi. Mengingat janji dua anak manusia yang berani mencintai di tengah kegelapan.
Dan angin akan terus membawa cerita itu. Ke seluruh penjuru desa. Ke seluruh penjuru dunia. Ke seluruh penjuru waktu.
BAB 16
PENGKHIANATAN DARI DALAM
Rahmadi mulai merayu Siti, sahabat dekat Ariyanti. Siti awalnya menolak, tapi janji-janji manis dan uang membuatnya luluh.
Tegorejo, akhir Oktober 1997 – Dua minggu setelah janji di bawah pohon randu
Kekalahan Rahmadi di pengadilan publik—meskipun belum secara hukum—telah melukai egonya. Akang dibebaskan. Marni bersaksi. Bu Sumi mengumpulkan bukti. Dan yang paling menyakitkan: Ariyanti semakin tegas menunjukkan cintanya pada Akang di depan umum.
Rahmadi sadar, pendekatan frontal tidak berhasil. Ia perlu taktik baru. Lebih halus. Lebih licik. Lebih mematikan.
Ia membutuhkan mata-mata di dalam.
Seseorang yang dekat dengan Ariyanti. Seseorang yang tahu semua gerak-geriknya. Seseorang yang bisa diandalkan untuk mengacaukan dari dalam.
Dan pilihannya jatuh pada Siti Fatimah—sahabat dekat Ariyanti sejak SMP.
Siti adalah gadis yang pendiam, pemalu, dan selalu berada di bayang-bayang Ariyanti. Selama bertahun-tahun, ia iri pada kecantikan, kepintaran, dan keberanian sahabatnya. Tapi ia tidak pernah berani mengungkapkannya.
Sampai Rahmadi datang.
Laki-laki tampan, kaya, dan penuh pesona itu menawarkan sesuatu yang selama ini Siti idam-idamkan: perhatian.
Dan Siti, yang lemah pada bujuk rayu, mulai jatuh.
Siti yang Tak Pernah Terlihat
SMAN I Pegandon – jam istirahat pertama
Ariyanti duduk di kantin bersama Akang, Marni, dan beberapa teman lain. Mereka tertawa, bercerita, dan sesekali melirik ke arah Rahmadi yang duduk sendirian di pojok.
Siti duduk tidak jauh dari mereka, tapi seperti biasa, ia hanya menjadi latar. Tidak ada yang benar-benar memperhatikannya. Ariyanti memang mengajaknya bicara, tapi Siti merasa itu hanya basa-basi.
"Kenapa semua orang selalu melihat Ariyanti?" pikir Siti dalam hati. "Aku juga pintar. Aku juga cantik. Tapi aku selalu jadi nomor dua."
Ia melihat Rahmadi sedang menatap ke arah Ariyanti. Tatapan penuh obsesi. Tatapan yang tidak pernah ia terima dari laki-laki mana pun.
"Seandainya ada laki-laki yang menatapku seperti itu..."
Siti menghela napas, lalu beranjak dari bangkunya. Ia berjalan ke belakang sekolah, ke tempat yang jarang dikunjungi siswa lain.
Tanpa sadar, Rahmadi mengikutinya.
Pertemuan Pertama di Belakang Sekolah
Belakang SMAN I Pegandon – pukul 10.15
Siti sedang duduk di atas batu besar, di bawah pohon mangga yang rindang. Ia membuka bekalnya—nasi bungkus sederhana dengan lauk tempe orek—lalu mulai makan sendirian.
"Boleh aku duduk di sini?"
Siti terkejut. Ia menoleh. Rahmadi berdiri di sampingnya, tersenyum dengan senyum paling manis yang ia miliki.
"Ma... Mas Rahmadi? Ada apa?"
"Aku hanya ingin makan siang di tempat yang tenang. Kamu tidak keberatan, kan?"
Siti bingung. "Si... silakan."
Rahmadi duduk di batu di seberang Siti. Ia membuka bekal mewahnya—nasi dengan ayam goreng, sayur sop, dan buah potong.
"Wah, mewah sekali, Mas," kata Siti polos.
"Biasa saja. Ini sisa dari katering di rumah."
Mereka makan dalam diam beberapa saat. Rahmadi memulai percakapan.
"Siti, kamu sahabat Ariyanti, kan?"
Siti mengangguk. "Iya."
"Ariyanti sering cerita tentang kamu?"
"Kadang."
"Apa yang dia ceritakan?"
Siti ragu. "Mas Rahmadi kenapa bertanya tentang Ariyanti?"
"Aku hanya penasaran. Dia gadis yang menarik. Tapi dia terlalu sibuk dengan Akang."
Siti terdiam. Ada nada getir dalam ucapannya.
"Kamu tidak suka Akang?" tanya Rahmadi.
"Aku tidak suka atau tidak suka. Hanya saja... Ariyanti berubah sejak dekat dengan dia. Dulu dia sering cerita denganku. Sekarang? Aku hanya nomor dua."
Rahmadi tersenyum dalam hati. "Bingo."
Rayuan Pertama
Belakang sekolah – pertemuan kedua, dua hari kemudian
Rahmadi sengaja datang ke tempat yang sama. Siti juga datang—mungkin karena berharap bertemu dengannya lagi.
"Mas Rahmadi, kok di sini lagi?"
"Aku suka tempat ini. Sepi. Tenang. Cocok untuk melepas penat."
Mereka duduk bersebelahan. Rahmadi mendekat sedikit.
"Siti, aku perhatikan kamu itu cantik, lho."
Siti tersipu. "Mas Rahmadi jangan bergurau."
"Aku tidak bergurau. Serius. Kamu punya senyum yang manis."
Siti tidak bisa berkata apa-apa. Jantungnya berdebar. Tidak ada laki-laki yang pernah memujinya seperti itu.
"Apa kamu punya pacar, Siti?"
Siti menggeleng.
"Kenapa? Tidak ada yang berani mendekatimu?"
"Tidak tahu, Mas. Mungkin aku tidak menarik."
"Kamu sangat menarik. Hanya saja laki-laki di sini buta."
Rahmadi merogoh sakunya. Ia mengeluarkan sebuah gelang emas tipis.
"Ini untukmu."
Siti terperanjat. "Mas Rahmadi, ini mahal. Aku tidak bisa terima."
"Anggap saja hadiah teman. Tidak ada maksud apa-apa."
Siti ragu. Tapi tangannya sudah mengambil gelang itu. Emas. Nyata. Berkilau.
"Terima kasih, Mas."
Rahmadi tersenyum. "Tahap pertama berhasil."
Siti Mulai Berubah
Rumah Siti – malam itu
Siti berdiri di depan cermin, memakai gelang pemberian Rahmadi. Emas itu berkilau di pergelangan tangannya.
"Kenapa dia memberiku ini?" pikirnya. "Apa dia suka padaku?"
Ia tersenyum sendiri. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa dilihat.
Tapi di sudut hatinya, ada suara kecil yang mengingatkan: "Hati-hati, Siti. Rahmadi itu jahat. Dia hanya memanfaatkanmu untuk mendekati Ariyanti."
Siti mengabaikan suara itu.
"Tidak mungkin. Dia tulus. Dia bilang aku cantik."
Ia tidur dengan gelang itu masih melingkar di pergelangan tangannya.
Ariyanti Mulai Curiga
Keesokan harinya – di kelas
Ariyanti melihat gelang emas di tangan Siti.
"Wah, Siti, kamu dapat gelang baru? Cantik sekali."
Siti tersenyum bangga. "Hadiah."
"Dari siapa?"
"Teman."
"Siapa namanya?"
"Rahasia."
Ariyanti mengernyit. "Siti, kamu tidak sedang dekat dengan laki-laki yang meragukan, kan?"
"Tidak. Dia baik."
"Siapa?"
Siti memalingkan muka. "Ari, aku tidak harus cerita semua padamu."
Ariyanti terdiam. Ada dinding yang tiba-tiba terbangun di antara mereka.
"Siti berubah," pikir Ariyanti. "Tapi aku tidak tahu kenapa."
Rahmadi Memberi Tugas
Rumah Rahmadi – sore itu
Rahmadi memanggil Siti ke rumahnya—atas alasan mengerjakan tugas kelompok. Siti datang dengan perasaan campur aduk.
"Silakan masuk, Siti."
Rumah Rahmadi megah. Siti belum pernah masuk ke rumah semewah ini. Matanya menjelajahi setiap sudut: sofa kulit, lampu kristal, televisi besar.
"Aku ingin hidup seperti ini," pikirnya.
Rahmadi mempersilakan Siti duduk. "Ada yang ingin aku bicarakan."
"Apa, Mas?"
"Aku butuh bantuanmu."
"Bantuan apa?"
"Ceritakan semua tentang Ariyanti dan Akang. Ke mana mereka pergi, apa yang mereka bicarakan, siapa saja yang mereka temui."
Siti terkejut. "Mas Rahmadi, itu namanya mata-mata. Aku tidak tega pada Ariyanti."
"Kamu tidak perlu tega. Kamu hanya perlu membantu teman yang sedang jatuh cinta."
"Tapi..."
"Siti, aku tahu kamu selama ini merasa tidak dihargai. Kamu selalu jadi nomor dua di samping Ariyanti. Sekarang saatnya kamu membuktikan bahwa kamu lebih baik darinya."
Siti menggigit bibir.
"Aku akan membayarmu. Lima ratus ribu per bulan. Cukup untuk membeli baju baru, tas baru, sepatu baru."
Siti hampir tidak percaya. Jumlah itu dua kali lipat uang jajan ayahnya sebulan.
"Mas Rahmadi..."
"Jangan jawab sekarang. Pikirkan dulu. Tapi ingat, rahasia ini hanya antara kita berdua."
Siti Menerima
Rumah Siti – malam itu
Siti tidak bisa tidur. Ia bolak-balik memandangi gelang emas di tangannya.
"Lima ratus ribu per bulan."
"Baju baru, tas baru, sepatu baru."
"Tidak perlu jadi nomor dua selamanya."
Tapi ada suara lain yang berbisik: "Ini namanya pengkhianatan, Siti. Ariyanti sahabatmu sejak SMP. Dia selalu membelamu. Dia selalu meminjamkan catatan. Dia selalu mengajakmu makan bareng saat kau tidak punya uang."
"Tapi dia juga yang selalu menjadi pusat perhatian. Dia yang selalu dipuji guru. Dia yang selalu didekati laki-laki. Aku hanya bayang-bayangnya."
Siti menangis. Ia bingung. Ia terjepit antara kesetiaan dan ambisi.
Pagi harinya, ia datang ke rumah Rahmadi.
"Aku terima, Mas."
Rahmadi tersenyum puas. "Bagus. Mulai hari ini, kau akan menjadi mataku dan telingaku."
Siti Mulai Mengkhianati
Beberapa hari kemudian – SMAN I Pegandon
Siti mulai menjalankan tugasnya. Diam-diam, ia mencatat setiap gerak-gerik Ariyanti dan Akang.
"Ari, kamu dan Akang besok ke mana sepulang sekolah?" tanyanya polos.
"Ke perpustakaan daerah. Akang mau cari buku tentang pertanian."
"Sendirian berdua?"
"Enggak. Marni ikut."
Siti mencatat dalam hati: "Perpustakaan daerah, besok sore. Ariyanti, Akang, Marni."
Informasi itu ia sampaikan pada Rahmadi malam harinya.
"Bagus," kata Rahmadi. "Ini uangmu untuk minggu ini."
Ia memberikan amplop tebal berisi uang. Siti menerimanya dengan tangan gemetar.
Ariyanti Merasakan Keanehan
Perpustakaan daerah Kendal – sore itu
Ariyanti, Akang, dan Marni sedang asyik membaca ketika tiba-tiba sekelompok preman datang.
"Kalian bertiga, ikut kami."
Akang berdiri. "Ada apa? Siapa kalian?"
"Tidak usah banyak tanya."
Marni ketakutan. Ariyanti mencoba tenang. "Kami tidak kenal kalian. Kami tidak akan ikut ke mana-mana."
Untunglah, petugas perpustakaan melihat keributan dan memanggil satpam. Preman-preman itu kabur.
Di perjalanan pulang, Ariyanti berpikir keras.
"Bagaimana mereka tahu kami di sini?"
Ia teringat bahwa hanya Siti yang tahu. Ia menelepon Marni.
"Mar, siapa saja yang tahu kita ke perpustakaan hari ini?"
"Aku, kamu, Akang... oh, Siti juga. Kamu kan cerita padanya."
Ariyanti terdiam.
"Siti?"
Ia tidak mau buru-buru menuduh. Tapi firasatnya tidak enak.
Konflik Batin Siti
Rumah Siti – malam itu
Siti duduk di kamarnya, memegang amplop uang dari Rahmadi. Tangannya gemetar.
"Aku sudah menjual sahabatku," bisiknya dalam hati.
Ia teringat saat SMP, ketika ia tidak punya uang untuk membeli buku. Ariyanti meminjamkannya tanpa diminta kembali.
Ia teringat saat ia diejek teman-teman karena bajunya lusuh. Ariyanti membelanya.
Ia teringat saat ia jatuh sakit. Ariyanti datang menjenguknya membawa jajanan.
"Aku monster," bisiknya.
Air mata Siti jatuh. Ia ingin berhenti. Tapi ia juga takut pada Rahmadi.
"Apa yang akan terjadi padaku jika aku berhenti? Apa yang akan terjadi pada keluargaku?"
Ia terjebak dalam lingkaran dosa yang semakin dalam.
Rahmadi Merencanakan Sesuatu yang Lebih Besar
Rumah Rahmadi – malam yang sama
"Danu, Siti sudah menjadi mata-mata kita. Sekarang aku butuh dia untuk melakukan sesuatu yang lebih... ekstrem."
"Apa itu, Tuan?"
"Aku ingin Siti memfitnah Akang. Mengatakan bahwa Akang memperkosanya."
Danu terperanjat. "Tuan, itu terlalu berbahaya. Saksi bisa membuktikan yang sebaliknya."
"Tidak akan ada saksi jika kita atur dengan rapi."
"Tapi Siti mungkin tidak mau."
"Aku akan beri dia uang lebih banyak. Dan ancam keluarganya jika dia menolak."
"Tuan, bukankah kita sudah punya cukup masalah dengan Bu Sumi dan Bripka Joko?"
"Kita tidak punya pilihan, Danu. Akang harus dihancurkan. Dengan cara apa pun."
Ultimatum untuk Siti
Keesokan harinya – rumah Rahmadi
Rahmadi memanggil Siti. Wajahnya dingin.
"Siti, aku punya tugas baru untukmu."
"Apa, Mas?"
"Kamu akan mengatakan bahwa Akang memperkosamu."
Siti memucat. "Apa? Tidak! Aku tidak bisa!"
"Kamu bisa. Kamu hanya perlu berbohong."
"Itu dosa besar, Mas. Aku tidak tega."
"Kamu tidak tega pada Akang? Tapi kamu tega pada dirimu sendiri? Kamu mau kembali miskin? Kamu mau kembali jadi nomor dua?"
Siti menangis. "Mas Rahmadi, jangan paksa aku."
"Kamu punya dua pilihan. Lakukan, atau keluarga kamu akan menyesal."
Siti terdiam. Ancaman itu nyata.
"Aku... aku butuh waktu."
"Kamu punya tiga hari. Jangan kecewakan aku."
Siti Menemui Bu Sumi
Rumah Bu Sumi – malam itu
Siti tidak tahan. Ia pergi ke rumah Bu Sumi, menangis tersedu-sedu.
"Bu, saya ingin mengaku."
Bu Sumi terkejut. "Ada apa, Siti?"
Siti menceritakan semuanya: tentang rayuan Rahmadi, tentang gelang emas, tentang uang, tentang menjadi mata-mata, dan tentang ultimatum untuk memfitnah Akang.
Bu Sumi memeluk Siti. "Kamu sudah sangat berani mengaku."
"Saya takut, Bu. Rahmadi mengancam keluarga saya."
"Kamu tidak sendirian. Ibu akan lindungi kamu dan keluarga kamu. Tapi kamu harus berani menjadi saksi."
"Saya siap, Bu. Saya tidak ingin hidup dalam dosa terus."
Sub Bab 14: Rencana Balik
Rumah Bu Sumi – satu jam kemudian
Bu Sumi memanggil Pak Lurah, Bripka Joko, Akang, dan Ariyanti.
"Siti baru saja mengaku bahwa Rahmadi menyuruhnya menjadi mata-mata. Dan sekarang, Rahmadi menyuruhnya memfitnah Akang dengan tuduhan pemerkosaan."
Ariyanti terperanjat. "Siti, kamu?"
Siti menunduk. "Maaf, Ari. Aku lemah. Aku iri padamu. Aku tergiur uang. Tapi aku tidak tega melihat Akang difitnah lebih parah."
Ariyanti memeluk Siti. "Kamu sudah berani mengaku. Itu lebih dari cukup."
Bripka Joko berseru, "Ini bukti kuat. Kita bisa tangkap Rahmadi sekarang."
"Tidak," kata Bu Sumi. "Kita tunggu. Biarkan Rahmadi menjalankan rencananya. Tapi kita sudah siap. Kita akan tangkap dia saat dia memberikan uang pada Siti. Itu bukti yang tidak terbantahkan."
"Setuju," kata Bripka Joko.
Perangkap untuk Rahmadi
Tiga hari kemudian – rumah Rahmadi
Siti datang ke rumah Rahmadi, seperti yang diminta. Namun kali ini, ia membawa alat perekam kecil yang diberikan Bripka Joko.
"Siti, apa keputusanmu?" tanya Rahmadi.
"Saya setuju, Mas. Saya akan bilang Akang memperkosa saya."
Rahmadi tersenyum puas. "Bagus. Ini uangmu."
Ia memberikan amplop tebal berisi uang.
"Dan ini bonusnya."
Ia memberikan kalung emas.
"Terima kasih, Mas."
Siti menerima semuanya. Namun rekaman itu sudah menangkap semuanya—Rahmadi menyuruh Siti memfitnah Akang, memberikan uang, dan memberikan ancaman.
Pengakuan Siti di Depan Polisi
Polsek Pegandon – keesokan harinya
Siti datang ke polisi didampingi Bu Sumi, Ariyanti, dan Pak Lurah. Ia menyerahkan alat perekam dan semua bukti.
"Ini rekaman Rahmadi menyuruh saya memfitnah Akang. Ini uang dan kalung pemberiannya. Ini juga gelang pemberiannya dari awal."
Bripka Joko memutar rekaman itu. Suara Rahmadi jelas terdengar.
"Ini cukup untuk menangkapnya," kata Bripka Joko.
"Dan saya juga mau mengaku," kata Siti. "Saya menjadi mata-mata Rahmadi. Saya mengkhianati sahabat saya. Saya bersedia dihukum."
Ariyanti memeluk Siti. "Kamu sudah bertobat. Itu yang penting."
"Saya minta maaf, Ari. Saya minta maaf, Akang. Saya minta maaf, semuanya."
Penangkapan Rahmadi
Rumah Rahmadi – sore itu
Bripka Joko datang dengan dua mobil polisi. Rahmadi yang sedang duduk di ruang tamu terperanjat.
"Rahmadi, saudara kami tangkap atas tuduhan menyuruh orang memberikan kesaksian palsu, pemerasan, dan ancaman kekerasan."
"Kalian tidak punya bukti!"
"Kami punya rekaman, saksi, dan barang bukti. Siti sudah mengaku semua."
Rahmadi memucat. "Siti? Pengkhianat!"
"Silakan ikut kami."
Rahmadi dibawa ke mobil polisi. H. Rahmat hanya bisa terdiam, tidak bisa berbuat apa-apa.
Siti Menemui Akang dan Ariyanti
Jalan Randu Gembyang – senja itu
Siti, dengan mata sembab, menghampiri Akang dan Ariyanti yang sedang duduk di bawah pohon randu.
"Akang, Ari, saya minta maaf. Saya sudah mengkhianati kalian."
Akang tersenyum. "Siti, kamu sudah bertobat. Itu lebih berharga dari kesalahanmu."
"Kamu mau maafkan saya?"
"Tentu," kata Ariyanti. "Kita sahabat. Sahabat tidak harus sempurna. Sahabat saling memaafkan."
Mereka bertiga berpelukan.
Senja di Tegorejo terasa hangat lagi.
BAB 17
MATA-MATA
Siti menjadi mata-mata Rahmadi. Ia melaporkan setiap gerak-gerik Ariyanti dan Akang.
Tegorejo, November 1997 – Sebulan setelah Siti mulai bekerja untuk Rahmadi
Ada pepatah lama: Musuh di depan masih bisa dihadapi, tapi musuh di belakang adalah yang paling mematikan.
Siti Fatimah bukanlah musuh dalam arti sebenarnya. Ia bukan preman bayaran. Ia bukan antek setia Rahmadi. Ia hanyalah gadis desa yang lemah, yang tergiur janji manis dan uang, yang iri pada sahabatnya sendiri, dan yang sekarang terjebak dalam lingkaran dosa yang semakin dalam.
Setiap hari, Siti memainkan peran ganda. Di depan Ariyanti, ia tersenyum, bercanda, dan berpura-pura menjadi sahabat setia. Di belakang Ariyanti, ia mencatat setiap detail—ke mana Ariyanti pergi, siapa yang ia temui, apa yang ia bicarakan dengan Akang.
Dan setiap malam, ia melaporkan semuanya pada Rahmadi.
Siti tahu ini salah. Tapi ia sudah terlanjur terjerumus. Dan semakin jauh ia masuk, semakin sulit untuk keluar.
Rutinitas Pengkhianatan
SMAN I Pegandon – jam istirahat pertama
Ariyanti duduk di kantin bersama Akang dan Marni. Siti duduk di samping Ariyanti, seperti biasa. Wajahnya tersenyum. Tapi di balik senyum itu, ada kegelisahan yang tidak terlihat.
"Ari, kamu dan Akang besok ke mana sepulang sekolah?" tanya Siti dengan nada santai, seolah hanya basa-basi.
"Ke rumah Bu Sumi. Katanya mau ngasih buku-buku lama untuk kita baca," jawab Ariyanti polos.
"Wah, asyik. Boleh ikut?"
"Tentu. Kita berempat."
Siti mengangguk. Tapi di dalam hati, ia mencatat: "Besok, rumah Bu Sumi. Ariyanti, Akang, Marni."
Informasi itu akan ia sampaikan pada Rahmadi nanti malam.
Marni yang duduk di seberang menatap Siti dengan curiga. Akhir-akhir ini, Siti sering bertanya tentang rencana Ariyanti. Marni tidak tahu kenapa, tapi ada yang tidak beres.
"Siti, kamu kok sering banget nanya rencana Ari? Ada perlu apa?" tanya Marni setengah bercanda.
Siti tersenyum canggung. "Tidak ada. Aku hanya penasaran. Biar bisa ikut kalau ada acara seru."
"Ooh..."
Marni tidak puas dengan jawaban itu. Tapi ia tidak mau menuduh tanpa bukti.
Laporan Malam ke Rahmadi
Rumah Rahmadi – pukul 19.30
Siti datang ke rumah Rahmadi dengan alasan "mengerjakan tugas kelompok". Danu sudah menunggu di pintu.
"Mas Rahmadi sudah menunggu," kata Danu.
Siti masuk ke ruang kerja Rahmadi. Laki-laki itu duduk di kursi empuk, memegang segelas anggur merah—minuman yang tidak pantas untuk seusianya, tapi ia selalu menyukai hal-hal terlarang.
"Apa laporanmu, Siti?"
"Besok, Mas. Ariyanti, Akang, dan Marni akan ke rumah Bu Sumi. Katanya mau ambil buku-buku lama."
Rahmadi mengernyit. "Rumah Bu Sumi lagi? Apa yang dilakukan guru tua itu?"
"Saya tidak tahu, Mas. Tapi sepertinya mereka sedang merencanakan sesuatu."
"Kau harus cari tahu. Jangan sampai mereka mengacaukan rencanaku."
"Baik, Mas."
Rahmadi mengeluarkan amplop. "Ini untukmu."
Siti menerimanya dengan tangan gemetar. Uang itu terasa panas di tangannya.
Siti Mulai Menyusup
Rumah Bu Sumi – keesokan sore
Siti datang bersama Ariyanti, Akang, dan Marni. Bu Sumi menyambut mereka dengan ramah.
"Silakan masuk, anak-anak. Saya sudah siapkan teh hangat dan pisang goreng."
Mereka duduk di ruang tamu Bu Sumi yang sederhana tapi penuh buku. Rak-rak buku memenuhi hampir seluruh dinding.
"Ari, ini buku-buku yang saya janjikan. Kumpulan puisi dan cerpen. Semoga bermanfaat."
"Terima kasih, Bu," kata Ariyanti.
Siti mengamati sekeliling. Matanya menangkap sesuatu: di meja Bu Sumi, ada map tebal berisi dokumen-dokumen. Siti tidak bisa membaca isinya dari kejauhan, tapi ia melihat foto-foto dan secarik kertas dengan tulisan "H. Rahmat" di sampulnya.
"Aku harus lapor ini," pikir Siti.
Setelah pertemuan usai, Siti berpura-pura lupa jaketnya di ruang tamu. Ia kembali masuk sebentar, membuka map itu, dan memotretnya dengan ponsel—ponsel pemberian Rahmadi.
Laporan Berbahaya
Rumah Rahmadi – malam itu
"Mas, saya menemukan sesuatu."
"Apa?"
Siti menunjukkan foto-foto dokumen di map Bu Sumi. Rahmadi membacanya dengan saksama. Wajahnya berubah pucat, lalu merah padam.
"Ini... ini bukti penyuapan ayahku ke polisi. Juga catatan tentang preman-preman bayaran."
"Mas, apa itu berbahaya?"
"Berbahaya? Ini bom waktu! Jika Bu Sumi menyerahkan ini ke polres, keluarga kami bisa hancur."
"Lalu apa yang harus kita lakukan?"
Rahmadi berjalan mondar-mandir. "Kita harus menghentikan Bu Sumi. Sebelum dia menyerahkan dokumen itu ke siapa pun."
"Bagaimana caranya, Mas?"
"Kau curi dokumen itu. Bawa ke sini."
Siti terperanjat. "Mencuri? Mas, itu..."
"Kau mau uang lebih banyak? Atau kau mau keluargamu selamat?"
Siti terdiam. Ancaman itu kembali terasa nyata.
"Baik, Mas. Saya coba."
Siti Mencuri Dokumen
Rumah Bu Sumi – dua hari kemudian, siang hari
Bu Sumi sedang pergi ke kantor polisi. Rumahnya kosong. Siti tahu itu karena ia sengaja memantau.
Dengan hati berdebar, Siti memanjat pagar belakang rumah Bu Sumi. Ia masuk melalui jendela dapur yang tidak terkunci.
Tangannya gemetar saat membuka map tebal di meja Bu Sumi.
"Astagfirullah, Siti. Apa yang kau lakukan?" bisik suara hatinya.
Tapi ia sudah terlanjur. Ia memasukkan seluruh map ke dalam tas ranselnya, lalu keluar melalui jendela yang sama.
Ia berlari sekencang mungkin meninggalkan rumah Bu Sumi, tanpa menoleh ke belakang.
Air matanya jatuh.
"Aku sudah menjadi pencuri. Aku sudah menjadi pengkhianat. Apa lagi selanjutnya?"
Sub Bab 6: Bu Sumi Mengetahui
Rumah Bu Sumi – sore itu
Bu Sumi pulang dari kantor polisi. Begitu membuka pintu, ia langsung tahu ada yang tidak beres. Jendela dapur terbuka. Mejanya berantakan.
Map itu... hilang.
Bu Sumi jatuh terduduk di kursi. Tangannya gemetar.
"Tidak... tidak mungkin..."
Ia menelepon Bripka Joko.
"Pak, dokumen-dokumen itu hilang. Rumah saya dimasuki orang."
"Bu Sumi, tenang. Saya akan ke sana sekarang."
Bu Sumi menutup telepon. Ia menangis.
"Siapa yang melakukan ini? Siapa yang tahu?"
Lalu ia teringat sesuatu. Siti. Gadis itu datang kemarin. Dan Siti adalah satu-satunya yang masuk ke ruang tamu sendirian—dengan alasan mengambil jaket.
"Siti... apa benar kau?"
Siti Dihadapkan pada Kenyataan
Rumah Siti – malam itu
Siti tidak bisa tidur. Map itu masih ada di dalam tas ranselnya. Ia belum memberikannya pada Rahmadi.
"Aku belum menyerahkannya. Mungkin masih ada waktu untuk kembali," pikirnya.
Tapi ketukan pintu mengagetkannya.
"Assalamualaikum."
Suara Bu Sumi.
Siti gemetar. Ia menyembunyikan tas ranselnya di bawah tempat tidur, lalu membuka pintu.
"Wa'alaikumussalam, Bu. Ada apa?"
Bu Sumi menatap Siti dalam-dalam. Matanya tajam.
"Siti, Ibu kehilangan sesuatu. Map berisi dokumen penting. Apakah kau tahu tentang itu?"
Siti pucat. "Tidak, Bu. Saya tidak tahu."
"Siti, Ibu tidak mau menuduh. Tapi Ibu mohon, jika kau tahu sesuatu, katakan. Dokumen itu sangat penting. Itu bisa membebaskan Akang dan menjebloskan Rahmadi ke penjara."
Siti menggigit bibir. Air matanya mulai mengalir.
"Bu... saya..."
Ia tidak bisa melanjutkan. Ia hanya menangis.
Bu Sumi memeluknya. "Siti, Ibu tahu kau terlibat. Ibu tahu kau sedang dalam tekanan. Tapi Ibu juga tahu, kau sebenarnya baik. Kembalilah sebelum semuanya terlambat."
Siti menangis di bahu Bu Sumi.
"Bu, saya sudah melakukan banyak dosa. Saya tidak pantas diampuni."
"Setiap orang pantas diampuni, Siti. Asalkan dia mau bertobat."
Siti Memutuskan Kembali
Rumah Siti – satu jam kemudian
Setelah Bu Sumi pergi, Siti duduk termenung di kamarnya. Ia membuka tas ransel, mengeluarkan map itu.
"Ini bukti kejahatan Rahmadi dan ayahnya. Jika aku serahkan, mereka akan dihukum. Keluargaku mungkin terancam. Tapi jika tidak, aku akan terus menjadi budak dosa."
Ia teringat kata-kata ibunya: "Nak, jadilah orang yang bermanfaat. Dunia ini butuh orang baik, bukan orang kaya."
Siti mengambil keputusan.
Ia menelepon Bu Sumi. "Bu, saya mau kembalikan mapnya. Tapi saya takut pada Rahmadi."
"Kamu tidak sendirian, Siti. Ibu akan lindungi kamu. Bripka Joko juga. Dan keluarga kamu akan diamankan."
"Baik, Bu. Saya akan ke rumah Ibu sekarang."
Pengembalian Dokumen
Rumah Bu Sumi – pukul 21.00
Siti datang bersama Marni—ia meminta Marni menemani karena takut sendirian.
Bu Sumi membuka pintu. "Masuklah, Nak."
Siti menyerahkan map itu dengan tangan gemetar. "Maafkan saya, Bu. Saya sudah mencuri. Saya sudah menjadi mata-mata Rahmadi."
Bu Sumi menerima map itu. "Ibu maafkan."
"Saya juga sudah melaporkan hampir semua gerak-gerik Ariyanti dan Akang pada Rahmadi. Saya juga yang memberitahu lokasi perpustakaan saat kalian hampir dikeroyok preman."
Ariyanti yang kebetulan sedang ada di rumah Bu Sumi—ia datang untuk belajar—mendengar semua itu dari balik pintu.
Ia keluar. Wajahnya pucat.
"Siti... kamu?"
Siti menunduk. "Maaf, Ari. Aku sudah mengkhianatimu."
Ariyanti terdiam. Matanya basah. Ia berjalan mendekati Siti.
"Siti, lihat aku."
Siti mengangkat kepala.
"Kita sahabat sejak SMP. Kita sudah melewati banyak hal bersama. Aku kecewa. Tapi aku tidak akan membencimu."
Siti menangis. "Kamu... kamu masih mau jadi sahabatku?"
"Kalau kamu benar-benar bertobat, ya. Tapi kalau kamu masih terus jadi mata-mata Rahmadi, aku tidak bisa."
"Saya sudah bertobat, Ari. Saya tidak akan mengulangi lagi."
Mereka berpelukan.
Siti Menjadi Saksi
Polsek Pegandon – keesokan paginya
Siti datang ke kantor polisi bersama Bu Sumi dan Ariyanti. Ia memberikan kesaksian lengkap: tentang rayuan Rahmadi, tentang gelang emas, tentang uang, tentang laporan-laporan yang ia berikan, tentang perintah mencuri dokumen, dan tentang ancaman pada keluarganya.
Bripka Joko mencatat semuanya. "Ini sangat berharga, Siti. Kamu sudah sangat berani."
"Pak, saya juga bersedia menjadi saksi di pengadilan. Saya mau mengakui semua kesalahan saya."
"Itu keputusan yang mulia."
Rahmadi Marah
Rumah Rahmadi – siang itu
"Danu, apa kabar? Siti belum menghubungiku."
"Tuan, kabar buruk. Siti membelot. Ia mengembalikan dokumen ke Bu Sumi dan memberikan kesaksian ke polisi."
Rahmadi membanting gelas ke dinding. "SITI! PENGKHIANAT!"
"Tuan, kita harus segera bertindak. Polisi mungkin akan segera mengeluarkan surat penangkapan."
"Aku tidak peduli! Aku akan hancurkan Siti dan keluarganya!"
"Tuan, jangan. Itu hanya akan memperburuk keadaan. Lebih baik kita siapkan pengacara."
Rahmadi menggerutu. "Ayolah, panggil pengacara. Tapi aku tidak akan diam. Aku akan balas dendam pada Siti."
Perlindungan untuk Siti
Rumah Bu Sumi – malam itu
Bu Sumi memutuskan untuk memindahkan Siti dan keluarganya ke rumahnya. Rumah Bu Sumi cukup besar dan aman. Bripka Joko juga menjanjikan patroli rutin di sekitar.
"Siti, mulai sekarang kau tinggal di sini. Jangan kemana-mana tanpa didampingi Bu Sumi atau Pak Lurah," kata Bripka Joko.
"Ayah dan ibuku?"
"Mereka akan menyusul. Kami sudah koordinasi dengan Pak Lurah untuk mengamankan rumah kalian."
"Terima kasih, Pak. Saya tidak tahu harus membalas."
"Balas dengan menjadi saksi yang jujur di pengadilan."
Siti Menulis Surat Permintaan Maaf
Kamar Siti di rumah Bu Sumi – tengah malam
Siti tidak bisa tidur. Ia mengambil buku tulis dan mulai menulis surat untuk Ariyanti.
"Untuk Ari, sahabatku..."
"Aku tahu kata maaf tidak akan cukup untuk semua pengkhianatan yang kulakukan. Aku sudah menjadi mata-matamu. Aku sudah melaporkan hampir semua gerak-gerikmu pada Rahmadi. Aku hampir mencelakakan kalian di perpustakaan. Aku bahkan mencuri dokumen dari rumah Bu Sumi..."
"Aku tidak pantas disebut sahabat. Aku hanya monster yang iri padamu. Aku iri karena kamu selalu menjadi pusat perhatian. Aku iri karena kamu lebih pintar, lebih cantik, lebih berani. Aku iri karena semua laki-laki memujimu, termasuk Rahmadi..."
"Tapi sekarang aku sadar. Kebahagiaan tidak bisa dibangun di atas penderitaan orang lain. Aku akan menjalani konsekuensi dari perbuatanku. Aku akan menjadi saksi di pengadilan. Aku akan mengakui semua kesalahanku di depan umum..."
"Aku harap suatu hari nanti, kamu bisa benar-benar memaafkanku. Bukan hanya karena belas kasihan, tapi karena kamu yakin aku sudah berubah..."
"Sahabatmu yang gagal,
Siti"
Ariyanti Membalas Surat
Keesokan paginya – di sekolah
Ariyanti membaca surat Siti. Matanya basah. Ia mengambil pulpen dan menulis di bagian bawah surat itu.
"Siti, aku sudah memaafkanmu dari hati. Bukan karena belas kasihan, tapi karena aku tahu bertobat itu tidak mudah. Aku tahu kau sedang berjuang melawan dirimu sendiri. Aku akan ada di sampingmu, sebagai sahabat. Bukan sebagai hakim. Bersamalah kita lawan kejahatan. Bersamalah kita bangkit dari kesalahan. – Ari"
Ia melipat surat itu dan memberikannya pada Siti saat jam istirahat.
Siti membaca. Ia menangis. Ariyanti memeluknya.
"Mari kita akhiri semua ini, Siti. Kita bawa Rahmadi ke pengadilan."
"Iya, Ari. Aku siap."
Akhir dari Mata-Mata
Polsek Pegandon – seminggu kemudian
Siti memberikan kesaksiannya di hadapan penyidik. Ia menceritakan semuanya dengan jujur, tanpa ditutup-tutupi.
Ia juga menyerahkan semua bukti yang ia miliki: gelang emas pemberian Rahmadi, uang yang belum ia habiskan, dan rekaman percakapan dengan Rahmadi yang ia buat diam-diam.
"Ini cukup untuk menjerat Rahmadi," kata Bripka Joko.
Siti menghela napas lega. Perannya sebagai mata-mata telah berakhir. Kini ia menjadi saksi kunci yang akan membantu membongkar seluruh kejahatan keluarga Rahmadi.
Di bawah pohon randu tertua, Ariyanti, Akang, Marni, dan Siti duduk bersama. Langit jingga di atas mereka. Angin berembus lembut.
"Akhirnya, kita semua di sini," kata Ariyanti.
"Bersama," tambah Akang.
"Meskipun aku pernah jatuh," kata Siti.
"Tapi kita bangkit bersama," pungkas Marni.
Mereka berpegangan tangan. Empat sekawan yang pernah diuji oleh pengkhianatan, kini bersatu kembali.
Dan Rahmadi? Ia semakin terpojok. Hukuman sudah di depan mata.
Tapi badai terbesar, belum benar-benar usai.
BAB 18
RENCANA KEJI
Rahmadi menyusun rencana untuk menghancurkan Akang secara permanen. Bukan hanya reputasinya, tapi hidupnya.
Tegorejo, pertengahan November 1997 – Tiga minggu setelah Siti membelot
Kekalahan beruntun telah mengubah Rahmadi. Bukan menjadi pribadi yang lebih baik, tapi menjadi monster yang lebih berbahaya. Siti membelot. Dokumen rahasia keluarga kembali ke tangan Bu Sumi. Polisi mulai mengintensifkan penyelidikan. Bahkan ayahnya sendiri mulai menjauh, takut terseret kasus anaknya.
Rahmadi merasa terpojok. Dan seperti binatang buas yang terdesak, ia tidak lagi berpikir rasional. Ia hanya ingin satu hal: menghancurkan Akang Supriyadi secara permanen. Bukan hanya reputasinya, tapi hidupnya.
Kali ini, tidak ada setengah-setengah. Tidak ada fitnah, tidak ada preman bayaran, tidak ada ancaman. Kali ini, Rahmadi ingin Akang mati.
Malam Kegelapan di Rumah Rahmadi
Rumah Rahmadi – pukul 01.00 dini hari
Rahmadi duduk sendirian di ruang kerjanya. Di hadapannya, botol minuman keras setengah kosong—kebiasaan baru yang ia mulai setelah stres berkepanjangan. Matanya merah, bukan karena menangis, tapi karena insomnia dan amarah yang tak terkendali.
Danu berdiri di sudut ruangan, diam seribu bahasa. Ia sudah lama tidak melihat tuannya seperti ini. Rahmadi dulu dingin dan terhitung. Sekarang? Ia seperti gunung berapi yang siap meletus kapan saja.
"Danu," panggil Rahmadi dengan suara serak.
"Ya, Tuan."
"Apa yang terjadi dengan rencana kita? Siti membelot. Dokumen hilang. Polisi menguntit. Bu Sumi semakin berani. Akang dan Ariyanti malah semakin mesra. Apa yang salah?"
Danu menghela napas. "Tuan, mungkin kita terlalu terburu-buru. Mungkin kita perlu..."
"Aku tidak minta analisis! Aku minta solusi!"
Danu terdiam.
Rahmadi berdiri. Ia berjalan ke papan tulis putih di dinding. Spidol merah di tangannya. Ia mulai menulis.
Masalah: Akang Supriyadi masih hidup dan bahagia.
Tujuan: Menghancurkannya secara permanen.
Metode: ?
Ia menoleh pada Danu. "Apa usulmu?"
Danu ragu. "Tuan, apakah kita tidak bisa menyelesaikan ini dengan cara... damai? Misalnya membayar Akang untuk pindah ke luar kota?"
Rahmadi tertawa pahit. "Membayar Akang? Laki-laki miskin dari Cegunan itu lebih keras dari batu. Dia tidak akan bisa dibeli. Aku sudah tahu."
"Lalu?"
"Kita harus menggunakan cara yang lebih... ekstrem."
Tiga Skenario Kematian
Rahmadi menulis di papan tulisnya.
Skenario 1: Kecelakaan
Bisa diatur. Akang sering berjalan kaki di Jalan Randu Gembyang yang gelap. Mobil bisa menabraknya dari belakang. Tampak seperti kecelakaan biasa.
Risiko: Sopir bisa tertangkap. Danu harus bayar orang luar.
Skenario 2: Keracunan
Akang sering makan di kantin sekolah. Makanannya bisa dicampur racun. Tampak seperti keracunan makanan biasa.
Risiko: Bisa menyerempet korban lain. Polisi akan curiga.
Skenario 3: Dikeroyok hingga mati
Pakai preman. Hadang di Jalan Randu Gembyang saat malam. Habisi. Buang mayatnya ke sungai.
Risiko: Banyak orang terlibat. Bisa bocor.
Rahmadi menatap ketiga skenario itu. Matanya dingin.
"Gabungkan," katanya tiba-tiba.
Danu mengernyit. "Maksud Tuan?"
"Kita buat kecelakaan yang tampak seperti perampokan. Pukul dia sampai tidak sadar. Lalu buang ke sungai. Polisi akan mengira dia dirampok dan jatuh ke sungai."
"Tuan, ini sangat berisiko."
"Aku tidak peduli, Danu. Aku sudah muak. Aku ingin dia mati. Aku ingin Ariyanti menangis. Aku ingin dia tahu apa rasanya kehilangan."
Danu terdiam. Ia tahu tidak ada gunanya melawan.
"Baik, Tuan. Saya akan atur."
Mencari Algojo
Rumah Rahmadi – siang itu
Danu membawa tiga orang preman ke rumah Rahmadi. Mereka adalah orang-orang yang sudah bekerja untuk keluarga H. Rahmat selama bertahun-tahun.
Tino, preman yang paling ditakuti di kecamatan Pegandon. Tubuhnya besar, wajahnya penuh bekas luka.
Jarwo, eks napi yang baru bebas dari penjara karena kasus penganiayaan.
Bambang, mantan satpam pabrik yang dipecat karena memeras karyawan.
"Ini orang-orangnya, Tuan," kata Danu.
Rahmadi mengamati mereka satu per satu. "Kalian tahu tugas kalian?"
Tino mengangguk. "Habisi satu orang. Buang ke sungai. Tampak seperti perampokan."
"Bagus. Aku bayar kalian lima puluh juta. Sepuluh juta di muka. Sisanya setelah eksekusi."
"Apa targetnya?" tanya Jarwo.
"Akang Supriyadi. Anak muda dari Dusun Cegunan. Setiap malam dia pulang melewati Jalan Randu Gembyang sekitar jam 7."
"Mudah," kata Bambang.
"Jangan anggap remeh. Laki-laki itu keras kepala. Kalian harus eksekusi dengan cepat dan bersih."
"Kapan, Tuan?" tanya Tino.
"Besok malam."
Persiapan Eksekusi
Malam berikutnya – Jalan Randu Gembyang
Tino, Jarwo, dan Bambang sudah bersiap di belakang rimbunan pohon randu, sekitar 500 meter dari pohon randu tertua. Mereka membawa pentungan kayu dan pisau.
Rahmadi dan Danu mengawasi dari mobil hitam yang terparkir sekitar satu kilometer dari lokasi.
"Jam 7 lewat, target akan lewat sini," bisik Danu melalui ponsel.
"Kami siap," jawab Tino.
Waktu berjalan lambat. Setiap detik terasa seperti satu jam.
Rahmadi di dalam mobil menggigit kukunya—kebiasaan gugup yang tidak pernah ia tunjukkan di depan umum.
"Akang, malam ini kau mati," bisiknya.
Firasat Ariyanti
Sore itu – Jalan Randu Gembyang
Seperti biasa, Akang dan Ariyanti berjalan pulang bersama. Tapi hari ini, Ariyanti gelisah. Firasatnya tidak enak.
"Kang, aku merasa ada yang tidak beres."
"Apa maksudmu, Ari?"
"Aku tidak tahu. Tapi hatiku tidak enak. Seperti ada bahaya yang mengintai."
Akang tersenyum. "Kau terlalu khawatir, Ari. Tidak ada apa-apa."
"Kang, pulanglah cepat hari ini. Jangan terlalu malam di bengkel. Pak Karyo kan belum buka bengkel lagi."
"Baiklah. Aku akan pulang jam 6."
"Janji?"
"Janji."
Tapi Akang tidak menepati janjinya. Ia membantu Pak Karyo membersihkan sisa-sisa kebakaran bengkel hingga pukul 18.45. Baru setelah itu ia berjalan pulang.
Langit sudah gelap. Jalan Randu Gembyang sepi.
Penguntitan
Jalan Randu Gembyang – pukul 18.55
Akang berjalan sendirian. Tas ranselnya berisi buku-buku dan pakaian ganti. Lampu senter kecil di tangannya hanya cukup untuk menerangi beberapa meter ke depan.
Ia tidak tahu bahwa di belakangnya, tiga bayangan bergerak mengikuti.
"Target terlihat," bisik Tino ke ponsel.
"Eksekusi," jawab Danu.
Tino, Jarwo, dan Bambang mempercepat langkah.
Akang mendengar suara langkah kaki di belakangnya. Ia menoleh. Tiga laki-laki besar mendekat dengan cepat.
"Selamat malam, Kang," sapa Tino dengan suara berat.
Akang curiga. "Ada apa? Siapa kalian?"
"Orang yang disuruh ngasih pesan."
"Pesan apa?"
"Bahwa kau harus mati."
Perlawanan Akang
Tino mengaYan kan pentungan ke arah kepala Akang. Akang sempat menghindar, tapi pentungan itu mengenai bahunya. Ia jatuh.
"AARRGHH!"
Jarwo menendang perutnya. Bambang menginjak tangannya.
"Jangan bunuh dulu. Sesuai rencana, kita pukul sampai pingsan, lalu buang ke sungai," kata Tino.
Akang berusaha bangkit. Matanya mencari benda yang bisa dijadikan senjata. Ia meraih batu besar di pinggir jalan dan melemparkannya ke arah Tino.
"DASAR KURANG AJAR!"
Tino mengelak. Jarwo maju dan memukul kepala Akang dengan gagang pisau.
Akang sempat bertahan, tapi kekuatannya tidak sebanding. Ia terjatuh. Wajahnya berlumuran darah.
"Ari... aku minta maaf... aku tidak bisa menepati janji..." bisiknya sebelum pingsan.
Marni dan Mbah Putri Melihat
Tidak jauh dari lokasi – rumah Mbah Putri
Mbah Putri sedang duduk di teras rumahnya, minum jahe hangat. Matanya yang sudah mulai rabun, tapi masih cukup tajam melihat gerak-gerik mencurigakan.
Ia melihat tiga laki-laki sedang memukuli seseorang di Jalan Randu Gembyang.
"Nak Marni! Nak Marni!" teriak Mbah Putri.
Marni yang sedang belajar di dalam rumah keluar. "Ada apa, Nek?"
"Cepat lihat! Di jalan sana! Ada orang dikeroyok!"
Marni memicingkan mata. Jalan Randu Gembyang gelap, tapi ia bisa melihat lampu senter yang jatuh ke tanah.
"Itu... itu tas ransel Akang!" teriak Marni.
"CEPAT PANGGIL POLISI!"
Marni berlari ke rumah Pak Lurah yang tidak jauh dari sana.
Polisi Datang
Jalan Randu Gembyang – pukul 19.15
Pak Lurah langsung menelepon Bripka Joko. Mobil polisi melaju kencang menuju lokasi.
Tino, Jarwo, dan Bambang yang sedang bersiap menyeret Akang ke sungai melihat lampu mobil polisi dari kejauhan.
"Sial! Polisi!"
"Kabur!"
Mereka bertiga melarikan diri ke arah mobil hitam yang sudah menunggu. Rahmadi dan Danu panik.
"Kenapa kalian lari? Belum selesai!" bentak Rahmadi.
"Polisi datang, Tuan! Kita tidak bisa lawan!"
"MASUK CEPAT!"
Mobil hitam itu melaju kencang meninggalkan lokasi. Tapi mereka tidak sempat menyembunyikan senjata. Pentungan dan pisau berserakan di tempat kejadian.
Akang Ditemukan
Jalan Randu Gembyang – pukul 19.20
Bripka Joko dan dua anggota polisi lainnya tiba di lokasi. Mereka menemukan Akang tergeletak di pinggir jalan, wajahnya berlumuran darah, tubuhnya penuh memar.
"Akang! Akang!" Bripka Joko memeriksa denyut nadinya.
Masih hidup. Tapi lemah.
"CEPAT BAWA KE PUSKESMAS!"
Mobil polisi mengangkut Akang ke Puskesmas Pegandon. Di dalam mobil, Bripka Joko menelepon Bu Sumi.
"Bu, Akang dikeroyok orang tak dikenal. Sekarang dalam perjalanan ke puskesmas."
Bu Sumi terperanjat. "Apa? Siapa pelakunya?"
"Kita belum tahu. Tapi kami menemukan pentungan dan pisau di lokasi. Ini bukan perampokan biasa. Ini percobaan pembunuhan."
"Pasti Rahmadi!"
"Saya juga curiga. Tapi kita butuh bukti."
"Biarkan saya yang cari bukti. Yang penting Akang selamat."
Ariyanti Mengetahui
Rumah Ariyanti – pukul 19.30
Telepon berdering. Ibu Ariyanti mengangkat.
"Halo?"
"Ini Marni, Bu. Tolong bilang Ariyanti, Akang dikeroyok orang. Sekarang di Puskesmas Pegandon."
Ibu Ariyanti pucat. "YAN !"
Ariyanti keluar dari kamar. "Ada apa, Bu?"
"Akang... dikeroyok. Sekarang di Puskesmas."
Ariyanti tidak sempat berganti pakaian. Ia langsung berlari keluar rumah, meninggalkan ibunya yang hanya bisa berdoa.
Di Puskesmas Pegandon
Puskesmas Pegandon – pukul 20.00
Ariyanti tiba dengan napas tersengal. Di depan ruang UGD, Bu Sumi, Marni, Mbah Putri, dan Pak Lurah sudah menunggu.
"Bagaimana keadaan Akang?" tanya Ariyanti panik.
"Masih dalam perawatan. Kepalanya terkena pukulan keras. Ada kemungkinan gegar otak," jawab Bu Sumi.
Ariyanti menangis. "Ini semua salahku. Kalau aku tidak memaksa Akang pulang cepat, mungkin dia tidak akan di jalan itu."
"Ari, jangan salahkan dirimu. Ini semua ulah Rahmadi," kata Marni.
"Kita harus buktikan," kata Pak Lurah.
Akang Sadar
Puskesmas Pegandong – pukul 21.00
Akang membuka matanya. Kepalanya pusing. Wajahnya diperban. Tubuhnya terasa remuk.
"Ari...?" bisiknya lirih.
"Kang! Aku di sini!" Ariyanti meraih tangannya.
"Apa yang terjadi?"
"Kau dikeroyok orang. Tapi kau selamat."
Akang mencoba mengingat. Percakapan dengan tiga laki-laki itu kembali.
"Mereka bilang... aku harus mati."
"Siapa? Apakah mereka menyebut nama?"
"Tidak. Tapi pasti Rahmadi. Hanya dia yang punya motif."
Bripka Joko yang ada di ruangan itu mendekat. "Kang, kami sudah mengamankan barang bukti. Ada sidik jari di pentungan dan pisau. Kami akan cocokkan dengan database."
"Terima kasih, Pak."
Rahmadi Panik
Rumah Rahmadi – pukul 21.30
"Danu, bagaimana kabar Akang?"
"Masih hidup, Tuan. Dirawat di Puskesmas."
"Sial! Kalian tidak becus!"
"Maaf, Tuan. Kami tidak tahu polisi datang begitu cepat."
"Apa kalian meninggalkan barang bukti?"
"Pentungan dan pisau... mungkin tertinggal."
Rahmadi menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Ini bencana. Sidik jari kalian ada di sana. Polisi pasti akan melacak."
"Apa yang harus kami lakukan, Tuan?"
"Kabur! Jangan kembali ke Pegandon sampai situasi tenang."
"Tapi Tuan..."
"Jangan tapi-tapi! Lakukan!"
Bu Sumi Melacak Preman
Rumah Bu Sumi – malam itu
Bu Sumi tidak bisa tidur. Ia membuka map berisi data-data tentang preman bayaran keluarga Rahmadi. Dari dokumen yang diberikan Pak Dullah, ia menemukan tiga nama: Tino, Jarwo, Bambang.
"Ia pasti mereka," bisik Bu Sumi.
Ia menelepon Bripka Joko.
"Pak, saya punya nama pelaku. Tino, Jarwo, Bambang. Mereka adalah preman bayaran keluarga H. Rahmat."
"Bukti, Bu?"
"Saya punya foto mereka dalam dokumen lama. Saya akan kirim."
"Terima kasih, Bu. Ini sangat membantu."
Penangkapan Preman
Keesokan harinya – berbagai lokasi
Polisi bergerak cepat. Tino ditangkap di rumahnya di Dusun Cegunan bagian utara. Ia sedang bersembunyi di kamar mandi saat polisi menggerebek.
Jarwo ditangkap di Terminal Pasar Pegandong saat hendak naik bus ke luar kota. Ia menggunakan topeng dan kacamata hitam, tapi polisi tetap mengenalinya.
Bambang ditangkap di rumah saudaranya di Kendal. Ia tidak berkutik saat polisi menggeledah rumahnya dan menemukan uang sepuluh juta rupiah—uang muka dari Rahmadi.
Tino Mengaku
Polsek Pegandon – ruang interogasi
"Siapa yang menyuruh kalian?" tanya Bripka Joko.
Tino awalnya diam. Tapi setelah ditunjukkan barang bukti dan ancaman hukuman seumur hidup, ia mulai berbicara.
"Itu... Rahmadi, Pak. Anak H. Rahmat. Ia menyuruh kami menghabisi Akang Supriyadi. Bayarannya lima puluh juta. Sepuluh juta di muka, sisanya setelah eksekusi."
"Kapan kalian menerima perintah?"
"Beberapa hari lalu. Saya, Jarwo, dan Bambang dipanggil ke rumah Rahmadi."
"Apakah kalian punya bukti?"
"Saya tidak punya, Pak. Tapi Jarwo mungkin punya. Ia merekam pembicaraan dengan Rahmadi."
Jarwo Menyerahkan Rekaman
Polsek Pegandon – ruang interogasi Jarwo
"Benar, Pak. Saya merekam pembicaraan dengan Rahmadi. Saya simpan di ponsel saya."
Jarwo menyerahkan ponselnya. Bripka Joko memutar rekaman itu.
Suara Rahmadi terdengar jelas: "Aku bayar kalian lima puluh juta. Sepuluh juta di muka. Sisanya setelah eksekusi. Akang Supriyadi harus mati."
"Ini bukti yang cukup," kata Bripka Joko.
Surat Penangkapan Rahmadi
Polsek Pegandon – sore itu
Bripka Joko mengajukan surat penangkapan Rahmadi ke pengadilan. Atas bukti rekaman, kesaksian tiga preman, dan barang bukti di lokasi kejadian, surat itu dikabulkan.
"Rahmadi, kami akan menjemputmu," bisik Bripka Joko.
Rahmadi Kabur?
Rumah Rahmadi – malam itu
Danu menghubungi Rahmadi. "Tuan, Tino, Jarwo, dan Bambang sudah ditangkap. Mereka mengaku semua. Polisi akan segera mengeluarkan surat penangkapan untuk Tuan."
"Apa? Sial! Mereka tidak bisa diandalkan!"
"Apa yang harus kita lakukan, Tuan?"
"Aku akan... aku akan ke luar kota. Sementara. Sampai situasi tenang."
"Tuan, itu bisa memperburuk keadaan. Lebih baik Tuan menyerahkan diri dan menyewa pengacara terbaik."
"Aku tidak mau! Aku Rahmadi! Aku tidak mau ditangkap polisi kampungan!"
"Tuan..."
"DIAM! Aku akan pergi malam ini juga!"
Rahmadi memasukkan pakaian ke dalam koper. Uang dan perhiasan ke dalam tas kecil.
Ia bermaksud kabur ke Jakarta, lalu ke luar negeri.
Tapi ia tidak tahu bahwa di luar rumahnya, polisi sudah berjaga.
Penangkapan Rahmadi
Rumah Rahmadi – pukul 23.00
Rahmadi keluar dari pintu belakang rumahnya. Ia hampir mencapai mobil ketika lampu senter menyala dari berbagai arah.
"RAHMADI, KAMI POLISI! ANDA KAMI TANGKAP ATAS TUDUHAN PERCOBAAN PEMBUNUHAN!"
Rahmadi berusaha lari. Tapi dua polisi langsung menggebruknya. Ia diborgol di depan pagar rumahnya sendiri.
- Rahmat keluar rumah. Wajahnya pucat.
"Nak... apa yang kau lakukan?"
Rahmadi hanya diam. Matanya kosong.
Ariyanti dan Akang Mengetahui
Puskesmas Pegandon – pukul 23.15
Bripka Joko menelepon Bu Sumi. "Bu, Rahmadi sudah ditangkap."
Bu Sumi menangis lega. "Akhirnya... terima kasih, Pak."
Ia memberi tahu Ariyanti dan Akang.
"Rahmadi sudah ditangkap," kata Bu Sumi lirih.
Ariyanti memeluk Akang yang masih terbaring lemah. "Kang, kita menang."
Akang tersenyum tipis. "Belum sepenuhnya, Ari. Masih ada persidangan. Masih ada vonis."
"Tapi setidaknya, dia tidak bisa berbuat jahat lagi. Untuk sementara."
Mereka berpegangan tangan.
Di luar puskesmas, langit Tegorejo mulai cerah setelah hujan semalaman.
Badai belum sepenuhnya berlalu.
Tapi fajar kemenangan sudah mulai terlihat.
BAB 19
KECELAKAAN DI JALAN RANDU
Akang hampir tewas ketika motornya direm paksa. Ia terpelanting ke sawah. Tulang kakinya retak.
Tegorejo, akhir November 1997 – Seminggu setelah Rahmadi ditangkap
Kemenangan terasa pahit. Rahmadi memang sudah ditahan di Polsek Pegandon. Tapi luka Akang belum sembuh. Tubuhnya masih penuh memar. Kepalanya masih pusing akibat gegar otak ringan. Dokter melarangnya beraktivitas berat setidaknya selama dua minggu.
Tapi Akang bukan tipe orang yang bisa diam.
Apalagi, ibunya sakit. Biaya pengobatan menumpuk. Keluarga Akang butuh uang. Dan satu-satunya sumber pemasukan sekarang adalah bengkel las Pak Karyo yang mulai beroperasi lagi—meskipun masih dengan peralatan seadanya.
Akang memutuskan untuk bekerja meskipun belum sembuh total. Ia tidak tahu bahwa Rahmadi, meskipun di balik jeruji besi, masih memiliki antek-antek setia di luar—termasuk Danu yang belum tertangkap.
Dan mereka sedang menyusun rencana balas dendam.
Bukan untuk membunuh.
Tapi untuk membuat Akang menderita seumur hidup.
Akang Memaksa Bekerja
Rumah Akang – pukul 05.30
Akang terbangun dengan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Ia menahan erang, perlahan bangkit dari tempat tidur. Perbannya masih membalut kepalanya. Lengannya diperban juga.
Ibunya yang sedang memasak di dapur melihat Akang keluar kamar. "Kang, kamu ke mana?"
"Ke bengkel, Bu. Pak Karyo butuh bantuan."
"Kamu masih sakit! Dokter bilang jangan dulu bekerja!"
"Bu, kita butuh uang. Biaya pengobatan Ibu juga besar. Aku tidak bisa diam."
Ibu Akang menangis. "Kang, Ibu tidak tega melihatmu seperti ini."
"Aku baik-baik saja, Bu. Ini hanya luka luar. Cepat sembuh kok."
Akang tersenyum, meskipun rasa sakit masih menusuk setiap sendi. Ia tidak ingin ibunya semakin khawatir.
Ia sarapan bubur hangat buatan ibunya, lalu bergegas ke bengkel. Biasanya ia berjalan kaki. Tapi kali ini, karena luka di kakinya masih terasa, ia meminjam sepeda motor tetangga—sebuah Honda Astrea kuno yang suaranya meraung-raung seperti harimau kelaparan.
"Pelan-pelan, Kang. Motor ini remnya agak bermasalah," pesan tetangganya, Pak RT.
"Iya, Pak. Hati-hati."
Tapi Akang tidak tahu bahwa semalam, seseorang telah mengutak-atik motor itu.
Motornya Dirusak
Malam sebelumnya – rumah Pak RT, pukul 23.00
Seorang pria bertopi dan masker merangkak di halaman rumah Pak RT. Ia membawa obeng dan tang. Dengan gerakan sigap, ia membuka penutup kabel rem sepeda motor tua yang terparkir di samping rumah.
Ia memotong kabel rem bagian depan, lalu menyambungnya kembali dengan lem—hanya sebatas cukup untuk membuat rem berfungsi beberapa kali. Setelah beberapa kali pengereman, lem akan lepas dan rem akan blong total.
Pria itu tersenyum jahat. Ini bukanlah ide Rahmadi—Rahmadi sudah ditahan. Tapi Danu, asisten setia Rahmadi, yang merencanakan semua ini.
"Akang, kau mungkin selamat dari pengeroyokan," bisik Danu dalam hati. "Tapi kali ini, kau tidak akan selamat."
Ariyanti Mencemaskan Akang
Dusun Kersan – pukul 06.00
Ariyanti baru saja selesai salat subuh ketika telepon genggamnya—pinjaman dari Bu Sumi—berdering.
"Halo?"
"Ari, ini Akang. Aku mau ke bengkel. Kamu jaga diri baik-baik."
"Kang, kamu masih sakit! Kenapa maksa?"
"Aku butuh uang, Ari. Maaf."
"Tunggu dulu! Aku ikut!"
"Tidak usah. Kau ke sekolah saja. Aku hanya sebentar di bengkel."
Telepon diputus. Ariyanti cemas.
"Ada yang tidak beres," pikirnya. "Firasatku tidak enak."
Ia memutuskan tidak masuk sekolah. Ia pergi ke bengkel Pak Karyo dengan berjalan kaki, berharap bisa sampai sebelum Akang.
Tapi jaraknya cukup jauh. Ia terlambat.
Perjalanan Menuju Bengkel
Jalan Randu Gembyang – pukul 06.30
Akang melaju pelan dengan sepeda motor tua itu. Ia tidak terbiasa mengendarai motor—biasanya ia berjalan kaki—tapi kali ini ia terpaksa.
Angin pagi berhembus segar. Sawah di kiri-kanan jalan mulai menghijau setelah hujan semalam. Burung-burung beterbangan di kejauhan.
"Semoga hari ini baik," pikir Akang.
Ia tidak tahu bahwa di tikungan sekitar 500 meter di depan, ada genangan minyak yang sengaja dituangkan Danu di aspal. Tidak terlihat dari kejauhan, tapi cukup licin untuk membuat motor tergelincir.
Akang melewati tikungan itu. Ia mengerem sedikit karena jalannya menurun.
Tapi remnya tidak berfungsi.
"Apa?" pikir Akang.
Ia mengerem lebih keras. Rem blong total.
Motor melaju semakin cepat. Akang panik. Ia mencoba mengerem dengan kaki—menginjak aspal dengan sandal jepitnya—tapi tidak ada gunanya.
TIKUNGAN!
Akang membanting setir ke kiri, berusaha menghindari pohon randu besar di pinggir jalan. Motor oleng. Ia kehilangan kendali.
"AAAAAARRRRGGGGHHHH!"
Motor itu terpelanting ke sawah. Akang ikut terlempar. Tubuhnya menghantam tanah berlumpur. Kepalanya terbentur batu. Kakinya tertekuk ke arah yang tidak wajar.
Seorang petani yang sedang berada di sawah itu berteriak histeris.
"TOLONG! ADA KECELAKAAN!"
Ariyanti Tiba di Lokasi
Jalan Randu Gembyang – pukul 06.50
Ariyanti sedang berjalan cepat menuju bengkel ketika ia melihat kerumunan orang di pinggir jalan. Ia mendekat.
Jantungnya berhenti sejenak.
Di sawah, tergeletak sebuah motor tua yang ringsek. Dan tidak jauh dari motor itu... sesosok tubuh berlumuran darah.
Kemeja putih lusuh. Celana jeans usang.
"Akang...?" bisik Ariyanti.
Ia melompat ke sawah tanpa peduli bajunya kotor. Ia berlari sekencang mungkin.
"AKANG!"
Akang terbaring tak sadarkan diri. Wajahnya penuh luka. Perban di kepalanya terlepas, memperlihatkan jahitan luka lama yang kembali terbuka. Dan yang paling mengerikan... kakinya.
Kaki kanan Akang tertekuk ke belakang. Tulangnya jelas patah—bahkan menembus kulit di beberapa tempat.
"JANGAN PEGERAKKAN DIA!" teriak seorang petani. "TUNGGU AMBULANS!"
Ariyanti hanya bisa menangis. Tangannya gemetar. Ia tidak berani menyentuh Akang.
"Kang... Kang... bangun... jangan tinggalkan aku..."
Akang tidak merespon.
Darah mengalir dari kepalanya, bercampur dengan air sawah yang keruh.
Ambulans Datang
Puskesmas Pegandon – pukul 07.30
Ambulans dari Puskesmas Pegandon tiba setelah 20 menit. Tim medis segera menstabilkan Akang—membalut lukanya, memasang bidai sementara pada kakinya yang patah, dan memberinya oksigen.
"Kita harus segera bawa ke RSUD Kendal. Kondisinya kritis," kata dokter.
Ariyanti ikut naik ambulans. Tangannya tidak pernah lepas dari tangan Akang.
"Kang, aku di sini. Aku tidak akan pergi."
Sepanjang perjalanan ke Kendal, Ariyanti hanya bisa berdoa.
Operasi Darurat
RSUD Kendal – pukul 09.00
Akang langsung dibawa ke ruang operasi. Dokter ortopedi, Dr. Priyanto, memeriksa kakinya dengan saksama.
"Tulang kering dan tulang betis patah. Ada retak di tempurung lutut. Kita harus segera operasi, atau dia bisa kehilangan fungsi kakinya."
"Berapa lama operasinya, Dok?" tanya Bu Sumi yang baru tiba.
"Sekitar 3-4 jam. Tergantung kondisi."
Bu Sumi mengangguk. "Silakan, Dok. Kami akan menunggu."
Ariyanti duduk di kursi ruang tunggu. Wajahnya pucat. Matanya sembab.
"Siti, tolong jemput ibunya Akang," pinta Bu Sumi.
"Siap, Bu."
Ibu Akang Mengetahui
Dusun Cegunan – pukul 10.00
Siti datang ke rumah Akang dengan motor ojek. Ia tidak tahu harus berkata apa.
"Bu... ada kabar tentang Akang."
Ibu Akang yang sedang duduk di teras langsung berdiri. "Ada apa? Kenapa mukamu pucat begitu?"
"Akang... kecelakaan, Bu. Sekarang di RSUD Kendal. Sedang dioperasi."
Ibu Akang hampir pingsan. Siti menahannya.
"Bu, tenang. Akang pasti selamat."
"BAWA SAYA KE RUMAH SAKIT! CEPAT!"
Siti memapah Ibu Akang ke ojek.
Ibu Ariyanti Ikut Menunggu
RSUD Kendal – pukul 11.00
Ibu Ariyanti datang bersama Marni dan Mbah Putri. Wajahnya cemas.
"Yan , bagaimana keadaan Akang?"
"Masih di operasi, Bu. Kakinya patah parah."
Ibu Ariyanti memeluk anaknya. "Dia pasti selamat, Yan . Dia anak yang kuat."
"Iya, Bu. Aku berdoa."
Mbah Putri duduk di kursi, memegang tasbih. Ia mulai berdoa dengan suara lirih.
"Ya Allah, lindungi anak itu. Dia baik. Dia hanya difitnah orang jahat. Jangan biarkan dia menderita lebih lama."
Pak Lurah datang bersama Bripka Joko.
"Bagaimana kabarnya?" tanya Pak Lurah.
"Masih di operasi," jawab Bu Sumi.
Bripka Joko mengamati sekeliling. "Ini tidak mungkin kecelakaan biasa. Saya akan periksa lokasi kejadian."
Bukti di Lokasi
Jalan Randu Gembyang – pukul 13.00
Bripka Joko dan timnya memeriksa lokasi kecelakaan. Motor tua itu sudah dievakuasi ke pinggir jalan.
"Periksa remnya," perintah Bripka Joko.
Seorang mekanik dari Polres Kendal memeriksa kabel rem depan.
"Ini, Pak. Kabel rem dipotong, lalu disambung dengan lem. Setelah beberapa kali pengereman, lemnya lepas."
Bripka Joko mengernyit. "Sabotase?"
"Kemungkinan besar, Pak."
"Dan ada genangan minyak di tikungan. Seseorang sengaja menumpahkannya."
"Ini sudah direncanakan."
Bripka Joko menghela napas. "Danu. Pasti Danu, asisten Rahmadi. Dia masih bebas."
"Ia harus segera ditangkap, Pak."
"Setuju."
Operasi Selesai
RSUD Kendal – pukul 13.30
Lampu ruang operasi padam. Dr. Priyanto keluar dengan wajah lelah.
"Keluarga Akang?"
"Kami, Dok," kata Ibu Akang.
"Operasi berjalan lancar. Kakinya kami pasang pen. Tapi... tulangnya retak parah. Pemulihan bisa memakan waktu berbulan-bulan. Bahkan mungkin... ada risiko dia tidak bisa berjalan normal lagi."
Ibu Akang menangis. "Dokter, apa anak saya bisa sekolah lagi? Bisa kerja lagi?"
"Bisa, Bu. Tapi butuh terapi intensif. Dan... dia tidak boleh membebani kakinya setidaknya selama 6 bulan."
"Terima kasih, Dok."
Ariyanti menggigit bibir. "Akang... apapun yang terjadi, aku akan di sampingmu."
Akang Sadar
RSUD Kendal – pukul 15.00
Akang membuka matanya perlahan. Kepalanya pusing. Tubuhnya terasa seperti ditimpa gunung.
"Ari...?"
"Kang! Aku di sini!"
Akang mencoba tersenyum, tapi rasa sakit di sekujur tubuhnya membuatnya mengernyit.
"Kakiku... kenapa rasanya aneh?"
"Kakimu patah, Kang. Tapi sudah dioperasi. Kamu akan sembuh."
"Apakah aku bisa berjalan lagi?"
"Kamu pasti bisa. Aku akan bantu."
Ibu Akang mendekat. "Kang, Ibu di sini."
"Maafkan aku, Bu. Aku sudah membuat Ibu khawatir."
"Kamu jangan minta maaf. Yang penting kamu selamat."
Ariyanti Berjanji
RSUD Kendal – malam hari
Ariyanti meminta izin untuk menjaga Akang semalaman. Ibu Akang setuju—ia sudah terlalu lelah dan butuh istirahat.
"Kang, aku mau bilang sesuatu."
"Apa, Ari?"
"Aku tidak akan meninggalkanmu. Apapun yang terjadi. Sampai kau sembuh. Sampai kau bisa berjalan lagi. Sampai kau bisa sekolah lagi. Aku akan di sini."
Akang menangis. "Ari, aku tidak pantas..."
"Kamu pantas. Kamu pantas bahagia. Kamu pantas dicintai. Kamu pantas sembuh."
Mereka berpelukan. Akang menangis di bahu Ariyanti.
"Terima kasih, Ari. Aku tidak tahu harus membalas."
"Balas dengan sembuh. Balas dengan menjadi dirimu yang dulu. Pekerja keras. Tidak pernah menyerah."
"Aku janji."
Danu Diburu Polisi
Polsek Pegandon – malam itu
Bripka Joko mengeluarkan surat penangkapan untuk Danu. Tersangka baru dalam kasus sabotase rem dan percobaan pembunuhan.
"Danu diduga menyabotase motor Akang. Juga menumpahkan minyak di tikungan. Ini percobaan pembunuhan berencana."
"Di mana Danu sekarang?" tanya Pak Lurah.
"Kami masih mencari. Tapi kemungkinan dia sudah kabur ke luar kota."
"Kejar. Jangan sampai dia lolos."
Danu Tertangkap
Terminal Pegandong – pukul 21.00
Danu sedang menunggu bus malam menuju Jakarta. Ia mengenakan topi dan jaket tebal, berusaha menyamar.
Namun Marni—yang kebetulan sedang mengantar pamannya di terminal—mengenali postur tubuh Danu.
"Itu... itu Danu!" bisik Marni pada Pak Lurah yang ada di sampingnya.
Pak Lurah langsung menelepon Bripka Joko.
"Pak, Danu di Terminal Pegandong! Cepat!"
Polisi datang dalam 10 menit. Danu berusaha lari, tapi dua polisi langsung menangkapnya.
"Danu, saudara kami tangkap atas tuduhan sabotase dan percobaan pembunuhan!"
Danu hanya bisa pasrah.
Pengakuan Danu
Polsek Pegandong – pukul 22.00
Di ruang interogasi, Danu mengaku semua.
"Saya yang menyuruh Tino, Jarwo, dan Bambang mengeroyok Akang. Saya yang menyabotase motor Akang. Saya yang menumpahkan minyak di tikungan. Semua atas perintah Rahmadi."
"Rahmadi sudah ditahan. Apa dia yang menyuruh?"
"Tidak langsung. Tapi saya tahu itu yang dia mau. Saya hanya menjalankan keinginannya."
"Kamu akan dijerat pasal percobaan pembunuhan. Ancaman hukumannya 15 tahun."
"Saya terima, Pak. Saya tidak punya pilihan."
Kabar untuk Akang
RSUD Kendal – keesokan paginya
Bripka Joko datang ke rumah sakit membawa kabar.
"Akang, Danu sudah ditangkap. Dia mengaku semua. Rahmadi juga akan dijerat pasal tambahan karena menyuruh orang lain melakukan percobaan pembunuhan."
Akang menghela napas lega. "Terima kasih, Pak."
"Kamu istirahat yang baik. Kami akan pastikan keadilan ditegakkan."
Proses Pemulihan
RSUD Kendal – beberapa hari kemudian
Akang mulai menjalani fisioterapi ringan. Ariyanti selalu di sampingnya, membantunya berjalan dengan tongkat, membacakan buku pelajaran, dan menyuapinya saat ia tidak bisa makan sendiri.
"Kang, pelajaran matematika kita ketinggalan banyak. Aku akan ajari kamu di sini."
"Kamu mau jadi guru privatku?"
"Iya. Gratis. Tugas teman."
Akang tersenyum. "Aku beruntung punya kamu."
"Kamu beruntung karena kamu baik. Orang baik selalu dikelilingi orang baik."
Doa Ibu
Rumah Akang – malam itu
Ibu Akang tidak bisa tidur. Ia bersimpuh di sajadah, menangis.
"Ya Allah, anakku sudah cukup menderita. Jangan ambil dia dari aku. Dia satu-satunya yang aku miliki."
"Engkau tahu dia tidak bersalah. Engkau tahu dia korban kejahatan orang-orang dzalim. Tolong sembuhkan dia. Tolong lindungi dia."
"Aku tidak punya harta untuk memohon. Aku hanya punya air mata dan doa."
Ia sujud lama.
Di luar, angin malam berembus. Seolah-olah membawa doanya ke langit.
Fajar Kemenangan
RSUD Kendal – dua minggu kemudian
Akang sudah bisa duduk di kursi roda. Ariyanti mendorongnya ke halaman rumah sakit, menikmati sinar matahari pagi.
"Kang, lihat. Matahari terbit dari timur."
"Seperti harapan kita."
"Apa maksudmu?"
"Setiap hari matahari terbit. Setiap hari ada harapan baru. Selama kita masih hidup, kita bisa berjuang."
Ariyanti tersenyum. "Kau bijak, Kang."
"Aku hanya belajar dari penderitaan."
Mereka berdua terdiam. Menikmati keindahan fajar.
Di kejauhan, langit Tegorejo mulai memerah.
Mereka akan pulang. Mereka akan sembuh. Mereka akan berjuang lagi.
Karena perjuangan belum selesai.
Tapi setidaknya, mereka masih bersama.
Dan selama masih bersama, tidak ada yang tidak mungkin.
BAB 20
RAWAT INAP
Akang dirawat di rumah sakit kecil di Pegandon. Ariyanti setiap hari menjenguknya, terkadang diam-diam melompat pagar.
Tegorejo – Kendal, Desember 1997. Sebulan setelah kecelakaan di Jalan Randu Gembyang.
Operasi besar di RSUD Kendal telah selesai. Tim dokter bedah ortopedi bekerja selama hampir empat jam menyambung tulang Akang yang patah di dua tempat, memasang pen logam di kaki kanannya, dan memperbaiki jaringan lunak yang rusak akibat benturan keras. Ruang operasi yang dingin dan penuh dengan alat-alat medis yang berkilau di bawah lampu sorot itu menjadi saksi bisu perjuangan seorang pemuda untuk bisa berjalan lagi.
Namun, kondisinya masih belum stabil. Infeksi mengintai di setiap sudut luka operasi. Demam naik turun setiap hari. Dokter Priyanto, spesialis ortopedi yang menangani Akang, memutuskan untuk memindahkan Akang ke rumah sakit yang lebih kecil namun lebih dekat dengan keluarganya. Bukan karena kondisinya membaik, tapi karena biaya perawatan di RSUD tidak mampu lagi ditanggung oleh Ibu Akang.
Puskesmas Rawat Inap Pegandon.
Bangunan tua peninggalan Belanda itu berdiri kokoh di tepi Jalan Raya Pegandon, sekitar dua kilometer dari pasar. Dindingnya bercat putih kusam yang sudah mengelupas di sana sini, memperlihatkan bata merah di bawahnya. Atapnya dari seng berkarat, berbunyi setiap kali hujan turun. Halamannya sempit, hanya cukup untuk dua mobil, dan pagarnya terbuat dari besi tinggi dengan ujung runcing. Sengaja didesain demikian, kata orang, untuk mencegah pasien keluar atau tamu tak diundang masuk.
Di sinilah Akang menjalani masa pemulihan yang panjang. Kaki kanannya masih terbungkus gips tebal dari pangkal paha hingga ujung jari kaki, putih bersih di awal, tapi kemudian kotor oleh debu dan noda-noda bekas air mata yang tak sengaja jatuh. Ia tidak bisa berjalan, hanya bisa terbaring di atas tempat tidur yang keras dan sempit, dengan kasur tipis yang kapuknya sudah menggumpal di sana-sini.
Biaya perawatan menggunung. Setiap hari, petugas administrasi puskesmas datang dengan membawa secarik kertas putih yang bertuliskan angka-angka. Ibu Akang sudah menjual hampir semua harta berharga yang tersisa. Sebuah lemari kayu jati peninggalan neneknya yang berukir halus. Dua ekor ayam petelur yang setiap pagi memberinya telur untuk dijual. Satu-satunya perhiasan emas yang ia miliki, cincin kawin yang dulu dipakai oleh ibunya, dan oleh ibunya lagi sebelumnya. Ia menjualnya dengan berat hati, menangis di depan toko emas, tapi ia tidak punya pilihan.
Tetangga-tetangga baik hati di Dusun Cegunan menggalang dana. Ada yang memberi beras, ada yang memberi uang lima ratus rupiah, ada yang memberi sayur-mayur. Pak Karto menyumbang dua ekor ayam potong. Bu RT menyumbang satu liter minyak goreng. Tapi hasilnya tidak seberapa. Tidak cukup untuk menutupi biaya obat yang harus diminum setiap hari, apalagi biaya perawatan yang terus berjalan.
Ariyanti tahu semua itu. Ia mendengar dari Bu Sumi, dari Marni, dari ibunya. Dan ia tidak bisa tinggal diam.
Setiap hari, sepulang sekolah, ia berjalan kaki sejauh 4 kilometer dari SMAN I Pegandon menuju Puskesmas Rawat Inap Pegandon. Bukan dengan kendaraan, karena tidak ada uang untuk naik angkot. Bukan dengan sepeda, karena tidak punya. Hanya dengan dua kaki yang sudah hafal setiap tikungan, setiap tanjakan, setiap turunan, setiap pohon randu yang dilewati.
Namun, ada satu masalah besar. Jam besuk hanya diizinkan pada pukul 16.00 hingga 17.00. Satu jam. Enam puluh menit. Tiga ribu enam ratus detik. Itu terlalu singkat bagi Ariyanti. Ia ingin lebih lama bersama Akang. Ia ingin membantunya makan, karena tangan Akang masih lemah dan gemetar. Ia ingin membacakan buku pelajaran, karena Akang ketinggalan materi berminggu-minggu. Ia ingin membersihkan wajahnya yang kusam oleh demam dan obat-obatan. Ia ingin sekadar menemani di saat-saat tergelap dalam hidupnya.
Maka, ia memutuskan untuk melompat pagar.
Puskesmas Rawat Inap Pegandon
Puskesmas Pegandon, pukul 14.00.
Puskesmas Rawat Inap Pegandon bukanlah rumah sakit modern dengan pendingin ruangan dan peralatan canggih. Bangunan tua peninggalan Belanda ini memiliki dinding tebal setengah meter, jendela-jendela tinggi dengan jeruji besi, dan lantai dari tegel hitam putih yang sudah retak di sana sini. Udara di dalamnya lembap dan dingin, bau obat-obatan bercampur dengan bau pemutih lantai.
Di dalam, ruang rawat inap laki-laki hanya memiliki 6 tempat tidur besi yang sudah berkarat di beberapa bagian. Tirai pembatas antara tempat tidur satu dengan yang lain hanya berupa kain tipis bermotif bunga-bunga pudar. Akang menempati nomor 4, tempat tidur dekat jendela yang menghadap ke timur. Dari sini, setiap pagi ia bisa melihat matahari terbit dari balik pohon-pohon randu yang berjajar di kejauhan. Pemandangan yang seharusnya indah, tapi tidak cukup untuk menghibur hatinya.
Rasa sakit di kaki kanannya seringkali tidak tertahankan. Terutama saat malam hari, ketika obat penghilang rasa sakit yang disuntikkan sore hari mulai habis efeknya. Tulang yang patah itu terasa seperti ditusuk-tusuk jarum, diremas-remas oleh tangan raksasa tak terlihat, dibakar oleh api yang tidak pernah padam. Ia hanya bisa menggigit bantal, menahan teriakan, dan berdoa agar pagi segera datang.
Pagi yang membawa Ariyanti. Pagi yang membuat segalanya terasa lebih ringan. Pagi yang mengingatkannya bahwa ia tidak sendirian.
Jam Besuk yang Terlalu Singkat
Puskesmas Pegandon, pukul 16.00.
Setiap hari, pintu puskesmas terbuka untuk jam besuk tepat pukul 16.00. Tidak terlalu cepat, tidak terlalu lambat. Tepat waktu, seperti semua peraturan di tempat ini. Para keluarga pasien berdatangan dari berbagai penjuru. Ada yang membawa makanan dalam rantang susun. Ada yang membawa pakaian ganti yang sudah disetrika rapi. Ada yang hanya duduk diam di samping tempat tidur pasien, menggenggam tangan kerabatnya yang terbaring lemah.
Ariyanti selalu menjadi yang pertama masuk. Setiap hari. Tidak pernah terlambat. Ia akan berlari kecil dari gerbang puskesmas menuju ruang rawat inap, tidak peduli jika orang-orang menatapnya aneh. Tidak peduli jika sepatu karetnya yang sudah tipis itu licin di lantai tegel. Tidak peduli jika napasnya tersengal-sengal.
"Kang!" sapanya sambil terengah-engah, ransel di punggungnya yang berisi buku-buku pelajaran bergoyang-goyang.
Akang yang sedang terbaring lemah dengan mata setengah terpejam langsung tersenyum. Senyum yang hanya muncul saat Ariyanti ada di sisinya. Senyum yang membuat kerutan di dahinya yang disebabkan rasa sakit menjadi hilang seketika. Senyum yang seperti obat terbaik yang tidak bisa dibeli di apotek mana pun.
"Ari, kamu datang lagi." Suaranya lirih, parau. "Kamu tidak capek?"
"Capek? Buat apa?" Ariyanti meletakkan tasnya di kursi besi di samping tempat tidur. "Aku kuat. Kamu tahu sendiri, aku ini keras kepala."
"Memang," Akang tertawa kecil, lalu meringis karena rasa sakit yang muncul di kakinya.
Setiap jam besuk, Ariyanti melakukan hal yang sama. Seperti ritual yang tidak pernah berubah. Seperti doa yang diucapkan dengan cara yang sama setiap hari.
Ia menyuapi Akang makan. Bubur hangat yang dibawanya dari rumah, dimasak oleh ibunya dengan kasih sayang, dibungkus dengan daun pisang dan koran bekas agar tetap hangat di perjalanan. Sendok demi sendok ia sodorkan ke mulut Akang, terkadang sengaja ditiup lebih dulu karena tidak ingin Akang kepanasan.
Ia membantunya membersihkan wajah. Handuk kecil yang sudah dibasahi dengan air hangat ia usapkan ke dahi, pipi, dan leher Akang. Pelan-pelan, lembut, seperti ibu yang merawat bayinya. Akang terkadang menutup matanya, menikmati sentuhan lembut itu, berharap waktu berhenti di detik itu.
Ia membacakan buku pelajaran. Suaranya pelan, tidak terlalu keras, tidak terlalu lambat. Kadang ia berhenti di tengah kalimat untuk menjelaskan suatu konsep yang sulit, atau sekadar memastikan Akang mendengarkan. Kadang Akang menyela, bertanya tentang sesuatu yang tidak ia pahami, atau sekadar berkomentar tentang guru yang galak.
Ia bercerita tentang apa yang terjadi di sekolah. Tentang Marni yang mulai berani bicara di depan kelas. Tentang Bu Sumi yang membela mereka di rapat guru. Tentang Siti yang semakin menjauh, mungkin karena rasa bersalah, mungkin karena takut. Tentang Rahmadi yang tidak masuk sekolah selama tiga hari berturut-turut.
"Kang, Bu Sumi titip salam." Ariyanti menyuapkan sendok terakhir bubur. "Katanya kamu jangan khawatir soal pelajaran. Nanti kamu bisa ikut ujian susulan. Semua guru sudah setuju."
"Terima kasih," Akang mengangguk, matanya berkaca-kaca. "Sampaikan pada Bu Sumi, aku akan belajar keras meskipun di sini. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan."
"Ibu juga kirim sayur asem kesukaanmu, Kang." Ariyanti mengeluarkan rantang kecil dari tasnya. "Aku bawa. Ibu masak khusus untukmu. Katanya, 'Biar cepet sembuh.'"
Akang hampir menangis. Air matanya menggenang di pelupuk mata, tapi ia tahan. "Kalian baik sekali padaku, Ari. Aku tidak punya apa-apa untuk membalas. Aku hanya anak miskin yang tidak punya apa-apa."
"Kamu tidak perlu membalas, Kang." Ariyanti menggenggam tangannya. Tangannya hangat. "Kamu hanya perlu sembuh. Itu sudah lebih dari cukup."
Tapi satu jam berlalu terlalu cepat. Seperti pasir yang jatuh dari genggaman tangan. Seperti air yang mengalir di sela-sela jari.
Pukul 17.00, bel berbunyi. Suara bel tua yang nyaring dan sedikit fals itu menggema di seluruh ruang rawat inap. Seorang suster tua dengan wajah keriput dan rambut disanggul rapi masuk ke ruangan. Wajahnya tidak marah, tapi tegas.
"Jam besuk selesai," katanya. "Keluarga pasien dipersilakan pulang. Besok bisa datang lagi."
Ariyanti menghela napas. Dadanya terasa sesak. "Kang, aku pulang dulu." Suaranya pelan, tidak rela. "Besok aku datang lagi. Janji."
"Terima kasih, Ari." Akang menggenggam tangannya lebih erat sebelum melepaskannya. "Hati-hati di jalan. Jangan lupa makan. Jangan lupa istirahat. Jangan terlalu memaksakan diri."
"Kamu juga," Ariyanti tersenyum, meskipun matanya basah. "Jangan malas minum obat. Jangan bandel."
Ariyanti berjalan keluar. Langkahnya berat, seperti kakinya terbuat dari timah. Tidak seperti saat masuk tadi. Tapi di depan pintu, ia menoleh sekali lagi, menatap Akang yang masih tersenyum dari balik jendela.
Ia tidak rela. Ia tidak rela meninggalkan Akang sendirian di ruangan yang dingin dan sepi, di mana satu-satunya suara adalah tetesan infus dan sesekali pasien lain yang mengerang kesakitan.
Keputusan untuk Melompat Pagar
Malam itu. Rumah Ariyanti.
Ariyanti tidak bisa tidur. Ia sudah berguling-guling di kasurnya sejak jam sembilan. Ke kiri. Ke kanan. Tengkurap. Telentang. Tidak ada posisi yang nyaman. Bantal kapuk yang sudah tipis itu ia remas-remas. Selimut tipis yang sudah usang ia tarik naik, lalu turunkan lagi.
Ia bolak-balik memikirkan Akang. Di rumah sakit, Akang sendirian. Tidak ada televisi. Tidak ada radio. Tidak ada buku yang cukup untuk dibaca, karena buku-buku yang bisa dibawa terbatas. Hanya suara tetesan infus yang berirama lambat, sesekali pasien lain yang mengerang kesakitan, dan langkah suster yang lalu-lalang di koridor.
"Aku harus lebih lama di sisinya," pikir Ariyanti sambil memandangi langit-langit anyaman bambu yang bolong di beberapa tempat. Melalui lubang-lubang itu, ia bisa melihat bintang-bintang berkedip, seolah-olah menyemangatinya.
Tapi peraturan puskesmas melarang tamu menginap. Peraturan itu tertulis di papan pengumuman, di samping pintu masuk, dengan huruf kapital tebal. "JAM BESUK: 16.00 - 17.00. DI LUAR JAM ITU, TAMU TIDAK DIIZINKAN MASUK." Suster-suster akan memeriksa setiap kamar sebelum jam 8 malam. Tidak ada yang bisa lolos. Tidak ada yang bisa menyuap.
Kecuali.
"Kecuali aku masuk tanpa sepengetahuan mereka."
Ariyanti duduk di tempat tidur. Matanya mengamati kamarnya yang gelap. Ia merenung.
Ia ingat pagar belakang puskesmas. Ia melihatnya saat jam istirahat, ketika ia sedang berjalan-jalan di halaman puskesmas sambil menunggu jam besuk. Pagar itu terbuat dari besi. Tingginya sekitar 2 meter, dengan jeruji vertikal yang jaraknya cukup lebar untuk dimasuki tangan, tapi tidak untuk seluruh badan. Di sisi kiri pagar itu, tumbuh sebuah pohon jambu biji. Pohon yang cukup tua, dengan dahan-dahan yang menjorok ke dalam halaman.
"Aku bisa memanjat pohon itu." Ariyanti merencanakan dalam hati, seperti seorang komandan perang yang menyusun strategi. "Lalu melompat ke dalam."
Ia membayangkan bagaimana caranya memanjat pohon jambu biji di malam hari, bagaimana cara mendarat dengan tidak bersuara, bagaimana cara bersembunyi jika ada suster atau satpam yang lewat.
Ariyanti tersenyum. Di dalam hatinya, ada suara kecil yang berkata, "Kamu gila, Ari. Kamu benar-benar gila."
Tapi ia sudah bulat. Tidak ada yang bisa mengubah keputusannya.
Akang membutuhkannya. Dan ia akan berada di sana.
Misi Pertama: Malam yang Mendebarkan
Puskesmas Pegandon, pukul 20.00, dua hari kemudian.
Ariyanti datang dengan pakaian gelap. Kaus hitam lengan panjang yang sudah pudar warnanya, celana jins panjang yang sudah usang, dan topi yang bisa menutupi rambutnya. Ia membawa ransel kecil berisi buku, makanan ringan, dan senter. Tidak ada yang bisa membedakannya dari kegelapan malam.
Dari kejauhan, ia mengamati situasi dengan saksama. Seperti mata-mata dalam film perang yang dilihatnya di televisi tetangganya.
Pintu depan puskesmas sudah terkunci rapat. Sebuah gembok besar berkarat tergantung di gagang pintu. Lampu di ruang perawat masih menyala terang, dan dari sela-sela tirai, ia bisa melihat beberapa suster sedang duduk mengobrol sambil minum teh. Lampu lorot di halaman depan cukup terang, menerangi setiap sudut dengan cahaya kuning pucat.
Tapi halaman belakang, gelap gulita. Tidak ada lampu sama sekali. Hanya cahaya bulan yang tersembunyi di balik awan, hanya bayangan-bayangan yang bergoyang tertiup angin.
Ariyanti merayap di sepanjang tembok samping puskesmas. Tubuhnya hampir menempel pada dinding bata yang dingin dan lembap. Setiap langkahnya ia lakukan dengan hati-hati, tidak ingin ada kerikil yang bergesekan, tidak ingin ada ranting yang patah.
Ia mencapai pohon jambu biji. Pohon itu tidak terlalu besar, tapi cukup tinggi. Dahan-dahannya menjalar ke segala arah, seperti tangan-tangan yang terbuka lebar. Dengan hati-hati, ia memanjat dahan pertama. Rantingnya patah. Suara "krek" yang keras memecah keheningan malam.
Ariyanti membeku. Jantungnya berhenti berdetak sejenak. Ia menahan napas.
Tapi tidak ada suara apa pun dari dalam gedung. Tidak ada teriakan. Tidak ada langkah kaki yang mendekat. Hanya suara jangkrik dan angin malam.
Ia memanjat lebih tinggi. Dahan kedua. Dahan ketiga. Setiap gerakannya ia lakukan dengan perlahan, dengan penuh perhitungan.
Ia mencapai dahan tertinggi yang menjorok ke dalam halaman puskesmas. Dari ketinggian itu, ia bisa melihat seluruh area belakang. Ada beberapa drum sampah di pojok. Ada tumpukan kayu bakar di dekat dapur. Dan ada jendela kamar Akang, terbuka sedikit, cukup untuk dimasuki oleh orang sekurus dirinya.
Ia melompat.
"Ghaff!"
Mendarat di tanah basah. Ada genangan air di tempat ia mendarat. Sepatu karetnya basah. Ujung celana jinsnya basah. Tapi ia tidak peduli.
Ariyanti berlari kecil menuju jendela kamar Akang. Hatinya berdebar-debar. Dadanya naik turun cepat. Tangannya gemetar.
"Kang! Kang!" bisiknya, sambil mengetuk kaca jendela pelan-pelan. "Buka jendelanya!"
Akang yang sedang setengah tidur terkejut. Matanya membulat. Mulutnya terbuka.
"Ari?" bisiknya, tidak percaya. "Kamu gila? Jam segini?"
"Buka! Cepat!" Ariyanti tidak mau membuang waktu.
Akang membuka jendela dengan susah payah. Tangannya masih lemah, gemetar. Jendela kayu itu berat, engselnya sudah berkarat.
Ariyanti melompat masuk. Jatuh terduduk di lantai, di samping tempat tidur Akang. Lututnya terasa sakit, tapi ia tidak peduli.
"Kang." Ia mengatur napas. "Aku akan temani kamu semalaman."
Akang masih belum percaya. Matanya masih membulat. "Ari, ini larangan! Nanti kamu ketahuan suster! Nanti kamu ditangkap satpam! Nanti kamu..."
"Tidak akan, Kang." Ariyanti sudah berdiri. Ia duduk di kursi di samping tempat tidur. "Aku pintar bersembunyi. Aku sudah hafal jadwal jaga mereka. Aku sudah hafal rute patroli satpam. Aku sudah hafal semua."
Akang hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Di dalam hatinya, ia terharu. Tapi ia juga takut. Ia takut jika Ariyanti ketahuan, ia akan dilarang masuk untuk selamanya. Ia takut jika Ariyanti celaka karena dirinya.
Tapi Ariyanti sudah terlanjur di sini. Dan tidak ada yang bisa mengusirnya.
Malam Pertama Bersama
Ruang rawat inap, pukul 21.00.
Ariyanti duduk di kursi di samping tempat tidur Akang. Kursi besi yang dingin dan keras, tanpa bantal, tanpa sandaran yang nyaman. Tapi ia tidak peduli. Yang penting ia bisa di sini, di samping Akang, mendengar suara napasnya yang teratur, melihat dadanya yang naik turun.
Ia membuka buku puisi dari tasnya. Buku tipis dengan sampul biru muda, kumpulan puisi Sapardi Djoko Damono yang dipinjamnya dari perpustakaan sekolah. Ia membalik halaman demi halaman, mencari puisi yang tepat untuk malam ini.
"Aku ingin mencintaimu dengan sederhana," Ariyanti membaca dengan suara pelan, hampir berbisik. Suaranya lembut, seperti aliran air di sungai. "Seperti kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu."
Akang tersenyum. Di dalam hatinya, ada kehangatan yang tidak bisa dijelaskan.
"Aku ingin mencintaimu dengan sederhana," Ariyanti melanjutkan, matanya tidak lepas dari buku. "Seperti isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada."
"Puisi siapa itu, Ari?" Akang bertanya, meskipun ia sudah tahu jawabannya.
"Sapardi Djoko Damono, Kang." Ariyanti menutup bukunya. "Aku suka puisinya. Sederhana, tapi dalam. Tidak berlebihan, tapi menyentuh."
"Kau juga sederhana, Ari." Akang menatap Ariyanti. Matanya lembut. "Tapi dalam."
Ariyanti tersipu. Wajahnya memerah, meskipun di bawah cahaya lampu temaram, mungkin tidak terlalu terlihat. "Jangan gombal, Kang. Kamu kan sedang sakit. Fokus sembuh, jangan fokus rayu."
"Sakit bukan berarti tidak bisa gombal, Ari." Akang tersenyum lebar. "Justru dengan sakit, aku jadi lebih jago gombal. Karena aku punya banyak waktu untuk berpikir."
Mereka tertawa kecil. Tawa yang tidak keras, tidak mengganggu pasien lain. Tawa yang hanya untuk mereka berdua.
Suster lewat di depan pintu. Langkah kakinya terdengar pelan di lantai tegel. Bayangannya terlihat di sela-sela tirai.
Ariyanti dan Akang langsung diam. Ariyanti memejamkan mata, berpura-pura tidur di kursi. Akang juga memejamkan mata, berpura-pura tidur di tempat tidur. Mereka tidak berani bergerak. Tidak berani bernapas terlalu keras.
Suster itu berhenti sejenak di depan pintu, mungkin mengintip, mungkin hanya mendengarkan. Lalu langkahnya menjauh.
"Kang," Ariyanti berbisik setelah suster pergi, "kamu harus cepat sembuh. Aku ketinggalan pelajaran karena sering bolos sekolah."
"Kenapa bolos?" Akang membuka matanya.
"Buat jenguk kamu, Kang." Ariyanti menggigit bibirnya. "Aku bolos jam pelajaran terakhir setiap hari. Karena jam besuk cuma satu jam, aku nggak cukup. Jadi aku keluar lebih awal."
"Jangan bolos, Ari." Akang menggeleng. Wajahnya serius. "Aku tidak mau jadi alasan kamu gagal ujian. Aku tidak mau jadi alasan kamu tidak naik kelas."
"Tidak akan gagal, Kang." Ariyanti tersenyum percaya diri. "Aku pintar. Kamu tahu sendiri. Rangking satu."
"Aku tahu." Akang menggenggam tangan Ariyanti. "Tetaplah pintar, Ari. Untuk masa depan kita. Untuk desa kita. Untuk mimpi kita."
"Untuk masa depan kita." Ariyanti membalas genggaman Akang. Tangannya hangat.
Mereka bergandengan tangan. Lampu ruangan redup, hanya satu bohlam kecil di langit-langit yang menyala, menerangi ruangan dengan cahaya temaram. Di luar, angin malam berembus membawa bau daun randu yang khas, bau yang mengingatkan mereka pada Jalan Randu Gembyang, pada pohon randu tertua, pada janji yang belum lama mereka ucapkan.
Di ruangan yang dingin ini, di tengah malam yang gelap, di antara bau obat-obatan dan pemutih lantai, Ariyanti dan Akang menemukan kehangatan. Kehangatan yang tidak bisa diberikan oleh selimut atau jaket tebal. Kehangatan yang hanya bisa diberikan oleh kehadiran seseorang yang kita cintai.
Hampir Ketahuan
Pukul 05.00. Subuh.
Ariyanti terbangun dari tidurnya. Kepalanya nyeri karena tertidur di kursi besi yang keras. Lehernya terasa kaku. Punggungnya terasa pegal. Matanya masih sayu, berat untuk dibuka.
Tapi ia harus segera keluar. Sebelum suster melakukan pemeriksaan pagi. Sebelum satpam memulai patroli. Sebelum hari mulai terang dan orang-orang mulai berdatangan.
Akang masih terlelap. Wajahnya tenang. Untuk pertama kalinya dalam beberapa malam, ia tidur tanpa mengerang kesakitan.
Dengan hati-hati, Ariyanti membuka jendela. Jendela kayu itu berdecit pelan. Ia menahan napas, berharap tidak ada yang mendengar.
Ia melompat keluar. Kaki kanannya mendarat lebih dulu di tanah basah. Halaman belakang puskesmas masih gelap, tapi sudah mulai ada sedikit cahaya di ufuk timur.
Ia berlari menuju pohon jambu biji. Pohon itu menjadi satu-satunya jalan keluar. Satu-satunya cara untuk kembali ke sisi luar pagar.
Tapi saat ia hendak memanjat, lampu senter menyala dari arah dapur. Cahaya putih yang menyilaukan itu langsung menyorot ke arahnya.
"Siapa di sana?" suara laki-laki. Berat. Mengancam.
Ariyanti panik. Jantungnya berdebar kencang. Ia tidak bisa berlari. Tidak bisa bersembunyi. Tidak bisa apa-apa.
Ia bersembunyi di balik drum sampah. Tubuhnya yang kecil hampir tidak terlihat di balik drum plastik besar yang sudah penyok di beberapa sisi. Ia menahan napas. Tidak berani bergerak.
Suara langkah kaki mendekat. Ariyanti bisa mendengar gemerincing kunci di pinggang satpam. Bisa mendengar suara napasnya yang teratur.
"Dengar, tadi ada suara. Mungkin kucing." Suara itu berasal dari arah dapur. Mungkin suster, mungkin petugas kebersihan.
"Kucing? Jam segini?" suara satpam lagi. "Awas maling. Awas pencuri. Banyak kejadian pencurian di puskesmas malam-malam."
"Ya sudah, cek saja. Saya masuk dulu."
Satpam itu berjalan mondar-mandir di halaman belakang. Senter di tangannya menyorot ke segala arah. Ke dapur. Ke tumpukan kayu. Ke drum sampah. Ke pohon jambu biji.
Ariyanti tidak berani bernapas.
Tuhan, tolong aku, bisiknya dalam hati.
Entah karena doanya terkabul, entah karena satpam itu malas, senter itu akhirnya mati. Langkah kaki menjauh. Pintu belakang puskesmas tertutup dengan suara "kreek".
Ariyanti menunggu sebentar. Lima detik. Sepuluh detik. Tiga puluh detik.
Ia segera memanjat pohon jambu biji. Tangannya gemetar, kakinya lemas, tapi ia memaksakan diri. Dahan pertama. Dahan kedua. Dahan ketiga.
Ia melompat ke sisi luar pagar. Tubuhnya jatuh ke tanah. Tanah becek membasahi pakaiannya. Tapi ia tidak peduli.
Ia berlari sekencang mungkin. Menjauh dari puskesmas. Menjauh dari bahaya.
Sampai jaraknya sudah cukup jauh, ia berhenti. Napasnya tersengal-sengal. Dadanya naik turun dengan cepat.
"Aku selamat," pikirnya sambil tersenyum. "Aku selamat."
Rutinitas Rahasia
Hari-hari berikutnya. Setiap malam.
Setiap malam, Ariyanti melakukan ritual yang sama. Seperti seorang agen rahasia yang memiliki misi penting.
Pulang sekolah, ia langsung membantu ibunya berjualan gorengan di depan rumah. Menggoreng tempe, pisang, dan tahu. Membungkusnya dengan daun pisang. Melayani pembeli yang kadang datang, kadang tidak.
Sekitar pukul 18.00, ia belajar sebentar. Membaca buku, mengerjakan PR, mempersiapkan materi untuk besok.
Pukul 19.00, ia mandi. Berganti pakaian. Menyiapkan ransel.
Pukul 19.30, ia berangkat ke puskesmas. Berjalan kaki menyusuri Jalan Randu Gembyang yang gelap, sendirian, tanpa takut. Karena ia sudah hafal setiap tikungan, setiap pohon, setiap suara.
Pukul 20.00, ia tiba di puskesmas. Memulai misinya. Memanjat pohon jambu biji. Melompat pagar. Masuk melalui jendela kamar Akang.
Pukul 05.00, ia keluar. Pulang ke rumah. Berganti pakaian. Berangkat ke sekolah.
Ia sudah hafal jadwal suster jaga. Suster Aminah jaga malam Senin, Rabu, Jumat. Suster Lastri jaga malam Selasa, Kamis, Sabtu. Minggu malam, hanya satu suster yang berjaga, dan biasanya ia lebih banyak tidur.
Ia sudah hafal waktu patroli satpam. Satpam berkeliling setiap dua jam sekali. Rutenya selalu sama. Dari pintu depan, ke halaman samping, ke halaman belakang, lalu kembali ke pintu depan. Setiap kali satpam lewat, ia harus bersembunyi. Di balik drum sampah, di balik tumpukan kayu, di bawah tempat tidur Akang.
Ia bahkan sudah menyiapkan "kantor" darurat di bawah tempat tidur Akang. Sebuah alas dari kardus bekas, selimut tipis, bantal kecil, dan persediaan makanan ringan untuk berjaga-jaga. Jika ada suster yang lewat di depan pintu, ia bisa langsung bersembunyi di sana tanpa perlu repot keluar jendela.
"Kang, kamu tidak keberatan aku di sini, kan?" tanya Ariyanti suatu malam, sambil merapikan selimut di bawah tempat tidur.
"Keberatan?" Akang tersenyum. "Aku malah senang, Ari. Tanpamu, malam-malam terasa sangat panjang. Sepanjang hidupku."
"Apa yang biasa kamu lakukan sebelum aku datang?" Ariyanti duduk di kursi di samping tempat tidur.
"Menatap langit-langit." Akang menunjuk ke atas. "Menghitung retakan. Satu, dua, tiga. Sampai lupa jumlahnya. Berdoa. Kadang menangis. Kadang marah. Kadang pasrah."
"Dan sekarang?"
"Sekarang..." Akang meraih tangan Ariyanti. "Sekarang aku punya teman bercerita. Aku punya alasan untuk tersenyum. Aku punya seseorang yang membuatku ingin cepat sembuh."
Ariyanti menggenggam tangan Akang. "Aku tidak akan meninggalkanmu, Kang. Janji. Sampai kamu sembuh. Sampai kamu bisa berjalan lagi. Sampai kamu bisa sekolah lagi. Aku akan di sini."
"Janji?" Akang menatapnya.
"Janji." Ariyanti tidak berkedip.
Ibu Akang Tahu
Rumah Akang, suatu sore.
Ibu Akang mendapat kabar dari tetangga. Bu RT, yang suka bergosip, yang lidahnya tidak pernah diam, yang matanya selalu mencari-cari kesalahan orang lain.
"Bu, anakmu itu keras kepala, ya." Bu RT datang dengan wajah penuh rasa ingin tahu. "Masa pacarnya nekat loncati pagar rumah sakit. Malam-malam lagi. Katanya sering. Katanya sudah beberapa kali."
Ibu Akang tersenyum. Tidak marah. Tidak kaget. Hanya tersenyum.
"Itu namanya cinta, Bu." Ibu Akang membalik gorengan di wajan. "Cinta yang tulus. Cinta yang rela berkorban. Cinta yang tidak menghitung-hitung."
"Tapi bisa bahaya, lho." Bu RT menggeleng-gelengkan kepala. "Nanti dituduh maling. Nanti dilaporkan ke polisi. Nanti masuk penjara."
"Ariyanti tidak akan maling, Bu." Ibu Akang masih tersenyum. "Dia gadis baik. Dia hanya ingin menemani anak saya. Anak saya yang sedang sakit. Anak saya yang butuh orang di sampingnya."
Bu RT menggeleng-geleng lagi. "Saya tidak habis pikir dengan anak muda zaman sekarang. Dulu kami tidak begitu. Dulu kami sopan. Dulu kami menjaga diri."
"Zaman berubah, Bu." Ibu Akang mengangkat bahu. "Cinta juga berubah. Dulu cinta cukup dengan setangkai bunga. Sekarang cinta butuh pengorbanan."
Bu RT pergi dengan wajah cemberut, mungkin kecewa karena tidak mendapat drama yang ia harapkan.
Ibu Akang tidak marah. Ia justru mendoakan Ariyanti. Di dalam hatinya, ia berdoa untuk gadis yang rela berkorban untuk anaknya.
"Ya Allah, lindungi Ariyanti." Ibu Akang menengadahkan tangan. "Gadis itu baik. Gadis itu setia. Gadis itu rela berkorban untuk anakku. Jangan biarkan dia celaka. Jangan biarkan dia tertimpa musibah. Beri dia kekuatan. Beri dia kesehatan. Beri dia kebahagiaan."
Suster Aminah Mengetahui
Puskesmas Pegandon, suatu malam.
Suster Aminah, kepala perawat puskesmas, sudah curiga selama beberapa hari. Wanita paruh baya dengan rambut disanggul rapi dan kacamata tebal ini memiliki mata yang tajam dan telinga yang peka. Ia sudah bekerja di puskesmas ini selama 20 tahun. Tidak ada yang bisa lolos dari pengamatannya.
Pertama, porsi makan Akang sering berkurang lebih banyak dari biasanya. Padahal Akang adalah pasien yang paling tidak nafsu makan. Bubur yang diantarkan sering hanya tersisa setengah. Tapi beberapa hari terakhir, piringnya selalu bersih. Seperti ada yang menyuapinya.
Kedua, ada bantal dan selimut tambahan di bawah tempat tidur Akang. Bantal dan selimut itu tidak ada dalam inventaris puskesmas. Bantal dan selimut itu berbau sabun colek, bukan bau pemutih yang biasa digunakan puskesmas.
Ketiga, kadang-kadang, ketika malam sudah larut dan semua pasien sudah tidur, ia mendengar suara bisikan dari kamar Akang. Suara laki-laki dan perempuan. Suara tawa kecil. Suara yang tidak mungkin keluar dari pasien yang sendirian.
Malam itu, ia memutuskan untuk mengintai.
Pukul 21.00, ia berjalan tanpa suara menuju ruang rawat inap nomor 4. Sepatu karetnya tidak mengeluarkan bunyi di lantai tegel. Lampu lorot di koridor ia matikan secara diam-diam.
Ia mendekati pintu. Dari sela-sela daun pintu yang tidak rapat, ia melihat bayangan dua orang.
"Akang, buka mulutnya. Aku suapi." Suara perempuan, pelan, lembut.
"Ari, aku bisa sendiri." Suara laki-laki, sedikit cemberut.
"Kamu tidak bisa. Tanganmu masih lemah. Nanti tumpah. Makanannya sia-sia."
"Ari..."
"Buka!"
Suster Aminah membuka pintu. "Ariyanti?"
Ariyanti membeku. Suapannya berhenti di depan mulut Akang. Sendok berisi bubur masih di tangan.
"Su... Suster..." Ariyanti tidak bisa berkata-kata.
"Saya sudah curiga sejak lama, Nak." Suster Aminah berjalan masuk. "Kamu yang melompat pagar, kan? Kamu yang masuk lewat jendela? Kamu yang sembunyi di bawah tempat tidur?"
Ariyanti menunduk. Air matanya jatuh. "Maafkan saya, Suster. Maafkan saya. Saya hanya ingin menemani Akang. Dia sendiri di sini. Keluarganya miskin. Tidak ada yang bisa menjaga dia malam-malam. Saya hanya..."
Suster Aminah menghela napas. Panjang. Berat. Seperti orang yang sedang bergumul dengan peraturan dan perasaan.
"Kamu berani, Nak." Suaranya melembut. "Saya hormat. Saya sudah 20 tahun bekerja di sini. Belum pernah ada tamu yang seberani kamu. Tapi ini melanggar peraturan, Nak. Peraturan dibuat untuk dilanggar."
"Saya tahu, Suster." Ariyanti masih menunduk.
Tapi..." Suster Aminah mendekat. "Tapi demi pasien, demi kesembuhan Akang, demi cinta yang tulus seperti ini, saya bisa tutup mata. Saya bisa pura-pura tidak tahu. Asalkan kamu tidak mengganggu perawatan yang lain. Asalkan kamu membantu di sini. Bukan hanya untuk Akang, tapi untuk semua pasien."
Ariyanti mengangkat kepala. Matanya berbinar.
"Suster tidak akan melaporkan saya?" suaranya hampir berbisik.
"Tidak, Nak." Suster Aminah tersenyum. "Tapi kamu harus membantu. Bersih-bersih ruangan. Ganti sprei pasien yang kotor. Bantu suster lain jika diperlukan. Kamu mau?"
"Saya siap, Suster!" Ariyanti hampir berteriak kegirangan.
Akang yang dari tadi diam tersenyum lega. "Terima kasih, Suster Aminah. Terima kasih. Saya tidak tahu harus membalas kebaikan Suster."
"Jangan berterima kasih, Nak." Suster Aminah mengusap kepala Akang. "Yang penting kamu cepat sembuh. Yang penting kamu bisa berjalan lagi. Itu balasan terbaik untuk saya. Dan kamu, Ariyanti, harus tetap sekolah. Jangan bolos lagi. Saya tidak mau mendengar laporan dari sekolah bahwa kamu sering absen."
"Baik, Suster." Ariyanti mengangguk patuh. "Saya janji tidak akan bolos lagi."
Ariyanti Menjadi Relawan
Hari-hari berikutnya.
Dengan restu Suster Aminah, Ariyanti tidak perlu lagi melompat pagar. Ia bisa masuk melalui pintu depan, seperti tamu biasa, asalkan membantu pekerjaan suster.
Setiap malam, ia mengganti sprei pasien yang kotor. Tangannya yang kecil dan lincah itu merapikan setiap sudut, menghaluskan setiap kerutan. Ia menyapu lantai ruang rawat inap, mengumpulkan debu dan kotoran, membuangnya ke tempat sampah. Ia membersihkan kamar mandi, menggosok lantai yang licin, menguras ember yang penuh. Ia membantu menyuapi pasien lain yang tidak punya keluarga, yang tidak punya siapa-siapa yang peduli pada mereka.
Para pasien lain mulai mengenal Ariyanti. Mereka memanggilnya "Nak Ari" dengan nada sayang.
"Nak Ariyanti, kamu baik sekali." Pak Kromo, pasien stroke yang sudah sebulan dirawat, berbicara dengan suara pelo karena mulutnya yang sulit digerakkan. "Rela membantu orang tua seperti saya. Padahal saya bukan siapa-siapa. Padahal saya tidak punya uang untuk membayar."
"Sama-sama, Pak." Ariyanti tersenyum sambil menyeka mulut Pak Kromo yang belepotan bubur. "Saya senang bisa bantu. Senang bisa berguna. Senang bisa membuat orang lain tersenyum."
Bu Parti, pasien diabetes yang kakinya sudah diamputasi, juga dekat dengan Ariyanti. Setiap malam, sebelum tidur, Ariyanti akan membacakan ayat-ayat suci Al-Qur'an untuknya, atau sekadar mendengarkan cerita masa lalunya.
"Nak, kamu itu pacarnya si Akang, ya?" Bu Parti menatap Ariyanti dengan mata sayu.
Ariyanti tersenyum malu. "Belum resmi, Bu. Masih teman."
"Ah, sudah pasti resmi nanti." Bu Parti tertawa kecil. "Saya lihat cara kalian berdua. Saling pandang. Saling jaga. Saling perhatian. Itu namanya cinta, Nak. Jangan dipungkiri."
"Belum, Bu." Ariyanti tersenyum.
"Ya sudah, nanti. Doa saya untuk kalian berdua." Bu Parti menggenggam tangan Ariyanti. "Semoga langgeng. Semoga bahagia. Semoga cepat menikah."
Ariyanti tidak menjawab. Ia hanya tersenyum. Di dalam hatinya, ia berdoa semoga doa Bu Parti terkabul.
Kedekatan yang Semakin Dalam
Malam-malam di puskesmas.
Ariyanti dan Akang menghabiskan waktu berjam-jam bersama. Berbicara tentang masa lalu, masa depan, mimpi, dan ketakutan. Berbagi cerita yang tidak pernah mereka ceritakan pada orang lain.
"Kang, apa yang paling kamu takutkan?" tanya Ariyanti suatu malam. Matanya menatap langit-langit, mengikuti garis-garis retakan yang sudah ia hafal.
"Aku takut tidak bisa berjalan lagi." Akang menggenggam selimutnya. "Aku takut menjadi beban bagi ibuku. Ibu sudah tua. Ibu sudah sakit. Ibu tidak perlu beban tambahan. Aku takut kehilangan kamu."
"Kamu tidak akan kehilangan aku, Kang." Ariyanti menatap Akang. "Dan kamu pasti bisa berjalan lagi. Dokter bilang, dengan terapi rutin, kamu bisa pulih total. Hanya butuh waktu. Butuh kesabaran. Butuh kerja keras."
"Kamu yakin?" Akang menatap Ariyanti. Matanya mencari kepastian.
"Aku yakin, Kang." Ariyanti menggenggam tangannya. "Karena aku akan mendampingi kamu setiap hari. Kita akan lakukan terapi bersama. Aku tidak akan bosan. Aku tidak akan lelah. Aku tidak akan menyerah."
Akang menangis. Air matanya jatuh di bantal.
"Ari, aku tidak pantas..."
"Kang." Ariyanti memotong. "Berhenti bilang tidak pantas. Setiap orang pantas bahagia. Setiap orang pantas dicintai. Setiap orang pantas untuk tidak menyerah. Termasuk kamu. Termasuk kita."
Momen Spesial: Ulang Tahun Akang
15 Desember 1997, pukul 19.00.
Ariyanti datang lebih awal dari biasanya. Ranselnya lebih besar dari biasanya. Wajahnya lebih berseri dari biasanya.
Ia membawa kue bolu kecil. Kue buatan ibunya, dengan bahan seadanya. Tepung, telur, gula, dan sedikit mentega. Tidak ada krim. Tidak ada hiasan. Tidak ada pita warna-warni.
Juga lilin kecil. Lilin bekas kue ulang tahun adiknya yang ia simpan berbulan-bulan, berharap ada kesempatan untuk menggunakannya.
"Hari ini ulang tahunmu, Kang." Ariyanti meletakkan kue di atas meja samping tempat tidur. "Selamat ulang tahun."
Akang terkejut. Matanya membulat. "Ari... aku lupa. Aku benar-benar lupa. Biasanya tidak pernah merayakan. Bahkan kadang aku lupa bahwa aku pernah lahir."
"Sekarang kita rayakan." Ariyanti menancapkan lilin di atas kue. "Sederhana saja. Tidak perlu pesta. Tidak perlu hadiah. Tidak perlu banyak orang."
Akang menatap kue itu. Kue bolu kecil yang tidak sempurna. Tidak bundar sempurna. Tidak mengembang sempurna. Tapi bagi Akang, itu lebih dari cukup.
"Kamu mau minta apa, Kang?" tanya Ariyanti. "Tiup lilinnya sambil minta."
Akang menutup matanya. Ia berdoa dalam hati. Berdoa untuk ibunya yang sakit. Berdoa untuk Ariyanti yang selalu setia. Berdoa untuk kakinya yang bisa pulih. Berdoa untuk masa depan mereka.
Ia membuka matanya. "Aku hanya mau satu hal, Ari."
"Apa?"
"Kamu tunggu aku. Sampai aku sembuh. Sampai aku bisa berjalan. Sampai aku bisa menikahimu."
Ariyanti menangis. "Aku akan tunggu, Kang. Sampai kapan pun."
Akang meniup lilin. Api kecil itu padam. Ruangan menjadi sedikit lebih gelap.
Ariyanti bertepuk tangan kecil. Pelan. Hanya untuk mereka berdua.
Mereka berdua tersenyum.
Di luar, hujan turun. Deras. Rintik-rintik air membasahi kaca jendela.
Tapi di dalam ruangan itu, di tengah malam yang dingin, di antara bau obat-obatan dan pemutih lantai, ada kehangatan.
Kehangatan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Kedatangan Bu Sumi
Suatu sore, jam besuk.
Bu Sumi datang dengan membawa buku-buku pelajaran tebal dan sekantong buah-buahan segar. Jeruk, apel, dan pisang. Bukan buah mahal, tapi cukup untuk menunjukkan kepedulian.
"Akang, bagaimana kabarmu?" Bu Sumi duduk di kursi di samping tempat tidur.
"Baik, Bu." Akang tersenyum. "Ariyanti rajin membantu. Rajin menyuapi. Rajin membacakan buku."
Bu Sumi melihat Ariyanti yang sedang menyapu lantai di sudut ruangan. "Kamu seperti perawat kedua di sini, Ari."
Ariyanti tersenyum malu. "Saya ikhlas, Bu. Saya senang bisa membantu."
Bu Sumi kembali menatap Akang. Wajahnya serius.
"Akang, kabar baik." Suaranya melembut. "Sidang Rahmadi akan dimulai bulan depan. Jaksa menuntut 12 tahun penjara. Penuntut umum sudah menyiapkan bukti-bukti yang kuat."
"Apakah dia akan dihukum seberat itu, Bu?" tanya Akang. Matanya berbinar.
"Karena kasusnya percobaan pembunuhan berencana, kemungkinan besar iya, Kang." Bu Sumi mengangguk. "Apalagi dengan bukti rekaman dan saksi-saksi yang kredibel. Marni, Pak Dullah, Pak Karyo."
"Akhirnya..." Akang menghela napas lega. "Badai ini akan berakhir."
"Tapi jangan tenang dulu, Kang." Bu Sumi mengingatkan. "Keluarga H. Rahmat masih punya pengacara hebat. Mereka akan berusaha meringankan hukuman. Mereka akan melakukan apa pun untuk melindungi anaknya."
"Apapun hukumannya, Bu." Akang menatap Bu Sumi. "Yang penting keadilan ditegakkan. Yang penting dia tidak bebas berkeliaran."
Bu Sumi tersenyum. "Kamu bijak, Kang. Semoga orang-orang sepertimu yang akan memimpin desa ini kelak."
Ariyanti Jatuh Sakit
Desember 1997, tiga hari sebelum Natal.
Ariyanti terlalu memaksakan diri. Setiap hari sekolah, tidak pernah bolos. Setiap malam di puskesmas, kadang sampai subuh. Kurang tidur. Kurang makan. Tubuhnya yang kecil dan kurus itu tidak dirancang untuk menanggung beban seberat itu.
Akhirnya ia jatuh sakit. Demam tinggi. Badannya lemas. Kepalanya pusing. Tenggorokannya sakit.
Ibunya melarangnya keluar rumah.
"Yan , kamu harus istirahat." Ibu Ariyanti menempelkan kompres air hangat di dahi anaknya. "Jangan ke puskesmas dulu. Jangan ke mana-mana. Kamu harus sembuh dulu."
"Tapi Bu, Akang sendiri di sana." Ariyanti merengek. Suaranya serak, parau. "Dia butuh aku. Dia butuh ditemani. Dia butuh disuapi. Dia butuh..."
"Akang mengerti, Yan ." Ibu Ariyanti memotong. "Dia tidak akan marah. Dia tidak akan kecewa. Dia pasti mendoakan kesembuhanmu. Sekarang, kamu harus sembuh dulu."
Ariyanti menangis. Air matanya mengalir di pipi yang panas karena demam.
Ia menelepon Akang melalui ponsel Bu Sumi. Ponsel besar dan berat, dengan antena yang panjang.
"Kang, maaf aku tidak bisa datang hari ini." Suaranya bergetar. "Aku sakit. Demam."
"Ari, jangan paksakan diri." Suara Akang di seberang sana lembut. "Istirahatlah. Minum obat. Makan yang banyak. Tidur yang cukup. Aku tidak kemana-mana."
"Kamu janji tidak akan ke mana-mana?" Ariyanti bertanya seperti anak kecil.
"Aku janji, Ari." Akang tertawa kecil. "Aku hanya di sini. Terbaring di tempat tidur. Tidak bisa ke mana-mana. Menunggumu."
Malam itu, Akang tidak bisa tidur. Ia khawatir pada Ariyanti. Ia memandang langit-langit, menghitung retakan yang sudah hafal, tapi pikirannya tidak di sana.
Ia berdoa. Berdoa dengan sungguh-sungguh.
"Ya Allah, sembuhkan Ariyanti." Suaranya lirih, hanya terdengar oleh dirinya sendiri. "Dia satu-satunya yang aku miliki. Dia satu-satunya yang tidak pernah meninggalkanku. Jangan ambil dia dari aku. Jangan biarkan dia sakit terlalu lama. Beri dia kekuatan. Beri dia kesehatan."
Ariyanti Kembali
Tiga hari kemudian. Setelah Natal.
Ariyanti datang ke puskesmas dengan tubuh masih sedikit lemas, dengan langkah masih sedikit goyah, dengan wajah masih sedikit pucat. Tapi semangatnya membara. Matanya berbinar.
"Kang! Aku datang!" teriaknya dari pintu.
Akang tersenyum lega. Hampir menangis.
"Ari, kamu belum sembuh total." Akang mengamati Ariyanti dari ujung rambut hingga ujung kaki. "Kenapa maksa?"
"Aku kangen kamu, Kang." Ariyanti duduk di kursi di samping tempat tidur. "Kangen suaramu. Kangen senyummu. Kangen wajahmu."
"Kita teleponan setiap hari, Ari." Akang menggenggam tangannya.
"Tidak sama, Kang." Ariyanti menggenggam balik. "Telepon tidak bisa melihat wajah. Telepon tidak bisa menggenggam tangan. Telepon tidak bisa memeluk."
Ariyanti mengeluarkan rantang dari tasnya. Rantang merah, agak penyok di satu sisi.
"Aku masak sendiri, Kang." Ariyanti membuka rantang. "Bubur ayam. Rasanya mungkin tidak enak. Tadi lidahku masih pusing, jadi garamnya mungkin kebanyakan."
"Yang penting buatan kamu." Akang mengambil sendok.
Akang menyuap bubur itu. "Enak, Ari. Kamu pintar masak."
"Jangan bohong, Kang." Ariyanti tersenyum. "Rasanya pasti aneh."
"Serius, Ari. Enak." Akang menyuap lagi. "Yang enak bukan buburnya. Tapi perasaannya. Perasaan bahwa kamu masih mau masak untukku. Perasaan bahwa kamu masih peduli padaku."
Mereka berdua tertawa.
Akang Mulai Terapi
Januari 1998. Awal tahun baru.
Setelah hampir dua bulan dirawat, Akang mulai diperbolehkan menjalani fisioterapi ringan. Gips di kakinya yang tebal dan berat itu sudah dilepas, diganti dengan penyangga khusus dari plastik, lebih ringan, lebih nyaman, tapi tetap membuatnya tidak bisa bergerak bebas.
Dokter Priyanto datang dari Kendal untuk memeriksa. Dokter spesialis ortopedi yang menangani operasi Akang, dengan kacamata tebal dan rambut yang sudah mulai beruban.
"Tulangnya mulai menyambung." Dokter Priyanto memeriksa hasil rontgen di bawah lampu. "Tapi masih butuh waktu. Proses penyembuhan tulang tidak bisa dipaksakan. Kamu harus rajin terapi. Setiap hari. Jangan malas."
Ariyanti mendampingi Akang saat sesi terapi pertama. Di ruang fisioterapi yang sederhana, hanya berisi meja dan kursi, beberapa alat bantu, dan matras tipis di lantai.
Akang berusaha berdiri dengan tongkat. Kedua tangannya menggenggam erat tongkat itu. Tubuhnya yang kurus gemetar hebat. Keringat dingin mengucur di dahi dan pelipis.
"Sakit, Kang?" tanya Ariyanti dari samping.
"Sakit, Ari." Akang menggertakkan gigi. "Sakit sekali. Tapi aku tidak menyerah."
Langkah pertama. Pelan. Goyah.
Langkah kedua. Lebih mantap.
Langkah ketiga. Akang hampir jatuh. Tubuhnya oleng ke kanan. Ariyanti menangkapnya.
"Kang, aku di sini." Ariyanti menahan tubuh Akang. "Aku tidak akan pergi."
"Aku tahu, Ari." Akang tersenyum di sela-sela rasa sakit. "Itu sebabnya aku bisa melangkah. Karena aku tahu, jika aku jatuh, kamu akan menangkapku."
Kabar Rahmadi di Penjara
Februari 1998.
Bu Sumi datang dengan kabar terbaru dari persidangan. Wajahnya cerah, langkahnya ringan.
"Akang, Ariyanti." Bu Sumi duduk di kursi di samping tempat tidur Akang. "Sidang Rahmadi sudah selesai. Hakim menjatuhkan vonis 10 tahun penjara."
"10 tahun?" Ariyanti mengernyit. "Bukannya tuntutannya 12 tahun?"
"Pengacaranya hebat." Bu Sumi menghela napas. "Berhasil meringankan. Tapi setidaknya, dia akan mendekam di penjara cukup lama. Tidak bisa berbuat jahat lagi. Tidak bisa mengintimidasi. Tidak bisa menyakiti."
"Apakah dia sudah dipindahkan?" tanya Ariyanti.
"Iya." Bu Sumi mengangguk. "Ke Lembaga Pemasyarakatan Kendal. Jauh dari Pegandon. Jauh dari kita. Jauh dari korban-korbannya."
"Akhirnya... selesai sudah." Akang menghela napas lega. Dadanya terasa lebih ringan.
Bu Sumi menggeleng. "Belum selesai, Ariyanti. Jangan cepat puas." Suaranya serius. "Keluarga H. Rahmat masih bebas. Mereka masih punya uang. Mereka masih punya kekuasaan. Mereka tidak senang dengan putusan ini. Mereka pasti akan mencari cara untuk balas dendam."
"Maksud Bu Sumi?" Ariyanti bertanya, matanya membulat.
"Mereka mungkin akan mencari cara untuk mengganggu. Untuk mengintimidasi. Untuk menyakiti." Bu Sumi menatap mereka berdua. "Hati-hati, kalian berdua. Jangan lengah. Jangan merasa aman. Jangan berjalan sendirian di malam hari."
Ariyanti dan Akang Berjanji
Puskesmas Pegandon, malam terakhir Akang dirawat inap.
Setelah hampir tiga bulan dirawat, dokter mengizinkan Akang pulang. Kondisinya sudah stabil. Tidak ada lagi infeksi. Tidak ada lagi demam. Tulangnya mulai menyambung dengan baik. Meskipun masih harus menjalani terapi jalan di rumah, setidaknya ia tidak perlu lagi tidur di tempat tidur rumah sakit yang keras dan sempit.
Malam terakhir itu, Ariyanti menginap secara resmi. Dengan izin Suster Aminah, dengan restu semua perawat.
Mereka duduk berdua di ruang rawat inap yang sepi. Enam tempat tidur, tapi hanya Akang yang masih tersisa. Pasien lain sudah pulang atau dipindahkan.
"Kang, besok kamu pulang." Ariyanti tersenyum. "Senang ya?"
"Senang, Ari." Akang menggenggam tangannya. "Tapi aku akan rindu. Aku akan rindu malam-malam seperti ini. Hanya kita berdua. Tidak ada yang mengganggu."
"Kita masih bisa bertemu setiap hari, Kang." Ariyanti menggenggam balik. "Aku akan ke rumahmu. Setiap hari. Setelah pulang sekolah. Aku akan membantumu terapi. Aku akan membacakan buku. Aku akan menyuapimu."
"Jaraknya jauh, Ari." Akang menggeleng. "Kamu bisa capek."
"Aku tidak pernah capek untuk bertemu kamu, Kang." Ariyanti menatap matanya. "Sudah tiga bulan ini aku bolak-balik puskesmas. Empat kilometer setiap hari. Pulang pergi. Aku tidak pernah capek. Aku tidak akan pernah capek."
Akang meraih kedua tangan Ariyanti.
"Ari, aku belum bisa bilang apa-apa." Suaranya lirih. "Aku belum punya apa-apa. Belum punya pekerjaan. Belum punya tabungan. Belum punya rumah. Tapi suatu hari nanti, aku akan melamarmu. Aku janji."
"Kang..." Ariyanti menangis.
"Aku serius, Ari." Akang menggenggam lebih erat. "Tunggu aku. Sampai aku sembuh. Sampai aku bisa berjalan. Sampai aku bisa bekerja. Sampai aku bisa menghidupimu."
Ariyanti menangis. "Aku tunggu, Kang. Sampai kapan pun. Sampai mati."
Mereka berpelukan di bawah sinar lampu temaram, di ruangan yang dingin, di tengah malam yang gelap.
Di luar, hujan gerimis. Air jatuh dari langit, membasahi tanah, membasahi daun-daun pohon randu.
Tapi hati mereka hangat.
Akang Pulang
Puskesmas Pegandon, pagi itu.
Ibu Akang datang menjemput. Wajahnya berseri-seri, tidak seperti biasanya yang murung dan cemas. Setelah berbulan-bulan hanya bisa menangis, setelah berbulan-bulan hanya bisa berdoa, setelah berbulan-bulan hanya bisa berharap, akhirnya ia bisa tersenyum.
"Kang, kamu pulang!" Ibu Akang memeluk anaknya.
"Iya, Bu." Akang membalas pelukan ibunya. "Aku pulang."
Ariyanti membantu membereskan barang-barang Akang. Buku-buku, pakaian, alat-alat terapi. Semuanya dimasukkan ke dalam tas plastik besar.
Suster Aminah dan beberapa suster lain ikut melepas di depan pintu puskesmas.
"Akang, rajin terapi ya." Suster Aminah menepuk pundak Akang. "Jangan malas. Jangan bolong. Kalau perlu, setiap hari. Biar cepat sembuh."
"Baik, Suster." Akang menunduk. "Terima kasih untuk semuanya. Untuk perawatannya. Untuk kesabarannya. Untuk kebaikannya."
"Mbak Ariyanti." Suster Aminah menatap Ariyanti. "Terima kasih sudah membantu kami. Sudah menjadi relawan. Sudah menjadi perawat kedua. Kamu hebat, Nak. Semoga Tuhan membalas kebaikanmu."
"Sama-sama, Suster." Ariyanti tersenyum. "Saya senang bisa membantu."
Akang keluar puskesmas dengan tongkat di tangan kanan. Ibu Akang di samping kanannya, sesekali memegang sikunya. Ariyanti di samping kirinya, sesekali memegang tangannya.
Matahari pagi bersinar cerah. Langit biru tanpa awan. Burung-burung beterbangan di kejauhan.
"Akhirnya... aku bebas," bisik Akang.
"Belum bebas, Kang." Ariyanti menggenggam tangannya. "Masih ada masa depan yang harus kita raih. Masih ada mimpi yang harus kita wujudkan. Masih ada perjuangan yang harus kita jalani."
"Bersama?" Akang menatapnya.
"Bersama." Ariyanti tidak berkedip.
Kenangan di Puskesmas
Jalan Randu Gembyang, senja itu.
Ariyanti dan Akang berjalan pelahan menuju Dusun Cegunan. Bukan pulang ke rumah masing-masing, tapi berdua, bersama, seperti dulu sebelum kecelakaan itu terjadi.
Akang masih menggunakan tongkat, tapi langkahnya sudah lebih mantap. Tubuhnya tidak lagi gemetar. Kakinya tidak lagi terasa seperti ditusuk-tusuk jarum.
"Mau ke mana, Kang?" tanya Ariyanti, bingung karena Akang tidak belok ke arah Dusun Cegunan, tapi terus lurus ke arah Jalan Randu Gembyang. "Rumahmu kan lewat situ? Belok kiri, ingat?"
"Aku mau ke pohon randu, Ari." Akang tersenyum. "Sebentar saja. Aku rindu pohon itu. Aku rindu tempat itu. Aku rindu kenangan kita di sana."
Mereka tiba di pohon randu tertua. Pohon yang sama. Batang yang sama. Akar yang sama. Daun-daun yang berguguran seperti dulu.
Akang duduk di akar pohon itu, bersandar pada batang yang keras dan dingin. Ariyanti duduk di sampingnya, bahu mereka hampir bersentuhan.
"Ari, di sinilah kita pertama kali berbagi cerita." Akang menatap langit jingga. "Di sinilah kita berjanji tidak akan menyerah. Di sinilah aku menyimpan liontin ayahku. Di sinilah aku pertama kali menyadari bahwa aku mencintaimu."
"Dan sekarang?" Ariyanti bertanya.
"Dan sekarang, aku ingin berterima kasih padamu." Akang menatap Ariyanti. "Untuk semua yang sudah kau lakukan. Untuk malam-malam di puskesmas. Untuk sabar menjagaku. Untuk tidak pernah meninggalkanku meskipun banyak godaan. Untuk tetap setia meskipun sulit."
"Untuk apa, Kang?" Ariyanti tersenyum.
Akang meraih tangannya. "Untuk menjadi alasan aku tidak menyerah."
Ariyanti menangis. Tapi ia tersenyum.
"Kau tidak perlu berterima kasih, Kang." Ariyanti menggenggam balik. "Itu tugasku."
"Tugas sebagai apa?"
"Sebagai orang yang mencintaimu."
Mereka berpelukan di bawah pohon randu.
Angin berembus. Daun-daun randu berguguran. Jatuh di sekitar mereka. Di atas kepala mereka. Di pundak mereka.
Seolah-olah pohon tua itu turut merestui cinta mereka. Seolah-olah pohon itu berkata, "Aku telah melihat banyak cinta lahir dan mati. Tapi cinta kalian, aku akan jaga."
Di kejauhan, senja mulai datang. Langit berwarna jingga keemasan. Awan-awan tipis bergerak perlahan.
Di kaki langit Tegorejo, cinta mereka semakin kuat.
Badai sudah berlalu.
Tapi perjuangan masih panjang.
Dan mereka akan hadapi bersama.
BAB 21
ULAR DI BALIK RUMPUT
Bu Sumi menemukan fakta mengejutkan: Rahmadi bukanlah anak asli keluarga kaya itu. Ia anak haram hasil perselingkuhan ibunya dengan laki-laki lain.
Tegorejo, Maret 1998. Tiga bulan setelah Akang pulang dari rumah sakit.
Persidangan Rahmadi telah selesai. Vonis 10 tahun penjara dijatuhkan hakim setelah melalui proses persidangan yang panjang dan melelahkan. Jaksa penuntut umum awalnya menuntut 12 tahun, namun pengacara hebat bayaran keluarga H. Rahmat berhasil meringankan menjadi 10 tahun. Meskipun demikian, bagi warga Tegorejo, vonis itu terasa seperti kemenangan. Setelah sekian lama merasa takut, setelah sekian lama hidup dalam bayang-bayang ancaman, akhirnya keadilan seakan mulai bersuara.
Namun, keluarga H. Rahmat tidak tinggal diam. Mereka mengajukan banding. Mereka menyewa pengacara ternama dari Semarang, seorang laki-laki dengan jas mahal dan koneksi luas. Mereka berusaha membebaskan Rahmadi dengan berbagai cara. Menyuap. Mengancam saksi. Memanfaatkan hubungan bisnis. Apapun.
Bu Sumi merasa ada yang tidak beres. Sebagai guru yang sudah puluhan tahun mengamati perilaku manusia, ia bisa merasakan keanehan di balik semua ini. Ia tahu keluarga H. Rahmat memiliki pengaruh besar di Pegandon. Uang mereka bisa membeli siapa pun. Koneksi mereka bisa menembus birokrasi mana pun. Kekuasaan mereka bisa melindungi kejahatan apa pun.
Tapi mengapa mereka begitu mati-matian membela Rahmadi? Padahal selama ini, H. Rahmat terlihat dingin pada anaknya sendiri. Tidak pernah ada kehangatan antara ayah dan anak itu. Tidak pernah ada senyuman tulus. Tidak pernah ada pelukan. Tidak pernah ada kebanggaan. Rahmadi lebih seperti beban yang harus ditanggung daripada anak yang dicintai.
"Ada rahasia di balik semua ini," pikir Bu Sumi sambil menatap tumpukan dokumen di mejanya. "Ada sesuatu yang tidak ingin mereka ungkap. Ada sesuatu yang membuat mereka rela melakukan apa pun untuk melindungi Rahmadi. Bukan karena cinta. Tapi karena takut."
Ia memutuskan untuk menggali lebih dalam. Bukan hanya tentang kasus kriminal Rahmadi yang sudah jelas-jelas bersalah. Tapi tentang asal-usul anak itu sendiri. Tentang keluarganya. Tentang masa lalunya. Tentang rahasia yang mungkin selama ini tersembunyi di balik tembok megah rumah H. Rahmat.
Dan apa yang ia temukan, apa yang ia gali, apa yang ia buka dari dokumen-dokumen usang yang berdebu, benar-benar mengguncangkan Tegorejo.
Seperti ular yang selama ini bersembunyi di balik rumput ilalang yang tinggi, akhirnya keluar dan memperlihatkan diri. Dan semua orang terkejut. Tidak ada yang menyangka. Tidak ada yang percaya.
Tapi itulah kebenaran. Dan kebenaran, sepedih apapun, harus dihadapi.
Keanehan Keluarga H. Rahmat
Rumah Bu Sumi, malam itu.
Bu Sumi duduk di ruang kerjanya yang sempit, hanya diterangi oleh satu lampu minyak tanah karena listrik di Dusun Cegunan bagian selatan sering padam. Di depannya, map tebal berisi dokumen-dokumen lama yang ia kumpulkan selama berbulan-bulan. Beberapa di antaranya diberikan oleh Pak Dullah, mantan sopir keluarga H. Rahmat yang dipecat dengan cara tidak hormat. Beberapa lagi ia dapatkan dari arsip kelurahan dan kantor catatan sipil, dengan susah payah, dengan memanfaatkan hubungan pertemanannya dengan pegawai di sana.
Ia membaca ulang akta kelahiran Rahmadi untuk yang kesekian kalinya. Kertasnya sudah menguning, tulisannya sudah mulai pudar, tapi masih terbaca jelas.
Nama: Rahmadi bin H. Rahmat.
Tempat lahir: Semarang, 15 Maret 1981.
Nama ibu: Almarhumah Hj. Fatimah binti H. Zainuddin.
Nama ayah: H. Rahmat bin (tidak terbaca, mungkin sengaja dihapus).
Bu Sumi mengernyit. Ia mengenal Hj. Fatimah. Istri pertama H. Rahmat. Wanita itu meninggal secara misterius pada tahun 1985, ketika Rahmadi berusia 4 tahun. Ada yang bilang bunuh diri. Ada yang bilang sakit. Ada yang bilang... dibunuh. Tidak ada yang tahu pasti. Tidak ada yang berani menyelidiki.
Tapi ada yang aneh. Sangat aneh.
Menurut catatan kelurahan, H. Rahmat baru menikah dengan Hj. Fatimah pada tanggal 20 Desember 1980. Akta nikahnya jelas, disahkan oleh Kantor Urusan Agama Kecamatan Pegandon, dengan saksi dua orang yang masih hidup sampai sekarang.
Artinya, Rahmadi lahir pada 15 Maret 1981. Hanya tiga bulan setelah pernikahan. Bukan tidak mungkin, tentu saja. Bisa saja Hj. Fatimah sudah hamil sebelum menikah. Bisa saja.
Tapi Bu Sumi tidak percaya pada kebetulan.
Ia merogoh map lagi. Mencari dokumen lain. Surat wasiat Hj. Fatimah. Dokumen yang diberikan Pak Dullah dengan penuh keraguan. Dokumen yang selama bertahun-tahun disimpan di lubang pohon randu, terbungkus plastik, terlindung dari air dan rayap.
Surat wasiat itu ditulis setahun sebelum kematian Hj. Fatimah. Tahun 1984. Tulisan tangan, dengan pulpen, di atas kertas bergaris yang sudah menguning.
Bu Sumi membaca surat itu dengan saksama. Jantungnya berdebar lebih cepat.
*"Dengan ini saya, Hj. Fatimah binti H. Zainuddin, dalam keadaan sehat jasmani dan rohani, tanpa paksaan dari pihak manapun, menyatakan bahwa anak laki-laki saya yang bernama Rahmadi, lahir di Semarang tanggal 15 Maret 1981, adalah anak hasil hubungan saya dengan seorang laki-laki bernama..."*
Nama laki-laki itu sengaja dicoret. Coretan tebal dengan pulpen hitam, hampir tidak terbaca. Seolah-olah Hj. Fatimah sempat ketakutan di detik-detik terakhir, lalu menghapusnya.
Bu Sumi memegang surat itu di bawah cahaya lampu. Ia memicingkan mata. Mencoba membaca coretan di balik coretan.
Tidak bisa. Coretannya terlalu tebal.
"Siapa?" bisik Bu Sumi pada dirinya sendiri. "Siapa laki-laki itu? Siapa ayah kandung Rahmadi?"
Ia menelepon Pak Dullah. Suaranya serius.
"Pak Dullah, selain bekerja sebagai sopir, apa Bapak pernah dengar cerita tentang Hj. Fatimah? Tentang masa lalunya? Tentang hubungannya dengan laki-laki lain?"
Pak Dullah terdiam sejenak di seberang sana. Bu Sumi bisa mendengar suara napasnya yang berat.
"Bu Sumi, ini cerita lama." Suaranya pelan, seperti takut didengar orang lain. "Cerita yang sudah lama saya kubur. Saya tidak tahu apakah Ibu siap mendengarnya."
"Saya siap, Pak Dullah." Bu Sumi menggenggam telepon lebih erat. "Saya sudah terlalu jauh untuk mundur."
Sumber Informasi: Hj. Fatimah
Rumah Bu Sumi, malam itu juga.
Bu Sumi masih duduk di ruang kerjanya. Telepon sudah dimatikan, tapi pikirannya masih berputar. Ia membaca ulang surat wasiat Hj. Fatimah berkali-kali. Baris per baris. Kata per kata. Huruf per huruf.
"Dengan ini saya, Hj. Fatimah binti H. Zainuddin..."
Ia mengenal Hj. Fatimah, meskipun tidak dekat. Hj. Fatimah adalah wanita yang terdidik, lulusan SMA, sebuah prestasi langka di zamannya. Ia juga cantik, dengan kulit putih bersih dan rambut hitam panjang. Banyak laki-laki yang menginginkannya. Tapi keluarganya memilih H. Rahmat.
"Menyatakan bahwa anak laki-laki saya yang bernama Rahmadi..."
Bu Sumi menghela napas. Rahmadi. Anak yang tumbuh tanpa kasih sayang. Anak yang menjadi monster. Anak yang membenci dunia karena dunia tidak pernah memberinya cinta.
"Adalah anak hasil hubungan saya dengan seorang laki-laki bernama..."
Nama laki-laki itu masih tercoret. Bu Sumi meletakkan surat itu di atas meja. Ia menutup matanya. Berusaha merangkai potongan-potongan puzzle yang selama ini ia kumpulkan.
Pak Dullah mengatakan akan datang besok sore. Pak Dullah akan menceritakan semuanya. Semua yang ia lihat, semua yang ia dengar, semua yang ia ketahui selama bertahun-tahun bekerja sebagai sopir keluarga H. Rahmat.
Bu Sumi tidak sabar menunggu. Tapi ia harus sabar. Kebenaran tidak boleh terburu-buru. Kebenaran butuh proses. Kebenaran butuh kesiapan.
Ia berdoa. Berdoa agar besok ia siap mendengar apapun yang akan diceritakan Pak Dullah. Berdoa agar kebenaran yang terungkap tidak menghancurkannya. Berdoa agar semua ini membawa kebaikan, bukan kehancuran.
Cerita Pak Dullah
Rumah Pak Dullah, keesokan sorenya.
Bu Sumi datang ke rumah Pak Dullah dengan perasaan campur aduk. Rumah Pak Dullah sederhana. Terletak di pinggir Dusun Cegunan, tidak jauh dari rumah Akang. Dinding anyaman bambu yang sudah rapuh. Atap rumbia yang sudah menghitam. Lantai tanah yang dipadatkan.
Pak Dullah duduk di teras, di kursi bambu yang kakinya tidak sama panjang. Matanya memandangi sawah di depan rumahnya. Sawah yang sedang menguning, siap panen dalam beberapa minggu.
"Bu Sumi, duduklah." Pak Dullah menepuk kursi di sampingnya.
Bu Sumi duduk. Ia tidak membuang waktu.
"Pak Dullah, ceritakan semuanya."
Pak Dullah menghela napas. Panjang. Berat. Seperti orang yang akan membuka peti kemas yang sudah lama terkunci.
"Hj. Fatimah adalah wanita yang baik, Bu." Suaranya pelan, matanya menerawang ke masa lalu. "Saya kenal beliau sejak pertama kali saya bekerja sebagai sopir keluarga H. Rahmat. Beliau ramah. Tidak sombong. Sering memberi saya makanan tambahan. Sering menanyakan kabar keluarga saya. Tapi beliau tidak bahagia. Saya bisa melihatnya dari matanya. Matanya selalu sayu. Matanya selalu basah. Matanya seperti orang yang sedang menahan tangis."
"Kenapa?" Bu Sumi bertanya.
"Karena beliau dijodohkan dengan H. Rahmat." Pak Dullah menggeleng-gelengkan kepala. "Bukan karena cinta. Tapi karena uang. Keluarga Hj. Fatimah butuh modal. Bisnis mereka sedang terpuruk. H. Rahmat punya uang. H. Rahmat setuju membantu, asalkan Hj. Fatimah dinikahkan dengannya."
"Lalu?" Bu Sumi bertanya lagi.
"Sebelum menikah, Hj. Fatimah sudah punya kekasih, Bu." Suara Pak Dullah hampir berbisik. "Seorang laki-laki dari Semarang. Pegawai bank. Namanya Herman. Saya pernah melihatnya beberapa kali. Wajahnya teduh. Matanya jujur. Caranya berbicara lembut. Tidak seperti H. Rahmat yang kasar."
"Herman?" Bu Sumi mencatat di buku kecilnya.
"Iya, Herman." Pak Dullah mengangguk. "Tapi keluarga Hj. Fatimah tidak setuju. Mereka menginginkan menantu kaya. Mereka menginginkan H. Rahmat. Jadi Hj. Fatimah terpaksa menikah. Tapi hubungannya dengan Herman tidak pernah putus. Mereka tetap bertemu. Diam-diam. Saya yang sering mengantar Hj. Fatimah."
"Maksud Ibu, Hj. Fatimah selingkuh?" Bu Sumi bertanya, agak ragu.
Pak Dullah terdiam. Matanya berkaca-kaca.
"Saya tidak mau pakai kata itu, Bu." Suaranya bergetar. "Hj. Fatimah sedang dalam tekanan. Ia tidak bahagia. Herman adalah satu-satunya yang membuatnya bahagia. Satu-satunya yang membuatnya tersenyum. Satu-satunya yang membuatnya merasa hidup. Jadi... ya, mereka tetap bertemu. Dan dari hubungan itu, lahirlah Rahmadi."
Bu Sumi terdiam. Pikirannya kacau. Ada yang ingin ia katakan, tapi ia tidak tahu harus mulai dari mana.
"H. Rahmat tahu?" akhirnya ia bertanya.
"Tahu, Bu." Pak Dullah mengangguk. "Sudah dari awal. Tapi ia tutup mulut. Karena malu. Karena takut skandal. Dan karena ia butuh modal dari keluarga Hj. Fatimah untuk mengembangkan bisnisnya. Pernikahan mereka adalah pernikahan bisnis, bukan pernikahan cinta."
"Jadi Rahmadi tumbuh dalam keluarga yang penuh kebohongan?" Bu Sumi bertanya lagi.
"Ya, Bu." Pak Dullah mengusap air matanya. "H. Rahmat tidak pernah benar-benar menyayangi Rahmadi. Ia hanya mentolerirnya. Karena takut kehilangan harta Hj. Fatimah. Setelah Hj. Fatimah meninggal, H. Rahmat semakin dingin. Ia bahkan menikah lagi. Punya anak kandung. Rahmadi semakin tersisih. Tidak ada yang peduli padanya."
"Sekarang saya mengerti." Bu Sumi menghela napas. "Rahmadi tumbuh menjadi pribadi yang dingin dan kejam karena ia tidak pernah merasakan kasih sayang. Ia tidak tahu bagaimana cara mencintai. Karena tidak ada yang pernah mengajarinya."
"Kesimpulan yang tepat, Bu Sumi." Pak Dullah mengangguk. "Saya sudah melihatnya sejak kecil. Rahmadi adalah anak yang kesepian. Ia hanya ingin diperhatikan. Tapi karena tidak pernah mendapat perhatian dengan cara yang baik, ia mencari perhatian dengan cara yang buruk."
Surat dari Hj. Fatimah
Rumah Bu Sumi, malam itu.
Pak Dullah memberikan Bu Sumi sebuah amplop coklat. Warnanya sudah kusam. Sudut-sudutnya sudah rusak dimakan rayap. Tapi amplop itu masih utuh.
"Ini surat dari Hj. Fatimah, Bu." Pak Dullah menyerahkan amplop itu dengan hati-hati. "Diberikan pada saya sebelum beliau meninggal. Saya disuruh menyimpannya sampai suatu saat... ketika Rahmadi sudah dewasa. Saya tidak berani membukanya. Saya tidak tahu isinya. Saya hanya menjalankan perintah."
Bu Sumi menerima amplop itu. Tangannya gemetar. Ia membukanya dengan hati-hati, takut merusak isinya.
Di dalamnya, ada surat. Tulisan tangan Hj. Fatimah. Rapi. Feminim. Tapi terlihat tergesa-gesa, seperti orang yang sedang dikejar waktu. Kertasnya sudah menguning, tintanya sudah memudar, tapi masih bisa dibaca.
"Untuk anakku, Rahmadi..."
Bu Sumi membaca dengan suara pelan, hampir berbisik. Matanya mengikuti setiap baris, setiap kata, setiap huruf.
"Jika kau membaca surat ini, berarti ibumu sudah tiada. Ibu minta maaf. Ibu minta maaf tidak bisa melihatmu tumbuh dewasa. Ibu minta maaf tidak bisa memberimu kebahagiaan. Ibu minta maaf tidak bisa melindungimu dari dunia yang kejam."
"Rahmadi, ayah kandungmu bukan H. Rahmat. Ayah kandungmu bernama Herman. Ia bekerja di Bank BNI Semarang. Ibu bertemu dengannya sebelum menikah dengan H. Rahmat. Kami saling mencintai. Tapi keluarga memisahkan kami."
"Kau adalah buah cinta sejati kami, Nak. Buah cinta yang tidak sempat kami raih karena keadaan. Tapi kau tumbuh di keluarga yang salah. Kau tumbuh di tempat yang tidak menginginkanmu. Ibu tidak tahu apakah suatu hari nanti kau akan menemukan surat ini. Ibu hanya berharap, kau bisa memaafkan Ibu."
"Jangan menjadi seperti H. Rahmat, Nak. Jadilah seperti Herman, ayah kandungmu. Laki-laki yang baik. Laki-laki yang jujur. Laki-laki yang pekerja keras. Laki-laki yang tidak pernah berhenti berjuang meskipun hidup tidak berpihak padanya."
"Ibu mencintaimu, Nak. Ibu tidak pernah berhenti mencintaimu. Meskipun Ibu tidak bisa ada di sampingmu. Meskipun Ibu harus pergi."
"—Fatimah"
Bu Sumi menangis. Surat itu jatuh di pangkuannya.
"Kasihan Rahmadi," bisiknya. "Ia membenci dunia karena dunia tidak pernah memberinya cinta. Ia menjadi jahat karena tidak pernah diajar menjadi baik."
Mencari Herman
Kantor Bank BNI Semarang, keesokan harinya.
Bu Sumi pergi ke Semarang ditemani Bripka Joko. Perjalanan dari Pegandon ke Semarang memakan waktu sekitar dua jam dengan mobil. Dua jam yang terasa seperti dua detik, karena pikiran Bu Sumi terus berkecamuk.
Ia bertanya-tanya. Siapa Herman? Masih hidupkah? Masih ingatkah pada Hj. Fatimah? Maukah bertemu dengan Rahmadi?
Di kantor Bank BNI Semarang, Bu Sumi dan Bripka Joko menuju bagian arsip. Seorang petugas arsip, perempuan muda dengan kacamata tebal, menyambut mereka dengan ramah.
"Maaf, Bu." Petugas arsip itu membuka komputer. "Kami punya data Herman. Tapi beliau sudah pensiun sejak 10 tahun lalu. Alamat terakhir di Semarang, tapi kami tidak tahu apakah beliau masih di sana."
"Apakah Bapak punya alamat yang lebih lengkap?" tanya Bu Sumi.
Petugas arsip itu mengerjapkan mata. "Ada. Tapi apakah Ibu bisa menjelaskan keperluan Ibu? Ini data pribadi nasabah. Tidak bisa sembarangan diberikan."
Bu Sumi ragu. Ia menatap Bripka Joko. Bripka Joko mengangguk, memberi isyarat untuk jujur.
"Ini urusan keluarga, Mas." Bu Sumi menghela napas. "Urusan yang sangat pribadi. Saya tidak bisa menjelaskan detailnya. Tapi ini penting. Menyangkut masa depan seseorang."
Petugas arsip itu terdiam. Ia menatap Bu Sumi, lalu menatap layar komputernya.
"Baik, Bu." Ia mengangguk. "Saya berikan alamatnya. Tapi tolong jangan disalahgunakan."
Bu Sumi ke Jakarta
Jakarta, akhir Maret 1998.
Bu Sumi terbang ke Jakarta dengan biaya sendiri. Tiket pesawat tidak murah. Tapi ia tidak mau melibatkan orang lain sebelum semuanya jelas. Apalagi Bripka Joko. Urusan ini terlalu pribadi. Terlalu sensitif. Bisa membahayakan banyak orang jika bocor sebelum waktunya.
Alamat Herman berada di daerah Ciputat, Tangerang Selatan. Sebuah perumahan sederhana, tidak mewah, tidak kumuh. Rumah-rumah kecil dengan halaman sempit, ditumbuhi tanaman rambat dan pot-pot bunga.
Bu Sumi berhenti di depan sebuah rumah. Dinding bata putih, pagar besi hitam, pintu kayu coklat. Sederhana. Tapi bersih. Terawat.
Seorang laki-laki tua berusia sekitar 60 tahun membuka pintu. Wajahnya teduh. Matanya sayu. Rambutnya sudah beruban di pelipis. Kulitnya keriput, tapi masih ada sisa-sisa ketampanan masa muda.
"Ibu cari siapa?" tanyanya, ramah.
"Apakah Bapak Herman?" Bu Sumi bertanya balik.
"Iya. Saya Herman." Laki-laki itu mengernyit. "Ada yang bisa saya bantu?"
"Saya Bu Sumi." Bu Sumi mengulurkan tangan. "Saya guru dari Pegandon, Kendal. Saya ingin bicara tentang... Rahmadi."
Herman memucat. Wajahnya berubah tegang. Tangannya yang semula mengulur, kini jatuh ke samping.
"Ma... masuklah, Bu." Suaranya bergetar. "Silakan masuk."
Pengakuan Herman
Rumah Herman, Ciputat.
Ruang tamu rumah Herman sempit, hanya muat satu sofa kecil dan dua kursi kayu. Dindingnya dihiasi foto-foto lama. Foto seorang wanita muda yang sangat mirip dengan Hj. Fatimah. Foto seorang pemuda yang mungkin adalah Herman muda. Foto seorang anak kecil yang tidak Bu Sumi kenal.
Herman duduk di kursi tua di ruang tamunya. Tangannya gemetar memegang cangkir kopi yang sudah dingin. Matanya tidak fokus, menerawang ke masa lalu.
"Jadi... Rahmadi tahu tentang saya?" suaranya lirih.
"Belum, Pak." Bu Sumi duduk di sofa. "Saya yang mencari Bapak. Saya menemukan surat wasiat Hj. Fatimah. Juga surat untuk Rahmadi."
Herman menangis. Air matanya jatuh di pipi yang keriput.
"Fatimah..." bisiknya. "Fatimah... aku rindu padamu. Aku tidak pernah berhenti merindukanmu. Setiap hari. Setiap malam. Selama 20 tahun."
Bu Sumi mengeluarkan salinan surat Hj. Fatimah dari tasnya. Ia menyerahkan pada Herman.
Herman membaca surat itu. Tangannya gemetar. Air matanya semakin deras. Suara isaknya terdengar di seluruh ruangan.
"Dia menyimpan surat ini untuk Rahmadi." Suara Herman tersendat. "Dia tidak pernah lupa pada anaknya. Dia tidak pernah lupa padaku. Tapi kenapa baru sekarang? Kenapa surat ini baru sampai sekarang?"
"Karena surat itu disimpan Pak Dullah, Pak." Bu Sumi menjelaskan. "Mantan sopir keluarga H. Rahmat. Ia disuruh Hj. Fatimah menyimpannya sampai Rahmadi dewasa. Tapi Pak Dullah takut. Baru sekarang ia berani memberikannya."
"Bagaimana kabar Rahmadi?" Herman bertanya, matanya penuh harap.
Bu Sumi menghela napas. "Rahmadi sekarang di penjara, Pak. Terlibat kasus percobaan pembunuhan. Ia sudah divonis 10 tahun."
Herman terperanjat. Wajahnya berubah pucat.
"Apa? Tidak... tidak mungkin..." Ia menggeleng-gelengkan kepala. "Rahmadi tidak mungkin jadi penjahat. Aku tahu. Aku yakin. Dia anak yang baik. Dia anak yang baik."
"Pak Herman." Bu Sumi meraih tangan Herman. "Saya tahu ini berat. Saya tahu ini menyakitkan. Tapi Rahmadi tumbuh dalam lingkungan yang salah. H. Rahmat tidak pernah menyayanginya. Ia tidak pernah merasakan kasih sayang. Ia tidak tahu bagaimana cara mencintai, karena tidak ada yang pernah mencintainya."
Herman menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia menangis tersedu-sedu.
"Ini semua salahku." Suaranya parau. "Aku seharusnya memperjuangkan Fatimah. Aku seharusnya tidak menyerah. Aku seharusnya berani melawan keluarganya. Tapi aku pengecut. Aku takut. Aku lari."
"Apa yang Bapak perjuangkan dulu?" Bu Sumi bertanya.
Herman mengangkat kepalanya. Matanya merah.
"Fatimah dan aku... kami saling mencintai." Suaranya pelan, seperti orang yang sedang mengingat mimpi. "Kami bertemu di sebuah pesta. Aku pegawai bank biasa. Dia putri saudagar kaya. Kami jatuh cinta. Tapi keluarganya menolakku. Mereka menganggapku tidak pantas. Mereka lebih memilih H. Rahmat. Pengusaha sukses. Kaya raya."
"Fatimah menikah dengan H. Rahmat karena terpaksa. Aku... aku pergi ke Jakarta. Memulai hidup baru. Menikah dengan wanita lain. Punya anak. Tapi aku tidak pernah bisa melupakan Fatimah. Tidak pernah. Setiap hari. Setiap malam. Ia selalu hadir dalam mimpiku."
"Bapak tidak pernah mencoba menghubungi Rahmadi?" Bu Sumi bertanya.
Herman menggeleng. "Tidak. Aku takut. H. Rahmat orang berbahaya. Aku tidak mau Rahmadi celaka karena ulahku. Aku pikir jika aku diam, Rahmadi akan selamat. Ternyata... aku salah. Rahmadi justru celaka karena dididik oleh orang yang salah. Karena tidak ada yang melindunginya. Karena tidak ada yang mencintainya."
Keputusan Herman
Rumah Herman, sore itu.
"Pak Herman." Bu Sumi menatap Herman dengan mata teduh. "Rahmadi butuh tahu kebenaran. Ia butuh tahu bahwa ia memiliki ayah. Ayah yang tidak pernah berhenti mencintainya. Ayah yang rela melakukan apa pun untuknya."
"Apa yang bisa saya lakukan, Bu?" Herman bertanya, matanya berkaca-kaca. "Saya hanya laki-laki tua miskin. Tidak punya uang untuk membayar pengacara. Tidak punya koneksi untuk membebaskannya dari penjara. Saya tidak bisa memberikan apa pun."
"Rahmadi tidak butuh uang, Pak." Bu Sumi menggenggam tangan Herman. "Rahmadi tidak butuh pengacara. Rahmadi tidak butuh dibebaskan. Yang Rahmadi butuhkan adalah kasih sayang. Yang Rahmadi butuhkan adalah seseorang yang mengakuinya sebagai anak. Yang Rahmadi butuhkan adalah tahu bahwa ia tidak dilahirkan dari dosa, tapi dari cinta. Cinta sejati antara Bapak dan Hj. Fatimah."
Herman terdiam. Matanya menerawang jauh.
"Baik, Bu." Ia mengangguk. "Saya akan ke Kendal. Saya akan temui Rahmadi. Saya akan minta maaf. Saya akan minta maaf karena tidak pernah ada untuknya. Saya akan minta maaf karena gagal menjadi ayah yang baik."
"Terima kasih, Pak." Bu Sumi tersenyum. "Ini keputusan yang berani. Tidak semua orang seberani Bapak."
Bu Sumi Kembali ke Pegandon
Rumah Bu Sumi, awal April 1998.
Bu Sumi menelepon Ariyanti, Akang, Pak Lurah, dan Pak Dullah untuk datang ke rumahnya. Pertemuan rahasia. Hanya orang-orang yang bisa dipercaya.
Malam itu, mereka berkumpul di ruang tamu Bu Sumi yang sempit. Lampu minyak tanah menerangi wajah-wajah tegang.
"Ari, Akang, Pak Lurah, Pak Dullah." Bu Sumi membuka pertemuan. Suaranya serius. "Saya punya kabar penting. Kabar yang akan mengubah cara kita melihat keluarga H. Rahmat."
"Apa itu, Bu?" tanya Akang.
Bu Sumi menghela napas.
"Rahmadi bukan anak kandung H. Rahmat." Ia menatap satu per satu. "Ia anak dari hubungan Hj. Fatimah dengan laki-laki bernama Herman."
Seluruh ruangan terdiam. Tidak ada yang bergerak. Tidak ada yang bernapas.
"Apa?" Ariyanti memecah keheningan. Suaranya nyaris berbisik.
"Itu sebabnya H. Rahmat begitu dingin pada Rahmadi." Bu Sumi melanjutkan. "Ia tidak pernah benar-benar menerimanya sebagai anak. Rahmadi hanya beban yang harus ditanggung. Bukan anak yang dicintai."
Pak Lurah menghela napas panjang.
"Ini skandal besar, Bu Sumi." Suaranya berat. "Jika tersebar, nama keluarga H. Rahmat akan hancur. Reputasi mereka akan runtuh. Bisnis mereka akan terpuruk."
"Apakah kita harus menyebarkannya?" tanya Akang.
"Tidak, Kang." Bu Sumi menggeleng. "Kita bukan penghasut. Kita bukan pembuat gosip. Tugas kita bukan menyebarkan skandal. Tugas kita adalah memberi tahu Rahmadi. Ia berhak tahu kebenaran tentang dirinya sendiri."
Mempersiapkan Pertemuan
Rumah Bu Sumi, beberapa hari kemudian.
Bu Sumi mengatur pertemuan antara Herman dan Rahmadi di Lembaga Pemasyarakatan Kendal. Prosedurnya panjang. Ia harus mengurus surat izin dari pengadilan, dari kejaksaan, dari pihak lapas. Ia harus meyakinkan petugas bahwa pertemuan ini penting. Ia harus menjelaskan bahwa ini demi kebaikan narapidana, bukan untuk kepentingan lain.
Herman datang dari Jakarta dengan pakaian sederhana. Kemeja putih lengan panjang yang sudah agak kusam. Celana bahan hitam yang sudah tidak model. Sepatu kulit yang sudah pudar warnanya.
Ia terlihat gugup. Tangannya gemetar.
"Bu Sumi, bagaimana penampilan saya?" tanyanya sambil merapikan kerah kemeja. "Apakah Rahmadi akan malu? Apakah ia akan menolak saya?"
"Pak Herman." Bu Sumi menepuk pundak Herman. "Rahmadi butuh melihat Bapak apa adanya. Tidak perlu berpura-pura. Tidak perlu berdandan. Yang penting ketulusan. Yang penting kejujuran."
"Saya takut dia marah, Bu." Herman menggigit bibirnya. "Saya takut dia membenci saya. Saya takut dia tidak mau mengakui saya."
"Biarkan dia marah, Pak." Bu Sumi tersenyum. "Biarkan dia meluapkan emosinya. Yang penting dia tahu kebenaran. Yang penting dia tidak hidup dalam kebohongan lagi."
Pertemuan di Lapas Kendal
Lapas Kelas II A Kendal, pertengahan April 1998.
Herman dan Bu Sumi duduk di ruang kunjungan. Meja panjang berwarna abu-abu memisahkan mereka dari para narapidana. Dinding ruangan dicat hijau pucat, warna yang dipilih karena dianggap menenangkan, tapi kenyataannya hanya membuat orang semakin tertekan. Udara pengap, tidak ada jendela yang terbuka, hanya kipas angin di pojok yang berputar lambat.
Rahmadi keluar dari pintu besi. Langkahnya berat. Wajahnya lebih kurus dari terakhir kali Bu Sumi melihatnya. Matanya cekung, seperti orang yang kurang tidur berbulan-bulan. Jenggotnya tidak dicukur, tumbuh tidak beraturan. Seragam tahanan berwarna oranye terlihat longgar di tubuhnya yang semakin kurus.
Ketika melihat Bu Sumi, ia tersenyum sinis. Senyum yang membuat bulu kuduk Bu Sumi berdiri.
"Bu Sumi." Suaranya serak. "Mau menari di atas kuburanku? Atau mau merayakan kemenanganmu?"
"Rahmadi." Bu Sumi tidak terpancing. "Duduklah. Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu."
Rahmadi menatap Herman. Matanya menyipit.
"Siapa laki-laki tua ini?" Ia tertawa. "Pengacara baru? Saksi ahli? Atau mungkin... ayah rohanimu?"
Herman gemetar. Tangannya yang diletakkan di atas meja bergetar hebat.
"Rahmadi..." Suaranya hampir tidak terdengar. "Aku... aku ayah kandungmu."
Rahmadi tertawa. Tertawa keras. Tertawa yang menggema di ruangan sempit itu.
"Ayah kandung?" Ia masih tertawa. "H. Rahmat adalah ayahku, Pak Tua. Itu sudah tercatat di akta kelahiranku. Itu sudah diketahui semua orang."
"Itu yang selama ini kau kira." Herman menatap Rahmadi. Matanya basah. "Tapi kau salah. Aku Herman. Aku yang dulu mencintai ibumu. Aku ayahmu."
"BUKTI!" Rahmadi membanting meja. Suaranya memecah keheningan.
Bu Sumi mengeluarkan surat wasiat Hj. Fatimah dari tasnya. Ia menyerahkan pada Rahmadi.
"Baca ini."
Rahmadi membaca surat itu. Tangannya gemetar. Wajahnya berubah pucat. Dadanya naik turun cepat.
"Kau adalah buah cinta sejati kami... Ayah kandungmu bernama Herman..."
"Tidak..." Rahmadi menggeleng-gelengkan kepala. "Tidak mungkin... ini palsu... ini pasti palsu!"
"Rahmadi, lihat aku." Herman berdiri. Matanya menatap Rahmadi. "Lihat mataku. Kau punya mata yang sama. Kau punya bentuk wajah yang sama. Kau adalah anakku. Aku tahu itu. Aku yakin itu."
Rahmadi menangis. Air matanya jatuh di pipi yang kusam.
"Kau..." suaranya tersendat. "Kau meninggalkan aku. Semua orang meninggalkan aku. Ibu meninggal. Ayah, maksudku H. Rahmat, tidak pernah menyayangiku. Dan kau... kau tidak pernah ada. Kalian semua meninggalkanku sendirian!"
Herman juga menangis. "Maafkan aku, Nak. Maafkan aku. Aku takut. Aku tahu H. Rahmat orang berbahaya. Aku tidak mau kau celaka."
"AKU CELAKA SEKARANG!" Rahmadi membanting kursi. "AKU DI PENJARA! KARENA ANAK HARAM SEPERTIKU! KARENA ANAK YANG TIDAK DIINGINKAN!"
Rahmadi Mengamuk
Ruang kunjungan Lapas Kendal.
Rahmadi melempar kursi ke dinding. Dua petugas lapas yang berjaga langsung berlari menahannya. Tangan kanannya diborgol. Tangan kirinya ditarik paksa.
"TENANG!" teriak salah satu petugas.
"AKU TIDAK MAU TENANG!" Rahmadi meronta. "KALIAN SEMUA BOHONG! HIDUPKU BOHONG! DUNIA INI BOHONG!"
Herman hanya bisa menangis. Ia tidak berani mendekat.
"Maafkan aku, Nak." Herman bersujud di lantai. "Maafkan aku. Aku gagal menjadi ayah. Aku gagal melindungimu. Aku gagal..."
"BERHENTI MINTA MAAF!" Rahmadi berteriak dari balik pintu. "KAU TIDAK BERHAK MINTA MAAF! KAU TIDAK PERNAH ADA! KAU TIDAK PERNAH PEDULI!"
Bu Sumi mencoba menenangkan. "Rahmadi, kemarahanmu tidak akan mengubah masa lalu. Tapi kau bisa memilih masa depan. Kau bisa memaafkan. Kau bisa memulai hidup baru."
"Memaafkan?" Rahmadi tertawa pahit. "Setelah semua yang terjadi? H. Rahmat membenciku. Ibu meninggalkanku. Herman tidak pernah ada. Aku tumbuh sebagai anak haram. Aku tumbuh sebagai anak yang tidak diinginkan. DAN SEKARANG KALIAN MINTA AKU MAAFKAN?"
Rahmadi ditarik paksa oleh petugas lapas ke dalam. Pintu besi tertutup. Suara teriakannya masih terdengar. Lalu menghilang.
Herman masih bersujud di lantai.
"Fatimah..." isaknya. "Maafkan aku. Maafkan aku. Aku gagal menjadi ayah yang baik untuk anak kita."
Bu Sumi hanya bisa diam. Ia tidak menyangka pertemuan ini akan sekeras ini. Ia tidak menyangka Rahmadi akan semarah ini. Ia tidak menyangka kebenaran akan sesakit ini.
Tapi itulah kebenaran. Kebenaran tidak pernah mudah. Kebenaran tidak pernah manis. Kebenaran tidak pernah datang dengan bunga dan pelangi.
Kebenaran datang dengan air mata. Dan darah. Dan kehancuran.
Kembali ke Rumah
Perjalanan pulang dari Kendal.
Di dalam mobil, Herman diam seribu bahasa. Ia hanya menatap ke luar jendela, melihat sawah-sawah yang menghijau, pohon-pohon randu yang bergoyang, langit yang biru.
Bu Sumi mencoba menghiburnya.
"Pak Herman, Rahmadi butuh waktu." Suaranya lembut. "Ia baru tahu kebenaran yang sangat berat. Bertahun-tahun ia hidup dalam kebohongan. Tidak mudah menerima kenyataan seperti ini."
"Apa yang bisa saya lakukan, Bu?" Herman bertanya tanpa menoleh.
"Tetap di Pegandon, Pak." Bu Sumi menatap Herman. "Dekati dia perlahan. Kirim surat. Minta izin kunjungan. Jangan menyerah. Tunjukkan bahwa Bapak sungguh-sungguh ingin menjadi ayah untuknya."
"Apakah dia akan mau?" Herman menoleh. Matanya basah.
"Suatu hari nanti, Pak." Bu Sumi tersenyum. "Ketika kemarahannya sudah reda. Ketika ia sudah bisa menerima kenyataan. Ketika ia sudah siap untuk memaafkan."
Reaksi H. Rahmat
Rumah H. Rahmat, malam itu.
Kabar tentang pertemuan di lapas bocor. Entah siapa yang menyebarkan. Entah bagaimana caranya. Yang jelas, kabar itu sampai ke telinga H. Rahmat dengan cepat.
"Bu Sumi! Herman!" H. Rahmat membanting telepon. Wajahnya merah padam. "Mereka berdua menghancurkan nama baik keluarga saya!"
"Pak, apa yang harus kita lakukan?" tanya istri mudanya yang masih muda dan cantik.
- Rahmat berjalan mondar-mandir.
"Diam!" bentaknya. "Jangan komentar apa pun! Jangan bicara pada wartawan! Jangan bicara pada tetangga! Biarkan publik melupakan!"
"Tapi kalau surat wasiat Hj. Fatimah tersebar luas..." istri mudanya tidak melanjutkan.
"Hj. Fatimah sudah mati!" H. Rahmat berteriak. "Sudah mati 13 tahun lalu! Tidak ada yang bisa membuktikan! Tidak ada saksi! Tidak ada bukti!"
"Tapi Rahmadi..."
"Rahmadi bukan anakku!" H. Rahmat memotong. "Dia anak haram! Biarkan dia di penjara! Aku tidak peduli! Aku tidak pernah peduli!"
Bu Sumi Mendapat Ancaman
Rumah Bu Sumi, dua hari kemudian.
Pagi itu, ketika Bu Sumi hendak berangkat ke sekolah, ia menemukan sebuah amplop putih tanpa nama pengirim di teras rumahnya. Amplop itu diletakkan di atas kursi bambu, dengan hati-hati, seolah-olah orang yang meletakkannya tidak ingin merusak apa pun.
Ia membukanya.
Selembar kertas putih. Tulisan merah. Entah pakai spidol, entah pakai darah.
"BU SUMI, BERHENTI MENCAMPURI URUSAN KELUARGA KAMI. INI BUKAN URUSAN ANDA. INI URUSAN KELUARGA. ANDA TIDAK BERHAK. ATAU ANDA AKAN MENYESAL. INI PERINGATAN TERAKHIR."
Bu Sumi tersenyum pahit. Ia sudah tidak asing dengan ancaman. Ini bukan pertama kalinya. Dan mungkin bukan terakhir kalinya.
"Mereka semakin panik," bisiknya. "Semakin panik, semakin berbahaya. Tapi semakin panik, semakin dekat dengan kehancuran."
Ia menelepon Bripka Joko.
"Pak, saya mendapat ancaman lagi. Amplop. Kertas putih. Tulisan merah."
"Laporkan, Bu." Suara Bripka Joko serius. "Kami akan selidiki. Kami akan cari tahu siapa yang mengirim."
Herman Menetap di Pegandon
Pegandon, Mei 1998.
Herman memutuskan untuk menyewa sebuah rumah kecil di Dusun Kersan. Rumah itu tidak jauh dari rumah Ariyanti. Dinding anyaman bambu, atap rumbia, lantai tanah. Sederhana. Tapi cukup.
Ia ingin dekat dengan Rahmadi. Ia ingin menunjukkan bahwa ia tidak akan lari lagi.
Setiap minggu, ia mengirim surat ke lapas. Surat-surat panjang. Surat-surat yang ia tulis dengan hati-hati. Tentang cintanya pada Hj. Fatimah. Tentang penyesalannya meninggalkan mereka. Tentang mimpinya melihat Rahmadi menjadi orang baik.
Setiap bulan, ia mengajukan izin kunjungan. Ia rela antre berjam-jam. Rela mengisi formulir berulang-ulang. Rela menjawab pertanyaan petugas lapas dengan sabar.
Awalnya Rahmadi menolak. Surat-surat itu ia kembalikan tanpa dibaca. Kunjungan-kunjungan itu ia tolak. Ia tidak mau bertemu. Tidak mau bicara. Tidak mau mendengar.
Tapi Herman tidak menyerah.
Ia terus menulis.
"Nak, ayah tidak tahu apakah surat ini akan kau baca. Tapi ayah akan terus menulis. Sampai kau mau membacanya. Sampai kau mau mendengarkan."
"Ayah tidak pantas disebut ayah. Ayah tidak pernah ada untukmu. Ayah tidak pernah membesarkanmu. Ayah tidak pernah melindungimu. Ayah hanya laki-laki pengecut yang lari dari tanggung jawab."
"Tapi ayah ingin kau tahu: ayah tidak pernah berhenti mencintai ibumu. Dan ayah tidak pernah berhenti mencintaimu. Meskipun ayah tidak pernah melihatmu tumbuh. Meskipun ayah tidak pernah memberimu apa-apa."
"Kau adalah satu-satunya anak ayah, Nak. Tidak ada adik tiri. Tidak ada saudara sambung. Hanya kau."
"Ayah tidak akan memaksamu memaafkan ayah. Ayah hanya ingin kau tahu bahwa di dunia ini ada seseorang yang sungguh-sungguh mencintaimu. Tanpa syarat. Tanpa pamrih. Tanpa mengharapkan apa pun."
"Ayah akan selalu menunggumu, Nak. Di rumah kecil di Kersan."
Rahmadi Mulai Membaca Surat
Lapas Kendal, Juni 1998.
Setelah dua bulan menolak, setelah dua bulan mengembalikan surat-surat Herman tanpa membaca, setelah dua bulan bersikeras tidak mau tahu, akhirnya Rahmadi membuka salah satu surat itu.
Mungkin karena bosan. Mungkin karena penasaran. Mungkin karena ada suara kecil di hatinya yang berkata, "Cobalah. Coba baca. Tidak ada salahnya."
Ia membaca. Baris pertama. Baris kedua. Baris ketiga.
Air matanya jatuh.
"Nak, ayah tidak tahu apakah surat ini akan kau baca..."
Rahmadi tidak bisa berhenti. Ia membaca sampai habis. Lalu membaca lagi. Lalu membaca lagi.
"Kau adalah satu-satunya anak ayah. Tidak ada adik tiri. Tidak ada saudara sambung. Hanya kau."
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa diterima. Untuk pertama kalinya, ia merasa diinginkan. Untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa ia bukanlah anak haram yang tidak berguna.
Ia menangis. Menangis lama.
Di dalam sel yang sempit. Di dalam penjara yang dingin.
Herman, pikirnya. Ayahku. Herman.
Ia menyimpan surat itu di bawah bantal. Bersama dengan foto Hj. Fatimah yang selalu ia bawa sejak kecil.
Mungkin, bisiknya dalam hati. Mungkin aku bisa memaafkan. Suatu hari nanti.
Perubahan Rahmadi
Lapas Kendal, beberapa bulan kemudian.
Para petugas lapas mulai melihat perubahan pada Rahmadi. Perubahan yang tidak pernah mereka duga sebelumnya.
Ia tidak lagi mudah marah. Tidak lagi membentak petugas. Tidak lagi berkelahi dengan narapidana lain. Tidak lagi melanggar peraturan.
Ia mulai mengikuti program pembinaan. Program keagamaan. Program keterampilan. Program konseling. Semua ia ikuti dengan sungguh-sungguh.
Ia juga mulai belajar membaca Al-Quran. Sesuatu yang tidak pernah ia lakukan di rumah H. Rahmat. Sesuatu yang tidak pernah diajarkan oleh ayah tirinya. Sesuatu yang tidak pernah ia minati sebelumnya.
"Pak Rahmadi, ada surat untuk Bapak," kata seorang petugas suatu pagi.
Surat dari Herman.
Rahmadi membukanya. Tangannya tidak lagi gemetar. Hatinya tidak lagi marah.
"Nak, ayah kirimkan buku Iqro. Jilid satu. Ayah tahu kau sedang belajar mengaji. Ayah bangga. Ayah sangat bangga."
Rahmadi membalas surat itu. Pertama kalinya.
"Pak Herman..."
Ia berhenti. Menghapus kata "Pak". Menulis ulang.
"Ayah..."
Ia menangis. Tapi ia melanjutkan.
"Aku belum bisa memanggil Ayah dengan nyaman. Tapi aku membaca surat-surat Ayah. Aku sedang berubah. Perlahan. Tidak cepat. Tapi aku berusaha. Aku berusaha menjadi lebih baik."
"Suatu hari, aku akan bisa memaafkan Ayah. Suatu hari, aku akan bisa menerima Ayah sebagai ayahku. Tapi beri aku waktu."
"Rahmadi"
Herman menangis saat membaca balasan itu. Ia memeluk surat itu erat-erat.
Dia memanggilku Ayah, bisiknya. Dia memanggilku Ayah.
- Rahmat Jatuh
Pegandon, akhir 1998.
Kabar tentang skandal keluarga H. Rahmat akhirnya tersebar luas. Entah dari mana sumbernya. Entah siapa yang menyebarkan. Tapi semua orang sudah tahu.
Bisnis H. Rahmat mulai terpengaruh. Mitra-mitranya menarik diri. Pelanggan-pelanggannya beralih ke pesaing. Hutang-hutangnya menumpuk. Karyawan-karyawannya mulai dipecat.
- Rahmat jatuh sakit. Stroke. Sebagian tubuhnya lumpuh. Ia hanya bisa terbaring di tempat tidur, di rumah mewahnya yang kini sepi.
Tidak ada yang menjenguk. Istri mudanya kabur membawa uang. Anak-anak tirinya tidak peduli. Mereka sibuk memperebutkan sisa-sisa harta yang tersisa.
Hanya Pak Dullah, mantan sopir yang dulu dipecatnya dengan cara tidak hormat, yang datang. Pak Dullah membawakan bubur. Pak Dullah membawakan obat. Pak Dullah membersihkan rumah yang mulai kotor.
"Pak H. Rahmat, saya bawakan bubur." Pak Dullah menyuapi H. Rahmat.
- Rahmat hanya bisa menangis.
"Maafkan saya, Dullah." Suaranya pelo karena stroke. "Maafkan saya. Saya sudah jahat pada banyak orang. Pada kamu. Pada Fatimah. Pada Rahmadi."
"Sudah, Pak." Pak Dullah mengusap air mata H. Rahmat. "Yang penting Bapak bertobat. Yang penting Bapak minta maaf. Allah Maha Pengampun."
Bu Sumi Menutup Bab
Rumah Bu Sumi, Desember 1998.
Bu Sumi duduk di ruang kerjanya. Di depannya, papan buletin yang dulu penuh dengan foto, dokumen, dan garis penghubung. Kini papan itu mulai ia bongkar.
Satu per satu, ia lepaskan foto-foto. H. Rahmat. Hj. Fatimah. Danu. Para preman. Satu per satu, ia simpan dalam map.
Satu per satu, ia hapus garis-garis penghubung. Rahmadi menyukai Ariyanti. Ariyanti menolak. Rahmadi marah. Fitnah. Kebakaran. Tuduhan palsu. Garis-garis yang menghubungkan semua peristiwa.
Semua sudah terungkap. Rahasia keluarga H. Rahmat sudah tidak lagi rahasia.
Herman dan Rahmadi mulai menjalin hubungan. Masih canggung. Masih kaku. Masih belum nyaman. Tapi mereka mulai berkomunikasi. Mulai saling mengenal. Mulai saling memaafkan.
- Rahmat terlunta-lunta di rumahnya yang megah. Ia tidak punya siapa-siapa lagi. Hanya Pak Dullah yang kadang menjenguk. Hanya penyesalan yang menemaninya.
Akang dan Ariyanti melanjutkan sekolah. Semakin dekat. Semakin kuat. Semakin yakin dengan pilihan mereka.
Bu Sumi tersenyum.
"Selesai sudah," bisiknya.
Ia menutup papan buletin itu. Papan yang telah menjadi saksi bisu perjuangannya selama berbulan-bulan.
Tapi cerita belum benar-benar selesai. Masih ada pengadilan banding untuk Rahmadi. Masih ada terapi untuk Akang. Masih ada ujian nasional untuk Ariyanti.
Dan masih ada kehidupan yang harus dijalani.
Tapi setidaknya, ular di balik rumput sudah terlihat. Tidak lagi tersembunyi. Tidak lagi mengintai.
Dan kebenaran, meskipun terlambat, meskipun menyakitkan, meskipun menghancurkan, akhirnya menang.
BAB 22
RAHASIA RAHMADI TERBONGKAR
Pak Dullah, penjaga sekolah, dulu bekerja sebagai sopir keluarga Rahmadi. Ia tahu segalanya.
Tegorejo, Mei 1998. Sebulan setelah pertemuan Rahmadi dengan Herman di lapas.
Kebenaran tentang asal-usul Rahmadi sudah mulai tercium angin. Seperti bau anyir yang merembes dari balik tembok, seperti bisikan yang menjalar dari mulut ke mulut, seperti kabar yang tidak bisa lagi disembunyikan. Warga desa mulai berbisik. Mereka bertanya-tanya. Mereka berspekulasi. Mereka menghubung-hubungkan kejadian yang selama ini tidak masuk akal.
Tapi masih ada satu potongan puzzle yang hilang. Bukan potongan kecil yang mudah diabaikan. Tapi potongan terpenting. Kepingan yang bisa menjelaskan mengapa Rahmadi tumbuh menjadi monster. Mengapa H. Rahmat begitu membencinya, bahkan sebelum ia terbukti bukan anak kandungnya. Mengapa Hj. Fatimah sampai nekat berselingkuh, padahal sebagai istri dari keluarga terpandang, resikonya sangat besar, bisa berakibat kematian.
Kepingan itu ada pada Pak Dullah.
Penjaga sekolah yang selama bertahun-tahun hanya diam. Laki-laki tua yang wajahnya keriput oleh waktu, tangannya kapalan oleh kerja keras, dan matanya... matanya menyimpan sejuta rahasia. Rahasia yang tidak pernah ia ceritakan pada siapa pun. Rahasia yang ia kubur dalam-dalam, berharap akan mati bersamanya. Rahasia yang ia bawa setiap hari, setiap jam, setiap menit, tanpa bisa ia lepaskan.
Pak Dullah bukan sekadar mantan sopir keluarga H. Rahmat. Ia lebih dari itu. Ia adalah saksi bisu dari seluruh drama kelam yang terjadi di balik tembok megah rumah itu. Ia melihat, mendengar, dan merasakan sendiri bagaimana H. Rahmat perlahan-lahan menghancurkan istri pertamanya, Hj. Fatimah. Ia menyaksikan bagaimana Hj. Fatimah bertahan dalam pernikahan yang tidak bahagia. Ia mendengar tangisan Hj. Fatimah di malam hari, ketika semua orang sudah tidur. Ia melihat lebam-lebam di lengan dan leher Hj. Fatimah, yang coba disembunyikan dengan kerudung dan kain panjang.
Ia juga melihat bagaimana Rahmadi kecil, yang tidak berdosa, tumbuh dalam penderitaan. Ia melihat bagaimana anak itu duduk di pojok rumah, menangis sendirian, tidak ada yang memeluk, tidak ada yang menghibur, tidak ada yang peduli. Ia melihat bagaimana Rahmadi berubah dari anak yang polos menjadi anak yang dingin, dari anak yang ingin dicintai menjadi anak yang membenci dunia.
Dan malam itu, di rumahnya yang sederhana, dengan dinding anyaman bambu yang sudah rapuh, dengan atap rumbia yang sudah menghitam, dengan lantai tanah yang dipadatkan, di bawah cahaya lampu minyak tanah yang berkedip-kedip, Pak Dullah memutuskan untuk berbicara.
Bukan karena ia berani. Tapi karena ia sudah tidak punya pilihan. Karena ia sudah terlalu tua untuk terus membawa rahasia. Karena ia ingin mati dalam keadaan bersih, tanpa beban, tanpa rasa bersalah.
Karena ia ingin kebenaran, yang selama puluhan tahun terkubur, akhirnya terungkap.
Pak Dullah yang Selalu Diam
SMAN I Pegandon, siang hari.
Matahari terik menyengat halaman sekolah. Debu-debu beterbangan ditiup angin. Pak Dullah sedang menyapu halaman, gerakannya lambat, tidak seperti dulu ketika ia masih muda dan energik. Sapu lidi di tangannya sudah aus, daun-daunnya sudah rontok di beberapa bagian.
Ariyanti menghampirinya. Wajah gadis itu tampak lelah. Kombinasi antara tugas sekolah yang menumpuk, menjaga Akang yang masih dalam masa pemulihan dengan terapi setiap hari, dan tekanan psikologis dari kasus Rahmadi yang belum sepenuhnya selesai, semuanya meninggalkan bekas di wajahnya. Matanya sayu. Bahunya turun.
"Pak Dullah, boleh saya bicara?" Suaranya pelan, hormat.
Pak Dullah berhenti menyapu. Ia menatap Ariyanti. Matanya menerawang jauh, seolah-olah menembus waktu, kembali ke masa lalu yang kelam. Masa lalu yang tidak ingin ia ingat, tapi tidak bisa ia lupakan.
"Ada apa, Nak?" Suaranya serak, tapi ramah.
"Akang dan saya ingin tahu lebih banyak tentang keluarga Rahmadi, Pak." Ariyanti menggigit bibirnya. "Bu Sumi bilang, Bapak dulu bekerja sebagai sopir mereka. Mungkin Bapak tahu sesuatu. Mungkin Bapak bisa membantu kami memahami."
Pak Dullah terdiam. Tangannya yang memegang sapu berhenti bergerak. Matanya tidak berkedip.
"Sudah lama, Nak." Suaranya hampir berbisik. "Sudah sangat lama. Saya sudah lupa. Saya tidak mau mengingatnya."
"Pak Dullah, kami tidak akan memaksa." Ariyanti meraih tangan Pak Dullah. Tangannya kasar, kapalan, dan dingin. "Tapi kami merasa ada sesuatu yang Bapak sembunyikan. Sesuatu yang mungkin bisa membantu kami memahami mengapa Rahmadi begitu... jahat. Sesuatu yang mungkin bisa membantu kami menghentikannya."
Pak Dullah menghela napas. Panjang. Berat. Seperti orang yang akan mengangkat beban yang sudah lama ia pikul.
"Nak Ariyanti, ada rahasia yang sebaiknya tidak diketahui banyak orang." Suaranya serius. "Bisa membahayakan. Bisa merenggut nyawa."
"Tapi Pak Dullah..."
"Baiklah." Pak Dullah memotong. "Datanglah ke rumah saya malam ini. Ajak Bu Sumi dan Akang. Tapi jangan banyak orang. Saya tidak mau berisik. Saya tidak mau menarik perhatian."
"Terima kasih, Pak." Ariyanti tersenyum. "Terima kasih."
Persiapan di Rumah Pak Dullah
Dusun Cegunan, pukul 19.00.
Rumah Pak Dullah adalah gubuk kecil di pinggir Dusun Cegunan. Letaknya tidak jauh dari rumah Akang, hanya terpisah oleh dua rumah dan sebuah kebun pisang yang rimbun. Dindingnya dari anyaman bambu yang sudah rapuh, beberapa bagian sudah bolong, ditambal dengan karung goni bekas. Atapnya dari seng berkarat yang sudah berlubang di beberapa tempat. Halaman depannya sempit, hanya cukup untuk sepeda motor tua yang sudah tidak pernah ia nyalakan lagi, dan beberapa pot tanaman hias yang hampir mati.
Bu Sumi datang lebih dulu. Disusul Ariyanti dan Akang yang masih berjalan dengan tongkat. Kaki Akang sudah jauh lebih baik, tapi ia masih belum bisa berjalan tanpa bantuan.
"Pak Dullah, kami datang," sapa Bu Sumi sambil membuka pagar anyaman bambu yang berdecit pelan.
"Silakan masuk." Pak Dullah berdiri di teras, menyambut mereka dengan senyum tipis. "Maaf, rumah tidak layak. Sudah tua. Tidak pernah diperbaiki."
"Tidak apa-apa, Pak." Bu Sumi masuk ke rumah. "Yang penting kita bisa bicara dengan tenang. Yang penting tidak ada yang mengganggu."
Mereka duduk di ruang tamu yang sempit, hanya berukuran 2x3 meter. Satu lampu minyak tanah menerangi ruangan itu, menciptakan bayangan-bayangan yang menari-nari di dinding anyaman bambu. Listrik belum masuk ke Dusun Cegunan bagian selatan. Warga masih bergantung pada lampu minyak dan lilin.
Pak Dullah menyiapkan teh pahit tanpa gula dan pisang goreng buatan istrinya. Istrinya sudah meninggal tiga tahun lalu. Pisang goreng ini dibuat oleh tetangganya yang baik hati, yang tahu bahwa Pak Dullah akan kedatangan tamu.
"Maaf, tidak ada yang mewah." Pak Dullah meletakkan nampan sederhana di atas meja kayu yang sudah usang.
"Kami tidak butuh mewah, Pak." Akang duduk di kursi bambu yang kakinya tidak sama panjang, diganjal dengan batu bata merah. "Kami butuh kebenaran."
Pak Dullah menarik napas panjang.
"Baiklah." Ia duduk di kursi kebanggaannya, kursi rotan yang masih cukup bagus. "Saya akan ceritakan semuanya. Dari awal. Sampai akhir. Jangan ada yang memotong. Jangan ada yang bertanya sampai saya selesai."
Pak Dullah Mulai Bercerita – Awal Bekerja
Kilas balik. Tahun 1978.
Pak Dullah memejamkan mata. Ketika ia membukanya lagi, matanya telah berubah. Tidak lagi sayu dan lelah. Tapi tajam, seperti sedang melihat ke masa lalu.
"Nama saya Dullah." Suaranya berubah. Menjadi lebih muda, lebih bersemangat. "Waktu itu umur saya 25 tahun. Saya baru saja menikah dengan istri saya. Pernikahan sederhana, hanya di KUA, tanpa resepsi. Kami pasrah. Belum punya anak. Hidup pas-pasan. Saya bekerja serabutan. Kadang jadi kuli angkat di pasar. Kadang jadi tukang kebun. Kadang jadi kuli bangunan."
"Suatu hari, saya dipanggil oleh H. Rahmat." Pak Dullah menghela napas. "Waktu itu dia masih pengusaha muda. Baru mulai membangun pabrik berasnya. Belum sekaya sekarang. Beliau menawari saya pekerjaan sebagai sopir pribadi. Gajinya lumayan. Cukup untuk makan sehari-hari dan sedikit menabung."
"Saya senang, Bu." Pak Dullah tersenyum pahit. "Akhirnya punya pekerjaan tetap. Tidak perlu lagi bingung cari kerja setiap hari. Tidak perlu lagi khawatir tidak punya uang untuk beli beras."
"Tapi saya belum tahu waktu itu." Matanya menerawang. "Saya belum tahu bahwa bekerja pada H. Rahmat berarti memasuki lingkaran neraka. Lingkaran yang tidak akan bisa saya tinggalkan. Lingkaran yang akan menghantui saya sampai tua."
Keluarga H. Rahmat – Awal Pernikahan
Kilas balik. Tahun 1979.
"H. Rahmat menikah dengan Hj. Fatimah pada tahun 1979." Pak Dullah memainkan jari-jarinya yang keriput. "Waktu itu, Hj. Fatimah masih muda. Cantik. Sangat cantik. Kulitnya putih bersih, rambutnya hitam panjang, matanya besar dan jernih. Ia juga baik. Sangat baik. Saya tidak pernah melihatnya marah. Tidak pernah mendengarnya membentak."
"Ia lulusan SMA, Bu." Pak Dullah menatap Bu Sumi. "Golongan terdidik di zamannya. Sedangkan H. Rahmat hanya lulusan SD. Tapi kaya. Sangat kaya. Warisan dari orang tuanya. Bisnisnya monopoli. Tidak ada yang bisa menyaingi."
"Pernikahan mereka bukan atas dasar cinta." Pak Dullah menggeleng-gelengkan kepala. "Keluarga Hj. Fatimah yang memaksa. Mereka butuh modal untuk menyelamatkan bisnis keluarga yang nyaris bangkrut. H. Rahmat butuh 'perhiasan', istri terdidik dari keluarga baik-baik untuk menaikkan pamornya di masyarakat."
"Dari awal, H. Rahmat kasar pada Hj. Fatimah." Suara Pak Dullah bergetar. "Saya sering melihat bekas lebam di lengan dan lehernya. Bekas gigitan. Bekas pukulan. Tapi Hj. Fatimah tidak pernah mengeluh. Ia hanya diam. Tersenyum pahit. Dan terus berdoa."
Hj. Fatimah dan Herman
Kilas balik. Tahun 1980.
"Suatu hari, saya mengantar Hj. Fatimah ke Semarang." Pak Dullah tersenyum tipis, mengenang. "Katanya mau belanja. Tapi di tengah jalan, ia minta berhenti di sebuah kafe di Jalan Pemuda. Kafe kecil, tidak terlalu ramai, tidak terlalu sepi."
"Saya menunggu di mobil." Pak Dullah melanjutkan. "Sekitar setengah jam kemudian, seorang laki-laki datang. Rapi. Pakai dasi. Membawa tas kulit. Wajahnya teduh, tidak seperti preman-preman yang biasa berkeliaran di sekitar H. Rahmat. Matanya jujur, tidak licik. Caranya berjalan tenang, tidak terburu-buru."
"Hj. Fatimah memanggilnya 'Herman'."
Pak Dullah berhenti sebentar.
"Mereka berdua di kafe itu selama sekitar dua jam." Matanya menerawang. "Saya tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Tapi ketika keluar, Hj. Fatimah menangis. Bukan menangis sedih. Tapi menangis haru. Seperti orang yang baru saja bertemu dengan kebahagiaan yang lama hilang."
"Pak Dullah, jangan bilang siapa-siapa," pintanya waktu itu."
"Saya hanya diam." Pak Dullah menghela napas. "Saya sudah mulai curiga. Tapi sebagai sopir, saya tahu batas. Saya tidak berhak ikut campur urusan pribadi majikan."
Perselingkuhan dan Kelahiran Rahmadi
Kilas balik. Tahun 1980-1981.
"Pertemuan itu bukan sekali." Pak Dullah menggeleng. "Berulang kali. Setiap bulan, Hj. Fatimah minta diantar ke Semarang. Kadang ke kafe yang sama. Kadang ke rumah Herman."
"Saya tidak pernah bertanya." Pak Dullah menunduk. "Tapi saya tahu. Hj. Fatimah dan Herman saling mencintai. Mereka mungkin sudah berteman sejak lama. Mungkin sejak sebelum Hj. Fatimah menikah. Mungkin sejak mereka masih di Semarang."
"Pada tahun 1981, Hj. Fatimah hamil." Pak Dullah mengangkat kepalanya. Matanya berkaca-kaca. "Saya tahu itu bukan anak H. Rahmat. Karena saat itu, H. Rahmat sedang sibuk dengan bisnisnya. Ia pergi ke luar kota selama berbulan-bulan. Saya yang mengantarnya."
"Rahmadi lahir." Pak Dullah tersenyum pahit. "Matanya sipit, tidak seperti H. Rahmat yang matanya bulat. Hidungnya mancung, tidak seperti H. Rahmat yang berhidung pesek. Kulitnya putih bersih, tidak seperti H. Rahmat yang berkulit sawo matang."
"Tapi H. Rahmat tidak curiga." Pak Dullah menghela napas. "Atau pura-pura tidak curiga. Saya tidak tahu."
- Rahmat Mulai Curiga
Kilas balik. Tahun 1982.
"Rahmadi mulai tumbuh." Pak Dullah menghela napas. "Wajahnya semakin jelas tidak mirip H. Rahmat. Semakin mirip Herman. Anak-anak tetangga mulai bergosip. 'Itu anak siapa? Kok tidak mirip bapaknya?'"
"Pada suatu malam, saya mendengar pertengkaran hebat antara H. Rahmat dan Hj. Fatimah." Pak Dullah memejamkan mata, seolah-olah mendengar suara itu lagi. "Bukan pertengkaran biasa. Tapi pertengkaran yang keras, yang penuh dengan kebencian dan amarah."
"'Bilang siapa bapak anak itu? BUKAN AKU!' teriak H. Rahmat. Aku mendengar suara meja dibanting."
"'Dia anakku! Tidak usah kau campuri!' jawab Hj. Fatimah. Aku mendengar suara tangis."
"'KAU SELINGKUH, FATIMAH! KAU HANCURKAN HARGA DIRIKU!'"
Pak Dullah menangis.
"Saya mendengar suara tamparan. Keras. Berulang-ulang. Suara benda jatuh. Suara Hj. Fatimah menjerit."
"Sejak malam itu, H. Rahmat berubah." Pak Dullah mengusap air matanya. "Ia semakin kasar. Tidak hanya pada Hj. Fatimah. Tapi juga pada Rahmadi."
Rahmadi Kecil yang Menderita
Kilas balik. Tahun 1982-1985.
"Rahmadi tumbuh sebagai anak yang tidak dicintai." Pak Dullah menggeleng-gelengkan kepala. "H. Rahmat sering membentaknya. Kadang memukulnya. Hanya karena kesalahan kecil. Atau tanpa kesalahan sama sekali."
"Hj. Fatimah berusaha melindungi." Pak Dullah menghela napas. "Tapi ia sendiri korban kekerasan. Ia tidak bisa berbuat banyak. Ia hanya bisa menangis. Dan berdoa."
"Saya sering melihat Rahmadi duduk di pojok rumah." Mata Pak Dullah berkaca-kaca. "Duduk di lantai marmer yang dingin, menangis sendirian. Tidak ada yang menghiburnya. Tidak ada yang memeluknya. Tidak ada yang peduli."
"'Pak Dullah,' katanya suatu hari. Waktu itu ia baru berusia 4 tahun. 'Kenapa Bapak benci saya?'"
"Saya tidak tahu harus menjawab apa." Pak Dullah menangis. "Saya hanya memeluknya. Memeluk anak kecil yang kurus dan kedinginan itu. Itu pertama kalinya saya melihat anak kecil sekurus itu tersenyum."
Kematian Hj. Fatimah
Kilas balik. Tahun 1985.
"Pada tahun 1985, Hj. Fatimah jatuh sakit." Pak Dullah menghela napas. "Parah. Dokter bilang ia keracunan. Keracunan makanan, katanya."
"Tapi saya curiga." Pak Dullah menatap Bu Sumi. Matanya tajam. "Sebelum sakit, Hj. Fatimah sempat menemui saya. Ia memanggil saya ke kamarnya. Wajahnya pucat. Bibirnya biru."
"'Pak Dullah,' katanya. 'Simpan surat ini. Jika saya mati, jangan berikan pada siapa pun. Kecuali pada Rahmadi. Saat ia sudah dewasa. Saat ia sudah bisa memahami.'"
"Itu surat wasiat dan surat untuk Rahmadi yang sekarang Ibu Sumi pegang."
"Tidak lama setelah itu, Hj. Fatimah meninggal." Pak Dullah terdiam. "Secara resmi, penyebabnya adalah gagal ginjal. Secara tidak resmi... saya tidak tahu. Saya tidak berani menyelidiki. Tapi saya yakin ada yang tidak beres. Ada yang tidak beres."
"H. Rahmat tidak menangis." Pak Dullah mengepalkan tangannya. "Ia justru terlihat lega. Seperti beban berat terangkat dari pundaknya."
Rahmadi Semakin Terpuruk
Kilas balik. Tahun 1985-1990.
"Setelah Hj. Fatimah meninggal, H. Rahmat semakin jahat pada Rahmadi." Pak Dullah menghela napas. "Tidak ada lagi yang melindungi. Tidak ada lagi yang menjadi perisai."
"Ia menikah lagi dengan perempuan muda." Pak Dullah menggeleng-gelengkan kepala. "Istri barunya melahirkan dua anak kandung. Rahmadi semakin tersisih. Tidak ada yang peduli padanya."
"Saya sering melihat Rahmadi makan sendiri di dapur." Mata Pak Dullah berkaca-kaca. "Sementara keluarga barunya makan mewah di ruang makan. Sementara mereka tertawa dan bercanda, Rahmadi duduk sendirian di dapur yang gelap, memakan nasi dingin dengan lauk seadanya."
"Saya kadang memberinya makanan tambahan diam-diam." Pak Dullah tersenyum tipis. "Itu sebabnya sampai sekarang, mungkin, Rahmadi masih ingat saya. Masih ingat bahwa ada satu orang yang pernah memberinya susu. Yang pernah memeluknya."
Pak Dullah Dipecat
Kilas balik. Tahun 1990.
"Pada tahun 1990, saya dipecat." Pak Dullah menghela napas. "Alasannya tidak jelas. Saya dituduh mencuri satu kaleng susu untuk Rahmadi."
"Padahal, susu itu Hj. Fatimah yang beli sebelum meninggal." Pak Dullah mengepalkan tangannya. "Saya hanya menyimpannya untuk Rahmadi. Untuk jaga-jaga. Untuk saat ia lapar."
"H. Rahmat tidak mau mendengar penjelasan." Suara Pak Dullah bergetar. "Ia mengusir saya dengan kekerasan. Preman-preman bayarannya menghajar saya di halaman rumah. Saya dipukuli. Ditendang. Dimaki-maki."
"Saat itu, Rahmadi berusia 9 tahun." Pak Dullah menangis. "Ia melihat saya dipukuli. Ia menangis. 'Pak Dullah! Pak Dullah!' teriaknya."
"Saya tidak bisa berbuat apa-apa." Pak Dullah mengusap air matanya. "Saya hanya bisa pergi. Meninggalkan rumah itu. Meninggalkan Rahmadi. Meninggalkan semuanya."
Pak Dullah Menjadi Penjaga Sekolah
Kilas balik. Tahun 1991.
"Setelah dipecat, saya susah cari kerja." Pak Dullah menghela napas. "Istri saya sakit-sakitan. Kami hidup pas-pasan. Kadang hanya makan nasi dengan garam. Kadang tidak makan sama sekali."
"Untunglah, Kepala Sekolah SMAN I Pegandon waktu itu baik hati." Pak Dullah tersenyum. "Beliau menerima saya sebagai penjaga sekolah. Gajinya kecil. Sangat kecil. Tapi cukup untuk makan. Cukup untuk membeli obat istri saya."
"Saya diam." Pak Dullah menunduk. "Tidak pernah bercerita tentang masa lalu saya pada siapa pun. Tidak pada Kepala Sekolah. Tidak pada guru-guru. Tidak pada warga desa."
"Hingga suatu hari, Rahmadi masuk ke sekolah ini." Pak Dullah mengangkat kepalanya. "Dan saya tahu, masa lalu tidak akan pernah benar-benar pergi."
Bertemu Lagi dengan Rahmadi
SMAN I Pegandon. Tahun 1997.
"Ketika pertama kali melihat Rahmadi di sekolah ini, saya terkejut." Pak Dullah menghela napas. "Ia sudah besar. Tinggi. Tampan. Pakaiannya rapi. Parfumnya mahal. Tapi matanya... matanya kosong. Sama seperti dulu. Sama seperti saat ia duduk di pojok rumah, menangis sendirian."
"Saya tidak pernah menyapanya." Pak Dullah menggeleng. "Saya takut. Takut ia akan malu. Takut ia akan marah. Takut ia akan menghina. Mantan sopir ayahnya sekarang menjadi penjaga sekolah."
"Tapi suatu hari, Rahmadi mendekati saya." Pak Dullah tersenyum pahit. "Ia memanggil saya. 'Pak Dullah?'"
"'Iya, Mas Rahmadi?'"
"'Maafkan saya.' Ia menunduk. 'Dulu saya tidak bisa membantu Bapak. Saya hanya anak kecil. Saya tidak punya kekuatan. Saya tidak berani melawan ayah saya.'"
"'Tidak apa, Mas.' Saya mengusap kepalanya. 'Itu sudah lama. Saya sudah lupa.'"
"'Pak Dullah, saya berubah.' Rahmadi menatap saya. Matanya kosong. 'Saya tidak seperti dulu. Saya tidak mau menjadi korban lagi. Saya ingin semua orang takut pada saya.'"
"Saya terperanjat." Pak Dullah mengepalkan tangannya. "'Kenapa Mas Rahmadi?'"
"'Karena jika orang takut, mereka tidak akan menyakiti saya.'"
"'Mas Rahmadi, rasa takut tidak akan membuat orang menghormati Mas.' Suara saya bergetar. 'Rasa takut hanya akan membuat mereka benci. Rasa takut hanya akan membuat mereka melawan suatu hari nanti.'"
"'Terserah.'"
"Sejak itu, saya tahu." Pak Dullah menunduk. "Rahmadi tumbuh menjadi monster. Bukan karena ia jahat sejak lahir. Tapi karena ia dibentuk oleh lingkungan yang jahat. Karena ia tidak pernah merasakan cinta. Karena ia tidak pernah diajari kebaikan."
Pak Dullah Menyimpan Banyak Bukti
Rumah Pak Dullah. Malam itu. Kembali ke masa sekarang.
"Ariyanti, Akang, Bu Sumi." Pak Dullah menatap mereka satu per satu. "Saya tidak hanya menyimpan surat Hj. Fatimah. Saya juga menyimpan banyak bukti lain."
Pak Dullah merangkak ke bawah tempat tidurnya. Ia mengeluarkan sebuah kotak kayu kecil. Kotak itu sudah tua, usang, dimakan rayap di beberapa sudut. Ia membukanya dengan hati-hati.
Di dalamnya, berserakan dokumen-dokumen. Foto-foto H. Rahmat dengan preman-preman bayarannya. Rekaman kaset kecil, isinya percakapan H. Rahmat menyuap polisi. Catatan keuangan ilegal, transfer dana ke rekening pejabat.
"Ini semua saya kumpulkan diam-diam sebelum saya dipecat." Pak Dullah menghela napas. "Saya tidak tahu apakah ini berguna. Tapi saya simpan saja. Untuk jaga-jaga. Untuk suatu hari nanti, jika ada yang berani melawan."
Bu Sumi terperanjat. Matanya membulat. Tangannya gemetar memegang foto-foto itu.
"Pak Dullah, ini bukti yang luar biasa." Suaranya hampir berbisik. "Ini bisa menjebloskan H. Rahmat ke penjara. Ini bisa mengakhiri kekuasaannya. Ini bisa membebaskan warga desa dari ketakutan."
"Saya tahu, Bu." Pak Dullah mengangguk. "Tapi saya takut. H. Rahmat masih punya banyak preman. Saya hanya laki-laki tua. Saya tidak punya siapa-siapa. Jika mereka mencelakai saya, tidak ada yang akan membela."
"Akang dan saya akan melindungi Bapak." Ariyanti meraih tangan Pak Dullah. "Kami tidak akan membiarkan Bapak celaka. Kami sudah melalui banyak hal bersama. Kami tidak akan meninggalkan Bapak."
"Kami semua." Akang berdiri, menepuk pundak Pak Dullah. "Bu Sumi, Pak Lurah, Bripka Joko, Marni, Siti. Kami semua. Bapak tidak sendirian."
Keputusan untuk Melapor
Rumah Pak Dullah. Tengah malam.
Setelah diskusi panjang, setelah mempertimbangkan risiko, setelah berdoa dan menangis bersama, mereka sepakat.
"Mari kita serahkan semua bukti ke Bripka Joko." Bu Sumi menatap mereka satu per satu. "H. Rahmat harus dihukum. Atas kekerasan pada Hj. Fatimah. Atas penyuapan pejabat. Atas penganiayaan pada Pak Dullah. Atas semua kejahatannya."
"Tapi Pak Dullah harus berani menjadi saksi." Bu Sumi menatap Pak Dullah. "Bapak harus berani bicara di pengadilan. Bapak harus berani mengungkapkan semua yang Bapak lihat, dengar, dan alami."
Pak Dullah terdiam. Matanya menatap lantai tanah.
"Saya siap, Bu." Ia mengangkat kepalanya. Matanya berbinar. "Saya sudah tua. Saya sudah dekat dengan kematian. Tidak ada yang bisa saya takutkan lagi selain Allah. Jika mati karena membela kebenaran, itu lebih baik daripada hidup dalam ketakutan."
Bripka Joko Bergerak
Polsek Pegandon. Keesokan harinya.
Pak Dullah, didampingi Bu Sumi, Ariyanti, dan Akang, datang ke kantor polisi. Langkahnya mantap. Tidak gemetar. Tidak ragu. Ia sudah siap.
Bripka Joko menerima mereka di ruang kerjanya. Wajahnya serius.
"Ini bukti-bukti yang kami kumpulkan, Pak." Bu Sumi membuka map tebal. "Dokumen. Foto. Rekaman. Catatan keuangan."
Bripka Joko membuka satu per satu. Matanya melebar. Tangannya gemetar.
"Ini luar biasa, Bu." Suaranya bergetar. "Ini bisa membongkar seluruh jaringan kejahatan keluarga H. Rahmat. Ini bisa mengirim mereka ke penjara bertahun-tahun."
"Apa yang harus kami lakukan, Pak?" tanya Akang.
"Kami akan panggil H. Rahmat untuk dimintai keterangan." Bripka Joko berdiri. "Kami akan koordinasi dengan kejaksaan. Kami akan bawa kasus ini ke pengadilan. Kami tidak akan membiarkan mereka lolos lagi."
- Rahmat Dipanggil Polisi
Rumah H. Rahmat. Sore itu.
Seorang petugas polisi datang membawa surat panggilan. Amplop putih. Segel polisi. Tulisan tegas.
"H. Rahmat, kami meminta Bapak hadir di Polsek Pegandon besok pagi untuk dimintai keterangan terkait kasus kekerasan dalam rumah tangga, penyuapan pejabat, dan penganiayaan terhadap saksi."
- Rahmat memucat. Wajahnya berubah pucat.
"Apa?" Suaranya bergetar. "Siapa yang melapor?"
"Pak Dullah, Pak." Petugas itu tidak bergeming. "Mantan sopir Bapak."
- Rahmat terdiam. Ia tidak bisa berkata apa-apa.
- Rahmat Mengaku
Polsek Pegandon. Keesokan harinya.
Di ruang interogasi yang sempit, dengan dinding cat putih kusam, H. Rahmat terlihat tua dan lelah. Tidak ada pengacara hebat di sampingnya. Tidak ada uang untuk menyogok. Tidak ada preman untuk mengintimidasi.
"Dullah..." bisik H. Rahmat. Suaranya pelan. "Kau tega pada saya? Kau tega setelah semua yang saya berikan?"
"Saya tidak tega, Pak." Pak Dullah menatap mantan majikannya. Matanya tidak berkedip. "Saya hanya ingin keadilan. Untuk Hj. Fatimah yang mati sia-sia. Untuk Rahmadi yang tumbuh tanpa kasih sayang. Untuk saya yang Bapak aniaya."
- Rahmat menunduk. Bahunya bergetar.
"Saya... saya bersalah." Suaranya tersendat. "Saya akui semuanya. Kekerasan pada Fatimah. Penyuapan pada polisi. Penganiayaan pada Dullah. Semua."
"Tulis." Bripka Joko mendorong kertas dan pulpen. "Tulis semua pengakuan Bapak. Tanda tangani."
Rahmadi di Lapas Mendengar Kabar
Lapas Kendal. Seminggu kemudian.
Herman datang mengunjungi Rahmadi dengan kabar terbaru. Wajahnya cerah.
"Nak, H. Rahmat sudah ditahan." Herman menggenggam tangan Rahmadi. "Pak Dullah yang melaporkan. Pak Dullah yang menjadi saksi."
Rahmadi terdiam. Matanya menerawang.
"Pak Dullah..." bisiknya. "Laki-laki tua yang dulu memberiku susu? Yang dulu memelukku saat aku menangis? Yang dulu memberiku makanan saat aku lapar?"
"Iya." Herman mengangguk. "Ia menyimpan banyak bukti. Ia menyimpan foto-foto, dokumen, rekaman. Ia menyimpannya selama bertahun-tahun. Untuk saat yang tepat."
Rahmadi menangis. Air matanya jatuh.
"Pak Dullah..." isaknya. "Ia lebih ayah daripada H. Rahmat. Ia lebih peduli daripada H. Rahmat. Ia lebih mencintaiku daripada H. Rahmat."
"Kau bisa mengunjunginya setelah bebas nanti, Nak." Herman mengusap air mata Rahmadi. "Kau bisa berterima kasih padanya. Kau bisa memeluknya. Kau bisa mengatakan semua yang selama ini tidak sempat kau katakan."
"Aku akan minta maaf padanya." Rahmadi menggenggam tangan Herman. "Atas semua yang terjadi. Atas semua yang tidak bisa aku lakukan. Atas semua yang aku sesali."
Rahasia Terbongkar, Hati Mulai Damai
Tegorejo. Juni 1998.
Kabar tentang penangkapan H. Rahmat tersebar luas. Dari mulut ke mulut. Dari warung ke warung. Dari desa ke desa. Warga Tegorejo terkejut. Tapi banyak juga yang lega.
Selama ini mereka takut pada keluarga itu. Selama ini mereka hidup dalam bayang-bayang ancaman. Selama ini mereka tidak berani melawan. Tapi kini, akhirnya, keadilan mulai bersuara.
Pak Dullah menjadi pahlawan tak terduga. Penjaga sekolah sederhana. Laki-laki tua yang dulu dipecat dengan hina. Yang dulu dipukuli preman. Yang dulu hidup dalam ketakutan. Kini ia berdiri tegak, tidak menunduk, tidak takut.
Bu Sumi memeluk Pak Dullah di halaman SMAN I Pegandon. Di bawah pohon asam yang rindang. Di tempat yang sama di mana dulu Akang dan Ariyanti sering bertemu.
"Terima kasih, Pak Dullah." Bu Sumi menangis. "Bapak sudah sangat berani. Bapak sudah melakukan hal yang tidak bisa dilakukan oleh banyak orang."
"Saya hanya melakukan apa yang benar, Bu." Pak Dullah tersenyum. "Saya hanya melakukan apa yang seharusnya saya lakukan 20 tahun lalu."
Akang dan Ariyanti datang menghampiri. Mereka berjalan beriringan. Kaki Akang sudah hampir pulih. Ia hanya berjalan sedikit pincang.
"Pak Dullah, bagaimana perasaan Bapak sekarang?" tanya Ariyanti.
"Legalah, Nak." Pak Dullah mengelus dada. "Seperti beban yang selama 20 tahun saya pikul, akhirnya terangkat. Seperti air yang selama 20 tahun tergenang di dadaku, akhirnya mengalir."
"Bapak adalah pahlawan." Akang menepuk pundak Pak Dullah.
"Aku bukan pahlawan." Pak Dullah menggeleng. "Aku hanya saksi. Kalianlah pahlawan. Kalian yang berjuang melawan ketidakadilan. Kalian yang tidak pernah menyerah. Kalian yang mengajarkan saya bahwa diam bukanlah pilihan."
Mereka semua tersenyum.
Di kejauhan, pohon randu tertua melambai-lambai ditiup angin. Daun-daunnya berguguran. Jatuh ke tanah. Menjadi pupuk bagi generasi berikutnya.
Rahasia yang selama puluhan tahun tersembunyi di balik tembok megah, akhirnya terbongkar.
Bukan untuk menghancurkan.
Tapi untuk membebaskan.
Bebas dari ketakutan.
Bebas dari kebohongan.
Bebas dari masa lalu yang kelam.
Dan di Tegorejo, senja itu terasa lebih hangat dari biasanya.
BAB 23
ANCAMAN BARU
Rahmadi mengetahui Bu Sumi menyelidikinya. Ia mengancam akan melaporkan Bu Sumi ke kepala sekolah atas tuduhan palsu.
Tegorejo, Juni 1998. Dua minggu setelah H. Rahmat ditahan.
Kemenangan terasa manis di lidah setiap orang yang selama ini hidup dalam ketakutan. H. Rahmat, pengusaha kaya yang disegani sekaligus ditakuti, akhirnya mendekam di sel tahanan Polsek Pegandon. Laki-laki yang dulu tidak bisa disentuh oleh hukum, yang preman-preman bayarannya berkeliaran bebas, yang uangnya bisa membeli siapa pun, kini hanya bisa terbaring di lantai sel yang dingin, menunggu proses hukum lebih lanjut.
Pak Dullah, mantan sopir yang dulu dipecat dengan hina dan dipukuli preman, kini menjadi saksi kunci. Ia disegani. Warga desa yang dulu menganggapnya hanya penjaga sekolah tua yang tidak penting, kini menatapnya dengan hormat. Anak-anak muda memanggilnya "pahlawan". Ibu-ibu membawakannya makanan. Bahkan Pak Lurah memintanya duduk di barisan depan dalam setiap pertemuan desa.
Bu Sumi, guru yang bijaksana, dielu-eluk oleh warga. Namanya disebut di mana-mana. Keberaniannya membongkar kejahatan keluarga kaya menjadi buah bibir di seluruh kecamatan. Wartawan lokal datang mewawancarainya. Foto-fotonya muncul di koran. Sekolah-sekolah lain mengundangnya sebagai pembicara.
Namun, di balik euforia kemenangan, di balik senyum dan tepuk tangan, di balik pemberitaan dan pujian, ada satu orang yang masih menyimpan dendam. Bukan dendam biasa. Tapi dendam yang membara, yang tidak bisa padam, yang semakin besar setiap hari.
Rahmadi.
Meskipun ia sudah mendekam di Lembaga Pemasyarakatan Kendal, meskipun kakinya dirantai dan tangannya diborgol, meskipun ia diawasi 24 jam sehari, Rahmadi masih memiliki koneksi. Ia masih bisa berkomunikasi dengan dunia luar. Surat-surat yang ditulis dengan hati-hati, diselundupkan oleh petugas lapas yang disogok. Telepon-telepon ilegal dari ponsel selundupan yang baterainya diisi diam-diam. Kunjungan-kunjungan dari pengacara dan orang kepercayaan yang membawa pesan dan perintah.
Ia masih memiliki Danu, asisten setianya. Danu yang selamat dari kejaran polisi karena selalu berada satu langkah di depan. Danu yang bergerak di bawah radar, menggunakan nama samaran, menyamar, berganti-ganti tempat tinggal. Danu yang menjalankan perintah-perintah jahat, yang menyebarkan fitnah, yang mengintimidasi saksi, yang membayar preman.
Rahmadi tahu bahwa Bu Sumi adalah aktor intelektual di balik kehancurannya. Bukan Akang. Bukan Ariyanti. Tapi Bu Sumi. Guru tua yang sok bijak itu yang mengumpulkan bukti. Bu Sumi yang menghubungkan Pak Dullah dengan polisi. Bu Sumi yang membimbing Ariyanti dan Akang. Bu Sumi yang membuat Siti bertobat. Bu Sumi yang membawa Herman ke lapas. Bu Sumi yang menghancurkan keluarganya.
"Bu Sumi harus dihancurkan," bisik Rahmadi dalam hati. Suaranya pelan, tapi penuh racun. "Dia yang memulai semua ini. Dia yang harus bertanggung jawab."
Dan ia menyusun rencana baru. Bukan rencana kekerasan fisik. Itu sudah gagal berkali-kali. Preman-preman bayarannya ditangkap satu per satu. Danu hampir tertangkap. Akang dan Ariyanti tidak lagi mudah ditakuti.
Kali ini, ia akan menggunakan senjata yang lebih licin. Senjata yang tidak bisa dilawan dengan kekuatan fisik. Senjata yang tidak butuh preman atau uang. Fitnah dan manipulasi birokrasi.
Ia akan melaporkan Bu Sumi ke Kepala Sekolah atas tuduhan palsu. Tuduhan yang cukup berat untuk membuatnya dipecat. Tuduhan yang akan menghancurkan reputasinya sebagai guru teladan. Tuduhan yang akan membuat semua orang berbalik membencinya. Tuduhan yang akan mengisolasi Bu Sumi dari lingkungan yang selama ini melindunginya.
Dan dalam bayang-bayang itu, di dalam sel isolasi yang sempit, di antara dinding beton yang dingin, Rahmadi tersenyum.
"Ini baru permainan yang sesungguhnya," bisiknya. "Bukan permainan anak-anak dengan preman dan kekerasan. Tapi permainan orang dewasa dengan reputasi dan karier. Dan aku akan menang."
Bu Sumi Merasa Ada yang Tidak Beres
SMAN I Pegandon, ruang guru, siang hari.
Bu Sumi duduk di mejanya yang sudah usang. Meja kayu dengan laci yang tidak bisa ditutup rapat, penuh dengan coretan-coretan bekas murid-murid yang sudah lulus bertahun-tahun lalu. Di atas meja, tumpukan kertas koreksi ujian setinggi sepuluh sentimeter, berisi puluhan lembar jawaban yang harus ia baca, beri nilai, dan beri komentar.
Matanya sayu. Bukan karena lelah mengoreksi. Tapi karena pikirannya tidak fokus. Ada yang mengganjal. Ada yang tidak beres.
Beberapa hari terakhir, ia merasa ada yang aneh. Telepon rumahnya berdering di tengah malam. Berulang kali. Tiga malam berturut-turut. Setiap kali ia angkat, tidak ada suara di seberang sana. Hanya desisan. Hanya keheningan. Hanya napas pelan yang sengaja ditahan.
Ia sudah melapor ke Pak Lurah. Pak Lurah sudah menelepon polisi. Tapi polisi tidak bisa berbuat banyak. Telepon dari nomor tidak dikenal. Kemungkinan besar dari ponsel prabayar yang tidak bisa dilacak.
Ada juga surat kaleng yang dikirimkan ke rumahnya. Amplop coklat, tanpa nama pengirim, tanpa perangko, seolah-olah diantar langsung oleh seseorang. Isinya hanya selembar kertas, dengan tulisan satu baris, huruf kapital semua, dicetak dengan printer, bukan tulisan tangan.
"BU SUMI, HATI-HATI DENGAN APA YANG KAU LAKUKAN. ORANG YANG SUKA MENCAMPURI URUSAN ORANG LAIN BIASANYA CELAKA."
Bu Sumi tidak takut. Ia sudah terlalu tua untuk takut pada ancaman anonim. Ia sudah terlalu sering melihat kematian untuk takut mati.
Tapi ia juga tidak bodoh. Ancaman seperti ini biasanya pertanda sesuatu yang lebih besar akan terjadi. Biasanya, orang yang mengirim surat kaleng tidak hanya berhenti di surat. Mereka akan melakukan sesuatu. Sesuatu yang lebih kejam. Sesuatu yang lebih terencana.
"Siapa yang mengirim ini?" pikirnya sambil memainkan pulpen di tangannya. "Rahmadi? Tidak mungkin. Ia di penjara. Sel isolasi. Tidak bisa berkomunikasi dengan dunia luar. Danu? Mungkin. Asisten setia Rahmadi itu masih bebas. Masih bergerak. Masih berbahaya."
Bu Sumi memutuskan untuk tidak cerita pada siapa pun dulu. Tidak pada Ariyanti. Tidak pada Akang. Tidak pada Pak Lurah. Ia tidak ingin membuat orang lain khawatir. Ia tidak ingin mereka sibuk memikirkan dirinya ketika mereka masih harus berjuang untuk masa depan mereka sendiri.
Tapi di dalam hati, ia bersiap. Ia sudah melihat pola ini sebelumnya. Ia tahu bahwa badai akan datang. Dan ia akan siap.
Rahmadi Merencanakan dari Balik Jeruji
Lapas Kelas II A Kendal, ruang kunjungan, dua hari sebelumnya.
Rahmadi duduk di balik meja panjang. Meja kayu yang sudah penuh dengan coretan-coretan nama dan tanggal, bekas pengunjung sebelumnya. Di depannya, kaca tebal memisahkannya dari Danu. Di sampingnya, dua petugas lapas berjaga.
Wajah Rahmadi lebih kurus dari sebelumnya. Tulang pipinya lebih menonjol. Matanya lebih cekung. Jenggotnya tidak dicukur, tumbuh tidak beraturan. Tubuhnya yang dulu tegap dan berisi, kini kurus dan tampak rapuh.
Tapi matanya... matanya masih sama. Masih menyala. Masih penuh kebencian. Masih seperti api yang tidak bisa padam.
"Danu, bagaimana kabar Bu Sumi?" suara Rahmadi serak, parau, seperti orang yang jarang bicara.
"Masih mengajar seperti biasa, Tuan." Danu menunduk, menghormat. "Masih dekat dengan Ariyanti dan Akang. Masih sering ke polisi. Masih aktif membantu Pak Dullah."
"Wanita itu terlalu banyak ikut campur." Rahmadi mengepalkan tangannya di atas meja. "Ia harus dihukum. Ia harus merasakan apa yang aku rasakan. Ia harus kehilangan segalanya."
"Tuan mau saya..." Danu tidak melanjutkan kalimatnya. Tapi Rahmadi mengerti.
"Tidak." Rahmadi menggeleng. "Tidak usah pakai kekerasan. Itu sudah gagal. Preman-preman kita sudah pada tertangkap. Polisi sudah waspada. Tidak akan berhasil."
"Lalu, Tuan?"
"Kali ini kita pakai cara halus." Rahmadi tersenyum. Senyum yang tidak pernah sampai ke matanya. "Birokrasi."
"Maksud Tuan?"
"Buat surat pengaduan ke Kepala Sekolah." Suara Rahmadi pelan, tapi jelas. "Tuduh Bu Sumi melakukan pelecehan seksual pada siswa. Pelecehan seksual. Kata-kata yang berat. Kata-kata yang akan membuat siapapun bergidik."
Danu terperanjat. Matanya membulat. "Tuan, tuduhan itu sangat berat. Sangat serius. Bisa menghancurkan karier seseorang. Apa kita punya bukti?"
"Kita tidak butuh bukti." Rahmadi mengangkat bahu. "Yang kita butuh adalah gosip. Di sekolah, tuduhan seperti ini akan menyebar lebih cepat dari api. Lebih cepat dari virus. Lebih cepat dari berita apapun."
"Mulai dari ruang guru. Ke kantin. Ke kelas. Ke seluruh sekolah. Dalam waktu kurang dari 24 jam, semua orang akan tahu. Bahkan jika tidak terbukti, reputasi Bu Sumi akan hancur. Ia akan diisolasi. Murid-murid akan menghindarinya. Rekan-rekan guru akan menjaga jarak. Ia akan sendirian. Dan akhirnya, mungkin dipecat."
Danu terdiam. Ia merenungkan rencana Rahmadi.
"Tapi Tuan, siapa yang akan menjadi pelapor?" tanyanya akhirnya.
"Kita pakai nama salah satu siswa yang dendam pada Bu Sumi." Rahmadi sudah memikirkan ini. "Atau kita bayar orang tua murid untuk mengaku. Cari yang ekonominya lemah. Yang mudah dipengaruhi. Yang bisa dibeli dengan uang."
"Tuan, ini sangat berisiko." Danu tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya. "Jika ketahuan, jika penyelidikan polisi menemukan jejak kita, Tuan bisa dijerat pasal tambahan. Hukuman Tuan bisa bertambah."
"Kita sudah di penjara, Danu." Rahmadi menatap Danu. Matanya kosong. "Apa yang bisa lebih buruk dari ini? Dipenjara 10 tahun atau 12 tahun? Tidak ada bedanya. Yang penting, Bu Sumi hancur."
Danu menghela napas. Tidak ada gunanya melawan.
"Baik, Tuan. Saya coba."
Danu Mencari Pelapor
Tegorejo, beberapa hari kemudian.
Danu bergerak di bawah radar. Ia tidak mau ketahuan polisi yang masih mencarinya. Ia mengganti penampilan. Rambut yang dulu rapi, kini ia biarkan panjang dan kusut. Kumis yang dulu tipis, kini ia cukur habis. Kemeja batik yang dulu menjadi ciri khasnya, kini ia ganti dengan kaus oblong lusuh.
Ia menggunakan nama samaran. Kadang "Bambang", kadang "Joko", kadang "Slamet". Ia menyamar sebagai pegawai LSM yang membantu orang tua murid bermasalah. Membawa kartu nama palsu, amplop berisi uang, dan janji-janji manis.
Ia mencari seseorang yang dendam pada Bu Sumi. Seseorang yang tidak suka pada guru itu. Seseorang yang bisa dibeli dengan uang.
Dan ia menemukannya.
Pak Hartono.
Pak Hartono adalah sopir truk. Laki-laki paruh baya dengan perut buncit, kulit legam, tangan kasar, dan muka yang selalu merah karena sering minum. Ia tidak berpendidikan tinggi. Hanya lulusan SD. Ia mudah marah, mudah diprovokasi, mudah percaya pada orang yang memberinya uang.
Anaknya, Budi Hartono, adalah siswa SMAN I Pegandon. Budi pernah ditegur keras oleh Bu Sumi. Bukan karena hal besar. Hanya karena menyontek saat ujian. Budi mencontek dari meja sebelah, ketahuan, dan Bu Sumi menyita kertas contekan itu di depan kelas.
Budi tidak terima. Ia merasa dipermalukan di depan teman-temannya. Ia pulang ke rumah, menangis, dan menceritakan pada ayahnya dengan versi yang dibumbui kebohongan. Bahwa Bu Sumi membencinya. Bahwa Bu Sumi selalu mencari-cari kesalahannya. Bahwa Bu Sumi pernah mengancamnya.
Pak Hartono percaya. Sebagai ayah yang "bertanggung jawab", ia ingin membela anaknya.
Danu datang ke rumah Pak Hartono pada malam hari. Ia membawa amplop tebal.
"Pak Hartono, saya dengar anak Bapak pernah dipermalukan oleh Bu Sumi di depan umum." Suara Danu simpatik. Matanya penuh kepedulian palsu.
"Iya, itu benar." Pak Hartono mengangguk. "Budi sampai trauma. Tidak mau sekolah. Saya sudah beberapa kali ke sekolah, minta Bu Sumi minta maaf. Tapi dia tidak mau."
"Apakah Bapak mau melaporkan Bu Sumi?" Danu mendekat. "Saya bisa bantu."
"Lapor apa?"
"Pe-" Danu berhenti sebentar. "Pelecehan seksual."
Pak Hartono terperanjat. Matanya membulat. Wajahnya berubah pucat.
"Apa? Tapi Bu Sumi tidak..."
"Bapak tidak perlu bukti, Pak." Danu memotong. "Cukup lapor. Cukup buat surat pengaduan. Cukup tanda tangan. Kami yang akan mengurus sisanya. Kami yang akan bicara dengan polisi. Kami yang akan bicara dengan pengacara."
"Dan Bapak akan dapat uang." Danu mengeluarkan amplop tebal dari sakunya. "Lima juta. Sekarang. Tunai."
Pak Hartono ragu. Tangannya gemetar. Ia menatap amplop itu. Uang lima juta. Jumlah yang sangat besar untuk seorang sopir truk. Setara dengan gajinya selama lima bulan.
"Baiklah." Pak Hartono mengangguk. "Saya lapor."
Surat Pengaduan Masuk ke Kepala Sekolah
SMAN I Pegandon, ruang Kepala Sekolah, pagi hari.
Kepala Sekolah Drs. H. Mardiyanto, M.Pd. adalah seorang pria berusia 55 tahun. Rambutnya sudah beruban di pelipis. Kumis tebalnya sudah mulai memutih. Kacamata tebalnya selalu ia bersihkan dengan kain setiap kali mau membaca. Ia dikenal tegas, disiplin, tidak mau kompromi dengan pelanggaran. Tapi ia juga adil. Tidak pernah memihak siapa pun.
Pagi itu, seperti biasa, ia membaca surat-surat yang masuk. Nota dinas. Undangan rapat. Pengumuman dari Dinas Pendidikan. Surat orang tua murid.
Matanya terhenti pada satu amplop tebal. Amplop berwarna putih, dengan tulisan tangan yang rapi, menggunakan pulpen hitam. Perangko ditempel di sudut kanan atas. Ada cap pos dari Kantor Pos Pegandon.
"Pengaduan Masyarakat: Dugaan Pelecehan Seksual oleh Ibu Sumi, S.Pd., Guru Bahasa Indonesia."
Kepala Sekolah mengernyit. Alisnya naik. Ia membuka amplop itu dengan hati-hati.
Di dalamnya, surat pengaduan resmi. Ditik dengan mesin tik, bukan tulisan tangan. Rapi. Formal. Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Seolah-olah ditulis oleh seorang pengacara atau pejabat.
Isinya: tuduhan bahwa Bu Sumi sering memanggil siswa laki-laki ke ruang guru pada jam istirahat atau setelah pulang sekolah dengan alasan bimbingan belajar. Bahwa di ruang guru, Bu Sumi melakukan tindakan tidak senonoh. Bahwa korban-korban tidak berani melapor karena takut dipermalukan.
Kepala Sekolah membaca surat itu berulang-ulang. Matanya tidak percaya.
"Bu Sumi?" gumamnya. "Guru teladan yang sudah mengajar 28 tahun? Yang tidak pernah terlambat, tidak pernah bolos, tidak pernah terlibat skandal? Tidak mungkin. Tidak mungkin."
Tapi sebagai kepala sekolah, ia wajib menindaklanjuti. Pengaduan apapun, sekecil apapun, seaneh apapun, harus diselidiki. Tidak boleh diabaikan. Tidak boleh ditutup-tutupi. Apalagi pengaduan tentang pelecehan seksual.
Ia memanggil Bu Sumi ke ruangannya.
Bu Sumi Dipanggil
Ruang Kepala Sekolah, siang itu.
Bu Sumi masuk ke ruangan dengan perasaan tenang. Ia tidak tahu tentang surat pengaduan itu. Ia mengira Kepala Sekolah memanggilnya untuk membahas ujian semester atau kegiatan ekstrakurikuler.
"Selamat siang, Pak Kepala." Bu Sumi duduk di kursi di hadapan meja Kepala Sekolah.
"Selamat siang, Bu Sumi." Wajah Kepala Sekolah serius. Tidak seperti biasanya yang selalu tersenyum.
Bu Sumi mulai merasakan suasana yang tidak biasa.
"Bu Sumi, saya terima surat pengaduan tentang Ibu." Kepala Sekolah menyerahkan surat itu.
Bu Sumi mengambil surat itu. Tangannya tidak gemetar. Ia membaca.
Baris pertama. Baris kedua. Baris ketiga.
Wajahnya berubah pucat. Tangannya mulai gemetar. Dadanya terasa sesak.
"Ini... ini fitnah!" suaranya meninggi, tidak seperti biasanya. "Saya tidak pernah melakukan itu! Saya tidak pernah memanggil siswa laki-laki ke ruang guru dengan alasan apapun! Saya tidak pernah! Ini fitnah! Fitnah keji!"
"Saya percaya, Bu." Kepala Sekolah menghela napas. "Tapi sebagai kepala sekolah, saya harus menyelidiki. Ini prosedur. Saya tidak bisa mengabaikan surat pengaduan. Apalagi tuduhan pelecehan seksual. Ibu bisa dianggap bersalah sampai terbukti tidak."
"Ini pasti Rahmadi! Atau Danu!" Bu Sumi hampir berteriak. "Mereka yang membuat fitnah ini! Mereka ingin membalas dendam! Mereka tidak bisa mengalahkan saya dengan cara-cara bersih, jadi mereka pakai fitnah!"
"Bu Sumi, jangan menuduh tanpa bukti." Kepala Sekolah mengangkat tangan. "Itu juga fitnah. Sekarang fokus pada pembelaan Ibu. Saya akan membentuk tim investigasi internal. Ibu akan dimintai keterangan. Juga siswa-siswa yang diduga menjadi korban."
"Pak Kepala, saya sudah mengajar 28 tahun." Bu Sumi menatap Kepala Sekolah. Matanya basah. "28 tahun, Pak. Tidak pernah sekalipun saya melakukan hal tidak senonoh pada siswa. Tidak pernah. Rekam jejak saya bersih. Saya siap diselidiki. Saya siap diperiksa. Saya siap apapun."
"Saya percaya, Bu." Kepala Sekolah mengangguk. "Tapi prosedur tetap harus dijalankan. Saya tidak bisa memihak. Saya harus adil."
Kabar Cepat Tersebar
SMAN I Pegandon, siang hingga sore.
Kabar tentang tuduhan terhadap Bu Sumi menyebar dengan kecepatan yang luar biasa. Tidak butuh waktu lama. Hanya beberapa jam.
Mulanya hanya bisik-bisik di ruang guru. Para guru yang tadinya asyik dengan koreksi ujian dan obrolan ringan, tiba-tiba diam. Tatapan mereka berubah. Ada yang curiga. Ada yang tidak percaya. Ada yang senang.
Dari ruang guru, kabar itu menjalar ke kantin. Para siswa yang sedang makan siang berhenti mengunyah. Mulut-mulut mereka terbuka lebar. Mata-mata mereka membulat.
"Bu Sumi dituduh cabul sama murid."
"Masak sih? Beliau baik banget. Saya sering ke ruang guru. Tidak pernah melihat hal aneh."
"Tapi ada surat pengaduan, katanya. Resmi. Ke Kepala Sekolah."
"Kepala Sekolah sudah panggil beliau. Mereka bicara lama. Bu Sumi keluar dengan wajah pucat."
"Ih, serem. Kita jadi was-was. Dulu kita sering bimbingan sama beliau. Sering masuk ruang guru."
Dari kantin, kabar itu menjalar ke kelas. Para guru yang masuk mengajar tidak bisa berkonsentrasi karena siswa-siswanya terus berbisik. Suasana kelas menjadi tegang.
Dari kelas, kabar itu menjalar ke seluruh sekolah. Dalam waktu kurang dari satu hari, semua orang sudah tahu. Guru. Siswa. Karyawan. Satpam. Tukang kebun.
Gosip berkembang. Banyak siswa yang mulai memandang Bu Sumi dengan curiga. Beberapa bahkan mengaku-ngaku pernah menjadi "korban" untuk mendapatkan perhatian. Mereka bercerita dengan bangga, seolah-olah menjadi korban pelecehan adalah sesuatu yang membanggakan.
Bu Sumi, yang biasanya disapa ramah oleh siapa pun, yang setiap pagi disambut dengan senyum dan salam, kini dihindari. Di lorong sekolah, siswa-siswa yang dulu berlarian mendekatinya, kini memilih jalan memutar. Di kantin, meja yang dulu selalu ia tempati, kini kosong. Di ruang guru, rekan-rekannya yang dulu sering mengajaknya ngobrol, kini memilih diam.
Siswa-siswa yang dulu antusias mendengarkannya mengajar, yang duduk di barisan depan dan mencatat setiap kata yang ia ucapkan, kini duduk di barisan paling belakang, menjaga jarak.
"Ini yang diinginkan Rahmadi," pikir Bu Sumi pahit. "Ini yang ia rencanakan. Mengisolasi aku. Membuat aku sendirian. Menghancurkan reputasiku. Membuat semua orang membenciku."
Tapi Bu Sumi tidak menangis. Ia tidak akan memberi Rahmadi kepuasan melihatnya lemah. Ia akan bertahan. Ia akan buktikan bahwa fitnah tidak akan mengalahkannya.
Ariyanti Mendengar Kabar
Kelas 2 IPA 1, sepulang sekolah.
Ariyanti baru saja selesai mengemasi buku-bukunya. Buku matematika. Buku fisika. Buku biologi. Semua ia masukkan ke dalam tas ransel yang sudah usang.
Marni menghampirinya dengan wajah panik. Wajahnya pucat. Matanya merah. Napasnya tersengal-sengal.
"Ari, kamu dengar kabar tentang Bu Sumi?"
"Belum." Ariyanti mengernyit. "Ada apa? Kenapa wajahmu panik?"
"Katanya Bu Sumi dituduh... melecehkan siswa." Suara Marni bergetar.
Ariyanti terperanjat. Buku di tangannya jatuh ke lantai.
"Apa? Tidak mungkin!" suaranya meninggi. "Bu Sumi bukan orang seperti itu! Dia guru yang baik! Dia seperti ibu kedua bagi kita!"
"Aku juga tidak percaya, Ari." Marni menggeleng-gelengkan kepala. "Tapi sudah tersebar luas. Seluruh sekolah sudah tahu. Kepala Sekolah sudah membentuk tim investigasi. Bu Sumi sudah dipanggil."
"Ini pasti ulah Rahmadi!" Ariyanti mengepalkan tangannya.
"Tapi Rahmadi kan di penjara, Ari." Marni mengingatkan. "Sel isolasi. Tidak bisa keluar. Tidak bisa berkomunikasi dengan dunia luar."
"Tidak berarti dia tidak bisa menyuruh orang lain, Mar." Ariyanti menghela napas. "Danu masih bebas. Danu masih bergerak. Danu masih setia menjalankan perintah Rahmadi."
Ariyanti segera menelepon Akang. Ponsel Bu Sumi yang ia pinjam. Tombol-tombolnya ia tekan dengan cepat.
"Kang, kamu sudah dengar kabar tentang Bu Sumi?"
"Sudah." Suara Akang di seberang serius. "Aku sedang ke rumah Bu Sumi sekarang. Kamu ikut?"
"Iya. Aku langsung ke sana."
Berkumpul di Rumah Bu Sumi
Rumah Bu Sumi, sore itu.
Bu Sumi duduk di ruang tamunya. Wajahnya lelah. Matanya sayu. Rambutnya yang dulu selalu disisir rapi, kini terlihat sedikit berantakan. Ia tidak berdandan. Tidak memakai lipstik. Tidak memakai bedak.
Ia hanya duduk. Memandangi dinding. Tidak melakukan apa-apa.
Ariyanti, Akang, Marni, Siti, Pak Dullah, dan Pak Lurah sudah berkumpul. Mereka duduk di kursi-kursi bambu, mengelilingi Bu Sumi. Wajah-wajah mereka tegang.
"Ini pasti Rahmadi," kata Pak Lurah membuka diskusi.
"Tapi bagaimana caranya?" tanya Marni. "Dia di penjara. Sel isolasi. Bagaimana bisa?"
"Melalui Danu." Suara Akang tegas. "Danu masih bebas. Masih punya koneksi. Masih bisa bergerak. Pasti Danu yang menjalankan perintah Rahmadi."
Bu Sumi menghela napas. "Kepala Sekolah bilang akan ada tim investigasi. Saya akan dimintai keterangan. Juga siswa-siswa yang diduga menjadi korban. Saya siap. Saya tidak takut. Karena saya tidak bersalah."
"Apa kita bisa bantu, Bu?" tanya Ariyanti.
"Kalian bisa menjadi saksi." Bu Sumi menatap mereka satu per satu. "Kalian bisa mengatakan yang sebenarnya. Bahwa saya tidak pernah melakukan hal-hal tidak senonoh. Bahwa saya guru yang baik. Bahwa ini semua fitnah."
"Kami siap, Bu." Akang mengangguk. "Bu Sumi guru yang baik. Tidak mungkin melakukan itu. Kami akan bersaksi."
"Saya juga." Siti mengangkat tangan. "Saya sering ke ruang guru dulu. Sering bimbingan dengan Bu Sumi. Saya tidak pernah melihat hal aneh."
"Tapi tuduhan ini tidak hanya soal kesaksian kalian." Pak Lurah menghela napas. "Kita harus buktikan siapa di balik fitnah ini. Kita harus buktikan bahwa tuduhan ini palsu. Kita harus buktikan bahwa Bu Sumi tidak bersalah."
Bu Sumi Mulai Menyelidiki
Rumah Bu Sumi, malam itu.
Bu Sumi tidak bisa tidur. Ia sudah berganti pakaian, sudah minum susu hangat, sudah membaca Al-Qur'an beberapa halaman. Tapi matanya tidak bisa terpejam. Pikirannya terus bekerja.
Ia membuka map-nya. Map tebal berisi dokumen-dokumen yang ia kumpulkan selama berbulan-bulan. Bukti-bukti kejahatan keluarga H. Rahmat. Foto-foto. Rekaman. Catatan.
Ia mencari-cari dokumen yang mungkin berhubungan dengan Danu. Atau dengan Rahmadi. Atau dengan orang kepercayaan mereka.
Ia teringat surat pengaduan itu. Surat yang dibaca Kepala Sekolah. Surat yang ditulis dengan rapi. Di atas kertas HVS kualitas bagus. Dengan mesin tik, bukan tulisan tangan. Bahasa Indonesia yang formal, seperti ditulis oleh seorang pengacara atau pejabat.
Itu bukan tulisan Pak Hartono. Pak Hartono lulusan SD. Ia tidak mungkin bisa menulis surat sebagus itu. Ia tidak punya mesin tik. Ia tidak tahu bahasa Indonesia formal.
Ada orang lain yang mendikte. Ada orang lain yang menulis. Ada otak di balik semua ini.
"Danu," pikir Bu Sumi. "Pasti Danu."
Ia menelepon Bripka Joko.
"Pak, saya punya laporan." Suara Bu Sumi serius. "Ada dugaan pemalsuan surat dan fitnah yang dilakukan oleh Danu, asisten Rahmadi. Terhadap saya."
"Ada bukti, Bu?" Bripka Joko bertanya.
"Belum. Tapi saya minta polisi memeriksa Pak Hartono." Bu Sumi sudah menyiapkan ini. "Pak Hartono, ayah dari Budi Hartono, siswa SMAN I Pegandon. Ia pelapornya. Tanya siapa yang menyuruhnya. Tanya siapa yang membayarnya."
"Baik, Bu." Bripka Joko mengangguk meskipun Bu Sumi tidak bisa melihatnya. "Saya akan selidiki."
Polisi Memanggil Pak Hartono
Polsek Pegandon, keesokan harinya.
Pak Hartono dipanggil polisi. Sebuah surat resmi datang ke rumahnya pada pagi hari, diantar oleh seorang petugas berseragam. Istri Pak Hartono menangis ketakutan.
Pak Hartono gelisah. Tangannya gemetar. Wajahnya pucat. Ia tidak menyangka akan sampai sejauh ini.
Ia duduk di kursi ruang interogasi. Di depannya, meja kayu. Di samping kanannya, Bripka Joko. Di samping kirinya, Brigadir Rudi.
"Pak Hartono, Bapak yang melaporkan Bu Sumi ke Kepala Sekolah, kan?" Bripka Joko membuka interogasi.
"Iya... saya." Suara Pak Hartono bergetar.
"Atas dasar apa?"
"Anak saya... Budi... dulu pernah diperlakukan tidak baik oleh Bu Sumi." Pak Hartono menggigit bibirnya.
"Perlakukan tidak baik? Maksudnya?" Bripka Joko mengernyit.
"Dia... ditegur di depan kelas. Dimarahi. Dipermalukan." Pak Hartono tidak menatap Bripka Joko.
"Budi? Bukannya Budi sering bolos dan ketahuan menyontek?" Bripka Joko membuka catatan sekolah yang ia minta dari SMAN I Pegandon. "Bukannya Bu Sumi hanya menjalankan tugas sebagai guru? Memberi teguran pada siswa yang menyontek adalah hal yang wajar."
Pak Hartono terdiam.
"Pak Hartono, siapa yang menyuruh Bapak membuat laporan palsu ini?" Bripka Joko menatap Pak Hartono. Matanya tajam.
"Tidak ada, Pak." Pak Hartono menggeleng cepat. "Tidak ada. Saya sendiri."
"Bapak yakin?" Bripka Joko tidak percaya. "Karena jika terbukti Bapak berbohong, jika terbukti Bapak membuat laporan palsu, Bapak bisa dihukum. Pasal 317 KUHP tentang fitnah. Hukumannya bisa 4 tahun penjara."
Pak Hartono panik. Wajahnya pucat. Keringat dingin mengucur di dahi.
"Saya... saya disuruh orang." Suaranya hampir berbisik. "Tapi saya tidak tahu namanya. Ia datang ke rumah. Ia menawari uang. Banyak. Katanya kalau saya lapor, saya dapat lima juta."
"Siapa orang itu?" Bripka Joko bertanya cepat. "Ciri-cirinya?"
"Tinggi, kurus, berkumis tipis. Pakai kemeja batik. Bawa tas kulit." Pak Hartono berusaha mengingat. "Sopannya. Ramah. Tidak seperti preman."
Bripka Joko mengernyit. Ia mengeluarkan foto Danu dari map.
"Ini orangnya?"
Pak Hartono mengangguk. "Iya. Ini dia."
Danu Mulai Terpojok
Polsek Pegandon, siang itu.
Bripka Joko mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk Danu. Ia sudah bosan. Bosan dengan pelarian asisten Rahmadi itu. Bosan dengan kejahatan-kejahatan yang ia lakukan. Bosan dengan kekebalan yang ia rasakan.
"Danu, kali ini kau tidak bisa kabur." Bripka Joko tersenyum sinis.
Tim gabungan polisi dikerahkan. Mereka menyisir tempat-tempat persembunyian Danu. Losmen. Rumah kos. Rumah saudara. Rumah teman.
Informasi dari Pak Hartono menjadi petunjuk utama. Danu terakhir terlihat di Terminal Pegandong. Ia turun dari bus dari Semarang. Ia memakai topi dan jaket tebal, berusaha menyamar.
Polisi bergerak cepat.
Danu Ditangkap
Terminal Pegandong, sore itu.
Danu sedang bersembunyi di kamar losmen pinggiran. Losmen murah dengan dinding tipis dan kamar mandi bersama. Harga lima belas ribu semalam. Ia tidak berani keluar. Ia merasa polisi sedang memburunya.
Tapi seorang penghuni losmen lain, seorang laki-laki paruh baya yang kamarnya bersebelahan, melaporkan aktivitasnya yang mencurigakan. Danu jarang keluar kamar. Ia memesan makanan melalui anak losmen. Ia tidak mau bertemu siapa pun.
Polisi datang. Dua mobil patroli. Delapan personel.
Danu mendengar suara langkah kaki di lorong. Ia panik. Ia membuka jendela. Lompat.
Kakinya terkilir saat mendarat di tanah becek. Ia jatuh. Wajahnya membentur tanah. Hidungnya berdarah.
"Danu, saudara kami tangkap!" Bripka Joko mendekat, memborgol tangan Danu. "Atas tuduhan fitnah, pemalsuan surat, dan menjadi dalang di balik kasus percobaan pembunuhan Akang Supriyadi."
Danu hanya pasrah. "Saya hanya menjalankan perintah Rahmadi."
Pengakuan Danu di Polsek
Polsek Pegandon, ruang interogasi.
Danu duduk di kursi besi. Tangannya diborgol. Wajahnya luka-luka. Matanya sayu.
"Danu, siapa yang menyuruhmu membuat laporan palsu tentang Bu Sumi?" Bripka Joko bertanya.
"Rahmadi." Danu tidak membantah. "Ia menelepon dari lapas. Menggunakan ponsel selundupan. Menyuruh saya mencari orang tua murid yang dendam pada Bu Sumi. Membayarnya untuk lapor."
"Bagaimana caranya?"
"Ia menyuruh saya menemui Pak Hartono. Memberi uang lima juta. Menyuruhnya membuat laporan bahwa Bu Sumi melakukan pelecehan seksual."
"Di mana buktinya?"
Danu menghela napas. "Saya punya rekaman percakapan telepon dengan Rahmadi. Saya simpan di ponsel. Untuk jaga-jaga. Kalau suatu hari ia mematikan saya."
Bripka Joko membuka ponsel Danu yang disita. Mencari file rekaman. Memutarnya.
Suara Rahmadi terdengar jelas. Meskipun dari ponsel, meskipun dengan kualitas rekaman yang tidak sempurna, suaranya tidak bisa disangkal.
"Danu, kau cari orang tua murid yang dendam pada Bu Sumi. Bayar dia untuk lapor pelecehan. Pokoknya Bu Sumi harus hancur. Aku tidak peduli dengan risikonya."
"Baik, Tuan."
Bripka Joko menghentikan rekaman.
"Ini bukti yang cukup." Ia menatap Danu. "Ini cukup untuk menjerat Rahmadi dengan tuduhan tambahan. Fitnah. Pencemaran nama baik. Pemalsuan surat."
Danu hanya diam.
Bu Sumi Dibebaskan dari Tuduhan
SMAN I Pegandon, rapat tim investigasi.
Ruang pertemuan kecil di samping ruang Kepala Sekolah. Meja panjang. Kursi-kursi kayu. Papan tulis putih di dinding.
Kepala Sekolah memanggil Bu Sumi, tim investigasi, dan perwakilan orang tua murid. Wajah-wajah mereka tegang.
"Berdasarkan hasil penyelidikan polisi," Kepala Sekolah membaca dari surat resmi yang ia terima pagi ini. "Tuduhan terhadap Bu Sumi adalah fitnah. Dilakukan oleh Danu, asisten Rahmadi, atas perintah Rahmadi. Pak Hartono, pelapor, mengaku disuruh dan dibayar."
"Bu Sumi tidak terbukti melakukan pelecehan seksual. Tidak ada satu pun saksi yang melihat. Tidak ada satu pun korban yang mau mengaku. Semua tuduhan palsu."
Bu Sumi menangis. Tangis lega. Tangis yang tidak bisa ia tahan lagi. Air matanya jatuh di pipi yang keriput.
"Kami mohon maaf, Bu Sumi." Kepala Sekolah menunduk. "Atas ketidaknyamanan yang dialami. Atas fitnah yang menimpa Ibu. Sebagai Kepala Sekolah, saya bertanggung jawab. Saya seharusnya lebih tegas sejak awal."
"Tidak apa-apa, Pak." Bu Sumi mengusap air matanya. "Yang penting kebenaran sudah terungkap. Yang penting nama baik saya sudah pulih."
Para guru dan siswa yang hadir bertepuk tangan. Tepuk tangan yang menggema di ruangan sempit itu.
Rahmadi Dijerat Tuduhan Tambahan
Lapas Kendal, sidang internal.
Rahmadi dipanggil oleh petugas lapas. Ia digiring ke ruangan khusus di dalam penjara. Ruangan yang biasa digunakan untuk sidang disiplin narapidana.
Ia dihadapkan pada bukti rekaman percakapan dengan Danu. Rekaman yang disita dari ponsel Danu. Rekaman yang tidak bisa ia sangkal.
"Rahmadi." Ketua sidang, seorang pria paruh baya dengan kumis tebal, membaca vonis. "Anda dijerat tuduhan tambahan. Fitnah. Pencemaran nama baik. Pemalsuan surat. Hukuman Anda bisa bertambah. Minimal 2 tahun, maksimal 5 tahun."
"Saya hanya... saya hanya..." Rahmadi tidak bisa menyelesaikan kalimatnya.
"Terserah." Ketua sidang memotong. "Yang jelas, Anda akan lebih lama di sini. Bukan hanya 10 tahun. Tapi 12, 13, 14 tahun. Tergantung vonis pengadilan."
Rahmadi tertunduk. Rambutnya yang panjang menutupi wajahnya.
Ia sadar. Usahanya untuk menghancurkan Bu Sumi, usahanya untuk membalas dendam, usahanya untuk membungkam semua orang, malah menjerumuskannya lebih dalam.
Semakin ia melawan, semakin dalam ia terperosok.
Semakin ia benci, semakin banyak musuh yang ia buat.
Semakin ia berbuat jahat, semakin berat hukumannya.
Kembali ke Rumah Bu Sumi
Rumah Bu Sumi, malam itu.
Ariyanti, Akang, Marni, Siti, Pak Dullah, dan Pak Lurah berkumpul. Mereka datang membawa makanan. Nasi liwet buatan Ibu Ariyanti. Ayam goreng buatan Ibu Akang. Sayur asem buatan Marni. Kue bolu buatan Siti.
"Bu Sumi, selamat." Ariyanti memeluk Bu Sumi. "Bapak dan Ibu sudah terbukti tidak bersalah. Fitnah sudah dibongkar. Rahmadi dapat tambahan hukuman."
"Terima kasih, anak-anak." Bu Sumi membalas pelukan Ariyanti. Matanya basah. "Kalian luar biasa. Tanpa kalian, saya mungkin tidak bisa melalui ini. Saya mungkin sudah dipecat. Saya mungkin sudah diusir."
"Kami hanya membela kebenaran, Bu." Akang menepuk pundak Bu Sumi. "Kami hanya membela guru yang pernah membela kami."
"Mari kita makan." Bu Sumi tersenyum. "Ibu masak rendang. Rendang buatan Ibu memang tidak seenak rendang Padang. Tapi Ibu yakin, rendang ini istimewa. Karena Ibu masak dengan doa."
Mereka makan bersama di ruang tamu yang sempit. Tawa canda mulai terdengar lagi. Suara sendok dan garpu beradu. Suara gelas beradu.
Setelah berminggu-minggu dilanda ketegangan, setelah berminggu-minggu hidup dalam ketakutan, setelah berminggu-minggu tidak tahu ujung dari semua ini, akhirnya ada kelegaan.
Kelegaan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Pelukis Kebenaran
Jalan Randu Gembyang, malam itu.
Usai makan malam, Akang dan Ariyanti berjalan pulang bersama. Langit malam cerah. Tidak ada awan. Bintang-bintang bertaburan, seperti lampu-lampu kecil yang dinyalakan oleh tangan tak terlihat.
"Kang, kita menang lagi." Ariyanti menggenggam tangan Akang.
"Tapi belum sepenuhnya, Ari." Akang membalas genggaman Ariyanti. "Masih ada Rahmadi. Masih ada persidangan banding. Masih ada Danu yang akan diadili. Masih banyak yang harus diperjuangkan."
"Tapi setidaknya, Bu Sumi aman." Ariyanti tersenyum. "Itu yang penting. Bu Sumi selamat. Fitnah tidak berhasil menghancurkannya."
"Iya." Akang mengangguk. "Bu Sumi adalah guru terbaik yang pernah kita miliki. Tanpa beliau, kita mungkin sudah menyerah. Tanpa beliau, kita mungkin sudah kalah. Tanpa beliau, Rahmadi mungkin sudah menang."
Mereka berhenti di bawah pohon randu tertua. Akang meletakkan tongkatnya, bersandar di batang pohon.
"Ari, aku ingin bilang sesuatu."
"Apa, Kang?"
"Aku kagum padamu." Akang menatap Ariyanti. Matanya lembut. "Selama ini, kamu tidak pernah menyerah. Kamu selalu ada untukku. Kamu selalu ada untuk Bu Sumi. Kamu selalu ada untuk semua orang."
"Itu karena aku percaya pada kebenaran, Kang." Ariyanti menatap balik. "Dan aku percaya pada cinta."
"Cinta?" Akang tersenyum.
"Iya." Ariyanti mengangguk. "Cinta membuatku kuat. Cinta membuatku tidak takut. Cinta membuatku rela melakukan apa pun untuk melindungi orang-orang yang aku cintai."
Akang meraih tangan Ariyanti. "Aku juga. Cintaku padamu membuatku ingin terus berjuang. Meskipun tubuhku sakit, meskipun jiwaku lelah, meskipun dunia tidak selalu berpihak."
Mereka berpelukan di bawah pohon randu.
Di kejauhan, angin malam berembus.
Membawa bisikan kemenangan.
Rahmadi Mulai Berubah?
Lapas Kendal, seminggu kemudian.
Herman datang mengunjungi Rahmadi. Laki-laki tua itu duduk di seberang meja, di belakang kaca tebal. Ia memandang anaknya dengan mata penuh kasih.
"Nak, Ayah dengar kau dapat tambahan hukuman." Suara Herman pelan, tapi jelas. "2 tahun. Karena fitnah."
"Iya, Ayah." Rahmadi menunduk. "Karena fitnah."
"Kenapa kau melakukan itu, Nak?" Herman bertanya, bukan menghakimi. "Kenapa kau masih tega? Kenapa kau masih mau menyakiti orang lain? Kenapa kau masih tidak belajar?"
"Karena aku benci Bu Sumi, Ayah." Rahmadi mengangkat kepalanya. Matanya merah. "Ia menghancurkan keluargaku. Ia membongkar rahasia kita. Ia membuat H. Rahmat masuk penjara. Ia membuat aku di sini lebih lama."
"Apakah ia yang menghancurkan?" Herman menatap Rahmadi. "Atau keluargamu sendiri yang menghancurkan diri mereka? H. Rahmat yang memukuli istrinya. H. Rahmat yang menyuap polisi. H. Rahmat yang membiarkanmu tumbuh tanpa kasih sayang. Bukan Bu Sumi."
Rahmadi terdiam.
"Nak, Ayah tidak akan memaksamu berubah." Herman melanjutkan. "Ayah tidak akan memaksamu memaafkan. Tapi Ayah ingin kau tahu. Kebencian hanya akan menghancurkan dirimu sendiri. Kebencian hanya akan membuatmu semakin menderita. Sementara cinta... cinta bisa menyembuhkan. Cinta bisa membebaskan."
"Aku tidak tahu cara mencintai, Ayah." Rahmadi menangis. "Aku tidak pernah diajari. H. Rahmat tidak pernah mengajarkanku. Hj. Fatimah meninggal sebelum sempat mengajarkanku. Aku sendiri di dunia ini. Sendirian."
"Mulai sekarang kau bisa belajar, Nak." Herman mengulurkan tangannya, menyentuh kaca. "Ayah di sini. Ayah tidak akan pergi. Ayah akan mengajarmu. Tentang cinta. Tentang kasih sayang. Tentang menjadi manusia yang baik."
Rahmadi menangis.
Untuk pertama kalinya, ia merasa ada harapan.
Bu Sumi Memaafkan
Rumah Bu Sumi, suatu pagi.
Bu Sumi duduk di beranda. Di pangkuannya, secarik kertas dan pulpen. Di sampingnya, secangkir kopi pahit yang sudah dingin.
Ia menulis surat untuk Rahmadi.
Bukan surat kemarahan. Bukan surat kebencian. Bukan surat yang berisi makian atau kutukan.
Tapi surat permintaan maaf.
"Rahmadi, Ibu tahu hidupmu tidak mudah." Bu Sumi menulis dengan hati-hati. "Ibu tahu kau tumbuh tanpa cinta. Ibu tahu kau marah pada dunia. Ibu tahu kau merasa tidak ada yang peduli padamu."
"Ibu tidak akan membenci kau, Nak." Bu Sumi melanjutkan. "Ibu justru ingin kau tahu. Ada orang yang peduli padamu. Herman, ayah kandungmu. Pak Dullah, mantan sopir yang dulu memberimu susu. Dan Ibu sendiri."
"Ibu maafkan semua kesalahanmu, Nak." Bu Sumi menulis dengan air mata. "Ibu maafkan fitnah yang kau lakukan. Ibu maafkan kebohongan yang kau sebarkan. Ibu maafkan upayamu untuk menghancurkan Ibu. Ibu harap kau bisa berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Karena setiap orang, siapapun dia, apapun kesalahannya, pantas mendapat kesempatan kedua."
"Dari Ibu Sumi, gurumu yang pernah kau fitnah."
Bu Sumi melipat surat itu. Memasukkannya ke amplop. Menulis nama Rahmadi di sampulnya.
Surat itu ia kirimkan ke lapas melalui Pak Lurah.
Rahmadi Membaca Surat
Lapas Kendal, ruang sel.
Rahmadi duduk di sudut sel. Di tangannya, amplop coklat yang baru saja diantar petugas. Surat dari Bu Sumi.
Ia membuka amplop itu dengan tangan gemetar.
Ia membaca surat itu. Berulang-ulang.
Baris pertama. Baris kedua. Baris ketiga.
Air matanya jatuh.
"Bu Sumi... memaafkanku?"
Ia tidak percaya. Setelah semua yang ia lakukan. Fitnah. Kebohongan. Kekerasan. Upaya pembunuhan. Setelah ia mencoba menghancurkan reputasinya, mengisolasi dari lingkungannya, membuat semua orang membencinya, guru itu masih mau memaafkannya.
"Aku monster." Rahmadi tersenyum pahit. "Tapi masih ada yang mau memaafkan monster. Masih ada yang peduli pada monster."
Ia menyimpan surat itu di bawah bantalnya. Bersama foto Hj. Fatimah. Bersama surat-surat Herman.
Untuk pertama kalinya, ia tidur dengan hati yang sedikit lebih ringan.
Untuk pertama kalinya, ia tidak bermimpi buruk.
BAB 24
PILIHAN SULIT ARIYANTI
Ibu Ariyanti jatuh sakit. Biaya rumah sakit sangat mahal. Rahmadi menawarkan bantuan dengan syarat Ariyanti mau menjauh dari Akang.
Tegorejo, Juli 1998. Bulan ketiga setelah Akang mulai menjalani terapi.
Kebahagiaan yang mulai menyapa kembali, yang tumbuh seperti tunas padi di musim hujan, yang membuat mereka lupa sejenak akan rasa sakit dan ketakutan, tiba-tiba terusik oleh musibah.
Bukan musibah yang datang dari luar seperti fitnah atau kebakaran. Tapi musibah yang datang dari dalam. Dari darah daging sendiri. Dari orang yang paling ia cintai.
Ibu Ariyanti jatuh sakit.
Ibu Ariyanti, Siti Aminah, perempuan janda yang selama ini menjadi tiang keluarga, yang tangannya yang kasar dan kapalan telah bekerja keras siang dan malam untuk membesarkan tiga anak sendirian setelah suaminya meninggal tertimpa pohon di hutan. Perempuan yang senyumnya tidak pernah pudar meskipun perutnya keroncongan karena ia menyisakan makanan untuk anak-anaknya. Perempuan yang doanya tidak pernah putus meskipuan ia sendiri hampir putus asa.
Bukan sakit biasa. Bukan demam yang akan reda dengan minum obat warung dan istirahat sehari. Tapi sakit yang menguras isi dompet dan hati. Sakit yang membuat Ariyanti harus memilih antara cinta dan kewajiban. Sakit yang mempertemukannya lagi dengan hantu masa lalu yang sudah lama ia kira telah terkubur bersama vonis penjara.
Dan di tengah keputusasaan, di tengah tumpukan tagihan rumah sakit yang semakin menggunung, di tengah rasa takut kehilangan ibu satu-satunya, hantu itu kembali muncul.
Rahmadi.
Dari balik jeruji besi, dari balik tembok tebal penjara, dari balik sel isolasi yang dijaga 24 jam sehari, ia masih bisa menebar racun. Melalui tangan-tangan keji yang masih setia padanya, melalui surat-surat yang diselundupkan oleh petugas lapas yang disogok, melalui kunjungan pengacara yang membawa pesan dan perintah, ia mengirimkan pesan pada Ariyanti.
"Aku bisa bantu ibumu. Semua biaya. Sampai sembuh. Sampai sehat kembali. Tapi dengan satu syarat. Kau harus menjauhi Akang. Selamanya. Tidak boleh bertemu. Tidak boleh telepon. Tidak boleh kirim surat. Tidak boleh ada komunikasi dalam bentuk apapun."
Ariyanti dihadapkan pada pilihan yang mustahil.
Bukan pilihan antara dua hal yang sama-sama baik. Tapi pilihan antara dua hal yang sama-sama menyakitkan.
Antara cinta dan kewajiban.
Antara Akang dan ibunya.
Antara masa depan yang ingin ia bangun bersama laki-laki yang ia cintai, dan masa lalu yang mengikatnya pada orang yang melahirkannya.
Antara pengkhianatan pada cinta, dan pengkhianatan pada keluarga.
Air matanya tidak berhenti mengalir.
Ia tidak tahu harus memilih apa.
Tapi ia harus memilih.
Karena waktu tidak akan menunggunya. Karena ibunya tidak akan menunggunya. Karena penyakit tidak akan menunggunya.
Awal Mula Ibu Jatuh Sakit
Dusun Kersan, rumah Ariyanti, pukul 03.00 dini hari.
Ariyanti terbangun oleh suara batuk keras dari kamar ibunya. Bukan batuk biasa yang sesekali muncul karena tenggorokan kering. Tapi batuk yang terdengar seperti ada sesuatu yang tersumbat di dada bagian bawah. Batuk yang dalam, berat, dan disertai suara mengi seperti orang yang kesulitan bernapas.
Ariyanti duduk di tempat tidurnya. Matanya masih berat karena baru terlelap dua jam yang lalu. Ia mengucek-ngucek kelopak matanya dengan punggung tangan, berusaha mengusir rasa kantuk yang masih menyisa.
"Bu?" panggilnya pelan. "Ibu kenapa?"
"Tidak apa-apa, Yan ." Suara ibunya lirih, parau, seperti orang yang baru saja selesai menangis. "Ibu hanya batuk sedikit. Kau tidur saja. Besok sekolah."
Tapi Ariyanti tidak percaya. Ia sudah terlalu sering mendengar suara batuk seperti ini. Dulu, saat tetangganya, Pak Kromo, batuk seperti ini, seminggu kemudian ia dibawa ke puskesmas. Dua minggu kemudian, ia meninggal. Pneumonia. Kata dokter.
Ariyanti turun dari tempat tidur. Kakinya yang telanjang menyentuh lantai tanah yang dingin. Ia berjalan ke kamar ibunya, membuka pintu anyaman bambu yang berdecit pelan.
"Ibu." Ia duduk di pinggir tempat tidur ibunya. "Ibu demam?"
Ia meraih tangan ibunya. Panas. Bukan panas biasa yang bisa diatasi dengan kompres air dingin. Tapi panas yang membakar, panas yang membuat kulit ibunya terasa seperti menyentuh wajan yang baru selesai digunakan menggoreng.
"Ibu, ini panas sekali!" Ariyanti hampir berteriak. "Ibu tidak bilang-bilang dari tadi?"
"Tidak apa-apa, Yan ." Ibu Ariyanti tersenyum. Senyum yang pahit. Senyum yang dipaksakan. "Ibu hanya sedikit meriang. Besok pasti sembuh."
Ariyanti tidak menunggu. Ia keluar rumah. Langit masih gelap. Tidak ada bulan. Bintang-bintang bertaburan, tapi tidak cukup terang untuk menerangi jalan. Ia mengetuk pintu tetangga yang memiliki telepon.
"Bu RT! Bu RT!" teriaknya. "Tolong, Bu. Saya pinjam telepon!"
Bu RT keluar rumah dengan wajah mengantuk dan rambut acak-acakan. "Ada apa, Nak? Malam-malam begini?"
"Ibu saya sakit, Bu. Parah. Saya mau menelepon Pak Lurah. Minta tolong diantar ke puskesmas."
Bu RT mengernyit. "Tunggu. Saya ambilkan kunci."
Ia membuka pintu, mempersilakan Ariyanti masuk. Ruang tamu sempit dengan sofa kulit yang sudah mengelupas. Telepon berwarna krem diletakkan di meja kayu dekat jendela.
Ariyanti menelepon Pak Lurah. Jarinya gemetar saat menekan tombol.
"Pak, ini Ariyanti. Maaf mengganggu malam-malam." Suaranya bergetar. "Ibu saya sakit parah. Demam tinggi. Batuk-batuk. Saya butuh kendaraan ke puskesmas."
"Tenang, Nak." Suara Pak Lurah di seberang terdengar mengantuk, tapi cepat tanggap. "Saya segera ke sana. Tunggu 10 menit."
"Terima kasih, Pak."
Ariyanti kembali ke rumah. Ia membasuh wajah ibunya dengan air hangat. Menyiapkan pakaian yang akan dibawa. Memasukkan dompet berisi uang seadanya.
Pak Lurah datang tepat 10 menit kemudian. Mobil dinasnya, sebuah Suzuki Carry tua yang catnya sudah mulai terkelupas, berhenti di depan pagar.
"Ayo, Nak. Cepat." Pak Lurah membuka pintu mobil.
Ariyanti memapah ibunya keluar rumah. Ibu Ariyanti berjalan tertatih-tatih, tubuhnya lemas, napasnya tersengal-sengal.
"Bu, kuat." Ariyanti menggandeng lengan ibunya. "Sebentar lagi sampai."
"Yan ..." Ibu Ariyanti berbisik. "Maafkan Ibu. Ibu jadi beban."
"Jangan bicara begitu, Bu." Ariyanti hampir menangis. "Ibu bukan beban. Ibu adalah segalanya."
Diagnosa Dokter
Puskesmas Pegandon, pukul 05.00.
Puskesmas masih sepi. Lampu-lampu lorot di koridor hanya separuh yang menyala. Bau obat-obatan dan pemutih lantai menyengat di hidung.
Dokter jaga, seorang pria muda dengan kacamata tebal dan jas putih yang sedikit kusut, memeriksa Ibu Siti Aminah dengan saksama. Stetoskop di telinganya, ujungnya ia tempelkan di dada Ibu Ariyanti, bergerak perlahan dari kiri ke kanan, atas ke bawah.
Wajah dokter itu serius. Tidak ada senyum. Tidak ada canda. Alisnya berkerut.
Setelah auskultasi panjang, hampir 10 menit, ia memanggil Ariyanti ke ruang terpisah. Ruangan kecil dengan meja dan dua kursi. Dindingnya putih, steril, seperti rumah sakit pada umumnya.
"Nak Ariyanti." Dokter itu duduk di kursi, menatap Ariyanti. Matanya simpatik. "Ibumu menderita pneumonia. Paru-parunya terinfeksi. Kondisinya cukup parah. Dari suara napasnya, terdengar ada cairan di paru-paru bagian bawah."
"Pneumonia, Dok?" Ariyanti menggigit bibirnya.
"Iya. Infeksi paru-paru. Bisa disebabkan oleh bakteri, virus, atau jamur. Pada kasus ibumu, kemungkinan besar bakteri. Dari gejalanya, demam tinggi, batuk berdahak, sesak napas."
"Apakah dia harus dirawat inap, Dok?"
"Iya. Harus. Segera." Dokter itu mengangguk. "Dia harus mendapat antibiotik intensif. Melalui infus. Juga fisioterapi pernapasan untuk mengeluarkan cairan dari paru-parunya."
"Berapa lama, Dok?"
"Minimal dua minggu, Nak." Dokter itu menghela napas. "Mungkin lebih. Tergantung respons tubuhnya terhadap antibiotik."
"Dan biayanya, Dok?" Ariyanti bertanya dengan suara pelan, hampir berbisik. Ia takut mendengar jawabannya.
Dokter itu membuka buku catatan. Matanya bergerak cepat. "Kisaran... lima sampai tujuh juta rupiah, Nak. Tergantung perawatan dan obat-obatan. Antibiotik untuk pneumonia tidak murah. Belum lagi biaya rawat inap, biaya dokter, biaya laboratorium."
Ariyanti lemas. Tangannya yang berada di pangkuan mulai gemetar. "Lima sampai tujuh juta?"
Itu adalah jumlah yang tidak pernah ia bayangkan. Tidak pernah ia pikirkan. Tidak pernah ia lihat dalam dompetnya.
Seluruh tabungan keluarganya, yang ia kumpulkan dari hasil jualan gorengan ibunya, dari uang saku yang ia sisihkan, dari bantuan tetangga, hanya sekitar lima ratus ribu rupiah. Itupun hasil dari menjual ayam petelur dan kambing terakhir yang mereka miliki.
"Apakah tidak bisa dicicil, Dok?" Ariyanti bertanya, matanya berkaca-kaca.
"Bisa, Nak." Dokter itu mengangguk. "Tapi harus ada uang muka. Minimal dua juta. Untuk biaya awal perawatan dan pembelian obat."
"Dua juta." Ariyanti menghela napas. "Dua juta."
Ia tidak punya dua juta. Tidak punya.
Menjual Apa yang Tersisa
Dusun Kersan, siang itu.
Ariyanti pulang ke rumah setelah ibunya dirawat di Puskesmas. Rumah terasa sepi. Sepi yang aneh. Sepi yang tidak biasa.
Ia membuka lemari kayu jati tua di kamar ibunya. Lemari peninggalan nenek, sudah berusia puluhan tahun, catnya sudah mengelupas di sana sini, ukirannya sudah mulai rapuh.
Ia mengeluarkan semua pakaian yang tidak terpakai. Baju-baju lama. Sarung-sarung yang sudah tipis. Kain-kain yang sudah lusuh. Semua ia lipat rapi, lalu ia masukkan ke dalam karung plastik bekas pupuk.
Ia juga mengeluarkan perhiasan ibunya. Hanya sedikit. Beberapa cincin murah dari logam campuran, batu-batunya sudah ada yang lepas. Satu kalung emas tipis peninggalan nenek, beratnya tidak sampai 2 gram. Dan sepasang anting-anting perak yang sudah menghitam karena usia.
Semua ia bawa ke pasar Pegandon. Ia berjalan kaki, karung plastik di punggung, perhiasan dalam kantong plastik kecil di tangan.
Tukang loak, seorang laki-laki tua dengan gigi ompong dan topi caping, menaksir barang-barang itu dengan tatapan mata yang sudah terbiasa menilai harga.
"Semua ini laku berapa, Pak?" tanya Ariyanti.
Tukang loak itu memeriksa satu per satu. Baju-baju ia buka lipatannya, ia periksa apakah ada yang bolong. Sarung ia usap-usap, ia periksa ketebalannya. Kain ia kibaskan, ia lihat apakah masih bagus.
"Pakaian bekas? Dua puluh ribu." Ia menunjuk tumpukan baju. "Perhiasan? Emasnya tipis, Bu. Mungkin cuma 1,8 gram. Seratus lima puluh ribu. Total seratus tujuh puluh ribu."
Ariyanti hampir menangis. Seratus tujuh puluh ribu rupiah. Jauh dari dua juta. Jauh dari yang ia butuhkan.
"Baik, Pak." Ia mengangguk pasrah. "Saya terima."
Ia juga menelepon Bu Sumi. Meminjam telepon rumah tetangga lagi.
"Bu Sumi, ini Ariyanti." Suaranya bergetar. "Apakah Ibu punya uang lebih? Saya pinjam. Ibu saya sakit. Pneumonia. Harus dirawat inap. Biaya besar."
"Berapa, Ari?" suara Bu Sumi di seberang terdengar khawatir.
"Berapapun, Bu. Saya butuh berapapun."
"Ibu ke rumahmu sekarang." Bu Sumi menutup telepon.
Setengah jam kemudian, Bu Sumi datang dengan sepeda motor tuanya. Di tangannya, amplop putih berisi uang.
"Ini semua yang Ibu punya, Ari." Bu Sumi menyerahkan amplop itu. "Satu juta. Tabungan pensiun Ibu. Ibu tahu tidak cukup. Tapi semoga membantu."
Ariyanti menangis. Ia memeluk Bu Sumi.
"Terima kasih, Bu. Terima kasih. Saya tidak tahu harus membalas."
"Jangan pikirkan itu, Ari." Bu Sumi mengusap rambut Ariyanti. "Yang penting ibumu sehat. Yang penting ibumu sembuh. Itu sudah lebih dari cukup."
Masih Kurang
RSUD Kendal, dua hari kemudian.
Ibu Ariyanti dipindahkan ke RSUD Kendal. Kondisinya tidak kunjung membaik. Di Puskesmas, antibiotik yang diberikan tidak bekerja optimal. Demamnya naik turun. Batuknya semakin parah. Kadang ia batuk darah.
Dokter spesialis paru, seorang perempuan paruh baya dengan rambut disanggul rapi, memeriksa Ibu Ariyanti dengan saksama. Setelah melihat hasil rontgen, meneliti laboratorium, dan berkonsultasi dengan tim medis, ia memanggil Ariyanti ke ruang konsultasi.
"Nak Ariyanti, ibumu butuh perawatan lebih intensif." Dokter itu membuka map berisi hasil pemeriksaan. "Pneumonia-nya cukup parah. Ada komplikasi. Kemungkinan ibumu juga punya penyakit bawaan yang memperparah kondisi."
"Penyakit bawaan, Dok? Apa?"
"Kami curiga ibumu punya masalah jantung. Tapi belum bisa dipastikan. Butuh pemeriksaan lebih lanjut."
"Berapa lama, Dok?"
"Setidaknya dua minggu. Mungkin lebih."
"Dan biayanya, Dok?"
Dokter itu menghela napas. "Kisaran... sepuluh juta, Nak. Tergantung perawatan dan tindakan yang diperlukan. Bisa lebih, bisa kurang."
Ariyanti lemas. Sepuluh juta. Jumlah yang tidak pernah ia bayangkan.
Ia sudah mengumpulkan uang dari berbagai sumber. Dari Bu Sumi, satu juta. Hasil jual barang, seratus tujuh puluh ribu. Pinjaman dari Pak Lurah, lima ratus ribu. Sumbangan tetangga, tiga ratus ribu. Total, sekitar dua juta.
Kurang dari dua juta yang ia butuhkan untuk uang muka perawatan di Puskesmas.
Sekarang di RSUD, biaya awal sudah tiga juta. Belum biaya obat, biaya tindakan, biaya dokter.
"Kita tidak akan pernah cukup," pikir Ariyanti sambil menatap tumpukan uang di meja. Dua juta lebih. Jauh dari sepuluh juta.
Rahmadi Mendengar Kabar
Lapas Kelas II A Kendal, sore itu.
Rahmadi duduk di sudut selnya. Di tangannya, selembar surat. Surat dari Danu. Surat yang diselundupkan oleh petugas lapas yang masih setia padanya.
"Tuan, ibu Ariyanti sakit parah. Pneumonia. Dirawat di RSUD Kendal. Keluarganya tidak punya uang untuk biaya rumah sakit. Mereka sudah menjual apa yang mereka miliki. Tapi masih kurang. Jauh dari cukup."
Rahmadi membaca surat itu berulang-ulang.
Ia tersenyum.
Bukan senyum iba. Bukan senyum prihatin. Tapi senyum jahat. Senyum penuh kemenangan.
"Ini kesempatan," pikirnya. "Kesempatan yang tidak akan datang dua kali."
Ia meminta kertas dan pulpen pada petugas. Menulis surat balasan untuk Danu.
"Danu, suruh orang kepercayaan kita temui Ariyanti. Tawari bantuan. Semua biaya rumah sakit ibunya akan kita tanggung. Sampai sembuh. Sampai sehat. Saya tidak peduli berapa biayanya."
"Tapi dengan syarat." Rahmadi menulis dengan tekanan yang kuat. "Ariyanti harus menjauhi Akang. Secara resmi. Di depan umum. Tidak boleh bertemu, tidak boleh telepon, tidak boleh surat, tidak boleh ada komunikasi dalam bentuk apapun."
"Jika ia setuju, kita transfer uangnya besok. Berapapun yang ia minta."
Rahmadi melipat surat itu. Memasukkannya ke amplop.
"Kali ini, kau tidak bisa lari, Ariyanti. Kali ini, kau harus memilih."
Kedatangan Utusan Rahmadi
RSUD Kendal, malam itu.
Ariyanti sedang duduk di kursi ruang tunggu. Di depannya, ruang ICU. Di balik pintu kaca itu, ibunya terbaring lemah. Tubuhnya dipenuhi kabel-kabel monitor. Selang oksigen terpasang di hidungnya. Infus di tangan kiri dan kanan.
Wajah Ariyanti pucat. Matanya sembab. Rambutnya acak-acakan. Pakaiannya kusut. Ia tidak peduli.
Seorang pria berjas rapi mendekat. Jas hitam, kemeja putih, dasi merah. Sepatu pantofel mengkilap. Parfum mahal.
"Selamat malam." Suaranya rendah, ramah. "Apakah saya bicara dengan saudari Ariyanti?"
Ariyanti menoleh. Ia tidak kenal pria ini. Tapi ada sesuatu di matanya. Sesuatu yang membuatnya tidak nyaman.
"Iya. Siapa Bapak?"
"Saya utusan dari Mas Rahmadi." Pria itu tersenyum. Senyum yang terlatih, senyum yang sudah dipraktekkan berkali-kali di depan cermin.
Ariyanti langsung tegang. Dadanya naik turun cepat. Tangannya mengepal.
"Apa yang dia mau?" suaranya dingin.
"Mas Rahmadi mendengar tentang sakitnya ibu Bapak." Pria itu duduk di kursi di samping Ariyanti, tanpa diundang. "Ia prihatin. Sangat prihatin. Ia ingin membantu."
"Bantuan dari Rahmadi?" Ariyanti tertawa pahit. "Pasti ada syaratnya. Pasti ada yang harus aku bayar."
"Pintar." Pria itu mengangguk. "Syaratnya sederhana, Mbak. Bapak harus menjauhi Akang Supriyadi. Tidak boleh bertemu. Tidak boleh telepon. Tidak boleh surat. Tidak boleh ada komunikasi dalam bentuk apapun."
"Jika Bapak setuju, semua biaya rumah sakit ibunya akan ditanggung penuh. Semua. Mulai dari awal sampai sembuh. Bahkan Bapak akan mendapat uang saku untuk biaya hidup selama ibunya dirawat."
Ariyanti menatap pria itu. Matanya tajam.
"Katakan pada Rahmadi." Suaranya tegas. "Saya tidak butuh uang haramnya. Saya tidak butuh bantuan dari penjahat."
Pria itu tidak terpengaruh. Ia tetap tersenyum.
"Pikirkan dulu, Mbak." Ia mengeluarkan kartu nama dari saku jasnya. "Ibumu bisa mati jika tidak segera dirawat intensif. Apakah kau rela melihat ibumu mati hanya karena keras kepalamu?"
Ariyanti tidak menjawab.
Pria itu berdiri. Meletakkan kartu nama di pangkuan Ariyanti.
"Hubungi nomor ini jika berubah pikiran, Mbak. Mas Rahmadi tidak akan menunggu selamanya."
Ia pergi. Langkahnya tegap, percaya diri.
Ariyanti memandangi kartu nama itu.
"Rahmadi," bisiknya. "Kau benar-benar monster."
Konflik Batin Ariyanti
RSUD Kendal, malam itu, setelah utusan pergi.
Ariyanti tidak bisa tidur. Ia duduk di samping tempat tidur ibunya, di kursi besi yang dingin dan keras. Tangan kanannya memegang tangan ibunya yang dingin dan keriput. Tangan kirinya memegang kartu nama pemberian utusan Rahmadi.
"Bu..." bisiknya. "Aku harus bagaimana?"
Ia menatap wajah ibunya yang pucat. Bibirnya kering, pecah-pecah. Matanya terpejam, kadang berkedut, seperti sedang bermimpi buruk.
Ia teringat semua pengorbanan ibunya. Sepanjang hidup, ibunya bekerja keras. Sejak ayahnya meninggal, ibunya menjadi ayah sekaligus ibu. Bangun sebelum subuh, tidur setelah semua anaknya tidur. Tidak pernah mengeluh. Tidak pernah menyerah. Bahkan saat tubuhnya sakit, saat kepalanya pusing, saat kakinya bengkak karena terlalu lama berdiri, ia tetap tersenyum. Ia tetap mengatakan, "Ibu baik-baik saja."
"Aku tidak tega melihat Ibu menderita," pikir Ariyanti. "Aku tidak tega melihat Ibu dirawat di rumah sakit. Aku tidak tega melihat Ibu terbaring lemah. Aku tidak tega jika Ibu..."
Ia tidak bisa melanjutkan kalimatnya.
Tapi di sisi lain, ia juga tidak tega meninggalkan Akang. Laki-laki yang sudah berjuang bersamanya. Laki-laki yang sudah melalui fitnah, kebakaran, kecelakaan, dan hampir kehilangan nyawa. Laki-laki yang tidak pernah menyerah meskipun dunia terus menjatuhkannya.
"Jika aku menerima tawaran Rahmadi, Akang akan hancur." Air mata Ariyanti jatuh. "Dia akan merasa dikhianati. Dia akan merasa ditinggalkan. Dia akan merasa cintanya tidak berharga."
"Tapi jika aku menolak, ibuku bisa mati."
Ariyanti tidak tahu harus memilih apa.
Ia hanya bisa menangis.
Tangis yang tidak bisa ia tahan lagi.
Tangis yang keluar dari lubuk hatinya yang paling dalam.
Akang Mendengar Kabar
Dusun Cegunan, keesokan paginya.
Akang mendapat telepon dari Marni. Marni menggunakan telepon umum di depan pasar Pegandon. Suaranya panik.
"Kang, kabar buruk." Marni hampir berteriak. "Ibu Ariyanti sakit parah. Pneumonia. Dirawat di RSUD Kendal. Biaya rumah sakit mahal, Kang. Mahal sekali."
"Astaga..." Akang terperanjat. "Ariyanti bagaimana?"
"Dia bingung, Kang. Dia tidak punya uang. Dia sudah menjual semua yang bisa dijual. Tapi masih kurang. Jauh dari cukup."
"Dan ada kabar lebih buruk lagi." Marni berhenti sebentar, menarik napas. "Rahmadi menawari Ariyanti bantuan. Semua biaya rumah sakit akan ditanggung. Tapi dengan syarat dia harus menjauhimu."
Akang terdiam. Jantungnya terasa berhenti berdetak.
"Apa?" suaranya hampir tidak keluar.
"Ariyanti belum setuju, Kang." Marni cepat-cepat menambahkan. "Dia bingung. Dia tidak tahu harus memilih apa. Tapi kamu harus ke rumah sakit, Kang. Kamu harus temani dia. Jangan biarkan dia sendirian."
"Aku akan segera ke sana."
Akang meletakkan telepon. Tangannya gemetar.
Ia memandangi kakinya yang masih terbungkus penyangga. Masih sakit. Masih belum pulih total. Masih harus terapi setiap hari.
Tapi ia tidak peduli.
"Aku harus ke Kendal. Sekarang."
Akang ke Rumah Sakit
RSUD Kendal, siang itu.
Akang datang dengan tongkat di tangan. Perjalanan dari Pegandon ke Kendal memakan waktu hampir dua jam dengan bus. Bus ekonomi yang penuh sesak, tanpa AC, joknya keras, baunya campur aduk. Tapi ia tidak peduli.
Ia turun dari bus di terminal Kendal, lalu naik angkot menuju RSUD. Kaki kanannya terasa sakit setiap kali angkot melewati jalan berlubang. Tapi ia menggertakkan gigi, menahan rasa sakit.
Dengan susah payah, ia berjalan dari parkiran menuju ruang ICU. Setiap langkah terasa seperti berjalan di atas duri. Keringat dingin mengucur di dahinya.
"Ari!" panggilnya begitu melihat Ariyanti duduk di kursi koridor, di depan pintu ruang ICU.
Ariyanti menoleh. Matanya merah. Wajahnya pucat. Rambutnya acak-acakan.
"Kang?" Ariyanti berdiri. "Kamu kenapa di sini? Kamu masih sakit! Kamu belum pulih!"
"Aku tidak apa-apa, Ari." Akang tersenyum. Senyum yang dipaksakan. "Yang penting kamu. Yang penting ibumu."
Mereka berpelukan.
"Ari, aku dengar tentang tawaran Rahmadi." Suara Akang pelan, nyaris berbisik.
Ariyanti melepaskan pelukan. Ia menunduk.
"Kang, aku bingung." Suaranya bergetar. "Ibu butuh biaya besar. Aku tidak punya uang. Aku sudah menjual semua yang bisa dijual. Aku sudah meminjam dari Bu Sumi, dari Pak Lurah, dari tetangga. Tapi masih kurang. Jauh dari cukup."
"Sementara Rahmadi menawarkan semua. Semua biaya akan ditanggung. Sampai Ibu sembuh. Sampai Ibu sehat."
"Tapi syaratnya, aku harus menjauhimu."
Akang memeluk Ariyanti lagi.
"Ari, aku tidak akan memaksamu memilih." Suaranya lembut. "Apapun keputusanmu, aku akan terima. Karena aku tahu, kamu melakukan itu untuk kebaikan ibumu. Karena aku tahu, kamu tidak tega melihat ibumu menderita."
"Tapi Kang..."
"Ari, dengarkan aku." Akang melepaskan pelukan. Ia menatap mata Ariyanti. "Kita sudah melalui banyak badai bersama. Fitnah. Kebakaran. Kecelakaan. Koma. Penculikan. Fitnah lagi. Kita sudah melalui semuanya."
"Jika kali ini kita harus terpisah, itu bukan berarti kita menyerah." Akang menggenggam tangan Ariyanti. "Itu berarti kita sedang berjuang dengan cara yang berbeda. Kita sedang berjuang untuk orang yang kita cintai."
Ibu Ariyanti Sadar
Ruang ICU, sore itu.
Ibu Ariyanti membuka matanya. Matanya sayu, masih setengah sadar. Tubuhnya masih lemah, belum bisa bergerak bebas. Tapi kesadarannya mulai pulih.
"Yan ..." panggilnya lirih. "Ada apa? Kenapa kamu menangis?"
Ariyanti yang sedang duduk di samping tempat tidur segera mendekat. "Ibu, Ibu sadar? Syukurlah."
"Kok kamu menangis?" Ibu Ariyanti mengangkat tangannya yang lemas, berusaha mengusap air mata Ariyanti. "Ada apa?"
"Tidak apa-apa, Bu." Ariyanti tersenyum. "Ibu sakit parah. Tapi Ibu jangan khawatir. Semua akan baik-baik saja. Aku di sini. Dokter di sini. Ibu akan sembuh."
"Akang..." Ibu Ariyanti matanya bergerak mencari-cari. "Akang di situ?"
Akang yang berdiri di belakang Ariyanti mendekat.
"Iya, Bu." Akang membungkuk, mencium tangan Ibu Ariyanti. "Saya di sini."
"Nak Akang." Ibu Ariyanti tersenyum lemah. "Maafkan Ibu. Dulu Ibu pernah melarang Ariyanti dekat dengan kamu. Ibu salah. Ibu menganggapmu anak bermasalah. Ibu hanya mendengar gosip tetangga. Ibu tidak mau mengenalmu lebih jauh. Ibu minta maaf."
"Tidak apa-apa, Bu." Akang menggeleng. "Saya tidak pernah marah. Saya sudah lupa."
"Nak Akang, kamu anak baik." Ibu Ariyanti menggenggam tangan Akang. "Ibu sekarang tahu. Ibu merestui kalian."
"Bu..." Ariyanti menangis lagi.
"Yan ." Ibu Ariyanti menatap Ariyanti. "Jangan terima tawaran Rahmadi. Ibu dengar semuanya. Ibu mungkin sakit, tapi Ibu tidak tuli."
Ariyanti terkejut. "Bu tahu?"
"Ibu tahu. Ibu dengar. Jangan korbankan cintamu hanya untuk menyelamatkan Ibu." Ibu Ariyanti batuk-batuk. "Jangan korbankan masa depanmu hanya karena Ibu."
"Tapi Bu, aku tidak tega melihat Ibu menderita."
"Yan , Ibu sudah tua." Ibu Ariyanti tersenyum. "Ibu sudah siap mati kapan saja. Tapi kamu masih muda. Kamu punya masa depan. Kamu punya Akang. Kamu punya mimpi. Jangan hancurkan semua itu karena Ibu."
"Bu..."
"Ibu tega, Yan ." Ibu Ariyanti menggenggam tangan Ariyanti. "Ibu rela mati asalkan kamu bahagia. Ibu rela mati asalkan kamu tidak menyesal di kemudian hari."
Keputusan Ariyanti
RSUD Kendal, malam itu.
Ariyanti duduk di kursi koridor, di depan pintu ruang ICU. Di tangannya, kartu nama pemberian utusan Rahmadi. Kartu nama yang sudah ia remas-remas, tapi tidak bisa ia buang.
Ia sudah memutuskan.
Ia mengambil ponsel Bu Sumi, dipinjamkan khusus untuknya selama ibunya dirawat. Jari-jarinya menekan nomor yang tertera di kartu nama itu.
"Halo?" suara di seberang. Suara pria berjas rapi tadi malam.
"Ini Ariyanti." Suaranya tegas. "Saya ingin bicara dengan Rahmadi."
"Tunggu sebentar."
Beberapa saat kemudian, suara Rahmadi terdengar. Serak. Parau. Dingin. Tapi penuh kemenangan.
"Ariyanti, akhirnya kau meneleponku." Rahmadi tertawa kecil. "Aku sudah menunggu."
"Aku punya jawaban untuk tawaranmu, Rahmadi." Ariyanti tidak membuang waktu.
"Jawabannya?"
"TIDAK." Suara Ariyanti lantang. "Aku tidak akan menerima bantuanmu. Aku tidak akan menjauhi Akang. Aku tidak akan pernah tunduk pada orang jahat seperti kamu."
Rahmadi terdiam.
"Kau sadar ibumu bisa mati, Ariyanti?" suaranya dingin.
"Aku sadar." Ariyanti menggigit bibirnya. "Tapi ibuku lebih rela mati daripada melihat anaknya mengkhianati cinta sejatinya. Itu yang dia ajarkan padaku. Itu yang dia tanamkan dalam diriku."
"Kau bodoh, Ariyanti."
"Mungkin." Ariyanti tersenyum pahit. "Tapi aku lebih baik mati bodoh daripada hidup sebagai budakmu. Aku lebih baik mati miskin daripada kaya dengan uang haram."
"Kau akan menyesal."
"Aku tidak akan menyesal." Ariyanti menutup telepon. "Selamanya."
Tangannya gemetar. Air matanya jatuh.
Tapi ia tersenyum.
"Aku berhasil," bisiknya. "Aku berhasil melawan godaan."
Akang Mendukung Keputusan Ariyanti
RSUD Kendal, malam itu juga.
"Ari, apa yang kau lakukan?" Akang yang dari tadi berdiri di sampingnya, mendengar seluruh percakapan.
"Aku menolak tawaran Rahmadi, Kang." Ariyanti menatap Akang. Matanya basah. "Aku menolaknya."
"Ari, itu berani." Akang memeluk Ariyanti. "Itu sangat berani. Aku bangga padamu."
"Tapi bagaimana dengan ibumu?" Akang bertanya.
"Kita cari jalan lain, Kang." Ariyanti melepaskan pelukan. "Bersama. Kita cari jalan lain. Kita tidak akan menyerah. Kita tidak akan kalah."
"Aku ikut." Akang menggenggam tangan Ariyanti. "Aku akan bantu. Apapun yang bisa aku lakukan. Aku akan lakukan."
"Terima kasih, Kang." Ariyanti tersenyum. "Aku tidak tahu harus membalas."
"Kau tidak perlu membalas." Akang mengusap air mata Ariyanti. "Kau sudah cukup membalas dengan tidak menyerah. Dengan tidak mengkhianati cinta kita."
Bantuan Tak Terduga
RSUD Kendal, keesokan harinya.
Ariyanti sedang duduk di kursi ruang tunggu, menunggu giliran untuk menemui dokter yang merawat ibunya. Matanya masih sembab. Wajahnya masih pucat.
Seorang perawat menghampiri.
"Mbak Ariyanti, ada seseorang yang ingin bertemu."
"Siapa, Suster?"
"Silakan lihat sendiri."
Seorang laki-laki paruh baya masuk. Wajahnya teduh. Matanya jujur. Rambutnya sudah beruban di pelipis. Pakai kemeja putih lengan panjang, lusuh, tapi bersih.
"Saya Herman." Laki-laki itu mengulurkan tangan. "Ayah kandung Rahmadi."
Ariyanti terkejut. Matanya membulat.
"Pak Herman?" ia menjabat tangan Herman. Tangannya kasar, kapalan. "Ada apa? Ada masalah?"
"Saya dengar tentang sakitnya ibu Bapak." Herman duduk di kursi di samping Ariyanti. "Saya ingin membantu."
"Tapi Pak Herman, saya tidak punya uang untuk membayar..." Ariyanti tidak bisa menyelesaikan kalimatnya.
"Saya tidak minta bayaran, Nak." Herman tersenyum. "Ini hadiah. Saya tahu Rahmadi sudah banyak berbuat jahat pada kalian. Saya tahu dia sudah menyakiti kalian berkali-kali. Ini cara saya meminta maaf. Ini cara saya menebus kesalahan anak saya."
Herman mengeluarkan amplop coklat tebal dari saku celananya. Amplop besar, tebal, berisi uang.
Ariyanti membukanya dengan hati-hati.
Matanya membulat.
Isinya uang tunai. Sepuluh juta rupiah.
"Pak Herman, ini... ini terlalu banyak." Ariyanti hampir menangis. "Saya tidak bisa menerima ini."
"Anggap saja pinjaman, Nak." Herman menepuk pundak Ariyanti. "Bisa dicicil kapan saja. Tidak ada bunga. Tidak ada batas waktu. Tidak ada syarat."
"Tapi Pak..."
"Jangan ditolak, Nak." Herman memotong. "Saya tidak punya banyak harta. Saya hanya laki-laki tua pensiunan. Tapi saya punya hutang budi pada ibumu. Pada kalian semua."
"Terima kasih, Pak." Ariyanti menangis. "Saya tidak tahu harus membalas kebaikan Bapak."
"Balas dengan membahagiakan ibumu." Herman mengusap air mata Ariyanti. "Balas dengan menjadi anak yang berbakti. Balas dengan menjaga Akang baik-baik. Dia pemuda yang hebat. Dia pantas mendapatkan kebahagiaan."
Ibu Ariyanti Mulai Sembuh
RSUD Kendal, beberapa hari kemudian.
Dengan biaya yang cukup, Ibu Ariyanti mendapatkan perawatan intensif. Antibiotik rutin setiap 8 jam. Fisioterapi pernapasan setiap pagi dan sore. Nutrisi yang baik, makanan bergizi yang disediakan oleh rumah sakit.
Perlahan, kesehatannya membaik.
Demamnya turun. Batuknya reda. Napasnya lebih lega. Wajahnya mulai ada warna.
"Yan , Ibu dengar ada yang membantu biaya rumah sakit?" Ibu Ariyanti bertanya suatu sore.
"Iya, Bu." Ariyanti menyuapi ibunya bubur. "Pak Herman. Ayah kandung Rahmadi."
"Kenapa dia mau membantu?" Ibu Ariyanti mengernyit.
"Katanya dia ingin meminta maaf." Ariyanti menghela napas. "Atas semua kejahatan Rahmadi. Atas semua penderitaan yang kami alami."
"Ibu harus berterima kasih padanya." Ibu Ariyanti menggenggam tangan Ariyanti.
"Nanti, Bu." Ariyanti tersenyum. "Setelah Ibu sembuh. Setelah Ibu pulang. Kita cari dia. Kita ucapkan terima kasih."
Rahmadi Mendengar Kabar
Lapas Kendal, seminggu kemudian.
Rahmadi menerima kabar dari surat kabar yang dibaca Herman saat mengunjunginya. Koran lokal, berita kecil di halaman tiga, tentang bantuan tak terduga dari seorang pensiunan bank untuk keluarga miskin.
"Nak, Ayah yang membantu mereka." Herman menyerahkan koran itu pada Rahmadi. "Ayah yang membiayai rumah sakit ibu Ariyanti."
Rahmadi membaca koran itu. Wajahnya berubah tegang.
"Ayah, kenapa Ayah membantu mereka?" suaranya dingin.
"Karena itu benar, Nak." Herman menatap Rahmadi. "Mereka tidak bersalah. Kau yang bersalah. Dan sebagai ayahmu, aku harus memperbaiki kesalahanmu. Aku harus menebus dosa-dosamu."
"Aku tidak minta Ayah ikut campur!" Rahmadi membanting koran ke lantai.
"Maaf, Nak." Herman tidak bergeming. "Ini bukan tentang kemauanmu. Ini tentang kemanusiaan. Ini tentang menjadi manusia yang baik."
Rahmadi terdiam. Ia tidak bisa berkata apa-apa.
Ibu Ariyanti Pulang
Dusun Kersan, awal Agustus 1998.
Ibu Ariyanti diperbolehkan pulang. Kondisinya sudah stabil. Tidak ada lagi demam. Tidak ada lagi batuk. Napasnya sudah lega. Meskipun masih harus kontrol rutin ke dokter setiap dua minggu sekali, dan masih harus minum obat setiap hari.
Ariyanti mengantar ibunya masuk ke rumah. Rumah yang sederhana, dengan dinding anyaman bambu dan atap rumbia, terasa lebih hangat dari biasanya.
"Yan , Ibu ingin bilang sesuatu." Ibu Ariyanti duduk di kursi bambu di teras.
"Apa, Bu?" Ariyanti duduk di samping ibunya.
"Ibu bangga padamu." Ibu Ariyanti menggenggam tangan Ariyanti. "Kamu tidak mengambil tawaran Rahmadi. Kamu memilih kebenaran. Kamu memilih cinta. Itu keberanian yang luar biasa."
"Tapi Bu, aku hampir menyerah." Ariyanti menunduk. "Aku hampir mengambil tawaran itu. Aku hampir mengkhianati Akang."
"Tapi kamu tidak." Ibu Ariyanti mengangkat dagu Ariyanti. "Itu yang penting. Kamu tidak menyerah. Kamu tidak mengkhianati. Kamu bertahan."
Mereka berpelukan.
Akang dan Ariyanti Berjumpa Lagi
Jalan Randu Gembyang, sore itu.
Setelah berminggu-minggu sibuk dengan urusan rumah sakit, setelah berminggu-minggu hanya bertemu di ruang ICU yang dingin, setelah berminggu-minggu hanya berbicara tentang obat dan biaya dan jadwal kontrol, akhirnya Ariyanti punya waktu untuk bertemu Akang.
Mereka duduk di bawah pohon randu tertua, seperti biasa. Pohon yang sama. Akar yang sama. Langit jingga di atas mereka.
"Kang, akhirnya kita bisa di sini lagi." Ariyanti tersenyum.
"Iya." Akang menggenggam tangannya. "Aku rindu."
"Aku juga." Ariyanti membalas genggaman Akang.
"Ari, apakah kita sudah melewati badai terbesar?" Akang menatap langit jingga.
"Aku tidak tahu, Kang." Ariyanti menatap balik. "Tapi yang aku tahu, selama kita bersama, tidak ada yang tidak mungkin. Selama kita bersama, badai apapun bisa kita hadapi."
Mereka tersenyum.
Senja di Tegorejo terasa hangat lagi.
Rahmadi Mulai Berubah
Lapas Kendal, Agustus 1998.
Herman terus mengunjungi Rahmadi. Tidak pernah absen. Setiap minggu, ia datang. Membawakan buku-buku agama. Mengajaknya mengaji. Membacakan ayat-ayat suci. Bercerita tentang masa lalu. Tentang cintanya pada Hj. Fatimah. Tentang penyesalannya meninggalkan mereka.
Perlahan, Rahmadi mulai berubah.
"Ayah, aku menyesal." Rahmadi menunduk. "Aku menyesal atas semua yang kulakukan."
"Menyesal itu baik, Nak." Herman mengelus kepala Rahmadi. "Tapi jangan hanya menyesal. Kau harus berubah. Kau harus menjadi lebih baik."
"Apa aku bisa berubah, Ayah?" Rahmadi mengangkat kepalanya. Matanya basah.
"Tentu, Nak." Herman tersenyum. "Selama kau masih hidup, kau bisa berubah. Selama kau masih bernapas, kau punya kesempatan."
Rahmadi menangis. "Ayah, maafkan aku."
Herman memeluk anaknya. "Ayah sudah memaafkan dari dulu, Nak. Sejak pertama kali Ayah tahu kau ada di dunia ini."
Bu Sumi Mendapat Kabar
Rumah Bu Sumi, malam itu.
Bu Sumi mendapat telepon dari Bripka Joko. Telepon berdering di ruang tengah yang sepi.
"Bu Sumi, kabar baik." Suara Bripka Joko di seberang terdengar ceria. "Rahmadi mulai kooperatif. Ia mengaku semua kesalahannya. Ia tidak lagi membantah. Ia tidak lagi menyangkal."
"Benarkah, Pak?" Bu Sumi terkejut.
"Iya. Ia bahkan meminta maaf pada Bu Sumi melalui surat." Bripka Joko melanjutkan. "Suratnya akan saya kirimkan besok."
Bu Sumi menutup telepon. Ia menangis.
"Akhirnya..." bisiknya. "Ada secercah harapan untuk Rahmadi. Ada secercah cahaya di tengah kegelapannya."
Pelangi Setelah Badai
Tegorejo, senja itu.
Ariyanti dan Akang berjalan beriringan di Jalan Randu Gembyang. Setelah badai panjang, setelah air mata yang tak terhitung jumlahnya, setelah pilihan-pilihan sulit yang hampir menghancurkan mereka, akhirnya langit mulai cerah.
"Kang, lihat." Ariyanti menunjuk ke arah timur. "Pelangi."
Akang menoleh. Dari balik awan, sebuah pelangi sempurna membentang. Dari ujung desa ke ujung desa lainnya. Warna-warninya cerah. Merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu.
"Seperti janji Tuhan, Ari." Akang tersenyum. "Setelah kesulitan, pasti ada kemudahan. Setelah badai, pasti ada pelangi."
"Kita sudah melewati banyak kesulitan, Kang." Ariyanti menggenggam tangan Akang. "Fitnah. Kebakaran. Kecelakaan. Koma. Penculikan. Sakit. Kemiskinan. Pilihan sulit."
"Tapi kita masih di sini." Akang membalas genggaman Ariyanti. "Masih bersama."
"Kita akan selalu bersama, Kang." Ariyanti menatap Akang. "Sampai kapan pun. Sampai mati."
Mereka berpelukan di bawah pohon randu.
Senja di Tegorejo tak pernah seindah ini.
Badai belum sepenuhnya berlalu.
Masih ada Rahmadi. Masih ada pengadilan banding. Masih ada masa depan yang harus dihadapi.
Tapi setidaknya, mereka masih punya harapan.
Dan selama masih ada harapan, selama mereka masih bersama, tidak ada yang tidak mungkin.
BAB 25
AIR MATA DI RUMAH SAKIT
Ariyanti hampir menyerah. Di ruang ICU, ia berdoa pada Tuhan meminta petunjuk.
RSUD Kendal, pertengahan Juli 1998. Malam ketiga Ibu Ariyanti dirawat di ICU.
Jam menunjukkan pukul 01.30 dini hari. Rumah sakit yang siangnya ramai oleh pengunjung dan pasien, yang koridornya dipenuhi suara langkah kaki terburu-buru dan derit roda brankar, yang ruang tunggunya penuh oleh keluarga pasien dengan wajah-wajah cemas, kini berubah menjadi lorong panjang yang sunyi.
Sunyi yang aneh. Sunyi yang mencekam. Sunyi yang membuat setiap suara sekecil apapun terdengar seperti gemuruh.
Hanya suara detak jantung monitor yang berirama lambat, beep... beep... beep... seperti detak waktu yang perlahan-lahan menghitung mundur menuju sesuatu yang tidak diketahui. Hanya desisan selang oksigen yang mengalirkan udara ke paru-paru yang lemah. Hanya sesekali langkah suster yang berjaga, dengan sepatu karet yang hampir tidak bersuara di lantai keramik.
Di ruang ICU nomor 3, Ibu Ariyanti terbaring lemah.
Tubuhnya yang kurus, yang dulu masih berisi meskipun sederhana, kini menyusut drastis. Tulang-tulang pipinya menonjol. Lehernya yang dulu masih tegap, kini tampak rapuh seperti batang lidi. Lengan dan kakinya dipenuhi kabel-kabel monitor, seperti tanaman yang diikat oleh akar-akar buatan yang tidak ia kenali.
Alat bantu napas terpasang di hidungnya. Selang plastik bening itu menjalar dari hidung ke tabung oksigen di samping tempat tidur, mengalirkan udara yang tidak pernah terasa alami. Wajahnya pucat, bukan pucat karena kurang tidur atau kurang makan, tapi pucat yang dalam, pucat yang muncul dari dalam tubuh, tanda bahwa organ-organnya sedang berjuang melawan infeksi yang menggerogoti.
Bibirnya pecah-pecah, meskipun perawat sudah rajin mengoleskan petroleum jelly setiap dua jam sekali. Kadang ia membuka mata sebentar, menatap langit-langit ruangan yang putih dan steril, lalu terlelap lagi karena pengaruh obat penenang yang terus mengalir melalui infus.
Di kursi di samping tempat tidur, Ariyanti duduk tak bergerak. Kursi besi dengan sandaran yang keras dan bantalan tipis yang sudah tidak nyaman lagi setelah tiga hari diduduki. Matanya sembab, bukan sembab karena kurang tidur biasa, tapi sembab yang dalam, yang membuat kelopak matanya bengkak dan berat. Wajahnya pucat, sama pucatnya dengan ibunya. Rambutnya yang biasanya diikat rapi, kini acak-acakan, beberapa helai terlepas dari ikatan, jatuh ke wajah, tidak ia acuhkan.
Ia sudah tiga hari dua malam tidak tidur. Hanya sesekali terlelap beberapa menit di kursi itu, lalu terbangun kaget karena suara monitor yang berubah ritme, atau karena suster yang masuk untuk memeriksa tekanan darah ibunya, atau karena mimpi buruk yang tidak bisa ia ingat.
Ia lelah.
Bukan hanya lelah fisik yang bisa diobati dengan tidur nyenyak semalaman. Tapi lelah jiwa. Lelah hati. Lelah memikirkan biaya yang terus menggunung seperti salju di musim dingin. Lelah memikirkan Akang yang masih dalam masa pemulihan tapi tetap datang setiap hari meskipun jalan masih pincang dan kakinya masih sakit. Lelah memikirkan masa depan yang semakin kelam, semakin tidak pasti, semakin terasa seperti jalan buntu.
Tawaran Rahmadi masih terngiang di telinganya.
"Jika kau mau menjauhi Akang, semua biaya akan aku tanggung."
Kata-kata itu seperti bisikan setan yang terus berulang. Setiap kali ia melihat angka di lembar tagihan rumah sakit, setiap kali ia mendengar suster menyebut biaya tambahan untuk obat baru, setiap kali ia melihat ibunya terbaring kesakitan sementara dompetnya hampir kosong, bisikan itu datang lagi.
Lebih keras. Lebih jelas. Lebih meyakinkan.
"Terima saja. Tidak ada yang tahu. Akang tidak akan pernah tahu. Ibu akan sembuh. Semua masalah selesai."
Ariyanti sudah menolak. Tapi godaan itu terus menghantui. Ia bisa merasakannya di belakang kepalanya, seperti bayangan yang tidak bisa ia usir.
"Apakah aku salah? Apakah aku egois karena memilih cinta daripada ibuku? Apakah aku berdosa karena membiarkan ibuku menderita hanya untuk mempertahankan hubungan dengan Akang? Apakah Tuhan akan marah padaku?"
Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di kepalanya seperti pusaran air yang tak berujung. Semakin ia mencoba melupakannya, semakin kuat ia berputar. Semakin ia mencoba mengabaikannya, semakin nyaring ia bersuara.
Dan di ruang ICU yang dingin itu, dengan air mata yang tak henti mengalir, dengan dada yang terasa sesak seperti ditindih batu besar, dengan hati yang terasa hancur berkeping-keping, Ariyanti akhirnya bersimpuh.
Bukan di atas sajadah, karena ia tidak membawa sajadah. Di rumah sakit yang sibuk dan penuh dengan urusan administrasi, ia lupa memasukkan sajadah ke dalam tas. Mungkin juga ia sengaja tidak membawanya, karena ia tidak yakin punya waktu untuk salat. Tapi di saat seperti ini, ia tidak butuh sajadah.
Di atas lantai keramik yang dingin, dengan lutut yang terasa sakit karena menekan ubin keras, dengan dahi yang menyentuh lantai yang mungkin tidak pernah disapu semalam, ia bersujud.
Bukan sujud salat yang rapi dengan gerakan terukur. Tapi sujud seorang hamba yang putus asa, yang tidak tahu harus meminta pada siapa lagi, yang sadar bahwa hanya Tuhan yang bisa menolongnya.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, untuk pertama kalinya sejak ia bisa mengingat, untuk pertama kalinya dengan kesadaran penuh bahwa ia tidak punya tempat lain untuk bersandar, Ariyanti berdoa dengan sepenuh hati.
Bukan doa yang rapi dengan muqoddimah dan penutup seperti yang diajarkan di sekolah. Tapi doa yang kacau. Doa yang terpotong-potong. Doa yang keluar dari hati yang terluka, bukan dari mulut yang terbiasa mengucapkan kata-kata indah.
"Ya Allah... aku lelah..."
Malam yang Sunyi di ICU
RSUD Kendal, ruang ICU, pukul 01.30.
Ruangan ICU hanya diterangi lampu tidur yang redup. Lampu-lampu kecil di dinding, dengan cahaya kuning pucat yang hampir tidak cukup untuk membaca, sengaja dipilih agar tidak mengganggu istirahat pasien. Tapi bagi Ariyanti, kegelapan itu tidak membuatnya tenang. Justru membuatnya semakin sadar bahwa ia sendirian. Bahwa tidak ada yang bisa membantunya. Bahwa ia harus menghadapi semua ini sendiri.
Monitor di samping tempat tidur Ibu Ariyanti berkedip-kedip dengan ritme yang teratur. Lampu hijau kecil yang berkedip setiap kali jantung ibunya berdetak. Sebuah pemandangan yang seharusnya menenangkan, yang seharusnya menjadi tanda bahwa semuanya berfungsi normal, bahwa mesin-mesin itu bekerja dengan baik untuk menjaga ibunya tetap hidup.
Tapi bagi Ariyanti, suara detak itu seperti belati.
Beep... beep... beep...
Setiap detak adalah detak jantung ibunya. Setiap detak mengingatkannya bahwa ibunya masih hidup, bahwa masih ada harapan, bahwa Tuhan belum mengambilnya. Tapi setiap detak juga mengingatkannya bahwa hidup itu rapuh, bahwa detak itu bisa berhenti kapan saja, tanpa peringatan, tanpa kesempatan untuk mengucapkan selamat tinggal.
Jika ibuku mati, apa yang akan terjadi pada Rizki dan Fathur? Dua adik laki-lakinya yang masih kecil, yang masih duduk di bangku SD, yang masih butuh kasih sayang ibu, yang masih butuh seorang perempuan yang akan memasakkan mereka nasi setiap pagi, yang akan mencuci pakaian mereka setiap sore, yang akan membacakan dongeng sebelum tidur.
Jika ibuku mati, apakah aku sanggup menjadi orang tua bagi mereka? Aku masih remaja. Aku masih butuh belajar. Aku masih butuh mengurus diri sendiri. Bagaimana mungkin aku bisa mengurus dua anak kecil yang masih polos, yang tidak mengerti mengapa ibu mereka pergi, yang akan menangis setiap malam memanggil nama Ibu?
Jika ibuku mati, apakah aku bisa terus sekolah? Siapa yang akan membiayai? Siapa yang akan membayar SPP? Siapa yang akan membeli buku? Siapa yang akan membayar uang gedung? Aku harus bekerja. Tapi jika aku bekerja, aku tidak bisa sekolah. Jika aku tidak sekolah, bagaimana aku bisa menjadi guru? Jika aku tidak menjadi guru, bagaimana aku bisa memutus rantai kemiskinan keluarga?
Jika ibuku mati, apakah aku dan Akang akan tetap bersama? Akang adalah laki-laki yang baik. Tapi akankah ia tetap bertahan jika aku tidak punya apa-apa? Akankah ia tetap mencintaiku jika aku miskin dan yatim? Akankah ia tetap setia jika hidup semakin sulit?
Pertanyaan-pertanyaan itu tak berujung. Seperti lingkaran setan yang tidak bisa ia hentikan. Seperti film yang diputar berulang-ulang tanpa bisa ia matikan.
Ariyanti menggigit bibirnya. Kuat. Hampir berdarah. Bibir bawahnya terasa sakit, tapi ia tidak peduli. Rasa sakit fisik lebih mudah ditanggung daripada rasa sakit batin yang terus menggerogoti.
Ia berusaha menahan tangis, tapi air mata tetap mengalir. Air mata yang tidak bisa ia hentikan, yang terus jatuh di pipinya yang pucat, yang jatuh ke lantai keramik yang dingin.
Ia tidak mau suster mendengar. Mereka sudah terlalu sibuk dengan pasien lain. Dua suster jaga malam, bertugas merawat empat pasien di ruang ICU yang sama. Mereka sudah kelelahan. Mereka tidak perlu ditambah dengan tangis seorang gadis desa yang tidak bisa membayar biaya rumah sakit.
Tapi tangisnya terlalu keras. Tubuhnya bergetar hebat. Dadanya terasa sesak. Nafasnya tersengal-sengal. Ia tidak bisa mengendalikan diri.
Akhirnya, ia berdiri. Kaki yang lemas dan gemetar menopang tubuhnya yang hampir roboh. Ia berjalan keluar dari ruang ICU, membuka pintu kaca yang berat, lalu berjalan menuju ruang keluarga di ujung lorong.
Sendirian di Ruang Keluarga
RSUD Kendal, ruang keluarga pasien, pukul 01.45.
Ruang keluarga itu sempit. Hanya berukuran 2x3 meter. Di dalamnya, hanya ada dua kursi plastik berwarna putih, sudah kusam dan retak di beberapa bagian. Satu meja kecil dari kayu, dengan permukaan yang penuh dengan bekas gelas dan noda kopi. Dan sebuah jendela yang menghadap ke parkiran, kacanya buram oleh debu dan usia.
Dindingnya kusam. Cat putih yang dulu mungkin bersih, kini sudah menguning dan mengelupas di sana sini. Lantainya kotor, ada bekas telapak sepatu yang mengering, mungkin dari pengunjung sebelumnya yang tidak sempat dibersihkan.
Tapi bagi Ariyanti, tempat ini adalah satu-satunya tempat ia bisa menangis tanpa dilihat orang. Suster sibuk di ruang ICU. Dokter sedang tidur di ruang jaga. Keluarga pasien lain sudah pulang atau tertidur di kursi-kursi ruang tunggu. Tidak ada yang akan melihatnya. Tidak ada yang akan mendengarnya. Tidak ada yang akan menghakiminya.
Ia duduk di kursi plastik yang dingin. Tubuhnya jatuh ke kursi seperti karung beras yang dijatuhkan dari ketinggian. Bahunya terkulai. Kepalanya tertunduk. Tangannya jatuh lemas di samping tubuh.
Dan ia membiarkan air matanya mengalir deras.
Bukan tangis histeris yang bisa didengar dari kejauhan. Tapi tangis yang tertahan, tangis yang keluar dari lubuk hati yang paling dalam, tangis yang tidak bisa ia kontrol meskipun ia sudah berusaha sekuat tenaga.
"Ya Allah..." bisiknya lirih, nyaris tidak terdengar. Suaranya parau, pecah, seperti orang yang sudah berteriak berjam-jam.
"Aku lelah."
"Aku tidak tahu harus berbuat apa."
"Ibu sakit. Aku tidak punya uang. Akang masih dalam masa pemulihan, kakinya belum sembuh total, tapi setiap hari ia memaksakan diri datang ke sini."
"Rahmadi terus mengintai. Setiap hari ada saja ancaman baru. Setiap hari ada saja yang mencoba menghancurkan kami."
"Aku hampir menyerah, Allah. Aku hampir mengambil tawaran Rahmadi. Aku hampir mengkhianati cintaku. Aku hampir menjadi monster yang aku benci."
Ia sujud.
Di atas lantai ruang keluarga yang kotor, yang mungkin tidak pernah disapu semalam, yang mungkin ada debu dan kotoran yang menempel di lantai, Ariyanti bersujud.
Dahinya menyentuh lantai yang dingin. Hidungnya hampir menyentuh lantai yang kotor. Matanya terpejam.
"Ampuni aku, Allah."
Suaranya bergetar. Air matanya jatuh ke lantai, membasahi debu yang menempel.
"Aku lemah. Aku tidak sekuat yang aku kira. Aku selalu bilang aku kuat. Aku selalu bilang aku tidak akan menyerah. Tapi sekarang, aku merasa tidak sanggup lagi."
"Aku butuh petunjuk, Allah. Aku butuh kekuatan. Aku butuh keajaiban."
"Tunjukkan aku jalan. Tunjukkan aku apa yang harus aku lakukan."
Kenangan Masa Lalu
Ruang keluarga, Ariyanti termenung.
Di sela-sela doanya, di antara sujud dan tangis, di antara keputusasaan dan harapan yang mulai memudar, kenangan masa lalu melintas di benak Ariyanti.
Bukan kenangan yang indah. Bukan kenangan yang membuatnya tersenyum. Tapi kenangan yang menyakitkan, yang membuatnya semakin sadar betapa berat beban yang harus ia tanggung sejak kecil.
Kilas balik. Tahun 1985. Ariyanti baru berusia 4 tahun.
Saat itu, ayahnya masih hidup. Masih segar dalam ingatannya. Laki-laki yang rambutnya sudah mulai beruban di pelipis meskipun usianya baru 35 tahun. Laki-laki yang tangannya kasar dan kapalan karena setiap hari memotong kayu di hutan. Laki-laki yang pulang dengan bau keringat dan debu, tapi selalu menyempatkan diri untuk menggendong Ariyanti sebelum mandi.
Mereka sekeluarga tinggal di rumah sederhana di Dusun Kersan. Dinding anyaman bambu, atap rumbia, lantai tanah. Tapi hangat. Penuh dengan tawa. Penuh dengan kebahagiaan.
Ayahnya bekerja di hutan, menjadi penebang kayu. Ibunya berjualan gorengan di depan rumah. Penghasilan tidak besar, tapi cukup untuk makan, cukup untuk menyekolahkan Ariyanti nanti, cukup untuk hidup.
Suatu malam, ayahnya tidak pulang.
Ibu menunggu di teras sampai larut. Matanya tidak berkedip menatap jalan setapak yang gelap. Telinganya selalu waspada mendengar suara langkah kaki atau suara sepeda motor. Tapi tidak ada yang datang. Hanya angin malam yang berembus. Hanya jangkrik yang bernyanyi.
Pagi harinya, seorang tetangga datang dengan wajah pucat.
"Bu Siti, suami Ibu... kecelakaan di hutan. Pohon tumbang menimpanya. Sekarang di puskesmas."
Ibu menangis semalaman. Ariyanti tidak mengerti waktu itu. Ia hanya melihat ibunya menangis. Ia ikut menangis, tanpa tahu mengapa.
Beberapa hari kemudian, ayahnya meninggal. Ariyanti diajak ke pemakaman. Ia melihat tanah basah, liang lahat yang gelap, dan ibunya yang terjatuh di tepi kuburan, tidak bisa berdiri.
Sejak hari itu, ibunya menjadi janda. Laki-laki yang dulu mencintainya, yang dulu menjadi tulang punggung keluarga, yang dulu membuatnya tersenyum setiap pagi, pergi untuk selama-lamanya.
Tapi ibunya tidak menyerah.
Ia bekerja lebih keras. Membesarkan Ariyanti dan kedua adiknya sendirian. Tanpa bantuan siapa pun. Tanpa mengeluh. Tanpa menangis di depan anak-anaknya.
"Ibu, kenapa Ibu tidak pernah menangis?" Ariyanti pernah bertanya suatu malam, ketika ia masih kecil, ketika ia belum mengerti arti kehilangan.
Ibu tersenyum. Senyum yang pahit. Senyum yang dipaksakan.
"Karena Ibu harus kuat untuk kalian. Kalau Ibu menangis, kalian akan takut. Kalau Ibu putus asa, kalian akan kehilangan harapan."
Ariyanti tersadar dari lamunannya. Air matanya mengalir lagi.
"Sekarang giliranku yang harus kuat, Bu." Ia berbisik di dalam hati. "Tapi aku tidak sekuat Ibu. Aku tidak bisa setegar Ibu. Aku hampir menyerah."
Ariyanti Mengingat Nasihat Bu Sumi
Kilas balik. Beberapa bulan lalu. Di ruang guru SMAN I Pegandon.
Bu Sumi memanggil Ariyanti ke ruang guru sepulang sekolah. Tidak ada yang istimewa. Hanya sekadar ngobrol, sekadar menanyakan kabar, sekadar memastikan bahwa Ariyanti baik-baik saja.
"Ariyanti, Ibu ingin kamu tahu sesuatu." Bu Sumi meletakkan buku yang sedang ia baca. "Tuhan tidak akan memberikan cobaan di luar batas kemampuan hamba-Nya. Mungkin sekarang kamu merasa tidak kuat. Mungkin sekarang kamu merasa ingin menyerah. Tapi percayalah, kamu lebih kuat dari yang kamu kira."
"Bagaimana cara mengetahuinya, Bu?" Ariyanti bertanya. Waktu itu, ia belum menghadapi separuh dari apa yang ia hadapi sekarang.
"Dengan bertahan, Nak." Bu Sumi tersenyum. "Satu hari lagi. Satu jam lagi. Satu menit lagi. Terus bertahan sampai kamu melihat cahaya di ujung lorong. Percayalah, cahaya itu selalu ada. Kadang redup, kadang terang. Tapi selalu ada."
Ariyanti tersenyum pahit di dalam ruang keluarga yang dingin.
"Bu Sumi, aku sudah bertahan. Aku sudah bertahan berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan. Tapi cahayanya belum juga kulihat. Semakin lama, semakin gelap. Semakin lama, semakin aku tidak melihat jalan keluar."
Ariyanti Mengingat Nasihat Akang
Kilas balik. Di bawah pohon randu tertua.
"Ari, jangan pernah menyerah." Akang menggenggam tangannya. Matanya serius. "Aku tahu ini berat. Aku tahu rasanya ingin berhenti. Tapi kita sudah berjanji. Kita hadapi bersama."
"Apa yang harus kita lakukan kalau tidak ada jalan keluar, Kang?" Ariyanti bertanya waktu itu.
"Kita ciptakan jalan keluar sendiri, Ari." Akang tersenyum. "Dengan kerja keras, doa, dan keyakinan. Tuhan tidak akan membiarkan hamba-Nya yang berusaha. Tuhan pasti menunjukkan jalan."
Ariyanti menutup mata.
"Akang, aku sudah berusaha. Aku sudah berdoa. Aku sudah punya keyakinan. Tapi kali ini, aku hampir kehabisan jalan. Aku tidak tahu harus berbuat apa lagi."
Suster Aminah Menghampiri
Ruang keluarga, pukul 02.00.
Suster Aminah, perawat kepala yang baik hati dan sudah mengenal Ariyanti sejak Akang dirawat dulu, berjalan dengan langkah pelan. Sepatu karetnya tidak mengeluarkan bunyi di lantai keramik. Wajahnya yang biasanya tegas dan profesional, kini terlihat lembut.
Mata Suster Aminah sudah terlatih untuk melihat ketakutan dan keputusasaan di wajah keluarga pasien. Dan malam ini, ia melihatnya di wajah Ariyanti.
"Nak Ariyanti, kamu tidak tidur?" Suster Aminah duduk di kursi di samping Ariyanti.
"Saya tidak bisa tidur, Suster." Suara Ariyanti lirih, parau.
"Kamu sudah tiga hari tidak tidur, Nak." Suster Aminah menghela napas. "Tubuhmu akan rusak. Sistem imunmu akan turun. Kamu bisa jatuh sakit."
"Saya tidak peduli, Suster." Ariyanti menggeleng. "Ibu saya lebih penting."
Suster Aminah mengamati Ariyanti. Gadis ini masih muda. Masih belasan tahun. Seharusnya ia masih sibuk dengan sekolah, dengan teman-teman, dengan masa remaja yang penuh warna. Tapi ia sudah harus menghadapi beban seberat ini.
"Nak, Ibu tahu kamu sedang berat." Suster Aminah meraih tangan Ariyanti. Tangan yang dingin dan gemetar. "Ibu sering melihat keluarga pasien yang mengalami hal serupa. Mereka putus asa, stres, bahkan ada yang sampai jatuh sakit. Tapi ingat, kamu tidak sendirian. Tuhan selalu bersama kamu."
"Suster, apakah Ibu saya akan sembuh?" Ariyanti menatap Suster Aminah. Matanya penuh harap.
Suster Aminah menghela napas. "Secara medis, kondisinya mulai stabil. Tekanan darahnya sudah normal. Oksigennya meningkat. Tapi masih butuh waktu. Proses penyembuhan pneumonia tidak bisa dipaksakan."
"Yang paling penting, jangan menyerah, Nak." Suster Aminah menggenggam tangan Ariyanti. "Pasien yang punya dukungan keluarga kuat cenderung lebih cepat sembuh. Mereka punya motivasi untuk hidup. Mereka punya alasan untuk berjuang."
"Apa yang harus saya lakukan, Suster?" Ariyanti bertanya.
"Kamu harus istirahat." Suster Aminah tegas. "Tubuhmu butuh tidur. Kalau kamu jatuh sakit, siapa yang akan menjaga ibumu?"
Ariyanti menangis. "Suster, saya takut. Saya takut jika saya tidur, ibu saya akan... akan..."
"Tidak akan." Suster Aminah memotong. "Kami di sini, Nak. Dokter di sini. Perawat di sini. Kami menjaganya. Kami tidak akan membiarkan apa pun terjadi."
Suster Aminah membimbing Ariyanti berdiri. Tangannya yang hangat memegang pundak Ariyanti.
"Ayo, Nak. Kamu butuh tidur." Suster Aminah membawa Ariyanti ke ruang istirahat khusus keluarga pasien. Ruangan kecil dengan satu dipan tua. "Tidurlah. Setidaknya beberapa jam. Besok pagi kamu akan lebih segar."
"Terima kasih, Suster." Ariyanti berbaring di dipan.
Suster Aminah menutup pintu. Ariyanti sendirian di ruangan sempit itu.
Ariyanti Tidur dan Bermimpi
Ruang istirahat, pukul 02.30.
Ariyanti berbaring di dipan yang keras. Matanya berat. Kantuk yang selama tiga hari ia tahan, akhirnya menyerang dengan kekuatan penuh. Perlahan, tanpa bisa ia cegah, ia terlelap.
Ia bermimpi.
Mimpi yang tidak seperti mimpi biasanya. Mimpi yang terasa begitu nyata. Mimpi yang membuat ia bisa merasakan setiap hembusan angin, setiap kehangatan sinar matahari, setiap getaran suara.
Mimpi di kebun yang luas.
Ariyanti berdiri di tengah kebun yang luas. Di sekelilingnya, bunga-bunga bermekaran. Bukan bunga mawar seratus tangkai yang pernah dikirim Rahmadi. Tapi bunga-bunga liar, warna-warni, tumbuh dengan bebas tanpa diatur, tanpa dipotong durinya.
Pohon-pohon randu menjulang tinggi, seperti di Jalan Randu Gembyang. Daun-daunnya hijau segar. Batangnya kokoh. Akarnya menjalar ke tanah dengan gagah.
Udara segar. Tidak dingin, tidak panas. Sempurna.
Matahari bersinar hangat, tidak menyengat, tidak silau.
Di kejauhan, ia melihat seorang perempuan duduk di bangku kayu. Bangku sederhana, terbuat dari kayu jati yang tidak dioles cat. Perempuan itu memakai kebaya putih, lengan panjang, dengan motif bunga-bunga kecil yang hampir pudar.
Wajahnya teduh. Matanya sayu, tapi lembut. Rambutnya disanggul rapi, dengan tusuk konde dari kayu. Senyumnya... senyum yang sangat familiar.
"Ibu?" Ariyanti berjalan mendekat.
Perempuan itu tersenyum. Lebar. Tulus.
Itu ibunya. Masih muda. Masih cantik. Rambutnya hitam pekat, tidak sehelai pun uban. Wajahnya mulus, tidak ada kerutan di sudut mata. Dan yang paling penting, ia tidak sakit. Tidak ada selang oksigen. Tidak ada infus. Tidak ada monitor yang berkedip-kedip.
"Yan , jangan menangis." Ibu Ariyanti mengulurkan tangan, mengusap air mata Ariyanti yang tidak terasa sudah jatuh.
"Ibu, aku takut." Ariyanti berlutut di depan ibunya, memeluk lutut ibunya. "Aku takut Ibu tidak sembuh. Aku takut Ibu meninggal. Aku takut sendirian."
"Jangan takut, Yan ." Ibu Ariyanti mengelus rambut Ariyanti. "Ibu selalu bersamamu. Di sini. Di hatimu. Tidak akan pernah pergi."
"Tapi Ibu sakit." Ariyanti menatap ibunya. "Aku tidak punya uang untuk biaya rumah sakit. Aku sudah menjual semua yang bisa dijual. Aku sudah meminjam dari Bu Sumi, dari Pak Lurah, dari tetangga. Tapi masih kurang. Jauh dari cukup."
"Ibu tidak butuh uang, Yan ." Ibu Ariyanti tertawa kecil. "Ibu butuh kamu."
"Apa maksud Ibu?"
"Ibu butuh kamu tetap tegar." Ibu Ariyanti menatap Ariyanti. Matanya serius. "Ibu butuh kamu tidak menyerah. Ibu butuh kamu terus berjuang. Untuk Ibu. Untuk adik-adikmu. Untuk Akang. Untuk masa depanmu."
Ariyanti menangis dalam mimpi. "Aku tidak tahu caranya, Bu. Aku tidak tahu bagaimana caranya terus berjuang. Aku lelah. Aku capek. Aku tidak punya energi lagi."
"Kamu tahu caranya, Yan ." Ibu Ariyanti tersenyum. "Kamu sudah melakukannya selama ini. Kamu sudah berjuang sejak kecil. Kamu sudah kuat sejak lama. Kamu hanya lupa bahwa kamu kuat."
"Lihatlah ke belakang, Yan ." Ibu Ariyanti menoleh. "Lihat semua yang sudah kamu lewati."
Ariyanti menoleh ke belakang.
Ia melihat potongan-potongan masa lalu. Seperti film yang diputar cepat. Pertemuan dengan Akang di SMP. PaYan g bocor di hujan deras. Berbagi nasi di kantin. Fitnah Rahmadi. Kebakaran bengkel. Tuduhan palsu. Kecelakaan. Rawat inap. Semuanya.
"Itu semua kamu lewati, Yan ." Ibu Ariyanti menggenggam tangan Ariyanti. "Kamu lewati satu per satu. Tidak ada yang bisa menghentikanmu. Tidak ada yang bisa menjatuhkanmu. Karena kamu kuat. Karena kamu tidak pernah menyerah. Karena kamu percaya pada kebenaran."
"Tapi kali ini berbeda, Bu." Ariyanti menunduk. "Kali ini menyangkut nyawa Ibu."
"Nyawa Ibu di tangan Tuhan, Yan ." Ibu Ariyanti mengangkat dagu Ariyanti. "Bukan di tangan dokter. Bukan di tangan Rahmadi. Bukan di tangan uang. Bukan di tangan siapa pun."
"Jika Tuhan berkehendak, Ibu akan sembuh. Jika Tuhan berkehendak, Ibu akan pergi. Tapi apapun keputusan Tuhan, Ibu ingin kamu tetap tegar. Ibu ingin kamu tidak hancur. Ibu ingin kamu terus hidup."
"Ibu..."
"Kembalilah, Yan ." Ibu Ariyanti tersenyum. "Akang menunggumu. Adik-adikmu menunggumu. Dunia menunggumu. Jangan buang waktumu di sini."
Perempuan itu tersenyum. Senyum yang paling indah yang pernah Ariyanti lihat.
Lalu perlahan, ia menghilang. Seperti kabut yang mencair terkena sinar matahari.
Ariyanti terbangun.
Pertanda dari Tuhan
Ruang istirahat, pukul 05.00.
Ariyanti membuka mata. Cahaya matahari pagi mulai masuk dari sela-sela tirai jendela, menciptakan garis-garis tipis di lantai ruangan.
Ia merasa aneh.
Seperti ada beban yang terangkat dari dadanya. Seperti ada tangan yang meraih dan mengangkat semua rasa takut, semua kegelisahan, semua keputusasaan yang selama tiga hari ini menggerogoti hatinya.
Ia tidak lagi merasa putus asa.
Ia tidak lagi merasa takut.
Ia tidak lagi tergoda dengan tawaran Rahmadi.
Ia tidak lagi merasa sendirian.
"Aku akan bertahan," bisiknya dalam hati, dengan suara yang tidak lagi gemetar. "Aku tidak akan menyerah. Aku tidak akan mengkhianati cintaku. Aku akan percaya pada Tuhan. Aku akan percaya pada kekuatanku sendiri."
Ia bangkit dari dipan. Merapikan rambutnya yang acak-acakan. Membasuh wajahnya dengan air dari botol minum yang ia bawa. Menyegarkan mata yang sembab.
Lalu ia berjalan menuju ruang ICU.
Keajaiban Pagi Itu
Ruang ICU, pukul 05.30.
Ketika Ariyanti masuk, ia melihat ibunya sudah sadar.
Matanya terbuka. Tidak sayu seperti sebelumnya. Tapi jernih. Fokus. Seperti orang yang baru saja bangun dari tidur panjang dan segar kembali.
Bibirnya bergerak, mencoba bicara. Tidak ada suara yang keluar, tapi bentuk mulutnya jelas: "Yan ..."
"Ibu!" teriak Ariyanti.
Suster Aminah yang sedang memeriksa tensi ibunya tersenyum.
"Nak Ariyanti, ibumu menunjukkan perkembangan baik." Suster Aminah melepaskan manset tensi dari lengan Ibu Ariyanti. "Tekanan darahnya stabil. Oksigennya meningkat. Hasil laboratorium juga menunjukkan perbaikan. Dokter akan cek lagi nanti pagi, tapi sepertinya dia akan segera dipindahkan ke ruang rawat biasa."
Ariyanti menangis. Kali ini tangis bahagia.
"Ibu... Ibu dengar? Ibu akan sembuh!" Ariyanti meraih tangan ibunya. Tangannya hangat. Tidak dingin seperti sebelumnya.
Ibu Ariyanti tersenyum lemah. Matanya masih sayu, tapi ada cahaya di sana.
"Yan ..." suaranya lirih, nyaris tidak terdengar. "Ibu dengar... Ibu dengar seseorang berdoa... tadi malam... dengan sangat khusyuk... Ibu dengar... dari alam mimpi..."
"Ibu, itu aku." Ariyanti memeluk ibunya dengan hati-hati, menghindari selang-selang yang masih terpasang. "Aku berdoa di ruang keluarga. Aku sujud di lantai. Aku minta petunjuk pada Tuhan."
"Ibu tahu." Ibu Ariyanti mengusap rambut Ariyanti. "Ibu rasakan. Doamu sampai ke langit. Dan Tuhan mengirimkan malaikat... untuk menyembuhkan Ibu."
"Bu, aku janji." Ariyanti melepaskan pelukan. Ia menatap mata ibunya. "Aku tidak akan menyerah lagi. Aku akan terus berjuang. Untuk Ibu. Untuk adik-adikku. Untuk Akang. Untuk masa depanku."
Akang dan Bu Sumi Datang
RSUD Kendal, pukul 08.00.
Akang datang bersama Bu Sumi. Akang masih berjalan dengan tongkat. Kakinya masih sakit, masih belum pulih total. Tapi wajahnya berseri.
"Ari! Bagaimana kabar ibumu?" Akang langsung menuju Ariyanti.
"Akang, Ibu... Ibu sudah sadar!" Ariyanti memeluk Akang. "Dokter bilang kondisinya membaik. Dia akan dipindahkan ke ruang rawat biasa."
Akang memeluk Ariyanti. "Syukurlah... aku sudah berdoa semalaman. Aku tidak bisa tidur. Aku terus memikirkan kamu dan ibumu."
"Aku juga, Kang." Ariyanti melepaskan pelukan. "Aku berdoa di ruang keluarga. Aku hampir menyerah, Kang. Aku hampir mengambil tawaran Rahmadi. Aku hampir mengkhianati cintaku."
"Tapi kamu tidak." Akang menggenggam tangannya.
"Tapi Tuhan mengirimkan mimpi." Ariyanti tersenyum. "Ibu datang dalam mimpiku. Ibu bilang aku kuat. Ibu bilang aku tidak boleh menyerah."
"Kamu memang kuat, Ari." Akang mengusap air mata Ariyanti. "Aku tahu itu sejak pertama kali bertemu denganmu. Di SMP. Saat kamu membagi nasi bungkusmu untukku."
Bu Sumi yang ada di belakang mereka tersenyum. Matanya basah.
"Anak-anak, kalian luar biasa." Bu Sumi memeluk mereka berdua. "Aku bangga menjadi guru kalian. Aku bangga melihat perjuangan kalian. Aku bangga kalian tidak menyerah."
Kunjungan Herman
RSUD Kendal, siang itu.
Herman datang ke rumah sakit. Ia membawa buah-buahan dan susu untuk Ibu Ariyanti.
"Bu Siti, bagaimana perasaan Ibu?" Herman duduk di kursi di samping tempat tidur.
"Sudah lebih baik, Pak." Ibu Ariyanti tersenyum. "Terima kasih atas bantuannya. Tanpa Bapak, mungkin saya sudah tidak di sini."
"Sama-sama, Bu." Herman menunduk. "Ini tanggung jawab saya. Setidaknya, untuk memperbaiki kesalahan anak saya. Untuk menebus dosa-dosa yang telah ia perbuat."
"Nak Rahmadi... apakah dia masih keras kepala?" Ibu Ariyanti bertanya.
"Mulai melunak, Bu." Herman menghela napas. "Saya terus mengunjunginya di lapas. Saya ajarkan mengaji. Saya bacakan ayat-ayat suci. Saya ceritakan tentang masa lalu. Perlahan, ia mulai berubah."
"Semoga Allah memberi hidayah, Pak." Ibu Ariyanti menggenggam tangan Herman.
"Aamiin, Bu." Herman mengusap air matanya.
Ariyanti Bercerita pada Akang
Halaman RSUD Kendal, sore itu.
Ariyanti dan Akang duduk di bangku taman rumah sakit. Pohon rindang menaungi mereka. Angin sore berhembus sejuk.
"Kang, aku hampir menerima tawaran Rahmadi." Ariyanti menggenggam tangan Akang.
Akang terdiam. "Aku tahu."
"Kamu tahu?" Ariyanti menatap Akang.
"Aku tahu karena aku juga hampir menyerah." Akang menggenggam balik. "Saat kamu tidak meneleponku selama dua hari, aku berpikir mungkin kamu sudah memilih untuk meninggalkanku. Mungkin kamu sudah menerima tawaran Rahmadi."
"Maaf, Kang." Ariyanti menunduk.
"Jangan minta maaf." Akang mengangkat dagu Ariyanti. "Aku tidak marah. Aku justru kagum."
"Kagum kenapa?"
"Karena kamu lebih kuat dari yang aku kira." Akang tersenyum. "Kamu menolak tawaran yang sangat menggiurkan. Kamu memilih ibumu dan cintaku di saat yang bersamaan. Itu tidak mudah, Ari. Itu sangat berat."
Ariyanti tersenyum. "Aku tidak kuat, Kang. Tuhan yang kuat. Aku hanya kanal-Nya. Aku hanya menjalankan apa yang Ia perintahkan."
Sekuntum Bunga dari Akang
RSUD Kendal, sore itu juga.
Akang memetik sekuntum bunga dari taman rumah sakit. Bukan bunga mahal yang dijual di toko bunga. Hanya bunga kertas, yang tumbuh liar di pinggir jalan, yang biasa dianggap gulma oleh pengunjung rumah sakit.
"Ini untukmu, Ari." Akang menyerahkan bunga itu.
"Bunga? Untuk apa?" Ariyanti menerima bunga itu.
"Sebagai tanda terima kasih." Akang duduk di samping Ariyanti. "Karena kamu masih di sini. Karena kamu tidak pergi. Karena kamu bertahan. Karena kamu tidak memilih Rahmadi."
Ariyanti menerima bunga itu. Matanya berkaca-kaca.
"Ini bunga pertama yang benar-benar aku terima dari laki-laki yang aku cintai."
"Bukan mawar seratus tangkai dari Rahmadi?" Akang tersenyum nakal.
Ariyanti tertawa. "Bunga Rahmadi busuk di dalam. Bunga ini wangi karena ketulusan."
Mereka berdua tersenyum.
Ibu Ariyanti Mulai Bicara Panjang
Ruang rawat biasa, beberapa hari kemudian.
Ibu Ariyanti dipindahkan ke ruang rawat biasa. Kondisinya terus membaik setiap hari. Ia sudah bisa duduk di tempat tidur tanpa pusing. Ia sudah bisa makan sendiri tanpa bantuan. Ia sudah bisa bicara lebih panjang tanpa kehabisan napas.
"Yan , Ibu dengar kau hampir menerima tawaran Rahmadi." Ibu Ariyanti menatap Ariyanti.
"Bu, itu sudah lewat." Ariyanti menyuapi ibunya bubur. "Aku sudah memutuskan untuk tidak. Aku sudah bilang tidak pada utusan Rahmadi."
"Ibu bangga." Ibu Ariyanti menggenggam tangan Ariyanti. "Tapi Ibu juga ingin bilang. Seandainya kau menerima, Ibu tidak akan marah."
"Kenapa, Bu?" Ariyanti mengernyit.
"Karena Ibu tahu kau melakukannya untuk Ibu." Ibu Ariyanti tersenyum. "Kau melakukannya untuk menyelamatkan Ibu. Dan Ibu tidak akan pernah menyalahkan anak Ibu yang berbuat sesuatu demi ibunya."
"Tapi Bu, aku tidak tega mengkhianati Akang." Ariyanti menunduk.
"Kau tidak mengkhianati siapa pun, Yan ." Ibu Ariyanti mengangkat dagu Ariyanti. "Kau hanya terdesak. Kau hanya tidak punya pilihan. Dan orang yang terdesak kadang harus memilih jalan yang tidak ideal."
"Yang penting, kau tidak menjadi jahat." Ibu Ariyanti melanjutkan. "Yang penting, kau tetap menjadi Ariyanti yang Ibu kenal. Baik hati. Jujur. Tidak mudah menyerah."
Ariyanti Menulis Surat untuk Tuhan
RSUD Kendal, malam itu.
Sebelum tidur, Ariyanti menulis surat untuk Tuhan.
Ia tidak tahu apakah surat ini akan sampai. Tidak tahu apakah ada yang akan membacanya. Tidak tahu apakah Tuhan menerima surat dari hamba-Nya yang ditulis di kertas buram dengan pulpen murah.
Tapi ia butuh menuangkan isi hatinya. Ia butuh menuliskan apa yang ia rasakan. Ia butuh mengucapkan terima kasih dengan cara yang paling tulus.
Di atas kertas yang diambil dari map catatan medis ibunya, dengan pulpen pinjaman dari perawat, ia mulai menulis.
"Ya Allah, terima kasih untuk mimpi itu. Terima kasih untuk ibu yang masih hidup. Terima kasih untuk Akang yang setia. Terima kasih untuk Bu Sumi, Pak Lurah, Pak Dullah, Marni, Siti, dan semua orang yang membantu kami."
"Aku tahu aku bukan anak yang baik. Aku sering marah. Aku sering putus asa. Aku sering hampir menyerah. Aku bahkan hampir menerima tawaran Rahmadi, hampir mengkhianati cintaku, hampir menjadi orang yang aku benci."
"Tapi Engkau tidak pernah meninggalkanku. Engkau selalu ada. Di setiap langkahku. Di setiap air mataku. Di setiap doaku."
"Ajari aku untuk selalu bersyukur, Ya Allah. Ajari aku untuk selalu percaya. Ajari aku untuk tidak takut pada masa depan. Ajari aku untuk menjadi lebih baik."
"Amin."
Ia melipat surat itu, lalu menyimpannya di dalam buku hariannya. Suatu hari, jika ia punya anak, ia akan menunjukkan surat ini pada mereka. Agar mereka tahu bahwa ibunya pernah berjuang. Bahwa ibunya pernah hampir menyerah. Tapi Tuhan tidak pernah meninggalkannya.
Akang Berjanji
RSUD Kendal, pagi berikutnya.
Sebelum pulang ke Tegorejo, Akang berjanji pada Ariyanti.
"Ari, setelah ibumu sembuh, kita akan fokus pada sekolah." Akang menggenggam tangan Ariyanti. "Kita akan buktikan bahwa anak miskin dari desa kecil ini bisa meraih mimpi."
"Kamu yakin kita bisa, Kang?" Ariyanti menatap Akang.
"Aku yakin." Akang mengangguk. "Karena kita sudah melewati yang terburuk. Fitnah. Kebakaran. Kecelakaan. Koma. Penculikan. Sakit. Kemiskinan. Pilihan sulit. Tidak ada lagi yang bisa menghentikan kita."
"Kecuali kematian." Ariyanti tersenyum pahit.
"Jangan bicara seperti itu, Ari." Akang menggenggam lebih erat.
"Aku hanya realistis, Kang." Ariyanti menghela napas.
"Kalau itu terjadi, aku akan tetap berjuang." Akang menatap Ariyanti. "Untukmu. Untuk mimpi kita. Untuk semua yang belum sempat kita raih."
Ibu Ariyanti Pulang
RSUD Kendal, akhir Juli 1998.
Dokter mengizinkan Ibu Ariyanti pulang. Kondisinya sudah stabil. Tidak ada lagi demam. Tidak ada lagi batuk. Tidak ada lagi sesak napas. Ia masih harus kontrol rutin setiap dua minggu sekali ke dokter paru. Ia masih harus minum obat setiap hari selama tiga bulan ke depan.
Tapi setidaknya, ia tidak perlu lagi dirawat di rumah sakit.
Ariyanti mengurus administrasi dengan bantuan Bu Sumi dan Pak Lurah. Berkas-berkas tebal diisi, ditandatangani, diserahkan ke petugas.
Herman juga ikut membantu. Ia melunasi kekurangan biaya yang tidak tercakup oleh bantuan sebelumnya.
"Pak Herman, kami tidak tahu harus membalas kebaikan Bapak." Ariyanti menunduk dalam-dalam.
"Balas dengan menjadi orang sukses, Nak." Herman menepuk pundak Ariyanti. "Balas dengan membahagiakan ibumu. Balas dengan menjaga Akang. Balas dengan mendoakan saya dan Rahmadi."
"Kami akan selalu mendoakan, Pak." Ariyanti mengangguk.
Ariyanti dan Akang di Pohon Randu
Jalan Randu Gembyang, senja itu.
Setelah lama tidak berkunjung, setelah berminggu-minggu hanya bertemu di ruang rumah sakit yang dingin, akhirnya Ariyanti dan Akang bisa duduk di bawah pohon randu tertua lagi.
"Kang, rasanya baru kemarin kita di sini." Ariyanti bersandar pada batang pohon.
"Iya." Akang duduk di sampingnya. "Tapi banyak yang sudah berubah."
"Apa yang berubah?" Ariyanti menatap langit jingga.
"Kita." Akang menggenggam tangannya. "Kita lebih dewasa. Lebih kuat. Lebih sabar. Lebih sadar bahwa hidup tidak selalu mudah, bahwa mimpi tidak selalu indah, bahwa cinta tidak selalu romantis."
"Tapi kita masih di sini." Ariyanti menatap Akang.
"Iya." Akang membalas tatapannya. "Kita masih di sini. Dan kita akan terus di sini. Tidak ada yang bisa memisahkan kita."
Mereka berpegangan tangan.
Langit jingga di atas mereka. Warna yang sama, setiap senja, tidak pernah berubah. Seperti cinta mereka. Tidak berubah meskipun badai datang silih berganti.
Angin berembus lembut. Membawa aroma daun randu yang khas. Aroma yang mengingatkan mereka pada pertemuan pertama, pada paYan g bocor, pada janji di bawah pohon ini.
Daun-daun randu berguguran satu per satu. Jatuh ke tanah. Menjadi saksi bisu dari janji yang mereka ucapkan.
Surat dari Rahmadi
Rumah Bu Sumi, Agustus 1998.
Bu Sumi menerima surat dari Rahmadi. Surat itu diantar langsung oleh Herman, yang datang dengan wajah haru.
"Bu Sumi, ini untuk Ibu." Herman menyerahkan amplop coklat.
Bu Sumi membuka amplop itu. Tangannya tidak gemetar. Ia sudah tidak takut pada Rahmadi. Ia sudah memaafkan.
"Bu Sumi..."
"Saya menulis surat ini bukan untuk meminta maaf. Karena saya tahu maaf tidak cukup. Maaf tidak bisa mengembalikan semua yang sudah saya rusak. Maaf tidak bisa menyembuhkan luka yang sudah saya buat."
"Tapi saya ingin Ibu tahu. Saya mulai mengerti. Saya mulai mengerti mengapa Ariyanti memilih Akang. Bukan karena Akang lebih tampan. Bukan karena Akang lebih kaya. Tapi karena Akang adalah orang yang baik. Akang tidak pernah menyakiti siapa pun. Akang berjuang dengan cara yang benar."
"Saya mulai mengerti mengapa Ibu membela mereka. Karena Ibu adalah guru yang sejati. Ibu tidak hanya mengajar, tapi juga memperjuangkan murid-murid Ibu. Ibu tidak hanya memberi nilai, tapi juga memberi hati."
"Saya mulai mengerti mengapa Pak Dullah berani melapor ke polisi. Karena ia lebih memilih kebenaran daripada keselamatan dirinya sendiri. Ia lebih memilih mati terhormat daripada hidup dalam ketakutan."
"Saya tidak akan meminta Ibu memaafkan saya. Tapi saya akan berusaha menjadi lebih baik. Setidaknya, untuk ayah kandung saya, Herman. Satu-satunya orang yang tidak pernah meninggalkan saya."
"Dari Rahmadi, mantan murid Ibu yang paling bermasalah."
Bu Sumi menangis membaca surat itu.
"Akhirnya..." bisiknya. "Ada secercah harapan untukmu, Nak. Ada secercah cahaya di tengah kegelapanmu."
Pelangi di Kaki Langit Tegorejo
Tegorejo, senja terakhir bulan Juli 1998.
Ariyanti, Akang, Ibu Ariyanti yang sudah cukup sehat untuk berjalan-jalan kecil, Rizki dan Fathur yang berlarian di sekitar mereka, Bu Sumi, Pak Dullah, Pak Lurah, Marni dengan kameranya, Siti dengan Rizki di gendongan, dan Herman, semuanya berkumpul di bawah pohon randu tertua.
Seperti sebuah keluarga besar.
"Ini pertama kalinya kita semua berkumpul di sini." Bu Sumi tersenyum.
"Untuk merayakan apa, Bu?" tanya Marni sambil mengatur fokus kameranya.
"Untuk merayakan kehidupan." Bu Sumi menatap mereka satu per satu. "Untuk merayakan kemenangan kebenaran. Untuk merayakan bahwa kita masih di sini. Masih bersama. Masih berjuang."
Marni memotret mereka semua. Satu klik. Abadi.
Mereka semua tersenyum.
Di kejauhan, di kaki langit Tegorejo, sebuah pelangi sempurna membentang. Dari ujung desa ke ujung desa lainnya. Warna-warninya cerah. Merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu.
Seperti janji Tuhan.
Setelah kesulitan, pasti ada kemudahan.
Setelah badai, pasti ada pelangi.
Setelah air mata, pasti ada senyum.
Dan untuk Ariyanti, pelangi itu adalah jawaban dari doanya di ruang ICU. Jawaban yang tidak perlu diucapkan dengan kata-kata. Jawaban yang terlihat dengan mata kepala sendiri. Jawaban yang bisa dirasakan di hatinya.
Tuhan tidak pernah mengabaikan hamba-Nya yang bersujud dengan tulus.
Tuhan tidak pernah menolak doa hamba-Nya yang menangis di tengah malam.
Tuhan selalu ada. Di mana pun. Kapan pun. Dalam keadaan apa pun.
BAB 26
AKANG TAK MENYERAH
Meskipun kakinya masih dalam gips, Akang datang ke rumah sakit membawa hasil panen sawah tetangga yang dibelinya. Ia memberikan semua uang tabungannya untuk ibu Ariyanti.
RSUD Kendal – awal Agustus 1998 – Seminggu setelah Ibu Ariyanti dipindahkan ke ruang rawat biasa
Kabar baik terus berdatangan. Ibu Ariyanti sudah sadar, sudah bisa makan sendiri, dan sudah mulai bisa berjalan pelan dengan bantuan. Dokter memperkirakan ia bisa pulang dalam dua minggu jika kondisinya terus membaik.
Tapi di balik kabar baik itu, ada masalah yang belum terselesaikan: biaya rumah sakit.
Meskipun Herman sudah membantu sebagian, tagihan masih tersisa hampir empat juta rupiah. Ibu Ariyanti butuh obat-obatan untuk tiga bulan ke depan. Keluarga Ariyanti juga butuh uang untuk hidup sehari-hari.
Ariyanti tidak cerita pada siapa pun. Ia tidak ingin membuat orang lain khawatir. Tapi Akang bukan orang bodoh. Ia bisa membaca kegelisahan di mata Ariyanti setiap kali suster menyerahkan tagihan harian.
"Ari tidak punya uang," pikir Akang. "Aku harus membantu. Tapi aku juga tidak punya uang."
Lalu ia ingat: sawah tetangganya, Pak Karto, sedang panen raya. Pak Karto sudah tua dan tidak punya anak. Ia kesulitan memanen sendiri.
Akang memutuskan untuk bekerja di sawah Pak Karto. Meskipun kakinya masih dalam gips. Meskipun dokter melarangnya beraktivitas berat. Meskipun ibunya melarangnya.
"Aku tidak bisa diam. Ariyanti butuh aku. Ibu Ariyanti butuh aku."
Dan dengan semangat yang membara, Akang berangkat ke sawah.
Akang Memutuskan
Dusun Cegunan – rumah Akang, pukul 05.00 pagi
Akang terbangun lebih pagi dari biasanya. Kakinya masih sakit. Gips yang membungkus kaki kanannya dari pangkal paha hingga ujung jari kaki terasa berat dan panas. Tapi ia tidak peduli.
Ia bergerak pelan ke dapur. Ibu Akang sudah bangun dan sedang memasak bubur.
"Kang, kamu sudah bangun? Masih pagi."
"Aku mau ke sawah, Bu."
Ibu Akang terkejut. "Sawah? Dengan kaki gips?"
"Aku bisa, Bu. Pak Karto butuh bantuan panen. Aku akan dibayar."
"Kang, dokter bilang kamu tidak boleh membebani kakimu. Bisa kambuh lagi!"
"Ibu, Ariyanti butuh uang. Ibunya masih di rumah sakit. Biaya menumpuk. Aku tidak bisa diam."
Ibu Akang menangis. "Kang, Ibu tidak tega melihatmu seperti ini."
"Aku tega, Bu. Untuk Ariyanti, aku tega."
Ibu Akang memeluk anaknya. "Kamu anak baik, Kang. Ibu bangga. Tapi janji, jangan memaksakan diri."
"Aku janji, Bu."
Akang sarapan bubur hangat, lalu bergegas menuju sawah Pak Karto dengan tongkat di tangan.
Di Sawah Pak Karto
Sawah di pinggir Jalan Randu Gembyang – pukul 06.00
Pak Karto, seorang petani tua dengan kulit legam oleh terik matahari, sedang membungkuk di sawahnya. Padi sudah menguning, siap dipanen. Tapi tubuhnya sudah tidak sekokoh dulu.
"Pak Karto!" panggil Akang dari pinggir sawah.
"Nak Akang? Kamu kok ke sini? Kakimu belum sembuh."
"Saya mau bantu panen, Pak."
"Tidak bisa, Nak. Kamu masih sakit."
"Saya bisa, Pak. Saya janji tidak akan memaksakan diri."
Pak Karto menghela napas. Ia tahu Akang anak keras kepala. Tidak ada gunanya melarang.
"Baiklah. Tapi jangan angkat beban berat. Cukup potong padi dan tata di pinggir."
"Siap, Pak."
Akang melepas tongkatnya, lalu duduk di atas lesung kayu yang ditaruh di pinggir sawah. Dari posisi duduk, ia mulai memotong padi dengan sabit kecil.
Gerakannya lambat. Tidak sekencang petani lain. Tapi ia telaten.
Keringat mulai mengucur deras. Rasa sakit di kakinya menjalar hingga ke pinggang. Tapi ia tidak berhenti.
"Untuk Ariyanti," bisiknya setiap kali ingin menyerah.
Hari Pertama yang Melelahkan
Sawah Pak Karto – pukul 11.00
Matahari semakin tinggi. Panas terik membakar kulit. Akang sudah memotong hampir setengah dari luas sawah Pak Karto. Tangannya melepuh. Punggungnya terasa seperti patah.
"Nak Akang, istirahatlah!" teriak Pak Karto dari kejauhan.
"Sebentar lagi, Pak. Ini tinggal sedikit."
"Kamu anak keras kepala."
"Iya, Pak. Saya tahu."
Akang terus bekerja hingga pukul 12.00. Baru setelah itu ia beristirahat di bawah pohon randu di pinggir sawah. Ia minum air kelapa yang disediakan Pak Karto.
"Nak, ini upahmu untuk hari ini."
Pak Karto memberikan uang dua puluh ribu rupiah.
"Terima kasih, Pak."
"Kamu mau pakai uangnya untuk apa?"
"Untuk biaya rumah sakit ibu Ariyanti, Pak."
"Anak itu Ariyanti? Yang jadi pacarmu?"
"Iya, Pak."
"Kamu baik, Nak. Semoga Tuhan membalas kebaikanmu."
Akang Terus Bekerja
Hari-hari berikutnya
Setiap hari, Akang datang ke sawah Pak Karto. Pukul 06.00 pagi hingga pukul 12.00 siang. Kadang dilanjutkan sore hari jika cuaca mendukung.
Kakinya semakin sakit. Gipsnya mulai longgar karena keringat dan gerakan yang terus-menerus. Tapi Akang tidak mengeluh.
Ia mengumpulkan uang sedikit demi sedikit.
- Hari pertama: Rp20.000
- Hari kedua: Rp25.000
- Hari ketiga: Rp20.000
- Hari keempat: Rp30.000 (karena panen lebih banyak)
- Hari kelima: Rp25.000
- Hari keenam: Rp20.000
- Hari ketujuh: Rp15.000 (karena hujan)
Total tujuh hari: Rp155.000.
Jauh dari empat juta yang dibutuhkan.
Tapi Akang tidak menyerah.
Ia mencari pekerjaan lain setelah panen selesai. Membantu membersihkan kandang ayam Pak RT, membantu mengangkat barang di pasar Pegandon, membantu mengecat rumah Bu Lurah.
Semua ia lakukan. Dengan kaki gips.
Ibu Akang Khawatir
Rumah Akang – malam harinya
Ibu Akang melihat anaknya pulang dalam keadaan lelah. Wajahnya kusam. Badannya kurus. Gipsnya kotor dan mulai retak di beberapa bagian.
"Kang, kamu harus ke dokter. Gipsmu perlu diganti."
"Tidak usah, Bu. Mahal."
"Kamu mau kakimu tidak sembuh? Kamu mau lumpuh selamanya?"
"Aku tidak peduli, Bu. Yang penting Ariyanti bisa bayar rumah sakit."
"Kang, Ibu tidak bisa melihatmu seperti ini. Ibu lebih rela berhutang ke sana kemari daripada melihat anak Ibu menderita."
"Ibu, ini pilihanku. Biarkan aku yang bertanggung jawab."
Ibu Akang menangis. Ia tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Ariyanti Tidak Tahu
RSUD Kendal – beberapa hari kemudian
Ariyanti tidak tahu bahwa Akang bekerja keras untuk membantu biaya rumah sakit ibunya. Akang tidak pernah cerita. Ia hanya datang berkunjung setiap dua hari sekali, membawa buah-buahan murah dari pasar.
"Ari, kabar ibumu bagaimana?"
"Sudah lebih baik, Kang. Dokter bilang minggu depan mungkin sudah bisa pulang."
"Syukurlah."
"Kang, kenapa wajahmu kurus? Kamu sakit?"
"Tidak. Aku hanya... kurang tidur."
"Kamu jaga kesehatan. Kamu masih dalam masa pemulihan."
"Iya, Ari. Aku janji."
Ariyanti tidak curiga. Ia terlalu sibuk dengan urusan ibunya.
Pak Karto Cerita pada Bu Sumi
SMAN I Pegandon – ruang guru
Pak Karto datang ke sekolah untuk mengurus administrasi tanahnya. Ia bertemu Bu Sumi di koridor.
"Bu Sumi, saya mau cerita."
"Cerita apa, Pak?"
"Akang, anak dari Dusun Cegunan itu, dia anak baik. Dia bantu saya panen sawah meskipun kakinya masih gips."
Bu Sumi terperanjat. "Apa? Gips? Dia masih dalam masa pemulihan!"
"Iya. Tapi katanya dia butuh uang untuk biaya rumah sakit ibu Ariyanti."
Bu Sumi terdiam. Matanya berkaca-kaca.
"Akang, kau rela mengorbankan kesehatanku demi membantu Ariyanti. Kau benar-benar luar biasa."
Bu Sumi Memberi Tahu Ariyanti
RSUD Kendal – sore itu
Bu Sumi datang ke rumah sakit dengan kabar yang membuat Ariyanti terkejut.
"Ari, kamu tahu bahwa Akang bekerja di sawah Pak Karto dengan kaki gips?"
Ariyanti memucat. "Apa? Tidak. Aku tidak tahu."
"Ia bekerja setiap hari, dari pagi hingga siang. Kadang sampai sore. Ia mengumpulkan uang untuk membantu biaya rumah sakit ibumu."
"Tapi Kang... kakinya belum sembuh. Dokter melarangnya beraktivitas berat."
"Ia tahu. Tapi ia tetap melakukannya."
Ariyanti menangis. "Kenapa dia tidak bilang padaku?"
"Karena ia tidak ingin kamu khawatir."
"Dia bodoh! Dia bisa cacat seumur hidup!"
"Bukan bodoh, Ari. Itu namanya cinta."
Ariyanti ke Sawah
Sawah Pak Karto – keesokan harinya, pukul 09.00
Ariyanti meninggalkan ibunya sejenak. Ia meminta Marni dan Siti untuk menjaga. Ia naik bus kecil menuju Tegorejo, lalu berjalan kaki ke sawah Pak Karto.
Dari kejauhan, ia melihat sesosok laki-laki kurus dengan kaus oblong lusuh sedang duduk di pinggir sawah, memotong padi dengan sabit. Kaki kanannya terbungkus gips kotor dan retak.
"Akang!" teriak Ariyanti.
Akang menoleh. Wajahnya terkejut.
"Ari? Kamu kok di sini? Siapa yang jaga ibumu?"
"Aku titip ke Marni. Kang, kenapa kamu tidak bilang? Kenapa kamu bekerja di sini dengan kaki gips?"
"Ari, aku..."
"Jangan bohong! Bu Sumi sudah cerita semuanya!"
Akang menunduk. "Ari, aku tidak mau kamu khawatir."
"Kang, kamu bisa cacat seumur hidup!"
"Aku rela, Ari. Asalkan ibumu sembuh. Asalkan kamu tidak terbebani biaya."
Ariyanti memeluk Akang. Tangisnya pecah. "Kang, kamu ini gila."
"Mungkin. Tapi aku gila karenamu."
Ariyanti Melarang Akang
Sawah Pak Karto – siang itu
"Kang, mulai besok kamu berhenti. Jangan kembali ke sawah."
"Ari, uangnya belum cukup."
"Aku tidak peduli. Aku lebih baik berhutang seumur hidup daripada melihat kamu cacat."
"Ari..."
"Kang, aku sudah kehilangan ayah. Aku hampir kehilangan ibu. Aku tidak mau kehilangan kamu juga."
Akang terdiam. Ia melihat air mata di mata Ariyanti.
"Baiklah. Aku berhenti."
"Janji?"
"Janji."
Mereka berpelukan di pinggir sawah. Pak Karto yang melihat dari kejauhan tersenyum.
"Anak muda zaman sekarang beda. Pantang menyerah."
Akang Menyerahkan Tabungan
RSUD Kendal – keesokan harinya
Akang datang ke rumah sakit dengan membawa sebuah amplop coklat. Isinya: uang tabungan hasil kerjanya selama dua minggu, totalnya Rp 850.000.
Ia juga membawa hasil panen sawah yang ia beli dari Pak Karto dengan harga murah—karena Pak Karto kasihan padanya.
"Nak Akang, ini hasil panen saya. Saya jual murah untukmu," kata Pak Karto waktu itu.
"Terima kasih, Pak. Ini uangnya."
"Jangan. Ambil saja. Ini hadiah untuk ibumu Ariyanti."
"Tapi Pak..."
"Kamu anak baik. Tuhan akan membalasmu."
Akang membawa karung beras dan beberapa ikat sayur ke rumah sakit.
"Ari, ini untuk ibumu. Beras dan sayur dari sawah Pak Karto."
Ariyanti terharu. "Kang, ini semua untuk Ibu?"
"Iya. Dan ini uang tabunganku. Untuk biaya rumah sakit."
Akang menyerahkan amplop itu pada Ariyanti.
Ariyanti membukanya. Tangannya gemetar.
"Kang... ini semua hasil keringatmu? Dengan kaki gips?"
"Iya. Aku tidak mau kamu susah sendirian."
Ariyanti menangis. "Kang, aku tidak tahu harus bilang apa."
"Bilang terima kasih saja. Itu sudah cukup."
Ibu Ariyanti Terharu
Ruang rawat biasa – sore itu
Ibu Ariyanti mendengar cerita dari Ariyanti tentang pengorbanan Akang. Air matanya mengalir.
"Nak Akang... kemari."
Akang mendekat. "Ada apa, Bu?"
"Tangan Ibu."
Akang mengulurkan tangannya. Ibu Ariyanti menggenggamnya erat.
"Nak Akang, Ibu minta maaf. Dulu Ibu pernah melarang Ariyanti dekat denganmu. Ibu salah. Kamu anak yang baik. Ibu sekarang merestui kalian berdua."
"Ibu... terima kasih."
"Jangan berterima kasih. Kamu yang pantas diberi terima kasih. Kamu rela mengorbankan kesehatan demi membantu Ibu."
"Aku melakukan ini karena aku sayang Ariyanti, Bu. Dan aku sayang Ibu karena Ibu adalah ibunya."
Ibu Ariyanti memeluk Akang.
Dari pintu ruangan, Bu Sumi, Pak Lurah, Marni, dan Siti menyaksikan dengan mata berkaca-kaca.
Rizki dan Fathur
RSUD Kendal – malam itu
Adik-adik Ariyanti, Rizki (10 tahun) dan Fathur (7 tahun), datang menjenguk ibunya bersama tetangga.
"Mas Akang!" teriak Rizki.
"Ya, Rizki?"
"Ini untuk Mas Akang."
Rizki memberikan sebuah gambar. Gambar seorang laki-laki dengan tongkat di tangan, berdiri di samping seorang perempuan yang terbaring di tempat tidur.
"Aku gambar Mas Akang yang jagain Ibu."
Akang tersenyum. "Wah, bagus ini. Mas Akang simpan ya."
"Mas Akang pahlawan," kata Fathur polos.
Akang mengusap kepala Fathur. "Bukan pahlawan. Hanya manusia biasa yang berusaha."
Herman Kembali Membantu
RSUD Kendal – beberapa hari kemudian
Herman datang lagi dengan amplop berisi uang.
"Bu Siti, ini untuk kekurangan biaya rumah sakit."
"Pak Herman, kami sudah terlalu banyak berhutang budi."
"Tidak ada hutang, Bu. Ini hadiah dari saya sebagai sesama manusia."
"Tapi..."
"Bu Siti, saya dulu tidak bisa membantu Hj. Fatimah ketika ia sakit. Saya tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Biarkan saya membantu Ibu."
Ibu Ariyanti menangis. "Terima kasih, Pak Herman. Semoga Allah membalas kebaikan Bapak."
Akang ke Dokter
Puskesmas Pegandon – seminggu kemudian
Ibu Akang memaksa Akang untuk memeriksakan kakinya ke dokter. Dokter yang memeriksa menghela napas panjang.
"Akang, gipsmu sudah retak di beberapa tempat. Kakimu bengkak. Kamu harus istirahat total setidaknya satu bulan."
"Dokter, apakah ada kerusakan permanen?"
"Belum tahu. Kita lihat dari hasil rontgen. Tapi kalau kamu terus memaksakan diri, bisa saja."
Akang menunduk. "Maaf, Dok. Saya tidak bisa diam."
"Kamu harus. Kalau tidak, kamu tidak akan bisa berjalan normal selamanya."
Ariyanti Menemani Akang ke Dokter
RSUD Kendal – poli ortopedi
Ariyanti memaksa ikut saat Akang kontrol ke dokter spesialis ortopedi di RSUD Kendal.
Dokter Priyanto memeriksa hasil rontgen.
"Tulangnya masih menyambung, tapi ada peradangan di jaringan lunak. Ini akibat aktivitas berlebihan. Akang, kamu harus istirahat total. Tidak boleh bekerja berat selama dua bulan."
"Dokter, apakah dia bisa sembuh total?" tanya Ariyanti cemas.
"Bisa. Asalkan disiplin. Jangan memaksakan diri."
"Terima kasih, Dok."
Ariyanti menatap Akang. "Kamu dengar? Jangan memaksakan diri."
"Aku coba, Ari."
"Bukan coba. Harus."
Akang Bersyukur
Perjalanan pulang dari RSUD Kendal
Di dalam bus, Ariyanti dan Akang duduk bersebelahan.
"Kang, kamu tahu? Aku hampir putus asa waktu ibu sakit. Aku hampir menerima tawaran Rahmadi."
"Aku tahu."
"Tapi aku tidak jadi. Karena ada kamu."
"Ari..."
"Aku tidak tahu bagaimana jika suatu hari nanti kita berpisah. Tapi yang aku tahu, saat ini, aku tidak ingin kehilangan kamu."
Kepala Ariyanti bersandar di pundak Akang.
Bus melaju pelan menyusuri Jalan Raya Pegandon.
Langit sore berwarna jingga.
Ibu Ariyanti Pulang
RSUD Kendal – akhir Agustus 1998
Setelah hampir dua bulan dirawat, Ibu Ariyanti akhirnya diperbolehkan pulang. Dokter bilang kondisinya sudah stabil, meskipun masih harus kontrol rutin dan minum obat setiap hari.
Ariyanti mengurus administrasi. Total biaya rumah sakit: Rp9.750.000.
Dengan bantuan Herman (Rp5.000.000), Bu Sumi (Rp1.000.000), Pak Lurah (Rp500.000), sumbangan warga (Rp1.500.000), hasil jual barang Ariyanti (Rp500.000), dan tabungan Akang (Rp850.000), kekurangan hanya Rp400.000.
Pak Karto, yang ikut menjemput, menyumbang Rp400.000.
"Untuk ibu Ariyanti. Semoga cepat sembuh."
Ibu Ariyanti menangis. "Terima kasih, Pak Karto. Saya tidak tahu harus membalas."
"Balas dengan doa, Bu. Itu sudah cukup."
Sambutan di Rumah
Dusun Kersan – rumah Ariyanti, sore itu
Tetangga-tetangga sudah berkumpul di rumah Ariyanti. Mereka memasang bendera plastik kecil di pagar—meskipun tidak ada acara apa pun, mereka ingin menyambut kepulangan Ibu Ariyanti dengan suka cita.
"Ibu! Ibu pulang!" teriak Rizki dan Fathur berlarian menyambut.
Ibu Ariyanti tersenyum. Ia memeluk kedua anaknya erat-erat.
"Akhirnya Ibu bisa pulang."
"Kami kangen, Bu."
"Ibu juga kangen."
Ariyanti, Akang, Bu Sumi, Pak Lurah, Marni, Siti, Pak Dullah, dan Pak Karto ikut masuk ke rumah.
Rumah sederhana itu terasa penuh oleh kebahagiaan.
Ucapan Terima Kasih untuk Akang
Rumah Ariyanti – malam itu
Setelah semua tamu pulang, Ibu Ariyanti memanggil Akang yang hendak pamit.
"Nak Akang, tunggu dulu."
"Ada apa, Bu?"
"Ibu mau minta maaf. Dulu Ibu pernah melarang Ariyanti dekat denganmu. Ibu menganggapmu anak bermasalah. Ibu hanya mendengar gosip tetangga tanpa mau mengenalmu lebih jauh."
"Ibu, itu sudah lama. Saya tidak pernah marah."
"Tapi Ibu harus minta maaf. Kamu anak baik. Ibu sekarang tahu."
Akang tersenyum. "Terima kasih, Bu."
"Nak Akang, suatu hari nanti jika Tuhan mempertemukan kalian dalam ikatan yang lebih serius, Ibu akan merestui."
Ariyanti yang mendengar dari balik pintu tersenyum.
"Akhirnya... Ibu merestui kami."
BAB 27
PERSELINGKUHAN RAHMADI
Siti hamil. Rahmadi panik. Ia menyuruh Siti aborsi. Siti menolak. Rahmadi lalu meninggalkannya.
Tegorejo, September 1998 – Dua minggu setelah Ibu Ariyanti pulang dari rumah sakit
Ketenangan mulai menyapa kembali setelah badai panjang berlalu. Ibu Ariyanti berangsur pulih. Akang disiplin menjalani terapi. Ariyanti kembali fokus pada sekolah. Namun, di balik kebahagiaan yang mulai tumbuh, ada satu luka yang tersembunyi.
Siti Fatimah.
Gadis yang dulu menjadi mata-mata Rahmadi, yang kemudian bertobat dan menjadi saksi kunci, kini menyimpan rahasia yang mengerikan.
Ia hamil.
Bukan dari pacar, bukan dari laki-laki yang mencintainya. Tapi dari Rahmadi, manusia yang sudah berada di balik jeruji besi, yang tidak mungkin bertanggung jawab, yang bahkan tidak akan pernah mau mengakui anaknya.
Siti mengetahui kehamilannya saat ia jatuh pingsan di sekolah. Tes kehamilan yang ia lakukan diam-diam di kamar mandi rumah Bu Sumi menunjukkan dua garis merah.
"Aku hamil."
Tangannya gemetar. Lututnya lemas. Ia hampir pingsan lagi.
"Aku anak haram. Aku akan melahirkan anak haram."
Ia tidak tahu harus cerita pada siapa. Ia malu. Ia takut. Ia juga tidak tega membunuh janin yang tidak berdosa.
Dan sementara Siti bergulat dengan kenyataan yang menghancurkan, Rahmadi—yang mengetahui kabar ini dari Danu sebelum Danu tertangkap—hanya tertawa sinis.
"Bunuh saja anak itu. Aku tidak mau punya anak haram."
Itulah ultimatum Rahmadi.
Dan Siti harus memilih: mematuhi atau dihancurkan.
Siti Pingsan di Sekolah
SMAN I Pegandon – jam istirahat pertama, pukul 09.30
Siti sedang berdiri di kantin, mengantre makanan, ketika tiba-tiba pandangannya berkunang-kunang. Dunia berputar. Suara-suara di sekelilingnya menjadi sayup-sayup.
"Siti! Siti!" teriak Marni yang berdiri di belakangnya.
Siti jatuh. Tubuhnya lemas di lantai kantin yang kotor. Para siswa berteriak kaget.
Marni dan Ariyanti berlari menghampiri.
"Siti! Kamu kenapa? Bangun!"
Siti tidak merespon.
"BANTU! CEPAT PANGGIL GURU!"
Bu Sumi yang sedang berada di kantin berlari mendekat. "Bawa ke UKS! Cepat!"
Di UKS
SMAN I Pegandon – ruang UKS, pukul 10.00
Siti terbaring di dipan UKS. Wajahnya pucat. Bibirnya kering. Suster sekolah, Bu Evi, memeriksa tekanan darahnya.
"Tekanannya rendah. Mungkin kurang makan atau kurang tidur."
"Tapi Suster, dia tidak pernah seperti ini," kata Ariyanti cemas.
Bu Evi memeriksa lebih lanjut. Matanya menyipit. Ia mendadak serius.
"Ariyanti, kamu keluar sebentar. Saya ingin memeriksa Siti secara pribadi."
"Kenapa, Suster?"
"Keperluan medis. Tolong tunggu di luar."
Hasil Pemeriksaan
Ruang UKS – pukul 10.30
Setelah Ariyanti keluar, Bu Evi menanyakan beberapa hal pada Siti yang mulai sadar.
"Siti, kapan terakhir kali kamu menstruasi?"
Siti terkejut. "Su... Suster..."
"Jawab jujur. Ini penting untuk kesehatanku."
Siti menunduk. "Dua... dua bulan yang lalu."
Bu Evi menghela napas. "Siti, apakah kamu sudah berhubungan seksual dengan laki-laki?"
Siti terdiam. Wajahnya memerah. Kemudian ia menangis.
"Saya minta maaf, Suster. Saya minta maaf."
Bu Evi memeluk Siti. "Kamu tidak perlu minta maaf padaku. Tapi kamu harus jujur pada dirimu sendiri."
"Suster, saya hamil?"
"Kemungkinan besar. Tapi kita harus tes dulu untuk memastikan."
Tes Kehamilan
Apotek Pegandon – sepulang sekolah
Siti minta izin tidak ikut Ariyanti pulang. Ia pergi ke apotek di Jalan Raya Pegandon seorang diri. Dengan hati berdebar, ia membeli test pack.
"Mbak, ini untuk?" tanya apoteker.
"Untuk... saya sendiri."
Apoteker itu mengangguk paham. "Semoga hasilnya sesuai harapan."
Siti kembali ke rumah Bu Sumi—tempat ia masih tinggal untuk sementara waktu. Kamarnya di pojok belakang, sepi dan tertutup.
Ia masuk ke kamar mandi, melakukan tes dengan tangan gemetar.
Dua garis merah.
POSITIF.
Siti jatuh terduduk di lantai kamar mandi. Ia tidak menangis. Ia hanya diam. Matanya kosong.
"Aku hamil. Aku hamil anak Rahmadi."
Siti Cerita pada Bu Sumi
Rumah Bu Sumi – malam itu
Setelah berjam-jam bergulat dengan ketakutannya sendiri, Siti memutuskan untuk cerita pada Bu Sumi. Ia mengetuk pintu kamar Bu Sumi.
"Bu... Siti mau bicara."
"Masuk, Nak."
Siti masuk. Wajahnya pucat. Matanya sembab.
"Bu, Siti hamil."
Bu Sumi terperanjat. "Apa? Siti, dengan siapa?"
Siti menunduk. "Rahmadi, Bu."
Ruangan mendadak terasa dingin.
"Kapan? Di mana?"
"Waktu saya masih menjadi mata-matanya. Suatu malam, dia memanggil saya ke rumahnya. Katanya mau memberi tugas. Tapi... tapi..."
Siti tidak bisa melanjutkan. Ia menangis tersedu-sedu.
Bu Sumi memeluknya. "Siti, Ibu minta maaf. Seharusnya Ibu lebih melindungimu."
"Bukan salah Ibu, Bu. Ini salah saya. Saya terlalu naif. Saya pikir dia tulus."
Rahmadi Mendengar Kabar
Lapas Kelas II A Kendal – dua hari kemudian
Rahmadi mendapat kabar dari pengacara yang mengunjunginya. Pengacara itu, Pak Rudi, adalah orang suruhan H. Rahmat (yang sekarang juga ditahan). Meskipun H. Rahmat sudah tidak berdaya, jaringannya masih bekerja.
"Mas Rahmadi, ada kabar tentang Siti."
"Apa?"
"Dia hamil. Anak Mas."
Rahmadi memucat. "Apa? Tidak mungkin!"
"Test pack sudah positif. Dan dia sudah cerita pada Bu Sumi."
"Sial! Sial! Sial!"
"Mas Rahmadi, apa yang harus kami lakukan?"
"Suruh dia aborsi!"
"Mas, di Indonesia aborsi ilegal. Bisa kena pidana."
"Aku tidak peduli! Cari dokter nakal. Bayar berapa pun. Yang penting anak itu mati."
"Baik, Mas. Saya usahakan."
Utusan Rahmadi Menemui Siti
Rumah Bu Sumi – sore itu
Seorang perempuan paruh baya datang ke rumah Bu Sumi. Ia mengaku sebagai Bu Yuli, konsultan dari Lembaga Perlindungan Perempuan.
"Selamat sore. Apakah Siti Fatimah ada di sini?"
Bu Sumi curiga. "Siapa yang mengirim Bapak?"
"Tidak perlu tahu. Saya hanya ingin bicara dengan Siti."
Dari dalam, Siti keluar. "Saya Siti. Ada apa?"
Bu Yuli tersenyum manis. "Saya dari Lembaga Perlindungan Perempuan. Saya mendengar situasi Ibu. Saya ingin membantu."
"Bantuan apa?"
"Kami bisa membantu Ibu... menyelesaikan masalah kehamilan ini."
Siti mengernyit. "Maksud Ibu?"
Bu Yuli mendekat, suaranya berbisik. "Aborsi. Cepat, bersih, dan aman. Tidak ada yang perlu tahu. Ibu bisa melanjutkan hidup seperti biasa."
Siti terperanjat. "Tidak! Saya tidak mau!"
"Ibu, pikirkan masa depan Ibu. Ibu masih muda. Ibu masih sekolah. Punya anak tanpa ayah akan menghancurkan hidup Ibu."
"Saya tidak peduli. Saya tidak akan membunuh bayi saya."
"Rahmadi yang menyuruh."
Siti terdiam. Rahmadi.
"Katakan pada Rahmadi: saya tidak akan aborsi. Saya akan memelihara anak ini meskipun tanpa dia."
Bu Yuli menghela napas. "Ibu bodoh."
"Lebih baik bodoh daripada pembunuh."
Rahmadi Marah
Lapas Kendal – malam itu
Pak Rudi melaporkan hasil pertemuannya pada Rahmadi.
"Mas Rahmadi, Siti menolak. Ia bilang tidak akan aborsi."
Rahmadi membanting gelas minumnya ke dinding sel.
"BODOH! BODOH! BODOH!"
"Mas Rahmadi, tenang."
"Aku tidak bisa tenang! Anak haram itu akan menghancurkan hidupku!"
"Mas Rahmadi, sebenarnya tidak ada yang tahu. Kita bisa diamkan saja. Biarkan Siti memelihara anaknya sendiri."
"Tidak! Aku tidak mau punya anak haram! Itu akan mengganggu masa depanku!"
"Tapi Mas Rahmadi, apa yang bisa kita lakukan? Aborsi ilegal. Jika ketahuan, Mas bisa dihukum lebih lama."
Rahmadi terdiam. Ia berjalan mondar-mandir di dalam sel yang sempit.
"Putuskan semua hubungan dengannya. Jangan kirim uang. Jangan kirim kabar. Biarkan dia sengsara."
"Baik, Mas."
Siti Terlantar
Rumah Bu Sumi – beberapa hari kemudian
Siti mencoba menghubungi Rahmadi melalui telepon lapas. Tapi setiap kali ia minta disambungkan, petugas bilang Rahmadi menolak menerima panggilannya.
Ia juga berusaha mengirim surat. Surat-surat itu tidak pernah dibalas.
Rahmadi benar-benar meninggalkannya.
"Siti, kamu masih mau tinggal di sini?" tanya Bu Sumi.
"Bu, saya tidak punya tempat lain. Orang tua saya akan malu jika tahu saya hamil di luar nikah."
"Kamu bisa tinggal di sini selama yang kamu mau. Tapi kamu harus sekolah. Kamu tidak boleh putus sekolah."
"Tapi Bu, perut saya semakin besar. Lama-lama orang akan tahu."
"Biarkan mereka tahu. Yang penting kamu tidak malu. Yang penting kamu bertanggung jawab."
Siti Mulai Menunjukkan Tanda-tanda Kehamilan
SMAN I Pegandon – Oktober 1998
Perut Siti mulai membesar. Meskipun masih tersembunyi di balik seragam yang longgar, beberapa siswa mulai curiga.
"Siti, kamu kok makin montok?" goda seorang siswa laki-laki.
"Banyak makan," jawab Siti singkat.
Ariyanti yang mendengar itu mulai curiga.
"Mar, apa kamu melihat perubahan pada Siti?" tanya Ariyanti pada Marni.
"Sekarang dia sering mual-mual pagi. Kemarin saya lihat dia muntah di belakang kelas."
"Hamillah?"
"Kayaknya sih. Tapi aku nggak berani nanya."
Ariyanti memutuskan untuk langsung bertanya pada Siti.
Ariyanti Mengetahui
Perpustakaan sekolah – jam istirahat
"Siti, aku mau bicara."
"Tentang apa, Ari?"
"Tentang kamu. Kamu hamil?"
Siti terdiam. Wajahnya pucat.
"Siti, jawab jujur. Aku tidak akan menghakimi."
Siti menangis. "Iya, Ari. Aku hamil."
"Dengan siapa?"
Siti menunduk. "Rahmadi."
Ariyanti terperanjat. "Apa? Kapan?"
"Waktu aku masih menjadi mata-matanya. Suatu malam dia memanggilku ke rumahnya. Katanya mau kasih tugas. Ternyata..."
"Maafkan aku, Siti. Aku tidak tahu."
"Bukan salahmu. Ini salahku. Aku terlalu naif."
"Apa yang akan kamu lakukan sekarang?"
"Aku tidak tahu, Ari. Rahmadi sudah meninggalkanku. Tidak mau bertanggung jawab. Aku sendirian."
Ariyanti memeluk Siti. "Kamu tidak sendirian. Aku di sini. Marni di sini. Bu Sumi di sini. Kita akan bantu."
Siti Dikucilkan
SMAN I Pegandon – November 1998
Kabar tentang kehamilan Siti akhirnya bocor. Tidak ada yang tahu persis siapa yang menyebarkan, tapi yang jelas dalam seminggu, seluruh sekolah membicarakannya.
"Siti hamil di luar nikah."
"Siapa bapaknya?"
"Entahlah. Katanya preman."
"Pantesan dia sering bolos."
Gosip-gosip jahat bermunculan. Siswa-siswa yang dulu berteman dengan Siti kini menjauh. Mereka takut reputasinya tercemar.
Siti duduk sendirian di kantin. Tidak ada yang mau mendekat.
"Siti, kamu tidak makan siang?" tanya Marni.
"Aku tidak nafsu, Mar."
"Kamu harus makan. Kamu makan untuk dua orang."
Siti tersenyum pahit. "Dua orang? Satu orang saja sudah sulit, apalagi dua."
Kepala Sekolah Memanggil Siti
SMAN I Pegandon – ruang Kepala Sekolah
Kepala Sekolah memanggil Siti terkait kabar yang beredar.
"Siti, saya dengar kamu hamil. Benarkah?"
"Benar, Pak."
"Dengan siapa?"
Siti menunduk. "Saya tidak bisa menyebutkan nama, Pak."
"Apa kamu akan melanjutkan sekolah?"
"Saya ingin, Pak. Tapi saya tidak tahu bagaimana nantinya."
"Saya tidak akan mengeluarkanmu. Tapi kamu harus tahu, ini tidak mudah. Banyak siswa dan orang tua yang protes."
"Apa yang harus saya lakukan, Pak?"
"Kita lihat perkembangan. Yang penting kamu tetap belajar dan tidak mengganggu yang lain."
Bu Sumi Membela Siti
Ruang Kepala Sekolah – setelah Siti keluar
Bu Sumi masuk ke ruang Kepala Sekolah.
"Pak, saya ingin bicara tentang Siti."
"Silakan."
"Siti adalah korban, Pak. Bukan pelaku. Ia direkayasa dan dimanfaatkan oleh Rahmadi. Jangan kucilkan dia."
"Bu Sumi, saya mengerti. Tapi saya juga harus menjaga nama baik sekolah."
"Nama baik sekolah lebih penting dari nasib seorang anak perempuan yang hamil di luar nikah?"
Kepala Sekolah terdiam.
"Pak, saya hanya guru. Tapi saya tahu, yang benar itu harus dibela. Siti sudah bertobat. Ia sudah menjadi saksi kunci dalam kasus Rahmadi. Ia pantas mendapat kesempatan kedua."
Kepala Sekolah menghela napas. "Baik, Bu Sumi. Saya akan coba bantu. Tapi Siti harus siap dengan konsekuensi."
Siti Memutuskan untuk Tetap Sekolah
Rumah Bu Sumi – malam itu
"Siti, kamu yakin tetap sekolah? Orang-orang akan makin jahat."
"Saya yakin, Bu. Saya tidak mau putus sekolah. Saya harus bisa menghidupi anak saya nanti."
"Kamu hebat, Siti. Aku bangga."
"Aku tidak hebat, Bu. Aku hanya berusaha bertanggung jawab."
Malam itu, Siti menulis surat untuk anaknya yang masih dalam kandungan.
"Untuk anakku, yang belum lahir..."
"Maafkan Mamah. Mamah tidak bisa memberimu ayah. Ayahmu tidak mau bertanggung jawab. Tapi Mamah janji, Mamah akan bekerja keras untukmu."
"Kamu tidak akan kekurangan kasih sayang. Kamu punya Mamah. Kamu punya Bu Sumi. Kamu punya Ariyanti. Kamu punya Marni. Kamu punya banyak orang yang sayang padamu."
"Kamu lahir dari dosa. Tapi kamu tidak berdosa. Kamu malaikat kecil yang Tuhan titipkan pada Mamah."
"Nanti kalau kamu besar, jangan malu dengan masa lalumu. Banggalah karena Mamah memilih hidupmu daripada membunuhmu."
"Mamah sayang kamu, Nak."
Rahmadi Mendengar Siti Tetap Sekolah
Lapas Kendal – akhir November 1998
Pak Rudi datang dengan kabar terbaru.
"Mas Rahmadi, Siti tetap sekolah. Perutnya sudah mulai terlihat."
"Bodoh. Dia sengaja mempermalukanku."
"Mas Rahmadi, apakah Mas tidak ingin melihat anak Mas nanti?"
"Tidak! Aku tidak mau! Itu bukan anakku. Itu anak haram!"
"Tapi secara biologis..."
"DIAM! Aku tidak mau dengar!"
Rahmadi membanting kursi di ruang kunjungan. Petugas lapas langsung menenangkannya.
"Rahmadi, tenang! Atau kami akan batalkan hak kunjunganmu!"
Rahmadi duduk kembali. Wajahnya merah padam.
"Pak Rudi, jangan pernah sebut nama Siti di depanku lagi."
"Baik, Mas."
Herman Mengetahui
Rumah Herman di Kersan – Desember 1998
Herman mendapat kabar tentang Siti dari Bu Sumi. Ia terkejut dan kecewa pada Rahmadi.
"Anakku... kenapa kau begini?"
Ia memutuskan mengunjungi Rahmadi di lapas.
"Nak, Ayah dengar kau meninggalkan Siti. Dan kau menyuruhnya aborsi."
"Bukan urusan Ayah."
"Ini urusan Ayah. Karena kau anak Ayah. Dan Ayah tidak mau anak Ayah menjadi pengecut."
"Apa yang Ayah tahu?"
"Ayah tahu segalanya. Ayah tahu kau takut. Takut punya anak haram. Takut masa depanmu hancur. Tapi Nak, lari dari tanggung jawab hanya akan membuatmu semakin hancur."
"Aku tidak peduli."
"Kau peduli. Tapi kau terlalu keras kepala untuk mengakuinya."
Rahmadi diam.
"Rahmadi, Ayah dulu juga pengecut. Ayah lari dari tanggung jawab. Ayah meninggalkan ibumu. Dan lihat apa yang terjadi? Ibu kamu mati dalam penderitaan. Kau tumbuh tanpa kasih sayang. Ayah menyesal setiap hari."
Rahmadi menangis.
"Nak, jangan ulangi kesalahan Ayah. Bertanggung jawablah pada Siti dan anakmu."
Rahmadi Berubah Pikiran?
Lapas Kendal – Januari 1999
Setelah berkali-kali dikunjungi Herman, Rahmadi mulai melunak. Ia tidak lagi menyuruh Siti aborsi. Tapi ia juga belum mau mengakui anak itu.
"Pak Rudi, hentikan tekanan pada Siti. Biarkan dia melahirkan."
"Mas Rahmadi yakin?"
"Aku tidak yakin. Tapi ayahku memintaku."
"Apa Mas akan bertanggung jawab?"
"Aku belum tahu. Yang penting, jangan ganggu Siti lagi."
Siti Semakin Besar
Rumah Bu Sumi – Januari 1999
Perut Siti semakin besar. Ia sudah tidak bisa menyembunyikannya lagi. Seragam sekolah tidak muat. Ia terpaksa mengganti dengan baya longgar.
Ariyanti dan Marni selalu menemani Siti ke sekolah. Mereka berjalan beriringan, melindungi Siti dari tatapan sinis.
"Siti, kamu kuat?" tanya Ariyanti.
"Aku kuat, Ari. Yang penting bayiku sehat."
"Siti, aku salut denganmu."
"Kenapa?"
"Kamu tidak memilih aborsi. Kamu memilih hidup."
"Itu karena kamu, Ari. Kamu mengajarkanku bahwa hidup itu berharga. Bahkan ketika kita lahir dari dosa."
Mereka tersenyum.
Menanti Kelahiran
Rumah Bu Sumi – Februari 1999
Dokter memperkirakan Siti akan melahirkan pada bulan Maret 1999. Ia sudah mulai mempersiapkan segala kebutuhan: popok kain, baju bayi, bedong, dan perlengkapan lainnya.
Bu Sumi membantu membelikan barang-barang itu dengan uang tabungannya.
"Siti, ini untuk bayimu."
"Bu Sumi, saya tidak tahu harus membalas."
"Kamu tidak perlu membalas. Cukup bahagiakan anakmu."
Siti memeluk Bu Sumi.
"Aku akan menjadi ibu yang baik untukmu, Nak. Aku janji."
BAB 28
SITI JATUH
Siti datang ke rumah Ariyanti menangis tersedu-sedu. Ia mengaku semuanya. Semua pengkhianatan itu.
Tegorejo, Februari 1999. Satu bulan sebelum Siti diperkirakan melahirkan.
Perut Siti sudah sangat besar. Bundar seperti bola yang dipaksakan di bawah baju longgar yang ia kenakan. Setiap gerakannya lambat, penuh perhitungan, karena tubuhnya tidak lagi responsif seperti dulu. Ia sudah tidak bisa bersekolah lagi. Dokter di Puskesmas Pegandon menyarankan istirahat total menjelang persalinan.
"Kondisi ibu cukup baik, tapi usia kehamilan sudah memasuki bulan kesembilan," kata dokter yang memeriksanya dengan stetoskop yang dingin di perutnya. "Sebaiknya ibu tidak banyak bergerak. Istirahat total. Jangan naik turun tangga. Jangan jalan terlalu jauh. Jangan angkat barang berat."
Setiap hari, Siti hanya di rumah Bu Sumi. Di kamar pojok belakang yang sempit, dengan jendela kecil yang menghadap ke kebun pisang tetangga. Ia menghabiskan waktu dengan merajut. Jari-jarinya yang dulu lincah memegang pulpen, kini sibuk dengan jarum rajut dan benang wol murah warna biru muda. Ia merajut baju kecil untuk bayinya. Baju yang tidak akan pernah cukup hangat untuk musim hujan, tapi cukup untuk mengisi waktu yang terasa begitu panjang.
Ia juga berdoa. Bukan doa yang teratur dengan gerakan dan bacaan. Tapi doa yang keluar dari hati yang gelisah. Doa untuk bayinya yang akan lahir. Doa untuk keselamatan dirinya sendiri. Doa untuk Ariyanti, Akang, Bu Sumi, dan semua orang yang telah membantunya.
Dan doa untuk Rahmadi. Meskipun ia tidak tahu apakah ia ikhlas mendoakan laki-laki yang telah meninggalkannya.
Tapi ada satu beban yang masih menggantung di hatinya. Sebuah rahasia yang belum sepenuhnya ia ungkapkan. Bukan rahasia tentang perselingkuhannya dengan Rahmadi. Itu sudah diketahui banyak orang. Warga desa sudah bergosip sejak perutnya mulai membesar. Guru-guru di sekolah sudah menatapnya dengan curiga. Bahkan siswa-siswi lain sudah tidak mau duduk di bangku yang sama dengannya.
Rahasia yang masih ia simpan adalah tentang pengkhianatannya yang lebih dalam. Lebih keji. Lebih memalukan.
Siti tidak hanya menjadi mata-mata Rahmadi. Tidak hanya memberikan informasi tentang Ariyanti dan Akang. Tidak hanya membocorkan rencana mereka ke perpustakaan daerah. Tidak hanya memotret dokumen-dokumen rahasia di rumah Bu Sumi.
Ia juga sengaja berusaha merusak hubungan Ariyanti dan Akang dengan cara yang lebih keji. Ia menyebarkan gosip bahwa Ariyanti selingkuh dengan laki-laki lain. Ia memanipulasi fakta, memelintir berita, membuat cerita-cerita palsu yang hampir menghancurkan kepercayaan antara dua insan yang saling mencintai.
Bahkan, ia sempat mencoba merayu Akang ketika Ariyanti tidak ada. Ia datang ke bengkel las Pak Karyo pada suatu sore, ketika Ariyanti sedang sibuk di rumah. Ia memakai pakaian terbaiknya, meminjam lipstik dari tetangga, dan berusaha tampil semenarik mungkin. Ia duduk di samping Akang, mendekatkan tubuhnya, dan berbisik, "Kang, Ariyanti tidak serius denganmu. Aku tahu. Aku perempuan. Aku bisa membaca perempuan. Dia hanya memanfaatkanmu."
Akang menolaknya. Dengan tegas. Tanpa ragu. "Pergi, Siti. Aku tidak butuh kamu di sini."
Siti pergi dengan malu. Tapi rasa malu itu berubah menjadi amarah. Amarah pada Ariyanti yang selalu menjadi pusat perhatian. Amarah pada Akang yang begitu setia. Amarah pada dunia yang tidak pernah berpihak padanya.
Semua itu ia lakukan karena iri.
Iri pada kebahagiaan Ariyanti. Iri pada cinta sejati yang ia sendiri tidak pernah miliki. Iri pada kehidupan yang selalu berpihak pada Ariyanti. Atau setidaknya itulah yang ia lihat dari sudut matanya yang keruh oleh dendam. Itulah yang ia yakini setiap malam sebelum tidur, ketika ia sendirian di kamar yang gelap, tanpa siapa pun yang peduli.
Tapi sekarang, dengan bayi di perutnya yang semakin aktif bergerak, menendang di malam hari, berguling di pagi hari, seperti memanggil-manggil ibunya untuk segera lahir ke dunia, Siti sadar.
Ia tidak bisa membawa rahasia ini ke liang lahat. Ia tidak bisa memulai hidup baru dengan kebohongan. Ia tidak bisa menjadi ibu yang baik jika hatinya masih penuh dengan dosa yang tidak ia akui.
Ia harus mengaku.
Ia harus memohon maaf.
Bahkan jika Ariyanti tidak mau memaafkannya.
Kegelisahan Siti
Rumah Bu Sumi, pagi itu.
Siti terbangun lebih awal dari biasanya. Padahal ia tidak tidur nyenyak semalaman. Bayinya bergerak terus, seperti ikan dalam akuarium yang gelisah. Mungkin merasakan kegelisahan ibunya. Mungkin mencoba memberi tahu bahwa ada sesuatu yang tidak beres, bahwa ada beban yang harus diangkat sebelum ia lahir ke dunia.
Siti duduk di tepi tempat tidur, di dipan kayu yang dilapisi kasur tipis yang sudah kempes di sana-sini. Tangannya memegang perutnya yang membulat, merasakan gerakan kecil di dalam. Kakinya bengkak, begitu juga tangannya.
"Nak, Mamah harus melakukan sesuatu hari ini." Suaranya pelan, hanya setengah berbisik. "Sesuatu yang berat. Sesuatu yang sudah lama Mamah tunda. Sesuatu yang mungkin akan membuat Mamah kehilangan satu-satunya sahabat yang Mamah miliki."
Bayinya menendang. Sekali. Dua kali. Seperti memberi semangat. Seperti mengatakan, "Mamah bisa. Mamah kuat. Mamah tidak sendiri."
Siti tersenyum tipis. Senyum yang tidak sampai ke matanya, tapi cukup untuk menghangatkan hatinya.
Ia bangun dengan susah payah. Tubuhnya yang buncit membuat setiap gerakan terasa seperti memindahkan gunung. Ia membersihkan diri, mengambil air wudhu dari ember di belakang rumah, lalu salat subuh dengan khusyuk. Lebih khusyuk dari biasanya. Lebih lama dari biasanya.
Setelah selesai, ia memakai baju longgar, kerudung yang menutupi dada, dan jaket tebal karena udara pagi masih dingin.
Ia keluar kamar.
Bu Sumi sudah bangun. Wanita tua itu sedang memasak di dapur, suara ulekan dan wajan terdengar dari balik dinding anyaman bambu. Bau bawang dan minyak goreng menyebar ke seluruh rumah.
"Siti, kamu sudah bangun?" Bu Sumi menyapa dari dapur. "Sarapan dulu. Ibu masak bubur."
"Bu, saya mau pergi ke rumah Ariyanti."
Bu Sumi mengernyit. Tangannya yang memegang sendok kayu berhenti bergerak. "Ke rumah Ariyanti? Ada perlu apa, Nak? Kamu hamil besar. Jalan kaki 4 kilometer ke Kersan? Nanti kamu kenapa-kenapa."
"Saya harus mengaku sesuatu, Bu." Siti menunduk. "Sesuatu yang sudah lama saya pendam. Sesuatu yang tidak bisa saya bawa sampai mati."
Bu Sumi berhenti mengaduk sayur. Ia menatap Siti dalam-dalam. Matanya yang tua dan keriput itu masih tajam, masih bisa membaca hati orang.
"Siti, apa yang kamu sembunyikan?" suara Bu Sumi lembut, tidak menekan.
"Saya tidak bisa cerita sekarang, Bu." Siti menggeleng. "Tapi saya harus cerita pada Ariyanti. Saya harus meminta maaf padanya. Langsung. Tatap muka. Bukan lewat surat. Bukan lewat orang lain."
"Apa kamu yakin?" Bu Sumi bertanya. "Kamu dalam kondisi hamil besar. Jangan sampai stres. Jangan sampai tekanan darahmu naik."
"Saya sudah memikul beban ini terlalu lama, Bu." Siti mengusap air matanya yang mulai jatuh. "Sudah berbulan-bulan. Sudah setahun. Saya ingin bebas sebelum bayi saya lahir. Saya ingin melahirkan dengan hati yang bersih."
Bu Sumi menghela napas. "Baiklah. Ibu antar."
"Tidak usah, Bu. Saya bisa sendiri."
"Kamu yakin, Nak?"
"Saya yakin, Bu." Siti menatap Bu Sumi. Matanya basah, tapi tegas. "Ini jalan saya. Ini pengakuan saya. Saya harus melakukannya sendiri."
Perjalanan ke Rumah Ariyanti
Jalan Randu Gembyang, pukul 09.00.
Siti berjalan pelan menyusuri Jalan Randu Gembyang. Jalan yang sama yang dulu ia lalui setiap hari bersama Ariyanti, saat mereka masih bersahabat, saat mereka masih saling percaya, saat ia belum menjadi mata-mata.
Perutnya yang besar membuatnya mudah lelah. Setiap 50 meter, ia berhenti sebentar, mengatur napas, menunggu detak jantungnya kembali normal. Kadang ia duduk di pinggir jalan, di atas batu besar yang lumutan, sambil memegang perutnya yang bergerak-gerak.
Pohon-pohon randu di kiri-kanan jalan masih sama seperti dulu. Daunnya masih hijau, segar, tidak layu meskipun kemarau panjang. Batangnya masih kokoh, tidak tergoyahkan oleh angin yang kadang kencang. Akarnya masih menjalar ke tanah seperti naga yang tertidur, seperti kehidupan yang terus berjalan meskipun waktu terus bergulir.
"Dulu, aku sering melihat Ariyanti dan Akang berjalan di sini berdua." Ia berbicara pada dirinya sendiri, pada bayinya, pada angin yang tidak peduli. "Mereka selalu bersama. Tidak pernah terpisah. Senyum mereka selalu sama. Tawa mereka selalu terdengar. Aku iri. Aku iri sekali."
Ia teringat saat ia menjadi mata-mata Rahmadi. Setiap informasi yang ia berikan pada Rahmadi. Setiap rencana yang ia bocorkan. Setiap rahasia yang ia kumpulkan. Semua itu ia lakukan dengan kesadaran penuh. Tidak ada yang memaksanya. Tidak ada yang mengancamnya. Awalnya, mungkin, ia hanya ingin uang. Tapi lama-lama, ia melakukannya karena ia menikmati perasaan memiliki kekuasaan. Karena ia senang melihat Ariyanti kesusahan. Karena ia merasa, untuk pertama kalinya, ia lebih unggul dari sahabatnya.
"Aku monster." Siti menggigit bibirnya. "Aku monster yang tidak tahu diri. Aku monster yang mengkhianati satu-satunya orang yang peduli padaku."
Air mata Siti jatuh. Jatuh ke tanah kering yang berdebu.
Siti Tiba di Rumah Ariyanti
Dusun Kersan, rumah Ariyanti, pukul 09.30.
Rumah Ariyanti masih sama seperti dulu. Dinding anyaman bambu yang sudah rapuh di beberapa bagian, ditambal dengan karung goni bekas. Atap rumbia yang sudah menghitam oleh usia, berlubang di sana-sini, tapi masih cukup kuat untuk menahan hujan. Pekarangan sempit dengan beberapa pot tanaman sayur: cabai, tomat, dan terong yang sedang berbuah.
Ibu Ariyanti sedang duduk di teras. Kesehatannya sudah pulih dari pneumonia yang hampir merenggut nyawanya. Ia sudah bisa berjalan tanpa bantuan, sudah bisa makan sendiri, sudah bisa tersenyum lebar. Meskipun masih harus minum obat setiap hari, meskipun masih harus kontrol ke dokter setiap dua minggu sekali, meskipun masih belum bisa bekerja berat seperti dulu.
"Siti?" Ibu Ariyanti mengernyit. Wajahnya heran. "Kamu kok ke sini? Kamu hamil besar, Nak. Jangan jalan-jalan jauh. Nanti kenapa-kenapa."
"Selamat pagi, Bu." Siti menunduk hormat. "Ariyanti ada, Bu?"
"Ada." Ibu Ariyanti mengangguk. "Sedang bersih-bersih kamar. Sebentar lagi keluar. Silakan masuk, Nak."
Siti masuk ke halaman. Langkahnya pelan, tidak seperti biasanya yang lincah dan cepat. Ia duduk di kursi bambu yang ditawarkan Ibu Ariyanti.
Ariyanti yang mendengar suara Siti keluar dari kamar. Wajahnya masih sedikit mengantuk. Rambutnya diikat asal.
"Siti?" Ariyanti mengerjap. "Kamu kok ke sini? Sendirian? Perutmu sudah besar, nanti kenapa-kenapa. Jatuh. Pingsan. Apa lagi."
"Ari, aku harus bicara denganmu." Siti menatap Ariyanti. Matanya tidak berkedip.
"Tentang apa?" Ariyanti duduk di kursi di samping ibunya.
Siti menunduk. Tangannya, yang diletakkan di atas perut, gemetar. Air matanya mulai mengalir.
"Tentang... semua pengkhianatan itu."
Siti Mulai Mengaku
Ruang tengah rumah Ariyanti.
Mereka duduk di tikar pandan yang sudah usang. Tikar anyaman dari daun pandan kering, berwarna kuning kecoklatan, sudah aus di beberapa bagian. Ibu Ariyanti menyuguhkan teh hangat dalam gelas plastik bekas, lalu pamit ke dapur dengan alasan akan memasak sayur. Tapi Ariyanti tahu, ibunya pergi untuk memberi mereka privasi. Untuk memberikan ruang bagi Siti untuk bicara tanpa beban.
Siti menunduk lama. Wajahnya pucat. Tangannya gemetar memegang cangkir teh yang sudah dingin. Bibirnya bergerak-gerak, seperti orang yang sedang mempersiapkan kata-kata yang akan ia ucapkan.
"Siti, kamu kenapa?" tanya Ariyanti, mulai cemas.
"Ari... aku mau mengaku." Siti mengangkat kepalanya. Matanya merah. "Jangan marah padaku. Jangan benci padaku. Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi."
"Aku tidak akan marah, Sit." Ariyanti meraih tangan Siti. "Cerita saja. Aku akan mendengarkan."
Siti menarik napas panjang. Udara pagi yang dingin masuk ke paru-parunya, tapi tidak cukup untuk menenangkan jantungnya yang berdebar kencang.
"Ari, dulu aku tidak hanya menjadi mata-mata Rahmadi." Suaranya bergetar. "Aku juga... sengaja berusaha merusak hubungan kalian."
Ariyanti mengernyit. "Maksudmu?"
"Aku menyebarkan gosip." Siti menunduk lagi. "Gosip bahwa kamu selingkuh dengan laki-laki lain. Aku bilang pada teman-teman di sekolah bahwa kamu sering pergi dengan laki-laki tidak dikenal. Aku bilang kamu tidak setia pada Akang. Aku bilang kamu perempuan jalang."
Ariyanti terdiam. Wajahnya berubah pucat. Tangannya, yang tadi memegang tangan Siti, kini menarik diri.
"Aku juga... sempat merayu Akang." Siti tidak bisa berhenti. Ia harus menyelesaikan semuanya. "Suatu hari, ketika kamu pulang lebih awal, aku sengaja datang ke bengkel. Aku sengaja memakai pakaian bagus. Aku sengaja meminjam lipstik dari tetangga. Aku duduk di samping Akang, mendekatkan tubuhku, dan berbisik di telinganya."
"Aku bilang, 'Kang, Ariyanti tidak serius denganmu. Aku tahu. Aku perempuan. Aku bisa membaca perempuan. Dia hanya memanfaatkanmu. Dia hanya butuh kamu untuk melawan Rahmadi. Setelah masalah selesai, dia akan meninggalkanmu.'"
Ariyanti mengepalkan tangan. "Apa jawaban Akang?"
Siti menangis. "Dia menolakku, Ari. Dengan tegas. Tanpa ragu. 'Pergi, Siti,' katanya. 'Aku tidak butuh kamu di sini. Aku tidak butuh orang yang menghasut. Aku tahu Ariyanti lebih dari yang kamu tahu. Aku percaya padanya. Sekarang pergi.'"
Ariyanti menghela napas. Lega. Sangat lega.
"Siti... kenapa kamu melakukan itu?"
Siti terisak. "Karena aku iri, Ari. Aku iri padamu. Sejak SMP, kamu selalu menjadi pusat perhatian. Kamu selalu dipuji guru. Kamu selalu disukai teman-teman. Kamu selalu dikelilingi orang-orang yang menyayangimu. Aku hanya bayang-bayangmu. Aku tidak pernah dilihat. Aku tidak pernah dianggap. Aku tidak pernah diingat."
"Kamu bukan bayang-bayangku, Siti." Ariyanti menatap Siti. "Kamu adalah dirimu sendiri. Kamu punya kelebihan sendiri. Kamu punya kekurangan sendiri. Kamu tidak perlu menjadi aku."
"Aku tidak percaya itu." Siti menggeleng. "Setiap kali aku melihatmu, aku merasa kecil. Aku merasa tidak berharga. Aku merasa tidak ada gunanya. Rahmadi memanfaatkan rasa iri itu. Dia bilang aku bisa lebih baik darimu jika aku membantunya. Dia bilang aku bisa lebih hebat darimu jika aku menjadi mata-matanya."
"Dan sekarang?" Ariyanti bertanya.
Siti memegang perutnya. Bayinya bergerak. Mungkin merasakan emosi ibunya.
"Sekarang aku hamil anak Rahmadi." Siti tersenyum pahit. "Laki-laki itu meninggalkanku. Tidak mau bertanggung jawab. Tidak mau mengakui anaknya. Aku sendirian. Aku tidak punya siapa-siapa. Aku hanya punya Bu Sumi, dan kamu, dan Marni, dan Akang. Orang-orang yang pernah aku khianati."
Pengakuan Lain yang Lebih Menghancurkan
Ruang tengah, Siti terus bicara.
"Ari, ada lagi." Siti menggigit bibirnya. "Aku belum selesai."
"Apa lagi?" Ariyanti bertanya dengan suara datar.
"Aku yang memberitahu Rahmadi tentang rencana kalian ke perpustakaan daerah waktu itu." Siti tidak berani menatap Ariyanti. "Aku yang bilang pada Danu, asisten Rahmadi, bahwa kalian akan ke sana. Hari dan jamnya. Bahkan jumlah orang yang ikut."
Ariyanti terkejut. Matanya membulat. "Jadi preman-preman itu..."
"Iya." Siti mengangguk. "Rahmadi yang mengirim mereka. Aku yang memberi informasi. Aku yang memberi peta. Aku yang memberi waktu yang tepat. Aku hampir membuat kalian celaka. Kalau tidak ada petugas perpustakaan yang memanggil satpam, mungkin kalian sudah babak belur sekarang."
"Siti..." Ariyanti tidak bisa berkata-kata.
"Aku juga yang memberi tahu Rahmadi tentang rencana Bu Sumi mengumpulkan bukti." Siti terus mengaku. "Aku yang memotret dokumen-dokumen di rumah Bu Sumi. Waktu itu, aku sengaja ikut ke rumah Bu Sumi. Aku pura-pura lupa jaket. Aku masuk ke ruang tamu sendirian. Aku membuka map di meja Bu Sumi. Aku memotret semua halaman dengan ponsel pemberian Rahmadi."
"Dan aku yang memberitahu Danu di mana Pak Dullah menyembunyikan surat-surat wasiat Hj. Fatimah." Siti menangis lagi. "Aku tahu dari pembicaraanmu dengan Akang. Waktu itu kalian bicara di kantin, pelan-pelan, tapi aku dengar. Aku sengaja mendengarkan."
Ariyanti menutup mulutnya dengan tangan.
"Jadi hampir semua kejadian buruk yang menimpa kami..." Suara Ariyanti bergetar.
"Berasal dari informasiku." Siti memotong. "Aku dalang di balik layar, Ari. Bukan Rahmadi. Rahmadi hanya eksekutor. Tapi aku yang memberikan peta. Aku yang memberikan senjata. Aku yang memberikan semua yang dia butuhkan untuk menghancurkan kalian."
Ariyanti Menangis
Ruang tengah, Ariyanti lemas.
Ariyanti tidak bisa menahan tangisnya lagi. Ia menangis tersedu-sedu. Tangis yang keluar dari lubuk hati yang paling dalam. Tangis yang tidak bisa ia kontrol meskipun ia sudah berusaha sekuat tenaga.
"Kenapa, Siti?" suaranya pecah. "Kenapa tega? Kita bersahabat sejak SMP. Kita makan bersama di kantin. Kita belajar bersama di perpustakaan. Kita menangis bersama saat nilai jelek. Kita tertawa bersama saat ada yang lucu. Aku selalu membantumu. Aku tidak pernah menyakitimu. Kenapa?"
Siti juga menangis. "Aku tahu, Ari. Itu sebabnya aku semakin benci padamu. Karena kamu terlalu baik. Kamu membuatku merasa semakin kecil. Kamu membuatku merasa semakin tidak berharga. Kamu membuatku sadar bahwa aku tidak akan pernah bisa seperti kamu."
"Itu bukan salahku!" Ariyanti hampir berteriak.
"Aku tahu." Siti menunduk. "Aku yang salah. Aku yang iri. Aku yang tidak bisa mensyukuri apa yang aku miliki. Aku yang memilih menjadi jahat daripada berusaha menjadi baik."
"Kamu tahu berapa banyak penderitaan yang kami alami karena ulahmu?" Ariyanti menghitung dengan jari. "Akang hampir mati dipukuli preman. Akang hampir mati karena kecelakaan motor. Akang koma berhari-hari. Ibuku hampir mati karena pneumonia dan tidak punya biaya. Bu Sumi hampir dipecat karena fitnah. Pak Dullah hampir dibunuh preman. Marni diancam. Keluarganya diancam."
"Aku tahu, Ari." Siti terisak. "Aku menyesal. Aku menyesal setiap hari. Aku tidak bisa tidur memikirkan semua ini. Aku tidak bisa makan karena perutku mual memikirkan dosaku. Tapi aku tidak bisa mengubah masa lalu. Aku tidak bisa memutar waktu. Aku hanya bisa mengaku dan meminta maaf."
Ibu Ariyanti Masuk
Ruang tengah, Ibu Ariyanti mendengar dari balik pintu.
Ibu Ariyanti yang mendengar tangisan anaknya tidak tahan. Ia sudah berusaha memasak di dapur. Sudah berusaha mengupas bawang. Sudah berusaha memotong cabai. Tapi suara tangis Ariyanti terus menusuk telinganya, menusuk hatinya, menusuk jiwanya.
Ia masuk ke ruang tengah.
"Siti, Ibu dengar semuanya." Ibu Ariyanti duduk di samping Siti. Wajahnya tidak marah. Hanya lelah. Lelah dengan semua kejadian yang menimpa keluarganya.
Siti menunduk. "Maafkan saya, Bu. Maafkan saya. Saya sudah berbuat jahat pada keluarga Ibu. Saya sudah menyakiti Ariyanti. Saya sudah menyakiti Akang. Saya sudah menyakiti semua orang."
Ibu Ariyanti memegang tangan Siti. Tangannya hangat. Tangannya yang sudah keriput dan kapalan, bekas kerja keras selama puluhan tahun.
"Siti, Ibu sebagai orang tua, Ibu marah." Suara Ibu Ariyanti lembut. "Marah sekali. Ibu ingin membentakmu. Ibu ingin mengusirmu dari rumah ini. Ibu ingin tidak pernah melihatmu lagi."
"Tapi Ibu juga sebagai manusia." Ibu Ariyanti melanjutkan. "Ibu tahu bahwa setiap orang bisa berubah. Setiap orang bisa bertobat. Setiap orang pantas mendapat kesempatan kedua."
"Bu..." Siti menangis.
"Kamu sudah hamil." Ibu Ariyanti mengusap air mata Siti. "Kamu akan segera menjadi ibu. Jangan bebankan masa lalu pada anakmu. Bebaskan dirimu. Minta maaf. Tobat. Dan mulai hidup baru."
"Ibu mau memaafkan saya?" Siti tidak percaya.
"Ibu memaafkanmu." Ibu Ariyanti mengangguk. "Tapi yang lebih penting, kamu harus memaafkan dirimu sendiri. Kamu harus berdamai dengan masa lalumu. Kamu harus menerima bahwa kamu pernah berbuat salah, tapi kamu sudah berusaha memperbaikinya."
Ariyanti Diam
Ruang tengah, Ariyanti belum bisa bicara.
Setelah menangis, setelah tangisnya reda, setelah dadanya tidak lagi sesak, Ariyanti hanya diam. Ia tidak marah. Ia tidak benci. Ia tidak ingin membalas. Ia hanya kosong. Kosong seperti ruangan yang baru saja dikosongkan dari semua isinya.
"Siti, aku tidak tahu harus berkata apa." Ariyanti menatap dinding.
"Kamu marah padaku, kan?" Siti bertanya.
"Bukan marah." Ariyanti menggeleng. "Aku kecewa. Sangat kecewa. Seperti ditikam dari belakang oleh orang yang paling aku percaya."
"Aku pantas menerima itu." Siti menunduk.
"Kamu datang ke sini untuk mengaku." Ariyanti menatap Siti. "Itu langkah besar. Itu butuh keberanian. Tapi aku butuh waktu. Aku butuh waktu untuk memproses semua ini. Aku butuh waktu untuk menerima kenyataan bahwa sahabatku sendiri yang selama ini menjadi duri dalam dagingku."
"Aku mengerti, Ari." Siti berdiri. "Aku akan pergi."
Siti Pamit
Rumah Ariyanti, pukul 11.00.
Siti berdiri. Tubuhnya yang besar dan buncit membuat gerakannya lambat. Ia berpegangan pada kursi bambu untuk menopang berat badannya.
"Ari, aku pulang dulu." Suaranya pelan.
"Aku tidak bisa mengantarmu." Ariyanti tidak menatap Siti. "Aku masih..."
"Tidak usah." Siti memotong. "Aku bisa sendiri. Aku sudah biasa."
"Tapi perutmu besar." Ariyanti menoleh. "Nanti kenapa-kenapa. Jatuh. Pingsan. Apa lagi."
"Tidak apa, Ari." Siti tersenyum pahit. "Aku sudah biasa. Aku sudah biasa menderita."
Siti melangkah keluar. Tubuhnya bergoyang-goyang karena perutnya yang besar dan kakinya yang bengkak. Ia berjalan perlahan, tidak seperti biasanya yang lincah.
Ariyanti hanya bisa memandang dari ambang pintu. Air matanya masih mengalir.
Akang Datang
Rumah Ariyanti, pukul 11.30.
Akang datang dengan tongkat di tangan. Kakinya sudah jauh lebih baik. Gips tebal yang dulu membungkus kaki kanannya sudah dilepas, diganti dengan penyangga khusus dari plastik. Ia sudah bisa berjalan tanpa bantuan, meskipun masih sedikit pincang dan cepat lelah.
"Ari, aku tadi bertemu Siti di jalan." Akang duduk di samping Ariyanti. "Wajahnya pucat. Matanya merah. Perutnya besar. Dia berjalan sendiri, tidak ada yang menemani. Ada apa?"
Ariyanti memeluk Akang. Erat.
"Kang... Siti mengaku semuanya."
"Mengaku apa?"
Ariyanti melepaskan pelukan. Ia menatap Akang.
"Dia yang memberitahu Rahmadi tentang rencana kita ke perpustakaan daerah. Dia yang memotret dokumen Bu Sumi. Dia yang memberitahu di mana Pak Dullah menyembunyikan surat-surat wasiat Hj. Fatimah. Dan dia... dia yang merayumu di bengkel dulu."
Akang terdiam.
"Kamu tahu tentang itu?" Ariyanti menatap Akang.
Akang mengangguk. "Aku tahu."
"Kenapa kamu tidak bilang?"
"Karena aku tahu Siti adalah temanmu." Akang menggenggam tangan Ariyanti. "Karena aku tidak ingin kamu sakit hati. Karena aku tidak ingin merusak persahabatan kalian. Karena aku pikir, Siti hanya korban. Korban dari rasa iri. Korban dari Rahmadi. Korban dari egonya sendiri."
Ariyanti menangis di bahu Akang. "Kang, aku kecewa berat. Aku tidak pernah menyangka. Aku tidak pernah menduga."
"Aku tahu." Akang mengelus rambut Ariyanti. "Tapi lihatlah Siti sekarang. Dia hamil. Ditinggal Rahmadi. Sendirian. Tidak punya siapa-siapa. Dan dia datang mengaku. Dia datang minta maaf. Itu butuh keberanian, Ari. Keberanian yang luar biasa."
"Apa aku harus memaafkannya?" Ariyanti melepaskan pelukan.
"Itu pilihanmu." Akang menatap Ariyanti. "Tapi ingat, memaafkan bukan untuk dia. Memaafkan untuk dirimu sendiri. Agar kamu tidak terus dirundung amarah. Agar kamu tidak terus dibayangi kebencian. Agar kamu bisa melangkah maju tanpa beban."
Siti di Jalan
Jalan Randu Gembyang, pukul 11.45.
Siti berjalan pelan. Tubuhnya lelah. Kaki yang bengkak terasa berat. Perut yang besar terasa seperti gunung yang harus ia pikul sendiri.
Ia masih menangis. Tangis yang tidak bisa ia hentikan. Tangis yang keluar begitu saja, tanpa bisa ia kontrol.
"Ariyanti pasti benci aku sekarang." Ia berbicara pada dirinya sendiri. "Dia pasti tidak mau berteman lagi denganku. Dia pasti akan menghindariku. Dia pasti akan menganggapku sebagai sampah."
Ia berhenti di bawah pohon randu tertua. Pohon yang sama yang dulu menjadi saksi bisu pertemuan Ariyanti dan Akang. Pohon yang sama yang menjadi tempat mereka berdua, tertawa, bercanda, berpegangan tangan.
"Mereka begitu bahagia di sini." Siti duduk di akar pohon. "Aku tidak pernah bisa merasakan itu. Aku tidak pernah punya cinta seperti itu. Aku tidak pernah punya orang yang setia menungguku."
Ia memegang perutnya.
"Nak, Mamah sudah melakukan kesalahan besar. Mamah sudah mengkhianati sahabat Mamah sendiri. Mamah sudah menyakiti orang-orang yang baik. Tapi Mamah sudah mengaku. Mamah sudah minta maaf. Semoga Tuhan memaafkan Mamah. Semoga Ariyanti memaafkan Mamah."
Bayinya menendang. Kuat.
Bu Sumi Menjemput
Jalan Randu Gembyang, pukul 12.00.
Bu Sumi datang dengan becak. Becak tua yang sudah usang, catnya mengelupas di sana-sini, tapi masih bisa berjalan. Ia khawatir karena Siti pergi terlalu lama. Sudah hampir tiga jam. Padahal jarak dari rumah Bu Sumi ke rumah Ariyanti hanya sekitar 4 kilometer. Seharusnya cukup 2 jam untuk pulang pergi.
"Siti!" Bu Sumi turun dari becak. "Kamu kenapa duduk di sini? Kamu pingsan?"
"Tidak, Bu." Siti menggeleng. "Saya hanya lelah. Saya hanya butuh istirahat sebentar."
"Apa yang terjadi di rumah Ariyanti?" Bu Sumi duduk di samping Siti.
"Saya sudah mengaku semuanya, Bu." Siti menunduk. "Semua pengkhianatan saya. Semua kebohongan saya. Semua kejahatan saya."
"Lalu?" Bu Sumi bertanya.
"Ariyanti kecewa." Siti menangis lagi. "Dia tidak marah. Dia tidak membentak. Dia hanya diam. Dan diamnya itu lebih menyakitkan daripada seribu kata makian."
"Beri dia waktu, Siti." Bu Sumi mengelus kepala Siti. "Dia butuh proses. Dia butuh merenung. Dia butuh menerima kenyataan. Tidak mudah mengakui bahwa sahabat sendiri telah mengkhianatinya selama ini."
"Apakah dia akan memaafkan saya, Bu?" Siti menatap Bu Sumi.
"Suatu hari nanti, iya." Bu Sumi tersenyum. "Ketika lukanya sudah sembuh. Ketika amarahnya sudah reda. Ketika ia sudah siap."
Ariyanti Merenung
Rumah Ariyanti, sore itu.
Setelah Akang pulang, setelah rumah kembali sepi, setelah hanya ada suara jangkrik dan angin yang berembus, Ariyanti duduk di teras. Matanya menatap sawah di kejauhan. Padi mulai menguning, sebentar lagi panen.
"Siti adalah sahabatku sejak SMP." Ariyanti berbicara pada dirinya sendiri. "Kami makan bersama, belajar bersama, menangis bersama. Aku selalu menganggapnya seperti adik sendiri. Aku selalu melindunginya. Aku selalu membantunya."
"Tapi di balik itu, di balik senyumnya, di balik kebaikannya, di balik kesetiaannya, ia menyimpan iri. Ia menyimpan dendam. Ia menyimpan kebencian. Kebencian yang tidak pernah aku sadari."
"Apakah aku pernah membuatnya merasa kecil?" Ariyanti bertanya pada langit. "Apakah aku terlalu egois? Apakah aku terlalu sibuk dengan masalahku sendiri sehingga tidak pernah bertanya kabarnya? Apakah aku terlalu sibuk dengan Akang dan Rahmadi sehingga melupakan sahabatku sendiri?"
"Atau murni rasa iri yang tumbuh sendiri dalam dirinya? Rasa iri yang tidak bisa ia kendalikan? Rasa iri yang membesar setiap hari, setiap jam, setiap menit, sampai akhirnya menjadi kebencian?"
Ariyanti tidak tahu jawabannya.
Tapi ia tahu satu hal.
Siti adalah korban juga.
Korban dari lingkungan yang mengajarkan bahwa kebahagiaan adalah kompetisi. Korban dari orang tua yang tidak pernah memberinya cukup perhatian. Korban dari sekolah yang selalu membandingkan murid satu dengan yang lain. Korban dari masyarakat yang selalu mengukur kesuksesan dari seberapa banyak kita memiliki, bukan dari seberapa baik kita menjadi manusia.
Korban dari Rahmadi, yang memanfaatkan kelemahannya, yang membayarnya dengan uang, yang menjanjikan dunia padanya.
Korban dari egonya sendiri, yang tidak pernah puas, yang selalu ingin lebih, yang selalu merasa kurang.
Ariyanti Memutuskan
Rumah Ariyanti, malam itu.
Ariyanti memutuskan untuk memaafkan Siti. Bukan karena ia sudah ikhlas. Belum. Masih ada luka di hatinya. Masih ada kecewa yang mengendap. Masih ada pertanyaan-pertanyaan yang tidak terjawab.
Tapi ia tidak mau terus dirundung kebencian. Ia tidak mau terus memikirkan pengkhianatan Siti. Ia tidak mau energi positifnya terkuras oleh amarah yang tidak berguna.
"Kebencian hanya akan melukai diriku sendiri." Ariyanti mengambil pena dan kertas. "Siti sudah cukup menderita. Dia hamil. Dia ditinggal Rahmadi. Dia sendirian. Dia tidak punya siapa-siapa."
Ia menulis surat pendek.
"Siti..."
"Aku masih kecewa. Aku masih sakit hati. Aku masih belum bisa melupakan semua yang telah kamu lakukan."
"Tapi aku tidak akan membencimu. Aku tidak akan terus memikirkan kesalahanmu. Aku tidak akan membalas dendam."
"Aku butuh waktu. Waktu untuk menyembuhkan lukaku. Waktu untuk menerima kenyataan. Waktu untuk memaafkanmu dengan tulus."
"Tapi ketika waktu itu tiba, ketika lukaku sudah sembuh, ketika aku sudah siap, aku akan memaafkanmu. Aku janji."
"Jaga dirimu. Jaga bayimu. Jangan ulangi kesalahan yang sama. Jadilah ibu yang baik untuk anakmu."
"Dari Ariyanti, sahabatmu."
Ia melipat surat itu, memasukkannya ke amplop, dan menulis nama Siti di sampulnya.
Marni Menengahi
Rumah Bu Sumi, keesokan harinya.
Marni datang menjenguk Siti. Ia sudah mendengar cerita dari Ariyanti. Ariyanti meneleponnya malam tadi, menangis, bercerita tentang pengakuan Siti, tentang rasa kecewanya, tentang kebingungannya.
Marni duduk di samping Siti. Di tangannya, amplop dari Ariyanti.
"Siti, aku kecewa juga." Marni menatap Siti. "Aku tidak menyangka kamu bisa melakukan semua itu. Aku tidak menyangka kamu sejahat itu."
"Maaf, Mar." Siti menunduk.
"Tapi aku tidak akan meninggalkanmu." Marni menggenggam tangan Siti. "Karena kamu sedang hamil. Karena kamu butuh dukungan. Karena kamu sudah bertobat."
"Kalian semua terlalu baik padaku." Siti menangis. "Aku tidak pantas."
"Bukan soal pantas." Marni mengusap air mata Siti. "Tapi soal kemanusiaan. Kamu sedang hamil. Kamu butuh dukungan. Kamu butuh teman. Kamu butuh keluarga."
"Ini surat dari Ariyanti." Marni menyerahkan amplop itu.
Siti membuka surat itu. Tangannya gemetar. Matanya membaca baris demi baris.
Air matanya jatuh.
"Ariyanti... dia mau memaafkanku..."
Siti Menulis Surat Balasan
Rumah Bu Sumi, malam itu.
Siti menulis surat balasan untuk Ariyanti. Tangannya masih gemetar. Air matanya masih mengalir. Tapi ia harus membalas. Ia harus berterima kasih. Ia harus menunjukkan bahwa ia sungguh-sungguh menyesal.
"Ari..."
"Terima kasih. Terima kasih untuk kesediaanmu memaafkanku. Aku tidak pantas. Aku tidak layak. Aku hanya sampah yang tidak berharga."
"Tapi aku menerima maafmu dengan penuh syukur. Dengan hati yang hancur. Dengan air mata yang tidak berhenti."
"Aku janji. Aku janji demi Allah. Setelah bayiku lahir, aku akan menjadi pribadi yang lebih baik. Aku akan membesarkan anakku dengan kasih sayang. Bukan dengan kebencian. Bukan dengan iri. Bukan dengan dendam."
"Aku akan selalu mendoakan kalian. Kamu dan Akang. Semoga kalian bahagia selamanya. Semoga kalian selalu bersama. Semoga kalian tidak pernah terpisah oleh apapun."
"Dari Siti, sahabatmu yang pernah tersesat."
Ia melipat surat itu dan menyimpannya di bawah bantal. Besok pagi, ia akan minta Marni untuk mengantarkannya.
Akang Mendukung Ariyanti
Jalan Randu Gembyang, sore itu.
Akang dan Ariyanti berjalan bersama. Kaki Akang sudah hampir pulih. Ia sudah tidak pakai tongkat lagi. Hanya berjalan sedikit pincang, tapi tidak terlalu mengganggu.
"Ari, aku dengar kamu memaafkan Siti." Akang menggenggam tangan Ariyanti.
"Aku belum sepenuhnya ikhlas, Kang." Ariyanti membalas genggaman Akang. "Tapi aku sedang berusaha. Aku sedang belajar."
"Itu sudah lebih dari cukup." Akang tersenyum. "Memaafkan itu proses. Bukan sesuatu yang instan. Butuh waktu. Butuh kesabaran. Butuh kerja keras."
"Kang, apa kamu pernah benci pada Siti?" Ariyanti bertanya.
Akang terdiam sebentar.
"Awalnya iya." Akang menghela napas. "Setelah dia merayuku di bengkel, aku marah. Aku ingin melaporkannya pada polisi. Aku ingin menghindarinya. Aku ingin tidak pernah bertemu dengannya lagi."
"Tapi setelah melihat dia hamil." Akang melanjutkan. "Setelah melihat dia ditinggal Rahmadi. Setelah melihat dia sendirian, tidak punya siapa-siapa. Setelah melihat dia datang mengaku dan minta maaf, aku kasihan."
"Kamu terlalu baik, Kang." Ariyanti menatap Akang.
"Aku tidak baik." Akang menggeleng. "Aku hanya sadar bahwa kebencian tidak akan membawa kebaikan. Kebencian hanya akan membuatku semakin menderita."
Persiapan Persalinan Siti
Rumah Bu Sumi, awal Maret 1999.
Siti semakin dekat dengan hari persalinannya. Perutnya sudah sangat besar. Dokter memperkirakan bayi akan lahir sekitar tanggal 25 Maret.
Bu Sumi sudah menyiapkan semua perlengkapan. Popok kain dari potongan kain bekas. Baju bayi dari bahan katun tipis. Selimut dari kain flanel murah. Botol susu dari kaca. Semua tertata rapi di kamar Siti.
Ariyanti dan Marni bergantian menjenguk. Mereka membawa makanan, buah-buahan, dan kadang oleh-oleh kecil untuk Siti.
"Ari, kamu tidak marah lagi padaku?" Siti bertanya suatu sore.
Ariyanti duduk di samping Siti.
"Masih sedikit." Ariyanti menghela napas. "Tapi tidak separah dulu. Setiap hari, lukaku semakin sembuh. Setiap hari, kekecewaanku semakin berkurang."
"Aku senang." Siti tersenyum.
"Siti, aku mau jadi bibi untuk bayimu." Ariyanti menggenggam tangan Siti.
Siti menangis. "Kamu mau? Kamu mau menjadi bibi untuk anakku? Setelah semua yang aku lakukan?"
"Aku mau." Ariyanti mengangguk. "Karena anak itu tidak berdosa. Anak itu tidak tahu apa-apa. Anak itu pantas mendapat kasih sayang. Dari semua orang. Termasuk dariku."
Herman Menawarkan Bantuan
Rumah Bu Sumi, pertengahan Maret 1999.
Herman datang membawa bantuan. Kantong plastik berisi popok, baju bayi, selimut, dan perlengkapan lainnya. Juga amplop berisi uang untuk biaya persalinan Siti di rumah sakit.
"Pak Herman, saya tidak bisa..." Siti menolak.
"Kamu bisa." Herman tidak menerima penolakan. "Ini tanggung jawab saya. Sebagai ayah Rahmadi. Meskipun anak saya tidak bertanggung jawab, saya harus bertanggung jawab. Saya harus memperbaiki kesalahannya."
"Terima kasih, Pak." Siti menunduk.
"Dan jika nanti kamu butuh tempat tinggal, kamu bisa tinggal di rumah saya." Herman menambahkan. "Saya sudah tua. Sendirian. Sepi. Rumah saya di Kersan cukup besar. Kamu dan bayimu bisa tinggal di sana."
"Terima kasih, Pak." Siti mengangguk. "Saya pikir-pikir dulu."
Siti Melahirkan
RSUD Kendal, 25 Maret 1999, pukul 03.00 dini hari.
Siti terbangun dengan rasa sakit yang luar biasa di perutnya. Rasa sakit yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Rasa sakit yang merambat dari perut ke pinggang, ke punggung, ke seluruh tubuh.
Air ketubannya pecah. Cairan hangat membasahi kasurnya.
"BU SUMI! BU SUMI!" Siti berteriak sekuat tenaga. "SAYA AKAN MELAHIRKAN!"
Bu Sumi yang terbangun kaget segera bergegas ke kamar Siti. Wajahnya panik, tapi ia berusaha tenang.
"Tenang, Siti. Ibu panggil Herman. Ibu minta tolong diantar ke rumah sakit."
Bu Sumi menelepon Herman. Telepon berdering lama. Herman angkat dengan suara mengantuk.
"Pak Herman, Siti mau melahirkan! Tolong, Pak. Antar ke rumah sakit."
Herman datang dalam 10 menit. Mobil tua yang jarang dipakai itu melaju kencang di jalan yang gelap.
Siti dibawa ke RSUD Kendal. Proses persalinan berlangsung 6 jam. Siti menjerit kesakitan. Tangannya mencengkeram erat pegangan tempat tidur. Keringat membasahi seluruh tubuhnya.
Ariyanti, Marni, dan Bu Sumi menunggu di luar ruang bersalin. Mereka bergantian berdoa. Bergantian menatap pintu.
"Semoga lancar," doa Ariyanti. "Semoga Siti selamat. Semoga bayinya selamat."
Pukul 09.00, terdengar tangisan bayi. Keras. Nyaring. Seperti memproklamasikan kehadirannya ke dunia.
"Selamat, Ibu Siti." Dokter menggendong bayi yang masih merah. "Bayi laki-laki. Berat 3,2 kilogram. Panjang 48 sentimeter. Sehat. Tidak ada kelainan."
Siti menangis bahagia. Tangis yang keluar dari lubuk hatinya yang paling dalam.
"Anakku... akhirnya kau lahir."
Dokter menyerahkan bayi itu pada Siti. Bayi yang mungil, dengan rambut hitam tipis, mata yang masih terpejam, tangan yang mengepal.
Siti menatap wajah mungil yang masih merah dan keriput itu.
"Kau tidak akan tumbuh seperti ayahmu." Siti berbisik pada bayinya. "Kau tidak akan menjadi seperti Rahmadi. Kau akan tumbuh seperti ibumu. Ibu yang sudah bertobat. Ibu yang sudah meminta maaf. Ibu yang sudah berjanji untuk menjadi lebih baik."
Bayi itu menangis lagi. Seolah-olah merespon janji ibunya.
Dan di luar ruang bersalin, Ariyanti, Marni, dan Bu Sumi menangis bahagia mendengar tangisan pertama bayi itu.
BAB 29
MEMAFFKAN
Ariyanti memeluk Siti. "Kita semua pernah salah. Sekarang kita lawan dia bersama."
RSUD Kendal, 25 Maret 1999. Beberapa jam setelah Siti melahirkan.
Sinar matahari pagi masuk melalui celah-celah tirai jendela ruang rawat inap RSUD Kendal. Sinar itu tidak terlalu terang, tidak terlalu redup. Sempurna. Seperti sinar yang sengaja dirancang untuk menyambut pagi yang istimewa. Untuk menyambut kehidupan baru yang baru saja dimulai.
Sinar itu jatuh di lantai keramik putih yang dingin. Jatuh di dinding yang dicat hijau pucat, warna yang dipilih karena dianggap menenangkan pasien. Jatuh di seprai putih tempat Siti terbaring. Dan jatuh di wajah mungil bayi yang tertidur pulas di sampingnya.
Siti terbaring lemah di tempat tidur. Keringat masih membasahi pelipisnya, meskipun sudah beberapa jam sejak ia selesai melahirkan. Wajahnya pucat, habiskan energi selama 6 jam berjuang antara hidup dan mati. Matanya sayu, masih mengantuk karena pengaruh obat penenang yang diberikan dokter.
Tapi ada senyum di bibirnya. Senyum bahagia. Senyum yang tidak bisa ia sembunyikan meskipun wajahnya lelah dan tubuhnya terasa remuk. Senyum seorang ibu yang baru pertama kali melihat anaknya.
Di sampingnya, di dalam keranjang plastik bening yang disediakan rumah sakit, bayi laki-lakinya tertidur pulas. Wajahnya masih merah, keriput, belum sempurna. Tapi bagi Siti, itu adalah wajah tercantik yang pernah ia lihat. Tangannya mengepal kecil, seperti sedang memegang sesuatu yang sangat berharga. Bibirnya sesekali bergerak, mengisap-isap, seolah-olah sedang mimpi menyusu.
"Anakku...," bisik Siti, menatap bayi itu dengan mata penuh cinta. Matanya basah. "Akhirnya... kau lahir. Setelah sembilan bulan di dalam perut Mamah. Setelah sembilan bulan Mamah mengandungmu sendirian. Setelah sembilan bulan Mamah menanggung malu dan dosa."
Ia mengulurkan jarinya, menyentuh pipi bayi itu yang lembut.
"Kau tidak akan tumbuh seperti ayahmu. Kau akan tumbuh seperti ibumu. Ibu yang sudah bertobat. Ibu yang sudah berjanji untuk menjadi lebih baik."
Di luar ruangan, di koridor yang sepi, Ariyanti berdiri termenung.
Ia sudah sampai di rumah sakit sejak subuh. Marni meneleponnya sekitar jam setengah empat pagi, suaranya panik dan gemetar. "Ari, Siti melahirkan! Cepat ke rumah sakit!"
Ariyanti tidak perlu dua kali. Ia langsung bangun, mengambil air wudhu, salat subuh dengan terburu-buru, lalu bergegas ke RSUD Kendal. Perjalanan dari Dusun Kersan ke rumah sakit memakan waktu hampir satu jam dengan bus. Satu jam yang terasa seperti satu abad.
Ketika ia tiba, Siti masih di ruang bersalin. Bu Sumi dan Marni sudah menunggu di luar. Wajah mereka tegang, gelisah, tidak sabar.
"Belum lahir?" tanya Ariyanti.
"Belum," kata Bu Sumi. "Sudah 4 jam. Kata dokter, bayinya besar."
Ariyanti duduk di kursi koridor. Ia tidak bisa duduk tenang. Ia berdiri, duduk lagi, berdiri lagi. Jantungnya berdebar kencang. Ia berdoa. Berdoa untuk Siti. Berdoa untuk bayinya. Berdoa untuk keselamatan mereka berdua.
"Ya Allah, lindungi Siti. Lindungi bayinya. Beri mereka kekuatan."
Pukul 09.00, terdengar tangisan bayi. Keras. Nyaring. Seperti suara terompet yang memberitakan kemenangan.
Sekarang, Siti sudah di ruang rawat inap. Bayinya sudah di sampingnya. Bu Sumi dan Marni sudah masuk menemani. Tapi Ariyanti masih berdiri di luar.
Ia belum masuk. Masih bergulat dengan perasaannya. Masih berperang dengan batinnya.
"Bisakah aku benar-benar memaafkan Siti?" tanyanya pada dirinya sendiri. "Bisakah aku melupakan semua pengkhianatannya? Bisakah aku melihat dia sebagai sahabat lagi? Bisakah aku memeluknya seperti dulu, tanpa rasa canggung, tanpa rasa sakit, tanpa rasa kecewa?"
Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di kepalanya. Seperti pusaran air yang tidak bisa ia hentikan. Seperti film yang diputar berulang-ulang.
Tapi ketika ia mendengar tangisan bayi dari dalam ruangan, suara lembut yang polos dan tidak berdosa, sesuatu meleleh di hatinya.
Bayi itu tidak bersalah. Bayi itu tidak tahu apa-apa tentang masa lalu ibunya. Bayi itu tidak peduli bahwa ibunya pernah menjadi mata-mata, pernah berkhianat, pernah menyakiti sahabatnya sendiri. Bayi itu hanya butuh kasih sayang. Hanya butuh kehangatan. Hanya butuh pelukan.
Dan jika ia terus membenci Siti, jika ia terus memendam amarah, jika ia terus mengingat semua pengkhianatan itu, ia tidak akan bisa memberikan kasih sayang pada bayi itu. Ia tidak akan bisa menjadi bibi yang baik. Ia tidak akan bisa menjadi bagian dari kehidupan anak yang tidak berdosa.
"Bayi itu pantas tumbuh dalam kasih sayang. Bukan dalam kebencian yang diwariskan dari masa lalu."
Ariyanti menarik napas panjang. Udara di koridor rumah sakit terasa dingin, tapi tidak cukup untuk mendinginkan dadanya yang panas.
Ia membuka pintu. Perlahan. Tanpa suara.
Ariyanti Masuk ke Ruangan
Ruang rawat inap RSUD Kendal, pukul 09.30.
Ariyanti melangkah masuk. Langkahnya pelan, tidak tergesa-gesa. Sepatu karetnya yang sudah usang tidak mengeluarkan suara di lantai keramik.
Siti yang sedang menatap bayinya menoleh. Wajahnya berubah tegang. Campuran antara harap dan takut. Harap bahwa Ariyanti mau memaafkannya. Takut bahwa Ariyanti akan membencinya selamanya.
"Ari... kamu datang..." Suara Siti lirih, bergetar.
"Aku datang, Siti." Ariyanti berdiri di kaki tempat tidur.
Siti menunduk. "Aku pikir kamu tidak mau melihatku lagi. Aku pikir kamu akan menghindariku selamanya. Aku pikir..."
"Aku butuh waktu, Siti." Ariyanti memotong. "Aku butuh waktu untuk memproses semua yang terjadi. Aku butuh waktu untuk menerima kenyataan. Tapi aku tidak akan meninggalkanmu."
Ariyanti mendekati tempat tidur Siti. Matanya tertuju pada bayi mungil yang tertidur di samping Siti. Bayi itu begitu kecil, begitu rapuh, begitu tidak berdaya.
"Boleh aku gendong?"
Siti terkejut. Matanya membulat. "Kamu... kamu mau? Setelah semua yang aku lakukan?"
"Iya. Aku mau." Ariyanti tersenyum. "Aku mau menggendong anak sahabatku."
Siti mengangguk, berusaha mengangkat bayinya meskipun tangannya masih lelah. Ariyanti membantu. Dengan hati-hati, dengan penuh kelembutan, ia menggendong bayi laki-laki itu. Bayi itu terbangun sebentar, membuka matanya yang masih buram, seperti tidak bisa fokus melihat siapa yang menggendongnya. Lalu ia kembali terlelap. Mungkin terlalu lelah. Mungkin terlalu nyaman.
"Dia mirip kamu, Siti." Ariyanti menatap wajah bayi itu. "Hidungnya mancung seperti hidungmu. Pipinya tembam seperti pipimu."
"Mirip Rahmadi juga." Siti menunduk. "Dahi sama lebar. Mata sama sayu."
Ariyanti terdiam. Matanya tidak berkedip.
"Rahmadi tidak pantas jadi ayah." Suaranya tegas. "Dia tidak pernah belajar menjadi baik. Dia tidak pernah merasakan kasih sayang. Dia tidak tahu bagaimana cara mencintai."
"Tapi kamu pantas jadi ibu, Siti." Ariyanti melanjutkan. "Kamu sudah berubah. Kamu sudah bertobat. Kamu sudah berusaha menjadi lebih baik. Kamu akan menjadi ibu yang baik untuk anakmu."
Siti menangis. "Ari... aku minta maaf... aku minta maaf atas semua yang sudah aku lakukan... atas semua kebohongan... atas semua pengkhianatan... atas semua kejahatan..."
Ariyanti Memeluk Siti
Ruang rawat inap. Ariyanti meletakkan bayi itu perlahan di samping Siti. Bayi itu menggeliat sebentar, lalu kembali tertidur.
Ariyanti duduk di tepi tempat tidur. Ia meraih tangan Siti. Tangannya gemetar. Dingin. Basah oleh keringat.
"Siti, lihat aku."
Siti mengangkat kepala. Matanya merah, basah oleh air mata. Wajahnya basah.
"Ari, aku tidak pantas..."
"Setiap orang pantas mendapat kesempatan kedua, Siti." Ariyanti menggenggam tangan Siti. "Setiap orang. Termasuk kamu. Termasuk aku. Termasuk Akang. Termasuk Rahmadi sekalipun."
"Aku sudah mengkhianati kalian." Siti terisak. "Aku sudah membocorkan rahasiamu pada Rahmadi. Aku sudah memberi informasi tentang rencana kalian ke perpustakaan. Aku sudah memotret dokumen Bu Sumi. Aku sudah memberitahu di mana Pak Dullah menyimpan surat wasiat Hj. Fatimah."
"Siti, berhenti." Ariyanti memotong. "Aku tahu semua itu. Aku sudah tahu. Dan aku sudah memutuskan."
"Memutuskan apa?" Siti bertanya.
Ariyanti tidak menjawab dengan kata-kata. Ia memeluk Siti. Erat. Hangat. Seperti dulu, ketika mereka masih bersahabat di SMP. Seperti dulu, ketika mereka berbagi nasi bungkus di kantin. Seperti dulu, ketika mereka menangis bersama karena nilai jelek.
Siti terisak di bahu Ariyanti. Ia tidak percaya. Setelah semua yang ia lakukan. Setelah semua pengkhianatan. Setelah semua kebohongan. Setelah semua kejahatan. Ariyanti masih mau memeluknya.
"Kenapa... kenapa kamu mau memaafkanku, Ari?" Siti bertanya dengan suara terputus-putus. "Aku tidak pantas. Aku tidak layak. Aku hanya sampah yang tidak berharga."
"Karena memaafkan bukan tentang pantas atau tidak, Siti." Ariyanti melepaskan pelukan. Ia menatap mata Siti. "Memaafkan adalah tentang melepaskan. Melepaskan kebencian. Melepaskan amarah. Melepaskan dendam. Aku tidak mau terus dirundung kebencian. Aku tidak mau energi positifku terkuras oleh amarah yang tidak berguna."
"Dan aku tidak mau bayimu tumbuh dalam bayang-bayang dosa ibunya." Ariyanti menatap bayi yang tertidur. "Aku tidak mau dia besar dengan mengetahui bahwa ibunya dibenci oleh semua orang. Aku tidak mau dia besar dengan perasaan bersalah karena dosa yang bukan perbuatannya."
Siti menangis lebih keras. "Ari... terima kasih... terima kasih..."
Bu Sumi dan Marni Masuk
Ruang rawat inap, pukul 10.00.
Bu Sumi dan Marni yang baru tiba di rumah sakit melihat pemandangan yang mengharukan. Ariyanti dan Siti sedang berpelukan. Air mata mereka bercampur. Tangis mereka bersatu.
"Kita datang tepat waktu," bisik Bu Sumi sambil mengusap air matanya.
Marni tersenyum. "Akhirnya... mereka berdua baikan. Setelah sekian lama... setelah sekian banyak masalah... setelah sekian banyak air mata..."
Marni mendekat. "Siti, aku juga memaafkanmu." Ia memeluk Siti dari sisi lain. "Tapi jangan ulangi ya. Jangan sakiti Ariyanti lagi. Jangan sakiti Akang lagi. Jangan sakiti kami semua lagi."
Siti tertawa tipis sambil menangis. "Aku janji, Mar. Aku tidak akan mengulangi. Aku sudah kapok. Aku sudah muak dengan semua ini."
Bu Sumi mengusap kepala Siti. Tangannya yang keriput dan hangat itu seperti tangan seorang ibu. "Kamu hebat, Siti. Kamu sudah melahirkan dengan selamat. Kamu sudah melewati ujian yang berat. Sekarang fokus pada bayimu. Jaga dia. Rawat dia. Didik dia dengan baik."
"Bu Sumi, aku tidak tahu harus membalas kebaikan Ibu." Siti menangis lagi. "Ibu sudah merawatku selama hamil. Ibu sudah membiayai persalinanku. Ibu sudah menjadi ibu untukku."
"Balas dengan membesarkan anakmu menjadi pribadi yang baik." Bu Sumi tersenyum. "Balas dengan menjadi ibu yang baik. Balas dengan tidak mengulangi kesalahan yang sama."
Akang dan Ibu Ariyanti Datang
Ruang rawat inap, pukul 11.00.
Akang datang bersama Ibu Ariyanti. Akang masih berjalan sedikit pincang, kakinya belum pulih seratus persen. Tapi ia sudah tidak pakai tongkat lagi. Sudah bisa berjalan sendiri, meskipun cepat lelah.
Ibu Ariyanti membawa rantang besar. Bubur ayam buatannya. Khas. Dengan ayam kampung dan bumbu yang tidak pedas.
"Siti, ini untuk kamu." Ibu Ariyanti meletakkan rantang di meja samping tempat tidur. "Makan biar kuat. Kamu habis melahirkan. Tubuhmu butuh nutrisi."
"Terima kasih, Bu." Siti menunduk. "Maaf saya sudah menyusahkan Ibu."
Akang mendekati Siti. Wajahnya serius. Tidak marah, tidak kesal. Tapi serius.
Siti menunduk takut. Ia tidak berani menatap mata Akang.
"Kang, aku minta maaf." Suara Siti bergetar. "Untuk semuanya. Terutama karena aku pernah merayumu di bengkel dulu. Aku tahu itu salah. Aku tahu itu dosa."
Akang menghela napas.
"Siti, aku sudah memaafkanmu." Suaranya pelan, tapi jelas. "Tapi jangan harap aku lupa. Jangan harap aku bisa melupakan begitu saja. Aku hanya memilih untuk tidak terus membenci. Aku hanya memilih untuk tidak menyimpan dendam."
"Itu sudah lebih dari cukup, Kang." Siti mengangkat kepalanya. "Itu sudah lebih dari yang pantas aku terima."
"Yang penting sekarang bayimu sehat." Akang menatap Rizki yang masih tertidur pulas. "Dan kamu sehat. Itu yang utama."
Siti menangis lagi. Hari ini ia sudah menangis berkali-kali. Tapi kali ini tangis bahagia.
Siti Meminta Maaf pada Ibu Ariyanti
Ruang rawat inap, siang itu.
Suasana sedikit tenang. Bu Sumi dan Marni sudah keluar untuk membeli makan siang. Akang sedang di halaman rumah sakit, mencari angin. Hanya Siti, Ariyanti, dan Ibu Ariyanti yang tersisa.
Siti meminta Ibu Ariyanti mendekat.
"Bu, saya minta maaf." Siti menunduk dalam-dalam. "Saya sudah menyusahkan Ibu dan keluarga Ibu. Saya sudah membawa masalah ke rumah Ibu. Saya sudah membuat Ariyanti menderita."
Ibu Ariyanti tersenyum. Wajahnya yang keriput itu terlihat begitu lembut.
"Siti, Ibu sudah tua." Ibu Ariyanti mengelus rambut Siti. "Ibu sudah 55 tahun. Ibu sudah banyak melihat orang berbuat salah dan bertobat. Ibu sudah banyak melihat orang jatuh dan bangkit. Ibu tidak akan menyimpan dendam."
"Saya tidak tahu harus membalas kebaikan Ibu." Siti menangis.
"Balas dengan menjadi ibu yang baik untuk anakmu." Ibu Ariyanti menatap Rizki. "Balas dengan mendidiknya menjadi anak yang shaleh. Balas dengan tidak mengulangi kesalahan yang sama."
Siti Memberi Nama Bayinya
Ruang rawat inap, sore itu.
Siti menggendong bayinya. Ia menatap wajah mungil itu dengan penuh kasih. Matanya tidak berkedip. Tangannya tidak lelah.
"Ari, aku sudah memikirkan nama untuknya." Siti menatap Ariyanti.
"Apa, Sit?" Ariyanti mendekat.
"Muhammad Rizki."
"Rizki?" Ariyanti mengernyit. "Artinya rezeki?"
"Iya." Siti mengangguk. "Karena dia adalah rezeki terindah dalam hidupku. Meskipun dia lahir dari situasi yang sulit. Meskipun dia lahir dari dosa. Meskipun dia lahir tanpa ayah yang bertanggung jawab, aku percaya dia akan membawa kebaikan."
"Rizki yang baik." Ariyanti tersenyum. "Nama yang indah. Nama yang penuh harapan."
"Ari, maukah kamu menjadi bibi untuk Rizki?" Siti menatap Ariyanti. Matanya penuh harap.
Ariyanti tersenyum. "Dengan senang hati, Sit."
Marni yang mendengar dari kejauhan menghampiri. "Aku juga mau jadi bibi, Sit!"
Bu Sumi tertawa. "Kalau begitu, aku jadi neneknya. Nenek Sumi. Kedengarannya lucu."
Mereka semua tertawa. Ruangan yang sebelumnya sunyi, yang sebelumnya hanya diisi oleh suara monitor dan desisan selang oksigen, kini dipenuhi tawa.
Ariyanti Cerita pada Akang
Halaman parkir RSUD Kendal, sore itu.
Akang dan Ariyanti berjalan-jalan kecil di halaman rumah sakit. Kaki Akang sudah cukup pulih untuk berjalan tanpa tongkat. Ia hanya berjalan sedikit pincang, tapi tidak terlalu mengganggu.
Di halaman rumah sakit, ada taman kecil. Pohon rindang. Bangku-bangku kayu. Beberapa tanaman hias.
Mereka duduk di bangku di bawah pohon.
"Kang, aku sudah memaafkan Siti." Ariyanti menggenggam tangan Akang.
"Aku tahu." Akang membalas genggaman Ariyanti. "Aku melihatnya. Aku melihat bagaimana kamu memeluk Siti. Aku melihat bagaimana kamu menggendong anaknya. Aku melihat bagaimana kamu tersenyum padanya."
"Apa kamu setuju?" Ariyanti menatap Akang.
"Aku setuju, Ari." Akang mengangguk. "Karena itu yang terbaik untuk semua. Untuk Siti. Untuk kamu. Untuk kita. Untuk Rizki."
"Aku takut suatu hari nanti dia akan mengulangi lagi." Ariyanti menghela napas. "Aku takut dia akan kembali ke kebiasaan lamanya. Aku takut dia akan kembali menjadi mata-mata."
"Ari, orang bisa berubah." Akang menggenggam tangan Ariyanti. "Siti sudah menunjukkan itikad baik. Dia mengaku. Dia menyesal. Dia minta maaf. Itu tidak mudah, Ari. Itu tidak mudah bagi siapapun."
"Kamu benar." Ariyanti tersenyum. "Mungkin aku terlalu khawatir."
"Kamu tidak khawatir, Ari." Akang mengusap pipi Ariyanti. "Kamu hanya berhati-hati. Kamu hanya tidak mau terluka lagi. Itu wajar. Itu manusiawi."
Mereka berpegangan tangan. Hangat.
Herman Mengunjungi Siti
RSUD Kendal, keesokan harinya.
Herman datang dengan membawa bingkisan besar. Baju bayi. Popok kain. Susu formula. Selimut. Perlengkapan mandi. Semua lengkap.
"Siti, ini untukmu." Herman meletakkan bingkisan di meja. "Untuk Rizki juga."
"Pak Herman, saya tidak tahu harus..." Siti tidak bisa menyelesaikan kalimatnya.
"Jangan berterima kasih, Siti." Herman tersenyum. "Ini tanggung jawab saya. Tanggung jawab saya sebagai ayah Rahmadi. Tanggung jawab saya sebagai kakek Rizki."
"Tapi Pak Herman, ini bukan salah Bapak." Siti menunduk. "Ini salah Rahmadi. Ini salah saya. Saya yang terlalu naif. Saya yang terlalu mudah terpengaruh."
"Ini salah anak saya, Siti." Herman menghela napas. "Dan sebagai ayah, saya harus bertanggung jawab. Saya harus memperbaiki kesalahan anak saya."
Siti menunduk. "Pak Herman, apakah Rahmadi tahu tentang kelahiran Rizki? Apakah dia tahu bahwa anaknya sudah lahir?"
Herman menghela napas. "Sudah saya kabari, Siti. Saya sudah kirim surat. Saya sudah bilang pada pengacara untuk menyampaikan kabar. Tapi dia tidak merespon. Dia tidak membalas suratku. Dia tidak mau mendengar."
"Apakah dia mau melihat anaknya?" Siti bertanya.
"Aku tidak tahu, Siti." Herman menggeleng. "Tapi aku akan terus berusaha. Aku tidak akan menyerah. Seperti dulu aku tidak menyerah pada Hj. Fatimah."
Siti Pulang
Rumah Bu Sumi, seminggu kemudian.
Siti diperbolehkan pulang. Dokter mengatakan kondisinya sudah stabil. Tidak ada infeksi. Tidak ada komplikasi. Juga bayinya sehat, tidak ada kelainan.
Bu Sumi menjemputnya dengan mobil Pak Lurah. Mobil tua yang sudah usang, tapi masih bisa berjalan.
Ariyanti, Marni, dan Ibu Ariyanti ikut menyambut. Mereka berdiri di depan rumah Bu Sumi, tersenyum, melambai.
"Selamat datang di rumah, Siti." Bu Sumi membuka pintu.
"Terima kasih, Bu." Siti masuk ke rumah. "Saya tidak tahu harus membalas kebaikan Ibu."
"Balas dengan tersenyum, Siti." Bu Sumi mengusap rambut Siti. "Itu sudah cukup."
Siti masuk ke kamarnya di pojok belakang. Semua masih sama seperti saat ia tinggalkan. Tempat tidur yang sama. Lemari yang sama. Jendela yang sama.
Tapi ada yang berbeda. Ada yang berubah.
Siti merasakannya di hatinya.
Ada kebahagiaan.
Ada kedamaian.
Ada harapan.
Siti Menyusui Rizki
Rumah Bu Sumi, malam itu.
Siti duduk di kursi goyang pemberian Bu Sumi. Kursi tua dari kayu jati, sudah berusia puluhan tahun, tapi masih kokoh. Bunyinya "kreek... kreek..." setiap kali digoyang.
Ia menyusui Rizki. Bayi itu mengisap dengan lahap, matanya terpejam, tangannya yang mungil memegang payudara ibunya.
"Nak, kamu tahu?" Siti berbisik pada bayinya. "Mamah sudah diampuni. Mamah sudah diberi kesempatan kedua. Mamah sudah diterima kembali oleh sahabat-sahabat Mamah."
Rizki berhenti menyusu sejenak. Ia membuka matanya. Mata buram yang belum bisa fokus. Ia menatap ibunya. Lalu ia menyusu lagi.
"Mulai sekarang, Mamah akan menjadi ibu yang baik untukmu." Siti mengelus kepala Rizki. "Mamah akan membesarkanmu dengan kasih sayang. Bukan dengan kebencian. Mamah akan mengajarkanmu kebaikan. Bukan kejahatan."
Ariyanti Sering ke Rumah Bu Sumi
Rumah Bu Sumi, hari-hari berikutnya.
Ariyanti hampir setiap hari datang ke rumah Bu Sumi. Tidak ada hari tanpa kunjungan. Ia membantu Siti merawat Rizki. Mengganti popok. Memandikan. Memberi susu. Menggendong saat Siti lelah.
"Siti, Rizki ini lucu banget." Ariyanti menggendong Rizki sambil berjalan mondar-mandir. "Mirip kamu. Hidung mancung. Pipi tembam. Rambut hitam."
"Semoga tidak mirip bapaknya." Siti tersenyum pahit.
"Jangan bicara begitu, Sit." Ariyanti menatap Siti. "Yang penting dia sehat. Yang penting dia baik. Yang penting dia tumbuh menjadi anak yang shaleh."
"Ari, kamu akan menjadi bibi yang baik untuk Rizki." Siti menggenggam tangan Ariyanti.
"Tentu, Sit." Ariyanti tersenyum. "Aku akan ajari dia nanti kalau sudah besar. Aku akan ajari dia membaca. Aku akan ajari dia menulis. Aku akan ajari dia menjadi anak yang pintar dan baik."
Mereka tertawa.
Rahmadi Mulai Menunjukkan Perubahan
Lapas Kendal, April 1999.
Herman datang mengunjungi Rahmadi. Di tangannya, sebuah foto. Foto Rizki. Foto yang diambil Ariyanti dengan kamera pinjaman Marni. Rizki tersenyum dalam foto itu. Meskipun baru berusia beberapa hari, ia sudah bisa tersenyum. Senyum yang membuat siapa pun yang melihatnya luluh.
"Nak, ini anakmu." Herman menyerahkan foto itu pada Rahmadi melalui celah di bawah kaca.
Rahmadi mengambil foto itu dengan tangan gemetar. Matanya tidak berkedip. Tangannya gemetar hebat.
"Dia... dia mirip..." Suara Rahmadi serak.
"Mirip siapa? Mirip kamu?" Herman tersenyum.
Rahmadi menangis. Air matanya jatuh di foto itu.
"Ayah... aku menyesal." Rahmadi terisak. "Aku menyesal tidak bertanggung jawab pada Siti. Aku menyesal menyuruhnya aborsi. Aku menyesal meninggalkannya sendirian."
"Menyesal itu baik, Nak." Herman mengelus kepala Rahmadi meskipun terhalang kaca. "Tapi jangan hanya menyesal. Kau harus bertanggung jawab. Kau harus menjadi ayah yang baik untuk anakmu."
"Apa yang bisa saya lakukan dari dalam sini, Ayah?" Rahmadi menatap Herman.
"Setidaknya, akui dia sebagai anakmu." Herman menatap Rahmadi. "Setidaknya, kirim surat untuk Siti. Tanyakan kabarnya. Beri dia semangat. Jangan biarkan dia tumbuh tanpa ayah."
Surat Pertama untuk Siti
Lapas Kendal, seminggu kemudian.
Rahmadi menulis surat untuk Siti. Pertama kalinya dalam hidupnya ia menulis surat untuk seorang perempuan yang pernah ia sakiti.
Ia menulis dengan tangan yang gemetar. Dengan hati yang hancur. Dengan penyesalan yang mendalam.
"Siti..."
"Maafkan aku. Aku tahu kata maaf tidak akan cukup untuk semua yang kulakukan. Aku tahu kata maaf tidak akan bisa mengembalikan masa lalumu. Aku tahu kata maaf tidak akan menghilangkan lukamu."
"Aku sudah melihat fotonya. Rizki. Dia anakku. Aku bisa melihatnya dari matanya. Dari senyumnya. Dari bentuk wajahnya."
"Aku tidak bisa berbuat banyak dari sini. Aku hanya seorang narapidana. Tapi aku janji. Janji. Setelah bebas nanti, aku akan bertanggung jawab. Aku akan menjadi ayah untuk Rizki. Aku akan membiayainya. Aku akan mendidiknya."
"Jaga dia baik-baik, Siti. Jaga dia sampai aku bebas."
"Rahmadi"
Herman mengirimkan surat itu pada Siti.
Siti Menerima Surat
Rumah Bu Sumi, sore itu.
Siti membaca surat itu berulang-ulang. Tangannya gemetar. Air matanya jatuh.
"Ari, lihat ini." Siti menyerahkan surat pada Ariyanti. "Rahmadi kirim surat."
Ariyanti membaca surat itu dengan saksama.
"Dia minta maaf?" Ariyanti mengernyit.
"Iya." Siti mengangguk. "Dia minta maaf. Dia juga bilang akan bertanggung jawab nanti. Setelah bebas."
"Kamu percaya?" Ariyanti menatap Siti.
Siti terdiam. Matanya kosong.
"Aku tidak tahu, Ari." Suaranya pelan. "Aku tidak tahu apakah aku bisa percaya. Aku sudah kecewa berkali-kali. Tapi setidaknya, dia mulai berubah. Itu sudah lebih baik daripada sebelumnya."
"Apa yang akan kamu balas?" Ariyanti bertanya.
"Aku akan balas." Siti mengangguk. "Tapi aku tidak akan berharap terlalu banyak. Aku tidak akan menggantungkan hidupku padanya."
Balasan Siti
Siti menulis surat balasan untuk Rahmadi.
"Rahmadi..."
"Suratmu sudah saya terima. Saya tidak akan mengatakan bahwa saya sudah memaafkan. Karena memaafkan butuh waktu. Memaafkan butuh proses. Dan saya belum sampai di sana."
"Tapi saya tidak akan melarangmu melihat Rizki. Saya tidak akan melarangmu menjadi ayah untuknya. Dia anakmu juga. Dia berhak mengenal ayah kandungnya."
"Saya hanya berharap, ketika kau bebas nanti, kau bisa menjadi ayah yang baik. Bukan seperti ayah tirimu, H. Rahmat. Bukan seperti laki-laki yang tidak pernah memberikan kasih sayang pada anaknya. Tapi seperti Herman, ayah kandungmu. Laki-laki yang tidak pernah berhenti berusaha. Laki-laki yang tidak pernah menyerah."
"Siti"
Rahmadi Membaca Balasan
Lapas Kendal, April 1999.
Rahmadi membaca balasan Siti. Ia membacanya berulang-ulang. Hingga ia hafal setiap kata. Setiap huruf. Setiap tanda baca.
"Siti memaafkanku?" bisiknya. "Tidak... dia belum memaafkan. Tapi dia memberi kesempatan. Itu lebih dari yang pantas aku terima."
Ia menyimpan surat itu di bawah bantalnya. Bersama surat-surat lain dari Bu Sumi dan Herman. Bersama foto Rizki.
Kebersamaan yang Baru
Rumah Bu Sumi, Mei 1999.
Suasana di rumah Bu Sumi semakin hangat. Siti dan Rizki tinggal di sana. Ariyanti, Akang, Marni, dan Ibu Ariyanti sering berkunjung. Pak Lurah, Pak Dullah, dan Pak Karto juga sesekali datang membawa oleh-oleh.
Mereka seperti keluarga besar. Keluarga yang tidak terikat oleh darah. Tapi terikat oleh pengalaman. Terikat oleh perjuangan. Terikat oleh rasa saling percaya.
"Ari, ini pertama kalinya aku merasa punya keluarga." Siti duduk di teras, menggendong Rizki. "Dulu, aku selalu merasa sendirian. Selalu merasa tidak ada yang peduli. Selalu merasa tidak ada yang menginginkanku."
"Kamu selalu punya keluarga, Sit." Ariyanti duduk di sampingnya. "Kamu hanya lupa. Kamu sibuk melihat ke luar, padahal semuanya sudah ada di depan mata."
"Aku tidak lupa." Siti menggeleng. "Aku sengaja menjauh. Aku sengaja membutakan diri. Aku sengaja memilih jalan yang salah. Tapi sekarang aku kembali."
"Kembalilah." Ariyanti menggenggam tangan Siti. "Kami menerimamu. Kami tidak akan pernah menutup pintu untukmu."
Akang dan Ariyanti Semakin Dekat
Jalan Randu Gembyang, sore itu.
Akang dan Ariyanti berjalan bersama. Kaki Akang sudah hampir pulih total. Ia sudah bisa berjalan normal, meskipun masih sedikit pincang jika terlalu lelah.
"Kang, bagaimana perasaanmu setelah semua ini?" Ariyanti menggenggam tangan Akang.
"Lega, Ari." Akang membalas genggaman Ariyanti. "Seperti beban yang terangkat dari pundakku. Seperti air yang mengalir dari dadaku."
"Kita sudah melalui banyak badai, Kang." Ariyanti menatap langit jingga.
"Tapi kita masih di sini, Ari." Akang menatap Ariyanti. "Bersama. Tidak terpisahkan."
"Kang, apa rencanamu setelah lulus nanti?" Ariyanti bertanya.
"Aku akan kuliah, Ari." Akang menatap langit. "Aku akan kuliah di Semarang. Universitas Diponegoro. Fakultas Pertanian. Aku akan buktikan bahwa anak miskin dari Cegunan bisa menjadi insinyur."
"Aku akan jadi guru, Kang." Ariyanti tersenyum. "Aku akan mengajar di desa ini. Aku akan membuka sekolah gratis untuk anak-anak miskin."
"Kita akan bangun desa ini bersama, Ari." Akang menggenggam tangan Ariyanti. "Kita akan buktikan bahwa mimpi tidak butuh uang. Mimpi butuh kerja keras."
Mereka tersenyum.
Ibu Ariyanti Merestui
Rumah Ariyanti, malam itu.
Ibu Ariyanti memanggil Ariyanti ke ruang tengah. Lampu minyak tanah masih menyala, memberikan cahaya temaram.
"Yan , Ibu ingin bicara." Ibu Ariyanti menepuk kursi di sampingnya.
"Ada apa, Bu?" Ariyanti duduk.
"Tentang kamu dan Akang." Ibu Ariyanti menatap Ariyanti.
Ariyanti gugup. "Ada apa, Bu? Jangan-jangan Ibu melarang lagi?"
"Ibu merestui kalian, Yan ." Ibu Ariyanti tersenyum. "Dulu Ibu sempat melarang karena Ibu takut. Ibu takut kamu terluka. Ibu takut kamu kecewa. Ibu takut kamu menyesal. Tapi sekarang Ibu melihat sendiri. Akang anak baik. Dia rela mengorbankan dirinya untuk keluarga kita."
"Terima kasih, Bu." Ariyanti memeluk ibunya.
"Tapi Ibu pesan satu hal." Ibu Ariyanti melepaskan pelukan. "Jangan sampai hamil sebelum menikah. Ibu tidak mau kamu seperti Siti. Ibu tidak mau kamu menanggung malu sendirian."
"Iya, Bu." Ariyanti mengangguk. "Aku janji. Aku tidak akan kehilangan akal."
Pelangi di Atas Tegorejo
Tegorejo, senja itu.
Ariyanti, Akang, Siti dengan Rizki di gendongan, Marni, Bu Sumi, Pak Dullah, Pak Lurah, Ibu Ariyanti, Rizki kecil, Fathur, dan Herman berkumpul di bawah pohon randu tertua.
"Rasanya baru kemarin kita di sini." Bu Sumi tersenyum. "Kita masih sendiri-sendiri. Belum kenal satu sama lain."
"Dan sekarang kita lebih banyak." Pak Lurah tertawa. "Seperti keluarga besar."
"Kita seperti keluarga besar." Marni mengatur fokus kameranya. "Keluarga yang tidak terikat oleh darah. Tapi terikat oleh perjuangan."
"Apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Siti.
"Kita akan terus hidup, Siti." Ariyanti menggenggam tangan Siti. "Terus berjuang. Terus belajar. Terus bersyukur."
Mereka semua tersenyum.
Di kejauhan, di ufuk timur, sebuah pelangi sempurna membentang. Dari ujung bukit ke ujung desa. Dari ujung sawah ke ujung sungai.
Seperti janji Tuhan.
Seperti harapan baru.
Seperti kasih yang memaafkan.
BAB 30
KONFLIK KELUARGA AKANG
Ayah Akang yang lama meninggalkan keluarganya tiba-tiba pulang. Bukan untuk berdamai, tapi untuk menagih warisan dari kakek Akang.
Tegorejo, Mei 1999. Dua bulan setelah kelahiran Rizki.
Ketenangan yang mulai menyapa kembali, yang tumbuh seperti rumput di musim hujan setelah sekian lama dilanda kekeringan, tiba-tiba terusik oleh badai baru. Bukan dari Rahmadi. Ia sudah di balik jeruji besi, dan menurut kabar dari Herman yang selalu mengunjunginya setiap minggu, ia mulai menunjukkan perubahan. Matanya tidak lagi setajam dulu. Mulutnya tidak lagi sekasar dulu. Hatinya, kata Herman, mulai melunak.
Bukan dari Danu. Ia sudah ditahan di polsek, menunggu proses hukum lebih lanjut. Selnya bersebelahan dengan sel H. Rahmat. Aneh. Mantan majikan dan mantan asisten kini menjadi tetangga di tempat yang sama, di sel yang sama-sama sempit, sama-sama dingin, sama-sama tidak nyaman.
Bukan dari keluarga H. Rahmat. Mereka sudah hancur. Bisnis mereka ambruk. Rumah mewah di Jalan Raya Pegandon sudah dijual ke pengusaha dari Semarang dengan harga murah. Ibu tiri Rahmadi dan anak-anak tirinya kabur ke Jakarta, mengganti nama, memulai hidup baru, tidak ingin ada yang tahu masa lalu mereka.
Kali ini, badai datang dari dalam keluarga Akang sendiri.
Suprapto. Ayah kandung Akang. Laki-laki yang hilang tanpa kabar sejak Akang masih duduk di bangku kelas 2 SD. Laki-laki yang tidak pernah mengirim surat, tidak pernah mengirim kabar, tidak pernah mengirim uang. Laki-laki yang meninggalkan istri dan anaknya dalam keadaan miskin, sakit-sakitan, tanpa siapa pun yang melindungi.
Kini, sepuluh tahun kemudian, ia tiba-tiba pulang ke Dusun Cegunan.
Bukan dengan tangan hampa. Bukan dengan penyesalan. Bukan dengan air mata pertobatan.
Tapi dengan baju rapi, koper besar, dan senyum manis yang menutupi niat busuk. Senyum yang sudah ia latih di depan cermin hotel murah tempat ia menginap di Semarang. Senyum yang seharusnya membuat orang percaya bahwa ia telah berubah, bahwa ia telah menjadi orang baik, bahwa ia pantas mendapat kesempatan kedua.
Tapi Ibu Akang tidak percaya. Akang tidak percaya. Tidak ada yang percaya.
Suprapto tidak pulang untuk berdamai dengan istri yang ditinggalinya selama sepuluh tahun. Tidak pulang untuk memeluk anak yang sudah tumbuh dewasa tanpa kasih sayang ayah. Tidak pulang untuk meminta maaf. Tidak pulang untuk memperbaiki kesalahan.
Ia pulang untuk menagih warisan.
Kakek Akang, Mbah Joyo, seorang petani tua yang baik hati, baru saja meninggal tiga bulan sebelumnya. Ia meninggal dalam pelukan Ibu Akang, menantu yang setia merawatnya hingga akhir hayat. Ia meninggal dengan senyum di bibir, karena sebelum tutup usia, ia sempat berwasiat. Tanah sawah seluas 2.000 meter persegi di pinggir Jalan Randu Gembyang, tanah yang selama puluhan tahun ia garap dengan keringat dan air mata, ia wariskan pada Ibu Akang. Bukan pada Suprapto, anak kandungnya yang durhaka.
Tapi Suprapto mengklaim bahwa warisan itu adalah haknya. Ia anak kandung. Ia darah daging. Ia yang berhak, bukan menantu.
Ia membawa surat wasiat palsu. Surat yang ditik dengan mesin tik, ditandatangani dengan nama Mbah Joyo yang buta huruf. Surat yang dibuat oleh pengacara bayaran di Semarang. Surat yang saksinya adalah preman-preman yang disogok.
Ia juga membawa preman-preman kasar. Dua orang bertubuh besar dengan wajah dingin dan mata tajam. Preman yang siap memukul, mengancam, membakar, apa pun perintah Suprapto.
Ibu Akang yang selama bertahun-tahun bertahan sendirian, yang tidak pernah mengeluh meskipun suaminya pergi tanpa kabar, yang tidak pernah menangis meskipun harus bekerja keras membesarkan Akang sendirian, kini harus menghadapi suami yang dulu meninggalkannya. Bukan dengan pelukan. Bukan dengan cinta. Tapi dengan ancaman. Tapi dengan kekerasan. Tapi dengan kejahatan.
Akang yang sudah melalui begitu banyak penderitaan. Fitnah. Kebakaran. Kecelakaan. Koma. Penculikan. Tuduhan palsu. Sakit ibunya. Pilihan sulit. Kini harus berhadapan dengan ayah kandungnya sendiri.
Bukan ayah yang diceritakan dalam dongeng. Bukan ayah yang melindungi anaknya. Tapi ayah yang ingin merampas hak ibunya. Ayah yang bersekongkol dengan musuh bebuyutannya. Ayah yang tega menyakiti darah dagingnya sendiri.
Dan di tengah konflik ini, Ariyanti dan seluruh warga Tegorejo kembali bersatu. Bukan untuk melawan Rahmadi. Bukan untuk melawan H. Rahmat. Tapi untuk melawan seorang ayah yang durhaka pada orang tuanya sendiri, pada istrinya sendiri, pada anaknya sendiri.
Karena keadilan tidak boleh mati.
Karena kebenaran tidak boleh dikalahkan.
Karena di Tegorejo, senja tidak pernah berpihak pada kejahatan.
Kedatangan Suprapto
Dusun Cegunan, suatu sore di bulan Mei.
Matahari mulai condong ke barat. Sinar jingganya jatuh di atap-atap rumbia, di dinding-dinding anyaman bambu, di sawah-sawah yang mulai menguning. Warga Dusun Cegunan sedang beristirahat setelah seharian bekerja. Ada yang duduk di teras sambil minum kopi. Ada yang tidur siang di dalam rumah. Ada yang mengaji di musholla desa.
Tiba-tiba, sebuah mobil box putih berhenti di depan gang menuju rumah Ibu Akang. Bukan mobil mewah. Mobil box tua, catnya mulai terkelupas di beberapa bagian. Tapi cukup untuk membuat warga desa menoleh.
Seorang laki-laki paruh baya turun dari mobil. Tubuhnya masih tegap, tidak terlalu gemuk, tidak terlalu kurus. Wajahnya mirip dengan Akang, sangat mirip. Bentuk rahang yang sama. Garis alis yang sama. Bahkan cara tersenyum yang sama. Tapi ada yang berbeda. Jika Akang memiliki kebaikan di matanya, laki-laki ini memiliki kelicikan.
Pakaiannya rapi. Kemeja batik lengan panjang, motif parang, warna coklat tua. Celana bahan hitam, masih mengkilap, mungkin baru pertama kali dipakai. Sepatu pantofel kulit, masih bersih, tidak ada debu. Di tangannya, sebuah koper kecil berwarna coklat.
Di belakangnya, dua orang preman bertubuh besar turun dari mobil yang sama. Wajah mereka dingin, tidak ramah. Lengan mereka penuh tato. Mata mereka seperti sedang mencari mangsa.
"Nah, ini kampung halamanku." Laki-laki itu berjalan perlahan, matanya menjelajahi setiap sudut desa. "Sudah 10 tahun tidak pulang. Banyak yang berubah. Tapi banyak juga yang tidak berubah."
Seorang tetangga yang sedang duduk di teras rumahnya terperanjat. Wajahnya berubah pucat. Matanya membulat.
"Su... Suprapto?" Suaranya bergetar. "Kamu? Kok sudah lama tidak kelihatan? Dulu kamu pergi tidak pamit. Keluargamu kesusahan. Anakmu sakit-sakitan. Istrimu banting tulang. Di mana saja kamu?"
Suprapto tersenyum. Senyum yang ramah, tapi tidak sampai ke mata. "Aku pulang, Pak. Ada urusan keluarga. Urusan yang tidak bisa diwakilkan."
"Aku pulang untuk mengurus warisan."
Suprapto berjalan menuju rumah yang dulu ia tinggali. Rumah yang dulu ia tinggalkan dalam keadaan reyot, kini masih reyot. Tidak ada perubahan. Dinding anyaman bambu yang sudah rapuh di beberapa bagian, ditambal dengan karung goni bekas. Atap rumbia yang sudah menghitam oleh usia, berlubang di sana-sini. Halaman depan yang sempit, tidak ada tanaman hias, hanya tanah kering.
Di teras, Ibu Akang sedang menjemur pakaian. Tangan kanannya memegang ember plastik berisi pakaian basah. Tangan kirinya mengambil jemuran satu per satu, memasukkannya ke dalam ember.
Begitu melihat sosok yang berdiri di depan pagar, tangannya berhenti. Baju jemuran yang sedang ia ambil jatuh ke tanah. Jatuh di debu. Jatuh di kotoran ayam.
"Suprapto?" Ibu Akang berbisik. Matanya tidak percaya.
Laki-laki itu tersenyum. "Sudah lama tidak bertemu, Siti. Wajahmu sudah tua. Rambutmu sudah putih. Kamu tidak seperti dulu."
Ibu Akang, Siti Supriyati, memucat. Wajahnya yang tadinya kecoklatan karena terik matahari, berubah menjadi putih pucat.
"Kamu... kamu pulang?" Suaranya bergetar.
"Aku pulang, Siti." Suprapto membuka pagar anyaman bambu yang berdecit pelan. "Ada yang perlu aku urus di sini."
"Urus apa?" Ibu Akang mundur selangkah.
"Warisan Bapak." Suprapto berdiri di halaman. "Tanah sawah di pinggir Jalan Randu Gembyang. Tanah yang selama ini kamu kuasai tanpa hak."
Ibu Akang terdiam. Jantungnya berhenti berdetak sejenak.
Tanah itu hakku, pikirnya. Bapak sudah berwasiat. Bapak sudah meninggalkannya untukku. Bukan untukmu. Kamu tidak pernah mengurus Bapak. Kamu tidak pernah menjenguk. Kamu tidak pernah mengirim uang. Bahkan saat pemakaman, kamu tidak datang.
Tapi ia tidak mengucapkannya. Ia hanya diam. Terdiam seperti disambar petir di siang bolong.
Akang Mendengar Kabar
Rumah Bu Sumi, sore itu.
Akang sedang membantu Siti menjaga Rizki. Bayi itu rewel, menangis terus, tidak mau diam. Siti kelelahan, tidak bisa menenangkannya. Akang menggendong Rizki, berjalan mondar-mandir di ruang tamu, sambil sesekali menyanyikan lagu anak-anak yang tidak pernah ia hafal syairnya.
Rizki berhenti menangis. Matanya yang bulat menatap Akang. Ia tersenyum. Akang tersenyum balik.
Telepon berdering. Telepon tua yang diletakkan di meja dekat jendela. Suaranya nyaring, mengganggu ketenangan sore.
Akang mengangkatnya. "Halo?"
"Akang? Ini Marni!" Suara Marni di seberang terdengar panik, napasnya tersengal-sengal. "Kabar buruk, Kang! Ayahmu pulang!"
Akang tertawa kecil. "Ayahku? Mana mungkin, Mar. Ayahku hilang sejak aku kelas 2 SD. Sudah 10 tahun tidak ada kabar. Mungkin dia sudah mati. Mungkin dia sudah punya keluarga baru di tempat lain."
"Sungguh, Kang!" Marni hampir berteriak. "Dia sekarang di rumah ibumu! Aku lihat sendiri! Aku lewat depan rumah ibumu tadi! Dia berdiri di halaman! Bawa preman! Dua orang!"
Akang terdiam. Wajahnya berubah pucat.
"Kang? Kang? Masih di sana?" Suara Marni mulai panik.
"Aku dengar, Mar." Suara Akang pelan, nyaris berbisik. "Aku segera ke sana."
Akang meletakkan telepon. Tangannya gemetar. Rizki yang ada di gendongannya mulai menangis lagi, mungkin merasakan kegelisahan Akang.
"Ada apa, Kang?" Bu Sumi yang sedang membaca buku di kursi goyang menoleh.
"Ayah saya pulang, Bu." Akang menyerahkan Rizki pada Siti. "Katanya mau menagih warisan. Mau mengambil tanah sawah yang diwariskan Mbah Joyo pada Ibu."
Bu Sumi terkejut. Buku di tangannya jatuh ke lantai.
"Suprapto?" Suaranya meninggi. "Laki-laki itu? Yang dulu pergi tanpa pamit? Yang meninggalkan kalian dalam kesulitan? Yang tidak pernah mengirim kabar selama 10 tahun?"
"Iya, Bu." Akang mengambil tongkatnya. "Dia pulang. Dan dia tidak datang sendirian. Ada preman."
"Hati-hati, Kang." Bu Sumi berdiri, meraih tangan Akang. "Aku dengar Suprapto sekarang berbeda. Dia keras. Dia kejam. Dia tidak segan-segan menyakiti orang. Jangan sampai kamu celaka."
"Aku tidak takut, Bu." Akang menarik napas. "Dia ayahku. Tapi dia tidak pernah menjadi ayah. Tidak pernah. Aku tidak punya apa-apa untuk ditakutkan darinya."
Pertemuan yang Menegangkan
Rumah Ibu Akang, sore itu.
Akang tiba di rumah dengan napas tersengal-sengal. Kakinya masih belum pulih seratus persen. Dokter melarangnya berlari. Tapi ia memaksakan diri. Dari ujung gang, ia sudah melihat kerumunan kecil. Beberapa tetangga berdiri di pinggir jalan, berbisik-bisik, menunjuk-nunjuk.
Di depan rumah, seorang laki-laki paruh baya berdiri bersandar pada pagar anyaman bambu. Posturnya tegap. Pakaiannya rapi. Di belakangnya, dua preman besar duduk di kursi darurat yang mereka bawa sendiri. Mereka merokok. Mereka tertawa. Mereka tidak peduli dengan sekitar.
"Ayah?" panggil Akang. Suaranya ragu. Tidak yakin. Tidak seperti saat ia memanggil "Ibu" yang hangat dan penuh kasih.
Suprapto menoleh. Wajahnya berubah. Dari sinis menjadi terkejut. Mungkin karena ia tidak menyangka anak yang ditinggalkannya kini sudah tumbuh dewasa. Mungkin karena ia melihat bayangannya sendiri di wajah Akang. Mungkin karena ia merasa bersalah.
"Kang? Kamu Akang?" Suaranya sedikit bergetar.
"Iya, Ayah." Akang berdiri di depan pagar, tidak masuk. "Ayah ingat saya? Setelah 10 tahun menghilang? Setelah tidak pernah mengirim kabar? Setelah tidak pernah mengirim uang?"
Suprapto tersenyum canggung. "Ayah sibuk, Nak. Ayah kerja di luar kota. Di Semarang. Kadang di Jakarta. Ayah cari uang. Ayah ingin hidup lebih baik."
"Sibuk apa, Ayah?" Akang tidak bergeming. "Ayah tidak pernah kirim kabar. Tidak pernah kirim uang. Ibu saya sakit-sakitan. Saya hampir mati dikeroyok preman. Saya koma berhari-hari. Saya dirawat di rumah sakit. Di mana Ayah waktu itu?"
Suprapto terdiam. Wajahnya berubah tegang. Matanya menghindar.
"Kang, ini bukan urusan kita sekarang." Suaranya berubah, dari canggung menjadi tegas. "Yang penting, Ayah pulang. Ayah pulang untuk mengurus warisan."
"Warisan?" Akang tertawa pahit. "Kakek baru saja meninggal tiga bulan lalu. Ayah tidak datang ke pemakaman. Ayah tidak ikut mengurus. Ayah tidak membantu biaya. Ayah tidak hadir. Sekarang Ayah datang hanya untuk menagih?"
"Tanah itu hakku, Kang." Suprapto maju selangkah. "Aku anak kandung Mbah Joyo. Darah daging. Bukan menantu. Bukan orang asing."
"Tapi Ibu yang merawat Kakek sampai akhir hayat." Akang tidak mundur. "Ibu yang mengurus Kakek saat sakit. Ibu yang membiayai pemakaman. Ibu yang melakukan semua. Ayah tidak melakukan apa pun."
Suprapto mendengus. "Omong kosong."
Ibu Akang yang mendengar suara ribut dari dalam rumah keluar. Wajahnya pucat. Tangannya gemetar.
"Suprapto, jangan bawa preman ke sini." Suaranya tegas, meskipun tubuhnya gemetar. "Ini rumahku. Rumah yang kau tinggalkan 10 tahun lalu. Rumah yang tidak pernah kau perbaiki. Rumah yang tidak pernah kau urus."
"Ini rumahku juga, Siti." Suprapto menatap istrinya. "Aku yang membangun rumah ini. Aku yang membeli tanah ini. Aku yang..."
"Kau yang meninggalkan kami!" Ibu Akang memotong. Suaranya pecah. "Kau yang pergi tanpa pamit! Kau yang tidak pernah pulang! Kau yang tidak pernah peduli! Sekarang kau kembali dan mengaku ini rumahmu? Kau tidak berhak!"
Surat Palsu
Rumah Ibu Akang, malam itu.
Suprapto menginap di rumah tetangga. Ibu Akang tidak mengizinkannya masuk. Ia tidur di rumah Pak RT, yang baik hati memberinya tempat meskipun dengan rasa was-was.
Keesokan harinya, Suprapto datang lagi. Kali ini tidak sendirian. Ia ditemani oleh seorang laki-laki berjas rapi, berkacamata, membawa map tebal.
Pengacara.
"Ini surat wasiat Bapak." Suprapto mengeluarkan selembar kertas dari map. Kertas HVS putih, bersih, tidak ada lipatan. "Bapak meninggalkan tanah itu untukku. Aku yang berhak. Bukan kamu."
Ibu Akang membaca surat itu. Matanya menyipit. Tangannya gemetar.
"Ini palsu." Suaranya dingin. "Bapak tidak bisa membaca dan menulis. Bapak buta huruf. Selama hidupnya, Bapak tidak pernah bisa baca tulis. Siapa yang membuat surat ini?"
Suprapto gugup. "Bapak bisa! Bapak belajar!"
"Bapak tidak pernah belajar!" Ibu Akang hampir berteriak. "Bapak tidak pernah sekolah! Bapak tidak bisa membaca koran! Bapak tidak bisa menulis nama sendiri! Siapa yang membuat surat ini?"
Suprapto tidak menjawab. Ia menatap pengacaranya. Pengacaranya mengangguk, memberi isyarat untuk tenang.
"Aku yang minta tolong orang membuatkan." Suprapto akhirnya bicara.
"Siapa orangnya? Panggil ke sini. Kita tanya." Ibu Akang tidak menyerah.
"Itu... orangnya sudah pindah ke luar kota. Ke Jakarta. Tidak bisa dihubungi."
"Karena surat ini palsu!" Ibu Akang meremas surat itu. "Karena surat ini tidak pernah dibuat oleh Bapak! Karena Bapak tidak mungkin berwasiat tertulis!"
Akang Melapor ke Pak Lurah
Rumah Pak Lurah, siang itu.
Akang, didampingi Ibu Akang, melapor pada Pak Lurah. Wajah mereka tegang. Ariyanti ikut serta, menggenggam tangan Akang.
"Pak, ayah saya pulang." Suara Akang pelan, tapi jelas. "Dia membawa surat wasiat palsu. Juga preman bayaran. Dua orang. Dia mau menguasai tanah warisan kakek dengan paksa."
Pak Lurah mengernyit. "Suprapto? Laki-laki itu masih hidup? Saya kira dia sudah mati. Atau kabur ke luar negeri."
"Iya, Pak." Ibu Akang mengangguk. "Dia tiba-tiba muncul kemarin. Setelah 10 tahun tidak ada kabar. Langsung menagih warisan."
"Saya akan panggil dia ke kantor, Bu." Pak Lurah berdiri. "Kita selesaikan secara kekeluargaan. Jangan sampai ada kekerasan. Jangan sampai ada yang terluka."
"Terima kasih, Pak." Ibu Akang menunduk.
Pertemuan di Kantor Lurah
Kantor Lurah Tegorejo, sore itu.
Suprapto datang bersama dua preman bayarannya. Juga pengacaranya. Mereka duduk di kursi yang disediakan, di seberang meja Pak Lurah.
"Suprapto, saya dengar kau membawa surat wasiat dari almarhum Mbah Joyo." Pak Lurah membuka map.
"Iya, Pak. Ini suratnya." Suprapto menyerahkan surat itu.
Pak Lurah membaca surat itu dengan saksama. Matanya bergerak perlahan, baris per baris.
"Surat ini ditik, Suprapto." Pak Lurah meletakkan surat itu di atas meja. "Siapa yang mengetik?"
"Teman saya, Pak. Di Semarang."
"Almarhum Mbah Joyo buta huruf, Suprapto." Pak Lurah menatap Suprapto. "Beliau tidak bisa membaca. Apalagi mengetik. Beliau tidak akan bisa membuat surat wasiat tertulis."
"Tapi beliau bisa minta tolong, Pak." Suprapto tidak menyerah. "Beliau bisa menyuruh orang lain mengetikkan."
"Siapa saksinya, Suprapto?" Pak Lurah tidak bergeming.
Suprapto gugup. Matanya bergerak ke kiri dan ke kanan.
"Ada... ada dua orang, Pak."
"Siapa nama mereka? Panggil ke sini. Kita minta kesaksian mereka."
Suprapto tidak bisa menjawab. Pengacaranya juga diam.
"Ini palsu, Suprapto." Pak Lurah menghela napas. "Aku tahu kau butuh uang. Aku tahu kau terlilit hutang. Tapi jangan main-main dengan warisan keluarga. Jangan sakiti istri dan anakmu sendiri."
Suprapto Ngamuk
Kantor Lurah, suasana memanas.
Suprapto berdiri. Wajahnya merah padam. Matanya melotot.
"KALIAN SEMUA BERSATU MELAWANKU!" teriaknya. "Pak Lurah, Ibu Siti, Akang, kalian semua!"
"Suprapto, tenang." Pak Lurah mengangkat tangan. "Ini bukan soal bersatu atau tidak. Ini soal kebenaran. Jika kau benar, buktikan. Jika kau salah, akui."
"SUMPAH!" Suprapto membanting meja. "TANAH ITU HAKKU! HAKKU SEBAGAI ANAK KANDUNG!"
"Jika kau merasa benar, bawa ke pengadilan, Suprapto." Pak Lurah tidak terpengaruh. "Jangan pakai preman. Jangan pakai ancaman. Jangan pakai kekerasan."
Suprapto mendengus. "Baik. Kita ke pengadilan. Aku akan gugat kalian. Aku akan buktikan bahwa tanah itu milikku."
Ia keluar kantor dengan langkah marah. Dua preman bayarannya mengikutinya. Pengacaranya berjalan di belakang, diam, tidak berkata apa-apa.
Ancaman dari Suprapto
Rumah Ibu Akang, malam itu.
Suprapto datang dengan dua preman bayarannya. Kali ini tidak ada pengacara. Hanya kekerasan. Hanya ancaman. Hanya ketakutan.
Pintu rumah Ibu Akang digedor keras. Berkali-kali. Hampir jebol.
"Siti! Buka pintunya!" teriak Suprapto dari luar.
"Apa yang kamu mau, Suprapto?" Ibu Akang menjawab dari balik pintu, suaranya gemetar.
"Aku mau tanah itu!" Suprapto membanting pintu lagi. "Kalau tidak, kau akan celaka! Rumah ini akan aku bakar! Kamu akan aku usir!"
Ibu Akang gemetar. Air matanya jatuh. Tapi ia tidak takut. Ia sudah terlalu sering menghadapi ketakutan.
"Apa kau mau menyakiti istri sendiri, Suprapto?" suaranya tegas.
"Kau bukan istriku!" Suprapto berteriak. "Kita sudah berpisah secara agama! Kita tidak sah!"
"Tidak ada talak, Suprapto." Ibu Akang tidak menyerah. "Tidak ada cerai. Kita masih suami istri di mata hukum. Di mata agama. Di mata Tuhan."
Suprapto tertawa. "Hukum? Hukum bisa diatur! Agama? Aku tidak percaya agama!"
Akang yang mendengar ribut keluar dari kamarnya. Wajahnya marah.
"Ayah, pergi!" Akang berdiri di depan pintu. "Atau saya panggil polisi!"
"Kamu berani lawan ayah sendiri?" Suprapto mendekat.
"Kamu bukan ayahku." Akang menatap mata Suprapto. "Ayahku adalah laki-laki yang meninggalkan kami 10 tahun lalu. Laki-laki itu tidak pernah ada. Laki-laki itu mati. Yang berdiri di depan saya sekarang hanya orang asing."
Suprapto menampar Akang.
"BRAK!"
Suara tamparan keras memecah keheningan malam. Akang jatuh. Bibirnya pecah. Darah mengalir di sudut mulut.
Ibu Akang berteriak. "KANG!"
Ariyanti Mengetahui
Rumah Ariyanti, malam itu.
Ariyanti sedang membantu ibunya membersihkan dapur. Tangannya sibuk mencuci piring. Pikirannya melayang ke Akang.
Telepon berdering. Telepon tetangga yang dipinjamkan.
"Ari, ini Marni!" Suara Marni panik. "Kabar buruk! Ayah Akang pulang! Dia bawa preman! Dia sudah menampar Akang!"
Ariyanti terperanjat. Piring di tangannya jatuh ke lantai.
"Apa?" suaranya meninggi. "Akang kenapa? Dia apa-apain Akang?"
"Pipi bengkak!" Marni hampir menangis. "Bibir pecah! Tapi tidak parah. Pak Lurah sudah lapor polisi. Mereka sudah di jalan."
"Aku ke sana sekarang!" Ariyanti meletakkan telepon.
Ia berlari keluar rumah, tanpa sempat berganti pakaian, tanpa sempat memberi tahu ibunya. Hanya teriak, "Bu, aku ke rumah Akang! Ibu jaga diri!"
Polisi Datang
Rumah Ibu Akang, pukul 21.00.
Polisi datang setelah menerima laporan dari Pak Lurah. Dua mobil patroli. Empat personel.
Suprapto dan kedua preman bayarannya masih ada di lokasi. Mereka tidak sempat kabur.
"Suprapto, saudara kami amankan." Bripka Joko mendekat, memborgol tangan Suprapto. "Atas tuduhan penganiayaan dan intimidasi."
"Aku tidak melakukan apa-apa." Suprapto berusaha melepaskan diri. "Aku hanya menegur anakku. Hak saya sebagai ayah."
"Menegur dengan tamparan?" Bripka Joko tidak bergeming.
"Aku punya hak, Pak!" Suprapto berteriak.
"Kekerasan fisik bukan hak, Suprapto." Bripka Joko menarik Suprapto ke mobil patroli. "Silakan ikut kami. Kita selesaikan di kantor."
Akang Menahan Amarah
Rumah Ibu Akang, setelah polisi pergi.
Akang duduk di teras. Bibirnya masih berdarah. Pipinya bengkak. Matanya merah.
Ibu Akang mengompres pipi Akang dengan air dingin.
"Kang, kamu tidak apa-apa?" suara Ibu Akang bergetar.
"Aku baik-baik saja, Bu." Akang tersenyum pahit. "Luka ini tidak sebanding dengan luka batin yang dia berikan selama 10 tahun. Luka fisik akan sembuh. Tapi luka hati... entah kapan."
"Nak, maafkan Ibu." Ibu Akang menangis. "Ibu tidak bisa memberi kamu ayah yang baik. Ibu tidak bisa memilih suami yang bertanggung jawab."
"Bukan salah Ibu, Bu." Akang memeluk ibunya. "Ibu sudah berjuang sendiri. Ibu sudah menjadi ayah sekaligus ibu untukku. Ibu sudah cukup. Ibu lebih dari cukup."
Ariyanti Tiba
Rumah Ibu Akang, pukul 21.30.
Ariyanti datang dengan napas tersengal-sengal. Ia berlari dari gang utama. Kaki perempuannya sakit. Sepatu karetnya basah. Tapi ia tidak peduli.
Ia langsung memeluk Akang.
"Kang, kamu tidak apa-apa?" Ariyanti memeriksa wajah Akang. "Pipi bengkak. Bibir pecah. Sakit?"
"Aku baik-baik saja, Ari." Akang mengusap rambut Ariyanti. "Jangan khawatir."
"Kenapa ayahmu sejahat itu?" Ariyanti hampir menangis.
"Aku tidak tahu, Ari." Akang menghela napas. "Mungkin dia butuh uang. Mungkin dia terlilit hutang. Mungkin dia iri melihat Ibu dan aku bisa bertahan tanpa dia."
"Apa yang akan kalian lakukan sekarang?" Ariyanti bertanya.
"Kita akan lawan, Ari." Akang menggenggam tangan Ariyanti. "Di pengadilan. Tanah itu milik Ibu. Kakek sudah berwasiat secara lisan sebelum meninggal."
"Aku akan bantu, Kang." Ariyanti menggenggam balik. "Kita kumpulkan bukti. Kita kumpulkan saksi. Kita lawan bersama."
Mbah Joyo: Kilas Balik
Kenangan. Tahun 1995. Akang masih kelas 2 SMP.
Mbah Joyo, kakek Akang, adalah laki-laki tua dengan kulit keriput dan mata sayu. Badannya kurus, tulang-tulangnya menonjol di sana-sini. Ia sudah tidak bisa berjalan karena stroke ringan yang menyerangnya setahun lalu.
Ibu Akang yang merawatnya setiap hari. Membersihkan kotorannya. Memandikannya. Menyuapinya. Membacakan doa.
"Nak Siti, kamu baik." Mbah Joyo menggenggam tangan Ibu Akang. Tangannya keriput, dingin, gemetar. "Kau merawatku meskipun suamimu pergi. Meskipun tidak ada yang menyuruh."
"Menantu itu kewajiban saya, Pak." Ibu Akang tersenyum. "Saya tidak akan durhaka."
"Nanti kalau saya mati, Nak." Mbah Joyo menatap Ibu Akang. "Tanah sawah di pinggir Jalan Randu Gembyang itu saya wariskan untukmu. Jangan biarkan Suprapto mengambilnya. Dia anak durhaka."
"Tapi Pak, Suprapto anak kandung Bapak." Ibu Akang menunduk.
"Anak kandung yang tidak pernah mengirim kabar selama 7 tahun." Mbah Joyo menggeleng. "Anak kandung yang tidak pernah mengirim uang. Anak kandung yang tidak pernah menjenguk ketika saya sakit. Anak kandung yang tidak pernah peduli. Dia tidak pantas mendapat warisan."
Mbah Joyo meninggal pada Februari 1999. Wasiat lisan itu disaksikan oleh Pak Lurah dan Pak Karto.
Mengumpulkan Saksi
Rumah Pak Lurah, keesokan harinya.
Akang, Ibu Akang, Ariyanti, Bu Sumi, dan Pak Dullah berkumpul di ruang tamu Pak Lurah. Wajah mereka serius.
"Kita punya saksi, Kang." Pak Lurah membuka buku catatan. "Saya dan Pak Karto mendengar langsung wasiat Mbah Joyo. Kami siap bersumpah di pengadilan."
"Apakah itu cukup kuat di pengadilan, Pak?" tanya Bu Sumi.
"Wasiat lisan bisa diterima, Bu." Pak Lurah mengangguk. "Jika ada dua saksi yang kredibel. Saya dan Pak Karto siap."
"Suprapto punya surat wasiat palsu." Bu Sumi menghela napas. "Kita bisa buktikan itu tidak sah karena Mbah Joyo buta huruf."
"Bagus." Pak Lurah berdiri. "Kita kumpulkan juga saksi tetangga. Siapa pun yang tahu bahwa Suprapto tidak pernah mengurus orang tuanya. Siapa pun yang tahu bahwa Suprapto pergi tanpa pamit. Siapa pun yang tahu bahwa Suprapto durhaka."
Suprapto Bebas dengan Jaminan
Polsek Pegandon, beberapa hari kemudian.
Suprapto dibebaskan dengan jaminan. Pengacaranya berhasil meyakinkan polisi bahwa kasus penganiayaan hanya luka ringan. Tidak perlu ditahan.
Ia keluar dari polsek dengan wajah sombong. Senyum sinis di bibir.
"Itu belum selesai, Siti." Suprapto menatap Ibu Akang yang menunggu di luar. "Aku akan menggugat kalian di pengadilan. Tanah itu akan menjadi milikku."
"Silakan, Suprapto." Ibu Akang tidak takut. "Kami siap. Kami tidak akan menyerah."
Intimidasi Intensif
Dusun Cegunan, minggu-minggu berikutnya.
Suprapto dan preman-preman bayarannya mulai beraksi. Mereka datang ke rumah Ibu Akang setiap malam. Meneriaki. Menggedor pintu. Mengancam.
"KALIAN KELUAR TANAH ITU!" teriak mereka. "ATAU RUMAH INI KAMI BAKAR! KALIAN KAMI BUNUH!"
Akang ingin melawan. Tangannya sudah mengepal. Tubuhnya sudah siap.
Tapi Ibu Akang melarang.
"Jangan, Kang." Ibu Akang menarik tangan Akang. "Biarkan polisi yang bertindak. Jangan terpancing. Jangan balas kekerasan dengan kekerasan."
Tapi polisi tidak bisa 24 jam menjaga rumah mereka. Polisi hanya datang jika ada laporan. Dan laporan butuh waktu.
Ariyanti, Bu Sumi, dan Pak Lurah bergantian menjaga. Mereka bergiliran tidur di rumah Ibu Akang. Membawa pentungan. Membawa senter. Berdoa.
Ariyanti Mengadu pada Herman
Rumah Herman, suatu sore.
Ariyanti datang ke rumah Herman untuk meminta saran. Herman sudah seperti kakek bagi mereka. Bijaksana. Penyayang.
"Pak Herman, kami butuh bantuan." Ariyanti duduk di kursi tamu. "Ayah Akang datang dengan preman. Dia mengintimidasi kami. Dia mengancam akan membakar rumah."
Herman menghela napas. Tangannya memegang cangkir kopi yang sudah dingin.
"Suprapto?" Herman mengernyit. "Aku pernah dengar namanya. Dulu dia bekerja di Semarang, di perusahaan kontraktor. Tapi dipecat karena korupsi. Diduga korupsi proyek."
"Benarkah, Pak?" Ariyanti terkejut.
"Iya. Dia mungkin butuh uang, Nak." Herman meletakkan cangkirnya. "Tanah itu bernilai ratusan juta. Lokasinya strategis. Di pinggir Jalan Randu Gembyang. Banyak pengusaha yang ingin membelinya."
"Apa yang harus kami lakukan, Pak?" Ariyanti bertanya.
"Kumpulkan bukti." Herman menatap Ariyanti. "Catat setiap kali dia mengancam. Rekam jika perlu. Laporkan ke polisi setiap kejadian. Jangan biarkan dia leluasa."
Akang Mulai Mengumpulkan Bukti
Rumah Ibu Akang, malam itu.
Akang menyembunyikan ponsel di sela-sela anyaman bambu. Ponsel itu ia setel dalam mode perekam. Mikrofon menghadap ke luar, ke arah halaman.
Tengah malam, Suprapto datang lagi. Kali ini sendirian. Preman-preman bayarannya tidak ikut.
"Siti! Keluar! Aku mau bicara!" teriak Suprapto dari halaman.
"Pergi, Suprapto!" Ibu Akang menjawab dari dalam. "Aku tidak mau bicara denganmu!"
"KALAU TIDAK, KALIAN AKAN SAYA BAKAR MALAM INI!" Suprapto membanting pagar.
Perekaman itu menangkap semuanya. Suara Suprapto. Ancaman Suprapto. Kekerasan Suprapto.
Laporan Polisi Kedua
Polsek Pegandon, keesokan harinya.
Akang melapor dengan bukti rekaman. Bripka Joko mendengarkan dengan saksama.
"Pak, ini bukti ayah saya mengancam akan membakar rumah kami." Akang menyerahkan ponselnya.
Bripka Joko memutar rekaman itu. Suara Suprapto terdengar jelas. Ancaman jelas.
"Ini cukup untuk menahan dia lebih lama, Kang." Bripka Joko berdiri. "Ancaman kekerasan berat. Tidak bisa jaminan."
Suprapto ditangkap lagi. Kali ini tidak bisa jaminan. Ia harus mendekam di sel tahanan.
Suprapto Mengaku
Polsek Pegandon, ruang interogasi.
Suprapto duduk di kursi besi. Tangannya diborgol. Wajahnya pucat.
"Suprapto, kenapa kau mengancam istri dan anakmu sendiri?" Bripka Joko bertanya.
"Aku butuh uang, Pak." Suprapto menunduk. "Aku terlilit hutang. Banyak. Di Semarang. Di Jakarta. Aku tidak bisa bayar."
"Lalu?"
"Tanah itu warisan orang tuaku. Aku berhak, Pak. Aku anak kandung. Aku yang seharusnya mendapat warisan, bukan menantu."
"Tapi orang tuamu sudah berwasiat pada menantunya, Suprapto." Bripka Joko menghela napas. "Dan kau tidak pernah mengurus orang tuamu. Tidak pernah menjenguk. Tidak pernah mengirim uang. Bahkan saat mereka sakit, kau tidak datang."
"Terserah kalian mau bilang apa, Pak." Suprapto tidak menatap. "Yang penting aku minta maaf. Aku tidak akan mengulangi."
"Maaf tidak cukup, Suprapto." Bripka Joko berdiri. "Kamu akan diproses secara hukum. Biar pengadilan yang memutuskan."
BAB 31
PENGKHINATAN KELUARGA
Ayah Akang bersekongkol dengan Rahmadi. Mereka akan merebut lahan sawah milik keluarga Akang.
Tegorejo, Juni 1999. Satu bulan setelah Suprapto ditahan dan dibebaskan lagi.
Dunia seolah berkonspirasi untuk menghancurkan Akang dan keluarganya. Seperti ada kekuatan tak terlihat yang terus-menerus melontarkan batu ke jendela kaca kehidupannya, berharap suatu saat akan pecah. Seperti ada tangan tak terlihat yang terus-menerus menariknya ke bawah setiap kali ia mencoba bangkit.
Badai belum usai. Satu per satu, cobaan datang silih berganti. Tidak ada jeda. Tidak ada waktu untuk bernapas. Tidak ada kesempatan untuk menyembuhkan luka sebelum luka baru datang.
Setelah fitnah yang hampir menghancurkan namanya. Setelah kebakaran yang menghanguskan bengkel tempat ia mencari nafkah. Setelah kecelakaan yang hampir merenggut kakinya. Setelah tuduhan palsu yang hampir memenjarakannya. Setelah sakitnya ibu Ariyanti yang hampir merenggut nyawanya. Setelah pilihan sulit antara cinta dan kewajiban yang hampir menghancurkan hatinya.
Kini datang pengkhianatan yang paling tak terduga. Pengkhianatan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Pengkhianatan yang datang dari orang yang seharusnya menjadi pelindung pertama, benteng terakhir, tempat sandaran ketika dunia runtuh.
Suprapto.
Ayah kandungnya sendiri.
Laki-laki yang memberinya setengah kehidupan. Laki-laki yang darahnya mengalir di nadinya. Laki-laki yang wajahnya ia cermin setiap pagi. Laki-laki yang seharusnya melindungi keluarganya, justru bersekongkol dengan musuh bebuyutan mereka.
Rahmadi.
Ya, Rahmadi. Laki-laki yang masih mendekam di penjara Kelas II A Kendal. Laki-laki yang jeruji besinya tidak cukup untuk menghentikan tangannya yang panjang. Laki-laki yang meskipun tubuhnya terkurung, pikirannya tetap bebas. Laki-laki yang masih memiliki koneksi. Masih memiliki pengaruh. Masih memiliki uang yang disimpan di rekening-rahasia.
Rahmadi yang dendam pada Akang dan Ariyanti. Dendam yang tidak pernah padam. Dendam yang ia pelihara setiap hari, setiap jam, setiap menit. Dendam yang menjadi satu-satunya alasan ia masih ingin hidup.
Rahmadi yang tidak pernah benar-benar bertobat. Atau setidaknya, itulah yang ia tunjukkan pada Herman. Itulah yang ia tulis dalam surat-suratnya. Itulah yang ia katakan pada petugas lapas. Tapi di balik topeng pertobatan, ia masih menyimpan racun.
Melalui perantara, melalui surat-surat yang diselundupkan oleh petugas lapas yang disogok, melalui kunjungan pengacara yang diam-diam membawa pesan, Rahmadi menghubungi Suprapto.
Entah bagaimana caranya. Entah siapa yang menjadi perantara. Entah berapa banyak uang yang dikeluarkan. Yang pasti, kedua musuh bebuyutan ini akhirnya terhubung dalam satu benang. Dan benang itu bernama niat jahat.
Tawaran yang diajukan sederhana. Tidak perlu kekerasan. Tidak perlu preman. Tidak perlu korban jiwa.
Rahmadi akan membiayai seluruh biaya pengacara, seluruh biaya administrasi, seluruh biaya persidangan untuk menggugat warisan. Ia akan menyediakan pengacara hebat dari Semarang, pengacara yang tidak pernah kalah dalam persidangan. Ia akan menyediakan saksi-saksi palsu yang siap bersumpah demi uang. Ia akan memberikan Suprapto uang tunai puluhan juta rupiah sebagai uang muka.
Sebagai gantinya, jika tanah itu berhasil direbut, Rahmadi akan mendapat setengahnya. Tanah strategis di pinggir Jalan Randu Gembyang. Tanah yang jika dibangun pusat perbelanjaan, nilainya akan berlipat ganda.
Suprapto, yang terlilit utang di Semarang dan Jakarta, yang putus asa dan tidak tahu harus meminta tolong kepada siapa lagi, yang sudah dikucilkan oleh mantan-mantan rekannya karena dipecat dengan tidak hormat, menerima tawaran itu.
Ia rela mengkhianati istri yang setia menunggunya selama sepuluh tahun. Ia rela mengkhianati anak yang tumbuh tanpa kasih sayang ayah. Ia rela mengkhianati orang tuanya sendiri yang sudah meninggal. Ia rela menjual kehormatan keluarganya hanya demi uang.
Dan ketika Akang mengetahui bahwa ayah kandungnya bersekongkol dengan orang yang hampir membunuhnya, dengan Rahmadi, manusia yang pernah menyuruh preman untuk mengeroyoknya hingga kakinya patah. Rahmadi, yang pernah menyabotase rem motornya hingga ia terpelanting ke sawah dan nyaris tewas. Rahmadi, yang pernah menculik Ariyanti dan hampir memaksanya.
Hancurlah hati pemuda itu.
Hancur seperti kaca yang jatuh dari ketinggian. Hancur seperti keramik yang dihantam palu. Hancur seperti mimpi yang tidak pernah menjadi nyata.
"Ayahku..." bisik Akang di bawah pohon randu, matanya menatap langit malam yang gelap. "Lebih memilih musuh daripada keluarganya sendiri. Lebih memilih uang daripada darahnya sendiri. Lebih memilih kejahatan daripada kebaikan."
Suprapto Bebas Lagi
Polsek Pegandon, awal Juni 1999.
Suprapto dibebaskan dari tahanan. Kasus penganiayaan dan ancaman pembakaran dianggap ringan. Ia mengaku bahwa teriakannya hanya gertakan, hanya kata-kata tanpa niat serius. Ia mengaku bahwa ia tidak akan pernah benar-benar membakar rumah istrinya sendiri. Jaksa menilai pengakuannya cukup. Apalagi Suprapto sudah "minta maaf" pada keluarga.
Ibu Akang marah. Ia berdiri di depan polsek, menunggu suaminya keluar. Wajahnya merah padam.
"Minta maaf?" Ibu Akang hampir berteriak. "Dia tidak pernah minta maaf! Sepanjang hidupnya, dia tidak pernah minta maaf! Bahkan kata 'maaf' tidak pernah keluar dari mulutnya!"
"Maaf, Bu." Petugas polisi yang membacakan surat pembebasan tidak bergeming. "Ini keputusan hukum. Sudah diproses sesuai prosedur. Kami hanya menjalankan tugas."
Suprapto keluar dari polsek dengan langkah percaya diri, dengan senyum sinis yang tidak bisa ia sembunyikan. Ia melirik Ibu Akang dan Akang yang menunggu di luar. Matanya penuh kemenangan.
"Belum selesai, Siti." Suaranya pelan, tapi menusuk. "Tanah itu akan jadi milikku. Cepat atau lambat. Dengan cara baik atau cara buruk."
"Kau tidak akan pernah mendapatkannya, Suprapto." Ibu Akang tidak mundur. "Aku akan lawan sampai mati. Aku akan habiskan sisa hidupku untuk melawanmu."
"Kita lihat nanti, Siti." Suprapto berjalan ke arah mobil yang sudah menunggu. "Kita lihat siapa yang lebih kuat."
Suprapto pergi. Langkahnya ringan. Sesuatu telah berubah. Ia tidak lagi datang sendirian dengan preman bayaran. Kali ini, ia datang dengan seorang pengacara. Laki-laki berjas rapi, berkacamata, membawa map tebal.
Suprapto Menemui Rahmadi
Lapas Kelas II A Kendal, ruang kunjungan, pertengahan Juni 1999.
Suprapto datang mengunjungi Rahmadi. Bukan sebagai keluarga. Mereka tidak punya hubungan apa pun. Tidak ada tali darah. Tidak ada hubungan pernikahan. Tidak ada ikatan apa pun.
Tapi sebagai sekutu.
Suprapto duduk di seberang meja panjang yang memisahkan pengunjung dan narapidana. Di depannya, kaca tebal. Di sampingnya, dua petugas lapas berjaga.
"Mas Rahmadi, saya datang." Suprapto membuka mapnya.
"Suprapto?" Rahmadi mengernyit. "Duduk."
Suprapto duduk. Wajahnya tegang. Keringat dingin mengucur di dahinya.
"Saya sudah bicara dengan pengacara." Suprapto mengeluarkan dokumen-dokumen. "Gugatan warisan akan segera didaftarkan minggu depan. Kita akan gugat Ibu Siti Supriyati, istri saya, menantu almarhum Mbah Joyo."
"Bagus." Rahmadi tersenyum. "Dan preman-preman saya?"
"Masih standby, Mas." Suprapto mengelap keringatnya. "Tapi saya pikir lebih baik kita lewat jalur hukum dulu. Jangan pakai kekerasan. Nanti polisi turun. Nanti kasusnya tambah panjang."
"Kamu takut?" Rahmadi menatap Suprapto.
"Bukan takut, Mas." Suprapto gelagapan. "Tapi kalau kita pakai kekerasan, polisi akan turun. Kita tidak mau itu. Apalagi posisi Mas lagi di dalam."
Rahmadi menghela napas. "Baik. Tapi jangan terlalu lama. Aku tidak sabar. Aku ingin tanah itu segera berpindah tangan."
"Ada apa dengan tanah itu, Mas Rahmadi?" Suprapto penasaran. "Kenapa Mas begitu tertarik? Tanah hanya sawah. Tidak ada apa-apanya."
Rahmadi tersenyum jahat. Senyum yang membuat Suprapto merinding.
"Tanah itu, Pak Suprapto, berada di pinggir Jalan Randu Gembyang." Rahmadi menjelaskan. "Lokasi strategis. Dekat dengan jalan raya. Dekat dengan pasar. Dekat dengan sekolah. Di sana akan saya bangun pusat perbelanjaan suatu hari nanti."
"Tapi Mas Rahmadi masih di sini." Suprapto bingung.
"Aku tidak akan di sini selamanya, Pak Suprapto." Rahmadi bersandar di kursinya. "Hukumanku 10 tahun. Bisa kurang jika berkelakuan baik. Jika aku rajin mengikuti program pembinaan, jika aku tidak melanggar peraturan, aku bisa bebas lebih cepat."
"Tanah itu akan siap ketika aku bebas." Rahmadi melanjutkan. "Ketika aku keluar dari sini, aku tidak akan kembali ke rumah kosong. Aku akan kembali ke tanah yang sudah siap kubangun."
Suprapto mengangguk. "Saya paham, Mas. Saya akan berusaha."
Gugatan Dilayangkan
Pengadilan Negeri Kendal, akhir Juni 1999.
Suprapto, melalui pengacaranya, melayangkan gugatan warisan ke Pengadilan Negeri Kendal. Dokumen-dokumen tebal diserahkan ke meja panitera. Surat gugatan dibacakan dengan suara lantang.
Ia menuntut hak atas tanah sawah seluas 2.000 meter persegi, milik almarhum Mbah Joyo, yang terletak di pinggir Jalan Randu Gembyang, Desa Tegorejo, Kecamatan Pegandon.
Ibu Akang menerima surat panggilan pengadilan. Tangannya gemetar. Kertas itu terasa berat di tangannya.
"Ini... ini gugatan dari Suprapto?" suaranya hampir tidak keluar.
"Iya, Bu." Petugas pengantar surat mengangguk. "Bapak diminta hadir dalam sidang pertama minggu depan."
"Tapi surat wasiat palsu itu sudah dibuktikan tidak sah!" Ibu Akang hampir menangis. "Polisi sudah memeriksa! Sidik jari sudah diambil! Saksi sudah dimintai keterangan!"
"Ini urusan pengadilan, Bu." Petugas itu tidak bergeming. "Ibu harus hadir. Jika tidak, Ibu bisa dianggap tidak kooperatif. Bisa kalah sebelum sidang dimulai."
Akang dan Ariyanti Mencari Pengacara
Rumah Bu Sumi, sore itu.
Akang, Ariyanti, dan Ibu Akang berkumpul di ruang tamu Bu Sumi yang sempit. Wajah mereka tegang. Bahu mereka tertunduk.
"Kita butuh pengacara." Bu Sumi membuka diskusi. "Pengacara yang baik. Pengacara yang tidak takut pada siapapun."
"Aku sudah menelepon LBH Kendal, Bu." Pak Lurah yang ikut hadir mengangkat tangan. "Mereka bersedia membantu. Gratis. Tidak memungut biaya."
"Pak Bambang?" Ariyanti mengernyit. "Pengacara yang dulu membantu kita? Yang membela Akang saat dituduh merusak bengkel Samsul?"
"Iya." Pak Lurah mengangguk. "Beliau setuju. Beliau bilang, kasus ini menarik. Karena menyangkut warisan dan saksi lisan."
"Syukurlah." Bu Sumi menghela napas lega.
Pak Bambang datang pada sore itu juga. Ia membawa berkas-berkas tebal. Kacamata tebalnya melorot di ujung hidung.
"Kita punya saksi kuat." Pak Bambang membuka map. "Pak Lurah dan Pak Karto. Dua orang terhormat. Tidak ada cacat hukum. Mereka mendengar langsung wasiat lisan almarhum Mbah Joyo."
"Kita juga punya fakta bahwa Mbah Joyo buta huruf." Pak Bambang melanjutkan. "Surat wasiat yang diklaim Suprapto tidak mungkin asli. Karena Mbah Joyo tidak bisa menulis. Tidak bisa membaca. Tidak bisa mengetik."
"Tapi Suprapto punya pengacara hebat, Pak." Ibu Akang gelisah. "Katanya dari Semarang. Pengacara yang dulu membela Rahmadi."
Pak Bambang tersenyum. "Pengacara hebat tidak bisa mengalahkan fakta, Bu. Selama kita punya saksi yang kredibel, selama kita punya fakta yang kuat, kita akan menang."
Rahmadi Menekan Saksi
Tegorejo, awal Juli 1999.
Rahmadi, melalui preman-preman bayarannya yang masih setia, mulai bergerak. Mereka mencari kelemahan saksi-saksi kunci. Mereka mencari cara untuk menekan. Mereka mencari cara untuk membuat saksi mundur.
Pak Lurah mendapat telepon ancaman di tengah malam. Telepon rumahnya berdering keras, membangunkan istrinya.
"Pak Lurah." Suara di seberang berat, dingin. "Kami tahu Bapak akan menjadi saksi di persidangan warisan. Kami tahu Bapak akan membela Ibu Siti."
"Siapa ini?" Pak Lurah bertanya, meskipun ia sudah tahu jawabannya.
"Jadi saksi yang baik, Pak." Suara itu tidak menjawab. "Jangan sampai keluarga Bapak celaka. Bapak punya anak. Masih kecil. Masih lucu. Sayang kalau terjadi apa-apa."
Pak Lurah tidak takut. Tangannya tidak gemetar.
"Aku sudah tua, Nak." Suaranya tegas. "Aku sudah dekat dengan kematian. Aku tidak takut mati. Yang penting kebenaran. Yang penting keadilan."
Pak Karto didatangi preman di sawahnya. Dua orang laki-laki bertubuh besar, berpakaian serba hitam, berdiri di pinggir sawah sambil merokok.
"Pak Karto." Salah satu dari mereka memanggil. "Urusan ini bukan urusan Bapak. Bapak tidak usah ikut campur. Bapak hanya petani. Bapak tidak perlu pusing dengan pengadilan."
"Tanah itu milik Bu Siti." Pak Karto tidak berhenti mencangkul. "Saya saksi wasiat Mbah Joyo. Saya akan bersaksi apa adanya."
"Bapak mau celaka?" Preman itu membuang puntung rokoknya.
"Saya sudah dekat dengan kematian, Nak." Pak Karto tetap mencangkul. "Umur saya 70 tahun. Tidak lama lagi saya akan mati. Saya tidak takut pada preman seperti kalian."
Para saksi tidak gentar. Mereka tidak mundur.
Tapi beban psikologis tetap ada. Setiap malam, Pak Lurah tidak bisa tidur nyenyak. Setiap kali ada suara di luar rumah, ia terbangun. Setiap kali telepon berdering, ia gelisah.
Ibu Akang Mulai Goyah
Rumah Ibu Akang, malam itu.
Tekanan yang terus-menerus, ancaman yang tidak pernah berhenti, ketidakpastian yang menghantui setiap hari, akhirnya mulai meruntuhkan Ibu Akang.
Badannya yang belum sepenuhnya pulih dari sakit dulu, kembali drop. Demamnya naik lagi. Kepalanya pusing. Tekanan darahnya tidak stabil.
"Bu, Ibu jangan sakit lagi." Akang duduk di samping tempat tidur ibunya, memegang tangannya yang panas. "Aku tidak tega melihat Ibu sakit."
"Ibu tidak apa-apa, Kang." Ibu Akang tersenyum lemah. "Hanya pusing. Mungkin kurang tidur. Mungkin terlalu banyak pikiran."
"Apa Ibu takut?" Akang bertanya.
Ibu Akang terdiam.
"Ibu takut, Kang." Air matanya jatuh. "Bukan karena tanahnya. Tanah bisa dicari. Tanah bisa dibeli. Tapi Ibu takut kalau kita kalah. Ibu takut kalau Suprapto berhasil merebut tanah itu."
"Kita tidak akan kalah, Bu." Akang menggenggam tangan ibunya. "Kebenaran ada di pihak kita. Pak Lurah dan Pak Karto akan bersaksi. Pak Bambang akan membela kita."
"Tapi pengadilan bisa saja memenangkan orang yang punya uang, Kang." Ibu Akang menatap Akang. "Pengadilan bisa disogok. Hakim bisa diatur. Saksi bisa dibeli."
Akang terdiam.
Itu juga yang ia takutkan. Itu yang selama ini mengganggu tidurnya. Itu yang membuatnya tidak bisa tenang.
Ariyanti Memberi Semangat
Rumah Ibu Akang, keesokan harinya.
Ariyanti datang dengan rantang di tangan. Bubur ayam buatan ibunya. Masih hangat.
"Bu, makan dulu." Ariyanti membuka rantang. "Biar kuat. Biar cepat sembuh."
"Terima kasih, Ari." Ibu Akang duduk di tempat tidur. "Kamu baik sekali. Selalu ingat sama Ibu."
"Bu, jangan menyerah." Ariyanti duduk di samping Ibu Akang. "Kita sudah melewati banyak hal yang lebih berat dari ini. Fitnah. Kebakaran. Kecelakaan. Koma. Penculikan. Sakit. Kita sudah melewati semuanya."
"Kamu benar, Ari." Ibu Akang mengusap air matanya. "Ibu hanya lelah. Sangat lelah."
"Kalau lelah, istirahat, Bu." Ariyanti menggenggam tangan Ibu Akang. "Tapi jangan menyerah. Jangan pernah menyerah."
Ibu Akang tersenyum. "Kamu menantu yang baik, Ari."
Ariyanti tersipu. "Belum, Bu. Saya masih pacar Akang. Belum menikah."
"Ya sudah." Ibu Akang tertawa kecil. "Nanti kalau sudah menikah, jadi menantu yang baik. Tapi Ibu doakan, semoga kalian cepat menikah."
Persidangan Pertama
Pengadilan Negeri Kendal, pertengahan Juli 1999.
Suasana pengadilan tegang. Ruangan sidang yang biasanya sepi, hari itu penuh sesak. Warga desa yang penasaran datang berbondong-bondong. Ada yang duduk di kursi, ada yang berdiri di pinggir, ada yang berdesakan di pintu.
Suprapto datang dengan jas rapi. Jas hitam, kemeja putih, dasi merah. Sepatu pantofel mengkilap. Di sampingnya, pengacara mahal dari Semarang. Laki-laki berusia 40-an, rambut disisir rapi, kacamata tebal.
Di barisan pengunjung, Rahmadi tidak hadir. Tapi kuasa hukumnya, Pak Rudi, duduk di barisan depan. Matanya tajam mengamati jalannya persidangan.
Ibu Akang, Akang, Ariyanti, Bu Sumi, Pak Lurah, Pak Karto, dan Pak Dullah duduk di sisi seberang. Wajah mereka tegang.
Hakim ketua, Dr. H. Sutrisno, S.H., M.H., seorang pria berusia 55 tahun dengan kumis tebal dan wajah tegas, memukul palu.
"PAK!"
"Sidang dengan perkara nomor 124/Pdt.G/1999/PN.Kdl atas nama penggugat Suprapto bin Joyo melawan tergugat Siti Supriyati binti... dinyatakan terbuka untuk umum."
"Penggugat, silakan bacakan gugatan."
Pengacara Suprapto, Pak Rudi, berdiri. Jas hitamnya rapi. Suaranya lantang.
"Yang Mulia, penggugat, Suprapto bin Joyo, adalah anak kandung almarhum Mbah Joyo. Sebagai anak kandung, penggugat berhak atas warisan orang tuanya."
"Tergugat, Ibu Siti Supriyati, adalah menantu. Bukan anak kandung. Tidak memiliki hubungan darah dengan almarhum. Tidak berhak atas warisan."
"Penggugat mohon kepada Yang Mulia, agar tanah sawah seluas 2.000 meter persegi di Jalan Randu Gembyang dikembalikan kepada penggugat."
Pak Bambang berdiri.
"Yang Mulia, gugatan ini tidak berdasar." Pak Bambang membuka mapnya. "Tanah tersebut adalah warisan dari Mbah Joyo kepada menantunya, Ibu Siti Supriyati. Karena ia yang merawat almarhum hingga akhir hayat."
"Ada dua saksi yang mendengar wasiat lisan almarhum." Pak Bambang melanjutkan. "Pak Lurah dan Pak Karto."
Hakim mengernyit. "Wasiat lisan?"
"Iya, Yang Mulia." Pak Bambang mengangguk. "Almarhum Mbah Joyo buta huruf. Tidak bisa membaca, tidak bisa menulis, tidak bisa mengetik. Wasiat lisan adalah satu-satunya cara."
Kesaksian Pak Lurah
Pengadilan, Pak Lurah naik ke kursi saksi.
Pak Lurah duduk di kursi kayu yang keras. Tangannya diletakkan di atas meja. Matanya menatap hakim.
"Pak Lurah, apakah Bapak mendengar langsung wasiat almarhum Mbah Joyo?" tanya Pak Bambang.
"Iya." Pak Lurah mengangguk. "Saya dan Pak Karto dipanggil ke rumah Mbah Joyo pada tahun 1998. Beliau dalam keadaan sakit, sudah stroke, tidak bisa berjalan. Tapi pikirannya jernih."
"Apa yang beliau katakan?" Pak Bambang bertanya.
"Beliau berwasiat." Pak Lurah menghela napas. "Tanah sawah di Jalan Randu Gembyang diberikan pada menantunya, Bu Siti Supriyati. Karena Bu Siti yang merawat beliau sampai akhir hayat."
"Apakah almarhum menyebut nama penggugat, Suprapto?" Pak Bambang bertanya lagi.
"Beliau menyebut." Pak Lurah menatap Suprapto. "Beliau bilang, Suprapto tidak pantas mendapat warisan. Karena durhaka. Tidak pernah mengirim kabar. Tidak pernah mengirim uang. Tidak pernah menjenguk. Bahkan saat beliau sakit, Suprapto tidak datang."
Ruangan ramai.
"Terima kasih, Pak Lurah." Pak Bambang duduk.
Pak Rudi berdiri. "Yang Mulia, keberatan. Saksi adalah teman dekat tergugat. Kredibilitasnya diragukan."
Hakim menghela napas. "Keberatan dicatat, Pak Rudi. Silakan duduk."
Kesaksian Pak Karto
Pengadilan, Pak Karto naik ke kursi saksi.
Pak Karto duduk di kursi yang sama. Tangannya yang keriput dan kasar diletakkan di atas meja.
"Pak Karto, apa yang Bapak dengar dari almarhum Mbah Joyo?" tanya Pak Bambang.
"Sama seperti Pak Lurah." Pak Karto mengangguk. "Mbah Joyo berwasiat bahwa tanah sawahnya diberikan pada Bu Siti. Karena Bu Siti yang merawat. Yang memasak. Yang membersihkan. Yang memandikan."
"Apakah almarhum juga menyebut Suprapto?" Pak Bambang bertanya.
"Beliau bilang Suprapto anak durhaka." Pak Karto tidak ragu. "Beliau bilang Suprapto tidak pantas mendapat warisan. Beliau bilang lebih baik tanahnya diberikan ke menantu daripada ke anak durhaka."
Pengadilan ramai lagi. Suprapto memucat. Tangannya gemetar.
"Yang Mulia, saksi ini tidak kredibel!" teriak Pak Rudi.
"Hakim pemutus yang menentukan kredibilitas saksi, Pak Rudi." Hakim tidak terpengaruh. "Duduk."
Rahmadi Mulai Gelisah
Lapas Kendal, malam setelah persidangan pertama.
Rahmadi duduk di sudut selnya. Di tangannya, surat dari Pak Rudi. Wajahnya tegang.
"Danu, ini tidak sesuai rencana." Rahmadi berbicara pada Danu yang ada di sel sebelah, meskipun mereka tidak bisa melihat satu sama lain.
"Apa yang terjadi, Tuan?" suara Danu dari balik dinding.
"Mereka punya saksi kuat." Rahmadi meremas surat itu. "Pak Lurah dan Pak Karto. Mereka tidak mundur meskipun sudah ditekan."
"Kita punya pengacara hebat, Tuan." Danu mencoba menenangkan.
"Pengacara hebat tidak bisa mengubah fakta, Danu." Rahmadi menghela napas. "Saksi mereka kredibel. Wasiat lisan didengar langsung oleh pejabat desa."
"Harus kita hentikan, Tuan?" Danu bertanya.
"Bagaimana caranya?" Rahmadi bertanya balik. "Kita sudah coba tekan. Tidak berhasil."
"Cari kelemahan mereka, Tuan." Suara Danu pelan. "Setiap orang punya titik lemah. Pak Lurah punya keluarga. Pak Karto punya anak."
"Sudah, Danu." Rahmadi berdiri. "Tidak ada yang bisa kita lakukan sekarang. Kita tunggu sidang berikutnya."
Ancaman pada Keluarga Pak Lurah
Rumah Pak Lurah, dua hari kemudian.
Seorang preman datang ke rumah Pak Lurah. Tidak ada yang melihat. Tidak ada yang tahu dari mana ia datang.
Ia mengetuk pintu. Ibu Lurah membukakan.
"Ada perlu apa, Mas?" Ibu Lurah bertanya.
Preman itu tidak menjawab. Ia hanya menyerahkan amplop coklat, lalu pergi.
Ibu Lurah membuka amplop itu. Di dalamnya, foto-foto anak mereka yang masih kecil. Anak laki-laki berusia 7 tahun. Foto-foto diambil saat ia sedang bermain di halaman sekolah.
Jantung Ibu Lurah berhenti berdetak.
"PAK!" teriaknya.
Pak Lurah keluar dari kamar. Wajahnya pucat saat melihat foto-foto itu.
"Pak Lurah." Suara preman itu dari balik pintu. "Anak Bapak masih kecil. Masih lucu. Masih polos. Sayang kalau terjadi apa-apa."
"Apa yang kalian mau?" Pak Lurah berteriak.
"Tarik kesaksian Bapak." Preman itu tidak masuk. "Bilang Bapak tidak ingat wasiat Mbah Joyo. Bilang Bapak salah dengar."
"Tidak bisa!" Pak Lurah membanting pintu. "Saya sudah bersumpah! Saya akan bersaksi apa adanya!"
"Pilih keluarga Bapak atau kesaksian Bapak." Preman itu pergi. "Pikirkan, Pak."
Pak Lurah Jatuh Sakit
Rumah Pak Lurah, keesokan harinya.
Pak Lurah tidak bangun dari tempat tidur. Badannya panas. Tekanan darahnya naik. Wajahnya pucat.
Istrinya panik. "Pak, Pak! Kenapa, Pak?"
"Aku... aku tidak enak badan." Suara Pak Lurah lirih.
"Ini karena tekanan dari preman itu?" Ibu Lurah bertanya.
Pak Lurah tidak menjawab.
Ia tidak bisa memilih antara kesaksian dan keluarganya. Ia tidak bisa memilih antara kebenaran dan keselamatan anaknya. Ia terjebak.
Akang Mengetahui
Rumah Pak Lurah, sore itu.
Akang datang menjenguk Pak Lurah. Ariyanti ikut.
"Pak, kenapa Bapak sakit?" Akang duduk di samping tempat tidur Pak Lurah. "Padahal besok sidang lagi. Bapak harus sehat."
"Aku... aku tidak enak badan, Kang." Pak Lurah tidak menatap Akang.
"Apakah ada hubungannya dengan ancaman preman?" Akang bertanya.
Pak Lurah terdiam.
"Aku tahu, Pak." Akang menggenggam tangan Pak Lurah. "Kabar sudah sampai ke saya. Mereka mengancam keluarga Bapak. Mereka mengirim foto anak Bapak."
"Kamu tahu?" Pak Lurah terkejut.
"Aku tahu, Pak." Akang mengangguk. "Tapi Bapak jangan takut. Kami akan lindungi keluarga Bapak. Kami sudah bicara dengan Herman. Herman akan minta bantuan polisi."
"Kamu masih muda, Kang." Pak Lurah menghela napas. "Kamu tidak tahu kekuatan mereka. Rahmadi punya uang. Punya preman. Punya koneksi."
"Tapi saya tahu kekuatan kebersamaan, Pak." Akang menatap Pak Lurah. "Kami tidak sendirian. Ada Bu Sumi. Ada Pak Dullah. Ada Pak Karto. Ada Ariyanti. Ada Herman. Ada Pak Lurah sendiri."
Herman Turun Tangan
Rumah Herman, malam itu.
Herman mendengar tentang ancaman pada Pak Lurah dari Ariyanti. Wajahnya merah padam. Matanya berkaca-kaca.
"Mereka berani mengancam pejabat desa?" Herman berdiri. "Mereka berani mengancam keluarga orang?"
"Pak Herman, kami butuh bantuan." Ariyanti menggenggam tangan Herman.
Herman menelepon kontak-kontaknya di kepolisian. Suaranya tegas.
"Tolong jaga keluarga Pak Lurah. Jaga rumahnya. Jaga anaknya. Jangan sampai ada yang celaka."
"Baik, Pak Herman." Suara di seberang.
"Juga tolong jaga keluarga Pak Karto." Herman melanjutkan. "Mereka juga diancam. Mereka juga takut."
"Baik, Pak."
"Dan tolong selidiki siapa di balik ancaman ini." Herman mengepalkan tangannya. "Jangan sampai mereka leluasa. Jangan sampai mereka terus mengintimidasi."
Polisi Mengintai
Tegorejo, hari-hari berikutnya.
Polisi mulai patroli rutin di sekitar rumah Pak Lurah dan Pak Karto. Mobil patroli lewat setiap jam. Lampu rotator menyala. Sirine dibunyikan sesekali.
Preman-preman bayaran tidak berani mendekat. Mereka menghilang. Tidak ada yang tahu ke mana.
Pak Lurah mulai pulih. Tekanan darahnya stabil. Demamnya turun.
"Jaga anak-anak, Bu." Pak Lurah menggenggam tangan istrinya. "Jangan biarkan mereka keluar rumah sendirian."
"Iya, Pak." Ibu Lurah mengangguk.
"Akhirnya..." Pak Lurah menghela napas. "Akhirnya kami bisa bernapas lega."
Persidangan Kedua
Pengadilan Negeri Kendal, akhir Juli 1999.
Pak Lurah hadir dengan kondisi sudah lebih baik. Wajahnya tidak setegang sebelumnya. Tangan tidak gemetar seperti sidang pertama.
Ia memberikan kesaksian yang sama. Tidak berubah. Tidak mundur.
"Yang Mulia, saya bersumpah demi Allah." Pak Lurah mengangkat tangan. "Almarhum Mbah Joyo berwasiat lisan pada saya dan Pak Karto. Tanah sawah itu untuk Bu Siti, bukan untuk Suprapto."
Suprapto marah. Wajahnya merah padam.
"DIA BOHONG!" teriaknya. "DIA DIBAYAR! DIA DISURUH BERKATA PALSU!"
"Penggugat, tenang!" Hakim memukul palu. "Sidang ini bukan tempat untuk berteriak!"
Pak Rudi mencoba memojokkan Pak Lurah. "Apakah Bapak tidak memiliki hutang pada tergugat? Atau tergugat pernah membantu Bapak secara finansial?"
"Tidak." Pak Lurah menggeleng. "Saya tidak punya hutang. Saya tidak pernah menerima uang dari Bu Siti. Saya hanya menjalankan tugas sebagai lurah."
Vonis
Pengadilan Negeri Kendal, awal Agustus 1999.
Hakim memukul palu.
"Setelah mendengar kesaksian para saksi, memeriksa barang bukti, dan mempertimbangkan fakta-fakta yang terungkap di persidangan, majelis hakim berpendapat bahwa gugatan penggugat tidak berdasar."
"Tanah sawah seluas 2.000 meter persegi di Jalan Randu Gembyang, yang menjadi objek sengketa, adalah hak sah tergugat, Ibu Siti Supriyati."
Ibu Akang menangis. Tangis haru. Tangis lega.
"Penggugat, Suprapto bin Joyo, juga dihukum membayar biaya perkara sebesar dua juta rupiah."
Suprapto memucat. Wajahnya pucat seperti mayat.
"TIDAK!" teriaknya. "SAYA BANDING! SAYA TIDAK TERIMA!"
"Silakan banding, Pak Suprapto." Hakim tidak terpengaruh. "Tapi untuk sementara, putusan ini berlaku."
Rahmadi Marah
Lapas Kendal, setelah vonis.
Pak Rudi melapor pada Rahmadi. Wajahnya tegang.
"Mas, kita kalah." Suaranya pelan.
"APA?" Rahmadi berdiri. "Bagaimana bisa?"
"Mereka punya saksi yang kuat, Mas." Pak Rudi menunduk. "Pak Lurah dan Pak Karto. Hakim memenangkan mereka."
"Aku suruh kau cari hakim yang bisa diatur!" Rahmadi membanting kursi.
"Hakim itu tidak bisa diatur, Mas." Pak Rudi tidak bergeming. "Reputasinya bersih. Tidak pernah menerima suap."
"Sial! Sial! Sial!" Rahmadi berjalan mondar-mandir.
"Mas Rahmadi, tenang." Pak Rudi mencoba menenangkan. "Masih ada banding. Kita bisa ajukan banding ke pengadilan tinggi."
"Berapa lama banding, Rudi?" Rahmadi bertanya.
"Bisa berbulan-bulan, Mas." Pak Rudi menghela napas. "Bahkan tahunan."
"Aku tidak bisa menunggu!" Rahmadi membanting pintu sel.
Kemenangan Kecil
Rumah Ibu Akang, sore itu.
Semua orang berkumpul di rumah Ibu Akang. Ruang tamu yang sempit itu penuh sesak. Ada yang duduk di kursi, ada yang bersila di lantai, ada yang berdiri di pintu.
Bu Sumi. Pak Lurah. Pak Karto. Pak Dullah. Herman. Ariyanti. Akang. Ibu Akang. Marni. Siti dengan Rizki di gendongan.
Bukan pesta besar. Tidak ada hiasan. Tidak ada musik. Tidak ada tumpeng. Hanya nasi liwet dengan lauk seadanya. Tahu tempe goreng. Sambal terasi. Lalapan.
Tapi kebahagiaannya luar biasa.
"Kita menang." Akang memecah keheningan.
"Kita menang." Ibu Akang mengulang sambil menangis. "Akhirnya... setelah sekian lama... setelah sekian banyak air mata... kita menang."
"Belum sepenuhnya menang." Bu Sumi menghela napas. "Masih ada banding. Suprapto bisa mengajukan banding ke pengadilan tinggi. Tapi setidaknya, kita punya napas lega."
"Terima kasih semuanya." Ibu Akang menunduk dalam-dalam. "Terima kasih sudah membantu kami. Terima kasih sudah berjuang bersama kami. Terima kasih sudah tidak meninggalkan kami."
Pak Lurah tersenyum. "Ini tugas kami, Bu. Sebagai pejabat desa. Sebagai tetangga. Sebagai manusia."
Pak Karto mengangguk. "Kebenaran harus ditegakkan, Bu. Siapa pun yang benar harus menang."
Herman yang hadir di sudut ruangan berkata, "Saya hanya melakukan yang benar, Bu. Saya hanya ingin memperbaiki kesalahan anak saya."
Ariyanti memegang tangan Akang. "Kita masih punya banyak perjuangan, Kang. Masih ada banding. Masih ada Rahmadi. Masih ada masa depan yang harus kita raih."
"Tapi hari ini kita rayakan dulu, Ari." Akang menggenggam balik. "Hari ini kita menang. Besok kita akan pikirkan perjuangan berikutnya."
Akang tersenyum. "Kamu selalu tahu cara membuatku bahagia, Ari."
Mereka semua tersenyum.
Di kejauhan, di luar jendela, senja mulai datang. Langit berwarna jingga keemasan.
Pelangi setelah badai.
BAB 32
MELAWAN DUNIA
Ariyanti, Akang, Marni, dan Siti bersatu. Bu Sumi menjadi otak strategi. Pak Dullah menjadi mata-mata di kubu Rahmadi.
Tegorejo – Kendal, Agustus 1999. Dua minggu setelah vonis pengadilan.
Kemenangan di pengadilan atas gugatan warisan dari Suprapto adalah angin segar. Seperti seteguk air di tengah padang pasir. Seperti setitik cahaya di tengah gelap yang pekat. Seperti harapan yang mulai tumbuh kembali di tanah yang gersang.
Namun, semua pihak tahu bahwa perang sesungguhnya belum usai. Suprapto, meskipun telah kalah di pengadilan negeri, mengajukan banding. Ia tidak mau menyerah. Uang dari Rahmadi sudah ia habiskan. Ia tidak punya apa-apa lagi. Satu-satunya yang ia miliki hanyalah harapan bahwa di pengadilan tinggi, ia akan menang.
Rahmadi, dari balik jeruji besi, masih bergerak. Tangan-tangan panjangnya masih menjangkau ke luar. Preman-preman bayarannya, yang tidak tertangkap dalam operasi terakhir, masih berkeliaran. Mereka berganti-ganti tempat persembunyian. Mereka berganti-ganti penampilan. Tapi mereka tetap setia pada uang.
Di sinilah titik balik cerita. Bukan lagi tentang bertahan, bukan lagi tentang menghindar, bukan lagi tentang berlari. Tapi tentang menyerang balik. Tentang membalikkan posisi. Tentang menjadi pemburu, bukan buruan.
Ariyanti, Akang, Marni, dan Siti. Empat sekawan yang dulu sempat tercerai-berai oleh intrik dan pengkhianatan. Empat sekawan yang dulu saling curiga dan saling menyakiti. Empat sekawan yang dulu hampir hancur karena ulah Siti sendiri, kini bersatu kembali. Bukan hanya sebagai teman, bukan hanya sebagai sahabat, tapi sebagai pasukan. Pasukan yang siap mati untuk satu sama lain. Pasukan yang siap berkorban untuk kebenaran.
Bu Sumi, guru bijaksana yang selama ini menjadi pelindung, menjadi tempat berteduh, menjadi ibu bagi mereka semua, naik pangkat. Dari seorang guru biasa yang hanya mengajar di kelas, ia menjadi otak strategi. Jenderal di balik meja. Panglima tanpa pasukan, tapi dengan pengaruh.
Ia yang menyusun rencana. Ia yang mengatur taktik. Ia yang memimpin gerakan perlawanan. Setiap gerakan musuh ia prediksi. Setiap langkah lawan ia baca. Setiap kelemahan ia manfaatkan.
Pak Dullah, penjaga sekolah yang dulu menjadi sopir keluarga H. Rahmat, yang dulu dipecat dengan hina dan dipukuli preman, yang dulu hidup dalam ketakutan selama bertahun-tahun, kini memanfaatkan jaringan lamanya. Ia menyusup ke dalam kubu Rahmadi. Ia mendengar. Ia mencatat. Ia melaporkan.
Mata-mata. Agen rahasia. Pahlawan tanpa tanda jasa.
Ini bukan lagi pertarungan antara dua orang yang saling membenci. Bukan lagi pertarungan antara Akang dan Rahmadi. Bukan lagi pertarungan antara Ariyanti dan Rahmadi. Ini adalah perang antara kebenaran dan kebatilan. Antara keadilan dan keserakahan. Antara cahaya dan kegelapan.
Dan di pihak kebenaran, di pihak keadilan, di pihak cahaya, mereka semua bersatu.
Tidak ada lagi yang namanya "aku" dan "kamu". Yang ada hanya "kita".
Rapat Rahasia di Rumah Bu Sumi
Rumah Bu Sumi, malam hari, pukul 19.00.
Lampu minyak tanah menerangi ruang tengah Bu Sumi yang sederhana. Cahayanya kuning, temaram, menciptakan bayangan-bayangan yang menari di dinding anyaman bambu. Listrik di Dusun Cegunan bagian selatan memang sering padam. Sudah seminggu ini tidak menyala. Tidak ada yang tahu kapan akan menyala lagi.
Tapi kegelapan tidak mengganggu mereka yang berkumpul malam itu. Bahkan, kegelapan menjadi teman yang setia. Karena di dalam gelap, tidak ada yang bisa melihat mereka. Tidak ada yang bisa mengintai. Tidak ada yang bisa memata-matai.
Di ruangan itu duduk: Ariyanti, Akang, Marni, Siti dengan Rizki di gendongan, Bu Sumi, Pak Dullah, Pak Lurah, dan Herman. Wajah-wajah mereka tegang. Bahu-bahu mereka sedikit membungkuk. Tapi mata mereka... mata mereka menyala.
"Ini mungkin pertemuan paling penting yang pernah kita lakukan," kata Bu Sumi membuka diskusi. Suaranya pelan, tapi tegas.
"Tentang apa, Bu?" tanya Marni sambil memegang kameranya. Kamera itu sudah menjadi bagian dari tubuhnya. Siang malam ia bawa.
"Tentang strategi." Bu Sumi menatap mereka satu per satu. "Kita tidak bisa terus-menerus bertahan. Tidak bisa terus-menerus menghindar. Tidak bisa terus-menerus berlari. Kita harus menyerang balik."
"Menyerang balik dengan apa, Bu?" tanya Akang. "Kita tidak punya senjata. Tidak punya preman. Tidak punya uang."
"Bukan dengan kekerasan, Kang." Bu Sumi tersenyum. "Tapi dengan kebenaran. Dengan hukum. Dengan bukti."
"Apa maksud Ibu?" tanya Ariyanti.
"Rahmadi masih bergerak dari balik penjara." Bu Sumi menjelaskan. "Suprapto mengajukan banding. Preman-preman bayaran masih berkeliaran. Mereka tidak akan berhenti sampai kita hancur."
"Kita harus menghentikan mereka sebelum mereka menghancurkan kita." Bu Sumi berdiri. "Kita harus memotong akar kejahatan ini."
Pak Dullah mengangkat tangan. Tangannya yang keriput dan gemetar itu terangkat perlahan.
"Saya punya usulan, Bu."
"Silakan, Pak Dullah." Bu Sumi duduk kembali.
"Saya masih punya kontak di jaringan keluarga H. Rahmat." Pak Dullah menunduk. "Bukan teman dekat. Bukan saudara. Tapi orang-orang yang tidak setia pada Rahmadi. Orang-orang yang kecewa. Orang-orang yang berhutang."
"Mereka bisa menjadi mata-mata kita, Bu." Pak Dullah mengangkat kepalanya. "Mereka bisa memberi informasi. Tentang preman. Tentang rencana. Tentang kelemahan."
Bu Sumi tersenyum. "Itu ide bagus, Pak Dullah. Bapak rela? Ini berbahaya. Jika ketahuan, Bapak bisa celaka."
"Saya sudah tua, Bu." Pak Dullah menghela napas. "Umur saya tidak panjang. Tidak ada yang bisa saya takutkan lagi. Yang penting anak-anak ini selamat. Yang penting kebenaran menang."
Pembagian Peran
Rumah Bu Sumi, diskusi berlanjut.
Bu Sumi mengambil buku catatan dari tasnya. Buku tebal berwarna biru, sampulnya sudah usang, beberapa halamannya terlepas. Ia membuka halaman kosong, mengambil pulpen, dan mulai menulis.
"Ariyanti." Bu Sumi menulis nama Ariyanti di baris pertama.
"Iya, Bu."
"Kamu akan menjadi koordinator lapangan." Bu Sumi menatap Ariyanti. "Kamu yang paling tahu kondisi di sekolah dan desa. Kamu yang paling dekat dengan Akang, Marni, dan Siti. Kamu yang paling tahu gerak-gerik musuh."
"Siap, Bu." Ariyanti mengangguk.
"Akang." Bu Sumi menulis nama Akang.
"Iya, Bu."
"Kamu akan menjadi penghubung dengan Pak Lurah dan kepolisian." Bu Sumi melanjutkan. "Kamu juga yang akan mengoordinir perlindungan fisik untuk keluarga kita. Jaga ibumu. Jaga rumahmu. Jaga dirimu."
"Siap, Bu."
"Marni." Bu Sumi menulis nama Marni.
"Siap, Bu!" Marni mengangkat kameranya.
"Kamu akan menjadi dokumentator, Mar." Bu Sumi tersenyum. "Catat semua kejadian. Foto, rekam, tulis. Bukti adalah senjata kita di pengadilan. Tanpa bukti, kita hanya bicara angin."
"Siap, Bu!"
"Siti." Bu Sumi menulis nama Siti.
Siti menggendong Rizki yang mulai rewel. "Iya, Bu?"
"Kamu akan menjadi komunikator dengan Herman dan Pak Dullah." Bu Sumi menjelaskan. "Kamu juga yang akan mengurus logistik. Makanan, obat-obatan, dan kebutuhan lain. Karena kamu paling sering di rumah, tidak perlu ke mana-mana."
"Siap, Bu."
"Pak Dullah." Bu Sumi menulis nama Pak Dullah.
"Siap, Bu."
"Bapak akan menjadi mata-mata di kubu Rahmadi." Suara Bu Sumi serius. "Bapak akan menyusup. Bapak akan mendengar. Bapak akan melapor. Bapak adalah mata dan telinga kita di dalam."
"Siap, Bu."
"Pak Lurah."
"Siap, Bu."
"Bapak akan menjadi koordinator dengan aparat desa dan kepolisian." Bu Sumi menatap Pak Lurah. "Bapak yang akan bicara dengan polisi. Bapak yang akan meminta bantuan. Bapak yang akan melapor jika ada yang tidak beres."
"Siap, Bu."
"Herman."
"Siap, Bu."
"Bapak akan menjadi penghubung dengan LBH dan media." Bu Sumi menjelaskan. "Bapak yang akan mencari pengacara jika dibutuhkan. Bapak yang akan bicara dengan wartawan jika kasus ini naik ke tingkat nasional."
"Siap, Bu."
Bu Sumi menutup buku catatannya. Ia berdiri. Ia menatap mereka satu per satu.
"Dan saya, yang akan menyusun strategi." Suaranya lantang. "Ini adalah perang kita. Bukan perang fisik. Tapi perang mental. Perang bukti. Perang hukum."
"Mari kita menangkan."
Pak Dullah Menyusup
Rumah Pak Dullah, keesokan harinya.
Pak Dullah mengenakan pakaian terbaiknya. Kemeja putih lengan panjang, hanya ia pakai saat pergi ke kondangan. Kain sarung batik, peninggalan istrinya yang sudah meninggal. Sepatu karet hitam, satu-satunya sepatu yang ia miliki.
Ia menyisir rambutnya yang mulai memutih. Rambutnya sudah tipis, hampir botak di bagian atas. Tapi ia tetap menyisirnya dengan rapi.
"Nek, saya pergi dulu." Ia berbicara pada foto istrinya di dinding. Foto hitam putih, sudah menguning, dalam bingkai kayu sederhana. "Doakan saya. Jaga saya."
Sebelum berangkat, ia mampir ke kuburan istrinya di pemakaman desa. Ia membawa segenggam bunga. Bunga kertas, buatan sendiri. Tidak mahal. Tapi penuh makna.
"Istriku, aku akan melakukan sesuatu yang berbahaya." Ia berbisik di pusara. "Tapi ini untuk kebenaran. Untuk anak-anak itu. Untuk masa depan."
Ia pergi ke rumah Mbah Jayus. Mbah Jayus adalah mantan preman yang dulu bekerja dengan H. Rahmat. Dulu, ia adalah eksekutor lapangan. Tangannya penuh darah. Matanya penuh amarah. Tapi sekarang, ia sudah tobat. Menjadi tukang becak. Menjadi bapak yang baik untuk anak-anaknya.
"Pak Jayus." Pak Dullah mengetuk pintu rumah sederhana itu.
Mbah Jayus keluar. Wajahnya keriput. Matanya sayu. Tubuhnya bungkuk.
"Pak Dullah? Ada apa?" Mbah Jayus mengernyit.
"Saya perlu bantuan, Pak."
"Bantuan apa?"
"Saya perlu informasi tentang jaringan Rahmadi." Pak Dullah menunduk. "Siapa saja preman yang masih setia? Siapa yang suka mengeluh? Siapa yang bisa dibeli?"
Mbah Jayus terdiam. Wajahnya berubah tegang.
"Ini berbahaya, Pak Dullah." Suaranya pelan. "Rahmadi punya banyak mata. Banyak telinga. Jika mereka tahu saya bicara, saya bisa celaka."
"Aku tahu, Pak." Pak Dullah mengangguk. "Tapi ini untuk kebaikan. Untuk menghentikan kejahatan. Untuk melindungi anak-anak."
Mbah Jayus menghela napas.
"Baiklah." Ia mengangguk. "Aku akan bantu. Tapi jangan bilang-bilang siapa pun. Jangan sampai nama saya disebut."
Informasi Pertama dari Pak Dullah
Rumah Bu Sumi, tiga hari kemudian.
Pak Dullah datang dengan map tipis di tangannya. Map coklat, sudah usang, tali pengikatnya putus di satu sisi. Wajahnya tegang. Matanya gelisah.
"Ini, Bu." Pak Dullah menyerahkan map itu pada Bu Sumi. "Informasi pertama dari Mbah Jayus."
Bu Sumi membuka map itu. Matanya bergerak cepat.
Di dalamnya, foto-foto. Foto preman-preman bayaran. Foto orang-orang yang sering terlihat di sekitar Rahmadi. Foto mobil-mobil yang sering parkir di depan rumah H. Rahmat.
Juga nama-nama. Tino. Jarwo. Bambang. Dan nama-nama baru. Preman-preman yang direkrut Rahmadi dari luar kota. Dari Semarang. Dari Kudus. Dari Pati.
"Astaga..." Bu Sumi tercekat. "Tino, Jarwo, Bambang? Mereka kan sudah ditahan? Kenapa namanya masih ada?"
"Mereka sudah ditahan, Bu." Pak Dullah menjelaskan. "Tapi mereka punya adik. Punya sepupu. Punya teman. Rahmadi merekrut keluarga mereka."
"Apa rencana mereka?" Bu Sumi bertanya.
"Mereka akan mengintimidasi saksi-saksi di kasus banding." Pak Dullah duduk di kursi. "Pak Lurah, Pak Karto, dan keluarganya. Mereka akan ditekan. Diancam. Disakiti."
"Kita harus lindungi mereka." Bu Sumi mengepalkan tangannya. "Kita tidak boleh membiarkan mereka celaka."
Ariyanti Mengoordinir Perlindungan
Rumah Pak Lurah, sore itu.
Ariyanti datang dengan Marni dan Siti. Marni membawa kamera. Siti membawa Rizki di gendongan. Ariyanti membawa rantang berisi makanan.
"Bu Lurah, bagaimana kesehatan Pak Lurah?" Ariyanti masuk ke rumah.
"Sudah lebih baik, Nak." Ibu Lurah duduk di kursi. "Tapi masih sering cemas. Masih sering gelisah. Setiap ada suara di luar, ia terbangun."
"Kami akan jaga Bapak, Bu." Ariyanti menggenggam tangan Ibu Lurah. "Jangan khawatir."
Ariyanti mengatur jadwal piket. Marni siang. Siti sore. Akang malam. Ariyanti sendiri yang fleksibel, bisa kapan saja.
"Kita harus pastikan Pak Lurah aman." Ariyanti menatap mereka. "Pak Lurah adalah saksi kunci. Tanpa beliau, kita bisa kalah di pengadilan banding."
Akang Menghubungi Polisi
Polsek Pegandon, siang itu.
Akang datang ke polsek ditemani Herman. Langkahnya mantap. Tidak gemetar. Herman di sampingnya, berjalan pelan karena kakinya sudah tua.
Mereka bertemu dengan Bripka Joko di ruang kerjanya. Bripka Joko sudah seperti sahabat bagi mereka. Sejak awal kasus, sejak fitnah selebaran, sejak kebakaran bengkel, ia selalu membantu.
"Pak, kami punya informasi." Akang duduk di kursi. "Preman bayaran Rahmadi akan mengintimidasi saksi-saksi di kasus banding."
"Kami akan tingkatkan patroli, Kang." Bripka Joko mencatat.
"Tidak hanya itu, Pak." Akang melanjutkan. "Mereka juga merencanakan sesuatu yang lebih besar. Mungkin pembakaran. Mungkin kekerasan fisik. Mungkin penculikan."
"Apa buktinya, Kang?" Bripka Joko mengernyit.
Akang menyerahkan salinan foto dan catatan dari Pak Dullah.
"Ini, Pak." Akang menyerahkan map tipis. "Belum bukti kuat. Tapi cukup untuk jadi pijakan."
Bripka Joko membuka map itu. Membaca. Mengamati.
"Saya akan koordinasikan dengan polres, Kang." Bripka Joko berdiri. "Kita akan tangkap mereka sebelum mereka bergerak."
Siti Mengurus Logistik
Rumah Bu Sumi, setiap hari.
Siti, meskipun harus mengurus Rizki yang masih kecil dan rewel, tetap aktif dalam tim. Ia bangun lebih pagi. Tidur lebih malam. Ia mengatur persediaan makanan, obat-obatan, dan perlengkapan lain yang dibutuhkan untuk tim.
"Bu Sumi, stok beras tinggal sedikit." Siti membuka lemari dapur. "Juga minyak goreng. Juga gula."
"Kamu belanja ke pasar, Siti?" Bu Sumi bertanya.
"Iya, Bu."
"Kamu sendiri? Perutmu masih recovery, Siti. Jangan memaksakan diri."
"Tidak usah, Bu." Siti menggeleng. "Saya kuat. Lagian Rizki saya bawa."
Siti menggendong Rizki dengan kain batik, lalu pergi ke pasar Pegandon. Ia berjalan pelan, hati-hati, karena kakinya masih bengkak.
Ia membeli beras, sayur, telur, dan lauk pauk. Semua ia bawa sendiri. Tidak ada yang membantu.
Pedagang pasar yang melihat Siti dengan bayinya mulai berbisik.
"Itu anaknya Rahmadi, ya?" bisik seorang ibu-ibu.
"Kasihan. Ditinggal. Tidak diakui."
"Padahal anak konglomerat. Masa tidak mau bertanggung jawab?"
Siti mendengar. Tapi ia tidak peduli. Telinganya sudah terbiasa dengan bisikan-bisikan jahat. Mulutnya sudah terbiasa dengan kata-kata pedas.
Ia hanya fokus pada tugasnya. Fokus pada timnya. Fokus pada Rizki.
Marni Mendokumentasi
Tegorejo, setiap kejadian.
Marni membawa kamera pinjaman dari Bu Sumi ke mana-mana. Kamera tua, berat, tidak secanggih kamera digital. Tapi cukup untuk merekam apa pun yang terjadi.
Ia memotret setiap kejadian mencurigakan. Preman yang berkeliaran di pinggir jalan. Mobil asing yang mondar-mandir di depan rumah warga. Selebaran misterius yang kadang muncul di malam hari, ditempel di pohon randu, di tembok toko, di pagar rumah.
Ia juga merekam suara. Setiap kali ada telepon ancaman yang masuk ke rumah Pak Lurah atau rumah Pak Karto, ia tekan tombol rekam.
"Ari, ini rekaman terbaru." Marni menyerahkan ponselnya pada Ariyanti. "Suara preman yang mengancam Pak Karto. 'Bapak jadi saksi yang baik. Jangan sampai keluarga Bapak celaka.'"
"Bagus, Mar." Ariyanti menyimpan ponsel itu. "Simpan baik-baik. Backup di tempat lain. Ini bukti."
Bu Sumi Menyusun Strategi
Rumah Bu Sumi, tengah malam.
Bu Sumi tidak bisa tidur. Pikirannya terlalu sibuk. Rencana-rencana berputar di kepalanya seperti roda gerinda.
Ia duduk di meja kerjanya. Meja kayu tua yang sudah usang. Lampu minyak tanah menyala di sampingnya.
Ia menggambar peta. Peta desa. Peta jalan. Peta rumah.
Ia menulis nama-nama. Rahmadi. Suprapto. Danu. Tino. Jarwo. Bambang. Preman-preman baru.
Ia menghubungkan mereka dengan garis. Garis merah. Garis hitam. Garis biru.
Rahmadi disambungkan ke Suprapto. Suprapto disambungkan ke preman. Preman disambungkan ke saksi. Saksi disambungkan ke pengadilan. Pengadilan disambungkan ke banding.
Titik lemah mereka: Suprapto.
Ia bukan orang kuat. Ia bukan Rahmadi. Ia tidak punya preman. Tidak punya uang banyak. Tidak punya koneksi.
Ia hanya serakah. Serakah dan putus asa.
"Jika kita bisa bujuk Suprapto, atau menekannya." Bu Sumi bergumam. "Mungkin dia akan menarik gugatan. Mungkin dia akan berhenti."
Bu Sumi memanggil Akang keesokan harinya.
"Kang, aku punya ide." Bu Sumi menatap Akang. "Temui ayahmu. Bukan untuk berdebat. Bukan untuk bertengkar. Tapi untuk menawarkan jalan keluar."
"Jalan keluar apa, Bu?" Akang bertanya.
"Tawarkan dia uang." Bu Sumi menghela napas. "Tidak banyak. Cukup untuk melunasi hutangnya. Dengan syarat dia menarik gugatan dan tidak menerima bantuan dari Rahmadi lagi."
"Apa dia mau, Bu?" Akang ragu.
"Kita coba dulu, Kang." Bu Sumi menepuk pundak Akang. "Tidak ada salahnya mencoba."
Akang Menemui Suprapto
Losmen tempat Suprapto menginap, sore itu.
Akang datang seorang diri. Tidak membawa siapa pun. Tidak ada Ariyanti. Tidak ada Marni. Tidak ada Siti. Hanya dia sendiri.
Losmen itu kecil, kotor, dindingnya cat mengelupas. Bau pesing dari kamar mandi di ujung lorong. Suprapto sedang duduk di teras losmen, di kursi plastik yang sudah retak. Tangannya memegang rokok.
"Ayah." Akang berdiri di depan Suprapto.
"Kang?" Suprapto terkejut. "Kamu ke sini?"
"Aku mau bicara, Ayah."
"Tentang apa?"
Akang duduk di kursi seberang ayahnya.
"Ayah, berhenti." Suara Akang tegas. "Tarik gugatan. Aku akan bantu Ayah melunasi hutang."
Suprapto tertawa. "Kamu? Anak miskin?" Tertawanya pahit. "Bisa bayar hutangku yang ratusan juta?"
"Aku tidak sendiri, Ayah." Akang tidak mundur. "Ada banyak orang yang mau membantu. Bu Sumi. Pak Lurah. Herman. Asalkan Ayah berhenti."
"Tidak bisa." Suprapto menggeleng. "Aku sudah terlanjur. Rahmadi akan marah."
"Ayah lebih takut pada Rahmadi daripada pada Tuhan?" Akang menatap Suprapto.
Suprapto terdiam.
"Ayah, ingat." Akang melanjutkan. "Dulu Kakek pernah bilang. 'Nak, jangan jadi anak durhaka. Durhaka pada orang tua itu dosa besar.'"
"Ayah sekarang durhaka pada Kakek." Suara Akang bergetar. "Dengan memperebutkan warisan yang sudah beliau wasiatkan. Ayah juga durhaka pada Ibu. Yang sudah merawat Kakek sampai akhir hayat."
Suprapto menunduk. Tangannya yang memegang rokok gemetar.
"Aku... aku butuh uang, Kang." Suaranya pelan. "Aku terlilit hutang. Banyak. Di Semarang. Di Jakarta."
"Aku tahu, Ayah." Akang menggenggam tangan Suprapto. "Tapi bukan dengan cara ini."
Suprapto Goyah
Losmen, malam itu.
Suprapto tidak bisa tidur. Ia sudah berguling-guling di kasur yang keras dan bau. Tapi matanya tidak bisa terpejam.
Kata-kata Akang terus terngiang di kepalanya.
"Ayah lebih takut pada Rahmadi daripada pada Tuhan?"
"Ayah durhaka."
Ia duduk di tepi tempat tidur. Tangannya gemetar. Ia meraih ponsel di meja samping.
"Menelepon Pak Rudi, pengacaranya."
"Pak Rudi, apakah mungkin kita tarik gugatan?" suara Suprapto pelan.
"Bisa, Pak." Suara Pak Rudi di seberang. "Tapi itu berarti Bapak harus mengembalikan uang muka dari Rahmadi."
"Berapa?"
"Lima puluh juta, Pak."
Suprapto lemas. Lima puluh juta. Uang itu sudah ia pakai untuk melunasi hutang sebagian. Untuk membayar preman. Untuk membayar pengacara.
"Aku tidak punya, Pak Rudi." Suaranya nyaris berbisik.
"Ya sudah, Pak." Pak Rudi menghela napas. "Lanjutkan saja banding. Kita masih ada peluang. Pengadilan tinggi belum tentu sekeras pengadilan negeri."
Pak Dullah Mendengar Kabar Penting
Tegorejo, seminggu kemudian.
Pak Dullah mendapat informasi dari Mbah Jayus. Informasi yang membuat jantungnya berhenti berdetak.
"Pak Dullah, ada rencana besar." Mbah Jayus duduk di teras rumahnya. "Rahmadi menyuruh preman untuk menculik Ariyanti."
"Apa?" Pak Dullah terperanjat. "Kapan?"
"Minggu depan, Pak." Mbah Jayus menghela napas. "Saat Ariyanti pulang sekolah."
"Di mana?"
"Di Jalan Randu Gembyang." Mbah Jayus menatap Pak Dullah. "Mereka akan hadang di tikungan dekat pohon randu tertua. Lalu bawa ke tempat aman."
Pak Dullah segera melapor ke Bu Sumi. Ia berlari. Tidak peduli kakinya yang tua dan sakit.
Rencana Balik
Rumah Bu Sumi, rapat darurat.
"Ariyanti, kamu tidak boleh pulang sendirian minggu depan." Bu Sumi menatap Ariyanti.
"Aku harus, Bu." Ariyanti gelisah. "Ada ujian. Tidak bisa bolos."
"Kita atur pengawalan." Bu Sumi mengambil peta. "Akang akan menjemputmu."
"Aku juga." Marni mengangkat tangan.
"Saya juga bisa." Siti mengangkat Rizki yang ada di gendongannya. "Meskipun bawa Rizki."
"Terima kasih, semuanya." Ariyanti hampir menangis.
Bu Sumi juga menghubungi Bripka Joko.
"Pak, kami punya informasi rencana penculikan." Bu Sumi menelepon dari rumah tetangga. "Mohon bantuan."
"Kami akan kirim polisi berpakaian preman untuk mengawal diam-diam, Bu." Bripka Joko menjawab. "Jangan khawatir."
Hari H
SMAN I Pegandon, pukul 15.00, akhir pekan berikutnya.
Ariyanti keluar sekolah bersama Akang, Marni, dan Siti dengan Rizki di gendongan. Mereka berjalan kaki menuju Jalan Randu Gembyang.
Di belakang mereka, polisi berpakaian preman mengikuti jarak 100 meter. Tidak terlihat. Tidak mencolok.
Di tikungan di depan pohon randu tertua, sekelompok preman muncul. Tiga orang. Wajah kasar. Pentungan di tangan.
"Ariyanti, ikut kami!" preman yang paling besar mendekat.
Akang maju ke depan. "Mau apa kalian?"
"Urusan preman." Preman itu tersenyum sinis. "Jangan ikut campur."
"Aku anak buah Rahmadi?" Akang tidak mundur. "Saya akan laporkan kalian!"
Preman itu tertawa. "Lapor ke mana? Polisi? Polisi takut pada kami!"
"Awas!"
Akang tidak bergeming. Marni mulai merekam dengan kameranya. Siti bersiap lari jika perlu. Rizki menangis.
Tiba-tiba, polisi berpakaian preman muncul dari balik semak.
"JANGAN BERGERAK!" teriak Bripka Joko. "KALIAN KAMI TANGKAP!"
Preman-preman itu terkejut. Mereka berusaha lari, tapi polisi sudah mengepung.
"KALIAN BERHADAPAN DENGAN HUKUM SEKARANG!"
Penangkapan Preman
Polsek Pegandon, sore itu.
Tiga preman bayaran Rahmadi digelandang ke polsek. Mereka dipisah dan diinterogasi satu per satu.
"Siapa yang menyuruh kalian?" Bripka Joko bertanya.
Preman pertama diam. Preman kedua juga diam. Preman ketiga menunduk.
Tapi polisi menemukan ponsel mereka. Ada riwayat panggilan dengan nomor yang terdaftar atas nama Danu. Asisten Rahmadi yang sudah ditahan, tapi ternyata masih bisa berkomunikasi dari dalam tahanan.
"Ini bukti kuat." Bripka Joko tersenyum. "Danu akan kena pasal tambahan. Menyuruh orang melakukan penculikan."
Kabar untuk Rahmadi
Lapas Kendal, malam itu.
Pak Rudi memberi kabar pada Rahmadi. Wajahnya tegang.
"Mas, operasi penculikan gagal." Suaranya pelan. "Preman kita ditangkap polisi."
"APA?" Rahmadi berdiri. "Sial! Siapa yang bocorkan?"
"Belum tahu, Mas." Pak Rudi menunduk. "Mungkin ada mata-mata."
"Cari! Bunuh!" Rahmadi berteriak.
"Mas Rahmadi, tidak bisa." Pak Rudi menggeleng. "Polisi sudah curiga. Mereka akan memperketat pengawasan."
Rahmadi membanting kursi di selnya.
"Aku akan hancurkan mereka! Aku akan hancurkan semuanya!"
Efek pada Suprapto
Losmen, malam itu.
Suprapto mendengar kabar bahwa preman bayaran Rahmadi ditangkap polisi. Jantungnya berdebar.
"Jika polisi bisa menangkap mereka, mungkin polisi juga bisa menangkapku suatu hari nanti."
Ia menelepon Akang. Jarinya gemetar menekan tombol.
"Kang... aku mau bicara." Suaranya pelan.
"Tentang apa, Ayah?" suara Akang di seberang.
"Aku mau tarik gugatan." Suprapto menghela napas. "Tapi aku takut pada Rahmadi."
"Ayah tidak perlu takut, Ayah." Akang menjawab. "Polisi akan lindungi Ayah. Kami akan lindungi Ayah."
"Kau yakin?"
"Aku yakin, Ayah."
Suprapto Menarik Gugatan
Pengadilan Negeri Kendal, seminggu kemudian.
Suprapto datang ke pengadilan didampingi Akang. Ia berjalan dengan langkah mantap. Tidak gemetar. Tidak ragu.
"Yang Mulia, saya mencabut gugatan." Suaranya lantang. "Tanah itu hak istri saya."
Hakim terkejut. Alisnya naik.
"Suprapto, apakah Bapak sadar dengan keputusan ini?" Hakim bertanya.
"Saya sadar, Yang Mulia."
"Ada tekanan dari pihak manapun?"
"Tidak, Yang Mulia." Suprapto menggeleng. "Keputusan saya sendiri."
Hakim memukul palu.
"Gugatan banding dinyatakan dicabut." Suaranya tegas. "Tanah sawah tetap milik Ibu Siti Supriyati."
Ibu Akang menangis di kursi penonton. Akang memeluknya.
"Akhirnya... selesai."
Rahmadi Murka
Lapas Kendal, setelah sidang.
"APA?" Rahmadi membanting telepon. "SUPRAPTO MENCABUT GUGATAN?"
"Maaf, Mas." Suara Pak Rudi dari seberang. "Dia takut. Dia tidak kuat."
"Aku sudah bayar dia lima puluh juta!" Rahmadi berteriak.
"Uangnya sudah habis, Mas." Pak Rudi menghela napas. "Tidak bisa dikembalikan."
"Sialan! Pengkhianat!" Rahmadi mengamuk di dalam sel. Ia membanting kursi. Membanting bantal. Menendang dinding.
Petugas lapas harus menenangkannya dengan paksa.
Persatuan yang Tak Terkalahkan
Tegorejo, senja itu.
Di bawah pohon randu tertua, mereka semua berkumpul. Ariyanti, Akang, Marni, Siti dengan Rizki di gendongan, Bu Sumi, Pak Dullah, Pak Lurah, Pak Karto, Herman, dan Ibu Akang.
"Ini kemenangan kita." Bu Sumi tersenyum.
"Belum selesai, Bu." Akang menggeleng. "Rahmadi masih di penjara. Suprapto masih hidup. Tapi setidaknya, mereka tidak bisa berbuat banyak."
"Kita buktikan bahwa kebenaran akan selalu menang." Ariyanti menggenggam tangan Akang.
"Dan persatuan adalah kuncinya." Marni mengangkat kameranya.
Siti menggendong Rizki.
"Aku berhutang nyawa pada kalian semua." Suaranya bergetar. "Jika kalian tidak menerimaku kembali, jika kalian tidak memaafkanku, mungkin aku sudah mati sekarang. Mungkin aku sudah bunuh diri."
"Kita keluarga, Siti." Bu Sumi memeluk Siti. "Keluarga tidak saling meninggalkan. Keluarga saling memaafkan. Keluarga saling menguatkan."
Mereka semua tersenyum.
Langit jingga di atas Tegorejo terasa lebih hangat dari biasanya.
Seperti pelukan.
Seperti maaf.
Seperti harapan.
BAB 33
AMBUSH DI DUSUN CEGUNAN
Rahmadi dan ayah Akang mengerahkan preman untuk mengusir keluarga Akang. Terjadi bentrokan.
Tegorejo, September 1999 – Dua minggu setelah Suprapto mencabut gugatan
Kemenangan terasa manis, namun getir. Suprapto memang sudah mencabut gugatan bandingnya. Tapi itu tidak berarti ia berubah hati. Ia hanya takut pada polisi. Di dalam hatinya, dendam dan keserakahan masih membara.
Dan Rahmadi, dari balik jeruji besi, memanfaatkan situasi.
"Suprapto pengecut. Tapi aku tidak. Aku akan selesaikan masalah ini dengan caraku sendiri."
Rahmadi menyuruh anak buahnya yang masih setia—preman-preman bayaran yang belum tertangkap—untuk bergerak. Targetnya sederhana: usir Ibu Akang dan Akang dari Dusun Cegunan. Paksa mereka menyerahkan tanah warisan. Jika perlu, dengan kekerasan.
Suprapto, yang awalnya ragu, akhirnya setuju. Ia sudah terlanjur menerima uang dari Rahmadi. Ia tidak punya pilihan.
Pada suatu malam Jumat, saat warga Dusun Cegunan sedang bersiap untuk salat Jumat keesokan harinya, puluhan preman berkumpul di pinggir desa. Mereka membawa pentungan, parang, dan bensin.
Mereka akan menyerang.
Tapi mereka tidak tahu bahwa Pak Dullah, mata-mata yang cerdik, sudah mencium gerak-gerik mereka.
Dan di pihak keluarga Akang, semua sudah siap.
Informasi dari Pak Dullah
Rumah Pak Dullah – Kamis malam, pukul 21.00
Pak Dullah baru saja selesai mengintai di sekitar losmen tempat Suprapto menginap. Ia mendengar bisikan-bisikan dari preman-preman yang berkumpul di halaman belakang.
"Besok malam. Jam 8. Rumah Supriyati. Usir paksa. Bawa pentungan dan parang. Jangan lupa bensin."
Pak Dullah memucat. Ia segera bergegas ke rumah Bu Sumi.
"Bu Sumi! Bu Sumi!" teriaknya dari luar.
Bu Sumi yang sedang membaca buku kaget. "Ada apa, Pak Dullah? Malam-malam begini."
"Rahmadi dan Suprapto akan mengerahkan preman besok malam. Targetnya rumah Ibu Akang."
Bu Sumi terperanjat. "Apa? Besok malam?"
"Iya. Saya dengar sendiri."
"Awas. Kita harus bersiap."
Rapat Darurat di Rumah Bu Sumi
Rumah Bu Sumi – pukul 21.30
Bu Sumi mengirim pesan singkat pada semua anggota tim: "Rapat darurat. Sekarang. Rumah saya."
Dalam waktu setengah jam, Ariyanti, Akang, Marni, Siti (dengan Rizki di gendongan), Pak Lurah, Herman, dan Bripka Joko sudah berkumpul.
"Apa yang terjadi, Bu?" tanya Akang.
"Pak Dullah mendapat informasi. Besok malam, Rahmadi dan ayahmu akan mengerahkan preman untuk mengusir keluargamu dari Dusun Cegunan. Mereka akan pakai kekerasan."
Akang mengepalkan tangan. "Tidak akan mereka berhasil."
"Kita harus bersiap," kata Bripka Joko. "Saya akan koordinasi dengan polsek. Tapi kita butuh bukti agar bisa menangkap mereka."
"Kita akan rekam semuanya," kata Marni. "Aku siap dengan kameraku."
"Kita juga akan membela diri," kata Ariyanti. "Tapi jangan pakai senjata. Cukup benda-benda di sekitar."
Membagi Tugas
Rumah Bu Sumi – pukul 22.30
Bu Sumi membagi tugas.
"Akang, kamu yang paling tahu medan di rumahmu. Kamu akan jadi komandan lapangan."
"Siap, Bu."
"Ariyanti, kamu akan jaga Ibu Akang dan adik-adik Akang (Rizki dan Fathur—kakak Akang yang sudah berkeluarga dan tinggal terpisah). Jangan sampai mereka terluka."
"Siap, Bu."
"Marni, kamu akan jadi dokumentator. Rekam semua kejadian. Jangan sampai memori habis."
"Siap, Bu."
"Siti, kamu akan jadi koordinator logistik. Siapkan makanan, air, P3K."
"Siap, Bu."
"Pak Lurah, Bapak akan hubungi warga. Ajak mereka berjaga di sekitar rumah Ibu Akang. Semakin banyak saksi, semakin baik."
"Siap, Bu."
"Pak Dullah, Bapak akan terus memantau pergerakan preman. Laporkan setiap perubahan."
"Siap, Bu."
"Bripka Joko, Bapak akan koordinasi dengan polsek. Siapkan tim untuk menangkap."
"Siap, Bu."
Bu Sumi menutup rapat. "Besok malam, kita akan hadapi mereka. Ingat, jangan memulai kekerasan. Tapi jika dipukul, belalah diri."
Persiapan di Rumah Ibu Akang
Dusun Cegunan – Jumat siang
Akang dan Ariyanti membersihkan halaman rumah. Mereka mengumpulkan batu-batu kecil di ember—bukan untuk dilempar, tapi untuk mengganggu jika preman mendekat.
Ibu Akang memasak nasi dalam jumlah besar. Siti membantu mempersiapkan makanan untuk semua yang akan berjaga.
"Ari, kamu takut?" tanya Akang.
"Aku takut, Kang. Tapi aku tidak akan lari."
"Aku juga takut. Tapi aku tidak bisa lari lagi. Ini rumahku. Ini ibuku. Ini tanah warisan kakek."
Mereka berpegangan tangan.
"Kita lalui ini bersama."
Warga Mulai Berdatangan
Dusun Cegunan – Jumat sore
Pak Lurah berhasil mengajak sekitar 30 warga untuk berjaga. Mereka datang dengan berbagai latar belakang: petani, buruh, pedagang, bahkan beberapa pemuda karang taruna.
"Mari kita lindungi keluarga kita," kata Pak Lurah.
"KITA SIAP!" teriak warga.
Mereka membawa pentungan kayu, sabit, dan cangkul. Bukan untuk menyerang, tapi untuk melindungi.
Ibu Akang menangis. "Terima kasih, tetangga-tetanggaku. Aku tidak menyangka kalian akan membantu."
"Bu Siti, kami tidak suka kekerasan. Tapi kami juga tidak suka ketidakadilan," kata seorang tetangga.
Malam Tiba
Dusun Cegunan – pukul 19.00
Matahari tenggelam. Gelap mulai menyelimuti desa. Lampu-lampu rumah mulai menyala. Tapi di rumah Ibu Akang, lampu sengaja dimatikan. Mereka ingin preman mengira rumah itu kosong.
Padahal, di dalam dan di sekitar rumah, puluhan orang siap.
Pak Dullah mengirim pesan singkat: "Mereka bergerak. 20 orang. Dua mobil box. Arah Dusun Cegunan. Perkiraan tiba 30 menit lagi."
Bu Sumi membacakan pesan itu. "Semua bersiap. Ingat, jangan menyerang duluan."
Mobil Preman Tiba
Dusun Cegunan – pukul 19.45
Dua mobil box berhenti di depan gang menuju rumah Ibu Akang. Puluhan preman turun. Wajah-wajah kasar. Ada yang memegang pentungan, ada yang parang, ada yang botol bensin.
Di depan mereka, berjalan Suprapto. Wajahnya tegang, tapi ia memaksakan diri.
"Di sana rumahnya. GASAK!" teriak Suprapto.
Preman-preman itu berjalan cepat menuju rumah Ibu Akang.
Tapi ketika mereka sampai di halaman, tiba-tiba lampu senter menyala dari berbagai arah.
"BERHENTI!" teriak Pak Lurah.
Suprapto dan preman-preman itu terkejut.
"Ini urusan keluarga. Jangan ikut campur!" teriak Suprapto.
"Ini urusan desa. Dan desa tidak akan membiarkan kekerasan terjadi," jawab Pak Lurah.
Bentrokan
Halaman rumah Ibu Akang – pukul 20.00
Preman itu tidak mundur. Mereka sudah dibayar.
"SERANG!" teriak salah satu preman.
Mereka menyerbu. Warga desa berusaha menahan. Terjadi bentrokan.
"BRAK!" Pentungan mengenai lengan seorang warga.
"DUAR!" Cangkul membentur kaki seorang preman.
Akang maju ke depan. Ia menahan seorang preman yang mencoba masuk ke rumah.
"JANGAN MASUK!"
"KAU ANAK KURANG AJAR!"
Preman itu mengaYan kan pentungan ke kepala Akang. Akang menghindar, tapi pentungan mengenai bahunya.
"AARRGGHH!"
Ariyanti yang melihat langsung melempar ember berisi batu kecil ke arah preman itu.
"Awas kau!"
Marni merekam semua dari kejauhan. Tangannya gemetar, tapi ia terus merekam.
Siti, dengan Rizki di gendongan, berada di dalam rumah bersama Ibu Akang. Ia berdoa.
"Ya Allah, lindungi mereka."
Polisi Datang
Halaman rumah Ibu Akang – pukul 20.15
Sirine polisi terdengar dari kejauhan. Dua mobil polisi datang.
"POLISI! BERHENTI!"
Preman-preman itu panik. Mereka berusaha kabur, tapi polisi sudah mengepung.
"SEMUA TURUN! ANGKAT TANGAN!"
Suprapto berusaha melarikan diri, tapi Akang menariknya.
"Ayah, berhenti!"
"Lepaskan aku!"
"Tidak. Ayah harus bertanggung jawab!"
Penangkapan
Halaman rumah Ibu Akang – pukul 20.30
Polisi berhasil menangkap 15 preman. Sisanya kabur ke kegelapan.
Suprapto ditangkap juga. Tangannya diborgong.
"Ayah, kenapa? Kenapa Ayah tega melakukan ini?" tanya Akang dengan mata basah.
"Aku... aku butuh uang."
"Uang? Demi uang, Ayah rela menghancurkan keluarga sendiri?"
Suprapto menunduk. Ia tidak bisa menjawab.
"Bawa dia!" perintah Bripka Joko.
Korban
Halaman rumah Ibu Akang – pukul 21.00
Korban berjatuhan. Beberapa warga desa luka-luka. Dua orang preman juga luka.
Akang bahunya bengkak. Ariyanti tangannya lecet karena melempar batu.
Marni masih gemetar, tapi ia sudah mengamankan kameranya.
Siti keluar rumah dengan Ibu Akang.
"Ibu tidak apa-apa?"
"Aku baik-baik saja, Siti. Terima kasih."
Ke Rumah Sakit
Puskesmas Pegandon – pukul 21.30
Akang dan beberapa warga yang luka dibawa ke puskesmas. Dokter memeriksa bahu Akang.
"Tidak patah. Hanya memar parah. Istirahat seminggu."
"Terima kasih, Dok."
Ariyanti duduk di samping Akang. "Kang, kamu selamat."
"Aku selamat karena kalian."
"Kita semua selamat karena persatuan."
Suprapto di Polsek
Polsek Pegandon – malam itu
Suprapto diinterogasi. Ia mengaku bahwa Rahmadi yang menyuruh.
"Dia yang memberi uang. Dia yang memerintahkan. Saya hanya alat."
"Tapi Bapak juga ikut merencanakan."
"Iya."
"Bapak akan dijerat pasal pengeroyokan dan percobaan pengusiran paksa."
Suprapto lemas. Ia tahu hukumannya tidak ringan.
Rahmadi Mendengar Kabar
Lapas Kendal – keesokan paginya
Pak Rudi memberi kabar. "Mas, operasi gagal. Suprapto ditangkap. 15 preman kita juga ditangkap."
Rahmadi tertawa pahit. "Aku selalu kalah."
"Mas, mungkin ini pertanda. Mungkin Mas harus berhenti."
"Berhenti? Setelah semua yang sudah kulakukan?"
"Tidak ada yang tidak mungkin berubah, Mas."
Rahmadi diam. Ia tidak menjawab.
Warga Bergotong Royong
Dusun Cegunan – siang itu
Warga bergotong royong membersihkan halaman rumah Ibu Akang yang berantakan akibat bentrokan. Mereka juga membantu membangun pos keamanan desa di dekat rumah Ibu Akang.
"Terima kasih, Pak Lurah, terima kasih warga," kata Ibu Akang.
"Ini desa kita. Kita harus jaga bersama."
Akang dan Ariyanti Bicara
Jalan Randu Gembyang – sore itu
Akang dan Ariyanti berjalan bersama. Bahu Akang masih diperban.
"Kang, apa yang akan terjadi pada ayahmu?"
"Entahlah. Tapi apapun hukumannya, dia pantas menerimanya."
"Kamu tidak sedih?"
"Sedih. Tapi dia sudah memilih jalannya sendiri."
"Apa kamu akan memaafkannya?"
"Suatu hari nanti, mungkin. Tapi tidak sekarang."
Mereka berpegangan tangan.
Surat dari Suprapto
Polsek Pegandon – seminggu kemudian
Suprapto menulis surat untuk Akang dari sel tahanan.
"Kang, anakku..."
"Ayah minta maaf. Ayah tahu kata maaf tidak cukup. Tapi ayah ingin kau tahu, ayah menyesal."
"Ayah meninggalkan kalian 10 tahun lalu karena ayah egois. Ayah pulang bukan untuk berdamai, tapi untuk mengambil hak kalian. Ayah bersekongkol dengan musuh kalian. Ayah bahkan rela menyuruh preman untuk mengusir kalian."
"Ayah monster."
"Ayah tidak pantas jadi ayahmu. Tapi ayah berharap, suatu hari nanti, kau bisa memaafkan ayah."
"Dari ayahmu yang gagal, Suprapto."
Akang membaca surat itu berulang-ulang. Air matanya jatuh.
"Kang, kamu menangis?" tanya Ariyanti.
"Aku... aku tidak tahu harus merasa apa."
"Kamu boleh marah. Kamu boleh sedih. Tapi ingat, kamu punya aku. Kamu punya ibu. Kamu punya banyak orang yang sayang padamu."
Akang memeluk Ariyanti.
Kabar dari Lapas
Lapas Kendal – Oktober 1999
Herman mengunjungi Rahmadi. Wajah Rahmadi lebih tenang dari biasanya.
"Nak, ayah dengar kau tidak marah-marah lagi."
"Ayah, aku capek. Capek membenci. Capek merencanakan kejahatan. Capek kalah terus."
"Itu pertanda baik, Nak. Mungkin ini saatnya kau berubah."
"Apa aku bisa berubah, Ayah?"
"Setiap orang bisa. Selama dia masih hidup."
Rahmadi menangis. "Ayah, aku ingin bertemu Rizki."
Herman terkejut. "Kamu ingin bertemu anakmu?"
"Iya. Aku ingin melihatnya. Memeluknya. Meskipun aku tidak pantas jadi ayah."
Herman memeluk anaknya. "Ayah akan atur."
Rizki Dihadapkan pada Rahmadi
Lapas Kendal – November 1999
Siti, didampingi Herman dan Bu Sumi, datang ke lapas membawa Rizki yang kini sudah berusia 8 bulan. Bayi itu gemuk, lucu, dan sangat aktif.
Rahmadi duduk di ruang kunjungan. Tangannya gemetar.
"Siti... aku..."
"Rahmadi, ini anakmu."
Siti menyerahkan Rizki pada Rahmadi melalui petugas lapas. Rahmadi menggendong bayi itu dengan hati-hati, seolah-olah ia memegang benda paling berharga di dunia.
Rizki menatap Rahmadi dengan mata bulatnya. Ia tidak menangis. Ia justru tertawa.
Rahmadi menangis. "Dia... dia tersenyum padaku."
"Karena dia tidak tahu siapa dirimu. Dia hanya melihat seseorang yang menggendongnya dengan penuh kasih."
"Aku ingin menjadi ayah yang baik untuknya. Tapi aku di sini."
"Kau bisa mulai dari sini. Kirim surat. Tanyakan kabarnya. Doakan dia."
Rahmadi mengangguk. "Aku akan coba."
Fajar di Dusun Cegunan
Tegorejo – Desember 1999
Tahun baru 2000 akan segera tiba. Dunia diliputi euforia milenium baru. Tapi di Tegorejo, tidak ada pesta besar. Hanya syukur yang mendalam.
Di bawah pohon randu tertua, mereka berkumpul lagi.
"Kita sudah melewati banyak badai," kata Bu Sumi.
"Tapi kita masih di sini," kata Ariyanti.
"Bersama," kata Akang.
"Sebagai keluarga," kata Siti sambil menggendong Rizki.
Marni memotret mereka semua. Satu klik. Abadi.
Langit jingga di atas Tegorejo terasa hangat.
Badai belum sepenuhnya berlalu.
Tapi mereka tidak takut lagi.
Karena mereka tahu, selama mereka bersama, tidak ada yang tidak mungkin.
BAB 34
LUKA AKANG
Akang terkena pukulan keras di kepala. Ia pingsan dan tak sadarkan diri selama tiga hari.
Tegorejo – RSUD Kendal, September 1999 – Malam setelah bentrokan di Dusun Cegunan
Bentrokan di Dusun Cegunan telah usai. Preman-preman bayaran ditangkap. Suprapto mendekam di sel tahanan. Warga desa bergotong royong membersihkan sisa-sisa kekerasan.
Tapi kemenangan itu terasa hampa.
Karena di tengah kericuhan, ketika semua orang sibuk melindungi diri mereka masing-masing, Akang terkena pukulan keras di kepala.
Seorang preman yang tidak dikenal—wajahnya tertutup topeng—menghantamkan pentungan kayu ke pelipis kiri Akang dengan sekuat tenaga. Suara "DUAR" terdengar sampai ke ujung halaman.
Akang ambruk. Tubuhnya jatuh ke tanah seperti sekarung beras. Darah mengalir dari pelipisnya, membasahi tanah kering halaman rumah.
"AKANG!" teriak Ariyanti.
Ia berlari sekencang mungkin, menjatuhkan diri di samping Akang, mencoba membangunkannya.
"Akang! Akang! BANGUN!"
Tidak ada respons. Mata Akang terpejam. Dadanya naik turun, tapi ia tidak sadar.
"TOLONG! PANGGIL AMBULANS!" teriak Ariyanti histeris.
Marni yang masih gemetar segera menelepon Pak Lurah. Siti yang ada di dalam rumah keluar dengan Rizki di gendongan. Wajahnya pucat.
Bu Sumi yang sedang membantu warga lain berlari mendekat.
"Tuhan... jangan ambil dia," bisik Bu Sumi.
Ambulans Datang
Halaman rumah Ibu Akang – pukul 20.45
Ambulans dari Puskesmas Pegandon tiba setelah 20 menit—waktu yang terasa seperti abad bagi Ariyanti. Tim medis segera memeriksa Akang.
"Tekanan darah rendah. Denyut nadi lemah. Ada kemungkinan pendarahan di dalam kepala. Kita harus segera bawa ke RSUD Kendal."
Ariyanti naik ambulans bersama Akang. Tangannya tidak pernah lepas dari tangan Akang yang dingin.
"Kang... jangan pergi... jangan tinggalkan aku..."
Ibu Akang naik ambulans juga. Wajahnya pucat, matanya sembab.
"Anakku... anakku..."
Mobil ambulans melaju kencang dengan sirine meraung. Di jalan yang gelap, iring-iringan mobil polisi dan warga mengikuti dari belakang.
Di IGD RSUD Kendal
RSUD Kendal – pukul 21.30
Akang langsung dilarikan ke Instalasi Gawat Darurat. Dokter dan perawat sibuk memasang infus, oksigen, dan monitor detak jantung.
Ariyanti dan Ibu Akang dipersilakan menunggu di luar.
"Doakan, Bu. Doakan dia selamat," pinta Ariyanti pada Ibu Akang.
"Ibu sudah berdoa sejak di ambulans. Ibu tidak akan berhenti."
Bu Sumi, Pak Lurah, Marni, Siti, dan Herman tiba menyusul.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Bu Sumi.
"Masih di IGD. Dokter belum bilang apa-apa," jawab Ariyanti dengan suara parau.
Marni memeluk Ariyanti. "Dia pasti selamat, Ari. Dia kuat."
"Aku tahu. Tapi aku takut."
Dokter Memberi Kabar
RSUD Kendal – pukul 22.30
Seorang dokter muda, Dr. Andika, keluar dari ruang IGD. Wajahnya serius.
"Keluarga Akang?"
"Ibu, Dok. Saya ibunya," kata Ibu Akang.
"Pasien mengalami pukulan keras di pelipis kiri. Ada pendarahan di dalam tengkorak. Kami harus segera melakukan operasi untuk mengeluarkan bekuan darah."
"Operasi, Dok? Apakah dia... apakah dia selamat?"
"Kami akan berusaha semaksimal mungkin. Tapi ada risiko. Bisa terjadi kerusakan otak permanen, atau yang terburuk..."
Dokter tidak melanjutkan. Tapi semua orang mengerti.
Ibu Akang jatuh lemas. Herman dan Bu Sumi menahannya.
Ariyanti menggigit bibir. Air matanya mengalir deras. Ia tidak mau pingsan. Ia harus kuat.
"Dok, saya mohon... selamatkan dia. Saya tidak bisa kehilangan dia."
"Kami akan lakukan yang terbaik."
Operasi
RSUD Kendal – pukul 23.00 – 03.00
Akang dibawa ke ruang operasi. Lampu merah di atas pintu menyala. Di dalam, tim dokter bedah saraf bekerja keras.
Di luar, Ariyanti duduk di kursi koridor, tidak bergerak. Matanya kosong menatap pintu ruang operasi.
Ibu Akang duduk di sampingnya, menggenggam tangan Ariyanti.
"Ari, Ibu tahu kamu takut. Ibu juga takut. Tapi kita harus percaya pada Tuhan."
"Bu, aku belum sempat bilang banyak hal pada Akang. Aku belum sempat bilang bahwa aku mencintainya sepenuh hati. Aku belum sempat bilang bahwa aku ingin hidup bersamanya."
"Kamu akan punya kesempatan, Nak. Akang anak kuat. Dia pasti selamat."
Marni, Siti, Bu Sumi, Pak Lurah, Herman, dan Pak Dullah bergantian menjaga. Mereka tidak ada yang pulang.
Marni merekam suasana—bukan untuk dokumentasi kasus, tapi untuk mengingatkan diri sendiri bahwa hidup itu rapuh.
Siti menenangkan Rizki yang rewel. Bayi itu mungkin merasakan kegelisahan ibunya.
Pak Lurah menelepon istri dan anak-anaknya, memberi tahu bahwa ia tidak bisa pulang malam ini.
Bu Sumi berdoa dengan tasbih di tangannya. Herman juga berdoa dengan cara masing-masing.
Operasi Selesai
RSUD Kendal – pukul 03.15
Lampu ruang operasi padam. Dr. Andika keluar dengan wajah lelah.
"Operasi berjalan lancar. Kami berhasil mengeluarkan bekuan darah. Sekarang Akang dalam masa kritis. Kami tidak tahu kapan dia akan sadar. Bisa beberapa jam, bisa beberapa hari, bisa..."
"Bisa apa, Dok?" tanya Ibu Akang cemas.
"Bisa lebih lama. Tergantung respons tubuhnya."
"Apakah ada kerusakan otak permanen?"
"Kami belum bisa memastikan. Kita tunggu dulu."
Akang dipindahkan ke ruang ICU. Tubuhnya dipenuhi kabel-kabel monitor. Wajahnya pucat. Bibirnya kering. Rambutnya sebagian dicukur untuk operasi.
Ariyanti menatap Akang dari balik kaca ICU. Ia tidak bisa masuk—hanya keluarga inti yang diizinkan.
"Ibu, tolong... saya ingin masuk," pinta Ariyanti pada Ibu Akang.
"Kamu boleh. Kamu lebih dari keluarga bagiku," kata Ibu Akang.
Ariyanti masuk ke ruang ICU. Ia duduk di kursi di samping tempat tidur Akang. Ia meraih tangan Akang yang dingin dan menggenggamnya erat.
"Kang... aku di sini. Aku tidak akan pergi."
Hari Pertama – Menunggu
RSUD Kendal – Sabtu, pukul 08.00
Matahari terbit. Ariyanti belum tidur sedetik pun. Matanya merah, wajahnya pucat. Tapi ia tidak bergeming dari sisi Akang.
Ibu Akang membawakan bubur.
"Ari, makan dulu."
"Aku tidak lapar, Bu."
"Kamu harus makan. Kalau kamu jatuh sakit, siapa yang jaga Akang?"
Ariyanti menurut. Ia menyuap bubur tanpa rasa. Matanya tidak lepas dari wajah Akang.
Monitor detak jantung berbunyi teratur. Beep... beep... beep...
Setiap detak adalah harapan. Setiap detak adalah doa yang terkabul.
Marni Menyusul
RSUD Kendal – siang itu
Marni datang membawa buku catatan dan kamera. Ia tidak merekam—hanya mengambil beberapa foto untuk dokumentasi pribadi.
"Ari, aku bawain baju ganti. Kamu sudah dua hari tidak ganti baju."
"Aku tidak peduli, Mar."
"Ari, kamu harus jaga diri. Akang butuh kamu."
Ariyanti menangis. "Mar, aku takut. Aku takut dia tidak sadar lagi. Aku takut dia lupa aku. Aku takut dia..."
"Jangan bicara seperti itu. Akang kuat. Dia akan bangun."
Siti dan Rizki
RSUD Kendal – sore itu
Siti datang dengan Rizki di gendongan. Bayi itu tertidur pulas.
"Siti, kenapa kamu bawa Rizki? Nanti sakit," kata Bu Sumi.
"Dia rewel kalau ditinggal. Dan saya ingin dia melihat Akang. Sebagai penghormatan."
Siti mendekati kaca ICU. Rizki terbangun. Matanya yang bulat menatap ke dalam ruangan. Entah mengapa, ia tersenyum.
"Siti... Rizki tersenyum," kata Marni.
"Mungkin dia melihat malaikat."
Bu Sumi Berdoa
RSUD Kendal – malam pertama
Bu Sumi tidak bisa tidur. Ia duduk di kursi koridor, memegang tasbih.
"Ya Allah, Akang anak baik. Dia tidak pernah menyakiti siapa pun. Dia hanya membela kebenaran. Jangan ambil dia sekarang. Masih banyak yang harus dia lakukan. Masih banyak yang harus dia perjuangkan."
"Sembuhkan dia, Ya Allah. Pulihkan kesadarannya. Beri dia kesempatan kedua."
Ia menangis.
Hari Kedua – Tanpa Perubahan
RSUD Kendal – Minggu
Akang masih belum sadar. Monitor masih berbunyi teratur. Tapi tidak ada respons.
Dr. Andika memeriksa.
"Refleks pupil masih baik. Itu tanda positif. Tapi kita masih harus menunggu."
Ariyanti belum tidur sejak Jumat malam. Matanya cekung. Wajahnya kurus.
"Ari, kamu harus tidur," paksa Ibu Akang.
"Aku tidak bisa, Bu. Setiap kali aku pejamkan mata, aku melihat Akang dipukul."
"Kamu akan sakit."
"Biarlah."
Ariyanti Pingsan
RSUD Kendal – Minggu sore
Ariyanti berdiri di samping tempat tidur Akang. Tiba-tiba pandangannya berkunang-kunang. Dunia berputar. Ia jatuh.
"ARI!" teriak Marni.
Perawat segera datang. Ariyanti dibawa ke ruang perawatan.
"Dehidrasi dan kurang tidur. Harus istirahat total," kata dokter.
Ariyanti terbaring di tempat tidur. Infus menetes di tangannya.
"Akang... aku minta maaf... aku tidak bisa menjagamu..."
Akang Membuka Mata?
RSUD Kendal – Senin pagi (Hari Ketiga)
Saat Ariyanti masih terbaring lemas, Marni berlari ke ruangannya.
"Ari! Ari! Bangun!"
"Ada apa, Mar?"
"Akang... Akang membuka mata!"
Ariyanti terperanjat. Ia mencabut infusnya—tanpa izin perawat—dan berlari ke ruang ICU.
Di balik kaca, ia melihat Akang terbaring. Matanya terbuka. Sayu. Bingung.
"KANG!" teriak Ariyanti.
Ibu Akang yang sudah ada di dalam ruangan memanggil Ariyanti. "Masuk! Cepat!"
Ariyanti masuk. Ia meraih tangan Akang.
"Kang... kamu bisa dengar aku?"
Akang menatap Ariyanti. Matanya masih sayu. Bibirnya bergerak, tapi tidak ada suara.
"Kang... aku Ariyanti. Kamu ingat aku?"
Akang mengangguk pelan.
Ariyanti menangis. "Syukurlah... syukurlah..."
Pemeriksaan Dokter
RSUD Kendal – Senin siang
Dr. Andika memeriksa Akang.
"Refleks baik. Respons baik. Tapi kita harus lihat fungsi kognitifnya. Apakah dia ingat kejadian? Apakah ada gangguan memori?"
"Akang, siapa nama kamu?" tanya dokter.
"Akang... Supriyadi."
"Usia?"
"18 tahun."
"Orang tua kamu?"
"Ibu Siti Supriyati."
"Kamu ingat bagaimana kamu bisa di sini?"
Akang mengernyit. "Ada... bentrokan. Saya... dipukul."
"Masih ingat nama orang yang memukul?"
Akang menggeleng. "Tidak. Wajahnya tertutup."
"Bagus. Memori jangka panjang masih baik. Sekarang tes sederhana: sebutkan hari ini tanggal berapa."
Akang berpikir. "Senin... 20 September 1999?"
"Tepat. Bagus."
Dr. Andika tersenyum. "Tidak ada indikasi kerusakan otak permanen. Dia akan pulih total. Tapi butuh waktu."
Ibu Akang menangis. Ariyanti memeluk Akang.
"Kang... kamu selamat."
Akang Bicara
RSUD Kendal – Senin sore
"Ari, aku dengar kamu pingsan."
"Kamu dengar?"
"Ibu cerita. Kamu tidak mau tidur. Kamu tidak mau makan."
"Aku khawatir sama kamu."
"Jangan khawatir. Aku tidak akan mati. Aku janji."
"Kamu tidak bisa janji soal kematian."
"Aku janji tidak akan mati sebelum menikahi kamu."
Ariyanti tersipu. "Kang, jangan gombal. Kamu baru sadar."
"Aku sadar. Dan aku serius."
Ariyanti Menangis
RSUD Kendal – Senin malam
Setelah Akang tertidur, Ariyanti keluar ruangan. Ia duduk di kursi koridor, lalu menangis. Bukan tangis sedih. Tapi tangis lega.
"Terima kasih, Tuhan. Engkau tidak mengambil dia."
Bu Sumi menghampiri. "Kamu sudah sangat kuat, Ari."
"Aku tidak kuat, Bu. Aku hanya tidak punya pilihan."
"Kamu punya pilihan. Tapi kamu memilih untuk bertahan. Itu keberanian."
Marni Merekam Momen
RSUD Kendal – Selasa pagi
Marni memotret Akang yang sedang tersenyum. Ariyanti di sampingnya, wajahnya masih pucat tapi sudah mulai berseri.
"Ini akan jadi foto terbaikku," kata Marni.
"Jangan dipajang di mana-mana, Mar. Aku masih kelihatan kacau," kata Akang.
"Ini bukan untuk dipajang. Ini untuk mengingatkan bahwa hidup itu berharga."
Siti dan Rizki Berkunjung Lagi
RSUD Kendal – Selasa sore
Siti datang dengan Rizki. Akang tersenyum melihat bayi itu.
"Rizki, ini paman Akang. Paman yang baik," kata Siti.
Rizki tertawa. Akang ikut tertawa.
"Siti, kamu hebat. Kamu bisa kuat setelah semua yang terjadi."
"Aku tidak hebat, Kang. Aku hanya punya banyak orang baik di sekitarku."
Kabar untuk Warga
Dusun Cegunan – Selasa malam
Pak Lurah mengumumkan kabar baik pada warga.
"Warga, Alhamdulillah, Akang sudah sadar. Dia akan pulih total."
Warga bersorak. Mereka sudah mendoakan sejak Jumat malam.
"Ibu Siti, jangan khawatir. Desa kita akan jaga keluarga Bapak."
"Terima kasih, tetangga-tetanggaku. Kalian sudah seperti keluarga."
Surat dari Suprapto
RSUD Kendal – Rabu
Akang menerima surat dari Suprapto melalui Pak Lurah.
"Kang, anakku..."
"Ayah mendengar kau dipukul. Ayah minta maaf. Ayah tidak tahu mereka akan separah itu."
"Ayah menyesal. Ayah sudah membuat banyak kesalahan. Tapi yang paling ayah sesali adalah ketika ayah menyuruh preman untuk mengusir kalian. Tanpa itu, mungkin kau tidak akan celaka."
"Ayah akan menerima hukuman apapun. Ayah pantas menerimanya."
"Doakan ayah, Nak. Doakan ayah bisa berubah."
"Dari ayahmu yang gagal."
Akang membaca surat itu. Air matanya jatuh.
"Apa yang akan kamu balas, Kang?" tanya Ariyanti.
"Aku akan balas. Aku akan bilang aku memaafkannya. Tapi butuh waktu."
Fajar di RSUD Kendal
RSUD Kendal – Kamis pagi
Akang sudah diperbolehkan duduk. Dokter bilang pemulihannya luar biasa.
Ariyanti duduk di sampingnya, menyuapi bubur.
"Ari, apa yang akan kita lakukan setelah aku sembuh?"
"Kita akan sekolah. Kita akan lulus. Kita akan kuliah. Kita akan bangun desa ini."
"Kamu yakin kita bisa?"
"Kita sudah melewati yang terburuk, Kang. Tidak ada yang tidak mungkin."
Mereka tersenyum.
Di luar jendela, matahari terbit dengan cerah.
Fajar baru.
Harapan baru.
Hidup baru.
BAB 35
KOMA
Ariyanti tidak pernah meninggalkan sisi Akang. Ia membacakan puisi-puisi karya Bu Sumi di telinga Akang, berharap cinta bisa membangunkannya.
RSUD Kendal – September 1999 – Hari keempat hingga ketujuh setelah Akang terkena pukulan
Operasi telah usai. Bekuan darah di otak Akang berhasil dikeluarkan. Dokter mengatakan bahwa secara medis, tidak ada yang salah dengan organ-organ vitalnya. Namun, entah mengapa, Akang belum juga sadar.
Bukan koma dalam arti medis yang paling parah. Dokter menyebutnya koma ringan atau stupor—sebuah kondisi di mana pasien tidak merespon rangsangan dari luar, namun tanda-tanda vitalnya stabil.
Tidak ada yang tahu kapan Akang akan bangun. Bisa besok, bisa lusa, bisa minggu depan, bisa bulan depan... atau bisa tidak pernah.
Ariyanti tidak mau mendengar kata "tidak pernah".
Sejak Akang dipindahkan ke ruang ICU biasa (bukan ICU kritis lagi), ia memutuskan untuk tinggal di rumah sakit. Ia membawa satu baju ganti, satu buku puisi, dan hatinya yang penuh harap.
Setiap pagi, ia membasuh wajah Akang dengan air hangat. Setiap siang, ia menyuapi Akang bubur melalui selang. Setiap sore, ia membacakan puisi di telinga Akang. Setiap malam, ia tidur di kursi di samping tempat tidur Akang, tangannya tidak pernah lepas dari tangan Akang.
Ia berbicara pada Akang seolah-olah Akang bisa mendengar.
"Kang, aku di sini. Aku tidak akan pergi."
Hari Keempat – Dokter Memberi Kabar Buruk
RSUD Kendal – Selasa, pukul 10.00
Dr. Andika memanggil Ibu Akang, Ariyanti, dan Bu Sumi ke ruang konsultasi. Wajahnya serius.
"Secara medis, tidak ada yang salah dengan pasien. Operasi sukses. Tanda-tanda vital stabil. Tapi dia belum bangun."
"Apa penyebabnya, Dok?" tanya Ibu Akang.
"Kami tidak tahu pasti. Bisa karena trauma psikologis. Bisa karena otaknya butuh waktu untuk pulih. Bisa juga karena... dia tidak ingin bangun."
"Tidak ingin bangun? Maksudnya?" tanya Ariyanti.
"Beberapa pasien dengan trauma berat memilih untuk 'pergi' sementara. Seperti lari dari kenyataan. Kita tidak bisa memaksanya."
"Lalu apa yang bisa kita lakukan, Dok?" tanya Bu Sumi.
"Terus beri stimulasi. Bicara padanya. Bacakan buku. Putarkan musik. Sentuh tangannya. Kehadiran orang-orang terdekat sangat penting."
Ariyanti mengangguk. "Saya akan lakukan itu, Dok. Saya tidak akan menyerah."
Ariyanti Mulai Rutinitas Baru
RSUD Kendal – Selasa siang
Ariyanti mulai menjalani rutinitas barunya.
Pukul 06.00: Bangun, cuci muka, salat subuh di ruang keluarga.
Pukul 07.00: Membasuh wajah Akang dengan air hangat.
Pukul 08.00: Menyuapi Akang melalui selang.
Pukul 09.00: Membacakan puisi.
Pukul 12.00: Makan siang.
Pukul 13.00: Menceritakan kabar terbaru pada Akang.
Pukul 16.00: Membacakan puisi lagi.
Pukul 19.00: Menyuapi Akang.
Pukul 20.00: Berdoa bersama Ibu Akang.
Pukul 21.00: Membacakan puisi untuk terakhir kalinya sebelum tidur.
Di sela-sela itu, ia juga membantu perawat mengganti sprei, membersihkan ruangan, dan mengatur posisi Akang agar tidak kaku.
Perawat-perawat mulai mengenal Ariyanti.
"Nak Ariyanti, kamu tidak capek?" tanya Suster Aminah yang bertugas di ICU.
"Capek, Suster. Tapi aku ikhlas."
Puisi Pertama: "Rindu yang Tak Sampai"
RSUD Kendal – Selasa sore
Ariyanti membuka buku puisi karya Bu Sumi. Buku tipis berwarna biru muda itu berisi puluhan puisi yang ditulis Bu Sumi selama masa mudanya. Ariyanti memilih satu puisi yang menurutnya paling cocok.
"Rindu yang Tak Sampai"
"Kau pergi tanpa pamit
Meninggalkan jejak di hatiku
Aku menunggu di ujung senja
Berharap kau kembali"
"Rindu ini terlalu berat
Andai bisa kukirim lewat angin
Sampaikan padanya, aku di sini
Menunggu meskipu waktu tak pasti"
Ariyanti membaca dengan suara lirih, penuh perasaan. Tangannya menggenggam tangan Akang.
"Kang, kamu dengar? Ini puisi Bu Sumi. Tentang rindu."
Tidak ada respons. Tapi Ariyanti tidak berhenti.
Ibu Akang Juga Tidak Menyerah
RSUD Kendal – Rabu pagi
Ibu Akang datang lebih pagi dari biasanya. Ia membawa nasi liwet buatannya—makanan favorit Akang.
"Ari, ini untuk Akang. Taruh di samping tempat tidurnya. Biar baunya menggugah."
Ariyanti meletakkan nasi liwet di meja samping tempat tidur Akang. Aroma rempahnya menyebar ke seluruh ruangan.
"Ibu, baunya wangi. Akang pasti suka."
"Semoga dia terbangun karena lapar."
Tapi Akang tidak terbangun. Namun Ibu Akang tidak menyerah. Ia akan masak nasi liwet setiap hari sampai Akang sadar.
Puisi Kedua: "Hujan di Hatiku"
RSUD Kendal – Rabu sore
Ariyanti membuka halaman lain buku puisi Bu Sumi.
"Hujan di Hatiku"
"Hujan turun di luar jendela
Basahi tanah yang kering
Tapi hujan di hatiku tak kunjung reda
Sejak kau pergi tanpa kabar"
"Aku rindu suara tawamu
Aku rindu candamu
Aku rindu cara kau memandangku
Seolah aku satu-satunya di dunia"
Ariyanti membaca sambil menangis. Air matanya jatuh ke tangan Akang.
"Kang, aku rindu kamu. Aku rindu senyummu. Aku rindu cara kamu memanggil namaku. Bangunlah, Kang. Aku di sini."
Bu Sumi Bergantian Membacakan Puisi
RSUD Kendal – Kamis pagi
Bu Sumi datang membawa buku puisinya yang lain—kumpulan puisi karya penyair terkenal.
"Ari, kamu istirahat. Ibu yang bacakan."
Ariyanti awalnya menolak, tapi Bu Sumi memaksanya.
"Kamu sudah tiga hari tidak tidur nyenyak. Istirahatlah sebentar."
Ariyanti berbaring di kursi yang direbahkan. Matanya terpejam, tapi telinganya tetap mendengar.
Bu Sumi mulai membaca puisi Sapardi Djoko Damono.
"Aku ingin mencintaimu dengan sederhana; seperti kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu."
"Aku ingin mencintaimu dengan sederhana; seperti isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada."
Suara Bu Sumi lembut, penuh penghayatan.
Hari Kelima – Jari Akang Bergerak
RSUD Kendal – Kamis siang
Ariyanti sedang membacakan puisi ketiga ketika ia merasakan sesuatu. Jari telunjuk Akang bergerak sedikit.
Ariyanti berhenti. Dadanya berdebar.
"Kang? Kamu bergerak?"
Tidak ada respons. Jari itu diam lagi.
Mungkin hanya refleks. Mungkin hanya khayalan.
Tapi Ariyanti memilih untuk percaya bahwa itu adalah pertanda.
Ia melanjutkan membaca puisi dengan semangat baru.
Marni Membawa Kabar dari Desa
RSUD Kendal – Kamis sore
Marni datang membawa kabar baik.
"Ari, Suprapto di penjara mengaku semua. Dia bilang dia yang menyuruh preman untuk mengusir keluarga Akang. Tapi dia tidak tahu akan separah itu."
"Apa yang akan terjadi padanya?"
"Penjara beberapa tahun. Tapi dia minta maaf. Dia juga minta doa."
"Doakan saja. Aku tidak punya energi untuk marah lagi."
Marni juga membawa foto-foto warga yang berjaga di rumah Ibu Akang.
"Ini bukti bahwa banyak orang mendukung kalian."
Ariyanti tersenyum. "Terima kasih, Mar."
Siti dan Rizki Membawa Ketenangan
RSUD Kendal – Jumat pagi
Siti datang dengan Rizki. Bayi itu sudah bisa tengkurap dan mulai merangkak.
"Siti, jangan sering bawa Rizki ke rumah sakit. Nanti sakit."
"Dia sehat, Ari. Dan saya yakin kehadirannya akan menenangkan Akang."
Siti meletakkan Rizki di pangkuan Akang—dengan hati-hati, tentu saja. Rizki menatap wajah Akang yang masih terpejam. Ia mengulurkan tangan mungilnya, menyentuh pipi Akang.
"Akang, ini Rizki. Dia sayang sama kamu."
Rizki tertawa. Suara tawa bayi yang polos itu memenuhi ruangan.
Ariyanti menangis. "Kang, kamu dengar? Rizki tertawa."
Hari Keenam – Kelopak Mata Akang Bergetar
RSUD Kendal – Jumat sore
Ariyanti sedang membacakan puisi keempat ketika ia melihat kelopak mata Akang bergetar. Tidak terbuka, tapi bergetar.
"Kang? KANG?"
Ariyanti memanggil suster.
Suster Aminah datang memeriksa.
"Refleks kelopak mata positif. Ini tanda baik. Mungkin dia akan segera sadar."
Ariyanti menangis. "Terima kasih, Tuhan."
Puisi Kelima: "Pulanglah"
RSUD Kendal – Jumat malam
Ariyanti membacakan puisi yang paling ia sukai—puisi tentang kerinduan yang mendalam.
"Pulanglah"
"Aku sudah lelah menunggu
Lelah memeluk bayang-bayangmu
Pulanglah, sebelum senja beranjak pergi
Sebelum malam merampas harapanku"
"Rumah ini sepi tanpamu
Meja makan hanya untuk satu
Kursi di teras hanya untuk angin
Pulanglah, jadikan aku utuh lagi"
Ariyanti membaca dengan suara parau. Air matanya jatuh membasahi bantal Akang.
"Kang... pulanglah. Aku di sini. Aku menunggumu."
Akang Membuka Mata
RSUD Kendal – Sabtu pagi, hari ketujuh
Ariyanti terbangun dari tidurnya yang singkat. Matanya masih sembab. Rambutnya acak-acakan.
Ia melihat ke arah Akang.
Dan jantungnya hampir berhenti.
Akang membuka mata.
Bukan hanya bergetar. Bukan hanya refleks. Matanya benar-benar terbuka.
"Kang? KANG?"
Akang menatap Ariyanti. Matanya sayu. Bingung. Tapi sadar.
"Ari...?" bisiknya lirih.
Ariyanti menangis. Ia memeluk Akang—dengan hati-hati, takut melukai.
"KANG! KAMU SADAR! KAMU SADAR!"
Ibu Akang yang sedang di ruang keluarga berlari masuk.
"KANG! ANAKKU!"
Bu Sumi, Marni, Siti (dengan Rizki), Pak Lurah, Herman, dan Pak Dullah yang kebetulan datang berkunjung semuanya berlari ke ruangan.
Ruangan yang biasanya tenang, kini riuh oleh tangis bahagia.
Pemeriksaan Dokter
RSUD Kendal – Sabtu siang
Dr. Andika memeriksa Akang dengan saksama.
"Pasien sadar penuh. Refleks normal. Fungsi kognitif tampaknya baik. Tidak ada indikasi kerusakan otak permanen."
"Syukurlah, Dok," kata Ibu Akang.
"Ini keajaiban. Secara medis, saya tidak bisa menjelaskan kenapa dia bangun tepat hari ini."
Ariyanti tersenyum. "Saya bisa menjelaskan, Dok."
"Dengan apa?"
"Dengan cinta. Dengan doa. Dengan puisi. Dengan orang-orang yang tidak pernah berhenti berharap."
Dr. Andika tersenyum. "Saya jadi percaya pada cinta."
Akang Bicara Panjang
RSUD Kendal – Sabtu sore
"Ari, aku dengar suaramu."
"Kamu dengar?"
"Iya. Samar-samar. Seperti dari jauh. Tapi aku dengar. Kamu membaca puisi. Puisi Bu Sumi."
"Kamu ingat isinya?"
"Aku ingat yang ini: 'Pulanglah, sebelum senja beranjak pergi'. Itu yang membuatku ingin bangun."
Ariyanti menangis. "Kang... aku sayang kamu."
"Aku juga sayang kamu, Ari. Aku sayang kamu lebih dari apapun di dunia ini."
Mereka berpelukan. Ibu Akang, Bu Sumi, Marni, Siti, dan yang lainnya menangis haru.
Rizki "Berbicara" pada Akang
RSUD Kendal – Sabtu sore
Siti mendekatkan Rizki pada Akang. Bayi itu tersenyum lebar memperlihatkan dua gigi susunya yang baru tumbuh.
"Rizki, ini paman Akang. Paman sudah sadar."
Rizki mengulurkan tangan, menyentuh hidung Akang.
Akang tertawa. "Dia lucu, Siti."
"Terima kasih, Kang. Kamu sudah menjadi paman yang baik untuknya."
Surat dari Suprapto Lagi
RSUD Kendal – Minggu pagi
Pak Lurah membawa surat dari Suprapto.
"Kang, anakku..."
"Ayah dengar kau sadar. Ayah tidak pantas minta apa-apa, tapi ayah ingin kau tahu: ayah bangga padamu. Kau kuat. Kau tidak menyerah."
"Ayah akan berusaha menjadi lebih baik. Doakan ayah."
Akang membaca surat itu. Ia tidak menangis. Tapi matanya basah.
"Balas surat ini, Kang," kata Ariyanti.
"Apa yang harus aku tulis?"
"Tulis: 'Ayah, saya maafkan Ayah. Sembuhkan dirimu sendiri dulu. Kita bicara lagi nanti.'"
Akang menulis. Tangannya masih sedikit gemetar. Tapi ia menulis dengan hati.
Akang Mulai Terapi
RSUD Kendal – Senin
Akang mulai menjalani fisioterapi ringan. Otot-ototnya sempat melemah karena terlalu lama terbaring. Tapi dengan semangat dan bantuan Ariyanti, ia mulai bisa duduk.
"Kang, pelan-pelan. Jangan paksakan."
"Aku tidak sabar ingin berjalan lagi."
"Nanti. Yang penting sekarang kamu sudah sadar. Itu keajaiban."
"Keajaiban itu namanya Ariyanti."
Ariyanti tersipu. "Jangan gombal. Fokus terapi."
Marni Mendokumentasi Kebangkitan
RSUD Kendal – Selasa
Marni memotret Akang yang sedang duduk di kursi, Ariyanti di sampingnya.
"Ini akan jadi foto paling berharga dalam arsipku," kata Marni.
"Jangan lupa kirim satu untukku," kata Akang.
"Nanti. Setelah kamu bisa senyum lebar."
"Sekarang aku sudah bisa senyum."
Marni menjepret. Klik.
Foto itu menunjukkan Akang yang kurus, pucat, tapi matanya berbinar. Ariyanti di sampingnya, wajahnya lelah tapi bahagia.
Dua orang yang selamat dari badai.
Bu Sumi Menulis Puisi Baru
RSUD Kendal – Rabu
Bu Sumi duduk di ruang keluarga, menulis puisi baru dengan pulpen di buku catatannya.
"Untuk Akang"
"Kau tidur terlalu lama
Aku hampir kehilangan harapan
Tapi suara cinta yang terus membacakan puisi
Membangunkanmu dari mimpi buruk"
"Kini kau bangun
Matahari terbit lagi di Tegorejo
Senja tak akan pernah sama
Karena kita masih di sini, bersama"
Dibacakannya puisi itu di depan Akang, Ariyanti, dan yang lain.
Mereka semua bertepuk tangan. Bahkan Rizki bertepuk tangan dengan cara merangkak.
Fajar di Ujung Lorong
RSUD Kendal – Kamis pagi
Akang sudah diperbolehkan berjalan pelan dengan bantuan. Ariyanti memapannya ke halaman rumah sakit. Matahari terbit di ufuk timur.
"Kang, lihat. Matahari terbit lagi."
"Seperti harapan kita."
"Kita sudah lewati yang terburuk, Kang."
"Kita akan lewati semuanya. Selama kita bersama."
Mereka berpegangan tangan.
Di kejauhan, burung-burung terbang bebas di langit biru.
Ariyanti teringat puisi yang dibacakannya saat Akang masih koma.
"Pulanglah, sebelum senja beranjak pergi."
Dan Akang pulang.
Bukan hanya ke alam sadar.
Tapi pulang ke pelukan cinta sejatinya.
BAB 36
BANGKIT
Hari keempat, Akang membuka mata. Kata pertamanya: "Ariyanti… senja sudah datang?"
RSUD Kendal – September 1999, Hari keempat Akang dalam keadaan tidak sadar (Minggu, pukul 17.30)
Sore itu berbeda.
Langit di luar jendela ruang rawat inap Akang mulai berwarna jingga. Awan-awan tipis bergulung lembut, seolah-olah alam sedang melukis mahakarya untuk menyambut sesuatu yang agung. Sinar matahari senja masuk melalui sela-sela tirai jingga, jatuh tepat di wajah Akang yang masih terpejam.
Ariyanti duduk di kursi di samping tempat tidurnya, seperti biasa. Tangannya tidak pernah lepas dari genggaman tangan Akang. Matanya sembab. Wajahnya pucat. Rambutnya acak-acakan.
Empat hari. Empat malam. Hampir seratus jam ia tidak tidur nyenyak. Hanya sesekali terlepas beberapa menit, lalu terbangun kaget karena mimpi buruk—mimpi di mana Akang pergi untuk selama-lamanya.
Di pangkuannya, buku puisi Bu Sumi terbuka di halaman terakhir. Sebuah puisi yang belum pernah ia bacakan pada Akang. Puisi tentang senja, tentang rindu, tentang cinta yang tak pernah padam.
Ia membacanya untuk kesekian kalinya—dalam hati, karena suaranya sudah parau.
"Senja di Tegorejo tak pernah sepi seperti ini... Sejak kau pergi, warnanya pudar..."
Air matanya jatuh.
Tiba-tiba, tanpa diduga...
Jari-Jari yang Menggenggam Balik
RSUD Kendal – pukul 17.35
Ariyanti sedang menunduk, menyeka air matanya dengan ujung kerudung, ketika ia merasakan sesuatu.
Genggaman tangannya—yang selama empat hari hanya ia yang menggenggam—kini dibalas.
Jari-jari Akang bergerak. Perlahan. Lemah. Tapi nyata.
Ariyanti tersentak. Dadanya berdebar kencang. Ia mengangkat kepala, menatap wajah Akang.
Kelopak mata Akang bergetar.
Bukan refleks biasa. Bukan getaran acak. Tapi gerakan sadar, seperti seseorang yang sedang berjuang melawan kegelapan untuk membuka pintu menuju cahaya.
"Kang...?" bisik Ariyanti, suaranya gemetar.
Kelopak mata itu bergerak lagi. Lebih kuat. Lebih tegas.
Ariyanti tidak berani bernapas. Ia hanya bisa menatap, berdoa dalam hati, berharap ini bukan mimpi.
"Ya Allah... jika ini nyata, biarkan dia membuka matanya..."
Akang Membuka Mata
RSUD Kendal – pukul 17.40
Perlahan, seperti kelopak bunga yang mekar di musim semi, mata Akang terbuka.
Bukan sekadar celah kecil. Tapi terbuka lebar.
Matanya masih sayu. Bingung. Tampak berusaha menyesuaikan dengan cahaya redup di ruangan itu.
Ariyanti terpaku. Ia tidak bisa berkata apa-apa. Mulutnya terbuka, tapi suaranya tidak keluar. Air matanya mengalir deras—bukan air mata sedih, tapi air mata haru, lega, bahagia yang tak terkira.
Akang memicingkan mata sebentar, lalu menatap Ariyanti.
Wajahnya masih pucat. Bibirnya kering. Ada bekas luka di pelipis kirinya yang tertutup perban.
Tapi matanya... matanya hidup.
Matanya melihat Ariyanti.
Dan kemudian, dengan suara serak, nyaris tak terdengar, Akang berbisik:
"Ariyanti... senja sudah datang?"
Ariyanti Menangis
RSUD Kendal – pukul 17.42
Ariyanti tidak bisa menahan tangisnya lagi. Ia menangis tersedu-sedu, kepalanya tertunduk di atas tangan Akang yang masih ia genggam.
"Iya, Kang... senja sudah datang... senja sudah datang..."
Akang tersenyum tipis. Meskipun wajahnya pucat dan bibirnya pecah-pecah, senyum itu tulus. Senyum yang selama empat hari tidak Ariyanti lihat.
"Aku... ada di mana?" tanya Akang lirih.
"Di rumah sakit, Kang. Kamu kena pukulan. Kamu koma empat hari."
"Empat hari?" Akang mengernyit. "Rasanya... seperti baru sebentar. Aku dengar suaramu. Membacakan puisi."
"Kamu dengar?"
"Iya. Samar-samar. Tapi aku dengar. Dan aku berusaha bangun... karena aku tidak tega... mendengar kamu menangis."
Ariyanti terisak. "Kang, jangan pernah tinggalkan aku lagi."
"Aku tidak akan... janji."
Ibu Akang Masuk
RSUD Kendal – pukul 17.45
Ibu Akang baru saja kembali dari kantin, membawa nasi bungkus untuk Ariyanti. Ia terhenti di depan pintu ketika melihat pemandangan yang tidak pernah ia duga.
Akang sadar. Matanya terbuka. Ariyanti menangis di sampingnya.
"Nasi bungkusnya jatuh. Ibu Akang menjatuhkan bungkusan nasi itu ke lantai. Ia berlari ke sisi tempat tidur Akang.
"KANG! ANAKKU!"
Ibu Akang memeluk Akang—dengan hati-hati, takut melukai.
"Ibu... aku baik-baik saja."
"Kamu koma empat hari! Ibu kira kamu tidak akan bangun lagi!"
"Aku tidak akan pergi... sebelum melihat Ibu bahagia."
Ibu Akang menangis. Ariyanti menangis. Akang tersenyum di sela-sela tangis mereka.
Panggilan untuk Dokter
RSUD Kendal – pukul 17.50
Ariyanti segera memencet tombol panggil perawat. Suster Aminah datang berlari.
"Ada apa—ASTAGA!" Suster Aminah terperanjat. "Akang sadar!"
"Panggil dokter, Suster! Cepat!"
Dr. Andika datang dalam tiga menit. Ia memeriksa Akang dengan saksama—memeriksa refleks pupil, menanyakan nama, tanggal, tempat, dan beberapa pertanyaan sederhana lainnya.
"Luar biasa. Fungsi kognitifnya utuh. Tidak ada indikasi kerusakan otak permanen."
"Apa dia bisa sembuh total, Dok?" tanya Ibu Akang.
"Bisa. Butuh waktu dan terapi. Tapi dia masih muda. Tubuhnya akan pulih cepat."
Dr. Andika menatap Ariyanti. "Saya tidak tahu bagaimana menjelaskan ini secara medis. Tapi sepertinya... cinta memang ajaib."
Ariyanti tersipu.
Bu Sumi Mendengar Kabar
RSUD Kendal – pukul 18.00
Bu Sumi sedang duduk di ruang keluarga, membaca buku, ketika telepon genggamnya—barang langka pada masanya—berdering.
"Ari? Ada apa?"
"Bu Sumi! Akang sadar! Akang membuka mata!"
Bu Sumi terperanjat. Buku di tangannya jatuh.
"Apa? AKANG SADAR?"
"Iya, Bu! Kata pertamanya: 'Ariyanti, senja sudah datang?'"
Bu Sumi menangis. "Aku segera ke sana."
Marni dan Siti Menyusul
RSUD Kendal – pukul 18.30
Marni dan Siti datang bersama, Rizki di gendongan Siti. Mereka berlari dari parkiran menuju ruang rawat inap.
"Akang!" teriak Marni.
Akang tersenyum. "Marni, kamu masih bawaan kamera?"
"Pasti! Ini momen bersejarah!"
Marni memotret Akang yang sedang tersenyum, Ariyanti di sampingnya, Ibu Akang di sisi lain. Siti meletakkan Rizki di pangkuan Akang—dengan hati-hati.
Rizki menatap Akang dengan mata bulatnya. Ia tersenyum.
"Rizki, paman sudah sadar," kata Siti.
Rizki tertawa. Seluruh ruangan ikut tertawa.
Akang Bercerita tentang Mimpinya
RSUD Kendal – pukul 19.00
Setelah semua orang tenang, Akang mulai bercerita.
"Aku bermimpi. Aku berjalan di padang pasir yang luas. Panas. Haus. Tidak ada air. Tidak ada pohon. Aku hampir menyerah."
"Lalu aku dengar suara. Samar. Suara orang membaca puisi. Suara Ariyanti."
"Aku mengikuti suara itu. Berjalan. Berjalan. Sampai akhirnya aku melihat cahaya. Dan di ujung cahaya itu... ada Ariyanti."
Ariyanti menangis. "Jadi kamu kembali karena aku?"
"Karena kamu. Karena suaramu. Karena puisi-puisi yang kamu bacakan. Karena cintamu."
Bu Sumi menyeka air matanya. "Ini seperti kisah dalam buku. Tapi nyata."
Akang Minta Puisi Dibacakan Lagi
RSUD Kendal – pukul 19.30
"Ari, bacakan puisi lagi. Yang belum selesai kamu baca tadi."
Ariyanti mengangguk. Ia mengambil buku puisi Bu Sumi, membuka halaman terakhir.
"Puisi ini belum pernah aku bacakan. Judulnya 'Senja yang Kutunggu'."
"Senja di Tegorejo tak pernah sepi seperti ini
Sejak kau pergi, warnanya pudar
Aku duduk di bawah pohon randu
Sendirian, merajut rindu"
"Aku titipkan angin untuk menjengukmu
Ku titipkan daun-daun randu yang berguguran
Untuk menyampaikan kabar: aku di sini
Menunggumu, sekeras apa pun waktu memisahkan"
"Dan ketika kau bangun nanti
Ketika kau membuka mata
Katakan senja sudah datang
Karena aku akan selalu ada di setiap senjamu"
Akang menangis. "Aku akan selalu ingat puisi ini."
Herman dan Pak Dullah Datang
RSUD Kendal – pukul 20.00
Herman dan Pak Dullah datang bersama. Wajah mereka lega melihat Akang sudah sadar.
"Nak Akang, syukurlah. Kami semua berdoa untukmu," kata Herman.
"Terima kasih, Pak Herman. Terima kasih, Pak Dullah."
Pak Dullah mendekat. "Kang, saya minta maaf. Dulu saya tidak berani melawan lebih awal. Mungkin kalau saya berani, kamu tidak akan celaka."
"Pak Dullah, Bapak sudah berbuat lebih dari cukup. Bapak mata-mata kita. Tanpa Bapak, mungkin kita sudah mati semua."
Pak Dullah menangis.
Malam yang Tenang
RSUD Kendal – pukul 21.00
Semua orang pulang. Hanya Ariyanti dan Ibu Akang yang tinggal.
"Ari, kamu tidur di kursi saja. Ibu yang jaga," kata Ibu Akang.
"Tidak, Bu. Saya tidak bisa tidur. Saya ingin menatap Akang."
Ibu Akang tersenyum. "Kamu anak baik. Semoga Tuhan membalas kebaikanmu."
Ariyanti duduk di samping tempat tidur Akang. Akang sudah tertidur—tidur normal, bukan koma.
Ariyanti memperhatikan wajah Akang. Bekas luka di pelipisnya. Gips di kakinya. Tubuhnya yang kurus.
"Kang, kamu sudah melalui banyak penderitaan. Tapi kamu masih di sini. Kamu masih hidup."
Ia menggenggam tangan Akang.
"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Janji."
Akang Bangun Kembali
RSUD Kendal – Senin pagi, pukul 06.00
Akang membuka mata. Matahari pagi masuk melalui jendela. Ariyanti masih di sampingnya, tertidur dengan kepala menunduk di tepi tempat tidur.
Akang tersenyum.
Ia mengangkat tangan kanannya—yang tidak terlalu sakit—dan mengusap rambut Ariyanti.
Ariyanti terbangun.
"Kang? Kamu sudah bangun?"
"Aku sudah bangun. Tapi kamu masih tidur."
"Aku tidak tidur. Aku hanya... memejamkan mata sebentar."
Akang tertawa kecil. "Kamu bohong. Aku dengar kamu mendengkur."
"Aku tidak mendengkur!" Ariyanti tertawa.
Tawa pertama mereka setelah badai panjang.
Rutinitas Baru
RSUD Kendal – hari-hari berikutnya
Akang mulai pulih dengan cepat. Setiap hari ia menjalani fisioterapi. Ariyanti selalu mendampingi.
Setiap pagi, ia duduk di kursi dan Ariyanti membacakan puisi.
Setiap siang, ia makan bubur yang dimasak Ibu Akang.
Setiap sore, ia berjalan pelan di halaman rumah sakit ditemani Ariyanti.
Setiap malam, ia mendengarkan cerita tentang apa yang terjadi selama ia koma.
"Ari, aku dengar ayahku dipenjara."
"Iya. Tapi dia minta maaf."
"Apa aku harus memaafkannya?"
"Itu pilihanmu. Tapi ingat, memaafkan bukan untuk dia. Memaafkan untuk dirimu sendiri."
Akang Bisa Berjalan Lagi
RSUD Kendal – dua minggu kemudian
Akang sudah bisa berjalan tanpa tongkat. Dokter terkejut dengan kecepatan pemulihannya.
"Pemuda ini punya kemauan keras," kata Dr. Andika.
"Aku punya motivasi," kata Akang sambil menatap Ariyanti.
Ariyanti tersipu.
Marni yang ada di samping mereka memotret. Klik.
"Ini akan jadi foto untuk album pernikahan kalian nanti," kata Marni.
"Kami belum menikah, Mar!" kata Ariyanti.
"Ya sudah. Nanti."
Akang Merindukan Tegorejo
RSUD Kendal – akhir September 1999
"Ari, aku rindu Tegorejo. Aku rindu pohon randu. Aku rindu jalan setapak di Randu Gembyang."
"Nanti. Setelah kamu sehat."
"Kapan?"
"Minggu depan, kata dokter. Kalau hasil tes terakhir baik."
"Aku tidak sabar."
Ariyanti tersenyum. "Sabar, Kang. Yang penting kita masih hidup."
Surat dari Suprapto untuk Akang
RSUD Kendal – Oktober 1999
Pak Lurah membawa surat lain dari Suprapto.
"Kang, anakku..."
"Ayah dengar kau sudah bangun. Ayah tidak pantas merasa senang, tapi ayah senang."
"Ayah akan menjalani hukuman dengan ikhlas. Ayah berhutang banyak pada kalian."
"Doakan ayah, Nak. Ayah berjanji akan berubah."
Akang membaca surat itu. Ia tidak menangis. Ia hanya diam.
"Apa kamu akan membalas?" tanya Ariyanti.
"Tidak sekarang. Aku butuh waktu."
Akang dan Ariyanti Bicara Masa Depan
RSUD Kendal – suatu sore
"Kang, setelah lulus nanti, kamu mau kuliah di mana?"
"Aku mau di Semarang. Universitas Diponegoro. Fakultas Pertanian. Biar bisa bangun desa kita."
"Aku mau ikut. Tapi di UNS? Jadi guru?"
"Kenapa tidak? Nanti kita lulus, kita balik ke Tegorejo."
"Kita bangun desa kita. Sekolah gratis. Sawah modern. Rumah sakit yang layak."
Mereka tersenyum. Mimpi yang sama. Tujuan yang sama.
Akang Diizinkan Pulang
RSUD Kendal – awal Oktober 1999
Dokter mengizinkan Akang pulang. Kondisinya sudah stabil. Kaki masih sedikit pincang, tapi akan pulih dengan terapi lanjutan.
Ibu Akang menangis. "Akhirnya... kita bisa pulang."
"Terima kasih, Ibu. Terima kasih sudah merawatku."
"Yang merawat kamu, Ariyanti. Ibu hanya numpang lewat."
Ariyanti tersenyum. "Saya ikhlas, Bu."
Kembali ke Tegorejo
Jalan Randu Gembyang – sore itu
Mobil Pak Lurah mengantar Akang dan Ariyanti pulang. Ibu Akang, Bu Sumi, Marni, Siti (dengan Rizki), dan Herman mengikuti dari belakang.
Saat mobil melewati Jalan Randu Gembyang, Akang meminta berhenti.
"Aku ingin turun sebentar."
Akang turun dari mobil. Ariyanti membantunya berjalan ke pohon randu tertua.
"Kang, kita sudah lama tidak ke sini."
"Aku rindu."
Mereka duduk di akar pohon randu. Langit jingga di atas mereka.
"Ari, senja ini berbeda."
"Kenapa?"
"Karena kita selamat. Karena kita masih di sini. Bersama."
Mereka berpegangan tangan.
Senja yang Dinanti
Tegorejo – senja itu
Semua orang berkumpul di bawah pohon randu tertua. Ibu Akang, Ibu Ariyanti, Bu Sumi, Pak Dullah, Pak Lurah, Pak Karto, Herman, Marni, Siti (dengan Rizki), Rizki dan Fathur (adik Ariyanti), dan beberapa warga desa.
"Ini senja yang kita tunggu-tunggu," kata Bu Sumi.
"Ini senja kebangkitan," kata Akang.
"Ini senja di mana kita mulai lembaran baru," kata Ariyanti.
Marni memotret mereka semua. Satu klik. Abadi.
Di kejauhan, pelangi muncul setelah hujan.
Seperti janji Tuhan.
Seperti cinta yang tak pernah mati.
BAB 37
BALAS DENDAM RAHMADI
Merasa terpojok, Rahmadi nekat. Ia akan mencelakai Ariyanti.
Lapas Kelas II A Kendal – Oktober 1999 – Dua minggu setelah Akang pulang dari rumah sakit
Kemenangan terus berpihak pada Akang dan Ariyanti. Suprapto mendekam di sel tahanan. Preman-preman bayaran Rahmadi satu per satu ditangkap. Tanah warisan telah dimenangkan Ibu Akang. Akang sendiri telah bangkit dari koma dan mulai pulih.
Rahmadi merasa terpojok.
Seperti singa tua yang terluka dan dikucilkan dari kawanannya, ia hanya bisa mengamuk di dalam sel sempitnya. Semua rencana gagal. Semua anak buahnya berjatuhan. Bahkan ayah kandungnya sendiri—Herman—lebih memihak pada musuh-musuhnya.
"Aku tidak akan membiarkan mereka bahagia," bisik Rahmadi dalam kegelapan selnya.
"Jika aku harus hancur, mereka akan hancur bersamaku."
Ia memanggil satu-satunya anak buah yang masih setia dan belum tertangkap: Jarwo—preman yang dulu terlibat dalam pengeroyokan Akang, tapi berhasil kabur saat polisi menggerebek.
Jarwo datang ke lapas dengan menyamar. Wajahnya ditutup topeng, tubuhnya dibalut jaket tebal.
"Mas Rahmadi, saya di sini."
"Jarwo, aku punya tugas terakhir untukmu."
"Apa itu, Mas?"
"Bunuh Ariyanti. "
Jarwo terperanjat. "Mas, itu gila! Polisi sedang memburu saya!"
"Aku tidak peduli. Aku akan membayar dua kali lipat dari biasanya. Dan aku akan atur pelarianmu ke luar negeri setelah eksekusi."
"Apa Mas yakin?"
"Aku belum pernah segila ini. Lakukan."
Jarwo menghela napas. "Baik, Mas. Saya lakukan."
Rencana Keji
Lapas Kendal – ruang kunjungan
Rahmadi menghubungi Jarwo melalui telepon selundupan—ponsel ilegal yang diselundupkan oleh petugas lapas yang disogok.
"Jarwo, ini rencananya. Ariyanti setiap hari pulang sekolah sekitar jam 3 sore. Dia akan melewati Jalan Randu Gembyang sendirian atau dengan Akang. Tapi Akang masih lemah. Kamu bisa hadapi."
"Di mana lokasi yang tepat, Mas?"
"Di tikungan dekat pohon randu tertua. Sepi. Tidak ada rumah di sekitar. Setelah eksekusi, buang mayatnya ke sungai."
"Tapi Mas, bukankah dulu rencana itu gagal?"
"Karena dulu kita pakai banyak orang. Sekarang kamu sendirian. Lebih cepat, lebih senyap."
"Baik, Mas. Kapan?"
"Besok. Aku tidak sabar."
Firasat Ariyanti
SMAN I Pegandon – siang itu
Ariyanti sedang duduk di kantin bersama Marni dan Siti. Rizki ada di gendongan Siti, tertidur pulas.
"Ari, kamu kenapa? Mukamu pucat," tanya Marni.
"Aku tidak tahu. Tiba-tiba dadaku sesak. Seperti ada firasat buruk."
"Kamu mungkin kurang tidur. Kamu kan setiap malam jaga Akang."
"Bukan itu. Aku merasa... seperti ada bahaya yang mengintai."
Siti mengernyit. "Ari, hati-hati. Rahmadi masih punya anak buah di luar."
"Aku tahu. Tapi aku tidak bisa hidup dalam ketakutan terus."
Peringatan dari Pak Dullah
SMAN I Pegandon – sore itu, sebelum pulang
Pak Dullah menghampiri Ariyanti yang sedang bersiap pulang.
"Nak Ariyanti, saya dengar kabar."
"Kabar apa, Pak?"
"Jarwo, preman yang dulu kabur, muncul lagi di Pegandon. Saya lihat dia kemarin di pasar."
Ariyanti memucat. "Jarwo? Yang ikut mengeroyok Akang dulu?"
"Iya. Dia preman paling kejam. Hati-hati, Nak. Jangan pulang sendirian."
"Akang akan menjemput saya, Pak."
"Baiklah. Saya akan awasi dari kejauhan."
Akang Menjemput Ariyanti
SMAN I Pegandon – pukul 15.00
Akang datang menjemput Ariyanti dengan berjalan kaki. Kakinya masih sedikit pincang, tapi ia sudah tidak pakai tongkat lagi.
"Ari, ayo pulang."
"Kang, Pak Dullah bilang Jarwo muncul lagi. Aku takut."
"Jangan takut. Aku di sini."
Mereka berjalan beriringan menuju Jalan Randu Gembyang. Marni dan Siti memilih jalan lain—Siti mau ke pasar, Marni mau menemani Siti.
Ariyanti dan Akang sendirian.
Penyergapan
Jalan Randu Gembyang – pukul 15.30
Saat mereka melewati tikungan dekat pohon randu tertua, seorang pria bertubuh besar melompat dari balik semak.
Jarwo.
Pisau bergerak di tangannya, berkilat di bawah sinar matahari sore.
"Ariyanti! Akang! KALIAN BERDUA!"
Akang refleks melindungi Ariyanti dengan tubuhnya.
"Jarwo! Jangan!"
"MAHAL! RAHMADI BAYAR AKU BANYAK! KALIAN HARUS MATI!"
Jarwo mengaYan kan pisau ke arah Akang. Akang menghindar, tapi pisau itu mengenai lengannya.
"ARRGGHH!"
"Akang!" teriak Ariyanti.
Ariyanti meraih batu besar di pinggir jalan dan melemparkannya ke arah Jarwo. Batu itu mengenai bahu Jarwo.
"KEPARAT!"
Jarwo berbalik, mengincar Ariyanti. Akang yang lengannya berdarah tetap maju, menahan Jarwo dengan tubuhnya.
"LARI, ARI! LARI!"
"TIDAK! AKU TIDAK AKAN TINGGALKAN KAMU!"
Pak Dullah Datang
Jalan Randu Gembyang – pukul 15.35
Dari kejauhan, Pak Dullah melihat keributan. Ia berlari sekencang mungkin meskipun tubuhnya sudah tua.
"JARWO! BERHENTI!"
Pak Dullah membawa parang panjang—biasa ia gunakan untuk membersihkan semak di sekolah.
Jarwo terkejut. "PAK DULLAH? KAMPANG!"
"Aku tidak takut padamu, Jarwo. Aku sudah tua. Mati pun tidak masalah."
Pak Dullah mengaYan kan parang. Jarwo menghindar, tapi parang itu mengenai tangannya. Pisau Jarwo terjatuh.
"AARRGGHH!"
"PERGI, JARWO! ATAU AKU POTONG LEHERMU!"
Jarwo lari tunggang langgang meninggalkan lokasi.
Akang Terluka
Jalan Randu Gembyang – pukul 15.40
Lengan Akang berlumuran darah. Ariyanti merobek ujung kerudungnya untuk membalut luka Akang.
"Kang, kamu banyak darah!"
"Tidak parah. Hanya goresan."
"Kita harus ke puskesmas!"
"Tidak usah. Besok saja. Sekarang kita lapor polisi."
Pak Dullah membantu menenangkan. "Saya akan antar kalian ke polsek."
Laporan ke Polisi
Polsek Pegandon – pukul 16.00
Akang, Ariyanti, dan Pak Dullah melapor ke Bripka Joko.
"Jarwo menyerang kami dengan pisau, Pak. Akang terluka di lengan."
Bripka Joko terperanjat. "Jarwo? Dia masih berkeliaran?"
"Kami pikir dia kabur ke luar kota, ternyata masih di sini."
"Saya akan kerahkan tim untuk memburunya. Kalian hati-hati. Jangan pulang sendirian."
Rahmadi Mendengar Kabar Gagal
Lapas Kendal – malam itu
Jarwo menghubungi Rahmadi melalui ponsel selundupan.
"Mas, gagal. Pak Dullah datang membawa parang."
"PAK DULLAH? LAGI-LAGI PAK DULLAH!"
"Maaf, Mas. Saya tidak bisa lawan. Saya harus kabur."
"KABUR KE MANA? POLISI SUDAH TAHU!"
"Entahlah. Saya akan coba ke luar negeri."
"BAWA UANG INI."
Rahmadi mentransfer sejumlah uang ke rekening Jarwo melalui perantara.
Jarwo Kabur
Terminal Pegandong – malam itu
Jarwo berganti pakaian dan memakai topi. Ia naik bus malam menuju Jakarta, lalu berencana ke Malaysia.
Tapi polisi sudah memblokir semua jalur.
Di terminal, seorang polisi yang bertugas melihat gerak-gerik mencurigakan. Topi menutupi wajah. Jaket tebal di malam yang panas.
"Permisi, KTP?"
Jarwo panik. Ia lari. Polisi mengejar.
"JARWO! BERHENTI!"
Jarwo tertangkap di pintu keluar terminal.
"Jarwo, saudara kami tangkap atas tuduhan percobaan pembunuhan!"
Jarwo hanya bisa pasrah.
Pengakuan Jarwo
Polsek Pegandon – dini hari
Jarwo diinterogasi. Awalnya ia bungkam. Tapi setelah ditunjukkan bukti sidik jari di pisau, ia mengaku.
"Rahmadi yang menyuruh. Dia bayar saya untuk bunuh Ariyanti."
"Bukti?"
"Saya punya rekaman telepon dengan Rahmadi. Saya simpan di ponsel."
Polisi memutar rekaman itu. Suara Rahmadi jelas terdengar.
"Bunuh Ariyanti. Aku akan bayar dua kali lipat."
Ini bukti yang cukup untuk menjerat Rahmadi dengan tuduhan tambahan: merencanakan pembunuhan berencana dari dalam penjara.
Rahmadi Dipindah ke Sel Isolasi
Lapas Kendal – keesokan harinya
Petugas lapas memindahkan Rahmadi ke sel isolasi. Tidak ada ponsel, tidak ada kunjungan, tidak ada kontak dengan dunia luar.
"Rahmadi, Anda akan dijerat pasal tambahan. Hukuman Anda bisa bertambah 10 tahun."
"Terserah. Aku tidak peduli lagi."
"Ada orang yang ingin bertemu dengan Anda."
"Siapa?"
Herman.
Pertemuan dengan Herman
Lapas Kendal – ruang kunjungan (dengan kaca)
Herman duduk di seberang kaca. Wajahnya lelah, penuh kekecewaan.
"Nak, kenapa? Kenapa kau masih tega?"
"Ayah tidak akan mengerti."
"Ayah mengerti. Ayah dulu juga pernah punya dendam. Tapi ayah tidak pernah tega membunuh."
"Rahmadi tidak menjawab."
"Nak, kau sudah jatuh terlalu dalam. Tapi tidak ada yang tidak bisa diperbaiki. Selama kau masih hidup, kau bisa berubah."
"Aku sudah terlalu jahat."
"Tidak ada yang terlalu jahat untuk mendapat kesempatan kedua."
Rahmadi menangis. "Ayah... aku minta maaf."
Herman menangis juga. "Ayah maafkan. Tapi kau harus menjalani konsekuensinya."
Akang Dirawat
RSUD Kendal – sore itu
Luka di lengan Akang tidak parah, tapi butuh beberapa jahitan. Ariyanti menemaninya di ruang perawatan.
"Kang, kamu nekat."
"Aku tidak bisa diam melihat dia menyerangmu."
"Apa kamu tidak takut mati?"
"Aku takut. Tapi aku lebih takut kehilanganmu."
Mereka berpegangan tangan.
Bu Sumi Memberi Nasihat
RSUD Kendal – malam itu
Bu Sumi datang menjenguk Akang.
"Kang, Ari, kalian harus lebih hati-hati. Rahmadi sudah gila."
"Apa yang harus kami lakukan, Bu?" tanya Ariyanti.
"Jangan pulang sendirian. Gunakan jalur yang ramai. Laporkan setiap kejadian ke polisi."
"Baik, Bu."
"Ibu juga sudah bicara dengan Pak Lurah. Beliau akan mengatur ronda malam di sekitar rumah kalian."
"Terima kasih, Bu."
Keputusan Rahmadi
Lapas Kendal – sel isolasi
Rahmadi duduk termenung di sudut sel. Ia sudah tidak punya energi untuk marah. Ia hanya lelah.
"Semua yang aku lakukan gagal."
"Aku sudah kehilangan segalanya."
"Mungkin ini saatnya berhenti."
Ia memanggil petugas.
"Saya ingin minta maaf pada korban. Bisakah?"
"Bisa. Nanti akan kami atur."
Surat Permintaan Maaf untuk Ariyanti
Lapas Kendal – seminggu kemudian
Rahmadi menulis surat untuk Ariyanti.
"Ariyanti..."
"Aku tidak pantas menyebut namamu. Aku sudah berbuat jahat padamu dan Akang. Aku hampir membunuh kalian berkali-kali."
"Aku tidak akan meminta maaf karena maaf tidak cukup. Tapi aku ingin kau tahu: aku menyesal."
"Aku tidak tahu apakah aku bisa berubah. Tapi aku akan mencoba."
"Doakan aku, Ariyanti. Doakan aku bisa menjadi manusia yang lebih baik."
"Rahmadi"
Ariyanti Membaca Surat
Rumah Ariyanti – sore itu
Ariyanti membaca surat itu dengan saksama. Air matanya jatuh.
"Bu, Rahmadi minta maaf."
Ibu Ariyanti mendekat. "Apa isinya?"
"Maaf. Karena sudah hampir membunuh kami."
"Apa kamu akan memaafkannya?"
Ariyanti terdiam. "Aku belum bisa. Tapi aku tidak akan membencinya selamanya."
Akang Menanggapi Surat
Rumah Akang – malam itu
Akang juga mendapat surat yang sama.
"Akang, aku musuhmu. Tapi aku ingin berdamai dengan masa lalu. Maafkan aku."
Akang membaca surat itu. Ia teringat semua penderitaan yang ia alami karena Rahmadi: fitnah, kebakaran, kecelakaan, koma, hampir mati.
Tapi ia juga ingat bahwa Herman—ayah Rahmadi—telah banyak membantu keluarganya.
"Rahmadi, aku belum bisa memaafkan. Tapi aku tidak akan membalas dendam. Biarkan hukum yang menjatuhkanmu."
Hari Mulai Berakhir
Tegorejo – senja itu
Ariyanti dan Akang duduk di bawah pohon randu tertua. Langit jingga di atas mereka.
"Kang, apakah semua ini akan berakhir?"
"Semua akan berakhir, Ari. Tinggal masalah waktu."
"Apa kita akan baik-baik saja?"
"Kita akan baik-baik saja. Karena kita bersama."
Mereka berpegangan tangan.
Di kejauhan, matahari tenggelam dengan tenang.
Tidak ada teriakan. Tidak ada amarah.
Hanya kedamaian yang perlahan datang.
BAB 38
PENCULIKAN
Dalam perjalanan pulang dari SMAN I Pegandon, Ariyanti diculik oleh preman bayaran Rahmadi.
Tegorejo – Kendal, November 1999. Sebulan setelah percobaan pembunuhan oleh Jarwo.
Badai belum juga reda.
Seperti ombak di laut selatan yang tidak pernah berhenti menghantam karang. Seperti angin di puncak gunung yang tidak pernah berhenti bertiup. Seperti api di musim kemarau yang terus menjalar, membakar apa pun yang dilewatinya.
Meskipun Rahmadi sudah dipindahkan ke sel isolasi super di Lembaga Pemasyarakatan Kendal. Meskipun Jeruk manis, preman yang dulu disuruh membunuh Akang, sudah tertangkap dan mendekam di sel tahanan Polsek Pegandon. Meskipun seharusnya dengan semua itu, keamanan sudah terjamin.
Tapi kenyataan berkata lain.
Masih ada preman-preman bayaran lain yang setia pada Rahmadi. Atau lebih tepatnya, setia pada uang. Setia pada janji-janji manis. Setia pada kekuasaan yang suatu hari nanti akan kembali.
Rahmadi, dari balik sel isolasi super yang dijaga 24 jam sehari, yang tidak boleh menerima tamu kecuali pengacara dan keluarga inti, yang setiap suratnya diperiksa oleh petugas lapas, masih bisa berkomunikasi dengan dunia luar.
Caranya? Surat yang diselundupkan. Surat yang ditulis di kertas tipis, dilipat kecil-kecil, dimasukkan ke dalam kantong plastik, lalu diselipkan di sela-sela makanan yang diantar oleh keluarga. Surat yang dibaca oleh petugas lapas yang disogok dengan puluhan juta rupiah.
Dan dalam salah satu suratnya, di tengah malam yang gelap, di bawah cahaya lampu redup di sel isolasi yang sempit, Rahmadi mengirimkan perintah terakhirnya.
"Bawa Ariyanti ke tempat aman. Jangan bunuh. Cukup tahan dia. Aku akan urus sisanya. Aku yang akan bicara langsung dengannya. Aku yang akan membuatnya mengerti bahwa tidak ada yang bisa melawan aku."
Para preman itu, yang terdiri dari Tino (yang berhasil kabur dari tahanan sebelum sidang, melompat dari jendela polsek ketika petugas lengah), Bambang (rekan Tino, preman kekar dengan tato di sekujur lengan), dan seorang preman baru bernama Badrun (bertubuh kurus, lincah seperti kucing, belum pernah tertangkap polisi), mulai bergerak.
Mereka sudah memantau rutinitas Ariyanti selama dua minggu. Diam-diam. Tanpa ketahuan. Bergantian, bergantian shift, bergantian posisi.
Mereka tahu persis jam berapa Ariyanti bangun. Jam berapa ia berangkat sekolah. Jam berapa ia pulang. Rute apa yang ia lewati. Siapa saja yang sering bersamanya. Kapan ia sendirian.
Setiap hari, Ariyanti pulang sekolah sekitar pukul 15.00. Biasanya, ia ditemani Akang. Akang yang kakinya sudah hampir pulih, yang sudah tidak pakai tongkat lagi, yang sudah bisa berjalan normal meskipun masih sedikit pincang.
Tapi suatu hari, Akang harus pergi ke puskesmas untuk kontrol rutin kakinya. Dokter ingin memastikan bahwa tulang yang patah itu sudah menyambung sempurna. Dokter ingin memeriksa apakah masih ada peradangan. Dokter ingin memastikan bahwa Akang bisa beraktivitas normal tanpa risiko cedera lagi.
Ariyanti pulang sendirian.
Itulah saat yang mereka tunggu.
Itulah celah yang mereka cari.
Itulah kesempatan yang tidak akan datang dua kali.
Ariyanti Pulang Sendirian
SMAN I Pegandon, pukul 14.55.
Bel pulang sekolah telah berbunyi. Suara bel tua yang nyaring dan sedikit fals itu menggema di seluruh area sekolah, memecah keheningan yang sudah berlangsung sejak jam pelajaran terakhir dimulai.
Ariyanti mengemasi buku-bukunya dengan hati-hati. Buku matematika, buku fisika, buku biologi, buku bahasa Indonesia. Satu per satu ia masukkan ke dalam tas ransel yang sudah usang.
Marni dan Siti sudah pamit lebih awal. Marni harus menjemput adiknya di SD yang pulang lebih cepat karena ada pelatihan guru. Siti harus menyusui Rizki yang sudah mulai rewel sejak jam makan siang, mungkin karena gusinya yang gatal karena akan tumbuh gigi.
"Kamu pulang sama siapa, Ari?" tanya Marni sebelum pergi. Wajahnya sedikit cemas.
"Akang akan jemput." Ariyanti tersenyum. "Katanya dia kontrol ke puskesmas dulu, tapi janji akan ke sini jam 3."
"Kok belum datang?"
"Mungkin macet." Ariyanti mengangkat bahu. "Atau mungkin antreannya panjang. Tenang saja, Mar. Aku bisa jaga diri."
Tapi sampai pukul 15.10, Akang belum juga datang.
Ariyanti memandang ke arah pintu gerbang. Tidak ada bayangan Akang. Tidak ada orang berjalan pincang dengan senyum khasnya.
Mungkin dia benar-benar macet, pikirnya. Atau mungkin dokternya lama.
Ia memutuskan untuk berjalan kaki perlahan menyusuri Jalan Randu Gembyang. Berharap berpapasan dengan Akang di tengah jalan. Berharap melihat senyumnya dari kejauhan. Berharap mendengar suaranya memanggil namanya.
Ia tidak tahu bahwa di tikungan depan, sekitar 200 meter dari gerbang sekolah, sebuah mobil box tua sudah menunggu. Mesinnya masih menyala. Pintu belakangnya terbuka sedikit. Di dalamnya, Tino, Bambang, dan Badrun sudah siap.
Penyergapan di Jalan Randu Gembyang
Jalan Randu Gembyang, pukul 15.20.
Ariyanti berjalan sendirian.
Sepi.
Tidak ada pedagang yang lewat. Tidak ada petani yang pulang dari sawah. Tidak ada anak-anak yang bermain. Hanya suara angin yang berembus di antara daun-daun randu yang berguguran. Hanya suara dedaunan kering yang bergesekan satu sama lain. Hanya suara burung-burung yang beterbangan di kejauhan, pulang ke sarang masing-masing.
"Semoga Akang tidak lama lagi," pikir Ariyanti sambil mempercepat langkahnya. Tas ransel di punggungnya terasa lebih berat dari biasanya.
Tiba-tiba, dari balik semak belukar di pinggir jalan, tiga orang pria melompat keluar. Seperti setan yang muncul dari tanah. Seperti bayangan yang tiba-tiba menjadi wujud.
Tino. Preman besar dengan wajah penuh bekas luka. Luka-luka itu bukan berasal dari perkelahian biasa. Tapi dari pengalaman bertahun-tahun sebagai eksekutor. Luka di pipi kanan. Luka di dahi. Luka di dagu. Matanya kecil, tajam, seperti mata elang yang sedang mengintai mangsa.
Bambang. Preman kekar dengan tato di sekujur lengan kanan dan kiri. Tato naga. Tato macan. Tato tengkorak. Tubuhnya berisi, tidak banyak lemak. Dadanya bidang. Bahunya lebar.
Badrun. Preman baru, bertubuh kurus tapi lincah. Wajahnya masih muda, mungkin baru berusia 20-an. Tapi matanya sudah tua. Matanya sudah dingin. Matanya sudah tidak punya rasa takut.
"Ariyanti!" teriak Tino, suaranya berat dan menggelegar.
Ariyanti terkejut. Jantungnya berhenti berdetak sejenak. Dunia berputar. Ia berusaha lari, kakinya bergerak cepat, tapi Badrun lebih cepat. Badrun sudah di depannya dalam hitungan detik.
Badrun menutup mulut Ariyanti dengan kain putih yang sudah dibubuhi obat bius. Kain itu basah, dingin, baunya menusuk hidung.
"MMMPPHHH!" Ariyanti berusaha berteriak, tapi suaranya tertahan. Ia berusaha bernapas, tapi udara yang masuk justru membuatnya semakin pusing.
Ariyanti berusaha melawan. Ia menggigit tangan Badrun. Kuat. Hampir putus.
"SIAL! GIGIT!" Badrun berteriak kesakitan. Tangannya berdarah. Tapi ia tidak melepaskan.
Tino mendekat. Wajahnya marah. "Cepat! Masukkan ke mobil! Jangan buang waktu!"
Mereka menyeret Ariyanti ke mobil box yang terparkir tidak jauh dari lokasi. Tino memegang tangan kanan. Bambang memegang tangan kiri. Badrun membuka pintu mobil.
Ariyanti masih berusaha melawan. Kakinya menyepak ke udara. Tubuhnya bergoyang ke kiri dan ke kanan. Tapi tenaganya semakin melemah. Obat bius mulai bekerja.
Pandangannya kabur. Wajah-wajah preman itu menjadi buram. Suara mereka menjadi sayup-sayup. Dunia berputar semakin cepat.
"Aku... akan... diculik..." bisiknya dalam hati, nyaris tidak terdengar. "Akang... tolong..."
Ia pingsan.
Pintu mobil ditutup. Suara "klik" yang keras.
Mesin menyala. Mobil box itu melaju kencang, meninggalkan bekas ban di aspal, meninggalkan debu beterbangan, meninggalkan keheningan yang tiba-tiba terasa begitu sunyi.
Akang Tiba di Lokasi
Jalan Randu Gembyang, pukul 15.30.
Akang datang dengan berjalan agak cepat. Kakinya masih sedikit pincang, tapi ia sudah tidak sabar ingin bertemu Ariyanti. Sudah dua minggu ini ia jarang bertemu Ariyanti karena kesibukan masing-masing. Ariyanti sibuk dengan ujian. Akang sibuk dengan terapi.
Ia sudah merindukan senyum Ariyanti. Merindukan suaranya. Merindukan tawanya.
Di tikungan dekat pohon randu tertua, ia melihat sesuatu yang membuat jantungnya berhenti berdetak.
Sebuah jepit rambut di tanah.
Jepit rambut plastik berwarna biru muda. Jepit rambut milik Ariyanti. Ariyanti tidak pernah lepas dari jepit rambut itu. Sejak SMP, ia selalu memakainya.
Akang memucat. Ia memungutnya. Tangannya gemetar.
Ada setitik darah di ujung jepit itu. Darah segar. Masih basah. Masih merah.
"ARI! ARI!" Akang berteriak sekeras-kerasnya. Suaranya memantul-mantul di antara pohon-pohon randu, mengganggu burung-burung yang bertengger.
Tidak ada jawaban.
Hanya suara angin. Hanya suara daun-daun yang berguguran. Hanya suara kesunyian yang mencekik.
Akang melihat bekas ban mobil di tanah. Bukan ban motor. Bukan ban becak. Ban mobil box. Lebar, dalam, jelas.
"Ari diculik." Akang mengepalkan tangannya. "Pasti Rahmadi. Pasti suruhan Rahmadi."
Ia berlari sekencang mungkin ke rumah Pak Lurah. Kakinya yang masih sakit ia paksakan. Tidak peduli.
Laporan ke Pak Lurah
Rumah Pak Lurah, pukul 15.45.
"Pak! ARI DICULIK!" Akang masuk ke rumah Pak Lurah tanpa mengetuk. Wajahnya pucat. Matanya merah. Napasnya tersengal-sengal.
Pak Lurah yang sedang minum kopi di teras terperanjat. Cangkir di tangannya hampir jatuh.
"Apa? Siapa yang culik, Kang?" Pak Lurah berdiri.
"Aku tidak tahu, Pak." Akang menggigit bibirnya. "Tapi ada bekas ban mobil box di Jalan Randu Gembyang. Jepit rambut Ariyanti jatuh di tanah. Ada darah."
"Pasti preman bayaran Rahmadi." Pak Lurah menghela napas. "Cepat, kita lapor polisi!"
Polisi Bergerak
Polsek Pegandon, pukul 16.00.
Bripka Joko mendengar laporan dari Akang dan Pak Lurah. Wajahnya serius.
"Kami akan kerahkan semua personel, Kang." Bripka Joko mengambil map. "Juga minta bantuan polres Kendal. Kita blokir semua jalur keluar dari Pegandon. Semua jalan. Semua gang. Semua terminal."
"Apa yang bisa kami lakukan, Pak?" tanya Akang.
"Kamu tunggu di sini, Kang." Bripka Joko menatap Akang. "Jangan main-main sendiri. Bisa bahaya. Mereka tidak segan-segan menyakiti."
"Aku tidak bisa diam, Pak!" Akang hampir berteriak. "Ariyanti mungkin dalam bahaya! Mereka mungkin menyakitinya! Mereka mungkin..."
"Kami akan temukan dia, Kang." Bripka Joko memotong. "Percayalah."
Ariyanti di Tempat Persembunyian
Gudang kosong di pinggir hutan, sekitar 10 kilometer dari Pegandon.
Ariyanti terbangun. Kepalanya pusing. Mulutnya kering. Badannya lemas.
Ia melihat sekeliling. Tangan dan kakinya diikat tali rapia. Kuat. Tidak mudah lepas. Mulutnya ditutup lakban, lengket, membuat ia sulit bernapas.
Tempat ini adalah gudang kosong. Mungkin bekas penyimpanan pupuk. Dindingnya dari papan kayu yang sudah lapuk di beberapa bagian. Lantainya tanah. Langit-langitnya seng berkarat, bolong di sana-sini, membuat cahaya matahari masuk dari celah-celah kecil.
Bau apek. Bau tikus mati. Bau pupuk kadaluarsa.
Tino, Bambang, dan Badrun duduk di pojok, bermain kartu. Sesekali mereka tertawa. Sesekali mereka bertengkar kecil.
"Akhirnya dia bangun," kata Tino sambil membuang kartu.
"Lepaskan aku!" teriak Ariyanti. Tapi suaranya tertahan lakban. Hanya suara "MMMMPHHH" yang keluar.
"Belum, Mbak." Tino tersenyum. "Mas Rahmadi masih punya rencana. Belum saatnya."
Rencana apa? Ariyanti tidak tahu. Ia hanya bisa berdoa. Berdoa semoga Akang dan polisi segera menemukannya.
Rahmadi Menghubungi Tino
Lapas Kendal, malam itu.
Rahmadi menghubungi Tino melalui ponsel selundupan. Ponsel kecil, warna hitam, hanya bisa digunakan untuk telepon dan SMS. Terselip di antara lipatan baju yang diantar Herman.
"Tino, sudah berhasil?" suara Rahmadi serak.
"Sudah, Mas." Suara Tino pelan, tidak ingin didengar Ariyanti. "Dia di gudang sekarang."
"Jangan bunuh." Rahmadi menghela napas. "Aku akan urus sisanya. Aku akan ke sana."
"Apa yang harus kami lakukan, Mas?"
"Tunggu instruksi." Rahmadi bicara cepat. "Jaga dia baik-baik. Jangan sampai kabur. Jangan sampai polisi tahu."
"Baik, Mas."
Rahmadi mematikan telepon. Ia tersenyum jahat.
"Akhirnya... kau ada di tanganku, Ariyanti. Akhirnya..."
Akang Gelisah
Polsek Pegandon, malam itu.
Akang tidak bisa duduk diam. Ia mondar-mandir di ruang tunggu polsek. Langkahnya cepat, tidak teratur.
"Kang, kamu makan dulu." Bu Sumi yang ikut datang membawa nasi bungkus.
"Aku tidak bisa makan, Bu." Akang menggeleng. "Ariyanti di luar sana. Mungkin ketakutan. Mungkin kelaparan. Mungkin..."
"Kamu tidak akan membantu Ariyanti dengan kelaparan, Kang." Bu Sumi memaksanya duduk. "Eat. Minum. Istirahat. Kamu butuh energi."
Akang menurut. Ia menyuap nasi bungkus tanpa rasa. Tidak tahu apa yang ia makan. Tidak peduli.
"Bu, bagaimana kalau mereka menyakitinya?" Akang menatap Bu Sumi.
"Doakan saja, Kang." Bu Sumi menggenggam tangan Akang. "Doa itu senjata kita. Doa itu kekuatan kita. Doa itu yang membuat kita bertahan."
Marni dan Siti Menyusul
Polsek Pegandon, pukul 20.00.
Marni dan Siti datang dengan wajah panik. Siti membawa Rizki yang sudah tertidur di gendongannya. Rizki tidak tahu apa yang terjadi. Ia hanya tidur.
"Ari! Bagaimana kabarnya?" tanya Marni.
"Belum ada kabar, Mar." Akang menggeleng. "Polisi masih mencari. Tapi belum ada titik terang."
"Aku sudah foto-foto lokasi penculikan." Marni menunjukkan kameranya. "Mungkin bisa jadi petunjuk. Bekas ban. Bekas injakan. Bekas barang yang jatuh."
Bripka Joko melihat foto-foto itu dengan saksama.
"Ada bekas ban mobil box, Mar." Bripka Joko menunjuk foto. "Kita bisa lacak. Kita cari mobil box yang keluar dari Pegandon hari ini."
Pak Dullah Punya Informasi
Polsek Pegandon, pukul 21.00.
Pak Dullah datang dengan napas tersengal-sengal. Wajahnya merah. Badannya berkeringat.
"Pak Bripka, saya punya informasi!" suaranya keras.
"Apa, Pak Dullah?" Bripka Joko mendekat.
"Saya dengar dari Mbah Jayus, mantan preman." Pak Dullah mengatur napas. "Tino dan Bambang bersembunyi di gudang kosong di pinggir hutan, dekat sungai. Tempat itu dulu digunakan untuk menyimpan pupuk curian. Sepi. Jarang orang lewat."
"Alamatnya?" Bripka Joko mengambil peta.
"Di Dukuh Ngemplak." Pak Dullah menunjuk peta. "Sekitar 10 kilometer dari sini. Lewat jalan tanah. Tidak beraspal."
"Terima kasih, Pak Dullah." Bripka Joko menepuk pundak Pak Dullah. "Ini informasi penting. Sangat penting."
Polisi Menuju Lokasi
Polsek Pegandon, pukul 21.30.
Bripka Joko memimpin tim gabungan. Dua mobil polisi. Satu mobil pengangkut personel. Semua lampu dimatikan. Semua sirine tidak dinyalakan.
"Kang, kamu jangan ikut." Bripka Joko menatap Akang. "Berbahaya. Bisa terjadi tembak-menembak."
"Aku harus, Pak!" Akang tidak mau ketinggalan. "Ariyanti mungkin ketakutan. Dia butuh aku."
"Baik. Tapi kau ikuti instruksi." Bripka Joko menghela napas. "Jangan nekat. Jangan main pahlawan."
Akang naik ke mobil polisi. Marni, Siti, Bu Sumi, dan Pak Lurah menyusul di mobil Pak Lurah.
Di Gudang – Ariyanti Berusaha Kabur
Gudang kosong, pukul 22.00.
Ariyanti tidak tinggal diam.
Ia menggesekkan ikatan tali di tangannya ke ujung besi ranjang yang berkarat. Gesekan demi gesekan. Pelan tapi pasti. Kulitnya lecet. Darah mengalir. Tapi ia tidak peduli.
Tino dan Bambang sedang tertidur. Mereka sudah kelelahan. Badrun berjaga di luar, duduk di atas drum bekas, matanya setengah terpejam.
Setelah tali di tangannya putus, Ariyanti membuka lakban di mulutnya. Sakit. Sangat sakit. Rasanya seperti kulitnya ikut terkelupas.
Ia mencoba membuka ikatan di kakinya. Lebih sulit. Tali itu lebih tebal. Lebih kuat.
Tapi perlahan, tali itu mulai longgar.
"Aku harus cepat," bisiknya dalam hati. "Sebelum mereka sadar."
Badrun Tertidur
Gudang kosong, pukul 22.15.
Badrun yang seharusnya berjaga, ternyata tertidur. Kelelahan. Semalaman tidak tidur.
Ariyanti melihat kesempatan.
Ia merangkak pelan ke pintu. Kaki masih terikat, tidak bisa berdiri. Tapi ia bisa bergerak. Ia bisa merangkak.
Di luar, gelap. Hanya cahaya bulan yang tersembunyi di balik awan. Hanya suara jangkrik dan sesekali burung hantu.
Ariyanti berusaha berdiri. Kaki terikat, jadi ia melompat kecil. Tidak stabil. Hampir jatuh.
Tiba-tiba, Badrun terbangun.
"ARIYANTI!" teriaknya.
"TOLONG!" Ariyanti berteriak sekencang-kencangnya. "TOLONG! AKU DI SINI!"
Badrun mengejar. Ariyanti melompat-lompat ke arah hutan.
Polisi Tiba
Gudang kosong, pukul 22.20.
Tepat saat Badrun hampir menangkap Ariyanti, lampu sorot menyala dari berbagai arah.
"POLISI! BERHENTI!" teriak Bripka Joko.
Tino dan Bambang yang terbangun kaget berusaha lari. Tino ke pintu belakang. Bambang ke jendela.
Tapi polisi sudah mengepung.
"ANGKAT TANGAN!" Bripka Joko mengacungkan senjata.
Tino menyerah. Tangannya terangkat. Bambang mencoba kabur lewat jendela, kakinya tersangkut, ia jatuh.
Badrun tertangkap saat sedang mengejar Ariyanti. Dua polisi membekuknya.
Ariyanti Selamat
Gudang kosong, pukul 22.25.
Akang berlari ke arah Ariyanti. Ia memeluk gadis itu erat-erat.
"Ari! Ari!" suaranya hampir menangis.
"Kang..." Ariyanti menangis di bahu Akang. "Aku takut... aku takut sekali..."
"Tenang, Ari." Akang mengelus rambut Ariyanti. "Aku di sini. Kamu aman. Tidak ada yang bisa menyakiti kamu lagi."
Bu Sumi, Marni, Siti, dan Pak Lurah menyusul.
"Syukurlah kamu selamat, Ari." Bu Sumi memeluk Ariyanti.
"Aku ingin pulang, Bu." Ariyanti masih gemetar. "Aku ingin segera pulang."
"Kita pulang, Ari." Akang menggandeng tangannya. "Sekarang."
Kembali ke Pegandon
Perjalanan pulang, pukul 23.00.
Ariyanti duduk di samping Akang di mobil Pak Lurah. Ia masih gemetar. Tangannya dingin.
Akang menggenggam tangannya. Tidak melepaskan.
"Kang, bagaimana mereka bisa menculikku?" Ariyanti bertanya.
"Preman bayaran Rahmadi, Ari." Akang menghela napas. "Tino. Bambang. Badrun. Tapi mereka sudah ditangkap. Semua."
"Apa Rahmadi akan dihukum lebih berat?" Ariyanti menatap Akang.
"Pasti, Ari." Akang mengangguk. "Penculikan itu kejahatan berat. Hukumannya bisa puluhan tahun."
"Apakah itu akan menghentikannya?"
Akang terdiam.
"Aku tidak tahu, Ari." Akang menggenggam lebih erat. "Tapi setidaknya, dia tidak akan bisa menyakiti kamu lagi. Untuk sementara."
Bertemu Ibu
Rumah Ariyanti, pukul 23.30.
Ibu Ariyanti sudah menunggu di depan pintu. Wajahnya pucat. Matanya merah.
Begitu melihat Ariyanti, ia langsung memeluknya.
"Yan ! Ibu takut setengah mati!" Ibu Ariyanti menangis. "Ibu sudah berdoa sejak tadi. Ibu sudah hampir pingsan."
"Maafkan aku, Bu." Ariyanti memeluk ibunya. "Aku membuat Ibu khawatir."
"Kamu tidak usah minta maaf, Yan ." Ibu Ariyanti mengusap rambut Ariyanti. "Yang penting kamu selamat. Yang penting kamu tidak apa-apa."
Ibu Ariyanti juga memeluk Akang. "Terima kasih, Nak. Kamu sudah menjaganya. Kamu sudah menyelamatkannya."
Rahmadi Mendengar Kabar
Lapas Kendal, dini hari.
Petugas lapas membangunkan Rahmadi dari tidurnya.
"Rahmadi, kabar buruk untukmu." Suara petugas itu dingin.
Rahmadi duduk. Matanya masih sayu.
"Apa?"
"Tino, Bambang, dan Badrun ditangkap." Petugas itu membaca laporan. "Ariyanti selamat. Polisi sudah mengamankan lokasi."
Rahmadi tertawa pahit. "Aku selalu kalah."
"Hukumanmu bisa bertambah, Rahmadi." Petugas itu melanjutkan. "Pasal penculikan. Bisa ditambah 12 tahun."
Rahmadi tidak menjawab.
Petugas itu pergi. Rahmadi duduk di sudut sel, memeluk lututnya.
Ia menangis. Untuk pertama kalinya.
Surat untuk Rahmadi dari Ariyanti
Rumah Ariyanti, keesokan harinya.
Ariyanti menulis surat untuk Rahmadi. Ia meminta Herman untuk mengantarkannya.
Di atas kertas buku tulis bergaris, dengan pulpen murah, ia menulis.
"Rahmadi..."
"Aku selamat. Preman-premanmu sudah ditangkap. Tino, Bambang, Badrun. Mereka semua sudah di polsek."
"Aku tidak akan membalas dendam. Aku tidak akan membenci. Itu tidak akan mengubah apa pun. Itu hanya akan membuatku sengsara."
"Tapi aku ingin kau tahu. Kebencian tidak akan membawamu ke mana-mana. Kebencian hanya akan menghancurkan dirimu sendiri."
"Aku berdoa. Aku berdoa semoga kau berubah suatu hari nanti. Semoga kau menjadi manusia yang lebih baik. Untuk dirimu sendiri. Untuk ayahmu. Untuk anakmu."
"Ariyanti"
Herman membawa surat itu ke lapas.
Fajar Kemenangan
Tegorejo, pagi itu.
Ariyanti dan Akang duduk di teras rumah Ariyanti. Matahari terbit dengan cerah. Langit biru tanpa awan. Burung-burung beterbangan di kejauhan.
"Kang, akhirnya semua berakhir." Ariyanti tersenyum.
"Belum sepenuhnya, Ari." Akang menggenggam tangannya. "Tapi setidaknya, Rahmadi tidak akan bisa berbuat jahat lagi dalam waktu lama. Hukumannya akan bertambah. Dia akan di penjara lebih lama."
"Apa kita akan baik-baik saja, Kang?" Ariyanti menatap Akang.
"Kita akan baik-baik saja, Ari." Akang menatap balik. "Karena kita bersama. Karena kita tidak pernah menyerah. Karena kita selalu percaya."
Mereka berpegangan tangan.
Di kejauhan, burung-burung terbang bebas.
Ariyanti selamat.
Mereka selamat.
Dan fajar kemenangan akhirnya tiba.
BAB 39
LOKASI TERSEMBUNYI
Ariyanti disekap di gudang kosong dekat Jalan Randu Gembyang. Rahmadi datang. Ia ingin memaksakan kehendaknya.
Gudang kosong di pinggir hutan, sekitar 10 kilometer dari Pegandon. November 1999. Malam setelah penculikan.
Ariyanti terbangun untuk kedua kalinya.
Kepalanya masih pusing. Bukan pusing biasa. Pusing yang membuat dunia berputar, yang membuat mual, yang membuat ia ingin muntah. Efek obat bius yang diselundupkan oleh Badrun masih belum sepenuhnya hilang. Obat itu kuat. Obat itu berbahaya. Obat itu sengaja dipilih untuk membuat korbannya tidak berdaya.
Tangan dan kakinya masih terikat tali rapia. Tali itu kasar, mengikat erat, meninggalkan bekas merah di pergelangan tangan dan kakinya. Mulutnya ditutup lakban. Lakban itu lengket, kuat, membuat ia sulit bernapas.
Di sekelilingnya, gudang kosong itu gelap dan lembap. Hanya satu lampu senter yang diletakkan di atas drum bekas, menerangi ruangan dengan cahaya kuning pucat yang berkedip-kedip, seperti detak jantung yang sekarat.
Bau apek tanah bercampur bensin. Bau yang tidak pernah ia kenali sebelumnya, tapi tidak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya. Bau gudang tua yang tidak terawat, yang atapnya bocor, yang dindingnya lapuk, yang lantainya becek.
Atap seng berkarat bolong di sana-sini. Melalui lubang-lubang itu, cahaya bulan masuk, menciptakan titik-titik cahaya pucat di lantai tanah. Titik-titik cahaya yang bergerak perlahan seiring dengan gerakan bulan di langit.
Dindingnya dari papan kayu tua yang lapuk. Beberapa papan sudah copot, menciptakan celah-celah kecil yang bisa digunakan untuk mengintip ke luar. Lantainya tanah, lembap, dan becek. Setiap kali ia bergerak, lumpur basah menempel di pakaiannya.
Tino, Bambang, dan Badrun duduk di pojok, bermain kartu dengan lampu senter. Suara kartu yang dikocok. Suara kartu yang dibanting. Suara tawa. Suara umpatan. Mereka tidak peduli dengan Ariyanti.
Bagi mereka, Ariyanti bukan manusia. Bukan perempuan. Bukan korban. Hanya "barang". Barang yang harus dijaga. Barang yang akan diserahkan pada Rahmadi. Barang yang tidak punya perasaan, tidak punya hak, tidak punya harga diri.
Tapi Ariyanti bukan barang.
Ia adalah pejuang.
Ia adalah Ariyanti dari Kersan. Gadis yang tidak pernah menyerah. Gadis yang sudah melalui fitnah, kebakaran, kecelakaan, koma, penculikan, dan hampir kehilangan ibunya. Gadis yang tetap berdiri meskipun dunia berusaha menjatuhkannya.
Meskipun tangannya terikat, meskipun mulutnya dibungkam, meskipun tubuhnya lemas karena obat bius yang masih tersisa di dalam darahnya, matanya tetap menyala. Matanya tetap melihat. Matanya tetap mengamati.
Ia terus mengamati sekeliling. Mencari celah. Mencari kelemahan. Mencari jalan keluar.
"Aku tidak akan menyerah," tekadnya dalam hati. Suaranya lantang, meskipun hanya ia yang bisa mendengar. "Aku tidak akan membiarkan mereka menghancurkanku. Aku tidak akan menjadi korban. Aku akan bertahan."
Ia tidak tahu bahwa malam itu, Rahmadi yang seharusnya berada di sel isolasi Lapas Kendal, entah bagaimana berhasil keluar.
Entah dengan menyogok petugas, dengan uang puluhan juta rupiah yang disiapkan dari rekening rahasia. Entah dengan bantuan orang luar yang masih setia, preman-preman yang tidak tertangkap dalam operasi terakhir. Entah dengan memanfaatkan celah keamanan, petugas yang sedang libur, pintu yang tidak terkunci.
Yang jelas, musuh bebuyutan itu kini berada di luar penjara. Bebas. Berkeliaran. Berbahaya. Dan sedang dalam perjalanan menuju gudang.
Rahmadi ingin bertemu Ariyanti secara langsung. Bukan melalui telepon. Bukan melalui surat. Bukan melalui perantara. Tapi langsung. Tatap muka.
Ia ingin melihat ketakutan di mata gadis yang selama ini menolaknya. Ia ingin mendengar suaranya bergetar saat memohon ampun. Ia ingin merasakan tubuhnya gemetar saat ia mendekat.
Ia ingin memaksakan kehendaknya. Bukan karena cinta. Rahmadi sudah tidak tahu apa itu cinta. Jika dulu ia pernah merasakan sesuatu yang mirip cinta, kini semua telah membusuk. Yang tersisa hanyalah obsesi. Obsesi gila yang sudah membusuk di hatinya selama bertahun-tahun. Obsesi yang tidak bisa ia kendalikan. Obsesi yang akan menghancurkan siapa pun yang menghalanginya.
Dan Ariyanti, di gudang yang gelap itu, dengan tangan terikat, kaki terikat, mulut tertutup, sendirian, harus menghadapi monster yang paling ia takuti.
Sendirian.
Tanpa Akang.
Tanpa Bu Sumi.
Tanpa Pak Dullah.
Tanpa polisi.
Hanya ia dan Rahmadi.
Rahmadi Kabur dari Lapas
Lapas Kelas II A Kendal, malam sebelumnya, pukul 23.00.
Seorang petugas lapas bernama Ponirin membuka sel isolasi Rahmadi dengan diam-diam. Kunci itu berat. Besi. Berkarat. Tapi ia sudah hafal cara membukanya.
Ponirin adalah petugas yang sudah bekerja di lapas ini selama 15 tahun. Ia dikenal sebagai petugas yang disiplin, yang tidak pernah menerima suap, yang tidak pernah melanggar peraturan.
Tapi semua orang punya harga.
Dan harga Ponirin adalah 50 juta rupiah. Uang yang sudah ditransfer ke rekening istrinya, tanpa sepengetahuan istrinya. Uang yang akan ia gunakan untuk biaya operasi anaknya yang sakit. Uang yang akan menyelamatkan nyawa anaknya, meskipun dengan mengorbankan nyawa orang lain.
"Mas Rahmadi, cepat." Ponirin membuka pintu sel. "Ini pakaian sipil. Pakai topi. Jangan bicara siapa-siapa. Jangan menoleh. Jangan menarik perhatian."
Rahmadi berganti pakaian dengan cepat. Kemeja putih lengan panjang, celana bahan hitam, jaket kulit, topi baseball. Pakaian yang tidak mencolok. Pakaian yang membuatnya terlihat seperti orang biasa.
Ia mengikuti Ponirin melewati lorong-lorong belakang lapas. Lorong yang gelap. Lorong yang tidak ada kameranya. Lorong yang hanya dikenal oleh petugas senior seperti Ponirin.
Mereka menuju pintu kecil di sisi barat lapas. Pintu yang tidak dijaga. Pintu yang biasanya digunakan untuk membuang sampah. Pintu yang tidak pernah diperiksa.
"Di luar sudah ada mobil, Mas." Ponirin membuka pintu. "Bapak akan mengantar Mas ke tempat yang diminta."
Rahmadi tersenyum jahat. Senyum yang tidak pernah sampai ke matanya. "Terima kasih, Pak Ponirin. Ada transfer tambahan untuk Bapak. 10 juta lagi. Setelah saya sampai di tempat aman."
"Tidak usah, Mas." Ponirin menggeleng. "Yang penting Bapak cepat pergi. Jangan sampai ketahuan."
Rahmadi melompat ke mobil yang sudah menunggu. Sebuah mobil box hitam, tanpa pelat nomor, tanpa stiker, tanpa identitas apa pun. Mesinnya sudah menyala. Sopirnya sudah siap.
"Ke gudang di Ngemplak," perintah Rahmadi.
"Baik, Mas."
Perjalanan Menuju Gudang
Jalan Raya Kendal – Pegandon, pukul 23.30.
Mobil melaju kencang di jalan yang gelap. Lampu depan mobil tidak dinyalakan, untuk menghindari perhatian polisi yang mungkin sedang berpatroli. Sopir itu sudah terbiasa. Ia sudah sering melakukan ini.
Rahmadi duduk di kursi belakang. Tangannya memegang sebuah benda kecil. Sebuah pisau lipat. Pisau hadiah dari ayahnya ketika ia masih kecil. Pisau yang sudah ia simpan bertahun-tahun, tidak pernah dipakai, tapi selalu ia bawa.
Ia membuka pisau itu. Menutupnya. Membukanya lagi. Menutupnya lagi.
"Malam ini, Ariyanti akan jadi milikku." Rahmadi berbicara pada dirinya sendiri, pada pisau di tangannya, pada kegelapan di luar jendela. "Dengan atau tanpa persetujuannya. Dengan atau tanpa cinta. Dengan atau tanpa perasaan."
Ia teringat semua penolakan Ariyanti. Setiap kata "tidak" yang keluar dari mulut gadis itu. Setiap kali Ariyanti memilih Akang. Setiap kali Ariyanti meninggalkannya sendirian.
Kata-kata itu terasa seperti tamparan di wajahnya. Tamparan yang meninggalkan bekas. Tamparan yang tidak bisa ia balas. Tamparan yang membuatnya malu di depan banyak orang.
"Kau pikir kau bisa seenaknya menolakku?" Rahmadi menggenggam pisau lebih erat. "Kau pikir kau bisa memilih laki-laki miskin dari Cegunan itu? Malam ini kau akan tahu siapa aku. Malam ini kau akan menyesal. Malam ini kau akan merasakan apa yang selama ini aku rasakan."
Pikiran Rahmadi kacau. Obat-obatan terlarang yang ia konsumsi di dalam penjara, dengan bantuan petugas korup yang juga ia sogok, mulai mempengaruhi jiwanya. Matanya merah. Wajahnya pucat. Tangannya gemetar.
Ia bukan lagi Rahmadi yang dingin dan terhitung. Bukan lagi Rahmadi yang bisa mengendalikan emosi. Bukan lagi Rahmadi yang punya rencana matang.
Ia adalah monster yang lepas kendali.
Ariyanti Menunggu
Gudang kosong, pukul 00.15 dini hari.
Ariyanti tidak bisa tidur.
Ia terus bergerak. Menggesekkan ikatan tali di tangannya ke ujung ranjang besi yang berkarat. Gesekan demi gesekan. Pelan tapi pasti. Suara gesekan itu pelan, tidak terdengar oleh Tino dan Bambang yang sedang tertidur.
Perlahan, talinya mulai putus.
Tino yang sedang berjaga mendekat. "Hei, diam! Jangan gerak-gerak!"
"MMMPPHHH!" Ariyanti berusaha berteriak. "Lepaskan aku!"
"Belum, Mbak." Tino tersenyum sinis. "Nanti kalau Mas Rahmadi datang. Belum saatnya."
Rahmadi? Ariyanti terperanjat. Jantungnya berhenti berdetak sejenak.
Rahmadi akan datang ke sini? Bukannya dia di penjara? Bukannya dia di sel isolasi? Bukannya dia tidak bisa keluar?
Tino tersenyum sinis. Seperti orang yang tahu lebih banyak dari yang ia tunjukkan.
"Iya, Mbak. Mas Rahmadi kabur dari lapas." Suaranya pelan, tidak ingin membangunkan Bambang. "Dia mau bicara langsung denganmu. Dia mau menyelesaikan semuanya malam ini."
Ariyanti menggigit bibirnya. Bibir bawahnya tergigit kuat, sampai hampir berdarah.
"Aku harus kabur sebelum dia datang."
Ia menggesekkan talinya lebih keras. Lebih cepat. Lebih panik.
Rahmadi Tiba
Gudang kosong, pukul 01.00.
Mobil box hitam berhenti di depan gudang. Lampu depan menyala sebentar, lalu mati. Mesin mati.
Rahmadi turun. Langkahnya percaya diri. Tidak ragu. Tidak takut.
Ia mengenakan jaket kulit hitam, topi baseball, dan sepatu boot. Pakaian yang membuatnya terlihat seperti preman, bukan seperti anak konglomerat yang dulu.
"Mas Rahmadi!" sapa Tino dari pintu.
"Di mana dia?" Rahmadi tidak membuang waktu.
"Di dalam, Mas."
Rahmadi masuk ke gudang.
Matanya menyesuaikan dengan kegelapan. Lampu senter yang diletakkan di atas drum hanya menerangi sebagian kecil ruangan.
Di sudut ruangan, ia melihat sesosok tubuh yang terbaring di ranjang darurat.
Ariyanti.
Rahmadi berjalan mendekat. Langkahnya pelan, sengaja, seperti predator yang mengintai mangsanya.
Ariyanti menatapnya. Matanya penuh kebencian. Tapi di balik kebencian itu, ada juga ketakutan. Ketakutan yang tidak bisa ia sembunyikan.
Rahmadi menyobek lakban di mulut Ariyanti.
"PLAK!"
Suara lakban yang disobek keras, memecah keheningan gudang. Ariyanti menahan sakit. Bibirnya terasa perih. Kulit di sekitar mulutnya terasa seperti terbakar.
"Akhirnya kita bertemu lagi, Ariyanti." Rahmadi duduk di kursi di hadapannya. Suaranya rendah, lembut, tapi mengancam.
"Apa maumu, Rahmadi?" Suara Ariyanti dingin.
"Aku ingin apa yang selama ini aku inginkan." Rahmadi tersenyum. "Kamu."
Rahmadi Memaksa
Gudang kosong, pukul 01.15.
Rahmadi duduk di kursi di hadapan Ariyanti. Tangannya memegang pisau lipat. Sesekali ia mainkan, membuka dan menutup, membuka dan menutup.
"Ariyanti, kau tahu?" Suaranya pelan, seperti sedang bercerita. "Aku sudah mencoba segalanya untuk mendapatkanmu. Mawar seratus tangkai. Uang. Kekuasaan. Fitnah. Preman. Aku sudah melakukan semuanya."
"Tapi kau tetap memilih Akang." Rahmadi menatap Ariyanti. "Laki-laki miskin dari Cegunan itu. Laki-laki yang tidak punya apa-apa. Laki-laki yang hampir mati berkali-kali."
"Akang lebih baik daripada kamu seribu kali lipat." Ariyanti tidak mundur. "Akang tidak pernah menyakiti siapa pun. Akang tidak pernah memaksa. Akang tidak pernah merendahkan."
Rahmadi tertawa. "Baik? Kebaikan tidak akan membuatmu kaya. Kebaikan tidak akan membuatmu hidup nyaman. Kebaikan tidak akan memberimu masa depan."
"Aku tidak butuh kaya, Rahmadi." Ariyanti menatapnya lurus. "Aku butuh bahagia. Dan kebahagiaanku bukan bersamamu. Tidak akan pernah."
Rahmadi berdiri. Wajahnya berubah tegang. Matanya merah.
"KAU TIDAK BISA MEMILIH, ARIYANTI!" teriaknya. "MALAM INI KAU AKAN JADI MILIKKU! SUKA ATAU TIDAK SUKA! SETUJU ATAU TIDAK SETUJU! AKU TIDAK PEDULI!"
Rahmadi mendekat.
Ariyanti meronta. "JANGAN DEKAT! JANGAN SENTUH AKU!"
Ariyanti Melawan
Gudang kosong, pukul 01.20.
Rahmadi meraih bahu Ariyanti. Tangannya kasar. Kuat. Tidak bisa dilawan.
Tapi Ariyanti tidak tinggal diam.
Ia menyepak Rahmadi dengan kakinya yang masih terikat. Sepakan itu tidak kuat. Tapi cukup untuk membuat Rahmadi kaget.
"ARRGGHH!"
Rahmadi terjatuh. Pantatnya menyentuh lantai tanah yang becek. Pisau di tangannya terlepas, jatuh di dekat Ariyanti.
"KEPARAT!" Rahmadi bangkit. "KAU BERANI TENDANG AKU? KAU BERANI MELAWAN?"
Ariyanti meraih pisau itu dengan tangannya yang hampir bebas. Satu tali sudah putus. Tangan kanannya bebas. Ia memotong sisa ikatan di tangan kirinya, lalu di kakinya.
Tino yang melihat berteriak, "MAS RAHMADI! DIA LEPAS! DIA NGAMBIL PISAU!"
"TANGKAP DIA!" Rahmadi berteriak.
Tino dan Bambang berlari mendekat.
Tapi Ariyanti sudah berdiri. Ia memegang pisau di tangannya. Tangan gemetar. Keringat dingin mengucur. Tapi matanya liar. Matanya siap.
"JANGAN DEKAT!" Ariyanti menghunuskan pisau ke depan. "AKU TIDAK TAKUT MATI! AKU TIDAK TAKUT KALIAN!"
Tino dan Bambang berhenti.
Mereka tidak menyangka Ariyanti seberani itu. Mereka tidak menyangka seorang gadis desa yang kurus dan kecil bisa seberani itu.
Rahmadi Mengamuk
Gudang kosong, pukul 01.25.
"KALIAN BERDUA PENGGECUT!" Rahmadi mendorong Tino dan Bambang. "CUKUP LAWAN ANAK PEREMPUAN SAJA TAKUT! KALIAN PREMAN ATAU AYAM?"
Rahmadi maju sendiri.
"Aku yang akan selesaikan ini."
Ariyanti mengacungkan pisau ke arahnya. Tangannya gemetar, tetapi ia tidak mundur.
"Rahmadi, jangan paksa aku!"
"KAU TIDAK AKAN BERANI, ARIYANTI!" Rahmadi terus maju. "KAU TIDAK AKAN BERANI MENIKAM! KAU PEREMPUAN LEMAH! KAU TIDAK BERANI!"
"BERHENTI!"
"TIDAK AKAN!"
Rahmadi meraih tangan Ariyanti. Mereka bergulat. Tubuh mereka beradu. Napas mereka tersengal.
Pisau nyaris mengenai lengan Rahmadi. Hampir. Tapi tidak.
"LEPASKAN!"
"TIDAK AKAN!" Rahmadi tertawa. "KAU AKAN JADI MILIKKU MALAM INI!"
Suara Sirine dari Kejauhan
Gudang kosong, pukul 01.30.
Tiba-tiba, dari kejauhan, terdengar suara sirine polisi.
Bukan satu. Tapi beberapa. Banyak.
"SIAL! POLISI!" teriak Tino.
"BAGAIMANA MEREKA TAHU?" teriak Bambang.
Rahmadi panik. Ia melepaskan Ariyanti. Wajahnya pucat.
"Ini belum selesai, Ariyanti!" Rahmadi berlari menuju pintu belakang gudang. "Ini belum selesai!"
Tino dan Bambang mengikuti. Badrun yang sedang jaga di luar sudah kabur lebih dulu.
Ariyanti jatuh terduduk di lantai. Pisau terlepas dari tangannya. Ia menangis.
Bukan karena takut. Tapi karena lega.
Polisi Masuk
Gudang kosong, pukul 01.35.
Bripka Joko dan timnya masuk ke gudang dengan senjata teracung. Lampu senter menyala dari berbagai arah.
"ARIYANTI!"
"Pak... saya di sini..."
Bripka Joko mendekat. "Kamu tidak apa-apa? Mereka menyakitimu? Mereka memukulmu?"
"Aku... aku selamat, Pak." Ariyanti masih gemetar. "Mereka kabur. Rahmadi kabur lewat pintu belakang. Tino dan Bambang juga."
"Ke mana?"
"Ada mobil hitam. Saya tidak tahu plat nomornya."
"Kejar!" Bripka Joko memberi perintah.
Beberapa polisi berlari ke pintu belakang. Tapi mobil hitam itu sudah melaju kencang, menghilang di kegelapan malam.
Akang Menyusul
Gudang kosong, pukul 01.40.
Akang datang bersama Pak Lurah dan Pak Dullah. Mereka menggunakan mobil Pak Lurah.
"Ari! ARI!" Akang berlari ke dalam gudang. Wajahnya pucat. Matanya merah.
Ia melihat Ariyanti duduk di lantai. Wajahnya pucat. Bajunya kotor, terkena lumpur. Rambutnya acak-acakan.
"Ari... kamu..."
"Kang..." Ariyanti memeluk Akang. "Aku selamat... aku selamat..."
"Aku takut, Kang." Ariyanti menangis di bahu Akang. "Aku takut dia... dia mau..."
"Aku tahu." Akang memeluknya erat. "Tapi kamu selamat. Itu yang penting. Kamu selamat."
Pengakuan Tino
Polsek Pegandon, dini hari.
Tino yang tertangkap saat mencoba kabur lewat hutan dibawa ke polsek. Wajahnya babak belur. Tangannya diborgol.
"Siapa yang menyuruh kalian?" Bripka Joko bertanya.
"Rahmadi."
"Dia di mana sekarang?"
"Kabur. Saya tidak tahu." Tino menunduk. "Dia kabur duluan. Meninggalkan kami."
"Apa yang dia rencanakan dengan Ariyanti?"
Tino diam.
"Apa?" Bripka Joko meninggikan suara.
"Maunya... maunya memaksa." Tino tidak berani menatap. "Dia mau... dia mau..."
Bripka Joko mengepalkan tangan. "Binatang."
Rahmadi Buron
Lapas Kendal, pagi hari.
Kabarnya Rahmadi kabur dari lapas membuat heboh. Polisi dan TNI diterjunkan untuk memburunya. Puluhan personel. Ratusan personel.
"Rahmadi harus segera ditangkap." Kapolres Kendal memimpin rapat darurat. "Dia berbahaya. Dia tidak punya apa-apa lagi untuk hilang."
Semua jalur keluar dari Kendal dijaga. Pos-pos polisi didirikan di setiap perbatasan. Di setiap terminal. Di setiap stasiun.
Tapi Rahmadi sudah bersembunyi.
Ia punya banyak tempat persembunyian dari masa lalunya. Rumah-rumah kosong milik ayahnya. Gudang-gudang bekas bisnisnya. Teman-teman lama yang masih setia.
Polisi tidak tahu harus mulai dari mana.
Ariyanti Trauma
Rumah Ariyanti, pagi itu.
Ariyanti tidak mau keluar kamar.
Ia hanya duduk di sudut. Memeluk lutut. Menatap kosong ke dinding anyaman bambu.
Matanya merah. Wajahnya pucat. Rambutnya acak-acakan.
"Yan , makan dulu." Ibu Ariyanti membawa nasi bungkus. "Kamu belum makan sejak kemarin."
"Aku tidak lapar, Bu."
"Kamu harus makan, Yan ." Ibu Ariyanti duduk di sampingnya. "Badanmu butuh energi."
"Tinggalkan aku sendiri, Bu."
Ibu Ariyanti menangis. Ia keluar kamar. Ia menelepon Bu Sumi.
"Bu, Ariyanti trauma." Suaranya bergetar. "Dia tidak mau makan. Tidak mau bicara. Tidak mau keluar kamar."
"Biarkan dia sendiri dulu." Bu Sumi menasihati. "Tapi jangan ditinggal. Jangan sampai dia sendirian terlalu lama."
Akang Menemani Ariyanti
Rumah Ariyanti, siang itu.
Akang datang.
Ia duduk di samping Ariyanti. Tidak bicara. Hanya menemani.
"Ari, aku di sini." Suaranya pelan.
"Kang... aku masih takut." Ariyanti tidak menatapnya. "Setiap kali aku pejamkan mata, aku melihat wajah Rahmadi. Setiap kali aku mendengar suara, aku mengira dia datang."
"Aku akan lindungi kamu, Ari." Akang menggenggam tangannya. "Tidak akan ada yang bisa menyakitimu lagi. Aku janji."
"Janji?"
"Janji."
Membacakan Puisi untuk Menenangkan
Rumah Ariyanti, sore itu.
"Ari, aku akan bacakan puisi." Akang mengambil buku puisi yang selalu Ariyanti bawa. Buku tipis dengan sampul biru muda.
Ia membuka halaman. Membaca dengan suara pelan.
"Setelah badai berlalu."
"Setelah gelap menyelimuti."
"Kau masih di sini."
"Meskipun takut, meskipun lelah."
"Kau bertahan."
"Kau lebih kuat dari yang kau kira."
"Kau lebih berani dari yang kau bayangkan."
"Karena kau tidak sendirian."
"Ada aku, ada dia, ada kita semua."
Ariyanti menangis. "Kang... aku akan berusaha."
Rahmadi Semakin Terpojok
Tempat persembunyian Rahmadi, sore itu.
Rahmadi bersembunyi di rumah kosong di pinggir hutan. Rumah yang ditinggalkan pemiliknya. Rumah yang tidak terawat. Rumah yang hanya ada laba-laba dan debu.
Ia sendirian.
Tino dan Bambang sudah ditangkap. Badrun kabur ke luar kota, mungkin ke Malaysia, mungkin ke Singapura.
Ia tidak punya siapa-siapa lagi.
"Aku tidak akan menyerah." Rahmadi berbicara pada dinding. "Aku tidak akan kalah."
Tapi di dalam hatinya, ia tahu.
Ia sudah kalah. Sejak awal. Sejak pertama kali ia mencoba memiliki Ariyanti dengan paksa.
"Apa yang aku lakukan?" Ia menunduk. "Aku kabur dari penjara. Aku menculik. Aku hampir..."
Ia tidak bisa melanjutkan kalimatnya.
Surat untuk Herman
Rumah kosong, malam itu.
Rahmadi menulis surat untuk Herman.
Ia tidak punya kertas. Ia menggunakan sobekan kertas koran yang ia temukan di lantai. Ia tidak punya pulpen. Ia menggunakan arang dari tungku dapur.
"Ayah..."
"Aku sudah jatuh terlalu dalam. Aku tidak tahu apakah masih ada jalan kembali."
"Aku menyesal. Aku menyesal tidak mendengarkan Ayah sejak awal. Aku menyesal tidak menjadi anak yang baik."
"Aku akan menyerahkan diri besok. Doakan aku, Ayah. Doakan aku bisa menjadi manusia yang lebih baik."
"Rahmadi."
Ia melipat surat itu. Memasukkannya ke saku jaket.
Polisi Menemukan Rahmadi
Rumah kosong, keesokan paginya.
Sebelum Rahmadi sempat menyerahkan diri, polisi sudah menemukan tempat persembunyiannya.
"RAHMADI! KELUAR DENGAN TANGAN DI ATAS KEPALA!"
Rahmadi keluar.
Tangannya terangkat. Wajahnya lelah. Matanya sayu.
"Aku menyerah."
"Rahmadi, saudara kami tangkap." Bripka Joko memborgolnya. "Atas tuduhan kabur dari lapas, penculikan, dan percobaan kekerasan."
"Aku tahu."
Rahmadi Dibawa ke Lapas
Lapas Kendal, siang itu.
Rahmadi digiring ke sel isolasi. Sel isolasi super. Tidak ada jendela. Tidak ada ventilasi. Dua pintu besi. Empat petugas berjaga setiap saat.
Tidak akan ada lagi kesempatan kabur.
Herman datang mengunjungi. Wajahnya tua. Matanya sayu.
"Nak, kenapa? Kenapa kau lakukan itu?"
"Aku gila, Ayah."
"Kamu tidak gila, Nak." Herman menggeleng. "Kamu hanya tersesat."
"Apa masih ada jalan kembali, Ayah?" Rahmadi menangis.
"Selalu ada, Nak." Herman memegang kaca. "Selama kau masih hidup. Selama kau masih bernapas."
Ariyanti Mulai Pulih
Rumah Ariyanti, beberapa hari kemudian.
Ariyanti mulai mau makan.
Mulai mau bicara.
Mulai mau tersenyum.
"Ari, aku dengar Rahmadi sudah ditangkap lagi." Akang menggenggam tangannya.
"Aku lega, Kang."
"Dia tidak akan bisa menyakitimu lagi."
"Aku tahu." Ariyanti menghela napas. "Tapi bayangannya masih ada. Setiap kali aku memejamkan mata, aku masih melihat wajahnya. Setiap kali aku mendengar suara, aku masih mengira dia datang."
"Lambat laun akan hilang." Akang menggenggam lebih erat. "Aku di sini. Aku tidak akan pergi."
Mereka berpegangan tangan.
Di luar, matahari bersinar cerah.
Seperti harapan yang kembali menyala.
BAB 40
PERTOLONGAN DARI MASA LALU
Pak Dullah yang kebetulan melihat mobil mencurigakan, segera memberitahu Bu Sumi dan polisi.
Tegorejo, malam penculikan Ariyanti, November 1999, pukul 22.00.
Malam itu, Pak Dullah tidak bisa tidur.
Bukan karena ia tidak mengantuk. Tubuhnya yang sudah tua, yang sudah melewati batas usia pensiun, seharusnya membutuhkan lebih banyak istirahat. Tapi ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan. Sesuatu yang membuatnya gelisah.
Sejak pensiun sebagai penjaga sekolah, ia lebih sering begadang. Mungkin karena ia tidak perlu lagi bangun pagi-pagi untuk membuka gerbang. Mungkin karena tidurnya sudah mulai berkurang seiring usia. Tapi malam ini, alasan utamanya adalah rasa khawatir.
Pikirannya terus menerus mengkhawatirkan Ariyanti.
Gadis itu belum pulang. Biasanya, Ariyanti sudah sampai di rumah sebelum magrib. Tapi malam ini, sudah pukul sepuluh, belum ada kabar. Rumahnya gelap. Tidak ada cahaya lampu minyak. Tidak ada suara.
"Apa gadis itu sudah pulang dengan selamat?" gumam Pak Dullah sambil duduk di teras rumahnya.
Rumah Pak Dullah sederhana. Terletak di pinggir Dusun Cegunan, tidak jauh dari rumah Akang. Dinding anyaman bambu yang sudah rapuh. Atap rumbia yang sudah menghitam. Lantai tanah yang dipadatkan.
Ia menyeruput kopi pahit buatan sendiri. Kopi tubruk tanpa gula, hitam pekat seperti malam. Lampu minyak tanah di sampingnya menerangi wajah keriputnya, membuat bayangan-bayangan di dinding.
Angin malam berembus dingin. Tidak seperti biasanya. Angin ini membawa bau tanah basah. Mungkin akan hujan.
Tiba-tiba, dari kejauhan, ia melihat sorot lampu mobil.
Bukan satu, tapi dua mobil.
Mobil pertama adalah mobil box hitam tanpa pelat nomor. Mobil yang tidak asing baginya. Mobil itu sering ia lihat di sekitar desa beberapa minggu terakhir. Mobil itu terparkir di depan losmen tempat Suprapto menginap. Mobil itu melintas di Jalan Randu Gembyang pada jam-jam ganjil.
Mobil kedua adalah mobil pribadi berwarna abu-abu. Bukan mobil mewah. Tapi cukup mahal untuk ukuran desa.
"Mobil box hitam..." Pak Dullah mengernyit. "Bukankah itu mobil yang digunakan preman untuk...?"
Ia teringat.
Beberapa hari lalu, ia melihat mobil box hitam yang sama terparkir di dekat losmen tempat Suprapto menginap. Waktu itu, ia curiga. Tapi ia tidak terlalu memikirkan. Mungkin ada tamu. Mungkin ada urusan bisnis. Mungkin tidak ada hubungannya dengan mereka.
Tapi malam ini, mobil itu melaju ke arah Jalan Randu Gembyang. Arah yang sama dengan tempat Ariyanti biasanya pulang. Arah yang sama dengan rumah Ariyanti. Arah yang sama dengan lokasi-lokasi yang biasa ia lalui.
Pak Dullah berdiri.
Dadanya berdebar.
Firasatnya tidak enak. Firasat yang pernah menyelamatkannya dari bahaya puluhan tahun lalu, ketika ia masih bekerja sebagai sopir keluarga H. Rahmat. Firasat yang membuatnya selamat dari pemecatan yang hampir merenggut nyawanya.
"Ariyanti!" bisiknya.
Pak Dullah Mengikuti Mobil
Jalan Randu Gembyang, pukul 22.15.
Pak Dullah memutuskan untuk mengikuti mobil itu.
Ia tidak punya kendaraan. Tidak punya sepeda motor. Tidak punya sepeda. Hanya dua kaki yang sudah tua, yang sudah tidak sekencang dulu, yang sudah sering terasa nyeri di persendian.
Tapi ia tetap berusaha.
Ia berjalan cepat menyusuri Jalan Randu Gembyang yang gelap. Jalan yang tidak memiliki lampu penerangan. Jalan yang hanya diterangi cahaya bulan yang tersembunyi di balik awan.
Sesekali ia berlari kecil. Meskipun dadanya terasa sesak. Meskipun napasnya tersengal-sengal. Meskipun kakinya terasa berat.
"Aku harus tahu ke mana mereka pergi."
Mobil box hitam itu berbelok ke arah timur. Meninggalkan jalan utama. Menuju jalan setapak yang jarang dilalui. Jalan tanah yang berbatu. Jalan yang hanya bisa dilalui oleh mobil dengan ban besar.
Pak Dullah mengenali jalan itu.
Jalan itu menuju ke gudang kosong di Ngemplak. Bekas gudang penyimpanan pupuk yang sudah tidak terpakai sejak 10 tahun lalu. Gudang yang terletak di pinggir hutan. Gudang yang sepi, tidak ada rumah di sekitarnya. Gudang yang sempurna untuk tempat persembunyian.
Pak Dullah pernah bekerja di gudang itu dulu. Sebelum menjadi sopir keluarga H. Rahmat. Dulu, ia adalah buruh angkut pupuk. Setiap hari, ia mengangkat karung-karung pupuk dari truk ke gudang, dan dari gudang ke truk.
Ia tahu persis lokasinya. Tahu setiap tikungan. Tahu setiap pohon. Tahu setiap batu.
"Mereka pasti membawa Ariyanti ke sana!"
Pak Dullah berbalik.
Ia tidak bisa masuk ke gudang sendirian. Ia tidak punya senjata. Tidak punya kekuatan. Tidak punya keberanian untuk melawan preman-preman bersenjata.
Ia butuh bantuan.
Pak Dullah ke Rumah Bu Sumi
Rumah Bu Sumi, pukul 22.45.
Pak Dullah berlari sekencang mungkin menuju rumah Bu Sumi.
Jarak dari Jalan Randu Gembyang ke rumah Bu Sumi sekitar satu kilometer. Biasanya, ditempuh dengan berjalan santai dalam waktu 15 menit. Tapi malam ini, ia tempuh dalam 5 menit.
Ia berlari. Meskipun dadanya terasa sesak. Meskipun jantungnya berdebar kencang. Meskipun keringat mengucur di sekujur tubuhnya.
Ia tidak berhenti.
"BU SUMI! BU SUMI!" teriaknya dari luar pagar.
Bu Sumi yang sedang membaca buku di ruang tamu terkejut. Buku di tangannya hampir jatuh. Ia mengenali suara itu. Suara Pak Dullah. Tapi kenapa malam-malam? Kenapa suaranya panik?
Ia membuka pintu.
"Pak Dullah? Ada apa? Malam-malam begini."
"Bu, saya melihat mobil box hitam yang dulu dipakai preman Rahmadi." Pak Dullah mengatur napas. "Saya ikuti. Mereka pergi ke gudang kosong di Ngemplak."
"Apa hubungannya dengan Ariyanti?" Bu Sumi mengernyit.
"Ariyanti belum pulang, Bu!" Pak Dullah hampir berteriak. "Saya dengar dari tetangga. Rumahnya gelap. Ibunya cemas. Saya curiga mereka menculik dia!"
Bu Sumi memucat. Wajahnya berubah pucat. Tangannya gemetar.
"Astaga!" Ia memegang dada. "Cepat, kita lapor polisi!"
Menghubungi Polisi
Rumah Bu Sumi, pukul 22.50.
Bu Sumi menelepon Bripka Joko. Telepon rumahnya adalah salah satu dari sedikit telepon di Pegandon. Telepon kuno, dengan gagang berat dan putaran nomor.
Jarinya gemetar saat memutar nomor.
"Pak Bripka, ini Bu Sumi." Suaranya bergetar. "Ariyanti diduga diculik. Dibawa ke gudang kosong di Ngemplak."
"Apa? Siapa yang melaporkan?" Suara Bripka Joko di seberang terdengar kaget.
"Pak Dullah." Bu Sumi mengatur napas. "Dia melihat mobil box hitam menuju ke sana. Dia curiga. Dia mengikuti dari kejauhan."
"Kami akan segera bergerak, Bu." Bripka Joko bicara cepat. "Jaga diri kalian baik-baik. Jangan mendekati lokasi. Biarkan polisi yang menangani."
"Baik, Pak."
Polisi Bergerak
Polsek Pegandon, pukul 23.00.
Bripka Joko meletakkan telepon. Wajahnya serius.
Ia mengerahkan seluruh personel yang ada. Yang sedang bertugas malam. Yang sedang libur. Yang sedang tidur. Semua dipanggil.
Dua mobil polisi. Satu mobil pengangkut personel. Semua lampu dimatikan. Semua sirine tidak dinyalakan.
Mereka juga minta bantuan Polres Kendal. Polisi bersenjata lengkap. Polisi dengan anjing pelacak. Polisi dengan peralatan khusus.
"Awas, jangan bunuh jika tidak terpaksa." Bripka Joko memberi perintah. "Tapi jika mereka melawan, jika mereka membahayakan korban, tembak. Jangan ragu."
"SIAP, PAK!"
Iring-iringan mobil polisi melaju kencang menuju Gudang Ngemplak.
Pak Dullah Menuju Gudang
Jalan menuju gudang, pukul 23.15.
Meskipun sudah melapor ke polisi, Pak Dullah tidak bisa diam.
Ia berjalan menuju gudang sendirian. Tidak sabar. Tidak bisa menunggu. Ingin memastikan Ariyanti masih ada di sana. Ingin memastikan ia belum terluka. Ingin memastikan ia masih hidup.
"Pak Dullah, jangan! Berbahaya!" teriak Bu Sumi dari belakang. "Tunggu polisi!"
"Aku tidak bisa diam, Bu." Pak Dullah tidak menoleh. "Ariyanti mungkin dalam bahaya. Setiap detik sangat berharga."
"Tapi Bapak bisa celaka!"
"Polisi butuh waktu, Bu." Pak Dullah berhenti. Ia menatap Bu Sumi. Matanya berkaca-kaca. "Saya sudah tua. Saya tidak takut mati."
Bu Sumi menghela napas.
"Baik, saya ikut." Ia berjalan mendekat. "Tapi kita hanya mengintai dari kejauhan. Jangan mendekat. Jangan sampai ketahuan."
Mereka berdua berjalan menuju gudang dengan hati-hati. Sepanjang jalan, mereka tidak bicara. Hanya suara langkah kaki dan suara napas.
Mengintai dari Kejauhan
Dekat gudang, pukul 23.30.
Pak Dullah dan Bu Sumi bersembunyi di balik semak-semak, sekitar 100 meter dari gudang.
Semak itu lebat. Daun-daunnya rimbun. Batangnya berduri. Tapi cukup untuk menutupi tubuh mereka dari pandangan.
Dari kejauhan, mereka melihat mobil box hitam dan mobil abu-abu terparkir di depan gudang. Lampu depan mobil dimatikan. Hanya lampu kabin yang menyala redup.
Ada beberapa orang preman berjaga di luar. Tino dan Bambang terlihat sedang merokok sambil berbicara. Suara mereka tidak terdengar jelas. Tapi gerak-gerik mereka mencurigakan.
"Aku lihat Tino," bisik Pak Dullah.
"Dan Bambang." Bu Sumi mengamati. "Mereka preman yang dulu mengeroyok Akang. Yang dulu membakar bengkel Pak Karyo."
"Apakah Ariyanti di dalam?"
"Sepertinya." Bu Sumi menggigit bibir. "Kita harus menunggu polisi."
Mendengar Jeritan
Dekat gudang, pukul 23.45.
Tiba-tiba, dari dalam gudang terdengar jeritan.
Jeritan perempuan. Jeritan ketakutan. Jeritan yang memecah keheningan malam.
"TOLONG! JANGAN DEKAT!"
Bu Sumi memucat. Wajahnya berubah pucat.
"Itu suara Ariyanti!" bisiknya. "Aku kenal suara itu. Itu pasti Ariyanti."
"Aku harus masuk!" Pak Dullah bangkit.
"Jangan!" Bu Sumi menarik tangannya. "Nanti Bapak yang celaka! Mereka punya senjata!"
"Aku tidak peduli!" Pak Dullah berusaha melepaskan. "Ariyanti butuh pertolongan!"
"Lihat!" Bu Sumi menunjuk ke arah jalan. "Ada mobil polisi!"
Dari kejauhan, tampak lampu sorot mobil polisi. Bukan satu. Banyak.
Polisi Tiba
Gudang, pukul 00.15 dini hari.
Bripka Joko dan timnya tiba dengan sirine meraung. Lampu rotator menyala merah-biru. Suara sirine memecah keheningan malam, membuat burung-burung hutan terbang berhamburan.
Preman-preman yang berjaga di luar panik.
"POLISI! LARI!" teriak salah satu dari mereka.
Tino dan Bambang berusaha kabur. Tino ke arah hutan. Bambang ke arah mobil.
Tapi polisi sudah mengepung.
"ANGKAT TANGAN! JANGAN BERGERAK!" teriak Bripka Joko.
Tino menyerah. Tangannya terangkat. Bambang mencoba lari ke hutan, tapi polisi menembak kakinya.
"AARRGGHH!" Bambang jatuh. Darah mengucur dari kakinya.
Badrun yang sedang jaga di belakang gudang berhasil kabur. Tapi polisi sudah tahu identitasnya. Akan dicari. Akan dikejar. Akan ditangkap.
Polisi Masuk ke Gudang
Gudang, pukul 00.20.
Bripka Joko dan dua polisi lainnya masuk ke gudang dengan senjata teracung. Lampu senter menyala. Pintu kayu yang lapuk mereka tendang.
Di dalam, mereka melihat pemandangan yang membuat darah mereka mendidih.
Rahmadi sedang memegang tangan Ariyanti. Ariyanti terlihat ketakutan. Bajunya kotor. Rambutnya acak-acakan. Wajahnya basah oleh air mata.
"RAHMADI! LEPASKAN DIA!" Bripka Joko mengacungkan senjata.
Rahmadi terkejut. Ia melepaskan Ariyanti.
"Ini belum selesai!" Rahmadi berusaha lari ke pintu belakang.
"KEJAR!"
Rahmadi berhasil kabur lewat pintu belakang. Tapi polisi sudah mengepung area. Tidak ada jalan keluar.
Ariyanti Selamat
Gudang, pukul 00.25.
Ariyanti jatuh terduduk di lantai. Ia menangis. Tangis yang tertahan. Tangis yang keluar dari lubuk hatinya yang paling dalam.
"Ariyanti, kamu tidak apa-apa?" Bripka Joko mendekat.
"Aku... aku selamat, Pak." Suara Ariyanti bergetar. "Mereka... mereka tidak..."
"Syukurlah."
Bu Sumi dan Pak Dullah masuk ke gudang.
"Ari! Syukurlah kamu selamat!" Bu Sumi memeluk Ariyanti.
"Bu... aku takut..." Ariyanti menangis di bahu Bu Sumi.
"Tenang, Nak." Bu Sumi mengelus rambut Ariyanti. "Sekarang kamu aman. Polisi di sini. Kami di sini."
Pak Dullah hanya bisa mengusap air matanya. Ia berdiri di pojok, tidak berani mendekat. Tapi hatinya lega.
"Dia selamat," bisiknya. "Dia selamat."
Rahmadi Buron
Hutan di belakang gudang, pukul 00.30.
Rahmadi berlari sekencang mungkin ke dalam hutan. Dahan-dahan pohon mencakar wajah dan tangannya. Akar-akar pohon menjerat kakinya.
Tapi ia tidak berhenti. Ia terus berlari.
Namun polisi sudah memblokir semua jalur keluar. Mereka tahu hutan ini. Mereka tahu setiap jalan setapak. Mereka tahu setiap sungai kecil.
"RAHMADI! MENYERAHLAH! ANDA TIDAK BISA KABUR!" teriak Bripka Joko dari kejauhan.
Rahmadi berhenti.
Nafasnya tersengal. Keringat mengucur. Wajahnya penuh luka.
Di depannya, tiga polisi berdiri dengan senjata teracung. Tidak ada jalan keluar.
"Aku menyerah."
Rahmadi mengangkat tangan. Polisi memborgolnya.
Rahmadi Dibawa ke Polsek
Polsek Pegandon, pukul 01.00.
Rahmadi digiring ke mobil polisi. Wajahnya lelah. Matanya kosong.
"Rahmadi, Anda akan dijerat pasal penculikan, percobaan kekerasan, dan kabur dari lapas." Bripka Joko membaca dakwaan.
"Terserah." Rahmadi tidak menatap. "Aku sudah lelah."
"Apa Anda tidak menyesal?" Bripka Joko bertanya.
Rahmadi tidak menjawab.
Ia hanya menatap langit malam yang gelap.
Pak Dullah Menjadi Pahlawan
Gudang, setelah polisi pergi.
Pak Dullah duduk di luar gudang, di atas batu besar yang berlumut. Tubuhnya kelelahan. Kakinya sakit. Dadanya terasa sesak.
Bu Sumi menghampiri.
"Pak Dullah, Bapak pahlawan." Bu Sumi duduk di sampingnya.
"Aku bukan pahlawan." Pak Dullah menggeleng. "Aku hanya manusia biasa yang tidak tega melihat anak orang dalam bahaya."
"Tanpa Bapak, mungkin Ariyanti tidak akan selamat." Bu Sumi menggenggam tangannya. "Tanpa informasi Bapak, polisi tidak akan tahu di mana mereka bersembunyi."
"Aku hanya kebetulan melihat mobil itu." Pak Dullah tersenyum pahit. "Itu pertolongan dari masa laluku."
"Masa lalu Bapak?" Bu Sumi mengernyit.
"Dulu, saya sering melewati jalan ini sebagai sopir." Pak Dullah menatap kejauhan. "Saya tahu setiap tikungan. Setiap gudang. Setiap tempat persembunyian. Pengetahuan itu, yang dulu tidak pernah berguna, sekarang menyelamatkan nyawa."
Ariyanti Berterima Kasih
Rumah Ariyanti, keesokan harinya.
Ariyanti sudah kembali ke rumah. Tubuhnya masih lemas. Matanya masih sayu. Tapi jiwanya mulai tenang.
Pak Dullah datang menjenguk. Ia membawa buah-buahan dari kebunnya.
"Nak Ariyanti, bagaimana perasaanmu?" Pak Dullah duduk di kursi bambu.
"Sudah lebih baik, Pak." Ariyanti tersenyum tipis. "Terima kasih sudah menyelamatkan saya."
"Aku hanya melakukan yang benar, Nak." Pak Dullah menunduk. "Setiap orang akan melakukan hal yang sama."
"Tidak, Pak." Ariyanti menggeleng. "Tidak semua orang seberani Bapak. Tidak semua orang mau mengambil risiko."
"Tanpa Bapak, mungkin saya sudah..." Ariyanti tidak bisa melanjutkan.
"Jangan bicara seperti itu, Nak." Pak Dullah menggenggam tangannya. "Yang penting kamu selamat. Yang penting kamu masih hidup."
Ariyanti memeluk Pak Dullah.
Bu Sumi Memuji Pak Dullah
Rumah Bu Sumi, sore itu.
"Pak Dullah, Ibu ingin mengucapkan terima kasih secara resmi." Bu Sumi menuangkan teh untuk Pak Dullah. "Ibu akan usulkan Bapak mendapat penghargaan dari desa."
"Tidak usah, Bu." Pak Dullah menggeleng. "Saya tidak butuh penghargaan."
"Tapi Bapak sudah menyelamatkan nyawa Ariyanti." Bu Sumi tidak menyerah. "Bapak sudah menjadi pahlawan bagi kami."
"Itu sudah lebih dari cukup sebagai penghargaan." Pak Dullah tersenyum. "Melihat Ariyanti selamat, melihat dia tersenyum lagi, itu sudah lebih dari cukup."
Bu Sumi tersenyum. "Bapak baik hati, Pak Dullah."
Akang Berterima Kasih pada Pak Dullah
Rumah Pak Dullah, malam itu.
Akang datang sendirian. Ia membawa bingkisan sederhana. Buah-buahan dari kebun. Sayur-sayuran dari sawah. Tidak mahal. Tapi penuh makna.
"Pak Dullah, saya tidak tahu harus membalas." Akang menunduk.
"Kamu tidak perlu membalas, Kang." Pak Dullah menepuk pundaknya. "Cukup jaga Ariyanti baik-baik. Cukup buat dia bahagia."
"Janji, Pak." Akang menatap Pak Dullah. "Saya akan jaga dia. Saya akan lindungi dia. Saya tidak akan biarkan siapa pun menyakitinya lagi."
"Kamu anak baik, Kang." Pak Dullah tersenyum. "Saya bangga bisa membantu."
Akang memeluk Pak Dullah.
Pak Lurah Mengusulkan Penghargaan
Kantor Lurah, minggu berikutnya.
Pak Lurah mengusulkan Pak Dullah mendapat penghargaan "Warga Teladan" atas jasanya menyelamatkan Ariyanti.
"Pak Dullah, Bapak berkenan?" Pak Lurah menatap Pak Dullah.
"Saya terima, Pak." Pak Dullah mengangguk. "Tapi jangan dibuat besar-besaran. Sederhana saja."
"Baik, Pak." Pak Lurah tersenyum. "Sederhana tapi meriah."
Penghargaan untuk Pak Dullah
Balai Desa Tegorejo, akhir November 1999.
Acara sederhana. Hanya warga desa dan beberapa tokoh. Tidak ada musik. Tidak ada hiburan. Hanya doa dan ucapan terima kasih.
Pak Dullah berdiri di depan. Ia memakai pakaian terbaiknya. Kemeja putih yang hanya dipakai saat kondangan. Kain sarung batik peninggalan istrinya.
"Warga, hari ini kita memberikan penghargaan kepada Pak Dullah." Pak Lurah membacakan sambutan. "Warga Dusun Cegunan. Atas jasanya menyelamatkan Ariyanti dari penculikan."
Pak Dullah tersenyum malu. "Saya tidak pantas."
"Bapak pantas, Pak." Ariyanti berdiri dari kursi penonton. "Bapak pahlawan."
Seluruh warga bertepuk tangan.
Pak Dullah Berbicara
Balai Desa, setelah penghargaan.
Pak Dullah diberi kesempatan berbicara. Ia berdiri di depan mikrofon. Tangannya gemetar.
"Warga, saya hanya manusia biasa." Suaranya pelan, tapi jelas. "Dulu saya bekerja sebagai sopir keluarga H. Rahmat. Saya melihat banyak kejahatan. Saya melihat banyak ketidakadilan. Tapi saya diam. Saya takut."
"Sekarang saya tidak takut lagi." Pak Dullah mengangkat kepalanya. "Karena saya sadar, diam sama saja dengan menjadi bagian dari kejahatan. Diam sama saja dengan membiarkan kejahatan terus berkembang."
"Jangan takut melawan ketidakadilan." Pak Dullah menatap warga satu per satu. "Mulai dari hal kecil. Mulai dari sekitar kita. Laporkan jika melihat kejahatan. Bantu jika bisa membantu. Karena suatu hari, kalian bisa berada di posisi korban."
Warga bertepuk tangan lagi. Lebih keras.
Fajar di Desa Tegorejo
Tegorejo, pagi itu.
Ariyanti, Akang, Bu Sumi, Pak Dullah, Pak Lurah, Marni, Siti dengan Rizki di gendongan, dan Ibu Ariyanti berkumpul di rumah Pak Dullah.
Mereka sarapan bersama. Nasi liwet. Ayam goreng. Sambal terasi. Lalapan. Sederhana. Tapi hangat.
"Ini fajar baru bagi kita." Bu Sumi tersenyum.
"Fajar di mana kita mulai percaya bahwa kebaikan akan selalu menang." Ariyanti menggenggam tangan Akang.
"Fajar di mana Pak Dullah menjadi pahlawan." Akang menatap Pak Dullah.
Pak Dullah tersenyum malu. "Aku hanya tukang kebun sekolah."
"Tukang kebun yang menyelamatkan hidupku." Ariyanti memeluk Pak Dullah. "Tukang kebun yang tidak pernah menyerah."
Mereka semua tertawa.
Matahari pagi bersinar cerah di atas Tegorejo.
Seperti harapan yang kembali menyala.
Seperti kebaikan yang tidak pernah padam.
Seperti cinta yang tidak pernah mati.
BAB 41
PENGKAJIAN
Polisi menggerebek gudang tepat waktu. Rahmadi ditangkap. Semua preman bayarannya ikut diamankan.
Gudang kosong di Ngemplak, dini hari, Sabtu, November 1999, pukul 00.30.
Malam itu, gudang kosong yang biasanya sunyi, yang biasanya hanya dihuni oleh tikus dan laba-laba, yang biasanya tidak pernah dikunjungi oleh siapa pun karena letaknya yang terpencil di pinggir hutan, tiba-tiba berubah menjadi medan operasi kepolisian. Gudang yang dulu menjadi saksi bisu penyimpanan pupuk curian, kini menjadi saksi bisu penangkapan seorang buronan yang selama bertahun-tahun meneror desa.
Lampu sorot mobil polisi menerangi seluruh area. Cahaya putih yang menyilaukan itu memecah kegelapan malam, membuat bayangan-bayangan panjang menari di dinding seng berkarat. Bayangan-bayangan itu seperti hantu, seperti arwah, seperti sisa-sisa kejahatan yang tidak bisa lagi bersembunyi.
Suara sirine yang meraung-raung membangunkan keheningan hutan di sekitarnya. Burung-burung hutan terbang berhamburan. Hewan-hewan kecil berlarian ketakutan. Daun-daun berguguran dari pohon-pohon randu yang bergoyang ditiup angin malam.
Tim gabungan dari Polsek Pegandon dan Polres Kendal telah mengepung gudang dari semua sisi. Tidak ada celah. Tidak ada jalan keluar. Mereka sudah memetakan area sejak sore hari, sejak Pak Dullah memberikan informasi, sejak Bu Sumi menelepon polisi.
Tim pertama di sektor utara, dipimpin Aiptu Sugeng, polisi tua yang sudah 20 tahun bertugas. Mereka memblokir jalan setapak menuju hutan, jalan yang biasa digunakan untuk kabur, jalan yang tidak diketahui banyak orang.
Tim kedua di sektor selatan, dipimpin Bripka Joko sendiri. Mereka yang akan menyerbu pintu depan, yang akan menghadapi preman-preman bayaran, yang akan mengambil risiko terbesar.
Tim ketiga di sektor timur, dipimpin Brigadir Rudi. Mereka mengawasi pintu belakang, pintu darurat, pintu yang mungkin digunakan Rahmadi untuk kabur.
Tim keempat di sektor barat, dipimpin Bripda Andi. Mereka berjaga di sungai kecil di belakang gudang, sungai yang airnya dangkal, sungai yang bisa diseberangi, sungai yang mungkin menjadi jalur alternatif.
"Pastikan tidak ada yang lolos," perintah Bripka Joko melalui radio. Suaranya tegas, tidak ada ruang untuk keraguan.
"SIAP, PAK!"
Di dalam gudang, Tino dan Bambang sudah menyerah. Mereka duduk di pojok dengan tangan di atas kepala. Wajah mereka pucat. Tubuh mereka gemetar.
Badrun berhasil kabur, tapi hanya beberapa meter sebelum ditangkap polisi di hutan belakang. Kakinya terantuk akar pohon. Wajahnya membentur tanah. Hidungnya berdarah.
Rahmadi berusaha lari lewat pintu darurat, pintu belakang yang tidak dijaga, pintu yang hanya bisa dibuka dari dalam. Tapi di luar, Bripka Joko dan timnya sudah menunggu.
"RAHMADI! BERHENTI! ANDA TIDAK BISA KABUR!"
Rahmadi mengangkat tangan.
Wajahnya pucat. Matanya kosong.
"Aku menyerah."
Pengepungan Total
Gudang Ngemplak, pukul 00.15, lima belas menit sebelum penangkapan.
Sebelum penangkapan, polisi melakukan pengepungan total.
Bripka Joko membagi tim menjadi empat sektor. Setiap sektor memiliki tugas masing-masing. Setiap sektor memiliki komandan masing-masing. Setiap sektor memiliki target masing-masing.
Sektor Utara, dipimpin Aiptu Sugeng. Tugasnya memblokir jalan setapak menuju hutan. Jalan setapak yang hanya diketahui oleh pemburu dan preman. Jalan setapak yang tidak terlihat dari jalan utama.
Tim ini terdiri dari 5 orang. Mereka bersembunyi di balik semak-semak, di balik pohon-pohon randu, di balik kegelapan. Senjata mereka teracung. Mata mereka tidak berkedip.
Sektor Selatan, dipimpin Bripka Joko sendiri. Tugasnya menyerbu pintu depan. Pintu utama. Pintu yang paling mungkin digunakan untuk melarikan diri. Juga pintu yang paling mungkin dijaga oleh preman-preman bayaran.
Tim ini terdiri dari 10 orang. Mereka yang paling berpengalaman. Mereka yang paling siap. Mereka yang akan mengambil risiko terbesar.
Sektor Timur, dipimpin Brigadir Rudi. Tugasnya mengawasi pintu belakang. Pintu yang hanya bisa dibuka dari dalam. Pintu yang mungkin digunakan Rahmadi untuk kabur.
Tim ini terdiri dari 5 orang. Mereka berjaga di balik dinding gudang, di balik tumpukan kayu, di balik drum-drum bekas.
Sektor Barat, dipimpin Bripda Andi. Tugasnya berjaga di sungai kecil di belakang gudang. Sungai yang airnya dangkal. Sungai yang bisa diseberangi. Sungai yang mungkin menjadi jalur alternatif.
Tim ini terdiri dari 5 orang. Mereka berendam di air sungai yang dingin, tidak peduli, tidak mengeluh.
"Pastikan tidak ada yang lolos," perintah Bripka Joko melalui radio.
"SIAP, PAK!"
Bripka Joko juga meminta bantuan polisi bersenjata lengkap dari Polres Kendal. Hanya untuk jaga-jaga. Karena Rahmadi dikenal berbahaya. Karena Rahmadi tidak memiliki apa pun lagi untuk hilang.
"Rahmadi mungkin membawa senjata." Bripka Joko mengingatkan timnya. "Hati-hati."
Tino dan Bambang Menyerah
Gudang, pukul 00.20.
Tino mendengar suara sirine dari kejauhan. Suara itu semakin lama semakin dekat. Semakin keras. Semakin jelas.
Ia melihat ke luar melalui celah dinding. Lampu sorot mobil polisi sudah menerangi area depan. Cahaya putih yang menyilaukan.
"Bambang! Polisi!" Tino berbisik.
"Sial! Kita kepung!" Bambang panik.
"Mana Rahmadi?"
"Di belakang! Awas!"
Tino dan Bambang berusaha menyusun strategi. Tapi sudah terlambat. Polisi masuk melalui pintu depan dengan senjata teracung. Sepuluh orang. Sepuluh senjata.
"JANGAN BERGERAK! ANGKAT TANGAN!"
Tino mengangkat tangan. Bambang ragu, tapi akhirnya menyerah.
"KAMI MENYERAH!"
Polisi memborgol mereka berdua. Tino digiring ke mobil patroli. Bambang digeledah terlebih dahulu. Polisi menemukan pisau lipat di sakunya. Pisau yang sudah berkarat. Pisau yang sudah kusam.
"Ini senjata tajam, Pak." Brigadir Rudi menyerahkan pisau itu pada Bripka Joko.
"Sita sebagai barang bukti." Bripka Joko memasukkannya ke kantong plastik. "Bisa ditahan."
Bambang hanya bisa pasrah.
Badrun Tertangkap di Hutan
Hutan belakang gudang, pukul 00.25.
Badrun berhasil kabur lewat pintu belakang saat polisi masuk lewat depan. Ia tidak sempat mengambil senjata. Tidak sempat mengambil uang. Tidak sempat mengambil apa pun.
Ia berlari ke dalam hutan dengan panik. Dahan-dahan pohon mencakar wajah dan tangannya. Daun-daun kering menempel di bajunya. Tapi ia tidak peduli.
Ia terus berlari.
Sampai kakinya terantuk akar pohon.
"BRUK!"
Badrun jatuh. Wajahnya membentur tanah. Hidungnya berdarah. Bibirnya pecah.
"JANGAN BERGERAK!"
Dari balik pohon, Brigadir Rudi dan timnya muncul dengan senjata teracung. Lima orang. Lima senjata.
"KAMI TANGKAP KAMU!"
Badrun merangkak mundur. Tangannya gemetar. Matanya basah.
"Jangan... jangan sakiti saya..."
"Kami tidak akan menyakiti." Brigadir Rudi mendekat. "Tapi kamu harus ikut kami."
Dua polisi memborgol Badrun. Ia dibawa ke mobil polisi yang terparkir di pinggir hutan.
Rahmadi Terpojok
Pintu belakang gudang, pukul 00.28.
Rahmadi baru saja mencapai pintu belakang ketika Bripka Joko dan timnya sudah menunggu. Lampu senter menyala dari berbagai arah.
"RAHMADI! BERHENTI!"
Rahmadi menghentikan langkah.
Ia melihat ke kiri dan ke kanan.
Tidak ada jalan keluar.
Di depannya, polisi dengan senjata. Di belakangnya, gudang yang sudah kosong. Di sampingnya, dinding tinggi yang tidak bisa dipanjat.
"Aku tidak bisa kabur lagi," bisiknya.
"Rahmadi, menyerahlah." Bripka Joko maju selangkah. "Ini sudah berakhir. Semuanya sudah berakhir."
Rahmadi tertawa pahit. "Berakhir? Semuanya sudah berakhir sejak aku lahir."
"Apa maksudmu?" Bripka Joko mengernyit.
"Aku anak haram, Pak." Rahmadi menatap Bripka Joko. Matanya kosong. "Tidak ada yang menginginkanku. H. Rahmat membenciku. Herman datang terlambat. Ariyanti menolakku. Dunia ini tidak adil."
"Kekejaman tidak akan membuat dunia adil, Rahmadi." Bripka Joko tidak bergeming. "Kekejaman hanya akan membuatmu semakin menderita."
"Terserah."
Rahmadi mengangkat tangan.
"Aku menyerah."
Rahmadi Diborgol
Pintu belakang gudang, pukul 00.30.
Bripka Joko mendekati Rahmadi dengan hati-hati.
Ia tahu Rahmadi berbahaya. Bisa saja ia menyembunyikan senjata. Bisa saja ia menyerang. Bisa saja ia melakukan sesuatu yang nekat.
"Angkat tangan lebih tinggi!" perintah Bripka Joko.
Rahmadi menaikkan tangannya.
Bripka Joko memeriksa tubuh Rahmadi. Saku jaket. Saku celana. Pinggang. Ketiak.
Tidak ada senjata.
"Borgol dia!"
Brigadir Rudi maju.
Ia memasang borgol di pergelangan tangan Rahmadi.
"Klik."
Suara borgol yang mengunci.
Suara yang menutup babak panjang dalam hidup Rahmadi.
Suara yang mengakhiri semua perlawanan.
"Rahmadi, saudara akan kami bawa ke Polres Kendal untuk pemeriksaan lebih lanjut."
"Aku tahu."
Rahmadi digiring ke mobil polisi.
Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi. Kosong. Seperti orang yang sudah kehilangan segalanya.
Wartawan Mulai Berdatangan
Gudang, pukul 00.45.
Kabar tentang penangkapan Rahmadi menyebar cepat. Dari radio. Dari telepon. Dari mulut ke mulut.
Beberapa wartawan lokal dari Kendal dan Semarang mulai berdatangan. Mereka membawa kamera besar. Mikrofon. Buku catatan.
"Pak Bripka, bisakah kami mewawancarai Rahmadi?" seorang wartawan bertanya.
"Tidak bisa." Bripka Joko menggeleng. "Ini masih dalam proses penyelidikan. Belum bisa dikonfirmasi ke publik."
"Seberapa berat hukumannya, Pak?" wartawan lain bertanya.
"Penculikan, percobaan kekerasan, kabur dari lapas." Bripka Joko menghitung. "Bisa ditambah 15 tahun."
"Wah, berat." Wartawan itu bersiul.
Wartawan memotret Rahmadi dari balik kaca mobil. Lampu blitz menyala berulang kali. Cahaya putih yang menyilaukan.
Rahmadi menutup wajahnya dengan tangan yang masih diborgol.
Ariyanti Memberi Keterangan
Polsek Pegandon, pukul 01.00.
Setelah polisi mengamankan lokasi, Ariyanti dimintai keterangan di Polsek Pegandon. Ruangannya kecil. Dindingnya cat putih kusam.
Akang, Bu Sumi, dan Pak Lurah mendampingi. Mereka duduk di kursi kayu di belakang Ariyanti.
"Ariyanti, ceritakan apa yang terjadi tadi malam." Bripka Joko membuka buku catatan.
Ariyanti menarik napas panjang. Tangannya masih gemetar. Ia meletakkan tangan di atas meja agar tidak terlihat.
"Saya diculik sepulang sekolah, Pak." Suaranya pelan, tapi jelas. "Dibawa ke gudang. Disekap. Tangan dan kaki diikat. Mulut ditutup lakban."
"Lalu?" Bripka Joko bertanya.
"Lalu Rahmadi datang." Ariyanti menggigit bibirnya. "Dia ingin... dia ingin memaksakan..."
"Apakah dia berhasil?" Bripka Joko bertanya dengan suara lembut.
"Tidak, Pak." Ariyanti menggeleng. "Saya melawan. Saya ambil pisau. Saya ancam dia. Lalu polisi datang."
"Apakah Anda bersedia menjadi saksi di pengadilan, Ariyanti?"
"Bersedia, Pak." Ariyanti mengangguk. "Saya tidak takut lagi."
"Terima kasih, Ariyanti." Bripka Joko menutup buku catatannya. "Ini sangat membantu."
Akang Marah pada Rahmadi
Polsek Pegandon, pukul 01.15.
Rahmadi digiring masuk ke polsek untuk pemeriksaan awal. Dua polisi di samping kanan dan kirinya.
Akang yang melihatnya langsung berdiri. Wajahnya merah padam. Matanya menyala.
"RAHMADI!"
Bripka Joko menahan Akang. "Kang, jangan! Ini area polisi!"
"Aku mau bicara dengan dia!" Akang berusaha melepaskan.
"Tidak bisa, Kang." Bripka Joko tidak melepaskan. "Dia sudah dalam tahanan. Nanti bisa menyulitkan."
"Rahmadi, kau pengecut!" Akang berteriak. "Kau tidak berani hadapi aku secara langsung! Kau malah menculik Ariyanti! Kau monster!"
Rahmadi tersenyum tipis. "Aku tidak perlu hadapi kau, Kang. Cukup aku hancurkan apa yang kau cintai."
"KAU MONSTER!"
"Aku sudah tahu."
Polisi menggiring Rahmadi masuk ke ruang interogasi. Akang masih gemetar. Bu Sumi menenangkannya.
"Kang, jangan terpancing." Bu Sumi menggenggam tangan Akang. "Dia sudah akan dihukum. Biar hukum yang membalas."
Interogasi Rahmadi
Polsek Pegandon, ruang interogasi, pukul 01.30.
Rahmadi duduk di kursi besi. Tangannya masih diborgol. Di depannya, meja kayu. Di belakang meja, Bripka Joko dan Brigadir Rudi.
"Rahmadi, siapa yang merencanakan penculikan ini?" Bripka Joko bertanya.
"Saya."
"Siapa yang membantu?"
"Tino, Bambang, Badrun. Saya bayar mereka."
"Bagaimana Anda bisa kabur dari lapas?"
Rahmadi diam.
"Rahmadi!" Bripka Joko meninggikan suara.
Rahmadi menghela napas. "Saya sogok petugas. Namanya Ponirin."
"Di mana Ponirin sekarang?"
"Entahlah." Rahmadi mengangkat bahu. "Mungkin kabur. Mungkin ke luar negeri."
"Rahmadi, Anda akan dijerat pasal 328 KUHP tentang penculikan, pasal 285 tentang percobaan kekerasan, dan pasal 426 tentang kabur dari tahanan." Bripka Joko membaca. "Total hukuman bisa 15 tahun."
"Terserah."
"Apakah Anda menyesal?"
Rahmadi diam.
Petugas Ponirin Ditangkap
Lapas Kendal, pukul 02.00.
Setelah polisi mendapat informasi dari Rahmadi, petugas lapas Ponirin langsung ditangkap di rumahnya. Rumah sederhana di pinggir Kendal.
Ia sedang berkemas-kemas. Koper di lantai. Pakaian berhamburan.
"Ponirin, Saudara kami tangkap!" Bripka Joko masuk ke rumah. "Atas tuduhan membantu kaburnya narapidana!"
"Aku... aku hanya disuruh..." Ponirin gemetar.
"Siapa yang menyuruh?"
"Rahmadi."
"Berapa bayarannya?"
"Lima... lima puluh juta."
"Kita selesaikan di pengadilan." Bripka Joko memborgol Ponirin.
Ia dibawa ke Polres Kendal.
Kabar untuk Herman
Rumah Herman, pukul 03.00.
Herman terbangun oleh suara telepon. Telepon di ruang tamu. Berdering keras.
Ia bangkit. Berjalan pelan. Mengangkat gagang telepon.
"Pak Herman, Rahmadi ditangkap." Suara Pak Lurah di seberang. "Juga preman-preman bayarannya. Tino, Bambang, Badrun."
Herman terdiam.
"Di mana dia sekarang, Pak?" suaranya parau.
"Di Polsek Pegandon, Pak." Pak Lurah menjawab. "Sebentar akan dipindah ke Polres Kendal."
"Aku ke sana, Pak."
"Pak Herman, hati-hati." Pak Lurah mengingatkan. "Banyak wartawan. Banyak polisi."
"Aku tidak peduli, Pak." Herman meletakkan telepon. "Dia anakku."
Herman Bertemu Rahmadi
Polsek Pegandon, pukul 04.00.
Herman datang ke polsek. Wajahnya tua. Matanya sayu.
Ia meminta izin bertemu Rahmadi. Bripka Joko mengizinkan. Dengan pengawasan.
"Nak... kenapa?" Herman duduk di seberang meja. Matanya berkaca-kaca.
"Ayah... aku sudah jatuh terlalu dalam." Rahmadi menunduk.
"Kau selalu bilang begitu, Nak." Herman menggeleng. "Tapi kau tidak pernah berubah."
"Aku tidak bisa berubah, Ayah." Rahmadi mengangkat kepalanya. "Aku sudah terlalu jahat."
"Tidak ada yang terlalu jahat untuk berubah, Nak." Herman menatap Rahmadi. "Selama kau masih hidup, selama kau masih bernapas, kau bisa berubah."
Rahmadi menangis.
"Ayah... maafkan aku."
Herman memeluk anaknya. Meskipun borgol masih di tangan Rahmadi.
"Ayah maafkan, Nak." Herman mengelus rambut Rahmadi. "Tapi kau harus menjalani hukumannya. Ini konsekuensi dari perbuatanmu."
Rahmadi Dipindah ke Polres Kendal
Polsek Pegandon, pukul 05.00.
Rahmadi dipindahkan ke Polres Kendal untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Mobil polisi dikawal ketat. Dua mobil di depan. Dua mobil di belakang.
Beberapa wartawan masih mengikuti. Mereka memotret dari kejauhan.
Di dalam mobil, Rahmadi hanya diam.
Matanya kosong. Pikirannya menerawang jauh.
"Apa yang salah dengan hidupku?" Ia bertanya pada dirinya sendiri. "Apakah ini semua karena aku anak haram? Apakah ini karena aku tidak pernah dicintai? Atau karena aku sendiri yang memilih menjadi jahat?"
Ia tidak tahu jawabannya.
Korban Lain Melapor
Polres Kendal, pagi itu.
Setelah kabar penangkapan Rahmadi tersebar, beberapa korban lain mulai melapor.
Mereka adalah warga yang dulu diintimidasi preman bayaran Rahmadi. Tapi tidak berani melapor. Takut. Tidak punya bukti.
"Saya dulu diancam, Pak." Seorang warga tua duduk di kursi pelaporan. "Rumah saya hampir dibakar. Tanah saya hampir direbut."
"Saya juga, Pak." Warga lain mengangkat tangan. "Anak saya dianiaya preman bayaran Rahmadi. Masuk rumah sakit. Tidak berani lapor."
Bripka Joko mencatat semua laporan.
"Semua akan diproses." Bripka Joko menatap mereka. "Rahmadi akan dihukum sesuai perbuatannya."
Ariyanti Pulang
Rumah Ariyanti, pagi itu.
Ariyanti akhirnya pulang setelah memberi keterangan di polsek.
Ibu Ariyanti sudah menunggu di depan pintu. Wajahnya pucat. Matanya merah.
"Yan !" Ibu Ariyanti memeluk anaknya.
"Bu... aku selamat." Ariyanti menangis di bahu ibunya.
"Rahmadi sudah ditangkap, Yan ?"
"Iya, Bu." Ariyanti mengangguk. "Dia tidak akan bisa menyakiti kita lagi."
"Syukurlah... syukurlah..."
Ibu Ariyanti menangis.
Akang Menemani Ariyanti
Rumah Ariyanti, siang itu.
Akang datang dengan membawa bubur ayam buatan ibunya. Rantang merah. Masih hangat.
"Ari, kamu makan dulu." Akang membuka rantang.
"Aku tidak lapar, Kang." Ariyanti menggeleng.
"Kamu harus makan." Akang menyuapkan sendok ke mulut Ariyanti. "Biar tubuhmu kuat."
Ariyanti menurut. Ia menyuap bubur itu sedikit demi sedikit.
"Kang, apa Rahmadi akan dihukum berat?" Ariyanti bertanya.
"Pasti, Ari." Akang menggenggam tangannya. "Penculikan, percobaan kekerasan, kabur dari lapas. Bisa 15 tahun."
"Apakah itu cukup, Kang?" Ariyanti menatap Akang.
"Apa yang kamu maksud?" Akang mengernyit.
"Setelah semua yang dia lakukan, Kang." Ariyanti menggigit bibirnya. "Setelah fitnah. Kebakaran. Kecelakaan. Koma. Tuduhan palsu. Penculikan. Apakah 15 tahun cukup?"
Akang terdiam.
"Tidak, Ari." Akang menggeleng. "Tapi itu yang bisa diberikan hukum."
Bu Sumi Beri Nasihat
Rumah Ariyanti, sore itu.
Bu Sumi datang menjenguk. Ia membawa buah-buahan.
"Ari, bagaimana perasaanmu?" Bu Sumi duduk di samping Ariyanti.
"Masih takut, Bu." Ariyanti menggenggam tangan Bu Sumi. "Tapi lega. Sangat lega."
"Rahmadi sudah di polres, Ari." Bu Sumi mengelus rambut Ariyanti. "Dia akan diadili."
"Apa saya harus menjadi saksi, Bu?" Ariyanti bertanya.
"Iya, Ari." Bu Sumi mengangguk. "Kamu harus. Agar dia tidak bisa mengulangi lagi. Agar dia jera."
"Aku siap, Bu." Ariyanti menatap Bu Sumi. "Aku tidak takut."
"Kamu hebat, Ari." Bu Sumi tersenyum. "Banyak orang yang takut menjadi saksi. Banyak orang yang memilih diam."
Tino, Bambang, dan Badrun Diproses
Polres Kendal, sore itu.
Tino, Bambang, dan Badrun menjalani pemeriksaan terpisah.
Mereka dipisah di ruang yang berbeda. Tidak boleh bertemu. Tidak boleh berkomunikasi.
"Rahmadi yang menyuruh." Tino mengaku. "Kami hanya menjalankan perintah."
"Apakah kalian menyesal?" Bripka Joko bertanya.
"Menyesal, Pak." Tino menunduk. "Gaji dari Rahmadi tidak sebanding dengan penderitaan di penjara."
"Hukuman kalian bisa lebih ringan jika bersedia jadi saksi." Bripka Joko menawarkan.
"Kami bersedia, Pak." Tino mengangguk. "Apa pun."
Rahmadi di Sel Isolasi Super
Polres Kendal, malam itu.
Rahmadi dipindahkan ke sel isolasi super.
Ruangan khusus untuk narapidana berbahaya.
Tidak ada jendela. Hanya dinding beton tebal. Lampu redup seharian penuh.
Dua polisi berjaga di luar sel. Dua pintu besi. Dua kunci.
"Rahmadi, mulai sekarang kau tidak bisa berkomunikasi dengan siapa pun." Petugas membaca aturan. "Tidak ada telepon. Tidak ada surat. Tidak ada kunjungan."
"Aku tahu."
"Doakan saja kau diberi hukuman ringan."
"Aku tidak butuh doa." Rahmadi menatap kosong. "Aku butuh mati."
"Jangan bicara seperti itu."
"Dunia ini sudah gelap." Rahmadi tersenyum pahit. "Tidak ada yang bisa menyinari lagi."
Fajar di Polres Kendal
Polres Kendal, pagi berikutnya.
Matahari terbit di ufuk timur.
Sinar keemasan menerangi gedung Polres Kendal. Gedung beton yang kokoh. Gedung yang menjadi simbol hukum dan keadilan.
Di luar, beberapa wartawan masih bertahan. Mereka duduk di trotoar. Minum kopi. Merokok. Berharap mendapat kabar terbaru.
Di dalam, Bripka Joko dan timnya menyusun berkas perkara.
Ratusan halaman. Puluhan saksi. Laporan polisi dari berbagai pihak. Barang bukti. Rekaman. Foto.
"Pak, ini berkas terlengkap yang pernah saya tangani." Brigadir Rudi menyerahkan tumpukan kertas.
"Ini akan menjadi pelajaran." Bripka Joko mengambil berkas itu. "Bagi siapa pun yang berpikir bisa main-main dengan hukum."
Di sel isolasi, Rahmadi terbangun.
Ia menatap langit-langit yang kosong. Dinding beton abu-abu. Lampu redup.
"Apa yang salah dengan hidupku?"
Masih belum ada jawaban.
Tapi setidaknya, kini ia tidak bisa menyakiti siapa pun lagi.
BAB 42
SIDANG TERBUKA
Rahmadi diadili di Pengadilan Negeri Kendal. Semua aksinya terungkap: pengeroyokan, pemerasan, penculikan, percobaan kekerasan seksual.
Pengadilan Negeri Kendal, Desember 1999.
Hari itu, langit Kendal cerah. Biru tanpa awan. Matahari bersinar terang, seolah ikut menyaksikan persidangan yang akan menjadi sorotan seluruh masyarakat Kendal, bahkan Jawa Tengah. Sinar keemasan jatuh di gedung pengadilan yang megah, membuatnya tampak seperti istana keadilan yang tidak bisa diganggu gugat.
Sejak pagi, halaman Pengadilan Negeri Kendal sudah dipenuhi oleh puluhan wartawan. Wartawan cetak dengan buku catatan dan pulpen. Wartawan elektronik dengan kamera besar dan mikrofon. Wartawan televisi lokal dengan kru yang siap siaran langsung. Kamera-kamera besar terpasang di depan gerbang, lensanya mengarah ke pintu masuk, siap merekam siapa pun yang datang.
Jurnalis dengan buku catatan dan alat perekam berdesakan ingin mendapat posisi terbaik. Siku mendorong siku. Bahu menyenggol bahu. Mereka saling berebut, saling dorong, saling injak. Tidak ada yang mau ketinggalan.
Rahmadi, anak konglomerat yang dulu disegani dan ditakuti, yang dulu bisa membuat warga desa bergidik hanya dengan menyebut namanya, yang dulu preman-preman bayarannya berkeliaran bebas tanpa ada yang berani melawan, kini duduk di kursi pesakitan dengan wajah kusam.
Jenggotnya dibiarkan tumbuh tidak beraturan. Matanya cekung, seperti orang yang sudah tidak tidur berhari-hari. Kulitnya pucat, tidak seperti dulu yang bersih dan terawat. Seragam tahanan oranye terlihat longgar di tubuhnya yang semakin kurus, semakin menyusut, semakin tidak berarti.
Ia tidak lagi tampak sebagai pemuda kaya dari Semarang dengan gaya percaya diri. Tidak lagi tampak sebagai siswa yang disegani karena uang ayahnya. Tidak lagi tampak sebagai pemuda yang bisa membuat siapa pun tunduk hanya dengan tatapan matanya.
Yang tersisa hanyalah bekas manusia. Bekas manusia yang hancur oleh keserakahannya sendiri. Bekas manusia yang membusuk oleh kebenciannya sendiri. Bekas manusia yang mati sebelum benar-benar mati.
Kursi pesakitan itu terasa dingin. Besi-besi di sekelilingnya seperti jeruji yang mengurungnya dari dunia luar. Jeruji yang tidak bisa ia buka. Jeruji yang tidak bisa ia sogok. Jeruji yang akan tetap di sana sampai hakim memutuskan hukumannya.
Di depannya, meja panjang untuk jaksa penuntut umum. Meja kayu mahoni yang mengkilap. Di atasnya, tumpukan berkas setinggi 20 sentimeter. Berkas-berkas yang berisi ribuan halaman dakwaan, ratusan bukti, puluhan kesaksian.
Di sampingnya, meja untuk pengacara yang membelanya. Seorang pria paruh baya dengan jas rapi dan ekspresi serius. Jas hitam, kemeja putih, dasi merah. Rambut disisir rapi. Kacamata tebal.
Di belakangnya, ruang sidang dipenuhi oleh puluhan mata yang menatapnya dengan berbagai ekspresi. Mata yang penuh kebencian. Mata yang penuh rasa iba. Mata yang penuh rasa penasaran. Mata yang penuh kepuasan melihat kejatuhan anak konglomerat yang dulu sombong.
Hakim ketua, Dr. H. Sutrisno, S.H., M.H., seorang pria berusia 55 tahun dengan kumis tebal dan wajah tegas, memukul palu.
"PAK!"
Suara palu yang keras memecah keheningan ruang sidang. Suara yang menandai dimulainya babak akhir dari perjalanan panjang kasus ini.
"Sidang dengan perkara nomor 124/Pid.B/1999/PN.Kdl atas nama terdakwa Rahmadi bin H. Rahmat (alm) dinyatakan terbuka untuk umum."
Ruangan mendadak hening.
Ratusan pasang mata tertuju pada Rahmadi.
Rahmadi menunduk. Ia tidak berani menatap siapa pun. Tidak berani menatap Ariyanti. Tidak berani menatap Akang. Tidak berani menatap Bu Sumi. Tidak berani menatap Pak Dullah. Tidak berani menatap Herman.
Hari-hari ke depan akan menjadi neraka baginya.
Semua kejahatan yang ia lakukan selama dua tahun terakhir akan terungkap satu per satu. Fitnah. Kebakaran. Penganiayaan. Percobaan pembunuhan. Penculikan. Percobaan kekerasan seksual. Kabur dari lapas.
Tidak ada lagi yang bisa ia sembunyikan. Tidak ada lagi uang untuk menyogok. Tidak ada lagi preman untuk mengintimidasi. Tidak ada lagi koneksi untuk melindungi.
Kali ini, hukum akan berbicara.
Suasana Sidang
Pengadilan Negeri Kendal, pukul 08.30.
Ruang sidang utama Pengadilan Negeri Kendal tidak pernah sepenuh ini.
Biasanya, ruangan ini hanya berisi beberapa orang. Keluarga terdakwa yang menangis di barisan depan. Keluarga korban yang diam di barisan belakang. Beberapa wartawan yang mencatat dengan malas. Pengacara yang menguap di kursinya.
Tapi hari ini, hampir semua kursi penuh. Bahkan beberapa orang terpaksa berdiri di belakang, berdesakan, berjinjit, mencoba melihat ke depan.
Di barisan depan, duduk Ariyanti, Akang, Bu Sumi, Ibu Ariyanti, Ibu Akang, Marni, Siti dengan Rizki di gendongan, Pak Lurah, Pak Dullah, dan Herman. Wajah mereka tegang. Bahu mereka sedikit membungkuk. Mata mereka sayu.
Rizki tertidur pulas di gendongan Siti. Bayi itu tidak peduli dengan keramaian. Tidak peduli dengan drama yang sedang berlangsung. Tidak peduli bahwa ayah kandungnya sedang diadili.
Di belakang mereka, duduk para saksi lain. Pak Karto, petani yang menjadi saksi wasiat Mbah Joyo. Pak Karyo, pemilik bengkel yang dibakar. Mbah Putri, nenek tua yang melihat Rahmadi di lokasi kebakaran. Serta beberapa warga yang pernah menjadi korban intimidasi preman bayaran Rahmadi.
Di sisi lain, duduk keluarga H. Rahmat. Istri kedua H. Rahmat yang masih muda. Anak-anak tirinya yang masih duduk di bangku SMP dan SMA. Wajah mereka tegang, mungkin malu, mungkin takut terkena imbas, mungkin hanya ingin cepat pulang.
Wartawan duduk di barisan paling belakang. Mereka memegang kamera dan alat perekam. Meskipun tidak diizinkan merekam video selama persidangan, mereka tetap siap mencatat setiap kata. Setiap kalimat. Setiap detail.
Jaksa penuntut umum, Ibu Rina Kartika, S.H., seorang wanita muda berusia sekitar 35 tahun dengan rambut disanggul rapi, berdiri. Jas hitamnya rapi. Kemeja putihnya bersih. Wajahnya tegas. Matanya tajam.
"Yang Mulia, kami siap membacakan dakwaan."
"Silakan," kata Hakim Sutrisno.
Pembacaan Dakwaan
Ruang sidang, pukul 08.45.
Ibu Rina membuka map tebal. Map berwarna coklat, dengan tali pengikat yang sudah longgar. Di dalamnya, puluhan halaman dakwaan. Ribuan kata. Ratusan pasal.
Ia mulai membaca dengan suara lantang. Jelas. Tegas. Tidak ada keraguan.
"Terdakwa Rahmadi bin H. Rahmat (alm) didakwa telah melakukan tindak pidana sebagai berikut:"
"Pertama: Pengeroyokan terhadap saudara Akang Supriyadi pada bulan September 1997 di Jalan Randu Gembyang, yang mengakibatkan saudara Akang Supriyadi mengalami luka berat di kepala dan koma selama empat hari."
"Kedua: Pemerasan terhadap saudari Siti Fatimah, dengan memanfaatkan posisi sebagai anak konglomerat untuk mempengaruhi korban menjadi mata-mata."
"Ketiga: Penculikan terhadap saudari Ariyanti pada bulan November 1999 di Jalan Randu Gembyang, yang mengakibatkan korban mengalami trauma berat dan terancam keselamatannya."
"Keempat: Percobaan kekerasan seksual terhadap saudari Ariyanti di gudang kosong Ngemplak, yang berhasil digagalkan oleh aparat kepolisian."
"Kelima: Kabur dari Lembaga Pemasyarakatan Kendal dengan cara menyogok petugas."
"Keenam: Menyuruh orang lain untuk melakukan percobaan pembunuhan terhadap saudara Akang Supriyadi pada bulan September 1999."
Ruangan mendadak ramai.
Bisik-bisik terdengar dari berbagai penjuru. Suara-suara lirih yang sebenarnya tidak lirih sama sekali. Suara-suara yang sengaja dibuat pelan tapi cukup keras untuk didengar.
"Astaga... berat sekali dakwaannya."
"Iya, bisa puluhan tahun. Mungkin 20 tahun."
"Anak konglomerat, tapi tetap saja. Hukum tidak pandang bulu."
Rahmadi menunduk lebih dalam. Wajahnya pucat. Tangannya gemetar.
Rahmadi Tidak Mengakui
Ruang sidang, pukul 09.00.
Hakim Sutrisno memukul palu.
"Terdakwa, apakah Anda mengerti dengan dakwaan Jaksa Penuntut Umum?"
Rahmadi mengangkat kepala. Matanya sayu.
"Saya mengerti, Yang Mulia."
"Apakah Anda keberatan atau akan mengajukan keberatan?"
Rahmadi diam sejenak.
"Saya... saya tidak mengakui semuanya, Yang Mulia."
Ruangan kembali ramai.
Ibu Rina berdiri. Jas hitamnya berkibar. "Yang Mulia, kami memiliki bukti-bukti yang tak terbantahkan. Rekaman percakapan. Kesaksian saksi. Barang bukti yang disita polisi. Sidik jari. Foto. Surat."
"Silakan dipanggil saksi pertama," kata Hakim Sutrisno.
Saksi Pertama – Akang Supriyadi
Ruang sidang, pukul 09.15.
Akang berdiri.
Kakinya masih sedikit pincang. Dokter bilang bekas patah tulang tidak akan pernah pulih sempurna. Tapi ia berjalan dengan tegas menuju kursi saksi. Tidak ragu. Tidak takut.
"Kakang, sumpah dulu," kata petugas.
Akang mengangkat tangan kanan.
"Saya bersumpah demi Allah akan mengatakan yang sebenarnya, dan tidak akan menyembunyikan apa pun."
"Saudara Akang, ceritakan apa yang terjadi pada bulan September 1997," pinta Ibu Rina.
Akang menarik napas panjang. Udara di ruang sidang terasa panas di paru-parunya.
"Saat itu, saya dipanggil Rahmadi ke belakang sekolah." Suaranya tegas. "Dia mengancam saya. Bilang suruh menjauhi Ariyanti."
"Lalu?"
"Saya tidak mau." Akang menatap Rahmadi. "Saya justru semakin dekat dengan Ariyanti. Itu sebabnya Rahmadi marah."
"Apa yang dilakukan Rahmadi setelah itu?"
"Fitnah." Akang menghitung dengan jari. "Selebaran. Mengirim preman. Memecat ibu saya. Membakar bengkel tempat saya bekerja. Menyuruh preman mengeroyok saya di Jalan Randu Gembyang."
"Saya koma empat hari, Yang Mulia." Akang menatap hakim. "Saya hampir mati."
Suara Akang bergetar saat mengingat masa lalu. Ariyanti di kursi penonton menangis. Bu Sumi memegang tangannya.
"Apakah Anda punya bukti?" tanya Hakim Sutrisno.
"Ada, Yang Mulia." Akang mengangguk. "Rekaman percakapan Rahmadi dengan preman bayarannya. Rekaman itu disita polisi dari ponsel Tino."
"Rekaman itu sudah kami lampirkan dalam berkas," kata Ibu Rina.
Saksi Kedua – Siti Fatimah
Ruang sidang, pukul 10.00.
Siti berjalan menuju kursi saksi. Rizki di gendongannya terbangun dan mulai rewel. Siti menenangkannya dengan suara lembut, dengan usapan di punggung.
"Maaf, Yang Mulia." Siti menunduk. "Bayi saya. Dia lapar."
"Tidak apa-apa." Hakim Sutrisno tersenyum. "Silakan bersaksi. Kami maklum."
"Siti, ceritakan hubungan Anda dengan Rahmadi," pinta Ibu Rina.
Siti menunduk. Rambutnya yang panjang menutupi wajahnya.
"Rahmadi... dia memanfaatkan saya, Yang Mulia." Suaranya pelan. "Saya diiming-imingi uang. Dijanjikan perhatian. Saya menjadi mata-matanya."
"Apa yang Anda lakukan sebagai mata-mata?" Ibu Rina bertanya.
"Saya memberi informasi tentang Ariyanti dan Akang." Siti tidak menatap siapa pun. "Tempat, waktu, rencana mereka. Saya yang memberitahu Rahmadi tentang rencana mereka ke perpustakaan daerah. Saya yang memberi tahu di mana Pak Dullah menyimpan surat-surat wasiat Hj. Fatimah."
"Apakah Rahmadi juga memaksa Anda untuk melakukan hal lain?" Ibu Rina bertanya dengan suara lembut.
Siti menangis. Air matanya jatuh di pipi Rizki.
"Dia... dia menyuruh saya aborsi, Yang Mulia." Suaranya tersendat. "Saat saya hamil anaknya. Dia bilang saya harus menggugurkan kandungan. Dia bilang dia tidak mau punya anak haram."
Ruangan gempar.
"Saya menolak, Yang Mulia." Siti menggendong Rizki lebih erat. "Saya tidak tega membunuh bayi saya. Saya akan besarkan dia sendiri."
Rahmadi di kursi pesakitan menunduk semakin dalam.
"Apakah Anda bersedia menjadi saksi di persidangan ini?" Ibu Rina bertanya.
"Saya bersedia, Yang Mulia." Siti mengangguk. "Demi Rizki. Demi masa depannya."
Saksi Ketiga – Ariyanti
Ruang sidang, pukul 11.00.
Ariyanti berjalan menuju kursi saksi. Wajahnya pucat. Tangannya gemetar. Tapi matanya tegas. Matanya tidak takut.
"Ariyanti, ceritakan apa yang terjadi pada malam penculikan," pinta Ibu Rina dengan suara lembut. Ibu Rina tahu Ariyanti masih trauma. Masih sering mimpi buruk. Masih sering terbangun tengah malam.
Ariyanti menarik napas panjang. Udara di ruang sidang terasa dingin di paru-parunya.
"Saya pulang sekolah, Yang Mulia." Suaranya pelan, tapi jelas. "Sendirian. Di Jalan Randu Gembyang, tiga orang preman muncul. Tino, Bambang, dan Badrun."
"Mereka menutup mulut saya dengan kain yang sudah dibubuhi obat bius." Ariyanti menggigit bibirnya. "Lalu saya dibawa ke gudang."
"Apa yang terjadi di gudang?" Ibu Rina bertanya.
"Saya disekap, Yang Mulia." Ariyanti mulai menangis. "Tangan dan kaki diikat dengan tali rapia. Mulut ditutup lakban. Saya tidak bisa bergerak. Tidak bisa berteriak."
"Lalu... Rahmadi datang." Ariyanti menatap Rahmadi. "Dia ingin... dia ingin memaksakan..."
"Apakah dia berhasil?" Ibu Rina bertanya.
"Tidak, Yang Mulia." Ariyanti menggeleng. "Saya melawan. Saya mengambil pisau. Saya mengancamnya. Lalu polisi datang."
"Apakah Anda bersedia menjadi saksi di persidangan ini?" Ibu Rina bertanya.
"Bersedia, Yang Mulia." Ariyanti menatap hakim. "Saya tidak takut lagi. Saya sudah melewati yang terburuk."
Akang di kursi penonton menangis haru.
Saksi Keempat – Pak Dullah
Ruang sidang, pukul 13.00, setelah istirahat.
Pak Dullah berjalan menuju kursi saksi. Ia memakai pakaian terbaiknya. Kemeja putih yang hanya ia pakai saat kondangan. Kain sarung batik peninggalan istrinya.
"Pak Dullah, apa peran Bapak dalam kasus ini?" tanya Ibu Rina.
"Saya dulu sopir keluarga H. Rahmat, Bu." Pak Dullah duduk di kursi saksi. "Saya tahu banyak kejahatan mereka. Tapi saya diam. Saya takut."
"Lalu kenapa sekarang bersaksi?" Ibu Rina bertanya.
"Karena Ariyanti, Akang, dan yang lain." Pak Dullah menatap mereka. "Mereka mengajarkan saya bahwa diam itu sama saja menjadi bagian dari kejahatan."
"Apa yang Bapak lihat pada malam penculikan?" Ibu Rina bertanya.
"Saya melihat mobil box hitam melaju ke gudang Ngemplak, Bu." Pak Dullah menghela napas. "Saya curiga. Saya lapor Bu Sumi. Lalu Bu Sumi panggil polisi."
"Terima kasih, Pak Dullah." Ibu Rina tersenyum. "Bapak pahlawan."
Ruangan bertepuk tangan. Hakim tidak melarang. Kali ini ia membiarkan.
Saksi Kelima – Bripka Joko
Ruang sidang, pukul 14.00.
Bripka Joko naik ke kursi saksi. Ia memakai pakaian dinas polisi. Rapi. Tegas.
"Bripka Joko, apa yang Saudara temukan di lokasi penculikan?" tanya Ibu Rina.
"Barang bukti, Bu." Bripka Joko membuka map. "Pisau yang digunakan terdakwa. Lakban. Tali rapia. Juga mobil box hitam tanpa pelat nomor."
"Apakah ada hubungan dengan rekaman percakapan?" Ibu Rina bertanya.
"Ada, Bu." Bripka Joko mengangguk. "Kami menyita ponsel milik Tino. Di dalamnya, ada rekaman percakapan dengan terdakwa."
"Rekaman itu sudah kami dengarkan." Bripka Joko melanjutkan. "Isinya jelas. Rahmadi menyuruh Tino untuk menculik Ariyanti."
"Terima kasih, Bripka Joko." Ibu Rina duduk.
Rahmadi Memberi Keterangan
Ruang sidang, pukul 15.00.
Hakim Sutrisno mempersilakan Rahmadi memberi keterangan.
"Rahmadi, apa tanggapan Anda tentang semua kesaksian ini?"
Rahmadi berdiri. Tangannya gemetar. Kakinya lemas.
"Saya... saya tidak bisa membantah, Yang Mulia." Suaranya pelan. "Semua yang mereka katakan benar."
Ruangan hening.
"Saya yang menyuruh Tino dan Bambang mengeroyok Akang." Rahmadi menunduk. "Saya yang menyuruh Jarwo membunuh Akang. Saya yang menculik Ariyanti. Saya yang... hampir..."
"Rahmadi, apakah Anda menyesal?" Hakim Sutrisno bertanya.
Rahmadi menangis. Tangis yang tidak bisa ia tahan lagi.
"Saya menyesal, Yang Mulia." Suaranya tersendat. "Saya menyesal tidak pernah mendengarkan nasihat baik sejak awal. Saya menyesal karena hidup saya penuh kebencian."
"Apa yang membuat Anda begitu membenci?" Hakim Sutrisno bertanya.
"Karena saya tidak pernah dicintai, Yang Mulia." Rahmadi mengangkat kepalanya. "H. Rahmat membenci saya. Ibu saya meninggal. Herman datang terlambat. Saya tumbuh sebagai anak haram yang tidak diinginkan."
Hakim Sutrisno menghela napas.
"Itu bukan alasan untuk berbuat jahat, Rahmadi."
"Saya tahu, Yang Mulia." Rahmadi menunduk. "Tapi saya tidak bisa mengubah masa lalu."
Herman Memberi Kesaksian
Ruang sidang, pukul 16.00.
Herman berdiri di kursi saksi. Wajahnya tua. Penuh keriput. Dan basah oleh air mata.
"Nama saya Herman." Suaranya bergetar. "Saya ayah kandung Rahmadi."
Ruangan ramai.
Tidak semua tahu bahwa Rahmadi bukan anak kandung H. Rahmat. Tidak semua tahu bahwa Rahmadi adalah anak dari hubungan Hj. Fatimah dengan Herman.
"Saya meninggalkan ibu Rahmadi karena tekanan keluarga, Yang Mulia." Herman menangis. "Saya pengecut. Saya tidak pernah ada untuknya."
"Itu sebabnya Rahmadi tumbuh tanpa kasih sayang ayah." Herman menatap Rahmadi. "Itu sebabnya ia mencari perhatian dengan cara yang salah. Ia tidak tahu bagaimana cara mencintai, karena tidak ada yang pernah mengajarinya."
"Pak Herman, apakah Anda ingin menyampaikan sesuatu pada Rahmadi?" Hakim Sutrisno bertanya.
Herman menatap Rahmadi.
"Nak... Ayah minta maaf." Suaranya pecah. "Ayah tidak bisa hadir di masa lalumu. Tapi ayah akan hadir di masa depanmu. Apapun hukumannya, ayah akan menemanimu."
Rahmadi menangis.
"Ayah... maafkan aku."
"Ayah sudah memaafkan sejak lama, Nak."
Rekaman Diputar
Ruang sidang, pukul 16.30.
Ibu Rina memutar rekaman percakapan Rahmadi dengan Tino.
Suara Rahmadi terdengar jelas. Meskipun dari ponsel, meskipun dengan kualitas rekaman yang tidak sempurna, suaranya tidak bisa disangkal.
"Tino, culik Ariyanti. Bawa ke gudang. Aku akan ke sana."
"Baik, Mas."
"Jangan bunuh dulu. Aku yang akan urus."
Ruangan hening.
"Kau bisa keroyok Akang sampai koma. Itu perintahku."
"Tapi Mas, polisi..."
"Polisi bisa diatur. Lakukan!"
Rekaman itu berhenti.
Rahmadi menunduk malu.
"Yang Mulia, ini bukti bahwa terdakwa merencanakan semuanya." Ibu Rina menutup map. "Dari awal hingga akhir."
Pledoi Rahmadi
Ruang sidang, pukul 17.00.
Pengacara Rahmadi, Pak Rudi, berdiri. Jas hitamnya rapi. Kacamata tebalnya melorot di ujung hidung.
"Yang Mulia, kami akui klien kami bersalah." Suaranya tenang. "Tapi kami mohon keringanan hukuman. Klien kami mengalami trauma masa kecil. Tidak pernah mendapatkan kasih sayang. Dan sekarang, ia telah menyatakan penyesalan."
Ibu Rina berdiri.
"Yang Mulia, penyesalan tidak menghapus kejahatan." Suaranya tegas. "Korban mengalami luka fisik dan psikis. Akang hampir mati. Ariyanti trauma. Siti hamil di luar nikah dan ditinggal. Kami menuntut hukuman maksimal."
Hakim Sutrisno menganggok.
"Persidangan dilanjutkan pekan depan untuk pembacaan vonis."
Reaksi Keluarga Korban
Ruang sidang, setelah persidangan.
Ariyanti, Akang, dan rombongan keluar ruang sidang. Wajah mereka tegang. Bahu mereka lelah.
Wartawan menyerbu.
"Ariyanti, bagaimana perasaan Anda setelah sidang?"
"Lega, Mas." Ariyanti tersenyum tipis. "Semua terungkap. Semua tahu kebenaran."
"Akang, apa Anda puas dengan jalannya persidangan?"
"Belum, Mas." Akang menggeleng. "Kami tunggu vonis. Vonis yang adil."
"Siti, bagaimana perasaan Anda?"
Siti menggendong Rizki. "Saya menyesal pernah menjadi mata-mata, Mas. Tapi saya bersyukur bisa menjadi saksi. Saya bersyukur bisa memperbaiki kesalahan."
Bu Sumi menambahkan, "Kami berharap vonis nanti memberikan keadilan bagi semua korban. Bagi Akang. Bagi Ariyanti. Bagi Siti. Bagi kami semua."
Reaksi Keluarga H. Rahmat
Pengadilan, halaman parkir.
Istri kedua H. Rahmat dan anak-anak tirinya keluar dengan wajah tertunduk. Mereka tidak mau bertemu wartawan. Tidak mau diwawancarai. Tidak mau difoto.
Tapi wartawan tetap menyerbu.
"Bu, bagaimana tanggapan Ibu atas kasus ini?"
"Saya tidak tahu apa-apa." Istri H. Rahmat menutup wajahnya. "Saya hanya ikut suami. Saya tidak tahu kejahatannya."
"Apakah Ibu akan menjenguk Rahmadi?"
"Tidak." Ia naik ke mobil. "Rahmadi bukan anak saya."
Mereka pergi. Meninggalkan wartawan dengan kecewa.
Kunjungan ke Rumah Pak Dullah
Rumah Pak Dullah, malam itu.
Setelah sidang, Ariyanti, Akang, Bu Sumi, Marni, Siti, dan Pak Lurah berkunjung ke rumah Pak Dullah.
Rumah sederhana di pinggir Dusun Cegunan. Dinding anyaman bambu. Atap rumbia. Lantai tanah.
"Pak Dullah, terima kasih." Ariyanti memeluk Pak Dullah. "Tanpa Bapak, mungkin saya sudah tidak ada."
Pak Dullah tersenyum. "Aku hanya melakukan yang benar, Nak."
"Bapak adalah pahlawan." Akang menggenggam tangan Pak Dullah.
"Aku bukan pahlawan, Kang." Pak Dullah menggeleng. "Aku hanya manusia biasa. Yang terlambat berani."
Herman Menunggu Vonis
Kos-kosan Herman, malam itu.
Herman duduk di kamar kosnya yang sempit. Dinding cat putih kusam. Lantai keramik retak. Satu lampu bohlam 5 watt.
Ia tidak bisa tidur.
Ia menelepon Siti.
"Siti, bagaimana kabar Rizki?"
"Sehat, Pak." Suara Siti di seberang. "Dia sudah bisa merangkak. Sudah bisa berdiri sebentar."
"Aku ingin bertemu Rizki besok, Siti."
"Boleh, Pak. Saya antar ke lapas."
Herman tersenyum.
"Setidaknya, ada satu hal baik dari kejahatan anakku." Herman menutup telepon. "Ada Rizki."
Ariyanti Mulai Tenang
Rumah Ariyanti, malam itu.
Ariyanti berbaring di tempat tidurnya. Akang duduk di sampingnya.
"Kang, apakah semua ini akan berakhir?" Ariyanti bertanya.
"Belum, Ari." Akang menggenggam tangannya. "Masih ada vonis. Masih ada banding. Masih ada masa depan yang harus kita hadapi."
"Tapi setidaknya, Rahmadi tidak bisa berbuat jahat lagi."
"Apa aku harus memaafkannya, Kang?" Ariyanti menatap Akang.
"Itu pilihanmu, Ari." Akang mengusap rambutnya. "Tapi ingat, memaafkan bukan untuk dia. Memaafkan untuk dirimu sendiri. Agar kamu tidak terus dirundung amarah."
Ariyanti menangis.
"Aku masih belum bisa, Kang."
"Tidak apa, Ari." Akang memeluknya. "Butuh waktu."
Siti Bertemu Herman
Rumah Herman, keesokan harinya.
Siti datang dengan Rizki. Herman menggendong cucunya dengan hati-hati.
"Rizki, kakek sayang kamu." Herman mencium pipi Rizki.
Rizki tertawa. Herman menangis.
"Siti, maafkan aku." Herman menatap Siti. "Aku gagal menjadi ayah yang baik untuk Rahmadi. Tapi aku akan berusaha menjadi kakek yang baik untuk Rizki."
"Pak Herman, tidak perlu minta maaf." Siti menggenggam tangan Herman. "Bapak sudah banyak membantu kami. Tanpa Bapak, mungkin saya sudah tidak punya tempat tinggal."
Persiapan Vonis
Pengadilan Negeri Kendal, akhir Desember 1999.
Semua pihak bersiap untuk sidang vonis.
Wartawan datang lebih awal. Sejak subuh. Mereka sudah memarkir mobil, memasang kamera, menyiapkan alat perekam.
Ruang sidang penuh sesak.
Ariyanti, Akang, dan yang lain sudah duduk di barisan depan. Mereka datang lebih awal agar tidak kehabisan tempat.
Rahmadi digiring masuk. Wajahnya lelah. Matanya sayu. Seragam tahanan oranye terlihat longgar di tubuhnya.
Hakim Sutrisno memukul palu.
"Sidang dengan perkara nomor 124/Pid.B/1999/PN.Kdl atas nama terdakwa Rahmadi bin H. Rahmat (alm) dinyatakan terbuka."
Keadilan untuk Semua
Ruang sidang, vonis dibacakan.
"Memperhatikan bukti-bukti, saksi-saksi, dan keterangan terdakwa, majelis hakim memutuskan:"
"Pertama: Terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana pengeroyokan, pemerasan, penculikan, percobaan kekerasan seksual, kabur dari lapas, dan menyuruh orang lain melakukan percobaan pembunuhan."
"Kedua: Menjatuhkan pidana penjara kepada terdakwa selama 20 tahun."
"Ketiga: Memerintahkan terdakwa tetap ditahan."
"Keempat: Membebankan biaya perkara kepada terdakwa."
Ruangan gempar.
20 tahun!
Ibu Ariyanti menangis. Ariyanti memeluk ibunya. Akang menggenggam tangan Ariyanti erat-erat.
Rahmadi tertunduk. Ia tidak naik banding.
"Saya menerima vonis ini."
Hakim memukul palu.
"Sidang selesai."
BAB 43
VONIS
Rahmadi dijatuhi hukuman 8 tahun penjara. Keluarganya yang malu, menjual seluruh properti dan pindah dari Pegandon.
Pengadilan Negeri Kendal – Januari 2000
Hari itu, langit Kendal mendung. Awan kelabu menggantung rendah, seolah alam ikut merasakan beratnya keputusan yang akan dibacakan. Ruang sidang Pengadilan Negeri Kendal kembali dipenuhi oleh wartawan, keluarga korban, keluarga terdakwa, dan warga yang penasaran dengan nasib anak konglomerat yang dulu disegani itu.
Rahmadi digiring masuk dengan pakaian tahanan berwarna oranye. Wajahnya tampak lebih kurus dari sebelumnya. Jenggotnya dibiarkan tumbuh. Matanya cekung, sayu, dan kosong. Ia tidak lagi menatap tajam seperti dulu. Yang tersisa hanyalah kerangka manusia yang hancur oleh keserakahannya sendiri.
Tangan dan kakinya dirantai.
Setiap langkahnya mengeluarkan suara gemerincing yang mengganggu ketenangan ruang sidang.
Hakim Sutrisno memukul palu.
"PAK!"
"Sidang dengan perkara nomor 124/Pid.B/1999/PN.Kdl atas nama terdakwa Rahmadi bin H. Rahmat (alm) dinyatakan terbuka untuk umum."
Ruangan yang sedari tadi ramai berbisik, mendadak hening.
Ratusan pasang mata tertuju pada Rahmadi.
Rahmadi menunduk. Ia tidak berani menatap siapa pun—tidak pada Ariyanti, tidak pada Akang, tidak pada Siti, tidak pada Herman, tidak pada Bu Sumi, tidak pada Pak Dullah. Hanya lantai dingin di hadapannya yang ia tatap.
Jaksa Ibu Rina berdiri. "Yang Mulia, kami sudah siap dengan tuntutan."
"Silakan."
Ibu Rina membaca tuntutan dengan suara lantang. Ia menuntut Rahmadi dengan hukuman 12 tahun penjara.
Hakim Sutrisno mengangguk. "Terdakwa, apakah ada yang ingin disampaikan sebelum vonis dibacakan?"
Rahmadi berdiri. Tangannya yang diborgol gemetar.
Ia menarik napas panjang. Matanya berkaca-kaca.
"Saya... saya minta maaf."
Ruangan hening.
"Maafkan saya, Ariyanti. Maafkan saya, Akang. Maafkan saya, Siti. Maafkan saya, Bu Sumi. Maafkan saya, Pak Dullah. Maafkan saya, semua yang pernah saya sakiti."
Rahmadi menunduk dalam-dalam.
"Saya tidak pantas diampuni. Tapi saya ingin kalian tahu, saya menyesal. Saya menyesal tidak pernah mendengarkan nasihat baik sejak awal. Saya menyesal karena membiarkan kebencian menguasai hidup saya."
Ariyanti menangis di kursi penonton. Akang menggenggam tangannya.
"Saya menerima apapun vonis yang akan dijatuhkan. Saya pantas menerimanya."
Rahmadi duduk kembali.
Pembacaan Vonis
Ruang sidang – pukul 10.00
Hakim Sutrisno membacakan vonis dengan suara berat. Setiap kata terucap jelas, menusuk relung hati yang mendengar.
"Memperhatikan bukti-bukti, saksi-saksi, keterangan terdakwa, serta fakta-fakta yang terungkap di persidangan, majelis hakim memutuskan:"
"Pertama: Terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana pengeroyokan, pemerasan, penculikan, percobaan kekerasan seksual, kabur dari lembaga pemasyarakatan, dan menyuruh orang lain melakukan percobaan pembunuhan."
"Kedua: Menjatuhkan pidana penjara kepada terdakwa selama 8 (delapan) tahun."
Ruangan mendadak ramai.
"Delapan tahun? Bukannya tuntutan 12 tahun?"
"Iya, kok bisa berkurang?"
"Pasti ada pengaruh dari keluarga."
Bisik-bisik terdengar di berbagai sudut.
Hakim Sutrisno memukul palu. "Terdakwa, apakah menerima vonis?"
Rahmadi berdiri. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi.
"Saya menerima, Yang Mulia. Saya tidak akan naik banding."
"Baik. Sidang selesai."
"PAK!"
Reaksi Ariyanti dan Akang
Ruang sidang – setelah vonis
Ariyanti lemas di kursinya. 8 tahun. Angka itu kecil di telinganya. Setelah semua penderitaan yang ia alami, setelah Akang hampir mati, setelah ia hampir diperkosa, setelah semua air mata dan darah—hanya 8 tahun.
"Ari, kamu tidak apa-apa?" tanya Akang.
"8 tahun, Kang. Apakah itu cukup?"
Akang menghela napas. "Tidak. Tapi itu yang bisa diberikan hukum."
"Apa kita harus menerima?"
"Kita tidak punya pilihan. Yang penting, dia tidak akan bebas dalam waktu dekat."
Bu Sumi menghampiri. "Ini sudah keputusan hakim. Kita harus hormati."
Ariyanti menangis. "Tapi Bu, rasanya tidak adil."
"Memang tidak adil, Ari. Tapi kita tidak bisa mengubahnya. Yang bisa kita ubah adalah masa depan kita."
Reaksi Siti
Ruang sidang – setelah vonis
Siti menggendong Rizki erat-erat. Bayi itu tertidur pulas, tidak tahu bahwa ayah kandungnya baru saja divonis 8 tahun penjara.
"Siti, kamu menangis?" tanya Marni.
"Aku menangis karena Rizki. Dia tumbuh tanpa ayah."
"Tapi dia punya ibu yang hebat. Dan dia punya kita."
Siti tersenyum pahit. "8 tahun. Rizki akan berusia 8 tahun saat ayahnya bebas."
"Kita akan jaga Rizki."
"Terima kasih, Mar."
Reaksi Herman
Ruang sidang – barisan belakang
Herman duduk di barisan paling belakang. Ia tidak berani mendekat. Ia hanya menatap anaknya dari kejauhan.
"8 tahun," pikirnya. "Masih panjang. Tapi tidak separah tuntutan."
Ia berdoa dalam hati.
"Ya Allah, beri anakku kekuatan untuk berubah. Jadikan 8 tahun ini sebagai masa perbaikan dirinya."
Air matanya jatuh.
Reaksi Keluarga H. Rahmat
Pengadilan – halaman parkir
Istri kedua H. Rahmat—Bu Dewi—dan anak-anak tirinya keluar dari ruang sidang dengan wajah tertunduk. Wajah mereka pucat. Ada yang menangis, ada yang diam.
"Bu Dewi, apa tanggapan Ibu soal vonis 8 tahun?" tanya seorang wartawan.
"Saya tidak mau komentar."
"Apakah Ibu akan menjenguk Rahmadi di penjara?"
"Tidak. Rahmadi bukan anak saya."
"Tapi secara hukum, Ibu adalah ibu tirinya."
"Tidak ada hubungan darah. Saya tidak berkewajiban."
Bu Dewi dan anak-anaknya pergi meninggalkan wartawan dengan tatapan heran.
Keputusan Keluarga H. Rahmat
Rumah mewah H. Rahmat – malam itu
Bu Dewi mengadakan rapat keluarga dengan anak-anak kandungnya.
"Kita harus pindah dari Pegandon."
"Pindah, Bu? Ke mana?"
"Ke Semarang. Atau Jakarta. Yang penting jauh dari sini. Nama keluarga kita sudah tercemar."
"Tapi rumah ini..."
"Kita jual. Juga pabrik, tanah, dan semua aset."
"Tapi Bu, itu warisan..."
"Warisan yang tercemar. Lebih baik kita mulai hidup baru. Dengan nama baru."
Anak-anaknya terdiam.
"Apa kalian setuju?"
Mereka mengangguk pelan.
Properti Dijual
Pegandon – Januari hingga Maret 2000
Selama tiga bulan, properti keluarga H. Rahmat laku terjual satu per satu.
Rumah mewah di Jalan Raya Pegandon – Dibeli oleh seorang pengusaha dari Semarang seharga 2 miliar rupiah.
Pabrik penggilingan padi Sumber Makmur – Dibeli oleh koperasi petani setempat dengan harga jauh di bawah pasaran.
Tanah-tanah sawah di berbagai desa – Dijual ke petani penggarap yang selama ini hanya menyewa.
Mobil-mobil mewah – Dilelang.
Perhiasan dan barang berharga – Dijual ke toko emas.
Dalam hitungan bulan, keluarga H. Rahmat yang dulu disegani, kini tinggal nama.
Bu Dewi dan anak-anaknya pindah ke Semarang. Mereka mengganti nama keluarga—tidak lagi menggunakan nama "Rahmat". Mereka memulai hidup baru di kota yang tidak mengenal masa lalu mereka.
Rahmadi di Penjara
Lapas Kelas II A Kendal – Januari 2000
Rahmadi menjalani hari pertamanya sebagai narapidana dengan vonis 8 tahun. Ia ditempatkan di sel yang lebih besar—bukan sel isolasi lagi, karena ia sudah tidak dianggap berbahaya.
Tapi ia tetap dijaga ketat.
Herman mengunjunginya seminggu sekali.
"Nak, bagaimana perasaanmu?"
"Aku baik-baik saja, Ayah. Aku akan jalani ini."
"Apa yang akan kamu lakukan di sini?"
"Aku ingin belajar. Membaca. Mengaji. Menjadi lebih baik."
Herman menangis. "Ayah bangga padamu."
"Jangan bangga dulu, Ayah. Aku masih dalam proses."
Ariyanti Mulai Melupakan
Rumah Ariyanti – Januari 2000
Ariyanti mulai kembali ke rutinitasnya. Sekolah, membantu ibu, bertemu Akang, dan sesekali bermain dengan Rizki.
Tapi bayangan penculikan masih sering muncul dalam mimpinya.
"Yan , kamu masih sering mimpi buruk?" tanya Ibu Ariyanti.
"Iya, Bu. Tapi tidak separah dulu."
"Kamu harus kuat."
"Aku berusaha, Bu."
Akang Menemani Ariyanti
Jalan Randu Gembyang – sore itu
Akang dan Ariyanti berjalan bersama di Jalan Randu Gembyang. Tempat yang dulu menjadi saksi bisu penderitaan mereka, kini mulai terasa biasa lagi.
"Kang, apa kabar Rahmadi?"
"Di penjara, katanya. Herman bilang dia mulai belajar mengaji."
"Benarkah? Apa dia sungguhan berubah?"
"Kita lihat saja nanti. Yang penting, dia tidak bisa menyakiti kita lagi."
"8 tahun, Kang. Setelah itu, dia bebas."
"8 tahun dari sekarang, kita sudah lulus kuliah. Mungkin sudah bekerja. Mungkin sudah..."
Akang tidak melanjutkan.
"Sudah apa, Kang?"
"Sudah menikah."
Ariyanti tersipu. "Jangan bicara begitu. Masih lama."
"Tidak lama. Kita sudah kelas 3. Tahun depan lulus."
Mereka tersenyum.
Siti dan Rizki
Rumah Bu Sumi – sore itu
Siti sedang menyusui Rizki. Bu Sumi duduk di sampingnya.
"Siti, apa rencanamu ke depan?"
"Aku ingin sekolah lagi, Bu. Setelah Rizki bisa ditinggal."
"Kamu mau lanjut ke mana?"
"Aku mau jadi perawat. Biar bisa membantu orang."
"Itu cita-cita yang mulia."
"Aku terinspirasi dari Suster Aminah. Dia baik pada semua pasien."
Bu Sumi tersenyum. "Kamu hebat, Siti. Jangan menyerah."
Pak Dullah Dikenang
SMAN I Pegandon – Februari 2000
Pak Dullah sudah tidak bekerja sebagai penjaga sekolah. Ia pensiun dengan hormat. Kepala sekolah memberikan piagam penghargaan atas jasanya membantu polisi mengungkap kasus penculikan.
"Pak Dullah, terima kasih atas pengabdian Bapak."
"Terima kasih, Pak Kepala."
"Bapak akan kami kenang sebagai pahlawan tanpa tanda jasa."
Pak Dullah tersenyum. Ia tidak butuh penghargaan.
Ia hanya ingin kedamaian.
Herman Menetap di Pegandon
Rumah Herman di Kersan – Maret 2000
Herman memutuskan untuk menetap di Pegandon. Ia membeli sebuah rumah kecil di Dusun Kersan, tidak jauh dari rumah Ariyanti.
"Pak Herman, betah di sini?" tanya Ibu Ariyanti.
"Saya betah. Orang-orang di sini ramah."
"Tidak kangen Jakarta?"
"Tidak. Jakarta hanya kenangan buruk."
"Bagaimana dengan Rahmadi?"
"Saya akan menjenguknya setiap minggu. Saya tidak akan mengulangi kesalahan yang dulu."
Bu Sumi Menulis Buku
Rumah Bu Sumi – April 2000
Bu Sumi menulis buku tentang perjuangan mereka melawan ketidakadilan. Buku itu berjudul "Senja di Tegorejo: Kisah Cinta dan Perlawanan di Kaki Langit".
"Ari, ini bukumu," kata Bu Sumi sambil menyerahkan naskah.
"Bu, saya tidak layak jadi tokoh utama."
"Kamu layak. Kamu dan Akang adalah pahlawan."
Ariyanti menangis.
Akang Semakin Kuat
Dusun Cegunan – Mei 2000
Kaki Akang sudah pulih total. Ia tidak perlu tongkat lagi. Ia bisa berjalan normal, berlari, bahkan membantu ibunya di sawah.
"Kang, kamu sudah sehat," kata Ibu Akang.
"Iya, Bu. Berkat doa Ibu."
"Dan berkat Ariyanti."
Akang tersenyum. "Iya. Ariyanti tidak pernah meninggalkanku."
Ariyanti dan Akang Lulus SMA
SMAN I Pegandon – Juni 2000
Ariyanti dan Akang lulus SMA dengan nilai memuaskan. Ariyanti mendapat peringkat 3 besar. Akang mendapat peringkat 5 besar.
Bu Sumi menangis haru.
"Anak-anak, kalian hebat."
"Ini berkat Ibu, Bu Sumi."
"Bukan. Ini berkat kalian sendiri."
Marni memotret mereka semua. Satu klik. Abadi.
Rahmadi di Penjara – 6 Bulan Vonis
Lapas Kendal – Juni 2000
Rahmadi sudah 6 bulan menjalani hukuman. Ia sudah terbiasa dengan rutinitas penjara: bangun pagi, salat, mengaji, belajar, dan bekerja.
Herman datang mengunjungi.
"Nak, Ariyanti dan Akang lulus SMA. Nilai mereka bagus."
Rahmadi tersenyum pahit. "Mereka pantas bahagia."
"Kamu juga pantas bahagia, Nak. Tapi butuh waktu."
"Aku tahu, Ayah."
Persiapan Kuliah
Rumah Ariyanti – Juli 2000
Ariyanti dan Akang mempersiapkan diri untuk kuliah. Mereka mendaftar ke Universitas Diponegoro Semarang—Akang di Fakultas Pertanian, Ariyanti di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.
"Ari, kita kuliah di Semarang. Jauh dari Tegorejo."
"Kita akan pulang setiap liburan."
"Aku rindu Tegorejo."
"Tegorejo akan selalu menunggu kita."
Perpisahan dengan Tegorejo
Tegorejo – Agustus 2000
Ariyanti, Akang, Marni, Siti (dengan Rizki), Bu Sumi, Pak Dullah, Pak Lurah, Herman, Ibu Ariyanti, Ibu Akang, dan warga desa berkumpul di lapangan desa.
"Ini bukan perpisahan," kata Pak Lurah. "Ini awal dari perjuangan baru."
"Kami akan kuliah. Kami akan kembali. Kami akan bangun desa ini," kata Akang.
"Kami akan buktikan bahwa anak desa bisa sukses," kata Ariyanti.
Warga bertepuk tangan.
Marni memotret mereka semua.
Satu klik.
Kenangan.
Fajar Baru di Tegorejo
Tegorejo – senja sebelum keberangkatan
Ariyanti dan Akang duduk di bawah pohon randu tertua untuk terakhir kalinya sebelum berangkat ke Semarang.
"Kang, 8 tahun lagi Rahmadi bebas."
"Kita sudah jauh melangkah saat itu."
"Apakah kita akan bertemu dengannya?"
"Mungkin. Tapi kita tidak perlu takut lagi."
Mereka berpegangan tangan.
Langit jingga di atas mereka.
Senja terasa hangat.
Seperti pelukan perpisahan dari desa yang mereka cintai.
"Selamat tinggal, Tegorejo. Kami akan kembali."
BAB 44
PERPISAHAN
Akang mendapatkan beasiswa kuliah di Universitas Gadjah Mada. Ariyanti harus tinggal di Tegorejo merawat ibunya yang masih sakit.
Tegorejo – Agustus 2000, dua minggu setelah kelulusan SMA
Kebahagiaan kelulusan masih terasa hangat. Namun, takdir berkata lain. Sebuah kabar besar datang, mengguncang rencana mereka untuk kuliah bersama di Semarang.
Akang diterima di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta melalui jalur beasiswa penuh—sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan. Fakultas Pertanian UGM adalah impian setiap anak desa yang ingin memajukan pertanian di kampung halaman. Ini adalah kesempatan emas yang tidak mungkin ia tolak.
Namun, di sisi lain, Ariyanti tidak bisa mengikuti. Ibu Ariyanti kambuh lagi. Pneumonia yang dulu pernah mengancam nyawanya kembali menyerang. Dokter mengatakan ibunya butuh perawatan intensif setidaknya selama enam bulan ke depan. Ariyanti sebagai anak tertua harus tinggal di Tegorejo, merawat ibunya dan kedua adiknya.
Mimpi kuliah bersama kandas.
Mereka harus berpisah.
Bukan karena putus cinta.
Bukan karena orang tua melarang.
Tapi karena tanggung jawab.
Kabar Beasiswa untuk Akang
Dusun Cegunan – rumah Akang, pagi hari
Surat tebal berkop Universitas Gadjah Mada tiba di rumah Akang melalui pos. Ibu Akang yang menerima surat itu langsung memanggil Akang dengan suara bergetar.
"Kang! Kang! Ada surat dari UGM!"
Akang yang sedang membantu membersihkan halaman berlari ke dalam rumah. Tangannya gemetar saat membuka amplop.
"Mudah-mudahan diterima," bisiknya sambil berdoa.
Ia membaca surat itu. Matanya membelalak.
"Aku... aku diterima, Bu! Fakultas Pertanian UGM! Dengan beasiswa penuh!"
Ibu Akang menangis. "Syukurlah... syukurlah, Nak. Ibu bangga."
Akang memeluk ibunya. Air matanya mengalir—bukan hanya karena bahagia, tapi juga karena ia tahu ini berarti ia harus meninggalkan Tegorejo. Meninggalkan ibunya. Meninggalkan Ariyanti.
"Aku akan kuliah di Jogja, Bu."
"Kapan berangkat?"
"Bulan depan."
Ibu Akang terdiam. "Jauh, Kang. Kamu akan tinggal di sana?"
"Iya, Bu. Asrama."
"Kapan pulang?"
"Liburan, mungkin."
Ibu Akang memeluk anaknya erat-erat. "Jaga diri baik-baik, Nak. Jangan lupa ibadah. Jangan lupa makan. Jangan lupa..."
"Ibu, aku akan baik-baik saja."
Ariyanti Mendengar Kabar
Dusun Kersan – rumah Ariyanti, siang itu
Akang datang dengan surat beasiswanya. Wajahnya campuran antara bahagia dan sedih.
"Ari, aku dapat kabar."
"Kabar apa, Kang?"
"Aku diterima di UGM. Fakultas Pertanian. Beasiswa penuh."
Ariyanti terperanjat. "UGM? Jogja?"
"Iya."
"Jauh sekali, Kang."
"Tapi ini kesempatan yang tidak bisa aku lewatkan."
Ariyanti tersenyum. Meskipun hatinya hancur, ia tidak ingin merusak kebahagiaan Akang.
"Selamat ya, Kang. Kamu pantas."
"Ari... aku ingin kamu ikut."
"Ke Jogja? Aku tidak bisa, Kang. Ibuku sakit."
"Aku tahu. Maaf."
Mereka terdiam. Jauh di relung hati, sama-sama tahu bahwa perpisahan tidak terelakkan.
Ibu Ariyanti Kambuh
Rumah Ariyanti – sore itu
Ibu Ariyanti terbaring lemah. Napasnya sesak. Batuknya kering dan tidak kunjung reda. Ariyanti memanggil dokter desa.
"Dok, ibu saya kenapa?"
"Pneumonia-nya kambuh lagi. Mungkin karena kelelahan atau cuaca. Harus dirawat intensif."
"Apa harus ke rumah sakit?"
"Sebaiknya. Tapi kalau tidak bisa, rawat jalan dengan kontrol rutin."
Ariyanti menangis. Ia tidak punya biaya untuk rawat inap. Herman memang sudah membantu, tapi bantuannya tidak bisa terus-menerus.
"Baik, Dok. Saya rawat di rumah saja."
Akang Menawarkan untuk Menunda
Rumah Ariyanti – malam itu
Akang datang menjenguk Ibu Ariyanti. Ia membawa buah-buahan dan susu.
"Aku bisa menunda kuliah, Ari. Aku bisa daftar ulang tahun depan."
"Jangan, Kang. Ini kesempatanmu."
"Tapi ibumu sakit. Kamu butuh aku."
"Kami bisa mengurus sendiri. Kamu pergi."
"Ari..."
"Kang, jangan bodoh. Beasiswa seperti ini tidak datang dua kali. Kamu harus ambil."
Akang menggigit bibir. "Aku berat meninggalkanmu."
"Kita bisa telepon. Surat-menyurat. Liburan kamu bisa pulang."
Akang memeluk Ariyanti. "Aku akan merindukanmu."
"Aku juga. Tapi ini yang terbaik."
Bu Sumi Memberi Nasihat
Rumah Bu Sumi – keesokan harinya
Ariyanti datang ke rumah Bu Sumi untuk meminta nasihat.
"Bu, Akang dapat beasiswa ke UGM. Dia harus pergi."
"Itu kabar baik, Ari."
"Tapi saya tidak bisa ikut. Ibu saya sakit."
"Kamu harus ikhlas, Ari. Cinta sejati tidak harus selalu bersama secara fisik."
"Apa maksud Ibu?"
"Kalian bisa saling menunggu. Jarak bukan penghalang jika hati sudah terpaut."
"Tapi saya takut, Bu. Takut dia lupa. Takut dia berubah."
"Kalau dia lupa, dia tidak pantas untukmu. Tapi aku yakin Akang bukan tipe itu."
Ariyanti menangis. "Saya akan mencoba ikhlas, Bu."
Marni dan Siti Mendukung
Rumah Bu Sumi – sore itu
Marni dan Siti datang setelah mendengar kabar perpisahan Ariyanti dan Akang.
"Ari, aku ikut sedih," kata Marni.
"Aku juga," kata Siti sambil menggendong Rizki.
"Jangan sedih. Ini yang terbaik untuk Akang."
"Apa kamu tidak cemburu? Dia di Jogja, akan bertemu banyak perempuan cantik."
Ariyanti tersenyum pahit. "Aku percaya padanya."
"Kamu hebat, Ari."
Ibu Akang Menyiapkan Bekal
Dusun Cegunan – seminggu sebelum keberangkatan
Ibu Akang menyiapkan bekal untuk Akang. Bukan bekal makanan, tapi bekal moral.
"Kang, ibu tidak punya harta. Tapi ibu punya doa."
"Aku tahu, Bu."
"Ibu titip pesan: jaga diri, jaga iman, jangan lupa sama Ariyanti."
"Aku tidak akan lupa, Bu."
"Ibu restui kalian. Tapi jangan sampai hamil sebelum menikah."
Akang tersipu. "Ibu, kami tidak... kami belum..."
"Ibu tahu. Tapi ibu ingatkan saja."
Ariyanti Membantu Ibu
Rumah Ariyanti – setiap hari
Ariyanti mengatur jadwal harian untuk merawat ibunya:
Pagi: Membantu ibu mandi, menyiapkan sarapan, memberi obat.
Siang: Menyiapkan makan siang, membersihkan rumah, mencuci.
Sore: Menemani ibu jalan-jalan kecil di halaman.
Malam: Membacakan buku atau Al-Quran untuk ibu.
Rutinitas ini melelahkan. Tapi Ariyanti tidak pernah mengeluh.
"Ibu minta maaf, Yan . Ibu jadi beban."
"Bu, jangan bilang begitu. Ibu bukan beban."
Akang Membantu Ariyanti
Rumah Ariyanti – beberapa hari sebelum berangkat
Akang datang setiap sore untuk membantu Ariyanti. Ia membersihkan halaman, memperbaiki pagar yang rusak, dan sesekali memasak untuk mereka.
"Ari, siapa yang akan memperbaiki pagar ini kalau aku sudah pergi?"
"Aku bisa minta tolong Pak Karto atau Pak Lurah."
"Kamu yakin?"
"Iya, Kang. Jangan khawatir."
Surat Perjanjian
Pohon randu tertua – malam sebelum keberangkatan
Akang dan Ariyanti duduk di bawah pohon randu untuk terakhir kalinya sebelum Akang berangkat. Malam itu, langit cerah. Bintang-bintang bertaburan.
"Kang, aku ingin kita membuat perjanjian."
"Perjanjian apa, Ari?"
"Kita akan menulis surat satu minggu sekali. Tidak boleh bolong."
"Aku setuju."
"Kita akan telepon seminggu sekali, meskipun hanya sebentar."
"Setuju."
"Dan kita akan bertemu di sini setiap liburan."
"Janji."
Mereka bergandengan tangan. Perjanjian itu tidak tertulis, tapi terukir di hati masing-masing.
Pelepasan di Stasiun
Stasiun Kereta Api Kali bodri – pagi keberangkatan
Akang berangkat naik kereta ekonomi menuju Yogyakarta. Ibu Akang, Ariyanti, Bu Sumi, Marni, Siti (dengan Rizki), Pak Lurah, dan Pak Dullah datang melepas.
"Kang, jaga diri baik-baik," kata Ibu Akang sambil menangis.
"Aku akan baik-baik saja, Bu."
Ariyanti mendekat. Mereka berpelukan.
"Kang, jangan lupa janji kita."
"Aku tidak akan lupa."
"Kirim surat begitu sampai."
"Pasti."
Kereta mulai bergerak. Akang naik ke gerbong. Ia melambaikan tangan dari jendela.
"JAGA DIRI, ARI! JAGA IBU! JAGA SEMUANYA!"
Ariyanti melambaikan tangan sambil menangis.
"KAMU JUGA, KANG! JANGAN LUPA AKU!"
Kereta menjauh. Perlahan menghilang di ujung rel.
Ariyanti masih berdiri di peron, menatap kosong ke arah kereta yang sudah tak terlihat.
"Sekarang kita LDR," bisik Marni.
"Bukan LDR. Ini LDT," kata Siti.
"Apa itu LDT?"
"Long Distance Trust. Percaya pada jarak."
Hari Pertama Tanpa Akang
Rumah Ariyanti – sore itu
Rumah terasa sepi. Ariyanti duduk di teras, memandangi Jalan Randu Gembyang yang dulu sering ia lalui bersama Akang.
"Dia benar-benar pergi," pikirnya.
Ibu Ariyanti keluar dari kamar. "Yan , kamu sedih?"
"Sedih, Bu. Tapi aku ikhlas."
"Itu bagus. Cinta sejati tidak harus selalu bersama."
Akang di Jogja
Asrama Mahasiswa UGM – malam pertama
Akang tiba di Jogja dengan perasaan campur aduk. Kota yang ramai, suhu yang dingin, lingkungan yang asing.
Ia duduk di ranjang asramanya, menulis surat pertama untuk Ariyanti.
"Ari..."
"Aku sudah sampai di Jogja. Perjalanan melelahkan, tapi aku selamat."
"Kota ini dingin. Aku kangen kehangatan Tegorejo."
"Aku kangen senja di Jalan Randu Gembyang. Aku kangen pohon randu. Aku kangen kamu."
"Jaga diri baik-baik. Jaga ibumu. Jangan lupa makan."
"Rindu dari Jogja,
Akang"
Ia menitipkan surat itu pada teman satu asrama yang akan pulang ke Kendal akhir pekan ini.
Surat Pertama untuk Akang
Rumah Ariyanti – seminggu kemudian
Ariyanti menerima surat dari Akang. Tangannya gemetar saat membuka amplop. Ia membaca berulang-ulang.
"Aku kangen kamu."
Ia membalas.
"Kang..."
"Suratmu sudah aku terima. Aku senang kamu selamat."
"Ibu masih sakit, tapi perlahan mulai membaik. Rizki sudah bisa merangkak. Marni dan Siti sering mampir."
"Jogja dingin? Di sini panas. Tapi hati terasa dingin tanpamu."
"Jangan lupa janji kita."
"Rindu dari Tegorejo,
Ari"
Menunggu di Bawah Randu
Pohon randu tertua – setiap sore
Ariyanti memiliki kebiasaan baru. Setiap sore, ia duduk di bawah pohon randu tertua selama satu jam. Membayangkan Akang ada di sampingnya. Membacakan puisi untuk angin.
"Kang, aku di sini. Di tempat kita dulu."
"Kapan kamu pulang?"
"Rasanya lama sekali."
Ia tidak menangis. Ia hanya menunggu.
Rutinitas Baru Akang
UGM – hari-hari berikutnya
Akang menjalani rutinitas kuliah. Pagi kuliah, siang belajar di perpustakaan, sore olahraga, malam menulis surat untuk Ariyanti.
Teman-teman barunya bertanya.
"Kang, kamu tidak pacaran? Banyak cewek cantik di sini."
"Aku punya pacar di kampung."
"LDR? Berat itu."
"Aku percaya padanya."
"Kamu setia."
"Aku hanya tidak mau mengkhianati."
Ibu Ariyanti Mulai Membaik
Rumah Ariyanti – Oktober 2000
Ibu Ariyanti perlahan mulai membaik. Batuknya reda. Napasnya lebih lega. Dokter mengatakan antibiotik bekerja baik.
"Yan , kamu bisa kuliah sekarang kalau mau."
"Tidak, Bu. Aku akan kuliah tahun depan. Sekarang aku fokus merawat Ibu."
"Ibu tidak tega melihatmu mengorbankan masa depan."
"Ini bukan mengorbankan, Bu. Ini pilihanku."
Herman Membantu
Rumah Ariyanti – November 2000
Herman datang dengan membawa beras, sayur, dan sedikit uang.
"Ari, ini untuk ibumu."
"Pak Herman, saya tidak bisa terus-terusan menerima."
"Kamu tidak menerima. Ini pinjaman. Nanti kamu bayar kalau sudah bekerja."
"Terima kasih, Pak."
"Bagaimana kabar Akang?"
"Dia baik. Kuliahnya lancar. Katanya nilai bagus."
"Kamu tidak ikut kuliah?"
"Tahun depan. Sekarang saya fokus merawat ibu."
"Kamu anak baik, Ari."
Akang Pulang untuk Liburan
Stasiun Kereta Api Kali Bodri – Desember 2000
Tiga bulan setelah keberangkatan, Akang pulang untuk liburan semester. Ariyanti menunggu di stasiun dengan bunga sederhana—bunga kertas yang tumbuh di pinggir jalan.
"Ari!" teriak Akang dari kejauhan.
"Kang!"
Mereka berpelukan di peron stasiun. Tidak peduli dengan tatapan orang-orang di sekitar.
"Aku rindu, Ari."
"Aku juga, Kang."
Senja Bersama Lagi
Pohon randu tertua – sore itu
Akang dan Ariyanti duduk di bawah pohon randu. Langit jingga di atas mereka. Angin berembus lembut.
"Kang, jangan pergi lagi."
"Aku harus, Ari. Ini demi masa depan kita."
"Aku tahu. Aku hanya... kangen."
"Aku juga. Tapi kita kuat."
Mereka berpegangan tangan.
Di kejauhan, matahari perlahan tenggelam.
Senja di Tegorejo selalu setia menanti.
Seperti Ariyanti menanti Akang.
Seperti cinta yang tak pernah padam meskipun terpisah jarak.
BAB 45
JARAK DAN RINDU
Cinta jarak jauh bukanlah hal mudah. Ada cemburu, ada salah paham, ada malam-malam panjang tanpa kabar.
Tegorejo – Yogyakarta, Januari 2001 – Juni 2002.
Perpisahan bukanlah akhir dari segalanya. Tapi juga bukan awal yang mudah.
Akang dan Ariyanti belajar bahwa cinta jarak jauh adalah ujian yang tak kalah berat dari fitnah, kebakaran, atau penculikan. Bahkan, dalam banyak hal, LDR lebih menyakitkan. Karena dalam fitnah, mereka bisa saling menguatkan secara langsung. Dalam kebakaran, mereka bisa saling menyelamatkan secara fisik. Dalam penculikan, mereka bisa segera bertindak.
Tapi dalam jarak, yang ada hanya telepon yang kadang tidak diangkat. Surat yang kadang terlambat berminggu-minggu. Hening yang mencekik di malam hari. Khayalan buruk yang muncul tanpa diundang.
Ada cemburu buta ketika telepon tidak diangkat. Bukan karena ia tidak percaya. Tapi karena ia terlalu sering melihat orang lain kehilangan orang yang mereka cintai karena jarak. Terlalu sering mendengar cerita tentang pasangan LDR yang kandas di tengah jalan.
Ada salah paham karena kata-kata yang salah tafsir. Sebuah kalimat pendek di telepon bisa berarti seribu macam jika tidak dilihat ekspresi wajahnya. Sebuah candaan bisa terasa seperti penghinaan. Sebuah kabar baik bisa terdengar seperti kabar buruk jika intonasinya salah.
Ada malam-malam panjang tanpa kabar, di mana khayalan terburuk bermunculan di kepala. Jangan-jangan ia kecelakaan. Jangan-jangan ia sakit. Jangan-jangan ia menemukan perempuan lain. Jangan-jangan ia lupa pada janji.
Ada hari-hari di mana Ariyanti hampir menyerah. Ketika hujan deras mengguyur Tegorejo dan ia tidak punya paYan g. Ketika ibunya sakit dan tidak ada yang membantu. Ketika ia merasa sendiri di tengah keramaian desa yang sama.
Ada malam-malam di mana Akang merasa sendiri di tengah keramaian Jogja. Ketika teman-temannya pergi pacaran, ia hanya bisa duduk di asrama, menatap ponsel, berharap ada kabar.
Tapi mereka bertahan.
Bukan karena mudah. Bukan karena tidak ada godaan. Bukan karena tidak ada air mata.
Tapi karena janji di bawah pohon randu. Janji yang diucapkan dengan jari kelingking saling bertautan. Janji yang tidak tertulis di atas kertas. Janji yang hanya tersimpan di hati.
Janji itu tidak boleh dilanggar.
Rutinitas Baru yang Melelahkan
Tegorejo, Januari 2001.
Ariyanti menjalani hari-harinya dengan rutinitas yang melelahkan.
Pagi-pagi buta, ketika ayam jantan tetangga masih tidur, ia sudah bangun. Jam menunjukkan pukul 04.00. Ia mengambil air wudhu dari ember di belakang rumah. Air dingin menusuk kulit, tapi ia sudah terbiasa.
Ia memasak untuk ibu dan adik-adiknya. Nasi di kuali. Sayur di panci. Lauk seadanya. Kadang telur. Kadang tempe. Kadang hanya sambal.
Setelah selesai memasak, ia membersihkan rumah. Menyapu lantai tanah. Mengelap perabotan. Membereskan pakaian yang berserakan.
Lalu ia membantu ibunya mandi dan minum obat. Ibunya sudah sembuh dari pneumonia, tapi masih harus kontrol rutin. Masih harus minum obat setiap hari.
Siang harinya, kadang ia membantu Bu Sumi mengajar anak-anak desa yang tidak bisa sekolah. Di balai desa. Di bawah pohon randu. Di mana pun yang memungkinkan. Anak-anak itu datang dengan buku lusuh dan pensil pendek. Ariyanti mengajari mereka membaca. Menulis. Berhitung. Dengan sabar. Dengan kasih sayang.
Sore harinya, ia pergi ke sawah. Membantu Pak Karto. Sebagai rasa terima kasih. Karena Pak Karto dulu pernah membantu biaya rumah sakit ibunya. Pak Karto sudah tua. Tidak punya anak. Sawahnya tidak terurus.
Malam harinya, ia menunggu telepon dari Akang.
Tapi tidak setiap malam Akang bisa menelepon.
Kadang ia sibuk kuliah. Tugas menumpuk. Praktikum di laboratorium. Diskusi kelompok yang tidak bisa dihindari.
Kadang telepon umum di asramanya sedang rusak. Asrama tua yang tidak pernah diperbaiki. Kabel-kabel kusut. Suara putus-putus.
Kadang ia kehabisan uang untuk membeli pulsa. Di tahun 2001, ponsel belum umum. Mahasiswa masih menggunakan telepon umum atau wartel. Wartel, warung telekomunikasi, dengan tarif per menit yang lumayan mahal untuk ukuran anak desa.
"Yan , Akang belum telepon?" tanya Ibu Ariyanti dari dapur.
"Belum, Bu." Ariyanti menatap telepon. "Mungkin sibuk."
"Kamu tidak khawatir?"
"Sedikit, Bu." Ariyanti menghela napas. "Tapi aku percaya padanya. Dia tidak akan melupakanku."
Akang di Jogja
UGM, Januari 2001.
Akang menjalani kehidupan sebagai mahasiswa perantauan. Jauh dari rumah. Jauh dari Tegorejo. Jauh dari Ariyanti.
Ia tinggal di asrama yang sederhana. Rumah susun dua lantai. Dinding bata plester. Lantai keramik murah. Kamar berukuran 3x4 meter. Berbagi dengan tiga orang mahasiswa lain dari berbagai daerah.
Teman-temannya baik. Mereka akrab. Saling membantu dalam suka dan duka.
Tapi mereka sering bercanda.
"Kang, kamu masih setia sama pacarmu?" Budi, teman sekamarnya dari Jakarta, tertawa sambil memandangi foto Ariyanti di dinding. "Di sini banyak cewek cantik, lho. Lebih cantik dari pacarmu."
"Bukan masalah cantik atau tidak, Bud." Akang tidak tersinggung. "Ini soal komitmen."
"Kamu tidak penasaran?"
"Tidak." Akang menggeleng. "Aku sudah punya janji."
Tapi di balik keteguhannya, ada kalanya Akang merasa iri. Melihat teman-temannya bisa pacaran setiap hari. Jalan bareng setelah kuliah. Makan bareng di kantin. Belajar bareng di perpustakaan. Pulang bareng di sore hari.
Sementara ia hanya bisa mengirim surat dan menelepon seminggu sekali. Itupun kalau tidak ada halangan. Kalau telepon umum tidak rusak. Kalau wartel tidak terlalu ramai. Kalau ia tidak kehabisan uang.
Surat yang Terlambat
Tegorejo, Februari 2001.
Ariyanti tidak menerima surat dari Akang selama tiga minggu.
Padahal janji mereka adalah seminggu sekali. Surat bergantian. Minggu ini dari Ariyanti untuk Akang. Minggu depan dari Akang untuk Ariyanti. Tidak pernah bolong.
Tiga minggu tanpa kabar.
Ariyanti mulai cemas.
Jangan-jangan Akang sakit. Jangan-jangan Akang kecelakaan. Jangan-jangan Akang... menemukan perempuan lain.
"Marni, kamu tahu kabar Akang?" Ariyanti bertanya suatu sore. Marni datang membawa kamera.
"Aku juga tidak tahu, Ari." Marni duduk di sampingnya. "Mungkin suratnya terlambat. Pos kadang lambat. Apalagi dikirim dari Jogja ke sini."
"Tiga minggu, Mar." Ariyanti menggigit bibir. "Itu tidak biasa."
"Kamu telepon dia."
"Aku tidak punya pulsa." Ariyanti menunduk. "Telepon ke Jogja mahal."
Marni meminjamkan uangnya. Ariyanti pergi ke wartel desa. Warung kecil yang menyediakan sambungan telepon. Di pinggir jalan. Dengan papan kayu bertuliskan "WARTEL".
Jarinya gemetar memutar nomor.
"Halo, dengan Akang?" suaranya bergetar.
"Ya, Ari? Ada apa?" suara Akang di seberang terdengar jauh.
"Kamu kenapa tidak kirim surat?" Ariyanti hampir menangis. "Aku khawatir."
"Maaf, Ari." Akang menghela napas. "Aku sibuk ujian. Nilai aku jelek di dua mata kuliah. Aku harus remediasi. Maaf, aku lupa."
"Kamu tidak apa-apa?"
"Aku baik-baik saja. Hanya lelah." Akang terdiam sebentar. "Ari, aku janji akan lebih sering kabari."
"Lain kali kabari aku, Kang." Ariyanti mengusap air matanya. "Jangan diam saja."
"Janji."
Cemburu Buta
Tegorejo, Maret 2001.
Marni membawa kabar yang tidak mengenakkan.
"Ari, lihat ini." Marni menunjukkan selembar print out. Foto dari milis kampus.
Ariyanti melihat foto itu. Matanya terpaku.
Akang berdiri di samping seorang perempuan berjilbab. Mereka tersenyum. Berdiri agak dekat. Tidak terlalu dekat, tapi cukup untuk membuat Ariyanti tidak nyaman.
"Siapa itu?" Ariyanti menunjuk perempuan itu.
"Entahlah, Ari." Marni menggeleng. "Teman sekelas mungkin."
"Tapi kenapa mereka begitu dekat?"
Marni tidak bisa menjawab.
Malam itu, Ariyanti tidak bisa tidur.
Ia berguling-guling di tempat tidur. Membayangkan hal-hal yang tidak-tidak.
Apa Akang selingkuh? Apa dia sudah bosan? Apa dia menemukan yang lebih baik? Lebih cantik. Lebih pintar. Lebih kaya. Lebih modern.
Ia menelepon Akang keesokan paginya. Wartel buka jam 8. Ia sudah menunggu sejak jam 7.
"Akang, siapa perempuan di foto itu?" suara Ariyanti dingin.
"Perempuan apa?" Akang bingung. "Foto mana?"
"Foto di milis kampus, Kang." Ariyanti menahan amarah. "Kamu berdiri di samping perempuan berjilbab. Kalian tersenyum."
"Ah, itu Sari." Akang tertawa. "Teman kelompok. Kami sedang mengerjakan tugas. Sari ketua kelompok."
"Kalian tampak dekat, Kang."
"Ari, jangan cemburu." Akang menghela napas. "Sari sudah punya pacar. Sari juga tahu aku punya kamu. Aku cerita tentang kamu. Tentang perjuangan kita."
"Kamu yakin?"
"Ari, aku tidak akan selingkuh." Akang menggenggam telepon lebih erat. "Sudah janji. Ingat?"
Salah Paham
UGM, Maret 2001.
Akang merasa tersinggung dengan kecurigaan Ariyanti.
Ia mengira Ariyanti tidak percaya padanya.
"Ari, kenapa kamu mudah curiga?" Akang menatap telepon umum di depannya. "Apa aku pernah mengecewakanmu? Apa aku pernah berbohong? Apa aku pernah menyakiti?"
"Belum, Kang." Suara Ariyanti pelan. "Tapi jarak membuatku takut."
"Kamu harus percaya, Ari." Akang menghela napas. "Tanpa percaya, hubungan ini tidak akan berjalan."
"Aku percaya, Kang." Ariyanti terdiam sebentar. "Tapi kadang rasa takut itu muncul begitu saja. Aku tidak bisa mengendalikannya."
Akang menghela napas.
"Aku mencintaimu, Ari." Suaranya melembut. "Hanya kamu. Tidak ada yang lain. Tidak akan ada yang lain."
"Aku juga mencintaimu, Kang."
Mereka berdamai.
Tapi luka kecil dari salah paham itu masih tersisa. Seperti serpihan kaca yang tidak terlihat. Menusuk di saat yang tidak terduga.
Malam-Malam Panjang Tanpa Kabar
Tegorejo, April 2001.
Akang tidak menelepon selama dua minggu.
Ariyanti sudah mencoba menghubungi. Telepon di asrama tidak diangkat. Surat yang ia kirim tidak dibalas.
Ia mulai panik.
"Bu, Akang tidak kabar." Ariyanti duduk di samping ibunya. "Aku takut ada apa-apa."
"Coba telepon Herman, Nak." Ibu Ariyanti mengusap rambut anaknya. "Mungkin beliau tahu."
Ariyanti menelepon Herman.
"Pak Herman, apakah Bapak tahu kabar Akang?" suara Ariyanti bergetar.
"Aku juga tidak tahu, Ari." Herman menghela napas. "Tapi jangan khawatir. Mungkin dia sibuk. Ujian. Tugas. Praktikum."
"Tapi dua minggu, Pak." Ariyanti hampir menangis. "Dua minggu tanpa kabar. Itu tidak seperti biasanya."
"Besok aku coba hubungi, Ari." Herman menutup telepon.
Ternyata, Akang terkena demam berdarah.
Ia dirawat di rumah sakit selama seminggu. Badannya panas. Tidak bisa makan. Hanya bisa terbaring lemah.
Ia tidak memberi tahu siapa pun. Tidak ingin membuat khawatir.
"Akang, kenapa kamu tidak bilang?" Ariyanti menangis saat akhirnya terhubung.
"Aku tidak ingin kamu khawatir, Ari." Suara Akang lirih. "Ibumu masih sakit. Kamu juga sibuk."
"Aku lebih khawatir kalau kamu diam, Kang." Ariyanti menangis. "Aku lebih khawatir tidak tahu kabarmu."
"Maafkan aku, Ari."
Bu Sumi Memberi Nasihat
Rumah Bu Sumi, Mei 2001.
Bu Sumi memanggil Ariyanti untuk sekadar berbincang.
"Ari, Ibu dengar hubunganmu dengan Akang sedang diuji." Bu Sumi menuangkan teh.
"Iya, Bu." Ariyanti menunduk. "Jarak ini berat. Sangat berat."
"Ibu tahu, Ari." Bu Sumi tersenyum. "Tapi ingat, jarak bukanlah penghalang jika hati sudah terpaut. Yang menjadi penghalang adalah keraguan dan kecurigaan."
"Aku mencoba tidak curiga, Bu." Ariyanti menggigit bibir. "Tapi kadang perasaan itu muncul begitu saja."
"Itu wajar, Ari." Bu Sumi menggenggam tangan Ariyanti. "Namanya juga manusia. Tapi jangan biarkan perasaan itu menguasaimu. Jangan biarkan rasa takut mengalahkan cinta."
Siti Berbagi Pengalaman
Rumah Bu Sumi, sore itu.
Siti yang ikut mendengarkan nasihat Bu Sumi turut angkat bicara.
"Ari, aku dulu juga LDR." Siti menggendong Rizki. "Dengan mantanku, sebelum Rahmadi. Tapi aku tidak kuat. Aku selingkuh."
"Apa yang membuatmu selingkuh, Sit?" Ariyanti menatap Siti.
"Kesepian." Siti menunduk. "Rasa tidak diperhatikan. Juga godaan dari laki-laki lain yang selalu ada di sekitarku."
"Sekarang kamu bagaimana?"
"Sekarang aku fokus pada Rizki." Siti tersenyum. "Laki-laki? Nanti dulu. Aku belum siap."
"Jadi aku harus kuat, Sit?"
"Kamu harus, Ari." Siti menggenggam tangan Ariyanti. "Karena Akang berbeda. Dia setia. Dia tidak akan selingkuh. Aku tahu."
Akang di Jogja – Godaan
UGM, Oktober 2001.
Seorang mahasiswi bernama Dewi mulai mendekati Akang.
Dewi cantik. Kulit putih. Rambut hitam panjang. Pakaian modis. Parfum mahal. Ia juga pintar. Rangking di kelas. Aktif di organisasi.
Ayahnya adalah pengusaha sukses di Jogja. Pemilik butik. Pemilik restoran. Mobil mewah.
Dewi tahu Akang punya pacar di kampung. Tapi ia tidak peduli.
"Kang, kamu tidak bosan pacaran jarak jauh?" Dewi duduk di samping Akang di kantin. "Aku di sini, lho."
"Aku sudah punya pacar, Dewi." Akang tidak menatapnya.
"Tapi dia jauh." Dewi mendekat. "Aku di sini."
"Aku sudah punya pacar, Dewi." Akang berdiri. "Maaf."
Dewi tidak menyerah.
Ia sering mengajak Akang makan. Belajar bareng. Jalan-jalan. Akang selalu menolak dengan halus. Tidak kasar. Tidak menyakiti.
Suatu hari, Dewi menyatakan perasaannya secara terang-terangan.
"Akang, aku suka sama kamu." Dewi menatap Akang. "Mau jadi pacarku?"
"Dewi, aku sudah punya pacar." Akang menatap Dewi. "Aku tidak akan selingkuh."
"Apa yang dia punya yang tidak aku punya?" Dewi mengepalkan tangan.
"Dia punya kesetiaan, Dewi." Akang tersenyum. "Dan itu yang paling berharga."
Dewi pergi dengan kecewa.
Ariyanti di Tegorejo – Godaan
Tegorejo, November 2001.
Seorang pemuda bernama Andri mulai sering mampir ke rumah Ariyanti. Andri adalah teman sekelas Ariyanti waktu SMA. Dulu tidak terlalu dekat. Tapi sekarang, ia sering datang.
Andri mengaku membantu Ariyanti merawat ibunya. Padahal, ibunya sudah sehat.
"Ari, kamu sendirian di sini." Andri duduk di kursi bambu. "Akang di Jogja. Kenapa tidak cari pacar yang lebih dekat?"
"Andri, aku sudah punya pacar." Ariyanti tidak menatapnya.
"Dia tidak pernah di sini, Ari." Andri mendekat. "Dia tidak pernah membantu."
"Dia membantu dengan caranya sendiri, Andri." Ariyanti mundur. "Kamu tidak perlu ikut campur."
"Kamu tidak bosan, Ari?"
"Tidak."
Andri terus mendekat.
Suatu hari, ia mencoba meraih tangan Ariyanti.
"Andri, jangan!" Ariyanti melepaskan.
"Ari, aku suka sama kamu." Andri meraih lagi.
"Pergi!" Ariyanti berdiri. "Aku tidak butuh laki-laki macam kamu!"
Andri pergi dengan malu.
Ariyanti menangis. Ia menelepon Akang.
"Kang, ada laki-laki yang mendekatiku." suaranya bergetar.
"Siapa? Apa yang dia lakukan?" suara Akang meninggi.
"Andri." Ariyanti menggigit bibir. "Dia... dia meraih tanganku."
"Kamu baik-baik saja, Ari?"
"Aku baik, Kang." Ariyanti mengusap air mata. "Aku usir dia."
"Syukurlah."
"Aku tidak akan selingkuh, Kang." Ariyanti menggenggam telepon lebih erat. "Janji."
Bertengkar karena Kesalahpahaman
Tegorejo – Jogja, Desember 2001.
Akang mendengar kabar bahwa Ariyanti sering ketemuan dengan Andri.
Kabar yang tidak benar. Disebarkan oleh orang yang iri. Mungkin teman sekelas yang iri melihat Ariyanti bahagia. Mungkin tetangga yang suka bergosip.
"Ari, katanya kamu sering jalan sama Andri." Suara Akang dingin.
"Itu fitnah, Kang!" Ariyanti hampir berteriak. "Aku hanya pernah ketemu dia sekali. Itu pun di rumah. Waktu dia mampir."
"Aku dengar dari orang yang bisa dipercaya, Ari."
"Orang itu bohong, Kang!" Ariyanti menangis. "Kamu lebih percaya dia daripada aku?"
"Aku tidak tahu lagi, Ari."
Mereka bertengkar hebat lewat telepon.
Akang mematikan telepon.
Ariyanti menangis semalaman.
Besoknya, Akang menelepon lagi.
"Maaf, Ari." Suaranya pelan. "Aku terlalu cemburu."
"Maaf juga, Kang." Ariyanti masih menangis. "Aku mungkin kurang memberi kabar. Aku mungkin terlalu sibuk."
Mereka berdamai.
Tapi luka itu membutuhkan waktu untuk sembuh.
Marni Menjadi Penengah
Rumah Ariyanti, Desember 2001.
Marni datang dengan kamera kesayangannya.
"Ari, kamu dan Akang harus saling percaya." Marni duduk di samping Ariyanti. "Kalau tidak, hubungan kalian tidak akan bertahan."
"Aku percaya, Mar." Ariyanti menggigit bibir. "Tapi kadang..."
"Tapi kadang rasa takut itu muncul. Aku tahu." Marni menggenggam tangan Ariyanti. "Tapi ingat, kalian sudah melewati banyak badai. Fitnah. Kebakaran. Kecelakaan. Koma. Penculikan. Jangan biarkan jarak menghancurkan kalian."
Rizki Tumbuh Besar
Rumah Bu Sumi, Januari 2002.
Rizki sudah berjalan.
Usianya hampir 3 tahun. Rambutnya hitam. Matanya bulat. Pipinya tembam.
Siti menggendongnya saat berkunjung ke rumah Bu Sumi.
"Ari, lihat Rizki." Siti menurunkan Rizki. "Dia lucu."
"Iya, Sit." Ariyanti menggendong Rizki. "Mirip kamu."
"Semoga tidak mirip bapaknya." Siti tersenyum pahit.
"Jangan bicara begitu, Sit." Ariyanti menatap Rizki. "Dia anak yang baik."
Rizki mendekati Ariyanti.
"Bibi..." panggilnya.
Ariyanti menggendong Rizki.
"Pintar kamu, Rizki."
Akang Merindukan Tegorejo
UGM, Februari 2002.
Akang duduk di taman kampus.
Langit Jogja biru. Matahari bersinar hangat. Angin berhembus sejuk.
Tapi hatinya tidak tenang.
Ia merindukan Tegorejo. Merindukan pohon-pohon randu yang bergoyang ditiup angin. Merindukan senja di Jalan Randu Gembyang. Merindukan Ariyanti.
Ia menulis surat.
"Ari..."
"Aku rindu. Aku rindu senja di Tegorejo. Aku rindu duduk di bawah pohon randu bersamamu."
"Aku rindu cara kamu tersenyum. Aku rindu suaramu. Aku rindu tawamu."
"Dua tahun lagi aku lulus, Ari. Dua tahun lagi aku pulang."
"Tunggulah aku."
"Akang"
Ibu Ariyanti Sembuh Total
Rumah Ariyanti, Maret 2002.
Setelah hampir dua tahun dirawat dengan penuh kesabaran, Ibu Ariyanti akhirnya sembuh total.
Dokter mengatakan pneumonia-nya sudah tidak kambuh lagi.
"Yan , kamu bisa kuliah sekarang." Ibu Ariyanti menggenggam tangan Ariyanti.
"Tapi Bu, Akang masih di Jogja." Ariyanti menunduk. "Aku bisa kuliah di Semarang saja. Dekat. Tidak perlu jauh-jauh."
"Jangan karena aku, Yan ." Ibu Ariyanti menghela napas. "Kamu mengorbankan masa depan."
"Ini bukan mengorbankan, Bu." Ariyanti menatap ibunya. "Ini pilihanku."
Akang Mendapat Kabar Baik
UGM, April 2002.
Akang mendapat kabar. Ariyanti akan kuliah di Semarang.
Universitas Negeri Semarang (UNNES). Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia. Cita-cita sejak kecil. Menjadi guru.
"Ari, aku bangga padamu." suara Akang di telepon.
"Aku belum kuliah, Kang." Ariyanti tertawa. "Masih daftar."
"Kamu pasti diterima, Ari." Akang tersenyum. "Doakan aku juga. Aku juga akan lulus."
"Doakan aku, Kang."
Ariyanti Diterima di UNNES
Rumah Ariyanti, Juni 2002.
Surat penerimaan dari UNNES tiba.
Amplop putih. Cap pos basah. Perangko segel.
Ariyanti membukanya dengan tangan gemetar.
"Aku diterima, Bu!" teriaknya.
Ibu Ariyanti menangis.
"Akhirnya... anak Ibu kuliah."
Marni dan Siti datang merayakan. Mereka membawa kue bolu buatan sendiri.
"Selamat, Ari!"
"Terima kasih, Mar, Sit."
Akang dan Ariyanti Bertemu Lagi
Stasiun Kereta Api Kendal, Juli 2002.
Akang pulang untuk liburan musim panas.
Kereta dari Jogja tiba pukul 09.00. Ariyanti sudah menunggu sejak pukul 08.00. Tidak sabar.
Akang turun dari kereta.
Mereka berpelukan lama.
"Ari, kamu tidak berubah." Akang melepaskan pelukan.
"Kamu juga, Kang." Ariyanti tersenyum. "Masih kurus."
"Kangen, Ari?"
"Kangen, Kang."
Mereka berjalan ke Jalan Randu Gembyang. Menuju pohon randu tertua.
Di Bawah Pohon Randu Lagi
Pohon randu tertua, sore itu.
"Ari, kita sudah melewati jarak dan rindu selama dua tahun." Akang menggenggam tangan Ariyanti.
"Iya, Kang." Ariyanti membalas genggamannya. "Banyak cemburu. Banyak salah paham. Malam-malam panjang tanpa kabar."
"Tapi kita bertahan, Ari."
"Karena kita percaya, Kang."
Mereka berpegangan tangan.
Langit jingga di atas mereka.
Senja di Tegorejo terasa hangat lagi.
Janji yang Tak Pernah Pudar
Tegorejo, senja itu.
"Ari, setelah aku lulus, kita akan menikah." Akang menatap Ariyanti.
"Kapan, Kang?"
"Setelah kamu lulus juga, Ari." Akang tersenyum. "Setelah kita berdua menyandang gelar sarjana."
"Jadi kita kuliah dulu?"
"Iya, Ari." Akang mengangguk. "Kita selesaikan kuliah. Lalu kita bangun desa ini. Bersama."
"Aku setuju, Kang."
Mereka berpelukan.
Di kejauhan, matahari perlahan tenggelam.
Jarak dan rindu bukan lagi penghalang.
Tapi penguat.
Karena mereka tahu, setelah badai, pasti ada pelangi.
BAB 46
KEMBALINYA SESEORANG
Siti melahirkan. Bayi itu laki-laki, mirip Rahmadi. Tapi Siti memilih membesarkannya sendiri tanpa menikah.
RSUD Kendal – Maret 2000 (kilas balik – tiga bulan setelah vonis Rahmadi)
Siti terbaring lemah di ruang bersalin. Keringat membasahi seluruh tubuhnya. Tangannya menggenggam erat ujung bantal. Rasa sakit yang luar biasa selama 12 jam akhirnya terbayar sudah.
"Terus, Bu. Dorong!" kata dokter kandungan, Dr. Lia.
"AAAA... YA ALLAH!" teriak Siti.
"KELIHATAN KEPALANYA! SEKALI LAGI, BU!"
Siti mengumpulkan sisa tenaganya. Satu dorongan terakhir.
Bayi itu keluar.
Tangisannya memecah keheningan ruang bersalin.
"Selamat, Bu. Bayi laki-laki. Berat 3,2 kilogram. Panjang 49 sentimeter. Sehat."
Siti lemas. Air matanya mengalir—bukan karena sakit, tapi karena haru.
"Akhirnya... kau lahir, Nak."
Bayi Itu
RSUD Kendal – ruang perawatan pasca melahirkan
Siti menggendong bayinya dengan hati-hati. Bayi itu masih merah, keriput, tapi sudah menunjukkan garis-garis wajah yang familiar.
Dahi yang lebar. Hidung yang mancung. Mata yang sayu.
"Dia mirip Rahmadi," pikir Siti.
Ia tidak tahu harus merasa apa. Senang? Sedih? Takut? Campur aduk.
Perawat menghampiri. "Bu Siti, bayi Bapak sehat. Apa Bapak sudah punya nama?"
Siti menggeleng. "Belum."
"Kalau sudah, tulis di formulir."
"Baik."
Siti menatap bayinya. Laki-laki kecil yang tidak berdosa. Ia tidak akan mewarisi dosa ayahnya. Ia akan tumbuh dengan kasih sayang.
"Aku akan beri nama yang baik untukmu."
Bu Sumi Datang
RSUD Kendal – sore itu
Bu Sumi datang bersama Marni dan Ariyanti. Mereka membawa bubur ayam, susu, dan popok kain.
"Siti! Selamat ya!" sapa Bu Sumi.
"Terima kasih, Bu."
"Bayinya di mana?" tanya Marni.
"Di ruang perawatan. Sebentar lagi dikembalikan."
Ariyanti memegang tangan Siti. "Kamu hebat, Sit."
"Aku tidak hebat. Aku hanya ibu yang berusaha."
Perawat masuk membawa bayi yang sudah dibedong rapi.
"Bu Siti, ini bayinya."
Siti menggendongnya lagi. Marni dan Ariyanti mengelilingi.
"Lucu banget, Sit!" kata Marni.
"Mirip siapa?" tanya Ariyanti.
Siti terdiam. "... mirip bapaknya."
Bu Sumi mengusap kepala Siti. "Tidak apa. Yang penting dia sehat. Dan dia punya kita."
Memberi Nama
RSUD Kendal – malam itu
Siti memandangi bayinya yang tertidur pulas. Ia sudah memikirkan nama sejak lama, tapi selalu ragu.
"Aku harus beri nama yang baik. Nama yang tidak mengingatkan pada masa lalu yang kelam."
Ia membuka Al-Qur'an kecil pemberian Herman. Mencari inspirasi.
Matanya jatuh pada surat Maryam—tentang seorang ibu yang melahirkan sendirian, tanpa suami, namun tetap kuat.
"Maryam."
Tapi itu nama perempuan.
Lalu ia melihat surat Yusuf—tentang seorang pemuda yang tetap baik meskipun diuji.
"Yusuf."
Tapi Siti ingin nama yang bermakna harapan.
"Muhammad Rizki."
Rizki artinya rezeki. Bayi ini adalah rezeki terindah dalam hidupnya.
"Kamu akan diberi nama Muhammad Rizki, Nak. Panggilan Rizki."
Bayi itu bergerak sedikit, seperti merespon.
Herman Menjenguk
RSUD Kendal – keesokan harinya
Herman datang dengan membawa bingkisan besar. Wajahnya cerah, tapi ada gurat haru di matanya.
"Siti, mana cucu saya?"
Siti tersenyum. "Ini, Pak. Rizki."
Herman menggendong Rizki dengan hati-hati. Tangannya gemetar—ini pertama kalinya ia menggendong cucu.
"Dia mirip... mirip Rahmadi waktu bayi."
Siti menunduk. "Maaf, Pak. Saya tidak bisa memberi Rahmadi kabar baik ini."
"Kenapa?"
"Dia di penjara. Apa dia akan peduli?"
"Rahmadi sudah berubah, Siti. Percayalah."
Herman mengeluarkan surat dari sakunya. "Ini dari Rahmadi untukmu. Untuk Rizki."
Surat dari Rahmadi
"Siti..."
"Aku mendengar kabar dari Ayah bahwa kau sudah melahirkan. Selamat. Maaf aku tidak bisa ada di sisimu."
"Aku tidak pantas meminta apa-apa. Tapi aku ingin kau tahu: aku akan berusaha menjadi ayah yang baik untuk anak kita. Entah kapan, tapi aku akan berusaha."
"Jaga Rizki. Jangan sampai dia tumbuh seperti aku."
"Rahmadi"
Siti membaca surat itu berulang-ulang. Air matanya jatuh.
"Apa dia serius?" tanya Siti pada Herman.
"Serius. Dia mengaji setiap hari. Nilai-nilainya bagus. Dia juga ikut program pembinaan."
"Apakah dia akan berubah?"
"Aku tidak tahu. Tapi kita harus beri dia kesempatan."
Keputusan Siti untuk Tidak Menikah
Rumah Bu Sumi – April 2000, setelah pulang dari rumah sakit
Siti menggendong Rizki. Bu Sumi, Marni, dan Ariyanti duduk di sekelilingnya.
"Siti, apa rencanamu ke depan?" tanya Bu Sumi.
"Aku akan membesarkan Rizki sendiri."
"Tidak ada rencana menikah?"
"Tidak. Tidak sekarang. Mungkin tidak selamanya."
"Kenapa?" tanya Marni.
"Aku belum siap. Aku masih trauma dengan laki-laki."
"Tapi Rizki butuh ayah," kata Ariyanti.
"Rizki butuh kasih sayang. Kasih sayang tidak harus dari ayah kandung."
Bu Sumi mengangguk. "Itu pilihanmu. Kami akan mendukung."
Tetangga Bergosip
Dusun Kersan – April 2000
Kabar bahwa Siti melahirkan anak tanpa suami menyebar cepat. Gosip-gosip jahat mulai bermunculan.
"Itu anak haram."
"Ibunya juga bekas selingkuhan Rahmadi."
"Pantasan tidak mau menikah. Mungkin tidak ada yang mau."
Siti mendengar gosip itu. Ia menangis.
"Ari, kenapa orang-orang begitu kejam?"
"Karena mereka tidak tahu apa yang kamu alami. Jangan pedulikan mereka."
"Aku mencoba. Tapi ini berat."
"Kamu punya kami. Kami tidak akan meninggalkanmu."
Siti Mulai Bekerja
Rumah Bu Sumi – Mei 2000
Siti memutuskan untuk bekerja. Ia tidak mau terus-menerus bergantung pada Herman atau Bu Sumi.
Ia melamar di pabrik kerupuk dekat pasar Pegandon. Kerjanya mengemas kerupuk. Gajinya kecil, tapi cukup untuk kebutuhan Rizki.
"Rizki, Mamah bekerja agar kamu bisa makan," bisiknya pada bayinya sebelum berangkat.
Bayi itu tertawa.
Rizki Tumbuh
Rumah Bu Sumi – September 2000
Rizki sudah bisa tengkurap. Usianya 6 bulan. Ia lucu, gemuk, dan sangat aktif.
Siti sering membawanya ke rumah Ariyanti.
"Ari, Rizki lucu banget."
"Iya. Dia punya senyum manis."
"Seperti siapa?"
"Seperti ibunya."
"Jangan. Aku tidak manis."
"Kamu manis, Sit. Hanya saja kamu tidak percaya diri."
Rahmadi Bertanya Kabar
Lapas Kendal – Oktober 2000
Herman mengunjungi Rahmadi dengan membawa foto-foto Rizki.
"Ini anakmu, Nak."
Rahmadi menerima foto itu. Tangannya gemetar.
"Dia... dia mirip aku."
"Iya. Dahi, hidung, dan matanya."
"Kenapa namanya Rizki?"
"Karena dia adalah rezeki untuk Siti. Dan mungkin juga untukmu."
Rahmadi menangis. "Ayah, aku ingin bertemu dia."
"Nanti. Saat kau bebas. Atau jika Siti mengizinkan."
"Apakah Siti akan mengizinkan?"
"Aku tidak tahu. Tapi kita bisa berusaha."
Siti Menolak Pernikahan
Rumah Bu Sumi – Desember 2000
Seorang pemuda bernama Slamet—tetangga Bu Sumi—melamar Siti. Ia seorang duda dengan satu anak, pekerja keras, dan baik hati.
"Siti, saya tahu masa lalu Bapak tidak mudah. Tapi saya tidak peduli. Saya ingin membahagiakan Bapak dan Rizki."
Siti terdiam.
"Slamet, saya tidak bisa."
"Kenapa?"
"Saya belum siap. Saya masih trauma. Saya tidak mau Rizki tumbuh dengan ayah tiri yang mungkin suatu hari nanti berubah."
"Siti, saya tidak akan berubah."
"Saya takut. Maaf."
Slamet pergi dengan kecewa.
Bu Sumi menasihati. "Siti, kau tidak selamanya bisa sendiri."
"Saya tahu, Bu. Tapi untuk sekarang, saya ingin fokus pada Rizki."
Siti Belajar Ikhlas
Rumah Bu Sumi – Januari 2001
Siti belajar menerima kenyataan bahwa ia akan membesarkan Rizki sendirian. Tanpa suami. Tanpa pasangan. Hanya dengan dukungan orang-orang di sekitarnya.
"Rizki, Mamah akan berusaha jadi ibu terbaik untukmu."
Bayi itu tertawa.
Rizki Berjalan
Rumah Bu Sumi – Mei 2001
Rizki sudah bisa berjalan. Usianya 14 bulan. Ia berlari-lari kecil di halaman rumah Bu Sumi, membuat semua orang tertawa.
"Siti, anakmu lincah sekali," kata Bu Sumi.
"Iya, Bu. Seperti... seperti bapaknya dulu."
"Tapi dia akan tumbuh berbeda."
"Saya harap begitu."
Surat Rahmadi untuk Rizki
Lapas Kendal – Juli 2001
Rahmadi menulis surat untuk Rizki. Surat yang tidak akan dibaca Rizki sampai ia dewasa.
"Nak Rizki..."
"Ayahmu ini orang jahat. Ayahmu ini pengecut. Ayahmu ini pantas di penjara."
"Tapi ayahmu ingin berubah. Karena kamu. Karena senyummu di foto."
"Ayah tidak akan memaksamu memanggilku ayah. Ayah hanya berharap, suatu hari nanti, kau bisa memaafkan ayah."
"Rahmadi"
Surat itu disimpan Herman, untuk diberikan pada Rizki saat usianya 17 tahun nanti.
Rizki Ulang Tahun Pertama
Rumah Bu Sumi – Maret 2001
Rizki genap berusia 1 tahun. Siti merayakan sederhana. Hanya Ariyanti, Akang (yang sedang liburan), Marni, Bu Sumi, Pak Lurah, Pak Dullah, dan Herman.
"Selamat ulang tahun, Rizki!" teriak mereka.
Rizki yang belum mengerti apa-apa, hanya tertawa melihat balon warna-warni.
Siti menangis haru.
"Kenapa kamu menangis?" tanya Ariyanti.
"Aku bahagia. Rizki sehat. Dia punya banyak orang yang sayang padanya."
"Kami akan selalu sayang pada Rizki."
Siti Mulai Terbuka dengan Herman
Rumah Herman – Januari 2002
Siti mulai sering berkunjung ke rumah Herman. Bukan karena mau dekat, tapi karena Herman satu-satunya keluarga dari pihak Rahmadi yang peduli pada Rizki.
"Pak Herman, apa Rahmadi masih bertanya kabar Rizki?"
"Setiap minggu, Siti. Setiap minggu."
"Apa dia benar-benar berubah?"
"Dia sudah banyak berubah. Dia belajar mengaji. Dia ikut program pengembangan diri. Nilai-nilainya bagus."
"Aku masih belum bisa memaafkan."
"Itu wajar. Butuh waktu."
Rizki Bertanya tentang Ayah
Rumah Bu Sumi – Juni 2002
Rizki sudah bisa bicara. Usianya 2 tahun 3 bulan. Suatu hari, ia bertanya pada Siti.
"Mamah, Rizki punya ayah?"
Siti terdiam. Ia tidak siap.
"Ada, Nak. Tapi ayah sedang di tempat yang jauh."
"Kapan pulang?"
"Entah... mungkin lama."
Rizki tidak bertanya lebih lanjut. Siti lega.
Tapi ia tahu, suatu hari nanti, pertanyaan itu akan muncul lagi.
Keputusan Siti untuk Kuliah
Rumah Bu Sumi – Agustus 2002
Siti memutuskan untuk kuliah. Ia ingin menjadi perawat, seperti cita-citanya dulu. Rizki akan dititipkan pada Bu Sumi saat ia kuliah.
"Bu, saya bisa titip Rizki?"
"Tentu. Rizki sudah seperti cucu saya."
"Terima kasih, Bu."
"Kapan kamu daftar?"
"Tahun depan. Saya siapkan dulu."
Doa untuk Siti
Rumah Bu Sumi – malam itu
Bu Sumi, Ariyanti, Marni, dan Siti duduk bersama di ruang tengah.
"Apa doamu untuk Rizki?" tanya Ariyanti.
"Doaku: semoga dia tumbuh menjadi anak yang baik. Tidak seperti bapaknya."
"Doaku: semoga dia sehat, cerdas, dan berbakti pada ibu."
"Doaku: semoga dia bisa memaafkan ayahnya suatu hari nanti."
"Doaku: semoga dia bangga punya ibu sepertimu."
Siti menangis. "Terima kasih, semuanya."
Rizki – Masa Depan yang Cerah
Tegorejo – senja itu
Siti menggendong Rizki di bawah pohon randu tertua. Ariyanti, Akang, Marni, Bu Sumi, dan Herman ada di sampingnya.
"Rizki, lihat pohon ini. Ini pohon randu. Tempat bibi dan paman dulu sering bertemu."
Rizki tertawa.
"Suatu hari, kamu akan punya cerita sendiri. Cerita yang indah. Tidak seperti cerita mamah."
Matahari perlahan tenggelam.
Siti memeluk Rizki erat.
"Aku tidak tahu masa depan. Tapi aku tahu, aku akan berjuang untukmu."
BAB 47
AKANG PULANG
Setelah dua tahun di Jogja, Akang pulang ke Tegorejo untuk meminang Ariyanti.
Stasiun Kereta Api Kendal – Juli 2002, pukul 09.00
Matahari pagi bersinar cerah di atas Stasiun Kereta Api Kendal. Burung-burung gereja beterbangan di sekitar atap stasiun yang tua. Suara kereta api dari kejauhan mulai terdengar—sebuah suara yang sudah sangat familiar di telinga Akang setelah dua tahun bolak-balik Jogja-Kendal.
Tapi hari ini berbeda.
Hari ini, Akang tidak pulang hanya untuk liburan. Ia pulang dengan misi besar: meminang Ariyanti.
Setelah dua tahun menjalani hubungan jarak jauh—penuh cemburu, salah paham, dan malam-malam tanpa kabar—Akang merasa sudah waktunya melangkah ke jenjang yang lebih serius.
Ia sudah lulus kuliah. Gelar Sarjana Pertanian dari UGM disandangnya dengan predikat cumlaude. Ia sudah punya rencana masa depan yang jelas: bekerja di Dinas Pertanian Kabupaten Kendal sambil mengembangkan desanya.
Kini, satu hal yang tersisa: meminta restu untuk mempersunting perempuan yang setia menunggunya.
Kereta api mulai merambat masuk ke stasiun. Uap putih mengepul dari cerobong lokomotif. Akang yang duduk di dekat jendela gerbong ekonomi sudah tidak sabar. Ia sudah melihat bayangan orang-orang yang menunggu di peron.
Di antara kerumunan itu, ia melihat sesosok perempuan dengan kerudung biru muda, berdiri dengan gelisah, matanya menerawang mencari-cari.
Ariyanti.
Akang tersenyum. Hampir dua tahun ia tidak melihat wajah itu secara langsung—hanya melalui foto dan surat. Kini, ia akan segera memeluknya.
Kereta berhenti. Pintu dibuka. Akang turun dengan langkah cepat.
"Ari!" teriaknya.
Ariyanti menoleh. Wajahnya cerah oleh senyum. Ia berlari kecil, lalu mereka berpelukan di peron stasiun.
"Kang... akhirnya kamu pulang."
"Aku pulang, Ari. Untuk selamanya."
Perjalanan Menuju Tegorejo
Jalan Raya Pegandon – pukul 10.00
Akang dan Ariyanti naik angkutan umum menuju Tegorejo. Mereka duduk bersebelahan di kursi belakang yang agak longgar. Akang menggenggam tangan Ariyanti sepanjang perjalanan.
"Kang, kamu kurusan."
"Kamu juga."
"Bohong. Aku tambah gemuk."
"Tidak. Kamu tetap cantik."
Ariyanti tersipu. "Jangan gombal. Nanti malu sama sopir."
Sopir angkutan yang mendengar tertawa kecil. "Anak muda, pacaran ya? Lucu."
Mereka berdua tersipu malu.
Sambutan di Rumah Akang
Dusun Cegunan – pukul 11.00
Ibu Akang sudah menunggu di depan pintu. Begitu melihat Akang turun dari angkutan, ia langsung memeluk anaknya.
"Kang! Ibu kangen!"
"Aku juga kangen, Bu."
"Kamu sudah makan? Kamu kurus!"
"Belum, Bu. Aku lapar."
Ibu Akang langsung berlari ke dapur menyiapkan makanan. Akang tersenyum melihat ibunya yang masih energik meskipun usianya sudah tidak muda lagi.
"Ari, masuk."
Ariyanti masuk ke rumah Akang. Rumah itu sudah sedikit berubah—dindingnya sudah bercat putih, atapnya sudah diganti genteng baru, dan ada kursi tamu dari kayu jati.
"Wah, rumah Bapak sudah bagus," kata Ariyanti.
"Karena Ibu. Ibu bekerja keras."
Ibu Akang keluar dengan nasi liwet dan ayam goreng. "Makan, Kang. Ari juga makan."
Mereka makan bersama. Suasana hangat.
Rencana Akang
Rumah Akang – sore itu
"Ari, aku mau bicara serius."
"Tentang apa, Kang?"
"Tentang masa depan kita."
Ariyanti terdiam. Jantungnya berdebar.
"Aku sudah lulus. Aku punya pekerjaan. Aku mau..."
Akang meraih tangan Ariyanti.
"Aku mau meminangmu, Ari."
Ariyanti memucat. Dadanya sesak. Ia tidak menyangka Akang akan secepat itu.
"Ari, aku serius. Aku tidak bercanda."
Ariyanti menangis. "Kang... apa kamu yakin? Aku belum lulus kuliah. Aku belum punya kerja."
"Aku tidak butuh kamu punya kerja. Aku butuh kamu di sisiku."
"Apa kata ibumu?"
"Ibu sudah setuju. Tadi pagi Ibu bilang 'Ibu sudah lama menantikan momen ini'."
Ariyanti tersenyum sambil menangis. "Kang, aku juga ingin. Tapi..."
"Tapi apa?"
"Aku harus minta restu ibuku dulu."
Akang ke Rumah Ariyanti
Dusun Kersan – sore itu, pukul 16.00
Akang datang ke rumah Ariyanti dengan berpakaian rapi—kemeja putih, celana bahan hitam, dan sarung di bahu. Ia membawa bingkisan: buah-buahan, kue kering, dan seikat bunga mawar—bukan seratus tangkai seperti Rahmadi dulu, hanya satu tangkai, tapi bermakna.
Ibu Ariyanti yang sedang duduk di teras terkejut melihat Akang datang dengan pakaian rapi.
"Nak Akang? Ada apa? Kok pakaian rapi?"
"Bu, saya ingin bicara."
"Silakan masuk."
Ariyanti yang ada di dalam kamar keluar dengan wajah gugup. Ia sudah tahu apa yang akan dilakukan Akang.
Akang duduk di kursi tamu. Ia menarik napas panjang.
"Bu, saya ingin meminang Ariyanti."
Ibu Ariyanti terdiam. Tangannya berhenti mengelus kucing.
"Kamu serius, Nak?"
"Sangat serius, Bu."
"Apa kamu sudah punya pekerjaan?"
"Saya sudah lulus dari UGM. Saya akan bekerja di Dinas Pertanian Kabupaten Kendal."
"Pendapatan?"
"Cukup untuk menikah dan menghidupi keluarga, Bu."
"Di mana kamu akan tinggal?"
"Saya akan bangun rumah di Dusun Cegunan. Dekat dengan ibu saya. Tapi Ariyanti boleh memilih, mau tinggal di mana."
Ibu Ariyanti menangis. "Nak Akang, saya sudah lama merestui kalian."
"Terima kasih, Bu."
"Tapi satu syarat."
"Apa, Bu?"
"Jangan sampai Ariyanti hamil sebelum menikah."
Akang tersipu. "Insya Allah, Bu."
Lamaran
Rumah Ariyanti – seminggu kemudian
Hari lamaran tiba. Akang datang dengan rombongan keluarga: Ibu Akang, Pak Lurah (sebagai saksi), Bu Sumi, Pak Dullah, dan Herman.
Mereka membawa seserahan: Al-Qur'an, sajadah, perhiasan emas sederhana, pakaian, dan uang lamaran seadanya.
Akang tidak kaya. Tapi ia datang dengan ketulusan.
Ibu Ariyanti menerima lamaran itu dengan haru.
"Terima kasih, Nak Akang. Semoga kalian bahagia."
"Amin, Bu."
Ariyanti dipanggil keluar. Ia menunduk malu, wajahnya merona.
"Ri, kamu setuju?" tanya Akang.
Ariyanti mengangguk pelan. "Setuju."
Mereka berdua dipersilakan duduk bersebelahan. Pak Lurah memimpin doa.
"Semoga Allah meridhoi dan memberkahi."
Kabar untuk Warga
Tegorejo – setelah lamaran
Kabar bahwa Akang dan Ariyanti bertunangan menyebar cepat. Warga bergembira. Mereka sudah lama menanti pasangan ini bersatu.
"Baguslah. Mereka sudah melalui banyak rintangan," kata warga.
"Mereka pantas bahagia."
Pak Karto memberikan sekarung beras untuk hadiah pertunangan.
"Untuk kalian berdua. Semoga berkah."
"Terima kasih, Pak Karto."
Rizki dan Akang
Rumah Bu Sumi – sore itu
Siti datang dengan Rizki yang sudah berusia 2,5 tahun. Rizki berlari-lari kecil menghampiri Akang.
"Paman Akang!" seru Rizki.
Akang menggendong Rizki. "Wah, kamu sudah besar."
"Iya. Rizki sudah pintar."
Siti tersenyum. "Kang, selamat ya. Kamu dan Ari akhirnya bertunangan."
"Terima kasih, Sit."
"Jangan sia-siakan Ari. Dia perempuan baik."
"Aku tidak akan."
Herman Memberi Restu
Rumah Herman – malam itu
Herman mengundang Akang dan Ariyanti makan malam.
"Nak Akang, saya tidak punya hubungan keluarga dengan kalian. Tapi saya sudah menganggap kalian seperti keluarga."
"Terima kasih, Pak Herman."
"Ini sedikit hadiah untuk pernikahan kalian nanti."
Herman memberikan amplop berisi uang.
"Pak, ini terlalu banyak."
"Ambil. Ini untuk masa depan kalian."
Ariyanti menangis. "Pak Herman, kami tidak tahu harus membalas."
"Balas dengan membahagiakan satu sama lain."
Akang dan Ariyanti di Pohon Randu
Jalan Randu Gembyang – malam setelah lamaran
Mereka berdua berjalan ke pohon randu tertua. Langit malam cerah. Bintang-bintang bertaburan.
"Kang, ingat kita pertama kali ke sini?"
"Ingat. Waktu SMP."
"Aku tidak menyangka akan sampai di titik ini."
"Aku juga."
Mereka duduk bersandar di akar pohon.
"Ari, kita sudah melewati banyak badai. Fitnah, kebakaran, kecelakaan, penculikan, koma, LDR, cemburu, salah paham."
"Tapi kita tetap di sini. Bersama."
"Apa rahasianya?"
"Kita tidak pernah menyerah."
Mereka berpegangan tangan.
Marni Mendokumentasi
Pohon randu – malam itu
Marni datang dengan kameranya. "Minta foto kalian berdua."
"Marni, malam-malam begini?" kata Ariyanti.
"Ini momen bersejarah. Aku harus abadikan."
Marni memotret Akang dan Ariyanti yang duduk di bawah pohon randu dengan latar bintang-bintang.
"Ini akan menjadi foto paling berharga dalam arsipku."
Surat untuk Rahmadi
Rumah Ariyanti – beberapa hari kemudian
Ariyanti menulis surat untuk Rahmadi melalui Herman.
"Rahmadi..."
"Kabar baik. Aku dan Akang baru saja bertunangan. Kami akan menikah tahun depan setelah aku lulus kuliah."
"Aku tidak tahu apakah kau akan membaca surat ini. Tapi aku ingin kau tahu: aku sudah memaafkanmu."
"Tidak mudah. Tapi aku memilih untuk tidak terus membenci."
"Aku berdoa semoga kau berubah menjadi lebih baik. Untuk dirimu sendiri, untuk Herman, untuk Rizki."
"Ariyanti"
Herman membawa surat itu ke lapas.
Rahmadi Membaca Surat
Lapas Kendal – Agustus 2002
Rahmadi membaca surat itu berulang-ulang. Air matanya jatuh.
"Ariyanti... memaafkanku."
Ia tidak menyangka. Setelah semua yang ia lakukan—fitnah, pengeroyokan, penculikan, percobaan kekerasan—gadis itu masih mau memaafkannya.
"Ayah, aku ingin membalas suratnya."
"Silakan, Nak."
Rahmadi menulis:
"Ariyanti..."
"Aku tidak pantas menerima maafmu. Tapi aku menerimanya dengan penuh syukur."
"Selamat atas pertunanganmu. Semoga kau bahagia dengan Akang. Dia laki-laki yang jauh lebih baik dariku."
"Doakan aku di penjara ini."
"Rahmadi"
Persiapan Pernikahan
Tegorejo – September 2002 – Januari 2003
Akang dan Ariyanti mulai mempersiapkan pernikahan yang rencananya digelar setelah Ariyanti lulus kuliah.
Akang – mencari lokasi untuk membangun rumah di Dusun Cegunan, tidak jauh dari rumah ibunya. Ia juga mengurus administrasi di Dinas Pertanian.
Ariyanti – fokus menyelesaikan skripsinya di UNNES. Ia mengambil tema tentang pendidikan karakter di sekolah dasar.
Ibu Ariyanti – mulai mempersiapkan pakaian dan perhiasan untuk putrinya.
Ibu Akang – mulai mempersiapkan seserahan dan masakan untuk acara pernikahan.
Bu Sumi – menjadi koordinator acara.
Marni – menjadi fotografer.
Siti – membantu dengan Rizki yang ikut sibuk.
Ariyanti Lulus
UNNES Semarang – Januari 2003
Ariyanti lulus dengan nilai memuaskan. Gelar Sarjana Pendidikan Bahasa Indonesia disandangnya.
Akang datang ke wisuda. Ia membawa karangan bunga sederhana.
"Selamat, Ari."
"Terima kasih, Kang."
"Akhirnya kita berdua sudah lulus. Sekarang kita bisa menikah."
"Aku setuju."
Mereka berpelukan di halaman kampus.
Penentuan Tanggal Pernikahan
Rumah Ariyanti – Februari 2003
Kedua keluarga berkumpul untuk menentukan tanggal pernikahan. Setelah berdiskusi, disepakati 12 Mei 2003.
"Kenapa 12 Mei?" tanya Akang.
"Itu hari jadi kita pertama kali ketemu di SMP," kata Ariyanti.
Akang tersenyum. "Kamu hafal?"
"Aku hafal semua yang berhubungan denganmu."
Mereka tersenyum.
Rizki Menjadi Penerima Cincin
Persiapan pernikahan – April 2003
Ariyanti meminta Siti untuk menjadikan Rizki sebagai penerima cincin di acara pernikahan.
"Siti, apakah Rizki mau?"
"Mau, Ari. Rizki suka sama Akang."
"Terima kasih, Sit."
Rizki yang mendengar namanya disebut berlari kecil. "Rizki mau!"
Mereka semua tertawa.
Malam Sebelum Pernikahan
Rumah Ariyanti – 11 Mei 2003, malam
Ariyanti tidak bisa tidur. Ia duduk di teras rumahnya, memandangi langit malam.
Ibu Ariyanti keluar. "Yan , tidak tidur?"
"Tidak bisa, Bu. Deg-degan."
"Wajar. Besok kamu akan menikah."
"Ibu, aku takut."
"Takut apa?"
"Aku takut tidak bisa menjadi istri yang baik."
"Kamu sudah baik. Tinggal terus belajar."
Malam Sebelum Pernikahan – Sisi Akang
Rumah Akang – 11 Mei 2003, malam
Akang juga tidak bisa tidur. Ia duduk di teras rumahnya. Ibu Akang menghampiri.
"Kang, kenapa belum tidur?"
"Aku tidak bisa tidur, Bu."
"Kamu deg-degan?"
"Iya, Bu. Besok aku akan menikahi perempuan yang aku cintai."
"Ibu doakan semoga kalian bahagia."
"Terima kasih, Bu."
Doa untuk Keduanya
Tegorejo – tengah malam
Di rumah masing-masing, Ibu Ariyanti dan Ibu Akang berdoa untuk anak-anak mereka.
"Ya Allah, satukan hati mereka. Jadikan pernikahan mereka sebagai ibadah. Jauhkan mereka dari perselisihan. Anugerahi mereka keturunan yang saleh dan salehah."
"Lindungi mereka dari segala kejahatan. Berkahi rezeki mereka."
"Aamiin."
Fajar di Hari Pernikahan
Tegorejo – 12 Mei 2003, pukul 04.00
Fajar menyingsing di ufuk timur. Burung-burung mulai berkicau. Tegorejo terbangun untuk hari yang bersejarah.
Ariyanti telah mandi dan berhias. Ibu Ariyanti membantunya memakai riasan sederhana—tidak berlebihan, karena kecantikan Ariyanti adalah kecantikan alami.
Akang telah memakai jas hitam dan kemeja putih. Rambutnya disisir rapi.
Di luar, halaman rumah Ariyanti sudah dihiasi janur dan umbul-umbul.
Para tamu mulai berdatangan. Marni sibuk dengan kameranya.
Rizki gemas dengan setelan jas kecilnya.
Akang tiba dengan iringan keluarga.
"Bismillah, saya datang untuk meminang putri Ibu."
Ibu Ariyanti tersenyum. "Silakan masuk."
BAB 48
LAMARAN DI KAKI LANGIT
Dengan restu kedua keluarga, Akang melamar Ariyanti di bawah pohon randu tertua di Jalan Randu Gembyang.
Tegorejo, 12 Mei 2003, pukul 08.00.
Matahari pagi bersinar cerah di atas Tegorejo. Langit biru tanpa awan, seperti kanvas yang baru saja dicat oleh tangan tak terlihat. Warna biru yang sempurna, tidak terlalu tua, tidak terlalu muda. Seolah alam ikut merestui hari yang istimewa ini.
Udara segar khas desa dengan aroma tanah basah dan dedaunan memenuhi setiap sudut. Bau yang tidak bisa ditemukan di kota. Bau yang mengingatkan pada masa kecil, pada kebersamaan, pada kesederhanaan yang membuat hidup terasa lebih bermakna.
Hari ini, Jalan Randu Gembyang tidak seperti biasanya.
Jalan setapak yang biasa sunyi dan hanya dilalui oleh petani yang pulang dari sawah, oleh anak-anak yang berlarian ke sekolah, oleh ibu-ibu yang berjalan ke pasar, kini dihiasi umbul-umbul dan janur melengkung. Umbul-umbul warna-warni, merah, kuning, hijau, berkibar ditiup angin pagi. Janur melengkung yang dirangkai dengan telaten oleh tangan-tangan warga yang bergotong royong sejak semalam.
Dari pertigaan depan Dusun Kersan hingga pohon randu tertua, sepanjang hampir satu kilometer, warga bergotong royong memasang hiasan. Tidak ada yang dibayar. Tidak ada yang diminta. Semua datang dengan sukarela. Karena mereka tahu, ini bukan sekadar lamaran biasa. Ini adalah puncak dari perjuangan panjang dua anak desa yang tidak pernah menyerah pada keadaan.
Di bawah pohon randu tertua, pohon yang telah menyaksikan ribuan senja, ribuan air mata, ribuan doa, pohon yang batangnya sebesar pelukan tiga orang dewasa, yang akarnya menjalar ke tanah seperti naga yang tertidur, yang daunnya berguguran setiap musim kemarau, kini didirikan pelaminan sederhana.
Bukan pelaminan mewah dengan emas dan permata. Bukan pelaminan yang dihias dengan bunga-bunga impor yang harganya selangit. Tapi pelaminan dari bambu dan kain putih bersih, dihiasi bunga-bunga kertas buatan tangan Ariyanti sendiri dan rangkaian melati yang dipetik dari kebun tetangga. Sederhana. Bersahaja. Tapi penuh makna.
Di sinilah Akang Supriyadi, pemuda miskin dari Dusun Cegunan yang dulu hanya bercita-cita menjadi insinyur pertanian, yang dulu seragamnya kusut karena disetrika dengan arang, yang dulu sepatunya bolong, yang dulu sering tidak makan siang karena uang sakunya habis untuk membeli buku, yang dulu hampir mati dikeroyok preman, yang dulu hampir kehilangan kaki, yang dulu koma berhari-hari, akan melamar Ariyanti.
Ariyanti, gadis desa yang setia menunggunya di balik badai. Ariyanti, yang tidak pernah menyerah meskipun dunia berusaha menjatuhkannya. Ariyanti, yang membaca puisi di samping tempat tidurnya saat ia koma. Ariyanti, yang melompat pagar rumah sakit hanya untuk menemaninya. Ariyanti, yang menolak tawaran Rahmadi meskipun ibunya sakit parah.
Di sinilah cinta yang diuji oleh fitnah, kebakaran, kecelakaan, koma, penculikan, LDR, cemburu, dan salah paham, akhirnya menemukan pelabuhannya.
Bukan pelabuhan yang tenang tanpa badai. Tapi pelabuhan yang siap menghadapi badai apa pun. Bersama.
Persiapan Terakhir di Rumah Ariyanti
Dusun Kersan, pukul 06.00.
Ariyanti terbangun sejak subuh.
Ia tidak bisa tidur nyenyak semalaman. Bukan karena gugup, bukan karena cemas, bukan karena takut. Tapi karena bahagia. Bahagia yang luar biasa. Bahagia yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata.
Ibu Ariyanti sudah sibuk di dapur sejak pukul 04.00. Suara ulekan dan wajan terdengar dari balik dinding anyaman bambu. Bau bawang dan rempah-rempah menyebar ke seluruh rumah. Ibu memasak nasi liwet, ayam ingkung, dan lauk-pauk lainnya untuk para tamu. Tidak mewah. Tapi cukup. Cukup untuk berbagi kebahagiaan.
"Yan , kamu sudah mandi?" teriak Ibu Ariyanti dari dapur. Suaranya bersemangat. Tidak seperti dulu yang selalu lelah dan cemas.
"Belum, Bu. Sebentar lagi."
"Cepat! Nanti calonmu datang!"
Ariyanti tersenyum mendengar kata "calonmu". Rasanya masih seperti mimpi. Setelah semua yang mereka lalui, setelah air mata yang tak terhitung jumlahnya, setelah darah yang tertumpah, setelah luka yang tak kunjung sembuh, setelah hampir kehilangan nyawa berkali-kali, akhirnya ia dan Akang akan bersatu dalam ikatan yang sah.
Ia berlari ke kamar mandi. Air dingin menyegarkan tubuhnya. Ia keramas dengan sabar, menggosok tubuh dengan jeruk nipis agar wangi alami. Tidak memakai parfum mahal. Ariyanti tidak butuh itu. Kecantikannya adalah kecantikan alami yang tidak perlu ditambah-tambah.
Setelah mandi, ia mengenakan kebaya putih sederhana peninggalan ibunya. Kebaya itu dulu dipakai ibunya saat menikah dengan ayahnya. Kain batiknya juga warisan. Ariyanti tidak punya uang untuk membeli pakaian baru. Tapi ia tidak malu. Kebaya putih itu bersih, rapi, dan penuh makna.
Ibu Ariyanti masuk ke kamar. Air matanya menetes melihat anaknya berdandan.
"Yan , kamu cantik." Ibu Ariyanti mengusap air matanya. "Mirip ibu dulu. Waktu ibu masih muda. Waktu ibu pertama kali memakai kebaya ini."
"Bu, jangan nangis." Ariyanti memeluk ibunya. "Nanti aku ikut nangis. Make-upku rusak."
"Ini tangis bahagia, Nak." Ibu Ariyanti melepaskan pelukan. "Ibu tidak menyangka akan melihat hari ini. Ibu hampir putus asa dulu. Ibu hampir kehilangan harapan. Tapi lihat sekarang. Anak Ibu akan dilamar oleh laki-laki yang baik."
Persiapan di Rumah Akang
Dusun Cegunan, pukul 06.30.
Akang juga sudah siap sejak subuh.
Ia memakai kemeja putih lengan panjang, celana bahan hitam, dan sarung batik di bahu. Rambutnya disisir rapi, sesuatu yang jarang ia lakukan karena biasanya ia hanya menyisir seadanya, asal tidak kusut.
Ibu Akang mengamati anaknya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Matanya basah.
"Nak Akang, kamu ganteng." Ibu Akang tersenyum. "Ibu bangga."
"Terima kasih, Bu."
"Jangan lupa bawa seserahan."
"Ingat, Bu." Akang menghitung dengan jari. "Buku, sajadah, perhiasan emas, pakaian, dan uang."
"Kamu tidak membawa mawar seratus tangkai?"
Akang tertawa. "Tidak, Bu. Cukup satu tangkai. Itu lebih bermakna. Satu tangkai mawar dari hati lebih berharga daripada seratus tangkai yang dibeli dengan uang."
Ibu Akang tersenyum. "Kamu bijak, Nak. Mawar seratus tangkai dari Rahmadi dulu tidak pernah berhasil. Mawar satu tangkai darimu, insya Allah berhasil. Karena bukan jumlahnya yang penting. Tapi ketulusannya."
Mereka berdoa bersama sebelum berangkat. Di ruang tamu yang sempit. Di atas sajadah yang sudah usang.
"Ya Allah, lancarkan perjalanan anakku." Ibu Akang menengadahkan tangan. "Mudahkan lamarannya. Satukan hatinya dengan Ariyanti dalam ikatan yang Engkau ridhoi. Jauhkan mereka dari segala rintangan. Berkahi cinta mereka."
Iring-iringan Menuju Pohon Randu
Jalan Randu Gembyang, pukul 08.00.
Iring-iringan keluarga Akang berjalan kaki dari Dusun Cegunan menuju pohon randu tertua.
Tidak ada mobil mewah. Tidak ada iring-iringan motor yang membunyikan klakson. Tidak ada rombongan marching band. Hanya langkah kaki yang bersahaja. Hanya senyum yang tulus. Hanya doa yang dipanjatkan dalam hati.
Di depan, berjalan Akang dengan langkah tegar. Tidak seperti dulu ketika ia berjalan pincang dengan tongkat di tangan. Kini ia berjalan normal, tegak, penuh percaya diri.
Di belakangnya, Ibu Akang, Pak Lurah sebagai saksi, Pak Dullah, Bu Sumi, dan Herman. Juga diikuti oleh beberapa warga desa yang ingin menyaksikan momen bersejarah ini.
Marni sudah berada di lokasi dengan kameranya. Kamera tua yang sudah menemani nya sejak kasus fitnah selebaran dulu. Kamera yang sama yang ia gunakan untuk merekam bukti-bukti kejahatan Rahmadi. Kini, kamera itu digunakan untuk merekam kebahagiaan.
Ia memotret setiap sudut, setiap momen. Tidak ingin melewatkan satu detik pun.
Siti datang dengan Rizki yang sudah berusia 2 tahun lebih. Rizki memakai setelan jas kecil berwarna biru laut, hadiah dari Herman untuk cucu kesayangannya. Jas itu sedikit kebesaran, tapi tetap membuatnya tampak lucu.
"Siti, Rizki kok diam saja?" tanya Marni sambil mengatur fokus kameranya.
"Lagi ngantuk, Mar." Siti menggendong Rizki. "Dia bangun jam 4 tadi. Ikutan sibuk. Tidak mau tidur lagi."
Rizki menguap lucu. Marni memotretnya.
Di Bawah Pohon Randu
Pohon randu tertua, pukul 08.15.
Di bawah pohon randu, pelaminan sederhana sudah siap. Pelaminan dari bambu yang diikat dengan tali rapia, ditutup kain putih bersih, dihiasi bunga-bunga kertas buatan tangan Ariyanti dan rangkaian melati yang dipetik dari kebun tetangga.
Ariyanti duduk di kursi pengantin. Kursi kayu sederhana yang dihias kain putih dan bunga melati. Wajahnya tertunduk malu. Pipinya merona. Matanya berkaca-kaca.
Di sampingnya, duduk Ibu Ariyanti. Wajahnya tegang, tapi bahagia. Tangannya menggenggam erat tangan Ariyanti.
Di belakang mereka, berdiri beberapa kerabat dan tetangga dekat.
Akang dan iring-iringannya tiba.
Langkah Akang terhenti sejenak ketika melihat Ariyanti.
Cantik sekali, pikirnya.
Ia tidak pernah melihat Ariyanti secantik ini. Kebaya putih yang sederhana. Kain batik yang sudah agusol. Senyum malu-malu yang membuat jantungnya berdebar kencang.
Itu lebih dari cukup. Lebih dari cukup untuk membuatnya yakin bahwa ia telah memilih yang tepat.
Pak Lurah maju ke depan dan memimpin acara.
"Bismillahirrahmanirrahim. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh."
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab semua yang hadir.
"Hari ini, kita berkumpul di bawah pohon randu tertua di Jalan Randu Gembyang." Suara Pak Lurah lantang. "Untuk menyaksikan lamaran saudara Akang Supriyadi kepada saudari Ariyanti."
"Semoga acara ini berjalan lancar dan diridhoi Allah SWT."
Sambutan dari Keluarga Akang
Pohon randu, pukul 08.20.
Ibu Akang maju ke depan mewakili keluarga Akang. Suaranya bergetar menahan haru. Tangannya yang memegang mikrofon gemetar.
"Assalamu'alaikum. Saya Siti Supriyati, ibu dari Akang Supriyadi."
"Saya mewakili keluarga besar dari Dusun Cegunan." Ibu Akang menghela napas. "Ingin menyampaikan bahwa kami sangat berbahagia dan bangga. Karena anak kami, Akang Supriyadi, ingin meminang putri dari keluarga besar dari Dusun Kersan, saudari Ariyanti."
"Akang adalah anak yang baik." Ibu Akang menangis. "Pekerja keras. Bertanggung jawab. Taat beribadah. Tidak pernah mengeluh. Kami yakin dia akan menjadi suami yang baik untuk Ariyanti."
"Kami juga mengucapkan terima kasih pada keluarga Ariyanti yang telah menerima Akang sebagai calon menantu."
"Aamin."
Sambutan dari Keluarga Ariyanti
Pohon randu, pukul 08.25.
Ibu Ariyanti maju ke depan. Tangannya gemetar. Air matanya sudah di pipi.
"Assalamu'alaikum. Saya Siti Aminah, ibu dari Ariyanti."
"Sebagai orang tua, saya sangat bersyukur dan berbahagia." Ibu Ariyanti mengusap air matanya. "Karena anak saya, Ariyanti, akan dilamar oleh Akang Supriyadi."
"Ariyanti adalah anak yang baik." Ibu Ariyanti menatap Ariyanti. "Penyayang. Pekerja keras. Bertanggung jawab. Sejak ayahnya meninggal, dialah yang membantu saya mengurus adik-adiknya."
"Saya juga mengucapkan terima kasih pada keluarga Akang yang telah menerima Ariyanti sebagai calon menantu."
"Saya merestui lamaran ini."
"Aamin."
Akang Menyampaikan Lamaran
Pohon randu, pukul 08.30.
Pak Lurah mempersilakan Akang maju.
"Akang, silakan sampaikan lamaran Anda."
Akang berdiri. Tangannya gemetar. Sesuatu yang tidak biasa, karena Akang terkenal tegar, bahkan saat menghadapi preman dan kematian. Tapi kali ini, ia merasa lebih gugup dari apa pun.
Ia menarik napas panjang.
"Bismillahirrahmanirrahim."
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh."
"Yang saya hormati, Ibu Siti Aminah, ibu Ariyanti." Akang menunduk. "Yang saya hormati, Ibu Siti Supriyati, ibu saya."
"Yang saya hormati, Pak Lurah, Bu Sumi, Pak Dullah, Pak Herman." Akang menatap mereka satu per satu. "Serta saudara-saudara sekalian yang hadir."
"Hari ini, di bawah pohon randu yang telah menjadi saksi perjalanan cinta kami." Suara Akang bergetar. "Saya, Akang Supriyadi, dengan penuh kerendahan hati ingin menyampaikan bahwa saya ingin meminang putri Ibu Siti Aminah, saudari Ariyanti, untuk menjadi istri saya."
Ariyanti di depannya mulai menangis.
"Saya tahu saya bukan laki-laki sempurna." Akang melanjutkan. "Saya miskin. Saya pernah sakit parah. Saya pernah koma. Tapi saya juga tahu, saya mencintai Ariyanti dengan sepenuh hati."
"Saya akan berusaha menjadi suami yang baik." Akang menatap Ariyanti. "Bertanggung jawab. Melindunginya. Membahagiakannya. Sepanjang hidup saya."
"Saya mohon restu dari Ibu Siti Aminah dan seluruh keluarga."
Akang menunduk dalam-dalam.
Ruangan hening. Hanya suara tangis haru yang terdengar.
Jawaban dari Keluarga Ariyanti
Pohon randu, pukul 08.35.
Ibu Ariyanti berdiri. Tangannya masih gemetar. Suaranya masih bergetar. Tapi senyumnya tulus.
"Nak Akang, saya sudah merestui lamaran Anda sejak lama." Ibu Ariyanti tersenyum. "Sejak Anda masih dirawat di rumah sakit. Sejak Anda koma. Sejak Ariyanti tidak pernah meninggalkan sisi Anda."
"Dulu, saya sempat melarang Ariyanti dekat dengan Anda." Ibu Ariyanti menunduk. "Saya menganggap Anda anak bermasalah. Saya hanya mendengar gosip tetangga tanpa mengenal Anda lebih jauh."
"Tapi setelah saya melihat sendiri ketulusan Anda." Ibu Ariyanti mengangkat kepalanya. "Pengorbanan Anda untuk keluarga kami. Perjuangan Anda melawan kejahatan. Dan cinta Anda pada Ariyanti. Saya sadar bahwa Anda adalah laki-laki yang baik."
"Saya terima lamaran Anda."
Ibu Ariyanti menyerahkan tangan Ariyanti pada Akang.
"Ini anak saya. Jaga dia baik-baik."
Akang menerima tangan Ariyanti. Tangannya gemetar.
"Saya akan menjaganya, Bu." Akang menatap Ibu Ariyanti. "Janji."
Pemasangan Cincin
Pohon randu, pukul 08.40.
Rizki, yang sudah mulai mengantuk, dipanggil ke depan oleh Siti.
"Rizki, antar cincinnya ke Paman Akang."
Rizki mengantuk. Matanya berat. Tapi ia berjalan kecil membawa bantal merah berisi dua cincin kawin sederhana. Ia tampak lucu dengan setelan jas biru laut yang sedikit kebesaran.
"Paman," kata Rizki lirih.
"Ya, Rizki?" Akang membungkuk.
"Ini."
Rizki menyerahkan bantal cincin. Akang mengambil cincin itu, lalu menatap Ariyanti.
"Ari, saya pasangkan cincin ini." Suara Akang pelan. "Sebagai tanda cinta dan komitmen saya pada Anda."
Akang memasangkan cincin di jari manis Ariyanti.
Ariyanti menangis.
"Sekarang giliran Anda, Ari," kata Pak Lurah.
Ariyanti mengambil cincin yang lain. Tangannya gemetar.
"Kang, saya pasangkan cincin ini." Suara Ariyanti pelan. "Sebagai tanda saya menerima lamaran Anda dan bersedia menjadi istri Anda."
Ariyanti memasangkan cincin di jari manis Akang.
Marni memotret momen itu.
Satu klik. Abadi.
Doa Lamaran
Pohon randu, pukul 08.45.
Pak Lurah memimpin doa.
"Ya Allah, Ya Tuhan Yang Maha Pengasih." Pak Lurah menengadahkan tangan. "Kami bersyukur atas pertemuan dua insan ini."
"Engkau telah mempertemukan mereka di SMPN I Pegandon." Pak Lurah melanjutkan. "Menjaga mereka di tengah fitnah, kebakaran, kecelakaan, koma, penculikan, dan jarak yang memisahkan."
"Kini, mereka bersatu di bawah pohon randu ini." Pak Lurah menatap Akang dan Ariyanti. "Untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius."
"Ya Allah, satukan hati mereka dalam kebaikan." Pak Lurah berdoa dengan khusyuk. "Berkahi hubungan mereka. Mudahkan segala urusan mereka menuju pernikahan."
"Jadikan mereka pasangan yang saling mencintai, saling menyayangi, dan saling mengasihi karena-Mu."
"Aamiin."
"Aamiin," jawab semua yang hadir.
Pesan dari Ibu Akang
Pohon randu, pukul 08.50.
Ibu Akang maju. Ia memegang tangan Akang dan Ariyanti.
"Nak Ari, Ibu titip Akang." Ibu Akang menatap Ariyanti. "Dia anak baik. Tapi dia juga anak yang keras kepala. Kadang dia lebih memilih menderita daripada minta tolong."
"Jangan biarkan dia sendirian dalam masalah." Ibu Akang menggenggam tangan mereka. "Ingatkan dia bahwa dia punya istri yang bisa diajak berbagi."
"Ibu juga titip pesan untuk Akang." Ibu Akang menatap Akang. "Jaga Ariyanti. Dia perempuan hebat. Dia setia menunggumu. Dia tidak pernah tergoda oleh harta siapapun."
Keduanya mengangguk.
"Ibu doakan kalian bahagia." Ibu Akang menangis. "Dunia dan akhirat."
Pesan dari Ibu Ariyanti
Pohon randu, pukul 08.55.
Ibu Ariyanti juga maju.
"Nak Akang, Ibu titip Ariyanti." Ibu Ariyanti menatap Akang. "Dia anak yang tangguh. Tapi dia juga manusia biasa yang butuh sandaran."
"Jadilah suami yang bisa diandalkan." Ibu Ariyanti menggenggam tangan Akang. "Jangan hanya bisa diandalkan saat senang, tapi juga saat susah."
"Nak Ari, jadilah istri yang sholehah." Ibu Ariyanti menatap Ariyanti. "Dukung suamimu dalam kebaikan. Jangan menjadi sumber masalah."
Keduanya mengangguk.
"Ibu doakan kalian diberkahi Allah." Ibu Ariyanti tersenyum. "Sakinah, mawaddah, warahmah."
Momen Haru
Pohon randu, pukul 09.00.
Akang dan Ariyanti saling memandang. Air mata mereka mengalir. Bukan air mata sedih. Tapi air mata haru, lega, dan bahagia.
"Akhirnya kita di sini, Kang." Ariyanti berbisik.
"Akhirnya, Ari."
"Kita sudah melewati banyak badai."
"Tapi kita masih di sini."
"Bersama."
"Selamanya."
Mereka berpelukan di bawah pohon randu.
Semua yang hadir menangis haru.
Marni memotret momen itu.
Sekali lagi. Abadi.
Foto Bersama
Pohon randu, pukul 09.15.
Semua yang hadir berfoto bersama di bawah pohon randu.
Akang, Ariyanti, Ibu Akang, Ibu Ariyanti, Bu Sumi, Pak Dullah, Pak Lurah, Herman, Marni, Siti dengan Rizki, Rizki dan Fathur, Pak Karto, dan beberapa warga desa.
Marni memotret dari berbagai sudut.
"Ini akan menjadi foto paling berharga dalam arsipku." Marni tersenyum.
"Jangan lupa kirim satu untukku." Akang tersenyum.
"Tentu."
Rizki yang Lucu
Pohon randu, setelah foto.
Rizki yang tadinya anteng, mulai rewel. Ia ingin dipeluk Akang.
"Paman, Paman!"
Akang menggendong Rizki.
"Ada apa, Rizki?"
"Rizki mau ikut."
"Ikut ke mana?"
"Ikut Paman dan Bibi."
Semua yang hadir tertawa.
"Nanti, Rizki." Ariyanti mengelus kepala Rizki. "Kalau sudah besar."
Harapan dari Bu Sumi
Pohon randu, pukul 09.30.
Bu Sumi maju memberikan sambutan singkat.
"Anak-anak, saya sudah menjadi saksi perjalanan cinta kalian." Bu Sumi menatap Akang dan Ariyanti. "Sejak kalian masih di SMPN I Pegandon hingga sekarang."
"Saya melihat kalian tumbuh menjadi pribadi yang dewasa." Bu Sumi tersenyum. "Saya melihat kalian berjuang melawan fitnah, kebakaran, kecelakaan, bahkan koma dan penculikan."
"Dan hari ini, saya melihat kalian bersatu di bawah pohon randu ini." Bu Sumi menangis. "Saya tidak punya banyak kata. Saya hanya ingin mengatakan: saya bangga menjadi guru kalian."
Ariyanti memeluk Bu Sumi.
Pak Dullah Berpesan
Pohon randu, pukul 09.45.
Pak Dullah, yang biasanya pendiam, maju memberikan pesan.
"Akang, Ariyanti, saya bukan orang yang pandai bicara." Pak Dullah tersenyum malu.
"Tapi saya ingin kalian tahu, saya bangga melihat kalian berdua."
"Dulu, saya diam saat melihat kejahatan." Pak Dullah menunduk. "Saya takut. Tapi kalian mengajari saya bahwa diam bukanlah pilihan."
"Terima kasih." Pak Dullah menangis. "Semoga kalian bahagia."
Akang memeluk Pak Dullah.
Herman Memberi Doa
Pohon randu, pukul 10.00.
Herman maju. Wajahnya haru.
"Akang, Ariyanti, saya tidak punya hubungan keluarga dengan kalian." Herman tersenyum. "Tapi saya sudah menganggap kalian seperti keluarga."
"Saya minta maaf atas semua kejahatan Rahmadi." Herman menunduk. "Saya tidak bisa mengubah masa lalu. Tapi saya berjanji akan terus membimbingnya menjadi lebih baik."
"Doakan Rahmadi." Herman menatap mereka. "Doakan Rizki. Doakan saya."
Ariyanti memeluk Herman.
"Kami akan selalu mendoakan, Pak."
Penutupan Acara
Pohon randu, pukul 10.15.
Pak Lurah menutup acara dengan doa.
"Ya Allah, Engkau telah mempertemukan mereka." Pak Lurah menengadahkan tangan. "Engkau telah menjaga mereka. Sekarang, satukan mereka dalam pernikahan yang Engkau ridhoi."
"Lancarkan segala persiapan menuju hari H." Pak Lurah melanjutkan. "Jauhkan mereka dari segala rintangan."
"Ya Allah, berkahilah cinta mereka." Pak Lurah berdoa dengan khusyuk. "Jadikan mereka keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah."
"Aamiin."
"Aamiin ya rabbal'alamin."
Acara lamaran selesai.
Semua yang hadir menikmati hidangan sederhana. Nasi liwet, ayam ingkung, dan aneka jajanan pasar. Disajikan di bawah pohon randu.
Suasana hangat penuh kebahagiaan.
Senja di Kaki Langit
Pohon randu, pukul 17.00 sore hari.
Setelah semua tamu pulang, Akang dan Ariyanti duduk berdua di bawah pohon randu. Langit mulai berwarna jingga. Senja datang.
"Kang, akhirnya kita di sini." Ariyanti bersandar pada bahu Akang.
"Di tempat kita pertama kali berbagi cerita." Akang menggenggam tangannya. "Di tempat kita berjanji tidak akan menyerah. Di tempat kita menyimpan rahasia dan air mata."
"Sekarang, di tempat yang sama, kita berjanji untuk bersama selamanya."
"Ari, aku bersyukur." Akang menatap langit.
"Bersyukur untuk apa, Kang?"
"Bersyukur karena Tuhan mempertemukanku denganmu." Akang menatap Ariyanti. "Bersyukur karena kau tidak pernah menyerah padaku. Bersyukur karena kau masih di sini, di sampingku."
Ariyanti menangis.
"Aku juga bersyukur, Kang." Ariyanti menggenggam tangan Akang. "Bersyukur karena kau masih hidup. Bersyukur karena kau pulang. Bersyukur karena kau meminangku di tempat ini."
Mereka berpelukan.
Angin berembus lembut. Daun-daun randu berguguran seperti konfeti alam.
Marni yang masih setia dengan kameranya memotret mereka dari kejauhan.
Satu klik. Abadi.
Di kaki langit Tegorejo, senja itu terasa lebih hangat dari biasanya.
Karena di bawah pohon randu tertua, cinta sejati akhirnya menemukan jalannya.
Bukan jalur yang mulus. Bukan jalan yang bebas rintangan. Tapi jalur yang penuh perjuangan. Jalur yang membuktikan bahwa cinta sejati tidak pernah mati. Jalur yang akan mereka tempuh bersama, selamanya.
BAB 49
MENUJU PELAMINAN
Persiapan pernikahan. Tegorejo gempar. Semua orang bahagia. Tapi bayang-bayang Rahmadi masih ada.
Tegorejo, Mei 2003. Satu minggu setelah lamaran.
Kabar bahagia menyebar cepat di seluruh penjuru Tegorejo. Dari mulut ke mulut. Dari rumah ke rumah. Dari warung ke warung. Dari Dusun Kersan hingga Dusun Cegunan. Dari Jalan Raya Pegandon hingga Jalan Randu Gembyang. Semua orang membicarakan satu hal. Pernikahan Akang dan Ariyanti.
Ini bukan sekadar pernikahan biasa. Ini adalah pernikahan dua insan yang telah menjadi legenda hidup di desa kecil ini. Dua orang yang selamat dari fitnah yang hampir menghancurkan nama baik mereka. Dua orang yang selamat dari kebakaran yang menghanguskan tempat mereka bekerja. Dua orang yang selamat dari kecelakaan yang hampir merenggut nyawa. Dua orang yang selamat dari koma yang berhari-hari. Dua orang yang selamat dari penculikan yang hampir mengakhiri segalanya. Dua orang yang selamat dari LDR panjang penuh cemburu dan salah paham.
Dua orang yang membuktikan bahwa cinta sejati tidak akan pernah mati. Bahwa badai tidak akan pernah bisa menghancurkan hati yang saling percaya. Bahwa jarak dan waktu tidak akan pernah bisa melunturkan janji yang diucapkan di bawah pohon randu.
Warga bergotong royong mempersiapkan segalanya. Tidak ada yang diminta. Tidak ada yang diperintah. Tapi semua datang dengan sukarela. Pak Karto menyumbangkan beras dari hasil panennya. Para ibu-ibu membantu memasak di dapur darurat yang didirikan di halaman rumah Ariyanti. Pemuda-pemuda karang taruna membersihkan jalan dari rumput liar, memasang umbul-umbul, dan mendirikan tenda. Bahkan anak-anak kecil ikut sibuk membantu dengan cara mereka sendiri. Ada yang mengambil daun-daun kering, ada yang menyapu halaman, ada yang hanya berlarian di antara tenda.
Tapi di balik semua kegembiraan itu, di balik senyum dan tawa, di balik persiapan yang semakin matang, bayang-bayang masa lalu masih menghantui.
Rahmadi.
Meskipun sudah mendekam di Lembaga Pemasyarakatan Kendal, meskipun sudah dipindahkan ke sel isolasi super dengan pengamanan berlapis, meskipun hukumannya sudah bertambah menjadi 20 tahun penjara, ia masih menjadi momok. Bayangan tentang masa lalu yang kelam. Kenangan tentang fitnah, kebakaran, kecelakaan, koma, penculikan. Semua itu masih segar di ingatan.
Bagaimana jika ia kabur lagi? Bagaimana jika ia mengirim preman untuk mengganggu acara? Bagaimana jika ia datang sendiri, seperti yang ia lakukan di pernikahan orang lain dulu? Bagaimana jika ia membalas dendam di hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia dalam hidup mereka?
Kekhawatiran itu wajar. Tapi semua orang sepakat. Kebahagiaan tidak boleh dikalahkan oleh ketakutan. Cinta tidak boleh ditaklukkan oleh kebencian. Masa depan tidak boleh dihancurkan oleh masa lalu.
Kegemparan di Tegorejo
Warung kopi milik Pak RT, pagi hari.
Suasana warung kopi pagi itu lebih ramai dari biasanya. Para bapak-bapak yang biasanya hanya minum kopi sambil membaca koran, atau duduk diam sambil merokok, atau mengobrol ringan tentang cuaca dan harga bawang, kini asyik berdiskusi dengan suara keras. Topiknya hanya satu. Pernikahan Akang dan Ariyanti.
"Pak, dengar kabar?" Pak Karto meletakkan cangkir kopinya. "Akang dan Ariyanti akan menikah bulan depan. Bulan depan, tanggal 12 Mei."
"Iya, saya dengar." Pak Lurah mengangguk. "Baguslah. Mereka sudah melalui banyak rintangan. Pantas bahagia."
"Anak-anak muda sekarang jarang yang seperti mereka." Pak Karyo menghela napas. "Setia. Perjuangan. Tidak gampang menyerah. Kalau pacaran, biasanya lama-lama bosan. Tapi mereka? Semakin berat masalah, semakin kuat cinta mereka."
"Semoga menjadi contoh untuk generasi selanjutnya." Pak Lurah tersenyum.
Mereka semua setuju.
Pasar Pegandon, siang hari.
Para ibu-ibu di pasar juga tidak ketinggalan. Mereka sibuk memilih sayur dan lauk sambil berbisik-bisik.
"Bu, anak Ibu Ariyanti katanya akan nikah sama anak Bu Siti dari Cegunan." Bu RT memegang timbangan cabai. "Kata orang, bulan depan. Tanggal 12 Mei."
"Iya, saya dengar." Bu Darmi mengambil cabai yang sudah ditimbang. "Bagus sekali. Mereka sudah lama pacaran. Dari SMP, kata orang. Sekarang setelah sekian lama, akhirnya menikah."
"Katanya dulu sempat ada masalah dengan anak konglomerat, ya?" Bu RT mendekat. "Yang H. Rahmat itu."
"Sudah, Bu." Bu Darmi menggeleng. "Itu sudah berlalu. Yang penting sekarang mereka bahagia. Anak konglomeratnya juga sudah di penjara. Hukumannya 20 tahun."
"Amin, Bu. Amin."
Para ibu-ibu tersenyum.
Persiapan di Rumah Ariyanti
Dusun Kersan, setiap hari.
Rumah Ariyanti berubah menjadi pusat persiapan pernikahan. Halaman depan yang biasanya sepi, kini penuh dengan peralatan dapur darurat. Kompor minyak tanah. Panci-panci besar. Ember-ember berisi air. Tumpukan piring dan gelas. Bukan milik mereka. Dipinjam dari tetangga yang baik hati.
Setiap hari, Ibu Ariyanti sibuk memasak, merias, dan mengatur segala keperluan. Keringat mengucur di dahinya. Tangannya lelah. Tapi matanya berbinar.
Ariyanti sendiri sibuk menjahit baju pengantinnya. Bukan baju mahal dari butik. Ia tidak punya uang untuk itu. Baju dari butik di Semarang bisa mencapai jutaan rupiah. Tidak mungkin. Tapi ia menjahit sendiri. Dengan bantuan Bu Sumi yang pandai menjahit. Kain putih sederhana, dibeli di pasar Pegandon dengan harga murah. Dipayet dengan tangan sendiri, satu per satu, dengan sabar, dengan telaten.
Setiap payet adalah doa. Setiap jahitan adalah harapan. Setiap tusukan jarum adalah keyakinan bahwa hari bahagia akan segera tiba.
"Bu, ini payetnya miring." Ariyanti frustrasi. Tangannya lelah. Matanya perih.
"Tidak apa-apa." Bu Sumi tersenyum. "Itu akan membuatnya unik. Tidak akan ada baju pengantin lain yang sama persis dengan baju kamu."
"Tapi saya ingin sempurna."
"Tidak ada yang sempurna di dunia ini, Ari." Bu Sumi mengelus rambut Ariyanti. "Yang penting kau berusaha. Yang penting kau ikhlas. Yang penting kau bahagia."
Persiapan di Rumah Akang
Dusun Cegunan, setiap hari.
Akang juga sibuk. Ia tidak hanya sibuk mengurus pekerjaannya di Dinas Pertanian Kabupaten Kendal, yang baru saja ia mulai, yang gajinya masih kecil. Tapi juga membantu ibunya menyiapkan seserahan. Al-Qur'an, sajadah, perhiasan emas sederhana, pakaian, dan uang. Juga membersihkan rumah. Mengecat dinding yang kusam. Memperbaiki atap yang bocor.
Dan yang paling penting, membangun kamar tambahan. Karena setelah menikah, ia dan Ariyanti akan tinggal di rumah ibunya dulu. Sementara rumah mereka sendiri masih dalam proses pembangunan di sebidang tanah kecil yang dibeli dengan tabungan hasil kerja keras.
"Kang, ini catnya habis." Ibu Akang memegang kaleng cat kosong.
"Besok saya beli, Bu."
"Jangan lupa beli beras juga. Tamu akan banyak. Kata Ibu Ariyanti, undangan sudah hampir 300 orang."
"Iya, Bu." Akang mengelap keringat.
Ibu Akang tersenyum. "Ibu tidak menyangka akan melihat hari ini."
"Kenapa, Bu?"
"Dulu, waktu kau koma." Ibu Akang menangis. "Waktu kau dirawat di rumah sakit. Waktu kau tidak sadar berhari-hari. Ibu pikir kau tidak akan bangun. Ibu pikir Ibu akan kehilangan kau."
"Tapi kau bangun, Kang." Ibu Akang mengusap air matanya. "Kau bangun. Lalu kau kuliah di Jogja. Jauh dari rumah. Ibu khawatir setiap hari. Tapi kau lulus. Sekarang kau akan menikah."
"Ibu bersyukur." Ibu Akang memeluk Akang. "Sangat bersyukur."
Akang memeluk ibunya. "Terima kasih, Bu. Karena Ibu tidak pernah berhenti berdoa."
Bu Sumi Menjadi Koordinator
Rumah Bu Sumi, setiap malam.
Bu Sumi mengadakan rapat kecil setiap malam. Untuk mengkoordinir persiapan. Memastikan semua berjalan lancar. Tidak ada yang terlewat. Tidak ada yang keliru.
Yang hadir selalu sama. Ariyanti, Akang, Marni, Siti, Pak Lurah, Pak Dullah, dan Herman. Wajah-wajah yang sudah saling mengenal sejak kasus fitnah dulu. Wajah-wajah yang sudah melalui banyak suka dan duka bersama.
"Kita punya waktu satu bulan." Bu Sumi membuka diskusi. Buku catatan terbuka di depannya. Pulpen siap.
"Apa yang sudah disiapkan?" tanya Pak Lurah.
"Ariyanti sudah menjahit baju pengantin." Bu Sumi menunjuk Ariyanti. "Hampir selesai. Tinggal payet di bagian lengan."
"Akang sudah menyiapkan kamar baru." Bu Sumi menunjuk Akang. "Kamar di rumah ibunya. Ukuran 3x4 meter. Cukup untuk mereka berdua sementara."
"Makanan?" Bu Sumi menunjuk Ibu Ariyanti yang tidak hadir. "Ibu Ariyanti yang mengatur. Nasi liwet. Ayam ingkung. Sayur asem. Sambal terasi."
"Dokumentasi?" Bu Sumi menunjuk Marni.
"Saya siap, Bu." Marni mengangkat kameranya.
"Logistik?" Bu Sumi menunjuk Siti.
"Saya siap, Bu." Siti menggendong Rizki.
"Keamanan?" Bu Sumi menunjuk Pak Dullah dan Pak Lurah.
"Kami akan koordinasi dengan polisi." Pak Lurah mengangguk.
"Bagus." Bu Sumi menutup buku catatannya. "Semoga semua berjalan lancar. Semoga tidak ada halangan."
Kendala Biaya
Rumah Ariyanti, malam itu.
Meskipun semua orang bergotong royong, meskipun semangat kebersamaan begitu kuat, kendala biaya tetap menjadi masalah. Ariyanti tidak punya banyak uang. Tabungannya hanya cukup untuk membeli kain dan payet. Akang juga baru mulai bekerja. Gajinya belum cukup untuk menutup semua kebutuhan.
"Bu, uang kita tinggal sedikit." Ariyanti membuka dompetnya. Isinya beberapa lembar uang lima ribuan.
"Berapa lagi yang kurang?" Ibu Ariyanti bertanya.
"Sekitar dua juta, Bu." Ariyanti menunduk. "Untuk katering. Untuk sewa tenda. Untuk dekorasi."
Ibu Ariyanti terdiam. Dua juta bukan jumlah kecil. Setara dengan penghasilan mereka selama dua bulan.
Herman yang kebetulan datang membawa buah-buahan mendengar percakapan itu dari balik dinding anyaman bambu.
"Ari, aku bisa bantu." Herman masuk ke ruang tengah.
"Pak Herman." Ariyanti terkejut. "Saya tidak tahu Bapak di sana."
"Ini bukan hutang." Herman mengeluarkan amplop coklat tebal. "Ini hadiah pernikahan. Anggap saja sebagai mahar. Mahar dari keluarga Rahmadi. Atas semua kesalahan yang pernah mereka perbuat."
"Tapi Pak..."
"Jangan ditolak, Ari." Herman menyerahkan amplop itu. "Ini untuk kebahagiaan kalian. Aku tidak punya banyak. Tapi aku ingin berkontribusi."
Ariyanti menangis. "Terima kasih, Pak. Saya tidak tahu harus membalas."
Marni Mendokumentasi Persiapan
Tegorejo, setiap hari.
Marni sibuk. Kamera kesayangannya tidak pernah lepas dari tangan. Ia memotret setiap momen persiapan. Ariyanti menjahit baju di bawah lampu minyak tanah. Akang membangun kamar dengan palu dan paku. Ibu Ariyanti memasak di dapur darurat. Ibu Akang membersihkan rumah. Warga bergotong royong mendirikan tenda.
"Ini akan menjadi album pernikahan paling lengkap." Marni tersenyum puas.
"Jangan lupa foto yang bagus." Siti menggendong Rizki.
"Semua fotoku bagus." Marni menaikkan kamera.
Rizki yang melihat kamera Marni berlari kecil mendekat. Kakinya yang masih gemetar membuatnya terhuYan g-huYan g.
"Marni! Marni!" Rizki tertawa. "Rizki mau foto!"
Marni memotret Rizki. Senyum lebar dengan dua gigi susunya yang ompong. Mata bulat. Pipi tembam.
"Lucu, Rizki." Marni mengelus kepala Rizki.
Surat dari Rahmadi
Lapas Kendal, dua minggu sebelum pernikahan.
Herman datang mengunjungi Rahmadi. Seperti biasa, setiap minggu. Tidak pernah absen.
Ia membawa surat. Surat yang ditulis Rahmadi di balik jeruji besi. Dengan tangan yang gemetar. Dengan hati yang hancur.
"Akang, Ariyanti..."
"Herman menyerahkan surat itu pada Akang dan Ariyanti. Mereka membacanya bersama."
"Aku mendengar kabar bahwa kalian akan menikah." Rahmadi menulis dengan ejaan yang berantakan. "Selamat."
"Aku tidak pantas mengucapkan selamat. Aku tahu. Tapi aku ucapkan."
"Aku tidak akan datang ke pernikahan kalian. Aku tidak ingin merusak kebahagiaan kalian dengan kehadiranku. Aku tidak ingin mengganggu."
"Tapi aku ingin kalian tahu." Rahmadi melanjutkan. "Aku berubah. Perlahan. Tidak cepat. Tapi aku berusaha. Aku belajar mengaji. Aku ikut program pembinaan."
"Doakan aku."
"Rahmadi"
Akang membaca surat itu. Wajahnya tidak berubah. Tidak marah. Tidak sedih. Hanya diam.
"Apa yang akan kamu balas, Kang?" tanya Ariyanti.
"Aku akan balas." Akang mengambil pulpen dan kertas. "Kami doakan kau. Semoga kau menjadi lebih baik. Semoga Allah memberi hidayah."
Kekhawatiran Ariyanti
Rumah Ariyanti, malam hari.
Ariyanti tidak bisa tidur.
Ia sudah berguling-guling di kasurnya sejak jam sembilan. Ke kiri. Ke kanan. Tengkurap. Telentang. Tidak ada posisi yang nyaman.
Ia gelisah. Memikirkan kemungkinan terburuk. Rahmadi kabur lagi. Rahmadi datang ke pernikahan. Rahmadi mengirim preman untuk mengganggu.
"Kang, bagaimana kalau Rahmadi kabur lagi?" Ariyanti bertanya pada Akang yang duduk di sampingnya.
"Ari, dia sudah di sel isolasi super." Akang menggenggam tangannya. "Dua pintu besi. Empat petugas. Kamera 24 jam. Tidak mungkin kabur lagi."
"Bagaimana kalau preman-preman bayarannya datang?"
"Polisi sudah berjaga, Ari." Akang mengelus rambutnya. "Pak Lurah sudah koordinasi. Bripka Joko akan mengerahkan personel. Dan warga desa juga akan membantu menjaga."
"Tapi aku takut, Kang." Ariyanti menangis.
Akang memeluk Ariyanti.
"Kita sudah melewati yang terburuk, Ari." Suaranya lembut. "Fitnah. Kebakaran. Kecelakaan. Koma. Penculikan. Kita sudah melewati semuanya. Tidak ada yang bisa menghentikan kebahagiaan kita sekarang."
Polisi Meningkatkan Pengamanan
Polsek Pegandon, dua minggu sebelum pernikahan.
Bripka Joko memimpin rapat koordinasi. Hadir Pak Lurah, Pak Dullah, dan beberapa perwakilan warga. Suasana ruangan tegang.
"Pernikahan Akang dan Ariyanti akan digelar dua minggu lagi." Bripka Joko membuka map. "Kita harus pastikan keamanan."
"Apakah ada ancaman, Pak?" tanya Pak Lurah.
"Belum ada." Bripka Joko menggeleng. "Tapi kita tidak boleh lengah. Rahmadi punya banyak musuh. Preman-preman bayarannya juga masih berkeliaran."
"Bagaimana dengan Rahmadi sendiri?" Pak Dullah bertanya.
"Dia masih di sel isolasi super, Pak." Bripka Joko meyakinkan. "Tidak ada kontak dengan dunia luar. Tidak mungkin kabur."
"Syukurlah."
"Tapi preman-preman bayarannya mungkin masih berkeliaran." Bripka Joko berdiri. "Kita akan tingkatkan patroli. Siang dan malam. Sampai acara selesai."
H-7, Persiapan Makin Intensif
Tegorejo, seminggu sebelum pernikahan.
Tenda mulai didirikan di halaman rumah Ariyanti. Tenda besar berwarna putih. Bisa menampung 300 orang.
Warga bergotong royong. Ada yang memasang kursi. Ada yang menata meja. Ada yang menghias dekorasi dari janur dan umbul-umbul. Suasana desa berubah menjadi pesta rakyat.
Anak-anak berlarian di sekitar tenda. Ibu-ibu sibuk memasak di dapur darurat. Bapak-bapak sibuk mengatur listrik dan sound system.
"Semoga tidak hujan." Ibu Ariyanti menatap langit. Langit cerah. Biru tanpa awan.
"Hujan deras, Bu." Pak Lurah tertawa. "Tapi kata BMKG, besok cerah."
"Mudah-mudahan."
H-3, Rizki Jadi Penerima Cincin
Rumah Bu Sumi, tiga hari sebelum pernikahan.
Siti melatih Rizki menjadi penerima cincin. Rizki yang baru berusia 2 tahun lebih, masih agak bingung. Masih sering menangis tanpa alasan.
"Rizki, nanti kalau di panggil, bawa bantal ke depan." Siti menunjukkan bantal merah berisi dua cincin.
"Bantal, Bu?" Rizki mengernyit.
"Iya, bantal merah yang ada cincinnya."
"Buat apa?"
"Untuk Paman Akang dan Bibi Ari."
"Oh..." Rizki mengangguk. "Rizki mau!"
Siti tersenyum. Semoga anaknya tidak rewel di hari H.
H-2, Latihan Ibadah
Rumah Ariyanti, dua hari sebelum pernikahan.
Ariyanti dan Akang latihan prosesi pernikahan di rumah Bu Sumi. Mereka didampingi pak penghulu, Bapak H. Zainuddin. Seorang laki-laki tua dengan janggut putih dan sorban.
"Nak Akang, ucapannya harus jelas." Pak penghulu mengajarkan. "Saya terima nikahnya Ariyanti binti Slamet Riyadi dengan maskar berupa emas seberat 10 gram, tunai."
"Baik, Pak."
"Nak Ariyanti, nanti duduk manis." Pak penghulu menatap Ariyanti. "Jangan menangis. Jangan terisak. Jangan sampai mengganggu jalannya akad."
"Saya akan berusaha, Pak."
Marni memotret latihan itu.
"Ini lucu." Marni tertawa. "Kalian tegang sekali. Muka pucat. Tangan gemetar."
"Kamu jangan bercanda, Mar." Ariyanti merengek. "Ini serius."
"Iya, aku serius." Marni mengatur fokus kameranya. "Serius seriusan."
H-1, Malam Pengajian
Rumah Ariyanti, malam sebelum pernikahan.
Pengajian digelar di halaman rumah Ariyanti. Tenda yang kemarin masih kosong, kini penuh sesak. Warga desa datang berbondong-bondong. Membawa sajadah masing-masing. Membaca doa bersama. Memohon kelancaran acara esok hari.
Bu Sumi memimpin doa.
"Ya Allah, besok adalah hari bahagia bagi dua insan ini." Suara Bu Sumi lantang. "Lancarkan segalanya. Jauhkan dari gangguan apapun. Jauhkan dari bencana. Jauhkan dari musibah."
"Aamiin."
Suasana khusyuk. Semua orang berdoa dengan penuh harap.
Malam Terakhir Sebagai Gadis
Kamar Ariyanti, malam sebelum pernikahan.
Ariyanti tidak bisa tidur.
Ia duduk di tepi tempat tidur. Memeluk bantal. Menatap dinding anyaman bambu.
Ibu Ariyanti masuk.
"Yan , tidak tidur?" Ibu Ariyanti duduk di sampingnya.
"Tidak bisa, Bu."
"Apa yang kamu pikirkan?"
"Aku ingat masa lalu, Bu." Ariyanti menunduk. "Saat ayah masih hidup. Saat kita masih utuh. Saat kita masih sering makan bersama."
"Kamu sedih, Yan ?"
"Sedih, Bu." Ariyanti menangis. "Tapi juga bahagia. Karena Ibu masih di sini. Karena Ibu masih sehat. Karena Ibu bisa melihat hari ini."
Mereka berpelukan.
Malam Terakhir Sebagai Lajang
Kamar Akang, malam sebelum pernikahan.
Akang juga tidak bisa tidur.
Ia duduk di teras rumahnya. Memandangi bintang. Langit cerah. Bulan bersinar terang.
Ibu Akang menghampiri.
"Kang, kenapa belum tidur?" Ibu Akang duduk di sampingnya.
"Aku tidak bisa tidur, Bu."
"Apa yang kamu pikirkan?"
"Aku ingat saat koma, Bu." Akang menatap ibunya. "Saat aku hampir mati. Saat Ariyanti membacakan puisi di sampingku. Suaranya parau. Matanya sembab."
"Kamu bersyukur, Kang?"
"Sangat." Akang menggenggam tangan ibunya. "Karena Tuhan masih memberi kesempatan. Karena Tuhan tidak mengambil nyawaku."
Rahmadi di Penjara
Lapas Kendal, malam sebelum pernikahan.
Rahmadi duduk di sudut selnya. Sel isolasi super tanpa jendela. Hanya lampu redup. Hanya dinding beton.
Ia memegang foto Rizki. Foto yang selalu ia simpan di bawah bantal. Foto satu-satunya yang ia miliki.
"Besok Ariyanti dan Akang menikah."
Ia tersenyum pahit.
"Aku tidak bisa datang. Tidak pantas datang. Tidak layak datang."
Ia menengadahkan tangan. Berdoa dalam hati.
"Ya Allah, berkahi pernikahan mereka." Suaranya lirih. "Jangan biarkan masa laluku mengganggu kebahagiaan mereka. Jangan biarkan dosaku menimpa mereka."
Air matanya jatuh.
Hari Pernikahan Tiba
Tegorejo, 12 Mei 2003, pukul 04.00.
Fajar menyingsing.
Tegorejo sudah bangun. Burung-burung berkicau. Ayam-ayam berkokok. Suara beduk subuh dari masjid desa menggema.
Ariyanti sudah mandi. Air dingin menyegarkan tubuhnya. Ia memakai kebaya putih buatannya sendiri. Kebaya yang sudah berbulan-bulan ia jahit. Kebaya yang setiap payetnya berisi doa.
Ibu Ariyanti membantunya merias wajah. Sederhana. Tidak berlebihan. Bedak tipis. Lipstik merah muda. Sedikit celak.
Cantik alami.
"Hari ini kamu akan menjadi istri orang, Yan ."
"Tapi aku akan tetap jadi anak Ibu, Bu."
"Ibu tahu."
Mereka menangis bersama.
Akang Berangkat
Dusun Cegunan, pukul 07.00.
Akang bersiap di rumahnya. Kemeja putih lengan panjang. Celana bahan hitam. Sarung batik di bahu.
Ibu Akang memeluknya erat.
"Kang, jaga Ariyanti baik-baik."
"Iya, Bu."
"Jangan jadi suami yang kasar."
"Aku tidak akan, Bu."
"Jangan lupa pulang ke rumah Ibu setiap minggu."
"Iya, Bu."
Ibu Akang tertawa. "Sudah. Berangkat. Nanti telat."
Akang berjalan kaki menuju rumah Ariyanti di Dusun Kersan. Ditemani rombongan keluarga, Pak Lurah, Pak Dullah, dan Herman.
Jalan yang dulu ia tempuh dengan susah payah saat SMP, dengan sepatu karet bolong, dengan seragam kusut, kini ia tempuh dengan penuh kebahagiaan.
Di Rumah Ariyanti
Dusun Kersan, pukul 08.00.
Akang tiba di rumah Ariyanti.
Para tamu sudah berdatangan. Warga desa memenuhi halaman. Ada yang duduk di kursi, ada yang berdiri di pinggir, ada yang berdesakan di pintu.
Marni sibuk memotret. Siti menggendong Rizki. Rizki sudah siap dengan bantal merahnya. Jas biru laut masih kebesaran.
Bu Sumi memimpin prosesi.
"Bismillahirrahmanirrahim. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh."
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab semua.
"Hadirin, kita berkumpul di sini." Bu Sumi menatap mereka satu per satu. "Untuk menyaksikan akad nikah saudara Akang Supriyadi dengan saudari Ariyanti."
Akad Nikah
Rumah Ariyanti, pukul 08.30.
Penghulu membacakan khutbah nikah. Suasana khusyuk. Semua orang diam mendengarkan.
"Akang Supriyadi." Penghulu menatap Akang. "Saya nikahkan dan kawinkan Anda dengan Ariyanti binti Slamet Riyadi dengan maskar berupa emas seberat 10 gram, tunai."
Akang menarik napas.
"Saya terima nikahnya Ariyanti binti Slamet Riyadi dengan maskar tersebut, tunai."
Suaranya lantang. Tidak ragu. Tidak gemetar.
Penghulu tersenyum. "Sah."
Ariyanti menangis di balik tabir.
Seluruh tamu bertepuk tangan.
Marni memotret momen itu.
Rizki maju membawa bantal merah. "Paman, ini untuk Bibi."
Akang mengambil cincin. Memasangkannya di jari Ariyanti.
Kini, secara resmi, mereka adalah suami istri.
BAB 50
DI BAWAH BAYANG-BAYANG ASMARA
Rahmadi yang bebas bersyarat hadir di pernikahan mereka. Bukan untuk mengganggu, tapi untuk meminta maaf. "Aku kalah," katanya lirih. Ariyanti dan Akang memaafkannya. Senja di Tegorejo terasa lebih hangat dari biasanya.
Tegorejo, 12 Mei 2003, pukul 09.00, setelah akad nikah.
Akad nikah telah usai. Suasana yang tadinya khusyuk, yang tadinya hening, yang tadinya hanya terdengar suara penghulu dan detak jantung masing-masing, kini berubah menjadi riuh rendah kebahagiaan. Suara tawa. Suara tangis haru. Suara ucapan selamat yang bersahutan.
Para tamu berdesakan mengucapkan selamat pada pengantin baru. Ada yang menangis, ada yang tertawa, ada yang hanya diam tersenyum. Marni sibuk memotret dari segala sudut, tidak mau melewatkan satu momen pun. Siti menggendong Rizki yang mulai rewel karena kelelahan, matanya berat, mulutnya menguap terus. Bu Sumi menangis haru di pojok ruangan, menyeka air mata dengan ujung kerudungnya.
Ariyanti dan Akang duduk bersebelahan di pelaminan sederhana. Pelaminan dari bambu dan kain putih. Bunga-bunga kertas buatan tangan Ariyanti. Rangkaian melati dari kebun tetangga.
Wajah mereka berseri-seri. Setelah bertahun-tahun bergelut dengan air mata yang tak terhitung jumlahnya, dengan darah yang tertumpah, dengan luka yang tak kunjung sembuh, dengan hampir kehilangan nyawa berkali-kali, akhirnya mereka bersatu dalam ikatan suci. Ikatan yang tidak bisa diputuskan oleh siapa pun. Ikatan yang diridhoi Allah.
"Kang, ini mimpi?" bisik Ariyanti. Matanya basah.
"Tidak, Ari." Akang menggenggam tangannya. "Ini nyata. Kita sudah menikah. Kita suami istri sekarang."
Ariyanti menangis bahagia. Akang mengusap air matanya dengan lembut, dengan jemari yang kasar karena bekas kerja keras di sawah dan bengkel.
Di luar rumah, langit cerah. Matahari bersinar hangat. Tidak ada hujan. Tidak ada badai. Tidak ada gelap yang mengancam.
Seperti alam ikut tersenyum. Seperti alam ikut merestui.
Tapi di balik kegembiraan itu, di balik senyum dan tawa, di balik iringan musik dan doa, di gerbang masuk Dusun Kersan, sesosok bayangan muncul.
Bayangan itu berjalan pelan, tertatih-tatih. Tubuhnya kurus, sangat kurus. Lebih kurus dari terakhir kali ia terlihat. Wajahnya pucat, tidak ada darah. Jenggotnya tidak dicukur, tumbuh tidak beraturan, panjang dan kusut. Matanya cekung, merah, sayu.
Ia memakai pakaian sederhana. Kemeja putih lusuh, sudah kusam, tidak pernah disetrika. Celana kain hitam, sudah longgar di pinggang. Sandal jepit, sudah putus tali sebelah.
Tidak ada preman di belakangnya. Tidak ada mobil mewah yang mengantarnya. Tidak ada pengawal. Hanya kesendirian yang menemani.
Itu adalah Rahmadi.
Tangan dan kakinya tidak dirantai. Tidak ada borgol. Ia bebas bersyarat. Dikeluarkan lebih awal. Bukan karena uang suap, bukan karena koneksi ayahnya yang sudah bangkrut. Tapi karena perilaku baik selama di penjara. Karena ia rajin mengikuti program pembinaan. Karena ia belajar mengaji. Karena ia tidak pernah melanggar peraturan.
Herman yang menjemputnya pagi itu. Herman yang menunggu di luar gerbang lapas sejak subuh. Herman yang memeluknya erat saat ia keluar.
Dan Rahmadi meminta izin.
"Ayah, aku ingin datang." Suaranya serak. "Ke pernikahan Akang dan Ariyanti."
Herman terdiam. Wajahnya berubah tegang.
"Nak, apa kau yakin?" Herman menggenggam tangan Rahmadi. "Mereka mungkin belum memaafkanmu. Mereka mungkin belum melupakan. Mereka mungkin akan menolakmu."
"Aku tidak datang untuk mengganggu, Ayah." Rahmadi menatap Herman. "Aku datang untuk minta maaf. Langsung. Tatap muka. Bukan lewat surat. Bukan lewat perantara."
Herman menghela napas.
"Baiklah, Nak." Herman mengangguk. "Tapi jika mereka menolakmu, jika mereka menyuruhmu pergi, kau harus pergi."
"Aku akan terima apapun, Ayah." Rahmadi menunduk. "Aku sudah terbiasa."
Kepanikan Warga
Halaman rumah Ariyanti, pukul 09.15.
Seorang warga yang melihat Rahmadi dari kejauhan, dari balik pohon randu di pinggir jalan, berteriak sekencang-kencangnya.
"RAHMADI! RAHMADI DATANG!"
Kepanikan menyebar cepat. Seperti api di musim kemarau. Seperti virus di musim hujan.
Warga yang tadinya asyik menikmati hidangan, yang tadinya sibuk mengobrol dan tertawa, yang tadinya antre untuk berfoto dengan pengantin, kini berhamburan mencari tempat berlindung. Ada yang lari ke dalam rumah, ada yang bersembunyi di balik tenda, ada yang memegang piring dan gelas erat-erat.
Beberapa pemuda desa mengambil pentungan dan cangkul. Wajah mereka merah padam. Mata mereka menyala.
Pak Lurah maju ke depan. Tangannya terangkat.
"Tenang! Tenang!" suaranya lantang. "Jangan panik!"
"Tapi Pak, Rahmadi datang!" seorang pemuda berteriak. "Dia mungkin mau balas dendam! Di hari bahagia ini!"
"Diam!" Pak Lurah tidak bergeming. "Kita lihat dulu. Jangan menghakimi sebelum tahu maksudnya."
Rahmadi terus berjalan.
Langkahnya pelan. Tidak terburu-buru. Tidak seperti dulu yang selalu percaya diri, yang selalu berjalan dengan kepala tegak seolah-olah dunia miliknya.
Sekarang, ia berjalan dengan kepala tertunduk. Dengan bahu yang sedikit membungkuk. Dengan tangan yang menggantung lemas di sisi tubuh.
Matanya hanya menatap tanah. Tidak melihat ke kanan. Tidak melihat ke kiri.
Tidak ada senjata. Tidak ada gerakan mencurigakan. Tidak ada preman di belakangnya. Tidak ada mobil hitam yang mengintai.
Ia berhenti di depan pagar rumah Ariyanti. Jaraknya sekitar 10 meter dari pelaminan.
Ariyanti dan Akang Melihat
Pelaminan, pukul 09.20.
Ariyanti memucat.
Wajahnya yang tadi berseri-seri, yang tadi penuh dengan senyum, yang tadi merah merona karena bahagia, kini berubah pucat. Pucat seperti kapur. Pucat seperti kain kafan.
Dadanya berdebar kencang. Jantungnya terasa mau copot. Kenangan penculikan. Kenangan percobaan kekerasan. Kenangan malam-malam di gudang gelap, dengan tangan terikat, mulut tertutup, dan ketakutan yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata. Semua itu kembali menghantuinya.
Akang mengepalkan tangan.
Ia ingin berdiri. Ingin melindungi istrinya. Ingin menghadang Rahmadi jika ia mencoba mendekat. Ingin mengusirnya dari halaman ini.
Tapi ia juga melihat sesuatu. Sesuatu di mata Rahmadi. Sesuatu yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
Penyesalan.
Bukan penyesalan palsu yang ia lihat di surat-surat. Bukan penyesalan yang dipaksakan oleh Herman. Tapi penyesalan yang tulus. Penyesalan yang keluar dari lubuk hati yang paling dalam.
"Ari, jangan takut." Akang menggenggam tangan Ariyanti. "Aku di sini."
"Kang, dia... dia datang." Suara Ariyanti bergetar.
"Aku lihat, Ari." Akang tidak melepaskan genggamannya. "Tapi dia tidak membawa preman. Dan matanya... matanya berbeda."
Herman Maju
Halaman rumah, pukul 09.25.
Herman berjalan di samping Rahmadi. Langkahnya pelan. Tangannya memegang pundak anaknya, sesekali menepuk, memberi semangat.
"Pak Lurah, warga." Herman mengangkat tangan. "Jangan takut. Rahmadi tidak datang untuk mengganggu. Saya jamin."
"Pak Herman, bagaimana kami bisa percaya?" Pak Lurah tidak mundur. "Dia sudah mengecewakan kita berkali-kali."
"Karena dia sudah berubah." Herman menatap Pak Lurah. Matanya basah. "Saya bersaksi sebagai ayahnya. Sebagai orang yang paling dekat dengannya selama di penjara."
Rahmadi mengangkat kepala.
Matanya berkaca-kaca. Wajahnya basah oleh air mata yang sudah jatuh sebelum ia sempat menahannya.
"Saya datang untuk minta maaf." Suaranya lirih, hampir tidak terdengar. "Tidak lebih. Tidak kurang."
Bu Sumi Menengahi
Halaman rumah, pukul 09.30.
Bu Sumi maju ke depan.
Ia sudah mengenal Rahmadi sejak pertama kali sebagai guru. Sejak Rahmadi masih siswa baru dengan senyum manis dan tatapan dingin. Ia juga sudah membaca surat-surat pertobatan Rahmadi dari penjara. Surat-surat yang ditulis dengan tangan gemetar. Surat-surat yang basah oleh air mata.
"Rahmadi." Bu Sumi berdiri di hadapannya. "Apa yang kau cari di sini?"
"Ibu Sumi." Rahmadi menunduk hormat. "Saya datang untuk meminta maaf. Pada Akang. Pada Ariyanti. Pada semua yang pernah saya sakiti."
"Apakah kau tulus, Rahmadi?" Bu Sumi menatap matanya.
"Saya tahu kata-kata tidak cukup, Ibu." Rahmadi tidak mengangkat kepala. "Tapi saya tidak punya apa-apa lagi selain kata-kata."
Bu Sumi menatap mata Rahmadi lama. Matanya mencari kebohongan. Mencari kepalsuan. Mencari topeng.
Tapi yang ia temukan hanyalah kehancuran. Dan penyesalan.
"Baik." Bu Sumi mengangguk. "Silakan masuk. Tapi jangan membuat onar."
"Terima kasih, Ibu."
Rahmadi Menghadap Ariyanti
Pelaminan, pukul 09.35.
Rahmadi berjalan mendekati pelaminan.
Setiap langkahnya terasa berat. Seperti menapaki jalan setapak di atas duri. Seperti berjalan di atas bara api. Seperti menaiki gunung dengan kaki telanjang.
Ia berhenti di depan Ariyanti.
Ia menunduk dalam-dalam. Sekuat yang ia bisa.
"Ariyanti." Suaranya bergetar. "Aku datang untuk minta maaf."
Ariyanti terdiam.
Tangannya menggenggam erat tangan Akang. Jari-jari mereka saling mengunci. Tidak akan terlepas.
Jantungnya berdebar kencang. Dadanya sesak. Udara terasa panas di paru-paru.
Tapi ada sesuatu yang aneh.
Ia tidak merasa takut.
Aneh.
Dulu, setiap kali melihat Rahmadi, tubuhnya langsung gemetar. Tangannya dingin. Keringat dingin mengucur. Pikirannya kacau.
Tapi sekarang, ia tidak takut.
Yang ia rasakan hanyalah iba.
Rahmadi melanjutkan. Suaranya pecah.
"Aku tahu kata maaf tidak akan mengembalikan masa lalumu yang hancur. Tidak akan menghilangkan traumamu. Tidak akan menyembuhkan lukamu."
"Tapi aku tidak tahu harus berbuat apa lagi selain meminta maaf."
"Aku datang ke sini bukan untuk mengganggu kebahagiaanmu." Rahmadi terisak. "Aku datang karena... karena aku ingin melihatmu bahagia. Sebelum aku benar-benar menghilang dari hidupmu."
Air matanya jatuh. Jatuh ke tanah.
Rahmadi Menghadap Akang
Pelaminan, pukul 09.40.
Rahmadi berbalik menghadap Akang.
"Akang."
Suaranya pelan. Hampir tidak terdengar.
"Aku pernah benci padamu." Rahmadi menunduk. "Bukan karena kau jahat. Tapi karena kau memiliki apa yang tidak aku miliki."
"Apa?" Akang bertanya.
"Cinta sejati."
Ruangan hening.
"Aku iri." Rahmadi menghela napas. "Iri yang membunuhku perlahan. Iri yang mengubahku menjadi monster."
"Aku menyuruh preman mengeroyokmu." Rahmadi menghitung dengan jari. "Aku menyabotase motormu. Aku hampir membunuhmu. Aku bahkan menculik Ariyanti..."
"Tapi kau... kau tetap bertahan." Rahmadi menatap Akang. "Kau tetap baik. Kau tetap mencintainya. Kau tidak pernah berubah."
"Aku kalah, Akang."
Rahmadi terdiam sebentar.
"Bukan hanya dalam perebutan Ariyanti. Tapi dalam hidup."
"Aku kalah."
Akang menatap Rahmadi lama.
Laki-laki yang dulu ia benci. Yang dulu ia kutuk setiap malam. Yang dulu membuatnya hampir kehilangan nyawa. Yang dulu membuat Ariyanti trauma berbulan-bulan.
Kini hanya tinggal kerangka manusia. Hancur oleh keserakahannya sendiri. Hancur oleh kebenciannya sendiri.
"Aku tidak akan bilang aku memaafkanmu, Rahmadi." Akang menggenggam tangan Ariyanti. "Karena itu butuh waktu."
"Tapi aku tidak akan membencimu lagi."
Rahmadi terisak.
"Itu sudah lebih dari cukup."
Ariyanti Bicara
Pelaminan, pukul 09.45.
Ariyanti berdiri.
Akang menahan tangannya sedikit. Ia khawatir. Tapi Ariyanti melepaskan genggaman itu.
Ia maju selangkah.
"Rahmadi."
Rahmadi mengangkat kepala. Matanya basah.
"Ariyanti... aku..."
"Diam."
Rahmadi terdiam.
"Aku tidak akan bilang aku sudah memaafkanmu." Ariyanti menatapnya. "Karena setiap malam, aku masih mimpi buruk. Setiap kali melihat laki-laki bertubuh besar, aku masih gemetar. Setiap kali ingat gudang itu, aku masih mual."
Tapi Ariyanti juga menangis.
"Tapi aku tidak akan membencimu selamanya."
"Kenapa?" Rahmadi bertanya.
"Karena kebencian hanya akan menghancurkanku. Bukan dirimu."
Ariyanti mengusap air matanya.
"Dan hari ini. Di hari pernikahanku. Aku memilih untuk memulai lembaran baru. Lembaran tanpa kebencian."
"Aku memaafkanmu, Rahmadi."
Rahmadi jatuh terduduk di tanah.
Ia tidak bisa berdiri. Kakinya lemas. Tangannya gemetar.
Tangisnya pecah.
"Terima... terima kasih, Ariyanti. Aku tidak pantas..."
"Kamu tidak pantas." Ariyanti menatapnya. "Tapi aku memilih memaafkan."
Akang Memeluk Rahmadi
Pelaminan, pukul 09.50.
Akang turun dari pelaminan.
Ia mendekati Rahmadi yang masih terduduk di tanah. Menangis. Tubuhnya berguncang.
Semua orang menahan napas.
Tidak ada yang bergerak. Tidak ada yang bicara. Hanya suara tangis Rahmadi yang terdengar.
Akang mengulurkan tangannya.
Rahmadi menatap tangan itu.
Tidak percaya.
Laki-laki yang hampir ia bunuh. Yang hampir ia hancurkan hidupnya. Yang nyawanya hampir ia cabut dengan tangan sendiri.
Kini mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri.
"Bangun, Rahmadi."
"Kenapa... kenapa kau masih mau menyentuhku?" Rahmadi tidak berani meraih.
"Karena aku manusia." Akang tidak menarik tangannya. "Dan manusia tidak hidup untuk membenci."
Rahmadi meraih tangan Akang.
Akang menariknya berdiri.
Mereka berhadapan. Dua laki-laki yang dulu saling membenci. Yang dulu ingin saling membunuh. Yang dulu tidak bisa melihat satu sama lain tanpa amarah.
Kini berdiri dalam jarak satu meter.
"Akang... maafkan aku."
"Aku akan berusaha memaafkanmu." Akang menatapnya. "Tapi itu butuh waktu. Yang penting, aku tidak akan membalas dendam."
"Itu sudah lebih dari cukup."
Rizki Mendekati Rahmadi
Halaman rumah, pukul 09.55.
Rizki, yang melihat keributan dari kejauhan. Yang mendengar suara tangis. Yang melihat orang-orang berkerumun. Lepas dari gendongan Siti.
Siti lengah. Tangannya pegal. Rizki meronta.
Rizki berlari kecil. Kakinya yang masih gemetar membuatnya terhuYan g. Hampir jatuh. Tapi ia terus berlari.
Mendekati Rahmadi.
"Rizki! Jangan!" teriak Siti. Wajahnya pucat.
Tapi Rizki sudah sampai di depan Rahmadi.
Ia menatap wajah Rahmadi.
Dahi yang lebar. Hidung yang mancung. Mata yang sayu. Pipi yang basah oleh air mata.
"Bapak?" tanya Rizki polos.
Sekujur tubuh Rahmadi membeku.
Ia tidak tahu harus menjawab apa.
"Rizki, itu..." Siti tidak bisa melanjutkan.
Rahmadi berlutut. Menyamakan tinggi dengan Rizki.
"Kamu... Rizki?"
"Iya." Rizki mengangguk. "Rizki. Bapak siapa?"
Rahmadi menangis.
"Aku... aku tidak pantas disebut bapak."
"Kenapa?"
"Karena... karena aku jahat."
"Rizki tidak suka orang jahat."
"Maafkan aku, Rizki."
Rizki mengulurkan tangan mungilnya. Menyentuh wajah Rahmadi. Basah oleh air mata.
"Jangan nangis." Rizki mengusap air mata Rahmadi. "Nanti mamah marah."
Seluruh ruangan terenyuh.
Siti memeluk Rizki dari belakang.
"Maaf, Rahmadi." Siti menarik Rizki. "Dia belum tahu."
"Tidak apa-apa, Siti." Rahmadi berdiri. "Aku tidak berhak dipanggil ayah."
Siti Juga Memaafkan
Halaman rumah, pukul 10.00.
Siti menitipkan Rizki pada Bu Sumi.
Ia berjalan mendekati Rahmadi.
"Rahmadi."
Rahmadi menunduk. "Siti... aku..."
"Kau sudah meninggalkanku waktu aku hamil." Siti menatapnya. "Kau suruh aku aborsi. Kau tidak mau bertanggung jawab."
"Siti, aku..."
"Diam."
Rahmadi terdiam.
"Tapi..." Siti menghela napas. "Aku juga tidak bisa terus membenci. Aku lelah. Rizki butuh kasih sayang. Bukan kebencian."
"Aku memaafkanmu." Siti menggenggam tangannya sendiri. "Tapi jangan harap aku akan melupakan."
"Saya terima, Siti." Rahmadi tidak berani menatap. "Terima kasih."
Ibu Ariyanti dan Ibu Akang
Halaman rumah, pukul 10.10.
Ibu Ariyanti dan Ibu Akang mendekati Rahmadi.
"Nak Rahmadi." Ibu Ariyanti berdiri di hadapannya. "Ibu dulu sangat benci padamu. Karena kau hampir membunuh anak-anak Ibu."
"Maafkan saya, Bu."
"Tapi Ibu juga tahu." Ibu Ariyanti menghela napas. "Kau tumbuh dalam keluarga yang salah. Kau tidak pernah merasakan cinta."
"Itu bukan alasan, Bu." Rahmadi menunduk.
"Ibu tahu." Ibu Ariyanti menggenggam tangannya. "Tapi Ibu memilih memaafkan."
Ibu Akang juga maju.
"Nak Rahmadi, Ibu juga memaafkanmu." Ibu Akang tersenyum. "Karena Ibu percaya. Setiap orang pantas mendapat kesempatan kedua."
"Terima kasih, Bu." Rahmadi menangis. "Saya tidak pantas."
"Bukan soal pantas." Ibu Akang mengelus tangannya. "Tapi soal memberi kesempatan."
Bu Sumi, Pak Dullah, dan Herman
Halaman rumah, pukul 10.20.
Bu Sumi, Pak Dullah, dan Herman mendekati Rahmadi.
"Rahmadi." Bu Sumi menatapnya. "Ibu lihat kau sudah berubah. Ibu bangga."
"Terima kasih, Bu."
Pak Dullah mengulurkan tangan.
"Saya juga memaafkanmu, Nak."
Rahmadi menjabat tangan Pak Dullah.
"Maafkan saya, Pak. Dulu saya ikut menyuruh preman mengusir Bapak."
"Saya sudah lupa." Pak Dullah tersenyum. "Yang penting kau berubah."
Herman memeluk anaknya.
"Nak, Ayah bangga."
"Ayah." Rahmadi menangis di bahu Herman. "Aku tidak layak dibanggakan."
"Setiap anak yang berusaha berubah." Herman mengelus rambutnya. "Layak dibanggakan."
Doa Bersama
Halaman rumah, pukul 10.30.
Pak Lurah mengajak semua orang berdoa bersama.
Semua berdiri. Semua menunduk. Semua menengadahkan tangan.
"Ya Allah." Pak Lurah memimpin. "Hari ini kami menyaksikan keajaiban. Orang yang dulu bermusuhan. Yang dulu saling membenci. Yang dulu saling menyakiti. Kini saling memaafkan."
"Ya Allah." Pak Lurah melanjutkan. "Jadikan peristiwa ini sebagai pelajaran bagi kami semua. Bahwa cinta dan maaf lebih kuat dari kebencian. Bahwa ketulusan lebih kuat dari dendam."
"Ya Allah." Pak Lurah menengadahkan tangan lebih tinggi. "Berkahi pernikahan Akang dan Ariyanti. Lindungi mereka dari segala kejahatan. Anugerahi mereka keturunan yang saleh dan salehah."
"Ya Allah." Pak Lurah berdoa dengan khusyuk. "Bimbing Rahmadi. Jadikan sisa hidupnya sebagai masa penebusan dosa. Sebagai masa perbaikan diri."
"Aamiin."
"Aamiin," jawab semua yang hadir.
Rahmadi Minta Foto
Halaman rumah, pukul 10.45.
Rahmadi mendekati Marni.
"Marni, bisa minta foto?" Rahmadi menunduk.
"Foto apa?" Marni mengernyit.
"Foto Akang, Ariyanti, dan Rizki." Rahmadi menggigit bibirnya. "Untuk aku simpan."
Marni terharu.
"Bisa." Marni mengangguk. "Aku akan cetak. Nanti saya kirim."
"Terima kasih, Marni."
Marni memotret Akang, Ariyanti, dan Rizki berpose bersama. Rizki tersenyum lebar. Ariyanti tersenyum tipis. Akang menggenggam tangan istrinya.
"Ini untukmu." Marni menyerahkan polaroid langsung jadi.
Rahmadi menerima foto itu dengan tangan gemetar.
"Terima kasih, Marni."
Rahmadi Berpamitan
Halaman rumah, pukul 11.00.
Rahmadi berdiri di hadapan semua tamu.
Suasana hening.
"Saya... saya pamit." Suaranya lirih.
"Terima kasih sudah menerima saya di sini." Rahmadi menunduk dalam-dalam. "Terima kasih sudah memaafkan saya."
"Saya tidak tahu apakah saya pantas hidup bahagia setelah semua ini." Rahmadi menangis. "Tapi saya akan berusaha menjadi lebih baik."
"Selamat bahagia, Akang dan Ariyanti." Rahmadi menatap mereka. "Kalian pantas mendapatkannya."
Rahmadi menunduk dalam-dalam.
Herman memegang pundak anaknya.
"Kita pulang, Nak."
"Iya, Ayah."
Mereka berjalan perlahan meninggalkan halaman rumah Ariyanti.
Rizki melambaikan tangan.
"Daag, Bapak!"
Rahmadi menoleh.
Air matanya jatuh.
Ia melambaikan tangan balik.
Hening Sejenak
Halaman rumah, setelah Rahmadi pergi.
Suasana hening sejenak.
Semua orang masih terenyuh.
Ariyanti memeluk Akang.
"Kang, aku tidak menyangka dia akan datang." Ariyanti menangis.
"Aku juga, Ari." Akang membelai rambutnya. "Tapi aku lega."
"Kenapa?"
"Karena kita bisa memulai hidup baru." Akang menatap Ariyanti. "Tanpa beban."
"Tanpa bayang-bayang asmara?"
"Bayang-bayang itu masih ada, Ari." Akang tersenyum. "Tapi tidak lagi menakutkan."
Pesta Pernikahan Berlanjut
Halaman rumah, pukul 11.15.
Pesta pernikahan berlanjut. Lebih hangat dari sebelumnya.
Musik mulai diputar lagi. Suara rebana dan terbang. Lagu-lagu sholawat.
Para tamu kembali menikmati hidangan. Nasi liwet. Ayam ingkung. Sayur asem. Sambal terasi.
Marni memotret setiap momen. Siti menggendong Rizki yang mulai tertidur. Bu Sumi duduk di pojok bersama Pak Dullah dan Pak Lurah.
"Akhirnya..." Bu Sumi menghela napas. "Semua berakhir dengan baik."
"Ini awal yang baru." Pak Lurah tersenyum.
"Semoga Rahmadi benar-benar berubah." Pak Dullah mengusap air matanya.
"Aamiin."
Ariyanti dan Akang Berbincang
Pelaminan, siang hari.
"Kang, apa yang akan terjadi pada Rahmadi setelah ini?" Ariyanti bertanya.
"Dia akan menjalani sisa hukumannya, Ari." Akang menggenggam tangannya. "Tapi dengan perilaku baik, mungkin dia bisa bebas lebih cepat."
"Apa dia akan kembali ke Pegandon?"
"Entahlah." Akang menghela napas. "Tapi jika dia kembali, aku tidak takut."
"Kenapa, Kang?"
"Karena dia bukan monster lagi." Akang menatap Ariyanti. "Dia manusia biasa yang sedang belajar menjadi lebih baik."
Senja di Tegorejo
Pohon randu tertua, pukul 17.00 sore hari.
Setelah pesta usai. Setelah semua tamu pulang. Setelah tenda dibongkar. Setelah kursi-kursi ditata kembali.
Akang dan Ariyanti berjalan ke pohon randu tertua di Jalan Randu Gembyang.
Jalan yang sama. Pohon yang sama. Senja yang sama.
Mereka duduk bersandar di akar pohon yang sama.
Langit mulai berwarna jingga.
"Kang, senja ini berbeda." Ariyanti menatap langit.
"Kenapa, Ari?"
"Lebih hangat." Ariyanti tersenyum. "Lebih tenang. Tidak ada badai."
"Karena badai sudah berlalu." Akang menggenggam tangannya.
Mereka berpegangan tangan.
"Kang, apa kita akan baik-baik saja?"
"Kita akan lebih dari baik-baik saja." Akang menatap Ariyanti. "Kita akan bahagia."
Kebahagiaan di Kaki Langit
Pohon randu, senja itu.
Marni yang masih setia mengikuti mereka dari kejauhan memotret.
Satu klik. Abadi.
Rizki yang sudah bangun dari tidurnya berlari kecil menghampiri Akang dan Ariyanti.
"Paman! Bibi!" Rizki tertawa. "Rizki mau ikut!"
"Kamu mau ikut ke mana?" tanya Ariyanti.
"Ikut Paman dan Bibi!"
"Kamu sudah punya mamah dan kakek." Akang menggendong Rizki.
"Rizki mau ikut!"
Mereka tertawa bersama.
Bu Sumi, Pak Dullah, Pak Lurah, Herman, Siti, dan Ibu Akang datang menyusul.
Mereka semua berdiri di bawah pohon randu.
"Ini pemandangan terindah." Bu Sumi tersenyum.
"Ini kebahagiaan yang kita perjuangkan." Pak Lurah mengusap air matanya.
"Ini kemenangan cinta." Herman memeluk Siti dan Rizki.
Ariyanti menatap Akang.
"Kang, ini semua nyata?"
"Ini nyata, Ari." Akang menatapnya. "Selamat datang di kehidupan barumu."
Mereka berpelukan.
Di kejauhan, matahari perlahan tenggelam.
Senja di Tegorejo tak pernah seindah ini.
Karena di bawah pohon randu tertua. Di kaki langit yang tak pernah lelah memeluk senja. Cinta sejati akhirnya merajut kasih tanpa bayang-bayang.
Hanya cinta.
Hanya kedamaian.
Hanya kebahagiaan.
EPILOG
Tegorejo, Kaki Langit yang Tak Pernah Lupa pada Senjanya
Tegorejo, 2023. Dua puluh lima tahun kemudian.
Langit Tegorejo masih sama seperti dulu. Jingga, hangat, dan penuh misteri. Warna jingganya tidak pernah berubah. Tidak pernah pudar. Tidak pernah kehilangan keindahannya. Seolah-olah waktu tidak pernah berjalan di desa kecil ini. Seolah-olah dua puluh lima tahun hanyalah mimpi yang berlalu begitu saja.
Sawah-sawah masih menghijau. Tidak berubah. Padi yang ditanam oleh generasi baru masih sama seperti yang dulu ditanam oleh kakek-nenek mereka. Burung-burung masih beterbangan di sore hari, pulang ke sarang masing-masing, seperti ritual yang tidak pernah berubah sejak dulu. Dan Jalan Randu Gembyang masih setia menemani setiap senja yang datang, dengan pohon-pohon randu yang masih menjulang tinggi, dengan akar-akar yang masih menjalar ke tanah seperti naga yang tertidur.
Di bawah pohon randu tertua, pohon yang telah menyaksikan ribuan senja, ribuan air mata, ribuan doa, pohon yang dulu menjadi saksi bisu fitnah, kebakaran, air mata, dan cinta, seorang perempuan paruh baya dengan rambut mulai memutih duduk bersandar pada punggung suaminya. Wajahnya masih tampak cantik, meskipun keriput usia mulai terlihat di sudut matanya. Keriput yang tidak bisa disembunyikan oleh bedak atau pelembab. Keriput yang lahir dari senyum dan tangis. Keriput yang menjadi peta perjalanan hidupnya.
Ariyanti.
Di sampingnya, Akang Supriyadi, seorang lelaki berusia 58 tahun dengan rambut hitam bercampur putih. Rambutnya tidak lagi hitam pekat seperti dulu. Ada uban di pelipis, ada uban di janggut yang ia biarkan tumbuh. Tubuhnya masih tegap, meskipun usianya tak lagi muda. Bahunya tidak membungkuk. Punggungnya tidak melengkung.
Matanya masih sama tajam seperti dulu. Tajam seperti mata elang yang memantau mangsa. Tapi kini tajam itu tidak lagi untuk menakut-nakuti. Tajam itu dipenuhi oleh ketenangan. Dan kebijaksanaan.
"Ayang." Ariyanti memanggil dengan suara lembut. Matanya menerawang jauh, menembus waktu, kembali ke masa lalu yang penuh lika-liku. "Apa kau ingat senja pertama kita? Senja ketika kita pertama kali berjalan pulang bersama? Senja ketika kau meminjamkan paYan g bocor biru tua itu?"
Akang tersenyum. Keriput di wajahnya seolah menyimpan ribuan cerita. Cerita tentang perjuangan yang hampir menghancurkan. Cerita tentang rasa sakit yang hampir membunuh. Cerita tentang cinta yang hampir mati. Dan cerita tentang kemenangan yang manis, yang terasa lebih manis karena perjuangan yang panjang.
"Aku ingat semuanya." Suaranya dalam, hangat, seperti aliran sungai yang tenang. "Aroma tanah basah setelah hujan. Aroma yang tidak bisa kamu temukan di kota. Suara jangkrik yang mulai bernyanyi, seperti orkestra alam yang tidak pernah lelah. Dedaunan randu yang berguguran terkena angin sore, seperti pesan-pesan dari masa lalu."
"Dan matamu." Akang menatap Ariyanti. "Matamu yang sembunyi-sembunyi melihatku. Seperti kau sedang membaca buku yang paling menarik di dunia. Seperti kau mencoba memecahkan teka-teki yang belum pernah kau temui sebelumnya."
Ariyanti tertawa. Tawa kecil yang hangat.
"Kau tahu? Waktu itu aku pura-pura tidak melihatmu. Padahal jantungku berdebar kencang. Aku pura-pura dingin. Aku pura-pura tidak peduli. Tapi di dalam hati, aku bersorak."
"Aku tahu." Akang menggenggam tangannya. "Aku juga."
Mereka berdua tertawa. Tawa dua jiwa yang telah melewati badai terhebat dalam hidup. Badai yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Badai yang hampir menghancurkan segalanya. Tapi mereka selamat. Mereka masih di sini. Bersama.
Anak-Anak Mereka
Di hamparan sawah yang membentang di hadapan mereka, di lahan yang dulu digarap oleh kakek buyut mereka, dua orang anak muda berlarian kejar-kejaran. Debu beterbangan. Padi yang mulai menguning bergoyang-goyang. Burung-burung terbang berhamburan.
Akang Putra Pratama, atau biasa dipanggil Tama, berusia 23 tahun. Ia baru saja lulus dari Universitas Gadjah Mada, mengambil jurusan yang sama seperti ayahnya. Pertanian. Bukan karena dipaksa. Tapi karena ia melihat sendiri bagaimana ayahnya berhasil mengubah sawah-sawah tradisional menjadi lebih produktif. Bagaimana ayahnya tidak pernah lelah memperjuangkan kesejahteraan petani.
Wajah Tama tampan. Perawakannya tegap, seperti ayahnya dulu. Dan ia mewarisi mata tajam dari ayahnya. Mata yang tidak bisa dibohongi. Mata yang selalu melihat lebih dalam dari yang terlihat.
Tama sedang mengejar adik perempuannya.
Ariyanti Sekar Sari, atau Sekar, berusia 20 tahun. Ia sedang menempuh semester akhir di Universitas Negeri Semarang, jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia. Persis seperti cita-cita ibunya dulu. Persis seperti mimpi yang tidak pernah padam meskipun badai menerpa.
Wajah Sekar cantik. Rambutnya hitam panjang, tergerai di bahu. Dan ia memiliki senyum yang sama persis dengan Ariyanti saat muda. Senyum yang bisa menghangatkan hati siapa pun yang melihatnya. Senyum yang tidak pernah pudar meskipun hidup kadang terasa berat.
"Mba Sekar! Berhenti! Nanti jatuh!" teriak Tama sambil tertawa.
"Kejar dulu, Mas! Jangan cuma bisa teriak!" jawab Sekar sambil berlari lebih cepat.
Mereka berlarian di antara padi yang mulai menguning. Debu-debu beterbangan di udara. Senja menjadi saksi keceriaan mereka.
Ariyanti tersenyum melihat anak-anaknya.
"Dulu kita juga sering berlarian di sini, Yang." Ariyanti bersandar pada bahu Akang.
"Dulu kita tidak berlarian." Akang menggeleng. "Kita berjalan hati-hati sambil membawa buku tebal. Kita tidak punya waktu untuk bermain-main. Kita sibuk memikirkan bagaimana caranya bertahan hidup."
"Karena kita miskin." Ariyanti menghela napas. "Kita tidak punya waktu untuk menjadi anak-anak."
"Sekarang anak-anak kita bisa bermain." Akang menggenggam tangannya. "Karena kita sudah memutus rantai kemiskinan. Kita sudah memutus lingkaran penderitaan."
Akang menggenggam tangan istrinya. Tangan yang dulu kasar karena kerja keras di sawah dan bengkel. Tangan yang dulu penuh kapalan karena memegang cangkul dan palu. Tangan yang dulu gemetar karena takut dan lelah. Kini masih kasar. Masih penuh kapalan. Tapi hangat. Hangat seperti dulu. Hangat seperti pertama kali mereka berpegangan tangan di bawah pohon randu.
Rahmadi, Pengusaha Kecil yang Tenang
Tidak jauh dari pohon randu, seorang lelaki berusia 57 tahun berjalan pelan menyusuri Jalan Randu Gembyang.
Tubuhnya tidak lagi sekokoh dulu. Bahunya yang dulu tegap dan bidang, kini sedikit membungkuk. Dadanya yang dulu bidang, kini terlihat lebih kecil. Kakinya sedikit pincang, bekas luka dari perkelahian di penjara dua puluh tahun lalu. Luka yang tidak pernah sembuh sempurna. Luka yang akan tetap bersamanya sampai tua.
Rambutnya hampir seluruhnya putih. Bukan putih yang indah seperti iklan sampo. Tapi putih yang kusam, putih yang lahir dari stres dan penyesalan.
Wajahnya penuh keriput. Keriput yang tidak hanya lahir dari usia. Tapi keriput yang lahir dari kehancuran batin. Dari pertobatan yang panjang. Dari perjuangan menjadi manusia yang lebih baik.
Tapi matanya. Matanya tenang.
Rahmadi.
Setelah menghabiskan 12 tahun di penjara. Bukan 8 tahun seperti vonis awal. Ada kasus tambahan. Penculikan. Percobaan kekerasan. Kabur dari lapas. Hukumannya bertambah. Ia keluar pada tahun 2011. Bukan sebagai pahlawan. Bukan sebagai orang sukses. Tapi sebagai manusia biasa yang ingin memulai hidup baru.
Ia tidak kembali ke Pegandon. Terlalu banyak kenangan buruk di sana. Terlalu banyak wajah yang tidak ingin melihatnya. Terlalu banyak luka yang belum sembuh.
Ia merantau ke Semarang. Memulai usaha kecil-kecilan sebagai pedagang sembako. Tokonya tidak besar. Hanya 3x4 meter. Dindingnya cat putih kusam. Rak-raknya dari kayu. Barang-barangnya tidak lengkap. Tidak mewah. Tapi cukup untuk hidup sederhana. Cukup untuk makan. Cukup untuk menyewa kamar kos.
Ia tidak pernah menikah. Bukan karena tidak ada yang mau. Tapi karena ia merasa tidak pantas. Ia merasa belum layak menjadi suami. Ia merasa masih perlu banyak belajar.
Tapi ia dekat dengan Rizki. Anaknya dari Siti. Rizki tidak pernah malu mengakuinya. Rizki sering menjenguknya di Semarang. Membawakannya obat. Membawakannya makanan. Membawakannya kabar dari Tegorejo.
Rizki kini sudah menjadi dokter muda di RSUD Kendal. Ia mengambil spesialis anak. Ingin membantu anak-anak yang sakit. Ingin menebus dosa ayahnya.
Rahmadi juga masih rajin bersilahturahmi ke Tegorejo. Setiap bulan, ia datang. Naik bus dari Semarang. Turun di terminal Pegandon. Lalu berjalan kaki ke Dusun Kersan.
Ia datang ke makam Herman, ayah kandungnya yang meninggal pada tahun 2015. Herman meninggal dengan tenang, dengan senyum di bibir, karena sebelum meninggal, ia sempat melihat Rahmadi berubah menjadi lebih baik.
Ia juga datang ke makam Hj. Fatimah, ibunya yang meninggal dalam misteri. Makam yang selalu bersih karena ada yang merawat. Mungkin Pak Dullah. Mungkin warga desa yang baik hati.
"Akang, Ariyanti." Rahmadi mendekat, berjalan pelan. "Selamat sore."
Akang menoleh. Wajahnya tidak lagi tegang saat melihat Rahmadi. Dulu, setiap kali melihat Rahmadi, otot-otot di rahangnya akan mengeras. Tangannya akan mengepal. Dadanya akan sesak. Tapi tidak lagi.
Yang tersisa hanyalah ketenangan. Ketenangan seorang laki-laki yang sudah memaafkan. Ketenangan yang lahir dari kesadaran bahwa kebencian tidak akan membawa kebaikan.
"Rahmadi." Akang menepuk akar pohon di sampingnya. "Silakan duduk."
"Terima kasih."
Rahmadi duduk di akar pohon randu. Akar yang besar dan keras, seperti kursi alami yang tidak nyaman, tapi cukup. Mereka bertiga duduk berdekatan. Tiga orang yang dulu saling membenci. Tiga orang yang dulu saling menyakiti. Tiga orang yang dulu tidak bisa melihat satu sama lain tanpa amarah.
Kini dapat duduk bersama di bawah senja yang sama.
"Rizki bilang dia akan datang minggu depan," kata Rahmadi.
"Rizki?" Ariyanti menoleh. "Dokter Rizki? Anak Siti?"
"Iya." Rahmadi tersenyum bangga. "Dia sekarang dokter spesialis anak di RSUD Kendal. Katanya ada pelatihan di Semarang, jadi mampir ke Tegorejo."
"Baguslah." Ariyanti tersenyum. "Kami sudah lama tidak bertemu Rizki. Terakhir kali dia ke sini, mungkin setahun yang lalu."
Dulu, saat Rizki masih kecil, ia sering bermain dengan Tama dan Sekar. Mereka bertiga seperti saudara. Bermain kejar-kejaran di sawah. Mandi di sungai. Memanjat pohon jambu. Tidak ada yang membedakan. Tidak ada yang merasa lebih tinggi atau lebih rendah.
Siti, Hidup Baru yang Bahagia
Di Dusun Kersan, di rumah yang dulu ditempati Ariyanti, kini ditempati oleh Siti dan keluarganya.
Rumah itu sudah berubah. Dinding anyaman bambu yang dulu rapuh, kini sudah diganti dengan bata. Atap rumbia yang dulu bocor, kini sudah diganti dengan genteng. Lantai tanah yang dulu becek, kini sudah diplester semen.
Tapi bentuknya masih sama. Masih ada teras di depan. Masih ada dua kamar di dalam. Masih ada dapur di belakang.
Setelah Ibu Ariyanti meninggal pada tahun 2015, dalam usia 65 tahun, karena komplikasi jantung, Siti meminta izin untuk merawat rumah itu. Ariyanti mengizinkan. Rumah itu lebih baik dihuni daripada kosong.
Siti menikah dengan Slamet pada tahun 2007. Slamet adalah duda dengan satu anak, seorang laki-laki bernama Andre. Mereka kemudian dikaruniai seorang putri, Maya.
Siti tidak menjadi perawat. Cita-citanya dulu tidak kesampaian. Tapi ia tidak menyesal. Ia memilih menjadi ibu rumah tangga dan membesarkan anak-anaknya. Namun ia tetap aktif di PKK desa. Ia juga mengajar mengaji di musholla setiap sore.
Rizki, putranya dari Rahmadi, tumbuh menjadi anak yang cerdas dan baik hati. Ia tidak pernah malu dengan masa lalu ibunya. Ia tidak pernah malu dengan ayah kandungnya yang mantan narapidana. Ia justru bangga. Bangga karena ibunya telah bertobat. Bangga karena ibunya menjadi pribadi yang lebih baik.
"Bu, aku akan ke Tegorejo minggu depan." Suara Rizki dari seberang telepon.
"Ada apa, Nak?" Siti memegang gagang telepon.
"Ada pelatihan di Semarang, Bu. Aku mau mampir ke makam Kakek Herman dan Nenek Fatimah. Juga ke rumah Pak Akang dan Bu Ari."
"Bawa salam untuk mereka, Nak."
"Iya, Bu."
Bu Sumi, Pensiunan Guru yang Aktif
Bu Sumi kini berusia 78 tahun.
Ia sudah pensiun mengajar sejak tahun 2010. Upacara perpisahannya dihadiri oleh ratusan murid, guru, dan warga desa. Banyak yang menangis. Banyak yang berterima kasih. Banyak yang tidak rela.
Rumahnya di dekat Jalan Randu Gembyang masih seperti dulu. Dinding bata putih yang mulai kusam. Atap genteng merah yang sudah berkarat di beberapa bagian. Halaman depan yang ditumbuhi berbagai tanaman hias.
Dan yang paling khas, rumah itu masih penuh buku. Rak-rak buku di setiap sudut. Buku-buku berserakan di meja, di kursi, di lantai. Novel, puisi, sejarah, agama. Semua ada.
Setiap sore, ia duduk di teras rumahnya. Membaca buku. Atau menulis puisi. Beberapa puisinya bahkan dimuat di koran lokal. Bahkan ada yang dimuat di antologi puisi nasional.
"Ari, kamu baca puisi baruku." Bu Sumi memanggil Ariyanti yang sedang berkunjung.
"Bacakan, Bu." Ariyanti duduk di sampingnya.
Bu Sumi mengambil buku catatan kecil dari saku bajunya. Buku yang sudah usang, sampulnya terlipat-lipat, beberapa halamannya terlepas.
"Senja di Tegorejo masih sama seperti dulu." Bu Sumi membaca dengan suara bergetar. "Jingga, hangat, penuh misteri. Tapi kini tanpa air mata. Hanya kedamaian yang tersisa."
"Anak-anak muda yang dulu kucela. Yang dulu kuanggap sampah masyarakat. Kini menjadi pahlawan. Mereka mengajarkanku. Bahwa cinta dan maaf lebih kuat dari kebencian."
Ariyanti menangis.
"Bu Sumi, puisi ini tentang kami?"
"Tentang kalian." Bu Sumi menggenggam tangannya. "Tentang semua yang pernah berjuang. Tentang Akang. Tentang Ariyanti. Tentang Siti. Tentang Marni. Tentang Pak Dullah. Tentang Pak Lurah. Tentang semua orang yang tidak pernah menyerah."
Makam Pak Dullah
Di pemakaman desa, tidak jauh dari makam Mbah Joyo, kakek Akang, terdapat sebuah makam sederhana yang selalu bersih dari rumput.
Makam itu tidak besar. Nisannya tidak tinggi. Tidak ada ukiran indah. Tidak ada pagar besi. Hanya tanah dan batu nisan sederhana.
Tapi setiap bulan, makam itu diziarahi oleh keluarga Akang. Akang, Ariyanti, Tama, dan Sekar. Mereka datang membawa bunga. Mereka membaca doa. Mereka membersihkan rumput yang mulai tumbuh.
Pak Dullah meninggal pada tahun 2015. Setahun setelah Ibu Ariyanti. Ia meninggal dengan tenang. Dalam tidurnya. Tidak ada yang mendengar erangan. Tidak ada yang melihat kesakitan. Pagi harinya, ia sudah tidak bernapas.
Usianya 78 tahun.
"Pak Dullah." Ariyanti berdoa di depan makam. "Tanpa Bapak, mungkin saya sudah mati diculik. Tanpa Bapak, mungkin saya sudah tidak di sini."
"Pak Dullah." Akang juga berdoa. "Bapak adalah pahlawan sejati. Bapak adalah saksi yang tidak pernah menyerah."
Anak-anak mereka hanya diam menghormat. Mereka sudah mendengar cerita tentang Pak Dullah berkali-kali. Tentang bagaimana Pak Dullah melihat mobil box hitam di malam penculikan. Tentang bagaimana Pak Dullah memberi informasi pada polisi. Tentang bagaimana Pak Dullah menjadi mata-mata di kubu Rahmadi.
Tapi mereka tak pernah bosan.
Makam Herman
Herman meninggal pada tahun 2015 juga. Tiga bulan setelah Pak Dullah.
Ia meninggal karena gagal ginjal. Sudah lama ia menderita sakit ginjal, tapi tidak pernah serius diobati. Mungkin karena tidak punya biaya. Mungkin karena lebih memprioritaskan biaya untuk Rahmadi dan Rizki.
Sebelum meninggal, ia sempat bertemu dengan Rizki dan Rahmadi untuk terakhir kalinya.
"Nak Rahmadi." Herman menggenggam tangan Rahmadi. Tangannya dingin. "Jaga dirimu baik-baik. Jangan kembali ke masa lalu. Jangan biarkan kegelapan merayap lagi."
"Nak Rizki." Herman menatap Rizki. "Jadilah dokter yang baik. Obati orang tanpa memandang status. Kaya atau miskin. Tetap tolong."
"Kakek sayang kalian."
Makam Herman berada di pemakaman umum Dusun Kersan. Tidak jauh dari rumah Siti.
Setiap bulan, Rizki dan Rahmadi selalu berziarah ke makam itu. Mereka membawa bunga. Membaca doa. Membersihkan rumput.
Siti juga kadang datang. Meskipun tidak setiap bulan. Tapi setiap kali datang, ia selalu menangis.
Pak Lurah dan Pak Karto
Pak Lurah masih sehat. Usianya sudah 75 tahun. Rambutnya putih semua. Kumis tebalnya juga putih. Tapi matanya masih tajam. Telinganya masih mendengar. Mulutnya masih tegas.
Ia tidak lagi menjabat sebagai lurah. Sudah pensiun sejak tahun 2010. Tapi ia masih aktif dalam kegiatan desa. Setiap ada rapat, ia diundang. Setiap ada masalah warga, ia dimintai pendapat. Setiap ada acara, ia diminta memimpin doa.
Pak Karto, petani yang dulu menyewakan sawahnya pada Akang, kini sudah sangat tua. Usianya 85 tahun. Tubuhnya bungkuk. Rambutnya putih. Giginya tinggal dua.
Ia tidak lagi bekerja di sawah. Anak dan cucunya yang meneruskan. Tapi setiap sore, ia masih duduk di teras rumahnya. Memandangi sawah yang dulu ia garap. Sawah yang dulu menjadi saksi bisu perjuangan Akang dengan kaki gips.
"Pak Karto, sehat?" Akang menyapa suatu sore.
"Sehat, Nak." Pak Karto tersenyum ompong. "Hanya badan sudah tidak sekokoh dulu. Sendi-sendi terasa nyeri. Lutut kadang bunyi."
"Apa yang Bapak pikirkan?" Akang duduk di sampingnya.
"Aku teringat waktu kau memotong padi dengan kaki gips." Pak Karto tertawa. "Keras kepalamu itu. Tidak mau dilarang. Memaksakan diri. Padahal jelas-jelas sakit."
Akang tertawa. "Dulu saya masih muda dan bodoh, Pak."
"Bukan bodoh." Pak Karto menepuk pundak Akang. "Itu namanya cinta."
Marni, Fotografer Terkenal
Marni menjadi fotografer terkenal. Tidak hanya di tingkat regional. Tapi juga nasional.
Karya-karyanya sering dimuat di majalah dan koran. Pameran fotonya digelar di Semarang, Yogyakarta, bahkan Jakarta. Ia mendapat penghargaan dari berbagai lembaga.
Ia tidak pernah menikah. Bukan karena tidak ada yang melamar. Banyak yang mencoba mendekatinya. Tapi ia selalu menolak.
Baginya, kamera adalah suami. Setiap foto yang ia ambil adalah anak-anaknya.
"Mar, kapan kau menikah?" Ariyanti bertanya suatu hari.
"Aku tidak perlu menikah, Ari." Marni mengatur fokus kameranya. "Aku sudah punya ribuan anak. Setiap foto yang aku ambil adalah anakku."
"Dasar aneh."
"Kau juga aneh." Marni tertawa. "Mau menikah dengan Akang yang dulu hampir mati. Yang dulu koma berhari-hari. Yang dulu tidak jelas sembuhnya."
"Tapi aku bahagia."
"Itu yang penting." Marni menjepret. Klik. "Bahagia itu yang utama."
Marni masih setia memotret setiap momen penting dalam hidup mereka. Pernikahan Tama. Wisuda Sekar. Ulang tahun Akang dan Ariyanti. Semua ia abadikan. Tidak ada yang terlewat.
Rizki, Dokter yang Dibanggakan
Rizki, putra Siti dan Rahmadi, kini berusia 25 tahun.
Ia lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang dengan predikat cumlaude. Prestasi yang membanggakan. Prestasi yang membuat Siti menangis bangga.
Ia mengambil spesialis anak. Ingin membantu anak-anak yang sakit. Ingin memberikan pelayanan kesehatan yang layak untuk semua kalangan.
Ia bertugas di RSUD Kendal. Setiap hari ia melayani puluhan pasien. Ada yang kaya, ada yang miskin. Ada yang sopan, ada yang kasar. Ada yang sabar, ada yang mengeluh.
Tapi ia tidak pernah pilih kasih.
Rizki tidak pernah malu dengan ayahnya. Rahmadi. Mantan narapidana. Mantan penjahat. Mantan musuh bebuyutan Akang dan Ariyanti.
Ia sering menjenguk Rahmadi di Semarang. Membawakannya obat. Membawakannya makanan. Membawakannya kabar dari Tegorejo.
"Pak, jangan lupa minum obat." Rizki menyiapkan pil-pil di atas meja.
"Iya, Nak." Rahmadi menunduk. "Terima kasih."
"Apa Bapak tidak ingin menikah lagi, Pak?" Rizki bertanya.
Rahmadi terdiam.
"Tidak, Nak." Rahmadi menggeleng. "Aku sudah cukup. Aku sudah punya anak sepertimu. Itu sudah lebih dari cukup."
Rizki menangis.
Tama dan Sekar, Penerus Perjuangan
Tama, putra Akang dan Ariyanti, bekerja di Dinas Pertanian Kabupaten Kendal. Jabatannya tidak tinggi. Staf biasa. Gajinya tidak besar. Tapi ia tidak pernah mengeluh.
Ia mewarisi mimpi ayahnya. Memodernisasi pertanian di Tegorejo dan sekitarnya. Mengganti alat-alat tradisional dengan mesin. Mengganti pupuk kimia dengan pupuk organik. Mengganti cara tanam yang tidak efisien dengan sistem yang lebih baik.
Ia juga aktif di kelompok tani desa. Setiap minggu, ia mengadakan penyuluhan. Membagi ilmu. Membagikan bibit. Membagikan pupuk.
Sekar, putri mereka, sedang menyelesaikan skripsinya. Judulnya "Pendidikan Karakter di Sekolah Dasar: Studi Kasus di Kecamatan Pegandon, Kabupaten Kendal".
Ia ingin menjadi guru. Seperti Bu Sumi. Seperti cita-cita ibunya dulu. Ia ingin membangun sekolah gratis untuk anak-anak miskin di Tegorejo. Sekolah yang tidak memungut biaya. Sekolah yang menyediakan buku dan seragam gratis. Sekolah yang menjadi tempat anak-anak desa belajar tanpa beban.
"Mas, apa kita bisa sukses seperti orang tua kita?" Sekar bertanya suatu malam. Mereka sedang duduk di teras rumah.
"Bisa." Tama tidak ragu. "Karena kita punya contoh nyata. Mereka tidak pernah menyerah. Tidak pernah. Meskipun badai datang silih berganti."
Kenangan di Dinding Rumah
Di rumah Akang dan Ariyanti, yang kini sudah permanen dengan dinding bata dan atap genteng, yang sudah tidak bocor lagi, yang sudah tidak becek lagi, terdapat sebuah dinding khusus. Dinding yang dipenuhi foto-foto lama.
Foto pertama. Akang dan Ariyanti di SMPN I Pegandon. Seragam putih biru. Wajah kikuk. Belum saling mengenal. Belum tahu bahwa takdir akan mempertemukan mereka.
Foto kedua. Akang dengan kaki gips, terbaring di RSUD Kendal. Ariyanti di sampingnya, wajah lelah, mata sembab. Itu foto yang diambil Marni saat Ariyanti sedang tidak sadar difoto.
Foto ketiga. Mereka bertiga dengan Marni dan Siti di bawah pohon randu. Senja. Tersenyum. Tidak ada beban.
Foto keempat. Akang dan Ariyanti di wisuda Sarjana. Topi toga. Jaket almamater. Wajah bangga.
Foto kelima. Pernikahan mereka. Pelaminan sederhana di bawah pohon randu. Ariyanti memakai kebaya putih. Akang memakai jas hitam.
Foto keenam. Tama dan Sekar saat bayi. Gendong. Tidur. Lucu.
Foto ketujuh. Semua orang berkumpul di bawah pohon randu. Bu Sumi, Pak Lurah, Pak Karto, Marni, Siti, Herman, Pak Dullah, dan Rizki yang masih kecil.
"Kang, lihat foto ini." Ariyanti menunjuk satu foto.
"Apa?"
"Ini foto Rahmadi di pengadilan." Ariyanti tersenyum. "Marni yang motret. Waktu sidang vonis."
"Simpan saja." Akang menggenggam tangannya. "Biar generasi mendatang tahu. Bahwa kejahatan tidak akan menang. Bahwa kebenaran akan selalu terungkap."
SMPN I dan SMAN I Pegandon
SMPN I Pegandon dan SMAN I Pegandon masih berdiri megah. Dua sekolah yang menjadi saksi pertama pertemuan Akang dan Ariyanti.
Dua sekolah yang dindingnya sudah diperbaiki. Yang lapangannya sudah diaspal. Yang ruang kelasnya sudah ber-AC.
Setiap tahun, Akang dan Ariyanti diundang menjadi pembicara dalam acara perpisahan sekolah. Mereka bercerita tentang perjuangan. Tentang tidak menyerah. Tentang cinta yang tulus.
"Anak-anak." Akang berdiri di depan panggung. "Jangan takut pada kegagalan. Jangan takut pada orang kaya yang semena-mena. Jangan takut pada fitnah. Yang penting kalian memiliki kebenaran. Dan keberanian."
"Dan ingat." Ariyanti maju ke samping Akang. "Cinta sejati tidak akan pernah mati. Ia hanya akan teruji oleh waktu. Dan yang bertahan adalah yang terbaik."
Para siswa bertepuk tangan. Tidak ada yang bergurau. Tidak ada yang bicara sendiri. Mereka serius mendengarkan.
Kisah Mereka dalam Buku
Cerita perjuangan Akang dan Ariyanti telah dibukukan oleh Bu Sumi pada tahun 2005.
Buku itu tebal. Hampir 500 halaman. Judulnya "Senja di Tegorejo: Merajut Kasih di Bawah Bayang-Bayang Asmara".
Buku itu menjadi best-seller lokal di Kendal dan Semarang. Bahkan sampai ke Yogyakarta dan Surabaya. Beberapa sekolah menjadikannya sebagai bacaan wajib untuk pelajaran Bahasa Indonesia.
"Bu Sumi, kenapa Ibu menulis buku ini?" seorang wartawan pernah bertanya.
"Karena generasi muda perlu tahu." Bu Sumi menatap wartawan itu. "Bahwa kebenaran tidak selalu mudah. Tapi perjuangan selalu terbayar. Bahwa cinta tidak selalu indah. Tapi cinta sejati akan selalu bertahan."
Rahmadi di Semarang
Di sebuah toko sembako kecil di pinggiran Semarang, Rahmadi duduk di kursi bambu.
Toko itu tidak besar. Hanya 3x4 meter. Dindingnya cat putih kusam. Rak-raknya dari kayu. Barang-barangnya tidak lengkap. Hanya beras, minyak, gula, telur, dan beberapa kebutuhan pokok lainnya.
Tapi cukup. Cukup untuk menghidupinya.
Ia tidak lagi memiliki ambisi untuk kaya. Dulu, ia ingin menjadi pengusaha sukses. Ingin membangun pusat perbelanjaan di tanah warisan Mbah Joyo. Ingin menunjukkan pada dunia bahwa ia lebih baik dari Akang.
Tapi tidak lagi.
Sekarang, ia hanya ingin tenang.
Setiap malam, ia membaca Al-Qur'an. Belajar mengaji. Menghafal surat-surat pendek.
Ia tidak lagi marah pada masa lalunya. Ia sudah berdamai dengan dirinya sendiri.
"Rahmadi, ada kiriman dari Tegorejo." Tetangganya, Bu Yuli, masuk ke toko.
"Iya, Bu. Apa itu?"
"Buah-buahan." Bu Yuli meletakkan keranjang plastik di atas meja. "Dari keluarga Akang. Katanya, salam untuk Bapak."
Rahmadi tersenyum.
"Mereka baik sekali."
Siti di Rumah Tua
Siti duduk di teras rumah yang dulu milik Ibu Ariyanti.
Rumah itu sudah sedikit berubah. Dindingnya dicat krem. Atapnya diganti genteng baru. Halamannya ditanami bunga-bunga.
Tapi bentuknya masih sama.
Ia memandangi foto Rizki. Foto wisuda dokter. Rizki memakai toga. Tersenyum. Bangga.
"Anakku." Siti mengusap foto itu. "Sekarang kau dokter. Mamah bangga."
Slamet, suaminya, keluar dari dapur. "Siti, kamu masak apa?"
"Ayam goreng." Siti tidak menoleh. "Kesukaan Rizki."
"Kata Ibu Rizki, dia baru bisa datang minggu depan." Slamet duduk di sampingnya.
"Tidak apa." Siti tersenyum. "Kita simpan di kulkas."
Mereka tersenyum.
Bu Sumi di Penghujung Usia
Bu Sumi kini sudah sangat renta.
Rambutnya putih semua. Tidak ada lagi yang hitam. Kulitnya keriput, seperti peta yang menggambarkan perjalanan panjang hidupnya. Matanya kabur, katarak mulai mengganggu penglihatannya. Telinganya juga mulai kurang mendengar.
Tapi semangatnya masih menyala.
"Ari, bacakan puisi untuk Ibu." Bu Sumi meminta suatu sore.
Ariyanti duduk di sampingnya. Membuka buku puisi Bu Sumi. Buku yang sama yang dulu ia bacakan saat Akang koma. Buku yang sampulnya sudah terlepas. Buku yang halamannya sudah menguning.
"Setelah badai berlalu." Ariyanti membaca dengan suara lembut. "Kita masih di sini. Tidak sempurna, tapi utuh. Tidak kaya, tapi bahagia."
"Inilah kemenangan sejati." Ariyanti melanjutkan. "Bukan harta, bukan tahta. Tapi cinta yang bertahan. Di bawah bayang-bayang asmara."
Bu Sumi menangis.
"Terima kasih, Ari." Bu Sumi menggenggam tangan Ariyanti. "Ibu bangga menjadi gurumu."
Makam Ibu Ariyanti
Ibu Ariyanti meninggal pada tahun 2015. Istrinya Pak Lurah yang membawa kabar itu. Telepon berdering di pagi buta.
Ariyanti tidak menangis. Ia sudah siap. Ibunya sudah lama sakit. Sudah sering bolak-balik rumah sakit. Sudah sering kambuh.
Ia dimakamkan di samping suaminya. Slamet Riyadi, yang meninggal 30 tahun sebelumnya. Makam yang selama 30 tahun hanya sendiri. Kini tidak sendiri lagi.
Setiap tahun, pada hari kematiannya, Ariyanti dan Akang selalu berziarah ke makam itu.
Mereka membawa bunga. Membaca doa.
"Ibu, sudah 8 tahun Ibu pergi." Ariyanti berlutut di depan makam. "Kami baik-baik saja, Bu. Tama sudah lulus. Sekar sebentar lagi lulus. Mereka baik-baik saja."
"Terima kasih, Ibu." Ariyanti menangis. "Terima kasih sudah merestui kami. Terima kasih sudah tidak melarang. Terima kasih sudah percaya."
Akang memeluknya.
Tegorejo di Masa Kini
Tegorejo kini sudah lebih maju.
Jalan Randu Gembyang yang dulu becek dan berlumpur, yang dulu hanya bisa dilalui dengan sepeda motor trail, yang dulu di musim hujan berubah menjadi kubangan lumpur, kini sudah diaspal. Lebar. Rata. Mulus.
Rumah-rumah warga sudah banyak yang permanen. Dinding bata. Atap genteng. Lantai keramik. Tidak ada lagi yang berdinding anyaman bambu.
Ada listrik 24 jam. Tidak seperti dulu yang sering padam. Ada akses internet. Anak-anak muda bisa bersekolah dengan lebih mudah. Bisa mengakses informasi dengan lebih cepat.
Tapi pohon randu tertua masih tetap di sana. Masih kokoh. Masih menjadi saksi bisu setiap senja yang datang.
Pesan untuk Generasi Muda
Di sebuah acara perpisahan di SMAN I Pegandon, Akang dan Ariyanti menjadi pembicara utama.
Mereka bercerita tentang perjuangan mereka di masa lalu. Tentang fitnah, kebakaran, kecelakaan, koma, penculikan, LDR, cemburu, salah paham.
"Anak-anak." Akang berdiri di depan panggung. "Jangan pernah menyerah. Hidup ini tidak mudah. Tapi kalian lebih kuat dari yang kalian kira."
"Dan ingat." Ariyanti menggenggam tangan Akang. "Cinta sejati tidak akan pernah mati. Ia hanya akan teruji oleh waktu. Dan yang bertahan adalah yang terbaik."
Para siswa bertepuk tangan meriah.
Senja Terakhir Epilog
Tegorejo, 2023. Senja kembali datang.
Akang dan Ariyanti masih duduk di bawah pohon randu. Langit jingga di atas mereka. Warna yang sama. Tidak berubah. Angin berembus lembut. Daun-daun randu berguguran. Jatuh ke tanah. Menjadi saksi.
"Kisah kita tak pernah sempurna, Yang." Akang menggenggam tangan Ariyanti.
"Tapi indah." Ariyanti mencium kening suaminya. "Karena kita belajar. Kita belajar merajut kasih di bawah bayang-bayang asmara."
Tama dan Sekar yang sedang bermain kejar-kejaran di sawah berhenti sejenak. Mereka menatap orang tua mereka.
"Ayah, Ibu, ayo pulang! Hari sudah mulai gelap!" teriak Sekar.
"Sebentar lagi, Nak." Akang melambaikan tangan. "Ayah dan Ibu sedang menikmati senja."
Rizki, yang baru datang dari Semarang, berjalan menghampiri. "Pak Akang, Bu Ari, saya datang."
"Rizki!" Ariyanti tersenyum. "Silakan duduk."
Rizki duduk di samping Rahmadi. Rahmadi sudah lebih dulu berada di sana. Diam. Tenang.
"Bapak, kesehatan Bapak bagaimana?" tanya Rizki.
"Baik, Nak." Rahmadi tersenyum. "Doakan Bapak."
"Tentu, Pak."
Siti, Slamet, dan Andre datang menyusul. Juga Bu Sumi yang diantar cucunya. Marni dengan kameranya. Pak Lurah dengan tongkatnya. Pak Karto yang digandeng anaknya.
Mereka semua berkumpul di bawah pohon randu. Seperti keluarga besar.
"Ini pemandangan terindah." Bu Sumi tersenyum.
"Ini kebahagiaan yang kita perjuangkan." Pak Lurah mengusap air matanya.
"Ini kemenangan cinta." Marni memotret. Satu klik. Abadi.
Matahari perlahan tenggelam. Senja meninggalkan jingga terakhir di ufuk barat.
Di kaki langit Tegorejo, di bawah pohon randu tertua, cinta mereka tak pernah pudar. Hanya semakin dalam.
Seiring waktu yang berlalu.
"Dan di bawah pohon randu itu, bayang-bayang yang dulu menakutkan kini telah berubah menjadi naungan. Naungan yang melindungi, bukan mengancam. Naungan yang mereka rajut sendiri, dari kasih yang tak pernah padam."
PENUTUP
Novel ini didedikasikan untuk semua pejuang cinta sejati. Yang tidak pernah menyerah meskipun dihantam badai kehidupan. Yang tetap berdiri meskipun kakinya lemas. Yang tetap tersenyum meskipun hatinya hancur.
Untuk mereka yang percaya bahwa kebaikan akan selalu menang atas kejahatan. Bahwa cahaya akan selalu mengalahkan gelap. Bahwa cinta akan selalu menemukan jalannya.
Terima kasih kepada Tegorejo, Kecamatan Pegandon, Kabupaten Kendal, desa kecil yang mengajarkan kami bahwa senja selalu indah. Meskipun di bawah bayang-bayang. Meskipun di bawah ancaman. Meskipun di bawah ketakutan.
Tegorejo, 2026.
Salam hangat, Slamet Riyadi.
TAMAT
Anang
30 Januari 2025 19:28:34
Lanjutkan mas... Semoga website desa pian semakin maju...