ADA PELANGI DI MATAMU
Sebuah Roman tentang Cinta, Persahabatan, Pengkhianatan, dan Harapan di Kota Air Kuala Kapuas
Oleh: Slamet Riyadi
DISCLAIMER
Novel ini adalah karya fiksi. Seluruh tokoh, peristiwa, dialog, dan konflik yang terdapat di dalam cerita merupakan hasil imajinasi penulis. Apabila terdapat kesamaan nama, karakter, tempat, atau kejadian dengan orang maupun peristiwa nyata, hal tersebut semata-mata merupakan kebetulan dan tidak disengaja.
Latar Kota Kuala Kapuas, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, beserta sejumlah lokasi, budaya, dan suasana kehidupan masyarakat yang digambarkan dalam novel ini digunakan sebagai inspirasi untuk memperkaya cerita. Penulis berusaha menghadirkan nuansa kota yang dikenal sebagai Kota Air yang Aman, Indah, dan Ramah, tanpa bermaksud menggambarkan individu atau kelompok tertentu secara spesifik.
Novel ini mengangkat tema cinta, persahabatan, keluarga, pengorbanan, serta perjalanan manusia dalam menemukan makna kebahagiaan dan harapan di tengah berbagai ujian kehidupan.
Selamat menikmati kisah ini.
PROLOG
Di Antara Sungai dan Langit Senja
Sungai Kapuas mengalir tenang seperti biasa.
Airnya memantulkan warna langit yang perlahan berubah jingga. Perahu-perahu kecil melintas di permukaan sungai, meninggalkan riak yang kemudian menghilang bersama arus yang bergerak menuju hilir.
Senja selalu memiliki caranya sendiri untuk membuat manusia berhenti sejenak dari kesibukan.
Di tepian Waterfront Kuala Kapuas, seorang gadis berdiri memandang cakrawala.
Namanya Anjani.
Di tangannya tergenggam sebuah kamera tua yang sudah menemaninya sejak bangku sekolah menengah. Hampir setiap sore ia datang ke tempat itu. Bukan untuk mencari seseorang.
Bukan pula untuk menunggu.
Ia hanya menyukai senja.
Menurutnya, senja adalah waktu paling jujur dalam sehari.
Tidak sepenuhnya terang.
Tidak pula sepenuhnya gelap.
Sama seperti kehidupan manusia.
Anjani mengangkat kameranya perlahan.
Klik.
Satu gambar kembali tersimpan.
Langit sore itu terlihat berbeda.
Awan tipis menggantung di atas permukaan sungai. Cahaya matahari yang mulai tenggelam memantul seperti serpihan emas di atas air.
Namun perhatian Anjani tiba-tiba teralih.
Di kejauhan, seorang pemuda sedang membantu seorang lelaki tua menaikkan barang ke atas perahu.
Pemuda itu mengenakan kemeja sederhana berwarna biru muda. Wajahnya tidak begitu jelas dari tempat Anjani berdiri.
Tetapi ada sesuatu dalam sikapnya yang menarik perhatian.
Ia bekerja tanpa tergesa.
Tanpa banyak bicara.
Tanpa berharap dilihat siapa pun.
Anjani memperhatikan beberapa saat.
Lalu tanpa sadar ia mengarahkan lensa kameranya ke arah pemuda tersebut.
Klik.
Satu gambar lagi.
Kali ini bukan langit.
Bukan sungai.
Melainkan seseorang yang bahkan belum dikenalnya.
Anjani tersenyum kecil.
Entah mengapa.
Mungkin karena pemandangan itu terasa menenangkan.
Atau mungkin karena takdir sedang mulai menuliskan sebuah cerita yang belum diketahui siapa pun.
Di tempat lain, pemuda itu selesai membantu lalu menoleh ke arah tepian.
Sesaat.
Tatapan mereka bertemu.
Tidak lebih dari beberapa detik.
Namun sering kali kehidupan berubah bukan karena peristiwa besar.
Melainkan karena satu pertemuan sederhana yang datang tanpa aba-aba.
Anjani segera mengalihkan pandangan.
Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat.
Aneh.
Padahal ia bahkan tidak mengenal siapa pemuda itu.
Di atas kepala mereka, matahari perlahan tenggelam.
Warna jingga berubah menjadi merah keemasan.
Kemudian, setelah hujan ringan yang turun sebentar di kejauhan, sesuatu muncul di langit sebelah timur.
Sebuah pelangi.
Tipis.
Indah.
Nyaris tak terlihat.
Anjani menatapnya cukup lama.
Ia tidak tahu bahwa bertahun-tahun kemudian, ketika hidup membawanya melewati cinta, kehilangan, pengkhianatan, dan harapan, ia akan kembali mengingat senja itu.
Senja ketika semuanya dimulai.
Senja ketika ia pertama kali melihat lelaki yang kelak mengubah jalan hidupnya.
Dan senja ketika takdir diam-diam berbisik:
"Suatu hari nanti, kau akan menemukan pelangi itu bukan di langit..."
"Melainkan di mata seseorang."
BAB 1
KOTA AIR YANG MENYIMPAN CERITA
Pagi di Kuala Kapuas selalu datang bersama desir angin sungai.
Kabut tipis masih menggantung di atas permukaan Sungai Kapuas ketika aktivitas warga mulai menggeliat. Perahu-perahu kecil milik nelayan perlahan meninggalkan tepian. Pedagang sarapan membuka lapak mereka. Suara mesin kelotok terdengar bersahutan dari kejauhan.
Bagi sebagian orang, pemandangan itu mungkin biasa saja.
Namun bagi Anjani, setiap pagi di kota kelahirannya selalu menyimpan keindahan yang berbeda.
Dari jendela kamarnya yang menghadap ke arah sungai kecil di belakang rumah, ia memandang langit yang perlahan berubah terang.
Rumah panggung sederhana milik keluarganya berdiri di sebuah lingkungan yang tidak jauh dari pusat Kota Kuala Kapuas.
Kota yang selama bertahun-tahun menjadi saksi tumbuhnya mimpi-mimpi kecilnya.
Di atas meja belajar, sebuah buku catatan terbuka.
Halaman terakhirnya berisi tulisan tangan yang rapi.
"Setiap kota memiliki cerita. Tetapi Kuala Kapuas menyimpannya di antara aliran sungai dan senyum orang-orangnya."
Anjani tersenyum membaca kalimat yang ia tulis semalam.
Menulis adalah salah satu hal yang paling ia sukai selain memotret.
Sejak kecil, ia selalu percaya bahwa setiap orang memiliki kisah yang layak untuk diceritakan.
Dan suatu hari nanti, ia ingin menjadi orang yang menuliskan kisah-kisah itu.
"Anjani!"
Suara ibunya terdengar dari dapur.
"Gadis penulis itu sudah bangun atau belum?"
Anjani tertawa kecil.
"Sudah, Bu."
"Kalau sudah, cepat sarapan. Nanti terlambat."
"Baik."
Ia menutup buku catatannya lalu berjalan menuju ruang makan.
Di sana telah menunggu Bu Rahma, ibunya, yang sedang menyajikan nasi kuning hangat.
Sementara Pak Ridwan, ayahnya, tengah membaca koran pagi sambil menikmati secangkir kopi.
"Selamat pagi, Ayah."
"Pagi, Nak."
"Sudah siap berangkat?"
Anjani mengangguk.
"Hari ini ada kegiatan komunitas literasi."
Pak Ridwan tersenyum bangga.
Sejak dulu ia selalu mendukung minat putrinya terhadap dunia tulis-menulis.
Menurutnya, orang yang gemar membaca dan menulis akan selalu memiliki cara untuk melihat dunia dengan lebih luas.
"Kuala Kapuas membutuhkan anak-anak muda seperti kamu," katanya.
Anjani hanya tersenyum malu.
Tak lama kemudian muncul seorang gadis remaja membawa tas sekolah.
"Dinda lapar!"
Adik bungsunya itu langsung duduk tanpa basa-basi.
Suasana rumah yang hangat membuat pagi terasa menyenangkan.
Meski hidup mereka sederhana, keluarga itu selalu memiliki cukup alasan untuk bersyukur.
Matahari mulai meninggi ketika Anjani tiba di pusat kota.
Jalan-jalan Kuala Kapuas tampak ramai.
Kendaraan berlalu-lalang.
Para pedagang membuka toko.
Anak-anak sekolah berjalan bersama teman-teman mereka.
Di beberapa sudut kota, baliho dan papan informasi berdiri berdampingan dengan pepohonan yang teduh.
Kuala Kapuas memang bukan kota besar.
Namun kota ini memiliki pesonanya sendiri.
Dikenal sebagai Kota Air, Kuala Kapuas tumbuh berdampingan dengan sungai-sungai yang menjadi urat nadi kehidupan masyarakatnya.
Air bukan sekadar bagian dari alam.
Air adalah identitas.
Air adalah sejarah.
Air adalah kehidupan.
Anjani menyusuri kawasan Waterfront Kuala Kapuas.
Tempat itu menjadi salah satu ikon kebanggaan masyarakat.
Dari sana, hamparan Sungai Kapuas terlihat begitu luas.
Perahu-perahu melintas dengan tenang.
Burung-burung sesekali terbang rendah di atas permukaan air.
Tak jauh dari sana berdiri Taman Askari, ruang terbuka yang sering menjadi tempat berkumpul warga.
Di pagi hari, beberapa orang terlihat berolahraga.
Anak-anak bermain.
Para lansia duduk berbincang menikmati udara segar.
Anjani berhenti sejenak.
Kamera kesayangannya kembali ia keluarkan.
Klik.
Klik.
Klik.
Beberapa gambar berhasil ia abadikan.
Sungai.
Pepohonan.
Langit.
Dan kehidupan yang berjalan apa adanya.
"Kalau terus memotret pemandangan, kapan memotret calon suami?"
Suara seseorang membuat Anjani terkejut.
Ia menoleh.
Di belakangnya berdiri seorang gadis dengan senyum jahil.
Nayla.
Sahabat terbaiknya sejak sekolah menengah.
"Kamu selalu datang diam-diam seperti hantu."
Nayla tertawa.
"Karena kalau datang terang-terangan, kamu pasti sibuk memotret awan."
"Mereka lebih menarik daripada gosipmu."
"Kasar sekali."
Keduanya tertawa bersama.
Persahabatan mereka sudah berlangsung bertahun-tahun.
Nayla adalah tipe orang yang ceria dan mudah bergaul.
Sementara Anjani lebih tenang dan banyak berpikir.
Perbedaan itulah yang membuat mereka saling melengkapi.
"Kegiatan literasi mulai satu jam lagi," kata Nayla.
"Masih sempat jalan-jalan."
"Mau ke mana?"
"Ke dermaga."
Anjani mengangguk.
Mereka kemudian berjalan menyusuri tepian sungai.
Angin bertiup lembut.
Cuaca terasa bersahabat.
Di kejauhan tampak beberapa perahu sedang bersandar.
Suasana kota berjalan sebagaimana biasanya.
Tenang.
Damai.
Hangat.
Namun tidak ada satu pun dari mereka yang menyadari bahwa hari itu akan menjadi awal dari perubahan besar dalam hidup mereka.
Sebab di sudut dermaga yang tidak jauh dari tempat mereka berjalan, seorang pemuda baru saja turun dari sebuah kelotok.
Pemuda itu membawa beberapa kotak bantuan pendidikan untuk sebuah kegiatan sosial.
Wajahnya tampak lelah.
Namun matanya memancarkan ketulusan yang sulit dijelaskan.
Namanya adalah Ramadhan.
Dan takdir, tanpa memberi peringatan kepada siapa pun, sedang mempertemukan dua jalan kehidupan yang selama ini berjalan sendiri-sendiri.
Di bawah langit Kuala Kapuas yang cerah, kisah itu perlahan mulai bergerak.
Seperti aliran sungai yang tampak tenang di permukaan, tetapi sesungguhnya membawa banyak rahasia menuju muara.
BAB 2
GADIS PENANGKAP SENJA
Ada orang yang menyukai pagi karena menghadirkan harapan.
Ada yang menyukai malam karena menawarkan ketenangan.
Namun bagi Anjani, waktu paling indah dalam sehari adalah senja.
Senja selalu memiliki cara yang unik untuk membuat dunia terlihat lebih lembut.
Langit yang semula biru perlahan berubah menjadi jingga, kemudian keemasan, lalu merah tembaga sebelum akhirnya larut ke dalam gelap.
Dan setiap perubahan warna itu seolah menyimpan cerita.
Karena itulah hampir setiap sore Anjani datang ke tepian Sungai Kapuas.
Bukan untuk bertemu seseorang.
Bukan pula untuk mencari keramaian.
Ia datang untuk menangkap momen-momen yang menurutnya terlalu indah jika dibiarkan berlalu begitu saja.
Sore itu, setelah menyelesaikan kegiatan komunitas literasi, Anjani kembali berada di kawasan Waterfront Kuala Kapuas.
Langit masih cerah.
Angin sungai bertiup perlahan.
Riak-riak air memantulkan cahaya matahari yang mulai condong ke barat.
Ia berjalan menyusuri jalur pedestrian sambil membawa kamera kesayangannya.
Kamera itu bukan kamera mahal.
Bahkan sudah cukup tua.
Namun benda itu memiliki nilai yang jauh lebih besar daripada sekadar harga.
Itu adalah hadiah ulang tahunnya yang ketujuh belas dari Pak Ridwan.
Hadiah yang membuatnya semakin mencintai dunia fotografi.
Anjani berhenti di salah satu titik favoritnya.
Dari tempat itu ia bisa melihat hamparan Sungai Kapuas yang luas.
Di kejauhan tampak beberapa kelotok melintas perlahan.
Suara mesin mereka terdengar samar di antara desir angin.
Klik.
Ia mengambil satu gambar.
Klik.
Gambar berikutnya.
Lalu satu lagi.
Anjani tersenyum puas.
Baginya, setiap foto adalah cara menyimpan waktu.
Waktu mungkin terus berjalan.
Namun foto mampu menjaga kenangan tetap hidup.
"Kalau suatu hari aku tua, aku ingin melihat semua foto ini lagi."
Ia bergumam pelan.
"Mungkin saat itu aku sudah lupa banyak hal."
"Tapi foto-foto ini akan mengingatkanku."
Tiba-tiba sebuah suara terdengar dari belakang.
"Itu alasan yang bagus."
Anjani terkejut.
Ia segera menoleh.
Seorang pemuda berdiri beberapa langkah di belakangnya.
Kemeja biru muda.
Celana hitam sederhana.
Wajah yang terasa tidak asing.
Anjani membutuhkan beberapa detik untuk mengingat.
Lalu ia mengenalinya.
Pemuda yang dilihatnya beberapa hari lalu di dermaga.
Pemuda yang tanpa sengaja sempat ia potret dari kejauhan.
Anjani sedikit gugup.
"Oh..."
Pemuda itu tersenyum sopan.
"Maaf kalau mengagetkan."
"Tidak apa-apa."
"Kamu suka fotografi?"
Anjani mengangguk.
"Sangat."
Pemuda itu memandang sungai.
"Lumayan bagus."
"Fotografinya atau sungainya?"
"Sungainya."
Anjani tertawa kecil.
Jawaban yang jujur.
"Aku Ramadhan."
Pemuda itu mengulurkan tangan.
Anjani sempat ragu sesaat.
Kemudian ia membalas uluran itu.
"Anjani."
Nama itu terucap sederhana.
Tetapi entah mengapa terasa berbeda.
Ramadhan mengangguk pelan.
"Nama yang indah."
Anjani tidak tahu harus menjawab apa.
Untuk pertama kalinya sejak lama, ia merasa kikuk.
Mereka kemudian berdiri berdampingan memandang sungai.
Beberapa saat berlalu tanpa percakapan.
Namun keheningan itu tidak terasa canggung.
Justru terasa nyaman.
Seolah keduanya tidak perlu memaksakan kata-kata.
"Aku sering melihatmu di sini."
Ucapan Ramadhan membuat Anjani menoleh.
"Sering?"
Ramadhan tersenyum.
"Hampir setiap sore."
Anjani mengangkat alis.
"Jadi kamu mengawasiku?"
"Bukan."
Ramadhan tertawa.
"Aku juga sering lewat sini."
Anjani mengangguk pelan.
Masuk akal.
Beberapa menit kemudian matahari mulai turun lebih rendah.
Langit berubah warna.
Jingga.
Merah muda.
Keemasan.
Pemandangan yang selalu ditunggu Anjani.
Dengan cepat ia kembali mengangkat kameranya.
Klik.
Klik.
Klik.
Ramadhan memperhatikan.
"Kamu benar-benar menyukai senja."
"Aku menyukainya sejak kecil."
"Kenapa?"
Anjani terdiam sesaat.
Mencari jawaban.
"Lalu lintas berhenti sejenak."
"Hah?"
"Maksudku, semua orang biasanya sibuk sepanjang hari."
"Tapi saat senja datang, banyak orang berhenti."
"Memandang langit."
"Menghela napas."
"Mengingat sesuatu."
Ramadhan tersenyum.
"Kamu memikirkan hal-hal yang tidak dipikirkan orang lain."
"Sering dibilang begitu."
"Itu bagus."
Anjani menatap langit.
Warna-warna di atas kepala mereka semakin indah.
Kemudian tanpa sadar ia berkata,
"Menurutku setiap senja punya cerita."
Ramadhan ikut memandang ke arah cakrawala.
"Mungkin."
"Dan setiap orang punya cerita yang berbeda."
Anjani mengangguk.
Tidak ada yang menyadari bahwa percakapan sederhana itu perlahan mulai menuliskan sesuatu yang lebih besar.
Sesuatu yang belum memiliki nama.
Namun mulai tumbuh diam-diam.
Sementara itu, dari sisi lain taman, seseorang memperhatikan mereka.
Seorang pemuda tinggi dengan kemeja putih.
Wajahnya tampak tenang.
Namun matanya menyimpan sesuatu yang sulit ditebak.
Ia baru saja tiba dari Banjarmasin setelah menyelesaikan urusan pekerjaannya.
Namanya Irvan.
Dan ia mengenal Ramadhan jauh lebih lama daripada siapa pun yang berada di tempat itu.
Irvan memperhatikan sosok Anjani yang sedang tertawa kecil bersama sahabat lamanya.
Entah mengapa.
Ada perasaan aneh yang muncul di dalam dirinya.
Perasaan yang belum ia pahami.
Perasaan yang suatu hari nanti akan mengubah banyak hal.
Di atas Sungai Kapuas, matahari akhirnya tenggelam perlahan.
Sementara itu, di langit sebelah barat, warna-warni senja terakhir memudar.
Dan tanpa disadari siapa pun, takdir mulai menyusun benang-benang cerita yang akan mempertemukan cinta, persahabatan, pengorbanan, dan luka dalam satu perjalanan yang panjang.
BAB 3
PERTEMUAN DI TEPI SUNGAI
Sungai Kapuas mengalir seperti biasa.
Tenang.
Seolah tidak pernah terburu-buru menuju muaranya.
Pagi itu, langit Kuala Kapuas tampak cerah setelah hujan semalam. Udara terasa lebih segar. Pepohonan di sepanjang tepian sungai masih menyisakan titik-titik embun yang berkilau diterpa cahaya matahari.
Di rumahnya, Anjani sedang memindahkan hasil foto-foto senja kemarin ke laptop.
Satu demi satu gambar muncul di layar.
Langit jingga.
Perahu nelayan.
Pantulan cahaya di permukaan sungai.
Lalu sebuah foto yang membuat jemarinya berhenti bergerak.
Foto seorang pemuda berkemeja biru muda yang sedang memandang ke arah sungai.
Ramadhan.
Anjani terdiam beberapa saat.
Entah mengapa ia tersenyum sendiri.
Kemudian cepat-cepat menutup foto itu.
"Aneh."
Ia menggeleng kecil.
"Mengapa aku malah memperhatikan dia?"
Belum sempat pikirannya berkembang lebih jauh, suara pesan masuk dari telepon genggamnya terdengar.
Ternyata dari Nayla.
Nayla:
"Jangan lupa sore ini ke Dermaga Kapuas. Ada kegiatan komunitas lingkungan."
Anjani:
"Iya, Bos."
Nayla:
"Dan jangan terlalu banyak memotret langit."
Anjani:
"Lalu?"
Nayla:
"Coba potret masa depan."
Anjani langsung tahu arah candaan sahabatnya.
Ia hanya membalas dengan emoji tertawa.
Sore harinya, kawasan dermaga tampak lebih ramai dari biasanya.
Komunitas pemuda dari berbagai sekolah, kampus, dan organisasi masyarakat berkumpul untuk kegiatan bersih-bersih tepian sungai.
Anjani dan Nayla ikut bergabung.
Bagi mereka, kegiatan semacam itu bukan sekadar aksi sosial.
Melainkan bentuk rasa cinta kepada kota tempat mereka tumbuh.
Kuala Kapuas telah memberi banyak hal kepada mereka.
Maka sudah sewajarnya mereka ikut menjaga kota itu.
Anjani mengenakan topi sederhana dan sarung tangan kerja.
Sementara Nayla, seperti biasa, lebih banyak bercanda daripada bekerja.
"Kalau aku menemukan harta karun di sungai, setengah buatku."
"Kalau menemukan sampah?"
"Itu bagianmu."
Anjani terkekeh.
"Tidak adil."
"Tentu saja adil."
Mereka terus bekerja hingga suara seseorang terdengar dari belakang.
"Kalau mau bagi harta karun, aku ikut."
Anjani menoleh.
Dan sekali lagi ia melihat wajah yang kini mulai terasa akrab.
Ramadhan.
Hari itu ia mengenakan kaus lengan panjang berwarna abu-abu dan topi hitam sederhana.
Tidak ada yang mencolok.
Namun entah mengapa kehadirannya selalu mudah dikenali.
Nayla langsung menyeringai.
"Nah, ini orangnya."
Anjani mengernyit.
"Orang apa?"
"Orang yang sering muncul saat kamu memotret senja."
"Nayla!"
Ramadhan tertawa kecil.
Sementara Anjani menahan rasa malu yang mulai muncul.
Untunglah kegiatan segera dimulai sehingga percakapan itu tidak berlanjut.
Selama hampir dua jam mereka bekerja bersama.
Mengumpulkan sampah.
Membersihkan area dermaga.
Menata kembali beberapa pot tanaman yang rusak.
Anjani baru menyadari bahwa Ramadhan bukan hanya ramah.
Ia juga pekerja keras.
Ia membantu siapa saja tanpa diminta.
Mengangkat barang berat.
Membantu anak-anak kecil.
Bahkan membetulkan papan informasi yang hampir roboh.
Semuanya dilakukan tanpa banyak bicara.
Tanpa mencari perhatian.
Dan itu justru membuat Anjani semakin penasaran.
Saat waktu istirahat tiba, para peserta duduk di bawah gazebo menghadap sungai.
Angin sore berembus pelan.
Langit mulai berubah warna.
Ramadhan duduk tidak jauh dari Anjani.
Untuk beberapa saat mereka menikmati suasana tanpa banyak kata.
"Aku dengar kamu suka menulis."
Anjani menoleh.
"Kata siapa?"
"Nayla."
Anjani langsung menghela napas.
"Tentu saja dia."
Ramadhan tersenyum.
"Dia bangga sekali pada sahabatnya."
Anjani menunduk.
Sedikit malu.
"Aku hanya menulis untuk diriku sendiri."
"Itu justru biasanya tulisan yang paling jujur."
Anjani memperhatikan wajah pemuda itu.
Ada ketenangan yang sulit dijelaskan.
Seolah ia tidak pernah berbicara berlebihan.
Namun setiap kalimat yang keluar selalu memiliki makna.
"Kamu sendiri?"
"Aku?"
Ramadhan mengangguk.
"Aku suka mendengar cerita orang."
"Kenapa?"
"Karena setiap orang sedang berjuang melawan sesuatu yang tidak selalu terlihat."
Jawaban itu membuat Anjani terdiam.
Untuk beberapa detik, suara sungai menjadi satu-satunya yang terdengar.
Ia mulai memahami mengapa dirinya merasa nyaman berbicara dengan Ramadhan.
Pemuda itu tidak berusaha terlihat hebat.
Tidak berusaha menjadi pusat perhatian.
Namun ada ketulusan yang membuat orang ingin mendengarkannya.
Di sisi lain dermaga, seseorang baru saja tiba dengan sepeda motornya.
Irvan.
Ia berjalan menuju lokasi kegiatan.
Beberapa peserta langsung menyapanya.
Irvan memang cukup dikenal.
Ramah.
Cerdas.
Dan memiliki jaringan pertemanan yang luas.
Namun saat matanya menemukan Ramadhan yang sedang berbicara dengan Anjani, langkahnya melambat.
Ia memperhatikan mereka dari kejauhan.
Senyum.
Tawa kecil.
Percakapan yang tampak nyaman.
Perasaan yang aneh kembali muncul dalam dirinya.
Meski ia belum mengenal Anjani secara dekat.
Meski mereka baru beberapa kali bertemu.
Ada sesuatu yang membuatnya ingin mengenal gadis itu lebih jauh.
Dan tanpa disadarinya, keinginan itu perlahan akan membawa dirinya ke persimpangan yang sulit.
Persimpangan antara persahabatan dan cinta.
Matahari mulai turun.
Langit Kuala Kapuas kembali memperlihatkan warna-warna terbaiknya.
Jingga keemasan menyelimuti tepian Sungai Kapuas.
Anjani berdiri sambil mengangkat kameranya.
Klik.
Klik.
Klik.
Ia mengabadikan senja yang perlahan turun.
Lalu tanpa sengaja lensa kameranya menangkap sosok Ramadhan yang berdiri memandang sungai.
Cahaya senja jatuh tepat di wajahnya.
Menciptakan siluet yang indah.
Tanpa berpikir panjang, Anjani menekan tombol kamera.
Klik.
Foto itu tersimpan.
Dan untuk pertama kalinya, bukan senja yang menjadi objek utama dalam fotonya.
Melainkan seseorang.
Seseorang yang baru dikenalnya.
Tetapi perlahan mulai mengisi ruang-ruang kecil dalam pikirannya.
Di atas aliran Sungai Kapuas yang tenang, kisah mereka bergerak sedikit lebih jauh.
Belum menjadi cinta.
Belum menjadi rindu.
Namun sudah cukup untuk membuat takdir tersenyum diam-diam.
Karena setiap kisah besar selalu dimulai dari sebuah pertemuan sederhana.
Dan pertemuan itu kini telah terjadi.
BAB 4
LANGKAH YANG MULAI SEIRAMA
Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa.
Kuala Kapuas tetap hidup dengan iramanya yang khas. Pagi-pagi, kelotok dan perahu kecil mulai menyusuri sungai. Pedagang membuka lapak mereka. Pegawai berangkat bekerja. Anak-anak sekolah memenuhi jalan-jalan kota dengan seragam berwarna-warni.
Di balik kesibukan itu, kehidupan Anjani juga terus berjalan. Ia masih aktif dalam komunitas literasi, masih rajin memotret senja, dan masih menghabiskan waktu bersama Nayla.
Namun ada satu hal yang mulai berbeda.
Nama Ramadhan semakin sering muncul dalam kesehariannya. Awalnya hanya kebetulan. Kemudian menjadi pertemuan-pertemuan yang semakin sering. Dan tanpa disadari, kebiasaan itu perlahan menjadi bagian dari rutinitas yang terasa menyenangkan.
Anjani tidak tahu sejak kapan tepatnya ia mulai menanti-nanti kehadiran pemuda itu. Yang ia tahu, setiap kali Ramadhan ada di dekatnya, dunianya terasa sedikit lebih tenang. Dan setiap kali ia tidak ada, ada ruang kecil yang terasa kosong.
Aneh, pikirnya suatu pagi. Aku bahkan belum mengenalnya lama.
Suatu pagi, komunitas literasi tempat Anjani bergabung mendapat undangan untuk mengadakan kegiatan membaca bagi anak-anak di salah satu desa bantaran sungai.
Kegiatan itu bertujuan meningkatkan minat baca anak-anak sekaligus memperkenalkan buku-buku cerita kepada mereka.
Anjani tentu saja ikut. Baginya, melihat anak-anak tersenyum saat membaca buku adalah kebahagiaan tersendiri.
Ketika ia tiba di titik keberangkatan di dermaga kecil kawasan kota, beberapa relawan sudah berkumpul.
Nayla datang paling akhir. Seperti biasa.
"Maaf."
"Kesiangan lagi?" tanya Anjani.
"Bukan."
"Lalu?"
"Aku terlalu lama memilih baju."
Anjani menggeleng pasrah. "Untuk kegiatan sosial?"
"Penampilan tetap penting."
Mereka tertawa. Hangat. Seperti biasa.
Tak lama kemudian seorang panitia memberi aba-aba agar seluruh peserta segera naik ke kelotok yang telah disiapkan.
Anjani melangkah menuju perahu. Namun saat hendak naik, ia mendengar suara yang sudah sangat dikenalnya.
"Hati-hati."
Ramadhan berdiri di dekat tangga dermaga sambil mengulurkan tangan.
Refleks, Anjani menerima bantuan itu.
Sesaat telapak tangan mereka bersentuhan.
Hangat.
Singkat.
Namun cukup untuk membuat sesuatu bergetar di dadanya.
Anjani segera naik ke atas perahu. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Ia tidak berani menoleh ke belakang karena takut wajahnya yang memerah akan terlihat oleh siapa pun.
Untunglah Nayla tampaknya sedang sibuk mengatur tasnya.
Atau setidaknya ia berharap begitu.
Perjalanan menyusuri sungai berlangsung hampir satu jam.
Sepanjang perjalanan, pemandangan khas Kapuas membentang di kiri dan kanan. Rumah-rumah panggung berdiri di tepi sungai. Anak-anak melambaikan tangan saat perahu melintas. Pohon-pohon besar tumbuh rindang di beberapa bagian bantaran.
Anjani sibuk memotret. Atau setidaknya berpura-pura sibuk memotret. Karena sebenarnya separuh pikirannya sedang memperhatikan Ramadhan yang duduk tidak jauh darinya.
Sesekali mereka berbincang. Tentang buku. Tentang kota. Tentang mimpi-mimpi yang ingin dicapai.
"Kamu ingin menjadi penulis?" tanya Ramadhan.
Anjani mengangguk. "Sejak kecil."
"Kenapa?"
Anjani memandang aliran sungai. Airnya bergerak perlahan, membawa daun-daun kering menuju hilir.
"Karena aku takut cerita-cerita yang indah hilang begitu saja."
Ramadhan tersenyum. Bukan senyum yang dibuat-buat. Senyum yang tulus. Senyum yang membuat matanya menyipit hangat.
"Lalu kamu ingin menyimpannya?"
"Ya."
"Supaya tetap hidup."
Ramadhan terdiam sesaat. Angin sungai berembus lembut, menggerakkan sedikit rambutnya yang tertutup topi.
"Aku rasa kamu akan berhasil," katanya akhirnya.
Anjani menoleh. "Kamu yakin?"
"Sangat."
"Kenapa?"
Ramadhan menatapnya. Lurus. Tanpa ragu.
"Karena orang yang mencintai cerita biasanya akan menemukan jalannya sendiri."
Anjani tidak tahu harus berkata apa. Pujian itu sederhana. Namun terasa tulus. Terlalu tulus untuk sekadar basa-basi.
Ia memilih diam. Menikmati detik itu. Menyimpannya dalam ingatan, seperti ia menyimpan foto-foto senja di kameranya.
Setibanya di lokasi kegiatan, mereka langsung disambut anak-anak yang tampak antusias.
Anjani menghabiskan sebagian besar waktunya membacakan cerita. Sementara Ramadhan membantu mengatur permainan edukatif.
Melihatnya berinteraksi dengan anak-anak membuat Anjani semakin mengenal sisi lain pemuda itu. Ramah. Sabar. Penuh perhatian.
Ia tidak pernah berbicara keras. Tidak pernah memaksakan pendapat. Namun kehadirannya selalu membuat orang merasa nyaman.
Bagaimana seseorang bisa setenang itu? pikir Anjani. Seolah hidup tidak pernah membuatnya terburu-buru.
Saat waktu istirahat tiba, seorang anak kecil berlari menghampirinya.
"Kak."
"Iya?"
"Itu kakak pacarnya?"
Anak itu menunjuk ke arah Ramadhan yang sedang mengelompokkan buku-buku cerita.
Anjani hampir tersedak minuman yang sedang diminumnya. "Bukan!"
Anak itu terlihat bingung. "Oh. Lalu kenapa dari tadi selalu bersama?"
Anjani tidak tahu harus menjawab apa. Bibirnya terbuka, lalu tertutup lagi. Mencari kata-kata yang tidak ditemukan.
Sementara di kejauhan, Nayla yang mendengar percakapan itu tertawa tanpa ampun. Bahkan sampai menepuk pahanya sendiri.
"Anjani kena batunya!" seru Nayla pelan, tapi cukup keras untuk membuat Anjani semakin salah tingkah.
Menjelang sore, kegiatan selesai.
Perjalanan pulang terasa lebih tenang. Langit mulai berubah warna. Awan-awan tipis bergerak perlahan di atas Sungai Kapuas, seperti lukisan yang sedang dikerjakan dengan sabar oleh Sang Pencipta.
Anjani berdiri di sisi perahu sambil menikmati angin. Rambutnya yang tertutup jilbab bergerak lembut.
Ramadhan menghampiri. Berdiri di sampingnya. Tidak terlalu dekat. Namun juga tidak terlalu jauh.
"Capek?"
"Sedikit."
"Tapi menyenangkan."
Ramadhan mengangguk. "Aku juga berpikir begitu."
Mereka kembali terdiam. Namun tidak ada yang merasa perlu mengisi keheningan itu.
Karena keheningan di antara mereka kini terasa berbeda. Tidak lagi canggung. Tidak lagi asing.
Seolah keduanya mulai memahami ritme masing-masing.
Seperti dua langkah yang perlahan menemukan irama yang sama.
Anjani memandang ke arah sungai. Cahaya senja memantul di permukaan air, menciptakan kilauan keemasan yang bergerak mengikuti arus.
Ia ingin mengabadikan momen itu dengan kameranya. Namun tangannya tidak bergerak.
Mungkin tidak semua momen perlu disimpan dalam foto, pikirnya. Mungkin cukup diingat saja.
Sementara itu, di sebuah kafe dekat pusat kota Kuala Kapuas, seseorang sedang memperhatikan ponselnya dengan saksama.
Irvan.
Baru saja ia melihat unggahan foto kegiatan komunitas. Matanya terhenti pada satu gambar yang membuat dadanya terasa tidak nyaman.
Foto itu memperlihatkan Anjani dan Ramadhan sedang duduk di samping seorang anak. Keduanya tersenyum. Tampak akrab. Tampak nyaman.
Terlalu nyaman, pikir Irvan, meski ia sendiri tidak yakin mengapa ia berpikir seperti itu.
Ia memandangi foto itu cukup lama. Cukup lama untuk membuat Arga yang duduk di depannya bertanya-tanya.
"Kamu kenal?" tanya Arga sambil menunjuk ponsel Irvan.
Irvan mengangkat wajahnya. "Anjani."
"Yang mana?"
"Yang pakai jilbab krem."
Arga mengamati foto itu beberapa saat. Lalu tersenyum kecil. Bukan senyum bahagia. Senyum orang yang mulai memahami sesuatu.
"Kamu suka dia?"
Pertanyaan itu sederhana. Namun membuat Irvan terdiam.
"Aku belum mengenalnya dengan baik," jawabnya hati-hati.
"Tapi kamu suka."
Bukan pertanyaan kali ini. Sebuah pernyataan.
Irvan tidak menjawab. Ia mematikan layar ponsel dan meletakkannya di atas meja kafe.
Di luar jendela, langit mulai berubah warna. Senja akan segera tiba. Namun hati Irvan terasa gelap.
Bukan karena ia membenci Ramadhan. Bukan karena ia iri pada sahabatnya sendiri.
Namun ada perasaan yang tidak bisa ia jelaskan. Perasaan yang muncul setiap kali melihat Anjani tersenyum pada Ramadhan. Perasaan yang membuatnya ingin menjadi orang yang berada di samping gadis itu.
Ia tahu perasaan itu tidak sepenuhnya benar. Ia tahu persahabatan dengan Ramadhan adalah hal yang lebih berharga daripada sekadar ketertarikan pada seorang perempuan.
Tapi hati manusia tidak selalu mendengarkan logika.
Perasaan itu masih kecil. Masih samar. Namun perlahan tumbuh. Seperti awan mendung yang muncul jauh di cakrawala. Belum menjadi badai. Tetapi cukup untuk menandakan bahwa cuaca tidak akan selalu cerah.
"Mungkin aku terlalu banyak berpikir," gumam Irvan pelan.
Arga hanya mengangkat bahu. "Atau mungkin kamu tidak cukup banyak bertindak."
Irvan menatap sahabatnya. Arga tersenyum tipis. Memberi isyarat tanpa banyak kata.
Senja kembali turun di atas Kota Kuala Kapuas.
Sungai Kapuas memantulkan warna jingga keemasan yang memukau. Lampu-lampu di sepanjang waterfront mulai menyala satu per satu.
Di atas perahu yang bergerak perlahan menuju kota, Anjani memandang langit. Warna jingga bercampur dengan ungu muda di ufuk barat. Cantik. Seperti biasa.
Sementara di sampingnya, Ramadhan melakukan hal yang sama. Matanya tidak melihat ke mana-mana. Hanya menikmati senja. Menikmati angin. Menikmati kehadiran gadis di sampingnya tanpa harus mengatakan apa pun.
Mereka tidak menyadari bahwa langkah-langkah mereka kini mulai bergerak dalam arah yang sama.
Anjani tidak tahu bahwa malam itu, sebelum tidur, ia akan tersenyum sendiri mengingat tatapan Ramadhan sore tadi.
Ramadhan tidak tahu bahwa malam itu, ia akan memandangi langit-langit kamarnya lebih lama dari biasanya, memikirkan nama yang mulai terukir pelan di hatinya.
Dan Irvan tidak tahu bahwa perasaan kecil yang tumbuh di dadanya kelak akan menjadi persimpangan antara persahabatan dan cinta.
Karena ketika dua hati mulai berjalan seirama, takdir biasanya sedang menyiapkan sesuatu.
Entah kebahagiaan.
Entah ujian.
Atau mungkin keduanya sekaligus.
Dan di atas aliran Sungai Kapuas yang terus mengalir tanpa henti, kisah mereka perlahan bergerak menuju babak berikutnya.
Babak ketika perasaan mulai dipertanyakan.
Babak ketika persahabatan mulai diuji.
Dan babak ketika seseorang harus memilih antara diam atau mengambil risiko.
BAB 5
SAHABAT BERNAMA NAYLA
Dalam hidup setiap orang, selalu ada seseorang yang datang bukan sebagai keluarga, tetapi mampu mengisi ruang yang bahkan tidak bisa dijangkau oleh siapa pun.
Bagi Anjani, orang itu adalah Nayla.
Mereka telah bersahabat sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama. Pertemuan mereka sebenarnya tidak istimewa. Saat itu Anjani adalah siswi pendiam yang lebih sering menghabiskan waktu di perpustakaan daripada di kantin. Sedangkan Nayla adalah kebalikannya. Ceria. Aktif. Mudah bergaul. Dan hampir mengenal semua orang di sekolah.
Tidak ada yang menyangka dua pribadi yang sangat berbeda itu justru menjadi sahabat yang tidak terpisahkan.
Bahkan hingga kini.
Karena kadang-kadang, hidup mempertemukan dua orang yang saling melengkapi, pikir Anjani suatu pagi. Bukan yang sama. Tapi yang bisa mengisi kekurangan satu sama lain.
Dan Nayla adalah pelengkap yang paling sempurna untuk dirinya yang pendiam.
Pagi itu, Kuala Kapuas diselimuti langit mendung. Awan kelabu menggantung rendah, seolah sedang menahan hujan yang belum memutuskan untuk turun.
Anjani sedang duduk di sebuah kedai kopi kecil di kawasan pusat kota. Di hadapannya tergeletak buku catatan yang hampir penuh dengan tulisan-tulisan pendek. Pena di tangannya sesekali bergerak, sesekali berhenti.
Ia sedang mencoba menyusun ide cerita baru ketika seseorang tiba-tiba menarik kursi di depannya tanpa permisi.
Tanpa perlu menoleh, Anjani sudah tahu siapa orangnya.
Hanya satu orang di dunia ini yang memiliki keberanian sebanyak itu.
"Nayla."
"Gagal."
Anjani mengangkat alis, masih belum menoleh. "Maksudnya?"
"Aku berharap kamu mengira aku artis terkenal yang sedang incognito."
Anjani tertawa kecil. Akhirnya ia menutup buku catatannya dan menatap sahabatnya yang duduk dengan santai di hadapannya. "Artis terkenal tidak akan datang terlambat tiga puluh menit."
Nayla langsung meletakkan tasnya di meja. Bunyi dug yang cukup keras menandakan isi tas itu bukan hanya ponsel dan dompet. Mungkin juga camilan. Atau buku. Atau barang-barang aneh lain yang hanya Nayla yang tahu.
"Itu fitnah," protes Nayla.
"Itu fakta."
Mereka tertawa bersama. Hangat. Akrab. Seperti sudah ribuan kali sebelumnya.
Pelayan datang membawakan pesanan Nayla yang ternyata sudah dipesan dari jauh-jauh hari—sebuah es kopi susu dengan tambahan whipped cream, favoritnya yang tidak pernah berubah sejak SMA. Sementara Anjani tetap setia dengan teh hangat polos tanpa gula.
"Kamu sedang menulis lagi?" tanya Nayla sambil mengaduk minumannya.
Anjani mengangguk. "Ada ide baru."
"Tentang apa?"
"Belum tahu."
Nayla menggeleng kagum. Pura-pura terkesan. "Hebat. Menulis tanpa tahu cerita."
"Itulah gunanya mencari inspirasi."
Nayla menyipitkan mata. Senyumnya berubah menjadi senyum jahil yang sudah sangat dikenal Anjani. Senyum yang biasanya menandakan bahwa kalimat berikutnya akan membuat Anjani salah tingkah.
"Atau mungkin inspirasi itu bernama Ramadhan?"
Anjani hampir tersedak tehnya.
Bukan karena tehnya panas. Tehnya sudah dingin sejak sepuluh menit lalu.
Tapi karena nama itu—entah mengapa—masih mampu membuat dadanya berdebar tidak karuan setiap kali disebut.
"Nayla!"
"Apa?"
"Kamu tidak punya topik lain?"
"Tidak." Nayla tersenyum lebar. Tak ada rasa bersalah sedikit pun. "Sebab topik ini menarik. Jauh lebih menarik daripada ide ceritamu yang belum tahu mau tentang apa."
Anjani menghela napas panjang. Kemudian memilih diam. Karena ia tahu, melawan Nayla saat sedang bergoda sama saja seperti melawan arus Sungai Kapuas saat banjir. Percuma.
Sudah beberapa minggu terakhir Nayla memang gemar menggodanya. Terutama setiap kali nama Ramadhan muncul. Padahal menurut Anjani, hubungan mereka masih sebatas teman.
Setidaknya itulah yang selalu ia katakan kepada dirinya sendiri.
Teman, pikirnya. Hanya teman. Tidak lebih.
Tapi mengapa setiap kali ia mengulang kalimat itu dalam hati, ada suara kecil yang membantah?
Setelah keluar dari kedai kopi, mereka berjalan menuju Taman Askari.
Taman itu merupakan salah satu tempat favorit warga Kuala Kapuas untuk bersantai. Pepohonan rindang menaungi sebagian besar area. Beberapa anak bermain di taman, berlarian dengan riang tanpa beban. Pasangan lansia duduk di bangku-bangku kayu, menikmati udara pagi sambil sesekali tersenyum satu sama lain. Suasana terasa damai. Seperti tidak ada masalah di dunia ini yang cukup besar untuk mengganggu ketenangan pagi itu.
Mereka memilih duduk di salah satu bangku yang menghadap ke arah taman bunga. Bunga-bunga berwarna-warni bermekaran di bawah sinar matahari pagi yang mulai hangat.
Untuk beberapa saat, keduanya menikmati suasana tanpa bicara. Hanya angin yang sesekali berembus, membawa aroma tanah basah dan bunga.
Kemudian Nayla memecah keheningan.
"Anjani."
"Hm?"
"Kalau suatu hari nanti kita punya kehidupan masing-masing... jangan lupakan aku."
Anjani menoleh.
Nada suara sahabatnya terdengar berbeda. Lebih tenang. Lebih dalam. Bukan nada Nayla yang biasanya ceria dan penuh canda. Nada yang lebih dewasa. Lebih berat.
Seperti ada beban yang tidak terlihat.
"Kenapa bicara begitu?" tanya Anjani hati-hati.
Nayla tersenyum kecil. Namun senyum itu tidak sepenuhnya sampai ke matanya. "Tidak apa-apa. Hanya terlintas."
Anjani memandang wajah sahabatnya. Mencoba membaca apa yang tersembunyi di balik senyum tipis itu.
Ada sesuatu yang terasa aneh. Seperti ada rahasia yang sedang disembunyikan. Seperti ada luka lama yang belum benar-benar sembuh.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Anjani sekali lagi. Kali ini lebih pelan. Lebih serius.
Nayla mengangguk cepat. Mungkin terlalu cepat. "Tentu."
Namun mata Nayla mengatakan hal yang berbeda.
Mata tidak bisa berbohong. Setidaknya itulah yang selama ini diajarkan oleh kamera tua milik Anjani. Mata selalu jujur. Mata selalu memperlihatkan apa yang tersembunyi di balik kata-kata.
Dan mata Nayla sore itu terlihat sayu. Seperti orang yang sedang memikirkan sesuatu yang tidak ingin dipikirkan.
Anjani mengenalnya terlalu lama untuk tidak menyadari keganjilan itu.
Namun ia memilih tidak memaksa.
Jika Nayla ingin bercerita, suatu saat ia pasti akan bercerita. Begitulah persahabatan mereka selama ini. Tidak selalu harus tahu semuanya. Tidak selalu harus saling terbuka tentang segalanya.
Tetapi selalu ada ketika dibutuhkan.
Anjani meraih tangan Nayla. Menggenggamnya pelan.
"Apapun itu," katanya pelan, "aku di sini."
Nayla tidak menjawab. Namun genggamannya membalas. Lebih erat dari biasanya.
Dan untuk beberapa saat, mereka hanya duduk diam. Menikmati pagi. Menikmati taman. Menikmati fakta bahwa mereka memiliki satu sama lain.
Sore harinya mereka menghadiri acara komunitas seni yang berlangsung di kawasan waterfront Kuala Kapuas.
Suasana berbeda dari pagi hari. Kini keramaian menggantikan ketenangan. Banyak anak muda berkumpul. Ada pameran fotografi di tenda-tenda putih. Pertunjukan musik akustik di panggung kecil. Pameran lukisan dari seniman lokal. Dan bazar produk kreatif yang menjual berbagai barang unik.
Anjani sangat menikmati suasana itu. Ia berkeliling sambil memotret berbagai sudut acara—wajah-wajah pengunjung, lukisan-lukisan yang dipajang, musisi yang sedang memainkan gitar dengan mata terpejam.
Sementara Nayla, seperti biasa, sibuk mencoba hampir semua stan makanan yang ada.
"Kamu datang untuk seni atau kuliner?" tanya Anjani setengah kesal ketika melihat Nayla sudah membawa tiga bungkus makanan berbeda.
"Keduanya," jawab Nayla tanpa merasa bersalah. "Kesenian tidak akan maksimal dinikmati dengan perut kosong."
Anjani menggeleng pasrah. Dasar Nayla.
Saat sedang memperhatikan salah satu foto pameran yang menurutnya menarik—sebuah foto hitam putih tentang seorang nelayan tua di tepian sungai—seseorang memanggil mereka dari belakang.
"Nayla!"
Mereka menoleh.
Ramadhan sedang berjalan mendekat.
Seperti biasa, senyum hangat menghiasi wajahnya. Hari ini ia mengenakan kemeja lengan panjang berwarna abu-abu muda, lengan sedikit digulung hingga siku. Sederhana. Namun entah mengapa terlihat menonjol di antara keramaian.
"Halo," sapanya.
"Halo juga," jawab Nayla cepat. Terlalu cepat, bahkan untuk ukuran Nayla yang memang selalu cepat bicara.
Anjani hanya mengangguk sambil tersenyum. Namun jari-jarinya yang tadinya memegang kamera terasa sedikit berkeringat.
"Aku baru selesai membantu panitia," kata Ramadhan. Matanya bergerak dari Nayla ke Anjani. Lalu berhenti. "Acara ini ramai sekali."
"Karena ada makanan gratis," sahut Nayla sambil mengangkat tiga bungkus makanannya.
Ramadhan tertawa. Tawa yang ringan. Tawa yang membuat kerutan di keningnya hilang seketika. "Sepertinya itu alasanmu datang."
"Tentu. Seni itu nomor dua setelah makanan."
Mereka berbincang beberapa saat. Suasana terasa ringan dan menyenangkan. Ramadhan bercerita tentang kesibukannya membantu panitia. Nayla membalas dengan lelucon-leluconnya yang kadang masuk akal, kadang tidak. Anjani sesekali menambahkan komentar, sesekali hanya tersenyum.
Namun tanpa disadari siapa pun, Nayla memperhatikan sesuatu.
Cara Ramadhan memandang Anjani.
Bukan pandangan biasa yang diberikan kepada teman. Bukan pula pandangan sopan yang diberikan kepada orang yang baru dikenal.
Pandangan yang lebih lama dari yang diperlukan. Pandangan yang penuh perhatian. Pandangan yang seolah-olah mencoba menyimpan setiap detail wajah Anjani ke dalam ingatan.
Dan cara Anjani—tanpa sadar—selalu mencari sosok Ramadhan di tengah keramaian.
Matanya bergerak, menemukan Ramadhan, lalu berhenti. Seolah puas hanya dengan mengetahui bahwa ia ada di sana.
Sebagai sahabat, Nayla mengetahui sesuatu yang bahkan belum disadari oleh kedua orang itu sendiri.
Perasaan sedang tumbuh.
Perlahan.
Diam-diam.
Namun nyata.
Mereka belum sadar, pikir Nayla. Atau mungkin sadar, tapi belum berani mengakuinya.
Dan itu membuat Nayla tersenyum.
Meski di balik senyum itu tersimpan sedikit kesedihan.
Kesedihan yang tidak diketahui siapa pun.
Kesedihan yang muncul karena Nayla tahu persis bagaimana rasanya menyukai seseorang yang tidak pernah melihat dirinya sebagai lebih dari sekadar sahabat.
Malam mulai turun.
Lampu-lampu kota menyala di sepanjang tepian sungai. Air Sungai Kapuas memantulkan cahaya seperti ribuan bintang kecil yang terapung di permukaan gelap.
Acara komunitas seni perlahan mulai sepi. Para peserta satu per satu pulang. Stan-stan mulai ditutup. Musik yang tadinya mengalun riang kini hanya tinggal gema.
Setelah acara selesai, Nayla dan Anjani berjalan pulang bersama. Jalanan tidak terlalu ramai. Hanya sesekali kendaraan melintas. Suara jangkrik terdengar dari kejauhan.
Di tengah perjalanan, Nayla tiba-tiba berhenti.
Anjani yang berjalan di sampingnya ikut berhenti. Menatap heran.
"Aku punya pertanyaan," kata Nayla.
"Apa lagi?"
Nada bicara Nayla terdengar serius. Tidak seperti biasanya yang penuh canda. Anjani mulai merasa waspada.
"Kalau suatu hari Ramadhan menyatakan cinta padamu..." Nayla menatap Anjani lurus-lurus. "Apa yang akan kamu jawab?"
Anjani langsung mematung.
Wajahnya berubah. Dari biasa menjadi kaku. Pipinya merona meski dalam gelap sekalipun Nayla bisa melihatnya.
"Nayla!"
"Aku serius," desak Nayla. "Bukan candaan."
Anjani membuang muka. Memandang ke arah sungai yang mengalir tenang di kejauhan. Seolah-olah air sungai itu bisa memberinya jawaban.
"Aku tidak tahu," jawabnya akhirnya. Suaranya hampir berbisik.
"Benarkah?"
Pertanyaan Nayla sederhana. Namun menusuk tepat di bagian yang paling ragu.
Anjani terdiam.
Untuk pertama kalinya, ia tidak bisa memberikan jawaban cepat. Lidahnya terasa berat. Pikirannya berputar mencari alasan, mencari pembelaan, mencari sesuatu—apa pun—untuk mengelak.
Karena jauh di dalam hatinya, pertanyaan itu ternyata telah muncul lebih dulu.
Bahkan mungkin sejak malam kembang api di Festival Kota Air.
Bahkan mungkin sejak pertama kali melihat Ramadhan membantu lelaki tua di dermaga.
Bahkan mungkin sejak saat itu.
Namun jawaban yang ia cari belum benar-benar ia temukan.
Atau mungkin ia sudah menemukannya, tapi belum berani mengakuinya.
Melihat sahabatnya kebingungan, Nayla tersenyum kecil. Bukan senyum ejekan. Senyum lembut yang penuh pengertian.
"Aku hanya ingin kamu bahagia, Anjani," katanya pelan. "Itu saja."
Kemudian Nayla kembali berjalan. Langkahnya tidak tergesa. Seolah tidak sedang menunggu jawaban.
Sementara Anjani tetap diam di tempatnya beberapa saat sebelum akhirnya menyusul.
Ia memandang aliran sungai yang bergerak tenang di bawah cahaya lampu malam. Airnya mengalir terus. Tidak pernah mundur. Tidak pernah ragu.
Andai hatiku seberani sungai itu, pikirnya dalam hati.
Tanpa ia sadari, kehidupan mulai membawanya ke arah yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya. Arah yang penuh dengan kemungkinan. Penuh dengan harapan. Dan juga penuh dengan risiko.
Dan di balik semua itu, ada satu rahasia yang masih disimpan rapat oleh Nayla.
Rahasia tentang surat yang tidak pernah terkirim.
Rahasia tentang cinta pertama yang tidak pernah sempat diucapkan.
Rahasia yang suatu hari nanti akan mengubah hubungan mereka semua.
Rahasia yang berhubungan dengan masa lalu.
Dan juga dengan seseorang.
Seseorang yang saat ini sedang berdiri di kejauhan, memandangi mereka dari balik jendela kafe yang remang-remang.
Seseorang yang baru saja menyelesaikan telepon dengan rekan kerjanya, lalu matanya tertuju pada dua sosok yang berjalan beriringan di tepian sungai.
Seseorang bernama Irvan.
Ia tidak sengaja melihat mereka. Atau mungkin memang sengaja memperhatikan. Tidak ada yang tahu.
Yang jelas, saat matanya menemukan sosok Anjani di antara lampu-lampu malam, dadanya kembali terasa sesak.
Perasaan yang tidak bisa ia jelaskan.
Perasaan yang terus tumbuh meskipun ia tahu itu mungkin salah.
Perasaan yang akan menjadi benih dari konflik yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya.
BAB 6
IRVAN DAN RAHASIA LAMA
Malam di Kuala Kapuas turun perlahan.
Lampu-lampu jalan memantulkan cahaya kekuningan di atas permukaan aspal yang masih basah oleh hujan sore. Genangan-genangan kecil terbentuk di beberapa titik, memantulkan lampu kota seperti cermin-cermin mini yang tersebar di sepanjang trotoar. Dari kejauhan, suara mesin kelotok yang terlambat pulang sesekali terdengar dari arah sungai, membawa penumpang yang mungkin sedang terburu-buru menuju kampung halaman.
Di sebuah kafe yang menghadap ke tepian Sungai Kapuas, Irvan duduk sendirian.
Secangkir kopi hitam di depannya hampir dingin. Uapnya sudah lama menghilang. Permukaannya yang tadinya mulus kini tertutup lapisan tipis yang menandakan ia sudah terlalu lama tidak tersentuh.
Namun pikirannya jauh lebih sibuk daripada minuman yang belum disentuhnya sejak sepuluh menit lalu.
Matanya tertuju pada layar telepon genggam.
Sebuah foto terpampang di sana.
Foto yang diambil saat acara komunitas seni beberapa hari sebelumnya. Di dalam foto itu terlihat Anjani sedang tertawa. Bibirnya terbuka sedikit, matanya menyipit bahagia. Di sampingnya berdiri Ramadhan. Tidak terlalu dekat. Namun jarak di antara mereka terasa akrab. Terasa nyaman.
Momen yang sebenarnya biasa saja.
Namun entah mengapa membuat hati Irvan terasa tidak nyaman.
Bukan rasa benci, pikirnya. Bukan juga marah.
Hanya rasa aneh yang tidak bisa ia beri nama. Rasa yang muncul setiap kali melihat Anjani tersenyum pada Ramadhan. Rasa yang membuat dadanya terasa sesak, seperti sedang ditindih sesuatu yang tidak terlihat.
Ia mematikan layar ponsel.
Lalu mengembuskan napas panjang. Udara malam yang masuk dari jendela kafe terasa dingin di wajahnya.
"Aku bahkan belum mengenalnya," gumamnya pelan. Suarara hampir tidak terdengar, bahkan untuk dirinya sendiri.
Tetapi kenyataannya, wajah Anjani terus muncul dalam pikirannya.
Sejak pertama kali melihat gadis itu di dermaga beberapa minggu lalu.
Saat itu ia baru saja turun dari kelotok. Hari sedang cerah. Anjani berdiri di tepian sambil memegang kamera tuanya. Rambutnya tertutup jilbab sederhana. Wajahnya teduh. Matanya memperhatikan sesuatu di kejauhan dengan penuh ketenangan.
Ada sesuatu yang membuatnya tertarik.
Bukan hanya kecantikannya.
Bukan hanya senyumnya yang jarang tapi hangat.
Melainkan ketenangan yang terpancar dari dirinya. Seolah dunia tidak pernah terburu-buru untuknya. Seolah ia memiliki waktu yang tidak terbatas untuk menikmati setiap momen.
Dan kini, semakin sering ia melihat Anjani bersama Ramadhan, semakin kuat pula perasaan yang tumbuh di dalam dirinya.
Perasaan yang datang pada waktu yang salah.
Karena orang yang berada di dekat Anjani bukan orang lain.
Melainkan sahabatnya sendiri.
Kenapa harus Ramadhan? pikirnya. Dari semua orang, kenapa harus sahabatku sendiri?
Irvan dan Ramadhan telah bersahabat sejak kecil.
Mereka tumbuh di lingkungan yang sama. Bermain di jalan yang sama. Belajar menghadapi kehidupan bersama. Bahkan banyak orang menganggap mereka seperti saudara kandung. Rumah mereka hanya terpisah beberapa pintu. Ibu mereka saling mengenal. Ayah mereka sesekali minum kopi bersama di warung ujung jalan.
Dulu, ketika masih anak-anak, mereka sering berlari menyusuri tepian sungai. Melempar batu ke air. Melihat riaknya melebar dan menghilang. Berbagi mimpi tentang masa depan yang tidak pernah terbayangkan akan serumit sekarang.
Namun di balik kedekatan itu, ada sesuatu yang tidak pernah benar-benar hilang.
Sebuah luka lama.
Rahasia yang selama bertahun-tahun tersimpan rapat.
Rahasia yang hanya diketahui oleh mereka berdua.
Dan rahasia yang tidak pernah benar-benar dibicarakan.
Beberapa tahun lalu.
Saat masih duduk di bangku sekolah menengah atas.
Irvan dan Ramadhan pernah memiliki mimpi yang sama.
Mereka ingin mendapatkan beasiswa pendidikan ke luar daerah. Beasiswa yang akan membawa mereka ke kota besar. Yang akan membuka pintu menuju masa depan yang lebih cerah.
Kesempatan itu hanya tersedia untuk satu orang.
Dan keduanya lolos hingga tahap akhir seleksi.
Saat itu semua orang yakin Irvan akan menjadi pemenangnya.
Nilai akademiknya sangat tinggi. Ia juga dikenal aktif dalam berbagai kegiatan. Prestasinya gemilang. Gurunya bangga. Orang tuanya berharap.
Namun hasil akhir berkata lain.
Beasiswa itu diberikan kepada Ramadhan.
Keputusan yang membuat banyak orang terkejut.
Termasuk Irvan.
Ia tidak marah pada Ramadhan. Tidak menyalahkannya. Karena Ramadhan juga layak. Ramadhan juga pintar. Ramadhan juga berusaha keras.
Tapi ada bagian kecil dalam hatinya yang merasa... kalah.
Merasa tidak cukup.
Merasa tersisih.
Dan meskipun waktu telah berlalu bertahun-tahun, perasaan itu tidak pernah benar-benar hilang.
Ia hanya terkubur.
Menunggu kesempatan untuk muncul kembali.
Dan kini, Anjani seolah menjadi cermin dari luka lama itu.
Sekali lagi, Irvan merasa harus bersaing dengan Ramadhan untuk mendapatkan sesuatu yang ia inginkan.
Dan sekalilagi, ia takut akan kalah.
"Masih melamun?"
Suara seseorang membuat Irvan tersadar dari lamunannya.
Di hadapannya kini duduk seorang pemuda berambut pendek yang baru datang. Kaus oblong polos. Celana jins. Wajah yang ramah dengan senyum tipis yang selalu menggoda.
Arga.
Sahabatnya sejak masa kuliah. Satu-satunya orang yang bisa membaca pikirannya tanpa perlu banyak bicara.
"Sejak kapan kamu di sini?" tanya Irvan, sedikit terkejut.
"Sejak lima menit lalu." Arga tersenyum, memanggil pelayan untuk memesan minuman. "Tapi kamu terlalu sibuk melamun. Sampai tidak menyadari kedatanganku."
Irvan hanya tersenyum tipis. Mencoba terlihat biasa. Namun ia tahu Arga tidak akan mudah tertipu.
Arga mengenalnya cukup baik.
Terlalu baik, bahkan.
"Ada masalah?" tanya Arga begitu pelayan pergi.
"Tidak."
"Kalau tidak ada masalah, biasanya kamu tidak menatap kopi selama setengah jam." Arga menunjuk cangkir di depan Irvan. "Itu kopi sudah dingin, Van. Dingin sekali. Seperti hatimu yang beku karena galau."
Irvan tertawa kecil. Meski tidak tulus. "Kamu berlebihan."
"Jadi siapa?"
Irvan mengernyit pura-pura bingung. "Siapa apa?"
"Siapa perempuan yang membuatmu seperti ini?"
Pertanyaan itu tepat mengenai sasaran. Lurus. Tanpa basa-basi. Khas Arga yang tidak suka bertele-tele.
Irvan terdiam.
Dan itu sudah menjadi jawaban bagi Arga.
"Oh." Arga mengangguk-angguk. Matanya menyipit. Senyumnya melebar. "Jadi memang ada seseorang."
Irvan memandang keluar jendela. Ke arah sungai yang gelap. Lampu-lampu kota memantul di permukaan air seperti bintang-bintang yang jatuh dan tidak pernah kembali.
"Aku tidak tahu," katanya akhirnya.
"Kamu tahu," Arga membantah pelan.
"Tidak."
Arga tersenyum tipis. Menatap Irvan dengan tatapan yang terlalu tajam untuk seseorang yang hanya minum kopi di malam hari.
"Kalau begitu sebut namanya."
Beberapa detik berlalu.
Kafe terasa sunyi meskipun sebenarnya ada beberapa pengunjung lain yang berbicara pelan di sudut ruangan.
Lalu akhirnya Irvan berkata pelan.
"Anjani."
Nama itu keluar dari mulutnya seperti bisikan. Namun terasa berat. Seperti melepaskan sesuatu yang selama ini ia pendam.
Arga tidak terkehat. Wajahnya tetap tenang. Namun matanya berubah—seperti sedang memproses informasi dengan cepat.
"Anjani," ulang Arga perlahan, mencoba mengingat. "Yang suka fotografi itu?"
Irvan mengangguk.
"Teman dekat Nayla?"
Anggukan lagi.
Arga menghela napas panjang. Kemudian menyandarkan punggungnya ke kursi.
"Kamu tahu Ramadhan juga dekat dengannya, kan?"
Jantung Irvan berdetak lebih keras. Namun ia berusaha tetap tenang. "Aku tahu."
"Dan itu yang mengganggumu?"
Irvan tidak menjawab. Namun keheningannya sudah menjadi jawaban yang cukup jelas.
Arga menatapnya lama. Seperti sedang mencari tahu apakah sahabatnya ini benar-benar siap menghadapi apa yang akan terjadi.
"Van," kata Arga akhirnya. "Aku akan jujur padamu."
Irvan menatapnya.
"Itu bukan masalah sepele. Kalau kamu benar-benar menyukai Anjani, dan Ramadhan juga menyukainya... persahabatan kalian bisa hancur."
"Aku tahu," jawab Irvan pelan. "Aku tahu."
"Tapi kamu tetap ingin?"
Irvan terdiam. Lalu mengangguk pelan. Hampir tidak terlihat.
Arga menghela napas lagi. Kali ini lebih panjang. "Aku hanya bisa menemanimu, Van. Tapi keputusan ada di tanganmu. Jangan sampai nanti menyesal."
Mereka terdiam cukup lama setelah itu. Masing-masing memikirkan sesuatu. Arga menyesap minumannya yang baru datang. Irvan memandangi kopi dinginnya yang tidak pernah ia sentuh.
Malam itu, setelah pulang dari kafe, Irvan tidak bisa tidur.
Ia duduk di beranda rumahnya. Rumah panggung sederhana milik keluarganya. Di depannya terbentang aliran Sungai Kapuas yang gelap. Hanya suara air dan sesekali suara mesin perahu dari kejauhan yang menemani.
Ia memejamkan mata.
Flashback.
Lima tahun lalu.
Ruangan seleksi beasiswa. Pengumuman dibacakan. Nama Ramadhan keluar sebagai penerima.
Ia melihat wajah Ramadhan yang terkejut. Tidak percaya. Lalu bahagia.
Ia melihat wajah ibunya yang berusaha tersenyum meski matanya berkaca-kaca.
Ia mendengar tepuk tangan. Selamat untuk Ramadhan.
Ia ikut bertepuk tangan.
Karena ia sahabat yang baik.
Karena ia tidak ingin terlihat kecil hati.
Tapi malam itu, ketika pulang ke rumah, ia menangis di kamar mandi.
Menahan suara agar tidak terdengar siapa pun.
Dan sejak saat itu, ada tembok kecil yang tumbuh di antara mereka.
Tembok yang tidak terlihat.
Namun cukup untuk membuat jarak.
Irvan membuka matanya.
Wajah Anjani muncul lagi dalam pikirannya. Senyumnya. Tatapannya yang teduh. Cara ia memegang kamera dengan penuh hati-hati, seolah setiap jepretan adalah sesuatu yang berharga.
Dan kini, untuk kedua kalinya, aku harus bersaing dengan Ramadhan untuk mendapatkan sesuatu yang aku inginkan.
Dan aku takut akan kalah lagi.
Ia menghela napas panjang. Udara malam terasa dingin di wajahnya.
Tapi apakah aku akan membiarkan ketakutan itu menghentikanku?
Keesokan harinya, di sebuah kegiatan komunitas pemuda kota, Irvan akhirnya bertemu langsung dengan Anjani.
Tidak sengaja. Atau mungkin memang sengaja. Tidak ada yang tahu.
Nayla yang mengenalkan mereka saat sesi istirahat.
"Irvan, ini Anjani. Anjani, ini Irvan. Teman lamaku."
Anjani tersenyum sopan. Senyum yang sederhana namun entah mengapa membuat ruangan terasa lebih hangat.
"Halo."
"Halo," balas Irvan. Ia membalas senyum itu. Dan untuk sesaat, waktu seolah melambat.
Ia bisa memahami mengapa Ramadhan tertarik kepada gadis ini.
Anjani memiliki sesuatu yang sulit dijelaskan. Sesuatu yang membuat orang merasa nyaman hanya dengan berada di dekatnya. Sesuatu yang membuat orang ingin tahu lebih banyak tentang dirinya.
Percakapan mereka berlangsung singkat—hanya tentang kegiatan, tentang komunitas, tentang hal-hal biasa. Namun cukup untuk membuat Irvan semakin yakin bahwa perasaannya bukan sekadar rasa penasaran.
Dan itu membuat segalanya menjadi lebih rumit.
Sore hari, saat kegiatan selesai, Irvan berdiri sendirian di tepian sungai.
Angin sore berembus lembut. Air Sungai Kapuas bergerak perlahan ke arah hilir, membawa serta daun-daun kering dan sesekali sampah plastik yang hanyut terbawa arus.
Tak lama kemudian, seseorang menghampirinya.
Langkahnya pelan. Tidak tergesa.
Irvan sudah tahu siapa itu sebelum orang itu berdiri di sampingnya.
Ramadhan.
"Kamu melamun?" tanya Ramadhan.
Irvan tersenyum kecil. Tidak menoleh. Matanya tetap lurus ke depan, memandang aliran sungai.
"Kebiasaan lama."
Ramadhan berdiri di sampingnya. Jarak di antara mereka tidak terlalu dekat, namun juga tidak terlalu jauh. Seperti dulu. Seperti sebelum semuanya berubah.
"Kamu sudah lama tidak seperti ini," kata Ramadhan.
"Maksudmu?"
"Sendirian di tepi sungai sambil melamun."
Irvan tidak menjawab.
"Kangen juga," lanjut Ramadhan. "Dulu kita sering begini."
Irvan tersenyum. Namun senyum itu pahit. "Dulu."
Untuk beberapa saat, mereka hanya berdiri diam. Masing-masing tenggelam dalam pikirannya sendiri. Suara air sungai menjadi satu-satunya yang mengisi keheningan.
"Aku senang kamu kembali aktif di kegiatan kota," kata Ramadhan kemudian.
Irvan menoleh. Menatap sahabatnya. "Begitu?"
"Iya." Ramadhan mengangguk. Matanya tulus. "Kuala Kapuas butuh orang-orang seperti kamu."
Irvan tertawa pelan. Tawa yang tidak sepenuhnya bahagia.
Dia tidak tahu, pikir Irvan. Dia sama sekali tidak tahu apa yang sedang aku pikirkan.
Dia tidak tahu bahwa aku menyukai Anjani.
Dia tidak tahu bahwa aku mulai merasa iri padanya lagi.
Dia tidak tahu bahwa luka lama yang dulu perlahan bangkit kembali.
Kalimat Ramadhan terdengar tulus. Dan justru karena ketulusan itulah perasaan bersalah mulai muncul di dalam dada Irvan.
Sebab untuk pertama kalinya dalam hidup, ia menyimpan sesuatu dari sahabatnya.
Sesuatu yang mungkin akan mengubah persahabatan mereka selamanya.
Ia tidak tahu harus berkata apa. Tidak tahu harus mulai dari mana.
Haruskah aku jujur sekarang?
Atau biarkan semuanya berjalan seperti ini sampai suatu hari nanti meledak dengan sendirinya?
Irvan memilih diam.
Ramadhan belum mengetahui apa pun.
Belum mengetahui bahwa Irvan mulai menyukai Anjani.
Belum mengetahui bahwa luka lama yang selama ini terkubur perlahan bangkit kembali.
Dan yang paling berbahaya adalah...
Irvan sendiri belum tahu apakah ia akan melawan perasaan itu. Atau justru mengikutinya.
Matahari mulai tenggelam di ufuk barat.
Warna jingga memantul di atas permukaan Sungai Kapuas, menciptakan kilauan keemasan yang bergerak mengikuti arus. Seperti biasa, senja menghadirkan keindahannya. Seperti biasa, ia tidak pernah gagal membuat manusia berhenti sejenak dari kesibukan mereka.
Namun di balik keindahan itu, sebuah konflik perlahan mulai terbentuk.
Konflik yang tidak lahir dari kebencian.
Melainkan dari cinta.
Cinta yang tulus dari dua sisi.
Cinta yang datang pada waktu yang sama untuk orang yang sama.
Dan sering kali, cinta yang datang kepada orang yang sama mampu merusak persahabatan yang paling kuat sekalipun.
Irvan memandang senja itu.
Memandang langit yang berubah warna.
Memandang Sungai Kapuas yang mengalir tanpa pernah berhenti.
Seandainya hati bisa semudah itu, pikirnya.
Seandainya aku bisa berhenti merasa hanya dengan mengatakannya.
Tapi kenyataannya, aku tidak bisa.
Dan di kejauhan, di tempat yang berbeda, Ramadhan juga sedang memandang senja yang sama. Memikirkan hal yang berbeda. Namun hatinya juga sedang tidak tenang.
Karena di balik ketenangan yang ia tunjukkan, ia juga mulai merasakan sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.
Perasaan yang membuatnya ingin selalu dekat dengan Anjani.
Perasaan yang membuatnya cemburu melihat orang lain terlalu dekat dengannya.
Termasuk Irvan.
Sahabatnya sendiri.
BAB 7
FESTIVAL DI KOTA AIR
Kuala Kapuas sedang bersolek.
Bendera-bendera warna-warni menghiasi jalan-jalan utama kota, berkibar tertiup angin sungai yang bertiup dari arah timur. Lampion-lampion kecil dipasang di sepanjang kawasan waterfront, menggantung di antara pepohonan yang rindang. Spanduk dan umbul-umbul berjejer rapi, memamerkan logo festival tahun ini: seekor ikan hias dengan warna-warna cerah yang melompat di atas ombak.
Masyarakat menyambut datangnya Festival Kota Air Kuala Kapuas, sebuah perayaan tahunan yang selalu dinanti warga.
Festival itu bukan sekadar hiburan.
Ia adalah perayaan identitas.
Perayaan tentang kota yang tumbuh bersama sungai. Tentang masyarakat yang hidup berdampingan dengan air. Tentang budaya, sejarah, dan harapan yang terus mengalir seperti Sungai Kapuas itu sendiri.
Sejak pagi, ribuan warga mulai memadati lokasi acara. Berbagai pertunjukan budaya digelar di panggung-panggung yang tersebar di sepanjang tepian sungai. Ada tarian daerah yang dibawakan oleh ibu-ibu PKK dengan kostum warna-warni. Pameran kerajinan tangan dari anyaman rotan dan manik-manik khas Dayak. Lomba perahu hias yang sudah dipersiapkan sejak sebulan lalu oleh masing-masing kelurahan. Bazar kuliner khas Kapuas dengan aroma ikan bakar dan amplang yang menyebar ke seluruh penjuru. Pentas musik dari seniman lokal. Dan beragam kegiatan lainnya yang membuat pengunjung tidak pernah kehabisan pilihan.
Suasana kota berubah menjadi lautan manusia yang penuh kegembiraan. Anak-anak berlarian dengan balon di tangan. Remaja berfoto di setiap sudut yang menarik. Orang dewasa duduk di bangku-bangku taman sambil menikmati makanan. Semua orang tersenyum. Semua orang bahagia.
Di rumahnya, Anjani sedang bersiap.
Hari itu komunitas literasinya mendapat kesempatan membuka stan baca gratis bagi anak-anak di area timur festival. Stan sederhana dengan tenda biru putih, dilengkapi rak-rak buku lipat yang sudah disiapkan sejak semalam.
Ia berdiri di depan cermin kecil di kamarnya. Blus sederhana berwarna biru muda, dipadukan dengan jilbab krem yang jatuh lembut di bahu. Tidak ada riasan tebal. Hanya sedikit pelembab dan lip balm. Sederhana. Tidak berlebihan.
Namun cukup membuat Bu Rahma tersenyum saat melihat putrinya turun dari kamar.
"Anak Ibu sudah besar," kata Bu Rahma sambil membalikkan dadar gulung di wajan.
Anjani tertawa. Tangannya meraih gelas air putih di meja makan. "Kenapa tiba-tiba bicara begitu?"
Bu Rahma tidak menjawab langsung. Ia hanya tersenyum sambil terus membalik dadar. Kemudian, dengan nada santai namun menusuk, ia berkata, "Karena sekarang sudah sering tersenyum sendiri."
Anjani langsung salah tingkah. Pipinya merona. "Ibu..."
Bu Rahma tertawa kecil. Tidak melanjutkan. Namun matanya yang bijak tetap memperhatikan.
Sebagai seorang ibu, ia mulai melihat perubahan-perubahan kecil yang terjadi pada putrinya. Cara Anjani memilih baju yang sedikit lebih rapi dari biasanya. Cara ia menyisir rambut lebih lama dari biasanya. Cara ia tersenyum tanpa alasan yang jelas.
Perubahan yang biasanya muncul ketika seseorang mulai menyukai orang lain.
Bu Rahma tidak bertanya. Biar waktu yang menjawab.
Di lokasi festival, suasana sudah sangat ramai ketika Anjani dan Nayla tiba.
Mereka harus sedikit berdesakan melewati kerumunan untuk sampai ke stan komunitas. Beberapa kali Nayla hampir terseret arus manusia, untunglah Anjani masih memegang erat lengannya.
Anjani dan Nayla sibuk menata buku-buku di rak stan. Buku cerita anak. Buku pengetahuan populer. Komik pendidikan. Semuanya tersusun rapi berdasarkan kategori.
Anak-anak mulai berdatangan bahkan sebelum stan sepenuhnya siap. Mata mereka berbinar melihat rak-rak buku yang penuh warna. Beberapa orang tua ikut menemani, duduk di kursi-kursi kecil yang disediakan.
Tidak jauh dari stan mereka, berbagai komunitas lain juga membuka kegiatan masing-masing. Ada komunitas lingkungan yang mengajak anak-anak menanam pohon di pot kecil. Ada komunitas seni yang mengadakan lomba mewarnai. Suasana kompetitif namun tetap ramah.
"Festival tahun ini lebih ramai," kata Nayla sambil mengatur posisi buku-buku paling atas yang hampir tidak terjangkau olehnya.
Anjani mengangguk. Matanya mengamati lautan manusia di sekitarnya. Wajah-wajah baru. Tawa. Obrolan. "Kota kita memang selalu hidup kalau ada acara seperti ini."
Nayla tersenyum. Matanya menyipit nakal. "Dan biasanya banyak kisah cinta lahir saat festival."
Anjani memutar bola mata. "Kamu tidak pernah kehabisan bahan."
"Tentu saja." Jawaban Nayla disertai senyum jahil yang sudah sangat dikenal Anjani. Senyum yang mengatakan aku tahu sesuatu yang kamu belum tahu tentang dirimu sendiri.
Menjelang siang, seseorang datang membawa beberapa kardus buku.
Ramadhan.
Hari itu ia mengenakan kemeja lengan panjang warna putih lengan digulung hingga siku. Sederhana. Namun di antara keramaian festival, ia tetap terlihat menonjol. Mungkin bukan karena pakaiannya, pikir Anjani. Mungkin karena caranya berjalan yang tenang. Atau karena senyumnya.
"Maaf terlambat," katanya sambil meletakkan kardus di atas meja stan.
"Kami baru mulai," kata Anjani. Tangannya tanpa sadar merapikan jilbabnya. Tidak sadar. Atau mungkin sadar, tapi tidak mau mengaku.
Ramadhan membantu menata buku-buku tambahan dari kardus. Buku-buku baru. Masih berbau tinta dan kertas. Seperti biasa, kehadirannya membuat suasana terasa lebih ringan. Bahkan Nayla yang biasanya banyak komentar tiba-tiba sibuk dengan ponselnya. Sengaja. Atau pura-pura sibuk. Anjani tidak tahu.
Mereka bekerja bersama selama beberapa jam. Melayani anak-anak yang datang silih berganti. Mengatur permainan edukatif di samping stan. Membagikan hadiah kecil seperti stiker dan pensil warna bagi peserta yang aktif membaca.
Melihat antusiasme anak-anak membuat mereka lupa waktu. Matahari sudah bergeser ke barat ketika akhirnya keramaian mulai mereda. Beberapa orang tua mengajak anak-anaknya pulang untuk istirahat siang.
Sampai akhirnya, saat Anjani sedang membungkuk merapikan buku-buku di rak paling bawah, Nayla berbisik pelan di dekat telinganya.
"Kalian cocok."
Anjani hampir membenturkan kepalanya ke rak. "Nayla!"
"Apa?" Nayla memasang wajah polos. Polos palsu yang sangat ia kuasai.
"Diam."
Nayla terkikik puas. Lalu berjalan pergi meninggalkan Anjani yang wajahnya memerah dan Ramadhan yang tidak mendengar apa pun karena sedang sibuk melipat kardus bekas.
Sore menjelang.
Acara festival memasuki salah satu agenda paling ditunggu.
Parade Perahu Hias Sungai Kapuas.
Ratusan warga berkumpul di tepian sungai, berdesakan mencari posisi terbaik untuk menyaksikan. Anak-anak duduk di pundak ayah mereka. Remaja berfoto dengan latar belakang sungai yang mulai berwarna jingga.
Perahu-perahu yang telah dihias dengan berbagai tema budaya dan kreativitas mulai berlayar perlahan dari arah timur. Ada perahu berbentuk naga dengan sisik dari daun kelapa. Ada perahu bertema rumah adat Dayak dengan ukiran-ukiran khas. Ada juga perahu yang dihiasi ribuan bunga kertas warna-warni.
Warna-warni lampu dan ornamen membuat sungai terlihat seperti karpet ajaib yang bergerak perlahan. Pantulan cahayanya menari di atas permukaan air, menciptakan ilusi seolah perahu-perahu itu melayang di atas langit.
Anjani berdiri di dekat pagar waterfront sambil memotret.
Klik.
Klik.
Klik.
Matanya sibuk mengabadikan setiap momen. Setiap detail. Setiap sudut.
Sementara Ramadhan berdiri tidak jauh darinya. Sesekali membantu mengatur kerumunan pengunjung yang terlalu maju mendekati pagar pembatas. Sesekali hanya diam, memperhatikan Anjani yang terlalu sibuk dengan kameranya.
"Tidak capek memotret?" tanya Ramadhan. Suaranya hampir tenggelam oleh riuh rendah penonton.
"Tidak," jawab Anjani tanpa menoleh.
"Kenapa?"
Anjani menurunkan kameranya sejenak. Menoleh. Tersenyum. "Karena momen seperti ini tidak datang setiap hari."
Ramadhan memandang ke arah sungai. Perahu hias terakhir sedang melintas, meninggalkan jejak riak yang bergerak lambat. "Lalu nanti foto-fotonya akan kamu simpan?"
"Iya."
"Supaya suatu hari nanti orang bisa tahu bagaimana indahnya Kuala Kapuas."
Ramadhan mengangguk. Matanya masih lurus ke depan. "Kota ini memang layak dikenang."
Untuk beberapa saat mereka menikmati pemandangan bersama.
Angin sore bertiup lembut, membawa aroma sungai dan sedikit bau makanan dari bazar. Suara riuh warga bercampur dengan alunan musik tradisional dari panggung utama—sebuah melodi dari sape, alat musik khas Dayak, yang mengalun sendu dan indah.
Semuanya terasa sempurna.
Anjani hampir tidak ingin berbicara. Karena ia takut jika ia berbicara, pesona sore itu akan pecah seperti gelembung sabun.
Namun di balik keramaian itu, seseorang memperhatikan mereka.
Irvan.
Ia berdiri di dekat area pameran UMKM, di bawah tenda biru yang menjual kerajinan rotan. Tangannya memegang sebuah dompet anyaman yang belum benar-benar ia lihat karena matanya tertuju ke arah lain.
Ke arah Anjani.
Lalu kepada Ramadhan.
Kemudian kembali kepada Anjani.
Perasaan yang selama ini hanya berupa ketertarikan kini mulai berubah menjadi sesuatu yang lebih nyata. Sebuah kepastian. Aku menyukainya, pikir Irvan. Dan aku tidak bisa terus berbohong pada diriku sendiri.
Dan semakin nyata perasaan itu tumbuh, semakin sulit pula baginya untuk mengabaikannya.
Arga yang berdiri di sampingnya memperhatikan perubahan ekspresi sahabatnya. Tidak banyak bicara. Namun matanya mengikuti arah pandangan Irvan.
"Kamu terlambat," kata Arga tiba-tiba.
Irvan mengernyit. "Maksudmu?"
Arga mengangguk ke arah Anjani—yang sedang tertawa karena sesuatu yang dikatakan Ramadhan. "Kamu terlambat menyadari perasaanmu. Sementara mereka berdua sudah ada di depan."
Irvan tidak menjawab.
Karena dalam hati ia tahu, Arga benar.
Tapi apakah terlambat berarti tidak bisa berusaha?
Ia tidak tahu jawabannya.
Malam tiba.
Festival mencapai puncaknya.
Lampu-lampu mulai menyala di sepanjang tepian sungai—lampu jalan, lampion, lampu hias di perahu-perahu yang masih tertambat. Langit malam Kuala Kapuas tampak cerah, dihiasi bintang-bintang yang jarang terlihat di kota besar.
Ribuan warga masih memadati lokasi. Suasana semakin meriah karena konser musik malam akan segera dimulai.
Namun sebelum konser, ada satu acara yang paling ditunggu.
Pesta Kembang Api Kota Air.
Suara ledakan pertama terdengar.
DOR!
Cahaya merah menyembur ke langit, pecah menjadi seribu titik bercahaya.
Warga bersorak kagum.
Anak-anak bertepuk tangan.
DOR! DOR! DOR!
Cahaya warna-warni menghiasi langit malam. Merah, biru, hijau, kuning, ungu. Bergantian. Seperti lukisan abstrak yang bergerak cepat.
Anjani mengangkat kameranya. Menekan tombol rana berulang kali.
Namun beberapa saat kemudian, ia menurunkannya kembali.
Untuk pertama kalinya, pikirnya. Aku tidak ingin merekam momen ini.
Aku ingin mengalaminya.
Ramadhan berdiri di sampingnya. Tidak terlalu dekat. Namun juga tidak terlalu jauh. Jarak yang cukup untuk membuat Anjani merasakan kehangatan dari keberadaannya.
Keduanya menatap langit yang dipenuhi cahaya.
Merah.
Biru.
Hijau.
Emas.
Indah sekali.
Dan di tengah gemerlap itu, Ramadhan berkata.
"Anjani."
Suaranya pelan. Hampir tenggelam oleh suara ledakan kembang api. Namun Anjani mendengarnya. Jelas.
"Hm?"
Ramadhan tidak langsung menjawab. Ia tampak memikirkan sesuatu. Menimbang-nimbang. Seolah kata-kata berikutnya akan menjadi sesuatu yang penting.
"Aku senang mengenalmu," katanya akhirnya.
Anjani menoleh.
Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Jangan-jangan...
Kalimat itu sederhana. Tidak berlebihan. Tidak muluk-muluk. Namun entah mengapa terasa sangat berarti. Seperti ada lapisan makna di balik kata-kata itu. Lapisan yang tidak diucapkan, tapi bisa dirasakan.
Ia tersenyum.
"Aku juga."
Mereka kembali memandang langit. Kembang api masih terus meledak, menciptakan bunga-bunga cahaya yang bermekaran sesaat lalu menghilang.
Tidak ada yang mengatakan apa-apa lagi.
Namun ada sesuatu yang mulai berubah di antara mereka. Sesuatu yang perlahan tumbuh semakin jelas.
Sesuatu yang mungkin sudah lama ada, tapi baru sekarang mereka akui.
Di kejauhan, Irvan menyaksikan semuanya.
Ia tidak bisa mendengar apa yang mereka katakan. Namun ia bisa melihat bagaimana Anjani tersenyum. Bagaimana Ramadhan berdiri lebih dekat setelah itu.
Dan untuk pertama kalinya, ia merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Bukan marah.
Bukan benci.
Melainkan ketakutan.
Ketakutan bahwa ia akan kehilangan kesempatan sebelum sempat memperjuangkannya.
Ketakutan bahwa ia akan menjadi penonton dalam kisah cinta yang juga ingin ia tulis.
Arga berdiri di sampingnya. Diam. Tidak berkata apa-apa. Karena ia tahu, tidak ada kata-kata yang bisa menghibur seseorang yang sedang jatuh cinta pada orang yang tidak melihatnya.
Irvan mengepalkan tangannya. Lalu melepaskannya lagi.
Belum selesai, pikirnya. Belum.
Sementara di atas langit Kuala Kapuas, kembang api terakhir meledak dengan suara paling keras. Cahaya keemasan menyebar seperti bunga raksasa, menerangi seluruh muka sungai sejenak sebelum akhirnya memudar perlahan.
Penonton bertepuk tangan.
Festival belum berakhir, tetapi puncaknya telah berlalu.
Malam itu begitu indah.
Namun di balik keindahannya, takdir sedang menyiapkan babak baru.
Babak ketika perasaan yang selama ini tersembunyi akan mulai mencari jalan untuk diungkapkan.
Babak ketika persahabatan akan diuji.
Babak ketika cinta tidak lagi bisa disembunyikan.
BAB 8
SENJA DI TAMAN ASKARI
Beberapa hari setelah Festival Kota Air berakhir, kehidupan di Kuala Kapuas kembali berjalan seperti biasa.
Jalan-jalan kota kembali lengang. Spanduk dan lampion festival mulai diturunkan satu per satu oleh petugas kebersihan. Stan-stan pameran telah dibongkar, menyisakan lapangan yang kembali luas dan lengang. Bekas-bekas keramaian perlahan menghilang, digantikan oleh rutinitas harian yang akrab.
Namun kenangan tentang festival itu masih tersimpan di benak banyak orang.
Terutama bagi Anjani.
Bukan karena kemeriahan acaranya. Bukan pula karena kembang api yang spektakuler.
Melainkan karena satu kalimat sederhana yang masih terus teringat olehnya.
"Aku senang mengenalmu."
Kalimat yang diucapkan Ramadhan di bawah cahaya kembang api.
Kalimat yang sederhana. Tanpa janji. Tanpa deklarasi.
Tetapi mampu bertahan lebih lama daripada yang ia kira.
Setiap malam, sebelum tidur, kalimat itu sering muncul tanpa diundang. Kadang membuatnya tersenyum sendiri. Kadang membuatnya bertanya-tanya. Apa maksudnya sebenarnya? Apa hanya sekadar basa-basi? Atau ada sesuatu di baliknya?
Anjani tidak tahu.
Dan mungkin,它 adalah bagian dari kegelisahan yang paling manis.
Sore itu, Anjani datang ke Taman Askari.
Tempat favoritnya sejak kecil. Taman yang menjadi saksi berbagai perubahan Kota Kuala Kapuas—dari yang masih sepi hingga menjadi ramai seperti sekarang. Di bawah rindangnya pepohonan, ia berjalan perlahan sambil membawa kamera kesayangannya.
Langit mulai menunjukkan warna-warna senja. Jingga tipis di ufuk barat, bercampur dengan sisa-sisa biru yang masih enggan pergi.
Beberapa anak masih bermain di area taman, berlarian dengan bola plastik berwarna-warni. Pasangan lansia duduk di bangku-bangku taman, berbincang pelan sambil sesekali tersenyum. Penjual jajanan—gorengan, es kelapa muda, dan pentol—sibuk melayani pembeli yang mulai berdatangan.
Suasana terasa damai.
Tenang.
Seolah tidak ada masalah di dunia ini yang cukup besar untuk mengganggu sore itu.
Anjani memilih duduk di salah satu bangku kayu yang menghadap ke arah sungai. Dari sini, ia bisa melihat aliran Sungai Kapuas yang bergerak lambat, memantulkan warna jingga dari langit.
Ia mengeluarkan buku catatannya—buku yang selalu ia bawa ke mana-mana, dengan sampul cokelat yang mulai usang karena sering dibuka dan ditutup. Pena di tangannya bergerak.
Kemudian mulai menulis.
"Ada beberapa orang yang datang seperti angin."
"Mereka hadir sebentar lalu pergi."
"Tanpa pernah benar-benar meninggalkan jejak."
"Tetapi ada juga yang datang seperti senja."
"Mereka membuat kita ingin tinggal lebih lama."
"Mereka membuat kita lupa bahwa waktu terus berjalan."
Anjani berhenti menulis.
Pena berhenti di ujung kalimat terakhir.
Ia memandangi tulisannya. Lalu tersenyum kecil.
Kapan terakhir kali aku menulis tentang perasaan sejujur ini?
Ia sendiri tidak tahu mengapa akhir-akhir ini tulisannya terasa berbeda. Lebih personal. Lebih emosional. Lebih... jujur.
Dan itu membuatnya sedikit khawatir.
Karena kejujuran sering kali membawa konsekuensi.
"Kalau terus menulis seperti itu, bukumu bisa laris."
Suara yang familiar membuat Anjani menoleh.
Ramadhan.
Pemuda itu berdiri di samping bangku, tidak jauh dari tempat Anjani duduk. Wajahnya sedikit berkeringat—mungkin baru saja berjalan cukup jauh. Namun senyumnya tetap sama. Hangat. Menenangkan.
Di tangannya, ia membawa dua gelas minuman dingin. Es teh manis, dari warna dan gelasnya yang khas dari kedai langganan di dekat taman.
"Aku tidak sadar kamu datang," kata Anjani. Tangannya tanpa sadar menutup buku catatan. Bukan karena malu. Tapi karena ada sesuatu yang terasa terlalu pribadi untuk dibaca orang lain.
"Mungkin karena terlalu serius menulis," jawab Ramadhan sambil duduk di sisi lain bangku.
Ia menyerahkan satu gelas kepada Anjani.
"Terima kasih."
"Sama-sama."
Mereka duduk berdampingan. Tidak terlalu dekat. Namun juga tidak terlalu jauh. Jarak yang terasa nyaman bagi keduanya. Sebuah jarak yang tidak perlu dipaksakan untuk didekatkan. Sebuah jarak yang terasa... alami.
Untuk beberapa saat mereka berbincang tentang banyak hal.
Tentang buku. Tentang kegiatan komunitas selanjutnya. Tentang mimpi. Tentang masa depan.
Setiap kali Ramadhan berbicara, Anjani merasa ada sesuatu yang menenangkan dari suaranya. Tidak terlalu cepat. Tidak terlalu lambat. Tidak berusaha meyakinkan. Hanya... apa adanya.
Ramadhan bercerita bahwa ia ingin suatu hari nanti membangun sebuah pusat belajar gratis bagi anak-anak di daerah pinggiran sungai. Tempat di mana semua anak bisa membaca tanpa harus memikirkan biaya. Tempat di mana mimpi-mimpi kecil bisa tumbuh tanpa dihambat oleh keterbatasan ekonomi.
"Bukan hanya tentang buku," jelas Ramadhan, matanya memandang sungai. "Tapi tentang memberikan mereka kesempatan untuk percaya bahwa mereka bisa menjadi apa pun."
Anjani mendengarkan dengan penuh perhatian. Bukan karena sopan santun. Tapi karena ia benar-benar terkesan.
"Mimpi yang bagus," katanya.
"Mudah-mudahan."
"Kamu pasti bisa."
Ramadhan tersenyum. Senyum yang membuat kerutan di keningnya menghilang. "Lalu bagaimana denganmu?"
"Aku?"
"Iya." Ramadhan menatapnya. "Apa mimpi terbesar Anjani?"
Anjani memandang langit yang mulai berubah jingga. Awan-awan tipis bergerak lambat, seperti sedang berjalan-jalan tanpa tujuan.
"Menerbitkan buku," jawabnya.
"Hanya itu?"
Anjani menggeleng pelan. "Tidak."
"Lalu?"
Ia menarik napas panjang. Mengumpulkan kata-kata.
"Aku ingin menulis cerita yang bisa membuat seseorang merasa tidak sendirian."
Angin bertiup lebih kencang sejenak, membawa aroma tanah basah dari kejauhan.
"Aku ingin seseorang yang sedang sedih, sedang patah hati, sedang kehilangan harapan... membaca tulisanku dan berkata, 'Ternyata aku tidak sendiri. Ternyata ada orang lain yang merasakan hal yang sama.'"
Ramadhan terdiam.
Matanya tidak bergerak dari wajah Anjani.
Kemudian ia mengangguk pelan. Sangat pelan. Seolah sedang mencerna setiap kata yang baru saja didengarnya.
"Itu mimpi yang indah," katanya akhirnya. Suaranya lebih pelan dari biasanya. Lebih dalam.
Anjani tidak tahu harus berkata apa. Pujian itu sederhana. Namun terasa lebih dalam dari sekadar kata-kata.
Senja semakin turun.
Langit berubah menjadi lautan warna jingga dan emas. Seperti lukisan yang sedang dikerjakan oleh tangan tak terlihat—sapu kuas demi sapu kuas, menciptakan gradasi yang tidak akan pernah bisa ditiru oleh siapa pun.
Pantulan cahayanya menari di atas permukaan Sungai Kapuas. Riak-riak kecil terbentuk oleh angin, membawa cahaya jingga ke sana kemari seperti lampu-lampu kecil yang bergerak sendiri.
Anjani mengangkat kameranya.
Seperti biasa.
Namun kali ini, ia tidak langsung memotret.
Ia hanya memandang pemandangan di hadapannya. Menikmati setiap detiknya. Menghirup angin sore. Mendengar suara anak-anak yang masih bermain di kejauhan.
Kenapa tidak memotret? pikir Ramadhan pasti akan bertanya.
Dan benar saja.
"Mengapa tidak memotret?" tanya Ramadhan.
Anjani tersenyum. Menurunkan kameranya.
"Aku ingin mengingatnya dengan mata," jawabnya. "Bukan dengan kamera."
Ramadhan tersenyum. "Kadang memang begitu. Beberapa momen terlalu berharga untuk difoto. Cukup diingat."
Untuk pertama kalinya sejak mereka saling mengenal, keheningan hadir cukup lama.
Bukan keheningan yang canggung. Bukan keheningan yang membuat orang gelisah mencari topik pembicaraan.
Keheningan yang hangat. Keheningan yang terasa seperti pelukan. Keheningan yang membuat Anjani merasa—untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama—bahwa ia tidak perlu menjadi siapa pun selain dirinya sendiri.
Seolah mereka mulai memahami bahasa yang tidak membutuhkan kata-kata.
Seolah hati mereka sedang berbisik sesuatu yang tidak perlu diucapkan.
Di sisi lain taman, Nayla baru saja tiba.
Ia datang dengan niat menemui Anjani. Mungkin mengajaknya makan malam. Atau sekadar berbincang seperti biasa.
Namun langkahnya terhenti saat melihat sahabatnya sedang duduk bersama Ramadhan.
Dari kejauhan, ia bisa melihat semuanya dengan jelas. Cara mereka duduk. Cara mereka berbicara. Cara mereka diam bersama.
Mereka tampak begitu serasi. Begitu nyaman. Seolah dunia di sekeliling mereka tidak ada.
Nayla tersenyum.
Namun senyum itu tidak sepenuhnya bahagia.
Karena jauh di dalam hatinya, ia menyimpan sebuah rahasia.
Rahasia yang selama ini tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun—bahkan kepada Anjani.
Rahasia tentang surat yang tidak pernah terkirim.
Rahasia tentang cinta pertama yang tidak pernah sempat diucapkan.
Rahasia yang berhubungan dengan masa lalunya.
Dan juga dengan seseorang.
Seseorang yang saat ini sedang berjalan menuju taman dari arah parkiran.
Seseorang bernama Irvan.
Irvan datang dengan langkah tenang.
Hari itu ia mengenakan kemeja batik lengan panjang—mungkin baru selesai dari suatu acara. Wajahnya tampak sedikit lelah, namun matanya tetap waspada.
Ia melihat Nayla terlebih dahulu, yang berdiri di dekat pohon rindang tidak jauh dari pintu masuk taman.
"Nayla?"
Nayla sedikit terkejut. Matanya membulat. Seperti orang yang tidak siap bertemu.
"Irvan."
Mereka saling berpandangan beberapa detik.
Ada sesuatu yang aneh dalam tatapan keduanya. Sesuatu yang tidak dipahami orang lain yang kebetulan lewat. Sesuatu yang berasal dari masa lalu.
Masa lalu yang belum pernah diketahui oleh Anjani maupun Ramadhan.
Masa lalu yang hanya mereka berdua yang tahu.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Irvan. Nada bicaranya hati-hati. Seperti orang yang berjalan di atas kulit telur.
Nayla mengangguk. Terlalu cepat. "Baik."
"Masa lalu kita tetap rahasia?"
Nayla langsung menegang.
Pundaknya naik. Tangannya yang semula santai tiba-tiba mengepal.
"Irvan..."
"Aku hanya bertanya."
Pertanyaan itu sederhana. Namun maknanya sangat besar.
Masa lalu yang mereka maksud bukanlah hubungan romantis. Bukan pula konflik yang dramatis.
Melainkan sebuah rahasia yang jika terungkap, bisa mengubah cara Anjani memandang mereka berdua.
Sebuah rahasia tentang sesuatu yang terjadi bertahun-tahun lalu.
Tatapan Nayla berubah gelisah. Matanya bergerak mencari tempat berpaling. Namun tidak ada.
Untunglah pada saat itu perhatian Irvan teralihkan ke arah bangku taman.
Ke arah Anjani dan Ramadhan.
Ke arah mereka yang sedang duduk berdampingan menikmati senja.
Dan seperti biasa, perasaan yang tidak nyaman kembali muncul di dada Irvan.
Mengapa harus Ramadhan? pikirnya lagi.
Mengapa selalu Ramadhan?
Sementara itu, tanpa mengetahui apa yang sedang terjadi di sisi lain taman, Anjani dan Ramadhan masih menikmati senja.
Langit mulai meredup. Jingga perlahan berubah menjadi ungu tua di ufuk barat. Lampu-lampu taman satu per satu menyala—kuning hangat yang menerangi jalan setapak di sekitar mereka.
Angin sore bertiup lembut, membawa kesejukan yang menyegarkan setelah seharian terik matahari.
Kemudian, untuk pertama kalinya, Ramadhan berkata dengan suara yang lebih serius.
"Anjani."
Suaranya berbeda. Tidak seperti saat mereka membicarakan mimpi. Tidak seperti saat mereka tertawa bersama. Ada nada yang lebih dalam. Lebih berat.
Anjani menoleh. "Hm?"
Ramadhan tidak langsung menjawab.
Ia tampak ragu. Matanya tidak menatap Anjani, melainkan ke arah sungai. Seolah sedang mencari keberanian dari aliran air yang tidak pernah berhenti itu.
"Anjani... aku merasa kita sudah cukup lama saling mengenal."
Jantung Anjani berdetak lebih cepat.
Ini dia, pikirnya. Ini saatnya.
Atau setidaknya, ia mengira begitu.
Karena sebelum Ramadhan sempat melanjutkan kalimatnya, suara panggilan dari kejauhan memecah suasana.
"Ramadhan!"
Seorang pria—salah seorang panitia kegiatan sosial yang Anjani kenali—berlari kecil mendekat. Wajahnya terlihat cemas.
"Maaf mengganggu. Ada urusan mendadak. Bantuan logistik untuk lansia di seberang sungai tidak kunjung datang. Kita harus segera atur ulang distribusi."
Ramadhan menghela napas kecil.
Seolah kesempatan yang baru saja muncul—kesempatan yang mungkin sudah ia nantikan sejak lama—harus tertunda.
"Aku harus pergi," katanya. Suaranya terdengar sedikit kecewa.
Anjani mengangguk. Berusaha tersenyum meskipun hatinya sedikit kecewa. "Tidak apa-apa."
Ramadhan berdiri.
Ia menatap Anjani sejenak. Lebih lama dari biasanya. Seolah sedang menyimpan sesuatu di balik tatapan itu.
Lalu tersenyum.
"Sampai bertemu lagi."
"Sampai bertemu."
Pemuda itu kemudian berjalan menjauh bersama panitia yang memanggilnya. Langkahnya cepat. Sesekali ia menoleh ke belakang—hanya sekilas—sebelum akhirnya menghilang di balik pepohonan taman.
Anjani masih duduk di bangku taman.
Memandang langit yang perlahan berubah gelap.
Ungu tua berganti menjadi hitam. Bintang-bintang mulai muncul satu per satu.
Andai saja tidak ada yang memanggil, pikirnya. Andai saja ia sempat menyelesaikan kalimatnya.
Entah mengapa, ia merasa ada sesuatu yang hampir terjadi sore itu. Sesuatu yang belum sempat terucapkan. Sesuatu yang mungkin akan mengubah segalanya.
Dan mungkin, hanya mungkin, itu berkaitan dengan perasaan yang selama ini mulai tumbuh di antara mereka.
Perasaan yang belum berani ia beri nama.
Perasaan yang mungkin sudah lama ada, tapi baru sekarang ia sadari.
Namun takdir belum selesai bermain.
Karena sebelum cinta menemukan jalannya, badai kecil mulai muncul di kejauhan.
Dan badai itu bernama cemburu.
Badai yang tidak hanya dirasakan oleh satu orang.
Tapi oleh dua orang yang sama-sama menginginkan hal yang sama.
BAB 9
HUJAN YANG MEMBAWA CEMBURU
Musim hujan mulai sering datang ke Kuala Kapuas.
Awan kelabu menggantung hampir setiap sore, seperti selimut tebal yang menutupi langit kota. Kadang hujan turun sebentar lalu berhenti, meninggalkan genangan-genangan kecil di jalanan. Kadang turun deras hingga berjam-jam, membuat Sungai Kapuas naik beberapa sentimeter dan arusnya menjadi lebih cepat dari biasanya.
Bagi sebagian orang, hujan hanyalah bagian dari cuaca. Sesuatu yang biasa. Sesuatu yang tidak perlu dipikirkan.
Namun bagi mereka yang sedang menyimpan perasaan, hujan sering kali membawa sesuatu yang lain.
Kerinduan.
Kegelisahan.
Atau bahkan kecemburuan.
Sudah hampir seminggu sejak pertemuan di Taman Askari.
Anjani masih mengingat percakapan yang terputus sore itu. Masih mengingat cara Ramadhan menatapnya sebelum akhirnya dipanggil pergi. Masih mengingat suaranya yang terdengar berbeda—lebih dalam, lebih serius—saat mengatakan, "Aku merasa kita sudah cukup lama saling mengenal."
Beberapa kali ia bertanya-tanya dalam hati.
Apa yang sebenarnya ingin dikatakan Ramadhan?
Mengapa suaranya terdengar begitu berbeda saat itu?
Dan mengapa—sejak hari itu—setiap kali mengingatnya, jantungku selalu berdebar lebih cepat?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus muncul. Siang dan malam. Saat ia memotret. Saat ia menulis. Bahkan saat ia sedang membantu ibunya memasak di dapur.
Namun Anjani memilih menyimpannya sendiri.
Sebab ia tidak ingin terburu-buru memberi nama pada sesuatu yang belum jelas.
Karena memberi nama pada perasaan sama seperti mengakui bahwa perasaan itu nyata.
Dan Anjani belum sepenuhnya siap untuk itu.
Siang itu komunitas literasi mengadakan rapat kecil di sebuah aula dekat pusat kota.
Aula sederhana dengan lantai keramik putih dan dinding berwarna krem. Beberapa kipas angin berdiri di sudut-sudut ruangan, berputar lambat melawan udara siang yang terasa panas.
Anjani datang bersama Nayla, yang sejak tadi tidak berhenti mengomel tentang sesuatu yang tidak penting.
Peserta yang hadir cukup banyak. Relawan dari berbagai desa bantaran sungai. Beberapa pengurus yayasan. Dan tentu saja, Ramadhan.
Dan untuk pertama kalinya dalam beberapa pertemuan terakhir, juga Irvan.
Anjani sempat terkejut melihat Irvan duduk di barisan depan. Ia tidak tahu bahwa pria itu juga terlibat dalam kegiatan komunitas. Selama ini ia hanya melihat Irvan di acara-acara besar atau di kafe-kafe tertentu.
Ketika Anjani memasuki ruangan, Ramadhan melambaikan tangan dari kejauhan. Senyumnya hangat seperti biasa. Matanya berbinar.
Refleks, Anjani membalas senyuman itu. Sebuah senyuman kecil yang keluar tanpa ia sadari.
Momen sederhana.
Hanya beberapa detik.
Tetapi tidak luput dari perhatian Irvan.
Dari tempat duduknya di barisan depan, ia melihat semuanya dengan jelas. Bagaimana Anjani tersenyum pada Ramadhan. Bagaimana Ramadhan balas tersenyum. Bagaimana keduanya seolah memiliki dunia kecil sendiri di tengah keramaian aula.
Entah mengapa, pemandangan itu membuat dadanya terasa sesak.
Ia mencoba mengabaikannya. Memfokuskan perhatian pada berkas-berkas rapat yang tergeletak di atas meja.
Namun semakin ia mencoba, semakin sulit pula perasaan itu dikendalikan.
Seperti duri, pikir Irvan. Kecil. Tapi menusuk setiap kali tertelan.
Rapat berlangsung hampir dua jam.
Pembahasan tentang program perpustakaan sungai. Target capaian bulan depan. Evaluasi kegiatan yang sudah berjalan. Semua berjalan lancar. Tidak ada konflik. Tidak ada perdebatan sengit.
Setelah selesai, sebagian peserta memilih pulang. Sebagian lainnya masih berbincang-bincang di luar aula, menikmati teh dan kue yang disediakan panitia.
Di tengah keramaian itu, Irvan akhirnya memberanikan diri menghampiri Anjani.
Ia sudah memikirkannya sejak kemarin. Sejak ia melihat Anjani tertawa di festival. Sejak ia tidak bisa tidur memikirkan senyum gadis itu.
Tidak ada salahnya mencoba, pikirnya. Setidaknya aku bisa lebih dekat dengannya.
"Halo."
Anjani menoleh dari percakapannya dengan Nayla.
"Oh, Irvan."
Matanya sedikit terkejut. Namun dengan cepat ia tersenyum sopan.
"Aku mengganggu?"
"Tidak," jawab Anjani. Nayla di sampingnya ikut tersenyum, lalu dengan cerdik mengambil ponselnya dan berpura-pura sibuk.
Irvan tersenyum. "Kamu aktif sekali di kegiatan sosial. Aku baru sadar."
Anjani menggeleng kecil. "Aku hanya ikut membantu. Tidak banyak."
"Justru itu yang menarik." Irvan menatapnya. "Orang yang hanya ikut membantu tanpa mencari perhatian."
Anjani sedikit tersipu.
Percakapan mereka berlangsung cukup nyaman. Irvan bertanya tentang fotografi. Tentang buku favorit Anjani. Tentang tulisannya. Semua pertanyaan diajukan dengan cara yang tidak membuat Anjani merasa sedang diinterogasi.
Irvan memang pandai berbicara.
Ia memiliki kemampuan membuat orang merasa dihargai. Setiap kata yang keluar terasa tulus. Setiap pertanyaan terasa seperti ketertarikan yang sejati.
Tidak heran banyak orang menyukainya.
Tak jauh dari sana, Ramadhan yang sedang membantu membereskan perlengkapan rapat tanpa sengaja melihat mereka berbincang.
Awalnya ia tidak terlalu memikirkan. Irvan dan Anjani adalah anggota komunitas yang sama. Wajar jika mereka berbicara.
Namun ketika melihat Anjani tertawa—tertawa lepas—karena sesuatu yang dikatakan Irvan, ada perasaan aneh yang muncul di dalam dadanya.
Perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Perasaan yang membuat alisnya berkerut tanpa sadar.
Perasaan yang membuat tangannya berhenti bergerak saat sedang melipat spanduk.
Apa ini? pikir Ramadhan.
Ia tidak tahu. Dan ia tidak menyukai perasaan itu.
Karena perasaan itu membuatnya ingin berjalan mendekat. Memisahkan mereka. Mengatakan sesuatu—apa pun—untuk menarik perhatian Anjani kembali kepadanya.
Tapi ia tidak melakukan itu.
Ia hanya berdiri diam di tempatnya. Memperhatikan dari kejauhan.
Dan untuk pertama kalinya, Ramadhan menyadari bahwa ia takut kehilangan Anjani.
Padahal ia bahkan belum pernah memilikinya.
Sore harinya hujan turun.
Awalnya hanya gerimis—butir-butir air tipis yang hampir tidak terasa. Namun tak lama kemudian, gerimis berubah menjadi hujan deras. Air jatuh dari langit seperti tirai tebal yang membatasi pandangan.
Suara rintik hujan di atap aula menciptakan ritme yang cepat dan konstan. Angin bertiup lebih kencang, membawa butiran air ke dalam teras.
Sebagian peserta yang belum pulang memilih berteduh di teras aula. Beberapa duduk di kursi plastik. Beberapa berdiri di dekat pintu, berharap hujan cepat reda.
Anjani termasuk salah satu yang bertahan. Ia berdiri di dekat pilar teras, memandangi hujan yang membasahi halaman.
"Kamu membawa payung?" tanya Nayla dari sampingnya.
"Tidak."
"Kita sama," kata Nayla sambil mengamati rintik hujan. "Kita memang kompak dalam hal tidak siap menghadapi alam."
Mereka tertawa.
Namun beberapa saat kemudian, ponsel Nayla berdering. Ia menerima telepon dari keluarganya—ibunya memintanya pulang karena ada keperluan mendadak.
"Aku harus dijemput," kata Nayla setelah menutup telepon. "Sepupuku lewat sini. Kamu bagaimana?"
"Aku tunggu hujan reda saja."
"Yakin?"
"Iya."
Nayla ragu sesaat. Namun kemudian ia mengangguk. "Hati-hati ya."
"Iya."
Tak lama kemudian, sebuah mobil tua berwarna biru datang menjemput Nayla. Sahabatnya itu melambaikan tangan dari balik kaca sebelum mobil itu pergi meninggalkan hujan.
Anjani kini sendirian.
Atau setidaknya ia mengira begitu.
Saat itulah sebuah payung terbuka muncul di hadapannya.
Hitam. Besar. Cukup untuk dua orang.
Irvan.
"Kalau tidak keberatan, aku bisa mengantar pulang."
Anjani sedikit ragu. Hujan masih deras. Tidak ada tanda-tanda akan reda dalam waktu dekat. Payung bawaannya tertinggal di rumah.
"Sampai jalan besar saja," katanya akhirnya.
"Baik."
Mereka mulai berjalan bersama di bawah satu payung. Hujan membentuk tirai tipis di sepanjang jalan. Genangan air di aspal memantulkan cahaya lampu-lampu yang mulai menyala meskipun hari belum sepenuhnya gelap.
Suara hujan hampir menenggelamkan percakapan mereka. Namun mereka tetap berbincang. Tentang buku. Tentang kota. Tentang masa kecil. Tentang hal-hal biasa yang terasa istimewa karena diucapkan di tengah hujan.
Irvan merasa bahagia.
Karena akhirnya ia memiliki kesempatan berbicara lebih lama dengan Anjani. Kesempatan yang selama ini ia tunggu.
Ia menjaga jarak payung agar Anjani tidak basah. Bahunya sendiri basah kuyup, tapi ia tidak peduli.
Namun ia tidak mengatakan apa pun tentang itu. Ia hanya terus berjalan. Menikmati setiap detik di samping Anjani.
Namun tanpa mereka sadari, dari seberang jalan seseorang melihat semuanya.
Ramadhan.
Ia baru saja keluar dari aula setelah menyelesaikan beberapa urusan panitia. Seharusnya ia pulang lebih awal. Namun ada berkas yang tertinggal. Ia kembali mengambilnya.
Dan pemandangan pertama yang dilihatnya saat keluar adalah Anjani berjalan bersama Irvan di bawah satu payung.
Langkahnya terhenti.
Payung di tangannya—yang baru saja akan ia buka—turun perlahan.
Hujan membasahi rambutnya. Wajahnya. Bahunya. Tapi ia tidak merasakannya.
Yang ia rasakan hanyalah perasaan aneh di dadanya. Perasaan yang sama seperti saat melihat Anjani tertawa bersama Irvan tadi siang. Namun kali ini lebih kuat. Lebih tajam. Lebih menyakitkan.
Ia tahu bahwa Anjani tidak melakukan kesalahan apa pun.
Ia tahu bahwa Irvan juga bebas berteman dengan siapa saja.
Ia tahu bahwa hujan turun dan mereka hanya berbagi payung untuk berteduh.
Tetapi hati manusia sering kali tidak mengikuti logika.
Dan untuk pertama kalinya, Ramadhan menyadari sesuatu.
Aku cemburu.
Bukan cemburu biasa. Cemburu yang membuat dadanya sesak. Cemburu yang membuat ia ingin berlari menyeberangi jalan. Meraih tangan Anjani. Membawanya pergi.
Tapi ia tidak melakukan itu.
Ia hanya berdiri di tempatnya. Membiarkan hujan membasahi seluruh tubuhnya.
Membiarkan perasaan itu hadir tanpa dilawan.
Sangat cemburu.
Malam harinya hujan masih turun.
Anjani duduk di dekat jendela kamarnya. Lampu meja belajar menyala lembut, menerangi buku catatan yang terbuka di hadapannya. Secangkir teh hangat di atas meja—buatan ibunya—sudah setengah diminum.
Ia sedang menulis.
Atau setidaknya berusaha menulis.
Namun pikirannya tidak sepenuhnya berada di sana.
Pena di tangannya hanya berhenti di ujung kertas. Tidak bergerak. Tidak menulis apa pun.
Hari ini terasa aneh, pikirnya.
Pertemuannya dengan Irvan di teras aula... cukup menyenangkan. Irvan orang yang baik. Cerdas. Mudah diajak bicara. Tidak heran banyak orang menyukainya.
Tetapi mengapa saat pulang tadi, yang terus muncul dalam pikirannya justru Ramadhan?
Mengapa yang ingin ia ceritakan tentang hujan hari ini adalah kepada Ramadhan?
Mengapa senyum Ramadhan lebih sering hadir dalam ingatannya dibanding siapa pun?
Anjani menutup buku catatannya perlahan.
Kemudian menghela napas panjang. Udara malam yang dingin masuk melalui celah jendela, membuat bulu kuduknya merinding.
Mungkin jawabannya sudah ada.
Hanya saja aku belum berani mengakuinya.
Ia memandang hujan di luar jendela. Rintik-rintik air jatuh membentuk garis-garis tipis di kaca. Lampu-lampu kota di kejauhan tampak buram, terhalang oleh tirai air yang terus turun.
Kapan terakhir kali aku merasa seperti ini?
Tidak ada jawaban.
Karena memang belum pernah.
Di tempat lain, Irvan juga sedang memikirkan hal yang sama.
Ia duduk di ruang kerjanya—sebuah ruangan kecil dengan meja kayu dan rak-rak penuh buku. Lampu di atas kepalanya menyala redup. Di luar jendela, hujan masih turun deras.
Hari ini ia merasa lebih dekat dengan Anjani.
Bukan hanya karena berbagi payung. Bukan hanya karena percakapan mereka.
Tapi karena ia melihat sisi lain dari gadis itu. Cara ia tertawa mendengar cerita-cerita konyol masa kecil Irvan. Cara ia mendengarkan dengan serius saat Irvan bercerita tentang keluarganya.
Dia berbeda, pikir Irvan. Dia tidak mencoba menarik perhatian. Dia tidak berusaha terlihat menarik. Dia hanya... menjadi dirinya sendiri.
Dan itu membuatnya semakin yakin akan perasaannya.
Namun keyakinan itu juga membawa kekhawatiran.
Karena ia tahu.
Di antara dirinya dan Anjani berdiri seseorang.
Seseorang yang selama ini dianggap seperti saudara sendiri.
Seseorang yang mungkin telah lebih dulu menemukan jalan menuju hati Anjani.
Ramadhan.
Irvan memejamkan mata. Kepalanya bersandar di kursi.
Haruskah aku mundur?
Atau justru maju?
Ia tidak tahu jawabannya.
Sementara itu, di rumahnya, Ramadhan berdiri di teras.
Membiarkan angin malam menerpa wajahnya yang masih basah oleh hujan tadi. Ia tidak mengganti baju. Tidak membersihkan diri. Ia hanya berdiri di sana. Memandangi hujan yang masih setia menemani malamnya.
Rintik hujan jatuh membentuk irama di atap rumah. Bunyi yang seharusnya menenangkan, tapi malam ini terasa mengganggu.
Ia memejamkan mata.
Lalu tersenyum pahit.
Baru sekarang aku menyadari.
Perasaanku terhadap Anjani telah berkembang jauh lebih dalam daripada yang aku kira.
Bukan sekadar suka. Bukan sekadar tertarik.
Ini... lebih dari itu.
Dan baru sekarang pula aku menyadari bahwa aku tidak sendirian.
Ada Irvan.
Sahabatku sendiri.
Orang yang mungkin menginginkan hal yang sama.
Orang yang mungkin telah menginginkannya lebih dulu.
Ramadhan membuka matanya. Hujan masih turun.
Tapi apakah itu berarti aku harus mundur?
Ia tidak tahu.
Yang ia tahu, malam itu ia tidak bisa tidur.
Malam itu ia hanya berdiri di teras. Memandangi hujan. Memikirkan Anjani.
Dan memikirkan Irvan.
Sahabatnya.
Saingannya.
Malam itu hujan terus turun di atas Kota Kuala Kapuas.
Membasahi jalan-jalan.
Membasahi pepohonan di Taman Askari.
Membasahi tepian Sungai Kapuas yang gelap.
Dan diam-diam, membawa benih-benih kecemburuan yang mulai tumbuh di hati dua sahabat.
Benih yang suatu hari nanti akan berkembang menjadi konflik yang jauh lebih besar.
Konflik yang tidak hanya menguji persahabatan mereka.
Tapi juga menguji siapa yang benar-benar tulus.
Dan siapa yang hanya takut kehilangan.
BAB 10
KARIM DATANG MEMBAWA CAHAYA
Hujan yang turun beberapa hari terakhir akhirnya mulai mereda.
Langit Kuala Kapuas kembali menampakkan warna birunya. Matahari bersinar hangat di atas aliran Sungai Kapuas yang tenang. Aktivitas masyarakat kembali berjalan normal.
Namun tidak demikian dengan hati beberapa orang.
Di balik ketenangan kota, perasaan-perasaan yang selama ini tersembunyi mulai bergerak perlahan.
Perasaan yang suatu saat akan menuntut jawaban.
Pagi itu, sebuah kabar menggembirakan datang kepada komunitas literasi tempat Anjani bergabung.
Mereka mendapat kesempatan bekerja sama dengan sebuah yayasan pendidikan yang akan mendanai pembangunan pojok baca dan program literasi di beberapa kawasan bantaran sungai.
Bagi Anjani dan teman-temannya, ini adalah kesempatan besar.
Mereka telah lama memimpikan program seperti itu.
Rapat koordinasi pun segera dijadwalkan di sebuah aula pertemuan yang cukup megah di pusat Kota Kuala Kapuas.
Anjani datang bersama Nayla.
Sementara Ramadhan sudah lebih dulu berada di lokasi.
Tak lama kemudian, seorang pria muda memasuki ruangan.
Penampilannya rapi.
Berjas sederhana namun elegan.
Wajahnya tampan dan berwibawa.
Langkahnya tenang, tetapi penuh percaya diri.
Orang-orang langsung menyambutnya dengan hormat.
Pria itu adalah Karim Pratama.
Direktur muda sebuah yayasan sosial dan pendidikan yang cukup terkenal di Kalimantan Tengah.
Usianya belum genap tiga puluh tahun, tetapi kiprahnya sudah dikenal luas.
Ia sering mendanai kegiatan pendidikan, pemberdayaan masyarakat, dan pengembangan UMKM.
Banyak orang mengaguminya.
Termasuk sebagian peserta rapat yang hadir hari itu.
Saat sesi perkenalan dimulai, Karim menyampaikan visi program yang akan dijalankan.
Cara bicaranya lugas.
Cerdas.
Namun tetap hangat.
Ia tidak terdengar seperti seorang pengusaha yang datang membawa bantuan.
Melainkan seperti seseorang yang benar-benar peduli.
"Anak-anak di daerah sungai memiliki hak yang sama untuk bermimpi," katanya.
"Dan mimpi akan lebih mudah tumbuh ketika mereka memiliki akses terhadap ilmu pengetahuan."
Ruangan hening.
Semua orang mendengarkan.
Termasuk Anjani.
Entah mengapa, ia merasa terkesan dengan cara berpikir pria itu.
Setelah rapat selesai, para peserta saling berbincang.
Karim berjalan mengelilingi ruangan sambil berkenalan dengan satu per satu anggota komunitas.
Hingga akhirnya ia tiba di depan Anjani.
"Halo."
Anjani tersenyum sopan.
"Halo."
"Karim."
Pria itu mengulurkan tangan.
"Anjani."
"Senang bertemu dengan Anda."
"Begitu juga."
Karim memperhatikan beberapa foto yang sedang ditampilkan di layar laptop milik Anjani.
"Karya Anda?"
Anjani mengangguk.
"Hanya hobi."
Karim tersenyum.
"Kalau hasilnya seperti ini, saya rasa itu lebih dari sekadar hobi."
Anjani sedikit tersipu.
Pujian itu terdengar tulus.
Dan berbeda dari kebanyakan pujian yang biasa ia terima.
Tak jauh dari sana, Ramadhan memperhatikan percakapan mereka.
Tidak ada yang aneh.
Tidak ada yang salah.
Namun ia kembali merasakan perasaan yang mulai akrab beberapa hari terakhir.
Perasaan tidak nyaman.
Perasaan yang muncul setiap kali melihat seseorang terlalu dekat dengan Anjani.
Ramadhan segera mengalihkan pikirannya.
Ia tidak ingin menjadi orang yang mudah cemburu.
Tetapi kenyataan sering kali lebih rumit daripada niat.
Sementara itu, Nayla yang berdiri di dekat meja konsumsi memperhatikan semuanya.
Ia menyenggol pelan lengan Anjani saat Karim berjalan pergi.
"Wah."
"Apa?"
"Sepertinya ada yang tertarik."
Anjani menghela napas.
"Kamu terlalu banyak membaca novel."
Nayla tertawa.
"Dan kamu terlalu sedikit memahami sinyal."
Hari-hari berikutnya, kerja sama antara komunitas literasi dan yayasan Karim semakin intens.
Mereka sering bertemu dalam rapat dan kegiatan lapangan.
Karim ternyata bukan hanya sosok yang sukses.
Ia juga mudah bergaul.
Rendah hati.
Dan menghargai semua orang.
Perlahan, ia mulai mengenal Anjani lebih dekat.
Mereka sering berdiskusi tentang pendidikan, buku, dan masa depan anak-anak daerah sungai.
Setiap percakapan terasa menyenangkan.
Dan tanpa disadari, Karim mulai mengagumi gadis itu.
Suatu sore setelah kegiatan di salah satu desa bantaran sungai, Karim dan Anjani berdiri di dermaga kecil menunggu perahu.
Langit sore terlihat cerah.
Air sungai mengalir tenang.
"Kamu mencintai kota ini," kata Karim.
Anjani tersenyum.
"Sangat."
"Aku bisa melihatnya."
"Kuala Kapuas sudah memberiku banyak cerita."
Karim mengangguk.
"Lalu suatu hari nanti, kamu akan menuliskan semuanya?"
"Mudah-mudahan."
"Aku yakin kamu akan melakukannya."
Anjani menoleh.
Tatapan Karim terlihat serius.
Terlalu serius untuk sebuah percakapan biasa.
Dan untuk pertama kalinya, ia mulai menyadari sesuatu.
Karim tidak hanya tertarik pada pekerjaannya.
Karim mulai tertarik kepadanya.
Di sisi lain kota, Irvan juga mulai merasakan perubahan.
Kemunculan Karim menambah satu nama lagi dalam persaingan yang diam-diam sedang berlangsung.
Kini bukan hanya dirinya dan Ramadhan.
Ada orang ketiga yang memiliki banyak kelebihan.
Mapan.
Berpendidikan.
Berpengaruh.
Dan tampaknya memiliki ketertarikan yang sama terhadap Anjani.
Situasi menjadi semakin rumit.
Malam itu, setelah menyelesaikan pekerjaannya, Karim duduk sendirian di balkon penginapan tempatnya menginap selama berada di Kuala Kapuas.
Di depannya terbentang pemandangan Sungai Kapuas yang diterangi cahaya lampu kota.
Ia memikirkan banyak hal.
Program pendidikan.
Kegiatan sosial.
Dan satu nama yang terus muncul dalam pikirannya.
Anjani.
Pria itu tersenyum kecil.
Sudah lama ia tidak merasakan ketertarikan seperti ini.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun sibuk membangun karier, ada seseorang yang membuatnya ingin berhenti sejenak dan memperhatikan kehidupan pribadinya.
Namun Karim belum mengetahui satu hal.
Bahwa hati yang mulai ia kagumi ternyata sudah menjadi tujuan perjalanan dua pria lain.
Dua pria yang memiliki cerita dan luka mereka sendiri.
Dan takdir sedang mempertemukan mereka di persimpangan yang sama.
Persimpangan bernama cinta.
Di atas Kota Kuala Kapuas, malam bergerak perlahan.
Sungai tetap mengalir seperti biasa.
Tenang.
Namun jauh di dalam alirannya, arus mulai berubah.
Begitu pula dengan kehidupan mereka.
Karena kehadiran Karim membawa cahaya baru.
Tetapi cahaya itu juga mulai menciptakan bayang-bayang yang lebih panjang.
BAB 11
PILIHAN YANG MEMBINGUNGKAN
Kadang-kadang hidup tidak memberikan ujian dalam bentuk kesulitan.
Sebaliknya, hidup justru memberikan terlalu banyak pilihan.
Dan sering kali, pilihan yang paling membingungkan bukanlah memilih antara yang baik dan yang buruk.
Melainkan memilih antara beberapa hal yang sama-sama baik.
Itulah yang perlahan mulai dirasakan oleh Anjani.
Pagi itu, Kuala Kapuas diselimuti udara yang sejuk.
Matahari baru saja muncul di balik gugusan awan tipis ketika Anjani duduk di beranda rumahnya.
Di hadapannya terbentang halaman kecil yang ditanami bunga oleh Bu Rahma.
Burung-burung berkicau dari dahan pohon mangga di sudut pekarangan.
Di tangannya tergenggam secangkir teh hangat.
Namun pikirannya tidak setenang suasana pagi itu.
Beberapa minggu terakhir, hidupnya terasa berubah.
Tidak drastis.
Tetapi cukup untuk membuatnya sering termenung.
Nama-nama tertentu mulai lebih sering muncul dalam kesehariannya.
Ramadhan.
Irvan.
Dan kini Karim.
Tiga orang yang hadir dengan cara berbeda.
Tiga orang yang membawa warna berbeda.
Dan tanpa ia sadari, membuat hatinya mulai dipenuhi pertanyaan.
Di komunitas literasi, kegiatan semakin sibuk.
Program pembangunan pojok baca di beberapa desa mulai berjalan.
Anjani terlibat dalam hampir semua tahap pelaksanaan.
Hari itu mereka mengadakan rapat di sebuah aula sederhana dekat tepian sungai.
Ramadhan datang lebih awal.
Seperti biasa.
Ia membantu menata kursi dan perlengkapan rapat.
Saat Anjani tiba, Ramadhan langsung menghampiri.
"Kamu sarapan?"
Anjani mengangguk.
"Sudah."
"Jangan bohong."
"Hah?"
"Kamu pasti cuma minum teh."
Anjani tertawa.
"Kamu bisa menebaknya?"
Ramadhan mengangkat bahu.
"Aku sudah cukup mengenalmu."
Kalimat itu sederhana.
Namun entah mengapa membuat hati Anjani bergetar pelan.
Tak lama kemudian, Irvan datang.
Dengan senyum khasnya, ia langsung menyapa semua orang.
Ruangan yang semula biasa saja mendadak menjadi lebih hidup.
Itulah salah satu kelebihan Irvan.
Ia mudah membuat suasana menjadi hangat.
Ketika melihat Anjani, ia menghampiri.
"Pagi."
"Pagi."
"Aku membawa buku yang kamu cari."
"Masa?"
Irvan mengeluarkan sebuah novel dari tasnya.
Anjani tampak senang.
"Wah, terima kasih."
"Sama-sama."
Ramadhan yang melihat dari kejauhan hanya tersenyum tipis.
Tetapi dalam hatinya muncul sesuatu yang sulit dijelaskan.
Siang harinya, Karim juga datang untuk meninjau perkembangan program.
Kehadirannya selalu menarik perhatian banyak orang.
Bukan karena status atau kekayaannya.
Melainkan karena sikapnya yang sederhana.
Setelah meninjau lokasi, Karim menyempatkan diri berbincang dengan Anjani.
"Aku membaca beberapa tulisanmu."
Anjani terkejut.
"Tulisan yang mana?"
"Yang dipublikasikan di buletin komunitas."
Anjani sedikit malu.
"Itu hanya tulisan biasa."
Karim menggeleng.
"Tidak."
"Tulisanmu punya perasaan."
"Kamu menulis dengan hati."
Anjani tidak tahu harus menjawab apa.
Pujian itu terasa begitu tulus.
Dan untuk sesaat, ia merasa dihargai sebagai pribadi.
Bukan hanya sebagai anggota komunitas.
Malam harinya, setelah semua kegiatan selesai, Anjani duduk sendirian di kamarnya.
Hujan tipis turun di luar jendela.
Lampu meja belajar menyala lembut.
Di depannya terbuka buku catatan yang selama ini menjadi tempat ia menyimpan pikiran-pikirannya.
Namun malam itu, ia kesulitan menulis.
Pikirannya terlalu penuh.
Akhirnya ia menuliskan tiga nama di satu halaman kosong.
Ramadhan
Irvan
Karim
Ia memandangi ketiga nama itu cukup lama.
Lalu menghela napas.
Ramadhan membuatnya merasa tenang.
Bersamanya, segala sesuatu terasa sederhana.
Tidak perlu dibuat-buat.
Tidak perlu dijelaskan terlalu banyak.
Seolah mereka memahami satu sama lain secara alami.
Irvan membuatnya merasa dihargai.
Ia selalu hadir dengan perhatian-perhatian kecil yang menyenangkan.
Percakapan dengannya tidak pernah membosankan.
Dan Karim...
Karim membuatnya merasa bahwa mimpi-mimpinya layak diperjuangkan.
Pria itu selalu berbicara tentang masa depan dengan keyakinan yang menular.
Masing-masing memiliki kelebihan.
Masing-masing membawa perasaan yang berbeda.
Dan itu membuat Anjani semakin bingung.
Di tempat lain, Nayla sedang duduk di teras rumahnya.
Telepon genggamnya berada di atas meja.
Layar menampilkan pesan yang belum dibalas.
Pengirimnya adalah Irvan.
Nayla menatap pesan itu cukup lama.
Kemudian mematikan layar ponsel.
Wajahnya terlihat muram.
Rahasia yang selama ini ia simpan semakin terasa berat.
Rahasia yang berkaitan dengan Irvan.
Rahasia yang belum diketahui oleh Anjani.
Dan semakin lama ia menyembunyikannya, semakin besar pula kemungkinan semua orang akan terluka.
Sementara itu, Irvan juga sedang memikirkan sesuatu.
Untuk pertama kalinya, ia mempertimbangkan satu kemungkinan yang selama ini berusaha ia hindari.
Bagaimana jika ia benar-benar harus bersaing dengan Ramadhan?
Bagaimana jika persahabatan mereka tidak cukup kuat untuk menghadapi kenyataan bahwa mereka mencintai perempuan yang sama?
Pertanyaan itu menghantuinya sepanjang malam.
Di rumahnya, Ramadhan berdiri di tepi Sungai Kapuas yang mengalir tidak jauh dari halaman belakang rumah.
Lampu-lampu kota memantul di atas air.
Malam terasa tenang.
Namun pikirannya tidak.
Ia tahu perasaannya terhadap Anjani semakin dalam.
Dan ia juga mulai menyadari bahwa dirinya tidak sendirian.
Ada Irvan.
Ada Karim.
Dan mungkin ada banyak hal lain yang belum ia ketahui.
Tetapi satu hal mulai menjadi jelas.
Cepat atau lambat, ia harus jujur pada perasaannya sendiri.
Malam semakin larut.
Di atas Kota Kuala Kapuas, awan bergerak perlahan.
Sungai tetap mengalir menuju muara.
Sementara itu, kehidupan mereka juga sedang bergerak menuju sebuah titik yang tidak bisa dihindari.
Titik ketika hati harus memilih.
Titik ketika persahabatan akan diuji.
Dan titik ketika sebuah keputusan akan mengubah segalanya.
Karena setiap cinta pada akhirnya membutuhkan keberanian.
Keberanian untuk mengungkapkan.
Atau keberanian untuk melepaskan.
BAB 12
RETAKNYA PERSAHABATAN
Sungai Kapuas tetap mengalir tenang.
Dari permukaan, semuanya tampak biasa. Airnya bergerak lambat ke arah hilir. Perahu-perahu kecil melintas seperti biasa. Burung-burung beterbangan di atasnya.
Namun jauh di bawah permukaan, arus bergerak dengan kekuatannya sendiri. Kadang lebih cepat dari yang terlihat. Kadang membawa sesuatu yang tidak terduga.
Begitu pula dengan kehidupan manusia.
Sering kali yang terlihat tenang di luar, justru sedang bergolak di dalam.
Beberapa minggu terakhir, hubungan antara Ramadhan dan Irvan mulai berubah. Perubahan itu tidak terlihat jelas bagi orang lain. Mereka masih berbicara. Masih menghadiri kegiatan bersama. Masih saling menyapa seperti biasa.
Tetapi ada sesuatu yang hilang.
Sesuatu yang dulu selalu ada di antara mereka.
Keakraban.
Bukan sekadar kebiasaan bertemu. Bukan sekadar saling tahu kabar. Tapi rasa nyaman yang dulu hadir tanpa perlu diucapkan. Rasa percaya yang dulu begitu kuat, kini mulai terkikis oleh sesuatu yang tidak bisa mereka sebutkan.
Diam-diam, pikir Ramadhan suatu pagi, kita seperti sedang berjalan di atas es. Tipis. Rapuh. Satu langkah salah, dan semuanya akan retak.
Pagi itu, komunitas literasi mengadakan kunjungan ke salah satu desa di sepanjang aliran sungai.
Mereka berangkat menggunakan dua kelotok. Perahu kayu besar dengan atap seng dan mesin diesel yang suaranya terdengar dari kejauhan. Anjani, Nayla, Ramadhan, Irvan, dan beberapa relawan lainnya ikut dalam rombongan pertama.
Awalnya suasana berjalan normal. Anak-anak desa yang ikut serta tertawa riang. Relawan bercanda tentang hal-hal sepele. Musik terdengar dari pengeras suara kecil yang dibawa salah seorang peserta—sebuah lagu pop lawas yang entah mengapa masih diingat semua orang.
Namun Anjani mulai menyadari sesuatu.
Ramadhan dan Irvan yang biasanya sering berbincang kini lebih banyak diam. Jika berbicara, hanya seperlunya. Jika tertawa, tawa itu terasa dipaksakan—tidak sampai ke mata, tidak menggetarkan bahu seperti dulu.
Ada apa dengan mereka? pikir Anjani.
Ia memperhatikan dari kejauhan. Cara Ramadhan menghindari tatapan Irvan. Cara Irvan berpaling setiap kali Ramadhan mulai berbicara.
Ada jarak.
Jarak yang tidak terlihat dengan mata telanjang, tapi bisa dirasakan oleh siapa pun yang cukup perhatian.
Dan Anjani, sebagai seseorang yang terbiasa memperhatikan detail melalui lensa kameranya, tidak bisa tidak menyadarinya.
Saat istirahat di sebuah dermaga kecil, Nayla duduk di samping Anjani. Keduanya membuka bekal masing-masing—nasi kuning untuk Anjani, dan untuk Nayla, entah apa karena ia sudah melahapnya sebelum Anjani sempat melihat.
"Kamu menyadarinya juga?" tanya Nayla tiba-tiba. Suaranya pelan, seperti sedang membicarakan rahasia.
Anjani mengernyit. "Menyadari apa?"
"Napas mereka."
Anjani semakin bingung. "Napas?"
Nayla mengangguk. Matanya tidak melihat ke mana-mana, tapi arah bicaranya jelas. "Irvan dan Ramadhan. Mereka seperti dua orang yang sedang menahan sesuatu. Napas mereka... berbeda. Lebih pendek. Lebih tegang."
Anjani menoleh ke arah Ramadhan dan Irvan yang berdiri berjauhan di ujung dermaga yang berbeda. Ramadhan sedang membantu seorang relawan menurunkan kotak buku. Irvan duduk di bangku kayu, memandangi sungai.
Jarak di antara mereka mungkin hanya sepuluh meter. Tapi rasanya seperti lautan.
Nayla benar, pikir Anjani. Ada sesuatu yang terjadi.
Untuk pertama kalinya, ia mulai merasakan hal yang sama.
Siang harinya, kegiatan berlangsung lancar.
Anak-anak desa terlihat antusias mengikuti program membaca. Mereka duduk melingkar di atas tikar plastik, mendengarkan dongeng yang dibacakan oleh Anjani dan beberapa relawan lainnya. Suasana sempat terasa hangat kembali. Tawa anak-anak mampu menutupi hampir semua kecanggungan.
Namun sebuah kejadian kecil menjadi awal dari sesuatu yang lebih besar.
Ketika sesi foto bersama selesai—setelah semua anak berpose dengan buku di tangan—salah seorang relawan, mungkin tanpa sengaja atau mungkin karena kurang peka, meminta Anjani berdiri di tengah kelompok untuk foto terakhir.
"Kak Anjani di tengah saja, biar rapi!"
Dan tanpa sengaja—atau mungkin karena desakan kerumunan—Ramadhan dan Irvan berdiri di sisi kanan dan kiri Anjani.
Kamera diklik.
Senyum.
Namun di balik senyum itu, ada sesuatu yang tidak bisa difoto.
Ketegangan.
Canggung.
Seperti dua kutub yang saling tolak.
Anjani merasakannya. Ia bisa merasakan bagaimana bahu Ramadhan terasa kaku di sisi kanannya. Bagaimana Irvan di sisi kiri tiba-tiba diam tidak berbicara.
Situasi yang sebenarnya biasa saja. Kelompok foto. Posisi acak. Tidak ada yang istimewa.
Tetapi entah mengapa terasa canggung. Sangat canggung.
Bahkan beberapa orang mulai saling berpandangan—menyadari ketegangan yang tidak diucapkan. Nayla mengerutkan keningnya. Arga, yang ikut serta dalam rombongan, hanya diam sambil mengamati.
Ada apa dengan mereka? mungkin pertanyaan yang sama muncul di kepala banyak orang.
Tidak ada yang menjawab.
Malamnya, setelah semua peserta kembali ke Kuala Kapuas, Irvan menerima pesan dari Ramadhan.
Pesan singkat.
Tiga kata.
Tapi cukup berat untuk mengubah segalanya.
"Kita perlu bicara."
Irvan membaca pesan itu berulang kali. Layar ponselnya menyala redup di kamar yang gelap. Jari-jarinya berhenti di atas keyboard beberapa saat, membalas atau tidak?
Akhirnya ia hanya mengetik satu kata.
"Di mana?"
Mereka sepakat bertemu di sebuah warung kopi dekat tepian sungai. Tempat yang sudah mereka kunjungi sejak masih remaja. Tempat yang menyimpan banyak kenangan persahabatan mereka—tawa, rahasia, mimpi, dan juga air mata yang tidak pernah mereka tunjukkan pada siapa pun.
Warung kopi sederhana dengan kursi-kursi plastik dan meja kayu. Lampu temaram. Asap rokok dari pengunjung lain. Suara dangdut dari radio tua di sudut ruangan.
Tempat yang dulu terasa hangat.
Malam ini terasa dingin.
Langit malam terlihat mendung. Tidak ada bintang. Tidak ada bulan. Awan gelap bergerak perlahan, seolah sedang menimbang-nimbang apakah akan menurunkan hujan atau tidak.
Lampu-lampu kota memantul di atas permukaan Sungai Kapuas. Pantulannya bergoyang-goyang karena arus, seperti lampu-lampu yang sedang menari sendirian tanpa musik.
Ketika Irvan tiba, Ramadhan sudah lebih dulu menunggu.
Tidak ada senyum.
Tidak ada candaan.
Tidak ada "eh lama tidak bertemu" atau "kabarmu bagaimana".
Hanya keheningan.
Keheningan yang begitu pekat hingga suara jangkrik di kejauhan terdengar seperti teriakan.
Mereka duduk saling berhadapan. Kursi plastik yang sama. Meja kayu yang sama. Kopi yang sama—pahit, tanpa gula, seperti yang selalu mereka pesan sejak dulu.
Tapi rasanya berbeda.
Semuanya berbeda.
Beberapa menit berlalu sebelum akhirnya Ramadhan membuka pembicaraan. Suaranya pelan. Hampir seperti bisikan. Tapi jelas. Sangat jelas.
"Kamu menyukai Anjani?"
Pertanyaan itu jatuh seperti batu ke permukaan air yang tenang.
Irvan terdiam.
Ia tidak terkejut. Sudah diduganya pertanyaan itu akan datang. Sejak lama. Sejak ia melihat Ramadhan dan Anjani bersama di festival. Sejak ia tidak bisa tidur memikirkan senyum gadis itu.
Tapi mendengarnya diucapkan secara langsung—oleh sahabatnya sendiri—terasa berbeda.
Jadi ini saatnya, pikir Irvan. Tidak ada tempat untuk bersembunyi lagi.
"Apa jawabanmu penting?" balas Irvan. Bukan menghindar. Hanya mengulur waktu. Beberapa detik saja.
"Penting," jawab Ramadhan. Matanya tidak bergerak dari wajah Irvan.
"Kenapa?"
Ramadhan menarik napas panjang.
Kemudian, untuk pertama kalinya, ia akan mengatakan sesuatu yang selama ini disembunyikan. Bukan karena takut. Tapi karena ia tidak pernah menemukan saat yang tepat.
"Karena aku juga menyukainya."
Kalimat itu keluar pelan. Hampir tidak terdengar di antara suara mesin kelotok dari kejauhan. Namun bagi Irvan, kalimat itu terdengar seperti guntur di siang bolong.
Keheningan langsung memenuhi meja mereka.
Dingin.
Sunyi.
Seperti ruangan kosong tanpa jendela.
Irvan menundukkan pandangan. Matanya menatap kopi di depannya yang sudah setengah dingin. Lalu ia tersenyum. Bukan senyum bahagia. Senyum pahit. Senyum orang yang baru sadar bahwa ia tidak sendirian dalam perjuangan yang tidak pernah ia minta.
"Akhirnya," katanya pelan.
Ramadhan mengernyit. "Akhirnya apa?"
Irvan mengangkat wajahnya. Matanya menatap Ramadhan. Untuk pertama kalinya malam itu, tatapannya tidak menghindar.
"Akhirnya kita sampai di sini lagi."
Kalimat itu menusuk.
Ramadhan memahami maksudnya.
Luka lama itu.
Persaingan yang pernah terjadi bertahun-tahun lalu—tentang beasiswa, tentang mimpi yang hanya bisa diraih oleh satu orang.
Kini muncul kembali dalam bentuk yang berbeda.
Namun esensinya sama.
Dua sahabat. Satu hal yang diinginkan. Dan hanya satu yang bisa mendapatkannya.
"Aku tidak pernah berniat bersaing denganmu," kata Ramadhan pelan. Suarara bergetar sedikit. Entah karena emosi atau karena kopi yang terlalu panas.
Irvan tertawa hambar. Tawa tanpa suara. Tawa yang keluar dari hidung, disertai gelengan kepala pelan.
"Tetapi kenyataannya, kita selalu berada di jalur yang sama."
"Itu tidak benar."
"Benarkah?"
Tatapan Irvan berubah.
Untuk pertama kalinya malam itu, emosi yang selama ini ia tahan—yang ia pendam sejak pertama kali melihat Anjani tersenyum pada Ramadhan—mulai muncul.
Bukan meledak. Tapi merembes. Perlahan. Seperti air yang keluar dari retakan kecil di bendungan.
"Dulu beasiswa," kata Irvan. Suaranya lebih rendah dari sebelumnya. "Sekarang Anjani."
Nama itu terasa berat di lidahnya.
Ramadhan terdiam.
Ia tidak menyangka luka lama itu masih tersimpan sedalam itu di hati sahabatnya. Selama ini ia mengira Irvan telah melupakannya. Atau setidaknya memaafkannya.
Ternyata tidak.
Luka tidak selalu terlihat. Kadang ia bersembunyi di balik senyum. Kadang ia tidur di dasar hati, lalu bangun ketika ada sesuatu yang mengusiknya.
"Irvan..." Ramadhan mencoba mencari kata-kata.
"Tidak usah." Irvan mengangkat tangan. Bukan marah. Hanya menghentikan. "Aku tidak menyalahkanmu. Serius. Aku tidak pernah menyalahkanmu."
Ia menghela napas.
"Tapi jangan berpura-pura semuanya baik-baik saja. Karena kenyataannya tidak."
Suasana menjadi semakin berat.
Mereka tidak berteriak.
Tidak membanting meja.
Tidak saling tuduh dengan kata-kata kasar.
Tapi itulah yang paling menyakitkan.
Karena kata-kata yang terucap pelan—hampir seperti bisikan—terasa jauh lebih tajam daripada teriakan. Karena berasal dari kejujuran yang selama ini disimpan.
Di tempat lain, Nayla sedang duduk di kamarnya.
Ponsel di tangannya. Layar menyala. Nama Irvan tertera di daftar kontak.
Jari telunjuknya menggantung di atas tombol panggil. Hampir menekan. Lalu mundur. Maju lagi. Mundur lagi.
Ia sudah melakukannya berulang kali sejak satu jam lalu.
Haruskah aku menghubunginya? pikir Nayla.
Haruskah aku mengatakan yang sebenarnya?
Rahasia yang selama ini ia simpan—tentang surat lama, tentang perasaan yang tidak pernah terucap, tentang sesuatu yang terjadi bertahun-tahun lalu—kini terasa semakin dekat untuk terungkap.
Dan jika itu terjadi, bukan hanya persahabatan yang akan retak.
Banyak hati bisa ikut terluka.
Termasuk hati Anjani.
Termasuk hatinya sendiri.
Nayla mematikan layar ponsel. Meletakkannya di atas meja.
Belum, pikirnya. Belum sekarang.
Tapi ia tahu, suatu saat nanti, ia tidak akan bisa bersembunyi lagi.
Sementara itu, Anjani tidak mengetahui apa yang sedang terjadi di warung kopi tepian sungai.
Ia hanya merasakan perubahan.
Perubahan dalam sikap Ramadhan yang tiba-tiba lebih pendiam dari biasanya.
Perubahan dalam sikap Irvan yang dulu ramah kini terasa formal.
Dan perubahan dalam suasana setiap kali mereka berada dalam satu tempat yang sama—seperti ada listrik statis yang tidak terlihat, tapi bisa dirasakan.
Malam itu ia duduk di dekat jendela kamarnya. Hujan gerimis turun tipis. Di atas meja, secangkir teh hangat mengepul pelan.
Ia membuka buku catatannya. Ingin menulis. Apapun.
Namun tulisannya tidak mengalir seperti biasanya.
Pena berhenti di tengah kalimat.
Kata-kata tidak kunjung datang.
Ada kegelisahan, pikir Anjani. Kegelisahan yang tidak bisa dijelaskan.
Seperti ada sesuatu yang sedang bergerak di balik layar. Sesuatu yang tidak bisa aku lihat. Tapi aku bisa merasakannya.
Seperti sesuatu yang sedang bergerak menuju arah yang tidak aku inginkan.
Ia menutup buku catatannya.
Memandang hujan di luar jendela.
Berharap hujan bisa membawa jawaban.
Tapi hujan hanya diam. Jatuh. Membasahi tanah. Lalu pergi.
Tanpa pernah meninggalkan pesan.
Kembali di warung kopi.
Percakapan antara Ramadhan dan Irvan akhirnya berakhir.
Bukan karena mereka menemukan solusi. Bukan karena salah satu dari mereka mengalah.
Tapi karena tidak ada lagi yang bisa dikatakan.
Mereka duduk diam cukup lama setelah percakapan terakhir. Masing-masing memandangi kopi yang sudah dingin. Masing-masing tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Tidak ada kesepakatan.
Tidak ada janji.
Tidak ada "semoga persahabatan kita tetap baik" atau "aku harap tidak ada yang berubah".
Karena mereka sama-sama tahu.
Semuanya telah berubah.
Malam itu juga.
Di warung kopi ini.
Saat Irvan berdiri hendak pergi, ia berhenti sejenak. Tangannya di saku celana. Matanya ke arah sungai yang gelap di luar jendela.
"Lakukan apa yang menurutmu benar," katanya. Suaranya datar. Tidak ada emosi. Atau mungkin terlalu banyak emosi hingga semuanya tercampur menjadi satu.
Ramadhan menatapnya. "Kamu juga."
Irvan mengangguk pelan.
Lalu berjalan pergi.
Langkahnya tidak tergesa. Namun terasa berat. Seperti orang yang sedang membawa beban yang tidak terlihat.
Ia meninggalkan Ramadhan sendirian di warung kopi.
Sendirian di tepi sungai.
Sendirian dengan pikirannya yang kacau.
Malam semakin larut.
Awan gelap mulai menutupi langit Kuala Kapuas. Angin bertiup lebih kencang dari biasanya, membawa aroma tanah basah dari kejauhan. Pertanda hujan akan segera turun.
Dan di atas aliran Sungai Kapuas yang tak pernah berhenti bergerak, sebuah persahabatan yang telah bertahan bertahun-tahun mulai menunjukkan retaknya.
Belum hancur.
Belum berakhir.
Tapi retakan itu sudah ada.
Dan sering kali, retakan kecil adalah awal dari keruntuhan yang besar.
Retakan yang suatu hari nanti akan melebar.
Menjadi celah.
Lalu jurang.
Lalu sesuatu yang tidak bisa lagi diperbaiki oleh kata "maaf".
Sementara takdir terus melangkah maju, membawa mereka menuju rahasia lain yang lebih mengejutkan.
Rahasia yang selama ini disimpan oleh Nayla.
Rahasia yang tertulis dalam sebuah surat lama yang tidak pernah terkirim.
Surat yang akan segera ditemukan.
Dan ketika itu terjadi, tidak ada yang bisa mengembalikan semuanya seperti semula.
BAB 13
SURAT YANG TERTINGGAL
Ada rahasia yang lahir dari kebohongan.
Ada pula rahasia yang lahir dari ketakutan.
Namun rahasia yang paling berat adalah rahasia yang lahir dari cinta yang tidak pernah sempat diucapkan.
Karena cinta yang terpendam tidak benar-benar hilang.
Ia hanya bersembunyi.
Menunggu waktu untuk ditemukan.
Dan bagi Nayla, waktu itu kini semakin dekat.
Pagi itu, hujan turun tipis di Kuala Kapuas.
Udara terasa sejuk.
Nayla sedang membantu ibunya membersihkan gudang kecil di belakang rumah.
Gudang itu sudah lama tidak digunakan.
Di dalamnya tersimpan berbagai barang lama.
Kotak-kotak kardus.
Album foto.
Buku pelajaran.
Dan kenangan masa lalu yang hampir terlupakan.
Saat membuka sebuah kotak berwarna cokelat yang mulai kusam, Nayla mendadak terdiam.
Di antara tumpukan buku sekolah dan beberapa lembar foto lama, terselip sebuah amplop putih yang sudah menguning dimakan waktu.
Tangannya langsung membeku.
Ia mengenali amplop itu.
Sangat mengenalinya.
Karena surat di dalamnya adalah surat yang pernah ia tulis bertahun-tahun lalu.
Surat yang tidak pernah dikirim.
Surat untuk seseorang.
Untuk Irvan.
Perlahan Nayla duduk di lantai.
Tangannya gemetar saat membuka amplop itu.
Lembar kertas di dalamnya masih tersimpan rapi.
Tulisan tangannya yang masih kekanak-kanakan memenuhi halaman.
Tulisan seorang remaja yang sedang jatuh cinta untuk pertama kalinya.
Ia membaca beberapa bagian.
"Irvan, mungkin kamu tidak pernah menyadari bahwa aku selalu menunggumu selesai bermain bola hanya untuk bisa berjalan pulang bersama."
"Mungkin kamu menganggapku hanya teman."
"Tapi aku selalu berharap suatu hari nanti kamu melihatku lebih dari itu."
Mata Nayla mulai berkaca-kaca.
Bertahun-tahun telah berlalu.
Namun rasa sesak yang dulu ia rasakan ternyata masih tersimpan di suatu sudut hatinya.
Saat SMA, Nayla pernah menyukai Irvan.
Sangat menyukainya.
Bahkan jauh sebelum Anjani mengenal Ramadhan.
Jauh sebelum segala kerumitan yang terjadi saat ini.
Namun Nayla tidak pernah mengungkapkan perasaannya.
Karena saat itu Irvan sedang fokus mengejar mimpi-mimpinya.
Karena ia takut kehilangan persahabatan.
Dan karena pada akhirnya ia mengetahui sesuatu yang membuatnya memilih diam.
Irvan tidak pernah melihatnya sebagai perempuan yang dicintai.
Hanya sebagai sahabat.
Sejak saat itu, surat tersebut tidak pernah dikirim.
Dan perlahan, Nayla belajar menerima kenyataan.
Atau setidaknya ia berusaha menerima.
Namun hidup sering kali memiliki cara aneh untuk membuka kembali luka yang sudah lama tertutup.
Kini Irvan kembali hadir dalam kehidupannya.
Dan lebih rumit lagi, Irvan ternyata mulai menyukai Anjani.
Sahabat terbaiknya sendiri.
Nayla tidak pernah iri kepada Anjani.
Tidak pernah.
Tetapi melihat sejarah lama berulang di depan matanya membuat hatinya kembali terasa berat.
Sore harinya, Nayla memutuskan berjalan sendirian ke tepian Sungai Kapuas.
Langit tampak mendung.
Angin sungai bertiup pelan.
Ia membawa surat lama itu di dalam tasnya.
Entah mengapa.
Mungkin karena ia belum siap membuangnya.
Mungkin juga karena ada bagian kecil dalam dirinya yang belum sepenuhnya melepaskan masa lalu.
Saat sedang duduk di bangku kayu dekat waterfront, seseorang datang menghampiri.
"Sendirian?"
Nayla terkejut.
Irvan.
Lagi-lagi takdir mempertemukan mereka.
"Iya."
"Boleh duduk?"
Nayla mengangguk.
Untuk beberapa saat mereka hanya memandang sungai.
Tidak ada yang berbicara.
Hanya suara air dan angin yang menemani.
"Akhir-akhir ini kamu sering menghindar."
Suara Irvan memecah keheningan.
Nayla tersenyum kecil.
"Aku?"
"Iya."
"Perasaanmu saja."
"Bukan."
Nayla menunduk.
Ia tahu Irvan benar.
Beberapa minggu terakhir ia memang sengaja menjaga jarak.
Bukan karena marah.
Tetapi karena terlalu banyak hal yang tidak mampu ia jelaskan.
"Ada sesuatu yang mengganggumu?" tanya Irvan.
Pertanyaan itu sederhana.
Namun hampir membuat Nayla menangis.
Karena andai saja Irvan tahu.
Andai saja ia mengetahui isi surat yang tersimpan di dalam tas itu.
Andai saja ia memahami apa yang selama ini disembunyikan Nayla.
"Aku baik-baik saja."
Jawaban itu keluar pelan.
Terlalu pelan.
Dan bahkan Nayla sendiri tahu bahwa itu bukan jawaban yang jujur.
Irvan memandangnya beberapa saat.
Lalu tersenyum.
"Kalau suatu hari nanti ingin bercerita, aku akan mendengarkan."
Kalimat itu baik.
Tulus.
Tetapi ironis.
Karena orang yang ingin diceritakan Nayla justru adalah dirinya sendiri.
Di tempat lain, Anjani sedang berada di rumah Ramadhan bersama beberapa relawan.
Mereka sedang membahas program perpustakaan sungai yang akan segera diluncurkan.
Suasana cukup menyenangkan.
Hingga tanpa sengaja Anjani melihat sesuatu.
Sebuah foto lama yang terpajang di rak buku.
Foto dua anak laki-laki yang tersenyum lebar sambil memegang piala lomba.
"Itu kamu dan Irvan?"
Ramadhan menoleh.
Lalu tersenyum.
"Iya."
"Kami waktu SD."
Anjani memperhatikan foto itu.
Kebersamaan mereka tampak begitu erat.
Seperti saudara kandung.
Dan tiba-tiba ia merasa sedih.
Karena bahkan dirinya pun mulai menyadari adanya jarak yang muncul di antara kedua sahabat itu.
Malam harinya, Nayla kembali membuka surat lama tersebut.
Untuk terakhir kalinya.
Ia membacanya perlahan.
Lalu melipatnya kembali.
Namun ketika hendak memasukkannya ke dalam amplop, selembar kertas kecil jatuh ke lantai.
Nayla mengambilnya.
Dan wajahnya langsung berubah pucat.
Di bagian belakang kertas itu terdapat sesuatu yang selama ini tidak ia sadari.
Sebuah catatan singkat.
Tulisan tangan Irvan.
Tulisan yang tampaknya dibuat bertahun-tahun lalu saat tanpa sengaja meminjam buku milik Nayla.
"Terima kasih sudah selalu menjadi sahabat terbaik."
— Irvan
Nayla memejamkan mata.
Air matanya akhirnya jatuh.
Karena kalimat sederhana itu justru menegaskan segalanya.
Selama ini.
Selama bertahun-tahun.
Ia memang hanya dianggap sahabat.
Tidak lebih.
Tidak kurang.
Di luar rumah, hujan kembali turun perlahan.
Membasahi jalan-jalan Kuala Kapuas.
Membasahi tepian Sungai Kapuas.
Dan membasahi kenangan yang selama ini tersimpan rapat.
Namun malam itu, sebuah keputusan mulai tumbuh dalam hati Nayla.
Ia tidak bisa terus menyimpan rahasia ini.
Cepat atau lambat, kebenaran harus menemukan jalannya.
Karena jika tidak, bukan hanya dirinya yang akan terluka.
Orang-orang yang ia sayangi juga bisa kehilangan lebih banyak hal.
Dan tanpa disadarinya, takdir sedang bergerak menuju pengungkapan besar.
Pengungkapan yang akan mengubah hubungan mereka semua.
BAB 14
PENGAKUAN DI BAWAH GERIMIS
Gerimis turun tipis di atas Kota Kuala Kapuas.
Langit sore terlihat muram.
Awan kelabu menggantung rendah di atas Sungai Kapuas yang mengalir tenang.
Anjani duduk bersama Nayla di salah satu bangku kayu di kawasan waterfront.
Hari itu Nayla akhirnya mengungkapkan rahasia yang selama bertahun-tahun disimpannya sendiri.
Tentang Irvan.
Tentang surat yang tidak pernah terkirim.
Tentang cinta yang tidak pernah memiliki kesempatan untuk tumbuh.
Anjani mendengarkan semuanya tanpa menyela.
Untuk pertama kalinya ia memahami mengapa sahabatnya sering terlihat berbeda setiap kali nama Irvan disebut.
Mengapa Nayla selalu berusaha menghindari pembicaraan tertentu.
Dan mengapa akhir-akhir ini wajah sahabatnya tampak menyimpan kesedihan yang sulit dijelaskan.
"Aku tidak pernah menyalahkan siapa pun."
Kata Nayla pelan.
"Aku hanya menyesal karena terlalu lama diam."
Anjani menggenggam tangan sahabatnya.
"Nayla..."
"Aku akan baik-baik saja."
Jawab Nayla sambil tersenyum tipis.
Tetapi di balik senyum itu, Anjani tahu masih ada luka yang belum benar-benar sembuh.
Di tempat lain, pada sore yang sama, Irvan menerima sebuah pesan.
Pesan itu berasal dari seseorang yang tidak ia duga.
Karim.
"Bisakah kita bertemu malam ini?"
Irvan mengernyit.
Mereka memang saling mengenal melalui kegiatan sosial dan komunitas literasi.
Namun hubungan mereka tidak cukup dekat untuk melakukan pertemuan pribadi.
Meski demikian, Irvan tetap menyetujui.
Ia tidak tahu bahwa pertemuan malam itu akan menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih rumit.
Malam turun.
Lampu-lampu Kota Kuala Kapuas menyala di sepanjang jalan utama.
Di sebuah kafe yang menghadap sungai, Karim telah menunggu.
Sikapnya tetap tenang seperti biasa.
Namun ada sesuatu dalam sorot matanya yang sulit dibaca.
Setelah berbasa-basi beberapa menit, Karim akhirnya masuk ke inti pembicaraan.
"Aku akan berbicara terus terang."
Katanya.
Irvan mengangguk.
"Aku mendengarkan."
Karim menatapnya.
"Kamu menyukai Anjani, bukan?"
Pertanyaan itu membuat Irvan terdiam.
Untuk beberapa saat tidak ada suara selain dentingan sendok dari meja lain.
"Apa hubungannya?"
Tanya Irvan hati-hati.
Karim tersenyum kecil.
"Karena aku juga menyukainya."
Kalimat itu jatuh seperti batu ke permukaan air.
Menciptakan riak yang terus melebar.
Irvan tidak menjawab.
Tetapi dadanya mendadak terasa sesak.
Malam itu mereka berbicara cukup lama.
Tentang Anjani.
Tentang kegiatan komunitas.
Tentang masa depan.
Namun di balik semua percakapan yang terdengar sopan itu, keduanya sebenarnya sedang mengukur satu sama lain.
Dan tanpa mereka sadari, seseorang melihat pertemuan tersebut.
Seseorang yang kebetulan sedang melintas.
Ramadhan.
Dari kejauhan Ramadhan mengenali kedua sahabatnya itu.
Ia tidak berniat menguping.
Tetapi pemandangan itu membuatnya bertanya-tanya.
Mengapa Karim dan Irvan bertemu diam-diam?
Mengapa mereka tampak begitu serius?
Dan mengapa firasatnya mengatakan bahwa pertemuan itu berkaitan dengan Anjani?
Malam semakin larut.
Sementara itu, di rumahnya, Anjani membuka buku catatan yang biasa digunakan untuk menulis.
Namun pikirannya tidak berada di sana.
Rahasia Nayla terus berputar di kepalanya.
Ia tidak pernah membayangkan bahwa cinta bisa menyimpan luka sedalam itu.
Dan tanpa disadarinya, badai yang jauh lebih besar sedang bergerak mendekat.
Di penghujung malam, Karim mengirim sebuah pesan kepada seseorang.
Pesan yang singkat.
Tetapi cukup untuk mengubah arah cerita.
"Besok kita mulai."
Tak ada nama.
Tak ada penjelasan.
Hanya sebuah kalimat yang penuh misteri.
Dan ketika pesan itu terkirim, Karim menatap pantulan lampu kota di Sungai Kapuas.
Senyumnya tipis.
Sulit ditebak.
Seolah ia sedang menyusun sesuatu.
Sesuatu yang tidak diketahui oleh Anjani.
Tidak diketahui oleh Ramadhan.
Bahkan tidak diketahui oleh Irvan.
Di atas Kota Kuala Kapuas, gerimis kembali turun perlahan.
Membasahi jalan-jalan kota.
Membasahi tepian sungai.
Dan diam-diam mengantar kisah mereka menuju sebuah babak baru.
Babak ketika kejujuran akan diuji.
Persahabatan akan diguncang.
Dan seseorang akan melakukan sesuatu yang kemudian dikenang sebagai pengkhianatan.
BAB 15
AWAL SEBUAH PENGKHIANATAN
Malam setelah gerimis itu berlalu, Kota Kuala Kapuas kembali terlihat tenang.
Lampu-lampu kota memantul di permukaan Sungai Kapuas seperti untaian cahaya yang mengalir mengikuti arus. Dari kejauhan terdengar suara mesin kelotok yang masih beroperasi membawa penumpang menuju kampung-kampung di seberang sungai. Sesekali terdengar suara azan dari masjid di kejauhan, bergema pelan di atas permukaan air.
Segalanya tampak biasa.
Namun sering kali, pengkhianatan tidak datang dengan suara yang keras. Ia datang diam-diam. Bersembunyi di balik senyum. Berjalan perlahan di antara orang-orang yang saling percaya. Dan yang paling berbahaya, ia sering kali datang dengan membawa kebaikan.
Seperti racun yang disamarkan sebagai obat, pikir Karim malam itu, meski ia tidak akan pernah mengucapkannya dengan lantang.
Pagi itu Anjani sibuk di sekretariat komunitas literasi.
Program perpustakaan sungai yang mereka rintis mulai mendapat perhatian dari berbagai pihak. Beberapa media lokal bahkan mulai meliput kegiatan mereka. Foto-foto anak-anak membaca di perahu menjadi sorotan. Donasi buku mulai berdatangan dari berbagai daerah.
Bagi Anjani, ini adalah kabar yang membahagiakan. Sebab impian yang selama ini diperjuangkan bersama—tentang anak-anak di bantaran sungai yang bisa mengakses buku dengan mudah—perlahan mulai menjadi kenyataan.
Namun ia tidak mengetahui bahwa di balik keberhasilan itu, sedang tumbuh benih-benih persoalan baru. Benih yang ditanam oleh seseorang yang selama ini ia anggap sebagai sahabat.
Karim datang lebih pagi dari biasanya.
Ia membawa beberapa dokumen kerja sama yang akan digunakan untuk pengembangan program. Jas rapi berwarna abu-abu. Kopiah hitam di kepala. Senyum yang selalu tersungging di wajahnya.
Semua orang menyambutnya dengan ramah.
Karim memang memiliki kemampuan membuat orang percaya kepadanya. Sikapnya santun. Pembawaannya tenang. Dan hampir selalu terlihat tulus. Ia tahu kapan harus berbicara dan kapan harus diam. Ia tahu kata-kata apa yang membuat orang merasa dihargai.
Bakat alami yang selama bertahun-tahun ia asah.
Namun pagi itu, ada sesuatu yang berbeda.
Matanya beberapa kali memperhatikan Anjani. Bukan dengan tatapan kagum seperti biasa. Tapi dengan tatapan yang lebih dalam. Lebih penuh perhitungan. Seolah sedang mempertimbangkan sebuah keputusan.
Dia terlalu dekat dengan Ramadhan, pikir Karim dalam hati. Itu harus diubah.
Ia tersenyum pada Anjani. Anjani membalas senyum itu, tidak curiga sedikit pun.
Setelah rapat selesai—rapat yang membahas perluasan program ke tiga desa baru—Karim meminta waktu berbicara dengan Irvan.
Mereka keluar menuju halaman belakang gedung. Tempat yang cukup sepi dari lalu-lalang relawan. Halaman sempit dengan beberapa pot tanaman dan satu bangku kayu di sudutnya. Dari sini, suara rapat di dalam hanya terdengar samar-samar.
Karim memulai dengan nada yang terdengar santai. Hampir seperti basa-basi.
"Aku ingin bertanya sesuatu," katanya.
Irvan mengangguk. Wajahnya masih polos. Belum curiga. "Tentang apa?"
Karim terdiam beberapa saat—diam yang dibuat-buat, seolah sedang mempertimbangkan apakah akan melanjutkan atau tidak. Padahal ia sudah merencanakan setiap kata sejak semalam.
"Tentang Ramadhan."
Irvan langsung mengernyit. Matanya menyipit. "Ada apa dengannya?"
Karim memasang wajah serius. Wajah yang meyakinkan. Wajah yang membuat orang percaya bahwa ia sedang berbagi informasi penting.
"Aku mendengar kabar bahwa dia akan meninggalkan proyek ini."
Irvan terkejut. Alisnya naik. "Meninggalkan proyek?"
"Iya." Karim mengangguk pelan. "Katanya ada tawaran pekerjaan di luar daerah. Di Palangka Raya, mungkin. Atau Banjarmasin. Aku kurang jelas."
Irvan menggeleng. Kebingungan mulai terlihat di wajahnya. "Aku tidak pernah mendengar itu."
Karim mengangkat bahu—sebuah gerakan yang tampak tidak peduli, padahal setiap detail telah diperhitungkan. "Mungkin dia belum menceritakannya. Mungkin dia sengaja menyembunyikan."
Irvan terdiam.
Dan di dalam keheningan itu, racun mulai meresap.
Percakapan itu singkat. Tidak lebih dari lima menit.
Namun cukup membuat Irvan berpikir.
Sebab selama ini Ramadhan tidak pernah mengatakan apa pun tentang rencana tersebut. Mereka memang sedang renggang setelah pertemuan di warung kopi beberapa waktu lalu. Jarak di antara mereka terasa semakin lebar. Tapi bukan berarti sahabatnya akan menyembunyikan sesuatu sebesar itu.
Atau mungkin...
Mungkin memang iya.
Mungkin Ramadhan sudah memutuskan untuk pergi tanpa memberitahu siapa pun.
Mungkin ia sudah tidak peduli lagi dengan komunitas ini.
Mungkin ia sudah tidak peduli lagi dengan Anjani.
Atau mungkin, bisik suara kecil di kepalanya, Karim berbohong?
Tapi suara itu terlalu pelan. Tertutup oleh amarah dan kekecewaan yang sudah lama ia pendam.
Pertanyaan itu mulai mengganggu pikirannya. Sepanjang perjalanan pulang. Sepanjang malam. Hingga ia tidak bisa tidur.
Siang harinya, Karim kembali berbicara dengan orang lain.
Kali ini dengan salah seorang relawan senior bernama Pak Budi, pria paruh baya yang dihormati di komunitas karena pengalamannya.
Karim memilih waktu dengan hati-hati. Di sela-sela makan siang, ketika orang-orang sedang sibuk dengan piring masing-masing. Ia duduk di samping Pak Budi, memulai dengan topik netral tentang cuaca dan program, lalu perlahan-lahan mengarahkan pembicaraan.
Dengan nada yang hati-hati—seolah sedang mengkhawatirkan seorang teman—ia menyampaikan hal yang hampir sama.
"Pak Budi, apakah Bapak mendengar kabar tentang Ramadhan?"
"Belum. Kabar apa?"
Karim menghela napas. Berpura-pura ragu untuk mengatakannya. "Katanya dia akan meninggalkan kegiatan komunitas. Ada peluang besar dia pindah ke kota lain. Mungkin keluarganya sudah menyiapkan pekerjaan di sana."
Pak Budi mengernyit. "Serius?"
"Aku tidak tahu pasti," kata Karim sambil mengangkat bahu. "Tapi sudah beberapa orang membicarakannya. Saya hanya khawatir... bagaimana kelanjutan program jika dia pergi."
Pak Budi mengangguk-angguk. Wajahnya berubah dari bingung menjadi cemas. Ramadhan adalah salah satu penggerak utama komunitas. Kepergiannya akan menjadi pukulan besar.
"Kita harus bicara dengannya," kata Pak Budi.
Karim mengangguk. "Sebaiknya kita tunggu saja dulu, Pak. Jangan terburu-buru. Siapa tahu kabar ini tidak benar."
Padahal ia tahu, pikir Karim. Ia tahu kabar itu tidak benar.
Tapi ia juga tahu bahwa dengan mengatakan "jangan terburu-buru", ia justru membuat Pak Budi semakin penasaran. Dan Pak Budi akan menyebarkan kabar itu kepada orang lain—bukan karena niat jahat, tapi karena kepedulian.
Dan itulah yang Karim inginkan.
Tidak ada satu pun pernyataan yang benar-benar tegas. Tidak ada kebohongan yang dapat dibuktikan. Tidak ada bukti yang dapat dilacak kepadanya.
Hanya bisikan.
Hanya keraguan.
Hanya "kabarnya" dan "katanya".
Tapi cukup untuk menimbulkan dugaan.
Dan dugaan, seperti yang Karim ketahui dengan sangat baik, sering kali lebih berbahaya daripada fakta.
Dalam hitungan hari, kabar itu mulai beredar.
Dari satu orang ke orang lain. Dari percakapan kecil di sela rapat. Dari grup WhatsApp komunitas yang tiba-tiba ramai membahas sesuatu yang tidak jelas sumbernya.
"Ramadhan mau pindah, ya?"
"Iya dengar-dengar ada tawaran kerja di luar."
"Padahal baru saja programnya berjalan lancar."
"Sayang sekali."
Setiap percakapan seperti api kecil yang ditiup angin. Perlahan membesar. Menjadi liar. Menjadi sesuatu yang tidak lagi bisa dikendalikan.
Hingga akhirnya sampai ke telinga Nayla.
"Ramadhan mau pindah?" tanyanya heran kepada salah seorang relawan yang kebetulan duduk di sampingnya saat istirahat.
"Katanya begitu."
Nayla mengernyit. "Siapa yang bilang?"
"Entahlah." Relawan itu mengangkat bahu. "Tapi sudah banyak yang membicarakannya. Sepertinya serius."
Nayla mulai merasa ada yang tidak beres. Alisnya bertaut. Matanya menyipit—tanda ia sedang berpikir keras.
Karena selama ini Ramadhan tidak pernah menunjukkan tanda-tanda akan pergi. Ia masih aktif. Masih bersemangat. Masih berbicara tentang program-program jangka panjang yang ingin ia wujudkan.
Kalau dia mau pindah, pikir Nayla, pasti dia sudah bilang. Setidaknya kepada Anjani. Atau kepadaku.
Tapi tidak ada.
Diam.
Ada yang aneh, pikir Nayla. Ada yang sengaja menghembuskan kabar ini.
Sementara itu, Ramadhan sama sekali tidak mengetahui apa yang sedang terjadi.
Ia tetap menjalani aktivitas seperti biasa. Mengurus program perpustakaan. Membantu kegiatan anak-anak di desa bantaran sungai. Dan sesekali—ketika waktu memungkinkan—menikmati senja di tepian Sungai Kapuas.
Hingga suatu sore, seorang relawan yang cukup akrab dengannya menghampiri dengan wajah setengah bingung setengah bertanya.
"Mas, kapan berangkat?"
Ramadhan mengerutkan kening. "Berangkat ke mana?"
"Pindah kerja."
Ramadhan semakin heran. Matanya membulat. "Aku tidak pindah ke mana-mana."
Relawan itu terlihat terkejut. Wajahnya berubah—dari bingung menjadi kaget. "Lho, bukannya sudah pasti? Katanya ada tawaran dari luar. Banyak yang sudah bilang."
Saat itulah Ramadhan mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang salah.
Sangat salah.
Kabar apa ini? pikirnya. Dari mana asalnya?
Ia tidak tahu. Tapi satu hal yang ia tahu: kabar itu tidak benar.
Dan seseorang sengaja menyebarkannya.
Di tempat lain, Anjani juga mulai mendengar kabar yang sama.
Awalnya ia mencoba mengabaikannya. Mungkin hanya gosip. Mungkin hanya kesalahpahaman. Tapi semakin banyak orang membicarakannya, semakin sulit pula ia untuk tetap tenang.
Bagaimana jika kabar itu benar?
Bagaimana jika Ramadhan benar-benar akan pergi?
Mengapa ia tidak pernah menceritakannya?
Apakah karena ia tidak menganggapku dekat?
Apakah karena aku hanya teman biasa baginya?
Setiap pertanyaan seperti paku yang menusuk pelan di dadanya. Tidak menyakitkan jika hanya satu. Tapi ketika semakin banyak, rasa sakit itu mulai terasa.
Sore itu ia berdiri di Waterfront Kuala Kapuas, memandang Sungai Kapuas yang mengalir tenang. Angin berembus lembut, membawa aroma air dan sedikit bau ikan bakar dari warung di seberang.
Namun pikirannya tidak tenang.
Penuh kegelisahan.
Bukan, pikirnya. Ini bukan kegelisahan biasa.
Ini ketakutan.
Ketakutan kehilangan seseorang.
Dan ia belum memahami apa arti ketakutan itu.
Atau mungkin ia sudah paham, tapi belum berani mengakuinya.
Tak jauh dari sana, di balik pohon rindang di tepi taman, Karim sedang berbicara melalui telepon.
Wajahnya terlihat tenang. Senyum tipis mengembang di bibirnya. Namun kata-katanya penuh perhitungan. Setiap suku kata dipilih dengan hati-hati, seperti bidak catur yang ditempatkan di papan.
"Belum," katanya pelan. Suaranya hampir berbisik, meskipun tidak ada siapa pun yang mendengarnya.
"Masih sesuai rencana."
Ia mendengarkan suara dari seberang. Mengangguk-angguk meskipun orang itu tidak bisa melihatnya.
Beberapa detik kemudian, ia tersenyum. Senyum yang tidak sampai ke mata. Senyum yang dingin. Senyum yang tidak akan pernah ia tunjukkan di depan Anjani atau Ramadhan.
"Lanjutkan saja."
Telepon ditutup.
Karim memandang aliran Sungai Kapuas yang bergerak perlahan di hadapannya. Airnya keruh sore itu, mungkin karena hujan di hulu. Tapi ia tidak peduli.
Untuk sesaat, wajahnya tampak berbeda dari biasanya.
Lebih dingin.
Lebih gelap.
Lebih sulit dibaca.
Seperti topeng yang bergeser sedikit, memperlihatkan sedikit wajah asli di baliknya.
Ini baru awal, pikirnya. Masih panjang jalannya.
Malam itu, Irvan akhirnya menemui Ramadhan.
Setelah dua hari bergumul dengan keraguan, setelah dua malam tidak bisa tidur memikirkan kabar yang beredar, ia memutuskan untuk bertanya langsung.
Tidak melalui telepon. Tidak melalui pesan singkat.
Tapi bertatap muka.
Seperti dulu.
Mereka bertemu di sebuah warung kopi yang dulu sering menjadi tempat berkumpul. Warung yang sama. Meja yang sama. Bahkan kursi yang sama.
Tapi suasananya berbeda.
Sangat berbeda.
Irvan tidak memesan kopi. Ia hanya duduk. Menatap meja kayu di depannya. Tangannya menggenggam erat.
"Aku ingin bertanya sesuatu," katanya akhirnya.
Ramadhan mengangguk. Wajahnya lelah—bukan karena fisik, tapi karena pikiran. Sejak sore tadi ia terus memikirkan kabar yang tidak jelas asalnya. "Tanya saja."
Irvan mengangkat wajahnya. Matanya menatap Ramadhan. Lurus. Tidak berkedip.
"Kamu mau pergi dari Kuala Kapuas?"
Ramadhan terdiam beberapa saat.
Bukan karena ia memikirkan jawaban. Tapi karena ia tidak percaya pertanyaan itu keluar dari mulut sahabatnya.
"Apa?" suaranya hampir tidak terdengar.
"Kamu mau pindah? Keluar dari komunitas? Pergi ke luar kota?"
Ramadhan menggeleng. Tegas. Cepat. "Tidak."
Irvan menghela napas. Entah lega atau justru semakin cemas.
"Siapa yang bilang?" tanya Ramadhan balik.
Irvan tidak menjawab.
Karena ia mulai memahami bahwa kabar yang beredar kemungkinan besar tidak benar. Ramadhan tidak akan pernah menyembunyikan sesuatu sebesar itu. Bukan karena mereka sedang renggang, tapi karena Ramadhan bukan orang seperti itu.
Dan jika kabar itu tidak benar, pertanyaan berikutnya menjadi jauh lebih mengkhawatirkan.
Siapa yang menyebarkannya?
Dan untuk tujuan apa?
Pertanyaan yang tidak bisa ia jawab.
Malam itu, mereka duduk cukup lama dalam diam. Tidak ada pembicaraan lebih lanjut. Hanya keheningan yang berat. Keheningan di antara dua sahabat yang dulu bisa saling memahami tanpa banyak kata, kini justru dipisahkan oleh kata-kata yang tidak pernah terucap.
Di rumahnya, Anjani duduk di depan jendela kamar.
Hujan rintik mulai turun lagi—rintik tipis yang hampir tidak terdengar, seperti bisikan dari langit. Ia memandangi cahaya lampu kota yang samar di kejauhan, kabur tertutup gerimis.
Perasaannya tidak menentu.
Seperti ada sesuatu yang menggantung di udaranya. Sesuatu yang tidak bisa ia lihat, tapi bisa ia rasakan.
Ketakutan.
Ketakutan kehilangan seseorang yang bahkan belum pernah menjadi miliknya.
Kenapa rasanya seperti ini? pikir Anjani.
Kenapa aku takut kehilangan Ramadhan, padahal aku belum pernah memilikinya?
Ia tidak tahu jawabannya.
Mungkin cinta tidak pernah memerlukan alasan.
Mungkin cinta hanya datang. Tanpa diundang. Tanpa permisi. Dan ketika ia sudah tiba, tidak ada yang bisa mengusirnya.
Sementara itu, di sudut lain Kota Kuala Kapuas, di dalam mobil mewahnya yang terparkir di tepian sungai, Karim sedang mematikan mesin.
Ia tidak turun. Hanya duduk. Memandang ke luar jendela.
Hujan rintik membasahi kaca depan. Lampu-lampu kota terpantul di genangan air di aspal.
Sebuah permainan baru saja dimulai.
Permainan yang berawal dari kabar kecil. Dari satu kalimat yang diucapkan di tempat yang tepat, kepada orang yang tepat, dengan nada yang tepat.
Permainan yang perlahan akan berkembang menjadi badai.
Badai yang tidak hanya menguji cinta.
Tapi juga persahabatan.
Tapi juga kepercayaan.
Tapi juga integritas setiap orang yang terlibat.
Karena setiap pengkhianatan selalu dimulai dari satu hal yang tampak sederhana.
Sebuah kebohongan kecil yang sengaja dibiarkan tumbuh.
Dan tidak seorang pun—bukan Anjani, bukan Ramadhan, bukan Irvan, bukan Nayla—yang menyadari bahwa mereka telah melangkah masuk ke dalamnya.
Mereka pikir ini hanya gosip biasa.
Mereka tidak tahu bahwa ini baru permulaan.
Dan Karim, dari balik setir mobilnya, tersenyum dalam gelap.
Ini baru awal, pikirnya lagi. Masih panjang jalannya. Dan aku baru mulai.
BAB 16
RETAK DI ANTARA KEPERCAYAAN
Kepercayaan adalah sesuatu yang dibangun bertahun-tahun, tetapi bisa runtuh hanya dalam hitungan hari.
Ia tidak pecah sekaligus seperti kaca yang jatuh ke lantai—dengan suara keras dan serpihan yang berserakan. Ia retak perlahan. Hampir tidak terlihat. Seperti garis rambut di permukaan porselen. Tidak ada yang menyadarinya sampai tiba-tiba, tanpa peringatan, semuanya hancur.
Hingga suatu saat, orang baru menyadari bahwa yang dulu kokoh ternyata telah rapuh.
Dan itulah yang mulai terjadi pada kehidupan mereka.
Pagi itu, Kuala Kapuas diselimuti kabut tipis.
Permukaan Sungai Kapuas tampak tenang, memantulkan warna langit yang masih pucat—campuran biru muda dan abu-abu seperti lukisan cat air yang belum kering. Aktivitas warga mulai berjalan seperti biasa. Pedagang membuka lapak. Perahu-perahu kecil mulai bergerak meninggalkan dermaga. Suara kendaraan memenuhi jalan utama kota, bersahutan dengan suara azan subuh yang masih bergema dari masjid-masjid.
Namun di dalam hati beberapa orang, ketenangan itu sudah tidak lagi ada.
Kabar mengenai rencana kepergian Ramadhan masih terus beredar. Meskipun Ramadhan sendiri telah membantahnya kepada beberapa orang—dengan tegas, bahkan dengan sedikit kesal—kabar itu tidak juga mereda.
Anehnya, rumor itu justru semakin sulit dihentikan.
Seperti api yang disiram bensin, ia membesar. Seperti benalu yang merambat, ia mengakar. Seolah ada seseorang—tangan tak terlihat—yang terus meniupkan angin ke bara yang hampir padam, menghidupkannya kembali setiap kali ia mulai redup.
Ramadhan mulai lelah membantah.
Semakin aku membantah, pikirnya, semakin mereka berpikir aku bersembunyi.
Semakin aku diam, semakin mereka berpikir aku bersalah.
Tidak ada yang benar.
Di sekretariat komunitas literasi, suasana tidak lagi sehangat biasanya.
Dulu, tempat ini penuh tawa dan canda. Relawan sambil ngopi membahas program sambil tertawa. Suara anak-anak yang membaca nyaring di sudut ruangan. Sekarang, yang tersisa hanyalah bisik-bisik pelan. Tatapan yang saling menghindar. Senyum yang terasa dipaksakan.
Beberapa relawan mulai berbisik-bisik di sudut ruangan. Sebagian bertanya-tanya dengan mata yang salip melirik. Sebagian lainnya—yang mungkin lelah menunggu kejelasan—mulai membuat kesimpulan sendiri.
"Pasti ada benarnya."
"Masa iya kabar sekenceng itu cuma gosip?"
"Lagipula, dia memang sering menyendiri akhir-akhir ini."
"Bisa jadi dia memang sudah tidak betah di sini."
Setiap kesimpulan seperti batu bata kecil yang membangun tembok. Tembok antara Ramadhan dan komunitas yang dulu ia bangun dengan tangannya sendiri.
Ramadhan mencoba bersikap biasa. Masuk. Tersenyum. Membantu. Berbicara seperti tidak ada yang salah.
Namun ia tidak bisa mengabaikan perubahan itu.
Orang-orang yang biasanya langsung mengajaknya berdiskusi kini terlihat ragu. Tatapan mereka berbeda. Tidak bermusuhan. Tidak juga marah. Hanya penuh tanda tanya. Tanda tanya yang tidak mereka tanyakan secara langsung, tapi terpancar dari cara mereka memandangnya.
Tanda tanya yang tidak kunjung dijawab.
Dan tanda tanya yang terus dibiarkan, seperti kata orang tua-tua, sering kali berubah menjadi kecurigaan.
Saat istirahat siang, Nayla menghampiri Anjani yang sedang menyusun buku di perpustakaan komunitas.
Perpustakaan kecil itu dulu menjadi tempat favorit Anjani. Sepi. Tenang. Hanya ada dirinya dan buku-buku. Tapi hari itu, bahkan perpustakaan yang dulu menjadi pelariannya terasa sempit.
Nayla duduk di sampingnya. Tidak menyapa dengan candaan seperti biasa. Tidak menggoda tentang Ramadhan. Wajahnya serius.
"Kamu sudah bicara dengan Ramadhan?" tanya Nayla.
Anjani menggeleng. Tangannya masih merapikan buku meskipun tidak benar-benar melihatnya. "Belum."
"Kenapa?" Nayla menatapnya. Bukan tatapan biasa. Tatapan yang dalam. Tatapan yang mencoba membaca sesuatu yang tidak diucapkan.
Anjani berhenti bergerak. Buku di tangannya tertahan di udara.
"Aku tidak tahu harus mulai dari mana."
Nayla menghela napas. Kemudian, dengan suara yang lebih pelan, hampir seperti bisikan, ia berkata, "Aku merasa ada yang tidak beres."
Anjani menoleh. Matanya bertemu dengan mata Nayla.
Untuk pertama kalinya, mereka memiliki firasat yang sama.
Firasat bahwa kabar yang beredar bukanlah sesuatu yang muncul secara alami—bukan dari keterlambatan informasi, bukan dari kesalahpahaman biasa, bukan dari obrolan tidak sengaja.
Ada seseorang yang sengaja mengarahkannya.
Tapi siapa?
Mereka belum tahu.
Sementara itu, Karim tampak semakin aktif dalam kegiatan komunitas.
Ia hadir hampir di setiap rapat. Memberikan bantuan dana untuk operasional. Menyumbangkan buku-buku baru dari penerbit yang ia kenal. Membantu menjalin kerja sama dengan berbagai pihak—pemerintah daerah, yayasan lain, bahkan beberapa perusahaan yang tertarik pada program literasi.
Semua orang memujinya.
"Karim memang luar biasa."
"Peduli sekali sama anak-anak."
"Untung ada dia."
Semua orang menganggapnya sebagai sosok yang peduli. Sosok yang datang membawa solusi di tengah kekacauan. Sosok yang tidak banyak bicara, tapi banyak bertindak.
Termasuk sebagian besar anggota komunitas.
Namun semakin besar kepercayaan yang diterimanya, semakin mudah pula ia memengaruhi keadaan.
Karena kepercayaan adalah kunci, pikir Karim. Siapa yang memegang kepercayaan, ia memegang segalanya.
Dan mereka memberikannya padaku dengan sukarela.
Tanpa aku minta.
Tanpa aku paksa.
Itu yang membuatnya sempurna.
Sore harinya, sebuah pertemuan kecil diadakan untuk membahas perkembangan program perpustakaan sungai.
Ramadhan datang tepat waktu. Tangannya membawa beberapa berkas yang sudah ia siapkan sejak semalam. Ia ingin menunjukkan bahwa ia masih berkomitmen. Bahwa ia tidak akan pergi. Bahwa semua kabar itu tidak benar.
Namun ketika rapat dimulai, sebelum ia sempat membuka mulut, salah seorang relawan—seorang ibu paruh baya yang dikenal suka bergosip—tiba-tiba bertanya dengan nada yang terdengar polos namun menusuk.
"Kalau Mas Ramadhan jadi pindah, siapa yang akan melanjutkan program wilayah selatan?"
Ruangan langsung hening.
Diam.
Senyap.
Seperti udara tiba-tiba dihisap keluar dari ruangan.
Semua mata tertuju pada Ramadhan.
Ramadhan menatap orang itu. Wajahnya tidak marah. Hanya bingung. Sangat bingung.
"Aku tidak pindah," jawabnya tegas.
"Tapi katanya..." Wanita itu tidak melanjutkan kalimatnya. Matanya bergerak mencari dukungan dari orang-orang di sekitarnya.
Ramadhan menarik napas. Menahan diri.
"Kata siapa?"
Tidak ada yang menjawab.
Beberapa orang saling berpandangan. Ada yang menggeleng kecil. Ada yang menunduk menghindari kontak mata. Ada yang sibuk dengan ponselnya—tiba-tiba sangat sibuk padahal sedetik sebelumnya tidak.
Suasana menjadi canggung.
Canggung yang menusuk.
Canggung yang membuat Ramadhan ingin berteriak, tapi ia tahan.
Dan untuk pertama kalinya, Ramadhan merasakan sesuatu yang lebih buruk daripada kemarahan. Lebih buruk daripada kekecewaan.
Perasaan tidak dipercaya.
Perasaan ketika orang-orang yang dulu berdiri di sampingmu, kini memandangmu dengan jarak.
Perasaan ketika tidak ada satu pun yang berani membela, karena mereka sendiri tidak yakin.
Perasaan sendirian di tengah keramaian.
Usai rapat, Ramadhan berjalan keluar sendirian.
Ia tidak menunggu siapa pun. Tidak mengajak siapa pun. Ia hanya berjalan. Menuju tepian sungai yang berada tidak jauh dari lokasi kegiatan—tempat yang dulu menjadi tempatnya merenung ketika semuanya terasa terlalu berat.
Angin sore berembus cukup kencang, membawa aroma tanah dan air. Air Sungai Kapuas bergerak pelan mengikuti arus, tidak peduli dengan drama manusia di tepiannya.
Di sana, tanpa sengaja, ia bertemu dengan Anjani.
Entah kebetulan. Entah takdir. Entah Anjani memang sengaja mencarinya. Tidak ada yang tahu.
Anjani berdiri di dekat pagar pembatas, memandang sungai. Ketika melihat Ramadhan, matanya sedikit membesar. Seperti terkejut. Atau lega.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Anjani.
Ramadhan tersenyum tipis. Senyum yang tidak sampai ke mata. Senyum yang lelah.
"Sepertinya tidak."
Anjani terdiam.
Untuk beberapa saat, mereka berdiri berdampingan memandang sungai. Tidak ada yang berbicara. Tidak ada yang perlu dijelaskan. Karena di antara mereka, keheningan tidak pernah menjadi masalah.
Hanya suara air. Hanya angin. Hanya dua hati yang sedang sama-sama tidak tenang.
"Aku tidak mengerti," kata Ramadhan akhirnya. Suarara pelan. Hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri.
Anjani menatapnya. Menunggu.
"Aku tidak pernah mengatakan akan pergi. Tidak pernah. Aku tidak tahu dari mana kabar itu berasal. Aku bahkan tidak pernah membicarakannya dengan siapa pun—karena memang tidak ada yang perlu dibicarakan."
Ia berhenti. Menarik napas.
"Lalu kenapa semua orang percaya?"
Anjani tidak memiliki jawaban.
Karena ia sendiri sedang mempertanyakan hal yang sama. Ia juga mendengar kabar itu. Ia juga sempat ragu—meskipun hanya sebentar. Ia juga bertanya-tanya apakah mungkin Ramadhan menyembunyikan sesuatu.
Dan perasaan bersalah karena sempat ragu menusuk hatinya.
Ia menarik napas. Mengumpulkan keberanian.
"Aku percaya padamu," katanya pelan.
Ramadhan menoleh.
Tatapan mereka bertemu.
Di mata Ramadhan, Anjani melihat kelegaan. Bukan karena ia terbukti benar. Tapi karena ada satu orang—setidaknya satu orang—yang masih berdiri di sampingnya.
Dan untuk sesaat, kegelisahan di hati Ramadhan terasa sedikit berkurang.
Setidaknya masih ada Anjani, pikirnya. Setidaknya aku tidak sendirian.
Namun masalah itu belum selesai.
Karena keretakan yang muncul ternyata tidak hanya terjadi di komunitas.
Tetapi juga di antara sahabat.
Malam itu, Irvan menerima sebuah pesan.
Nomornya tidak dikenal. Tidak tersimpan di kontaknya. Tidak pernah menghubunginya sebelumnya.
Isi pesannya singkat. Tapi cukup untuk membuat jantungnya berdetak lebih cepat.
"Kalau ingin tahu siapa Ramadhan sebenarnya, tanyakan kenapa dia menyembunyikan banyak hal dari kalian."
Irvan membaca pesan itu berulang kali.
Satu kali.
Dua kali.
Tiga kali.
Setiap kali ia membaca, rasa tidak nyaman di dadanya semakin besar.
Siapa yang mengirim ini?
Dari mana nomor ini?
Kenapa harus aku?
Dan apa maksudnya tentang Ramadhan?
Ia tahu—ia tahu betul—bahwa pesan anonim seperti itu tidak selalu benar. Sering kali hanya provokasi. Sering kali hanya upaya seseorang untuk menciptakan keretakan.
Tapi setelah beberapa minggu terakhir—setelah rapat yang canggung, setelah jarak yang semakin lebar, setelah keraguan yang terus ditanam—benih yang sempat muncul kembali tumbuh.
Meski kecil.
Meski samar.
Tapi cukup mengganggu pikirannya.
Mungkin ada sesuatu yang tidak aku ketahui, pikir Irvan. Mungkin Ramadhan benar-benar menyembunyikan sesuatu.
Ia mematikan layar ponsel. Meletakkannya di atas meja.
Tapi pikirannya tidak bisa dimatikan semudah itu.
Di rumahnya, Nayla juga sedang memikirkan sesuatu.
Ia duduk di kamar. Lampu hanya menyala satu—yang di atas meja belajarnya. Ponsel di tangan. Layar menunjukkan daftar kontak.
Ia mengingat percakapan-percakapan yang terjadi beberapa minggu terakhir. Mengingat siapa yang pertama kali menyebut soal kepergian Ramadhan. Mengingat bagaimana rumor itu menyebar—dari satu orang ke orang lain, dari grup ke grup, hingga menjadi sesuatu yang dianggap fakta.
Dan perlahan, sebuah nama mulai muncul dalam pikirannya.
Karim.
Ia mengeja nama itu dalam hati. Sekali. Dua kali. Tiga kali.
Apakah Karim yang memulai semua ini?
Tapi kenapa?
Apa motifnya?
Nayla segera menepis dugaan itu. Karim selama ini terlihat baik. Baik sekali. Baik hingga hampir tidak masuk akal.
Seseorang yang terlalu baik, pikir Nayla, sering kali menyembunyikan sesuatu di balik kebaikannya.
Ia mengingat kata-kata seorang guru dulu.
"Anak-anak, berhati-hatilah pada orang yang terlalu baik. Karena kebaikan yang berlebihan sering kali bukan kebaikan. Ia adalah topeng."
Nayla menghela napas.
Ia tidak punya bukti.
Hanya firasat.
Tapi firasatnya jarang salah.
Keesokan harinya, sebuah kejadian kecil kembali terjadi.
Dokumen penting mengenai jadwal pelaksanaan program—dokumen yang sudah disetujui bersama dalam rapat minggu lalu—mendadak hilang dari sekretariat.
Tidak ada yang tahu kapan hilangnya. Tidak ada yang tahu siapa yang terakhir memegangnya.
Semua orang panik.
Mereka mencari ke berbagai tempat. Meja. Rak. Laci. Bahkan tempat sampah diperiksa.
Namun dokumen itu tidak ditemukan.
Hilang.
Seperti ditelan bumi.
Yang membuat keadaan semakin rumit, orang terakhir yang diketahui memegang dokumen tersebut—berdasarkan catatan peminjaman arsip—adalah Ramadhan.
Bisik-bisik kembali muncul.
"Aku sudah bilang."
"Pasti ada hubungannya."
"Baru saja kabar pindah, sekarang dokumen hilang."
"Mungkin dia memang sudah tidak peduli."
Kecurigaan kembali tumbuh. Lebih kuat dari sebelumnya. Karena kali ini ada "bukti" meskipun tidak jelas.
Dan untuk pertama kalinya, Ramadhan mulai merasa seperti orang asing di lingkungan yang selama ini ia bangun dengan tangannya sendiri. Lingkungan yang ia cintai. Lingkungan yang ia perjuangkan. Lingkungan yang kini memandangnya dengan curiga.
Di sisi lain, Karim tetap menunjukkan sikap yang tenang.
Saat rapat darurat diadakan untuk membahas dokumen hilang, ia duduk dengan santai di kursi belakang. Tidak banyak bicara. Hanya mendengarkan. Sesekali mengangguk.
Dan ketika suasana mulai memanas—ketika beberapa orang mulai saling tunjuk dan saling curiga—Karim berdiri.
Dengan suara yang tenang, ia berkata, "Mari kita tidak terburu-buru menyalahkan siapa pun. Ini bisa jadi kesalahan administrasi biasa. Yang terpenting, kita harus segera menyusun ulang dokumennya. Aku bisa bantu."
Sikapnya membuat banyak orang semakin menghargainya.
"Lihat, Karim saja tidak ikut-ikutan menuduh."
"Dia orang yang bijaksana."
"Kita butuh lebih banyak orang seperti dia."
Dan tanpa disadari siapa pun, posisi Karim perlahan semakin kuat. Sementara posisi Ramadhan—yang tidak punya siapa pun untuk membelanya—semakin lemah.
Seperti timbangan, pikir Karim. Ketika satu sisi naik, sisi lain turun.
Dan aku tahu persis bagaimana membuat timbangan itu bergerak.
Menjelang malam, hujan turun cukup deras di Kuala Kapuas.
Bukan gerimis. Tapi hujan lebat yang membuat suara gemerisik di atap rumah. Air mengalir deras di selokan. Beberapa jalan mulai tergenang.
Anjani duduk di depan jendela kamarnya, memandangi hujan yang membasahi segalanya di luar.
Pikirannya berputar.
Ia mengingat semua yang terjadi beberapa hari terakhir. Rumor tentang Ramadhan. Rapat yang canggung. Tatapan orang-orang yang berubah. Lalu dokumen yang hilang.
Ada sesuatu yang terasa tidak masuk akal.
Terlalu banyak kebetulan. Terlalu banyak kejadian yang mengarah pada satu orang. Setiap kali ada masalah, semua petunjuk selalu berujung pada Ramadhan.
Seperti ada pola, pikir Anjani. Seperti ada seseorang di balik semua ini yang sedang bermain catur.
Dan kita semua adalah pion-pionnya.
Termasuk aku.
Termasuk Ramadhan.
Termasuk Irvan.
Termasuk Nayla.
Namun ia belum memiliki bukti apa pun. Hanya perasaan.
Dan perasaan, sekuat apa pun, tidak cukup untuk mengungkap kebenaran.
Apalagi jika kebenaran itu sengaja disembunyikan oleh seseorang yang tahu persis apa yang ia lakukan.
Di luar sana, hujan terus turun membasahi Kota Kuala Kapuas.
Membasahi atap-atap rumah. Membasahi pepohonan di Taman Askari. Membasahi trotoar yang mulai tergenang. Membasahi Sungai Kapuas yang gelap, membuatnya naik beberapa sentimeter.
Sementara di balik derasnya hujan, di dalam mobilnya yang terparkir di tepian sungai, Karim sedang tersenyum.
Tidak ada yang melihat.
Hujan menjadi tirai yang menyembunyikannya dari dunia.
Ia membuka ponsel. Membaca beberapa pesan yang masuk. Lalu mengetik balasan singkat untuk seseorang yang tidak pernah disebut namanya.
"Langkah berikutnya: buat dia semakin terisolasi. Semakin sendiri. Tidak ada yang membela. Maka semua orang akan percaya apapun yang kita katakan."
Pesan terkirim.
Karim mematikan layar ponsel. Menyandarkan kepalanya di kursi.
Di luar, hujan masih deras.
Retakan di antara kepercayaan telah muncul, pikirnya.
Dan sebentar lagi, retakan itu akan menjadi jurang.
Jurang yang tidak bisa diseberangi oleh siapa pun.
Termasuk Anjani.
Termasuk Nayla.
Dan terutama, Ramadhan.
Ia menarik napas dalam-dalam. Udara di dalam mobil terasa hangat, kontras dengan dinginnya hujan di luar.
Karena ketika kepercayaan hancur, pikirnya, tidak ada lagi yang tersisa.
Dan itulah yang aku inginkan.
BAB 17
WAJAH DI BALIK TOPENG
Tidak semua musuh datang dengan wajah yang menakutkan.
Sebagian justru hadir dengan senyum yang ramah. Dengan kata-kata yang menenangkan. Dengan tangan yang selalu siap membantu—membawakan kopi, menawarkan solusi, mengulurkan bantuan sebelum diminta.
Dan itulah yang membuat mereka sulit dikenali.
Karena topeng kebaikan sering kali menjadi tempat persembunyian yang paling aman.
Semakin ramah seseorang, pikir Karim pagi itu, semakin lama orang curiga padanya.
Dan aku sudah sangat ramah.
Pagi itu, hujan yang semalam mengguyur Kuala Kapuas telah berhenti.
Matahari kembali menyinari Kota Air. Air menggenang di beberapa titik jalanan, memantulkan cahaya pagi yang hangat. Burung-burung beterbangan di atas Sungai Kapuas, menikmati udara segar setelah malam yang basah.
Aktivitas masyarakat berjalan seperti biasa. Para pedagang membuka lapak lebih awal. Perahu-perahu nelayan mulai berlayar. Anak-anak sekolah berseragam putih merah berjalan kaki menuju gerbang sekolah.
Namun di lingkungan komunitas literasi, suasana belum sepenuhnya pulih.
Hilangnya dokumen penting masih menjadi pembicaraan utama. Rumor tentang Ramadhan belum benar-benar mereda—ia hanya tidur sebentar, lalu bangun kembali setiap kali seseorang menyebut namanya dengan nada bertanya. Dan kepercayaan yang selama ini menjadi fondasi kebersamaan mereka mulai menunjukkan keretakan yang semakin jelas.
Seperti piring retak yang masih dipakai. Tiap hari retaknya melebar. Tapi tidak ada yang berani membuangnya. Karena masih bisa dipakai. Karena masih ada harapan.
Ramadhan duduk sendirian di ruang baca sekretariat.
Ruang yang dulu menjadi tempat favoritnya. Dindingnya dipenuhi rak buku. Di sudut ada karpet bulu tempat anak-anak biasa duduk mendengarkan dongeng. Udara pagi masih terasa segar, dengan sedikit bau kertas dan debu buku-buku lama.
Di depannya tergeletak beberapa berkas pekerjaan. Laporan program. Proposal kegiatan. Daftar donatur. Semuanya sudah ia selesaikan sejak kemarin, tapi belum ia serahkan. Ia tidak tahu kepada siapa. Atau mungkin ia ragu.
Apakah mereka masih mau menerima laporanku?
Apakah mereka akan curiga lagi?
Apakah setiap kata yang aku katakan akan diragukan?
Pertanyaan-pertanyaan itu menghantuinya.
Untuk pertama kalinya sejak bergabung dalam komunitas itu, ia merasa dirinya sedang dipandang dengan cara yang berbeda. Bukan sebagai sahabat. Bukan sebagai rekan seperjuangan. Melainkan sebagai seseorang yang mulai diragukan.
Perasaan itu lebih menyakitkan daripada yang ia bayangkan.
Lebih sakit daripada dipukul, pikir Ramadhan. Karena luka di tubuh akan sembuh. Tapi luka karena tidak dipercaya... bisa bertahan selamanya.
Sementara itu, Nayla tidak bisa menghilangkan kecurigaannya.
Semakin ia memikirkan berbagai kejadian yang terjadi beberapa minggu terakhir, semakin banyak hal yang terasa janggal. Seperti puzzle yang kepingannya tidak pernah pas.
Rumor tentang Ramadhan yang muncul entah dari mana. Dokumen yang hilang di saat yang tepat. Pesan-pesan anonim yang mulai beredar di grup WhatsApp komunitas—tidak ada yang tahu siapa pengirimnya, tapi semua orang membacanya.
Dan yang paling aneh, Karim selalu tampak berada di sekitar setiap kejadian itu.
Bukan sebagai pelaku. Tidak ada bukti.
Tapi sebagai orang yang muncul setelah masalah terjadi. Selalu hadir membawa solusi. Selalu hadir sebagai penyelamat. Selalu hadir dengan senyum yang menenangkan dan kata-kata yang bijaksana.
Terlalu tepat, pikir Nayla. Terlalu sempurna.
Seperti aktor yang sudah menghafal skenario.
Siang itu Nayla menemui Irvan di sebuah kedai kopi kecil dekat waterfront.
Kedai yang sama. Meja yang sama. Tapi suasana berbeda. Tidak ada canda. Tidak ada tawa. Hanya dua orang yang duduk berhadapan dengan wajah serius.
Irvan baru saja tiba. Ia memesan kopi hitam—tanpa gula, tidak seperti biasanya yang selalu manis. Nayla memperhatikan perubahan kecil itu. Dia gelisah, pikir Nayla.
"Aku ingin bertanya sesuatu," kata Nayla.
Irvan mengangkat alis. Matanya waspada. Seperti orang yang sudah menduga akan terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan.
"Tentang apa?"
"Tentang Karim."
Nama itu membuat Irvan sedikit terkejut. Alisnya naik setengah senti. Bibirnya mengerucut.
"Ada apa dengannya?"
Nayla menatapnya serius. Matanya tidak berkedip. "Kamu percaya padanya?"
Irvan terdiam beberapa saat. Jari-jarinya menggenggam cangkir kopi yang masih kosong—pemanasan, menunggu pesanan datang.
"Sampai sekarang, iya," jawabnya akhirnya.
Nayla menghela napas. Pendek. Keras.
"Aku mulai tidak."
Udara di meja mereka mendadak berubah.
Irvan sebenarnya memiliki keraguan yang sama.
Sudah sejak beberapa hari lalu. Sejak ia memperhatikan bagaimana Karim selalu muncul di setiap kesempatan. Sejak ia melihat bagaimana Karim berbicara tentang Ramadhan dengan nada yang terdengar peduli, tapi entah mengapa terasa... salah.
Tapi ia belum berani mengakuinya.
Karim selama ini tampak sempurna. Terlalu sempurna. Datang dengan dana segar. Membawa koneksi luas. Tidak pernah marah. Tidak pernah emosi. Selalu tersenyum. Selalu sabar. Selalu bijaksana.
Dan orang yang terlalu sempurna, seperti kata orang-orang tua, sering kali menyembunyikan sesuatu di balik kesempurnaannya.
Namun Irvan masih membutuhkan alasan yang lebih kuat daripada sekadar firasat.
"Kita tidak bisa menuduh seseorang tanpa bukti," katanya hati-hati. Matanya menatap meja kayu di depannya.
"Aku tahu," jawab Nayla. Suaranya tegas. "Tapi aku merasa ada sesuatu yang sedang disembunyikannya."
Irvan mengangkat wajahnya. Menatap Nayla.
"Apa buktimu?"
Nayla terdiam.
Dia tidak punya bukti.
Hanya perasaan.
Tapi perasaannya jarang salah.
Di tempat lain, Karim sedang menghadiri pertemuan dengan beberapa sponsor program pendidikan.
Gedung pertemuan di pusat kota. Ruangan ber-AC dengan meja panjang dari kayu mahoni. Para sponsor duduk di kursi-kursi empuk, menyimak presentasi Karim yang disampaikan dengan lancar dan penuh keyakinan.
Seperti biasa, ia tampil meyakinkan.
Slide demi slide. Data demi data. Semua disajikan dengan rapi. Tidak ada yang terlewat. Tidak ada yang salah. Karim tahu persis apa yang para sponsor ingin dengar—angka, dampak, keberlanjutan, dan tentu saja, penghargaan.
Semua orang menghormatinya. Semua orang mempercayainya. Seorang sponsor bahkan memuji di depan umum, "Kita beruntung memiliki orang seperti Karim."
Karim tersenyum. Merendah. "Ini kerja tim, Pak."
Dan Karim menikmati posisi itu.
Bukan karena kesombongan—ia tidak pernah terlihat sombong. Bukan pula karena keinginan untuk dipuji—ia selalu merendah.
Melainkan karena ia memahami satu hal yang tidak dipahami banyak orang.
Kepercayaan adalah kekuatan.
Bukan uang. Bukan jabatan. Bukan koneksi.
Tapi kepercayaan.
Dan siapa yang menguasai kepercayaan orang lain, akan lebih mudah mengendalikan keadaan.
Mereka tidak tahu, pikir Karim. Mereka pikir aku di sini untuk membantu.
Mereka tidak tahu bahwa aku di sini untuk mengambil alih.
Menjelang sore, sebuah kejadian tak terduga terjadi.
Salah seorang relawan muda bernama Dika datang tergesa-gesa ke sekretariat. Wajahnya pucat. Napasnya terengah-engah—seperti habis berlari jauh.
"Aku menemukan sesuatu," katanya. Suarara hampir bergetar.
Orang-orang yang berada di ruangan langsung menoleh. Beberapa berhenti mengobrol. Yang lain meletakkan ponsel mereka. Ruangan yang semula ramai tiba-tiba sunyi.
Dika mengeluarkan sebuah flashdisk dari tasnya—flashdisk kecil berwarna hitam dengan stiker bertuliskan "ARSIP 2024" yang sudah mulai pudar.
"Aku menemukannya di ruang arsip," katanya. "Terselip di balik lemari. Kayaknya sudah lama di sana."
Ramadhan yang sedang duduk di sudut ruangan langsung berdiri. Wajahnya berubah. Matanya menyipit.
"Apa isinya?"
Dika menggeleng. Tangannya gemetar sedikit—bukan karena takut, tapi karena deg-degan.
"Aku belum membuka."
Mereka segera memeriksa isi flashdisk tersebut menggunakan komputer sekretariat.
Komputer tua dengan monitor agak buram. Kipasnya berbunyi keras—tanda sudah lama tidak dibersihkan. Tapi masih menyala. Masih bisa dipakai.
Dika memasukkan flashdisk. Jarinya sedikit gemetar saat mengklik folder.
Di dalamnya terdapat beberapa file administrasi. Laporan lama. Surat menyurat. Tidak ada yang aneh.
Hingga mereka menemukan satu folder. Nama foldernya: "CCTV - 2024"
Ruangan mendadak hening.
Dika mengklik folder itu.
Di dalamnya ada beberapa file video. Tanggalnya... dua minggu lalu. Malam sebelum dokumen penting itu hilang.
"Mainkan," kata Irvan yang baru saja masuk. Wajahnya serius.
Dika mengklik file pertama.
Video itu menunjukkan kondisi sekretariat pada malam hari.
Gambar hitam putih. Agak buram karena kamera yang sudah tua. Tapi cukup jelas untuk melihat garis besar ruangan—meja, kursi, lemari arsip di sudut, dan jendela yang tertutup rapat.
Awalnya tidak ada yang mencurigakan.
Hanya ruangan kosong. Sepi. Lampu mati. Hanya ada cahaya redup dari lampu jalan di luar yang masuk melalui celah jendela.
Semua orang menatap layar. Tidak ada yang bernapas.
Hingga pada pukul 21.47, seseorang masuk ke ruang arsip.
Bayangan hitam bergerak perlahan. Wajahnya tidak terlihat jelas karena kamera berada cukup jauh dan posisinya agak tinggi—menghadap ke bawah dari sudut ruangan.
Namun postur tubuhnya... familiar.
Orang itu berjalan langsung ke lemari arsip. Tidak membuang waktu. Tidak melihat ke kanan-kiri. Seolah ia tahu persis apa yang ia cari dan di mana letaknya.
Ia membuka lemari. Mengambil sesuatu—sebuah map atau berkas, tidak jelas. Memasukkannya ke dalam tas.
Lalu pergi.
Semua terdiam.
Dika menghentikan video.
Wajahnya pucat. "Aku tidak bisa mengenalinya. Siapa itu?"
Ramadhan memperhatikan layar dengan saksama. Alisnya bertaut. Bibirnya mengerucut. Ia memutar ulang video. Memperhatikan lagi. Sekali. Dua kali.
Irvan, yang berdiri di belakang, ikut memperhatikan. Wajahnya tegang.
Sementara Nayla... Nayla mulai merasakan jantungnya berdetak lebih cepat.
Bukan karena takut. Tapi karena entah mengapa, sosok dalam video itu... mengingatkannya pada seseorang.
Seseorang yang tidak pernah ia duga.
Tidak mungkin, pikir Nayla. Tidak mungkin dia.
Tapi benih keraguan telah tertanam.
Namun sebelum mereka bisa menyimpulkan apa pun, listrik mendadak padam.
Bukan padam biasa. Tapi padam total. Komputer mati seketika. Layar hitam. Kipas berhenti. Semua lampu padam.
Ruangan langsung gelap.
Gelap seperti malam tanpa bulan.
Beberapa orang terkejut. Ada yang menjerit kecil. Yang lain buru-buru menyalakan lampu ponsel—cahaya kecil yang hampir tidak berarti di tengah kegelapan ruangan yang cukup luas.
"Kenapa mati?" tanya seseorang. Suaranya gemetar.
Tidak ada yang tahu.
Padahal cuaca di luar sedang cerah. Tidak ada hujan. Tidak ada angin kencang. Tidak ada tanda-tanda pohon tumbang.
Ini tidak wajar, pikir Irvan.
Ketika listrik kembali menyala beberapa menit kemudian—dengan suara "klik" yang keras dari MCB—sebuah hal mengejutkan terjadi.
Flashdisk.
Yang tadi berada di atas meja, tepat di samping keyboard komputer...
Telah hilang.
Lenyap.
Begitu saja.
Meja kosong. Tidak ada flashdisk. Tidak ada bekas. Seolah tidak pernah ada.
Ruangan mendadak lebih sunyi dari sebelumnya.
Dika membuka mulut. Menutup lagi. Wajahnya putih seperti kertas.
"Siapa yang mengambilnya?" tanyanya. Suaranya nyaris tidak terdengar.
Semua orang saling memandang.
Tidak ada yang melihat.
Tidak ada yang tahu.
Namun satu hal menjadi jelas, terang, tidak bisa dibantah.
Ada seseorang di ruangan ini yang tidak ingin rekaman itu dilihat.
Seseorang yang sedang berdiri di antara mereka.
Seseorang yang pura-pura tidak tahu.
Kabar hilangnya flashdisk segera menyebar.
Dari mulut ke mulut. Dari grup ke grup. Dari WhatsApp ke WhatsApp. Dalam hitungan jam, semua orang di komunitas sudah mendengarnya.
Dan semakin banyak orang mulai menyadari bahwa masalah ini bukan lagi sekadar dokumen yang hilang.
Bukan sekadar rumor tentang Ramadhan.
Bukan sekadar kesalahpahaman biasa.
Ada sesuatu yang lebih besar di balik semuanya. Sesuatu yang sengaja ditutupi. Sesuatu yang sengaja diarahkan. Sesuatu yang sengaja dirancang—seperti skenario, seperti naskah, seperti pertunjukan.
Dan kita semua adalah penontonnya, pikir Nayla. Atau mungkin... aktor dalam pertunjukan itu.
Tidak tahu bahwa kita sedang dimainkan.
Malam harinya, Nayla menerima pesan singkat.
Nomor tidak dikenal. Tidak tersimpan. Tidak pernah menghubunginya sebelumnya.
Pesan itu hanya terdiri dari satu kalimat. Tapi cukup untuk membuat darahnya membeku.
"Berhenti mencari tahu jika tidak ingin sahabatmu terluka."
Nayla membeku.
Ponsel di tangannya terasa berat. Jari-jarinya dingin. Dadanya berdetak kencang—bukan detak biasa, tapi detak panik, detak yang mengatakan kamu dalam bahaya.
Ia membaca pesan itu berulang kali.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Setiap kali ia membacanya, rasa takut itu semakin nyata.
Bukan ancaman kosong, pikir Nayla. Ini ancaman sungguhan.
Dan orang yang mengirimnya tahu persis di mana aku tinggal.
Tahu persis siapa yang aku sayangi.
Tahu persis bagaimana cara melukai.
Lalu perlahan, di tengah ketakutan itu, ia menyadari satu hal.
Kecurigaannya selama ini mungkin benar.
Karim, dengan semua kebaikannya, dengan semua senyumnya, dengan semua bantuannya...
Mungkin tidak seperti yang terlihat.
Dan jika benar—jika Karim adalah orang di balik semua ini—maka mereka sedang berhadapan dengan seseorang yang jauh lebih berbahaya daripada yang mereka kira.
Bukan penjahat yang berteriak dan mengancam.
Tapi penjahat yang tersenyum dan membantu.
Yang paling berbahaya, pikir Nayla, adalah penjahat yang tidak terlihat seperti penjahat.
Di balkon penginapannya, Karim berdiri memandang aliran Sungai Kapuas.
Malam itu cerah. Bulan di atas kepala, bundar dan terang. Cahayanya memantul di permukaan sungai, menciptakan garis keemasan yang bergerak mengikuti arus.
Angin malam bertiup lembut, membawa aroma air dan pepohonan.
Wajah Karim tenang. Sulit ditebak. Tidak ada ekspresi yang bisa dibaca.
Ponselnya masih berada di tangan kanan. Layar menyala redup. Pesan yang baru saja terkirim—untuk Nayla—masih terbuka.
"Berhenti mencari tahu jika tidak ingin sahabatmu terluka."
Ia membaca pesan itu sekali lagi. Bukan karena ia lupa. Tapi karena ia ingin menikmatinya.
Bagus, pikirnya. Tepat sasaran.
Ia menekan tombol hapus. Pesan itu lenyap dari ponselnya. Tidak ada bukti. Tidak ada jejak.
Seperti flashdisk tadi, pikirnya. Lenyap. Tidak meninggalkan bekas.
Ia tersenyum tipis.
Namun kali ini, senyum itu tidak lagi terlihat hangat. Tidak lagi terlihat ramah. Tidak lagi terlihat seperti senyum Karim yang selama ini dikenal semua orang.
Kali ini, senyum itu dingin.
Senyum seorang aktor yang sedang tidak di atas panggung.
Karena untuk pertama kalinya, topeng yang selama ini dikenakannya mulai bergeser.
Sedikit demi sedikit. Perlahan. Seperti air yang merembes melalui celah.
Memperlihatkan wajah yang sebenarnya.
Wajah yang tidak pernah dilihat oleh Anjani.
Wajah yang tidak pernah dilihat oleh Ramadhan.
Wajah yang tidak pernah dilihat oleh Irvan.
Wajah yang hanya ia simpan untuk dirinya sendiri.
Dan ketika topeng itu akhirnya jatuh—ketika semua kebohongan terbongkar, ketika semua skenario terungkap, ketika semua orang tahu siapa dia sebenarnya—
Banyak orang akan terluka.
Termasuk Anjani.
Terutama Anjani, pikir Karim.
Tapi ia tidak peduli.
Atau mungkin ia peduli.
Tapi ia sudah terlalu jauh untuk mundur.
Di atas Kota Kuala Kapuas, malam berjalan perlahan.
Sungai Kapuas tetap mengalir menuju hilir, membawa air dari hulu ke muara, tidak pernah berhenti, tidak pernah mundur.
Namun kisah mereka kini bergerak menuju badai yang lebih besar. Bukan badai biasa. Bukan badai yang datang dengan angin dan hujan.
Tapi badai yang datang dengan kebohongan, pengkhianatan, dan kepercayaan yang hancur.
Sebuah kebenaran sedang mendekat.
Kebenaran tentang siapa Karim sebenarnya.
Kebenaran tentang apa motifnya.
Kebenaran tentang siapa yang selama ini bermain di balik layar.
Dan tidak semua orang akan siap menerimanya.
Karena kadang-kadang, pikir Nayla sebelum tidur malam itu, kebenaran lebih menyakitkan daripada kebohongan.
Dan aku takut.
Aku sangat takut.
BAB 18
LUKA YANG TIDAK TERDUGA
Kebenaran sering kali memiliki dua sisi.
Satu sisi membebaskan—seperti angin yang membuka jendela setelah ruangan tertutup terlalu lama. Satu sisi lainnya melukai—seperti pisau yang masuk tanpa suara, tapi meninggalkan luka yang tidak mudah sembuh.
Dan ketika kebenaran mulai menampakkan dirinya, tidak semua orang siap menerima akibatnya.
Termasuk mereka yang selama ini percaya bahwa persahabatan akan selalu mampu bertahan menghadapi apa pun.
Padahal tidak, pikir Nayla pagi itu. Tidak ada yang abadi.
Pagi itu, suasana Kuala Kapuas terasa berbeda.
Langit cerah. Matahari bersinar hangat di atas permukaan Sungai Kapuas, menciptakan kilauan keemasan yang bergerak mengikuti arus. Burung-burung beterbangan di atas pohon-pohon rindang di tepian sungai.
Namun di lingkungan komunitas literasi, udara seakan dipenuhi ketegangan yang tidak terlihat. Seperti listrik statis sebelum badai. Seperti udara panas sebelum hujan.
Hilangnya flashdisk berisi rekaman kamera pengawas menjadi pembicaraan utama. Banyak orang mulai curiga. Banyak orang mulai bertanya-tanya. Dan semakin banyak pertanyaan muncul, semakin sulit pula seseorang—siapapun dia—menyembunyikan kebenaran.
Karena kebenaran, pikir Anjani, seperti air. Ia akan mencari celah. Dan ketika ia menemukannya, ia akan keluar. Tidak bisa ditahan.
Nayla datang lebih awal ke sekretariat.
Matahari baru saja naik ketika ia memasuki halaman gedung. Rumput masih basah oleh embun. Langkah kakinya meninggalkan jejak di tanah yang lembap.
Ia hampir tidak tidur semalaman.
Pesan ancaman yang diterimanya terus berputar di kepalanya. Seperti rekaman rusak yang diputar berulang-ulang. Tidak bisa berhenti.
"Berhenti mencari tahu jika tidak ingin sahabatmu terluka."
Kalimat itu bukan sekadar peringatan.
Kalimat itu terasa seperti ancaman yang nyata. Seperti tangan yang terulur dari balik kegelapan, siap mencengkeram kapan saja.
Namun justru karena itulah Nayla semakin yakin.
Ia sedang berada di jalur yang benar.
Kalau tidak, tidak akan ada yang mengancamku, pikirnya. Semakin keras mereka mengancam, semakin dekat aku dengan kebenaran.
Saat sedang merapikan buku di ruang baca—tangannya bergerak otomatis, tanpa benar-benar melihat buku yang ia susun—seseorang memanggilnya dari belakang.
"Bisakah kita bicara?"
Suara itu tenang. Ramah. Tapi kali ini, bagi Nayla, suara itu terdengar berbeda.
Ia menoleh.
Karim.
Pria itu berdiri dengan senyum yang sama seperti biasanya. Tenang. Ramah. Sulit ditebak. Pakaiannya rapi. Kopiah hitam di kepala. Tidak ada setitik pun kekacauan pada dirinya.
Namun kali ini Nayla tidak lagi melihatnya dengan cara yang sama.
Setelah flashdisk hilang, pikir Nayla, setelah pesan ancaman, setelah semua yang terjadi...
Aku tidak bisa lagi melihatnya seperti dulu.
Ada sesuatu di balik senyum itu.
Dan aku harus menemukannya.
Mereka berjalan menuju halaman belakang gedung.
Tempat yang cukup sepi. Hanya ada beberapa pot tanaman dan satu bangku kayu yang sudah mulai lapuk. Dari sini, suara lalu lintas jalan raya terdengar samar-samar.
Karim memulai percakapan dengan santai. Seolah tidak ada yang salah. Seolah mereka hanya dua orang yang sedang berbincang tentang cuaca.
"Aku dengar akhir-akhir ini kamu banyak bertanya tentang berbagai hal."
Nayla tidak langsung menjawab. Ia membiarkan kalimat itu menggantung di udara. Biarkan Karim yang merasa tidak nyaman dengan keheningannya.
Tapi Karim tidak terlihat tidak nyaman. Ia tetap tenang. Senyumnya tetap di tempatnya.
"Tergantung hal apa," jawab Nayla akhirnya. Suaranya datar. Hampir tidak bersahabat. Tidak seperti Nayla biasanya yang ceria.
Karim tersenyum kecil. Senyum yang entah mengapa terasa... menghitung.
"Kamu lebih cerdas daripada yang aku kira."
Jawaban itu membuat Nayla semakin waspada.
Bukan pujian, pikirnya. Itu peringatan terselubung.
"Aku hanya ingin semuanya jelas," kata Nayla. Matanya menatap Karim. Lurus. Tidak berkedip.
Karim mengangguk. Masih dengan senyum itu. "Itu bagus."
"Lalu kenapa aku merasa kamu sedang mencurigai seseorang?"
Pertanyaan itu terasa tajam. Terlalu tajam untuk sebuah percakapan biasa. Seperti pisau yang tiba-tiba dikeluarkan dari saku.
Nayla menatap Karim. Untuk beberapa detik, keduanya saling diam. Hanya suara angin yang berembus di antara mereka.
Seolah sedang memainkan permainan yang sama-sama mereka pahami. Permainan di mana siapa yang berkedip lebih dulu, dia yang kalah.
Dan Karim tidak berkedip.
Ia hanya tersenyum.
Lalu, dengan suara yang hampir berbisik, ia berkata, "Kadang-kadang, kebenaran tidak selalu membuat keadaan menjadi lebih baik."
Ia menatap Nayla sejenak. Lalu berbalik.
Langkahnya tenang saat meninggalkan halaman belakang. Tidak tergesa. Tidak menunjukkan emosi.
Meninggalkan Nayla yang semakin bingung.
Dan semakin yakin bahwa ada sesuatu yang disembunyikan pria itu.
Dia tahu, pikir Nayla. Dia tahu apa yang aku cari.
Dan dia tidak takut.
Itu yang paling berbahaya.
Sementara itu, Irvan mulai melakukan penyelidikannya sendiri.
Ia tidak bisa hanya duduk diam. Tidak setelah flashdisk hilang. Tidak setelah mendengar semua kecurigaan yang mulai mengarah pada Karim.
Ia menemui Dika, relawan muda yang menemukan flashdisk. Mereka berbicara cukup lama di kedai kopi dekat pasar—tempat yang ramai, tapi tidak ada yang peduli dengan obrolan mereka.
Dika masih terlihat terguncang. Matanya sayu. Tangannya sedikit gemetar saat memegang gelas kopi.
"Malam sebelum dokumen hilang," kata Dika, "aku sedang lembur di sekretariat. Sampai sekitar jam sembilan."
Irvan menyimak. Setiap kata.
"Aku pamit pulang. Tapi sebelum pulang, aku catat di buku log—siapa saja yang masih ada di gedung."
Dika mengeluarkan buku catatan kecil dari sakunya. Halaman terlipat. Tandanya.
"Hanya tiga orang yang memiliki akses ke ruang arsip malam itu."
Irvan mengambil buku itu. Membacanya.
Tiga nama.
Ramadhan. Dika. Karim.
Irvan terdiam.
Selama ini ia berusaha objektif. Tidak ingin menuduh tanpa bukti. Tidak ingin mengulangi kesalahan masa lalu—kesalahan ketika ia terlalu cepat menyimpulkan sesuatu tentang Ramadhan.
Namun semakin banyak potongan yang terkumpul, semakin sulit baginya mengabaikan kemungkinan yang ada.
Karim, pikir Irvan. Kenapa harus Karim?
Meski demikian, ia belum ingin mengambil kesimpulan.
Karena tuduhan tanpa bukti bisa menghancurkan seseorang. Ia sudah pernah merasakannya. Ia tidak ingin melakukan hal yang sama kepada orang lain.
"Terima kasih, Dika," kata Irvan. "Jangan bicarakan ini dengan siapa pun dulu."
Dika mengangguk. Wajahnya masih pucat.
Menjelang sore, sebuah acara literasi anak-anak diadakan di kawasan wisata Waterfront Kuala Kapuas.
Tenda-tenda biru putih didirikan di sepanjang tepian. Rak-rak buku dipajang di atas meja panjang. Anak-anak duduk di tikar plastik, mendengarkan dongeng yang dibacakan oleh relawan.
Banyak warga hadir. Orang tua duduk di bangku-bangku taman. Beberapa pedagang makanan ringan berjajar di pinggir area.
Anak-anak tampak gembira. Tawa mereka terdengar di sela-sela cerita. Sesekali mereka bertepuk tangan atau bertanya dengan polos tentang tokoh dongeng.
Suasana yang seharusnya menyenangkan.
Namun bagi Anjani, ada kegelisahan yang terus mengikutinya.
Seperti bayangan yang tidak bisa ia tinggalkan. Seperti suara di kepalanya yang tidak berhenti berbisik.
Ia memperhatikan perubahan pada orang-orang di sekitarnya.
Ramadhan tampak semakin pendiam. Senyumnya jarang muncul. Matanya sayu. Bahunya—yang masih sakit karena insiden di dermaga—tampak tegang setiap kali ia mengangkat sesuatu.
Nayla terlihat gelisah. Matanya terus bergerak, seperti sedang mencari sesuatu—atau seseorang. Jari-jarinya tidak pernah berhenti main-main dengan ujung jilbabnya.
Irvan mulai sering menyendiri. Di sela-sela acara, ia berdiri di tepian sungai. Tidak berbicara dengan siapa pun. Hanya memandang air.
Dan Karim...
Karim justru terlihat semakin dekat dengan banyak orang. Ia berbicara dengan para orang tua. Bermain dengan anak-anak. Membantu relawan lain. Senyumnya tidak pernah padam.
Semakin banyak masalah, pikir Anjani, semakin dekat Karim dengan semua orang.
Itu tidak normal.
Itu... mencurigakan.
Saat acara berlangsung, Karim menghampiri Anjani.
"Kamu terlihat lelah," katanya. Suarara lembut. Penuh perhatian.
Anjani tersenyum tipis—senyum yang tidak sampai ke mata.
"Mungkin sedikit."
"Jangan terlalu memikirkan masalah komunitas." Karim menatapnya. Matanya teduh. Meyakinkan. "Kadang kita tidak bisa menyelamatkan semuanya."
Kalimat itu terdengar biasa.
Bahkan bagi siapa pun, mungkin kalimat itu akan terdengar seperti nasihat biasa. Nasihat dari seorang teman yang peduli.
Namun entah mengapa, bagi Anjani, kalimat itu membuatnya merasa tidak nyaman.
Seolah ada makna lain yang tersembunyi di baliknya.
Seolah Karim sedang mengatakan: Jangan ikut campur terlalu dalam.
Ini bukan urusanmu.
Biarkan semuanya berjalan.
Anjani tidak menjawab.
Ia hanya tersenyum. Lalu berpaling.
Dan di balik punggungnya, Karim masih tersenyum.
Senyum yang sama.
Tapi kali ini, Anjani merasakannya.
Dingin.
Di tengah acara, sebuah kejadian tak terduga terjadi.
Seorang anak kecil—laki-laki, mungkin berusia tujuh tahun, dengan baju warna biru—sedang berlari di dekat dermaga. Ia mengejar balonnya yang terbawa angin. Kakinya yang kecil berlari cepat di atas papan kayu yang licin.
Balon itu terbang semakin jauh.
Anak itu semakin cepat.
Lalu—
Seorang ibu berteriak.
Anak itu kehilangan keseimbangan. Kakinya terpeleset di papan yang basah. Tubuhnya yang kecil terjatuh ke arah tepian sungai—tepi yang curam, tanpa pagar pembatas.
Teriakan langsung terdengar. Bukan hanya dari ibunya. Dari banyak orang.
Semua orang panik.
Tapi sebelum siapa pun sempat bereaksi, sebelum kata-kata sempat keluar dari mulut—
Ramadhan sudah berlari.
Ia berlari seperti tidak pernah lelah. Seperti tidak pernah ada rasa sakit di bahunya. Seperti tidak ada beban di pikirannya.
Ia menjangkau. Tangannya terulur.
Anak itu tertangkap. Tepat sebelum tubuh mungil itu menyentuh air.
Tapi momentumnya terlalu kuat.
Ramadhan kehilangan keseimbangan. Ia jatuh. Bahunya yang sakit—bahu yang sama—menghantam tiang kayu dermaga dengan keras.
Bruk.
Dia jatuh. Anak itu selamat. Hanya menangis ketakutan di pelukan ibunya.
Tapi Ramadhan... Ramadhan terdiam di tanah. Wajahnya pucat. Keringat dingin membasahi dahinya.
Suasana mendadak kacau.
Beberapa orang segera membantunya. Ada yang mengambil air. Ada yang menelepon ambulans. Ada yang hanya berdiri bingung, tidak tahu harus berbuat apa.
Anjani yang melihat kejadian itu dari kejauhan merasakan jantungnya berhenti berdetak sejenak.
Kakinya bergerak tanpa perintah otak. Ia berlari. Menerobos kerumunan. Jatuh berlutut di samping Ramadhan.
"Ramadhan!" suaranya hampir pecah. Matanya basah. Tangannya gemetar saat menyentuh lengan Ramadhan.
Untuk sesaat, semua rumor, semua konflik, semua kebingungan, dan semua kecurigaan yang selama ini memenuhi pikirannya... menghilang.
Lenyap.
Seperti tidak pernah ada.
Yang ia lihat hanya satu hal.
Satu orang.
Ramadhan terluka.
Dan ia takut kehilangan orang itu.
Takut, pikir Anjani. Aku takut kehilangannya.
Kapan aku mulai merasa seperti ini?
Kapan dia menjadi sepenting ini bagiku?
Ia tidak tahu jawabannya. Tapi rasa takut itu nyata. Sangat nyata.
Ramadhan mencoba tersenyum. Meskipun wajahnya pucat. Meskipun matanya sayu menahan sakit.
"Aku baik-baik saja," katanya. Suarara serak. Hampir tidak terdengar.
Anjani tidak percaya. Tidak dengan wajah yang pucat seperti itu. Tidak dengan keringat dingin yang membasahi dahinya.
Ia membantu membangunkannya. Perlahan. Hati-hati. Tangannya tidak lepas dari lengan Ramadhan.
"Mari ke klinik," katanya. Bukan permintaan. Perintah.
Ramadhan tidak membantah.
Mereka berjalan pelan—Anjani di satu sisi, seorang relawan lain di sisi yang lain—menuju klinik yang tidak jauh dari lokasi acara.
Sepanjang perjalanan, tidak banyak kata yang terucap.
Tapi ada sesuatu yang berubah.
Di antara mereka.
Di hati Anjani.
Untuk pertama kalinya, ia menyadari betapa besar arti Ramadhan dalam hidupnya.
Bukan sekadar teman. Bukan sekadar orang yang membuatnya nyaman. Bukan sekadar nama yang sering muncul di pikirannya.
Dia lebih dari itu, pikir Anjani. Jauh lebih.
Dan aku baru menyadarinya sekarang.
Ketika hampir kehilangannya.
Di klinik, dokter memastikan bahwa cedera yang dialami Ramadhan tidak serius.
"Memar dan sedikit pergeseran otot pada bahu," kata dokter sambil memeriksa hasil rontgen sederhana. "Istirahat seminggu. Jangan angkat barang berat."
Anjani menghela napas lega. Lega yang terasa sampai ke tulang.
Tapi meskipun luka di tubuh Ramadhan tidak serius, peristiwa sore itu meninggalkan luka yang jauh lebih besar.
Bukan pada tubuh.
Melainkan pada hati.
Karena saat melihat Ramadhan hampir celaka—saat melihatnya jatuh dan tidak bergerak—Anjani akhirnya memahami sesuatu yang selama ini berusaha ia hindari.
Perasaannya sendiri.
Perasaan itu sudah lama ada, pikir Anjani. Aku hanya tidak berani mengakuinya.
Tapi sekarang... sekarang aku tidak bisa lagi berpura-pura.
Aku menyukai Ramadhan.
Bukan sekadar suka.
Lebih dari itu.
Sementara itu, di luar klinik, Irvan berdiri sendirian.
Ia tidak masuk. Ia hanya berdiri di dekat pintu. Cukup dekat untuk melihat. Cukup jauh untuk tidak terdengar.
Ia melihat bagaimana Anjani tidak lepas dari sisi Ramadhan. Bagaimana tangannya masih memegang lengan Ramadhan meskipun sudah di klinik. Bagaimana matanya—matanya yang biasanya tenang—kini dipenuhi kekhawatiran yang tidak bisa disembunyikan.
Itu bukan hanya peduli, pikir Irvan. Itu bukan hanya khawatir pada teman.
Itu... cinta.
Dan untuk pertama kalinya, kenyataan yang selama ini berusaha ia tolak mulai terasa nyata. Sangat nyata.
Mungkin aku memang sudah terlambat.
Mungkin dari awal...
Dari awal dia sudah memilih.
Bukan aku.
Ia mengepalkan tangannya. Lalu melepaskannya lagi.
Tidak ada yang bisa ia lakukan.
Tidak sekarang.
Namun luka yang tidak terduga malam itu bukan hanya milik Irvan.
Pukul sembilan malam. Nayla baru saja sampai di rumah setelah membantu membersihkan lokasi acara. Wajahnya lelah. Pikirannya kacau.
Di teras rumahnya, ada sesuatu.
Sebuah amplop.
Tanpa nama.
Tanpa perangko.
Tanpa cap pos.
Hanya diletakkan di atas kursi kayu di teras. Seperti seseorang tahu persis kapan ia akan pulang.
Nayla mengambil amplop itu. Tangannya dingin saat menyentuhnya.
Ia membuka perlahan.
Di dalamnya... foto.
Foto hasil cetakan dari kamera pengawas.
Gambar hitam putih. Agak buram. Tapi cukup jelas.
Foto yang memperlihatkan seseorang sedang berada di ruang arsip. Malam sebelum dokumen hilang.
Wajahnya tidak terlalu jelas. Kamera terlalu jauh. Kualitas gambar terlalu rendah.
Tapi posturnya.
Cara ia berdiri.
Cara ia membuka lemari.
Cara ia berjalan.
Cukup.
Cukup untuk dikenali.
Dan orang itu... bukan Ramadhan.
Bukan Dika.
Bukan relawan lain yang selama ini dicurigai.
Orang itu adalah seseorang yang selama ini Nayla anggap baik.
Seseorang yang terlalu baik.
Seseorang yang...
Tangan Nayla langsung gemetar. Foto di tangannya bergetar.
Jantungnya berdetak keras. Sangat keras. Sampai ia bisa mendengarnya di telinga.
Karim, pikir Nayla. Itu Karim.
Ia duduk di kursi teras. Kakinya terasa lemas.
Jika foto ini asli...
Maka sejak awal... sejak awal semua ini...
Seseorang telah memfitnah Ramadhan.
Bukan kebetulan. Bukan kesalahpahaman.
Direncanakan.
Dengan sengaja.
Dengan tujuan.
Dan yang lebih mengerikan, orang yang melakukannya... kemungkinan berada sangat dekat dengan mereka.
Sangat dekat.
Dia datang ke rapat. Dia tersenyum pada Anjani. Dia berbicara dengan Ramadhan. Dia membantu Irvan.
Dia ada di mana-mana.
Dia melihat semuanya.
Dia mendengar semuanya.
Dan dia tersenyum.
Sepanjang waktu.
Nayla memejamkan mata.
Foto itu masih tergenggam di tangannya.
Kapan topeng ini akan jatuh? pikirnya.
Dan berapa banyak luka yang akan ditinggalkannya ketika ia jatuh?
Di atas Kota Kuala Kapuas, malam kembali turun.
Lampu-lampu kota memantul di Sungai Kapuas yang mengalir tenang. Airnya gelap. Arusnya pelan. Seperti tidak peduli dengan drama manusia di tepiannya.
Namun ketenangan itu hanyalah ilusi.
Karena kebenaran kini semakin dekat untuk terungkap.
Kebenaran tentang siapa yang berdiri di balik semua fitnah.
Kebenaran tentang siapa yang selama ini bermain di balik layar.
Kebenaran tentang wajah di balik topeng.
Dan ketika kebenaran itu akhirnya muncul—ketika topeng itu jatuh, ketika semua kebohongan terbongkar—
Tidak hanya satu hati yang akan terluka.
Melainkan seluruh persahabatan yang selama ini mereka bangun bersama.
Mungkin hancur, pikir Nayla. Mungkin tidak akan pernah kembali seperti dulu.
Tapi setidaknya...
Setidaknya kebenaran akan terungkap.
Dan itu lebih penting daripada kenyamanan.
Ia menggenggam foto itu erat-erat.
Besok, pikirnya. Besok semuanya akan berakhir.
BAB 19
PELANGI SETELAH BADAI
Tidak ada badai yang berlangsung selamanya.
Seberapa gelap pun langit, pada akhirnya awan akan bergeser.
Seberapa deras pun hujan, pada akhirnya akan reda.
Dan setelah semuanya berlalu, sering kali muncul sesuatu yang indah.
Sesuatu yang mengingatkan manusia bahwa harapan selalu ada.
Seperti pelangi yang muncul setelah badai.
Namun sebelum pelangi itu hadir, mereka harus menghadapi kebenaran yang selama ini bersembunyi di balik kebohongan.
Pagi itu, Nayla masih memandangi foto yang semalam diterimanya.
Ia hampir tidak bisa tidur.
Berulang kali ia memperhatikan gambar tersebut.
Meskipun kualitasnya tidak sempurna, sosok dalam foto itu terlihat cukup jelas.
Bukan Ramadhan.
Bukan Dika.
Dan juga bukan relawan lain yang selama ini dicurigai.
Sosok itu adalah Karim.
Nayla menarik napas panjang.
Hatinya dipenuhi berbagai perasaan.
Kecewa.
Marah.
Dan tidak percaya.
Karena selama ini Karim selalu tampil sebagai sosok yang baik, bijaksana, dan peduli.
Namun jika foto itu benar, maka semua yang terjadi selama beberapa minggu terakhir bukanlah kebetulan.
Melainkan sesuatu yang direncanakan.
Tanpa membuang waktu, Nayla menemui Irvan.
Mereka bertemu di tepian Waterfront Kuala Kapuas yang masih sepi pada pagi hari.
Ketika melihat foto itu, wajah Irvan langsung berubah.
"Kamu yakin ini asli?"
Tanya Irvan.
"Aku tidak tahu."
Jawab Nayla.
"Tapi kita harus mencari tahu."
Irvan mengangguk.
Untuk pertama kalinya sejak konflik dimulai, mereka merasa berada di sisi yang sama.
Mencari kebenaran.
Sementara itu, Ramadhan masih beristirahat di rumah setelah insiden di dermaga.
Bahunya masih terasa nyeri.
Namun pikirannya jauh lebih sakit daripada luka fisiknya.
Ia merasa kehilangan sesuatu yang selama ini menjadi bagian dari hidupnya.
Kepercayaan orang-orang.
Dan tanpa kepercayaan, semua perjuangan terasa sia-sia.
Menjelang siang, Nayla dan Irvan menemui Dika.
Mereka menunjukkan foto tersebut.
Dika langsung terdiam.
"Aku pernah melihat jaket itu."
Katanya pelan.
"Siapa?"
"Karim."
Jawaban itu membuat suasana mendadak hening.
Potongan-potongan teka-teki yang selama ini berserakan perlahan mulai menyatu.
Mereka kemudian memeriksa kembali beberapa data lama.
Jadwal penggunaan ruang arsip.
Catatan kehadiran.
Dan rekaman dari kamera lain yang sebelumnya dianggap tidak penting.
Hasilnya membuat mereka semakin terkejut.
Pada malam hilangnya dokumen, Karim ternyata berada di lokasi lebih lama daripada yang pernah ia akui.
Sore harinya, sebuah rapat darurat diadakan di sekretariat komunitas.
Hampir seluruh anggota hadir.
Suasana tegang.
Semua orang merasa ada sesuatu yang besar akan terjadi.
Anjani duduk di samping Nayla.
Ramadhan datang meski kondisinya belum sepenuhnya pulih.
Sementara Karim tampak tenang seperti biasa.
Bahkan terlalu tenang.
Ketika rapat dimulai, Irvan berdiri.
Tangannya memegang beberapa lembar dokumen.
Wajahnya terlihat serius.
"Ada sesuatu yang harus diketahui semua orang."
Katanya.
Ruangan langsung hening.
Satu per satu bukti mulai diperlihatkan.
Foto.
Data kehadiran.
Catatan penggunaan ruangan.
Dan berbagai informasi yang selama ini tersembunyi.
Wajah para anggota komunitas berubah.
Sebagian tidak percaya.
Sebagian terkejut.
Sebagian lainnya mulai memahami apa yang sebenarnya terjadi.
Karim tetap diam.
Hingga akhirnya Irvan menatap langsung ke arahnya.
"Apakah kamu ingin menjelaskan semuanya?"
Tanya Irvan.
Untuk pertama kalinya sejak rapat dimulai, Karim tersenyum.
Namun senyum itu berbeda.
Tidak lagi hangat.
Tidak lagi menenangkan.
"Akhirnya."
Katanya pelan.
Ruangan semakin sunyi.
"Aku tidak pernah berniat menghancurkan komunitas ini."
Lanjutnya.
"Aku hanya ingin mengubah arah kepemimpinannya."
Anjani membelalak.
Ramadhan menatap Karim dengan tidak percaya.
Sementara Nayla merasakan amarah yang selama ini tertahan mulai muncul.
Karim mengakui bahwa ia memang sengaja membangun keraguan terhadap Ramadhan.
Menyebarkan isu secara perlahan.
Memanfaatkan kesalahpahaman.
Dan membiarkan rumor berkembang sendiri.
Bukan karena kebencian.
Tetapi karena ambisi.
Ia percaya komunitas akan berkembang lebih cepat jika berada di bawah kendalinya.
Dan untuk mencapai itu, Ramadhan harus disingkirkan.
Pengakuan itu jatuh seperti petir.
Banyak anggota komunitas tidak mampu berkata-kata.
Mereka tidak pernah membayangkan bahwa sosok yang selama ini mereka hormati ternyata menyimpan rencana seperti itu.
Namun yang paling terluka adalah Anjani.
Bukan karena dirinya menjadi korban.
Melainkan karena kepercayaannya telah dikhianati.
Ia pernah menghormati Karim.
Pernah menganggapnya sebagai sahabat.
Dan kini semuanya runtuh dalam satu sore.
Karim akhirnya berdiri.
Ia memandang seluruh ruangan.
Mungkin untuk pertama kalinya tanpa topeng.
"Aku kalah."
Katanya.
"Tetapi setidaknya sekarang kalian tahu kebenarannya."
Lalu ia melangkah pergi.
Tidak ada yang berusaha menghentikannya.
Setelah pintu tertutup, suasana tetap hening.
Tidak ada sorak kemenangan.
Tidak ada tepuk tangan.
Karena kebenaran tidak selalu membawa kebahagiaan.
Kadang ia hanya meninggalkan luka.
Menjelang senja, hujan yang sejak siang menggantung akhirnya turun sebentar.
Lalu berhenti.
Ketika matahari muncul kembali di ufuk barat, sesuatu yang indah terlihat di atas Sungai Kapuas.
Sebuah pelangi.
Melengkung di antara langit dan air.
Membentang di atas Kota Kuala Kapuas.
Anjani berdiri di tepi waterfront memandang pelangi itu.
Di sampingnya berdiri Ramadhan.
Untuk beberapa saat mereka hanya diam.
Menikmati pemandangan yang jarang muncul.
"Setelah semua ini..."
Kata Ramadhan pelan.
"Kamu baik-baik saja?"
Anjani tersenyum tipis.
"Mungkin belum."
"Tapi aku akan baik-baik saja."
Ramadhan mengangguk.
Angin sore berembus lembut.
Membawa aroma sungai yang khas.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, tidak ada lagi kebohongan di antara mereka.
Tidak ada lagi fitnah.
Tidak ada lagi topeng.
Yang tersisa hanyalah kejujuran.
Di langit Kuala Kapuas, pelangi masih terlihat.
Seolah menjadi pertanda bahwa setelah badai yang panjang, harapan masih ada.
Dan bagi Anjani, harapan itu perlahan mulai menemukan jalannya pulang.
BAB 20
ADA PELANGI DI MATAMU
Senja terakhir bulan itu turun dengan begitu indah di atas Kota Kuala Kapuas.
Langit memancarkan semburat jingga keemasan yang perlahan menyatu dengan warna biru lembut di ufuk barat. Sungai Kapuas mengalir tenang seperti biasa, memantulkan cahaya matahari yang mulai tenggelam.
Kota Air itu seolah kembali bernapas lega.
Badai yang selama beberapa minggu mengguncang kehidupan mereka akhirnya berlalu.
Kebenaran telah terungkap.
Fitnah telah terbantahkan.
Dan luka yang ditinggalkan pengkhianatan perlahan mulai sembuh.
Meski tidak akan pernah benar-benar hilang.
Komunitas literasi kembali berjalan normal.
Bahkan lebih kuat dari sebelumnya.
Peristiwa yang hampir memecah mereka justru mengajarkan arti penting kepercayaan.
Banyak anggota yang sebelumnya ragu kini kembali berdiri bersama.
Mereka belajar bahwa persahabatan tidak diukur saat keadaan baik-baik saja.
Melainkan ketika mampu bertahan melewati masa-masa sulit.
Ramadhan kembali aktif memimpin berbagai program.
Namun ada sesuatu yang berubah dalam dirinya.
Ia menjadi lebih tenang.
Lebih dewasa.
Dan lebih berhati-hati dalam mempercayai seseorang.
Bukan karena trauma.
Tetapi karena pengalaman telah mengajarkannya bahwa tidak semua orang yang tersenyum datang dengan niat yang baik.
Sementara itu, hubungan Ramadhan dan Irvan perlahan membaik.
Mereka belum kembali seperti dulu.
Tetapi jarak yang sempat terbentuk mulai menghilang.
Suatu sore, keduanya duduk di dermaga kecil yang menghadap sungai.
Tempat yang dulu sering mereka datangi.
"Aku pernah marah padamu."
Kata Irvan.
Ramadhan tersenyum kecil.
"Aku tahu."
"Aku juga pernah iri."
Ramadhan tertawa pelan.
"Itu juga aku tahu."
Irvan ikut tertawa.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, tidak ada lagi beban di antara mereka.
"Aku pikir aku akan kehilangan sahabat."
Kata Irvan.
Ramadhan menatapnya.
"Kita terlalu keras kepala untuk saling meninggalkan."
Keduanya tertawa bersamaan.
Dan senja sore itu menjadi saksi pulihnya sebuah persahabatan.
Nayla pun menemukan ketenangan yang selama ini ia cari.
Ia tidak lagi menyimpan rahasia.
Tidak lagi memikul luka seorang diri.
Meski perasaannya kepada Irvan tidak pernah benar-benar hilang, ia akhirnya mampu menerimanya sebagai bagian dari perjalanan hidup.
Bukan penyesalan.
Melainkan pelajaran.
Beberapa minggu kemudian, sebuah festival budaya kembali diadakan di kawasan waterfront Kuala Kapuas.
Masyarakat memenuhi area tepian sungai.
Lampion-lampion menghiasi jalan.
Perahu-perahu dihias dengan warna-warni cahaya.
Musik tradisional terdengar mengalun di berbagai sudut kota.
Suasana begitu meriah.
Anjani berdiri di tepi sungai sambil memegang kamera tuanya.
Kamera yang telah menemaninya sejak masa sekolah.
Seperti biasa, ia sedang mengabadikan senja.
Namun kali ini ada seseorang yang berdiri di sampingnya.
Ramadhan.
"Kamu masih suka memotret senja?"
Tanya Ramadhan.
Anjani tersenyum.
"Selalu."
"Lalu apa yang paling kamu sukai dari senja?"
Anjani memandang langit yang mulai berubah warna.
Kemudian menjawab pelan.
"Karena senja mengajarkan bahwa sesuatu yang indah tidak harus bertahan selamanya untuk menjadi berarti."
Ramadhan terdiam.
Mengagumi jawaban itu.
Mungkin karena itulah ia menyukai Anjani.
Bukan hanya karena senyumnya.
Tetapi karena cara gadis itu memandang kehidupan.
Untuk beberapa saat mereka menikmati suasana tanpa bicara.
Sampai akhirnya Ramadhan berkata pelan.
"Aku ingin menanyakan sesuatu."
Anjani menoleh.
"Apa?"
Ramadhan menarik napas panjang.
Keberanian yang pernah ia kumpulkan dulu kembali ia butuhkan saat itu.
"Aku tidak ingin terburu-buru."
Katanya.
"Aku juga tidak ingin memaksamu."
Anjani mendengarkan dengan tenang.
"Tapi setelah semua yang kita lewati..."
Ramadhan berhenti sejenak.
Lalu menatap mata Anjani.
"Aku ingin tahu."
"Apakah aku boleh berjalan di sampingmu lebih lama?"
Jantung Anjani berdegup pelan.
Bukan karena terkejut.
Tetapi karena ia memahami makna pertanyaan itu.
Ia tidak langsung menjawab.
Matanya memandang Sungai Kapuas.
Memandang lampion-lampion yang mulai menyala.
Memandang kota yang telah menjadi saksi begitu banyak cerita.
Lalu perlahan ia kembali menatap Ramadhan.
Dan saat itulah Ramadhan melihat sesuatu.
Sesuatu yang tidak pernah ia sadari sebelumnya.
Di mata Anjani yang memantulkan cahaya senja, ia melihat warna-warni harapan.
Warna-warna yang muncul setelah badai.
Warna-warna yang lahir dari luka, pengorbanan, dan ketulusan.
Seperti pelangi.
Anjani tersenyum.
Senyum yang hangat.
Senyum yang selama ini selalu mampu menenangkan hatinya.
"Aku tidak tahu masa depan seperti apa yang menunggu kita."
Katanya pelan.
"Tapi..."
Ramadhan menunggu.
"Aku ingin mencobanya."
Jawab Anjani.
Sederhana.
Namun cukup untuk membuat dunia terasa lebih indah.
Ramadhan tersenyum.
Mungkin itu senyum paling tulus yang pernah muncul di wajahnya.
Dan untuk pertama kalinya, tidak ada lagi keraguan.
Tidak ada lagi pertanyaan.
Tidak ada lagi ketakutan kehilangan.
Di atas Kota Kuala Kapuas, matahari perlahan tenggelam.
Langit memancarkan warna-warna terakhir sebelum malam datang.
Sementara di tepian Sungai Kapuas, dua hati yang telah melewati berbagai ujian akhirnya menemukan arah yang sama.
Bukan karena perjalanan mereka akan selalu mudah.
Tetapi karena mereka memilih untuk melangkah bersama.
Anjani kembali mengangkat kameranya.
Mengabadikan senja terakhir hari itu.
Klik.
Satu gambar tersimpan.
Satu kenangan tercipta.
Dan satu babak baru dimulai.
Ramadhan tersenyum sambil memandang gadis di sampingnya.
Lalu tanpa sadar berbisik pelan dalam hatinya.
"Ya... ada pelangi di matamu."
Dan mungkin, pelangi itu akan selalu ada.
Selama harapan masih hidup.
Selama cinta masih tumbuh.
Dan selama Sungai Kapuas tetap mengalir membawa cerita menuju masa depan.
EPILOG
DI BAWAH LANGIT KOTA AIR
Dua tahun kemudian.
Kuala Kapuas tetap sama. Namun berbeda.
Sungai Kapuas masih mengalir tenang seperti biasa. Airnya masih memantulkan warna langit yang berganti dari biru menjadi jingga saat senja tiba. Perahu-perahu kecil masih melintas di permukaan, meninggalkan riak yang kemudian hilang bersama arus.
Tapi ada yang berubah.
Mungkin dari cara orang-orang menyapa satu sama lain. Mungkin dari senyum yang lebih sering terlihat. Mungkin dari kepercayaan yang perlahan dibangun kembali, batu bata demi batu bata, setelah sebelumnya runtuh akibat ulah satu orang.
Komunitas literasi yang dulu hanya sebuah mimpi kecil telah berkembang menjadi gerakan yang dikenal di berbagai daerah Kalimantan Tengah. Perpustakaan sungai terus berlayar dari satu desa ke desa lain, membawa buku-buku dan harapan. Anak-anak yang dulu hanya bisa bermimpi, kini bisa membaca. Dan membaca, seperti kata Anjani, adalah cara termudah untuk bepergian tanpa pernah meninggalkan rumah.
Karim Pratama tidak pernah kembali ke Kuala Kapuas.
Setelah pengakuannya dalam rapat darurat itu, ia menghilang. Beberapa orang mengatakan ia pindah ke Jakarta. Yang lain mengatakan ia bergabung dengan yayasan di Sumatera. Tidak ada yang tahu pasti. Nomor teleponnya tidak aktif. Akun media sosialnya tidak pernah diperbarui.
Anjani sempat berpikir untuk mencarinya. Bukan untuk marah. Bukan untuk menuntut. Tapi untuk bertanya—kenapa?
Namun Ramadhan mencegahnya.
"Biarkan dia pergi," kata Ramadhan pelan. "Dia sudah hidup dengan konsekuensinya sendiri. Kita tidak perlu membuka luka lama."
Anjani terdiam. Lalu mengangguk.
Mungkin Ramadhan benar.
Mungkin tidak semua pertanyaan perlu dijawab.
Mungkin meninggalkan seseorang di masa lalu adalah bentuk pengampunan yang paling tulus.
Irvan tidak lagi tinggal di Kuala Kapuas.
Enam bulan setelah peristiwa itu, ia mendapat tawaran kerja di Palangka Raya. Posisi yang selama ini ia impikan. Gaji yang lebih baik. Masa depan yang lebih cerah.
Pada malam terakhirnya di kota, ia mengundang Ramadhan dan Anjani makan bersama di warung kopi tepian sungai—warung yang sama tempat persahabatan mereka hampir hancur.
Suasana tidak lagi tegang seperti dulu. Tidak ada lagi beban. Tidak ada lagi persaingan.
"Aku minta maaf," kata Irvan. Suaranya pelan. Matanya menatap kopi di hadapannya.
Ramadhan mengangkat alis. "Untuk apa?"
"Untuk semua hal bodoh yang aku lakukan. Untuk cemburu. Untuk iri." Irvan menghela napas. "Untuk hampir menghancurkan persahabatan kita."
Ramadhan terdiam beberapa saat. Kemudian ia tersenyum—senyum yang sama seperti dulu, ketika mereka masih kecil dan tidak tahu apa-apa tentang cinta dan pengkhianatan.
"Kita sudah melewatinya, Van," kata Ramadhan. "Itu yang penting."
Irvan menatap sahabatnya. Lalu ia tersenyum. Kali ini tulus.
"Kamu beruntung punya dia," kata Irvan sambil mengangguk ke arah Anjani.
Anjani yang sedang memotret senja dari kejauhan tidak mendengar. Atau mungkin pura-pura tidak mendengar.
"Bukan keberuntungan," jawab Ramadhan pelan. "Takdir."
Irvan tertawa kecil.
Mereka tidak berpelukan. Tidak berjanji untuk tetap bersaudara. Karena tidak perlu. Persahabatan sejati tidak membutuhkan janji.
Hanya kepercayaan yang perlahan kembali.
Dan malam itu, di warung kopi tepian sungai, Irvan berangkat menuju masa depannya dengan damai. Tidak ada lagi luka. Tidak ada lagi dendam. Hanya kenangan yang tersisa—dan persahabatan yang meskipun retak, ternyata tidak pernah benar-benar hancur.
Nayla...
Nayla tetap di Kuala Kapuas.
Ia tidak menikah. Tidak juga pacaran. Beberapa orang bertanya kenapa, ia hanya tersenyum dan menjawab, "Belum waktunya."
Namun di balik senyum itu, ada kedamaian yang tidak dimilikinya dulu.
Ia tidak lagi menyimpan rahasia. Surat untuk Irvan yang tidak pernah terkirim itu kini tersimpan di dalam kotak kayu di kamarnya—bukan sebagai penyesalan, tapi sebagai pengingat bahwa cinta pertama tidak harus berakhir bahagia untuk menjadi berarti.
Ia masih berteman baik dengan Anjani. Bahkan, mereka lebih dekat dari sebelumnya. Tidak ada lagi jarak. Tidak ada lagi rahasia di antara mereka.
Suatu sore, saat duduk di Taman Askari, Nayla berkata tanpa melihat ke arah Anjani.
"Aku bahagia untukmu."
Anjani menoleh. "Untuk apa?"
"Untuk semuanya." Nayla tersenyum. "Kamu pantas bahagia, Jan. Kamu pantas mendapatkan Ramadhan."
Anjani tidak menjawab. Ia hanya menggenggam tangan sahabatnya. Hangat. Seperti yang selalu mereka lakukan sejak masih remaja.
Dan Nayla, untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, merasa benar-benar lega.
Karena melepaskan bukan berarti kalah.
Kadang melepaskan adalah bentuk cinta yang paling dewasa.
Anjani dan Ramadhan.
Mereka tidak terburu-buru.
Setelah semua yang terjadi—setelah pengkhianatan, fitnah, persahabatan yang hampir hancur, dan luka yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya—mereka memilih untuk berjalan lambat.
Tidak ada lamaran romantis di atas perahu hias. Tidak ada pesta pertunangan mewah yang dihadiri banyak orang.
Hanya sebuah sore biasa di tepian Waterfront Kuala Kapuas. Senja sedang turun. Langit berwarna jingga keemasan. Anjani memegang kameranya, seperti biasa.
Dan Ramadhan, yang berdiri di sampingnya, tiba-tiba berkata,
"Aku tidak punya banyak hal untuk ditawarkan."
Anjani menurunkan kameranya. Menatapnya.
"Aku bukan orang kaya. Aku tidak punya mobil mewah. Aku bahkan tidak punya rumah besar."
Ramadhan tersenyum kecil. Gugup. Sesuatu yang jarang terjadi.
"Tapi aku bisa berjanji untuk selalu ada. Untuk selalu mendengarkan. Untuk selalu berusaha memahami, meskipun kadang aku tidak paham."
Anjani tersenyum. "Kamu mau bilang apa sih, Dhani?"
Ramadhan menarik napas panjang.
"Maukah kamu menjadi teman seperjalanan untuk sisa hidupku?"
Bukan "maukah kamu menjadi pacarku?" atau "maukah kamu menikah denganku?".
Tapi "maukah kamu menjadi teman seperjalanan?"
Karena bagi Ramadhan, cinta bukan tentang kepemilikan. Cinta adalah tentang berjalan bersama. Tentang saling menguatkan saat salah satu mulai lelah. Tentang berbagi beban tanpa pernah mengeluh.
Anjani tidak menjawab dengan kata-kata.
Ia mengangkat kameranya. Mengarahkan ke arah Ramadhan.
Klik.
Satu gambar tersimpan. Satu senyum Ramadhan yang paling tulus.
Lalu ia berkata, "Aku sudah menjawab, kan?"
Ramadhan bingung. "Apa maksudmu?"
"Foto itu," kata Anjani. "Aku hanya memotret orang yang berarti bagiku."
Ramadhan terdiam. Lalu ia tertawa.
Dan sore itu, di tepian Sungai Kapuas, di bawah langit senja yang perlahan gelap, dua hati yang telah melewati berbagai badai akhirnya berlabuh di tempat yang sama.
Bukan karena janji.
Bukan karena romansa.
Tapi karena pilihan.
Pilihan untuk tetap berjalan bersama.
Beberapa tahun kemudian.
Sebuah buku terbit.
Sampulnya bergambar pelangi di atas Sungai Kapuas. Judulnya sederhana: "Ada Pelangi di Matamu."
Penulisnya: Anjani Rahmadhani.
Buku itu bercerita tentang cinta. Tentang persahabatan. Tentang pengkhianatan. Tentang bagaimana seseorang bisa jatuh, lalu bangkit lagi. Tentang bagaimana harapan sering kali datang dari arah yang paling tidak terduga.
Di halaman terakhir, ada catatan kecil:
"Untuk Ramadhan—karena kau mengajarkanku bahwa pelangi tidak selalu di langit. Kadang ia bersembunyi di mata seseorang. Dan aku beruntung bisa melihatnya setiap hari."
Di bawahnya, tulisan tangan Ramadhan:
"Untuk Anjani—karena kau mengajarkanku bahwa setelah badai, selalu ada sesuatu yang indah. Dan kau adalah pelangi itu."
Festival Kota Air kembali diadakan.
Lampion-lampion menghiasi jalan. Perahu-perahu hias berlayar di atas Sungai Kapuas. Musik tradisional mengalun di berbagai sudut.
Dan di tengah keramaian itu, Anjani berdiri memegang kamera tuanya.
Ia tidak lagi memotret sendirian.
Di sampingnya, Ramadhan tersenyum. Tangannya menggenggam tangan Anjani. Hangat. Erat. Tidak akan dilepaskan.
"Kapan kamu akan berhenti memotret senja?" tanya Ramadhan.
"Tidak akan," jawab Anjani. "Aku akan terus memotret sampai kameranya rusak."
"Lalu?"
"Lalu aku akan menggantinya dengan yang baru."
Ramadhan tertawa. "Keras kepala."
Anjani tersenyum. "Kamu baru sadar?"
Mereka berdua tertawa. Dan tawa itu tenggelam dalam riuh rendah festival.
Di kejauhan, Nayla memperhatikan mereka dari balik kerumunan.
Ia tersenyum. Kali ini senyum yang tidak menyimpan kesedihan. Hanya kebahagiaan. Hanya kelegaan.
Mereka pantas bahagia, pikir Nayla.
Dan ia berbalik. Berjalan menuju stan makanan favoritnya. Masih sama seperti dulu—tidak pernah berubah.
Di Palangka Raya, Irvan membuka ponselnya.
Sebuah pesan masuk dari Ramadhan. Hanya satu kalimat:
"Terima kasih untuk semuanya, Van. Aku akan menjaga Anjani sebaik mungkin."
Irvan tersenyum. Lalu membalas:
"Jangan sampai aku ambil lagi."
Bercanda. Tapi hangat.
Persahabatan mereka tidak lagi seperti dulu. Namun mungkin, dalam bentuk yang berbeda, ia tetap ada. Dan itu sudah cukup.
Di sebuah kota di pulau lain, Karim Pratama membaca berita tentang komunitas literasi Kuala Kapuas yang semakin berkembang.
Ia tidak marah. Tidak juga menyesal.
Hanya diam.
Lalu ia mematikan layar ponselnya.
Tidak ada penyesalan yang besar. Tidak juga pertobatan dramatis.
Hanya kehampaan.
Dan mungkin, dalam kehampaan itu, tersimpan kesadaran bahwa ia telah kehilangan sesuatu yang tidak akan pernah bisa ia dapatkan kembali.
Bukan hanya Anjani.
Bukan hanya kepercayaan.
Tapi kesempatan untuk menjadi seseorang yang lebih baik.
Senja terakhir di Kuala Kapuas.
Anjani berdiri di tepi Waterfront, memandang langit. Di tangannya masih tergenggam kamera tua—kamera yang sama, yang telah menemaninya sejak bangku sekolah.
Ramadhan berdiri di sampingnya. Diam. Menikmati keheningan.
Tiba-tiba, di ufuk timur, setelah hujan ringan yang turun sebentar, sesuatu muncul.
Sebuah pelangi.
Melengkung sempurna dari satu sisi langit ke sisi lainnya.
Warna-warninya terang. Jelas. Indah.
Anjani mengangkat kameranya. Menekan tombol rana.
Klik.
Satu gambar.
Pelangi itu tersimpan.
"Kamu masih suka memotret pelangi?" tanya Ramadhan.
"Iya," jawab Anjani. "Tapi sekarang..."
Ia menurunkan kameranya. Menatap Ramadhan. Tersenyum.
"Sekarang aku tidak perlu lagi mencari pelangi di langit."
Ramadhan menatapnya. Bertanya-tanya.
Anjani tertawa kecil.
"Karena aku sudah menemukannya."
Ia menunjuk mata Ramadhan.
"Di sini."
Ramadhan terdiam.
Lalu ia tersenyum—senyum yang paling tulus, paling hangat, paling dalam yang pernah ia berikan.
Dan di bawah langit Kota Air yang mulai gelap, dua orang yang telah melewati badai, pengkhianatan, luka, dan air mata, akhirnya berdiri bersama.
Bukan menuju akhir cerita.
Tapi menuju awal dari babak baru.
Karena pada akhirnya, hidup selalu seperti pelangi.
Ia muncul setelah badai.
Dan keindahannya terasa lebih berarti bagi mereka yang pernah bertahan menghadapi hujan.
Bagi yang tidak menyerah.
Bagi yang tetap percaya.
Dan bagi yang memilih untuk terus berjalan—
Meskipun jalan itu terjal.
Meskipun kadang sendirian.
Karena di ujung perjalanan, selalu ada harapan.
Selalu ada cahaya.
Selalu ada pelangi.
Di mata seseorang yang mencintai kita.
Dengan tulus.
Selamanya.
TAMAT
Anang
30 Januari 2025 19:28:34
Lanjutkan mas... Semoga website desa pian semakin maju...