ROMAN
SATU HATI, SERIBU MUSIM
Sebuah Roman tentang Hati yang Tetap Memilihmu, Bahkan Setelah Seribu Musim Berlalu
Oleh: Slamet Riyadi
Disclaimer
Novel Satu Hati, Seribu Musim merupakan karya fiksi. Seluruh tokoh, nama, tempat, peristiwa, adat, organisasi, maupun dialog yang terdapat di dalam cerita ini lahir dari imajinasi penulis atau digunakan secara fiktif untuk kepentingan artistik.
Apabila terdapat kemiripan nama, karakter, lokasi, atau peristiwa dengan kejadian nyata, hal tersebut semata-mata merupakan kebetulan dan tidak dimaksudkan untuk merujuk kepada individu, kelompok, lembaga, ataupun komunitas tertentu.
Roman ini mengangkat tema cinta, persahabatan, keluarga, adat, pemerintahan desa, serta pergulatan batin manusia dalam menghadapi pilihan hidup. Beberapa konflik sosial dan budaya disajikan sebagai bagian dari pembangunan cerita dan tidak dimaksudkan untuk menghakimi atau merendahkan tradisi, lembaga, maupun pihak mana pun.
Semoga kisah ini menjadi pengingat bahwa waktu dapat mengubah banyak hal, tetapi ketulusan hati, kejujuran, dan kasih sayang selalu memiliki jalan untuk menemukan maknanya kembali.
Prolog
Musim Pertama yang Membawa Luka
Musim selalu datang silih berganti.
Padi menguning, lalu dipanen. Hujan turun, kemudian reda. Sungai meluap, lalu kembali tenang. Anak-anak tumbuh menjadi dewasa, orang tua perlahan menua, dan rumah-rumah yang dahulu dipenuhi tawa suatu hari hanya menyisakan gema kenangan.
Namun ada satu hal yang tidak pernah tunduk kepada pergantian musim.
Hati.
Di sebuah desa bernama Arum Sari, desa yang dilingkari hamparan sawah, hutan adat, dan sungai yang mengalir sejak zaman para leluhur, orang-orang percaya bahwa setiap manusia lahir membawa dua warisan: nama keluarga dan takdirnya.
Takdir pertama adalah kehidupan yang diwariskan oleh darah.
Takdir kedua adalah pilihan yang dibuat oleh hati.
Tetapi tidak semua orang diberi keberanian untuk memilih.
Di desa itu, adat lebih tua daripada usia pohon-pohon trembesi yang menaungi balai desa. Petuah para tetua lebih kuat daripada suara anak-anak muda. Nama keluarga lebih sering menjadi penentu masa depan dibandingkan mimpi yang tumbuh di dalam dada.
Di sanalah Anjelina dan Herlambang dipertemukan.
Mereka tidak saling jatuh cinta pada pandangan pertama.
Tidak ada langit yang berubah warna.
Tidak ada angin yang membawa bunga-bunga beterbangan.
Yang ada hanyalah dua hati yang perlahan belajar saling memahami melalui percakapan sederhana, langkah-langkah kecil di pematang sawah, dan keheningan yang justru terasa paling nyaman ketika mereka bersama.
Mereka percaya bahwa cinta tidak harus diucapkan setiap hari.
Cukup dijaga.
Namun setiap kisah yang indah selalu mengundang seseorang yang ingin mengubah akhirnya.
Hidayat datang bukan hanya membawa ambisi, tetapi juga dendam yang telah dipupuk sejak lama. Baginya, kekuasaan adalah jalan untuk memiliki apa pun yang diinginkan. Jabatan, tanah, kehormatan, bahkan hati seseorang.
Ketika perebutan tanah adat mulai memecah warga, ketika rapat-rapat di balai desa berubah menjadi arena saling tuding, ketika keluarga-keluarga mulai terbelah oleh kepentingan, cinta yang semula tumbuh dalam diam ikut terseret ke pusaran konflik.
Ada janji yang dipatahkan.
Ada persahabatan yang dikhianati.
Ada keluarga yang dipaksa memilih antara adat dan kasih sayang.
Ada keputusan yang benar, tetapi melukai.
Dan ada kebohongan yang tampak mulia, padahal menghancurkan segalanya.
Mereka semua mengira pertarungan itu hanya tentang cinta.
Padahal sesungguhnya, yang sedang dipertaruhkan adalah harga diri, warisan leluhur, masa depan sebuah desa, dan keberanian untuk tetap menjadi manusia ketika dunia memaksa mereka memilih jalan yang paling mudah.
Konon, para tetua Arum Sari memiliki sebuah petuah yang diwariskan turun-temurun.
"Musim boleh berganti seribu kali. Daun boleh gugur berjuta-juta. Sungai boleh berubah arah. Tetapi hati yang benar-benar memilih, akan selalu menemukan jalan pulang."
Tak seorang pun menyangka, petuah itu kelak menjadi saksi dari cinta yang harus melewati pengkhianatan, kehilangan, air mata, dan penantian yang terasa lebih panjang daripada umur musim itu sendiri.
Karena ada cinta yang tidak mati oleh waktu.
Ia hanya menunggu saat yang tepat untuk pulang.
BAB I - Musim yang Mempertemukan
Mentari baru saja muncul dari balik Bukit Waringin ketika Desa Arum Sari mulai menggeliat.
Kabut tipis masih menggantung di atas hamparan sawah yang membentang seperti permadani hijau. Titik-titik embun menempel di ujung daun padi, memantulkan cahaya pagi yang lembut. Dari kejauhan terdengar kokok ayam bersahut-sahutan, diselingi suara lesung yang ditumbuk pelan oleh beberapa perempuan tua yang masih mempertahankan kebiasaan lama.
Arum Sari bukan sekadar sebuah desa.
Ia adalah rumah bagi cerita-cerita yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Di desa itu, setiap pohon memiliki kisah.
Setiap batu dipercaya menyimpan jejak leluhur.
Dan setiap musim selalu membawa perubahan yang tak pernah dapat ditebak.
Di tepi desa mengalir Sungai Kalinawa. Airnya jernih, tenang, dan menjadi sumber kehidupan warga sejak puluhan tahun silam. Anak-anak mandi sambil tertawa, para petani mengairi sawah, sementara para perempuan mencuci pakaian di tepian sungai sembari bertukar cerita.
Tak jauh dari sana berdiri Balai Desa Arum Sari, bangunan sederhana berdinding kayu ulin yang mulai lapuk dimakan usia. Di sampingnya menjulang pohon trembesi tua yang konon telah berdiri jauh sebelum desa itu memiliki nama.
Menurut Ki Waskita, tetua adat yang paling dihormati, pohon itu adalah saksi setiap sumpah, setiap perdamaian, dan setiap pengkhianatan yang pernah terjadi di Arum Sari.
Pagi itu, Herlambang melangkah pelan melewati jalan tanah menuju sekolah dasar tempat ia mengajar.
Di bahunya tergantung tas kanvas yang mulai kusam. Di tangan kirinya tergenggam beberapa buku pelajaran yang telah ia sampul rapi dengan plastik bening. Langkahnya tenang, wajahnya teduh, seolah tak pernah tergesa-gesa mengejar waktu.
"Pak Guru...!"
Seorang anak kecil berlari menghampirinya.
"Selamat pagi!"
"Pagi, Raka."
"Pak Guru nanti jadi main bola, kan?"
Herlambang tersenyum.
"Kalau pekerjaan rumahmu selesai."
Raka langsung mengangguk cepat.
"Selesai, Pak!"
"Boleh saya lihat nanti?"
Anak itu tertawa gugup.
"Nanti saja, Pak..."
Herlambang hanya menggeleng sambil tertawa kecil.
Anak-anak selalu punya cara sendiri untuk membuat pagi terasa ringan.
Tak banyak orang tahu bahwa menjadi guru bukanlah cita-cita pertama Herlambang. Ia pernah mendapat kesempatan bekerja di kota setelah lulus kuliah. Gajinya lebih besar, masa depannya tampak lebih menjanjikan.
Namun ia memilih pulang.
Baginya, desa bukan tempat untuk ditinggalkan.
Melainkan tempat yang harus dibangun.
Di sisi lain desa, sebuah mobil berwarna putih perlahan memasuki gerbang Arum Sari.
Debu beterbangan mengikuti lajunya.
Beberapa warga menghentikan aktivitas mereka untuk melihat.
"Mobil siapa itu?"
"Bukan orang sini."
"Mungkin tamu kepala desa."
Mobil itu berhenti di depan rumah Pak Jatmiko.
Seorang perempuan turun perlahan.
Ia mengenakan kemeja putih sederhana, celana panjang krem, dan membawa sebuah koper kecil. Rambut hitamnya tergerai sebahu, tertiup angin pagi.
Wajahnya memancarkan kelelahan setelah perjalanan panjang.
Namun sorot matanya tetap hangat.
"Anjelina..."
Bu Sulastri berlari memeluk putrinya.
"Alhamdulillah... akhirnya pulang juga."
Anjelina membalas pelukan itu erat.
"Aku rindu rumah, Bu."
Pak Jatmiko berdiri di ambang pintu. Lelaki yang mulai beruban itu tersenyum, tetapi matanya tampak berkaca-kaca.
"Ternyata anak kecil yang dulu suka bermain di sawah sekarang sudah jadi sarjana."
Anjelina tertawa pelan.
"Ayah masih suka menggoda."
"Tugas ayah memang begitu."
Mereka tertawa bersama.
Tetangga-tetangga mulai berdatangan.
Ucapan selamat datang memenuhi halaman rumah.
Anjelina menyapa mereka satu per satu.
Ia mengenal hampir semua wajah itu.
Sebagian telah berubah dimakan usia.
Sebagian lagi masih sama seperti ketika ia meninggalkan desa empat tahun lalu.
Dalam hati ia berjanji, kepulangannya bukan sekadar untuk beristirahat.
Ia ingin mengabdikan ilmu yang telah dipelajarinya kepada desa yang telah membesarkannya.
Ia belum tahu bahwa niat sederhana itu kelak akan menyeretnya ke dalam pusaran konflik yang mengubah hidup banyak orang.
Menjelang siang, Balai Desa Arum Sari mulai ramai.
Kepala Desa mengundang perangkat desa, tokoh masyarakat, dan para pemuda untuk membahas rencana pembangunan jalan usaha tani serta pendataan ulang tanah adat.
Bagi sebagian warga, rapat itu hanyalah agenda rutin.
Namun bagi sebagian yang lain, pembahasan tanah adat adalah bara yang sewaktu-waktu dapat menyulut api.
Di sudut ruangan, Ki Waskita duduk diam.
Tatapannya menerawang ke luar jendela.
Angin yang berembus membuat daun-daun trembesi berguguran.
Ia bergumam pelan, nyaris tak terdengar.
"Musim telah berganti..."
"Tanda-tanda itu mulai datang lagi."
Tak seorang pun memahami maksud ucapannya.
Sore hari.
Langit berubah keemasan.
Anjelina memutuskan berjalan menyusuri pematang sawah yang dulu sering ia lewati semasa kecil.
Angin membawa aroma tanah basah.
Burung-burung pipit beterbangan di atas hamparan padi.
Sesekali ia berhenti memandangi langit.
Betapa ia merindukan ketenangan seperti ini.
Di tikungan pematang, seseorang datang dari arah berlawanan.
Membawa sepeda tua.
Langkahnya pelan.
Mata mereka bertemu.
Keduanya berhenti hampir bersamaan.
Ada jeda beberapa detik.
Seolah waktu ikut menahan napas.
"Lina?"
Suara lelaki itu terdengar pelan.
Anjelina mengernyit, mencoba mengingat.
Lalu senyumnya perlahan mengembang.
"Lambang...?"
Herlambang tersenyum kecil.
"Sudah lama sekali."
"Hampir empat tahun."
"Selamat datang kembali di Arum Sari."
"Terima kasih."
Tak ada pelukan.
Tak ada jabat tangan.
Hanya senyum yang terasa lebih hangat daripada matahari sore.
Mereka berjalan berdampingan di pematang sawah.
Membicarakan hal-hal sederhana—tentang sekolah, tentang panen yang tahun ini cukup baik, tentang teman-teman lama yang kini telah berkeluarga.
Percakapan mengalir tanpa dibuat-buat.
Seolah empat tahun hanyalah jeda yang sangat singkat.
Tanpa mereka sadari, dari kejauhan sepasang mata memperhatikan.
Seorang lelaki berdiri di balik pohon mahoni.
Wajahnya tegas.
Tatapannya dingin.
Kedua tangannya mengepal.
Ia adalah Hidayat.
Baru beberapa jam Anjelina kembali ke desa.
Namun lelaki itu telah merasa seseorang sedang merebut sesuatu yang bahkan belum pernah berhasil ia miliki.
Ia tersenyum tipis.
Bukan senyum bahagia.
Melainkan senyum seseorang yang mulai menyusun rencana.
Di langit barat, matahari perlahan tenggelam.
Musim memang selalu membawa pertemuan.
Tetapi tak semua pertemuan lahir untuk menghadirkan kebahagiaan.
Ada yang datang justru untuk menguji seberapa kuat hati mampu bertahan ketika cinta, kekuasaan, dan ambisi mulai berjalan di jalan yang sama.
BAB II – Gadis dari Ujung Sawah
Fajar kedua setelah kepulangan Anjelina datang dengan langit yang lebih cerah.
Kabut tipis masih menyelimuti hamparan sawah Desa Arum Sari. Burung-burung pipit beterbangan rendah di antara batang padi yang mulai menguning. Dari kejauhan terdengar suara kentongan bertalu tiga kali, pertanda para petani bersiap turun ke sawah.
Anjelina berdiri di beranda rumah sambil menghirup udara pagi yang begitu lama ia rindukan.
Udara itu berbeda.
Tidak bercampur asap kendaraan.
Tidak dipenuhi hiruk-pikuk manusia.
Hanya aroma tanah basah, embun, dan daun-daun yang masih menyimpan sisa hujan semalam.
"Akhirnya aku pulang juga..." gumamnya lirih.
Bu Sulastri keluar membawa secangkir teh hangat.
"Masih suka memandang sawah seperti waktu kecil?"
Anjelina tersenyum.
"Justru ini yang paling aku rindukan, Bu."
Ibunya duduk di samping.
"Di kota kau mungkin melihat gedung-gedung tinggi."
"Tapi di sini..."
"...langitnya lebih dekat."
Anjelina mengangguk pelan.
"Dan hati orang-orangnya juga."
Bu Sulastri tersenyum bangga.
"Kau tidak berubah."
"Aku justru takut berubah."
"Kenapa?"
"Karena desa ini selalu mengingatkanku siapa diriku."
Ibunya mengusap rambut putrinya dengan penuh kasih.
Dalam hati, Bu Sulastri bersyukur.
Banyak anak muda pergi meninggalkan desa lalu pulang membawa kesombongan.
Namun putrinya pulang membawa kerendahan hati.
Pagi itu Pak Jatmiko mengajak Anjelina berkeliling desa.
"Sudah lama kau tidak melihat Arum Sari."
Mereka berjalan menyusuri jalan yang sebagian sudah dicor beton.
Beberapa rumah telah berubah menjadi bangunan permanen.
Warung-warung kecil mulai ramai.
Anak-anak berangkat sekolah dengan seragam merah putih dan biru putih.
Namun di balik perubahan itu, banyak hal yang tetap sama.
Pohon beringin tua di simpang jalan masih berdiri kokoh.
Surau kecil tempat anak-anak mengaji setiap sore masih memancarkan keteduhan.
Dan sawah...
Masih menjadi nadi kehidupan desa.
Saat mereka melewati pematang, beberapa petani menyapa.
"Nduk Lina sudah pulang?"
"Alhamdulillah..."
"Sudah jadi orang pintar sekarang."
Anjelina tersenyum malu.
"Saya masih harus banyak belajar, Pak."
Seorang petani tua tertawa.
"Kalau begitu belajarnya jangan di kota saja."
"Belajarlah juga dari sawah."
Anjelina mengangguk hormat.
"Insyaallah."
Ucapan sederhana itu menancap di benaknya.
Belajar dari sawah.
Ia belum benar-benar memahami maksudnya.
Di ujung hamparan padi berdiri sebuah gubuk bambu.
Di sanalah Herlambang sedang membantu beberapa petani memperbaiki saluran irigasi.
Lengan bajunya digulung.
Celananya penuh lumpur.
Tangannya memegang cangkul.
Tak seorang pun menyangka bahwa guru sekolah dasar yang dihormati murid-muridnya itu tak pernah merasa malu bekerja bersama para petani.
"Kemarin airnya kurang lancar."
"Nanti kalau hujan deras bisa jebol."
"Tanahnya harus dipadatkan lagi."
Ia berbicara sambil bekerja.
Tak ada nada memerintah.
Semua dilakukan bersama-sama.
"Pak Guru..."
teriak seorang warga.
"Ada tamu."
Herlambang menoleh.
Di kejauhan ia melihat Pak Jatmiko berjalan bersama Anjelina.
Ia tersenyum tipis.
"Lina..."
Anjelina melambaikan tangan.
"Sedang kerja bakti?"
"Bukan."
Herlambang tertawa kecil.
"Sedang belajar."
"Belajar?"
"Belajar menjadi warga desa."
Pak Jatmiko ikut tertawa.
"Kau ini guru, Lambang."
"Masih banyak yang harus saya pelajari, Pak."
Anjelina memperhatikan lelaki itu.
Dulu Herlambang adalah teman bermainnya.
Kini sikapnya jauh lebih dewasa.
Tatapan matanya tenang.
Ucapannya sederhana.
Namun selalu terasa dalam.
Tak lama kemudian salah seorang petani terpeleset ke saluran irigasi.
Semua orang terkejut.
Herlambang segera turun membantu.
Tanpa memikirkan pakaiannya yang penuh lumpur, ia mengangkat tubuh lelaki tua itu hingga kembali ke pematang.
"Pelan-pelan, Pak."
"Tidak apa-apa?"
Petani itu tertawa.
"Kalau bukan karena kamu, mungkin aku sudah hanyut."
Semua orang ikut tertawa.
Anjelina tersenyum tanpa sadar.
Dalam hati ia berkata,
"Ternyata ada orang yang tidak berubah, meski waktu sudah berjalan begitu jauh."
Menjelang siang.
Mereka berteduh di gubuk bambu.
Bu Marni, seorang petani perempuan, membagikan singkong rebus dan teh panas.
"Silakan."
"Makan dulu."
Tak ada meja.
Tak ada kursi.
Hanya tikar pandan yang mulai kusam.
Namun suasananya begitu hangat.
Obrolan mengalir tentang musim tanam, pupuk yang semakin mahal, hasil panen yang menurun, hingga harapan agar pemerintah desa segera memperbaiki saluran air yang rusak.
"Kalau irigasi tidak diperbaiki..."
"Musim depan bisa gagal panen."
"Sudah diusulkan?"
"Sudah."
"Katanya masih menunggu keputusan."
Herlambang hanya diam mendengarkan.
Ia tahu persoalan itu tidak sesederhana yang dibicarakan.
Beberapa bulan terakhir muncul rencana pembangunan jalan usaha tani yang akan melintasi sebagian tanah adat.
Sebagian warga mendukung.
Sebagian lagi menolak.
Konflik itu mulai merambat dari ruang rapat ke percakapan sehari-hari.
Pak Jatmiko menghela napas.
"Kalau orang-orang mulai memperebutkan tanah..."
"Biasanya yang hilang lebih dulu adalah persaudaraan."
Suasana mendadak hening.
Tak ada yang membantah.
Semua tahu ucapan itu benar.
Sementara itu, di sebuah rumah besar yang berdiri paling megah di Desa Arum Sari, Hidayat duduk di ruang tamunya.
Di hadapannya tersaji kopi hitam yang masih mengepul.
Namun sejak tadi tak disentuhnya.
Pikirannya melayang pada pemandangan kemarin sore.
Anjelina...
Dan Herlambang...
Berjalan berdampingan di pematang sawah.
Ia mengepalkan tangan.
"Kenapa harus dia..."
Seorang pria paruh baya memasuki ruangan.
Itulah Haji Mahendra, ayah Hidayat.
Pengusaha hasil bumi sekaligus orang yang memiliki pengaruh besar di Arum Sari.
"Kau melamun lagi."
"Aku sedang berpikir."
"Tentang perempuan itu?"
Hidayat tersenyum tipis.
"Ayah selalu tahu."
Haji Mahendra duduk perlahan.
"Dengar, Dayat."
"Kalau kau ingin dihormati, jangan hanya mengejar seorang perempuan."
"Rebut pengaruh."
"Kalau kau menguasai desa ini..."
"Semua akan datang kepadamu."
Hidayat mengangkat wajah.
Tatapannya berubah.
Lebih tajam.
Lebih dingin.
"Termasuk Anjelina?"
Ayahnya tersenyum tipis.
"Orang sering memilih mengikuti kekuasaan."
Kalimat itu melekat kuat di kepala Hidayat.
Sejak saat itu, bukan hanya cinta yang ingin ia menangkan.
Ia mulai mengincar sesuatu yang jauh lebih besar.
Kekuasaan.
Dan Desa Arum Sari baru saja menjadi papan permainan yang akan ia kuasai.
Di luar rumah, langit mulai tertutup awan kelabu.
Angin berembus lebih kencang daripada biasanya.
Entah mengapa, pohon trembesi tua di depan balai desa kembali menggugurkan daun-daunnya, seolah alam telah lebih dulu mengetahui bahwa musim yang datang kali ini bukan sekadar musim hujan.
Melainkan musim ketika hati, persahabatan, dan kehormatan akan mulai diuji.
Langit Arum Sari berubah kelabu ketika matahari mulai condong ke barat.
Angin berembus perlahan melewati hamparan padi yang bergoyang seperti ombak kecil. Dari kejauhan terdengar suara burung kuntul kembali ke sarangnya, sementara para petani mulai memanggul cangkul menuju rumah masing-masing.
Anjelina belum ingin pulang.
Entah mengapa, langkahnya justru membawanya semakin jauh menyusuri pematang sawah yang membelah desa.
Di sebelah kanan terbentang petak-petak sawah yang mulai menguning. Di sebelah kiri mengalir saluran irigasi yang airnya berkilauan diterpa cahaya sore.
"Masih suka berjalan sendirian?"
Suara itu membuat Anjelina menoleh.
Herlambang berjalan sambil memikul cangkul di bahunya.
Masih mengenakan baju yang penuh bercak lumpur.
Anjelina tersenyum.
"Sejak dulu."
"Lalu apa yang kau cari?"
Anjelina memandang hamparan sawah.
"Ketenangan."
Herlambang mengangguk pelan.
"Berarti kita mencari hal yang sama."
Mereka berjalan berdampingan.
Tidak terburu-buru.
Tidak pula dipenuhi percakapan.
Keheningan justru terasa akrab.
Sesekali mereka berhenti ketika melihat capung beterbangan rendah di atas air.
"Masih ingat tempat ini?" tanya Herlambang.
Anjelina menatap sebuah pohon randu tua yang berdiri sendirian di tengah pematang.
Matanya berbinar.
"Tentu."
"Kita dulu sering bermain di sini."
"Dan kau selalu kalah memanjat."
Anjelina tertawa kecil.
"Itu karena kau curang."
"Aku?"
"Kau memanjat lebih dulu."
Herlambang ikut tertawa.
Suara tawa mereka menyatu dengan desir angin sore.
Sudah lama Herlambang tidak mendengar tawa sehangat itu.
Di bawah pohon randu, masih ada sebuah batu besar yang dahulu menjadi tempat mereka beristirahat sepulang menggembala kambing.
Batu itu tetap ada.
Hanya lumutnya yang semakin tebal.
Anjelina duduk perlahan.
"Empat tahun ternyata tidak mengubah tempat ini."
"Yang berubah hanya kita."
Herlambang memungut sehelai daun kering yang jatuh di pangkuannya.
"Menurutmu..."
"Apakah seseorang benar-benar berubah?"
Anjelina berpikir sejenak.
"Mungkin bukan berubah."
"Lalu?"
"Hidup mengajarkan banyak hal."
"Kita hanya menjadi versi baru dari diri kita."
Herlambang tersenyum tipis.
"Jawabanmu masih sama seperti dulu."
"Maksudmu?"
"Selalu sederhana, tapi sulit dibantah."
Mereka kembali terdiam.
Keheningan itu bukan karena kehabisan kata.
Melainkan karena keduanya sama-sama menikmati suasana yang sudah lama hilang.
Tak jauh dari tempat mereka duduk, terdengar suara seorang perempuan tua memanggil.
"Lambang...!"
Herlambang segera berdiri.
"Itu Mak Ranti."
Seorang nenek renta berjalan tertatih membawa seikat kayu bakar yang hampir lebih besar daripada tubuhnya.
Tanpa berpikir panjang Herlambang menghampiri.
"Biar saya saja, Mak."
"Jangan..."
"Nanti kamu capai."
"Tidak apa-apa."
Ia mengangkat seluruh kayu bakar itu ke pundaknya.
Anjelina ikut membantu memegang keranjang kecil yang dibawa nenek tersebut.
Mak Ranti tersenyum haru.
"Kalian seperti dulu."
"Dulu?"
"Iya."
"Kalian selalu membantu siapa saja."
Anjelina saling pandang dengan Herlambang.
Tak ada yang menjawab.
Setelah mengantar Mak Ranti hingga depan rumahnya, perempuan tua itu menggenggam tangan Anjelina.
"Kau sudah pulang, Nak."
"Jangan pergi lagi."
Kalimat sederhana itu membuat hati Anjelina bergetar.
Ia hanya mampu mengangguk pelan.
Sore menjelang malam.
Lampu-lampu rumah mulai menyala.
Suara azan Magrib menggema dari surau tua di tengah desa.
Penduduk berbondong-bondong menuju masjid.
Desa Arum Sari kembali diselimuti ketenangan.
Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama.
Di Balai Desa, lampu ruang rapat masih menyala terang.
Kepala Desa mengumpulkan perangkat desa, Ketua BPD, beberapa tokoh masyarakat, serta Ki Waskita.
Di atas meja terbentang peta desa.
Beberapa bidang tanah diberi tanda merah.
"Ini jalur pembangunan jalan usaha tani."
Kepala Desa menunjuk garis panjang yang membelah area persawahan.
"Kalau jalan ini selesai, hasil panen warga akan lebih mudah diangkut."
Seorang perangkat desa mengangguk.
"Tapi sebagian jalurnya melewati tanah adat."
Ruangan mendadak sunyi.
Ki Waskita mengusap janggut putihnya.
"Tanah itu bukan sekadar tanah."
"Itu warisan leluhur."
Sekretaris Desa membuka beberapa berkas.
"Menurut data administrasi..."
"Sebagian lahan belum memiliki kepastian status."
Seorang anggota BPD menyela.
"Itulah yang menjadi persoalan."
"Kalau salah mengambil keputusan, desa bisa pecah."
Suasana semakin tegang.
Belum ada seorang pun menyadari bahwa persoalan administrasi itu kelak akan menjadi pintu masuk bagi kepentingan orang-orang yang haus kekuasaan.
Di saat rapat berlangsung, Hidayat duduk di beranda rumahnya.
Ia menerima kedatangan dua orang yang selama ini dikenal dekat dengan sejumlah perangkat desa.
"Apa kabarnya?"
"Baik, Mas Dayat."
Hidayat menuangkan kopi.
"Lusa ada rapat lanjutan."
"Kalian tahu, kan?"
"Kami dengar."
Hidayat tersenyum tipis.
"Aku tidak ingin jalan itu dibangun begitu saja."
Salah seorang tamunya mengernyit.
"Kenapa?"
"Karena orang akan mengingat siapa yang menyelesaikan masalah."
"Bukan siapa yang memulainya."
Mereka saling berpandangan.
Belum sepenuhnya memahami maksud Hidayat.
Ia melanjutkan dengan suara pelan.
"Kadang..."
"Konflik kecil perlu dibiarkan membesar."
"Supaya nanti ada pahlawan yang datang."
"Dan pahlawan itu..."
"...adalah aku."
Senyumnya kali ini terasa dingin.
Bukan senyum seorang pemuda yang sedang jatuh cinta.
Melainkan senyum seseorang yang mulai menikmati permainan.
Malam semakin larut.
Di rumah Pak Jatmiko, Anjelina duduk di depan jendela kamarnya.
Angin malam membawa aroma bunga melati dari halaman.
Ia membuka buku catatan yang selalu dibawanya sejak kuliah.
Di halaman pertama ia menulis perlahan.
"Hari kedua di Arum Sari."
"Aku bertemu lagi dengan Herlambang."
"Desa ini masih seindah yang kuingat."
"Namun entah mengapa, aku merasa ada sesuatu yang sedang menunggu."
"Seolah-olah angin sedang membawa kabar yang belum siap kudengar."
Ia menutup buku itu perlahan.
Di luar jendela, bulan menggantung di langit tanpa bintang.
Jauh di ujung desa, pohon trembesi tua kembali bergoyang diterpa angin malam.
Daun-daunnya gugur satu demi satu.
Seakan memberi isyarat bahwa ketenangan yang kini masih menyelimuti Arum Sari hanyalah jeda singkat sebelum badai benar-benar datang.
Ayam jantan belum sempat berkokok ketika suara kentongan bertalu dari gardu ronda.
"Tong... tong... tong..."
Tiga kali.
Kemudian berhenti.
Lalu disusul suara Pak Bayan yang berkeliling kampung.
"Kerja bakti... kerja bakti di balai desa...!"
"Semua warga yang sempat dimohon hadir...!"
Suara itu menggema di antara rumah-rumah panggung yang masih diselimuti embun.
Arum Sari memiliki satu kebiasaan yang tak pernah berubah.
Jika desa hendak mengadakan hajatan, memperbaiki jalan, membersihkan sungai, atau menyambut tamu penting, seluruh warga turun tangan tanpa menunggu undangan resmi.
Gotong royong bukan sekadar pekerjaan.
Ia adalah cara warga menjaga persaudaraan.
Pagi itu Balai Desa tampak lebih ramai daripada biasanya.
Kaum lelaki membawa cangkul, sekop, dan gerobak dorong.
Kaum perempuan menyiapkan tikar, memasak teh, serta menanak nasi untuk makan bersama.
Anak-anak berlarian di halaman sambil membawa sapu lidi yang ukurannya hampir setinggi tubuh mereka.
Anjelina datang bersama ayahnya.
Beberapa warga menyambutnya hangat.
"Syukurlah, sekarang anak-anak muda mulai kembali."
"Desa ini memang butuh orang berpendidikan."
Anjelina hanya tersenyum.
Ia sadar, pujian sering kali menjadi awal dari harapan yang besar.
Dan harapan yang besar selalu datang bersama tanggung jawab.
Di sisi lain halaman, Herlambang sedang mengatur para pemuda.
"Kelompok pertama membersihkan saluran air."
"Kelompok kedua memperbaiki pagar balai."
"Yang lain ikut menanam pohon."
Tak ada nada memerintah dalam suaranya.
Ia berbicara seperti seorang sahabat.
Barangkali itulah sebabnya hampir semua orang bersedia mengikutinya.
Anjelina memperhatikan dari kejauhan.
Ia baru menyadari bahwa Herlambang memiliki sesuatu yang tidak dapat dibeli.
Kepercayaan.
Orang-orang percaya kepadanya tanpa perlu dipaksa.
"Anjelina."
Suara Kepala Desa memanggilnya.
"Boleh saya minta bantuan?"
"Tentu, Pak."
"Kami ingin membuat taman baca kecil di balai desa."
"Katanya kamu pernah mengelola perpustakaan kampus."
Anjelina mengangguk.
"Kalau warga berkenan, saya siap membantu."
Ucapan itu langsung disambut tepuk tangan kecil dari beberapa ibu.
"Bagus sekali."
"Anak-anak sekarang lebih sering bermain gawai."
"Harus dibiasakan membaca lagi."
Mata Herlambang bertemu dengan mata Anjelina.
Ia tersenyum.
"Ternyata kau memang pulang untuk membangun desa."
Anjelina menjawab pelan.
"Aku hanya ingin melakukan sesuatu yang bermanfaat."
Menjelang siang, kerja bakti dihentikan sejenak.
Semua berkumpul di bawah pohon trembesi tua.
Daunnya begitu rindang hingga sinar matahari hanya turun dalam garis-garis kecil.
Ki Waskita duduk bersandar pada batang pohon.
Usianya hampir delapan puluh tahun.
Namun matanya masih tajam.
Anak-anak desa mengerubunginya.
"Kek..."
"Ceritakan lagi kisah pohon ini."
Ki Waskita tersenyum tipis.
"Trembesi ini sudah ada sebelum kakek lahir."
"Konon..."
"...leluhur pertama Arum Sari menanamnya sebagai lambang persatuan."
"Selama pohon ini hidup..."
"...desa akan tetap berdiri."
"Kalau pohonnya mati bagaimana, Kek?"
Suasana mendadak hening.
Ki Waskita memandang batang pohon itu lama sekali.
Kemudian berkata pelan,
"Yang lebih berbahaya bukan ketika pohonnya mati."
"Melainkan ketika hati manusia berhenti saling menjaga."
Ucapan itu membuat beberapa orang dewasa saling berpandangan.
Herlambang mengangguk kecil.
Sementara Anjelina mencatat kalimat itu di buku kecilnya.
Entah mengapa, kata-kata sederhana itu terasa seperti pertanda.
Di tempat lain...
Hidayat berdiri di tepi bukit yang menghadap seluruh Desa Arum Sari.
Dari sana ia dapat melihat sawah, balai desa, surau, dan rumah-rumah warga.
Seseorang datang menghampirinya.
Namanya Roni.
Seorang pemuda yang sejak lama menjadi orang kepercayaannya.
"Semua sesuai rencana."
"Apa kata mereka?"
"Sebagian warga mulai mempertanyakan status tanah adat."
Hidayat tersenyum puas.
"Bagus."
"Biarkan mereka saling curiga."
Roni tampak ragu.
"Tapi kalau masalahnya selesai?"
"Kalau selesai terlalu cepat..."
"...orang tidak akan membutuhkan penyelamat."
Ia menoleh ke arah balai desa.
"Lihat itu."
"Mereka masih percaya gotong royong bisa menyelesaikan semua persoalan."
"Padahal..."
"...konflik adalah cara paling cepat mengubah arah sebuah desa."
Hidayat menarik napas panjang.
"Lambang terlalu dicintai warga."
"Selama dia masih ada..."
"...aku tidak akan pernah menjadi orang nomor satu di desa ini."
"Dan Anjelina?"
Hidayat terdiam beberapa saat.
Tatapannya berubah lembut.
"Aku tidak suka kalah."
"Bukan soal cinta."
"Tapi soal harga diri."
"Aku akan membuatnya memilih."
"Memilihku..."
"...atau kehilangan segalanya."
Angin sore berembus lebih kencang.
Daun-daun kering berputar di udara sebelum jatuh ke tanah.
Sore hari.
Kerja bakti selesai.
Balai desa tampak lebih bersih.
Saluran air kembali lancar.
Bibit-bibit pohon telah ditanam berjajar.
Anak-anak bermain di taman kecil yang baru dirapikan.
Sebelum pulang, Herlambang dan Anjelina berjalan menuju jembatan bambu di pinggir sungai.
Air mengalir tenang.
Hanya suara serangga yang menemani.
"Aku senang kau kembali."
Herlambang mengucapkannya tanpa menoleh.
Anjelina tersenyum.
"Aku juga senang bisa pulang."
"Kau akan tinggal lama?"
"Aku ingin tinggal."
"Kalau desa ini masih menerimaku."
Herlambang menghentikan langkahnya.
"Arum Sari tidak pernah menolak anak-anaknya."
Anjelina menatap aliran sungai.
"Lambang..."
"Apa menurutmu desa ini akan selalu damai?"
Pertanyaan itu membuat Herlambang terdiam.
Ia memandang langit yang mulai berubah jingga.
"Aku berharap begitu."
"Kenapa hanya berharap?"
"Karena akhir-akhir ini..."
"...aku mulai melihat orang lebih sering memperdebatkan kepentingan daripada mencari jalan keluar."
"Tanah."
"Jabatan."
"Pengaruh."
"Semuanya mulai membuat orang lupa bahwa kita hidup bertetangga."
Anjelina menghela napas.
"Semoga semuanya baik-baik saja."
Herlambang tidak menjawab.
Di balik semak-semak yang tumbuh di tepi sungai, seseorang diam-diam memperhatikan mereka.
Wajah itu tidak asing.
Hidayat.
Ia menggenggam sebuah ranting hingga patah menjadi dua.
Matanya tak pernah lepas dari Anjelina.
Di bibirnya tersungging senyum tipis yang sulit diartikan.
Bukan senyum bahagia.
Melainkan senyum seorang pemain catur yang baru saja menemukan langkah pertama untuk menjatuhkan lawannya.
Di langit barat, matahari akhirnya tenggelam.
Sementara di Desa Arum Sari, tanpa disadari siapa pun, musim yang mempertemukan hati perlahan berubah menjadi musim yang akan menguji kesetiaan, persahabatan, dan harga diri setiap orang yang tinggal di dalamnya.
BAB III – Persahabatan yang Tumbuh
Pagi di Desa Arum Sari selalu dimulai dengan bunyi-bunyian yang sama.
Kokok ayam bersahut-sahutan dari setiap sudut kampung.
Suara alu menumbuk padi terdengar dari dapur-dapur rumah panggung.
Asap kayu bakar mengepul perlahan, membawa aroma nasi yang baru matang dan kopi hitam yang sedang diseduh.
Bagi sebagian orang, pagi hanyalah awal hari.
Namun bagi Herlambang, pagi adalah kesempatan baru untuk menanam harapan.
Seperti biasa, sebelum berangkat mengajar, ia menyempatkan diri berjalan mengelilingi desa.
Ia percaya seorang guru tidak hanya mengenal murid-muridnya di dalam kelas.
Ia juga harus mengenal keluarga mereka, kehidupan mereka, bahkan kesulitan yang mereka sembunyikan.
Ketika melewati rumah Pak Darto, ia melihat seorang anak laki-laki duduk termenung di tangga.
Namanya Bima.
Murid kelas lima yang sejak beberapa hari terakhir tampak murung.
"Hari ini tidak sekolah?"
Bima menundukkan kepala.
"Sepatuku rusak, Pak."
Herlambang memperhatikan sandal jepit yang dipakai anak itu.
Lalu matanya beralih pada tas sekolah yang sudah lusuh.
"Ayahmu di mana?"
"Sudah ke sawah."
"Ibumu?"
"Sakit."
Herlambang mengusap kepala Bima.
"Tunggu sebentar."
Ia pulang ke rumahnya yang tidak jauh dari sana.
Beberapa menit kemudian ia kembali membawa sepasang sepatu yang masih layak pakai.
"Ini milik saya waktu pertama mengajar."
"Mungkin masih kebesaran."
"Tapi lebih baik daripada tidak sekolah."
Bima membelalak.
"Pak..."
"Saya tidak punya uang."
Herlambang tersenyum.
"Kalau begitu bayarlah nanti."
"Dengan apa?"
"Dengan menjadi anak yang rajin belajar."
Air mata menggantung di pelupuk mata Bima.
Ia memeluk sepatu itu erat-erat.
"Terima kasih, Pak Guru."
Herlambang hanya mengangguk.
Baginya, ilmu tidak akan pernah tumbuh jika seorang anak berhenti bermimpi hanya karena sepasang sepatu.
Di rumah Pak Jatmiko, Anjelina sedang menata beberapa kardus berisi buku.
Sebagian besar adalah buku-buku yang ia bawa dari kota.
Novel.
Ensiklopedia.
Buku keterampilan.
Dongeng anak.
Buku pertanian.
Hingga buku tentang kewirausahaan.
Pak Jatmiko memandang tumpukan itu sambil tersenyum.
"Semua ini kau bawa?"
"Iya, Yah."
"Untuk apa?"
"Aku ingin membuat pojok baca di balai desa."
Pak Jatmiko terdiam beberapa saat.
"Kau yakin?"
"Apa anak-anak mau membaca?"
Anjelina tersenyum.
"Kalau kita menunggu mereka datang..."
"...mungkin tidak."
"Tapi kalau kita yang mendatangi mereka..."
"...mungkin akan berbeda."
Ayahnya mengangguk perlahan.
"Dulu ibumu juga begitu."
"Selalu percaya bahwa ilmu bisa mengubah nasib seseorang."
Anjelina memandang foto ibunya ketika masih muda yang tergantung di ruang tamu.
Ia tersenyum kecil.
"Mudah-mudahan aku bisa mewarisi semangat itu."
Menjelang siang, Balai Desa kembali ramai.
Beberapa pemuda sedang mengecat rak buku.
Anak-anak membantu membersihkan ruangan.
Para ibu menjahit tirai sederhana dari kain bekas.
Tak ada upah.
Tak ada proyek.
Semuanya dilakukan dengan sukarela.
Herlambang datang membawa beberapa meja kecil dari sekolah.
"Pak Kepala Sekolah mengizinkan meja lama dipakai."
"Daripada disimpan di gudang."
Kepala Desa mengangguk senang.
"Terima kasih, Lambang."
"Ini akan sangat membantu."
Anjelina memandang Herlambang yang sedang mengangkat meja seorang diri.
"Lambang."
"Biar kubantu."
"Tidak usah."
"Bisa kok."
Anjelina tetap memegang ujung meja.
Mereka mengangkatnya bersama.
Melihat itu, beberapa ibu saling tersenyum.
"Serasi ya..."
"Diam..."
"Nanti mereka dengar."
Anjelina yang sempat mendengar bisikan itu hanya tersipu.
Sementara Herlambang berpura-pura tidak mendengar.
Namun wajahnya yang biasanya tenang mulai memerah.
Sore harinya, taman baca kecil itu akhirnya selesai.
Rak-rak sederhana berdiri rapi.
Beberapa buku mulai disusun berdasarkan jenisnya.
Di sudut ruangan terdapat tikar pandan dan bantal-bantal kecil agar anak-anak nyaman membaca.
Anak pertama yang masuk adalah Siti, siswi kelas dua SD.
Ia memegang sebuah buku bergambar kupu-kupu.
"Bu..."
"Boleh dipinjam?"
Anjelina berjongkok di hadapannya.
"Tentu."
"Tapi setelah selesai dibaca..."
"...ceritakan lagi isinya kepadaku."
Siti mengangguk riang.
Disusul anak-anak lain.
Dalam waktu singkat ruangan kecil itu dipenuhi tawa.
Ada yang membaca keras-keras.
Ada yang hanya melihat gambar.
Ada pula yang pura-pura membaca sambil sesekali mengintip temannya.
Herlambang berdiri di depan pintu.
Ia memandang pemandangan itu dengan mata yang berbinar.
"Terima kasih."
Anjelina menoleh.
"Untuk apa?"
"Sudah membawa semangat baru ke desa ini."
Anjelina menggeleng pelan.
"Aku tidak membawa apa-apa."
"Aku hanya mengembalikan apa yang dulu diberikan desa kepadaku."
Kalimat itu membuat Herlambang terdiam.
Semakin lama mengenal Anjelina, semakin ia memahami bahwa perempuan itu tidak pernah mengejar pujian.
Ia bekerja karena merasa memiliki tanggung jawab.
Dan justru karena itulah ia semakin mengaguminya.
Menjelang petang, hujan turun perlahan.
Anak-anak berlarian pulang sambil membawa buku yang mereka pinjam.
Balai desa kembali lengang.
Anjelina membantu menutup jendela.
Tiba-tiba listrik padam.
Ruangan menjadi gelap.
Hanya suara hujan yang terdengar memukul atap seng.
"Aduh..."
Anjelina hampir tersandung.
Namun sebelum tubuhnya kehilangan keseimbangan, sebuah tangan sigap menahannya.
Herlambang.
"Maaf."
"Aku tidak melihat."
"Tidak apa-apa."
Untuk beberapa detik, mereka saling menatap.
Tidak ada kata yang terucap.
Hanya suara hujan yang menjadi saksi.
Di luar, kilat menyambar langit.
Cahayanya sesaat menerangi wajah keduanya.
Lalu gelap kembali.
Anjelina perlahan melepaskan tangannya.
"Terima kasih."
Herlambang mengangguk pelan.
"Selalu."
Satu kata itu meluncur begitu saja.
Namun setelah mengucapkannya, ia sendiri terkejut.
Anjelina tersenyum kecil.
Senyum yang sederhana.
Namun cukup untuk membuat hati Herlambang berdebar lebih cepat daripada biasanya.
Di balik jendela balai desa yang sedikit terbuka, sesosok bayangan berdiri memandangi mereka dari kejauhan.
Hujan menyamarkan wajahnya.
Tetapi sorot matanya tetap terlihat tajam.
Hidayat.
Ia menggenggam payungnya begitu erat hingga jemarinya memutih.
Dalam benaknya, tumbuh keyakinan bahwa jika ia terlambat bergerak, bukan hanya hati Anjelina yang akan hilang darinya.
Melainkan juga kesempatan untuk menjadi orang yang paling berpengaruh di Desa Arum Sari.
Dan Hidayat bukan orang yang pernah menerima kekalahan dengan lapang dada.
Hujan yang mengguyur Arum Sari semalam meninggalkan aroma tanah yang begitu kuat.
Pagi itu, embun masih menggantung di ujung-ujung daun padi. Air mengalir deras di saluran irigasi yang baru saja dibersihkan warga. Burung-burung kecil hinggap di pagar bambu, seolah ikut menikmati kesejukan pagi.
Di halaman balai desa, beberapa anak telah berkumpul.
Sebagian membawa buku.
Sebagian lagi hanya membawa rasa ingin tahu.
Anjelina datang lebih awal.
Ia membuka jendela perpustakaan kecil yang baru beberapa hari berdiri.
Ruangan sederhana itu mulai terasa hidup.
Rak-rak kayu yang sebelumnya kosong kini dipenuhi buku.
Di dinding tergantung tulisan tangan berwarna-warni.
"Membaca adalah Cara Termurah Melihat Dunia."
Tulisan itu dibuat sendiri oleh anak-anak desa.
Anjelina mengusap perlahan salah satu rak.
Entah mengapa, setiap kali berada di ruangan itu, ia merasa sedang memulai sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar mengumpulkan buku.
Ia sedang menanam mimpi.
Tak lama kemudian Herlambang datang bersama belasan murid sekolah dasar.
"Selamat pagi..."
"Selamat pagi, Pak Guru...!" jawab anak-anak serempak.
Herlambang tersenyum.
"Hari ini kita belajar di sini."
Sorak-sorai kecil memenuhi ruangan.
Belajar di perpustakaan baru menjadi pengalaman yang menyenangkan bagi mereka.
Anjelina membagikan buku cerita bergambar.
"Siapa yang selesai membaca lebih dulu..."
"...harus menceritakan kembali isi bukunya."
Seorang anak kecil mengangkat tangan.
"Kalau belum lancar membaca bagaimana, Kak?"
Anjelina tersenyum lembut.
"Kalau belum lancar..."
"...kita belajar bersama."
Anak itu tersenyum lega.
Di sudut ruangan, Herlambang memperhatikan cara Anjelina mendampingi anak-anak.
Tidak ada nada menggurui.
Tidak ada wajah kesal ketika seorang anak salah mengeja.
Yang ada hanyalah kesabaran.
Ia baru memahami mengapa anak-anak begitu cepat menyukai perempuan itu.
Karena Anjelina tidak pernah membuat mereka merasa bodoh.
Menjelang siang, kelas membaca selesai.
Anak-anak pulang dengan wajah ceria.
Seorang bocah perempuan bernama Nisa berlari menghampiri Herlambang.
"Pak Guru..."
"Iya?"
"Kak Lina baik sekali."
Herlambang tertawa.
"Iya."
"Kalau Kak Lina tinggal di sini terus, boleh ya?"
Herlambang tidak langsung menjawab.
Ia memandang Anjelina yang sedang merapikan buku.
"Semoga."
Jawaban itu lebih terdengar seperti doa daripada sekadar harapan.
Hari-hari berikutnya, hampir setiap kegiatan desa mempertemukan mereka.
Kadang di balai desa.
Kadang di sekolah.
Kadang di sawah ketika menemani kelompok tani belajar membuat pupuk organik.
Kadang di posyandu ketika membantu para kader mencatat data balita.
Persahabatan mereka tumbuh tanpa disadari.
Bukan karena sering bertemu.
Melainkan karena mereka memiliki tujuan yang sama.
Mereka sama-sama percaya bahwa desa tidak akan maju jika hanya menunggu bantuan dari luar.
Desa harus dibangun oleh orang-orang yang mencintainya.
Suatu sore, Herlambang mengajak Anjelina mengunjungi rumah Pak Sastro.
Petani tua itu tinggal seorang diri sejak istrinya meninggal tiga tahun lalu.
Rumahnya sederhana.
Dindingnya masih dari papan.
Halamannya dipenuhi tanaman obat.
Pak Sastro menyambut mereka dengan senyum lebar.
"Lambang..."
"Masuk."
"Wah, sekarang bawa tamu cantik."
Anjelina tersenyum sopan.
"Assalamu'alaikum, Pak."
"Wa'alaikumsalam."
Pak Sastro menuangkan teh panas ke dalam cangkir enamel yang mulai pudar warnanya.
"Kalian tahu..."
"Rumah ini dulu ramai."
"Tapi sekarang tinggal aku sendiri."
Suasana mendadak hening.
Herlambang memandang lelaki tua itu penuh hormat.
"Kami datang bukan hanya untuk berkunjung."
"Kami ingin membantu memperbaiki atap rumah Bapak."
Pak Sastro terkejut.
"Atap?"
"Iya."
"Kemarin bocor waktu hujan."
"Lho..."
"Siapa yang bilang?"
Herlambang tersenyum.
"Kalau tetangga kesusahan..."
"...desa biasanya lebih dulu tahu daripada pemilik rumahnya."
Pak Sastro tertawa kecil.
Namun matanya mulai berkaca-kaca.
Keesokan harinya, belasan pemuda datang bergotong royong memperbaiki rumah Pak Sastro.
Tanpa diminta.
Tanpa dibayar.
Anjelina membantu para ibu memasak.
Sementara Herlambang naik ke atap mengganti genting yang pecah.
Melihat pemandangan itu, Pak Sastro berbisik kepada Ki Waskita yang kebetulan lewat.
"Lihat mereka..."
"Seperti anak-anak muda zaman dulu."
Ki Waskita mengangguk pelan.
"Persaudaraan masih hidup."
"Tapi..."
Ia menghentikan kalimatnya.
"Tapi apa, Ki?"
Tetua adat itu memandang jauh ke arah balai desa.
"Kadang..."
"...yang menghancurkan sebuah kampung bukan orang luar."
"Melainkan anak kampung sendiri."
Pak Sastro mengikuti arah pandang Ki Waskita.
Di kejauhan tampak sebuah mobil hitam berhenti di depan rumah Haji Mahendra.
Beberapa orang berpakaian rapi turun membawa map-map tebal.
Mereka bukan warga Arum Sari.
Sore harinya.
Di rumah besar Haji Mahendra berlangsung pertemuan tertutup.
Hidayat duduk di ujung meja.
Di hadapannya terbentang beberapa lembar peta.
Salah seorang tamu membuka map berwarna cokelat.
"Ini hasil pengukuran lahan."
"Sebagian tanah di sebelah timur desa memiliki nilai ekonomi tinggi."
Hidayat mengangguk.
"Karena dekat jalan provinsi."
"Betul."
"Kalau status tanah adat itu berubah..."
"...harga tanah akan naik berkali-kali lipat."
Seorang tamu bertanya pelan.
"Tapi warga belum tentu setuju."
Hidayat tersenyum.
"Warga tidak perlu langsung setuju."
"Cukup dibuat saling berbeda pendapat."
"Kalau mereka mulai bertengkar..."
"...akan lebih mudah menentukan arah keputusan."
Ruangan kembali sunyi.
Tak seorang pun menyela.
Mereka mulai memahami bahwa Hidayat tidak sedang memikirkan pembangunan desa.
Ia sedang menyusun langkah-langkah untuk menguasainya.
Menjelang malam, Anjelina duduk di teras rumah.
Di tangannya terdapat buku catatan yang kini mulai dipenuhi tulisan.
Ia menulis:
"Aku melihat sesuatu yang indah hari ini."
"Sekelompok pemuda memperbaiki rumah seorang petani tua tanpa mengharap imbalan."
"Aku mulai percaya bahwa gotong royong bukan hanya cerita yang diajarkan di sekolah."
"Ia benar-benar hidup di desa ini."
Namun beberapa saat kemudian, ia berhenti menulis.
Pandangannya tertuju ke arah langit.
Awan hitam perlahan berkumpul.
Angin malam bertiup lebih dingin daripada biasanya.
Entah mengapa, di balik semua kehangatan yang ia rasakan, ada firasat yang sulit dijelaskan.
Seolah-olah ada tangan tak terlihat yang perlahan sedang menarik benang-benang kehidupan mereka ke arah yang berbeda.
Di tempat lain, Hidayat berdiri di depan jendela kamarnya.
Ia memandang lampu-lampu rumah warga yang mulai padam satu per satu.
Lalu berkata lirih pada dirinya sendiri,
"Persahabatan memang indah..."
"...tapi tidak ada persahabatan yang cukup kuat ketika kekuasaan mulai diperebutkan."
Ia menutup tirai jendela.
Malam kembali sunyi.
Tanpa seorang pun menyadari bahwa roda konflik telah mulai berputar.
Dan tidak lama lagi, seluruh Desa Arum Sari akan ikut terseret di dalamnya.
Fajar pada hari Senin datang bersama suara hujan yang telah reda.
Langit Arum Sari berwarna kebiru-biruan, seolah alam sedang memberi kesempatan kepada desa itu untuk bernapas sebelum menghadapi sesuatu yang lebih besar.
Di halaman Balai Desa, bendera Merah Putih berkibar pelan diterpa angin.
Pagi itu bukan pagi yang biasa.
Kepala Desa mengundang perangkat desa, Badan Permusyawaratan Desa, para ketua RT, tokoh adat, tokoh agama, kelompok tani, dan beberapa perwakilan pemuda.
Agenda rapat hanya satu.
Pendataan ulang tanah adat di wilayah timur Desa Arum Sari.
Namun semua orang tahu...
Persoalan yang akan dibahas jauh lebih rumit daripada sekadar pendataan.
Sejak pukul delapan pagi, warga mulai berdatangan.
Pak Sastro duduk berdampingan dengan Pak Darto.
Para ibu memilih duduk di kursi belakang.
Beberapa pemuda berdiri di dekat jendela.
Ki Waskita datang paling akhir.
Ia mengenakan beskap hitam sederhana dan tongkat kayu cendana yang selalu menemaninya.
Saat beliau memasuki ruangan, hampir semua orang berdiri memberi hormat.
Bukan karena jabatan.
Melainkan karena penghormatan kepada usia dan kebijaksanaan.
Tak lama kemudian Herlambang datang.
Ia tidak diundang sebagai peserta resmi.
Namun sebagai wakil pemuda desa, keberadaannya dianggap penting.
Di belakangnya berjalan Anjelina.
Kepala Desa mempersilakan mereka duduk.
"Silakan."
"Semakin banyak yang mendengar, semakin baik."
Anjelina mengangguk sopan.
Ia membawa buku kecil untuk mencatat jalannya rapat.
Rapat dimulai.
Sekretaris Desa membuka beberapa berkas.
"Pemerintah desa telah menerima hasil pengukuran awal."
"Sebagian lahan di wilayah timur masih tercatat sebagai tanah adat."
"Sebagian lagi belum memiliki kejelasan administrasi."
Suasana masih tenang.
Hingga seorang warga mengangkat tangan.
"Kalau statusnya belum jelas..."
"...berarti bisa disertifikatkan?"
Belum sempat Sekretaris Desa menjawab, warga lain menyela.
"Itu tanah leluhur."
"Tidak boleh sembarangan."
"Kalau tidak disertifikatkan..."
"...anak cucu kita nanti bagaimana?"
Perdebatan kecil mulai terdengar.
Kepala Desa mengangkat tangan.
"Tenang."
"Kita belum mengambil keputusan."
"Kita baru mendengarkan pendapat."
Namun kata "tenang" ternyata tidak cukup menghentikan gelombang kegelisahan yang mulai muncul.
Di sudut ruangan, Hidayat duduk dengan wajah yang sulit dibaca.
Ia tidak banyak berbicara.
Sesekali hanya tersenyum tipis.
Persis seperti yang ia inginkan.
Semakin banyak orang berbicara.
Semakin besar kemungkinan muncul perbedaan.
Ia melirik Roni yang duduk beberapa kursi di belakang.
Roni mengangguk pelan.
Isyarat itu cukup.
Beberapa menit kemudian, seorang warga yang dikenal dekat dengan Haji Mahendra berdiri.
"Maaf."
"Saya hanya ingin bertanya."
"Kenapa pendataan ini baru dilakukan sekarang?"
"Apakah selama ini ada yang ditutupi?"
Ruangan mendadak sunyi.
Pertanyaan itu terdengar sederhana.
Namun mengandung tuduhan yang tajam.
Beberapa warga mulai saling berpandangan.
Sekretaris Desa tampak gugup.
Kepala Desa menarik napas panjang.
"Bukan begitu maksudnya."
"Data lama memang perlu diperbarui."
Namun keraguan telah telanjur tumbuh.
Dan Hidayat mengetahui satu hal.
Keraguan adalah benih terbaik bagi sebuah perpecahan.
Ki Waskita perlahan berdiri.
Seluruh ruangan kembali hening.
Suara lelaki tua itu pelan.
Namun setiap katanya terdengar jelas.
"Dulu..."
"Orang tua kami tidak pernah berebut tanah."
"Mereka berebut siapa yang paling banyak membantu tetangganya."
Beberapa warga menundukkan kepala.
"Tetapi sekarang..."
"Kita mulai mengukur persaudaraan dengan batas patok."
Beliau memandang satu per satu wajah yang hadir.
"Ingat."
"Tanah dapat diwariskan."
"Uang dapat dicari."
"Tetapi jika hati sudah retak..."
"...anak cucu kitalah yang akan menanggungnya."
Ruangan kembali senyap.
Tak ada seorang pun berani memotong ucapannya.
Hanya Hidayat yang tetap duduk sambil memainkan ujung pulpennya.
Saat rapat hampir selesai, Kepala Desa mengusulkan pembentukan Tim Pendataan Bersama.
Tim itu terdiri atas perangkat desa, tokoh adat, kelompok tani, dan perwakilan pemuda.
"Supaya semua proses terbuka."
"Dan tidak ada yang merasa dirugikan."
Usulan itu disambut anggukan.
Hingga tiba-tiba terdengar suara dari belakang.
"Saya mengusulkan Herlambang menjadi koordinator pemuda."
Beberapa warga langsung menyetujui.
"Setuju."
"Lambang orangnya jujur."
"Dia dekat dengan warga."
Herlambang tampak terkejut.
"Saya..."
Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Hidayat berdiri.
"Aku tidak keberatan."
"Tapi bukankah sebaiknya posisi itu diisi orang yang benar-benar netral?"
Kalimat itu membuat ruangan kembali sunyi.
"Apa maksudmu?" tanya Ketua BPD.
Hidayat tersenyum tipis.
"Semua orang tahu Lambang sangat dekat dengan keluarga Pak Jatmiko."
Tatapan warga perlahan beralih kepada Anjelina.
"Kalau nanti ada keputusan..."
"...orang bisa saja menganggapnya tidak objektif."
Ucapan itu terdengar masuk akal.
Namun bagi Herlambang, itulah pertama kalinya persahabatan dijadikan alasan untuk meragukan kejujurannya.
Anjelina menggenggam buku catatannya lebih erat.
Ia mulai memahami...
Konflik ini tidak hanya tentang tanah.
Tetapi juga tentang cara menghancurkan kepercayaan seseorang.
Rapat akhirnya ditunda.
Belum ada keputusan.
Warga pulang membawa pikiran masing-masing.
Di halaman balai desa, Herlambang berdiri memandangi pohon trembesi.
Anjelina menghampirinya.
"Jangan dimasukkan ke hati."
Herlambang tersenyum hambar.
"Bukan ucapannya yang membuatku sedih."
"Lalu?"
"Kalau orang mulai saling curiga..."
"...desa ini akan kehilangan sesuatu yang selama ini paling berharga."
"Apa?"
"Kepercayaan."
Anjelina memandang wajah lelaki itu.
Ia melihat kegelisahan yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
"Lambang."
"Kalau nanti keadaan semakin sulit..."
"...aku akan tetap percaya padamu."
Herlambang menoleh.
Tatapan mereka bertemu.
Untuk pertama kalinya sejak Anjelina pulang ke Arum Sari, keduanya menyadari bahwa mereka tidak lagi sekadar teman masa kecil.
Ada rasa yang tumbuh perlahan.
Masih terlalu muda untuk disebut cinta.
Namun cukup kuat untuk membuat mereka saling menguatkan.
Tanpa mereka sadari, dari balik jendela kantor desa, Hidayat menyaksikan semuanya.
Ia tersenyum tipis.
Kini ia mengetahui titik lemah lawannya.
Bukan jabatan.
Bukan harta.
Melainkan hati.
Dan seseorang yang ingin menguasai sebuah desa, menurutnya, harus lebih dulu mematahkan hati orang-orang yang paling dicintai warganya.
Di luar balai desa, angin kembali menggugurkan daun-daun trembesi.
Ki Waskita yang berjalan perlahan melewati halaman berhenti sejenak.
Beliau menatap dedaunan yang jatuh berputar-putar di tanah.
Lalu berbisik hampir tanpa suara,
"Musim itu... akhirnya benar-benar datang."
Tidak ada seorang pun yang mendengarnya.
Tetapi langit Arum Sari yang perlahan kembali mendung seolah memahami bahwa sejak hari itu, desa tersebut telah memasuki musim baru.
Musim ketika persahabatan akan diuji.
Kesetiaan akan dipertanyakan.
Dan cinta akan dipaksa memilih antara hati... atau pengorbanan.
BAB IV – Janji di Bawah Pohon Trembesi
Sudah tujuh hari berlalu sejak rapat pendataan tanah adat berakhir tanpa keputusan.
Namun suasana di Desa Arum Sari tak lagi sama.
Jika dahulu warga lebih sering membicarakan hasil panen, musim tanam, atau harga gabah, kini hampir di setiap sudut desa terdengar percakapan tentang batas tanah, peta, dan kabar-kabar yang belum tentu benar.
Rumor tumbuh lebih cepat daripada padi.
Dan bagi sebuah desa, rumor adalah benih yang paling mudah menjelma menjadi perpecahan.
Pagi itu Herlambang berjalan menuju sekolah dengan langkah yang lebih lambat dari biasanya.
Di depan warung Mak Minah, ia mendengar dua orang lelaki sedang berbincang.
"Kudengar tanah sebelah timur mau dijual."
"Katanya begitu."
"Siapa yang jual?"
"Entahlah."
"Ada yang bilang perangkat desa sudah sepakat."
"Ada juga yang bilang itu tanah adat."
Herlambang berhenti sejenak.
Ia ingin meluruskan.
Namun memilih meneruskan langkah.
Ia tahu...
Perdebatan yang lahir dari kabar angin tidak akan selesai hanya dengan satu penjelasan.
Di sekolah, anak-anak tetap riang seperti biasanya.
Mereka belum mengerti mengapa orang-orang dewasa mulai saling menjaga jarak.
Bagi mereka, Arum Sari masihlah desa yang sama.
Tempat bermain layang-layang.
Mencari belut di sawah.
Berenang di sungai.
Dan belajar mengeja huruf demi huruf.
Saat jam pelajaran selesai, Herlambang duduk sendirian di teras kelas.
Ia membuka buku nilai, tetapi pikirannya melayang jauh.
"Pak Guru."
Suara kecil memanggil.
Ternyata Nisa berdiri sambil membawa sebuah gambar.
"Apa itu?"
"Aku menggambar desa kita."
Herlambang menerima gambar itu.
Di atas kertas tampak sawah hijau, sungai, balai desa, pohon trembesi, dan rumah-rumah yang berdiri berdampingan.
Di bawah gambar itu tertulis dengan huruf yang masih belum rapi.
"Desaku adalah Rumahku."
Herlambang tersenyum.
"Bagus sekali."
Nisa memiringkan kepala.
"Pak Guru..."
"Iya?"
"Kenapa orang dewasa sekarang sering marah?"
Pertanyaan itu menusuk jauh ke dalam hati Herlambang.
Ia tidak segera menjawab.
Setelah beberapa saat, ia berkata pelan,
"Karena kadang-kadang..."
"...orang dewasa lupa melihat dunia seperti anak-anak."
Nisa mengangguk, meski belum benar-benar mengerti.
Sore harinya, Anjelina mengajak beberapa anak membaca di bawah pohon trembesi.
Perpustakaan kecil di balai desa mulai penuh setiap sore.
Karena itu, mereka memindahkan kegiatan ke halaman.
Anak-anak duduk melingkar di atas tikar.
Anjelina membacakan sebuah cerita tentang seekor burung yang rela kehilangan sayapnya demi menyelamatkan teman-temannya.
Ketika cerita selesai, ia bertanya,
"Kalau kalian menjadi burung itu..."
"...apa yang akan kalian lakukan?"
Seorang anak menjawab,
"Aku tetap menolong."
"Walaupun nanti tidak bisa terbang?"
"Iya."
"Kenapa?"
"Soalnya kalau temanku sedih..."
"...aku juga sedih."
Jawaban polos itu membuat para ibu yang mendengarkan ikut tersenyum.
Di kejauhan, Herlambang datang membawa sebuah keranjang berisi bibit bunga.
"Untuk apa?"
tanya Anjelina.
"Kita tanam di sekitar taman baca."
"Supaya anak-anak betah."
Anjelina mengambil satu bibit.
"Kalau begitu..."
"...aku ikut menanam."
Anak-anak bersorak.
"Kami juga!"
Tak lama kemudian halaman balai desa dipenuhi tawa.
Tangan-tangan kecil menggali tanah.
Sebagian menanam bunga.
Sebagian menyiram.
Sebagian lagi justru bermain lumpur.
Melihat itu, Kepala Desa yang baru keluar dari kantornya tersenyum.
"Beginilah seharusnya desa."
Menjelang matahari terbenam, anak-anak satu per satu pulang.
Halaman kembali sepi.
Tinggal Anjelina dan Herlambang yang masih merapikan peralatan.
Angin sore menggerakkan daun-daun trembesi hingga terdengar suara gemerisik yang lembut.
Mereka duduk di bangku kayu menghadap hamparan sawah.
Beberapa saat tak ada yang berbicara.
Anjelina memecah keheningan.
"Lambang..."
"Pernah ingin pergi dari desa?"
Herlambang memandang matahari yang perlahan tenggelam.
"Pernah."
"Lalu?"
"Aku pulang lagi."
"Kenapa?"
"Karena ke mana pun aku pergi..."
"...yang selalu kupikirkan adalah tempat ini."
Anjelina tersenyum tipis.
"Aku juga."
Mereka kembali diam.
Suara jangkrik mulai terdengar dari pematang sawah.
Herlambang mengambil sehelai daun trembesi yang jatuh di pangkuannya.
"Lina..."
"Boleh aku meminta satu hal?"
"Apa?"
"Kalau suatu hari nanti..."
"...desa ini menghadapi masa-masa sulit..."
"...jangan tinggalkan Arum Sari."
Anjelina menatap wajahnya.
"Kenapa meminta itu?"
"Karena desa ini membutuhkan orang-orang yang mau bertahan."
Anjelina mengangguk perlahan.
"Kalau begitu..."
"...kau juga harus berjanji."
"Janji apa?"
"Jangan pernah menyerah memperjuangkan kebenaran."
Walaupun nanti..."
"...kau harus sendirian."
Herlambang tersenyum.
"Aku berjanji."
"Lalu kau?"
"Aku juga berjanji."
Tanpa mereka sadari, Ki Waskita yang baru selesai salat Magrib berjalan melewati halaman balai desa.
Beliau berhenti beberapa langkah dari pohon trembesi.
Memandang dua anak muda itu dengan tatapan penuh makna.
Dalam hati ia berbisik,
"Janji yang lahir di bawah pohon tua ini akan menjadi saksi perjalanan hidup kalian."
"Semoga kalian cukup kuat menanggung harga dari sebuah janji."
Di saat yang sama, di rumah Haji Mahendra, suasana jauh berbeda.
Hidayat baru saja menerima sebuah amplop cokelat.
Ia membuka isinya.
Beberapa lembar fotokopi peta.
Daftar bidang tanah.
Nama-nama pemilik.
Dan sebuah surat yang belum ditandatangani.
Roni berdiri di depannya.
"Semuanya sudah siap."
Hidayat membaca berkas itu perlahan.
"Bagus."
"Tapi kita belum bergerak."
"Kenapa?"
"Karena orang yang terburu-buru menyerang..."
"...sering lupa menyiapkan jalan pulang."
Ia meletakkan amplop itu di atas meja.
"Lihat saja."
"Dalam waktu dekat..."
"...orang-orang akan mulai saling menyalahkan."
"Dan ketika kepercayaan mereka runtuh..."
"...aku akan datang menawarkan harapan."
Hidayat berjalan menuju jendela.
Dari kejauhan tampak siluet pohon trembesi yang berdiri gagah di depan balai desa.
Ia tersenyum sinis.
"Setiap pohon besar..."
"...pasti bisa tumbang."
"Tinggal menunggu akarnya mulai rapuh."
Di luar, angin malam kembali bertiup.
Daun-daun trembesi berjatuhan tanpa henti.
Seolah pohon tua itu sedang berusaha mengingatkan seluruh penghuni Arum Sari bahwa badai tidak selalu datang bersama hujan.
Kadang ia datang dalam bentuk manusia yang tersenyum paling ramah.
Tiga hari setelah janji itu terucap di bawah pohon trembesi, langit Desa Arum Sari mulai sering diselimuti awan kelabu.
Bukan karena musim hujan.
Melainkan karena hati manusia perlahan kehilangan kejernihannya.
Pagi itu pasar desa lebih ramai daripada biasanya.
Hari pasaran selalu menjadi tempat bertemunya warga dari dusun-dusun sekitar. Orang datang membawa hasil panen, ayam kampung, sayuran, ikan sungai, hingga anyaman bambu.
Namun, di balik riuh suara tawar-menawar, ada bisikan-bisikan yang mengalir lebih cepat daripada transaksi jual beli.
"Kudengar Herlambang sudah masuk tim pendataan."
"Katanya begitu."
"Kalau begitu, keluarga Pak Jatmiko pasti diuntungkan."
"Aku juga dengar begitu."
"Tapi siapa yang bilang?"
"Entahlah... semua orang sudah membicarakannya."
Begitulah fitnah bekerja.
Ia tidak membutuhkan bukti.
Cukup membutuhkan orang yang bersedia mengulanginya.
Di rumah Pak Jatmiko, Anjelina sedang membantu ibunya menjemur gabah.
Seorang tetangga datang sambil membawa keranjang sayur.
"Bu Sulastri..."
"Iya, Mbak Rini."
Tetangga itu tersenyum, tetapi senyumnya terasa dipaksakan.
"Lina sekarang sering ke balai desa ya?"
"Iya."
"Membantu taman baca."
"Oh..."
"Bagus juga."
Namun sebelum pulang, ia berkata pelan,
"Hati-hati saja."
"Sekarang banyak orang yang tidak suka melihat orang lain terlalu dekat dengan urusan desa."
Kalimat itu terdengar biasa.
Tetapi cukup membuat Bu Sulastri terdiam.
Anjelina ikut mendengarnya.
Ia berpura-pura tetap menjemur gabah, padahal pikirannya mulai dipenuhi pertanyaan.
"Mengapa membantu desa harus dicurigai?"
Sementara itu, di sekolah dasar, Herlambang sedang mengajar tentang kejujuran.
Ia menulis satu kalimat di papan tulis.
"Kepercayaan dibangun bertahun-tahun, tetapi bisa hancur dalam satu kebohongan."
"Anak-anak..."
"Siapa yang tahu arti percaya?"
Bima mengangkat tangan.
"Percaya itu tidak bohong, Pak."
"Bagus."
"Kalau temanmu difitnah padahal tidak salah..."
"...apa yang harus kalian lakukan?"
Ruangan menjadi sunyi.
Nisa menjawab pelan,
"Mendengarkan penjelasannya dulu."
Herlambang tersenyum bangga.
"Itulah yang sering dilupakan orang dewasa."
Anak-anak saling berpandangan.
Mereka belum memahami mengapa Pak Guru hari itu berbicara dengan suara yang lebih pelan dari biasanya.
Siang harinya, Kepala Desa memanggil Herlambang ke kantornya.
"Lambang..."
"Duduk."
Ada kegelisahan di wajah Kepala Desa.
"Ada apa, Pak?"
"Beberapa warga mulai mempertanyakan keterlibatanmu dalam pendataan tanah."
Herlambang mengernyit.
"Saya bahkan belum ikut mendata apa pun."
"Saya tahu."
"Tapi isu sudah telanjur beredar."
"Siapa yang menyebarkannya?"
Kepala Desa menggeleng.
"Belum ada yang tahu."
"Tapi orang-orang mulai saling curiga."
Herlambang menarik napas panjang.
"Kalau begitu..."
"...lebih baik saya mengundurkan diri dari tim."
Kepala Desa segera mengangkat tangan.
"Jangan."
"Kalau orang baik mundur setiap kali difitnah..."
"...siapa yang akan menjaga desa ini?"
Kalimat itu membuat Herlambang terdiam.
Menjelang sore, Anjelina datang ke perpustakaan kecil.
Hari itu hanya ada beberapa anak.
Mereka tampak lebih pendiam.
Salah seorang ibu menghampiri Anjelina.
"Nduk..."
"Iya, Bu?"
"Mungkin beberapa hari ini anak-anak tidak dulu ikut membaca."
"Kenapa?"
"Suami saya melarang."
Anjelina terkejut.
"Melarang?"
"Iya."
"Katanya sekarang balai desa sedang banyak masalah."
Perempuan itu menundukkan kepala.
"Maafkan saya."
"Aku hanya mengikuti keputusan keluarga."
Anjelina tersenyum, meski hatinya terasa perih.
"Tidak apa-apa, Bu."
"Titip salam untuk anak-anak."
Perempuan itu pergi dengan langkah berat.
Tak lama kemudian, dua ibu lainnya juga melakukan hal yang sama.
Menjelang Magrib, perpustakaan yang biasanya dipenuhi tawa berubah sunyi.
Rak-rak buku tetap tersusun rapi.
Tetapi tidak ada tangan kecil yang membuka halamannya.
Anjelina duduk sendiri di sudut ruangan.
Untuk pertama kalinya sejak pulang ke Arum Sari, ia merasakan kesepian.
Di bawah pohon trembesi, Herlambang menemukannya.
"Kau belum pulang?"
Anjelina menggeleng.
"Lihat."
Ia menunjuk rak-rak buku.
"Hari ini hampir tidak ada yang datang."
"Mereka takut."
"Bukan kepadaku."
"Tapi kepada isu yang beredar."
Herlambang duduk di sampingnya.
"Maaf."
"Kenapa minta maaf?"
"Mungkin semua ini karena aku."
Anjelina menoleh cepat.
"Jangan pernah berkata begitu."
"Lina..."
"Tidak."
Ia memotong ucapan Herlambang.
"Kalau kita berhenti berbuat baik hanya karena takut difitnah..."
"...berarti fitnah sudah menang."
Kalimat itu membuat Herlambang tersenyum.
Bukan karena masalahnya selesai.
Tetapi karena ia tahu, masih ada seseorang yang memilih mempercayainya.
Sementara itu, malam mulai turun.
Di rumah Ki Waskita, sebuah lampu minyak menyala redup.
Tetua adat itu sedang membuka sebuah peti kayu tua.
Di dalamnya tersimpan gulungan kain putih yang telah menguning dimakan usia.
Dengan sangat hati-hati ia membuka kain itu.
Di dalamnya terdapat sebuah naskah tulisan tangan.
Huruf-huruf Jawa kuno memenuhi setiap lembar.
Ki Waskita mengusapnya perlahan.
"Leluhur..."
"Sudah terlalu lama rahasia ini kusimpan."
"Tapi kalau keadaan terus begini..."
"...mungkin waktunya sudah dekat."
Beliau menutup kembali naskah itu.
Tatapannya kosong.
Seolah sedang berbicara dengan seseorang yang telah lama tiada.
Di tempat berbeda, Hidayat berdiri di halaman rumahnya.
Roni datang tergesa-gesa.
"Mas Dayat."
"Apa?"
"Perpustakaan balai desa mulai sepi."
Hidayat mengangguk puas.
"Bagus."
"Kalau orang mulai menjauh dari mereka..."
"...langkah berikutnya akan lebih mudah."
"Tapi Lambang belum menyerah."
Hidayat tersenyum tipis.
"Orang jujur biasanya kuat menghadapi fitnah."
"Kalau begitu?"
"Jangan serang kejujurannya."
"Lalu?"
"Serang orang-orang yang ia lindungi."
Roni terdiam.
Ia mulai memahami bahwa permainan Hidayat jauh lebih berbahaya daripada sekadar menyebarkan gosip.
Ia sedang berusaha membuat orang-orang baik saling menjauh.
Dan ketika itu berhasil...
Desa Arum Sari akan kehilangan benteng terakhirnya.
Malam semakin larut.
Di kejauhan, pohon trembesi berdiri membisu diterpa cahaya bulan.
Daun-daunnya terus berguguran.
Namun batangnya tetap tegak.
Seolah ingin mengajarkan satu hal.
Bahwa badai boleh merontokkan daun.
Tetapi selama akar masih setia mencengkeram tanah, pohon itu tidak akan tumbang.
Begitu pula dengan hati manusia.
Ia hanya akan benar-benar kalah ketika berhenti percaya pada kebenaran.
Malam itu angin bertiup lebih pelan daripada biasanya.
Langit Arum Sari bersih. Bulan purnama menggantung tepat di atas pohon trembesi yang menjulang di halaman balai desa. Bayangannya memanjang hingga menyentuh jalan tanah yang menghubungkan balai desa dengan surau tua.
Di rumah Ki Waskita, lampu minyak masih menyala.
Beliau duduk bersila di depan peti kayu warisan leluhur yang telah menemaninya selama puluhan tahun. Peti itu hanya dibuka pada waktu-waktu tertentu, ketika persoalan desa dianggap menyentuh akar sejarah yang tidak boleh dilupakan.
Suara langkah kaki terdengar dari luar.
"Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikumsalam."
Herlambang dan Anjelina masuk dengan penuh hormat.
"Kami mengganggu, Ki?"
"Tidak."
"Kalian memang sedang kutunggu."
Keduanya saling berpandangan.
"Ki menunggu kami?"
Ki Waskita mengangguk pelan.
"Duduklah."
Beberapa saat ruangan hanya diisi suara jangkrik.
Kemudian Ki Waskita membuka peti kayu itu.
Beliau mengeluarkan sebilah keris tua yang sarungnya telah menghitam dimakan usia, lalu sebuah gulungan kain berisi naskah tulisan tangan.
"Ini bukan pusaka untuk diperebutkan."
"Ini pengingat."
Anjelina memandang naskah itu dengan penuh rasa ingin tahu.
"Apakah ini sejarah desa?"
"Sebagian."
Ki Waskita membuka lembar pertama.
Tulisan itu dibuat dengan tinta yang mulai memudar.
"Lebih dari seratus tahun lalu..."
"...Arum Sari hampir musnah."
Herlambang dan Anjelina mendengarkan dengan saksama.
"Bukan karena perang."
"Bukan pula karena bencana."
"Lalu karena apa, Ki?" tanya Anjelina.
"Karena saudara saling memperebutkan tanah."
Ruangan mendadak sunyi.
"Leluhur kita hampir saling mengangkat senjata."
"Perselisihan itu berlangsung bertahun-tahun."
"Panen gagal."
"Rumah dibakar."
"Hubungan keluarga putus."
"Bahkan ada yang meninggalkan desa untuk selamanya."
Anjelina menggenggam buku catatannya lebih erat.
"Kemudian..."
"...datang seorang tetua adat bernama Ki Jayeng Prawira."
Beliau mengumpulkan seluruh warga di bawah pohon trembesi yang saat itu masih kecil.
"Di sanalah mereka mengucapkan sumpah."
Ki Waskita menatap keduanya.
"Sumpah apa, Ki?"
Beliau mengucapkannya perlahan.
"Jangan pernah membiarkan tanah lebih berharga daripada persaudaraan."
Kalimat itu menggema di dalam hati Herlambang.
Ki Waskita melanjutkan kisahnya.
"Sebagai tanda perdamaian..."
"...mereka menanam trembesi itu bersama-sama."
"Setiap keluarga membawa segenggam tanah dari sawahnya."
"Lalu mencampurnya di lubang tempat pohon itu ditanam."
"Artinya..."
"...pohon itu tumbuh dari tanah milik semua orang."
"Tidak ada yang berhak mengakuinya sebagai miliknya sendiri."
Anjelina menatap keluar jendela.
Siluet pohon trembesi tampak berdiri kokoh diterangi cahaya bulan.
"Ternyata..."
"...selama ini pohon itu bukan sekadar pohon."
Ki Waskita tersenyum tipis.
"Ia adalah pengingat."
"Bahwa desa hanya akan hidup selama warganya tetap bersaudara."
Beliau kemudian menyerahkan sebuah lembar naskah kepada Herlambang.
"Jaga ini."
Herlambang terkejut.
"Saya?"
"Belum sekarang untuk dibuka."
"Nanti akan ada waktunya."
"Lalu kenapa diberikan kepada saya?"
Ki Waskita menatap dalam.
"Karena kelak..."
"...akan ada orang yang mencoba menghapus ingatan desa."
"Dan ketika hari itu datang..."
"...kebenaran harus tetap memiliki saksi."
Ucapan itu membuat bulu kuduk Anjelina meremang.
Ia tidak tahu mengapa.
Tetapi malam itu terasa berbeda.
Seolah masa lalu sedang mengetuk pintu masa depan.
Sementara itu, di rumah Haji Mahendra, sebuah pertemuan rahasia berlangsung.
Lampu ruang kerja masih menyala meski malam telah larut.
Di atas meja terbentang dokumen-dokumen administrasi desa yang telah difotokopi.
Hidayat memandang satu per satu.
"Bagian ini."
Ia menunjuk sebuah peta.
"Kalau nomor bidangnya berubah..."
"...apa yang terjadi?"
Seorang pria berkemeja cokelat menjawab pelan.
"Data lama akan sulit dilacak."
"Dan kalau nanti dibuat dokumen baru..."
"...orang akan menganggapnya benar."
Pria itu adalah Surya, seorang mantan tenaga administrasi pertanahan yang kini bekerja sebagai konsultan bagi beberapa perusahaan.
Ia paham betul bagaimana sebuah data dapat mengubah nasib sebidang tanah.
"Tapi kita membutuhkan orang dalam."
kata Surya.
Hidayat tersenyum.
"Aku sudah memikirkannya."
"Siapa?"
"Belum waktunya kau tahu."
"Yang penting..."
"...mulai besok semuanya bergerak."
Di sudut ruangan, Roni hanya diam.
Semakin lama ia mengikuti Hidayat, semakin ia menyadari bahwa yang sedang dimainkan bukan sekadar politik desa.
Melainkan masa depan seluruh Arum Sari.
Esok paginya, suasana balai desa tampak seperti biasa.
Warga datang mengurus surat.
Anak-anak berlarian menuju taman baca.
Namun di balik meja administrasi, seseorang sedang membuka lemari arsip.
Tangannya gemetar.
Ia mengambil sebuah map tua bertuliskan:
"DATA TANAH ADAT DESA ARUM SARI."
Orang itu memandang ke kanan dan ke kiri.
Tak ada siapa pun.
Ia membuka map tersebut perlahan.
Kemudian mengambil beberapa lembar salinannya.
Sebelum menutup kembali lemari arsip, ia berbisik lirih,
"Maafkan aku..."
"Aku tidak punya pilihan."
Langkahnya menjauh.
Tak seorang pun melihat bahwa sejak pagi itu, sebuah bagian kecil dari sejarah Arum Sari telah mulai dicuri.
Menjelang sore, Herlambang kembali berdiri di bawah pohon trembesi.
Ia membuka lembar naskah yang diberikan Ki Waskita.
Namun ia teringat pesan sang tetua.
"Belum sekarang untuk dibuka."
Ia mengurungkan niatnya.
Anjelina datang membawa dua cangkir teh hangat.
"Kau melamun?"
"Sedikit."
"Apa yang kau pikirkan?"
Herlambang memandang pohon trembesi.
"Ki Waskita benar."
"Akar pohon ini bukan hanya berada di dalam tanah."
"Tetapi juga di dalam hati setiap orang yang mencintai desa ini."
Anjelina tersenyum.
"Kalau begitu..."
"...kita harus menjaga keduanya."
Herlambang mengangguk.
Mereka tidak tahu bahwa pada saat yang sama, akar yang lain sedang perlahan digerogoti.
Bukan oleh rayap.
Bukan pula oleh usia.
Melainkan oleh keserakahan manusia.
Angin sore kembali menggugurkan beberapa helai daun trembesi.
Daun-daun itu jatuh tepat di antara langkah Anjelina dan Herlambang.
Seolah alam sedang menggambar garis yang kelak akan memisahkan perjalanan mereka.
Namun untuk saat itu, mereka masih berdiri berdampingan.
Masih percaya bahwa kejujuran akan selalu menemukan jalannya.
Padahal, jauh di balik senja yang mulai tenggelam, permainan sesungguhnya baru saja dimulai.
BAB V – Datangnya Hidayat
Mentari pagi menyinari Desa Arum Sari dengan cahaya keemasan.
Sawah-sawah yang mulai menghijau tampak berkilau diterpa embun. Di kejauhan, suara burung prenjak bersahutan, seolah menyambut hari baru yang tenang.
Namun ketenangan itu hanya dirasakan oleh alam.
Tidak oleh manusia.
Sudah beberapa hari Anjelina menikmati kembali kehidupan desa. Pagi membantu ayahnya di sawah, siang mengurus taman baca, sore menemani anak-anak belajar, dan malam menghabiskan waktu bersama keluarganya.
Hari-harinya terasa sederhana.
Tetapi justru di situlah ia menemukan kebahagiaan yang dahulu hilang ketika tinggal di kota.
Pagi itu, setelah selesai menata buku di perpustakaan desa, ia berjalan menuju warung Mak Minah untuk membeli gula dan teh.
"Mak, gulanya satu kilo."
Mak Minah tersenyum ramah.
"Sebentar ya, Nduk."
Belum sempat gula ditimbang, terdengar suara mesin mobil memasuki desa.
Sebuah mobil berwarna hitam mengilap melaju perlahan melewati jalan utama.
Warga yang sedang duduk di warung spontan menoleh.
"Mobil siapa itu?"
"Sepertinya orang kota."
"Jarang ada mobil semewah itu masuk sini."
Mobil itu berhenti tepat di depan rumah terbesar di Desa Arum Sari.
Rumah milik Haji Mahendra.
Tak lama kemudian, pintu mobil terbuka.
Seorang pria muda turun dengan kemeja putih lengan panjang yang digulung hingga siku, celana bahan hitam, dan sepatu kulit yang masih mengilap.
Tubuhnya tinggi.
Wajahnya tampan.
Rambutnya tertata rapi.
Jam tangan mahal melingkar di pergelangan kirinya.
Ia melepas kacamata hitamnya sambil tersenyum kepada warga.
"Itu..."
"Hidayat pulang."
Nama itu langsung menjadi bahan pembicaraan.
"Hidayat anak Pak Haji."
"Katanya selesai kuliah di Jakarta."
"Ada juga yang bilang bekerja di perusahaan besar."
"Sudah lama tidak pulang."
Anjelina memperhatikan dari kejauhan.
Ia belum pernah mengenal lelaki itu secara dekat.
Yang ia tahu hanya satu.
Hidayat adalah putra tunggal Haji Mahendra, keluarga paling berada di Arum Sari.
Di halaman rumah, Haji Mahendra menyambut putranya dengan pelukan hangat.
"Selamat datang."
"Akhirnya pulang juga."
"Bagaimana perjalananmu?"
"Lancar, Yah."
Hidayat memandang sekeliling desa.
Banyak yang berubah.
Namun ada satu hal yang tetap sama.
Pohon trembesi tua masih berdiri di depan balai desa.
Ia tersenyum tipis.
"Desa ini masih seperti dulu."
Haji Mahendra menepuk bahunya.
"Tidak semuanya."
"Orang-orangnya mulai berubah."
"Termasuk?"
"Ada beberapa anak muda yang mulai aktif menggerakkan warga."
"Siapa?"
"Herlambang."
Nama itu terdengar asing bagi Hidayat.
"Guru SD?"
"Iya."
"Cukup disukai warga."
Hidayat hanya mengangguk.
Belum ada kesan apa pun di wajahnya.
Sore harinya, Kepala Desa mengadakan pertemuan santai di balai desa untuk menyambut kepulangan Hidayat.
Tokoh masyarakat, perangkat desa, para pemuda, dan beberapa warga hadir.
Anjelina datang membantu menyiapkan konsumsi.
Herlambang membantu mengatur kursi.
Ketika acara dimulai, Hidayat berdiri memperkenalkan diri.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh."
"Saya Hidayat."
"Mungkin sebagian sudah mengenal saya."
"Dan bagi yang belum, saya mohon izin untuk kembali menjadi bagian dari Desa Arum Sari."
Suaranya tenang.
Pembawaannya percaya diri.
Ia menceritakan pengalaman kuliahnya, pekerjaannya di kota, dan keinginannya untuk ikut membangun desa.
Beberapa warga mengangguk kagum.
Anak muda dengan pendidikan tinggi tentu menjadi kebanggaan tersendiri.
Namun di sudut ruangan, Herlambang hanya mendengarkan tanpa banyak bicara.
Baginya, niat baik tidak cukup dinilai dari kata-kata.
Melainkan dari perbuatan.
Acara hampir selesai ketika pandangan Hidayat berhenti pada seseorang yang sedang menuangkan teh ke gelas-gelas tamu.
Anjelina.
Perempuan itu mengenakan kebaya sederhana berwarna biru muda.
Rambutnya dikepang longgar.
Wajahnya tenang, tetapi senyumnya mampu membuat suasana terasa hangat.
Hidayat tidak segera mengalihkan pandangan.
"Siapa dia?"
bisiknya kepada Roni yang berdiri di sampingnya.
"Itu Anjelina."
"Baru pulang dari kota."
"Anak Pak Jatmiko."
Hidayat mengangguk perlahan.
Tatapannya masih tertuju kepada Anjelina.
Entah mengapa, di antara puluhan orang yang hadir sore itu, hanya perempuan itulah yang menarik perhatiannya.
Tanpa disadari, Anjelina menoleh.
Pandangan mereka bertemu sesaat.
Anjelina hanya membalas dengan senyum sopan sebagai bentuk penghormatan kepada tamu yang baru pulang.
Namun bagi Hidayat, senyum singkat itu cukup untuk meninggalkan kesan yang sulit dijelaskan.
Di sisi lain ruangan, Herlambang melihat pertemuan pandangan itu.
Ia tidak berpikir apa-apa.
Karena baginya, setiap tamu memang pantas disambut dengan ramah.
Ia belum mengetahui bahwa kepulangan Hidayat pada hari itu bukan sekadar membawa seorang pemuda kembali ke kampung halamannya.
Melainkan juga membawa awal dari sebuah persaingan yang perlahan akan mengubah jalan hidup mereka bertiga.
Di luar balai desa, angin sore menggoyangkan daun-daun trembesi.
Seolah pohon tua itu menjadi saksi bisu bahwa takdir baru saja mempertemukan tiga hati dalam satu kisah yang kelak akan dipenuhi cinta, pengorbanan, dan pilihan-pilihan yang tidak mudah.
BAB VI – Benih-Benih Cemburu
Sudah hampir dua pekan Hidayat kembali ke Desa Arum Sari.
Dalam waktu yang singkat, namanya mulai sering diperbincangkan warga. Sebagian mengagumi pendidikan dan pengalamannya di kota, sebagian lagi menaruh harapan agar ia dapat membawa kemajuan bagi desa.
Hidayat pandai menempatkan diri.
Pagi hari ia ikut menyapa para petani di sawah.
Siang ia singgah ke warung-warung kecil, bercengkerama dengan warga sambil menikmati kopi hitam.
Sore hari ia sering terlihat di balai desa, menawarkan bantuan kepada perangkat desa dalam menyusun berbagai rencana pembangunan.
Ia murah senyum.
Pandai berbicara.
Dan selalu berpakaian rapi.
Banyak orang mulai menyukainya.
Namun di balik keramahan itu, Hidayat memiliki kebiasaan yang tak pernah diketahui orang lain.
Ia selalu memperhatikan Anjelina.
Pagi itu, Anjelina sedang mengajar anak-anak membuat kerajinan sederhana dari daun kelapa di taman baca.
Gelak tawa anak-anak memenuhi halaman balai desa.
"Lihat, Kak Lina!"
"Aku bisa membuat burung!"
"Kalau aku membuat bunga!"
Anjelina bertepuk tangan.
"Bagus sekali."
"Tapi ingat..."
"Yang paling penting bukan hasilnya."
"Melainkan kesabaran ketika membuatnya."
Anak-anak mengangguk penuh semangat.
Tak lama kemudian terdengar tepuk tangan dari arah pintu halaman.
"Indah sekali."
Semua menoleh.
Hidayat berdiri sambil membawa beberapa kotak besar.
"Maaf mengganggu."
"Aku hanya ingin menyumbangkan beberapa buku dan alat tulis."
Anak-anak bersorak kegirangan.
"Wah... buku baru!"
"Terima kasih, Kak!"
Anjelina tersenyum sopan.
"Terima kasih, Mas Hidayat."
"Mudah-mudahan bermanfaat."
"Itulah harapanku."
Hidayat membantu memindahkan kotak-kotak itu ke dalam perpustakaan kecil.
Ia melihat rak-rak buku yang disusun rapi.
"Semua ini idemu?"
Anjelina mengangguk.
"Kami mengerjakannya bersama-sama."
"Kami?"
"Bersama warga desa."
Jawaban itu membuat Hidayat tersenyum.
Perempuan itu tidak pernah mengambil semua pujian untuk dirinya sendiri.
Siang harinya Herlambang datang membawa beberapa bibit tanaman obat dari sekolah.
"Anak-anak ingin menanam TOGA."
"Supaya nanti mereka belajar merawat tanaman."
Melihat Herlambang datang, anak-anak langsung berlarian.
"Pak Guru datang!"
"Pak Guru... lihat burung buatanku!"
Dalam sekejap halaman kembali riuh.
Anjelina ikut membantu menyiapkan polybag.
Tanpa banyak bicara, ia dan Herlambang bekerja seperti biasanya.
Saling memahami tanpa perlu banyak penjelasan.
Hidayat memperhatikan semua itu dari kejauhan.
Ia melihat bagaimana Herlambang mengambil ember sebelum diminta.
Bagaimana Anjelina tahu alat apa yang dibutuhkan.
Bagaimana keduanya saling melempar senyum ketika anak-anak berhasil menanam bibit pertama.
Semuanya tampak begitu alami.
Dan justru itulah yang membuat dada Hidayat terasa sesak.
Menjelang sore, hujan turun tiba-tiba.
Anak-anak segera berlari masuk ke balai desa.
Polybag yang baru ditanam masih berserakan di halaman.
"Bibitnya!"
seru Anjelina.
Tanpa berpikir panjang, ia berlari keluar.
Herlambang segera menyusul.
Mereka memindahkan satu per satu tanaman ke tempat yang lebih teduh.
Hidayat ikut membantu.
Namun ketika sebuah pot hampir terjatuh, Anjelina secara spontan memanggil,
"Lambang... hati-hati!"
Herlambang segera menangkap pot itu sebelum pecah.
"Sudah aman."
Anjelina tersenyum lega.
"Syukurlah."
Hidayat menghentikan langkahnya.
Ucapan sederhana itu terdengar biasa.
Tetapi bagi seseorang yang sedang menyimpan rasa, panggilan yang lahir tanpa sadar sering kali lebih jujur daripada ribuan kata yang direncanakan.
Ia mulai menyadari sesuatu.
Hubungan Anjelina dan Herlambang bukan sekadar persahabatan biasa.
Malamnya, Hidayat duduk sendirian di beranda rumah.
Secangkir kopi di depannya mulai dingin.
Haji Mahendra keluar membawa rokok linting.
"Kau kelihatan banyak berpikir."
Hidayat tersenyum tipis.
"Mungkin."
"Ada masalah?"
"Ayah..."
"Menurut Ayah..."
"...apa yang membuat seseorang disukai banyak orang?"
Haji Mahendra tertawa kecil.
"Kenapa bertanya begitu?"
"Jawab saja."
Ayahnya menatap ke arah langit.
"Orang bisa disukai karena banyak hal."
"Karena kekayaan."
"Karena jabatan."
"Karena kepandaian."
"Atau..."
"...karena ketulusan."
Hidayat mengangguk pelan.
"Lalu mana yang paling sulit dikalahkan?"
Haji Mahendra terdiam beberapa saat.
"Ketulusan."
"Karena itu datang dari hati."
Jawaban itu justru membuat Hidayat semakin gelisah.
Ia merasa sedang berhadapan dengan lawan yang tidak bisa dikalahkan hanya dengan uang atau kedudukan.
Sementara itu, di rumah Pak Jatmiko, Anjelina duduk di teras sambil menikmati udara malam.
Ibunya membawa dua cangkir wedang jahe.
"Dingin."
"Iya, Bu."
Bu Sulastri duduk di samping putrinya.
"Tadi Hidayat datang membantu ya?"
"Iya."
"Orangnya sopan."
Anjelina mengangguk.
"Kelihatannya begitu."
Ibunya tersenyum tipis.
"Lalu bagaimana dengan Herlambang?"
Anjelina sedikit terkejut.
"Kenapa membawa-bawa Lambang?"
"Karena setiap kali Ibu menyebut namanya..."
"...senyummu berbeda."
Wajah Anjelina memerah.
"Ibu ini..."
Bu Sulastri tertawa kecil.
"Ibu hanya melihat."
Anjelina tidak menjawab.
Namun jauh di dalam hatinya, ia mulai bertanya kepada dirinya sendiri.
Mengapa setiap kali bersama Herlambang, waktu terasa berjalan lebih cepat?
Mengapa ia selalu merasa tenang ketika lelaki itu berada di dekatnya?
Dan mengapa ia mulai merindukan percakapan-percakapan sederhana yang mereka lakukan hampir setiap hari?
Di sisi lain desa, Hidayat berdiri di depan jendela kamarnya.
Lampu taman baca masih terlihat dari kejauhan.
Ia mengingat kembali senyum Anjelina sore tadi.
Lalu mengingat cara perempuan itu memanggil nama Herlambang.
Perasaan yang belum pernah ia rasakan perlahan tumbuh di dalam dadanya.
Bukan kebencian.
Belum.
Tetapi rasa tidak ingin kalah.
Ia berbisik pelan,
"Aku baru saja pulang..."
"...dan aku tidak akan menyerah begitu saja."
Di luar, angin malam berembus lembut melewati daun-daun trembesi.
Tak ada seorang pun yang menyadari bahwa malam itu, benih-benih cemburu mulai tumbuh.
Masih kecil.
Masih nyaris tak terlihat.
Namun seperti benih yang jatuh di tanah subur, ia hanya membutuhkan waktu untuk berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih besar.
Sesuatu yang kelak akan menguji persahabatan, mengguncang cinta, dan mengubah wajah Desa Arum Sari untuk selamanya.
Hari-hari di Desa Arum Sari kembali berjalan seperti biasanya.
Pagi diawali dengan para petani yang berangkat ke sawah. Siang diisi suara anak-anak sekolah yang berlarian di jalan desa. Sore menjadi waktu berkumpul di balai desa, tempat warga berbincang sambil menikmati semilir angin yang datang dari hamparan persawahan.
Bagi sebagian orang, kehidupan desa tampak tenang.
Namun di balik ketenangan itu, ada hati-hati yang mulai menyimpan perasaan yang tak lagi sederhana.
Suatu sore, Anjelina sedang menyusun buku-buku baru di perpustakaan desa.
Buku-buku sumbangan dari Hidayat telah diberi sampul bening dan dikelompokkan berdasarkan jenisnya.
Saat sedang berdiri di atas bangku kecil untuk merapikan rak paling atas, keseimbangannya sedikit terganggu.
Sebuah tangan sigap menahan bangku itu.
"Hati-hati."
Anjelina menoleh.
"Hidayat."
"Kalau jatuh, sayang bukunya."
Anjelina tersenyum kecil.
"Atau sayang orangnya?"
Hidayat tertawa pelan.
"Dua-duanya."
Anjelina ikut tertawa, menganggap ucapan itu sebagai gurauan.
Namun bagi Hidayat, kalimat itu bukan sekadar candaan.
Ia mulai membiarkan perasaannya berbicara, meski masih dibungkus dengan senyum dan humor.
Beberapa saat kemudian Herlambang datang membawa beberapa murid yang selesai mengikuti latihan membaca puisi.
"Permisi."
Anak-anak langsung memenuhi perpustakaan.
"Pak Guru..."
"Aku mau pinjam buku cerita."
"Aku mau baca yang tentang pahlawan."
Ruangan yang semula tenang berubah ramai.
Herlambang mengangguk kepada Hidayat.
"Selamat sore."
"Sore."
Sapaan itu terdengar sopan.
Namun keduanya belum benar-benar saling mengenal.
Anjelina memperkenalkan mereka.
"Lambang, ini Hidayat."
"Hidayat, ini Herlambang."
Mereka berjabat tangan.
"Guru SD ya?"
"Iya."
"Senang akhirnya bertemu."
"Sama."
Tatapan mereka saling bertemu sesaat.
Keduanya tersenyum.
Namun masing-masing diam-diam sedang mencoba membaca pribadi orang di hadapannya.
Menjelang petang, anak-anak pulang.
Hanya tersisa mereka bertiga di halaman balai desa.
Hidayat memandang taman bunga yang baru ditanam.
"Indah."
Anjelina mengangguk.
"Ini hasil kerja anak-anak."
Herlambang menambahkan,
"Mereka yang memilih sendiri jenis bunganya."
Hidayat tersenyum.
"Kalian memang kompak."
Kalimat itu terdengar biasa.
Tetapi entah mengapa, Herlambang merasa ada nada yang sulit dijelaskan.
Bukan sindiran.
Belum.
Namun cukup membuat suasana menjadi sedikit canggung.
Hari berikutnya, Desa Arum Sari mengadakan kegiatan olahraga bersama di lapangan desa.
Anak-anak bermain sepak bola.
Para ibu mengikuti senam.
Pemuda mengadakan pertandingan bola voli persahabatan.
Anjelina bertugas menjadi panitia konsumsi.
Hidayat datang membawa beberapa dus air mineral dan buah-buahan.
"Sekalian membantu."
Semua orang menyambut baik.
Tak lama kemudian Herlambang juga datang membawa perlengkapan P3K dari sekolah.
"Kita berjaga-jaga."
Kepala Desa tersenyum melihat keduanya.
"Kalau semua pemuda seperti kalian, desa ini cepat maju."
Ucapan itu disambut tepuk tangan warga.
Namun di dalam hati Hidayat, muncul keinginan yang tidak pernah ia akui.
Ia tidak ingin hanya dipuji bersama.
Ia ingin menjadi satu-satunya yang paling dihargai.
Pertandingan bola voli berlangsung meriah.
Tim pemuda melawan tim perangkat desa.
Gelak tawa memenuhi lapangan.
Saat bola mengarah ke pinggir lapangan, Anjelina tanpa sengaja berlari mengejarnya.
Kakinya terpeleset karena tanah masih licin.
Sebelum jatuh, seseorang berhasil memegang lengannya.
Herlambang.
"Kau tidak apa-apa?"
"Tidak."
Hidayat yang berada hanya beberapa langkah dari mereka berhenti.
Ia terlambat.
Beberapa detik saja.
Tetapi cukup untuk kembali melihat bahwa setiap kali Anjelina membutuhkan pertolongan, Herlambang selalu lebih dulu hadir.
Perasaan itu kembali muncul.
Lebih kuat daripada sebelumnya.
Malam harinya Hidayat tidak bisa tidur.
Ia membuka buku yang dibawanya dari Jakarta.
Namun tak satu halaman pun berhasil ia baca.
Pikirannya kembali pada lapangan sore tadi.
Ia teringat bagaimana Anjelina tersenyum kepada Herlambang.
Bukan senyum karena kagum.
Melainkan senyum yang lahir dari rasa percaya.
Dan justru itulah yang membuatnya gelisah.
Ia menatap bayangan dirinya di jendela.
"Kenapa aku memikirkan ini terus?"
Untuk pertama kalinya, Hidayat mengakui sesuatu dalam hati.
Ia jatuh cinta kepada Anjelina.
Tetapi pada saat yang sama, ia juga sadar bahwa hati perempuan itu tampaknya telah menemukan tempat yang membuatnya merasa aman.
Di rumah Pak Jatmiko, suasana jauh lebih sederhana.
Setelah makan malam, Anjelina duduk di beranda bersama ayahnya.
Pak Jatmiko sedang memperbaiki gagang cangkul yang mulai longgar.
"Lina."
"Iya, Yah?"
"Menurutmu, bagaimana Hidayat?"
Anjelina berpikir sejenak.
"Orangnya ramah."
"Berpendidikan."
"Dan kelihatannya ingin membantu desa."
Pak Jatmiko mengangguk.
"Kalau Herlambang?"
Anjelina tersenyum tanpa sadar.
"Lambang..."
"...dia sudah menjadi bagian dari desa."
Pak Jatmiko menghentikan pekerjaannya.
Ia memperhatikan wajah putrinya.
Jawaban itu sederhana.
Namun cukup bagi seorang ayah untuk memahami bahwa putrinya mulai menaruh rasa kepada seseorang.
Ia tidak berkata apa-apa.
Hanya tersenyum kecil.
Karena baginya, perasaan tidak perlu dipaksa tumbuh.
Ia akan menemukan jalannya sendiri.
Sementara itu, Herlambang berjalan sendirian melewati pematang sawah.
Langit malam dipenuhi bintang.
Ia berhenti di bawah pohon trembesi.
Mengusap batang pohon tua itu perlahan.
"Lina..."
Ia mengucapkan nama itu hampir tanpa suara.
Kemudian tersenyum pahit.
"Aku tidak boleh terburu-buru."
"Aku tidak ingin persahabatan ini berubah hanya karena perasaanku."
Ia menarik napas panjang.
"Aku cukup bahagia melihatmu tersenyum."
Tanpa ia sadari, dari kejauhan Hidayat melihat siluet Herlambang yang berdiri sendirian di bawah trembesi.
Ia tidak mendengar apa yang diucapkan Herlambang.
Namun ia melihat arah pandangan lelaki itu.
Ke rumah Anjelina.
Hidayat mengepalkan tangannya perlahan.
Kini ia tidak lagi hanya menduga.
Ia yakin.
Herlambang juga mencintai Anjelina.
Dan sejak malam itu, kecemburuan yang semula hanya berupa benih mulai tumbuh menjadi tekad.
Tekad untuk memenangkan hati Anjelina.
Apa pun yang harus ia lakukan.
Di atas langit Arum Sari, bulan tetap bersinar tenang.
Seolah belum mengetahui bahwa tiga hati kini sedang berjalan menuju persimpangan takdir yang sama.
Persimpangan yang suatu hari nanti akan menuntut mereka memilih antara cinta, persahabatan, dan pengorbanan.
Pagi di Desa Arum Sari datang bersama semilir angin yang membawa aroma jerami yang baru dijemur.
Di halaman rumah Pak Jatmiko, Bu Sulastri sedang menumbuk bumbu dapur. Sementara Anjelina menyiram bunga-bunga yang ditanam di sepanjang pagar bambu.
Suasana terasa damai.
Sampai terdengar suara salam dari luar halaman.
"Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikumsalam."
Pak Jatmiko keluar menyambut tamu itu.
Di depan pagar berdiri Hidayat dengan mengenakan kemeja sederhana dan membawa sebuah keranjang berisi buah-buahan.
"Maaf mengganggu, Pak."
"Saya hanya ingin bersilaturahmi."
Pak Jatmiko tersenyum ramah.
"Silakan masuk."
"Rumah ini selalu terbuka untuk siapa saja."
Hidayat menyalami Pak Jatmiko dan Bu Sulastri dengan penuh hormat.
Sikapnya santun.
Tuturnya lembut.
Ia lebih banyak mendengarkan daripada berbicara.
Hal itu membuat kedua orang tua Anjelina merasa nyaman.
Di sela percakapan, Hidayat menyampaikan niatnya.
"Saya ingin ikut berkontribusi untuk desa."
"Kalau ada kegiatan yang bisa saya bantu, mohon jangan sungkan."
Pak Jatmiko mengangguk.
"Semangat seperti itu yang dibutuhkan anak-anak muda."
Anjelina hanya menyimak dari dapur.
Ia menghargai niat baik Hidayat, tetapi belum merasakan kedekatan batin sebagaimana yang tumbuh bersama Herlambang.
Menjelang siang, Hidayat pamit.
Saat melewati halaman, ia melihat sebuah buku terjatuh dari bangku bambu.
Ia memungutnya.
Di sampul depan tertulis nama Anjelina.
"Bukumu tertinggal."
"Terima kasih."
Hidayat menyerahkan buku itu.
"Kalau tidak keberatan..."
"Suatu saat aku ingin melihat perpustakaan desa lebih lama."
"Tentu."
"Semua orang boleh datang."
Jawaban Anjelina tetap hangat.
Tetapi baginya, keramahan adalah bagian dari pendidikan yang diajarkan orang tuanya.
Bukan tanda bahwa ia sedang membuka pintu hatinya.
Hidayat belum menyadari perbedaan itu.
Sore harinya, Herlambang mengajak beberapa pemuda membantu Pak Darto memperbaiki pematang sawah yang longsor akibat hujan beberapa hari lalu.
Anjelina yang baru selesai mengajar anak-anak di taman baca ikut datang membawa kendi berisi air minum dan makanan ringan.
"Kalau bekerja jangan lupa istirahat."
Salah seorang pemuda berseloroh,
"Kalau setiap kerja bakti dibawakan makanan oleh Kak Lina, kami siap kerja setiap hari."
Semua tertawa.
Anjelina ikut tertawa sambil menggeleng.
"Yang rajin bekerjanya, bukan rajin makannya."
Menjelang senja, pekerjaan selesai.
Para pemuda pulang lebih dahulu.
Tinggal Herlambang dan Anjelina yang berjalan perlahan menyusuri pematang.
Langit berubah jingga.
Pantulan cahaya matahari membuat air sawah berkilau seperti hamparan kaca.
"Aku selalu suka waktu seperti ini."
kata Anjelina.
"Kenapa?"
"Karena senja mengajarkan sesuatu."
"Apa?"
"Bahwa sesuatu yang indah tidak harus dimiliki selamanya."
Herlambang menatap langit.
"Lalu apa yang harus dilakukan?"
"Mensyukurinya."
Jawaban itu membuat Herlambang tersenyum.
"Lina..."
"Iya?"
"Kalau suatu hari nanti kau mendapat kesempatan kembali ke kota..."
"...apa kau akan pergi?"
Anjelina terdiam.
Matanya memandang jauh ke hamparan sawah.
"Dulu mungkin iya."
"Sekarang?"
"Sekarang aku ingin melihat desa ini tumbuh."
"Dan aku ingin menjadi bagian dari pertumbuhannya."
Herlambang mengangguk pelan.
Untuk pertama kalinya, harapan kecil tumbuh di dalam hatinya.
Mungkin...
Anjelina benar-benar akan menetap di Arum Sari.
Di balik deretan pohon bambu di tepi jalan, sebuah mobil berhenti.
Hidayat baru saja kembali dari kecamatan ketika tanpa sengaja melihat Anjelina dan Herlambang berjalan berdampingan.
Ia tidak turun.
Hanya memperhatikan dari balik kaca mobil.
Ia melihat keduanya tertawa ketika sekawanan burung pipit terbang rendah di atas sawah.
Melihat Herlambang mempersilakan Anjelina berjalan lebih dulu saat melewati pematang yang sempit.
Melihat percakapan mereka yang tampak begitu akrab.
Tak ada sentuhan.
Tak ada kata-kata cinta.
Namun justru kesederhanaan itulah yang membuat dada Hidayat terasa sesak.
Ia menyadari sesuatu yang selama ini berusaha ia sangkal.
Perasaan yang tumbuh di antara Anjelina dan Herlambang dibangun oleh waktu, kepercayaan, dan kebersamaan.
Bukan oleh kemewahan.
Bukan pula oleh status.
Malam itu, Hidayat duduk sendirian di ruang kerjanya.
Di hadapannya terbuka sebuah buku catatan.
Ia menulis beberapa kalimat, lalu berhenti.
Tinta penanya mengering di ujung kertas.
"Aku tidak boleh terlambat."
bisiknya.
"Kalau hanya diam..."
"...aku akan kehilangan semuanya sebelum sempat memperjuangkannya."
Ia menutup buku itu perlahan.
Untuk pertama kalinya, ia memutuskan tidak lagi menjadi penonton.
Ia akan mulai mendekati Anjelina dengan sungguh-sungguh.
Bukan dengan paksaan.
Bukan pula dengan tipu daya.
Melainkan dengan menunjukkan bahwa ia juga mampu menjadi seseorang yang layak diperjuangkan.
Namun tanpa ia sadari, tekad itu perlahan berubah menjadi persaingan yang tak lagi sehat.
Di rumah Ki Waskita, lelaki tua itu sedang duduk di beranda sambil memandang pohon trembesi yang tampak samar diterangi cahaya bulan.
Pak Sastro datang membawa termos berisi kopi.
"Ki..."
"Ada apa?"
"Saya melihat Hidayat semakin sering datang ke balai desa."
Ki Waskita mengangguk.
"Itu haknya."
"Dia juga anak desa."
"Tapi..."
Pak Sastro ragu melanjutkan.
"Saya takut akan terjadi perselisihan."
Ki Waskita tersenyum tipis.
"Perselisihan tidak lahir karena dua orang mencintai perempuan yang sama."
"Lalu karena apa, Ki?"
"Karena ketika cinta mulai dikalahkan oleh keinginan untuk memiliki."
Pak Sastro terdiam.
Kalimat itu sederhana.
Namun mengandung makna yang dalam.
Ki Waskita kembali memandang langit.
Di sana, bulan tetap bersinar untuk semua orang.
Ia tidak memilih siapa yang berhak menerima cahayanya.
"Semoga..."
gumamnya pelan,
"...anak-anak itu masih mampu menjaga hati mereka."
"Karena ketika hati mulai dikuasai iri dan ambisi..."
"...yang hancur bukan hanya cinta."
"Tetapi juga persaudaraan."
Angin malam kembali berembus.
Daun-daun trembesi berguguran perlahan.
Sementara di tiga rumah yang berbeda, tiga hati tengah memikirkan orang yang sama.
Anjelina mulai menyadari bahwa Herlambang memiliki tempat istimewa di hatinya.
Herlambang memilih memendam cintanya agar tidak merusak persahabatan yang telah lama tumbuh.
Sedangkan Hidayat memutuskan bahwa ia tidak akan menyerah sebelum berjuang mendapatkan perempuan yang kini memenuhi seluruh ruang pikirannya.
Tanpa disadari oleh ketiganya, perjalanan hati mereka akan segera berhadapan dengan sesuatu yang jauh lebih rumit daripada sekadar cinta.
Sebuah aturan lama yang telah diwariskan turun-temurun.
Aturan yang akan menguji apakah hati manusia mampu berdamai dengan adat yang dijunjung tinggi oleh Desa Arum Sari.
BAB VII – Adat yang Mengikat
Mentari baru saja muncul di ufuk timur ketika suara kentongan bertalu dari gardu ronda.
"Tong... tong... tong..."
Bunyi itu bukan tanda bahaya.
Bukan pula panggilan kerja bakti.
Melainkan pertanda bahwa pada malam nanti akan diadakan Musyawarah Adat Desa Arum Sari, sebuah pertemuan yang hanya dilaksanakan untuk membahas perkara-perkara penting yang menyangkut kehidupan masyarakat.
Di Desa Arum Sari, keputusan pemerintah desa dihormati.
Namun ada satu hal yang juga dijunjung tinggi oleh seluruh warga.
Adat.
Bagi masyarakat Arum Sari, adat bukan sekadar kebiasaan turun-temurun.
Adat adalah cara menjaga persaudaraan, menghormati leluhur, dan memastikan setiap keputusan tetap berpihak kepada keharmonisan desa.
Di rumah Ki Waskita, beberapa tetua adat mulai berdatangan sejak pagi.
Pak Sastro, Mbah Wiryo, Pak Darto, dan beberapa tokoh masyarakat duduk melingkar sambil menikmati kopi pahit.
"Musyawarah malam ini pasti ramai."
ujar Pak Darto.
Ki Waskita mengangguk pelan.
"Sudah waktunya generasi muda memahami adat."
"Banyak anak muda menganggap adat itu kuno."
kata Mbah Wiryo.
"Tidak."
jawab Ki Waskita lembut.
"Mereka hanya belum memahami alasan mengapa adat itu lahir."
Semua mengangguk.
Tidak ada satu pun aturan adat yang dibuat untuk menyulitkan masyarakat.
Semuanya lahir dari pengalaman panjang para leluhur.
Sementara itu, di balai desa, Kepala Desa sedang berbincang dengan Sekretaris Desa.
"Malam ini pemerintah desa ikut hadir."
"Ya, Pak."
"Karena keputusan adat harus berjalan seiring dengan pemerintahan desa."
Kepala Desa tersenyum.
"Itulah yang membuat Arum Sari tetap rukun selama ini."
Di sudut ruangan, Hidayat mendengar percakapan itu.
"Musyawarah adat?"
tanyanya.
"Iya."
jawab Sekretaris Desa.
"Semua warga boleh hadir."
"Termasuk saya?"
"Tentu."
Hidayat mengangguk.
Ia belum pernah mengikuti musyawarah adat sejak merantau ke kota.
Baginya, ini akan menjadi pengalaman yang menarik.
Menjelang sore, Herlambang membantu memasang tikar di pendopo adat.
Anjelina datang membawa beberapa nampan berisi teh hangat dan jajanan tradisional.
"Lambang."
"Iya?"
"Banyak sekali yang harus disiapkan."
"Kalau musyawarah adat memang selalu seperti ini."
Anjelina memandang pendopo yang mulai dipenuhi warga.
"Aku baru pertama kali mengikuti."
Herlambang tersenyum.
"Nanti kau akan mengerti kenapa orang tua sangat menghormatinya."
Ketika matahari tenggelam, seluruh tokoh desa telah berkumpul.
Lampu-lampu minyak dinyalakan.
Pendopo adat terasa hangat oleh cahaya kekuningan.
Ki Waskita duduk di bagian depan bersama Kepala Desa dan para tetua.
Musyawarah dimulai dengan doa.
Setelah itu Ki Waskita berdiri.
Suara beliau tenang, namun penuh wibawa.
"Anak-anakku..."
"Adat bukan untuk membatasi kehidupan."
"Adat ada agar kehidupan tidak kehilangan arah."
Semua yang hadir mendengarkan dengan khidmat.
Beliau melanjutkan,
"Orang boleh memiliki sawah yang luas."
"Boleh menjadi kaya."
"Boleh berpendidikan tinggi."
"Tetapi selama ia hidup di Arum Sari..."
"...ia tetap berkewajiban menjaga martabat desa."
Kalimat itu disambut anggukan para tetua.
Setelah beberapa pembahasan mengenai gotong royong dan pembagian jadwal ronda, seorang warga mengangkat tangan.
"Ki..."
"Saya ingin bertanya."
"Silakan."
"Apakah adat juga mengatur hubungan antarkeluarga?"
Ki Waskita tersenyum.
"Mengatur."
"Tetapi bukan untuk memisahkan."
"Melainkan untuk menjaga agar tidak muncul permusuhan."
Anjelina memperhatikan setiap kata yang diucapkan.
Sementara Herlambang duduk beberapa baris di belakangnya.
Hidayat berada di sisi lain pendopo.
Ketiganya sama-sama mendengarkan.
Belum mengetahui bahwa pembahasan berikutnya akan menyentuh kehidupan mereka.
Ki Waskita kembali berbicara.
"Sejak dahulu..."
"...leluhur kita mengajarkan bahwa sebelum dua anak muda memutuskan membangun rumah tangga..."
"...keluarga harus lebih dahulu saling mengenal."
"Bukan untuk memilihkan jodoh."
"Bukan pula memaksa."
"Tetapi agar dua keluarga yang berbeda benar-benar siap menjadi satu keluarga."
Beberapa ibu mengangguk setuju.
Pak Sastro menambahkan,
"Karena pernikahan bukan hanya menyatukan dua hati."
"Tetapi juga menyatukan dua keluarga."
Hidayat mendengarkan dengan saksama.
Ia mulai memahami bahwa di desa, hubungan tidak pernah hanya menjadi urusan dua orang.
Usai musyawarah, warga mulai beranjak pulang.
Di halaman pendopo, Anjelina berjalan berdampingan dengan Herlambang.
"Malam ini aku belajar banyak."
kata Anjelina.
"Apa yang paling kau ingat?"
"Bahwa adat ternyata bukan sekadar aturan."
"Melainkan cara menjaga persaudaraan."
Herlambang mengangguk.
"Itulah yang selalu diajarkan ayahku."
Mereka berhenti di bawah pohon trembesi.
Suasana malam begitu tenang.
Tak jauh dari sana, Hidayat berdiri berbincang dengan Kepala Desa.
Tanpa sengaja pandangannya tertuju kepada Anjelina dan Herlambang yang sedang bercakap.
Ia memperhatikan senyum yang mengembang di wajah Anjelina.
Senyum yang sama seperti beberapa hari terakhir.
Entah mengapa, hatinya kembali terusik.
Namun kali ini ia tidak menunjukkan apa pun.
Ia memilih diam.
Karena ia sadar, rasa cemburu yang terlalu cepat diperlihatkan hanya akan membuat orang lain menjauh.
Sebelum semua warga benar-benar meninggalkan pendopo, Ki Waskita memanggil Herlambang.
"Lambang."
"Iya, Ki."
"Besok pagi datanglah ke rumahku."
"Ada yang ingin Ki bicarakan?"
"Ada."
"Tentang amanah."
Herlambang mengangguk hormat.
"Baik, Ki."
Anjelina yang berdiri di sampingnya ikut penasaran.
Namun Ki Waskita hanya tersenyum.
Beliau tidak menjelaskan lebih jauh.
Di wajah lelaki tua itu tampak ketenangan, tetapi juga kekhawatiran.
Seolah beliau melihat sesuatu yang belum mampu dilihat oleh anak-anak muda di hadapannya.
Malam semakin larut.
Satu per satu lampu rumah mulai dipadamkan.
Namun di dalam hati Herlambang, Anjelina, dan Hidayat, berbagai pertanyaan justru mulai menyala.
Mereka belum mengetahui bahwa adat yang selama ini menjaga kedamaian Desa Arum Sari akan segera menjadi ujian pertama bagi perjalanan hati mereka.
Pagi itu udara Desa Arum Sari terasa lebih sejuk dari biasanya.
Kabut tipis masih menggantung di atas hamparan sawah ketika Herlambang berjalan menuju rumah Ki Waskita. Di tangannya terdapat sebungkus teh dan gula merah, buah tangan sederhana sebagai bentuk penghormatan kepada tetua adat.
Begitulah yang diajarkan ayahnya sejak kecil.
"Kalau bertamu kepada orang yang lebih tua, jangan datang dengan tangan kosong. Bukan karena nilainya, tetapi karena niat menghormatinya."
Ki Waskita sudah menunggu di beranda rumah.
Beliau sedang menyiram tanaman obat yang tumbuh di halaman.
"Silakan masuk, Lambang."
"Terima kasih, Ki."
Setelah menikmati secangkir teh hangat, Ki Waskita memulai pembicaraan.
"Lambang..."
"Iya, Ki."
"Kau tahu mengapa semalam aku memanggilmu?"
Herlambang menggeleng pelan.
"Belum, Ki."
Ki Waskita memandang ke arah pohon mangga yang mulai berbuah.
"Dalam hidup seorang laki-laki..."
"...akan datang masa ketika ia tidak lagi dinilai dari kepandaiannya."
"Bukan pula dari hartanya."
"Lalu dari apa, Ki?"
"Dari kemampuannya menjaga amanah."
Herlambang mendengarkan dengan penuh hormat.
"Amanah kepada orang tua."
"Amanah kepada masyarakat."
"Dan kelak..."
"...amanah kepada keluarganya sendiri."
Ucapan itu terus terngiang di benak Herlambang.
Ki Waskita melanjutkan,
"Di Arum Sari..."
"...seorang laki-laki tidak hanya membawa nama dirinya."
"Ia juga membawa nama keluarganya."
"Karena itu..."
"...setiap langkah harus dipikirkan baik-baik."
"Termasuk urusan hati."
Herlambang sedikit terkejut.
"Ki..."
"...maksud Ki?"
Tetua adat itu tersenyum.
"Aku sudah tua."
"Tetapi mataku belum rabun."
"Dan hatiku masih bisa membaca bahasa yang tidak diucapkan."
Wajah Herlambang memerah.
Ia menundukkan kepala.
"Aku tidak berniat melanggar adat, Ki."
"Aku tahu."
"Itulah sebabnya aku berbicara kepadamu."
Ki Waskita menepuk bahu Herlambang dengan lembut.
"Ingatlah..."
"Cinta akan menjadi indah apabila berjalan bersama kehormatan."
"Bukan bersama ambisi."
Herlambang mengangguk mantap.
"Pesan Ki akan selalu saya ingat."
Sementara itu, di rumah Haji Mahendra, suasana makan pagi berlangsung hangat.
Hidayat duduk bersama ayah dan ibunya.
Setelah beberapa saat, Haji Mahendra meletakkan sendoknya.
"Dayat."
"Iya, Yah?"
"Usiamu sudah cukup."
"Sudah saatnya memikirkan masa depan."
Hidayat tersenyum kecil.
"Ayah mulai lagi."
Ibunya ikut tersenyum.
"Ayahmu benar."
"Kami hanya ingin melihatmu bahagia."
Hidayat tidak segera menjawab.
Haji Mahendra melanjutkan,
"Kalau sudah ada perempuan yang kau sukai..."
"...tidak ada salahnya dikenalkan kepada keluarga."
Hidayat terdiam beberapa saat.
Lalu tanpa sadar, sebuah nama muncul di dalam pikirannya.
Anjelina.
Ia tidak mengucapkannya.
Namun perubahan raut wajahnya tidak luput dari perhatian sang ibu.
"Sepertinya..."
"...sudah ada ya?"
Hidayat hanya tersenyum tipis.
Ibunya saling berpandangan dengan Haji Mahendra.
Mereka tidak memaksa.
Tetapi sebagai orang tua, mereka tahu bahwa putra mereka sedang menyimpan sesuatu.
Di rumah Pak Jatmiko, Anjelina membantu ibunya membuat kue apem untuk acara selamatan kecil di rumah Pak Darto.
Bu Sulastri memandang putrinya sambil tersenyum.
"Lina."
"Iya, Bu?"
"Semalam banyak yang memuji cara kamu membantu di musyawarah adat."
Anjelina menggeleng malu.
"Aku hanya membantu menyiapkan minuman."
"Justru itu."
"Orang yang mau melayani tanpa ingin dipuji biasanya paling mudah disukai."
Anjelina tersenyum.
Ia tidak pernah membayangkan bahwa sikap sederhana yang diajarkan orang tuanya diam-diam membuat banyak warga menaruh hormat kepadanya.
Sore harinya, seluruh warga berkumpul di rumah Pak Darto untuk acara selamatan panen.
Tradisi itu telah berlangsung turun-temurun.
Setelah doa bersama, warga makan dalam suasana penuh kekeluargaan.
Hidayat datang bersama kedua orang tuanya.
Tak lama kemudian Herlambang juga hadir.
Anjelina membantu para ibu membagikan hidangan.
Di sela-sela acara, beberapa ibu mulai berbisik.
"Itu Hidayat anak Pak Haji."
"Iya."
"Cocok juga ya dengan Lina."
"Iya, sama-sama berpendidikan."
Bisikan itu terdengar pelan.
Namun cukup membuat Bu Sulastri menoleh.
Beliau hanya tersenyum tanpa memberi tanggapan.
Di sisi lain halaman, beberapa bapak justru berbincang berbeda.
"Kalau menurutku..."
"...Lambang lebih memahami kehidupan desa."
"Dia memang sederhana."
"Tapi anaknya bertanggung jawab."
Percakapan itu berhenti ketika Herlambang menghampiri mereka.
Tak seorang pun ingin membuat suasana menjadi canggung.
Menjelang matahari terbenam, acara selesai.
Warga mulai pulang.
Saat Anjelina membawa baki kosong menuju dapur, Hidayat menghampirinya.
"Terima kasih."
"Untuk apa?"
"Karena sudah bekerja keras hari ini."
Anjelina tersenyum.
"Kita semua bekerja bersama."
"Tidak ada yang bekerja sendiri."
Jawaban itu kembali membuat Hidayat kagum.
Di mata Hidayat, Anjelina selalu berbicara tentang kebersamaan.
Bukan tentang dirinya sendiri.
Namun di saat yang sama, Herlambang datang membantu mengangkat panci besar ke dapur.
"Lina, yang ini biar aku saja."
"Terima kasih."
Hidayat memperhatikan momen sederhana itu.
Ia kembali melihat sesuatu yang belum mampu ia miliki.
Bukan perhatian.
Melainkan kebiasaan saling membantu yang telah tumbuh begitu alami di antara mereka.
Malam itu, Ki Waskita duduk sendirian di beranda.
Beliau memandang langit yang dipenuhi bintang.
Pelan beliau berbisik,
"Ya Allah..."
"Jagalah hati anak-anak itu."
"Jangan biarkan cinta membuat mereka lupa kepada kehormatan."
"Dan jangan biarkan adat dijadikan alasan untuk mematahkan kebahagiaan."
Angin malam berembus pelan.
Daun-daun trembesi kembali berguguran.
Di bawah langit Arum Sari, tiga keluarga mulai menyimpan harapan masing-masing.
Keluarga Herlambang berharap putra mereka tetap menjadi pemuda yang menjaga amanah.
Keluarga Hidayat mulai berharap putra mereka segera menemukan pendamping hidup.
Sementara keluarga Anjelina belum menyadari bahwa nama putri mereka perlahan mulai menjadi pembicaraan di banyak rumah.
Benih-benih persoalan itu masih sangat halus.
Belum tampak sebagai konflik.
Namun seperti akar pohon yang tumbuh di dalam tanah, ia perlahan mencari jalan.
Dan ketika waktunya tiba, akar itu akan bertemu dengan rahasia masa lalu yang selama bertahun-tahun disimpan rapat oleh para tetua Desa Arum Sari.
Fajar di Desa Arum Sari disambut suara ayam jantan yang bersahutan dari berbagai penjuru kampung.
Hari itu bukan hari biasa.
Menurut penanggalan adat, masyarakat Arum Sari akan melaksanakan Tradisi Sedekah Bumi, sebuah ungkapan syukur atas hasil panen sekaligus doa agar musim tanam berikutnya diberi keberkahan.
Sejak pagi, para perempuan sibuk menyiapkan tumpeng, lauk-pauk, dan jajanan tradisional.
Kaum laki-laki membersihkan pendopo adat, memasang umbul-umbul, serta menata tempat duduk untuk warga.
Anak-anak berlarian dengan wajah ceria.
Bagi mereka, Sedekah Bumi selalu menjadi hari yang dinanti.
Anjelina datang lebih awal bersama Bu Sulastri.
Mereka membantu menata hidangan di atas meja panjang yang telah dihiasi janur kuning.
Tak lama kemudian Herlambang tiba bersama para pemuda.
"Lambang."
sapa Kepala Desa.
"Tolong atur tempat duduk untuk para sesepuh."
"Baik, Pak."
Herlambang segera bekerja.
Ia memastikan setiap kursi tertata rapi dan para tamu lanjut usia mendapat tempat yang nyaman.
Melihat itu, beberapa tetua mengangguk puas.
"Anak itu memang tahu tata krama."
kata Pak Sastro pelan.
Di sisi lain halaman, Hidayat baru saja datang bersama ayahnya.
Ia mengenakan beskap sederhana khas Arum Sari.
Penampilannya membuat banyak warga memuji.
"Wah..."
"Sudah seperti orang adat."
Hidayat tersenyum rendah hati.
"Saya hanya ingin menghormati tradisi desa."
Ucapan itu disambut baik oleh warga.
Ki Waskita yang melihat dari kejauhan mengangguk kecil.
Beliau senang melihat anak-anak muda mulai mencintai adat.
Namun beliau juga tahu...
Menghormati adat tidak cukup dengan pakaian.
Yang lebih penting adalah menghormatinya dalam sikap dan hati.
Acara dimulai dengan doa bersama.
Setelah itu, sesuai tradisi, para pemuda dan pemudi diminta membagikan hidangan kepada seluruh warga tanpa membedakan status maupun kedudukan.
Anjelina membawa baki berisi teh hangat.
Herlambang membantu mengangkat panci sayur.
Mereka bergerak dari satu tikar ke tikar lainnya dengan penuh kekompakan.
"Silakan, Pak."
"Terima kasih."
"Bu, ini teh hangatnya."
"Terima kasih, Nak."
Semua berlangsung begitu alami.
Tanpa aba-aba.
Tanpa saling memanggil.
Mereka sudah memahami apa yang harus dilakukan.
Pemandangan itu tak luput dari perhatian para tetua.
Mbah Wiryo tersenyum sambil berbisik kepada Pak Sastro,
"Lihat mereka."
"Seperti sudah lama bekerja bersama."
Pak Sastro mengangguk.
"Kalau dua orang saling mengerti sebelum diminta..."
"...itu pertanda mereka saling memahami."
Percakapan kecil itu didengar oleh beberapa ibu yang duduk di belakang.
Tak lama kemudian terdengar bisikan-bisikan pelan.
"Cocok ya."
"Iya."
"Sama-sama sederhana."
"Kalau berjodoh pasti bagus."
Anjelina yang kebetulan lewat hanya mendengar sepotong kalimat.
Wajahnya langsung memerah.
Ia mempercepat langkah menuju dapur.
Di dapur umum, Bu Sulastri tersenyum melihat putrinya.
"Kenapa pipimu merah?"
"Ah... tidak apa-apa, Bu."
"Ibu mendengar tadi."
"Mereka hanya bercanda."
Anjelina menundukkan kepala.
Ia tidak ingin membahasnya.
Namun jauh di lubuk hatinya, ia tidak merasa terganggu.
Yang membuatnya gugup justru karena nama Herlambang disebut bersamanya.
Sementara itu, Herlambang sama sekali tidak mengetahui pembicaraan para ibu.
Ia masih sibuk membantu para pemuda membereskan peralatan.
Ketika mengangkat meja bambu, Hidayat datang menghampiri.
"Biar kubantu."
"Terima kasih."
Mereka bekerja berdampingan.
Untuk pertama kalinya sejak Hidayat pulang ke desa, keduanya memiliki kesempatan berbincang lebih lama.
"Kau betah menjadi guru di sini?"
tanya Hidayat.
"Betah."
"Padahal dengan kemampuanmu..."
"...kau bisa bekerja di kota."
Herlambang tersenyum.
"Belum tentu semua orang harus pergi ke kota."
"Ada yang memang dipanggil untuk tetap tinggal."
Hidayat mengangguk pelan.
Jawaban itu sederhana.
Tetapi membuatnya semakin memahami mengapa banyak warga menghormati Herlambang.
Menjelang sore, acara Sedekah Bumi selesai.
Sebelum warga pulang, Ki Waskita berdiri memberikan pesan.
"Hari ini kita telah makan dari hasil bumi yang sama."
"Semoga kita juga menjaga desa ini dengan hati yang sama."
Beliau memandang seluruh warga.
"Leluhur mengajarkan satu hal."
"Jangan pernah membiarkan iri hati merusak persaudaraan."
Kalimat itu terdengar seperti nasihat biasa.
Namun entah mengapa, Hidayat merasa seolah kata-kata itu ditujukan kepadanya.
Ia segera mengalihkan pandangan.
Malamnya, Hidayat duduk di ruang tamu bersama ayahnya.
Haji Mahendra menyeruput kopi pelan.
"Tadi banyak warga memuji kegiatan adat."
"Iya."
jawab Hidayat.
Setelah beberapa saat, Haji Mahendra berkata,
"Dayat."
"Iya?"
"Kalau memang ada perempuan yang kau sukai..."
"...jangan hanya dipendam."
"Datanglah dengan cara yang baik."
"Kenali keluarganya."
"Hormati orang tuanya."
"Begitulah adat kita."
Hidayat mengangguk.
Nasihat ayahnya justru menguatkan tekad yang telah tumbuh sejak beberapa hari terakhir.
Ia tidak ingin sekadar menjadi pengagum dari kejauhan.
Ia ingin mengenal Anjelina lebih dekat.
Melalui jalan yang terhormat.
Di rumah Pak Jatmiko, Anjelina sedang merapikan bunga melati yang tadi dipakai menghias tumpeng.
Ia teringat bisikan para ibu siang tadi.
Tanpa sadar, wajah Herlambang kembali hadir dalam pikirannya.
Ia tersenyum kecil.
Kemudian segera menggelengkan kepala.
"Kenapa aku memikirkannya terus..."
Di luar jendela, bulan mulai muncul.
Di bawah pohon trembesi, Herlambang juga sedang duduk sendirian.
Ia teringat senyum Anjelina ketika membagikan teh kepada para tetua.
Tanpa sadar, senyum itu ikut terlukis di wajahnya.
Di tempat yang berbeda, Hidayat menatap langit malam yang sama.
Di dalam hatinya telah lahir sebuah keputusan.
Mulai esok, ia akan lebih sering terlibat dalam kegiatan desa.
Bukan hanya karena ingin mengabdi.
Tetapi juga karena ingin semakin dekat dengan Anjelina.
Ia belum menyadari bahwa langkah sederhana itu akan membawanya pada sebuah kisah lama yang selama puluhan tahun disimpan rapat oleh para tetua.
Sebuah kisah yang tidak hanya berkaitan dengan sejarah Desa Arum Sari.
Tetapi juga dengan asal-usul sebuah amanah yang akan mengubah jalan hidup mereka semua.
BAB VIII – Rahasia Leluhur
Hujan turun sejak dini hari.
Rintiknya membasahi atap-atap rumah, pematang sawah, dan daun-daun trembesi yang berdiri kokoh di depan balai desa. Desa Arum Sari seolah diselimuti suasana yang tenang, tetapi di balik ketenangan itu, ada sebuah rahasia yang selama puluhan tahun tersimpan rapat.
Rahasia yang hanya diketahui oleh sedikit orang.
Rahasia yang tidak pernah diceritakan kepada generasi muda.
Pagi itu, Ki Waskita duduk di beranda rumahnya sambil memandangi hujan.
Di hadapannya tergeletak sebuah peti kayu jati tua yang sudah mulai kusam dimakan usia.
Peti itu selalu berada di sudut rumah.
Tidak pernah dipindahkan.
Tidak pernah dibuka di depan orang banyak.
Bagi warga Arum Sari, peti itu hanyalah peninggalan keluarga Ki Waskita.
Namun kenyataannya...
Peti itu menyimpan lebih dari sekadar benda-benda lama.
Ia menyimpan sejarah.
Tak lama kemudian terdengar suara salam.
"Assalamu'alaikum, Ki."
"Wa'alaikumsalam."
Herlambang datang dengan membawa payung bambu.
"Maaf mengganggu."
"Aku memang sedang menunggumu."
Herlambang sedikit heran.
"Ki memanggil saya?"
"Iya."
"Ada sesuatu yang harus mulai kau ketahui."
Ki Waskita mempersilakan Herlambang duduk.
Hujan masih turun pelan.
Suasana menjadi sangat hening.
Ki Waskita membuka peti kayu itu dengan perlahan.
Di dalamnya terdapat beberapa benda yang dibungkus kain putih.
Beliau mengeluarkan sebuah buku tua yang sampulnya mulai pudar.
"Lihat ini."
Herlambang menerimanya dengan hati-hati.
Di halaman pertama tertulis dengan tinta yang mulai memudar:
"Catatan Amanah Leluhur Desa Arum Sari."
Herlambang menatap Ki Waskita.
"Ki..."
"...apa ini?"
"Buku itu ditulis oleh para tetua desa secara bergantian."
"Setiap generasi menambahkan catatan penting."
"Supaya sejarah tidak hilang."
Herlambang membuka beberapa halaman.
Tulisan tangan dengan berbagai bentuk memenuhi lembar demi lembar.
Ada nama-nama tetua yang sudah lama wafat.
Ada peristiwa-peristiwa penting.
Ada keputusan-keputusan adat yang pernah menyelamatkan desa dari perpecahan.
Ki Waskita berkata pelan,
"Sejarah bukan hanya untuk dikenang."
"Sejarah adalah guru."
"Kalau orang melupakan sejarahnya..."
"...ia akan mengulangi kesalahan yang sama."
Herlambang mengangguk.
"Aku mengerti, Ki."
"Belum."
jawab Ki Waskita lembut.
"Kau baru mulai memahami."
Beliau membuka salah satu halaman yang diberi penanda kain merah.
"Empat puluh tahun yang lalu..."
"...Desa Arum Sari pernah mengalami perpecahan."
Herlambang memperhatikan dengan saksama.
"Bukan karena bencana."
"Bukan pula karena kemiskinan."
"Tetapi karena manusia mulai lebih mencintai kepentingannya sendiri daripada persaudaraan."
Kalimat itu terasa berat.
Namun Ki Waskita belum menjelaskan lebih jauh.
Beliau menutup kembali halaman tersebut.
"Belum waktunya kau membaca bagian ini."
"Aku hanya ingin kau tahu bahwa rahasia itu benar-benar ada."
Di tempat lain, Anjelina sedang membantu Bu Sulastri menyiangi sayuran di kebun belakang rumah.
"Bu."
"Iya?"
"Ki Waskita itu sebenarnya seperti apa waktu muda?"
Bu Sulastri tersenyum.
"Dulu beliau guru."
"Orangnya sangat disegani."
"Kenapa bertanya begitu?"
"Entahlah."
"Setiap kali beliau berbicara..."
"...rasanya seperti sedang menyimpan sesuatu."
Bu Sulastri berhenti bekerja sejenak.
"Lina."
"Di setiap desa pasti ada cerita yang tidak langsung diceritakan kepada semua orang."
"Bukan untuk dirahasiakan selamanya."
"Tetapi supaya orang yang mendengarnya sudah cukup dewasa untuk memahaminya."
Anjelina mengangguk pelan.
Jawaban itu justru membuat rasa penasarannya semakin besar.
Menjelang siang, Hidayat datang ke balai desa untuk membantu perangkat desa menyusun rencana kegiatan kepemudaan.
Kepala Desa menyambutnya dengan baik.
"Terima kasih sudah mau ikut membantu."
"Ini juga desa saya, Pak."
Ketika mereka sedang berbincang, pandangan Hidayat tertuju pada sebuah lemari arsip tua di sudut ruangan.
"Lemari itu sudah lama sekali ya?"
Sekretaris Desa tersenyum.
"Sudah ada sejak zaman kepala desa sebelumnya."
"Masih dipakai?"
"Masih."
"Beberapa dokumen lama disimpan di sana."
Hidayat hanya mengangguk.
Ia tidak bertanya lagi.
Namun rasa ingin tahunya mulai tumbuh.
Sore hari, hujan telah berhenti.
Herlambang berjalan pulang sambil membawa buku tua yang dipinjamkan Ki Waskita.
Beliau berpesan,
"Jangan dibaca sendiri."
"Tunggu sampai aku memanggilmu lagi."
"Baik, Ki."
Herlambang memegang buku itu dengan penuh kehati-hatian.
Ia merasa sedang membawa sesuatu yang sangat berharga.
Bukan karena nilainya.
Melainkan karena maknanya.
Di bawah pohon trembesi, Anjelina telah menunggu.
"Kau dari rumah Ki Waskita?"
"Iya."
"Katanya ada amanah."
Herlambang tersenyum.
"Belum boleh kuceritakan."
Anjelina tertawa kecil.
"Rahasia?"
"Mungkin."
"Kalau begitu aku tidak akan memaksa."
Anjelina percaya.
Bila Herlambang belum bercerita, pasti karena memang belum saatnya.
Kepercayaan itu membuat Herlambang semakin menghargainya.
Dari kejauhan, Hidayat yang baru keluar dari balai desa melihat mereka berbincang di bawah pohon trembesi.
Ia tidak menghampiri.
Ia hanya memperhatikan.
Namun kali ini, yang menarik perhatiannya bukanlah kedekatan mereka.
Melainkan buku tua yang dibawa Herlambang.
"Apa yang dibawanya?"
gumamnya pelan.
Ia sempat melihat sampul buku itu.
Sudah sangat tua.
Seolah berasal dari masa yang jauh sebelum dirinya lahir.
Entah mengapa, nalurinya mengatakan bahwa buku itu menyimpan sesuatu yang penting.
Sesuatu yang tidak diketahui banyak orang.
Angin sore kembali berembus.
Daun-daun trembesi bergoyang perlahan.
Di bawah naungannya, tiga anak muda itu sedang melangkah menuju takdir yang berbeda.
Herlambang mulai memikul amanah tanpa memahami seluruh isinya.
Anjelina mulai menyadari bahwa masa lalu desa ternyata masih hidup di tengah masyarakat.
Sedangkan Hidayat mulai tertarik pada sebuah rahasia yang kelak akan menyeretnya ke dalam pusaran konflik yang jauh lebih besar daripada sekadar persoalan cinta.
Dua hari setelah pertemuan itu, Ki Waskita kembali mengirim pesan kepada Herlambang melalui Pak Sastro.
"Lambang diminta datang setelah salat Magrib."
Pesan itu singkat.
Namun cukup membuat Herlambang memahami bahwa ada sesuatu yang penting akan disampaikan.
Malam pun tiba.
Langit Arum Sari cerah. Cahaya bulan menerobos sela-sela daun trembesi, menciptakan bayangan yang menari di halaman rumah Ki Waskita.
Ketika Herlambang datang, pintu rumah sudah terbuka.
"Masuklah."
Ki Waskita duduk di ruang tengah.
Di hadapannya telah terbuka Catatan Amanah Leluhur Desa Arum Sari.
Namun kali ini, bukan hanya Herlambang yang hadir.
Pak Sastro dan Mbah Wiryo juga ikut duduk mendampingi.
"Apa yang akan Ki sampaikan malam ini..."
"...adalah bagian dari sejarah desa."
"Bukan untuk dibanggakan."
"Melainkan untuk dijaga."
Ki Waskita membuka lembar pertama yang telah menguning dimakan usia.
Beliau membaca perlahan.
"Pada masa ketika hutan masih lebih luas daripada sawah, beberapa keluarga datang dari berbagai penjuru untuk mencari tempat menetap. Mereka berasal dari latar belakang yang berbeda, tetapi memiliki tujuan yang sama: membangun kehidupan yang damai."
Beliau menutup buku sejenak.
"Itulah awal berdirinya Arum Sari."
"Dulu tempat ini belum bernama."
"Hanya sebuah kawasan hutan di tepi sungai."
Herlambang mendengarkan dengan penuh perhatian.
"Mereka membuka hutan bersama."
"Membuat saluran air."
"Membangun rumah."
"Dan menggarap sawah."
"Semuanya dilakukan dengan gotong royong."
Pak Sastro menambahkan,
"Karena itu sampai sekarang, gotong royong menjadi napas desa kita."
Ki Waskita kembali membuka halaman berikutnya.
"Namun beberapa tahun kemudian..."
"...terjadi perselisihan kecil."
"Bukan karena kekurangan makanan."
"Bukan pula karena kemarau."
"Lalu karena apa, Ki?"
tanya Herlambang.
"Karena masing-masing mulai merasa paling berjasa."
Ruangan kembali sunyi.
"Mereka lupa bahwa desa ini dibangun bersama."
"Akibatnya, hubungan antarkeluarga mulai renggang."
"Orang mulai menghitung jasa."
"Mulai membandingkan pengorbanan."
"Dan mulai lupa bersyukur."
Ki Waskita kemudian menunjuk sebuah gambar sederhana di dalam buku.
Gambar itu memperlihatkan sebuah pohon kecil yang ditanam oleh beberapa orang.
"Itulah pohon trembesi."
"Ditanam pada hari perdamaian."
"Sebagai lambang bahwa semua keluarga kembali menjadi satu."
"Setiap keluarga membawa segenggam tanah dari halaman rumahnya."
"Lalu tanah itu dicampurkan menjadi satu."
"Karena itulah..."
"...pohon itu dianggap sebagai milik seluruh warga."
"Bukan milik satu keluarga."
Herlambang mengangguk perlahan.
Kini ia memahami mengapa seluruh warga begitu menghormati pohon tua itu.
Pak Sastro tersenyum.
"Waktu kecil, kami sering bermain di bawah pohon itu."
"Lalu orang tua kami selalu berkata..."
'Kalau kalian bertengkar, jangan pulang sebelum saling memaafkan di bawah trembesi.'
Herlambang ikut tersenyum.
"Ternyata pohon itu bukan sekadar tempat berteduh."
"Bukan."
jawab Ki Waskita.
"Ia adalah pengingat."
"Bahwa setiap perselisihan harus diakhiri dengan perdamaian."
Ki Waskita kembali membuka halaman lain.
Di bagian bawah terdapat tulisan yang dibuat dengan tinta lebih tebal.
Beliau membacanya perlahan.
"Kami, para pendiri Arum Sari, berikrar bahwa siapa pun yang kelak dipercaya memimpin atau menjaga desa ini, wajib mengutamakan persaudaraan di atas kepentingan pribadi."
Beliau menutup buku.
"Itulah yang kami sebut..."
"...Ikrar Leluhur Arum Sari."
Ruangan menjadi hening.
Pak Sastro dan Mbah Wiryo menundukkan kepala sebagai bentuk penghormatan.
Herlambang merasakan dadanya bergetar.
Kalimat itu terasa sederhana.
Namun mengandung tanggung jawab yang sangat besar.
"Ki..."
tanya Herlambang pelan.
"Kenapa ikrar ini tidak pernah dibacakan di depan seluruh warga?"
Ki Waskita tersenyum.
"Dulu pernah."
"Lalu kenapa sekarang tidak?"
"Karena para tetua percaya..."
"...nilai yang baik tidak cukup dihafalkan."
"Ia harus lebih dahulu dicontohkan."
Jawaban itu membuat Herlambang terdiam.
Ia menyadari bahwa menjaga desa bukan hanya tugas Kepala Desa atau tetua adat.
Tetapi tugas seluruh masyarakat.
Di tempat lain, Hidayat sedang duduk di beranda rumahnya.
Roni datang membawa kabar.
"Mas."
"Apa?"
"Tadi malam Herlambang kembali ke rumah Ki Waskita."
"Masih soal buku tua itu?"
"Iya."
Hidayat berpikir sejenak.
"Aneh."
"Kenapa hanya Herlambang yang dipanggil?"
Roni mengangkat bahu.
"Mungkin karena dia dipercaya."
Kalimat itu terdengar biasa.
Namun di dalam hati Hidayat, muncul rasa ingin tahu yang semakin besar.
Ia tidak iri kepada buku itu.
Ia ingin mengetahui alasan mengapa Herlambang dipilih.
Keesokan harinya, Anjelina bertemu Herlambang di taman baca.
"Kau terlihat lebih banyak berpikir."
kata Anjelina.
"Benarkah?"
"Iya."
"Ada sesuatu yang mengganggu?"
Herlambang tersenyum kecil.
"Bukan mengganggu."
"Hanya..."
"...aku mulai sadar bahwa menjaga desa ternyata jauh lebih berat daripada yang kubayangkan."
Anjelina memandangnya dengan lembut.
"Kalau beban itu terasa berat..."
"...jangan dipikul sendirian."
"Kita semua mencintai Arum Sari."
"Kita juga bisa menjaganya bersama."
Ucapan itu membuat Herlambang merasa lebih tenang.
Ia tidak menceritakan isi pertemuan semalam.
Namun ia tahu, Anjelina adalah orang yang memahami makna kebersamaan.
Menjelang senja, Ki Waskita kembali menutup Catatan Amanah Leluhur.
Beliau menyimpannya ke dalam peti kayu.
Pak Sastro bertanya pelan,
"Apakah sudah waktunya semua itu dibuka?"
Ki Waskita menggeleng.
"Belum."
"Masih ada bagian yang paling penting."
"Dan bagian itulah yang selama puluhan tahun hanya diketahui oleh penjaga amanah."
Beliau memandang ke arah jendela.
Di kejauhan, pohon trembesi tampak bergoyang pelan diterpa angin.
"Sampai waktunya tiba..."
"...rahasia terakhir itu harus tetap dijaga."
Tak seorang pun menyadari bahwa di luar rumah, seseorang sempat berhenti beberapa saat di balik pagar bambu.
Ia tidak mendengar seluruh percakapan.
Hanya mendengar satu kalimat terakhir.
"...rahasia terakhir itu harus tetap dijaga."
Orang itu adalah Hidayat.
Ia segera melangkah pergi sebelum ketahuan.
Namun sejak malam itu, rasa ingin tahunya berubah menjadi tekad.
Apa pun isi rahasia yang dijaga Ki Waskita, ia ingin mengetahuinya.
Karena firasatnya mengatakan bahwa rahasia itu akan menentukan masa depan Desa Arum Sari.
Dan mungkin...
Juga masa depannya sendiri.
Malam kembali menyelimuti Desa Arum Sari.
Angin bertiup pelan dari arah persawahan, menggoyangkan daun-daun trembesi yang berdiri tegak di halaman balai desa. Cahaya bulan memantul di permukaan embun, membuat desa itu tampak damai.
Namun di balik kedamaian itu, sebuah rahasia yang telah terkunci selama puluhan tahun bersiap membuka sedikit tabirnya.
Ki Waskita kembali duduk di ruang tengah rumahnya.
Di hadapannya masih terletak peti kayu jati tua.
Beliau memandang Herlambang dengan tatapan tenang.
"Lambang."
"Iya, Ki."
"Yang akan kau lihat malam ini bukan warisan harta."
"Bukan pula pusaka yang bernilai emas."
"Melainkan warisan kepercayaan."
Ki Waskita membuka peti itu lebih dalam.
Di bagian paling bawah, tersimpan sebuah tabung bambu yang kedua ujungnya dibalut kain mori putih.
Beliau membukanya dengan sangat hati-hati.
Dari dalam tabung itu, keluarlah gulungan kertas yang telah menguning dimakan usia.
"Apa ini, Ki?"
"Ini salinan peta lama."
"Peta pertama Desa Arum Sari."
Herlambang menahan napas.
Perlahan gulungan itu dibuka di atas meja.
Terlihat garis-garis tangan yang sederhana.
Ada aliran sungai.
Hamparan sawah.
Bukit kecil di sebelah utara.
Dan sebuah tanda berbentuk lingkaran di dekat pohon trembesi.
"Ki..."
"...mengapa ada tanda di dekat trembesi?"
Ki Waskita tersenyum tipis.
"Karena pohon itu bukan ditanam secara sembarangan."
"Dahulu..."
"...para pendiri desa memilih tempat itu sebagai titik persatuan."
"Di sanalah mereka mengucapkan sumpah untuk hidup sebagai satu keluarga."
Pak Sastro yang duduk di samping menambahkan,
"Setelah sumpah itu selesai..."
"...mereka menanam trembesi sebagai saksi."
"Itulah sebabnya tidak seorang pun boleh menebangnya."
Herlambang mengangguk pelan.
Kini ia benar-benar memahami mengapa pohon tua itu begitu dihormati oleh seluruh warga.
Ki Waskita kemudian mengambil sebuah amplop kain berwarna cokelat yang diikat dengan tali rotan kecil.
"Masih ada satu lagi."
Beliau menyerahkannya kepada Herlambang.
"Tapi jangan dibuka."
Herlambang tampak bingung.
"Kalau tidak boleh dibuka..."
"...mengapa Ki menunjukkannya?"
"Karena suatu hari nanti..."
"...kau harus tahu bahwa benda ini ada."
"Isi surat itu hanya boleh dibuka apabila seluruh tetua adat telah sepakat."
"Atau..."
"...ketika desa menghadapi persoalan yang mengancam persatuan."
Ruangan kembali hening.
Tidak ada seorang pun yang berani menyentuh amplop itu.
Pak Sastro menarik napas panjang.
"Sudah hampir tiga puluh tahun..."
"...surat itu tidak pernah dibuka."
Mbah Wiryo mengangguk.
"Dan semoga tidak perlu dibuka."
Ki Waskita memandang Herlambang.
"Doakan saja seperti itu."
"Karena kalau surat ini sampai dibuka..."
"...berarti desa sedang menghadapi ujian besar."
Kalimat itu membuat bulu kuduk Herlambang meremang.
Ia tidak lagi penasaran dengan isi surat itu.
Ia justru berharap rahasia tersebut tetap tersimpan selamanya.
Keesokan paginya, Herlambang berjalan menuju sekolah.
Di tengah perjalanan ia melewati pohon trembesi.
Ia berhenti sejenak.
Tangannya menyentuh batang pohon yang besar dan kasar.
Dalam hati ia berbisik,
"Ternyata kau menyimpan begitu banyak cerita."
Ia menatap akar-akar tua yang menjalar ke segala arah.
Akar itu saling bertaut.
Tak terpisahkan.
Persis seperti pesan yang selalu disampaikan Ki Waskita tentang persaudaraan.
Tak lama kemudian Anjelina datang membawa beberapa buku untuk taman baca.
"Lambang."
"Iya?"
"Kau sedang apa?"
"Hanya melihat pohon ini."
Anjelina tersenyum.
"Sejak kecil aku suka duduk di sini."
"Rasanya teduh."
Herlambang memandang pohon itu.
"Bukan hanya teduh."
"Pohon ini juga menjaga banyak kenangan."
Anjelina mengerutkan dahi.
"Maksudmu?"
Herlambang tersenyum tipis.
"Nanti kalau sudah waktunya..."
"...kau juga akan tahu."
Anjelina tidak memaksa.
Ia percaya, ada hal-hal yang memang harus menunggu waktunya.
Sementara itu, di balai desa, Hidayat sedang membantu Sekretaris Desa menyusun dokumen inventaris aset.
Saat membuka lemari arsip lama, sebuah map lusuh terjatuh ke lantai.
Di sampulnya tertulis:
"Data Tanah Kas Desa Arum Sari."
Hidayat memungutnya.
Belum sempat membukanya, Sekretaris Desa berkata,
"Itu arsip lama."
"Sebagian datanya sudah diperbarui."
Hidayat menyerahkan kembali map itu.
Namun sebelum ditutup, matanya sempat menangkap satu kalimat di halaman pertama.
"...berdasarkan batas lama sebagaimana tercantum dalam peta desa tahun pertama."
Peta desa tahun pertama.
Kalimat itu langsung mengingatkannya pada gulungan tua yang dibawa Ki Waskita.
Tanpa disadari, dua keping teka-teki mulai saling terhubung di dalam pikirannya.
Malam harinya, Ki Waskita kembali menyimpan peta dan surat amanah ke dalam peti kayu.
Beliau mengunci peti itu dengan gembok tua.
Kemudian menyerahkan kuncinya kepada Pak Sastro.
"Bukan karena aku tidak percaya kepada diriku sendiri."
"Tetapi amanah harus dijaga bersama."
Pak Sastro menerima kunci itu dengan kedua tangan.
"Akan kami jaga, Ki."
Ki Waskita mengangguk.
Beliau lalu berkata pelan,
"Aku memiliki firasat."
"Sebentar lagi..."
"...masa tenang Arum Sari akan berakhir."
Mbah Wiryo menatap beliau.
"Apakah karena surat itu?"
"Bukan."
"Karena manusia."
"Rahasia tidak pernah menghancurkan siapa pun."
"Yang menghancurkan adalah keserakahan manusia ketika mengetahui adanya rahasia."
Di luar rumah, angin bertiup lebih kencang.
Daun-daun trembesi berguguran satu per satu.
Seolah alam ikut memberi isyarat bahwa waktu sedang bergerak menuju sebuah perubahan besar.
Di tiga tempat yang berbeda, tiga hati memandang langit malam yang sama.
Anjelina masih percaya bahwa kehidupan desa akan selalu damai.
Herlambang mulai memahami bahwa amanah jauh lebih berat daripada yang pernah ia bayangkan.
Sedangkan Hidayat belum mengetahui bahwa rasa ingin tahunya terhadap sejarah desa perlahan akan membawanya memasuki konflik yang tidak lagi sekadar menyangkut cinta.
Konflik itu akan bermula dari sebidang tanah.
Tanah yang selama puluhan tahun menjadi lambang persatuan.
Namun sebentar lagi akan berubah menjadi sumber perselisihan.
Dan sejak saat itulah, Desa Arum Sari memasuki babak baru dalam sejarahnya.
BAB IX – Tanah yang Diperebutkan
Musim kemarau mulai datang.
Hamparan sawah di Desa Arum Sari berubah menjadi kuning keemasan. Padi-padi yang hampir dipanen bergoyang perlahan diterpa angin pagi. Di kejauhan terdengar suara mesin perontok padi dan tawa para petani yang bersiap menyambut musim panen.
Namun, di balik suasana yang tampak damai itu, sebuah persoalan mulai muncul.
Persoalan yang selama bertahun-tahun tersembunyi di balik tumpukan arsip lama.
Pagi itu, Balai Desa Arum Sari tampak lebih sibuk daripada biasanya.
Kepala Desa mengundang perangkat desa untuk melakukan pendataan ulang seluruh aset desa.
Program itu merupakan bagian dari upaya penertiban administrasi pertanahan agar seluruh aset desa memiliki data yang lengkap dan tidak menimbulkan persoalan di kemudian hari.
Di ruang rapat, Sekretaris Desa membentangkan peta administrasi desa yang baru.
"Mulai hari ini kita akan mencocokkan data lama dengan kondisi di lapangan."
Semua perangkat desa mengangguk.
Hidayat yang dipercaya membantu proses digitalisasi arsip ikut memperhatikan setiap penjelasan.
Ia memang memiliki kemampuan mengoperasikan komputer dan pemetaan digital sehingga keberadaannya sangat membantu.
"Kita harus bekerja teliti."
ujar Kepala Desa.
"Kesalahan satu garis batas saja bisa menimbulkan masalah besar."
Di sudut ruangan, sebuah map lusuh kembali dikeluarkan dari lemari arsip.
Di bagian depannya tertulis:
"Inventaris Tanah Kas Desa Tahun Pertama."
Sekretaris Desa membuka map itu.
Beberapa lembar kertas sudah mulai rapuh.
Sebagian tulisan bahkan hampir tidak terbaca.
"Aneh..."
gumamnya.
"Data luas tanah di sini berbeda dengan data yang kita miliki sekarang."
Ruangan mendadak sunyi.
Kepala Desa mengambil lembar itu.
"Selisihnya cukup besar."
"Apakah dulu salah ukur?"
tanya salah seorang perangkat.
"Belum tentu."
jawab Kepala Desa.
"Kita tidak boleh menyimpulkan sebelum turun ke lapangan."
Hidayat memperhatikan dokumen itu dengan saksama.
Di bagian bawah halaman tertulis kalimat yang pernah ia lihat sebelumnya.
"...mengacu pada peta desa pertama yang disimpan oleh penjaga amanah adat."
Jantungnya berdegup lebih cepat.
Kalimat itu menghubungkan arsip pemerintah desa dengan peta tua yang berada di tangan Ki Waskita.
Sementara itu, Herlambang sedang mengajar di sekolah.
Saat pelajaran berlangsung, pikirannya sesekali melayang pada pesan Ki Waskita.
"Rahasia hanya boleh dibuka ketika persatuan desa terancam."
Kalimat itu terus terngiang.
Bel berbunyi.
Pelajaran usai.
Ketika hendak pulang, Kepala Desa datang ke sekolah.
"Lambang."
"Iya, Pak."
"Nanti sore kalau ada waktu, ikut kami ke lapangan."
"Ada apa, Pak?"
"Kita akan mengecek batas tanah kas desa."
Herlambang mengangguk.
"Baik, Pak."
Sore harinya, rombongan pemerintah desa bersama beberapa tokoh masyarakat berjalan menuju sebidang tanah di sebelah utara desa.
Tanah itu cukup luas.
Sebagian ditumbuhi pohon bambu.
Sebagian lagi menjadi lahan kosong yang selama ini dimanfaatkan warga untuk kegiatan bersama ketika musim panen.
Pak Darto menunjuk ke arah batas sebelah timur.
"Dulu patoknya di dekat batu besar itu."
Namun seorang warga lain menyela.
"Bukan."
"Setahu saya di dekat pohon randu."
Perbedaan pendapat mulai muncul.
Sekretaris Desa membuka peta baru.
Sedangkan Pak Sastro membawa salinan catatan lama.
Hasilnya tidak sepenuhnya sama.
Kepala Desa menghela napas.
"Kalau begini..."
"...kita harus memeriksa seluruh dokumen."
Hidayat berdiri beberapa langkah di belakang rombongan.
Ia memperhatikan keadaan sekitar.
Matanya berhenti pada pohon trembesi yang tampak berdiri tidak terlalu jauh dari lokasi.
Dalam benaknya muncul kembali peta tua yang pernah ia lihat sekilas.
"Jangan-jangan..."
gumamnya.
"...tanah ini berkaitan dengan rahasia itu."
Ia tidak mengucapkannya kepada siapa pun.
Namun rasa ingin tahunya semakin kuat.
Di sisi lain, Anjelina datang bersama beberapa ibu yang hendak mengantarkan minuman kepada rombongan.
Melihat suasana yang mulai serius, ia bertanya kepada Bu Sulastri,
"Ada apa sebenarnya, Bu?"
"Katanya sedang mencocokkan batas tanah desa."
"Memangnya penting sekali?"
Bu Sulastri mengangguk.
"Tanah desa bukan sekadar tanah."
"Itu milik bersama."
"Kalau sampai diperselisihkan..."
"...yang rugi seluruh warga."
Anjelina memandang para perangkat desa yang sedang berdiskusi.
Ia baru menyadari bahwa menjaga desa ternyata bukan hanya soal membangun.
Tetapi juga menjaga apa yang telah diwariskan oleh para pendahulu.
Menjelang matahari terbenam, pemeriksaan dihentikan sementara.
Belum ada kesimpulan.
Namun satu hal mulai terlihat.
Ada perbedaan antara arsip lama, peta administrasi terbaru, dan ingatan sebagian warga.
Kepala Desa berkata tegas,
"Kita tidak boleh mengambil keputusan tergesa-gesa."
"Besok kita lanjutkan."
"Sementara semua dokumen akan diperiksa kembali."
Semua menyetujui.
Saat warga mulai pulang, Ki Waskita yang sedari tadi diam akhirnya berbicara.
Beliau memandang sebidang tanah itu cukup lama.
Lalu berkata pelan,
"Aku berharap..."
"...tanah ini tidak mengulang luka yang pernah terjadi puluhan tahun lalu."
Tak seorang pun memahami maksud ucapan itu.
Kecuali Pak Sastro.
Wajah lelaki tua itu berubah serius.
Ia tahu betul bahwa Ki Waskita sedang mengingat peristiwa lama yang belum pernah diceritakan kepada generasi muda.
Di kejauhan, Hidayat berdiri sendirian.
Pandangan matanya bergantian antara tanah yang sedang diperdebatkan dan pohon trembesi yang menjulang tinggi.
Kini ia semakin yakin.
Rahasia yang disimpan Ki Waskita bukan sekadar sejarah.
Rahasia itu berkaitan langsung dengan tanah yang sedang dipersoalkan.
Dan apabila benar demikian...
Maka bukan hanya adat yang akan diuji.
Pemerintahan desa, persahabatan, bahkan hubungan antarwarga pun bisa ikut terguncang.
Angin sore kembali bertiup.
Hamparan padi bergelombang seperti lautan emas.
Namun di balik keindahan itu, sebuah badai perlahan mulai bergerak menuju Desa Arum Sari.
Badai yang tidak datang dari langit.
Melainkan dari hati manusia yang mulai mempertanyakan hak, kepemilikan, dan kepentingan.
Keesokan paginya, ruang arsip Balai Desa Arum Sari dipenuhi tumpukan map tua.
Debu tipis beterbangan ketika Sekretaris Desa membuka lemari besi yang sudah puluhan tahun menjadi tempat penyimpanan dokumen-dokumen penting.
Kepala Desa, Sekretaris Desa, Hidayat, serta dua perangkat desa lainnya mulai memilah arsip berdasarkan tahun.
"Jangan sampai ada lembar yang rusak."
pesan Kepala Desa.
"Dokumen lama sering kali menjadi satu-satunya bukti."
Hidayat mengangguk.
Ia mengenakan sarung tangan kain agar kertas-kertas tua itu tidak mudah sobek.
Satu demi satu dokumen dibuka.
Sebagian berisi daftar inventaris desa.
Sebagian lagi berupa berita acara musyawarah puluhan tahun yang lalu.
Namun tiba-tiba, Sekretaris Desa menghentikan tangannya.
"Pak..."
"Silakan lihat ini."
Kepala Desa mendekat.
Di hadapan mereka terbentang sebuah berita acara bertanggal lebih dari empat puluh tahun yang lalu.
Tulisan tangan itu mulai memudar, tetapi masih dapat dibaca.
Pada bagian akhir tertulis:
"...disepakati oleh para tetua desa dan disaksikan oleh Ki Darma Kusuma selaku Penjaga Amanah Pertama Desa Arum Sari."
Ruangan mendadak hening.
Hidayat mengernyitkan dahi.
"Ki Darma Kusuma?"
"Saya belum pernah mendengar nama itu."
Sekretaris Desa menggeleng.
"Saya juga."
Kepala Desa menatap dokumen itu cukup lama.
"Berarti sebelum Ki Waskita..."
"...ada Penjaga Amanah yang lain."
Siang harinya, Kepala Desa memutuskan menemui Ki Waskita.
Beliau membawa salinan dokumen yang baru ditemukan.
Di rumah sederhana itu, Ki Waskita menerima mereka dengan tenang.
Ketika membaca nama Ki Darma Kusuma, wajah beliau berubah serius.
"Sudah lama sekali nama itu tidak disebut."
kata beliau perlahan.
"Kakek buyut saya?"
tanya Herlambang yang kebetulan hadir.
Ki Waskita mengangguk.
"Iya."
"Beliaulah Penjaga Amanah pertama."
"Orang yang dipercaya menyimpan catatan sejarah desa setelah para pendiri wafat."
Herlambang terdiam.
Ia baru mengetahui bahwa keluarganya memiliki hubungan yang begitu erat dengan sejarah Desa Arum Sari.
Kepala Desa bertanya dengan hati-hati,
"Apakah beliau berkaitan dengan tanah yang sedang kami teliti?"
Ki Waskita tidak langsung menjawab.
Beliau memandang keluar jendela.
Ke arah pohon trembesi yang berdiri tegak di kejauhan.
"Semua akan ada waktunya."
"Tetapi satu hal bisa saya katakan."
"Tanah itu..."
"...tidak pernah dimaksudkan menjadi milik seseorang."
"Tanah itu disediakan untuk kepentingan bersama."
Jawaban itu membuat Kepala Desa semakin yakin bahwa persoalan yang sedang mereka hadapi tidak sesederhana perbedaan ukuran lahan.
Sore harinya, sebuah mobil berpelat luar daerah memasuki Desa Arum Sari.
Kedatangannya menarik perhatian warga.
Mobil itu berhenti di depan balai desa.
Seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun turun dengan mengenakan pakaian rapi.
Ia memperkenalkan diri.
"Perkenalkan."
"Saya Surya Pradana."
"Saya bergerak di bidang pengembangan kawasan pertanian dan agrowisata."
Kepala Desa menyambut dengan sopan.
"Ada yang bisa kami bantu, Pak Surya?"
"Saya mendengar..."
"...di sebelah utara desa ada lahan yang cukup luas."
"Saya ingin mengetahui kemungkinan kerja sama pemanfaatannya."
Kepala Desa tersenyum tipis.
"Lahan yang Bapak maksud masih dalam proses pendataan."
"Jadi belum ada keputusan apa pun."
"Saya mengerti."
Surya Pradana mengangguk.
"Saya tidak ingin terburu-buru."
"Saya hanya ingin melihat lokasinya."
Percakapan itu didengar oleh beberapa warga.
Dalam waktu singkat, kabar mengenai kedatangan seorang investor menyebar ke seluruh desa.
Warung Bu Minah kembali menjadi pusat pembicaraan.
"Katanya mau dijadikan agrowisata."
"Kalau benar, desa bisa maju."
"Tapi tanahnya milik siapa?"
"Itulah yang belum jelas."
Perbincangan mulai berkembang ke berbagai arah.
Sebagian warga menyambut baik kemungkinan hadirnya investasi.
Sebagian lainnya mulai khawatir.
Anjelina yang sedang membeli kebutuhan taman baca ikut mendengar percakapan itu.
Ia segera menemui Herlambang.
"Lambang."
"Iya?"
"Kau sudah dengar?"
"Tentang apa?"
"Ada orang dari luar desa yang ingin bekerja sama memanfaatkan tanah di utara."
Herlambang terdiam.
"Padahal status tanahnya saja belum jelas."
"Itulah yang membuatku khawatir."
kata Anjelina.
"Bukan soal pembangunan."
"Tetapi jangan sampai warga terpecah."
Herlambang mengangguk pelan.
Ia teringat kembali pesan Ki Waskita.
"Persatuan selalu lebih mahal daripada tanah."
Sementara itu, Hidayat bertemu Surya Pradana secara tidak sengaja di halaman balai desa.
"Kau Hidayat, bukan?"
"Iya."
"Aku mengenal ayahmu."
"Haji Mahendra pernah beberapa kali bekerja sama dengan kami."
Hidayat tersenyum sopan.
Percakapan mereka berlangsung singkat.
Surya hanya bertanya tentang kondisi desa dan potensi pertaniannya.
Namun ketika hendak berpamitan, Surya berkata,
"Desa ini memiliki masa depan yang besar."
"Sayang sekali kalau lahannya tidak dimanfaatkan secara maksimal."
Kalimat itu terus terngiang di kepala Hidayat.
Ia mulai berpikir.
Apakah pembangunan selalu bertentangan dengan adat?
Ataukah keduanya masih bisa berjalan berdampingan?
Untuk pertama kalinya, ia berada di persimpangan antara idealisme desa dan gagasan kemajuan yang dibawanya dari kota.
Menjelang malam, Ki Waskita kembali membuka Catatan Amanah Leluhur.
Beliau membaca satu halaman yang belum pernah diperlihatkan kepada siapa pun.
Di bagian bawah halaman itu tertulis sebuah kalimat yang membuat beliau menarik napas panjang.
"Kelak akan datang masa ketika tanah persatuan lebih diperebutkan daripada persaudaraan."
Ki Waskita menutup buku itu perlahan.
Beliau memejamkan mata.
"Leluhur..."
gumamnya lirih,
"...semoga ramalan itu tidak menjadi kenyataan."
Namun jauh di lubuk hati beliau, firasat buruk mulai tumbuh.
Kedatangan orang luar bukanlah sumber persoalan.
Persoalan yang sesungguhnya adalah bagaimana warga Arum Sari akan menyikapi godaan kepentingan, keuntungan, dan ambisi.
Sementara itu, di langit Arum Sari, bulan kembali bersinar tenang.
Seolah belum mengetahui bahwa sebidang tanah yang selama puluhan tahun menjadi simbol kebersamaan perlahan mulai menarik perhatian banyak pihak.
Dan ketika semakin banyak orang menginginkannya, semakin berat pula ujian yang akan dihadapi oleh cinta, persahabatan, adat, dan pemerintahan desa.
Tiga hari setelah kedatangan Surya Pradana, Pemerintah Desa Arum Sari mengumumkan akan mengadakan Musyawarah Desa Khusus.
Pengumuman ditempel di papan informasi balai desa dan disampaikan melalui pengeras suara masjid.
PENGUMUMAN
Sehubungan dengan hasil pendataan aset desa dan adanya perbedaan data mengenai batas Tanah Kas Desa di wilayah utara, seluruh unsur masyarakat diundang menghadiri Musyawarah Desa Khusus pada hari Sabtu pukul 19.30 WIB di Balai Desa Arum Sari.
Demi menjaga keterbukaan dan kebersamaan, diharapkan kehadiran seluruh tokoh masyarakat, tokoh adat, pemuda, kelompok tani, BPD, dan unsur perempuan.
Pengumuman itu segera menjadi pembicaraan di seluruh penjuru desa.
Tidak sedikit warga yang mulai bertanya-tanya.
Apakah benar tanah itu akan dimanfaatkan?
Ataukah akan tetap dibiarkan seperti selama ini?
Malam yang ditunggu akhirnya tiba.
Balai Desa Arum Sari dipenuhi warga.
Kursi-kursi kayu hampir seluruhnya terisi.
Di barisan depan duduk Kepala Desa bersama perangkat desa, Ketua BPD, Ki Waskita, para tokoh masyarakat, dan para ketua RT.
Di sisi kanan ruangan tampak para petani.
Di sisi kiri duduk para pemuda dan ibu-ibu PKK.
Herlambang hadir sebagai perwakilan pemuda.
Anjelina duduk bersama kelompok perempuan desa.
Sementara Hidayat berada di dekat meja perangkat desa karena membantu menampilkan data administrasi melalui layar proyektor.
Setelah doa bersama, Kepala Desa membuka musyawarah.
"Bapak-Ibu sekalian..."
"Hari ini kita tidak sedang menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah."
"Kita sedang mencari kebenaran berdasarkan data, sejarah, dan kepentingan bersama."
Kalimat itu membuat suasana menjadi tenang.
Sekretaris Desa kemudian memaparkan hasil pendataan.
Di layar terlihat tiga dokumen berbeda.
Peta administrasi terbaru.
Arsip inventaris lama.
Dan hasil pengukuran lapangan.
"Terdapat perbedaan luas dan batas wilayah."
jelas Sekretaris Desa.
"Karena itu, Pemerintah Desa belum dapat mengambil keputusan."
Ketua Kelompok Tani mengangkat tangan.
"Pak Kepala Desa."
"Silakan."
"Kalau tanah itu memang aset desa..."
"...mengapa selama ini tidak dimanfaatkan lebih baik?"
Beberapa warga mengangguk.
Pertanyaan itu memang selama ini sering muncul.
Sebelum Kepala Desa menjawab, Ki Waskita berbicara pelan.
"Karena tidak semua yang kosong berarti tidak berguna."
Ruangan kembali sunyi.
Ki Waskita melanjutkan,
"Kadang-kadang..."
"...sesuatu dibiarkan apa adanya agar tetap bisa menjadi milik semua orang."
Sebagian warga memahami maksudnya.
Namun sebagian lain masih merasa penasaran.
Tak lama kemudian seorang pemuda berdiri.
Namanya Roni.
"Ki..."
"Kalau memang bisa dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat..."
"...bukankah itu juga baik?"
Ki Waskita tersenyum.
"Tentu baik."
"Adat tidak pernah menolak kemajuan."
"Tetapi kemajuan harus berjalan bersama keadilan."
Kalimat itu disambut anggukan Kepala Desa.
"Saya setuju."
"Pemerintah desa juga menginginkan pembangunan."
"Namun pembangunan yang tidak menghilangkan hak masyarakat."
Suasana mulai menghangat.
Beberapa warga mengusulkan agar tanah tersebut dijadikan sentra pertanian modern.
Sebagian mengusulkan kawasan wisata edukasi.
Ada pula yang menginginkan lahan itu tetap menjadi ruang bersama untuk kegiatan adat dan panen raya.
Pendapat demi pendapat disampaikan dengan tertib.
Namun perlahan terlihat bahwa warga mulai terbagi menjadi dua pandangan.
Bukan bermusuhan.
Tetapi berbeda cara memandang masa depan desa.
Selama musyawarah berlangsung, Hidayat memperhatikan seluruh jalannya diskusi.
Ia melihat bagaimana warga begitu mencintai desanya.
Namun ia juga melihat kenyataan bahwa banyak pemuda masih pergi merantau karena lapangan pekerjaan terbatas.
Di dalam hatinya terjadi pergulatan.
Ia percaya adat harus dihormati.
Tetapi ia juga percaya bahwa desa membutuhkan perubahan.
Menjelang akhir musyawarah, Kepala Desa bertanya,
"Apakah malam ini kita akan mengambil keputusan?"
Semua terdiam.
Beberapa saat kemudian Ki Waskita berdiri.
"Tidak."
jawab beliau mantap.
"Kita belum memiliki seluruh fakta."
"Dan keputusan yang terburu-buru hanya akan melahirkan penyesalan."
Beliau kemudian menoleh kepada Kepala Desa.
"Saya meminta waktu."
"Sebelum keputusan diambil..."
"...izinkan para tetua adat memeriksa kembali catatan amanah leluhur."
Kepala Desa mengangguk hormat.
"Pemerintah Desa menghormati permintaan itu."
Musyawarah pun menyepakati untuk menunda keputusan hingga seluruh data administratif dan catatan sejarah selesai diverifikasi bersama.
Usai musyawarah, warga mulai meninggalkan balai desa.
Anjelina berjalan berdampingan dengan Herlambang.
"Aku lega."
kata Anjelina.
"Kenapa?"
"Karena tidak ada yang memaksakan keputusan."
Herlambang tersenyum.
"Itulah indahnya musyawarah."
"Berbeda pendapat bukan berarti bermusuhan."
Anjelina mengangguk.
"Semoga tetap seperti itu."
Di halaman balai desa, Hidayat berdiri sendirian.
Ia memandang ruang rapat yang mulai sepi.
Ucapan Ki Waskita terus berputar di kepalanya.
"Kemajuan harus berjalan bersama keadilan."
Kalimat itu menyentuh hatinya.
Selama ini ia berpikir bahwa pembangunan adalah jawaban bagi semua persoalan.
Namun malam itu ia menyadari bahwa pembangunan tanpa mendengar suara masyarakat hanya akan melahirkan konflik baru.
Ia menarik napas panjang.
Lalu mengambil sebuah keputusan.
Mulai hari itu, ia tidak akan lagi mencari jalan sendiri.
Ia akan membantu Pemerintah Desa mengumpulkan seluruh data sejarah, administrasi, dan pemetaan agar keputusan yang diambil benar-benar berdasarkan kebenaran, bukan kepentingan.
Keputusan itu disampaikan kepada Kepala Desa sebelum ia pulang.
"Pak..."
"Saya ingin membantu sampai persoalan ini selesai."
Kepala Desa tersenyum.
"Terima kasih, Dayat."
"Kita membutuhkan anak-anak muda yang mau bekerja untuk desa."
Hidayat mengangguk.
Namun jauh di dalam hatinya, ada alasan lain yang tidak ia ungkapkan.
Semakin dekat ia dengan persoalan tanah itu, semakin dekat pula ia dengan rahasia yang dijaga Ki Waskita.
Dan semakin dekat ia dengan Anjelina.
Di rumah Ki Waskita, malam itu lampu masih menyala hingga larut.
Beliau kembali membuka Catatan Amanah Leluhur.
Di sampingnya terbentang peta tua Desa Arum Sari.
Pandangan beliau berhenti pada sebuah tanda kecil di dekat batas tanah utara.
Beliau menghela napas panjang.
"Akhirnya..."
"...waktu itu benar-benar telah tiba."
Beliau menutup buku perlahan.
Di luar rumah, angin malam bertiup lebih kencang daripada biasanya.
Balai Desa yang siang tadi menjadi tempat musyawarah kini kembali sunyi.
Namun ketenangan itu hanya sementara.
Karena mulai esok hari, perbedaan kepentingan akan semakin terasa.
Pertanyaan demi pertanyaan akan bermunculan.
Kecurigaan perlahan akan tumbuh.
Dan Balai Desa Arum Sari, yang selama ini menjadi tempat lahirnya mufakat, akan mulai menjadi saksi pergolakan terbesar yang pernah dialami desa itu.
Tiga hari setelah kedatangan Surya Pradana, Pemerintah Desa Arum Sari mengumumkan akan mengadakan Musyawarah Desa Khusus.
Pengumuman ditempel di papan informasi balai desa dan disampaikan melalui pengeras suara masjid.
PENGUMUMAN
Sehubungan dengan hasil pendataan aset desa dan adanya perbedaan data mengenai batas Tanah Kas Desa di wilayah utara, seluruh unsur masyarakat diundang menghadiri Musyawarah Desa Khusus pada hari Sabtu pukul 19.30 WIB di Balai Desa Arum Sari.
Demi menjaga keterbukaan dan kebersamaan, diharapkan kehadiran seluruh tokoh masyarakat, tokoh adat, pemuda, kelompok tani, BPD, dan unsur perempuan.
Pengumuman itu segera menjadi pembicaraan di seluruh penjuru desa.
Tidak sedikit warga yang mulai bertanya-tanya.
Apakah benar tanah itu akan dimanfaatkan?
Ataukah akan tetap dibiarkan seperti selama ini?
Malam yang ditunggu akhirnya tiba.
Balai Desa Arum Sari dipenuhi warga.
Kursi-kursi kayu hampir seluruhnya terisi.
Di barisan depan duduk Kepala Desa bersama perangkat desa, Ketua BPD, Ki Waskita, para tokoh masyarakat, dan para ketua RT.
Di sisi kanan ruangan tampak para petani.
Di sisi kiri duduk para pemuda dan ibu-ibu PKK.
Herlambang hadir sebagai perwakilan pemuda.
Anjelina duduk bersama kelompok perempuan desa.
Sementara Hidayat berada di dekat meja perangkat desa karena membantu menampilkan data administrasi melalui layar proyektor.
Setelah doa bersama, Kepala Desa membuka musyawarah.
"Bapak-Ibu sekalian..."
"Hari ini kita tidak sedang menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah."
"Kita sedang mencari kebenaran berdasarkan data, sejarah, dan kepentingan bersama."
Kalimat itu membuat suasana menjadi tenang.
Sekretaris Desa kemudian memaparkan hasil pendataan.
Di layar terlihat tiga dokumen berbeda.
Peta administrasi terbaru.
Arsip inventaris lama.
Dan hasil pengukuran lapangan.
"Terdapat perbedaan luas dan batas wilayah."
jelas Sekretaris Desa.
"Karena itu, Pemerintah Desa belum dapat mengambil keputusan."
Ketua Kelompok Tani mengangkat tangan.
"Pak Kepala Desa."
"Silakan."
"Kalau tanah itu memang aset desa..."
"...mengapa selama ini tidak dimanfaatkan lebih baik?"
Beberapa warga mengangguk.
Pertanyaan itu memang selama ini sering muncul.
Sebelum Kepala Desa menjawab, Ki Waskita berbicara pelan.
"Karena tidak semua yang kosong berarti tidak berguna."
Ruangan kembali sunyi.
Ki Waskita melanjutkan,
"Kadang-kadang..."
"...sesuatu dibiarkan apa adanya agar tetap bisa menjadi milik semua orang."
Sebagian warga memahami maksudnya.
Namun sebagian lain masih merasa penasaran.
Tak lama kemudian seorang pemuda berdiri.
Namanya Roni.
"Ki..."
"Kalau memang bisa dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat..."
"...bukankah itu juga baik?"
Ki Waskita tersenyum.
"Tentu baik."
"Adat tidak pernah menolak kemajuan."
"Tetapi kemajuan harus berjalan bersama keadilan."
Kalimat itu disambut anggukan Kepala Desa.
"Saya setuju."
"Pemerintah desa juga menginginkan pembangunan."
"Namun pembangunan yang tidak menghilangkan hak masyarakat."
Suasana mulai menghangat.
Beberapa warga mengusulkan agar tanah tersebut dijadikan sentra pertanian modern.
Sebagian mengusulkan kawasan wisata edukasi.
Ada pula yang menginginkan lahan itu tetap menjadi ruang bersama untuk kegiatan adat dan panen raya.
Pendapat demi pendapat disampaikan dengan tertib.
Namun perlahan terlihat bahwa warga mulai terbagi menjadi dua pandangan.
Bukan bermusuhan.
Tetapi berbeda cara memandang masa depan desa.
Selama musyawarah berlangsung, Hidayat memperhatikan seluruh jalannya diskusi.
Ia melihat bagaimana warga begitu mencintai desanya.
Namun ia juga melihat kenyataan bahwa banyak pemuda masih pergi merantau karena lapangan pekerjaan terbatas.
Di dalam hatinya terjadi pergulatan.
Ia percaya adat harus dihormati.
Tetapi ia juga percaya bahwa desa membutuhkan perubahan.
Menjelang akhir musyawarah, Kepala Desa bertanya,
"Apakah malam ini kita akan mengambil keputusan?"
Semua terdiam.
Beberapa saat kemudian Ki Waskita berdiri.
"Tidak."
jawab beliau mantap.
"Kita belum memiliki seluruh fakta."
"Dan keputusan yang terburu-buru hanya akan melahirkan penyesalan."
Beliau kemudian menoleh kepada Kepala Desa.
"Saya meminta waktu."
"Sebelum keputusan diambil..."
"...izinkan para tetua adat memeriksa kembali catatan amanah leluhur."
Kepala Desa mengangguk hormat.
"Pemerintah Desa menghormati permintaan itu."
Musyawarah pun menyepakati untuk menunda keputusan hingga seluruh data administratif dan catatan sejarah selesai diverifikasi bersama.
Usai musyawarah, warga mulai meninggalkan balai desa.
Anjelina berjalan berdampingan dengan Herlambang.
"Aku lega."
kata Anjelina.
"Kenapa?"
"Karena tidak ada yang memaksakan keputusan."
Herlambang tersenyum.
"Itulah indahnya musyawarah."
"Berbeda pendapat bukan berarti bermusuhan."
Anjelina mengangguk.
"Semoga tetap seperti itu."
Di halaman balai desa, Hidayat berdiri sendirian.
Ia memandang ruang rapat yang mulai sepi.
Ucapan Ki Waskita terus berputar di kepalanya.
"Kemajuan harus berjalan bersama keadilan."
Kalimat itu menyentuh hatinya.
Selama ini ia berpikir bahwa pembangunan adalah jawaban bagi semua persoalan.
Namun malam itu ia menyadari bahwa pembangunan tanpa mendengar suara masyarakat hanya akan melahirkan konflik baru.
Ia menarik napas panjang.
Lalu mengambil sebuah keputusan.
Mulai hari itu, ia tidak akan lagi mencari jalan sendiri.
Ia akan membantu Pemerintah Desa mengumpulkan seluruh data sejarah, administrasi, dan pemetaan agar keputusan yang diambil benar-benar berdasarkan kebenaran, bukan kepentingan.
Keputusan itu disampaikan kepada Kepala Desa sebelum ia pulang.
"Pak..."
"Saya ingin membantu sampai persoalan ini selesai."
Kepala Desa tersenyum.
"Terima kasih, Dayat."
"Kita membutuhkan anak-anak muda yang mau bekerja untuk desa."
Hidayat mengangguk.
Namun jauh di dalam hatinya, ada alasan lain yang tidak ia ungkapkan.
Semakin dekat ia dengan persoalan tanah itu, semakin dekat pula ia dengan rahasia yang dijaga Ki Waskita.
Dan semakin dekat ia dengan Anjelina.
Di rumah Ki Waskita, malam itu lampu masih menyala hingga larut.
Beliau kembali membuka Catatan Amanah Leluhur.
Di sampingnya terbentang peta tua Desa Arum Sari.
Pandangan beliau berhenti pada sebuah tanda kecil di dekat batas tanah utara.
Beliau menghela napas panjang.
"Akhirnya..."
"...waktu itu benar-benar telah tiba."
Beliau menutup buku perlahan.
Di luar rumah, angin malam bertiup lebih kencang daripada biasanya.
Balai Desa yang siang tadi menjadi tempat musyawarah kini kembali sunyi.
Namun ketenangan itu hanya sementara.
Karena mulai esok hari, perbedaan kepentingan akan semakin terasa.
Pertanyaan demi pertanyaan akan bermunculan.
Kecurigaan perlahan akan tumbuh.
Dan Balai Desa Arum Sari, yang selama ini menjadi tempat lahirnya mufakat, akan mulai menjadi saksi pergolakan terbesar yang pernah dialami desa itu.
BAB X – Balai Desa Mulai Bergolak
Seminggu telah berlalu sejak Musyawarah Desa Khusus ditutup tanpa keputusan.
Namun justru setelah musyawarah itulah, suasana Desa Arum Sari mulai berubah.
Jika sebelumnya warga hanya bertanya-tanya, kini mereka mulai memiliki pendapat masing-masing.
Di warung kopi.
Di pematang sawah.
Di teras rumah.
Bahkan seusai salat berjamaah di masjid.
Topik yang selalu dibicarakan hanya satu.
Tanah di sebelah utara desa.
Warung Bu Minah kembali menjadi pusat percakapan warga.
Pak Darto menyeruput kopi hitamnya.
"Menurutku tanah itu lebih baik dimanfaatkan."
"Kalau bisa membuka lapangan pekerjaan, kenapa tidak?"
Di seberangnya, Mbah Wiryo menggeleng pelan.
"Bukan soal dimanfaatkan atau tidak."
"Tetapi jangan sampai kita melupakan amanah para leluhur."
Seorang pemuda menyela,
"Kalau semua harus menunggu adat..."
"...kapan desa ini maju?"
Suasana mulai hening.
Pak Darto segera menenangkan.
"Jangan salah paham."
"Adat dan pembangunan tidak harus saling bertentangan."
"Tapi kita memang harus menemukan jalan tengah."
Sementara itu, di Balai Desa, Kepala Desa memimpin rapat perangkat.
Di atas meja telah tersusun berbagai dokumen hasil pengukuran, berita acara, dan salinan arsip lama.
"Kita harus menyelesaikan persoalan ini secara terbuka."
ujar Kepala Desa.
"Saya tidak ingin ada warga yang merasa diabaikan."
Sekretaris Desa mengangguk.
"Besok tim akan turun lagi bersama BPD dan tokoh adat."
Hidayat yang duduk di sudut ruangan ikut mencatat semua hasil rapat.
Beberapa hari terakhir ia hampir setiap hari berada di balai desa.
Kemampuannya menyusun arsip digital membuat pekerjaannya sangat membantu.
Kepala Desa mulai mempercayainya.
Namun kepercayaan itu juga membuat sebagian warga mulai memperhatikannya.
Di luar balai desa, dua orang warga berbincang pelan.
"Dayat sekarang sering sekali di kantor desa."
"Iya."
"Katanya membantu pendataan."
"Mudah-mudahan memang begitu."
Percakapan itu tidak bernada buruk.
Namun menunjukkan bahwa setiap gerak seseorang kini mulai diperhatikan.
Di sekolah dasar, Herlambang juga merasakan perubahan.
Saat jam istirahat, beberapa wali murid datang menemuinya.
"Pak Guru."
"Iya, Bu?"
"Katanya Bapak ikut mendampingi persoalan tanah desa."
"Hanya membantu apabila diminta."
"Kalau menurut Bapak bagaimana?"
Herlambang tersenyum tenang.
"Saya tidak ingin mendahului keputusan pemerintah desa maupun adat."
"Yang penting..."
"...apa pun hasilnya nanti harus membuat masyarakat tetap rukun."
Jawaban itu membuat para wali murid mengangguk.
Mereka mengenal Herlambang sebagai orang yang selalu berhati-hati dalam berbicara.
Sore harinya, Anjelina mengadakan kegiatan membaca bersama anak-anak di taman baca.
Namun jumlah peserta jauh lebih sedikit dari biasanya.
"Kenapa yang datang sedikit?"
tanya Anjelina.
Seorang anak menjawab polos,
"Katanya Ayah sedang rapat terus."
"Terus orang-orang di rumah sedang banyak bicara soal tanah."
Anjelina terdiam.
Ia tidak menyangka persoalan itu mulai memengaruhi kehidupan sehari-hari masyarakat.
Menjelang petang, Hidayat datang ke taman baca membawa beberapa map.
"Lina."
"Mas Hidayat?"
"Aku baru selesai dari balai desa."
"Masih sibuk?"
"Iya."
"Data yang harus diperiksa ternyata banyak."
Anjelina menuangkan segelas teh hangat.
"Jangan terlalu memaksakan diri."
Hidayat tersenyum.
"Kalau ingin membantu desa..."
"...kadang memang harus lelah."
Kalimat itu tulus.
Anjelina menghargainya.
Ia melihat bahwa Hidayat benar-benar bekerja keras.
Namun ia juga melihat sesuatu yang berbeda.
Sejak persoalan tanah muncul, sorot mata Hidayat menjadi lebih serius.
Seolah ada beban yang sedang dipikulnya.
Tak lama kemudian Herlambang datang mengembalikan beberapa buku pinjaman anak-anak.
Melihat Hidayat berada di sana, ia tersenyum ramah.
"Sore."
"Sore."
Suasana sempat terasa canggung.
Anjelina segera mencairkan keadaan.
"Bagus."
"Kalian sama-sama datang."
"Kebetulan aku ingin meminta bantuan."
"Minggu depan anak-anak ingin mengadakan lomba membaca cerita."
"Aku butuh juri."
Hidayat langsung menjawab,
"Aku bersedia."
Herlambang pun mengangguk.
"Aku juga."
Anjelina tersenyum lega.
"Berarti selesai satu masalah."
Ketiganya tertawa kecil.
Sesaat suasana kembali hangat.
Namun jauh di dalam hati Hidayat, muncul sebuah kesadaran.
Semakin sering ia bertemu Herlambang, semakin ia memahami mengapa Anjelina merasa nyaman berada di dekat pemuda itu.
Herlambang tidak pernah berusaha menjadi pusat perhatian.
Ia hanya hadir ketika dibutuhkan.
Dan justru karena itulah banyak orang menghormatinya.
Malam itu, Balai Desa kembali dipenuhi cahaya.
Tim pendataan bekerja hingga larut.
Sekretaris Desa memeriksa dokumen.
Hidayat memasukkan data ke komputer.
Ketua BPD mencocokkan hasil pengukuran.
Di luar, beberapa warga masih menunggu kabar.
Tiba-tiba terdengar suara kendaraan berhenti di halaman.
Semua menoleh.
Surya Pradana kembali datang.
Kali ini tidak sendiri.
Ia ditemani dua orang staf yang membawa map besar.
Kepala Desa menyambutnya.
"Selamat malam, Pak Surya."
"Maaf datang tanpa pemberitahuan."
"Tidak apa-apa."
"Ada yang ingin saya sampaikan."
Suasana mendadak hening.
Surya meletakkan map di atas meja.
"Saya membawa konsep awal kerja sama pengembangan kawasan pertanian terpadu."
"Saya tidak bermaksud mendesak."
"Tetapi mungkin dokumen ini bisa menjadi bahan pertimbangan apabila nanti status tanah sudah jelas."
Beberapa perangkat desa saling berpandangan.
Kepala Desa menerima map itu tanpa membukanya.
"Terima kasih."
"Tetapi saya tegaskan..."
"...Pemerintah Desa belum mengambil keputusan apa pun."
Surya mengangguk hormat.
"Itulah sebabnya saya datang sebagai tamu, bukan sebagai penawar."
Jawaban itu membuat suasana sedikit mencair.
Namun setelah Surya meninggalkan balai desa, bisik-bisik kembali terdengar di luar.
"Investor datang lagi."
"Jangan-jangan keputusan sudah diatur."
"Tidak mungkin."
"Tapi kenapa sering sekali datang?"
Desas-desus mulai bergerak lebih cepat daripada fakta.
Di beranda rumahnya, Ki Waskita memandang lampu balai desa yang masih menyala.
Pak Sastro duduk di sampingnya.
"Ki..."
"Sepertinya desa mulai gelisah."
Ki Waskita mengangguk pelan.
"Gelisah itu wajar."
"Yang berbahaya..."
"...adalah ketika orang mulai mempercayai kabar yang belum tentu benar."
Beliau menarik napas panjang.
"Luka terbesar sebuah desa bukan karena perbedaan pendapat."
"Tetapi karena hilangnya kepercayaan."
Angin malam bertiup semakin kencang.
Di halaman balai desa, lampu-lampu masih menyala.
Orang-orang masih bekerja mencari kebenaran.
Namun di luar sana, prasangka mulai tumbuh.
Dan sering kali...
Prasangka bergerak jauh lebih cepat daripada kebenaran.
Dua hari setelah Surya Pradana kembali datang ke Balai Desa, suasana Arum Sari semakin berubah.
Jika sebelumnya perbincangan hanya berlangsung di warung kopi dan teras rumah, kini pembicaraan itu telah berpindah ke dunia maya.
Di grup percakapan warga, berbagai foto dan potongan informasi mulai beredar.
Ada foto Surya Pradana saat memasuki balai desa.
Ada foto lahan di sebelah utara desa.
Bahkan ada gambar peta lama yang diambil tanpa izin dari meja rapat ketika proses pendataan berlangsung.
Sayangnya, tidak semua informasi yang beredar disertai penjelasan yang benar.
"Katanya tanah desa sudah dijual."
"Benarkah?"
"Tidak tahu."
"Tapi fotonya ada."
"Kalau tidak benar, kenapa ada orang luar datang berkali-kali?"
Dalam hitungan jam, kabar itu menyebar hingga ke desa-desa tetangga.
Beberapa akun media sosial bahkan menuliskan judul-judul yang memancing emosi.
"Tanah Leluhur Terancam Berpindah Tangan?"
"Benarkah Pemerintah Desa Diam-Diam Berunding dengan Investor?"
Tidak ada satu pun berita itu yang mencantumkan hasil musyawarah desa secara utuh.
Yang ditampilkan hanyalah potongan-potongan peristiwa.
Pagi itu, telepon di Balai Desa berdering berkali-kali.
Sekretaris Desa mengangkatnya.
"Selamat pagi, Kantor Desa Arum Sari."
Suara dari seberang bertanya,
"Kami mendapat informasi adanya sengketa tanah desa."
"Apakah benar?"
Sekretaris Desa menjawab dengan tenang.
"Saat ini masih proses verifikasi data."
"Belum ada keputusan apa pun."
Telepon itu berasal dari pihak kecamatan yang meminta klarifikasi awal.
Kepala Desa segera menyusun laporan singkat agar tidak terjadi kesalahpahaman.
Di ruang rapat, suasana lebih tegang daripada biasanya.
Kepala Desa memandang seluruh perangkat.
"Mulai hari ini..."
"...tidak ada seorang pun yang memberikan keterangan kepada pihak luar tanpa koordinasi."
Semua mengangguk.
"Bukan karena kita menutup-nutupi."
"Tetapi agar informasi yang keluar benar dan tidak saling bertentangan."
Ketua BPD menyetujui.
"Kalau setiap orang berbicara sendiri-sendiri..."
"...desa justru semakin gaduh."
Sementara itu, di sekolah dasar, Herlambang mulai merasakan dampaknya.
Saat jam pulang sekolah, seorang wali murid menghampirinya.
"Pak Guru."
"Iya, Bu?"
"Anak-anak mulai bertanya."
"Bertanya apa?"
"Katanya desa sedang bertengkar."
Herlambang terdiam beberapa saat.
Lalu ia menjawab dengan lembut,
"Tidak, Bu."
"Desa kita tidak sedang bertengkar."
"Desa kita sedang belajar mencari keputusan yang benar."
Kalimat itu sederhana.
Namun mampu menenangkan hati beberapa orang tua yang mendengarnya.
Di taman baca, Anjelina juga menghadapi persoalan serupa.
Anak-anak yang biasanya datang membawa buku, kini justru membawa cerita yang mereka dengar dari orang dewasa.
"Kak Lina."
"Iya?"
"Katanya pohon trembesi mau ditebang."
Anjelina terkejut.
"Siapa yang bilang?"
"Katanya begitu."
Anjelina tersenyum sambil mengusap kepala anak itu.
"Jangan mudah percaya sebelum mendengar penjelasan dari orang yang benar."
"Kalau ada kabar apa pun..."
"...kita harus mencari kepastiannya."
Anak-anak mengangguk.
Hari itu, Anjelina tidak hanya mengajarkan membaca.
Ia juga mengajarkan pentingnya memeriksa kebenaran sebuah berita.
Sore menjelang.
Hidayat masih berada di Balai Desa membantu menyusun dokumen digital.
Ketika keluar untuk membeli minuman, dua pemuda menghampirinya.
"Mas Dayat."
"Iya?"
"Benarkah investor itu sudah memberi penawaran?"
Hidayat menggeleng.
"Aku tidak bisa menjawab sesuatu yang belum diputuskan."
"Jadi memang ada pembicaraan?"
"Ada tamu yang datang."
"Itu berbeda dengan adanya keputusan."
Jawaban Hidayat sebenarnya tepat.
Namun kedua pemuda itu sudah telanjur memiliki prasangka.
Mereka pergi sambil berbisik.
Hidayat hanya bisa menghela napas.
Ia mulai menyadari bahwa menjelaskan sesuatu kepada orang yang sudah memiliki keyakinan sendiri jauh lebih sulit daripada mencari data.
Malam harinya, Herlambang, Anjelina, dan Hidayat kembali bertemu di taman baca untuk membahas lomba membaca anak-anak.
Namun suasana tidak sehangat biasanya.
Beberapa kali pembicaraan terhenti.
Akhirnya Anjelina berkata,
"Aku rindu Arum Sari yang dulu."
"Kita berkumpul tanpa membicarakan tanah."
Herlambang tersenyum tipis.
"Masa-masa seperti ini pasti akan berlalu."
Hidayat memandang kedua sahabatnya.
"Lambang."
"Iya?"
"Kalau nanti ternyata pembangunan memang membawa manfaat besar..."
"...apakah kau akan menolaknya?"
Pertanyaan itu membuat suasana menjadi hening.
Herlambang tidak langsung menjawab.
"Aku tidak pernah menolak pembangunan."
katanya pelan.
"Aku hanya tidak ingin pembangunan mengorbankan kepercayaan masyarakat."
Hidayat mengangguk.
"Aku juga tidak ingin begitu."
Untuk pertama kalinya, keduanya berbicara terbuka mengenai persoalan yang sedang mereka hadapi.
Mereka berbeda sudut pandang.
Namun belum saling bermusuhan.
Anjelina merasa lega melihat keduanya masih bisa berdiskusi dengan tenang.
Di rumah Ki Waskita, malam itu para tetua adat kembali berkumpul.
Pak Sastro membawa beberapa salinan arsip.
Mbah Wiryo membawa hasil penelusuran batas lama.
Ki Waskita memperhatikan semuanya dengan saksama.
Beliau berkata pelan,
"Warga mulai kehilangan ketenangan."
"Kita tidak boleh terlambat."
Pak Sastro mengangguk.
"Kalau begitu..."
"...apakah surat amanah itu akhirnya akan dibuka?"
Ki Waskita memandang peti kayu yang berada di sudut ruangan.
Beberapa saat beliau tidak menjawab.
Lalu dengan suara yang berat beliau berkata,
"Belum."
"Tetapi waktunya sudah sangat dekat."
Pada saat yang sama, di rumah Haji Mahendra, ayah Hidayat sedang menerima tamu.
Tamu itu tidak lain adalah Surya Pradana.
Percakapan mereka berlangsung santai.
Mereka membahas pertanian, pemasaran hasil panen, dan potensi ekonomi desa.
Tanpa disadari Hidayat, hubungan lama antara ayahnya dan Surya ternyata jauh lebih dekat daripada yang ia ketahui.
Sebelum pulang, Surya berkata,
"Saya percaya..."
"...setiap desa pasti akan menghadapi pilihan."
"Mempertahankan masa lalu."
"Atau menyongsong masa depan."
Haji Mahendra tersenyum.
"Yang paling sulit..."
"...adalah ketika keduanya sama-sama benar."
Malam semakin larut.
Balai Desa kembali sunyi.
Namun kegelisahan justru semakin ramai.
Berita yang simpang siur telah mengaburkan kenyataan.
Kepercayaan masyarakat mulai diuji.
Persahabatan mulai dihadapkan pada perbedaan pandangan.
Dan tanpa disadari siapa pun, seseorang telah memanfaatkan keadaan itu untuk menyebarkan kabar-kabar yang semakin memecah masyarakat.
Belum ada yang mengetahui siapa orang itu.
Namun benih perpecahan telah mulai tumbuh.
Dan ketika fitnah mulai dipercaya lebih cepat daripada musyawarah, Balai Desa Arum Sari benar-benar memasuki masa yang paling berat sejak pertama kali desa itu berdiri.
Pagi itu, Desa Arum Sari tidak lagi memulai hari dengan suara burung dan tawa anak-anak.
Yang terdengar justru bunyi notifikasi telepon genggam dari berbagai rumah.
Sebuah unggahan anonim telah beredar luas sejak dini hari.
Tidak diketahui siapa pengirimnya.
Tidak diketahui pula dari mana asalnya.
Namun isi unggahan itu membuat banyak warga terkejut.
"Tanah Kas Desa Arum Sari akan dialihkan kepada pihak luar. Kesepakatan telah dibuat secara diam-diam. Masyarakat hanya dijadikan penonton."
Di bawah tulisan itu terdapat foto Surya Pradana ketika keluar dari Balai Desa.
Foto tersebut diambil dari sudut yang membuat seolah-olah telah terjadi penandatanganan kerja sama.
Padahal kenyataannya, pertemuan itu hanya sebatas penyampaian konsep awal dan belum menghasilkan keputusan apa pun.
Dalam waktu singkat, suasana desa berubah.
Warga mulai berdatangan ke Balai Desa.
Mereka bukan datang untuk membuat keributan.
Mereka datang untuk meminta penjelasan.
Di halaman balai desa, puluhan warga berkumpul.
Sebagian membawa telepon genggam.
Sebagian lagi hanya ingin mendengar penjelasan langsung.
Kepala Desa segera keluar menemui mereka.
"Bapak-Ibu sekalian..."
"Saya mohon tetap tenang."
Belum selesai beliau berbicara, seorang warga mengangkat teleponnya.
"Kalau ini tidak benar..."
"...kenapa berita seperti ini bisa beredar?"
Warga lain ikut bersuara.
"Kami hanya ingin kejelasan."
"Kami tidak ingin dibohongi."
Suasana mulai meninggi.
Ketua BPD segera mengambil mikrofon.
"Mohon semua bersabar."
"Belum ada satu pun keputusan mengenai tanah desa."
"Semua proses masih dalam tahap verifikasi."
Namun penjelasan itu belum sepenuhnya meredakan kegelisahan.
Beberapa warga masih saling berbisik.
Prasangka telah lebih dulu memenuhi pikiran mereka.
Di tengah kerumunan, Herlambang datang setelah mendengar kabar dari sekolah.
Ia tidak langsung berbicara.
Ia membantu perangkat desa menenangkan warga lanjut usia dan mempersilakan mereka duduk di pendopo.
Anjelina pun datang bersama ibu-ibu PKK.
Mereka membagikan air minum kepada warga yang telah lama berdiri di bawah terik matahari.
"Silakan diminum dulu, Pak."
"Kita dengarkan penjelasan bersama."
Perhatian kecil itu perlahan membuat suasana lebih terkendali.
Tak lama kemudian, Ki Waskita tiba.
Semua warga spontan memberi jalan.
Beliau berdiri di samping Kepala Desa.
Tatapan matanya menyapu seluruh wajah yang hadir.
"Dulu..."
"...leluhur kita mengajarkan bahwa sebelum berbicara, dengarkan."
"Sebelum menuduh, cari kebenaran."
"Dan sebelum marah..."
"...ingatlah bahwa kata-kata yang terlanjur keluar tidak dapat ditarik kembali."
Suasana perlahan menjadi hening.
Bahkan anak-anak yang berada di halaman ikut diam.
Kepala Desa kemudian menjelaskan seluruh kronologi.
Mulai dari pendataan aset.
Perbedaan dokumen lama.
Musyawarah Desa Khusus.
Hingga kedatangan Surya Pradana yang hanya membawa konsep kerja sama tanpa adanya kesepakatan apa pun.
Beliau juga menunjukkan berita acara musyawarah yang ditandatangani oleh BPD dan tokoh masyarakat.
"Semua proses dilakukan secara terbuka."
"Tidak ada keputusan yang disembunyikan."
Beberapa warga mulai mengangguk.
Mereka baru menyadari bahwa informasi yang beredar di media sosial tidak utuh.
Namun di sudut halaman, beberapa pemuda masih memperdebatkan unggahan tersebut.
"Seseorang pasti punya alasan menyebarkan berita itu."
"Iya."
"Tidak mungkin muncul begitu saja."
Perkataan itu didengar Hidayat.
Ia menatap layar telepon genggam yang menampilkan unggahan anonim tersebut.
Semakin lama ia memperhatikan, semakin ia merasa foto itu tidak diambil secara kebetulan.
Sudut pengambilan gambarnya sangat mengenal halaman balai desa.
Berarti...
Kemungkinan besar pengunggahnya adalah seseorang yang pernah berada di lokasi.
Siang menjelang.
Warga mulai membubarkan diri setelah memperoleh penjelasan.
Keadaan kembali tenang.
Namun Kepala Desa memahami bahwa persoalan belum selesai.
Kepercayaan masyarakat telah mulai terguncang.
Beliau berkata kepada perangkat desa,
"Mulai hari ini kita harus lebih terbuka."
"Semua perkembangan akan diumumkan secara resmi."
Ketua BPD mengangguk.
"Kita jangan memberi ruang bagi fitnah."
Menjelang sore, Hidayat masih duduk sendirian di ruang arsip.
Ia kembali membuka telepon genggamnya.
Unggahan anonim itu telah dibagikan ratusan kali.
Komentar demi komentar terus bertambah.
Sebagian menghujat pemerintah desa.
Sebagian menyalahkan tokoh adat.
Sebagian lagi mulai menyeret nama Herlambang karena dianggap terlalu dekat dengan Ki Waskita.
Hidayat menggenggam teleponnya erat.
Di dalam dirinya terjadi pergulatan yang hebat.
Sebagai orang yang memahami teknologi, ia tahu bahwa jejak digital unggahan itu masih mungkin ditelusuri.
Namun jika ia ikut mencari pelakunya, ia akan terseret lebih jauh ke dalam konflik.
Sebaliknya, jika ia memilih diam, fitnah itu akan terus berkembang.
Ia memejamkan mata.
Untuk pertama kalinya sejak kembali ke Desa Arum Sari, ia benar-benar merasa berada di persimpangan jalan.
Malam itu, Haji Mahendra melihat putranya masih duduk termenung.
"Ada apa, Dayat?"
Hidayat menghela napas.
"Ayah..."
"Kalau seseorang mengetahui sesuatu yang penting..."
"...tetapi belum memiliki bukti yang cukup..."
"...apa yang sebaiknya dilakukan?"
Haji Mahendra tersenyum bijak.
"Jangan terburu-buru mengambil kesimpulan."
"Kumpulkan dulu kebenarannya."
"Karena tuduhan tanpa bukti hanya akan melahirkan penyesalan."
Nasihat itu membuat Hidayat semakin bimbang.
Ia mulai mencurigai bahwa ada pihak yang sengaja memanfaatkan keadaan.
Tetapi ia belum tahu siapa.
Di rumah Ki Waskita, lampu minyak masih menyala.
Beliau menatap Catatan Amanah Leluhur yang terbuka di atas meja.
Dengan suara lirih, beliau berkata,
"Fitnah..."
"...selalu menjadi awal runtuhnya persaudaraan."
Beliau menutup buku itu perlahan.
Di luar rumah, angin malam berembus membawa daun-daun trembesi yang gugur satu per satu.
Tidak ada yang menyadari bahwa di balik gelapnya malam, seseorang sedang memperhatikan rumah Ki Waskita dari kejauhan.
Sosok itu kemudian pergi tanpa meninggalkan jejak.
Sementara itu, Hidayat masih memandang layar telepon genggamnya.
Ia akhirnya mengambil sebuah keputusan.
Besok pagi, ia akan mulai menelusuri asal-usul unggahan anonim itu.
Ia belum mengetahui bahwa langkah tersebut akan membawanya menemukan fakta-fakta yang jauh lebih rumit daripada sekadar sengketa tanah.
Dan sejak malam itulah, bara kecil yang selama ini tersembunyi mulai berubah menjadi api.
Api yang perlahan akan membakar kepercayaan, menguji persahabatan, mengguncang pemerintahan desa, dan menyeret Herlambang, Anjelina, serta Hidayat ke dalam pusaran konflik yang tidak lagi dapat mereka hindari.
BAB XI – Fitnah Pertama
Fajar menyingsing di Desa Arum Sari.
Kabut tipis masih menggantung di atas hamparan sawah. Burung-burung pipit beterbangan mencari bulir padi yang tersisa setelah panen. Dari kejauhan terdengar suara lesung yang ditumbuk beberapa ibu sebagai pertanda dimulainya aktivitas pagi.
Namun, pagi itu suasana desa tidak lagi sehangat biasanya.
Ada sesuatu yang berubah.
Bukan pada sawahnya.
Bukan pada langitnya.
Melainkan pada cara orang memandang satu sama lain.
Herlambang berjalan menuju sekolah seperti biasa.
Setiap orang yang berpapasan tetap menyapanya.
Namun beberapa sapaan terasa berbeda.
Lebih singkat.
Lebih canggung.
"Selamat pagi, Pak Guru."
"Pagi."
Tidak ada lagi obrolan panjang seperti biasanya.
Herlambang sempat bertanya dalam hati.
"Ada apa dengan mereka?"
Namun ia memilih mengabaikannya.
Di Balai Desa, Hidayat kembali membantu menyusun arsip hasil pendataan tanah.
Sekretaris Desa menyerahkan beberapa dokumen kepadanya.
"Mas Dayat, tolong data ini dipindai."
"Baik, Pak."
Saat sedang bekerja, terdengar dua warga berbicara di luar jendela yang terbuka.
"Katanya Herlambang sering dipanggil Ki Waskita."
"Iya."
"Jangan-jangan dia sudah tahu semuanya."
"Makanya dia selalu membela adat."
Hidayat menghentikan pekerjaannya sejenak.
Kalimat itu terdengar jelas.
Ia tidak ikut keluar.
Tetapi ia mulai menyadari bahwa pembicaraan masyarakat mulai mengarah kepada pribadi seseorang.
Bukan lagi kepada persoalan tanah.
Sore harinya, Anjelina membuka taman baca seperti biasa.
Anak-anak berdatangan membawa buku cerita.
Suasana kembali riang.
Namun di luar pagar taman baca, dua orang ibu sedang berbincang.
"Lina itu dekat sekali dengan Herlambang."
"Iya."
"Mungkin dia juga tahu soal tanah itu."
Anjelina yang sedang menyusun buku tidak sengaja mendengar percakapan tersebut.
Ia terdiam.
Untuk pertama kalinya, namanya ikut disebut dalam pembicaraan yang sama sekali tidak ia mengerti.
Menjelang malam, Herlambang kembali menemui Ki Waskita.
"Ki..."
"Ada apa, Lambang?"
"Belakangan ini saya merasa warga mulai menjaga jarak."
Ki Waskita menghela napas.
"Itulah yang disebut fitnah."
Herlambang mengernyitkan dahi.
"Padahal tidak ada seorang pun yang menuduh saya secara langsung."
Ki Waskita tersenyum bijak.
"Fitnah tidak selalu dimulai dengan tuduhan."
"Kadang ia dimulai dari bisikan."
"Dari dugaan."
"Lalu berkembang menjadi keyakinan."
Herlambang terdiam.
Kalimat itu begitu dalam.
Di rumah Haji Mahendra, Hidayat juga sedang berbincang dengan ayahnya.
"Ayah."
"Iya?"
"Kalau seseorang terlalu dekat dengan tokoh adat..."
"...apakah itu berarti dia mengetahui semua rahasia desa?"
Haji Mahendra tersenyum.
"Tidak."
"Kepercayaan tidak diwariskan hanya karena kedekatan."
"Kepercayaan diberikan karena tanggung jawab."
Jawaban itu membuat Hidayat berpikir.
Ia tidak pernah meragukan kejujuran Herlambang.
Namun ia mulai memahami mengapa sebagian warga memiliki prasangka.
Keesokan paginya, sebuah kabar kembali beredar.
Tidak melalui media sosial.
Melainkan dari mulut ke mulut.
"Katanya..."
"...Herlambang sudah melihat peta tanah yang disembunyikan."
"Katanya..."
"...dia sengaja merahasiakannya dari warga."
Tidak ada yang tahu siapa orang pertama yang mengucapkannya.
Tidak ada yang memiliki bukti.
Namun kabar itu berpindah dari satu rumah ke rumah lain dengan sangat cepat.
Saat Herlambang tiba di warung Bu Minah untuk membeli kopi sebelum berangkat mengajar, suasana mendadak hening.
Beberapa warga yang sedang berbincang langsung menghentikan percakapan.
Herlambang tetap tersenyum.
"Pagi semuanya."
"Pagi..."
jawab mereka hampir bersamaan.
Namun setelah Herlambang pergi, bisikan itu kembali terdengar.
"Kasihan."
"Orang baik sering lebih mudah menjadi sasaran."
Pak Darto yang sejak tadi diam akhirnya berkata,
"Jangan bicara kalau hanya berdasarkan dugaan."
"Kalian mengenal Herlambang sejak kecil."
"Apakah selama ini dia pernah berbohong kepada kalian?"
Warung kembali sunyi.
Tidak ada yang menjawab.
Sore itu, Anjelina bertemu Herlambang di bawah pohon trembesi.
"Kau kelihatan lelah."
kata Anjelina.
"Mungkin hanya terlalu banyak pikiran."
"Apa karena persoalan tanah?"
Herlambang menggeleng pelan.
"Bukan tanahnya."
"Lalu?"
"Yang membuatku sedih..."
"...adalah ketika orang mulai saling mencurigai."
Anjelina menatap sahabatnya itu.
"Kalau hatimu bersih..."
"...jangan biarkan prasangka orang lain mengubah dirimu."
Herlambang tersenyum.
"Terima kasih."
Dari kejauhan, Hidayat melihat keduanya berbincang.
Ia tidak merasa marah.
Belum.
Namun ia mulai merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Perasaan bahwa dirinya selalu datang terlambat.
Terlambat mengenal desa.
Terlambat mengenal Anjelina.
Dan mungkin...
Terlambat memperoleh kepercayaan masyarakat.
Malam itu, Ki Waskita menutup Catatan Amanah Leluhur.
Beliau memandang ke luar jendela.
"Fitnah pertama telah lahir."
gumamnya lirih.
"Bukan tentang tanah."
"Bukan tentang adat."
"Melainkan tentang kepercayaan."
Beliau mengetahui bahwa inilah awal dari ujian yang sesungguhnya.
Karena ketika kepercayaan mulai retak, hubungan antarmanusia akan jauh lebih mudah hancur daripada sebatang ranting yang kering.
Dan di Desa Arum Sari, retakan pertama itu akhirnya mulai terlihat.
Tiga hari berlalu sejak kabar tentang Herlambang mulai beredar dari mulut ke mulut.
Desa Arum Sari masih menjalani aktivitas seperti biasa.
Anak-anak tetap berangkat ke sekolah.
Para petani kembali ke sawah.
Perempuan-perempuan menjemur padi di halaman rumah.
Namun di balik rutinitas itu, sebuah perubahan perlahan mulai terasa.
Orang-orang mulai lebih berhati-hati dalam berbicara.
Dan lebih mudah percaya pada bisikan daripada bertanya langsung kepada orang yang bersangkutan.
Pagi itu Herlambang sedang mengajar pelajaran Bahasa Indonesia.
Di tengah pelajaran, seorang murid kecil mengangkat tangan.
"Pak Guru."
"Iya, Raka?"
"Ayah bilang Pak Guru tahu rahasia desa."
Seluruh kelas mendadak hening.
Anak-anak memandang Herlambang dengan wajah polos.
Mereka tidak bermaksud menyinggung.
Mereka hanya mengulang apa yang mereka dengar di rumah.
Herlambang tersenyum lembut.
"Setiap desa memang punya sejarah."
"Tetapi sejarah itu milik seluruh warga."
"Bukan milik Pak Guru."
Anak-anak mengangguk, lalu pelajaran kembali dilanjutkan.
Namun setelah bel pulang berbunyi, Herlambang duduk sendirian beberapa saat di ruang guru.
Ia baru menyadari bahwa fitnah telah sampai kepada anak-anak.
Dan itu jauh lebih menyakitkan daripada bisik-bisik orang dewasa.
Sementara itu, di Balai Desa, Hidayat membantu Sekretaris Desa menyusun hasil digitalisasi arsip.
Di sela-sela pekerjaannya, Ketua BPD datang membawa beberapa dokumen.
"Bagaimana pekerjaannya, Dayat?"
"Alhamdulillah hampir selesai, Pak."
Ketua BPD tersenyum.
"Kau bekerja dengan teliti."
"Itu yang dibutuhkan desa."
Ucapan itu didengar oleh salah seorang warga yang sedang mengurus surat keterangan.
Tak lama kemudian terdengar bisikan pelan.
"Sekarang Dayat juga dipercaya."
"Iya."
"Mungkin dia nanti tahu semua rahasia desa."
Hidayat mendengar kalimat itu.
Ia hanya tersenyum kecil.
Namun di dalam hati, ia mulai merasakan hal yang sama seperti Herlambang.
Kepercayaan masyarakat ternyata dapat berubah menjadi prasangka hanya dalam waktu yang singkat.
Sore hari, Anjelina mengunjungi rumah Bu Sulastri setelah selesai mengajar anak-anak di taman baca.
Saat membantu ibunya menyiangi kangkung, Bu Sulastri berkata pelan,
"Lina."
"Iya, Bu."
"Kalau nanti ada orang bertanya macam-macam tentang Herlambang..."
"...jawablah seperlunya."
"Jangan ikut memperpanjang cerita."
Anjelina mengangguk.
"Aku tahu, Bu."
"Orang yang sedang difitnah tidak membutuhkan pembelaan yang berlebihan."
"Ia hanya membutuhkan orang yang tetap percaya."
Bu Sulastri tersenyum bangga melihat putrinya.
Menjelang magrib, Hidayat bertemu Herlambang di jembatan kecil menuju persawahan.
"Lambang."
"Dayat."
Mereka berjalan berdampingan.
Beberapa saat tidak ada yang berbicara.
Akhirnya Hidayat memecah keheningan.
"Aku mendengar banyak cerita."
"Aku juga."
jawab Herlambang sambil tersenyum tipis.
"Kau marah?"
Herlambang menggeleng.
"Kalau aku marah kepada setiap orang yang percaya fitnah..."
"...aku akan kehilangan terlalu banyak saudara."
Jawaban itu membuat Hidayat berhenti melangkah.
Ia memandang wajah Herlambang cukup lama.
Dalam hati ia berkata,
"Orang seperti inikah yang dianggap menyembunyikan sesuatu?"
Semakin ia mengenal Herlambang, semakin sulit baginya mempercayai isu-isu yang beredar.
Namun di sisi lain, rasa penasarannya terhadap rahasia desa justru semakin besar.
Malam itu, di Warung Bu Minah, kembali terdengar percakapan warga.
"Aku dengar Herlambang sering datang ke rumah Ki Waskita."
"Iya."
"Mungkin memang ada alasan."
Pak Darto yang sejak tadi mendengarkan akhirnya berkata,
"Kalau kalian ingin tahu sesuatu..."
"...bertanyalah kepada orangnya."
"Jangan membuat jawaban sendiri."
Beberapa warga menundukkan kepala.
Mereka sadar bahwa selama ini mereka hanya mendengar cerita dari orang lain.
Tidak seorang pun pernah bertanya langsung kepada Herlambang.
Pada saat yang sama, Ki Waskita menerima kunjungan Kepala Desa.
"Ki."
"Saya khawatir."
"Tentang fitnah itu?"
"Iya."
"Kalau dibiarkan..."
"...lama-lama masyarakat bisa kehilangan kepercayaan."
Ki Waskita mengangguk pelan.
"Itulah sebabnya kita harus tetap tenang."
"Kebenaran tidak membutuhkan suara yang keras."
"Ia hanya membutuhkan waktu."
Kepala Desa menarik napas panjang.
Beliau memahami maksud Ki Waskita.
Sebagai pemimpin desa, tugasnya bukan sekadar menyelesaikan sengketa tanah.
Tetapi juga menjaga agar masyarakat tidak terpecah oleh kabar yang belum tentu benar.
Di rumahnya, Hidayat membuka kembali berkas-berkas hasil pendataan.
Matanya berhenti pada salinan berita acara lama.
Kemudian ia teringat ucapan Herlambang sore tadi.
"Aku akan kehilangan terlalu banyak saudara."
Kalimat itu terus terngiang.
Ia mulai berpikir bahwa persoalan terbesar di Arum Sari bukanlah tanah.
Melainkan hilangnya rasa saling percaya.
Namun di saat yang sama, sebuah pesan singkat masuk ke telepon genggamnya dari nomor yang tidak dikenal.
"Kalau ingin tahu siapa sebenarnya Herlambang, datanglah besok malam ke lumbung tua di utara desa. Jangan ajak siapa pun."
Hidayat membaca pesan itu berulang kali.
Nomor tersebut tidak memiliki nama.
Tidak ada penjelasan.
Tidak ada tanda pengenal.
Ia mencoba menelepon kembali.
Namun nomor itu sudah tidak dapat dihubungi.
Hidayat memandang layar teleponnya dengan wajah serius.
Di luar rumah, angin malam kembali berembus melewati pematang sawah.
Entah siapa pengirim pesan itu.
Namun satu hal mulai jelas.
Fitnah yang semula hanya berupa bisikan kini telah berubah menjadi sebuah permainan yang dirancang dengan sengaja.
Dan seseorang sedang berusaha menarik Hidayat masuk ke dalamnya.
Langit malam Desa Arum Sari diselimuti awan tipis.
Sesekali suara burung hantu terdengar dari arah rumpun bambu di sebelah utara desa. Jalan setapak menuju lumbung tua tampak lengang. Hanya cahaya bulan yang menemani langkah Hidayat.
Pesan misterius yang diterimanya sejak sore terus terngiang di kepalanya.
"Kalau ingin tahu siapa sebenarnya Herlambang..."
Ia sebenarnya sempat berniat mengabaikan pesan itu.
Namun rasa ingin tahunya lebih besar daripada keraguannya.
Bukan karena ia ingin mempercayai fitnah.
Melainkan karena ia ingin mengetahui siapa yang mulai memainkan isu di desanya.
Lumbung tua itu berdiri di tepi sawah.
Bangunannya sudah lama tidak dipakai sejak warga memiliki tempat penyimpanan hasil panen yang baru.
Pintu kayunya sedikit terbuka.
Hidayat melangkah perlahan.
"Permisi..."
Tidak ada jawaban.
Ia masuk beberapa langkah.
Ruangan itu kosong.
Hanya ada beberapa karung jerami dan alat pertanian yang mulai berkarat.
"Apa ini hanya jebakan?"
gumamnya.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki di luar.
Hidayat segera keluar.
Namun yang terlihat hanya bayangan seseorang berlari menjauh menuju gelapnya pematang sawah.
"Hei...!"
Hidayat mencoba mengejar.
Sayangnya sosok itu menghilang di balik rumpun bambu.
Yang tertinggal hanyalah selembar kertas yang jatuh di tanah.
Ia mengambilnya.
Di atas kertas itu hanya ada satu kalimat yang ditulis dengan tinta hitam.
"Tidak semua orang yang terlihat jujur benar-benar dapat dipercaya."
Tidak ada nama.
Tidak ada tanda tangan.
Tidak ada petunjuk lain.
Dengan perasaan bingung, Hidayat membawa kertas itu pulang.
Sepanjang perjalanan ia terus berpikir.
Kalimat itu bisa ditujukan kepada siapa saja.
Bisa kepada Herlambang.
Bisa kepada Ki Waskita.
Bahkan bisa juga kepada orang lain.
Semuanya masih samar.
Namun satu hal yang pasti.
Seseorang sedang berusaha menanamkan keraguan.
Keesokan paginya, Herlambang kembali mengajar seperti biasa.
Ia memilih tidak memikirkan bisik-bisik yang masih terdengar di beberapa sudut desa.
Baginya, tugas sebagai guru jauh lebih penting.
Ketika jam istirahat tiba, Kepala Sekolah menghampirinya.
"Lambang."
"Iya, Pak."
"Saya hanya ingin berpesan."
"Jangan terlalu memikirkan omongan orang."
"Kami mengenalmu."
"Terima kasih, Pak."
Ucapan sederhana itu menguatkan hati Herlambang.
Ia sadar bahwa masih banyak orang yang mempercayainya.
Di taman baca, Anjelina sedang mendongeng untuk anak-anak.
Tema dongeng hari itu adalah tentang seekor burung kecil yang difitnah mencuri benih padi.
Di akhir cerita, Anjelina berkata,
"Anak-anak..."
"Kalau mendengar cerita tentang seseorang..."
"...jangan langsung percaya."
"Kita harus mendengar dari kedua belah pihak."
Seorang anak bertanya,
"Kalau orangnya sedih karena difitnah bagaimana, Kak?"
Anjelina tersenyum lembut.
"Kita temani."
"Itu sudah sangat membantu."
Sore harinya, Hidayat menemui ayahnya.
Tanpa menceritakan isi pesan misterius itu, ia hanya memperlihatkan secarik kertas yang ditemukan di lumbung tua.
Haji Mahendra membacanya perlahan.
Lalu beliau berkata,
"Kalimat seperti ini dibuat agar orang mulai ragu."
"Bukan agar orang menemukan kebenaran."
Hidayat mengangguk.
"Ayah juga berpikir begitu?"
"Iya."
"Kalau seseorang memiliki bukti..."
"...ia akan datang dengan wajah terbuka."
"Bukan bersembunyi di balik pesan tanpa nama."
Ucapan ayahnya membuat Hidayat semakin yakin bahwa ada pihak yang sengaja mengadu domba masyarakat.
Menjelang malam, Kepala Desa mengadakan rapat kecil bersama Ketua BPD, Sekretaris Desa, dan Ki Waskita.
"Tiga hari terakhir..."
"...isu semakin berkembang."
kata Kepala Desa.
"Saya khawatir nama beberapa warga mulai ikut terseret."
Ki Waskita mengangguk.
"Itulah cara fitnah bekerja."
"Awalnya hanya satu nama."
"Lalu perlahan menyeret nama-nama lain."
Ketua BPD bertanya,
"Apakah kita perlu mengumumkan sesuatu kepada masyarakat?"
"Belum."
jawab Ki Waskita.
"Kalau kita terburu-buru menjawab setiap bisikan..."
"...fitnah justru akan semakin besar."
"Kita jawab dengan fakta."
"Bukan dengan emosi."
Semua yang hadir menganggukkan kepala.
Malam semakin larut.
Di bawah pohon trembesi, Herlambang berdiri sendirian.
Ia memandang langit yang dipenuhi bintang.
Dalam hati ia berdoa,
"Ya Tuhan... jika ini adalah ujian, berikanlah aku hati yang tetap tenang."
Beberapa langkah di belakangnya, tanpa sengaja Hidayat melihat sahabatnya itu.
Ia tidak menghampiri.
Ia hanya memperhatikan dari kejauhan.
Kemudian ia meremas kertas tanpa nama yang masih disimpannya di dalam saku.
Perlahan ia mengambil sebuah keputusan.
Ia tidak akan mempercayai tulisan anonim itu.
Namun ia juga tidak akan berhenti mencari siapa orang yang sengaja menebarkan fitnah di Desa Arum Sari.
Karena ia mulai menyadari bahwa fitnah pertama bukanlah akhir dari persoalan.
Fitnah itu hanyalah benih.
Dan apabila benih itu dibiarkan tumbuh, suatu hari nanti ia dapat menghancurkan persahabatan, merenggut cinta, bahkan memecah persatuan seluruh Desa Arum Sari.
BAB XII – Cinta atau Harga Diri
Pagi di Desa Arum Sari kembali dipenuhi embun.
Cahaya matahari menyelinap di antara daun-daun trembesi yang berdiri kokoh di pinggir jalan desa. Dari kejauhan terdengar suara ayam berkokok bersahutan dengan suara para petani yang mulai turun ke sawah.
Namun bagi Anjelina, pagi itu terasa berbeda.
Sudah beberapa hari terakhir ia melihat perubahan pada dua orang yang paling dekat dengannya.
Herlambang semakin banyak diam.
Sedangkan Hidayat semakin sering menyibukkan diri di Balai Desa.
Keduanya sama-sama menyimpan sesuatu.
Namun tidak seorang pun bersedia mengungkapkannya.
Seusai membuka taman baca, Anjelina duduk sendirian di beranda.
Di pangkuannya terbuka sebuah buku puisi.
Namun tak satu bait pun mampu ia baca dengan tenang.
Pikirannya melayang kepada Herlambang.
Ia teringat masa kecil mereka.
Bermain di sungai.
Belajar bersama.
Menanam pohon trembesi yang kini tumbuh besar.
Semua kenangan itu datang silih berganti.
Tanpa ia sadari, senyum kecil menghiasi wajahnya.
"Ternyata..."
gumamnya pelan,
"...waktu berjalan begitu cepat."
Di tempat lain, Herlambang sedang membantu Pak Darto memperbaiki saluran air menuju sawah.
"Kau kelihatan sering melamun, Lambang."
kata Pak Darto sambil mengangkat cangkul.
Herlambang tersenyum kecil.
"Mungkin hanya lelah."
Pak Darto tertawa pelan.
"Orang yang jatuh cinta memang sering mengaku lelah."
Herlambang menghentikan ayunan cangkulnya.
"Wah, Pak Darto ini..."
"Aku serius."
Pak Darto menatapnya dengan penuh arti.
"Kadang hati terlalu lama dipendam."
"Padahal waktu tidak pernah menunggu."
Kalimat itu terus terngiang di benak Herlambang.
Selama bertahun-tahun ia memilih menyimpan perasaannya kepada Anjelina.
Bukan karena tidak berani.
Melainkan karena ia takut kehilangan persahabatan yang telah mereka bangun sejak kecil.
Sementara itu, Hidayat mendapat tugas mendampingi Sekretaris Desa mengantar dokumen ke rumah Ketua BPD.
Dalam perjalanan, mereka melewati taman baca.
Hidayat melihat Anjelina sedang membantu anak-anak menulis cerita pendek.
Anak-anak tertawa riang.
Anjelina tersenyum dengan wajah yang begitu teduh.
Tanpa sadar langkah Hidayat melambat.
Sekretaris Desa memperhatikannya.
"Kau mengenal Anjelina?"
"Iya, Pak."
"Dia gadis yang baik."
Sekretaris Desa mengangguk.
"Jarang ada anak muda yang mengabdikan waktunya untuk anak-anak desa seperti dia."
Hidayat hanya tersenyum.
Namun di dalam hatinya, ia mengakui bahwa sejak pertama kali bertemu, Anjelina telah meninggalkan kesan yang sulit ia lupakan.
Menjelang sore, Anjelina menerima kunjungan Herlambang.
"Aku mengembalikan buku sejarah yang kupinjam."
kata Herlambang.
"Mengapa tidak masuk?"
"Aku tidak lama."
Anjelina menuangkan segelas teh hangat.
"Kau selalu begitu."
"Datang sebentar, lalu buru-buru pulang."
Herlambang tersenyum.
"Nanti kalau terlalu lama..."
"...orang desa bisa salah paham."
Mereka tertawa bersama.
Namun tawa itu menyimpan kegugupan yang sama.
Masing-masing ingin mengatakan sesuatu.
Tetapi tidak ada yang memulai.
Tak lama kemudian, Hidayat datang membawa beberapa buku bacaan anak yang baru ia beli di kota.
"Lina."
"Mas Dayat?"
"Aku menemukan buku-buku ini."
"Mungkin cocok untuk taman baca."
Anjelina menerima buku-buku itu dengan wajah gembira.
"Terima kasih."
"Anak-anak pasti senang."
Herlambang ikut membantu menyusun buku ke rak.
Suasana kembali hangat.
Ketiganya bekerja bersama seperti biasa.
Namun tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang memperhatikan dari kejauhan.
Orang itu kemudian pergi sambil membawa senyum tipis.
Menjelang magrib, Hidayat dan Herlambang berjalan pulang bersama.
Beberapa saat mereka hanya mendengar suara jangkrik dari pematang sawah.
Akhirnya Hidayat berkata,
"Lambang."
"Iya?"
"Kalau kau menyukai seseorang..."
"...apakah kau akan mengatakannya?"
Herlambang tersenyum tipis.
"Tidak selalu."
"Kenapa?"
"Karena mencintai bukan hanya tentang memiliki."
"Kadang..."
"...melihat orang yang kita cintai bahagia sudah cukup."
Jawaban itu membuat Hidayat terdiam.
Ia tidak menduga Herlambang memiliki cara berpikir seperti itu.
Namun justru jawaban itulah yang membuat hatinya semakin gelisah.
Malam harinya, Anjelina duduk di beranda rumah bersama ibunya, Bu Sulastri.
"Lina."
"Iya, Bu?"
"Ibu ingin bertanya."
"Apa?"
"Kau sudah mulai memikirkan pendamping hidup?"
Anjelina tersenyum malu.
"Kenapa Ibu bertanya begitu?"
"Karena umurmu sudah cukup."
Anjelina tidak langsung menjawab.
Ia memandang langit yang dipenuhi bintang.
Di dalam hatinya muncul dua nama.
Herlambang.
Dan Hidayat.
Namun ia segera menepis pikiran itu.
"Aku belum ingin memikirkan itu, Bu."
Bu Sulastri hanya tersenyum.
Sebagai seorang ibu, ia dapat membaca kegelisahan putrinya.
Tetapi ia memilih tidak mendesak.
Di rumah masing-masing, Herlambang dan Hidayat sama-sama sulit memejamkan mata.
Herlambang teringat senyum Anjelina sore tadi.
Hidayat teringat jawaban Herlambang tentang cinta.
Malam itu, tidak ada seorang pun yang kalah.
Tidak ada pula yang menang.
Yang ada hanyalah dua lelaki baik yang diam-diam menyimpan perasaan kepada perempuan yang sama.
Mereka belum saling memperebutkan.
Belum saling menyakiti.
Namun takdir perlahan mulai membawa mereka menuju persimpangan.
Persimpangan antara cinta dan harga diri.
Dan tak seorang pun mengetahui, pilihan apa yang akan mereka ambil ketika saat itu benar-benar tiba.
Minggu pagi di Desa Arum Sari selalu menghadirkan suasana yang berbeda.
Anak-anak berlarian di lapangan desa.
Sebagian pemuda bermain sepak bola.
Para ibu sibuk mengikuti kegiatan Posyandu dan arisan RT.
Sementara para orang tua berkumpul di beranda rumah, menikmati kopi hangat sambil berbincang tentang musim tanam yang akan datang.
Di rumah Bu Sulastri, aroma kue cucur memenuhi dapur.
Anjelina membantu ibunya menyiapkan hidangan untuk beberapa kerabat yang akan berkunjung.
"Tolong letakkan cangkir-cangkir itu di ruang tamu, Lina."
"Iya, Bu."
Anjelina melaksanakan permintaan ibunya tanpa banyak bertanya.
Ia mengira kedatangan mereka hanyalah kunjungan keluarga seperti biasanya.
Menjelang siang, datanglah Pak Wirawan, kakak kandung almarhum ayah Anjelina, bersama istrinya.
Setelah berbincang ringan, suasana perlahan berubah menjadi lebih serius.
Pak Wirawan menatap Bu Sulastri.
"Lastri..."
"Aku ingin menyampaikan sesuatu."
Bu Sulastri mengangguk pelan.
"Apa itu, Mas?"
"Anjelina sudah dewasa."
"Sudah waktunya kita mulai memikirkan masa depannya."
Anjelina yang sedang menuangkan teh terdiam.
Ia tetap melayani tamu, tetapi telinganya menangkap setiap kalimat yang diucapkan.
Pak Wirawan melanjutkan,
"Beberapa hari lalu ada keluarga dari Desa Sukamaju yang menanyakan tentang Anjelina."
"Mereka hanya bertanya."
"Belum ada lamaran."
Bu Sulastri tidak langsung menjawab.
Beliau memandang putrinya sekilas.
"Lina masih ingin mengembangkan taman baca."
"Itu bagus."
"Tetapi membangun keluarga juga bagian dari kehidupan."
Anjelina menundukkan kepala.
Ia menghormati pamannya.
Namun hatinya mulai dipenuhi kegelisahan.
Sore harinya, setelah para tamu pulang, Bu Sulastri duduk bersama putrinya di teras rumah.
"Lina."
"Iya, Bu."
"Ibu tidak akan memaksamu."
"Tetapi suatu hari nanti..."
"...kau harus menentukan pilihan hidupmu sendiri."
Anjelina menggenggam tangan ibunya.
"Aku mengerti."
"Yang Ibu inginkan hanya satu."
"Apa itu?"
"Pilihlah seseorang yang menghargai dirimu."
"Bukan hanya mencintaimu."
Kalimat itu begitu sederhana.
Namun tersimpan makna yang sangat dalam.
Di sisi lain desa, Herlambang sedang membantu Ki Waskita membersihkan halaman rumah.
Ki Waskita memperhatikan pemuda itu beberapa kali.
"Lambang."
"Iya, Ki?"
"Sudah berapa lama kau mengenal Anjelina?"
Herlambang tersenyum.
"Sejak kami belum masuk sekolah."
"Dan selama itu pula..."
"...kau belum pernah mengatakan isi hatimu?"
Herlambang terdiam.
Ia hanya tersenyum kecil.
Ki Waskita menghela napas.
"Kadang diam adalah kebijaksanaan."
"Tetapi..."
"...kadang diam juga menjadi penyesalan."
Kalimat itu membuat Herlambang kehilangan kata-kata.
Pada waktu yang hampir bersamaan, Hidayat sedang membantu ayahnya memeriksa bibit padi.
Haji Mahendra berkata,
"Dayat."
"Iya, Yah."
"Kau betah tinggal di Arum Sari?"
"Sangat betah."
"Bagus."
"Berarti sudah saatnya kau mulai memikirkan masa depanmu."
Hidayat tersenyum.
"Ayah sedang mengarah ke mana?"
Haji Mahendra ikut tersenyum.
"Seorang laki-laki bukan hanya membangun pekerjaan."
"Tetapi juga membangun keluarga."
Hidayat memahami maksud ayahnya.
Tanpa sadar, wajah Anjelina kembali hadir dalam pikirannya.
Menjelang petang, taman baca kembali ramai.
Herlambang datang membawa beberapa buku cerita rakyat.
Tak lama kemudian Hidayat datang dengan membawa papan tulis kecil yang baru dibelinya.
"Kita pasang di sini."
kata Hidayat.
"Anak-anak pasti lebih mudah belajar."
Herlambang membantu memasangnya.
Anjelina memperhatikan keduanya.
Di hadapannya berdiri dua lelaki dengan sifat yang sangat berbeda.
Herlambang tenang, sederhana, dan penuh kesabaran.
Hidayat cerdas, penuh semangat, dan selalu memiliki gagasan baru.
Keduanya sama-sama tulus membantu taman baca.
Hal itu justru membuat hati Anjelina semakin sulit memahami perasaannya sendiri.
Ketika anak-anak telah pulang, mereka bertiga duduk di bawah pohon trembesi.
Tidak banyak percakapan.
Mereka hanya menikmati angin sore yang berembus lembut.
Tiba-tiba Hidayat berkata,
"Lina."
"Iya?"
"Kalau suatu saat kau mendapat kesempatan hidup di kota..."
"...apakah kau akan pergi?"
Anjelina tersenyum.
"Aku tidak tahu."
"Mungkin."
"Mungkin juga tidak."
"Kenapa?"
"Aku mencintai desa ini."
"Di sini ada begitu banyak kenangan."
Herlambang hanya mendengarkan.
Namun diam-diam hatinya dipenuhi harapan.
Malam mulai turun.
Dalam perjalanan pulang, Hidayat bertanya kepada Herlambang,
"Menurutmu..."
"...Anjelina bahagia tinggal di desa?"
Herlambang menjawab tanpa ragu,
"Iya."
"Karena yang membuat seseorang bahagia bukan tempatnya."
"Tetapi orang-orang yang ada di dalamnya."
Jawaban itu membuat Hidayat kembali terdiam.
Semakin lama mengenal Herlambang, semakin ia menyadari bahwa sahabatnya itu tidak pernah berbicara untuk memenangkan diri sendiri.
Ia selalu berbicara dengan hati.
Dan justru itulah yang membuat Hidayat mulai merasa kalah, bahkan sebelum ia benar-benar menyatakan perasaannya.
Di kamarnya malam itu, Anjelina membuka sebuah kotak kayu kecil.
Di dalamnya tersimpan beberapa kenangan masa kecil.
Foto bersama ketika masih SD.
Pita juara lomba membaca.
Dan sebuah daun trembesi yang telah mengering, disimpan di antara lembaran buku.
Daun itu mengingatkannya pada janji yang pernah diucapkan di bawah pohon trembesi bertahun-tahun lalu.
"Apa pun yang terjadi, kita akan tetap menjadi sahabat."
Anjelina tersenyum tipis.
Namun senyum itu segera memudar.
Ia mulai menyadari bahwa waktu telah mengubah banyak hal.
Persahabatan mereka masih ada.
Tetapi hati manusia telah tumbuh.
Dan ketika hati mulai memilih, tidak semua orang akan tetap berada di tempat yang sama.
Di luar jendela, angin malam kembali menggugurkan beberapa helai daun trembesi.
Seolah alam sedang memberi isyarat bahwa musim baru akan segera datang.
Musim ketika cinta tidak lagi cukup diukur dengan perasaan.
Melainkan juga dengan keberanian dan harga diri.
Beberapa hari setelah pertemuan di bawah pohon trembesi, kehidupan di Desa Arum Sari kembali berjalan seperti biasa.
Sawah mulai menghijau.
Suara anak-anak yang belajar di taman baca kembali memenuhi sore hari.
Di Balai Desa, pendataan tanah masih terus berlangsung.
Namun, di balik ketenangan itu, tiga hati sedang berperang dengan dirinya sendiri.
Pagi itu Herlambang datang lebih awal ke sekolah.
Sebelum bel masuk berbunyi, ia duduk sendirian di bangku kayu depan ruang kelas.
Tangannya memegang sebuah buku catatan lama.
Di sela-sela halaman buku itu tersimpan sebuah foto kecil.
Foto ketika ia, Anjelina, dan beberapa teman masa kecil mengikuti lomba kebersihan desa belasan tahun silam.
Herlambang tersenyum.
"Masih sama..."
gumamnya.
"Hanya waktu yang berubah."
Ia menutup buku itu perlahan.
Dalam hatinya tumbuh sebuah keinginan yang selama bertahun-tahun selalu ia sembunyikan.
Ia ingin mengatakan kepada Anjelina bahwa selama ini perempuan itulah yang selalu mengisi ruang paling tenang di dalam hatinya.
Namun setiap kali keberanian itu muncul, ada suara lain yang menahannya.
"Bagaimana kalau setelah itu persahabatan kami berubah?"
Pertanyaan itu selalu menjadi tembok yang tidak pernah berhasil ia lewati.
Di Balai Desa, Hidayat masih sibuk membantu penyusunan arsip.
Sesekali ia memandang keluar jendela.
Matanya tertuju ke arah taman baca yang tampak dari kejauhan.
Ia teringat percakapan dengan ayahnya beberapa malam lalu.
"Seorang laki-laki bukan hanya membangun pekerjaan, tetapi juga membangun keluarga."
Kalimat itu membuatnya berpikir lebih jauh.
Selama ini ia selalu mengejar pendidikan, pengalaman, dan pekerjaan.
Tetapi sejak mengenal Anjelina, ia mulai membayangkan sebuah kehidupan yang berbeda.
Kehidupan yang sederhana.
Di desa.
Bersama seseorang yang mampu membuatnya merasa pulang.
Siang hari, Anjelina menerima surat undangan dari Kecamatan.
Taman baca yang ia kelola terpilih sebagai salah satu program literasi desa yang akan dipresentasikan pada pertemuan antarrelawan literasi.
Ia begitu bahagia.
Kabar itu segera ia sampaikan kepada Bu Sulastri.
"Ibu..."
"Alhamdulillah."
"Taman baca kita diundang."
Bu Sulastri memeluk putrinya.
"Ibu bangga padamu."
Namun setelah kebahagiaan itu mereda, Bu Sulastri kembali berkata pelan,
"Lina..."
"Kesuksesan itu penting."
"Tetapi jangan sampai kau lupa membahagiakan dirimu sendiri."
Anjelina hanya mengangguk.
Ia tahu, ibunya sedang berbicara tentang sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar taman baca.
Sore harinya, Hidayat datang membawa beberapa lembar poster untuk kegiatan membaca anak.
Tak lama kemudian Herlambang juga datang membawa rak buku kecil yang dibuatnya sendiri dari kayu bekas.
"Wah..."
kata Anjelina kagum.
"Rak ini bagus sekali."
Herlambang tersenyum.
"Masih sederhana."
"Kalau nanti rusak tinggal kita perbaiki."
Hidayat ikut membantu menata rak itu.
Ketiganya bekerja tanpa banyak bicara.
Namun justru dalam keheningan itulah, masing-masing mulai menyadari sesuatu.
Herlambang melihat perhatian Hidayat kepada Anjelina.
Hidayat melihat kedekatan alami antara Herlambang dan Anjelina.
Sedangkan Anjelina melihat ketulusan keduanya.
Tidak ada rasa benci.
Tidak ada permusuhan.
Yang ada hanyalah hati yang sama-sama mulai berharap.
Menjelang matahari tenggelam, anak-anak telah pulang.
Anjelina mengunci pintu taman baca.
"Aku mengantar sampai jalan depan."
kata Herlambang.
"Aku juga sekalian ke arah Balai Desa."
sahut Hidayat.
Mereka bertiga berjalan bersama menyusuri jalan desa.
Sesampainya di persimpangan, Herlambang harus menuju rumah Ki Waskita.
Sedangkan Hidayat melanjutkan ke Balai Desa.
Anjelina berdiri beberapa saat di persimpangan itu.
Melihat dua lelaki berjalan ke arah yang berbeda.
Entah mengapa, pemandangan sederhana itu membuat dadanya terasa sesak.
Seolah-olah hidup sedang memintanya memilih satu dari dua jalan.
Padahal ia belum siap memilih apa pun.
Malam itu, Herlambang duduk di bawah pohon trembesi.
Ia mengingat kembali nasihat Ki Waskita.
"Kadang diam adalah kebijaksanaan. Tetapi kadang diam juga menjadi penyesalan."
Ia menarik napas panjang.
"Lalu..."
"...sampai kapan aku harus diam?"
Untuk pertama kalinya, pertanyaan itu keluar dari bibirnya.
Di rumah Haji Mahendra, Hidayat juga sedang termenung.
Ia membuka buku catatan kecil yang selalu dibawanya sejak kuliah.
Di halaman terakhir, ia menulis sebuah kalimat.
"Keberanian bukan hanya tentang menghadapi lawan. Kadang keberanian adalah mengatakan apa yang selama ini disimpan."
Ia menatap tulisan itu cukup lama.
Kemudian menutup bukunya perlahan.
Dalam hatinya, sebuah keputusan mulai tumbuh.
Sementara itu, di kamar Anjelina, lampu masih menyala.
Ia membuka kembali kotak kenangan masa kecilnya.
Foto-foto lama.
Daun trembesi yang telah mengering.
Dan sebuah pita persahabatan yang pernah dibuat bersama Herlambang ketika masih duduk di bangku sekolah dasar.
Air matanya hampir menetes.
Bukan karena sedih.
Melainkan karena ia mulai memahami bahwa hidup tidak akan selamanya berjalan seperti masa kecil.
Persahabatan bisa berubah menjadi cinta.
Cinta bisa menguji persahabatan.
Dan pilihan yang salah dapat melukai orang-orang yang paling disayanginya.
Ia menutup kotak itu perlahan.
Lalu berdoa dalam hati.
"Ya Tuhan... jangan biarkan aku menjadi alasan hancurnya persahabatan mereka."
Di luar rumah, angin malam kembali berembus melewati pohon trembesi.
Daun-daunnya berguguran satu demi satu.
Musim benar-benar sedang berganti.
Dan bersama pergantian musim itu, ketiga anak muda tersebut akhirnya mengambil keputusan di dalam hati masing-masing.
Herlambang memutuskan bahwa ia tidak boleh terus berdiam diri selamanya.
Hidayat memutuskan bahwa ia akan memperjuangkan cintanya dengan cara yang terhormat.
Sedangkan Anjelina memutuskan untuk tidak terburu-buru memilih, karena ia tidak ingin menyakiti salah satu dari mereka.
Mereka belum saling mengungkapkan isi hati.
Belum ada yang kalah.
Belum ada yang menang.
Namun sejak malam itu, cinta tidak lagi hanya menjadi perasaan yang tersembunyi.
Ia telah berubah menjadi pilihan yang menuntut keberanian dan harga diri.
Dan mereka belum mengetahui bahwa pilihan itu akan segera membawa Anjelina pada ujian terbesar dalam hidupnya.
BAB XIII – Perempuan yang Dipaksa Memilih
Hujan turun sejak dini hari di Desa Arum Sari.
Rintik-rintiknya membasahi atap-atap rumah, menyegarkan sawah yang mulai menghijau, serta memenuhi parit-parit kecil di sepanjang jalan desa.
Anjelina berdiri di beranda rumah sambil memandang hujan.
Tangannya memegang secangkir teh hangat.
Namun pikirannya jauh melayang.
Beberapa hari terakhir, ia merasa hidupnya berubah.
Bukan karena fitnah yang mulai berembus di desa.
Bukan pula karena persoalan tanah yang belum selesai.
Melainkan karena dua hati mulai berjalan ke arahnya.
Dan ia belum siap menerima salah satunya.
Di dapur, Bu Sulastri memperhatikan putrinya.
"Lina."
"Iya, Bu."
"Sejak beberapa hari ini kau sering melamun."
Anjelina tersenyum kecil.
"Mungkin hanya lelah."
Seorang ibu tentu mengetahui kapan anaknya sedang berkata jujur dan kapan sedang menyembunyikan sesuatu.
Bu Sulastri tidak mendesak.
Beliau hanya berkata pelan,
"Kalau ada beban..."
"...jangan dipikul sendirian."
Anjelina mengangguk.
Namun ia belum sanggup menceritakan isi hatinya.
Siang harinya, Pak Wirawan kembali datang ke rumah.
Kali ini beliau tidak sendiri.
Bersamanya hadir Pak Lurah dari Desa Sukamaju yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengan keluarga mereka.
Setelah berbincang beberapa saat, Pak Wirawan membuka pembicaraan.
"Lastri..."
"Keluarga dari Sukamaju masih menanyakan Anjelina."
"Mereka ingin datang bersilaturahmi secara resmi."
Bu Sulastri memandang putrinya.
"Lina."
"Ibu ingin mendengar pendapatmu."
Anjelina terdiam.
Ia tidak mengenal keluarga yang dimaksud.
Ia juga belum pernah berpikir sejauh itu.
Dengan suara pelan ia menjawab,
"Maaf, Paman."
"Saat ini aku belum ingin menerima siapa pun."
Pak Wirawan mengangguk perlahan.
"Aku menghargai keputusanmu."
"Tetapi jangan terlalu lama membiarkan orang menunggu."
Ucapan itu bukan paksaan.
Namun cukup membuat hati Anjelina semakin gelisah.
Di Balai Desa, Hidayat sedang membantu menyusun laporan hasil pendataan.
Sekretaris Desa menyerahkan beberapa map kepadanya.
"Besok laporan ini akan dibawa ke kecamatan."
"Baik, Pak."
Saat hendak pulang, Hidayat bertemu Pak Wirawan di halaman balai desa.
"Mas Dayat."
"Selamat siang, Pak."
"Kau sudah betah tinggal di Arum Sari?"
"Alhamdulillah."
Pak Wirawan tersenyum.
"Bagus."
"Desa ini membutuhkan anak muda yang mau mengabdi."
Percakapan mereka berlangsung singkat.
Namun dari kejauhan, seorang warga melihat keduanya berbincang.
Tak lama kemudian muncul bisikan baru.
"Dayat semakin dekat dengan keluarga Anjelina."
Padahal pembicaraan mereka sama sekali tidak berkaitan dengan Anjelina.
Fitnah memang selalu menemukan jalannya sendiri.
Sore itu Herlambang membantu Ki Waskita memperbaiki pagar bambu.
Setelah selesai bekerja, Ki Waskita bertanya,
"Lambang."
"Iya, Ki?"
"Kalau suatu hari Anjelina memilih orang lain..."
"...apa yang akan kau lakukan?"
Herlambang terdiam cukup lama.
Matanya memandang hamparan sawah yang menguning.
"Aku akan menghormati keputusannya."
"Walaupun itu menyakitkan?"
"Kalau cintaku membuatnya kehilangan kebahagiaan..."
"...berarti itu bukan cinta."
Ki Waskita tersenyum tipis.
"Tetapi jangan lupa."
"Perempuan juga berhak mengetahui isi hati seseorang."
"Jangan sampai kau meminta ia memahami sesuatu yang tidak pernah kau ucapkan."
Perkataan itu menancap dalam hati Herlambang.
Menjelang petang, Anjelina mengadakan latihan membaca puisi bersama anak-anak.
Herlambang datang mengantarkan beberapa buku.
Tak lama kemudian Hidayat membawa pengeras suara kecil untuk dipakai saat festival literasi.
Mereka kembali bertemu.
Suasana tetap hangat.
Namun ada kecanggungan yang mulai terasa.
Anjelina melihat keduanya saling membantu tanpa sedikit pun memperlihatkan rasa tidak suka.
Justru itulah yang membuatnya semakin sulit.
Bagaimana mungkin ia harus memilih, sementara kedua lelaki itu sama-sama memiliki hati yang baik?
Saat matahari hampir tenggelam, anak-anak pulang satu per satu.
Hidayat berpamitan lebih dahulu.
"Aku masih harus kembali ke Balai Desa."
"Terima kasih atas pengeras suaranya."
kata Anjelina.
"Semoga bermanfaat."
jawab Hidayat sambil tersenyum.
Tak lama kemudian Herlambang juga bersiap pulang.
Sebelum melangkah, ia berkata,
"Lina."
"Iya?"
"Kalau suatu saat kau membutuhkan bantuan..."
"...jangan sungkan memanggilku."
Anjelina mengangguk.
"Aku tahu."
Herlambang berjalan pergi.
Anjelina memandang punggungnya hingga menghilang di balik tikungan jalan.
Entah mengapa, dadanya terasa semakin berat.
Malam itu, Bu Sulastri masuk ke kamar putrinya.
Beliau duduk di samping tempat tidur.
"Lina."
"Iya, Bu."
"Ibu tidak akan memilihkan jodoh untukmu."
"Tetapi..."
"...jangan biarkan keraguanmu melukai orang yang tulus."
Kalimat itu membuat Anjelina menundukkan kepala.
Ia tahu ibunya benar.
Diam yang terlalu lama kadang lebih menyakitkan daripada jawaban yang jujur.
Setelah Bu Sulastri keluar, Anjelina memandangi bayangan dirinya di cermin.
Untuk pertama kalinya ia bertanya kepada dirinya sendiri,
"Apakah aku benar-benar tahu kepada siapa hatiku akan berlabuh?"
Tidak ada jawaban.
Yang terdengar hanya suara hujan yang kembali turun di luar jendela.
Hujan itu seakan membawa pesan bahwa hidup tidak selamanya memberi waktu untuk menunda pilihan.
Cepat atau lambat, seorang perempuan harus menentukan arah langkahnya sendiri.
Dan Anjelina mulai merasakan bahwa hari itu semakin dekat.
Hari-hari berikutnya berlalu lebih cepat daripada yang dibayangkan Anjelina.
Festival Literasi Desa tinggal dua minggu lagi.
Sejak pagi hingga sore, taman baca tidak pernah sepi.
Anak-anak berlatih membaca puisi, mendongeng, dan menulis cerita pendek.
Di sela-sela kesibukan itu, Anjelina berusaha mengusir kegelisahan yang terus mengikutinya.
Namun, semakin ia menyibukkan diri, semakin sering pula orang-orang menanyakan satu hal yang sama.
Tentang masa depannya.
Pagi itu, Bu Sulastri menerima kedatangan Bibi Ratna, adik kandungnya yang datang dari desa tetangga.
Setelah berbincang tentang keluarga dan hasil panen, pembicaraan perlahan mengarah kepada Anjelina.
"Lina sekarang sudah dua puluh lima tahun, ya?"
Bu Sulastri mengangguk.
"Iya."
"Sudah ada yang serius?"
Bu Sulastri tersenyum tipis.
"Itulah yang sedang menjadi pikiranku."
Anjelina yang sedang menyapu halaman mendengar percakapan itu.
Ia memilih tetap bekerja.
Namun setiap kata yang diucapkan bibinya terasa seperti mengetuk pintu hatinya.
Bibi Ratna melanjutkan,
"Kalau terlalu lama menunggu..."
"...kadang kesempatan baik justru lewat."
Bu Sulastri menjawab dengan tenang,
"Aku tidak ingin Lina menikah hanya karena merasa dikejar usia."
"Aku ingin ia memilih dengan hati yang mantap."
Bibi Ratna mengangguk.
"Itu benar."
"Tetapi hati juga jangan terlalu lama dibiarkan ragu."
Percakapan itu berakhir tanpa perdebatan.
Namun meninggalkan beban baru di hati Anjelina.
Sementara itu, di Balai Desa, Hidayat sedang membantu menyusun laporan untuk kecamatan.
Sekretaris Desa memperhatikan kesungguhannya bekerja.
"Dayat."
"Iya, Pak."
"Kalau terus begini, desa akan sangat terbantu."
Hidayat tersenyum.
"Aku hanya melakukan apa yang bisa kulakukan."
Di dalam hati, ia berharap pengabdiannya kepada desa tidak dipandang sebagai cara untuk mencari perhatian.
Ia benar-benar ingin menjadi bagian dari Arum Sari.
Namun semakin hari, ia semakin sulit memisahkan antara pengabdian kepada desa dan perasaannya kepada Anjelina.
Di rumah Ki Waskita, Herlambang sedang membantu menyalin kembali beberapa catatan sejarah desa yang mulai pudar.
"Lambang."
"Iya, Ki."
"Besok lusa kau ikut mendampingiku ke rumah Mbah Karta."
"Ada apa, Ki?"
"Kita akan mencari keterangan tentang batas tanah lama."
Herlambang mengangguk.
Ia tahu persoalan tanah belum selesai.
Namun pikirannya justru lebih sering dipenuhi oleh Anjelina.
Melihat kegelisahan itu, Ki Waskita berkata,
"Jangan biarkan satu persoalan membuatmu lupa menyelesaikan persoalan yang lain."
Herlambang tersenyum kecil.
"Ki selalu tahu apa yang sedang kupikirkan."
Ki Waskita hanya tersenyum.
"Karena wajahmu lebih jujur daripada mulutmu."
Menjelang sore, Anjelina pergi ke pasar desa membeli perlengkapan kegiatan literasi.
Di sana ia bertemu Hidayat.
"Lina."
"Mas Dayat."
"Kebetulan sekali."
"Iya."
"Kau belanja juga?"
"Aku membeli cat untuk papan informasi Balai Desa."
Mereka berjalan berdampingan menyusuri deretan kios.
Percakapan berlangsung ringan.
Tentang anak-anak.
Tentang taman baca.
Tentang festival yang akan datang.
Sesaat kemudian Hidayat berkata pelan,
"Lina."
"Iya?"
"Aku senang melihatmu tetap tersenyum."
Anjelina memandangnya sejenak.
"Kenapa?"
"Karena akhir-akhir ini desa sedang banyak masalah."
"Tetapi kau masih bisa membuat anak-anak tertawa."
Anjelina tersenyum.
"Kalau orang dewasa sedang sibuk dengan masalah..."
"...anak-anak jangan sampai kehilangan masa kecilnya."
Jawaban itu membuat Hidayat semakin kagum.
Ketika mereka hendak berpisah di pintu pasar, dari kejauhan Herlambang melihat keduanya sedang berbincang.
Ia tidak menghampiri.
Ia hanya mengangkat tangan sebagai tanda salam.
Hidayat membalas dengan ramah.
Tidak ada rasa cemburu yang meledak.
Namun di hati Herlambang muncul sebuah pertanyaan yang terus mengusiknya.
"Apakah aku terlalu lama diam?"
Malam harinya, Bu Sulastri kembali berbicara dengan Anjelina.
"Lina."
"Iya, Bu."
"Ibu ingin kau menjawab satu pertanyaan."
Anjelina mengangguk pelan.
"Apakah di hatimu sudah ada seseorang?"
Ruangan menjadi sunyi.
Anjelina memandang lantai.
Bibirnya bergerak pelan.
"Mungkin..."
Bu Sulastri tidak memotong.
"Mungkin?"
"Tapi aku belum yakin."
"Belum yakin kepada siapa?"
Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Anjelina.
"Itulah yang membuatku takut, Bu."
"Aku tidak ingin salah memilih."
Bu Sulastri menggenggam tangan putrinya.
"Tidak ada ibu yang bisa memilihkan hati anaknya."
"Tetapi ingatlah..."
"...jangan memilih karena kasihan."
"Jangan memilih karena tekanan."
"Dan jangan memilih karena takut menyakiti."
"Pilihlah karena kau benar-benar percaya bahwa dialah orang yang akan menemanimu melewati setiap musim kehidupan."
Anjelina memeluk ibunya.
Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh.
Untuk pertama kalinya, ia mengakui bahwa dirinya benar-benar berada di persimpangan.
Di tempat yang berbeda, Herlambang duduk di bawah pohon trembesi.
Sementara Hidayat duduk di beranda rumahnya.
Tanpa saling mengetahui, keduanya memandang langit malam yang sama.
Herlambang berbisik dalam hati,
"Mungkin aku tidak boleh terus menunggu."
Sedangkan Hidayat berkata dalam hati,
"Kalau aku terus diam, mungkin aku akan menyesal seumur hidup."
Malam itu, dua lelaki mengambil keputusan yang sama.
Mereka akan berbicara.
Bukan untuk saling mengalahkan.
Bukan pula untuk saling merebut.
Tetapi untuk menyampaikan kejujuran hati masing-masing.
Sementara itu, Anjelina justru berharap waktu berhenti sejenak.
Karena ia belum siap mendengar pengakuan yang diam-diam telah ia rasakan akan segera datang.
Dan tanpa disadarinya, takdir mulai bergerak lebih cepat daripada keberaniannya.
Fajar menyambut Desa Arum Sari dengan langit yang cerah.
Kabut tipis masih menggantung di atas pematang sawah ketika suara kentongan ronda terdengar dari ujung kampung, menandai berakhirnya giliran jaga malam.
Bagi sebagian besar warga, hari itu tampak seperti hari-hari biasa.
Namun tidak bagi tiga anak muda yang sedang membawa pergulatan di dalam hati masing-masing.
Herlambang berangkat ke sekolah lebih pagi dari biasanya.
Di dalam tasnya tersimpan sebuah buku sastra yang telah lama dipinjam Anjelina.
Di halaman terakhir buku itu, ia menyelipkan selembar pembatas buku yang dibuatnya sendiri dari anyaman daun pandan.
Tidak ada surat cinta.
Tidak ada kalimat romantis.
Hanya sebuah kutipan yang ditulis dengan rapi.
"Kejujuran adalah bentuk penghormatan tertinggi kepada seseorang."
Ia berniat mengembalikan buku itu sore nanti, setelah kegiatan di taman baca selesai.
Dalam perjalanan, ia terus mengulang-ulang kalimat yang ingin disampaikannya.
Bukan untuk memaksa Anjelina menerima cintanya.
Melainkan agar perempuan itu mengetahui isi hatinya yang selama bertahun-tahun hanya disimpan dalam diam.
Di Balai Desa, Hidayat menyelesaikan laporan terakhir hasil digitalisasi arsip.
Sekretaris Desa menepuk bahunya.
"Kerjamu sangat membantu, Dayat."
"Terima kasih, Pak."
"Besok laporan ini akan kita bawa ke kecamatan."
Setelah pekerjaan selesai, Hidayat menatap jam dinding.
Masih ada waktu sebelum sore.
Ia membuka laci meja dan mengeluarkan sebuah buku kecil berisi kumpulan puisi.
Buku itu dibelinya beberapa minggu lalu di kota.
Ia teringat Anjelina pernah berkata bahwa membaca puisi membuat seseorang lebih mudah memahami isi hati manusia.
Hidayat tersenyum.
"Aku akan memberikannya hari ini."
gumamnya.
Sementara itu, Anjelina sibuk mempersiapkan latihan terakhir Festival Literasi.
Anak-anak berlatih membaca puisi dengan penuh semangat.
Sesekali terdengar gelak tawa ketika ada yang salah mengucapkan kata.
Melihat mereka, Anjelina merasa damai.
Hanya ketika sendiri, kegelisahan itu kembali datang.
Ia teringat ucapan ibunya.
"Jangan memilih karena kasihan."
Ia juga teringat nasihat Ki Waskita yang pernah didengarnya saat kegiatan desa.
"Keputusan yang baik lahir dari hati yang jernih."
Namun bagaimana mungkin hatinya bisa jernih jika setiap hari ia bertemu dua lelaki yang sama-sama baik?
Menjelang sore, Herlambang tiba lebih dahulu di taman baca.
Ia menyerahkan buku yang dipinjam Anjelina.
"Terima kasih sudah merawatnya."
kata Anjelina sambil tersenyum.
"Aku justru yang berterima kasih."
Herlambang ingin mengatakan sesuatu.
Bibirnya sempat terbuka.
Namun suara anak-anak yang berlari memasuki taman baca membuat niat itu tertunda.
"Bu Guru..."
"Kami sudah datang!"
Anak-anak segera mengelilingi Anjelina.
Herlambang hanya tersenyum kecil.
"Mungkin nanti setelah selesai."
batinnya.
Tidak lama kemudian Hidayat datang.
Di tangannya ada sebuah bungkusan kertas cokelat.
"Lina."
"Iya, Mas Dayat?"
"Aku menemukan buku ini."
"Mungkin cocok untuk koleksi taman baca."
Anjelina menerimanya dengan senang hati.
"Wah... kumpulan puisi."
"Terima kasih."
"Itu bukan apa-apa."
Hidayat juga ingin mengatakan sesuatu.
Namun melihat anak-anak mulai berkumpul, ia mengurungkan niatnya.
"Nanti saja."
pikirnya.
Sore itu latihan berlangsung meriah.
Anak-anak tampil membaca puisi, bercerita, dan saling memberi semangat.
Herlambang membantu menjadi juri latihan.
Hidayat mengatur pengeras suara.
Anjelina mendampingi peserta satu per satu.
Bagi siapa pun yang melihat mereka, ketiganya tampak seperti sahabat yang bekerja sama tanpa beban.
Tidak ada seorang pun yang mengetahui bahwa di balik senyum mereka, masing-masing sedang menyimpan kegelisahan yang sama.
Ketika matahari hampir tenggelam, langit tiba-tiba berubah gelap.
Angin bertiup lebih kencang dari biasanya.
Pak Darto yang sedang lewat berhenti di depan taman baca.
"Sepertinya hujan besar akan turun."
Belum sempat mereka membereskan perlengkapan, terdengar suara seseorang berlari dari arah persawahan.
"Nolong...!"
"Nolong...!"
Semua menoleh.
Seorang petani muda datang dengan napas terengah-engah.
"Pak Herlambang!"
"Mas Hidayat!"
"Ada kebakaran!"
"Di mana?"
"Di sawah sebelah utara!"
"Api membakar tumpukan jerami!"
Tanpa berpikir panjang, Herlambang langsung berlari.
Hidayat menyusul di belakangnya.
Beberapa pemuda desa ikut membawa cangkul, karung basah, dan ember.
Anjelina membantu mengamankan anak-anak agar segera pulang ke rumah masing-masing.
Ia memandang ke arah kepulan asap hitam yang mulai membumbung di langit.
Perasaannya tiba-tiba tidak enak.
Di lokasi kejadian, warga berusaha memadamkan api yang mulai merambat ke tumpukan jerami lainnya.
Herlambang memimpin warga membuat sekat agar api tidak menjalar ke petak sawah yang masih ditanami padi.
Hidayat bersama para pemuda mengangkut air dari saluran irigasi.
Berkat kerja sama seluruh warga, api akhirnya berhasil dipadamkan sebelum meluas.
Semua menarik napas lega.
Namun ketika mereka sedang memeriksa penyebab kebakaran, Pak Sastro menemukan sesuatu.
Di dekat tumpukan jerami yang pertama kali terbakar terdapat sepotong kain yang sudah hangus sebagian.
"Ini bukan kain petani."
gumamnya.
Ki Waskita yang baru tiba memperhatikan benda itu dengan saksama.
Wajahnya berubah serius.
Beliau tidak segera berbicara.
Tetapi firasatnya mengatakan bahwa kebakaran itu bukan semata-mata kecelakaan.
Malam itu, Herlambang kembali membawa buku yang belum sempat ia jelaskan.
Hidayat juga pulang dengan buku puisi yang belum sempat ia hadiahkan.
Keduanya sama-sama kehilangan kesempatan mengungkapkan isi hati.
Sementara itu, Anjelina duduk di beranda rumah, memandangi cahaya merah yang masih tampak samar di kejauhan.
Ia tidak mengetahui bahwa kebakaran kecil di sawah sore tadi bukan sekadar musibah.
Peristiwa itu akan menjadi awal dari ujian yang jauh lebih besar.
Bukan hanya bagi para petani.
Bukan hanya bagi Pemerintah Desa.
Tetapi juga bagi persahabatan, cinta, dan kepercayaan yang selama ini mereka jaga.
Dan dari bara api yang nyaris padam itulah, konflik baru mulai dilahirkan.
BAB XIV – Api di Tengah Sawah
Mentari pagi belum sepenuhnya menampakkan wajahnya ketika warga Desa Arum Sari telah berkumpul di hamparan sawah sebelah utara.
Asap tipis masih mengepul dari tumpukan jerami yang semalam terbakar.
Bau hangus bercampur dengan aroma tanah basah setelah hujan semalam.
Beberapa petani berdiri sambil menggelengkan kepala.
Mereka tidak menyangka kebakaran kecil itu mampu menghanguskan sebagian jerami yang telah dikumpulkan untuk pakan ternak.
Walaupun tanaman padi berhasil diselamatkan, peristiwa itu meninggalkan kegelisahan di hati seluruh warga.
Kepala Desa datang bersama Sekretaris Desa, Ketua BPD, Babinsa, serta beberapa perangkat desa.
Tak lama kemudian Ki Waskita juga tiba, ditemani Herlambang.
Hidayat sudah lebih dahulu berada di lokasi, membantu mencatat kerugian yang dialami para petani.
"Kita bersyukur api tidak sampai menjalar ke seluruh petak sawah."
kata Kepala Desa.
"Tetapi kita tetap harus mengetahui penyebabnya."
Semua warga mengangguk.
Mereka sadar, kejadian seperti ini tidak boleh dianggap sepele.
Pak Sastro kemudian memperlihatkan sepotong kain yang semalam ditemukannya di dekat titik awal kebakaran.
"Ini yang saya temukan."
Semua memperhatikan kain berwarna gelap itu.
Sebagian ujungnya telah hangus.
Babinsa mengambilnya dengan hati-hati.
"Kalau melihat kondisinya..."
"...kain ini memang berada sangat dekat dengan sumber api."
Hidayat segera mencatat temuan tersebut.
Namun belum ada yang berani menyimpulkan apa pun.
Di tengah kerumunan warga, mulai terdengar berbagai pendapat.
"Mungkin ada orang yang membakar jerami."
"Mungkin juga bara rokok."
"Atau anak-anak yang bermain."
Pak Darto mengangkat tangan.
"Jangan berspekulasi."
"Kita belum punya bukti."
Ucapan itu membuat suasana sedikit lebih tenang.
Namun bisik-bisik kecil tetap terdengar di beberapa sudut.
Fitnah memang sering lahir dari dugaan yang belum selesai.
Herlambang berjalan menyusuri batas sawah bersama Ki Waskita.
Beliau memperhatikan bekas-bekas pijakan kaki yang masih terlihat jelas karena tanah masih lembap.
"Lambang."
"Iya, Ki?"
"Coba lihat jejak ini."
Herlambang berjongkok.
Ada beberapa bekas telapak kaki yang menuju ke arah rumpun bambu.
Namun setelah sampai di tanah yang lebih keras, jejak itu menghilang.
"Orang itu tahu jalan."
kata Herlambang pelan.
Ki Waskita mengangguk.
"Dan ia tidak ingin dikenali."
Mereka tidak melanjutkan dugaan.
Semua harus menunggu bukti yang lebih kuat.
Di sisi lain sawah, Hidayat sedang berbincang dengan Pak Sastro.
"Apakah semalam Bapak melihat seseorang?"
Pak Sastro menggeleng.
"Waktu aku datang..."
"...api sudah membesar."
"Hanya ada suara orang berlari."
"Dari arah mana?"
Pak Sastro menunjuk ke arah utara.
Arah yang sama dengan jejak kaki yang ditemukan Herlambang.
Hidayat mencatat semuanya.
Semakin banyak keterangan yang ia kumpulkan, semakin ia yakin bahwa kebakaran itu bukan sekadar kecelakaan.
Menjelang siang, para petani mulai kembali bekerja.
Sebagian membersihkan sisa jerami yang terbakar.
Sebagian lagi memperbaiki saluran air yang rusak akibat proses pemadaman.
Tanpa diminta, Herlambang dan Hidayat ikut membantu.
Mereka bekerja berdampingan.
Mengangkat jerami.
Membersihkan lahan.
Membenahi pematang sawah.
Pak Darto memperhatikan keduanya sambil tersenyum.
"Kalau anak-anak muda seperti mereka terus bersatu..."
"...desa ini akan kuat."
Ki Waskita mendengar ucapan itu.
Namun jauh di dalam hatinya, beliau justru merasa khawatir.
Beliau tahu ada seseorang yang sedang berusaha memecah persatuan itu.
Sore hari, Anjelina datang membawa beberapa kendi berisi air minum dan makanan ringan untuk para petani.
"Ibu-ibu menitipkan ini."
katanya.
Para petani menerimanya dengan senang hati.
"Terima kasih, Nak."
Anjelina tersenyum.
Ia kemudian membantu membagikan minuman kepada warga.
Ketika memberikan segelas air kepada Herlambang dan Hidayat, keduanya saling berpandangan sejenak.
Tidak ada kecanggungan.
Tidak ada perselisihan.
Yang ada hanyalah rasa tanggung jawab terhadap desa yang mereka cintai.
Melihat pemandangan itu, Bu Sulastri yang datang bersama beberapa ibu desa berbisik kepada Pak Darto,
"Seandainya semua persoalan dapat diselesaikan dengan semangat seperti ini."
Pak Darto mengangguk.
"Sayangnya..."
"...tidak semua api terlihat oleh mata."
"Ada api yang membakar hati manusia."
Menjelang senja, warga mulai meninggalkan sawah.
Hanya Ki Waskita yang masih berdiri memandangi bekas kebakaran.
Beliau membungkuk, mengambil segenggam tanah yang menghitam.
Kemudian berkata lirih kepada Herlambang,
"Api tidak pernah memilih apa yang akan dibakarnya."
"Tetapi manusia..."
"...selalu memiliki alasan ketika menyalakan api."
Herlambang memandang wajah tua itu.
"Apa Ki curiga seseorang sengaja melakukannya?"
Ki Waskita tidak langsung menjawab.
Beliau menggenggam tanah hitam itu erat-erat.
"Lambang..."
"Musuh yang paling berbahaya bukanlah orang yang marah."
"Lalu siapa, Ki?"
"Orang yang mampu tersenyum..."
"...sambil diam-diam menyiapkan bara."
Herlambang terdiam.
Kalimat itu terasa begitu berat.
Ia memandang hamparan sawah yang mulai gelap.
Entah mengapa, sejak pagi hatinya dipenuhi firasat bahwa kebakaran ini hanyalah awal.
Masih akan ada peristiwa lain yang jauh lebih besar.
Dan ketika saat itu tiba, bukan hanya sawah yang terancam terbakar.
Melainkan juga kepercayaan, persahabatan, dan cinta yang selama ini mereka perjuangkan.
Dua hari setelah kebakaran itu, Desa Arum Sari belum benar-benar kembali tenang.
Memang, api telah padam.
Namun pembicaraan tentang penyebabnya justru semakin membesar.
Di warung kopi, di pematang sawah, bahkan di serambi masjid setelah salat berjamaah, warga masih membicarakan kejadian itu.
Tidak sedikit yang mulai menghubungkannya dengan sengketa tanah yang beberapa bulan terakhir menjadi perhatian desa.
Pagi itu, Kepala Desa mengundang rapat terbatas di Balai Desa.
Hadir dalam pertemuan itu Sekretaris Desa, Ketua BPD, Babinsa, Ki Waskita, Herlambang, Hidayat, dan beberapa tokoh masyarakat.
Kepala Desa membuka rapat dengan suara tenang.
"Kita berkumpul bukan untuk mencari kambing hitam."
"Tetapi untuk mencari kebenaran."
Semua yang hadir menganggukkan kepala.
Tidak seorang pun ingin persoalan ini berkembang menjadi tuduhan tanpa dasar.
Babinsa kemudian menyampaikan hasil peninjauan di lokasi kebakaran.
"Berdasarkan pemeriksaan awal..."
"...kami tidak menemukan tanda-tanda korsleting atau sumber api alami."
"Api kemungkinan berasal dari satu titik."
"Namun kami belum dapat memastikan penyebabnya."
Ketua BPD bertanya,
"Apakah ada saksi?"
Babinsa menggeleng.
"Belum ada yang melihat secara langsung."
Suasana kembali hening.
Ki Waskita lalu mengeluarkan selembar peta tua yang telah diperbaiki beberapa hari sebelumnya.
Beliau membentangkannya di atas meja.
"Perhatikan baik-baik."
Semua mendekat.
Ternyata lokasi kebakaran berada tidak jauh dari batas lahan yang sejak dahulu sering menjadi perdebatan antarkeluarga.
Hidayat memperhatikan peta itu dengan saksama.
"Jadi..."
"...kebakaran ini terjadi tepat di sekitar kawasan yang diperselisihkan?"
Ki Waskita mengangguk pelan.
"Benar."
"Tetapi itu belum berarti keduanya berhubungan."
"Kita tidak boleh terburu-buru mengambil kesimpulan."
Pak Darto yang sejak tadi diam akhirnya berbicara.
"Dulu..."
"...orang tua kami selalu berpesan."
"Kalau ada yang ingin menguasai tanah..."
"...yang pertama dibakar bukan sawahnya."
"Melainkan kepercayaan antarwarga."
Kalimat itu membuat seluruh ruangan kembali sunyi.
Herlambang memandang Pak Darto.
Ia mulai memahami bahwa persoalan yang mereka hadapi jauh lebih rumit daripada sekadar batas tanah.
Usai rapat, Hidayat menghampiri Herlambang.
"Lambang."
"Iya?"
"Aku ingin melihat kembali lokasi kebakaran."
"Aku ikut."
Mereka berdua berjalan menuju sawah.
Sepanjang perjalanan, tidak banyak percakapan.
Sesampainya di lokasi, Hidayat memperhatikan bekas pijakan yang mulai memudar karena hujan semalam.
Ia juga melihat ranting-ranting bambu yang patah.
"Sepertinya seseorang memang melewati sini."
kata Hidayat.
Herlambang mengangguk.
"Tapi ia tahu jalan keluar tanpa meninggalkan banyak jejak."
Mereka saling berpandangan.
Belum ada bukti yang cukup.
Namun keduanya sepakat untuk tidak membiarkan dugaan berkembang menjadi fitnah.
Sementara itu, Anjelina sedang mengajar anak-anak membaca puisi di taman baca.
Hari itu ia memilih sebuah puisi tentang persatuan.
Setelah selesai membaca, seorang anak bertanya,
"Kak Lina."
"Iya?"
"Kenapa orang dewasa sering bertengkar?"
Anjelina tersenyum tipis.
"Tidak semua orang dewasa bertengkar."
"Lalu kenapa desa sedang ramai?"
Anjelina terdiam beberapa saat.
Kemudian ia menjawab dengan lembut,
"Karena kadang-kadang..."
"...orang lebih mudah mempercayai rasa curiga daripada saling mendengarkan."
Anak-anak mengangguk, meski belum sepenuhnya memahami.
Namun kata-kata itu diam-diam didengar oleh Bu Minah yang sedang melintas.
Beliau tersenyum bangga.
"Gadis itu benar-benar mewarisi hati almarhum ayahnya."
gumamnya.
Menjelang sore, seorang lelaki bertopi lebar terlihat berdiri di balik rumpun bambu yang menghadap ke arah sawah.
Ia memperhatikan Herlambang dan Hidayat yang sedang memeriksa lokasi kebakaran.
Sesekali ia mencatat sesuatu di sebuah buku kecil.
Tak lama kemudian, ia pergi melalui jalan setapak yang jarang dilalui warga.
Tak seorang pun menyadari kehadirannya.
Malam itu, Hidayat menyalin seluruh hasil pengamatannya ke dalam buku catatan.
Ia membuat sketsa sederhana lokasi kebakaran, letak jejak kaki, arah angin, dan posisi tumpukan jerami.
Saat sedang menulis, ayahnya, Haji Mahendra, masuk ke kamar.
"Masih bekerja?"
"Iya, Yah."
Haji Mahendra melihat catatan itu.
"Lakukan dengan teliti."
"Tapi ingat."
"Apa, Yah?"
"Jangan pernah menyusun kesimpulan lebih cepat daripada datangnya bukti."
Hidayat mengangguk.
Nasihat itu semakin menguatkan tekadnya untuk tetap bersikap adil.
Di rumah Ki Waskita, suasana juga belum sepenuhnya tenang.
Beliau kembali membuka peti kayu peninggalan leluhur.
Di dalamnya tersimpan berbagai catatan tua mengenai sejarah Desa Arum Sari.
Saat membalik halaman demi halaman, tiba-tiba beliau berhenti.
Ada sebuah catatan yang selama ini luput dari perhatiannya.
Catatan itu menyebutkan bahwa puluhan tahun lalu pernah terjadi kebakaran serupa di lokasi yang hampir sama.
Dan beberapa bulan setelah peristiwa itu, sengketa tanah besar pernah memecah belah warga desa.
Ki Waskita menarik napas panjang.
Beliau menutup buku itu perlahan.
"Apakah..."
"...sejarah sedang mengulang dirinya sendiri?"
Pertanyaan itu menggantung di dalam pikirannya.
Di luar rumah, angin malam kembali berembus melewati hamparan sawah yang telah menghitam.
Bara api memang telah padam.
Namun seseorang tampaknya sedang berusaha meniup bara lama agar kembali menyala.
Dan jika itu benar terjadi, Desa Arum Sari akan menghadapi ujian yang jauh lebih berat daripada yang pernah dibayangkan.
Malam menyelimuti Desa Arum Sari dengan keheningan yang tidak biasa.
Tidak terdengar lagi suara anak-anak bermain di halaman.
Warung Bu Minah tutup lebih awal.
Bahkan para petani yang biasanya berkumpul di gardu sawah memilih pulang setelah salat Isya.
Kebakaran dua hari yang lalu masih menjadi pembicaraan utama.
Namun kali ini, pembicaraan itu mulai berubah arah.
Bukan lagi tentang api.
Melainkan tentang siapa yang harus disalahkan.
Di sebuah sudut warung yang hampir kosong, tiga orang warga berbincang dengan suara pelan.
"Aneh..."
"Kenapa kebakaran itu terjadi tepat di dekat tanah sengketa?"
"Entahlah."
"Mungkin memang ada yang sengaja."
"Tapi siapa?"
Sebelum ada yang menjawab, seorang lelaki bertopi lebar yang sejak tadi duduk membelakangi mereka meletakkan uang di atas meja.
Ia berdiri tanpa berkata apa-apa.
Saat melewati mereka, ia hanya berucap singkat,
"Kadang pelakunya justru orang yang paling dipercaya."
Kalimat itu diucapkan begitu tenang.
Namun cukup untuk membuat ketiga warga saling berpandangan.
Lelaki itu kemudian berjalan keluar dan menghilang di balik gelapnya malam.
Tak seorang pun mengenalnya.
Tak seorang pun menanyakan namanya.
Tetapi sejak malam itu, sebuah benih kecurigaan kembali ditanam.
Keesokan paginya, Balai Desa kembali ramai.
Beberapa petani datang melaporkan kerugian akibat kebakaran.
Sekretaris Desa menerima mereka satu per satu.
Hidayat membantu mencatat seluruh laporan.
Sementara Herlambang ikut mendampingi Kepala Desa menjelaskan rencana bantuan bagi petani yang terdampak.
Melihat keduanya bekerja bersama, Pak Darto tersenyum.
"Kalau pemuda-pemuda ini tetap kompak..."
"...aku yakin desa akan melewati ujian ini."
Namun di sudut ruangan, ada seseorang yang memandang mereka dengan wajah datar.
Tatapannya seolah tidak menyukai pemandangan itu.
Persatuan mereka justru menjadi penghalang bagi rencana yang sedang disusunnya.
Menjelang siang, Ki Waskita meminta Herlambang menemaninya kembali ke lokasi kebakaran.
Sesampainya di sana, beliau berhenti di bawah pohon randu tua.
"Lambang."
"Iya, Ki?"
"Perhatikan tanah ini."
Herlambang berjongkok.
Di sela-sela rumput yang mulai mengering, terlihat bekas pijakan roda gerobak yang mengarah ke jalan lama menuju bukit kecil di utara desa.
"Jejak ini tidak ada waktu pertama kita datang."
kata Herlambang.
Ki Waskita mengangguk.
"Berarti seseorang kembali ke sini."
"Mengapa?"
"Mungkin mengambil sesuatu."
"Atau..."
"...memastikan sesuatu."
Herlambang memandang ke arah bukit.
Jalan itu jarang digunakan warga karena sudah ada akses baru yang lebih dekat.
Siapa pun yang melewatinya pasti mengetahui keadaan desa dengan sangat baik.
Sore harinya, Festival Literasi tetap dipersiapkan.
Anjelina sengaja tidak ingin anak-anak larut dalam suasana yang penuh kecemasan.
"Kita mulai dari puisi."
katanya sambil tersenyum.
Seorang anak maju ke depan.
Dengan suara lantang ia membaca,
"Api membakar jerami.
Tetapi jangan biarkan ia membakar hati.
Karena sawah dapat ditanami kembali.
Sedangkan hati yang hangus sulit disembuhkan."
Semua yang mendengar terdiam.
Bu Minah menyeka sudut matanya.
Pak Darto mengangguk pelan.
Bahkan Kepala Desa yang kebetulan datang meninjau latihan ikut memberikan tepuk tangan.
Puisi sederhana itu terasa seperti nasihat bagi seluruh warga Arum Sari.
Menjelang petang, Hidayat menghampiri Herlambang.
"Aku sudah memikirkan hasil penyelidikan kita."
kata Hidayat.
"Aku juga."
"Apa menurutmu kebakaran ini memang disengaja?"
Herlambang menarik napas panjang.
"Perasaanku mengatakan iya."
"Tapi kita tidak boleh membangun tuduhan dari perasaan."
"Kita harus menemukan bukti."
Hidayat mengangguk.
"Itulah sebabnya aku senang bekerja bersamamu."
"Kau selalu mengingatkanku untuk tetap tenang."
Herlambang tersenyum.
"Dan kau selalu mengingatkanku agar tidak berhenti mencari jawaban."
Mereka saling berjabat tangan.
Tanpa mereka sadari, dari balik rumpun bambu, sepasang mata memperhatikan pertemuan itu.
Orang tersebut mengepalkan tangannya.
Raut wajahnya menunjukkan kekecewaan.
Ia berharap kebakaran itu mulai memecah persahabatan mereka.
Namun yang terjadi justru sebaliknya.
Herlambang dan Hidayat semakin saling percaya.
Malam kembali turun.
Ki Waskita duduk sendirian di beranda rumahnya.
Di hadapannya terbentang catatan-catatan tua peninggalan leluhur.
Beliau menyalakan lampu minyak dan membuka halaman terakhir.
Di bagian bawah halaman itu tertulis sebuah kalimat yang telah memudar dimakan usia.
"Apabila manusia gagal memecah tanah, ia akan berusaha memecah hati orang-orang yang menjaganya."
Ki Waskita menutup buku itu perlahan.
Beliau memandang ke arah Balai Desa yang tampak samar di kejauhan.
"Hari itu..."
gumamnya lirih,
"...akhirnya telah datang."
Beliau menyadari bahwa kebakaran di tengah sawah bukanlah tujuan akhir.
Peristiwa itu hanyalah pembuka.
Seseorang sedang menguji kekuatan persatuan Desa Arum Sari.
Dan ketika cara itu tidak berhasil, langkah berikutnya hampir pasti akan lebih kejam.
Bukan lagi membakar jerami.
Melainkan membakar kepercayaan antarsahabat.
Tanpa disadari oleh Herlambang, Hidayat, maupun Anjelina, roda takdir telah bergerak menuju babak yang lebih menyakitkan.
Sebuah babak ketika bukan api yang menjadi musuh terbesar.
Melainkan keraguan yang perlahan menyusup ke dalam hati manusia.
BAB XV – Persahabatan yang Hancur
Pagi itu, Desa Arum Sari diselimuti kabut yang lebih tebal daripada biasanya.
Embun masih menggantung di ujung daun padi ketika warga mulai beraktivitas. Dari kejauhan terdengar suara mesin perontok padi bercampur dengan kicau burung-burung yang beterbangan di atas hamparan sawah.
Namun ketenangan alam tidak mampu menghapus kegelisahan yang mulai tumbuh di hati sebagian warga.
Sejak kebakaran di tengah sawah, rasa saling percaya perlahan mulai terkikis.
Bukan karena mereka melihat sendiri penyebabnya.
Melainkan karena terlalu banyak cerita yang beredar tanpa pernah diketahui sumbernya.
Di Balai Desa, Kepala Desa memimpin rapat koordinasi mengenai tindak lanjut penanganan kebakaran dan penyelesaian pendataan tanah.
"Mulai hari ini..."
"...seluruh dokumen lama akan kita cocokkan kembali."
kata Kepala Desa.
"Kita tidak ingin ada kesalahan yang justru menimbulkan persoalan baru."
Hidayat mendapat tugas menyusun kembali arsip digital.
Sedangkan Herlambang diminta membantu Ki Waskita mencocokkan batas-batas tanah berdasarkan catatan sejarah desa.
Keduanya menerima tugas itu tanpa keberatan.
Bahkan sebelum rapat berakhir, mereka sempat berdiskusi mengenai cara menyatukan data lama dan data terbaru.
Persahabatan mereka masih utuh.
Masih saling menghormati.
Namun ada seseorang yang tidak menginginkan hal itu.
Di luar Balai Desa, lelaki bertopi lebar itu kembali muncul.
Ia berdiri di bawah pohon mahoni, memperhatikan orang-orang yang keluar dari rapat.
Sesaat kemudian ia menghampiri seorang warga yang dikenal mudah terpengaruh.
"Dengar..."
katanya pelan.
"Katanya sekarang data tanah dipegang Herlambang dan Hidayat."
"Benarkah?"
"Tidak tahu."
"Tapi kalau dua orang memegang data sepenting itu..."
"...bukankah mudah mengubah isinya?"
Warga itu tampak berpikir.
Lelaki bertopi itu tidak melanjutkan pembicaraan.
Ia pergi begitu saja.
Seperti biasa.
Ia tidak memberi jawaban.
Ia hanya meninggalkan pertanyaan.
Dan sering kali, pertanyaan yang tidak dijawab jauh lebih berbahaya daripada kebohongan yang diucapkan terang-terangan.
Sore harinya, Herlambang dan Hidayat bekerja bersama di ruang arsip Balai Desa.
Map-map tua memenuhi meja.
Beberapa dokumen bahkan sudah mulai rapuh dimakan usia.
"Lihat ini."
kata Herlambang.
"Nomor persil di peta lama berbeda dengan catatan tahun berikutnya."
Hidayat memperhatikan dengan saksama.
"Mungkin terjadi perubahan administrasi."
"Mungkin."
"Tapi kita harus memastikan."
Mereka mencatat setiap perbedaan tanpa saling menyalahkan.
Bagi mereka, mencari kebenaran jauh lebih penting daripada mempertahankan pendapat masing-masing.
Di taman baca, Anjelina sedang membimbing anak-anak membuat majalah dinding.
Tema yang dipilih hari itu adalah "Persahabatan."
Seorang anak bertanya,
"Kak Lina..."
"Iya?"
"Kalau dua sahabat bertengkar..."
"...apa mereka masih bisa berteman lagi?"
Anjelina tersenyum lembut.
"Bisa."
"Asal keduanya mau saling mendengarkan."
"Lalu kalau ada orang yang sengaja mengadu domba?"
Anjelina terdiam sejenak.
Pertanyaan polos itu terasa begitu dekat dengan keadaan desanya.
Kemudian ia menjawab,
"Kalau persahabatan dibangun di atas kepercayaan..."
"...fitnah tidak akan mudah merobohkannya."
Anak-anak mengangguk.
Namun Anjelina sendiri tidak mengetahui bahwa ujian terhadap kata-katanya akan segera datang.
Menjelang petang, Hidayat berpamitan pulang lebih dahulu.
"Lambang."
"Aku ke rumah Pak Sastro sebentar."
"Ada apa?"
"Aku ingin mencocokkan lagi batas sawah sebelah utara."
"Baik."
"Nanti malam kita lanjutkan."
"Siap."
Mereka berpisah dengan senyum seperti biasanya.
Tidak ada pertengkaran.
Tidak ada rasa curiga.
Semuanya masih berjalan sebagaimana mestinya.
Namun malam itu, sesuatu terjadi.
Seseorang menyelinap masuk ke ruang arsip Balai Desa melalui jendela samping yang rusak.
Orang itu membuka beberapa map, memindahkan sejumlah lembar salinan, lalu menyelipkan sebuah dokumen yang telah dipalsukan di antara arsip lama.
Sebelum pergi, ia sengaja menjatuhkan pembatas buku anyaman daun pandan milik Herlambang yang tanpa sengaja tertinggal saat bekerja sore tadi.
Benda sederhana itu kini tergeletak tepat di samping berkas yang telah diubah.
Seolah-olah menjadi petunjuk palsu.
Orang itu tersenyum tipis.
"Besok..."
gumamnya pelan.
"...benih pertama akan mulai tumbuh."
Ia menutup jendela perlahan.
Kemudian menghilang dalam gelap malam.
Di rumahnya masing-masing, Herlambang dan Hidayat sama-sama tidak mengetahui apa yang sedang terjadi di Balai Desa.
Herlambang sedang membantu ibunya memperbaiki lampu minyak.
Hidayat masih menyusun catatan hasil pemeriksaan sawah.
Keduanya percaya bahwa pekerjaan yang mereka lakukan akan membawa kebaikan bagi desa.
Mereka tidak menyadari bahwa seseorang sedang menyiapkan jebakan yang akan menguji bukan hanya kejujuran mereka.
Tetapi juga kekuatan persahabatan yang selama ini tumbuh di antara mereka.
Sementara itu, Anjelina menutup taman baca lebih awal.
Sebelum tidur, ia kembali membaca sebuah kalimat yang ditempel di dinding ruang baca.
"Sahabat sejati bukanlah mereka yang tidak pernah berbeda pendapat, melainkan mereka yang tetap memilih saling percaya ketika dunia mulai menebarkan keraguan."
Anjelina tersenyum kecil.
Ia berharap kalimat itu akan selalu menjadi kenyataan.
Namun takdir sedang menulis kisah yang berbeda.
Dan fajar esok hari akan menjadi awal dari retakan pertama yang perlahan menguji persahabatan dua lelaki yang sama-sama ia hormati.
Matahari baru saja terbit ketika Sekretaris Desa membuka ruang arsip Balai Desa.
Seperti biasa, ia memeriksa map-map yang semalam digunakan untuk mencocokkan data tanah.
Namun baru beberapa menit berada di dalam ruangan, wajahnya berubah.
"Pak Kades...!"
teriaknya dari dalam.
Kepala Desa yang sedang berbincang dengan Ketua BPD segera bergegas masuk.
"Ada apa?"
Sekretaris Desa menunjuk sebuah map berwarna cokelat yang terbuka di atas meja.
"Dokumen ini..."
"...semalam tidak ada."
Semua yang berada di ruangan saling berpandangan.
Di atas meja tampak selembar salinan peta tanah dengan beberapa garis batas yang berbeda dari dokumen resmi yang tersimpan selama ini.
Tak lama kemudian, Hidayat dan Herlambang dipanggil ke Balai Desa.
"Lambang."
"Dayat."
"Kalian berdua terakhir bekerja di ruang arsip ini."
kata Kepala Desa dengan tenang.
"Apakah ada yang kembali ke ruangan ini setelah kalian pulang?"
Herlambang menggeleng.
"Tidak, Pak."
"Kami pulang hampir bersamaan."
Hidayat mengangguk.
"Pintu juga sudah kami kunci."
Sekretaris Desa kemudian memperlihatkan dokumen yang baru ditemukan.
"Kalian pernah melihat berkas ini?"
Keduanya mengamati dengan saksama.
Herlambang langsung mengernyitkan dahi.
"Aneh."
"Apa?"
"Jenis kertasnya berbeda."
Hidayat ikut memperhatikan.
"Benar."
"Cap administrasinya juga tampak lebih baru."
Keduanya sepakat bahwa dokumen itu bukan bagian dari arsip lama.
Namun siapa yang meletakkannya?
Belum ada yang mengetahui.
Ketika pemeriksaan masih berlangsung, Pak Sastro tiba-tiba mengambil sesuatu dari bawah meja.
"Ini milik siapa?"
Semua menoleh.
Di tangannya terdapat sebuah pembatas buku dari anyaman daun pandan.
Herlambang terkejut.
"Itu milikku."
"Kapan jatuh?"
"Aku tidak tahu."
Ruangan mendadak sunyi.
Beberapa warga yang ikut menyaksikan mulai saling berbisik.
"Berarti semalam Herlambang kembali ke sini?"
"Belum tentu."
"Mungkin pembatasnya tertinggal."
Bisikan itu semakin banyak.
Herlambang tetap berdiri tenang.
Namun ia dapat merasakan arah pandangan sebagian warga mulai berubah.
Kepala Desa segera mengangkat tangan.
"Cukup."
"Jangan ada yang mengambil kesimpulan."
"Barang yang tertinggal bukan berarti seseorang bersalah."
Beliau kemudian menoleh kepada Herlambang.
"Lambang."
"Apakah pembatas buku ini memang milikmu?"
"Iya, Pak."
"Sepertinya tanpa sengaja tertinggal kemarin sore."
"Baik."
"Tidak ada yang perlu disembunyikan."
Jawaban itu disampaikan dengan tenang.
Namun keraguan telanjur menyelinap ke hati sebagian orang.
Setelah rapat selesai, Hidayat menghampiri Herlambang.
"Lambang."
"Iya."
"Aku percaya kau tidak melakukan apa pun."
Herlambang tersenyum tipis.
"Terima kasih."
"Tapi..."
Hidayat berhenti sejenak.
"Sebagai orang yang ikut menangani arsip..."
"...aku juga harus membantu memastikan semuanya jelas."
Herlambang mengangguk tanpa ragu.
"Itu memang tugasmu."
"Kalau aku di posisimu..."
"...aku juga akan melakukan hal yang sama."
Jawaban itu membuat Hidayat sedikit lega.
Namun di dalam hatinya muncul kegelisahan baru.
Bagaimana jika penyelidikan justru semakin menyeret nama sahabatnya?
Sore harinya, kabar tentang ditemukannya dokumen misterius mulai menyebar ke seluruh desa.
Versinya bermacam-macam.
Ada yang mengatakan arsip desa telah diubah.
Ada yang mengatakan ada orang yang ingin menguasai tanah adat.
Bahkan ada yang mulai mengaitkan peristiwa itu dengan kebakaran di tengah sawah.
Pak Darto yang mendengar berbagai cerita itu hanya menghela napas.
"Fitnah memang tidak pernah berjalan sendirian."
"Setelah satu kebohongan lahir..."
"...kebohongan lain akan datang mengikutinya."
Di taman baca, Anjelina merasakan suasana yang berbeda.
Beberapa ibu yang biasanya berbincang santai kini terdengar membahas Balai Desa.
"Lambang itu orang baik."
"Tapi kalau memang terbukti bagaimana?"
"Jangan asal bicara."
"Belum ada buktinya."
Anjelina menghentikan langkahnya.
Dadanya terasa sesak.
Ia mengenal Herlambang sejak kecil.
Ia juga mengenal Hidayat sebagai pribadi yang jujur.
Ia percaya keduanya tidak mungkin bermain-main dengan dokumen desa.
Tetapi semakin banyak orang berbicara, semakin sulit membendung prasangka.
Menjelang malam, Ki Waskita memanggil Herlambang ke rumahnya.
"Lambang."
"Iya, Ki."
"Apakah kau mulai marah?"
Herlambang tersenyum pahit.
"Sedikit."
"Bukan karena dituduh."
"Lalu?"
"Karena orang lebih mudah mempercayai benda yang tertinggal..."
"...daripada mengenang puluhan tahun kejujuran seseorang."
Ki Waskita menatapnya dengan penuh kebijaksanaan.
"Itulah sebabnya..."
"...nama baik dibangun bertahun-tahun."
"Tetapi dapat diguncang hanya dalam satu hari."
Beliau kemudian mengambil cangkir teh dan meletakkannya di hadapan Herlambang.
"Minumlah."
"Jangan biarkan kemarahan membuatmu kehilangan kejernihan."
Pada waktu yang sama, Hidayat masih berada di Balai Desa.
Ia memeriksa kembali seluruh dokumen seorang diri.
Ketika hendak menutup map terakhir, ia menemukan secarik sobekan kertas yang terselip di antara lembar arsip.
Sobekan itu terlalu kecil untuk dibaca utuh.
Namun masih tampak beberapa kata yang tersisa.
"...malam..."
"...jendela..."
"...jangan sampai..."
Hidayat memandang sobekan itu dengan wajah serius.
Ini bukan bagian dari dokumen resmi.
Seseorang pasti meninggalkannya.
Ia menyimpannya dengan hati-hati di dalam buku catatannya.
Di luar Balai Desa, angin malam kembali bertiup pelan.
Seseorang yang bersembunyi di balik pohon mahoni memperhatikan cahaya lampu ruang arsip.
Melihat Hidayat masih bekerja, orang itu berbalik dan pergi.
Rencananya belum berhasil sepenuhnya.
Namun ia tahu, benih keraguan telah mulai tumbuh.
Dan terkadang, retaknya sebuah persahabatan tidak dimulai oleh pertengkaran.
Melainkan oleh keraguan kecil yang dibiarkan hidup terlalu lama.
Pagi itu langit Desa Arum Sari tampak kelabu.
Mendung menggantung rendah seolah ikut memikul beban yang sedang dirasakan seluruh desa.
Di Balai Desa, pemeriksaan terhadap dokumen tanah kembali dilanjutkan.
Kepala Desa meminta semua pihak tetap tenang.
"Tidak boleh ada yang menyebarkan dugaan."
"Semua harus berdasarkan bukti."
Namun di luar Balai Desa, keadaan tidak semudah yang diharapkan.
Di warung kopi Pak Karim, beberapa warga mulai memperbincangkan hasil pemeriksaan.
"Aku dengar ada dokumen palsu."
"Iya."
"Katanya ditemukan setelah Herlambang dan Hidayat bekerja di ruang arsip."
"Kalau begitu..."
"...salah satu dari mereka pasti tahu."
Pak Darto yang sedang menikmati kopi langsung menoleh.
"Jangan asal bicara."
"Kalau belum ada bukti, jangan merusak nama orang."
Suasana warung mendadak sunyi.
Tetapi setelah Pak Darto pergi, bisikan itu kembali terdengar.
Fitnah memang tidak membutuhkan suara keras.
Ia cukup berbisik untuk mengubah cara pandang seseorang.
Sementara itu, Hidayat menerima tugas dari Kepala Desa.
"Dayat."
"Iya, Pak."
"Kau yang paling memahami arsip digital."
"Tolong cocokkan semua dokumen lama dengan salinan yang ada."
"Baik, Pak."
Hidayat menerima tugas itu dengan berat hati.
Ia tahu, apa pun hasil pemeriksaannya nanti, masyarakat akan menganggapnya berpihak kepada salah satu pihak.
Jika ia menemukan kesalahan, ia akan dianggap mengkhianati sahabatnya.
Jika ia tidak menemukan apa-apa, ia akan dicurigai menutup-nutupi.
Menjelang siang, Herlambang datang ke Balai Desa membawa beberapa catatan dari Ki Waskita.
Ia melihat Hidayat sedang memeriksa dokumen seorang diri.
"Lagi bekerja?"
tanya Herlambang sambil tersenyum.
"Iya."
"Masih banyak yang harus dicocokkan."
Herlambang meletakkan catatan di atas meja.
"Semoga ini bisa membantu."
"Terima kasih."
Sesaat keduanya saling diam.
Suasana yang biasanya hangat kini terasa canggung.
Bukan karena mereka saling membenci.
Tetapi karena masing-masing mulai berhati-hati dalam setiap ucapan.
Mereka sama-sama takut perkataan yang salah justru akan memperkeruh keadaan.
Hidayat membuka salah satu map.
"Lambang."
"Iya?"
"Aku harus bertanya."
"Tanyakan saja."
"Semalam sebelum kita pulang..."
"...apa kau sempat kembali ke ruang arsip?"
Herlambang menggeleng tanpa ragu.
"Tidak."
"Aku langsung pulang."
Hidayat mengangguk pelan.
"Aku percaya."
Herlambang tersenyum tipis.
"Tetapi?"
Hidayat menundukkan kepala.
"Sebagai petugas yang memeriksa arsip..."
"...aku tetap harus menanyakan itu."
Jawaban tersebut terdengar wajar.
Sangat profesional.
Namun entah mengapa, untuk pertama kalinya Herlambang merasakan ada jarak yang tidak pernah ada sebelumnya.
Bukan karena Hidayat menuduhnya.
Melainkan karena keadaan memaksa sahabatnya bersikap seperti seorang pemeriksa.
Saat Herlambang keluar dari Balai Desa, dua orang warga yang berdiri di halaman menghentikan pembicaraan mereka.
Tatapan mereka berbeda.
Tidak lagi sehangat biasanya.
Herlambang memahami arti tatapan itu.
Ia memilih terus berjalan.
Namun setiap langkah terasa lebih berat daripada kemarin.
Di taman baca, Anjelina melihat perubahan yang sama.
Anak-anak tetap datang belajar.
Tetapi para orang tua mulai berbicara dengan suara yang lebih pelan.
Beberapa kali ia mendengar nama Herlambang dan Hidayat disebut dalam percakapan mereka.
Ia tidak ikut menanggapi.
Namun kegelisahan mulai memenuhi hatinya.
Sore itu, setelah kegiatan selesai, ia memutuskan mendatangi Ki Waskita.
"Ki."
"Iya, Lina."
"Apa benar mereka sedang bertengkar?"
Ki Waskita tersenyum tipis.
"Belum."
"Lalu kenapa semua orang berkata begitu?"
"Karena manusia sering melihat bayangan sebelum melihat kenyataan."
Anjelina menarik napas lega.
"Tapi..."
lanjut Ki Waskita,
"...kalau bayangan itu terus dibiarkan tumbuh..."
"...suatu hari orang akan menganggapnya sebagai kenyataan."
Kalimat itu membuat Anjelina terdiam.
Malam harinya, Hidayat duduk sendiri di ruang arsip.
Ia kembali membaca sobekan kertas yang ditemukan semalam.
Pikirannya terus bekerja.
Semua petunjuk yang ada justru mengarah pada kesimpulan yang berbeda.
Semakin ia menyelidiki, semakin ia yakin bahwa ada seseorang yang sengaja mengatur semua ini.
Tetapi siapa?
Belum ada jawaban.
Saat hendak mematikan lampu, ia mendengar suara langkah kaki di luar jendela.
Hidayat segera membuka pintu dan berlari keluar.
"Siapa di sana?"
Tidak ada jawaban.
Hanya bayangan seseorang yang menghilang di balik pepohonan menuju jalan lama di utara desa.
Hidayat mengejar beberapa meter.
Namun orang itu lenyap ditelan gelap malam.
Di tempat lain, Herlambang duduk sendirian di bawah pohon trembesi.
Tempat yang dahulu menjadi saksi tumbuhnya persahabatan dan cintanya.
Ia memandang langit tanpa bintang.
Dalam hati ia berbisik,
"Aku percaya pada Hidayat."
"Tetapi apakah keadaan akan terus mengizinkan kami saling percaya?"
Angin malam berembus perlahan.
Daun-daun trembesi berguguran satu demi satu.
Seolah memberi isyarat bahwa musim sedang berubah.
Dan bersama perubahan musim itu, hubungan yang selama ini dibangun dengan ketulusan mulai diguncang oleh keraguan.
Belum ada pertengkaran.
Belum ada kata-kata kasar.
Namun retakan pertama telah muncul.
Bukan di antara dua sahabat itu.
Melainkan di dalam hati mereka masing-masing.
Seseorang dari balik bayang-bayang tersenyum puas.
Rencananya mulai berjalan.
Ia belum berhasil memisahkan Herlambang dan Hidayat.
Tetapi ia telah berhasil membuat keduanya berjalan dengan langkah yang tidak lagi seirama.
Dan ia tahu, bila keraguan terus dipelihara, maka pada waktunya akan lahir sesuatu yang jauh lebih menyakitkan.
Sebuah pengkhianatan.
BAB XVI – Pengkhianatan
Pagi itu Desa Arum Sari terbangun dengan kabar yang membuat seluruh warga terkejut.
Bukan tentang kebakaran.
Bukan pula tentang sengketa tanah.
Melainkan tentang sebuah dokumen penting yang tiba-tiba hilang dari Balai Desa.
Dokumen yang selama beberapa minggu terakhir menjadi bagian utama dalam penyusunan ulang data tanah desa.
Dan yang paling mengejutkan...
dokumen itu terakhir berada dalam tanggung jawab orang yang selama ini dipercaya oleh masyarakat.
Suasana Balai Desa kembali ramai.
Kepala Desa berdiri di depan meja arsip dengan wajah serius.
"Apa benar dokumen ini hilang?"
tanyanya.
Sekretaris Desa mengangguk.
"Iya, Pak."
"Kemarin sore masih ada."
"Semalam saya periksa kembali, sudah tidak ditemukan."
Ketua BPD menghela napas.
"Kita harus hati-hati."
"Jangan sampai kejadian ini membuat kita menuduh orang tanpa dasar."
Semua mengangguk.
Namun di luar ruangan, kabar sudah mulai menyebar.
Dan seperti biasa...
setiap orang membawa cerita masing-masing.
Hidayat datang dengan langkah cepat.
"Apa yang terjadi?"
Sekretaris Desa menjelaskan.
"Dokumen batas tanah lama hilang."
Hidayat terdiam.
Dokumen itu adalah salah satu berkas yang ia periksa beberapa hari terakhir.
Ia merasa bertanggung jawab.
"Saya akan membantu mencarinya."
kata Hidayat.
Namun sebelum ia bergerak, seseorang berkata dari belakang.
"Tunggu."
Semua menoleh.
Seorang warga bernama Pak Jatmiko berdiri di pintu.
"Ada sesuatu yang harus diketahui."
"Apa?"
tanya Kepala Desa.
Pak Jatmiko menarik napas.
"Semalam saya melihat seseorang keluar dari Balai Desa."
Ruangan menjadi sunyi.
"Siapa?"
"Seorang laki-laki."
"Siapa orangnya?"
Pak Jatmiko ragu.
Kemudian matanya tertuju kepada Herlambang yang baru saja masuk.
"Saya tidak yakin..."
"...tetapi orang itu memakai jaket seperti milik Herlambang."
Semua mata tertuju kepada Herlambang.
Beberapa warga mulai berbisik.
Herlambang berdiri diam.
Wajahnya menunjukkan keterkejutan.
"Saya?"
"Iya, Lambang."
kata Pak Jatmiko pelan.
"Tapi saya tidak mengatakan itu pasti kamu."
"Karena saya hanya melihat dari jauh."
Herlambang menarik napas.
"Aku semalam berada di rumah."
Ibunya yang hadir mengangguk.
"Benar."
"Sejak magrib sampai pagi, Lambang di rumah."
Namun benih keraguan kembali muncul.
Hidayat melihat wajah sahabatnya.
Ada rasa ingin membela.
Namun ada pula tanggung jawab yang harus ia jalankan.
"Lambang..."
katanya pelan.
"Aku percaya padamu."
"Tapi kita harus mencari tahu siapa yang mengambil dokumen itu."
Herlambang menatapnya.
Kalimat itu sebenarnya masuk akal.
Namun setelah beberapa hari penuh tekanan, ia mulai merasa lelah.
"Jadi sekarang..."
"...aku juga harus membuktikan bahwa aku tidak bersalah?"
Suasana menjadi hening.
Hidayat terdiam.
Ia tidak bermaksud menyakiti.
Tetapi kalimat itu sudah terlanjur keluar.
Sore harinya, Anjelina mendengar kabar tersebut.
Ia langsung menemui Herlambang.
"Lambang."
"Iya?"
"Benarkah dokumen itu hilang?"
"Iya."
"Dan mereka mencurigaimu?"
Herlambang tersenyum pahit.
"Belum ada yang mengatakan aku pelakunya."
"Tapi terkadang..."
"...tatapan orang sudah lebih dulu memberikan hukuman."
Anjelina terdiam.
Ia tahu Herlambang sedang terluka.
Bukan karena tuduhan.
Tetapi karena kepercayaan yang mulai goyah.
Di sisi lain, Hidayat juga sedang menghadapi tekanan.
Kepala Desa memanggilnya secara pribadi.
"Dayat."
"Iya, Pak."
"Kau orang yang paling memahami dokumen ini."
"Ya, Pak."
"Kalau memang ada yang mengambil..."
"...orang itu kemungkinan tahu sistem penyimpanan arsip."
Hidayat mengangguk.
"Artinya orang tersebut bukan orang sembarangan."
"Benar."
Kepala Desa menatapnya serius.
"Termasuk orang yang dekat dengan kita."
Kalimat itu membuat Hidayat terdiam.
Malam itu, seseorang berjalan menuju rumah kosong di pinggir desa.
Rumah tua yang sudah lama tidak ditempati.
Di tangannya terdapat sebuah map.
Ia membuka pintu perlahan.
Di dalam rumah itu sudah ada seseorang yang menunggu.
"Apakah berhasil?"
tanya suara itu.
"Iya."
"Dokumen sudah tidak ada di Balai Desa."
"Bagus."
"Lalu bagaimana dengan Herlambang?"
"Benihnya sudah tumbuh."
"Dia mulai dijauhi."
Seseorang itu tersenyum.
"Bagus."
"Biarkan mereka saling mencurigai."
"Ketika dua orang yang kuat mulai kehilangan kepercayaan..."
"...desa ini akan mudah dikendalikan."
Namun orang yang membawa map itu tampak ragu.
"Apakah tidak terlalu jauh?"
"Apa maksudmu?"
"Bagaimanapun..."
"...Herlambang dan Hidayat bukan orang jahat."
Suasana menjadi dingin.
Orang yang lebih berkuasa itu menatap tajam.
"Kalau ingin hidup tenang..."
"...jangan terlalu banyak bertanya."
Orang itu terdiam.
Baru saat itulah ia sadar.
Ia telah melakukan sesuatu yang tidak mudah untuk diperbaiki.
Ia telah membantu sebuah rencana yang dapat menghancurkan banyak orang.
Di bawah pohon trembesi, Herlambang kembali duduk sendirian.
Tempat yang dulu menjadi simbol janji dan persahabatan.
Kini terasa berbeda.
Ia memandang langit malam.
"Apakah kepercayaan memang semudah itu hilang?"
gumamnya.
Sementara itu, Hidayat menatap dokumen-dokumen di meja kerjanya.
Ia juga merasa kehilangan sesuatu.
Bukan dokumen.
Melainkan ketenangan hubungan dengan sahabat yang selama ini ia anggap seperti saudara.
Dan di antara dua sahabat itu...
ada sebuah luka kecil yang mulai terbuka.
Luka yang belum menjadi kebencian.
Namun jika dibiarkan...
dapat berubah menjadi kehancuran.
Karena pengkhianatan terbesar bukan selalu dilakukan oleh musuh.
Kadang...
ia datang dari seseorang yang pernah dipercaya.
Pagi itu, Desa Arum Sari kembali diguyur hujan.
Bukan hujan deras yang menimbulkan banjir.
Melainkan hujan kecil yang turun perlahan, membasahi jalan tanah dan membuat suasana desa terasa semakin sunyi.
Namun di balik ketenangan itu, badai lain sedang terjadi.
Badai dalam hubungan manusia.
Di Balai Desa, penyelidikan hilangnya dokumen tanah terus dilakukan.
Kepala Desa meminta semua pihak yang terlibat dalam pengelolaan arsip memberikan keterangan.
Satu per satu dipanggil.
Termasuk Hidayat.
Termasuk Herlambang.
Namun yang paling membuat suasana tegang adalah ketika nama seseorang yang selama ini membantu administrasi desa mulai disebut.
"Pak..."
kata Sekretaris Desa dengan suara pelan.
"Ada kejanggalan dalam catatan peminjaman arsip."
"Apa maksudnya?"
"Kemarin sore ada permintaan membuka ruang arsip."
"Siapa yang meminta?"
Sekretaris Desa membuka buku catatan.
"Atas nama..."
Ia berhenti sejenak.
"...Sukardi."
Semua saling berpandangan.
Sukardi adalah salah satu staf pembantu administrasi desa.
Ia dikenal sebagai orang yang rajin.
Pendiam.
Dan selama ini dipercaya membantu pekerjaan kantor.
Ketika namanya disebut, beberapa warga terkejut.
"Tidak mungkin."
"Pak Sukardi orang baik."
"Dia sudah lama membantu desa."
Namun Kepala Desa tidak langsung menyimpulkan.
"Kita tetap harus memanggil yang bersangkutan."
Siang itu Sukardi datang ke Balai Desa dengan wajah pucat.
Ia duduk di hadapan Kepala Desa.
"Pak Sukardi."
"Iya, Pak."
"Apakah benar kemarin Anda membuka ruang arsip?"
Sukardi menunduk.
"Iya."
"Untuk apa?"
"Saya..."
Ia terdiam.
Ruangan menjadi sunyi.
Hidayat memperhatikan wajahnya.
Ada sesuatu yang disembunyikan.
Akhirnya Sukardi berkata pelan,
"Saya hanya diminta mengambil satu berkas."
"Siapa yang meminta?"
Sukardi kembali diam.
Kepala Desa memperingatkan,
"Pak Sukardi."
"Ini bukan persoalan kecil."
"Kejujuran Anda bisa menyelamatkan banyak orang."
Sukardi menarik napas panjang.
Namun sebelum menjawab, ia melihat ke arah jendela.
Seolah takut ada seseorang yang mengawasinya.
"Saya..."
"...tidak bisa menyebut namanya."
Suasana langsung berubah.
Herlambang mengepalkan tangannya.
"Bapak tahu akibat dari perbuatan ini?"
Sukardi menunduk.
"Saya tahu."
"Dan saya menyesal."
Hidayat memandangnya.
"Kalau menyesal..."
"...kenapa masih diam?"
Sukardi tidak menjawab.
Karena ketakutan telah mengalahkan keberaniannya.
Setelah pemeriksaan selesai, Hidayat menemui Herlambang di halaman Balai Desa.
"Lambang."
"Iya."
"Aku minta maaf."
Herlambang menatapnya.
"Untuk apa?"
"Karena mungkin sikapku beberapa hari ini membuatmu merasa aku tidak percaya."
Herlambang terdiam.
"Aku tahu kau hanya menjalankan tugas."
"Tapi..."
ia berhenti sejenak.
"Kadang seseorang tidak terluka karena dituduh."
"Lalu karena apa?"
"Karena orang yang ia harapkan berdiri di sampingnya..."
"...terlihat ragu."
Hidayat menunduk.
Kalimat itu terasa menusuk.
Karena ia tahu, tanpa sengaja ia telah membuat sahabatnya merasa sendirian.
Namun sebelum percakapan mereka selesai, seorang warga datang membawa kabar baru.
"Pak Kepala Desa meminta semua berkumpul."
"Ada apa?"
"Surat tanah yang hilang ditemukan."
Mereka berdua terkejut.
"Di mana?"
"Di rumah kosong dekat kebun lama."
Semua warga segera menuju lokasi.
Rumah tua itu memang sudah lama tidak digunakan.
Di dalamnya ditemukan beberapa dokumen yang dibungkus plastik.
Termasuk berkas tanah yang hilang.
Namun ada satu hal yang membuat semua orang terdiam.
Di antara dokumen itu terdapat sebuah catatan kecil.
Tulisan tangan di dalamnya berbunyi:
"Jika ingin menguasai tanah, hancurkan dulu orang-orang yang menjaganya."
Ki Waskita membaca tulisan itu.
Wajahnya berubah serius.
"Ini bukan sekadar pencurian dokumen."
"Ini adalah permainan."
Kepala Desa bertanya,
"Permainan siapa?"
Tidak ada yang menjawab.
Karena semua masih mencari kepingan yang hilang.
Namun satu hal mulai jelas.
Sukardi bukanlah pelaku utama.
Ia hanya seseorang yang dipakai.
Sore itu, Anjelina bertemu Sukardi di jalan.
Ia melihat lelaki itu berjalan dengan wajah penuh penyesalan.
"Pak Sukardi."
Sukardi berhenti.
"Maaf, Nak Lina."
"Untuk apa?"
"Saya membuat desa ini gaduh."
Anjelina memandangnya.
"Kenapa Bapak melakukannya?"
Sukardi menunduk.
"Karena saya takut."
"Takut kepada siapa?"
Sukardi ingin menjawab.
Namun ia kembali terdiam.
"Saya hanya bisa mengatakan..."
"...orang yang menyuruh saya bukan orang asing bagi desa ini."
Kalimat itu membuat Anjelina terkejut.
Malam hari, Ki Waskita, Herlambang, dan Hidayat berkumpul di rumah Ki Waskita.
Untuk pertama kalinya setelah beberapa hari penuh ketegangan, mereka duduk bersama.
"Kita sudah salah satu langkah lebih maju."
kata Ki Waskita.
"Tapi jangan lengah."
"Kenapa, Ki?"
"Karena orang yang bermain seperti ini tidak akan berhenti hanya karena satu rencana gagal."
Herlambang memandang Hidayat.
"Aku minta maaf juga."
Hidayat tersenyum kecil.
"Untuk apa?"
"Karena aku sempat membiarkan pikiranku dipengaruhi keadaan."
Hidayat menggeleng.
"Kita sama-sama manusia."
"Kita bisa salah."
Keduanya akhirnya berjabat tangan.
Persahabatan mereka belum kembali sepenuhnya seperti dulu.
Masih ada luka.
Masih ada jarak.
Tetapi kepercayaan mulai tumbuh kembali.
Namun dari kejauhan...
seseorang melihat cahaya rumah Ki Waskita.
Ia melihat Herlambang dan Hidayat kembali bersama.
Wajahnya berubah marah.
"Jadi..."
"mereka belum hancur?"
Tangannya mengepal.
"Kalau begitu..."
"...aku harus menggunakan cara yang lebih besar."
Angin malam bertiup melewati Desa Arum Sari.
Dan tanpa diketahui siapa pun...
pengkhianatan yang terjadi hari itu ternyata bukan akhir.
Melainkan awal dari rencana yang jauh lebih berbahaya.
Malam semakin larut di Desa Arum Sari.
Hujan yang turun sejak sore akhirnya berhenti.
Menyisakan udara dingin dan aroma tanah basah yang memenuhi halaman rumah-rumah warga.
Namun bagi sebagian orang, malam itu bukan waktu untuk beristirahat.
Ada rahasia yang harus dijaga.
Ada kesalahan yang harus dipertanggungjawabkan.
Dan ada rencana yang masih berjalan.
Di rumah Ki Waskita, suasana masih dipenuhi pembicaraan serius.
Herlambang, Hidayat, dan Ki Waskita duduk mengelilingi meja kayu tua.
Di atas meja terletak dokumen tanah yang sebelumnya hilang.
"Kita sudah menemukan berkasnya."
kata Hidayat.
"Tetapi pertanyaannya..."
"...siapa yang memerintahkan semua ini?"
Ki Waskita menghela napas.
"Itulah yang belum kita ketahui."
Herlambang memandang dokumen tersebut.
"Orang itu tidak hanya ingin mengambil tanah."
"Benar."
kata Ki Waskita.
"Ia ingin menghancurkan kepercayaan warga."
Hidayat membuka catatan hasil penyelidikannya.
"Ada beberapa hal yang aneh."
"Apa?"
"Orang yang mengambil dokumen tahu persis letak arsip."
"Dia tahu waktu yang tepat."
"Dan dia tahu cara membuat kecurigaan mengarah kepada seseorang."
Herlambang terdiam.
"Berarti..."
"...orang itu mengenal kebiasaan kita."
Ki Waskita mengangguk.
"Itulah yang membuatnya berbahaya."
Sementara itu, di rumah Sukardi, seorang lelaki duduk termenung di ruang tamu.
Di depannya terdapat secangkir kopi yang sudah dingin.
Istrinya, Bu Rini, memperhatikan wajah suaminya.
"Pak..."
"Iya?"
"Sejak beberapa hari ini Bapak tidak tenang."
Sukardi diam.
"Apa yang sebenarnya terjadi?"
Lelaki itu menundukkan kepala.
"Aku melakukan kesalahan besar."
Bu Rini terkejut.
"Kesalahan apa?"
Sukardi menarik napas panjang.
"Aku membantu seseorang mengambil dokumen desa."
Mata istrinya membesar.
"Kenapa Bapak melakukan itu?"
"Aku..."
Sukardi berhenti.
Air matanya hampir jatuh.
"Karena aku takut."
"Dia mengancam pekerjaan dan keluargaku."
Bu Rini terdiam.
Kini ia memahami mengapa suaminya berubah.
Keesokan paginya, Sukardi kembali datang ke Balai Desa.
Kali ini tanpa dipanggil.
Ia berdiri di depan Kepala Desa.
"Pak."
"Ada yang ingin saya sampaikan."
Semua orang menoleh.
Hidayat dan Herlambang juga berada di ruangan itu.
Sukardi menggenggam tangannya sendiri.
"Saya sudah tidak sanggup menyimpan ini."
Kepala Desa mempersilahkannya duduk.
"Katakan yang sebenarnya."
Sukardi menarik napas panjang.
"Orang yang meminta saya mengambil dokumen..."
"...adalah seseorang yang memiliki kepentingan terhadap tanah desa."
"Siapa?"
Sukardi menutup mata sejenak.
Kemudian berkata pelan,
"Namanya..."
Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba suara keras terdengar dari luar.
"Pak Kepala Desa!"
Seorang warga masuk dengan wajah panik.
"Ada masalah baru."
Semua menoleh.
"Apa?"
"Beberapa warga mulai berkumpul di tanah utara."
"Mereka membawa alat pertanian."
"Mereka mengatakan tanah itu akan segera diambil alih."
Suasana berubah.
Perhatian semua orang teralihkan.
Kepala Desa segera keluar bersama warga.
Di tanah utara desa, puluhan orang sudah berkumpul.
Sebagian membawa cangkul.
Sebagian membawa papan kayu bertuliskan tuntutan.
"Kami ingin kejelasan!"
"Kami tidak mau tanah kami dirampas!"
Teriakan mulai terdengar.
Herlambang melihat keadaan itu dengan prihatin.
"Ini yang mereka inginkan."
kata Ki Waskita pelan.
"Membuat warga saling berhadapan."
Di tengah kerumunan, Hidayat melihat seseorang berdiri jauh di belakang.
Orang itu memakai pakaian gelap.
Ketika menyadari diperhatikan, ia segera pergi.
Hidayat mencoba mengejar.
Namun lagi-lagi orang itu berhasil menghilang.
Sore menjelang.
Keributan berhasil diredakan.
Namun masalah baru telah muncul.
Kepercayaan warga kembali terguncang.
Di rumahnya, Anjelina mendengar semua kabar itu.
Ia duduk bersama ibunya.
"Bu..."
"Iya, Lina?"
"Kenapa orang bisa tega melakukan semua ini?"
Bu Sulastri memandang putrinya.
"Karena manusia kadang kehilangan batas ketika mengejar sesuatu."
"Apa pun itu?"
"Ya."
"Termasuk kekuasaan."
Anjelina terdiam.
Ia teringat semua kejadian beberapa minggu terakhir.
Kebakaran.
Dokumen hilang.
Persahabatan yang hampir retak.
Dan sekarang warga mulai terpecah.
Malam itu, Sukardi datang diam-diam ke rumah Ki Waskita.
"Lambang."
"Hidayat."
"Aku harus mengatakan sesuatu."
Mereka mempersilahkannya masuk.
Sukardi duduk dengan wajah penuh penyesalan.
"Saya tahu siapa yang berada di balik semua ini."
Semua terdiam.
"Siapa?"
Sukardi menatap mereka.
"Seseorang yang selama ini..."
"...tidak pernah kalian curigai."
Ruangan menjadi hening.
"Dia..."
Sukardi belum sempat menyebut nama.
Tiba-tiba terdengar suara benda jatuh dari luar rumah.
Semua terkejut.
Herlambang segera keluar.
Namun tidak ada siapa-siapa.
Hanya ada selembar kertas kecil di tanah.
Di atasnya tertulis:
"Berhenti mencari, atau orang-orang yang kalian sayangi akan kehilangan lebih banyak."
Herlambang menggenggam kertas itu.
Wajahnya berubah serius.
Hidayat membaca tulisan tersebut.
Sementara Ki Waskita memejamkan mata.
Beliau tahu.
Permainan ini telah memasuki tahap yang lebih berbahaya.
Bukan lagi hanya tentang tanah.
Bukan lagi hanya tentang desa.
Kini seseorang mulai mengancam keluarga dan orang-orang yang mereka cintai.
Di rumahnya, Anjelina memandang keluar jendela.
Ia tidak mengetahui bahwa namanya telah masuk dalam daftar orang-orang yang akan terkena dampak dari konflik ini.
Ia hanya tahu satu hal.
Desa Arum Sari yang dulu penuh kedamaian...
kini perlahan berubah.
Dan di tengah perubahan itu, ia mulai memahami bahwa cinta, persahabatan, dan keluarga...
semuanya sedang diuji oleh sebuah pengkhianatan besar.
BAB XVII – Air Mata Seorang Ibu
Pagi itu Desa Arum Sari terasa berbeda.
Tidak ada lagi suara canda para petani yang biasanya terdengar dari pematang sawah.
Tidak ada lagi obrolan ringan para ibu yang berkumpul di depan rumah sambil menjemur hasil kebun.
Semua seperti menahan sesuatu.
Sesuatu yang tidak terlihat, tetapi terasa berat.
Konflik yang awalnya hanya tentang tanah dan dokumen desa, kini mulai menyentuh kehidupan keluarga.
Dan seperti biasa...
orang pertama yang paling merasakan dampaknya adalah seorang ibu.
Di rumah sederhana di ujung desa, Bu Sulastri duduk sendirian di dapur.
Tangannya sibuk membersihkan sayuran.
Namun pikirannya tidak berada di sana.
Sejak beberapa minggu terakhir, ia melihat perubahan pada anaknya.
Anjelina yang biasanya ceria kini lebih sering diam.
Pulang dari taman baca, ia tidak langsung bercerita seperti dulu.
Ada kegelisahan yang disimpan.
Ada kesedihan yang ditahan.
Sebagai seorang ibu, Bu Sulastri mampu merasakannya.
"Lina..."
panggilnya pelan.
"Iya, Bu?"
"Kau baik-baik saja?"
Anjelina tersenyum.
"Baik, Bu."
Namun seorang ibu tahu.
Terkadang senyum seorang anak justru menjadi cara untuk menyembunyikan luka.
Malam sebelumnya, Anjelina baru saja bercerita tentang keadaan desa.
Tentang Herlambang yang sempat dicurigai.
Tentang Hidayat yang berada di posisi sulit.
Tentang warga yang mulai saling mencurigai.
Bu Sulastri hanya mendengarkan.
Ia tidak langsung memberi nasihat.
Karena ia tahu, ada saatnya seorang anak tidak membutuhkan jawaban.
Ia hanya membutuhkan tempat untuk mencurahkan beban.
"Lina."
"Iya, Bu."
"Dulu ketika ayahmu masih hidup..."
Anjelina menoleh.
"Ibu pernah melihat dia berada dalam keadaan sulit."
"Benarkah?"
Bu Sulastri mengangguk.
"Waktu itu ayahmu dituduh mengambil keputusan yang merugikan warga."
"Apa yang ayah lakukan?"
"Dia tidak melawan dengan kemarahan."
"Lalu?"
"Dia mencari kebenaran."
"Dan menunggu waktu membuktikan."
Anjelina terdiam.
Ia mengenal ayahnya hanya melalui cerita.
Namun setiap cerita tentang ayahnya selalu menjadi pelajaran.
Di tempat lain, Herlambang juga sedang menghadapi ibunya.
Bu Marni memperhatikan wajah anaknya yang semakin jarang tersenyum.
"Lambang."
"Iya, Bu."
"Kamu sedang terluka?"
Herlambang mencoba tersenyum.
"Tidak, Bu."
Bu Marni menggeleng.
"Jangan berbohong kepada ibu."
Herlambang terdiam.
Sejak kecil, ibunya adalah orang yang paling memahami dirinya.
"Aku hanya kecewa."
"Karena dituduh?"
"Bukan."
"Lalu?"
"Karena aku baru sadar..."
"...nama baik yang dibangun bertahun-tahun bisa dipertanyakan hanya karena satu kejadian."
Bu Marni menggenggam tangan anaknya.
"Lambang."
"Orang baik bukan orang yang tidak pernah diuji."
"Orang baik adalah orang yang tetap baik ketika sedang diuji."
Kalimat itu membuat Herlambang menunduk.
Sementara itu, di rumah Hidayat, Haji Mahendra juga melihat perubahan anaknya.
"Kamu terlalu banyak memikirkan masalah desa."
kata ayahnya.
Hidayat tersenyum kecil.
"Aku hanya ingin membantu."
"Ayah tahu."
"Tapi jangan sampai keinginan memperbaiki keadaan membuatmu kehilangan dirimu sendiri."
Hidayat diam.
Ia mulai memahami bahwa konflik desa bukan hanya menguji kecerdasannya.
Tetapi juga hatinya.
Siang hari, kabar buruk kembali datang.
Salah satu keluarga petani yang sebelumnya mendukung penyelesaian sengketa tanah mendapat tekanan dari pihak tertentu.
Mereka diminta memilih.
Bergabung dengan kelompok yang menuntut tanah tersebut.
Atau menghadapi ancaman kehilangan bantuan.
Kabar itu membuat warga semakin resah.
Di Balai Desa, Kepala Desa mengadakan pertemuan.
"Kita tidak boleh membiarkan warga saling menekan."
kata beliau.
"Desa ini dibangun dari kebersamaan."
Namun di antara warga, mulai muncul kelompok-kelompok kecil.
Ada yang percaya kepada pemerintah desa.
Ada yang percaya kepada orang-orang yang membawa isu tanah.
Ada pula yang memilih diam karena takut.
Sore itu, Anjelina pulang melewati jalan sawah.
Di tengah perjalanan, ia melihat seorang ibu tua duduk menangis di pinggir jalan.
Anjelina menghampirinya.
"Ibu..."
"Ada apa?"
Ibu itu mengusap air matanya.
"Tanah yang selama ini kami garap..."
"...katanya akan diambil."
Anjelina duduk di sampingnya.
"Ibu jangan takut."
"Tapi kami orang kecil, Nak."
"Kami tidak punya kekuatan."
Kalimat itu membuat hati Anjelina tersentuh.
Ia sadar.
Di balik semua persoalan besar tentang tanah, dokumen, dan kekuasaan...
ada manusia kecil yang hanya ingin hidup tenang.
Malam itu, Anjelina kembali duduk bersama ibunya.
"Bu..."
"Iya?"
"Aku baru sadar."
"Sadar apa?"
"Selama ini aku melihat masalah desa dari jauh."
"Tapi ternyata..."
"...yang paling terluka adalah keluarga-keluarga kecil."
Bu Sulastri mengangguk.
"Itulah sebabnya seorang pemimpin harus memiliki hati."
"Karena keputusan bukan hanya angka di atas kertas."
"Tapi menyangkut kehidupan manusia."
Malam semakin larut.
Di rumah masing-masing, tiga ibu memandang anak mereka dengan perasaan yang sama.
Bu Sulastri mendoakan Anjelina.
Bu Marni mendoakan Herlambang.
Dan keluarga Hidayat mendoakan agar ia tetap kuat.
Mereka semua memahami satu hal.
Anak-anak mereka sedang berada di jalan yang penuh ujian.
Namun seorang ibu selalu memiliki kekuatan yang tidak terlihat.
Doa.
Kesabaran.
Dan cinta yang tidak pernah meminta balasan.
Karena sebelum seorang anak belajar menghadapi dunia...
ia terlebih dahulu belajar arti keteguhan dari air mata seorang ibu.
Pagi itu, suara burung masih terdengar seperti biasa di Desa Arum Sari.
Namun bagi keluarga-keluarga yang terdampak konflik, tidak ada lagi pagi yang benar-benar tenang.
Setiap kabar yang datang terasa seperti membawa kemungkinan baru.
Kemungkinan kehilangan tanah.
Kehilangan kepercayaan.
Bahkan kehilangan orang-orang yang selama ini mereka sayangi.
Di rumah Bu Sulastri, Anjelina sedang menyiapkan sarapan ketika seorang tetangga datang dengan wajah cemas.
"Bu Lastri..."
"Iya, Bu Minah?"
"Ada kabar kurang baik."
Anjelina yang mendengar itu langsung menghentikan pekerjaannya.
"Ada apa?"
Bu Minah duduk perlahan.
"Beberapa orang mulai membicarakan keluargamu."
Bu Sulastri mengernyitkan dahi.
"Membicarakan apa?"
"Mereka mengatakan taman baca yang dibuat Anjelina hanya untuk mencari dukungan warga."
Anjelina terdiam.
Kalimat itu terasa seperti pukulan.
Selama ini taman baca bukanlah alat untuk kepentingan apa pun.
Ia hanya ingin anak-anak desa memiliki ruang belajar.
Bu Sulastri menatap putrinya.
"Lina."
"Iya, Bu."
"Jangan biarkan kata-kata orang mengubah niat baikmu."
"Tapi kenapa mereka tega, Bu?"
Bu Sulastri tersenyum sedih.
"Karena ketika seseorang tidak mampu menyerang kebenaran..."
"...mereka sering mencoba menyerang orangnya."
Anjelina menunduk.
Untuk pertama kalinya ia merasakan bagaimana rasanya ketika niat baik dipertanyakan.
Di Balai Desa, Hidayat menerima laporan serupa.
Beberapa program desa mulai dikaitkan dengan kepentingan tertentu.
Bahkan ada warga yang menuduh bahwa orang-orang yang dekat dengan pemerintah desa sedang memanfaatkan situasi.
Hidayat membaca laporan itu dengan wajah prihatin.
"Lambang harus tahu."
gumamnya.
Namun ketika ia hendak menemui Herlambang, ia berhenti.
Ia teringat hubungan mereka yang baru mulai pulih.
Ia tidak ingin kembali membuat sahabatnya merasa sedang diperiksa.
Sementara itu, Herlambang sedang membantu beberapa petani memperbaiki saluran air.
Seorang petani tua menghampirinya.
"Lambang."
"Iya, Pak?"
"Jangan terlalu memikirkan omongan orang."
Herlambang tersenyum.
"Saya berusaha, Pak."
"Bapak tahu..."
"Dulu ayahmu juga pernah mengalami hal seperti ini."
Herlambang terdiam.
"Ayah saya?"
"Iya."
"Orang-orang pernah meragukannya."
"Lalu bagaimana beliau menghadapi?"
"Beliau berkata..."
Petani itu berhenti sebentar.
"Kalau hati kita bersih, waktu akan menjadi saksi."
Kalimat itu membuat Herlambang teringat nasihat Ki Waskita.
Sore hari, sebuah pertemuan kecil dilakukan di rumah salah satu tokoh masyarakat.
Beberapa warga berkumpul.
Mereka membahas keadaan desa.
Namun tanpa diketahui banyak orang, pertemuan itu bukan hanya membicarakan solusi.
Ada seseorang yang sengaja mengarahkan pembicaraan.
"Kita harus berhati-hati."
"Jangan sampai desa dikuasai oleh orang-orang tertentu."
"Siapa maksudnya?"
"Orang-orang yang sekarang terlalu dekat dengan urusan pemerintahan."
Kalimat itu sengaja dibuat samar.
Tetapi cukup untuk menimbulkan kecurigaan.
Malamnya, Anjelina mendengar kabar bahwa namanya kembali disebut dalam pembicaraan warga.
Ia berjalan menuju rumah Ki Waskita.
"Ki..."
"Iya, Lina."
"Apa saya salah?"
Ki Waskita memandangnya.
"Salah apa?"
"Berusaha membantu desa."
"Kenapa bertanya begitu?"
"Karena sekarang semua yang saya lakukan seperti dianggap memiliki maksud lain."
Ki Waskita tersenyum lembut.
"Lina."
"Orang yang berjalan di jalan benar pun kadang harus melewati jalan penuh batu."
"Tapi apakah batu membuat seseorang berhenti berjalan?"
Anjelina menggeleng.
"Jangan berhenti."
kata Ki Waskita.
"Tetapi ingat."
"Jangan melawan kebencian dengan kebencian."
"Jangan menjawab fitnah dengan fitnah."
Malam semakin larut.
Di rumah, Bu Sulastri menunggu anaknya pulang.
Ketika Anjelina masuk, ia melihat ibunya sedang menangis.
"Bu?"
"Ada apa?"
Bu Sulastri segera menghapus air matanya.
"Tidak apa-apa."
Namun Anjelina tahu ada sesuatu.
"Ibu jangan bohong."
Akhirnya Bu Sulastri menarik napas panjang.
"Tadi ada seseorang datang."
"Siapa?"
"Ia meminta Ibu membujukmu agar berhenti ikut campur dalam persoalan desa."
Anjelina terkejut.
"Mereka mengancam Ibu?"
Bu Sulastri menggeleng.
"Tidak secara langsung."
"Tapi..."
"Ibu bisa merasakan maksudnya."
Anjelina duduk di samping ibunya.
"Maafkan Lina, Bu."
"Kenapa meminta maaf?"
"Karena Ibu ikut terkena masalah karena Lina."
Bu Sulastri langsung memegang tangan putrinya.
"Dengar baik-baik."
"Seorang ibu tidak pernah merasa menjadi beban karena melindungi anaknya."
"Kalau hari ini Ibu menangis..."
"...bukan karena menyesal memiliki anak sepertimu."
"Tapi karena Ibu takut dunia terlalu keras kepadamu."
Air mata Anjelina jatuh.
Ia memeluk ibunya erat.
Di tempat lain, Hidayat menerima kabar bahwa beberapa warga mulai menekan keluarga Herlambang.
Ia segera mencari Herlambang.
Mereka bertemu di bawah pohon trembesi.
"Lambang."
"Iya?"
"Aku mendengar kabar."
"Apa?"
"Keluargamu mulai diseret dalam masalah ini."
Herlambang tersenyum pahit.
"Aku sudah menduga."
Hidayat menatap sahabatnya.
"Aku ingin kau tahu satu hal."
"Apa?"
"Bagaimanapun keadaan nanti..."
"...aku tidak akan membiarkan orang lain menghancurkan persahabatan kita."
Herlambang terdiam.
Untuk pertama kalinya setelah beberapa minggu penuh ketegangan, ia merasakan kembali kehangatan yang pernah hilang.
"Terima kasih, Dayat."
Mereka tidak berkata banyak.
Namun keduanya memahami.
Ada hal-hal yang tidak perlu dijelaskan oleh kata-kata.
Sementara itu, di sebuah tempat tersembunyi, seseorang menerima laporan.
"Anak-anak itu mulai kembali bersatu."
Suara lain menjawab,
"Kalau begitu..."
"...kita harus menyerang bagian yang paling sulit mereka lindungi."
"Apa itu?"
"Orang yang mereka cintai."
Malam itu, Bu Sulastri tidur dengan mata sembab.
Namun sebelum memejamkan mata, ia tetap berdoa.
Bukan untuk kemenangan keluarganya.
Bukan untuk kekalahan orang lain.
Tetapi agar anaknya tetap memiliki hati yang baik meskipun dunia sedang mengujinya.
Karena seorang ibu mungkin tidak mampu menghentikan badai.
Tetapi ia selalu bisa menjadi tempat seorang anak kembali ketika badai itu datang.
Dan di Desa Arum Sari...
badai terbesar belum benar-benar tiba.
Malam itu Desa Arum Sari terasa lebih sunyi daripada biasanya.
Angin berhembus pelan melewati pepohonan di sepanjang jalan desa.
Lampu-lampu rumah mulai padam satu per satu.
Namun di beberapa rumah, tidak ada tidur yang benar-benar nyenyak.
Karena ketika sebuah desa sedang diuji, yang paling berat menanggung beban bukan hanya para pemimpin.
Tetapi keluarga yang berdiri di belakang mereka.
Di rumah Bu Sulastri, Anjelina masih terbangun.
Ia duduk di samping jendela kamar sambil memandang halaman yang gelap.
Pikiran tentang kejadian beberapa hari terakhir terus berputar.
Fitnah.
Ancaman.
Perpecahan warga.
Dan sekarang keluarganya mulai menjadi sasaran.
Ia mencoba kuat.
Tetapi malam itu, hatinya terasa rapuh.
"Belum tidur, Nak?"
Suara ibunya membuat Anjelina menoleh.
"Belum, Bu."
Bu Sulastri duduk di sampingnya.
Untuk beberapa saat mereka hanya diam.
Dua orang perempuan yang sama-sama menyimpan kekhawatiran.
Namun tidak ingin saling menambah beban.
"Lina..."
"Iya, Bu."
"Apakah kamu menyesal?"
Anjelina terdiam.
"Menyesal tentang apa?"
"Terlibat dalam urusan desa."
Anjelina menunduk.
"Kadang Lina takut, Bu."
"Takut kehilangan banyak hal."
Bu Sulastri mengusap kepala anaknya.
"Ketakutan itu wajar."
"Yang tidak boleh adalah membiarkan ketakutan membuat kita berhenti melakukan yang benar."
Air mata Anjelina kembali jatuh.
Di rumah Herlambang, keadaan tidak jauh berbeda.
Bu Marni sedang membuat teh ketika melihat anaknya duduk termenung di ruang depan.
"Lambang."
"Iya, Bu."
"Kamu memikirkan desa?"
Herlambang tersenyum kecil.
"Iya."
"Dan memikirkan Anjelina?"
Herlambang terdiam.
Ibunya tersenyum.
"Sejak kecil ibu tahu."
"Kamu selalu berusaha terlihat kuat."
"Tapi hatimu mudah terluka ketika melihat orang lain menderita."
Herlambang menunduk.
"Bu..."
"Iya?"
"Bagaimana kalau perjuangan ini membuat banyak orang yang aku sayangi terluka?"
Bu Marni mengambil cangkir teh.
"Lambang."
"Seorang manusia tidak pernah bisa menghindari luka dalam hidup."
"Tapi kita bisa memilih luka seperti apa yang pantas kita perjuangkan."
Herlambang memandang ibunya.
"Jangan berjuang karena marah."
"Lalu karena apa?"
"Karena cinta."
Keesokan paginya, kabar baru menyebar.
Kepala Desa menerima surat resmi dari para tokoh adat.
Mereka meminta seluruh persoalan tanah, dokumen desa, dan konflik antarwarga dibawa ke dalam Sidang Adat Desa Arum Sari.
Keputusan itu bukan hal kecil.
Karena dalam adat desa, sidang adat hanya dilakukan ketika persoalan sudah menyentuh keharmonisan masyarakat.
Di Balai Desa, Kepala Desa menyampaikan keputusan itu.
"Kita menghormati adat."
"Karena desa ini berdiri bukan hanya dengan aturan pemerintah."
"Tetapi juga dengan nilai leluhur."
Semua warga mengangguk.
Namun beberapa orang tampak gelisah.
Karena sidang adat berarti semua pihak harus berhadapan secara terbuka.
Tidak lagi bermain dalam bayangan.
Tidak lagi bersembunyi di balik kabar.
Hidayat menemui Herlambang setelah rapat.
"Lambang."
"Iya?"
"Sidang adat bisa menjadi jalan menemukan kebenaran."
"Tapi juga bisa menjadi ujian besar."
Herlambang mengangguk.
"Aku tahu."
"Kita harus siap."
Hidayat menatap sahabatnya.
"Kita hadapi bersama."
Herlambang tersenyum.
"Seperti dulu."
Namun tidak semua orang merasa tenang.
Di sebuah rumah besar di pinggir desa, seseorang membaca surat undangan sidang adat.
Wajahnya berubah.
"Jadi mereka memilih jalan ini..."
Ia meletakkan surat itu perlahan.
"Baik."
"Kalau begitu..."
"...semua rahasia lama harus ikut terbuka."
Malam sebelum sidang adat, Sukardi kembali menemui Ki Waskita.
Kali ini wajahnya terlihat lebih berat.
"Ki..."
"Iya, Sukardi."
"Ada sesuatu yang belum saya katakan."
Ki Waskita menatapnya.
"Apa?"
Sukardi menunduk.
"Saya bukan hanya diminta mengambil dokumen."
"Lalu?"
"Saya juga diminta mencari sesuatu yang tersimpan dalam catatan leluhur."
Mata Ki Waskita berubah serius.
"Apa yang dicari?"
Sukardi menarik napas.
"Catatan asal-usul tanah utara."
Ruangan menjadi hening.
Karena catatan itu bukan sekadar dokumen.
Ia adalah bagian dari sejarah Desa Arum Sari.
Di tempat lain, Anjelina duduk bersama ibunya untuk terakhir kalinya sebelum sidang adat.
"Ibu..."
"Iya, Lina."
"Kalau nanti semua orang menyerang kita..."
Bu Sulastri tersenyum.
"Jangan takut."
"Tapi Ibu..."
"Anak ibu."
Bu Sulastri menggenggam tangannya.
"Air mata seorang ibu bukan tanda kelemahan."
"Air mata adalah doa ketika kata-kata tidak lagi mampu menjelaskan."
Anjelina memeluk ibunya.
Malam itu ia memahami sesuatu.
Perjuangan bukan hanya tentang memenangkan sebuah perkara.
Tetapi tentang menjaga hati agar tidak kehilangan kemanusiaan.
Fajar mulai menyingsing.
Hari sidang adat semakin dekat.
Warga Desa Arum Sari mulai berkumpul.
Para tetua adat bersiap.
Herlambang menyiapkan bukti.
Hidayat menyiapkan catatan.
Anjelina menggenggam tangan ibunya.
Dan di antara kerumunan warga...
seseorang yang selama ini bermain di balik layar juga bersiap datang.
Karena Sidang Adat bukan hanya tempat mencari kebenaran.
Tetapi tempat di mana rahasia lama akan mulai terbuka.
Dan ketika masa lalu berbicara...
tidak semua orang akan mampu menerima kenyataan.
BAB XVIII – Sidang Adat
Pagi itu Desa Arum Sari tidak seperti biasanya.
Sejak matahari belum sepenuhnya naik, halaman balai adat sudah dipenuhi warga.
Tidak ada suara gaduh.
Tidak ada teriakan.
Semua orang datang dengan wajah serius.
Karena hari itu bukan sekadar pertemuan.
Hari itu adalah hari ketika masa lalu, masa kini, dan masa depan desa akan dipertemukan.
Hari ketika kebenaran harus berhadapan dengan kepentingan.
Hari ketika hati manusia diuji di hadapan adat leluhur.
Balai adat Desa Arum Sari berdiri di tengah desa.
Bangunan kayu tua yang telah berusia puluhan tahun itu menjadi saksi banyak peristiwa.
Di tempat itu dahulu para leluhur menyelesaikan perselisihan.
Di tempat itu pula keputusan-keputusan besar desa pernah diambil.
Di bagian depan ruangan terdapat meja panjang tempat para tetua adat duduk.
Di tengahnya terdapat sebuah kitab tua peninggalan leluhur.
Kitab yang hanya dibuka ketika desa menghadapi persoalan besar.
Ki Waskita datang dengan membawa beberapa dokumen lama.
Langkahnya perlahan.
Namun wajahnya tetap penuh keteguhan.
Herlambang berjalan di belakangnya.
Sementara Hidayat membawa catatan hasil pemeriksaan administrasi.
Mereka bertiga datang bukan untuk memenangkan pihak tertentu.
Mereka datang untuk mencari kebenaran.
Tidak lama kemudian Anjelina tiba bersama ibunya.
Bu Sulastri menggenggam tangan anaknya.
"Lina."
"Iya, Bu."
"Apapun yang terjadi hari ini..."
"...jaga hatimu."
Anjelina mengangguk.
Ia tahu ibunya benar.
Dalam sidang seperti ini, bukan hanya kata-kata yang diuji.
Tetapi juga kesabaran.
Ketika semua telah berkumpul, Ketua Adat Desa Arum Sari, Datuk Wiratma, berdiri.
Usianya telah lebih dari tujuh puluh tahun.
Rambutnya memutih.
Namun sorot matanya masih tajam.
"Hari ini kita berkumpul bukan untuk mencari siapa yang kalah."
katanya.
"Kita berkumpul untuk mencari siapa yang benar."
Suasana menjadi hening.
"Tanah dapat dibagi."
"Bangunan dapat diperbaiki."
"Namun jika kepercayaan antarwarga hancur..."
"...maka desa akan kehilangan pondasinya."
Sidang dimulai.
Persoalan pertama yang dibahas adalah hilangnya dokumen tanah.
Sekretaris Desa menjelaskan kronologi.
Kemudian Hidayat memberikan hasil pemeriksaan.
"Berdasarkan pemeriksaan administrasi..."
"Dokumen tersebut memang pernah dipindahkan."
"Tetapi tidak ditemukan bukti bahwa Herlambang terlibat."
Beberapa warga saling berpandangan.
Herlambang hanya diam.
Kemudian giliran Sukardi dipanggil.
Langkahnya berat.
Wajahnya penuh rasa bersalah.
Datuk Wiratma memandangnya.
"Sukardi."
"Iya, Datuk."
"Apakah benar engkau mengambil dokumen dari balai desa?"
Sukardi menunduk.
"Iya."
Suasana langsung berubah.
Beberapa warga mulai berbisik.
Namun Datuk Wiratma mengangkat tangan.
"Biarkan dia berbicara."
Sukardi menarik napas panjang.
"Saya memang mengambil dokumen itu."
"Tetapi saya tidak melakukannya atas keinginan sendiri."
"Siapa yang menyuruhmu?"
Pertanyaan itu membuat ruangan kembali sunyi.
Sukardi menggenggam tangannya.
"Saya..."
Ia berhenti.
Air matanya mulai terlihat.
"Saya takut."
"Takut kehilangan pekerjaan."
"Takut keluarga saya mendapat masalah."
Bu Sulastri yang mendengar itu menatap Sukardi dengan sedih.
Ia memahami.
Kadang manusia melakukan kesalahan bukan karena tidak memiliki hati.
Tetapi karena berada dalam keadaan yang membuatnya lemah.
Datuk Wiratma kembali bertanya.
"Siapa yang memaksamu?"
Sukardi menutup mata.
Namun sebelum menjawab...
seorang lelaki berdiri dari barisan belakang.
"Saya rasa cukup."
Semua menoleh.
Hidayat mengenali suara itu.
Begitu pula Herlambang.
Orang yang selama ini mereka cari.
Namun lelaki itu masih belum disebut namanya.
"Kita jangan menghakimi orang hanya karena dugaan."
katanya.
"Semua orang memiliki kepentingan."
Datuk Wiratma menatap tajam.
"Justru karena itu, semua harus dijelaskan."
Lelaki itu tersenyum kecil.
"Baik."
"Tapi jangan lupa..."
"...ada rahasia lama yang juga harus dibuka."
Kalimat itu membuat Ki Waskita terdiam.
Karena ia tahu.
Orang itu sedang mencoba mengubah arah sidang.
Datuk Wiratma membuka kitab tua leluhur.
Halaman demi halaman dibuka perlahan.
"Kalian ingin berbicara tentang masa lalu?"
katanya.
"Baik."
"Maka hari ini masa lalu akan berbicara."
Semua warga memperhatikan.
Ki Waskita maju membawa dokumen lama.
"Tanah utara..."
katanya,
"...bukan hanya persoalan batas."
"Tanah itu memiliki sejarah."
Herlambang melihat wajah Anjelina.
Ada kekhawatiran di sana.
Ia ingin menenangkan.
Namun keadaan tidak memungkinkan.
Karena sidang baru saja dimulai.
Dan rahasia yang selama ini tersembunyi...
mulai membuka pintunya.
Di luar balai adat, angin bertiup lebih kencang.
Daun-daun tua berguguran.
Seolah alam pun mengetahui bahwa hari itu bukan hari biasa.
Karena setelah puluhan tahun tersimpan dalam diam...
sebuah kebenaran akan segera keluar.
Dan tidak semua orang akan bahagia ketika kebenaran itu ditemukan.
Suasana Balai Adat Desa Arum Sari semakin hening.
Tidak ada lagi bisikan warga.
Tidak ada lagi suara anak-anak bermain di halaman.
Semua mata tertuju kepada kitab tua yang berada di hadapan Datuk Wiratma.
Kitab yang selama bertahun-tahun hanya dibuka untuk persoalan besar.
Dan hari itu, kitab tersebut menjadi saksi bahwa sebuah rahasia lama akan kembali muncul ke permukaan.
Datuk Wiratma menyentuh halaman pertama kitab itu dengan tangan yang sudah bergetar karena usia.
"Catatan ini dibuat oleh leluhur kita..."
katanya perlahan.
"...bukan untuk menyimpan kekuasaan."
"Bukan untuk memperkaya keluarga tertentu."
"Tetapi untuk menjaga keseimbangan desa."
Beliau berhenti sejenak.
"Namun manusia sering lupa."
"Yang awalnya dijaga untuk kebaikan..."
"kadang ingin dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi."
Kalimat itu membuat beberapa orang menunduk.
Ki Waskita kemudian maju membawa sebuah kotak kayu kecil.
Kotak itu terlihat tua.
Permukaannya sudah kusam.
Namun semua orang tahu benda itu memiliki nilai sejarah.
"Di dalam kotak ini..."
kata Ki Waskita,
"...tersimpan catatan yang selama ini tidak banyak diketahui warga."
Ia membuka kotak tersebut perlahan.
Di dalamnya terdapat beberapa lembar tulisan tua yang dibungkus kain.
Datuk Wiratma mengambil salah satu lembaran.
"Ini adalah catatan pembagian tanah leluhur Arum Sari."
Beliau membaca perlahan.
"Tanah utara diberikan kepada masyarakat untuk dijaga bersama."
"Bukan untuk dimiliki satu keluarga."
"Bukan untuk diperjualbelikan."
"Tetapi untuk menjadi sumber kehidupan anak cucu desa."
Suasana berubah.
Beberapa warga mulai saling berpandangan.
Hidayat segera membuka catatannya.
"Berarti dokumen tanah yang sekarang dipermasalahkan..."
"...tidak bisa dipisahkan dari catatan adat ini."
Ki Waskita mengangguk.
"Benar."
"Karena aturan pemerintah dan nilai adat harus berjalan bersama."
Herlambang memperhatikan semua itu dengan serius.
Ia semakin memahami.
Persoalan yang mereka hadapi bukan sekadar tentang sebidang tanah.
Tetapi tentang nilai yang diwariskan leluhur.
Kemudian Datuk Wiratma menatap ke arah Sukardi.
"Sukardi."
"Iya, Datuk."
"Apakah orang yang menyuruhmu mencari dokumen juga mengetahui keberadaan catatan ini?"
Sukardi terdiam.
Wajahnya berubah.
Semua orang memperhatikan.
Akhirnya ia mengangguk pelan.
"Iya."
"Dia tahu."
"Dia mengatakan..."
Sukardi berhenti.
"Katakan."
"Ia mengatakan bahwa selama catatan leluhur ditemukan..."
"...maka tanah utara akan sulit dikuasai."
Ruangan langsung bergemuruh.
Beberapa warga mulai marah.
"Siapa yang ingin menguasai tanah desa?"
"Berani sekali melawan adat!"
Namun Datuk Wiratma segera mengetuk meja.
"Tenang!"
"Kemarahan tidak akan menemukan kebenaran."
"Yang kita butuhkan adalah kejelasan."
Lalu Datuk Wiratma menatap Sukardi.
"Siapa orang itu?"
Sukardi menarik napas panjang.
Wajahnya terlihat berat.
"Saya..."
Ia menatap ke arah belakang ruangan.
"Saya melihat dia datang hari ini."
Semua orang mengikuti arah pandangannya.
Dan untuk beberapa saat...
tidak ada suara.
Kemudian Sukardi berkata,
"Orang itu adalah..."
Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba terdengar suara keras dari luar.
Beberapa warga berlari masuk.
"Datuk!"
"Ada masalah!"
Semua menoleh.
"Apa yang terjadi?"
"Seseorang membakar sebagian gudang penyimpanan hasil panen warga."
Ruangan kembali gaduh.
Kepala Desa berdiri.
"Di mana?"
"Di dekat sawah utara."
Semua terkejut.
Karena lokasi itu adalah wilayah yang sama dengan tanah yang sedang diperselisihkan.
Herlambang langsung berdiri.
"Ini bukan kebetulan."
Hidayat mengangguk.
"Seseorang ingin membuat warga panik."
Ki Waskita memandang ke luar jendela.
Wajahnya penuh kekhawatiran.
"Dia mulai memainkan rasa takut."
Namun di tengah kekacauan itu, Anjelina melihat sesuatu.
Di luar balai adat, seseorang berdiri sebentar.
Tatapan mereka bertemu.
Orang itu segera pergi.
Anjelina merasa pernah melihat wajah itu sebelumnya.
Namun ia belum yakin.
Setelah keadaan sedikit terkendali, sidang kembali dilanjutkan.
Datuk Wiratma berkata dengan suara berat,
"Hari ini kita tidak hanya menghadapi persoalan tanah."
"Kita menghadapi seseorang yang ingin memecah desa."
"Karena ketika warga takut..."
"...mereka mudah diarahkan."
Malam mulai turun ketika sidang dihentikan sementara.
Namun sebelum semua pulang, Datuk Wiratma memanggil Herlambang, Hidayat, dan Ki Waskita.
"Ada satu hal yang harus kalian ketahui."
"Apa itu, Datuk?"
"Catatan leluhur ini belum lengkap."
Herlambang terkejut.
"Belum lengkap?"
Datuk Wiratma mengangguk.
"Ada satu halaman yang hilang."
"Dan halaman itu..."
"...berisi nama keluarga yang pertama kali menjaga tanah utara."
Ketiganya terdiam.
Karena jika halaman itu ditemukan...
maka bukan hanya sejarah tanah yang terbuka.
Tetapi juga hubungan darah dan masa lalu beberapa keluarga di Desa Arum Sari.
Di luar balai adat, angin malam kembali berhembus.
Api di gudang panen memang telah padam.
Namun api konflik belum.
Karena seseorang masih menyimpan rahasia.
Dan rahasia itu...
akan menentukan siapa yang sebenarnya berdiri di belakang semua kekacauan Desa Arum Sari.
Malam telah menyelimuti Desa Arum Sari.
Setelah kejadian kebakaran gudang panen, warga mulai kembali ke rumah masing-masing.
Namun tidak ada seorang pun yang benar-benar merasa tenang.
Sidang adat yang seharusnya menjadi jalan menuju penyelesaian, justru membuka pintu menuju rahasia yang lebih besar.
Sebuah rahasia yang selama puluhan tahun terkubur dalam diam.
Keesokan paginya, Balai Adat kembali dipenuhi warga.
Tidak ada yang ingin melewatkan kelanjutan sidang.
Semua ingin mengetahui siapa orang yang selama ini menggerakkan konflik.
Siapa yang membuat dokumen hilang.
Siapa yang menyebarkan kecurigaan.
Dan siapa yang mencoba membakar ketenangan Desa Arum Sari.
Datuk Wiratma kembali duduk di tempatnya.
Di sampingnya terdapat kitab tua leluhur.
Sementara Ki Waskita duduk dengan wajah serius.
Hari itu bukan hanya tentang mencari pelaku.
Tetapi juga menjaga agar keputusan yang diambil tidak lahir dari kebencian.
"Sukardi."
panggil Datuk Wiratma.
Lelaki itu maju dengan langkah berat.
"Iya, Datuk."
"Kemarin engkau mengatakan mengetahui siapa yang memintamu mengambil dokumen."
"Iya."
"Hari ini katakan dengan jujur."
"Jangan takut."
Sukardi menunduk.
Air matanya mulai jatuh.
"Saya minta maaf kepada seluruh warga."
"Saya telah melakukan kesalahan."
"Tapi saya tidak pernah berniat menghancurkan desa ini."
Datuk Wiratma mengangguk.
"Katakan."
Sukardi menarik napas panjang.
"Orang yang meminta saya mengambil dokumen..."
"...adalah Hidayat."
Ruangan langsung gempar.
Seolah suara petir menyambar di tengah siang.
Semua mata langsung tertuju kepada Hidayat.
Anjelina terkejut.
Herlambang membeku.
"Mustahil!"
teriak salah satu warga.
"Hidayat selama ini membantu desa."
"Tidak mungkin."
Bisikan mulai memenuhi ruangan.
Hidayat sendiri berdiri diam.
Wajahnya menunjukkan keterkejutan yang sulit disembunyikan.
"Sukardi..."
katanya pelan.
"Apa maksudmu?"
Sukardi menangis.
"Bukan Hidayat yang sekarang."
"Saya..."
"...saya salah."
Ruangan kembali hening.
Datuk Wiratma menatap tajam.
"Jelaskan."
Sukardi mengusap wajahnya.
"Maksud saya..."
"Orang yang saya kenal sebagai Hidayat bukanlah orang yang meminta saya."
"Dia menggunakan nama Hidayat."
Semua mulai memahami.
Ada seseorang yang memakai identitas orang lain.
Hidayat menarik napas lega.
Namun wajahnya tetap serius.
"Kenapa memakai nama saya?"
Sukardi menggeleng.
"Saya tidak tahu."
"Tapi orang itu sangat mengenal keadaan desa."
"Dia tahu hubungan saya dengan kantor desa."
"Dia tahu saya mudah ditekan."
Herlambang menatap Hidayat.
Untuk sesaat mereka kembali teringat pada semua kecurigaan yang pernah muncul.
Ternyata seseorang memang sengaja menggunakan keadaan untuk membuat mereka saling menjauh.
Ki Waskita kemudian berdiri.
"Ada sesuatu yang harus kita pahami."
Semua memperhatikan.
"Permainan ini tidak hanya menyerang tanah."
"Tidak hanya menyerang pemerintahan desa."
"Tetapi menyerang kepercayaan manusia."
Beliau memandang Herlambang dan Hidayat.
"Karena jika dua orang yang dipercaya warga saling mencurigai..."
"...maka desa akan kehilangan kekuatan."
Kemudian Datuk Wiratma membuka kembali catatan leluhur.
"Tetapi ada satu hal yang belum selesai."
Beliau mengambil halaman tua yang ditemukan.
"Catatan ini menyebutkan..."
"...bahwa keluarga yang pertama kali menjaga tanah utara bukan satu keluarga."
"Melainkan dua garis keturunan."
Semua terdiam.
"Dua keluarga yang sejak dahulu menjaga keseimbangan desa."
Ki Waskita membaca bagian berikutnya.
"Jika suatu hari kedua keluarga ini terpisah..."
"...maka tanah leluhur akan menjadi sumber perpecahan."
Herlambang bertanya,
"Siapa dua keluarga itu?"
Datuk Wiratma memandang ke arah warga.
Kemudian perlahan menjawab.
"Keluarga Wiraatma..."
"Dan..."
Beliau berhenti sejenak.
"Keluarga Mahendra."
Hidayat terkejut.
"Keluarga saya?"
Datuk Wiratma mengangguk.
"Iya."
"Tanah utara berkaitan dengan leluhur keluargamu."
Hidayat tampak bingung.
"Kenapa keluarga saya tidak pernah tahu?"
Ki Waskita menjawab,
"Karena sebagian catatan itu sengaja disimpan."
"Untuk menjaga agar tanah tidak menjadi rebutan."
Hidayat menatap ke arah ayahnya yang hadir di belakang warga.
Haji Mahendra terlihat gelisah.
Seolah ia mengetahui sesuatu.
"Ayah..."
panggil Hidayat.
Namun ayahnya hanya menunduk.
Anjelina memperhatikan semua itu.
Ia mulai memahami.
Konflik ini bukan muncul tiba-tiba.
Ada sejarah panjang yang belum selesai.
Ada luka lama yang belum sembuh.
Tiba-tiba seseorang berdiri dari belakang warga.
"Kalau begitu..."
"...bukankah Hidayat juga memiliki kepentingan terhadap tanah itu?"
Suasana kembali berubah.
Kalimat itu sederhana.
Namun cukup untuk menyalakan kecurigaan baru.
Herlambang menatap orang itu.
Ia tahu.
Permainan belum berhenti.
Datuk Wiratma mengetuk meja.
"Cukup."
"Jangan ulangi kesalahan yang sama."
"Jangan biarkan dugaan menghancurkan orang yang belum terbukti salah."
Namun benih keraguan sudah kembali dilemparkan.
Sore itu sidang adat dihentikan sementara.
Warga mulai pulang dengan pikiran masing-masing.
Ada yang percaya.
Ada yang ragu.
Ada yang takut.
Di bawah pohon trembesi, Herlambang dan Hidayat kembali berbicara.
"Dayat."
"Iya?"
"Aku percaya padamu."
Hidayat menatapnya.
"Setelah semua yang terjadi?"
"Iya."
"Kenapa?"
"Karena aku mengenal sahabatku."
Hidayat tersenyum kecil.
Namun matanya terlihat sedih.
"Kadang aku takut..."
"Apa?"
"Bahwa masa lalu keluarga kami akan menghancurkan masa depan kita."
Herlambang menepuk bahunya.
"Kita tidak bisa memilih dari keluarga mana kita lahir."
"Tapi kita bisa memilih menjadi manusia seperti apa."
Malam itu, Anjelina kembali menemui ibunya.
"Bu..."
"Iya?"
"Ternyata masalah desa jauh lebih besar dari yang kita pikirkan."
Bu Sulastri mengangguk.
"Lalu apa yang akan kamu lakukan?"
Anjelina menatap cahaya lampu di luar rumah.
"Aku tidak tahu."
"Tapi aku tahu..."
"Aku tidak ingin cinta, persahabatan, dan kebenaran kalah hanya karena masa lalu."
Di sebuah tempat tersembunyi, seseorang membaca laporan sidang adat.
Wajahnya menunjukkan kemarahan.
"Mereka mulai menemukan akar masalah."
Ia merobek kertas kecil di tangannya.
"Kalau begitu..."
"...waktunya membuat desa ini benar-benar terbelah."
Dan malam kembali menyelimuti Desa Arum Sari.
Sidang adat belum selesai.
Rahasia leluhur baru saja terbuka.
Namun yang lebih berbahaya...
adalah ketika masa lalu mulai digunakan sebagai senjata untuk menghancurkan masa depan.
BAB XIX – Malam Ketika Desa Terbelah
Pagi datang tanpa membawa kedamaian.
Matahari tetap terbit dari ufuk timur.
Burung-burung tetap bernyanyi di antara pepohonan.
Sawah-sawah tetap membentang hijau di sekitar Desa Arum Sari.
Namun hati manusia tidak lagi sama.
Karena setelah malam ketika warga mulai terbagi...
jarak di antara mereka semakin terasa.
Di pasar desa, sesuatu yang dulu tidak pernah terjadi mulai terlihat.
Orang-orang mulai memilih tempat duduk.
Bukan berdasarkan kedekatan.
Bukan berdasarkan usia.
Tetapi berdasarkan keyakinan terhadap kelompok masing-masing.
Sebagian mendukung pemerintah desa dan mempercayai Herlambang serta Hidayat.
Sebagian lain merasa perlu ada perubahan dan mempertanyakan keputusan-keputusan yang telah dibuat.
Dan di tengah dua kelompok itu...
ada warga kecil yang hanya ingin hidup tenang.
Anjelina melihat perubahan itu dengan hati sedih.
Taman baca yang biasanya ramai kini mulai sepi.
Beberapa anak masih datang.
Namun orang tua mereka mulai khawatir.
"Lina..."
kata salah seorang ibu.
"Untuk sementara mungkin lebih baik kegiatan ini dihentikan."
Anjelina terkejut.
"Kenapa, Bu?"
"Takut nanti dianggap berpihak."
Kalimat itu membuat Anjelina terdiam.
Bukan karena marah.
Tetapi karena sedih.
Tempat yang dibuat untuk menyatukan anak-anak...
kini ikut terkena dampak perpecahan orang dewasa.
Sore itu Anjelina menemui ibunya.
"Bu."
"Iya, Nak."
"Apakah kebaikan bisa membuat orang salah paham?"
Bu Sulastri tersenyum sedih.
"Bisa."
"Kenapa?"
"Karena manusia melihat sesuatu bukan hanya dengan mata."
"Tapi juga dengan pikiran dan prasangka."
Anjelina menunduk.
"Lalu apa yang harus Lina lakukan?"
"Ibu tidak bisa memilihkan jalanmu."
"Tapi ingat satu hal."
"Jangan berhenti menjadi orang baik hanya karena ada orang yang salah memahami kebaikanmu."
Sementara itu, tekanan terhadap Hidayat semakin besar.
Beberapa warga meminta agar ia mundur sementara dari penyelesaian konflik tanah.
Alasannya demi menjaga suasana.
Namun Hidayat tahu.
Permintaan itu bukan hanya tentang netralitas.
Sebagian orang memang mulai tidak percaya kepadanya.
Di rumahnya, Haji Mahendra akhirnya mengambil keputusan.
"Hidayat."
"Iya, Ayah."
"Besok Ayah akan bicara di depan warga."
Hidayat terkejut.
"Tidak perlu, Yah."
"Justru perlu."
"Terlalu lama keluarga kita diam."
"Ayah tidak ingin kesalahan masa lalu terus menjadi bebanmu."
Hidayat memandang ayahnya.
Untuk pertama kalinya ia melihat ayahnya bukan sebagai orang yang menyimpan rahasia.
Tetapi sebagai seseorang yang juga sedang berjuang menghadapi penyesalan.
Keesokan harinya, Haji Mahendra datang ke balai desa.
Warga berkumpul.
Suasana tegang.
Ia berdiri di depan semua orang.
"Saya datang bukan untuk membela keluarga saya."
katanya.
"Saya datang untuk mengatakan kebenaran."
Semua diam.
"Memang benar leluhur keluarga kami memiliki hubungan dengan tanah utara."
"Tetapi hubungan itu bukan hak untuk menguasai."
"Melainkan amanah untuk menjaga."
Beberapa warga mulai memperhatikan.
Haji Mahendra melanjutkan.
"Kesalahan terbesar kami adalah menyimpan sejarah ini terlalu lama."
"Kami takut jika kebenaran diketahui, maka desa akan terpecah."
"Ternyata..."
ia berhenti.
"...diam juga bisa membuat orang salah memahami."
Seorang warga bertanya,
"Kalau begitu kenapa keluarga Bapak tidak pernah memberitahu masyarakat?"
Haji Mahendra menunduk.
"Karena kami takut kehilangan."
"Kehilangan apa?"
"Kehilangan kehormatan."
Jawaban itu membuat suasana hening.
Ki Waskita yang hadir dalam pertemuan itu kemudian berkata,
"Pengakuan adalah awal dari penyembuhan."
"Tidak ada keluarga yang sempurna."
"Tidak ada manusia yang tidak pernah memiliki kesalahan."
"Tetapi desa akan hancur jika kesalahan lama terus digunakan untuk membenci."
Namun tidak semua orang menerima.
Dari belakang kerumunan terdengar suara.
"Semua ini hanya kata-kata."
"Kita tetap harus berhati-hati."
Beberapa warga mengangguk.
Keraguan masih ada.
Herlambang memperhatikan orang yang berbicara itu.
Ia mulai menyadari.
Ada pola yang sama.
Setiap kali warga mulai memahami keadaan...
selalu ada seseorang yang melemparkan kecurigaan baru.
Malamnya, Herlambang menemui Hidayat di bawah pohon trembesi.
"Lambang."
"Iya?"
"Kamu masih percaya keadaan bisa diperbaiki?"
Herlambang menatap langit.
"Aku tidak tahu apakah semua orang akan kembali seperti dulu."
"Lalu?"
"Tapi aku tahu."
"Kita tidak boleh menyerah hanya karena orang lain ingin melihat kita gagal."
Hidayat tersenyum.
"Kadang aku iri padamu."
"Iri?"
"Kamu selalu yakin."
Herlambang menggeleng.
"Tidak."
"Aku juga takut."
"Tapi aku memilih tetap berjalan."
Tidak jauh dari sana, Anjelina melihat keduanya dari kejauhan.
Ia tersenyum kecil.
Setidaknya masih ada persahabatan yang belum hancur.
Masih ada manusia yang memilih percaya.
Namun malam itu, sebuah kabar buruk datang.
Seorang warga menemukan tanda batas tanah baru dipasang di wilayah tanah utara.
Bukan tanda dari pemerintah desa.
Bukan tanda dari masyarakat.
Tetapi tanda milik seseorang yang tidak dikenal.
Kepala Desa segera menerima laporan.
"Warga jangan bertindak sendiri."
katanya.
"Kita selesaikan sesuai aturan."
Namun rasa marah mulai muncul.
Karena bagi sebagian warga...
tanda itu dianggap sebagai penghinaan.
Di tempat tersembunyi, seseorang melihat laporan itu.
Ia tersenyum.
"Bagus."
"Mereka mulai kehilangan kesabaran."
Ia membuka dokumen tua yang selama ini disimpan.
"Sedikit lagi..."
"Desa ini akan meminta sendiri siapa yang menjadi penguasa tanah itu."
Malam kembali turun di Desa Arum Sari.
Namun kali ini gelapnya terasa berbeda.
Karena perpecahan bukan lagi hanya dalam pikiran.
Ia mulai terlihat dalam tindakan.
Dan ketika batas mulai dipasang...
bukan hanya tanah yang sedang diperebutkan.
Tetapi juga masa depan sebuah desa.
Malam semakin dalam.
Namun bagi Desa Arum Sari, malam itu belum menjadi waktu untuk beristirahat.
Karena sejak tanda batas baru muncul di tanah utara, ketegangan semakin meningkat.
Tanah yang dahulu menjadi sumber kehidupan...
kini berubah menjadi sumber kecurigaan.
Pagi-pagi sekali, kabar itu menyebar.
"Tanda batas sudah dipasang lagi."
"Siapa yang memasangnya?"
"Tidak ada yang tahu."
Warga mulai berkumpul.
Sebagian membawa cangkul.
Sebagian membawa kayu.
Bukan untuk bertani.
Tetapi karena emosi mulai menguasai pikiran.
Di rumahnya, Herlambang menerima kabar dari seorang warga.
"Lambang!"
"Ada masalah di tanah utara."
"Apa yang terjadi?"
"Warga dari dua kelompok sudah berkumpul."
"Mereka hampir bentrok."
Herlambang langsung berdiri.
"Hubungi Hidayat."
"Kita harus ke sana."
Tidak lama kemudian, Herlambang, Hidayat, dan Anjelina menuju lokasi.
Di sepanjang jalan, mereka melihat pemandangan yang membuat hati mereka berat.
Warga yang dahulu bekerja bersama...
kini berjalan dalam kelompok masing-masing.
Mereka saling memandang dengan curiga.
Sesampainya di tanah utara, suasana sudah memanas.
Dua kelompok warga berdiri berhadapan.
"Kalian jangan mengaku paling benar!"
"Kami hanya menjaga hak kami!"
"Ini tanah desa!"
"Jangan biarkan orang tertentu mengambilnya!"
Suara mulai meninggi.
Kepala Desa juga sudah berada di lokasi.
Beliau berdiri di tengah kedua kelompok.
"Bapak dan Ibu semua..."
"Jangan lakukan sesuatu yang akan kalian sesali."
Namun emosi warga sulit dikendalikan.
Salah seorang warga berkata,
"Kami sudah terlalu lama diam."
"Kami ingin kepastian."
Hidayat maju.
"Saya mengerti kalian marah."
"Tapi jangan biarkan seseorang menggunakan kemarahan kita."
Seorang warga menjawab,
"Dan bagaimana kami bisa percaya kepada kalian?"
Kalimat itu membuat suasana kembali tegang.
Herlambang kemudian berdiri.
Ia tidak membawa dokumen.
Tidak membawa jabatan.
Ia hanya membawa suara seorang warga Arum Sari.
"Dengarkan saya."
Semua perlahan diam.
"Saya lahir di desa ini."
"Saya tumbuh bersama kalian."
"Saya tahu kita semua ingin hal yang sama."
"Apa itu?"
tanya seseorang.
"Hidup dengan tenang."
Herlambang melanjutkan.
"Tapi lihat apa yang terjadi sekarang."
"Kita mulai mencurigai tetangga."
"Kita mulai melupakan persaudaraan."
"Kita mulai melihat nama keluarga sebelum melihat hati manusia."
Suasana mulai lebih tenang.
Namun tiba-tiba seorang lelaki berteriak.
"Jangan dengarkan mereka!"
"Mereka hanya ingin mempertahankan kekuasaan!"
Semua kembali menoleh.
Herlambang memperhatikan orang itu.
Ada sesuatu yang tidak biasa.
Cara berbicaranya.
Cara mengarahkan warga.
Sama seperti orang-orang yang sebelumnya memicu masalah.
Hidayat mendekati Herlambang.
"Lambang."
"Iya?"
"Dia orang yang sama."
"Yang mana?"
"Yang selalu muncul ketika keadaan mulai membaik."
Mereka saling berpandangan.
Sebelum mereka bergerak, lelaki itu sudah pergi meninggalkan kerumunan.
Namun kali ini Hidayat tidak membiarkannya.
Ia mengejar.
Herlambang ikut menyusul.
Mereka melewati jalan kecil menuju belakang kebun.
Namun orang itu menghilang.
Yang tertinggal hanya sebuah tas tua.
Herlambang mengambilnya.
"Apa ini?"
Hidayat membuka perlahan.
Di dalamnya terdapat beberapa dokumen.
Dan satu surat.
Hidayat membaca surat itu.
Wajahnya berubah.
"Apa isinya?"
tanya Herlambang.
Hidayat menyerahkan surat itu.
Tulisan di dalamnya berbunyi:
"Tanah utara harus kembali kepada garis keturunan yang berhak. Desa tidak akan pernah tenang sebelum aturan lama dikembalikan."
Anjelina yang ikut mendekat membaca surat itu.
"Ini bukan hanya soal tanah."
katanya.
"Dia ingin menghidupkan kembali konflik keluarga."
Herlambang mengangguk.
"Dia ingin membuat orang percaya bahwa darah menentukan hak."
Mereka membawa dokumen itu kembali ke balai desa.
Ki Waskita yang melihatnya langsung terdiam.
"Aku mengenal tulisan ini."
Semua menatapnya.
"Tulisan siapa, Ki?"
Ki Waskita menarik napas.
"Ini tulisan dari seseorang yang dulu pernah menjadi bagian penting Desa Arum Sari."
"Siapa?"
Ki Waskita menatap jauh.
"Seseorang yang keluarganya pernah merasa kehilangan hak atas tanah utara."
Hidayat bertanya,
"Apakah orang itu masih hidup?"
Ki Waskita diam.
Kemudian menjawab,
"Ya."
"Dan dia berada di desa ini."
Semua terkejut.
Karena selama ini mereka mencari seseorang dari luar.
Ternyata orang yang memainkan konflik...
ada di tengah mereka.
Malam itu, Desa Arum Sari kembali berkumpul.
Namun kali ini bukan untuk bertengkar.
Mereka mulai menyadari.
Bahwa selama ini mereka telah diarahkan.
Ketakutan mereka dimanfaatkan.
Kemarahan mereka dijadikan alat.
Di rumahnya, Anjelina duduk bersama ibunya.
"Lina."
"Iya, Bu?"
"Apakah kamu masih ingin ikut dalam masalah ini?"
Anjelina terdiam.
Ia tahu jalan di depannya semakin berat.
Namun ia juga tahu...
jika semua orang memilih diam...
maka kebohongan akan menang.
"Iya, Bu."
"Kenapa?"
"Karena desa ini bukan hanya milik orang yang punya kekuasaan."
"Desa ini juga milik orang-orang kecil yang ingin hidup damai."
Bu Sulastri tersenyum.
"Itulah alasan ibu selalu bangga kepadamu."
Di tempat lain, seseorang berdiri di depan jendela.
Ia melihat lampu-lampu rumah warga.
Rencananya belum berhasil.
Desa belum sepenuhnya hancur.
Namun ia belum menyerah.
"Kalau begitu..."
katanya pelan.
"Aku akan membuat mereka membuka luka yang paling dalam."
Malam itu berlalu.
Desa Arum Sari masih berdiri.
Tetapi luka telah tertanam.
Dan sebelum kebenaran benar-benar menang...
mereka harus menghadapi satu rahasia terakhir.
Rahasia yang akan menentukan siapa sebenarnya pengkhianat dalam kisah panjang Desa Arum Sari.
BAB XX – Herlambang Pergi
Pagi itu Desa Arum Sari terbangun dengan suasana yang berbeda.
Matahari tetap menyinari hamparan sawah.
Kabut pagi tetap turun di antara pepohonan.
Namun bagi sebagian orang, hari itu terasa lebih berat dari hari-hari sebelumnya.
Karena setelah semua perjuangan mempertahankan kebenaran...
akhirnya tiba sebuah keputusan yang tidak pernah ingin diambil oleh siapa pun.
Sebuah keputusan tentang perpisahan.
Sejak penemuan surat lama di tanah utara, keadaan desa memang sedikit lebih terkendali.
Warga mulai memahami bahwa mereka telah dipermainkan oleh seseorang.
Namun masalah belum selesai.
Karena untuk menghentikan konflik sepenuhnya, diperlukan penyelidikan yang lebih luas.
Dan dalam proses itu...
nama Herlambang kembali menjadi sorotan.
Di balai desa, beberapa warga menyampaikan pendapat.
"Kita harus hati-hati."
"Jangan sampai persoalan ini membuat desa semakin kacau."
"Kita perlu seseorang yang tidak memiliki hubungan dekat dengan pihak-pihak yang terlibat."
Kalimat itu sebenarnya tidak menyebut nama.
Namun semua orang tahu maksudnya.
Mereka sedang berbicara tentang Herlambang.
Herlambang mendengar semua itu dengan tenang.
Tidak ada kemarahan di wajahnya.
Tidak ada kekecewaan yang ia tunjukkan.
Namun di dalam hatinya...
ada luka yang dalam.
Bukan karena dirinya dipertanyakan.
Tetapi karena orang-orang yang ia perjuangkan mulai merasa ragu.
Di bawah pohon trembesi, tempat yang dahulu menjadi saksi janji persahabatannya dengan Hidayat dan perasaan yang tumbuh bersama Anjelina...
Herlambang duduk sendirian.
Ia memandang tanah di bawah kakinya.
Tanah yang telah menjadi saksi begitu banyak cerita.
"Apakah aku harus tetap bertahan?"
gumamnya.
"Atau justru kepergianku bisa membuat keadaan lebih baik?"
Tidak lama kemudian Hidayat datang.
Ia duduk di sampingnya.
"Aku tahu kamu sedang memikirkan sesuatu."
Herlambang tersenyum kecil.
"Kamu selalu tahu."
"Karena aku sahabatmu."
Mereka terdiam beberapa saat.
"Dayat."
"Iya?"
"Aku mungkin harus pergi."
Hidayat langsung menoleh.
"Pergi?"
"Iya."
"Kenapa?"
Herlambang menarik napas.
"Karena keberadaanku mulai menjadi alasan orang-orang saling curiga."
"Itu bukan salahmu."
"Aku tahu."
"Lalu kenapa?"
"Karena terkadang seseorang harus mundur bukan karena kalah..."
"...tetapi agar orang lain bisa melihat masalah dengan lebih jernih."
Hidayat menggeleng.
"Aku tidak setuju."
"Kenapa?"
"Karena selama ini kamu adalah salah satu orang yang paling memperjuangkan desa ini."
Herlambang tersenyum.
"Tapi desa bukan milik satu orang."
"Kalau kebenaran harus tetap berjalan meskipun aku tidak ada..."
"...aku harus menerimanya."
Sore harinya, Herlambang datang menemui Anjelina.
Untuk pertama kalinya setelah semua konflik terjadi...
mereka duduk berdua tanpa banyak orang di sekitar.
Namun suasana justru terasa berat.
"Lina."
"Iya?"
"Aku ingin mengatakan sesuatu."
Anjelina melihat wajahnya.
Ia langsung merasa ada sesuatu yang berbeda.
"Kamu mau pergi?"
Herlambang terdiam.
"Kamu tahu?"
Anjelina tersenyum sedih.
"Sejak kemarin aku sudah merasakannya."
Herlambang menunduk.
"Aku tidak ingin meninggalkan desa ini."
"Lalu kenapa?"
"Karena aku takut kehadiranku membuat keadaan semakin sulit."
Anjelina menatapnya.
"Lambang..."
"Iya?"
"Apakah kamu pergi karena desa?"
Herlambang diam.
"Atau karena kamu merasa tidak lagi dipercaya?"
Pertanyaan itu membuat Herlambang terdiam lama.
Karena Anjelina benar.
"Aku lelah, Lina."
kata Herlambang akhirnya.
"Bukan lelah memperjuangkan kebenaran."
"Tapi lelah melihat orang-orang yang saling mencintai mulai saling mencurigai."
Anjelina menahan air matanya.
"Aku tidak ingin kamu pergi."
Kalimat itu keluar begitu saja.
Herlambang menatapnya.
Namun ia tidak menjawab.
Karena ada keputusan yang harus dibuat meskipun hati menolak.
Malam itu, Herlambang berbicara kepada ibunya.
Bu Marni mendengarkan tanpa memotong.
"Kamu sudah yakin?"
"Iya, Bu."
"Berapa lama?"
"Aku belum tahu."
Bu Marni menghela napas.
Sebagai ibu, hatinya tentu ingin menahan anaknya.
Namun ia tahu.
Ada perjalanan yang harus ditempuh seseorang untuk menemukan dirinya sendiri.
"Pergilah kalau itu membuatmu menemukan ketenangan."
kata Bu Marni.
"Tapi jangan pernah pergi karena merasa kamu tidak berharga."
Herlambang menunduk.
"Ibu..."
"Kadang seseorang harus jauh sebentar..."
"...bukan untuk meninggalkan orang yang dicintainya."
"Tetapi untuk kembali dengan hati yang lebih kuat."
Keesokan paginya, kabar itu menyebar.
Herlambang akan meninggalkan Desa Arum Sari untuk sementara waktu.
Warga terkejut.
Hidayat merasa kehilangan.
Anjelina hanya diam.
Karena ada perpisahan yang tidak membutuhkan banyak kata.
Sebelum berangkat, Herlambang kembali mendatangi pohon trembesi.
Tempat ia pernah berjanji.
Tempat ia pernah tertawa.
Tempat ia pernah bermimpi.
Ia menyentuh batang pohon itu.
"Semoga suatu hari..."
"...aku bisa kembali melihat desa ini tersenyum lagi."
Dari kejauhan, Anjelina melihat kepergiannya.
Air matanya jatuh perlahan.
Bukan karena ia kehilangan seseorang.
Tetapi karena ia tahu...
ada orang yang pergi bukan karena tidak mencintai.
Melainkan karena terlalu mencintai.
Kereta kecil yang membawa Herlambang meninggalkan jalan desa.
Perlahan.
Semakin jauh.
Hingga akhirnya hilang di balik pepohonan.
Desa Arum Sari tetap berdiri.
Namun bagi beberapa orang...
hari itu menjadi hari yang tidak akan pernah dilupakan.
Hari ketika seorang lelaki yang berjuang untuk kebenaran...
memilih pergi.
Kepergian Herlambang meninggalkan ruang kosong di Desa Arum Sari.
Bukan hanya di rumahnya.
Bukan hanya di antara sahabat-sahabatnya.
Tetapi juga di hati banyak warga yang selama ini diam-diam mengandalkan keberadaannya.
Karena terkadang seseorang baru terasa begitu berarti...
ketika langkahnya sudah tidak lagi terdengar.
Hari-hari setelah kepergian Herlambang berjalan lambat.
Desa memang terlihat lebih tenang.
Tidak ada lagi perdebatan besar.
Tidak ada lagi kerumunan warga yang saling berhadapan.
Namun ketenangan itu terasa berbeda.
Bukan ketenangan karena masalah selesai.
Melainkan ketenangan sebelum sesuatu yang baru terjadi.
Di taman baca, Anjelina duduk bersama beberapa anak.
Biasanya Herlambang sering datang membawa buku-buku baru.
Ia selalu membantu memperbaiki rak.
Membantu anak-anak memahami pelajaran.
Dan terkadang hanya duduk mendengarkan cerita mereka.
Kini tempat itu terasa lebih sepi.
"Kak Lina..."
tanya seorang anak.
"Kak Lambang kapan pulang?"
Anjelina terdiam.
Ia tidak tahu harus menjawab apa.
"Mungkin suatu hari."
jawabnya pelan.
"Apakah dia marah sama kami?"
Anjelina menggeleng.
"Tidak."
"Kak Lambang tidak pernah marah."
Malam itu, Anjelina menulis surat untuk Herlambang.
Namun berkali-kali ia berhenti.
Ia ingin mengatakan banyak hal.
Tentang rasa kehilangan.
Tentang kekhawatiran.
Tentang harapan agar ia kembali.
Tetapi pada akhirnya ia hanya menulis satu kalimat:
"Semoga kamu menemukan alasan untuk kembali pulang."
Sementara itu, Hidayat mulai mengambil peran lebih besar.
Ia membantu Kepala Desa menyelesaikan persoalan administrasi tanah.
Ia menemui warga yang masih ragu.
Ia mencoba menjembatani dua kelompok yang sempat bertentangan.
Namun tugas itu tidak mudah.
Karena kini semua mata tertuju kepadanya.
Di balai desa, seorang warga berkata,
"Dulu ada Herlambang yang menjadi penengah."
"Sekarang siapa?"
Hidayat menjawab,
"Kita semua."
Warga itu terdiam.
"Desa tidak boleh bergantung kepada satu orang."
kata Hidayat.
"Kalau kita ingin maju, kita harus belajar saling percaya."
Namun di balik semua itu, seseorang mulai memanfaatkan keadaan.
Kepergian Herlambang dianggap sebagai kesempatan.
Karena salah satu penghalang terbesar telah pergi.
Di sebuah rumah tua, seorang lelaki membuka kembali dokumen lama.
Ia tersenyum.
"Satu orang sudah pergi."
"Tinggal menunggu yang lain jatuh."
Seseorang bertanya,
"Lalu bagaimana dengan Hidayat?"
Ia menjawab,
"Hidayat terlalu sibuk membuktikan dirinya."
"Orang yang sibuk mempertahankan nama baik..."
"...lebih mudah dibuat kehilangan arah."
Sementara itu, Hidayat mulai merasakan tekanan.
Beberapa warga kembali mempertanyakan keputusannya.
Bahkan ada yang mengatakan bahwa ia hanya menggantikan posisi Herlambang.
Hidayat mulai memahami.
Ternyata masalah terbesar bukan hanya tentang tanah.
Tetapi tentang kepercayaan.
Suatu sore, ia datang ke rumah Bu Sulastri.
Anjelina sedang membantu ibunya di halaman.
"Lina."
"Iya, Dayat?"
"Aku ingin bertanya sesuatu."
"Tentang apa?"
"Menurutmu..."
Hidayat berhenti.
"Apakah aku pantas meneruskan apa yang selama ini dilakukan Herlambang?"
Anjelina menatapnya.
"Kenapa bertanya seperti itu?"
"Karena banyak orang melihatku dengan kecurigaan."
"Karena keluargaku."
Anjelina diam sejenak.
Kemudian berkata,
"Dayat."
"Iya?"
"Kita tidak bisa memilih keluarga tempat kita dilahirkan."
"Tapi kita bisa memilih apa yang kita lakukan setelahnya."
Hidayat tersenyum kecil.
Kalimat itu mengingatkannya kepada ucapan Herlambang.
"Kamu mirip dia."
kata Hidayat.
"Siapa?"
"Lambang."
Anjelina tersenyum sedih.
"Dia selalu percaya kepada orang lain."
"Kadang sampai lupa menjaga dirinya sendiri."
Malam itu, Hidayat berjalan melewati pohon trembesi.
Tempat terakhir ia melihat Herlambang pergi.
Ia menyentuh batang pohon itu.
"Lambang..."
gumamnya.
"Semoga suatu hari kamu kembali."
Di tempat yang jauh dari Desa Arum Sari, Herlambang duduk di sebuah rumah sederhana.
Ia masih memikirkan desa.
Masih memikirkan ibunya.
Masih memikirkan Hidayat.
Dan terutama...
masih memikirkan Anjelina.
Ia membuka sebuah surat yang belum pernah ia kirimkan.
Surat yang berisi semua perasaannya.
Namun ia belum memiliki keberanian untuk mengirimnya.
Dalam surat itu tertulis:
"Lina, jika suatu hari aku kembali..."
"Aku ingin melihat desa ini bukan sebagai tempat penuh konflik."
"Aku ingin melihatmu tersenyum tanpa harus menyimpan kesedihan."
"Aku pergi bukan karena berhenti peduli."
"Aku pergi karena aku ingin belajar bagaimana kembali sebagai seseorang yang lebih kuat."
Herlambang melipat surat itu kembali.
Ia belum tahu kapan akan pulang.
Ia belum tahu apa yang menantinya.
Namun satu hal yang ia tahu...
hatinya masih tertinggal di Desa Arum Sari.
Sementara itu, di Desa Arum Sari...
sebuah kabar baru mulai beredar.
Seseorang menemukan bukti baru tentang asal-usul tanah utara.
Dan bukti itu...
akan mengubah semua keputusan yang telah dibuat.
Karena ternyata...
kepergian Herlambang bukanlah akhir dari konflik.
Melainkan awal dari babak terakhir perjuangan Desa Arum Sari.
Tiga minggu telah berlalu sejak Herlambang meninggalkan Desa Arum Sari.
Waktu berjalan.
Namun tidak semua luka ikut sembuh.
Ada luka yang menjadi lebih ringan karena terbiasa.
Ada pula luka yang tetap terasa meskipun hari terus berganti.
Bagi Anjelina, kepergian Herlambang adalah salah satu luka yang tidak mudah dijelaskan.
Bukan karena ia kehilangan seorang sahabat.
Bukan pula hanya karena kehilangan seseorang yang ia cintai.
Tetapi karena ada seseorang yang pergi membawa sebagian cerita yang belum sempat selesai.
Setiap sore, Anjelina masih sering duduk di bawah pohon trembesi.
Tempat itu menjadi saksi banyak hal.
Tempat pertama kali ia melihat Herlambang memperjuangkan anak-anak desa.
Tempat mereka berbicara tentang masa depan.
Tempat mereka berjanji bahwa Desa Arum Sari harus tetap menjadi rumah bagi semua orang.
Kini tempat itu hanya ditemani angin.
Suatu sore, Hidayat datang.
"Lina."
Anjelina menoleh.
"Iya, Dayat."
"Kamu masih sering ke sini?"
Anjelina tersenyum kecil.
"Iya."
"Kenapa?"
"Karena di sini aku merasa dia masih dekat."
Hidayat terdiam.
Ia memahami perasaan itu.
Karena ia juga merasakan kehilangan yang sama.
"Aku punya kabar."
kata Hidayat.
Anjelina melihat wajahnya.
"Apa?"
"Kita menemukan sesuatu."
"Sesuatu apa?"
Hidayat menyerahkan sebuah map tua.
"Dokumen tambahan tentang tanah utara."
Anjelina membuka perlahan.
Di dalamnya terdapat salinan catatan lama.
"Dokumen ini ditemukan di rumah tua milik keluarga Wiratma."
kata Hidayat.
"Isinya menjelaskan bahwa tanah utara memang bukan milik satu keluarga."
Anjelina membaca dengan teliti.
"Lalu?"
"Tetapi ada bagian lain."
"Apa?"
Hidayat menarik napas.
"Tanah itu dulu diberikan kepada desa dengan satu syarat."
"Syarat apa?"
"Bahwa setiap generasi harus menjaga keseimbangan."
"Jika ada seseorang yang mencoba mengambil keuntungan pribadi..."
"...maka masyarakat berhak menolak."
Anjelina terdiam.
"Jadi selama ini..."
"Iya."
"Kita bertengkar karena sesuatu yang sebenarnya tidak pernah menjadi milik pribadi siapa pun."
Hidayat mengangguk.
"Itulah yang selama ini ingin disembunyikan seseorang."
Kabar penemuan dokumen itu segera sampai ke warga.
Perlahan, pandangan masyarakat mulai berubah.
Mereka mulai menyadari bahwa mereka telah dipisahkan oleh permainan seseorang.
Mereka kehilangan kepercayaan.
Mereka saling menuduh.
Padahal musuh sebenarnya bukanlah tetangga mereka sendiri.
Di balai desa, Kepala Desa mengadakan pertemuan.
Kali ini suasananya berbeda.
Tidak ada kelompok yang duduk berlawanan.
Tidak ada suara keras.
Warga mulai kembali duduk bersama.
Ki Waskita berdiri.
"Anak-anak muda."
katanya kepada Herlambang, Hidayat, dan Anjelina yang tidak hadir bersama.
"Kalian telah belajar sesuatu yang penting."
"Bahwa desa tidak hancur karena masalah."
"Desa hancur ketika manusia kehilangan rasa percaya."
Sementara itu, orang yang selama ini menjadi penggerak konflik mulai kehilangan pengaruh.
Bukti-bukti mulai mengarah kepadanya.
Warga yang dahulu mengikuti mulai menjauh.
Karena mereka sadar.
Mereka hanya dijadikan alat.
Di tempat yang jauh, Herlambang menerima kabar dari Hidayat.
Sebuah surat.
Ia membacanya perlahan.
"Lambang, desa mulai menemukan jalan pulang."
"Kami berharap suatu hari kamu kembali."
"Bukan sebagai orang yang harus memperbaiki semuanya."
"Tetapi sebagai bagian dari keluarga besar Arum Sari."
Herlambang tersenyum.
Untuk pertama kalinya sejak pergi...
hatinya terasa lebih ringan.
Malam itu, Herlambang berbicara dengan ibunya melalui surat balasan.
"Aku mungkin belum pulang sekarang, Bu."
"Tapi aku mulai mengerti."
"Apa yang kamu mengerti?"
"Bahwa pergi tidak selalu berarti meninggalkan."
"Kadang pergi adalah cara seseorang belajar menghargai tempat ia berasal."
Di Desa Arum Sari, Anjelina menatap langit malam.
Ia tidak tahu kapan Herlambang akan kembali.
Ia tidak tahu apakah semuanya akan kembali seperti dulu.
Namun ia percaya.
Ada hubungan yang tidak bisa diputus oleh jarak.
Ada janji yang tidak hilang meskipun waktu berjalan.
Beberapa hari kemudian, sebuah surat tiba di rumah Bu Sulastri.
Surat itu dari Herlambang.
Anjelina membukanya dengan tangan bergetar.
Hanya ada beberapa kalimat:
"Lina..."
"Jaga desa kita."
"Jaga mimpi anak-anak."
"Dan jangan berhenti percaya bahwa kebaikan selalu menemukan jalannya."
"Aku akan kembali ketika waktunya tepat."
Air mata Anjelina jatuh.
Namun kali ini bukan air mata kesedihan.
Melainkan air mata harapan.
Malam itu Desa Arum Sari kembali menyala.
Bukan karena lampu-lampu rumah.
Tetapi karena hati manusia mulai menemukan kembali cahaya.
Konflik belum sepenuhnya selesai.
Rahasia masa lalu belum seluruhnya terungkap.
Namun satu hal telah berubah.
Mereka kembali mengingat bahwa mereka adalah satu keluarga.
Dan di sebuah tempat jauh dari desa itu...
Herlambang memandang arah matahari terbenam.
Ia tahu perjalanannya belum selesai.
Karena suatu hari nanti...
ia akan kembali.
Kembali ke desa yang ia cintai.
Kembali kepada sahabat yang menunggunya.
Dan kembali kepada seseorang yang hatinya tetap memilihnya...
meskipun telah melewati banyak musim.
BAB XXI – Seribu Musim Tanpa Kabar
Tahun-tahun mulai berjalan.
Desa Arum Sari perlahan kembali menemukan ketenangannya.
Tanah utara yang dahulu menjadi sumber perpecahan kini kembali menjadi tanah yang menyatukan.
Warga mulai bekerja bersama.
Anak-anak kembali belajar tanpa mengenal batas kelompok.
Balai desa kembali menjadi tempat musyawarah, bukan tempat pertengkaran.
Namun bagi satu hati...
ada satu hal yang belum benar-benar kembali.
Sebuah nama.
Sebuah kenangan.
Dan seseorang yang pernah berjanji akan pulang.
Sudah lama sejak Herlambang meninggalkan Desa Arum Sari.
Hari berganti bulan.
Bulan berganti tahun.
Namun tidak ada kabar yang benar-benar jelas tentang dirinya.
Hanya beberapa surat yang pernah datang.
Itu pun semakin lama semakin jarang.
Awalnya satu bulan sekali.
Kemudian beberapa bulan sekali.
Hingga akhirnya...
tidak ada lagi surat.
Anjelina masih sering membuka kotak kayu kecil miliknya.
Di dalamnya tersimpan semua kenangan.
Sebuah buku kecil pemberian Herlambang.
Foto kegiatan taman baca.
Dan surat terakhir yang pernah ia terima.
Surat yang sudah berkali-kali dibaca.
Namun tidak pernah kehilangan makna.
"Lina, aku akan kembali ketika waktunya tepat."
Kalimat itu selalu ia ingat.
Namun manusia tetap manusia.
Seberapa kuat seseorang menunggu...
tetap ada saat hati bertanya.
"Apakah dia masih ingat?"
"Apakah dia masih ingin kembali?"
"Atau mungkin..."
"aku hanya bagian dari masa lalunya?"
Suatu sore, Anjelina duduk di bawah pohon trembesi.
Pohon yang semakin besar.
Cabangnya semakin luas.
Seolah menjadi saksi bahwa waktu terus berjalan.
Hidayat datang membawa dua gelas minuman.
"Kamu masih sering ke sini."
Anjelina tersenyum.
"Iya."
"Menunggu?"
Anjelina diam.
Pertanyaan itu terlalu jujur.
"Aku tidak tahu."
jawabnya.
"Dulu aku menunggu seseorang pulang."
"Sekarang?"
"Sekarang aku hanya menjaga janji."
Hidayat duduk di sampingnya.
"Lina."
"Iya?"
"Kalau suatu hari dia tidak kembali?"
Anjelina menatap pohon trembesi.
Pertanyaan itu pernah ia tanyakan kepada dirinya sendiri berkali-kali.
"Aku tidak tahu."
"Lalu kenapa masih bertahan?"
Anjelina tersenyum kecil.
"Karena cinta bukan hanya tentang memiliki seseorang."
"Terkadang cinta adalah menghargai seseorang yang pernah membuat hidup kita menjadi lebih berarti."
Hidayat terdiam.
Ia tahu perasaan itu.
Karena ia juga memiliki sesuatu yang belum selesai dengan masa lalu.
Namun berbeda dengan Anjelina.
Hidayat memilih belajar menerima.
Sedangkan Anjelina memilih tetap menjaga harapan.
Di tempat yang jauh dari Desa Arum Sari...
Herlambang masih menjalani hidupnya.
Ia bukan lagi lelaki muda yang pergi dengan hati penuh luka.
Waktu telah mengajarinya banyak hal.
Tentang kehilangan.
Tentang tanggung jawab.
Tentang arti pulang.
Selama bertahun-tahun ia bekerja dan belajar memahami banyak hal.
Ia melihat banyak tempat.
Bertemu banyak orang.
Namun setiap kali melihat desa kecil yang damai...
ingatannya selalu kembali kepada Arum Sari.
Kepada ibunya.
Kepada Hidayat.
Dan terutama...
kepada Anjelina.
Namun ada alasan mengapa ia belum kembali.
Sebuah alasan yang belum pernah ia ceritakan kepada siapa pun.
Herlambang tidak ingin pulang sebagai seseorang yang membawa luka.
Ia ingin pulang sebagai seseorang yang mampu memberikan kepastian.
Suatu malam, ia membuka kembali surat lama.
Surat dari Anjelina yang tidak pernah ia balas.
Surat itu sederhana.
"Lambang..."
"Desa sudah kembali tersenyum."
"Semoga kamu juga menemukan kebahagiaanmu."
"Kalau suatu hari kamu pulang, jangan merasa harus memperbaiki semuanya."
"Cukup pulang sebagai dirimu sendiri."
Herlambang membaca kalimat itu berkali-kali.
Air matanya jatuh perlahan.
Karena ia baru menyadari...
selama ini ia mencari alasan untuk kembali.
Padahal rumah tidak pernah meminta ia menjadi sempurna.
Rumah hanya menunggu ia pulang.
Sementara itu, di Desa Arum Sari...
Anjelina mulai menerima kenyataan bahwa waktu tidak bisa dipaksa.
Ia tetap menjalani hidup.
Mengembangkan taman baca.
Membantu anak-anak desa.
Mengabdi untuk masyarakat.
Namun di dalam hatinya...
ada satu ruang yang masih kosong.
Ruang yang hanya memiliki satu nama.
Herlambang.
Suatu pagi, sebuah kabar datang.
Seorang warga yang lama tinggal di luar desa membawa berita.
"Apakah benar Herlambang masih di sana?"
tanya Anjelina.
Warga itu tersenyum.
"Saya mendengar..."
"Dia sedang bersiap pulang."
Jantung Anjelina berdegup.
"Benarkah?"
Namun warga itu hanya mengangguk.
"Saya tidak tahu kapan."
"Tapi katanya..."
"...ada seseorang yang masih ia cari."
Malam itu Anjelina kembali duduk di bawah pohon trembesi.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama...
hatinya kembali memiliki harapan.
Bukan harapan yang menuntut.
Bukan harapan yang memaksa.
Tetapi harapan yang tenang.
Karena ia percaya...
jika dua hati memang ditakdirkan bertemu...
jarak hanya akan menjadi ujian.
Bukan akhir cerita.
Di tempat jauh itu...
Herlambang memasukkan beberapa barang ke dalam tas.
Ia melihat foto lama Desa Arum Sari.
Kemudian tersenyum.
"Sudah waktunya."
katanya pelan.
"Sudah waktunya aku pulang."
Namun ia belum tahu...
bahwa kepulangannya nanti tidak hanya akan mempertemukannya dengan cinta lama.
Tetapi juga akan membuka sebuah kebenaran yang selama ini belum pernah terungkap.
Kabar tentang kemungkinan kepulangan Herlambang belum benar-benar menjadi kepastian.
Namun bagi Desa Arum Sari, nama itu kembali menjadi pembicaraan.
Nama yang selama bertahun-tahun hanya disebut dalam kenangan.
Nama yang pernah membawa harapan.
Nama yang pernah pergi meninggalkan pertanyaan.
Kini perlahan kembali terdengar.
Di taman baca desa, Anjelina sedang membantu anak-anak menyusun buku ketika salah seorang anak bertanya.
"Kak Lina."
"Iya?"
"Apakah Kak Lambang benar-benar mau pulang?"
Tangan Anjelina berhenti sejenak.
Ia tersenyum kecil.
"Siapa yang bilang?"
"Ayah saya mendengar dari orang pasar."
Anjelina kembali merapikan buku.
"Jangan terlalu cepat percaya kabar yang belum pasti."
"Tapi kalau benar..."
anak itu tersenyum.
"Kak Lina pasti senang, kan?"
Pertanyaan polos itu membuat Anjelina terdiam.
Karena anak kecil terkadang mampu mengatakan sesuatu yang tidak berani diucapkan orang dewasa.
Sore hari, Anjelina bertemu Hidayat di balai desa.
Hidayat sedang memeriksa beberapa dokumen pembangunan desa.
"Lina."
"Iya, Dayat?"
"Aku dengar kabar."
Anjelina menatapnya.
"Tentang Lambang?"
Hidayat mengangguk.
"Kamu percaya?"
Anjelina tersenyum.
"Aku ingin percaya."
"Tapi aku juga belajar."
"Belajar apa?"
"Bahwa menunggu seseorang bukan berarti menghentikan hidup."
Hidayat tersenyum.
"Kamu berubah."
"Dulu kamu selalu takut kehilangan."
Anjelina menatap halaman balai desa.
"Karena dulu aku belum mengerti."
"Mengerti apa?"
"Bahwa cinta yang benar tidak membuat seseorang berhenti tumbuh."
Hidayat terdiam.
Ia melihat Anjelina bukan lagi sebagai gadis yang pernah menangis ketika kehilangan.
Tetapi sebagai perempuan yang telah melewati banyak badai.
Perempuan yang tetap berdiri meskipun seseorang yang dicintainya tidak ada di sisinya.
Sementara itu, jauh dari Desa Arum Sari...
Herlambang sedang menyelesaikan satu hal terakhir sebelum pulang.
Sebuah pekerjaan yang selama ini menjadi alasan mengapa ia bertahan di tempat jauh.
Ia berdiri di depan sebuah ruangan sederhana.
Di tangannya terdapat sebuah dokumen.
Dokumen yang berkaitan dengan pengalaman panjangnya selama bertahun-tahun.
Seorang lelaki tua yang menjadi gurunya selama perjalanan itu berkata,
"Kamu sudah selesai dengan semua yang ingin kamu cari?"
Herlambang tersenyum.
"Mungkin."
"Mungkin?"
"Karena ternyata yang saya cari bukan tempat."
"Lalu?"
"Saya mencari keberanian untuk kembali."
Lelaki tua itu mengangguk.
"Kadang manusia pergi jauh bukan untuk menemukan dunia."
"Tetapi untuk menemukan dirinya sendiri."
Malam sebelum keberangkatan, Herlambang duduk sendirian.
Ia membuka buku catatan lamanya.
Di halaman pertama tertulis:
"Desa Arum Sari."
Ia tersenyum.
Begitu banyak hal telah berubah.
Dulu ia pergi dengan hati penuh kecewa.
Kini ia pulang dengan hati yang lebih tenang.
Namun sebelum benar-benar berangkat, ia menerima sebuah pesan.
Pesan yang membuat wajahnya berubah.
Bukan karena takut.
Tetapi karena terkejut.
Isi pesan itu singkat.
"Lambang, ada sesuatu tentang masa lalu keluargamu yang harus kamu ketahui sebelum kamu kembali."
Herlambang membaca pesan itu berulang kali.
Selama ini ia mengira semua persoalan telah selesai.
Tanah utara.
Konflik keluarga.
Perselisihan warga.
Semuanya sudah menemukan jalan keluar.
Namun ternyata masih ada satu bagian cerita yang belum terbuka.
Ia segera menemui orang yang mengirim pesan tersebut.
Ternyata orang itu adalah seseorang yang pernah menjadi saksi dalam konflik Desa Arum Sari.
Seorang lelaki tua yang dahulu tinggal dekat wilayah tanah utara.
"Lambang."
"Iya, Pak."
"Ada alasan kenapa dulu aku tidak mengatakan ini."
"Apa itu?"
"Karena saat itu desa sedang berada dalam keadaan panas."
"Lalu sekarang?"
"Sekarang waktunya kebenaran diketahui."
Lelaki tua itu menyerahkan sebuah amplop tua.
"Ini milik ayahmu."
Herlambang terkejut.
"Ayah saya?"
"Iya."
"Kenapa ada pada Bapak?"
"Karena ayahmu menitipkannya sebelum beliau pergi."
Dengan tangan bergetar, Herlambang membuka amplop itu.
Di dalamnya terdapat sebuah surat.
Tulisan tangan yang sudah mulai pudar.
Namun masih bisa dibaca.
"Untuk anakku, Herlambang."
Herlambang membaca perlahan.
"Jika suatu hari kamu membaca surat ini, mungkin aku sudah tidak bisa menjelaskan semuanya secara langsung."
"Ada satu hal yang harus kamu tahu."
"Keluarga kita bukan hanya memiliki sejarah tentang tanah."
"Tetapi juga memiliki janji lama dengan keluarga seseorang yang sangat berarti dalam hidupmu."
Herlambang berhenti membaca.
Jantungnya berdegup.
"Keluarga seseorang..."
gumamnya.
Surat itu berlanjut.
"Jangan biarkan masa lalu menjadi alasan kamu kehilangan orang yang kamu cintai."
"Karena terkadang takdir mempertemukan dua hati bukan karena mereka sama."
"Tetapi karena mereka mampu saling melengkapi."
Herlambang menutup surat itu.
Pikirannya penuh pertanyaan.
Apa maksud ayahnya?
Siapa yang dimaksud dengan keluarga seseorang?
Dan mengapa surat itu berkaitan dengan Anjelina?
Keesokan harinya, Herlambang akhirnya memutuskan.
Ia akan pulang.
Bukan hanya untuk bertemu Anjelina.
Bukan hanya untuk kembali ke Desa Arum Sari.
Tetapi untuk menyelesaikan cerita yang selama ini tertunda.
Di Desa Arum Sari, tanpa mengetahui apa yang sedang terjadi...
Anjelina kembali duduk di bawah pohon trembesi.
Ia memandang jalan desa.
Jalan yang dahulu menjadi tempat seseorang pergi.
Dan mungkin...
akan menjadi tempat seseorang kembali.
Angin sore berhembus perlahan.
Daun-daun trembesi bergerak.
Seolah alam pun tahu...
sebuah pertemuan yang telah lama tertunda...
sebentar lagi akan terjadi.
Pagi itu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun...
Herlambang merasa perjalanan pulang bukan lagi sekadar perjalanan menuju sebuah tempat.
Tetapi perjalanan menuju sebuah jawaban.
Ia berdiri di depan pintu rumah sederhana tempat ia tinggal selama beberapa tahun terakhir.
Sebuah tas sudah berada di tangannya.
Tidak banyak yang ia bawa.
Beberapa pakaian.
Beberapa buku.
Dan satu benda yang selalu ia simpan.
Surat dari ayahnya.
Sebelum meninggalkan tempat itu, Herlambang kembali membaca surat tersebut.
Ada bagian yang belum mampu ia pahami.
"Jangan biarkan masa lalu menjadi alasan kamu kehilangan orang yang kamu cintai."
Kalimat itu terus terngiang di pikirannya.
Siapa yang dimaksud ayahnya?
Mengapa ayahnya mengetahui sesuatu tentang hubungan dua keluarga?
Dan mengapa semua itu berkaitan dengan Anjelina?
Perjalanan pulang terasa panjang.
Setiap kilometer yang ia lewati membawa kembali kenangan lama.
Tentang jalan desa.
Tentang sawah yang membentang.
Tentang suara anak-anak.
Tentang tawa bersama Hidayat.
Dan tentang seorang perempuan yang selalu percaya kepadanya.
Anjelina.
Sementara itu di Desa Arum Sari...
hari-hari berjalan seperti biasa.
Namun tanpa diketahui banyak orang, ada sesuatu yang berubah.
Warga mulai merasakan bahwa desa mereka kehilangan salah satu putranya.
Bukan karena Herlambang seorang pemimpin.
Bukan karena ia memiliki jabatan.
Tetapi karena ia pernah menunjukkan bahwa kebaikan masih memiliki tempat di dunia yang penuh kepentingan.
Di balai desa, Hidayat sedang berbicara dengan Kepala Desa.
"Kita harus menyelesaikan pembangunan perpustakaan desa sebelum akhir tahun."
kata Hidayat.
Kepala Desa tersenyum.
"Kamu banyak berubah."
"Maksudnya?"
"Dulu kamu lebih banyak diam."
Hidayat tertawa kecil.
"Mungkin karena dulu ada Lambang."
"Lalu sekarang?"
"Sekarang saya sadar."
"Desa tidak boleh menunggu satu orang untuk bergerak."
Namun dalam hatinya...
Hidayat tetap berharap.
Ia ingin sahabatnya kembali.
Bukan untuk menyelesaikan masalah.
Tetapi karena sebuah persahabatan yang kuat tidak seharusnya berakhir karena jarak.
Di rumahnya, Anjelina sedang membantu ibunya menyiapkan makanan ketika terdengar suara dari luar.
"Lina!"
Anjelina keluar.
Ternyata seorang warga membawa kabar.
"Ada seseorang yang melihat kendaraan menuju desa."
"Siapa?"
"Warga bilang..."
"Sepertinya orang yang sudah lama pergi."
Jantung Anjelina berdetak lebih cepat.
Namun ia menahan dirinya.
Ia tidak ingin kembali berharap terlalu tinggi.
Malam itu, Anjelina tidak bisa tidur.
Ia membuka kotak kayu yang berisi kenangan.
Ia membaca kembali surat terakhir Herlambang.
Bukan karena ia ingin hidup di masa lalu.
Tetapi karena surat itu pernah menjadi alasan ia tetap kuat.
"Apakah kamu benar-benar akan pulang, Lambang?"
bisiknya.
Tidak ada jawaban.
Hanya suara angin malam.
Keesokan paginya...
sebuah kendaraan berhenti di ujung jalan Desa Arum Sari.
Seorang lelaki turun perlahan.
Ia melihat hamparan sawah.
Melihat rumah-rumah warga.
Melihat pohon-pohon yang masih berdiri.
Semuanya tampak berubah.
Namun terasa begitu akrab.
Herlambang tersenyum.
"Aku kembali."
gumamnya.
Langkahnya membawa dia melewati jalan yang pernah ia lalui bertahun-tahun lalu.
Jalan tempat ia pergi dengan hati penuh luka.
Kini ia kembali dengan hati yang lebih dewasa.
Namun sebelum menuju rumahnya, ia berhenti di satu tempat.
Pohon trembesi.
Tempat yang menyimpan begitu banyak cerita.
Ia menyentuh batang pohon itu.
Masih sama.
Hanya dirinya yang berbeda.
Tiba-tiba terdengar suara dari belakang.
"Lambang?"
Tubuh Herlambang membeku.
Suara itu.
Suara yang selama ini hanya ia dengar dalam ingatan.
Ia perlahan berbalik.
Di sana berdiri Anjelina.
Mereka saling menatap.
Tidak ada kata-kata.
Tidak ada kalimat panjang.
Karena terkadang perasaan yang telah lama disimpan...
tidak membutuhkan penjelasan.
Mata Anjelina mulai berkaca-kaca.
"Kamu benar-benar pulang."
Herlambang tersenyum.
"Iya."
"Kenapa lama sekali?"
Pertanyaan itu sederhana.
Namun menyimpan ribuan rasa.
Herlambang menunduk.
"Karena aku harus belajar."
"Belajar apa?"
"Belajar bagaimana pulang tanpa membawa luka yang sama."
Anjelina menahan air matanya.
"Aku pikir kamu sudah lupa."
Herlambang menggeleng.
"Tidak pernah."
"Selama aku pergi..."
"Aku selalu membawa satu tempat yang tidak pernah berubah."
"Tempat apa?"
"Hatiku yang masih menyimpan Desa Arum Sari."
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun...
mereka kembali berdiri di bawah pohon trembesi.
Tempat sebuah janji pernah dibuat.
Dan tempat sebuah pertemuan baru dimulai.
Namun kebahagiaan itu belum sepenuhnya lengkap.
Karena malam itu, ketika Herlambang membuka kembali surat ayahnya...
ia menemukan satu halaman terakhir yang sebelumnya tersembunyi.
Sebuah halaman yang berisi nama.
Nama dua keluarga.
Dan sebuah janji lama.
Herlambang membaca tulisan itu dengan wajah terkejut.
Karena ternyata...
kisah antara dirinya dan Anjelina bukan hanya tentang perasaan dua manusia.
Tetapi juga tentang dua keluarga yang sejak dahulu telah memiliki ikatan yang tidak pernah mereka ketahui.
Dan di balik kepulangan Herlambang...
sebuah kebenaran besar sedang menunggu untuk diungkap.
Karena sebelum cinta menemukan jalannya...
masa lalu harus lebih dulu diselesaikan.
BAB XXII – Pertemuan yang Terlambat
Ada pertemuan yang datang tepat pada waktunya.
Ada pula pertemuan yang harus melewati perjalanan panjang sebelum akhirnya terjadi.
Bagi sebagian orang, terlambat berarti kehilangan.
Namun bagi Anjelina dan Herlambang...
keterlambatan waktu justru menjadi cara kehidupan mengajarkan arti sebuah kesetiaan.
Sejak Herlambang kembali ke Desa Arum Sari, banyak hal berubah.
Warga menyambutnya dengan hangat.
Orang-orang yang dahulu meragukannya kini menyadari bahwa kepergiannya bukan karena menyerah.
Ia pergi karena ingin menemukan kekuatan untuk kembali.
Namun ada satu pertemuan yang paling dinantikan.
Pertemuan antara dua hati yang pernah dipisahkan oleh keadaan.
Pagi itu, Desa Arum Sari tampak lebih cerah.
Herlambang berjalan menyusuri jalan desa.
Setiap sudut membawa kenangan.
Di sana pernah ada tempat ia mengajar anak-anak.
Di sana pernah ada warung tempat ia dan Hidayat berbicara tentang mimpi.
Dan di ujung jalan itu...
ada rumah yang selama bertahun-tahun selalu ia ingat.
Rumah Anjelina.
Namun ia tidak langsung datang.
Bukan karena takut.
Tetapi karena ia merasa ada sesuatu yang harus ia persiapkan.
Bertahun-tahun ia pergi.
Bertahun-tahun Anjelina menunggu.
Ia tidak ingin datang hanya membawa kata maaf.
Ia ingin datang membawa kepastian.
Sore itu, mereka akhirnya bertemu.
Bukan dalam suasana yang megah.
Bukan dalam acara besar.
Hanya di bawah pohon trembesi.
Tempat yang pernah menjadi awal dari banyak cerita.
Anjelina datang membawa dua cangkir teh.
Sebuah kebiasaan lama yang tidak pernah ia lupakan.
Herlambang tersenyum.
"Kamu masih ingat?"
Anjelina duduk.
"Apa?"
"Teh tanpa terlalu banyak gula."
Anjelina tersenyum kecil.
"Ada beberapa hal yang memang tidak berubah."
Mereka terdiam.
Untuk beberapa saat, hanya suara angin yang terdengar.
Banyak hal ingin mereka katakan.
Namun setelah bertahun-tahun menunggu...
kata-kata justru terasa sulit keluar.
"Aku minta maaf."
kata Herlambang akhirnya.
Anjelina menatapnya.
"Untuk apa?"
"Karena pergi terlalu lama."
Anjelina diam.
"Kamu tahu..."
lanjut Herlambang.
"Setiap hari selama aku pergi, aku selalu memikirkan bagaimana caranya kembali."
"Lalu kenapa tidak kembali lebih cepat?"
Pertanyaan itu akhirnya keluar.
Bukan dengan kemarahan.
Tetapi dengan luka yang masih tersimpan.
Herlambang menunduk.
"Karena aku takut."
"Takut apa?"
"Takut kembali sebagai orang yang sama."
Anjelina terdiam.
"Dulu aku pergi karena merasa harus menyelesaikan semuanya."
"Aku berpikir aku harus menjadi kuat."
"Tapi aku lupa..."
"Bahwa orang yang mencintaiku tidak pernah meminta aku menjadi sempurna."
Air mata Anjelina mulai jatuh.
"Bertahun-tahun aku bertanya..."
"Apakah aku masih berarti?"
Herlambang langsung menatapnya.
"Lina."
"Iya?"
"Tidak ada satu hari pun aku melupakanmu."
Anjelina menahan tangis.
"Kalau begitu kenapa kamu tidak pernah mengatakan itu?"
Herlambang tersenyum sedih.
"Karena kadang seseorang terlalu sibuk memperbaiki hidupnya..."
"...sampai lupa bahwa ada hati yang hanya membutuhkan kabar."
Kalimat itu membuat Anjelina terdiam.
Karena itulah luka terbesar selama ini.
Bukan karena Herlambang pergi.
Tetapi karena ia tidak tahu apakah orang yang pergi itu masih mengingat jalan pulang.
"Aku marah kepadamu, Lambang."
kata Anjelina.
"Aku tahu."
"Aku kecewa."
"Aku tahu."
"Aku merasa ditinggalkan."
Herlambang menunduk.
"Dan aku pantas menerima itu."
Namun kemudian Anjelina tersenyum kecil.
"Tapi aku juga tahu satu hal."
"Apa?"
"Kamu tidak pergi karena berhenti mencintai."
Herlambang menatapnya.
"Kamu pergi karena kamu ingin kembali sebagai seseorang yang lebih baik."
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun...
beban di hati Herlambang terasa lebih ringan.
Karena orang yang paling ia takutkan untuk kehilangan...
ternyata masih memahami dirinya.
Namun percakapan mereka belum selesai.
Karena Herlambang membawa sesuatu.
Surat ayahnya.
Surat yang berisi rahasia lama dua keluarga.
"Lina."
"Iya?"
"Ada sesuatu yang harus aku ceritakan."
"Apa?"
"Ini berkaitan dengan keluarga kita."
Anjelina terlihat bingung.
"Keluarga kita?"
Herlambang mengangguk.
"Aku baru mengetahui..."
"...bahwa hubungan kita mungkin bukan kebetulan."
Anjelina terdiam.
"Maksudmu?"
Herlambang membuka surat itu.
"Sejak dahulu, keluarga kita memiliki janji yang tidak pernah diketahui oleh generasi kita."
Angin tiba-tiba berhembus lebih kuat.
Daun-daun trembesi berguguran.
Seolah alam sedang mengingatkan...
bahwa kisah mereka bukan hanya tentang cinta yang lama menunggu.
Tetapi tentang rahasia yang harus segera dibuka.
Di kejauhan, Hidayat melihat mereka dari jalan.
Ia tersenyum.
Untuk pertama kalinya setelah lama...
ia melihat sahabatnya kembali menemukan kebahagiaan.
Namun ia juga tahu...
perjalanan mereka belum selesai.
Karena masa lalu dua keluarga akan segera membuka kebenaran yang selama ini tersembunyi.
Pertemuan yang terlambat telah terjadi.
Tetapi apakah cinta mampu melewati rahasia yang akan terungkap?
Itulah pertanyaan yang harus mereka jawab.
Senja perlahan turun di Desa Arum Sari.
Cahaya matahari menyentuh hamparan sawah dengan warna keemasan.
Suasana desa tampak damai.
Namun di bawah pohon trembesi, dua hati sedang menghadapi sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar pertemuan setelah lama berpisah.
Mereka sedang membuka kembali lembaran masa lalu.
Herlambang masih memegang surat peninggalan ayahnya.
Tangannya terlihat sedikit bergetar.
Bukan karena takut.
Tetapi karena ia tahu...
setiap kata dalam surat itu dapat mengubah cara mereka melihat perjalanan hidup mereka selama ini.
"Lina."
"Iya?"
"Aku tidak pernah tahu tentang ini sebelumnya."
Anjelina menatap surat itu.
"Apa sebenarnya isi surat itu?"
Herlambang menarik napas panjang.
"Surat ini ditulis ayahku sebelum beliau meninggal."
"Beliau menitipkan sebuah pesan."
"Pesan tentang keluarga kita."
Herlambang membuka bagian surat yang selama ini belum ia ceritakan.
"Anakku, Herlambang."
"Jika suatu hari kamu bertemu seseorang yang membuat hatimu merasa pulang..."
"Jangan biarkan perbedaan masa lalu memisahkan kalian."
Anjelina terdiam.
Herlambang melanjutkan membaca.
"Karena sebelum kalian lahir, dua keluarga pernah memiliki sebuah janji."
"Bukan janji tentang harta."
"Bukan tentang tanah."
"Tetapi janji untuk menjaga kehidupan dan kedamaian di Desa Arum Sari."
Anjelina memandang Herlambang.
"Jadi maksudnya..."
"Iya."
"Hubungan keluarga kita sudah ada sejak dulu?"
Herlambang mengangguk.
"Tapi bukan seperti yang kita bayangkan."
Herlambang menjelaskan.
Dahulu, leluhur keluarganya dan keluarga Anjelina bukanlah dua pihak yang berlawanan.
Mereka justru dua keluarga yang dipercaya menjaga keseimbangan desa.
Satu menjaga aturan.
Satu menjaga hubungan masyarakat.
Satu menjaga nilai adat.
Satu menjaga kehidupan sosial warga.
"Jadi selama ini..."
kata Anjelina perlahan.
"Kita bertengkar karena sejarah yang tidak pernah kita pahami."
Herlambang mengangguk.
"Kadang manusia bertengkar karena mewarisi luka yang bukan miliknya."
Kalimat itu membuat Anjelina terdiam.
Karena ia teringat semua kejadian.
Konflik tanah.
Kecurigaan warga.
Persahabatan yang hampir hancur.
Dan kepergian Herlambang.
Semua berawal dari masa lalu yang tidak mereka mengerti.
"Tapi ada satu hal yang masih membuatku bingung."
kata Anjelina.
"Apa?"
"Kenapa semua ini baru diketahui sekarang?"
Herlambang menatap jauh.
"Itu juga yang ingin aku cari tahu."
Mereka kemudian menemui Ki Waskita.
Orang yang sejak awal menjadi penjaga sejarah Desa Arum Sari.
Ketika melihat surat itu, wajah Ki Waskita berubah.
"Lama sekali surat ini akhirnya kembali."
Herlambang terkejut.
"Ki Waskita sudah tahu?"
Ki Waskita mengangguk perlahan.
"Tidak semuanya."
"Tapi aku tahu bahwa ayahmu menyimpan bagian terakhir dari cerita ini."
Anjelina bertanya,
"Kenapa tidak pernah diceritakan kepada kami?"
Ki Waskita menghela napas.
"Karena ada masa ketika desa hampir kehilangan kendali."
"Jika rahasia ini dibuka saat konflik tanah terjadi..."
"...mungkin keadaan akan semakin buruk."
Herlambang menatapnya.
"Lalu apa isi bagian terakhir dari cerita ini?"
Ki Waskita berjalan menuju lemari tua.
Ia mengambil sebuah buku catatan.
Buku yang sampulnya sudah rusak.
"Ini adalah catatan leluhur."
katanya.
"Di dalamnya ada satu pesan."
"Apa pesannya?"
Ki Waskita membuka halaman terakhir.
Kemudian membaca:
"Suatu hari nanti, anak-anak dari dua keluarga penjaga akan kembali dipertemukan."
"Bukan untuk menguasai."
"Bukan untuk memiliki."
"Tetapi untuk melanjutkan tugas menjaga kedamaian."
Anjelina terdiam.
Herlambang menatapnya.
Keduanya merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan.
Seolah perjalanan panjang mereka bukan hanya tentang cinta.
Tetapi tentang sebuah amanah yang jauh lebih besar.
Namun Ki Waskita belum selesai.
"Ada satu hal lagi."
"Apa itu, Ki?"
"Janji leluhur itu tidak pernah memaksa."
"Maksudnya?"
"Bahwa takdir tidak boleh dipaksakan atas nama adat."
Herlambang dan Anjelina saling memandang.
Ki Waskita melanjutkan.
"Para leluhur hanya menitipkan pesan."
"Bahwa dua keluarga harus tetap menjaga hubungan baik."
"Namun pilihan hati tetap milik kalian."
Mendengar itu, Anjelina merasa lega.
Karena cinta yang ia perjuangkan bukanlah karena aturan.
Bukan karena sejarah.
Bukan karena kehendak orang lain.
Tetapi karena pilihan hati mereka sendiri.
Malam itu, Herlambang dan Anjelina kembali berjalan di jalan desa.
Tidak ada lagi beban masa lalu.
Namun ada tanggung jawab baru.
"Lambang."
"Iya?"
"Apakah kamu menyesal pernah pergi?"
Herlambang tersenyum.
"Dulu aku berpikir pergi adalah kesalahan."
"Lalu sekarang?"
"Sekarang aku sadar."
"Aku harus pergi agar aku tahu..."
"...bahwa tempat terbaik untuk kembali adalah tempat di mana hatiku selalu tinggal."
Anjelina tersenyum.
Namun dalam hatinya masih ada satu pertanyaan.
Tentang orang yang dulu menghancurkan kedamaian desa.
Tentang dalang yang belum sepenuhnya terungkap.
Karena meskipun cinta mereka menemukan jalan...
kebenaran masih menunggu untuk diselesaikan.
Malam semakin larut.
Di sebuah tempat tersembunyi, seseorang mendengar kabar bahwa Herlambang telah kembali.
Wajahnya berubah.
"Tidak."
"Dia tidak boleh mengetahui semuanya."
Ia membuka sebuah dokumen lama.
Dokumen terakhir yang masih ia simpan.
"Kalau kebenaran ini terbuka..."
"...semua rencana akan berakhir."
Sementara di bawah langit Desa Arum Sari...
dua hati mulai menemukan kembali jalannya.
Namun sebelum mereka benar-benar bersatu...
mereka harus menghadapi kebenaran terakhir.
Sebuah kebenaran yang akan membuka siapa sebenarnya orang yang selama ini bermain di balik semua konflik.
Malam itu Desa Arum Sari tampak lebih tenang dari biasanya.
Lampu-lampu rumah warga mulai padam satu per satu.
Suara jangkrik terdengar dari pematang sawah.
Angin malam melewati pepohonan dengan perlahan.
Namun di balik ketenangan itu...
sebuah perjalanan baru sedang dimulai.
Perjalanan untuk menemukan kebenaran yang selama ini tersembunyi.
Setelah pertemuan dengan Ki Waskita, Herlambang dan Anjelina menyadari satu hal.
Kembalinya mereka bukan hanya tentang menyembuhkan luka lama.
Bukan hanya tentang menjawab kerinduan.
Tetapi juga tentang menyelesaikan sebuah cerita yang belum selesai.
Keesokan paginya, Herlambang datang ke balai desa.
Hidayat sudah menunggunya.
"Selamat datang kembali, sahabat."
kata Hidayat sambil tersenyum.
Herlambang tertawa kecil.
"Sudah lama aku tidak mendengar kalimat itu."
"Karena memang sudah lama kamu pergi."
Mereka saling tersenyum.
Namun setelah itu, wajah Hidayat berubah serius.
"Ada sesuatu yang harus kamu tahu."
"Apa?"
"Orang yang selama ini menjadi penyebab konflik..."
"...belum benar-benar ditemukan."
Herlambang terdiam.
"Bagaimana mungkin?"
"Kita sudah menemukan banyak bukti."
"Iya."
kata Hidayat.
"Tapi belum semua."
"Dia masih memiliki satu dokumen terakhir."
"Dokumen apa?"
"Dokumen yang berkaitan dengan sejarah tanah utara."
Herlambang memahami.
Selama ini mereka hanya melihat sebagian dari permainan.
Seseorang masih menyimpan bagian terakhir yang dapat mengubah semuanya.
Di tempat lain, Anjelina menemui ibunya.
Bu Sulastri melihat wajah anaknya yang berbeda.
"Kamu bertemu Herlambang?"
Anjelina tersenyum.
"Iya, Bu."
"Lalu?"
Anjelina terdiam sebentar.
"Rasanya seperti bertemu seseorang yang lama hilang."
"Tapi juga seperti bertemu orang baru."
Bu Sulastri tersenyum.
"Itulah arti waktu."
"Kadang waktu tidak mengubah cinta."
"Tetapi mengubah cara seseorang mencintai."
Siang itu, Herlambang, Anjelina, dan Hidayat berkumpul.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun...
tiga sahabat itu kembali duduk bersama.
Tidak ada konflik.
Tidak ada prasangka.
Hanya ada satu tujuan.
Mencari kebenaran.
"Aku sudah mencoba mencari jejak dokumen itu."
kata Hidayat.
"Ada petunjuk?"
"Ada."
"Apa?"
"Dokumen terakhir pernah disimpan oleh seseorang yang memiliki hubungan dengan keluarga lama di desa."
Anjelina bertanya,
"Siapa?"
Hidayat menatap keduanya.
"Itu yang belum kita ketahui."
Herlambang membuka kembali surat ayahnya.
Ia membaca bagian yang sebelumnya belum ia pahami.
"Jangan mencari musuh di luar rumahmu."
"Karena terkadang orang yang paling dekat dengan cerita..."
"adalah orang yang paling tahu cara menyembunyikan kebenaran."
Herlambang terdiam.
Kalimat itu terasa seperti petunjuk.
"Jangan mencari musuh di luar rumah..."
gumamnya.
Anjelina memperhatikan.
"Apa yang kamu pikirkan?"
"Aku merasa ayahku sedang memperingatkan sesuatu."
Mereka kemudian menemui beberapa orang tua desa yang masih mengingat sejarah lama.
Dari satu cerita ke cerita lain...
mereka menemukan sebuah nama yang mulai sering disebut.
Nama yang selama ini tidak banyak muncul.
Seorang warga tua berkata,
"Dulu ada keluarga yang merasa dilupakan."
"Siapa?"
"Keluarga yang menganggap leluhur mereka kehilangan hak."
"Mereka merasa tanah utara seharusnya menjadi milik mereka."
Herlambang bertanya,
"Apakah keluarga itu masih ada?"
Orang tua itu mengangguk.
"Masih."
"Dan mereka tinggal di desa ini."
Sebuah jawaban mulai terbentuk.
Namun belum cukup kuat.
Karena tuduhan tanpa bukti hanya akan melahirkan konflik baru.
Malam itu, Herlambang kembali ke pohon trembesi bersama Anjelina.
Mereka duduk seperti dulu.
Namun mereka bukan lagi dua anak muda yang hanya mengenal mimpi.
Mereka adalah dua manusia yang telah melewati banyak kehilangan.
"Lina."
"Iya?"
"Apakah kamu takut?"
"Takut apa?"
"Jika kebenaran yang kita temukan nanti menyakitkan?"
Anjelina diam.
Kemudian menjawab,
"Takut."
Herlambang menatapnya.
"Tapi aku lebih takut hidup dalam kebohongan."
Jawaban itu membuat Herlambang tersenyum.
Karena itulah Anjelina yang ia kenal.
Seseorang yang selalu memilih kebenaran meskipun jalan itu sulit.
Sementara itu...
di sebuah rumah tua di ujung desa...
seseorang membakar beberapa lembar dokumen.
Api kecil menyala.
Namun sebelum semuanya habis...
sebuah nama terlihat jelas pada dokumen itu.
Nama keluarga yang selama ini tersembunyi.
Orang itu berkata,
"Sudah terlalu lama aku menunggu."
"Kalau mereka ingin membuka masa lalu..."
"...maka mereka harus siap menerima seluruh akibatnya."
Pagi berikutnya, sebuah kabar mengejutkan datang.
Seseorang menemukan bukti baru.
Bukti yang mengarah langsung kepada dalang konflik Desa Arum Sari.
Herlambang, Anjelina, dan Hidayat berdiri bersama.
Mereka tahu.
Perjalanan panjang mereka hampir sampai pada ujung.
Namun sebelum kedamaian benar-benar tercipta...
kebenaran harus lebih dulu dibuka.
Karena cinta yang bertahan seribu musim...
tidak hanya diuji oleh jarak.
Tetapi juga oleh keberanian menghadapi kenyataan.
BAB XXIII – Kebenaran Terungkap
Kebenaran tidak pernah benar-benar hilang.
Ia mungkin terkubur oleh waktu.
Disembunyikan oleh kepentingan.
Ditutupi oleh ketakutan.
Namun suatu hari...
ia akan menemukan jalannya untuk muncul ke permukaan.
Begitu pula dengan Desa Arum Sari.
Setelah melewati konflik panjang, perpecahan warga, hilangnya kepercayaan, dan luka yang hampir menghancurkan persaudaraan...
hari itu kebenaran mulai membuka pintunya.
Pagi itu, balai desa kembali dipenuhi warga.
Namun suasananya berbeda dari pertemuan-pertemuan sebelumnya.
Tidak ada kemarahan.
Tidak ada teriakan.
Semua datang dengan satu tujuan.
Mendengar kebenaran.
Kepala Desa berdiri di depan warga.
Di sampingnya ada Herlambang, Hidayat, Anjelina, Ki Waskita, dan beberapa tokoh adat.
Hari itu bukan hanya rapat desa.
Tetapi menjadi hari pertanggungjawaban sejarah.
"Kita sudah terlalu lama hidup dalam prasangka."
kata Kepala Desa.
"Hari ini kita tidak mencari siapa yang harus dibenci."
"Kita mencari apa yang sebenarnya terjadi."
Semua warga diam.
Ki Waskita kemudian maju membawa sebuah kotak kayu tua.
Kotak yang pernah menjadi saksi perjalanan panjang Desa Arum Sari.
"Di dalam kotak ini..."
katanya.
"...ada bagian terakhir dari catatan leluhur."
Warga mulai memperhatikan.
Kotak itu dibuka perlahan.
Di dalamnya terdapat beberapa lembar dokumen lama.
Sebagian sudah rusak.
Namun tulisan masih bisa dibaca.
Herlambang melihat dokumen itu dengan penuh perhatian.
Ia merasa seperti sedang membuka kembali perjalanan hidupnya sendiri.
Karena ternyata...
sejarah desa ini juga menjadi bagian dari sejarah keluarganya.
Ki Waskita membaca isi dokumen.
"Tanah utara bukan diwariskan untuk dimiliki."
"Tanah utara diwariskan untuk dijaga."
"Siapa pun yang mencoba menjadikannya milik pribadi..."
"...telah mengkhianati amanah leluhur."
Warga mulai saling melihat.
Kalimat itu menjawab semua persoalan.
Karena selama ini konflik terjadi akibat anggapan bahwa tanah tersebut adalah hak keluarga tertentu.
Padahal bukan.
Kemudian Ki Waskita mengambil sebuah dokumen lain.
"Namun ada satu bagian yang selama ini hilang."
"Bagian yang menjelaskan siapa yang mencoba mengubah sejarah."
Suasana langsung hening.
Herlambang menatap Ki Waskita.
"Ki..."
"Apakah sudah waktunya?"
Ki Waskita mengangguk.
"Iya."
"Sudah terlalu lama kebenaran ini disimpan."
Kemudian Ki Waskita menyebut sebuah nama.
Nama yang membuat seluruh ruangan terdiam.
"Surya Mahardika."
Beberapa warga terkejut.
Karena nama itu bukan nama orang asing.
Surya Mahardika adalah salah satu tokoh lama desa.
Seseorang yang dahulu sangat dihormati.
Hidayat terkejut.
"Surya?"
Ki Waskita mengangguk.
"Iya."
"Dia adalah orang yang selama ini memainkan keadaan."
Warga mulai berbisik.
"Tidak mungkin."
"Dia dulu orang yang membantu desa."
"Bagaimana bisa?"
Ki Waskita menghela napas.
"Karena manusia tidak selalu berubah menjadi buruk secara tiba-tiba."
"Kadang seseorang berubah karena merasa pernah diperlakukan tidak adil."
Herlambang bertanya,
"Apa hubungannya dengan tanah utara?"
Ki Waskita menjawab,
"Surya adalah keturunan dari keluarga yang dahulu merasa kehilangan peran dalam menjaga tanah itu."
"Dia percaya bahwa leluhurnya telah disingkirkan."
Anjelina terdiam.
"Jadi selama ini..."
"Iya."
kata Ki Waskita.
"Dia membawa luka lama keluarganya."
Namun Hidayat bertanya,
"Tapi kenapa harus memecah desa?"
Ki Waskita menatapnya.
"Karena dia percaya..."
"Jika desa kacau, maka aturan lama bisa dikembalikan."
Tiba-tiba pintu balai desa terbuka.
Semua menoleh.
Surya Mahardika berdiri di sana.
Wajahnya tenang.
Namun matanya menyimpan kemarahan yang lama.
"Jadi akhirnya kalian membuka semuanya."
katanya.
Ruangan menjadi sunyi.
Kepala Desa berdiri.
"Surya."
"Kamu tahu semua ini?"
Surya tersenyum pahit.
"Tahu?"
"Saya adalah bagian dari sejarah itu."
Warga mulai gelisah.
Surya melangkah masuk.
"Selama bertahun-tahun saya melihat keluarga tertentu selalu dihormati."
"Saya melihat keputusan desa selalu mengutamakan mereka."
"Sedangkan keluarga saya..."
"...hanya menjadi penonton."
Herlambang menatapnya.
"Apakah karena itu kamu menghancurkan desa?"
Surya terdiam.
Kemudian menjawab,
"Saya tidak menghancurkan."
"Saya hanya menunjukkan bahwa desa ini sudah lama tidak adil."
Anjelina maju.
"Tapi cara yang kamu lakukan salah."
"Kamu membuat warga saling membenci."
"Kamu membuat keluarga saling mencurigai."
Surya menatapnya.
"Karena terkadang manusia baru melihat ketidakadilan ketika semuanya terbakar."
Herlambang menarik napas.
Ia mulai memahami.
Surya bukan hanya seorang pelaku.
Ia juga seseorang yang terjebak dalam luka masa lalu.
Namun luka tidak pernah bisa menjadi alasan untuk melukai orang lain.
Ki Waskita kemudian mengeluarkan bukti terakhir.
"Surya."
"Ini surat leluhurmu."
Surya terkejut.
"Surat?"
"Iya."
"Surat yang sebenarnya menunjukkan bahwa keluargamu tidak pernah disingkirkan."
Wajah Surya berubah.
"Apa maksudnya?"
Ki Waskita membuka surat itu.
"Justru leluhurmu diberikan kepercayaan untuk menjaga hubungan antar keluarga."
"Bukan kehilangan hak."
"Tetapi menerima amanah."
Ruangan menjadi hening.
Karena selama puluhan tahun...
sebuah kesalahpahaman telah diwariskan.
Sebuah luka yang ternyata lahir dari sebuah kebohongan.
Surya menunduk.
Untuk pertama kalinya...
wajahnya tidak terlihat sebagai seseorang yang marah.
Tetapi seseorang yang baru menyadari bahwa perjuangannya selama ini dibangun di atas kesalahan.
Namun sebelum ia mengatakan sesuatu...
terdengar suara warga dari belakang.
"Kalau begitu..."
"Bagaimana kita memperbaiki semua yang sudah terjadi?"
Pertanyaan itu menggantung.
Karena kebenaran telah ditemukan.
Namun luka yang ditinggalkan masih harus disembuhkan.
Balai Desa Arum Sari masih dalam suasana hening.
Tidak ada yang langsung berbicara setelah semua kebenaran terbuka.
Karena terkadang...
mengetahui kebenaran tidak selalu membuat hati langsung merasa lega.
Ada luka yang membutuhkan waktu untuk sembuh.
Ada kepercayaan yang membutuhkan waktu untuk kembali.
Dan ada kesalahan masa lalu yang harus diterima dengan lapang dada.
Surya Mahardika masih berdiri di tengah ruangan.
Orang yang selama ini menjadi sumber konflik.
Orang yang membuat warga saling curiga.
Orang yang diam-diam menggerakkan berbagai peristiwa yang hampir menghancurkan persatuan Desa Arum Sari.
Namun hari itu...
ia tidak lagi berdiri sebagai seseorang yang penuh amarah.
Ia berdiri sebagai manusia yang sedang menghadapi dirinya sendiri.
"Selama ini..."
ucap Surya perlahan.
"Aku berpikir keluargaku dirampas haknya."
"Aku berpikir kami selalu dianggap tidak penting."
"Ternyata..."
ia berhenti.
"Ternyata aku hanya mewarisi kesalahpahaman."
Tidak ada warga yang langsung menjawab.
Karena mereka juga menyadari satu hal.
Surya memang melakukan kesalahan.
Namun sebelum menjadi seseorang yang salah...
ia juga pernah menjadi seseorang yang terluka.
Herlambang maju beberapa langkah.
"Surya."
Surya menatapnya.
"Kamu salah."
Kalimat itu membuat ruangan kembali sunyi.
"Tapi bukan berarti kamu tidak bisa memperbaiki kesalahan."
Surya tersenyum pahit.
"Setelah semua yang aku lakukan?"
"Iya."
jawab Herlambang.
"Karena kalau semua orang yang pernah salah tidak diberi kesempatan berubah..."
"...maka tidak akan ada manusia yang bisa menjadi lebih baik."
Anjelina menatap Herlambang.
Ia tahu kalimat itu bukan hanya untuk Surya.
Tetapi juga untuk semua orang yang pernah terluka.
Termasuk dirinya.
Termasuk Hidayat.
Termasuk warga desa yang pernah saling mencurigai.
Kepala Desa kemudian berdiri.
"Kita tidak boleh melupakan apa yang terjadi."
"Tetapi kita juga tidak boleh membiarkan masa lalu terus menguasai masa depan."
Ia memandang seluruh warga.
"Hari ini kita belajar."
"Bahwa konflik terbesar bukan selalu berasal dari perbedaan."
"Kadang konflik muncul karena manusia tidak mau mencari kebenaran."
Suasana perlahan mencair.
Beberapa warga mulai mengangguk.
Mereka mulai memahami.
Bahwa Desa Arum Sari tidak akan kembali kuat jika hanya mencari siapa yang salah.
Tetapi jika semua mau memperbaiki.
Setelah pertemuan selesai, Surya meminta berbicara dengan Herlambang.
Mereka berdiri di halaman balai desa.
Tempat yang dahulu penuh ketegangan.
Kini menjadi tempat dua orang berbicara dengan hati terbuka.
"Aku ingin meminta maaf."
kata Surya.
Herlambang diam.
"Bukan hanya kepada kamu."
"Lalu kepada siapa?"
"Kepada desa ini."
Surya menunduk.
"Aku terlalu lama membawa kemarahan."
"Aku lupa bahwa dendam tidak pernah mengembalikan apa pun."
Herlambang mengangguk.
"Aku menerima permintaan maafmu."
"Tapi ada satu hal."
"Apa?"
"Jangan hanya meminta maaf kepada kami."
"Lakukan sesuatu agar desa ini percaya lagi."
Surya menatapnya.
"Apa yang harus aku lakukan?"
"Mulai dari hal kecil."
"Hadapi warga."
"Akui kesalahanmu."
"Dan bantu memperbaiki apa yang pernah kamu rusak."
Surya terdiam.
Kemudian mengangguk.
"Aku akan mencoba."
Di sisi lain desa...
Anjelina dan Hidayat berbicara.
"Akhirnya selesai."
kata Hidayat.
Anjelina tersenyum.
"Belum sepenuhnya."
"Maksudmu?"
"Kebenaran sudah ditemukan."
"Tapi menyembuhkan hati orang-orang membutuhkan waktu."
Hidayat mengangguk.
"Kamu masih seperti dulu."
"Seperti apa?"
"Selalu melihat lebih dalam daripada yang terlihat."
Anjelina tersenyum.
"Mungkin karena aku belajar dari orang yang pernah pergi."
Hidayat tertawa kecil.
"Maksudmu Lambang?"
"Iya."
Tidak jauh dari sana, Herlambang berdiri sendiri memandang sawah.
Ia merasa lega.
Perjalanan panjang yang pernah ia tinggalkan akhirnya menemukan ujung.
Namun masih ada satu hal yang belum selesai.
Satu jawaban yang belum ia dapatkan.
Tentang dirinya dan Anjelina.
Malam itu, Herlambang kembali membuka surat ayahnya.
Kini ia membaca bagian terakhir.
Bagian yang selama ini belum berani ia buka.
"Anakku Herlambang..."
"Jika kamu menemukan seseorang yang membuatmu ingin menjadi manusia yang lebih baik..."
"Jangan lepaskan dia hanya karena keadaan."
"Karena cinta bukan tentang menemukan seseorang yang sempurna."
"Tetapi menemukan seseorang yang membuatmu ingin terus memperbaiki diri."
Herlambang menutup surat itu.
Matanya berkaca-kaca.
Karena akhirnya ia mengerti.
Ayahnya tidak sedang membicarakan sebuah janji keluarga.
Ayahnya sedang berbicara tentang pilihan hati.
Keesokan harinya, Desa Arum Sari mengadakan sebuah acara sederhana.
Bukan pesta.
Bukan perayaan besar.
Tetapi sebuah simbol bahwa warga ingin memulai kembali.
Di halaman balai desa, warga berkumpul.
Mereka menanam sebuah pohon trembesi baru.
Sebagai lambang kehidupan yang terus tumbuh.
Ki Waskita berkata,
"Pohon ini mengajarkan satu hal."
"Akarnya berada di masa lalu."
"Batangnya berdiri di masa sekarang."
"Dan cabangnya mengarah ke masa depan."
Herlambang melihat Anjelina.
Mereka tersenyum.
Karena setelah melewati seribu musim penantian...
mereka akhirnya sampai pada satu pemahaman.
Bahwa cinta bukan hanya tentang bertahan.
Tetapi tentang berani menghadapi segala sesuatu bersama.
Namun malam itu...
sebuah keputusan besar harus dibuat.
Herlambang harus memilih.
Apakah ia akan kembali pergi mengejar jalan hidupnya?
Atau tetap tinggal di Desa Arum Sari bersama orang yang selama ini menunggunya?
Karena setelah kebenaran terungkap...
masih ada satu hal yang harus dipilih.
Satu hati.
Setelah bertahun-tahun hidup dalam bayang-bayang masa lalu...
akhirnya Desa Arum Sari menemukan sebuah jalan baru.
Bukan jalan yang bebas dari masalah.
Bukan jalan yang membuat semua luka langsung hilang.
Tetapi jalan yang dibangun di atas kejujuran.
Karena sebuah desa tidak menjadi kuat karena tidak pernah memiliki konflik.
Desa menjadi kuat karena mampu bangkit setelah konflik.
Hari-hari setelah pertemuan besar itu perlahan berubah.
Warga mulai kembali bekerja bersama.
Tidak ada lagi kelompok yang saling mencurigai.
Tidak ada lagi bisikan-bisikan yang menyimpan prasangka.
Mereka mulai menyadari bahwa selama ini mereka telah kehilangan banyak waktu hanya karena sebuah kebohongan.
Surya Mahardika pun mulai menjalani hari-hari baru.
Ia tidak langsung mendapatkan kembali kepercayaan warga.
Dan ia memahami itu.
Karena kepercayaan yang rusak tidak bisa diperbaiki hanya dengan satu permintaan maaf.
Namun ia memilih untuk tetap berusaha.
Ia ikut membantu kegiatan desa.
Ia membantu memperbaiki fasilitas umum.
Ia mendatangi warga yang dahulu pernah ia sakiti.
Suatu hari, Surya datang menemui Hidayat.
"Aku ingin berterima kasih."
kata Surya.
Hidayat terkejut.
"Untuk apa?"
"Karena kamu tidak membiarkan aku terus menjadi orang yang penuh kebencian."
Hidayat tersenyum.
"Bukan aku."
"Lalu siapa?"
"Orang yang mengajarkan bahwa manusia masih bisa berubah."
"Siapa?"
Hidayat melihat ke arah jalan.
"Herlambang."
Sementara itu...
Herlambang mulai merasakan sebuah dilema.
Setelah semua masalah selesai, banyak warga berharap ia kembali mengambil peran dalam pembangunan desa.
Namun di sisi lain...
ia juga memiliki kesempatan untuk melanjutkan perjalanan yang telah ia bangun selama bertahun-tahun.
Sore itu, ia duduk bersama ibunya.
Bu Marni melihat wajah anaknya.
"Kamu sedang memikirkan sesuatu."
"Iya, Bu."
"Apa?"
"Aku tidak tahu harus memilih."
Bu Marni tersenyum.
"Memilih apa?"
"Tetap tinggal atau pergi lagi."
Ibunya diam sejenak.
Kemudian berkata,
"Dulu kamu pergi karena mencari jawaban."
"Iya."
"Sekarang?"
"Sekarang aku sudah menemukan jawabannya."
"Lalu kenapa masih bingung?"
Herlambang terdiam.
Karena sebenarnya ia sudah tahu jawabannya.
Hanya saja ia takut mengambil keputusan.
"Aku takut mengecewakan orang."
kata Herlambang.
Bu Marni tersenyum.
"Anakku."
"Orang yang mencintaimu tidak meminta kamu menjadi milik mereka."
"Mereka hanya ingin melihatmu bahagia."
Kalimat itu membuat Herlambang terdiam.
Karena selama ini ia selalu berpikir tentang apa yang harus ia berikan kepada orang lain.
Ia lupa bertanya kepada dirinya sendiri.
Apa yang sebenarnya ia inginkan.
Malam itu, Herlambang menemui Anjelina.
Mereka kembali duduk di bawah pohon trembesi.
Tempat yang selalu menjadi saksi perjalanan mereka.
"Lina."
"Iya?"
"Aku ingin bertanya sesuatu."
"Apa?"
"Kalau aku memilih tinggal..."
Anjelina menatapnya.
"Apakah itu karena kamu merasa harus tinggal?"
Herlambang terdiam.
Pertanyaan itu membuatnya berpikir.
Anjelina melanjutkan,
"Aku tidak ingin kamu tinggal karena kasihan."
"Aku tidak ingin kamu tinggal karena merasa memiliki hutang."
"Aku ingin kamu tinggal jika hatimu memang memilih tempat ini."
Herlambang tersenyum.
"Kenapa kamu selalu tahu apa yang aku pikirkan?"
Anjelina tersenyum kecil.
"Karena aku mengenalmu sebelum dunia mengenalmu."
Angin sore berhembus.
Daun-daun trembesi bergerak perlahan.
Herlambang memandang desa di hadapannya.
Desa yang pernah ia tinggalkan.
Desa yang pernah membuatnya terluka.
Tetapi juga desa yang selalu menjadi rumah.
"Aku akhirnya mengerti."
kata Herlambang.
"Apa?"
"Selama ini aku berpikir pulang berarti kembali ke tempat yang sama."
"Lalu?"
"Ternyata pulang adalah ketika hati tidak lagi mencari tempat lain."
Anjelina tersenyum.
"Dan hatimu memilih?"
Herlambang menatapnya.
"Desa ini."
Kemudian ia berhenti sejenak.
"Dan seseorang yang ada di depanku."
Mata Anjelina berkaca-kaca.
Namun kali ini bukan karena kehilangan.
Melainkan karena sebuah kepastian.
Keesokan harinya, Herlambang menyampaikan keputusannya kepada warga.
Di balai desa yang pernah menjadi tempat konflik...
kini menjadi tempat sebuah keputusan baru diumumkan.
"Saya tidak kembali untuk menggantikan siapa pun."
kata Herlambang.
"Saya kembali karena saya ingin menjadi bagian dari desa ini."
"Bagian dari perubahan."
"Bagian dari masa depan."
Warga menyambut dengan senyum.
Hidayat tersenyum paling lebar.
Karena sahabatnya akhirnya menemukan jalan pulang.
Ki Waskita memandang mereka semua.
Kemudian berkata,
"Kadang manusia harus kehilangan sesuatu untuk memahami nilainya."
"Kadang manusia harus pergi jauh untuk tahu ke mana ia harus kembali."
Sore itu, Herlambang dan Anjelina kembali berjalan melewati jalan desa.
Tidak ada lagi jarak.
Tidak ada lagi rahasia.
Tidak ada lagi rasa takut.
Namun mereka tahu...
perjalanan cinta tidak berhenti pada sebuah pertemuan.
Karena cinta yang bertahan lama bukan hanya tentang menemukan seseorang.
Tetapi tentang memilih orang yang sama...
berkali-kali.
Dan di bawah langit Desa Arum Sari...
dua hati akhirnya menemukan jawabannya.
Bukan karena adat.
Bukan karena janji leluhur.
Bukan karena masa lalu.
Tetapi karena mereka memilih satu sama lain.
Satu hati.
Yang bertahan melewati ribuan ujian.
Satu hati.
Yang tetap memilih meskipun waktu berjalan.
Satu hati.
Yang akhirnya menemukan rumahnya.
BAB XXIV – Satu Hati
Ada cinta yang hadir dengan mudah.
Ada cinta yang tumbuh tanpa banyak ujian.
Namun ada pula cinta yang harus melewati jarak, waktu, kehilangan, dan air mata...
sebelum akhirnya menemukan tempat untuk berlabuh.
Cinta Herlambang dan Anjelina adalah cinta yang kedua.
Cinta yang tidak dibangun hanya oleh perasaan.
Tetapi oleh kesetiaan.
Kesabaran.
Dan keberanian untuk tetap memilih orang yang sama...
meskipun telah melewati seribu musim.
Setelah kebenaran tentang masa lalu Desa Arum Sari terungkap, kehidupan perlahan kembali berjalan.
Namun kali ini dengan suasana yang berbeda.
Warga tidak lagi melihat Herlambang sebagai seseorang yang pernah pergi.
Mereka melihatnya sebagai seseorang yang telah kembali membawa pelajaran.
Seseorang yang memahami bahwa membangun desa bukan hanya tentang program dan rencana.
Tetapi tentang membangun hati manusia.
Di balai desa, Herlambang mulai membantu berbagai kegiatan masyarakat.
Ia tidak datang sebagai pemimpin.
Ia datang sebagai bagian dari keluarga besar Arum Sari.
Bersama Hidayat, ia membantu merancang berbagai kegiatan untuk anak-anak muda desa.
Mulai dari pendidikan.
Kegiatan sosial.
Hingga pengembangan potensi desa.
Suatu sore, Hidayat duduk bersama Herlambang di pinggir sawah.
"Lucu ya."
kata Hidayat.
"Apa?"
"Dulu kita sering duduk di sini membicarakan bagaimana mengubah desa."
Herlambang tersenyum.
"Lalu sekarang?"
"Sekarang kita benar-benar melakukannya."
Herlambang tertawa kecil.
"Tapi ada yang berbeda."
"Apa?"
"Dulu kita hanya punya mimpi."
"Lalu sekarang?"
"Sekarang kita punya alasan untuk memperjuangkannya."
Hidayat tersenyum.
Ia tahu alasan yang dimaksud sahabatnya.
Anjelina.
Sementara itu, Anjelina tetap menjalankan taman baca desa.
Tempat yang dahulu menjadi saksi perjuangannya bersama Herlambang kini semakin berkembang.
Anak-anak semakin banyak datang.
Warga semakin mendukung.
Dan tempat itu menjadi simbol bahwa sebuah mimpi kecil bisa tumbuh jika dirawat dengan ketulusan.
Suatu pagi, Herlambang datang membawa beberapa buku.
Anjelina tersenyum.
"Kamu masih melakukan kebiasaan lama."
"Maksudnya?"
"Membawa buku setiap kali datang."
Herlambang tertawa.
"Mungkin karena ada hal-hal yang tidak perlu berubah."
Anjelina melihat anak-anak yang sedang membaca.
"Dulu aku takut semua perjuangan ini berhenti ketika kamu pergi."
Herlambang menatapnya.
"Lalu?"
"Aku sadar."
"Apa?"
"Bahwa mimpi yang baik tidak bergantung kepada satu orang."
Herlambang tersenyum.
"Makanya aku kembali bukan untuk menjadi satu-satunya orang yang bergerak."
"Tapi untuk berjalan bersama."
Kalimat itu membuat Anjelina terdiam.
Karena itulah yang selama ini ia harapkan.
Bukan seseorang yang datang menyelamatkan.
Tetapi seseorang yang mau berjalan berdampingan.
Beberapa bulan kemudian...
Keluarga Herlambang dan keluarga Anjelina bertemu.
Bukan dalam suasana konflik.
Bukan untuk membahas masa lalu.
Tetapi untuk membicarakan masa depan.
Bu Marni menggenggam tangan Anjelina.
"Sejak dulu ibu tahu."
Anjelina tersenyum.
"Tahu apa, Bu?"
"Bahwa ada seseorang yang bisa membuat Herlambang menjadi lebih baik."
Anjelina menunduk malu.
Sementara Herlambang hanya tersenyum.
Bu Sulastri juga berkata,
"Kami tidak ingin kalian bersama karena cerita lama keluarga."
"Kami ingin kalian bersama karena kalian sendiri yang memilih."
Herlambang mengangguk.
"Ibu."
"Iya?"
"Saya berjanji."
"Bukan berjanji bahwa hidup kami akan selalu mudah."
"Tapi saya berjanji akan selalu berusaha menjaga hati ini."
Anjelina menatapnya.
Karena ia tahu.
Janji yang paling berharga bukan janji tanpa masalah.
Tetapi janji untuk tetap bertahan ketika masalah datang.
Malam itu, Herlambang kembali mengajak Anjelina ke bawah pohon trembesi.
Tempat yang menjadi awal dari semua cerita.
"Lina."
"Iya?"
"Aku pernah pergi."
"Iya."
"Aku pernah membuatmu menunggu."
"Iya."
"Aku pernah berpikir bahwa cinta harus diperjuangkan sendirian."
"Lalu sekarang?"
Herlambang tersenyum.
"Sekarang aku tahu."
"Cinta tidak pernah meminta seseorang berjalan sendiri."
Anjelina menatap langit.
"Banyak sekali yang berubah."
kata Anjelina.
Herlambang mengangguk.
"Tapi ada satu yang tidak."
"Apa?"
"Hati yang tetap memilihmu."
Angin malam berhembus lembut.
Pohon trembesi bergoyang perlahan.
Seolah menjadi saksi bahwa perjalanan panjang mereka akhirnya menemukan tempatnya.
Namun mereka tahu...
menyatukan hati bukan berarti akhir dari perjalanan.
Justru itu adalah awal.
Karena setelah cinta menemukan jalannya...
akan datang tanggung jawab untuk menjaganya.
Dan di Desa Arum Sari...
dua hati yang pernah dipisahkan oleh waktu...
akhirnya berjalan dalam arah yang sama.
Satu hati.
Satu tujuan.
Satu masa depan.
Setelah semua badai yang mereka lalui...
Herlambang dan Anjelina akhirnya menemukan ketenangan.
Namun mereka memahami satu hal.
Cinta yang telah menemukan jalannya bukan berarti tidak akan menghadapi ujian lagi.
Karena kehidupan tidak pernah berhenti memberikan pertanyaan.
Dan setiap jawaban membutuhkan kedewasaan.
Beberapa bulan setelah kepulangan Herlambang, Desa Arum Sari mulai mengalami banyak perubahan.
Program pembangunan desa berjalan lebih baik.
Anak-anak muda mulai aktif.
Hubungan antarwarga semakin kuat.
Dan yang paling penting...
masyarakat kembali percaya bahwa perbedaan bukan alasan untuk terpecah.
Herlambang dan Hidayat menjadi dua orang yang sering terlihat bersama.
Seperti dahulu.
Namun kini mereka bukan lagi dua pemuda yang hanya membicarakan mimpi.
Mereka adalah dua orang yang berusaha mewujudkan mimpi itu.
Suatu hari, Hidayat berkata,
"Lambang."
"Iya?"
"Kamu sadar tidak?"
"Sadar apa?"
"Dulu kita sering bertengkar karena ingin membuktikan siapa yang benar."
Herlambang tersenyum.
"Lalu sekarang?"
"Sekarang kita belajar bahwa yang paling penting bukan siapa yang benar."
"Tapi apa yang benar untuk semua orang."
Herlambang mengangguk.
Itulah pelajaran terbesar dari semua konflik yang pernah terjadi.
Bahwa kemenangan sejati bukan ketika seseorang mengalahkan orang lain.
Tetapi ketika semua orang menemukan jalan untuk berdamai.
Sementara itu...
hubungan Herlambang dan Anjelina mulai memasuki pembicaraan yang lebih serius.
Bukan hanya tentang perasaan.
Tetapi tentang kehidupan yang akan mereka bangun.
Suatu sore, Anjelina berkata,
"Lambang."
"Iya?"
"Apakah kamu pernah takut?"
"Takut apa?"
"Menjalani kehidupan setelah semua ini."
Herlambang terdiam.
Ia tidak ingin menjawab dengan kata-kata indah yang tidak nyata.
Akhirnya ia berkata,
"Iya."
Anjelina sedikit terkejut.
"Kamu takut?"
"Iya."
"Kenapa?"
"Karena mencintai seseorang berarti menerima tanggung jawab untuk menjaganya."
Anjelina tersenyum.
"Jawabanmu berbeda."
"Dulu?"
"Dulu kamu selalu ingin menjadi orang yang kuat."
"Lalu sekarang?"
"Sekarang kamu berani mengatakan takut."
Herlambang tersenyum.
"Karena aku belajar."
"Bahwa seseorang tidak harus selalu terlihat kuat."
"Kadang kejujuran adalah bentuk keberanian."
Namun tidak semua hal berjalan tanpa tantangan.
Beberapa orang tua adat mulai mengingatkan tentang aturan leluhur.
Bahwa sebuah keluarga harus tetap menghormati nilai-nilai yang telah diwariskan.
Dalam sebuah pertemuan adat, Ki Waskita berkata,
"Kalian berdua telah melewati banyak hal."
"Tapi ingat."
"Cinta bukan hanya milik dua orang."
"Cinta juga menyentuh keluarga dan masyarakat."
Herlambang mengangguk.
"Kami memahami, Ki."
Anjelina menambahkan,
"Kami tidak ingin melupakan adat."
"Tapi kami juga ingin memastikan bahwa keputusan kami lahir dari hati."
Ki Waskita tersenyum.
"Itulah yang sebenarnya diinginkan leluhur."
"Bukan seseorang yang mengikuti aturan tanpa memahami maknanya."
"Tetapi seseorang yang menjaga nilai dengan kesadaran."
Malam itu, Herlambang kembali membaca surat ayahnya.
Namun kali ini bukan dengan rasa penasaran.
Melainkan dengan rasa syukur.
Ia akhirnya memahami pesan terakhir ayahnya.
Bahwa warisan terbesar bukanlah tanah.
Bukan nama keluarga.
Bukan kehormatan.
Tetapi kemampuan manusia untuk menjaga hubungan dengan sesama.
Keesokan harinya, Herlambang mengajak Anjelina berjalan menuju sawah.
Tempat yang dahulu menjadi awal dari banyak cerita.
"Lina."
"Iya?"
"Aku ingin bertanya."
"Apa?"
"Kalau suatu hari nanti kehidupan tidak mudah..."
Anjelina tersenyum.
"Kamu ingin tahu apakah aku akan tetap tinggal?"
Herlambang terdiam.
Anjelina melanjutkan.
"Aku tidak bisa menjanjikan bahwa semuanya akan selalu mudah."
"Tapi aku bisa menjanjikan satu hal."
"Apa?"
"Aku akan tetap memilih untuk berjalan bersamamu."
Herlambang tersenyum.
Karena akhirnya ia mengerti.
Cinta bukan tentang mencari seseorang yang tidak pernah berubah.
Tetapi seseorang yang tetap memilih kita...
meskipun telah melihat semua kekurangan.
Beberapa minggu kemudian, kabar bahagia mulai terdengar di Desa Arum Sari.
Keluarga Herlambang dan keluarga Anjelina telah sepakat.
Mereka akan mempersiapkan sebuah ikatan yang bukan hanya menyatukan dua hati.
Tetapi juga menyatukan dua keluarga yang dahulu pernah dipisahkan oleh sejarah.
Warga menyambut kabar itu dengan bahagia.
Karena mereka tahu.
Kisah Herlambang dan Anjelina bukan sekadar kisah cinta.
Tetapi kisah tentang pengampunan.
Tentang kesetiaan.
Tentang bagaimana manusia mampu mengubah luka menjadi kekuatan.
Namun sebelum hari bahagia itu tiba...
Herlambang dan Anjelina kembali berdiri di bawah pohon trembesi.
Mereka melihat matahari terbenam bersama.
"Aneh ya."
kata Anjelina.
"Apa?"
"Dulu tempat ini menjadi saksi ketika kamu pergi."
Herlambang tersenyum.
"Dan sekarang?"
"Sekarang tempat ini menjadi saksi ketika kamu kembali."
Herlambang menggenggam tangannya.
"Aku tidak berjanji bahwa hidup kita akan selalu sempurna."
"Tapi aku berjanji..."
"Aku tidak akan lagi pergi tanpa membawa kabar."
Anjelina tersenyum.
"Itu sudah cukup."
Di bawah langit Desa Arum Sari...
dua hati akhirnya benar-benar menyatu.
Bukan karena takdir semata.
Bukan karena janji leluhur.
Tetapi karena mereka telah memilih satu sama lain.
Berulang kali.
Dalam setiap musim.
Dalam setiap ujian.
Dalam setiap keadaan.
Namun satu perjalanan terakhir masih menunggu.
Sebuah perjalanan menuju hari ketika seluruh desa akan menjadi saksi...
bahwa cinta yang bertahan melewati waktu...
akhirnya menemukan tempat untuk selamanya.
Hari-hari menjelang penyatuan Herlambang dan Anjelina menjadi hari yang penuh kebahagiaan bagi Desa Arum Sari.
Bukan karena sebuah pesta besar.
Bukan karena kemewahan.
Tetapi karena seluruh warga merasa menjadi bagian dari sebuah kisah panjang yang akhirnya menemukan kedamaian.
Sebuah kisah yang dimulai dari persahabatan.
Tumbuh menjadi cinta.
Hampir hilang karena perpisahan.
Namun kembali karena kesetiaan.
Sejak kabar tentang rencana pernikahan mereka tersebar, banyak warga datang membantu.
Ada yang membantu menyiapkan tempat.
Ada yang membantu menyiapkan acara adat.
Ada yang hanya datang memberikan doa.
Karena bagi masyarakat Arum Sari...
pernikahan Herlambang dan Anjelina bukan hanya penyatuan dua manusia.
Tetapi simbol bahwa luka lama telah berubah menjadi kebersamaan.
Di rumah Anjelina, Bu Sulastri sibuk mempersiapkan berbagai keperluan.
Namun di tengah kesibukan itu, ia melihat anaknya duduk sendiri.
"Lina."
"Iya, Bu?"
"Kamu bahagia?"
Anjelina tersenyum.
"Iya, Bu."
"Benarkah?"
Anjelina mengangguk.
"Sangat."
Bu Sulastri kemudian duduk di samping anaknya.
"Ibu tahu kamu sudah melewati banyak hal."
"Ibu tahu ada masa ketika kamu hampir menyerah."
Anjelina menunduk.
"Iya, Bu."
"Tapi lihat sekarang."
"Orang yang dulu pergi..."
"...kembali bukan karena dipanggil."
"Tapi karena hatinya sendiri memilih pulang."
Air mata Anjelina jatuh.
Namun kali ini bukan air mata kesedihan.
Melainkan rasa syukur.
Sementara itu, Herlambang juga berbicara dengan ibunya.
Bu Marni memandang anaknya dengan penuh kebahagiaan.
"Dulu ibu takut kamu pergi terlalu jauh."
kata Bu Marni.
"Aku juga takut, Bu."
"Lalu sekarang?"
"Sekarang aku mengerti."
"Apa?"
"Bahwa perjalanan panjang itu membawaku kembali ke tempat yang seharusnya."
Bu Marni tersenyum.
"Kamu sudah dewasa, Lambang."
"Dulu kamu ingin menyelesaikan semua masalah sendiri."
"Sekarang?"
"Sekarang aku tahu."
"Manusia tidak diciptakan untuk berjalan sendirian."
Hari sebelum acara adat dilaksanakan, Herlambang dan Anjelina kembali menemui Ki Waskita.
Mereka ingin meminta restu.
Di rumah tua Ki Waskita, suasana terasa tenang.
Orang tua itu tersenyum melihat keduanya.
"Akhirnya."
katanya.
"Akhirnya apa, Ki?"
"Akhirnya dua anak yang dulu membawa banyak pertanyaan..."
"...kini datang membawa jawaban."
Herlambang tersenyum.
"Kami hanya ingin meminta restu."
Ki Waskita mengangguk.
"Restu bukan hanya kata-kata."
"Restu adalah tanggung jawab."
Ia menatap mereka berdua.
"Ingat."
"Rumah tangga bukan tempat untuk mencari siapa yang menang."
"Tetapi tempat untuk belajar saling memahami."
Anjelina mengangguk.
"Kami akan mengingat itu, Ki."
Ki Waskita kemudian mengambil sebuah benda kecil.
Sebuah ukiran kayu tua berbentuk dua akar pohon yang saling bertaut.
"Ini peninggalan leluhur."
katanya.
"Dulu benda ini diberikan kepada dua keluarga penjaga desa."
"Kenapa diberikan kepada kami?"
tanya Herlambang.
"Karena sekarang kalian bukan hanya membawa nama keluarga."
"Kalian membawa harapan agar generasi berikutnya belajar bahwa perbedaan tidak harus menjadi alasan untuk berpisah."
Herlambang menerima benda itu dengan penuh hormat.
Malam terakhir sebelum hari bahagia...
Herlambang kembali duduk di bawah pohon trembesi.
Ia mengingat semuanya.
Hari ketika ia pertama kali mengenal Anjelina.
Hari ketika mereka bermimpi bersama.
Hari ketika ia harus pergi.
Dan hari ketika ia akhirnya kembali.
Tidak lama kemudian, Anjelina datang.
"Kamu masih di sini."
kata Anjelina.
Herlambang tersenyum.
"Tempat ini selalu punya cerita."
Mereka duduk berdampingan.
"Aku pernah berpikir..."
kata Herlambang.
"Bahwa waktu yang hilang tidak akan pernah kembali."
"Lalu?"
"Ternyata aku salah."
"Kenapa?"
"Karena waktu memang tidak bisa kembali."
"Tapi manusia masih bisa memperbaiki cerita."
Anjelina tersenyum.
"Itulah alasan aku masih percaya."
"Percaya apa?"
"Bahwa sesuatu yang benar-benar berarti akan selalu menemukan jalannya."
Mereka melihat langit malam.
Bintang-bintang bersinar di atas Desa Arum Sari.
Tidak ada lagi pertanyaan.
Tidak ada lagi keraguan.
Hanya ada rasa syukur.
Keesokan harinya...
seluruh desa bersiap menyambut sebuah hari yang telah lama dinantikan.
Hari ketika Herlambang dan Anjelina mengikat janji.
Bukan hanya di hadapan keluarga.
Bukan hanya di hadapan adat.
Tetapi di hadapan kehidupan yang akan mereka jalani bersama.
Dan ketika mereka berdiri berdampingan...
semua orang memahami satu hal.
Bahwa cinta sejati bukan cinta yang tidak pernah diuji.
Cinta sejati adalah cinta yang tetap bertahan setelah melewati ujian.
Karena Herlambang dan Anjelina telah membuktikan...
bahwa satu hati mampu bertahan melewati ribuan perubahan.
Melewati jarak.
Melewati waktu.
Melewati luka.
Dan melewati musim yang tidak terhitung.
Namun kisah mereka belum berakhir.
Karena setelah penyatuan dua hati...
masih ada perjalanan panjang kehidupan yang menunggu.
Sebuah perjalanan menuju makna sebenarnya dari...
Seribu Musim.
BAB XXV – Seribu Musim
Waktu tidak pernah berhenti berjalan.
Musim berganti.
Tahun berubah.
Anak-anak tumbuh menjadi dewasa.
Dan manusia terus belajar dari perjalanan hidupnya.
Namun ada satu hal yang tidak berubah di Desa Arum Sari.
Sebuah cerita tentang dua hati yang pernah dipisahkan oleh keadaan...
tetapi tidak pernah benar-benar kehilangan jalan untuk kembali.
Hari itu Desa Arum Sari tampak berbeda.
Bukan karena ada perayaan besar.
Bukan karena ada acara istimewa.
Tetapi karena seluruh warga merasakan sebuah kebahagiaan sederhana.
Kebahagiaan melihat dua keluarga yang dahulu pernah dipisahkan oleh konflik...
kini duduk bersama dalam satu tempat.
Herlambang dan Anjelina akhirnya resmi menjadi satu keluarga.
Tidak ada lagi batas antara keluarga mereka.
Tidak ada lagi bayangan masa lalu.
Yang tersisa hanyalah harapan.
Setelah pernikahan itu, kehidupan mereka berjalan seperti kehidupan keluarga lainnya.
Ada kebahagiaan.
Ada perbedaan pendapat.
Ada tantangan.
Ada hari-hari sulit.
Namun mereka telah belajar satu hal.
Bahwa cinta bukan tentang tidak pernah memiliki masalah.
Cinta adalah tentang bagaimana dua orang memilih menyelesaikan masalah bersama.
Setiap pagi, Herlambang masih sering berjalan melewati sawah.
Kebiasaan lama yang tidak pernah berubah.
Ia melihat para petani bekerja.
Melihat anak-anak berangkat sekolah.
Melihat desa yang dulu hampir terpecah...
kini tumbuh menjadi desa yang lebih kuat.
Suatu hari, Hidayat datang menemui Herlambang.
"Kamu bahagia?"
tanya Hidayat.
Herlambang tersenyum.
"Iya."
"Karena Anjelina?"
Herlambang tertawa kecil.
"Karena banyak hal."
"Apa saja?"
"Karena aku akhirnya mengerti arti pulang."
Hidayat mengangguk.
"Dulu aku pikir pulang adalah kembali ke tempat asal."
"Lalu sekarang?"
"Pulang adalah ketika ada seseorang yang membuat kita ingin menjadi lebih baik."
Mereka tertawa.
Persahabatan mereka yang pernah hampir hancur oleh keadaan...
kini justru semakin kuat.
Di sisi lain desa, Anjelina tetap mengembangkan taman baca.
Namun kini tempat itu semakin besar.
Anak-anak yang dulu belajar di sana mulai tumbuh.
Sebagian bahkan kembali membantu mengajar.
Anjelina tersenyum melihat mereka.
Ia teringat masa lalu.
Masa ketika tempat itu hanya sebuah ruangan kecil.
Masa ketika ia dan Herlambang berjuang dengan segala keterbatasan.
Herlambang datang membawa beberapa buku.
Anjelina tersenyum.
"Kebiasaanmu tidak berubah."
"Membawa buku?"
"Iya."
Herlambang tersenyum.
"Ada hal-hal yang memang harus tetap dijaga."
Anjelina melihat buku-buku itu.
"Dulu kita bermimpi anak-anak desa punya kesempatan yang sama."
"Iya."
"Sekarang?"
"Sekarang mimpi itu mulai menjadi kenyataan."
Mereka saling tersenyum.
Karena mereka tahu...
sebuah perubahan besar selalu dimulai dari hal kecil.
Suatu sore, mereka kembali duduk di bawah pohon trembesi.
Pohon yang kini jauh lebih besar.
Akarnya semakin kuat.
Cabangnya semakin luas.
"Lambang."
"Iya?"
"Apakah kamu pernah membayangkan semua ini?"
Herlambang tersenyum.
"Tidak."
"Kenapa?"
"Karena dulu aku hanya ingin memperbaiki satu masalah."
"Lalu?"
"Ternyata kehidupan memberiku jauh lebih banyak dari yang aku bayangkan."
Anjelina melihat pohon trembesi itu.
"Dulu kamu pergi dari sini."
"Iya."
"Dulu aku takut tidak akan pernah melihatmu kembali."
Herlambang menggenggam tangannya.
"Aku juga takut tidak akan pernah menemukan jalan pulang."
Mereka terdiam.
Mengingat semua yang pernah terjadi.
Tentang hari ketika Hidayat datang membawa persahabatan.
Tentang hari ketika fitnah mulai menghancurkan kepercayaan.
Tentang malam ketika desa hampir terbelah.
Tentang hari ketika Herlambang pergi.
Dan tentang hari ketika ia kembali.
Semua perjalanan itu terasa seperti mimpi panjang.
Namun setiap luka ternyata memiliki makna.
"Lina."
"Iya?"
"Kalau waktu bisa diulang..."
"Apakah kamu akan memilih jalan yang sama?"
Anjelina tersenyum.
"Maksudmu menunggumu?"
"Iya."
Anjelina berpikir sejenak.
Kemudian menjawab,
"Iya."
Herlambang tersenyum.
"Kenapa?"
"Karena jika aku mengubah satu bagian kecil dari perjalanan itu..."
"...mungkin aku tidak akan bertemu dengan dirimu yang sekarang."
Jawaban itu membuat Herlambang terdiam.
Karena ia sadar.
Mereka tidak menjadi kuat karena tidak pernah terluka.
Mereka menjadi kuat karena luka itu mengajarkan mereka cara mencintai.
Malam itu, Desa Arum Sari kembali tenang.
Langit penuh bintang.
Angin melewati pepohonan.
Dan pohon trembesi tetap berdiri sebagai saksi.
Saksi bahwa pernah ada dua manusia yang hampir kehilangan segalanya.
Namun memilih untuk tetap percaya.
Karena cinta yang sejati bukan tentang satu hari.
Bukan tentang satu tahun.
Bukan tentang satu musim.
Cinta sejati adalah ketika seseorang tetap memilih orang yang sama...
setelah melewati banyak perubahan.
Setelah melewati banyak ujian.
Setelah melewati waktu yang panjang.
Satu hati.
Seribu musim.
Dan satu cerita yang tidak akan pernah dilupakan oleh Desa Arum Sari.
Banyak orang mengira bahwa akhir sebuah perjalanan adalah ketika seseorang menemukan apa yang dicari.
Namun Herlambang dan Anjelina belajar bahwa akhir bukanlah tentang menemukan.
Akhir adalah tentang menjaga.
Menjaga apa yang telah diperjuangkan.
Menjaga apa yang telah ditemukan.
Dan menjaga orang-orang yang membuat perjalanan itu memiliki arti.
Tahun-tahun berlalu setelah penyatuan dua hati itu.
Desa Arum Sari semakin berkembang.
Namun yang paling berubah bukan hanya bangunan desa.
Bukan hanya jalan yang semakin baik.
Bukan hanya fasilitas yang semakin lengkap.
Perubahan terbesar terjadi dalam hati masyarakat.
Dulu, nama keluarga sering menjadi alasan untuk membuat jarak.
Kini, nama keluarga menjadi alasan untuk saling menjaga.
Dulu, perbedaan menjadi sumber kecurigaan.
Kini, perbedaan menjadi kekuatan.
Herlambang sering berkata kepada warga muda desa,
"Jangan mewarisi kemarahan dari masa lalu."
"Wariskanlah kebaikan."
"Karena sebuah generasi tidak harus membawa luka yang bukan miliknya."
Kalimat itu menjadi pesan yang selalu diingat oleh anak-anak muda Arum Sari.
Mereka tumbuh dengan cerita tentang masa lalu.
Namun bukan untuk mengulang konflik.
Melainkan untuk belajar.
Sementara itu, hubungan Herlambang dan Anjelina semakin matang.
Mereka tidak lagi seperti dua orang muda yang dulu hanya mengenal mimpi.
Mereka telah menjadi pasangan yang memahami arti kebersamaan.
Mereka tahu bahwa kehidupan rumah tangga bukan selalu tentang hari-hari yang indah.
Ada saat lelah.
Ada saat berbeda pendapat.
Ada saat keadaan tidak sesuai harapan.
Namun setiap kali masalah datang...
mereka selalu kembali pada satu hal.
Kepercayaan.
Suatu malam, ketika hujan turun di Desa Arum Sari, Anjelina duduk bersama Herlambang di teras rumah.
Mereka melihat halaman yang mulai basah.
"Lambang."
"Iya?"
"Pernahkah kamu menyesal?"
Herlambang menoleh.
"Menyesal tentang apa?"
"Tentang semua yang pernah terjadi."
Herlambang terdiam.
Ia mengingat masa lalu.
Tentang kepergiannya.
Tentang air mata.
Tentang rasa kehilangan.
Kemudian ia tersenyum.
"Tidak."
"Benarkah?"
"Iya."
"Kenapa?"
Herlambang melihat hujan.
"Karena setiap kejadian membawa kita sampai ke tempat ini."
"Kalau aku tidak pernah pergi..."
"mungkin aku tidak akan pernah memahami arti kembali."
Anjelina tersenyum.
"Kalau aku tidak pernah terluka..."
"mungkin aku tidak akan pernah memahami arti memaafkan."
Mereka saling memandang.
Dan dalam tatapan itu...
ada ribuan cerita yang tidak perlu lagi dijelaskan.
Beberapa hari kemudian, Herlambang mengajak Anjelina pergi ke tempat lama.
Tempat di mana dulu ia pernah berjanji.
Di bawah pohon trembesi.
Kini pohon itu telah tumbuh besar.
Batangnya semakin kuat.
Rantingnya menaungi banyak orang.
Anak-anak desa sering bermain di bawahnya.
"Lihat pohon ini."
kata Herlambang.
"Dulu hanya sebuah pohon kecil."
Anjelina mengangguk.
"Sama seperti cerita kita."
Herlambang tersenyum.
"Iya."
"Dulu hanya sebuah pertemuan sederhana."
"Lalu menjadi perjalanan panjang."
Anjelina menyentuh batang pohon itu.
"Lucu ya."
"Apa?"
"Kita selalu kembali ke tempat ini."
Herlambang mengangguk.
"Karena mungkin ada tempat-tempat tertentu yang bukan hanya menjadi tempat."
"Tapi menjadi saksi."
Mereka duduk dalam diam.
Mendengar suara angin.
Mendengar suara anak-anak bermain.
Mendengar kehidupan yang terus berjalan.
Kemudian Herlambang berkata,
"Lina."
"Iya?"
"Menurutmu, apa arti seribu musim?"
Anjelina tersenyum.
"Dulu aku pikir seribu musim berarti waktu yang sangat lama."
"Lalu sekarang?"
"Sekarang aku tahu."
"Seribu musim bukan tentang berapa lama seseorang menunggu."
"Lalu tentang apa?"
"Tentang berapa kali seseorang tetap memilih untuk bertahan."
Herlambang tersenyum.
Jawaban itu tepat.
Karena cinta mereka bukan kuat karena tidak pernah diuji.
Cinta mereka kuat karena setiap ujian selalu membuat mereka memilih kembali.
Malam semakin turun.
Lampu-lampu rumah warga mulai menyala.
Desa Arum Sari terlihat damai.
Di sebuah sudut desa, Ki Waskita yang semakin tua melihat pohon trembesi dari kejauhan.
Ia tersenyum.
Karena amanah leluhur akhirnya menemukan jalannya.
Bukan melalui tanah.
Bukan melalui kekuasaan.
Tetapi melalui hati manusia.
Dalam catatan terakhirnya, Ki Waskita menulis:
"Sebuah desa tidak diwariskan melalui bangunan."
"Sebuah desa diwariskan melalui nilai."
"Dan nilai terbesar manusia adalah kemampuan mencintai, memaafkan, dan menjaga."
Catatan itu kemudian disimpan di balai desa.
Menjadi pengingat bagi generasi berikutnya.
Bahwa pernah ada masa ketika Desa Arum Sari hampir kehilangan persaudaraan.
Namun akhirnya menemukan kembali maknanya.
Karena sebuah kisah besar tidak selalu lahir dari orang-orang yang sempurna.
Kadang kisah besar lahir dari orang-orang yang pernah salah...
tetapi berani memperbaiki.
Dan Herlambang serta Anjelina adalah bukti bahwa...
waktu boleh berjalan.
Musim boleh berganti.
Namun hati yang benar-benar memilih...
akan selalu menemukan jalan untuk kembali.
Waktu terus berjalan.
Tidak ada manusia yang mampu menghentikan langkahnya.
Anak-anak yang dahulu berlari di jalan Desa Arum Sari kini mulai tumbuh dewasa.
Rumah-rumah yang dahulu sederhana mulai berubah.
Sawah-sawah tetap menghijau.
Dan pohon trembesi yang menjadi saksi perjalanan panjang Herlambang dan Anjelina semakin kokoh berdiri.
Namun ada sesuatu yang tetap sama.
Nilai yang diwariskan.
Cinta yang dijaga.
Dan cerita yang terus hidup.
Bertahun-tahun setelah semua konflik berlalu, Desa Arum Sari tidak lagi dikenal sebagai desa yang pernah terpecah.
Desa itu dikenal sebagai desa yang mampu bangkit.
Sebuah desa yang belajar bahwa perbedaan bukan alasan untuk saling menjauh.
Herlambang tidak pernah melupakan masa lalu.
Bukan karena ia ingin terus hidup di dalamnya.
Tetapi karena ia tahu...
masa lalu adalah guru yang paling jujur.
Suatu hari, ia berdiri di depan anak-anak muda desa.
Mereka berkumpul di bawah pohon trembesi.
Tempat yang dahulu hanya menjadi tempat dua hati berbicara.
Kini menjadi tempat banyak orang belajar.
"Anak-anak."
kata Herlambang.
"Kalian mungkin mendengar banyak cerita tentang desa ini."
"Ada cerita tentang konflik."
"Ada cerita tentang perpisahan."
"Ada cerita tentang kesalahan."
Ia berhenti sejenak.
"Tapi jangan hanya melihat bagaimana orang-orang pernah jatuh."
"Lihat juga bagaimana mereka memilih untuk bangkit."
Seorang anak bertanya,
"Pak Herlambang, apa pelajaran terbesar dari semua itu?"
Herlambang tersenyum.
"Bahwa manusia tidak bisa memilih semua kejadian dalam hidupnya."
"Tapi manusia selalu bisa memilih bagaimana cara menghadapi kejadian itu."
Anak-anak mendengarkan dengan serius.
"Dulu saya berpikir cinta adalah tentang menemukan seseorang yang selalu membuat kita bahagia."
"Lalu saya belajar..."
"Cinta adalah tentang menemukan seseorang yang tetap berjalan bersama kita ketika hidup tidak mudah."
Dari kejauhan, Anjelina melihat suaminya.
Senyumnya penuh kebanggaan.
Karena ia tahu...
lelaki yang dahulu pergi mencari jawaban...
kini telah menjadi seseorang yang mampu memberikan jawaban bagi banyak orang.
Sore itu, setelah acara selesai, Herlambang kembali menemui Anjelina.
Seperti kebiasaan mereka sejak dulu.
Kembali ke bawah pohon trembesi.
"Kamu masih suka bercerita panjang."
kata Anjelina sambil tersenyum.
Herlambang tertawa.
"Karena masih banyak yang harus disampaikan."
"Padahal dulu kamu yang paling sulit bicara tentang perasaan."
Herlambang tersenyum.
"Dulu aku takut."
"Takut apa?"
"Takut kehilangan."
Anjelina menatapnya.
"Lalu sekarang?"
"Sekarang aku tahu."
"Apa?"
"Sesuatu yang dijaga dengan ketulusan tidak akan mudah hilang."
Mereka terdiam.
Melihat matahari perlahan tenggelam di balik sawah.
Pemandangan yang sama seperti bertahun-tahun lalu.
Namun mereka bukan lagi dua orang yang menunggu kepastian.
Mereka adalah dua orang yang telah membuktikan janji.
"Lina."
"Iya?"
"Kalau suatu hari nanti kita sudah tidak ada..."
Anjelina menatapnya.
"Jangan bicara begitu."
Herlambang tersenyum.
"Aku hanya ingin mengatakan sesuatu."
"Apa?"
"Jangan biarkan orang mengingat kita karena kisah cinta kita."
Anjelina terdiam.
"Lalu karena apa?"
"Karena apa yang kita lakukan setelah menemukan cinta."
Mata Anjelina berkaca-kaca.
Karena ia memahami maksudnya.
Cinta yang besar bukan hanya tentang dua orang.
Tetapi tentang bagaimana cinta itu membawa kebaikan bagi sekitarnya.
Tahun demi tahun berlalu.
Namun kisah mereka tetap diceritakan.
Bukan sebagai kisah yang sempurna.
Karena mereka juga pernah salah.
Pernah terluka.
Pernah hampir menyerah.
Tetapi sebagai kisah tentang dua manusia yang memilih untuk memperbaiki.
Di dalam catatan Desa Arum Sari, kisah mereka ditulis:
"Mereka bukan dua manusia yang tidak pernah kehilangan."
"Mereka adalah dua manusia yang pernah kehilangan, tetapi menemukan jalan untuk kembali."
Dan itulah arti sebenarnya dari seribu musim.
Bukan tentang lamanya waktu seseorang menunggu.
Bukan tentang banyaknya ujian yang harus dilewati.
Tetapi tentang hati yang tetap memilih...
meskipun waktu terus berubah.
Karena pada akhirnya...
yang membuat sebuah cinta bertahan bukan hanya perasaan.
Tetapi kesetiaan.
Pengampunan.
Kepercayaan.
Dan keberanian untuk berkata:
"Aku tetap memilihmu."
Di bawah pohon trembesi yang semakin tua...
Herlambang dan Anjelina tetap duduk bersama.
Menatap desa yang mereka cintai.
Menatap masa depan yang terus tumbuh.
Dan mensyukuri perjalanan yang pernah mereka lalui.
Seribu musim telah berlalu.
Namun satu hati tetap sama.
Satu cinta tetap terjaga.
Dan satu cerita akan selalu hidup...
di Desa Arum Sari.
EPILOG – Tiga Tahun Kemudian
Tiga tahun bukanlah waktu yang singkat.
Dalam tiga tahun, banyak hal bisa berubah.
Anak-anak tumbuh.
Orang-orang belajar.
Desa berkembang.
Dan kehidupan terus menulis cerita baru.
Namun ada hal-hal tertentu yang tidak berubah.
Salah satunya adalah rasa syukur.
Pagi itu, Desa Arum Sari kembali dibangunkan oleh suara kehidupan.
Ayam berkokok dari halaman rumah warga.
Anak-anak berjalan menuju sekolah.
Para petani mulai berangkat ke sawah.
Dan matahari perlahan muncul di balik pepohonan.
Desa itu tampak sederhana.
Namun menyimpan kedamaian yang tidak ternilai.
Tiga tahun setelah Herlambang dan Anjelina menyatukan hati...
kehidupan mereka semakin lengkap.
Rumah kecil mereka di pinggir desa menjadi tempat yang selalu hangat.
Bukan karena kemewahan.
Tetapi karena di dalamnya ada cinta, pengertian, dan kebersamaan.
Setiap pagi, Herlambang masih memiliki kebiasaan yang sama.
Menikmati secangkir kopi sambil melihat halaman rumah.
Sementara Anjelina sibuk menyiapkan berbagai kegiatan untuk taman baca desa.
"Kamu tidak pernah bosan dengan rutinitas itu?"
tanya Anjelina suatu pagi.
Herlambang tersenyum.
"Rutinitas apa?"
"Duduk melihat desa setiap pagi."
Herlambang memandang jalan desa.
"Tidak."
"Kenapa?"
"Karena setiap hari aku melihat sesuatu yang baru."
"Apa?"
"Melihat bagaimana tempat yang pernah hampir kehilangan persaudaraan..."
"...kini menjadi tempat orang-orang saling menjaga."
Anjelina tersenyum.
Karena ia tahu.
Itulah kebahagiaan terbesar Herlambang.
Bukan jabatan.
Bukan penghargaan.
Tetapi melihat sesuatu yang ia cintai tumbuh.
Taman baca desa yang dahulu hanya ruangan kecil kini telah berkembang.
Anak-anak semakin banyak datang.
Buku-buku semakin bertambah.
Dan beberapa anak yang dulu belajar di sana kini mulai membantu mengajar adik-adiknya.
Suatu sore, seorang anak kecil bertanya kepada Anjelina.
"Ibu Lina."
"Iya?"
"Benarkah dulu Desa Arum Sari pernah hampir pecah?"
Anjelina tersenyum.
"Iya."
"Kenapa bisa?"
Anjelina berpikir sejenak.
"Lalu ia menjawab."
"Karena dulu orang-orang lebih banyak mendengar kabar daripada mencari kebenaran."
Anak itu bertanya lagi.
"Lalu bagaimana desa ini bisa kembali?"
Anjelina melihat ke arah pohon trembesi.
"Karena akhirnya orang-orang memilih untuk saling mendengar."
Sementara itu, Herlambang tetap menjadi bagian penting dalam pembangunan desa.
Namun ia selalu menolak ketika disebut sebagai orang yang menyelamatkan desa.
"Kita semua yang menyelamatkan desa ini."
katanya.
"Tidak ada satu orang yang lebih besar daripada kebersamaan."
Kalimat itu selalu ia sampaikan.
Karena ia tahu...
dulu konflik terjadi karena seseorang merasa lebih penting daripada yang lain.
Maka kedamaian hanya bisa tumbuh ketika semua merasa memiliki.
Suatu hari, Hidayat datang berkunjung.
Seperti dulu.
Tidak banyak yang berubah dari persahabatan mereka.
Mereka masih sering berbicara tentang banyak hal.
Tentang desa.
Tentang kehidupan.
Tentang mimpi-mimpi yang belum selesai.
"Kamu bahagia?"
tanya Hidayat.
Herlambang tersenyum.
"Iya."
"Masih dengan jawaban yang sama?"
"Iya."
"Kenapa?"
Herlambang melihat ke arah rumahnya.
Di sana Anjelina sedang tertawa bersama anak-anak.
"Karena aku akhirnya mengerti."
"Apa?"
"Bahagia bukan ketika kita mendapatkan semua yang kita inginkan."
"Tapi ketika kita mampu mensyukuri apa yang kita miliki."
Hidayat tersenyum.
"Berubah sekali kamu."
Herlambang tertawa.
"Dulu aku banyak belajar dari kesalahan."
"Dan sekarang?"
"Sekarang aku belajar dari orang-orang yang tetap bertahan."
Sore menjelang.
Herlambang dan Anjelina kembali berjalan menuju pohon trembesi.
Tempat yang selalu menjadi saksi perjalanan mereka.
Kini pohon itu semakin besar.
Akarnya kuat.
Daunnya rindang.
Banyak orang berteduh di bawahnya.
Anjelina menyentuh batang pohon itu.
"Kalau pohon ini bisa bicara..."
kata Anjelina.
"Apa yang akan dia ceritakan?"
Herlambang tersenyum.
"Mungkin dia akan bercerita tentang dua orang keras kepala yang membutuhkan waktu lama untuk memahami arti pulang."
Anjelina tertawa.
"Benarkah?"
"Iya."
"Lalu apa akhir ceritanya?"
Herlambang menatapnya.
"Akhirnya mereka sadar..."
"...bahwa rumah bukan tempat."
"Tetapi seseorang."
Mereka duduk bersama.
Seperti dulu.
Namun kini tanpa rasa takut kehilangan.
Langit sore mulai berubah warna.
Burung-burung kembali ke sarang.
Desa Arum Sari tetap berjalan.
Dan jika suatu hari nanti seseorang bertanya...
Apa arti cinta yang bertahan seribu musim?
Maka warga Desa Arum Sari akan menjawab:
"Bukan tentang seseorang yang menunggu tanpa akhir."
"Bukan tentang kisah yang selalu sempurna."
"Tetapi tentang dua manusia yang terus memilih satu sama lain..."
"...dalam setiap musim kehidupan."
Karena Herlambang dan Anjelina telah membuktikan.
Bahwa waktu boleh memisahkan.
Keadaan boleh menguji.
Masa lalu boleh melukai.
Namun jika hati masih memiliki tempat untuk memaafkan...
maka jalan pulang akan selalu ada.
Di bawah pohon trembesi yang menjadi saksi perjalanan panjang mereka...
dua hati itu tetap bersama.
Menatap masa depan.
Menjaga desa.
Menjaga keluarga.
Dan menjaga cinta yang telah melewati...
Seribu Musim.
TAMAT
Anang
30 Januari 2025 19:28:34
Lanjutkan mas... Semoga website desa pian semakin maju...