NOVEL ROMANSA
JANGAN NIKAHI GEBETANKU
Lucu, Gila, dan Berantakan: Perang Satu Hati Melawan Takdir yang Mungkin Salah Alamat
Oleh: Slamet Riyadi
DISCLAIMER
Novel ini merupakan karya fiksi. Seluruh nama, tokoh, tempat, dan peristiwa adalah hasil imajinasi penulis atau digunakan secara fiktif. Kesamaan nama atau peristiwa dengan dunia nyata hanyalah kebetulan belaka.
Konten dalam novel ini mengandung adegan komedi ringan, konflik keluarga, serta percintaan remaja dewasa. Tidak ada unsur suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), pornografi, atau kekerasan berat.
Dibaca sambil tersenyum-senyum sendiri diperbolehkan. Tertawa lepas sampai mengganggu tetangga juga diperbolehkan, tapi tanggung sendiri risikonya.
Selamat membaca, dan jangan sampai Anda ikut-ikutan ingin menggagalkan pernikahan saudara sendiri setelah membaca novel ini.
PROLOG
"Seandainya aku tahu cowok idamanku akan dijodohkan dengan kakak perempuanku sendiri, mungkin sejak awal aku akan memilih menyukai BTS saja."
—Kayla Maharani, 22 tahun, mahasiswi yang hatinya sedang kacau balau.
Tiga tahun.
Tiga tahun lamanya aku menyimpan perasaan ini sendirian. Tiga tahun aku menikmati sensasi deg-degan setiap kali melihat senyumnya. Tiga tahun aku mengumpulkan foto-fotonya di folder rahasia bernama "Mission Impossible" di ponselku.
Dan dalam waktu kurang dari tiga menit, kakak perempuanku sendiri berhasil menghancurkan semua itu.
Rumah yang biasanya tenang mendadak berubah jadi arena selebrasi. Vira, kakak perempuanku yang super ambisius, super perfeksionis, dan super tidak tahu diri kalau adiknya sedang jatuh cinta, berjingkrak-jingkrak di ruang tamu sambil memeluk bantal kesayangan ibu.
"Aku akan menikah! AKU AKAN MENIKAH!" teriaknya.
Aku mengerjap dari sofa. "Hah?"
"Dengar, dengar, dengar!" Vira melompat ke sampingku. "Ingat acara campus gathering dua bulan lalu?"
"Ingat."
"Aku ketemu dia. Namanya Rafa. Rafa Wijaya. Tampan. Baik. Pintar. Kerja di perusahaan konsultan. Perfect!"
Perasaan tidak enak mulai merayap di dadaku.
"Kami pacaran diam-diam dua bulan ini. Dan tadi malam dia melamar! LAMAR, Kay! Cincin! Semua!"
Hatiku berhenti berdetak.
"Nama lengkapnya siapa?" tanyaku, suaraku serak.
"Rafa Wijaya. Lulusan Universitas Indonesia. Jurusan Manajemen. Angkatan 2018."
Dunia terasa berputar.
Rafa. Rafa Wijaya. Cowok yang fotonya selama tiga tahun tersimpan rapi di ponselku. Cowok yang senyumnya selalu membuatku lupa diri. Cowok yang menjadi alasan aku rela antre kopi di kafe yang sama setiap Selasa dan Kamis.
Cowok itu akan menjadi kakak iparku.
"Kak, kalian baru pacaran dua bulan. Apa tidak tergesa-gesa?"
"Tidak! Kalau jodoh ya jodoh."
"Kamu jadi adik iparnya, Kay!" Vira memelukku erat. "Senang dong punya kakak ipar ganteng?"
Aku hanya bisa tersenyum pahit.
Senang? Aku ingin berteriak, "KAK, DIA GEBETAN AKU DARI DULU!"
Tapi aku tidak bisa.
Karena sejak orang tua kami meninggal lima tahun lalu, Vira adalah satu-satunya keluarga yang kumiliki. Dialah yang membiayai kuliahku. Dialah yang selalu ada. Dialah yang mengorbankan masa mudanya untukku.
Dan sekarang, di saat dia menemukan kebahagiaan, apakah aku berhak merusaknya?
Malam itu, setelah Vira tidur, aku menelpon satu-satunya orang yang bisa membantu kekacauan ini.
"Mona. Kita harus menggagalkan pernikahan kakakku."
Dari ujung telepon, sahabatku itu menjawab singkat, "Akhirnya kamu sadar juga. Aku tunggu detailnya besok di kafe langganan. Bawa uang lebih. Rencana gilamu bakal butuh banyak camilan."
Prolog ini bukan awal dari kebahagiaan.
Ini awal dari kekacauan.
Ini awal dari pertarungan satu hati melawan rasa bersalah.
Ini awal dari misi absurd yang mungkin akan membuatku kehilangan kakak, atau justru menemukan cinta di tempat yang paling tidak kuduga.
Selamat datang di kisahku.
—Kayla Maharani, perempuan yang nekat menggagalkan pernikahan karena cinta.
BAB I
Cowok Idaman Sepanjang Masa
Tiga tahun lalu, aku tidak pernah percaya dengan yang namanya cinta pada pandangan pertama.
Bagiku itu omong kosong ala film-film Hollywood yang dibuat hanya untuk membuat para remaja lebay dan mellow tanpa alasan jelas. Cinta butuh proses, butuh kenal terlebih dahulu, butuh waktu, butuh pendekatan yang matang, butuh restu dari berbagai pihak, dan butuh setidaknya seratus kali nonton bareng biar klop.
Tapi semua keyakinan bodoh itu hancur dalam waktu tiga detik.
Hari itu, Selasa pagi yang panas dan menyengat, aku sedang terburu-buru menuju ruang kuliah. Dosen Pengantar Bisnis, Pak Hermawan, terkenal killer dan tidak memberi toleransi bagi mahasiswa yang terlambat. Satu menit saja, dia sudah bisa mengeluarkan kata-kata seperti, "Apakah kalian pikir universitas ini tempat bermain?" atau "Saya tidak sedang mengajar anak TK."
Jadi, tentu saja, aku berlari sekencang mungkin. Tas ransel cokelat tua yang sudah mulai robek di bagian tali kirinya itu nyaris terlepas dari pundak. Kaus kaki kiriku mulai turun ke mata kaki. Keringat mengalir di dahi.
Sial.
Tiba-tiba, tanpa aba-aba, aku menabrak sesuatu. Bukan. Bukan sesuatu. Seseorang.
Brak!
Buku-bukuku berhamburan ke lantai. Dan yang lebih parah, tubuhku oleng seperti orang baru belajar sepatu roda. Kedua tanganku berusaha mencari pegangan, tapi hanya angin yang kutemukan. Aku yakin sedetik lagi pantatku akan mendarat dengan tidak anggun di lantai keramik yang dingin itu.
Tapi tidak.
Sebelum tubuhku benar-benar rubuh, dua tangan yang kuat menangkap pergelangan tanganku. Cekatan. Pasti. Tanpa ragu.
Aku mendongak.
Dan di situlah dunia berhenti berputar.
Dia berdiri tepat di hadapanku, hanya berjarak beberapa sentimeter. Wajahnya teduh seperti langit selepas hujan. Matanya hitam pekat tapi entah mengapa terasa hangat. Hidungnya mancung dengan sempurna. Rahangnya tegas namun tetap ramah. Rambutnya yang sedikit berantakan karena mungkin juga sedang buru-buru, justru membuatnya terlihat seperti model iklan sampo.
Namun yang paling membuat jantungku berhenti sejenak adalah senyumnya.
Senyum itu kecil, tipis, tapi entah mengandung daya magis yang membuatku lupa kalau aku sedang terlambat. Lupa kalau keringat masih mengalir di pelipis. Lupa kalau kaus kakiku turun.
"Hati-hati," katanya dengan suara yang berat tapi lembut. "Lantainya licin."
Aku hanya bisa mengangguk bodoh. Mulutku seperti terkunci. Otakku sedang error.
Dia melepaskan tangannya dari pergelanganku perlahan, lalu membungkuk mengambil buku-bukuku yang berserakan. Satu per satu. Rapi. Lalu disusun dengan urutan yang benar berdasarkan ukuran.
Siapa cowok ini? Dan kenapa dia menyusun buku dengan urutan yang logis? Itu membuatnya semakin menarik.
"Nih," dia memberikan tumpukan buku itu padaku.
"Maaf... makasih," jawabku terbata.
Dia tersenyum lagi. Lagi-lagi senyum itu. Lalu dia berjalan pergi begitu saja, seperti malaikat yang hanya muncul sebentar lalu menghilang.
Aku berdiri di lorong itu membisu selama sepuluh detik sebelum akhirnya kesadaran datang menghantam.
KULIAH! PAK HERMAWAN!
Aku berlari lagi, tapi kali ini kakiku terasa lebih ringan. Mungkin karena terlalu banyak adrenalin. Atau mungkin karena aku masih membayangkan senyum cowok itu.
Sore harinya, di kafe langganan dekat kampus, aku bercerita semuanya pada Mona. Sahabatku yang satu ini memang sudah kukenal sejak SMA. Dia tipe orang yang cuek, judgemental, tapi entah kenapa selalu punya cara untuk membuatku jujur. Mungkin karena dia tidak pernah takut untuk bilang, "Kamu bodoh," atau "Kamu konyol," tepat di depan mukanya.
Kafe itu kecil, hanya muat enam meja kayu dengan kursi plastik warna-warni yang sudah mulai pudar. Dindingnya ditempeli poster band-lawas dan stiker iklan bimbel. Tapi kopinya enak dan harganya ramah di kantong mahasiswa.
"Jadi, kamu jatuh cinta sama cowok yang namanya saja kamu tidak tahu?" Mona menyedot es teh manisnya dengan ekspresi datar.
"Bukan jatuh cinta. Hanya... terpesona."
"Sama saja."
"Beda."
"Tidak beda."
Aku mendengus kesal. "Pokoknya dia tuh beda, Mon. Ganteng, baik, dan dia nyusun buku berdasarkan ukuran."
"Kamu bilang dia rapi, aku setuju. Tapi nyusun buku berdasarkan ukuran di lorong kampus saat kamu lagi jatuh, itu sih bukan rapi namanya. Itu gila."
"Tapi itu manis!"
"Tidak ada hubungannya antara nyusun buku dan rasa manis."
Aku memukul lengannya pelan. Mona hanya tertawa kecil, lalu menyedot es tehnya hingga berbunyi keroncongan.
Tapi Mona tidak mengerti. Tidak ada yang mengerti. Cowok itu meninggalkan kesan yang begitu dalam hanya dalam waktu tiga detik. Mungkin memang cinta pada pandangan pertama itu nyata. Mungkin semua film Hollywood itu benar. Mungkin selama ini aku terlalu skeptis.
Atau mungkin aku hanya terlalu banyak nonton drama Korea.
Tapi apa pun alasannya, sejak hari itu, aku mulai mencari-carinya.
Setiap Selasa dan Kamis, jam yang sama, lorong yang sama, aku selalu melambatkan langkah berharap berpapasan dengannya. Kadang aku beruntung, kadang tidak. Dan setiap kali berpapasan, detak jantungku selalu berubah menjadi orkestra yang tidak karuan.
Butuh waktu dua bulan untuk mengetahui namanya. Caranya? Membayar anak Himpunan Mahasiswa Jurusan yang kenal semua orang. Mahal. Dua ratus ribu rupiah dan satu bungkus cokelat Silverqueen.
Namanya Rafa Wijaya.
Rafa. Nama yang indah. Kedengarannya seperti pahlawan dalam novel roman.
Butuh waktu tiga bulan untuk mengetahui fakta mengejutkan lainnya.
Kami satu angkatan.
Kami beda jurusan. Dia Manajemen, aku Akuntansi.
Tapi entah kenapa, aku sering melihatnya di lorong dekat ruang dosen Pembimbing Akademikku.
Butuh waktu satu tahun untuk mengakui pada diri sendiri: aku suka dia.
Bukan hanya suka. Suka banget. Suka yang bikin dada sesak. Suka yang bikin aku bisa tersenyum hanya dengan membayangkan namanya. Suka yang bikin aku rela pulang malam hanya demi melihat dia keluar dari ruang baca.
Tapi aku tidak pernah berani menyatakan perasaan itu.
Aku bukan tipe perempuan pemberani seperti di sinetron. Aku penakut. Aku takut ditolak. Takut dianggap aneh. Takut persahabatan yang tidak pernah ada itu menjadi sesuatu yang canggung. Takut dia melihatku hanya sebagai mahasiswi Akuntansi yang tidak dikenal.
Dan yang paling menakutkan: ternyata dia sudah punya pilihan hati.
Jadi, aku memendamnya.
Tiga tahun.
Tiga tahun penuh dengan folder rahasia di ponsel. Tiga tahun penuh dengan mimpi-mimpi yang tidak akan pernah jadi nyata.
Sampai malam itu.
Malam ketika Vira, kakak perempuanku, berdiri di ruang tamu sambil memeluk bantal kesayangan ibu dan berteriak bahwa dia akan menikah dengan Rafa.
"Aku akan menikah! AKU AKAN MENIKAH!" teriaknya dengan suara yang terdengar sampai ke dapur.
Aku mengerjap dari sofa. "Hah?"
"Dengar, dengar, dengar!" Vira melompat ke sampingku, matanya berbinar seperti anak kecil yang baru diberi sepeda baru. "Ingat tidak acara campus gathering dua bulan lalu? Kenalan-kenalan gitu?"
"Ingat. Terus?"
"Jadi, waktu itu aku ketemu dia. Namanya Rafa. Rafa Wijaya. Tampan. Baik. Pintar. Kerja di perusahaan konsultan. Pokoknya perfect!"
Dunia terasa berputar.
Rafa. Rafa Wijaya.
Cowok yang fotonya selama tiga tahun tersimpan rapi di ponselku. Cowok yang senyumnya selalu membuatku lupa diri setiap kali berpapasan di lorong kampus. Cowok yang menjadi alasan mengapa aku rela antre kopi di kafe yang sama setiap Selasa dan Kamis hanya untuk melihatnya dari kejauhan.
Cowok itu... akan menjadi kakak iparku.
Aku duduk diam di sofa. Mataku tertuju pada wajah Vira yang berseri-seri, tapi pikiranku berteriak.
Bukan. Ini tidak bisa terjadi.
Tapi itu terjadi. Dan aku tidak bisa berbuat apa-apa.
Malam itu, setelah Vira tidur, aku duduk di kasur. Langit-langit kamar yang retak di sudut kanannya menjadi satu-satunya pemandangan yang aku mampu lihat. Aku tidak menangis. Aku hanya duduk. Diam. Menatap kosong.
Ponselku bergetar. Mona.
Mona: "Oke, aku udah siap. Besok kita breakdown rencana kamu. Bawa camilan. Soalnya aku rasa ini bakal panjang dan gila."
Aku membacanya sekali, dua kali, tiga kali. Lalu jemariku mengetik balasan.
Kayla: "Aku tidak akan menangis, Mon. Bukan sekarang. Tapi aku juga tidak bisa diam."
Mona: "Itu semangat yang salah. Tapi aku dukung."
Kayla: "Besok jam 3 di kafe biasa."
Mona: "Bawa camilan!"
Aku meletakkan ponsel di samping bantal. Pandanganku kembali ke langit-langit.
Rafa. Vira. Pernikahan.
Tiga kata yang seharusnya tidak pernah berada dalam satu kalimat yang sama.
Tapi itulah hidup. Itulah takdir. Itulah skenario terburuk yang pernah aku baca.
Atau mungkinkah skenario itu masih bisa ditulis ulang?
Aku tidak tahu.
Yang aku tahu, besok adalah awal dari sesuatu. Entah itu awal dari kehancuranku, atau awal dari pertarungan yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya.
Api. Bukan api cinta. Tapi api perang.
Perang satu hati melawan dunia.
Perang yang mungkin akan membuatku menang... atau kehilangan segalanya.
BAB II
Kakak Sempurna yang Tak Pernah Salah
Untuk memahami mengapa aku sampai berada di titik nekat ini, kalian harus mengenal Vira.
Kakak perempuanku, Vira Maharani, adalah tipe orang yang membuat iri separuh isi bumi. Dia sempurna. Dan aku tidak sedang melebih-lebihkan.
Vira lahir dengan bakat menjadi segalanya. Waktu SD, dia juara umum. Waktu SMP, dia jadi ketua OSIS sekaligus kapten tim basket putri. Waktu SMA, dia lulus dengan nilai tertinggi se-kabupaten dan diterima di fakultas kedokteran universitas negeri favorit tanpa tes. Jalur undangan. Karena nilainya terlalu bagus untuk diabaikan.
Dia juga cantik. Bukan cantik yang perlu polesan make up tebal atau filter Instagram. Cantik alami. Kulitnya bersih, rambutnya hitam dan berkilau, matanya besar dengan bulu mata lentik. Setiap kali kami pergi berdua, orang selalu bilang, "Kakaknya yang cantik, ya?" Aku? Oh, aku hanya "adiknya" yang tidak disebut nama.
Tapi yang membuat Vira benar-benar sempurna bukanlah semua itu.
Yang membuat Vira sempurna adalah hatinya.
Ketika orang tua kami meninggal dalam kecelakaan mobil lima tahun lalu, aku masih duduk di bangku SMA kelas 2. Dunia terasa runtuh. Ayah yang selalu membangunkanku setiap pagi, ibu yang selalu menyiapkan sarapan favoritku, semuanya lenyap dalam semalam.
Aku ingat persis malam setelah pemakaman. Aku duduk di sudut kamar, menggigil meskipun suhu tidak dingin, menangis sampai tidak punya air mata lagi. Aku merasa sendirian. Aku merasa tidak ada lagi yang peduli padaku.
Lalu Vira masuk ke kamar.
Dia tidak bicara. Tidak memberi nasihat panjang. Tidak bilang "semua akan baik-baik saja" karena kami sama-sama tahu itu bohong. Dia hanya duduk di sampingku, memelukku, dan membiarkan aku menangis di pundaknya.
Semalaman.
Di pagi harinya, ketika aku terbangun dengan mata bengkak dan kepala pusing, Vira sudah tidak ada di sampingku. Tapi di atas mejaku ada segelas air putih dan selembar kertas bertuliskan:
"Sarapan sudah di meja. Jangan lupa makan. Kakak sayang kamu."
Sejak hari itu, Vira berubah.
Dia yang sedang dalam masa kuliah yang padat, mendadak mengambil alih semua tanggung jawab orang tua. Aku melihatnya menjual hampir semua barang mewahnya. Aku melihatnya tersenyum meskipun matanya sayu karena kurang tidur. Aku pernah memergokinya menangis di dapur karena kelelahan, tapi saat aku bertanya, dia hanya bilang "masuk angin."
Vira tidak pernah mengeluh. Vira tidak pernah marah padaku. Vira tidak pernah membuatku merasa menjadi beban.
Dan itulah sebabnya aku sangat mencintainya.
Namun, cinta tidak selalu membuat segalanya sederhana.
Karena semakin kusayang Vira, semakin berat rasa bersalah yang kini menghantuiku. Bagaimana mungkin aku berniat menggagalkan pernikahannya dengan pria yang membuatnya bahagia? Bagaimana mungkin aku tega menghancurkan kebahagiaan satu-satunya keluarga yang kumiliki?
Malam itu, setelah pengumuman lamaran, aku tidak bisa tidur.
Jam menunjukkan pukul satu dini hari, tapi mataku masih melek menatap langit-langit kamar. Pikiranku berputar seperti komidi putar yang tidak bisa berhenti.
Vira sekarang menemukan cinta. Cinta yang mungkin akan memberinya kebahagiaan yang selama ini hilang. Cinta yang mungkin akan menjadi pelipur laranya setelah bertahun-tahun berjuang sendirian.
Lalu siapa aku untuk merusak itu semua?
"Kamu egois, Kay," bisikku pada diriku sendiri. "Sangat egois."
Tapi di sisi lain... Rafa.
Namanya terus berputar di kepalaku seperti lagu yang paling menyebalkan tapi tidak bisa berhenti diputar. Senyumnya. Matanya. Tangannya yang pernah menangkap pergelanganku saat aku hampir jatuh.
Tiga tahun aku diam-diam mencintainya. Dan sekarang, dia akan menjadi milik kakakku sendiri.
Rasanya seperti ditikam dari belakang oleh takdir.
Di luar jendela, suara jangkrik terdengar sayup. Bulan bersinar terang, seolah sedang menertawakanku.
Ponselku bergetar. Mona.
Mona: "Kamu masih bangun? Ini sudah jam 1."
Aku: "Iya. Tidak bisa tidur."
Mona: "Pikirin Rafa terus?"
Aku: "Bukan. Pikirin Vira."
Mona: "Kakak kamu yang sempurna itu?"
Aku: "Dia bukan cuma sempurna, Mon. Dia baik. Terlalu baik. Dan aku akan jadi adik yang jahat kalau begini."
Mona: "Kamu mau batalkan rencana?"
Aku tidak membalas. Mona terus mengetik.
Mona: "Kay, kamu butuh dengar ini. Vira itu baik. Tapi kebaikan dia tidak berarti kamu harus korbankan perasaan kamu. Kamu juga berhak bahagia."
Aku: "Dengan cara merusak kebahagiaan dia?"
Mona: "Kamu tidak merusak. Kamu cari tahu dulu, apakah Rafa benar-benar cinta Vira? Atau hanya karena Vira itu Vira?"
Aku terdiam membaca pesan Mona.
Mungkin dia benar. Mungkin selama ini aku terlalu cepat menyimpulkan. Aku belum tahu perasaan Rafa yang sebenarnya.
Tapi satu hal yang aku tahu: Vira tidak pernah salah.
Dalam hidupnya, Vira selalu mengambil keputusan yang tepat. Dia tidak akan pernah menjebak dirinya dalam hubungan yang tidak tulus.
Jadi, mungkin memang Rafa mencintai Vira. Mungkin memang mereka ditakdirkan bersama. Dan mungkin memang aku hanya pengagum rahasia yang harus legowo.
Tapi mengapa rasanya begitu sulit?
Pintu kamarku terbuka perlahan.
Aku kaget dan segera menyeka air mataku, tapi terlambat. Vira sudah melihat. Dia berdiri di ambang pintu dengan kaus oblong longgar dan rambut yang sedikit acak-acakan. Matanya sayu karena baru bangun.
"Kay? Kamu menangis?" tanyanya dengan suara masih serak karena kantuk.
"Tidak, Kak. Cuma masuk angin."
Vira mendekat. Dia duduk di tepi kasurku lalu meraih tanganku. Tangannya hangat.
"Kamu menangis," katanya lagi, kali ini bukan pertanyaan. "Ada apa?"
Aku menggeleng. "Benaran tidak apa-apa."
Vira menatapku lama. Lalu dia tersenyum kecil. Senyum yang sama seperti malam setelah pemakaman orang tua kami. Senyum yang mengatakan, "Kakak di sini."
"Kamu mungkin kira kakak tidak tahu," kata Vira perlahan. "Tapi kakak tahu kamu selama ini diam-diam punya perasaan pada seseorang. Jadi, kalau kamu menangis karena soal hati, itu wajar. Jangan dipendam."
Aku ingin berteriak. Aku ingin bilang, "KAK, ORANG ITU RAFA! GEBETAN AKU! CALON SUAMI KAKAK!"
Tapi kata-kata itu tercekat di tenggorokan.
Jadi aku hanya mengangguk.
Vira menghela napas. "Besok, kamu ikut kakak bertemu calon suami kakak, yuk. Siapa tahu dia punya teman ganteng buat kamu."
Aku tersenyum pahit. Teman ganteng? Tidak, Kak. Aku malah ingin merebut calon suami kakak.
"Ya, Kak. Besok aku ikut."
Vira tersenyum puas. "Nah, begitu dong. Sekarang tidur."
Dia mencium keningku, lalu beranjak pergi.
Saat pintu tertutup, aku kembali menatap langit-langit kamar.
Vira tidak tahu. Tidak akan pernah tahu.
Tapi besok, aku akan bertemu Rafa lagi. Bukan sebagai pengagum rahasia. Bukan sebagai mahasiswi Akuntansi yang tidak dikenal.
Tapi sebagai calon adik iparnya.
Dan aku tidak tahu apakah aku siap untuk itu.
BAB III
Pertemuan Pertama sebagai Calon Adik Ipar
"Kay, kamu yakin kamu siap?" Mona meneleponku keesokan paginya, suaranya terdengar tegang meskipun berusaha santai.
"Tidak siap."
"Lebih baik kamu kabur saja."
"Aku juga kepikiran begitu."
"Terus kenapa kamu masih berdandan di depan cermin?"
Aku berhenti memegang lipstik. "Kamu dari mana tahu aku lagi berdandan?"
"Suara kamu beda. Kalau kamu lagi santai, suara kamu kayak kucing malas. Kalau kamu lagi berdandan, suara kamu kayak tentara yang mau perang."
"Mulut kamu keterlaluan, Mon."
"Tapi benar, kan?"
Aku mendengus. "Iya, benar. Sekarang matikan dulu. Kakak sudah berteriak dari tadi."
"Oke, oke. Semangat, Kay. Ingat, kamu cuma mau lihat-lihat dulu. Belum aksi."
"Janji."
"Benaran janji?"
"Janji palsu."
"Kay!"
Tut.
Aku meletakkan handphone sambil tersenyum kecut. Mona benar. Aku ini seperti tentara yang mau perang. Tapi masalahnya, musuhnya adalah kakak sendiri. Dan medan perangnya adalah kafe yang menyajikan kopi enak.
"Kayla! Cepat! Kakak tungguin di bawah!" teriak Vira dari lantai bawah.
"Iya, Kak, sebentar lagi!"
Aku menatap bayanganku di cermin. Untuk standar "cuma mau ketemuan biasa", dandananku hari ini kelewatan. Foundation, maskara, lipstik warna peach. Aku bahkan pakai anting bundar kecil yang biasanya hanya kupakai kalau ada acara penting.
"Gila kamu, Kay. Ini cuma ketemu calon ipar, bukan ketemu calon suami sendiri," omelku pada bayangan sendiri.
Tapi siapa yang peduli. Hari ini aku mau tampil beda. Hari ini Rafa akan lihat Kayla versi terbaiknya.
Atau setidaknya Kayla versi panik yang make up tebal.
Kafe yang dipilih Vira berada di lantai dua sebuah gedung tua di kawasan Kemang. Lampu gantung kristal memantulkan cahaya temaram ke seluruh ruangan. Dinding bata ekspos dengan rak-rak berisi tanaman monstera yang daunnya lebar dan hijau segar. Aroma kopi arabika campur vanilla tercium dari balik meja bar, bercampur dengan sedikit wangi kayu manis dari lilin pengharum di setiap sudut. Musik jazz mengalir pelan, suara piano yang lembut seperti air mengalir di atas kerikil.
Di luar jendela kafe, terlihat atap-atap rumah tua dengan genteng merah. Jalanan Kemang yang sedikit macet terlihat dari ketinggian. Tempat ini terasa hangat dan eksklusif, sangat berbeda dengan kafe pinggir jalan yang biasa aku datangi.
"Tempatnya mewah amat, Kak," bisikku sambil melirik menu yang harganya membuat mataku melotot.
"Rafa yang memilih," jawab Vira sambil tersenyum. "Dia tahu seleraku."
"Wah, romantis."
"Iya, dong. Calon suamiku memang perhatian."
Aku menahan diri untuk tidak memutar bola mata.
Lima belas menit kemudian, pintu kafe terbuka. Bel kecil di atas pintu berbunyi. Aku menoleh tanpa sadar.
Dan di situlah dia.
Rafa Wijaya.
Bukan dengan kemeja kasual seperti biasanya di kampus. Hari ini dia memakai kemeja putih lengan panjang yang digulung sedikit di bagian siku. Celana bahan abu-abu. Sepatu pantofel cokelat. Rambutnya sedikit tertata rapi tapi tetap terlihat alami.
Intinya, dia tampak seperti pangeran dari novel yang salah masuk ke dunia nyata.
"Maaf, telat. Macet," kata Rafa sambil mendekati meja. Suaranya sama. Berat, lembut, dan membuat merinding.
"Tidak apa-apa, sayang," Vira berdiri lalu mencium pipi Rafa. Ciuman singkat yang terasa sangat intim.
Aku menelan ludah. Perih.
Rafa menoleh ke arahku. Wajahnya sedikit terkejut.
"Eh, ini adik aku, Kayla," Vira memperkenalkan. "Kay, ini Rafa. Calon suami kakak."
Hening.
Detik pertama. Aku hanya bisa tersenyum kaku.
Detik kedua. Rafa masih menatapku, seolah mencoba mengingat sesuatu.
Detik ketiga. Aku panik. Apakah dia ingat kejadian tiga tahun lalu? Apakah dia ingat perempuan bodoh yang jatuh di lorong kampus?
"Kay... Kayla?" Rafa mengerjap.
Oh, Tuhan. Dia ingat.
"Halo," kataku dengan suara yang berusaha stabil padahal dalam hati aku sudah mau lari keluar kafe.
"Kalian kenalan?" tanya Vira bingung.
"Iya," Rafa tersenyum. "Kayla mahasiswi akuntansi, kan? Kita satu angkatan."
Aku mengangguk cepat. "I-iya. Benar."
"Kok kakak tidak tahu?" Vira menatapku bergantian dengan Rafa.
"Kita tidak terlalu kenal dekat sih," Rafa menjelaskan. "Cuma sering lihat di lorong. Pernah juga tabrakan sekali waktu itu."
Aku ingin tenggelam ke lantai. Dia ingat momen paling memalukan dalam hidupku.
"Tabrakan?" Vira tertawa. "Kok bisa?"
"Kayla waktu itu buru-buru, mungkin hampir telat kuliah," Rafa tertawa kecil. "Untung tidak jatuh."
Aku menunduk, memainkan ujung serbet di meja. "Maaf ya waktu itu. Saya ceroboh."
"Tidak masalah," Rafa mengangkat tangan. "Sekarang kita mau jadi keluarga. Kecil sekali dunia."
Keluarga. Kata itu seperti paku yang ditancapkan ke dadaku.
"Ya, keluarga," Vira mengangguk puas. "Duduk dulu, Ra. Kamu pesan apa? Aku pesankan kopi latte, ya? Yang kamu suka, kan?"
"Iya, sayang. Kamu hafal sekali."
"Sudah dua bulan pacaran, masak tidak hafal?"
Aku menyaksikan interaksi mereka seperti menonton film horor. Romantis. Manis. Membuat mual.
Rafa duduk di samping Vira. Aku di seberang mereka. Posisi yang sempurna untuk melihat setiap senyuman mereka berdua.
"Jadi, Kayla," Rafa memulai pembicaraan setelah pesanan datang, "Kakak kamu cerita banyak tentang kamu."
Aku meneguk kopi pahitku. "Cerita apa, Kak?"
"Cerita kalau kamu anaknya bandel."
"Kak Vira!"
Vira tertawa. "Memang benar. Waktu kecil kamu suka naik pohon jambu terus jatuh."
Rafa terkekeh. "Kalian seru sekali. Seperti sahabat."
"Dia adikku," kata Vira sambil mencolek pipiku. "Awalnya sih sahabat, lama-lama jadi adik. Tapi tetap rewel."
"Kak rewel."
"Eh, siapa yang rewel? Yang memasakkan kamu makan setiap hari siapa?"
Aku menghela napas. "Kak Vira."
"Nah, itu."
"Aku juga bisa masak, Kak. Jangan sombong."
"Masak mi instan doang."
"Itu tetap masak!"
Rafa tertawa lagi. Aku suka tawanya. Terdengar tulus. Dan membuatku lupa sejenak bahwa dia sedang duduk bersanding dengan kakakku.
Tapi hanya sebentar.
" soal pernikahan," Rafa mengganti topik, "kapan kita fitting baju?"
"Awal bulan depan," jawab Vira. "Kamu tidak keberatan, kan, kalau kita pilih warna krem?"
"Terserah kamu. Aku mah ikut."
"Harusnya kamu yang memilih. Ini pernikahan kita bersama."
"Aku memilih kamu, kan? Itu sudah cukup."
Aku hampir tersedak kopi.
Ucapan Rafa itu sederhana, tapi menusuk. "Aku memilih kamu" adalah kalimat yang tidak akan pernah dia ucapkan padaku. Karena dia tidak memilihku. Dia memilih kakakku. Dan aku hanya menjadi penonton.
"Kay, kamu kenapa batuk-batuk?" Vira menepuk punggungku.
"Kepedesan."
"Ini kopi."
"Kopinya pedas."
Rafa menatapku aneh. "Kopi... pedas?"
"Maksudku pahit. Pahit sekali." Aku tersenyum canggung.
Untunglah Vira terlalu asyik bercerita soal rencana pernikahan.
"Kay, nanti kamu jadi pendamping, ya, di samping kakak," kata Vira tiba-tiba.
"Pendamping?"
"Iya. Kamu kan adikku. Harusnya kamu yang jadi saksi dari keluargaku."
Aku terdiam. Menjadi pendamping di pernikahan mereka artinya aku akan berdiri di samping Vira, melihat langsung Rafa mengucapkan janji suci, melihat dia menikah dengan kakakku.
"Jangan, Kak," kataku cepat.
"Kenapa?"
"Jadi pendamping itu tanggung jawab besar. Takut aku salah."
"Tidak apa-apa. Urusan teknis ada panitia."
"Aku lebih baik jadi tamu biasa saja, Kak."
Vira menghela napas. "Kamu menolak terus. Dari kemarin sudah aku bilang, kamu harus jadi pendamping."
"Kenapa sih Kak memaksa sekali?"
"Karena kamu adik satu-satunya yang aku punya," jawab Vira, tiba-tiba serius. "Siapa lagi yang pantas di sampingku kalau bukan kamu?"
Hatiku teriris.
"Baiklah," aku mengalah. "Aku jadi pendamping."
Vira bertepuk tangan girang. "Nah, begitu dong!"
"Tapi satu syarat."
"Apa?"
"Aku yang memilih baju pendampingnya."
"Beres. Mau pilih apa saja boleh. Asal warnanya match dengan baju pengantin."
"Deal."
Setelah dari kafe, Rafa mengantar kami pulang. Rumah Vira tidak terlalu besar, tapi terasa hangat. Dinding depan berwarna krem muda dengan cat yang mulai sedikit mengelupas di sudut-sudutnya. Halaman kecil dengan pot-pot bunga mawar yang mulai mekar. Aroma melati dari pagar depan menyambut setiap kali pintu dibuka.
Di dalam mobil, Vira duduk di depan, aku di belakang.
"Kay, kamu diam saja?" Vira menoleh.
"Kenyang, Kak."
"Kenyang? Kamu cuma minum kopi."
"Kenyang udara."
Rafa tertawa. "Adik kamu lucu, Via."
"Lucu rewel, maksudnya."
"Tidak, kok. Lucu sungguhan."
Aku tidak tahu apakah Rafa sadar bahwa setiap pujian kecil darinya adalah pisau untukku.
Sampai di rumah, Vira turun lebih dulu karena ada telepon. Aku masih di kursi belakang.
"Kay," panggil Rafa.
Aku menoleh. Dia menatapku melalui kaca spion. Matanya teduh.
"Senang bisa kenal lebih dekat dengan kamu."
"Senang juga," jawabku datar.
"Jaga kakak kamu, ya. Dia cerita banyak soal perjuangannya."
Aku menghela napas. "Aku tahu."
"Kamu beruntung punya kakak seperti dia."
"Kakak yang lebih beruntung punya aku," jawabku.
Rafa tersenyum. "Iya, kalian berdua beruntung punya satu sama lain."
Aku turun dari mobil. Langkahku cepat menuju rumah. Aku tidak menoleh. Di dalam hati, aku bergumam, Selamat datang di neraka pribadiku, Kayla. Semoga kamu kuat.
Di kamar, ponselku bergetar. Mona.
Mona: "Bagaimana?"
Aku: "Sakit."
Mona: "Sakit hati?"
Aku: "Iya."
Mona: "Ceritakan."
Aku: "Dia baik, Mon. Terlalu baik. Dan dia sayang sekali sama kakakku."
Mona: "Kamu sudah bilang perasaan kamu?"
Aku: "Belum."
Mona: "Kapan?"
Aku: "Mungkin tidak pernah."
Aku melempar ponsel ke kasur.
Vira masuk ke kamarku tanpa mengetuk. Wajahnya masih berseri dari pertemuan tadi. Matanya berbinar.
"Kay, besok kita fitting baju, yuk, sekalian. Aku sudah janji sama Rafa."
"Terserah kakak," jawabku tanpa semangat.
Vira duduk di sampingku. Matanya menyelidik. "Kamu kenapa sih akhir-akhir ini lesu? Atau... kamu tidak setuju aku menikah dengan Rafa?"
Aku membalikkan badan membelakanginya. "Bukan, Kak."
"Terus kenapa?"
"Kakak bahagia, kan, dengan Rafa?"
Vira terdiam sejenak. Aku bisa mendengar dia tersenyum meskipun tidak melihatnya.
"Bahagia sekali, Kay. Rasanya seperti mimpi."
"Ya sudah. Aku cuma butuh waktu buat menerima kalau kakak bakal punya keluarga sendiri nanti."
Vira memelukku dari belakang. "Kakak tidak akan meninggalkan kamu, Kay. Suami kakak nanti juga keluarga kamu. Rumah ini tetap rumah kita."
Iya. Keluarga. Tapi bukan dengan cara yang aku inginkan.
Aku memejamkan mata dan membiarkan pelukan Vira menghangatkan punggungku. Di balik kelopak mataku, aku membayangkan senyum Rafa. Senyum yang sebentar lagi akan menjadi milik kakakku selamanya.
"Ya, Kak."
BAB IV
Mona dan Rencana Gila yang Mulai Merangkak
Keesokan harinya, aku memutuskan untuk menemui Mona di kafe langganan kami. Bukan kafe mewah tempat pertemuan dengan Rafa kemarin, tapi kafe sederhana di dekat kampus dengan harga kopi yang masih masuk akal untuk dompet mahasiswa.
Aku datang lebih dulu. Mona menyusul dua puluh menit kemudian dengan wajah penuh semangat.
"Oke, Kay," Mona duduk di depanku sambil meletakkan tas ranselnya yang penuh stiker anime. "Ceritakan dari awal. Jangan ada yang disembunyikan."
"Sudah aku ceritakan semuanya kemarin."
"Tidak cukup. Aku mau versi detail. Kamu bertemu dia, lalu ngobrol apa saja? Ekspresi dia bagaimana? Kamu menangis tidak? Kamu hampir menangis tidak?"
"Ya tidaklah, Mon!"
"Ya kali. Aku hanya bertanya."
Aku menghela napas. Kopi latte di depanku sudah mulai dingin, tapi aku belum menyentuhnya sama sekali.
"Jadi begini," aku mulai. "Dia datang. Kemeja putih. Rapi. Wangi."
"Standar."
"Terus dia ingat aku."
Mona mengangkat alis. "Ingat bagaimana?"
"Dia ingat kejadian tiga tahun lalu waktu aku jatuh di lorong."
"Wah, tajam memorinya."
"Itu yang membuat aku tambah sakit. Karena dia ingat detail kecil tentang aku, tapi dia tetap memilih kakakku."
Mona bersiul pelan. "Sengit."
"Belum selesai. Dia bilang aku lucu. Dia menyuruh aku menjaga kakakku. Dia bilang aku beruntung punya Vira. Dan dia minta aku jadi pendamping di pernikahan mereka."
Mona menutup mulutnya dengan kedua tangan. Matanya membelalak. "GILA!"
"Sudah tahu."
Mona mencondongkan badannya ke depan. "Kay, kamu sadar tidak ini bunuh diri emosional?"
"Iya. Aku sadar."
"Terus kenapa kamu setujui?"
Aku menunduk. "Karena kakakku minta."
Mona menghela napas panjang. Lalu dia memanggil pelayan. "Mbak, tambah es teh manis satu. Dan pisang goreng satu porsi. Sama camilan apa pun yang ada. Aku rasa pembicaraan kita akan panjang."
Pelayan mengangguk lalu pergi.
Mona menatapku. "Oke. Aku mau bertanya serius."
"Silakan."
"Kamu benar-benar cinta sama cowok itu?"
"Rafa? Iya. Sudah tiga tahun, Mon. Bukan cuma suka."
"Seberapa cinta?"
"Seperti tidak bisa membayangkan hidup tanpa dia. Padahal dia saja tidak tahu aku ada."
Mona menghela napas lagi, kali ini lebih panjang. "Astaga, Kay. Kamu sudah masuk zona berbahaya."
"Aku tahu."
"Jadi kamu mau diam saja sambil melihat dia menikah dengan kakak kamu?"
"Aku tidak punya pilihan, Mon."
"Kamu punya pilihan, cuma kamu tidak berani mengambil."
Aku diam.
Mona melanjutkan. "Pilihan pertama, kamu pendam sendiri, melihat dia menikah, lalu menderita bertahun-tahun. Pilihan kedua, kamu bilang ke Vira, lalu hancurkan hatinya. Pilihan ketiga, kamu bilang ke Rafa, lalu hancurkan hubungan mereka. Pilihan keempat, kamu berusaha melupakan dia."
"Pilihan keempat tidak mungkin. Kamu tidak bisa melupakan cinta tiga tahun hanya dalam semalam."
Mona mengangguk. "Benar juga."
Pelayan datang membawa es teh manis dan pisang goreng. Mona mengambil satu potong, mencelupkannya ke saus cokelat, lalu melahapnya dalam satu suapan.
"Dengar," Mona berbicara dengan mulut penuh, "Aku punya usul."
"Usul apa?"
"Kamu tidak usah bilang ke Vira. Tidak usah bilang ke Rafa. Tapi kamu juga tidak usah diam saja."
"Terus aku harus bagaimana?"
Mona menelan pisang gorengnya, lalu meneguk es teh manis. Wajahnya berubah serius. Sesuatu yang jarang terjadi.
"Aku kasih nama rencana ini: Operasi Kupu-Kupu."
"Operasi Kupu-Kupu?"
"Iya. Namanya konyol biar kamu tidak tegang."
Mona mendekatkan wajahnya. Aku juga mendekat. Jarak kami hanya beberapa sentimeter.
"Kamu cari tahu dulu," bisik Mona, "Apakah Rafa benar-benar cinta Vira atau hanya terpikat kebaikannya."
"Maksud kamu?"
"Banyak cowok yang salah paham antara rasa hormat, rasa terima kasih, dan rasa cinta. Vira itu baik, cantik, perhatian. Banyak cowok yang bilang 'aku cinta kamu' padahal sebenarnya cuma 'aku nyaman sama kamu'."
"Terus aku harus bagaimana?"
"Kamu dekati Rafa. Tapi bukan sebagai pengagum rahasia."
"Lalu sebagai apa?"
"Sebagai calon adik ipar yang ingin kenal lebih dekat dengan calon kakak ipar. Kamu tanya hal-hal kecil. Kamu amati responnya. Kamu cari tahu apakah dia bahagia sungguhan atau cuma menjalani."
Aku mengernyit. "Kamu minta aku jadi mata-mata?"
"Bukan mata-mata. Investigasi. Bedanya? Mata-mata itu rahasia. Investigasi itu agak rahasia."
"Sama saja, Mon!"
"Ya iyalah. Tapi kedengarannya lebih keren."
Aku menghela napas. Tanganku meraih kopi latte dingin itu dan meneguknya sekaligus. Pahit.
"Apakah ini tidak salah secara moral?" tanyaku.
"Secara moral? Ya salah. Tapi secara cinta? Tidak ada yang salah."
"Kamu yakin?"
"Aku tidak yakin. Tapi lebih baik daripada kamu diam saja."
Aku terdiam berpikir. Mona makan pisang gorengnya dengan tenang, seolah tidak memberi tekanan. Tapi aku tahu dia sedang menunggu.
"Apa kata orang kalau mereka tahu aku mendekati Rafa di belakang kakakku?"
"Yang penting kamu tidak ketahuan."
"Mon!"
"Aku serius. Kamu cuma mau mencari tahu, Kay. Bukan mengambil. Bukan merebut. Bukan memisahkan. Cuma mencari kebenaran."
"Kebenaran apa?"
"Kebenaran apakah Rafa memang pantas untuk Vira atau tidak."
Aku menatap Mona lama. Sahabatku ini kadang membuatku kesal dengan caranya yang terlalu santai. Tapi kali ini, dia membuat poin yang sulit aku bantah.
"Baik," kataku akhirnya. "Aku lakukan."
Mona tersenyum lebar. "Nah, begitu dong!"
"Tapi kamu harus membantu aku."
"Sudah pasti."
"Kamu bantu aku mengumpulkan informasi tentang Rafa."
"Informasi macam apa?"
"Pertama, nomor telepon dia."
Mona tersenyum kecut. "Itu gampang. Kamu minta ke kakak kamu."
"Kak Vira tidak akan memberi."
"Ya sudah, kamu curi dari ponsel dia."
"MONA!"
"Hanya bercanda!" Mona tertawa. "Tapi serius, aku punya kenalan di HMJ. Bisa mendapatkan nomor Rafa paling lama besok."
"Kamu bisa?"
"Kamu lupa siapa aku? Dua ratus ribu plus cokelat Silverqueen."
"Harga naik?"
"Inflasi."
Aku menggeleng. "Baik. Terus apa lagi?"
"Media sosial dia. Kamu follow, lalu kamu amati. Kamu lihat dia suka apa, hobi apa, seberapa sering dia tag Vira."
"Pelan-pelan. Aku catat dulu."
Aku mengeluarkan ponsel dan membuka aplikasi catatan.
Mona melanjutkan. "Lalu, kamu harus mencari momen untuk ngobrol berdua sama dia tanpa Vira."
"Gila. Sulit itu."
"Kamu bilang saja mau diskusi soal skripsi. Vira kan bilang dia lulusan Manajemen."
"Tapi aku Akuntansi."
"Tidak usah sungguhan minta bantuan. Hanya alasan."
"Kamu minta aku berbohong?"
"Aku minta kamu kreatif."
Aku menghela napas lagi. Kepalaku mulai pusing.
"Oke. Terus setelah aku dekati dia?"
"Setelah itu, kamu lihat respon dia. Kamu lihat dia cerita tentang Vira dengan wajah bahagia atau cuma basa-basi. Kamu lihat matanya."
"Matanya?"
"Iya. Mata tidak bisa bohong, Kay. Mata orang yang jatuh cinta itu beda sama mata orang yang cuma menjalani."
"Kamu seperti psikolog."
"Aku cuma tukang nonton drama Korea."
Aku tersenyum kecil. Mona memang selalu bisa membuatku sedikit lega di tengah kekacauan.
"Oke. Aku setuju."
"Operasi Kupu-Kupu."
"Iya."
"Janji kamu tidak akan mundur di tengah jalan?"
"Janji."
"Janji kamu tidak akan menangis setiap kali melihat Rafa sama Vira?"
"Janji setengah."
"Setengah tidak usah. Kamu harus full."
"Mon, kamu minta hal yang mustahil."
Mona tertawa. "Ya sudah. Anggap saja kamu boleh menangis, tapi cuma di depan aku."
"Deal."
Mona mengacungkan jari kelingkingnya. Aku menyambutnya.
"Operasi Kupu-Kupu dimulai!" seru Mona agak keras.
Beberapa pengunjung kafe menoleh. Aku menunduk malu.
"Mona! Jangan berteriak-teriak!"
"Maaf, maaf. Semangatnya terbawa."
Aku menggeleng. Tapi di dalam hati, ada api yang mulai menyala. Bukan api cinta. Bukan api amarah. Tapi api penasaran.
Sore harinya, di rumah, Vira sedang asyik menggulir layar ponsel di ruang tamu.
"Kak," sapaku sambil duduk di sampingnya.
"Hm?"
"Rafa itu orangnya bagaimana sih sebenarnya?"
Vira mengangkat alis. "Kenapa tiba-tiba bertanya?"
"Penasaran saja. Calon kakak ipar, kan."
Vira tersenyum. Matanya berbinar. "Dia baik, Kay. Orang yang paling perhatian yang pernah aku temui."
"Contohnya?"
"Dia selalu ingat hari-hari penting. Aku pernah cerita suka bunga matahari, seminggu kemudian dia memberi buket bunga matahari."
"Wah."
"Dia juga selalu menanyakan kabar setiap pagi. Bukan cuma 'pagi, apa kabar', tapi 'sudah sarapan? sudah minum vitamin?'"
Aku menelan ludah. "Rafa tipe cowok yang romantis begitu?"
"Romantis sekali." Vira menyandarkan kepalanya ke sofa. "Kadang aku tidak percaya dia memilih aku."
"Kakak cantik, Kak."
"Kamu bilang begitu karena kamu adikku."
"Aku bilang begitu karena faktanya."
Vira tertawa. "Intinya, Rafa itu cowok yang baik. Makanya aku yakin menikah dengan dia."
"Kakak beruntung."
"Kakak tahu."
Vira memelukku. "Kamu juga nanti akan mendapatkan cowok seperti Rafa."
Aku hanya mengangguk.
"Kak," kataku lagi.
"Ya?"
"Boleh minta nomor Rafa? Sekalian kenalan lebih dekat. Buat persiapan pernikahan."
Vira mengerjap. Lalu tersenyum. "Tentu saja. Nanti kakak kirim."
"Makasih, Kak."
"Jangan iseng-iseng chat dia tengah malam."
"Ya tidaklah, Kak!"
"Hanya bercanda."
Vira tertawa lagi. Aku juga tertawa.
Tapi di dalam ponselku, lima menit kemudian, muncul pesan dari Vira berupa kontak bernama "Rafa Wijaya".
Satu langkah lagi menuju Operasi Kupu-Kupu.
Satu langkah lagi menuju jurang.
Dan aku sudah tidak bisa mundur.
BAB V
Pesan Pertama yang Tidak Pernah Terkirim
Nomor Rafa sudah tersimpan di ponselku sejak semalam. Tapi sampai siang hari ini, aku belum juga punya nyali untuk memulai percakapan.
Aku duduk di kamar, memeluk bantal, menatap layar ponsel seperti sedang menatap ular kobra. Foto profil Rafa di aplikasi chatting menampilkan dia tersenyum kecil dengan latar belakang perpustakaan. Kemeja biru muda. Rambut sedikit berantakan. Tampan seperti biasa.
"Apa yang harus aku tulis?" tanyaku pada Mona lewat telepon.
"Kamu masih belum mengirim pesan? Sudah dari kemarin malam, Kay!"
"Aku tidak punya keberanian."
"Kamu tidak usah pakai keberanian. Kamu pakai logika. Kirim pesan biasa sebagai calon adik ipar."
"Pesan biasa seperti bagaimana?"
"'Halo, Kak Rafa, aku Kayla, adiknya Vira. Senang berkenalan'."
"Kedengarannya kaku."
"Ya memang kaku. Namanya juga baru kenal."
Aku menghela napas. "Aku matikan dulu. Aku mau fokus."
"Oke, oke. Kamu kirim pesan, ya. Jangan hanya dilihatin terus."
"Sudah, Mon."
Tut.
Aku meletakkan ponsel di atas kasur, lalu mengambilnya lagi. Membuka chat dengan Rafa. Kolom pesan kosong. Kursor berkedip-kedip seolah mengejekku.
Aku mulai mengetik.
"Halo, Kak Rafa, ini Kayla. Adiknya Vira."
Hapus. Terlalu kaku.
"Hei, Kak Rafa, masih ingat aku?"
Hapus. Terlalu akrab.
"Selamat siang, Kak Rafa. Saya Kayla. Kakak saya minta saya menghubungi Bapak untuk membahas persiapan pernikahan."
Hapus. Terlalu formal. Memanggil Rafa dengan "Bapak"? Gila.
Aku menggeram frustrasi. Bantal aku remas-remas sampai bentuknya penyok.
Dua puluh menit kemudian, tanpa sadar, aku sudah mengetik pesan panjang yang entah kenapa keluar begitu saja dari pikiranku.
"Kak Rafa, sebenarnya dari kemarin aku sudah ingin chat tapi tidak punya nyali. Mungkin karena kamu calon kakak iparku. Atau mungkin karena ada alasan lain. Tapi intinya, aku cuma mau bilang, kamu orang baik. Kakak aku beruntung punya kamu. Maaf, ngaco. Lupakan."
Aku membaca ulang pesan itu. Lalu panik.
Jempolku bergerak cepat menekan tombol hapus. Aku terus menghapus sampai kalimat terakhir lenyap. Kolom pesan kembali kosong.
"Astaga. Selamat, Kayla. Kamu hampir saja bunuh diri sosial."
Ponselku bergetar. Bukan Mona. Bukan Vira. Tapi notifikasi dari aplikasi chatting.
Rafa Wijaya: Sedang mengetik...
Aku terkesiap. Mataku membelalak.
Tulisan "Sedang mengetik..." muncul selama beberapa detik. Lalu hilang. Lalu muncul lagi. Lalu hilang lagi.
Seolah Rafa juga sedang berjuang menulis pesan untukku.
Jantungku berdebar kencang. Tanganku gemetar memegang ponsel.
Lalu, akhirnya, pesan itu masuk.
Rafa Wijaya: "Halo, Kayla. Makasih pesannya. Aku juga senang bisa kenalan lebih dekat. Bagaimana kabarnya?"
Aku membaca pesan itu berkali-kali.
Jempolku bergerak cepat.
Kayla: "Halo, Kak Rafa. Kabar baik. Kakak sedang apa?"
Rafa Wijaya: "Lagi di kantor. Istirahat sebentar. Kamu di rumah?"
Kayla: "Iya. Lagi libur kuliah."
Rafa Wijaya: "Vira lagi di mana? Aku coba telepon tidak diangkat."
Kayla: "Kak Vira ke pasar. Beli bahan untuk masak."
Rafa Wijaya: "Oh, iya. Dia bilang mau memasak sop buntut, kesukaanku."
Kayla: "Dari tadi pagi dia sudah semangat sekali."
Rafa Wijaya: "Vira memang selalu perhatian."
Aku terdiam membaca kalimat itu. "Vira memang selalu perhatian." Bukan "Aku sayang Vira". Bukan "Vira itu cintaku". Tapi "Vira perhatian".
Mona bilang, perhatikan kata-katanya.
Aku melanjutkan.
Kayla: "Kak Rafa, boleh bertanya sesuatu yang agak pribadi?"
Rafa Wijaya: "Boleh."
Kayla: "Kakak benar-benar sayang sama kakak aku?"
Rafa Wijaya: "Kenapa bertanya begitu?"
Kayla: "Penasaran. Kakak kan baru pacaran dua bulan lalu langsung melamar."
Rafa Wijaya: "Kayla, aku serius sama Vira. Aku sayang dia."
Kayla: "Sayang karena apa?"
Rafa Wijaya: "Karena dia baik. Perhatian. Sabar. Kuat. Dia sudah berjuang sendirian untuk kamu bertahun-tahun. Aku kagum sama dia."
Aku menggigit bibir. Kagum. Sayang karena kagum. Bukan karena jatuh cinta?
Kayla: "Jadi kakak kagum sama perjuangan kakak aku?"
Rafa Wijaya: "Iya. Dan aku ingin melindungi dia. Agar dia tidak perlu berjuang sendirian lagi."
Kayla: "Itu alasan yang mulia."
Rafa Wijaya: "Kay, kamu tidak setuju aku sama Vira?"
Kayla: "Bukan. Aku cuma ingin kakak aku bahagia."
Rafa terdiam lama. Tulisan "Sedang mengetik..." muncul dan hilang beberapa kali.
Akhirnya pesan itu datang.
Rafa Wijaya: "Kayla, percayalah, aku tahu apa yang aku rasakan. Aku sayang Vira. Mungkin awalnya karena kagum, tapi sekarang sudah lebih dari itu."
Kayla: "Kalau kakak bilang begitu, aku percaya."
Rafa Wijaya: "Makasih. Aku tidak akan menyakiti Vira."
Kayla: "Janji?"
Rafa Wijaya: "Janji."
Aku meletakkan ponsel di atas kasur. Dadaku sesak.
Dia bilang dia sayang Vira. Dia bilang dia serius. Tapi kenapa setiap kata "Vira" yang keluar dari mulut Rafa rasanya seperti duri?
Ponselku bergetar lagi.
Rafa Wijaya: "Kay, besok aku ada acara di kampus. Kamu ada jadwal? Kita bertemu, yuk. Ngobrol lebih banyak. Kita perlu akrab karena akan menjadi keluarga."
Aku menatap pesan itu.
Kayla: "Bertemu? Sama kakak Vira juga?"
Rafa Wijaya: "Tidak. Cuma berdua. Vira sibuk dengan persiapan pernikahan. Aku pikir kamu bisa membantu aku memilihkan sesuatu untuk dia. Kamu kan adiknya. Pasti tahu seleranya."
Aku tersenyum kecut. Jadi bukan bertemu untuk mengenalku lebih jauh. Tapi untuk membantu dia memilih hadiah untuk Vira.
Tapi setidaknya, ini pintu masuk. Ini kesempatan.
Kayla: "Oke. Jam berapa? Di mana?"
Rafa Wijaya: "Besok jam 3 sore di kafe dekat kampus. Yang biasa kamu datangi sama Mona."
Aku mengerjap. Dia tahu kafe favoritku?
Kayla: "Kak Rafa tahu kafe itu?"
Rafa Wijaya: "Pernah melihat kamu di sana beberapa kali. Tapi tidak pernah menyapa karena tidak kenal."
Jantungku berdebar kencang.
Dia pernah melihatku di kafe. Berkali-kali. Tapi tidak pernah menyapa. Selama ini dia tahu aku ada. Tapi dia memilih untuk diam.
Entah kenapa, fakta itu membuatku senang sekaligus sedih.
Kayla: "Baik. Besok jam 3 aku datang."
Rafa Wijaya: "Makasih, Kay. Vira beruntung punya adik seperti kamu."
Kayla: "Kakak juga beruntung punya Vira."
Rafa Wijaya: "Iya. Kita semua beruntung."
Aku menutup chat.
Ponselku bergetar lagi. Mona.
Mona: "Bagaimana? Sudah chat?"
Kayla: "Sudah. Besok kita bertemu."
Mona: "WIH, CEPAT SEKALI! TERUS?"
Kayla: "Dia minta aku membantu mencari hadiah untuk Vira."
Mona: "Sakit, ya?"
Kayla: "Sakit."
Mona: "Tapi setidaknya kamu mendapat kesempatan."
Kayla: "Iya. Kesempatan untuk sakit hati lagi."
Mona: "Sudah, besok aku ikut dari jauh. Kamu tidak usah takut."
Kayla: "Kamu mau jadi mata-mata?"
Mona: "Bukan. Badan intelijen. Lebih keren."
Kayla: "Sama saja."
Mona: "Ya iyalah. Tapi kedengarannya lebih keren."
Aku tersenyum kecil. Mona selalu punya cara untuk membuatku lupa sejenak dari semua kekacauan ini.
Jam menunjukkan pukul 2 pagi. Aku masih terjaga.
Ponselku masih di tangan. Chat dengan Rafa masih terbuka. Aku membaca ulang semua pesan kami dari awal sampai akhir.
Tiga belas pesan singkat. Tiga belas tusukan di hati.
Aku ingin mengirim pesan lagi. Bukan tentang Vira. Bukan tentang pernikahan. Tapi tentang apa yang selama ini aku pendam.
Jemariku bergerak sendiri.
"Kak Rafa, sebenarnya aku..."
Hapus.
"Rafa, selama tiga tahun..."
Hapus.
"Aku suka kamu. Sejak pertama kali kamu menolong aku..."
Hapus.
Aku meletakkan ponsel di samping bantal. Memejamkan mata.
Besok akan berbeda. Besok aku akan bertemu dengannya sebagai Kayla, adik dari tunangannya. Bukan Kayla, perempuan yang jatuh cinta dalam diam.
Apa pun itu, aku harus tetap maju.
Untuk Vira. Untuk Rafa. Dan untuk diriku sendiri.
BAB VI
Kencan Palsu yang Berasa Nyata
Aku tiba di kafe jam 2 siang. Satu jam lebih awal dari janji.
Bukan karena aku terlalu semangat. Tapi karena aku tidak bisa diam di rumah. Sepanjang pagi aku berguling-guling di kasur, berganti baju enam kali, dan membuat Vira semakin curiga.
"Kamu mau ke mana? Berdandan amat?" tanya Vira waktu aku sarapan. Matanya menyipit. "Kay, kamu itu kalau berdandan cuma dua menit. Sekarang sudah satu jam."
"Ketemu Mona," jawabku singkat.
"Mona lagi. Kalian itu seperti perangko sama amplop. Menempel terus. Tapi..." Vira berhenti mengunyah. "Kamu pakai lipstik warna peach. Biasanya kamu pakai nude kalau ketemu Mona."
Jantungku berdebar kencang. Vira terlalu tajam.
"Aku coba-coba saja, Kak. Biar beda."
"Beda untuk siapa?"
"Untuk aku sendiri."
Vira menatapku lama. Terlalu lama. Aku hampir pecah kalau dia bertanya sekali lagi.
Tapi untungnya dia hanya tersenyum. "Pulangnya jangan malam-malam, ya. Nanti kakak khawatir."
"Iya, Kak."
Itu adalah kebohongan pertama yang aku ucapkan pada Vira hari ini. Dan aku tahu itu bukan yang terakhir.
Sekarang, aku duduk di kursi pojok kafe favoritku. Dari sini, aku bisa melihat pintu masuk. Aku bisa melihat Rafa datang dari kejauhan.
Jari-jariku memukul meja tanpa irama. Kenapa aku segugup ini? Ini hanya pertemuan biasa. Calon adik ipar bertemu calon kakak ipar. Wajar. Tidak aneh. Tidak spesial.
Tapi tanganku berkeringat.
Pesan dari Mona masuk.
Mona: "Aku sudah di tempat. Kamu lihat tidak meja dekat jendela? Aku duduk di situ. Aku pakai kacamata hitam biar seperti agen rahasia."
Aku menoleh ke arah jendela. Mona duduk dengan kacamata hitam besar, topi baseball, dan jaket kulit. Dia terlihat seperti detektif swasta yang kelebihan gaya.
Kayla: "Kamu kelihatan mencurigakan, Mon."
Mona: "Itu tujuannya. Biar tidak ada yang curiga."
Kayla: "Justru tambah curiga, gila."
Mona: "Sudahlah. Kamu fokus saja sama Rafa. Nanti kalau ada apa-apa, aku berteriak."
Kayla: "Jangan berteriak. Tolong, Mon. Aku malu."
Mona: "Oke, oke. Aku hanya berteriak kalau kamu sekarat."
Aku menghela napas. Mona memang Mona.
Jam menunjukkan pukul 2.50. Sepuluh menit lagi.
Aku memesan kopi Americano. Pahit. Biar sesuai dengan suasana hati.
Pintu kafe terbuka. Bel kecil berbunyi.
Rafa masuk.
Hari ini dia memakai kaus polos warna hitam dengan jaket jeans biru tua. Celana chino krem. Sepatu sneakers putih. Rambutnya dibiarkan sedikit acak-acakan. Dia terlihat kasual, tidak seperti pria kemeja putih yang formal kemarin.
Dia lebih tampan dengan gaya santai.
Aku benci fakta itu.
Aku berdiri untuk menyambutnya, berusaha terlihat santai dan percaya diri. Kamu bisa, Kay. Kamu hanya akan bicara biasa. Tidak perlu gugup.
Tapi otakku tidak mendengarkan.
Sikuku menyenggol gelas kopiku.
Gelas itu jatuh.
Kopinya tumpah. Bukan ke lantai. Tapi langsung ke dada Rafa.
"Awas! Awas! Awas!" Aku panik. Tanganku bergerak sendiri, mengambil serbet, dan tanpa pikir panjang, aku mengusap-usap dadanya.
Lalu aku tersadar.
Aku sedang mengusap dada Rafa.
Dada. Rafa. Tangan. Gila.
Aku membeku.
Rafa berdiri diam. Kaus hitamnya basah kuyup di bagian dada. Tapi dia tidak marah. Dia malah tertawa.
"Kay, kamu mau membunuh aku pakai kopi panas?"
"Maaf, maaf, maaf! Aku tidak sengaja! Aku... aku..." Aku hampir menangis karena malu.
"Tenang. Kopinya sudah dingin. Tidak panas."
"Tapi bajunya!"
"Bisa ganti."
"Aku ganti rugi! Aku belikan baru!"
"Kay." Rafa menatapku. Matanya teduh. "Berhenti panik. Ini cuma baju."
"Ini lucu." Dia tersenyum. "Kamu ini bahaya, Kay. Bahaya sekali."
Pelayan datang dengan handuk kecil. Rafa membersihkan bajunya seadanya, lalu duduk di kursi seberangku.
"Aku pesan kopi lagi," katanya santai. "Kali ini taruh di tempat yang aman. Jauh dari sikumu."
"Maaf," bisikku.
"Tidak usah maaf. Ini jadi cerita seru."
Rafa menatapku setelah pelayan pergi. "Kamu gugup."
"Tidak."
"Kamu gugup. Matamu tidak berhenti bergerak. Tangannya gemetar."
Aku menyembunyikan tanganku di bawah meja. Sial. Dia memperhatikan.
"Aku tidak gugup. Aku kedinginan."
"Ini kafe. Suhu 24 derajat."
"Air conditioner-nya terlalu dingin."
Rafa tertawa. "Baik, Kay. Terserah kamu."
"Ini kafe favorit kamu, ya?" Rafa memulai pembicaraan setelah kopi baru datang.
"Iya. Kopinya enak dan harganya ramah di kantong."
"Vira cerita kamu anaknya hemat."
"Kak Vira cerita banyak sekali tentang aku. Jadi aku harus khawatir atau senang?"
"Senanglah. Berarti dia sayang kamu."
Aku tersenyum kecut. "Iya. Dia memang selalu sayang."
Rafa menyesap kopinya. "Jadi, Kay. Terima kasih sudah mau membantu aku."
"Bantu apa? Aku belum melakukan apa-apa."
"Bantu mencari hadiah buat Vira. Aku bingung mau memberi apa."
"Kakak orangnya gampang, kok. Dia suka barang-barang sederhana. Bunga, tapi jangan mawar. Dia alergi mawar."
Rafa mengangkat alis. "Serius? Aku tidak tahu itu."
"Kebanyakan orang tidak tahu. Kakak jarang cerita."
Dia mengeluarkan ponsel dan mulai mengetik catatan. Matanya serius, seolah setiap detail tentang Vira sangat berharga.
Hatiku sakit melihatnya. Tapi aku lanjutkan.
"Lalu, dia suka cokelat hitam. Kadar gula rendah."
"Dia tidak suka manis?"
"Dia bekas calon dokter. Takut diabetes."
Rafa tertawa. "Vira orangnya disiplin sekali, ya?"
"Disiplin, perfeksionis, kadang membuat capek. Tapi aku sayang dia."
"Aku juga."
Dua kata itu lagi. Dua tusukan di hati.
Pembicaraan mengalir. Tentang Vira. Tentang Rafa. Tentang kakak laki-lakinya yang bernama Sakti.
Lalu tiba-tiba, Rafa bertanya tentang pacar.
"Belum," jawabku.
"Masakan? Cantik seperti kamu."
Aku tertawa kecil. "Kakak jangan bercanda."
"Aku serius. Kamu itu cantik, Kay. Mungkin kamu tidak sadar."
Jantungku berdebar kencang. Tapi kali ini, aku tidak panik. Aku justru berani membalas.
"Kakak bicara begitu ke semua adik pacar?"
Rafa mengerjap. "Tidak. Hanya kamu."
"Kenapa hanya aku?"
Dia terdiam. Matanya menatapku. Lalu dia berkata pelan, "Aku tidak tahu."
Pembicaraan berlanjut, tapi aku merasakan ada yang berbeda. Setiap kali dia berbicara tentang Vira, matanya lembut. Tapi ketika dia menatapku, ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak bisa aku jelaskan.
Aku mencoba mengalihkan perhatian. "Jadi, kapan kakak dan Vira fitting baju?"
"Minggu depan. Kamu ikut, kan?"
"Iya. Kakak Vira minta aku ikut."
"Kamu mau membantu memilihkan?"
"Terserah. Yang penting warna bajunya tidak mencolok."
Rafa tertawa. "Vira bilang kamu suka warna-warna netral."
"Dia tahu aku lebih suka tidak menarik perhatian."
"Sayangnya, kamu tetap menarik perhatian meskipun pakai warna netral."
Aku mengerjap. "Maksudnya?"
Rafa tersenyum. Tidak menjawab.
Jam menunjukkan pukul 4 sore. Kami sudah berbicara hampir dua jam. Tentang banyak hal. Tentang masa kecil, tentang kuliah, tentang mimpi-mimpi yang belum tercapai.
Rafa bercerita tentang ayahnya yang guru. Tentang ibunya yang suka memasak. Tentang adiknya yang masih SMP.
"Aku tidak pernah tahu kakak punya adik," kataku.
"Karena jarang aku cerita. Vira saja baru tahu setelah kami pacaran."
"Kenapa?"
"Karena aku ingin orang mengenal aku dulu, bukan keluarganya."
Aku mengangguk. Itu masuk akal.
"Sekarang giliran kamu," katanya. "Cerita tentang kamu. Bukan tentang Vira. Tentang kamu."
Aku terdiam. Tidak ada yang pernah bertanya seperti itu.
"Aku tidak tahu harus cerita apa."
"Cerita apa saja. Hobi, kesukaan, mimpi, apa pun."
Aku menarik napas. "Aku suka membaca. Novel, terutama. Aku suka hujan. Aku suka kopi pahit. Aku suka jalan-jalan sendiri ke tempat yang tidak pernah aku kunjungi sebelumnya."
"Sendirian?"
"Iya. Aku tidak butuh teman untuk menikmati sesuatu."
Rafa menatapku dengan ekspresi baru. Bukan kagum. Bukan iba. Tapi rasa hormat.
"Kamu kuat, Kay."
"Aku tidak kuat. Aku hanya terbiasa."
"Terbiasa itu awal dari kuat."
Aku tersenyum. "Kakak mengutip siapa?"
"Aku sendiri."
"Gombal."
Rafa tertawa. "Fakta."
Ponsel Rafa bergetar. Vira.
Dia mengangkatnya, bicara sebentar, lalu menutup telepon.
"Dia bertanya aku lagi di mana."
"Kakak bilang apa?"
"Aku bilang lagi meeting."
Aku tertawa kecil. "Kakak berbohong pada tunangan kakak demi aku?"
"Jangan salah paham. Aku berbohong karena aku tidak ingin Vira cemas."
"Sama saja."
Rafa menghela napas. "Kamu keras kepala."
"Aku belajar dari Vira."
Jam menunjukkan pukul 5 sore. Langit mulai jingga. Kafe mulai sepi.
"Kay, aku antarkan kamu pulang."
"Tidak usah."
"Vira pesan—"
"Vira pesan kakak menjaga aku. Tapi kalau kakak mengantar, nanti Vira makin curiga. Aku naik ojek online saja."
Rafa terdiam. Lalu dia mengangguk. "Baik. Tapi aku temani sampai ojeknya datang."
Di luar kafe, kami berdiri berdampingan. Mona dari kejauhan masih setia memata-matai. Aku melambaikan tangan kecil padanya.
Angin sore bertiup, membawa wangi bunga dari taman dekat kafe. Langit jingga perlahan berubah menjadi ungu. Senja di Kemang selalu indah.
"Kay," Rafa memecah keheningan.
"Ya?"
"Maaf kalau aku membuatmu bingung."
"Kakak tidak membuatku bingung, Kak. Aku yang membuat diriku sendiri bingung. Dari dulu."
Dia menatapku. "Maksudmu?"
Aku menggigit bibir. Aku tahu ini saatnya. Aku bisa memilih diam, atau jujur.
Aku mengambil napas panjang. Aku menatap langit senja. Aku mendengar suara klakson dari kejauhan, suara kehidupan yang terus berjalan.
"Kakak tahu tidak, tiga tahun lalu kakak pernah menolong seorang cewek yang jatuh di lorong kampus?"
Rafa mengerjap. "Itu... kamu?"
"Iya. Aku yang waktu itu. Sejak saat itu, aku diam-diam menyukai kakak."
Rafa terdiam. Matanya membelalak. Aku bisa melihat gejolak di sana — kaget, bingung, mungkin sedikit panik.
"Tiga tahun, Kak. Aku menyimpannya sendirian. Sampai kakak muncul di rumahku sebagai calon suami Vira."
"Kay, aku tidak tahu—"
"Kakak tidak perlu tahu. Karena itu tidak akan mengubah apa pun. Kakak sudah memilih Vira. Dan aku sudah memilih untuk diam."
"Kenapa kamu cerita sekarang?"
"Karena aku lelah. Karena aku tidak mau ada rahasia lagi di antara kita. Karena besok, kita akan kembali menjadi kakak ipar dan adik ipar. Dan aku tidak mau membawa beban ini selamanya."
Aku menatap matanya. Untuk pertama kalinya, aku tidak takut.
"Aku tidak berharap apa pun, Kak. Aku hanya ingin jujur. Untuk terakhir kalinya."
Rafa tidak berkata apa-apa. Wajahnya berubah. Ada kesedihan di sana. Mungkin juga rasa bersalah.
"Kay, maaf."
"Kakak tidak perlu minta maaf."
"Aku tetap minta maaf."
"Ya sudah. Aku maafkan."
Ojek online datang. Aku naik ke belakang. Rafa masih berdiri di tempatnya, memandangiku.
"Kay!" teriaknya.
Aku menoleh.
"Jaga diri."
"Kakak juga. Jaga Vira."
"Pasti."
Ojek melaju. Aku tidak menoleh ke belakang. Tapi air mataku jatuh. Bukan air mata sedih. Tapi air mata lega.
Akhirnya aku jujur. Akhirnya dia tahu.
Dan meskipun tidak mengubah apa pun, setidaknya aku tidak perlu berbohong lagi.
Pesan dari Mona masuk.
Mona: "Kamu bicara apa tadi? Kok dia diam saja? Kamu menangis? Aku lihat kamu menangis."
Kayla: "Aku ceritakan semuanya, Mon. Tentang tiga tahun."
Mona: "GILA. BERANI SEKALI KAMU."
Kayla: "Aku lelah."
Mona: "Terus dia bicara apa?"
Kayla: "Dia bilang maaf."
Mona: "Hanya maaf?"
Kayla: "Cukup. Aku tidak minta lebih."
Mona: "Kamu kuat, Kay."
Kayla: "Aku tidak kuat. Tapi aku berusaha."
Mona: "Kamu lebih berani dari aku. Aku tidak akan pernah punya nyali seperti itu."
Kayla: "Kamu juga bisa, Mon. Kalau sudah waktunya."
Mona: "Mungkin. Tapi tidak sekarang."
Sampai di rumah, Vira sudah menunggu di teras.
"Kok naik ojek? Rafa mana?"
"Rafa pulang, Kak."
"Katanya kalian bertemu di kafe?"
"Iya. Hanya sebentar."
Vira menatapku. Matanya menyelidik.
"Kay, kamu menangis?"
"Tidak. Kena debu."
"Bohong."
Aku tidak menjawab. Vira mendekat. Dia memegang wajahku, menatap matanya dengan matanya.
"Kay, kakak sayang kamu."
"Aku juga sayang kakak."
"Pun apa yang terjadi, jangan pernah sembunyi dari kakak."
Aku mengangguk. Tapi di dalam hati, aku tahu. Aku sudah sembunyi terlalu lama. Dan sekarang, rahasia itu sudah keluar. Hanya saja, belum kepada Vira.
Belum.
Malam harinya, Mona menelepon lagi.
"Kay, kamu yakin tidak akan menyesal?"
"Yakin. Aku sudah memikirkannya berkali-kali. Dan ini keputusan yang tepat."
"Dia bisa saja jadi tambah bingung."
"Biar. Itu urusan dia. Urusan aku adalah jujur."
Mona terdiam. Lalu dia berkata, "Kamu berubah, Kay."
"Berubah menjadi apa?"
"Menjadi lebih berani. Dan lebih dewasa."
Aku tersenyum kecil. "Aku belajar dari kamu."
"Aku tidak pernah mengajarkanmu apa pun."
"Kamu mengajarkan aku untuk tidak takut. Dengan caramu yang rewel itu."
Mona tertawa. "Ya sudah. Aku matikan. Kamu istirahat."
"Iya, Mon. Makasih sudah selalu ada."
"Ya. Sama-sama."
Aku meletakkan ponsel. Memejamkan mata.
Tiga tahun menyimpan rahasia. Dan hari ini, untuk pertama kalinya, aku bernapas lega.
Bukan karena Rafa akan membalas perasaanku. Bukan karena ada masa depan bersama.
Tapi karena aku tidak perlu lagi menyembunyikan siapa aku di depannya.
Dan untuk saat ini, itu sudah cukup.
BAB VII
Dua Hati dalam Satu Atap
Tiga minggu berlalu sejak kencan palsu di kafe itu. Tiga minggu penuh kebohongan kecil yang terus menumpuk. Tiga minggu aku belajar berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.
Padahal tidak.
Hatiku seperti kertas yang terus diremas setiap kali melihat Vira tersenyum menyebut nama Rafa. Setiap kali dia menunjukkan foto-foto persiapan pernikahan. Setiap kali dia bertanya, "Kay, kamu senang, kan, punya kakak ipar seperti Rafa?"
Dan setiap kali itu, aku selalu menjawab, "Senang sekali, Kak."
Itu kebohongan terbesarku. Dan aku sudah melakukannya berkali-kali.
Hari ini, Vira mengumumkan sesuatu yang membuat dunia kembali berputar kencang.
"Rafa akan pindah ke sini," kata Vira sambil membereskan piring makan malam.
Aku berhenti mengunyah. "Pindah ke sini? Maksudnya ke rumah ini?"
"Iya. Cuma sementara. Rumahnya sedang direnovasi. Orang tuanya mau mengganti lantai dan cat seluruh rumah. Mungkin butuh waktu sebulan."
"Se... sebulan?"
"Iya. Bukannya kamu senang? Kita jadi sering bertemu."
"Tapi, Kak, ini kan rumah kita. Hanya ada dua kamar. Kakak tidur sekamar sama aku?"
"Tidak. Rafa tidur di kamar kakak. Kakak tidur sekamar sama kamu."
Aku hampir tersedak. "Apa?!"
"Ya, masa iya calon suami tidur sekamar sama calon adik ipar? Tidak sopan, Kay."
"Bukan itu maksudku. Maksudku, kakak tidur sekamar sama aku? Selama sebulan?"
"Iya. Seru, kan? Seperti waktu kecil dulu. Kita tidur bareng, cerita-cerita sebelum tidur. Aku kangen."
Aku tidak bisa berkata-kata. Bukan karena tidak suka tidur sekamar dengan Vira. Tapi karena bayangan Rafa akan tinggal di rumah yang sama. Satu atap. Dua hati yang tidak seharusnya saling mendekat.
Perasaan campur aduk menyerangku. Aku takut, tapi juga anehnya ada sedikit kegembiraan yang langsung aku sesali. Apa yang salah denganmu, Kay?
"Kak, apakah ini keputusan yang bijak?" tanyaku hati-hati.
"Kenapa tidak bijak?"
"Kakak kan belum menikah. Masa calon suami tinggal serumah? Nanti tetangga pada bergosip."
"Biarkan. Mereka tidak akan berani bergosip kalau tahu Rafa akan jadi pengacara."
"Rafa pengacara? Bukankah dia kerja di perusahaan konsultan?"
"Iya, tapi dia juga lulusan hukum. Dia baru mendapat sertifikat advokat bulan lalu. Jadi kalau ada tetangga yang kepo, dia bisa menyomasi."
Aku menghela napas. Vira selalu punya jawaban untuk segalanya.
"Kak, aku tidak yakin ini ide bagus."
"Kenapa sih kamu keberatan? Kamu tidak suka sama Rafa?"
Pertanyaan itu seperti silet. Jantungku berdetak lebih cepat. Aku harus menjawab dengan cepat dan tepat. Aku menatap Vira, berusaha tersenyum alami.
"Aku suka sama Rafa. Sebagai calon kakak ipar."
Vira tersenyum. "Ya sudah. Kalau kamu suka, tidak ada masalah. Lagian Rafa juga orangnya baik. Tidak akan macam-macam."
Dia sudah bulat dengan keputusannya. Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Malam itu, aku menelepon Mona. Suaraku bergetar meskipun aku berusaha tenang.
"Mon, gila. Rafa akan pindah ke rumahku."
"APA?!" teriak Mona sampai suaranya pecah. Aku bisa mendengar dia jatuh dari kasur.
"Jangan berteriak, Mon. Ini serius."
"Serius gila, Kay! Cowok idaman kamu akan tinggal satu atap sama kamu? Ini seperti sinetron India!"
"Aku tahu."
"Kamu tahu tidak risikonya?"
"Apa?"
"Kamu akan melihat dia setiap hari. Setiap pagi. Setiap malam. Dalam kondisi apa pun. Kamu akan melihat dia habis bangun tidur. Kamu akan melihat dia pakai piyama. Kamu akan melihat dia—"
"MONA! BERHENTI!"
"Maaf. Aku terlalu bersemangat. Tapi kamu sadar, kan, ini akan berat sekali buat kamu?"
Aku menarik napas panjang. Membayangkan semua skenario yang Mona sebutkan. Setiap pagi bertemu Rafa di dapur. Setiap malam mendengar suaranya dari kamar sebelah.
"Aku sadar, Mon."
"Terus kamu tetap mau menjalani?"
"Aku tidak punya pilihan, Mon. Kakakku yang minta."
Mona menghela napas panjang. "Ya, Allah, kasihan kamu, Kay. Aku akan mendoakan yang terbaik."
"Doakan aku tidak mati hati setiap hari."
"Amin."
Dua hari kemudian, Rafa pindah.
Aku membantu Vira membereskan kamarnya. Kami memindahkan lemari baju Vira ke kamarku. Ruangan menjadi sesak. Dua lemari, dua meja belajar, dua kasur single yang disatukan menjadi satu kasur besar.
Aku berdiri di ambang pintu kamar, menatap ruangan yang berubah. Kamar yang dulu hanya milikku dan Vira, kini akan berbagi dengan bayangan Rafa di seberang dinding.
Ini akan sulit, pikirku. Tapi aku harus kuat.
"Seru, ya, seperti kos-kosan," kata Vira sambil merapikan sprei.
"Kak, kos-kosan tidak sebagus ini. Biasanya sempit."
"Ya sudah, seperti hotel bintang lima versi murahan."
Aku tertawa kecil. Vira selalu punya cara untuk membuat suasana terasa ringan.
Pintu rumah diketuk. Vira berlari kecil ke depan.
"Rafa datang!"
Aku mengikuti dari belakang. Rafa berdiri di ambang pintu dengan dua koper besar dan satu tas ransel. Kemeja putih lengan pendek. Celana jeans biru. Tersenyum lebar.
"Masuk, masuk!" Vira menarik tangan Rafa.
"Matur nuwun, mbak," kata Rafa dengan logat Jawa yang kental.
"Sok Jawa sekali sih," Vira tertawa.
"Lah, wong aku Jawa tulen."
Aku hanya tersenyum dari belakang. Rafa menoleh ke arahku.
"Kay, kamu ikut membantu angkat barang?"
"Iya, Kak."
"Tidak usah. Ini cuma sedikit. Kamu temani Vira saja."
Vira menarik Rafa masuk. Aku mengambil satu kopernya dan membawanya ke kamar.
Kamar Vira yang tadinya rapi kini berubah. Ada koper terbuka di lantai. Ada jaket jeans tergantung di sandaran kursi. Ada buku-buku hukum berserakan di meja.
Dinding kamar yang dulu kosong, kini bertambah dekorasi kecil: foto Vira dan Rafa di sebuah kafe.
Aku menatap foto itu sebentar. Senyum mereka bahagia. Aku membuang muka.
"Maaf, berantakan," kata Rafa sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Tidak apa-apa. Nikmati suasana kos-kosan," jawab Vira.
"Kos-kosan mahal. Gratis pula."
"Ya iyalah. Calon mertua memfasilitasi."
Aku berdiri di pojok kamar, memperhatikan mereka. Rasanya seperti menonton film di bioskop. Tapi aku bukan penonton. Aku pemain yang terjebak dalam adegan yang tidak diinginkan.
"Kay, kamu kenapa diam saja?" tanya Rafa.
"Lihat-lihat saja. Kapan lagi bisa melihat kamar kakak serumah sama cowok."
Vira tertawa. "Iya. Pengalaman pertama."
Rafa ikut tertawa. "Pengalaman terakhir juga. Setelah ini menikah."
Aku tersenyum. Senyum pahit yang kupasang rapi.
Hari pertama Rafa tinggal di rumahku berjalan seperti yang aku bayangkan. Canggung. Aku tidak tahu harus bersikap bagaimana. Haruskah aku ramah seperti biasa? Atau menjaga jarak? Atau pura-pura sibuk?
Aku memilih opsi ketiga.
Seharian aku mengurung diri di kamar, hanya keluar untuk makan dan ke kamar mandi. Vira sibuk memasak di dapur. Rafa sibuk bekerja dari kamar.
Tapi malam harinya, aku tidak bisa menghindar lagi.
"Kay, makan malam!" teriak Vira dari dapur.
Aku keluar kamar. Rambut masih basah habis keramas. Kaus oblong longgar. Celana pendek. Tanpa make up, tanpa bra.
Sial. Aku lupa penampilanku sedang amburadul.
Tapi terlambat. Rafa sudah duduk di meja makan. Dia menatapku sekilas, lalu tersenyum.
"Halo. Baru keramas?"
"Iya. Tadi habis olahraga."
Vira melongo. "Olahraga? Kamu? Seumur-umur tidak pernah melihat kamu olahraga."
"Kak, aku ikut senam online tadi pagi."
"Bohong. Kamu tidak bangun sebelum jam sepuluh."
Rafa terkekeh. "Jadi Kayla ini tukang tidur, ya?"
"Tukang tidur, tukang malas, tukang pesan online," Vira menjawab cepat.
"Kak! Jangan jelek-jelekkan aku di depan calon kakak ipar!"
"Biar dia tahu aslinya. Tidak usah pura-pura rapi."
Aku mendengus kesal. Rafa tertawa semakin lebar.
"Tenang, Kay," kata Rafa. "Aku juga tukang tidur, kok. Dulu pas kuliah, aku pernah terlambat ujian karena kesiangan."
"Serius?" Aku duduk di kursi seberang Rafa.
"Serius. Dosennnya marah-marah. Nilai ujianku cuma C."
"Wah, kasihan."
"Tapi akhirnya aku ikut ujian susulan dan mendapat A."
Vira mengangkat alis. "Tidak masuk akal. Ujian susulan biasanya lebih sulit."
"Makanya aku belajar mati-matian. Semalam suntuk."
"Baru tahu aku ada cerita begitu," kata Vira.
"Banyak yang belum kamu tahu tentang aku, Via."
"Iya. Makanya kita menikah biar tahu semuanya."
Kalimat itu lagi. Aku menunduk, fokus memotong ayam goreng di piringku. Di balik poni yang menutupi wajahku, aku menggigit bibir.
"Kay, kamu kenapa diam lagi?" tanya Vira.
"Makan, Kak. Mulutku sibuk."
"Mulutmu sibuk? Baru dua suapan. Biasanya kamu makan sambil cerita."
"Aku lapar sekali."
Vira menatap curiga. Tapi dia tidak melanjutkan.
Setelah makan, Vira menyuruhku mencuci piring. Dia sendiri duduk di ruang tamu bersama Rafa, menonton televisi.
Aku mencuci piring sambil sesekali melirik ke arah mereka.
Rafa duduk di sofa. Vira bersandar di bahunya. Tangan mereka bertautan.
Aku memegang spons terlalu erat sampai busa sabun merembes di sela-sela jariku.
Pemandangan yang indah. Untuk mereka. Bukan untukku.
Setelah selesai mencuci piring, aku langsung masuk kamar. Tidak berpamitan.
"Kay, kamu tidak nonton bareng?" tanya Vira.
"Mengantuk, Kak. Aku tidur dulu."
"Tidur jam 9? Kamu sakit?"
"Tidak. Cuma lelah."
"Ya sudah. Selamat tidur."
"Selamat tidur, Kak Rafa."
"Selamat tidur, Kay."
Di dalam kamar, aku duduk di kasur. Kamar terasa lebih sempit dari biasanya. Mungkin karena sekarang dua lemari. Mungkin karena bayangan Rafa yang ada di seberang dinding.
Ponsel bergetar. Mona.
Mona: "Bagaimana hari pertama?"
Kayla: "Berat."
Mona: "Ceritakan."
Kayla: "Mereka mesra di sofa. Aku cuci piring sendirian."
Mona: "Kamu menangis?"
Kayla: "Belum. Tapi hampir."
Mona: "Kamu kuat, Kay."
Kayla: "Tidak yakin."
Aku meletakkan ponsel. Memejamkan mata.
Pintu kamar terbuka. Vira masuk.
"Kamu belum tidur?" tanyanya.
"Belum. Lagi baring-baring."
Vira duduk di sampingku. Aroma sabun mandinya menusuk hidungku. Wangi yang familiar, wangi masa kecil.
"Kay, jujur sama kakak. Kamu tidak suka Rafa tinggal di sini?"
"Bukan tidak suka, Kak. Tapi aku butuh waktu untuk beradaptasi."
"Adaptasi apa? Dia cuma calon kakak ipar."
"Ya, itu. Aku belum pernah punya kakak ipar. Jadi agak kikuk."
Vira tertawa. "Nanti juga biasa. Dulu waktu pertama kali kamu kenal Mona, kamu juga kikuk, kan?"
"Iya. Tapi sekarang Mona jadi sahabatku."
"Nah. Sama seperti Rafa nanti. Dia juga akan menjadi keluargamu."
Keluarga. Kata itu kembali menusuk.
"Iya, Kak."
Vira menepuk pundakku. "Sudah, tidur. Besok kita berbelanja ke pasar pagi-pagi. Kamu harus bangun jam 7."
"Jam 7? Kak, sadar tidak sih?"
"Biar kamu terbiasa hidup disiplin."
"Tapi aku tidak mau disiplin."
"Kamu mau kakak marah?"
Aku menghela napas. "Baik. Jam 7."
"Janji?"
"Janji."
Vira tersenyum puas. Dia membaringkan tubuh di sampingku, lalu mematikan lampu.
Dalam gelap, suaranya berbisik, "Kakak sayang kamu, Kay."
"Aku juga sayang kakak."
"Kamu adalah adik terbaik yang pernah kakak punya."
"Aku satu-satunya adik yang kakak punya."
"Ya, itu. Tapi tetap terbaik."
Aku tersenyum dalam gelap. Tapi di balik senyum itu, air mataku mulai menetes.
Karena di balik kegelapan, aku menyembunyikan perasaan yang seharusnya tidak pernah ada.
BAB VIII
Batas Tipis yang Mulai Retak
Seminggu sudah Rafa tinggal di rumahku. Seminggu penuh aku belajar hidup dengan perasaan yang terus bergejolak. Seminggu penuh aku belajar mematikan rasa setiap kali melihat dia dan Vira bersama.
Tapi ada satu hal yang tidak bisa aku matikan.
Tatapan matanya.
Aku sedang mencuci piring. Rafa duduk di meja makan sambil membaca koran.
Tiba-tiba, aku merasakannya. Bukan suara. Bukan gerakan. Tapi sesuatu. Seperti ada arus listrik yang menyambar dari belakang.
Aku menoleh.
Rafa.
Matanya bertemu mataku. Dia tidak bergerak. Tidak berkata apa-apa. Hanya menatap.
Detik pertama. Aku panik.
Detik kedua. Aku bertanya-tanya.
Detik ketiga. Aku tersenyum canggung.
Detik keempat. Dia tersenyum balik — tapi senyum yang berbeda. Bukan senyum kakak ke adik. Tapi senyum yang... aku tidak tahu.
Detik kelima. Aku kembali mencuci piring, tapi tanganku gemetar.
"Kay," panggil Rafa.
"Ya?"
"Piringnya sudah bersih. Sudah kamu gosok lima menit."
Aku melihat piring di tanganku. Benar. Piring itu sudah berkilau seperti cermin. Aku bahkan bisa melihat bayangan wajahku di permukaannya — merah, panik, kacau.
"Oh. Iya." Aku meletakkan piring di rak pengering.
"Kamu memikirkan apa?"
"Bukan apa-apa."
"Kay, kamu boleh jujur sama aku. Kamu sedang ada masalah?"
Dia. Masalahnya adalah dia. Tapi aku tidak bisa bilang itu.
"Tidak, Kak. Aku baik-baik saja."
"Tapi matamu bilang lain."
Aku menoleh. "Mata aku bilang apa?"
Dia berdiri. Perlahan. Lalu berjalan mendekat. Satu langkah. Dua langkah. Kini dia berdiri tepat di belakangku — cukup dekat untuk aku mencium wangi sabun dari bajunya.
Rafa meraih piring terakhir dari rak pengering. Bukan untuk mencucinya. Tapi untuk meletakkannya di tempat yang benar. Gerakannya lambat. Disengaja.
"Matamu bilang, 'Tolong, ada yang menggangguku, tapi aku tidak bisa cerita'," katanya pelan.
Aku terdiam. Rafa terlalu tajam. Atau mungkin aku terlalu mudah dibaca.
"Kakak seperti psikolog," kataku akhirnya, berusaha terdengar santai padahal jantungku siap meledak.
"Bukan psikolog. Aku cuma... jago membaca orang."
"Jago membaca orang atau jago membaca aku?"
Rafa mengerjap. Lalu tersenyum. "Mungkin dua-duanya."
Aku menghela napas. "Kakak, jangan sering-sering menatap aku seperti itu."
"Kenapa?"
"Karena..."
Aku berhenti. Tidak bisa melanjutkan kalimat.
Karena setiap kali kakak menatapku seperti itu, aku lupa bahwa kakak calon suami kakakku. Karena setiap kali kakak menatapku seperti itu, aku punya harapan. Dan harapan adalah hal paling berbahaya di dunia ini.
"Karena?" Rafa mencondongkan badan.
"Karena orang lain bisa salah lihat."
"Siapa yang salah lihat? Vira?"
"Iya. Kakak bisa cemburu."
Rafa tertawa kecil. "Vira tidak akan cemburu sama kamu."
"Kenapa kakak yakin?"
"Karena kamu adiknya. Dan aku calon suaminya. Dia tahu batas-batasnya."
Aku menatap Rafa. Apakah kakak tahu batas-batasnya? Karena aku rasa kakak juga mulai lupa.
Tapi aku tidak mengucapkannya. Aku hanya tersenyum. Senyum yang kupasang rapi. Senyum yang mengatakan "aku baik-baik saja" padahal tidak.
Siang harinya, Mona datang.
Tanpa pamit. Tanpa kabar. Tiba-tiba sudah berdiri di depan pintu dengan senyum lebar dan tas ransel penuh stiker anime.
"Kejutan!" teriak Mona.
"Mon, kamu mengagetkan!" Aku membukakan pintu.
"Mana Rafa? Aku mau melihat langsung."
"Pelan-pelan, kamu jangan seperti pemburu."
"Memang iya. Aku pemburu kebenaran."
Sebelum aku bisa menghentikannya, Mona sudah melangkah masuk. Tepat saat itu, Rafa keluar dari kamarnya.
Rambutnya sedikit basah — baru keramas. Kaus oblong putih tipis yang... sial, aku bisa melihat bentuk dadanya. Tanpa celana panjang, hanya celana pendek olahraga abu-abu.
Mona membelalak. Mulutnya terbuka. Matanya membesar.
"Astaga," bisiknya.
"Mon, jangan kaku," bisikku.
"Aku tidak kaku. Aku terpesona."
Rafa mengerjap. "Eh, ada tamu."
"Ini Mona, sahabat aku," aku memperkenalkan dengan suara yang berusaha stabil.
"Halo, Mona. Aku Rafa."
Rafa mengulurkan tangan. Mona menjabatnya — terlalu lama. Aku menarik lengan Mona.
"Mona!"
"Maaf, maaf." Mona menggelengkan kepala. "Halo, Kak Rafa. Aku sering mendengar cerita tentang kakak dari Kayla."
"Cerita apa?" tanya Rafa.
"Cerita baik, tentunya." Mona tersenyum manis. Terlalu manis. Aku tahu sahabatku ini sedang tegang — biasanya dia tertawa kasar dan bicara sembarangan.
"Aku buatkan minum," kataku cepat.
"Jangan, aku yang buatkan," tawar Rafa.
"Tidak usah, Kak. Kamu kan tamu."
"Aku bukan tamu. Aku tinggal di sini."
"Ya, tapi—"
"Sudah, biar aku. Kamu temani Mona."
Rafa berjalan ke dapur. Begitu dia cukup jauh, Mona menarikku ke teras dengan paksa.
"Gila, Kay," bisik Mona. Matanya masih membelalak. "Cowok itu ganteng sekali asli."
"Aku tahu."
"Gantengnya bukan main. Tambah tua tambah ganteng."
"Dia baru 23, Mon."
"Ya, itu. Masa depan masih panjang. Gantengnya masih bisa berkembang."
"Mon, kamu jangan tertarik sama dia."
"Tidaklah. Aku punya prinsip. Jangan pernah tertarik pada cowoknya sahabat."
"Dia bukan cowokku. Dia cowoknya kakakku."
"Sama saja. Tetap terlarang."
Aku menghela napas. Mona memang Mona.
Tapi kemudian wajah Mona berubah serius — sesuatu yang jarang terjadi. "Kay, aku serius nih. Kamu tidak bisa terus-terusan seperti ini."
"Seperti bagaimana?"
"Seperti orang yang berjalan di atas kawat tipis. Satu langkah salah, kamu jatuh."
"Aku tahu."
"Kamu tahu tapi kamu tetap jalan?"
"Aku tidak punya pilihan, Mon."
"Kamu selalu punya pilihan."
Rafa keluar dengan nampan berisi tiga gelas es teh. "Maaf, gulanya sedikit. Vira bilang kamu menjaga berat badan, Kay."
Vira cerita semuanya. Mulut kakakku itu memang tidak pernah bisa menyimpan rahasia.
"Makasih, Kak," aku mengambil gelas.
Mona juga mengambil. Tapi dia tidak minum. Dia menaruh gelasnya di meja, lalu menatap Rafa lurus-lurus.
"Kak Rafa, boleh bertanya sesuatu yang agak pribadi?"
"Boleh."
"Kakak benar-benar cinta sama Vira?"
Pertanyaan yang sama. Tapi dari mulut yang berbeda. Dan nada yang berbeda. Mona tidak bertanya karena penasaran. Dia bertanya karena menginterogasi.
Rafa tersenyum tipis. Dia tidak terkejut. Seolah dia sudah menduga pertanyaan ini akan datang.
"Kamu juga bertanya seperti Kayla."
"Mona itu jiwa mudanya Kayla. Jadi kalau Kayla tidak berani bertanya, Mona yang bertanya."
"Mon!" aku mencubit lengannya.
"Aduh! Sakit!"
Rafa tertawa. "Kalian ini bersahabatan sekali, ya."
"Sudah dari SMP," jawab Mona sambil menggosok lengannya yang dicubit. Tapi dia tidak mengalihkan pandangan dari Rafa. "Jadi, Kak Rafa. Jawab dulu pertanyaan aku. Benar-benar cinta?"
Rafa menghela napas. Lalu — dan ini yang membuat jantungku berhenti — dia menatapku. Sekejap. Hanya sekejap. Tapi cukup lama untuk Mona menangkapnya.
Lalu dia menatap Mona. "Aku cinta Vira. Mungkin caranya tidak heboh seperti di film. Tapi ini nyata."
"Buktinya?" Mona tidak menyerah.
"Bukti? Aku rela hidup serumah dengan dua perempuan yang kalau sore rebutan kamar mandi."
Aku tertawa. Mona juga. Tapi tawa Mona pendek. Kaku.
"Itu bukan bukti cinta, itu bukti kesabaran," kata Mona.
"Sama saja. Cinta butuh kesabaran."
Rafa menjawab dengan cepat. Tanpa pikir panjang. Seolah itu adalah kebenaran mutlak baginya.
Mona mengangguk. "Oke. Aku puas dengan jawaban itu."
"Gampangan sekali kamu, Mon," bisikku.
"Ya, jawabannya bagus. Aku tidak bisa mengelak."
Tapi matanya berkata lain. Mona tidak puas. Dia hanya berhenti karena dia tahu Rafa tidak akan memberi jawaban jujur di depan aku.
Rafa berdiri. "Kay, aku ke kamar dulu, ya. Ada pekerjaan."
"Iya, Kak."
Rafa masuk ke dalam. Mona menatap punggungnya sampai benar-benar menghilang di balik pintu. Lalu dia menatapku. Matanya tajam.
"Kay, kamu harus segera move on."
"Gampang sekali kamu bilang."
"Aku serius." Mona meraih kedua tanganku. "Cowok itu terlalu baik. Terlalu sempurna. Dan dia bingung, Kay. Cowok yang bingung itu lebih bahaya daripada cowok jahat."
"Maksud kamu?"
"Dia bilang dia cinta Vira. Tapi matanya — kamu lihat matanya tadi? Waktu dia menengok ke kamu sebelum menjawab pertanyaan aku?"
Aku tidak bisa menjawab.
"Itu bukan mata orang yang sudah bulat dengan pilihannya. Itu mata orang yang masih ragu."
"Mon, jangan—"
"Kamu dengarkan aku. Aku sahabat kamu. Aku tidak mau melihat kamu hancur. Tapi kalau kamu terus begini, kamu akan hancur. Bukan besok. Bukan lusa. Tapi setiap hari sedikit demi sedikit."
"Dan apa yang harus aku lakukan?"
"Pergi. Jauh dari Rafa. Jangan sering bertemu. Jangan sering mengobrol. Jangan sering bertatapan."
"Tapi dia tinggal di rumahku, Mon. Aku tidak bisa kabur."
"Kamu bisa. Jaga jarak. Jangan sering keluar kamar kalau dia ada. Jangan ikut Vira kalau dia mau bertemu Rafa. Jangan—"
"Mon, aku tidak bisa bersembunyi di kamar sebulan penuh."
"Kamu bisa kalau kamu mau."
Aku menghela napas. Mona memang keras kepala. Tapi dia benar.
Aku harus menjaga jarak.
Atau aku akan hancur.
Malam harinya, aku berusaha menerapkan saran Mona.
Aku makan malam dengan cepat — tiga suapan, lalu berdiri. "Kenyang, Kak. Aku tidur dulu."
"Kay, kamu baru makan tiga suap!" Vira mengangkat alis.
"Lelah."
"Dari tadi sore kamu di kamar terus."
"Mona membuatku lelah."
"Berkali-kali kamu bilang Mona membuat lelah. Mona itu sahabat kamu atau musuh kamu?"
"Sahabat yang melelahkan."
Vira tertawa. Rafa ikut tertawa kecil. Tapi matanya — matanya menatapku. Bukan tatapan biasa. Tapi tatapan yang bertanya: "Kamu baik-baik saja?"
Aku tidak menjawab. Langsung masuk kamar dan menutup pintu.
Di dalam kamar, aku duduk di kasur. Menatap ponsel. Membuka chat dengan Rafa.
Pesan terakhir masih seminggu lalu.
Aku ingin mengirim pesan. Tapi aku tahan.
"Jangan, Kay. Jaga jarak," bisikku sendiri.
Pintu kamar terbuka. Vira masuk.
"Kay, kamu tidak sedih, kan?" tanyanya sambil duduk di sampingku.
"Sedih kenapa?"
"Seperti... ada yang kurang. Kamu jadi pendiam akhir-akhir ini."
"Tidak, kok, Kak. Aku cuma banyak memikirkan skripsi."
"Yakin?"
"Yakin."
Vira menatapku lama. Matanya seperti sedang membaca sesuatu. Aku berusaha mempertahankan tatapannya, tapi aku tahu — dia bisa melihat kebohongan di mataku.
"Kakak tahu kamu bohong, Kay."
Jantungku berdegup kencang. Tidak. Tidak sekarang.
"Bohong?"
"Iya. Ada sesuatu yang kamu sembunyikan. Kakak tidak tahu apa. Tapi kakak yakin ada."
Aku terdiam. Vira terlalu pintar untuk dibohongi.
"Kak..."
"Kakak tidak memaksa kamu cerita. Tapi ingat, apa pun masalah kamu, kakak selalu ada."
Vira memelukku. Pelukan hangat yang membuatku ingin menangis. Tapi aku tahan.
"Makasih, Kak."
"Ya. Sekarang tidur. Besok kakak buatkan sarapan favorit kamu."
"Apa?"
"Pancake dengan honey."
"Matanya, Kak!"
"Biar melek."
Vira tertawa. Aku juga tertawa.
Tapi di balik tawa itu, ada sesak yang tidak pernah hilang.
Jam menunjukkan pukul 1 malam. Aku terbangun karena haus.
Aku berjalan pelan ke dapur. Gelap. Hanya lampu kulkas yang menerangi ruangan.
Aku membuka kulkas, mengambil botol air mineral, dan meneguk langsung dari botolnya — sesuatu yang dulu selalu membuat Vira marah.
"Tidak pakai gelas?"
Aku kaget. Botol air hampir jatuh. Jantungku melompat ke tenggorokan.
"Kak Rafa?" Aku menoleh.
Dia berdiri di dekat pintu dapur. Kaus oblong hitam. Celana pendek abu-abu. Rambut acak-acakan seperti habis berguling di kasur. Tapi matanya — matanya terjaga. Sadar. Seperti dia sengaja bangun.
"Maaf, aku mengagetkan kamu," katanya.
"Kok kakak bangun?"
"Haus juga."
"Oh."
Aku mengambil gelas dari rak, menuangkan air untuk Rafa, lalu memberikannya padanya. Jari kami bersentuhan sekilas. Hangat.
"Makasih."
"Sama-sama."
Kami berdiri di dapur yang remang. Hanya suara kulkas yang berdengung. Dan detak jantungku yang aku yakin dia bisa dengar.
"Kay, kamu susah tidur, ya, akhir-akhir ini?" tanya Rafa.
"Bisa dibilang begitu."
"Aku sering mendengar kamu bolak-balik di kamar. Kasurmu berisik."
Dia mendengarku. Setiap malam. Dia mendengarku bolak-balik di kasur.
"Maaf. Aku tidak sengaja."
"Bukan masalah. Aku cuma... khawatir."
Aku menatap Rafa. Matanya teduh meskipun di tengah malam buta. Ada kelembutan di sana yang membuatku ingin menangis.
"Kakak khawatir sama aku?"
"Iya. Kamu seperti adikku sendiri. Wajar aku khawatir."
Adik. Lagi-lagi kata itu.
"Kakak tidak usah khawatir. Aku baik-baik saja."
"Kamu selalu bilang baik-baik saja, padahal sebenarnya tidak."
"Kok kakak tahu?"
"Karena matamu. Matamu selalu bilang 'aku baik-baik saja, tapi sebenarnya tidak'."
Aku terdiam. Rafa terlalu jago membaca mataku. Atau mungkin — mungkin hanya mataku yang tidak bisa berbohong padanya.
"Kakak jangan sering-sering melihat mata aku."
"Kenapa?"
"Karena..."
Aku tidak bisa melanjutkan. Kata-kata tercekat di tenggorokan.
Karena setiap kali kakak melihat mataku, kakak bisa membaca semuanya. Dan aku tidak siap untuk semuanya terbaca.
"Karena?" Rafa mendekat satu langkah.
Kami sekarang hanya berjarak setengah meter. Aku bisa mencium wangi sabun dari tubuhnya. Bisa melihat garis rahangnya yang tegas di bawah cahaya lampu kulkas yang redup.
"Karena aku takut," bisikku.
"Takut apa?"
"Takut kalau-kalau..."
"Kalau-kalau apa?"
Aku menatap Rafa. Matanya menatapku dalam-dalam. Tidak ada senyum. Tidak ada basa-basi. Hanya tatapan.
Tatapan yang berbicara lebih dari kata-kata.
"Kalau-kalau aku akan melakukan sesuatu yang bodoh," selesaiku.
Rafa terdiam. Beberapa detik berlalu. Terasa seperti jam.
Lalu dia bergerak.
Bukan mundur. Tapi maju. Setengah langkah lagi. Kini jarak kami hanya beberapa sentimeter. Aku bisa merasakan hangat tubuhnya.
"Kay," panggilnya pelan. Suaranya serak.
"Ya?"
"Jangan lakukan sesuatu yang bodoh."
"Kenapa?"
"Karena aku juga takut melakukan sesuatu yang bodoh."
Jantungku berhenti berdetak.
Rafa mengangkat tangannya. Perlahan. Sangat lambat. Memberiku waktu untuk mundur. Tapi aku tidak bergerak. Aku membatu. Aku tidak bisa bergerak.
Tangannya hampir menyentuh pipiku—
"Kak." Aku berbisik. Satu kata. Tapi cukup untuk menghentikannya.
Tangannya berhenti di udara. Hanya beberapa milimeter dari kulitku.
"Jangan," bisikku lagi. Kali ini ada getaran di suaraku. "Tolong, Kak. Jangan."
Rafa menarik napas. Tangannya turun perlahan.
"Maaf," katanya. Suaranya hancur.
Aku tidak menjawab. Aku hanya menatapnya — pria yang hampir menyentuhku. Pria yang seharusnya menjadi suami kakakku.
"Kakak takut melakukan apa?" tanyaku akhirnya. Hampir berbisik.
Rafa tidak menjawab. Dia hanya menatapku. Tatapan yang lama. Dalam. Dan penuh teka-teki.
"Kak?"
Rafa menggeleng. "Lupakan."
Dia berbalik. Langkahnya berat menuju kamarnya.
"Kak Rafa!" panggilku.
Rafa berhenti. Tidak berbalik.
"Selamat malam, Kay," katanya pelan. Lalu dia masuk ke kamarnya dan menutup pintu.
Aku berdiri di dapur. Sendirian.
Dengan jantung yang berdebar kencang. Dengan pikiran yang kacau. Dengan bibir yang masih menggetar karena dia hampir menyentuhku.
Apa yang baru saja terjadi?
Apa yang Rafa maksud dengan "aku juga takut melakukan sesuatu yang bodoh"?
Apa dia merasakan apa yang aku rasakan?
Atau aku hanya gila?
Aku kembali ke kamar dengan langkah gontai. Vira masih tidur pulas di sampingku, tidak tahu apa-apa. Dengkurannya yang halus terdengar teratur — sebuah suara kedamaian yang tidak akan pernah aku miliki malam ini.
Aku membaringkan tubuh. Memejamkan mata.
Tapi tidur tidak datang.
Yang datang hanya bayangan Rafa. Tangannya yang hampir menyentuh pipiku. Matanya yang menatapku seperti aku adalah satu-satunya perempuan di dunia.
"Karena aku juga takut melakukan sesuatu yang bodoh."
Aku menggigit bibir. Menahan sesuatu yang tidak bisa aku jelaskan.
"Takut apa, Kak Rafa? Takut jatuh cinta sama aku? Atau takut aku yang jatuh cinta sama kakak?"
Tidak ada jawaban.
Hanya malam yang sunyi.
Dan perasaan yang semakin tidak terkendali.
BAB IX
Garis yang Tidak Boleh Dilanggar
Pagi harinya, suasana di rumah terasa berbeda.
Bukan seperti biasanya. Bukan seperti pagi yang hangat dengan kopi dan tawa Vira. Tapi pagi yang dingin. Canggung. Seperti udara sebelum badai.
Aku tidak bisa menatap Rafa.
Setiap kali mataku hampir bertemu dengan matanya, aku segera memalingkan wajah. Pura-pura sibuk dengan ponsel. Pura-pura melihat sesuatu di luar jendela. Pura-pura apa pun yang penting tidak perlu menatapnya.
Karena kalau aku menatapnya, aku akan teringat tadi malam.
Tangannya yang hampir menyentuh pipiku.
Jarak beberapa milimeter yang terasa seperti satu mil.
Rafa juga tampak aneh. Dia lebih pendiam dari biasanya. Sarapan hanya dihabiskan dengan menatap piring tanpa banyak bicara. Sesekali dia mengangkat kepalanya — seperti ingin mengatakan sesuatu — tapi kemudian menunduk lagi.
Vira yang biasanya cerewet, kali ini ikut-ikutan diam karena sibuk dengan ponselnya. Untunglah. Kalau dia mulai bertanya, aku tidak tahu harus menjawab apa.
"Kalian kenapa berdua diam sekali sih?" tanya Vira akhirnya.
Aku dan Rafa saling melirik sekilas. Lalu sama-sama membuang muka.
"Tidak ada yang mau dibicarakan," jawabku cepat.
"Aku juga," timpal Rafa. Suaranya datar. Tidak seperti biasanya.
Vira mengangkat alis. "Kalian ini aneh. Biasanya pagi-pagi ribut soal rebutan kamar mandi. Sekarang malah saling diam."
"Aku tidak rebutan kamar mandi," kataku.
"Karena aku selesai lebih cepat," kata Rafa.
"Itu karena kakak bangun lebih pagi."
"Aku terbiasa bangun pagi."
"Ya sudah, selamanya saja kakak yang pertama."
"Terima kasih. Aku akan lakukan itu."
Vira menatap kami bergantian. Matanya menyipit. Aku bisa melihat kecurigaan mulai terbentuk di sana.
"Kalian berdua aneh," katanya lagi. Kali ini bukan bercanda.
"Tidak," jawab kami bersamaan — terlalu cepat, terlalu kompak.
Vira terkekeh. Tapi tawanya tidak sampai ke mata. "Nah, ini baru kalian. Kompak."
Dia berdiri dari meja makan. "Aku ke kamar dulu. Mau siap-siap. Nanti siang ada rapat panitia pernikahan."
Hatiku lega. Vira akan pergi. Aku tidak perlu berpura-pura di depannya selama beberapa jam.
"Ikut, Kak?" tanyaku — sekadar formalitas.
"Tidak usah. Kamu temani Rafa saja di rumah."
Tidak. Jangan tinggalkan aku berdua dengannya.
Tapi aku tidak bisa bilang itu.
"Ya sudah, Kak," jawabku.
Vira masuk ke kamar. Aku dan Rafa terduduk di meja makan berdua.
Sunyi.
Aku bisa mendengar detak jam dinding. Bisa mendengar napasku sendiri yang terasa berat.
"Kay," Rafa memecah keheningan.
Aku menegang. "Ya?"
"Tadi malam..."
"Tadi malam tidak terjadi apa-apa," potongku cepat. Terlalu cepat.
"Tapi aku merasa—"
"Kakak salah merasa. Mungkin kakak masih mengantuk."
"Aku tidak mengantuk, Kay. Aku sadar sepenuhnya."
"Kalau kakak sadar, kakak pasti tahu kalau tadi malam tidak ada yang perlu dibicarakan."
Aku berdiri. Tangan dan kakiku gemetar. Aku mau pergi. Aku harus pergi dari meja ini sebelum aku melakukan sesuatu yang bodoh.
Tapi Rafa meraih pergelangan tanganku.
Lembut. Tidak memaksa. Tapi cukup untuk membuatku berhenti.
"Kay, duduk," katanya pelan. "Kita harus bicara."
"Tidak ada yang perlu dibicarakan."
"Ada." Dia menarik tanganku perlahan. Bukan memaksa, tapi memohon. "Tolong."
Aku menatap tangannya yang melingkar di pergelanganku. Hangat. Sama seperti dulu, tiga tahun lalu, saat dia menangkapku di lorong kampus.
Aku duduk kembali.
"Lima menit," kataku. "Lima menit, habis itu aku pergi."
Rafa melepaskan tangannya. Tapi matanya tetap menatapku.
"Kay, aku minta maaf."
"Maaf kenapa?"
"Untuk tadi malam. Aku hampir... aku hampir menyentuhmu. Itu salah. Aku tidak seharusnya."
Aku tidak menjawab.
"Tapi aku tidak bisa mengendalikan apa yang aku rasakan," lanjutnya. Suaranya pelan. Hampir berbisik. "Aku tidak tahu kenapa. Aku tidak tahu sejak kapan. Tiba-tiba aku sadar, aku selalu mencari kamu di setiap ruangan. Aku selalu ingin tahu apakah kamu baik-baik saja. Aku selalu..."
Dia berhenti.
"Kakak selalu apa?" tanyaku. Suaraku serak.
"Selalu ingin di dekatmu."
Udara di ruang makan terasa panas. Aku tidak bisa bernapas.
"Kak, jangan."
"Aku mencoba, Kay. Aku mencoba untuk tidak merasakan ini. Tapi semakin aku mencoba, semakin kuat rasanya."
"Kalau kakak terus bicara seperti ini, kita tidak akan pernah bisa kembali."
"Kembali ke mana?"
"Kembali seperti dulu. Kakak calon suami Vira. Aku adik Vira."
Rafa terdiam. Kata-kataku seperti menamparnya.
"Kakak pikir aku tidak tahu?" lanjutku. "Kakak pikir aku tidak merasakan apa yang kakak rasakan? Aku merasakannya, Kak. Setiap hari. Setiap kali kakak menatapku. Setiap kali kakak tersenyum padaku. Setiap kali kakak ada di dekatku."
"Lalu kenapa kamu—"
"Karena aku sayang Vira." Aku memotongnya. Mataku mulai berkaca-kaca. "Karena Vira adalah satu-satunya keluarga yang aku punya. Karena dia sudah berkorban segalanya untuk aku. Dan aku tidak akan mengkhianatinya. Tidak untuk siapa pun. Tidak untuk kakak. Tidak untuk perasaan ini."
"Aku juga tidak ingin mengkhianatinya."
"Tapi kakak sudah, Kak. Mungkin belum dengan tindakan. Tapi dengan perasaan. Dengan tatapan. Dengan keinginan untuk selalu di dekatku."
Rafa tidak bisa menjawab.
"Kakak, dengar." Aku menatap matanya. "Kita harus berhenti. Sebelum semuanya terlambat."
"Maksudmu berhenti?"
"Berhenti merasa. Berhenti berharap. Berhenti berpura-pura bahwa ini hanya perasaan saudara."
"Bagaimana caranya?"
"Aku tidak tahu. Tapi kita harus berusaha. Kakak harus berusaha."
Rafa menunduk. Tangannya menggenggam tepi meja.
"Kay, aku takut."
"Takut apa?"
"Takut kalau aku tidak bisa."
"Kakak bisa. Kakak harus bisa. Untuk Vira. Untuk pernikahan kakak. Untuk masa depan kakak."
"Aku tidak ingin menyakiti Vira."
"Kalau kakak terus seperti ini, kakak akan menyakiti dia lebih dalam daripada apa pun."
Rafa mengangkat kepalanya. Matanya merah. Belum menangis, tapi hampir.
"Kay, janji satu hal."
"Apa?"
"Kalau suatu saat aku mulai melewati batas lagi... tolong hentikan aku. Separah apa pun."
"Kakak minta aku yang menjadi penjaga kakak?"
"Aku minta kamu yang mengingatkanku siapa aku seharusnya."
Aku menatapnya lama. Lalu mengangguk.
"Baik. Aku akan lakukan itu. Tapi dengan satu syarat."
"Apa?"
"Kakak juga harus melakukan hal yang sama untuk aku. Kalau aku mulai melewati batas, kakak harus menghentikan aku."
Rafa tersenyum tipis. "Kamu tidak akan pernah melewati batas. Kamu terlalu baik untuk itu."
"Kakak jangan meremehkan aku. Aku juga manusia."
"Baik. Janji."
Kami berjabat tangan. Seperti dua orang yang baru saja menandatangani perjanjian damai. Tapi perjanjian ini tidak akan mudah dijalankan.
Karena batas antara saudara dan bukan saudara sangat tipis.
Dan kami sudah hampir melanggarnya.
Vira keluar kamar dengan pakaian rapi. "Aku pergi dulu, ya. Hati-hati di rumah."
"Ya, Kak," jawabku.
Vira mencium kening Rafa, lalu mencium keningku. Aromanya wangi. Seperti biasa. Tapi hari ini, aromanya terasa seperti peringatan.
Kakak percaya pada kalian. Jangan hancurkan kepercayaan itu.
Begitu pintu tertutup, suasana kembali canggung.
"Kay, aku ke kamar dulu."
"Iya, Kak."
Rafa berjalan ke kamarnya. Aku duduk di sofa, memeluk bantal, dan memejamkan mata.
Kamu bisa, Kay. Kamu kuat. Kamu sudah berjanji.
Tapi kenapa janji terasa begitu berat?
Sore harinya, Mona datang. Tidak sendiri. Dia membawa dua kantong plastik berisi camilan dan satu botol minuman keras.
"Kay, kamu bawa apa ini?"
"Ini untuk terapi hati kamu. Dan hati aku juga."
"Aku tidak minum."
"Sekarang kamu minum. Aku izinkan."
Aku menghela napas. Tapi aku terlalu lelah untuk berdebat.
Kami duduk di teras. Mona menuangkan minuman ke dua gelas.
"Cerita, Kay. Aku lihat muka kamu pucat seperti mayat hidup."
Aku menceritakan semuanya. Tentang tadi malam. Tentang tangan Rafa yang hampir menyentuh pipiku. Tentang perjanjian damai pagi ini. Tentang Vira yang tidak tahu apa-apa.
Mona mendengarkan tanpa menyela. Sesekali dia menyesap minumannya. Matanya serius — sesuatu yang jarang terjadi.
"Kay, aku mau tanya sesuatu."
"Apa?"
"Kamu masih cinta sama Rafa?"
Pertanyaan itu sederhana. Tapi jawabannya rumit.
"Aku tidak tahu, Mon."
"Kamu tidak tahu? Kamu yang selama tiga tahun mengidolakan dia tiba-tiba tidak tahu?"
"Aku tahu aku masih punya perasaan. Tapi apakah itu cinta? Atau hanya kebiasaan? Atau hanya rasa ingin memiliki karena dia dekat? Aku bingung."
Mona menyesap minumannya. "Aku dulu juga pernah seperti kamu."
"Kapan?"
"Waktu aku suka sama senior basket. Aku pikir itu cinta. Ternyata cuma ketertarikan karena dia ganteng dan populer."
"Lalu kamu tahu bedanya?"
"Aku tahu pas aku bertemu cowok lain. Yang tidak ganteng. Yang tidak populer. Tapi aku nyaman. Dan aku tidak pusing memikirkan dia."
"Itu cinta?"
"Itu cinta yang sehat. Bukan cinta yang membuatmu demam."
Aku terdiam. Mona menepuk pundakku.
"Kay, kamu tidak harus memutuskan semuanya hari ini. Tapi kamu harus menjaga jarak. Benar-benar menjaga jarak. Jangan cuma omong."
"Aku tahu."
"Aku serius. Kalau perlu, kamu pindah kost. Jangan tinggal serumah sama mereka."
"Tapi Rafa cuma tinggal dua minggu lagi."
"Dua minggu itu cukup lama untuk membuat kesalahan. Kamu tahu sendiri semalam hampir terjadi apa."
Aku menggigit bibir. Mona benar.
"Baik. Aku pikirkan."
"Jangan dipikirkan. Lakukan."
Malam harinya, Vira memasak besar-besaran. Sop buntut, ayam goreng, tumis kangkung, dan sambal terasi — menu favorit Rafa.
"Ini untuk merayakan 80 persen persiapan pernikahan!" seru Vira.
Rafa tersenyum. "Kamu luar biasa, Via."
"Biasa saja. Masih ada 20 persen lagi."
"20 persen itu urusan teknis. Yang penting 80 persen sudah siap."
"Jangan sombong, Ra. Nanti kalian berdua yang mengurus undangan."
Aku mengangkat alis. "Aku?"
"Iya. Kamu sama Rafa yang mengurus desain undangan. Kakak sudah pesan tempat percetakan. Tinggal kalian yang datang dan memilih modelnya."
Aku menoleh ke Rafa. Rafa menoleh ke aku.
Tatapan itu lagi.
Tapi kali ini, aku lebih cepat membuang muka.
"Baik, Kak," jawab Rafa.
Aku tidak menjawab. Vira menatapku.
"Kay, kamu setuju, kan?"
Tidak. Aku tidak setuju. Aku tidak bisa berdua dengan Rafa. Tidak setelah semalam. Tidak setelah perjanjian pagi ini.
Tapi Vira menatapku dengan mata penuh harap. Dan aku tidak bisa mengecewakan kakakku.
"Setuju, Kak."
"Bagus. Besok jam 10 kalian ke percetakan, ya. Aku sudah kasih alamatnya."
"Iya, Kak."
Vira tersenyum puas. Dia tidak tahu bahwa dia baru saja mempertemukan dua orang yang sedang berusaha menjaga jarak.
Jam menunjukkan pukul 10 malam. Vira sudah tidur di sampingku. Pulas. Dengkurannya yang halus terdengar teratur — sebuah suara kedamaian yang tidak akan pernah aku miliki malam ini.
Aku masih terjaga.
Ponsel di tanganku. Chat dengan Rafa terbuka.
Aku mengetik. Menghapus. Mengetik lagi. Menghapus lagi.
Pada akhirnya, aku mengirim pesan pendek.
Kayla: "Kak, masih bangun?"
Rafa Wijaya: "Iya. Kamu kenapa belum tidur?"
Kayla: "Tidak bisa tidur."
Rafa Wijaya: "Aku juga."
Kayla: "Memikirkan apa?"
Rafa Wijaya: "Memikirkan kamu."
Jantungku berhenti berdetak.
Kayla: "Maksudnya?"
Rafa Wijaya: "Maksudnya, aku memikirkan apa yang kita bicarakan pagi ini."
Kayla: "Tentang menjaga jarak?"
Rafa Wijaya: "Iya."
Kayla: "Lalu?"
Rafa Wijaya: "Lalu aku sadar kalau ini tidak akan mudah."
Kayla: "Tidak ada yang mudah, Kak."
Rafa Wijaya: "Aku tahu. Tapi aku tidak tahu caranya."
Kayla: "Caranya adalah dengan mencoba. Setiap hari."
Rafa Wijaya: "Bagaimana kalau aku gagal?"
Kayla: "Maka kakak akan mencoba lagi. Sampai berhasil."
Rafa Wijaya: "Kamu tegas, Kay."
Kayla: "Aku terpaksa."
Rafa Wijaya: "Kamu lebih kuat dari aku."
Kayla: "Kakak jangan meremehkan diri sendiri."
Rafa Wijaya: "Aku tidak meremehkan. Aku jujur."
Aku tidak tahu harus menjawab apa.
Lalu Rafa mengirim pesan panjang.
Rafa Wijaya: "Kay, aku ingin kamu tahu sesuatu. Aku tidak akan mengejar kamu. Aku tidak akan melanggar janji. Tapi aku juga tidak bisa berpura-pura bahwa kamu tidak ada. Jadi aku akan melakukan ini: aku akan menjaga jarak. Aku akan fokus pada Vira. Aku akan menjadi suami yang baik untuknya. Tapi kalau suatu saat kamu benar-benar membutuhkan aku — untuk apa pun — aku akan ada. Sebagai kakak. Sebagai teman. Sebagai apa pun yang kamu butuhkan. Janji."
Air mataku jatuh. Membasahi bantal.
Kayla: "Janji, Kak."
Rafa Wijaya: "Selamat malam, Kay."
Kayla: "Selamat malam, Kak."
Aku meletakkan ponsel. Memejamkan mata.
Garis antara saudara dan bukan saudara sangat tipis. Tapi malam ini, kami berdua memilih untuk tidak melanggarnya.
Bukan karena kami tidak mau. Tapi karena kami tahu konsekuensinya.
Dan itu cukup untuk membuat kami bertahan.
Untuk hari ini.
Untuk besok.
Untuk selama-lamanya.
BAB X
Rafa, Kamu Jangan Buat Aku Jatuh Cinta Lagi
Aku tidak bisa tidur semalaman. Pesan Rafa terus berputar di kepalaku seperti rekaman yang rusak. Setiap kali aku memejamkan mata, aku membayangkan dia berdiri di dapur dengan tatapan itu. Tatapan yang membuatku ragu apakah dia benar-benar hanya melihatku sebagai adik.
Pagi datang dengan malas. Aku bangun dengan mata sembab dan kepala pusing. Vira sudah tidak ada di sampingku. Dari dapur, terdengar suara panci dan piring beradu.
"Kay, bangun! Sarapan sudah siap!" teriak Vira.
Aku mengucek mata. Berjalan gontai ke kamar mandi. Saat melewati ruang tamu, Rafa sudah duduk di sofa sambil memegang ponsel. Dia menatapku sekilas. Lalu kembali ke ponselnya.
Tidak ada senyum. Tidak ada sapaan. Hanya tatapan singkat yang terasa dingin.
Aku lega sekaligus sedih.
Di kamar mandi, aku menatap bayanganku di cermin. Wajah pucat. Mata sembab. Rambut kusut. Hari ini aku akan pergi ke percetakan dengan Rafa. Berdua. Tanpa Vira. Dan aku tidak tahu harus bersikap bagaimana.
"Kamu bisa, Kay," bisikku pada bayangan sendiri. "Kamu kuat."
Sarapan berlangsung dalam keheningan yang canggung. Vira sibuk dengan ponselnya, mungkin membaca pesan dari panitia pernikahan. Aku sibuk memotong pancake di piringku. Rafa sibuk menyesap kopi hitamnya tanpa berkata apa-apa.
"Kalian berangkat jam setengah sepuluh, ya," Vira memecah keheningan. "Percetakannya di daerah Kemang. Aku sudah kirim lokasinya ke Rafa."
"Iya, Kak," jawabku.
"Rafa, kamu jaga adik aku, ya. Jangan sampai kenapa-napa."
Rafa mengangguk. "Pasti."
Dua kata. "Pasti." Pendek. Tegas. Tanpa nada yang bisa diterka.
Vira mencium kening Rafa, lalu mencium keningku. "Kakak pergi dulu. Ada rapat. Hati-hati, kalian."
Begitu Vira keluar rumah, suasana berubah menjadi lebih hening. Aku dan Rafa duduk di meja makan berhadapan. Jarak kami hanya satu meter, tapi terasa seperti satu mil.
"Kamu sudah siap?" tanya Rafa akhirnya.
"Belum. Aku masih pakai baju rumah."
"Pakai baju yang rapi sedikit. Nanti kita foto-foto desain undangan buat contoh."
"Kenapa harus foto?"
"Buat Vira lihat. Dia minta dikirimi contoh."
"Oh."
Aku berdiri dan berjalan ke kamar. Di depan lemari, aku bingung harus memakai baju apa. Tidak terlalu kasual tapi tidak terlalu formal. Tidak terlalu cantik tapi tidak terlalu biasa.
Aku memilih kemeja putih lengan panjang dan rok jeans biru. Sederhana. Aman. Tidak mencolok.
Saat keluar kamar, Rafa sudah berdiri di dekat pintu. Dia memakai kemeja biru muda. Warna yang sama dengan kemeja yang dia pakai saat pertemuan pertama di kafe. Aku hampir tersenyum mengingatnya. Tapi aku tahan.
"Kita naik apa, Kak?" tanyaku.
"Mobil aku. Diparkir di halaman."
Aku mengikuti Rafa keluar. Dia membukakan pintu mobil untukku. Aku duduk di kursi depan. Dia masuk ke kursi pengemudi.
Sunyi. Lagi.
Rafa menyalakan mesin. Musik dari radio mengalir pelan. Lagu lama yang tidak terlalu aku kenal.
"Kay," Rafa memulai pembicaraan setelah mobil melaju.
"Ya."
"Aku minta maaf."
"Maaf kenapa?"
"Tentang tadi malam. Tentang pesan-pesan itu. Aku tidak seharusnya bilang begitu."
"Kakak bilang apa?"
"Bahwa aku nyaman. Bahwa aku deg-degan. Bahwa aku sulit tidur."
"Lalu kenapa kakak bilang begitu?"
"Karena itu jujur. Tapi kejujuran itu tidak pantas aku ucapkan."
Aku menatap jalanan di depan. Pikiran kacau.
"Kak Rafa, aku mau bertanya sesuatu."
"Tanya saja."
"Kakak... apa kakak punya perasaan lebih sama aku?"
Mobil terasa melambat. Rafa tidak menjawab. Tangannya di setir terlihat mengepal.
"Kenapa kamu bertanya itu?" balasnya.
"Karena aku perlu tahu. Supaya aku tahu harus bersikap bagaimana."
Rafa menarik napas panjang. "Kay, aku tidak tahu."
"Apa maksudnya tidak tahu?"
"Aku tidak tahu apa yang aku rasakan. Yang aku tahu, aku senang kalau ada kamu di dekatku. Aku senang kalau kamu tersenyum. Aku senang kalau kamu makan pancake buatan Vira. Aku senang kalau kamu marah-marah karena rebutan kamar mandi."
"Itu semua hal biasa, Kak. Itu yang dilakukan saudara."
"Tapi aku juga senang kalau kamu menatapku. Dan aku benci kalau kamu menghindari tatapanku."
Aku terdiam. Kalimat terakhir itu seperti duri.
"Kakak benci?"
"Iya. Kemarin, saat kamu bilang jangan dekat-dekat dengan kamu, rasanya... sesak."
"Kakak sesak?"
"Seperti ada yang hilang."
Aku menutup mata. Menarik napas dalam-dalam.
"Kak Rafa, tolong."
"Tolong apa?"
"Tolong jangan buat aku jatuh cinta lagi."
Rafa menoleh ke arahku. Wajahnya terkejut.
"Jatuh cinta lagi? Maksud kamu..."
"Aku sudah jatuh cinta sama kakak sejak tiga tahun lalu. Sejak kakak menolongku waktu aku jatuh di lorong kampus."
Rafa tidak berkata apa-apa. Mulutnya terbuka sedikit, lalu tertutup lagi. Matanya membelalak.
"Kamu... selama ini?"
"Iya. Tiga tahun, Kak. Tiga tahun aku diam-diam menyimpan perasaan ini. Tiga tahun aku melihat kakak dari kejauhan. Tiga tahun aku berharap suatu saat kakak akan melihat aku."
"Kay, aku tidak tahu..."
"Kakak tidak perlu tahu. Karena itu tidak akan mengubah apa pun. Kakak sudah memilih Vira. Dan Vira adalah kakakku. Aku tidak akan pernah merebut kebahagiaannya."
Rafa menepikan mobil ke pinggir jalan. Dia mematikan mesin. Sekarang kami berdua terduduk di dalam mobil yang sunyi. Hanya suara napas yang terdengar.
"Kenapa kamu cerita sekarang?" tanya Rafa pelan.
"Karena aku lelah. Aku lelah menyembunyikan. Aku lelah berpura-pura. Aku lelah tersenyum padahal hancur."
"Kay, maaf..."
"Kakak jangan minta maaf. Kakak tidak salah. Kakak tidak tahu. Dan kakak tidak berkewajiban membalas perasaan aku."
"Tapi aku..."
"Kakak tidak perlu bilang apa-apa. Cukup aku yang bicara. Dan setelah ini, kita lupakan semuanya. Kita kembali seperti biasa. Kakak calon suami Vira. Aku adik Vira."
Rafa menunduk. Tangan kirinya menggenggam setir dengan erat.
"Kay, aku tidak bisa melupakan begitu saja."
"Kakak harus."
"Aku tidak bisa."
"Kenapa?"
"Karena sekarang, setelah kamu cerita, aku jadi mengerti. Aku jadi mengapa aku merasa aneh setiap kali dekat dengan kamu."
"Merasa aneh kenapa?"
"Seperti ada benang merah. Seperti kita sudah lama kenal. Seperti... aku sudah menemukan sesuatu yang selama ini hilang."
Aku menatap Rafa. Matanya berkaca-kaca.
"Kak Rafa, jangan. Jangan bilang begitu."
"Ini jujur, Kay."
"Kejujuran kakak akan menghancurkan tiga orang sekaligus. Aku, kakak sendiri, dan Vira."
"Aku tahu."
"Kalau kakak tahu, kakak harus berhenti. Berhenti merasa aneh. Berhenti merasa ada benang merah. Berhenti mencari sesuatu yang hilang. Karena yang hilang itu tidak pernah ada."
Rafa menghela napas panjang. "Kamu keras kepala."
"Aku belajar dari Vira. Kakakku juga keras kepala."
Rafa tersenyum tipis. Tapi senyum itu tidak sampai ke matanya.
"Kay, janji satu hal."
"Apa?"
"Kalau suatu saat aku dan Vira menikah, kamu akan tetap menjadi adikku. Bukan adik ipar. Tapi adik sungguhan. Aku akan menjaga kamu seperti adik sendiri."
Aku tersenyum pahit. "Janji. Tapi dengan satu syarat."
"Syarat apa?"
"Kakak jangan pernah bilang kakak deg-degan lagi sama aku. Jangan pernah bilang kakak senang melihat aku. Jangan pernah bilang kakak sesak kalau aku pergi."
"Kenapa?"
"Karena itu akan membuat aku jatuh cinta lagi. Dan aku tidak mau jatuh cinta lagi sama kakak. Sekali saja sudah cukup sakit."
Rafa menatapku lama. Sekali lagi, tatapan yang berbicara lebih dari kata-kata.
Tapi kali ini, aku tidak membuang muka. Aku menatap balik. Untuk terakhir kalinya. Untuk mengucapkan selamat tinggal pada perasaan yang selama tiga tahun aku pendam.
"Baik," kata Rafa akhirnya. "Aku janji."
"Janji kakak pegang?"
"Janji aku pegang."
Rafa menyalakan mesin lagi. Mobil kembali melaju menuju percetakan.
Kami tidak berbicara sepanjang perjalanan. Radio masih menyanyikan lagu-lagu lama. Aku menatap jendela, melihat pepohonan dan gedung-gedung berlalu.
Di sudut mataku, aku melihat Rafa sesekali melirik ke arahku. Tapi dia tidak mengatakan apa pun.
Itu bagus.
Itu yang aku minta.
Tapi kenapa rasanya tetap sakit?
Di percetakan, kami berdua memilih desain undangan dengan profesional. Tidak ada obrolan santai. Tidak ada tawa. Hanya "ini bagus", "ini tidak", "Vira suka warna krem", "Vira tidak suka warna mencolok".
Kayla versi profesional. Rafa versi profesional.
Kami pulang dengan hati masing-masing yang berat.
Saat sampai di rumah, Vira belum pulang. Aku langsung masuk kamar dan membanting pintu. Rafa tidak mengejar. Tidak mengetuk pintu. Tidak mengirim pesan.
Aku membuka ponsel. Menatap chat dengan Rafa. Pesan terakhir masih semalam.
Aku ingin menghapus semuanya. Tapi tanganku tidak bergerak.
Mona menelepon.
"Kamu bagaimana, Kay?"
"Aku cerita semuanya ke Rafa."
"Cerita apa?"
"Perasaan aku. Selama tiga tahun."
Mona terdiam di ujung telepon. Lalu dia berkata, "Kamu gila."
"Aku tahu."
"Dia bicara apa?"
"Dia bilang dia merasa aneh. Dia bilang ada benang merah. Dia bilang dia menemukan sesuatu yang hilang."
"Gila. Cowok itu juga punya perasaan ke kamu?"
"Aku tidak tahu. Tapi aku minta dia berhenti. Aku minta dia menjaga jarak."
"Kamu kuat, Kay."
"Aku tidak kuat. Aku menangis sekarang."
"Ya sudah, menangislah. Aku tunggu sampai kamu selesai."
Aku menangis. Bukan isakan pelan. Tapi tangis yang keluar dari dalam perut. Tangis yang selama tiga tahun aku tahan. Tangis yang tidak pernah aku izinkan keluar.
Mona mendengarkan dari ujung telepon. Tidak bicara. Tidak memberi nasihat. Hanya mendengarkan.
Setelah tangisku reda, Mona berkata, "Sudah?"
"Sudah."
"Lega?"
"Sedikit."
"Bagus. Sekarang kamu mandi. Basuh muka. Dan ingat, kamu punya aku. Selalu."
"Makasih, Mon."
"Ya. Sekarang aku matikan. Aku mau makan. Kamu juga makan. Jangan malas."
Tut.
Aku meletakkan ponsel. Berjalan ke kamar mandi. Membuka keran air. Air dingin membasahi wajahku.
Di cermin, aku melihat perempuan dengan mata bengkak dan hati yang remuk.
"Selamat tinggal, Rafa," bisikku. "Selamat tinggal untuk perasaan yang tidak seharusnya ada."
Tapi apakah selamat tinggal itu sungguhan?
Atau hanya kata-kata yang aku ucapkan untuk menenangkan diri?
Aku tidak tahu.
Yang aku tahu, Rafa ada di kamar seberang. Hanya beberapa meter dari tempatku berdiri. Tapi rasanya seperti lautan yang tidak bisa aku seberangi.
Dan mungkin, selamanya akan seperti itu.
BAB XI
Saat Vira Mulai Curiga
Tiga hari setelah pengakuanku di dalam mobil, suasana di rumah berubah menjadi lebih dingin dari biasanya. Aku dan Rafa berbicara seperlunya. Tidak lebih. Tidak kurang. Hanya kata-kata yang dibutuhkan untuk urusan rumah tangga dan persiapan pernikahan.
"Kay, tolong ambilkan garam di dapur."
"Baik, Kak."
"Kay, kamu sudah makan?"
"Sudah."
"Kay, Vira bilang kamu ikut fitting baju besok."
"Iya."
Percakapan kami singkat. Formal. Tidak ada tawa. Tidak ada candaan. Tidak ada tatapan yang berbicara lebih dari kata-kata.
Rafa menepati janjinya. Dia menjaga jarak. Tepat seperti yang aku minta.
Dan aku? Aku seharusnya lega.
Tapi kenapa setiap malam aku menangis di kamar mandi?
Vira mulai menyadari ada yang tidak beres.
Suatu malam, saat kami sedang makan malam berdua tanpa Rafa yang sedang ada keperluan di luar, Vira menatapku dengan mata tajam.
"Kay, kamu dan Rafa kenapa?"
Aku pura-pura tidak mengerti. "Maksud Kakak?"
"Kalian dingin. Biasanya kalian ribut soal hal sepele. Sekarang? Kalian berdua seperti orang asing."
"Tidak, kok, Kak. Kami baik-baik saja."
"Jangan bohong. Kakak tahu ada sesuatu."
"Apa yang kakak tahu?"
"Kakak tidak tahu. Tapi kakak yakin ada."
Vira meletakkan sendoknya. Matanya menatapku tanpa berkedip.
"Kay, kakak tidak akan marah. Kakak cuma ingin tahu."
"Tahu apa?"
"Tahu kenapa kamu berubah. Kenapa Rafa juga berubah. Kenapa kalian berdua tidak bisa saling menatap seperti dulu."
Aku menunduk. Jari-jariku memainkan ujung serbet di meja.
"Kak, apakah kakak pernah punya rahasia yang tidak bisa kakak ceritakan ke siapa pun?"
Vira mengerjap. "Pernah."
"Rasanya bagaimana?"
"Menyiksa. Seperti ada beban di dada yang tidak bisa diangkat."
"Nah, sekarang aku juga mengalaminya."
"Rahasia itu tentang apa?"
Aku menggeleng. "Maaf, Kak. Aku belum bisa cerita."
"Belum bisa atau tidak mau?"
"Belum bisa. Mungkin suatu saat. Tapi tidak sekarang."
Vira terdiam. Dia meraih tanganku dan menggenggamnya.
"Kakak akan menunggu. Sampai kamu siap cerita."
"Makasih, Kak."
Tapi di dalam hati, aku tahu. Aku tidak akan pernah siap cerita. Karena rahasia itu terlalu berat. Dan kalau Vira tahu, dunia kami akan hancur.
Beberapa hari kemudian, Rafa pulang lebih cepat dari biasanya. Wajahnya tampak lelah. Dia langsung duduk di sofa tanpa bicara.
Vira menghampiri. "Kamu kenapa, Ra? Lelah?"
"Lelah sedikit. Rapat sama klien melelahkan."
"Mau kakak pijatkan?"
"Tidak usah. Kamu istirahat saja."
Vira duduk di samping Rafa. "Ra, aku mau bertanya sesuatu."
"Apa?"
"Kamu baik-baik saja, kan, dengan Kayla?"
Rafa mengerjap. "Maksudnya?"
"Kalian berdua belakangan ini... tidak akrab. Aku khawatir ada yang salah."
Rafa tersenyum tipis. "Tidak ada yang salah. Aku hanya sibuk. Kayla juga sibuk."
"Sibuk apa? Dia mahasiswi akuntansi yang tugasnya mengerjakan Excel mulu."
"Ya, itu. Sibuk."
Vira tidak puas dengan jawaban itu. Tapi dia tidak memaksa.
Aku yang mendengar percakapan mereka dari dapur, menghela napas lega. Rafa tidak cerita apa pun. Dia menyimpan rahasia kami dengan baik.
Tapi untuk berapa lama?
Suatu pagi, Vira bangun lebih pagi dari biasanya. Aku masih tidur pulas di sampingnya. Dia turun dari kasur pelan-pelan, lalu keluar kamar.
Aku terbangun karena suara pintu tertutup. Kepalaku masih berat. Aku memejamkan mata lagi.
Lima menit kemudian, aku mendengar suara Vira dan Rafa berbicara di ruang tamu. Suaranya pelan, tapi karena rumah kecil dan pagi masih sepi, aku bisa mendengar semuanya.
"Ra, aku bermimpi aneh semalam," suara Vira.
"Mimpi apa?"
"Aku bermimpi kamu sama Kayla duduk berdua di kafe. Seperti sedang berkencan begitu."
Keheningan. Lalu suara Rafa terdengar datar. "Itu cuma mimpi, Via."
"Aku tahu. Tapi kenapa rasanya nyata sekali?"
"Karena kamu terlalu banyak memikirkan pernikahan. Kamu stres. Makanya bermimpi aneh-aneh."
"Mungkin kamu benar."
"Sudah, jangan dipikirkan. Aku buatkan kopi dulu."
Aku mendengar langkah kaki Rafa menuju dapur. Aku segera memejamkan mata berpura-pura tidur.
Pintu kamar terbuka. Vira masuk.
"Kay, bangun. Kamu tidak mandi? Sudah siang."
Aku mengucek mata pura-pura. "Jam berapa, Kak?"
"Jam 8."
"Jam 8 namanya masih pagi, Kak. Bukan siang."
"Tapi kamu harus bangun. Hari ini kita fitting baju."
Aku duduk malas. "Iya, iya."
Vira duduk di sampingku. Matanya menatapku dengan ekspresi yang tidak bisa aku baca.
"Kay," panggilnya.
"Ya."
"Kakak sayang kamu."
Aku mengerjap. "Aku juga sayang kakak. Kok tiba-tiba?"
"Tidak. Cuma ingin bilang saja."
Vira tersenyum. Tapi senyumnya berbeda. Ada kegelisahan di balik bibir yang tersenyum itu.
Aku tahu. Vira mulai curiga.
Sore harinya, Mona datang ke rumah. Vira sedang tidak ada, pergi ke tempat pengantin untuk mencoba riasan. Rafa di kamarnya, mungkin bekerja.
Mona langsung menyeretku ke teras.
"Kay, aku dengar dari tetangga depan rumah pada bergosip."
"Gosip apa?"
"Mereka bilang kamu sekalian tinggal bertiga seperti pengantin baru plus adik. Tidak wajar katanya."
"Biarkan. Mereka tidak membayar listrik."
"Bukan itu masalahnya. Masalahnya, gosip itu bisa sampai ke telinga Vira."
"Vira bukan orang yang mendengarkan gosip."
"Tapi Vira bukan orang bodoh. Suatu saat dia akan sadar."
"Sadar apa?"
"Sadar kalau kamu punya perasaan sama Rafa."
Aku terdiam. Mona benar. Vira memang bukan orang bodoh.
"Kay, aku sarankan kamu segera mengambil keputusan."
"Keputusan apa?"
"Dua pilihan. Pertama, kamu jujur ke Vira. Kedua, kamu pergi dari rumah ini sementara waktu."
"Pergi ke mana?"
"Ke kost aku. Aku punya kamar kosong."
"Tapi Rafa cuma tinggal dua minggu lagi."
"Ya sudah. Kamu tahan dua minggu. Tapi kamu harus siap kalau Vira tahu sebelum dua minggu itu selesai."
Aku menghela napas. "Aku tidak bisa pergi. Nanti Vira curiga."
"Justru dengan kamu pergi, Vira tidak akan curiga."
"Logika kamu aneh, Mon."
"Logika aku sederhana. Ketika ada api, jangan tambahkan bensin. Jauhi apinya."
"Jadi aku apinya?"
"Kamu dan Rafa adalah apinya. Sementara Vira adalah bensinnya. Kalau kalian terus berdua-duaan, Vira akan meledak."
Aku menatap Mona. Sahabatku ini kadang bicara hal yang membuatku berpikir ulang.
"Baik. Aku pikir-pikir."
"Jangan terlalu lama. Aku khawatir."
Mona pulang sore itu. Aku masuk ke rumah dan melihat Rafa sedang duduk di ruang tamu sendirian. Matanya menatap layar laptop, tapi aku yakin dia tidak serius bekerja.
"Kak," sapaku.
Rafa menoleh. "Ya."
"Mona tadi cerita kalau tetangga sudah mulai bergosip."
Rafa menghela napas. "Aku tahu. Vira juga cerita."
"Vira tahu?"
"Dia bilang tadi pagi. Tapi dia anggap angin lalu."
"Kita harus bagaimana?"
"Aku akan cepat-cepat menyelesaikan renovasi rumah. Seminggu lagi aku pindah."
"Seminggu?"
"Iya. Orang tuaku sudah pesan. Renovasi hampir selesai."
Aku mengangguk. Lega sekaligus sedih.
"Bagus kalau begitu," kataku.
Rafa menatapku. "Kamu lega?"
"Lega."
"Jujur?"
"Jujur."
Tapi Rafa tahu aku berbohong. Matanya bisa membaca kebohonganku dengan mudah.
"Kay, seminggu lagi aku pergi. Setelah itu, kita mungkin jarang bertemu. Hanya acara-acara keluarga."
"Iya."
"Jadi, sebelum aku pergi, ada yang ingin aku katakan."
Aku menegang. "Apa?"
Rafa berdiri. Dia berjalan mendekat. Jarak kami kini hanya setengah meter.
"Kay, aku sayang sama Vira. Itu tidak berubah. Tapi aku juga..."
Rafa berhenti. Kata-katanya tercekat.
"Tapi kakak juga apa?"
Rafa menggeleng. "Tidak. Lupakan."
Dia berbalik dan masuk ke kamarnya. Meninggalkan aku berdiri di ruang tamu dengan jantung berdebar kencang.
Tapi kakak juga apa?
Aku bergidik membayangkan kemungkinan yang tidak boleh aku pikirkan.
Malam harinya, Vira pulang dengan wajah cemberut.
"Kak, kenapa?" tanyaku.
"Tata riasnya tidak cocok. Bibirnya terlalu merah. Kakak bilang mau warna nude, eh dikasih warna merah menyala."
"Ganti saja, Kak."
"Sudah. Besok coba lagi."
Vira duduk di sofa. Rafa menghampiri lalu duduk di sampingnya.
"Kamu cantik apa pun warna bibirnya," kata Rafa.
Vira tersenyum. "Kamu gombal."
"Fakta."
Vira memeluk Rafa. "Ra, aku beruntung punya kamu."
Rafa membalas pelukan. "Aku juga beruntung punya kamu."
Aku menonton dari kejauhan. Lagi-lagi perih.
Tapi kali ini, aku tidak menangis. Aku sudah terlalu sering menangis.
Aku tersenyum. Lalu berjalan ke dapur untuk mencuci piring. Meskipun piring sudah bersih.
"Kay, kamu mau ikut menonton TV?" tanya Vira.
"Tidak, Kak. Aku lelah."
"Ya sudah. Selamat tidur."
"Selamat tidur."
Aku masuk kamar. Menutup pintu. Bersandar di baliknya.
Ponsel bergetar. Bukan Mona. Bukan Vira.
Rafa.
Rafa Wijaya: "Kay, maaf soal tadi sore. Aku tidak seharusnya bicara setengah-setengah."
Kayla: "Apa yang kakak mau katakan?"
Rafa Wijaya: "Tidak penting. Lupakan saja."
Kayla: "Kakak tidak bisa begitu. Kakak sudah membuatku penasaran."
Rafa Wijaya: "Penasaran itu tidak baik."
Kayla: "Tapi kejujuran itu lebih baik."
Rafa terdiam lama. Aku menunggu dengan jantung berdebar.
Akhirnya pesan itu datang.
Rafa Wijaya: "Kay, aku juga sayang kamu. Tapi sebagai adik. Jangan salah paham."
Aku tersenyum pahit membaca pesan itu. Sebagai adik. Lagi-lagi sebagai adik.
Kayla: "Aku tahu. Kakak tidak perlu mengulanginya."
Rafa Wijaya: "Maaf."
Kayla: "Tidak ada yang perlu dimaafkan. Selamat malam, Kak."
Rafa Wijaya: "Selamat malam, Kay."
Aku meletakkan ponsel. Air mata yang kutahan akhirnya jatuh juga.
Sebagai adik. Selamanya sebagai adik.
Padahal aku lelah menjadi adik.
Tapi apa daya. Cinta tidak selalu berpihak pada yang paling berharap.
Dan aku? Aku hanya perempuan yang jatuh cinta pada pria yang salah.
Untuk kesekian kalinya.
BAB XII
Jatuh Bangun Menjaga Rahasia
Seminggu terasa seperti setahun. Setiap hari adalah medan perang. Bukan perang dengan senjata, tapi perang dengan kebohongan yang terus menumpuk. Setiap senyum yang aku tunjukkan pada Vira adalah kebohongan. Setiap "aku baik-baik saja" yang aku ucapkan adalah kebohongan.
Dan yang paling berat, aku harus berbohong pada diriku sendiri.
Setiap pagi, aku berdiri di depan cermin kamar mandi. Wajahku pucat, mata sedikit sembab. Aku berkata pada bayanganku sendiri, "Kamu tidak mencintai Rafa. Kamu hanya kagum. Kamu hanya kesepian."
Tapi hati tidak pernah mau mendengarkan akal sehat.
Hari ini, Vira mengajakku ke mal. Rafa sedang ada urusan di kantornya. Jadi hanya kami berdua. Aku lega. Setidaknya untuk beberapa jam, aku tidak perlu membagi perhatian antara menjaga rahasia dan menjaga perasaan.
Mal itu ramai seperti biasa. Es krim di tangan Vira mulai meleleh, menetes di punggung tangannya. Dia menyeka dengan tisu sambil terus berjalan.
"Kay, kamu kok diam saja?" tanya Vira sambil memegang beberapa kantong belanjaan.
"Lelah, Kak."
"Baru satu jam kita berjalan. Biasanya kamu kuat tiga jam."
"Tua, kali, Kak."
Vira tertawa. "Kamu ini mulut manis."
"Fakta."
Kami masuk ke toko baju. Vira sibuk memilih-milih kemeja untuk Rafa. Aku berdiri di sampingnya, sesekali memberikan pendapat.
Di belakangku, seorang ibu dengan dua anak kecil berlarian. Aku hampir tersenggol, tapi Vira menarik tanganku tepat waktu.
"Warna biru atau putih, Kay?" tanya Vira sambil mengangkat dua kemeja.
"Biru. Kakak suka melihat Rafa pakai biru."
Vira mengangkat alis. "Kamu juga perhatian sama warna kesukaan Rafa?"
Aku tersentak. "Tidak. Aku cuma sering melihat dia pakai biru."
"Oh." Vira tersenyum. "Iya. Biru memang warna favoritnya."
Aku lega Vira tidak menggali lebih dalam. Tapi jantungku masih berdebar cepat.
Di toko sepatu, Vira tiba-tiba bertanya, "Kay, dulu kan kamu pernah cerita suka sama seseorang di kampus. Itu siapa?"
Vira ingat. Dia ingat ceritaku bertahun-tahun lalu. Aku menunduk, memegang ujung dompetku yang mulai pudar warnanya.
"Dulu, Kak. Sekarang sudah tidak."
"Kenapa tidak dilanjutkan?"
"Orangnya sudah punya pacar."
Vira menepuk pundakku. "Nanti kakak carikan yang lebih baik."
Aku tersenyum pahit. Tidak ada yang lebih baik, Kak. Karena yang terbaik sudah kakak ambil.
Kami pulang sore hari. Rafa sudah ada di rumah. Dia sedang memasak sop iga di dapur. Aroma rempah-rempah terasa sejak dari pintu masuk. Aku suka sop iga, tapi hari ini baunya membuatku mual.
Vira langsung menghampiri Rafa dan mencium pipinya.
"Wah, kamu hebat."
"Aku belajar dari YouTube."
Vira tertawa. Aku ikut tertawa kecil. Tapi tawaku sumbang.
Malam harinya, kami makan malam bertiga. Vira bercerita tentang belanja tadi. Rafa mendengarkan dengan saksama. Aku hanya diam, sesekali mengangguk.
"Kay, kamu besok ikut kakak ke kondangan, yuk," ajak Vira tiba-tiba.
"Kondangan siapa, Kak?"
"Teman kuliah kakak. Kita bertiga saja."
Aku menelan ludah. "Baik, Kak."
Rafa menatapku sekilas. Lalu kembali ke makanannya. Tatapan itu hanya sekilas, tapi cukup untuk membuat jantungku berdebar tidak karuan.
Aku benci diri sendiri karena masih merasakan hal itu.
Di kondangan, seorang teman Vira bernama Nina menghampiri. Rambut Nina diikat tinggi, anting-antingnya bergantungan besar. Dia tersenyum lebar ke arahku.
"Via, ini adikmu? Cantik sekali!"
"Halo, Kayla. Kamu sudah punya pacar?"
Aku menggeleng. "Belum."
"Wah, sayang. Aku punya teman ganteng, ingin kukenalkan."
Vira menyela. "Jangan dulu, Na. Adikku masih fokus kuliah."
"Ya ampun, Via. Kamu itu overprotektif sekali."
"Ya iyalah. Dia satu-satunya."
Nina tertawa lalu pergi. Vira menatapku. "Kakak serius, Kay. Jangan terburu-buru mencari pacar."
"Kak, aku tidak mencari pacar."
"Bagus."
Dari samping, Rafa hanya diam. Tapi aku bisa merasakan matanya sesekali menatapku.
Pulang dari kondangan, Vira kelelahan dan langsung tidur. Aku dan Rafa masih terjaga. Aku di ruang tamu, Rafa di dapur.
Lampu ruang tamu hanya satu yang menyala. Sisanya mati. Bayangan kami di dinding bergerak pelan setiap kali angin malam menerpa jendela.
"Kay, mau minum?" tawarnya.
"Air putih saja, Kak."
Rafa datang dengan dua gelas air. Dia duduk di kursi seberangku.
"Kamu tadi ditawari teman cowok," katanya.
"Iya. Tapi aku tidak minat."
"Kenapa?"
"Karena aku belum siap."
Rafa mengangguk. "Bagus."
"Bagus kenapa?"
Rafa terdiam. Lalu berkata, "Karena kamu harus fokus kuliah dulu."
Kedengarannya seperti alasan seorang kakak. Tapi kenapa nada bicaranya terdengar seperti orang yang lega?
"Kak Rafa, aku mau bertanya sesuatu dan kakak harus jujur."
"Tanya."
"Apakah kakak cemburu tadi?"
Rafa hampir tersedak. "Cemburu? Tidak."
"Kakak yakin?"
"Yakin."
"Tapi mata kakak bilang lain."
Rafa menghela napas. "Kay, lebih baik mata itu berbohong daripada mulut ini mengucapkan sesuatu yang tidak seharusnya."
"Kak, seminggu lagi kakak pindah."
"Iya."
"Setelah itu, kita mungkin tidak akan sering mengobrol seperti ini."
Aku menatap gelas di tanganku. Airnya sudah setengah habis. Aku tidak ingat kapan aku meminumnya.
"Iya."
"Aku akan merindukan ini."
Rafa menatapku. "Merindukan apa?"
"Merindukan kebersamaan kita. Ngobrol tengah malam. Rebutan kamar mandi."
"Itu semua berarti, Kay. Setidaknya buat aku."
"Jadi kakak juga akan merindukanku?"
Rafa tidak menjawab. Dia hanya menunduk, memainkan gelas di tangannya. Aku bisa melihat urat-urat di tangannya menegang.
"Kay, jangan tanyakan hal yang jawabannya akan menyakitkan kita berdua."
"Maksudnya?"
"Maksudnya, aku akan merindukanmu. Tapi aku tidak boleh mengatakan itu."
Udara terasa panas. Aku menggenggam gelas di tanganku erat-erat. Dingin air merembes ke telapak tanganku.
"Kak Rafa, kakak tahu kan kalau aku akan baik-baik saja?"
"Apakah kamu benar-benar akan baik-baik saja?"
Tidak, batinku. Tapi aku tidak bisa bilang itu.
"Aku akan memastikannya."
Rafa tersenyum tipis. "Kamu keras kepala."
"Aku belajar dari Vira."
"Kay, janji satu hal lagi."
"Apa?"
"Kalau suatu saat kamu jatuh cinta lagi, jangan sembunyikan. Kejar. Karena kamu pantas bahagia."
Aku menatap Rafa. Di sudut ruang tamu yang remang, matanya tampak lebih teduh dari biasanya.
"Janji, Kak. Tapi dengan satu syarat. Kakak juga harus bahagia. Dengan Vira."
"Aku akan bahagia."
"Janji?"
"Janji."
"Selamat malam, Kak."
"Selamat malam, Kay."
Aku masuk kamar. Vira masih tidur pulas. Aku membaringkan tubuh di sampingnya.
"Kay," bisik Vira setengah sadar.
"Ya, Kak?"
"Kakak sayang kamu."
"Aku juga sayang kakak."
"Jangan pernah tinggalkan kakak."
Aku menatap wajah Vira dalam gelap. Bekas lelah masih terlihat di wajahnya, bahkan saat tidur.
"Aku tidak akan pernah."
Vira tersenyum dalam tidurnya. Aku memeluknya dari samping.
Besoknya, Mona datang membawa cokelat dan es krim. Wajahnya cerah, tapi matanya menyelidik.
"Kamu kelihatan kurus, Kay."
"Tidak kurus."
"Berat badan kamu turun. Mata aku jeli."
Vira dari dapur berseru, "Mona, makan siang bareng, ya!"
"Boleh, Mbak Vira!"
Mona menarikku ke kamar. Begitu pintu tertutup, wajahnya berubah serius.
"Cerita soal seminggu terakhir. Jangan bohong."
Aku menceritakan semuanya. Tentang kondangan. Tentang obrolan tengah malam. Tentang tatapan Rafa. Tentang bagaimana setiap malam aku berguling di kasur, mendengarkan suara di kamar sebelah.
Mona mendengarkan dengan saksama. Sesekali dia mengangguk. Sesekali dia menggeleng.
"Kay, kamu hebat masih bisa bertahan."
"Aku tidak sekuat itu, Mon."
"Kamu lebih kuat dari yang kamu kira."
"Vira curiga, Mon. Dia mulai bertanya-tanya."
"Kamu harus siap kalau suatu saat dia tahu."
Aku menunduk. Jari-jariku memainkan ujung baju.
"Aku tidak siap."
Mona memegang tanganku. Tangannya hangat, berbeda dengan dinginnya perasaan di dadaku.
"Aku akan selalu di samping kamu, apa pun yang terjadi. Ingat itu."
"Makasih, Mon."
"Ya. Sekarang makan es krim. Kamu butuh gula."
Sore harinya, Rafa pamit sebentar ke rumah orang tuanya. Renovasi rumahnya hampir selesai.
"Besok aku balik," katanya pada Vira.
"Hati-hati di jalan."
Rafa menatapku sekilas. "Kay, jaga kakak kamu."
"Pasti, Kak."
Rafa pergi. Rumah terasa lebih sepi. Bahkan suara kulkas berdengung terdengar lebih keras dari biasanya.
Vira duduk di sofa. Menepuk tempat di sampingnya.
"Kay, sini. Kakak ingin mengobrol."
Aku duduk di samping Vira. Jantungku berdebar. Aku bisa merasakan setiap detaknya di dadaku.
"Kay, kakak tahu kamu dan Rafa ada sesuatu."
Aku tersentak. "Apa?"
"Jangan bohong. Kakak sudah tahu dari beberapa hari yang lalu."
"Kak, tidak ada—"
"Kay, kakak tidak akan marah. Kakak hanya ingin tahu. Apa yang sebenarnya terjadi antara kamu dan Rafa?"
Aku terdiam. Vira menatapku dengan mata teduh tapi tegas. Tidak ada kemarahan di sana. Hanya kegelisahan.
Ini dia. Saat yang aku takutkan. Saat di mana semua kebohongan akan berakhir.
Aku menarik napas panjang.
"Kak..."
Vira menggenggam tanganku. "Cerita, Kay. Kakak siap mendengar apa pun."
Air mataku mulai menggenang. Tapi aku tidak ingin menangis. Bukan sekarang.
"Kak, maafkan aku. Karena selama ini aku tidak jujur."
"Cerita, Kay."
"Kak, aku..."
Pintu rumah terbuka.
"Via! Kay! Aku lupa bawa power bank!" suara Rafa dari depan.
Vira menoleh ke pintu. Aku lega setengah mati.
Tapi aku tahu. Ini hanya penundaan.
Suatu saat, Vira akan tahu.
BAB XIII
Pengakuan di Bawah Cahaya Lampu
Rafa masuk dengan wajah cerah. Dia tersenyum melihat Vira dan aku duduk berdua di sofa.
Dia tidak tahu bahwa beberapa saat yang lalu, aku hampir membongkar segalanya.
"Ada apa, kalian? Serius sekali," sapanya sambil melepas jaket.
Vira berdiri. Terlalu cepat. "Tidak apa-apa. Lagi mengobrol santai."
"Tentang apa?"
"Tentang masa depan." Vira menatapku sekilas. Tatapan itu berkata: "Ini belum selesai. Tapi tidak sekarang."
Aku menghela napas lega.
Rafa duduk di kursi sebelah sofa. "Masa depan apa? Pernikahan?"
"Iya. Dan juga masa depan Kayla setelah lulus."
"Oh. Kayla mau kerja di mana?"
Aku menjawab kaku. "Belum tahu. Masih bingung."
"Kamu bisa kerja di tempatku. Perusahaan konsultan butuh akuntan."
Vira mengangkat alis. "Serius?"
"Bisa. Kayla kan adik calon istriku. Prioritas."
Prioritas. Kata itu terdengar manis sekaligus pahit.
"Makasih, Kak. Aku pikir-pikir dulu."
Vira tersenyum. Tapi senyumnya tidak sampai ke mata. "Kamu baik sekali, Ra."
"Biasa."
Rafa berdiri. "Aku ke kamar dulu, ya. Mau ganti baju."
Begitu pintu kamarnya tertutup, Vira kembali menatapku. Matanya tajam.
"Kay, kita lanjut nanti malam. Setelah Rafa tidur."
"Kak, apa tidak bisa kita lupakan saja?"
"Tidak. Kakak perlu tahu."
Malam tiba.
Rafa tidur lebih awal. Vira menunggu sampai dengkurannya yang halus terdengar teratur dari balik pintu.
Jam menunjukkan pukul sebelas malam. Vira masuk ke kamar dengan dua gelas susu hangat.
"Minum dulu. Biar tenang."
Aku menerima gelas itu. Susu hangat terasa pahit di lidahku.
Vira duduk di sampingku. Kasur yang sama. Jarak yang sama. Tapi rasanya seperti kami duduk di tepi jurang.
"Sekarang cerita. Dari awal."
"Kak, apa tidak bisa—"
"Kay." Vira memotongku. "Kakak tidak akan marah. Kakak hanya ingin tahu."
Aku menunduk. Jari-jariku menggenggam gelas dengan erat.
"Kak, ingat waktu aku cerita kalau aku suka seseorang di kampus?"
Vira mengangguk. "Ingat."
"Orang itu adalah Rafa."
Sunyi.
Vira terdiam. Wajahnya berubah dari bingung menjadi terkejut. Lalu hancur.
"Rafa? Calon suamiku?"
Aku mengangguk pelan. "Maaf, Kak."
"Sejak kapan?"
"Sejak tiga tahun lalu. Sejak dia menolongku di lorong kampus."
Vira meletakkan gelasnya di nakas. Tangannya gemetar.
"Jadi selama ini... selama aku berpacaran dengan Rafa... kamu diam-diam menyimpan perasaan itu?"
"Iya, Kak."
"Dan ketika aku bilang aku akan menikah dengan Rafa... kamu tetap diam?"
"Iya, Kak."
Vira berdiri. Perlahan. Seperti orang yang baru saja ditusuk dari belakang.
Dia berjalan ke jendela. Memunggungiku. Punggungnya naik turun. Dia menahan tangis.
"Kak, aku tahu aku salah. Aku seharusnya cerita dari awal. Tapi aku takut kakak marah. Takut kakak kecewa. Takut kehilangan kakak."
"Jadi kamu memilih diam dan menyiksa diri sendiri?" Vira berbalik. Matanya merah.
"Aku memilih diam karena kakak berhak bahagia. Kakak sudah berkorban banyak untuk aku."
"Tapi dengan kamu diam, kamu pikir kakak bahagia?"
"Kakak bahagia, kan, dengan Rafa?"
Vira tidak menjawab.
"Kakak?"
Vira menatapku lama. Lalu berkata pelan, "Kakak bahagia dengan Rafa. Tapi kakak tidak akan pernah bahagia kalau tahu adik sendiri menderita."
"Aku tidak menderita, Kak."
"Bohong."
Vira mendekat. "Kakak lihat matamu, Kay. Sembab setiap pagi. Kamu kurus. Kamu diam. Kamu tidak seperti Kayla yang dulu."
"Kayla yang dulu tidak pernah menyembunyikan apa pun dari kakak."
Aku terdiam.
"Kay, kakak marah."
"Kak..."
"Kakak marah karena kamu tidak cerita. Karena kamu memendam sendiri. Karena kamu pikir kakak tidak akan mengerti."
"Aku tidak berpikir begitu, Kak. Aku hanya takut kalau-kalau kakak memilih aku dibanding Rafa. Aku tidak mau menjadi alasan kakak kehilangan cinta."
Vira mendekat. Satu langkah. Kini dia berdiri tepat di hadapanku.
"Dengar, Kay. Kakak tidak pernah menganggap kamu beban. Sejak orang tua kita meninggal, kamu adalah satu-satunya alasan kakak tetap bertahan."
"Kak..."
"Jadi jangan pernah, sekali pun, berpikir bahwa kamu adalah beban." Vira menggenggam kedua tanganku. "Kamu adalah segalanya buat kakak."
Air mataku jatuh.
"Aku minta maaf, Kak."
"Sudah. Jangan menangis."
"Tapi aku sudah menyakiti kakak."
"Kakak tidak sakit." Vira memelukku. "Kakak hanya kecewa. Karena kamu tidak percaya pada kakak."
"Aku percaya, Kak. Aku hanya takut."
Vira melepaskan pelukan. Dia menyeka air mataku dengan ibu jarinya.
"Kay, kakak tidak akan pernah memilih antara kamu dan Rafa. Karena kalian berdua adalah orang yang kakak cintai dengan cara yang berbeda."
"Kakak tidak akan membatalkan pernikahan?"
Vira menggeleng. "Tidak. Karena kakak yakin Rafa adalah orang yang tepat untuk kakak."
"Tapi kakak juga tidak akan membenci kamu. Karena kamu adalah adik kakak. Satu-satunya keluarga yang kakak punya."
"Kakak benar-benar tidak marah?"
Vira menghela napas. "Kakak kecewa. Tapi tidak marah."
"Apa bedanya?"
"Kecewa bisa hilang dengan waktu. Marah butuh pelukan."
Vira membuka tangannya. Aku tersenyum — meskipun air mata masih mengalir — lalu memeluknya.
"Maafkan kakak, Kay," bisik Vira di telingaku.
"Kakak minta maaf kenapa?"
"Karena kakak tidak sadar. Karena kakak terlalu asyik dengan kebahagiaan sendiri sampai tidak melihat adik sendiri menderita."
"Ini bukan salah kakak."
"Tidak ada yang salah." Vira melepaskan pelukan. "Yang ada hanya cinta yang tidak tepat waktu."
Pagi harinya.
Vira memasak pancake. Tiga tumpuk. Dengan madu yang meleleh di pinggirnya.
Aku turun dari kamar dengan mata masih sembab. Rafa sudah duduk di meja makan.
"Kamu menangis lagi?" tanyanya.
"Tidak. Cuma alergi."
"Alergi apa?"
Aku menatap Vira. Vira mengerjap — memberi kode.
"Alergi debu," jawabku.
Vira tertawa dari dapur. "Kay, kamu ini lucu."
"Kakak yang bilang aku harus menjadi diri sendiri."
Vira membawa pancake ke meja. Rafa menyicipinya.
"Enak, Via. Kamu hebat."
"Biasa. Resep dari YouTube."
Vira duduk di samping Rafa. Aku duduk di seberang mereka. Posisi yang sama seperti dulu. Tapi segalanya terasa berbeda.
"Kay, sore ini kakak dan Rafa mau ke tempat undangan. Kamu ikut?"
Aku menatap Vira. Matanya bertanya: "Kamu bisa?"
"Mau," jawabku.
"Bagus. Kita bertiga lagi."
Vira tersenyum padaku. Senyum yang tulus.
"Makasih, Kak."
"Makasih apa?"
"Makasih untuk semuanya."
Rafa menatap kami bergantian, bingung.
"Ada apa sebenarnya? Kalian berdua aneh."
Vira mencolek hidung Rafa. "Tidak ada yang aneh. Kami hanya sedang berdamai dengan masa lalu."
"Masa lalu?"
"Iya. Masa lalu yang tidak perlu kamu tahu."
Rafa tertawa. Vira tertawa. Aku ikut tertawa.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tertawa dengan tulus.
Bukan karena aku sudah melupakan Rafa. Bukan karena perasaanku sudah hilang. Tapi karena aku tidak sendiri lagi. Vira ada di sampingku. Dia tahu segalanya — dan dia tetap bertahan.
Dan itu lebih dari cukup.
BAB XIV
Hidup Berdampingan dengan Luka
Mengakui segalanya pada Vira ternyata tidak serta merta membuat hidupku lebih mudah. Aku masih bangun setiap pagi dengan berat hati. Aku masih harus melihat Rafa di meja makan. Aku masih harus mendengar suaranya, melihat senyumnya, dan merasakan degup jantungku yang tidak pernah menurut.
Tapi ada yang berubah.
Vira sekarang tahu. Dan dia menjadi sekutuku. Bukan untuk merebut Rafa, tapi untuk membantu aku melepaskannya.
"Kay, kamu sudah mandi? Aku mau pakai kamar mandi dulu," teriak Vira dari luar pintu.
"Sebentar, Kak. Baru selesai."
Aku keluar dengan handuk melilit di rambut. Vira berdiri di depan pintu dengan tangan di pinggang. Matanya menyapu wajahku dari ujung rambut hingga dagu, seperti mencari tanda-tanda kelelahan yang tidak kusadari.
"Kamu lama sekali. Biasanya cepat."
"Tadi keramas."
"Keramas jam segini? Baru jam 7 pagi."
"Ya, memang jam segitu biasanya orang keramas."
Vira menggeleng. "Aneh. Tapi sudahlah. Cepat ganti baju. Sarapan sudah siap."
Di meja makan, Rafa sudah duduk dengan ponsel di tangannya. Hari ini dia memakai kaus polos berwarna abu-abu tua. Rambutnya masih sedikit basah, baru keramas. Wangi sabun mandinya terasa hingga ke kursiku.
Dia menatapku sekilas, lalu kembali ke ponselnya.
"Pagi, Kak," sapaku.
"Pagi."
Pendek. Tidak ada senyum. Tidak ada basa-basi. Tepat seperti yang aku minta.
Vira datang membawa nampan berisi nasi goreng dan telur ceplok. Aroma bawang goreng menyebar ke seluruh ruangan.
"Makan. Biar kenyang."
"Makasih, Kak."
Kami makan dalam keheningan yang canggung. Vira memecahnya dengan pertanyaan biasa.
"Kay, hari ini kamu ada jadwal?"
"Tidak, Kak. Lagi libur."
"Ya sudah. Bantu kakak membersihkan rumah. Beberapa hari ini kakak sibuk, rumah jadi berantakan."
"Beres, Kak."
"Aku juga bantu," kata Rafa.
Vira menggeleng cepat. Terlalu cepat. "Tidak usah, Ra. Kamu kan kerja."
"Kerjaanku dari rumah. Aku bisa sambil membantu."
"Aku bilang tidak usah."
Nada bicara Vira sedikit tegas. Aku tahu kenapa. Dia tidak ingin aku dan Rafa terlalu sering berdua. Apalagi di rumah yang sunyi, tanpa pengawasan.
Rafa mengangkat alis. "Kenapa kamu menolak?"
"Karena kamu tamu."
"Aku bukan tamu. Aku calon suami."
"Ya. Tapi tetap tidak perlu membantu membersihkan rumah."
Aku menunduk, pura-pura sibuk dengan nasi goreng di piringku. Di balik poni yang menutupi wajahku, aku menggigit bibir.
"Baik, kalau kamu memaksa," kata Rafa akhirnya.
"Iya. Aku memaksa."
Vira tersenyum. Senyum yang kaku. Aku tahu dia berusaha.
Setelah sarapan, Vira dan aku membersihkan rumah. Vira menyapu, aku mengepel. Rafa di kamarnya bekerja.
Sunyi. Hanya suara sapu di lantai dan gesekan kain pel yang terdengar.
"Kay," panggil Vira pelan.
"Ya, Kak."
"Kamu kuat? Maksudku, kamu kuat terus tinggal serumah dengan Rafa?"
Aku berhenti mengepel. Tanganku memegang gagang pel terlalu erat. "Kakak, ini sudah hari ke sekian. Aku sudah terbiasa."
"Terbiasa atau terpaksa?"
"Terbiasa karena terpaksa."
Vira menghela napas. Matanya menatapku dengan iba. "Dua minggu lagi Rafa pindah."
"Aku tahu, Kak."
"Kamu tahan, ya, sampai saat itu."
Aku menatap Vira. Wajahnya lelah. Bukan lelah fisik, tapi lelah menjaga semuanya agar tidak hancur.
"Aku akan tahan, Kak. Janji."
Vira mengangguk. Dia kembali menyapu dengan gerakan yang lebih cepat, lebih kasar. Mungkin dia marah. Mungkin pada dirinya sendiri.
"Kay."
"Ya, Kak."
"Kakak kadang merasa bersalah."
Aku mengerjap. "Bersalah kenapa?"
"Karena Rafa. Karena kakak yang pertama kali kenal dia. Karena kakak yang menjadikan dia calon suami. Tanpa kakak sadari, kakak sudah mengambil sesuatu yang sebenarnya kamu incar lebih dulu."
Aku meletakkan pel. Aku menatap Vira lurus ke matanya. "Kak, tidak ada yang perlu disalahkan. Cinta bukan soal siapa lebih dulu."
"Tapi kalau kakak tahu dari awal, mungkin kakak tidak akan pernah berpacaran dengan dia."
"Dan kakak akan kehilangan kesempatan untuk bahagia. Aku tidak mau itu."
Vira terdiam. Matanya berkaca-kaca. Aku bisa melihat pergelutan di sana. Antara rasa bersalah dan rasa cinta.
"Kamu baik sekali, Kay."
"Aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan. Kakak sudah melakukan banyak hal untuk aku. Sekarang giliran aku yang melakukan sesuatu untuk kakak."
Vira meletakkan sapu. Dia memelukku erat. Aku bisa merasakan dadanya naik turun, menahan tangis.
"Makasih, Kay. Makasih."
"Ya, Kak. Sudah. Jangan menangis. Nanti Rafa keluar dan bertanya-tanya."
Vira tertawa kecil. Suaranya patah. Dia melepaskan pelukan dan menyeka matanya dengan punggung tangan.
"Kakak kuat."
"Pasti."
Rumah menjadi rapi dalam waktu dua jam. Vira puas. Tapi matanya masih sayu.
Rafa keluar dari kamarnya. Dia melihat sekeliling. "Wah, rumah jadi rapi. Kay, kamu hebat."
"Kakak Vira juga hebat. Dia yang menyapu."
"Sama-sama hebat."
Vira menarik tangan Rafa. "Ra, kita ke luar, yuk. Belanja keperluan dapur."
"Sekarang?"
"Iya. Kay, kamu ikut?"
Aku menggeleng. "Tidak, Kak. Aku mau istirahat. Lelah."
"Ya sudah. Kamu di rumah saja. Jangan buka pintu untuk orang asing."
"Iya, Kak."
Vira dan Rafa pergi. Rumah menjadi sunyi. Terlalu sunyi. Aku bisa mendengar detak jam dinding dari ruang tamu. Aku bisa mendengar napasku sendiri yang terasa berat.
Aku duduk di sofa, memeluk bantal. Bantal itu masih menyisakan wangi Vira. Aku menatap langit-langit, tapi mataku kosong.
Luka. Rasanya masih segar. Seperti baru saja diiris pisau tajam. Setiap kali aku melihat Rafa, setiap kali aku mendengar suaranya, setiap kali aku mencium wangi parfumnya, luka itu terbuka lagi.
Tapi sekarang, ada yang berbeda. Luka itu tidak lagi membuatku ingin menangis. Hanya membuatku lelah.
Vira bilang waktu akan menyembuhkan. Tapi berapa lama? Berapa lama aku harus hidup berdampingan dengan luka ini?
Ponselku bergetar. Mona.
Mona: "Bagaimana kabar kamu, Kay?"
Kayla: "Vira sudah tahu."
Mona: "APA? SERIUS? KAMU CERITA?"
Kayla: "Cerita semalam."
Mona: "TERUS DIA BICARA APA?"
Kayla: "Dia kecewa. Tapi tidak marah."
Mona: "Gila. Vira itu malaikat, Kay."
Kayla: "Iya. Kakak aku baik sekali."
Mona: "Terus sekarang bagaimana?"
Kayla: "Aku masih tinggal serumah sama mereka. Rafa masih di sini dua minggu lagi."
Mona: "Kamu kuat?"
Kayla: "Tidak tahu."
Mona: "Kamu harus kuat. Aku yakin kamu bisa."
Kayla: "Makasih, Mon."
Mona: "Aku datang nanti sore, ya. Bawa cokelat."
Kayla: "Bawa saja."
Aku meletakkan ponsel. Memejamkan mata.
Luka ini akan sembuh. Suatu saat. Mungkin tidak hari ini. Mungkin tidak besok. Tapi suatu saat.
Aku harus percaya itu.
Sore harinya, Mona datang dengan satu keranjang kecil berisi cokelat dan camilan. Wajahnya cerah, tapi matanya menyelidik.
"Kamu seperti mau memberi makan orang kelaparan saja, Mon," kataku sambil membuka pintu.
"Ya iyalah. Kamu kan sekarang lagi kelaparan hati. Makanan bisa mengisi sedikit."
"Logika kamu aneh."
"Tapi benar."
Mona masuk. Dia melihat sekeliling. "Rumah rapi sekali. Seperti mau dijual."
"Tadi habis membersihkan."
"Mana Vira? Mana Rafa?"
"Vira sama Rafa pergi berbelanja. Tidak tahu kapan pulang."
"Oh. Bagus. Kita bisa mengobrol bebas."
Mona duduk di sofa. Aku duduk di sampingnya. Sofa berdecit pelan.
"Cerita detail, Kay. Jangan ada yang disembunyikan."
Aku menceritakan semuanya. Mulai dari Vira yang curiga, sampai pengakuan di kamar. Tentang bagaimana Vira menangis, tentang bagaimana dia memelukku, tentang bagaimana dia berkata bahwa dia tidak akan pernah memilih antara aku dan Rafa.
Mona mendengarkan dengan mata membelalak. Sesekali dia menggeleng. Sesekali dia bersiul kecil.
"Gila. Kamu hebat sekali, Kay."
"Tidak hebat."
"Kamu hebat. Kamu berani jujur. Kamu berani menerima konsekuensi."
"Aku tidak berani. Aku terpaksa."
"Terpaksa tapi berhasil. Itu tetap berani."
Aku tersenyum kecil. Mona memang ahli dalam mengubah perspektif.
"Menurut kamu, aku harus bagaimana sekarang?" tanyaku.
"Kamu harus menjalani hidup. Biasa saja. Tidak usah memaksakan diri untuk melupakan. Tidak usah memaksakan diri untuk melangkah maju. Biar waktu yang bekerja."
"Tapi rasanya sakit, Mon."
Mona menatapku. Matanya lembut. "Sakit itu wajar, Kay. Kamu lagi patah hati. Kalau tidak sakit, namanya bukan patah hati."
"Kamu membantu sekali dengan ucapan kamu."
"Aku kan sahabat kamu."
Mona membuka bungkus cokelat dan memberikannya padaku.
"Makan. Gula bisa membuat bahagia sementara."
Aku mengambil cokelat itu dan menggigitnya. Manis. Lumer di mulut. Tapi tidak cukup untuk melupakan rasa pahit di hati.
"Mona."
"Ya."
"Makasih sudah selalu ada."
"Tidak usah lebay. Aku tidak ke mana-mana."
Kami terduduk di sofa, memakan cokelat, menonton televisi tanpa suara.
Sore itu, untuk pertama kalinya, aku merasa sedikit lebih ringan.
Mungkin karena cokelat. Mungkin karena Mona. Mungkin karena aku sudah tidak menyimpan rahasia sendirian.
Atau mungkin karena luka itu mulai aku terima sebagai bagian dari diriku.
Bukan untuk dilupakan. Tapi untuk dirawat. Sampai suatu saat, tanpa aku sadari, ia akan mengering dan meninggalkan bekas. Bekas yang akan mengingatkanku bahwa aku pernah jatuh cinta. Dan aku pernah bertahan.
Rafa dan Vira pulang saat matahari mulai tenggelam. Langit di luar jendela berwarna jingga, perlahan berubah menjadi ungu.
"Wah, ada Mona," sapa Vira.
"Iya, Mbak. Aku main sebentar."
"Sudah makan? Aku masak, ya."
"Tidak usah repot-repot, Mbak. Aku mau pulang."
"Lho, baru datang."
"Mau pulang," Mona berdiri. "Besok aku main lagi."
Mona melambai padaku. Aku mengantarnya ke pintu.
"Mon."
"Ya."
"Makasih."
"Sudah. Jangan menangis-nangis lagi, ya. Aku tidak tega."
"Janji."
Mona pergi. Aku masuk ke dalam. Vira sudah sibuk di dapur. Rafa duduk di sofa, memegang ponsel, tapi matanya menatap kosong ke arah jendela.
"Kay, sini. Aku mau bicara," panggil Rafa.
Aku mendekat. "Apa, Kak?"
Rafa menepuk tempat di sampingnya. Aku duduk agak jauh.
"Jangan jauh-jauh. Sini."
Aku mendekat sedikit. Jarak kami masih cukup untuk tidak menyentuh.
"Kay, aku tahu Vira sekarang tahu segalanya."
Aku terkesiap. "Kakak tahu?"
"Aku tidak bodoh, Kay. Aku bisa melihat dari cara Vira bicara, cara dia menatap kita berdua. Aku tahu sesuatu terjadi semalam."
"Kakak tidak marah?"
Rafa menatapku. Matanya teduh, tapi ada kelelahan di sana. "Marah sama siapa? Sama kamu? Sama Vira? Sama diriku sendiri?"
"Entahlah."
"Aku tidak marah. Aku justru lega."
Aku mengerjap. "Lega kenapa?"
"Karena tidak ada lagi rahasia. Karena Vira tahu. Karena kita tidak perlu berpura-pura lagi."
"Tapi kakak dan Vira tetap menikah?"
Rafa menatapku. "Iya. Kami tetap menikah. Itu tidak berubah."
Aku mengangguk. "Aku tahu."
"Tapi satu hal yang berubah."
"Apa?"
"Aku tidak akan pernah bisa memandangmu hanya sebagai adik ipar."
Jantungku berdebar kencang. Aku bisa merasakan setiap detaknya di dadaku. "Maksud kakak?"
"Maksudku, kamu akan selalu lebih dari itu. Bukan karena aku mencintaimu. Tapi karena kamu adalah orang yang mengajarkanku arti perjuangan. Kamu rela diam tiga tahun demi kebahagiaan Vira. Itu tidak semua orang bisa lakukan."
"Kakak jadi lebih menghargai aku?"
"Iya. Dan aku akan selalu menghargaimu. Sampai kapan pun."
Rafa mengulurkan tangannya. Aku menatap tangannya sebentar. Tangan yang dulu menangkapku saat aku hampir jatuh di lorong kampus. Tangan yang hampir menyentuh pipiku di dapur. Tangan yang sama, tapi sekarang hanya menggenggam udara.
Aku menjabatnya.
"Makasih, Kak."
"Makasih kembali, Kay."
Vira dari dapur berseru, "Makan malam! Kalian berdua cuci tangan dulu!"
Aku dan Rafa berdiri bersamaan. Kami saling berpandangan. Lalu tersenyum.
Senyum yang tidak lagi menyakitkan. Senyum yang terasa seperti awal dari sesuatu yang baru. Bukan cinta. Bukan harapan. Tapi penerimaan.
Menerima bahwa luka boleh ada. Menerima bahwa perasaan boleh tinggal. Menerima bahwa kita tidak harus melupakan untuk bisa melangkah.
Kita hanya perlu belajar hidup berdampingan dengan luka itu.
Sampai suatu saat, luka itu tidak lagi terasa.
BAB XV
Angin Kencang Sebelum Tenang
Hari-hari setelah pengakuan terasa seperti berada di tengah badai. Tidak ada yang berubah secara kasat mata, tapi semuanya terasa berbeda. Seperti ada arus bawah laut yang kuat, menarik kami ke arah yang tidak tahu ujungnya.
Vira menjadi lebih perhatian. Setiap gerakku diawasi. Setiap kali aku melirik ke arah Rafa, matanya segera menangkap.
"Kay, kamu mau ikut kakak ke pasar?" tanya Vira suatu pagi.
"Ikut, Kak."
"Rafa, kamu di rumah saja, ya. Ada pekerjaan, kan?"
Rafa menganggung. "Iya. Ada laporan."
"Bagus. Kami pergi dulu."
Vira menarik tanganku keluar rumah. Begitu sampai di pasar, dia berbisik, "Kay, usahakan jangan terlalu sering menatap Rafa."
Aku tersentak. "Kak, aku tidak sengaja."
"Aku tahu. Tapi usahakan."
"Iya, Kak."
"Kak, Rafa pindah minggu depan?" tanyaku sambil membantu membawakan keranjang.
"Iya. Rumahnya sudah selesai direnovasi."
"Kakak pasti senang?"
"Senang sekaligus sedih. Selama dia di sini, rumah menjadi ramai. Setelah dia pindah, kita berdua lagi."
"Kakak kangen sama masa-masa kita berdua?"
"Kangen. Tapi kakak juga senang punya Rafa."
Vira membayar sayur dan ikan. Kami berjalan ke tempat parkir.
"Kay, suatu saat kamu akan menemukan cinta yang tepat. Mungkin tidak sekarang. Tapi suatu saat."
"Kakak yakin?"
Vira tersenyum. "Kamu perempuan hebat. Cowok mana yang tidak mau sama kamu?"
Aku tersenyum. "Kakak lebay."
"Fakta."
Kami pulang dengan dua kantong besar. Rafa menyambut di pintu.
"Wah, banyak sekali."
"Untuk seminggu," jawab Vira.
Rafa membantu membawakan belanjaan ke dapur. Aku ikut masuk.
"Kay, kamu cuci beras, ya," perintah Vira.
"Iya, Kak."
Rafa mengupas bawang di sampingku. Kami berdiri berhadapan di wastafel.
"Kay," bisik Rafa.
"Ya."
"Maaf kalau aku menjadi masalah buat kamu dan Vira."
"Kakak bukan masalah. Kakak adalah kebahagiaan Vira."
Rafa terdiam. "Aku harap suatu saat ada yang bisa membuatmu bahagia seperti Vira bahagia bersamaku."
"Kak, kakak tidak perlu merasa bertanggung jawab atas kebahagiaanku."
"Aku hanya tidak ingin melihatmu sendiri."
Aku berhenti mencuci beras. "Kak, suatu saat aku akan baik-baik saja."
"Aku percaya."
Vira masuk ke dapur. "Kalian ngobrol apa?"
"Ngobrol soal bawang," jawab Rafa cepat.
Vira mengangkat alis. "Bawang?"
"Iya. Bawang ini bagus."
Vira menatapku. Aku tersenyum. Dia tersenyum balik.
Malam harinya, Mona datang dengan kabar buruk.
"Kay, ada yang mulai menggosipkan kamu. Mereka bilang kamu merebutkan cowok sama kakak sendiri."
Aku terdiam.
Vira yang mendengar dari ruang tamu langsung berdiri. "Siapa yang berani?"
"Mbak Vira, tenang. Aku sedang mencari sumbernya."
"Jangan cari sumbernya. Langsung lawan."
"Tapi, Mbak, gosip itu ada benarnya juga."
Vira terdiam. Aku menunduk.
"Maaf, Kak. Aku yang membawa masalah."
"Bukan salah kamu, Kay. Ini salah orang-orang yang suka bergosip."
Rafa keluar dari kamar. "Ada apa?"
"Gosip," jawab Vira singkat.
Rafa menatapku. "Kay, kamu baik-baik saja?"
"Aku baik-baik saja."
"Kamu pucat."
"Pengaruh lampu."
Rafa tidak percaya. Tapi dia tidak bertanya lebih lanjut.
Vira menggenggam tanganku. "Kay, kakak tidak peduli dengan gosip. Selama kita tahu yang benar, itu sudah cukup."
"Tapi nama baik kakak bisa tercemar."
"Biarkan. Orang yang kenal kakak tahu kakak seperti apa."
Besoknya, gosip itu sudah sampai ke telinga orang tua Rafa.
Rafa menerima telepon dari ibunya pagi-pagi. Wajahnya berubah tegang.
Vira menghampiri setelah telepon selesai. "Ada apa, Ra?"
"Ibu mendengar gosip. Dia marah."
"Marah sama siapa?"
"Sama aku. Karena dianggap tidak bisa menjaga jarak."
Vira duduk di samping Rafa. "Maaf, Ra. Ini semua karena aku yang mengizinkan kamu tinggal di sini."
"Bukan salahmu. Ibu akan tenang setelah kita menikah."
"Kamu yakin?"
Rafa menatap Vira. "Via, aku sayang kamu. Jangan pernah ragu."
Vira tersenyum. "Aku tidak pernah ragu."
Aku yang mendengar dari balik pintu, menghela napas.
Aku keluar kamar dan menghampiri mereka.
"Kak, aku pindah ke kost Mona sementara waktu. Sampai pernikahan selesai."
Vira terkejut. "Tidak! Kamu tidak boleh pindah!"
"Kak, ini yang terbaik. Kalau aku di sini, gosip tidak akan berhenti."
"Biarkan mereka bergosip. Aku tidak peduli."
"Aku peduli, Kak. Aku peduli sama nama baik kakak. Sama nama baik Rafa."
Vira terdiam. Air matanya mengalir.
"Kamu yakin?"
"Aku yakin."
Vira memelukku. "Kakak akan merindukanmu."
"Aku juga akan merindukan kakak."
"Setiap hari kakak akan meneleponmu."
"Iya, Kak."
"Kakak akan mengirim makanan setiap minggu."
"Tidak usah, Kak."
"Pokoknya kakak kirim."
Aku tersenyum. Vira keras kepala.
Rafa berdiri. "Kay, aku antarkan kamu nanti."
"Tidak usah, Kak. Mona yang menjemput."
Malam harinya, Vira membantuku mengepak. Kamar yang tadinya penuh dengan dua lemari, sekarang kembali longgar.
"Kay, kamu tidak jadi tidur sekamar dengan kakak lagi," kata Vira sedih.
"Nanti setelah menikah, kakak tidur dengan Rafa."
"Tapi setidaknya kamu di kamar sebelah. Sekarang di kost Mona yang jauh."
"Dekat, kok. Cuma 15 menit."
"Tetap saja. Kakak tidak bisa melihat kamu setiap hari."
"Kakak bisa telepon. Video call."
"Tidak sama."
Vira memelukku. "Kakak sayang kamu, Kay."
"Aku juga sayang kakak."
"Janji kamu akan menjaga diri."
"Janji."
"Janji kamu akan makan teratur."
"Janji."
"Janji kamu tidak akan menangis setiap malam."
Aku mengangguk. "Janji, Kak."
Jam menunjukkan pukul 1 malam. Vira sudah tidur di sampingku. Aku masih terjaga.
Ponsel di tanganku. Chat dengan Rafa terbuka.
Rafa Wijaya: "Kay, kamu yakin pindah?"
Kayla: "Yakin."
Rafa Wijaya: "Aku tidak enak sama Vira. Dia sedih."
Kayla: "Ini untuk kebaikan kita semua."
Rafa Wijaya: "Kamu kuat, Kay."
Kayla: "Aku belajar dari kakak."
Rafa Wijaya: "Besok aku mengantar."
Kayla: "Jangan. Mona yang menjemput."
Rafa Wijaya: "Aku tetap mengantar."
Kayla: "Kakak keras kepala."
Rafa Wijaya: "Aku belajar dari Vira."
Aku tersenyum.
Kayla: "Selamat malam, Kak."
Rafa Wijaya: "Selamat malam, Kay."
Aku menutup ponsel. Memejamkan mata.
Besok aku akan pergi dari rumah ini. Bukan karena lari. Tapi karena aku ingin badai ini reda. Aku ingin Vira dan Rafa bisa menikah dengan tenang.
Angin kencang bertiup di luar jendela. Pohon-pohon bergoyang. Daun-daun beterbangan.
Ini angin kencang sebelum tenang.
Aku berdoa semoga setelah ini, semuanya tenang.
Untuk Vira. Untuk Rafa.
Dan untuk aku.
BAB XVI
Jarak yang Menyembuhkan
Pagi itu aku bangun lebih awal dari biasanya. Bukan karena semangat. Tapi karena tidak bisa tidur. Sepanjang malam aku berguling di kasur, memandangi langit-langit kamar, mendengarkan dengkur Vira yang terasa seperti penghitung waktu mundur.
Jam 4 pagi, aku sudah duduk di tepi kasur.
Vira sudah tidak ada di sampingku. Dari dapur terdengar suara panci dan piring, dentingan yang sengaja diredam, seolah dia tidak ingin membangunkanku.
Dia memasak untukku. Untuk terakhir kalinya.
Aku duduk di kasur, menatap koper yang sudah rapi di samping lemari. Isinya tidak seberapa. Baju-baju, buku catatan, laptop, dan beberapa pernak-pernik yang aku bawa dari rumah orang tua dulu.
Apakah ini yang dimaksud dengan pergi? Hanya sekoper kecil?
Vira masuk dengan nampan berisi sarapan. Nasi goreng, telur mata sapi dua butir, seperti yang aku suka, dan segelas jus jeruk.
"Kakak bangun dari jam 5," katanya sambil meletakkan nampan di atas kasur.
"Kak, repot amat. Aku bisa sarapan di luar."
"Tidak boleh. Sarapan di luar tidak sehat. Kamu harus makan buatan kakak."
Vira duduk di sampingku. Matanya sembab. Bekas air mata yang tidak sempat dikeringkan dengan sempurna.
"Kak, kamu menangis?"
"Tidak. Cuma alergi."
"Alergi apa?"
Dia menatapku. Matanya berkaca lagi.
"Alergi ditinggal adik."
Aku tidak bisa menahan diri. Aku memeluk Vira.
"Kak, aku cuma pindah ke kost Mona. Bukan ke luar negeri."
"Pindah tetap pindah." Suaranya teredam di pundakku. "Kamu tidak akan sarapan bareng kakak setiap pagi lagi."
"Kita bisa sarapan bareng pada akhir pekan."
"Tidak sama."
Vira melepaskan pelukan. Dia mengambil sendok dan menyuap nasi goreng ke mulutku, seperti saat aku masih kecil dan dia mengasuhku.
"Kak, aku bisa makan sendiri."
"Diam. Biar kakak lakukan ini. Untuk terakhir kalinya."
Aku diam. Membiarkan Vira menyuapiku. Satu suapan. Dua suapan. Aku tidak tahu kenapa, tapi setiap suapan terasa seperti perpisahan.
"Kay, kamu ingat tidak, dulu kita sering sarapan di kasur? Pas orang tua pergi ke luar kota?"
"Ingat, Kak. Kita makan nasi goreng buatan Mama yang gosong."
"Tapi tetap kita habiskan."
"Karena enak."
"Bohong." Vira tertawa kecil. "Karena kita tidak punya pilihan lain."
Kami tertawa. Tawa yang terasa hangat di pagi yang dingin. Tawa yang kamu tahu akan segera berakhir.
Pintu kamar terbuka. Rafa berdiri di ambang pintu. Kaus oblong longgar. Rambut acak-acakan. Matanya masih sayu, baru bangun.
"Sarapan di kasur? Aku ikut, dong."
"Tidak boleh," kata Vira cepat. Terlalu cepat. "Ini acara kakak beradik."
"Aku kan calon kakak ipar. Termasuk keluarga."
"Belum resmi."
Rafa mengangkat kedua tangan, tanda menyerah.
"Ya sudah. Aku tunggu di ruang tamu."
Dia pergi. Tapi sebelum pintu tertutup, dia menatapku sekilas. Bukan tatapan biasa. Tapi tatapan yang bertanya, "Kamu baik-baik saja?"
Aku membuang muka.
Jam menunjukkan pukul 8 pagi. Mona sudah datang dengan motornya.
"Kay, cepat! Aku parkir di depan!" teriak Mona dari luar.
Aku menarik napas. Ini dia.
Vira membantuku menurunkan koper. Rafa ikut membantu, mengambil koper dari tangan Vira tanpa diminta. Tangan mereka bersentuhan sekilas. Vira menarik tangannya.
Aku melihat itu. Vira masih marah. Mungkin bukan marah. Mungkin kecewa. Kepada Rafa. Kepada aku. Kepada dirinya sendiri.
"Kay, kamu bawa ini." Rafa memberikan sebuah kotak kecil.
Aku menatap kotak itu.
"Apa ini?"
"Nanti buka saja pas sampai di kost."
Vira menatap kotak itu, matanya tajam. Tapi dia tidak berkata apa-apa. Hanya menggenggam tanganku lebih erat.
Mona turun dari motor.
"Wah, ada kado perpisahan. Aku ikut, dong."
"Ini bukan kado perpisahan. Ini hanya sesuatu."
"Ya sudah. Buruan masuk, Kay. Kita mau berangkat."
Aku memeluk Vira.
"Kak, aku pergi dulu."
"Jaga diri, Kay." Suaranya bergetar.
"Kakak juga."
Aku memeluk Vira agak lama. Aku ingin menghapus ingatan tentang pelukan ini, untuk saat-saat ketika aku kesepian nanti. Tapi aku tahu, tidak akan pernah bisa.
Rafa berdiri di samping Vira. Dia tidak memelukku. Hanya tersenyum. Tapi senyumnya berbeda dari biasanya. Ada kerinduan di sana. Atau hanya khayalanku?
"Hati-hati di jalan, Kay."
"Makasih, Kak."
Aku naik ke belakang motor Mona. Mona menyalakan mesin.
"Kay," panggil Rafa.
Aku menoleh.
Dia ragu. Bibirnya bergerak, tapi tidak ada suara. Lalu dia menghela napas.
"Sampai jumpa."
"Sampai jumpa, Kak."
Mona melaju. Rumah itu semakin mengecil di spion. Vira masih berdiri di depan pintu, melambai. Rafa di sampingnya tidak melambai. Hanya berdiri. Membatu.
Aku menangis. Angin pagi menghapus air mataku.
"Kamu menangis, Kay?" teriak Mona dari depan.
"Tidak. Cuma kena debu."
"Bohong. Aku lihat dari spion."
"Ya sudah. Iya. Aku menangis."
"Wajar." Suara Mona melunak. "Kamu meninggalkan rumah kamu. Tapi ingat, ini sementara."
"Iya. Aku tahu."
Kost Mona adalah rumah petak yang diubah menjadi beberapa kamar. Mona menyewa kamar paling ujung. Ada satu kamar kosong di sebelahnya. Itu yang akan aku tempati.
"Rapikan dikit, sih," kata Mona sambil membuka pintu.
Kamarnya kecil. Hanya muat kasur single, lemari jati tua yang catnya mengelupas, dan meja belajar dari kayu murah. Tapi jendelanya besar, menghadap ke belakang rumah. Ada pohon mangga di halaman belakang. Daun-daunnya bergoyang ditiup angin.
"Aku suka," kataku.
"Serius? Tidak protes?"
"Protes apa? Ini jauh lebih baik daripada tidur di jalan."
"Kamu ini rendah sekali standarnya."
"Karena aku pernah tidur di lantai waktu kecil. Ini sudah istana."
Mona tertawa.
"Ya sudah. Cepat bereskan. Nanti kita berbelanja perlengkapan."
Aku membuka koper dan mulai mengeluarkan baju-baju. Satu per satu. Tanpa semangat.
Saat mengambil buku catatan, kotak pemberian Rafa jatuh ke lantai.
Suara kotak kecil itu terdengar keras di ruang sunyi.
"Oh, iya, kado dari cowok tampan itu," kata Mona.
Aku mengambil kotak itu. Tanganku gemetar. Bukan karena dingin. Tapi karena takut.
"Buka, Kay. Jangan lama-lama."
Aku membuka kotak itu.
Di dalamnya ada gelang perak tipis dengan liontin berbentuk hati kecil. Sederhana. Tidak mewah. Tapi indah. Sangat indah sampai menyakitkan.
Ada secarik kertas kecil di dalamnya. Tulisan tangan Rafa, rapi, terukur, seperti dirinya.
"Untuk Kayla. Semoga kamu selalu ingat bahwa ada orang yang peduli padamu, meskipun jarak memisahkan. Jangan pernah merasa sendiri. Kamu kuat. Kamu hebat. Kamu pantas bahagia. Dari Rafa."
Mona membaca dari sampingku.
"Wah. Cowok itu jago menulis kata-kata."
Aku tidak bisa berkata apa-apa. Hanya menatap gelang itu. Hati kecil di ujung jari.
"Kamu mau simpan atau buang?"
Aku menatap Mona.
"Simpan, tentu saja."
"Kamu tidak takut tambah sakit?"
Aku memakai gelang itu di pergelangan tangan kiriku. Pas. Seperti memang dibuat untukku.
"Jarak ini akan menyembuhkanku, Mon. Bukan gelang ini yang membuat sakit. Tapi perasaanku sendiri."
"Kamu yakin?"
Aku menatap gelang itu.
"Aku yakin."
Tiga hari setelah pindah, Vira menelepon setiap pagi dan malam.
"Kay, sudah makan?"
"Sudah, Kak."
"Kamu kurusan?"
"Tidak tahu. Aku tidak punya timbangan."
"Besok kakak kirim timbangan."
"Tidak usah, Kak. Nanti aku beli sendiri."
"Pokoknya kakak kirim."
"Baik, Kak."
Vira juga sering mengirim makanan. Kadang nasi bungkus. Kadang camilan. Kadang buah-buahan.
Mona iri.
"Aku tidak pernah dikirimi makanan sama kakakku. Padahal aku punya kakak."
"Kakakku memang super."
"Super repot."
"Super perhatian."
"Ya. Tapi tetap repot."
Aku tertawa. Mona memang selalu bisa membuatku tertawa.
Tapi di malam hari, ketika Mona sudah tidur dan kamar kost menjadi sunyi, aku duduk di dekat jendela. Memandang pohon mangga yang tidak terlihat karena gelap. Memegang gelang di pergelangan tanganku.
Jarak. Aku butuh jarak.
Tapi kenapa jarak tidak serta-merta menghilangkan rasa?
Suatu malam, Rafa meneleponku.
Aku sempat ragu mau mengangkat atau tidak. Ponsel bergetar di atas kasur. Nama "Rafa Wijaya" dengan hati pemberian Vira dulu masih terpampang. Aku belum menggantinya.
"Angkat saja, Kay," kata Mona dari kamar sebelah. Dinding kamar kami tipis. Dia bisa mendengar semuanya.
"Mona, kamu mendengarkan aku?"
"Ya, dong. Aku kan di sebelah."
"Kurang ajar."
"Angkat, aku juga mau mendengar."
Aku mengangkat telepon.
"Halo, Kak Rafa."
"Kay, apa kabar?" Suaranya berat. Lelah.
"Baik. Kakak?"
"Baik." Jeda. "Vira kangen kamu."
"Aku juga kangen Vira."
"Rumah terasa sepi tanpa kamu."
"Kakak bisa menemani Vira."
"Vira lebih butuh kamu daripada aku."
"Itu tidak benar."
"Benar. Dia memasak banyak, padahal cuma berdua. Katanya dulu kamu yang menghabiskan makanannya."
Aku tersenyum pahit.
"Kakak yang menghabiskan saja."
"Aku sudah coba. Perutku mau meledak."
"Ya sudah, simpan di kulkas."
"Tidak sama."
Aku terdiam. Rafa juga diam. Hanya suara napas yang terdengar.
"Kay, kamu baik-baik saja di sana?"
"Baik, Kak. Mona menjagaku."
"Jangan lupa makan. Jangan lupa istirahat. Jangan lupa minum vitamin."
"Kakak seperti Vira. Sama-sama cerewet."
"Kami calon suami istri. Wajar kalau sama."
Aku tersenyum pahit.
"Iya, Kak."
"Kay, aku..." Dia berhenti. "Aku... jaga diri."
"Kakak juga."
Rafa menutup telepon. Aku memandangi ponselku beberapa saat. Layar kembali ke menu awal. Foto profil Rafa masih sama, senyumnya di perpustakaan.
Mona masuk ke kamarku tanpa mengetuk.
"Aku dengar semuanya."
"Kamu kepo, Mon."
"Aku peduli. Bedanya."
"Ya sudah. Sekarang pergi. Aku mau tidur."
"Jam 8 malam?"
"Aku lelah."
"Kamu lelah karena menangis?"
"Aku tidak menangis."
"Mata kamu merah."
"Pengaruh debu."
"Di kamar berdebu? Aku baru membersihkan tadi."
Aku tidak menjawab. Mona duduk di sampingku.
"Kay, aku mau bertanya sesuatu serius."
"Apa?"
"Kamu yakin pindah ke sini adalah keputusan yang tepat?"
"Yakin."
"Kamu yakin tidak akan menyesal?"
"Aku lebih menyesal kalau tetap di sana, Mon. Setiap hari melihat mereka. Setiap hari pura-pura baik-baik saja."
Mona menggenggam tanganku.
"Kamu kuat, Kay."
"Aku tidak kuat. Tapi aku berusaha."
"Itu sudah lebih dari cukup."
Malam itu, setelah Mona kembali ke kamarnya, aku duduk di dekat jendela.
Pohon mangga di belakang tidak terlihat, hanya gelap. Tapi aku bisa mendengar daun-daunnya bergoyang. Suara yang menenangkan.
Aku memegang gelang di pergelangan tanganku.
Jarak. Aku butuh jarak. Bukan untuk melupakan Rafa. Tapi untuk belajar hidup tanpanya. Untuk menemukan siapa aku tanpa perasaan yang selama ini membelenggu.
Rumah itu sekarang berjarak 15 menit dari tempatku berdiri. Cukup dekat untuk dikunjungi. Cukup jauh untuk tidak terus-terusan mengingatkan.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa sedikit lega.
Mungkin jarak memang menyembuhkan. Perlahan. Tidak instan. Tapi pasti.
Dan aku akan membiarkannya bekerja.
Tapi kenapa gelang di pergelangan tanganku terasa hangat? Kenapa kata-kata Rafa di secarik kertas itu masih terngiang?
"Jangan pernah merasa sendiri."
Padahal, di kamar kost yang sempit ini, aku justru merasa lebih sendiri dari sebelumnya.
Aku memejamkan mata. Air mata menetes, lagi.
Sampai kapan aku harus begini, Rafa?
Tidak ada jawaban. Hanya angin malam yang berbisik pelan.
Tapi aku percaya. Suatu saat, jarak ini akan menyembuhkan.
Atau setidaknya, membuat luka ini tidak lagi terasa begitu perih.
BAB XVII
Rumah yang Sepi Tanpa Kamu
Rumah itu terasa berbeda sejak aku pergi. Vira cerita lewat telepon setiap malam. Bukan tentang hal-hal besar. Hanya tentang hal-hal kecil yang dulu biasa kami lakukan bersama.
"Kay, tadi pagi kakak memasak nasi goreng kebanyakan. Tanpa sadar kakak mengambil tiga piring. Padahal cuma kakak dan Rafa."
"Simpan saja di kulkas, Kak."
"Sudah. Tapi rasanya tidak enak. Nasi goreng hangat lebih enak."
"Kakak panaskan lagi."
"Tidak sama."
Aku tersenyum mendengar nada suara Vira yang cemberut. Tapi di balik senyum itu, ada rasa bersalah yang menggelitik. Akulah penyebab kebiasaan masak untuk tiga orang itu. Sekarang aku pergi, kebiasaan itu tertinggal seperti hantu yang tidak mau pergi.
"Kak, kamu pasti bisa memasak dengan porsi yang pas. Coba kurangi setengahnya."
"Kakak sudah mengurangi. Tapi tetap kebanyakan."
"Karena kebiasaan memasak untuk tiga orang."
"Iya. Kakak harus belajar memasak untuk dua orang."
"Atau nanti untuk empat orang."
"Lho, kok empat?"
"Kakak sama Rafa kan dua. Nanti punya anak dua. Jadi empat."
Vira tertawa. Tawanya terdengar sedikit pecah di sambungan telepon yang kadang putus nyambung.
"Kamu ini, belum menikah sudah mengatur-atur."
"Fakta, Kak."
"Ya sudah. Kakak akan belajar. Tapi untuk sekarang, kakak masih butuh waktu."
"Kakak punya waktu. Rafa masih di sana, kan?"
"Iya. Tapi dia juga akan pindah minggu depan. Rumahnya sudah selesai."
"Jadi kakak berdua lagi di rumah?"
"Iya. Sepi."
Vira mengucapkan kata "sepi" dengan nada yang berbeda dari biasanya. Bukan sekadar sunyi. Tapi kosong. Hampa. Seperti ada yang hilang dan tidak bisa digantikan.
"Kakak bisa membeli kucing."
"Kucing? Kamu tahu kakak alergi bulu."
"Ikan hias?"
"Ikan hias tidak bisa diajak mengobrol."
"Ya sudah. Kakak menelepon aku setiap hari."
"Itu sudah kakak lakukan. Tapi tidak sama."
Vira menghela napas. Aku bisa membayangkan wajahnya yang lesu. Mungkin dia sedang duduk di sofa favoritnya, yang biasa aku tempati setiap sore sambil makan camilan. Mungkin dia sedang menatap kursi kosong di sebelahnya.
"Kay, kapan kamu pulang?"
"Kak, aku baru pindah seminggu."
"Rasanya sudah sebulan."
"Kakak lebay."
"Kakak tidak lebay. Rumah ini sepi. Kulkas jadi jarang dibuka. Televisi jarang dinyalakan. Halaman depan tidak ada yang menyapu."
"Rafa bisa menyapu."
"Dia sibuk kerja. Lagian sapuannya belepotan. Tidak rapi seperti kamu."
"Kakak bisa menyapu sendiri."
"Kakak malas."
"Masa iya kakak yang dulu rajin sekarang menjadi malas?"
"Karena kakak kehilangan motivasi."
Vira berhenti sejenak. Lalu dia berkata pelan, hampir berbisik.
"Motivasi itu kamu, Kay. Kamu itu adik yang bawel. Tanpa kamu, kakak jadi kurang bawel."
Aku tidak tahu harus menjawab apa. Vira tidak pernah sejujur ini. Biasanya dia menutupi kesedihan dengan tawa atau kesibukan. Tapi malam ini, melalui sambungan telepon yang tidak sempurna, dia membiarkan aku mendengar betapa rapuhnya dia.
"Kak, kamu tahu, kan, aku sayang kamu?"
"Kakak tahu."
"Jadi jangan sedih. Aku cuma di kost Mona. Dekat, kok."
"Dekat tapi tidak serumah."
"Kak, kamu harus mulai belajar mandiri. Nanti setelah menikah, kamu tinggal sama Rafa. Rumahnya berbeda kota."
"Tapi aku masih bisa pulang ke rumah ini kapan saja."
"Rumah ini kan rumah kita berdua, Kak. Aku juga akan pulang."
"Janji?"
"Janji."
Vira terdiam sebentar. Lalu dia berkata dengan suara yang lebih berat dari sebelumnya.
"Kay, kakak minta tolong."
"Tolong apa, Kak?"
"Tolong jaga kamar kamu. Kakak tidak akan mengubah apa pun di sana. Biar tetap seperti kamu masih tinggal."
"Kak, itu tidak sehat. Kamu harus move on."
"Kakak bisa Melangkah Maju nanti. Setelah menikah."
Vira mengucapkannya seperti janji, tapi aku bisa mendengar keraguannya. Dia tidak sedang meyakinkan aku. Dia sedang meyakinkan dirinya sendiri.
"Baik, Kak. Terserah kakak."
"Makasih, Kay. Kakak sayang kamu."
"Aku juga sayang kakak."
Kami menutup telepon. Aku berbaring di kasur kost yang sempit. Dinding kamar tipis. Dari sebelah, terdengar suara Mona yang sedang menonton drama Korea dengan volume keras.
"Mon! Kecilkan volumenya!" teriakku.
"Ya ampun, ganggu sekali, sih!" teriak Mona balik.
Tapi volume tetap keras. Aku menghela napas. Mungkin inilah hidup di kost. Berisik. Tapi tidak sepi.
Berbeda dengan rumah itu. Yang kini sepi tanpa aku.
Dua hari kemudian, Rafa meneleponku.
Aku sedang membaca buku di kamar. Mona sedang pergi entah ke mana. Ponselku bergetar di atas meja. Nama Rafa muncul di layar. Aku menatapnya beberapa saat sebelum mengangkat.
"Halo, Kak Rafa."
"Kay, ada waktu? Aku mau bicara."
"Ada, Kak. Ada apa?"
"Rumah ini sepi."
Aku tersenyum pahit. Dua kata yang sama. Dari dua orang yang berbeda. Tapi rasanya sama.
"Kakak juga bilang begitu?"
"Vira sudah bilang?"
"Setiap malam."
"Jadi kamu tahu."
"Aku tahu. Tapi tidak bisa berbuat apa-apa."
"Kamu bisa pulang."
"Kak, kita sudah sepakat."
"Aku tahu. Tapi tidak ada yang melarang kamu pulang untuk sekadar mampir."
"Pulang mampir berbeda dengan pulang tinggal."
"Sama-sama pulang."
"Kak, jangan buat aku bingung."
Rafa terdiam. Lalu dia berkata dengan suara yang tidak biasa. Lembut. Hampir seperti bisikan.
"Maaf. Aku tidak bermaksud."
"Kakak hanya kesepian."
"Mungkin. Vira sibuk dengan persiapan pernikahan. Aku sibuk dengan pekerjaan. Kami tidak punya banyak waktu untuk sekadar duduk dan mengobrol."
"Dulu kalau aku di sana, kalian punya waktu?"
"Dulu, kamu yang menjadi penghubung. Kamu yang membuat kami duduk bersama di meja makan. Kamu yang membuat kami tertawa dengan cerita-cerita konyolmu."
Suara Rafa terdengar sayu. Seperti orang yang sedang mengenang sesuatu yang indah dan menyakitkan sekaligus.
"Sekarang tidak ada yang membuat kalian tertawa?"
"Vira masih bisa tertawa. Tapi tidak selepas dulu."
"Kakak bisa membuat Vira tertawa."
"Caraku berbeda. Aku tidak selucu kamu."
"Kakak jangan merendah diri."
"Ini fakta, bukan merendah diri."
Aku tidak tahu harus menjawab apa. Rafa terdengar lelah. Bukan lelah fisik. Tapi lelah hati. Lelah mencoba menjadi sempurna untuk seseorang, tapi merasa selalu ada yang kurang.
"Kak, apakah kakak menyesal?"
"Menyesal apa?"
"Menyesal karena dulu aku pernah bilang kalau aku suka kakak? Mungkin kalau aku diam saja, semuanya tidak serumit ini."
"Kay, aku tidak menyesal. Aku justru bersyukur."
"Bersyukur kenapa?"
"Karena dengan kamu jujur, aku jadi tahu. Aku jadi bisa menjaga jarak. Aku jadi tidak terus-menerus bertanya-tanya apakah perasaanku padamu hanya perasaan saudara atau lebih."
"Lalu sekarang kakak tahu jawabannya?"
Rafa terdiam lama. Sangat lama. Aku hampir mengira telepon terputus. Aku bisa mendengar napasnya di ujung sana. Tidak teratur. Seperti orang yang sedang berperang dengan dirinya sendiri.
"Kak?"
"Kay, aku tidak bisa menjawab itu."
"Kenapa?"
"Karena jawabannya tidak akan mengubah apa pun. Aku tetap akan menikah dengan Vira. Kamu tetap akan menjadi adik iparku. Dan kita harus hidup dengan itu."
"Jadi lebih baik tidak tahu?"
"Lebih baik tidak diucapkan."
Aku menggigit bibir. Menahan sesuatu yang tidak bisa aku jelaskan.
"Baik, Kak. Aku tidak akan bertanya lagi."
"Makasih."
"Kakak, jaga Vira, ya. Dia mungkin kelihatan kuat. Tapi sebenarnya dia rapuh."
"Aku tahu."
"Jangan sakiti dia."
"Aku tidak akan pernah."
"Janji?"
"Janji."
Kami menutup telepon. Aku memandangi ponselku lama. Layar kembali ke menu awal. Foto profil Rafa masih sama. Senyum di perpustakaan. Senyum yang dulu membuatku jatuh cinta.
Mona masuk dengan bungkusan makanan.
"Kay, aku membeli bakso. Kamu mau?"
"Mau."
Mona duduk di lantai kamarku. Kami makan bakso berdua. Kuahnya panas. Cabainya pedas. Tapi rasanya hambar.
"Kamu telepon sama Rafa tadi?" tanya Mona sambil menyedot mi.
"Kamu dengar?"
"Ya. Dinding tipis. Kamu lupa?"
"Mona, kamu ini tidak punya privasi."
"Kamu juga. Kita sama-sama tidak punya privasi."
Aku menghela napas.
"Ya sudah. Aku cerita saja."
"Cerita apa?"
"Dia bilang rumahnya sepi tanpa aku."
"Wajar. Kamu kan adiknya Vira. Dan kamu mantan gebetannya dia."
"Dia bukan mantan. Dia tidak pernah menjadi."
"Tapi perasaan itu pernah ada. Di dua sisi."
"Kamu yakin dia punya perasaan?"
"Kamu tanya langsung saja."
"Dia tidak mau menjawab."
"Itu artinya iya."
"Atau artinya dia tidak enak."
"Mona, kamu ini sok tahu."
"Aku memang tahu. Kamu yang tidak mau tahu."
Aku mendengus. Mona tertawa.
"Kay, kamu harus siap."
"Siap apa?"
"Siap kalau suatu saat Rafa jujur. Dan kalau kejujuran itu menyakitkan."
"Aku sudah terbiasa sakit."
"Sakit yang dulu berbeda dengan sakit nanti."
"Kenapa berbeda?"
"Dulu kamu sakit karena cinta tak berbalas. Nanti kamu bisa sakit karena cinta berbalas tapi tidak bisa diambil."
Aku menatap Mona. Sahabatku ini kadang bicara seperti filsuf.
"Kamu belajar dari mana, Mon?"
"Dari drama Korea. Mereka selalu punya dialog bagus."
Aku tertawa. Mona ikut tertawa.
"Kamu ini gila, Mon."
"Aku tahu. Tapi kamu tetap sayang aku."
"Iya. Aku sayang kamu."
Kami menghabiskan bakso berdua. Di kamar kost yang sempit. Dengan dinding tipis dan privasi yang hampir tidak ada.
Tapi hangat. Setidaknya aku tidak sendirian.
Vira datang ke kostku pada akhir pekan itu.
Dia membawa tiga kantong besar berisi makanan. Wajahnya sedikit lebih segar dari terakhir kali aku lihat. Mungkin karena akhirnya dia keluar rumah. Atau mungkin karena dia sudah mulai terbiasa dengan sepinya.
"Kay, ini untuk seminggu. Jangan lupa makan," katanya sambil meletakkan kantong-kantong itu di atas meja.
"Kak, ini kebanyakan. Aku tidak bisa menghabiskannya."
"Simpan di kulkas. Mona punya kulkas, kan?"
"Iya, punya. Tapi kecil."
"Ya sudah, simpan saja yang bisa. Sisanya makan sekarang."
Vira duduk di kasurku. Matanya menyapu seluruh kamar. Perlahan. Seperti sedang menghafal.
"Kamarnya kecil," katanya akhirnya.
"Iya. Tapi cukup."
"Kakak tidak suka. Kamu tidak pantas di sini."
"Kak, aku tidak punya uang untuk kost yang lebih besar."
"Kakak bisa membayarkan."
"Tidak usah, Kak. Aku tidak mau merepotkan."
"Kamu tidak pernah merepotkan."
Vira menggenggam tanganku. Tangannya hangat. Sama seperti dulu saat dia membangunkanku setiap pagi untuk pergi ke sekolah.
"Kak, tolong. Biarkan aku mandiri. Aku sudah besar."
Vira menghela napas. Matanya berkaca-kaca, tapi dia menahan.
"Kamu keras kepala."
"Kakak juga."
"Ya sudah. Terserah kamu. Tapi kalau kamu sakit atau kelaparan, jangan minta tolong kakak."
"Kak, ancamannya tidak masuk akal."
"Biarkan. Yang penting kakak sudah bilang."
Vira berdiri. Matanya tertuju pada pergelangan tanganku.
"Itu dari Rafa?"
Aku mengangguk.
"Kamu masih memakainya?"
"Iya. Sayang kalau tidak dipakai."
Vira menatap gelang itu lama. Tangannya terangkat, hampir menyentuh, tapi dia menahannya.
"Bagus," katanya akhirnya.
"Kakak tidak marah?"
"Marah kenapa? Itu hadiah. Kamu boleh memakainya."
"Tapi Rafa calon suami kakak."
"Iya. Dan dia memberimu hadiah sebagai calon kakak ipar. Tidak salah, kan?"
Vira tersenyum. Tapi senyumnya tidak sampai ke mata. Ada luka di sana yang tidak dia tunjukkan.
"Kak, kamu baik sekali."
"Kakak hanya berusaha dewasa."
Vira memelukku. Pelukan yang kuat. Seperti dia tidak ingin melepaskan.
"Kakak pulang dulu. Rafa menunggu."
"Iya, Kak. Hati-hati di jalan."
"Kamu jaga diri."
Vira pergi. Aku berdiri di depan jendela kost, melihat dia naik ke mobil Rafa yang terparkir di pinggir jalan. Rafa melambai dari balik kaca. Aku melambai balik.
Mobil itu melaju perlahan. Menghilang di tikungan.
Aku memegang gelang di pergelangan tangan kiriku. Masih hangat. Mungkin karena baru saja Vira menatapnya.
Rumah itu sepi tanpa aku. Tapi aku juga sepi tanpa rumah itu.
Mungkin kita semua sedang belajar. Belajar hidup dengan kekosongan. Belajar menerima bahwa tidak semua orang bisa bersama selamanya.
Mungkin perpisahan adalah bagian dari cinta. Bukan cinta yang gagal. Tapi cinta yang dewasa. Yang rela melepaskan demi kebahagiaan orang lain.
Dan aku? Aku masih dalam proses. Proses menjadi dewasa. Proses melepaskan. Proses percaya bahwa di balik semua ini, ada rencana yang lebih indah.
Entah untukku. Entah untuk Vira dan Rafa.
Yang jelas, rumah itu tidak akan pernah sama tanpaku.
Dan aku? Aku juga tidak akan pernah sama tanpanya.
Tapi tidak apa-apa.
Kita semua akan baik-baik saja.
Pasti.
BAB XVIII
Hari yang Mendebarkan
Hari pernikahan Vira dan Rafa akhirnya tiba.
Tiga minggu sejak aku pindah ke kost Mona. Hari di mana aku harus tersenyum di saat hatiku ingin menangis. Hari di mana aku harus berdiri di samping Vira sebagai pendamping, sementara di seberang sana Rafa berdiri dengan senyum bahagianya.
Pagi itu aku bangun jam 4 subuh. Bukan karena alarm. Tapi karena tidak bisa tidur. Sepanjang malam aku berguling di kasur kost yang sempit, memandangi gelapnya langit-langit, mendengarkan suara jangkrik dari luar jendela yang terdengar seperti menghitung mundur waktu.
Vira meneleponku sebelum matahari terbit. Suaranya serak, seperti orang yang habis menangis.
"Kay, kakak tidak bisa tidur semalaman. Gugup. Takut ada yang salah."
"Kak, semuanya sudah siap. Tenang saja."
"Kakak ingin kamu di sini."
"Aku akan ke sana jam 6. Janji."
Mona masuk ke kamarku tanpa mengetuk. Rambutnya masih acak-acakan, matanya masih sayu. Dia mengucek mata sambil menguap.
"Kamu siap?"
Aku menatap Mona. Sahabatku yang satu ini tahu segalanya. Dia tahu isi kepalaku yang kacau. Dia tahu hatiku yang hancur.
"Tidak siap," jawabku jujur.
"Tapi kamu harus siap."
Mona duduk di sampingku. Kasur kost itu berdecit pelan. "Aku akan ada di belakangmu sepanjang acara. Kalau kamu mau menangis, pegang tanganku."
"Makasih, Mon."
"Jangan menangis sebelum akad. Nanti make upmu rusak."
Aku tersenyum kecil. Mona membantuku berdandan. Memilihkan baju. Merapikan rambut. Mengoleskan lipstik dengan hati-hati.
"Kay, kamu cantik," katanya selesai.
Aku melihat ke cermin kecil di dinding kost. Wajahku terlihat dewasa, tidak lagi polos seperti dulu. Mataku sedikit sayu, tapi lumayan tertutup oleh make up.
"Makasih, Mon."
Jam 6 pagi, aku tiba di rumah.
Rumah yang dulu hangat, kini terasa berbeda. Penuh hiasan dan kursi-kursi untuk tamu. Ada pelaminan di ruang tamu. Bunga-bunga di setiap sudut. Wangi melati dan mawar menyatu di udara pagi.
Vira masih di kamar, didandani oleh tim make up artist. Aku masuk dan melihat kakakku itu duduk di depan cermin besar. Wajahnya cantik, anggun. Seperti putri raja. Tapi matanya sembab.
"Kay, kamu datang!" Vira tersenyum lebar.
"Cantik sekali, Kak."
"Kakak takut ada yang salah."
"Tidak ada yang salah, Kak. Semua sudah sempurna."
Vira meraih tanganku. Tangannya dingin. "Kamu duduk di sini. Temani kakak."
Aku duduk di samping Vira. Make up artist itu melanjutkan pekerjaannya, menyentuh wajah Vira dengan lembut.
"Kay, semalam kakak berdoa," Vira menatapku melalui cermin. "Kakak berdoa semoga kamu cepat menemukan kebahagiaan. Semoga ada cowok baik yang datang ke hidupmu."
"Kak, aku tidak sendiri. Aku punya kakak. Punya Mona."
"Tapi kakak ingin kamu punya pasangan. Seseorang yang bisa menemani hari-harimu."
"Suatu saat, Kak. Tidak harus sekarang."
Vira berhenti sejenak. Matanya berkaca-kaca. "Kakak tidak bisa berhenti memikirkan kamu. Kamu adikku."
Dia menangis. Make up artist-nya panik.
"Mbak, jangan menangis. Riasannya bisa rusak."
Aku memegang tangannya. "Kak, kuat. Hari ini kakak harus bahagia. Untuk aku. Untuk Rafa. Untuk kita semua."
Vira mengangguk. Menarik napas dalam-dalam. Dadanya naik turun. "Kakak bahagia, kok."
Akad nikah dilaksanakan pukul 10 pagi di sebuah gedung yang tidak terlalu besar tapi elegan. Aku berdiri di samping Vira sebagai pendamping. Gaunku berwarna krem, sederhana, tidak mencolok. Vira memilihkannya sendiri. Mungkin dia tidak ingin aku terlalu mencolok.
Rafa berdiri di seberang, ditemani oleh Sakti, kakak laki-lakinya. Jasnya hitam. Dasinya silver. Wajahnya berseri. Dia tampan. Sangat tampan. Matanya hanya tertuju pada Vira. Tidak sekalipun dia menoleh ke arahku.
Penghulu membacakan doa. Suaranya menggema di ruangan yang hening. Beberapa tamu terlihat menyeka air mata.
"Apakah saudara Rafa Wijaya bersedia menikahi saudari Vira Maharani dengan mas kawin seperangkat alat salat dan uang tunai sebesar sepuluh juta rupiah?" tanya penghulu.
“Bersidia,”
“Rafa Wijaya saya nikahkan dengan saudari Vira Maharani binti Mahfudz dengan mas kawin seperangkat alat salat dan uang tunai sebesar sepuluh juta rupiah tunai”
"Saya terima nikahnya Vira Maharani binti Mahfudz dengan mas kawin tersebut, tunai."
Suara Rafa tegas. Tanpa jeda. Tanpa keraguan. Kemudian para saksi menyatakan Sah.
Aku menggenggam tangan Mona yang berdiri di belakangku. Aku bisa merasakan jemarinya menjabat erat.
"Kamu kuat?" bisik Mona.
"Kuat," jawabku pelan.
Tapi sebenarnya tidak.
Setelah akad, acara dilanjutkan dengan resepsi. Aku membantu Vira berganti baju dari kebaya putih ke gaun merah marun yang mewah. Gaun itu membuatnya terlihat seperti bidadari.
"Kay, kamu hebat," kata Vira sambil melihat ke cermin. "Kakak melihat tadi. Kamu tidak menangis."
"Aku ikut bahagia, Kak."
"Bohong."
"Setengah bohong," aku aku.
Vira memelukku dari samping. "Kakak tahu ini berat buat kamu. Tapi kakak bangga."
"Kay, kakak titip rumah, ya. Selama kakak berbulan madu, kamu boleh tinggal di rumah. Jangan di kost Mona."
"Tapi Mona sendiri di kost."
"Ya sudah, ajak Mona. Rumah kita cukup besar untuk kalian berdua."
"Makasih, Kak."
"Jangan matikan lampu taman. Jangan lupa menyiram tanaman."
"Iya, Kak. Kakak ini seperti menitipkan rumah sama anak kecil."
"Ya iyalah. Kamu kan adik kakak."
Vira mencium keningku. Bibirnya hangat.
Di meja pengantin, Rafa dan Vira duduk berdampingan. Tangan mereka bertautan. Aku berdiri di belakang, membantu mengatur gaun Vira, merapikan lipatan kain, menyisir rambutnya yang sedikit berantakan.
Seseorang menyentuh bahuku. Mona.
"Kay, kamu pucat. Ayo ke toilet."
Di toilet, aku menatap cermin. Lampu toilet terang. Terlalu terang. Wajahku memang pucat. Mataku sedikit sembab meskipun tidak menangis. Rahangku terasa kaku karena menahan sesuatu.
"Kamu menahan tangis," kata Mona.
"Iya."
"Jangan ditahan. Nanti kamu sakit."
"Tidak bisa. Make up aku bagus. Aku tidak mau rusak."
Mona menghela napas. Aku membuka keran air, menepuk-nepuk pipi dengan air dingin. Perlahan. Berulang kali.
"Mona, kamu akan tetap menjadi sahabat aku, kan?"
"Ya. Sampai kiamat."
Aku tersenyum. Mona memelukku.
"Kay, kamu hebat. Kamu hebat karena kamu memilih untuk tersenyum di hari ini. Tidak semua orang bisa melakukannya."
"Aku tersenyum karena aku sayang Vira."
Acara selesai. Tamu pulang satu per satu. Lampu-lampu gedung mulai dimatikan. Vira dan Rafa berganti baju dan bersiap ke bandara.
Aku berdiri di depan rumah yang kini sepi. Mona di sampingku. Koper Vira dan Rafa sudah masuk ke bagasi mobil.
"Mereka pergi, Kay."
"Iya."
Vira membuka jendela mobil dan melambai. "Kay, jaga rumah!"
"Iya, Kak! Kakak sayang kamu!"
"Aku juga sayang kakak!"
Mobil itu melaju perlahan. Menghilang di ujung jalan. Aku masih berdiri, melambai ke arah yang kosong, sampai Mona menarik tanganku.
"Kay, ayo masuk. Sudah dingin."
Di dalam rumah, sunyi. Meja makan masih berisi piring-piring kotor. Ada sisa kue pengantin di atas meja. Kursi-kursi masih berserakan.
Mona menarikku ke sofa. Kami duduk bersandar. Sofa itu masih hangat. Mungkin baru saja ditinggali Vira.
"Kay, aku mau cerita sesuatu."
"Apa?"
"Aku juga pernah patah hati. Waktu SMA. Aku suka sama senior basket. Tampan, populer, jago main bola. Aku diam-diam suka dia selama dua tahun."
Aku menoleh. Mona tidak pernah cerita ini.
"Dia nikah dengan cewek lain tahun lalu. Aku diundang. Aku datang. Aku tersenyum. Tapi dalam hati hancur."
"Kamu tidak pernah cerita."
"Karena aku malu. Karena aku pikir aku seharusnya sudah melangkah maju."
"Lalu sekarang?"
Mona menatapku. "Sekarang aku bisa tertawa kalau ingat dia. Bukan karena aku masih cinta. Tapi karena aku ingat betapa konyolnya aku dulu. Dan aku jadi paham, perasaanmu sama Rafa."
"Kamu tidak pernah bilang."
"Aku tidak ingin membebanimu dengan ceritaku. Tapi hari ini, saat aku melihatmu bertahan di pernikahan Vira, aku ingat diriku sendiri di pernikahan dia. Dan aku ingin kamu tahu, kamu tidak sendirian, Kay."
Aku menggenggam tangan Mona. "Makasih sudah cerita, Mon."
"Ya. Aku butuh waktu dua tahun untuk benar-benar lega. Kamu? Mungkin lebih cepat."
"Aku harap begitu."
Mona mematikan lampu. Kamar menjadi gelap. Hanya suara jangkrik dari luar yang terdengar.
"Selamat malam, Kay."
"Selamat malam, Mon."
Aku memejamkan mata. Air mataku menetes pelan. Aku biarkan mengalir diam-diam. Untuk Rafa. Untuk perasaan yang tidak pernah sampai. Untuk hati yang hancur di hari bahagia kakakku.
Tapi di tengah tangis itu, ada kelegaan. Bahwa hari ini sudah lewat. Bahwa aku berhasil melewatinya. Bahwa aku tidak pingsan. Bahwa aku tidak lari. Bahwa aku tetap berdiri di samping Vira sampai akhir.
Dan ada Mona. Yang ternyata juga pernah mengalami hal yang sama. Yang selama ini diam-diam menyimpan luka, tapi tetap tersenyum untukku.
Besok, aku akan bangun dan tersenyum lagi.
Tapi untuk malam ini, biarkan aku menangis.
Untuk terakhir kalinya.
BAB XIX
Bulan Madu Mereka, Bulan Maduku Sendiri
Vira dan Rafa terbang ke Bali untuk bulan madu. Sepuluh hari. Sepuluh hari aku punya rumah sendiri. Sepuluh hari tanpa harus melihat mereka berdua. Sepuluh hari untuk menyendiri dan merenung.
Atau, setidaknya, itulah yang aku pikirkan.
Tapi ternyata, sepuluh hari terasa seperti sepuluh tahun ketika yang kau lakukan hanyalah duduk diam di rumah yang sunyi.
Hari pertama setelah mereka pergi, Mona pulang ke rumah orang tuanya. Aku sendirian di rumah besar itu. Aku membuka kulkas, mengambil sisa makanan dari pesta kemarin, lalu memanaskannya. Makan sendirian di meja makan yang biasanya ramai. Sendok terasa berat. Nasi terasa seperti karet. Tidak ada Vira yang bercerita. Tidak ada Rafa yang sesekali menyahut.
Ponselku bergetar. Vira mengirim foto. Dia dan Rafa di bandara. Wajah mereka cerah. Bahagia. Rafa memegang dua tiket. Vira memegang paspor. Senyum mereka lebar. Senyum yang tidak pernah aku lihat dari dekat.
Vira: "Kay, kami sudah mau boarding. Kamu jaga rumah, ya."
Kayla: "Iya, Kak. Hati-hati."
Vira: "Jangan lupa menyiram tanaman."
Kayla: "Iya, Kak."
Vira: "Jangan lupa mematikan lampu taman kalau malam."
Kayla: "Iya, Kak."
Vira: "Jangan lupa makan."
Kayla: "Kak, ini pesan terakhir sebelum boarding. Harusnya romantis. Ini malah seperti pesan untuk baby sitter."
Vira: "Ya iyalah. Kamu kan baby sitter rumah."
Kayla: "Baik, Kak. Selamat terbang."
Vira: "Makasih, Kay. Kakak sayang kamu."
Kayla: "Aku juga sayang kakak."
Aku meletakkan ponsel. Makananku sudah dingin. Tidak apa-apa. Dingin atau panas, rasanya sama hambar. Mungkin karena yang hilang bukan rasa makanan, melainkan suasana.
Mona menelepon.
"Kay, kamu tidak jadi ikut aku ke rumah orang tua?"
"Tidak, Mon. Aku mau di rumah saja."
"Tidak takut sendirian?"
Aku menatap sekeliling ruang tamu yang luas. Sofa yang dulu bertiga, sekarang hanya aku. Televisi yang dulu ramai, sekarang mati. Rumah ini rumahku. Tidak ada yang perlu ditakutkan.
"Ya sudah. Tapi kalau kamu butuh sesuatu, telepon aku."
"Iya, Mon."
Mona menutup telepon. Aku berjalan ke teras, duduk di ayunan bambu yang biasa Vira pakai untuk minum teh sore. Ayunan itu bergerak pelan. Angin sore bertiup. Halaman depan bersih. Tanaman hijau. Langit biru. Pemandangan yang indah.
Tapi rasanya kosong. Sepi. Hampa.
Aku membuka ponsel lagi. Membuka Instagram Vira. Dia sudah mengunggah story. Video pendek Rafa yang menarik koper di bandara. Keterangannya: "Berangkat bulan madu sama suami tersayang."
Suami.
Vira sekarang memiliki suami. Dan suami itu adalah Rafa.
Aku menutup ponsel. Memejamkan mata.
"Selamat, Kak. Semoga bahagia selamanya," bisikku.
Hari ketiga. Aku mulai terbiasa dengan kesunyian. Aku bangun jam delapan, memasak sarapan sendiri, mencuci piring sendiri, menyiram tanaman sendiri, menonton televisi sendiri. Kadang aku bicara pada diri sendiri. Kadang aku tertawa melihat acara komedi yang sebenarnya tidak lucu. Kadang aku duduk diam di teras berjam-jam, hanya mendengarkan suara burung.
Mona datang sore harinya.
"Kay, kamu kelihatan kurus."
"Baru tiga hari, Mon."
"Tiga hari cukup untuk membuatmu kurus kalau kamu tidak makan."
"Aku makan, kok."
"Bukti?"
Aku menunjukkan piring kotor di dapur. Mona mengangguk.
"Bagus. Sekarang, kamu mau aku ajak keluar? Makan? Jalan-jalan? Menonton film?"
"Aku mau di rumah saja."
"Kamu jadi pertapa, Kay."
"Pertapa yang baik."
Mona menghela napas.
"Ya sudah. Aku temani kamu di sini."
Mona masuk ke dapur dan membuatkan teh. Kami duduk di teras, menyesap teh hangat. Teh buatan Mona tidak seenak buatan Vira. Tapi tidak apa-apa.
"Kay, kamu tidak kepo sama bulan madu mereka?"
"Kepo. Tapi tidak mau terlalu banyak melihat. Sakit."
"Mereka pasti mengunggah banyak foto."
"Iya. Aku sudah mute story Vira sementara."
Mona menatapku. Matanya lembut.
"Pintar."
Aku tersenyum kecil.
"Aku belajar untuk diriku sendiri."
"Bagus. Itu namanya self love."
"Self love atau self defense?"
"Keduanya."
Mona menyesap tehnya.
"Kay, aku bangga sama kamu."
"Bangga kenapa?"
"Kamu tidak menjadi pahit. Kamu tidak menjadi pendendam. Kamu tetap baik meskipun hatimu hancur."
"Aku bukan baik. Aku hanya lelah membenci."
Mona menatapku lama.
"Lelah membenci itu awal dari kebijaksanaan."
"Kamu membaca quote dari mana, Mon?"
"Dari internet. Lupa."
Aku tertawa. Mona ikut tertawa.
"Kay, suatu saat kamu akan tertawa melihat masa lalu ini. Mungkin tidak sekarang. Tapi suatu saat."
"Aku berharap begitu."
Hari kelima. Vira meneleponku dengan wajah cerah. Kami video call. Koneksi internet di Bali ternyata baik. Wajah Vira terlihat jelas. Sedikit kecokelatan karena terkena sinar matahari.
"Kay, lihat! Pantainya indah sekali!" Vira memutar kamera ke arah laut.
"Cantik, Kak."
"Kakak bermain snorkeling tadi. Melihat ikan-ikan warna-warni. Rafa sampai ketakutan karena ada ikan besar."
Rafa dari samping menyahut. Wajahnya muncul sebentar di pojok layar.
"Itu bukan ikan besar. Itu hiu kecil!"
"Hiunya kecil, Ra. Tidak memakan kamu."
"Tapi tetap hiu!"
Aku tersenyum melihat mereka bertengkar kecil. Pertengkaran yang lucu. Pertengkaran yang hanya dimiliki oleh pasangan yang nyaman satu sama lain.
"Kay, kamu mau oleh-oleh apa?" tanya Vira.
"Bebas, Kak. Yang penting dari kakak."
"Nanti kakak belikan baju."
"Tidak usah, Kak. Aku punya banyak baju."
"Celana?"
"Juga punya."
"Topi?"
"Kak, aku tidak butuh apa pun."
"Ya sudah. Kakak belikan apa yang kakak suka."
"Itu namanya kakak belikan untuk kakak, bukan untuk aku."
"Sama saja."
Kami tertawa. Rafa masuk ke dalam frame. Wajahnya sedikit kecokelatan. Matanya sayu. Tapi senyumnya tetap hangat.
"Kay, kamu jaga diri, ya."
"Iya, Kak."
"Rumahnya aman?"
"Aman."
"Jangan lupa mematikan kompor."
"Iya, Kak."
"Jangan lupa mengunci pintu kalau malam."
"Iya, Kak."
Vira menarik Rafa.
"Ra, jangan bawel. Aku yang mau mengobrol sama adikku."
"Ya sudah. Aku ke tepi pantai dulu."
Rafa pergi. Layar hanya menampilkan Vira. Wajahnya berubah, menjadi lebih serius.
"Kay, kamu baik-baik saja, kan?"
"Baik, Kak. Kenapa?"
"Kamu kelihatan pucat."
"Pengaruh lampu."
Vira menatapku. Matanya tajam. Tidak percaya.
"Kamu selalu bilang pengaruh lampu."
"Karena memang pengaruh lampu."
Vira tidak percaya. Tapi dia tidak memaksa. Mungkin dia terlalu lelah. Mungkin dia tidak ingin merusak suasana bulan madunya dengan kekhawatiran.
"Kay, kakak sayang kamu. Jangan lupa itu."
"Aku juga sayang kakak."
"Ya sudah. Kakak tutup dulu. Mau berganti baju."
"Iya, Kak. Hati-hati."
Kami menutup telepon. Aku memandangi layar ponsel yang kembali ke menu awal. Di sudut mata, aku melihat foto Vira dan Rafa di meja tamu. Vira memeluk Rafa dari samping. Rafa tersenyum ke arah kamera. Foto itu diambil saat lamaran. Wajah mereka masih polos. Belum banyak drama. Belum ada luka.
Aku memeluk bantal. Menangis pelan.
Kenapa rasanya masih sakit, Ya Allah?
Tidak ada jawaban. Hanya suara angin yang bertiup.
Hari ketujuh. Aku terbangun dari mimpi buruk.
Aku bermimpi melihat Rafa dan Vira berjalan di tepi pantai. Aku berdiri di kejauhan, tidak bisa bergerak. Kakiku seperti terpaku di pasir. Aku berteriak, memanggil nama Rafa, tapi tidak ada suara yang keluar. Rafa berbalik. Dia menatapku. Tapi matanya kosong. Seperti tidak mengenalku.
Aku duduk di kasur, menggenggam gelang perak di pergelangan tangan. Napas masih tersengal. Keringat dingin membasahi punggung.
Maafkan aku, Rafa. Maafkan aku karena masih memikirkanmu.
Aku pergi ke dapur, membuat kopi. Pahit. Aku butuh pahit untuk mengusir mimpi itu. Aku duduk di meja dapur, sendirian. Lampu dapur masih menyala. Hanya itu satu-satunya cahaya di rumah yang gelap.
Ponsel bergetar. Bukan Vira. Bukan Mona.
Rafa.
Aku menatap nama itu di layar. Jariku menggantung di atas tombol hijau. Aku tidak tahu harus mengangkat atau tidak. Tapi tanganku bergerak sendiri.
"Halo, Kak Rafa."
"Kay, kamu bangun?"
"Bangun. Kakak kenapa belum tidur? Di Bali sudah jam satu malam."
"Tidak bisa tidur. Vira sudah pulas."
Aku bisa mendengar suara ombak di latar belakang. Samar. Jauh.
"Kakak kenapa?"
"Aku memikirkan kamu."
Jantungku berdebar kencang. Aku menekan tangan ke dadaku, mencoba menenangkannya.
"Kakak tidak boleh memikirkan aku. Kakak sedang berbulan madu. Pikirkan Vira."
"Aku mencoba. Tapi tidak bisa."
Suara Rafa terdengar berat. Lelah. Seperti orang yang berjalan jauh tanpa tujuan.
"Kakak, tolong. Jangan buat ini lebih sulit."
"Maaf. Aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja."
"Aku baik-baik saja."
"Kamu berbohong."
Aku terdiam. Rafa tahu. Dia selalu tahu.
"Kak, ini tidak sehat. Kakak sudah menikah dengan Vira. Kakak harus fokus pada istri kakak."
"Aku tahu. Tapi aku juga tidak bisa berpura-pura bahwa perasaan ini tidak ada."
Aku menggigit bibir. Menahan sesuatu yang tidak bisa aku jelaskan.
"Perasaan apa, Kak?"
Rafa terdiam. Beberapa detik berlalu. Aku bisa mendengar napasnya. Tidak teratur.
"Lupakan. Maaf mengganggu."
"Kak, jangan kirim pesan lagi. Setidaknya sampai kalian pulang."
"Baik."
"Selamat malam, Kak."
"Selamat malam, Kay."
Aku menutup telepon. Melempar ponsel ke kasur. Ponsel itu memantul, lalu jatuh di atas bantal.
Gila. Dia gila. Atau aku yang gila?
Air mataku jatuh lagi. Untuk kesekian kalinya.
Mona datang pagi harinya. Aku belum mandi. Belum ganti baju. Masih duduk di sofa dengan selimut menutupi setengah badan. Televisi menyala, tapi tidak ada suara. Hanya gambar bergerak.
"Kay, kamu kelihatan seperti mayat hidup."
"Makasih, Mon."
"Kamu tidak mandi?"
"Belum."
"Kamu tidak makan?"
"Belum."
"Kamu tidak melakukan apa pun?"
"Belum."
Mona duduk di sampingku. Sofa berdecit pelan.
"Cerita. Ada apa?"
Aku menunjukkan chat dengan Rafa semalam. Mona membaca dengan saksama. Matanya bergerak cepat. Wajahnya berubah dari bingung menjadi serius.
"Gila," katanya.
"Sudah tahu."
"Dia masih punya perasaan sama kamu."
"Aku tidak tahu."
"Jelas dari chat ini. Dia bilang dia memikirkan kamu. Di tengah bulan madu."
"Aku bilang dia jangan kirim pesan lagi."
"Kamu baik. Kamu tegas."
"Aku tidak tegas. Aku hanya tidak ingin membuat semuanya lebih berantakan."
Mona memelukku.
"Kay, kamu hebat."
"Aku tidak hebat. Aku hanya tidak punya pilihan."
Mona melepaskan pelukan. Dia menatap mataku.
"Sekarang, kamu mandi. Kamu makan. Kamu hidup. Jangan biarkan perasaan ini membunuhmu."
"Mona, apakah aku orang jahat?"
Mona mengerjap.
"Kenapa kamu bertanya begitu?"
"Karena di dalam hati kecilku, ada sedikit rasa senang saat Rafa bilang dia memikirkan aku."
Mona menatapku lama. Lalu dia tersenyum.
"Itu bukan jahat, Kay. Itu manusia. Setiap orang ingin dicintai. Apalagi kamu yang sudah tiga tahun diam-diam mencintai dia."
"Tapi dia sudah menjadi suami kakakku."
"Iya. Dan kamu sadar itu. Itu yang membedakan kamu dengan orang jahat."
Aku menatap Mona. Sahabatku. Satu-satunya yang tetap ada di sampingku tanpa banyak bertanya.
"Makasih, Mon."
"Sudah. Sekarang mandi. Kamu bau."
Aku tertawa. Mona selalu bisa membuatku tertawa, bahkan di saat seperti ini.
Hari kesepuluh. Vira dan Rafa pulang.
Aku berdiri di depan pintu, menyambut mereka dengan senyum yang sudah aku latih sejak pagi. Senyum yang tidak terlalu lebar. Tidak terlalu tipis. Senyum yang pas untuk seorang adik yang menyambut kakaknya pulang.
"Kak, selamat pulang!" Aku memeluk Vira.
"Kay, kakak kangen sekali!"
Vira memelukku erat. Wanginya berbeda. Wangi tabir surya dan angin laut. Wangi liburan. Wangi kebahagiaan.
Rafa berdiri di samping, membawa koper dan beberapa kantong plastik.
"Kay, ini oleh-oleh untuk kamu." Rafa memberikan sebuah kantong kecil berwarna cokelat.
"Makasih, Kak."
Aku membuka kantong itu. Di dalamnya ada gelang perak lain. Sederhana. Dengan liontin berbentuk daun. Daun yang kecil. Tipis. Tapi detail.
"Biar matching sama yang dulu," kata Rafa.
Vira menatap Rafa. Lalu menatapku. Matanya bergerak cepat di antara kami berdua.
"Kakak yang minta Rafa membelikan," kata Vira cepat. Terlalu cepat.
Aku tahu itu bohong. Tapi aku tersenyum.
"Makasih, Kak. Makasih juga buat Rafa."
Aku memakai gelang itu di pergelangan tangan kanan. Kiri untuk pemberian dulu. Kanan untuk sekarang. Dua gelang. Dua perasaan. Satu dari masa lalu. Satu dari masa depan yang tidak jelas.
"Cantik," kata Vira.
"Vira yang memilih modelnya," kata Rafa lagi.
Aku hanya tersenyum. Tidak ada yang perlu dibohongi lagi. Tapi aku biarkan saja. Biarkan mereka berpura-pura. Biarkan aku berpura-pura.
Mereka masuk ke rumah. Rumah yang kini tidak lagi sepi. Suara koper diseret. Suara pintu dibuka dan ditutup. Suara Vira berteriak dari dapur minta tolong membawakan belanjaan. Suara Rafa yang tertawa karena Vira cerewet.
Hidup kembali ke rumah itu.
Tapi hatiku? Masih sama. Sepi. Kosong. Menunggu sesuatu yang mungkin tidak akan pernah datang.
Tapi tidak apa-apa.
Karena aku sudah berjanji pada diriku sendiri. Aku akan baik-baik saja.
Mungkin tidak hari ini. Mungkin tidak besok.
Tapi suatu saat.
Pasti.
BAB XX
Berusaha Teguh di Atas Luka
Dua minggu setelah Vira dan Rafa kembali dari bulan madu, Vira kini tinggal di rumah Rafa. Aku tinggal sendirian di rumah besar itu. Sesekali Mona datang. Sesekali Vira mampir. Tapi lebih sering aku sendiri.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku belajar menikmati kesendirian.
"Kay, kamu yakin tidak mau pindah ke kost lagi?" tanya Mona melalui telepon suatu sore.
"Yakin. Rumah ini butuh aku."
"Tidak takut setan?"
"Setan takut sama aku."
Mona tertawa. "Kamu berubah, Kay. Menjadi lebih dewasa."
"Aku terpaksa. Tapi itu bagus."
Aku tersenyum kecil. "Iya. Aku juga merasa lebih baik."
Mona datang seminggu kemudian. Kami makan berdua di meja makan yang dulu selalu ramai.
"Kay, aku dengar Rafa dan Vira baik-baik saja?"
"Baik. Mereka bahagia, Mon. Setidaknya itu yang aku lihat."
"Kamu masih sering bertemu Rafa?"
"Kadang. Pas Vira main ke sini."
"Kamu kuat?"
"Mon, aku sudah lelah memikirkan Rafa. Aku ingin fokus pada diriku sendiri."
Mona menatapku lama. "Bagus. Itu yang aku mau dengar."
Tapi meskipun aku berkata demikian, perasaan itu masih ada. Tersembunyi di sudut hati yang paling dalam. Aku hanya belajar untuk tidak memberinya makanan. Aku biarkan ia lapar. Dan perlahan, ia mulai layu.
Suatu sore, Vira datang tanpa Rafa. Wajahnya cerah.
"Kay, kakak belikan baju untuk kamu."
"Kak, aku bilang jangan membeli baju."
"Tapi ini lucu." Vira mengeluarkan kaus oblong kuning bergambar kucing.
"Kak, ini kaus anak SD."
"Kamu kan masih anak SD di mata kakak."
Aku menghela napas. "Baik, Kak."
Kami duduk di teras, menikmati angin sore. Teh hangat menemani.
"Kay, kakak ingin bicara sesuatu."
"Apa, Kak?"
Vira menunduk sebentar. Lalu menatapku.
"Kakak tahu Rafa masih memikirkan kamu."
Jantungku berdebar. Aku berusaha tenang.
"Kak, mungkin hanya penyesuaian. Pernikahan masih baru."
"Bukan. Aku kenal Rafa. Aku tahu dia sedang tidak fokus."
"Lalu kakak bicara dengan dia?"
"Sudah. Dia bilang tidak ada apa-apa."
"Kakak percaya?"
"Aku ingin percaya. Tapi hatiku tidak tenang."
Aku meraih tangan Vira. "Kak, Rafa suami yang baik. Dia tidak akan menyakiti kakak."
"Aku tahu. Tapi aku juga tidak mau kehilangan dia."
"Kakak tidak akan kehilangan dia. Aku juga tidak akan mengambil dia."
Vira tersenyum tipis. "Kamu jadi bijak, Kay."
"Aku belajar dari kakak."
"Kay, janji satu hal. Kalau suatu saat Rafa mengaku punya perasaan sama kamu, ceritakan pada kakak."
"Kak, dia tidak akan—"
"Ceritakan pada kakak."
Aku terdiam. Lalu mengangguk. "Baik, Kak. Aku janji."
Minggu berikutnya, aku mendapat panggilan kerja. Perusahaan konsultan tempat Rafa bekerja membuka lowongan akuntan. Rafa yang merekomendasikanku.
"Kay, kamu bisa memilih untuk tidak menerima," kata Mona.
"Tapi ini kesempatan bagus, Mon."
"Tapi kamu akan bertemu Rafa setiap hari."
"Rafa di divisi konsultan. Aku di akuntansi. Mungkin tidak sering bertemu."
"Kamu yakin?"
"Tidak yakin. Tapi aku mau mencoba."
Mona menghela napas. "Kalau kamu mulai sakit lagi, kamu harus berhenti."
"Aku tidak akan sakit lagi, Mon. Aku sudah berdamai dengan perasaanku."
Aku diterima. Hari pertama bekerja, aku datang lebih awal. Mejaku di lantai 3, Rafa di lantai 5. Aku lega.
Tapi pada hari ketiga, aku bertemu Rafa di kantin.
"Kay, selamat bergabung," sapanya.
"Makasih, Kak."
"Kalau ada masalah, jangan sungkan bicara sama aku."
"Iya, Kak."
Kami duduk berjauhan. Makan siang berlangsung sunyi. Aku sesekali menoleh, Rafa sesekali menoleh. Tapi tidak ada yang memulai percakapan.
Itu bagus. Itu yang aku inginkan.
Tapi kenapa hatiku tetap berdebar?
Minggu kedua, Vira mengundangku makan malam di rumahnya. Rafa yang menjemput.
Di dalam mobil, Rafa berkata, "Kamu jarang main ke rumah kami."
"Sibuk, Kak. Kerja baru."
"Vira kangen kamu."
"Aku juga kangen Vira."
Mobil berhenti di depan rumah dua lantai dengan taman kecil. Vira sudah menunggu di pintu.
"Kay! Kamu datang!"
Vira memelukku erat. "Kakak kangen berat."
Makan malam berlangsung hangat. Vira bercerita tentang pekerjaan barunya sebagai dosen. Rafa bercerita tentang proyek konsultannya.
"Kay, kamu sudah punya pacar?" tanya Vira tiba-tiba.
"Belum, Kak."
"Kakak punya teman. Andri. Kerja di bank. Ganteng."
"Kak, tolong. Aku belum butuh."
"Kamu sudah 22. Jomblo terus nanti dikira ada yang tidak beres."
"Via, biarkan dia memilih sendiri," potong Rafa.
Vira menatap Rafa. "Kamu kenapa membela dia?"
"Aku tidak membela. Aku hanya bilang biarkan dia memilih."
Vira menghela napas. Aku menunduk. Aku tahu Vira cemburu. Bukan karena Rafa membelaku. Tapi karena Rafa terlalu perhatian padaku.
Setelah makan, Vira mengajakku ke kamarnya.
"Kay, kakak minta maaf. Kakak terlalu memaksa soal pacar."
"Aku tahu, Kak. Tapi aku belum siap."
"Kamu masih mencintai Rafa?"
Aku terdiam.
"Kak, aku tidak tahu. Aku tidak tahu apakah yang aku rasakan masih cinta atau hanya kebiasaan."
Vira menggenggam tanganku. "Kay, kakak tidak marah. Kakak hanya ingin kamu jujur."
"Aku jujur, Kak. Aku bingung."
Vira memelukku. "Kakak akan membantu."
"Makasih, Kak."
Pulang dari rumah Vira, Rafa mengantarku. Di dalam mobil, kami berdua saja.
"Kay, maaf soal tadi. Vira tidak bermaksud."
"Aku tahu."
"Kamu baik-baik saja?"
"Kak, kenapa kakak selalu bertanya apakah aku yakin?"
Rafa terdiam. Tangannya di setir mengepal.
"Karena aku peduli," jawabnya akhirnya.
"Kakak tidak perlu peduli. Kakak sudah punya Vira."
"Tidak bisa. Aku juga peduli padamu."
"Kak, tolong. Jangan membuatku bingung."
Rafa menepikan mobil di pinggir jalan. Dia mematikan mesin.
"Kay, aku ingin jujur tentang perasaanku."
Aku menegang. "Kak, jangan. Aku tidak siap."
"Kay, aku sayang Vira. Aku serius. Tapi aku juga merasakan sesuatu padamu."
Udara di dalam mobil terasa panas.
"Rafa, kakak sudah menikah. Dengan kakakku."
"Aku tahu."
"Jadi tidak boleh. Tidak ada tempat untuk perasaan ini."
"Aku tahu."
"Kalau kakak tahu, kakak harus berhenti."
"Aku sudah mencoba. Aku gagal."
"Kakak harus mencoba lagi."
Rafa menunduk. "Kay, maaf."
"Jaga jarak, Kak. Jangan kirim pesan yang tidak perlu. Jangan telepon tanpa alasan. Jangan tatap aku seperti itu."
"Seperti apa?"
"Seperti kakak melihat sesuatu yang tidak seharusnya."
Rafa menghela napas panjang. "Baik. Aku akan lakukan."
"Janji?"
"Janji."
Rafa menyalakan mesin. Sepanjang perjalanan, kami tidak bicara.
Sampai di depan rumahku, Rafa mematikan mesin.
"Kay, selamat malam."
"Selamat malam, Kak."
Aku turun dari mobil. Tidak menoleh. Langsung masuk.
Begitu pintu tertutup, aku bersandar di baliknya. Air mataku jatuh.
"Aku tegas," bisikku. "Aku berhasil."
Tapi kenapa rasanya seperti aku baru saja kehilangan sesuatu yang berharga? Padahal aku tidak pernah memilikinya.
Ponsel bergetar. Mona.
Mona: "Kay, bagaimana makan malamnya?"
Kayla: "Berat."
Mona: "Cerita besok. Kamu istirahat dulu."
Kayla: "Iya, Mon."
Aku meletakkan ponsel. Memejamkan mata.
Besok akan lebih mudah. Lusa akan lebih mudah lagi.
Aku percaya itu.
BAB XXI
Ketika Perasaan Mulai Berpaling
Tiga bulan berlalu sejak aku mulai bekerja di perusahaan yang sama dengan Rafa. Tiga bulan aku belajar menjaga jarak. Tiga bulan aku belajar mengatakan tidak pada perasaan yang masih sesekali menggoda.
Dan perlahan, tanpa aku sadari, sesuatu mulai berubah.
Aku tidak lagi menahan napas setiap kali lift berhenti di lantai lima. Aku tidak lagi mencari-cari sosok Rafa di kantin. Aku tidak lagi deg-degan setiap kali ponsel bergetar.
Perasaanku mulai berpaling. Bukan karena aku membencinya. Bukan karena aku sudah menemukan pengganti. Tapi karena aku lelah. Lelah memikirkan seseorang yang tidak bisa aku miliki.
Dan untuk pertama kalinya, aku merasa lega.
"Kay, kamu kelihatan lebih segar akhir-akhir ini," kata Mona suatu sore saat kami minum kopi di kafe langganan.
"Segar bagaimana?"
"Kamu tidak kelihatan lesu. Matamu tidak sembab. Kamu juga tidak sering melamun."
"Aku baik-baik saja, Mon."
"Lebih dari baik-baik saja. Kamu kelihatan hidup lagi."
Aku tersenyum. "Mungkin karena aku sudah mulai move on."
Mona mengangkat alis. "Serius?"
"Iya. Tiba-tiba aku sadar, rasanya sudah tidak sekaku dulu."
"Cerita. Detail."
Aku menarik napas. "Sekarang kalau Rafa lewat, jantungku masih berdegup. Tapi tidak sekeras dulu. Masih ada sedikit perasaan, tapi tidak lagi menyiksa."
"Itu namanya proses. Bagus."
"Aku juga mulai membuka diri untuk kemungkinan lain."
Mona membelalak. "Maksudmu? Kamu sudah punya cowok baru?"
"Belum. Tapi aku tidak lagi menutup pintu."
"Wah, ini perkembangan luar biasa!"
Aku tertawa. "Kamu jangan lebay."
"Aku tidak lebay. Kamu yang dulu mati-matian mempertahankan perasaan sama Rafa, sekarang sudah siap membuka pintu. Itu namanya pahlawan move on."
Kami tertawa berdua. Hangat. Seperti dulu sebelum semuanya rumit.
Suatu hari, Vira datang ke rumahku tanpa kabar. Wajahnya cerah. Dia membawa kue bolu buatannya sendiri.
"Kay, coba. Kakak belajar membuat kue."
Aku mencicipi. "Enak, Kak. Lembut."
Vira tersenyum puas. "Kakak senang."
Kami duduk di teras. Teh dan kue menemani.
"Kay, kakak lihat kamu akhir-akhir ini lebih ceria."
"Kakak juga melihat?"
"Iya. Matamu berbinar."
"Sepertinya kamu sudah mulai move on," kata Vira.
"Iya, Kak. Aku sudah mulai."
"Karena ada cowok baru?"
"Belum. Tapi aku sudah tidak terlalu memikirkan Rafa."
Vira terdiam sebentar. Lalu tersenyum. "Kakak lega."
"Kakak takut aku tidak bisa move on?"
"Kakak takut kamu terus menderita. Dan kakak takut kalau-kalau Rafa juga tidak bisa move on darimu."
"Kak, Rafa suami kakak. Dia sudah memilih kakak. Itu sudah cukup."
"Tapi perasaan tidak bisa dipilih, Kay. Perasaan terjadi begitu saja."
"Tapi tindakan bisa dipilih, Kak. Rafa sudah memilih untuk bersama kakak."
Vira menghela napas. "Kamu dewasa, Kay."
"Aku tidak dewasa. Aku hanya lelah bersedih."
Vira memelukku. "Kakak sayang kamu."
"Aku juga sayang kakak."
Pekerjaan di kantor berjalan lancar. Aku mulai akrab dengan rekan-rekan satu tim. Ada Dimas, cowok berkacamata yang pendiam tapi baik hati.
Dimas satu divisi denganku. Mejanya bersebelahan. Kami sering kerja bareng.
Suatu hari, Dimas bertanya, "Kay, kamu sudah makan siang?"
"Belum. Lagi sibuk."
"Aku bawakan bakso. Mau?"
Aku menatap bakso di tangannya. "Makasih, Mas."
Dimas meletakkan bakso di mejaku, lalu kembali ke mejanya.
Sari menyodokku dari belakang. "Kay, Dimas itu perhatian sekali sama kamu."
"Biasa saja, Mbak. Dia baik ke semua orang."
"Tidak. Cuma ke kamu."
Aku melirik Dimas. Pipinya sedikit kemerahan. Aku tersenyum kecil.
Minggu berikutnya, Dimas mengajakku makan malam. Bukan kencan, katanya. Hanya makan bersama setelah lembur.
"Di mana, Mas?"
"Tahu bulat. Enak. Saus kacangnya rahasia."
Aku tertawa. "Ya sudah. Ayo."
Tempatnya sederhana. Warung tenda di pinggir jalan. Tapi ramai. Kami makan sambil bercerita tentang banyak hal. Dimas lulusan Universitas Padjadjaran. Anak semata wayang. Orang tuanya di Bandung.
"Kamu sendiri di Jakarta?" tanyaku.
"Iya. Kost di Kramat."
"Aku juga sendiri di rumah. Kakakku sudah menikah."
"Wah, rumah besar, dong."
"Cukup besar. Tapi sepi."
"Kalau sepi, kamu bisa main ke kostku. Ramai."
"Main ke kost cowok? Tidak sopan, Mas."
Dimas tertawa. "Ya sudah. Aku yang main ke rumahmu."
"Berani?"
"Kenapa tidak? Kamu kan temanku."
Temanku. Kata itu terasa nyaman. Tidak berat. Tidak penuh makna tersembunyi.
"Ya sudah. Minggu depan kamu main ke rumahku."
"Janji?"
"Janji."
Pulang ke rumah, senyum masih mengembang di wajahku. Bukan senyum karena jatuh cinta. Tapi senyum karena merasa dihargai. Dilihat. Bukan sebagai adik. Bukan sebagai pelarian. Tapi sebagai teman.
Rafa menelepon malam itu.
"Kay, Vira bilang kamu kelihatan ceria akhir-akhir ini."
"Aku baik-baik saja, Kak."
"Kamu bahagia?"
"Aku bahagia."
"Bagus kalau begitu."
"Kak, aku sudah mulai move on."
Rafa tidak menjawab.
"Kak?"
"Aku mendengar."
"Kakak seharusnya senang."
"Aku senang."
"Tapi suaramu tidak terdengar senang."
"Kay, aku juga berusaha move on."
"Kakak sudah menikah. Kakak harusnya sudah dari awal."
"Aku tahu. Tapi tidak semudah itu."
"Kakak harus berusaha lebih keras."
Rafa menghela napas. "Kay, aku senang kamu bahagia. Sungguh."
"Makasih, Kak. Selamat malam."
"Selamat malam."
Aku menutup telepon. Berdiri di dekat jendela. Bulan bersinar terang.
Perasaan mulai berpaling. Bukan lari. Bukan menghilang. Tapi perlahan berbalik ke arah lain.
Meninggalkan Rafa di masa lalu. Bukan karena aku benci. Tapi karena aku memilih diriku sendiri.
Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir, aku merasa bebas.
Mungkin inilah saatnya. Saat di mana luka mulai mengering. Saat di mana hati mulai terbuka untuk kemungkinan baru.
Bukan untuk Dimas. Bukan untuk siapa pun.
Tapi untuk kebahagiaanku sendiri.
Dan rasanya... sangat melegakan.
BAB XXII
Dimas, Bukan Rafa
Minggu depan, Dimas datang ke rumahku. Tepat seperti janjinya. Aku membuka pintu dengan kaus oblong biasa dan rambut diikat asal. Tidak perlu berdandan. Karena ini hanya teman yang main ke rumah.
Atau setidaknya itulah yang aku pikirkan.
"Wah, rumahmu besar, Kay," kata Dimas sambil melihat sekeliling.
"Rumah orang tua. Sekarang aku sendiri."
"Sendirian? Berani?"
"Sudah biasa."
Dimas membawa oleh-oleh. Kue lapis legit buatan ibunya di Bandung.
"Ini untuk kamu. Ibu aku minta diberikan ke teman kantor."
"Makasih, Mas. Dan makasih juga buat ibumu."
"Sama-sama."
Kami mengobrol tentang banyak hal. Dimas ternyata suka mendaki gunung. Dia sudah menaklukkan beberapa gunung di Jawa.
"Wah, kamu petualang," kataku.
"Bukan petualang. Hanya suka tantangan."
"Aku belum pernah naik gunung. Takut."
"Takut apa?"
"Jatuh. Tersesat. Dimakan harimau."
Dimas tertawa. "Tidak ada harimau di gunung yang biasa aku daki."
"Kalau kamu mau, aku bisa menemani. Kita naik gunung yang mudah dulu."
Aku berpikir sejenak. "Boleh juga. Tapi jangan sekarang."
"Oke. Aku tunggu."
Jam menunjukkan pukul 5 sore. Dimas pamit pulang. Tapi sebelum pergi, dia berdiri di depan pintu lebih lama dari yang diperlukan.
"Kay, makasih sudah menerima aku."
"Makasih kembali, Mas. Kuenya enak."
"Sampaikan salam ke ibumu."
Aku terdiam sebentar. "Ibu aku sudah meninggal, Mas."
Dimas terdiam. Wajahnya berubah. Matanya melembut.
"Maaf. Aku tidak tahu."
"Tidak apa-apa."
"Jadi kamu sendiri?"
"Aku punya kakak. Dia sudah menikah."
"Tapi kamu tetap tinggal sendiri."
"Iya. Aku memilih sendiri."
Dimas menatapku. Bukan tatapan penasaran. Bukan tatapan iba. Tapi tatapan yang melihat.
"Kamu kuat, Kay."
"Aku tidak kuat. Aku hanya terbiasa."
Dimas menggeleng. "Terbiasa itu awal dari kuat."
Aku tersenyum. "Makasih, Mas."
Mona menelepon begitu aku menutup pintu.
"Kay, aku dengar ada cowok main ke rumah kamu?"
"Dari mana kamu tahu?"
"Mata-mata aku di mana-mana."
"Kamu gila, Mon."
"Cerita dong. Siapa dia?"
"Dimas. Teman kantor."
"Teman biasa atau lebih?"
"Teman biasa."
"Kay, jangan tutup hati. Kamu bilang kamu sudah melangkah maju. Kamu bilang kamu siap membuka pintu. Nah, ini pintunya."
"Dimas bukan pintu, Mon. Dia hanya teman."
Mona terdiam sebentar. Aku bisa mendengar dia menghela napas.
"Kay, aku dulu juga pernah kayak gini. Ada cowok baik yang dekat sama aku. Tapi aku anggap dia cuma teman. Dan ketika dia pergi dengan cewek lain, aku baru sadar. Aku kehilangan sesuatu yang berharga."
Aku terkejut. Mona tidak pernah cerita ini.
"Kamu serius, Mon?"
"Serius. Namanya Raka. Dia baik. Dia selalu ada. Dia suka membawakan aku kopi setiap pagi, persis seperti Dimas sekarang. Tapi aku terlalu sibuk mengejar cowok lain yang tidak pernah memperhatikan aku. Sampai suatu hari Raka bilang dia mau menikah. Dengan cewek lain. Dan aku cuma bisa diam."
"Mon, aku tidak tahu..."
"Aku tidak pernah cerita karena malu. Tapi aku tidak mau kamu mengalami hal yang sama, Kay. Jangan buang waktu dengan cowok yang salah hanya karena kamu masih terpaku pada masa lalu."
Aku menggenggam ponsel lebih erat.
"Makasih sudah cerita, Mon."
"Ya. Jadi, jangan ulangi kesalahanku."
Minggu berikutnya di kantor, Dimas membawakanku kopi setiap pagi. Kopi untukku selalu datang lebih dulu. Dalam suhu yang pas.
"Kay, ini kopimu. Kurang gula, ya?"
"Iya, Mas. Makasih."
Sari menyodokku dari belakang. "Kay, Dimas itu perhatian sekali."
"Biasa saja, Mbak."
"Tidak biasa. Dulu dia tidak pernah membawakan kopi untuk siapa pun. Baru sekarang. Karena kamu."
Aku melirik Dimas. Dia sedang fokus pada laptopnya. Kacamatanya agak turun ke ujung hidung. Dia terlihat polos. Tidak seperti Rafa. Dimas berbeda. Dia nyaman. Dia hanya ada. Dan itu cukup.
Suatu siang, Rafa turun ke lantai 3. Wanginya masih sama. Kayu cendana dan jeruk. Dulu wangi itu membuatku pusing. Sekarang hanya terasa seperti angin lalu.
"Kay, bicara soal laporan keuangan proyek konsultan."
"Baik, Kak."
Di ruang rapat, Rafa menatapku. Matanya teliti.
"Kay, kamu kelihatan berbeda. Lebih segar."
"Aku sedang baik-baik saja, Kak."
"Kamu bahagia?"
"Aku bahagia."
Rafa tersenyum. "Aku senang mendengarnya."
Dia menutup berkas. Tapi tidak segera pergi.
"Kay, aku dengar kamu dekat dengan Dimas. Dia orang baik."
"Makasih, Kak."
"Kay, aku hanya ingin bilang... kamu pantas bahagia. Dengan siapa pun itu."
"Makasih, Kak."
Rafa berdiri dan berjalan keluar. Aku menatap punggungnya. Lebih ringan dari dulu. Seperti beban yang mulai terangkat.
Dimas mengajakku makan malam. Di restoran sederhana dekat kantor.
"Kay, aku tidak mau bertele-tele. Aku suka sama kamu."
Aku terdiam. Dimas menatapku dengan mata jujur.
"Aku tidak tahu harus bilang apa, Mas."
"Kamu tidak usah bilang apa-apa. Aku hanya ingin jujur."
"Tapi kita baru kenal."
Dimas tersenyum. "Aku cukup lama melihatmu dari jauh. Sejak pertama kali kamu masuk kantor."
"Kamu memperhatikan aku?"
"Iya. Setiap hari."
"Dimas, aku masih punya luka lama. Luka yang belum sepenuhnya sembuh."
Dimas mengangguk. "Aku bisa menunggu."
"Kenapa kamu mau menunggu? Banyak perempuan lain."
Dimas mencondongkan badannya ke depan. "Tapi tidak ada yang seperti kamu."
"Dimas, aku tidak bisa memberi janji. Tapi aku tidak akan menutup pintu."
Dimas tersenyum. Senyum paling lebar yang pernah aku lihat darinya.
"Sudah cukup."
Pulang ke rumah, Vira menelepon.
"Kay, kakak dengar kamu dekat sama cowok di kantor. Dari Rafa."
Aku terkejut. "Rafa cerita?"
"Iya. Namanya Dimas. Baik. Perhatian. Suka membawakan kamu kopi."
"Kak, aku tidak mau bicara soal Rafa."
Vira menghela napas. "Baik. Kita bicara soal Dimas."
"Kak, tolong. Jangan menjadi mak comblang."
"Aku tidak menjadi mak comblang. Aku hanya ingin kamu bahagia."
"Aku bahagia, Kak."
"Bahagia dengan caramu sendiri. Tapi kakak ingin kamu bahagia dengan orang lain. Bukan sendirian."
"Suatu saat, Kak. Tidak harus sekarang."
Vira menghela napas. "Ya sudah. Kakak tidak akan memaksa. Tapi kakak mendoakan yang terbaik untuk kamu."
"Amin."
Aku berbaring di kasur. Menatap langit-langit.
Dimas. Pria berkacamata dengan senyum polos itu.
Dia bukan Rafa. Tapi mungkin itu yang aku butuhkan. Bukan seseorang yang membuat jantungku berdebar seperti orang kesurupan. Tapi seseorang yang membuatku merasa aman untuk jatuh cinta. Perlahan. Tanpa rasa takut.
Mona pernah kehilangan cowok baik karena terlalu sibuk mengejar yang salah. Aku tidak mau mengulang kesalahan yang sama.
Mungkin inilah saatnya. Saat di mana aku belajar bahwa cinta tidak selalu berbentuk badai. Kadang cinta berbentuk angin sepoi-sepoi. Tenang. Tidak menggebu. Tapi tetap hangat.
Dan angin itu, saat ini, bernama Dimas.
Untuk pertama kalinya, aku tidak takut untuk tidak tahu.
BAB XXIII
Menerima Kehadiran yang Tak Terduga
Satu bulan sejak Dimas menyatakan perasaannya, aku masih belum memberi jawaban. Bukan karena aku menggantungnya. Tapi karena aku ingin benar-benar yakin. Aku tidak ingin memulai sesuatu yang setengah hati. Aku tidak ingin menyakiti Dimas seperti dulu aku tersakiti.
Dan Dimas? Dia tidak pernah menekan. Dia tetap datang dengan kopi setiap pagi. Tetap mengajakku makan siang. Tetap menungguku pulang kerja meskipun dia harus mengambil rute yang lebih jauh.
Dia ada. Konsisten. Tanpa drama.
Suatu siang di kantor, aku sedang pusing mengerjakan laporan keuangan yang deadline-nya besok. Angka-angka berputar di kepalaku. Rumus-rumus Excel mulai tidak masuk akal.
"Kay, kamu sudah makan?" tanya Dimas dari samping mejaku.
"Belum. Lagi sibuk."
"Aku bawakan nasi kotak. Mau?"
"Untuk aku lagi?"
"Iya. Aku beli dua."
Aku menatap nasi kotak di tangannya. Bukan nasi kotak biasa. Isinya tahu bulat dengan saus kacang. Warung langganan yang dulu dia ajak aku pertama kali.
"Dimas, kamu jangan terus-terusan membawakanku makan."
"Kenapa? Kamu tidak suka?"
"Aku suka. Tapi kamu jadi keluar uang banyak."
"Tidak masalah. Aku ikhlas."
"Tapi..."
"Kay, terima saja. Ini nasi kotak. Bukan berlian."
Aku tertawa. Dimas tahu persis cara meluluhkan hatiku. Bukan dengan kata-kata manis. Tapi dengan tahu bulat dan saus kacang.
"Ya sudah. Makasih."
Kami makan berdua di meja kantor. Sari dan Andi sudah lebih dulu ke kantin. Aku membuka kotak makan dan mencium aroma tahu bulat yang khas.
"Dimas, kenapa kamu baik sekali sama aku?" tanyaku sambil mengunyah.
"Karena aku suka sama kamu."
"Bukan. Maksudku, kenapa kamu baik padahal aku belum memberi jawaban?"
Dimas berhenti makan. Dia meletakkan sendoknya di tepi kotak. Matanya menatapku. Tidak marah. Tidak kecewa. Hanya jujur.
"Kay, aku tidak baik karena mengharapkan jawaban. Aku baik karena aku ingin baik."
"Tapi biasanya orang baik karena ada maunya."
"Orang lain. Bukan aku."
"Kenapa aku harus percaya?"
Dimas tersenyum kecil. "Karena aku tidak punya alasan untuk bohong. Aku tidak butuh apa pun darimu. Aku tidak butuh uangmu. Aku tidak butuh koneksimu. Aku tidak butuh kamu membalas perasaanku. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa ada seseorang yang peduli tanpa syarat."
Aku terdiam. Tidak ada yang pernah mengatakan itu padaku. Tidak Rafa. Tidak Vira. Bahkan Mona pun selalu punya alasan di balik kebaikannya, meskipun alasan itu tulus.
"Kay, aku tahu kamu punya luka masa lalu. Aku tidak tahu siapa yang melukaimu. Tapi aku tidak ingin menjadi orang yang menambah luka itu."
"Kamu tidak kenal masa laluku."
Dimas menggeleng. "Aku tidak perlu kenal. Yang penting aku kenal kamu yang sekarang. Kamu yang suka tahu bulat. Kamu yang marah kalau kopimu dingin. Kamu yang tersenyum kecil setiap kali melihat foto kucing di ponselmu. Kamu yang sekarang sedang duduk di depanku dengan saus kacang di pipi."
"Apa?" Aku mengusap pipiku. Ternyata ada saus kacang yang menempel.
Dimas tertawa. Aku ikut tertawa. Tawa yang membuat Sari dan Andi menoleh dari kejauhan.
"Kamu tidak takut kalau suatu saat aku masih jatuh cinta sama orang itu?" tanyaku setelah tawa mereda.
Dimas menunduk sebentar. Jari-jarinya memainkan ujung kotak makan. Lalu dia menatapku lagi. Matanya teduh.
"Aku takut. Tapi aku lebih takut tidak mencoba. Aku lebih takut menyesal di kemudian hari karena tidak pernah berani. Aku lebih takut melihatmu bersama orang lain dan bertanya-tanya, bagaimana jika dulu aku lebih berani?"
"Kamu bisa sakit, Dimas."
"Aku siap. Aku sudah dewasa. Aku tahu risikonya. Aku tahu bahwa menyukai seseorang yang masih terluka itu seperti memegang kaca. Bisa saja aku yang terluka. Tapi aku memilih untuk tetap memegang."
Aku menghela napas. "Kamu ini aneh."
Dimas tersenyum. "Boleh. Yang penting kamu tahu, aku ada di sini."
Pulang kerja, Dimas mengantarku seperti biasa. Di depan rumah, dia mematikan mesin motornya. Motor butut itu bergetar sebentar sebelum benar-benar mati.
"Kay, aku tidak akan menanyakan jawabanmu. Tapi aku ingin kamu tahu, aku tidak akan ke mana-mana."
"Kamu yakin?"
"Yakin."
"Meskipun aku butuh waktu lama? Bisa setahun. Bisa dua tahun. Bisa lebih."
Dimas menatapku. Matanya tidak berkedip.
"Meskipun butuh waktu selamanya."
Aku tersenyum. "Kamu gila, Dimas."
"Mungkin. Tapi gila karena kamu."
Angin sore bertiup. Daun-daun dari pohon mangga di halaman rumah berguguran. Beberapa helai jatuh di rambut Dimas. Dia tidak menyadarinya. Aku tidak memberitahunya.
"Dimas, aku mau mencoba."
Dia mengerjap. "Mencoba apa?"
"Mencoba membuka hati. Perlahan. Dengan kamu."
Dimas terkejut. Matanya membelalak. Mulutnya terbuka sedikit. Seperti tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
"Kamu serius?"
"Aku serius. Tapi perlahan. Jangan harap aku langsung bisa jatuh cinta. Jangan harap aku langsung bisa melupakan masa lalu. Jangan harap aku langsung bisa menjadi pacar yang sempurna. Aku masih belajar. Aku masih dalam proses."
Dimas mengangguk cepat. Terlalu cepat. Kacamatanya hampir jatuh.
"Tidak apa-apa. Aku akan sabar. Aku tidak butuh kamu sempurna. Aku tidak butuh kamu langsung jatuh cinta. Aku hanya butuh kamu membiarkan aku ada di dekatmu."
Aku menatap Dimas. Wajahnya yang bulat. Kacamatanya yang tebal. Rambutnya yang agak keriting. Tidak ada yang spesial. Tidak ada yang membuat jantung berdebar kencang. Tapi matanya jujur. Dan itu lebih dari cukup.
"Janji?" tanyaku.
"Janji." Dimas mengacungkan kelingkingnya seperti anak kecil.
Aku tertawa. Tapi aku menyambut kelingkingnya. Kami bertautan. Hangat. Sederhana. Tanpa drama.
Pulang ke rumah, aku masuk dengan perasaan campur aduk. Apakah aku sudah benar-benar move on? Atau aku hanya butuh pelarian? Aku tidak tahu. Tapi untuk pertama kalinya, aku merasa ada yang berbeda. Ada sedikit rasa ingin tahu. Sedikit penasaran. Sedikit harapan.
Bukan untuk Rafa. Tapi untuk Dimas.
Malam harinya, Vira datang tanpa kabar. Wajahnya serius. Matanya menyelidik. Dia duduk di sofa tanpa menunggu dipersilakan.
"Kay, kakak dengar kamu sama Dimas sudah mulai dekat."
Aku menghela napas. "Dengar dari siapa lagi? Rafa?"
Vira mengangguk. "Iya. Dia cerita."
"Kak, Rafa terlalu perhatian sama hidupku. Aku tidak butuh dia memantau siapa yang aku dekati."
Vira menatapku. Matanya lembut tapi tegas. "Dia hanya peduli, Kay."
"Aku tidak butuh kepeduliannya. Aku butuh dia menjalani hidupnya sendiri dengan kakak. Fokus pada pernikahannya. Fokus pada masa depannya dengan kakak. Bukan fokus padaku."
Vira duduk di sampingku. Sofa berdecit pelan. "Kakak tahu. Tapi Rafa susah lepas. Dia masih merasa bersalah. Masih merasa bahwa dia pernah menyakitimu."
"Kak, aku sudah mulai move on. Tolong bantu Rafa untuk melakukan hal yang sama. Aku tidak bisa terus-menerus menjadi bayangan di antara kalian."
Vira menggenggam tanganku. "Kakak sudah mencoba."
"Coba lebih keras, Kak. Untuk kebaikan kita semua."
"Kay, jangan marah sama kakak."
Aku menghela napas. Panjang. Melepaskan beban yang tidak perlu.
"Aku tidak marah, Kak. Aku hanya lelah. Lelah menjadi bahan pembicaraan. Lelah menjadi alasan keraguan. Lelah menjadi beban di antara kalian."
Vira meraih tanganku. Tangannya hangat. "Kakak minta maaf."
"Bukan salah kakak, Kak. Ini bukan salah siapa pun."
"Kakak seharusnya tidak pernah mempertemukan Rafa denganmu. Kalau kakak tahu dari awal, kakak akan..."
Vira berhenti. Tidak melanjutkan kalimatnya.
Aku menatapnya. "Kak, itu sudah takdir. Kita tidak bisa mengelak. Tidak bisa memilih siapa yang hadir dalam hidup kita. Yang bisa kita pilih hanya bagaimana kita menyikapinya."
Vira mengangguk perlahan. "Kamu benar."
Kami berpelukan. Vira menangis di pundakku. Tangisnya pelan. Tertahan.
"Kay, kakak takut kehilangan Rafa."
"Kakak tidak akan kehilangan dia. Rafa mencintai kakak. Aku melihat bagaimana dia memperlakukan kakak. Aku melihat bagaimana dia menjagamu. Itu bukan cinta palsu, Kak."
Vira melepaskan pelukan. Matanya merah. "Apakah cintanya cukup?"
Aku memegang kedua pundak Vira. "Harus cukup, Kak. Dan kakak juga harus cukup untuk dirimu sendiri. Jangan menggantungkan kebahagiaan hanya pada Rafa. Kakak punya aku. Punya Mona. Punya banyak hal lain."
Vira tersenyum tipis. Menyeka air matanya dengan punggung tangan.
"Kay, ceritakan tentang Dimas."
"Kakak mau tahu?"
Vira mengangguk. "Aku mau tahu siapa yang membuat adikku tersenyum. Bukan senyum palsu yang kamu pakai di depan Rafa. Tapi senyum tulus yang membuat matamu berbinar."
Aku tersenyum. "Dimas baik, Kak. Sederhana. Tidak banyak tingkah. Dia membawakanku kopi setiap pagi. Tapi bukan kopi mahal dari kafe. Kopi tubruk dari warung dekat kantor. Kadang terlalu pahit. Kadang terlalu manis. Tapi dia selalu ingat."
"Perhatian," kata Vira.
"Iya. Tapi tidak berlebihan. Tidak sampai membuatku merasa diawasi."
"Dia tampan?"
Aku tertawa. "Biasalah, Kak. Tidak setampan Rafa. Tapi dia punya kebaikan yang berbeda. Kebaikan yang tidak membuatmu merasa berutang."
Vira mengulurkan tangannya. "Coba kakak lihat fotonya."
Aku membuka ponsel dan menunjukkan foto Dimas. Foto yang dia kirim waktu mendaki Gunung Papandayan. Wajahnya sedikit merah karena sinar matahari. Rambutnya acak-acakan terkena angin. Kacamatanya sedikit miring ke kanan. Dia tersenyum lebar, memegang tongkat kayu seolah dia baru saja menaklukkan dunia.
Vira menatap foto itu lama. Lalu dia tertawa. "Lucu."
"Kak, jangan tertawakan dia."
"Aku tidak tertawa mengejek, Kay. Aku tertawa karena dia kelihatan polos. Seperti anak kecil yang baru saja menemukan harta karun."
Aku melihat foto itu lagi. Vira benar. Dimas memang polos. Tidak ada kepalsuan di wajahnya. Tidak ada topeng.
"Kakak suka dia," kata Vira.
"Kakak baru melihat foto."
Vira menatapku. Matanya serius. "Sudah cukup, Kay. Orang baik itu keliatan dari matanya. Matanya jujur. Tidak ada yang disembunyikan."
Aku menatap foto Dimas lagi. Matanya kecil di balik kacamata. Tapi jujur. Tidak ada kepalsuan.
"Kay, kakak restui."
"Kak, kita belum berpacaran. Aku bahkan belum yakin apakah ini yang aku mau."
Vira menggeleng. "Tapi kakak merestui kamu membuka hati untuk dia. Itu sudah lebih dari cukup. Jangan buru-buru memberi label. Biarkan semuanya berjalan alami. Kalau memang dia untukmu, kamu akan tahu. Kalau tidak, kamu juga akan tahu."
"Makasih, Kak."
Vira berdiri. "Kakak pulang dulu. Rafa menunggu. Aku khawatir dia sendirian di rumah."
"Iya, Kak. Hati-hati di jalan."
"Kamu jaga diri. Jangan lupa makan. Jangan lupa istirahat. Jangan lupa membuka hati untuk Dimas."
"Kak!"
Vira tertawa. "Bercanda. Tapi serius, jangan takut untuk mencoba. Patah hati itu tidak menyenangkan, tapi tidak mencoba itu lebih menyakitkan."
Vira pergi. Aku berdiri di teras, menatap langit malam.
Bulan bersinar terang. Bintang-bintang bertaburan. Angin malam bertiup lembut, membawa aroma daun dari pohon mangga di halaman.
Menerima kehadiran yang tak terduga.
Itulah yang aku lakukan sekarang. Bukan memaksakan. Bukan merencanakan. Tapi membiarkan hidup mengalir. Membiarkan Dimas masuk perlahan. Tanpa takut. Tanpa ragu.
Karena mungkin, cinta yang datang perlahan lebih kuat daripada cinta yang datang sekencang badai.
Karena mungkin, badai hanya merusak. Tapi angin sepoi-sepoi menumbuhkan.
Karena mungkin, cinta tidak selalu tentang debaran jantung yang tidak terkendali. Cinta juga tentang ketenangan. Tentang rasa aman. Tentang pulang.
Dan Dimas? Mungkin dia bukan badai yang aku tunggu-tunggu. Mungkin dia bukan ombak besar yang membuatku terhanyut. Mungkin dia hanya angin. Tapi angin yang hangat. Angin yang membuatku betah. Angin yang membuatku ingin terus berjalan.
Tanpa ombak. Tanpa badai. Hanya ketenangan.
Dan untuk saat ini, itu sudah cukup.
Dan untuk pertama kalinya, aku merasa itu adalah keputusan yang tepat.
BAB XXIV
Bukan Pelarian, Tapi Pilihan
Dua bulan berlalu sejak aku memutuskan untuk membuka hati pada Dimas. Bukan hubungan yang bergerak cepat. Tidak ada kata "pacaran" yang diucapkan. Tidak ada status yang diumumkan ke seluruh dunia. Tapi ada sesuatu yang tumbuh di antara kami. Sesuatu yang hangat. Sesuatu yang membuatku merasa aman.
Dimas tidak pernah memaksa. Dia membiarkan semuanya berjalan alami. Kadang kami makan malam bersama. Kadang kami menonton film di rumahku. Kadang kami hanya duduk diam di teras, menikmati angin malam tanpa bicara. Dan di tengah kebisuan itu, aku merasa lebih dimengerti daripada saat aku bicara sepanjang hari.
Dan aku? Aku mulai merasa nyaman. Bukan hanya dengan Dimas. Tapi dengan diriku sendiri. Aku tidak lagi menangis setiap malam. Tidak lagi memeriksa ponsel berharap ada pesan dari Rafa. Tidak lagi membandingkan setiap pria yang lewat dengan bayangan masa lalu.
Suatu sore, Mona mengajakku ke kafe langganan. Aku datang lebih dulu. Mona menyusul dengan tas ransel penuh stiker anime dan wajah cerah.
"Kay, kamu jatuh cinta belum sama Dimas?"
Aku menyesap kopi hitamku. Pahit. Seperti biasa.
"Aku tidak tahu, Mon."
Mona mengangkat alis. "Kamu pasti tahu. Jatuh cinta itu ada rasanya."
"Dulu aku tahu rasanya. Deg-degan. Jantung berdebar kencang. Susah tidur. Selalu memikirkan dia."
"Nah. Itu cinta."
"Tapi sekarang sama Dimas, aku tidak merasakan itu."
Mona meletakkan gelas es teh manisnya. "Berarti kamu tidak cinta sama dia?"
Aku menghela napas. "Aku tidak tahu, Mon. Yang aku rasakan tenang. Nyaman. Tidak ada deg-degan. Tidak ada overthinking."
Mona menatapku lama. "Itu namanya rasa aman, Kay. Bukan cinta."
"Tapi bukankah cinta juga butuh rasa aman?"
"Iya. Tapi cinta butuh juga bara api. Kamu tidak bisa hidup dengan rasa aman doang. Seperti makan nasi tanpa lauk. Kenyang, tapi hambar."
Aku menyesap kopiku lagi. "Mungkin aku masih butuh waktu."
"Kamu sudah punya waktu dua bulan, Kay. Berapa lama lagi kamu mau berpikir-pikir?"
Aku menatap Mona. "Kenapa kamu buru-buru? Kamu yang ingin aku cepat-cepat punya pacar atau kamu yang tidak tahan melihat aku sendiri?"
Mona tertawa. "Dua-duanya. Tapi serius, Kay. Aku tidak mau kamu stuck. Kamu bilang kamu Melangkah Maju dari Rafa. Tapi kamu juga belum fully open sama Dimas."
"Jadi kamu mau aku bagaimana?"
Mona mencondongkan badannya ke depan. Matanya serius. "Aku mau kamu memilih, Kay. Jangan setengah-setengah. Jangan membuat Dimas menggantung. Jangan membuat dirimu sendiri menggantung. Kalau kamu mau dia, bilang. Kalau kamu tidak mau, bilang juga. Tapi jangan biarkan semuanya mengambang seperti ini."
Aku terdiam. Mona benar. Aku setengah-setengah. Aku membuka pintu untuk Dimas, tapi tidak sepenuhnya. Masih ada sisa ruang di hatiku yang tidak bisa aku berikan pada siapa pun.
Ruang itu dulu untuk Rafa. Sekarang? Aku tidak tahu.
Malam harinya, Dimas mengajakku makan malam. Bukan di warung tahu bulat. Bukan di restoran biasa. Tapi di tempat yang lebih bagus dari biasanya. Ada taplak meja. Ada lilin kecil. Ada musik piano yang dimainkan langsung oleh seorang pria tua di sudut ruangan.
"Ada apa, Dimas? Kok serius sekali?"
Dimas menatapku. Matanya berbeda dari biasanya. Ada ketegangan di sana. "Kay, aku ingin bicara."
"Tentang apa?"
Dia menarik napas. "Tentang kita."
Aku menegang. Jari-jariku menggenggam serbet di pangkuan. "Kita?"
"Iya. Sudah dua bulan kita dekat. Aku sudah sabar menunggu. Aku tidak minta kamu langsung jatuh cinta. Tapi aku perlu tahu, apakah kita sedang menuju ke suatu tempat? Atau hanya berputar-putar di tempat tanpa tujuan?"
"Dimas, aku..."
Dia mengangkat tangannya, menghentikanku. "Jawab jujur, Kay. Apa pun jawabanmu, aku akan terima."
Aku menunduk. Jari-jariku memainkan ujung serbet, memutarnya, melilitkannya, melepaskannya.
"Aku masih bingung, Dimas."
"Bingung tentang apa?"
"Tentang perasaanku. Aku suka kamu. Aku nyaman sama kamu. Tapi aku tidak tahu apakah itu cukup."
Dimas tidak marah. Tidak kecewa. Dia hanya menatapku dengan mata yang sama seperti dua bulan lalu. Lembut. Sabar.
"Menurutmu, apa yang kurang?"
"Aku tidak tahu. Mungkin perasaan itu. Perasaan yang membuatku tidak bisa tidur memikirkan kamu. Perasaan yang membuat jantungku berdebar setiap kali melihat kamu. Perasaan yang dulu aku rasakan untuk seseorang."
"Kamu tidak merasakan itu sama aku?"
Aku menggeleng pelan. "Tidak. Aku merasakan yang sebaliknya. Tenang."
Dimas tersenyum. "Tenang itu buruk?"
"Tidak buruk. Tapi apakah tenang cukup untuk membangun hubungan? Apakah tenang cukup untuk membuatku bertahan saat badai datang? Apakah tenang cukup untuk membuatku memilih kamu setiap hari?"
Dimas menatapku lama. Lalu dia meraih tanganku di atas meja. Tangannya hangat. Tidak gemetar. Tidak ragu.
"Kay, aku tidak mencari cinta yang membuatmu demam. Aku tidak mencari cinta yang membuatmu tidak bisa tidur. Aku tidak mencari cinta yang membuatmu kehilangan akal. Aku mencari cinta yang membuatmu betah. Cinta yang membuatmu merasa rumah."
"Maksudmu?"
"Banyak orang keliru tentang cinta, Kay. Mereka pikir cinta harus selalu menggebu-gebu. Harus selalu membuat jantung berdebar. Harus selalu disertai rasa cemas dan takut kehilangan. Padahal cinta yang sehat justru membuatmu tenang. Tidak overthinking. Tidak cemas. Tidak takut kehilangan karena kamu yakin orang itu tidak akan pergi."
"Kamu yakin itu cinta, Dimas?"
"Aku yakin. Karena aku merasakannya padamu. Aku tenang saat bersamamu. Aku nyaman. Aku bisa menjadi diriku sendiri tanpa perlu berpura-pura menjadi seseorang yang bukan aku."
"Jadi, kamu tidak butuh aku deg-degan?"
Dimas menggeleng. "Tidak. Aku butuh kamu bahagia. Aku butuh kamu tersenyum tanpa alasan. Aku butuh kamu merasa aman."
"Tapi bagaimana aku tahu kalau ini cinta, Dimas? Bukan hanya rasa nyaman? Bukan hanya karena aku butuh pelarian dari masa lalu?"
Dimas memegang tanganku lebih erat. "Kamu akan tahu saat kamu memilih. Bukan karena terpaksa. Bukan karena takut sendirian. Bukan karena lari dari masa lalu. Tapi karena kamu benar-benar ingin. Karena kamu sadar bahwa kamu lebih baik saat dia ada. Dan kamu tidak lebih buruk saat dia tidak ada."
Aku terdiam. Kata-kata Dimas masuk ke dalam relung hatiku yang paling dalam.
"Dan saat ini?" tanyaku pelan.
"Saat ini, kamu masih bingung. Itu wajar, Kay. Aku tidak akan memaksamu memutuskan sekarang. Aku tidak akan memberi ultimatum. Aku tidak akan pergi hanya karena kamu belum siap."
"Kamu sabar sekali, Dimas."
Dimas tersenyum. Senyum yang sama seperti pertama kali dia menyatakan perasaan. Senyum polos tanpa kepalsuan.
"Karena aku serius sama kamu, Kay. Bukan hanya suka. Bukan hanya kagum. Tapi serius. Dan orang yang serius tidak akan pergi hanya karena harus menunggu."
Pulang dari restoran, Dimas mengantarku seperti biasa. Di depan rumah, dia mematikan mesin motor. Rumah itu terlihat sunyi. Tanpa Vira. Tanpa Rafa. Hanya aku.
"Kay, aku ingin kamu tahu satu hal."
"Apa?"
Dia menatapku. Matanya jujur. "Apa pun keputusanmu nanti, aku akan hormati. Kalau kamu memilih aku, aku akan bersyukur. Kalau kamu memilih untuk sendiri, aku akan ikhlas. Tapi selama kamu belum memutuskan, aku akan tetap di sini. Tidak ke mana-mana."
"Kamu tidak takut aku menyakitimu?"
Dimas tersenyum tipis. "Aku lebih takut tidak mencoba. Aku lebih takut menyesal di kemudian hari karena tidak pernah berani. Aku lebih takut melihat kamu bersama orang lain dan bertanya-tanya, bagaimana jika dulu aku lebih berani?"
Dimas menyalakan motor dan pergi. Aku berdiri di teras, menatap punggungnya yang menghilang di tikungan. Lampu belakang motornya berkedip sekali, lalu menghilang.
Malam itu, aku menelepon Mona. Aku menceritakan semuanya. Tentang obrolan dengan Dimas. Tentang perasaanku yang masih setengah-setengah. Tentang ketakutanku bahwa ini hanya pelarian.
Mona mendengarkan tanpa menyela. Aku bisa mendengar dia mengunyah keripik di ujung telepon.
"Kay, kamu mendengarkan aku."
"Iya."
"Kamu bertahan sama perasaan kamu ke Rafa selama tiga tahun. Tiga tahun kamu sakit hati. Tiga tahun kamu menangis. Tiga tahun kamu berharap pada sesuatu yang tidak mungkin."
"Aku tahu."
"Sekarang ada cowok baik yang datang. Dia tidak minta kamu jatuh cinta dalam semalam. Dia tidak minta kamu jadi sempurna. Dia cuma minta kamu memilih. Apakah kamu mau memberinya kesempatan atau tidak."
"Tapi aku takut, Mon. Takut kalau ini cuma pelarian."
"Pelarian dari apa? Dari Rafa?"
"Iya."
"Kay, kamu sudah Melangkah Maju dari Rafa. Kamu buktikan dengan kamu yang sekarang. Kamu lebih ceria. Kamu lebih hidup. Kamu tidak lagi menangis setiap malam. Kamu tidak lagi membuka chat lama dengan Rafa. Kamu bahkan tidak lagi memakai gelang pemberiannya setiap hari."
Aku memegang pergelangan tanganku. Kosong. Gelang itu sudah aku lepas seminggu yang lalu.
"Tapi kenapa aku masih ragu sama Dimas, Mon?"
"Karena kamu belum sepenuhnya percaya sama diri kamu sendiri, Kay. Kamu masih punya luka yang belum sembuh total. Kamu takut kalau-kalau suatu saat luka itu terbuka lagi dan menyakiti Dimas. Kamu takut menjadi sumber rasa sakit bagi orang lain, seperti dulu kamu merasa sakit karena Rafa."
"Jadi aku harus bagaimana?"
"Kamu harus sadar bahwa Dimas bukan Rafa. Dia tidak akan menyakiti kamu. Dia tidak akan membuatmu bingung. Dia tidak akan meninggalkan kamu. Dan yang paling penting, dia tidak akan pernah membuatmu merasa bahwa perasaan kamu tidak penting."
"Kamu yakin?"
Mona menghela napas. "Aku tidak yakin seratus persen. Tidak ada yang bisa yakin soal hati orang lain. Tapi aku melihat sendiri bagaimana dia memperlakukan kamu. Aku melihat bagaimana dia sabar. Aku melihat bagaimana dia tidak pernah memaksa. Aku melihat bagaimana dia melihat kamu, Kay. Bukan dengan mata penuh gairah. Tapi dengan mata penuh ketenangan. Itu lebih langka."
Aku menarik napas panjang.
"Mon, aku ingin mencoba. Benar-benar mencoba. Bukan setengah-setengah."
"Nah, begitu dong."
"Tapi aku butuh waktu. Aku tidak bisa langsung melompat dan bilang aku siap."
"Kamu punya waktu, Kay. Tapi jangan terlalu lama. Cowok baik seperti Dimas tidak akan menganggur terus. Ada banyak perempuan lain yang akan melihat kebaikannya."
Aku tersenyum. "Makasih, Mon."
"Ya. Sekarang tidur. Besok chat Dimas. Kasih dia sinyal bahwa kamu serius. Bukan sekadar bilang 'aku akan coba', tapi tunjukkan dengan tindakan."
"Iya, Mon."
Aku menutup telepon. Memandangi ponselku. Layar masih terang. Chat dengan Dimas terbuka di aplikasi pesan.
Pesan untuk Dimas.
Aku mengetik perlahan. Jari-jemariku bergetar sedikit. Bukan karena takut. Tapi karena sadar bahwa ini adalah keputusan yang akan mengubah banyak hal.
"Dimas, aku tidak bisa janji banyak. Aku tidak bisa bilang aku siap sepenuhnya. Aku tidak bisa bilang aku sudah Melangkah Maju seratus persen. Tapi aku akan mencoba. Benar-benar mencoba. Bukan karena aku butuh pelarian. Bukan karena aku takut sendirian. Tapi karena aku memilih kamu. Perlahan. Tidak terburu-buru. Dan aku harap kamu sabar."
Aku membaca ulang pesan itu tiga kali. Lalu mengirimkannya.
Tidak sampai satu menit, ponselku bergetar.
Dimas: "Terima kasih, Kay. Aku tidak akan mengecewakanmu. Aku sabar. Aku akan menunggumu. Sampai kapan pun. Dan aku tidak akan pergi, apa pun yang terjadi."
Air mataku menetes. Bukan air mata sedih. Bukan air mata bahagia. Tapi air mata lega.
Akhirnya, aku memilih.
Bukan memilih antara Rafa dan Dimas. Bukan memilih antara masa lalu dan masa depan. Tapi memilih untuk bahagia. Memilih untuk tidak terjebak di masa lalu. Memilih untuk memberi kesempatan pada yang baru.
Bukan pelarian. Tapi pilihan.
Pilihan sadar untuk melangkah maju. Pilihan yang dibuat bukan karena takut, tapi karena berani. Bukan karena putus asa, tapi karena harapan. Bukan karena ingin melupakan, tapi karena ingin memulai.
Pilihan yang, untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir, aku buat untuk diriku sendiri.
BAB XXV
Mengikat yang Tak Terikat
Tiga bulan setelah aku memilih Dimas, hubungan kami berkembang seperti aliran sungai. Tenang. Tidak terburu-buru. Tapi pasti mengalir ke suatu tempat.
Kami belum resmi berpacaran. Tidak ada kata "Aku cinta kamu" yang diucapkan. Tidak ada janji-janji besar. Hanya kebersamaan yang semakin dalam. Hanya rasa nyaman yang semakin kuat.
Dan untuk pertama kalinya, aku tidak merasa perlu terburu-buru.
"Kay, kapan kamu bakal resmi sama Dimas?" tanya Mona suatu hari.
Kami sedang berbelanja di supermarket. Mona sibuk memilih camilan. Aku sibuk memilih sayur.
"Aku tidak tahu, Mon. Kami belum pernah bicara soal itu."
"Kamu tidak pernah bertanya?"
"Tidak. Aku juga tidak kepikiran."
"Kok aneh sih kamu? Biasanya perempuan itu ingin sekali dikasih status."
"Aku bukan perempuan biasa. Mungkin karena aku sudah terlalu nyaman."
Mona memasukkan keripik kentang ke keranjang. "Kay, aku suka sama Dimas. Karena dia tidak neko-neko. Dia hadir. Dia konsisten."
"Kamu jadi penggemar berat dia."
"Bukan. Aku jadi penggemar berat kamu yang lagi bahagia."
Aku tersenyum. "Makasih, Mon."
Malam harinya, Dimas datang ke rumahku. Dia membawa DVD film lama.
"Kay, kamu sudah makan?"
"Belum. Aku baru memasak Indomie."
Dimas tertawa. "Indomie bukan memasak. Aku bawakan nasi bungkus."
Kami makan berdua di meja makan. Hangat. Nyaman.
"Dimas, aku mau bertanya sesuatu. Kenapa kamu tidak pernah bilang kita pacaran?"
Dimas berhenti mengunyah. "Kenapa? Kamu ingin kita pacaran?"
"Aku tidak tahu. Aku hanya penasaran."
Dimas meletakkan sendoknya. "Kay, aku tidak bilang kita pacaran karena aku tidak ingin mengikatmu. Status kadang membuat orang merasa terikat. Aku tidak ingin kamu merasa terpaksa."
"Tapi bukankah status itu penting?"
"Penting bagi sebagian orang. Tapi bagiku, yang penting adalah bagaimana kita memperlakukan satu sama lain. Bukan labelnya."
"Jadi kamu tidak masalah kalau orang lain bertanya dan aku bilang kita teman?"
"Kamu bisa bilang apa pun. Yang penting kita tahu hubungan kita seperti apa."
Aku meraih tangannya. "Dimas, aku tidak akan pergi. Bukan karena status. Bukan karena ikatan. Tapi karena aku memilih kamu."
Dimas tersenyum. "Kay, aku tidak butuh ikatan. Aku butuh kamu."
"Jadi kita tidak punya status?"
"Kita punya sesuatu yang lebih dari status. Kita punya komitmen. Tanpa label. Hanya kita berdua."
"Apakah itu cukup?"
"Untuk aku, cukup. Untuk kamu?"
Aku berpikir sejenak. Lalu tersenyum. "Cukup."
Minggu berikutnya, Vira mengundangku makan malam di rumahnya. Rafa sedang keluar kota. Hanya kami berdua.
"Kay, kakak dengar kamu dan Dimas semakin dekat."
"Iya, Kak."
"Sampai kapan kamu berpikir-pikir soal status?"
"Kami tidak punya status, Kak."
Vira mengerjap. "Apa maksudmu?"
"Kami memilih untuk tidak memberi label. Kami hanya bersama."
"Itu aneh. Biasanya orang pacaran pakai status."
"Kami tidak biasa, Kak. Kami tidak butuh label untuk tahu bahwa kami serius satu sama lain."
Vira terdiam. Lalu tersenyum. "Kamu dewasa, Kay. Lebih dewasa dari kakak."
"Kakak selalu bilang begitu."
"Karena itu benar."
Pulang dari rumah Vira, aku mampir ke kost Mona. Dia sedang menonton TV sendirian.
"Kay, kok malam-malam begini ke sini?"
"Kangen."
"Cerita. Ada apa?"
Aku menceritakan tentang obrolanku dengan Dimas soal status.
"Gila. Cowok itu benar-benar beda."
"Iya. Dia tidak seperti kebanyakan cowok."
"Kamu beruntung, Kay."
"Aku tahu."
"Lalu kamu bahagia?"
"Aku bahagia. Bahagia karena aku memilih dia setiap hari. Bukan karena terikat. Tapi karena aku ingin."
Mona tersenyum. "Kamu jatuh cinta, Kay. Cinta yang dewasa. Cinta yang tidak butuh pengakuan."
"Apakah itu cinta?"
"Iya. Itu cinta sejati. Bukan cinta yang membuatmu demam. Tapi cinta yang membuatmu betah."
Mona mematikan televisi. Dia menatapku dengan serius.
"Kay, aku ingin cerita sesuatu."
"Cerita apa lagi, Mon?"
"Tentang cowok yang dulu aku anggap 'cukup'. Namanya Tono. Dia tidak ganteng. Tidak kaya. Tidak romantis. Tapi dia baik. Dia selalu ada. Dan aku... aku membuangnya."
Aku terkejut. "Kamu tidak pernah cerita."
"Karena aku malu. Waktu itu aku masih terobsesi dengan cowok ganteng yang tidak pernah memperhatikan aku. Tono hanya teman biasa bagiku. Sampai suatu hari dia bilang dia mau pindah ke Surabaya. Dan dia bilang, 'Mona, aku suka sama kamu. Tapi kamu tidak pernah serius melihat aku.'"
"Dan kamu?"
"Aku cuma diam. Aku pikir dia hanya bercanda. Tapi dia serius. Dia pergi. Dan sampai sekarang, aku tidak tahu kabarnya."
"Mon, maaf..."
Mona menggeleng. "Aku tidak cerita untuk membuatmu kasihan. Aku cerita karena aku lihat kamu dan Dimas. Dan aku tidak mau kamu mengulang kesalahanku. Kadang kita terlalu sibuk mengejar cinta yang gemerlap sampai tidak melihat cinta yang sederhana. Yang tenang. Yang justru paling bertahan."
"Kamu masih memikirkannya?"
"Kadang. Tapi sudah terlambat. Jadi, jangan buang waktumu dengan memikirkan status atau label, Kay. Yang penting kamu tahu, dia ada. Dia memilih kamu. Dan kamu memilih dia. Selebihnya hanya pelengkap."
Aku menggenggam tangan Mona. "Makasih sudah cerita, Mon."
"Ya. Sekarang pulang. Jangan jadi Mona versi lama yang menyesal di kemudian hari."
Aku pulang dari kost Mona dengan kepala penuh. Tono. Mona menyimpan cerita itu bertahun-tahun. Cowok yang cukup, tapi dibuang karena terlalu sibuk mengejar yang sempurna.
Aku tidak mau seperti itu.
Aku memejamkan mata. Membayangkan Dimas. Wajahnya yang polos. Kacamatanya yang agak turun. Senyumnya yang tulus.
Dan untuk pertama kalinya, aku tidak membandingkannya dengan Rafa.
Karena Dimas berbeda. Dimas bukan Rafa. Dimas adalah Dimas.
Dia cukup. Lebih dari cukup.
Dan aku tidak akan menyia-nyiakannya.
BAB XXVI
Kala Rafa Merelakan
Enam bulan sudah berlalu sejak pernikahan Vira dan Rafa. Enam bulan aku belajar hidup sendiri di rumah yang dulu ramai, kini sunyi. Enam bulan Dimas hadir mengisi hari-hariku dengan cara yang tenang dan tanpa drama. Dia datang tanpa membuatku cemas. Dia pergi tanpa membuatku takut.
Dan enam bulan juga Rafa berusaha menjalani pernikahannya sambil diam-diam menyimpan perasaan yang tidak pernah benar-benar hilang. Aku tahu itu. Bukan karena dia bilang. Tapi karena Vira pernah berbisik di telepon, "Dia masih kadang melamun, Kay. Tapi aku yakin dia sedang berusaha."
Tapi hari ini berbeda.
Hari ini, Rafa memintaku bertemu. Sendirian. Tanpa Vira. Tanpa Dimas. Tanpa Mona.
Aku sempat ragu. Ponselku terasa berat di tangan. Tapi Vira sendiri yang menyuruhku datang.
"Kay, temui Rafa," kata Vira lewat telepon pagi itu. Suaranya tenang. Tidak ada kegelisahan.
"Kenapa, Kak?"
"Ada yang ingin dia bicarakan. Dan dia minta kamu datang."
"Kakak tahu isinya?"
Vira terdiam sebentar. "Tidak. Tapi dia bilang ini penting."
"Kakak tidak cemburu?"
Vira menghela napas. "Dulu aku akan cemburu, Kay. Dulu aku akan bertanya-tanya. Dulu aku akan mengawasi kalian berdua. Tapi sekarang? Aku percaya pada kalian berdua. Aku percaya pada Rafa. Aku percaya pada kamu."
"Kak, aku tidak akan..."
Vira memotongku. "Aku tahu, Kay. Kamu tidak akan melakukan hal bodoh. Kamu sudah melewati masa itu. Sekarang pergilah. Kakak sudah merestui."
Aku menghela napas. "Baik, Kak."
Rafa memilih kafe yang dulu menjadi tempat pertama kami bertiga duduk. Kafe yang sama. Meja yang sama di pojok dekat jendela. Bahkan menu yang sama. Aku tidak tahu apakah dia sengaja memilih tempat ini atau hanya kebetulan. Tapi setiap sudut kafe ini terasa seperti album foto kenangan yang tidak pernah aku minta.
Aku datang lebih dulu. Aku duduk di kursi yang dulu menjadi tempat dudukku. Menghadap ke pintu. Menunggu.
Rafa menyusul lima belas menit kemudian. Tepat waktu, seperti biasa. Wajahnya sedikit lelah. Matanya sayu, ada lingkaran hitam di bawahnya. Tapi senyumnya tetap hangat. Senyum yang dulu membuat jantungku berhenti berdetak. Sekarang hanya membuatku tersenyum kecil.
"Kay, makasih sudah datang."
"Aku tidak enak menolak. Vira yang menyuruh."
Rafa tersenyum tipis. "Vira memang baik."
Kami memesan kopi. Americano untukku. Latte untuknya. Seperti dulu.
"Kay, ada yang ingin aku bicarakan," Rafa memulai setelah kopi datang. Uap panas masih mengepul dari cangkirnya.
"Apa, Kak?"
"Aku ingin minta maaf."
"Maaf kenapa?"
Dia menunduk. Jari-jarinya memainkan gagang cangkir. "Untuk semuanya. Untuk tatapan itu. Untuk pesan tengah malam. Untuk perasaan yang tidak seharusnya aku miliki. Untuk semua kebingungan yang aku ciptakan."
Aku menunduk. "Kak, itu sudah lama. Aku sudah memaafkan."
"Tapi aku belum memaafkan diriku sendiri."
"Kenapa?"
"Karena aku sudah menikah dengan Vira. Aku seharusnya fokus padanya. Aku seharusnya menjadi suami yang baik. Tapi pikiranku sering ke mana-mana. Bahkan saat aku bersama Vira, terkadang yang muncul di kepalaku adalah... kamu."
Rafa bicara pelan. Suaranya berat, seperti orang yang mengeluarkan beban yang sudah lama dipikul.
"Kak, itu wajar. Kita manusia. Bukan robot. Kita tidak bisa mengontrol apa yang muncul di pikiran kita. Kita hanya bisa mengontrol apa yang kita lakukan terhadap pikiran itu."
"Tapi aku suami Vira. Aku tidak boleh membiarkan pikiranku ke mana-mana. Aku tidak boleh membiarkan bayangan orang lain masuk ke dalam kepalaku saat aku bersama istriku sendiri."
"Lalu sekarang? Masih?"
Rafa menggeleng. "Sudah tidak. Aku berusaha, Kay. Aku berdoa. Aku memohon pada Tuhan untuk menghilangkan perasaan itu. Bukan karena aku tidak sayang Vira. Tapi karena aku tahu perasaan itu hanya akan menyakiti banyak orang."
"Dan Tuhan mengabulkan?"
Rafa menyesap kopinya. Perlahan. "Tidak langsung. Seperti kabut yang hilang sedikit demi sedikit. Tapi aku merasa lebih ringan sekarang. Dadaku tidak lagi sesak setiap kali mendengar namamu. Aku tidak lagi mencari-cari wajahmu di setiap keramaian."
Aku tersenyum. "Aku senang mendengarnya, Kak."
Rafa menatapku. Matanya jujur. Tidak ada yang disembunyikan. "Kay, aku juga ingin mengucapkan selamat."
"Selamat untuk apa?"
"Untuk kamu dan Dimas. Aku lihat kamu bahagia. Aku lihat dia baik padamu."
"Kakak tahu?"
Rafa mengangguk. "Aku tahu. Dari Vira. Dari matamu yang berbinar saat Vira cerita tentang Dimas. Dari cara kamu tersenyum sekarang. Beda dengan dulu. Jauh berbeda."
"Beda bagaimana?"
"Dulu senyummu terasa dipaksakan. Seperti kamu sedang memainkan peran. Sekarang senyummu tulus. Sampai ke matamu. Aku tidak tahu persis kapan perubahan itu terjadi. Tapi aku melihatnya."
Aku tersenyum. "Mungkin karena aku akhirnya menemukan ketenangan, Kak. Bukan hanya dengan Dimas. Tapi dengan diriku sendiri."
"Dimas orang baik, Kay. Aku mengenalnya sejak dia masih di tim konsultan. Dia pekerja keras. Dia jujur. Dia tidak pernah main-main dengan perasaan orang. Dia pantas untukmu."
"Makasih, Kak."
Rafa menyesap kopinya. "Kay, ada satu hal lagi."
"Apa?"
"Aku ingin kamu tahu bahwa aku merelakanmu."
Aku mengerjap. "Merelakan? Kakak tidak pernah memiliki aku."
"Bukan dalam arti memiliki, Kay. Bukan dalam arti memiliki secara fisik atau bahkan secara emosional. Tapi merelakan dalam arti melepaskan bayangan tentang kamu yang selama ini aku bawa. Melepaskan rasa bersalah karena pernah memiliki perasaan itu. Melepaskan harapan yang tidak seharusnya ada."
"Kakak tidak perlu merelakan sesuatu yang tidak pernah menjadi milik kakak."
"Tapi perasaan itu pernah menjadi milikku, Kay. Perasaan itu adalah milikku. Aku yang merasakannya. Aku yang memeliharanya. Aku yang membiarkannya tumbuh. Dan sekarang, aku yang harus merelakannya."
Aku terdiam. Rafa melanjutkan.
"Kay, aku sayang Vira. Aku sungguh. Setiap hari aku belajar mencintainya lebih dalam. Setiap hari aku menemukan alasan baru untuk bersyukur bahwa dia adalah istriku. Dan aku ingin fokus padanya. Aku ingin membangun keluarga dengannya. Aku ingin menjadi suami yang baik dan suatu saat menjadi ayah yang baik."
"Kakak bisa, Kak. Aku yakin."
"Aku bisa karena aku memilih untuk bisa, Kay. Bukan karena aku dipaksa. Bukan karena tidak ada pilihan lain. Tapi karena aku sadar bahwa kebahagiaan sejati tidak datang dari mengejar bayangan. Tapi dari merawat apa yang sudah ada di depan mata. Dan karena aku tahu, kamu sudah baik-baik saja dengan Dimas. Kamu sudah menemukan kebahagiaanmu. Dan itu cukup bagiku."
"Kakak tidak perlu khawatir tentang aku. Aku akan baik-baik saja. Aku sudah baik-baik saja."
Rafa menatapku. Matanya mencari sesuatu. "Aku tahu. Tapi aku ingin mendengarnya dari mulutmu sendiri, Kay. Bukan dari Vira. Bukan dari Mona. Bukan dari siapa pun. Tapi dari kamu."
Aku menatap balik. Tidak menghindar. Tidak membuang muka. Tidak seperti dulu.
"Kak, aku baik-baik saja. Aku bahagia. Aku sudah melangkah maju. Benar-benar damai. Bukan karena aku memaksakan diri. Bukan karena aku butuh pelarian. Tapi karena aku sadar bahwa yang aku butuhkan bukanlah seseorang yang membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama. Tapi seseorang yang membuatku merasa aman untuk jatuh cinta setiap hari."
Rafa menghela napas lega. Wajahnya yang tadinya tegang, penuh keraguan, kini sedikit mengendur. Senyumnya menjadi lebih ringan.
"Benar-benar?"
"Benar-benar, Kak."
Rafa mengulurkan tangannya di atas meja. Aku melihat tangannya sebentar. Dulu, tangan ini hampir menyentuh pipiku di dapur. Dulu, tangan ini menangkapku saat aku hampir jatuh di lorong kampus. Sekarang, tangan ini hanya menggenggam udara, menunggu.
Aku menyambut tangannya. Bukan dengan perasaan. Tapi dengan keikhlasan.
"Makasih, Kay."
"Makasih kembali, Kak."
Kami menghabiskan kopi dalam keheningan yang damai. Bukan keheningan yang canggung seperti dulu, saat setiap detak jam terasa seperti siksaan. Bukan keheningan yang penuh dengan kata-kata yang tidak terucap. Tapi keheningan yang terasa seperti titik akhir dari sebuah perjalanan panjang.
Sebuah perjalanan yang dimulai dari lorong kampus tiga tahun lalu. Sebuah perjalanan yang penuh dengan air mata, tawa, kebohongan, dan kejujuran. Sebuah perjalanan yang mengajarkanku bahwa cinta tidak selalu harus berakhir bahagia. Kadang cinta berakhir dengan keikhlasan.
Dan sekarang, perjalanan itu berakhir.
"Kay, aku pamit dulu. Vira menunggu di rumah," kata Rafa sambil berdiri.
"Iya, Kak. Hati-hati di jalan."
Rafa berjalan ke pintu. Jasnya rapi. Rambutnya tertata. Dia terlihat seperti pria yang sama saat pertama kali aku lihat di kafe ini. Tapi ada yang berbeda. Beban di pundaknya terasa lebih ringan.
Tapi sebelum keluar, dia berbalik. Matanya menatapku.
"Kay."
"Ya, Kak."
"Kamu tahu, di hidup yang lain, mungkin ceritanya akan berbeda. Mungkin aku akan memilihmu."
Aku tersenyum. Bukan senyum pahit. Bukan senyum menyesal. Tapi senyum yang tulus.
"Tapi di hidup ini, Kakak sudah memilih Vira. Dan itu pilihan yang tepat."
Rafa tersenyum. Senyum yang berbeda dari dulu. Senyum yang tidak meninggalkan rasa sakit. Senyum yang penuh keikhlasan. Hanya keikhlasan.
"Kamu bijak, Kay."
"Aku belajar dari kakak."
Rafa tertawa kecil. Dia melambai. Lalu pergi.
Pintu kafe tertutup di belakangnya.
Aku duduk sendirian di meja itu. Menatap pintu yang sudah tertutup. Menatap cangkir kopi yang sudah hampir habis. Menatap jendela kafe yang dulu menjadi tempatku menunggunya datang.
Dan untuk pertama kalinya, aku tidak menangis.
Malam harinya, Dimas datang ke rumahku. Wajahnya cerah. Dia membawa gorengan dan teh hangat. Seperti biasa.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Dimas sambil meletakkan bungkusan gorengan di meja.
"Aku baik-baik saja. Malah lega."
"Lega kenapa?"
"Karena akhirnya Rafa merelakan. Bukan merelakan aku, seperti yang dia kira. Tapi merelakan perasaannya sendiri. Dan itu lebih penting."
Dimas menatapku. "Kamu bahagia?"
"Aku bahagia, Dimas. Bukan karena Rafa melepaskanku. Tapi karena dia akhirnya bisa fokus pada Vira. Mereka pantas bahagia bersama. Vira sudah berkorban terlalu banyak untukku. Sudah waktunya dia mendapatkan kebahagiaannya."
Dimas meraih tanganku. Tangannya hangat. Kasar. Tapi nyaman.
"Kamu baik, Kay."
"Aku tidak baik, Dimas. Aku hanya lelah. Lelah menyimpan beban. Lelah memendam perasaan. Lelah menjadi orang yang selalu berpura-pura kuat."
"Beban itu sekarang sudah hilang?"
Aku mengangguk. "Hilang, Dimas. Rasanya ringan. Seperti ada yang terangkat dari pundakku. Aku tidak tahu apakah ini yang dinamakan ikhlas. Tapi rasanya enak."
Dimas tersenyum. "Bagus. Sekarang kita fokus pada kita."
Aku menatapnya. "Kita?"
"Iya, Kay. Aku dan kamu. Tanpa bayangan masa lalu. Tanpa beban. Tanpa rasa bersalah. Tanpa harus melihat ke belakang setiap kali ada suara yang mengingatkan pada luka lama."
Aku menatap Dimas. Wajahnya yang polos di balik kacamata tebal. Senyumnya yang tulus tanpa kepalsuan. Matanya yang jujur tanpa kebohongan.
"Dimas, aku sayang kamu."
Dia terkejut. Matanya membelalak. Gorengan di tangannya hampir jatuh.
"Kamu... serius?"
"Aku serius, Dimas. Aku tidak tahu apakah ini cinta seperti yang orang-orang bicarakan. Aku tidak tahu apakah ini cinta yang membuat jantung berdebar kencang. Tapi aku sayang kamu. Aku nyaman dengan kamu. Aku ingin kamu tetap ada di hidupku. Bukan sebagai pelarian. Bukan sebagai pengganti. Tapi sebagai kamu."
Dimas tersenyum lebar. Senyum paling lebar yang pernah aku lihat darinya.
"Kay, aku juga sayang kamu. Aku sudah dari dulu. Dari pertama kali kamu marah karena kopimu dingin. Dari pertama kali kamu tertawa mendengar leluconku yang tidak lucu. Dari pertama kali kamu menatapku dan aku merasa bahwa mungkin, mungkin saja, aku tidak sendirian di dunia ini."
"Kenapa tidak pernah bilang?"
Dimas menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Karena aku takut, Kay. Takut kamu belum siap. Takut kamu masih terikat masa lalu. Takut kamu melihatku hanya sebagai pelarian, bukan sebagai pilihan."
"Sekarang?"
Dia menatapku. "Sekarang aku siap. Dan kamu kelihatan siap. Matamu jernih. Tidak ada kabut di sana."
Kami berdua tersenyum. Dimas memelukku. Pelukan yang hangat. Tidak membuat jantung berdebar kencang seperti dulu. Tapi membuat seluruh tubuh terasa aman. Seperti pulang.
"Dimas."
"Ya."
"Aku tidak tahu akan ke mana kita. Aku tidak tahu apakah kita akan berakhir bahagia atau tidak. Tapi aku senang kamu ada di sini. Hari ini. Saat ini."
"Aku juga, Kay. Aku tidak akan ke mana-mana. Bukan karena aku terikat. Tapi karena aku memilih. Setiap hari. Setiap detik. Aku memilih kamu."
Malam itu, untuk pertama kalinya dalam enam bulan terakhir, aku tidur tanpa mimpi buruk.
Tanpa bayangan Rafa.
Tanpa rasa sesak di dada saat ponsel bergetar.
Tanpa rasa waswas bahwa kebahagiaan yang aku rasakan hari ini akan diambil besok.
Hanya ketenangan.
Hanya kelegaan.
Hanya rasa syukur yang dalam.
Kala Rafa merelakan, aku akhirnya benar-benar bebas. Bukan hanya dari perasaanku sendiri. Bukan hanya dari rasa bersalah karena pernah mencintai orang yang salah. Tapi dari bayang-bayang masa lalu yang selama ini membelenggu, yang membuatku ragu untuk melangkah, yang membuatku takut untuk bahagia.
Dan untuk pertama kalinya, aku bisa melangkah tanpa menoleh ke belakang.
Bersama Dimas. Dengan hati yang ringan. Dengan pikiran yang jernih.
Menuju babak baru yang tidak lagi diwarnai oleh cinta yang salah alamat.
Tapi cinta yang tepat waktu.
Tepat pada waktunya.
BAB XXVII
Saat Semua Luka Mulai Berbekas
Satu tahun sudah berlalu sejak pernikahan Vira dan Rafa. Satu tahun sejak aku memutuskan untuk melangkah maju dengan Dimas. Satu tahun sejak Rafa merelakan perasaannya padaku.
Banyak yang berubah. Tapi banyak juga yang tetap sama.
Vira kini sedang hamil empat bulan. Perutnya mulai membesar. Wajahnya berseri-seri setiap kali berbicara tentang calon bayinya. Rafa menjadi suami yang lebih perhatian dari sebelumnya. Dia hampir tidak pernah meninggalkan Vira sendirian. Dialah yang memasak, yang membersihkan rumah, yang menemani Vira kontrol ke dokter.
Dan aku? Aku masih bersama Dimas. Masih tanpa status. Masih tanpa label. Tapi kami tetap bersama. Setiap hari. Setiap minggu. Setiap bulan.
Hubungan kami tidak berubah drastis. Tidak ada lonjakan romantisme yang berlebihan. Tapi juga tidak ada penurunan.
Kami stagnan. Tapi stagnan yang nyaman.
"Kay, kamu dan Dimas kapan menikah?" tanya Mona suatu sore.
Kami sedang duduk di teras rumahku. Mona sengaja datang karena katanya kangen. Padahal aku tahu dia hanya ingin kepo.
"Kami belum bicara soal itu, Mon."
"Belum bicara? Sudah setahun pacaran tanpa status, kamu tidak pernah bertanya rencana ke depan?"
"Kami tidak pacaran, Mon. Kami hanya... bersama."
"Itu namanya pacaran, Kay. Hanya tanpa label."
"Ya, terserah."
Mona menghela napas. "Kamu ini santai sekali. Biasanya cewek itu mengejar-ngejar soal masa depan."
"Aku bukan cewek biasa."
"Kamu bilang begitu terus. Tapi suatu saat kamu akan sadar, waktu itu penting. Terutama buat cewek."
Aku menatap Mona. "Kamu menasihati aku atau kamu yang sedang galau?"
Mona terdiam. Lalu tersenyum pahit. "Dua-duanya."
"Ada apa, Mon?"
Mona menghela napas panjang. "Aku baru putus."
"Apa? Kapan?"
"Minggu lalu. Aku tidak cerita karena kamu sedang sibuk."
"Dengan siapa? Kamu bahkan tidak bilang sedang pacaran."
"Itu dia masalahnya. Aku pacaran sama cowok tanpa status. Tanpa label. Seperti kamu dan Dimas. Dan ujung-ujungnya dia pergi begitu saja. Tidak ada yang mengikatnya."
Aku terdiam. Mona melanjutkan.
"Kay, aku suka sama Dimas. Dia orang baik. Tapi aku juga takut kamu mengalami hal yang sama. Cowok bisa pergi kapan saja kalau tidak ada ikatan."
"Dimas bukan cowok itu."
"Kamu yakin?"
Aku tidak bisa menjawab. Mona mengusap matanya.
"Maaf, Kay. Aku tidak bermaksud merusak suasana. Aku hanya... khawatir."
Aku memeluk Mona. "Makasih, Mon. Aku akan pikirkan."
Mona pulang sore itu. Aku duduk sendirian di teras, menatap langit yang mulai gelap.
Pertanyaan Mona terus berputar di kepalaku. Apakah aku dan Dimas memiliki masa depan? Atau kami hanya berputar-putar di tempat?
Malam harinya, Dimas datang. Seperti biasa. Membawa makanan. Membawa senyum.
"Kay, kamu kenapa? Kelihatan murung."
"Tidak apa-apa. Hanya banyak pikiran."
"Cerita. Aku siap mendengar."
Aku menceritakan tentang Mona. Tentang kekhawatirannya. Tentang ketakutannya bahwa hubungan tanpa status bisa berakhir kapan saja.
Dimas mendengarkan dengan saksama. Setelah aku selesai, dia mengambil tanganku.
"Kay, aku mengerti kekhawatiran Mona. Tapi aku bukan cowok itu."
"Aku tahu. Tapi kadang rasa takut tetap ada."
"Kamu takut aku pergi?"
Aku mengangguk pelan.
"Kay, aku tidak akan pergi. Bukan karena status. Bukan karena ikatan. Tapi karena aku memilih kamu. Setiap hari. Tanpa paksaan."
"Tapi bagaimana kalau suatu saat kamu berubah pikiran?"
"Itu risiko dalam hubungan apa pun. Pacaran dengan status sekalipun, orang bisa berubah pikiran."
"Jadi, tidak ada jaminan?"
"Tidak ada. Yang ada hanya kepercayaan."
Aku terdiam. Dimas membelai tanganku.
"Kay, kalau kamu butuh status untuk merasa aman, aku akan beri."
"Bukan status yang aku butuhkan, Dimas. Aku butuh kepastian."
"Kepastian seperti apa?"
"Kepastian bahwa kita menuju ke suatu tempat. Bukan berputar-putar."
Dimas menatapku lama. "Kamu ingin menikah?"
Aku terkesiap. "Aku tidak bilang begitu."
"Tapi itu yang kamu maksud dengan 'suatu tempat'."
"Tidak. Maksudku..."
"Apa, Kay?"
Aku tidak bisa menjawab. Dimas tersenyum tipis.
"Kay, aku serius sama kamu. Aku sudah serius dari awal. Tapi aku tidak ingin terburu-buru karena aku tahu kamu butuh waktu untuk berdamai."
"Aku sudah damai."
"Aku tahu. Tapi luka lama belum tentu sudah benar-benar kering."
Aku menunduk. Dimas benar. Luka itu masih ada. Mungkin tidak lagi menganga. Tapi bekasnya masih terasa.
"Kay, aku tidak akan ke mana-mana. Tapi aku juga tidak ingin memaksamu mengambil keputusan yang belum siap kamu ambil."
"Kamu sabar sekali, Dimas."
"Karena aku mencintaimu."
Kata itu. Akhirnya dia mengucapkannya. Bukan "aku sayang kamu". Tapi "aku mencintaimu".
Jantungku berdegup. Bukan degup kencang seperti dulu saat bersama Rafa. Tapi degup yang hangat. Degup yang menenangkan.
"Dimas, aku..."
"Kamu tidak usah membalas sekarang. Aku hanya ingin kamu tahu."
Dimas berdiri. "Aku pulang dulu. Kamu istirahat."
"Dimas."
Dia berbalik.
"Aku juga... mencintaimu."
Dimas tersenyum. Senyum paling lebar yang pernah aku lihat.
"Makasih, Kay. Itu lebih dari cukup."
Dia pergi. Aku berdiri di teras, memegang pagar.
Aku mencintai Dimas. Bukan cinta yang menggebu-gebu. Bukan cinta yang membuatku demam. Tapi cinta yang dewasa. Cinta yang memilih untuk tetap ada. Cinta yang tidak butuh pengakuan.
Dan itu sudah cukup.
Beberapa hari kemudian, Vira mengajakku jalan-jalan ke mal. Rafa tidak ikut karena ada rapat.
"Kay, kakak lihat kamu dan Dimas semakin dekat," kata Vira sambil memilih baju bayi.
"Iya, Kak."
"Kapan menikah?"
"Kak, kok pada bertanya nikah terus?"
"Karena kakak ingin melihat adikku bahagia."
"Aku sudah bahagia, Kak."
"Bahagia selamanya?"
"Tidak ada yang tahu selamanya, Kak. Yang penting sekarang."
Vira berhenti memilih baju. Dia menatapku.
"Kay, kamu berubah."
"Berubah menjadi apa?"
"Dulu kamu begitu terobsesi dengan masa depan. Dengan Rafa. Dengan cinta yang sempurna. Sekarang kamu lebih santai. Lebih menikmati proses."
"Aku belajar, Kak. Bahwa tidak semua hal harus dipaksakan. Termasuk cinta."
Vira tersenyum. "Kakak bangga."
"Kakak selalu bilang begitu."
"Karena itu benar."
Kami melanjutkan belanja. Vira membeli banyak baju bayi. Warna-warna pastel. Lucu-lucu.
"Kay, kamu mau menjadi bibi, kan?"
"Iya, Kak. Aku sudah siap."
"Kakak doakan kamu dan Dimas segera menyusul."
"Kak!"
"Bercanda."
Vira tertawa. Aku juga tertawa.
Pulang ke rumah, aku melihat gelang perak di pergelangan tanganku. Yang dari Rafa dulu. Dan yang dari Dimas baru-baru ini.
Dua gelang. Dua perasaan yang berbeda.
Satu dari masa lalu. Satu dari masa kini.
Aku tidak akan menghapus masa lalu. Tapi aku juga tidak akan membawanya terus ke masa depan.
Bekas luka akan selalu ada. Tapi tidak lagi terasa sakit. Hanya menjadi pengingat. Bahwa aku pernah jatuh. Dan aku pernah bangkit.
Saat semua luka mulai berbekas, aku akhirnya mengerti.
Cinta bukan tentang siapa yang lebih dulu. Bukan tentang siapa yang lebih sempurna. Bukan tentang siapa yang membuat jantung berdebar paling kencang.
Tapi tentang siapa yang tetap tinggal. Siapa yang membuatmu merasa aman. Siapa yang memilihmu setiap hari. Tanpa drama. Tanpa paksaan. Tanpa syarat.
Dimas bukan Rafa.
Dan aku bersyukur untuk itu.
BAB XXVIII
Menerima Kekurangan sebagai Kelengkapan
Satu setengah tahun sudah aku dan Dimas bersama. Cukup lama untuk membuatku mengenal dia lebih dalam. Termasuk kekurangannya.
Karena tidak ada manusia yang sempurna. Dimas pun tidak.
Dia pelupa. Sering lupa janji-janji kecil. Seperti lupa membeli susu yang aku minta. Lupa menjemputku tepat waktu.
Dia juga tidak romantis. Di hari ulang tahunku, dia hanya datang dengan sekotak kue bolu dari toko langganan. Tanpa kado. Tanpa bunga.
"Kay, maaf. Aku lupa hari ini ulang tahunmu."
Aku tersenyum kecut. "Tidak apa-apa."
"Kamu marah?"
"Tidak. Hanya sedikit kecewa."
Dimas duduk di sampingku. "Besok kita pergi ke pantai. Kamu mau lihat matahari terbenam, kan?"
Aku mengangguk. Dimas tersenyum, tapi senyumnya terasa bersalah.
Mona bilang Dimas kurang peka. Vira bilang Dimas kurang perhatian.
Tapi aku belajar untuk menerima.
Karena aku juga tidak sempurna. Aku pemarah. Aku keras kepala. Sulit meminta maaf meskipun aku salah.
Dan Dimas? Dia selalu sabar menghadapiku.
Suatu hari, aku mendadak diam setelah dia lupa mengabari bahwa dia akan pulang kampung.
"Kamu tidak bilang kamu akan pulang kampung!"
"Aku lupa."
"Lupa? Pulang kampung itu bukan hal kecil, Dimas."
"Aku minta maaf."
"Maaf terus. Tapi kamu tetap lupa."
Dimas terdiam. Lalu dia berkata pelan, "Kay, aku pulang kampung untuk memperkenalkan kamu ke orang tuaku."
Aku terkejut. "Apa?"
"Ibu aku minta foto kamu. Aku bilang aku punya pacar."
"Kita bukan pacar, Dimas."
"Tapi ibuku menganggap kamu pacarku."
Kemarahanku menguap. "Kenapa tidak bilang dari awal?"
"Karena aku ingin memberi kejutan."
Dimas meraih tanganku. "Kay, aku tidak sempurna. Aku sering lupa. Tapi aku serius sama kamu."
"Jadi, maukah kamu memperkenalkan diri ke orang tuaku?"
Aku tersenyum. "Kapan?"
"Minggu depan. Kita pergi ke Bandung."
Kami pergi ke Bandung naik kereta. Rumah Dimas sederhana. Di sebuah perumahan kecil di pinggiran kota.
Ibunya menyambutku dengan hangat. Wajahnya mirip Dimas. Bulat. Berkacamata. Ramah.
"Kayla, anaknya cantik."
"Makasih, Bu."
Sepanjang sore, aku mengobrol dengan ibu Dimas. Tentang masa kecil Dimas. Tentang kegemarannya mendaki gunung. Tentang cita-citanya dulu menjadi astronot.
Ibu Dimas menunjukkan foto Dimas kecil dengan helm dari kardus dan baju serba hitam.
"Aku suka," kataku.
"Kamu jangan menertawakan aku," kata Dimas.
"Aku tidak tertawa. Kamu lucu."
Malam harinya, aku membantu ibu Dimas di dapur.
"Kayla, Ibu suka sama kamu. Kamu sederhana. Tidak neko-neko. Cocok sama Dimas."
"Dimas orang baik, Bu."
"Iya. Tapi dia tidak seberapa. Kerja biasa. Rumah biasa."
"Aku tidak butuh mewah, Bu. Aku butuh ketenangan."
Ibu Dimas menatapku. "Kamu anak yang bijak."
"Aku bukan bijak, Bu. Aku hanya belajar dari kesalahan. Pernah jatuh cinta pada cowok yang terlalu sempurna. Ternyata kesempurnaan tidak menjamin kebahagiaan."
Ibu Dimas mengangguk. "Benar. Suami Ibu juga tidak sempurna. Tapi Ibu bahagia."
"Kuncinya apa, Bu?"
"Menerima. Menerima kekurangan sebagai bagian dari kelebihan. Tanpa kekurangan, kita tidak akan belajar sabar. Tanpa kekurangan, cinta tidak akan tumbuh."
Aku tersenyum. "Makasih, Bu."
Mona meneleponku malam itu, setelah aku kembali dari Bandung.
"Kay, gimana? Bertemu orang tua Dimas?"
"Baik. Ibunya baik."
"Kamu lihat? Dimas serius sama kamu. Dia sudah mengenalkan kamu ke keluarganya."
Aku terdiam. Mona melanjutkan.
"Kay, aku ingin cerita sesuatu. Dulu, sebelum Raka, ada cowok lain juga. Namanya Andri. Dia pelupa. Dia tidak romantis. Persis seperti Dimas."
"Aku tidak tahu kamu punya cerita dengan Andri."
"Karena belum pernah aku ceritakan. Andri bukan siapa-siapa bagiku dulu. Aku anggap dia teman biasa. Tapi suatu hari, dia bilang dia mau pindah ke luar kota. Dan dia bilang, 'Mona, sebenarnya aku suka sama kamu. Tapi kamu tidak pernah melihat aku.'"
Mona berhenti sejenak. Suaranya bergetar.
"Aku cuma bisa diam, Kay. Dan dia pergi. Sampai sekarang, aku tidak tahu kabarnya."
"Mon, maaf. Aku tidak tahu."
"Aku tidak cerita karena malu. Tapi setelah melihat kamu dengan Dimas, aku jadi ingat Andri. Cowok yang tidak sempurna. Tapi dia baik. Dan aku kehilangan dia karena aku terlalu sibuk mengejar cowok yang salah."
"Kamu masih memikirkannya?"
"Kadang. Tapi sudah terlambat. Jadi, jangan buang waktu kamu dengan mengejar kesempurnaan, Kay. Karena kesempurnaan tidak ada. Yang ada cuma orang yang terus berusaha."
Aku menggenggam ponsel lebih erat.
"Makasih sudah cerita, Mon."
"Ya. Sekarang tidur. Jangan jadi aku yang menyesal di kemudian hari."
Aku menutup telepon. Berbaring di kasur. Menatap langit-langit.
Mona kehilangan Andri karena terlalu sibuk mengejar yang salah. Mona juga kehilangan Raka karena tidak menyadari kebaikannya.
Dua cowok baik. Dua kesempatan yang lewat.
Aku tidak ingin mengulang kesalahan yang sama.
Kereta melaju meninggalkan Bandung. Lahan hijau berlalu di jendela. Dimas duduk di sampingku, tangannya menggenggam tanganku.
"Kay, kamu senang?"
"Senang."
"Maaf kalau aku sering mengecewakan."
"Dimas, kamu tidak perlu sempurna. Aku juga tidak."
"Aku ingin menjadi lebih baik. Untuk kamu."
"Kamu sudah baik. Hanya perlu sedikit lebih ingatan."
Dimas tertawa. "Aku akan berusaha."
"Kay."
"Ya."
"Aku mencintaimu. Bukan karena kamu sempurna. Tapi karena kamu nyata."
Aku menatap Dimas. Wajahnya bulat. Kacamatanya tebal. Rambutnya agak keriting. Tidak ada yang spesial. Tapi matanya jujur.
"Aku juga mencintaimu. Bukan karena kamu hebat. Tapi karena kamu tetap ada."
Dimas menggenggam tanganku lebih erat. Kami berdua tersenyum.
Menerima kekurangan sebagai kelengkapan.
Itulah yang aku pelajari. Bahwa cinta tidak butuh kesempurnaan. Cinta butuh penerimaan. Cinta butuh kesabaran. Cinta butuh keberanian untuk tetap bertahan meskipun tidak selalu mudah.
Dimas bukan pria sempurna. Tapi dia adalah pria yang terus berusaha.
Mona kehilangan dua cowok baik karena dia tidak melihat mereka. Aku tidak akan mengulang kesalahan itu.
Dimas adalah pilihanku. Bukan karena dia sempurna. Tapi karena dia nyata. Dan dia ada.
Untuk aku, itu sudah lebih dari cukup.
BAB XXIX
Bahagia yang Tak Sempurna
Dua tahun sudah berlalu. Dua tahun aku dan Dimas bersama. Dua tahun Vira dan Rafa menjalani pernikahan. Dua tahun penuh suka, duka, air mata, dan tawa. Tidak ada yang sempurna. Tapi kami semua belajar untuk bahagia dengan ketidaksempurnaan itu.
Hari ini, Vira melahirkan. Seorang bayi perempuan yang cantik. Wajahnya mungil. Matanya hitam. Rambutnya lebat. Kami menamainya Aisyah. Nama yang dipilih Rafa karena artinya "yang hidup".
"Aisyah," bisik Vira sambil memangku bayinya. "Anak Ibu cantik."
"Aku boleh gendong, Kak?" tanyaku.
"Cuci tangan dulu."
"Iya, Kak."
Aku mencuci tangan di wastafel rumah sakit. Rafa berdiri di samping Vira, tersenyum lebar. Wajahnya yang dulu tegang, kini terlihat tenang.
"Rafa, kamu mau gendong?" tanya Vira.
"Aku takut."
"Takut apa?"
"Nanti salah."
"Tidak salah. Duduk yang benar. Topang kepalanya."
Rafa duduk di kursi, lalu Vira meletakkan bayi itu di pangkuannya. Rafa membatu. Tidak bergerak. Matanya membelalak.
"Ra, santai," kata Vira tertawa.
"Aku santai."
"Kamu kelihatan seperti patung."
"Ya sudah, ambil lagi. Aku tidak berani."
Vira mengambil Aisyah. Rafa menghela napas lega. Aku tertawa melihatnya.
"Kak Rafa takut sama bayi," ledekku.
"Bukan takut. Khawatir."
"Sama saja."
Rafa mendengus. Vira ikut tertawa.
"Kay, kamu sekarang mau gendong?" tanya Vira.
Aku mengangguk. Vira meletakkan Aisyah di pangkuanku. Aku menyangga kepalanya dengan hati-hati.
"Kamu terlihat lebih alami daripada Rafa," kata Vira.
"Karena aku lebih sering melihat ibu-ibu menggendong bayi."
"Kamu pasti akan menjadi ibu yang baik."
"Kak, aku belum menikah."
"Nanti. Sama Dimas."
Aku tersenyum. "Doakan saja, Kak."
Dimas datang sore harinya. Dia membawa buah-buahan dan bingkisan untuk bayi.
"Wah, ini Aisyah," kata Dimas sambil melihat bayi itu.
"Kamu mau gendong?" tawarku.
"Boleh."
Dimas menggendong Aisyah dengan hati-hati. Dia terlihat lebih alami daripada Rafa.
"Dimas, kamu ternyata jago menggendong bayi," kata Vira.
"Sering melihat sepupu."
"Wah, berarti sudah berpengalaman."
Dimas tersenyum malu. Aku memandanginya dari samping.
Ada kehangatan di dadaku. Melihat Dimas menggendong bayi. Melihat masa depan yang mungkin suatu saat akan kami miliki.
Mona datang dengan terburu-buru. "Maaf, telat! Macet!"
"Masuk, Mon. Tenang," kata Vira.
Mona melihat Aisyah. "Wah, cantik sekali. Mirip siapa?"
"Mirip aku," kata Rafa cepat.
"Mirip aku," Vira menyanggah.
"Aku. Mata hitam seperti aku."
"Hidung mancung seperti aku."
"Kalian berdua adu mulu terus," ledek Mona.
Semua tertawa. Aisyah menangis. Mungkin kaget dengan suara tawa yang keras.
"Kalian jangan ribut. Bayi bisa kaget," kata Vira sambil mengambil Aisyah.
Kami semua terdiam. Vira menenangkan bayinya. Suasana rumah sakit yang tadinya ramai, kini sunyi.
"Kay, kapan kamu menyusul?" tanya Mona.
"Menusul apa?"
"Menusul punya anak."
"Masih lama, Mon. Aku belum menikah."
"Ya menikah dulu."
"Ya itu. Belum ada yang melamar."
Semua mata menuju ke Dimas. Dimas tersenyum canggung.
"Aku masih menabung," katanya.
"Sudah berapa tahun menabung?" tanya Mona.
"Belum lama."
"Dimas, jangan lama-lama. Kayla tidak muda lagi."
"Mon, aku masih 24," potongku.
"24 itu sebentar lagi 25. 25 sebentar lagi 30."
"Kamu ini lebay."
Mona tertawa. Dimas hanya tersenyum.
Tapi di matanya, aku melihat ada sesuatu. Sesuatu yang serius.
Pulang dari rumah sakit, Dimas mengantarku ke rumah. Di depan pintu, dia tidak langsung pergi.
"Kay, aku mau bicara."
"Tentang apa?"
"Tentang masa depan."
Aku menegang. "Masa depan?"
"Iya. Aku tidak mau terus-terusan seperti ini. Tanpa kejelasan."
"Kamu bilang dulu kamu tidak butuh status."
"Dulu. Tapi sekarang aku butuh kepastian."
"Kepastian seperti apa?"
Dimas mengambil sesuatu dari sakunya. Sebuah kotak kecil berwarna merah.
Aku terkesiap. "Dimas, ini..."
"Kay, aku tidak sempurna. Aku sering lupa. Aku sering ceroboh. Aku tidak kaya. Aku tidak tampan. Tapi aku mencintaimu. Dan aku ingin menghabiskan sisa hidupku dengan kamu."
Dimas membuka kotak itu. Di dalamnya ada cincin perak sederhana. Tidak mewah. Tidak berlian. Tapi indah.
"Kayla Maharani, maukah kamu menikah denganku?"
Aku terdiam. Air mataku mengalir.
"Dimas, kamu..."
"Aku serius, Kay. Aku sudah menabung setahun untuk cincin ini. Aku sudah minta restu dari Vira. Aku sudah bilang ke ibuku."
"Kenapa tidak bilang dari dulu?"
"Aku takut. Takut kamu belum siap. Takut kamu masih punya bayangan masa lalu. Tapi hari ini, saat aku melihatmu menggendong Aisyah, aku sadar. Aku ingin itu. Aku ingin kamu menjadi ibu dari anak-anakku."
"Dimas, aku..."
"Kamu tidak usah menjawab sekarang. Kamu boleh pikir dulu."
"Dimas, aku mau."
Dia mengerjap. "Apa?"
"Aku mau. Aku tidak perlu pikir panjang."
"Kamu yakin?"
"Aku yakin. Bukan karena kamu sempurna. Tapi karena kamu adalah kamu."
Dimas tersenyum. Tangannya gemetar memasangkan cincin di jariku.
"Kay, aku janji. Aku akan membahagiakanmu."
"Aku tidak butuh bahagia yang sempurna, Dimas. Aku butuh bahagia yang nyata. Dan kamu adalah kenyataan itu."
Kami berpelukan. Angin malam bertiup. Daun-daun berguguran.
"Kay, aku mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu, Dimas."
Malam itu, aku menelepon Vira. Dia masih di rumah sakit.
"Kak, Dimas melamarku."
"Apa? Serius?"
"Iya. Dia memberi cincin."
"Kamu terima?"
"Aku terima."
Vira menangis di ujung telepon. "Kakak bahagia, Kay. Sungguh."
"Makasih, Kak."
"Kamu pantas bahagia. Kamu sudah berjuang keras."
"Kakak juga."
"Aisyah akan punya bibi yang bahagia."
Kami berdua menangis. Bukan air mata sedih. Tapi air mata bahagia.
Rafa mengambil alih telepon. "Kay, selamat. Kamu pantas mendapatkan pria baik."
"Makasih, Kak Rafa."
"Aku tahu Dimas. Dia orang bertanggung jawab. Kamu akan aman bersamanya."
"Aku tahu."
"Kay, maafkan aku atas semua yang dulu."
"Sudah, Kak. Lupakan."
"Makasih."
Rafa menutup telepon. Aku berbaring di kasur, menatap cincin di jariku.
Sederhana. Tidak mewah. Tapi penuh makna.
Bahagia yang tak sempurna. Itulah yang aku miliki sekarang. Bukan cinta yang membuat jantung berdebar kencang. Bukan cinta yang penuh drama. Tapi cinta yang tenang. Yang membuatku merasa aman. Yang membuatku ingin pulang.
Dimas bukanlah pria yang aku bayangkan dulu. Dia bukan pangeran di atas kuda putih. Dia bukan pujaan hati dari kejauhan. Dia adalah pria nyata dengan segala kekurangannya. Dan aku mencintainya.
Bukan karena dia sempurna. Tapi karena dia membuatku merasa sempurna menjadi diriku sendiri.
Dan untuk aku, itu sudah lebih dari cukup.
BAB XXX
Epilog: Tentang Cinta yang Tak Pernah Salah Alamat
Lima tahun kemudian.
Aku berdiri di depan cermin, mengenakan kebaya putih sederhana. Rambutku disanggul rapi dengan hiasan melati. Wajahku terlihat dewasa, tidak lagi polos seperti dulu. Ada garis-garis halus di sudut mata, bekas tertawa dan menangis selama perjalanan hidup.
Hari ini adalah hari pernikahanku.
Bukan dengan Rafa. Bukan dengan pangeran impian dari lorong kampus. Tapi dengan Dimas. Pria berkacamata dengan rambut mulai tipis di bagian atas. Pria yang sering lupa janji tapi tidak pernah lupa membawakan kopi setiap pagi. Pria yang tidak romantis tapi selalu ada saat aku butuh.
"Kay, kamu cantik sekali," kata Mona dari belakang.
Dia menjadi pendampingku hari ini. Sama seperti dulu aku menjadi pendamping Vira.
"Kamu juga cantik, Mon."
"Aku selalu cantik. Tapi hari ini kamu lebih cantik."
Kami tertawa. Mona membantuku merapikan kerudung.
"Kay, kamu ingat tidak dulu kamu menangis di kamar kost aku?"
"Ingat."
"Sekarang kamu tersenyum di hari pernikahanmu. Perjuanganmu tidak sia-sia."
"Aku bersyukur, Mon. Untuk semuanya."
Mona memelukku. "Aku bangga sama kamu."
"Makasih, Mon."
Pintu terbuka. Vira masuk dengan Aisyah yang sudah berusia lima tahun. Anak itu berlari ke arahku.
"Bibi Kay! Cantik!"
Aku menggendong Aisyah. "Makasih, Sayang."
Vira menatapku dengan mata berkaca-kaca. "Kay, kakak tidak percaya ini hari. Adik kecil kakak akhirnya menikah."
"Kak, jangan menangis. Nanti make up aku rusak."
"Kakak usahakan."
Vira memelukku. Aisyah di antara kami tertawa.
"Bibi Kay, Bibi Kay, aku mau ikut."
"Nanti kamu jadi pembawa bunga, ya."
"Aku sudah berlatih!"
"Bagus."
Rafa masuk ke ruangan. Wajahnya masih sama. Tua sedikit. Tapi tetap tampan. Dia menggandeng seorang anak laki-laki kecil, Mirza, putranya yang berusia dua tahun.
"Kay, selamat," kata Rafa.
"Makasih, Kak."
"Kamu cantik."
"Kakak jangan bergombal. Nanti Vira marah."
"Vira sudah tahu aku suka bergombal."
Vira tertawa. "Dia memang gombal dari dulu."
Kami semua tertawa. Suasana ruang ganti menjadi hangat.
"Dimas sudah di pelaminan," kata Rafa. "Dia kelihatan gugup."
"Biasa. Cowok kalau menikah selalu gugup."
"Kamu tenang saja?"
"Kenapa aku harus gugup? Aku sudah lama menunggu ini."
Vira tersenyum. "Kakak bangga."
Prosesi pernikahan berjalan lancar. Penghulu membacakan doa. Dimas mengucapkan ijab kabul dengan suara lantang, tidak seperti dirinya yang biasanya pendiam.
"Saya terima nikahnya Kayla Maharani binti almarhum Bapak Mahfudz dengan mas kawin tersebut, tunai."
Kata-kata itu menggema di ruangan. Aku menunduk, tersenyum.
Selesai akad, kami bersanding di pelaminan. Tamu-tamu datang memberi ucapan. Mona sibuk memotret. Vira sibuk mengatur makanan. Rafa sibuk mengurus Aisyah dan Mirza.
Dimas meraih tanganku. "Kay, akhirnya."
"Akhirnya."
"Aku tidak akan mengecewakanmu."
"Aku tahu."
"Maaf kalau aku sering lupa."
"Aku akan selalu mengingatkan."
"Maaf kalau aku tidak romantis."
"Aku tidak butuh romantis. Aku butuh kamu."
Dimas tersenyum. "Aku mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu."
Malam harinya, setelah acara selesai, kami berdua duduk di teras rumah. Rumah kecil yang kami beli bersama dengan cicilan yang masih panjang. Tidak mewah. Tapi cukup.
"Kay, lelah?" tanya Dimas.
"Lelah. Tapi bahagia."
"Kamu tidak menyesal menikah denganku?"
"Kenapa aku harus menyesal?"
"Aku hanya... tidak sebanding denganmu."
"Dimas, berhenti. Kamu lebih dari cukup."
Dimas menatapku. "Kay, aku berjanji akan menjadi suami yang baik."
"Aku tidak butuh suami yang baik. Aku butuh suami yang nyata."
"Apakah aku nyata?"
"Kamu adalah kenyataan terindah dalam hidupku."
Kami berpelukan di bawah cahaya bulan. Angin malam bertiup lembut.
"Dimas."
"Ya."
"Aku ingin cerita sesuatu."
"Tentang apa?"
"Tentang Rafa."
Dimas terdiam sebentar. "Kamu masih memikirkannya?"
"Bukan. Aku hanya ingin kamu tahu, bahwa aku pernah mencintainya. Tiga tahun lamanya."
"Aku tahu."
"Tapi itu dulu. Sekarang, yang aku cintai adalah kamu."
"Kay, aku tidak pernah cemburu sama masa lalumu."
"Kenapa?"
"Karena masa lalumu membawamu kepadaku. Tanpa luka itu, kamu mungkin tidak akan pernah melihat aku."
"Kamu bijak, Dimas."
"Aku tidak bijak. Aku hanya bersyukur."
Aku mencium pipinya. "Aku juga bersyukur."
Ponselku bergetar. Pesan dari Vira.
Vira: "Kay, selamat malam, pengantin baru. Kakak doakan yang terbaik."
Kayla: "Makasih, Kak."
Vira: "Kakak sayang kamu."
Kayla: "Aku juga sayang kakak."
Pesan dari Mona.
Mona: "Kay, selamat. Kamu akhirnya menikah juga. Aku menangis tadi melihat kamu di pelaminan."
Kayla: "Makasih, Mon. Kamu jangan menangis. Nanti aku yang menangis."
Mona: "Ya sudah. Selamat berbulan madu. Jangan lupa oleh-oleh."
Kayla: "Iya, Mon."
Aku meletakkan ponsel. Dimas sudah memejamkan mata, setengah tertidur di bahuku.
"Dimas, tidur, yuk. Lelah."
"Iya. Ayo."
Kami masuk ke dalam. Rumah kecil itu terasa hangat. Bukan karena ukurannya. Tapi karena isinya.
Dua orang yang saling memilih.
Setiap hari. Tanpa paksaan. Tanpa drama.
Hanya cinta yang dewasa. Cinta yang tidak lagi bertanya "apakah ini cinta?" karena sudah terlalu nyata untuk diragukan.
Tentang cinta yang tak pernah salah alamat.
Mungkin dulu aku mengira bahwa cinta yang tak pernah salah alamat adalah cinta yang berbuah menjadi kenyataan. Tapi sekarang aku mengerti. Cinta yang tak pernah salah alamat bukanlah tentang berhasil atau tidaknya sebuah perasaan. Bukan tentang siapa yang menjadi tujuan akhir. Bukan tentang indahnya pertemuan atau getirnya perpisahan.
Cinta yang tak pernah salah alamat adalah cinta yang membuatmu menjadi versi terbaik dari dirimu sendiri. Cinta yang mengajarimu untuk ikhlas, sabar, dan tetap tegar meskipun takdir berkata lain. Cinta yang tidak melulu soal memiliki, tapi juga soal melepaskan. Cinta yang tidak selalu berbentuk bahagia, tapi tetap meninggalkan bekas yang membentukmu menjadi lebih kuat.
Dan dalam perjalanan panjang ini, aku belajar bahwa cinta tidak selalu harus berakhir di pelaminan. Kadang cinta berakhir di keikhlasan. Kadang cinta berubah menjadi doa. Kadang cinta hadir hanya untuk mengajarkan sesuatu, lalu pergi setelah tugasnya selesai.
Rafa hadir dalam hidupku untuk mengajarkan bahwa cinta tidak selalu tentang memiliki. Bahwa terkadang, orang yang paling kita cintai adalah orang yang harus kita lepaskan demi kebahagiaan mereka. Bahwa cinta sejati bukanlah tentang seberapa keras kita berjuang untuk mempertahankan, tapi seberapa ikhlas kita rela melepas.
Dan Dimas hadir untuk mengajarkan bahwa cinta tidak harus selalu menggebu. Bahwa ada cinta yang tenang seperti air. Tidak berisik. Tidak menarik perhatian. Tapi mengalir terus. Setiap hari. Tanpa lelah. Sampai akhirnya kamu sadar, airlah yang membuatmu tetap hidup, bukan badai.
Maka sekarang, di malam pertama pernikahanku, aku tidak menangis. Aku tersenyum. Karena aku tahu, semua luka, semua air mata, semua pertanyaan "mengapa" bertahun-tahun lalu, akhirnya mengantarkanku ke sini.
Ke pelukan Dimas. Ke rumah kecil yang hangat. Ke cinta yang sederhana tapi nyata.
Bukan cinta yang sempurna. Tapi cinta yang terus berusaha. Setiap hari.
Dan itu sudah lebih dari cukup.
Tentang cinta yang tak pernah salah alamat.
Sebab pada akhirnya, cinta tak pernah salah alamat. Yang salah hanyalah waktu, tempat, dan cara kita memahaminya.
Tapi cinta itu sendiri? Ia selalu tiba di tempat yang tepat.
Pada waktu yang tepat.
Untuk orang yang tepat.
Meskipun terkadang, kita baru menyadarinya setelah bertahun-tahun.
Meskipun terkadang, kita harus kehilangan untuk benar-benar menemukan.
Meskipun terkadang, cinta datang bukan untuk tinggal.
Tapi untuk mengajarkan cara mengikhlaskan.
Dan mengajarkan bahwa bahagia tidak harus bersama.
Kadang, bahagia adalah melepas.
Kadang, bahagia adalah memaafkan.
Kadang, bahagia adalah bersyukur atas apa yang pernah terjadi, bukan menyesali apa yang tidak pernah terwujud.
Lima tahun lalu, aku adalah perempuan yang hancur di hari pernikahan kakakku. Aku adalah perempuan yang menangis di kamar kost, mempertanyakan mengapa cinta begitu kejam. Aku adalah perempuan yang menyembunyikan perasaan tiga tahun lamanya, hanya untuk melihat orang yang aku cintai dinikahi orang lain.
Tapi hari ini, aku adalah perempuan yang tersenyum di pelaminan. Bukan karena cinta pertamaku hadir di sampingku. Tapi karena aku belajar bahwa cinta pertama tidak selalu menjadi cinta terakhir. Bahwa patah hati bukan akhir dari segalanya. Bahwa di balik setiap luka, ada ruang untuk tumbuh.
Dan di balik setiap air mata, ada pelangi yang menunggu.
Aku memegang tangan Dimas. Tangannya hangat. Kasar karena kerja. Tapi terasa aman.
"Dimas."
"Ya."
"Terima kasih sudah tidak pernah menyerah padaku."
"Terima kasih sudah mau menerima aku."
"Aku tidak menerima kekuranganmu. Aku menerima kamu. Semuanya."
Dimas tersenyum. "Aku juga. Semua tentang kamu."
Di luar jendela, bulan bersinar terang. Bintang-bintang bertaburan.
Malam ini, semua luka akhirnya berbekas menjadi kebijaksanaan.
Malam ini, semua air mata akhirnya mengalir menjadi lautan kebahagiaan.
Malam ini, aku pulang.
Bukan ke rumah orang tua. Bukan ke rumah kakak.
Tapi ke rumahku sendiri.
Bersama Dimas.
Dengan cinta yang tak pernah salah alamat.
Karena cinta sejati tak pernah salah alamat.
Ia hanya membutuhkan waktu.
Waktu untuk dimengerti.
Waktu untuk diterima.
Waktu untuk tiba di pelabuhan yang tepat.
Dan aku, akhirnya, sampai.
EPILOG
Tiga Tahun Kemudian
"Kay, cepat! Aisyah sudah menunggu di luar!" teriak Vira dari ruang tamu.
"Sebentar, Kak! Ganti baju dulu!"
Aku berlari ke kamar. Dimas sedang memangku anak perempuan kami, Kirana, yang baru berusia satu tahun.
"Dimas, kamu gendong Kirana. Aku ganti baju dulu."
"Pelan-pelan, Kay. Nanti Kirana menangis."
"Ya sudah. Awas jangan sampai jatuh."
"Aku tidak se bodoh itu."
Aku mengganti baju dengan cepat. Hari ini kami sekeluarga akan piknik ke kebun binatang. Vira, Rafa, Aisyah, Mirza, Mona, dan kami bertiga.
"Kay, sudah!" teriak Mona dari luar.
"Iya, iya!"
Aku keluar rumah. Dimas menyusul dengan Kirana di gendongannya.
"Kirana, kamu mau lihat gajah?" bisik Dimas.
Bayi itu hanya tersenyum ompong.
Dimas mencium keningnya. "Ayah sayang kamu."
Aku tersenyum melihat mereka.
"Dimas, ayo! Nanti ketinggalan!"
"Ya."
Kami berjalan menuju mobil. Vira sudah duduk di kursi depan. Rafa di belakang setir.
"Semuanya sudah siap?" tanya Rafa.
"Siap!" teriak Aisyah dan Mirza.
Mona menaiki mobilnya sendiri. "Aku menyusul di kebun binatang, ya!"
"Oke, Mon!"
Rafa menyalakan mesin. Mobil bergerak perlahan.
Aku duduk di kursi belakang, di samping Dimas dan Kirana. Melihat ke luar jendela.
Langit biru. Awan putih. Matahari bersinar hangat.
"Kay," panggil Dimas.
"Ya."
"Kamu bahagia?"
Aku menatapnya. Lalu menatap Kirana. Lalu menatap Vira dan Rafa di depan.
"Bahagia, Dimas. Sangat bahagia."
Dimas tersenyum. Dia menggenggam tanganku.
"Aku juga."
Mobil terus melaju. Meninggalkan rumah kecil kami. Menuju petualangan baru.
Karena cerita tidak berhenti di sini.
Cerita akan terus berjalan. Setiap hari. Setiap detik.
Tentang cinta yang tak pernah salah alamat.
Tentang kita yang terus belajar.
Tentang bahagia yang tak sempurna.
Tapi nyata.
Dan itu sudah cukup.
Selesai.
Slamet Riyadi, 2026
NOVEL ROMANSA
JANGAN NIKAHI GEBETANKU
Lucu, Gila, dan Berantakan: Perang Satu Hati Melawan Takdir yang Mungkin Salah Alamat
Oleh: Slamet Riyadi
DISCLAIMER
Novel ini merupakan karya fiksi. Seluruh nama, tokoh, tempat, dan peristiwa adalah hasil imajinasi penulis atau digunakan secara fiktif. Kesamaan nama atau peristiwa dengan dunia nyata hanyalah kebetulan belaka.
Konten dalam novel ini mengandung adegan komedi ringan, konflik keluarga, serta percintaan remaja dewasa. Tidak ada unsur suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), pornografi, atau kekerasan berat.
Dibaca sambil tersenyum-senyum sendiri diperbolehkan. Tertawa lepas sampai mengganggu tetangga juga diperbolehkan, tapi tanggung sendiri risikonya.
Selamat membaca, dan jangan sampai Anda ikut-ikutan ingin menggagalkan pernikahan saudara sendiri setelah membaca novel ini.
PROLOG
"Seandainya aku tahu cowok idamanku akan dijodohkan dengan kakak perempuanku sendiri, mungkin sejak awal aku akan memilih menyukai BTS saja."
—Kayla Maharani, 22 tahun, mahasiswi yang hatinya sedang kacau balau.
Tiga tahun.
Tiga tahun lamanya aku menyimpan perasaan ini sendirian. Tiga tahun aku menikmati sensasi deg-degan setiap kali melihat senyumnya. Tiga tahun aku mengumpulkan foto-fotonya di folder rahasia bernama "Mission Impossible" di ponselku.
Dan dalam waktu kurang dari tiga menit, kakak perempuanku sendiri berhasil menghancurkan semua itu.
Rumah yang biasanya tenang mendadak berubah jadi arena selebrasi. Vira, kakak perempuanku yang super ambisius, super perfeksionis, dan super tidak tahu diri kalau adiknya sedang jatuh cinta, berjingkrak-jingkrak di ruang tamu sambil memeluk bantal kesayangan ibu.
"Aku akan menikah! AKU AKAN MENIKAH!" teriaknya.
Aku mengerjap dari sofa. "Hah?"
"Dengar, dengar, dengar!" Vira melompat ke sampingku. "Ingat acara campus gathering dua bulan lalu?"
"Ingat."
"Aku ketemu dia. Namanya Rafa. Rafa Wijaya. Tampan. Baik. Pintar. Kerja di perusahaan konsultan. Perfect!"
Perasaan tidak enak mulai merayap di dadaku.
"Kami pacaran diam-diam dua bulan ini. Dan tadi malam dia melamar! LAMAR, Kay! Cincin! Semua!"
Hatiku berhenti berdetak.
"Nama lengkapnya siapa?" tanyaku, suaraku serak.
"Rafa Wijaya. Lulusan Universitas Indonesia. Jurusan Manajemen. Angkatan 2018."
Dunia terasa berputar.
Rafa. Rafa Wijaya. Cowok yang fotonya selama tiga tahun tersimpan rapi di ponselku. Cowok yang senyumnya selalu membuatku lupa diri. Cowok yang menjadi alasan aku rela antre kopi di kafe yang sama setiap Selasa dan Kamis.
Cowok itu akan menjadi kakak iparku.
"Kak, kalian baru pacaran dua bulan. Apa tidak tergesa-gesa?"
"Tidak! Kalau jodoh ya jodoh."
"Kamu jadi adik iparnya, Kay!" Vira memelukku erat. "Senang dong punya kakak ipar ganteng?"
Aku hanya bisa tersenyum pahit.
Senang? Aku ingin berteriak, "KAK, DIA GEBETAN AKU DARI DULU!"
Tapi aku tidak bisa.
Karena sejak orang tua kami meninggal lima tahun lalu, Vira adalah satu-satunya keluarga yang kumiliki. Dialah yang membiayai kuliahku. Dialah yang selalu ada. Dialah yang mengorbankan masa mudanya untukku.
Dan sekarang, di saat dia menemukan kebahagiaan, apakah aku berhak merusaknya?
Malam itu, setelah Vira tidur, aku menelpon satu-satunya orang yang bisa membantu kekacauan ini.
"Mona. Kita harus menggagalkan pernikahan kakakku."
Dari ujung telepon, sahabatku itu menjawab singkat, "Akhirnya kamu sadar juga. Aku tunggu detailnya besok di kafe langganan. Bawa uang lebih. Rencana gilamu bakal butuh banyak camilan."
Prolog ini bukan awal dari kebahagiaan.
Ini awal dari kekacauan.
Ini awal dari pertarungan satu hati melawan rasa bersalah.
Ini awal dari misi absurd yang mungkin akan membuatku kehilangan kakak, atau justru menemukan cinta di tempat yang paling tidak kuduga.
Selamat datang di kisahku.
—Kayla Maharani, perempuan yang nekat menggagalkan pernikahan karena cinta.
BAB I
Cowok Idaman Sepanjang Masa
Tiga tahun lalu, aku tidak pernah percaya dengan yang namanya cinta pada pandangan pertama.
Bagiku itu omong kosong ala film-film Hollywood yang dibuat hanya untuk membuat para remaja lebay dan mellow tanpa alasan jelas. Cinta butuh proses, butuh kenal terlebih dahulu, butuh waktu, butuh pendekatan yang matang, butuh restu dari berbagai pihak, dan butuh setidaknya seratus kali nonton bareng biar klop.
Tapi semua keyakinan bodoh itu hancur dalam waktu tiga detik.
Hari itu, Selasa pagi yang panas dan menyengat, aku sedang terburu-buru menuju ruang kuliah. Dosen Pengantar Bisnis, Pak Hermawan, terkenal killer dan tidak memberi toleransi bagi mahasiswa yang terlambat. Satu menit saja, dia sudah bisa mengeluarkan kata-kata seperti, "Apakah kalian pikir universitas ini tempat bermain?" atau "Saya tidak sedang mengajar anak TK."
Jadi, tentu saja, aku berlari sekencang mungkin. Tas ransel cokelat tua yang sudah mulai robek di bagian tali kirinya itu nyaris terlepas dari pundak. Kaus kaki kiriku mulai turun ke mata kaki. Keringat mengalir di dahi.
Sial.
Tiba-tiba, tanpa aba-aba, aku menabrak sesuatu. Bukan. Bukan sesuatu. Seseorang.
Brak!
Buku-bukuku berhamburan ke lantai. Dan yang lebih parah, tubuhku oleng seperti orang baru belajar sepatu roda. Kedua tanganku berusaha mencari pegangan, tapi hanya angin yang kutemukan. Aku yakin sedetik lagi pantatku akan mendarat dengan tidak anggun di lantai keramik yang dingin itu.
Tapi tidak.
Sebelum tubuhku benar-benar rubuh, dua tangan yang kuat menangkap pergelangan tanganku. Cekatan. Pasti. Tanpa ragu.
Aku mendongak.
Dan di situlah dunia berhenti berputar.
Dia berdiri tepat di hadapanku, hanya berjarak beberapa sentimeter. Wajahnya teduh seperti langit selepas hujan. Matanya hitam pekat tapi entah mengapa terasa hangat. Hidungnya mancung dengan sempurna. Rahangnya tegas namun tetap ramah. Rambutnya yang sedikit berantakan karena mungkin juga sedang buru-buru, justru membuatnya terlihat seperti model iklan sampo.
Namun yang paling membuat jantungku berhenti sejenak adalah senyumnya.
Senyum itu kecil, tipis, tapi entah mengandung daya magis yang membuatku lupa kalau aku sedang terlambat. Lupa kalau keringat masih mengalir di pelipis. Lupa kalau kaus kakiku turun.
"Hati-hati," katanya dengan suara yang berat tapi lembut. "Lantainya licin."
Aku hanya bisa mengangguk bodoh. Mulutku seperti terkunci. Otakku sedang error.
Dia melepaskan tangannya dari pergelanganku perlahan, lalu membungkuk mengambil buku-bukuku yang berserakan. Satu per satu. Rapi. Lalu disusun dengan urutan yang benar berdasarkan ukuran.
Siapa cowok ini? Dan kenapa dia menyusun buku dengan urutan yang logis? Itu membuatnya semakin menarik.
"Nih," dia memberikan tumpukan buku itu padaku.
"Maaf... makasih," jawabku terbata.
Dia tersenyum lagi. Lagi-lagi senyum itu. Lalu dia berjalan pergi begitu saja, seperti malaikat yang hanya muncul sebentar lalu menghilang.
Aku berdiri di lorong itu membisu selama sepuluh detik sebelum akhirnya kesadaran datang menghantam.
KULIAH! PAK HERMAWAN!
Aku berlari lagi, tapi kali ini kakiku terasa lebih ringan. Mungkin karena terlalu banyak adrenalin. Atau mungkin karena aku masih membayangkan senyum cowok itu.
Sore harinya, di kafe langganan dekat kampus, aku bercerita semuanya pada Mona. Sahabatku yang satu ini memang sudah kukenal sejak SMA. Dia tipe orang yang cuek, judgemental, tapi entah kenapa selalu punya cara untuk membuatku jujur. Mungkin karena dia tidak pernah takut untuk bilang, "Kamu bodoh," atau "Kamu konyol," tepat di depan mukanya.
Kafe itu kecil, hanya muat enam meja kayu dengan kursi plastik warna-warni yang sudah mulai pudar. Dindingnya ditempeli poster band-lawas dan stiker iklan bimbel. Tapi kopinya enak dan harganya ramah di kantong mahasiswa.
"Jadi, kamu jatuh cinta sama cowok yang namanya saja kamu tidak tahu?" Mona menyedot es teh manisnya dengan ekspresi datar.
"Bukan jatuh cinta. Hanya... terpesona."
"Sama saja."
"Beda."
"Tidak beda."
Aku mendengus kesal. "Pokoknya dia tuh beda, Mon. Ganteng, baik, dan dia nyusun buku berdasarkan ukuran."
"Kamu bilang dia rapi, aku setuju. Tapi nyusun buku berdasarkan ukuran di lorong kampus saat kamu lagi jatuh, itu sih bukan rapi namanya. Itu gila."
"Tapi itu manis!"
"Tidak ada hubungannya antara nyusun buku dan rasa manis."
Aku memukul lengannya pelan. Mona hanya tertawa kecil, lalu menyedot es tehnya hingga berbunyi keroncongan.
Tapi Mona tidak mengerti. Tidak ada yang mengerti. Cowok itu meninggalkan kesan yang begitu dalam hanya dalam waktu tiga detik. Mungkin memang cinta pada pandangan pertama itu nyata. Mungkin semua film Hollywood itu benar. Mungkin selama ini aku terlalu skeptis.
Atau mungkin aku hanya terlalu banyak nonton drama Korea.
Tapi apa pun alasannya, sejak hari itu, aku mulai mencari-carinya.
Setiap Selasa dan Kamis, jam yang sama, lorong yang sama, aku selalu melambatkan langkah berharap berpapasan dengannya. Kadang aku beruntung, kadang tidak. Dan setiap kali berpapasan, detak jantungku selalu berubah menjadi orkestra yang tidak karuan.
Butuh waktu dua bulan untuk mengetahui namanya. Caranya? Membayar anak Himpunan Mahasiswa Jurusan yang kenal semua orang. Mahal. Dua ratus ribu rupiah dan satu bungkus cokelat Silverqueen.
Namanya Rafa Wijaya.
Rafa. Nama yang indah. Kedengarannya seperti pahlawan dalam novel roman.
Butuh waktu tiga bulan untuk mengetahui fakta mengejutkan lainnya.
Kami satu angkatan.
Kami beda jurusan. Dia Manajemen, aku Akuntansi.
Tapi entah kenapa, aku sering melihatnya di lorong dekat ruang dosen Pembimbing Akademikku.
Butuh waktu satu tahun untuk mengakui pada diri sendiri: aku suka dia.
Bukan hanya suka. Suka banget. Suka yang bikin dada sesak. Suka yang bikin aku bisa tersenyum hanya dengan membayangkan namanya. Suka yang bikin aku rela pulang malam hanya demi melihat dia keluar dari ruang baca.
Tapi aku tidak pernah berani menyatakan perasaan itu.
Aku bukan tipe perempuan pemberani seperti di sinetron. Aku penakut. Aku takut ditolak. Takut dianggap aneh. Takut persahabatan yang tidak pernah ada itu menjadi sesuatu yang canggung. Takut dia melihatku hanya sebagai mahasiswi Akuntansi yang tidak dikenal.
Dan yang paling menakutkan: ternyata dia sudah punya pilihan hati.
Jadi, aku memendamnya.
Tiga tahun.
Tiga tahun penuh dengan folder rahasia di ponsel. Tiga tahun penuh dengan mimpi-mimpi yang tidak akan pernah jadi nyata.
Sampai malam itu.
Malam ketika Vira, kakak perempuanku, berdiri di ruang tamu sambil memeluk bantal kesayangan ibu dan berteriak bahwa dia akan menikah dengan Rafa.
"Aku akan menikah! AKU AKAN MENIKAH!" teriaknya dengan suara yang terdengar sampai ke dapur.
Aku mengerjap dari sofa. "Hah?"
"Dengar, dengar, dengar!" Vira melompat ke sampingku, matanya berbinar seperti anak kecil yang baru diberi sepeda baru. "Ingat tidak acara campus gathering dua bulan lalu? Kenalan-kenalan gitu?"
"Ingat. Terus?"
"Jadi, waktu itu aku ketemu dia. Namanya Rafa. Rafa Wijaya. Tampan. Baik. Pintar. Kerja di perusahaan konsultan. Pokoknya perfect!"
Dunia terasa berputar.
Rafa. Rafa Wijaya.
Cowok yang fotonya selama tiga tahun tersimpan rapi di ponselku. Cowok yang senyumnya selalu membuatku lupa diri setiap kali berpapasan di lorong kampus. Cowok yang menjadi alasan mengapa aku rela antre kopi di kafe yang sama setiap Selasa dan Kamis hanya untuk melihatnya dari kejauhan.
Cowok itu... akan menjadi kakak iparku.
Aku duduk diam di sofa. Mataku tertuju pada wajah Vira yang berseri-seri, tapi pikiranku berteriak.
Bukan. Ini tidak bisa terjadi.
Tapi itu terjadi. Dan aku tidak bisa berbuat apa-apa.
Malam itu, setelah Vira tidur, aku duduk di kasur. Langit-langit kamar yang retak di sudut kanannya menjadi satu-satunya pemandangan yang aku mampu lihat. Aku tidak menangis. Aku hanya duduk. Diam. Menatap kosong.
Ponselku bergetar. Mona.
Mona: "Oke, aku udah siap. Besok kita breakdown rencana kamu. Bawa camilan. Soalnya aku rasa ini bakal panjang dan gila."
Aku membacanya sekali, dua kali, tiga kali. Lalu jemariku mengetik balasan.
Kayla: "Aku tidak akan menangis, Mon. Bukan sekarang. Tapi aku juga tidak bisa diam."
Mona: "Itu semangat yang salah. Tapi aku dukung."
Kayla: "Besok jam 3 di kafe biasa."
Mona: "Bawa camilan!"
Aku meletakkan ponsel di samping bantal. Pandanganku kembali ke langit-langit.
Rafa. Vira. Pernikahan.
Tiga kata yang seharusnya tidak pernah berada dalam satu kalimat yang sama.
Tapi itulah hidup. Itulah takdir. Itulah skenario terburuk yang pernah aku baca.
Atau mungkinkah skenario itu masih bisa ditulis ulang?
Aku tidak tahu.
Yang aku tahu, besok adalah awal dari sesuatu. Entah itu awal dari kehancuranku, atau awal dari pertarungan yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya.
Api. Bukan api cinta. Tapi api perang.
Perang satu hati melawan dunia.
Perang yang mungkin akan membuatku menang... atau kehilangan segalanya.
BAB II
Kakak Sempurna yang Tak Pernah Salah
Untuk memahami mengapa aku sampai berada di titik nekat ini, kalian harus mengenal Vira.
Kakak perempuanku, Vira Maharani, adalah tipe orang yang membuat iri separuh isi bumi. Dia sempurna. Dan aku tidak sedang melebih-lebihkan.
Vira lahir dengan bakat menjadi segalanya. Waktu SD, dia juara umum. Waktu SMP, dia jadi ketua OSIS sekaligus kapten tim basket putri. Waktu SMA, dia lulus dengan nilai tertinggi se-kabupaten dan diterima di fakultas kedokteran universitas negeri favorit tanpa tes. Jalur undangan. Karena nilainya terlalu bagus untuk diabaikan.
Dia juga cantik. Bukan cantik yang perlu polesan make up tebal atau filter Instagram. Cantik alami. Kulitnya bersih, rambutnya hitam dan berkilau, matanya besar dengan bulu mata lentik. Setiap kali kami pergi berdua, orang selalu bilang, "Kakaknya yang cantik, ya?" Aku? Oh, aku hanya "adiknya" yang tidak disebut nama.
Tapi yang membuat Vira benar-benar sempurna bukanlah semua itu.
Yang membuat Vira sempurna adalah hatinya.
Ketika orang tua kami meninggal dalam kecelakaan mobil lima tahun lalu, aku masih duduk di bangku SMA kelas 2. Dunia terasa runtuh. Ayah yang selalu membangunkanku setiap pagi, ibu yang selalu menyiapkan sarapan favoritku, semuanya lenyap dalam semalam.
Aku ingat persis malam setelah pemakaman. Aku duduk di sudut kamar, menggigil meskipun suhu tidak dingin, menangis sampai tidak punya air mata lagi. Aku merasa sendirian. Aku merasa tidak ada lagi yang peduli padaku.
Lalu Vira masuk ke kamar.
Dia tidak bicara. Tidak memberi nasihat panjang. Tidak bilang "semua akan baik-baik saja" karena kami sama-sama tahu itu bohong. Dia hanya duduk di sampingku, memelukku, dan membiarkan aku menangis di pundaknya.
Semalaman.
Di pagi harinya, ketika aku terbangun dengan mata bengkak dan kepala pusing, Vira sudah tidak ada di sampingku. Tapi di atas mejaku ada segelas air putih dan selembar kertas bertuliskan:
"Sarapan sudah di meja. Jangan lupa makan. Kakak sayang kamu."
Sejak hari itu, Vira berubah.
Dia yang sedang dalam masa kuliah yang padat, mendadak mengambil alih semua tanggung jawab orang tua. Aku melihatnya menjual hampir semua barang mewahnya. Aku melihatnya tersenyum meskipun matanya sayu karena kurang tidur. Aku pernah memergokinya menangis di dapur karena kelelahan, tapi saat aku bertanya, dia hanya bilang "masuk angin."
Vira tidak pernah mengeluh. Vira tidak pernah marah padaku. Vira tidak pernah membuatku merasa menjadi beban.
Dan itulah sebabnya aku sangat mencintainya.
Namun, cinta tidak selalu membuat segalanya sederhana.
Karena semakin kusayang Vira, semakin berat rasa bersalah yang kini menghantuiku. Bagaimana mungkin aku berniat menggagalkan pernikahannya dengan pria yang membuatnya bahagia? Bagaimana mungkin aku tega menghancurkan kebahagiaan satu-satunya keluarga yang kumiliki?
Malam itu, setelah pengumuman lamaran, aku tidak bisa tidur.
Jam menunjukkan pukul satu dini hari, tapi mataku masih melek menatap langit-langit kamar. Pikiranku berputar seperti komidi putar yang tidak bisa berhenti.
Vira sekarang menemukan cinta. Cinta yang mungkin akan memberinya kebahagiaan yang selama ini hilang. Cinta yang mungkin akan menjadi pelipur laranya setelah bertahun-tahun berjuang sendirian.
Lalu siapa aku untuk merusak itu semua?
"Kamu egois, Kay," bisikku pada diriku sendiri. "Sangat egois."
Tapi di sisi lain... Rafa.
Namanya terus berputar di kepalaku seperti lagu yang paling menyebalkan tapi tidak bisa berhenti diputar. Senyumnya. Matanya. Tangannya yang pernah menangkap pergelanganku saat aku hampir jatuh.
Tiga tahun aku diam-diam mencintainya. Dan sekarang, dia akan menjadi milik kakakku sendiri.
Rasanya seperti ditikam dari belakang oleh takdir.
Di luar jendela, suara jangkrik terdengar sayup. Bulan bersinar terang, seolah sedang menertawakanku.
Ponselku bergetar. Mona.
Mona: "Kamu masih bangun? Ini sudah jam 1."
Aku: "Iya. Tidak bisa tidur."
Mona: "Pikirin Rafa terus?"
Aku: "Bukan. Pikirin Vira."
Mona: "Kakak kamu yang sempurna itu?"
Aku: "Dia bukan cuma sempurna, Mon. Dia baik. Terlalu baik. Dan aku akan jadi adik yang jahat kalau begini."
Mona: "Kamu mau batalkan rencana?"
Aku tidak membalas. Mona terus mengetik.
Mona: "Kay, kamu butuh dengar ini. Vira itu baik. Tapi kebaikan dia tidak berarti kamu harus korbankan perasaan kamu. Kamu juga berhak bahagia."
Aku: "Dengan cara merusak kebahagiaan dia?"
Mona: "Kamu tidak merusak. Kamu cari tahu dulu, apakah Rafa benar-benar cinta Vira? Atau hanya karena Vira itu Vira?"
Aku terdiam membaca pesan Mona.
Mungkin dia benar. Mungkin selama ini aku terlalu cepat menyimpulkan. Aku belum tahu perasaan Rafa yang sebenarnya.
Tapi satu hal yang aku tahu: Vira tidak pernah salah.
Dalam hidupnya, Vira selalu mengambil keputusan yang tepat. Dia tidak akan pernah menjebak dirinya dalam hubungan yang tidak tulus.
Jadi, mungkin memang Rafa mencintai Vira. Mungkin memang mereka ditakdirkan bersama. Dan mungkin memang aku hanya pengagum rahasia yang harus legowo.
Tapi mengapa rasanya begitu sulit?
Pintu kamarku terbuka perlahan.
Aku kaget dan segera menyeka air mataku, tapi terlambat. Vira sudah melihat. Dia berdiri di ambang pintu dengan kaus oblong longgar dan rambut yang sedikit acak-acakan. Matanya sayu karena baru bangun.
"Kay? Kamu menangis?" tanyanya dengan suara masih serak karena kantuk.
"Tidak, Kak. Cuma masuk angin."
Vira mendekat. Dia duduk di tepi kasurku lalu meraih tanganku. Tangannya hangat.
"Kamu menangis," katanya lagi, kali ini bukan pertanyaan. "Ada apa?"
Aku menggeleng. "Benaran tidak apa-apa."
Vira menatapku lama. Lalu dia tersenyum kecil. Senyum yang sama seperti malam setelah pemakaman orang tua kami. Senyum yang mengatakan, "Kakak di sini."
"Kamu mungkin kira kakak tidak tahu," kata Vira perlahan. "Tapi kakak tahu kamu selama ini diam-diam punya perasaan pada seseorang. Jadi, kalau kamu menangis karena soal hati, itu wajar. Jangan dipendam."
Aku ingin berteriak. Aku ingin bilang, "KAK, ORANG ITU RAFA! GEBETAN AKU! CALON SUAMI KAKAK!"
Tapi kata-kata itu tercekat di tenggorokan.
Jadi aku hanya mengangguk.
Vira menghela napas. "Besok, kamu ikut kakak bertemu calon suami kakak, yuk. Siapa tahu dia punya teman ganteng buat kamu."
Aku tersenyum pahit. Teman ganteng? Tidak, Kak. Aku malah ingin merebut calon suami kakak.
"Ya, Kak. Besok aku ikut."
Vira tersenyum puas. "Nah, begitu dong. Sekarang tidur."
Dia mencium keningku, lalu beranjak pergi.
Saat pintu tertutup, aku kembali menatap langit-langit kamar.
Vira tidak tahu. Tidak akan pernah tahu.
Tapi besok, aku akan bertemu Rafa lagi. Bukan sebagai pengagum rahasia. Bukan sebagai mahasiswi Akuntansi yang tidak dikenal.
Tapi sebagai calon adik iparnya.
Dan aku tidak tahu apakah aku siap untuk itu.
BAB III
Pertemuan Pertama sebagai Calon Adik Ipar
"Kay, kamu yakin kamu siap?" Mona meneleponku keesokan paginya, suaranya terdengar tegang meskipun berusaha santai.
"Tidak siap."
"Lebih baik kamu kabur saja."
"Aku juga kepikiran begitu."
"Terus kenapa kamu masih berdandan di depan cermin?"
Aku berhenti memegang lipstik. "Kamu dari mana tahu aku lagi berdandan?"
"Suara kamu beda. Kalau kamu lagi santai, suara kamu kayak kucing malas. Kalau kamu lagi berdandan, suara kamu kayak tentara yang mau perang."
"Mulut kamu keterlaluan, Mon."
"Tapi benar, kan?"
Aku mendengus. "Iya, benar. Sekarang matikan dulu. Kakak sudah berteriak dari tadi."
"Oke, oke. Semangat, Kay. Ingat, kamu cuma mau lihat-lihat dulu. Belum aksi."
"Janji."
"Benaran janji?"
"Janji palsu."
"Kay!"
Tut.
Aku meletakkan handphone sambil tersenyum kecut. Mona benar. Aku ini seperti tentara yang mau perang. Tapi masalahnya, musuhnya adalah kakak sendiri. Dan medan perangnya adalah kafe yang menyajikan kopi enak.
"Kayla! Cepat! Kakak tungguin di bawah!" teriak Vira dari lantai bawah.
"Iya, Kak, sebentar lagi!"
Aku menatap bayanganku di cermin. Untuk standar "cuma mau ketemuan biasa", dandananku hari ini kelewatan. Foundation, maskara, lipstik warna peach. Aku bahkan pakai anting bundar kecil yang biasanya hanya kupakai kalau ada acara penting.
"Gila kamu, Kay. Ini cuma ketemu calon ipar, bukan ketemu calon suami sendiri," omelku pada bayangan sendiri.
Tapi siapa yang peduli. Hari ini aku mau tampil beda. Hari ini Rafa akan lihat Kayla versi terbaiknya.
Atau setidaknya Kayla versi panik yang make up tebal.
Kafe yang dipilih Vira berada di lantai dua sebuah gedung tua di kawasan Kemang. Lampu gantung kristal memantulkan cahaya temaram ke seluruh ruangan. Dinding bata ekspos dengan rak-rak berisi tanaman monstera yang daunnya lebar dan hijau segar. Aroma kopi arabika campur vanilla tercium dari balik meja bar, bercampur dengan sedikit wangi kayu manis dari lilin pengharum di setiap sudut. Musik jazz mengalir pelan, suara piano yang lembut seperti air mengalir di atas kerikil.
Di luar jendela kafe, terlihat atap-atap rumah tua dengan genteng merah. Jalanan Kemang yang sedikit macet terlihat dari ketinggian. Tempat ini terasa hangat dan eksklusif, sangat berbeda dengan kafe pinggir jalan yang biasa aku datangi.
"Tempatnya mewah amat, Kak," bisikku sambil melirik menu yang harganya membuat mataku melotot.
"Rafa yang memilih," jawab Vira sambil tersenyum. "Dia tahu seleraku."
"Wah, romantis."
"Iya, dong. Calon suamiku memang perhatian."
Aku menahan diri untuk tidak memutar bola mata.
Lima belas menit kemudian, pintu kafe terbuka. Bel kecil di atas pintu berbunyi. Aku menoleh tanpa sadar.
Dan di situlah dia.
Rafa Wijaya.
Bukan dengan kemeja kasual seperti biasanya di kampus. Hari ini dia memakai kemeja putih lengan panjang yang digulung sedikit di bagian siku. Celana bahan abu-abu. Sepatu pantofel cokelat. Rambutnya sedikit tertata rapi tapi tetap terlihat alami.
Intinya, dia tampak seperti pangeran dari novel yang salah masuk ke dunia nyata.
"Maaf, telat. Macet," kata Rafa sambil mendekati meja. Suaranya sama. Berat, lembut, dan membuat merinding.
"Tidak apa-apa, sayang," Vira berdiri lalu mencium pipi Rafa. Ciuman singkat yang terasa sangat intim.
Aku menelan ludah. Perih.
Rafa menoleh ke arahku. Wajahnya sedikit terkejut.
"Eh, ini adik aku, Kayla," Vira memperkenalkan. "Kay, ini Rafa. Calon suami kakak."
Hening.
Detik pertama. Aku hanya bisa tersenyum kaku.
Detik kedua. Rafa masih menatapku, seolah mencoba mengingat sesuatu.
Detik ketiga. Aku panik. Apakah dia ingat kejadian tiga tahun lalu? Apakah dia ingat perempuan bodoh yang jatuh di lorong kampus?
"Kay... Kayla?" Rafa mengerjap.
Oh, Tuhan. Dia ingat.
"Halo," kataku dengan suara yang berusaha stabil padahal dalam hati aku sudah mau lari keluar kafe.
"Kalian kenalan?" tanya Vira bingung.
"Iya," Rafa tersenyum. "Kayla mahasiswi akuntansi, kan? Kita satu angkatan."
Aku mengangguk cepat. "I-iya. Benar."
"Kok kakak tidak tahu?" Vira menatapku bergantian dengan Rafa.
"Kita tidak terlalu kenal dekat sih," Rafa menjelaskan. "Cuma sering lihat di lorong. Pernah juga tabrakan sekali waktu itu."
Aku ingin tenggelam ke lantai. Dia ingat momen paling memalukan dalam hidupku.
"Tabrakan?" Vira tertawa. "Kok bisa?"
"Kayla waktu itu buru-buru, mungkin hampir telat kuliah," Rafa tertawa kecil. "Untung tidak jatuh."
Aku menunduk, memainkan ujung serbet di meja. "Maaf ya waktu itu. Saya ceroboh."
"Tidak masalah," Rafa mengangkat tangan. "Sekarang kita mau jadi keluarga. Kecil sekali dunia."
Keluarga. Kata itu seperti paku yang ditancapkan ke dadaku.
"Ya, keluarga," Vira mengangguk puas. "Duduk dulu, Ra. Kamu pesan apa? Aku pesankan kopi latte, ya? Yang kamu suka, kan?"
"Iya, sayang. Kamu hafal sekali."
"Sudah dua bulan pacaran, masak tidak hafal?"
Aku menyaksikan interaksi mereka seperti menonton film horor. Romantis. Manis. Membuat mual.
Rafa duduk di samping Vira. Aku di seberang mereka. Posisi yang sempurna untuk melihat setiap senyuman mereka berdua.
"Jadi, Kayla," Rafa memulai pembicaraan setelah pesanan datang, "Kakak kamu cerita banyak tentang kamu."
Aku meneguk kopi pahitku. "Cerita apa, Kak?"
"Cerita kalau kamu anaknya bandel."
"Kak Vira!"
Vira tertawa. "Memang benar. Waktu kecil kamu suka naik pohon jambu terus jatuh."
Rafa terkekeh. "Kalian seru sekali. Seperti sahabat."
"Dia adikku," kata Vira sambil mencolek pipiku. "Awalnya sih sahabat, lama-lama jadi adik. Tapi tetap rewel."
"Kak rewel."
"Eh, siapa yang rewel? Yang memasakkan kamu makan setiap hari siapa?"
Aku menghela napas. "Kak Vira."
"Nah, itu."
"Aku juga bisa masak, Kak. Jangan sombong."
"Masak mi instan doang."
"Itu tetap masak!"
Rafa tertawa lagi. Aku suka tawanya. Terdengar tulus. Dan membuatku lupa sejenak bahwa dia sedang duduk bersanding dengan kakakku.
Tapi hanya sebentar.
" soal pernikahan," Rafa mengganti topik, "kapan kita fitting baju?"
"Awal bulan depan," jawab Vira. "Kamu tidak keberatan, kan, kalau kita pilih warna krem?"
"Terserah kamu. Aku mah ikut."
"Harusnya kamu yang memilih. Ini pernikahan kita bersama."
"Aku memilih kamu, kan? Itu sudah cukup."
Aku hampir tersedak kopi.
Ucapan Rafa itu sederhana, tapi menusuk. "Aku memilih kamu" adalah kalimat yang tidak akan pernah dia ucapkan padaku. Karena dia tidak memilihku. Dia memilih kakakku. Dan aku hanya menjadi penonton.
"Kay, kamu kenapa batuk-batuk?" Vira menepuk punggungku.
"Kepedesan."
"Ini kopi."
"Kopinya pedas."
Rafa menatapku aneh. "Kopi... pedas?"
"Maksudku pahit. Pahit sekali." Aku tersenyum canggung.
Untunglah Vira terlalu asyik bercerita soal rencana pernikahan.
"Kay, nanti kamu jadi pendamping, ya, di samping kakak," kata Vira tiba-tiba.
"Pendamping?"
"Iya. Kamu kan adikku. Harusnya kamu yang jadi saksi dari keluargaku."
Aku terdiam. Menjadi pendamping di pernikahan mereka artinya aku akan berdiri di samping Vira, melihat langsung Rafa mengucapkan janji suci, melihat dia menikah dengan kakakku.
"Jangan, Kak," kataku cepat.
"Kenapa?"
"Jadi pendamping itu tanggung jawab besar. Takut aku salah."
"Tidak apa-apa. Urusan teknis ada panitia."
"Aku lebih baik jadi tamu biasa saja, Kak."
Vira menghela napas. "Kamu menolak terus. Dari kemarin sudah aku bilang, kamu harus jadi pendamping."
"Kenapa sih Kak memaksa sekali?"
"Karena kamu adik satu-satunya yang aku punya," jawab Vira, tiba-tiba serius. "Siapa lagi yang pantas di sampingku kalau bukan kamu?"
Hatiku teriris.
"Baiklah," aku mengalah. "Aku jadi pendamping."
Vira bertepuk tangan girang. "Nah, begitu dong!"
"Tapi satu syarat."
"Apa?"
"Aku yang memilih baju pendampingnya."
"Beres. Mau pilih apa saja boleh. Asal warnanya match dengan baju pengantin."
"Deal."
Setelah dari kafe, Rafa mengantar kami pulang. Rumah Vira tidak terlalu besar, tapi terasa hangat. Dinding depan berwarna krem muda dengan cat yang mulai sedikit mengelupas di sudut-sudutnya. Halaman kecil dengan pot-pot bunga mawar yang mulai mekar. Aroma melati dari pagar depan menyambut setiap kali pintu dibuka.
Di dalam mobil, Vira duduk di depan, aku di belakang.
"Kay, kamu diam saja?" Vira menoleh.
"Kenyang, Kak."
"Kenyang? Kamu cuma minum kopi."
"Kenyang udara."
Rafa tertawa. "Adik kamu lucu, Via."
"Lucu rewel, maksudnya."
"Tidak, kok. Lucu sungguhan."
Aku tidak tahu apakah Rafa sadar bahwa setiap pujian kecil darinya adalah pisau untukku.
Sampai di rumah, Vira turun lebih dulu karena ada telepon. Aku masih di kursi belakang.
"Kay," panggil Rafa.
Aku menoleh. Dia menatapku melalui kaca spion. Matanya teduh.
"Senang bisa kenal lebih dekat dengan kamu."
"Senang juga," jawabku datar.
"Jaga kakak kamu, ya. Dia cerita banyak soal perjuangannya."
Aku menghela napas. "Aku tahu."
"Kamu beruntung punya kakak seperti dia."
"Kakak yang lebih beruntung punya aku," jawabku.
Rafa tersenyum. "Iya, kalian berdua beruntung punya satu sama lain."
Aku turun dari mobil. Langkahku cepat menuju rumah. Aku tidak menoleh. Di dalam hati, aku bergumam, Selamat datang di neraka pribadiku, Kayla. Semoga kamu kuat.
Di kamar, ponselku bergetar. Mona.
Mona: "Bagaimana?"
Aku: "Sakit."
Mona: "Sakit hati?"
Aku: "Iya."
Mona: "Ceritakan."
Aku: "Dia baik, Mon. Terlalu baik. Dan dia sayang sekali sama kakakku."
Mona: "Kamu sudah bilang perasaan kamu?"
Aku: "Belum."
Mona: "Kapan?"
Aku: "Mungkin tidak pernah."
Aku melempar ponsel ke kasur.
Vira masuk ke kamarku tanpa mengetuk. Wajahnya masih berseri dari pertemuan tadi. Matanya berbinar.
"Kay, besok kita fitting baju, yuk, sekalian. Aku sudah janji sama Rafa."
"Terserah kakak," jawabku tanpa semangat.
Vira duduk di sampingku. Matanya menyelidik. "Kamu kenapa sih akhir-akhir ini lesu? Atau... kamu tidak setuju aku menikah dengan Rafa?"
Aku membalikkan badan membelakanginya. "Bukan, Kak."
"Terus kenapa?"
"Kakak bahagia, kan, dengan Rafa?"
Vira terdiam sejenak. Aku bisa mendengar dia tersenyum meskipun tidak melihatnya.
"Bahagia sekali, Kay. Rasanya seperti mimpi."
"Ya sudah. Aku cuma butuh waktu buat menerima kalau kakak bakal punya keluarga sendiri nanti."
Vira memelukku dari belakang. "Kakak tidak akan meninggalkan kamu, Kay. Suami kakak nanti juga keluarga kamu. Rumah ini tetap rumah kita."
Iya. Keluarga. Tapi bukan dengan cara yang aku inginkan.
Aku memejamkan mata dan membiarkan pelukan Vira menghangatkan punggungku. Di balik kelopak mataku, aku membayangkan senyum Rafa. Senyum yang sebentar lagi akan menjadi milik kakakku selamanya.
"Ya, Kak."
BAB IV
Mona dan Rencana Gila yang Mulai Merangkak
Keesokan harinya, aku memutuskan untuk menemui Mona di kafe langganan kami. Bukan kafe mewah tempat pertemuan dengan Rafa kemarin, tapi kafe sederhana di dekat kampus dengan harga kopi yang masih masuk akal untuk dompet mahasiswa.
Aku datang lebih dulu. Mona menyusul dua puluh menit kemudian dengan wajah penuh semangat.
"Oke, Kay," Mona duduk di depanku sambil meletakkan tas ranselnya yang penuh stiker anime. "Ceritakan dari awal. Jangan ada yang disembunyikan."
"Sudah aku ceritakan semuanya kemarin."
"Tidak cukup. Aku mau versi detail. Kamu bertemu dia, lalu ngobrol apa saja? Ekspresi dia bagaimana? Kamu menangis tidak? Kamu hampir menangis tidak?"
"Ya tidaklah, Mon!"
"Ya kali. Aku hanya bertanya."
Aku menghela napas. Kopi latte di depanku sudah mulai dingin, tapi aku belum menyentuhnya sama sekali.
"Jadi begini," aku mulai. "Dia datang. Kemeja putih. Rapi. Wangi."
"Standar."
"Terus dia ingat aku."
Mona mengangkat alis. "Ingat bagaimana?"
"Dia ingat kejadian tiga tahun lalu waktu aku jatuh di lorong."
"Wah, tajam memorinya."
"Itu yang membuat aku tambah sakit. Karena dia ingat detail kecil tentang aku, tapi dia tetap memilih kakakku."
Mona bersiul pelan. "Sengit."
"Belum selesai. Dia bilang aku lucu. Dia menyuruh aku menjaga kakakku. Dia bilang aku beruntung punya Vira. Dan dia minta aku jadi pendamping di pernikahan mereka."
Mona menutup mulutnya dengan kedua tangan. Matanya membelalak. "GILA!"
"Sudah tahu."
Mona mencondongkan badannya ke depan. "Kay, kamu sadar tidak ini bunuh diri emosional?"
"Iya. Aku sadar."
"Terus kenapa kamu setujui?"
Aku menunduk. "Karena kakakku minta."
Mona menghela napas panjang. Lalu dia memanggil pelayan. "Mbak, tambah es teh manis satu. Dan pisang goreng satu porsi. Sama camilan apa pun yang ada. Aku rasa pembicaraan kita akan panjang."
Pelayan mengangguk lalu pergi.
Mona menatapku. "Oke. Aku mau bertanya serius."
"Silakan."
"Kamu benar-benar cinta sama cowok itu?"
"Rafa? Iya. Sudah tiga tahun, Mon. Bukan cuma suka."
"Seberapa cinta?"
"Seperti tidak bisa membayangkan hidup tanpa dia. Padahal dia saja tidak tahu aku ada."
Mona menghela napas lagi, kali ini lebih panjang. "Astaga, Kay. Kamu sudah masuk zona berbahaya."
"Aku tahu."
"Jadi kamu mau diam saja sambil melihat dia menikah dengan kakak kamu?"
"Aku tidak punya pilihan, Mon."
"Kamu punya pilihan, cuma kamu tidak berani mengambil."
Aku diam.
Mona melanjutkan. "Pilihan pertama, kamu pendam sendiri, melihat dia menikah, lalu menderita bertahun-tahun. Pilihan kedua, kamu bilang ke Vira, lalu hancurkan hatinya. Pilihan ketiga, kamu bilang ke Rafa, lalu hancurkan hubungan mereka. Pilihan keempat, kamu berusaha melupakan dia."
"Pilihan keempat tidak mungkin. Kamu tidak bisa melupakan cinta tiga tahun hanya dalam semalam."
Mona mengangguk. "Benar juga."
Pelayan datang membawa es teh manis dan pisang goreng. Mona mengambil satu potong, mencelupkannya ke saus cokelat, lalu melahapnya dalam satu suapan.
"Dengar," Mona berbicara dengan mulut penuh, "Aku punya usul."
"Usul apa?"
"Kamu tidak usah bilang ke Vira. Tidak usah bilang ke Rafa. Tapi kamu juga tidak usah diam saja."
"Terus aku harus bagaimana?"
Mona menelan pisang gorengnya, lalu meneguk es teh manis. Wajahnya berubah serius. Sesuatu yang jarang terjadi.
"Aku kasih nama rencana ini: Operasi Kupu-Kupu."
"Operasi Kupu-Kupu?"
"Iya. Namanya konyol biar kamu tidak tegang."
Mona mendekatkan wajahnya. Aku juga mendekat. Jarak kami hanya beberapa sentimeter.
"Kamu cari tahu dulu," bisik Mona, "Apakah Rafa benar-benar cinta Vira atau hanya terpikat kebaikannya."
"Maksud kamu?"
"Banyak cowok yang salah paham antara rasa hormat, rasa terima kasih, dan rasa cinta. Vira itu baik, cantik, perhatian. Banyak cowok yang bilang 'aku cinta kamu' padahal sebenarnya cuma 'aku nyaman sama kamu'."
"Terus aku harus bagaimana?"
"Kamu dekati Rafa. Tapi bukan sebagai pengagum rahasia."
"Lalu sebagai apa?"
"Sebagai calon adik ipar yang ingin kenal lebih dekat dengan calon kakak ipar. Kamu tanya hal-hal kecil. Kamu amati responnya. Kamu cari tahu apakah dia bahagia sungguhan atau cuma menjalani."
Aku mengernyit. "Kamu minta aku jadi mata-mata?"
"Bukan mata-mata. Investigasi. Bedanya? Mata-mata itu rahasia. Investigasi itu agak rahasia."
"Sama saja, Mon!"
"Ya iyalah. Tapi kedengarannya lebih keren."
Aku menghela napas. Tanganku meraih kopi latte dingin itu dan meneguknya sekaligus. Pahit.
"Apakah ini tidak salah secara moral?" tanyaku.
"Secara moral? Ya salah. Tapi secara cinta? Tidak ada yang salah."
"Kamu yakin?"
"Aku tidak yakin. Tapi lebih baik daripada kamu diam saja."
Aku terdiam berpikir. Mona makan pisang gorengnya dengan tenang, seolah tidak memberi tekanan. Tapi aku tahu dia sedang menunggu.
"Apa kata orang kalau mereka tahu aku mendekati Rafa di belakang kakakku?"
"Yang penting kamu tidak ketahuan."
"Mon!"
"Aku serius. Kamu cuma mau mencari tahu, Kay. Bukan mengambil. Bukan merebut. Bukan memisahkan. Cuma mencari kebenaran."
"Kebenaran apa?"
"Kebenaran apakah Rafa memang pantas untuk Vira atau tidak."
Aku menatap Mona lama. Sahabatku ini kadang membuatku kesal dengan caranya yang terlalu santai. Tapi kali ini, dia membuat poin yang sulit aku bantah.
"Baik," kataku akhirnya. "Aku lakukan."
Mona tersenyum lebar. "Nah, begitu dong!"
"Tapi kamu harus membantu aku."
"Sudah pasti."
"Kamu bantu aku mengumpulkan informasi tentang Rafa."
"Informasi macam apa?"
"Pertama, nomor telepon dia."
Mona tersenyum kecut. "Itu gampang. Kamu minta ke kakak kamu."
"Kak Vira tidak akan memberi."
"Ya sudah, kamu curi dari ponsel dia."
"MONA!"
"Hanya bercanda!" Mona tertawa. "Tapi serius, aku punya kenalan di HMJ. Bisa mendapatkan nomor Rafa paling lama besok."
"Kamu bisa?"
"Kamu lupa siapa aku? Dua ratus ribu plus cokelat Silverqueen."
"Harga naik?"
"Inflasi."
Aku menggeleng. "Baik. Terus apa lagi?"
"Media sosial dia. Kamu follow, lalu kamu amati. Kamu lihat dia suka apa, hobi apa, seberapa sering dia tag Vira."
"Pelan-pelan. Aku catat dulu."
Aku mengeluarkan ponsel dan membuka aplikasi catatan.
Mona melanjutkan. "Lalu, kamu harus mencari momen untuk ngobrol berdua sama dia tanpa Vira."
"Gila. Sulit itu."
"Kamu bilang saja mau diskusi soal skripsi. Vira kan bilang dia lulusan Manajemen."
"Tapi aku Akuntansi."
"Tidak usah sungguhan minta bantuan. Hanya alasan."
"Kamu minta aku berbohong?"
"Aku minta kamu kreatif."
Aku menghela napas lagi. Kepalaku mulai pusing.
"Oke. Terus setelah aku dekati dia?"
"Setelah itu, kamu lihat respon dia. Kamu lihat dia cerita tentang Vira dengan wajah bahagia atau cuma basa-basi. Kamu lihat matanya."
"Matanya?"
"Iya. Mata tidak bisa bohong, Kay. Mata orang yang jatuh cinta itu beda sama mata orang yang cuma menjalani."
"Kamu seperti psikolog."
"Aku cuma tukang nonton drama Korea."
Aku tersenyum kecil. Mona memang selalu bisa membuatku sedikit lega di tengah kekacauan.
"Oke. Aku setuju."
"Operasi Kupu-Kupu."
"Iya."
"Janji kamu tidak akan mundur di tengah jalan?"
"Janji."
"Janji kamu tidak akan menangis setiap kali melihat Rafa sama Vira?"
"Janji setengah."
"Setengah tidak usah. Kamu harus full."
"Mon, kamu minta hal yang mustahil."
Mona tertawa. "Ya sudah. Anggap saja kamu boleh menangis, tapi cuma di depan aku."
"Deal."
Mona mengacungkan jari kelingkingnya. Aku menyambutnya.
"Operasi Kupu-Kupu dimulai!" seru Mona agak keras.
Beberapa pengunjung kafe menoleh. Aku menunduk malu.
"Mona! Jangan berteriak-teriak!"
"Maaf, maaf. Semangatnya terbawa."
Aku menggeleng. Tapi di dalam hati, ada api yang mulai menyala. Bukan api cinta. Bukan api amarah. Tapi api penasaran.
Sore harinya, di rumah, Vira sedang asyik menggulir layar ponsel di ruang tamu.
"Kak," sapaku sambil duduk di sampingnya.
"Hm?"
"Rafa itu orangnya bagaimana sih sebenarnya?"
Vira mengangkat alis. "Kenapa tiba-tiba bertanya?"
"Penasaran saja. Calon kakak ipar, kan."
Vira tersenyum. Matanya berbinar. "Dia baik, Kay. Orang yang paling perhatian yang pernah aku temui."
"Contohnya?"
"Dia selalu ingat hari-hari penting. Aku pernah cerita suka bunga matahari, seminggu kemudian dia memberi buket bunga matahari."
"Wah."
"Dia juga selalu menanyakan kabar setiap pagi. Bukan cuma 'pagi, apa kabar', tapi 'sudah sarapan? sudah minum vitamin?'"
Aku menelan ludah. "Rafa tipe cowok yang romantis begitu?"
"Romantis sekali." Vira menyandarkan kepalanya ke sofa. "Kadang aku tidak percaya dia memilih aku."
"Kakak cantik, Kak."
"Kamu bilang begitu karena kamu adikku."
"Aku bilang begitu karena faktanya."
Vira tertawa. "Intinya, Rafa itu cowok yang baik. Makanya aku yakin menikah dengan dia."
"Kakak beruntung."
"Kakak tahu."
Vira memelukku. "Kamu juga nanti akan mendapatkan cowok seperti Rafa."
Aku hanya mengangguk.
"Kak," kataku lagi.
"Ya?"
"Boleh minta nomor Rafa? Sekalian kenalan lebih dekat. Buat persiapan pernikahan."
Vira mengerjap. Lalu tersenyum. "Tentu saja. Nanti kakak kirim."
"Makasih, Kak."
"Jangan iseng-iseng chat dia tengah malam."
"Ya tidaklah, Kak!"
"Hanya bercanda."
Vira tertawa lagi. Aku juga tertawa.
Tapi di dalam ponselku, lima menit kemudian, muncul pesan dari Vira berupa kontak bernama "Rafa Wijaya".
Satu langkah lagi menuju Operasi Kupu-Kupu.
Satu langkah lagi menuju jurang.
Dan aku sudah tidak bisa mundur.
BAB V
Pesan Pertama yang Tidak Pernah Terkirim
Nomor Rafa sudah tersimpan di ponselku sejak semalam. Tapi sampai siang hari ini, aku belum juga punya nyali untuk memulai percakapan.
Aku duduk di kamar, memeluk bantal, menatap layar ponsel seperti sedang menatap ular kobra. Foto profil Rafa di aplikasi chatting menampilkan dia tersenyum kecil dengan latar belakang perpustakaan. Kemeja biru muda. Rambut sedikit berantakan. Tampan seperti biasa.
"Apa yang harus aku tulis?" tanyaku pada Mona lewat telepon.
"Kamu masih belum mengirim pesan? Sudah dari kemarin malam, Kay!"
"Aku tidak punya keberanian."
"Kamu tidak usah pakai keberanian. Kamu pakai logika. Kirim pesan biasa sebagai calon adik ipar."
"Pesan biasa seperti bagaimana?"
"'Halo, Kak Rafa, aku Kayla, adiknya Vira. Senang berkenalan'."
"Kedengarannya kaku."
"Ya memang kaku. Namanya juga baru kenal."
Aku menghela napas. "Aku matikan dulu. Aku mau fokus."
"Oke, oke. Kamu kirim pesan, ya. Jangan hanya dilihatin terus."
"Sudah, Mon."
Tut.
Aku meletakkan ponsel di atas kasur, lalu mengambilnya lagi. Membuka chat dengan Rafa. Kolom pesan kosong. Kursor berkedip-kedip seolah mengejekku.
Aku mulai mengetik.
"Halo, Kak Rafa, ini Kayla. Adiknya Vira."
Hapus. Terlalu kaku.
"Hei, Kak Rafa, masih ingat aku?"
Hapus. Terlalu akrab.
"Selamat siang, Kak Rafa. Saya Kayla. Kakak saya minta saya menghubungi Bapak untuk membahas persiapan pernikahan."
Hapus. Terlalu formal. Memanggil Rafa dengan "Bapak"? Gila.
Aku menggeram frustrasi. Bantal aku remas-remas sampai bentuknya penyok.
Dua puluh menit kemudian, tanpa sadar, aku sudah mengetik pesan panjang yang entah kenapa keluar begitu saja dari pikiranku.
"Kak Rafa, sebenarnya dari kemarin aku sudah ingin chat tapi tidak punya nyali. Mungkin karena kamu calon kakak iparku. Atau mungkin karena ada alasan lain. Tapi intinya, aku cuma mau bilang, kamu orang baik. Kakak aku beruntung punya kamu. Maaf, ngaco. Lupakan."
Aku membaca ulang pesan itu. Lalu panik.
Jempolku bergerak cepat menekan tombol hapus. Aku terus menghapus sampai kalimat terakhir lenyap. Kolom pesan kembali kosong.
"Astaga. Selamat, Kayla. Kamu hampir saja bunuh diri sosial."
Ponselku bergetar. Bukan Mona. Bukan Vira. Tapi notifikasi dari aplikasi chatting.
Rafa Wijaya: Sedang mengetik...
Aku terkesiap. Mataku membelalak.
Tulisan "Sedang mengetik..." muncul selama beberapa detik. Lalu hilang. Lalu muncul lagi. Lalu hilang lagi.
Seolah Rafa juga sedang berjuang menulis pesan untukku.
Jantungku berdebar kencang. Tanganku gemetar memegang ponsel.
Lalu, akhirnya, pesan itu masuk.
Rafa Wijaya: "Halo, Kayla. Makasih pesannya. Aku juga senang bisa kenalan lebih dekat. Bagaimana kabarnya?"
Aku membaca pesan itu berkali-kali.
Jempolku bergerak cepat.
Kayla: "Halo, Kak Rafa. Kabar baik. Kakak sedang apa?"
Rafa Wijaya: "Lagi di kantor. Istirahat sebentar. Kamu di rumah?"
Kayla: "Iya. Lagi libur kuliah."
Rafa Wijaya: "Vira lagi di mana? Aku coba telepon tidak diangkat."
Kayla: "Kak Vira ke pasar. Beli bahan untuk masak."
Rafa Wijaya: "Oh, iya. Dia bilang mau memasak sop buntut, kesukaanku."
Kayla: "Dari tadi pagi dia sudah semangat sekali."
Rafa Wijaya: "Vira memang selalu perhatian."
Aku terdiam membaca kalimat itu. "Vira memang selalu perhatian." Bukan "Aku sayang Vira". Bukan "Vira itu cintaku". Tapi "Vira perhatian".
Mona bilang, perhatikan kata-katanya.
Aku melanjutkan.
Kayla: "Kak Rafa, boleh bertanya sesuatu yang agak pribadi?"
Rafa Wijaya: "Boleh."
Kayla: "Kakak benar-benar sayang sama kakak aku?"
Rafa Wijaya: "Kenapa bertanya begitu?"
Kayla: "Penasaran. Kakak kan baru pacaran dua bulan lalu langsung melamar."
Rafa Wijaya: "Kayla, aku serius sama Vira. Aku sayang dia."
Kayla: "Sayang karena apa?"
Rafa Wijaya: "Karena dia baik. Perhatian. Sabar. Kuat. Dia sudah berjuang sendirian untuk kamu bertahun-tahun. Aku kagum sama dia."
Aku menggigit bibir. Kagum. Sayang karena kagum. Bukan karena jatuh cinta?
Kayla: "Jadi kakak kagum sama perjuangan kakak aku?"
Rafa Wijaya: "Iya. Dan aku ingin melindungi dia. Agar dia tidak perlu berjuang sendirian lagi."
Kayla: "Itu alasan yang mulia."
Rafa Wijaya: "Kay, kamu tidak setuju aku sama Vira?"
Kayla: "Bukan. Aku cuma ingin kakak aku bahagia."
Rafa terdiam lama. Tulisan "Sedang mengetik..." muncul dan hilang beberapa kali.
Akhirnya pesan itu datang.
Rafa Wijaya: "Kayla, percayalah, aku tahu apa yang aku rasakan. Aku sayang Vira. Mungkin awalnya karena kagum, tapi sekarang sudah lebih dari itu."
Kayla: "Kalau kakak bilang begitu, aku percaya."
Rafa Wijaya: "Makasih. Aku tidak akan menyakiti Vira."
Kayla: "Janji?"
Rafa Wijaya: "Janji."
Aku meletakkan ponsel di atas kasur. Dadaku sesak.
Dia bilang dia sayang Vira. Dia bilang dia serius. Tapi kenapa setiap kata "Vira" yang keluar dari mulut Rafa rasanya seperti duri?
Ponselku bergetar lagi.
Rafa Wijaya: "Kay, besok aku ada acara di kampus. Kamu ada jadwal? Kita bertemu, yuk. Ngobrol lebih banyak. Kita perlu akrab karena akan menjadi keluarga."
Aku menatap pesan itu.
Kayla: "Bertemu? Sama kakak Vira juga?"
Rafa Wijaya: "Tidak. Cuma berdua. Vira sibuk dengan persiapan pernikahan. Aku pikir kamu bisa membantu aku memilihkan sesuatu untuk dia. Kamu kan adiknya. Pasti tahu seleranya."
Aku tersenyum kecut. Jadi bukan bertemu untuk mengenalku lebih jauh. Tapi untuk membantu dia memilih hadiah untuk Vira.
Tapi setidaknya, ini pintu masuk. Ini kesempatan.
Kayla: "Oke. Jam berapa? Di mana?"
Rafa Wijaya: "Besok jam 3 sore di kafe dekat kampus. Yang biasa kamu datangi sama Mona."
Aku mengerjap. Dia tahu kafe favoritku?
Kayla: "Kak Rafa tahu kafe itu?"
Rafa Wijaya: "Pernah melihat kamu di sana beberapa kali. Tapi tidak pernah menyapa karena tidak kenal."
Jantungku berdebar kencang.
Dia pernah melihatku di kafe. Berkali-kali. Tapi tidak pernah menyapa. Selama ini dia tahu aku ada. Tapi dia memilih untuk diam.
Entah kenapa, fakta itu membuatku senang sekaligus sedih.
Kayla: "Baik. Besok jam 3 aku datang."
Rafa Wijaya: "Makasih, Kay. Vira beruntung punya adik seperti kamu."
Kayla: "Kakak juga beruntung punya Vira."
Rafa Wijaya: "Iya. Kita semua beruntung."
Aku menutup chat.
Ponselku bergetar lagi. Mona.
Mona: "Bagaimana? Sudah chat?"
Kayla: "Sudah. Besok kita bertemu."
Mona: "WIH, CEPAT SEKALI! TERUS?"
Kayla: "Dia minta aku membantu mencari hadiah untuk Vira."
Mona: "Sakit, ya?"
Kayla: "Sakit."
Mona: "Tapi setidaknya kamu mendapat kesempatan."
Kayla: "Iya. Kesempatan untuk sakit hati lagi."
Mona: "Sudah, besok aku ikut dari jauh. Kamu tidak usah takut."
Kayla: "Kamu mau jadi mata-mata?"
Mona: "Bukan. Badan intelijen. Lebih keren."
Kayla: "Sama saja."
Mona: "Ya iyalah. Tapi kedengarannya lebih keren."
Aku tersenyum kecil. Mona selalu punya cara untuk membuatku lupa sejenak dari semua kekacauan ini.
Jam menunjukkan pukul 2 pagi. Aku masih terjaga.
Ponselku masih di tangan. Chat dengan Rafa masih terbuka. Aku membaca ulang semua pesan kami dari awal sampai akhir.
Tiga belas pesan singkat. Tiga belas tusukan di hati.
Aku ingin mengirim pesan lagi. Bukan tentang Vira. Bukan tentang pernikahan. Tapi tentang apa yang selama ini aku pendam.
Jemariku bergerak sendiri.
"Kak Rafa, sebenarnya aku..."
Hapus.
"Rafa, selama tiga tahun..."
Hapus.
"Aku suka kamu. Sejak pertama kali kamu menolong aku..."
Hapus.
Aku meletakkan ponsel di samping bantal. Memejamkan mata.
Besok akan berbeda. Besok aku akan bertemu dengannya sebagai Kayla, adik dari tunangannya. Bukan Kayla, perempuan yang jatuh cinta dalam diam.
Apa pun itu, aku harus tetap maju.
Untuk Vira. Untuk Rafa. Dan untuk diriku sendiri.
BAB VI
Kencan Palsu yang Berasa Nyata
Aku tiba di kafe jam 2 siang. Satu jam lebih awal dari janji.
Bukan karena aku terlalu semangat. Tapi karena aku tidak bisa diam di rumah. Sepanjang pagi aku berguling-guling di kasur, berganti baju enam kali, dan membuat Vira semakin curiga.
"Kamu mau ke mana? Berdandan amat?" tanya Vira waktu aku sarapan. Matanya menyipit. "Kay, kamu itu kalau berdandan cuma dua menit. Sekarang sudah satu jam."
"Ketemu Mona," jawabku singkat.
"Mona lagi. Kalian itu seperti perangko sama amplop. Menempel terus. Tapi..." Vira berhenti mengunyah. "Kamu pakai lipstik warna peach. Biasanya kamu pakai nude kalau ketemu Mona."
Jantungku berdebar kencang. Vira terlalu tajam.
"Aku coba-coba saja, Kak. Biar beda."
"Beda untuk siapa?"
"Untuk aku sendiri."
Vira menatapku lama. Terlalu lama. Aku hampir pecah kalau dia bertanya sekali lagi.
Tapi untungnya dia hanya tersenyum. "Pulangnya jangan malam-malam, ya. Nanti kakak khawatir."
"Iya, Kak."
Itu adalah kebohongan pertama yang aku ucapkan pada Vira hari ini. Dan aku tahu itu bukan yang terakhir.
Sekarang, aku duduk di kursi pojok kafe favoritku. Dari sini, aku bisa melihat pintu masuk. Aku bisa melihat Rafa datang dari kejauhan.
Jari-jariku memukul meja tanpa irama. Kenapa aku segugup ini? Ini hanya pertemuan biasa. Calon adik ipar bertemu calon kakak ipar. Wajar. Tidak aneh. Tidak spesial.
Tapi tanganku berkeringat.
Pesan dari Mona masuk.
Mona: "Aku sudah di tempat. Kamu lihat tidak meja dekat jendela? Aku duduk di situ. Aku pakai kacamata hitam biar seperti agen rahasia."
Aku menoleh ke arah jendela. Mona duduk dengan kacamata hitam besar, topi baseball, dan jaket kulit. Dia terlihat seperti detektif swasta yang kelebihan gaya.
Kayla: "Kamu kelihatan mencurigakan, Mon."
Mona: "Itu tujuannya. Biar tidak ada yang curiga."
Kayla: "Justru tambah curiga, gila."
Mona: "Sudahlah. Kamu fokus saja sama Rafa. Nanti kalau ada apa-apa, aku berteriak."
Kayla: "Jangan berteriak. Tolong, Mon. Aku malu."
Mona: "Oke, oke. Aku hanya berteriak kalau kamu sekarat."
Aku menghela napas. Mona memang Mona.
Jam menunjukkan pukul 2.50. Sepuluh menit lagi.
Aku memesan kopi Americano. Pahit. Biar sesuai dengan suasana hati.
Pintu kafe terbuka. Bel kecil berbunyi.
Rafa masuk.
Hari ini dia memakai kaus polos warna hitam dengan jaket jeans biru tua. Celana chino krem. Sepatu sneakers putih. Rambutnya dibiarkan sedikit acak-acakan. Dia terlihat kasual, tidak seperti pria kemeja putih yang formal kemarin.
Dia lebih tampan dengan gaya santai.
Aku benci fakta itu.
Aku berdiri untuk menyambutnya, berusaha terlihat santai dan percaya diri. Kamu bisa, Kay. Kamu hanya akan bicara biasa. Tidak perlu gugup.
Tapi otakku tidak mendengarkan.
Sikuku menyenggol gelas kopiku.
Gelas itu jatuh.
Kopinya tumpah. Bukan ke lantai. Tapi langsung ke dada Rafa.
"Awas! Awas! Awas!" Aku panik. Tanganku bergerak sendiri, mengambil serbet, dan tanpa pikir panjang, aku mengusap-usap dadanya.
Lalu aku tersadar.
Aku sedang mengusap dada Rafa.
Dada. Rafa. Tangan. Gila.
Aku membeku.
Rafa berdiri diam. Kaus hitamnya basah kuyup di bagian dada. Tapi dia tidak marah. Dia malah tertawa.
"Kay, kamu mau membunuh aku pakai kopi panas?"
"Maaf, maaf, maaf! Aku tidak sengaja! Aku... aku..." Aku hampir menangis karena malu.
"Tenang. Kopinya sudah dingin. Tidak panas."
"Tapi bajunya!"
"Bisa ganti."
"Aku ganti rugi! Aku belikan baru!"
"Kay." Rafa menatapku. Matanya teduh. "Berhenti panik. Ini cuma baju."
"Ini lucu." Dia tersenyum. "Kamu ini bahaya, Kay. Bahaya sekali."
Pelayan datang dengan handuk kecil. Rafa membersihkan bajunya seadanya, lalu duduk di kursi seberangku.
"Aku pesan kopi lagi," katanya santai. "Kali ini taruh di tempat yang aman. Jauh dari sikumu."
"Maaf," bisikku.
"Tidak usah maaf. Ini jadi cerita seru."
Rafa menatapku setelah pelayan pergi. "Kamu gugup."
"Tidak."
"Kamu gugup. Matamu tidak berhenti bergerak. Tangannya gemetar."
Aku menyembunyikan tanganku di bawah meja. Sial. Dia memperhatikan.
"Aku tidak gugup. Aku kedinginan."
"Ini kafe. Suhu 24 derajat."
"Air conditioner-nya terlalu dingin."
Rafa tertawa. "Baik, Kay. Terserah kamu."
"Ini kafe favorit kamu, ya?" Rafa memulai pembicaraan setelah kopi baru datang.
"Iya. Kopinya enak dan harganya ramah di kantong."
"Vira cerita kamu anaknya hemat."
"Kak Vira cerita banyak sekali tentang aku. Jadi aku harus khawatir atau senang?"
"Senanglah. Berarti dia sayang kamu."
Aku tersenyum kecut. "Iya. Dia memang selalu sayang."
Rafa menyesap kopinya. "Jadi, Kay. Terima kasih sudah mau membantu aku."
"Bantu apa? Aku belum melakukan apa-apa."
"Bantu mencari hadiah buat Vira. Aku bingung mau memberi apa."
"Kakak orangnya gampang, kok. Dia suka barang-barang sederhana. Bunga, tapi jangan mawar. Dia alergi mawar."
Rafa mengangkat alis. "Serius? Aku tidak tahu itu."
"Kebanyakan orang tidak tahu. Kakak jarang cerita."
Dia mengeluarkan ponsel dan mulai mengetik catatan. Matanya serius, seolah setiap detail tentang Vira sangat berharga.
Hatiku sakit melihatnya. Tapi aku lanjutkan.
"Lalu, dia suka cokelat hitam. Kadar gula rendah."
"Dia tidak suka manis?"
"Dia bekas calon dokter. Takut diabetes."
Rafa tertawa. "Vira orangnya disiplin sekali, ya?"
"Disiplin, perfeksionis, kadang membuat capek. Tapi aku sayang dia."
"Aku juga."
Dua kata itu lagi. Dua tusukan di hati.
Pembicaraan mengalir. Tentang Vira. Tentang Rafa. Tentang kakak laki-lakinya yang bernama Sakti.
Lalu tiba-tiba, Rafa bertanya tentang pacar.
"Belum," jawabku.
"Masakan? Cantik seperti kamu."
Aku tertawa kecil. "Kakak jangan bercanda."
"Aku serius. Kamu itu cantik, Kay. Mungkin kamu tidak sadar."
Jantungku berdebar kencang. Tapi kali ini, aku tidak panik. Aku justru berani membalas.
"Kakak bicara begitu ke semua adik pacar?"
Rafa mengerjap. "Tidak. Hanya kamu."
"Kenapa hanya aku?"
Dia terdiam. Matanya menatapku. Lalu dia berkata pelan, "Aku tidak tahu."
Pembicaraan berlanjut, tapi aku merasakan ada yang berbeda. Setiap kali dia berbicara tentang Vira, matanya lembut. Tapi ketika dia menatapku, ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak bisa aku jelaskan.
Aku mencoba mengalihkan perhatian. "Jadi, kapan kakak dan Vira fitting baju?"
"Minggu depan. Kamu ikut, kan?"
"Iya. Kakak Vira minta aku ikut."
"Kamu mau membantu memilihkan?"
"Terserah. Yang penting warna bajunya tidak mencolok."
Rafa tertawa. "Vira bilang kamu suka warna-warna netral."
"Dia tahu aku lebih suka tidak menarik perhatian."
"Sayangnya, kamu tetap menarik perhatian meskipun pakai warna netral."
Aku mengerjap. "Maksudnya?"
Rafa tersenyum. Tidak menjawab.
Jam menunjukkan pukul 4 sore. Kami sudah berbicara hampir dua jam. Tentang banyak hal. Tentang masa kecil, tentang kuliah, tentang mimpi-mimpi yang belum tercapai.
Rafa bercerita tentang ayahnya yang guru. Tentang ibunya yang suka memasak. Tentang adiknya yang masih SMP.
"Aku tidak pernah tahu kakak punya adik," kataku.
"Karena jarang aku cerita. Vira saja baru tahu setelah kami pacaran."
"Kenapa?"
"Karena aku ingin orang mengenal aku dulu, bukan keluarganya."
Aku mengangguk. Itu masuk akal.
"Sekarang giliran kamu," katanya. "Cerita tentang kamu. Bukan tentang Vira. Tentang kamu."
Aku terdiam. Tidak ada yang pernah bertanya seperti itu.
"Aku tidak tahu harus cerita apa."
"Cerita apa saja. Hobi, kesukaan, mimpi, apa pun."
Aku menarik napas. "Aku suka membaca. Novel, terutama. Aku suka hujan. Aku suka kopi pahit. Aku suka jalan-jalan sendiri ke tempat yang tidak pernah aku kunjungi sebelumnya."
"Sendirian?"
"Iya. Aku tidak butuh teman untuk menikmati sesuatu."
Rafa menatapku dengan ekspresi baru. Bukan kagum. Bukan iba. Tapi rasa hormat.
"Kamu kuat, Kay."
"Aku tidak kuat. Aku hanya terbiasa."
"Terbiasa itu awal dari kuat."
Aku tersenyum. "Kakak mengutip siapa?"
"Aku sendiri."
"Gombal."
Rafa tertawa. "Fakta."
Ponsel Rafa bergetar. Vira.
Dia mengangkatnya, bicara sebentar, lalu menutup telepon.
"Dia bertanya aku lagi di mana."
"Kakak bilang apa?"
"Aku bilang lagi meeting."
Aku tertawa kecil. "Kakak berbohong pada tunangan kakak demi aku?"
"Jangan salah paham. Aku berbohong karena aku tidak ingin Vira cemas."
"Sama saja."
Rafa menghela napas. "Kamu keras kepala."
"Aku belajar dari Vira."
Jam menunjukkan pukul 5 sore. Langit mulai jingga. Kafe mulai sepi.
"Kay, aku antarkan kamu pulang."
"Tidak usah."
"Vira pesan—"
"Vira pesan kakak menjaga aku. Tapi kalau kakak mengantar, nanti Vira makin curiga. Aku naik ojek online saja."
Rafa terdiam. Lalu dia mengangguk. "Baik. Tapi aku temani sampai ojeknya datang."
Di luar kafe, kami berdiri berdampingan. Mona dari kejauhan masih setia memata-matai. Aku melambaikan tangan kecil padanya.
Angin sore bertiup, membawa wangi bunga dari taman dekat kafe. Langit jingga perlahan berubah menjadi ungu. Senja di Kemang selalu indah.
"Kay," Rafa memecah keheningan.
"Ya?"
"Maaf kalau aku membuatmu bingung."
"Kakak tidak membuatku bingung, Kak. Aku yang membuat diriku sendiri bingung. Dari dulu."
Dia menatapku. "Maksudmu?"
Aku menggigit bibir. Aku tahu ini saatnya. Aku bisa memilih diam, atau jujur.
Aku mengambil napas panjang. Aku menatap langit senja. Aku mendengar suara klakson dari kejauhan, suara kehidupan yang terus berjalan.
"Kakak tahu tidak, tiga tahun lalu kakak pernah menolong seorang cewek yang jatuh di lorong kampus?"
Rafa mengerjap. "Itu... kamu?"
"Iya. Aku yang waktu itu. Sejak saat itu, aku diam-diam menyukai kakak."
Rafa terdiam. Matanya membelalak. Aku bisa melihat gejolak di sana — kaget, bingung, mungkin sedikit panik.
"Tiga tahun, Kak. Aku menyimpannya sendirian. Sampai kakak muncul di rumahku sebagai calon suami Vira."
"Kay, aku tidak tahu—"
"Kakak tidak perlu tahu. Karena itu tidak akan mengubah apa pun. Kakak sudah memilih Vira. Dan aku sudah memilih untuk diam."
"Kenapa kamu cerita sekarang?"
"Karena aku lelah. Karena aku tidak mau ada rahasia lagi di antara kita. Karena besok, kita akan kembali menjadi kakak ipar dan adik ipar. Dan aku tidak mau membawa beban ini selamanya."
Aku menatap matanya. Untuk pertama kalinya, aku tidak takut.
"Aku tidak berharap apa pun, Kak. Aku hanya ingin jujur. Untuk terakhir kalinya."
Rafa tidak berkata apa-apa. Wajahnya berubah. Ada kesedihan di sana. Mungkin juga rasa bersalah.
"Kay, maaf."
"Kakak tidak perlu minta maaf."
"Aku tetap minta maaf."
"Ya sudah. Aku maafkan."
Ojek online datang. Aku naik ke belakang. Rafa masih berdiri di tempatnya, memandangiku.
"Kay!" teriaknya.
Aku menoleh.
"Jaga diri."
"Kakak juga. Jaga Vira."
"Pasti."
Ojek melaju. Aku tidak menoleh ke belakang. Tapi air mataku jatuh. Bukan air mata sedih. Tapi air mata lega.
Akhirnya aku jujur. Akhirnya dia tahu.
Dan meskipun tidak mengubah apa pun, setidaknya aku tidak perlu berbohong lagi.
Pesan dari Mona masuk.
Mona: "Kamu bicara apa tadi? Kok dia diam saja? Kamu menangis? Aku lihat kamu menangis."
Kayla: "Aku ceritakan semuanya, Mon. Tentang tiga tahun."
Mona: "GILA. BERANI SEKALI KAMU."
Kayla: "Aku lelah."
Mona: "Terus dia bicara apa?"
Kayla: "Dia bilang maaf."
Mona: "Hanya maaf?"
Kayla: "Cukup. Aku tidak minta lebih."
Mona: "Kamu kuat, Kay."
Kayla: "Aku tidak kuat. Tapi aku berusaha."
Mona: "Kamu lebih berani dari aku. Aku tidak akan pernah punya nyali seperti itu."
Kayla: "Kamu juga bisa, Mon. Kalau sudah waktunya."
Mona: "Mungkin. Tapi tidak sekarang."
Sampai di rumah, Vira sudah menunggu di teras.
"Kok naik ojek? Rafa mana?"
"Rafa pulang, Kak."
"Katanya kalian bertemu di kafe?"
"Iya. Hanya sebentar."
Vira menatapku. Matanya menyelidik.
"Kay, kamu menangis?"
"Tidak. Kena debu."
"Bohong."
Aku tidak menjawab. Vira mendekat. Dia memegang wajahku, menatap matanya dengan matanya.
"Kay, kakak sayang kamu."
"Aku juga sayang kakak."
"Pun apa yang terjadi, jangan pernah sembunyi dari kakak."
Aku mengangguk. Tapi di dalam hati, aku tahu. Aku sudah sembunyi terlalu lama. Dan sekarang, rahasia itu sudah keluar. Hanya saja, belum kepada Vira.
Belum.
Malam harinya, Mona menelepon lagi.
"Kay, kamu yakin tidak akan menyesal?"
"Yakin. Aku sudah memikirkannya berkali-kali. Dan ini keputusan yang tepat."
"Dia bisa saja jadi tambah bingung."
"Biar. Itu urusan dia. Urusan aku adalah jujur."
Mona terdiam. Lalu dia berkata, "Kamu berubah, Kay."
"Berubah menjadi apa?"
"Menjadi lebih berani. Dan lebih dewasa."
Aku tersenyum kecil. "Aku belajar dari kamu."
"Aku tidak pernah mengajarkanmu apa pun."
"Kamu mengajarkan aku untuk tidak takut. Dengan caramu yang rewel itu."
Mona tertawa. "Ya sudah. Aku matikan. Kamu istirahat."
"Iya, Mon. Makasih sudah selalu ada."
"Ya. Sama-sama."
Aku meletakkan ponsel. Memejamkan mata.
Tiga tahun menyimpan rahasia. Dan hari ini, untuk pertama kalinya, aku bernapas lega.
Bukan karena Rafa akan membalas perasaanku. Bukan karena ada masa depan bersama.
Tapi karena aku tidak perlu lagi menyembunyikan siapa aku di depannya.
Dan untuk saat ini, itu sudah cukup.
BAB VII
Dua Hati dalam Satu Atap
Tiga minggu berlalu sejak kencan palsu di kafe itu. Tiga minggu penuh kebohongan kecil yang terus menumpuk. Tiga minggu aku belajar berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.
Padahal tidak.
Hatiku seperti kertas yang terus diremas setiap kali melihat Vira tersenyum menyebut nama Rafa. Setiap kali dia menunjukkan foto-foto persiapan pernikahan. Setiap kali dia bertanya, "Kay, kamu senang, kan, punya kakak ipar seperti Rafa?"
Dan setiap kali itu, aku selalu menjawab, "Senang sekali, Kak."
Itu kebohongan terbesarku. Dan aku sudah melakukannya berkali-kali.
Hari ini, Vira mengumumkan sesuatu yang membuat dunia kembali berputar kencang.
"Rafa akan pindah ke sini," kata Vira sambil membereskan piring makan malam.
Aku berhenti mengunyah. "Pindah ke sini? Maksudnya ke rumah ini?"
"Iya. Cuma sementara. Rumahnya sedang direnovasi. Orang tuanya mau mengganti lantai dan cat seluruh rumah. Mungkin butuh waktu sebulan."
"Se... sebulan?"
"Iya. Bukannya kamu senang? Kita jadi sering bertemu."
"Tapi, Kak, ini kan rumah kita. Hanya ada dua kamar. Kakak tidur sekamar sama aku?"
"Tidak. Rafa tidur di kamar kakak. Kakak tidur sekamar sama kamu."
Aku hampir tersedak. "Apa?!"
"Ya, masa iya calon suami tidur sekamar sama calon adik ipar? Tidak sopan, Kay."
"Bukan itu maksudku. Maksudku, kakak tidur sekamar sama aku? Selama sebulan?"
"Iya. Seru, kan? Seperti waktu kecil dulu. Kita tidur bareng, cerita-cerita sebelum tidur. Aku kangen."
Aku tidak bisa berkata-kata. Bukan karena tidak suka tidur sekamar dengan Vira. Tapi karena bayangan Rafa akan tinggal di rumah yang sama. Satu atap. Dua hati yang tidak seharusnya saling mendekat.
Perasaan campur aduk menyerangku. Aku takut, tapi juga anehnya ada sedikit kegembiraan yang langsung aku sesali. Apa yang salah denganmu, Kay?
"Kak, apakah ini keputusan yang bijak?" tanyaku hati-hati.
"Kenapa tidak bijak?"
"Kakak kan belum menikah. Masa calon suami tinggal serumah? Nanti tetangga pada bergosip."
"Biarkan. Mereka tidak akan berani bergosip kalau tahu Rafa akan jadi pengacara."
"Rafa pengacara? Bukankah dia kerja di perusahaan konsultan?"
"Iya, tapi dia juga lulusan hukum. Dia baru mendapat sertifikat advokat bulan lalu. Jadi kalau ada tetangga yang kepo, dia bisa menyomasi."
Aku menghela napas. Vira selalu punya jawaban untuk segalanya.
"Kak, aku tidak yakin ini ide bagus."
"Kenapa sih kamu keberatan? Kamu tidak suka sama Rafa?"
Pertanyaan itu seperti silet. Jantungku berdetak lebih cepat. Aku harus menjawab dengan cepat dan tepat. Aku menatap Vira, berusaha tersenyum alami.
"Aku suka sama Rafa. Sebagai calon kakak ipar."
Vira tersenyum. "Ya sudah. Kalau kamu suka, tidak ada masalah. Lagian Rafa juga orangnya baik. Tidak akan macam-macam."
Dia sudah bulat dengan keputusannya. Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Malam itu, aku menelepon Mona. Suaraku bergetar meskipun aku berusaha tenang.
"Mon, gila. Rafa akan pindah ke rumahku."
"APA?!" teriak Mona sampai suaranya pecah. Aku bisa mendengar dia jatuh dari kasur.
"Jangan berteriak, Mon. Ini serius."
"Serius gila, Kay! Cowok idaman kamu akan tinggal satu atap sama kamu? Ini seperti sinetron India!"
"Aku tahu."
"Kamu tahu tidak risikonya?"
"Apa?"
"Kamu akan melihat dia setiap hari. Setiap pagi. Setiap malam. Dalam kondisi apa pun. Kamu akan melihat dia habis bangun tidur. Kamu akan melihat dia pakai piyama. Kamu akan melihat dia—"
"MONA! BERHENTI!"
"Maaf. Aku terlalu bersemangat. Tapi kamu sadar, kan, ini akan berat sekali buat kamu?"
Aku menarik napas panjang. Membayangkan semua skenario yang Mona sebutkan. Setiap pagi bertemu Rafa di dapur. Setiap malam mendengar suaranya dari kamar sebelah.
"Aku sadar, Mon."
"Terus kamu tetap mau menjalani?"
"Aku tidak punya pilihan, Mon. Kakakku yang minta."
Mona menghela napas panjang. "Ya, Allah, kasihan kamu, Kay. Aku akan mendoakan yang terbaik."
"Doakan aku tidak mati hati setiap hari."
"Amin."
Dua hari kemudian, Rafa pindah.
Aku membantu Vira membereskan kamarnya. Kami memindahkan lemari baju Vira ke kamarku. Ruangan menjadi sesak. Dua lemari, dua meja belajar, dua kasur single yang disatukan menjadi satu kasur besar.
Aku berdiri di ambang pintu kamar, menatap ruangan yang berubah. Kamar yang dulu hanya milikku dan Vira, kini akan berbagi dengan bayangan Rafa di seberang dinding.
Ini akan sulit, pikirku. Tapi aku harus kuat.
"Seru, ya, seperti kos-kosan," kata Vira sambil merapikan sprei.
"Kak, kos-kosan tidak sebagus ini. Biasanya sempit."
"Ya sudah, seperti hotel bintang lima versi murahan."
Aku tertawa kecil. Vira selalu punya cara untuk membuat suasana terasa ringan.
Pintu rumah diketuk. Vira berlari kecil ke depan.
"Rafa datang!"
Aku mengikuti dari belakang. Rafa berdiri di ambang pintu dengan dua koper besar dan satu tas ransel. Kemeja putih lengan pendek. Celana jeans biru. Tersenyum lebar.
"Masuk, masuk!" Vira menarik tangan Rafa.
"Matur nuwun, mbak," kata Rafa dengan logat Jawa yang kental.
"Sok Jawa sekali sih," Vira tertawa.
"Lah, wong aku Jawa tulen."
Aku hanya tersenyum dari belakang. Rafa menoleh ke arahku.
"Kay, kamu ikut membantu angkat barang?"
"Iya, Kak."
"Tidak usah. Ini cuma sedikit. Kamu temani Vira saja."
Vira menarik Rafa masuk. Aku mengambil satu kopernya dan membawanya ke kamar.
Kamar Vira yang tadinya rapi kini berubah. Ada koper terbuka di lantai. Ada jaket jeans tergantung di sandaran kursi. Ada buku-buku hukum berserakan di meja.
Dinding kamar yang dulu kosong, kini bertambah dekorasi kecil: foto Vira dan Rafa di sebuah kafe.
Aku menatap foto itu sebentar. Senyum mereka bahagia. Aku membuang muka.
"Maaf, berantakan," kata Rafa sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Tidak apa-apa. Nikmati suasana kos-kosan," jawab Vira.
"Kos-kosan mahal. Gratis pula."
"Ya iyalah. Calon mertua memfasilitasi."
Aku berdiri di pojok kamar, memperhatikan mereka. Rasanya seperti menonton film di bioskop. Tapi aku bukan penonton. Aku pemain yang terjebak dalam adegan yang tidak diinginkan.
"Kay, kamu kenapa diam saja?" tanya Rafa.
"Lihat-lihat saja. Kapan lagi bisa melihat kamar kakak serumah sama cowok."
Vira tertawa. "Iya. Pengalaman pertama."
Rafa ikut tertawa. "Pengalaman terakhir juga. Setelah ini menikah."
Aku tersenyum. Senyum pahit yang kupasang rapi.
Hari pertama Rafa tinggal di rumahku berjalan seperti yang aku bayangkan. Canggung. Aku tidak tahu harus bersikap bagaimana. Haruskah aku ramah seperti biasa? Atau menjaga jarak? Atau pura-pura sibuk?
Aku memilih opsi ketiga.
Seharian aku mengurung diri di kamar, hanya keluar untuk makan dan ke kamar mandi. Vira sibuk memasak di dapur. Rafa sibuk bekerja dari kamar.
Tapi malam harinya, aku tidak bisa menghindar lagi.
"Kay, makan malam!" teriak Vira dari dapur.
Aku keluar kamar. Rambut masih basah habis keramas. Kaus oblong longgar. Celana pendek. Tanpa make up, tanpa bra.
Sial. Aku lupa penampilanku sedang amburadul.
Tapi terlambat. Rafa sudah duduk di meja makan. Dia menatapku sekilas, lalu tersenyum.
"Halo. Baru keramas?"
"Iya. Tadi habis olahraga."
Vira melongo. "Olahraga? Kamu? Seumur-umur tidak pernah melihat kamu olahraga."
"Kak, aku ikut senam online tadi pagi."
"Bohong. Kamu tidak bangun sebelum jam sepuluh."
Rafa terkekeh. "Jadi Kayla ini tukang tidur, ya?"
"Tukang tidur, tukang malas, tukang pesan online," Vira menjawab cepat.
"Kak! Jangan jelek-jelekkan aku di depan calon kakak ipar!"
"Biar dia tahu aslinya. Tidak usah pura-pura rapi."
Aku mendengus kesal. Rafa tertawa semakin lebar.
"Tenang, Kay," kata Rafa. "Aku juga tukang tidur, kok. Dulu pas kuliah, aku pernah terlambat ujian karena kesiangan."
"Serius?" Aku duduk di kursi seberang Rafa.
"Serius. Dosennnya marah-marah. Nilai ujianku cuma C."
"Wah, kasihan."
"Tapi akhirnya aku ikut ujian susulan dan mendapat A."
Vira mengangkat alis. "Tidak masuk akal. Ujian susulan biasanya lebih sulit."
"Makanya aku belajar mati-matian. Semalam suntuk."
"Baru tahu aku ada cerita begitu," kata Vira.
"Banyak yang belum kamu tahu tentang aku, Via."
"Iya. Makanya kita menikah biar tahu semuanya."
Kalimat itu lagi. Aku menunduk, fokus memotong ayam goreng di piringku. Di balik poni yang menutupi wajahku, aku menggigit bibir.
"Kay, kamu kenapa diam lagi?" tanya Vira.
"Makan, Kak. Mulutku sibuk."
"Mulutmu sibuk? Baru dua suapan. Biasanya kamu makan sambil cerita."
"Aku lapar sekali."
Vira menatap curiga. Tapi dia tidak melanjutkan.
Setelah makan, Vira menyuruhku mencuci piring. Dia sendiri duduk di ruang tamu bersama Rafa, menonton televisi.
Aku mencuci piring sambil sesekali melirik ke arah mereka.
Rafa duduk di sofa. Vira bersandar di bahunya. Tangan mereka bertautan.
Aku memegang spons terlalu erat sampai busa sabun merembes di sela-sela jariku.
Pemandangan yang indah. Untuk mereka. Bukan untukku.
Setelah selesai mencuci piring, aku langsung masuk kamar. Tidak berpamitan.
"Kay, kamu tidak nonton bareng?" tanya Vira.
"Mengantuk, Kak. Aku tidur dulu."
"Tidur jam 9? Kamu sakit?"
"Tidak. Cuma lelah."
"Ya sudah. Selamat tidur."
"Selamat tidur, Kak Rafa."
"Selamat tidur, Kay."
Di dalam kamar, aku duduk di kasur. Kamar terasa lebih sempit dari biasanya. Mungkin karena sekarang dua lemari. Mungkin karena bayangan Rafa yang ada di seberang dinding.
Ponsel bergetar. Mona.
Mona: "Bagaimana hari pertama?"
Kayla: "Berat."
Mona: "Ceritakan."
Kayla: "Mereka mesra di sofa. Aku cuci piring sendirian."
Mona: "Kamu menangis?"
Kayla: "Belum. Tapi hampir."
Mona: "Kamu kuat, Kay."
Kayla: "Tidak yakin."
Aku meletakkan ponsel. Memejamkan mata.
Pintu kamar terbuka. Vira masuk.
"Kamu belum tidur?" tanyanya.
"Belum. Lagi baring-baring."
Vira duduk di sampingku. Aroma sabun mandinya menusuk hidungku. Wangi yang familiar, wangi masa kecil.
"Kay, jujur sama kakak. Kamu tidak suka Rafa tinggal di sini?"
"Bukan tidak suka, Kak. Tapi aku butuh waktu untuk beradaptasi."
"Adaptasi apa? Dia cuma calon kakak ipar."
"Ya, itu. Aku belum pernah punya kakak ipar. Jadi agak kikuk."
Vira tertawa. "Nanti juga biasa. Dulu waktu pertama kali kamu kenal Mona, kamu juga kikuk, kan?"
"Iya. Tapi sekarang Mona jadi sahabatku."
"Nah. Sama seperti Rafa nanti. Dia juga akan menjadi keluargamu."
Keluarga. Kata itu kembali menusuk.
"Iya, Kak."
Vira menepuk pundakku. "Sudah, tidur. Besok kita berbelanja ke pasar pagi-pagi. Kamu harus bangun jam 7."
"Jam 7? Kak, sadar tidak sih?"
"Biar kamu terbiasa hidup disiplin."
"Tapi aku tidak mau disiplin."
"Kamu mau kakak marah?"
Aku menghela napas. "Baik. Jam 7."
"Janji?"
"Janji."
Vira tersenyum puas. Dia membaringkan tubuh di sampingku, lalu mematikan lampu.
Dalam gelap, suaranya berbisik, "Kakak sayang kamu, Kay."
"Aku juga sayang kakak."
"Kamu adalah adik terbaik yang pernah kakak punya."
"Aku satu-satunya adik yang kakak punya."
"Ya, itu. Tapi tetap terbaik."
Aku tersenyum dalam gelap. Tapi di balik senyum itu, air mataku mulai menetes.
Karena di balik kegelapan, aku menyembunyikan perasaan yang seharusnya tidak pernah ada.
BAB VIII
Batas Tipis yang Mulai Retak
Seminggu sudah Rafa tinggal di rumahku. Seminggu penuh aku belajar hidup dengan perasaan yang terus bergejolak. Seminggu penuh aku belajar mematikan rasa setiap kali melihat dia dan Vira bersama.
Tapi ada satu hal yang tidak bisa aku matikan.
Tatapan matanya.
Aku sedang mencuci piring. Rafa duduk di meja makan sambil membaca koran.
Tiba-tiba, aku merasakannya. Bukan suara. Bukan gerakan. Tapi sesuatu. Seperti ada arus listrik yang menyambar dari belakang.
Aku menoleh.
Rafa.
Matanya bertemu mataku. Dia tidak bergerak. Tidak berkata apa-apa. Hanya menatap.
Detik pertama. Aku panik.
Detik kedua. Aku bertanya-tanya.
Detik ketiga. Aku tersenyum canggung.
Detik keempat. Dia tersenyum balik — tapi senyum yang berbeda. Bukan senyum kakak ke adik. Tapi senyum yang... aku tidak tahu.
Detik kelima. Aku kembali mencuci piring, tapi tanganku gemetar.
"Kay," panggil Rafa.
"Ya?"
"Piringnya sudah bersih. Sudah kamu gosok lima menit."
Aku melihat piring di tanganku. Benar. Piring itu sudah berkilau seperti cermin. Aku bahkan bisa melihat bayangan wajahku di permukaannya — merah, panik, kacau.
"Oh. Iya." Aku meletakkan piring di rak pengering.
"Kamu memikirkan apa?"
"Bukan apa-apa."
"Kay, kamu boleh jujur sama aku. Kamu sedang ada masalah?"
Dia. Masalahnya adalah dia. Tapi aku tidak bisa bilang itu.
"Tidak, Kak. Aku baik-baik saja."
"Tapi matamu bilang lain."
Aku menoleh. "Mata aku bilang apa?"
Dia berdiri. Perlahan. Lalu berjalan mendekat. Satu langkah. Dua langkah. Kini dia berdiri tepat di belakangku — cukup dekat untuk aku mencium wangi sabun dari bajunya.
Rafa meraih piring terakhir dari rak pengering. Bukan untuk mencucinya. Tapi untuk meletakkannya di tempat yang benar. Gerakannya lambat. Disengaja.
"Matamu bilang, 'Tolong, ada yang menggangguku, tapi aku tidak bisa cerita'," katanya pelan.
Aku terdiam. Rafa terlalu tajam. Atau mungkin aku terlalu mudah dibaca.
"Kakak seperti psikolog," kataku akhirnya, berusaha terdengar santai padahal jantungku siap meledak.
"Bukan psikolog. Aku cuma... jago membaca orang."
"Jago membaca orang atau jago membaca aku?"
Rafa mengerjap. Lalu tersenyum. "Mungkin dua-duanya."
Aku menghela napas. "Kakak, jangan sering-sering menatap aku seperti itu."
"Kenapa?"
"Karena..."
Aku berhenti. Tidak bisa melanjutkan kalimat.
Karena setiap kali kakak menatapku seperti itu, aku lupa bahwa kakak calon suami kakakku. Karena setiap kali kakak menatapku seperti itu, aku punya harapan. Dan harapan adalah hal paling berbahaya di dunia ini.
"Karena?" Rafa mencondongkan badan.
"Karena orang lain bisa salah lihat."
"Siapa yang salah lihat? Vira?"
"Iya. Kakak bisa cemburu."
Rafa tertawa kecil. "Vira tidak akan cemburu sama kamu."
"Kenapa kakak yakin?"
"Karena kamu adiknya. Dan aku calon suaminya. Dia tahu batas-batasnya."
Aku menatap Rafa. Apakah kakak tahu batas-batasnya? Karena aku rasa kakak juga mulai lupa.
Tapi aku tidak mengucapkannya. Aku hanya tersenyum. Senyum yang kupasang rapi. Senyum yang mengatakan "aku baik-baik saja" padahal tidak.
Siang harinya, Mona datang.
Tanpa pamit. Tanpa kabar. Tiba-tiba sudah berdiri di depan pintu dengan senyum lebar dan tas ransel penuh stiker anime.
"Kejutan!" teriak Mona.
"Mon, kamu mengagetkan!" Aku membukakan pintu.
"Mana Rafa? Aku mau melihat langsung."
"Pelan-pelan, kamu jangan seperti pemburu."
"Memang iya. Aku pemburu kebenaran."
Sebelum aku bisa menghentikannya, Mona sudah melangkah masuk. Tepat saat itu, Rafa keluar dari kamarnya.
Rambutnya sedikit basah — baru keramas. Kaus oblong putih tipis yang... sial, aku bisa melihat bentuk dadanya. Tanpa celana panjang, hanya celana pendek olahraga abu-abu.
Mona membelalak. Mulutnya terbuka. Matanya membesar.
"Astaga," bisiknya.
"Mon, jangan kaku," bisikku.
"Aku tidak kaku. Aku terpesona."
Rafa mengerjap. "Eh, ada tamu."
"Ini Mona, sahabat aku," aku memperkenalkan dengan suara yang berusaha stabil.
"Halo, Mona. Aku Rafa."
Rafa mengulurkan tangan. Mona menjabatnya — terlalu lama. Aku menarik lengan Mona.
"Mona!"
"Maaf, maaf." Mona menggelengkan kepala. "Halo, Kak Rafa. Aku sering mendengar cerita tentang kakak dari Kayla."
"Cerita apa?" tanya Rafa.
"Cerita baik, tentunya." Mona tersenyum manis. Terlalu manis. Aku tahu sahabatku ini sedang tegang — biasanya dia tertawa kasar dan bicara sembarangan.
"Aku buatkan minum," kataku cepat.
"Jangan, aku yang buatkan," tawar Rafa.
"Tidak usah, Kak. Kamu kan tamu."
"Aku bukan tamu. Aku tinggal di sini."
"Ya, tapi—"
"Sudah, biar aku. Kamu temani Mona."
Rafa berjalan ke dapur. Begitu dia cukup jauh, Mona menarikku ke teras dengan paksa.
"Gila, Kay," bisik Mona. Matanya masih membelalak. "Cowok itu ganteng sekali asli."
"Aku tahu."
"Gantengnya bukan main. Tambah tua tambah ganteng."
"Dia baru 23, Mon."
"Ya, itu. Masa depan masih panjang. Gantengnya masih bisa berkembang."
"Mon, kamu jangan tertarik sama dia."
"Tidaklah. Aku punya prinsip. Jangan pernah tertarik pada cowoknya sahabat."
"Dia bukan cowokku. Dia cowoknya kakakku."
"Sama saja. Tetap terlarang."
Aku menghela napas. Mona memang Mona.
Tapi kemudian wajah Mona berubah serius — sesuatu yang jarang terjadi. "Kay, aku serius nih. Kamu tidak bisa terus-terusan seperti ini."
"Seperti bagaimana?"
"Seperti orang yang berjalan di atas kawat tipis. Satu langkah salah, kamu jatuh."
"Aku tahu."
"Kamu tahu tapi kamu tetap jalan?"
"Aku tidak punya pilihan, Mon."
"Kamu selalu punya pilihan."
Rafa keluar dengan nampan berisi tiga gelas es teh. "Maaf, gulanya sedikit. Vira bilang kamu menjaga berat badan, Kay."
Vira cerita semuanya. Mulut kakakku itu memang tidak pernah bisa menyimpan rahasia.
"Makasih, Kak," aku mengambil gelas.
Mona juga mengambil. Tapi dia tidak minum. Dia menaruh gelasnya di meja, lalu menatap Rafa lurus-lurus.
"Kak Rafa, boleh bertanya sesuatu yang agak pribadi?"
"Boleh."
"Kakak benar-benar cinta sama Vira?"
Pertanyaan yang sama. Tapi dari mulut yang berbeda. Dan nada yang berbeda. Mona tidak bertanya karena penasaran. Dia bertanya karena menginterogasi.
Rafa tersenyum tipis. Dia tidak terkejut. Seolah dia sudah menduga pertanyaan ini akan datang.
"Kamu juga bertanya seperti Kayla."
"Mona itu jiwa mudanya Kayla. Jadi kalau Kayla tidak berani bertanya, Mona yang bertanya."
"Mon!" aku mencubit lengannya.
"Aduh! Sakit!"
Rafa tertawa. "Kalian ini bersahabatan sekali, ya."
"Sudah dari SMP," jawab Mona sambil menggosok lengannya yang dicubit. Tapi dia tidak mengalihkan pandangan dari Rafa. "Jadi, Kak Rafa. Jawab dulu pertanyaan aku. Benar-benar cinta?"
Rafa menghela napas. Lalu — dan ini yang membuat jantungku berhenti — dia menatapku. Sekejap. Hanya sekejap. Tapi cukup lama untuk Mona menangkapnya.
Lalu dia menatap Mona. "Aku cinta Vira. Mungkin caranya tidak heboh seperti di film. Tapi ini nyata."
"Buktinya?" Mona tidak menyerah.
"Bukti? Aku rela hidup serumah dengan dua perempuan yang kalau sore rebutan kamar mandi."
Aku tertawa. Mona juga. Tapi tawa Mona pendek. Kaku.
"Itu bukan bukti cinta, itu bukti kesabaran," kata Mona.
"Sama saja. Cinta butuh kesabaran."
Rafa menjawab dengan cepat. Tanpa pikir panjang. Seolah itu adalah kebenaran mutlak baginya.
Mona mengangguk. "Oke. Aku puas dengan jawaban itu."
"Gampangan sekali kamu, Mon," bisikku.
"Ya, jawabannya bagus. Aku tidak bisa mengelak."
Tapi matanya berkata lain. Mona tidak puas. Dia hanya berhenti karena dia tahu Rafa tidak akan memberi jawaban jujur di depan aku.
Rafa berdiri. "Kay, aku ke kamar dulu, ya. Ada pekerjaan."
"Iya, Kak."
Rafa masuk ke dalam. Mona menatap punggungnya sampai benar-benar menghilang di balik pintu. Lalu dia menatapku. Matanya tajam.
"Kay, kamu harus segera move on."
"Gampang sekali kamu bilang."
"Aku serius." Mona meraih kedua tanganku. "Cowok itu terlalu baik. Terlalu sempurna. Dan dia bingung, Kay. Cowok yang bingung itu lebih bahaya daripada cowok jahat."
"Maksud kamu?"
"Dia bilang dia cinta Vira. Tapi matanya — kamu lihat matanya tadi? Waktu dia menengok ke kamu sebelum menjawab pertanyaan aku?"
Aku tidak bisa menjawab.
"Itu bukan mata orang yang sudah bulat dengan pilihannya. Itu mata orang yang masih ragu."
"Mon, jangan—"
"Kamu dengarkan aku. Aku sahabat kamu. Aku tidak mau melihat kamu hancur. Tapi kalau kamu terus begini, kamu akan hancur. Bukan besok. Bukan lusa. Tapi setiap hari sedikit demi sedikit."
"Dan apa yang harus aku lakukan?"
"Pergi. Jauh dari Rafa. Jangan sering bertemu. Jangan sering mengobrol. Jangan sering bertatapan."
"Tapi dia tinggal di rumahku, Mon. Aku tidak bisa kabur."
"Kamu bisa. Jaga jarak. Jangan sering keluar kamar kalau dia ada. Jangan ikut Vira kalau dia mau bertemu Rafa. Jangan—"
"Mon, aku tidak bisa bersembunyi di kamar sebulan penuh."
"Kamu bisa kalau kamu mau."
Aku menghela napas. Mona memang keras kepala. Tapi dia benar.
Aku harus menjaga jarak.
Atau aku akan hancur.
Malam harinya, aku berusaha menerapkan saran Mona.
Aku makan malam dengan cepat — tiga suapan, lalu berdiri. "Kenyang, Kak. Aku tidur dulu."
"Kay, kamu baru makan tiga suap!" Vira mengangkat alis.
"Lelah."
"Dari tadi sore kamu di kamar terus."
"Mona membuatku lelah."
"Berkali-kali kamu bilang Mona membuat lelah. Mona itu sahabat kamu atau musuh kamu?"
"Sahabat yang melelahkan."
Vira tertawa. Rafa ikut tertawa kecil. Tapi matanya — matanya menatapku. Bukan tatapan biasa. Tapi tatapan yang bertanya: "Kamu baik-baik saja?"
Aku tidak menjawab. Langsung masuk kamar dan menutup pintu.
Di dalam kamar, aku duduk di kasur. Menatap ponsel. Membuka chat dengan Rafa.
Pesan terakhir masih seminggu lalu.
Aku ingin mengirim pesan. Tapi aku tahan.
"Jangan, Kay. Jaga jarak," bisikku sendiri.
Pintu kamar terbuka. Vira masuk.
"Kay, kamu tidak sedih, kan?" tanyanya sambil duduk di sampingku.
"Sedih kenapa?"
"Seperti... ada yang kurang. Kamu jadi pendiam akhir-akhir ini."
"Tidak, kok, Kak. Aku cuma banyak memikirkan skripsi."
"Yakin?"
"Yakin."
Vira menatapku lama. Matanya seperti sedang membaca sesuatu. Aku berusaha mempertahankan tatapannya, tapi aku tahu — dia bisa melihat kebohongan di mataku.
"Kakak tahu kamu bohong, Kay."
Jantungku berdegup kencang. Tidak. Tidak sekarang.
"Bohong?"
"Iya. Ada sesuatu yang kamu sembunyikan. Kakak tidak tahu apa. Tapi kakak yakin ada."
Aku terdiam. Vira terlalu pintar untuk dibohongi.
"Kak..."
"Kakak tidak memaksa kamu cerita. Tapi ingat, apa pun masalah kamu, kakak selalu ada."
Vira memelukku. Pelukan hangat yang membuatku ingin menangis. Tapi aku tahan.
"Makasih, Kak."
"Ya. Sekarang tidur. Besok kakak buatkan sarapan favorit kamu."
"Apa?"
"Pancake dengan honey."
"Matanya, Kak!"
"Biar melek."
Vira tertawa. Aku juga tertawa.
Tapi di balik tawa itu, ada sesak yang tidak pernah hilang.
Jam menunjukkan pukul 1 malam. Aku terbangun karena haus.
Aku berjalan pelan ke dapur. Gelap. Hanya lampu kulkas yang menerangi ruangan.
Aku membuka kulkas, mengambil botol air mineral, dan meneguk langsung dari botolnya — sesuatu yang dulu selalu membuat Vira marah.
"Tidak pakai gelas?"
Aku kaget. Botol air hampir jatuh. Jantungku melompat ke tenggorokan.
"Kak Rafa?" Aku menoleh.
Dia berdiri di dekat pintu dapur. Kaus oblong hitam. Celana pendek abu-abu. Rambut acak-acakan seperti habis berguling di kasur. Tapi matanya — matanya terjaga. Sadar. Seperti dia sengaja bangun.
"Maaf, aku mengagetkan kamu," katanya.
"Kok kakak bangun?"
"Haus juga."
"Oh."
Aku mengambil gelas dari rak, menuangkan air untuk Rafa, lalu memberikannya padanya. Jari kami bersentuhan sekilas. Hangat.
"Makasih."
"Sama-sama."
Kami berdiri di dapur yang remang. Hanya suara kulkas yang berdengung. Dan detak jantungku yang aku yakin dia bisa dengar.
"Kay, kamu susah tidur, ya, akhir-akhir ini?" tanya Rafa.
"Bisa dibilang begitu."
"Aku sering mendengar kamu bolak-balik di kamar. Kasurmu berisik."
Dia mendengarku. Setiap malam. Dia mendengarku bolak-balik di kasur.
"Maaf. Aku tidak sengaja."
"Bukan masalah. Aku cuma... khawatir."
Aku menatap Rafa. Matanya teduh meskipun di tengah malam buta. Ada kelembutan di sana yang membuatku ingin menangis.
"Kakak khawatir sama aku?"
"Iya. Kamu seperti adikku sendiri. Wajar aku khawatir."
Adik. Lagi-lagi kata itu.
"Kakak tidak usah khawatir. Aku baik-baik saja."
"Kamu selalu bilang baik-baik saja, padahal sebenarnya tidak."
"Kok kakak tahu?"
"Karena matamu. Matamu selalu bilang 'aku baik-baik saja, tapi sebenarnya tidak'."
Aku terdiam. Rafa terlalu jago membaca mataku. Atau mungkin — mungkin hanya mataku yang tidak bisa berbohong padanya.
"Kakak jangan sering-sering melihat mata aku."
"Kenapa?"
"Karena..."
Aku tidak bisa melanjutkan. Kata-kata tercekat di tenggorokan.
Karena setiap kali kakak melihat mataku, kakak bisa membaca semuanya. Dan aku tidak siap untuk semuanya terbaca.
"Karena?" Rafa mendekat satu langkah.
Kami sekarang hanya berjarak setengah meter. Aku bisa mencium wangi sabun dari tubuhnya. Bisa melihat garis rahangnya yang tegas di bawah cahaya lampu kulkas yang redup.
"Karena aku takut," bisikku.
"Takut apa?"
"Takut kalau-kalau..."
"Kalau-kalau apa?"
Aku menatap Rafa. Matanya menatapku dalam-dalam. Tidak ada senyum. Tidak ada basa-basi. Hanya tatapan.
Tatapan yang berbicara lebih dari kata-kata.
"Kalau-kalau aku akan melakukan sesuatu yang bodoh," selesaiku.
Rafa terdiam. Beberapa detik berlalu. Terasa seperti jam.
Lalu dia bergerak.
Bukan mundur. Tapi maju. Setengah langkah lagi. Kini jarak kami hanya beberapa sentimeter. Aku bisa merasakan hangat tubuhnya.
"Kay," panggilnya pelan. Suaranya serak.
"Ya?"
"Jangan lakukan sesuatu yang bodoh."
"Kenapa?"
"Karena aku juga takut melakukan sesuatu yang bodoh."
Jantungku berhenti berdetak.
Rafa mengangkat tangannya. Perlahan. Sangat lambat. Memberiku waktu untuk mundur. Tapi aku tidak bergerak. Aku membatu. Aku tidak bisa bergerak.
Tangannya hampir menyentuh pipiku—
"Kak." Aku berbisik. Satu kata. Tapi cukup untuk menghentikannya.
Tangannya berhenti di udara. Hanya beberapa milimeter dari kulitku.
"Jangan," bisikku lagi. Kali ini ada getaran di suaraku. "Tolong, Kak. Jangan."
Rafa menarik napas. Tangannya turun perlahan.
"Maaf," katanya. Suaranya hancur.
Aku tidak menjawab. Aku hanya menatapnya — pria yang hampir menyentuhku. Pria yang seharusnya menjadi suami kakakku.
"Kakak takut melakukan apa?" tanyaku akhirnya. Hampir berbisik.
Rafa tidak menjawab. Dia hanya menatapku. Tatapan yang lama. Dalam. Dan penuh teka-teki.
"Kak?"
Rafa menggeleng. "Lupakan."
Dia berbalik. Langkahnya berat menuju kamarnya.
"Kak Rafa!" panggilku.
Rafa berhenti. Tidak berbalik.
"Selamat malam, Kay," katanya pelan. Lalu dia masuk ke kamarnya dan menutup pintu.
Aku berdiri di dapur. Sendirian.
Dengan jantung yang berdebar kencang. Dengan pikiran yang kacau. Dengan bibir yang masih menggetar karena dia hampir menyentuhku.
Apa yang baru saja terjadi?
Apa yang Rafa maksud dengan "aku juga takut melakukan sesuatu yang bodoh"?
Apa dia merasakan apa yang aku rasakan?
Atau aku hanya gila?
Aku kembali ke kamar dengan langkah gontai. Vira masih tidur pulas di sampingku, tidak tahu apa-apa. Dengkurannya yang halus terdengar teratur — sebuah suara kedamaian yang tidak akan pernah aku miliki malam ini.
Aku membaringkan tubuh. Memejamkan mata.
Tapi tidur tidak datang.
Yang datang hanya bayangan Rafa. Tangannya yang hampir menyentuh pipiku. Matanya yang menatapku seperti aku adalah satu-satunya perempuan di dunia.
"Karena aku juga takut melakukan sesuatu yang bodoh."
Aku menggigit bibir. Menahan sesuatu yang tidak bisa aku jelaskan.
"Takut apa, Kak Rafa? Takut jatuh cinta sama aku? Atau takut aku yang jatuh cinta sama kakak?"
Tidak ada jawaban.
Hanya malam yang sunyi.
Dan perasaan yang semakin tidak terkendali.
BAB IX
Garis yang Tidak Boleh Dilanggar
Pagi harinya, suasana di rumah terasa berbeda.
Bukan seperti biasanya. Bukan seperti pagi yang hangat dengan kopi dan tawa Vira. Tapi pagi yang dingin. Canggung. Seperti udara sebelum badai.
Aku tidak bisa menatap Rafa.
Setiap kali mataku hampir bertemu dengan matanya, aku segera memalingkan wajah. Pura-pura sibuk dengan ponsel. Pura-pura melihat sesuatu di luar jendela. Pura-pura apa pun yang penting tidak perlu menatapnya.
Karena kalau aku menatapnya, aku akan teringat tadi malam.
Tangannya yang hampir menyentuh pipiku.
Jarak beberapa milimeter yang terasa seperti satu mil.
Rafa juga tampak aneh. Dia lebih pendiam dari biasanya. Sarapan hanya dihabiskan dengan menatap piring tanpa banyak bicara. Sesekali dia mengangkat kepalanya — seperti ingin mengatakan sesuatu — tapi kemudian menunduk lagi.
Vira yang biasanya cerewet, kali ini ikut-ikutan diam karena sibuk dengan ponselnya. Untunglah. Kalau dia mulai bertanya, aku tidak tahu harus menjawab apa.
"Kalian kenapa berdua diam sekali sih?" tanya Vira akhirnya.
Aku dan Rafa saling melirik sekilas. Lalu sama-sama membuang muka.
"Tidak ada yang mau dibicarakan," jawabku cepat.
"Aku juga," timpal Rafa. Suaranya datar. Tidak seperti biasanya.
Vira mengangkat alis. "Kalian ini aneh. Biasanya pagi-pagi ribut soal rebutan kamar mandi. Sekarang malah saling diam."
"Aku tidak rebutan kamar mandi," kataku.
"Karena aku selesai lebih cepat," kata Rafa.
"Itu karena kakak bangun lebih pagi."
"Aku terbiasa bangun pagi."
"Ya sudah, selamanya saja kakak yang pertama."
"Terima kasih. Aku akan lakukan itu."
Vira menatap kami bergantian. Matanya menyipit. Aku bisa melihat kecurigaan mulai terbentuk di sana.
"Kalian berdua aneh," katanya lagi. Kali ini bukan bercanda.
"Tidak," jawab kami bersamaan — terlalu cepat, terlalu kompak.
Vira terkekeh. Tapi tawanya tidak sampai ke mata. "Nah, ini baru kalian. Kompak."
Dia berdiri dari meja makan. "Aku ke kamar dulu. Mau siap-siap. Nanti siang ada rapat panitia pernikahan."
Hatiku lega. Vira akan pergi. Aku tidak perlu berpura-pura di depannya selama beberapa jam.
"Ikut, Kak?" tanyaku — sekadar formalitas.
"Tidak usah. Kamu temani Rafa saja di rumah."
Tidak. Jangan tinggalkan aku berdua dengannya.
Tapi aku tidak bisa bilang itu.
"Ya sudah, Kak," jawabku.
Vira masuk ke kamar. Aku dan Rafa terduduk di meja makan berdua.
Sunyi.
Aku bisa mendengar detak jam dinding. Bisa mendengar napasku sendiri yang terasa berat.
"Kay," Rafa memecah keheningan.
Aku menegang. "Ya?"
"Tadi malam..."
"Tadi malam tidak terjadi apa-apa," potongku cepat. Terlalu cepat.
"Tapi aku merasa—"
"Kakak salah merasa. Mungkin kakak masih mengantuk."
"Aku tidak mengantuk, Kay. Aku sadar sepenuhnya."
"Kalau kakak sadar, kakak pasti tahu kalau tadi malam tidak ada yang perlu dibicarakan."
Aku berdiri. Tangan dan kakiku gemetar. Aku mau pergi. Aku harus pergi dari meja ini sebelum aku melakukan sesuatu yang bodoh.
Tapi Rafa meraih pergelangan tanganku.
Lembut. Tidak memaksa. Tapi cukup untuk membuatku berhenti.
"Kay, duduk," katanya pelan. "Kita harus bicara."
"Tidak ada yang perlu dibicarakan."
"Ada." Dia menarik tanganku perlahan. Bukan memaksa, tapi memohon. "Tolong."
Aku menatap tangannya yang melingkar di pergelanganku. Hangat. Sama seperti dulu, tiga tahun lalu, saat dia menangkapku di lorong kampus.
Aku duduk kembali.
"Lima menit," kataku. "Lima menit, habis itu aku pergi."
Rafa melepaskan tangannya. Tapi matanya tetap menatapku.
"Kay, aku minta maaf."
"Maaf kenapa?"
"Untuk tadi malam. Aku hampir... aku hampir menyentuhmu. Itu salah. Aku tidak seharusnya."
Aku tidak menjawab.
"Tapi aku tidak bisa mengendalikan apa yang aku rasakan," lanjutnya. Suaranya pelan. Hampir berbisik. "Aku tidak tahu kenapa. Aku tidak tahu sejak kapan. Tiba-tiba aku sadar, aku selalu mencari kamu di setiap ruangan. Aku selalu ingin tahu apakah kamu baik-baik saja. Aku selalu..."
Dia berhenti.
"Kakak selalu apa?" tanyaku. Suaraku serak.
"Selalu ingin di dekatmu."
Udara di ruang makan terasa panas. Aku tidak bisa bernapas.
"Kak, jangan."
"Aku mencoba, Kay. Aku mencoba untuk tidak merasakan ini. Tapi semakin aku mencoba, semakin kuat rasanya."
"Kalau kakak terus bicara seperti ini, kita tidak akan pernah bisa kembali."
"Kembali ke mana?"
"Kembali seperti dulu. Kakak calon suami Vira. Aku adik Vira."
Rafa terdiam. Kata-kataku seperti menamparnya.
"Kakak pikir aku tidak tahu?" lanjutku. "Kakak pikir aku tidak merasakan apa yang kakak rasakan? Aku merasakannya, Kak. Setiap hari. Setiap kali kakak menatapku. Setiap kali kakak tersenyum padaku. Setiap kali kakak ada di dekatku."
"Lalu kenapa kamu—"
"Karena aku sayang Vira." Aku memotongnya. Mataku mulai berkaca-kaca. "Karena Vira adalah satu-satunya keluarga yang aku punya. Karena dia sudah berkorban segalanya untuk aku. Dan aku tidak akan mengkhianatinya. Tidak untuk siapa pun. Tidak untuk kakak. Tidak untuk perasaan ini."
"Aku juga tidak ingin mengkhianatinya."
"Tapi kakak sudah, Kak. Mungkin belum dengan tindakan. Tapi dengan perasaan. Dengan tatapan. Dengan keinginan untuk selalu di dekatku."
Rafa tidak bisa menjawab.
"Kakak, dengar." Aku menatap matanya. "Kita harus berhenti. Sebelum semuanya terlambat."
"Maksudmu berhenti?"
"Berhenti merasa. Berhenti berharap. Berhenti berpura-pura bahwa ini hanya perasaan saudara."
"Bagaimana caranya?"
"Aku tidak tahu. Tapi kita harus berusaha. Kakak harus berusaha."
Rafa menunduk. Tangannya menggenggam tepi meja.
"Kay, aku takut."
"Takut apa?"
"Takut kalau aku tidak bisa."
"Kakak bisa. Kakak harus bisa. Untuk Vira. Untuk pernikahan kakak. Untuk masa depan kakak."
"Aku tidak ingin menyakiti Vira."
"Kalau kakak terus seperti ini, kakak akan menyakiti dia lebih dalam daripada apa pun."
Rafa mengangkat kepalanya. Matanya merah. Belum menangis, tapi hampir.
"Kay, janji satu hal."
"Apa?"
"Kalau suatu saat aku mulai melewati batas lagi... tolong hentikan aku. Separah apa pun."
"Kakak minta aku yang menjadi penjaga kakak?"
"Aku minta kamu yang mengingatkanku siapa aku seharusnya."
Aku menatapnya lama. Lalu mengangguk.
"Baik. Aku akan lakukan itu. Tapi dengan satu syarat."
"Apa?"
"Kakak juga harus melakukan hal yang sama untuk aku. Kalau aku mulai melewati batas, kakak harus menghentikan aku."
Rafa tersenyum tipis. "Kamu tidak akan pernah melewati batas. Kamu terlalu baik untuk itu."
"Kakak jangan meremehkan aku. Aku juga manusia."
"Baik. Janji."
Kami berjabat tangan. Seperti dua orang yang baru saja menandatangani perjanjian damai. Tapi perjanjian ini tidak akan mudah dijalankan.
Karena batas antara saudara dan bukan saudara sangat tipis.
Dan kami sudah hampir melanggarnya.
Vira keluar kamar dengan pakaian rapi. "Aku pergi dulu, ya. Hati-hati di rumah."
"Ya, Kak," jawabku.
Vira mencium kening Rafa, lalu mencium keningku. Aromanya wangi. Seperti biasa. Tapi hari ini, aromanya terasa seperti peringatan.
Kakak percaya pada kalian. Jangan hancurkan kepercayaan itu.
Begitu pintu tertutup, suasana kembali canggung.
"Kay, aku ke kamar dulu."
"Iya, Kak."
Rafa berjalan ke kamarnya. Aku duduk di sofa, memeluk bantal, dan memejamkan mata.
Kamu bisa, Kay. Kamu kuat. Kamu sudah berjanji.
Tapi kenapa janji terasa begitu berat?
Sore harinya, Mona datang. Tidak sendiri. Dia membawa dua kantong plastik berisi camilan dan satu botol minuman keras.
"Kay, kamu bawa apa ini?"
"Ini untuk terapi hati kamu. Dan hati aku juga."
"Aku tidak minum."
"Sekarang kamu minum. Aku izinkan."
Aku menghela napas. Tapi aku terlalu lelah untuk berdebat.
Kami duduk di teras. Mona menuangkan minuman ke dua gelas.
"Cerita, Kay. Aku lihat muka kamu pucat seperti mayat hidup."
Aku menceritakan semuanya. Tentang tadi malam. Tentang tangan Rafa yang hampir menyentuh pipiku. Tentang perjanjian damai pagi ini. Tentang Vira yang tidak tahu apa-apa.
Mona mendengarkan tanpa menyela. Sesekali dia menyesap minumannya. Matanya serius — sesuatu yang jarang terjadi.
"Kay, aku mau tanya sesuatu."
"Apa?"
"Kamu masih cinta sama Rafa?"
Pertanyaan itu sederhana. Tapi jawabannya rumit.
"Aku tidak tahu, Mon."
"Kamu tidak tahu? Kamu yang selama tiga tahun mengidolakan dia tiba-tiba tidak tahu?"
"Aku tahu aku masih punya perasaan. Tapi apakah itu cinta? Atau hanya kebiasaan? Atau hanya rasa ingin memiliki karena dia dekat? Aku bingung."
Mona menyesap minumannya. "Aku dulu juga pernah seperti kamu."
"Kapan?"
"Waktu aku suka sama senior basket. Aku pikir itu cinta. Ternyata cuma ketertarikan karena dia ganteng dan populer."
"Lalu kamu tahu bedanya?"
"Aku tahu pas aku bertemu cowok lain. Yang tidak ganteng. Yang tidak populer. Tapi aku nyaman. Dan aku tidak pusing memikirkan dia."
"Itu cinta?"
"Itu cinta yang sehat. Bukan cinta yang membuatmu demam."
Aku terdiam. Mona menepuk pundakku.
"Kay, kamu tidak harus memutuskan semuanya hari ini. Tapi kamu harus menjaga jarak. Benar-benar menjaga jarak. Jangan cuma omong."
"Aku tahu."
"Aku serius. Kalau perlu, kamu pindah kost. Jangan tinggal serumah sama mereka."
"Tapi Rafa cuma tinggal dua minggu lagi."
"Dua minggu itu cukup lama untuk membuat kesalahan. Kamu tahu sendiri semalam hampir terjadi apa."
Aku menggigit bibir. Mona benar.
"Baik. Aku pikirkan."
"Jangan dipikirkan. Lakukan."
Malam harinya, Vira memasak besar-besaran. Sop buntut, ayam goreng, tumis kangkung, dan sambal terasi — menu favorit Rafa.
"Ini untuk merayakan 80 persen persiapan pernikahan!" seru Vira.
Rafa tersenyum. "Kamu luar biasa, Via."
"Biasa saja. Masih ada 20 persen lagi."
"20 persen itu urusan teknis. Yang penting 80 persen sudah siap."
"Jangan sombong, Ra. Nanti kalian berdua yang mengurus undangan."
Aku mengangkat alis. "Aku?"
"Iya. Kamu sama Rafa yang mengurus desain undangan. Kakak sudah pesan tempat percetakan. Tinggal kalian yang datang dan memilih modelnya."
Aku menoleh ke Rafa. Rafa menoleh ke aku.
Tatapan itu lagi.
Tapi kali ini, aku lebih cepat membuang muka.
"Baik, Kak," jawab Rafa.
Aku tidak menjawab. Vira menatapku.
"Kay, kamu setuju, kan?"
Tidak. Aku tidak setuju. Aku tidak bisa berdua dengan Rafa. Tidak setelah semalam. Tidak setelah perjanjian pagi ini.
Tapi Vira menatapku dengan mata penuh harap. Dan aku tidak bisa mengecewakan kakakku.
"Setuju, Kak."
"Bagus. Besok jam 10 kalian ke percetakan, ya. Aku sudah kasih alamatnya."
"Iya, Kak."
Vira tersenyum puas. Dia tidak tahu bahwa dia baru saja mempertemukan dua orang yang sedang berusaha menjaga jarak.
Jam menunjukkan pukul 10 malam. Vira sudah tidur di sampingku. Pulas. Dengkurannya yang halus terdengar teratur — sebuah suara kedamaian yang tidak akan pernah aku miliki malam ini.
Aku masih terjaga.
Ponsel di tanganku. Chat dengan Rafa terbuka.
Aku mengetik. Menghapus. Mengetik lagi. Menghapus lagi.
Pada akhirnya, aku mengirim pesan pendek.
Kayla: "Kak, masih bangun?"
Rafa Wijaya: "Iya. Kamu kenapa belum tidur?"
Kayla: "Tidak bisa tidur."
Rafa Wijaya: "Aku juga."
Kayla: "Memikirkan apa?"
Rafa Wijaya: "Memikirkan kamu."
Jantungku berhenti berdetak.
Kayla: "Maksudnya?"
Rafa Wijaya: "Maksudnya, aku memikirkan apa yang kita bicarakan pagi ini."
Kayla: "Tentang menjaga jarak?"
Rafa Wijaya: "Iya."
Kayla: "Lalu?"
Rafa Wijaya: "Lalu aku sadar kalau ini tidak akan mudah."
Kayla: "Tidak ada yang mudah, Kak."
Rafa Wijaya: "Aku tahu. Tapi aku tidak tahu caranya."
Kayla: "Caranya adalah dengan mencoba. Setiap hari."
Rafa Wijaya: "Bagaimana kalau aku gagal?"
Kayla: "Maka kakak akan mencoba lagi. Sampai berhasil."
Rafa Wijaya: "Kamu tegas, Kay."
Kayla: "Aku terpaksa."
Rafa Wijaya: "Kamu lebih kuat dari aku."
Kayla: "Kakak jangan meremehkan diri sendiri."
Rafa Wijaya: "Aku tidak meremehkan. Aku jujur."
Aku tidak tahu harus menjawab apa.
Lalu Rafa mengirim pesan panjang.
Rafa Wijaya: "Kay, aku ingin kamu tahu sesuatu. Aku tidak akan mengejar kamu. Aku tidak akan melanggar janji. Tapi aku juga tidak bisa berpura-pura bahwa kamu tidak ada. Jadi aku akan melakukan ini: aku akan menjaga jarak. Aku akan fokus pada Vira. Aku akan menjadi suami yang baik untuknya. Tapi kalau suatu saat kamu benar-benar membutuhkan aku — untuk apa pun — aku akan ada. Sebagai kakak. Sebagai teman. Sebagai apa pun yang kamu butuhkan. Janji."
Air mataku jatuh. Membasahi bantal.
Kayla: "Janji, Kak."
Rafa Wijaya: "Selamat malam, Kay."
Kayla: "Selamat malam, Kak."
Aku meletakkan ponsel. Memejamkan mata.
Garis antara saudara dan bukan saudara sangat tipis. Tapi malam ini, kami berdua memilih untuk tidak melanggarnya.
Bukan karena kami tidak mau. Tapi karena kami tahu konsekuensinya.
Dan itu cukup untuk membuat kami bertahan.
Untuk hari ini.
Untuk besok.
Untuk selama-lamanya.
BAB X
Rafa, Kamu Jangan Buat Aku Jatuh Cinta Lagi
Aku tidak bisa tidur semalaman. Pesan Rafa terus berputar di kepalaku seperti rekaman yang rusak. Setiap kali aku memejamkan mata, aku membayangkan dia berdiri di dapur dengan tatapan itu. Tatapan yang membuatku ragu apakah dia benar-benar hanya melihatku sebagai adik.
Pagi datang dengan malas. Aku bangun dengan mata sembab dan kepala pusing. Vira sudah tidak ada di sampingku. Dari dapur, terdengar suara panci dan piring beradu.
"Kay, bangun! Sarapan sudah siap!" teriak Vira.
Aku mengucek mata. Berjalan gontai ke kamar mandi. Saat melewati ruang tamu, Rafa sudah duduk di sofa sambil memegang ponsel. Dia menatapku sekilas. Lalu kembali ke ponselnya.
Tidak ada senyum. Tidak ada sapaan. Hanya tatapan singkat yang terasa dingin.
Aku lega sekaligus sedih.
Di kamar mandi, aku menatap bayanganku di cermin. Wajah pucat. Mata sembab. Rambut kusut. Hari ini aku akan pergi ke percetakan dengan Rafa. Berdua. Tanpa Vira. Dan aku tidak tahu harus bersikap bagaimana.
"Kamu bisa, Kay," bisikku pada bayangan sendiri. "Kamu kuat."
Sarapan berlangsung dalam keheningan yang canggung. Vira sibuk dengan ponselnya, mungkin membaca pesan dari panitia pernikahan. Aku sibuk memotong pancake di piringku. Rafa sibuk menyesap kopi hitamnya tanpa berkata apa-apa.
"Kalian berangkat jam setengah sepuluh, ya," Vira memecah keheningan. "Percetakannya di daerah Kemang. Aku sudah kirim lokasinya ke Rafa."
"Iya, Kak," jawabku.
"Rafa, kamu jaga adik aku, ya. Jangan sampai kenapa-napa."
Rafa mengangguk. "Pasti."
Dua kata. "Pasti." Pendek. Tegas. Tanpa nada yang bisa diterka.
Vira mencium kening Rafa, lalu mencium keningku. "Kakak pergi dulu. Ada rapat. Hati-hati, kalian."
Begitu Vira keluar rumah, suasana berubah menjadi lebih hening. Aku dan Rafa duduk di meja makan berhadapan. Jarak kami hanya satu meter, tapi terasa seperti satu mil.
"Kamu sudah siap?" tanya Rafa akhirnya.
"Belum. Aku masih pakai baju rumah."
"Pakai baju yang rapi sedikit. Nanti kita foto-foto desain undangan buat contoh."
"Kenapa harus foto?"
"Buat Vira lihat. Dia minta dikirimi contoh."
"Oh."
Aku berdiri dan berjalan ke kamar. Di depan lemari, aku bingung harus memakai baju apa. Tidak terlalu kasual tapi tidak terlalu formal. Tidak terlalu cantik tapi tidak terlalu biasa.
Aku memilih kemeja putih lengan panjang dan rok jeans biru. Sederhana. Aman. Tidak mencolok.
Saat keluar kamar, Rafa sudah berdiri di dekat pintu. Dia memakai kemeja biru muda. Warna yang sama dengan kemeja yang dia pakai saat pertemuan pertama di kafe. Aku hampir tersenyum mengingatnya. Tapi aku tahan.
"Kita naik apa, Kak?" tanyaku.
"Mobil aku. Diparkir di halaman."
Aku mengikuti Rafa keluar. Dia membukakan pintu mobil untukku. Aku duduk di kursi depan. Dia masuk ke kursi pengemudi.
Sunyi. Lagi.
Rafa menyalakan mesin. Musik dari radio mengalir pelan. Lagu lama yang tidak terlalu aku kenal.
"Kay," Rafa memulai pembicaraan setelah mobil melaju.
"Ya."
"Aku minta maaf."
"Maaf kenapa?"
"Tentang tadi malam. Tentang pesan-pesan itu. Aku tidak seharusnya bilang begitu."
"Kakak bilang apa?"
"Bahwa aku nyaman. Bahwa aku deg-degan. Bahwa aku sulit tidur."
"Lalu kenapa kakak bilang begitu?"
"Karena itu jujur. Tapi kejujuran itu tidak pantas aku ucapkan."
Aku menatap jalanan di depan. Pikiran kacau.
"Kak Rafa, aku mau bertanya sesuatu."
"Tanya saja."
"Kakak... apa kakak punya perasaan lebih sama aku?"
Mobil terasa melambat. Rafa tidak menjawab. Tangannya di setir terlihat mengepal.
"Kenapa kamu bertanya itu?" balasnya.
"Karena aku perlu tahu. Supaya aku tahu harus bersikap bagaimana."
Rafa menarik napas panjang. "Kay, aku tidak tahu."
"Apa maksudnya tidak tahu?"
"Aku tidak tahu apa yang aku rasakan. Yang aku tahu, aku senang kalau ada kamu di dekatku. Aku senang kalau kamu tersenyum. Aku senang kalau kamu makan pancake buatan Vira. Aku senang kalau kamu marah-marah karena rebutan kamar mandi."
"Itu semua hal biasa, Kak. Itu yang dilakukan saudara."
"Tapi aku juga senang kalau kamu menatapku. Dan aku benci kalau kamu menghindari tatapanku."
Aku terdiam. Kalimat terakhir itu seperti duri.
"Kakak benci?"
"Iya. Kemarin, saat kamu bilang jangan dekat-dekat dengan kamu, rasanya... sesak."
"Kakak sesak?"
"Seperti ada yang hilang."
Aku menutup mata. Menarik napas dalam-dalam.
"Kak Rafa, tolong."
"Tolong apa?"
"Tolong jangan buat aku jatuh cinta lagi."
Rafa menoleh ke arahku. Wajahnya terkejut.
"Jatuh cinta lagi? Maksud kamu..."
"Aku sudah jatuh cinta sama kakak sejak tiga tahun lalu. Sejak kakak menolongku waktu aku jatuh di lorong kampus."
Rafa tidak berkata apa-apa. Mulutnya terbuka sedikit, lalu tertutup lagi. Matanya membelalak.
"Kamu... selama ini?"
"Iya. Tiga tahun, Kak. Tiga tahun aku diam-diam menyimpan perasaan ini. Tiga tahun aku melihat kakak dari kejauhan. Tiga tahun aku berharap suatu saat kakak akan melihat aku."
"Kay, aku tidak tahu..."
"Kakak tidak perlu tahu. Karena itu tidak akan mengubah apa pun. Kakak sudah memilih Vira. Dan Vira adalah kakakku. Aku tidak akan pernah merebut kebahagiaannya."
Rafa menepikan mobil ke pinggir jalan. Dia mematikan mesin. Sekarang kami berdua terduduk di dalam mobil yang sunyi. Hanya suara napas yang terdengar.
"Kenapa kamu cerita sekarang?" tanya Rafa pelan.
"Karena aku lelah. Aku lelah menyembunyikan. Aku lelah berpura-pura. Aku lelah tersenyum padahal hancur."
"Kay, maaf..."
"Kakak jangan minta maaf. Kakak tidak salah. Kakak tidak tahu. Dan kakak tidak berkewajiban membalas perasaan aku."
"Tapi aku..."
"Kakak tidak perlu bilang apa-apa. Cukup aku yang bicara. Dan setelah ini, kita lupakan semuanya. Kita kembali seperti biasa. Kakak calon suami Vira. Aku adik Vira."
Rafa menunduk. Tangan kirinya menggenggam setir dengan erat.
"Kay, aku tidak bisa melupakan begitu saja."
"Kakak harus."
"Aku tidak bisa."
"Kenapa?"
"Karena sekarang, setelah kamu cerita, aku jadi mengerti. Aku jadi mengapa aku merasa aneh setiap kali dekat dengan kamu."
"Merasa aneh kenapa?"
"Seperti ada benang merah. Seperti kita sudah lama kenal. Seperti... aku sudah menemukan sesuatu yang selama ini hilang."
Aku menatap Rafa. Matanya berkaca-kaca.
"Kak Rafa, jangan. Jangan bilang begitu."
"Ini jujur, Kay."
"Kejujuran kakak akan menghancurkan tiga orang sekaligus. Aku, kakak sendiri, dan Vira."
"Aku tahu."
"Kalau kakak tahu, kakak harus berhenti. Berhenti merasa aneh. Berhenti merasa ada benang merah. Berhenti mencari sesuatu yang hilang. Karena yang hilang itu tidak pernah ada."
Rafa menghela napas panjang. "Kamu keras kepala."
"Aku belajar dari Vira. Kakakku juga keras kepala."
Rafa tersenyum tipis. Tapi senyum itu tidak sampai ke matanya.
"Kay, janji satu hal."
"Apa?"
"Kalau suatu saat aku dan Vira menikah, kamu akan tetap menjadi adikku. Bukan adik ipar. Tapi adik sungguhan. Aku akan menjaga kamu seperti adik sendiri."
Aku tersenyum pahit. "Janji. Tapi dengan satu syarat."
"Syarat apa?"
"Kakak jangan pernah bilang kakak deg-degan lagi sama aku. Jangan pernah bilang kakak senang melihat aku. Jangan pernah bilang kakak sesak kalau aku pergi."
"Kenapa?"
"Karena itu akan membuat aku jatuh cinta lagi. Dan aku tidak mau jatuh cinta lagi sama kakak. Sekali saja sudah cukup sakit."
Rafa menatapku lama. Sekali lagi, tatapan yang berbicara lebih dari kata-kata.
Tapi kali ini, aku tidak membuang muka. Aku menatap balik. Untuk terakhir kalinya. Untuk mengucapkan selamat tinggal pada perasaan yang selama tiga tahun aku pendam.
"Baik," kata Rafa akhirnya. "Aku janji."
"Janji kakak pegang?"
"Janji aku pegang."
Rafa menyalakan mesin lagi. Mobil kembali melaju menuju percetakan.
Kami tidak berbicara sepanjang perjalanan. Radio masih menyanyikan lagu-lagu lama. Aku menatap jendela, melihat pepohonan dan gedung-gedung berlalu.
Di sudut mataku, aku melihat Rafa sesekali melirik ke arahku. Tapi dia tidak mengatakan apa pun.
Itu bagus.
Itu yang aku minta.
Tapi kenapa rasanya tetap sakit?
Di percetakan, kami berdua memilih desain undangan dengan profesional. Tidak ada obrolan santai. Tidak ada tawa. Hanya "ini bagus", "ini tidak", "Vira suka warna krem", "Vira tidak suka warna mencolok".
Kayla versi profesional. Rafa versi profesional.
Kami pulang dengan hati masing-masing yang berat.
Saat sampai di rumah, Vira belum pulang. Aku langsung masuk kamar dan membanting pintu. Rafa tidak mengejar. Tidak mengetuk pintu. Tidak mengirim pesan.
Aku membuka ponsel. Menatap chat dengan Rafa. Pesan terakhir masih semalam.
Aku ingin menghapus semuanya. Tapi tanganku tidak bergerak.
Mona menelepon.
"Kamu bagaimana, Kay?"
"Aku cerita semuanya ke Rafa."
"Cerita apa?"
"Perasaan aku. Selama tiga tahun."
Mona terdiam di ujung telepon. Lalu dia berkata, "Kamu gila."
"Aku tahu."
"Dia bicara apa?"
"Dia bilang dia merasa aneh. Dia bilang ada benang merah. Dia bilang dia menemukan sesuatu yang hilang."
"Gila. Cowok itu juga punya perasaan ke kamu?"
"Aku tidak tahu. Tapi aku minta dia berhenti. Aku minta dia menjaga jarak."
"Kamu kuat, Kay."
"Aku tidak kuat. Aku menangis sekarang."
"Ya sudah, menangislah. Aku tunggu sampai kamu selesai."
Aku menangis. Bukan isakan pelan. Tapi tangis yang keluar dari dalam perut. Tangis yang selama tiga tahun aku tahan. Tangis yang tidak pernah aku izinkan keluar.
Mona mendengarkan dari ujung telepon. Tidak bicara. Tidak memberi nasihat. Hanya mendengarkan.
Setelah tangisku reda, Mona berkata, "Sudah?"
"Sudah."
"Lega?"
"Sedikit."
"Bagus. Sekarang kamu mandi. Basuh muka. Dan ingat, kamu punya aku. Selalu."
"Makasih, Mon."
"Ya. Sekarang aku matikan. Aku mau makan. Kamu juga makan. Jangan malas."
Tut.
Aku meletakkan ponsel. Berjalan ke kamar mandi. Membuka keran air. Air dingin membasahi wajahku.
Di cermin, aku melihat perempuan dengan mata bengkak dan hati yang remuk.
"Selamat tinggal, Rafa," bisikku. "Selamat tinggal untuk perasaan yang tidak seharusnya ada."
Tapi apakah selamat tinggal itu sungguhan?
Atau hanya kata-kata yang aku ucapkan untuk menenangkan diri?
Aku tidak tahu.
Yang aku tahu, Rafa ada di kamar seberang. Hanya beberapa meter dari tempatku berdiri. Tapi rasanya seperti lautan yang tidak bisa aku seberangi.
Dan mungkin, selamanya akan seperti itu.
BAB XI
Saat Vira Mulai Curiga
Tiga hari setelah pengakuanku di dalam mobil, suasana di rumah berubah menjadi lebih dingin dari biasanya. Aku dan Rafa berbicara seperlunya. Tidak lebih. Tidak kurang. Hanya kata-kata yang dibutuhkan untuk urusan rumah tangga dan persiapan pernikahan.
"Kay, tolong ambilkan garam di dapur."
"Baik, Kak."
"Kay, kamu sudah makan?"
"Sudah."
"Kay, Vira bilang kamu ikut fitting baju besok."
"Iya."
Percakapan kami singkat. Formal. Tidak ada tawa. Tidak ada candaan. Tidak ada tatapan yang berbicara lebih dari kata-kata.
Rafa menepati janjinya. Dia menjaga jarak. Tepat seperti yang aku minta.
Dan aku? Aku seharusnya lega.
Tapi kenapa setiap malam aku menangis di kamar mandi?
Vira mulai menyadari ada yang tidak beres.
Suatu malam, saat kami sedang makan malam berdua tanpa Rafa yang sedang ada keperluan di luar, Vira menatapku dengan mata tajam.
"Kay, kamu dan Rafa kenapa?"
Aku pura-pura tidak mengerti. "Maksud Kakak?"
"Kalian dingin. Biasanya kalian ribut soal hal sepele. Sekarang? Kalian berdua seperti orang asing."
"Tidak, kok, Kak. Kami baik-baik saja."
"Jangan bohong. Kakak tahu ada sesuatu."
"Apa yang kakak tahu?"
"Kakak tidak tahu. Tapi kakak yakin ada."
Vira meletakkan sendoknya. Matanya menatapku tanpa berkedip.
"Kay, kakak tidak akan marah. Kakak cuma ingin tahu."
"Tahu apa?"
"Tahu kenapa kamu berubah. Kenapa Rafa juga berubah. Kenapa kalian berdua tidak bisa saling menatap seperti dulu."
Aku menunduk. Jari-jariku memainkan ujung serbet di meja.
"Kak, apakah kakak pernah punya rahasia yang tidak bisa kakak ceritakan ke siapa pun?"
Vira mengerjap. "Pernah."
"Rasanya bagaimana?"
"Menyiksa. Seperti ada beban di dada yang tidak bisa diangkat."
"Nah, sekarang aku juga mengalaminya."
"Rahasia itu tentang apa?"
Aku menggeleng. "Maaf, Kak. Aku belum bisa cerita."
"Belum bisa atau tidak mau?"
"Belum bisa. Mungkin suatu saat. Tapi tidak sekarang."
Vira terdiam. Dia meraih tanganku dan menggenggamnya.
"Kakak akan menunggu. Sampai kamu siap cerita."
"Makasih, Kak."
Tapi di dalam hati, aku tahu. Aku tidak akan pernah siap cerita. Karena rahasia itu terlalu berat. Dan kalau Vira tahu, dunia kami akan hancur.
Beberapa hari kemudian, Rafa pulang lebih cepat dari biasanya. Wajahnya tampak lelah. Dia langsung duduk di sofa tanpa bicara.
Vira menghampiri. "Kamu kenapa, Ra? Lelah?"
"Lelah sedikit. Rapat sama klien melelahkan."
"Mau kakak pijatkan?"
"Tidak usah. Kamu istirahat saja."
Vira duduk di samping Rafa. "Ra, aku mau bertanya sesuatu."
"Apa?"
"Kamu baik-baik saja, kan, dengan Kayla?"
Rafa mengerjap. "Maksudnya?"
"Kalian berdua belakangan ini... tidak akrab. Aku khawatir ada yang salah."
Rafa tersenyum tipis. "Tidak ada yang salah. Aku hanya sibuk. Kayla juga sibuk."
"Sibuk apa? Dia mahasiswi akuntansi yang tugasnya mengerjakan Excel mulu."
"Ya, itu. Sibuk."
Vira tidak puas dengan jawaban itu. Tapi dia tidak memaksa.
Aku yang mendengar percakapan mereka dari dapur, menghela napas lega. Rafa tidak cerita apa pun. Dia menyimpan rahasia kami dengan baik.
Tapi untuk berapa lama?
Suatu pagi, Vira bangun lebih pagi dari biasanya. Aku masih tidur pulas di sampingnya. Dia turun dari kasur pelan-pelan, lalu keluar kamar.
Aku terbangun karena suara pintu tertutup. Kepalaku masih berat. Aku memejamkan mata lagi.
Lima menit kemudian, aku mendengar suara Vira dan Rafa berbicara di ruang tamu. Suaranya pelan, tapi karena rumah kecil dan pagi masih sepi, aku bisa mendengar semuanya.
"Ra, aku bermimpi aneh semalam," suara Vira.
"Mimpi apa?"
"Aku bermimpi kamu sama Kayla duduk berdua di kafe. Seperti sedang berkencan begitu."
Keheningan. Lalu suara Rafa terdengar datar. "Itu cuma mimpi, Via."
"Aku tahu. Tapi kenapa rasanya nyata sekali?"
"Karena kamu terlalu banyak memikirkan pernikahan. Kamu stres. Makanya bermimpi aneh-aneh."
"Mungkin kamu benar."
"Sudah, jangan dipikirkan. Aku buatkan kopi dulu."
Aku mendengar langkah kaki Rafa menuju dapur. Aku segera memejamkan mata berpura-pura tidur.
Pintu kamar terbuka. Vira masuk.
"Kay, bangun. Kamu tidak mandi? Sudah siang."
Aku mengucek mata pura-pura. "Jam berapa, Kak?"
"Jam 8."
"Jam 8 namanya masih pagi, Kak. Bukan siang."
"Tapi kamu harus bangun. Hari ini kita fitting baju."
Aku duduk malas. "Iya, iya."
Vira duduk di sampingku. Matanya menatapku dengan ekspresi yang tidak bisa aku baca.
"Kay," panggilnya.
"Ya."
"Kakak sayang kamu."
Aku mengerjap. "Aku juga sayang kakak. Kok tiba-tiba?"
"Tidak. Cuma ingin bilang saja."
Vira tersenyum. Tapi senyumnya berbeda. Ada kegelisahan di balik bibir yang tersenyum itu.
Aku tahu. Vira mulai curiga.
Sore harinya, Mona datang ke rumah. Vira sedang tidak ada, pergi ke tempat pengantin untuk mencoba riasan. Rafa di kamarnya, mungkin bekerja.
Mona langsung menyeretku ke teras.
"Kay, aku dengar dari tetangga depan rumah pada bergosip."
"Gosip apa?"
"Mereka bilang kamu sekalian tinggal bertiga seperti pengantin baru plus adik. Tidak wajar katanya."
"Biarkan. Mereka tidak membayar listrik."
"Bukan itu masalahnya. Masalahnya, gosip itu bisa sampai ke telinga Vira."
"Vira bukan orang yang mendengarkan gosip."
"Tapi Vira bukan orang bodoh. Suatu saat dia akan sadar."
"Sadar apa?"
"Sadar kalau kamu punya perasaan sama Rafa."
Aku terdiam. Mona benar. Vira memang bukan orang bodoh.
"Kay, aku sarankan kamu segera mengambil keputusan."
"Keputusan apa?"
"Dua pilihan. Pertama, kamu jujur ke Vira. Kedua, kamu pergi dari rumah ini sementara waktu."
"Pergi ke mana?"
"Ke kost aku. Aku punya kamar kosong."
"Tapi Rafa cuma tinggal dua minggu lagi."
"Ya sudah. Kamu tahan dua minggu. Tapi kamu harus siap kalau Vira tahu sebelum dua minggu itu selesai."
Aku menghela napas. "Aku tidak bisa pergi. Nanti Vira curiga."
"Justru dengan kamu pergi, Vira tidak akan curiga."
"Logika kamu aneh, Mon."
"Logika aku sederhana. Ketika ada api, jangan tambahkan bensin. Jauhi apinya."
"Jadi aku apinya?"
"Kamu dan Rafa adalah apinya. Sementara Vira adalah bensinnya. Kalau kalian terus berdua-duaan, Vira akan meledak."
Aku menatap Mona. Sahabatku ini kadang bicara hal yang membuatku berpikir ulang.
"Baik. Aku pikir-pikir."
"Jangan terlalu lama. Aku khawatir."
Mona pulang sore itu. Aku masuk ke rumah dan melihat Rafa sedang duduk di ruang tamu sendirian. Matanya menatap layar laptop, tapi aku yakin dia tidak serius bekerja.
"Kak," sapaku.
Rafa menoleh. "Ya."
"Mona tadi cerita kalau tetangga sudah mulai bergosip."
Rafa menghela napas. "Aku tahu. Vira juga cerita."
"Vira tahu?"
"Dia bilang tadi pagi. Tapi dia anggap angin lalu."
"Kita harus bagaimana?"
"Aku akan cepat-cepat menyelesaikan renovasi rumah. Seminggu lagi aku pindah."
"Seminggu?"
"Iya. Orang tuaku sudah pesan. Renovasi hampir selesai."
Aku mengangguk. Lega sekaligus sedih.
"Bagus kalau begitu," kataku.
Rafa menatapku. "Kamu lega?"
"Lega."
"Jujur?"
"Jujur."
Tapi Rafa tahu aku berbohong. Matanya bisa membaca kebohonganku dengan mudah.
"Kay, seminggu lagi aku pergi. Setelah itu, kita mungkin jarang bertemu. Hanya acara-acara keluarga."
"Iya."
"Jadi, sebelum aku pergi, ada yang ingin aku katakan."
Aku menegang. "Apa?"
Rafa berdiri. Dia berjalan mendekat. Jarak kami kini hanya setengah meter.
"Kay, aku sayang sama Vira. Itu tidak berubah. Tapi aku juga..."
Rafa berhenti. Kata-katanya tercekat.
"Tapi kakak juga apa?"
Rafa menggeleng. "Tidak. Lupakan."
Dia berbalik dan masuk ke kamarnya. Meninggalkan aku berdiri di ruang tamu dengan jantung berdebar kencang.
Tapi kakak juga apa?
Aku bergidik membayangkan kemungkinan yang tidak boleh aku pikirkan.
Malam harinya, Vira pulang dengan wajah cemberut.
"Kak, kenapa?" tanyaku.
"Tata riasnya tidak cocok. Bibirnya terlalu merah. Kakak bilang mau warna nude, eh dikasih warna merah menyala."
"Ganti saja, Kak."
"Sudah. Besok coba lagi."
Vira duduk di sofa. Rafa menghampiri lalu duduk di sampingnya.
"Kamu cantik apa pun warna bibirnya," kata Rafa.
Vira tersenyum. "Kamu gombal."
"Fakta."
Vira memeluk Rafa. "Ra, aku beruntung punya kamu."
Rafa membalas pelukan. "Aku juga beruntung punya kamu."
Aku menonton dari kejauhan. Lagi-lagi perih.
Tapi kali ini, aku tidak menangis. Aku sudah terlalu sering menangis.
Aku tersenyum. Lalu berjalan ke dapur untuk mencuci piring. Meskipun piring sudah bersih.
"Kay, kamu mau ikut menonton TV?" tanya Vira.
"Tidak, Kak. Aku lelah."
"Ya sudah. Selamat tidur."
"Selamat tidur."
Aku masuk kamar. Menutup pintu. Bersandar di baliknya.
Ponsel bergetar. Bukan Mona. Bukan Vira.
Rafa.
Rafa Wijaya: "Kay, maaf soal tadi sore. Aku tidak seharusnya bicara setengah-setengah."
Kayla: "Apa yang kakak mau katakan?"
Rafa Wijaya: "Tidak penting. Lupakan saja."
Kayla: "Kakak tidak bisa begitu. Kakak sudah membuatku penasaran."
Rafa Wijaya: "Penasaran itu tidak baik."
Kayla: "Tapi kejujuran itu lebih baik."
Rafa terdiam lama. Aku menunggu dengan jantung berdebar.
Akhirnya pesan itu datang.
Rafa Wijaya: "Kay, aku juga sayang kamu. Tapi sebagai adik. Jangan salah paham."
Aku tersenyum pahit membaca pesan itu. Sebagai adik. Lagi-lagi sebagai adik.
Kayla: "Aku tahu. Kakak tidak perlu mengulanginya."
Rafa Wijaya: "Maaf."
Kayla: "Tidak ada yang perlu dimaafkan. Selamat malam, Kak."
Rafa Wijaya: "Selamat malam, Kay."
Aku meletakkan ponsel. Air mata yang kutahan akhirnya jatuh juga.
Sebagai adik. Selamanya sebagai adik.
Padahal aku lelah menjadi adik.
Tapi apa daya. Cinta tidak selalu berpihak pada yang paling berharap.
Dan aku? Aku hanya perempuan yang jatuh cinta pada pria yang salah.
Untuk kesekian kalinya.
BAB XII
Jatuh Bangun Menjaga Rahasia
Seminggu terasa seperti setahun. Setiap hari adalah medan perang. Bukan perang dengan senjata, tapi perang dengan kebohongan yang terus menumpuk. Setiap senyum yang aku tunjukkan pada Vira adalah kebohongan. Setiap "aku baik-baik saja" yang aku ucapkan adalah kebohongan.
Dan yang paling berat, aku harus berbohong pada diriku sendiri.
Setiap pagi, aku berdiri di depan cermin kamar mandi. Wajahku pucat, mata sedikit sembab. Aku berkata pada bayanganku sendiri, "Kamu tidak mencintai Rafa. Kamu hanya kagum. Kamu hanya kesepian."
Tapi hati tidak pernah mau mendengarkan akal sehat.
Hari ini, Vira mengajakku ke mal. Rafa sedang ada urusan di kantornya. Jadi hanya kami berdua. Aku lega. Setidaknya untuk beberapa jam, aku tidak perlu membagi perhatian antara menjaga rahasia dan menjaga perasaan.
Mal itu ramai seperti biasa. Es krim di tangan Vira mulai meleleh, menetes di punggung tangannya. Dia menyeka dengan tisu sambil terus berjalan.
"Kay, kamu kok diam saja?" tanya Vira sambil memegang beberapa kantong belanjaan.
"Lelah, Kak."
"Baru satu jam kita berjalan. Biasanya kamu kuat tiga jam."
"Tua, kali, Kak."
Vira tertawa. "Kamu ini mulut manis."
"Fakta."
Kami masuk ke toko baju. Vira sibuk memilih-milih kemeja untuk Rafa. Aku berdiri di sampingnya, sesekali memberikan pendapat.
Di belakangku, seorang ibu dengan dua anak kecil berlarian. Aku hampir tersenggol, tapi Vira menarik tanganku tepat waktu.
"Warna biru atau putih, Kay?" tanya Vira sambil mengangkat dua kemeja.
"Biru. Kakak suka melihat Rafa pakai biru."
Vira mengangkat alis. "Kamu juga perhatian sama warna kesukaan Rafa?"
Aku tersentak. "Tidak. Aku cuma sering melihat dia pakai biru."
"Oh." Vira tersenyum. "Iya. Biru memang warna favoritnya."
Aku lega Vira tidak menggali lebih dalam. Tapi jantungku masih berdebar cepat.
Di toko sepatu, Vira tiba-tiba bertanya, "Kay, dulu kan kamu pernah cerita suka sama seseorang di kampus. Itu siapa?"
Vira ingat. Dia ingat ceritaku bertahun-tahun lalu. Aku menunduk, memegang ujung dompetku yang mulai pudar warnanya.
"Dulu, Kak. Sekarang sudah tidak."
"Kenapa tidak dilanjutkan?"
"Orangnya sudah punya pacar."
Vira menepuk pundakku. "Nanti kakak carikan yang lebih baik."
Aku tersenyum pahit. Tidak ada yang lebih baik, Kak. Karena yang terbaik sudah kakak ambil.
Kami pulang sore hari. Rafa sudah ada di rumah. Dia sedang memasak sop iga di dapur. Aroma rempah-rempah terasa sejak dari pintu masuk. Aku suka sop iga, tapi hari ini baunya membuatku mual.
Vira langsung menghampiri Rafa dan mencium pipinya.
"Wah, kamu hebat."
"Aku belajar dari YouTube."
Vira tertawa. Aku ikut tertawa kecil. Tapi tawaku sumbang.
Malam harinya, kami makan malam bertiga. Vira bercerita tentang belanja tadi. Rafa mendengarkan dengan saksama. Aku hanya diam, sesekali mengangguk.
"Kay, kamu besok ikut kakak ke kondangan, yuk," ajak Vira tiba-tiba.
"Kondangan siapa, Kak?"
"Teman kuliah kakak. Kita bertiga saja."
Aku menelan ludah. "Baik, Kak."
Rafa menatapku sekilas. Lalu kembali ke makanannya. Tatapan itu hanya sekilas, tapi cukup untuk membuat jantungku berdebar tidak karuan.
Aku benci diri sendiri karena masih merasakan hal itu.
Di kondangan, seorang teman Vira bernama Nina menghampiri. Rambut Nina diikat tinggi, anting-antingnya bergantungan besar. Dia tersenyum lebar ke arahku.
"Via, ini adikmu? Cantik sekali!"
"Halo, Kayla. Kamu sudah punya pacar?"
Aku menggeleng. "Belum."
"Wah, sayang. Aku punya teman ganteng, ingin kukenalkan."
Vira menyela. "Jangan dulu, Na. Adikku masih fokus kuliah."
"Ya ampun, Via. Kamu itu overprotektif sekali."
"Ya iyalah. Dia satu-satunya."
Nina tertawa lalu pergi. Vira menatapku. "Kakak serius, Kay. Jangan terburu-buru mencari pacar."
"Kak, aku tidak mencari pacar."
"Bagus."
Dari samping, Rafa hanya diam. Tapi aku bisa merasakan matanya sesekali menatapku.
Pulang dari kondangan, Vira kelelahan dan langsung tidur. Aku dan Rafa masih terjaga. Aku di ruang tamu, Rafa di dapur.
Lampu ruang tamu hanya satu yang menyala. Sisanya mati. Bayangan kami di dinding bergerak pelan setiap kali angin malam menerpa jendela.
"Kay, mau minum?" tawarnya.
"Air putih saja, Kak."
Rafa datang dengan dua gelas air. Dia duduk di kursi seberangku.
"Kamu tadi ditawari teman cowok," katanya.
"Iya. Tapi aku tidak minat."
"Kenapa?"
"Karena aku belum siap."
Rafa mengangguk. "Bagus."
"Bagus kenapa?"
Rafa terdiam. Lalu berkata, "Karena kamu harus fokus kuliah dulu."
Kedengarannya seperti alasan seorang kakak. Tapi kenapa nada bicaranya terdengar seperti orang yang lega?
"Kak Rafa, aku mau bertanya sesuatu dan kakak harus jujur."
"Tanya."
"Apakah kakak cemburu tadi?"
Rafa hampir tersedak. "Cemburu? Tidak."
"Kakak yakin?"
"Yakin."
"Tapi mata kakak bilang lain."
Rafa menghela napas. "Kay, lebih baik mata itu berbohong daripada mulut ini mengucapkan sesuatu yang tidak seharusnya."
"Kak, seminggu lagi kakak pindah."
"Iya."
"Setelah itu, kita mungkin tidak akan sering mengobrol seperti ini."
Aku menatap gelas di tanganku. Airnya sudah setengah habis. Aku tidak ingat kapan aku meminumnya.
"Iya."
"Aku akan merindukan ini."
Rafa menatapku. "Merindukan apa?"
"Merindukan kebersamaan kita. Ngobrol tengah malam. Rebutan kamar mandi."
"Itu semua berarti, Kay. Setidaknya buat aku."
"Jadi kakak juga akan merindukanku?"
Rafa tidak menjawab. Dia hanya menunduk, memainkan gelas di tangannya. Aku bisa melihat urat-urat di tangannya menegang.
"Kay, jangan tanyakan hal yang jawabannya akan menyakitkan kita berdua."
"Maksudnya?"
"Maksudnya, aku akan merindukanmu. Tapi aku tidak boleh mengatakan itu."
Udara terasa panas. Aku menggenggam gelas di tanganku erat-erat. Dingin air merembes ke telapak tanganku.
"Kak Rafa, kakak tahu kan kalau aku akan baik-baik saja?"
"Apakah kamu benar-benar akan baik-baik saja?"
Tidak, batinku. Tapi aku tidak bisa bilang itu.
"Aku akan memastikannya."
Rafa tersenyum tipis. "Kamu keras kepala."
"Aku belajar dari Vira."
"Kay, janji satu hal lagi."
"Apa?"
"Kalau suatu saat kamu jatuh cinta lagi, jangan sembunyikan. Kejar. Karena kamu pantas bahagia."
Aku menatap Rafa. Di sudut ruang tamu yang remang, matanya tampak lebih teduh dari biasanya.
"Janji, Kak. Tapi dengan satu syarat. Kakak juga harus bahagia. Dengan Vira."
"Aku akan bahagia."
"Janji?"
"Janji."
"Selamat malam, Kak."
"Selamat malam, Kay."
Aku masuk kamar. Vira masih tidur pulas. Aku membaringkan tubuh di sampingnya.
"Kay," bisik Vira setengah sadar.
"Ya, Kak?"
"Kakak sayang kamu."
"Aku juga sayang kakak."
"Jangan pernah tinggalkan kakak."
Aku menatap wajah Vira dalam gelap. Bekas lelah masih terlihat di wajahnya, bahkan saat tidur.
"Aku tidak akan pernah."
Vira tersenyum dalam tidurnya. Aku memeluknya dari samping.
Besoknya, Mona datang membawa cokelat dan es krim. Wajahnya cerah, tapi matanya menyelidik.
"Kamu kelihatan kurus, Kay."
"Tidak kurus."
"Berat badan kamu turun. Mata aku jeli."
Vira dari dapur berseru, "Mona, makan siang bareng, ya!"
"Boleh, Mbak Vira!"
Mona menarikku ke kamar. Begitu pintu tertutup, wajahnya berubah serius.
"Cerita soal seminggu terakhir. Jangan bohong."
Aku menceritakan semuanya. Tentang kondangan. Tentang obrolan tengah malam. Tentang tatapan Rafa. Tentang bagaimana setiap malam aku berguling di kasur, mendengarkan suara di kamar sebelah.
Mona mendengarkan dengan saksama. Sesekali dia mengangguk. Sesekali dia menggeleng.
"Kay, kamu hebat masih bisa bertahan."
"Aku tidak sekuat itu, Mon."
"Kamu lebih kuat dari yang kamu kira."
"Vira curiga, Mon. Dia mulai bertanya-tanya."
"Kamu harus siap kalau suatu saat dia tahu."
Aku menunduk. Jari-jariku memainkan ujung baju.
"Aku tidak siap."
Mona memegang tanganku. Tangannya hangat, berbeda dengan dinginnya perasaan di dadaku.
"Aku akan selalu di samping kamu, apa pun yang terjadi. Ingat itu."
"Makasih, Mon."
"Ya. Sekarang makan es krim. Kamu butuh gula."
Sore harinya, Rafa pamit sebentar ke rumah orang tuanya. Renovasi rumahnya hampir selesai.
"Besok aku balik," katanya pada Vira.
"Hati-hati di jalan."
Rafa menatapku sekilas. "Kay, jaga kakak kamu."
"Pasti, Kak."
Rafa pergi. Rumah terasa lebih sepi. Bahkan suara kulkas berdengung terdengar lebih keras dari biasanya.
Vira duduk di sofa. Menepuk tempat di sampingnya.
"Kay, sini. Kakak ingin mengobrol."
Aku duduk di samping Vira. Jantungku berdebar. Aku bisa merasakan setiap detaknya di dadaku.
"Kay, kakak tahu kamu dan Rafa ada sesuatu."
Aku tersentak. "Apa?"
"Jangan bohong. Kakak sudah tahu dari beberapa hari yang lalu."
"Kak, tidak ada—"
"Kay, kakak tidak akan marah. Kakak hanya ingin tahu. Apa yang sebenarnya terjadi antara kamu dan Rafa?"
Aku terdiam. Vira menatapku dengan mata teduh tapi tegas. Tidak ada kemarahan di sana. Hanya kegelisahan.
Ini dia. Saat yang aku takutkan. Saat di mana semua kebohongan akan berakhir.
Aku menarik napas panjang.
"Kak..."
Vira menggenggam tanganku. "Cerita, Kay. Kakak siap mendengar apa pun."
Air mataku mulai menggenang. Tapi aku tidak ingin menangis. Bukan sekarang.
"Kak, maafkan aku. Karena selama ini aku tidak jujur."
"Cerita, Kay."
"Kak, aku..."
Pintu rumah terbuka.
"Via! Kay! Aku lupa bawa power bank!" suara Rafa dari depan.
Vira menoleh ke pintu. Aku lega setengah mati.
Tapi aku tahu. Ini hanya penundaan.
Suatu saat, Vira akan tahu.
BAB XIII
Pengakuan di Bawah Cahaya Lampu
Rafa masuk dengan wajah cerah. Dia tersenyum melihat Vira dan aku duduk berdua di sofa.
Dia tidak tahu bahwa beberapa saat yang lalu, aku hampir membongkar segalanya.
"Ada apa, kalian? Serius sekali," sapanya sambil melepas jaket.
Vira berdiri. Terlalu cepat. "Tidak apa-apa. Lagi mengobrol santai."
"Tentang apa?"
"Tentang masa depan." Vira menatapku sekilas. Tatapan itu berkata: "Ini belum selesai. Tapi tidak sekarang."
Aku menghela napas lega.
Rafa duduk di kursi sebelah sofa. "Masa depan apa? Pernikahan?"
"Iya. Dan juga masa depan Kayla setelah lulus."
"Oh. Kayla mau kerja di mana?"
Aku menjawab kaku. "Belum tahu. Masih bingung."
"Kamu bisa kerja di tempatku. Perusahaan konsultan butuh akuntan."
Vira mengangkat alis. "Serius?"
"Bisa. Kayla kan adik calon istriku. Prioritas."
Prioritas. Kata itu terdengar manis sekaligus pahit.
"Makasih, Kak. Aku pikir-pikir dulu."
Vira tersenyum. Tapi senyumnya tidak sampai ke mata. "Kamu baik sekali, Ra."
"Biasa."
Rafa berdiri. "Aku ke kamar dulu, ya. Mau ganti baju."
Begitu pintu kamarnya tertutup, Vira kembali menatapku. Matanya tajam.
"Kay, kita lanjut nanti malam. Setelah Rafa tidur."
"Kak, apa tidak bisa kita lupakan saja?"
"Tidak. Kakak perlu tahu."
Malam tiba.
Rafa tidur lebih awal. Vira menunggu sampai dengkurannya yang halus terdengar teratur dari balik pintu.
Jam menunjukkan pukul sebelas malam. Vira masuk ke kamar dengan dua gelas susu hangat.
"Minum dulu. Biar tenang."
Aku menerima gelas itu. Susu hangat terasa pahit di lidahku.
Vira duduk di sampingku. Kasur yang sama. Jarak yang sama. Tapi rasanya seperti kami duduk di tepi jurang.
"Sekarang cerita. Dari awal."
"Kak, apa tidak bisa—"
"Kay." Vira memotongku. "Kakak tidak akan marah. Kakak hanya ingin tahu."
Aku menunduk. Jari-jariku menggenggam gelas dengan erat.
"Kak, ingat waktu aku cerita kalau aku suka seseorang di kampus?"
Vira mengangguk. "Ingat."
"Orang itu adalah Rafa."
Sunyi.
Vira terdiam. Wajahnya berubah dari bingung menjadi terkejut. Lalu hancur.
"Rafa? Calon suamiku?"
Aku mengangguk pelan. "Maaf, Kak."
"Sejak kapan?"
"Sejak tiga tahun lalu. Sejak dia menolongku di lorong kampus."
Vira meletakkan gelasnya di nakas. Tangannya gemetar.
"Jadi selama ini... selama aku berpacaran dengan Rafa... kamu diam-diam menyimpan perasaan itu?"
"Iya, Kak."
"Dan ketika aku bilang aku akan menikah dengan Rafa... kamu tetap diam?"
"Iya, Kak."
Vira berdiri. Perlahan. Seperti orang yang baru saja ditusuk dari belakang.
Dia berjalan ke jendela. Memunggungiku. Punggungnya naik turun. Dia menahan tangis.
"Kak, aku tahu aku salah. Aku seharusnya cerita dari awal. Tapi aku takut kakak marah. Takut kakak kecewa. Takut kehilangan kakak."
"Jadi kamu memilih diam dan menyiksa diri sendiri?" Vira berbalik. Matanya merah.
"Aku memilih diam karena kakak berhak bahagia. Kakak sudah berkorban banyak untuk aku."
"Tapi dengan kamu diam, kamu pikir kakak bahagia?"
"Kakak bahagia, kan, dengan Rafa?"
Vira tidak menjawab.
"Kakak?"
Vira menatapku lama. Lalu berkata pelan, "Kakak bahagia dengan Rafa. Tapi kakak tidak akan pernah bahagia kalau tahu adik sendiri menderita."
"Aku tidak menderita, Kak."
"Bohong."
Vira mendekat. "Kakak lihat matamu, Kay. Sembab setiap pagi. Kamu kurus. Kamu diam. Kamu tidak seperti Kayla yang dulu."
"Kayla yang dulu tidak pernah menyembunyikan apa pun dari kakak."
Aku terdiam.
"Kay, kakak marah."
"Kak..."
"Kakak marah karena kamu tidak cerita. Karena kamu memendam sendiri. Karena kamu pikir kakak tidak akan mengerti."
"Aku tidak berpikir begitu, Kak. Aku hanya takut kalau-kalau kakak memilih aku dibanding Rafa. Aku tidak mau menjadi alasan kakak kehilangan cinta."
Vira mendekat. Satu langkah. Kini dia berdiri tepat di hadapanku.
"Dengar, Kay. Kakak tidak pernah menganggap kamu beban. Sejak orang tua kita meninggal, kamu adalah satu-satunya alasan kakak tetap bertahan."
"Kak..."
"Jadi jangan pernah, sekali pun, berpikir bahwa kamu adalah beban." Vira menggenggam kedua tanganku. "Kamu adalah segalanya buat kakak."
Air mataku jatuh.
"Aku minta maaf, Kak."
"Sudah. Jangan menangis."
"Tapi aku sudah menyakiti kakak."
"Kakak tidak sakit." Vira memelukku. "Kakak hanya kecewa. Karena kamu tidak percaya pada kakak."
"Aku percaya, Kak. Aku hanya takut."
Vira melepaskan pelukan. Dia menyeka air mataku dengan ibu jarinya.
"Kay, kakak tidak akan pernah memilih antara kamu dan Rafa. Karena kalian berdua adalah orang yang kakak cintai dengan cara yang berbeda."
"Kakak tidak akan membatalkan pernikahan?"
Vira menggeleng. "Tidak. Karena kakak yakin Rafa adalah orang yang tepat untuk kakak."
"Tapi kakak juga tidak akan membenci kamu. Karena kamu adalah adik kakak. Satu-satunya keluarga yang kakak punya."
"Kakak benar-benar tidak marah?"
Vira menghela napas. "Kakak kecewa. Tapi tidak marah."
"Apa bedanya?"
"Kecewa bisa hilang dengan waktu. Marah butuh pelukan."
Vira membuka tangannya. Aku tersenyum — meskipun air mata masih mengalir — lalu memeluknya.
"Maafkan kakak, Kay," bisik Vira di telingaku.
"Kakak minta maaf kenapa?"
"Karena kakak tidak sadar. Karena kakak terlalu asyik dengan kebahagiaan sendiri sampai tidak melihat adik sendiri menderita."
"Ini bukan salah kakak."
"Tidak ada yang salah." Vira melepaskan pelukan. "Yang ada hanya cinta yang tidak tepat waktu."
Pagi harinya.
Vira memasak pancake. Tiga tumpuk. Dengan madu yang meleleh di pinggirnya.
Aku turun dari kamar dengan mata masih sembab. Rafa sudah duduk di meja makan.
"Kamu menangis lagi?" tanyanya.
"Tidak. Cuma alergi."
"Alergi apa?"
Aku menatap Vira. Vira mengerjap — memberi kode.
"Alergi debu," jawabku.
Vira tertawa dari dapur. "Kay, kamu ini lucu."
"Kakak yang bilang aku harus menjadi diri sendiri."
Vira membawa pancake ke meja. Rafa menyicipinya.
"Enak, Via. Kamu hebat."
"Biasa. Resep dari YouTube."
Vira duduk di samping Rafa. Aku duduk di seberang mereka. Posisi yang sama seperti dulu. Tapi segalanya terasa berbeda.
"Kay, sore ini kakak dan Rafa mau ke tempat undangan. Kamu ikut?"
Aku menatap Vira. Matanya bertanya: "Kamu bisa?"
"Mau," jawabku.
"Bagus. Kita bertiga lagi."
Vira tersenyum padaku. Senyum yang tulus.
"Makasih, Kak."
"Makasih apa?"
"Makasih untuk semuanya."
Rafa menatap kami bergantian, bingung.
"Ada apa sebenarnya? Kalian berdua aneh."
Vira mencolek hidung Rafa. "Tidak ada yang aneh. Kami hanya sedang berdamai dengan masa lalu."
"Masa lalu?"
"Iya. Masa lalu yang tidak perlu kamu tahu."
Rafa tertawa. Vira tertawa. Aku ikut tertawa.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tertawa dengan tulus.
Bukan karena aku sudah melupakan Rafa. Bukan karena perasaanku sudah hilang. Tapi karena aku tidak sendiri lagi. Vira ada di sampingku. Dia tahu segalanya — dan dia tetap bertahan.
Dan itu lebih dari cukup.
BAB XIV
Hidup Berdampingan dengan Luka
Mengakui segalanya pada Vira ternyata tidak serta merta membuat hidupku lebih mudah. Aku masih bangun setiap pagi dengan berat hati. Aku masih harus melihat Rafa di meja makan. Aku masih harus mendengar suaranya, melihat senyumnya, dan merasakan degup jantungku yang tidak pernah menurut.
Tapi ada yang berubah.
Vira sekarang tahu. Dan dia menjadi sekutuku. Bukan untuk merebut Rafa, tapi untuk membantu aku melepaskannya.
"Kay, kamu sudah mandi? Aku mau pakai kamar mandi dulu," teriak Vira dari luar pintu.
"Sebentar, Kak. Baru selesai."
Aku keluar dengan handuk melilit di rambut. Vira berdiri di depan pintu dengan tangan di pinggang. Matanya menyapu wajahku dari ujung rambut hingga dagu, seperti mencari tanda-tanda kelelahan yang tidak kusadari.
"Kamu lama sekali. Biasanya cepat."
"Tadi keramas."
"Keramas jam segini? Baru jam 7 pagi."
"Ya, memang jam segitu biasanya orang keramas."
Vira menggeleng. "Aneh. Tapi sudahlah. Cepat ganti baju. Sarapan sudah siap."
Di meja makan, Rafa sudah duduk dengan ponsel di tangannya. Hari ini dia memakai kaus polos berwarna abu-abu tua. Rambutnya masih sedikit basah, baru keramas. Wangi sabun mandinya terasa hingga ke kursiku.
Dia menatapku sekilas, lalu kembali ke ponselnya.
"Pagi, Kak," sapaku.
"Pagi."
Pendek. Tidak ada senyum. Tidak ada basa-basi. Tepat seperti yang aku minta.
Vira datang membawa nampan berisi nasi goreng dan telur ceplok. Aroma bawang goreng menyebar ke seluruh ruangan.
"Makan. Biar kenyang."
"Makasih, Kak."
Kami makan dalam keheningan yang canggung. Vira memecahnya dengan pertanyaan biasa.
"Kay, hari ini kamu ada jadwal?"
"Tidak, Kak. Lagi libur."
"Ya sudah. Bantu kakak membersihkan rumah. Beberapa hari ini kakak sibuk, rumah jadi berantakan."
"Beres, Kak."
"Aku juga bantu," kata Rafa.
Vira menggeleng cepat. Terlalu cepat. "Tidak usah, Ra. Kamu kan kerja."
"Kerjaanku dari rumah. Aku bisa sambil membantu."
"Aku bilang tidak usah."
Nada bicara Vira sedikit tegas. Aku tahu kenapa. Dia tidak ingin aku dan Rafa terlalu sering berdua. Apalagi di rumah yang sunyi, tanpa pengawasan.
Rafa mengangkat alis. "Kenapa kamu menolak?"
"Karena kamu tamu."
"Aku bukan tamu. Aku calon suami."
"Ya. Tapi tetap tidak perlu membantu membersihkan rumah."
Aku menunduk, pura-pura sibuk dengan nasi goreng di piringku. Di balik poni yang menutupi wajahku, aku menggigit bibir.
"Baik, kalau kamu memaksa," kata Rafa akhirnya.
"Iya. Aku memaksa."
Vira tersenyum. Senyum yang kaku. Aku tahu dia berusaha.
Setelah sarapan, Vira dan aku membersihkan rumah. Vira menyapu, aku mengepel. Rafa di kamarnya bekerja.
Sunyi. Hanya suara sapu di lantai dan gesekan kain pel yang terdengar.
"Kay," panggil Vira pelan.
"Ya, Kak."
"Kamu kuat? Maksudku, kamu kuat terus tinggal serumah dengan Rafa?"
Aku berhenti mengepel. Tanganku memegang gagang pel terlalu erat. "Kakak, ini sudah hari ke sekian. Aku sudah terbiasa."
"Terbiasa atau terpaksa?"
"Terbiasa karena terpaksa."
Vira menghela napas. Matanya menatapku dengan iba. "Dua minggu lagi Rafa pindah."
"Aku tahu, Kak."
"Kamu tahan, ya, sampai saat itu."
Aku menatap Vira. Wajahnya lelah. Bukan lelah fisik, tapi lelah menjaga semuanya agar tidak hancur.
"Aku akan tahan, Kak. Janji."
Vira mengangguk. Dia kembali menyapu dengan gerakan yang lebih cepat, lebih kasar. Mungkin dia marah. Mungkin pada dirinya sendiri.
"Kay."
"Ya, Kak."
"Kakak kadang merasa bersalah."
Aku mengerjap. "Bersalah kenapa?"
"Karena Rafa. Karena kakak yang pertama kali kenal dia. Karena kakak yang menjadikan dia calon suami. Tanpa kakak sadari, kakak sudah mengambil sesuatu yang sebenarnya kamu incar lebih dulu."
Aku meletakkan pel. Aku menatap Vira lurus ke matanya. "Kak, tidak ada yang perlu disalahkan. Cinta bukan soal siapa lebih dulu."
"Tapi kalau kakak tahu dari awal, mungkin kakak tidak akan pernah berpacaran dengan dia."
"Dan kakak akan kehilangan kesempatan untuk bahagia. Aku tidak mau itu."
Vira terdiam. Matanya berkaca-kaca. Aku bisa melihat pergelutan di sana. Antara rasa bersalah dan rasa cinta.
"Kamu baik sekali, Kay."
"Aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan. Kakak sudah melakukan banyak hal untuk aku. Sekarang giliran aku yang melakukan sesuatu untuk kakak."
Vira meletakkan sapu. Dia memelukku erat. Aku bisa merasakan dadanya naik turun, menahan tangis.
"Makasih, Kay. Makasih."
"Ya, Kak. Sudah. Jangan menangis. Nanti Rafa keluar dan bertanya-tanya."
Vira tertawa kecil. Suaranya patah. Dia melepaskan pelukan dan menyeka matanya dengan punggung tangan.
"Kakak kuat."
"Pasti."
Rumah menjadi rapi dalam waktu dua jam. Vira puas. Tapi matanya masih sayu.
Rafa keluar dari kamarnya. Dia melihat sekeliling. "Wah, rumah jadi rapi. Kay, kamu hebat."
"Kakak Vira juga hebat. Dia yang menyapu."
"Sama-sama hebat."
Vira menarik tangan Rafa. "Ra, kita ke luar, yuk. Belanja keperluan dapur."
"Sekarang?"
"Iya. Kay, kamu ikut?"
Aku menggeleng. "Tidak, Kak. Aku mau istirahat. Lelah."
"Ya sudah. Kamu di rumah saja. Jangan buka pintu untuk orang asing."
"Iya, Kak."
Vira dan Rafa pergi. Rumah menjadi sunyi. Terlalu sunyi. Aku bisa mendengar detak jam dinding dari ruang tamu. Aku bisa mendengar napasku sendiri yang terasa berat.
Aku duduk di sofa, memeluk bantal. Bantal itu masih menyisakan wangi Vira. Aku menatap langit-langit, tapi mataku kosong.
Luka. Rasanya masih segar. Seperti baru saja diiris pisau tajam. Setiap kali aku melihat Rafa, setiap kali aku mendengar suaranya, setiap kali aku mencium wangi parfumnya, luka itu terbuka lagi.
Tapi sekarang, ada yang berbeda. Luka itu tidak lagi membuatku ingin menangis. Hanya membuatku lelah.
Vira bilang waktu akan menyembuhkan. Tapi berapa lama? Berapa lama aku harus hidup berdampingan dengan luka ini?
Ponselku bergetar. Mona.
Mona: "Bagaimana kabar kamu, Kay?"
Kayla: "Vira sudah tahu."
Mona: "APA? SERIUS? KAMU CERITA?"
Kayla: "Cerita semalam."
Mona: "TERUS DIA BICARA APA?"
Kayla: "Dia kecewa. Tapi tidak marah."
Mona: "Gila. Vira itu malaikat, Kay."
Kayla: "Iya. Kakak aku baik sekali."
Mona: "Terus sekarang bagaimana?"
Kayla: "Aku masih tinggal serumah sama mereka. Rafa masih di sini dua minggu lagi."
Mona: "Kamu kuat?"
Kayla: "Tidak tahu."
Mona: "Kamu harus kuat. Aku yakin kamu bisa."
Kayla: "Makasih, Mon."
Mona: "Aku datang nanti sore, ya. Bawa cokelat."
Kayla: "Bawa saja."
Aku meletakkan ponsel. Memejamkan mata.
Luka ini akan sembuh. Suatu saat. Mungkin tidak hari ini. Mungkin tidak besok. Tapi suatu saat.
Aku harus percaya itu.
Sore harinya, Mona datang dengan satu keranjang kecil berisi cokelat dan camilan. Wajahnya cerah, tapi matanya menyelidik.
"Kamu seperti mau memberi makan orang kelaparan saja, Mon," kataku sambil membuka pintu.
"Ya iyalah. Kamu kan sekarang lagi kelaparan hati. Makanan bisa mengisi sedikit."
"Logika kamu aneh."
"Tapi benar."
Mona masuk. Dia melihat sekeliling. "Rumah rapi sekali. Seperti mau dijual."
"Tadi habis membersihkan."
"Mana Vira? Mana Rafa?"
"Vira sama Rafa pergi berbelanja. Tidak tahu kapan pulang."
"Oh. Bagus. Kita bisa mengobrol bebas."
Mona duduk di sofa. Aku duduk di sampingnya. Sofa berdecit pelan.
"Cerita detail, Kay. Jangan ada yang disembunyikan."
Aku menceritakan semuanya. Mulai dari Vira yang curiga, sampai pengakuan di kamar. Tentang bagaimana Vira menangis, tentang bagaimana dia memelukku, tentang bagaimana dia berkata bahwa dia tidak akan pernah memilih antara aku dan Rafa.
Mona mendengarkan dengan mata membelalak. Sesekali dia menggeleng. Sesekali dia bersiul kecil.
"Gila. Kamu hebat sekali, Kay."
"Tidak hebat."
"Kamu hebat. Kamu berani jujur. Kamu berani menerima konsekuensi."
"Aku tidak berani. Aku terpaksa."
"Terpaksa tapi berhasil. Itu tetap berani."
Aku tersenyum kecil. Mona memang ahli dalam mengubah perspektif.
"Menurut kamu, aku harus bagaimana sekarang?" tanyaku.
"Kamu harus menjalani hidup. Biasa saja. Tidak usah memaksakan diri untuk melupakan. Tidak usah memaksakan diri untuk melangkah maju. Biar waktu yang bekerja."
"Tapi rasanya sakit, Mon."
Mona menatapku. Matanya lembut. "Sakit itu wajar, Kay. Kamu lagi patah hati. Kalau tidak sakit, namanya bukan patah hati."
"Kamu membantu sekali dengan ucapan kamu."
"Aku kan sahabat kamu."
Mona membuka bungkus cokelat dan memberikannya padaku.
"Makan. Gula bisa membuat bahagia sementara."
Aku mengambil cokelat itu dan menggigitnya. Manis. Lumer di mulut. Tapi tidak cukup untuk melupakan rasa pahit di hati.
"Mona."
"Ya."
"Makasih sudah selalu ada."
"Tidak usah lebay. Aku tidak ke mana-mana."
Kami terduduk di sofa, memakan cokelat, menonton televisi tanpa suara.
Sore itu, untuk pertama kalinya, aku merasa sedikit lebih ringan.
Mungkin karena cokelat. Mungkin karena Mona. Mungkin karena aku sudah tidak menyimpan rahasia sendirian.
Atau mungkin karena luka itu mulai aku terima sebagai bagian dari diriku.
Bukan untuk dilupakan. Tapi untuk dirawat. Sampai suatu saat, tanpa aku sadari, ia akan mengering dan meninggalkan bekas. Bekas yang akan mengingatkanku bahwa aku pernah jatuh cinta. Dan aku pernah bertahan.
Rafa dan Vira pulang saat matahari mulai tenggelam. Langit di luar jendela berwarna jingga, perlahan berubah menjadi ungu.
"Wah, ada Mona," sapa Vira.
"Iya, Mbak. Aku main sebentar."
"Sudah makan? Aku masak, ya."
"Tidak usah repot-repot, Mbak. Aku mau pulang."
"Lho, baru datang."
"Mau pulang," Mona berdiri. "Besok aku main lagi."
Mona melambai padaku. Aku mengantarnya ke pintu.
"Mon."
"Ya."
"Makasih."
"Sudah. Jangan menangis-nangis lagi, ya. Aku tidak tega."
"Janji."
Mona pergi. Aku masuk ke dalam. Vira sudah sibuk di dapur. Rafa duduk di sofa, memegang ponsel, tapi matanya menatap kosong ke arah jendela.
"Kay, sini. Aku mau bicara," panggil Rafa.
Aku mendekat. "Apa, Kak?"
Rafa menepuk tempat di sampingnya. Aku duduk agak jauh.
"Jangan jauh-jauh. Sini."
Aku mendekat sedikit. Jarak kami masih cukup untuk tidak menyentuh.
"Kay, aku tahu Vira sekarang tahu segalanya."
Aku terkesiap. "Kakak tahu?"
"Aku tidak bodoh, Kay. Aku bisa melihat dari cara Vira bicara, cara dia menatap kita berdua. Aku tahu sesuatu terjadi semalam."
"Kakak tidak marah?"
Rafa menatapku. Matanya teduh, tapi ada kelelahan di sana. "Marah sama siapa? Sama kamu? Sama Vira? Sama diriku sendiri?"
"Entahlah."
"Aku tidak marah. Aku justru lega."
Aku mengerjap. "Lega kenapa?"
"Karena tidak ada lagi rahasia. Karena Vira tahu. Karena kita tidak perlu berpura-pura lagi."
"Tapi kakak dan Vira tetap menikah?"
Rafa menatapku. "Iya. Kami tetap menikah. Itu tidak berubah."
Aku mengangguk. "Aku tahu."
"Tapi satu hal yang berubah."
"Apa?"
"Aku tidak akan pernah bisa memandangmu hanya sebagai adik ipar."
Jantungku berdebar kencang. Aku bisa merasakan setiap detaknya di dadaku. "Maksud kakak?"
"Maksudku, kamu akan selalu lebih dari itu. Bukan karena aku mencintaimu. Tapi karena kamu adalah orang yang mengajarkanku arti perjuangan. Kamu rela diam tiga tahun demi kebahagiaan Vira. Itu tidak semua orang bisa lakukan."
"Kakak jadi lebih menghargai aku?"
"Iya. Dan aku akan selalu menghargaimu. Sampai kapan pun."
Rafa mengulurkan tangannya. Aku menatap tangannya sebentar. Tangan yang dulu menangkapku saat aku hampir jatuh di lorong kampus. Tangan yang hampir menyentuh pipiku di dapur. Tangan yang sama, tapi sekarang hanya menggenggam udara.
Aku menjabatnya.
"Makasih, Kak."
"Makasih kembali, Kay."
Vira dari dapur berseru, "Makan malam! Kalian berdua cuci tangan dulu!"
Aku dan Rafa berdiri bersamaan. Kami saling berpandangan. Lalu tersenyum.
Senyum yang tidak lagi menyakitkan. Senyum yang terasa seperti awal dari sesuatu yang baru. Bukan cinta. Bukan harapan. Tapi penerimaan.
Menerima bahwa luka boleh ada. Menerima bahwa perasaan boleh tinggal. Menerima bahwa kita tidak harus melupakan untuk bisa melangkah.
Kita hanya perlu belajar hidup berdampingan dengan luka itu.
Sampai suatu saat, luka itu tidak lagi terasa.
BAB XV
Angin Kencang Sebelum Tenang
Hari-hari setelah pengakuan terasa seperti berada di tengah badai. Tidak ada yang berubah secara kasat mata, tapi semuanya terasa berbeda. Seperti ada arus bawah laut yang kuat, menarik kami ke arah yang tidak tahu ujungnya.
Vira menjadi lebih perhatian. Setiap gerakku diawasi. Setiap kali aku melirik ke arah Rafa, matanya segera menangkap.
"Kay, kamu mau ikut kakak ke pasar?" tanya Vira suatu pagi.
"Ikut, Kak."
"Rafa, kamu di rumah saja, ya. Ada pekerjaan, kan?"
Rafa menganggung. "Iya. Ada laporan."
"Bagus. Kami pergi dulu."
Vira menarik tanganku keluar rumah. Begitu sampai di pasar, dia berbisik, "Kay, usahakan jangan terlalu sering menatap Rafa."
Aku tersentak. "Kak, aku tidak sengaja."
"Aku tahu. Tapi usahakan."
"Iya, Kak."
"Kak, Rafa pindah minggu depan?" tanyaku sambil membantu membawakan keranjang.
"Iya. Rumahnya sudah selesai direnovasi."
"Kakak pasti senang?"
"Senang sekaligus sedih. Selama dia di sini, rumah menjadi ramai. Setelah dia pindah, kita berdua lagi."
"Kakak kangen sama masa-masa kita berdua?"
"Kangen. Tapi kakak juga senang punya Rafa."
Vira membayar sayur dan ikan. Kami berjalan ke tempat parkir.
"Kay, suatu saat kamu akan menemukan cinta yang tepat. Mungkin tidak sekarang. Tapi suatu saat."
"Kakak yakin?"
Vira tersenyum. "Kamu perempuan hebat. Cowok mana yang tidak mau sama kamu?"
Aku tersenyum. "Kakak lebay."
"Fakta."
Kami pulang dengan dua kantong besar. Rafa menyambut di pintu.
"Wah, banyak sekali."
"Untuk seminggu," jawab Vira.
Rafa membantu membawakan belanjaan ke dapur. Aku ikut masuk.
"Kay, kamu cuci beras, ya," perintah Vira.
"Iya, Kak."
Rafa mengupas bawang di sampingku. Kami berdiri berhadapan di wastafel.
"Kay," bisik Rafa.
"Ya."
"Maaf kalau aku menjadi masalah buat kamu dan Vira."
"Kakak bukan masalah. Kakak adalah kebahagiaan Vira."
Rafa terdiam. "Aku harap suatu saat ada yang bisa membuatmu bahagia seperti Vira bahagia bersamaku."
"Kak, kakak tidak perlu merasa bertanggung jawab atas kebahagiaanku."
"Aku hanya tidak ingin melihatmu sendiri."
Aku berhenti mencuci beras. "Kak, suatu saat aku akan baik-baik saja."
"Aku percaya."
Vira masuk ke dapur. "Kalian ngobrol apa?"
"Ngobrol soal bawang," jawab Rafa cepat.
Vira mengangkat alis. "Bawang?"
"Iya. Bawang ini bagus."
Vira menatapku. Aku tersenyum. Dia tersenyum balik.
Malam harinya, Mona datang dengan kabar buruk.
"Kay, ada yang mulai menggosipkan kamu. Mereka bilang kamu merebutkan cowok sama kakak sendiri."
Aku terdiam.
Vira yang mendengar dari ruang tamu langsung berdiri. "Siapa yang berani?"
"Mbak Vira, tenang. Aku sedang mencari sumbernya."
"Jangan cari sumbernya. Langsung lawan."
"Tapi, Mbak, gosip itu ada benarnya juga."
Vira terdiam. Aku menunduk.
"Maaf, Kak. Aku yang membawa masalah."
"Bukan salah kamu, Kay. Ini salah orang-orang yang suka bergosip."
Rafa keluar dari kamar. "Ada apa?"
"Gosip," jawab Vira singkat.
Rafa menatapku. "Kay, kamu baik-baik saja?"
"Aku baik-baik saja."
"Kamu pucat."
"Pengaruh lampu."
Rafa tidak percaya. Tapi dia tidak bertanya lebih lanjut.
Vira menggenggam tanganku. "Kay, kakak tidak peduli dengan gosip. Selama kita tahu yang benar, itu sudah cukup."
"Tapi nama baik kakak bisa tercemar."
"Biarkan. Orang yang kenal kakak tahu kakak seperti apa."
Besoknya, gosip itu sudah sampai ke telinga orang tua Rafa.
Rafa menerima telepon dari ibunya pagi-pagi. Wajahnya berubah tegang.
Vira menghampiri setelah telepon selesai. "Ada apa, Ra?"
"Ibu mendengar gosip. Dia marah."
"Marah sama siapa?"
"Sama aku. Karena dianggap tidak bisa menjaga jarak."
Vira duduk di samping Rafa. "Maaf, Ra. Ini semua karena aku yang mengizinkan kamu tinggal di sini."
"Bukan salahmu. Ibu akan tenang setelah kita menikah."
"Kamu yakin?"
Rafa menatap Vira. "Via, aku sayang kamu. Jangan pernah ragu."
Vira tersenyum. "Aku tidak pernah ragu."
Aku yang mendengar dari balik pintu, menghela napas.
Aku keluar kamar dan menghampiri mereka.
"Kak, aku pindah ke kost Mona sementara waktu. Sampai pernikahan selesai."
Vira terkejut. "Tidak! Kamu tidak boleh pindah!"
"Kak, ini yang terbaik. Kalau aku di sini, gosip tidak akan berhenti."
"Biarkan mereka bergosip. Aku tidak peduli."
"Aku peduli, Kak. Aku peduli sama nama baik kakak. Sama nama baik Rafa."
Vira terdiam. Air matanya mengalir.
"Kamu yakin?"
"Aku yakin."
Vira memelukku. "Kakak akan merindukanmu."
"Aku juga akan merindukan kakak."
"Setiap hari kakak akan meneleponmu."
"Iya, Kak."
"Kakak akan mengirim makanan setiap minggu."
"Tidak usah, Kak."
"Pokoknya kakak kirim."
Aku tersenyum. Vira keras kepala.
Rafa berdiri. "Kay, aku antarkan kamu nanti."
"Tidak usah, Kak. Mona yang menjemput."
Malam harinya, Vira membantuku mengepak. Kamar yang tadinya penuh dengan dua lemari, sekarang kembali longgar.
"Kay, kamu tidak jadi tidur sekamar dengan kakak lagi," kata Vira sedih.
"Nanti setelah menikah, kakak tidur dengan Rafa."
"Tapi setidaknya kamu di kamar sebelah. Sekarang di kost Mona yang jauh."
"Dekat, kok. Cuma 15 menit."
"Tetap saja. Kakak tidak bisa melihat kamu setiap hari."
"Kakak bisa telepon. Video call."
"Tidak sama."
Vira memelukku. "Kakak sayang kamu, Kay."
"Aku juga sayang kakak."
"Janji kamu akan menjaga diri."
"Janji."
"Janji kamu akan makan teratur."
"Janji."
"Janji kamu tidak akan menangis setiap malam."
Aku mengangguk. "Janji, Kak."
Jam menunjukkan pukul 1 malam. Vira sudah tidur di sampingku. Aku masih terjaga.
Ponsel di tanganku. Chat dengan Rafa terbuka.
Rafa Wijaya: "Kay, kamu yakin pindah?"
Kayla: "Yakin."
Rafa Wijaya: "Aku tidak enak sama Vira. Dia sedih."
Kayla: "Ini untuk kebaikan kita semua."
Rafa Wijaya: "Kamu kuat, Kay."
Kayla: "Aku belajar dari kakak."
Rafa Wijaya: "Besok aku mengantar."
Kayla: "Jangan. Mona yang menjemput."
Rafa Wijaya: "Aku tetap mengantar."
Kayla: "Kakak keras kepala."
Rafa Wijaya: "Aku belajar dari Vira."
Aku tersenyum.
Kayla: "Selamat malam, Kak."
Rafa Wijaya: "Selamat malam, Kay."
Aku menutup ponsel. Memejamkan mata.
Besok aku akan pergi dari rumah ini. Bukan karena lari. Tapi karena aku ingin badai ini reda. Aku ingin Vira dan Rafa bisa menikah dengan tenang.
Angin kencang bertiup di luar jendela. Pohon-pohon bergoyang. Daun-daun beterbangan.
Ini angin kencang sebelum tenang.
Aku berdoa semoga setelah ini, semuanya tenang.
Untuk Vira. Untuk Rafa.
Dan untuk aku.
BAB XVI
Jarak yang Menyembuhkan
Pagi itu aku bangun lebih awal dari biasanya. Bukan karena semangat. Tapi karena tidak bisa tidur. Sepanjang malam aku berguling di kasur, memandangi langit-langit kamar, mendengarkan dengkur Vira yang terasa seperti penghitung waktu mundur.
Jam 4 pagi, aku sudah duduk di tepi kasur.
Vira sudah tidak ada di sampingku. Dari dapur terdengar suara panci dan piring, dentingan yang sengaja diredam, seolah dia tidak ingin membangunkanku.
Dia memasak untukku. Untuk terakhir kalinya.
Aku duduk di kasur, menatap koper yang sudah rapi di samping lemari. Isinya tidak seberapa. Baju-baju, buku catatan, laptop, dan beberapa pernak-pernik yang aku bawa dari rumah orang tua dulu.
Apakah ini yang dimaksud dengan pergi? Hanya sekoper kecil?
Vira masuk dengan nampan berisi sarapan. Nasi goreng, telur mata sapi dua butir, seperti yang aku suka, dan segelas jus jeruk.
"Kakak bangun dari jam 5," katanya sambil meletakkan nampan di atas kasur.
"Kak, repot amat. Aku bisa sarapan di luar."
"Tidak boleh. Sarapan di luar tidak sehat. Kamu harus makan buatan kakak."
Vira duduk di sampingku. Matanya sembab. Bekas air mata yang tidak sempat dikeringkan dengan sempurna.
"Kak, kamu menangis?"
"Tidak. Cuma alergi."
"Alergi apa?"
Dia menatapku. Matanya berkaca lagi.
"Alergi ditinggal adik."
Aku tidak bisa menahan diri. Aku memeluk Vira.
"Kak, aku cuma pindah ke kost Mona. Bukan ke luar negeri."
"Pindah tetap pindah." Suaranya teredam di pundakku. "Kamu tidak akan sarapan bareng kakak setiap pagi lagi."
"Kita bisa sarapan bareng pada akhir pekan."
"Tidak sama."
Vira melepaskan pelukan. Dia mengambil sendok dan menyuap nasi goreng ke mulutku, seperti saat aku masih kecil dan dia mengasuhku.
"Kak, aku bisa makan sendiri."
"Diam. Biar kakak lakukan ini. Untuk terakhir kalinya."
Aku diam. Membiarkan Vira menyuapiku. Satu suapan. Dua suapan. Aku tidak tahu kenapa, tapi setiap suapan terasa seperti perpisahan.
"Kay, kamu ingat tidak, dulu kita sering sarapan di kasur? Pas orang tua pergi ke luar kota?"
"Ingat, Kak. Kita makan nasi goreng buatan Mama yang gosong."
"Tapi tetap kita habiskan."
"Karena enak."
"Bohong." Vira tertawa kecil. "Karena kita tidak punya pilihan lain."
Kami tertawa. Tawa yang terasa hangat di pagi yang dingin. Tawa yang kamu tahu akan segera berakhir.
Pintu kamar terbuka. Rafa berdiri di ambang pintu. Kaus oblong longgar. Rambut acak-acakan. Matanya masih sayu, baru bangun.
"Sarapan di kasur? Aku ikut, dong."
"Tidak boleh," kata Vira cepat. Terlalu cepat. "Ini acara kakak beradik."
"Aku kan calon kakak ipar. Termasuk keluarga."
"Belum resmi."
Rafa mengangkat kedua tangan, tanda menyerah.
"Ya sudah. Aku tunggu di ruang tamu."
Dia pergi. Tapi sebelum pintu tertutup, dia menatapku sekilas. Bukan tatapan biasa. Tapi tatapan yang bertanya, "Kamu baik-baik saja?"
Aku membuang muka.
Jam menunjukkan pukul 8 pagi. Mona sudah datang dengan motornya.
"Kay, cepat! Aku parkir di depan!" teriak Mona dari luar.
Aku menarik napas. Ini dia.
Vira membantuku menurunkan koper. Rafa ikut membantu, mengambil koper dari tangan Vira tanpa diminta. Tangan mereka bersentuhan sekilas. Vira menarik tangannya.
Aku melihat itu. Vira masih marah. Mungkin bukan marah. Mungkin kecewa. Kepada Rafa. Kepada aku. Kepada dirinya sendiri.
"Kay, kamu bawa ini." Rafa memberikan sebuah kotak kecil.
Aku menatap kotak itu.
"Apa ini?"
"Nanti buka saja pas sampai di kost."
Vira menatap kotak itu, matanya tajam. Tapi dia tidak berkata apa-apa. Hanya menggenggam tanganku lebih erat.
Mona turun dari motor.
"Wah, ada kado perpisahan. Aku ikut, dong."
"Ini bukan kado perpisahan. Ini hanya sesuatu."
"Ya sudah. Buruan masuk, Kay. Kita mau berangkat."
Aku memeluk Vira.
"Kak, aku pergi dulu."
"Jaga diri, Kay." Suaranya bergetar.
"Kakak juga."
Aku memeluk Vira agak lama. Aku ingin menghapus ingatan tentang pelukan ini, untuk saat-saat ketika aku kesepian nanti. Tapi aku tahu, tidak akan pernah bisa.
Rafa berdiri di samping Vira. Dia tidak memelukku. Hanya tersenyum. Tapi senyumnya berbeda dari biasanya. Ada kerinduan di sana. Atau hanya khayalanku?
"Hati-hati di jalan, Kay."
"Makasih, Kak."
Aku naik ke belakang motor Mona. Mona menyalakan mesin.
"Kay," panggil Rafa.
Aku menoleh.
Dia ragu. Bibirnya bergerak, tapi tidak ada suara. Lalu dia menghela napas.
"Sampai jumpa."
"Sampai jumpa, Kak."
Mona melaju. Rumah itu semakin mengecil di spion. Vira masih berdiri di depan pintu, melambai. Rafa di sampingnya tidak melambai. Hanya berdiri. Membatu.
Aku menangis. Angin pagi menghapus air mataku.
"Kamu menangis, Kay?" teriak Mona dari depan.
"Tidak. Cuma kena debu."
"Bohong. Aku lihat dari spion."
"Ya sudah. Iya. Aku menangis."
"Wajar." Suara Mona melunak. "Kamu meninggalkan rumah kamu. Tapi ingat, ini sementara."
"Iya. Aku tahu."
Kost Mona adalah rumah petak yang diubah menjadi beberapa kamar. Mona menyewa kamar paling ujung. Ada satu kamar kosong di sebelahnya. Itu yang akan aku tempati.
"Rapikan dikit, sih," kata Mona sambil membuka pintu.
Kamarnya kecil. Hanya muat kasur single, lemari jati tua yang catnya mengelupas, dan meja belajar dari kayu murah. Tapi jendelanya besar, menghadap ke belakang rumah. Ada pohon mangga di halaman belakang. Daun-daunnya bergoyang ditiup angin.
"Aku suka," kataku.
"Serius? Tidak protes?"
"Protes apa? Ini jauh lebih baik daripada tidur di jalan."
"Kamu ini rendah sekali standarnya."
"Karena aku pernah tidur di lantai waktu kecil. Ini sudah istana."
Mona tertawa.
"Ya sudah. Cepat bereskan. Nanti kita berbelanja perlengkapan."
Aku membuka koper dan mulai mengeluarkan baju-baju. Satu per satu. Tanpa semangat.
Saat mengambil buku catatan, kotak pemberian Rafa jatuh ke lantai.
Suara kotak kecil itu terdengar keras di ruang sunyi.
"Oh, iya, kado dari cowok tampan itu," kata Mona.
Aku mengambil kotak itu. Tanganku gemetar. Bukan karena dingin. Tapi karena takut.
"Buka, Kay. Jangan lama-lama."
Aku membuka kotak itu.
Di dalamnya ada gelang perak tipis dengan liontin berbentuk hati kecil. Sederhana. Tidak mewah. Tapi indah. Sangat indah sampai menyakitkan.
Ada secarik kertas kecil di dalamnya. Tulisan tangan Rafa, rapi, terukur, seperti dirinya.
"Untuk Kayla. Semoga kamu selalu ingat bahwa ada orang yang peduli padamu, meskipun jarak memisahkan. Jangan pernah merasa sendiri. Kamu kuat. Kamu hebat. Kamu pantas bahagia. Dari Rafa."
Mona membaca dari sampingku.
"Wah. Cowok itu jago menulis kata-kata."
Aku tidak bisa berkata apa-apa. Hanya menatap gelang itu. Hati kecil di ujung jari.
"Kamu mau simpan atau buang?"
Aku menatap Mona.
"Simpan, tentu saja."
"Kamu tidak takut tambah sakit?"
Aku memakai gelang itu di pergelangan tangan kiriku. Pas. Seperti memang dibuat untukku.
"Jarak ini akan menyembuhkanku, Mon. Bukan gelang ini yang membuat sakit. Tapi perasaanku sendiri."
"Kamu yakin?"
Aku menatap gelang itu.
"Aku yakin."
Tiga hari setelah pindah, Vira menelepon setiap pagi dan malam.
"Kay, sudah makan?"
"Sudah, Kak."
"Kamu kurusan?"
"Tidak tahu. Aku tidak punya timbangan."
"Besok kakak kirim timbangan."
"Tidak usah, Kak. Nanti aku beli sendiri."
"Pokoknya kakak kirim."
"Baik, Kak."
Vira juga sering mengirim makanan. Kadang nasi bungkus. Kadang camilan. Kadang buah-buahan.
Mona iri.
"Aku tidak pernah dikirimi makanan sama kakakku. Padahal aku punya kakak."
"Kakakku memang super."
"Super repot."
"Super perhatian."
"Ya. Tapi tetap repot."
Aku tertawa. Mona memang selalu bisa membuatku tertawa.
Tapi di malam hari, ketika Mona sudah tidur dan kamar kost menjadi sunyi, aku duduk di dekat jendela. Memandang pohon mangga yang tidak terlihat karena gelap. Memegang gelang di pergelangan tanganku.
Jarak. Aku butuh jarak.
Tapi kenapa jarak tidak serta-merta menghilangkan rasa?
Suatu malam, Rafa meneleponku.
Aku sempat ragu mau mengangkat atau tidak. Ponsel bergetar di atas kasur. Nama "Rafa Wijaya" dengan hati pemberian Vira dulu masih terpampang. Aku belum menggantinya.
"Angkat saja, Kay," kata Mona dari kamar sebelah. Dinding kamar kami tipis. Dia bisa mendengar semuanya.
"Mona, kamu mendengarkan aku?"
"Ya, dong. Aku kan di sebelah."
"Kurang ajar."
"Angkat, aku juga mau mendengar."
Aku mengangkat telepon.
"Halo, Kak Rafa."
"Kay, apa kabar?" Suaranya berat. Lelah.
"Baik. Kakak?"
"Baik." Jeda. "Vira kangen kamu."
"Aku juga kangen Vira."
"Rumah terasa sepi tanpa kamu."
"Kakak bisa menemani Vira."
"Vira lebih butuh kamu daripada aku."
"Itu tidak benar."
"Benar. Dia memasak banyak, padahal cuma berdua. Katanya dulu kamu yang menghabiskan makanannya."
Aku tersenyum pahit.
"Kakak yang menghabiskan saja."
"Aku sudah coba. Perutku mau meledak."
"Ya sudah, simpan di kulkas."
"Tidak sama."
Aku terdiam. Rafa juga diam. Hanya suara napas yang terdengar.
"Kay, kamu baik-baik saja di sana?"
"Baik, Kak. Mona menjagaku."
"Jangan lupa makan. Jangan lupa istirahat. Jangan lupa minum vitamin."
"Kakak seperti Vira. Sama-sama cerewet."
"Kami calon suami istri. Wajar kalau sama."
Aku tersenyum pahit.
"Iya, Kak."
"Kay, aku..." Dia berhenti. "Aku... jaga diri."
"Kakak juga."
Rafa menutup telepon. Aku memandangi ponselku beberapa saat. Layar kembali ke menu awal. Foto profil Rafa masih sama, senyumnya di perpustakaan.
Mona masuk ke kamarku tanpa mengetuk.
"Aku dengar semuanya."
"Kamu kepo, Mon."
"Aku peduli. Bedanya."
"Ya sudah. Sekarang pergi. Aku mau tidur."
"Jam 8 malam?"
"Aku lelah."
"Kamu lelah karena menangis?"
"Aku tidak menangis."
"Mata kamu merah."
"Pengaruh debu."
"Di kamar berdebu? Aku baru membersihkan tadi."
Aku tidak menjawab. Mona duduk di sampingku.
"Kay, aku mau bertanya sesuatu serius."
"Apa?"
"Kamu yakin pindah ke sini adalah keputusan yang tepat?"
"Yakin."
"Kamu yakin tidak akan menyesal?"
"Aku lebih menyesal kalau tetap di sana, Mon. Setiap hari melihat mereka. Setiap hari pura-pura baik-baik saja."
Mona menggenggam tanganku.
"Kamu kuat, Kay."
"Aku tidak kuat. Tapi aku berusaha."
"Itu sudah lebih dari cukup."
Malam itu, setelah Mona kembali ke kamarnya, aku duduk di dekat jendela.
Pohon mangga di belakang tidak terlihat, hanya gelap. Tapi aku bisa mendengar daun-daunnya bergoyang. Suara yang menenangkan.
Aku memegang gelang di pergelangan tanganku.
Jarak. Aku butuh jarak. Bukan untuk melupakan Rafa. Tapi untuk belajar hidup tanpanya. Untuk menemukan siapa aku tanpa perasaan yang selama ini membelenggu.
Rumah itu sekarang berjarak 15 menit dari tempatku berdiri. Cukup dekat untuk dikunjungi. Cukup jauh untuk tidak terus-terusan mengingatkan.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa sedikit lega.
Mungkin jarak memang menyembuhkan. Perlahan. Tidak instan. Tapi pasti.
Dan aku akan membiarkannya bekerja.
Tapi kenapa gelang di pergelangan tanganku terasa hangat? Kenapa kata-kata Rafa di secarik kertas itu masih terngiang?
"Jangan pernah merasa sendiri."
Padahal, di kamar kost yang sempit ini, aku justru merasa lebih sendiri dari sebelumnya.
Aku memejamkan mata. Air mata menetes, lagi.
Sampai kapan aku harus begini, Rafa?
Tidak ada jawaban. Hanya angin malam yang berbisik pelan.
Tapi aku percaya. Suatu saat, jarak ini akan menyembuhkan.
Atau setidaknya, membuat luka ini tidak lagi terasa begitu perih.
BAB XVII
Rumah yang Sepi Tanpa Kamu
Rumah itu terasa berbeda sejak aku pergi. Vira cerita lewat telepon setiap malam. Bukan tentang hal-hal besar. Hanya tentang hal-hal kecil yang dulu biasa kami lakukan bersama.
"Kay, tadi pagi kakak memasak nasi goreng kebanyakan. Tanpa sadar kakak mengambil tiga piring. Padahal cuma kakak dan Rafa."
"Simpan saja di kulkas, Kak."
"Sudah. Tapi rasanya tidak enak. Nasi goreng hangat lebih enak."
"Kakak panaskan lagi."
"Tidak sama."
Aku tersenyum mendengar nada suara Vira yang cemberut. Tapi di balik senyum itu, ada rasa bersalah yang menggelitik. Akulah penyebab kebiasaan masak untuk tiga orang itu. Sekarang aku pergi, kebiasaan itu tertinggal seperti hantu yang tidak mau pergi.
"Kak, kamu pasti bisa memasak dengan porsi yang pas. Coba kurangi setengahnya."
"Kakak sudah mengurangi. Tapi tetap kebanyakan."
"Karena kebiasaan memasak untuk tiga orang."
"Iya. Kakak harus belajar memasak untuk dua orang."
"Atau nanti untuk empat orang."
"Lho, kok empat?"
"Kakak sama Rafa kan dua. Nanti punya anak dua. Jadi empat."
Vira tertawa. Tawanya terdengar sedikit pecah di sambungan telepon yang kadang putus nyambung.
"Kamu ini, belum menikah sudah mengatur-atur."
"Fakta, Kak."
"Ya sudah. Kakak akan belajar. Tapi untuk sekarang, kakak masih butuh waktu."
"Kakak punya waktu. Rafa masih di sana, kan?"
"Iya. Tapi dia juga akan pindah minggu depan. Rumahnya sudah selesai."
"Jadi kakak berdua lagi di rumah?"
"Iya. Sepi."
Vira mengucapkan kata "sepi" dengan nada yang berbeda dari biasanya. Bukan sekadar sunyi. Tapi kosong. Hampa. Seperti ada yang hilang dan tidak bisa digantikan.
"Kakak bisa membeli kucing."
"Kucing? Kamu tahu kakak alergi bulu."
"Ikan hias?"
"Ikan hias tidak bisa diajak mengobrol."
"Ya sudah. Kakak menelepon aku setiap hari."
"Itu sudah kakak lakukan. Tapi tidak sama."
Vira menghela napas. Aku bisa membayangkan wajahnya yang lesu. Mungkin dia sedang duduk di sofa favoritnya, yang biasa aku tempati setiap sore sambil makan camilan. Mungkin dia sedang menatap kursi kosong di sebelahnya.
"Kay, kapan kamu pulang?"
"Kak, aku baru pindah seminggu."
"Rasanya sudah sebulan."
"Kakak lebay."
"Kakak tidak lebay. Rumah ini sepi. Kulkas jadi jarang dibuka. Televisi jarang dinyalakan. Halaman depan tidak ada yang menyapu."
"Rafa bisa menyapu."
"Dia sibuk kerja. Lagian sapuannya belepotan. Tidak rapi seperti kamu."
"Kakak bisa menyapu sendiri."
"Kakak malas."
"Masa iya kakak yang dulu rajin sekarang menjadi malas?"
"Karena kakak kehilangan motivasi."
Vira berhenti sejenak. Lalu dia berkata pelan, hampir berbisik.
"Motivasi itu kamu, Kay. Kamu itu adik yang bawel. Tanpa kamu, kakak jadi kurang bawel."
Aku tidak tahu harus menjawab apa. Vira tidak pernah sejujur ini. Biasanya dia menutupi kesedihan dengan tawa atau kesibukan. Tapi malam ini, melalui sambungan telepon yang tidak sempurna, dia membiarkan aku mendengar betapa rapuhnya dia.
"Kak, kamu tahu, kan, aku sayang kamu?"
"Kakak tahu."
"Jadi jangan sedih. Aku cuma di kost Mona. Dekat, kok."
"Dekat tapi tidak serumah."
"Kak, kamu harus mulai belajar mandiri. Nanti setelah menikah, kamu tinggal sama Rafa. Rumahnya berbeda kota."
"Tapi aku masih bisa pulang ke rumah ini kapan saja."
"Rumah ini kan rumah kita berdua, Kak. Aku juga akan pulang."
"Janji?"
"Janji."
Vira terdiam sebentar. Lalu dia berkata dengan suara yang lebih berat dari sebelumnya.
"Kay, kakak minta tolong."
"Tolong apa, Kak?"
"Tolong jaga kamar kamu. Kakak tidak akan mengubah apa pun di sana. Biar tetap seperti kamu masih tinggal."
"Kak, itu tidak sehat. Kamu harus move on."
"Kakak bisa Melangkah Maju nanti. Setelah menikah."
Vira mengucapkannya seperti janji, tapi aku bisa mendengar keraguannya. Dia tidak sedang meyakinkan aku. Dia sedang meyakinkan dirinya sendiri.
"Baik, Kak. Terserah kakak."
"Makasih, Kay. Kakak sayang kamu."
"Aku juga sayang kakak."
Kami menutup telepon. Aku berbaring di kasur kost yang sempit. Dinding kamar tipis. Dari sebelah, terdengar suara Mona yang sedang menonton drama Korea dengan volume keras.
"Mon! Kecilkan volumenya!" teriakku.
"Ya ampun, ganggu sekali, sih!" teriak Mona balik.
Tapi volume tetap keras. Aku menghela napas. Mungkin inilah hidup di kost. Berisik. Tapi tidak sepi.
Berbeda dengan rumah itu. Yang kini sepi tanpa aku.
Dua hari kemudian, Rafa meneleponku.
Aku sedang membaca buku di kamar. Mona sedang pergi entah ke mana. Ponselku bergetar di atas meja. Nama Rafa muncul di layar. Aku menatapnya beberapa saat sebelum mengangkat.
"Halo, Kak Rafa."
"Kay, ada waktu? Aku mau bicara."
"Ada, Kak. Ada apa?"
"Rumah ini sepi."
Aku tersenyum pahit. Dua kata yang sama. Dari dua orang yang berbeda. Tapi rasanya sama.
"Kakak juga bilang begitu?"
"Vira sudah bilang?"
"Setiap malam."
"Jadi kamu tahu."
"Aku tahu. Tapi tidak bisa berbuat apa-apa."
"Kamu bisa pulang."
"Kak, kita sudah sepakat."
"Aku tahu. Tapi tidak ada yang melarang kamu pulang untuk sekadar mampir."
"Pulang mampir berbeda dengan pulang tinggal."
"Sama-sama pulang."
"Kak, jangan buat aku bingung."
Rafa terdiam. Lalu dia berkata dengan suara yang tidak biasa. Lembut. Hampir seperti bisikan.
"Maaf. Aku tidak bermaksud."
"Kakak hanya kesepian."
"Mungkin. Vira sibuk dengan persiapan pernikahan. Aku sibuk dengan pekerjaan. Kami tidak punya banyak waktu untuk sekadar duduk dan mengobrol."
"Dulu kalau aku di sana, kalian punya waktu?"
"Dulu, kamu yang menjadi penghubung. Kamu yang membuat kami duduk bersama di meja makan. Kamu yang membuat kami tertawa dengan cerita-cerita konyolmu."
Suara Rafa terdengar sayu. Seperti orang yang sedang mengenang sesuatu yang indah dan menyakitkan sekaligus.
"Sekarang tidak ada yang membuat kalian tertawa?"
"Vira masih bisa tertawa. Tapi tidak selepas dulu."
"Kakak bisa membuat Vira tertawa."
"Caraku berbeda. Aku tidak selucu kamu."
"Kakak jangan merendah diri."
"Ini fakta, bukan merendah diri."
Aku tidak tahu harus menjawab apa. Rafa terdengar lelah. Bukan lelah fisik. Tapi lelah hati. Lelah mencoba menjadi sempurna untuk seseorang, tapi merasa selalu ada yang kurang.
"Kak, apakah kakak menyesal?"
"Menyesal apa?"
"Menyesal karena dulu aku pernah bilang kalau aku suka kakak? Mungkin kalau aku diam saja, semuanya tidak serumit ini."
"Kay, aku tidak menyesal. Aku justru bersyukur."
"Bersyukur kenapa?"
"Karena dengan kamu jujur, aku jadi tahu. Aku jadi bisa menjaga jarak. Aku jadi tidak terus-menerus bertanya-tanya apakah perasaanku padamu hanya perasaan saudara atau lebih."
"Lalu sekarang kakak tahu jawabannya?"
Rafa terdiam lama. Sangat lama. Aku hampir mengira telepon terputus. Aku bisa mendengar napasnya di ujung sana. Tidak teratur. Seperti orang yang sedang berperang dengan dirinya sendiri.
"Kak?"
"Kay, aku tidak bisa menjawab itu."
"Kenapa?"
"Karena jawabannya tidak akan mengubah apa pun. Aku tetap akan menikah dengan Vira. Kamu tetap akan menjadi adik iparku. Dan kita harus hidup dengan itu."
"Jadi lebih baik tidak tahu?"
"Lebih baik tidak diucapkan."
Aku menggigit bibir. Menahan sesuatu yang tidak bisa aku jelaskan.
"Baik, Kak. Aku tidak akan bertanya lagi."
"Makasih."
"Kakak, jaga Vira, ya. Dia mungkin kelihatan kuat. Tapi sebenarnya dia rapuh."
"Aku tahu."
"Jangan sakiti dia."
"Aku tidak akan pernah."
"Janji?"
"Janji."
Kami menutup telepon. Aku memandangi ponselku lama. Layar kembali ke menu awal. Foto profil Rafa masih sama. Senyum di perpustakaan. Senyum yang dulu membuatku jatuh cinta.
Mona masuk dengan bungkusan makanan.
"Kay, aku membeli bakso. Kamu mau?"
"Mau."
Mona duduk di lantai kamarku. Kami makan bakso berdua. Kuahnya panas. Cabainya pedas. Tapi rasanya hambar.
"Kamu telepon sama Rafa tadi?" tanya Mona sambil menyedot mi.
"Kamu dengar?"
"Ya. Dinding tipis. Kamu lupa?"
"Mona, kamu ini tidak punya privasi."
"Kamu juga. Kita sama-sama tidak punya privasi."
Aku menghela napas.
"Ya sudah. Aku cerita saja."
"Cerita apa?"
"Dia bilang rumahnya sepi tanpa aku."
"Wajar. Kamu kan adiknya Vira. Dan kamu mantan gebetannya dia."
"Dia bukan mantan. Dia tidak pernah menjadi."
"Tapi perasaan itu pernah ada. Di dua sisi."
"Kamu yakin dia punya perasaan?"
"Kamu tanya langsung saja."
"Dia tidak mau menjawab."
"Itu artinya iya."
"Atau artinya dia tidak enak."
"Mona, kamu ini sok tahu."
"Aku memang tahu. Kamu yang tidak mau tahu."
Aku mendengus. Mona tertawa.
"Kay, kamu harus siap."
"Siap apa?"
"Siap kalau suatu saat Rafa jujur. Dan kalau kejujuran itu menyakitkan."
"Aku sudah terbiasa sakit."
"Sakit yang dulu berbeda dengan sakit nanti."
"Kenapa berbeda?"
"Dulu kamu sakit karena cinta tak berbalas. Nanti kamu bisa sakit karena cinta berbalas tapi tidak bisa diambil."
Aku menatap Mona. Sahabatku ini kadang bicara seperti filsuf.
"Kamu belajar dari mana, Mon?"
"Dari drama Korea. Mereka selalu punya dialog bagus."
Aku tertawa. Mona ikut tertawa.
"Kamu ini gila, Mon."
"Aku tahu. Tapi kamu tetap sayang aku."
"Iya. Aku sayang kamu."
Kami menghabiskan bakso berdua. Di kamar kost yang sempit. Dengan dinding tipis dan privasi yang hampir tidak ada.
Tapi hangat. Setidaknya aku tidak sendirian.
Vira datang ke kostku pada akhir pekan itu.
Dia membawa tiga kantong besar berisi makanan. Wajahnya sedikit lebih segar dari terakhir kali aku lihat. Mungkin karena akhirnya dia keluar rumah. Atau mungkin karena dia sudah mulai terbiasa dengan sepinya.
"Kay, ini untuk seminggu. Jangan lupa makan," katanya sambil meletakkan kantong-kantong itu di atas meja.
"Kak, ini kebanyakan. Aku tidak bisa menghabiskannya."
"Simpan di kulkas. Mona punya kulkas, kan?"
"Iya, punya. Tapi kecil."
"Ya sudah, simpan saja yang bisa. Sisanya makan sekarang."
Vira duduk di kasurku. Matanya menyapu seluruh kamar. Perlahan. Seperti sedang menghafal.
"Kamarnya kecil," katanya akhirnya.
"Iya. Tapi cukup."
"Kakak tidak suka. Kamu tidak pantas di sini."
"Kak, aku tidak punya uang untuk kost yang lebih besar."
"Kakak bisa membayarkan."
"Tidak usah, Kak. Aku tidak mau merepotkan."
"Kamu tidak pernah merepotkan."
Vira menggenggam tanganku. Tangannya hangat. Sama seperti dulu saat dia membangunkanku setiap pagi untuk pergi ke sekolah.
"Kak, tolong. Biarkan aku mandiri. Aku sudah besar."
Vira menghela napas. Matanya berkaca-kaca, tapi dia menahan.
"Kamu keras kepala."
"Kakak juga."
"Ya sudah. Terserah kamu. Tapi kalau kamu sakit atau kelaparan, jangan minta tolong kakak."
"Kak, ancamannya tidak masuk akal."
"Biarkan. Yang penting kakak sudah bilang."
Vira berdiri. Matanya tertuju pada pergelangan tanganku.
"Itu dari Rafa?"
Aku mengangguk.
"Kamu masih memakainya?"
"Iya. Sayang kalau tidak dipakai."
Vira menatap gelang itu lama. Tangannya terangkat, hampir menyentuh, tapi dia menahannya.
"Bagus," katanya akhirnya.
"Kakak tidak marah?"
"Marah kenapa? Itu hadiah. Kamu boleh memakainya."
"Tapi Rafa calon suami kakak."
"Iya. Dan dia memberimu hadiah sebagai calon kakak ipar. Tidak salah, kan?"
Vira tersenyum. Tapi senyumnya tidak sampai ke mata. Ada luka di sana yang tidak dia tunjukkan.
"Kak, kamu baik sekali."
"Kakak hanya berusaha dewasa."
Vira memelukku. Pelukan yang kuat. Seperti dia tidak ingin melepaskan.
"Kakak pulang dulu. Rafa menunggu."
"Iya, Kak. Hati-hati di jalan."
"Kamu jaga diri."
Vira pergi. Aku berdiri di depan jendela kost, melihat dia naik ke mobil Rafa yang terparkir di pinggir jalan. Rafa melambai dari balik kaca. Aku melambai balik.
Mobil itu melaju perlahan. Menghilang di tikungan.
Aku memegang gelang di pergelangan tangan kiriku. Masih hangat. Mungkin karena baru saja Vira menatapnya.
Rumah itu sepi tanpa aku. Tapi aku juga sepi tanpa rumah itu.
Mungkin kita semua sedang belajar. Belajar hidup dengan kekosongan. Belajar menerima bahwa tidak semua orang bisa bersama selamanya.
Mungkin perpisahan adalah bagian dari cinta. Bukan cinta yang gagal. Tapi cinta yang dewasa. Yang rela melepaskan demi kebahagiaan orang lain.
Dan aku? Aku masih dalam proses. Proses menjadi dewasa. Proses melepaskan. Proses percaya bahwa di balik semua ini, ada rencana yang lebih indah.
Entah untukku. Entah untuk Vira dan Rafa.
Yang jelas, rumah itu tidak akan pernah sama tanpaku.
Dan aku? Aku juga tidak akan pernah sama tanpanya.
Tapi tidak apa-apa.
Kita semua akan baik-baik saja.
Pasti.
BAB XVIII
Hari yang Mendebarkan
Hari pernikahan Vira dan Rafa akhirnya tiba.
Tiga minggu sejak aku pindah ke kost Mona. Hari di mana aku harus tersenyum di saat hatiku ingin menangis. Hari di mana aku harus berdiri di samping Vira sebagai pendamping, sementara di seberang sana Rafa berdiri dengan senyum bahagianya.
Pagi itu aku bangun jam 4 subuh. Bukan karena alarm. Tapi karena tidak bisa tidur. Sepanjang malam aku berguling di kasur kost yang sempit, memandangi gelapnya langit-langit, mendengarkan suara jangkrik dari luar jendela yang terdengar seperti menghitung mundur waktu.
Vira meneleponku sebelum matahari terbit. Suaranya serak, seperti orang yang habis menangis.
"Kay, kakak tidak bisa tidur semalaman. Gugup. Takut ada yang salah."
"Kak, semuanya sudah siap. Tenang saja."
"Kakak ingin kamu di sini."
"Aku akan ke sana jam 6. Janji."
Mona masuk ke kamarku tanpa mengetuk. Rambutnya masih acak-acakan, matanya masih sayu. Dia mengucek mata sambil menguap.
"Kamu siap?"
Aku menatap Mona. Sahabatku yang satu ini tahu segalanya. Dia tahu isi kepalaku yang kacau. Dia tahu hatiku yang hancur.
"Tidak siap," jawabku jujur.
"Tapi kamu harus siap."
Mona duduk di sampingku. Kasur kost itu berdecit pelan. "Aku akan ada di belakangmu sepanjang acara. Kalau kamu mau menangis, pegang tanganku."
"Makasih, Mon."
"Jangan menangis sebelum akad. Nanti make upmu rusak."
Aku tersenyum kecil. Mona membantuku berdandan. Memilihkan baju. Merapikan rambut. Mengoleskan lipstik dengan hati-hati.
"Kay, kamu cantik," katanya selesai.
Aku melihat ke cermin kecil di dinding kost. Wajahku terlihat dewasa, tidak lagi polos seperti dulu. Mataku sedikit sayu, tapi lumayan tertutup oleh make up.
"Makasih, Mon."
Jam 6 pagi, aku tiba di rumah.
Rumah yang dulu hangat, kini terasa berbeda. Penuh hiasan dan kursi-kursi untuk tamu. Ada pelaminan di ruang tamu. Bunga-bunga di setiap sudut. Wangi melati dan mawar menyatu di udara pagi.
Vira masih di kamar, didandani oleh tim make up artist. Aku masuk dan melihat kakakku itu duduk di depan cermin besar. Wajahnya cantik, anggun. Seperti putri raja. Tapi matanya sembab.
"Kay, kamu datang!" Vira tersenyum lebar.
"Cantik sekali, Kak."
"Kakak takut ada yang salah."
"Tidak ada yang salah, Kak. Semua sudah sempurna."
Vira meraih tanganku. Tangannya dingin. "Kamu duduk di sini. Temani kakak."
Aku duduk di samping Vira. Make up artist itu melanjutkan pekerjaannya, menyentuh wajah Vira dengan lembut.
"Kay, semalam kakak berdoa," Vira menatapku melalui cermin. "Kakak berdoa semoga kamu cepat menemukan kebahagiaan. Semoga ada cowok baik yang datang ke hidupmu."
"Kak, aku tidak sendiri. Aku punya kakak. Punya Mona."
"Tapi kakak ingin kamu punya pasangan. Seseorang yang bisa menemani hari-harimu."
"Suatu saat, Kak. Tidak harus sekarang."
Vira berhenti sejenak. Matanya berkaca-kaca. "Kakak tidak bisa berhenti memikirkan kamu. Kamu adikku."
Dia menangis. Make up artist-nya panik.
"Mbak, jangan menangis. Riasannya bisa rusak."
Aku memegang tangannya. "Kak, kuat. Hari ini kakak harus bahagia. Untuk aku. Untuk Rafa. Untuk kita semua."
Vira mengangguk. Menarik napas dalam-dalam. Dadanya naik turun. "Kakak bahagia, kok."
Akad nikah dilaksanakan pukul 10 pagi di sebuah gedung yang tidak terlalu besar tapi elegan. Aku berdiri di samping Vira sebagai pendamping. Gaunku berwarna krem, sederhana, tidak mencolok. Vira memilihkannya sendiri. Mungkin dia tidak ingin aku terlalu mencolok.
Rafa berdiri di seberang, ditemani oleh Sakti, kakak laki-lakinya. Jasnya hitam. Dasinya silver. Wajahnya berseri. Dia tampan. Sangat tampan. Matanya hanya tertuju pada Vira. Tidak sekalipun dia menoleh ke arahku.
Penghulu membacakan doa. Suaranya menggema di ruangan yang hening. Beberapa tamu terlihat menyeka air mata.
"Apakah saudara Rafa Wijaya bersedia menikahi saudari Vira Maharani dengan mas kawin seperangkat alat salat dan uang tunai sebesar sepuluh juta rupiah?" tanya penghulu.
“Bersidia,”
“Rafa Wijaya saya nikahkan dengan saudari Vira Maharani binti Mahfudz dengan mas kawin seperangkat alat salat dan uang tunai sebesar sepuluh juta rupiah tunai”
"Saya terima nikahnya Vira Maharani binti Mahfudz dengan mas kawin tersebut, tunai."
Suara Rafa tegas. Tanpa jeda. Tanpa keraguan. Kemudian para saksi menyatakan Sah.
Aku menggenggam tangan Mona yang berdiri di belakangku. Aku bisa merasakan jemarinya menjabat erat.
"Kamu kuat?" bisik Mona.
"Kuat," jawabku pelan.
Tapi sebenarnya tidak.
Setelah akad, acara dilanjutkan dengan resepsi. Aku membantu Vira berganti baju dari kebaya putih ke gaun merah marun yang mewah. Gaun itu membuatnya terlihat seperti bidadari.
"Kay, kamu hebat," kata Vira sambil melihat ke cermin. "Kakak melihat tadi. Kamu tidak menangis."
"Aku ikut bahagia, Kak."
"Bohong."
"Setengah bohong," aku aku.
Vira memelukku dari samping. "Kakak tahu ini berat buat kamu. Tapi kakak bangga."
"Kay, kakak titip rumah, ya. Selama kakak berbulan madu, kamu boleh tinggal di rumah. Jangan di kost Mona."
"Tapi Mona sendiri di kost."
"Ya sudah, ajak Mona. Rumah kita cukup besar untuk kalian berdua."
"Makasih, Kak."
"Jangan matikan lampu taman. Jangan lupa menyiram tanaman."
"Iya, Kak. Kakak ini seperti menitipkan rumah sama anak kecil."
"Ya iyalah. Kamu kan adik kakak."
Vira mencium keningku. Bibirnya hangat.
Di meja pengantin, Rafa dan Vira duduk berdampingan. Tangan mereka bertautan. Aku berdiri di belakang, membantu mengatur gaun Vira, merapikan lipatan kain, menyisir rambutnya yang sedikit berantakan.
Seseorang menyentuh bahuku. Mona.
"Kay, kamu pucat. Ayo ke toilet."
Di toilet, aku menatap cermin. Lampu toilet terang. Terlalu terang. Wajahku memang pucat. Mataku sedikit sembab meskipun tidak menangis. Rahangku terasa kaku karena menahan sesuatu.
"Kamu menahan tangis," kata Mona.
"Iya."
"Jangan ditahan. Nanti kamu sakit."
"Tidak bisa. Make up aku bagus. Aku tidak mau rusak."
Mona menghela napas. Aku membuka keran air, menepuk-nepuk pipi dengan air dingin. Perlahan. Berulang kali.
"Mona, kamu akan tetap menjadi sahabat aku, kan?"
"Ya. Sampai kiamat."
Aku tersenyum. Mona memelukku.
"Kay, kamu hebat. Kamu hebat karena kamu memilih untuk tersenyum di hari ini. Tidak semua orang bisa melakukannya."
"Aku tersenyum karena aku sayang Vira."
Acara selesai. Tamu pulang satu per satu. Lampu-lampu gedung mulai dimatikan. Vira dan Rafa berganti baju dan bersiap ke bandara.
Aku berdiri di depan rumah yang kini sepi. Mona di sampingku. Koper Vira dan Rafa sudah masuk ke bagasi mobil.
"Mereka pergi, Kay."
"Iya."
Vira membuka jendela mobil dan melambai. "Kay, jaga rumah!"
"Iya, Kak! Kakak sayang kamu!"
"Aku juga sayang kakak!"
Mobil itu melaju perlahan. Menghilang di ujung jalan. Aku masih berdiri, melambai ke arah yang kosong, sampai Mona menarik tanganku.
"Kay, ayo masuk. Sudah dingin."
Di dalam rumah, sunyi. Meja makan masih berisi piring-piring kotor. Ada sisa kue pengantin di atas meja. Kursi-kursi masih berserakan.
Mona menarikku ke sofa. Kami duduk bersandar. Sofa itu masih hangat. Mungkin baru saja ditinggali Vira.
"Kay, aku mau cerita sesuatu."
"Apa?"
"Aku juga pernah patah hati. Waktu SMA. Aku suka sama senior basket. Tampan, populer, jago main bola. Aku diam-diam suka dia selama dua tahun."
Aku menoleh. Mona tidak pernah cerita ini.
"Dia nikah dengan cewek lain tahun lalu. Aku diundang. Aku datang. Aku tersenyum. Tapi dalam hati hancur."
"Kamu tidak pernah cerita."
"Karena aku malu. Karena aku pikir aku seharusnya sudah melangkah maju."
"Lalu sekarang?"
Mona menatapku. "Sekarang aku bisa tertawa kalau ingat dia. Bukan karena aku masih cinta. Tapi karena aku ingat betapa konyolnya aku dulu. Dan aku jadi paham, perasaanmu sama Rafa."
"Kamu tidak pernah bilang."
"Aku tidak ingin membebanimu dengan ceritaku. Tapi hari ini, saat aku melihatmu bertahan di pernikahan Vira, aku ingat diriku sendiri di pernikahan dia. Dan aku ingin kamu tahu, kamu tidak sendirian, Kay."
Aku menggenggam tangan Mona. "Makasih sudah cerita, Mon."
"Ya. Aku butuh waktu dua tahun untuk benar-benar lega. Kamu? Mungkin lebih cepat."
"Aku harap begitu."
Mona mematikan lampu. Kamar menjadi gelap. Hanya suara jangkrik dari luar yang terdengar.
"Selamat malam, Kay."
"Selamat malam, Mon."
Aku memejamkan mata. Air mataku menetes pelan. Aku biarkan mengalir diam-diam. Untuk Rafa. Untuk perasaan yang tidak pernah sampai. Untuk hati yang hancur di hari bahagia kakakku.
Tapi di tengah tangis itu, ada kelegaan. Bahwa hari ini sudah lewat. Bahwa aku berhasil melewatinya. Bahwa aku tidak pingsan. Bahwa aku tidak lari. Bahwa aku tetap berdiri di samping Vira sampai akhir.
Dan ada Mona. Yang ternyata juga pernah mengalami hal yang sama. Yang selama ini diam-diam menyimpan luka, tapi tetap tersenyum untukku.
Besok, aku akan bangun dan tersenyum lagi.
Tapi untuk malam ini, biarkan aku menangis.
Untuk terakhir kalinya.
BAB XIX
Bulan Madu Mereka, Bulan Maduku Sendiri
Vira dan Rafa terbang ke Bali untuk bulan madu. Sepuluh hari. Sepuluh hari aku punya rumah sendiri. Sepuluh hari tanpa harus melihat mereka berdua. Sepuluh hari untuk menyendiri dan merenung.
Atau, setidaknya, itulah yang aku pikirkan.
Tapi ternyata, sepuluh hari terasa seperti sepuluh tahun ketika yang kau lakukan hanyalah duduk diam di rumah yang sunyi.
Hari pertama setelah mereka pergi, Mona pulang ke rumah orang tuanya. Aku sendirian di rumah besar itu. Aku membuka kulkas, mengambil sisa makanan dari pesta kemarin, lalu memanaskannya. Makan sendirian di meja makan yang biasanya ramai. Sendok terasa berat. Nasi terasa seperti karet. Tidak ada Vira yang bercerita. Tidak ada Rafa yang sesekali menyahut.
Ponselku bergetar. Vira mengirim foto. Dia dan Rafa di bandara. Wajah mereka cerah. Bahagia. Rafa memegang dua tiket. Vira memegang paspor. Senyum mereka lebar. Senyum yang tidak pernah aku lihat dari dekat.
Vira: "Kay, kami sudah mau boarding. Kamu jaga rumah, ya."
Kayla: "Iya, Kak. Hati-hati."
Vira: "Jangan lupa menyiram tanaman."
Kayla: "Iya, Kak."
Vira: "Jangan lupa mematikan lampu taman kalau malam."
Kayla: "Iya, Kak."
Vira: "Jangan lupa makan."
Kayla: "Kak, ini pesan terakhir sebelum boarding. Harusnya romantis. Ini malah seperti pesan untuk baby sitter."
Vira: "Ya iyalah. Kamu kan baby sitter rumah."
Kayla: "Baik, Kak. Selamat terbang."
Vira: "Makasih, Kay. Kakak sayang kamu."
Kayla: "Aku juga sayang kakak."
Aku meletakkan ponsel. Makananku sudah dingin. Tidak apa-apa. Dingin atau panas, rasanya sama hambar. Mungkin karena yang hilang bukan rasa makanan, melainkan suasana.
Mona menelepon.
"Kay, kamu tidak jadi ikut aku ke rumah orang tua?"
"Tidak, Mon. Aku mau di rumah saja."
"Tidak takut sendirian?"
Aku menatap sekeliling ruang tamu yang luas. Sofa yang dulu bertiga, sekarang hanya aku. Televisi yang dulu ramai, sekarang mati. Rumah ini rumahku. Tidak ada yang perlu ditakutkan.
"Ya sudah. Tapi kalau kamu butuh sesuatu, telepon aku."
"Iya, Mon."
Mona menutup telepon. Aku berjalan ke teras, duduk di ayunan bambu yang biasa Vira pakai untuk minum teh sore. Ayunan itu bergerak pelan. Angin sore bertiup. Halaman depan bersih. Tanaman hijau. Langit biru. Pemandangan yang indah.
Tapi rasanya kosong. Sepi. Hampa.
Aku membuka ponsel lagi. Membuka Instagram Vira. Dia sudah mengunggah story. Video pendek Rafa yang menarik koper di bandara. Keterangannya: "Berangkat bulan madu sama suami tersayang."
Suami.
Vira sekarang memiliki suami. Dan suami itu adalah Rafa.
Aku menutup ponsel. Memejamkan mata.
"Selamat, Kak. Semoga bahagia selamanya," bisikku.
Hari ketiga. Aku mulai terbiasa dengan kesunyian. Aku bangun jam delapan, memasak sarapan sendiri, mencuci piring sendiri, menyiram tanaman sendiri, menonton televisi sendiri. Kadang aku bicara pada diri sendiri. Kadang aku tertawa melihat acara komedi yang sebenarnya tidak lucu. Kadang aku duduk diam di teras berjam-jam, hanya mendengarkan suara burung.
Mona datang sore harinya.
"Kay, kamu kelihatan kurus."
"Baru tiga hari, Mon."
"Tiga hari cukup untuk membuatmu kurus kalau kamu tidak makan."
"Aku makan, kok."
"Bukti?"
Aku menunjukkan piring kotor di dapur. Mona mengangguk.
"Bagus. Sekarang, kamu mau aku ajak keluar? Makan? Jalan-jalan? Menonton film?"
"Aku mau di rumah saja."
"Kamu jadi pertapa, Kay."
"Pertapa yang baik."
Mona menghela napas.
"Ya sudah. Aku temani kamu di sini."
Mona masuk ke dapur dan membuatkan teh. Kami duduk di teras, menyesap teh hangat. Teh buatan Mona tidak seenak buatan Vira. Tapi tidak apa-apa.
"Kay, kamu tidak kepo sama bulan madu mereka?"
"Kepo. Tapi tidak mau terlalu banyak melihat. Sakit."
"Mereka pasti mengunggah banyak foto."
"Iya. Aku sudah mute story Vira sementara."
Mona menatapku. Matanya lembut.
"Pintar."
Aku tersenyum kecil.
"Aku belajar untuk diriku sendiri."
"Bagus. Itu namanya self love."
"Self love atau self defense?"
"Keduanya."
Mona menyesap tehnya.
"Kay, aku bangga sama kamu."
"Bangga kenapa?"
"Kamu tidak menjadi pahit. Kamu tidak menjadi pendendam. Kamu tetap baik meskipun hatimu hancur."
"Aku bukan baik. Aku hanya lelah membenci."
Mona menatapku lama.
"Lelah membenci itu awal dari kebijaksanaan."
"Kamu membaca quote dari mana, Mon?"
"Dari internet. Lupa."
Aku tertawa. Mona ikut tertawa.
"Kay, suatu saat kamu akan tertawa melihat masa lalu ini. Mungkin tidak sekarang. Tapi suatu saat."
"Aku berharap begitu."
Hari kelima. Vira meneleponku dengan wajah cerah. Kami video call. Koneksi internet di Bali ternyata baik. Wajah Vira terlihat jelas. Sedikit kecokelatan karena terkena sinar matahari.
"Kay, lihat! Pantainya indah sekali!" Vira memutar kamera ke arah laut.
"Cantik, Kak."
"Kakak bermain snorkeling tadi. Melihat ikan-ikan warna-warni. Rafa sampai ketakutan karena ada ikan besar."
Rafa dari samping menyahut. Wajahnya muncul sebentar di pojok layar.
"Itu bukan ikan besar. Itu hiu kecil!"
"Hiunya kecil, Ra. Tidak memakan kamu."
"Tapi tetap hiu!"
Aku tersenyum melihat mereka bertengkar kecil. Pertengkaran yang lucu. Pertengkaran yang hanya dimiliki oleh pasangan yang nyaman satu sama lain.
"Kay, kamu mau oleh-oleh apa?" tanya Vira.
"Bebas, Kak. Yang penting dari kakak."
"Nanti kakak belikan baju."
"Tidak usah, Kak. Aku punya banyak baju."
"Celana?"
"Juga punya."
"Topi?"
"Kak, aku tidak butuh apa pun."
"Ya sudah. Kakak belikan apa yang kakak suka."
"Itu namanya kakak belikan untuk kakak, bukan untuk aku."
"Sama saja."
Kami tertawa. Rafa masuk ke dalam frame. Wajahnya sedikit kecokelatan. Matanya sayu. Tapi senyumnya tetap hangat.
"Kay, kamu jaga diri, ya."
"Iya, Kak."
"Rumahnya aman?"
"Aman."
"Jangan lupa mematikan kompor."
"Iya, Kak."
"Jangan lupa mengunci pintu kalau malam."
"Iya, Kak."
Vira menarik Rafa.
"Ra, jangan bawel. Aku yang mau mengobrol sama adikku."
"Ya sudah. Aku ke tepi pantai dulu."
Rafa pergi. Layar hanya menampilkan Vira. Wajahnya berubah, menjadi lebih serius.
"Kay, kamu baik-baik saja, kan?"
"Baik, Kak. Kenapa?"
"Kamu kelihatan pucat."
"Pengaruh lampu."
Vira menatapku. Matanya tajam. Tidak percaya.
"Kamu selalu bilang pengaruh lampu."
"Karena memang pengaruh lampu."
Vira tidak percaya. Tapi dia tidak memaksa. Mungkin dia terlalu lelah. Mungkin dia tidak ingin merusak suasana bulan madunya dengan kekhawatiran.
"Kay, kakak sayang kamu. Jangan lupa itu."
"Aku juga sayang kakak."
"Ya sudah. Kakak tutup dulu. Mau berganti baju."
"Iya, Kak. Hati-hati."
Kami menutup telepon. Aku memandangi layar ponsel yang kembali ke menu awal. Di sudut mata, aku melihat foto Vira dan Rafa di meja tamu. Vira memeluk Rafa dari samping. Rafa tersenyum ke arah kamera. Foto itu diambil saat lamaran. Wajah mereka masih polos. Belum banyak drama. Belum ada luka.
Aku memeluk bantal. Menangis pelan.
Kenapa rasanya masih sakit, Ya Allah?
Tidak ada jawaban. Hanya suara angin yang bertiup.
Hari ketujuh. Aku terbangun dari mimpi buruk.
Aku bermimpi melihat Rafa dan Vira berjalan di tepi pantai. Aku berdiri di kejauhan, tidak bisa bergerak. Kakiku seperti terpaku di pasir. Aku berteriak, memanggil nama Rafa, tapi tidak ada suara yang keluar. Rafa berbalik. Dia menatapku. Tapi matanya kosong. Seperti tidak mengenalku.
Aku duduk di kasur, menggenggam gelang perak di pergelangan tangan. Napas masih tersengal. Keringat dingin membasahi punggung.
Maafkan aku, Rafa. Maafkan aku karena masih memikirkanmu.
Aku pergi ke dapur, membuat kopi. Pahit. Aku butuh pahit untuk mengusir mimpi itu. Aku duduk di meja dapur, sendirian. Lampu dapur masih menyala. Hanya itu satu-satunya cahaya di rumah yang gelap.
Ponsel bergetar. Bukan Vira. Bukan Mona.
Rafa.
Aku menatap nama itu di layar. Jariku menggantung di atas tombol hijau. Aku tidak tahu harus mengangkat atau tidak. Tapi tanganku bergerak sendiri.
"Halo, Kak Rafa."
"Kay, kamu bangun?"
"Bangun. Kakak kenapa belum tidur? Di Bali sudah jam satu malam."
"Tidak bisa tidur. Vira sudah pulas."
Aku bisa mendengar suara ombak di latar belakang. Samar. Jauh.
"Kakak kenapa?"
"Aku memikirkan kamu."
Jantungku berdebar kencang. Aku menekan tangan ke dadaku, mencoba menenangkannya.
"Kakak tidak boleh memikirkan aku. Kakak sedang berbulan madu. Pikirkan Vira."
"Aku mencoba. Tapi tidak bisa."
Suara Rafa terdengar berat. Lelah. Seperti orang yang berjalan jauh tanpa tujuan.
"Kakak, tolong. Jangan buat ini lebih sulit."
"Maaf. Aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja."
"Aku baik-baik saja."
"Kamu berbohong."
Aku terdiam. Rafa tahu. Dia selalu tahu.
"Kak, ini tidak sehat. Kakak sudah menikah dengan Vira. Kakak harus fokus pada istri kakak."
"Aku tahu. Tapi aku juga tidak bisa berpura-pura bahwa perasaan ini tidak ada."
Aku menggigit bibir. Menahan sesuatu yang tidak bisa aku jelaskan.
"Perasaan apa, Kak?"
Rafa terdiam. Beberapa detik berlalu. Aku bisa mendengar napasnya. Tidak teratur.
"Lupakan. Maaf mengganggu."
"Kak, jangan kirim pesan lagi. Setidaknya sampai kalian pulang."
"Baik."
"Selamat malam, Kak."
"Selamat malam, Kay."
Aku menutup telepon. Melempar ponsel ke kasur. Ponsel itu memantul, lalu jatuh di atas bantal.
Gila. Dia gila. Atau aku yang gila?
Air mataku jatuh lagi. Untuk kesekian kalinya.
Mona datang pagi harinya. Aku belum mandi. Belum ganti baju. Masih duduk di sofa dengan selimut menutupi setengah badan. Televisi menyala, tapi tidak ada suara. Hanya gambar bergerak.
"Kay, kamu kelihatan seperti mayat hidup."
"Makasih, Mon."
"Kamu tidak mandi?"
"Belum."
"Kamu tidak makan?"
"Belum."
"Kamu tidak melakukan apa pun?"
"Belum."
Mona duduk di sampingku. Sofa berdecit pelan.
"Cerita. Ada apa?"
Aku menunjukkan chat dengan Rafa semalam. Mona membaca dengan saksama. Matanya bergerak cepat. Wajahnya berubah dari bingung menjadi serius.
"Gila," katanya.
"Sudah tahu."
"Dia masih punya perasaan sama kamu."
"Aku tidak tahu."
"Jelas dari chat ini. Dia bilang dia memikirkan kamu. Di tengah bulan madu."
"Aku bilang dia jangan kirim pesan lagi."
"Kamu baik. Kamu tegas."
"Aku tidak tegas. Aku hanya tidak ingin membuat semuanya lebih berantakan."
Mona memelukku.
"Kay, kamu hebat."
"Aku tidak hebat. Aku hanya tidak punya pilihan."
Mona melepaskan pelukan. Dia menatap mataku.
"Sekarang, kamu mandi. Kamu makan. Kamu hidup. Jangan biarkan perasaan ini membunuhmu."
"Mona, apakah aku orang jahat?"
Mona mengerjap.
"Kenapa kamu bertanya begitu?"
"Karena di dalam hati kecilku, ada sedikit rasa senang saat Rafa bilang dia memikirkan aku."
Mona menatapku lama. Lalu dia tersenyum.
"Itu bukan jahat, Kay. Itu manusia. Setiap orang ingin dicintai. Apalagi kamu yang sudah tiga tahun diam-diam mencintai dia."
"Tapi dia sudah menjadi suami kakakku."
"Iya. Dan kamu sadar itu. Itu yang membedakan kamu dengan orang jahat."
Aku menatap Mona. Sahabatku. Satu-satunya yang tetap ada di sampingku tanpa banyak bertanya.
"Makasih, Mon."
"Sudah. Sekarang mandi. Kamu bau."
Aku tertawa. Mona selalu bisa membuatku tertawa, bahkan di saat seperti ini.
Hari kesepuluh. Vira dan Rafa pulang.
Aku berdiri di depan pintu, menyambut mereka dengan senyum yang sudah aku latih sejak pagi. Senyum yang tidak terlalu lebar. Tidak terlalu tipis. Senyum yang pas untuk seorang adik yang menyambut kakaknya pulang.
"Kak, selamat pulang!" Aku memeluk Vira.
"Kay, kakak kangen sekali!"
Vira memelukku erat. Wanginya berbeda. Wangi tabir surya dan angin laut. Wangi liburan. Wangi kebahagiaan.
Rafa berdiri di samping, membawa koper dan beberapa kantong plastik.
"Kay, ini oleh-oleh untuk kamu." Rafa memberikan sebuah kantong kecil berwarna cokelat.
"Makasih, Kak."
Aku membuka kantong itu. Di dalamnya ada gelang perak lain. Sederhana. Dengan liontin berbentuk daun. Daun yang kecil. Tipis. Tapi detail.
"Biar matching sama yang dulu," kata Rafa.
Vira menatap Rafa. Lalu menatapku. Matanya bergerak cepat di antara kami berdua.
"Kakak yang minta Rafa membelikan," kata Vira cepat. Terlalu cepat.
Aku tahu itu bohong. Tapi aku tersenyum.
"Makasih, Kak. Makasih juga buat Rafa."
Aku memakai gelang itu di pergelangan tangan kanan. Kiri untuk pemberian dulu. Kanan untuk sekarang. Dua gelang. Dua perasaan. Satu dari masa lalu. Satu dari masa depan yang tidak jelas.
"Cantik," kata Vira.
"Vira yang memilih modelnya," kata Rafa lagi.
Aku hanya tersenyum. Tidak ada yang perlu dibohongi lagi. Tapi aku biarkan saja. Biarkan mereka berpura-pura. Biarkan aku berpura-pura.
Mereka masuk ke rumah. Rumah yang kini tidak lagi sepi. Suara koper diseret. Suara pintu dibuka dan ditutup. Suara Vira berteriak dari dapur minta tolong membawakan belanjaan. Suara Rafa yang tertawa karena Vira cerewet.
Hidup kembali ke rumah itu.
Tapi hatiku? Masih sama. Sepi. Kosong. Menunggu sesuatu yang mungkin tidak akan pernah datang.
Tapi tidak apa-apa.
Karena aku sudah berjanji pada diriku sendiri. Aku akan baik-baik saja.
Mungkin tidak hari ini. Mungkin tidak besok.
Tapi suatu saat.
Pasti.
BAB XX
Berusaha Teguh di Atas Luka
Dua minggu setelah Vira dan Rafa kembali dari bulan madu, Vira kini tinggal di rumah Rafa. Aku tinggal sendirian di rumah besar itu. Sesekali Mona datang. Sesekali Vira mampir. Tapi lebih sering aku sendiri.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku belajar menikmati kesendirian.
"Kay, kamu yakin tidak mau pindah ke kost lagi?" tanya Mona melalui telepon suatu sore.
"Yakin. Rumah ini butuh aku."
"Tidak takut setan?"
"Setan takut sama aku."
Mona tertawa. "Kamu berubah, Kay. Menjadi lebih dewasa."
"Aku terpaksa. Tapi itu bagus."
Aku tersenyum kecil. "Iya. Aku juga merasa lebih baik."
Mona datang seminggu kemudian. Kami makan berdua di meja makan yang dulu selalu ramai.
"Kay, aku dengar Rafa dan Vira baik-baik saja?"
"Baik. Mereka bahagia, Mon. Setidaknya itu yang aku lihat."
"Kamu masih sering bertemu Rafa?"
"Kadang. Pas Vira main ke sini."
"Kamu kuat?"
"Mon, aku sudah lelah memikirkan Rafa. Aku ingin fokus pada diriku sendiri."
Mona menatapku lama. "Bagus. Itu yang aku mau dengar."
Tapi meskipun aku berkata demikian, perasaan itu masih ada. Tersembunyi di sudut hati yang paling dalam. Aku hanya belajar untuk tidak memberinya makanan. Aku biarkan ia lapar. Dan perlahan, ia mulai layu.
Suatu sore, Vira datang tanpa Rafa. Wajahnya cerah.
"Kay, kakak belikan baju untuk kamu."
"Kak, aku bilang jangan membeli baju."
"Tapi ini lucu." Vira mengeluarkan kaus oblong kuning bergambar kucing.
"Kak, ini kaus anak SD."
"Kamu kan masih anak SD di mata kakak."
Aku menghela napas. "Baik, Kak."
Kami duduk di teras, menikmati angin sore. Teh hangat menemani.
"Kay, kakak ingin bicara sesuatu."
"Apa, Kak?"
Vira menunduk sebentar. Lalu menatapku.
"Kakak tahu Rafa masih memikirkan kamu."
Jantungku berdebar. Aku berusaha tenang.
"Kak, mungkin hanya penyesuaian. Pernikahan masih baru."
"Bukan. Aku kenal Rafa. Aku tahu dia sedang tidak fokus."
"Lalu kakak bicara dengan dia?"
"Sudah. Dia bilang tidak ada apa-apa."
"Kakak percaya?"
"Aku ingin percaya. Tapi hatiku tidak tenang."
Aku meraih tangan Vira. "Kak, Rafa suami yang baik. Dia tidak akan menyakiti kakak."
"Aku tahu. Tapi aku juga tidak mau kehilangan dia."
"Kakak tidak akan kehilangan dia. Aku juga tidak akan mengambil dia."
Vira tersenyum tipis. "Kamu jadi bijak, Kay."
"Aku belajar dari kakak."
"Kay, janji satu hal. Kalau suatu saat Rafa mengaku punya perasaan sama kamu, ceritakan pada kakak."
"Kak, dia tidak akan—"
"Ceritakan pada kakak."
Aku terdiam. Lalu mengangguk. "Baik, Kak. Aku janji."
Minggu berikutnya, aku mendapat panggilan kerja. Perusahaan konsultan tempat Rafa bekerja membuka lowongan akuntan. Rafa yang merekomendasikanku.
"Kay, kamu bisa memilih untuk tidak menerima," kata Mona.
"Tapi ini kesempatan bagus, Mon."
"Tapi kamu akan bertemu Rafa setiap hari."
"Rafa di divisi konsultan. Aku di akuntansi. Mungkin tidak sering bertemu."
"Kamu yakin?"
"Tidak yakin. Tapi aku mau mencoba."
Mona menghela napas. "Kalau kamu mulai sakit lagi, kamu harus berhenti."
"Aku tidak akan sakit lagi, Mon. Aku sudah berdamai dengan perasaanku."
Aku diterima. Hari pertama bekerja, aku datang lebih awal. Mejaku di lantai 3, Rafa di lantai 5. Aku lega.
Tapi pada hari ketiga, aku bertemu Rafa di kantin.
"Kay, selamat bergabung," sapanya.
"Makasih, Kak."
"Kalau ada masalah, jangan sungkan bicara sama aku."
"Iya, Kak."
Kami duduk berjauhan. Makan siang berlangsung sunyi. Aku sesekali menoleh, Rafa sesekali menoleh. Tapi tidak ada yang memulai percakapan.
Itu bagus. Itu yang aku inginkan.
Tapi kenapa hatiku tetap berdebar?
Minggu kedua, Vira mengundangku makan malam di rumahnya. Rafa yang menjemput.
Di dalam mobil, Rafa berkata, "Kamu jarang main ke rumah kami."
"Sibuk, Kak. Kerja baru."
"Vira kangen kamu."
"Aku juga kangen Vira."
Mobil berhenti di depan rumah dua lantai dengan taman kecil. Vira sudah menunggu di pintu.
"Kay! Kamu datang!"
Vira memelukku erat. "Kakak kangen berat."
Makan malam berlangsung hangat. Vira bercerita tentang pekerjaan barunya sebagai dosen. Rafa bercerita tentang proyek konsultannya.
"Kay, kamu sudah punya pacar?" tanya Vira tiba-tiba.
"Belum, Kak."
"Kakak punya teman. Andri. Kerja di bank. Ganteng."
"Kak, tolong. Aku belum butuh."
"Kamu sudah 22. Jomblo terus nanti dikira ada yang tidak beres."
"Via, biarkan dia memilih sendiri," potong Rafa.
Vira menatap Rafa. "Kamu kenapa membela dia?"
"Aku tidak membela. Aku hanya bilang biarkan dia memilih."
Vira menghela napas. Aku menunduk. Aku tahu Vira cemburu. Bukan karena Rafa membelaku. Tapi karena Rafa terlalu perhatian padaku.
Setelah makan, Vira mengajakku ke kamarnya.
"Kay, kakak minta maaf. Kakak terlalu memaksa soal pacar."
"Aku tahu, Kak. Tapi aku belum siap."
"Kamu masih mencintai Rafa?"
Aku terdiam.
"Kak, aku tidak tahu. Aku tidak tahu apakah yang aku rasakan masih cinta atau hanya kebiasaan."
Vira menggenggam tanganku. "Kay, kakak tidak marah. Kakak hanya ingin kamu jujur."
"Aku jujur, Kak. Aku bingung."
Vira memelukku. "Kakak akan membantu."
"Makasih, Kak."
Pulang dari rumah Vira, Rafa mengantarku. Di dalam mobil, kami berdua saja.
"Kay, maaf soal tadi. Vira tidak bermaksud."
"Aku tahu."
"Kamu baik-baik saja?"
"Kak, kenapa kakak selalu bertanya apakah aku yakin?"
Rafa terdiam. Tangannya di setir mengepal.
"Karena aku peduli," jawabnya akhirnya.
"Kakak tidak perlu peduli. Kakak sudah punya Vira."
"Tidak bisa. Aku juga peduli padamu."
"Kak, tolong. Jangan membuatku bingung."
Rafa menepikan mobil di pinggir jalan. Dia mematikan mesin.
"Kay, aku ingin jujur tentang perasaanku."
Aku menegang. "Kak, jangan. Aku tidak siap."
"Kay, aku sayang Vira. Aku serius. Tapi aku juga merasakan sesuatu padamu."
Udara di dalam mobil terasa panas.
"Rafa, kakak sudah menikah. Dengan kakakku."
"Aku tahu."
"Jadi tidak boleh. Tidak ada tempat untuk perasaan ini."
"Aku tahu."
"Kalau kakak tahu, kakak harus berhenti."
"Aku sudah mencoba. Aku gagal."
"Kakak harus mencoba lagi."
Rafa menunduk. "Kay, maaf."
"Jaga jarak, Kak. Jangan kirim pesan yang tidak perlu. Jangan telepon tanpa alasan. Jangan tatap aku seperti itu."
"Seperti apa?"
"Seperti kakak melihat sesuatu yang tidak seharusnya."
Rafa menghela napas panjang. "Baik. Aku akan lakukan."
"Janji?"
"Janji."
Rafa menyalakan mesin. Sepanjang perjalanan, kami tidak bicara.
Sampai di depan rumahku, Rafa mematikan mesin.
"Kay, selamat malam."
"Selamat malam, Kak."
Aku turun dari mobil. Tidak menoleh. Langsung masuk.
Begitu pintu tertutup, aku bersandar di baliknya. Air mataku jatuh.
"Aku tegas," bisikku. "Aku berhasil."
Tapi kenapa rasanya seperti aku baru saja kehilangan sesuatu yang berharga? Padahal aku tidak pernah memilikinya.
Ponsel bergetar. Mona.
Mona: "Kay, bagaimana makan malamnya?"
Kayla: "Berat."
Mona: "Cerita besok. Kamu istirahat dulu."
Kayla: "Iya, Mon."
Aku meletakkan ponsel. Memejamkan mata.
Besok akan lebih mudah. Lusa akan lebih mudah lagi.
Aku percaya itu.
BAB XXI
Ketika Perasaan Mulai Berpaling
Tiga bulan berlalu sejak aku mulai bekerja di perusahaan yang sama dengan Rafa. Tiga bulan aku belajar menjaga jarak. Tiga bulan aku belajar mengatakan tidak pada perasaan yang masih sesekali menggoda.
Dan perlahan, tanpa aku sadari, sesuatu mulai berubah.
Aku tidak lagi menahan napas setiap kali lift berhenti di lantai lima. Aku tidak lagi mencari-cari sosok Rafa di kantin. Aku tidak lagi deg-degan setiap kali ponsel bergetar.
Perasaanku mulai berpaling. Bukan karena aku membencinya. Bukan karena aku sudah menemukan pengganti. Tapi karena aku lelah. Lelah memikirkan seseorang yang tidak bisa aku miliki.
Dan untuk pertama kalinya, aku merasa lega.
"Kay, kamu kelihatan lebih segar akhir-akhir ini," kata Mona suatu sore saat kami minum kopi di kafe langganan.
"Segar bagaimana?"
"Kamu tidak kelihatan lesu. Matamu tidak sembab. Kamu juga tidak sering melamun."
"Aku baik-baik saja, Mon."
"Lebih dari baik-baik saja. Kamu kelihatan hidup lagi."
Aku tersenyum. "Mungkin karena aku sudah mulai move on."
Mona mengangkat alis. "Serius?"
"Iya. Tiba-tiba aku sadar, rasanya sudah tidak sekaku dulu."
"Cerita. Detail."
Aku menarik napas. "Sekarang kalau Rafa lewat, jantungku masih berdegup. Tapi tidak sekeras dulu. Masih ada sedikit perasaan, tapi tidak lagi menyiksa."
"Itu namanya proses. Bagus."
"Aku juga mulai membuka diri untuk kemungkinan lain."
Mona membelalak. "Maksudmu? Kamu sudah punya cowok baru?"
"Belum. Tapi aku tidak lagi menutup pintu."
"Wah, ini perkembangan luar biasa!"
Aku tertawa. "Kamu jangan lebay."
"Aku tidak lebay. Kamu yang dulu mati-matian mempertahankan perasaan sama Rafa, sekarang sudah siap membuka pintu. Itu namanya pahlawan move on."
Kami tertawa berdua. Hangat. Seperti dulu sebelum semuanya rumit.
Suatu hari, Vira datang ke rumahku tanpa kabar. Wajahnya cerah. Dia membawa kue bolu buatannya sendiri.
"Kay, coba. Kakak belajar membuat kue."
Aku mencicipi. "Enak, Kak. Lembut."
Vira tersenyum puas. "Kakak senang."
Kami duduk di teras. Teh dan kue menemani.
"Kay, kakak lihat kamu akhir-akhir ini lebih ceria."
"Kakak juga melihat?"
"Iya. Matamu berbinar."
"Sepertinya kamu sudah mulai move on," kata Vira.
"Iya, Kak. Aku sudah mulai."
"Karena ada cowok baru?"
"Belum. Tapi aku sudah tidak terlalu memikirkan Rafa."
Vira terdiam sebentar. Lalu tersenyum. "Kakak lega."
"Kakak takut aku tidak bisa move on?"
"Kakak takut kamu terus menderita. Dan kakak takut kalau-kalau Rafa juga tidak bisa move on darimu."
"Kak, Rafa suami kakak. Dia sudah memilih kakak. Itu sudah cukup."
"Tapi perasaan tidak bisa dipilih, Kay. Perasaan terjadi begitu saja."
"Tapi tindakan bisa dipilih, Kak. Rafa sudah memilih untuk bersama kakak."
Vira menghela napas. "Kamu dewasa, Kay."
"Aku tidak dewasa. Aku hanya lelah bersedih."
Vira memelukku. "Kakak sayang kamu."
"Aku juga sayang kakak."
Pekerjaan di kantor berjalan lancar. Aku mulai akrab dengan rekan-rekan satu tim. Ada Dimas, cowok berkacamata yang pendiam tapi baik hati.
Dimas satu divisi denganku. Mejanya bersebelahan. Kami sering kerja bareng.
Suatu hari, Dimas bertanya, "Kay, kamu sudah makan siang?"
"Belum. Lagi sibuk."
"Aku bawakan bakso. Mau?"
Aku menatap bakso di tangannya. "Makasih, Mas."
Dimas meletakkan bakso di mejaku, lalu kembali ke mejanya.
Sari menyodokku dari belakang. "Kay, Dimas itu perhatian sekali sama kamu."
"Biasa saja, Mbak. Dia baik ke semua orang."
"Tidak. Cuma ke kamu."
Aku melirik Dimas. Pipinya sedikit kemerahan. Aku tersenyum kecil.
Minggu berikutnya, Dimas mengajakku makan malam. Bukan kencan, katanya. Hanya makan bersama setelah lembur.
"Di mana, Mas?"
"Tahu bulat. Enak. Saus kacangnya rahasia."
Aku tertawa. "Ya sudah. Ayo."
Tempatnya sederhana. Warung tenda di pinggir jalan. Tapi ramai. Kami makan sambil bercerita tentang banyak hal. Dimas lulusan Universitas Padjadjaran. Anak semata wayang. Orang tuanya di Bandung.
"Kamu sendiri di Jakarta?" tanyaku.
"Iya. Kost di Kramat."
"Aku juga sendiri di rumah. Kakakku sudah menikah."
"Wah, rumah besar, dong."
"Cukup besar. Tapi sepi."
"Kalau sepi, kamu bisa main ke kostku. Ramai."
"Main ke kost cowok? Tidak sopan, Mas."
Dimas tertawa. "Ya sudah. Aku yang main ke rumahmu."
"Berani?"
"Kenapa tidak? Kamu kan temanku."
Temanku. Kata itu terasa nyaman. Tidak berat. Tidak penuh makna tersembunyi.
"Ya sudah. Minggu depan kamu main ke rumahku."
"Janji?"
"Janji."
Pulang ke rumah, senyum masih mengembang di wajahku. Bukan senyum karena jatuh cinta. Tapi senyum karena merasa dihargai. Dilihat. Bukan sebagai adik. Bukan sebagai pelarian. Tapi sebagai teman.
Rafa menelepon malam itu.
"Kay, Vira bilang kamu kelihatan ceria akhir-akhir ini."
"Aku baik-baik saja, Kak."
"Kamu bahagia?"
"Aku bahagia."
"Bagus kalau begitu."
"Kak, aku sudah mulai move on."
Rafa tidak menjawab.
"Kak?"
"Aku mendengar."
"Kakak seharusnya senang."
"Aku senang."
"Tapi suaramu tidak terdengar senang."
"Kay, aku juga berusaha move on."
"Kakak sudah menikah. Kakak harusnya sudah dari awal."
"Aku tahu. Tapi tidak semudah itu."
"Kakak harus berusaha lebih keras."
Rafa menghela napas. "Kay, aku senang kamu bahagia. Sungguh."
"Makasih, Kak. Selamat malam."
"Selamat malam."
Aku menutup telepon. Berdiri di dekat jendela. Bulan bersinar terang.
Perasaan mulai berpaling. Bukan lari. Bukan menghilang. Tapi perlahan berbalik ke arah lain.
Meninggalkan Rafa di masa lalu. Bukan karena aku benci. Tapi karena aku memilih diriku sendiri.
Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir, aku merasa bebas.
Mungkin inilah saatnya. Saat di mana luka mulai mengering. Saat di mana hati mulai terbuka untuk kemungkinan baru.
Bukan untuk Dimas. Bukan untuk siapa pun.
Tapi untuk kebahagiaanku sendiri.
Dan rasanya... sangat melegakan.
BAB XXII
Dimas, Bukan Rafa
Minggu depan, Dimas datang ke rumahku. Tepat seperti janjinya. Aku membuka pintu dengan kaus oblong biasa dan rambut diikat asal. Tidak perlu berdandan. Karena ini hanya teman yang main ke rumah.
Atau setidaknya itulah yang aku pikirkan.
"Wah, rumahmu besar, Kay," kata Dimas sambil melihat sekeliling.
"Rumah orang tua. Sekarang aku sendiri."
"Sendirian? Berani?"
"Sudah biasa."
Dimas membawa oleh-oleh. Kue lapis legit buatan ibunya di Bandung.
"Ini untuk kamu. Ibu aku minta diberikan ke teman kantor."
"Makasih, Mas. Dan makasih juga buat ibumu."
"Sama-sama."
Kami mengobrol tentang banyak hal. Dimas ternyata suka mendaki gunung. Dia sudah menaklukkan beberapa gunung di Jawa.
"Wah, kamu petualang," kataku.
"Bukan petualang. Hanya suka tantangan."
"Aku belum pernah naik gunung. Takut."
"Takut apa?"
"Jatuh. Tersesat. Dimakan harimau."
Dimas tertawa. "Tidak ada harimau di gunung yang biasa aku daki."
"Kalau kamu mau, aku bisa menemani. Kita naik gunung yang mudah dulu."
Aku berpikir sejenak. "Boleh juga. Tapi jangan sekarang."
"Oke. Aku tunggu."
Jam menunjukkan pukul 5 sore. Dimas pamit pulang. Tapi sebelum pergi, dia berdiri di depan pintu lebih lama dari yang diperlukan.
"Kay, makasih sudah menerima aku."
"Makasih kembali, Mas. Kuenya enak."
"Sampaikan salam ke ibumu."
Aku terdiam sebentar. "Ibu aku sudah meninggal, Mas."
Dimas terdiam. Wajahnya berubah. Matanya melembut.
"Maaf. Aku tidak tahu."
"Tidak apa-apa."
"Jadi kamu sendiri?"
"Aku punya kakak. Dia sudah menikah."
"Tapi kamu tetap tinggal sendiri."
"Iya. Aku memilih sendiri."
Dimas menatapku. Bukan tatapan penasaran. Bukan tatapan iba. Tapi tatapan yang melihat.
"Kamu kuat, Kay."
"Aku tidak kuat. Aku hanya terbiasa."
Dimas menggeleng. "Terbiasa itu awal dari kuat."
Aku tersenyum. "Makasih, Mas."
Mona menelepon begitu aku menutup pintu.
"Kay, aku dengar ada cowok main ke rumah kamu?"
"Dari mana kamu tahu?"
"Mata-mata aku di mana-mana."
"Kamu gila, Mon."
"Cerita dong. Siapa dia?"
"Dimas. Teman kantor."
"Teman biasa atau lebih?"
"Teman biasa."
"Kay, jangan tutup hati. Kamu bilang kamu sudah melangkah maju. Kamu bilang kamu siap membuka pintu. Nah, ini pintunya."
"Dimas bukan pintu, Mon. Dia hanya teman."
Mona terdiam sebentar. Aku bisa mendengar dia menghela napas.
"Kay, aku dulu juga pernah kayak gini. Ada cowok baik yang dekat sama aku. Tapi aku anggap dia cuma teman. Dan ketika dia pergi dengan cewek lain, aku baru sadar. Aku kehilangan sesuatu yang berharga."
Aku terkejut. Mona tidak pernah cerita ini.
"Kamu serius, Mon?"
"Serius. Namanya Raka. Dia baik. Dia selalu ada. Dia suka membawakan aku kopi setiap pagi, persis seperti Dimas sekarang. Tapi aku terlalu sibuk mengejar cowok lain yang tidak pernah memperhatikan aku. Sampai suatu hari Raka bilang dia mau menikah. Dengan cewek lain. Dan aku cuma bisa diam."
"Mon, aku tidak tahu..."
"Aku tidak pernah cerita karena malu. Tapi aku tidak mau kamu mengalami hal yang sama, Kay. Jangan buang waktu dengan cowok yang salah hanya karena kamu masih terpaku pada masa lalu."
Aku menggenggam ponsel lebih erat.
"Makasih sudah cerita, Mon."
"Ya. Jadi, jangan ulangi kesalahanku."
Minggu berikutnya di kantor, Dimas membawakanku kopi setiap pagi. Kopi untukku selalu datang lebih dulu. Dalam suhu yang pas.
"Kay, ini kopimu. Kurang gula, ya?"
"Iya, Mas. Makasih."
Sari menyodokku dari belakang. "Kay, Dimas itu perhatian sekali."
"Biasa saja, Mbak."
"Tidak biasa. Dulu dia tidak pernah membawakan kopi untuk siapa pun. Baru sekarang. Karena kamu."
Aku melirik Dimas. Dia sedang fokus pada laptopnya. Kacamatanya agak turun ke ujung hidung. Dia terlihat polos. Tidak seperti Rafa. Dimas berbeda. Dia nyaman. Dia hanya ada. Dan itu cukup.
Suatu siang, Rafa turun ke lantai 3. Wanginya masih sama. Kayu cendana dan jeruk. Dulu wangi itu membuatku pusing. Sekarang hanya terasa seperti angin lalu.
"Kay, bicara soal laporan keuangan proyek konsultan."
"Baik, Kak."
Di ruang rapat, Rafa menatapku. Matanya teliti.
"Kay, kamu kelihatan berbeda. Lebih segar."
"Aku sedang baik-baik saja, Kak."
"Kamu bahagia?"
"Aku bahagia."
Rafa tersenyum. "Aku senang mendengarnya."
Dia menutup berkas. Tapi tidak segera pergi.
"Kay, aku dengar kamu dekat dengan Dimas. Dia orang baik."
"Makasih, Kak."
"Kay, aku hanya ingin bilang... kamu pantas bahagia. Dengan siapa pun itu."
"Makasih, Kak."
Rafa berdiri dan berjalan keluar. Aku menatap punggungnya. Lebih ringan dari dulu. Seperti beban yang mulai terangkat.
Dimas mengajakku makan malam. Di restoran sederhana dekat kantor.
"Kay, aku tidak mau bertele-tele. Aku suka sama kamu."
Aku terdiam. Dimas menatapku dengan mata jujur.
"Aku tidak tahu harus bilang apa, Mas."
"Kamu tidak usah bilang apa-apa. Aku hanya ingin jujur."
"Tapi kita baru kenal."
Dimas tersenyum. "Aku cukup lama melihatmu dari jauh. Sejak pertama kali kamu masuk kantor."
"Kamu memperhatikan aku?"
"Iya. Setiap hari."
"Dimas, aku masih punya luka lama. Luka yang belum sepenuhnya sembuh."
Dimas mengangguk. "Aku bisa menunggu."
"Kenapa kamu mau menunggu? Banyak perempuan lain."
Dimas mencondongkan badannya ke depan. "Tapi tidak ada yang seperti kamu."
"Dimas, aku tidak bisa memberi janji. Tapi aku tidak akan menutup pintu."
Dimas tersenyum. Senyum paling lebar yang pernah aku lihat darinya.
"Sudah cukup."
Pulang ke rumah, Vira menelepon.
"Kay, kakak dengar kamu dekat sama cowok di kantor. Dari Rafa."
Aku terkejut. "Rafa cerita?"
"Iya. Namanya Dimas. Baik. Perhatian. Suka membawakan kamu kopi."
"Kak, aku tidak mau bicara soal Rafa."
Vira menghela napas. "Baik. Kita bicara soal Dimas."
"Kak, tolong. Jangan menjadi mak comblang."
"Aku tidak menjadi mak comblang. Aku hanya ingin kamu bahagia."
"Aku bahagia, Kak."
"Bahagia dengan caramu sendiri. Tapi kakak ingin kamu bahagia dengan orang lain. Bukan sendirian."
"Suatu saat, Kak. Tidak harus sekarang."
Vira menghela napas. "Ya sudah. Kakak tidak akan memaksa. Tapi kakak mendoakan yang terbaik untuk kamu."
"Amin."
Aku berbaring di kasur. Menatap langit-langit.
Dimas. Pria berkacamata dengan senyum polos itu.
Dia bukan Rafa. Tapi mungkin itu yang aku butuhkan. Bukan seseorang yang membuat jantungku berdebar seperti orang kesurupan. Tapi seseorang yang membuatku merasa aman untuk jatuh cinta. Perlahan. Tanpa rasa takut.
Mona pernah kehilangan cowok baik karena terlalu sibuk mengejar yang salah. Aku tidak mau mengulang kesalahan yang sama.
Mungkin inilah saatnya. Saat di mana aku belajar bahwa cinta tidak selalu berbentuk badai. Kadang cinta berbentuk angin sepoi-sepoi. Tenang. Tidak menggebu. Tapi tetap hangat.
Dan angin itu, saat ini, bernama Dimas.
Untuk pertama kalinya, aku tidak takut untuk tidak tahu.
BAB XXIII
Menerima Kehadiran yang Tak Terduga
Satu bulan sejak Dimas menyatakan perasaannya, aku masih belum memberi jawaban. Bukan karena aku menggantungnya. Tapi karena aku ingin benar-benar yakin. Aku tidak ingin memulai sesuatu yang setengah hati. Aku tidak ingin menyakiti Dimas seperti dulu aku tersakiti.
Dan Dimas? Dia tidak pernah menekan. Dia tetap datang dengan kopi setiap pagi. Tetap mengajakku makan siang. Tetap menungguku pulang kerja meskipun dia harus mengambil rute yang lebih jauh.
Dia ada. Konsisten. Tanpa drama.
Suatu siang di kantor, aku sedang pusing mengerjakan laporan keuangan yang deadline-nya besok. Angka-angka berputar di kepalaku. Rumus-rumus Excel mulai tidak masuk akal.
"Kay, kamu sudah makan?" tanya Dimas dari samping mejaku.
"Belum. Lagi sibuk."
"Aku bawakan nasi kotak. Mau?"
"Untuk aku lagi?"
"Iya. Aku beli dua."
Aku menatap nasi kotak di tangannya. Bukan nasi kotak biasa. Isinya tahu bulat dengan saus kacang. Warung langganan yang dulu dia ajak aku pertama kali.
"Dimas, kamu jangan terus-terusan membawakanku makan."
"Kenapa? Kamu tidak suka?"
"Aku suka. Tapi kamu jadi keluar uang banyak."
"Tidak masalah. Aku ikhlas."
"Tapi..."
"Kay, terima saja. Ini nasi kotak. Bukan berlian."
Aku tertawa. Dimas tahu persis cara meluluhkan hatiku. Bukan dengan kata-kata manis. Tapi dengan tahu bulat dan saus kacang.
"Ya sudah. Makasih."
Kami makan berdua di meja kantor. Sari dan Andi sudah lebih dulu ke kantin. Aku membuka kotak makan dan mencium aroma tahu bulat yang khas.
"Dimas, kenapa kamu baik sekali sama aku?" tanyaku sambil mengunyah.
"Karena aku suka sama kamu."
"Bukan. Maksudku, kenapa kamu baik padahal aku belum memberi jawaban?"
Dimas berhenti makan. Dia meletakkan sendoknya di tepi kotak. Matanya menatapku. Tidak marah. Tidak kecewa. Hanya jujur.
"Kay, aku tidak baik karena mengharapkan jawaban. Aku baik karena aku ingin baik."
"Tapi biasanya orang baik karena ada maunya."
"Orang lain. Bukan aku."
"Kenapa aku harus percaya?"
Dimas tersenyum kecil. "Karena aku tidak punya alasan untuk bohong. Aku tidak butuh apa pun darimu. Aku tidak butuh uangmu. Aku tidak butuh koneksimu. Aku tidak butuh kamu membalas perasaanku. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa ada seseorang yang peduli tanpa syarat."
Aku terdiam. Tidak ada yang pernah mengatakan itu padaku. Tidak Rafa. Tidak Vira. Bahkan Mona pun selalu punya alasan di balik kebaikannya, meskipun alasan itu tulus.
"Kay, aku tahu kamu punya luka masa lalu. Aku tidak tahu siapa yang melukaimu. Tapi aku tidak ingin menjadi orang yang menambah luka itu."
"Kamu tidak kenal masa laluku."
Dimas menggeleng. "Aku tidak perlu kenal. Yang penting aku kenal kamu yang sekarang. Kamu yang suka tahu bulat. Kamu yang marah kalau kopimu dingin. Kamu yang tersenyum kecil setiap kali melihat foto kucing di ponselmu. Kamu yang sekarang sedang duduk di depanku dengan saus kacang di pipi."
"Apa?" Aku mengusap pipiku. Ternyata ada saus kacang yang menempel.
Dimas tertawa. Aku ikut tertawa. Tawa yang membuat Sari dan Andi menoleh dari kejauhan.
"Kamu tidak takut kalau suatu saat aku masih jatuh cinta sama orang itu?" tanyaku setelah tawa mereda.
Dimas menunduk sebentar. Jari-jarinya memainkan ujung kotak makan. Lalu dia menatapku lagi. Matanya teduh.
"Aku takut. Tapi aku lebih takut tidak mencoba. Aku lebih takut menyesal di kemudian hari karena tidak pernah berani. Aku lebih takut melihatmu bersama orang lain dan bertanya-tanya, bagaimana jika dulu aku lebih berani?"
"Kamu bisa sakit, Dimas."
"Aku siap. Aku sudah dewasa. Aku tahu risikonya. Aku tahu bahwa menyukai seseorang yang masih terluka itu seperti memegang kaca. Bisa saja aku yang terluka. Tapi aku memilih untuk tetap memegang."
Aku menghela napas. "Kamu ini aneh."
Dimas tersenyum. "Boleh. Yang penting kamu tahu, aku ada di sini."
Pulang kerja, Dimas mengantarku seperti biasa. Di depan rumah, dia mematikan mesin motornya. Motor butut itu bergetar sebentar sebelum benar-benar mati.
"Kay, aku tidak akan menanyakan jawabanmu. Tapi aku ingin kamu tahu, aku tidak akan ke mana-mana."
"Kamu yakin?"
"Yakin."
"Meskipun aku butuh waktu lama? Bisa setahun. Bisa dua tahun. Bisa lebih."
Dimas menatapku. Matanya tidak berkedip.
"Meskipun butuh waktu selamanya."
Aku tersenyum. "Kamu gila, Dimas."
"Mungkin. Tapi gila karena kamu."
Angin sore bertiup. Daun-daun dari pohon mangga di halaman rumah berguguran. Beberapa helai jatuh di rambut Dimas. Dia tidak menyadarinya. Aku tidak memberitahunya.
"Dimas, aku mau mencoba."
Dia mengerjap. "Mencoba apa?"
"Mencoba membuka hati. Perlahan. Dengan kamu."
Dimas terkejut. Matanya membelalak. Mulutnya terbuka sedikit. Seperti tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
"Kamu serius?"
"Aku serius. Tapi perlahan. Jangan harap aku langsung bisa jatuh cinta. Jangan harap aku langsung bisa melupakan masa lalu. Jangan harap aku langsung bisa menjadi pacar yang sempurna. Aku masih belajar. Aku masih dalam proses."
Dimas mengangguk cepat. Terlalu cepat. Kacamatanya hampir jatuh.
"Tidak apa-apa. Aku akan sabar. Aku tidak butuh kamu sempurna. Aku tidak butuh kamu langsung jatuh cinta. Aku hanya butuh kamu membiarkan aku ada di dekatmu."
Aku menatap Dimas. Wajahnya yang bulat. Kacamatanya yang tebal. Rambutnya yang agak keriting. Tidak ada yang spesial. Tidak ada yang membuat jantung berdebar kencang. Tapi matanya jujur. Dan itu lebih dari cukup.
"Janji?" tanyaku.
"Janji." Dimas mengacungkan kelingkingnya seperti anak kecil.
Aku tertawa. Tapi aku menyambut kelingkingnya. Kami bertautan. Hangat. Sederhana. Tanpa drama.
Pulang ke rumah, aku masuk dengan perasaan campur aduk. Apakah aku sudah benar-benar move on? Atau aku hanya butuh pelarian? Aku tidak tahu. Tapi untuk pertama kalinya, aku merasa ada yang berbeda. Ada sedikit rasa ingin tahu. Sedikit penasaran. Sedikit harapan.
Bukan untuk Rafa. Tapi untuk Dimas.
Malam harinya, Vira datang tanpa kabar. Wajahnya serius. Matanya menyelidik. Dia duduk di sofa tanpa menunggu dipersilakan.
"Kay, kakak dengar kamu sama Dimas sudah mulai dekat."
Aku menghela napas. "Dengar dari siapa lagi? Rafa?"
Vira mengangguk. "Iya. Dia cerita."
"Kak, Rafa terlalu perhatian sama hidupku. Aku tidak butuh dia memantau siapa yang aku dekati."
Vira menatapku. Matanya lembut tapi tegas. "Dia hanya peduli, Kay."
"Aku tidak butuh kepeduliannya. Aku butuh dia menjalani hidupnya sendiri dengan kakak. Fokus pada pernikahannya. Fokus pada masa depannya dengan kakak. Bukan fokus padaku."
Vira duduk di sampingku. Sofa berdecit pelan. "Kakak tahu. Tapi Rafa susah lepas. Dia masih merasa bersalah. Masih merasa bahwa dia pernah menyakitimu."
"Kak, aku sudah mulai move on. Tolong bantu Rafa untuk melakukan hal yang sama. Aku tidak bisa terus-menerus menjadi bayangan di antara kalian."
Vira menggenggam tanganku. "Kakak sudah mencoba."
"Coba lebih keras, Kak. Untuk kebaikan kita semua."
"Kay, jangan marah sama kakak."
Aku menghela napas. Panjang. Melepaskan beban yang tidak perlu.
"Aku tidak marah, Kak. Aku hanya lelah. Lelah menjadi bahan pembicaraan. Lelah menjadi alasan keraguan. Lelah menjadi beban di antara kalian."
Vira meraih tanganku. Tangannya hangat. "Kakak minta maaf."
"Bukan salah kakak, Kak. Ini bukan salah siapa pun."
"Kakak seharusnya tidak pernah mempertemukan Rafa denganmu. Kalau kakak tahu dari awal, kakak akan..."
Vira berhenti. Tidak melanjutkan kalimatnya.
Aku menatapnya. "Kak, itu sudah takdir. Kita tidak bisa mengelak. Tidak bisa memilih siapa yang hadir dalam hidup kita. Yang bisa kita pilih hanya bagaimana kita menyikapinya."
Vira mengangguk perlahan. "Kamu benar."
Kami berpelukan. Vira menangis di pundakku. Tangisnya pelan. Tertahan.
"Kay, kakak takut kehilangan Rafa."
"Kakak tidak akan kehilangan dia. Rafa mencintai kakak. Aku melihat bagaimana dia memperlakukan kakak. Aku melihat bagaimana dia menjagamu. Itu bukan cinta palsu, Kak."
Vira melepaskan pelukan. Matanya merah. "Apakah cintanya cukup?"
Aku memegang kedua pundak Vira. "Harus cukup, Kak. Dan kakak juga harus cukup untuk dirimu sendiri. Jangan menggantungkan kebahagiaan hanya pada Rafa. Kakak punya aku. Punya Mona. Punya banyak hal lain."
Vira tersenyum tipis. Menyeka air matanya dengan punggung tangan.
"Kay, ceritakan tentang Dimas."
"Kakak mau tahu?"
Vira mengangguk. "Aku mau tahu siapa yang membuat adikku tersenyum. Bukan senyum palsu yang kamu pakai di depan Rafa. Tapi senyum tulus yang membuat matamu berbinar."
Aku tersenyum. "Dimas baik, Kak. Sederhana. Tidak banyak tingkah. Dia membawakanku kopi setiap pagi. Tapi bukan kopi mahal dari kafe. Kopi tubruk dari warung dekat kantor. Kadang terlalu pahit. Kadang terlalu manis. Tapi dia selalu ingat."
"Perhatian," kata Vira.
"Iya. Tapi tidak berlebihan. Tidak sampai membuatku merasa diawasi."
"Dia tampan?"
Aku tertawa. "Biasalah, Kak. Tidak setampan Rafa. Tapi dia punya kebaikan yang berbeda. Kebaikan yang tidak membuatmu merasa berutang."
Vira mengulurkan tangannya. "Coba kakak lihat fotonya."
Aku membuka ponsel dan menunjukkan foto Dimas. Foto yang dia kirim waktu mendaki Gunung Papandayan. Wajahnya sedikit merah karena sinar matahari. Rambutnya acak-acakan terkena angin. Kacamatanya sedikit miring ke kanan. Dia tersenyum lebar, memegang tongkat kayu seolah dia baru saja menaklukkan dunia.
Vira menatap foto itu lama. Lalu dia tertawa. "Lucu."
"Kak, jangan tertawakan dia."
"Aku tidak tertawa mengejek, Kay. Aku tertawa karena dia kelihatan polos. Seperti anak kecil yang baru saja menemukan harta karun."
Aku melihat foto itu lagi. Vira benar. Dimas memang polos. Tidak ada kepalsuan di wajahnya. Tidak ada topeng.
"Kakak suka dia," kata Vira.
"Kakak baru melihat foto."
Vira menatapku. Matanya serius. "Sudah cukup, Kay. Orang baik itu keliatan dari matanya. Matanya jujur. Tidak ada yang disembunyikan."
Aku menatap foto Dimas lagi. Matanya kecil di balik kacamata. Tapi jujur. Tidak ada kepalsuan.
"Kay, kakak restui."
"Kak, kita belum berpacaran. Aku bahkan belum yakin apakah ini yang aku mau."
Vira menggeleng. "Tapi kakak merestui kamu membuka hati untuk dia. Itu sudah lebih dari cukup. Jangan buru-buru memberi label. Biarkan semuanya berjalan alami. Kalau memang dia untukmu, kamu akan tahu. Kalau tidak, kamu juga akan tahu."
"Makasih, Kak."
Vira berdiri. "Kakak pulang dulu. Rafa menunggu. Aku khawatir dia sendirian di rumah."
"Iya, Kak. Hati-hati di jalan."
"Kamu jaga diri. Jangan lupa makan. Jangan lupa istirahat. Jangan lupa membuka hati untuk Dimas."
"Kak!"
Vira tertawa. "Bercanda. Tapi serius, jangan takut untuk mencoba. Patah hati itu tidak menyenangkan, tapi tidak mencoba itu lebih menyakitkan."
Vira pergi. Aku berdiri di teras, menatap langit malam.
Bulan bersinar terang. Bintang-bintang bertaburan. Angin malam bertiup lembut, membawa aroma daun dari pohon mangga di halaman.
Menerima kehadiran yang tak terduga.
Itulah yang aku lakukan sekarang. Bukan memaksakan. Bukan merencanakan. Tapi membiarkan hidup mengalir. Membiarkan Dimas masuk perlahan. Tanpa takut. Tanpa ragu.
Karena mungkin, cinta yang datang perlahan lebih kuat daripada cinta yang datang sekencang badai.
Karena mungkin, badai hanya merusak. Tapi angin sepoi-sepoi menumbuhkan.
Karena mungkin, cinta tidak selalu tentang debaran jantung yang tidak terkendali. Cinta juga tentang ketenangan. Tentang rasa aman. Tentang pulang.
Dan Dimas? Mungkin dia bukan badai yang aku tunggu-tunggu. Mungkin dia bukan ombak besar yang membuatku terhanyut. Mungkin dia hanya angin. Tapi angin yang hangat. Angin yang membuatku betah. Angin yang membuatku ingin terus berjalan.
Tanpa ombak. Tanpa badai. Hanya ketenangan.
Dan untuk saat ini, itu sudah cukup.
Dan untuk pertama kalinya, aku merasa itu adalah keputusan yang tepat.
BAB XXIV
Bukan Pelarian, Tapi Pilihan
Dua bulan berlalu sejak aku memutuskan untuk membuka hati pada Dimas. Bukan hubungan yang bergerak cepat. Tidak ada kata "pacaran" yang diucapkan. Tidak ada status yang diumumkan ke seluruh dunia. Tapi ada sesuatu yang tumbuh di antara kami. Sesuatu yang hangat. Sesuatu yang membuatku merasa aman.
Dimas tidak pernah memaksa. Dia membiarkan semuanya berjalan alami. Kadang kami makan malam bersama. Kadang kami menonton film di rumahku. Kadang kami hanya duduk diam di teras, menikmati angin malam tanpa bicara. Dan di tengah kebisuan itu, aku merasa lebih dimengerti daripada saat aku bicara sepanjang hari.
Dan aku? Aku mulai merasa nyaman. Bukan hanya dengan Dimas. Tapi dengan diriku sendiri. Aku tidak lagi menangis setiap malam. Tidak lagi memeriksa ponsel berharap ada pesan dari Rafa. Tidak lagi membandingkan setiap pria yang lewat dengan bayangan masa lalu.
Suatu sore, Mona mengajakku ke kafe langganan. Aku datang lebih dulu. Mona menyusul dengan tas ransel penuh stiker anime dan wajah cerah.
"Kay, kamu jatuh cinta belum sama Dimas?"
Aku menyesap kopi hitamku. Pahit. Seperti biasa.
"Aku tidak tahu, Mon."
Mona mengangkat alis. "Kamu pasti tahu. Jatuh cinta itu ada rasanya."
"Dulu aku tahu rasanya. Deg-degan. Jantung berdebar kencang. Susah tidur. Selalu memikirkan dia."
"Nah. Itu cinta."
"Tapi sekarang sama Dimas, aku tidak merasakan itu."
Mona meletakkan gelas es teh manisnya. "Berarti kamu tidak cinta sama dia?"
Aku menghela napas. "Aku tidak tahu, Mon. Yang aku rasakan tenang. Nyaman. Tidak ada deg-degan. Tidak ada overthinking."
Mona menatapku lama. "Itu namanya rasa aman, Kay. Bukan cinta."
"Tapi bukankah cinta juga butuh rasa aman?"
"Iya. Tapi cinta butuh juga bara api. Kamu tidak bisa hidup dengan rasa aman doang. Seperti makan nasi tanpa lauk. Kenyang, tapi hambar."
Aku menyesap kopiku lagi. "Mungkin aku masih butuh waktu."
"Kamu sudah punya waktu dua bulan, Kay. Berapa lama lagi kamu mau berpikir-pikir?"
Aku menatap Mona. "Kenapa kamu buru-buru? Kamu yang ingin aku cepat-cepat punya pacar atau kamu yang tidak tahan melihat aku sendiri?"
Mona tertawa. "Dua-duanya. Tapi serius, Kay. Aku tidak mau kamu stuck. Kamu bilang kamu Melangkah Maju dari Rafa. Tapi kamu juga belum fully open sama Dimas."
"Jadi kamu mau aku bagaimana?"
Mona mencondongkan badannya ke depan. Matanya serius. "Aku mau kamu memilih, Kay. Jangan setengah-setengah. Jangan membuat Dimas menggantung. Jangan membuat dirimu sendiri menggantung. Kalau kamu mau dia, bilang. Kalau kamu tidak mau, bilang juga. Tapi jangan biarkan semuanya mengambang seperti ini."
Aku terdiam. Mona benar. Aku setengah-setengah. Aku membuka pintu untuk Dimas, tapi tidak sepenuhnya. Masih ada sisa ruang di hatiku yang tidak bisa aku berikan pada siapa pun.
Ruang itu dulu untuk Rafa. Sekarang? Aku tidak tahu.
Malam harinya, Dimas mengajakku makan malam. Bukan di warung tahu bulat. Bukan di restoran biasa. Tapi di tempat yang lebih bagus dari biasanya. Ada taplak meja. Ada lilin kecil. Ada musik piano yang dimainkan langsung oleh seorang pria tua di sudut ruangan.
"Ada apa, Dimas? Kok serius sekali?"
Dimas menatapku. Matanya berbeda dari biasanya. Ada ketegangan di sana. "Kay, aku ingin bicara."
"Tentang apa?"
Dia menarik napas. "Tentang kita."
Aku menegang. Jari-jariku menggenggam serbet di pangkuan. "Kita?"
"Iya. Sudah dua bulan kita dekat. Aku sudah sabar menunggu. Aku tidak minta kamu langsung jatuh cinta. Tapi aku perlu tahu, apakah kita sedang menuju ke suatu tempat? Atau hanya berputar-putar di tempat tanpa tujuan?"
"Dimas, aku..."
Dia mengangkat tangannya, menghentikanku. "Jawab jujur, Kay. Apa pun jawabanmu, aku akan terima."
Aku menunduk. Jari-jariku memainkan ujung serbet, memutarnya, melilitkannya, melepaskannya.
"Aku masih bingung, Dimas."
"Bingung tentang apa?"
"Tentang perasaanku. Aku suka kamu. Aku nyaman sama kamu. Tapi aku tidak tahu apakah itu cukup."
Dimas tidak marah. Tidak kecewa. Dia hanya menatapku dengan mata yang sama seperti dua bulan lalu. Lembut. Sabar.
"Menurutmu, apa yang kurang?"
"Aku tidak tahu. Mungkin perasaan itu. Perasaan yang membuatku tidak bisa tidur memikirkan kamu. Perasaan yang membuat jantungku berdebar setiap kali melihat kamu. Perasaan yang dulu aku rasakan untuk seseorang."
"Kamu tidak merasakan itu sama aku?"
Aku menggeleng pelan. "Tidak. Aku merasakan yang sebaliknya. Tenang."
Dimas tersenyum. "Tenang itu buruk?"
"Tidak buruk. Tapi apakah tenang cukup untuk membangun hubungan? Apakah tenang cukup untuk membuatku bertahan saat badai datang? Apakah tenang cukup untuk membuatku memilih kamu setiap hari?"
Dimas menatapku lama. Lalu dia meraih tanganku di atas meja. Tangannya hangat. Tidak gemetar. Tidak ragu.
"Kay, aku tidak mencari cinta yang membuatmu demam. Aku tidak mencari cinta yang membuatmu tidak bisa tidur. Aku tidak mencari cinta yang membuatmu kehilangan akal. Aku mencari cinta yang membuatmu betah. Cinta yang membuatmu merasa rumah."
"Maksudmu?"
"Banyak orang keliru tentang cinta, Kay. Mereka pikir cinta harus selalu menggebu-gebu. Harus selalu membuat jantung berdebar. Harus selalu disertai rasa cemas dan takut kehilangan. Padahal cinta yang sehat justru membuatmu tenang. Tidak overthinking. Tidak cemas. Tidak takut kehilangan karena kamu yakin orang itu tidak akan pergi."
"Kamu yakin itu cinta, Dimas?"
"Aku yakin. Karena aku merasakannya padamu. Aku tenang saat bersamamu. Aku nyaman. Aku bisa menjadi diriku sendiri tanpa perlu berpura-pura menjadi seseorang yang bukan aku."
"Jadi, kamu tidak butuh aku deg-degan?"
Dimas menggeleng. "Tidak. Aku butuh kamu bahagia. Aku butuh kamu tersenyum tanpa alasan. Aku butuh kamu merasa aman."
"Tapi bagaimana aku tahu kalau ini cinta, Dimas? Bukan hanya rasa nyaman? Bukan hanya karena aku butuh pelarian dari masa lalu?"
Dimas memegang tanganku lebih erat. "Kamu akan tahu saat kamu memilih. Bukan karena terpaksa. Bukan karena takut sendirian. Bukan karena lari dari masa lalu. Tapi karena kamu benar-benar ingin. Karena kamu sadar bahwa kamu lebih baik saat dia ada. Dan kamu tidak lebih buruk saat dia tidak ada."
Aku terdiam. Kata-kata Dimas masuk ke dalam relung hatiku yang paling dalam.
"Dan saat ini?" tanyaku pelan.
"Saat ini, kamu masih bingung. Itu wajar, Kay. Aku tidak akan memaksamu memutuskan sekarang. Aku tidak akan memberi ultimatum. Aku tidak akan pergi hanya karena kamu belum siap."
"Kamu sabar sekali, Dimas."
Dimas tersenyum. Senyum yang sama seperti pertama kali dia menyatakan perasaan. Senyum polos tanpa kepalsuan.
"Karena aku serius sama kamu, Kay. Bukan hanya suka. Bukan hanya kagum. Tapi serius. Dan orang yang serius tidak akan pergi hanya karena harus menunggu."
Pulang dari restoran, Dimas mengantarku seperti biasa. Di depan rumah, dia mematikan mesin motor. Rumah itu terlihat sunyi. Tanpa Vira. Tanpa Rafa. Hanya aku.
"Kay, aku ingin kamu tahu satu hal."
"Apa?"
Dia menatapku. Matanya jujur. "Apa pun keputusanmu nanti, aku akan hormati. Kalau kamu memilih aku, aku akan bersyukur. Kalau kamu memilih untuk sendiri, aku akan ikhlas. Tapi selama kamu belum memutuskan, aku akan tetap di sini. Tidak ke mana-mana."
"Kamu tidak takut aku menyakitimu?"
Dimas tersenyum tipis. "Aku lebih takut tidak mencoba. Aku lebih takut menyesal di kemudian hari karena tidak pernah berani. Aku lebih takut melihat kamu bersama orang lain dan bertanya-tanya, bagaimana jika dulu aku lebih berani?"
Dimas menyalakan motor dan pergi. Aku berdiri di teras, menatap punggungnya yang menghilang di tikungan. Lampu belakang motornya berkedip sekali, lalu menghilang.
Malam itu, aku menelepon Mona. Aku menceritakan semuanya. Tentang obrolan dengan Dimas. Tentang perasaanku yang masih setengah-setengah. Tentang ketakutanku bahwa ini hanya pelarian.
Mona mendengarkan tanpa menyela. Aku bisa mendengar dia mengunyah keripik di ujung telepon.
"Kay, kamu mendengarkan aku."
"Iya."
"Kamu bertahan sama perasaan kamu ke Rafa selama tiga tahun. Tiga tahun kamu sakit hati. Tiga tahun kamu menangis. Tiga tahun kamu berharap pada sesuatu yang tidak mungkin."
"Aku tahu."
"Sekarang ada cowok baik yang datang. Dia tidak minta kamu jatuh cinta dalam semalam. Dia tidak minta kamu jadi sempurna. Dia cuma minta kamu memilih. Apakah kamu mau memberinya kesempatan atau tidak."
"Tapi aku takut, Mon. Takut kalau ini cuma pelarian."
"Pelarian dari apa? Dari Rafa?"
"Iya."
"Kay, kamu sudah Melangkah Maju dari Rafa. Kamu buktikan dengan kamu yang sekarang. Kamu lebih ceria. Kamu lebih hidup. Kamu tidak lagi menangis setiap malam. Kamu tidak lagi membuka chat lama dengan Rafa. Kamu bahkan tidak lagi memakai gelang pemberiannya setiap hari."
Aku memegang pergelangan tanganku. Kosong. Gelang itu sudah aku lepas seminggu yang lalu.
"Tapi kenapa aku masih ragu sama Dimas, Mon?"
"Karena kamu belum sepenuhnya percaya sama diri kamu sendiri, Kay. Kamu masih punya luka yang belum sembuh total. Kamu takut kalau-kalau suatu saat luka itu terbuka lagi dan menyakiti Dimas. Kamu takut menjadi sumber rasa sakit bagi orang lain, seperti dulu kamu merasa sakit karena Rafa."
"Jadi aku harus bagaimana?"
"Kamu harus sadar bahwa Dimas bukan Rafa. Dia tidak akan menyakiti kamu. Dia tidak akan membuatmu bingung. Dia tidak akan meninggalkan kamu. Dan yang paling penting, dia tidak akan pernah membuatmu merasa bahwa perasaan kamu tidak penting."
"Kamu yakin?"
Mona menghela napas. "Aku tidak yakin seratus persen. Tidak ada yang bisa yakin soal hati orang lain. Tapi aku melihat sendiri bagaimana dia memperlakukan kamu. Aku melihat bagaimana dia sabar. Aku melihat bagaimana dia tidak pernah memaksa. Aku melihat bagaimana dia melihat kamu, Kay. Bukan dengan mata penuh gairah. Tapi dengan mata penuh ketenangan. Itu lebih langka."
Aku menarik napas panjang.
"Mon, aku ingin mencoba. Benar-benar mencoba. Bukan setengah-setengah."
"Nah, begitu dong."
"Tapi aku butuh waktu. Aku tidak bisa langsung melompat dan bilang aku siap."
"Kamu punya waktu, Kay. Tapi jangan terlalu lama. Cowok baik seperti Dimas tidak akan menganggur terus. Ada banyak perempuan lain yang akan melihat kebaikannya."
Aku tersenyum. "Makasih, Mon."
"Ya. Sekarang tidur. Besok chat Dimas. Kasih dia sinyal bahwa kamu serius. Bukan sekadar bilang 'aku akan coba', tapi tunjukkan dengan tindakan."
"Iya, Mon."
Aku menutup telepon. Memandangi ponselku. Layar masih terang. Chat dengan Dimas terbuka di aplikasi pesan.
Pesan untuk Dimas.
Aku mengetik perlahan. Jari-jemariku bergetar sedikit. Bukan karena takut. Tapi karena sadar bahwa ini adalah keputusan yang akan mengubah banyak hal.
"Dimas, aku tidak bisa janji banyak. Aku tidak bisa bilang aku siap sepenuhnya. Aku tidak bisa bilang aku sudah Melangkah Maju seratus persen. Tapi aku akan mencoba. Benar-benar mencoba. Bukan karena aku butuh pelarian. Bukan karena aku takut sendirian. Tapi karena aku memilih kamu. Perlahan. Tidak terburu-buru. Dan aku harap kamu sabar."
Aku membaca ulang pesan itu tiga kali. Lalu mengirimkannya.
Tidak sampai satu menit, ponselku bergetar.
Dimas: "Terima kasih, Kay. Aku tidak akan mengecewakanmu. Aku sabar. Aku akan menunggumu. Sampai kapan pun. Dan aku tidak akan pergi, apa pun yang terjadi."
Air mataku menetes. Bukan air mata sedih. Bukan air mata bahagia. Tapi air mata lega.
Akhirnya, aku memilih.
Bukan memilih antara Rafa dan Dimas. Bukan memilih antara masa lalu dan masa depan. Tapi memilih untuk bahagia. Memilih untuk tidak terjebak di masa lalu. Memilih untuk memberi kesempatan pada yang baru.
Bukan pelarian. Tapi pilihan.
Pilihan sadar untuk melangkah maju. Pilihan yang dibuat bukan karena takut, tapi karena berani. Bukan karena putus asa, tapi karena harapan. Bukan karena ingin melupakan, tapi karena ingin memulai.
Pilihan yang, untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir, aku buat untuk diriku sendiri.
BAB XXV
Mengikat yang Tak Terikat
Tiga bulan setelah aku memilih Dimas, hubungan kami berkembang seperti aliran sungai. Tenang. Tidak terburu-buru. Tapi pasti mengalir ke suatu tempat.
Kami belum resmi berpacaran. Tidak ada kata "Aku cinta kamu" yang diucapkan. Tidak ada janji-janji besar. Hanya kebersamaan yang semakin dalam. Hanya rasa nyaman yang semakin kuat.
Dan untuk pertama kalinya, aku tidak merasa perlu terburu-buru.
"Kay, kapan kamu bakal resmi sama Dimas?" tanya Mona suatu hari.
Kami sedang berbelanja di supermarket. Mona sibuk memilih camilan. Aku sibuk memilih sayur.
"Aku tidak tahu, Mon. Kami belum pernah bicara soal itu."
"Kamu tidak pernah bertanya?"
"Tidak. Aku juga tidak kepikiran."
"Kok aneh sih kamu? Biasanya perempuan itu ingin sekali dikasih status."
"Aku bukan perempuan biasa. Mungkin karena aku sudah terlalu nyaman."
Mona memasukkan keripik kentang ke keranjang. "Kay, aku suka sama Dimas. Karena dia tidak neko-neko. Dia hadir. Dia konsisten."
"Kamu jadi penggemar berat dia."
"Bukan. Aku jadi penggemar berat kamu yang lagi bahagia."
Aku tersenyum. "Makasih, Mon."
Malam harinya, Dimas datang ke rumahku. Dia membawa DVD film lama.
"Kay, kamu sudah makan?"
"Belum. Aku baru memasak Indomie."
Dimas tertawa. "Indomie bukan memasak. Aku bawakan nasi bungkus."
Kami makan berdua di meja makan. Hangat. Nyaman.
"Dimas, aku mau bertanya sesuatu. Kenapa kamu tidak pernah bilang kita pacaran?"
Dimas berhenti mengunyah. "Kenapa? Kamu ingin kita pacaran?"
"Aku tidak tahu. Aku hanya penasaran."
Dimas meletakkan sendoknya. "Kay, aku tidak bilang kita pacaran karena aku tidak ingin mengikatmu. Status kadang membuat orang merasa terikat. Aku tidak ingin kamu merasa terpaksa."
"Tapi bukankah status itu penting?"
"Penting bagi sebagian orang. Tapi bagiku, yang penting adalah bagaimana kita memperlakukan satu sama lain. Bukan labelnya."
"Jadi kamu tidak masalah kalau orang lain bertanya dan aku bilang kita teman?"
"Kamu bisa bilang apa pun. Yang penting kita tahu hubungan kita seperti apa."
Aku meraih tangannya. "Dimas, aku tidak akan pergi. Bukan karena status. Bukan karena ikatan. Tapi karena aku memilih kamu."
Dimas tersenyum. "Kay, aku tidak butuh ikatan. Aku butuh kamu."
"Jadi kita tidak punya status?"
"Kita punya sesuatu yang lebih dari status. Kita punya komitmen. Tanpa label. Hanya kita berdua."
"Apakah itu cukup?"
"Untuk aku, cukup. Untuk kamu?"
Aku berpikir sejenak. Lalu tersenyum. "Cukup."
Minggu berikutnya, Vira mengundangku makan malam di rumahnya. Rafa sedang keluar kota. Hanya kami berdua.
"Kay, kakak dengar kamu dan Dimas semakin dekat."
"Iya, Kak."
"Sampai kapan kamu berpikir-pikir soal status?"
"Kami tidak punya status, Kak."
Vira mengerjap. "Apa maksudmu?"
"Kami memilih untuk tidak memberi label. Kami hanya bersama."
"Itu aneh. Biasanya orang pacaran pakai status."
"Kami tidak biasa, Kak. Kami tidak butuh label untuk tahu bahwa kami serius satu sama lain."
Vira terdiam. Lalu tersenyum. "Kamu dewasa, Kay. Lebih dewasa dari kakak."
"Kakak selalu bilang begitu."
"Karena itu benar."
Pulang dari rumah Vira, aku mampir ke kost Mona. Dia sedang menonton TV sendirian.
"Kay, kok malam-malam begini ke sini?"
"Kangen."
"Cerita. Ada apa?"
Aku menceritakan tentang obrolanku dengan Dimas soal status.
"Gila. Cowok itu benar-benar beda."
"Iya. Dia tidak seperti kebanyakan cowok."
"Kamu beruntung, Kay."
"Aku tahu."
"Lalu kamu bahagia?"
"Aku bahagia. Bahagia karena aku memilih dia setiap hari. Bukan karena terikat. Tapi karena aku ingin."
Mona tersenyum. "Kamu jatuh cinta, Kay. Cinta yang dewasa. Cinta yang tidak butuh pengakuan."
"Apakah itu cinta?"
"Iya. Itu cinta sejati. Bukan cinta yang membuatmu demam. Tapi cinta yang membuatmu betah."
Mona mematikan televisi. Dia menatapku dengan serius.
"Kay, aku ingin cerita sesuatu."
"Cerita apa lagi, Mon?"
"Tentang cowok yang dulu aku anggap 'cukup'. Namanya Tono. Dia tidak ganteng. Tidak kaya. Tidak romantis. Tapi dia baik. Dia selalu ada. Dan aku... aku membuangnya."
Aku terkejut. "Kamu tidak pernah cerita."
"Karena aku malu. Waktu itu aku masih terobsesi dengan cowok ganteng yang tidak pernah memperhatikan aku. Tono hanya teman biasa bagiku. Sampai suatu hari dia bilang dia mau pindah ke Surabaya. Dan dia bilang, 'Mona, aku suka sama kamu. Tapi kamu tidak pernah serius melihat aku.'"
"Dan kamu?"
"Aku cuma diam. Aku pikir dia hanya bercanda. Tapi dia serius. Dia pergi. Dan sampai sekarang, aku tidak tahu kabarnya."
"Mon, maaf..."
Mona menggeleng. "Aku tidak cerita untuk membuatmu kasihan. Aku cerita karena aku lihat kamu dan Dimas. Dan aku tidak mau kamu mengulang kesalahanku. Kadang kita terlalu sibuk mengejar cinta yang gemerlap sampai tidak melihat cinta yang sederhana. Yang tenang. Yang justru paling bertahan."
"Kamu masih memikirkannya?"
"Kadang. Tapi sudah terlambat. Jadi, jangan buang waktumu dengan memikirkan status atau label, Kay. Yang penting kamu tahu, dia ada. Dia memilih kamu. Dan kamu memilih dia. Selebihnya hanya pelengkap."
Aku menggenggam tangan Mona. "Makasih sudah cerita, Mon."
"Ya. Sekarang pulang. Jangan jadi Mona versi lama yang menyesal di kemudian hari."
Aku pulang dari kost Mona dengan kepala penuh. Tono. Mona menyimpan cerita itu bertahun-tahun. Cowok yang cukup, tapi dibuang karena terlalu sibuk mengejar yang sempurna.
Aku tidak mau seperti itu.
Aku memejamkan mata. Membayangkan Dimas. Wajahnya yang polos. Kacamatanya yang agak turun. Senyumnya yang tulus.
Dan untuk pertama kalinya, aku tidak membandingkannya dengan Rafa.
Karena Dimas berbeda. Dimas bukan Rafa. Dimas adalah Dimas.
Dia cukup. Lebih dari cukup.
Dan aku tidak akan menyia-nyiakannya.
BAB XXVI
Kala Rafa Merelakan
Enam bulan sudah berlalu sejak pernikahan Vira dan Rafa. Enam bulan aku belajar hidup sendiri di rumah yang dulu ramai, kini sunyi. Enam bulan Dimas hadir mengisi hari-hariku dengan cara yang tenang dan tanpa drama. Dia datang tanpa membuatku cemas. Dia pergi tanpa membuatku takut.
Dan enam bulan juga Rafa berusaha menjalani pernikahannya sambil diam-diam menyimpan perasaan yang tidak pernah benar-benar hilang. Aku tahu itu. Bukan karena dia bilang. Tapi karena Vira pernah berbisik di telepon, "Dia masih kadang melamun, Kay. Tapi aku yakin dia sedang berusaha."
Tapi hari ini berbeda.
Hari ini, Rafa memintaku bertemu. Sendirian. Tanpa Vira. Tanpa Dimas. Tanpa Mona.
Aku sempat ragu. Ponselku terasa berat di tangan. Tapi Vira sendiri yang menyuruhku datang.
"Kay, temui Rafa," kata Vira lewat telepon pagi itu. Suaranya tenang. Tidak ada kegelisahan.
"Kenapa, Kak?"
"Ada yang ingin dia bicarakan. Dan dia minta kamu datang."
"Kakak tahu isinya?"
Vira terdiam sebentar. "Tidak. Tapi dia bilang ini penting."
"Kakak tidak cemburu?"
Vira menghela napas. "Dulu aku akan cemburu, Kay. Dulu aku akan bertanya-tanya. Dulu aku akan mengawasi kalian berdua. Tapi sekarang? Aku percaya pada kalian berdua. Aku percaya pada Rafa. Aku percaya pada kamu."
"Kak, aku tidak akan..."
Vira memotongku. "Aku tahu, Kay. Kamu tidak akan melakukan hal bodoh. Kamu sudah melewati masa itu. Sekarang pergilah. Kakak sudah merestui."
Aku menghela napas. "Baik, Kak."
Rafa memilih kafe yang dulu menjadi tempat pertama kami bertiga duduk. Kafe yang sama. Meja yang sama di pojok dekat jendela. Bahkan menu yang sama. Aku tidak tahu apakah dia sengaja memilih tempat ini atau hanya kebetulan. Tapi setiap sudut kafe ini terasa seperti album foto kenangan yang tidak pernah aku minta.
Aku datang lebih dulu. Aku duduk di kursi yang dulu menjadi tempat dudukku. Menghadap ke pintu. Menunggu.
Rafa menyusul lima belas menit kemudian. Tepat waktu, seperti biasa. Wajahnya sedikit lelah. Matanya sayu, ada lingkaran hitam di bawahnya. Tapi senyumnya tetap hangat. Senyum yang dulu membuat jantungku berhenti berdetak. Sekarang hanya membuatku tersenyum kecil.
"Kay, makasih sudah datang."
"Aku tidak enak menolak. Vira yang menyuruh."
Rafa tersenyum tipis. "Vira memang baik."
Kami memesan kopi. Americano untukku. Latte untuknya. Seperti dulu.
"Kay, ada yang ingin aku bicarakan," Rafa memulai setelah kopi datang. Uap panas masih mengepul dari cangkirnya.
"Apa, Kak?"
"Aku ingin minta maaf."
"Maaf kenapa?"
Dia menunduk. Jari-jarinya memainkan gagang cangkir. "Untuk semuanya. Untuk tatapan itu. Untuk pesan tengah malam. Untuk perasaan yang tidak seharusnya aku miliki. Untuk semua kebingungan yang aku ciptakan."
Aku menunduk. "Kak, itu sudah lama. Aku sudah memaafkan."
"Tapi aku belum memaafkan diriku sendiri."
"Kenapa?"
"Karena aku sudah menikah dengan Vira. Aku seharusnya fokus padanya. Aku seharusnya menjadi suami yang baik. Tapi pikiranku sering ke mana-mana. Bahkan saat aku bersama Vira, terkadang yang muncul di kepalaku adalah... kamu."
Rafa bicara pelan. Suaranya berat, seperti orang yang mengeluarkan beban yang sudah lama dipikul.
"Kak, itu wajar. Kita manusia. Bukan robot. Kita tidak bisa mengontrol apa yang muncul di pikiran kita. Kita hanya bisa mengontrol apa yang kita lakukan terhadap pikiran itu."
"Tapi aku suami Vira. Aku tidak boleh membiarkan pikiranku ke mana-mana. Aku tidak boleh membiarkan bayangan orang lain masuk ke dalam kepalaku saat aku bersama istriku sendiri."
"Lalu sekarang? Masih?"
Rafa menggeleng. "Sudah tidak. Aku berusaha, Kay. Aku berdoa. Aku memohon pada Tuhan untuk menghilangkan perasaan itu. Bukan karena aku tidak sayang Vira. Tapi karena aku tahu perasaan itu hanya akan menyakiti banyak orang."
"Dan Tuhan mengabulkan?"
Rafa menyesap kopinya. Perlahan. "Tidak langsung. Seperti kabut yang hilang sedikit demi sedikit. Tapi aku merasa lebih ringan sekarang. Dadaku tidak lagi sesak setiap kali mendengar namamu. Aku tidak lagi mencari-cari wajahmu di setiap keramaian."
Aku tersenyum. "Aku senang mendengarnya, Kak."
Rafa menatapku. Matanya jujur. Tidak ada yang disembunyikan. "Kay, aku juga ingin mengucapkan selamat."
"Selamat untuk apa?"
"Untuk kamu dan Dimas. Aku lihat kamu bahagia. Aku lihat dia baik padamu."
"Kakak tahu?"
Rafa mengangguk. "Aku tahu. Dari Vira. Dari matamu yang berbinar saat Vira cerita tentang Dimas. Dari cara kamu tersenyum sekarang. Beda dengan dulu. Jauh berbeda."
"Beda bagaimana?"
"Dulu senyummu terasa dipaksakan. Seperti kamu sedang memainkan peran. Sekarang senyummu tulus. Sampai ke matamu. Aku tidak tahu persis kapan perubahan itu terjadi. Tapi aku melihatnya."
Aku tersenyum. "Mungkin karena aku akhirnya menemukan ketenangan, Kak. Bukan hanya dengan Dimas. Tapi dengan diriku sendiri."
"Dimas orang baik, Kay. Aku mengenalnya sejak dia masih di tim konsultan. Dia pekerja keras. Dia jujur. Dia tidak pernah main-main dengan perasaan orang. Dia pantas untukmu."
"Makasih, Kak."
Rafa menyesap kopinya. "Kay, ada satu hal lagi."
"Apa?"
"Aku ingin kamu tahu bahwa aku merelakanmu."
Aku mengerjap. "Merelakan? Kakak tidak pernah memiliki aku."
"Bukan dalam arti memiliki, Kay. Bukan dalam arti memiliki secara fisik atau bahkan secara emosional. Tapi merelakan dalam arti melepaskan bayangan tentang kamu yang selama ini aku bawa. Melepaskan rasa bersalah karena pernah memiliki perasaan itu. Melepaskan harapan yang tidak seharusnya ada."
"Kakak tidak perlu merelakan sesuatu yang tidak pernah menjadi milik kakak."
"Tapi perasaan itu pernah menjadi milikku, Kay. Perasaan itu adalah milikku. Aku yang merasakannya. Aku yang memeliharanya. Aku yang membiarkannya tumbuh. Dan sekarang, aku yang harus merelakannya."
Aku terdiam. Rafa melanjutkan.
"Kay, aku sayang Vira. Aku sungguh. Setiap hari aku belajar mencintainya lebih dalam. Setiap hari aku menemukan alasan baru untuk bersyukur bahwa dia adalah istriku. Dan aku ingin fokus padanya. Aku ingin membangun keluarga dengannya. Aku ingin menjadi suami yang baik dan suatu saat menjadi ayah yang baik."
"Kakak bisa, Kak. Aku yakin."
"Aku bisa karena aku memilih untuk bisa, Kay. Bukan karena aku dipaksa. Bukan karena tidak ada pilihan lain. Tapi karena aku sadar bahwa kebahagiaan sejati tidak datang dari mengejar bayangan. Tapi dari merawat apa yang sudah ada di depan mata. Dan karena aku tahu, kamu sudah baik-baik saja dengan Dimas. Kamu sudah menemukan kebahagiaanmu. Dan itu cukup bagiku."
"Kakak tidak perlu khawatir tentang aku. Aku akan baik-baik saja. Aku sudah baik-baik saja."
Rafa menatapku. Matanya mencari sesuatu. "Aku tahu. Tapi aku ingin mendengarnya dari mulutmu sendiri, Kay. Bukan dari Vira. Bukan dari Mona. Bukan dari siapa pun. Tapi dari kamu."
Aku menatap balik. Tidak menghindar. Tidak membuang muka. Tidak seperti dulu.
"Kak, aku baik-baik saja. Aku bahagia. Aku sudah melangkah maju. Benar-benar damai. Bukan karena aku memaksakan diri. Bukan karena aku butuh pelarian. Tapi karena aku sadar bahwa yang aku butuhkan bukanlah seseorang yang membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama. Tapi seseorang yang membuatku merasa aman untuk jatuh cinta setiap hari."
Rafa menghela napas lega. Wajahnya yang tadinya tegang, penuh keraguan, kini sedikit mengendur. Senyumnya menjadi lebih ringan.
"Benar-benar?"
"Benar-benar, Kak."
Rafa mengulurkan tangannya di atas meja. Aku melihat tangannya sebentar. Dulu, tangan ini hampir menyentuh pipiku di dapur. Dulu, tangan ini menangkapku saat aku hampir jatuh di lorong kampus. Sekarang, tangan ini hanya menggenggam udara, menunggu.
Aku menyambut tangannya. Bukan dengan perasaan. Tapi dengan keikhlasan.
"Makasih, Kay."
"Makasih kembali, Kak."
Kami menghabiskan kopi dalam keheningan yang damai. Bukan keheningan yang canggung seperti dulu, saat setiap detak jam terasa seperti siksaan. Bukan keheningan yang penuh dengan kata-kata yang tidak terucap. Tapi keheningan yang terasa seperti titik akhir dari sebuah perjalanan panjang.
Sebuah perjalanan yang dimulai dari lorong kampus tiga tahun lalu. Sebuah perjalanan yang penuh dengan air mata, tawa, kebohongan, dan kejujuran. Sebuah perjalanan yang mengajarkanku bahwa cinta tidak selalu harus berakhir bahagia. Kadang cinta berakhir dengan keikhlasan.
Dan sekarang, perjalanan itu berakhir.
"Kay, aku pamit dulu. Vira menunggu di rumah," kata Rafa sambil berdiri.
"Iya, Kak. Hati-hati di jalan."
Rafa berjalan ke pintu. Jasnya rapi. Rambutnya tertata. Dia terlihat seperti pria yang sama saat pertama kali aku lihat di kafe ini. Tapi ada yang berbeda. Beban di pundaknya terasa lebih ringan.
Tapi sebelum keluar, dia berbalik. Matanya menatapku.
"Kay."
"Ya, Kak."
"Kamu tahu, di hidup yang lain, mungkin ceritanya akan berbeda. Mungkin aku akan memilihmu."
Aku tersenyum. Bukan senyum pahit. Bukan senyum menyesal. Tapi senyum yang tulus.
"Tapi di hidup ini, Kakak sudah memilih Vira. Dan itu pilihan yang tepat."
Rafa tersenyum. Senyum yang berbeda dari dulu. Senyum yang tidak meninggalkan rasa sakit. Senyum yang penuh keikhlasan. Hanya keikhlasan.
"Kamu bijak, Kay."
"Aku belajar dari kakak."
Rafa tertawa kecil. Dia melambai. Lalu pergi.
Pintu kafe tertutup di belakangnya.
Aku duduk sendirian di meja itu. Menatap pintu yang sudah tertutup. Menatap cangkir kopi yang sudah hampir habis. Menatap jendela kafe yang dulu menjadi tempatku menunggunya datang.
Dan untuk pertama kalinya, aku tidak menangis.
Malam harinya, Dimas datang ke rumahku. Wajahnya cerah. Dia membawa gorengan dan teh hangat. Seperti biasa.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Dimas sambil meletakkan bungkusan gorengan di meja.
"Aku baik-baik saja. Malah lega."
"Lega kenapa?"
"Karena akhirnya Rafa merelakan. Bukan merelakan aku, seperti yang dia kira. Tapi merelakan perasaannya sendiri. Dan itu lebih penting."
Dimas menatapku. "Kamu bahagia?"
"Aku bahagia, Dimas. Bukan karena Rafa melepaskanku. Tapi karena dia akhirnya bisa fokus pada Vira. Mereka pantas bahagia bersama. Vira sudah berkorban terlalu banyak untukku. Sudah waktunya dia mendapatkan kebahagiaannya."
Dimas meraih tanganku. Tangannya hangat. Kasar. Tapi nyaman.
"Kamu baik, Kay."
"Aku tidak baik, Dimas. Aku hanya lelah. Lelah menyimpan beban. Lelah memendam perasaan. Lelah menjadi orang yang selalu berpura-pura kuat."
"Beban itu sekarang sudah hilang?"
Aku mengangguk. "Hilang, Dimas. Rasanya ringan. Seperti ada yang terangkat dari pundakku. Aku tidak tahu apakah ini yang dinamakan ikhlas. Tapi rasanya enak."
Dimas tersenyum. "Bagus. Sekarang kita fokus pada kita."
Aku menatapnya. "Kita?"
"Iya, Kay. Aku dan kamu. Tanpa bayangan masa lalu. Tanpa beban. Tanpa rasa bersalah. Tanpa harus melihat ke belakang setiap kali ada suara yang mengingatkan pada luka lama."
Aku menatap Dimas. Wajahnya yang polos di balik kacamata tebal. Senyumnya yang tulus tanpa kepalsuan. Matanya yang jujur tanpa kebohongan.
"Dimas, aku sayang kamu."
Dia terkejut. Matanya membelalak. Gorengan di tangannya hampir jatuh.
"Kamu... serius?"
"Aku serius, Dimas. Aku tidak tahu apakah ini cinta seperti yang orang-orang bicarakan. Aku tidak tahu apakah ini cinta yang membuat jantung berdebar kencang. Tapi aku sayang kamu. Aku nyaman dengan kamu. Aku ingin kamu tetap ada di hidupku. Bukan sebagai pelarian. Bukan sebagai pengganti. Tapi sebagai kamu."
Dimas tersenyum lebar. Senyum paling lebar yang pernah aku lihat darinya.
"Kay, aku juga sayang kamu. Aku sudah dari dulu. Dari pertama kali kamu marah karena kopimu dingin. Dari pertama kali kamu tertawa mendengar leluconku yang tidak lucu. Dari pertama kali kamu menatapku dan aku merasa bahwa mungkin, mungkin saja, aku tidak sendirian di dunia ini."
"Kenapa tidak pernah bilang?"
Dimas menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Karena aku takut, Kay. Takut kamu belum siap. Takut kamu masih terikat masa lalu. Takut kamu melihatku hanya sebagai pelarian, bukan sebagai pilihan."
"Sekarang?"
Dia menatapku. "Sekarang aku siap. Dan kamu kelihatan siap. Matamu jernih. Tidak ada kabut di sana."
Kami berdua tersenyum. Dimas memelukku. Pelukan yang hangat. Tidak membuat jantung berdebar kencang seperti dulu. Tapi membuat seluruh tubuh terasa aman. Seperti pulang.
"Dimas."
"Ya."
"Aku tidak tahu akan ke mana kita. Aku tidak tahu apakah kita akan berakhir bahagia atau tidak. Tapi aku senang kamu ada di sini. Hari ini. Saat ini."
"Aku juga, Kay. Aku tidak akan ke mana-mana. Bukan karena aku terikat. Tapi karena aku memilih. Setiap hari. Setiap detik. Aku memilih kamu."
Malam itu, untuk pertama kalinya dalam enam bulan terakhir, aku tidur tanpa mimpi buruk.
Tanpa bayangan Rafa.
Tanpa rasa sesak di dada saat ponsel bergetar.
Tanpa rasa waswas bahwa kebahagiaan yang aku rasakan hari ini akan diambil besok.
Hanya ketenangan.
Hanya kelegaan.
Hanya rasa syukur yang dalam.
Kala Rafa merelakan, aku akhirnya benar-benar bebas. Bukan hanya dari perasaanku sendiri. Bukan hanya dari rasa bersalah karena pernah mencintai orang yang salah. Tapi dari bayang-bayang masa lalu yang selama ini membelenggu, yang membuatku ragu untuk melangkah, yang membuatku takut untuk bahagia.
Dan untuk pertama kalinya, aku bisa melangkah tanpa menoleh ke belakang.
Bersama Dimas. Dengan hati yang ringan. Dengan pikiran yang jernih.
Menuju babak baru yang tidak lagi diwarnai oleh cinta yang salah alamat.
Tapi cinta yang tepat waktu.
Tepat pada waktunya.
BAB XXVII
Saat Semua Luka Mulai Berbekas
Satu tahun sudah berlalu sejak pernikahan Vira dan Rafa. Satu tahun sejak aku memutuskan untuk melangkah maju dengan Dimas. Satu tahun sejak Rafa merelakan perasaannya padaku.
Banyak yang berubah. Tapi banyak juga yang tetap sama.
Vira kini sedang hamil empat bulan. Perutnya mulai membesar. Wajahnya berseri-seri setiap kali berbicara tentang calon bayinya. Rafa menjadi suami yang lebih perhatian dari sebelumnya. Dia hampir tidak pernah meninggalkan Vira sendirian. Dialah yang memasak, yang membersihkan rumah, yang menemani Vira kontrol ke dokter.
Dan aku? Aku masih bersama Dimas. Masih tanpa status. Masih tanpa label. Tapi kami tetap bersama. Setiap hari. Setiap minggu. Setiap bulan.
Hubungan kami tidak berubah drastis. Tidak ada lonjakan romantisme yang berlebihan. Tapi juga tidak ada penurunan.
Kami stagnan. Tapi stagnan yang nyaman.
"Kay, kamu dan Dimas kapan menikah?" tanya Mona suatu sore.
Kami sedang duduk di teras rumahku. Mona sengaja datang karena katanya kangen. Padahal aku tahu dia hanya ingin kepo.
"Kami belum bicara soal itu, Mon."
"Belum bicara? Sudah setahun pacaran tanpa status, kamu tidak pernah bertanya rencana ke depan?"
"Kami tidak pacaran, Mon. Kami hanya... bersama."
"Itu namanya pacaran, Kay. Hanya tanpa label."
"Ya, terserah."
Mona menghela napas. "Kamu ini santai sekali. Biasanya cewek itu mengejar-ngejar soal masa depan."
"Aku bukan cewek biasa."
"Kamu bilang begitu terus. Tapi suatu saat kamu akan sadar, waktu itu penting. Terutama buat cewek."
Aku menatap Mona. "Kamu menasihati aku atau kamu yang sedang galau?"
Mona terdiam. Lalu tersenyum pahit. "Dua-duanya."
"Ada apa, Mon?"
Mona menghela napas panjang. "Aku baru putus."
"Apa? Kapan?"
"Minggu lalu. Aku tidak cerita karena kamu sedang sibuk."
"Dengan siapa? Kamu bahkan tidak bilang sedang pacaran."
"Itu dia masalahnya. Aku pacaran sama cowok tanpa status. Tanpa label. Seperti kamu dan Dimas. Dan ujung-ujungnya dia pergi begitu saja. Tidak ada yang mengikatnya."
Aku terdiam. Mona melanjutkan.
"Kay, aku suka sama Dimas. Dia orang baik. Tapi aku juga takut kamu mengalami hal yang sama. Cowok bisa pergi kapan saja kalau tidak ada ikatan."
"Dimas bukan cowok itu."
"Kamu yakin?"
Aku tidak bisa menjawab. Mona mengusap matanya.
"Maaf, Kay. Aku tidak bermaksud merusak suasana. Aku hanya... khawatir."
Aku memeluk Mona. "Makasih, Mon. Aku akan pikirkan."
Mona pulang sore itu. Aku duduk sendirian di teras, menatap langit yang mulai gelap.
Pertanyaan Mona terus berputar di kepalaku. Apakah aku dan Dimas memiliki masa depan? Atau kami hanya berputar-putar di tempat?
Malam harinya, Dimas datang. Seperti biasa. Membawa makanan. Membawa senyum.
"Kay, kamu kenapa? Kelihatan murung."
"Tidak apa-apa. Hanya banyak pikiran."
"Cerita. Aku siap mendengar."
Aku menceritakan tentang Mona. Tentang kekhawatirannya. Tentang ketakutannya bahwa hubungan tanpa status bisa berakhir kapan saja.
Dimas mendengarkan dengan saksama. Setelah aku selesai, dia mengambil tanganku.
"Kay, aku mengerti kekhawatiran Mona. Tapi aku bukan cowok itu."
"Aku tahu. Tapi kadang rasa takut tetap ada."
"Kamu takut aku pergi?"
Aku mengangguk pelan.
"Kay, aku tidak akan pergi. Bukan karena status. Bukan karena ikatan. Tapi karena aku memilih kamu. Setiap hari. Tanpa paksaan."
"Tapi bagaimana kalau suatu saat kamu berubah pikiran?"
"Itu risiko dalam hubungan apa pun. Pacaran dengan status sekalipun, orang bisa berubah pikiran."
"Jadi, tidak ada jaminan?"
"Tidak ada. Yang ada hanya kepercayaan."
Aku terdiam. Dimas membelai tanganku.
"Kay, kalau kamu butuh status untuk merasa aman, aku akan beri."
"Bukan status yang aku butuhkan, Dimas. Aku butuh kepastian."
"Kepastian seperti apa?"
"Kepastian bahwa kita menuju ke suatu tempat. Bukan berputar-putar."
Dimas menatapku lama. "Kamu ingin menikah?"
Aku terkesiap. "Aku tidak bilang begitu."
"Tapi itu yang kamu maksud dengan 'suatu tempat'."
"Tidak. Maksudku..."
"Apa, Kay?"
Aku tidak bisa menjawab. Dimas tersenyum tipis.
"Kay, aku serius sama kamu. Aku sudah serius dari awal. Tapi aku tidak ingin terburu-buru karena aku tahu kamu butuh waktu untuk berdamai."
"Aku sudah damai."
"Aku tahu. Tapi luka lama belum tentu sudah benar-benar kering."
Aku menunduk. Dimas benar. Luka itu masih ada. Mungkin tidak lagi menganga. Tapi bekasnya masih terasa.
"Kay, aku tidak akan ke mana-mana. Tapi aku juga tidak ingin memaksamu mengambil keputusan yang belum siap kamu ambil."
"Kamu sabar sekali, Dimas."
"Karena aku mencintaimu."
Kata itu. Akhirnya dia mengucapkannya. Bukan "aku sayang kamu". Tapi "aku mencintaimu".
Jantungku berdegup. Bukan degup kencang seperti dulu saat bersama Rafa. Tapi degup yang hangat. Degup yang menenangkan.
"Dimas, aku..."
"Kamu tidak usah membalas sekarang. Aku hanya ingin kamu tahu."
Dimas berdiri. "Aku pulang dulu. Kamu istirahat."
"Dimas."
Dia berbalik.
"Aku juga... mencintaimu."
Dimas tersenyum. Senyum paling lebar yang pernah aku lihat.
"Makasih, Kay. Itu lebih dari cukup."
Dia pergi. Aku berdiri di teras, memegang pagar.
Aku mencintai Dimas. Bukan cinta yang menggebu-gebu. Bukan cinta yang membuatku demam. Tapi cinta yang dewasa. Cinta yang memilih untuk tetap ada. Cinta yang tidak butuh pengakuan.
Dan itu sudah cukup.
Beberapa hari kemudian, Vira mengajakku jalan-jalan ke mal. Rafa tidak ikut karena ada rapat.
"Kay, kakak lihat kamu dan Dimas semakin dekat," kata Vira sambil memilih baju bayi.
"Iya, Kak."
"Kapan menikah?"
"Kak, kok pada bertanya nikah terus?"
"Karena kakak ingin melihat adikku bahagia."
"Aku sudah bahagia, Kak."
"Bahagia selamanya?"
"Tidak ada yang tahu selamanya, Kak. Yang penting sekarang."
Vira berhenti memilih baju. Dia menatapku.
"Kay, kamu berubah."
"Berubah menjadi apa?"
"Dulu kamu begitu terobsesi dengan masa depan. Dengan Rafa. Dengan cinta yang sempurna. Sekarang kamu lebih santai. Lebih menikmati proses."
"Aku belajar, Kak. Bahwa tidak semua hal harus dipaksakan. Termasuk cinta."
Vira tersenyum. "Kakak bangga."
"Kakak selalu bilang begitu."
"Karena itu benar."
Kami melanjutkan belanja. Vira membeli banyak baju bayi. Warna-warna pastel. Lucu-lucu.
"Kay, kamu mau menjadi bibi, kan?"
"Iya, Kak. Aku sudah siap."
"Kakak doakan kamu dan Dimas segera menyusul."
"Kak!"
"Bercanda."
Vira tertawa. Aku juga tertawa.
Pulang ke rumah, aku melihat gelang perak di pergelangan tanganku. Yang dari Rafa dulu. Dan yang dari Dimas baru-baru ini.
Dua gelang. Dua perasaan yang berbeda.
Satu dari masa lalu. Satu dari masa kini.
Aku tidak akan menghapus masa lalu. Tapi aku juga tidak akan membawanya terus ke masa depan.
Bekas luka akan selalu ada. Tapi tidak lagi terasa sakit. Hanya menjadi pengingat. Bahwa aku pernah jatuh. Dan aku pernah bangkit.
Saat semua luka mulai berbekas, aku akhirnya mengerti.
Cinta bukan tentang siapa yang lebih dulu. Bukan tentang siapa yang lebih sempurna. Bukan tentang siapa yang membuat jantung berdebar paling kencang.
Tapi tentang siapa yang tetap tinggal. Siapa yang membuatmu merasa aman. Siapa yang memilihmu setiap hari. Tanpa drama. Tanpa paksaan. Tanpa syarat.
Dimas bukan Rafa.
Dan aku bersyukur untuk itu.
BAB XXVIII
Menerima Kekurangan sebagai Kelengkapan
Satu setengah tahun sudah aku dan Dimas bersama. Cukup lama untuk membuatku mengenal dia lebih dalam. Termasuk kekurangannya.
Karena tidak ada manusia yang sempurna. Dimas pun tidak.
Dia pelupa. Sering lupa janji-janji kecil. Seperti lupa membeli susu yang aku minta. Lupa menjemputku tepat waktu.
Dia juga tidak romantis. Di hari ulang tahunku, dia hanya datang dengan sekotak kue bolu dari toko langganan. Tanpa kado. Tanpa bunga.
"Kay, maaf. Aku lupa hari ini ulang tahunmu."
Aku tersenyum kecut. "Tidak apa-apa."
"Kamu marah?"
"Tidak. Hanya sedikit kecewa."
Dimas duduk di sampingku. "Besok kita pergi ke pantai. Kamu mau lihat matahari terbenam, kan?"
Aku mengangguk. Dimas tersenyum, tapi senyumnya terasa bersalah.
Mona bilang Dimas kurang peka. Vira bilang Dimas kurang perhatian.
Tapi aku belajar untuk menerima.
Karena aku juga tidak sempurna. Aku pemarah. Aku keras kepala. Sulit meminta maaf meskipun aku salah.
Dan Dimas? Dia selalu sabar menghadapiku.
Suatu hari, aku mendadak diam setelah dia lupa mengabari bahwa dia akan pulang kampung.
"Kamu tidak bilang kamu akan pulang kampung!"
"Aku lupa."
"Lupa? Pulang kampung itu bukan hal kecil, Dimas."
"Aku minta maaf."
"Maaf terus. Tapi kamu tetap lupa."
Dimas terdiam. Lalu dia berkata pelan, "Kay, aku pulang kampung untuk memperkenalkan kamu ke orang tuaku."
Aku terkejut. "Apa?"
"Ibu aku minta foto kamu. Aku bilang aku punya pacar."
"Kita bukan pacar, Dimas."
"Tapi ibuku menganggap kamu pacarku."
Kemarahanku menguap. "Kenapa tidak bilang dari awal?"
"Karena aku ingin memberi kejutan."
Dimas meraih tanganku. "Kay, aku tidak sempurna. Aku sering lupa. Tapi aku serius sama kamu."
"Jadi, maukah kamu memperkenalkan diri ke orang tuaku?"
Aku tersenyum. "Kapan?"
"Minggu depan. Kita pergi ke Bandung."
Kami pergi ke Bandung naik kereta. Rumah Dimas sederhana. Di sebuah perumahan kecil di pinggiran kota.
Ibunya menyambutku dengan hangat. Wajahnya mirip Dimas. Bulat. Berkacamata. Ramah.
"Kayla, anaknya cantik."
"Makasih, Bu."
Sepanjang sore, aku mengobrol dengan ibu Dimas. Tentang masa kecil Dimas. Tentang kegemarannya mendaki gunung. Tentang cita-citanya dulu menjadi astronot.
Ibu Dimas menunjukkan foto Dimas kecil dengan helm dari kardus dan baju serba hitam.
"Aku suka," kataku.
"Kamu jangan menertawakan aku," kata Dimas.
"Aku tidak tertawa. Kamu lucu."
Malam harinya, aku membantu ibu Dimas di dapur.
"Kayla, Ibu suka sama kamu. Kamu sederhana. Tidak neko-neko. Cocok sama Dimas."
"Dimas orang baik, Bu."
"Iya. Tapi dia tidak seberapa. Kerja biasa. Rumah biasa."
"Aku tidak butuh mewah, Bu. Aku butuh ketenangan."
Ibu Dimas menatapku. "Kamu anak yang bijak."
"Aku bukan bijak, Bu. Aku hanya belajar dari kesalahan. Pernah jatuh cinta pada cowok yang terlalu sempurna. Ternyata kesempurnaan tidak menjamin kebahagiaan."
Ibu Dimas mengangguk. "Benar. Suami Ibu juga tidak sempurna. Tapi Ibu bahagia."
"Kuncinya apa, Bu?"
"Menerima. Menerima kekurangan sebagai bagian dari kelebihan. Tanpa kekurangan, kita tidak akan belajar sabar. Tanpa kekurangan, cinta tidak akan tumbuh."
Aku tersenyum. "Makasih, Bu."
Mona meneleponku malam itu, setelah aku kembali dari Bandung.
"Kay, gimana? Bertemu orang tua Dimas?"
"Baik. Ibunya baik."
"Kamu lihat? Dimas serius sama kamu. Dia sudah mengenalkan kamu ke keluarganya."
Aku terdiam. Mona melanjutkan.
"Kay, aku ingin cerita sesuatu. Dulu, sebelum Raka, ada cowok lain juga. Namanya Andri. Dia pelupa. Dia tidak romantis. Persis seperti Dimas."
"Aku tidak tahu kamu punya cerita dengan Andri."
"Karena belum pernah aku ceritakan. Andri bukan siapa-siapa bagiku dulu. Aku anggap dia teman biasa. Tapi suatu hari, dia bilang dia mau pindah ke luar kota. Dan dia bilang, 'Mona, sebenarnya aku suka sama kamu. Tapi kamu tidak pernah melihat aku.'"
Mona berhenti sejenak. Suaranya bergetar.
"Aku cuma bisa diam, Kay. Dan dia pergi. Sampai sekarang, aku tidak tahu kabarnya."
"Mon, maaf. Aku tidak tahu."
"Aku tidak cerita karena malu. Tapi setelah melihat kamu dengan Dimas, aku jadi ingat Andri. Cowok yang tidak sempurna. Tapi dia baik. Dan aku kehilangan dia karena aku terlalu sibuk mengejar cowok yang salah."
"Kamu masih memikirkannya?"
"Kadang. Tapi sudah terlambat. Jadi, jangan buang waktu kamu dengan mengejar kesempurnaan, Kay. Karena kesempurnaan tidak ada. Yang ada cuma orang yang terus berusaha."
Aku menggenggam ponsel lebih erat.
"Makasih sudah cerita, Mon."
"Ya. Sekarang tidur. Jangan jadi aku yang menyesal di kemudian hari."
Aku menutup telepon. Berbaring di kasur. Menatap langit-langit.
Mona kehilangan Andri karena terlalu sibuk mengejar yang salah. Mona juga kehilangan Raka karena tidak menyadari kebaikannya.
Dua cowok baik. Dua kesempatan yang lewat.
Aku tidak ingin mengulang kesalahan yang sama.
Kereta melaju meninggalkan Bandung. Lahan hijau berlalu di jendela. Dimas duduk di sampingku, tangannya menggenggam tanganku.
"Kay, kamu senang?"
"Senang."
"Maaf kalau aku sering mengecewakan."
"Dimas, kamu tidak perlu sempurna. Aku juga tidak."
"Aku ingin menjadi lebih baik. Untuk kamu."
"Kamu sudah baik. Hanya perlu sedikit lebih ingatan."
Dimas tertawa. "Aku akan berusaha."
"Kay."
"Ya."
"Aku mencintaimu. Bukan karena kamu sempurna. Tapi karena kamu nyata."
Aku menatap Dimas. Wajahnya bulat. Kacamatanya tebal. Rambutnya agak keriting. Tidak ada yang spesial. Tapi matanya jujur.
"Aku juga mencintaimu. Bukan karena kamu hebat. Tapi karena kamu tetap ada."
Dimas menggenggam tanganku lebih erat. Kami berdua tersenyum.
Menerima kekurangan sebagai kelengkapan.
Itulah yang aku pelajari. Bahwa cinta tidak butuh kesempurnaan. Cinta butuh penerimaan. Cinta butuh kesabaran. Cinta butuh keberanian untuk tetap bertahan meskipun tidak selalu mudah.
Dimas bukan pria sempurna. Tapi dia adalah pria yang terus berusaha.
Mona kehilangan dua cowok baik karena dia tidak melihat mereka. Aku tidak akan mengulang kesalahan itu.
Dimas adalah pilihanku. Bukan karena dia sempurna. Tapi karena dia nyata. Dan dia ada.
Untuk aku, itu sudah lebih dari cukup.
BAB XXIX
Bahagia yang Tak Sempurna
Dua tahun sudah berlalu. Dua tahun aku dan Dimas bersama. Dua tahun Vira dan Rafa menjalani pernikahan. Dua tahun penuh suka, duka, air mata, dan tawa. Tidak ada yang sempurna. Tapi kami semua belajar untuk bahagia dengan ketidaksempurnaan itu.
Hari ini, Vira melahirkan. Seorang bayi perempuan yang cantik. Wajahnya mungil. Matanya hitam. Rambutnya lebat. Kami menamainya Aisyah. Nama yang dipilih Rafa karena artinya "yang hidup".
"Aisyah," bisik Vira sambil memangku bayinya. "Anak Ibu cantik."
"Aku boleh gendong, Kak?" tanyaku.
"Cuci tangan dulu."
"Iya, Kak."
Aku mencuci tangan di wastafel rumah sakit. Rafa berdiri di samping Vira, tersenyum lebar. Wajahnya yang dulu tegang, kini terlihat tenang.
"Rafa, kamu mau gendong?" tanya Vira.
"Aku takut."
"Takut apa?"
"Nanti salah."
"Tidak salah. Duduk yang benar. Topang kepalanya."
Rafa duduk di kursi, lalu Vira meletakkan bayi itu di pangkuannya. Rafa membatu. Tidak bergerak. Matanya membelalak.
"Ra, santai," kata Vira tertawa.
"Aku santai."
"Kamu kelihatan seperti patung."
"Ya sudah, ambil lagi. Aku tidak berani."
Vira mengambil Aisyah. Rafa menghela napas lega. Aku tertawa melihatnya.
"Kak Rafa takut sama bayi," ledekku.
"Bukan takut. Khawatir."
"Sama saja."
Rafa mendengus. Vira ikut tertawa.
"Kay, kamu sekarang mau gendong?" tanya Vira.
Aku mengangguk. Vira meletakkan Aisyah di pangkuanku. Aku menyangga kepalanya dengan hati-hati.
"Kamu terlihat lebih alami daripada Rafa," kata Vira.
"Karena aku lebih sering melihat ibu-ibu menggendong bayi."
"Kamu pasti akan menjadi ibu yang baik."
"Kak, aku belum menikah."
"Nanti. Sama Dimas."
Aku tersenyum. "Doakan saja, Kak."
Dimas datang sore harinya. Dia membawa buah-buahan dan bingkisan untuk bayi.
"Wah, ini Aisyah," kata Dimas sambil melihat bayi itu.
"Kamu mau gendong?" tawarku.
"Boleh."
Dimas menggendong Aisyah dengan hati-hati. Dia terlihat lebih alami daripada Rafa.
"Dimas, kamu ternyata jago menggendong bayi," kata Vira.
"Sering melihat sepupu."
"Wah, berarti sudah berpengalaman."
Dimas tersenyum malu. Aku memandanginya dari samping.
Ada kehangatan di dadaku. Melihat Dimas menggendong bayi. Melihat masa depan yang mungkin suatu saat akan kami miliki.
Mona datang dengan terburu-buru. "Maaf, telat! Macet!"
"Masuk, Mon. Tenang," kata Vira.
Mona melihat Aisyah. "Wah, cantik sekali. Mirip siapa?"
"Mirip aku," kata Rafa cepat.
"Mirip aku," Vira menyanggah.
"Aku. Mata hitam seperti aku."
"Hidung mancung seperti aku."
"Kalian berdua adu mulu terus," ledek Mona.
Semua tertawa. Aisyah menangis. Mungkin kaget dengan suara tawa yang keras.
"Kalian jangan ribut. Bayi bisa kaget," kata Vira sambil mengambil Aisyah.
Kami semua terdiam. Vira menenangkan bayinya. Suasana rumah sakit yang tadinya ramai, kini sunyi.
"Kay, kapan kamu menyusul?" tanya Mona.
"Menusul apa?"
"Menusul punya anak."
"Masih lama, Mon. Aku belum menikah."
"Ya menikah dulu."
"Ya itu. Belum ada yang melamar."
Semua mata menuju ke Dimas. Dimas tersenyum canggung.
"Aku masih menabung," katanya.
"Sudah berapa tahun menabung?" tanya Mona.
"Belum lama."
"Dimas, jangan lama-lama. Kayla tidak muda lagi."
"Mon, aku masih 24," potongku.
"24 itu sebentar lagi 25. 25 sebentar lagi 30."
"Kamu ini lebay."
Mona tertawa. Dimas hanya tersenyum.
Tapi di matanya, aku melihat ada sesuatu. Sesuatu yang serius.
Pulang dari rumah sakit, Dimas mengantarku ke rumah. Di depan pintu, dia tidak langsung pergi.
"Kay, aku mau bicara."
"Tentang apa?"
"Tentang masa depan."
Aku menegang. "Masa depan?"
"Iya. Aku tidak mau terus-terusan seperti ini. Tanpa kejelasan."
"Kamu bilang dulu kamu tidak butuh status."
"Dulu. Tapi sekarang aku butuh kepastian."
"Kepastian seperti apa?"
Dimas mengambil sesuatu dari sakunya. Sebuah kotak kecil berwarna merah.
Aku terkesiap. "Dimas, ini..."
"Kay, aku tidak sempurna. Aku sering lupa. Aku sering ceroboh. Aku tidak kaya. Aku tidak tampan. Tapi aku mencintaimu. Dan aku ingin menghabiskan sisa hidupku dengan kamu."
Dimas membuka kotak itu. Di dalamnya ada cincin perak sederhana. Tidak mewah. Tidak berlian. Tapi indah.
"Kayla Maharani, maukah kamu menikah denganku?"
Aku terdiam. Air mataku mengalir.
"Dimas, kamu..."
"Aku serius, Kay. Aku sudah menabung setahun untuk cincin ini. Aku sudah minta restu dari Vira. Aku sudah bilang ke ibuku."
"Kenapa tidak bilang dari dulu?"
"Aku takut. Takut kamu belum siap. Takut kamu masih punya bayangan masa lalu. Tapi hari ini, saat aku melihatmu menggendong Aisyah, aku sadar. Aku ingin itu. Aku ingin kamu menjadi ibu dari anak-anakku."
"Dimas, aku..."
"Kamu tidak usah menjawab sekarang. Kamu boleh pikir dulu."
"Dimas, aku mau."
Dia mengerjap. "Apa?"
"Aku mau. Aku tidak perlu pikir panjang."
"Kamu yakin?"
"Aku yakin. Bukan karena kamu sempurna. Tapi karena kamu adalah kamu."
Dimas tersenyum. Tangannya gemetar memasangkan cincin di jariku.
"Kay, aku janji. Aku akan membahagiakanmu."
"Aku tidak butuh bahagia yang sempurna, Dimas. Aku butuh bahagia yang nyata. Dan kamu adalah kenyataan itu."
Kami berpelukan. Angin malam bertiup. Daun-daun berguguran.
"Kay, aku mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu, Dimas."
Malam itu, aku menelepon Vira. Dia masih di rumah sakit.
"Kak, Dimas melamarku."
"Apa? Serius?"
"Iya. Dia memberi cincin."
"Kamu terima?"
"Aku terima."
Vira menangis di ujung telepon. "Kakak bahagia, Kay. Sungguh."
"Makasih, Kak."
"Kamu pantas bahagia. Kamu sudah berjuang keras."
"Kakak juga."
"Aisyah akan punya bibi yang bahagia."
Kami berdua menangis. Bukan air mata sedih. Tapi air mata bahagia.
Rafa mengambil alih telepon. "Kay, selamat. Kamu pantas mendapatkan pria baik."
"Makasih, Kak Rafa."
"Aku tahu Dimas. Dia orang bertanggung jawab. Kamu akan aman bersamanya."
"Aku tahu."
"Kay, maafkan aku atas semua yang dulu."
"Sudah, Kak. Lupakan."
"Makasih."
Rafa menutup telepon. Aku berbaring di kasur, menatap cincin di jariku.
Sederhana. Tidak mewah. Tapi penuh makna.
Bahagia yang tak sempurna. Itulah yang aku miliki sekarang. Bukan cinta yang membuat jantung berdebar kencang. Bukan cinta yang penuh drama. Tapi cinta yang tenang. Yang membuatku merasa aman. Yang membuatku ingin pulang.
Dimas bukanlah pria yang aku bayangkan dulu. Dia bukan pangeran di atas kuda putih. Dia bukan pujaan hati dari kejauhan. Dia adalah pria nyata dengan segala kekurangannya. Dan aku mencintainya.
Bukan karena dia sempurna. Tapi karena dia membuatku merasa sempurna menjadi diriku sendiri.
Dan untuk aku, itu sudah lebih dari cukup.
BAB XXX
Epilog: Tentang Cinta yang Tak Pernah Salah Alamat
Lima tahun kemudian.
Aku berdiri di depan cermin, mengenakan kebaya putih sederhana. Rambutku disanggul rapi dengan hiasan melati. Wajahku terlihat dewasa, tidak lagi polos seperti dulu. Ada garis-garis halus di sudut mata, bekas tertawa dan menangis selama perjalanan hidup.
Hari ini adalah hari pernikahanku.
Bukan dengan Rafa. Bukan dengan pangeran impian dari lorong kampus. Tapi dengan Dimas. Pria berkacamata dengan rambut mulai tipis di bagian atas. Pria yang sering lupa janji tapi tidak pernah lupa membawakan kopi setiap pagi. Pria yang tidak romantis tapi selalu ada saat aku butuh.
"Kay, kamu cantik sekali," kata Mona dari belakang.
Dia menjadi pendampingku hari ini. Sama seperti dulu aku menjadi pendamping Vira.
"Kamu juga cantik, Mon."
"Aku selalu cantik. Tapi hari ini kamu lebih cantik."
Kami tertawa. Mona membantuku merapikan kerudung.
"Kay, kamu ingat tidak dulu kamu menangis di kamar kost aku?"
"Ingat."
"Sekarang kamu tersenyum di hari pernikahanmu. Perjuanganmu tidak sia-sia."
"Aku bersyukur, Mon. Untuk semuanya."
Mona memelukku. "Aku bangga sama kamu."
"Makasih, Mon."
Pintu terbuka. Vira masuk dengan Aisyah yang sudah berusia lima tahun. Anak itu berlari ke arahku.
"Bibi Kay! Cantik!"
Aku menggendong Aisyah. "Makasih, Sayang."
Vira menatapku dengan mata berkaca-kaca. "Kay, kakak tidak percaya ini hari. Adik kecil kakak akhirnya menikah."
"Kak, jangan menangis. Nanti make up aku rusak."
"Kakak usahakan."
Vira memelukku. Aisyah di antara kami tertawa.
"Bibi Kay, Bibi Kay, aku mau ikut."
"Nanti kamu jadi pembawa bunga, ya."
"Aku sudah berlatih!"
"Bagus."
Rafa masuk ke ruangan. Wajahnya masih sama. Tua sedikit. Tapi tetap tampan. Dia menggandeng seorang anak laki-laki kecil, Mirza, putranya yang berusia dua tahun.
"Kay, selamat," kata Rafa.
"Makasih, Kak."
"Kamu cantik."
"Kakak jangan bergombal. Nanti Vira marah."
"Vira sudah tahu aku suka bergombal."
Vira tertawa. "Dia memang gombal dari dulu."
Kami semua tertawa. Suasana ruang ganti menjadi hangat.
"Dimas sudah di pelaminan," kata Rafa. "Dia kelihatan gugup."
"Biasa. Cowok kalau menikah selalu gugup."
"Kamu tenang saja?"
"Kenapa aku harus gugup? Aku sudah lama menunggu ini."
Vira tersenyum. "Kakak bangga."
Prosesi pernikahan berjalan lancar. Penghulu membacakan doa. Dimas mengucapkan ijab kabul dengan suara lantang, tidak seperti dirinya yang biasanya pendiam.
"Saya terima nikahnya Kayla Maharani binti almarhum Bapak Mahfudz dengan mas kawin tersebut, tunai."
Kata-kata itu menggema di ruangan. Aku menunduk, tersenyum.
Selesai akad, kami bersanding di pelaminan. Tamu-tamu datang memberi ucapan. Mona sibuk memotret. Vira sibuk mengatur makanan. Rafa sibuk mengurus Aisyah dan Mirza.
Dimas meraih tanganku. "Kay, akhirnya."
"Akhirnya."
"Aku tidak akan mengecewakanmu."
"Aku tahu."
"Maaf kalau aku sering lupa."
"Aku akan selalu mengingatkan."
"Maaf kalau aku tidak romantis."
"Aku tidak butuh romantis. Aku butuh kamu."
Dimas tersenyum. "Aku mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu."
Malam harinya, setelah acara selesai, kami berdua duduk di teras rumah. Rumah kecil yang kami beli bersama dengan cicilan yang masih panjang. Tidak mewah. Tapi cukup.
"Kay, lelah?" tanya Dimas.
"Lelah. Tapi bahagia."
"Kamu tidak menyesal menikah denganku?"
"Kenapa aku harus menyesal?"
"Aku hanya... tidak sebanding denganmu."
"Dimas, berhenti. Kamu lebih dari cukup."
Dimas menatapku. "Kay, aku berjanji akan menjadi suami yang baik."
"Aku tidak butuh suami yang baik. Aku butuh suami yang nyata."
"Apakah aku nyata?"
"Kamu adalah kenyataan terindah dalam hidupku."
Kami berpelukan di bawah cahaya bulan. Angin malam bertiup lembut.
"Dimas."
"Ya."
"Aku ingin cerita sesuatu."
"Tentang apa?"
"Tentang Rafa."
Dimas terdiam sebentar. "Kamu masih memikirkannya?"
"Bukan. Aku hanya ingin kamu tahu, bahwa aku pernah mencintainya. Tiga tahun lamanya."
"Aku tahu."
"Tapi itu dulu. Sekarang, yang aku cintai adalah kamu."
"Kay, aku tidak pernah cemburu sama masa lalumu."
"Kenapa?"
"Karena masa lalumu membawamu kepadaku. Tanpa luka itu, kamu mungkin tidak akan pernah melihat aku."
"Kamu bijak, Dimas."
"Aku tidak bijak. Aku hanya bersyukur."
Aku mencium pipinya. "Aku juga bersyukur."
Ponselku bergetar. Pesan dari Vira.
Vira: "Kay, selamat malam, pengantin baru. Kakak doakan yang terbaik."
Kayla: "Makasih, Kak."
Vira: "Kakak sayang kamu."
Kayla: "Aku juga sayang kakak."
Pesan dari Mona.
Mona: "Kay, selamat. Kamu akhirnya menikah juga. Aku menangis tadi melihat kamu di pelaminan."
Kayla: "Makasih, Mon. Kamu jangan menangis. Nanti aku yang menangis."
Mona: "Ya sudah. Selamat berbulan madu. Jangan lupa oleh-oleh."
Kayla: "Iya, Mon."
Aku meletakkan ponsel. Dimas sudah memejamkan mata, setengah tertidur di bahuku.
"Dimas, tidur, yuk. Lelah."
"Iya. Ayo."
Kami masuk ke dalam. Rumah kecil itu terasa hangat. Bukan karena ukurannya. Tapi karena isinya.
Dua orang yang saling memilih.
Setiap hari. Tanpa paksaan. Tanpa drama.
Hanya cinta yang dewasa. Cinta yang tidak lagi bertanya "apakah ini cinta?" karena sudah terlalu nyata untuk diragukan.
Tentang cinta yang tak pernah salah alamat.
Mungkin dulu aku mengira bahwa cinta yang tak pernah salah alamat adalah cinta yang berbuah menjadi kenyataan. Tapi sekarang aku mengerti. Cinta yang tak pernah salah alamat bukanlah tentang berhasil atau tidaknya sebuah perasaan. Bukan tentang siapa yang menjadi tujuan akhir. Bukan tentang indahnya pertemuan atau getirnya perpisahan.
Cinta yang tak pernah salah alamat adalah cinta yang membuatmu menjadi versi terbaik dari dirimu sendiri. Cinta yang mengajarimu untuk ikhlas, sabar, dan tetap tegar meskipun takdir berkata lain. Cinta yang tidak melulu soal memiliki, tapi juga soal melepaskan. Cinta yang tidak selalu berbentuk bahagia, tapi tetap meninggalkan bekas yang membentukmu menjadi lebih kuat.
Dan dalam perjalanan panjang ini, aku belajar bahwa cinta tidak selalu harus berakhir di pelaminan. Kadang cinta berakhir di keikhlasan. Kadang cinta berubah menjadi doa. Kadang cinta hadir hanya untuk mengajarkan sesuatu, lalu pergi setelah tugasnya selesai.
Rafa hadir dalam hidupku untuk mengajarkan bahwa cinta tidak selalu tentang memiliki. Bahwa terkadang, orang yang paling kita cintai adalah orang yang harus kita lepaskan demi kebahagiaan mereka. Bahwa cinta sejati bukanlah tentang seberapa keras kita berjuang untuk mempertahankan, tapi seberapa ikhlas kita rela melepas.
Dan Dimas hadir untuk mengajarkan bahwa cinta tidak harus selalu menggebu. Bahwa ada cinta yang tenang seperti air. Tidak berisik. Tidak menarik perhatian. Tapi mengalir terus. Setiap hari. Tanpa lelah. Sampai akhirnya kamu sadar, airlah yang membuatmu tetap hidup, bukan badai.
Maka sekarang, di malam pertama pernikahanku, aku tidak menangis. Aku tersenyum. Karena aku tahu, semua luka, semua air mata, semua pertanyaan "mengapa" bertahun-tahun lalu, akhirnya mengantarkanku ke sini.
Ke pelukan Dimas. Ke rumah kecil yang hangat. Ke cinta yang sederhana tapi nyata.
Bukan cinta yang sempurna. Tapi cinta yang terus berusaha. Setiap hari.
Dan itu sudah lebih dari cukup.
Tentang cinta yang tak pernah salah alamat.
Sebab pada akhirnya, cinta tak pernah salah alamat. Yang salah hanyalah waktu, tempat, dan cara kita memahaminya.
Tapi cinta itu sendiri? Ia selalu tiba di tempat yang tepat.
Pada waktu yang tepat.
Untuk orang yang tepat.
Meskipun terkadang, kita baru menyadarinya setelah bertahun-tahun.
Meskipun terkadang, kita harus kehilangan untuk benar-benar menemukan.
Meskipun terkadang, cinta datang bukan untuk tinggal.
Tapi untuk mengajarkan cara mengikhlaskan.
Dan mengajarkan bahwa bahagia tidak harus bersama.
Kadang, bahagia adalah melepas.
Kadang, bahagia adalah memaafkan.
Kadang, bahagia adalah bersyukur atas apa yang pernah terjadi, bukan menyesali apa yang tidak pernah terwujud.
Lima tahun lalu, aku adalah perempuan yang hancur di hari pernikahan kakakku. Aku adalah perempuan yang menangis di kamar kost, mempertanyakan mengapa cinta begitu kejam. Aku adalah perempuan yang menyembunyikan perasaan tiga tahun lamanya, hanya untuk melihat orang yang aku cintai dinikahi orang lain.
Tapi hari ini, aku adalah perempuan yang tersenyum di pelaminan. Bukan karena cinta pertamaku hadir di sampingku. Tapi karena aku belajar bahwa cinta pertama tidak selalu menjadi cinta terakhir. Bahwa patah hati bukan akhir dari segalanya. Bahwa di balik setiap luka, ada ruang untuk tumbuh.
Dan di balik setiap air mata, ada pelangi yang menunggu.
Aku memegang tangan Dimas. Tangannya hangat. Kasar karena kerja. Tapi terasa aman.
"Dimas."
"Ya."
"Terima kasih sudah tidak pernah menyerah padaku."
"Terima kasih sudah mau menerima aku."
"Aku tidak menerima kekuranganmu. Aku menerima kamu. Semuanya."
Dimas tersenyum. "Aku juga. Semua tentang kamu."
Di luar jendela, bulan bersinar terang. Bintang-bintang bertaburan.
Malam ini, semua luka akhirnya berbekas menjadi kebijaksanaan.
Malam ini, semua air mata akhirnya mengalir menjadi lautan kebahagiaan.
Malam ini, aku pulang.
Bukan ke rumah orang tua. Bukan ke rumah kakak.
Tapi ke rumahku sendiri.
Bersama Dimas.
Dengan cinta yang tak pernah salah alamat.
Karena cinta sejati tak pernah salah alamat.
Ia hanya membutuhkan waktu.
Waktu untuk dimengerti.
Waktu untuk diterima.
Waktu untuk tiba di pelabuhan yang tepat.
Dan aku, akhirnya, sampai.
EPILOG
Tiga Tahun Kemudian
"Kay, cepat! Aisyah sudah menunggu di luar!" teriak Vira dari ruang tamu.
"Sebentar, Kak! Ganti baju dulu!"
Aku berlari ke kamar. Dimas sedang memangku anak perempuan kami, Kirana, yang baru berusia satu tahun.
"Dimas, kamu gendong Kirana. Aku ganti baju dulu."
"Pelan-pelan, Kay. Nanti Kirana menangis."
"Ya sudah. Awas jangan sampai jatuh."
"Aku tidak se bodoh itu."
Aku mengganti baju dengan cepat. Hari ini kami sekeluarga akan piknik ke kebun binatang. Vira, Rafa, Aisyah, Mirza, Mona, dan kami bertiga.
"Kay, sudah!" teriak Mona dari luar.
"Iya, iya!"
Aku keluar rumah. Dimas menyusul dengan Kirana di gendongannya.
"Kirana, kamu mau lihat gajah?" bisik Dimas.
Bayi itu hanya tersenyum ompong.
Dimas mencium keningnya. "Ayah sayang kamu."
Aku tersenyum melihat mereka.
"Dimas, ayo! Nanti ketinggalan!"
"Ya."
Kami berjalan menuju mobil. Vira sudah duduk di kursi depan. Rafa di belakang setir.
"Semuanya sudah siap?" tanya Rafa.
"Siap!" teriak Aisyah dan Mirza.
Mona menaiki mobilnya sendiri. "Aku menyusul di kebun binatang, ya!"
"Oke, Mon!"
Rafa menyalakan mesin. Mobil bergerak perlahan.
Aku duduk di kursi belakang, di samping Dimas dan Kirana. Melihat ke luar jendela.
Langit biru. Awan putih. Matahari bersinar hangat.
"Kay," panggil Dimas.
"Ya."
"Kamu bahagia?"
Aku menatapnya. Lalu menatap Kirana. Lalu menatap Vira dan Rafa di depan.
"Bahagia, Dimas. Sangat bahagia."
Dimas tersenyum. Dia menggenggam tanganku.
"Aku juga."
Mobil terus melaju. Meninggalkan rumah kecil kami. Menuju petualangan baru.
Karena cerita tidak berhenti di sini.
Cerita akan terus berjalan. Setiap hari. Setiap detik.
Tentang cinta yang tak pernah salah alamat.
Tentang kita yang terus belajar.
Tentang bahagia yang tak sempurna.
Tapi nyata.
Dan itu sudah cukup.
Selesai.
Slamet Riyadi, 2026
Anang
30 Januari 2025 19:28:34
Lanjutkan mas... Semoga website desa pian semakin maju...