ROMAN
DI BAWAH LANGIT KAPUAS CINTAKU BERLABUH
Sebuah Roman tentang Mimpi yang Tumbuh dari Sebuah Desa, Cinta yang Ditempa oleh Waktu, dan Takdir yang Kembali Mempertemukan Dua Hati di Tepian Sungai Kapuas
Oleh: Slamet Riyadi
DI BAWAH LANGIT KAPUAS CINTAKU BERLABUH
Sebuah Roman tentang Mimpi yang Tumbuh dari Sebuah Desa, Cinta yang Ditempa oleh Waktu, dan Takdir yang Kembali Mempertemukan Dua Hati di Tepian Sungai Kapuas
Penulis:
Slamet Riyadi
Hak cipta dilindungi oleh undang-undang.
Dilarang memperbanyak, menggandakan, menyimpan, atau menyebarluaskan sebagian maupun seluruh isi buku ini dalam bentuk apa pun, baik secara elektronik maupun mekanis, tanpa izin tertulis dari penulis, kecuali untuk kepentingan kutipan dalam ulasan atau kajian ilmiah sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
Roman ini merupakan karya sastra fiksi yang lahir dari imajinasi penulis dengan menjadikan kekayaan budaya, suasana, dan beberapa lokasi di Kabupaten Kapuas sebagai latar cerita.
Cetakan Pertama.
© Slamet Riyadi.
Seluruh hak cipta dilindungi.
DISCLAIMER
Roman ini merupakan karya fiksi. Seluruh tokoh, dialog, alur, konflik, dan peristiwa yang terdapat di dalamnya adalah hasil imajinasi penulis. Nama-nama tokoh disusun khusus untuk kepentingan cerita dan tidak dimaksudkan untuk menggambarkan atau mewakili individu tertentu.
Beberapa tempat yang disebutkan dalam roman ini, seperti Desa Sriwidadi, Bundaran Besar Kuala Kapuas, Dermaga KP3, Taman Adipura, Jalan Tambun Bungai, Jalan Pemuda, Jalan Jenderal Ahmad Yani, Pertokoan Sanjaya, dan berbagai sudut Kabupaten Kapuas lainnya merupakan lokasi nyata yang digunakan sebagai latar untuk memperkuat nuansa cerita. Namun, seluruh rangkaian kejadian yang melibatkan tempat-tempat tersebut merupakan bagian dari karya fiksi.
Roman ini mengangkat tema tentang perjuangan seorang anak desa dalam mengejar pendidikan, persahabatan yang diuji oleh ambisi, cinta yang dipisahkan oleh waktu, pengkhianatan, konflik keluarga, pengorbanan, serta keyakinan bahwa setiap perjalanan hidup memiliki pelabuhan yang telah disiapkan oleh Tuhan.
Semoga setiap halaman dalam roman ini tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga menjadi pengingat bahwa mimpi tidak pernah mengenal asal-usul, bahwa cinta sejati memerlukan keberanian untuk menunggu, dan bahwa setiap langkah kecil yang dimulai dari desa dapat mengantarkan seseorang menuju masa depan yang tidak pernah dibayangkannya.
KATA PENGANTAR PENULIS
Setiap daerah memiliki cerita. Setiap desa memiliki kenangan. Dan setiap manusia memiliki perjalanan yang tidak selalu dapat dijelaskan oleh logika.
Roman Di Bawah Langit Kapuas Cintaku Berlabuh lahir dari kecintaan saya terhadap tanah kelahiran, budaya masyarakat, kehidupan desa, serta denyut kehidupan Kabupaten Kapuas yang terus berkembang tanpa kehilangan jati dirinya. Di antara aliran Sungai Kapuas, hijaunya persawahan, ramainya jalan-jalan kota, dan hangatnya kehidupan masyarakat, saya menemukan banyak kisah yang layak dikenang dan diceritakan.
Melalui tokoh Arman Maulana, saya ingin menghadirkan sosok anak desa yang percaya bahwa pendidikan adalah jembatan menuju perubahan. Ia tidak hanya berjuang mengejar cita-cita, tetapi juga belajar memahami arti persahabatan, menghadapi pengkhianatan, menerima kehilangan, dan menjaga harapan ketika cinta harus dipisahkan oleh jarak serta waktu.
Roman ini bukan semata-mata kisah percintaan. Ia adalah kisah tentang pertumbuhan. Tentang seorang anak yang berangkat dari desa dengan membawa mimpi, lalu kembali sebagai pribadi yang lebih matang. Tentang bagaimana keluarga menjadi akar, persahabatan menjadi ujian, pekerjaan menjadi ladang pengabdian, dan cinta menjadi pelabuhan terakhir yang diperjuangkan dengan kesabaran.
Saya menyadari bahwa tidak ada karya yang sempurna. Karena itu, kritik dan saran dari para pembaca akan menjadi bekal yang sangat berharga bagi perjalanan kepenulisan saya selanjutnya.
Semoga roman ini mampu menghadirkan kehangatan, harapan, dan keyakinan bahwa di balik setiap kesulitan, Tuhan selalu menyiapkan jalan terbaik bagi mereka yang tidak berhenti melangkah.
Slamet Riyadi
PROLOG
Tidak semua mimpi lahir di tengah gemerlap kota.
Sebagian justru tumbuh dari pematang sawah yang basah oleh embun pagi, dari jalan-jalan desa yang masih dipenuhi jejak roda sepeda, dari rumah-rumah kayu yang sederhana, dan dari doa-doa orang tua yang setiap malam melangit tanpa pernah diketahui siapa pun.
Di sanalah semuanya bermula.
Di sebuah desa bernama Sriwidadi.
Namanya terdengar sederhana. Namun bagi orang-orang yang tinggal di dalamnya, desa itu adalah rumah yang mengajarkan arti kebersamaan. Gotong royong bukan sekadar tradisi, melainkan cara hidup. Senyum tetangga adalah sapaan yang tulus. Sawah yang menghampar, kebun yang menghijau, dan langit yang luas menjadi saksi tumbuhnya anak-anak yang memelihara mimpi di dalam dada.
Di desa itulah Arman Maulana dilahirkan.
Putra pertama dari pasangan Rahmadi Prasetya dan Nurhayati Lestari itu tumbuh tanpa kemewahan. Ayahnya bekerja sebagai petani dengan penghasilan yang bergantung pada musim, sedangkan ibunya tekun mengurus keluarga sambil membantu menambah nafkah dari usaha kecil yang dikerjakan di rumah. Mereka tidak pernah memiliki harta berlimpah, tetapi memiliki keyakinan yang tidak pernah habis: pendidikan adalah warisan terbaik yang dapat diberikan kepada anak.
Sejak kecil, Arman terbiasa bangun sebelum matahari terbit. Ia membantu ayahnya di sawah ketika libur sekolah, mengantar hasil panen, lalu kembali menghabiskan sore bersama teman-temannya bermain di jalan desa. Kehidupan itu tampak biasa. Namun dari kesederhanaan itulah tumbuh tekad yang kelak membawanya melangkah jauh meninggalkan kampung halaman.
Ketika lulus dari SMP di Sriwidadi, Arman mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya. Ia akan melanjutkan pendidikan ke sebuah SMK di Kuala Kapuas. Keputusan itu berarti meninggalkan rumah, belajar hidup mandiri, dan memasuki dunia yang sama sekali baru.
Ia belum mengetahui bahwa kota kecil di tepian Sungai Kapuas itu akan mengubah seluruh jalan hidupnya.
Di ruang kelas yang asing, ia akan menemukan sahabat yang kelak menjadi lawan.
Di koridor sekolah, ia akan bertemu seorang gadis bernama Erika Maheswari, putri asli Kuala Kapuas yang tumbuh dalam keluarga sederhana namun penuh kasih. Pertemuan yang awalnya tampak biasa itu perlahan berubah menjadi kisah yang mengisi masa muda mereka.
Mereka akan berjalan di bawah rindang pepohonan Jalan Tambun Bungai, menikmati senja di Dermaga KP3, duduk di Taman Adipura sambil menyusun mimpi, dan sesekali berhenti di Bundaran Besar Kuala Kapuas hanya untuk menikmati sore yang terasa begitu panjang.
Namun kehidupan tidak pernah hanya menghadirkan kebahagiaan.
Persahabatan akan diuji oleh rasa iri.
Cinta akan dipisahkan oleh jarak.
Pengkhianatan akan datang dari orang yang paling dipercaya.
Waktu akan membawa mereka ke jalan yang berbeda, Arman merantau ke Banjarmasin demi mengejar pendidikan tinggi, sementara Erika memilih bertahan di Kapuas, membangun masa depannya sendiri.
Bertahun-tahun kemudian, ketika keduanya telah menjadi pribadi yang berbeda, takdir mempertemukan mereka kembali bukan sebagai pelajar, melainkan sebagai dua insan profesional yang dipersatukan oleh sebuah proyek pembangunan.
Di antara gambar teknik, dokumen kontrak, rapat, dan hiruk-pikuk dunia kerja, bara cinta yang pernah redup perlahan menyala kembali.
Karena sesungguhnya, cinta yang ditakdirkan tidak selalu datang tepat waktu.
Kadang ia harus menunggu seseorang selesai bertumbuh.
Dan ketika waktunya tiba, ia akan menemukan pelabuhannya sendiri.
Di bawah langit Kapuas, sebuah perjalanan panjang pun dimulai, perjalanan tentang mimpi, keluarga, persahabatan, kehilangan, pengkhianatan, harapan, dan cinta yang akhirnya berlabuh pada hati yang sejak awal telah dipilih oleh takdir.
BAB I
Sriwidadi, Tempat Mimpi Itu Dilahirkan
Fajar di Desa Cantik Harapan Jadi
Fajar belum sepenuhnya membuka tirai langit ketika embun masih setia menggantung di ujung-ujung daun padi. Kabut tipis mengambang di atas hamparan persawahan yang membentang luas sejauh mata memandang. Dari kejauhan, siluet pepohonan tampak berdiri tenang, seolah menjadi penjaga setia sebuah desa yang setiap pagi selalu terbangun dengan irama kehidupan yang sederhana.
Namanya Sriwidadi.
Bagi orang yang hanya melintas, Sriwidadi mungkin tampak seperti desa-desa lain di pedalaman Kabupaten Kapuas. Jalan-jalan desa membelah sawah dan kebun, rumah-rumah penduduk berdiri berjajar dengan halaman yang ditumbuhi pohon mangga, rambutan, dan kelapa, sementara suara ayam jantan bersahut-sahutan menyambut datangnya pagi.
Namun, bagi setiap orang yang lahir dan tumbuh di sana, Sriwidadi memiliki makna yang jauh lebih dalam.
Nama itu menyimpan doa.
"Sri" berarti kemuliaan, keindahan atau Cantik. "Wi" dimaknai sebagai harapan yang menjadi kenyataan.dan “Dadi” yang berarti jadi, sehingga Sriwidadi memiliki dapat di artikan sebuah “ Desa Cantik Harapan Jadi”.
Orang-orang tua di desa sering berkata bahwa siapa pun yang tumbuh dengan hati yang baik di Sriwidadi akan selalu menemukan jalan pulang, sejauh apa pun ia merantau.
Keyakinan itu diwariskan turun-temurun, bukan dalam kitab-kitab tebal, melainkan melalui petuah sederhana di beranda rumah, di pematang sawah, atau ketika para orang tua berkumpul selepas salat Magrib di surau desa.
Pagi itu, cahaya matahari mulai menyelinap di balik deretan pohon karet.
Burung-burung pipit beterbangan rendah, hinggap di hamparan padi yang mulai menguning. Angin pagi membawa aroma tanah basah yang bercampur dengan wangi jerami dan bunga-bunga liar di tepi jalan.
Dari sebuah rumah kayu sederhana yang berdiri di ujung gang kecil, terdengar suara pintu dibuka perlahan.
Rahmadi Prasetya melangkah keluar sambil membawa cangkul di pundaknya.
Lelaki berusia empat puluh lima tahun itu mengenakan caping anyaman bambu yang mulai memudar warnanya. Kulitnya legam karena bertahun-tahun bersahabat dengan matahari. Garis-garis di wajahnya bukan sekadar tanda usia, melainkan jejak perjuangan yang tak pernah selesai.
Ia menatap langit yang mulai berubah jingga.
"Musim ini semoga lebih baik," gumamnya pelan.
Dari dalam rumah, suara istrinya menyahut.
"Mas, jangan lupa sarapan dulu."
Nurhayati Lestari keluar membawa sebuah rantang kecil dan segelas kopi hitam yang masih mengepulkan uap.
Perempuan itu tersenyum hangat.
Senyum yang sama yang selalu mampu menghapus letih suaminya setiap pagi.
"Aku makan nanti di sawah saja."
"Kalau begitu bawalah bekalnya."
Rahmadi mengangguk pelan.
Di balik kesederhanaan mereka, tak pernah terdengar keluhan tentang hidup. Yang ada hanyalah keyakinan bahwa selama masih mau bekerja dan berdoa, Tuhan tidak akan membiarkan keluarga mereka kehilangan harapan.
Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kecil dari dalam rumah.
Seorang anak laki-laki berusia sekitar lima belas tahun keluar sambil mengusap matanya yang masih mengantuk.
"Assalamu'alaikum, Ayah..."
"Wa'alaikumussalam."
Rahmadi menoleh sambil tersenyum.
"Itu baru namanya Arman. Bangun sebelum matahari tinggi."
Anak itu tersenyum malu.
Namanya Arman Maulana.
Tubuhnya tidak terlalu tinggi, tetapi sorot matanya memancarkan rasa ingin tahu yang besar. Sejak kecil ia dikenal sebagai anak yang rajin belajar, mudah bergaul, dan jarang membuat orang tuanya khawatir.
Setiap pagi sebelum berangkat sekolah, ia selalu membantu pekerjaan rumah.
Kadang menyapu halaman.
Kadang memberi makan ayam.
Kadang ikut mengangkat pupuk ke kebun.
Baginya, membantu orang tua bukanlah beban.
Itu adalah kebiasaan yang tumbuh bersama kasih sayang keluarga.
"Sudah siap ke sekolah?" tanya Nurhayati.
Arman mengangguk.
"Sudah, Bu."
"Jangan lupa nanti ada ulangan Matematika."
"Iya."
Rahmadi menepuk bahu anaknya.
"Belajarlah yang rajin. Ayah tidak bisa mewariskan sawah yang luas, tapi Ayah ingin mewariskan pendidikan."
Kalimat itu sederhana.
Namun bagi Arman, kata-kata ayahnya selalu terasa lebih berharga daripada apa pun.
Ia sering melihat kedua orang tuanya bekerja tanpa mengenal lelah.
Musim hujan mereka berjuang menghadapi banjir.
Musim kemarau mereka menghadapi tanah yang mengeras.
Harga gabah kadang naik.
Kadang turun.
Namun semangat mereka tidak pernah berubah.
Karena itulah Arman diam-diam berjanji pada dirinya sendiri.
Suatu hari nanti...
ia ingin menjadi orang yang mampu mengubah kehidupan keluarganya.
Bukan demi kemewahan.
Melainkan agar ayahnya tidak lagi memikul cangkul setiap pagi dengan tubuh yang semakin renta.
Agar ibunya dapat tersenyum tanpa memikirkan harga pupuk, biaya sekolah, atau kebutuhan rumah tangga.
Matahari kini mulai meninggi.
Suara lonceng sepeda anak-anak sekolah mulai memenuhi jalan desa.
Beberapa ibu melambaikan tangan dari teras rumah.
Anak-anak berseragam putih biru beriringan menuju sekolah sambil bercanda dan tertawa.
Di balik suasana yang tampak biasa itu, tak seorang pun menyadari bahwa salah seorang anak yang sedang mengayuh sepedanya perlahan menuju SMP di desa itu kelak akan menempuh perjalanan hidup yang panjang, meninggalkan Sriwidadi, menemukan cinta pertamanya di Kuala Kapuas, merasakan getirnya pengkhianatan, mengejar ilmu di Banjarmasin, lalu kembali ke tanah kelahirannya sebagai pribadi yang telah ditempa oleh waktu.
Pagi itu hanyalah satu pagi di antara ribuan pagi yang pernah dilalui Desa Sriwidadi.
Namun justru dari pagi yang sederhana itulah sebuah mimpi besar mulai menemukan jalannya.
Sebab setiap perjalanan panjang selalu berawal dari langkah kecil.
Dan setiap langkah kecil selalu dimulai dari rumah.
Anak Petani dan Mimpi-Mimpinya
Pagi di Desa Sriwidadi selalu dimulai dengan cara yang hampir sama.
Kabut perlahan menghilang dari hamparan sawah, matahari merayap naik di balik pepohonan, dan jalan-jalan desa mulai ramai oleh anak-anak yang berangkat ke sekolah. Di antara deretan sepeda yang melintas, Arman Maulana selalu menjadi salah seorang yang berangkat paling awal.
Bukan karena rumahnya paling jauh.
Melainkan karena ia memiliki kebiasaan yang tidak pernah berubah sejak duduk di bangku sekolah dasar: datang lebih awal untuk membaca buku di perpustakaan kecil sekolah.
Bagi sebagian teman-temannya, sekolah adalah tempat belajar.
Bagi Arman, sekolah adalah jendela menuju dunia yang lebih luas.
Ia percaya bahwa kehidupan tidak berhenti di batas sawah, kebun, dan jalan-jalan desa yang telah dikenalnya sejak kecil. Di balik buku-buku yang dibacanya, ia menemukan kisah para ilmuwan, penulis, guru, insinyur, dan pemimpin yang berasal dari keluarga sederhana, tetapi berhasil mengubah hidup melalui pendidikan.
Keyakinan itu semakin kuat setiap kali ia melihat kedua orang tuanya bekerja tanpa mengenal lelah.
Sepulang sekolah, Arman tidak pernah langsung bermain.
Ia mengganti seragamnya dengan kaus lusuh, lalu menyusul ayahnya ke sawah. Kadang ia membantu membersihkan gulma, mengangkat karung pupuk, atau sekadar mengantarkan bekal makan siang yang telah disiapkan ibunya.
"Kalau capek, pulang saja, Man," ujar Rahmadi suatu siang.
Arman menggeleng sambil tersenyum.
"Kalau Ayah masih kuat, Arman juga kuat."
Rahmadi menatap putra sulungnya dengan mata yang berbinar. Dalam hati ia bersyukur, bukan karena Arman mampu bekerja di sawah, melainkan karena anak itu tumbuh dengan rasa tanggung jawab yang besar.
Di sela-sela pekerjaan, Rahmadi sering mengajarkan hal-hal sederhana.
"Tanah ini mengajari kita sabar," katanya sambil meratakan pematang.
"Kalau kita menanam hari ini, hasilnya tidak bisa dipetik besok. Semua butuh waktu."
Arman mengangguk.
Ia menyimpan kalimat itu dalam ingatannya.
Semakin dewasa, ia mulai memahami bahwa nasihat ayahnya bukan hanya tentang bertani, tetapi juga tentang kehidupan.
Malam hari menjadi waktu yang paling disukai Arman.
Setelah salat Isya, ia belajar di ruang tengah yang diterangi lampu sederhana. Di atas meja kayu yang mulai usang, buku-buku pelajaran tertata rapi. Sesekali ia membuka atlas, membaca ensiklopedia pinjaman dari sekolah, atau mengerjakan soal-soal yang diberikan gurunya.
Ibunya kerap memperhatikan dari dapur.
"Sudah malam, Man. Istirahat dulu."
"Sebentar lagi, Bu. Tinggal satu soal."
Nurhayati hanya tersenyum.
Ia tahu anaknya memiliki mimpi yang besar, meski Arman jarang mengatakannya dengan lantang.
Beberapa hari kemudian, sekolah mengadakan upacara bendera seperti biasa.
Di akhir upacara, Kepala SMP Negeri Sriwidadi, Pak Suryanto, mengumumkan nama-nama siswa yang memperoleh nilai tertinggi pada ujian tengah semester.
"Juara pertama diraih oleh... Arman Maulana."
Lapangan sekolah seketika dipenuhi tepuk tangan.
Arman melangkah ke depan dengan wajah sedikit gugup. Ia menerima piagam sederhana dari kepala sekolah, lalu menundukkan kepala ketika seluruh guru memberikan ucapan selamat.
Di antara kerumunan siswa, wali kelasnya, Bu Ratih Handayani, tersenyum bangga.
Seusai upacara, beliau memanggil Arman ke ruang guru.
"Arman, Ibu ingin bertanya. Setelah lulus SMP nanti, apa yang ingin kamu lakukan?"
Arman terdiam beberapa saat.
"Saya ingin melanjutkan sekolah, Bu."
"Ke mana?"
"Saya ingin sekolah di Kuala Kapuas."
Bu Ratih mengangguk pelan.
"Itu pilihan yang baik. Di sana banyak kesempatan untuk berkembang. Tapi kamu harus siap hidup jauh dari orang tua."
"Saya siap, Bu."
"Kenapa begitu yakin?"
Arman menarik napas panjang sebelum menjawab.
"Saya ingin membahagiakan Ayah dan Ibu. Saya ingin mereka tidak lagi bekerja terlalu keras."
Jawaban itu membuat Bu Ratih terdiam beberapa saat.
Ia melihat kesungguhan dalam mata muridnya.
Bukan ambisi yang lahir karena ingin dipuji, melainkan tekad yang tumbuh dari rasa cinta kepada keluarga.
Sore itu, ketika Arman mengayuh sepeda pulang melewati jalan desa yang diapit hamparan sawah menghijau, angin berembus lembut menerpa wajahnya.
Di kejauhan, ia melihat ayahnya masih bekerja di petak sawah yang sama.
Pemandangan itu begitu akrab.
Namun, untuk pertama kalinya, Arman merasakan bahwa hidupnya sedang bergerak menuju sebuah persimpangan.
Ia tahu suatu hari nanti harus meninggalkan desa yang dicintainya.
Bukan karena ingin melupakan Sriwidadi.
Justru karena ia ingin kembali suatu hari nanti dengan membawa ilmu, pengalaman, dan harapan baru.
Di bawah langit senja yang mulai memerah, Arman menatap hamparan sawah yang bergoyang pelan diterpa angin.
Dalam hatinya, ia berjanji,
"Aku akan pergi untuk belajar. Tetapi sejauh apa pun langkahku nanti, Sriwidadi akan tetap menjadi tempat di mana semua mimpiku dilahirkan."
Langit Pertama yang Mengajarkan Harapan
Musim berganti tanpa terasa.
Padi yang dahulu menghijau kini telah dipanen. Sawah-sawah yang beberapa bulan sebelumnya dipenuhi bulir menguning berubah menjadi hamparan jerami yang mengering di bawah terik matahari. Angin masih berembus pelan melewati pematang, membawa aroma tanah yang akrab bagi setiap orang yang lahir dan tumbuh di Desa Sriwidadi.
Di rumah kayu sederhana milik keluarga Rahmadi Prasetya, kalender dinding menunjukkan bulan terakhir sebelum pelaksanaan ujian akhir SMP.
Bagi sebagian siswa, ujian hanyalah rutinitas sekolah.
Namun bagi Arman Maulana, ujian adalah gerbang pertama menuju masa depan yang selama ini hanya berani ia bayangkan dalam doa-doanya.
Sejak pengumuman jadwal ujian ditempel di papan informasi sekolah, hari-harinya berubah semakin padat.
Selepas Subuh ia membuka buku pelajaran.
Sepulang sekolah ia membantu ayahnya di sawah atau membersihkan kebun.
Malam hari, setelah makan bersama keluarga, ia kembali belajar hingga larut.
Nurhayati beberapa kali mengingatkannya agar tidak memaksakan diri.
"Belajar itu penting, Man. Tapi kesehatan juga harus dijaga."
Arman menutup bukunya sejenak lalu tersenyum.
"Iya, Bu. Arman hanya ingin memberikan hasil terbaik."
Rahmadi yang sedang memperbaiki gagang cangkul di sudut ruang tamu ikut menimpali.
"Nilai memang penting. Tapi lebih penting lagi tetap menjadi anak yang jujur."
Arman mengangguk mantap.
"Ayah tenang saja."
Malam itu hujan turun perlahan.
Butiran air menetes di atap seng rumah mereka, menghadirkan irama yang menenangkan. Di balik jendela, Arman memandang gelapnya langit sambil membayangkan kehidupan di luar desa yang selama ini hanya ia lihat dari televisi dan cerita para guru.
Kuala Kapuas.
Nama kota itu terus berputar di kepalanya.
Di sanalah ia berharap dapat melanjutkan pendidikan.
Di sanalah ia ingin membuktikan bahwa anak petani dari desa kecil juga mampu berdiri sejajar dengan siapa pun.
Hari ujian akhirnya tiba.
Suasana SMP Negeri Sriwidadi tampak berbeda. Para siswa datang lebih awal dengan wajah yang menyimpan kegugupan. Sebagian membaca catatan terakhir, sebagian lagi memilih berdoa dalam diam.
Pak Suryanto, kepala sekolah, berdiri di depan gerbang menyambut setiap siswa.
"Selamat mengerjakan ujian. Ingat, keberhasilan bukan hanya soal nilai, tetapi juga kejujuran."
Arman mencium tangan gurunya.
"Terima kasih, Pak."
"Belajarlah setinggi mungkin. Desa ini membutuhkan anak-anak yang kelak kembali membawa perubahan."
Kalimat itu sederhana, tetapi terasa begitu dalam.
Di ruang ujian, Arman mengerjakan setiap soal dengan tenang. Ia tidak terburu-buru. Setiap jawaban ditulis dengan keyakinan yang lahir dari kerja keras selama bertahun-tahun.
Ketika bel tanda selesai berbunyi, ia menarik napas panjang.
Bukan karena soal-soalnya mudah.
Melainkan karena ia merasa telah memberikan seluruh kemampuan yang dimilikinya.
Beberapa minggu kemudian, hasil kelulusan diumumkan.
Lapangan sekolah dipenuhi siswa dan orang tua.
Suasana hening ketika Pak Suryanto mulai membacakan nama-nama lulusan.
Satu demi satu terdengar sorak gembira.
Hingga akhirnya...
"Nilai tertinggi tahun ini diraih oleh Arman Maulana."
Tepuk tangan bergema memenuhi halaman sekolah.
Rahmadi yang berdiri di belakang kerumunan hanya mampu menundukkan kepala sambil mengusap sudut matanya.
Nurhayati menggenggam kedua tangannya erat-erat.
Bukan karena piagam itu.
Melainkan karena mereka melihat harapan yang selama ini mereka rawat perlahan mulai menemukan jalannya.
Seusai acara, Bu Ratih menghampiri Arman.
"Ibu sudah berbicara dengan kepala sekolah. Kami semua sepakat kamu harus melanjutkan sekolah ke Kuala Kapuas."
Arman terdiam.
"Itu memang keinginan saya, Bu."
"Apakah orang tuamu sudah setuju?"
Arman menoleh kepada ayah dan ibunya yang sedang berbincang dengan beberapa guru.
"Belum kami bicarakan secara serius."
"Kalau begitu, bicarakanlah malam ini. Jangan biarkan kemampuanmu berhenti hanya karena rasa takut."
Malam itu, ruang tengah rumah keluarga Rahmadi terasa lebih sunyi daripada biasanya.
Lampu minyak menyala temaram ketika mereka bertiga duduk mengelilingi meja makan yang sekaligus menjadi tempat bermusyawarah.
Rahmadi membuka pembicaraan.
"Tadi Pak Kepala Sekolah mengatakan kamu disarankan melanjutkan ke SMK di Kuala Kapuas."
"Iya, Yah."
"Memangnya kamu benar-benar ingin ke sana?"
Arman mengangguk.
"Sangat ingin."
"Kenapa?"
Arman menarik napas panjang.
"Karena Arman ingin belajar lebih banyak. Di sana fasilitasnya lebih lengkap. Kalau Arman punya bekal yang cukup, nanti Arman bisa kuliah, bekerja, dan membantu Ayah serta Ibu."
Ruangan kembali sunyi.
Nurhayati menatap wajah putranya yang mulai beranjak dewasa.
Ia bangga.
Tetapi sebagai seorang ibu, ada kegelisahan yang sulit disembunyikan.
"Kuala Kapuas bukan dekat, Man. Kamu harus tinggal jauh dari rumah."
"Arman tahu, Bu."
"Kalau sakit bagaimana?"
"Nanti Arman jaga diri."
"Kalau rindu rumah?"
Arman tersenyum kecil.
"Arman pasti rindu. Tapi rindu bukan alasan untuk menyerah."
Rahmadi menatap putranya cukup lama.
Dalam diri Arman, ia melihat keberanian yang dahulu tidak pernah ia miliki ketika seusianya.
Lelaki itu akhirnya menghela napas panjang.
"Kalau memang itu jalanmu, Ayah akan berusaha."
"Tapi biaya sekolah..." bisik Nurhayati.
Rahmadi menggenggam tangan istrinya.
"Kita akan mencari jalan."
"Tapi tabungan kita..."
"Kalau perlu Ayah menjual hasil panen lebih awal."
Arman segera menggeleng.
"Jangan, Yah. Arman bisa mencari beasiswa."
Rahmadi tersenyum.
"Itu nanti. Sekarang tugasmu hanya satu."
"Apa, Yah?"
"Belajar sebaik mungkin."
Hari-hari berikutnya dipenuhi berbagai persiapan.
Pak Suryanto membantu mengurus surat rekomendasi.
Bu Ratih menyiapkan berkas akademik.
Tetangga-tetangga yang mendengar kabar itu datang memberikan doa.
"Semoga jadi orang sukses, Man."
"Jangan lupa kampung halaman."
"Kami bangga sama kamu."
Setiap ucapan itu menambah semangat sekaligus tanggung jawab di pundaknya.
Suatu sore, Arman berjalan sendirian menuju pematang sawah.
Matahari mulai tenggelam di ufuk barat.
Langit memancarkan warna keemasan yang perlahan berubah jingga.
Ia berdiri cukup lama memandang hamparan sawah yang selama ini menjadi bagian dari hidupnya.
Di tempat itulah ia belajar bekerja keras.
Di tempat itu pula ia pertama kali memahami arti kesabaran.
Angin sore berembus pelan.
Burung-burung kembali ke sarangnya.
Arman menengadah menatap langit yang luas.
Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa langit yang selama ini menaungi Desa Sriwidadi adalah langit yang sama dengan langit di kota-kota yang belum pernah ia kunjungi.
Perbedaannya bukan pada langit.
Melainkan pada keberanian seseorang untuk melangkah.
Dengan suara lirih yang hampir tenggelam oleh desir angin, ia berbisik kepada dirinya sendiri,
"Aku akan pergi membawa mimpi. Tetapi suatu hari nanti, aku akan kembali membawa harapan."
Senja itu menjadi senja terakhir yang dinikmatinya sebagai seorang siswa SMP.
Beberapa minggu lagi, kehidupan baru telah menunggu di Kuala Kapuas—sebuah kota yang belum ia kenal, tetapi kelak akan menghadiahkannya persahabatan, cinta pertama, pengkhianatan, kehilangan, dan jalan panjang menuju kedewasaan.
Tanpa ia sadari, langkah kecil yang akan segera diambilnya bukan sekadar perpindahan sekolah.
Itulah awal perjalanan yang kelak mengubah seluruh jalan hidupnya.
BAB II
Selamat Datang di Kuala Kapuas
Kota yang Membuka Gerbang Takdir
Subuh masih menyelimuti Desa Sriwidadi ketika lampu-lampu rumah penduduk satu per satu mulai padam. Kabut tipis turun menyelimuti persawahan, sementara embun masih menggantung di ujung daun padi yang bergoyang perlahan diterpa angin pagi.
Hari itu bukan pagi yang biasa bagi Arman Maulana.
Hari itu adalah hari ketika ia harus meninggalkan rumah untuk pertama kalinya.
Di ruang tengah, sebuah koper berwarna biru tua telah tergeletak rapi. Isinya tidak banyak. Beberapa stel pakaian seragam baru, buku-buku pelajaran, sepasang sepatu hitam yang masih mengilap, perlengkapan salat, beberapa buku tulis, dan sebuah Al-Qur'an kecil yang telah menemani Arman sejak duduk di bangku sekolah dasar.
Nurhayati Lestari memeriksa kembali isi koper itu dengan teliti.
"Seragamnya sudah lengkap."
"Iya, Bu."
"Kaos kaki?"
"Sudah."
"Buku-bukunya?"
"Sudah juga."
Meski berkali-kali diperiksa, seorang ibu memang selalu merasa ada yang tertinggal.
Bukan karena lupa.
Melainkan karena berat melepaskan anak yang selama ini selalu berada dalam pengawasannya.
Di dapur, aroma nasi goreng kampung memenuhi ruangan.
"Itu makanan kesukaanmu," ujar Nurhayati sambil meletakkan sepiring nasi di hadapan Arman.
"Makan yang banyak. Nanti perjalanan masih jauh."
Arman tersenyum.
"Iya, Bu."
Rahmadi Prasetya duduk di samping putranya.
Sejak tadi ia lebih banyak diam.
Sesekali hanya menyeruput kopi hitam yang mulai mendingin.
Bukan karena tidak ingin berbicara.
Melainkan karena terlalu banyak hal yang ingin disampaikan, tetapi sulit dirangkai menjadi kata-kata.
Beberapa saat kemudian ia membuka suara.
"Man."
"Iya, Yah."
"Mulai hari ini hidupmu berubah."
Arman menatap ayahnya.
"Di kota nanti tidak ada Ayah yang setiap pagi membangunkanmu."
Arman mengangguk pelan.
"Tidak ada Ibu yang mengingatkanmu makan."
"Iya."
"Semua harus kamu lakukan sendiri."
"Saya mengerti."
Rahmadi tersenyum tipis.
"Lelaki sejati bukan diukur dari usianya."
"Melainkan?"
"Dari tanggung jawabnya."
Kalimat itu kembali tersimpan dalam hati Arman.
Nasihat ayahnya memang tidak pernah panjang.
Namun selalu tinggal lebih lama daripada suara siapa pun.
Matahari mulai muncul ketika mereka berangkat meninggalkan rumah.
Beberapa tetangga yang telah mengetahui keberangkatan Arman berdiri di depan rumah masing-masing.
"Selamat belajar, Man!"
"Jangan lupa pulang kalau libur!"
"Semoga sukses!"
Arman menyalami satu demi satu orang yang telah menjadi bagian dari masa kecilnya.
Di ujung jalan desa, Pak Lurah Harun Wiratama bersama istrinya bahkan sengaja datang untuk melepas keberangkatannya.
"Kami bangga ada anak Sriwidadi yang berani merantau demi sekolah."
"Terima kasih, Pak."
"Belajarlah sungguh-sungguh."
"Insyaallah."
Pak Lurah menepuk pundaknya.
"Kalau nanti berhasil, jangan lupa kembali membangun desa."
Arman mengangguk mantap.
"Itu janji saya."
Perjalanan menuju Kuala Kapuas memakan waktu beberapa jam.
Mobil angkutan yang mereka tumpangi melintasi jalan-jalan kabupaten yang membelah hamparan perkebunan, persawahan, dan hutan.
Arman duduk di dekat jendela.
Sepanjang perjalanan ia lebih banyak diam.
Matanya sibuk memperhatikan setiap pemandangan yang berganti.
Rumah-rumah mulai semakin rapat.
Kendaraan semakin banyak.
Jalan semakin lebar.
Sesekali ia melihat deretan ruko, bengkel, pom bensin, hingga pasar yang jauh lebih ramai dibandingkan desanya.
Baginya, semuanya terasa baru.
Rahmadi yang duduk di sebelahnya tersenyum melihat putranya tak henti-henti memandang keluar.
"Baru pertama kali melihat kota sebesar ini?"
Arman tertawa kecil.
"Iya."
"Nanti kamu akan terbiasa."
"Tapi tetap berbeda dengan desa."
Rahmadi mengangguk.
"Setiap tempat punya pelajaran masing-masing."
Menjelang siang, kendaraan yang mereka tumpangi mulai memasuki kawasan Kota Kuala Kapuas.
Sebuah bundaran besar berdiri megah di tengah persimpangan jalan.
Arman menatapnya penuh takjub.
"Yah..."
"Itu Bundaran Besar Kuala Kapuas."
Arman mengangguk pelan.
Nama tempat yang selama ini hanya ia dengar dari cerita guru-gurunya kini benar-benar berada di depan mata.
Kendaraan terus bergerak melewati Jalan Tambun Bungai.
Deretan pertokoan tampak sibuk.
Pedagang kaki lima mulai melayani pembeli.
Sepeda motor berlalu-lalang tanpa henti.
Di kejauhan tampak bangunan-bangunan pemerintahan berdiri kokoh.
Bagi Arman, kota itu terasa begitu hidup.
Ia tidak lagi hanya membayangkannya melalui buku pelajaran Geografi.
Kini ia menjadi bagian dari kota itu.
Untuk pertama kalinya.
Sebelum menuju sekolah, Rahmadi mengajak Arman singgah di rumah seorang kerabat jauh yang tinggal tidak jauh dari Jalan Pemuda.
Di rumah sederhana itulah Arman akan menumpang selama menempuh pendidikan.
Pemilik rumah itu bernama Pak Hasan Basri dan istrinya Bu Mariani.
Keduanya menyambut Arman layaknya anak sendiri.
"Mulai sekarang anggap saja rumah ini rumahmu."
"Terima kasih, Pak."
"Kalau butuh apa-apa, jangan sungkan."
"Iya."
Rahmadi tampak sedikit lega.
Setidaknya kini ia tahu putranya tinggal bersama keluarga yang dapat dipercaya.
Menjelang sore, mereka berdua berjalan menuju sekolah tempat Arman akan belajar.
Gerbang sekolah berdiri megah dengan papan nama yang tertata rapi.
Beberapa siswa baru tampak berlalu-lalang mengurus berkas pendaftaran ulang.
Arman berhenti beberapa langkah di depan gerbang.
Dadanya berdebar.
Inilah tempat yang selama ini menjadi tujuan semua perjuangannya.
Rahmadi berdiri di sampingnya.
"Takut?"
"Sedikit."
"Itu wajar."
Arman tersenyum.
"Tapi lebih banyak semangatnya."
Rahmadi mengusap bahu putranya.
"Kalau begitu, masuklah."
Arman menarik napas panjang.
Ia melangkahkan kaki melewati gerbang sekolah.
Ia belum mengenal siapa pun.
Belum mengetahui siapa yang akan menjadi sahabatnya.
Belum mengetahui siapa yang kelak mengkhianatinya.
Apalagi menyadari bahwa di salah satu ruang kelas sekolah itu, seorang gadis bernama Erika Maheswari juga sedang memulai lembaran baru kehidupannya.
Takdir belum mempertemukan mereka.
Namun waktu telah mulai menenun benang-benang kisah yang suatu hari akan mengikat dua hati dalam perjalanan panjang yang penuh cinta, luka, pengorbanan, dan harapan.
Di bawah langit Kuala Kapuas, langkah pertama Arman sebagai seorang perantau akhirnya dimulai.
Dan tanpa ia sadari, kota itu akan menjadi saksi lahirnya babak terindah sekaligus paling menyakitkan dalam masa mudanya.
Hari Pertama di SMK dan Perempuan di Bangku Nomor Delapan
Matahari baru saja muncul di ufuk timur ketika Kota Kuala Kapuas mulai memperlihatkan denyut kehidupannya. Kendaraan roda dua memenuhi ruas Jalan Tambun Bungai. Pedagang kaki lima sibuk menata dagangan, sementara para pelajar berseragam putih abu-abu berbondong-bondong menuju sekolah masing-masing.
Di rumah Pak Hasan Basri, Arman Maulana telah bersiap sejak pukul enam pagi.
Seragam putih abu-abu yang baru dibelikan orang tuanya dikenakan dengan rapi. Sepatu hitam mengilap, tas punggung sederhana berisi buku tulis, alat tulis, dan sebuah buku agenda kecil yang selalu ia bawa ke mana pun.
Di depan cermin, ia merapikan kerah bajunya untuk terakhir kali.
"Sudah siap?" tanya Bu Mariani sambil tersenyum.
"Insyaallah sudah, Bu."
"Jangan gugup."
Arman tersenyum tipis.
"Sebenarnya masih sedikit gugup."
"Itu wajar. Semua orang pernah menjadi murid baru."
Pak Hasan yang sedang menikmati secangkir kopi ikut menimpali.
"Yang penting tetap jadi diri sendiri."
"Iya, Pak."
Sebelum berangkat, Arman mencium tangan kedua orang tua angkatnya itu.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam. Semoga hari pertamamu membawa keberkahan."
Gerbang sekolah sudah ramai ketika Arman tiba.
Beberapa siswa baru tampak sibuk mencari ruang kelas. Ada yang datang bersama orang tua, ada pula yang sudah bergerombol dengan teman-teman yang dikenalnya sejak SMP.
Arman berdiri beberapa saat di depan papan pengumuman.
Matanya menyusuri daftar nama yang ditempel rapi.
Kelas X TKJ-A.
Nomor urut dua belas.
Ia menghela napas lega.
Perlahan ia berjalan menyusuri koridor sekolah yang masih asing. Bangunan sekolah tampak megah dibandingkan sekolah lamanya di desa. Ruang-ruang kelas berjajar rapi, taman-taman kecil dipenuhi bunga kertas dan pucuk merah, sementara bendera Merah Putih berkibar pelan di halaman utama.
Di depan ruang kelas X TKJ-A, beberapa siswa telah duduk sambil bercakap-cakap.
Seorang pemuda berkulit sawo matang melambaikan tangan.
"Hei... kamu juga kelas ini?"
Arman mengangguk.
"Iya."
"Ayo masuk."
"Terima kasih."
Pemuda itu mengulurkan tangan.
"Aku Junaidi Pratama."
Arman membalas jabatannya.
"Arman Maulana."
"Kamu dari mana?"
"Dari Desa Sriwidadi."
"Oh... jauh juga."
"Iya."
"Aku dari Kecamatan Kapuas Barat."
Percakapan sederhana itu menjadi awal sebuah persahabatan yang kelak akan melewati begitu banyak ujian.
Mereka belum mengetahui bahwa beberapa tahun ke depan, persahabatan itu akan dipertaruhkan oleh sesuatu yang sama-sama tidak mereka rencanakan.
Cinta.
Bel tanda masuk berbunyi.
Para siswa segera mengambil tempat duduk.
Arman memilih bangku nomor tiga dari depan, tepat di dekat jendela. Dari tempat itu ia dapat melihat pepohonan rindang yang tumbuh di halaman sekolah.
Tak lama kemudian, seorang guru perempuan memasuki kelas.
"Selamat pagi."
"Selamat pagi, Bu."
"Saya Rina Kartikasari, wali kelas kalian."
Suaranya lembut, tetapi tegas.
Beliau menjelaskan berbagai peraturan sekolah, memperkenalkan para guru, hingga tata tertib selama belajar.
Satu per satu siswa diminta memperkenalkan diri.
Ketika giliran Arman tiba, ia berdiri dengan sedikit gugup.
"Nama saya Arman Maulana. Saya berasal dari Desa Sriwidadi."
"Kenapa memilih sekolah di sini?" tanya Bu Rina.
"Saya ingin belajar lebih banyak dan mengejar cita-cita."
"Bagus."
Tepuk tangan kecil terdengar dari beberapa sudut kelas.
Arman kembali duduk.
Ia mulai merasa sedikit lebih tenang.
Sekitar setengah jam kemudian, terdengar ketukan di pintu kelas.
"Permisi, Bu."
Seorang guru laki-laki berdiri di depan pintu bersama seorang siswi.
"Maaf terlambat, Bu Rina. Ada siswi baru yang baru saja menyelesaikan administrasi."
Bu Rina mengangguk.
"Silakan masuk."
Seluruh isi kelas serempak menoleh.
Arman ikut mengangkat kepala.
Sesaat kemudian, seorang gadis melangkah masuk dengan tenang.
Seragam putih abu-abunya tampak rapi. Rambut hitamnya diikat sederhana. Wajahnya teduh dengan senyum yang nyaris tak pernah lepas dari bibirnya.
Tatapannya jernih.
Ada ketenangan yang sulit dijelaskan.
Namun justru ketenangan itulah yang membuat seluruh kelas seolah diam beberapa detik.
"Silakan perkenalkan diri."
Gadis itu mengangguk pelan.
"Nama saya Erika Maheswari."
Suaranya lembut.
"Saya tinggal di Jalan Pemuda, Kuala Kapuas."
Ia tersenyum kepada teman-teman barunya.
"Mohon bantuan dan kerja samanya."
"Silakan duduk."
Bu Rina memandang sekeliling kelas.
Bangku yang masih kosong hanya satu.
Bangku nomor delapan.
Tepat di sisi kanan kelas.
Erika berjalan perlahan menuju tempat duduknya.
Ketika melewati bangku Arman, tanpa sengaja map yang dibawanya terjatuh.
Beberapa lembar formulir berserakan di lantai.
Arman refleks berdiri.
"Biar saya bantu."
"Terima kasih."
Mereka sama-sama berjongkok memungut kertas yang tercecer.
Sesaat tangan mereka hampir bersentuhan ketika mengambil lembar terakhir.
Erika menarik tangannya lebih dulu sambil tersenyum kecil.
"Maaf merepotkan."
"Tidak apa-apa."
"Itu... punyaku."
Arman menyerahkan map berwarna biru muda itu.
"Terima kasih."
"Sama-sama."
Percakapan mereka hanya berlangsung beberapa detik.
Namun entah mengapa, sejak saat itu Arman beberapa kali tanpa sadar menoleh ke arah bangku nomor delapan.
Bukan karena penasaran.
Melainkan karena ada sesuatu dalam diri gadis itu yang membuatnya merasa begitu tenang.
Ia sendiri tidak mengerti perasaan apa yang mulai tumbuh.
Yang ia tahu, pagi itu terasa berbeda dibandingkan beberapa jam sebelumnya.
Jam istirahat pertama tiba.
Junaidi menghampiri Arman.
"Ayo ke kantin."
"Boleh."
Di tengah perjalanan menuju kantin, mereka melihat Erika sedang berdiri sendirian membaca jadwal pelajaran di papan informasi.
"Kasihan juga kalau sendirian," gumam Junaidi.
Arman mengangguk.
"Kita ajak saja."
Mereka menghampiri.
"Hai."
Erika menoleh sambil tersenyum.
"Hai."
"Sudah hafal ruang-ruangnya?"
"Belum."
"Sama."
Ketiganya tertawa kecil.
"Ayo ke kantin."
"Boleh."
Mereka berjalan berdampingan menyusuri koridor sekolah.
Tak ada yang menyangka, langkah-langkah sederhana menuju kantin itu akan menjadi awal dari perjalanan yang kelak dipenuhi tawa, harapan, kecemburuan, pengorbanan, dan luka.
Di sisi lain, Junaidi diam-diam mulai memperhatikan Erika.
Sementara Arman, tanpa sadar, mulai menyimpan kekaguman yang bahkan belum berani ia sebut sebagai cinta.
Di bawah langit Kuala Kapuas, takdir baru saja mempertemukan tiga anak muda yang kelak akan saling mengubah jalan hidup satu sama lain.
Dan bangku nomor delapan akan selalu dikenang Arman sebagai tempat di mana hatinya pertama kali belajar berdebar.
Tiga Nama, Satu Persahabatan, dan Benih Cinta yang Mulai Tumbuh
Bel istirahat kedua baru saja berakhir ketika halaman sekolah kembali dipenuhi suara langkah para siswa yang bergegas menuju ruang kelas. Di bawah rindangnya pohon ketapang yang tumbuh di sudut halaman, Arman Maulana, Junaidi Pratama, dan Erika Maheswari masih duduk menikmati sisa waktu istirahat.
Bagi mereka, pertemuan itu hanyalah percakapan biasa.
Namun takdir sering kali menyembunyikan cerita besar di balik peristiwa yang tampak sederhana.
"Jadi... kamu benar-benar dari Sriwidadi?" tanya Erika sambil memandang Arman.
Arman mengangguk.
"Iya."
"Jauh juga ya."
"Kalau dihitung jarak, memang lumayan. Tapi kalau sudah terbiasa, rasanya tidak terlalu jauh."
Erika tersenyum.
"Aku belum pernah ke sana."
"Kalau musim panen, sawahnya bagus sekali."
"Serius?"
"Iya."
"Suatu hari aku ingin melihatnya."
Kalimat itu terdengar ringan.
Namun entah mengapa, Arman menyimpannya baik-baik dalam ingatan.
Junaidi yang duduk di samping mereka ikut menyela.
"Aku juga belum pernah ke Sriwidadi."
"Kalau nanti liburan, datang saja."
"Janji?"
"Janji."
Mereka bertiga tertawa bersama.
Tak ada kecanggungan lagi seperti pagi tadi.
Dalam hitungan jam, ketiganya telah menemukan kenyamanan yang biasanya membutuhkan waktu berminggu-minggu.
Hari-hari berikutnya berjalan begitu cepat.
Setiap pagi, Arman datang lebih awal ke sekolah.
Ia terbiasa duduk di bangkunya sambil membaca buku sebelum pelajaran dimulai.
Tak lama kemudian Junaidi datang.
"Lagi baca?"
"Iya."
"Kamu tidak bosan?"
Arman tertawa kecil.
"Kalau buku ini bosan dibaca, mungkin aku tidak akan sekolah sejauh ini."
"Dasar kutu buku."
"Tidak juga."
Tak lama kemudian Erika memasuki kelas.
"Hai."
"Pagi."
"Pagi."
Percakapan mereka semakin akrab dari hari ke hari.
Sesekali mereka belajar bersama di perpustakaan.
Kadang berdiskusi mengerjakan tugas kelompok.
Kadang sekadar berbincang di taman sekolah sambil menunggu jam pelajaran berikutnya.
Mereka mulai saling mengenal.
Arman mengetahui bahwa Erika adalah anak kedua dari pasangan Mahendra Kusuma dan Ratnawati.
Ayahnya bekerja sebagai pegawai swasta, sedangkan ibunya memiliki usaha kecil di rumah.
Erika memiliki kegemaran membaca novel dan menulis puisi.
Ia juga menyukai senja.
"Kenapa senja?" tanya Arman suatu hari.
Erika menatap langit sore dari jendela kelas.
"Karena senja mengajarkan bahwa sesuatu yang indah tidak harus berlangsung selamanya."
Jawaban itu membuat Arman terdiam.
Baginya, Erika bukan hanya cantik.
Gadis itu memiliki cara berpikir yang berbeda.
Minggu demi minggu berlalu.
Guru-guru mulai mengenal karakter murid-muridnya.
Pak Dedi Pranata, guru Matematika, sering memuji kemampuan Arman.
"Kalau terus belajar seperti ini, kamu bisa ikut Olimpiade."
Arman hanya tersenyum malu.
Sementara Bu Rina beberapa kali meminta Erika membacakan hasil karangan di depan kelas.
Tulisan gadis itu selalu berhasil membuat ruang kelas mendadak sunyi.
Kata-katanya sederhana.
Namun mampu menyentuh hati siapa saja yang mendengarnya.
Suatu siang, ketika pelajaran Bahasa Indonesia usai, Bu Rina memberikan tugas yang berbeda.
"Minggu depan kalian membuat esai tentang mimpi."
Suasana kelas langsung riuh.
"Mimpi apa saja, Bu?"
"Bebas."
"Asal jangan mimpi waktu tidur."
Seluruh kelas tertawa.
Bu Rina ikut tersenyum.
"Tulislah mimpi yang benar-benar ingin kalian perjuangkan."
Seminggu kemudian.
Satu per satu siswa membacakan hasil tulisannya.
Ada yang ingin menjadi polisi.
Ada yang bercita-cita menjadi dokter.
Ada pula yang ingin membuka usaha sendiri.
Ketika giliran Arman, suasana kelas mendadak hening.
Ia berdiri di depan kelas dengan selembar kertas di tangannya.
"Saya ingin menjadi seorang konsultan teknik."
Beberapa teman tampak saling berpandangan.
Profesi itu terdengar asing bagi sebagian besar siswa.
Arman melanjutkan.
"Saya ingin membangun gedung, sekolah, jembatan, dan fasilitas yang bermanfaat untuk masyarakat."
Ia berhenti sejenak.
"Lalu suatu hari nanti, saya ingin kembali ke desa saya dan membantu pembangunan di sana."
Ruangan menjadi sunyi.
Tak ada yang tertawa.
Tak ada yang mengejek.
Semua mendengarkan.
Bahkan Bu Rina tampak tersenyum bangga.
"Bagus sekali."
Giliran berikutnya adalah Erika.
Gadis itu berdiri sambil membawa buku kecil berwarna hijau.
"Saya ingin menjadi perempuan yang bermanfaat."
Beberapa teman tersenyum.
"Itu saja?"
Erika menggeleng.
"Saya ingin bekerja dengan kemampuan saya sendiri. Saya ingin membanggakan orang tua dan tetap memiliki waktu untuk keluarga."
Ia memandang teman-temannya.
"Kalau suatu hari nanti saya bisa membantu orang lain melalui pekerjaan saya, itu sudah cukup."
Tepuk tangan memenuhi ruang kelas.
Arman menjadi orang yang paling lama bertepuk tangan.
Entah mengapa, setiap kalimat yang keluar dari mulut Erika selalu terasa tulus.
Sore itu hujan turun deras.
Sebagian siswa memilih menunggu di teras sekolah.
Arman berdiri memandangi rintik hujan yang membasahi halaman.
Di sampingnya, Erika ikut berdiri.
"Hujannya deras."
"Iya."
"Kamu naik apa?"
"Sepeda."
"Wah..."
"Kamu?"
"Dijemput Ayah."
Mereka kembali diam.
Keheningan itu justru terasa nyaman.
Tidak canggung.
Tidak memaksa.
Beberapa menit kemudian sebuah mobil berhenti di depan gerbang sekolah.
Seorang lelaki paruh baya turun sambil membawa payung.
"Itu Ayahku."
Erika tersenyum.
"Sampai besok ya."
"Iya."
Erika melangkah pergi.
Namun sebelum masuk ke mobil, ia menoleh kembali.
"Arman."
"Iya?"
"Hati-hati di jalan."
Arman tersenyum.
"Kamu juga."
Mobil itu perlahan meninggalkan halaman sekolah.
Arman masih berdiri di tempat yang sama.
Ia bahkan baru sadar sejak tadi memperhatikan mobil itu hingga menghilang di tikungan.
Junaidi yang baru keluar dari kantin menepuk pundaknya.
"Sudah pergi."
Arman sedikit terkejut.
"Hah?"
"Kamu lihat terus."
Arman tertawa kecil untuk menutupi rasa malunya.
"Mana ada."
Junaidi ikut tertawa.
"Iya... iya..."
Namun jauh di dalam hatinya, Junaidi mulai menyadari sesuatu.
Ia juga menikmati setiap percakapan dengan Erika.
Ia juga menunggu setiap pagi ketika gadis itu memasuki ruang kelas.
Ia juga merasa senang ketika belajar bersama.
Perasaan itu masih sangat kecil.
Belum cukup kuat untuk disebut cinta.
Tetapi cukup besar untuk mulai menumbuhkan rasa ingin memiliki.
Dan sejak hari itu, tanpa diketahui Arman maupun Erika, benih persaingan mulai tumbuh perlahan di dalam hati Junaidi.
Malam itu, Arman menuliskan satu kalimat dalam buku agenda kecil yang selalu ia simpan di dalam tas.
"Hari ini aku belajar bahwa ada seseorang yang mampu membuat hari-hari biasa terasa lebih indah. Entah ini hanya rasa kagum, atau mungkin awal dari sesuatu yang kelak akan disebut cinta."
Ia menutup buku itu sambil tersenyum tipis.
Di luar jendela, langit Kuala Kapuas dipenuhi bintang.
Tidak ada yang tahu bagaimana masa depan akan mempertemukan atau memisahkan mereka.
Tidak ada yang tahu bahwa tiga nama yang kini duduk dalam satu ruang kelas akan melewati jalan hidup yang berliku.
Persahabatan mereka akan diuji oleh ambisi.
Kepercayaan akan retak oleh kecemburuan.
Dan cinta yang baru saja tumbuh akan dipaksa memilih antara kesetiaan, pengorbanan, dan takdir.
Namun untuk saat itu, mereka hanyalah tiga remaja yang sedang belajar mengenal dunia.
Masih tertawa tanpa beban.
Masih bermimpi tanpa rasa takut.
Masih percaya bahwa persahabatan akan berlangsung selamanya.
Padahal kehidupan telah menyiapkan bab berikutnya—bab ketika perasaan mulai tumbuh lebih dalam, dan hati perlahan belajar membedakan antara sahabat dan seseorang yang diam-diam dicintai.
BAB III
Perempuan yang Duduk di Bangku Nomor Delapan
Perempuan Baru di Kelas X TKJ-A
Pagi itu, langit Kuala Kapuas tampak cerah tanpa selembar awan pun. Matahari baru meninggi ketika para siswa SMK Negeri Kuala Kapuas mulai memenuhi halaman sekolah. Suara sepeda motor yang keluar-masuk gerbang berpadu dengan gelak tawa para pelajar yang saling menyapa setelah akhir pekan berlalu.
Arman Maulana tiba seperti biasanya.
Lebih awal dibandingkan sebagian besar teman-temannya.
Ia memarkir sepeda kayuhnya di tempat parkir belakang sekolah, lalu berjalan melewati taman kecil yang dipenuhi bunga kertas berwarna merah muda. Setelah memberi salam kepada satpam sekolah, ia langsung menuju ruang kelas X TKJ-A.
Kelas masih sepi.
Hanya Junaidi Pratama yang telah duduk di bangku belakang sambil membuka buku gambar.
"Pagi, Man."
"Pagi."
"Rajin sekali kamu."
Arman tersenyum kecil.
"Daripada terlambat."
"Kamu memang tidak pernah berubah."
Mereka tertawa pelan.
Tak lama kemudian, bel pertama berbunyi.
Satu per satu siswa mulai memasuki ruang kelas.
Ketika semua hampir lengkap, Bu Rina Kartikasari datang bersama seorang siswi yang belum pernah dilihat siapa pun sebelumnya.
Ruangan yang semula ramai mendadak sunyi.
Semua mata tertuju kepada gadis itu.
Usianya sebaya dengan mereka.
Seragam putih abu-abunya tampak rapi.
Rambut hitamnya terikat sederhana.
Tatapan matanya teduh, sementara senyumnya menghadirkan kesan ramah tanpa dibuat-buat.
Bu Rina berdiri di depan kelas.
"Anak-anak, hari ini kita kedatangan teman baru."
Beliau menoleh kepada siswi itu.
"Silakan memperkenalkan diri."
Gadis itu melangkah pelan.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh."
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh."
"Perkenalkan, nama saya Erika Maheswari."
Suaranya lembut, namun terdengar jelas hingga ke bangku paling belakang.
"Saya tinggal di Jalan Pemuda, Kuala Kapuas. Mulai hari ini saya akan belajar bersama teman-teman di kelas ini. Mohon bantuan dan kerja samanya."
Beberapa siswa memberikan tepuk tangan kecil.
Bu Rina tersenyum.
"Selamat bergabung, Erika."
Kemudian beliau melihat ke arah bangku-bangku siswa.
"Bangku nomor delapan masih kosong."
"Silakan duduk di sana."
Erika mengangguk pelan.
Saat berjalan menuju tempat duduknya, tanpa sengaja matanya bertemu dengan Arman.
Hanya sesaat.
Namun bagi Arman, waktu seperti melambat.
Tatapan itu sederhana.
Tidak mengandung arti apa pun.
Tetapi entah mengapa, ia merasa pagi itu berbeda dari pagi-pagi sebelumnya.
Di bangku nomor delapan itulah Erika memulai lembaran baru kehidupannya.
Dan tanpa disadari siapa pun, di sanalah kisah panjang dua anak muda mulai ditulis oleh takdir.
Sebuah Sapaan yang Menghapus Kecanggungan
Dua hari telah berlalu sejak Erika Maheswari resmi menjadi bagian dari kelas X TKJ-A. Meski baru beberapa hari berada di lingkungan sekolah yang baru, gadis itu mulai berusaha menyesuaikan diri dengan suasana belajar dan teman-teman sekelasnya.
Namun sebagaimana seorang murid pindahan pada umumnya, Erika masih terlihat lebih banyak diam.
Ia lebih sering memperhatikan daripada berbicara.
Saat jam istirahat tiba, sebagian besar siswa bergegas menuju kantin. Ada yang bermain bola di lapangan, ada yang berkumpul di bawah pohon ketapang, sementara beberapa siswi memilih duduk di teras kelas sambil mengobrol.
Erika tetap berada di dalam kelas.
Ia membuka buku pelajaran Bahasa Indonesia sambil sesekali melihat jadwal mata pelajaran yang ditempel di dinding.
Arman yang baru kembali dari perpustakaan melihatnya masih duduk sendiri.
Ia sempat ragu untuk menghampiri.
Dalam hati, ia tidak ingin membuat teman barunya merasa canggung.
Namun ia juga teringat pesan ayahnya sebelum berangkat merantau.
"Kalau ada orang baru, jangan tunggu dia meminta diterima. Sambutlah lebih dahulu."
Arman menarik napas pelan, lalu melangkah mendekati bangku nomor delapan.
"Erika."
Gadis itu mengangkat wajahnya.
"Iya?"
"Apa kamu sudah hafal jadwal pelajaran?"
Erika tersenyum kecil.
"Belum semuanya."
"Kalau mau, nanti aku boleh meminjamkan salinan jadwalku."
"Boleh?"
"Tentu."
"Terima kasih."
Percakapan itu singkat.
Namun cukup untuk menghilangkan kecanggungan yang sejak dua hari terakhir masih terasa di antara mereka.
Tidak lama kemudian, Junaidi datang sambil membawa dua gelas es teh dari kantin.
"Lho... lagi ngobrol?"
Arman tersenyum.
"Iya."
Junaidi menoleh kepada Erika.
"Hai, aku Junaidi. Kayaknya kita belum sempat ngobrol."
Erika berdiri sopan.
"Halo."
"Sudah mulai betah di sekolah ini?"
"Alhamdulillah. Teman-temannya baik."
"Nah, syukurlah."
Junaidi memang dikenal mudah bergaul.
Dalam hitungan menit suasana yang semula kaku berubah menjadi lebih santai.
Mereka mulai berbicara tentang pelajaran, guru-guru yang mengajar, hingga kegiatan ekstrakurikuler yang ada di sekolah.
"Kalau kamu suka kegiatan apa?" tanya Junaidi.
Erika berpikir sejenak.
"Aku suka membaca."
"Wah..."
Junaidi tertawa.
"Berarti cocok sama Arman."
"Maksudmu?"
"Dia juga paling sering ke perpustakaan."
Arman hanya tersenyum malu.
"Kalau aku membaca supaya tidak mengantuk."
Ketiganya tertawa bersama.
Beberapa hari berikutnya, Bu Rina mulai sering membentuk kelompok belajar agar para siswa saling mengenal.
Pada suatu pelajaran Bahasa Indonesia, beliau membagi kelas menjadi beberapa kelompok.
"Kelompok satu..."
Beliau menyebut beberapa nama.
"Kelompok dua..."
Arman memperhatikan daftar yang dibacakan.
"Kelompok tiga terdiri dari Arman Maulana, Erika Maheswari, dan Rizal Akbar."
"Siap, Bu."
Mereka bertiga segera berkumpul.
Tugas yang diberikan cukup sederhana, yaitu membuat rangkuman sebuah cerpen dan mempresentasikannya di depan kelas.
Rizal yang terkenal humoris langsung membuka pembicaraan.
"Kalau begitu, aku bagian membaca."
"Aku menulis," kata Arman.
Erika mengangguk.
"Kalau aku merapikan hasilnya."
Mereka bekerja sama dengan baik.
Sesekali Rizal melontarkan lelucon hingga membuat Arman dan Erika tertawa.
Tanpa terasa, tugas itu selesai lebih cepat dibandingkan kelompok lain.
Bu Rina yang memperhatikan dari depan kelas tampak tersenyum.
"Bagus. Kerja sama kalian rapi."
Pujian itu membuat mereka bertiga saling berpandangan sambil tersenyum.
Sepulang sekolah, Arman berjalan menuju tempat parkir sepeda.
Ketika sedang membuka kunci sepedanya, ia mendengar seseorang memanggil.
"Arman."
Ia menoleh.
Erika berdiri beberapa langkah di belakangnya sambil membawa sebuah buku.
"Ini."
"Buku apa?"
"Jadwal pelajaranmu."
Arman baru teringat bahwa pagi tadi ia meminjamkan salinan jadwal kepada Erika.
"Oh iya."
"Terima kasih."
"Sama-sama."
Erika menyerahkan buku itu.
"Sekarang aku sudah tidak bingung lagi."
"Syukurlah."
Beberapa saat mereka terdiam.
Suasana menjadi sedikit canggung.
Akhirnya Erika kembali membuka percakapan.
"Terima kasih juga karena sudah mau membantuku beradaptasi."
Arman menggeleng pelan.
"Itu hal yang biasa."
"Bagi orang lain mungkin biasa."
"Tapi bagiku..."
Erika tersenyum hangat.
"...itu sangat berarti."
Kalimat sederhana itu membuat Arman tidak segera menjawab.
Ada rasa hangat yang perlahan memenuhi dadanya.
Bukan karena pujian.
Melainkan karena ia merasa telah melakukan sesuatu yang benar.
Saat itu, ia belum mengenal Erika lebih jauh.
Belum mengetahui apa yang disukainya.
Belum memahami impian yang disimpan gadis itu.
Namun sejak percakapan singkat di dekat parkiran sekolah, satu hal mulai tumbuh di dalam hati Arman.
Sebuah keinginan sederhana.
Ia ingin mengenal Erika lebih dekat.
Bukan sebagai murid baru.
Melainkan sebagai seorang teman.
Dan mungkin, suatu hari nanti, lebih dari sekadar teman.
Sementara itu, Erika berjalan pulang dengan senyum yang tidak ia sadari terus menghiasi wajahnya.
Di sekolah baru itu, ia mulai menemukan dua teman yang membuatnya merasa tidak lagi menjadi orang asing.
Arman yang tenang dan tulus.
Serta Junaidi yang ramah dan penuh canda.
Takdir baru saja mempertemukan tiga anak muda yang belum mengetahui bagaimana perjalanan hidup mereka akan saling bersinggungan pada tahun-tahun mendatang.
Benih-benih perasaan memang belum tumbuh menjadi cinta.
Namun sebuah sapaan sederhana telah berhasil menghapus kecanggungan dan membuka pintu menuju kisah yang kelak akan mengubah hidup mereka.
Benih yang Tumbuh Tanpa Disadari
Waktu berjalan begitu cepat.
Tanpa terasa, hampir satu bulan telah berlalu sejak Erika Maheswari menjadi siswi di kelas X TKJ-A. Kehadirannya kini bukan lagi sesuatu yang asing. Ia mulai mengenal nama-nama teman sekelasnya, memahami kebiasaan para guru, serta mampu menyesuaikan diri dengan suasana belajar di sekolah barunya.
Bagi Arman Maulana, hari-hari di SMK Negeri Kuala Kapuas juga mulai menemukan ritmenya.
Pagi hari berangkat sekolah dengan sepeda.
Belajar hingga siang.
Sore hari membantu pekerjaan ringan di rumah Pak Hasan Basri sebagai balas budi karena telah diberi tempat tinggal.
Malam harinya diisi dengan belajar dan membaca buku.
Kesibukan itu membuat hidupnya terasa teratur.
Namun tanpa ia sadari, ada satu kebiasaan baru yang perlahan muncul.
Setiap pagi, sesaat setelah memasuki ruang kelas, matanya selalu mengarah ke bangku nomor delapan.
Bukan untuk memastikan bangku itu kosong atau terisi.
Melainkan untuk melihat apakah Erika sudah datang.
Jika bangku itu masih kosong, entah mengapa ia merasa suasana kelas belum benar-benar lengkap.
Sebaliknya, ketika melihat Erika sedang merapikan buku-bukunya sambil tersenyum kepada teman-teman, ada rasa tenang yang sulit ia jelaskan.
Arman tidak pernah memikirkan arti perasaan itu.
Baginya, mungkin itu hanya kebiasaan seorang teman.
Erika pun mulai merasa nyaman berada di kelas X TKJ-A.
Ia mengenal Arman sebagai siswa yang pendiam, rajin, dan selalu bersedia membantu siapa pun tanpa membedakan teman lama maupun teman baru.
Suatu pagi, ketika guru Matematika memberikan latihan yang cukup sulit, beberapa siswa tampak kebingungan.
Erika mencoba mengerjakan soal itu berulang kali, tetapi jawabannya selalu berbeda.
Bel berbunyi menandakan pergantian jam pelajaran.
Sebagian siswa langsung menutup buku.
Namun Arman masih duduk di tempatnya.
Ia melihat Erika masih menatap lembar jawabannya.
"Ada yang sulit?"
Erika mengangguk pelan.
"Nomor lima."
"Boleh aku lihat?"
Erika menyerahkan bukunya.
Arman membaca soal itu beberapa saat.
"Lihat bagian ini."
Ia menjelaskan langkah demi langkah dengan bahasa yang sederhana.
Tidak terburu-buru.
Tidak membuat Erika merasa sedang diajari.
Beberapa menit kemudian, Erika mencoba mengerjakannya sendiri.
"Hasilnya sama."
Arman tersenyum.
"Berarti sudah benar."
Wajah Erika langsung berbinar.
"Akhirnya mengerti juga."
"Kalau ada yang belum paham lagi, bilang saja."
"Terima kasih."
"Sama-sama."
Percakapan sederhana itu tidak menarik perhatian siapa pun.
Namun bagi Erika, sikap Arman meninggalkan kesan yang baik.
Ia mulai memahami mengapa hampir semua teman sekelas menghormati Arman.
Bukan karena ia siswa terpintar.
Melainkan karena ia tidak pernah pelit berbagi pengetahuan.
Beberapa hari kemudian, Bu Rina memberikan tugas membuat presentasi kelompok.
Kali ini setiap kelompok diminta menentukan sendiri pembagian tugas.
"Siapa yang presentasi?" tanya Rizal Akbar.
Erika mengangkat tangan.
"Aku saja."
"Setuju."
"Kalau Arman membuat materi."
"Baik."
Rizal tertawa.
"Berarti aku bagian memberi semangat."
"Dan membuat gaduh?" sahut Arman.
Seluruh kelompok tertawa.
Selama beberapa hari mereka sering berdiskusi di perpustakaan sekolah.
Di sela-sela mengerjakan tugas, mereka mulai saling bercerita.
Tentang hobi.
Tentang keluarga.
Tentang cita-cita.
Arman bercerita mengenai Desa Sriwidadi yang dikelilingi persawahan.
Tentang ayahnya yang seorang petani.
Tentang ibunya yang selalu mengajarkan hidup sederhana.
Erika mendengarkan dengan penuh perhatian.
"Desamu pasti indah."
"Kalau pagi, kabutnya turun sampai ke sawah."
"Aku belum pernah melihat sawah yang berkabut."
"Nanti kalau ada kesempatan, datanglah."
Erika tersenyum.
"Aku ingin sekali."
Itu bukan janji.
Bukan pula rencana.
Hanya sebuah kalimat sederhana yang lahir dari rasa ingin tahu.
Namun bagi Arman, percakapan itu menjadi salah satu yang paling berkesan sejak mereka saling mengenal.
Menjelang pulang sekolah pada hari Jumat, Bu Rina mengumumkan hasil tugas presentasi.
"Kelompok Arman memperoleh nilai tertinggi."
Tepuk tangan memenuhi ruang kelas.
"Selamat."
"Terima kasih, Bu."
Usai pelajaran, Erika menghampiri Arman.
"Selamat."
"Ini hasil kerja kita semua."
"Tetap saja."
Erika mengulurkan tangan.
"Terima kasih sudah menjadi teman kelompok yang baik."
Arman menyambut uluran tangan itu.
"Sama-sama."
Jabat tangan itu berlangsung hanya beberapa detik.
Sederhana.
Tanpa makna yang berlebihan.
Namun bagi keduanya, ada perasaan hangat yang perlahan tumbuh.
Belum bernama.
Belum berani diakui.
Masih berupa rasa nyaman ketika berbicara.
Masih berupa kebahagiaan kecil ketika saling menyapa.
Masih berupa senyum yang muncul tanpa alasan yang jelas.
Sore itu, dalam perjalanan pulang menuju rumah Pak Hasan Basri, Arman mengayuh sepedanya dengan perasaan yang lebih ringan daripada biasanya.
Angin sore berembus lembut menyusuri jalanan Kuala Kapuas.
Ia teringat kembali percakapan-percakapan singkat bersama Erika selama beberapa minggu terakhir.
Tanpa sadar ia tersenyum sendiri.
Lalu menggeleng pelan.
"Kenapa aku jadi sering memikirkannya?"
Pertanyaan itu tidak ia jawab.
Karena ia sendiri belum mengerti jawabannya.
Di rumahnya, Erika juga mengalami hal yang hampir sama.
Ketika sedang merapikan buku pelajaran, ia menemukan salinan jadwal pelajaran yang dahulu dipinjamkan Arman.
Ia tersenyum kecil.
"Ternyata teman-teman di sekolah baru sebaik ini."
Yang terlintas dalam pikirannya bukan hanya Arman.
Melainkan seluruh kelas yang telah menerimanya dengan hangat.
Namun di antara semua wajah yang dikenalnya, entah mengapa sosok Arman paling sering hadir dalam ingatannya.
Bukan karena ia paling tampan.
Bukan pula karena paling pandai.
Melainkan karena ketulusannya terasa begitu alami.
Di bawah langit Kuala Kapuas yang mulai memerah menjelang senja, dua hati muda itu sedang mengalami sesuatu yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya.
Mereka belum menyebutnya cinta.
Mereka bahkan belum berani mengakuinya sebagai rasa suka.
Yang mereka tahu hanyalah satu hal.
Setiap pertemuan terasa menyenangkan.
Setiap sapaan menghadirkan senyum.
Dan setiap perpisahan di akhir jam sekolah selalu meninggalkan harapan untuk bertemu kembali esok pagi.
Begitulah benih-benih perasaan mulai tumbuh.
Perlahan.
Hening.
Nyaris tak terlihat.
Namun cukup kuat untuk suatu hari nanti berkembang menjadi kisah cinta yang akan menguji persahabatan, kesetiaan, dan takdir mereka.
BAB IV
Sahabat Bernama Junaidi
Awal Persahabatan yang Tulus
Pagi di Kuala Kapuas selalu dimulai dengan kesibukan yang sama.
Deretan kendaraan roda dua mulai memenuhi Jalan Tambun Bungai. Pedagang sarapan membuka lapak mereka di tepi jalan, sementara para pelajar bergegas menuju sekolah sebelum bel pertama berbunyi.
Di halaman SMK Negeri Kuala Kapuas, Arman Maulana baru saja memarkir sepeda kayuhnya ketika sebuah suara memanggil dari kejauhan.
"Man...!"
Arman menoleh.
Junaidi Pratama melambaikan tangan sambil tersenyum lebar.
"Kirain hari ini kamu telat."
Arman menggeleng.
"Aku belum pernah telat."
"Makanya aku heran."
Keduanya tertawa kecil.
Sejak duduk di kelas yang sama, hubungan mereka semakin akrab. Meski berasal dari latar belakang keluarga yang berbeda, keduanya memiliki banyak kesamaan.
Mereka sama-sama berasal dari keluarga sederhana.
Sama-sama memiliki keinginan kuat untuk menyelesaikan pendidikan dengan baik.
Dan sama-sama percaya bahwa masa depan hanya bisa diraih melalui kerja keras.
Namun di balik persamaan itu, keduanya memiliki sifat yang sangat berbeda.
Arman lebih tenang.
Ia berpikir sebelum berbicara.
Ia tidak banyak bercanda, tetapi selalu menjadi pendengar yang baik.
Sebaliknya, Junaidi dikenal mudah bergaul.
Ia cepat akrab dengan siapa saja.
Ke mana pun pergi, selalu ada cerita lucu yang berhasil membuat orang-orang di sekitarnya tertawa.
Perbedaan itulah yang justru membuat persahabatan mereka semakin erat.
Jam pelajaran pertama dimulai.
Hari itu guru Produktif memberikan tugas praktik komputer yang harus dikerjakan secara berpasangan.
"Silakan memilih pasangan masing-masing," ujar Pak Surya Hadi.
Tanpa perlu berbicara panjang, Arman dan Junaidi langsung duduk di depan satu komputer.
"Seperti biasa?" tanya Junaidi.
Arman mengangguk.
"Kamu mengetik, aku menyusun programnya."
"Siap."
Kerja sama mereka berlangsung begitu baik.
Ketika kelompok lain masih berdiskusi mencari jawaban, tugas mereka hampir selesai.
Pak Surya memperhatikan hasil pekerjaan keduanya.
"Bagus."
"Terima kasih, Pak."
"Kalian saling melengkapi."
Junaidi tersenyum bangga.
"Kalau sendirian, saya belum tentu bisa secepat ini, Pak."
Pak Surya mengangguk.
"Itulah gunanya memiliki teman belajar."
Ucapan sederhana itu semakin menguatkan ikatan persahabatan mereka.
Saat jam istirahat, Arman dan Junaidi menuju kantin sekolah.
Mereka membeli dua porsi soto ayam dan segelas es teh.
Kantin tampak ramai.
Hampir seluruh meja telah terisi.
Mereka akhirnya duduk di bangku paling ujung yang menghadap halaman sekolah.
"Man."
"Iya?"
"Aku heran sama kamu."
"Kenapa?"
"Kamu selalu bisa mengatur uang."
Arman tersenyum tipis.
"Ayah mengajariku mencatat semua pengeluaran."
"Serius?"
"Iya."
"Setiap malam aku menulis uang yang kupakai hari itu."
Junaidi tertawa.
"Pantas uang sakumu selalu cukup."
"Kalau kamu?"
"Habis duluan."
"Untuk apa?"
"Jajan."
Mereka kembali tertawa bersama.
Di sela percakapan itu, Junaidi mulai bercerita tentang keluarganya.
Ayahnya bekerja sebagai sopir angkutan antarkecamatan.
Ibunya membuka warung kecil di depan rumah.
Sebagai anak sulung, ia sering membantu menjaga warung sepulang sekolah.
"Kadang capek juga."
"Kenapa?"
"Kalau malam masih harus belajar."
Arman mengangguk memahami.
"Di desa aku juga sering membantu Ayah di sawah."
"Kamu pernah menyesal?"
Arman menggeleng.
"Tidak."
"Kenapa?"
"Karena dari sawah itulah aku bisa sekolah."
Jawaban itu membuat Junaidi terdiam beberapa saat.
Ia menatap sahabatnya dengan rasa hormat.
"Dulu aku mengira kamu pendiam karena sombong."
Arman tertawa kecil.
"Benarkah?"
"Iya."
"Ternyata kamu memang pendiam saja."
"Kalau sudah akrab, aku banyak bicara."
"Nah, itu baru benar."
Keduanya kembali tertawa.
Sejak hari itu, hampir setiap kegiatan sekolah mereka lakukan bersama.
Belajar di perpustakaan.
Mengerjakan tugas kelompok.
Membersihkan kelas saat jadwal piket.
Hingga mengikuti salat zuhur berjemaah di musala sekolah.
Teman-teman mulai mengenal mereka sebagai pasangan sahabat yang hampir tidak pernah terpisah.
"Kalau ada Arman, pasti ada Junaidi."
"Kalau ada Junaidi, Arman tidak jauh."
Ucapan itu sering terdengar dari teman-teman sekelas.
Bahkan Bu Rina pernah berseloroh.
"Kalian ini seperti saudara."
Junaidi menjawab sambil tersenyum.
"Kalau Arman dapat nilai bagus, saya ikut senang."
Arman menoleh.
"Kalau Junaidi dimarahi guru, aku juga ikut pusing."
Seluruh kelas tertawa.
Tidak ada sedikit pun tanda-tanda bahwa suatu hari nanti persahabatan mereka akan diuji oleh perasaan yang tumbuh kepada perempuan yang sama.
Bagi mereka, persahabatan jauh lebih penting daripada apa pun.
Setidaknya...
begitulah yang mereka yakini saat itu.
Sore hari setelah pulang sekolah, Arman dan Junaidi berjalan menuju tempat parkir.
Di kejauhan, Erika tampak sedang berbincang dengan beberapa siswi kelasnya sebelum akhirnya berpamitan dan berjalan menuju gerbang sekolah.
Junaidi memperhatikan sekilas.
"Lumayan cepat juga dia akrab dengan teman-teman."
Arman mengangguk.
"Iya."
"Anaknya baik."
"Iya."
Junaidi tersenyum kecil.
"Semoga dia betah di sekolah ini."
"Amin."
Percakapan itu berlangsung begitu singkat.
Belum ada makna lain di baliknya.
Erika masih menjadi teman sekelas yang sama-sama mereka hormati.
Belum ada rasa memiliki.
Belum ada kecemburuan.
Belum ada persaingan.
Takdir masih memberi ruang bagi persahabatan mereka untuk tumbuh dengan tulus.
Namun, seperti aliran Sungai Kapuas yang tampak tenang di permukaan tetapi menyimpan arus di kedalamannya, kehidupan perlahan sedang membawa mereka menuju persimpangan yang tidak pernah mereka bayangkan.
Belajar Bersama, Tumbuhnya Kekaguman
Memasuki pertengahan semester pertama, aktivitas belajar di SMK Negeri Kuala Kapuas mulai semakin padat. Hampir setiap mata pelajaran memberikan tugas, baik secara individu maupun kelompok. Para siswa dituntut untuk saling bekerja sama, berdiskusi, dan mempersiapkan diri menghadapi ulangan harian yang akan segera dilaksanakan.
Bagi kelas X TKJ-A, suasana itu justru semakin mempererat hubungan antarsiswa.
Mereka mulai saling mengenal kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Ada yang pandai berhitung.
Ada yang mahir berbicara di depan kelas.
Ada pula yang telaten menyusun laporan.
Suatu pagi, setelah pelajaran selesai, Pak Surya Hadi mengumumkan sebuah tugas praktik.
"Minggu depan kalian harus mengumpulkan laporan hasil praktik komputer."
Beliau memandang seluruh siswa.
"Silakan dikerjakan berkelompok. Maksimal tiga orang."
Begitu bel berbunyi, ruang kelas langsung ramai.
Arman baru saja hendak menyimpan bukunya ketika Junaidi menepuk bahunya.
"Man, kita satu kelompok lagi, ya?"
"Boleh."
Belum sempat mereka menentukan anggota ketiga, Erika menghampiri dengan membawa buku catatan.
"Maaf..."
Arman dan Junaidi menoleh bersamaan.
"Boleh aku bergabung?"
"Tentu saja," jawab Junaidi lebih dahulu.
"Semakin banyak yang rajin, semakin cepat selesai."
Erika tersenyum lega.
"Terima kasih."
Sejak saat itu, mereka bertiga resmi menjadi satu kelompok belajar.
Mereka sepakat mengerjakan tugas di perpustakaan sekolah pada jam istirahat dan sepulang sekolah.
Perpustakaan SMK Negeri Kuala Kapuas tidak terlalu besar, tetapi cukup nyaman. Rak-rak buku tertata rapi, sementara jendela-jendela lebar membuat cahaya matahari masuk dengan leluasa.
Di sudut ruangan terdapat tiga meja panjang yang sering digunakan siswa untuk berdiskusi.
Mereka memilih duduk di sana.
Arman mulai membuka buku panduan praktik.
"Kita bagi tugas saja."
"Aku menyusun langkah kerjanya."
Junaidi mengangguk.
"Aku mengetik laporan."
Erika membuka buku catatan.
"Kalau begitu aku membuat bagian kesimpulan dan merapikan formatnya."
"Setuju."
Pembagian tugas berlangsung tanpa perdebatan.
Masing-masing mengerjakan bagiannya dengan penuh tanggung jawab.
Sesekali mereka saling bertanya apabila menemukan kesulitan.
Tidak ada yang merasa lebih pintar.
Tidak ada pula yang enggan membantu.
Pak Darto, petugas perpustakaan, memperhatikan mereka dari balik meja.
"Bagus sekali kelompok kalian."
Junaidi tersenyum.
"Masih belajar, Pak."
"Kalau terus seperti ini, saya yakin hasilnya juga bagus."
Mereka mengucapkan terima kasih, lalu kembali berkonsentrasi.
Hari-hari berikutnya, kegiatan belajar bersama semakin sering dilakukan.
Bukan hanya ketika ada tugas praktik, tetapi juga menjelang ulangan.
Kadang mereka belajar di perpustakaan.
Kadang memanfaatkan bangku panjang di halaman sekolah yang dinaungi pohon ketapang.
Di sela-sela belajar, mereka mulai saling mengenal lebih jauh.
Junaidi sering bercerita tentang pengalaman lucunya membantu ibunya berjualan di warung.
Arman sesekali mengisahkan kehidupan di Desa Sriwidadi—tentang sawah yang menghijau, musim panen, dan kebiasaan warga bergotong royong ketika membangun rumah.
Erika mendengarkan dengan penuh perhatian.
"Aku jadi penasaran dengan desamu."
Arman tersenyum.
"Suasananya jauh berbeda dengan kota."
"Kalau liburan sekolah nanti..."
Erika berhenti sejenak.
"...bolehkah aku berkunjung?"
Arman tampak sedikit terkejut.
"Tentu saja boleh."
"Kalau orang tuamu tidak keberatan."
"Ibu pasti senang kalau ada tamu."
Junaidi yang sejak tadi mendengarkan langsung menyela sambil tertawa.
"Kalau begitu aku ikut."
"Semakin ramai semakin seru."
Ketiganya tertawa bersama.
Belum ada kecanggungan.
Belum ada rasa saling memiliki.
Yang ada hanyalah kebahagiaan sederhana karena menemukan teman-teman yang sejalan.
Suatu siang, pelajaran Matematika berlangsung cukup sulit.
Pak Andi Prasetyo memberikan beberapa soal yang harus diselesaikan sebelum bel pulang berbunyi.
Erika terlihat beberapa kali mengernyitkan dahi.
Ia mencoba menghitung ulang jawabannya, tetapi hasilnya tetap berbeda.
Arman yang duduk tidak jauh darinya memperhatikan.
Setelah guru meninggalkan kelas, ia menghampiri.
"Masih bingung?"
Erika mengangguk.
"Sedikit."
Arman menarik sebuah kursi.
"Boleh aku lihat?"
Ia menjelaskan langkah-langkah penyelesaian soal dengan sabar.
Tidak sekali pun ia menunjukkan sikap menggurui.
Setiap kali Erika belum memahami, Arman mengulang penjelasannya dengan cara yang lebih sederhana.
"Oh..."
Erika akhirnya tersenyum.
"Sekarang aku mengerti."
"Syukurlah."
"Terima kasih."
"Sama-sama."
Junaidi yang sedang membereskan tas memperhatikan dari kejauhan.
Ia melihat bagaimana Arman dengan sabar membantu Erika.
Dalam hati, ia merasa bangga memiliki sahabat seperti Arman.
"Memang begitu orangnya," batinnya.
"Kalau membantu, tidak pernah setengah-setengah."
Perasaan yang muncul saat itu masih berupa kekaguman terhadap sahabatnya.
Belum ada rasa lain.
Menjelang pulang sekolah, kelompok mereka berhasil menyelesaikan laporan praktik lebih cepat daripada kelompok lain.
Pak Surya memeriksa hasil pekerjaan mereka.
"Lengkap."
Beliau mengangguk puas.
"Kerja sama kalian sangat baik."
"Terima kasih, Pak."
Ketiganya saling berpandangan dan tersenyum.
Di mata guru, mereka hanyalah tiga siswa yang kompak.
Di mata teman-teman sekelas, mereka adalah kelompok belajar yang saling melengkapi.
Namun tanpa disadari, kebersamaan yang terus terjalin mulai menumbuhkan rasa nyaman di hati masing-masing.
Arman mulai merasa senang setiap kali dapat berdiskusi dengan Erika.
Erika mulai mengagumi ketulusan dan kesabaran Arman dalam membantu orang lain.
Sementara Junaidi masih menikmati persahabatan itu dengan tulus, belum menyadari bahwa perlahan hatinya pun mulai memberi perhatian lebih kepada gadis yang sama.
Benih-benih perasaan itu masih sangat kecil.
Belum cukup kuat untuk disebut cinta.
Namun waktu memiliki caranya sendiri untuk membuat setiap benih tumbuh.
Dan ketika saatnya tiba, tidak semua hati akan tetap berada di jalan yang sama.
Ketika Hati Mulai Memilih Tanpa Disadari
Mentari pagi menyinari halaman SMK Negeri Kuala Kapuas dengan hangat. Embun yang semalam masih menempel di daun-daun ketapang perlahan menguap, berganti dengan hiruk-pikuk para siswa yang mulai memenuhi koridor sekolah.
Di kelas X TKJ-A, kegiatan belajar berlangsung seperti biasa.
Tidak ada peristiwa besar.
Tidak ada kejadian yang luar biasa.
Namun sering kali, perubahan terbesar dalam hidup seseorang justru lahir dari hari-hari yang tampak biasa.
Begitu pula yang mulai terjadi pada Junaidi Pratama.
Beberapa minggu terakhir, kelompok belajar yang terdiri atas Arman, Junaidi, dan Erika semakin sering menghabiskan waktu bersama.
Mereka berdiskusi setiap ada tugas.
Saling bertukar catatan ketika ada pelajaran yang tertinggal.
Sesekali membantu teman-teman lain yang mengalami kesulitan memahami materi.
Hubungan mereka semakin akrab.
Bahkan teman-teman sekelas sering menyebut mereka sebagai kelompok yang paling kompak.
"Ada tiga serangkai datang."
Rizal Akbar berseloroh ketika melihat mereka memasuki perpustakaan.
Junaidi tertawa.
"Jangan begitu."
"Nanti dikira kami bikin geng."
"Memangnya bukan?" sahut Rizal.
Suasana perpustakaan dipenuhi tawa kecil.
Pak Darto, petugas perpustakaan, hanya menggeleng sambil tersenyum melihat tingkah para siswa.
Hari itu mereka mendapat tugas membuat presentasi sederhana tentang perkembangan teknologi informasi.
Arman bertugas menyusun materi.
Erika menyiapkan desain presentasi.
Sementara Junaidi mencari referensi tambahan dari beberapa buku dan internet.
Sesekali mereka saling bertukar pendapat.
"Kalau bagian ini dipindah ke depan bagaimana?" usul Erika.
Arman membaca kembali susunan materi.
"Menurutku lebih mudah dipahami."
"Aku juga setuju," sahut Junaidi.
Mereka kemudian memperbaiki isi presentasi bersama-sama.
Tidak ada yang merasa pendapatnya paling benar.
Setiap keputusan diambil melalui musyawarah kecil yang sederhana.
Hal itulah yang membuat kelompok mereka selalu bekerja dengan nyaman.
Menjelang waktu istirahat, Erika menyadari botol minumnya tertinggal di kelas.
"Aku ke kelas sebentar."
"Silakan," kata Arman.
Setelah Erika pergi, Junaidi tanpa sadar memandang ke arah pintu yang baru saja dilewati gadis itu.
Entah mengapa, ia merasa kehadiran Erika membuat suasana kelompok mereka menjadi lebih hidup.
Gadis itu tidak banyak bicara.
Namun setiap kali berbicara, selalu menggunakan kata-kata yang lembut.
Ia juga tidak pernah membeda-bedakan teman.
Baik kepada Arman, Junaidi, maupun siswa lain, sikapnya tetap sama.
"Jun."
Suara Arman membuyarkan lamunannya.
"Kamu kenapa?"
"Hah?"
"Kok melamun?"
Junaidi tertawa kecil.
"Tidak apa-apa."
"Cuma capek sedikit."
Arman mengangguk tanpa curiga.
Ia kembali melanjutkan membaca buku referensi.
Sementara Junaidi sendiri mulai bertanya-tanya pada perasaannya.
"Kenapa aku jadi sering memperhatikannya?"
Pertanyaan itu muncul begitu saja.
Tidak ia cari.
Tidak pula ia harapkan.
Sore harinya, pelajaran telah usai.
Sebagian siswa langsung pulang.
Sebagian lagi masih berada di halaman sekolah sambil menunggu jemputan.
Arman dan Junaidi duduk di bangku panjang dekat taman sekolah.
Mereka menunggu cuaca yang sedikit teduh sebelum pulang.
Tak lama kemudian, Erika berjalan melewati mereka.
"Aku pulang dulu."
"Hati-hati," kata Arman.
"Iya."
Junaidi ikut mengangguk.
"Hati-hati di jalan."
Erika tersenyum.
"Terima kasih."
Setelah sosok Erika menghilang di balik gerbang sekolah, Junaidi masih memandang ke arah yang sama selama beberapa saat.
Arman memperhatikan sahabatnya.
"Kamu kenapa?"
"Tidak."
"Kok diam saja?"
Junaidi menggeleng pelan.
"Mungkin lagi capek."
Arman tidak bertanya lebih jauh.
Ia mengenal Junaidi sebagai pribadi yang terkadang memang tiba-tiba menjadi pendiam ketika sedang memikirkan sesuatu.
Malam itu, setelah membantu ibunya menutup warung, Junaidi duduk sendirian di teras rumah.
Angin malam bertiup pelan.
Dari kejauhan terdengar suara kendaraan yang sesekali melintas di Jalan Pemuda.
Ia memandang langit yang dipenuhi bintang.
Tanpa sengaja, wajah Erika kembali terlintas di benaknya.
Senyumnya.
Cara bicaranya.
Kesopanannya kepada guru.
Kesungguhannya ketika belajar.
Semuanya hadir silih berganti.
Junaidi mengusap wajahnya pelan.
"Aneh..."
Ia tersenyum kecil.
"Kenapa jadi kepikiran terus?"
Untuk pertama kalinya, ia mengakui sesuatu yang selama ini tidak disadarinya.
Ia mulai menyukai Erika.
Namun perasaan itu masih ia simpan rapat-rapat.
Ia tidak pernah menceritakannya kepada siapa pun.
Terlebih kepada Arman.
Baginya, persahabatan mereka jauh lebih berharga daripada sekadar mengikuti perasaan yang bahkan belum tentu berbalas.
Di sisi lain, Arman sama sekali tidak mengetahui pergulatan batin sahabatnya.
Ia masih menganggap hubungan mereka bertiga sebagai persahabatan yang sederhana dan tulus.
Begitu pula Erika.
Baginya, Arman adalah teman yang baik hati dan Junaidi adalah sahabat yang selalu mampu mencairkan suasana.
Ia belum melihat adanya perubahan di antara mereka.
Takdir masih menyimpan rapat rahasianya.
Namun sejak malam itu, hati Junaidi telah mulai memilih.
Sebuah pilihan yang kelak akan menjadi awal dari ujian terbesar dalam persahabatan mereka.
Pilihan yang belum diucapkan dengan kata-kata.
Tetapi telah tumbuh diam-diam di dalam hati.
BAB V
Senja Pertama di Dermaga KP3
Langkah Menuju Dermaga KP3
Hari Sabtu selalu memiliki suasana yang berbeda di SMK Negeri Kuala Kapuas.
Jam pelajaran berakhir lebih awal dibandingkan hari-hari biasa. Setelah bel terakhir berbunyi, para siswa tampak bergegas meninggalkan kelas. Sebagian pulang ke rumah, sebagian lagi memanfaatkan waktu untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler atau sekadar bercengkerama bersama teman-teman sebelum berpisah di akhir pekan.
Di kelas X TKJ-A, Bu Rina Kartikasari baru saja menutup pelajaran.
"Anak-anak, jangan lupa hari Senin tugas Teknologi Informasi sudah harus dikumpulkan."
"Siap, Bu," jawab seluruh siswa hampir bersamaan.
Setelah Bu Rina meninggalkan kelas, suasana kembali riuh.
Rizal Akbar yang sejak tadi duduk di atas meja tiba-tiba berseru,
"Besok Minggu libur. Masa kita pulang terus?"
"Biar kamu yang traktir?" sahut Nanda Prakoso yang langsung disambut gelak tawa.
"Aku yang usul, bukan yang kaya," jawab Rizal sambil mengangkat kedua tangannya.
Di tengah candaan itu, Raka Firmansyah, ketua kelas, menyampaikan sebuah usulan.
"Bagaimana kalau sore ini kita jalan-jalan sebentar?"
"Ke mana?" tanya beberapa siswa hampir bersamaan.
"Ke Dermaga KP3."
Beberapa siswa langsung menganggukkan kepala.
"Ide bagus."
"Lumayan buat melepas penat."
"Katanya sore di sana bagus."
Arman yang sejak tadi membereskan buku hanya mendengarkan.
Ia belum pernah mengunjungi Dermaga KP3.
Yang ia tahu, tempat itu sering diceritakan oleh Pak Hasan Basri sebagai salah satu lokasi favorit masyarakat Kuala Kapuas untuk menikmati senja di tepian Sungai Kapuas.
Melihat Arman masih diam, Junaidi menyenggol lengannya.
"Ikut, kan?"
"Aku..."
Arman tampak ragu.
"Kalau tidak ada keperluan lain, ikut saja."
"Jalan kaki?"
"Bisa."
"Atau naik motor ramai-ramai."
Belum sempat Arman menjawab, Erika yang sedang memasukkan buku ke dalam tas ikut menoleh.
"Aku juga baru sekali ke sana."
Ucapan itu membuat Arman tersenyum tipis.
"Kalau begitu... aku ikut."
"Sepakat!" seru Rizal sambil bertepuk tangan.
Akhirnya diputuskan bahwa mereka akan berangkat setelah salat Asar.
Tidak seluruh siswa ikut.
Hanya delapan orang yang menyatakan bersedia, yaitu Arman, Junaidi, Erika, Raka, Rizal, Meylina Safitri, Nanda Prakoso, dan Dimas Arya.
Bagi mereka, perjalanan itu hanyalah jalan-jalan sederhana bersama teman sekolah.
Tak seorang pun menyangka bahwa sore itu akan menjadi salah satu kenangan yang paling membekas dalam kehidupan Arman dan Erika.
Selepas salat Asar, mereka berkumpul kembali di halaman sekolah.
Sebagian membawa sepeda motor.
Arman tetap menggunakan sepeda kayuhnya.
Melihat itu, Junaidi tertawa.
"Kamu memang setia sama sepeda."
Arman ikut tersenyum.
"Selama masih bisa dipakai, kenapa harus ganti?"
"Itu namanya hidup hemat."
"Bukan hemat."
"Lalu?"
"Belajar menghargai apa yang dimiliki."
Jawaban itu membuat Raka mengangguk pelan.
"Prinsip yang bagus."
Perjalanan pun dimulai.
Mereka bergerak menyusuri Jalan Tambun Bungai dengan tertib.
Sore itu lalu lintas tidak terlalu padat.
Di sepanjang jalan, tampak masyarakat beraktivitas seperti biasa. Ada yang berbelanja di deretan pertokoan, ada pula yang menikmati jajanan di warung-warung kecil yang mulai ramai menjelang petang.
Sesampainya di kawasan Pertokoan Sanjaya, rombongan memperlambat laju kendaraan.
Rizal menunjuk sebuah kios minuman.
"Es kelapa dulu?"
"Nanti saja," jawab Raka.
"Kalau sekarang, keburu magrib."
Mereka kembali melanjutkan perjalanan.
Bagi Arman, setiap sudut Kota Kuala Kapuas selalu menghadirkan pengalaman baru.
Ia menikmati perjalanan itu sambil mengamati bangunan-bangunan tua yang berdiri berdampingan dengan pertokoan modern.
Sesekali ia mendengar Junaidi menjelaskan nama jalan atau bangunan yang mereka lewati.
"Sebelah sana Jalan Jenderal Ahmad Yani."
"Itu kantor lama."
"Kalau lurus sedikit, sudah dekat sungai."
Arman mengangguk sambil menyimpan semua penjelasan itu dalam ingatannya.
Sebagai anak desa yang baru beberapa bulan tinggal di kota, ia merasa sedang mengenal rumah keduanya.
Semakin sore, langit Kuala Kapuas mulai berubah warna.
Sinar matahari yang semula terang perlahan melembut menjadi keemasan.
Angin dari arah Sungai Kapuas bertiup semakin sejuk.
Dari kejauhan, deretan tiang dan kawasan Dermaga KP3 mulai terlihat.
"Sudah sampai!" seru Dimas.
Rombongan pun berhenti di area parkir.
Mereka berjalan perlahan menuju tepian dermaga.
Di hadapan mereka terbentang Sungai Kapuas yang mengalir tenang.
Beberapa perahu motor melintas perlahan, meninggalkan riak-riak kecil di permukaan air.
Di seberang sungai tampak deretan pepohonan yang mulai diselimuti cahaya senja.
Arman berdiri beberapa langkah di belakang teman-temannya.
Ia memandang hamparan sungai itu tanpa berkedip.
Begitu luas.
Begitu tenang.
Begitu indah.
Ia menarik napas panjang.
"Dulu aku hanya melihat Sungai Kapuas dari buku pelajaran."
Junaidi menepuk bahunya pelan.
"Sekarang kamu melihatnya langsung."
Arman tersenyum.
"Iya."
Tidak jauh darinya, Erika juga memandang ke arah sungai dengan sorot mata penuh kekaguman.
Tanpa sengaja, pandangan mereka kembali bertemu.
Tidak ada kata yang terucap.
Hanya senyum kecil yang saling dibalas.
Senyum yang sederhana.
Namun cukup untuk membuat sore itu terasa lebih hangat daripada biasanya.
Sementara matahari perlahan bergerak menuju ufuk barat, takdir mulai menyiapkan sebuah senja yang akan mengubah arah perjalanan hati mereka.
Senja yang Menyimpan Bahasa Hati
Dermaga KP3 Kuala Kapuas mulai dipenuhi pengunjung ketika matahari perlahan bergerak menuju ufuk barat. Sore itu angin berembus lembut dari permukaan Sungai Kapuas, membawa aroma air sungai yang khas berpadu dengan wangi jajanan yang dijual di sepanjang area dermaga.
Beberapa keluarga tampak menikmati akhir pekan bersama anak-anak mereka.
Ada pasangan lanjut usia yang duduk berdampingan di bangku taman sambil memandang sungai.
Beberapa remaja sibuk mengabadikan momen dengan kamera telepon genggam.
Sementara para nelayan masih sesekali melintas menggunakan kelotok, meninggalkan riak-riak kecil yang memecah pantulan cahaya matahari di atas permukaan air.
Rombongan siswa SMK Negeri Kuala Kapuas memilih duduk di salah satu deretan bangku kayu yang menghadap langsung ke sungai.
"Untung kita datang lebih awal," ujar Raka Firmansyah.
"Iya, kalau sedikit lagi pasti penuh," sahut Meylina Safitri.
Rizal Akbar yang sedari tadi tidak bisa diam langsung menunjuk seorang pedagang.
"Ada jagung bakar."
"Tadi katanya jangan jajan dulu," goda Nanda Prakoso.
"Itu tadi."
"Sekarang kan sudah sore."
Semua tertawa.
Akhirnya mereka membeli beberapa jagung bakar dan minuman hangat untuk dinikmati bersama.
Arman mengambil sebatang jagung, lalu menyerahkan yang masih hangat kepada Erika.
"Silakan."
Erika menerimanya sambil tersenyum.
"Terima kasih."
"Tidak usah sungkan."
"Itu memang untuk dibagi."
Ucapan Arman terdengar begitu sederhana.
Namun bagi Erika, perhatian kecil seperti itu terasa begitu tulus.
Sinar matahari semakin redup.
Langit di atas Sungai Kapuas perlahan berubah menjadi semburat jingga keemasan yang memantul indah di permukaan air.
Suasana menjadi lebih tenang.
Percakapan di antara mereka pun mulai melambat, seolah semua larut menikmati keindahan senja yang terbentang di hadapan.
Rizal dan Dimas sibuk mengambil foto.
Nanda dan Meylina berjalan ke sisi dermaga untuk melihat perahu-perahu yang sedang bersandar.
Raka berbincang dengan beberapa pengunjung yang dikenalnya.
Tanpa direncanakan, Arman, Erika, dan Junaidi tetap berada di bangku yang sama.
Beberapa saat kemudian Junaidi berdiri.
"Aku beli minum dulu."
"Aku ikut," kata Rizal dari kejauhan.
Mereka berdua berjalan menuju kios minuman.
Kini yang tersisa di bangku hanya Arman dan Erika.
Suasana mendadak menjadi lebih hening.
Bukan karena canggung.
Melainkan karena keduanya sama-sama menikmati pemandangan yang terbentang di depan mata.
Erika memecah keheningan.
"Kalau melihat sungai seperti ini..."
"Iya?"
"...aku selalu merasa hidup berjalan terus."
Arman mengangguk pelan.
"Seperti air sungai."
"Tidak pernah berhenti."
"Tidak pernah kembali ke tempat yang sama."
Erika menoleh.
"Kamu suka memperhatikan hal-hal seperti itu?"
Arman tersenyum.
"Mungkin karena aku berasal dari desa."
"Di sana aku sering duduk di pematang sawah."
"Melihat matahari terbenam."
"Sendirian?"
"Kadang bersama Ayah."
"Ayah selalu bilang..."
Arman menghentikan ucapannya sejenak.
"'Jangan pernah takut bermimpi lebih tinggi daripada tempat kita dilahirkan.'"
Erika memandang wajah Arman beberapa detik.
"Itu nasihat yang indah."
"Ayahku juga sering mengatakan sesuatu yang hampir sama."
"Apa?"
"'Ilmu adalah bekal yang tidak akan habis meskipun dibagikan.'"
Arman mengangguk.
"Orang tuamu pasti luar biasa."
Erika tersenyum pelan.
"Mereka hanya ingin anaknya menjadi orang yang berguna."
Percakapan itu terus mengalir tanpa terasa.
Mereka berbicara tentang sekolah.
Tentang cita-cita.
Tentang keluarga.
Tentang harapan-harapan kecil yang mereka simpan untuk masa depan.
Tak satu pun membicarakan cinta.
Namun justru karena tidak membicarakannya, sesuatu yang lebih halus mulai tumbuh di antara mereka.
Dari kejauhan, Junaidi memperhatikan keduanya.
Ia baru saja kembali bersama Rizal sambil membawa beberapa gelas minuman.
Ketika melihat Arman dan Erika sedang berbincang, ia berhenti beberapa langkah.
Rizal menoleh.
"Kenapa?"
"Tidak apa-apa."
"Ayo."
Junaidi kembali berjalan.
Ia lalu menyerahkan satu gelas minuman kepada Arman dan satu lagi kepada Erika.
"Nih."
"Terima kasih," kata Erika.
"Iya, terima kasih, Jun," sambung Arman.
"Sama-sama."
Junaidi tersenyum seperti biasa.
Tidak ada perubahan pada wajahnya.
Namun di dalam hatinya muncul sebuah pertanyaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
"Kenapa aku senang kalau Erika tersenyum?"
Pertanyaan itu datang begitu saja.
Ia tidak berusaha menjawabnya.
Ia juga tidak ingin memikirkannya terlalu jauh.
Baginya, Arman adalah sahabat yang sangat ia hormati.
Ia tidak ingin membiarkan perasaannya merusak persahabatan yang baru tumbuh itu.
Langit semakin merah.
Siluet pepohonan di seberang Sungai Kapuas tampak seperti lukisan yang perlahan disaput warna keemasan.
Semua orang terdiam beberapa saat menikmati pemandangan itu.
Arman berdiri di tepi dermaga.
Ia memandang matahari yang perlahan turun.
"Indah sekali."
Erika berdiri di sampingnya.
"Aku selalu suka senja."
"Kenapa?"
"Karena senja tidak pernah tergesa-gesa."
"Ia mengajarkan bahwa sesuatu yang indah tidak harus berlangsung lama untuk dikenang."
Arman tersenyum tipis.
"Mungkin karena itu banyak orang datang ke sini."
"Bukan hanya melihat matahari."
"Tetapi juga membawa pulang ketenangan."
Erika mengangguk.
"Dan kenangan."
Kalimat terakhir itu membuat Arman menoleh.
Tatapan mereka kembali bertemu.
Tidak lama.
Hanya beberapa detik.
Namun cukup untuk membuat keduanya sama-sama tersenyum.
Tidak ada janji.
Tidak ada kata-kata manis.
Hanya dua hati muda yang mulai merasa nyaman berada dalam kebersamaan yang sama.
Di belakang mereka, Junaidi memandang Sungai Kapuas yang mengalir tenang.
Ia belum memahami sepenuhnya apa yang sedang terjadi di dalam hatinya.
Yang ia tahu, setiap kali melihat Arman dan Erika berbicara, ada rasa yang perlahan berubah.
Bukan kebencian.
Bukan pula iri.
Masih berupa kekaguman yang bercampur kebingungan.
Perasaan itu masih terlalu kecil untuk disebut sebagai luka.
Namun cukup besar untuk menjadi awal dari sebuah pilihan yang kelak akan menguji persahabatan mereka.
Sementara matahari akhirnya tenggelam di ufuk barat, senja pertama di Dermaga KP3 menyimpan lebih dari sekadar pemandangan yang indah.
Ia menyimpan bahasa hati yang belum berani diucapkan.
Bahasa yang hanya dipahami oleh waktu.
Dan waktu belum selesai menuliskan kisah mereka.
Pulang Membawa Senja dan Sebuah Rasa yang Tak Lagi Sama
Langit di atas Sungai Kapuas perlahan berubah dari jingga menjadi ungu kebiruan. Cahaya matahari yang beberapa saat lalu memantul indah di permukaan sungai kini berganti dengan kerlap-kerlip lampu yang mulai menyala di sepanjang kawasan Dermaga KP3.
Suasana sore berganti menjadi malam dengan tenang.
Angin sungai bertiup lebih sejuk.
Beberapa pengunjung mulai meninggalkan dermaga, sementara sebagian lainnya masih memilih duduk menikmati malam yang baru datang.
"Sudah magrib, kita pulang saja," ujar Raka Firmansyah sambil melihat jam tangannya.
"Besok masih banyak kegiatan."
Semua mengangguk setuju.
Sebelum pulang, mereka terlebih dahulu menunaikan salat Magrib di musala yang berada tidak jauh dari kawasan dermaga.
Usai salat, rombongan kembali berkumpul di area parkir.
Perjalanan pulang dimulai dengan suasana yang jauh lebih tenang dibandingkan ketika mereka datang.
Mungkin karena lelah.
Atau mungkin karena masing-masing sedang menyimpan pikirannya sendiri.
Rombongan bergerak perlahan menyusuri Jalan Jenderal Ahmad Yani.
Lampu-lampu jalan telah menyala, menerangi ruas jalan yang mulai dipadati kendaraan masyarakat yang pulang dari berbagai aktivitas.
Di sisi kanan dan kiri jalan, beberapa warung makan mulai ramai oleh pengunjung.
Aroma sate, mi goreng, dan kopi hitam sesekali terbawa angin malam.
"Kuala Kapuas malam hari ternyata ramai juga," ujar Arman sambil mengayuh sepedanya.
Junaidi yang mengendarai sepeda motor di sampingnya mengangguk.
"Kalau akhir pekan memang begini."
"Kamu sudah mulai hafal jalan?"
"Sedikit-sedikit."
"Nanti lama-lama juga hafal semuanya."
Mereka terus melaju.
Sementara itu, Erika yang dibonceng oleh Meylina Safitri beberapa kali menoleh ke belakang.
Tatapannya tanpa sadar mencari sosok Arman yang sedang mengayuh sepeda dengan tenang.
Melihat Arman masih berada di belakang rombongan, ia tersenyum kecil sebelum kembali memandang ke depan.
Ia sendiri tidak memahami mengapa ia merasa ingin memastikan teman barunya itu tidak tertinggal.
Ketika rombongan melewati kawasan Pertokoan Sanjaya, Rizal Akbar kembali memecahkan suasana.
"Kalau nanti kita sudah lulus, kira-kira masih sering jalan bareng tidak?"
"Masihlah," jawab Dimas Arya mantap.
"Kalau kuliah di kota yang sama mungkin."
"Kalau berbeda kota?"
Suasana mendadak hening.
Pertanyaan sederhana itu membuat semua berpikir.
Raka tersenyum.
"Yang penting persahabatan jangan putus."
"Iya."
"Setuju."
Arman mengangguk pelan.
"Berteman itu tidak harus selalu bertemu setiap hari."
"Cukup saling mengingat."
Ucapan itu membuat Junaidi menoleh.
"Kamu kalau bicara kadang seperti orang tua."
Semua tertawa.
Arman ikut tertawa.
"Mungkin karena terlalu sering dinasihati Ayah."
Percakapan kembali mengalir ringan.
Tidak ada yang mengetahui bahwa beberapa tahun kemudian, kata-kata tentang persahabatan itu akan benar-benar diuji oleh keadaan.
Sesampainya di persimpangan Jalan Pemuda, rombongan mulai berpencar.
Rumah Erika berada tidak jauh dari sana.
Meylina menghentikan sepeda motornya.
"Aku turun di sini."
"Hati-hati ya," kata Raka.
"Iya."
Erika menoleh kepada teman-temannya satu per satu.
"Terima kasih sudah mengajakku."
"Besok-besok ikut lagi."
"Kalau ada kesempatan."
Kemudian tatapannya berhenti pada Arman.
"Terima kasih juga."
Arman sedikit bingung.
"Untuk apa?"
"Sudah banyak bercerita tentang desa."
Arman tersenyum.
"Masih banyak cerita yang belum sempat kuceritakan."
"Kalau begitu..."
Erika tersenyum hangat.
"...lain kali aku ingin mendengarnya lagi."
"Insyaallah."
Percakapan itu berlangsung singkat.
Namun cukup membuat perjalanan pulang Arman terasa lebih ringan.
Perjalanan berlanjut.
Kini tinggal Arman dan Junaidi yang searah.
Mereka melewati Jalan Tambun Bungai dengan suasana malam yang semakin lengang.
Beberapa saat keduanya sama-sama diam.
Hanya suara roda sepeda dan deru mesin sepeda motor yang terdengar memecah kesunyian.
Akhirnya Junaidi membuka percakapan.
"Man."
"Iya?"
"Menurutmu Erika bagaimana?"
Arman menoleh sekilas.
"Orangnya baik."
"Ramah juga."
"Iya."
"Rajin belajar."
"Iya."
Junaidi tersenyum tipis.
"Aku juga berpikir begitu."
Arman tidak menaruh curiga sedikit pun.
Baginya, Junaidi hanya sedang membicarakan teman sekelas mereka.
Tidak lebih.
Ia sama sekali belum menyadari bahwa pertanyaan sederhana itu lahir dari rasa ingin tahu yang mulai tumbuh di hati sahabatnya.
Malam semakin larut ketika Arman tiba di rumah Pak Hasan Basri.
Setelah makan malam dan membantu membereskan meja, ia masuk ke kamarnya.
Tas sekolah diletakkannya di atas kursi.
Namun pikirannya belum benar-benar sampai di rumah.
Bayangan senja di Dermaga KP3 masih memenuhi ingatannya.
Hamparan Sungai Kapuas.
Angin yang berembus lembut.
Percakapan tentang cita-cita.
Dan senyum Erika ketika mengucapkan terima kasih sebelum pulang.
Arman menarik napas panjang.
Ia tersenyum sendiri.
"Kenapa aku terus mengingat hari ini?"
Ia tidak menemukan jawabannya.
Yang ia rasakan hanyalah sebuah ketenangan yang belum pernah hadir sebelumnya.
Di rumahnya, Erika juga belum langsung tidur.
Dari jendela kamar, ia memandang langit Kuala Kapuas yang mulai dipenuhi bintang.
Hari itu terasa begitu menyenangkan.
Bukan karena Dermaga KP3 yang indah.
Bukan pula karena foto-foto yang sempat mereka ambil bersama.
Melainkan karena ia mulai merasa telah menemukan lingkungan yang hangat.
Teman-teman yang menerima dirinya apa adanya.
Dan seseorang yang selalu mampu membuat percakapan sederhana terasa begitu berarti.
Sementara itu, di rumahnya sendiri, Junaidi duduk di beranda dengan secangkir teh hangat.
Ia teringat pertanyaannya kepada Arman dalam perjalanan pulang.
Jawaban Arman terdengar biasa.
Namun justru jawaban yang sederhana itu membuat hati Junaidi semakin gelisah.
Ia mulai menyadari bahwa dirinya tidak lagi memandang Erika hanya sebagai teman sekelas.
Perasaan itu belum ingin ia akui.
Tetapi juga tidak bisa ia abaikan.
Malam itu, tiga anak muda tidur di rumah masing-masing dengan membawa kenangan yang sama tentang senja di Dermaga KP3.
Namun mereka memaknainya dengan cara yang berbeda.
Arman membawa pulang harapan.
Erika membawa pulang kenyamanan.
Sedangkan Junaidi membawa pulang pertanyaan yang belum mampu ia jawab sendiri.
Dan sejak senja itu berlalu, tak ada lagi yang benar-benar sama.
Tanpa mereka sadari, langkah kecil yang berawal dari sebuah perjalanan sederhana telah membawa mereka semakin dekat menuju persimpangan takdir yang akan menguji persahabatan, ketulusan, dan cinta.
BAB VI
Payung di Tengah Hujan Kuala Kapuas
Langit Mendung di Atas Kota Air
Beberapa hari setelah perjalanan ke Dermaga KP3, musim penghujan mulai menyelimuti Kuala Kapuas.
Sejak pagi, langit tampak dipenuhi awan kelabu. Angin berembus lebih dingin dari biasanya, membawa aroma tanah basah yang berasal dari hamparan sawah dan tepian Sungai Kapuas.
Bagi masyarakat Kuala Kapuas, hujan bukanlah sesuatu yang asing.
Namun bagi Arman Maulana, setiap hujan selalu mengingatkannya pada Desa Sriwidadi.
Ia teringat suara rintik hujan yang jatuh di atas atap seng rumah orang tuanya.
Teringat ibunya yang selalu menyiapkan teh panas dan pisang goreng ketika hujan turun.
Teringat ayahnya yang memandang sawah dengan wajah penuh harap, berharap hujan turun secukupnya agar padi tumbuh subur.
Kenangan-kenangan itu datang begitu saja setiap kali langit mulai menggelap.
Bel pertama berbunyi.
Para siswa kelas X TKJ-A segera memasuki ruang kelas.
Pak Surya Hadi mengawali pelajaran Produktif dengan menjelaskan materi mengenai dasar-dasar jaringan komputer.
Semua siswa tampak memperhatikan.
Di luar kelas, angin semakin kencang.
Daun-daun ketapang bergoyang, sementara langit semakin gelap.
Beberapa kali terdengar suara guntur menggelegar dari kejauhan.
Rizal Akbar menoleh ke arah jendela.
"Sepertinya sebentar lagi hujan."
Junaidi ikut melihat keluar.
"Kalau hujannya deras, pulang bisa terlambat."
Pak Surya tersenyum.
"Fokus dulu belajar."
"Nanti hujannya selesai sendiri."
Seluruh kelas kembali tertawa kecil.
Pelajaran pun berlanjut.
Namun perhatian beberapa siswa sesekali teralihkan oleh langit yang semakin pekat.
Menjelang jam terakhir, hujan akhirnya turun.
Awalnya hanya berupa rintik-rintik kecil.
Tak lama kemudian berubah menjadi hujan lebat yang mengguyur seluruh Kota Kuala Kapuas.
Air mengalir deras di halaman sekolah.
Atap seng ruang praktik mengeluarkan bunyi berirama akibat tetesan hujan yang semakin rapat.
Dari jendela kelas, para siswa memandang halaman sekolah yang mulai tergenang.
"Deras sekali," gumam Meylina Safitri.
"Sepertinya belum bisa pulang," sahut Nanda Prakoso.
Bel pulang akhirnya berbunyi.
Namun tidak satu pun siswa langsung beranjak.
Sebagian memilih duduk kembali di bangku.
Sebagian lagi berdiri di teras kelas sambil menunggu hujan reda.
Arman ikut berdiri di dekat jendela.
Ia memperhatikan air hujan yang jatuh membentuk garis-garis putih di udara.
Baginya, hujan selalu membawa ketenangan.
Sementara itu, Erika tampak membuka tasnya.
Ia menghela napas pelan.
"Aduh..."
Meylina menoleh.
"Kenapa?"
"Aku lupa membawa payung."
"Serius?"
"Iya."
Meylina tersenyum pahit.
"Aku juga."
Mereka saling berpandangan, lalu tertawa kecil.
Di sudut lain kelas, Junaidi sedang memasukkan buku ke dalam tas.
Ia mendengar percakapan kedua temannya.
"Lupa bawa payung?"
"Iya."
Junaidi membuka tasnya.
Di dalamnya terdapat sebuah payung lipat berwarna hitam yang selalu dibawanya saat musim hujan.
Ia memandang payung itu beberapa saat.
Kemudian matanya beralih ke arah Erika.
Ada keinginan untuk menghampiri dan menawarkan bantuan.
Namun sebelum sempat melangkah, Pak Surya memanggil beberapa siswa untuk membantu memindahkan peralatan praktik agar tidak terkena tampias hujan.
"Junaidi."
"Siap, Pak."
"Bantu angkat komputer yang dekat jendela."
"Baik, Pak."
Ia pun bergegas membantu guru.
Kesempatan itu terlewat begitu saja.
Tidak jauh dari sana, Arman juga memperhatikan hujan yang belum menunjukkan tanda-tanda akan reda.
Ia kemudian membuka tasnya.
Di dalamnya terdapat sebuah payung biru tua.
Payung itu adalah titipan ibunya sebelum ia berangkat sekolah pada awal musim hujan.
"Bawalah selalu," pesan ibunya saat itu.
"Hujan tidak pernah memberi tahu kapan ia akan datang."
Arman tersenyum mengingat nasihat tersebut.
Ia belum mengetahui bahwa sore itu, sebuah payung sederhana akan menjadi awal dari kenangan yang kelak tak pernah bisa ia lupakan.
Di luar kelas, hujan masih turun tanpa jeda.
Butiran air memukul halaman sekolah, seakan sedang memainkan irama yang hanya dimengerti oleh alam.
Sementara di dalam ruang kelas, takdir perlahan mulai menata langkah-langkah kecil yang akan membawa dua hati berjalan di bawah langit Kuala Kapuas.
Sebuah perjalanan yang tampaknya sederhana.
Namun akan menjadi salah satu kenangan paling indah dalam masa remaja mereka.
Berjalan di Bawah Satu Payung
Hujan belum juga menunjukkan tanda-tanda akan reda.
Butiran air turun semakin rapat, membentuk tirai bening yang menyelimuti halaman SMK Negeri Kuala Kapuas. Saluran air di tepi sekolah mengalir deras menuju Sungai Kapuas, sementara pepohonan ketapang bergoyang perlahan diterpa angin yang sesekali datang lebih kencang.
Para siswa masih bertahan di teras sekolah.
Sebagian duduk di bangku panjang sambil bercanda.
Sebagian lagi sibuk memainkan telepon genggam atau menikmati gorengan hangat yang dijual di kantin.
Jam menunjukkan pukul empat sore.
"Sepertinya hujan masih lama," gumam Meylina Safitri.
"Iya."
"Kalau menunggu reda, bisa kemalaman."
Erika mengangguk pelan.
Ia berdiri di tepi teras sambil memandangi jalan yang mulai dipenuhi genangan air.
Rumahnya memang tidak terlalu jauh dari sekolah, tetapi berjalan kaki di tengah hujan deras bukanlah pilihan yang menyenangkan.
Di sisi lain, Arman juga memperhatikan keadaan.
Ia melihat beberapa siswa mulai dijemput orang tua mereka.
Beberapa yang membawa jas hujan memilih langsung pulang.
Namun Erika masih berdiri di tempat yang sama.
Seolah sedang memikirkan bagaimana cara pulang.
Arman menarik napas pelan.
Ia membuka tasnya dan mengeluarkan payung biru tua yang selalu dibawanya.
Payung itu masih terlipat rapi.
Beberapa saat ia memandang ke arah Erika.
Lalu, dengan langkah tenang, ia menghampirinya.
"Erika."
Gadis itu menoleh.
"Iya?"
"Kamu belum pulang?"
Erika tersenyum tipis.
"Belum."
"Lupa membawa payung."
"Aku juga tidak membawa jas hujan."
Arman mengangguk.
"Aku membawa payung."
Erika terdiam sejenak.
"Lalu?"
"Kalau rumahmu searah dengan jalan yang kulewati..."
Arman berhenti sesaat, tampak sedikit gugup.
"...aku bisa mengantarmu sampai persimpangan."
Erika memandang wajah Arman beberapa detik.
Ada ketulusan yang begitu jelas di matanya.
Bukan rasa iba.
Bukan pula keinginan mencari perhatian.
Hanya niat sederhana untuk membantu.
"Kalau tidak merepotkan..."
"Tidak."
"Baik."
"Terima kasih."
Senyum kecil mengembang di wajah Arman.
"Sama-sama."
Tak jauh dari mereka, Junaidi baru saja selesai membantu Pak Surya memindahkan beberapa perangkat praktik.
Ketika kembali ke teras, ia melihat Arman sedang membuka payung.
Beberapa detik kemudian, Erika berdiri di samping sahabatnya itu.
Junaidi memahami apa yang sedang terjadi.
Ia menunduk sesaat.
Tangannya masih menggenggam payung hitam yang sedari tadi tidak sempat ia tawarkan.
Dalam hati ia bergumam,
"Ternyata Arman lebih dulu."
Namun ia segera mengusir pikiran itu.
Ia tidak ingin membiarkan perasaan yang baru tumbuh mengubah cara pandangnya terhadap sahabat sendiri.
Rizal Akbar menepuk bahunya.
"Jun."
"Hm?"
"Kita tunggu hujan reda saja."
"Iya."
Junaidi mengangguk pelan.
Tatapannya sesaat mengikuti langkah Arman dan Erika yang mulai meninggalkan halaman sekolah.
Payung biru tua itu tidak terlalu besar.
Cukup untuk melindungi dua orang dari hujan yang masih turun deras.
Arman memegang gagang payung dengan hati-hati agar tidak mengenai bahu Erika.
Mereka berjalan menyusuri trotoar di Jalan Tambun Bungai.
Air hujan memercik ketika kendaraan melintas.
Sesekali terdengar suara klakson dari kejauhan.
Namun di balik riuhnya sore yang diguyur hujan, percakapan mereka justru berlangsung dengan tenang.
"Kamu memang selalu membawa payung?" tanya Erika.
"Iya."
"Sejak kecil."
"Kenapa?"
"Ibu selalu berpesan, lebih baik membawa payung yang tidak terpakai daripada membutuhkannya ketika hujan datang."
Erika tersenyum.
"Ibumu bijaksana."
Arman mengangguk.
"Beliau memang sederhana."
"Tapi setiap nasihatnya selalu kuingat."
Beberapa langkah kemudian, Erika kembali membuka percakapan.
"Orang tuamu pasti sangat merindukanmu."
"Tentu."
"Aku juga sering rindu mereka."
"Kalau malam biasanya Ibu menelepon."
"Apa yang paling kamu rindukan dari rumah?"
Arman memandang jalan yang basah di depan mereka.
"Suara Ayah ketika membangunkanku sebelum subuh."
"Dan masakan Ibu."
Erika tertawa kecil.
"Kalau aku..."
"Iya?"
"Aku paling rindu makan malam bersama keluarga."
Keduanya kembali berjalan dalam diam.
Bukan karena kehabisan bahan pembicaraan.
Melainkan karena masing-masing sedang menikmati kebersamaan yang terasa begitu alami.
Di sebuah tikungan dekat deretan pertokoan kecil, angin bertiup lebih kencang.
Payung yang dipegang Arman sedikit bergoyang.
Refleks, Erika mengangkat tangan membantu menahan sisi payung yang hampir terbalik.
Ujung jari mereka tanpa sengaja bersentuhan.
Keduanya langsung menarik tangan masing-masing.
"Maaf."
"Maaf."
Mereka mengucapkannya hampir bersamaan.
Lalu saling tersenyum.
Suasana yang sempat canggung perlahan berubah menjadi tawa kecil.
"Hujan ini..."
Erika menatap langit.
"...sepertinya tidak ingin cepat selesai."
Arman ikut menoleh.
"Mungkin."
"Supaya kita belajar bersabar."
"Atau..."
Erika melanjutkan sambil tersenyum.
"...supaya orang-orang punya waktu lebih lama untuk saling bercerita."
Arman tidak menjawab.
Namun di dalam hatinya, ia diam-diam berharap perjalanan itu memang berlangsung sedikit lebih lama.
Bukan karena ia menyukai hujan.
Melainkan karena untuk pertama kalinya ia merasa berjalan berdampingan dengan seseorang yang membuat setiap langkah terasa begitu ringan.
Sementara itu, di kejauhan, hujan masih mengguyur Kuala Kapuas.
Tak ada yang mengetahui bahwa sebuah payung sederhana sore itu sedang menjadi saksi lahirnya kenangan yang kelak akan selalu mereka ingat.
Kenangan tentang dua remaja yang berjalan berdampingan.
Tanpa janji.
Tanpa kata cinta.
Namun perlahan mulai saling mengisi ruang kosong di hati masing-masing.
Hujan Reda, Perasaan Justru Semakin Nyata
Perjalanan di bawah payung biru itu berakhir di sebuah persimpangan jalan yang menghubungkan Jalan Tambun Bungai dengan kawasan tempat tinggal Erika.
Di sana, hujan mulai mengecil.
Butiran air yang semula turun deras kini hanya menyisakan rintik-rintik halus yang menetes dari dedaunan mahoni di sepanjang jalan.
Langit masih diselimuti awan kelabu, tetapi di ufuk barat mulai tampak semburat cahaya keemasan yang berusaha menembus celah-celah mendung.
Erika berhenti melangkah.
"Rumahku sudah dekat."
Arman ikut berhenti.
"Oh."
"Terima kasih sudah mengantarku."
"Sama-sama."
"Aku jadi tidak kehujanan."
Arman hanya tersenyum.
"Bukankah memang begitu gunanya payung?"
Erika tertawa pelan.
"Bukan payungnya."
"Lalu?"
"Orang yang membawanya."
Arman tidak segera menjawab.
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun entah mengapa, jantungnya berdegup sedikit lebih cepat.
Mereka berdiri beberapa saat di bawah pohon yang masih meneteskan sisa-sisa hujan.
Kendaraan yang melintas mulai berkurang.
Suasana sore terasa lebih tenang dibandingkan satu jam sebelumnya.
Erika menatap payung biru yang masih dipegang Arman.
"Payung ini sudah lama?"
"Iya."
"Sejak aku kelas sembilan."
"Masih bagus."
"Karena selalu dirawat."
Erika mengangguk pelan.
"Ayahku juga selalu bilang..."
"Kalau sesuatu dirawat dengan baik, umurnya akan panjang."
Arman tersenyum.
"Nasihat orang tua memang hampir selalu sama."
"Sederhana."
"Tapi benar."
Mereka saling berpandangan.
Lalu tersenyum tanpa alasan yang jelas.
Di usia mereka yang masih belasan tahun, mungkin itulah cara hati mulai mengenal seseorang.
Bukan melalui kata-kata yang indah.
Melainkan lewat percakapan-percakapan sederhana yang terasa begitu hangat.
"Kalau begitu aku pulang dulu."
"Iya."
"Hati-hati."
"Kamu juga."
Erika melangkah beberapa meter.
Namun sebelum benar-benar pergi, ia menoleh kembali.
"Arman."
"Iya?"
"Terima kasih... untuk hari ini."
Arman mengangkat tangan kecil sebagai tanda salam.
"Sampai besok di sekolah."
"Sampai besok."
Erika tersenyum, lalu berjalan menuju rumahnya.
Arman memandang langkah gadis itu hingga menghilang di balik deretan rumah.
Barulah ia membuka kembali payungnya dan melanjutkan perjalanan menuju rumah Pak Hasan Basri.
Entah mengapa, hujan yang masih turun tipis tidak lagi terasa dingin.
Di rumah, Pak Hasan Basri yang sedang duduk di ruang tamu melihat pakaian Arman sedikit basah.
"Kehujanan?"
"Sedikit, Pak."
"Untung bawa payung."
"Iya."
Pak Hasan tertawa kecil.
"Kalau anak muda biasanya bukan hujan yang membuat terlambat pulang."
"Lalu apa, Pak?"
"Temannya."
Arman tersenyum kaku.
Ia tidak berani menjawab.
Ucapan itu membuat wajahnya sedikit memerah.
Beruntung Pak Hasan tidak melanjutkan godaannya.
Malam itu, selepas belajar, Arman membuka buku catatan yang selalu ia gunakan untuk menuliskan hal-hal penting.
Di halaman paling belakang, ia menulis beberapa kalimat.
"Hari ini hujan turun cukup lama. Aku mengantar seorang teman pulang dengan payung pemberian Ibu. Entah mengapa, perjalanan yang tidak terlalu jauh itu terasa begitu singkat. Mungkin benar kata Ayah, dalam hidup ada orang-orang yang kehadirannya mampu membuat perjalanan terasa lebih ringan."
Ia menutup buku itu perlahan.
Tidak sekali pun ia menuliskan nama Erika.
Namun ia tahu, seluruh isi catatan itu sebenarnya sedang bercerita tentang gadis tersebut.
Di rumahnya, Erika juga sedang duduk di dekat jendela kamar.
Secangkir teh hangat berada di atas meja belajar.
Di luar, hujan tinggal menyisakan gerimis.
Ia membuka buku pelajaran, tetapi pikirannya belum sepenuhnya berada di sana.
Yang terus terbayang justru perjalanan singkat di bawah payung biru.
Cara Arman berjalan sedikit ke tepi jalan agar dirinya tidak terkena percikan air.
Cara Arman memegang payung lebih tinggi agar ia tetap nyaman.
Dan cara Arman mendengarkan setiap cerita tanpa pernah memotong pembicaraan.
Erika tersenyum sendiri.
"Laki-laki itu..."
Ia tidak melanjutkan kalimatnya.
Karena ia sendiri belum mampu menjelaskan apa yang sedang dirasakannya.
Sementara itu, di rumah sederhana milik keluarganya, Junaidi masih duduk di teras sambil mendengarkan suara gerimis yang belum sepenuhnya berhenti.
Ibunya keluar membawa secangkir kopi hangat.
"Melamun saja dari tadi."
"Iya, Bu."
"Ada masalah di sekolah?"
Junaidi menggeleng.
"Tidak ada."
"Kalau begitu jangan terlalu banyak dipikirkan."
Ibunya kembali masuk ke dalam rumah.
Junaidi memandang langit malam yang masih tertutup awan.
Tanpa sadar, bayangan Arman dan Erika berjalan di bawah satu payung kembali muncul dalam benaknya.
Ia menghela napas panjang.
Untuk pertama kalinya, ia merasakan sesuatu yang tidak pernah hadir dalam persahabatan mereka.
Bukan marah.
Bukan benci.
Tetapi sebuah kegelisahan yang belum memiliki nama.
Ia segera menepis perasaan itu.
"Arman sahabatku."
"Erika juga teman baikku."
"Tidak boleh ada yang berubah."
Namun hati manusia sering kali memiliki jalannya sendiri.
Semakin berusaha dilupakan, justru semakin sering menghadirkan pertanyaan.
Esok pagi, hujan telah reda.
Langit Kuala Kapuas kembali cerah seolah tidak pernah terjadi badai sehari sebelumnya.
Namun ada satu hal yang tidak ikut reda.
Perasaan yang tumbuh perlahan di hati tiga remaja itu.
Arman mulai menyadari bahwa ia selalu menunggu senyum Erika setiap pagi.
Erika mulai merasa nyaman berada di dekat Arman tanpa mengetahui alasannya.
Dan Junaidi mulai memahami bahwa hatinya diam-diam telah memilih perempuan yang sama dengan sahabatnya.
Takdir belum memperlihatkan ujung kisah mereka.
Namun hujan yang telah berlalu meninggalkan jejak yang tak mudah dihapus.
Karena terkadang, setelah hujan reda, justru perasaanlah yang mulai tumbuh semakin nyata.
BAB VII
Rahasia yang Disimpan Junaidi
Rahasia yang Mulai Disimpan Junaidi
Musim hujan masih setia menyelimuti Kuala Kapuas.
Pagi itu, langit tampak cerah setelah semalaman diguyur hujan. Sisa embun masih menggantung di dedaunan, sementara udara terasa lebih sejuk daripada biasanya. Aktivitas masyarakat kembali berjalan seperti biasa. Para pedagang mulai membuka kios di sepanjang Jalan Tambun Bungai, kendaraan lalu-lalang menuju pusat kota, dan deretan pelajar berseragam putih abu-abu memenuhi jalan menuju sekolah.
Arman Maulana tiba lebih awal seperti biasanya.
Ia memarkir sepeda kayuhnya di tempat parkir sekolah, lalu berjalan menuju kelas sambil membawa beberapa buku yang dipinjamnya dari perpustakaan sehari sebelumnya.
Sesampainya di kelas, bangku nomor delapan masih kosong.
Tanpa sadar, pandangannya berhenti di sana beberapa saat.
Tak lama kemudian, langkah kaki yang dikenalnya terdengar dari luar kelas.
"Selamat pagi."
Suara lembut itu membuat Arman menoleh.
Erika Maheswari berdiri di ambang pintu sambil tersenyum.
"Pagi."
"Kamu datang lebih awal."
"Iya."
"Jalanan belum terlalu ramai."
Erika mengangguk.
"Lumayan, jadi tidak terlambat."
Percakapan mereka berlangsung singkat sebelum siswa lain mulai berdatangan.
Bagi Arman, pagi itu terasa seperti pagi-pagi sebelumnya.
Namun tidak bagi seseorang yang memperhatikan mereka dari kejauhan.
Junaidi baru saja memasuki kelas ketika melihat Arman dan Erika sedang berbincang.
Tidak ada yang istimewa.
Mereka hanya saling menyapa seperti dua teman sekelas.
Tetapi entah mengapa, pemandangan sederhana itu membuat langkah Junaidi melambat.
Ia segera mengusir perasaan aneh yang muncul di dalam dadanya.
"Mereka hanya berteman."
"Aku juga sering berbicara dengan Erika."
Ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri.
Namun sejak perjalanan pulang di bawah satu payung beberapa hari lalu, pikirannya tidak lagi setenang dulu.
Setiap kali melihat Arman dan Erika berbicara, ada sesuatu yang sulit dijelaskan.
Perasaan itu belum menjadi kecemburuan.
Tetapi juga bukan lagi sekadar kekaguman.
Pelajaran pertama berlangsung seperti biasa.
Pak Andi Prasetyo memberikan beberapa soal latihan yang harus dikerjakan secara berpasangan.
Arman dan Junaidi kembali menjadi satu tim.
"Kita bagi tugas seperti biasa?" tanya Arman.
"Iya."
Junaidi menjawab singkat.
Arman sedikit heran.
Biasanya sahabatnya itu selalu menyelipkan candaan ketika belajar.
Namun pagi itu Junaidi tampak lebih pendiam.
"Kamu kurang sehat?"
"Tidak."
"Capek?"
"Sedikit."
Arman mengangguk.
Ia tidak ingin memaksa Junaidi bercerita.
Persahabatan mereka telah mengajarkan bahwa setiap orang memiliki waktunya sendiri untuk membuka isi hati.
Saat jam istirahat, seluruh kelas menuju kantin.
Rizal Akbar langsung memesan mi goreng favoritnya.
Sementara Meylina dan Nanda sibuk memilih jajanan.
Arman duduk di salah satu meja bersama Junaidi.
Tak lama kemudian, Erika datang membawa nampan berisi dua gelas es teh.
"Aku tadi beli kebanyakan."
Ia meletakkan satu gelas di depan Junaidi.
"Ini untukmu."
Junaidi tampak sedikit terkejut.
"Untukku?"
"Iya."
"Kemarin waktu tugas kelompok kamu yang membayar fotokopi."
"Aku belum sempat mengganti."
Junaidi tersenyum.
"Terima kasih."
"Sama-sama."
Percakapan itu berlangsung biasa.
Namun bagi Junaidi, perhatian kecil dari Erika membuat hatinya dipenuhi rasa hangat.
Sepanjang siang, senyum itu terus teringat dalam benaknya.
Sepulang sekolah, Junaidi tidak langsung pulang.
Ia memilih duduk sendirian di bangku taman sekolah yang menghadap lapangan.
Di kejauhan terdengar suara siswa-siswa yang sedang berlatih futsal.
Angin sore membawa dedaunan kering berputar di atas halaman.
Junaidi mengeluarkan sebuah buku kecil dari dalam tasnya.
Buku itu sebenarnya digunakan untuk mencatat jadwal pelajaran.
Namun pada halaman terakhir, ia mulai menuliskan sesuatu.
"Aku tidak tahu sejak kapan aku mulai memperhatikannya lebih sering. Setiap senyumnya membuat hari terasa lebih ringan. Setiap kali ia berbicara, aku ingin mendengarnya lebih lama. Apakah ini yang disebut menyukai seseorang?"
Ia berhenti menulis.
Lalu menutup buku itu kembali.
Tidak ada satu nama pun yang ia tuliskan.
Namun ia tahu kepada siapa semua kalimat itu ditujukan.
Sore itu, dalam perjalanan pulang, Junaidi melewati Bundaran Besar Kuala Kapuas.
Ia menghentikan sepeda motornya sejenak.
Dari tempat itu, kendaraan tampak berlalu-lalang tanpa pernah berhenti.
Ia memandangi langit yang mulai berubah warna.
Di dalam hatinya, sebuah keputusan perlahan mulai tumbuh.
Untuk sementara, ia memilih menyimpan semua perasaannya sendiri.
Ia belum siap mengungkapkannya kepada Erika.
Apalagi kepada Arman.
Baginya, persahabatan mereka terlalu berharga untuk dipertaruhkan oleh sebuah perasaan yang belum tentu memiliki jawaban.
Namun rahasia yang terus disimpan sering kali tumbuh semakin besar.
Dan ketika hati mulai dipenuhi rahasia, kejujuran perlahan mencari jalan keluar.
Tanpa disadari, langkah pertama menuju badai dalam persahabatan mereka telah dimulai.
Isyarat-Isyarat yang Mulai Sulit Disembunyikan
Hari-hari di SMK Negeri Kuala Kapuas kembali berjalan seperti biasa.
Bel berbunyi setiap pagi.
Guru datang silih berganti memasuki ruang kelas.
Suara kapur yang bergesekan dengan papan tulis, dentingan bel pergantian jam pelajaran, hingga canda tawa para siswa di koridor sekolah menjadi irama yang mengiringi kehidupan remaja mereka.
Namun di balik rutinitas yang tampak biasa itu, perlahan-lahan ada sesuatu yang mulai berubah.
Bukan suasana kelas.
Bukan pula hubungan persahabatan mereka.
Melainkan hati seseorang yang semakin sulit menyembunyikan perasaannya.
Pagi itu, kelas X TKJ-A mendapat tugas membuat makalah sederhana untuk mata pelajaran Kewirausahaan.
Pak Budi Santoso, guru mata pelajaran tersebut, meminta setiap kelompok mempresentasikan hasil pekerjaannya pada minggu berikutnya.
"Kelompok kalian tetap sama," ujar beliau.
Arman, Junaidi, dan Erika kembali berada dalam satu kelompok.
Ketiganya sudah terbiasa bekerja bersama.
Mereka saling memahami cara berpikir masing-masing.
Arman menyusun isi materi.
Erika merapikan penulisan dan desain.
Sedangkan Junaidi mengumpulkan referensi dari perpustakaan dan internet.
"Kalau sore nanti kita ke perpustakaan?" usul Arman.
"Aku setuju," jawab Erika.
Junaidi hanya mengangguk.
"Boleh."
Jawabannya singkat.
Berbeda dari biasanya.
Arman sempat memperhatikan perubahan itu, tetapi menganggap sahabatnya hanya sedang kelelahan.
Sore harinya mereka kembali belajar di perpustakaan sekolah.
Suasana cukup sepi karena sebagian besar siswa telah pulang.
Pak Darto, petugas perpustakaan, hanya sesekali berjalan memeriksa rak-rak buku.
Di meja pojok dekat jendela, ketiganya mulai berdiskusi.
Erika membaca beberapa buku referensi.
Arman sibuk mencatat poin-poin penting.
Sementara Junaidi sesekali membantu mencari data.
Ketika Erika kesulitan menemukan istilah tertentu dalam buku, Arman spontan membantu.
"Coba lihat halaman seratus dua belas."
Erika membuka halaman yang dimaksud.
"Oh..."
"Ada di sini."
"Terima kasih."
"Sama-sama."
Percakapan itu berlangsung singkat.
Namun Junaidi memperhatikan semuanya.
Ia tidak mengatakan apa-apa.
Hanya kembali menunduk membaca buku di hadapannya.
Entah mengapa, hatinya terasa sedikit sesak.
Bukan karena Arman berbuat salah.
Arman memang selalu suka membantu siapa saja.
Namun kini, setiap perhatian kecil yang diberikan Arman kepada Erika terasa berbeda di mata Junaidi.
Beberapa hari kemudian, sekolah mengadakan kegiatan kerja bakti membersihkan lingkungan.
Seluruh siswa dibagi menjadi beberapa kelompok.
Arman dan Junaidi mendapat tugas membersihkan taman depan sekolah.
Erika bersama beberapa siswi lain bertugas merapikan taman bunga.
Ketika sedang mengangkat pot tanaman, salah satu pot yang dibawa Erika hampir terjatuh.
Arman yang melihat kejadian itu segera menghampiri.
"Biar aku bantu."
"Tidak apa-apa."
"Berat."
Tanpa menunggu jawaban, Arman mengangkat pot tersebut dan meletakkannya di tempat yang telah ditentukan.
"Terima kasih."
"Sama-sama."
Junaidi yang sedang menyapu dedaunan melihat kejadian itu dari kejauhan.
Sapu di tangannya berhenti bergerak beberapa detik.
Rizal Akbar yang berada di dekatnya memperhatikan perubahan ekspresi itu.
"Jun."
"Hm?"
"Kamu kenapa?"
"Tidak apa-apa."
"Kok melamun?"
Junaidi tersenyum tipis.
"Mungkin kurang tidur."
Rizal tidak melanjutkan pertanyaan.
Namun ia mulai merasa ada sesuatu yang berbeda pada sahabatnya itu.
Siang harinya, saat jam istirahat, seluruh siswa berkumpul di kantin.
Seperti biasa, suasana dipenuhi tawa dan obrolan ringan.
Rizal kembali menjadi pusat perhatian dengan cerita-cerita lucunya.
Erika ikut tertawa.
Arman pun sesekali menanggapi candaan tersebut.
Hanya Junaidi yang tampak lebih banyak diam.
"Jun."
Arman menyenggol bahunya.
"Kamu benar-benar tidak apa-apa?"
"Iya."
"Kalau ada masalah, cerita saja."
"Nanti."
"Kapan?"
"Kalau sudah waktunya."
Jawaban itu membuat Arman semakin bingung.
Selama ini, Junaidi hampir tidak pernah menyimpan masalah sendiri.
Namun kali ini, ia seperti membangun dinding yang tidak boleh dimasuki siapa pun.
Malam harinya, Junaidi kembali membuka buku kecil yang selama ini menjadi tempatnya menyimpan isi hati.
Di halaman berikutnya ia menulis,
"Aku mulai takut pada perasaanku sendiri. Semakin sering kami bersama, semakin sulit aku berpura-pura bahwa semuanya biasa saja. Arman tidak pernah melakukan kesalahan. Justru karena ia begitu baik, aku merasa bersalah telah mulai membandingkan diriku dengannya."
Ia menutup buku itu perlahan.
Untuk pertama kalinya sejak mengenal Arman, ia merasakan pergulatan batin yang begitu berat.
Di satu sisi, ia ingin tetap menjadi sahabat yang setia.
Di sisi lain, ia tidak mampu membohongi perasaannya sendiri.
Sementara itu, Arman sama sekali belum menyadari apa yang sedang terjadi.
Baginya, Junaidi masih sahabat terbaik yang selalu menemaninya sejak awal masuk SMK.
Erika pun tidak melihat adanya perubahan yang berarti.
Ia masih menganggap keduanya sebagai dua sahabat yang saling melengkapi.
Tak seorang pun mengetahui bahwa di balik senyum Junaidi yang masih tampak sama, hati kecilnya mulai dipenuhi pertanyaan-pertanyaan yang sulit dijawab.
Perasaan yang terus dipendam perlahan berubah menjadi kegelisahan.
Dan kegelisahan yang dibiarkan terlalu lama sering kali melahirkan keputusan-keputusan yang kelak disesali.
Takdir masih memberi mereka waktu.
Namun waktu tidak pernah benar-benar berhenti.
Ia terus berjalan, membawa tiga anak muda itu menuju sebuah persimpangan yang akan mengubah arti persahabatan mereka untuk selamanya.
Ketika Persahabatan Mulai Diuji oleh Perasaan
Seminggu berlalu sejak tugas kelompok Kewirausahaan selesai dipresentasikan.
Kehidupan di SMK Negeri Kuala Kapuas tetap berjalan sebagaimana biasanya.
Bel masuk berbunyi setiap pagi.
Guru-guru bergantian mengajar di ruang kelas.
Para siswa disibukkan dengan tugas, ulangan harian, dan berbagai kegiatan sekolah.
Di balik rutinitas itu, persahabatan Arman Maulana dan Junaidi Pratama masih terlihat seperti sedia kala.
Mereka masih duduk berdampingan.
Masih berangkat ke kantin bersama.
Masih saling membantu ketika ada pelajaran yang sulit.
Di mata teman-teman sekelas, mereka tetap menjadi dua sahabat yang hampir tidak pernah terpisahkan.
Namun hanya Junaidi yang mengetahui bahwa sesuatu di dalam hatinya telah berubah.
Suatu siang, selepas pelajaran terakhir, Arman mengajak Junaidi duduk di bawah pohon ketapang di halaman sekolah.
Angin sore berembus pelan.
Daun-daun berguguran satu demi satu, memenuhi rerumputan yang mulai menguning karena musim hujan telah berganti dengan hari-hari yang lebih cerah.
"Jun."
"Iya?"
"Akhir-akhir ini kamu sering diam."
Junaidi tersenyum tipis.
"Begitukah?"
"Iya."
"Ada masalah?"
Junaidi menggeleng.
"Tidak."
"Kalau soal keluarga?"
"Tidak juga."
"Kalau begitu kenapa?"
Junaidi memandang lapangan sekolah yang mulai lengang.
Ia ingin berkata jujur.
Ingin mengatakan bahwa ada seorang gadis yang diam-diam memenuhi pikirannya setiap hari.
Namun nama gadis itu adalah Erika.
Dan Arman adalah sahabat yang paling ia percaya.
Lidahnya terasa kelu.
"Aku hanya sedang banyak berpikir."
"Memikirkan apa?"
"Masa depan."
Jawaban itu tidak sepenuhnya bohong.
Tetapi juga bukan jawaban yang sebenarnya.
Arman mengangguk pelan.
"Kalau ada yang bisa kubantu, jangan sungkan bercerita."
"Iya."
"Terima kasih."
Junaidi tersenyum.
Dalam hati ia merasa bersalah karena untuk pertama kalinya ia menyembunyikan sesuatu dari sahabatnya sendiri.
Beberapa hari kemudian, sekolah mengadakan latihan untuk persiapan lomba antarkelas.
Setiap kelas diminta menampilkan pertunjukan seni sederhana.
Kelas X TKJ-A sepakat menampilkan pembacaan puisi musikal.
Pak Budi Santoso menunjuk beberapa siswa sebagai panitia kecil.
"Arman."
"Siap, Pak."
"Kamu membantu menyusun naskah."
"Baik."
"Erika."
"Iya, Pak."
"Kamu menjadi narator."
"Siap."
"Junaidi."
"Ya, Pak."
"Kamu mengatur perlengkapan panggung."
"Baik."
Sejak latihan dimulai, mereka kembali sering bertemu di luar jam pelajaran.
Namun kali ini, Junaidi mulai merasakan sesuatu yang sulit ia sembunyikan.
Ketika Arman dan Erika berdiskusi mengenai naskah, ia beberapa kali memandang mereka tanpa sadar.
Saat Erika tertawa karena candaan Arman, hati kecilnya terasa terusik.
Ia segera mengalihkan pandangan.
"Kenapa aku seperti ini?" batinnya.
"Bukankah mereka hanya sedang mengerjakan tugas?"
Ia mencoba menenangkan dirinya.
Namun semakin ia berusaha mengabaikan perasaannya, semakin jelas pula kegelisahan itu hadir.
Sore itu latihan selesai lebih cepat.
Para siswa mulai membereskan perlengkapan.
Ketika Erika mengangkat beberapa lembar properti yang cukup besar, salah satunya terlepas dan hampir jatuh tertiup angin.
Arman dengan sigap menangkapnya.
"Hati-hati."
Erika tersenyum lega.
"Untung kamu cepat."
"Kalau tidak, tugas kita bisa rusak."
Mereka tertawa kecil.
Pemandangan sederhana itu kembali tertangkap oleh mata Junaidi.
Tidak ada sentuhan yang berlebihan.
Tidak ada kata-kata mesra.
Namun perhatian-perhatian kecil itu mulai terasa begitu berarti di matanya.
Rasa nyaman yang dulu ia rasakan kini perlahan berubah menjadi kegelisahan.
Dalam perjalanan pulang, Junaidi sengaja memperlambat langkahnya.
Biasanya ia berjalan berdampingan dengan Arman.
Namun sore itu ia memilih berjalan beberapa meter di belakang.
Arman yang menyadari hal itu menghentikan langkah.
"Jun."
"Iya?"
"Kok lambat?"
"Sepatuku sedikit longgar."
"Oh."
"Tunggu, aku temani."
"Tidak usah."
"Kamu duluan saja."
Arman memandang sahabatnya beberapa saat.
"Yakin?"
"Iya."
"Baiklah."
Arman kembali berjalan.
Beberapa menit kemudian ia menyusul Erika yang sedang berjalan bersama Meylina menuju gerbang sekolah.
Junaidi hanya memandangi mereka dari kejauhan.
Untuk pertama kalinya, ia merasa dirinya sedang tertinggal.
Bukan tertinggal langkah.
Melainkan tertinggal oleh keadaan yang perlahan berubah tanpa bisa ia hentikan.
Malam itu, hujan gerimis kembali turun membasahi Kota Kuala Kapuas.
Junaidi duduk sendirian di meja belajarnya.
Di depannya tergeletak buku kecil yang selama ini menjadi tempat ia menyimpan rahasia.
Ia membuka halaman baru.
Tangannya sempat berhenti beberapa saat sebelum akhirnya mulai menulis.
"Aku mulai takut kehilangan dua hal sekaligus. Jika aku mengungkapkan perasaanku kepada Erika, aku takut melukai persahabatan dengan Arman. Tetapi jika aku terus diam, mungkin suatu hari aku harus menyaksikan mereka saling mencintai di depan mataku sendiri."
Ia menutup buku itu perlahan.
Matanya menatap hujan di balik jendela.
Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa mencintai seseorang tidak selalu menghadirkan kebahagiaan.
Kadang cinta justru membawa seseorang berdiri di persimpangan yang sulit dipilih.
Di rumah Pak Hasan Basri, Arman sedang belajar seperti biasa.
Ia sama sekali tidak mengetahui bahwa sahabat yang paling dipercayainya sedang berjuang melawan perasaannya sendiri.
Sementara di rumahnya, Erika sibuk mempersiapkan tugas sekolah untuk esok hari.
Ia belum memahami bahwa tanpa disadari, kehadirannya telah menjadi ujian terbesar bagi persahabatan dua anak muda yang sama-sama tulus.
Malam itu, tiga hati menyimpan cerita yang berbeda.
Arman menyimpan harapan.
Erika menyimpan kenyamanan.
Sedangkan Junaidi menyimpan rahasia.
Rahasia yang semakin lama semakin berat dipikul.
Dan rahasia yang dipendam terlalu lama sering kali tidak berakhir menjadi rahasia.
Cepat atau lambat, ia akan menemukan jalannya sendiri untuk terungkap.
BAB VIII
Festival di Taman Adipura
Festival di Taman Adipura, Malam yang Penuh Cahaya
Memasuki bulan Agustus, suasana Kota Kuala Kapuas berubah menjadi lebih semarak.
Bendera Merah Putih berkibar hampir di setiap rumah, sekolah, kantor pemerintahan, hingga pertokoan di sepanjang Jalan Jenderal Ahmad Yani dan Jalan Tambun Bungai. Umbul-umbul berwarna merah dan putih menghiasi tepian jalan, sementara lampion-lampion kecil mulai dipasang di beberapa sudut kota.
Pemerintah Kabupaten Kapuas kembali menyelenggarakan Festival Taman Adipura, sebuah agenda tahunan yang selalu dinantikan masyarakat. Kawasan Taman Adipura, yang berada di Jalan Simpang Adipura—dahulu lebih dikenal masyarakat sebagai Jalan Simpang Camuh—disulap menjadi pusat hiburan rakyat.
Stan kuliner berjajar rapi.
Pelaku UMKM memamerkan berbagai hasil kerajinan.
Panggung utama berdiri megah di tengah taman, menampilkan pertunjukan seni budaya, musik daerah, tari tradisional Dayak, hingga penampilan pelajar dari berbagai sekolah di Kuala Kapuas.
Suasana malam itu dipenuhi cahaya lampu warna-warni yang memantul indah di antara pepohonan rindang.
Di SMK Negeri Kuala Kapuas, kelas X TKJ-A mendapat kesempatan untuk menghadiri festival tersebut sebagai bagian dari kegiatan apresiasi seni dan budaya.
Pak Budi Santoso dan Bu Ratna Wulandari ditunjuk sebagai guru pendamping.
"Anak-anak," ujar Pak Budi sebelum keberangkatan.
"Kalian boleh menikmati festival."
"Tapi tetap jaga sikap."
"Jangan berpencar terlalu jauh."
"Dan pukul sembilan malam kita sudah berkumpul kembali di pintu utama."
"Siap, Pak!" jawab seluruh siswa hampir bersamaan.
Sebuah bus sekolah membawa mereka menuju Taman Adipura.
Sepanjang perjalanan, suasana dipenuhi canda dan tawa.
Rizal Akbar kembali menjadi sumber hiburan.
Ia menirukan gaya beberapa guru dengan sangat lucu hingga membuat seluruh teman-temannya tertawa terbahak-bahak.
"Bisa-bisanya kamu hafal suara Pak Surya," kata Dimas Arya sambil mengusap air mata karena terlalu banyak tertawa.
"Itu bakat," jawab Rizal sambil membusungkan dada.
"Tapi jangan bilang ke Pak Surya."
Semua kembali tertawa.
Di tengah riuhnya perjalanan, Arman duduk di dekat jendela bus.
Ia memandang lampu-lampu kota yang mulai menyala.
Baginya, Kuala Kapuas memiliki pesonanya sendiri ketika malam datang.
Tidak sebesar kota-kota lain.
Namun terasa hangat dan akrab.
Seperti rumah kedua yang perlahan mulai ia cintai.
Sesampainya di Taman Adipura, para siswa dibuat terpukau oleh suasana festival.
Lampu-lampu gantung menghiasi jalan setapak.
Air mancur di tengah taman memantulkan cahaya berwarna-warni.
Alunan musik tradisional berpadu dengan suara pembawa acara dari panggung utama.
Anak-anak berlarian mengejar balon.
Keluarga-keluarga duduk menikmati pertunjukan.
Para pedagang menawarkan aneka makanan khas Kalimantan, mulai dari sate, soto Banjar, jagung bakar, pentol, hingga es kelapa muda.
"Wah... ramai sekali," ujar Meylina Safitri.
"Setiap tahun memang seramai ini," jawab Erika.
"Kamu sering datang ke sini?"
"Hampir setiap festival."
"Ayah dan Ibu biasanya mengajakku."
Arman memperhatikan wajah Erika yang tampak begitu bersemangat.
Ada sorot bahagia yang berbeda ketika gadis itu berada di tempat yang penuh dengan kenangan masa kecilnya.
"Kalau kamu, Man?" tanya Erika.
"Baru pertama kali."
"Bagaimana menurutmu?"
Arman mengedarkan pandangannya ke seluruh taman.
"Indah."
"Bukan hanya karena lampunya."
"Tapi karena semua orang terlihat bahagia."
Erika tersenyum.
"Itulah yang kusuka dari festival ini."
"Semua orang datang membawa cerita masing-masing."
Rombongan kemudian berjalan menyusuri setiap sudut taman.
Mereka berhenti di beberapa stan kerajinan.
Arman memperhatikan anyaman rotan yang dipamerkan oleh para perajin lokal.
Ia kagum melihat ketelitian tangan para pengrajin.
"Hebat ya," gumamnya.
Pak Budi yang berada di dekatnya tersenyum.
"Produk seperti ini adalah bagian dari kekayaan daerah."
"Kalau kita tidak menghargainya, siapa lagi?"
Arman mengangguk.
Ucapan gurunya itu ia simpan baik-baik dalam ingatan.
Menjelang pukul delapan malam, suara musik dari panggung utama mulai terdengar lebih meriah.
Panitia mengumumkan bahwa pertunjukan pelajar akan segera dimulai.
Ratusan pengunjung mulai berkumpul di depan panggung.
Lampu sorot dinyalakan.
Sorak-sorai penonton memenuhi udara malam.
Arman, Erika, Junaidi, dan teman-teman lainnya ikut mencari tempat yang cukup dekat dengan panggung agar dapat menyaksikan pertunjukan dengan jelas.
Mereka berdiri berdampingan.
Di tengah keramaian itu, tanpa disadari, Arman dan Erika kembali saling bertukar cerita kecil tentang lagu-lagu yang sedang dimainkan.
Sesekali mereka tertawa.
Sesekali mereka saling menunjukkan penampilan yang menurut mereka menarik.
Di sisi lain, Junaidi berdiri tidak jauh dari keduanya.
Ia ikut menikmati festival.
Namun malam itu, perhatiannya tidak sepenuhnya tertuju pada panggung.
Tatapannya beberapa kali beralih kepada Arman dan Erika.
Melihat keduanya tertawa bersama, ada sesuatu yang kembali mengusik hatinya.
Perasaan yang selama ini berusaha ia sembunyikan mulai muncul lagi.
Kali ini lebih kuat daripada sebelumnya.
Ia menarik napas panjang.
Mencoba menikmati kemeriahan festival.
Namun di tengah gemerlap lampu dan riuh tepuk tangan, ia mulai menyadari satu hal.
Tidak semua malam yang indah membawa kebahagiaan.
Karena terkadang, di balik cahaya yang paling terang, justru lahir bayangan yang paling gelap.
Dan tanpa disadari oleh siapa pun, Festival Taman Adipura malam itu akan menjadi awal dari perubahan besar dalam hubungan tiga anak muda yang selama ini tampak baik-baik saja.
Bersambung ke BAB VIII – Bagian 2: Sebuah Foto, Senyum yang Sama, dan Hati yang Mulai Terluka.
Festival di Taman Adipura, Malam yang Penuh Cahaya
Memasuki bulan Agustus, suasana Kota Kuala Kapuas berubah menjadi lebih semarak.
Bendera Merah Putih berkibar hampir di setiap rumah, sekolah, kantor pemerintahan, hingga pertokoan di sepanjang Jalan Jenderal Ahmad Yani dan Jalan Tambun Bungai. Umbul-umbul berwarna merah dan putih menghiasi tepian jalan, sementara lampion-lampion kecil mulai dipasang di beberapa sudut kota.
Pemerintah Kabupaten Kapuas kembali menyelenggarakan Festival Taman Adipura, sebuah agenda tahunan yang selalu dinantikan masyarakat. Kawasan Taman Adipura, yang berada di Jalan Simpang Adipura dahulu lebih dikenal masyarakat sebagai Jalan Simpang Camuh—disulap menjadi pusat hiburan rakyat.
Stan kuliner berjajar rapi.
Pelaku UMKM memamerkan berbagai hasil kerajinan.
Panggung utama berdiri megah di tengah taman, menampilkan pertunjukan seni budaya, musik daerah, tari tradisional Dayak, hingga penampilan pelajar dari berbagai sekolah di Kuala Kapuas.
Suasana malam itu dipenuhi cahaya lampu warna-warni yang memantul indah di antara pepohonan rindang.
Di SMK Negeri Kuala Kapuas, kelas X TKJ-A mendapat kesempatan untuk menghadiri festival tersebut sebagai bagian dari kegiatan apresiasi seni dan budaya.
Pak Budi Santoso dan Bu Ratna Wulandari ditunjuk sebagai guru pendamping.
"Anak-anak," ujar Pak Budi sebelum keberangkatan.
"Kalian boleh menikmati festival."
"Tapi tetap jaga sikap."
"Jangan berpencar terlalu jauh."
"Dan pukul sembilan malam kita sudah berkumpul kembali di pintu utama."
"Siap, Pak!" jawab seluruh siswa hampir bersamaan.
Sebuah bus sekolah membawa mereka menuju Taman Adipura.
Sepanjang perjalanan, suasana dipenuhi canda dan tawa.
Rizal Akbar kembali menjadi sumber hiburan.
Ia menirukan gaya beberapa guru dengan sangat lucu hingga membuat seluruh teman-temannya tertawa terbahak-bahak.
"Bisa-bisanya kamu hafal suara Pak Surya," kata Dimas Arya sambil mengusap air mata karena terlalu banyak tertawa.
"Itu bakat," jawab Rizal sambil membusungkan dada.
"Tapi jangan bilang ke Pak Surya."
Semua kembali tertawa.
Di tengah riuhnya perjalanan, Arman duduk di dekat jendela bus.
Ia memandang lampu-lampu kota yang mulai menyala.
Baginya, Kuala Kapuas memiliki pesonanya sendiri ketika malam datang.
Tidak sebesar kota-kota lain.
Namun terasa hangat dan akrab.
Seperti rumah kedua yang perlahan mulai ia cintai.
Sesampainya di Taman Adipura, para siswa dibuat terpukau oleh suasana festival.
Lampu-lampu gantung menghiasi jalan setapak.
Air mancur di tengah taman memantulkan cahaya berwarna-warni.
Alunan musik tradisional berpadu dengan suara pembawa acara dari panggung utama.
Anak-anak berlarian mengejar balon.
Keluarga-keluarga duduk menikmati pertunjukan.
Para pedagang menawarkan aneka makanan khas Kalimantan, mulai dari sate, soto Banjar, jagung bakar, pentol, hingga es kelapa muda.
"Wah... ramai sekali," ujar Meylina Safitri.
"Setiap tahun memang seramai ini," jawab Erika.
"Kamu sering datang ke sini?"
"Hampir setiap festival."
"Ayah dan Ibu biasanya mengajakku."
Arman memperhatikan wajah Erika yang tampak begitu bersemangat.
Ada sorot bahagia yang berbeda ketika gadis itu berada di tempat yang penuh dengan kenangan masa kecilnya.
"Kalau kamu, Man?" tanya Erika.
"Baru pertama kali."
"Bagaimana menurutmu?"
Arman mengedarkan pandangannya ke seluruh taman.
"Indah."
"Bukan hanya karena lampunya."
"Tapi karena semua orang terlihat bahagia."
Erika tersenyum.
"Itulah yang kusuka dari festival ini."
"Semua orang datang membawa cerita masing-masing."
Rombongan kemudian berjalan menyusuri setiap sudut taman.
Mereka berhenti di beberapa stan kerajinan.
Arman memperhatikan anyaman rotan yang dipamerkan oleh para perajin lokal.
Ia kagum melihat ketelitian tangan para pengrajin.
"Hebat ya," gumamnya.
Pak Budi yang berada di dekatnya tersenyum.
"Produk seperti ini adalah bagian dari kekayaan daerah."
"Kalau kita tidak menghargainya, siapa lagi?"
Arman mengangguk.
Ucapan gurunya itu ia simpan baik-baik dalam ingatan.
Menjelang pukul delapan malam, suara musik dari panggung utama mulai terdengar lebih meriah.
Panitia mengumumkan bahwa pertunjukan pelajar akan segera dimulai.
Ratusan pengunjung mulai berkumpul di depan panggung.
Lampu sorot dinyalakan.
Sorak-sorai penonton memenuhi udara malam.
Arman, Erika, Junaidi, dan teman-teman lainnya ikut mencari tempat yang cukup dekat dengan panggung agar dapat menyaksikan pertunjukan dengan jelas.
Mereka berdiri berdampingan.
Di tengah keramaian itu, tanpa disadari, Arman dan Erika kembali saling bertukar cerita kecil tentang lagu-lagu yang sedang dimainkan.
Sesekali mereka tertawa.
Sesekali mereka saling menunjukkan penampilan yang menurut mereka menarik.
Di sisi lain, Junaidi berdiri tidak jauh dari keduanya.
Ia ikut menikmati festival.
Namun malam itu, perhatiannya tidak sepenuhnya tertuju pada panggung.
Tatapannya beberapa kali beralih kepada Arman dan Erika.
Melihat keduanya tertawa bersama, ada sesuatu yang kembali mengusik hatinya.
Perasaan yang selama ini berusaha ia sembunyikan mulai muncul lagi.
Kali ini lebih kuat daripada sebelumnya.
Ia menarik napas panjang.
Mencoba menikmati kemeriahan festival.
Namun di tengah gemerlap lampu dan riuh tepuk tangan, ia mulai menyadari satu hal.
Tidak semua malam yang indah membawa kebahagiaan.
Karena terkadang, di balik cahaya yang paling terang, justru lahir bayangan yang paling gelap.
Dan tanpa disadari oleh siapa pun, Festival Taman Adipura malam itu akan menjadi awal dari perubahan besar dalam hubungan tiga anak muda yang selama ini tampak baik-baik saja.
Sebuah Foto, Senyum yang Sama, dan Hati yang Mulai Terluka
Malam di Taman Adipura semakin semarak.
Lampu-lampu warna-warni yang menggantung di antara pepohonan memancarkan cahaya hangat, sementara alunan musik dari panggung utama berpadu dengan riuh tawa para pengunjung.
Festival semakin ramai.
Anak-anak berlarian membawa balon.
Pasangan muda menikmati suasana malam.
Para pedagang sibuk melayani pembeli yang terus berdatangan.
Di salah satu sudut taman, panitia menyediakan sebuah area swafoto yang dihiasi miniatur ikon Kota Kuala Kapuas, rangkaian bunga, serta tulisan besar bertuliskan "Festival Taman Adipura Kabupaten Kapuas".
Tempat itu menjadi favorit para pengunjung.
Hampir setiap beberapa menit terdengar suara kamera dan tawa orang-orang yang mengabadikan momen.
"Ayo kita foto bersama!"
Rizal Akbar berteriak sambil melambaikan tangan.
"Kalau tidak sekarang nanti antre."
Semua siswa langsung berkumpul.
Pak Budi Santoso yang sedari tadi memperhatikan mereka tersenyum.
"Baik."
"Sekali saja."
"Setelah itu lanjut menikmati festival."
Seluruh siswa kelas X TKJ-A berdiri berjajar.
Ada yang berjongkok di depan.
Ada yang berdiri di belakang.
Seorang panitia membantu mengambil gambar menggunakan telepon genggam milik Raka Firmansyah.
"Satu..."
"Dua..."
"Tiga..."
"Senyum!"
Kilatan lampu kamera menyala.
Foto pertama berhasil diabadikan.
Namun Rizal belum puas.
"Lagi, Pak!"
"Yang tadi aku merem."
Semua tertawa.
Pak Budi hanya menggeleng sambil tersenyum.
"Baik."
"Satu kali lagi."
Kamera kembali berbunyi.
Kali ini semua tampak tersenyum lepas.
Mereka belum mengetahui bahwa foto sederhana itu kelak akan menjadi salah satu kenangan paling berharga dalam masa sekolah mereka.
Setelah foto bersama selesai, rombongan kembali berpencar.
Sebagian menuju stan kuliner.
Sebagian melihat pameran kerajinan.
Arman dan Erika tanpa sengaja berhenti di depan sebuah stan yang menjual buku-buku karya penulis lokal Kalimantan.
Arman mengambil sebuah novel.
"Aku suka membaca cerita seperti ini."
Erika ikut melihat sampul buku tersebut.
"Kamu memang suka membaca?"
"Iya."
"Sejak SMP."
"Kalau ada waktu luang, aku lebih senang membaca daripada bermain."
Erika tersenyum.
"Pantas."
"Pantas apa?"
"Caramu berbicara berbeda."
Arman tertawa kecil.
"Berbeda bagaimana?"
"Lebih tenang."
"Seperti tokoh-tokoh di dalam buku."
Arman menggeleng sambil tersenyum malu.
"Mungkin karena terlalu banyak membaca."
Mereka kemudian berpindah ke stan lain yang menjual kerajinan tangan.
Sesekali mereka berdiskusi mengenai berbagai barang yang dipamerkan.
Percakapan mereka mengalir begitu alami.
Tidak dibuat-buat.
Seolah keduanya telah saling mengenal sejak lama.
Tidak jauh dari sana, Junaidi berjalan bersama Rizal.
Namun beberapa kali pandangannya tertuju ke arah Arman dan Erika.
"Kamu lihat apa?" tanya Rizal.
"Tidak ada."
"Kok dari tadi melihat ke sana terus?"
Junaidi tersenyum tipis.
"Hanya melihat-lihat."
Rizal tidak menaruh curiga.
Ia justru sibuk membeli minuman dingin di salah satu kios.
Sementara Junaidi tetap berdiri.
Ia melihat Arman dan Erika tertawa ketika mencoba sebuah permainan sederhana di salah satu stan.
Tawa itu terdengar begitu lepas.
Begitu tulus.
Dan justru karena itulah hati Junaidi mulai terasa sesak.
Ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa semua itu hanyalah persahabatan.
Namun semakin lama ia memperhatikan, semakin sulit pula ia mengabaikan kenyataan bahwa Arman dan Erika tampak semakin dekat.
"Jun!"
Suara Meylina membuyarkan lamunannya.
"Ayo sini."
"Kita foto lagi."
"Kali ini per kelompok."
Junaidi menghampiri.
Mereka kembali berkumpul.
Kali ini hanya beberapa teman dekat.
Arman berdiri di sebelah kiri.
Erika berada di tengah.
Sedangkan Junaidi berdiri di sebelah kanan.
Ketika kamera akan mengambil gambar, fotografer meminta mereka sedikit mendekat agar semua masuk ke dalam bingkai.
Tanpa sengaja, bahu Arman dan Erika saling bersentuhan.
Keduanya spontan saling menoleh.
Lalu tersenyum kecil.
Kilatan kamera kembali menyala.
Momen itu terekam begitu saja.
Hanya sepersekian detik.
Namun bagi Junaidi, senyum yang mereka berikan satu sama lain terasa jauh lebih lama daripada bunyi kamera itu sendiri.
Usai berfoto, Erika memperlihatkan hasilnya kepada teman-teman.
"Bagus ya."
"Iya."
"Semuanya tersenyum."
Rizal menunjuk wajahnya sendiri.
"Yang paling ganteng tetap aku."
"Cermin dulu!" sahut Dimas.
Tawa kembali pecah.
Hanya Junaidi yang ikut tersenyum tanpa benar-benar larut dalam kegembiraan.
Ia memandangi foto itu beberapa saat.
Di sana, Arman dan Erika tampak berdiri berdampingan.
Senyum keduanya terlihat begitu alami.
Tidak dibuat-buat.
Tidak dipaksakan.
Sebuah senyum yang lahir karena rasa nyaman.
Dan justru itulah yang perlahan membuat hati Junaidi terluka.
Festival masih berlangsung.
Musik masih dimainkan.
Lampu-lampu masih berkilauan.
Orang-orang masih tertawa menikmati malam.
Namun bagi Junaidi, suasana telah berubah.
Gemerlap lampu tidak lagi terasa seindah beberapa jam sebelumnya.
Ia mulai menyadari bahwa perasaannya kepada Erika bukan lagi sekadar kekaguman sesaat.
Perasaan itu telah tumbuh menjadi sesuatu yang lebih dalam.
Sesuatu yang semakin sulit ia sembunyikan.
Sementara Arman dan Erika sama sekali tidak menyadari pergulatan batin yang sedang dialami sahabat mereka.
Mereka tetap menikmati festival dengan hati yang ringan.
Tanpa mengetahui bahwa sebuah foto sederhana malam itu telah menjadi saksi bisu lahirnya luka pertama di hati seseorang.
Luka yang belum terlihat.
Belum terucap.
Namun perlahan mulai mengubah arah persahabatan mereka.
Dan malam itu, di bawah cahaya lampu Taman Adipura, takdir diam-diam mulai menulis babak baru yang tidak lagi hanya dipenuhi tawa.
Malam yang Meninggalkan Luka Pertama
Festival Taman Adipura mencapai puncak kemeriahan.
Jam dinding di panggung utama menunjukkan hampir pukul sembilan malam. Sorot lampu berwarna-warni menari di atas panggung, mengiringi penampilan grup musik pelajar yang membawakan lagu-lagu bertema persahabatan dan masa muda.
Ratusan pasang mata tertuju ke arah panggung.
Tepuk tangan dan sorak-sorai bergema setiap kali sebuah penampilan berakhir.
Di sela-sela keramaian itu, Arman, Erika, Junaidi, Rizal, Meylina, Raka, Dimas, Nanda, dan teman-teman lainnya berdiri bersama menikmati pertunjukan terakhir malam itu.
Angin malam berembus pelan.
Udara terasa lebih sejuk dibandingkan sore tadi.
Dari kejauhan, aroma jagung bakar dan kopi hangat masih terbawa hingga ke tengah taman.
Suasana begitu indah.
Namun tidak semua hati menikmati keindahan itu dengan perasaan yang sama.
Di tengah pertunjukan, pembawa acara mengajak seluruh pengunjung menyalakan lampu telepon genggam sebagai simbol harapan bagi generasi muda.
Seketika, ribuan titik cahaya memenuhi Taman Adipura.
Lampu-lampu kecil bergoyang mengikuti irama lagu.
Pemandangan itu begitu memukau.
Erika menatap langit malam.
"Indah sekali."
Arman mengangguk.
"Seperti bintang yang turun ke bumi."
Erika tersenyum.
"Kamu selalu bisa menemukan kata-kata yang puitis."
Arman tertawa kecil.
"Bukan puitis."
"Hanya mengatakan apa yang kulihat."
"Kalau begitu..."
Erika kembali memandang hamparan cahaya di depan mereka.
"...aku berharap suatu hari nanti kita tetap mengingat malam ini."
Arman tidak menjawab.
Namun dalam hati, ia menyimpan kalimat itu sebagai salah satu kenangan yang paling berharga.
Tak jauh dari mereka, Junaidi berdiri dengan tangan terlipat di depan dada.
Tatapannya sesekali beralih dari panggung menuju Arman dan Erika.
Ia mendengar setiap percakapan kecil yang terjadi di antara keduanya.
Bukan percakapan tentang cinta.
Bukan pula janji.
Hanya obrolan ringan yang dipenuhi senyum.
Akan tetapi, justru kesederhanaan itulah yang membuat dadanya terasa sesak.
Ia mulai bertanya pada dirinya sendiri.
"Mengapa aku tidak pernah bisa membuat Erika tersenyum seperti itu?"
Pertanyaan tersebut terus berputar di dalam benaknya.
Ia mencoba mengusirnya.
Namun semakin ditolak, semakin kuat pula ia kembali.
Selesai pertunjukan, Pak Budi Santoso meniup peluit kecil sebagai tanda seluruh siswa harus berkumpul.
"Anak-anak!"
"Ayo, kita kembali ke bus."
"Jangan ada yang tertinggal."
"Siap, Pak!" jawab para siswa.
Mereka mulai berjalan menuju pintu keluar taman.
Di tengah keramaian, seorang anak kecil yang berlari tanpa sengaja menabrak Erika.
Gadis itu kehilangan keseimbangan.
Hampir saja ia terjatuh.
Refleks, Arman meraih lengan Erika agar tidak terjatuh ke trotoar.
"Kamu tidak apa-apa?"
Erika mengangguk cepat.
"Tidak apa-apa."
"Terima kasih."
"Iya."
"Hati-hati."
Peristiwa itu hanya berlangsung beberapa detik.
Namun semua terjadi tepat di depan mata Junaidi.
Ia menyaksikan bagaimana Arman tanpa berpikir panjang langsung menolong Erika.
Ia juga melihat sorot mata Erika yang penuh rasa percaya kepada Arman.
Junaidi menundukkan kepala.
Untuk pertama kalinya, ia merasakan sesuatu yang benar-benar menyakitkan.
Bukan karena Arman berbuat salah.
Bukan pula karena Erika sengaja melukai perasaannya.
Melainkan karena ia sadar bahwa perasaan tidak pernah bisa dipaksa memilih kepada siapa hati akan berlabuh.
Perjalanan pulang di dalam bus berlangsung jauh lebih tenang.
Sebagian siswa tertidur karena kelelahan.
Sebagian lagi masih membicarakan penampilan yang mereka saksikan di festival.
Rizal tetap menjadi penghidup suasana dengan candaan-candaannya.
Namun malam itu, Junaidi lebih banyak memandang keluar jendela.
Lampu-lampu Jalan Tambun Bungai melintas satu per satu.
Sesekali bayangan pepohonan menyapu kaca bus.
Di sampingnya, Arman duduk sambil memandangi foto-foto yang baru saja diambil.
"Bagus ya."
"Iya."
"Kenangan masa sekolah."
Junaidi menjawab singkat.
"Iya."
Arman tersenyum.
"Nanti kalau kita sudah lulus..."
"...foto-foto ini pasti jadi cerita."
Junaidi memandang wajah sahabatnya.
Ada ketulusan yang selalu ia kenal sejak pertama mereka bertemu.
Arman tidak pernah berniat menyakitinya.
Tidak pernah pula bersikap sombong.
Justru karena itulah hati Junaidi semakin bimbang.
Bagaimana mungkin ia harus bersaing dengan sahabat yang begitu baik?
Malam semakin larut ketika bus berhenti di halaman sekolah.
Para siswa berpamitan kepada guru pendamping sebelum pulang ke rumah masing-masing.
Erika sempat menghampiri Arman.
"Terima kasih."
"Hari ini menyenangkan."
Arman tersenyum.
"Iya."
"Aku juga senang."
Mereka saling mengucapkan selamat malam.
Kemudian berjalan menuju arah yang berbeda.
Dari kejauhan, Junaidi memperhatikan semuanya.
Ia tidak lagi merasa marah.
Yang ia rasakan hanyalah kesedihan yang perlahan memenuhi ruang di dalam hatinya.
Kesedihan karena menyadari bahwa sejak malam itu, ia tidak lagi hanya mencintai Erika.
Ia juga mulai takut kehilangan persahabatan yang selama ini menjadi bagian terpenting dalam hidupnya.
Sesampainya di rumah, Junaidi membuka kembali buku kecil tempat ia menyimpan semua isi hatinya.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia menulis sebuah kalimat.
"Malam ini aku belajar bahwa luka pertama tidak selalu lahir dari penolakan. Kadang luka muncul ketika kita menyadari bahwa seseorang mulai berjalan semakin dekat dengan orang lain, sementara kita hanya mampu melihatnya dari kejauhan."
Ia menutup buku itu perlahan.
Di luar jendela, langit Kuala Kapuas kembali sunyi.
Lampu-lampu kota masih menyala.
Namun bagi Junaidi, malam itu terasa jauh lebih gelap daripada biasanya.
Festival yang seharusnya menjadi malam penuh kegembiraan justru meninggalkan luka pertama di dalam hatinya.
Luka yang masih kecil.
Masih disimpan rapat.
Namun perlahan mulai mengubah cara ia memandang Arman, Erika, dan persahabatan yang selama ini begitu ia banggakan.
Takdir telah menorehkan garis pertama.
Dan dari garis kecil itulah, retakan-retakan yang lebih besar perlahan akan mulai terbentuk.
BAB IX
Retak di Antara Persahabatan
Senyum yang Mulai Berubah
Festival di Taman Adipura telah berlalu.
Namun kenangan tentang malam penuh cahaya itu masih menjadi bahan pembicaraan di lingkungan SMK Negeri Kuala Kapuas. Foto-foto kebersamaan mulai beredar di grup kelas. Ada yang mengunggahnya ke media sosial, ada pula yang mencetaknya untuk ditempel di mading sekolah.
Setiap kali melihat foto-foto itu, sebagian besar siswa hanya mengenang tawa dan kebersamaan.
Tetapi tidak bagi Junaidi.
Di balik setiap senyum yang terekam dalam foto itu, ia selalu menemukan sosok Arman dan Erika yang berdiri berdampingan.
Dan setiap kali melihatnya, ada sesuatu di dalam hatinya yang perlahan berubah.
Pagi itu, halaman sekolah masih basah oleh embun.
Mentari baru saja muncul di balik pepohonan yang tumbuh di sepanjang Jalan Tambun Bungai. Burung-burung pipit beterbangan di halaman sekolah, sementara para siswa mulai berdatangan satu per satu.
Arman datang lebih awal seperti biasanya.
Ia memarkir sepeda kayuhnya, lalu berjalan menuju kelas sambil membawa beberapa buku pelajaran.
Tak lama kemudian, Junaidi datang dengan sepeda motornya.
"Selamat pagi, Jun."
"Pagi."
Jawaban itu terdengar singkat.
Tidak sedatar biasanya, tetapi juga tidak sehangat hari-hari sebelumnya.
Arman memperhatikan sahabatnya beberapa saat.
"Kamu sudah sarapan?"
"Sudah."
"Bagaimana kabar Ibumu?"
"Baik."
"Ladang ayahmu bagaimana?"
"Alhamdulillah."
Setiap pertanyaan dijawab seperlunya.
Tidak lebih.
Arman mulai merasa ada yang berbeda.
Bukan pada ucapan Junaidi.
Melainkan pada caranya berbicara.
Ada jarak yang perlahan tumbuh.
Sangat tipis.
Hampir tidak terlihat.
Namun cukup terasa bagi seorang sahabat.
Di dalam kelas, suasana kembali ramai.
Pak Surya Hadi belum datang sehingga para siswa memanfaatkan waktu untuk berbincang.
Rizal Akbar kembali menjadi pusat perhatian.
Ia menceritakan pengalamannya tersesat ketika pulang dari Festival Taman Adipura.
"Kalian tahu?"
"Aku hampir ikut bus sekolah lain."
"Hahaha..."
"Untung ada satpam yang menegur."
Seluruh kelas tertawa.
Bahkan Pak Surya yang baru masuk ke kelas pun ikut tersenyum mendengar cerita itu.
Suasana kembali cair.
Namun di tengah tawa teman-temannya, Junaidi hanya tersenyum tipis.
Ia tidak lagi banyak menanggapi candaan seperti biasanya.
Saat jam istirahat, Arman mengajak Junaidi ke kantin.
"Ayo."
"Kita makan."
"Kamu dulu saja."
"Loh?"
"Aku mau ke perpustakaan sebentar."
"Sendirian?"
"Iya."
Arman mengangguk.
"Baiklah."
Ia tidak memaksa.
Baginya, setiap orang memang membutuhkan waktu untuk sendiri.
Namun tanpa ia sadari, alasan Junaidi bukan karena ingin membaca buku.
Ia hanya ingin menghindari kemungkinan duduk satu meja bersama Arman dan Erika.
Di kantin sekolah, Erika sudah lebih dahulu datang bersama Meylina dan Nanda.
Melihat Arman datang sendirian, Erika bertanya,
"Junaidi mana?"
"Katanya ke perpustakaan."
"Oh."
"Biasanya kalian selalu bersama."
Arman tersenyum kecil.
"Iya."
"Mungkin sedang ada yang dipikirkan."
Erika mengangguk pelan.
"Semoga tidak ada masalah."
"Amin."
Percakapan itu sederhana.
Namun tanpa sengaja terdengar oleh Junaidi yang baru keluar dari perpustakaan dan melewati koridor menuju halaman belakang.
Ia berhenti sesaat.
Mendengar Erika menanyakan dirinya, ada rasa hangat yang sempat muncul di dalam hati.
Tetapi ketika melihat Erika kembali tersenyum kepada Arman, perasaan itu kembali berubah menjadi kegelisahan.
Ia memilih berjalan menjauh.
Sore harinya, pelajaran olahraga dilaksanakan di lapangan sekolah.
Para siswa dibagi menjadi dua kelompok untuk bermain bola voli.
Seperti biasa, Arman dan Junaidi berada dalam satu tim.
Permainan berlangsung seru.
Sorak-sorai terdengar dari teman-teman yang menonton.
Pada sebuah kesempatan, Arman berhasil menyelamatkan bola yang hampir keluar lapangan.
"Bagus, Man!"
teriak Rizal.
Junaidi sebenarnya memiliki kesempatan memberikan umpan balik kepada Arman.
Namun entah mengapa, ia memilih mengembalikan bola ke arah lain.
Permainan tetap berlanjut.
Tidak ada yang menganggapnya aneh.
Hanya Arman yang sempat merasa sedikit heran.
Biasanya mereka selalu saling memahami ketika bermain.
Hari itu, koordinasi mereka terasa berbeda.
Usai pertandingan, Arman menghampiri sahabatnya.
"Capek?"
"Iya."
"Mainmu tadi agak berbeda."
"Mungkin kurang fokus."
Junaidi menjawab sambil mengusap keringat.
Arman mengangguk.
Ia kembali menerima jawaban itu tanpa rasa curiga.
Menjelang pulang sekolah, Arman dan Junaidi kembali berjalan menuju tempat parkir.
Langkah mereka berdampingan.
Namun percakapan yang biasanya mengisi perjalanan kini hampir tidak ada.
Keheningan justru lebih banyak menemani.
Di tengah jalan, Arman berhenti.
"Jun."
"Iya?"
"Kalau aku punya salah..."
"...tolong bilang."
Junaidi menatap sahabatnya.
Sorot mata Arman tetap sama.
Jujur.
Tulus.
Tanpa prasangka.
Junaidi tersenyum.
Untuk pertama kalinya hari itu, senyumnya terlihat sedikit lebih lebar.
"Kamu tidak punya salah."
"Yakin?"
"Iya."
"Hanya saja..."
Ia menggantungkan kalimatnya.
"Hanya apa?"
Junaidi menggeleng.
"Tidak apa-apa."
"Nanti saja."
Arman menepuk pelan bahu sahabatnya.
"Kalau sudah siap bercerita, aku akan mendengarkan."
"Seperti biasanya."
Junaidi mengangguk.
"Terima kasih."
Dalam perjalanan pulang, Junaidi terus memikirkan ucapan Arman.
Sahabatnya benar-benar tidak mengetahui apa yang sedang terjadi.
Ia bahkan masih menawarkan tempat untuk berbagi cerita.
Hal itu justru membuat hati Junaidi semakin berat.
Ia mulai menyadari bahwa bukan Arman yang berubah.
Yang berubah adalah dirinya sendiri.
Senyum yang dulu selalu lahir dengan tulus kini mulai dipenuhi keraguan.
Tatapan yang dulu penuh persahabatan kini mulai dibayangi perasaan yang tidak pernah ia harapkan.
Dan tanpa ia sadari, retakan pertama dalam persahabatan mereka tidak muncul karena kebencian.
Retakan itu lahir dari sebuah cinta yang memilih tumbuh pada waktu dan tempat yang tidak seharusnya.
Kesalahpahaman yang Mulai Menjadi Jarak
Hari-hari setelah Festival Taman Adipura berjalan lebih lambat bagi Junaidi.
Ia masih datang ke sekolah tepat waktu.
Masih mengikuti pelajaran dengan baik.
Masih mengerjakan tugas bersama teman-teman.
Namun ada satu hal yang perlahan berubah.
Ia mulai menjaga jarak.
Bukan hanya dari Erika.
Melainkan juga dari Arman.
Jarak itu tidak tampak oleh orang lain.
Tidak ada pertengkaran.
Tidak ada suara tinggi.
Tidak ada saling menyalahkan.
Hanya percakapan yang semakin singkat dan kebersamaan yang mulai berkurang.
Suatu pagi, Pak Surya Hadi memberikan tugas praktik jaringan komputer di laboratorium.
Seluruh siswa diminta bekerja secara berpasangan.
Seperti biasa, Arman dan Junaidi berada dalam satu kelompok.
Mereka telah lama menjadi pasangan yang paling kompak di kelas.
Arman bertugas memasang konfigurasi perangkat.
Junaidi memeriksa sambungan kabel dan melakukan pengujian.
Pekerjaan mereka hampir selesai ketika tiba-tiba koneksi komputer mengalami gangguan.
"Jun, coba periksa kabel LAN yang di belakang."
"Iya."
Junaidi memeriksa sekilas.
"Sudah benar."
Arman mencoba kembali.
Namun jaringan masih belum tersambung.
"Aneh."
"Biasanya langsung berhasil."
Arman kembali memeriksa konfigurasi satu per satu.
Beberapa menit kemudian ia menemukan penyebabnya.
Salah satu ujung kabel ternyata belum benar-benar terkunci pada port jaringan.
Ia memasangnya kembali.
Komputer langsung terhubung.
"Oh..."
"Ini penyebabnya."
Junaidi menoleh.
"Maaf."
"Tadi mungkin aku kurang teliti."
Arman tersenyum.
"Tidak apa-apa."
"Bisa terjadi pada siapa saja."
Kalimat itu diucapkan dengan tulus.
Namun entah mengapa, di telinga Junaidi terdengar seperti rasa iba.
Padahal Arman sama sekali tidak bermaksud demikian.
Sejak hatinya dipenuhi kegelisahan, hampir setiap hal kecil mulai ia tafsirkan secara berbeda.
Jam istirahat tiba.
Seluruh siswa keluar menuju kantin.
Arman sengaja membeli dua gelas es teh seperti biasanya.
Satu untuk dirinya.
Satu lagi untuk Junaidi.
"Ini."
"Buatmu."
Junaidi menerima gelas itu.
"Terima kasih."
Namun tidak lama kemudian, Erika datang sambil membawa beberapa lembar kertas.
"Man."
"Ini catatan Bahasa Indonesia yang kemarin kamu pinjam."
"Oh iya."
"Terima kasih."
"Kebetulan ketemu di sini."
Arman menerima buku itu sambil tersenyum.
"Terima kasih banyak."
"Sama-sama."
Erika kemudian kembali ke meja Meylina.
Percakapan itu hanya berlangsung sebentar.
Tetapi cukup membuat Junaidi kembali tenggelam dalam pikirannya.
Ia mulai merasa bahwa Arman dan Erika memiliki begitu banyak kesempatan untuk saling berbicara.
Sementara dirinya semakin sering menjadi orang ketiga.
Padahal kenyataannya tidak demikian.
Arman sama sekali tidak pernah menjauhkan Junaidi.
Justru ia berkali-kali mengajaknya tetap bersama.
Namun hati yang telah dipenuhi prasangka sering kali melihat kenyataan melalui sudut pandang yang berbeda.
Sepulang sekolah, Arman menghampiri Junaidi yang sedang mengenakan helm.
"Jun."
"Iya?"
"Besok hari Sabtu."
"Iya."
"Aku mau ke perpustakaan daerah."
"Mau ikut?"
Biasanya, tanpa berpikir panjang, Junaidi pasti mengiyakan.
Mereka sering menghabiskan akhir pekan membaca buku atau mengerjakan tugas bersama.
Namun kali ini berbeda.
"Aku tidak bisa."
"Ada acara?"
"Iya."
"Acara keluarga."
"Oh."
"Kalau begitu lain kali saja."
"Iya."
Padahal sebenarnya tidak ada acara apa pun.
Junaidi hanya ingin menghindari kemungkinan bertemu dengan Erika.
Sebab ia tahu, Erika juga sering mengunjungi perpustakaan daerah pada akhir pekan.
Kebohongan kecil itu terasa ringan ketika diucapkan.
Namun setelah meninggalkan sekolah, justru hatinya menjadi semakin berat.
Keesokan harinya, Arman benar-benar pergi ke perpustakaan daerah.
Tanpa diduga, ia bertemu Erika yang sedang mencari beberapa buku sastra.
"Arman?"
"Eh, Erika."
"Kamu juga ke sini?"
"Iya."
"Mencari referensi."
"Aku juga."
Mereka kemudian duduk di meja baca yang sama.
Membahas buku, pelajaran, dan rencana mengikuti lomba karya tulis tingkat sekolah.
Semuanya berlangsung wajar.
Sebagai dua siswa yang sama-sama menyukai membaca, mereka memang memiliki banyak topik untuk dibicarakan.
Di waktu yang hampir bersamaan, Junaidi sebenarnya sedang melintas di depan gedung perpustakaan menggunakan sepeda motornya.
Ia tidak berniat masuk.
Namun ketika melihat sepeda Arman terparkir di halaman, rasa penasarannya muncul.
Ia memarkir sepeda motornya beberapa meter dari pintu masuk.
Dari balik jendela kaca perpustakaan, ia melihat Arman dan Erika sedang duduk berdampingan membaca buku.
Tidak ada yang salah.
Tidak ada sikap yang melampaui batas.
Mereka hanya berdiskusi tentang pelajaran.
Tetapi pemandangan itu cukup membuat dada Junaidi terasa sesak.
Tanpa masuk ke dalam, ia segera menghidupkan kembali sepeda motornya.
Mesin menderu pelan.
Ia melaju meninggalkan perpustakaan.
Semakin jauh roda berputar, semakin banyak pula pertanyaan yang memenuhi pikirannya.
"Apakah aku sudah terlambat?"
"Apakah Erika memang lebih nyaman bersama Arman?"
"Kalau begitu... apakah aku sebaiknya menyerah?"
Tak satu pun pertanyaan itu memiliki jawaban.
Sore harinya, Arman mengirim pesan singkat kepada Junaidi.
Arman: "Tadi aku ke perpustakaan. Sayang kamu tidak jadi ikut. Banyak buku baru."
Beberapa menit kemudian, balasan datang.
Junaidi: "Iya. Maaf."
Hanya dua kata.
Tidak lebih.
Arman membaca pesan itu beberapa kali.
Ia semakin yakin bahwa sahabatnya sedang menyimpan sesuatu.
Namun ia tetap memilih menunggu.
Ia percaya, persahabatan dibangun bukan hanya dengan berbicara.
Tetapi juga dengan memberi ruang ketika seseorang belum siap membuka isi hatinya.
Sementara itu, Junaidi memandang layar telepon genggamnya yang mulai redup.
Ia sebenarnya ingin menceritakan semuanya.
Tentang perasaannya.
Tentang kegelisahannya.
Tentang rasa takut kehilangan.
Namun setiap kali ingin memulai, bayangan wajah Arman selalu muncul.
Sahabat yang selama ini selalu menolongnya.
Sahabat yang tidak pernah sekalipun berkhianat.
Dan justru karena itulah, Junaidi memilih terus memendam semuanya.
Ia tidak menyadari bahwa diam yang terlalu lama sering kali melahirkan kesalahpahaman yang semakin besar.
Jarak yang semula hanya selebar langkah perlahan berubah menjadi dinding yang mulai sulit ditembus.
Dan di balik dinding itu, benih-benih pengkhianatan mulai tumbuh tanpa disadari.
Pilihan Hati yang Mengubah Segalanya
Waktu terus berjalan.
Musim penghujan mulai berganti dengan hari-hari yang lebih cerah. Pepohonan di sepanjang Jalan Jenderal Ahmad Yani kembali menghijau, sementara aktivitas di SMK Negeri Kuala Kapuas semakin padat menjelang ujian semester.
Kesibukan itu seharusnya membuat para siswa lebih fokus belajar.
Namun bagi Arman, Junaidi, dan Erika, ada pelajaran lain yang diam-diam sedang berlangsung.
Pelajaran tentang hati.
Pelajaran yang tidak pernah tertulis di buku mana pun.
Suatu pagi, Bu Ratna Wulandari mengumumkan bahwa sekolah akan mengikuti Lomba Karya Tulis Ilmiah Tingkat Kabupaten Kapuas.
Setiap kelas diminta mengirimkan satu tim yang terdiri atas tiga orang.
Kepala kelas segera mengadakan musyawarah kecil.
Hampir seluruh siswa sepakat menunjuk Arman sebagai ketua tim.
"Arman paling teliti."
"Iya."
"Dia juga rajin membaca."
Usulan itu diterima tanpa perdebatan.
Kemudian muncul pertanyaan berikutnya.
"Siapa anggota timnya?"
Rizal mengangkat tangan.
"Menurutku Erika cocok."
"Kalau soal menyusun laporan, dia rapi."
Beberapa siswa mengangguk setuju.
Lalu Dimas menambahkan,
"Satu lagi Junaidi."
"Dia jago mencari data."
Keputusan itu akhirnya disepakati.
Tanpa disadari, takdir kembali mempertemukan tiga hati yang sedang berada dalam keadaan rumit.
Sepulang sekolah, mereka berkumpul di perpustakaan untuk membahas tema karya tulis.
Arman membuka buku catatannya.
"Kita harus memilih tema yang dekat dengan kehidupan masyarakat."
Erika mengangguk.
"Bagaimana kalau tentang pelestarian lingkungan?"
"Boleh."
"Tapi harus ada sesuatu yang berbeda."
Junaidi yang sedari tadi diam akhirnya berbicara.
"Bagaimana kalau tentang pengelolaan sampah di kawasan bantaran Sungai Kapuas?"
Arman langsung menoleh.
"Itu ide yang bagus."
"Kita bisa melakukan observasi langsung."
Erika tersenyum.
"Aku setuju."
Untuk sesaat, suasana kembali seperti dulu.
Mereka berdiskusi.
Saling melengkapi pendapat.
Bekerja sama tanpa beban.
Melihat itu, Arman merasa lega.
Ia mengira hubungan mereka mulai kembali seperti semula.
Namun ketenangan itu ternyata hanya bertahan sesaat.
Menjelang sore, pembahasan selesai.
Ketika hendak pulang, hujan turun cukup deras.
Mereka berteduh di teras perpustakaan.
"Sepertinya hujannya lama," ujar Erika.
"Iya," sahut Arman.
"Kita tunggu saja."
Beberapa menit berlalu.
Hujan belum juga reda.
Arman melihat Erika menggigil pelan karena angin yang berembus cukup kencang.
Ia membuka tasnya, lalu mengeluarkan jaket tipis yang biasa dipakainya saat bersepeda.
"Pakai saja."
Erika menggeleng.
"Nanti kamu kedinginan."
"Tidak apa-apa."
"Aku masih kuat."
Setelah beberapa kali menolak, akhirnya Erika menerima jaket itu.
"Terima kasih."
Arman hanya tersenyum.
Semua dilakukan dengan tulus, sebagaimana ia akan membantu siapa pun yang membutuhkan.
Namun dari sisi lain teras, Junaidi menyaksikan kejadian itu dengan hati yang semakin berat.
Ia menggenggam erat tali tasnya.
Ada keinginan untuk melakukan hal yang sama.
Tetapi kesempatan itu telah lebih dahulu diambil Arman.
Dalam perjalanan pulang, Junaidi tidak banyak berbicara.
Sesampainya di rumah, ia duduk lama di beranda.
Langit mulai berubah jingga.
Suara azan Magrib berkumandang dari musala kampung.
Ia memandang hamparan langit tanpa benar-benar melihatnya.
Ibunya, Bu Marni, keluar membawa secangkir teh hangat.
"Kamu kelihatan murung akhir-akhir ini."
Junaidi tersenyum tipis.
"Tidak apa-apa, Bu."
"Kalau ada masalah, jangan dipendam."
"Ibu tahu."
"Tidak semua beban harus dipikul sendirian."
Junaidi mengangguk pelan.
Namun ia tetap memilih diam.
Bagaimana mungkin ia menjelaskan bahwa beban itu bernama cinta kepada sahabatnya sendiri?
Malam harinya, Arman menghubungi Junaidi melalui telepon.
"Jun."
"Iya."
"Besok kita jadi survei ke bantaran Sungai Kapuas?"
"Jadi."
"Jam delapan?"
"Iya."
Beberapa detik kemudian Arman berkata,
"Terima kasih ya."
"Untuk apa?"
"Karena idemu tentang karya tulis."
"Aku yakin kita bisa menang kalau bekerja sama."
Ucapan itu membuat Junaidi terdiam.
Arman masih mempercayainya sepenuhnya.
Masih menganggapnya sebagai sahabat terbaik.
Perasaan bersalah kembali menyelinap di dalam dadanya.
Setelah percakapan berakhir, ia memejamkan mata cukup lama.
Keesokan harinya, sebelum berangkat ke sekolah, Junaidi mengambil sebuah keputusan di dalam hatinya.
Ia tidak sanggup terus berada dalam keadaan seperti ini.
Perasaannya kepada Erika semakin kuat.
Tetapi ia juga tidak ingin menghancurkan persahabatannya dengan Arman.
Di depan cermin kecil di kamarnya, ia berbisik pelan kepada dirinya sendiri.
"Aku harus memilih."
"Tetap menjadi sahabat yang menyimpan semua perasaan..."
"...atau memperjuangkan cinta yang mungkin tidak pernah menjadi milikku."
Pilihan itu belum ia ucapkan kepada siapa pun.
Belum pula ia wujudkan dalam tindakan.
Namun sejak detik itulah, arah hidup Junaidi mulai berubah.
Keputusan yang perlahan tumbuh di dalam hatinya akan menjadi titik balik yang mengubah hubungan tiga anak muda itu.
Bukan hari ini.
Bukan besok.
Tetapi dalam waktu yang tidak lama lagi.
Karena ketika hati dipaksa memilih antara cinta dan persahabatan, selalu ada satu hal yang harus dikorbankan.
Dan takdir, seperti biasa, tidak pernah meminta izin sebelum mengubah jalan kehidupan seseorang.
BAB X
Kelulusan yang Tidak Membawa Kepastian
Hari Kelulusan yang Dinanti, Kepastian yang Tak Pernah Datang
Waktu berjalan begitu cepat.
Tanpa terasa, tiga tahun telah berlalu sejak Arman Maulana pertama kali menginjakkan kaki di SMK Negeri Kuala Kapuas sebagai seorang remaja desa yang penuh rasa ingin tahu. Banyak hal telah ia pelajari selama menempuh pendidikan. Bukan hanya ilmu tentang gambar teknik, jaringan komputer, dan administrasi proyek, tetapi juga pelajaran tentang persahabatan, pengorbanan, serta perasaan yang perlahan tumbuh menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.
Kini, mereka berada di penghujung masa sekolah.
Ujian akhir telah selesai dilaksanakan.
Suasana sekolah yang biasanya dipenuhi kesibukan belajar kini berubah menjadi hari-hari penuh penantian.
Seluruh siswa menunggu satu hal yang sama.
Pengumuman kelulusan.
Pagi itu, langit Kuala Kapuas tampak cerah.
Matahari bersinar lembut setelah semalam hujan membasahi kota. Jalan Tambun Bungai mulai dipadati kendaraan. Para orang tua, siswa, dan guru berdatangan ke sekolah dengan wajah yang dipenuhi harapan.
Di halaman SMK Negeri Kuala Kapuas, sebuah panggung sederhana telah disiapkan.
Kursi-kursi berjajar rapi.
Spanduk bertuliskan "Pengumuman Kelulusan dan Pelepasan Peserta Didik Kelas XII" terbentang di belakang panggung.
Arman datang bersama ayahnya, Hasan Basri.
Lelaki sederhana dari Desa Sriwidadi itu mengenakan kemeja putih yang sudah beberapa tahun hanya dipakai pada acara-acara penting.
Di sampingnya berjalan Siti Aminah, ibu Arman, dengan senyum yang tidak pernah lepas sejak berangkat dari rumah.
"Bapak bangga sama kamu, Man," ucap Hasan Basri sambil menepuk bahu putranya.
"Apapun hasilnya nanti."
Arman tersenyum.
"Terima kasih, Pak."
"Semua ini juga karena doa Bapak dan Ibu."
Hasan Basri hanya mengangguk.
Matanya berkaca-kaca.
Ia teringat perjuangan bertahun-tahun membiayai sekolah anaknya dari hasil bertani dan berkebun.
Tidak pernah mudah.
Tetapi hari itu, semua lelah terasa seolah menemukan maknanya.
Tak lama kemudian, Erika Maheswari datang bersama kedua orang tuanya.
Ayahnya, Hendra Maheswara, bekerja sebagai staf administrasi pada sebuah perusahaan jasa konstruksi di Kuala Kapuas.
Sementara ibunya, Lilis Handayani, adalah seorang guru taman kanak-kanak.
Melihat Arman, Erika tersenyum hangat.
"Selamat pagi."
"Pagi."
"Semoga hari ini menjadi hari yang baik."
"Amin."
Percakapan mereka masih berlangsung senatural seperti biasa.
Tidak ada kata-kata tentang cinta.
Tidak ada janji.
Namun di balik senyum yang mereka tukarkan, tersimpan harapan-harapan yang belum sempat diucapkan.
Beberapa menit kemudian, Junaidi datang.
Ia berjalan bersama kedua orang tuanya.
Pak Rahmat Hidayat dan Bu Marni tampak bangga melihat putra mereka mengenakan seragam putih abu-abu untuk terakhir kalinya.
Arman segera menghampiri.
"Jun."
"Selamat pagi."
"Pagi."
Mereka berjabat tangan.
Masih seperti sahabat.
Namun tidak lagi sehangat dahulu.
Perubahan itu begitu halus sehingga hampir tidak disadari oleh orang-orang di sekitar mereka.
Hanya mereka berdua yang memahami bahwa ada sesuatu yang perlahan mengubah hubungan persahabatan itu.
Acara pelepasan dimulai.
Kepala sekolah menyampaikan sambutan tentang perjuangan para siswa selama tiga tahun terakhir.
Beliau berpesan agar seluruh lulusan tidak berhenti belajar, apa pun keadaan ekonomi keluarga mereka.
"Kesuksesan," ucap beliau,
"bukan ditentukan oleh tempat kita dilahirkan."
"Tetapi oleh keberanian kita memperjuangkan mimpi."
Kalimat itu menggema di dalam hati Arman.
Ia teringat kembali pada sawah-sawah di Desa Sriwidadi.
Pada jalan tanah yang setiap pagi ia lalui ketika masih bersekolah di desa.
Pada wajah kedua orang tuanya yang tak pernah lelah bekerja demi masa depannya.
Ia menggenggam tangan ibunya dengan pelan.
Siti Aminah membalas genggaman itu sambil tersenyum.
Tibalah saat yang paling dinanti.
Pengumuman kelulusan.
Nama-nama siswa dipanggil satu per satu.
Mereka maju ke atas panggung menerima map kelulusan dan bersalaman dengan para guru.
"Arman Maulana."
Suara pembawa acara menggema.
Arman berdiri.
Langkahnya mantap menuju panggung.
Ia menerima map kelulusannya dengan kedua tangan.
Kepala sekolah menjabat tangannya erat.
"Selamat."
"Teruslah belajar."
"Jangan berhenti bermimpi."
"Siap, Pak."
Arman menundukkan kepala dengan hormat.
Tepuk tangan menggema memenuhi aula.
Tak lama kemudian terdengar nama berikutnya.
"Erika Maheswari."
Disusul,
"Junaidi Pratama."
Ketiganya lulus dengan hasil yang sangat memuaskan.
Guru-guru memberikan ucapan selamat.
Teman-teman saling berpelukan.
Sebagian tertawa.
Sebagian lainnya menitikkan air mata.
Hari itu seharusnya menjadi hari yang penuh kebahagiaan.
Setelah acara resmi selesai, para siswa berkumpul di halaman sekolah.
Mereka saling bertukar tanda tangan pada buku kenangan.
Berfoto bersama guru.
Mengabadikan momen yang mungkin tidak akan terulang lagi.
Rizal Akbar masih seperti biasanya.
Ia berusaha menghidupkan suasana dengan candaan.
Namun di balik tawa itu, semua mulai menyadari bahwa mereka akan segera menempuh jalan hidup masing-masing.
Arman memandang halaman sekolah yang selama tiga tahun menjadi saksi begitu banyak cerita.
Di sinilah ia menemukan sahabat.
Di sinilah ia mengenal cinta pertamanya.
Dan di sinilah pula ia belajar bahwa tidak semua perasaan memperoleh jawaban secepat yang diharapkan.
Hari kelulusan akhirnya tiba.
Mimpi untuk menyelesaikan sekolah telah menjadi kenyataan.
Namun satu hal yang paling ingin diketahui Arman justru belum menemukan kepastian.
Hubungannya dengan Erika masih berada di antara persahabatan dan cinta.
Belum ada satu pun dari mereka yang berani mengucapkan apa yang sebenarnya mereka rasakan.
Di sisi lain, Junaidi masih memendam perasaannya sendiri.
Rahasia itu tetap tersimpan rapat di balik senyum yang semakin sulit dimengerti.
Kelulusan telah memberi mereka selembar ijazah.
Tetapi tidak memberikan jawaban atas pertanyaan terbesar yang selama ini tumbuh di dalam hati mereka.
Dan justru setelah hari itulah, kehidupan akan membawa mereka menuju persimpangan yang jauh lebih rumit daripada bangku sekolah.
Perpisahan di Gerbang Sekolah dan Janji yang Tak Pernah Terucap
Suasana haru masih menyelimuti halaman SMK Negeri Kuala Kapuas.
Setelah acara pelepasan resmi berakhir, para siswa belum juga beranjak pulang. Mereka seolah ingin memperlambat waktu, menikmati setiap detik terakhir sebagai pelajar yang selama tiga tahun tumbuh bersama dalam ruang-ruang kelas yang sama.
Di setiap sudut sekolah, terdengar tawa yang bercampur isak tangis.
Ada yang sibuk berfoto bersama guru.
Ada yang meminta tanda tangan di buku kenangan.
Ada pula yang saling berpelukan, seakan enggan menerima kenyataan bahwa mulai esok hari mereka tidak lagi datang ke sekolah yang sama.
Langit Kuala Kapuas tampak cerah.
Angin siang berembus lembut, menggoyangkan daun-daun ketapang yang berjajar di halaman sekolah.
Suasana itu terasa begitu damai.
Namun di balik ketenangan siang itu, hati beberapa orang justru dipenuhi kegelisahan.
Arman berdiri di depan ruang kelas XII TKJ.
Pandangannya menyapu setiap sudut ruangan.
Bangku-bangku kayu yang selama ini menjadi tempat mereka belajar masih tersusun rapi.
Papan tulis putih di depan kelas masih dipenuhi sisa tulisan guru pada pelajaran terakhir.
Jendela-jendela terbuka lebar.
Angin membawa aroma tanah yang baru saja disiram petugas kebersihan.
Semuanya tampak biasa.
Namun bagi Arman, tempat itu tidak lagi sekadar ruang belajar.
Di sanalah ia bertemu Junaidi.
Di sanalah ia pertama kali melihat Erika duduk di bangku nomor delapan.
Dan di sanalah kisah masa remajanya perlahan mulai ditulis oleh takdir.
"Masih betah di sini?"
Suara lembut itu membuat Arman menoleh.
Erika berdiri di ambang pintu kelas sambil membawa map kelulusan di tangannya.
Arman tersenyum.
"Sepertinya aku belum siap meninggalkan tempat ini."
Erika melangkah masuk.
"Aku juga."
Mereka berdiri berdampingan memandangi ruang kelas yang mulai kosong.
"Aneh ya," ujar Erika pelan.
"Tiga tahun terasa cepat sekali."
"Iya."
"Padahal dulu waktu MOS rasanya lama sekali."
Keduanya tertawa kecil.
Kenangan demi kenangan kembali berputar dalam ingatan mereka.
Tentang tugas kelompok.
Tentang belajar bersama di perpustakaan.
Tentang hujan yang mempertemukan mereka di bawah satu payung.
Tentang senja di Dermaga KP3.
Dan tentang Festival Taman Adipura yang masih menyimpan banyak cerita.
Di luar kelas, Junaidi berdiri di koridor bersama Rizal Akbar.
Rizal sedang sibuk membubuhkan tanda tangan di buku kenangan milik teman-temannya.
"Jun."
"Kamu belum masuk ke kelas?"
"Tidak."
"Nanti saja."
Rizal mengikuti arah pandangan Junaidi.
Dari kejauhan, ia melihat Arman dan Erika sedang berbincang di dalam kelas.
"Oh..."
Rizal mengangguk pelan.
Ia mulai memahami sesuatu yang selama ini luput dari perhatiannya.
Tanpa banyak bicara, ia menepuk bahu Junaidi.
"Ayo."
"Kita ke kantin dulu."
Junaidi menggeleng.
"Kamu saja."
"Aku di sini sebentar."
Rizal tidak memaksa.
Ia meninggalkan sahabatnya itu dengan perasaan yang mulai dipenuhi tanda tanya.
Di dalam kelas, percakapan Arman dan Erika berlanjut.
"Setelah ini..."
Erika memecah keheningan.
"...kamu mau melanjutkan kuliah?"
Arman mengangguk.
"Aku sedang menunggu hasil seleksi Bidikmisi."
"Kalau diterima, aku akan kuliah di Banjarmasin."
"Wah..."
Erika tersenyum.
"Aku ikut senang."
"Kamu pasti bisa."
"Terima kasih."
"Lalu kamu sendiri?"
"Aku masih ingin kuliah."
"Tapi mungkin di Kuala Kapuas dulu."
"Ayah dan Ibu ingin aku tetap dekat rumah."
Arman mengangguk.
Dalam hati, ia sedikit kecewa.
Ia baru menyadari bahwa setelah hari itu, jarak mungkin akan memisahkan mereka.
Namun ia memilih menyimpan perasaan itu sendiri.
Di halaman sekolah, para siswa mulai berpamitan kepada guru.
Satu demi satu kendaraan meninggalkan area parkir.
Suasana yang semula ramai perlahan berubah lengang.
Hasan Basri dan Siti Aminah sudah menunggu Arman di dekat gerbang.
"Man."
"Iya, Pak."
"Kita pulang?"
"Sebentar lagi."
Arman mengangguk.
Ia menoleh ke arah bangunan sekolah untuk terakhir kalinya.
Saat itulah Erika berjalan menghampirinya.
"Arman."
"Iya?"
"Terima kasih."
"Untuk apa?"
"Untuk tiga tahun ini."
"Kamu sudah menjadi teman yang sangat baik."
Arman tersenyum.
"Justru aku yang harus berterima kasih."
"Karena sudah banyak membantuku."
Beberapa detik mereka saling terdiam.
Ada begitu banyak kalimat yang ingin diucapkan.
Tentang rasa yang diam-diam tumbuh.
Tentang harapan yang belum sempat diberi nama.
Tentang keinginan untuk tetap bersama.
Namun tak satu pun kata itu berhasil keluar dari bibir mereka.
Keheningan justru berbicara lebih banyak daripada ucapan.
Tak jauh dari sana, Junaidi memperhatikan semuanya.
Ia melihat Arman dan Erika berjabat tangan.
Hanya sebentar.
Sangat wajar.
Sebagaimana dua sahabat yang sedang berpamitan.
Namun pemandangan itu cukup membuat dadanya kembali dipenuhi kegelisahan.
Ia menundukkan kepala.
Lalu berjalan menuju sepeda motornya tanpa menghampiri mereka.
Arman sempat melihat kepergian Junaidi.
"Jun!"
teriaknya.
Namun suara kendaraan yang mulai memenuhi jalan membuat panggilannya tenggelam.
Junaidi hanya mengangkat tangan tanpa menoleh.
Kemudian melaju meninggalkan sekolah.
Arman memandang kepergian sahabatnya dengan perasaan yang sulit dijelaskan.
Ia merasa ada sesuatu yang hilang.
Tetapi belum mengetahui apa penyebabnya.
Beberapa menit kemudian, Arman dan keluarganya bersiap pulang menuju Desa Sriwidadi.
Sebelum naik ke sepeda motor, ia kembali menoleh ke arah gerbang sekolah.
Di sana, Erika masih berdiri bersama kedua orang tuanya.
Tatapan mereka kembali bertemu.
Erika melambaikan tangan.
Arman membalas lambaian itu dengan senyum yang hangat.
Tidak ada janji.
Tidak ada ucapan untuk saling menunggu.
Tidak ada pengakuan tentang cinta yang selama ini tumbuh perlahan di antara mereka.
Yang ada hanyalah harapan yang sama-sama disimpan dalam diam.
Harapan bahwa suatu hari nanti, jika takdir masih mengizinkan, mereka akan dipertemukan kembali.
Motor yang dikendarai Hasan Basri perlahan meninggalkan halaman sekolah.
Gerbang SMK Negeri Kuala Kapuas semakin jauh di belakang.
Arman tidak menyadari bahwa lambaian tangan sederhana siang itu akan menjadi perpisahan terpanjang dalam hidupnya.
Perpisahan yang tidak disertai kepastian.
Tidak pula diiringi janji.
Hanya menyisakan ruang kosong di hati dua insan yang sama-sama memilih diam.
Dan terkadang, justru kata-kata yang tidak pernah terucap menjadi kenangan yang paling sulit dilupakan.
Jalan yang Berbeda, Rindu yang Tetap Tinggal
Hari-hari setelah kelulusan terasa berbeda.
Tidak ada lagi bunyi bel yang memecah kesunyian pagi.
Tidak ada lagi tugas yang harus dikumpulkan sebelum jam pelajaran dimulai.
Tidak ada lagi suara Pak Surya Hadi yang mengingatkan agar para siswa tidak terlambat masuk kelas.
Bangku-bangku di SMK Negeri Kuala Kapuas kini telah ditempati oleh adik-adik kelas yang baru.
Sementara Arman, Erika, dan Junaidi mulai menapaki jalan kehidupan yang berbeda.
Mereka telah menyelesaikan satu babak penting dalam hidup.
Namun tak seorang pun mengetahui bahwa babak berikutnya akan jauh lebih rumit.
Arman kembali ke Desa Sriwidadi.
Rumah sederhana yang dikelilingi hamparan sawah dan kebun itu kembali menjadi tempatnya menunggu kepastian masa depan.
Pagi hari ia membantu ayahnya, Hasan Basri, membersihkan lahan pertanian.
Sesekali ia ikut memanen sayuran dan memperbaiki pagar kebun yang mulai lapuk.
Sore harinya, ia membantu ibunya, Siti Aminah, menyiram tanaman bunga yang tumbuh di halaman rumah.
Meski kembali menjalani kehidupan desa, semangat Arman untuk melanjutkan pendidikan tidak pernah padam.
Setiap malam ia membuka kembali buku-buku pelajaran.
Ia juga beberapa kali pergi ke kantor desa untuk memanfaatkan jaringan internet yang tersedia guna memeriksa pengumuman seleksi Program Bidikmisi yang telah lama dinantikannya.
Hasan Basri sering memperhatikan putranya belajar hingga larut malam.
"Man."
"Iya, Pak."
"Kalau nanti belum berhasil..."
"...jangan berkecil hati."
"Kita masih bisa mencari jalan lain."
Arman menutup bukunya.
"Insyaallah, Pak."
"Aku akan terus berusaha."
Hasan Basri mengangguk.
Ia mengenal betul tekad anak sulungnya.
Sejak kecil, Arman tidak pernah mudah menyerah.
Sementara itu, di Kuala Kapuas, Erika mulai membantu kedua orang tuanya.
Sesekali ia membantu ibunya mengajar anak-anak di taman kanak-kanak tempat Bu Lilis Handayani mengabdikan diri.
Di waktu lain, ia membantu ayahnya menyusun dokumen administrasi sederhana yang dibawa pulang dari kantor.
Namun di sela-sela kesibukan itu, pikirannya masih sering kembali kepada masa-masa di SMK.
Beberapa kali ia membuka album foto di telepon genggamnya.
Di sana tersimpan foto-foto ketika mereka belajar bersama, mengikuti Festival Taman Adipura, hingga momen kelulusan.
Tatapannya berhenti cukup lama pada satu foto.
Foto ketika seluruh siswa kelas XII berdiri di halaman sekolah.
Arman berada beberapa langkah di sampingnya.
Tanpa sadar, senyum kecil terlukis di wajah Erika.
"Sedang lihat apa?"
Suara ibunya membuat ia sedikit terkejut.
"Oh..."
"Foto waktu kelulusan."
Bu Lilis ikut melihat layar telepon itu.
"Teman-temanmu pasti sudah mulai sibuk mempersiapkan masa depan."
"Iya, Bu."
"Ada yang mau kuliah."
"Ada juga yang langsung bekerja."
"Kamu sendiri?"
Erika menarik napas pelan.
"Aku juga ingin kuliah."
"Tapi kalau belum bisa..."
"...aku ingin bekerja dulu sambil membantu Ayah."
Ibunya mengusap lembut bahu putrinya.
"Jangan khawatir."
"Setiap orang memiliki waktunya masing-masing."
Di sisi lain kota, Junaidi juga mulai membantu usaha kecil milik keluarganya.
Ayahnya, Rahmat Hidayat, memiliki bengkel sepeda motor sederhana yang menjadi sumber penghasilan keluarga.
Setiap pagi, Junaidi membantu memperbaiki kendaraan pelanggan.
Tangannya mulai terbiasa memegang kunci pas, obeng, dan peralatan mekanik lainnya.
Kesibukan itu sedikit demi sedikit mengurangi waktu yang ia habiskan untuk memikirkan Erika.
Namun hanya sedikit.
Karena setiap kali telepon genggamnya berbunyi dan grup kelas mengirimkan foto-foto lama, semua kenangan itu kembali hadir.
Suatu sore, Rizal Akbar datang berkunjung ke bengkel.
"Jun."
"Masih sibuk?"
"Iya."
"Bantu Ayah."
Rizal duduk di bangku kayu sambil memperhatikan sahabatnya bekerja.
"Man tadi mengirim kabar."
Junaidi menghentikan pekerjaannya.
"Kabar apa?"
"Katanya masih menunggu hasil Bidikmisi."
"Oh."
"Mudah-mudahan diterima."
"Iya."
Rizal tersenyum.
"Kita doakan saja."
Junaidi mengangguk.
Di balik hatinya, ia benar-benar berharap Arman berhasil.
Meski perasaannya kepada Erika belum berubah, ia tidak pernah menginginkan kegagalan bagi sahabatnya.
Konflik di dalam dirinya bukan tentang kebencian.
Melainkan tentang ketidakmampuan menerima kenyataan bahwa mereka mencintai perempuan yang sama.
Hari berganti minggu.
Minggu berganti bulan.
Hubungan ketiganya mulai dibatasi oleh jarak dan kesibukan masing-masing.
Pesan-pesan singkat di grup kelas semakin jarang.
Pertemuan yang dulu hampir setiap hari kini berubah menjadi kenangan.
Suatu malam, Arman duduk di beranda rumahnya di Desa Sriwidadi.
Langit tampak cerah.
Bintang-bintang memenuhi angkasa.
Angin dari arah Sungai Kapuas membawa kesejukan yang menenangkan.
Ia membuka buku catatan kecil yang selalu ia bawa sejak masih sekolah.
Di halaman terakhir, ia menulis:
"Ada jalan yang harus kutempuh untuk menggapai cita-cita. Tetapi semakin jauh langkah ini berjalan, semakin kusadari bahwa ada seseorang yang tetap tinggal di dalam hati. Entah apakah waktu akan mempertemukan kami kembali, atau justru menjadikan semua ini hanya sebagai kenangan masa muda."
Arman menutup buku itu perlahan.
Ia tidak mengetahui bahwa pada malam yang sama, di Kuala Kapuas, Erika juga sedang memandang langit dari teras rumahnya.
Sementara beberapa kilometer dari sana, Junaidi duduk sendirian di depan bengkel yang telah tutup, memikirkan masa depan yang mulai membawa mereka ke arah yang berbeda.
Tiga anak muda.
Tiga jalan kehidupan.
Tiga hati yang menyimpan harapan masing-masing.
Takdir mulai memisahkan langkah mereka.
Namun rindu tidak pernah mengenal jarak.
Ia tetap tinggal.
Diam.
Tumbuh perlahan di dalam hati masing-masing.
Dan tanpa mereka sadari, sebuah kabar baik akan segera datang kepada Arman.
Kabar yang akan mengubah seluruh arah kehidupannya.
Kabar yang akan membawanya meninggalkan Desa Sriwidadi menuju sebuah kota baru, tempat mimpi-mimpinya akan kembali diuji.
BAB XI
Langit Baru di Banjarmasin
Langit Baru di Banjarmasin
Fajar baru saja menyingsing di Desa Sriwidadi.
Kabut tipis masih menggantung di atas hamparan sawah yang menguning. Burung-burung pipit beterbangan dari satu rumpun padi ke rumpun lainnya, sementara embun masih menempel di ujung dedaunan. Seperti biasanya, kehidupan desa dimulai dengan kesederhanaan yang menenangkan.
Namun pagi itu berbeda.
Di rumah Hasan Basri, suasana dipenuhi perasaan yang sulit dijelaskan.
Di ruang tamu sederhana, sebuah koper berwarna hitam telah terletak di dekat pintu. Di atasnya tersusun beberapa buku, map berisi dokumen, pakaian, dan sebuah mushaf Al-Qur'an yang sengaja disiapkan Siti Aminah untuk putra sulungnya.
Hari itu, Arman Maulana akan meninggalkan kampung halamannya.
Bukan untuk bekerja.
Melainkan untuk mengejar mimpi yang telah lama ia perjuangkan.
Beberapa hari sebelumnya, sebuah surat elektronik dari panitia seleksi telah mengubah arah hidupnya.
Arman dinyatakan lulus sebagai penerima Beasiswa Bidikmisi dan diterima sebagai mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia di salah satu perguruan tinggi negeri di Banjarmasin.
Ketika pertama kali membaca pengumuman itu melalui komputer di kantor Desa Sriwidadi, tangannya sempat bergetar.
Ia membaca nama dan nomor pesertanya berulang kali.
Takut jika matanya keliru.
Namun hasilnya tetap sama.
Namanya benar-benar tercantum sebagai penerima beasiswa.
Air matanya jatuh tanpa mampu ia tahan.
Bertahun-tahun belajar dengan tekun, membantu orang tua di sawah, dan memupuk mimpi dalam diam, akhirnya menemukan jawaban.
Sepulang dari kantor desa, ia memeluk kedua orang tuanya.
Hasan Basri tidak banyak berbicara.
Lelaki sederhana itu hanya menepuk bahu anaknya dengan mata yang mulai memerah.
"Alhamdulillah."
"Itu rezeki dari Allah."
"Jaga amanah itu baik-baik."
Sementara Siti Aminah tak kuasa membendung air mata.
Ia memeluk putranya erat.
"Belajarlah yang sungguh-sungguh."
"Jangan pernah malu karena berasal dari desa."
Arman mengangguk.
"Insyaallah, Bu."
"Aku akan membawa nama baik keluarga dan Desa Sriwidadi."
Pagi keberangkatan itu, beberapa tetangga datang untuk mengantar.
Pak Karsiman, Ketua RT, memberikan pelukan hangat.
"Kami bangga padamu, Man."
"Jarang ada anak kampung kita yang bisa kuliah dengan beasiswa."
"Jangan lupakan desa ini."
Arman tersenyum hormat.
"Insyaallah tidak, Pak."
"Justru aku ingin kembali suatu hari nanti membawa ilmu."
Bu Warti, tetangga yang sejak kecil mengenalnya, menyelipkan sebungkus kue tradisional ke dalam tas Arman.
"Buat bekal di perjalanan."
"Nanti kalau lapar, jangan sungkan dimakan."
"Terima kasih, Bu."
Kehangatan warga Sriwidadi membuat suasana perpisahan terasa semakin mengharukan.
Desa itu mungkin sederhana.
Namun di sanalah Arman belajar arti keluarga, kebersamaan, dan gotong royong.
Nilai-nilai yang akan selalu ia bawa ke mana pun ia pergi.
Perjalanan menuju Banjarmasin dimulai.
Hasan Basri mengantar Arman hingga terminal keberangkatan.
Sepanjang perjalanan menuju Kuala Kapuas, keduanya lebih banyak diam.
Sesekali mereka memandangi aliran Sungai Kapuas yang mengiringi jalan.
Hamparan pepohonan, rumah-rumah panggung, dan aktivitas masyarakat di tepian sungai perlahan tertinggal di belakang.
Setibanya di terminal, bus antarkota tujuan Banjarmasin telah bersiap berangkat.
Suara kondektur memanggil para penumpang.
Arman mengangkat kopernya.
Sebelum naik, ia menyalami ayahnya.
Hasan Basri memeluk putranya erat.
Pelukan yang sederhana.
Namun penuh kekuatan.
"Ingat, Man."
"Iya, Pak."
"Jangan pernah berhenti salat."
"Jangan sombong kalau nanti berhasil."
"Dan jangan menyerah kalau menghadapi kesulitan."
Arman mengangguk sambil menahan air mata.
"Semua pesan Bapak akan selalu kuingat."
Bus mulai menyalakan mesin.
Arman melangkah masuk.
Dari balik jendela, ia melihat ayahnya masih berdiri melambaikan tangan.
Sosok lelaki yang selama ini menjadi alasan terbesar mengapa ia tidak boleh gagal.
Perjalanan menuju Banjarmasin memakan waktu berjam-jam.
Di sepanjang jalan, Arman memandang keluar jendela.
Hamparan hutan, sungai, perkebunan, dan perkampungan silih berganti melewati pandangannya.
Sesekali ia membuka buku kecil yang selalu menemaninya sejak masa SMK.
Di halaman baru, ia menulis:
"Hari ini aku meninggalkan desa yang membesarkanku. Aku tidak tahu seperti apa kehidupan di kota nanti. Tetapi aku percaya, setiap langkah yang diniatkan untuk menuntut ilmu akan selalu menemukan jalannya sendiri."
Ia menutup buku itu.
Kemudian memejamkan mata sejenak.
Namun di balik semangatnya mengejar masa depan, ada satu wajah yang tiba-tiba hadir di dalam ingatannya.
Erika.
Sudah hampir dua bulan mereka tidak bertemu.
Sesekali mereka hanya saling mengirim pesan singkat untuk menanyakan kabar.
Tidak lebih.
Tidak ada pembicaraan tentang perasaan.
Tidak ada janji untuk saling menunggu.
Tetapi entah mengapa, sebelum bus memasuki wilayah Kalimantan Selatan, Arman membuka kembali telepon genggamnya.
Ia membaca percakapan terakhir dengan Erika.
Pesan itu sederhana.
Erika: "Semoga kuliahnya lancar. Jangan lupa pulang kalau libur."
Arman tersenyum kecil.
Lalu mengetik balasan.
Arman: "Terima kasih. Doakan aku bisa menyelesaikan kuliah dengan baik."
Pesan itu terkirim.
Tak lama kemudian muncul balasan.
Erika: "Pasti bisa. Aku percaya."
Hanya dua kalimat.
Namun cukup membuat perjalanan panjang itu terasa sedikit lebih hangat.
Menjelang sore, bus akhirnya memasuki Kota Banjarmasin.
Deretan bangunan bertingkat, jalan-jalan yang lebih padat, serta lalu lintas yang jauh lebih ramai menyambut kedatangannya.
Arman menarik napas panjang.
Di hadapannya terbentang dunia yang benar-benar baru.
Kota yang belum pernah ia kenal sebelumnya.
Kota yang akan menjadi saksi perjuangannya sebagai seorang mahasiswa.
Ia tidak mengetahui bahwa di kota inilah takdir telah menyiapkan kisah baru.
Kisah tentang mimpi yang semakin tinggi.
Tentang persahabatan yang berbeda.
Tentang seorang perempuan bernama Alina, yang kelak akan mengajarkan kepadanya bahwa tidak semua cinta pertama menjadi cinta terakhir.
Dan di bawah langit baru bernama Banjarmasin, perjalanan Arman Maulana baru saja benar-benar dimulai.
Kota Seribu Sungai dan Kehidupan Seorang Mahasiswa
Sore mulai merambat ketika bus yang ditumpangi Arman Maulana memasuki jantung Kota Banjarmasin.
Deretan bangunan pertokoan, lalu lintas yang padat, serta suara klakson kendaraan menjadi pemandangan yang sangat berbeda dibandingkan suasana tenang Desa Sriwidadi maupun Kota Kuala Kapuas. Di beberapa sudut kota, sungai-sungai kecil membelah permukiman warga. Perahu-perahu bermotor atau klotok masih hilir mudik mengangkut penumpang dan barang, seolah menjadi denyut kehidupan yang tak pernah berhenti.
Arman memandang semua itu dari balik kaca bus.
Dalam hati ia berbisik,
"Inilah Kota Seribu Sungai."
Kota yang selama ini hanya ia kenal dari cerita para guru dan buku pelajaran, kini terbentang nyata di hadapannya.
Bus berhenti di terminal.
Arman turun sambil menenteng koper hitam dan tas ransel yang berisi beberapa buku kesayangannya.
Udara sore terasa lebih hangat.
Keramaian terminal membuatnya sedikit gugup.
Ia belum mengenal siapa pun di kota ini.
Namun sebelum berangkat, pihak kampus telah mengirimkan informasi mengenai asrama mahasiswa penerima Beasiswa Bidikmisi yang dapat ditempatinya selama semester pertama.
Setelah bertanya kepada petugas terminal, Arman menaiki angkutan kota menuju kawasan kampus.
Sepanjang perjalanan, matanya tak henti-hentinya memandangi wajah kota.
Ia melihat pasar tradisional yang ramai, deretan rumah makan khas Banjar, jembatan-jembatan yang membentang di atas sungai, hingga aktivitas masyarakat yang begitu dinamis.
Semuanya terasa asing.
Tetapi sekaligus menghadirkan semangat baru.
Menjelang Magrib, Arman tiba di asrama mahasiswa.
Bangunan itu tidak terlalu besar, tetapi tampak bersih dan tertata rapi.
Di halaman depan, beberapa mahasiswa baru sedang menurunkan barang bawaan mereka.
Seorang petugas administrasi menyambut kedatangannya.
"Selamat datang."
"Nama?"
"Arman Maulana."
Petugas membuka daftar penghuni.
"Desa Sriwidadi, Kabupaten Kapuas?"
"Iya, Pak."
"Selamat."
"Kamu mendapat kamar di lantai dua."
"Terima kasih."
Arman menerima kunci kamar dan beberapa lembar panduan kehidupan asrama.
Ia menaiki tangga perlahan.
Kamar nomor 208 menjadi tempat tinggal barunya.
Ruangan itu sederhana.
Terdapat dua tempat tidur, dua meja belajar, sebuah lemari pakaian, dan jendela yang menghadap ke halaman belakang.
Belum lama ia meletakkan koper, pintu kamar diketuk dari luar.
"Permisi."
Seorang pemuda bertubuh tinggi masuk sambil membawa tas besar.
"Halo."
"Aku teman sekamarmu."
Namanya Farhan Rizqullah.
Mahasiswa asal Barabai yang diterima di Program Studi Teknik Sipil.
Senyumnya ramah.
Cara bicaranya tenang.
Dalam beberapa menit saja, mereka sudah saling memperkenalkan diri.
"Pertama kali ke Banjarmasin?"
"Iya."
"Aku juga."
"Berarti kita sama-sama belajar beradaptasi."
Arman mengangguk sambil tersenyum.
Rasa gugup yang sejak tadi menyelimuti dirinya mulai berkurang.
Hari-hari pertama sebagai mahasiswa dipenuhi berbagai kegiatan.
Mulai dari registrasi ulang, pengenalan kampus, pengurusan kartu mahasiswa, hingga orientasi akademik.
Arman mengikuti semuanya dengan penuh semangat.
Ia selalu datang lebih awal.
Mencatat setiap informasi yang disampaikan dosen.
Dan tidak pernah ragu bertanya ketika ada hal yang belum dipahaminya.
Di sela-sela kegiatan orientasi, ia mulai mengenal banyak mahasiswa dari berbagai daerah di Kalimantan.
Ada yang berasal dari Banjarbaru, Martapura, Hulu Sungai Selatan, Kotabaru, Balikpapan, Sampit, hingga Palangka Raya.
Masing-masing membawa cerita dan latar belakang kehidupan yang berbeda.
Arman menyadari bahwa dunia kini jauh lebih luas daripada yang pernah ia bayangkan.
Pada minggu pertama perkuliahan, dosen pembimbing akademik memberikan nasihat kepada seluruh mahasiswa baru.
"Saudara-saudara sekalian."
"Masuk ke perguruan tinggi bukan berarti perjuangan selesai."
"Justru di sinilah perjuangan sesungguhnya dimulai."
"Di kampus ini tidak ada guru yang akan terus mengingatkan kalian belajar."
"Kalianlah yang harus bertanggung jawab terhadap masa depan sendiri."
Kalimat itu menancap kuat dalam benak Arman.
Sejak hari itu, ia membuat jadwal belajar yang disiplin.
Pagi mengikuti kuliah.
Siang mengerjakan tugas di perpustakaan.
Malam membaca buku hingga sebelum tidur.
Ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang telah diberikan kepadanya melalui Beasiswa Bidikmisi.
Meski demikian, kehidupan sebagai mahasiswa tidak selalu mudah.
Biaya hidup harus dihemat sebaik mungkin.
Arman terbiasa mencatat setiap pengeluaran di sebuah buku kecil.
Ia memilih berjalan kaki menuju kampus jika cuaca memungkinkan.
Ia juga lebih sering memasak mi, telur, atau sayur sederhana di dapur bersama asrama daripada membeli makanan di luar.
Farhan beberapa kali menggoda sahabat barunya itu.
"Man."
"Kamu ini hemat sekali."
Arman tersenyum.
"Bukan pelit."
"Hanya takut uang bulan ini tidak cukup sampai akhir."
Farhan tertawa.
"Kalau begitu nanti sesekali makan bersamaku."
"Kalau aku dapat kiriman dari rumah."
Arman mengangguk.
"Terima kasih."
Persahabatan mereka mulai tumbuh dengan sederhana.
Tidak berbeda jauh dengan persahabatannya dahulu bersama Junaidi.
Namun setiap kali nama itu terlintas di benaknya, hati Arman selalu diselimuti pertanyaan.
Mengapa hubungan mereka menjadi begitu renggang menjelang kelulusan?
Ia belum pernah menemukan jawabannya.
Suatu malam, setelah menyelesaikan tugas pertamanya di kampus, Arman duduk di balkon asrama.
Dari tempat itu, lampu-lampu Kota Banjarmasin tampak berkelap-kelip di kejauhan.
Suara kendaraan masih terdengar meski waktu telah menunjukkan hampir pukul sepuluh malam.
Angin membawa aroma sungai yang khas.
Arman membuka telepon genggamnya.
Ia melihat foto kedua orang tuanya yang tersimpan sebagai gambar latar.
Kemudian ia membuka percakapan dengan Erika.
Sudah hampir seminggu mereka tidak saling berkirim pesan.
Tangannya sempat mengetik beberapa kata.
"Bagaimana kabarmu?"
Namun ia menghapusnya kembali.
Entah mengapa, ia merasa tidak ingin mengganggu kesibukan Erika.
Sebaliknya, ia hanya memandang langit malam yang membentang di atas Kota Seribu Sungai.
Jarak antara Banjarmasin dan Kuala Kapuas memang tidak sejauh pulau yang berbeda.
Namun cukup untuk membuat rindu tumbuh tanpa bisa dipertemukan setiap saat.
Di bawah langit yang sama, dua anak muda itu kini sedang mengejar jalan hidup masing-masing.
Arman mengejar cita-cita di bangku kuliah.
Sementara Erika sedang berjuang menentukan masa depannya di Kuala Kapuas.
Takdir untuk sementara memisahkan mereka.
Tetapi di balik semua itu, takdir juga sedang mempersiapkan sebuah pertemuan baru.
Pertemuan dengan seorang mahasiswi Fakultas Sastra yang kelak akan mengubah arah perjalanan hati Arman.
Perempuan itu belum dikenalnya.
Namun namanya akan segera menjadi bagian penting dari kisah hidupnya.
Namanya adalah Alina.
Pertemuan Pertama dengan Alina
Hari-hari pertama sebagai mahasiswa mulai menemukan ritmenya.
Arman Maulana perlahan terbiasa dengan kehidupan di Kota Banjarmasin. Ia tidak lagi kebingungan mencari ruang kuliah, tidak lagi salah menaiki angkutan kota, dan mulai mengenal beberapa sudut kampus yang setiap hari dipenuhi aktivitas mahasiswa.
Namun ada satu tempat yang paling sering ia kunjungi.
Perpustakaan.
Tempat yang sejak SMA selalu menjadi ruang favoritnya untuk belajar dan menenangkan pikiran.
Pagi itu, mata kuliah Pengantar Kesusastraan Indonesia baru saja selesai.
Dosen memberikan tugas membuat esai mengenai perkembangan sastra modern Indonesia.
Sebagian besar mahasiswa langsung menuju kantin.
Sebagian lainnya pulang ke asrama.
Arman justru berjalan menuju gedung perpustakaan pusat.
Baginya, mencari referensi sejak awal jauh lebih baik daripada menunda hingga batas waktu pengumpulan tugas.
Suasana perpustakaan begitu tenang.
Rak-rak buku berdiri tinggi memenuhi ruangan.
Aroma khas kertas dan buku-buku lama menghadirkan rasa nyaman yang sulit dijelaskan.
Arman mengambil beberapa buku sastra, kemudian memilih duduk di dekat jendela besar yang menghadap taman kampus.
Angin sepoi-sepoi masuk melalui sela-sela jendela yang terbuka.
Sesekali terdengar suara burung yang hinggap di pepohonan ketapang.
Ia mulai membaca dengan penuh konsentrasi.
Tanpa disadarinya, seseorang berdiri di depan rak buku yang berada tepat di samping mejanya.
Seorang mahasiswi mengenakan kemeja putih sederhana dengan rok panjang berwarna biru tua.
Rambutnya yang hitam panjang diikat rapi ke belakang.
Wajahnya teduh.
Tatapannya tenang.
Ia sedang berusaha mengambil sebuah buku yang tersusun di rak paling atas.
Namun buku itu berada di luar jangkauannya.
Beberapa kali ia mencoba meraihnya.
Tetap tidak berhasil.
Arman yang melihat kejadian itu segera berdiri.
"Maaf."
"Boleh saya bantu?"
Mahasiswi itu menoleh.
Senyumnya muncul dengan sopan.
"Kalau tidak merepotkan."
Arman mengangguk.
Dengan tinggi badannya, ia dapat mengambil buku itu tanpa kesulitan.
"Buku ini?"
"Iya."
"Terima kasih."
"Sama-sama."
Mahasiswi itu menerima buku tersebut dengan kedua tangan.
Matanya sempat membaca nama yang tertera pada kartu identitas mahasiswa yang tergantung di leher Arman.
"Arman Maulana?"
"Iya."
"Saya Arman."
Mahasiswi itu tersenyum.
"Aku Alina Prameswari."
"Mahasiswa Sastra Indonesia juga."
Arman sedikit terkejut.
"Oh."
"Berarti kita satu program studi."
"Iya."
"Hanya beda kelas."
Percakapan singkat itu menjadi awal dari sebuah perkenalan yang sama sekali tidak pernah direncanakan.
Mereka kemudian duduk di meja yang sama.
Awalnya hanya untuk membaca buku masing-masing.
Namun beberapa menit kemudian, Alina membuka percakapan.
"Kamu dari mana?"
"Dari Desa Sriwidadi."
"Kabupaten Kapuas."
"Wah."
"Berarti dari Kalimantan Tengah."
"Iya."
"Kalau kamu?"
"Aku dari Martapura."
Arman mengangguk.
Mereka mulai saling bercerita tentang kampung halaman masing-masing.
Tentang kehidupan desa.
Tentang kebiasaan masyarakat.
Tentang makanan khas.
Tentang alasan memilih Program Studi Sastra Indonesia.
"Aku suka menulis sejak SMA."
kata Alina.
"Puisi?"
"Terkadang."
"Lebih sering cerpen."
Arman tersenyum.
"Aku juga suka menulis."
"Tapi lebih banyak catatan perjalanan dan cerita pendek."
"Wah."
"Berarti kita punya hobi yang sama."
Percakapan mereka mengalir begitu alami.
Tidak ada kesan dibuat-buat.
Seolah dua orang yang telah lama saling mengenal.
Hari mulai siang.
Sebelum meninggalkan perpustakaan, Alina berkata,
"Besok dosen memberi tugas diskusi."
"Kalau kamu tidak keberatan..."
"...bagaimana kalau kita mencari referensi bersama?"
Arman berpikir sejenak.
"Tentu."
"Dengan senang hati."
"Baik."
"Besok jam sembilan di sini?"
"Siap."
Mereka berjabat tangan singkat.
Kemudian berjalan menuju arah yang berbeda.
Langkah Arman terasa lebih ringan.
Ia bersyukur telah menemukan teman berdiskusi yang memiliki minat yang sama.
Baginya, Alina hanyalah seorang teman baru di dunia kampus.
Belum lebih dari itu.
Malam harinya, di kamar asrama, Farhan melihat Arman sedang membaca buku dengan wajah yang tampak lebih cerah daripada biasanya.
"Wah."
"Sepertinya hari ini menyenangkan."
Arman tersenyum.
"Kenapa memang?"
"Aku baru menemukan teman diskusi."
Farhan tertawa kecil.
"Teman diskusi atau teman istimewa?"
Arman menggeleng sambil tersenyum.
"Jangan mulai."
"Kami hanya satu program studi."
Farhan mengangkat kedua tangannya.
"Baik."
"Aku percaya."
Namun senyum jahil itu masih tampak di wajahnya.
Arman hanya tertawa pelan.
Ia sama sekali tidak menyangka bahwa pertemuan sederhana di perpustakaan itu kelak akan menjadi awal dari kisah yang jauh lebih rumit.
Malam semakin larut.
Setelah menyelesaikan tugas kuliahnya, Arman kembali membuka buku harian kecil yang selalu dibawanya.
Ia menulis beberapa kalimat.
"Hari ini aku bertemu seorang teman baru bernama Alina. Ia menyukai sastra, buku, dan dunia yang sama denganku. Mungkin Tuhan memang selalu menghadirkan orang-orang baru di setiap perjalanan hidup agar kita tidak pernah berhenti belajar."
Ia menutup buku itu perlahan.
Namun sebelum mematikan lampu kamar, pandangannya kembali tertuju pada telepon genggam yang terletak di atas meja.
Foto kelulusan SMK masih tersimpan sebagai wallpaper.
Di sana ada wajah Erika yang sedang tersenyum.
Arman memandangnya beberapa saat.
Lalu menghela napas pelan.
Ia tidak menyadari bahwa hatinya sedang memasuki persimpangan baru.
Di Kuala Kapuas, masih tersimpan kenangan tentang cinta pertama yang belum pernah memperoleh jawaban.
Di Banjarmasin, hadir seorang perempuan baru yang datang dengan ketenangan, kecerdasan, dan kesamaan minat.
Takdir belum memintanya memilih.
Namun waktu akan segera membawa Arman pada ujian yang jauh lebih berat daripada sekadar menentukan arah masa depannya.
Karena tidak semua pertemuan diciptakan untuk menjadi akhir sebuah perjalanan.
Sebagian justru hadir untuk menguji kesetiaan hati.
BAB XII
Bidikmisi dan Harga Sebuah Mimpi
Beasiswa Bidikmisi dan Kehidupan yang Serba Sederhana
Pekan-pekan pertama sebagai mahasiswa berlalu dengan cepat.
Arman Maulana mulai memahami bahwa kehidupan di bangku kuliah sangat berbeda dengan masa-masa ketika ia masih belajar di SMK Negeri Kuala Kapuas. Tidak ada lagi guru yang setiap hari mengingatkan tugas. Tidak ada lagi jadwal yang sepenuhnya diatur sekolah. Kini, setiap mahasiswa bertanggung jawab atas dirinya sendiri.
Bagi Arman, kuliah bukan sekadar menuntut ilmu.
Kuliah adalah amanah.
Amanah yang lahir dari doa kedua orang tuanya, dari keringat yang bertahun-tahun menetes di sawah Desa Sriwidadi, dan dari kepercayaan negara melalui Beasiswa Bidikmisi yang telah membuka jalan baginya untuk menggapai cita-cita.
Karena itulah, ia berjanji pada dirinya sendiri.
Ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu.
Suatu pagi, seluruh mahasiswa penerima Bidikmisi mengikuti pertemuan bersama pihak kemahasiswaan.
Mereka berkumpul di aula kampus.
Di hadapan mereka berdiri Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan yang memberikan pengarahan.
"Anak-anak sekalian."
"Beasiswa yang kalian terima bukanlah hadiah."
"Melainkan bentuk kepercayaan."
"Kalian dipilih karena memiliki kemampuan akademik dan semangat belajar yang tinggi, meskipun berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi."
Beliau berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih tenang.
"Jagalah kepercayaan itu."
"Prestasi harus terus dipertahankan."
"Jangan sampai kesempatan yang telah diberikan ini disia-siakan."
Arman mendengarkan setiap kalimat dengan penuh perhatian.
Ucapan itu seolah menjadi pengingat atas tujuan utama kedatangannya ke Banjarmasin.
Ia datang bukan untuk mencari kesenangan.
Ia datang untuk belajar.
Setelah kegiatan selesai, setiap mahasiswa menerima penjelasan mengenai hak dan kewajiban sebagai penerima beasiswa.
Biaya kuliah telah ditanggung.
Mereka juga memperoleh bantuan biaya hidup setiap semester.
Namun dana itu harus digunakan secara bijaksana.
Dalam perjalanan kembali ke asrama, Farhan bertanya,
"Man."
"Kalau uang beasiswanya nanti cair, kamu mau beli apa?"
Arman tersenyum.
"Beli buku."
Farhan tertawa.
"Hanya buku?"
"Iya."
"Laptopku juga sudah mulai lambat."
"Kalau masih cukup, mungkin akan kutabung untuk memperbaikinya."
Farhan menggeleng sambil tersenyum.
"Kamu memang beda."
"Kebanyakan mahasiswa baru langsung berpikir membeli telepon genggam baru."
Arman tersenyum kecil.
"Ayahku selalu bilang."
'Bedakan antara kebutuhan dan keinginan.'
Kalimat itu membuat Farhan terdiam sejenak.
Ia mulai memahami mengapa sahabat barunya begitu dewasa dalam memandang kehidupan.
Hari-hari berikutnya dijalani Arman dengan penuh kedisiplinan.
Setiap pagi, ia bangun sebelum azan Subuh.
Setelah salat, ia membaca beberapa halaman buku atau mengulang materi kuliah.
Pukul enam pagi, ia membantu petugas asrama membersihkan halaman sebagai bagian dari kegiatan gotong royong penghuni.
Barulah setelah itu ia bersiap menuju kampus.
Sepulang kuliah, ia hampir selalu singgah di perpustakaan.
Malam harinya digunakan untuk menyelesaikan tugas dan membaca referensi tambahan.
Jadwal itu ia tempel di dinding kamar.
Tidak ada satu hari pun yang ia biarkan berlalu tanpa belajar.
Farhan sering menggodanya.
"Kalau terus seperti ini, nanti kamu bisa lupa caranya liburan."
Arman tertawa.
"Nanti kalau sudah lulus."
"Aku akan libur yang panjang."
Farhan ikut tertawa.
"Baiklah."
"Aku tunggu hari itu."
Meski hidup sederhana, Arman tidak pernah merasa kekurangan.
Ia belajar memasak sendiri.
Nasi, telur dadar, sayur bening, tempe goreng, dan sesekali ikan pindang menjadi menu yang paling sering ia buat.
Setiap akhir pekan, ia pergi ke pasar tradisional untuk membeli bahan makanan yang lebih murah.
Ia membawa tas belanja kain yang sudah dipakai bertahun-tahun.
Tidak sedikit teman-temannya yang heran melihat kebiasaannya.
Namun Arman tidak pernah merasa malu.
Baginya, hidup hemat adalah bentuk penghormatan terhadap perjuangan kedua orang tuanya.
Setiap rupiah yang dihemat adalah wujud rasa syukur atas kesempatan yang dimilikinya.
Suatu sore, Arman menerima panggilan video dari rumah.
Di layar telepon genggam muncul wajah Hasan Basri dan Siti Aminah.
"Assalamu'alaikum, Man."
"Wa'alaikumussalam, Pak... Bu."
"Bagaimana kuliahnya?"
"Alhamdulillah lancar."
"Makannya teratur?"
"Iya, Bu."
"Jangan bohong."
"Kalau uang kurang, bilang."
Arman tersenyum.
"Masih cukup."
"Beasiswanya sangat membantu."
Hasan Basri memandang putranya dengan penuh kebanggaan.
"Yang penting kamu sehat."
"Jangan terlalu memikirkan keadaan di rumah."
"Biarkan Bapak dan Ibu yang bekerja."
Arman menggeleng pelan.
"Kalau nanti sudah berhasil..."
"...gantian Arman yang bekerja untuk Bapak dan Ibu."
Mendengar itu, mata Siti Aminah kembali berkaca-kaca.
Tidak ada orang tua yang berharap anaknya segera membalas jasa.
Namun mendengar kalimat itu, hatinya dipenuhi rasa haru.
Di tengah kesibukan kuliah, Arman masih sesekali berkomunikasi dengan teman-teman lamanya di Kuala Kapuas.
Grup alumni kelas XII mulai sepi.
Percakapan hanya muncul ketika ada ulang tahun atau kabar mengenai teman-teman.
Suatu malam, sebuah pesan masuk dari Erika.
Erika: "Bagaimana kuliahnya? Sudah mulai banyak tugas?"
Arman tersenyum.
Ia segera membalas.
Arman: "Lumayan. Dosen-dosen di sini rajin memberi tugas. Tapi aku senang menjalaninya."
Tak lama kemudian, balasan kembali datang.
Erika: "Semangat ya. Aku yakin kamu pasti bisa lulus dengan nilai terbaik."
Arman membaca pesan itu beberapa kali.
Kalimat sederhana itu mampu mengusir lelah yang ia rasakan sepanjang hari.
Mereka masih saling berkabar.
Masih saling menyemangati.
Namun hubungan itu tetap berada dalam batas yang sama seperti ketika mereka berpisah di gerbang sekolah.
Tidak ada yang berani mengungkapkan isi hati.
Sementara itu, tanpa disadari Arman, Alina mulai semakin sering mengajaknya berdiskusi di perpustakaan, mengerjakan tugas kelompok, dan bertukar buku-buku sastra.
Kehadiran Alina tumbuh perlahan.
Tidak tergesa-gesa.
Seperti hujan pertama yang turun dengan lembut sebelum akhirnya membasahi seluruh halaman.
Dan Arman belum menyadari bahwa ujian terbesar dalam perjalanan hatinya baru saja dimulai.
Sahabat Diskusi yang Selalu Menemani
Awal semester pertama berlangsung semakin dinamis.
Tugas kuliah datang silih berganti. Hampir setiap mata kuliah menuntut mahasiswa membaca buku, menulis esai, membuat presentasi, hingga melakukan observasi lapangan. Kehidupan sebagai mahasiswa benar-benar mengajarkan bahwa ilmu tidak hanya diperoleh dari ruang kelas, tetapi juga dari kesungguhan mencari dan memahami.
Bagi Arman Maulana, semua itu bukanlah beban.
Justru di tengah kesibukan itulah ia semakin menikmati dunia yang selama ini hanya ia impikan.
Dan tanpa ia sadari, seseorang mulai menjadi bagian dari rutinitas hari-harinya.
Alina Prameswari.
Pertemuan mereka di perpustakaan beberapa minggu sebelumnya ternyata bukan pertemuan terakhir.
Hampir setiap ada tugas mata kuliah yang membutuhkan referensi, mereka kembali bertemu di tempat yang sama.
Rak buku sastra.
Meja baca dekat jendela.
Sudut perpustakaan yang tenang.
Tempat itu perlahan menjadi ruang diskusi mereka.
Suatu siang, Arman telah lebih dahulu datang.
Di atas mejanya telah tersusun beberapa buku tentang sastra Indonesia modern, teori kritik sastra, dan sejarah perkembangan puisi.
Tak lama kemudian, Alina datang sambil membawa dua gelas kopi dan beberapa lembar fotokopi jurnal.
"Maaf terlambat."
"Tadi antre di koperasi."
Arman tersenyum.
"Tidak apa-apa."
"Kamu malah membawa kopi."
"Aku takut kamu mengantuk."
Alina meletakkan salah satu gelas di depan Arman.
"Terima kasih."
"Kalau bukan karena kamu, mungkin aku sudah tertidur membaca teori sastra."
Mereka sama-sama tertawa.
Suasana menjadi semakin akrab.
Hari itu mereka mendapat tugas menganalisis sebuah novel Indonesia klasik.
Arman membaca dengan saksama setiap halaman.
Sesekali ia memberi tanda menggunakan pensil.
Sementara Alina menuliskan poin-poin penting di buku catatannya.
"Kamu selalu memberi tanda di buku?"
tanya Alina.
"Kalau bukunya milikku."
"Supaya nanti lebih mudah mencarinya lagi."
Alina mengangguk.
"Aku juga begitu."
"Ternyata kebiasaan kita banyak yang sama."
Arman tersenyum.
"Mungkin karena kita sama-sama suka membaca."
Percakapan itu sederhana.
Namun dari kebiasaan-kebiasaan kecil seperti itulah mereka mulai saling mengenal lebih dalam.
Menjelang sore, hujan turun cukup deras.
Suara air yang membentur atap perpustakaan terdengar begitu menenangkan.
Sebagian mahasiswa memilih pulang.
Sebagian lagi tetap bertahan membaca.
Arman dan Alina masih tenggelam dalam diskusi.
"Menurutmu..."
kata Alina sambil menutup bukunya,
"...mengapa tokoh utama dalam novel itu tetap bertahan meski berkali-kali dikhianati?"
Arman terdiam beberapa saat.
Kemudian menjawab pelan.
"Karena tidak semua perjuangan dilakukan untuk menang."
"Kadang seseorang bertahan hanya karena ia percaya bahwa ketulusan tidak boleh kalah oleh keadaan."
Alina memperhatikan wajah Arman.
Jawaban itu terdengar lebih seperti pengalaman hidup daripada sekadar analisis sebuah novel.
"Kamu pernah mengalami itu?"
Arman tersenyum tipis.
"Mungkin."
"Atau mungkin aku hanya sedang belajar memahaminya."
Alina tidak bertanya lebih jauh.
Ia menghargai bahwa setiap orang memiliki cerita yang belum tentu siap dibagikan.
Beberapa hari kemudian, dosen membentuk kelompok presentasi.
Secara kebetulan, Arman dan Alina kembali berada dalam kelompok yang sama bersama dua mahasiswa lainnya, yaitu Bagas Aditya dan Rina Maharani.
Mereka membagi tugas dengan adil.
Bagas bertugas mencari referensi tambahan.
Rina menyusun materi presentasi.
Alina membuat desain bahan presentasi.
Sementara Arman menyusun kerangka analisis.
Kerja sama mereka berjalan sangat baik.
Setiap selesai berdiskusi, mereka selalu saling memeriksa hasil pekerjaan sebelum dikumpulkan.
Presentasi kelompok mereka bahkan mendapat apresiasi dari dosen.
"Kelompok ini menunjukkan kerja sama yang baik."
"Analisisnya mendalam."
"Penyampaiannya juga runtut."
Pujian itu membuat mereka saling tersenyum.
Bagi Arman, keberhasilan itu bukan hasil kerja satu orang.
Melainkan buah dari kebersamaan.
Sore itu, setelah selesai kuliah, Alina mengajak Arman berjalan melewati taman kampus.
Pohon-pohon trembesi yang rindang membuat suasana terasa sejuk.
Mahasiswa berlalu-lalang sambil membawa buku dan tas punggung.
"Aku senang."
kata Alina.
"Kenapa?"
"Akhirnya aku menemukan teman diskusi yang benar-benar suka membaca."
Arman tersenyum.
"Selama ini tidak ada?"
"Ada."
"Tapi kebanyakan membaca hanya ketika besok ujian."
Keduanya tertawa.
Kemudian Alina bertanya lagi.
"Man."
"Iya?"
"Kamu pernah berpikir ingin menjadi apa setelah lulus nanti?"
Arman memandang langit yang mulai berwarna jingga.
"Aku ingin menjadi penulis."
"Lalu kembali membangun daerahku."
"Desa Sriwidadi."
"Aku ingin membuktikan bahwa anak desa juga bisa berkarya."
Alina memandangnya dengan penuh kekaguman.
"Itu cita-cita yang indah."
"Lalu kamu?"
tanya Arman.
"Aku ingin menjadi dosen."
"Aku ingin mengajar sastra."
"Aku ingin banyak orang mencintai membaca."
Untuk pertama kalinya, mereka saling mengetahui impian masing-masing.
Bukan hanya tentang kuliah.
Tetapi tentang masa depan.
Malam harinya, Farhan melihat Arman sedang menyusun materi presentasi di meja belajar.
"Masih mengerjakan tugas?"
"Iya."
"Besok presentasi."
"Kelompok yang sama dengan Alina lagi?"
Arman mengangguk.
Farhan tersenyum usil.
"Kalau begini terus, lama-lama kalian cocok juga."
Arman hanya tertawa kecil.
"Jangan sembarangan."
"Kami memang sering berdiskusi."
"Itu saja."
Farhan mengangkat kedua bahunya.
"Baiklah."
"Tapi biasanya..."
"...persahabatan yang paling sering dimulai dari meja belajar."
Ucapan itu membuat Arman tersenyum.
Namun ia tidak menanggapinya lebih jauh.
Baginya, Alina adalah sahabat diskusi yang cerdas dan menyenangkan.
Belum ada perasaan lain.
Setidaknya, begitulah yang ia yakini saat itu.
Karena jauh di dalam sudut hatinya, masih tersimpan satu nama yang belum pernah benar-benar pergi.
Erika.
Nama itu masih hadir dalam setiap doa dan kenangan.
Meski jarak memisahkan mereka, bayangan tentang gadis yang pernah duduk di bangku nomor delapan itu belum sepenuhnya tergantikan.
Arman belum mengetahui bahwa hati manusia terkadang mampu menyimpan dua rasa sekaligus.
Rasa yang belum selesai pada masa lalu.
Dan rasa baru yang perlahan tumbuh di masa kini.
Keduanya akan segera bertemu dalam sebuah persimpangan yang tidak mudah untuk dipilih.
Ketika Persahabatan Mulai Berubah Menjadi Perasaan
Musim penghujan kembali menyelimuti Kota Banjarmasin.
Langit hampir setiap sore dipenuhi awan kelabu, lalu hujan turun perlahan membasahi jalan-jalan kota. Sungai Martapura mengalir tenang di antara deretan rumah dan bangunan tua, sementara perahu-perahu kecil tetap melintas membawa penumpang yang pulang dari aktivitas sehari-hari.
Bagi sebagian orang, hujan hanyalah perubahan cuaca.
Namun bagi Arman Maulana, hujan selalu membawa kenangan.
Kenangan tentang Kuala Kapuas.
Tentang perjalanan pulang sekolah.
Tentang satu payung yang pernah menaungi dirinya dan Erika di tengah hujan beberapa tahun lalu.
Kenangan itu masih tersimpan rapi.
Belum pernah benar-benar hilang.
Suatu sore, hujan turun ketika kuliah baru saja usai.
Mahasiswa berlarian menuju selasar gedung untuk menghindari derasnya air.
Arman berdiri di depan perpustakaan sambil menunggu hujan reda.
Tak lama kemudian, Alina datang dengan membawa sebuah map berisi tugas kelompok.
"Ternyata kamu masih di sini."
"Iya."
"Hujannya deras."
Alina tersenyum.
"Aku juga menunggu."
Mereka berdiri berdampingan memandang halaman kampus yang mulai tergenang air.
Suasana hening.
Hanya suara hujan yang terdengar begitu jelas.
Sesaat kemudian Alina membuka pembicaraan.
"Man."
"Iya?"
"Aku selalu penasaran."
"Penasaran tentang apa?"
"Kamu itu selalu terlihat tenang."
"Padahal setiap orang pasti punya masalah."
Arman tersenyum tipis.
"Tenang bukan berarti tidak punya beban."
"Hanya saja..."
"...aku tidak ingin membiarkan masalah menguasai hidupku."
Alina mengangguk pelan.
Jawaban itu sederhana.
Tetapi membuatnya semakin menghargai sosok Arman.
Beberapa hari kemudian, Program Studi Sastra Indonesia mengadakan kegiatan kunjungan ilmiah ke Perpustakaan Daerah Kalimantan Selatan.
Seluruh mahasiswa diwajibkan mengikuti kegiatan tersebut.
Bus kampus berangkat sejak pagi.
Secara kebetulan, kursi yang masih kosong berada tepat di samping Arman.
Alina menghampiri.
"Boleh duduk di sini?"
"Tentu."
Perjalanan berlangsung hampir satu jam.
Sepanjang perjalanan, mereka membahas buku-buku sastra yang baru mereka baca, penulis favorit, hingga cita-cita setelah lulus.
"Aku ingin suatu hari nanti menerbitkan novel."
kata Alina.
Arman menoleh.
"Serius?"
"Iya."
"Novel tentang kehidupan."
"Tentang orang-orang sederhana."
Arman tersenyum.
"Itu juga mimpiku."
"Kalau begitu..."
Alina tertawa kecil.
"...siapa tahu suatu hari nanti kita bisa menulis buku bersama."
Kalimat itu diucapkan sambil bercanda.
Namun entah mengapa, hati Arman terasa hangat mendengarnya.
Sepulang dari kunjungan ilmiah, mereka semakin sering menghabiskan waktu bersama.
Bukan hanya mengerjakan tugas.
Mereka juga sesekali makan siang di kantin kampus.
Berdiskusi di taman.
Atau berjalan menuju halte angkutan kota setelah kuliah selesai.
Semuanya berlangsung begitu alami.
Tanpa ada rencana.
Tanpa ada paksaan.
Farhan mulai memperhatikan perubahan kecil pada sahabat sekamarnya itu.
Suatu malam ia bertanya,
"Man."
"Iya?"
"Kalau boleh jujur..."
"...kamu sebenarnya mulai suka sama Alina ya?"
Arman yang sedang membaca buku langsung mengangkat wajah.
"Apa?"
Farhan tersenyum.
"Aku hanya menebak."
"Kalian sekarang hampir selalu bersama."
Arman terdiam beberapa saat.
Kemudian ia menutup bukunya.
"Aku juga tidak tahu."
"Mungkin aku hanya nyaman berdiskusi dengannya."
Farhan mengangguk.
"Kadang rasa nyaman itu adalah awal dari sesuatu."
Arman tidak menjawab.
Ucapan Farhan terus terngiang di kepalanya.
Malam itu, setelah Farhan tertidur, Arman duduk sendirian di balkon asrama.
Angin malam bertiup pelan.
Lampu-lampu Kota Banjarmasin berkilauan di kejauhan.
Ia membuka kembali buku harian kecil yang selalu menemaninya sejak SMA.
Beberapa halaman sebelumnya masih berisi cerita tentang Desa Sriwidadi.
Tentang Erika.
Tentang masa-masa di Kuala Kapuas.
Lalu ia mulai menulis.
"Hari-hari di kampus terasa lebih ringan sejak mengenal Alina. Ia cerdas, sederhana, dan selalu membuat diskusi menjadi menyenangkan. Aku tidak tahu apakah ini hanya persahabatan atau mulai tumbuh menjadi sesuatu yang lain."
Tangannya berhenti.
Beberapa detik kemudian ia kembali menulis.
"Namun mengapa setiap kali mengingat masa lalu, nama Erika masih selalu hadir lebih dulu di dalam hatiku?"
Arman memandang dua kalimat yang baru saja ia tulis.
Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa dirinya sedang berada di persimpangan.
Di satu sisi, masih ada kenangan yang belum selesai bersama Erika.
Kenangan tentang cinta pertama yang berakhir tanpa kepastian.
Di sisi lain, hadir Alina yang perlahan mengisi hari-harinya dengan perhatian, semangat, dan kebersamaan.
Ia belum mencintai Alina.
Tetapi ia juga tidak bisa memungkiri bahwa kehadiran gadis itu mulai berarti.
Beberapa hari kemudian, seusai kuliah, Alina menghampiri Arman di depan perpustakaan.
"Man."
"Iya?"
"Minggu depan ulang tahunku."
"Oh ya?"
"Iya."
"Aku berencana mengundang beberapa teman dekat untuk makan siang sederhana."
Alina tersenyum hangat.
"Aku berharap..."
"...kamu bisa datang."
Arman membalas senyumnya.
"Tentu."
"Kalau tidak ada jadwal kuliah tambahan, aku akan datang."
"Terima kasih."
Alina mengangguk pelan.
Di balik senyumnya, tersimpan harapan yang belum sempat ia ungkapkan.
Sementara Arman masih menganggap undangan itu sebagai bentuk persahabatan yang tulus.
Ia sama sekali belum menyadari bahwa hati Alina mulai bergerak lebih cepat daripada hatinya sendiri.
Dan sejak undangan sederhana itu terucap, arah hubungan mereka perlahan mulai berubah.
Persahabatan yang semula dibangun oleh buku-buku, tugas kuliah, dan meja perpustakaan kini mulai disentuh oleh perasaan yang lebih dalam.
Perasaan yang akan membawa mereka pada kebahagiaan sekaligus luka.
Karena tidak semua cinta tumbuh pada waktu yang tepat.
Dan tidak semua hati mampu melupakan cinta pertamanya hanya karena hadir seseorang yang baru.
BAB XIII
Alina
Alina, Perempuan yang Datang Membawa Cahaya Baru
Semester demi semester berlalu tanpa terasa.
Arman Maulana kini bukan lagi mahasiswa baru yang canggung mengenal lingkungan kampus. Ia telah tumbuh menjadi salah seorang mahasiswa yang dikenal rajin, rendah hati, dan memiliki prestasi akademik yang membanggakan. Nilai-nilainya hampir selalu berada di jajaran terbaik di Program Studi Sastra Indonesia.
Beasiswa Bidikmisi yang diterimanya tetap ia pertahankan dengan penuh tanggung jawab.
Ia sadar, satu kesalahan kecil saja dapat mengubah masa depan yang selama ini diperjuangkannya.
Pagi itu, langit Kota Banjarmasin tampak cerah.
Angin berembus lembut dari arah Sungai Martapura.
Pepohonan trembesi di sepanjang jalan menuju kampus bergoyang perlahan diterpa sinar matahari.
Mahasiswa mulai memenuhi halaman fakultas.
Sebagian berjalan tergesa-gesa menuju ruang kuliah.
Sebagian lagi duduk di taman kampus sambil berdiskusi.
Arman datang lebih awal seperti biasanya.
Di tangannya terdapat beberapa buku referensi yang dipinjam dari perpustakaan.
Ia memilih duduk di bangku taman sambil membaca sebelum perkuliahan dimulai.
Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki yang sudah sangat dikenalnya.
"Selamat pagi."
Arman mengangkat wajah.
Alina Prameswari berdiri sambil membawa dua gelas minuman hangat.
"Pagi."
"Kamu datang lebih awal lagi."
Alina tersenyum.
"Aku sudah tahu kebiasaanmu."
"Kalau ingin bertemu Arman, datanglah sebelum mahasiswa lain memenuhi kampus."
Arman tertawa kecil.
"Itu bukan aturan resmi kampus."
"Tapi cukup akurat."
Keduanya tertawa bersama.
Percakapan ringan seperti itu kini menjadi bagian dari keseharian mereka.
Sejak mengerjakan berbagai tugas bersama, hubungan Arman dan Alina semakin dekat.
Mereka tidak hanya bertemu di perpustakaan.
Sering kali mereka berdiskusi di taman kampus, menghadiri seminar sastra, mengikuti bedah buku, hingga menjadi panitia kegiatan literasi yang diselenggarakan fakultas.
Dalam setiap kegiatan, mereka saling melengkapi.
Arman dikenal teliti dalam menyusun konsep.
Sementara Alina memiliki kemampuan berbicara yang baik di depan umum.
Perpaduan itu membuat mereka menjadi pasangan kerja yang sangat kompak.
Suatu hari, dosen pembimbing mereka, Dr. Budi Santoso, berkata sambil tersenyum,
"Kalian berdua kalau berdiskusi seperti sudah saling memahami isi pikiran masing-masing."
Alina tersipu malu.
Arman hanya tersenyum sambil menundukkan kepala.
"Masih banyak yang harus kami pelajari, Pak."
"Itu memang benar."
jawab sang dosen.
"Tetapi kekompakan seperti ini jarang dimiliki mahasiswa."
Ucapan itu membuat teman-teman mereka mulai menggoda.
"Pak, sepertinya bukan hanya kompak mengerjakan tugas."
"Tapi juga kompak di luar kelas."
Gelak tawa pun memenuhi ruangan.
Alina hanya tersenyum malu.
Sedangkan Arman mencoba mengalihkan pembicaraan.
Beberapa minggu kemudian, fakultas mengadakan Festival Sastra Mahasiswa.
Seluruh mahasiswa diberi kesempatan menampilkan karya terbaik mereka.
Ada pembacaan puisi.
Pementasan teater.
Lomba cerpen.
Diskusi buku.
Hingga pameran karya sastra.
Arman mengikuti lomba penulisan cerpen.
Sementara Alina menjadi peserta pembacaan puisi.
Malam puncak festival berlangsung meriah.
Lampu-lampu panggung menghiasi halaman fakultas.
Mahasiswa memenuhi kursi penonton.
Ketika nama Alina dipanggil, suasana mendadak hening.
Dengan gaun sederhana berwarna biru muda, ia melangkah ke atas panggung.
Tangannya memegang selembar kertas puisi.
Suaranya mengalun lembut.
Penuh penghayatan.
Puisi yang dibacakannya bercerita tentang seorang perantau yang meninggalkan kampung halaman demi mengejar cita-cita, tetapi selalu membawa rindu kepada orang-orang yang ditinggalkan.
Setiap baitnya terasa begitu hidup.
Arman memperhatikan dari bangku penonton.
Entah mengapa, isi puisi itu mengingatkannya pada dirinya sendiri.
Pada Desa Sriwidadi.
Pada kedua orang tuanya.
Dan pada seorang gadis di Kuala Kapuas yang hingga kini masih sesekali hadir dalam lamunannya.
Tanpa sadar, tepuk tangan Arman menjadi yang paling meriah ketika Alina menyelesaikan pembacaan puisinya.
Festival berakhir menjelang malam.
Sebelum pulang, Alina menghampiri Arman.
"Bagaimana puisiku?"
Arman tersenyum tulus.
"Sangat indah."
"Benarkah?"
"Iya."
"Seolah-olah kamu sedang menceritakan kehidupan seorang perantau."
Alina menatap Arman beberapa detik.
"Lalu..."
"...apakah kamu tahu siapa yang menjadi inspirasinya?"
Arman menggeleng.
"Belum."
Alina hanya tersenyum.
"Tidak apa-apa."
"Mungkin suatu hari nanti kamu akan mengerti."
Jawaban itu membuat Arman sedikit heran.
Namun ia tidak bertanya lebih jauh.
Baginya, puisi memang sering menyimpan makna yang hanya dipahami oleh penulisnya.
Malam itu, ketika kembali ke asrama, Farhan sedang membaca buku di ruang tengah.
"Bagaimana festivalnya?"
"Seru."
"Kamu menang?"
"Alhamdulillah."
"Juara dua cerpen."
"Wah."
"Selamat."
Farhan menyalami sahabatnya.
"Lalu Alina?"
"Dia mendapat penghargaan pembaca puisi terbaik."
Farhan tersenyum lebar.
"Berarti kalian berdua sama-sama membawa piala."
Arman mengangguk.
"Iya."
Farhan menatap Arman beberapa saat.
"Man."
"Aku boleh bertanya sesuatu?"
"Tentu."
"Menurutmu..."
"...Alina itu seperti apa?"
Arman berpikir sejenak.
"Lembut."
"Cerdas."
"Sederhana."
"Dan selalu membuat orang lain merasa nyaman."
Farhan tersenyum kecil.
"Itu bukan jawaban tentang seorang teman."
"Itu jawaban seseorang yang mulai mengenal perempuan dengan hatinya."
Arman terdiam.
Untuk pertama kalinya, ia tidak langsung membantah ucapan Farhan.
Ia hanya memandang piala kecil yang baru saja dibawanya pulang.
Di balik kilau logam itu, pikirannya justru dipenuhi wajah Alina yang tersenyum di atas panggung beberapa jam sebelumnya.
Tanpa ia sadari, cahaya yang dibawa Alina perlahan mulai menerangi ruang-ruang kosong dalam hatinya.
Ruang yang selama ini dipenuhi kenangan tentang Erika.
Namun Arman belum mengetahui bahwa cahaya yang tampak begitu indah itu kelak akan meninggalkan bayangan yang jauh lebih gelap.
Karena tidak semua orang yang datang membawa kebahagiaan akan tetap tinggal hingga akhir perjalanan.
Dan terkadang, kehilangan yang paling menyakitkan justru berasal dari seseorang yang sempat membuat kita percaya bahwa masa depan akan baik-baik saja.
Hari-Hari yang Dipenuhi Tawa dan Harapan
Musim berganti tanpa terasa.
Semester demi semester dilalui Arman Maulana dengan penuh kesungguhan. Prestasinya tetap terjaga, sementara kehidupan kampus semakin akrab baginya. Lorong-lorong fakultas, perpustakaan, taman kampus, hingga kantin sederhana yang berada di sudut gedung sastra kini menjadi bagian dari rutinitas yang tak lagi terasa asing.
Di antara semua perubahan itu, ada satu hal yang tumbuh perlahan namun pasti.
Kehadiran Alina.
Ia bukan lagi sekadar teman diskusi.
Ia telah menjadi sahabat yang hampir selalu hadir dalam setiap langkah Arman selama menjalani kehidupan sebagai mahasiswa.
Suatu pagi, Arman datang lebih awal ke kampus.
Di bawah pohon trembesi yang rindang, ia duduk sambil membaca sebuah novel karya sastrawan Indonesia yang sedang menjadi bahan diskusi mata kuliah.
Tak lama kemudian, Alina datang dengan langkah tergesa-gesa.
"Nah, benar dugaanku."
Arman mengangkat wajah sambil tersenyum.
"Apa?"
"Kalau mencari Arman, cukup datang ke bawah pohon ini atau ke perpustakaan."
Arman tertawa kecil.
"Berarti aku mudah ditemukan."
"Bukan."
jawab Alina sambil duduk di sampingnya.
"Hanya saja kamu terlalu mencintai buku."
"Aku kalah."
"Kalah dari buku?"
"Iya."
"Buku selalu mendapat perhatianmu lebih dulu."
Keduanya tertawa bersama.
Candaan sederhana itu membuat suasana pagi terasa begitu hangat.
Hari itu mereka mendapat tugas membuat penelitian kecil mengenai perkembangan sastra lisan di masyarakat Banjar.
Bersama beberapa teman sekelas, mereka melakukan observasi ke sejumlah kampung di pinggiran Kota Banjarmasin.
Perjalanan dilakukan menggunakan kendaraan kampus.
Sepanjang jalan, Arman dan Alina duduk berdampingan.
Mereka berdiskusi mengenai metode penelitian, teknik wawancara, hingga pentingnya menjaga warisan budaya daerah.
Sesekali pembicaraan berubah menjadi cerita-cerita ringan.
Tentang masa kecil.
Tentang keluarga.
Tentang cita-cita.
"Aku masih ingat."
kata Alina sambil tersenyum.
"Waktu kecil aku sering dipaksa Ayah membaca buku sebelum bermain."
"Lalu?"
"Aku kesal."
"Tapi sekarang justru bersyukur."
Arman tersenyum.
"Kalau aku..."
"...Ayah tidak pernah memaksaku membaca."
"Beliau hanya selalu berkata, 'Ilmu adalah bekal yang tidak akan pernah habis dibagikan.'"
Alina mengangguk pelan.
"Ayahmu pasti orang yang luar biasa."
Arman memandang ke luar jendela kendaraan.
"Iya."
"Beliau petani."
"Tapi dari beliau aku belajar arti kerja keras."
Penelitian lapangan berlangsung selama beberapa hari.
Setiap selesai mewawancarai narasumber, mereka selalu menyempatkan diri duduk bersama untuk menyusun hasil observasi.
Arman mulai menyadari bahwa Alina bukan hanya cerdas.
Ia juga sangat menghargai pendapat orang lain.
Setiap kali berdiskusi, Alina tidak pernah memaksakan kehendaknya.
Ia lebih suka mendengar terlebih dahulu sebelum memberikan pendapat.
Sikap itulah yang membuat Arman semakin nyaman berada di dekatnya.
Begitu pula sebaliknya.
Bagi Alina, Arman adalah sosok yang sederhana namun memiliki keteguhan hati yang jarang ditemuinya.
Suatu sore, setelah menyelesaikan penelitian, mereka berjalan kaki menyusuri tepian Sungai Martapura.
Mentari mulai condong ke barat.
Sinar keemasan memantul di permukaan air yang mengalir tenang.
Beberapa klotok melintas membawa wisatawan.
Di tepian sungai, anak-anak kecil tampak bermain sambil tertawa riang.
"Indah ya."
ucap Alina.
Arman mengangguk.
"Setiap kota punya keindahannya sendiri."
"Tapi..."
"Apa?"
"Aku tetap lebih suka suasana desa."
Alina tersenyum.
"Aku tahu."
"Karena hatimu masih tertinggal di Sriwidadi."
Arman tersenyum kecil.
"Sebagian."
"Lalu sebagian lagi?"
tanya Alina sambil menatap wajah Arman.
Arman terdiam beberapa detik.
Kemudian menjawab dengan pelan.
"Mungkin sedang belajar menemukan tempat baru."
Alina tidak mengetahui maksud kalimat itu.
Namun jawaban tersebut membuat pipinya sedikit memerah.
Hari-hari mereka semakin dipenuhi canda.
Saat makan siang di kantin, Alina sering mengambilkan segelas es teh untuk Arman.
Sebaliknya, Arman selalu membantu membawakan buku-buku Alina ketika jumlahnya terlalu banyak.
Ketika salah satu dari mereka mendapat nilai terbaik, yang lain menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat.
Saat salah satu merasa lelah menghadapi tugas kuliah, yang lain hadir memberikan semangat.
Semuanya terjadi begitu alami.
Tidak pernah ada kata "pacaran".
Tidak pernah ada ungkapan cinta.
Namun perhatian-perhatian kecil itu perlahan menghadirkan ikatan yang semakin kuat.
Teman-teman sekelas mulai sering menggoda mereka.
"Kalau Arman belum datang, Alina pasti menunggu."
"Kalau Alina izin tidak masuk, Arman pasti kelihatan lebih pendiam."
Godaan-godaan itu selalu mereka jawab dengan tawa.
Meski begitu, di dalam hati masing-masing mulai tumbuh pertanyaan yang sama.
Apakah hubungan ini akan tetap menjadi persahabatan?
Atau perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam?
Malam itu, Arman menelepon kedua orang tuanya di Desa Sriwidadi.
Ia menceritakan tentang kuliah, kegiatan penelitian, dan prestasi akademiknya.
Hasan Basri mendengarkan dengan bangga.
"Alhamdulillah."
"Teruslah belajar."
"Jangan cepat puas."
"Iya, Pak."
Lalu Siti Aminah bertanya dengan nada bercanda,
"Di kampus sudah punya banyak teman?"
"Sudah, Bu."
"Laki-laki atau perempuan?"
Arman tersenyum malu.
"Dua-duanya."
"Nah."
"Kalau ada teman perempuan yang baik..."
"...jadikan teman belajar saja dulu."
"Jangan lupa tujuanmu ke sana."
Arman tertawa pelan.
"Iya, Bu."
Nasihat itu sederhana.
Namun kembali mengingatkannya bahwa masih ada tanggung jawab besar yang harus ia selesaikan.
Beberapa hari kemudian, setelah menyelesaikan presentasi kelompok, Alina menyerahkan sebuah buku kepada Arman.
Sampulnya sederhana.
Sebuah novel klasik yang sudah lama ingin dibaca Arman.
"Aku tahu kamu mencarinya."
kata Alina.
"Jadi aku membelinya."
"Untukku?"
"Iya."
"Anggap saja hadiah karena kamu sudah banyak membantuku selama ini."
Arman menerima buku itu dengan hati-hati.
"Terima kasih."
"Aku akan menjaganya."
Alina tersenyum.
"Aku percaya."
Tatapan mereka bertemu beberapa saat.
Tidak ada satu kata pun yang terucap.
Namun keheningan sore itu seolah telah menyampaikan sesuatu yang belum mampu mereka ungkapkan.
Di balik senyum yang saling mereka berikan, harapan mulai tumbuh diam-diam.
Harapan akan masa depan yang mungkin dapat mereka jalani bersama.
Tetapi kehidupan tidak selalu berjalan mengikuti harapan.
Di luar sana, waktu sedang menyiapkan ujian yang tidak pernah mereka bayangkan.
Karena di balik hari-hari yang dipenuhi tawa, takdir diam-diam sedang menyusun awal dari sebuah perpisahan.
Perpisahan yang akan mengajarkan bahwa cinta tidak selalu kalah oleh kebencian.
Kadang, cinta justru kalah oleh pilihan hidup.
Saat Hati Mulai Berani Mengakui Perasaan
Waktu terus bergerak tanpa pernah menunggu siapa pun.
Tak terasa, Arman Maulana dan Alina Prameswari telah menjalani lebih dari dua tahun kehidupan sebagai mahasiswa di Program Studi Sastra Indonesia. Berbagai tugas, penelitian, seminar, dan kegiatan organisasi telah mereka lalui bersama. Tanpa disadari, keduanya telah menjadi pasangan yang paling sering disebut dosen ketika memberikan contoh kerja sama yang baik.
Banyak teman mengira mereka telah menjalin hubungan istimewa.
Namun kenyataannya, tidak pernah ada satu kalimat pun yang mengikat mereka.
Mereka berjalan bersama.
Belajar bersama.
Tertawa bersama.
Tetapi tidak pernah membicarakan tentang cinta.
Suatu sore menjelang akhir semester, fakultas mengadakan kegiatan Kemah Literasi Mahasiswa di kawasan perbukitan Kiram, Kabupaten Banjar.
Selama tiga hari, mahasiswa mengikuti berbagai kegiatan, mulai dari diskusi sastra, pembacaan puisi di alam terbuka, hingga pelatihan menulis kreatif.
Udara pegunungan terasa sejuk.
Kabut tipis turun setiap pagi.
Pada malam hari, langit dipenuhi ribuan bintang.
Suasana yang jauh berbeda dari hiruk-pikuk Kota Banjarmasin.
Malam kedua menjadi malam yang paling berkesan.
Seluruh peserta berkumpul mengelilingi api unggun.
Satu per satu mahasiswa membacakan puisi ciptaan mereka.
Ada yang bercerita tentang ibu.
Tentang kampung halaman.
Tentang persahabatan.
Tentang mimpi.
Ketika giliran Alina tiba, suasana mendadak hening.
Ia berdiri di depan nyala api unggun dengan selembar kertas di tangannya.
Judul puisinya sederhana.
"Untuk Seseorang yang Selalu Datang Lebih Pagi."
Suara Alina terdengar lembut.
Setiap bait yang dibacanya seolah menggambarkan seorang lelaki sederhana yang selalu membawa buku, rajin belajar, tidak banyak bicara, namun selalu hadir ketika orang lain membutuhkan bantuan.
Arman mendengarkan dengan penuh perhatian.
Semakin lama ia merasa tokoh dalam puisi itu begitu mirip dengan dirinya.
Namun ia memilih diam.
Ia menganggapnya hanya sebuah kebetulan.
Setelah acara selesai, sebagian mahasiswa kembali ke tenda masing-masing.
Sebagian lainnya masih duduk menikmati hangatnya api unggun.
Alina menghampiri Arman yang sedang memandangi langit malam.
"Indah ya."
katanya pelan.
"Iya."
"Sudah lama aku tidak melihat langit secerah ini."
Mereka duduk berdampingan di atas sebatang kayu.
Beberapa saat tidak ada yang berbicara.
Hanya suara jangkrik dan desir angin pegunungan yang menemani malam itu.
Tiba-tiba Alina memecah keheningan.
"Man."
"Iya?"
"Menurutmu..."
"...apakah setiap pertemuan pasti memiliki alasan?"
Arman berpikir sejenak.
"Lalu menjawab,
"Aku percaya begitu."
"Setiap orang yang hadir dalam hidup kita pasti membawa pelajaran."
"Walaupun kadang pelajaran itu baru kita pahami bertahun-tahun kemudian."
Alina tersenyum.
"Lalu..."
"...bagaimana kalau seseorang hadir bukan hanya untuk menjadi pelajaran?"
"Tapi juga ingin menjadi bagian dari masa depan kita?"
Arman menoleh.
Tatapan mereka bertemu.
Untuk pertama kalinya, ia melihat kesungguhan yang berbeda di mata Alina.
Malam terasa semakin sunyi.
Nyala api unggun mulai mengecil.
Alina menarik napas panjang.
Seolah sedang mengumpulkan keberanian.
"Man..."
"Aku ingin jujur."
Arman mendengarkan dengan tenang.
"Selama ini..."
"...aku tidak pernah menganggapmu hanya sebagai teman."
"Aku menyukaimu."
"Sudah cukup lama."
Kalimat itu meluncur perlahan.
Namun terasa begitu jelas.
Tidak ada keraguan lagi.
Alina akhirnya mengungkapkan isi hatinya yang selama ini ia simpan.
Arman terdiam.
Ia sama sekali tidak menyangka pengakuan itu akan datang malam itu.
Jantungnya berdegup lebih cepat.
Ia memandang nyala api unggun yang mulai meredup.
Lalu kembali menatap Alina.
"Lin..."
"...terima kasih karena sudah jujur."
"Itu keberanian yang tidak semua orang miliki."
Alina hanya tersenyum tipis.
Ia menunggu jawaban yang selama ini ia harapkan.
Namun Arman justru menarik napas panjang.
"Aku..."
"...belum tahu harus menjawab apa."
Alina mencoba tetap tersenyum.
"Karena kamu belum siap?"
Arman menggeleng pelan.
"Bukan."
"Lalu?"
"Ada seseorang..."
"...yang sampai hari ini masih belum benar-benar bisa kulupakan."
Nama itu tidak diucapkan.
Tetapi Arman tahu siapa yang sedang memenuhi pikirannya.
Erika.
Perempuan yang pernah duduk di bangku nomor delapan di kelasnya semasa SMK.
Perempuan yang hingga hari itu masih sesekali berkirim kabar dengannya.
Hubungan mereka memang tidak pernah memiliki kepastian.
Namun kenangan itu belum pernah benar-benar selesai.
Alina menundukkan wajah.
Untuk beberapa saat ia tidak mengatakan apa pun.
Kemudian ia tersenyum.
Senyum yang dipaksakan agar air matanya tidak jatuh.
"Terima kasih."
"Setidaknya kamu memilih jujur."
Arman merasa bersalah.
"Aku tidak ingin menyakitimu."
"Aku hanya tidak ingin membohongi perasaanku."
Alina mengangguk perlahan.
"Aku mengerti."
"Kalau begitu..."
"...izinkan aku tetap menjadi sahabatmu."
Arman tersenyum lega.
"Tentu."
"Kamu tetap sahabat terbaikku."
Mereka berjabat tangan.
Namun di balik genggaman itu, masing-masing menyimpan perasaan yang berbeda.
Bagi Arman, malam itu adalah malam kejujuran.
Baginya, ia telah melakukan hal yang benar dengan tidak memberikan harapan yang belum tentu mampu ia penuhi.
Namun bagi Alina, malam itu menjadi awal dari sebuah perjuangan yang lebih berat.
Ia memilih bertahan di dekat lelaki yang dicintainya, meskipun mengetahui bahwa di sudut hati Arman masih ada nama perempuan lain.
Sekembalinya ke Banjarmasin, hubungan mereka memang tetap berjalan seperti biasa.
Mereka masih berdiskusi.
Masih mengerjakan tugas bersama.
Masih saling membantu ketika salah satu mengalami kesulitan.
Namun ada sesuatu yang perlahan berubah.
Tatapan Alina menjadi lebih dalam.
Perhatiannya semakin besar.
Sementara Arman mulai berusaha membuka ruang di dalam hatinya.
Ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa masa lalu harus perlahan dilepaskan.
Bahwa mungkin Tuhan menghadirkan Alina sebagai jawaban atas doa-doanya selama ini.
Sedikit demi sedikit, Arman mulai memberi kesempatan kepada perasaan baru itu untuk tumbuh.
Ia tidak menyadari bahwa ketika akhirnya hatinya mulai terbuka, takdir justru sedang menyiapkan ujian yang paling menyakitkan.
Karena cinta yang telah lama diperjuangkan tidak selalu berakhir di pelaminan.
Kadang, ia justru berhenti di persimpangan ketika seseorang memilih jalan yang berbeda.
Dan jalan itu bernama kemapanan.
BAB XIV
Ketika Cinta Memilih Kemapanan
Hadirnya Darmanto dan Dunia yang Berbeda
Memasuki tahun terakhir perkuliahan, kesibukan mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia semakin padat.
Selain menyelesaikan mata kuliah, mereka mulai mempersiapkan proposal penelitian, seminar akademik, pengabdian kepada masyarakat, hingga penyusunan skripsi. Kampus yang dahulu dipenuhi tawa mahasiswa baru kini berubah menjadi tempat yang dipenuhi kesibukan dan perlombaan dengan waktu.
Arman Maulana tetap menjalani semuanya dengan disiplin.
Pagi menghadiri kuliah.
Siang berdiskusi dengan dosen pembimbing.
Sore menghabiskan waktu di perpustakaan.
Malam menyelesaikan tugas dan membaca berbagai referensi.
Di sela-sela kesibukan itu, Alina hampir selalu berada di sampingnya.
Mereka bukan lagi sekadar sahabat diskusi.
Sejak malam pengakuan perasaan di Kemah Literasi, hubungan keduanya berkembang perlahan. Arman memang tidak pernah mengucapkan kata cinta secara tergesa-gesa, tetapi ia mulai membuka ruang di dalam hatinya. Ia belajar menerima kehadiran Alina, sementara Alina dengan penuh kesabaran menghargai proses itu.
Hubungan mereka berjalan tenang.
Dewasa.
Tanpa banyak janji.
Suatu pagi, fakultas mengadakan Seminar Nasional Sastra dan Industri Kreatif.
Kegiatan tersebut menghadirkan berbagai akademisi, penulis, penerbit, dan pelaku usaha kreatif dari beberapa daerah di Kalimantan.
Mahasiswa semester akhir diwajibkan menjadi panitia.
Arman dipercaya sebagai koordinator dokumentasi dan publikasi.
Sedangkan Alina bertugas di bagian penerima tamu.
Sejak pagi aula kampus telah dipenuhi peserta.
Mobil-mobil tamu silih berganti memasuki halaman fakultas.
Beberapa di antaranya merupakan kendaraan mewah yang jarang terlihat di lingkungan kampus.
Ketika Arman sedang membantu memasang spanduk kegiatan, sebuah mobil berwarna hitam berhenti tepat di depan gedung.
Seorang pria turun dari kursi pengemudi.
Usianya sekitar tiga puluh tahun.
Berpenampilan rapi dengan setelan jas berwarna abu-abu.
Jam tangan bermerek melingkar di pergelangan kirinya.
Pembawaannya tenang dan penuh percaya diri.
Ia tersenyum ramah kepada panitia yang menyambutnya.
"Selamat pagi."
"Apakah registrasi peserta di sini?"
Alina yang bertugas di meja penerimaan tamu segera berdiri.
"Iya, Pak."
"Silakan mengisi daftar hadir terlebih dahulu."
Pria itu mengambil pulpen.
"Terima kasih."
Namanya tertulis jelas pada formulir.
Darmanto Prakoso.
Direktur sebuah perusahaan penerbitan dan konsultan media kreatif yang menjadi salah satu sponsor kegiatan seminar.
Selama seminar berlangsung, Darmanto beberapa kali menyampaikan materi mengenai dunia industri kreatif, penerbitan buku, dan peluang kerja bagi lulusan sastra.
Cara bicaranya tenang.
Wawasannya luas.
Ia mampu menjelaskan berbagai hal dengan bahasa yang mudah dipahami.
Mahasiswa mendengarkan dengan antusias.
Termasuk Alina.
Seusai sesi diskusi, beberapa mahasiswa menghampiri Darmanto untuk bertanya.
Alina pun ikut bergabung.
"Apa peluang terbesar bagi lulusan sastra saat ini, Pak?"
tanyanya.
Darmanto tersenyum.
"Jangan hanya berpikir menjadi guru atau dosen."
"Dunia kreatif jauh lebih luas."
"Editor."
"Penulis."
"Content strategist."
"Konsultan komunikasi."
"Bahkan pengusaha."
"Semuanya membutuhkan kemampuan berpikir dan menulis."
Jawaban itu membuat Alina semakin tertarik.
Ia mengajukan beberapa pertanyaan lanjutan mengenai dunia penerbitan.
Darmanto menjawab satu per satu dengan sabar.
Arman yang melihat dari kejauhan merasa senang.
Ia mengira Alina hanya sedang memperluas wawasan akademiknya.
Tidak ada sedikit pun rasa curiga di dalam hatinya.
Beberapa hari setelah seminar, fakultas menerima kabar bahwa perusahaan milik Darmanto membuka program magang bagi mahasiswa tingkat akhir.
Kesempatan itu langsung menarik perhatian banyak mahasiswa.
Selain memberikan pengalaman kerja, peserta magang juga memperoleh uang saku yang cukup besar.
Dosen pembimbing mendorong mahasiswa berprestasi untuk mendaftar.
Nama Arman dan Alina termasuk yang direkomendasikan.
"Aku rasa kita harus mencoba."
kata Alina suatu sore.
Arman mengangguk.
"Pengalaman kerja pasti akan sangat bermanfaat."
Mereka pun menyiapkan berkas pendaftaran bersama-sama.
Namun setelah proses seleksi administrasi dan wawancara selesai, hasilnya sedikit berbeda dari yang mereka bayangkan.
Alina dinyatakan diterima.
Sedangkan Arman tidak.
Bukan karena nilainya kurang baik.
Melainkan karena kuota program magang untuk bidang yang diminatinya telah penuh.
"Aku ikut senang."
kata Arman ketika mengetahui hasil itu.
"Kesempatan seperti ini jarang datang."
Alina menatap Arman dengan rasa bersalah.
"Aku sebenarnya berharap kita bisa diterima bersama."
Arman tersenyum.
"Rezeki setiap orang berbeda."
"Yang penting kamu manfaatkan kesempatan itu sebaik mungkin."
Alina mengangguk.
Ucapan Arman membuatnya semakin yakin bahwa lelaki di hadapannya memang memiliki hati yang tulus.
Program magang dimulai beberapa minggu kemudian.
Sejak saat itu, kesibukan Alina bertambah.
Pagi ia mengikuti kegiatan di perusahaan milik Darmanto.
Siang atau sore baru kembali ke kampus untuk menghadiri bimbingan skripsi.
Intensitas pertemuannya dengan Arman mulai berkurang.
Mereka masih saling bertukar pesan.
Masih sesekali makan siang bersama.
Namun tidak sesering sebelumnya.
Suatu malam, ketika sedang menyusun revisi proposal skripsi di perpustakaan, Arman menerima pesan singkat dari Alina.
Alina:
"Maaf ya, Man. Hari ini aku tidak sempat ke kampus. Masih ada rapat di kantor magang."
Arman segera membalas.
Arman:
"Tidak apa-apa. Fokus saja belajar. Semoga magangnya lancar."
Tak lama kemudian muncul balasan.
Alina:
"Terima kasih. Doakan semuanya berjalan baik."
Arman tersenyum.
Ia sama sekali tidak merasa khawatir.
Baginya, kesempatan magang itu adalah langkah awal Alina meraih masa depan yang lebih baik.
Ia justru bangga melihat perempuan yang mulai mengisi ruang di hatinya memperoleh kesempatan berkembang.
Namun Arman tidak mengetahui bahwa dunia baru yang sedang dimasuki Alina perlahan mengubah cara pandangnya terhadap kehidupan.
Di sana ia bertemu dengan lingkungan yang berbeda.
Dengan orang-orang yang telah mapan.
Dengan mimpi-mimpi yang jauh lebih besar daripada yang pernah ia bayangkan.
Dan di tengah dunia baru itu, ada seorang lelaki bernama Darmanto yang diam-diam mulai memperhatikan Alina, bukan hanya sebagai mahasiswa magang yang cerdas, tetapi juga sebagai perempuan yang berhasil menarik perhatiannya.
Takdir mulai membuka jalan bagi sebuah ujian.
Bukan ujian tentang kesetiaan semata.
Melainkan ujian antara cinta yang tumbuh bersama perjuangan dan masa depan yang dijanjikan oleh kemapanan.
Jarak yang Perlahan Tercipta
Hari-hari berlalu semakin cepat.
Program magang yang dijalani Alina Prameswari memasuki bulan kedua. Kesibukannya di perusahaan milik Darmanto Prakoso semakin padat. Ia tidak lagi hanya membantu pekerjaan administrasi penerbitan, tetapi mulai dilibatkan dalam penyuntingan naskah, penyusunan proposal kerja sama, hingga menghadiri beberapa pertemuan dengan penulis dan mitra perusahaan.
Pengalaman itu menjadi dunia baru baginya.
Dunia yang selama ini hanya ia baca dari buku-buku.
Kini ia menjalaninya secara nyata.
Sementara itu, kehidupan Arman Maulana tetap berjalan dalam irama yang sama.
Pagi mengikuti kuliah.
Siang menemui dosen pembimbing skripsi.
Sore mencari referensi di perpustakaan.
Malam menulis bab demi bab penelitiannya.
Sesekali ia mengambil pekerjaan sampingan sebagai penyunting naskah lepas untuk menambah uang saku.
Honor yang diterimanya memang tidak besar.
Namun cukup untuk membeli beberapa buku dan memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Arman tidak pernah mengeluh.
Baginya, setiap langkah kecil adalah bagian dari perjalanan panjang menuju masa depan.
Suatu sore, Arman duduk sendirian di kantin kampus.
Segelas teh hangat dan sepiring nasi sederhana menjadi teman makannya.
Biasanya, di kursi seberangnya selalu ada Alina.
Mereka saling bertukar cerita tentang kegiatan masing-masing.
Namun hari itu kursi itu kembali kosong.
Telepon genggam Arman bergetar.
Pesan dari Alina masuk.
Alina:
"Maaf ya, Man. Hari ini aku masih harus ikut rapat sampai malam. Sepertinya tidak bisa ke kampus."
Arman membaca pesan itu sambil tersenyum.
Ia membalas singkat.
Arman:
"Tidak apa-apa. Jaga kesehatan. Jangan lupa makan."
Balasan datang beberapa menit kemudian.
Alina:
"Iya. Terima kasih sudah selalu mengingatkanku."
Percakapan mereka kini terasa lebih singkat dibandingkan sebelumnya.
Bukan karena ada pertengkaran.
Melainkan karena kesibukan mulai mengambil ruang yang dahulu dipenuhi kebersamaan.
Beberapa hari kemudian, Arman menghadiri seminar skripsi salah seorang senior.
Ketika acara selesai, ia tanpa sengaja melihat Alina berjalan keluar dari halaman kampus.
Namun Alina tidak sendirian.
Di sampingnya berdiri Darmanto.
Pria itu membukakan pintu mobil dengan sopan sebelum Alina masuk.
Mereka tampak berbincang ringan.
Sesekali tertawa.
Arman hanya memandang dari kejauhan.
Tidak ada rasa curiga.
Ia justru berpikir bahwa mungkin pimpinan perusahaan sedang mengantar mahasiswa magangnya pulang setelah menghadiri sebuah kegiatan.
"Alina memang beruntung."
gumamnya pelan.
"Mendapat pembimbing kerja yang baik."
Ia kembali melangkah menuju parkiran sepeda motornya.
Tanpa mengetahui bahwa pemandangan sederhana itu akan terus berulang pada hari-hari berikutnya.
Di perusahaan tempat magang, Darmanto mulai sering mengajak Alina berdiskusi secara langsung.
Awalnya hanya membahas pekerjaan.
Kemudian berkembang menjadi pembicaraan tentang buku, pendidikan, keluarga, hingga rencana masa depan.
Darmanto adalah sosok yang dewasa.
Berpengalaman.
Mapan secara ekonomi.
Ia telah membangun perusahaan penerbitan yang berkembang pesat di Kalimantan.
Suatu siang, seusai rapat, Darmanto berkata,
"Alina."
"Iya, Pak?"
"Saya membaca tulisanmu."
"Bagus."
"Kamu punya cara berpikir yang matang."
Alina tersenyum malu.
"Terima kasih, Pak."
"Kalau nanti sudah lulus..."
"...apakah kamu berminat bekerja di perusahaan ini?"
Alina tampak terkejut.
"Saya?"
"Iya."
"Kami membutuhkan orang yang bisa menulis sekaligus memahami dunia literasi."
"Silakan dipikirkan."
"Tidak perlu menjawab sekarang."
Alina mengangguk pelan.
"Tentu, Pak."
Kesempatan itu membuat pikirannya dipenuhi berbagai pertimbangan.
Ia memang bercita-cita menjadi dosen.
Namun tawaran pekerjaan tetap dengan penghasilan yang baik tentu bukan sesuatu yang mudah diabaikan.
Di sisi lain, Arman mulai tenggelam dalam penyusunan skripsinya.
Topik penelitian yang dipilihnya cukup kompleks sehingga membutuhkan banyak waktu di perpustakaan dan lapangan.
Ia jarang keluar kampus.
Jarang pula menghubungi Alina lebih dahulu.
Bukan karena tidak peduli.
Melainkan karena ia percaya hubungan yang baik tidak harus diisi dengan percakapan setiap saat.
Suatu malam, Farhan memperhatikan sahabatnya yang masih sibuk mengetik di depan laptop.
"Man."
"Iya?"
"Sudah seminggu kamu tidak bertemu Alina?"
Arman menghentikan ketikannya.
"Iya."
"Dia sedang sibuk magang."
Farhan mengangguk.
"Kamu tidak khawatir?"
Arman tersenyum tenang.
"Hubungan yang dibangun dengan rasa percaya tidak boleh mudah goyah hanya karena jarang bertemu."
Farhan tidak menjawab.
Namun dalam hati ia berharap keyakinan Arman memang benar.
Akhir pekan tiba.
Setelah hampir dua minggu tidak bertemu, Arman mengajak Alina makan siang di sebuah warung sederhana yang dahulu sering mereka kunjungi.
Alina datang.
Namun Arman merasakan sesuatu yang berbeda.
Cara bicaranya tetap lembut.
Senyumnya masih sama.
Tetapi pikirannya tampak sering melayang.
Beberapa kali telepon genggamnya berbunyi.
Ia meminta izin untuk membalas pesan.
"Maaf."
"Ini dari kantor."
kata Alina.
"Tidak apa-apa."
jawab Arman sambil tetap tersenyum.
Mereka kembali melanjutkan makan siang.
Namun percakapan yang dahulu mengalir begitu hangat kini terasa sering terputus.
Seolah ada dinding tipis yang perlahan berdiri di antara mereka.
Sebelum pulang, Arman bertanya,
"Magangnya menyenangkan?"
Alina mengangguk.
"Iya."
"Aku belajar banyak."
"Pak Darmanto juga sangat baik membimbing."
Arman ikut senang.
"Syukurlah."
"Kesempatan seperti itu memang tidak datang dua kali."
Alina tersenyum.
Namun kali ini senyumnya tidak lagi sehangat biasanya.
Di dalam hatinya mulai tumbuh kebingungan yang belum mampu ia jelaskan.
Ia masih menyayangi Arman.
Tetapi dunia yang kini ia masuki memperlihatkan banyak kemungkinan baru.
Kemungkinan tentang karier.
Tentang kehidupan yang lebih mapan.
Tentang masa depan yang selama ini belum pernah ia bayangkan.
Sementara Arman tetap berdiri pada prinsip-prinsip sederhana yang selama ini ia pegang.
Ia percaya bahwa kebahagiaan dibangun oleh perjuangan bersama.
Sedangkan tanpa disadari, Alina mulai melihat bahwa kebahagiaan juga dapat hadir melalui kepastian hidup.
Jarak di antara mereka belum terlihat oleh mata.
Namun perlahan mulai terasa oleh hati.
Dan sering kali, sebuah hubungan tidak hancur karena pertengkaran.
Melainkan karena dua orang mulai berjalan ke arah yang berbeda tanpa menyadarinya.
Pilihan yang Mengubah Segalanya
Waktu bergerak menuju penghujung semester akhir.
Gedung-gedung kampus yang dahulu dipenuhi mahasiswa baru kini menjadi saksi perjuangan mereka menyelesaikan skripsi. Di ruang-ruang bimbingan, antrean mahasiswa semakin panjang. Di perpustakaan, meja-meja baca hampir tidak pernah kosong. Semua sedang berlomba dengan waktu demi menyelesaikan pendidikan yang telah diperjuangkan selama bertahun-tahun.
Arman Maulana tetap menjalani semuanya dengan ketenangan.
Skripsi yang ditulisnya mulai memasuki tahap akhir.
Beberapa kali dosen pembimbing memberikan revisi.
Namun Arman mengerjakannya dengan sabar.
Ia percaya, setiap keberhasilan selalu melewati proses yang panjang.
Di sisi lain, program magang Alina Prameswari telah berakhir.
Namun hubungan profesionalnya dengan perusahaan milik Darmanto Prakoso tidak ikut berakhir.
Beberapa hari setelah magang selesai, Darmanto mengundangnya datang ke kantor.
Bukan sebagai mahasiswa magang.
Melainkan sebagai tamu.
Alina sempat ragu.
Namun akhirnya ia datang.
Setelah berbincang mengenai perkembangan skripsinya, Darmanto menyerahkan sebuah map berwarna biru.
"Apa ini, Pak?"
"Buka saja."
Alina membuka map itu perlahan.
Matanya membulat.
Di dalamnya terdapat surat penawaran kerja.
Perusahaan penerbitan tersebut menawarkan posisi sebagai editor junior setelah Alina lulus kuliah.
Gaji yang ditawarkan jauh di atas rata-rata lulusan baru.
Ditambah berbagai fasilitas lain.
Alina terdiam.
"Pak..."
"Saya tidak menyangka."
Darmanto tersenyum.
"Kamu memiliki kemampuan."
"Sayang kalau tidak dikembangkan."
"Aku yakin kamu akan menjadi aset yang baik bagi perusahaan."
Alina menggenggam map itu erat.
Kesempatan seperti itu tidak pernah terbayangkan sebelumnya.
Sejak hari itu, pikiran Alina mulai dipenuhi berbagai pertimbangan.
Ia masih menyimpan rasa kepada Arman.
Namun ia juga mulai membayangkan kehidupan yang lebih pasti.
Karier yang jelas.
Penghasilan tetap.
Lingkungan profesional.
Sementara Arman masih sering berbicara tentang mimpi-mimpinya.
Tentang menjadi penulis.
Tentang mengabdi kepada masyarakat.
Tentang kembali membangun daerah asalnya setelah memiliki pengalaman yang cukup.
Mimpi itu begitu indah.
Tetapi menurut Alina, jalannya masih panjang dan penuh ketidakpastian.
Suatu sore, Arman mengajak Alina bertemu di taman kampus.
Mereka duduk di bangku yang sama seperti ketika pertama kali sering berdiskusi dahulu.
Angin sore bertiup pelan.
Daun-daun trembesi berguguran di sekitar mereka.
"Aku dengar magangmu sudah selesai."
kata Arman.
"Iya."
"Selamat."
"Terima kasih."
"Kamu pasti mendapatkan banyak pengalaman."
Alina mengangguk.
"Lumayan banyak."
Kemudian ia menyerahkan map biru yang dibawanya.
"Ada sesuatu yang ingin kutunjukkan."
Arman membacanya perlahan.
Senyumnya mengembang.
"Alhamdulillah."
"Ini kabar yang luar biasa."
"Selamat."
"Aku bangga padamu."
Tidak ada sedikit pun rasa iri di wajah Arman.
Ia benar-benar ikut bahagia.
Melihat reaksi itu, Alina justru merasa semakin bersalah.
"Man..."
"Iya?"
"Kalau aku menerima pekerjaan ini..."
"...bagaimana menurutmu?"
Arman menatap Alina dengan tenang.
"Itu keputusan yang baik."
"Kesempatan seperti ini tidak datang dua kali."
"Tapi..."
Alina menggantungkan kalimatnya.
"Apa?"
"Kalau nanti kita memiliki jalan hidup yang berbeda?"
Arman tersenyum.
"Selama dua orang memiliki tujuan yang sama..."
"...jarak bukan masalah."
Jawaban itu terdengar begitu sederhana.
Namun bagi Alina, jawaban itu terasa terlalu ideal.
Ia berharap mendengar kalimat lain.
Kalimat yang lebih pasti.
Tentang masa depan mereka.
Tentang rencana hidup bersama.
Namun Arman belum pernah memikirkan sejauh itu.
Baginya, saat ini yang terpenting adalah menyelesaikan kuliah.
Karier dan masa depan akan dipikirkan setelah semuanya selesai.
Beberapa hari kemudian, perusahaan tempat Darmanto bekerja mengadakan acara makan malam bersama seluruh staf dan calon karyawan baru.
Alina mendapat undangan khusus.
Acara berlangsung di sebuah hotel berbintang di pusat Kota Banjarmasin.
Untuk pertama kalinya, Alina memasuki lingkungan profesional yang begitu berbeda dengan kehidupan kampus.
Para tamu datang mengenakan pakaian formal.
Mereka berbicara mengenai investasi, bisnis, peluang usaha, dan pengembangan perusahaan.
Di sela-sela acara, Darmanto memperkenalkan Alina kepada beberapa kolega.
"Ini Alina."
"Calon editor muda kami."
Semua menyambutnya dengan ramah.
Mereka memuji kecerdasannya.
Kemampuannya menulis.
Potensi masa depannya.
Malam itu, Alina mulai melihat kehidupan dari sudut pandang yang baru.
Menjelang akhir acara, Darmanto mengantar Alina menuju area parkir.
Suasana malam cukup tenang.
Lampu-lampu kota memantulkan cahaya di atas jalan yang masih basah setelah hujan sore.
"Alina."
"Iya, Pak?"
"Aku ingin berbicara bukan sebagai pimpinan perusahaan."
Alina menoleh.
Darmanto menarik napas perlahan.
"Selama beberapa bulan mengenalmu..."
"...aku semakin yakin bahwa kamu bukan hanya perempuan yang cerdas."
"Kamu juga memiliki kepribadian yang sangat baik."
Alina mulai memahami arah pembicaraan itu.
Darmanto melanjutkan,
"Aku ingin mengenalmu lebih serius."
"Bukan sekarang juga."
"Bukan untuk memaksamu."
"Tetapi jika suatu hari nanti kamu membuka hati..."
"...aku berharap aku menjadi salah satu orang yang kamu pertimbangkan."
Kalimat itu membuat Alina terdiam.
Ia tidak menjawab.
Pikirannya dipenuhi berbagai perasaan yang saling bertabrakan.
Di satu sisi, ada Arman yang selama ini berjalan bersamanya dalam perjuangan.
Lelaki sederhana yang selalu membuatnya merasa dihargai.
Di sisi lain, berdiri Darmanto.
Seorang pria dewasa, mapan, memiliki karier yang jelas, dan menawarkan masa depan yang tampak begitu pasti.
Malam itu, untuk pertama kalinya Alina benar-benar dihadapkan pada sebuah pilihan besar dalam hidupnya.
Pilihan yang tidak hanya menentukan kepada siapa ia akan memberikan hatinya.
Tetapi juga menentukan jalan hidup yang akan ia tempuh.
Sementara itu, di kamar asramanya, Arman masih duduk di depan laptop menyelesaikan revisi skripsi.
Sesekali ia memandang foto dirinya bersama Alina ketika Festival Sastra Mahasiswa.
Ia tersenyum kecil.
Dalam hatinya mulai tumbuh keyakinan bahwa setelah lulus nanti, mungkin sudah saatnya ia berbicara lebih serius tentang masa depan mereka.
Ia tidak mengetahui bahwa waktu tidak lagi berpihak kepadanya.
Karena ketika seseorang masih sibuk menyiapkan keberanian untuk menyatakan kesungguhan, terkadang orang lain telah lebih dahulu datang menawarkan kepastian.
Dan sering kali, kehidupan tidak memberi kesempatan kedua bagi hati yang terlambat menyampaikan maksudnya.
BAB XV
Lelaki yang Belajar Ikhlas
Wisuda, Perpisahan, dan Jalan yang Mulai Berbeda
Mentari pagi menyinari halaman kampus dengan cahaya keemasan.
Deretan toga hitam mulai memenuhi pelataran universitas. Senyum bahagia terpancar dari wajah para mahasiswa yang hari itu resmi menuntaskan perjalanan panjang mereka sebagai insan akademik. Di berbagai sudut kampus, keluarga datang membawa bunga, kamera, dan doa-doa yang sejak lama mereka simpan.
Hari itu bukan sekadar hari wisuda.
Hari itu adalah batas antara masa muda yang penuh mimpi dengan kehidupan nyata yang menanti di depan.
Arman Maulana berdiri di depan cermin kamar asramanya.
Untuk pertama kalinya ia mengenakan toga yang selama bertahun-tahun hanya ia impikan.
Ia merapikan kerah kemejanya.
Tangannya sedikit gemetar.
Bukan karena gugup.
Melainkan karena ia teringat perjalanan panjang yang telah mengantarkannya sampai di titik ini.
Ia masih mengingat sawah-sawah di Desa Sriwidadi.
Sepeda tua yang dahulu dikayuh menuju sekolah.
Wajah ayahnya yang menghitam karena terik matahari.
Tangan ibunya yang kasar karena bertahun-tahun membantu pekerjaan di kebun.
Serta doa-doa sederhana yang selalu mereka panjatkan setiap selesai salat.
Hari itu, semua pengorbanan mereka seolah menemukan jawabannya.
Tak lama kemudian telepon Arman berdering.
Di layar tertulis nama Ayah.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Suara Hasan Basri terdengar hangat dari seberang.
"Bagaimana, Man?"
"Sudah siap?"
"Insya Allah, Pak."
"Maaf..."
"...Ayah dan Ibu belum bisa datang."
Arman tersenyum.
"Tidak apa-apa."
"Doa Ayah dan Ibu sudah lebih dari cukup."
Suara di ujung telepon mendadak lirih.
"Ayah bangga."
"Anak petani dari Sriwidadi akhirnya menjadi sarjana."
Arman menundukkan kepala.
Matanya mulai berkaca-kaca.
"Semua karena doa Ayah dan Ibu."
"Tidak."
jawab Hasan Basri.
"Itu karena kerja kerasmu sendiri."
"Tapi ingat."
"Setelah menjadi sarjana, jangan pernah merasa lebih tinggi daripada orang lain."
"Ilmu yang paling mulia adalah ilmu yang bermanfaat."
"Iya, Pak."
Arman menggenggam teleponnya erat.
Kalimat itu kembali menjadi bekal hidup yang tak ternilai.
Prosesi wisuda berlangsung dengan khidmat.
Satu per satu nama lulusan dipanggil.
Ketika nama Arman Maulana disebut, tepuk tangan memenuhi ruangan.
Ia melangkah mantap menuju panggung.
Rektor menyerahkan ijazah dan mengucapkan selamat.
"Semoga sukses."
"Terima kasih, Pak."
Setelah turun dari panggung, Arman mencari wajah yang sudah dikenalnya.
Tak jauh dari sana, Alina berdiri bersama keluarganya.
Ia juga mengenakan toga.
Wajahnya tampak berseri.
Mereka saling tersenyum.
Hari itu, tidak ada lagi mahasiswa.
Mereka kini sama-sama menjadi lulusan yang akan memulai kehidupan baru.
Setelah acara selesai, Arman menghampiri Alina.
"Selamat, Sarjana."
ucapnya sambil menyerahkan setangkai bunga mawar putih yang telah ia siapkan.
Alina menerimanya dengan senyum hangat.
"Terima kasih."
"Selamat juga."
"Kita akhirnya berhasil."
"Iya."
"Setelah semua perjuangan."
Beberapa saat mereka terdiam.
Suasana kampus dipenuhi tawa para wisudawan.
Suara kamera bersahut-sahutan mengabadikan momen bahagia.
Namun di tengah keramaian itu, keduanya justru merasakan keheningan yang sulit dijelaskan.
Tak lama kemudian, seorang pria menghampiri mereka.
Arman langsung mengenalinya.
Darmanto Prakoso.
Ia mengenakan setelan jas biru tua dan membawa sebuket bunga anggrek putih.
"Selamat, Alina."
ucapnya.
"Terima kasih, Pak."
Darmanto menyerahkan bunga itu.
"Kamu pantas mendapatkannya."
"Semoga perjalanan kariermu dimulai dengan langkah yang baik."
Alina tersenyum.
"Terima kasih atas semua bimbingannya."
Darmanto kemudian menoleh kepada Arman.
"Selamat juga."
"Terima kasih."
jawab Arman sambil menjabat tangannya.
"Semoga sukses."
"Mudah-mudahan kita bisa bekerja sama suatu saat nanti."
"Semoga."
Percakapan itu berlangsung singkat.
Namun entah mengapa, hati Arman merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Perasaan asing.
Sulit dijelaskan.
Seolah ada jarak yang perlahan terbentuk.
Sore harinya, Arman dan Alina duduk di taman kampus untuk terakhir kalinya.
Bangku tua di bawah pohon trembesi itu menjadi saksi begitu banyak cerita mereka.
Di sanalah mereka pernah berdiskusi.
Berdebat.
Tertawa.
Bahkan saling menguatkan ketika hampir menyerah.
"Apa rencanamu setelah ini?"
tanya Alina.
"Aku akan pulang dulu ke Sriwidadi."
"Menghabiskan waktu bersama Ayah dan Ibu."
"Lalu?"
"Aku akan mencari pekerjaan."
"Mungkin di Kuala Kapuas."
"Atau di mana pun selama bisa mengembangkan ilmu."
Alina mengangguk.
"Aku..."
"...kemungkinan besar langsung bekerja."
"Di perusahaan Pak Darmanto?"
"Iya."
Arman tersenyum tulus.
"Itu kabar baik."
"Aku ikut bahagia."
Alina memandang Arman.
Di dalam hatinya muncul pertanyaan yang sejak lama ingin ia dengar jawabannya.
"Man."
"Iya?"
"Kamu pernah membayangkan..."
"...masa depan kita?"
Arman tersenyum pelan.
"Tentu."
"Kalau sudah sama-sama memiliki pekerjaan tetap..."
"...aku ingin berbicara kepada orang tuamu."
Kalimat itu membuat Alina terdiam.
Ia menatap Arman cukup lama.
Ucapan itu adalah jawaban yang selama ini ia nantikan.
Namun jawaban itu datang terlambat.
Karena di dalam hatinya kini telah tumbuh keraguan yang tidak pernah ada sebelumnya.
Ia tidak lagi hanya memikirkan cinta.
Ia juga memikirkan masa depan.
Tentang kepastian.
Tentang kehidupan.
Tentang pilihan yang semakin rumit.
Matahari mulai tenggelam di ufuk barat.
Keduanya berdiri meninggalkan taman kampus.
Sebelum berpisah, Arman berkata,
"Jaga dirimu baik-baik."
"Kamu juga."
Alina mengangguk.
Mereka saling tersenyum.
Lalu melangkah ke arah yang berbeda.
Arman menuju gerbang kampus sambil membawa map berisi ijazah dan berbagai impian yang masih ingin ia wujudkan.
Sementara Alina berjalan menuju mobil yang telah menunggunya di pelataran parkir.
Di balik kemudi, Darmanto telah duduk dengan tenang.
Arman sempat melihat mobil itu melaju perlahan meninggalkan kampus.
Ia hanya tersenyum.
Dalam benaknya, itu hanyalah tumpangan seorang atasan kepada calon karyawannya.
Ia belum mengetahui bahwa sejak hari wisuda itu, jalan hidup mereka benar-benar mulai bercabang.
Satu menuju perjuangan yang panjang dan penuh ketidakpastian.
Yang lain menuju dunia profesional yang menawarkan kemapanan.
Dan di antara dua jalan itulah, cinta mereka akan menghadapi ujian yang sesungguhnya.
Kabar yang Datang Bersama Sebuah Keputusan
Beberapa minggu setelah wisuda, kehidupan membawa Arman Maulana dan Alina Prameswari ke jalan yang benar-benar berbeda.
Arman kembali ke Desa Sriwidadi.
Sedangkan Alina memulai babak baru sebagai editor junior di perusahaan penerbitan milik Darmanto Prakoso di Kota Banjarmasin.
Jarak yang dahulu hanya dipisahkan oleh jadwal kuliah kini berubah menjadi jarak kehidupan.
Pagi di Desa Sriwidadi selalu dimulai dengan embun yang masih menggantung di ujung daun padi.
Ayam berkokok dari halaman rumah-rumah warga.
Kabut tipis menyelimuti jalan desa yang mulai ramai oleh petani yang berangkat ke sawah.
Sudah lama Arman merindukan suasana seperti itu.
Ia kembali membantu ayahnya di sawah ketika tidak sedang mencari informasi lowongan pekerjaan.
Sesekali ia membantu ibunya membersihkan halaman rumah.
Malam hari, ia membuka laptop tuanya untuk mengirim lamaran ke berbagai perusahaan di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan.
Ia tidak pernah memilih pekerjaan berdasarkan gengsi.
Baginya, pekerjaan pertama adalah batu pijakan menuju masa depan.
Suatu sore, Hasan Basri duduk bersama Arman di beranda rumah.
Matahari mulai condong ke barat.
Angin dari hamparan persawahan bertiup lembut membawa aroma tanah yang basah.
"Ayah lihat kamu sering melamun."
kata Hasan Basri.
Arman tersenyum tipis.
"Mungkin hanya lelah berpikir."
"Mencari pekerjaan memang tidak mudah."
Ayahnya mengangguk.
"Jangan hanya mengejar pekerjaan yang besar."
"Carilah pekerjaan yang membuatmu terus belajar."
"Iya, Pak."
"Lalu..."
Hasan Basri berhenti sejenak.
"Bagaimana dengan perempuan yang sering kamu ceritakan dulu?"
Arman sedikit terkejut.
"Alina?"
"Iya."
"Kalian masih berhubungan?"
Arman mengangguk pelan.
"Masih."
"Walaupun sekarang sudah jarang."
Hasan Basri tersenyum bijak.
"Kalau memang dia jodohmu, Tuhan akan mendekatkannya."
"Kalau bukan..."
"...sekuat apa pun kamu mempertahankan, dia tetap akan pergi."
Arman mengangguk tanpa menjawab.
Kalimat itu diam-diam tersimpan di dalam hatinya.
Di Banjarmasin, kehidupan Alina berubah dengan sangat cepat.
Setiap pagi ia berangkat ke kantor mengenakan pakaian formal.
Ia mulai terbiasa menghadiri rapat, menyunting naskah para penulis, berdiskusi dengan tim pemasaran, hingga bertemu berbagai tokoh dunia literasi.
Prestasinya membuat Darmanto semakin percaya kepadanya.
Dalam waktu singkat, Alina menjadi salah satu editor muda yang paling diperhitungkan di perusahaan.
Suatu siang, setelah rapat selesai, Darmanto berkata,
"Alina."
"Iya, Pak."
"Aku ingin memperkenalkanmu kepada beberapa mitra perusahaan di Jakarta."
"Minggu depan kita ada perjalanan dinas."
Alina tampak terkejut.
"Saya?"
"Iya."
"Kamu pantas mendapat kesempatan itu."
"Terima kasih, Pak."
Kesempatan tersebut membuat karier Alina berkembang jauh lebih cepat daripada yang pernah ia bayangkan.
Sementara itu, komunikasi antara Arman dan Alina semakin jarang.
Bukan karena mereka bertengkar.
Melainkan karena kesibukan masing-masing.
Arman sibuk mengikuti berbagai proses seleksi pekerjaan.
Alina sibuk dengan tanggung jawab barunya.
Suatu malam, Arman mengirim pesan.
Arman:
"Bagaimana pekerjaanmu? Semoga selalu lancar."
Beberapa jam kemudian, balasan baru datang.
Alina:
"Alhamdulillah baik. Maaf baru membalas. Baru selesai rapat."
Arman kembali membalas.
Arman:
"Jangan terlalu lelah."
Namun setelah itu tidak ada lagi percakapan.
Tidak seperti dahulu.
Yang satu menunggu.
Yang satu lagi terlalu sibuk untuk menyadari bahwa ada seseorang yang sedang menunggu.
Hari demi hari berlalu.
Suatu pagi, ketika sedang membantu ayahnya memperbaiki saluran air di sawah, telepon Arman berdering.
Nama Alina muncul di layar.
Dengan wajah cerah, Arman segera mengangkatnya.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Suara Alina terdengar pelan.
"Man..."
"Aku mengganggu?"
"Tidak sama sekali."
"Ada apa?"
Beberapa detik tidak terdengar jawaban.
Hanya suara napas yang tertahan.
"Aku ingin menyampaikan sesuatu."
"Iya."
"Aku..."
"...aku menerima kontrak kerja tetap di perusahaan."
Arman tersenyum.
"Alhamdulillah."
"Selamat."
"Aku benar-benar ikut bahagia."
"Terima kasih."
Suasana kembali hening.
Lalu Alina melanjutkan dengan suara yang jauh lebih pelan.
"Man."
"Iya?"
"Mungkin..."
"...ke depannya aku akan lebih banyak berada di luar kota."
"Perusahaan sering mengirimku mengikuti pelatihan."
"Dan mungkin juga..."
"...aku akan dipindahkan ke kantor pusat kalau ada kesempatan."
Arman memandang hamparan sawah di depannya.
Ia memahami arti kalimat itu.
Impian Alina sedang tumbuh semakin besar.
"Aku mendukungmu."
katanya dengan tulus.
"Kejar cita-citamu."
"Jangan pernah berhenti berkembang."
Di seberang telepon, Alina justru semakin sulit berbicara.
Ia berharap Arman menahannya.
Memintanya tetap tinggal.
Atau setidaknya mengatakan bahwa ia tidak ingin kehilangan dirinya.
Namun Arman tidak melakukan itu.
Bukan karena tidak mencintai Alina.
Melainkan karena ia tidak pernah ingin menjadi penghalang bagi masa depan orang yang ia sayangi.
Beberapa hari kemudian, Farhan datang mengunjungi Arman di Sriwidadi.
Mereka duduk di tepi sawah sambil menikmati kopi hitam buatan Siti Aminah.
"Bagaimana Alina?"
tanya Farhan.
"Dia diterima sebagai karyawan tetap."
"Wah."
"Itu kabar bagus."
"Iya."
Farhan menatap sahabatnya beberapa saat.
"Lalu bagaimana hubungan kalian?"
Arman tersenyum tipis.
"Kami sama-sama sedang mengejar masa depan."
"Itu saja."
Farhan menghela napas.
"Kadang..."
"...kalau terlalu lama menunggu waktu yang tepat, waktu itu justru diambil orang lain."
Kalimat itu membuat Arman terdiam.
Ia tahu Farhan tidak sedang bercanda.
Namun ia tetap memilih percaya.
Percaya bahwa cinta yang dibangun dengan ketulusan akan menemukan jalannya sendiri.
Sore itu, ketika matahari mulai tenggelam di balik pepohonan, Alina duduk sendirian di ruang kerjanya.
Di atas meja terdapat sebuah map berisi surat keputusan pengangkatan sebagai karyawan tetap.
Di sampingnya terletak sebuah kotak kecil berisi bunga mawar putih yang pernah diberikan Arman saat wisuda.
Ia membukanya perlahan.
Lalu tersenyum getir.
Di dalam hatinya masih ada nama Arman.
Namun kini, nama itu mulai berdampingan dengan kenyataan hidup yang terus bergerak maju.
Sementara di ruangan lain, Darmanto memandangi daftar peserta perjalanan dinas minggu depan.
Nama Alina berada di urutan pertama.
Ia tersenyum pelan.
Baginya, perjalanan itu bukan sekadar urusan pekerjaan.
Ia telah mengambil sebuah keputusan.
Keputusan untuk tidak lagi menyembunyikan perasaannya.
Ia akan memperjuangkan Alina dengan cara yang dewasa.
Terbuka.
Dan penuh kepastian.
Tanpa ia sadari, keputusan itu akan menjadi awal dari badai yang mengubah kehidupan tiga orang sekaligus.
Karena ketika dua lelaki memperjuangkan perempuan yang sama, bukan hanya cinta yang dipertaruhkan.
Tetapi juga impian, harga diri, dan masa depan.
Perpisahan yang Mengajarkan Arti Ikhlas
Hari-hari setelah Alina resmi menjadi karyawan tetap terasa berjalan semakin cepat.
Kesibukan di perusahaan membuat perempuan itu semakin jarang memiliki waktu luang. Undangan rapat, penyuntingan naskah, perjalanan dinas, hingga berbagai proyek penerbitan membuat hampir seluruh waktunya tersita.
Sementara itu, di Desa Sriwidadi, Arman Maulana masih menunggu jawaban dari berbagai lamaran pekerjaan yang telah ia kirimkan.
Ia tidak pernah berhenti berusaha.
Setiap pagi membantu ayahnya di sawah.
Setiap malam membuka surat elektronik dengan harapan ada panggilan wawancara.
Namun hingga beberapa bulan berlalu, belum satu pun pekerjaan tetap berhasil ia peroleh.
Meski demikian, ia tidak pernah kehilangan harapan.
Baginya, keberhasilan hanyalah soal waktu.
Suatu malam, telepon genggam Arman berdering.
Nama Alina muncul di layar.
Sudah hampir dua minggu mereka tidak saling berbicara.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Suara Alina terdengar lebih pelan dari biasanya.
"Man..."
"Iya."
"Aku sedang berada di Jakarta."
"Perjalanan dinas?"
"Iya."
"Bagaimana di sana?"
"Cukup melelahkan."
"Tapi banyak pengalaman baru."
Arman tersenyum.
"Syukurlah."
"Aku senang mendengarnya."
Beberapa saat mereka saling diam.
Seperti ada banyak kalimat yang ingin diucapkan, tetapi sama-sama tidak mengetahui harus memulai dari mana.
Akhirnya Alina bertanya,
"Bagaimana dengan pekerjaanmu?"
"Masih berproses."
"Besok aku ada wawancara daring."
"Doakan saja."
"Tentu."
"Aku selalu mendoakanmu."
Jawaban itu terdengar tulus.
Namun entah mengapa, justru membuat hati Alina semakin berat.
Sekembalinya dari Jakarta, Alina semakin sering mendampingi Darmanto dalam berbagai kegiatan perusahaan.
Ia mulai dipercaya menangani proyek-proyek besar.
Hubungan mereka pun semakin dekat.
Bukan karena direncanakan.
Melainkan karena pekerjaan membuat mereka hampir selalu bersama.
Darmanto tidak pernah memaksa.
Ia juga tidak pernah mengungkit kembali perasaannya.
Ia memilih menunjukkan perhatian melalui tindakan.
Ketika Alina lembur, ia memastikan makanan telah tersedia.
Ketika Alina kelelahan, ia memintanya pulang lebih awal.
Ketika hasil kerjanya mendapat pujian, Darmanto selalu menyebut nama Alina di hadapan seluruh staf.
Perhatian-perhatian kecil itu perlahan membuat hati Alina goyah.
Ia mulai membandingkan.
Bukan membandingkan siapa yang lebih baik.
Melainkan membandingkan kehidupan yang sedang dijalaninya.
Arman selalu memberinya kebebasan untuk mengejar cita-cita.
Sedangkan Darmanto menawarkan tempat untuk mewujudkan cita-cita itu.
Di sisi lain, Arman akhirnya mendapat panggilan wawancara dari sebuah perusahaan konsultan teknik di Kuala Kapuas.
Meskipun bidang pekerjaannya sedikit berbeda dengan latar belakang pendidikannya, perusahaan tersebut membuka kesempatan bagi lulusan dari berbagai disiplin ilmu yang memiliki kemampuan administrasi, komunikasi, dan penyusunan dokumen proyek.
Arman menerima kesempatan itu dengan penuh syukur.
"Pak."
katanya kepada Hasan Basri.
"Kalau diterima, aku akan bekerja di Kuala Kapuas."
Hasan Basri tersenyum bangga.
"Itu kota yang baik."
"Dekat dengan rumah."
"Kalau begitu, berangkatlah."
"Jangan takut memulai dari bawah."
Arman mengangguk.
Dalam hatinya muncul secercah harapan.
Mungkin inilah jalan yang selama ini ia tunggu.
Dan mungkin, jika ia bekerja di Kuala Kapuas, hubungan dengan Alina akan lebih mudah dijaga meskipun berbeda kota.
Ia belum mengetahui bahwa kehidupan telah menyiapkan kenyataan yang berbeda.
Beberapa hari kemudian, Alina menghubungi Arman.
"Man."
"Iya?"
"Aku ingin bertemu."
"Kapan?"
"Kalau kamu ada waktu."
"Besok sore."
Arman tidak berpikir panjang.
Keesokan harinya ia berangkat ke Banjarmasin menggunakan bus antarkota.
Perjalanan yang memakan waktu berjam-jam itu sama sekali tidak terasa melelahkan.
Di sepanjang perjalanan, ia membayangkan berbagai kemungkinan.
Mungkin Alina ingin merayakan keberhasilannya memperoleh pekerjaan.
Mungkin mereka akan mulai membicarakan masa depan.
Atau mungkin hanya melepas rindu sebagai dua orang yang lama tidak bertemu.
Mereka bertemu di sebuah taman kota yang dahulu sering mereka datangi saat masih menjadi mahasiswa.
Langit sore tampak mendung.
Angin bertiup pelan membawa aroma tanah yang baru saja diguyur hujan.
Alina datang mengenakan blus putih sederhana.
Namun wajahnya tidak secerah biasanya.
"Sudah lama menunggu?"
tanyanya.
"Baru beberapa menit."
Mereka duduk berdampingan.
Tidak ada tawa.
Tidak ada candaan seperti dulu.
Hanya keheningan yang terasa semakin panjang.
Akhirnya Alina berbicara.
"Man..."
"Aku minta maaf."
Arman menoleh.
"Minta maaf untuk apa?"
"Aku sudah banyak berpikir."
"Tentang kita."
Kalimat itu membuat jantung Arman berdegup lebih cepat.
"Aku tidak ingin membohongimu."
lanjut Alina.
"Selama ini aku mencoba mempertahankan perasaan yang pernah tumbuh."
"Tetapi semakin lama..."
"...aku merasa jalan hidup kita mulai berbeda."
Arman tidak memotong pembicaraan.
Ia memilih mendengarkan.
"Perusahaan memberiku kesempatan berkembang."
"Aku memiliki tanggung jawab yang semakin besar."
"Aku juga..."
Alina menarik napas panjang.
"...aku mulai membuka hati kepada orang lain."
Kalimat terakhir itu terasa seperti petir di siang bolong.
Arman terdiam.
Beberapa saat ia hanya memandang daun-daun yang jatuh tertiup angin.
Hatinya terasa sesak.
Namun wajahnya tetap berusaha tenang.
"Orang itu..."
"...Pak Darmanto?"
Alina mengangguk perlahan.
Air matanya mulai mengalir.
"Aku tidak pernah berniat menyakitimu."
"Aku hanya tidak ingin terus membuatmu menunggu pada sesuatu yang belum tentu bisa kita capai bersama."
Keheningan kembali menyelimuti mereka.
Untuk pertama kalinya sejak mengenal Alina, Arman merasakan kehilangan yang benar-benar nyata.
Bukan karena cinta itu hilang.
Melainkan karena ia harus melepaskannya dengan tangannya sendiri.
Beberapa menit berlalu.
Arman menarik napas panjang.
Lalu tersenyum tipis.
Senyum yang begitu sulit lahir dari hati yang sedang terluka.
"Lin."
"Iya?"
"Terima kasih."
Alina terkejut.
"Terima kasih karena pernah hadir dalam hidupku."
"Karena pernah menjadi teman terbaik."
"Karena pernah membuat perjalanan kuliahku terasa indah."
Air mata Alina semakin deras.
"Aku minta maaf."
Arman menggeleng pelan.
"Jangan."
"Cinta tidak pernah salah."
"Yang berbeda hanyalah jalan hidup yang dipilih setiap orang."
Ia berdiri dari bangku taman.
Langit mulai menurunkan gerimis tipis.
"Dengarkan aku."
kata Arman dengan suara yang tetap tenang.
"Kalau memang di sanalah kamu menemukan kebahagiaan..."
"...pergilah tanpa membawa rasa bersalah."
"Aku akan belajar menerima semuanya."
"Aku akan belajar mengikhlaskan."
Alina menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Ia menangis tanpa mampu berkata apa-apa.
Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa lelaki yang benar-benar mencintainya bukanlah lelaki yang memaksa untuk tetap tinggal.
Melainkan lelaki yang sanggup melepaskan dengan doa terbaik.
Arman melangkah meninggalkan taman itu.
Tanpa menoleh lagi.
Bukan karena ia tidak ingin melihat Alina.
Tetapi karena ia tahu, jika sekali saja ia menoleh, mungkin ia tidak akan mampu benar-benar melepaskannya.
Dalam perjalanan pulang menuju Sriwidadi, Arman duduk di dekat jendela bus.
Hujan turun membasahi jalan raya.
Lampu-lampu kendaraan tampak memanjang di balik kaca yang dipenuhi tetesan air.
Ia membuka dompetnya.
Di dalamnya masih tersimpan foto kecil dirinya bersama Alina saat Festival Sastra Mahasiswa.
Ia memandang foto itu beberapa saat.
Lalu menyelipkannya kembali.
Bukan untuk dikenang sebagai penyesalan.
Melainkan sebagai bagian dari perjalanan hidup yang telah membentuk dirinya menjadi lebih dewasa.
Malam itu, Arman memahami satu hal yang selama ini sulit diterima.
Bahwa mengikhlaskan bukan berarti berhenti mencintai.
Mengikhlaskan adalah menerima bahwa tidak semua orang yang kita cintai ditakdirkan berjalan bersama hingga akhir.
Kadang, Tuhan mempertemukan dua hati hanya agar keduanya belajar menjadi manusia yang lebih kuat.
Dan dari luka yang paling dalam itulah, Arman Maulana mulai belajar menjadi lelaki yang benar-benar dewasa.
Tanpa ia sadari, takdir sedang menyiapkan babak baru dalam hidupnya.
Sebuah pekerjaan di Kuala Kapuas.
Dan seorang perempuan dari masa lalu yang belum pernah benar-benar hilang dari hatinya.
BAB XVI
Pulang ke Sriwidadi
Pulang ke Sriwidadi, Rumah yang Selalu Menerima Luka
Bus antarkota yang ditumpangi Arman Maulana melaju perlahan meninggalkan Kota Banjarmasin.
Di balik kaca jendela, lampu-lampu kota semakin menjauh, berubah menjadi titik-titik cahaya yang perlahan menghilang di balik hujan malam.
Arman menyandarkan kepalanya.
Matanya terpejam.
Namun pikirannya masih tertinggal di taman tempat ia mengucapkan perpisahan kepada Alina beberapa jam sebelumnya.
Tidak ada kemarahan.
Tidak ada kebencian.
Yang tersisa hanyalah ruang kosong di dalam hati yang belum sempat terisi kembali.
Perjalanan menuju Sriwidadi terasa lebih panjang daripada biasanya.
Bukan karena jarak.
Melainkan karena seseorang yang dahulu selalu menjadi tujuan cerita kini telah memilih jalan hidupnya sendiri.
Menjelang subuh, bus memasuki wilayah Kabupaten Kapuas.
Kabut tipis masih menggantung di atas jalan.
Deretan pohon karet dan hamparan sawah tampak samar diterpa cahaya matahari yang mulai muncul dari ufuk timur.
Ketika kendaraan melintasi Jalan Trans Kalimantan, Arman memandangi bentangan alam yang selama ini begitu akrab baginya.
Ia tersenyum tipis.
"Sesibuk apa pun dunia di luar sana..."
"...pada akhirnya aku tetap pulang ke tanah yang membesarkanku."
Tak lama kemudian, ia turun di Kuala Kapuas dan melanjutkan perjalanan menuju Desa Sriwidadi dengan sepeda motor yang dikendarai seorang kerabatnya.
Semakin dekat ke desa, udara terasa semakin segar.
Pepohonan rambai dan hamparan persawahan membentang di kiri dan kanan jalan.
Burung-burung pipit beterbangan rendah mencari makan.
Suasana yang sederhana itu perlahan menenangkan hati Arman.
Ketika memasuki gerbang Desa Sriwidadi, sebuah papan nama desa berdiri kokoh di tepi jalan.
Di bawahnya tertulis sebuah kalimat yang sejak kecil selalu ia banggakan.
"Sriwidadi — Desa Cantik, Harapan Jadi."
Arman menghentikan motornya sejenak.
Ia memandang papan nama itu dengan mata berkaca-kaca.
Sejak kecil ia sering mendengar para tetua desa menjelaskan makna nama tersebut.
Sri berarti kemakmuran.
Widadi berarti menjadi atau terwujud.
Sebuah harapan agar desa itu selalu tumbuh menjadi tempat yang indah, damai, dan membawa kesejahteraan bagi masyarakatnya.
Kini, setelah bertahun-tahun merantau, ia kembali berdiri di tempat yang sama.
Namun dengan hati yang berbeda.
Ia pulang bukan hanya membawa ijazah sarjana.
Ia juga membawa luka yang belum benar-benar sembuh.
Rumah kayu sederhana milik keluarganya masih berdiri di tempat yang sama.
Cat dindingnya memang mulai memudar.
Namun halaman rumah tetap bersih.
Beberapa pot bunga yang dirawat ibunya tumbuh bermekaran.
Pohon mangga di samping rumah kini jauh lebih rindang dibandingkan ketika ia masih duduk di bangku sekolah.
Belum sempat Arman mengetuk pintu, Siti Aminah telah lebih dahulu keluar.
"Arman..."
serunya penuh haru.
Tanpa menunggu lama, sang ibu memeluk putra sulungnya erat.
"Alhamdulillah..."
"...akhirnya pulang juga."
Arman membalas pelukan itu.
Untuk pertama kalinya sejak perpisahan dengan Alina, air matanya jatuh.
Bukan karena sedih.
Melainkan karena ia merasakan kembali kehangatan yang selama ini ia rindukan.
Hasan Basri menyusul keluar dari dalam rumah.
Ia tidak banyak bicara.
Hanya menepuk bahu Arman dengan penuh kebanggaan.
"Selamat datang di rumah."
Kalimat sederhana itu terasa jauh lebih menenangkan daripada ribuan kata penghiburan.
Hari-hari berikutnya, Arman kembali menjalani kehidupan desa.
Pagi membantu ayahnya ke sawah.
Siang membersihkan kebun.
Sore duduk di beranda rumah menikmati secangkir kopi sambil memandang hamparan padi yang mulai menguning.
Sesekali ia bertemu teman-teman masa kecilnya.
Mereka bercerita tentang kehidupan masing-masing.
Ada yang menjadi petani.
Ada yang membuka usaha kecil.
Ada pula yang merantau ke kota lain.
Semua menyambut Arman dengan hangat.
Tidak ada yang bertanya mengapa ia pulang dengan wajah yang lebih pendiam.
Masyarakat desa memiliki cara sendiri untuk menghormati seseorang.
Mereka percaya bahwa setiap orang berhak menyimpan luka tanpa harus dipaksa menceritakannya.
Suatu sore, Arman berjalan sendirian menyusuri jalan desa.
Anak-anak tampak bermain bola di lapangan.
Beberapa ibu sedang menjemur padi di halaman rumah.
Para petani pulang membawa cangkul di pundak.
Suara azan Asar mulai berkumandang dari masjid desa.
Semua pemandangan itu mengingatkannya pada masa kecil.
Masa ketika hidup terasa begitu sederhana.
Masa ketika mimpi hanya sebatas ingin bersekolah setinggi mungkin.
Ia berhenti di tepi sebuah jembatan kecil yang melintasi saluran irigasi.
Air mengalir tenang.
Pantulannya memantulkan langit senja yang mulai berubah jingga.
Arman menghela napas panjang.
"Aku gagal mempertahankan cinta."
gumamnya pelan.
"Tetapi aku tidak boleh gagal mempertahankan hidup."
Kalimat itu menjadi janji yang ia ucapkan kepada dirinya sendiri.
Ia sadar, hidup tidak berhenti hanya karena satu kisah cinta telah usai.
Masih ada orang tua yang berharap kepadanya.
Masih ada mimpi yang belum selesai diperjuangkan.
Dan masih ada masa depan yang menunggu untuk dijemput.
Beberapa hari kemudian, sebuah surat elektronik masuk ke alamat surelnya.
Arman membukanya dengan jantung berdebar.
Isi surat itu berasal dari sebuah perusahaan konsultan yang berkantor di Kuala Kapuas.
Ia dinyatakan lulus tahap seleksi administrasi dan diundang mengikuti wawancara akhir.
Arman segera memperlihatkan surat itu kepada ayah dan ibunya.
Hasan Basri membaca perlahan.
Lalu tersenyum.
"Ini awal yang baik."
Siti Aminah mengangkat kedua tangannya.
"Alhamdulillah."
"Semoga Allah membukakan jalan terbaik."
Arman mengangguk.
Harapan yang sempat redup perlahan kembali menyala.
Ia tidak mengetahui bahwa panggilan wawancara itu bukan sekadar awal dari sebuah pekerjaan.
Melainkan awal dari pertemuan yang sama sekali tidak pernah ia duga.
Di sebuah ruang rapat proyek di Kuala Kapuas.
Dengan seorang perempuan yang pernah mengisi masa mudanya.
Perempuan yang bertahun-tahun tidak pernah benar-benar hilang dari sudut terdalam hatinya.
Namanya...
Erika.
Dan takdir, diam-diam, sedang mempersiapkan perjumpaan itu.
Kesempatan Baru di Kota Kuala Kapuas
Pagi itu, langit Desa Sriwidadi tampak cerah.
Sinar matahari memantul di hamparan sawah yang mulai menguning. Embun masih menempel di ujung daun padi, sementara suara burung-burung bersahutan menyambut datangnya hari.
Di beranda rumah, Arman Maulana duduk sambil kembali membaca surat elektronik yang diterimanya semalam.
Undangan wawancara.
Sebuah kesempatan yang telah lama ia tunggu.
Perusahaan yang menghubunginya adalah CV Cipta Bina Konsultan, sebuah perusahaan jasa konsultansi teknik dan manajemen konstruksi yang berkantor di Kuala Kapuas. Perusahaan tersebut bergerak di bidang penyusunan perencanaan teknis, desain bangunan, penyusunan Rencana Anggaran Biaya (RAB), pengawasan proyek, hingga pendampingan berbagai pembangunan gedung dan infrastruktur.
Meski latar belakang pendidikan Arman berasal dari bidang sastra, perusahaan membuka kesempatan bagi lulusan yang memiliki kemampuan administrasi proyek, penyusunan dokumen, komunikasi, serta pengelolaan data.
Persyaratan itulah yang membuat Arman memberanikan diri melamar.
Ia percaya bahwa kemampuan belajar adalah bekal paling penting dalam dunia kerja.
Setelah sarapan, Hasan Basri menghampiri putranya.
"Sudah siap berangkat?"
"Insya Allah, Pak."
"Jangan lupa."
"Datang lebih awal."
"Orang yang menghargai waktu biasanya juga akan dihargai."
Arman mengangguk.
Nasihat ayahnya selalu sederhana.
Namun selalu tepat.
Siti Aminah keluar dari dapur sambil membawa sebuah kotak makanan.
"Ini bekal."
"Ibu membuatkan nasi kuning kesukaanmu."
Arman tersenyum.
"Ibu masih saja menganggap aku seperti anak sekolah."
"Biar saja."
jawab Siti Aminah sambil tertawa kecil.
"Setinggi apa pun sekolahmu..."
"...di mata ibu kamu tetap anak kecil."
Ketiganya tertawa bersama.
Suasana hangat itu membuat beban di hati Arman terasa jauh lebih ringan.
Perjalanan menuju Kuala Kapuas memakan waktu hampir satu jam.
Sepanjang jalan, Arman menikmati pemandangan khas Kabupaten Kapuas.
Truk pengangkut hasil perkebunan melintas bergantian.
Perahu-perahu kecil tampak bergerak di beberapa anak sungai.
Sesekali terlihat warga yang sedang memanen padi atau memperbaiki jaring ikan di tepian aliran air.
Kota Kuala Kapuas perlahan mulai terlihat.
Deretan pertokoan, rumah makan, kantor pemerintahan, dan kendaraan yang lalu-lalang menghadirkan suasana yang jauh lebih ramai dibandingkan desanya.
Meski bukan pertama kali datang ke kota itu, kali ini perasaannya berbeda.
Kini ia datang bukan sebagai pelajar.
Melainkan sebagai seseorang yang sedang mencari masa depan.
Sebelum menuju lokasi wawancara, Arman sengaja berhenti sejenak di Bundaran Besar Kuala Kapuas.
Ia duduk di salah satu bangku taman sambil menikmati suasana pagi.
Kendaraan melintas mengelilingi bundaran.
Beberapa pegawai tampak berjalan tergesa menuju kantor.
Pelajar berseragam memenuhi jalan.
Arman menarik napas panjang.
"Di kota inilah..."
"...mungkin babak baru hidupku akan dimulai."
Ia berdiri.
Merapikan kemeja putih yang dikenakannya.
Kemudian melanjutkan perjalanan menuju kantor perusahaan.
Gedung CV Cipta Bina Konsultan berdiri tidak jauh dari kawasan pusat pemerintahan.
Bangunannya tidak terlalu besar.
Namun tampak rapi dan modern.
Di dinding depan terpampang papan nama perusahaan.
Beberapa kendaraan operasional terparkir di halaman.
Arman memasuki ruang resepsionis.
Seorang pegawai perempuan menyambutnya dengan ramah.
"Selamat pagi."
"Ada yang bisa kami bantu?"
"Saya Arman Maulana."
"Ada jadwal wawancara pukul sembilan."
Pegawai itu memeriksa daftar peserta.
"Baik, Pak Arman."
"Silakan menunggu."
"Tim rekrutmen akan segera memanggil."
Arman duduk di ruang tunggu.
Di sana telah hadir beberapa pelamar lain.
Sebagian berasal dari jurusan teknik sipil.
Sebagian lagi dari arsitektur dan administrasi.
Melihat mereka, rasa gugup mulai muncul.
Ia sempat bertanya dalam hati.
"Apakah aku benar-benar memiliki peluang?"
Namun ia segera mengingat pesan ayahnya.
Datanglah dengan jujur.
Bekerjalah dengan sungguh-sungguh.
Biarkan hasil menjadi urusan Tuhan.
Satu per satu peserta dipanggil.
Ketika namanya disebut, Arman melangkah memasuki ruang wawancara.
Di dalam ruangan telah duduk tiga orang pewawancara.
Direktur perusahaan.
Manajer administrasi.
Dan kepala divisi perencanaan.
Wawancara berlangsung hampir satu jam.
Mereka tidak hanya bertanya mengenai pendidikan.
Tetapi juga cara berpikir, kemampuan berkomunikasi, pengalaman organisasi, hingga bagaimana Arman menyelesaikan konflik ketika bekerja dalam tim.
"Saudara bukan lulusan teknik."
kata salah seorang pewawancara.
"Mengapa melamar di perusahaan konsultan?"
Arman menjawab dengan tenang.
"Saya percaya kemampuan utama yang dibutuhkan dalam dunia kerja adalah kemauan untuk belajar."
"Saya memang bukan lulusan teknik."
"Tetapi saya terbiasa menyusun dokumen, melakukan riset, mengelola administrasi, dan bekerja secara sistematis."
"Saya siap mempelajari seluruh hal teknis yang dibutuhkan perusahaan."
Jawaban itu membuat ketiga pewawancara saling berpandangan.
Mereka melihat keyakinan yang tulus dalam diri Arman.
Bukan kesombongan.
Melainkan semangat belajar.
Setelah wawancara selesai, Arman keluar dari ruangan dengan perasaan lega.
Apa pun hasilnya, ia merasa telah memberikan kemampuan terbaiknya.
Sebelum pulang ke Sriwidadi, ia berjalan menyusuri beberapa ruas jalan Kota Kuala Kapuas.
Ia melewati Jalan Tambun Bungai yang mulai ramai menjelang siang.
Kemudian berbelok menuju Jalan Jenderal Ahmad Yani, pusat berbagai aktivitas perdagangan.
Deretan toko di kawasan Pertokoan Sanjaya tampak dipenuhi pembeli.
Beberapa kendaraan proyek hilir mudik membawa material bangunan.
Arman memperhatikan semuanya dengan penuh rasa ingin tahu.
Dalam hati ia berharap, suatu hari nanti ia benar-benar menjadi bagian dari denyut pembangunan kota ini.
Tiga hari kemudian, ketika sedang membantu ayahnya membersihkan saluran irigasi di sawah, telepon genggam Arman berbunyi.
Nomor yang tidak dikenalnya muncul di layar.
"Selamat siang."
"Apakah benar dengan Saudara Arman Maulana?"
"Iya, benar."
"Kami dari CV Cipta Bina Konsultan."
Jantung Arman berdegup semakin cepat.
"Selamat."
"Saudara dinyatakan diterima."
"Kami berharap Saudara dapat mulai bekerja minggu depan sebagai staf administrasi perencanaan proyek."
Beberapa detik Arman tidak mampu menjawab.
Matanya berkaca-kaca.
"Terima kasih."
"Terima kasih banyak."
Telepon ditutup.
Arman menatap langit yang membentang luas di atas sawah.
Senyum perlahan menghiasi wajahnya.
Hasan Basri yang melihat perubahan ekspresi putranya segera bertanya,
"Bagaimana?"
Arman menahan haru.
"Aku diterima, Pak."
Hasan Basri langsung memeluk putranya.
"Alhamdulillah."
Siti Aminah yang baru datang dari rumah ikut menitikkan air mata bahagia.
Bagi keluarga sederhana itu, pekerjaan pertama Arman bukan hanya sebuah pekerjaan.
Melainkan jawaban atas doa-doa yang selama bertahun-tahun mereka panjatkan.
Arman belum mengetahui bahwa pekerjaan barunya akan mempertemukannya dengan banyak orang baru.
Klien.
Kontraktor.
Pejabat.
Konsultan.
Dan pada suatu rapat koordinasi proyek beberapa waktu kemudian, ia akan kembali bertemu dengan seseorang yang pernah membuat masa mudanya dipenuhi warna.
Seseorang yang dulu menghilang tanpa pernah benar-benar pergi dari hatinya.
Namanya adalah Erika.
Dan pertemuan itu akan mengubah arah perjalanan hidup mereka berdua.
Langkah Pertama Menuju Takdir yang Baru
Seminggu kemudian, pagi di Kuala Kapuas terasa lebih sibuk dari biasanya.
Langit masih diselimuti awan tipis ketika Arman Maulana mengendarai sepeda motornya meninggalkan Desa Sriwidadi. Di dalam tas ranselnya tersimpan beberapa dokumen penting, buku catatan, sebuah laptop, dan doa-doa kedua orang tuanya yang seolah selalu menyertai setiap langkahnya.
Hari itu adalah hari pertama ia bekerja.
Hari pertama memasuki dunia yang selama ini hanya ia bayangkan.
Sebuah dunia yang menuntut tanggung jawab, kedisiplinan, dan profesionalisme.
Sesampainya di kantor CV Cipta Bina Konsultan, suasana sudah ramai.
Beberapa pegawai terlihat sibuk menyiapkan dokumen proyek.
Di sudut ruangan, printer bekerja tanpa henti mencetak gambar kerja.
Suara telepon bersahutan.
Komputer-komputer menyala menampilkan gambar desain bangunan, tabel anggaran biaya, serta jadwal pelaksanaan proyek.
Arman menarik napas dalam.
Ia menyadari bahwa kini ia bukan lagi mahasiswa.
Tidak ada lagi dosen yang memberi nilai.
Tidak ada lagi tenggat tugas kuliah.
Kini setiap keputusan memiliki dampak nyata bagi pekerjaan banyak orang.
Di ruang administrasi, seorang pria paruh baya menyambutnya dengan ramah.
"Selamat pagi."
"Kamu Arman?"
"Iya, Pak."
"Saya Hendra Kurniawan, Manajer Operasional."
"Mulai hari ini kamu bergabung dengan tim kami."
Arman menjabat tangannya dengan hormat.
"Terima kasih atas kepercayaannya, Pak."
Hendra tersenyum.
"Di sini kita bekerja sebagai satu tim."
"Tidak ada pekerjaan yang dianggap kecil."
"Semua saling mendukung."
Kalimat itu langsung membuat Arman merasa diterima.
Hendra kemudian memperkenalkan Arman kepada rekan-rekan sekantornya.
Ada Rizal Mahendra, seorang estimator yang terkenal teliti dalam menyusun Rencana Anggaran Biaya.
Ada Nadira Puspitasari, drafter muda yang mahir membuat gambar teknik.
Ada Bagas Wicaksono, pengawas lapangan yang lebih banyak menghabiskan waktu di lokasi proyek daripada di kantor.
Serta Lukman Hakim, staf administrasi senior yang nantinya menjadi mentor Arman.
Mereka menyambut Arman dengan hangat.
"Selamat bergabung."
ucap Rizal.
"Kalau nanti bingung, jangan sungkan bertanya."
Arman mengangguk.
"Terima kasih."
Ia merasa beruntung berada di lingkungan kerja yang terbuka.
Hari-hari pertama di kantor dipenuhi proses belajar.
Lukman mengajarkan bagaimana menyusun dokumen administrasi proyek.
Bagaimana membuat surat menyurat.
Bagaimana mengarsipkan gambar kerja.
Bagaimana mencocokkan dokumen kontrak dengan jadwal pelaksanaan.
Bahkan hal-hal kecil seperti cara memberi kode pada setiap berkas pun memiliki aturan tersendiri.
Arman mencatat semuanya.
Setiap penjelasan.
Setiap prosedur.
Setiap kesalahan yang pernah dilakukan agar tidak ia ulangi.
Baginya, menjadi pegawai baru berarti harus lebih banyak mendengar daripada berbicara.
Suatu siang, ketika sedang membantu menyusun dokumen tender, Hendra menghampirinya.
"Man."
"Iya, Pak?"
"Minggu depan kita mendapat penugasan baru."
"Proyek pembangunan gedung pelayanan publik di Kuala Kapuas."
Arman mengangguk.
"Itu akan menjadi pengalaman pertamamu."
"Tugasmu membantu administrasi perencanaan dan mendokumentasikan seluruh proses koordinasi."
"Siap, Pak."
"Belajar yang baik."
"Karena proyek ini melibatkan banyak pihak."
"Konsultan."
"Kontraktor."
"Pejabat dinas."
"Dan berbagai instansi lain."
Arman menerima tugas itu dengan penuh semangat.
Ia belum mengetahui bahwa proyek tersebut kelak menjadi titik balik kehidupannya.
Sore hari, setelah pekerjaan selesai, Arman tidak langsung pulang.
Ia memilih berjalan kaki menyusuri pusat Kota Kuala Kapuas.
Ia melewati Jalan Tambun Bungai yang mulai dipenuhi kendaraan.
Beberapa pedagang kaki lima sibuk melayani pembeli.
Anak-anak sekolah berjalan beriringan sambil bercanda.
Tak jauh dari sana, ia menyusuri Jalan Pemuda, jalan yang dulu sering ia lewati ketika masih bersekolah di SMK.
Kenangan masa remaja kembali hadir.
Di jalan itu, ia pernah tertawa bersama Junaidi.
Pernah bersepeda bersama teman-teman sekolah.
Dan pernah, tanpa sengaja, berjalan berdampingan dengan seorang gadis yang duduk di bangku nomor delapan.
Erika.
Nama itu kembali melintas di benaknya.
Sudah bertahun-tahun mereka tidak bertemu.
Sejak kelulusan SMK, komunikasi mereka perlahan terputus.
Masing-masing sibuk mengejar pendidikan dan cita-citanya.
Arman tidak pernah mengetahui ke mana arah kehidupan Erika setelah itu.
Sesekali ia memang teringat.
Namun hanya sebatas kenangan masa muda yang indah.
Ia tidak pernah membayangkan akan bertemu lagi.
Menjelang senja, langkah Arman membawanya ke Dermaga KP3 Kuala Kapuas.
Langit mulai berubah jingga.
Sungai Kapuas mengalir tenang, memantulkan cahaya matahari yang perlahan tenggelam.
Beberapa kapal penumpang bersandar.
Perahu-perahu kecil hilir mudik mengantar warga menyeberang.
Arman duduk di bangku kayu yang menghadap ke sungai.
Tempat itu masih sama seperti bertahun-tahun lalu.
Ia masih mengingat sore ketika pertama kali datang bersama Erika dan Junaidi saat masih duduk di bangku SMK.
Di tempat itulah ia mulai memahami bahwa rasa kagum yang tumbuh di hatinya bukan lagi sekadar persahabatan.
Senyum tipis menghiasi wajahnya.
"Hidup memang aneh."
gumamnya.
"Orang yang dahulu begitu dekat..."
"...bisa menghilang tanpa kabar."
"Dan orang yang pernah kita perjuangkan..."
"...belum tentu menjadi takdir."
Ia menatap matahari yang perlahan tenggelam.
Kini, untuk pertama kalinya setelah berpisah dengan Alina, hatinya terasa lebih tenang.
Bukan karena ia telah melupakan.
Melainkan karena ia mulai menerima.
Setiap kisah memiliki waktunya sendiri.
Dan setiap luka pada akhirnya akan menemukan cara untuk sembuh.
Malam itu, sebelum pulang ke Sriwidadi, Arman menerima pesan singkat dari Hendra.
"Besok pagi pukul 09.00 ada rapat persiapan proyek. Hadir tepat waktu. Semua konsultan dan kontraktor akan mengikuti rapat koordinasi perdana."
Arman segera membalas.
"Siap, Pak. Terima kasih atas informasinya."
Ia memasukkan telepon genggamnya ke dalam saku.
Tanpa sedikit pun firasat.
Tanpa sedikit pun dugaan.
Bahwa rapat yang menurutnya hanyalah awal dari pekerjaan baru itu akan menjadi awal dari babak baru kehidupannya.
Karena di ruang rapat itulah, setelah bertahun-tahun dipisahkan oleh waktu, pendidikan, dan takdir, Arman akan kembali bertemu dengan perempuan yang pernah mengisi halaman-halaman paling indah dalam masa remajanya.
Perempuan yang kini telah tumbuh menjadi wanita dewasa.
Bekerja sebagai staf administrasi teknik di perusahaan kontraktor pemenang tender.
Perempuan yang namanya masih tersimpan rapi di sudut paling dalam hatinya.
Erika.
Dan sejak pertemuan itu, takdir akan mulai menulis kisah baru di bawah langit Kapuas.
Menjadi Konsultan Muda, Dunia Baru yang Penuh Tantangan
Pagi itu, Kota Kuala Kapuas mulai menggeliat sejak matahari belum sepenuhnya meninggi.
Kendaraan dinas, mobil pengangkut material, hingga sepeda motor para pekerja memenuhi ruas Jalan Tambun Bungai. Di sudut-sudut kota, pembangunan terlihat di berbagai tempat. Ada gedung yang sedang direnovasi, saluran drainase yang diperbaiki, hingga kawasan pertokoan yang mulai berkembang mengikuti pertumbuhan kota.
Di tengah denyut pembangunan itulah Arman Maulana memulai lembaran baru kehidupannya.
Bukan lagi sebagai mahasiswa.
Bukan pula sebagai pencari kerja.
Melainkan sebagai bagian dari sebuah tim konsultan yang bertugas memastikan setiap pembangunan berjalan sesuai perencanaan.
Sejak diterima bekerja di CV Cipta Bina Konsultan, hampir satu bulan telah berlalu.
Banyak hal baru yang dipelajarinya.
Setiap hari selalu menghadirkan pengalaman yang berbeda.
Ia mulai memahami bahwa pekerjaan seorang konsultan tidak hanya berkutat pada gambar bangunan atau dokumen proyek.
Di balik setiap lembar gambar kerja terdapat tanggung jawab yang besar.
Kesalahan satu angka pada Rencana Anggaran Biaya dapat memengaruhi keseluruhan pelaksanaan proyek.
Kesalahan membaca spesifikasi teknis dapat menyebabkan pekerjaan harus diulang.
Karena itulah setiap dokumen harus diperiksa berkali-kali sebelum diterbitkan.
Ketelitian menjadi harga mati.
Pukul delapan pagi, Arman telah duduk di ruang administrasi.
Di atas mejanya telah tersusun beberapa map proyek.
Ia sedang memeriksa kelengkapan dokumen ketika Lukman Hakim datang membawa setumpuk gambar teknik.
"Man."
"Iya, Bang."
"Tolong cocokkan nomor revisi gambar ini dengan daftar distribusi."
"Jangan sampai ada gambar lama yang masih dipakai kontraktor."
"Baik."
Arman segera memeriksa satu per satu.
Pekerjaan itu tampak sederhana.
Namun ia memahami bahwa kesalahan kecil bisa berakibat besar di lapangan.
Lukman memperhatikan cara kerja Arman.
Kemudian tersenyum.
"Kamu cepat belajar."
Arman membalas dengan rendah hati.
"Saya masih banyak yang harus dipelajari."
"Itu justru modal terbaik."
kata Lukman.
"Orang yang merasa sudah pintar biasanya berhenti berkembang."
Kalimat itu kembali dicatat Arman dalam ingatannya.
Menjelang siang, Hendra Kurniawan mengumpulkan seluruh staf di ruang rapat internal.
Di depan layar proyektor terpampang jadwal beberapa proyek yang sedang berjalan.
Salah satunya adalah proyek pembangunan sebuah gedung pelayanan publik yang baru saja memasuki tahap persiapan.
Hendra menunjuk salah satu dokumen.
"Mulai minggu depan kita masuk tahap koordinasi."
"Semua administrasi harus siap."
"Jangan ada dokumen yang terlambat."
Kemudian ia menoleh kepada Arman.
"Man."
"Iya, Pak."
"Kamu ikut mendampingi saya."
"Selain membuat notulen rapat."
"Kamu juga harus belajar memahami alur koordinasi proyek."
"Siap, Pak."
Hendra mengangguk puas.
"Anggap saja ini sekolah keduamu."
"Bedanya..."
"...di sini nilai ditentukan oleh tanggung jawab."
Seluruh peserta rapat tersenyum kecil.
Selepas rapat, Rizal Mahendra mengajak Arman berkeliling melihat ruang kerja divisi teknis.
Ruangan itu dipenuhi komputer berlayar lebar.
Beberapa staf sedang membuat gambar desain menggunakan perangkat lunak teknik.
Di dinding tergantung berbagai peta lokasi proyek.
Ada pula rak-rak besar berisi gulungan gambar kerja.
"Di sinilah semua pembangunan dimulai."
kata Rizal.
"Sebelum tukang mengayunkan palu."
"Sebelum alat berat masuk."
"Sebelum pondasi digali."
"Semua dirancang dari ruangan ini."
Arman memandang sekeliling dengan kagum.
Ia baru menyadari bahwa pembangunan sebuah gedung bukan sekadar pekerjaan fisik.
Di baliknya terdapat proses panjang yang melibatkan banyak orang.
Mulai dari survei lapangan, perencanaan, perhitungan biaya, hingga pengawasan.
Setiap orang memiliki peran yang sama pentingnya.
Sore harinya, Arman ikut mendampingi Bagas Wicaksono melakukan peninjauan ke salah satu proyek yang sedang berlangsung.
Untuk pertama kalinya ia mengenakan helm proyek dan rompi keselamatan.
Bagas menjelaskan berbagai hal selama perjalanan.
"Di lapangan..."
"...kamu akan menemukan banyak perbedaan dengan teori."
"Yang paling penting adalah komunikasi."
"Kalau konsultan, kontraktor, dan pemilik pekerjaan tidak saling memahami..."
"...sekecil apa pun masalah bisa menjadi besar."
Arman mendengarkan dengan penuh perhatian.
Sesampainya di lokasi, ia melihat puluhan pekerja sedang menyelesaikan pekerjaan struktur bangunan.
Suara mesin molen bercampur dengan denting besi dan aba-aba para mandor.
Semuanya bekerja dalam ritme yang teratur.
Arman mencatat setiap penjelasan Bagas.
Ia merasa seperti kembali menjadi mahasiswa yang sedang belajar dari awal.
Menjelang pulang, Hendra memanggil Arman ke ruangannya.
"Besok pagi."
"Jangan lupa."
"Ada rapat koordinasi pertama proyek gedung pelayanan publik."
"Semua pihak akan hadir."
"Konsultan."
"Kontraktor."
"Perwakilan dinas."
"Sampai tim administrasi."
Arman mengangguk.
"Saya sudah menyiapkan seluruh dokumen, Pak."
"Bagus."
Hendra lalu menyerahkan sebuah map berwarna biru.
"Ini daftar peserta rapat."
"Pelajari nama-nama mereka."
"Karena setelah proyek dimulai, kamu akan sering berhubungan dengan mereka."
Arman menerima map tersebut.
Di dalamnya terdapat daftar nama perusahaan yang akan terlibat.
Namun ia hanya membacanya sekilas.
Baginya, semua itu hanyalah nama-nama yang belum dikenalnya.
Ia sama sekali tidak memperhatikan salah satu nama perusahaan kontraktor yang tercetak di halaman kedua.
Padahal, di balik nama perusahaan itulah bekerja seseorang yang pernah menjadi bagian terindah dalam masa remajanya.
Seseorang yang selama bertahun-tahun hanya hidup dalam kenangan.
Malam itu, setelah kembali ke Sriwidadi, Arman duduk sendirian di beranda rumah.
Langit desa tampak cerah.
Bintang-bintang bertaburan di angkasa.
Suara jangkrik mengiringi kesunyian malam.
Siti Aminah datang membawa secangkir kopi hangat.
"Besok ada pekerjaan penting?"
tanyanya.
Arman mengangguk.
"Rapat proyek pertama."
"Ibu doakan semuanya lancar."
"Terima kasih, Bu."
Hasan Basri yang sedang memperbaiki cangkul di samping rumah ikut berkata,
"Ingat satu hal."
"Di mana pun kamu bekerja..."
"...jagalah kejujuran."
"Keahlian bisa dipelajari."
"Tetapi kepercayaan hanya diberikan kepada orang yang menjaga integritasnya."
Arman mengangguk mantap.
Nasihat itu ia simpan dalam-dalam.
Ia tidak mengetahui bahwa rapat keesokan harinya bukan hanya akan menguji kemampuannya sebagai konsultan muda.
Rapat itu juga akan mempertemukannya kembali dengan masa lalu yang pernah ia kira telah selesai.
Takdir sedang bersiap membuka pintu yang selama bertahun-tahun tertutup.
Dan di balik pintu itu, berdiri seorang perempuan bernama Erika, dengan senyum yang dahulu pernah membuat seorang remaja SMK percaya bahwa cinta pertama bisa bertahan selamanya.
Pagi Sebelum Takdir Mempertemukan Kembali
Mentari baru saja muncul dari ufuk timur ketika Arman Maulana telah bersiap meninggalkan Desa Sriwidadi.
Udara pagi masih terasa sejuk.
Kabut tipis menggantung di atas hamparan persawahan, sementara embun berkilauan di ujung daun padi yang mulai menguning.
Sebelum berangkat, Arman mencium tangan kedua orang tuanya.
Hasan Basri menepuk bahu putranya.
"Hari ini rapat besar, ya?"
"Iya, Pak."
"Semoga lancar."
Arman tersenyum.
"Aamiin."
Siti Aminah menyelipkan sebungkus nasi dan sebotol air minum ke dalam tas putranya.
"Ibu tahu kamu sering lupa makan kalau sudah sibuk."
Arman tertawa kecil.
"Ibu selalu tahu saja."
"Namanya juga ibu."
jawab Siti Aminah sambil tersenyum hangat.
Pemandangan sederhana itu menjadi kekuatan yang selalu dibawa Arman setiap kali melangkahkan kaki meninggalkan rumah.
Sepanjang perjalanan menuju Kuala Kapuas, pikirannya dipenuhi berbagai hal.
Ia mengulang kembali materi yang pernah dijelaskan Hendra Kurniawan tentang alur koordinasi proyek.
Ia membuka kembali buku catatan kecil yang selalu dibawanya.
Di sana tertulis berbagai poin penting.
- Membuat notulen rapat secara lengkap.
- Memastikan daftar hadir ditandatangani.
- Mencatat seluruh keputusan rapat.
- Menyesuaikan hasil rapat dengan gambar kerja dan RAB.
- Menyusun berita acara setelah rapat selesai.
Ia membacanya berulang-ulang.
Baginya, hari itu bukan sekadar menghadiri rapat.
Hari itu adalah kesempatan untuk membuktikan bahwa dirinya layak dipercaya.
Sesampainya di kantor, suasana telah jauh lebih sibuk dibandingkan hari-hari sebelumnya.
Beberapa pegawai mondar-mandir membawa map.
Printer terus bekerja mencetak dokumen.
Telepon berdering hampir tanpa jeda.
Hendra keluar dari ruangannya sambil membawa beberapa berkas.
"Man."
"Iya, Pak."
"Semua dokumen sudah siap?"
"Sudah saya periksa dua kali."
"Bagus."
"Nanti kamu duduk di sebelah saya."
"Kalau ada perubahan keputusan rapat, langsung catat."
"Siap."
Arman menjawab mantap.
Di dalam hatinya masih ada sedikit rasa gugup.
Namun ia berusaha menyembunyikannya.
Pukul sembilan kurang lima belas menit.
Rombongan dari CV Cipta Bina Konsultan berangkat menuju lokasi rapat.
Rapat koordinasi akan dilaksanakan di ruang pertemuan milik instansi yang menjadi pemilik proyek.
Dalam perjalanan, Hendra menjelaskan kembali beberapa hal.
"Di dunia proyek."
katanya.
"Semua orang punya kepentingan."
"Pemilik pekerjaan ingin hasil terbaik."
"Kontraktor ingin pekerjaan selesai tepat waktu."
"Konsultan harus menjaga agar semuanya tetap sesuai aturan."
"Kalau komunikasi gagal..."
"...proyek bisa bermasalah."
Arman mengangguk.
Ia semakin memahami bahwa pekerjaan yang dijalaninya bukan sekadar pekerjaan administrasi.
Di balik setiap dokumen terdapat tanggung jawab yang besar.
Sesampainya di gedung tempat rapat berlangsung, para peserta mulai berdatangan.
Mobil-mobil perusahaan silih berganti memasuki halaman.
Para peserta saling berjabat tangan.
Ada yang sudah saling mengenal.
Ada pula yang baru pertama kali bertemu.
Arman membantu menata ruang rapat.
Ia meletakkan papan nama peserta sesuai daftar yang telah disusun.
Menyusun map rapat.
Menyiapkan alat tulis.
Memastikan layar presentasi dan proyektor berfungsi dengan baik.
Semuanya dilakukan dengan teliti.
Ketika sedang meletakkan map terakhir, Hendra menghampirinya.
"Kerja bagus."
"Terima kasih, Pak."
"Kamu memang cocok bekerja dengan rapi."
Arman hanya tersenyum.
Satu per satu peserta mulai mengisi kursi yang telah disediakan.
Perwakilan dinas datang terlebih dahulu.
Disusul tim perencana.
Kemudian beberapa perusahaan penyedia material.
Arman berdiri di dekat pintu sambil memeriksa daftar hadir.
Setiap tamu yang datang ia persilakan masuk dengan sopan.
"Selamat pagi."
"Silakan, Pak."
"Selamat pagi, Bu."
"Silakan duduk."
Kesibukan membuatnya hampir tidak sempat memperhatikan wajah setiap orang.
Baginya, semua tamu memiliki kedudukan yang sama.
Harus dilayani dengan baik.
Tak lama kemudian, sebuah mobil berwarna putih berhenti di halaman gedung.
Logo sebuah perusahaan kontraktor terpampang di pintunya.
Beberapa orang turun membawa gulungan gambar kerja dan map dokumen.
Arman masih sibuk mencocokkan daftar hadir.
Ia hanya sempat melihat sekilas rombongan itu memasuki lobi.
Salah seorang perempuan mengenakan kemeja putih lengan panjang dipadukan rompi perusahaan berwarna biru tua.
Di tangannya tergenggam map berisi dokumen administrasi proyek.
Langkahnya tenang.
Raut wajahnya menunjukkan profesionalisme.
Namun karena jarak yang cukup jauh, Arman belum dapat mengenali wajah perempuan itu.
Ia kembali menunduk memeriksa daftar peserta.
Di sisi lain lobi, perempuan itu juga sedang berbincang dengan rekan kerjanya.
Namanya memang tertera dalam surat tugas sebagai Staf Administrasi Teknik yang mendampingi manajer proyek.
Sudah hampir tiga tahun ia bekerja di perusahaan kontraktor tersebut.
Selama itu pula ia terbiasa menghadiri berbagai rapat koordinasi pembangunan.
Baginya, rapat hari itu hanyalah satu dari sekian banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.
Ia sama sekali tidak mengetahui bahwa seseorang yang pernah menjadi bagian penting dalam masa remajanya sedang berdiri hanya beberapa meter darinya.
Takdir kadang memiliki cara yang unik.
Ia mempertemukan dua orang bukan ketika mereka saling mencari.
Melainkan ketika keduanya sama-sama telah berhenti berharap.
Beberapa menit sebelum rapat dimulai, Hendra menyerahkan daftar peserta kepada Arman.
"Periksa lagi."
"Pastikan semua sudah hadir."
Arman membuka halaman terakhir.
Ia mulai mencocokkan nama satu per satu.
Matanya berhenti pada daftar peserta dari perusahaan kontraktor pemenang tender.
Di sana tertulis beberapa nama.
Manajer proyek.
Site engineer.
Pelaksana lapangan.
Kemudian satu nama terakhir.
Erika Permatasari — Staf Administrasi Teknik.
Tangan Arman mendadak berhenti bergerak.
Jantungnya berdetak lebih cepat.
Ia memandang nama itu beberapa saat.
Dalam hati ia berkata,
"Tidak mungkin..."
"Mungkin hanya kebetulan namanya sama."
Ia menarik napas panjang.
Mencoba menenangkan pikirannya.
Bagaimanapun juga, nama Erika bukanlah nama yang langka.
Ia memilih menutup kembali daftar hadir itu.
Namun entah mengapa, sejak saat itu pikirannya tidak lagi setenang sebelumnya.
Sementara di balik pintu ruang rapat, seorang perempuan tengah membuka map dokumennya.
Tanpa sedikit pun menyadari bahwa lelaki yang pernah duduk satu kelas dengannya di bangku SMK kini berada begitu dekat.
Hanya dipisahkan oleh sebuah daun pintu yang sebentar lagi akan terbuka.
Dan ketika pintu itu terbuka...
masa lalu yang selama bertahun-tahun tertidur akan kembali terbangun.
Nama yang Kembali Menggetarkan Hati
Suasana ruang rapat mulai tenang.
Seluruh peserta telah menempati kursi masing-masing. Di atas meja tersusun map dokumen, gambar kerja, serta agenda rapat koordinasi pembangunan gedung pelayanan publik di Kuala Kapuas.
Arman Maulana duduk di sisi kanan Hendra Kurniawan.
Di hadapannya telah terbuka buku notulen, pena, dan daftar hadir yang beberapa menit lalu ia periksa.
Namun pikirannya belum sepenuhnya tenang.
Nama Erika Permatasari yang baru saja dibacanya masih berputar-putar di benaknya.
"Apakah benar dia?"
"Atau hanya seseorang yang memiliki nama yang sama?"
Ia berusaha mengusir pertanyaan itu.
Sebagai seorang profesional, ia tidak ingin pikirannya terpecah sebelum rapat dimulai.
Beberapa saat kemudian, pintu ruang rapat terbuka.
Rombongan dari perusahaan kontraktor memasuki ruangan dengan tertib.
Manajer proyek berjalan paling depan, disusul site engineer, pelaksana lapangan, dan beberapa staf administrasi.
Arman menundukkan kepala sejenak untuk mencatat waktu dimulainya rapat.
Ketika kembali mengangkat wajahnya, langkah seseorang seketika menghentikan gerakan tangannya.
Perempuan itu berjalan tenang sambil membawa map berwarna hitam.
Rambutnya kini disanggul sederhana.
Seragam kerjanya tampak rapi.
Wajahnya terlihat lebih dewasa dibandingkan terakhir kali mereka bertemu saat kelulusan SMK.
Namun senyum tipis yang menghiasi wajahnya masih sama.
Senyum yang pernah mengisi hari-hari seorang remaja bernama Arman Maulana.
Perempuan itu adalah...
Erika.
Jantung Arman berdetak lebih cepat.
Seolah waktu berputar kembali belasan tahun ke belakang.
Ia teringat bangku nomor delapan.
Koridor sekolah.
Perjalanan menuju Dermaga KP3.
Hujan di Jalan Tambun Bungai.
Semua kenangan itu datang bersamaan dalam hitungan detik.
Erika belum menyadari kehadiran Arman.
Ia sibuk membantu manajer proyek membagikan dokumen kepada peserta rapat.
Sesekali ia berdiskusi singkat mengenai urutan agenda yang akan dibahas.
Profesional.
Tenang.
Percaya diri.
Arman memperhatikannya tanpa berkedip.
Dalam hati ia mengakui bahwa waktu telah mengubah banyak hal.
Erika bukan lagi gadis pemalu yang baru pindah ke kelasnya dahulu.
Kini ia telah menjadi perempuan dewasa yang mampu berdiri dengan keyakinannya sendiri.
Sementara Arman pun bukan lagi remaja desa yang hanya berani menyimpan rasa di dalam hati.
Mereka telah menempuh jalan hidup yang berbeda.
Namun takdir mempertemukan mereka kembali di tempat yang sama-sama tidak pernah mereka bayangkan.
Ketika seluruh peserta telah duduk, pimpinan rapat mempersilakan setiap perusahaan memperkenalkan timnya.
Perwakilan konsultan terlebih dahulu memperkenalkan diri.
Kemudian giliran perusahaan kontraktor.
Manajer proyek berdiri.
"Perkenalkan, kami dari CV Bina Karya Mandiri."
Ia menyebutkan nama setiap anggota tim.
"Site Engineer, Fajar Prasetyo."
"Pelaksana Lapangan, Dimas Ardiansyah."
"Administrasi Teknik..."
Ia menoleh ke samping.
"Saudari Erika Permatasari."
Erika berdiri.
"Selamat pagi."
"Saya Erika Permatasari."
"Saya bertugas membantu administrasi teknis, pengarsipan dokumen proyek, serta koordinasi administrasi pelaksanaan pekerjaan."
Suara itu.
Masih sama.
Lembut.
Jelas.
Dan tetap mampu membuat hati Arman bergetar.
Tanpa sadar, senyum tipis muncul di wajahnya.
Setelah Erika kembali duduk, ia mulai memperhatikan peserta rapat satu per satu.
Pandangannya bergerak perlahan.
Dari meja paling depan.
Ke sisi kanan ruangan.
Lalu berhenti pada seseorang yang sedang memegang buku notulen.
Mata mereka bertemu.
Beberapa detik.
Tidak ada kata-kata.
Tidak ada sapaan.
Hanya tatapan yang dipenuhi keterkejutan.
Erika tampak membelalakkan mata.
Seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Bibirnya bergerak sangat pelan.
"...Arman?"
Suara itu nyaris tidak terdengar.
Namun Arman dapat membacanya dari gerakan bibir Erika.
Ia hanya menganggukkan kepala kecil.
Senyumnya sederhana.
Namun penuh arti.
Erika segera menundukkan wajah.
Berusaha kembali berkonsentrasi.
Jantungnya kini berdetak sama cepatnya dengan Arman.
Ia tidak pernah menyangka bahwa lelaki yang dahulu pernah memenuhi masa-masa indah di bangku SMK kini duduk di hadapannya sebagai rekan profesional dalam sebuah proyek pembangunan.
Takdir benar-benar memiliki cara yang tidak pernah dapat ditebak.
Rapat akhirnya dimulai.
Presentasi demi presentasi berlangsung.
Pembahasan teknis memenuhi ruangan.
Arman berusaha mencatat setiap keputusan dengan teliti.
Erika juga kembali fokus pada pekerjaannya.
Namun di sela-sela kesibukan itu, sesekali pandangan mereka kembali bertemu.
Bukan lagi seperti dua remaja yang sedang dilanda rasa malu.
Melainkan dua orang dewasa yang sama-sama menyadari bahwa masa lalu belum sepenuhnya hilang.
Ada begitu banyak pertanyaan yang belum sempat terucap.
Bagaimana kabarmu?
Ke mana saja selama ini?
Apakah hidup memperlakukanmu dengan baik?
Namun semua pertanyaan itu harus menunggu.
Karena pekerjaan menuntut mereka untuk tetap bersikap profesional.
Di bawah langit Kapuas, takdir akhirnya mempertemukan kembali dua hati yang dahulu dipisahkan oleh waktu.
Dan pertemuan itu baru saja menjadi awal dari kisah yang jauh lebih panjang.
BAB XVIII
Pertemuan di Ruang Rapat
Pertemuan di Ruang Rapat, Takdir yang Datang Tanpa Peringatan
Ruang rapat kembali dipenuhi suasana yang serius.
Di layar proyektor terpampang gambar rencana pembangunan sebuah gedung pelayanan publik yang akan menjadi salah satu proyek strategis di Kota Kuala Kapuas. Di atas meja tersusun gambar kerja, dokumen kontrak, Rencana Anggaran Biaya (RAB), jadwal pelaksanaan, serta berbagai berkas administrasi yang harus disepakati bersama.
Pimpinan rapat membuka pertemuan dengan menyampaikan tujuan utama koordinasi perdana.
Seluruh pihak diminta menyamakan persepsi sebelum pekerjaan dimulai.
Konsultan bertanggung jawab memastikan seluruh perencanaan berjalan sesuai spesifikasi teknis.
Kontraktor bertanggung jawab melaksanakan pekerjaan berdasarkan gambar dan dokumen kontrak.
Sementara pemilik pekerjaan memastikan seluruh tahapan berjalan sesuai ketentuan yang berlaku.
Bagi sebagian besar peserta, rapat itu hanyalah bagian dari rutinitas pekerjaan.
Namun bagi Arman Maulana dan Erika Permatasari, pagi itu menjadi sesuatu yang jauh berbeda.
Takdir sedang mempertemukan kembali dua hati yang pernah saling mengenal, setelah bertahun-tahun dipisahkan oleh waktu.
Arman berusaha memusatkan perhatian pada jalannya rapat.
Tangannya terus menulis setiap poin pembahasan ke dalam buku notulen.
Mulai dari jadwal mobilisasi peralatan.
Tahapan pekerjaan pondasi.
Penyesuaian gambar kerja.
Hingga mekanisme pelaporan kemajuan proyek setiap minggu.
Namun sesekali pandangannya tanpa sengaja beralih ke arah meja perusahaan kontraktor.
Erika tampak sibuk membuka berkas demi berkas.
Sesekali ia berdiskusi dengan manajer proyek.
Gerak-geriknya tenang.
Cara berbicaranya jelas.
Sikapnya mencerminkan seseorang yang telah matang dalam dunia kerja.
Arman tersenyum kecil.
Dalam hati ia berkata,
"Erika benar-benar telah berubah."
"Bukan lagi gadis pemalu yang dulu selalu duduk di bangku nomor delapan."
Di sisi lain, Erika pun beberapa kali tanpa sadar memandang ke arah Arman.
Perasaan yang sama kembali muncul.
Sulit dipercaya bahwa lelaki yang dahulu sering menemaninya belajar di perpustakaan sekolah kini duduk sebagai staf konsultan dalam proyek yang sama.
Ia masih mengingat hari kelulusan SMK.
Perpisahan yang terjadi begitu cepat.
Tidak ada janji.
Tidak ada kepastian.
Masing-masing melanjutkan perjalanan hidupnya sendiri.
Erika melanjutkan pendidikan vokasi di bidang administrasi konstruksi di Kuala Kapuas sambil bekerja paruh waktu. Setelah lulus, ia diterima di perusahaan kontraktor tempatnya bekerja sekarang.
Sedangkan Arman menghilang tanpa kabar.
Sesekali ia pernah bertanya kepada teman-teman sekolah.
Namun tidak seorang pun mengetahui kehidupan Arman setelah kuliah di Banjarmasin.
Kini, tanpa diduga, lelaki itu kembali hadir di hadapannya.
Rapat berlangsung hampir dua jam.
Berbagai keputusan penting berhasil disepakati.
Jadwal pelaksanaan pekerjaan ditetapkan.
Tahapan pemeriksaan material diperjelas.
Sistem pelaporan lapangan juga disepakati bersama.
Setelah pimpinan rapat menutup acara, suasana ruangan perlahan berubah lebih santai.
Beberapa peserta saling berjabat tangan.
Ada yang langsung pulang.
Ada pula yang masih berbincang mengenai pekerjaan.
Arman sedang merapikan dokumen notulen ketika mendengar suara yang sangat dikenalnya.
"Maaf..."
Ia menoleh.
Di hadapannya berdiri Erika.
Mereka saling terdiam beberapa detik.
Seolah waktu berhenti bergerak.
Akhirnya Erika tersenyum lebih dahulu.
"Arman..."
"Benar kamu?"
Arman membalas senyum itu.
"Iya."
"Erika."
"Lama sekali kita tidak bertemu."
Nada suara keduanya terdengar canggung.
Bukan karena tidak ingin berbicara.
Melainkan karena terlalu banyak cerita yang tertinggal di masa lalu.
"Aku benar-benar tidak menyangka."
kata Erika sambil tertawa kecil.
"Aku juga."
jawab Arman.
"Ketika membaca daftar peserta rapat..."
"...aku sempat berpikir mungkin hanya namanya yang sama."
Erika menggeleng pelan.
"Ternyata memang kita."
Mereka sama-sama tersenyum.
Suasana yang semula kaku perlahan mencair.
Beberapa kenangan masa SMK seolah datang begitu saja.
Bangku nomor delapan.
Perpustakaan sekolah.
Pelajaran Bahasa Indonesia.
Festival sekolah.
Dan senja di Dermaga KP3.
Semuanya terasa begitu dekat, meski telah bertahun-tahun berlalu.
"Ternyata sekarang kamu bekerja di konsultan."
kata Erika.
"Iya."
"Baru beberapa minggu."
"Kamu sendiri?"
"Aku sudah hampir tiga tahun di perusahaan ini."
"Bagian administrasi teknik."
Arman mengangguk kagum.
"Selamat."
"Aku ikut senang."
Erika tersenyum.
"Terima kasih."
"Lalu..."
"Bagaimana kabarmu selama ini?"
Pertanyaan sederhana itu membuat Arman terdiam sesaat.
Banyak hal yang ingin ia ceritakan.
Tentang perjuangan kuliah.
Tentang Bidikmisi.
Tentang Alina.
Tentang patah hati yang baru saja ia alami.
Namun ia memilih menjawab singkat.
"Alhamdulillah."
"Aku baik."
"Lumayan panjang perjalanannya."
Erika mengangguk.
"Kalau begitu..."
"...lain kali kita cerita."
Arman tersenyum.
"Ya."
"Masih banyak waktu."
Tak lama kemudian, Hendra memanggil Arman.
"Man."
"Kita harus kembali ke kantor."
"Baik, Pak."
Arman kembali menoleh kepada Erika.
"Maaf."
"Aku harus pergi."
"Tidak apa-apa."
jawab Erika.
"Kita pasti akan sering bertemu."
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun entah mengapa, membuat hati Arman berdebar.
Ia menganggukkan kepala.
"Sampai bertemu lagi."
"Sampai bertemu."
Mereka saling berjabat tangan.
Hangat.
Sopan.
Dan penuh rasa yang belum sempat diungkapkan.
Bukan lagi jabat tangan dua remaja yang dipenuhi rasa malu.
Melainkan dua orang dewasa yang dipertemukan kembali oleh pekerjaan.
Ketika Arman melangkah meninggalkan ruang rapat, tanpa sadar ia menoleh sekali lagi.
Erika juga melakukan hal yang sama.
Pandangan mereka kembali bertemu.
Keduanya tersenyum.
Senyum yang sederhana.
Namun cukup untuk membangunkan kembali kenangan yang selama bertahun-tahun tersimpan rapi di sudut hati.
Di luar gedung, angin siang bertiup lembut menyusuri tepian Sungai Kapuas.
Takdir telah mempertemukan mereka kembali.
Namun keduanya belum mengetahui bahwa proyek pembangunan itu bukan sekadar proyek pekerjaan.
Melainkan jembatan yang perlahan akan membawa cinta lama bersemi kembali.
Secangkir Kopi, Cerita yang Tertunda Bertahun-Tahun
Dua hari setelah rapat koordinasi pertama, aktivitas proyek mulai berjalan lebih teratur.
Tim konsultan dan perusahaan kontraktor hampir setiap hari saling berkoordinasi mengenai gambar kerja, jadwal pelaksanaan, spesifikasi material, serta berbagai dokumen administrasi yang harus diselesaikan sebelum pekerjaan fisik dimulai.
Bagi Arman Maulana, ritme pekerjaan yang padat justru membuatnya semakin menikmati profesi barunya.
Setiap hari selalu menghadirkan pelajaran baru.
Namun, di sela-sela kesibukan itu, ada satu hal yang diam-diam sering melintas di benaknya.
Pertemuan dengan Erika.
Pertemuan yang begitu singkat, tetapi cukup untuk membangkitkan kembali kenangan yang selama ini terkubur oleh waktu.
Pagi itu Arman sedang memeriksa revisi gambar kerja di ruang administrasi ketika telepon kantornya berdering.
"Selamat pagi, CV Cipta Bina Konsultan."
Suara di seberang terdengar lembut.
"Selamat pagi."
"Saya Erika dari CV Bina Karya Mandiri."
"Saya ingin mengonfirmasi revisi gambar denah lantai dua yang dikirim kemarin."
Arman spontan tersenyum.
"Selamat pagi, Erika."
"Oh..."
"Jadi yang menerima telepon ternyata kamu."
Nada suara Erika terdengar sedikit terkejut, lalu disusul tawa kecil yang mengingatkan Arman pada masa-masa SMK dahulu.
"Iya."
"Kebetulan bagian administrasi sedang saya yang menangani."
Percakapan mereka berlangsung singkat.
Seluruh pembahasan tetap mengenai pekerjaan.
Namun sebelum telepon ditutup, Erika berkata pelan,
"Kalau nanti dokumennya sudah selesai..."
"...aku akan mengambilnya langsung ke kantor."
"Baik."
"Aku tunggu."
Arman menutup telepon sambil menarik napas panjang.
Entah mengapa, perasaan yang dahulu pernah tumbuh mulai perlahan mengetuk kembali pintu hatinya.
Menjelang tengah hari, sebuah mobil operasional perusahaan kontraktor berhenti di halaman kantor konsultan.
Erika turun sambil membawa map biru.
Ia mengenakan seragam kerja yang sama seperti saat rapat.
Rapi.
Sederhana.
Dan tetap memancarkan kesan anggun.
Begitu memasuki ruang administrasi, ia langsung melihat Arman yang sedang menyusun berkas.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Arman berdiri menyambutnya.
"Silakan duduk."
"Dokumennya sudah siap."
Erika menerima map yang diserahkan Arman.
Ia memeriksanya sekilas.
"Lengkap sekali."
"Terima kasih."
"Sama-sama."
Beberapa detik kemudian suasana menjadi hening.
Tak ada lagi pembicaraan mengenai pekerjaan.
Seolah keduanya sama-sama ingin berbicara tentang hal lain, tetapi tidak tahu harus memulai dari mana.
Melihat suasana yang canggung, Lukman Hakim yang duduk di meja sebelah tersenyum kecil.
"Man."
"Kalau urusan administrasinya sudah selesai..."
"...silakan istirahat makan siang."
"Kalian juga bisa sekalian berdiskusi."
Arman memahami maksud seniornya.
Ia menoleh kepada Erika.
"Kalau tidak keberatan..."
"...bagaimana kalau kita minum kopi sebentar?"
Erika terdiam sejenak.
Kemudian mengangguk pelan.
"Boleh."
"Asal tidak terlalu lama."
"Jam dua aku harus kembali ke kantor."
"Baik."
Mereka berjalan kaki menuju sebuah kedai kopi sederhana yang berada tidak jauh dari kawasan Pertokoan Sanjaya.
Kedai itu tidak terlalu besar.
Namun suasananya teduh.
Dinding kayunya dipenuhi foto-foto lama Kota Kuala Kapuas.
Dari jendela terlihat lalu-lalang kendaraan di Jalan Jenderal Ahmad Yani.
Mereka memilih duduk di dekat jendela.
Seorang pelayan datang membawa daftar menu.
"Apa yang ingin dipesan?"
"Kopi hitam."
kata Arman.
"Saya teh hangat saja."
jawab Erika.
Tak lama kemudian, pesanan datang.
Asap tipis mengepul dari cangkir masing-masing.
Namun tidak satu pun dari mereka segera meminumnya.
Masih ada kecanggungan yang tersisa.
Arman akhirnya membuka percakapan.
"Aku benar-benar tidak menyangka kita bisa bertemu lagi."
Erika tersenyum.
"Aku juga."
"Apalagi dalam proyek yang sama."
"Rasanya seperti mimpi."
Arman mengangguk.
"Setelah lulus SMK..."
"...aku sempat beberapa kali mencari kabarmu."
Erika tampak terkejut.
"Benarkah?"
"Iya."
"Tapi tidak pernah berhasil."
"Aku langsung kuliah sambil bekerja."
"Nomor telepon juga berganti."
Arman mengangguk pelan.
"Pantas saja."
"Aku benar-benar kehilangan jejakmu."
Erika menatap cangkir tehnya.
"Lalu bagaimana denganmu?"
"Dulu aku hanya tahu kamu kuliah di Banjarmasin."
"Setelah itu..."
"...aku tidak pernah mendengar kabarmu lagi."
Untuk pertama kalinya sejak pertemuan kembali, Arman mulai menceritakan perjalanan hidupnya.
Tentang perjuangan meraih Beasiswa Bidikmisi.
Tentang kehidupan sederhana sebagai mahasiswa rantau.
Tentang berbagai pekerjaan sambilan yang pernah ia lakukan demi mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Erika mendengarkan tanpa menyela.
Sesekali matanya berkaca-kaca.
"Aku bangga."
katanya lirih.
"Kamu berhasil melewati semuanya."
Arman tersenyum tipis.
"Semua karena doa orang tua."
"Lalu setelah lulus?"
tanya Erika.
"Aku pulang ke Sriwidadi."
"Beberapa bulan membantu orang tua."
"Kemudian diterima bekerja di sini."
Erika mengangguk.
"Ternyata jalan hidupmu tidak mudah."
"Tidak ada perjalanan yang benar-benar mudah."
jawab Arman sambil tersenyum.
"Kamu sendiri juga pasti banyak berjuang."
Kini giliran Erika bercerita.
Ia mengisahkan bagaimana setelah lulus SMK ia memilih melanjutkan pendidikan vokasi di Kuala Kapuas agar dapat membantu kedua orang tuanya yang tinggal di kota itu.
Sambil kuliah, ia bekerja sebagai tenaga administrasi paruh waktu di sebuah perusahaan konstruksi.
Setelah lulus, perusahaan tersebut mengangkatnya menjadi pegawai tetap.
"Aku bersyukur."
katanya.
"Walaupun pekerjaan ini sering membuatku pulang malam."
"Aku banyak belajar."
Arman memandang Erika dengan penuh rasa hormat.
Perempuan yang dahulu dikenalnya sebagai siswi pendiam kini telah menjadi pribadi yang mandiri.
Ada keteguhan yang terpancar dari sorot matanya.
Ada kedewasaan yang dibentuk oleh perjuangan.
Percakapan mereka mengalir semakin hangat.
Mereka mengenang guru-guru SMK.
Teman-teman sekelas.
Festival sekolah.
Perpustakaan.
Hingga perjalanan pertama ke Dermaga KP3 yang pernah menjadi salah satu kenangan terindah masa remaja mereka.
Beberapa kali mereka tertawa bersama.
Tawa yang terasa begitu akrab.
Seolah bertahun-tahun perpisahan tidak pernah benar-benar terjadi.
Namun, di balik tawa itu, Arman masih menyimpan satu cerita.
Tentang Alina.
Tentang luka yang belum lama ia rasakan.
Ia memilih menyimpannya untuk sementara.
Begitu pula Erika.
Ia pun tidak menceritakan bahwa selama bertahun-tahun ia pernah beberapa kali bertanya kepada teman-teman lama mengenai kabar Arman.
Ada beberapa kisah yang rupanya memang membutuhkan waktu yang tepat untuk diungkapkan.
Waktu menunjukkan hampir pukul dua siang.
Erika melihat arlojinya.
"Aku harus kembali ke kantor."
Arman mengangguk.
"Terima kasih."
"Untuk waktunya."
Erika tersenyum.
"Harusnya aku yang berterima kasih."
"Rasanya seperti menyambung cerita yang sempat terputus bertahun-tahun."
Mereka berdiri bersamaan.
Di depan kedai kopi, angin siang berembus pelan membawa aroma Sungai Kapuas yang tak jauh dari pusat kota.
Sebelum berpisah, Erika berkata,
"Man..."
"Iya?"
"Senang bisa bertemu lagi."
Arman tersenyum tulus.
"Aku juga."
"Sangat senang."
Mereka saling menganggukkan kepala.
Lalu berjalan ke arah kendaraan masing-masing.
Tidak ada janji.
Tidak ada kata-kata romantis.
Namun keduanya sama-sama merasakan bahwa secangkir kopi siang itu telah membuka kembali sebuah pintu yang selama bertahun-tahun tertutup rapat.
Di bawah langit Kapuas, cerita yang pernah berhenti kini mulai menemukan kelanjutannya.
Dan tanpa mereka sadari, benih-benih perasaan lama perlahan mulai tumbuh kembali di dalam hati masing-masing.
Ketika Kenangan Lama Menemukan Jalannya Pulang
Langit Kuala Kapuas mulai berwarna keemasan ketika jam kerja usai.
Matahari perlahan turun di ufuk barat, memantulkan cahaya jingga di permukaan Sungai Kapuas yang mengalir tenang. Kendaraan mulai memenuhi ruas Jalan Tambun Bungai dan Jalan Pemuda, sementara para pegawai berangsur-angsur meninggalkan kantor masing-masing.
Arman Maulana mematikan layar komputernya.
Ia merapikan map proyek yang sejak pagi memenuhi meja kerjanya.
Namun pikirannya tidak sepenuhnya berada di ruangan itu.
Percakapan bersama Erika siang tadi masih terngiang di benaknya.
Sudah lama ia tidak merasakan ketenangan seperti itu.
Tidak ada kepura-puraan.
Tidak ada beban.
Yang ada hanyalah dua orang sahabat lama yang kembali menemukan jalan untuk saling mengenal.
Di kantor kontraktor, Erika juga baru saja menyelesaikan pekerjaannya.
Ia memasukkan beberapa dokumen ke dalam lemari arsip, kemudian duduk sejenak sebelum pulang.
Rekan kerjanya, Nina Maharani, memperhatikan senyum kecil yang sejak tadi menghiasi wajah Erika.
"Sepertinya hari ini kamu sedang bahagia."
godanya.
Erika sedikit terkejut.
"Kelihatan, ya?"
Nina mengangguk sambil tertawa.
"Biasanya kalau selesai rapat kamu langsung mengeluh soal pekerjaan."
"Hari ini malah senyum-senyum sendiri."
Erika menggeleng pelan.
"Bukan apa-apa."
"Hanya bertemu teman lama."
"Teman sekolah?"
"Iya."
"Sudah lama sekali tidak bertemu."
Nina tidak bertanya lebih jauh.
Namun sebagai perempuan, ia dapat menangkap sesuatu dari sorot mata Erika.
Ada kehangatan yang berbeda.
Seolah seseorang dari masa lalu baru saja kembali membawa sepotong kebahagiaan yang pernah hilang.
Malam itu, setelah makan malam bersama kedua orang tuanya, Arman duduk di beranda rumah.
Angin desa bertiup lembut.
Suara jangkrik bersahutan dari pematang sawah.
Di kejauhan terdengar alunan azan Isya dari masjid desa.
Suasana yang tenang membuat pikirannya kembali mengembara.
Ia membuka telepon genggam.
Tanpa sadar, ia mencari nama Erika pada daftar kontak yang baru saja mereka saling tukarkan siang tadi.
Nomor itu kini tersimpan sederhana.
Erika Permatasari.
Ia menatap layar beberapa saat.
Ingin mengirim pesan.
Namun kemudian mengurungkannya.
"Mungkin dia sedang bersama keluarganya."
"Besok saja."
Ia meletakkan kembali telepon genggamnya.
Bukan karena ragu.
Melainkan karena ia tidak ingin tergesa-gesa.
Setelah kehilangan yang pernah dialaminya bersama Alina, Arman belajar bahwa setiap hubungan memiliki waktunya sendiri untuk tumbuh.
Di rumahnya di Kuala Kapuas, Erika juga mengalami hal yang sama.
Setelah membantu ibunya membereskan meja makan, ia masuk ke kamar.
Di atas meja belajar masih tersimpan sebuah kotak kayu kecil.
Kotak itu telah menemaninya sejak masa SMK.
Tanpa alasan yang jelas, malam itu ia membuka kembali isinya.
Di dalamnya terdapat beberapa benda yang selama bertahun-tahun tidak pernah ia buang.
Sebuah kartu ucapan kelulusan.
Foto kelas tiga SMK.
Tiket Festival Pendidikan.
Dan sebuah pembatas buku bergambar bunga matahari.
Erika tersenyum kecil.
Ia masih ingat.
Pembatas buku itu pernah dipinjamkan Arman ketika mereka belajar bersama di perpustakaan sekolah.
Arman tidak pernah memintanya kembali.
Dan entah mengapa, Erika tidak pernah mengembalikannya.
Benda sederhana itu menjadi saksi bisu masa remaja mereka.
Ia mengambil foto kelas.
Pandangan matanya berhenti pada seorang remaja yang berdiri di barisan belakang.
Arman.
Wajahnya masih lugu.
Senyumnya sederhana.
Namun sejak dulu selalu menghadirkan rasa tenang.
Erika mengusap perlahan permukaan foto yang mulai memudar.
"Aku tidak pernah benar-benar melupakanmu."
bisiknya lirih.
Selama bertahun-tahun, ia memang tidak pernah berusaha mencari Arman secara serius.
Bukan karena tidak ingin.
Melainkan karena ia percaya bahwa jika memang berjodoh, hidup akan menemukan caranya sendiri.
Dan hari itu, keyakinan itu seolah mendapatkan jawabannya.
Keesokan paginya, aktivitas proyek kembali berjalan.
Arman dan Erika kembali berkomunikasi.
Namun seluruh pembicaraan tetap berkaitan dengan pekerjaan.
Revisi gambar.
Jadwal pengiriman dokumen.
Koordinasi rapat lapangan.
Semua berlangsung profesional.
Tidak ada satu pun rekan kerja yang mengetahui bahwa keduanya pernah menjadi teman sekolah.
Bahkan tidak seorang pun menyadari bahwa di balik setiap percakapan formal itu, perlahan tumbuh kembali rasa saling percaya yang pernah hadir bertahun-tahun lalu.
Beberapa hari kemudian, Hendra Kurniawan mengumpulkan seluruh tim konsultan.
"Besok kita melakukan peninjauan lokasi bersama kontraktor."
katanya.
"Semua harus hadir."
"Karena setelah ini pekerjaan fisik segera dimulai."
Arman mengangguk.
Baginya, itu hanyalah agenda rutin proyek.
Namun entah mengapa, ada perasaan yang sulit dijelaskan.
Ia tahu.
Besok ia akan kembali bertemu Erika.
Bukan di ruang rapat.
Bukan di balik meja administrasi.
Melainkan di lapangan.
Di tempat mereka harus bekerja berdampingan sebagai dua orang profesional.
Sementara itu, di kantor kontraktor, manajer proyek juga menyampaikan hal yang sama kepada timnya.
"Besok kita survei lapangan bersama konsultan."
Erika mencatat jadwal tersebut.
Tanpa sadar, senyum tipis kembali menghiasi wajahnya.
Bukan karena pekerjaan itu mudah.
Melainkan karena ia tahu, perjalanan esok akan kembali mempertemukannya dengan seseorang yang pernah menjadi bagian indah dalam masa mudanya.
Takdir memang tidak pernah terburu-buru.
Ia memberi waktu bagi dua hati untuk saling menyembuhkan terlebih dahulu.
Kemudian mempertemukan mereka kembali sedikit demi sedikit.
Bukan dengan ledakan perasaan.
Melainkan melalui percakapan-percakapan sederhana.
Kepercayaan yang tumbuh perlahan.
Dan kenangan yang akhirnya menemukan jalan pulang.
Di bawah langit Kapuas, kisah yang dahulu terhenti kini mulai berjalan kembali.
Namun di kejauhan, seseorang diam-diam memperhatikan kedekatan Arman dan Erika.
Seseorang yang kelak akan kembali mengusik ketenangan mereka dan membuka luka-luka lama yang belum sepenuhnya sembuh.
Takdir memang telah mempertemukan kembali.
Tetapi perjalanan menuju pelabuhan cinta masih menyimpan banyak badai.
BAB XIX
Cinta Lama Bersemi Kembali
Pertemuan yang Semakin Sering
Mentari pagi menyinari Kota Kuala Kapuas dengan cahaya yang hangat.
Di kawasan proyek pembangunan gedung pelayanan publik, puluhan pekerja mulai berdatangan. Truk pengangkut material keluar masuk lokasi. Suara mesin molen, besi yang dipotong, dan aba-aba para mandor berpadu menjadi irama khas sebuah pembangunan yang baru dimulai.
Di sisi lain lokasi, tim konsultan telah lebih dahulu hadir.
Arman Maulana berdiri bersama Hendra Kurniawan dan Bagas Wicaksono sambil memeriksa gambar kerja yang akan digunakan sebagai acuan pelaksanaan pondasi.
Tak lama kemudian, sebuah mobil operasional milik perusahaan kontraktor memasuki area proyek.
Beberapa orang turun membawa helm keselamatan dan map dokumen.
Di antara mereka, Arman melihat sosok yang kini mulai terasa begitu akrab.
Erika.
Perempuan itu mengenakan helm proyek berwarna putih dengan rompi biru tua bertuliskan nama perusahaannya.
Rambutnya diikat rapi.
Sorot matanya menunjukkan kesungguhan sebagai seorang profesional.
Saat melihat Arman, ia tersenyum sambil menganggukkan kepala.
"Selamat pagi."
"Selamat pagi."
jawab Arman.
Sapaan itu singkat.
Namun cukup membuat pagi terasa lebih hangat.
Hari itu mereka bekerja dalam tim yang sama.
Meski berasal dari perusahaan yang berbeda, pekerjaan mereka saling berkaitan.
Arman bertugas mencatat hasil koordinasi lapangan dan memastikan pelaksanaan sesuai gambar kerja.
Sementara Erika mengelola administrasi teknis dari pihak kontraktor, mencocokkan dokumen lapangan dengan instruksi yang diberikan konsultan.
Beberapa kali mereka harus berdiskusi.
"Pak Arman."
kata Erika sambil membuka map.
"Untuk revisi elevasi pondasi ini, apakah sudah mendapat persetujuan konsultan?"
Arman memeriksa gambar.
"Sudah."
"Tapi ada satu catatan tambahan."
Ia menjelaskan perubahan tersebut dengan tenang.
Erika mendengarkan sambil mencatat setiap poin.
"Baik."
"Nanti saya sesuaikan dengan laporan harian."
Cara mereka bekerja terasa begitu selaras.
Tanpa banyak bicara.
Tanpa saling mendominasi.
Masing-masing memahami perannya.
Hendra yang memperhatikan dari kejauhan sempat berbisik kepada Bagas.
"Anak-anak muda itu cepat sekali menyesuaikan diri."
Bagas mengangguk.
"Kerja sama mereka bagus."
Tidak seorang pun mengetahui bahwa kerja sama itu berawal dari sebuah kisah lama di bangku SMK.
Menjelang siang, seluruh tim beristirahat di sebuah tenda sederhana yang didirikan di tepi lokasi proyek.
Beberapa pekerja menikmati makan siang.
Sebagian lagi memilih beristirahat sambil melepas helm proyek.
Arman duduk di sebuah bangku kayu.
Tak lama kemudian, Erika datang membawa dua gelas teh dingin.
"Boleh duduk?"
"Tentu."
Erika menyerahkan salah satu gelas.
"Tadi sekalian beli."
"Terima kasih."
Mereka menikmati minuman itu sambil memandang aktivitas para pekerja.
Sesaat tidak ada yang berbicara.
Namun keheningan kali ini terasa nyaman.
Tidak lagi canggung seperti pertemuan pertama mereka di ruang rapat.
"Aku baru sadar."
kata Erika sambil tersenyum.
"Dulu waktu sekolah..."
"...aku sering melihatmu membawa buku ke mana-mana."
Arman tertawa kecil.
"Kebiasaan itu ternyata belum hilang."
"Masih suka membaca?"
"Masih."
"Walaupun sekarang yang lebih sering kubaca gambar kerja dan dokumen proyek."
Erika ikut tertawa.
"Jauh sekali berubah."
"Kalau kamu?"
"Aku masih suka menulis."
"Kadang menulis catatan kecil."
"Kadang puisi."
Arman menoleh.
"Masih seperti dulu."
Erika mengangguk pelan.
"Dulu aku sering menyimpan puisi."
"Tapi tidak pernah berani membacakannya."
Percakapan itu membawa mereka kembali kepada kenangan masa sekolah.
Kenangan yang selama ini hanya hidup di dalam ingatan masing-masing.
Hari-hari berikutnya, intensitas pertemuan mereka semakin sering.
Hampir setiap pekan selalu ada rapat koordinasi.
Pemeriksaan lapangan.
Evaluasi progres pekerjaan.
Atau sekadar penyerahan dokumen administrasi.
Tanpa disadari, komunikasi mereka pun menjadi lebih akrab.
Sesekali Arman mengirim pesan hanya untuk memastikan dokumen telah diterima.
Erika membalas dengan ramah.
Kadang percakapan berhenti pada urusan pekerjaan.
Kadang berlanjut menjadi cerita ringan tentang keluarga, masa kuliah, atau kehidupan di Kuala Kapuas.
Hubungan itu tumbuh perlahan.
Tidak tergesa-gesa.
Tidak dipenuhi kata-kata manis.
Tetapi justru terasa semakin dewasa.
Suatu sore, setelah selesai melakukan pemeriksaan lapangan, hujan turun dengan lembut.
Para pekerja segera membereskan peralatan.
Arman dan Erika berdiri di bawah kanopi kantor proyek sambil menunggu hujan reda.
Mereka memandang butiran hujan yang jatuh membasahi halaman.
"Aneh ya."
kata Erika.
"Apa?"
"Hujan selalu membuatku ingat waktu kita masih sekolah."
Arman tersenyum.
"Jalan Tambun Bungai."
Erika langsung tertawa.
"Dan satu payung yang dipakai bertiga."
"Padahal akhirnya kita tetap basah."
"Itu gara-gara Junaidi sengaja berjalan di tengah."
kata Arman sambil tertawa.
Mereka sama-sama tertawa mengenang kejadian itu.
Nama Junaidi kembali disebut setelah bertahun-tahun.
Namun kali ini, hanya sebagai bagian dari kenangan yang terasa lucu.
Belum ada satu pun dari mereka yang mengetahui bahwa nama itu kelak akan kembali hadir dan membawa gelombang baru dalam kehidupan mereka.
Menjelang petang, hujan mulai reda.
Langit dihiasi pelangi tipis yang membentang di kejauhan.
Arman dan Erika berjalan menuju area parkir.
Sebelum berpisah, Erika berkata,
"Man."
"Iya?"
"Terima kasih."
"Untuk apa?"
"Karena setelah bertemu lagi..."
"...aku merasa seperti menemukan kembali seorang sahabat yang pernah hilang."
Arman tersenyum hangat.
"Aku juga merasakan hal yang sama."
"Kita memang pernah dipisahkan waktu."
"Tapi mungkin..."
"...tidak pernah benar-benar dipisahkan oleh hati."
Erika tidak menjawab.
Ia hanya tersenyum.
Senyum itu sederhana.
Namun cukup untuk membuat hati Arman kembali berdebar seperti seorang remaja yang pertama kali jatuh cinta.
Di bawah langit Kapuas yang mulai memerah menjelang senja, keduanya kembali melangkah menuju kehidupan masing-masing.
Belum ada ungkapan cinta.
Belum ada janji.
Namun benih-benih perasaan yang dahulu pernah tumbuh kini mulai bersemi kembali.
Tanpa suara.
Tanpa paksaan.
Sebagaimana bunga yang mekar pada musimnya.
Dan takdir, perlahan-lahan, sedang mengarahkan dua hati itu menuju pelabuhan yang sama.
Cerita yang Kembali Tumbuh di Antara Kesibukan Proyek
Pembangunan gedung pelayanan publik di Kuala Kapuas memasuki minggu keenam.
Pekerjaan pondasi telah selesai, dan para pekerja mulai memasang tulangan besi untuk struktur lantai pertama. Setiap pagi, kawasan proyek dipenuhi suara mesin pemotong baja, truk pengangkut material, serta para pekerja yang saling bersahutan menjalankan tugas masing-masing.
Bagi tim konsultan maupun kontraktor, hari-hari itu menjadi masa yang paling sibuk.
Hampir tidak ada waktu luang.
Namun justru di tengah kesibukan itulah, kisah Arman Maulana dan Erika Permatasari perlahan menemukan ruangnya sendiri.
Sejak proyek berjalan, komunikasi keduanya semakin intens.
Setiap pagi, sebelum pekerjaan dimulai, mereka selalu bertemu dalam rapat koordinasi singkat.
Arman membawa gambar kerja yang telah diperbarui.
Erika membawa laporan administrasi lapangan dari pihak kontraktor.
Mereka berdiskusi mengenai perkembangan pekerjaan, jadwal pengiriman material, hingga kelengkapan dokumen yang harus disampaikan kepada pemilik proyek.
Semuanya dilakukan secara profesional.
Namun tanpa disadari, percakapan mereka tidak lagi berhenti pada urusan pekerjaan.
"Selamat pagi, Man."
"Selamat pagi, Erika."
"Sudah sarapan?"
Pertanyaan sederhana itu kini hampir selalu mengawali pertemuan mereka.
"Sudah."
"Kamu?"
"Baru sempat minum teh."
"Jangan lupa makan."
"Nanti malah sakit."
Erika tersenyum.
"Perhatianmu masih sama seperti dulu."
Arman hanya tertawa kecil.
"Aku cuma mengingatkan."
Namun dalam hati, ia tahu bahwa kepedulian itu bukanlah sesuatu yang dibuat-buat.
Suatu siang, Hendra Kurniawan meminta Arman mengantarkan beberapa dokumen revisi ke kantor perusahaan kontraktor.
Tanpa membuang waktu, Arman segera berangkat.
Sesampainya di kantor, ia disambut oleh petugas resepsionis.
"Silakan duduk, Pak."
"Bu Erika sedang memeriksa dokumen di ruang administrasi."
Tak lama kemudian, Erika keluar sambil membawa beberapa berkas.
"Wah, ternyata kamu yang mengantar."
"Iya."
"Sekalian memastikan revisi gambar sudah diterima."
Mereka memeriksa setiap lembar dokumen bersama-sama.
Sesekali saling bertanya.
Sesekali tertawa ketika menemukan catatan kecil yang salah penulisan.
Suasana terasa ringan.
Tidak lagi sekaku hubungan antara konsultan dan kontraktor.
Setelah seluruh dokumen selesai diperiksa, Erika melihat jam di dinding.
"Masih jam makan siang."
"Iya."
jawab Arman.
"Kalau tidak sedang terburu-buru..."
"...bagaimana kalau makan siang?"
Arman tersenyum.
"Kalau kamu yang mengajak, aku tidak mungkin menolak."
Erika tertawa kecil.
"Kamu masih pandai bercanda."
Mereka kemudian berjalan menuju sebuah rumah makan sederhana yang menghadap Sungai Kapuas.
Dari teras rumah makan terlihat beberapa kapal kayu melintas perlahan membawa hasil perkebunan dari daerah hulu.
Angin sungai bertiup sejuk.
Suasana siang itu terasa damai.
Di sela makan siang, pembicaraan mereka mulai mengalir tanpa beban.
Mereka mengenang guru-guru di SMK.
Teman-teman sekelas.
Bahkan beberapa kejadian lucu yang dulu pernah mereka alami.
"Ingat Pak Suryanto?"
tanya Erika.
"Guru Matematika yang selalu membawa penggaris kayu."
Arman langsung tertawa.
"Yang sering berkata..."
"'Kesalahan kecil bisa membuat jawaban besar menjadi salah.'"
"Kata-kata itu ternyata cocok juga untuk dunia proyek."
Erika ikut tertawa.
"Iya."
"Sekarang aku baru benar-benar mengerti maksud beliau."
Mereka tertawa cukup lama.
Untuk sesaat, waktu seolah kembali membawa mereka menjadi dua remaja yang sedang duduk di kantin sekolah.
Di tengah percakapan, Erika memperhatikan wajah Arman.
Ada sesuatu yang berbeda.
Lelaki itu kini tampak lebih tenang.
Lebih dewasa.
Namun sesekali, sorot matanya masih menyimpan kesedihan yang sulit dijelaskan.
"Man."
"Iya?"
"Boleh aku bertanya sesuatu?"
"Tentu."
"Kamu..."
"...pernah menjalin hubungan dengan seseorang setelah kita lulus?"
Arman terdiam.
Sendok di tangannya berhenti bergerak.
Beberapa detik ia memandang aliran Sungai Kapuas yang tampak tenang.
Kemudian ia mengangguk pelan.
"Pernah."
Erika tidak berkata apa-apa.
Ia menunggu Arman melanjutkan.
"Waktu kuliah."
"Namanya Alina."
"Kami cukup dekat."
"Tapi akhirnya berpisah."
Nada suara Arman tetap tenang.
Namun ada luka yang masih terasa di balik setiap kata.
Erika hanya berkata lirih,
"Maaf."
Arman tersenyum kecil.
"Tidak perlu."
"Mungkin memang bukan takdir kami."
Ia tidak menjelaskan lebih jauh.
Dan Erika pun menghargai keputusan itu.
Ada kisah yang memang belum siap diceritakan seluruhnya.
Setelah makan siang selesai, mereka berjalan menyusuri tepian sungai sebelum kembali bekerja.
Angin sore mulai berembus lembut.
Langit perlahan berubah kebiruan.
"Kalau boleh jujur."
kata Erika pelan.
"Aku senang kita bertemu lagi."
Arman menoleh.
"Aku juga."
"Dulu aku sering berpikir..."
"...mungkin kita tidak akan pernah bertemu lagi."
Erika tersenyum.
"Aku juga pernah berpikir begitu."
"Lalu sekarang?"
tanya Arman.
"Sekarang aku percaya..."
"...Tuhan memang mempunyai waktu-Nya sendiri."
Kalimat itu sederhana.
Namun terasa begitu dalam.
Arman mengangguk pelan.
Ia tidak menjawab.
Karena apa yang dirasakan hatinya saat itu tidak cukup diwakili oleh kata-kata.
Hari-hari berikutnya berjalan semakin cepat.
Setiap kali proyek mempertemukan mereka, hubungan keduanya terasa semakin hangat.
Mereka saling mendukung dalam pekerjaan.
Saling mengingatkan ketika ada dokumen yang kurang.
Saling menyemangati ketika pekerjaan terasa melelahkan.
Kedekatan itu tumbuh secara alami.
Tidak dipaksakan.
Tidak diumumkan kepada siapa pun.
Namun beberapa rekan kerja mulai menyadarinya.
Nadira Puspitasari pernah berkata kepada Lukman sambil tersenyum,
"Pak Arman sekarang lebih sering tersenyum."
Lukman hanya mengangguk pelan.
"Kadang..."
"...orang tidak berubah karena pekerjaannya."
"Tetapi karena ada seseorang yang membuatnya kembali menikmati hidup."
Ucapan itu hanya menjadi candaan ringan di kantor.
Tidak seorang pun mengetahui bahwa di balik senyum Arman dan Erika, ada kisah panjang yang pernah terhenti bertahun-tahun lalu.
Kini kisah itu perlahan tumbuh kembali.
Bukan sebagai kenangan.
Melainkan sebagai harapan baru.
Namun di balik harapan itu, masa lalu belum benar-benar selesai.
Seseorang yang pernah menjadi sahabat Arman diam-diam telah mengetahui bahwa mereka kembali dipertemukan.
Dan kehadirannya akan membawa ujian yang jauh lebih besar daripada sekadar kerinduan.
Ketika Masa Lalu Datang Mengetuk Kembali
Minggu demi minggu berlalu.
Pembangunan gedung pelayanan publik di Kuala Kapuas menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Struktur lantai pertama mulai berdiri kokoh. Aktivitas di lokasi proyek semakin padat. Setiap hari, tim konsultan, kontraktor, dan pemilik pekerjaan harus memastikan seluruh tahapan berjalan sesuai jadwal.
Bagi Arman Maulana, kesibukan itu menjadi bagian dari rutinitas yang mulai ia nikmati.
Pagi berangkat dari Desa Sriwidadi.
Sore kembali melewati hamparan sawah dan tepian Sungai Kapuas.
Di sela-sela pekerjaan, ia bertemu Erika.
Sesederhana itu.
Namun cukup untuk membuat hari-harinya terasa lebih bermakna.
Suatu pagi, setelah rapat evaluasi mingguan selesai, Arman dan Erika berjalan keluar dari ruang rapat sambil membahas beberapa revisi gambar.
"Aku akan mengirim revisi detail tangga sore ini."
kata Arman.
"Baik."
"Nanti langsung aku teruskan ke pelaksana lapangan."
jawab Erika.
Ketika mereka melintasi halaman kantor proyek, sebuah mobil berwarna hitam memasuki area parkir.
Seorang lelaki turun dengan mengenakan kemeja putih dan celana bahan hitam.
Usianya hampir sama dengan Arman.
Wajahnya tampak familiar.
Arman menghentikan langkahnya.
Lelaki itu juga terdiam beberapa saat.
Kemudian perlahan tersenyum.
"Arman?"
Suara itu begitu dikenalnya.
Arman memandang lebih saksama.
Lalu matanya membelalak.
"Junaidi?"
Lelaki itu mengangguk.
Mereka saling mendekat dan berjabat tangan.
"Subhanallah."
"Sudah lama sekali."
kata Junaidi sambil menepuk bahu Arman.
"Hampir sepuluh tahun."
Arman tersenyum.
"Iya."
"Aku tidak menyangka bertemu di sini."
Erika berdiri beberapa langkah di belakang mereka.
Tatapannya berpindah dari Arman kepada Junaidi.
Ia pun mengenali wajah itu.
"Junaidi..."
ucapnya pelan.
Junaidi menoleh.
Senyumnya melebar.
"Erika."
"Ternyata kamu juga di sini."
"Alhamdulillah."
"Kita bertemu lagi."
Ketiganya sempat terdiam.
Suasana terasa canggung.
Mereka memang pernah berada dalam satu kelas.
Pernah tertawa bersama.
Pernah belajar bersama.
Namun mereka juga pernah dipisahkan oleh perasaan yang tidak pernah benar-benar selesai.
Junaidi kini bekerja sebagai Marketing dan Pengembangan Usaha pada sebuah perusahaan penyedia material konstruksi.
Hari itu ia datang untuk menawarkan produk baja ringan dan beberapa material pendukung kepada pihak kontraktor.
Pertemuan itu sebenarnya murni urusan pekerjaan.
Namun bagi tiga orang yang pernah menghabiskan masa remaja bersama, pertemuan tersebut membawa kembali lembar-lembar lama yang telah lama tersimpan.
"Wah..."
kata Junaidi sambil tertawa kecil.
"Ternyata dunia memang sempit."
Arman mengangguk.
"Benar."
"Siapa sangka."
Junaidi kemudian memandang Erika.
"Kamu masih bekerja di bidang administrasi teknik?"
"Iya."
jawab Erika.
"Sudah hampir tiga tahun."
"Luar biasa."
"Selamat."
Nada suara Junaidi terdengar ramah.
Tidak ada kesan bermusuhan.
Setidaknya, begitulah yang terlihat.
Karena sama-sama memiliki waktu luang beberapa menit sebelum agenda berikutnya dimulai, mereka bertiga duduk di ruang tamu proyek.
Percakapan awal dipenuhi cerita ringan.
Tentang teman-teman SMK yang kini telah berkeluarga.
Tentang guru-guru yang telah pensiun.
Tentang kehidupan setelah lulus.
Namun perlahan, pembicaraan mulai mengarah kepada masa lalu.
"Ingat tidak..."
kata Junaidi sambil tertawa.
"Waktu kita bertiga kehujanan di Jalan Tambun Bungai?"
Erika tersenyum.
"Masih."
"Kamu malah sengaja berjalan di tengah."
"Payungnya jadi tidak berguna."
Mereka bertiga tertawa.
Sejenak, kenangan itu terasa begitu hangat.
Namun di balik tawa tersebut, masing-masing menyimpan perasaan yang berbeda.
Junaidi diam-diam memperhatikan cara Arman dan Erika berbicara.
Tatapan mata mereka.
Senyum yang muncul tanpa dibuat-buat.
Kecocokan yang tampak begitu alami.
Ia mulai menyadari bahwa kedekatan yang dahulu pernah tumbuh di bangku SMK ternyata belum benar-benar hilang.
Ada sesuatu yang perlahan hidup kembali di antara mereka.
Sementara itu, Arman sama sekali tidak menyimpan prasangka.
Baginya, Junaidi tetap sahabat lamanya.
Sahabat yang pernah belajar bersama.
Bermain sepak bola bersama.
Menghabiskan masa-masa remaja yang penuh mimpi.
Ia percaya waktu telah mendewasakan semua orang.
Bahwa apa yang pernah terjadi di masa lalu telah selesai.
Namun tidak semua orang memandang masa lalu dengan cara yang sama.
Sebelum berpamitan, Junaidi menyerahkan kartu namanya kepada Arman.
"Kalau nanti membutuhkan material tambahan..."
"...hubungi saja aku."
"Siapa tahu kita bisa bekerja sama."
Arman menerima kartu itu dengan senang hati.
"Tentu."
"Terima kasih."
Kemudian Junaidi menoleh kepada Erika.
"Nomormu masih yang dulu?"
Erika menggeleng pelan.
"Sudah berganti."
"Oh begitu."
"Kalau begitu nanti boleh minta?"
Erika tersenyum sopan.
"Nanti saja."
"Kalau memang ada keperluan pekerjaan."
Jawaban itu terdengar halus.
Namun cukup jelas memberi batas.
Junaidi hanya mengangguk.
"Baik."
Mobil Junaidi perlahan meninggalkan lokasi proyek.
Arman memandangnya hingga menghilang di tikungan jalan.
"Senang juga bisa bertemu lagi."
katanya.
Erika tidak langsung menjawab.
Ia hanya memandang ke arah jalan yang baru saja dilalui mobil itu.
Ada firasat yang sulit ia jelaskan.
"Kenapa?"
tanya Arman.
"Tidak apa-apa."
jawab Erika sambil tersenyum tipis.
"Hanya merasa..."
"...masa lalu ternyata benar-benar bisa datang tanpa memberi kabar."
Arman mengangguk pelan.
"Iya."
"Tapi sekarang kita semua sudah berbeda."
Erika membalas senyum itu.
"Mudah-mudahan."
Ia berharap demikian.
Namun jauh di lubuk hatinya, ia masih mengingat tatapan Junaidi beberapa saat yang lalu.
Tatapan yang pernah ia lihat bertahun-tahun silam.
Tatapan seorang lelaki yang dahulu diam-diam menyimpan perasaan, tetapi tidak pernah berhasil memilikinya.
Malam harinya, di dalam mobil yang melaju meninggalkan Kuala Kapuas, Junaidi menggenggam kemudi dengan satu tangan.
Pikirannya terus kembali pada pertemuan siang tadi.
Ia tersenyum tipis.
"Ternyata..."
"...kalian bertemu lagi."
Ia menghela napas panjang.
Ada sesuatu yang kembali terusik di dalam hatinya.
Bukan kebencian.
Bukan pula amarah.
Melainkan keinginan yang dahulu pernah ia kubur dalam-dalam.
Keinginan untuk memenangkan hati Erika.
Dan tanpa ia sadari, langkah kecil yang baru saja dimulai itu akan kembali menguji persahabatan lama, kepercayaan, serta cinta yang perlahan tumbuh di bawah langit Kapuas.
Sementara Arman dan Erika masih menikmati kebahagiaan sederhana karena dipertemukan kembali, takdir diam-diam sedang menyiapkan ujian baru.
Sebab cinta yang besar hampir selalu diuji sebelum benar-benar berlabuh.
BAB XX
Di Antara Gambar Kerja dan Perasaan
Profesionalisme yang Mulai Diuji
Awal bulan Agustus membawa kesibukan baru di proyek pembangunan gedung pelayanan publik di Kuala Kapuas.
Setelah pekerjaan struktur lantai pertama selesai, tahapan berikutnya memasuki proses pengecoran balok dan kolom. Intensitas koordinasi antara tim konsultan, kontraktor, dan pemilik pekerjaan semakin meningkat. Hampir setiap hari dilakukan pemeriksaan lapangan, evaluasi pekerjaan, serta penyesuaian gambar kerja sesuai kondisi di lapangan.
Sebagai staf administrasi teknik pada tim konsultan, Arman Maulana kini memiliki tanggung jawab yang jauh lebih besar dibandingkan saat pertama kali diterima bekerja.
Ia tidak hanya menyusun notulen rapat dan mengarsipkan dokumen.
Kini ia juga dipercaya membantu Hendra Kurniawan menyiapkan laporan mingguan progres pekerjaan, mencocokkan volume pekerjaan dengan gambar pelaksanaan, serta mendokumentasikan setiap perubahan teknis yang terjadi di lapangan.
Kepercayaan itu menjadi kebanggaan tersendiri bagi Arman.
Ia ingin membuktikan bahwa anak petani dari Desa Sriwidadi juga mampu menjadi tenaga profesional yang dapat diandalkan.
Pagi itu, sebelum matahari sepenuhnya meninggi, Arman sudah berada di lokasi proyek.
Dengan mengenakan helm keselamatan dan rompi konsultan, ia berjalan menyusuri area pembangunan bersama Hendra.
Mereka memeriksa hasil pengecoran yang dilakukan sehari sebelumnya.
"Bagaimana hasil pengukurannya?"
tanya Hendra.
Arman membuka buku catatannya.
"Elevasi sesuai gambar kerja, Pak."
"Tapi ada sedikit perbedaan pada posisi bekisting sisi timur."
Hendra memperhatikan lokasi yang dimaksud.
"Bagus."
"Kamu mulai jeli."
"Nanti buatkan catatan agar kontraktor melakukan penyempurnaan sebelum pekerjaan berikutnya."
"Siap, Pak."
Arman segera mencatat instruksi tersebut.
Tidak lama kemudian, rombongan dari perusahaan kontraktor datang.
Erika berjalan bersama Site Engineer dan pelaksana lapangan sambil membawa map berisi laporan harian pekerjaan.
Ketika melihat Arman, ia menganggukkan kepala sambil tersenyum.
"Selamat pagi."
"Selamat pagi."
balas Arman.
Sapaan mereka tetap sederhana.
Tidak berlebihan.
Di hadapan rekan-rekan kerja, keduanya menjaga sikap dengan sangat baik.
Mereka sadar bahwa hubungan profesional harus tetap menjadi prioritas.
Justru karena pernah saling mengenal, mereka semakin berhati-hati agar tidak menimbulkan kesan yang kurang baik di lingkungan kerja.
Rapat lapangan dimulai tepat pukul delapan pagi.
Hendra memimpin pembahasan mengenai hasil pemeriksaan struktur.
Beberapa catatan teknis disampaikan kepada pihak kontraktor.
Erika mencatat seluruh arahan dengan teliti.
Sesekali ia mengajukan pertanyaan untuk memastikan tidak ada kesalahan dalam pelaksanaan.
"Untuk revisi posisi bekisting ini..."
tanya Erika.
"...apakah cukup dilakukan perbaikan sebelum pengecoran berikutnya?"
Hendra mengangguk.
"Betul."
"Asalkan sudah diverifikasi kembali oleh tim konsultan."
Erika mencatat jawaban tersebut.
Arman memperhatikan cara Erika bekerja.
Ia selalu teliti.
Tidak tergesa-gesa.
Setiap keputusan ditulis dengan rapi agar tidak terjadi kesalahpahaman di lapangan.
Dalam hati Arman muncul rasa kagum.
Bukan lagi sekadar karena kenangan masa lalu.
Melainkan karena ia melihat sosok perempuan yang benar-benar bertanggung jawab terhadap pekerjaannya.
Menjelang siang, setelah rapat selesai, Hendra meminta Arman dan Erika memeriksa kembali beberapa dokumen gambar revisi yang harus segera diserahkan kepada pemilik pekerjaan.
"Kalian cocokkan semuanya."
kata Hendra.
"Kalau ada yang berbeda, langsung perbaiki sebelum sore."
"Baik, Pak."
jawab keduanya hampir bersamaan.
Mereka pun duduk di ruang administrasi proyek.
Di atas meja terbentang gambar struktur, spesifikasi teknis, dan beberapa lembar berita acara.
Arman memeriksa ukuran.
Erika mencocokkan nomor revisi.
Pekerjaan berlangsung cepat karena keduanya sudah memahami ritme kerja masing-masing.
"Nomor revisi di sini masih yang lama."
kata Erika sambil menunjuk salah satu lembar.
Arman segera melihatnya.
"Oh, benar."
"Untung kamu teliti."
Erika tersenyum.
"Kalau sampai terlewat, bisa dicetak ulang semuanya."
"Terima kasih."
"Sudah saling membantu."
jawab Erika singkat.
Kalimat sederhana itu membuat Arman tersenyum.
Di luar ruangan, beberapa rekan kerja memperhatikan mereka.
Bagas mendekati Hendra.
"Pak."
"Saya lihat Pak Arman dan Bu Erika bekerja sangat kompak."
Hendra tersenyum.
"Itu bagus."
"Yang penting tetap profesional."
"Kalau pekerjaan selesai dengan baik, tidak ada yang perlu dipermasalahkan."
Bagas mengangguk.
"Benar juga."
Pembicaraan itu berhenti sampai di situ.
Tidak ada gosip.
Tidak ada prasangka.
Karena selama ini Arman dan Erika memang selalu menjaga batas-batas profesional dalam bekerja.
Menjelang sore, seluruh dokumen akhirnya selesai diperiksa.
Erika menutup map terakhir.
"Alhamdulillah."
"Semuanya sudah sesuai."
Arman menghela napas lega.
"Besok tinggal diserahkan ke dinas."
Mereka berdiri hampir bersamaan.
Saat hendak keluar ruangan, listrik di kantor proyek tiba-tiba padam selama beberapa detik.
Ruangan mendadak gelap.
Secara refleks, Erika menghentikan langkahnya.
Arman yang berada di dekat pintu berkata pelan,
"Hati-hati."
"Di depan ada gulungan gambar."
"Terima kasih."
Beberapa detik kemudian listrik kembali menyala.
Mereka saling berpandangan.
Lalu tersenyum kecil.
Momen itu berlangsung sangat singkat.
Namun cukup membuat jantung keduanya berdegup sedikit lebih cepat.
Sore itu, sebelum pulang, Hendra memberikan kabar baru.
"Besok kita akan menghadiri rapat evaluasi bersama pemilik pekerjaan."
"Semua administrasi harus benar-benar siap."
Arman mengangguk.
"Siap, Pak."
Di saat yang sama, manajer proyek kontraktor juga memberikan arahan kepada Erika.
"Besok kamu ikut mendampingi saya."
"Pastikan semua dokumen lengkap."
"Baik, Pak."
Keesokan hari, mereka kembali akan duduk dalam satu ruangan.
Kembali bekerja sebagai konsultan dan kontraktor.
Namun tanpa mereka sadari, hubungan yang selama ini tumbuh perlahan mulai memasuki fase yang lebih sulit.
Mereka tidak hanya diuji oleh tanggung jawab pekerjaan.
Tetapi juga oleh perasaan yang semakin sulit disembunyikan.
Di antara gambar kerja, berita acara, dan laporan proyek, hati mereka perlahan mulai berbicara lebih keras daripada logika.
Dan dari kejauhan, seseorang mulai memperhatikan kedekatan itu dengan tatapan yang tidak lagi sama.
Tatapan yang Mulai Sulit Disembunyikan
Pagi itu, ruang rapat Dinas dipenuhi suasana yang lebih serius daripada biasanya.
Di atas meja tersusun laporan progres pekerjaan, gambar revisi, berita acara pemeriksaan lapangan, serta jadwal pelaksanaan untuk tahap berikutnya. Seluruh pihak yang terlibat dalam pembangunan gedung pelayanan publik hadir untuk melakukan evaluasi berkala.
Tim konsultan dipimpin oleh Hendra Kurniawan.
Sementara pihak kontraktor dipimpin oleh Manajer Proyek, didampingi Site Engineer dan Erika Permatasari sebagai staf administrasi teknik.
Arman kembali duduk di samping Hendra.
Tugasnya masih sama.
Mencatat seluruh hasil rapat, menyusun notulen, serta memastikan setiap keputusan terdokumentasi dengan baik.
Rapat dimulai tepat pukul sembilan pagi.
Pembahasan berlangsung cukup panjang.
Mulai dari kemajuan pekerjaan struktur, jadwal pengadaan material, hingga evaluasi terhadap beberapa catatan teknis yang ditemukan pada pemeriksaan lapangan sebelumnya.
Arman bekerja dengan penuh konsentrasi.
Tangannya hampir tidak berhenti menulis.
Sesekali ia membuka gambar kerja untuk memastikan nomor revisi yang sedang dibahas.
Di seberang meja, Erika juga sibuk mencatat setiap keputusan yang menjadi tanggung jawab pihak kontraktor.
Keduanya hampir tidak saling berbicara.
Namun beberapa kali, ketika salah satu membutuhkan dokumen tertentu, pandangan mereka bertemu.
"Pak Arman."
ucap Erika dengan nada formal.
"Apakah gambar revisi kolom tipe K-3 sudah disahkan?"
Arman membuka map di sampingnya.
"Sudah."
Ia menyerahkan satu lembar gambar.
"Silakan."
"Terima kasih."
Percakapan itu terdengar seperti komunikasi biasa antarpekerja.
Tetapi bagi keduanya, sapaan singkat itu terasa berbeda.
Ada kehangatan yang sulit dijelaskan.
Menjelang waktu istirahat, rapat dihentikan sementara.
Para peserta keluar ruangan untuk menikmati kopi dan makanan ringan yang telah disediakan.
Sebagian berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil sambil membahas pekerjaan.
Sebagian lagi memilih berdiri di teras gedung menikmati angin yang berembus dari arah Sungai Kapuas.
Arman mengambil secangkir kopi.
Ketika hendak kembali ke dalam, ia melihat Erika berdiri sendirian di dekat pagar halaman.
Perempuan itu memandang aliran sungai yang tampak tenang dari kejauhan.
Arman menghampirinya.
"Sendirian?"
Erika menoleh dan tersenyum.
"Hanya mencari udara segar."
"Di dalam agak pengap."
Arman mengangguk.
"Benar."
Mereka berdiri berdampingan.
Beberapa saat tidak ada yang berbicara.
Keheningan itu justru terasa menenangkan.
"Aku senang melihatmu sekarang."
ucap Erika pelan.
Arman menoleh.
"Maksudmu?"
"Dulu waktu sekolah..."
"...aku sering melihatmu memikirkan banyak hal."
"Sekarang wajahmu lebih tenang."
Arman tersenyum kecil.
"Mungkin karena aku sudah belajar menerima banyak hal."
"Termasuk kenyataan bahwa hidup tidak selalu berjalan seperti yang kita inginkan."
Erika memahami maksud kalimat itu.
Ia tahu Arman sedang berbicara tentang perjalanan hidupnya.
Tentang mimpi-mimpi yang pernah tertunda.
Mungkin juga tentang luka yang pernah ia alami.
"Aku juga banyak belajar."
kata Erika.
"Semakin dewasa..."
"...aku semakin mengerti bahwa tidak semua kehilangan harus disesali."
"Kadang..."
"...kehilangan hanya sedang mengantar kita menuju pertemuan yang lebih baik."
Arman memandang Erika beberapa saat.
Kalimat itu terasa begitu dalam.
Seolah bukan sekadar pendapat.
Melainkan pengalaman yang benar-benar pernah ia jalani.
Tidak jauh dari tempat mereka berdiri, beberapa peserta rapat memperhatikan keduanya.
Bagas yang sedang berbincang dengan Hendra sempat tersenyum.
"Pak."
"Pak Arman kelihatannya sudah punya teman diskusi baru."
Hendra hanya tertawa kecil.
"Selama mereka tetap bekerja dengan baik, biarkan saja."
"Saya justru senang melihat mereka saling membantu."
Bagas mengangguk.
"Benar juga."
Tidak ada prasangka buruk.
Yang terlihat hanyalah dua orang profesional yang bekerja dengan penuh tanggung jawab.
Sore harinya, setelah rapat selesai, Arman dan Erika kembali ke lokasi proyek untuk menyerahkan hasil evaluasi kepada tim lapangan.
Di dalam mobil operasional kontraktor, Manajer Proyek memeriksa kembali dokumen yang telah dibawa Erika.
"Administrasinya rapi."
katanya.
"Terima kasih."
jawab Erika.
"Sebagian catatan juga dibantu oleh Pak Arman."
Manajer Proyek mengangguk.
"Dia memang teliti."
"Kalau semua koordinasi berjalan seperti ini, proyek akan lebih mudah dikendalikan."
Pujian itu membuat Erika tersenyum bangga.
Bukan karena dirinya.
Melainkan karena melihat kemampuan Arman mulai mendapat pengakuan.
Sementara itu, di kantor pemasok material, Junaidi sedang berbincang dengan atasannya mengenai kebutuhan baja untuk proyek tersebut.
Secara kebetulan, salah seorang staf kontraktor yang datang mengambil dokumen menyebut nama Arman dan Erika.
"Mereka berdua sekarang sering menangani koordinasi proyek."
ucap staf itu tanpa maksud apa pun.
Junaidi hanya mengangguk.
Namun setelah tamunya pulang, ia terdiam cukup lama.
Ia membuka kembali kartu nama Arman yang masih tersimpan di dompetnya.
Lalu mengingat senyum Erika ketika bertemu di proyek beberapa hari yang lalu.
Entah mengapa, hatinya mulai terusik.
Ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa semua itu hanyalah hubungan kerja.
Namun jauh di dalam hati, ia merasakan sesuatu yang pernah muncul bertahun-tahun lalu.
Perasaan takut kehilangan.
Sore menjelang malam.
Pekerjaan di lokasi proyek telah selesai.
Arman membantu Hendra memasukkan beberapa dokumen ke dalam mobil.
Ketika hendak pulang, ia melihat Erika berdiri di samping kendaraan operasional kontraktor.
Seolah menunggu sesuatu.
Arman menghampirinya.
"Ada yang tertinggal?"
Erika menggeleng.
"Tidak."
"Hanya ingin mengucapkan terima kasih."
"Untuk bantuanmu hari ini."
Arman tersenyum.
"Kita hanya menjalankan tugas masing-masing."
"Iya."
"Tapi bekerja menjadi lebih ringan kalau ada orang yang bisa dipercaya."
Kalimat itu sederhana.
Namun terasa begitu tulus.
Arman mengangguk pelan.
"Begitu juga menurutku."
Tatapan mereka kembali bertemu.
Beberapa detik.
Sedikit lebih lama daripada biasanya.
Tanpa kata-kata.
Tanpa sapaan.
Namun cukup untuk membuat keduanya menyadari bahwa hubungan mereka telah berubah.
Bukan lagi sekadar teman sekolah yang dipertemukan kembali.
Bukan pula hanya rekan kerja.
Ada rasa yang perlahan tumbuh.
Semakin jelas.
Semakin sulit disembunyikan.
Dan sementara dua hati mulai saling memahami tanpa banyak bicara, badai kecil diam-diam mulai bergerak dari arah yang tidak pernah mereka sangka.
Seseorang telah memutuskan untuk tidak lagi menjadi penonton.
Sebuah Pengakuan yang Mengubah Arah Takdir
Minggu-minggu berikutnya, proyek pembangunan gedung pelayanan publik di Kuala Kapuas terus menunjukkan perkembangan yang menggembirakan.
Pekerjaan struktur telah memasuki tahap akhir. Aktivitas di lapangan semakin padat. Hampir setiap hari Arman Maulana dan Erika Permatasari bertemu, baik dalam rapat koordinasi, pemeriksaan lapangan, maupun penyelesaian dokumen administrasi.
Tanpa mereka sadari, kedekatan itu mulai menjadi sesuatu yang wajar bagi semua orang.
Jika ada revisi gambar, Erika akan menghubungi Arman.
Jika ada perubahan spesifikasi material, Arman akan lebih dahulu mengabari Erika.
Semuanya tetap berada dalam batas profesional.
Namun hati memiliki caranya sendiri untuk tumbuh.
Suatu sore, setelah seluruh pekerjaan hari itu selesai, Hendra Kurniawan menghampiri Arman.
"Man."
"Iya, Pak."
"Besok aku ada rapat di Palangka Raya."
"Pemeriksaan lapangan kamu yang pimpin."
Arman sedikit terkejut.
"Saya?"
"Iya."
"Kamu sudah mampu."
"Bagas juga ikut mendampingi."
"Tidak perlu ragu."
Arman menganggukkan kepala.
"Insyaallah saya jalankan sebaik mungkin."
Hendra tersenyum bangga.
Kepercayaan itu merupakan pencapaian besar bagi Arman.
Beberapa tahun lalu ia hanyalah mahasiswa penerima Beasiswa Bidikmisi yang berjuang menyelesaikan kuliah.
Kini, ia mulai dipercaya memimpin koordinasi lapangan dalam sebuah proyek pemerintah.
Keesokan paginya, pemeriksaan lapangan berlangsung lancar.
Arman memimpin evaluasi bersama tim kontraktor.
Ia menjelaskan beberapa catatan teknis dengan tenang.
Tidak lagi terlihat gugup seperti hari-hari pertamanya bekerja.
Erika memperhatikan semua itu dari kejauhan.
Dalam hati ia tersenyum bangga.
Lelaki yang dahulu dikenalnya sebagai siswa sederhana dari Desa Sriwidadi kini telah tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri dan bertanggung jawab.
Setelah pemeriksaan selesai, para pekerja kembali melanjutkan aktivitas masing-masing.
Bagas menghampiri Arman.
"Selamat."
"Untuk apa?"
"Kamu memimpin rapat dengan baik."
Arman tertawa kecil.
"Masih banyak yang harus kupelajari."
"Itu memang tidak akan pernah selesai."
jawab Bagas.
"Tapi hari ini kamu membuktikan bahwa Pak Hendra tidak salah memilih."
Ucapan itu membuat Arman semakin percaya diri.
Menjelang senja, langit Kuala Kapuas berubah jingga.
Sebagian pekerja telah pulang.
Suasana proyek mulai lengang.
Erika masih berada di ruang administrasi untuk menyelesaikan laporan harian.
Ketika keluar membawa map, ia melihat Arman sedang berdiri di dekat pagar proyek memandangi langit.
"Apa yang sedang kamu lihat?"
tanyanya.
Arman tersenyum.
"Langit."
"Setiap sore warnanya selalu berbeda."
Erika berdiri di sampingnya.
"Kamu masih sama."
"Maksudmu?"
"Masih bisa menemukan keindahan di tengah kesibukan."
Arman tertawa pelan.
"Mungkin karena sejak kecil aku terbiasa melihat matahari tenggelam di sawah Sriwidadi."
"Kalau terlalu sibuk bekerja..."
"...aku takut lupa menikmati hidup."
Erika mengangguk.
Ia memahami maksud kalimat itu.
Mereka berjalan perlahan menuju area parkir.
Tidak ada pembicaraan tentang proyek.
Tidak ada pula pembahasan mengenai dokumen.
Yang mereka bicarakan justru hal-hal sederhana.
Tentang keluarga.
Tentang masa kecil.
Tentang cita-cita yang telah tercapai.
"Ternyata."
kata Erika.
"Kita sama-sama berhasil melewati masa-masa sulit."
Arman tersenyum.
"Iya."
"Mungkin karena kita sama-sama tidak pernah menyerah."
Beberapa langkah kemudian, mereka berhenti di bawah sebuah pohon ketapang yang tumbuh di tepi halaman proyek.
Angin sore berembus lembut.
Daun-daun berguguran perlahan.
Suasana terasa begitu tenang.
Erika menatap Arman beberapa saat.
Ada sesuatu yang sejak lama ingin ia sampaikan.
Namun ia selalu mengurungkannya.
Hari itu, ia merasa waktunya telah tiba.
"Man."
"Iya?"
"Aku ingin jujur."
Arman menoleh.
Raut wajah Erika tampak lebih serius dari biasanya.
"Dulu..."
"...waktu kita masih sekolah."
"Aku sebenarnya tahu."
"Tahu apa?"
"Kalau kamu menyukaiku."
Arman terdiam.
Jantungnya berdetak lebih cepat.
Ia tidak menyangka pembicaraan itu akhirnya muncul.
Erika tersenyum tipis.
"Aku hanya pura-pura tidak tahu."
"Kenapa?"
tanya Arman lirih.
"Karena waktu itu aku takut."
"Takut kalau persahabatan kita berubah."
"Takut kalau perasaanku sendiri membuat semuanya menjadi rumit."
Arman menarik napas panjang.
Selama bertahun-tahun ia mengira perasaannya hanya berjalan sepihak.
Ternyata tidak.
Erika kembali melanjutkan.
"Setelah lulus..."
"...aku sering berharap kita bisa bertemu lagi."
"Tapi waktu terus berjalan."
"Aku pikir..."
"...cerita kita sudah selesai."
Arman menatap langit yang mulai memerah.
Kemudian berkata pelan,
"Aku juga pernah berpikir begitu."
"Lalu sekarang?"
tanya Erika.
Arman tersenyum.
"Sekarang aku justru merasa..."
"...Tuhan hanya sedang meminta kita tumbuh lebih dulu."
"...sebelum dipertemukan kembali."
Mata Erika mulai berkaca-kaca.
Kalimat itu terasa begitu tulus.
Bukan rayuan.
Bukan pula janji.
Melainkan pengakuan seorang lelaki yang telah ditempa oleh banyak kehilangan.
Beberapa saat mereka terdiam.
Hanya suara angin yang terdengar di antara dedaunan.
Akhirnya Arman berkata dengan suara tenang,
"Erika."
"Iya."
"Aku tidak ingin terburu-buru."
"Kita sama-sama sudah dewasa."
"Sama-sama memiliki pekerjaan."
"Sama-sama memikul tanggung jawab kepada keluarga."
"Aku ingin semuanya berjalan dengan baik."
Erika mengangguk.
"Aku juga."
"Lalu..."
"...bolehkah kita mulai saling mengenal lagi?"
Pertanyaan itu sederhana.
Namun cukup untuk membuat hati Erika dipenuhi kehangatan.
Ia tersenyum.
"Tentu."
"Asal kita tetap menjadi diri kita sendiri."
"Tidak perlu terburu-buru."
Arman mengangguk.
"Itu juga yang kuinginkan."
Mereka kemudian berjalan menuju kendaraan masing-masing.
Belum ada kata cinta yang diucapkan.
Belum ada hubungan yang disepakati.
Namun sore itu telah menghadirkan sebuah pengakuan yang selama bertahun-tahun tersimpan di dalam hati.
Pengakuan bahwa perasaan itu memang pernah ada.
Dan ternyata tidak pernah benar-benar hilang.
Di bawah langit Kapuas yang mulai diselimuti cahaya senja, dua hati akhirnya memilih untuk membuka lembaran baru.
Bukan lagi sebagai remaja yang dipenuhi keraguan.
Melainkan sebagai dua orang dewasa yang siap memberi kesempatan kepada takdir.
Namun di saat yang sama, di sebuah kafe di pusat Kota Kuala Kapuas, Junaidi menerima kabar dari salah seorang kenalannya bahwa Arman dan Erika kini semakin sering terlihat bersama di proyek.
Ia terdiam cukup lama.
Lalu menatap keluar jendela.
Ada keputusan yang perlahan mulai tumbuh di dalam pikirannya.
Keputusan yang kelak akan menguji cinta, persahabatan, dan kesetiaan mereka.
Sebab perjalanan menuju kebahagiaan tidak pernah benar-benar lurus.
Dan di bawah langit Kapuas, badai itu mulai bergerak mendekat.
BAB XXI
Luka Lama yang Kembali Terbuka
Luka Lama yang Kembali Terbuka
Musim kemarau mulai menyelimuti Kabupaten Kapuas.
Langit tampak cerah hampir setiap hari. Air Sungai Kapuas mengalir tenang, memantulkan cahaya matahari yang menyinari tepian kota Kuala Kapuas. Di lokasi pembangunan gedung pelayanan publik, pekerjaan telah memasuki tahap pemasangan dinding dan persiapan pekerjaan atap.
Kesibukan semakin meningkat.
Tim konsultan harus memastikan kualitas pekerjaan tetap sesuai spesifikasi, sementara pihak kontraktor berpacu dengan waktu agar target penyelesaian proyek dapat tercapai.
Di tengah padatnya aktivitas itu, hubungan Arman Maulana dan Erika Permatasari berkembang dengan sangat alami.
Mereka tetap menjaga profesionalisme.
Di hadapan rekan kerja, mereka adalah konsultan dan staf administrasi teknik.
Namun di luar jam kerja, keduanya mulai saling mengenal kembali sebagai dua sahabat lama yang pernah dipisahkan oleh waktu.
Suatu sore, setelah menyelesaikan pemeriksaan lapangan, Arman mengantar Erika hingga halaman kantor kontraktor.
"Kamu masih harus menyelesaikan laporan?"
tanya Arman.
Erika mengangguk.
"Masih ada beberapa berkas yang harus dikirim besok pagi."
"Kalau begitu jangan pulang terlalu malam."
Erika tersenyum.
"Kamu masih suka mengingatkan."
"Aku hanya tidak ingin kamu kelelahan."
jawab Arman sambil tersenyum.
Percakapan sederhana itu tidak disadari oleh seseorang yang baru saja turun dari mobil di seberang halaman.
Orang itu adalah Junaidi.
Hari itu ia kembali datang untuk bertemu manajer proyek terkait pengadaan material bangunan.
Dari kejauhan, ia melihat Arman dan Erika berbicara dengan wajah yang sama-sama dipenuhi senyum.
Tidak ada sentuhan.
Tidak ada sikap yang berlebihan.
Namun cukup bagi Junaidi untuk memahami bahwa kedekatan mereka bukan lagi sekadar hubungan kerja.
Ia memilih tidak menghampiri.
Hanya memperhatikan beberapa saat sebelum melangkah masuk ke dalam kantor.
Di ruang tamu perusahaan kontraktor, Junaidi menunggu manajer proyek yang masih mengikuti rapat internal.
Sambil menunggu, ia melihat beberapa foto dokumentasi proyek yang dipajang di dinding.
Dalam beberapa foto itu tampak seluruh tim proyek.
Ada Hendra.
Ada Arman.
Ada pula Erika.
Mereka berdiri berdampingan saat peninjauan lapangan.
Tanpa sadar, Junaidi mengepalkan tangan.
Kenangan masa SMK kembali memenuhi pikirannya.
Ia masih mengingat bagaimana dahulu dirinya diam-diam menyukai Erika.
Namun Erika justru lebih sering berbincang dengan Arman.
Saat itu ia memilih mengalah.
Ia mengubur perasaannya demi menjaga persahabatan.
Ia mengira waktu akan menghapus semuanya.
Ternyata tidak.
Perasaan itu hanya tertidur.
Dan kini, setelah melihat Arman dan Erika kembali dekat, luka lama yang selama ini terkubur perlahan terbuka kembali.
Malam harinya, Junaidi duduk sendirian di beranda rumah kontrakannya.
Secangkir kopi hitam di atas meja telah dingin.
Telepon genggamnya berada di samping cangkir.
Beberapa kali ia membuka media sosial.
Tanpa sengaja, ia menemukan foto terbaru yang diunggah oleh salah seorang rekan proyek.
Foto itu memperlihatkan seluruh tim sedang melakukan pemeriksaan lapangan.
Arman dan Erika berdiri tidak jauh satu sama lain.
Keduanya tersenyum.
Foto itu sebenarnya sangat wajar.
Tidak ada sesuatu yang berlebihan.
Namun bagi seseorang yang masih menyimpan perasaan lama, gambar sederhana itu mampu menghadirkan banyak pertanyaan.
"Apakah mereka sudah bersama?"
"Ataukah semuanya baru akan dimulai?"
Junaidi memejamkan mata.
Ia mencoba mengusir pikiran-pikiran itu.
Tetapi semakin ia berusaha melupakannya, semakin kuat kenangan itu kembali.
Di sisi lain, Arman sama sekali tidak mengetahui apa yang sedang terjadi.
Malam itu ia berada di rumah orang tuanya di Desa Sriwidadi.
Seusai salat Isya berjamaah di masjid desa, ia duduk di teras bersama ayahnya.
Hasan Basri sedang memperbaiki gagang cangkul yang mulai longgar.
"Bagaimana pekerjaanmu?"
tanya Hasan.
"Alhamdulillah, lancar."
"Masih banyak belajar."
Hasan mengangguk.
"Itu bagus."
"Ilmu tidak berhenti setelah lulus kuliah."
"Justru dimulai ketika kita bekerja."
Arman mengangguk hormat.
Nasihat ayahnya selalu sederhana.
Namun selalu memiliki makna yang dalam.
Beberapa saat kemudian, Hasan kembali bertanya,
"Kamu sekarang sering ke Kuala Kapuas."
"Iya, Pak."
"Lalu..."
"...apakah sudah ada perempuan yang membuatmu ingin segera membangun rumah tangga?"
Arman tersenyum malu.
Pertanyaan itu datang begitu tiba-tiba.
"Doakan saja yang terbaik."
jawabnya singkat.
Hasan tertawa pelan.
"Itu berarti memang sudah ada."
Arman hanya tersenyum tanpa menjawab.
Senyum itu sudah cukup memberi jawaban bagi seorang ayah.
Sementara itu, di rumahnya di Kuala Kapuas, Erika sedang membantu ibunya melipat pakaian.
Ibunya, Rukayah, memperhatikan putrinya yang sejak beberapa minggu terakhir tampak lebih ceria.
"Erika."
"Iya, Bu."
"Akhir-akhir ini kamu sering tersenyum sendiri."
Erika tersipu.
"Ah... Ibu."
"Jangan menggoda."
Rukayah tertawa kecil.
"Ibu ini perempuan."
"Ibu tahu kalau hati anak perempuan mulai berubah."
Erika tidak menyangkal.
Ia hanya memeluk ibunya dengan manja.
Rukayah mengusap rambut putrinya.
"Kalau memang nanti ada seseorang yang datang..."
"...pilihlah lelaki yang baik."
"Bukan yang paling kaya."
"Bukan yang paling tampan."
"Tetapi yang menghormatimu dan menghormati keluargamu."
Nasihat itu tersimpan dalam hati Erika.
Entah mengapa, wajah Arman perlahan hadir dalam pikirannya.
Keesokan paginya, proyek kembali berjalan seperti biasa.
Namun tanpa diketahui Arman dan Erika, Junaidi telah mengambil sebuah keputusan.
Ia tidak ingin lagi hanya menjadi penonton.
Bukan untuk merusak kebahagiaan siapa pun.
Melainkan untuk memastikan bahwa ia tidak kembali kehilangan kesempatan seperti bertahun-tahun yang lalu.
Ia merasa masih memiliki hak untuk memperjuangkan perasaannya.
Dan perjuangan itu akan dimulai dengan cara yang paling sederhana.
Mendekati Erika kembali.
Sementara Arman dan Erika masih menikmati hari-hari yang dipenuhi tawa dan kerja sama, mereka belum menyadari bahwa masa lalu benar-benar telah kembali.
Bukan sekadar sebagai kenangan.
Melainkan sebagai ujian baru yang akan menentukan apakah cinta mereka cukup kuat untuk bertahan.
Di bawah langit Kapuas, badai pertama mulai tampak di kejauhan.
Belum besar.
Belum mengguncang.
Namun perlahan bergerak mendekat.
Kehadiran Junaidi dan Bayang-Bayang Masa Lalu
Pagi di Kuala Kapuas dimulai dengan langit yang cerah.
Aktivitas di lokasi pembangunan gedung pelayanan publik kembali berlangsung seperti biasa. Para pekerja sibuk memasang bata ringan pada lantai pertama, sementara tim konsultan melakukan pemeriksaan terhadap hasil pekerjaan hari sebelumnya.
Arman Maulana datang lebih awal bersama Hendra Kurniawan.
Seperti biasanya, ia membawa map berisi gambar kerja, buku catatan lapangan, dan kamera untuk mendokumentasikan perkembangan proyek.
"Target minggu ini cukup berat."
kata Hendra sambil melihat jadwal pekerjaan.
"Kalau cuaca mendukung, kita bisa mengejar progres."
"Insyaallah, Pak."
jawab Arman.
Ia segera memulai pemeriksaan bersama Bagas dan beberapa staf lapangan.
Tidak lama kemudian, sebuah mobil bak terbuka memasuki area proyek.
Di bagian belakang mobil tampak beberapa contoh material bangunan yang akan ditawarkan kepada pihak kontraktor.
Arman menoleh sekilas.
Ia mengenali sosok yang turun dari kursi penumpang.
Junaidi.
Lelaki itu mengenakan kemeja biru muda dengan logo perusahaan tempatnya bekerja.
Di tangannya terdapat tas berisi katalog produk.
Melihat Arman, ia langsung tersenyum.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
"Selamat pagi."
"Mau menawarkan material lagi?"
tanya Arman sambil menjabat tangannya.
"Iya."
"Kebetulan ada produk baru."
"Siapa tahu cocok untuk tahap finishing nanti."
Arman mengangguk.
"Semoga berhasil."
Percakapan mereka berlangsung hangat.
Tidak ada tanda-tanda perselisihan.
Bagi Arman, Junaidi tetaplah sahabat lama.
Ia sama sekali tidak mengetahui pergulatan batin yang sedang dialami sahabatnya itu.
Beberapa menit kemudian, Erika datang bersama Site Engineer menuju ruang administrasi.
Saat melintas di halaman proyek, pandangannya bertemu dengan Junaidi.
"Selamat pagi, Erika."
ucap Junaidi lebih dahulu.
"Selamat pagi."
jawab Erika dengan sopan.
"Sudah lama tidak bertemu."
"Iya."
"Beberapa minggu ini cukup sibuk."
Junaidi tersenyum.
"Kalau nanti ada waktu..."
"...bolehkah kita minum kopi sambil mengenang masa sekolah?"
Erika sedikit terkejut.
Namun ia tetap menjaga sikap.
"Terima kasih."
"Tapi akhir-akhir ini pekerjaan sedang padat."
"Mungkin lain waktu."
Jawaban itu disampaikan dengan halus.
Tidak menolak secara kasar.
Tetapi juga tidak memberikan harapan.
Junaidi mengangguk pelan.
"Baik."
"Aku mengerti."
Sepanjang pagi, Junaidi beberapa kali melihat Arman dan Erika bekerja bersama.
Mereka berdiskusi mengenai gambar kerja.
Sesekali tertawa ketika membahas kesalahan penulisan nomor dokumen.
Semua yang mereka lakukan masih dalam batas profesional.
Namun bagi Junaidi, setiap senyum yang muncul terasa seperti menghidupkan kembali luka lama.
Ia teringat masa SMK.
Saat dirinya sering belajar bersama Arman.
Saat mereka bertiga pernah menikmati senja di Dermaga KP3.
Saat hujan turun di Jalan Tambun Bungai.
Dan saat ia mulai menyadari bahwa hati Erika perlahan lebih dekat kepada Arman daripada kepadanya.
Dulu ia memilih diam.
Kini, ia tidak ingin mengulang penyesalan yang sama.
Menjelang siang, urusan Junaidi dengan pihak kontraktor selesai.
Sebelum pulang, ia kembali menghampiri Arman yang sedang memeriksa hasil pasangan dinding.
"Man."
"Iya?"
"Nanti malam ada waktu?"
"Ada apa?"
"Sudah lama kita tidak ngobrol."
"Aku ingin mampir ke warung kopi."
Arman tersenyum.
"Boleh."
"Kebetulan besok pagi jadwalku tidak terlalu padat."
"Baik."
"Jam tujuh malam?"
"Siap."
Mereka berjabat tangan.
Bagi Arman, itu hanyalah ajakan seorang sahabat lama.
Namun bagi Junaidi, pertemuan malam nanti memiliki tujuan yang jauh lebih besar.
Ia ingin mengetahui sejauh mana hubungan Arman dan Erika.
Sore harinya, setelah seluruh pekerjaan selesai, Arman pulang ke rumah kontrakannya di Kuala Kapuas untuk membersihkan diri sebelum memenuhi ajakan Junaidi.
Sementara itu, Erika menyelesaikan laporan harian di kantor kontraktor.
Ketika hendak pulang, Site Engineer berkata,
"Bu Erika."
"Iya, Pak."
"Besok ada rapat koordinasi tambahan."
"Tolong siapkan seluruh dokumen administrasi."
"Baik, Pak."
Ia mengangguk sambil memasukkan berkas ke dalam tas.
Saat berjalan menuju parkiran, telepon genggamnya berbunyi.
Sebuah pesan masuk dari Arman.
"Besok rapat jam delapan. Jangan lupa istirahat malam ini."
Erika tersenyum kecil.
Ia membalas singkat.
"Terima kasih. Kamu juga jangan terlalu capek."
Percakapan mereka hanya beberapa kalimat.
Namun cukup membuat hati Erika terasa hangat.
Tanpa disadari, dari kejauhan Junaidi yang masih berada di halaman proyek melihat Erika tersenyum sambil membaca layar teleponnya.
Ia tidak tahu isi pesan itu.
Tetapi ia bisa menebak siapa pengirimnya.
Perasaan yang selama ini berusaha ia kendalikan kembali bergejolak.
Malam tiba.
Sebuah warung kopi sederhana di tepian Jalan Tambun Bungai mulai dipenuhi pengunjung.
Arman datang tepat waktu.
Beberapa menit kemudian, Junaidi menyusul.
Mereka saling berjabat tangan sebelum duduk berhadapan.
Setelah memesan kopi, keduanya berbincang tentang pekerjaan, keluarga, dan kehidupan setelah lulus kuliah.
Suasana terasa hangat.
Persis seperti dua sahabat lama yang baru dipertemukan kembali.
Namun Arman belum mengetahui bahwa di balik obrolan santai malam itu, Junaidi sedang mencari keberanian untuk mengungkapkan sesuatu yang selama bertahun-tahun ia simpan di dalam hati.
Sesuatu yang berpotensi mengubah hubungan persahabatan mereka.
Dan mungkin, juga mengubah arah perjalanan cinta Arman dan Erika.
Di bawah langit Kapuas yang mulai dihiasi bintang-bintang, masa lalu perlahan mengambil tempatnya kembali.
Bukan lagi sebagai kenangan.
Melainkan sebagai kenyataan yang harus dihadapi.
Pengakuan Seorang Sahabat dan Awal Ujian Terberat
Malam di Kota Kuala Kapuas terasa tenang.
Lampu-lampu jalan di sepanjang Jalan Tambun Bungai memantulkan cahaya kekuningan di atas aspal yang mulai lengang. Di sebuah warung kopi sederhana yang telah lama menjadi tempat berkumpul masyarakat, Arman Maulana dan Junaidi duduk berhadapan.
Di hadapan mereka, dua cangkir kopi hitam masih mengepulkan uap tipis.
Sesaat, pembicaraan hanya berisi cerita ringan.
Tentang pekerjaan.
Tentang keluarga.
Tentang teman-teman semasa SMK yang kini telah menempuh jalan hidup masing-masing.
"Bagaimana orang tuamu di Sriwidadi?"
tanya Junaidi.
"Alhamdulillah sehat."
"Masih bertani."
jawab Arman.
"Kalau ayahmu?"
"Sudah pensiun."
"Sekarang lebih sering mengurus kebun."
Percakapan mengalir dengan hangat.
Mereka mengenang masa-masa ketika berangkat sekolah bersama, mengerjakan tugas kelompok, hingga bermain sepak bola di lapangan sekolah.
Sesekali tawa mereka pecah.
Untuk beberapa saat, tidak ada beban yang terasa.
Mereka kembali menjadi dua sahabat seperti dahulu.
Namun setelah kopi hampir habis, suasana perlahan berubah.
Junaidi meletakkan cangkirnya.
Ia menarik napas panjang sebelum akhirnya berkata,
"Man."
"Iya?"
"Ada sesuatu yang ingin kusampaikan."
Arman mengangguk.
"Sampaikan saja."
Beberapa detik Junaidi terdiam.
Ia seperti sedang menyusun keberanian.
Akhirnya ia berkata dengan suara pelan,
"Aku masih menyukai Erika."
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun membuat suasana seketika menjadi sunyi.
Arman tidak langsung menjawab.
Ia hanya memandang wajah sahabatnya dengan tenang.
Junaidi kembali berbicara.
"Mungkin seharusnya aku sudah melupakan semuanya."
"Tapi ternyata aku tidak bisa."
"Ketika bertemu lagi di proyek..."
"...aku sadar perasaan itu masih ada."
Ia menghela napas.
"Dulu aku memilih diam."
"Karena aku tahu kamu juga menyukainya."
"Aku tidak ingin persahabatan kita rusak."
"Tapi sekarang..."
"...aku tidak ingin mengulang penyesalan yang sama."
Arman mendengarkan tanpa memotong pembicaraan.
Tidak ada kemarahan di wajahnya.
Tidak ada pula rasa tersinggung.
Ia memahami bahwa setiap orang berhak memiliki perasaan.
"Terima kasih."
kata Arman akhirnya.
"Karena kamu memilih jujur."
Junaidi menatapnya.
"Aku takut kamu marah."
Arman menggeleng pelan.
"Untuk apa?"
"Perasaan tidak bisa dipaksa."
"Kamu berhak menyukai siapa pun."
"Begitu juga aku."
Junaidi terdiam.
Ia tidak menyangka Arman akan menjawab setenang itu.
"Tapi aku ingin bertanya."
lanjut Junaidi.
"Kamu sekarang..."
"...serius dengan Erika?"
Arman tidak langsung menjawab.
Ia memandang keluar warung.
Angin malam membawa aroma Sungai Kapuas yang mengalir tidak jauh dari tempat mereka duduk.
Beberapa saat kemudian ia berkata,
"Aku menghormatinya."
"Aku menyayanginya."
"Dan aku sedang berusaha mengenalnya kembali dengan cara yang baik."
"Bukan dengan memaksakan perasaan."
"Kalau suatu hari dia memilihku..."
"...aku akan bersyukur."
"Tapi kalau ternyata dia memilih orang lain..."
"...aku juga harus belajar menerimanya."
Jawaban itu membuat Junaidi menundukkan kepala.
Ia tahu Arman tidak sedang menantangnya.
Arman hanya mengatakan apa yang benar-benar ada di dalam hatinya.
"Kalau begitu..."
kata Junaidi perlahan.
"...izinkan aku juga memperjuangkannya."
Arman menatap sahabatnya.
"Selama semuanya dilakukan dengan cara yang baik..."
"...aku tidak akan melarang."
"Karena keputusan itu bukan ada di tanganku."
"Melainkan di hati Erika."
Junaidi mengangguk pelan.
Untuk pertama kalinya malam itu, ia merasa sedikit lega.
Meskipun jalan yang akan ditempuh tidak mudah.
Mereka kemudian meninggalkan warung kopi bersama.
Sebelum berpisah di area parkir, Junaidi mengulurkan tangan.
"Terima kasih."
"Karena masih menganggapku sahabat."
Arman menyambut uluran tangan itu dengan erat.
"Persahabatan tidak boleh kalah oleh perasaan."
ucapnya.
"Tapi..."
"...jangan sampai kita saling menyakiti."
Junaidi mengangguk.
"Aku akan mengingatnya."
Mereka kemudian berjalan menuju kendaraan masing-masing.
Di balik senyum yang mereka tunjukkan, keduanya memahami bahwa mulai malam itu, mereka tidak lagi hanya menjadi sahabat.
Mereka juga menjadi dua lelaki yang sama-sama berharap dapat memenangkan hati perempuan yang sama.
Keesokan paginya, proyek kembali berjalan seperti biasa.
Erika datang tanpa mengetahui percakapan yang terjadi semalam.
Ia tetap menyapa Arman dengan senyum hangat.
"Selamat pagi."
"Selamat pagi."
jawab Arman.
Tidak lama kemudian, Junaidi juga datang untuk menyerahkan beberapa sampel material kepada pihak kontraktor.
"Selamat pagi."
sapanya kepada Erika.
"Selamat pagi."
balas Erika dengan sopan.
Untuk sesaat, mereka bertiga berada di halaman proyek yang sama.
Arman.
Erika.
Dan Junaidi.
Tidak ada pertengkaran.
Tidak ada kata-kata kasar.
Namun udara pagi terasa berbeda.
Di balik senyum yang tampak tenang, masing-masing membawa harapan yang tidak sama.
Erika belum mengetahui bahwa dua sahabatnya telah sama-sama membuka hati.
Arman memilih memperjuangkan cinta dengan kesabaran.
Junaidi memilih memperjuangkan cinta dengan keberanian.
Sementara takdir masih menyimpan jawaban yang belum ingin diperlihatkan.
Di bawah langit Kapuas, ujian sesungguhnya baru saja dimulai.
Karena cinta tidak hanya membutuhkan perasaan.
Cinta juga menuntut kejujuran, kesetiaan, dan keberanian untuk menerima apa pun keputusan yang akan diberikan oleh hati.
BAB XXII
Restu yang Tidak Mudah
Ketika Dua Keluarga Mulai Mengenal Satu Sama Lain
Waktu terus berjalan.
Proyek pembangunan gedung pelayanan publik di Kuala Kapuas memasuki tahap penyelesaian akhir. Dinding telah berdiri sempurna, atap telah terpasang, dan pekerjaan mulai berfokus pada penyelesaian interior serta pemeriksaan kualitas bangunan.
Kesibukan Arman Maulana dan Erika Permatasari masih sama.
Mereka tetap bekerja dengan penuh tanggung jawab, menjaga profesionalisme yang selama ini menjadi prinsip bersama.
Namun di luar pekerjaan, hubungan mereka semakin dekat.
Mereka tidak lagi sekadar mengenang masa lalu.
Kini mereka mulai berbicara tentang masa depan.
Suatu sore setelah menyelesaikan pemeriksaan lapangan, Arman dan Erika duduk di bangku taman kecil yang berada di tepi Sungai Kapuas.
Angin bertiup lembut.
Perahu-perahu kecil melintas perlahan di atas permukaan sungai.
Suasana yang tenang membuat percakapan mereka mengalir tanpa beban.
"Man."
"Iya?"
"Menurutmu..."
"...kalau dua orang sudah saling mengenal cukup lama, apa langkah berikutnya?"
Arman memahami arah pertanyaan itu.
Ia tidak langsung menjawab.
Beberapa saat ia memandang aliran sungai sebelum berkata,
"Kalau niatnya baik..."
"...maka langkah berikutnya adalah meminta restu."
Erika mengangguk pelan.
"Itu juga yang kupikirkan."
"Kita tidak lagi seperti anak sekolah."
"Semua keputusan harus melibatkan keluarga."
Arman tersenyum.
"Aku tidak ingin hubungan ini hanya diketahui kita berdua."
"Aku ingin semuanya berjalan dengan cara yang baik."
Erika membalas senyumnya.
"Itulah yang membuatku yakin kepadamu."
Beberapa hari kemudian, Arman menceritakan semuanya kepada kedua orang tuanya di Desa Sriwidadi.
Malam itu, selepas makan malam, mereka duduk bersama di ruang keluarga.
Hasan Basri memperhatikan putranya yang tampak lebih serius dari biasanya.
"Ada yang ingin kamu sampaikan?"
tanya Hasan.
Arman mengangguk.
"Iya, Pak."
"Aku ingin meminta pendapat Bapak dan Ibu."
Siti Aminah meletakkan gelas teh di atas meja.
"Tentang apa, Nak?"
Arman menarik napas panjang.
"Aku bertemu kembali dengan Erika."
"Teman semasa SMK."
"Kami sekarang bekerja dalam satu proyek."
"Kami saling mengenal lagi."
"Dan..."
"...aku ingin melanjutkan hubungan ini ke arah yang lebih serius."
Ruangan menjadi hening beberapa saat.
Hasan dan Siti Aminah saling berpandangan.
Kemudian Hasan tersenyum.
"Kalau begitu..."
"...berarti anak kami sudah benar-benar dewasa."
Arman tersipu malu.
Hasan berbicara dengan suara tenang.
"Yang paling penting bukan siapa perempuan itu."
"Tetapi apakah dia perempuan yang baik."
"Apakah dia bisa menjadi teman hidupmu."
"Dan apakah kalian saling menghormati."
Arman mengangguk.
"Insyaallah, Pak."
Siti Aminah ikut tersenyum.
"Ibu hanya ingin melihatmu bahagia."
"Kalau memang dia perempuan yang baik..."
"...Ibu akan menerimanya seperti anak sendiri."
Mata Arman mulai berkaca-kaca.
Ia tidak menyangka restu pertama datang begitu hangat.
"Terima kasih, Pak."
"Terima kasih, Bu."
Hasan menepuk bahu putranya.
"Kalau memang niatmu baik..."
"...jangan menunda terlalu lama."
"Datangi keluarganya dengan hormat."
"Kita akan ikut mendampingimu."
Di sisi lain Kota Kuala Kapuas, Erika juga akhirnya memberanikan diri berbicara kepada kedua orang tuanya.
Malam itu, seusai salat Magrib, mereka berkumpul di ruang tengah.
Ayahnya, Haji Ridwan, sedang membaca koran.
Sementara ibunya, Rukayah, merapikan beberapa pakaian.
"Ayah."
panggil Erika pelan.
"Iya?"
"Ada yang ingin Erika ceritakan."
Haji Ridwan menutup korannya.
"Ceritakan saja."
Erika menarik napas panjang.
"Ayah masih ingat Arman?"
"Teman Erika waktu SMK."
"Yang berasal dari Desa Sriwidadi."
Haji Ridwan berpikir sejenak.
"Lelaki yang pendiam itu?"
"Iya."
"Dia sekarang menjadi staf administrasi teknik di tim konsultan proyek tempat Erika bekerja."
Rukayah tersenyum kecil.
"Ibu sudah menduga."
Erika menunduk malu.
"Beberapa bulan terakhir..."
lanjut Erika.
"...kami kembali saling mengenal."
"Dan..."
"...kami ingin menjalani hubungan yang lebih serius."
Haji Ridwan tidak langsung menjawab.
Ia memandang putrinya cukup lama.
"Ayah hanya ingin bertanya satu hal."
"Apakah kamu yakin?"
Erika mengangguk mantap.
"Insyaallah."
"Ayah."
"Dia orang yang bertanggung jawab."
"Jujur."
"Dan sangat menghormati keluarga."
Jawaban itu membuat Haji Ridwan menarik napas panjang.
"Kalau begitu..."
"...Ayah ingin mengenalnya lebih dekat."
"Bukan untuk menghalangi."
"Tetapi karena seorang ayah harus memastikan putrinya berada di tangan orang yang tepat."
Erika mengangguk.
"Aku mengerti, Yah."
Beberapa hari kemudian, Arman dan Erika bertemu kembali di lokasi proyek.
Saat jam istirahat siang, mereka duduk di bawah pohon ketapang yang selama ini menjadi tempat favorit mereka berbincang.
"Bagaimana?"
tanya Erika.
"Sudah bicara dengan orang tua?"
Arman tersenyum.
"Sudah."
"Alhamdulillah."
"Mereka merestui."
Wajah Erika langsung berbinar.
"Benarkah?"
"Iya."
"Mereka ingin segera berkenalan dengan keluargamu."
Erika tersenyum haru.
"Ayahku juga berkata begitu."
"Tapi..."
"Ayah ingin mengenalmu lebih dulu."
"Itu wajar."
jawab Arman.
"Kalau nanti waktunya tiba..."
"...aku akan datang bersama kedua orang tuaku."
Erika mengangguk pelan.
Hatinya dipenuhi rasa syukur.
Namun pada sore yang sama, ketika Junaidi datang mengantar dokumen penawaran material, ia melihat Arman dan Erika berbincang di bawah pohon ketapang.
Ia tidak mendengar isi percakapan mereka.
Tetapi senyum di wajah keduanya sudah cukup membuatnya memahami bahwa hubungan mereka semakin serius.
Untuk pertama kalinya, Junaidi merasakan ketakutan yang nyata.
Bukan karena kalah bersaing.
Melainkan karena ia menyadari bahwa waktu mungkin telah berpihak kepada Arman.
Meski demikian, ia belum menyerah.
Di dalam hatinya masih tersimpan harapan, sekecil apa pun itu.
Sementara Arman dan Erika mulai melangkah menuju tahap baru dalam hubungan mereka, takdir masih menyiapkan satu ujian terakhir.
Karena memperoleh restu bukan hanya tentang cinta dua insan.
Melainkan juga tentang membuka hati dua keluarga yang berasal dari latar kehidupan yang berbeda.
Dan perjalanan menuju pelaminan masih menyimpan beberapa gelombang yang harus mereka lewati.
Pertemuan Dua Keluarga dan Pertanyaan Seorang Ayah
Hari yang telah dinantikan akhirnya tiba.
Pagi itu, suasana Desa Sriwidadi tampak lebih ramai dari biasanya. Udara pagi membawa aroma tanah dan rerumputan yang masih basah oleh embun. Di halaman rumah Hasan Basri, beberapa kursi telah disusun rapi.
Bukan untuk sebuah acara besar.
Bukan pula untuk sebuah pesta.
Hanya sebuah pertemuan sederhana antara dua keluarga yang ingin saling mengenal.
Namun bagi Arman Maulana, hari itu memiliki arti yang sangat besar.
Hari ketika ia membawa perempuan yang selama bertahun-tahun tersimpan dalam kenangan untuk diperkenalkan kepada keluarganya.
Sejak pagi, Siti Aminah telah menyiapkan berbagai hidangan sederhana.
Ada nasi kuning.
Ada kue tradisional.
Ada teh hangat yang disiapkan untuk para tamu.
"Jangan terlalu tegang."
kata Hasan sambil melihat putranya yang beberapa kali memeriksa halaman rumah.
Arman tersenyum kecil.
"Entahlah, Pak."
"Rasanya lebih menegangkan daripada presentasi proyek."
Hasan tertawa.
"Karena yang kamu hadapi bukan gambar kerja."
"Tapi hati manusia."
Arman ikut tersenyum.
Nasihat ayahnya selalu sederhana.
Namun selalu tepat.
Menjelang pukul sepuluh pagi, sebuah mobil memasuki halaman rumah.
Arman segera berdiri.
Dari dalam mobil turun Erika bersama kedua orang tuanya, Haji Ridwan dan Rukayah.
Erika mengenakan pakaian sederhana namun terlihat anggun.
Ketika melihat Arman berdiri menyambutnya, ia tersenyum.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
jawab keluarga Arman hampir bersamaan.
Suasana awal memang sedikit canggung.
Namun kehangatan dari kedua keluarga perlahan menghilangkan jarak.
Setelah saling memperkenalkan diri, mereka duduk bersama di ruang tamu.
Hasan membuka pembicaraan.
"Terima kasih sudah berkenan datang ke rumah kami."
"Kami keluarga sederhana."
"Tidak banyak yang bisa kami tawarkan."
"Tetapi kami selalu berusaha menjaga nilai kejujuran dan tanggung jawab."
Haji Ridwan mengangguk.
"Kami juga berterima kasih karena sudah menerima kami dengan baik."
"Kami datang bukan melihat apa yang dimiliki."
"Tetapi ingin mengenal keluarga yang nantinya mungkin menjadi bagian dari keluarga kami."
Kalimat itu membuat suasana menjadi lebih hangat.
Percakapan berlanjut tentang keluarga, pekerjaan, dan kehidupan anak-anak mereka.
Haji Ridwan banyak bertanya tentang pekerjaan Arman.
"Kamu sekarang bekerja sebagai konsultan?"
"Belum sepenuhnya, Pak."
jawab Arman.
"Saya masih belajar dan membantu tim konsultan."
"Tapi saya ingin terus berkembang."
Haji Ridwan mengangguk.
"Itu bagus."
"Yang penting bukan seberapa tinggi posisi seseorang."
"Tetapi bagaimana ia menjalankan tanggung jawab."
Arman mendengarkan dengan hormat.
Namun kemudian Haji Ridwan memberikan pertanyaan yang lebih serius.
"Arman."
"Iya, Pak."
"Ayah ingin bertanya sesuatu."
"Silakan, Pak."
"Kenapa kamu memilih Erika?"
Ruangan menjadi sedikit lebih hening.
Erika menunduk.
Siti Aminah tersenyum kecil.
Ia tahu pertanyaan itu bukan untuk menguji.
Melainkan untuk mengetahui kesungguhan hati seorang lelaki.
Arman menarik napas.
Kemudian menjawab dengan tenang.
"Karena sejak dulu Erika bukan hanya seseorang yang saya sukai."
"Dia adalah seseorang yang membuat saya ingin menjadi lebih baik."
"Dulu saat masih sekolah, saya hanya seorang anak desa yang memiliki banyak mimpi."
"Erika tidak pernah melihat saya dari kekurangan saya."
"Dia menghargai usaha saya."
"Dan ketika kami bertemu kembali setelah bertahun-tahun..."
"...saya menemukan bahwa kebaikan itu masih ada."
Haji Ridwan memperhatikan wajah Arman.
Tidak terlihat keraguan.
Tidak terlihat kata-kata yang dibuat-buat.
Arman melanjutkan.
"Saya tidak berjanji bahwa hidup kami akan selalu mudah."
"Tapi saya berjanji akan berusaha menjadi suami yang bertanggung jawab."
"Saya akan menghormati Erika."
"Dan menghormati keluarga besar kami."
Kalimat itu membuat Erika menahan haru.
Ia tidak pernah mendengar Arman berbicara sedalam itu.
Haji Ridwan kemudian menoleh kepada putrinya.
"Erika."
"Iya, Yah."
"Kamu yakin dengan pilihanmu?"
Erika mengangguk.
"Insyaallah, Yah."
"Aku yakin."
"Karena Arman bukan hanya orang yang aku sayangi."
"Dia juga orang yang membuatku merasa dihargai."
Jawaban itu membuat kedua keluarga tersenyum.
Setelah makan siang bersama, keluarga Erika diajak melihat kebun kecil milik keluarga Arman.
Hasan menjelaskan bagaimana ia selama bertahun-tahun menghidupi keluarga dari hasil bertani.
Erika memperhatikan dengan penuh hormat.
Baginya, kesederhanaan keluarga Arman bukanlah kekurangan.
Justru di situlah ia melihat nilai perjuangan.
Sementara Haji Ridwan semakin memahami mengapa Arman tumbuh menjadi lelaki yang rendah hati.
Sore hari, sebelum pulang, kedua keluarga kembali duduk bersama.
Tidak ada keputusan besar yang diumumkan.
Belum ada tanggal pernikahan.
Namun satu hal telah jelas.
Ada niat baik yang mulai diterima.
Haji Ridwan akhirnya berkata,
"Kami tidak bisa menjanjikan semua jalan akan mudah."
"Tetapi selama kalian saling menjaga..."
"...kami akan mendukung."
Hasan mengangguk.
"Kami juga."
Kalimat itu menjadi restu awal yang sangat berarti.
Setelah mobil keluarga Erika meninggalkan halaman rumah, Arman berdiri di samping ayahnya.
"Bagaimana menurut Bapak?"
tanya Arman.
Hasan tersenyum.
"Dia perempuan yang baik."
"Dan keluarganya juga baik."
"Jaga dia."
Arman mengangguk.
"Insyaallah, Pak."
Namun di tempat lain, seseorang sedang menerima kabar yang membuat hatinya kembali bergetar.
Junaidi mengetahui bahwa keluarga Arman dan Erika telah mulai saling mengenal.
Ia duduk lama dalam diam.
Ia sadar bahwa persaingan ini bukan lagi tentang siapa yang lebih dulu menyukai Erika.
Melainkan tentang siapa yang benar-benar dipilih oleh hati Erika.
Untuk pertama kalinya, Junaidi mulai bertanya kepada dirinya sendiri.
Apakah memperjuangkan cinta berarti harus menang?
Atau terkadang cinta sejati justru harus belajar menerima?
Pertanyaan itu belum memiliki jawaban.
Karena perjalanan mereka belum selesai.
Dan satu ujian terakhir masih menunggu di depan.
Antara Harapan, Pilihan, dan Keikhlasan
Malam turun perlahan di Kota Kuala Kapuas.
Lampu-lampu rumah mulai menyala satu per satu. Suara kendaraan yang melintas di jalan utama semakin berkurang. Di sebuah rumah sederhana, Erika duduk di teras bersama ibunya, Rukayah.
Angin malam membawa kesejukan dari arah Sungai Kapuas.
Namun pikiran Erika masih tertuju pada pertemuan keluarga beberapa hari sebelumnya.
Pertemuan yang membuat langkahnya bersama Arman terasa semakin dekat.
"Ibu."
panggil Erika pelan.
"Iya, Nak."
"Menurut Ibu..."
"...apakah Arman orang yang tepat?"
Rukayah tersenyum.
Ia tidak langsung menjawab.
Sebagai seorang ibu, ia tahu pertanyaan itu bukan sekadar meminta pendapat.
Erika sedang mencari keyakinan.
"Kenapa kamu bertanya begitu?"
tanya Rukayah.
Erika menunduk.
"Aku hanya ingin memastikan."
"Aku tidak ingin salah memilih."
Rukayah menggenggam tangan putrinya.
"Erika."
"Dalam hidup, tidak ada manusia yang sempurna."
"Yang penting adalah apakah orang itu mau belajar menjadi lebih baik."
"Apakah dia menghargaimu."
"Apakah dia menjaga perasaanmu."
"Dan apakah kalian bisa saling menguatkan ketika keadaan tidak mudah."
Erika diam mendengarkan.
Nasihat ibunya terasa menenangkan.
Di sisi lain, Arman juga sedang berbicara dengan ayahnya di Desa Sriwidadi.
Malam itu mereka duduk di depan rumah sambil menikmati udara desa.
Langit dipenuhi bintang.
Suasana jauh berbeda dengan hiruk pikuk Kota Kuala Kapuas.
"Pak."
"Iya?"
"Ada satu hal yang masih kupikirkan."
"Apa itu?"
"Junaidi."
Hasan menoleh.
"Temanmu yang dulu?"
Arman mengangguk.
"Iya."
"Dia juga menyukai Erika."
Hasan terdiam sejenak.
Kemudian berkata,
"Itu bukan sesuatu yang harus kamu benci."
Arman menatap ayahnya.
"Karena perasaan manusia tidak bisa dipaksa."
"Kalau memang dia juga punya niat baik, maka biarkan semuanya berjalan."
"Tapi..."
Hasan melanjutkan.
"Jangan pernah memperjuangkan cinta dengan menjatuhkan orang lain."
"Menang dengan cara yang salah hanya akan membuat kemenangan itu tidak berarti."
Arman mengangguk pelan.
Nasihat itu semakin menguatkan prinsip yang selama ini ia pegang.
Sementara itu, Junaidi menghabiskan malam sendirian di sebuah kamar kontrakan di Kuala Kapuas.
Di meja kecil dekat jendela terdapat beberapa foto lama masa SMK.
Salah satunya foto mereka bertiga.
Arman.
Junaidi.
Erika.
Foto yang dulu menyimpan kebahagiaan.
Namun kini juga membawa pertanyaan.
Ia mengambil foto itu perlahan.
"Kita pernah berjanji..."
gumamnya.
"Bahwa persahabatan kita akan selalu ada."
Ia tersenyum pahit.
"Tapi kenapa sekarang semuanya terasa berbeda?"
Junaidi bukan lelaki yang buruk.
Ia tidak ingin merebut kebahagiaan orang lain.
Ia juga tidak ingin merusak hubungan Arman dan Erika.
Tetapi ia juga manusia.
Ia memiliki hati.
Ia memiliki harapan.
Dan ia memiliki rasa takut kehilangan kesempatan untuk kedua kalinya.
Selama bertahun-tahun, ia menyesal karena memilih diam.
Ia membiarkan Arman lebih dekat dengan Erika.
Ia menyimpan perasaan tanpa pernah mengungkapkan.
Kini, ketika kesempatan itu datang kembali, ia ingin mencoba.
Bukan untuk menang dengan cara apa pun.
Melainkan agar ia tidak hidup dengan pertanyaan:
"Bagaimana jika dulu aku berani?"
Beberapa hari kemudian, Junaidi menemui Erika.
Pertemuan itu terjadi bukan di tempat yang ramai.
Bukan pula dalam suasana yang penuh tekanan.
Mereka bertemu di sebuah taman kecil dekat tepian Sungai Kapuas.
"Aku minta waktu sebentar."
kata Junaidi.
Erika mengangguk.
"Ada apa?"
Junaidi menarik napas panjang.
"Aku ingin mengatakan sesuatu yang sebenarnya sudah lama ingin kusampaikan."
Erika diam.
Ia mulai memahami arah pembicaraan itu.
"Dulu..."
"Sejak kita masih sekolah."
"Aku menyukaimu."
"Aku hanya tidak pernah berani mengatakannya."
Erika menunduk.
Ia tidak terkejut.
Karena jauh di dalam hati, ia pernah merasakan hal itu.
"Aku tahu sekarang mungkin semuanya sudah berbeda."
kata Junaidi.
"Aku tahu ada Arman."
"Aku tahu kalian sudah dekat."
"Tapi aku hanya ingin jujur."
"Aku masih memiliki perasaan untukmu."
Suasana menjadi hening.
Angin sungai berembus perlahan.
Erika membutuhkan waktu sebelum menjawab.
"Junaidi."
"Iya."
"Terima kasih."
"Terima kasih karena kamu berani jujur."
"Tapi aku juga harus jujur kepadamu."
Junaidi menatapnya.
"Aku menghargai perasaanmu."
"Aku menghargai persahabatan kita."
"Tapi hatiku..."
"...sudah memilih."
Kalimat itu sederhana.
Namun cukup membuat Junaidi terdiam.
Erika melanjutkan.
"Bukan karena Arman lebih baik darimu."
"Bukan karena kamu kurang."
"Kamu orang baik, Junaidi."
"Tapi hati tidak selalu memilih berdasarkan siapa yang paling pantas."
"Kadang hati hanya menemukan tempatnya sendiri."
Junaidi menundukkan kepala.
Ada rasa sakit.
Namun anehnya, ia juga merasa lega.
Setidaknya kini ia telah mendengar jawaban yang selama ini ia takutkan.
"Aku mengerti."
kata Junaidi pelan.
"Mungkin memang bukan aku orangnya."
Erika menatapnya dengan penuh simpati.
"Aku berharap kita tetap bisa menjadi teman."
Junaidi tersenyum kecil.
"Aku akan mencoba."
"Bukan mudah."
"Tapi aku akan mencoba."
Mereka kemudian berjabat tangan.
Bukan sebagai dua orang yang memperebutkan cinta.
Melainkan sebagai dua sahabat lama yang sedang belajar menerima kenyataan.
Malam itu, Junaidi berjalan menyusuri tepian Sungai Kapuas sendirian.
Langkahnya terasa berat.
Namun hatinya sedikit lebih ringan.
Ia akhirnya memahami sesuatu.
Cinta bukan selalu tentang memiliki.
Kadang cinta terbesar adalah ketika seseorang mampu melihat orang yang dicintainya bahagia, meskipun kebahagiaan itu bukan bersamanya.
Sementara itu, Arman dan Erika semakin yakin dengan langkah mereka.
Restu keluarga telah mulai didapat.
Masa lalu telah dibicarakan.
Dan hati telah menentukan pilihan.
Namun perjalanan mereka belum selesai.
Masih ada satu peristiwa besar yang harus mereka lalui.
Sebuah peristiwa yang akan membawa mereka kembali ke tempat yang penuh kenangan.
Tempat di mana kisah mereka dahulu dimulai.
Tempat di mana senja pernah menjadi saksi dua hati yang saling menemukan.
BAB XXIII
Senja Terakhir di Dermaga KP3
Kembali ke Tempat Awal Sebuah Kisah
Sore itu, langit Kuala Kapuas kembali menghadirkan warna yang sama seperti bertahun-tahun lalu.
Semburat jingga perlahan menyebar di ufuk barat.
Angin sungai bertiup lembut.
Perahu-perahu kecil bergerak perlahan mengikuti arus Sungai Kapuas yang tenang.
Bagi sebagian orang, Dermaga KP3 hanyalah sebuah tempat biasa.
Tempat orang datang dan pergi.
Tempat perahu bersandar.
Tempat masyarakat menikmati suasana sore.
Namun bagi Arman Maulana dan Erika Permatasari, tempat itu menyimpan cerita yang jauh lebih dalam.
Di sanalah sebuah perasaan pertama kali tumbuh.
Di sanalah dua remaja yang belum memahami arti cinta mulai menemukan kenyamanan dalam kebersamaan.
Dan hari itu, setelah bertahun-tahun berlalu, mereka kembali ke tempat yang sama.
Bukan lagi sebagai anak sekolah.
Melainkan sebagai dua orang dewasa yang telah melewati perjalanan panjang kehidupan.
"Masih ingat tempat ini?"
tanya Arman ketika mereka berjalan menyusuri tepian dermaga.
Erika tersenyum.
"Bagaimana mungkin aku lupa?"
"Dulu kita sering duduk di sini setelah pulang sekolah."
Arman tertawa kecil.
"Padahal waktu itu kita hanya bicara tentang hal-hal sederhana."
"Iya."
"Tentang tugas sekolah."
"Tentang cita-cita."
"Tentang mimpi yang bahkan belum tentu tercapai."
Mereka berhenti di sebuah bangku kayu yang menghadap sungai.
Bangku yang mungkin sudah beberapa kali diganti.
Namun kenangan yang melekat di tempat itu tetap sama.
Mereka duduk berdampingan.
Beberapa saat hanya menikmati pemandangan.
Tidak ada percakapan yang terburu-buru.
Karena setelah perjalanan panjang, terkadang seseorang tidak membutuhkan banyak kata untuk memahami kebahagiaan.
"Aneh ya."
kata Erika.
"Dulu aku pikir kita tidak akan pernah bertemu lagi."
Arman menoleh.
"Aku juga pernah berpikir begitu."
"Lalu kenapa menurutmu kita bisa bertemu lagi?"
Erika tersenyum.
"Mungkin karena ada cerita yang belum selesai."
Arman memandang sungai di depan mereka.
"Atau mungkin karena Tuhan memberi kesempatan kedua."
Kenangan lama perlahan kembali.
Mereka mengingat masa ketika masih mengenakan seragam sekolah.
Saat Arman sering datang lebih awal hanya untuk melihat Erika masuk gerbang.
Saat Erika diam-diam memperhatikan Arman yang selalu serius belajar.
Saat Junaidi selalu hadir sebagai sahabat yang membuat hari-hari mereka lebih berwarna.
Namun kali ini, ketika nama Junaidi disebut, suasana sedikit berubah.
"Bagaimana kabar Junaidi?"
tanya Erika.
Arman tersenyum kecil.
"Baik."
"Dia sudah mulai menerima semuanya."
Erika menarik napas lega.
"Aku tidak ingin kehilangan persahabatan kalian."
"Aku tahu."
jawab Arman.
"Dan aku juga tidak ingin cinta membuat kami menjadi musuh."
Beberapa saat kemudian, Arman menceritakan percakapannya dengan Junaidi.
Tentang pengakuan sahabatnya.
Tentang perasaan yang telah lama disimpan.
Tentang keputusan Junaidi untuk belajar menerima.
Erika mendengarkan dengan penuh perhatian.
"Dia orang baik."
kata Erika.
"Iya."
"Dia hanya terlambat menyadari bahwa tidak semua yang kita cintai bisa menjadi milik kita."
Arman mengangguk.
"Dan aku bersyukur dia memilih jujur."
Matahari semakin rendah.
Cahaya jingga mulai memantul di permukaan Sungai Kapuas.
Pemandangan itu mengingatkan mereka pada senja pertama yang pernah mereka nikmati di tempat yang sama.
Namun hari ini terasa berbeda.
Dulu mereka datang dengan hati yang penuh keraguan.
Kini mereka datang dengan hati yang penuh keyakinan.
"Man."
"Iya?"
"Aku ingin berterima kasih."
"Untuk apa?"
"Karena kamu tetap menjadi orang yang sama."
Arman tersenyum.
"Maksudnya?"
"Dulu kamu sederhana."
"Sekarang kamu sudah berhasil."
"Tapi kamu tetap rendah hati."
Arman menunduk sebentar.
"Aku hanya berusaha tidak melupakan dari mana aku berasal."
"Desa Sriwidadi."
"Keluargaku."
"Dan orang-orang yang pernah membantuku."
Erika tersenyum.
"Itulah yang membuatku yakin."
Tidak jauh dari tempat mereka duduk, beberapa anak muda sedang menikmati suasana sore.
Mereka tertawa.
Mereka berbicara tentang mimpi-mimpi mereka.
Pemandangan itu membuat Arman teringat dirinya sendiri saat masih remaja.
Seorang anak desa yang memiliki banyak harapan.
Ia tersenyum.
"Ternyata waktu berjalan cepat."
kata Arman.
"Dulu kita duduk di sini sebagai anak sekolah."
"Sekarang..."
"...kita kembali membawa cerita yang berbeda."
Erika melihat matahari yang hampir tenggelam.
"Karena hidup memang perjalanan."
"Kadang membawa kita jauh."
"Kadang mengembalikan kita ke tempat awal."
Senja semakin gelap.
Namun mereka belum ingin segera pergi.
Ada banyak hal yang ingin mereka syukuri.
Tentang kesempatan kedua.
Tentang keluarga yang mulai menerima.
Tentang luka lama yang perlahan sembuh.
Dan tentang cinta yang ternyata mampu bertahan melewati jarak dan waktu.
Sebelum meninggalkan dermaga, Arman berdiri menghadap Sungai Kapuas.
"Terima kasih."
ucapnya pelan.
Erika menoleh.
"Berterima kasih kepada siapa?"
Arman tersenyum.
"Kepada perjalanan hidup."
"Karena kalau dulu semuanya berjalan sesuai keinginanku..."
"...mungkin aku tidak akan pernah memahami arti perjuangan."
Erika menggenggam tangan Arman perlahan.
Tidak ada kata-kata besar.
Tidak ada janji berlebihan.
Hanya sebuah keyakinan sederhana bahwa mereka akan menghadapi masa depan bersama.
Mereka meninggalkan Dermaga KP3 ketika langit mulai berubah gelap.
Namun tanpa mereka sadari, senja hari itu bukan hanya tentang kenangan.
Melainkan sebuah penutup dari masa lalu.
Sebab setelah hari itu, mereka akan memasuki tahap baru.
Tahap ketika cinta tidak lagi hanya tentang dua hati.
Tetapi juga tentang keluarga, tanggung jawab, dan kehidupan yang akan mereka bangun bersama.
Di tempat yang sama, bertahun-tahun lalu sebuah rasa pernah tumbuh.
Dan di tempat yang sama pula, sebuah keputusan baru telah lahir.
Luka Lama yang Selesai, Hati yang Belajar Memaafkan
Pagi setelah senja di Dermaga KP3, Kuala Kapuas kembali menjalani kehidupan seperti biasa.
Suara kendaraan mulai terdengar di jalan-jalan utama. Aktivitas masyarakat berjalan seperti hari-hari sebelumnya. Sungai Kapuas tetap mengalir tenang, seolah tidak pernah menyimpan kisah panjang tentang orang-orang yang pernah datang membawa harapan, luka, dan impian.
Namun bagi tiga orang yang pernah terikat oleh sebuah cerita panjang, hari itu membawa perubahan.
Arman Maulana, Erika Permatasari, dan Junaidi.
Mereka tidak lagi berada di masa lalu.
Mereka mulai belajar menerima kenyataan yang telah dipilih oleh waktu.
Sejak percakapan di tepian Sungai Kapuas beberapa hari sebelumnya, Junaidi mulai mengubah cara pandangnya.
Ia tetap bekerja seperti biasa.
Tetap menjalankan tanggung jawabnya.
Tetap menjalin komunikasi dengan Arman.
Namun ada sesuatu yang berbeda.
Ia tidak lagi melihat Arman sebagai seseorang yang merebut sesuatu darinya.
Ia mulai melihat Arman sebagai sahabat yang memang memiliki perjalanan sendiri.
Suatu siang, Junaidi datang ke lokasi proyek untuk menyerahkan dokumen penawaran material.
Arman yang sedang memeriksa pekerjaan lapangan langsung menghampirinya.
"Junaidi."
"Man."
Mereka berjabat tangan.
Tidak ada lagi kecanggungan seperti beberapa waktu sebelumnya.
"Kamu bagaimana?"
tanya Arman.
"Baik."
"Sibuk?"
"Seperti biasa."
Junaidi tersenyum.
"Lumayan banyak pekerjaan."
Arman memperhatikan wajah sahabatnya.
Ada ketenangan yang berbeda.
"Aku senang melihatmu sekarang."
kata Arman.
Junaidi tertawa kecil.
"Jangan terlalu cepat menilai."
"Masih banyak yang harus aku pelajari."
Arman mengangguk.
"Bukankah kita semua begitu?"
Mereka kemudian duduk sebentar di ruang istirahat proyek.
Junaidi memandang Arman.
"Aku ingin mengatakan sesuatu."
Arman menatapnya.
"Apa?"
"Terima kasih."
"Untuk apa?"
"Karena malam itu kamu tidak marah."
Arman tersenyum.
"Kenapa aku harus marah?"
"Karena aku menyukai orang yang juga kamu sukai."
Arman menggeleng.
"Perasaan bukan pertandingan, Jun."
"Yang kalah bukan berarti lebih buruk."
"Dan yang menang bukan berarti lebih hebat."
Kalimat itu membuat Junaidi terdiam.
Ia menyadari bahwa selama ini ia terlalu sibuk memikirkan bagaimana mendapatkan Erika.
Sampai lupa bahwa cinta seharusnya tidak membuat seseorang kehilangan dirinya sendiri.
"Aku pernah berpikir..."
kata Junaidi.
"Kalau aku terlambat mengungkapkan perasaan, berarti aku kehilangan kesempatan."
Arman mendengarkan.
"Tapi sekarang aku sadar."
"Mungkin memang bukan tentang terlambat."
"Mungkin memang jalannya bukan ke sana."
Arman menepuk bahunya.
"Itu bukan berarti kamu gagal."
"Setiap orang punya waktunya masing-masing."
Junaidi tersenyum.
"Kamu masih saja seperti dulu."
"Maksudnya?"
"Selalu punya kata-kata yang membuat orang berpikir."
Mereka tertawa bersama.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, persahabatan mereka terasa kembali utuh.
Sementara itu, Erika juga merasa lega.
Ia tidak pernah menginginkan ada seseorang yang terluka karena pilihannya.
Ketika bertemu Junaidi beberapa hari kemudian, ia melihat bahwa lelaki itu sudah jauh lebih tenang.
Mereka bertemu di sebuah kedai kopi sederhana.
Bukan untuk membicarakan cinta.
Melainkan untuk menyelesaikan sebuah cerita lama.
"Aku senang kamu baik-baik saja."
kata Erika.
Junaidi tersenyum.
"Aku juga."
"Dulu aku pikir menerima kenyataan itu akan menghancurkanku."
"Ternyata tidak."
Erika menatapnya.
"Maaf kalau selama ini..."
Junaidi segera menggeleng.
"Jangan meminta maaf."
"Kamu tidak melakukan kesalahan."
"Kamu hanya memilih seseorang yang memang membuat hatimu yakin."
Junaidi memandang keluar jendela.
"Kita sering berpikir bahwa cinta yang tidak terbalas adalah luka terbesar."
"Tapi ternyata..."
"...luka terbesar adalah ketika kita tidak mau menerima kenyataan."
Erika tersenyum haru.
"Kamu akan menemukan seseorang yang tepat."
Junaidi mengangguk.
"Semoga."
"Lalu aku juga berharap kalian bahagia."
Ucapan itu keluar dengan tulus.
Bukan karena ia sudah tidak memiliki kenangan.
Tetapi karena ia sudah berdamai dengan kenangan itu.
Sore harinya, Arman dan Erika kembali bertemu di lokasi proyek.
Arman menceritakan pertemuannya dengan Junaidi.
"Bagaimana perasaanmu?"
tanya Erika.
"Lebih tenang."
"Junaidi tetap sahabatku."
Erika tersenyum.
"Aku senang."
"Karena aku tidak ingin cinta kita membuat orang lain kehilangan kebahagiaan."
Arman mengangguk.
"Itulah kenapa cinta harus dibangun dengan kebaikan."
Mereka kemudian berjalan menuju area parkir.
Langit sore mulai berubah warna.
Bukan jingga seperti senja di Dermaga KP3.
Tetapi tetap menyimpan keindahan yang sama.
Arman berhenti sejenak.
"Erika."
"Iya?"
"Kita sudah melewati banyak hal."
"Dulu kita dipisahkan waktu."
"Lalu dipertemukan kembali."
"Ada masa lalu yang kembali."
"Ada luka yang harus disembuhkan."
Erika tersenyum.
"Tapi kita sampai di sini."
Arman mengangguk.
"Iya."
Di bawah langit Kuala Kapuas, mereka akhirnya memahami bahwa cinta bukan hanya tentang mendapatkan seseorang.
Cinta juga tentang bagaimana menjaga hati orang lain.
Tentang berani jujur.
Tentang mampu memaafkan.
Dan tentang menerima bahwa setiap manusia memiliki jalan hidupnya masing-masing.
Junaidi telah menemukan kedamaian dengan menerima.
Arman telah menemukan keyakinan dalam mencintai.
Erika telah menemukan keberanian dalam memilih.
Luka lama yang pernah terbuka kini perlahan tertutup.
Bukan karena dilupakan.
Tetapi karena telah dimaafkan.
Namun perjalanan mereka belum benar-benar selesai.
Masih ada satu hal terakhir yang harus mereka hadapi.
Sebuah keputusan besar yang akan menentukan masa depan.
Karena cinta yang telah melewati ujian tetap membutuhkan keberanian untuk melangkah menuju kehidupan baru.
Janji di Tepian Sungai Kapuas
Senja kembali turun di Kota Kuala Kapuas.
Warna jingga perlahan menyelimuti langit. Sungai Kapuas mengalir tenang, membawa pantulan cahaya matahari yang semakin rendah di ufuk barat.
Bagi sebagian orang, senja hanyalah pergantian waktu dari siang menuju malam.
Namun bagi Arman Maulana dan Erika Permatasari, setiap senja selalu memiliki cerita.
Terutama senja di tepian Sungai Kapuas.
Tempat yang menjadi saksi perjalanan panjang mereka.
Dari dua anak sekolah yang belum memahami arti perasaan.
Menjadi dua orang dewasa yang telah melewati jarak, kehilangan, dan ujian kehidupan.
Hari itu, Arman mengajak Erika kembali ke tepian sungai.
Bukan di tempat yang ramai.
Bukan untuk sebuah acara besar.
Hanya sebuah pertemuan sederhana antara dua hati yang ingin memastikan langkah mereka.
Mereka duduk di sebuah bangku menghadap aliran Sungai Kapuas.
Angin sore berhembus lembut.
Suara air yang bergerak perlahan membuat suasana terasa damai.
"Tempat ini selalu membuatku mengingat banyak hal."
kata Erika.
Arman tersenyum.
"Aku juga."
"Dulu kita datang ke sini sebagai anak sekolah."
"Kita hanya punya mimpi."
"Belum tahu apakah mimpi itu akan tercapai."
Erika memandang sungai.
"Ternyata hidup membawa kita jauh."
"Iya."
"Tapi akhirnya membawa kita kembali ke tempat ini."
Beberapa saat mereka terdiam.
Mereka menikmati suasana tanpa harus banyak bicara.
Karena setelah perjalanan panjang, terkadang kebersamaan yang sederhana sudah cukup untuk menjelaskan banyak hal.
Arman kemudian membuka pembicaraan.
"Erika."
"Iya?"
"Aku ingin mengatakan sesuatu."
Erika menoleh.
Wajah Arman terlihat serius.
Bukan karena sedih.
Tetapi karena ada sesuatu yang benar-benar ingin ia sampaikan.
"Dulu waktu sekolah..."
"Aku menyukaimu karena kamu selalu membuatku merasa dihargai."
"Aku hanyalah anak desa dengan banyak kekurangan."
"Aku punya banyak mimpi, tapi tidak tahu apakah aku mampu mencapainya."
"Kamu tidak pernah melihatku dari keadaan itu."
"Kamu melihat usahaku."
Erika tersenyum haru.
Arman melanjutkan.
"Setelah kita berpisah..."
"Aku mencoba menjalani hidup."
"Aku belajar."
"Aku bekerja."
"Aku mengejar mimpi."
"Tapi ada satu hal yang tidak pernah berubah."
"Aku selalu mengingat seseorang yang pernah membuatku percaya bahwa aku bisa menjadi lebih baik."
Erika menunduk.
Matanya mulai berkaca-kaca.
"Man..."
"Iya?"
"Aku juga ingin mengatakan sesuatu."
Arman menatapnya.
"Dulu aku tidak pernah menyangka bahwa seseorang yang duduk diam di bangku sekolah itu akan menjadi bagian penting dalam hidupku."
"Aku pikir waktu akan menghapus semuanya."
"Ternyata tidak."
"Karena beberapa orang memang tidak hilang."
"Mereka hanya menunggu waktu yang tepat untuk kembali."
Matahari semakin dekat dengan garis sungai.
Cahaya keemasan menyelimuti wajah mereka.
Arman menggenggam tangan Erika perlahan.
Bukan dengan rasa memiliki.
Tetapi sebagai tanda kesungguhan.
"Erika."
"Iya."
"Aku tidak bisa menjanjikan hidup tanpa masalah."
"Aku tidak bisa menjanjikan semua hari akan selalu mudah."
"Tapi aku ingin berjalan bersamamu."
"Membangun kehidupan yang sederhana."
"Saling mendukung."
"Saling menguatkan."
"Dan saling mengingatkan ketika salah satu dari kita mulai lelah."
Erika menatap Arman.
"Aku tidak mencari seseorang yang sempurna."
"Aku hanya mencari seseorang yang mau bertahan."
"Dan aku melihat itu dalam dirimu."
Ia tersenyum.
"Aku juga ingin berjalan bersamamu."
Tidak ada cincin.
Tidak ada pesta.
Tidak ada banyak orang yang menyaksikan.
Hanya dua hati.
Sebuah sungai.
Dan langit Kapuas yang menjadi saksi.
Namun janji yang lahir hari itu terasa lebih kuat daripada kata-kata besar.
Karena dibangun dari pengalaman.
Dari kesabaran.
Dan dari perjalanan panjang yang telah mereka lalui.
Sebelum pulang, Arman dan Erika berjalan perlahan meninggalkan tepian sungai.
Mereka tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan.
Mereka tidak tahu ujian apa lagi yang mungkin datang.
Namun mereka tahu satu hal.
Mereka tidak lagi berjalan sendiri.
Di kejauhan, Sungai Kapuas tetap mengalir seperti biasa.
Menyimpan banyak cerita manusia.
Tentang pertemuan.
Tentang perpisahan.
Tentang cinta.
Dan tentang harapan.
Bagi Arman dan Erika, senja itu bukan akhir.
Melainkan awal dari kehidupan baru yang akan mereka bangun.
Sebuah kehidupan yang tidak hanya membutuhkan cinta.
Tetapi juga tanggung jawab.
Karena setelah janji dibuat, langkah berikutnya adalah membuktikan bahwa janji tersebut mampu bertahan.
Di bawah langit Kapuas, dua hati telah memilih jalan yang sama.
Dan kini, mereka bersiap menghadapi langkah terakhir menuju kebahagiaan.
BAB XXIV
Di Bawah Langit Kapuas
Takdir yang Menyatukan Kembali
Pagi di Desa Sriwidadi selalu memiliki cara tersendiri untuk menghadirkan ketenangan.
Kabut tipis masih menggantung di antara pepohonan ketika matahari perlahan muncul dari balik hamparan kebun dan persawahan. Suara burung terdengar bersahutan. Udara desa yang sejuk membawa kembali kenangan masa kecil Arman Maulana.
Di tempat inilah ia tumbuh.
Di tanah sederhana inilah ia belajar tentang kerja keras.
Dan dari desa kecil inilah perjalanan panjangnya bermula.
Hari itu, Arman kembali pulang bukan sebagai seorang anak yang membawa mimpi.
Tetapi sebagai seorang lelaki yang siap membawa seseorang untuk menjadi bagian dari hidupnya.
Sejak janji di tepian Sungai Kapuas beberapa waktu lalu, hubungan Arman dan Erika semakin mendapat tempat di hati kedua keluarga.
Tidak ada lagi keraguan.
Tidak ada lagi bayangan masa lalu yang menghalangi.
Namun keduanya memahami bahwa cinta bukan hanya tentang dua orang yang saling menyayangi.
Cinta juga tentang bagaimana dua keluarga belajar menerima dan berjalan bersama.
Pagi itu, Arman membantu ayahnya membersihkan halaman rumah.
Hasan Basri memperhatikan putranya yang tampak lebih dewasa dibanding beberapa tahun sebelumnya.
"Dulu kamu pergi dari rumah ini membawa tas dan banyak impian."
kata Hasan.
"Sekarang kamu kembali membawa seseorang yang ingin kamu perjuangkan."
Arman tersenyum.
"Iya, Pak."
"Waktu memang cepat."
Hasan mengangguk.
"Yang penting bukan seberapa jauh kamu pergi."
"Tetapi apakah kamu masih ingat jalan pulang."
Kalimat itu membuat Arman terdiam sejenak.
Ia tahu.
Desa Sriwidadi bukan hanya tempat tinggal.
Tetapi akar yang membuatnya tetap berdiri.
Siang harinya, keluarga Erika datang kembali ke Sriwidadi.
Kali ini bukan sekadar untuk berkenalan.
Melainkan untuk membicarakan langkah berikutnya.
Haji Ridwan dan Rukayah datang bersama Erika.
Mereka disambut hangat oleh keluarga Arman.
Suasana yang dulu terasa canggung kini berubah menjadi keakraban.
Tidak ada lagi jarak.
Yang ada hanyalah dua keluarga yang mulai merasa menjadi satu.
Setelah makan siang bersama, mereka duduk di ruang tamu.
Haji Ridwan membuka pembicaraan.
"Kami datang hari ini dengan niat baik."
Hasan mengangguk.
"Kami juga menerima dengan niat yang sama."
"Kita sama-sama tahu bahwa anak-anak kita sudah dewasa."
"Mereka sudah memahami tanggung jawab."
Percakapan berlangsung dengan penuh kekeluargaan.
Tidak ada pembicaraan tentang harta.
Tidak ada perbandingan kehidupan.
Yang dibicarakan adalah bagaimana Arman dan Erika dapat membangun rumah tangga yang baik.
Namun sebelum semuanya disepakati, Haji Ridwan kembali mengajukan satu pertanyaan kepada Arman.
"Arman."
"Iya, Pak."
"Kamu tahu bahwa pernikahan bukan hanya tentang hari bahagia?"
Arman mengangguk.
"Saya tahu, Pak."
"Ada tanggung jawab."
"Ada kesabaran."
"Ada dua keluarga yang harus dijaga."
Haji Ridwan memperhatikan jawaban itu.
"Lalu apakah kamu siap?"
Arman menarik napas.
"Insyaallah, Pak."
"Saya mungkin belum memiliki semuanya."
"Tetapi saya berjanji akan terus berusaha."
"Saya akan menjaga Erika."
"Dan saya akan menghormati keluarga besar kami."
Jawaban itu membuat suasana menjadi hening beberapa saat.
Bukan karena ragu.
Tetapi karena semua orang sedang merasakan ketulusan dari seorang lelaki yang berbicara dari hati.
Hasan tersenyum bangga.
Siti Aminah mengusap matanya yang mulai berkaca-kaca.
Ia melihat anak yang dulu berangkat sekolah dengan sepeda sederhana kini telah tumbuh menjadi lelaki yang siap memimpin keluarga.
Erika yang duduk di samping ibunya hanya tersenyum.
Dalam hatinya, ia kembali mengingat perjalanan mereka.
Dulu ia mengenal Arman sebagai teman sekolah yang pendiam.
Kemudian waktu memisahkan mereka.
Mereka menjalani kehidupan masing-masing.
Ada mimpi yang dikejar.
Ada luka yang harus dilewati.
Ada orang lain yang sempat hadir.
Namun akhirnya, takdir membawa mereka kembali.
Sore hari, setelah keluarga Erika pulang, Arman dan ayahnya kembali duduk di teras rumah.
Langit mulai berubah warna.
Pemandangan itu mengingatkannya pada senja-senja yang sering ia nikmati sejak kecil.
"Pak."
"Iya?"
"Apakah Bapak percaya takdir?"
Hasan tersenyum.
"Takdir itu seperti sungai."
"Sungai tidak selalu mengalir lurus."
"Ada belokan."
"Ada batu."
"Ada arus deras."
"Tapi selama air tetap mengalir, ia akan sampai ke tempat tujuan."
Arman tersenyum mendengar perumpamaan itu.
"Seperti hidup?"
"Iya."
"Termasuk kisahmu dengan Erika."
Malam itu, Arman duduk sendiri di kamar.
Ia membuka kembali buku catatan lamanya.
Di salah satu halaman terdapat tulisan masa sekolah:
"Suatu hari aku ingin menjadi seseorang yang bisa membanggakan orang tua dan orang yang aku sayangi."
Ia tersenyum.
Tidak semua mimpi berjalan sesuai rencana.
Tetapi ternyata ada mimpi yang kembali setelah bertahun-tahun menunggu.
Sementara itu di Kuala Kapuas, Erika juga sedang berbicara dengan ibunya.
"Ibu."
"Iya, Nak."
"Aku tidak menyangka perjalanan hidup bisa seperti ini."
Rukayah tersenyum.
"Kadang manusia membuat rencana."
"Tapi Tuhan yang menentukan kapan waktunya."
Erika mengangguk.
Ia mulai memahami bahwa pertemuan mereka kembali bukan sekadar kebetulan.
Ada perjalanan panjang yang harus mereka lalui agar keduanya menjadi pribadi yang lebih siap.
Di bawah langit Kapuas, dua keluarga telah membuka pintu hati masing-masing.
Masa lalu telah berdamai.
Luka telah sembuh.
Dan cinta telah menemukan jalannya.
Namun sebuah perjalanan besar masih menanti.
Karena setelah restu diberikan, masih ada satu langkah penting yang harus dilakukan.
Sebuah ikatan yang akan menyatukan dua hati dalam sebuah janji kehidupan.
Langkah Menuju Pernikahan dan Doa Dua Keluarga
Hari-hari setelah pertemuan dua keluarga membawa suasana yang berbeda bagi Arman Maulana dan Erika Permatasari.
Ada kebahagiaan yang semakin terasa.
Ada kesibukan baru yang mulai dipersiapkan.
Dan ada doa-doa yang semakin sering dipanjatkan.
Sebab cinta yang telah menemukan jalannya tidak berhenti hanya dengan saling percaya.
Ia membutuhkan langkah nyata.
Ia membutuhkan kesiapan.
Dan yang paling penting, ia membutuhkan restu dari orang-orang yang selama ini menjadi tempat mereka kembali.
Di Desa Sriwidadi, rumah keluarga Arman mulai dipenuhi pembicaraan tentang persiapan pernikahan.
Bukan pesta besar.
Bukan kemewahan.
Tetapi sebuah acara sederhana yang mencerminkan nilai keluarga mereka.
Hasan Basri selalu mengingatkan putranya.
"Yang terpenting bukan bagaimana orang melihat acara kita."
"Tetapi bagaimana kalian menjalani kehidupan setelahnya."
Arman mengangguk.
Nasihat itu selalu ia simpan dalam hati.
Sementara itu, di rumah Erika di Kuala Kapuas, persiapan juga mulai dilakukan.
Rukayah membantu putrinya memilih beberapa kebutuhan sederhana.
Sesekali mereka berbicara tentang kehidupan setelah menikah.
"Menjadi istri bukan hanya tentang menemani suami saat bahagia."
kata Rukayah.
"Tetapi juga tentang menjadi tempat pulang ketika keadaan tidak mudah."
Erika mendengarkan dengan penuh perhatian.
"Aku ingin menjadi istri yang bisa mendukungnya, Bu."
Rukayah tersenyum.
"Ibu tahu."
"Karena sejak dulu Ibu melihat cara kamu menghargai orang lain."
Di tengah persiapan itu, Arman dan Erika tetap menjalani aktivitas pekerjaan.
Proyek pembangunan gedung pelayanan publik hampir selesai.
Kesibukan mereka semakin meningkat.
Namun ada kebahagiaan kecil yang selalu mereka rasakan.
Kini setiap pembicaraan tentang masa depan tidak lagi menjadi sesuatu yang samar.
Mereka memiliki tujuan yang sama.
Suatu sore, setelah melakukan pemeriksaan akhir proyek, Arman dan Erika kembali duduk di tepian Sungai Kapuas.
Tempat yang telah menjadi saksi banyak bagian perjalanan mereka.
"Kita dulu sering membicarakan mimpi di sini."
kata Erika.
"Iya."
"Dulu mimpi kita masih sederhana."
Arman tersenyum.
"Yang penting punya keberanian untuk mengejarnya."
Erika memandang sungai.
"Dan sekarang?"
Arman menatapnya.
"Sekarang aku punya mimpi baru."
"Apa itu?"
"Membangun rumah yang penuh ketenangan."
"Rumah yang bukan hanya tempat tinggal."
"Tapi tempat kita saling menguatkan."
Erika tersenyum.
"Itu juga mimpiku."
Namun menjelang hari pernikahan, Arman menyadari satu hal.
Ada seseorang yang harus ia temui.
Junaidi.
Bukan karena masih ada masalah.
Tetapi karena ia ingin memastikan bahwa persahabatan mereka tetap utuh.
Mereka bertemu di sebuah warung kopi sederhana.
Tempat yang dulu menjadi saksi pengakuan Junaidi.
Namun kali ini suasananya berbeda.
Tidak ada kegelisahan.
Tidak ada persaingan.
Hanya dua sahabat yang sedang berbicara.
"Jadi..."
kata Junaidi sambil tersenyum.
"Sebentar lagi kamu benar-benar menikah."
Arman tertawa kecil.
"Iya."
"Rasanya masih seperti mimpi."
Junaidi mengangguk.
"Aku ikut bahagia."
Kalimat itu keluar dengan tulus.
Arman menatap sahabatnya.
"Aku tahu perjalanan ini tidak mudah untukmu."
Junaidi tersenyum.
"Dulu memang sulit."
"Tapi sekarang aku mengerti."
"Ada cinta yang hadir bukan untuk dimiliki."
"Tetapi untuk mengajarkan kita menjadi lebih dewasa."
Arman terdiam.
Ia merasa bersyukur memiliki sahabat seperti Junaidi.
"Terima kasih."
kata Arman.
"Untuk apa?"
"Karena tetap menjadi sahabat."
Junaidi tertawa kecil.
"Kita sudah melewati terlalu banyak hal untuk rusak hanya karena satu cerita cinta."
Mereka berjabat tangan.
Kali ini bukan sebagai dua orang yang pernah berdiri di sisi berbeda.
Tetapi sebagai dua sahabat yang telah berdamai dengan masa lalu.
Hari demi hari berlalu.
Tanggal pernikahan semakin dekat.
Kedua keluarga mulai mempersiapkan segala kebutuhan.
Tetangga dan sahabat mulai membantu.
Di Sriwidadi, kabar bahagia itu menyebar.
Anak desa yang dahulu pergi mengejar pendidikan kini akan kembali membawa kebahagiaan baru.
Malam sebelum hari besar itu, Arman duduk sendiri di teras rumah.
Ia memandang langit.
Banyak hal terlintas dalam pikirannya.
Tentang masa kecil.
Tentang perjuangan kuliah.
Tentang hari-hari sulit ketika harus bertahan.
Tentang Erika yang kembali setelah sekian lama.
Ia tersenyum.
Ternyata perjalanan panjang itu bukan untuk menjauhkan.
Melainkan untuk mempersiapkan.
Di rumahnya, Erika juga melakukan hal yang sama.
Ia memandang langit malam dari jendela kamar.
Ia mengingat kembali gadis muda yang dahulu duduk di bangku sekolah.
Gadis yang belum tahu seperti apa masa depannya.
Kini ia akan memulai babak baru bersama seseorang yang dahulu hanya menjadi teman.
Namun kemudian berubah menjadi rumah bagi hatinya.
Keesokan harinya, dua keluarga akan berkumpul.
Bukan lagi untuk saling mengenal.
Melainkan untuk menyatukan janji.
Sebuah janji yang akan membawa Arman dan Erika menuju kehidupan baru.
Karena cinta yang telah melewati banyak ujian akhirnya sampai pada satu titik:
Memilih untuk tinggal.
Memilih untuk menjaga.
Dan memilih untuk berjalan bersama.
Di bawah langit Kapuas, perjalanan panjang mereka hampir mencapai akhir.
Namun sebelum kebahagiaan itu benar-benar diraih, masih ada satu momen terakhir yang akan mengikat dua hati.
Akad yang Menyatukan Dua Hati
Pagi itu, Desa Sriwidadi terasa berbeda.
Udara pagi yang biasanya tenang kini dipenuhi suasana bahagia. Rumah keluarga Arman Maulana dihiasi dengan kesederhanaan yang penuh makna. Tidak ada kemewahan yang berlebihan.
Hanya ada senyum.
Doa.
Dan rasa syukur.
Hari yang selama ini dinantikan akhirnya tiba.
Hari ketika dua perjalanan hidup akan disatukan dalam sebuah janji suci.
Sejak subuh, keluarga Arman telah bersiap.
Hasan Basri mengenakan pakaian terbaiknya.
Siti Aminah sibuk memastikan seluruh persiapan berjalan dengan baik.
Bagi mereka, hari itu bukan hanya tentang pernikahan anak.
Tetapi tentang melihat perjuangan panjang seorang anak desa menemukan kebahagiaannya.
Di sisi lain, Erika Permatasari juga telah bersiap bersama keluarganya.
Di dalam kamar, ia duduk dengan tenang.
Tidak seperti bayangan masa mudanya dahulu yang selalu penuh keraguan.
Hari itu ia merasa yakin.
Ia bukan sedang meninggalkan kehidupan lamanya.
Ia sedang memulai kehidupan baru.
Rukayah memandang putrinya dengan mata berkaca-kaca.
"Anakku."
"Iya, Bu."
"Hari ini kamu bukan hanya menjadi seorang istri."
"Kamu juga menjadi bagian dari keluarga baru."
"Jaga hatimu."
"Jaga rumah tanggamu."
"Dan jangan lupa bahwa pernikahan dibangun bukan hanya dengan cinta."
"Tetapi dengan kesabaran."
Erika menggenggam tangan ibunya.
"Terima kasih, Bu."
Menjelang akad, keluarga Erika tiba di rumah Arman.
Suasana semakin haru.
Arman berdiri menyambut mereka.
Untuk sesaat, pandangan Arman dan Erika bertemu.
Tidak ada kata-kata.
Namun keduanya memahami arti tatapan itu.
Mereka telah melewati perjalanan yang panjang.
Di ruang akad, semua telah berkumpul.
Keluarga.
Sahabat.
Dan orang-orang yang selama ini mendukung perjalanan mereka.
Junaidi juga hadir.
Ia datang bukan sebagai seseorang yang pernah menyimpan rasa.
Tetapi sebagai seorang sahabat yang ingin melihat kebahagiaan orang yang pernah berarti dalam hidupnya.
Prosesi akad dimulai.
Suasana menjadi hening.
Penghulu memimpin dengan suara yang tenang.
Arman duduk dengan penuh kesungguhan.
Tangannya sedikit bergetar.
Bukan karena ragu.
Tetapi karena menyadari besarnya tanggung jawab yang akan ia pikul.
Ketika tiba saatnya mengucapkan ijab kabul, semua mata tertuju kepadanya.
Dengan suara jelas dan penuh keyakinan, Arman mengucapkan akad.
Satu tarikan napas.
Satu kalimat.
Satu janji.
Dan ketika saksi menyatakan sah, suasana berubah menjadi haru.
Alhamdulillah.
Ucapan syukur terdengar dari seluruh ruangan.
Arman menunduk sejenak.
Ia mengingat perjalanan hidupnya.
Anak desa yang dahulu hanya memiliki mimpi.
Mahasiswa yang berjuang dengan keterbatasan.
Lelaki yang pernah kehilangan harapan.
Dan akhirnya kembali menemukan cinta yang sempat hilang.
Setelah akad selesai, Arman duduk di samping Erika.
Untuk pertama kalinya, mereka benar-benar berada dalam ikatan yang baru.
Bukan lagi hanya dua orang yang saling menyayangi.
Tetapi pasangan yang memiliki tanggung jawab untuk saling menjaga.
"Terima kasih."
bisik Arman.
Erika menoleh.
"Untuk apa?"
"Karena kamu tetap ada setelah perjalanan yang panjang."
Erika tersenyum.
"Aku juga berterima kasih."
"Karena kamu tetap menjadi seseorang yang membuatku percaya."
Selesai acara, Junaidi menghampiri Arman.
Mereka berjabat tangan.
"Selamat, Man."
"Terima kasih, Jun."
"Aku benar-benar ikut bahagia."
Arman tersenyum.
"Kamu bagian dari perjalanan ini."
"Jangan pernah merasa tidak berarti."
Junaidi mengangguk.
Kali ini hatinya benar-benar tenang.
Ia telah melepaskan sesuatu yang dulu ia genggam terlalu erat.
Dan dari sana ia menemukan kedamaian.
Sore hari, setelah seluruh rangkaian acara selesai, Arman dan Erika duduk di halaman rumah.
Langit Sriwidadi mulai berubah warna.
Senja turun perlahan.
Pemandangan itu mengingatkan Arman pada semua senja yang pernah ia lalui.
Senja di sekolah.
Senja di Dermaga KP3.
Senja di tepian Sungai Kapuas.
Dan kini senja pertama sebagai suami istri.
"Perjalanan kita panjang sekali."
kata Erika.
"Iya."
"Tapi ternyata semua membawa kita ke sini."
Arman menggenggam tangannya.
"Mulai hari ini..."
"...kita bukan lagi berjalan sendiri-sendiri."
"Kita berjalan bersama."
Di bawah langit Kapuas, sebuah kisah akhirnya menemukan tempat pulangnya.
Bukan karena perjalanan mereka tanpa luka.
Bukan karena semuanya selalu mudah.
Tetapi karena mereka memilih untuk tetap bertahan.
Cinta mereka pernah dipisahkan waktu.
Diuji oleh jarak.
Dihadapkan pada pilihan.
Dan hampir hilang karena ketidakpastian.
Namun pada akhirnya, takdir mempertemukan kembali dua hati yang memang ditakdirkan untuk saling menjaga.
Malam itu, ketika semua tamu telah pulang, Arman berdiri sebentar memandang langit.
Ia tersenyum.
Karena ia tahu satu hal.
Perjalanan mendapatkan cinta telah selesai.
Tetapi perjalanan menjaga cinta baru saja dimulai.
BAB XXV
Cintaku Berlabuh
Pelabuhan Terakhir Sebuah Perjalanan
Waktu berjalan tanpa pernah menunggu siapa pun.
Hari berganti minggu.
Minggu berganti bulan.
Dan bulan-bulan setelah pernikahan membawa Arman Maulana dan Erika Permatasari memasuki kehidupan yang sama sekali baru.
Mereka tidak lagi hanya berbicara tentang perasaan.
Mereka mulai belajar tentang tanggung jawab.
Tentang memahami kebiasaan masing-masing.
Tentang menerima kekurangan.
Dan tentang bagaimana menjaga sebuah janji yang telah diucapkan di hadapan Tuhan dan keluarga.
Rumah kecil mereka di Kuala Kapuas tidak mewah.
Tidak berdiri di atas tanah yang luas.
Tidak memiliki banyak hiasan mahal.
Namun rumah itu selalu terasa hangat.
Karena di dalamnya ada dua orang yang memilih untuk saling menguatkan.
Setiap pagi, Arman terbiasa bangun lebih awal.
Ia menyiapkan kopi sederhana sebelum berangkat bekerja.
Sementara Erika mulai mempersiapkan aktivitasnya.
Hal-hal kecil yang dahulu tidak pernah mereka bayangkan ternyata menjadi bagian paling indah dari kehidupan mereka.
"Man."
"Iya?"
"Menurutmu, apa yang membuat rumah menjadi tempat pulang?"
tanya Erika suatu pagi.
Arman tersenyum sambil meletakkan cangkir kopi di meja.
"Bukan dindingnya."
"Bukan ukurannya."
"Lalu?"
"Orang-orang yang ada di dalamnya."
Erika tersenyum.
"Jawabanmu masih sama seperti dulu."
"Maksudnya?"
"Dulu kamu selalu melihat sesuatu dari maknanya."
Arman tertawa kecil.
"Mungkin karena aku belajar dari kehidupan."
Hari-hari mereka tidak selalu sempurna.
Ada perbedaan pendapat.
Ada kesalahpahaman kecil.
Ada saat ketika pekerjaan membuat mereka lelah.
Namun setiap masalah selalu mereka selesaikan dengan berbicara.
Karena mereka telah belajar dari perjalanan panjang sebelumnya.
Cinta bukan tentang tidak pernah memiliki masalah.
Tetapi tentang bagaimana dua orang memilih untuk menyelesaikannya bersama.
Di tempat kerja, Arman semakin berkembang.
Pengalamannya sebagai bagian dari tim konsultan membuat kemampuannya semakin matang.
Ia mulai dipercaya menangani beberapa pekerjaan penting.
Namun meskipun kariernya berkembang, ia tidak pernah melupakan nilai-nilai yang ditanamkan keluarganya.
Kesederhanaan.
Kejujuran.
Dan tanggung jawab.
Suatu akhir pekan, Arman mengajak Erika kembali ke Desa Sriwidadi.
Perjalanan itu bukan sekadar pulang.
Tetapi sebuah cara untuk mengingat kembali awal perjalanan mereka.
Ketika mereka tiba, Hasan dan Siti Aminah menyambut mereka dengan penuh kebahagiaan.
Melihat anaknya datang bersama istri, Hasan tersenyum bangga.
"Dulu kamu pergi membawa mimpi."
"Sekarang kamu pulang membawa keluarga."
Arman tersenyum.
"Iya, Pak."
"Ternyata jalan hidup membawa saya kembali ke tempat yang sama."
Hasan mengangguk.
"Karena sejauh apa pun seseorang berjalan..."
"...dia tetap membutuhkan tempat untuk mengingat siapa dirinya."
Sore hari, Arman dan Erika berjalan mengelilingi desa.
Mereka melihat anak-anak bermain.
Melihat masyarakat menjalankan aktivitas.
Melihat kehidupan sederhana yang dahulu membesarkan Arman.
Erika tersenyum.
"Aku sekarang mengerti kenapa kamu begitu mencintai tempat ini."
Arman menatap hamparan desa di depannya.
"Karena di sinilah aku belajar bermimpi."
"Dan di sinilah aku belajar arti perjuangan."
Ketika mereka sampai di sebuah jalan kecil yang dahulu sering dilewati Arman saat sekolah, Erika berhenti.
"Di sini dulu kamu sering lewat?"
"Iya."
"Dengan sepeda tua?"
Arman tertawa.
"Iya."
"Aku masih ingat."
"Aku dulu sering melihatmu dari kejauhan."
Erika tersenyum.
"Dan aku juga sering pura-pura tidak melihatmu."
Mereka tertawa bersama.
Kenangan yang dahulu hanya tersimpan dalam hati kini menjadi cerita yang bisa mereka bagikan.
Malam harinya, mereka duduk di halaman rumah Hasan.
Langit penuh bintang.
Suasana desa begitu tenang.
Arman memandang Erika.
"Kalau dipikir-pikir..."
"Perjalanan kita seperti sungai."
kata Arman.
"Awalnya kecil."
"Lalu melewati banyak tempat."
"Kadang tenang."
"Kadang berhadapan dengan arus."
"Tapi akhirnya sampai juga."
Erika menggenggam tangannya.
"Dan sekarang?"
Arman tersenyum.
"Sekarang kita sudah menemukan pelabuhan."
Namun bagi mereka, pelabuhan bukan berarti akhir dari segalanya.
Karena kehidupan setelah pernikahan adalah perjalanan baru.
Masih banyak mimpi yang ingin mereka bangun.
Masih banyak kebaikan yang ingin mereka lakukan.
Dan masih banyak hari yang ingin mereka jalani bersama.
Di kejauhan, Sungai Kapuas tetap mengalir.
Sungai yang pernah menjadi saksi perpisahan.
Sungai yang pernah menyimpan kerinduan.
Dan sungai yang akhirnya menjadi saksi bahwa dua hati telah menemukan jalannya kembali.
Arman memandang langit malam.
Dalam hati ia berbisik:
"Terima kasih Tuhan, karena telah membawaku melewati jalan panjang hingga akhirnya aku menemukan tempat hatiku berlabuh."
Perjalanan mencari cinta telah berakhir.
Namun perjalanan menjaga cinta baru saja dimulai.
Karena cinta sejati bukan tentang menemukan seseorang yang sempurna.
Melainkan menemukan seseorang yang bersedia berjalan bersama dalam segala keadaan.
Dan bagi Arman Maulana, Erika Permatasari adalah pelabuhan terakhir dari perjalanan panjang hatinya.
Rumah Kecil, Mimpi Besar, dan Kehidupan yang Baru
Setahun telah berlalu sejak hari yang mengubah hidup Arman Maulana dan Erika Permatasari.
Pernikahan yang dahulu hanya menjadi harapan kini telah menjadi kehidupan nyata.
Mereka belajar bahwa membangun rumah tangga bukan hanya tentang kebahagiaan yang terlihat oleh orang lain.
Tetapi tentang bagaimana dua orang tetap memilih satu sama lain, bahkan dalam hal-hal kecil yang sering tidak diketahui siapa pun.
Rumah mereka di pinggir Kota Kuala Kapuas masih sama.
Sederhana.
Tidak terlalu besar.
Tidak dipenuhi barang mewah.
Namun setiap sudut rumah itu memiliki cerita.
Ada meja kecil tempat mereka berdiskusi tentang pekerjaan.
Ada rak buku yang berisi catatan perjalanan hidup Arman.
Ada foto pernikahan mereka yang tergantung di ruang tengah.
Dan ada banyak kenangan yang membuat rumah itu terasa hidup.
Pagi itu, Erika sedang menyiram tanaman di halaman.
Beberapa bunga kecil mulai bermekaran.
Arman yang baru selesai membuat kopi berdiri di depan pintu sambil tersenyum.
"Kamu masih ingat dulu?"
tanya Arman.
Erika menoleh.
"Ingat apa?"
"Dulu kamu bilang ingin punya rumah yang tidak harus besar."
"Tapi punya halaman kecil untuk menanam bunga."
Erika tersenyum.
"Ternyata kamu masih ingat."
"Aku ingat hampir semua yang kamu ceritakan."
Bagi Erika, hal-hal sederhana seperti itu adalah bentuk cinta yang paling nyata.
Bukan hadiah mahal.
Bukan kata-kata besar.
Tetapi perhatian kecil yang menunjukkan bahwa seseorang benar-benar mendengarkan.
Dalam perjalanan pernikahan mereka, banyak hal yang berubah.
Arman semakin dipercaya dalam pekerjaannya.
Ia mulai terlibat dalam berbagai proyek pembangunan dan perencanaan.
Namun ada satu hal yang tidak pernah berubah.
Keinginannya untuk tetap dekat dengan masyarakat.
Ia selalu mengatakan kepada Erika:
"Pembangunan bukan hanya tentang bangunan."
"Tapi tentang manusia yang akan merasakan manfaatnya."
Pemikiran itu membuat Arman mulai aktif membantu beberapa kegiatan sosial di desa.
Ia sering berdiskusi dengan pemerintah desa, pemuda, dan masyarakat tentang pengembangan potensi daerah.
Baginya, ilmu yang ia dapatkan tidak boleh hanya berhenti untuk dirinya sendiri.
Harus kembali memberi manfaat.
Erika selalu mendukung langkah suaminya.
"Aku bangga melihat kamu tetap menjadi Arman yang dulu."
kata Erika suatu malam.
Arman tersenyum.
"Yang dulu bagaimana?"
"Anak desa yang selalu punya mimpi untuk membuat sesuatu yang berarti."
Arman terdiam.
Ia tersentuh.
Karena ternyata seseorang yang paling memahami dirinya adalah orang yang telah mengenalnya sejak masa lalu.
Di sisi lain, hubungan mereka dengan Junaidi juga tetap berjalan baik.
Junaidi mulai membuka lembaran baru dalam hidupnya.
Ia lebih fokus pada pekerjaannya.
Lebih banyak mengembangkan diri.
Dan perlahan menemukan kebahagiaan dengan caranya sendiri.
Suatu hari, Junaidi datang berkunjung ke rumah Arman.
Mereka duduk bersama sambil menikmati kopi.
"Rumahmu sederhana."
kata Junaidi.
Arman tertawa.
"Memangnya kamu berharap rumah seperti istana?"
Junaidi tersenyum.
"Tidak."
"Aku justru suka."
"Karena terasa seperti rumah."
Junaidi melihat Arman dan Erika yang saling membantu menyiapkan makanan.
Ia tersenyum.
Dulu pemandangan seperti itu mungkin akan membuat hatinya sakit.
Namun sekarang tidak lagi.
Ia telah belajar bahwa kebahagiaan orang lain tidak selalu berarti kehilangan bagi dirinya.
"Jun."
"Iya?"
"Bagaimana kabarmu?"
Junaidi tersenyum.
"Baik."
"Benar-benar baik?"
Arman bertanya lagi.
Junaidi mengangguk.
"Benar."
"Aku pernah mengejar sesuatu yang bukan jalanku."
"Sekarang aku belajar menikmati jalan yang diberikan Tuhan."
Arman menepuk bahunya.
"Aku senang mendengarnya."
Hari terus berjalan.
Arman dan Erika mulai membangun mimpi baru.
Bukan hanya tentang keluarga.
Tetapi juga tentang bagaimana mereka dapat memberi manfaat bagi lingkungan sekitar.
Mereka ingin suatu hari nanti memiliki program kecil untuk membantu anak-anak desa yang memiliki mimpi besar namun keterbatasan kesempatan.
Karena Arman tahu bagaimana rasanya memiliki mimpi yang hampir tidak mungkin.
Suatu sore, mereka kembali ke Dermaga KP3.
Tempat yang menjadi awal kisah mereka.
Mereka duduk di tempat yang sama seperti dulu.
Melihat matahari perlahan tenggelam.
"Aneh ya."
kata Erika.
"Apa?"
"Dulu kita datang ke sini membawa banyak pertanyaan."
"Sekarang kita datang membawa banyak jawaban."
Arman tersenyum.
"Dulu kita mencari arah."
"Sekarang kita sudah tahu ke mana harus pulang."
Mereka memandang Sungai Kapuas yang terus mengalir.
Sungai itu mengajarkan banyak hal.
Bahwa perjalanan tidak selalu lurus.
Ada belokan.
Ada hambatan.
Ada arus yang membuat seseorang hampir menyerah.
Namun selama seseorang terus berjalan, akan selalu ada tempat tujuan.
Arman menggenggam tangan Erika.
"Terima kasih sudah berjalan sejauh ini denganku."
Erika tersenyum.
"Terima kasih juga sudah membuktikan bahwa penantian tidak selalu sia-sia."
Senja perlahan menghilang.
Tetapi hati mereka tetap penuh cahaya.
Karena mereka telah menemukan sesuatu yang lebih berharga daripada sekadar cinta.
Mereka menemukan rumah.
Bukan rumah yang terbuat dari dinding.
Tetapi rumah yang dibangun dari kepercayaan, kesetiaan, dan kasih sayang.
Namun kehidupan masih terus berjalan.
Masih ada mimpi yang ingin diwujudkan.
Masih ada perjalanan yang harus dilalui.
Karena sebuah kisah cinta yang panjang tidak benar-benar berakhir ketika dua orang bersatu.
Ia justru memasuki babak baru.
Babak tentang keluarga.
Tentang pengabdian.
Dan tentang warisan kebaikan yang ingin mereka tinggalkan.
Selamanya di Bawah Langit Kapuas
Waktu terus berjalan.
Tahun demi tahun berlalu.
Namun bagi Arman Maulana dan Erika Permatasari, setiap perjalanan yang mereka lalui selalu mengingatkan mereka pada satu hal:
Bahwa cinta bukan hanya tentang bagaimana seseorang menemukan pasangan hidupnya.
Tetapi tentang bagaimana dua orang memilih untuk tetap berjalan bersama setelah menemukan satu sama lain.
Rumah kecil di Kuala Kapuas yang dahulu hanya menjadi tempat singgah kini telah berubah menjadi tempat penuh cerita.
Di sana ada tawa.
Ada doa.
Ada perjuangan.
Dan ada banyak kenangan yang tumbuh bersama waktu.
Arman dan Erika tidak lagi hanya berbicara tentang mimpi pribadi.
Mereka mulai membangun mimpi bersama.
Beberapa tahun setelah pernikahan, kehidupan mereka semakin lengkap.
Mereka dikaruniai seorang anak yang membawa kebahagiaan baru dalam keluarga kecil mereka.
Kehadiran buah hati itu membuat Arman semakin memahami arti tanggung jawab.
Dahulu ia hanya berusaha menjadi lelaki yang membanggakan orang tuanya.
Kini ia ingin menjadi ayah yang mampu menjadi teladan bagi anaknya.
Suatu pagi, Arman duduk di halaman rumah bersama anaknya.
Ia menunjukkan sebuah buku kecil berisi catatan perjalanan hidupnya.
"Ayah dulu juga pernah punya mimpi besar."
kata Arman.
Anaknya memandang penasaran.
"Memangnya Ayah bisa mencapai semua mimpi itu?"
Arman tersenyum.
"Tidak semuanya."
"Lalu kenapa tetap berusaha?"
"Karena dalam perjalanan mengejar mimpi, kita belajar menjadi manusia yang lebih baik."
Erika yang mendengar percakapan itu tersenyum dari kejauhan.
Ia melihat sosok Arman yang dahulu ia kenal saat sekolah.
Sosok yang sederhana.
Pendiam.
Tetapi memiliki semangat yang tidak pernah padam.
Kini lelaki itu menjadi suami dan ayah yang penuh kasih.
Kehidupan mereka tidak selalu tanpa masalah.
Ada masa ketika pekerjaan membuat Arman harus lebih banyak berada di luar rumah.
Ada masa ketika Erika harus menghadapi tantangan sendiri.
Namun mereka selalu mengingat janji yang pernah mereka ucapkan di tepian Sungai Kapuas.
Untuk saling menjaga.
Untuk saling menguatkan.
Dan untuk tetap menjadi tempat pulang satu sama lain.
Suatu hari, mereka kembali mengunjungi Desa Sriwidadi.
Tempat yang menjadi akar kehidupan Arman.
Kini Arman tidak hanya datang sebagai anak yang pulang kepada orang tua.
Ia datang membawa pengalaman dan keinginan untuk berbagi.
Ia bertemu dengan anak-anak desa.
Mendengarkan cerita mereka.
Memberikan semangat agar mereka berani memiliki mimpi.
Di hadapan beberapa anak muda desa, Arman berkata:
"Jangan pernah merasa kecil hanya karena kalian berasal dari desa."
"Banyak mimpi besar lahir dari tempat yang sederhana."
"Yang menentukan masa depan bukan dari mana kalian berasal."
"Tetapi seberapa kuat kalian berusaha."
Anak-anak itu mendengarkan dengan penuh perhatian.
Karena mereka melihat contoh nyata.
Seseorang yang pernah berdiri di posisi mereka.
Erika berdiri di samping Arman.
Ia tersenyum.
Karena ia tahu perjalanan suaminya bukan hanya tentang mencapai keberhasilan.
Tetapi tentang bagaimana keberhasilan itu bisa menjadi manfaat bagi orang lain.
Sore hari, seperti kebiasaan mereka sejak dahulu, Arman dan Erika kembali ke Dermaga KP3.
Tempat yang menjadi saksi awal cerita.
Mereka duduk berdua menikmati senja.
Namun kali ini mereka tidak lagi datang membawa pertanyaan.
Tidak lagi datang membawa keraguan.
Mereka datang membawa rasa syukur.
"Kalau mengingat masa lalu..."
kata Erika.
"Aku kadang tidak percaya kita bisa sampai di sini."
Arman tersenyum.
"Aku juga."
"Dulu kita dipisahkan waktu."
"Diuji keadaan."
"Dan hampir kehilangan kesempatan."
"Tapi ternyata semua itu membuat kita lebih siap."
Erika melihat aliran Sungai Kapuas.
"Sungai ini mengajarkan banyak hal."
"Seperti apa?"
"Bahwa perjalanan tidak selalu mudah."
"Tapi selama terus mengalir, kita akan menemukan tujuan."
Arman menggenggam tangannya.
"Dan tujuan itu adalah rumah."
Matahari perlahan tenggelam.
Langit Kapuas kembali berubah menjadi jingga.
Pemandangan yang sama seperti puluhan tahun lalu.
Namun hati mereka telah berubah.
Dulu mereka adalah dua anak muda yang belum memahami arah kehidupan.
Kini mereka adalah dua orang yang telah melewati banyak musim bersama.
Arman tersenyum sambil memandang langit.
Ia teringat semua perjalanan yang telah dilalui.
Bangku sekolah.
Perempuan di bangku nomor delapan.
Sahabat bernama Junaidi.
Senja pertama di Dermaga KP3.
Perpisahan.
Perantauan.
Kehilangan.
Pertemuan kembali.
Hingga akhirnya cinta itu benar-benar berlabuh.
Ia menyadari bahwa takdir bukan hanya tentang bertemu dengan seseorang.
Tetapi tentang bagaimana kehidupan mempersiapkan dua orang agar ketika bertemu kembali, mereka sudah menjadi pribadi yang lebih matang.
Di bawah langit Kapuas, Arman dan Erika menemukan jawaban dari perjalanan panjang mereka.
Cinta sejati bukanlah cinta yang tidak pernah diuji.
Melainkan cinta yang tetap bertahan setelah melewati ujian.
Bukan cinta yang selalu mudah.
Tetapi cinta yang selalu memilih untuk kembali.
Malam mulai turun.
Mereka meninggalkan Dermaga KP3 dengan langkah perlahan.
Namun kali ini mereka tidak meninggalkan tempat itu dengan kesedihan.
Mereka meninggalkannya dengan rasa syukur.
Karena tempat itu telah menjadi saksi sebuah kisah panjang.
Tentang dua hati yang pernah terpisah.
Tentang persahabatan yang diuji.
Tentang luka yang akhirnya sembuh.
Dan tentang cinta yang akhirnya menemukan tempatnya.
Karena pada akhirnya, setiap hati memiliki pelabuhannya sendiri.
Dan bagi Arman Maulana, pelabuhan itu adalah Erika.
Sementara bagi Erika Permatasari, rumah itu adalah Arman.
Mereka bukan pasangan yang sempurna.
Tetapi mereka adalah dua orang yang memilih untuk saling menyempurnakan.
Selamanya.
Di bawah langit Kapuas.
EPILOG
Tiga Tahun Kemudian
"Ada cinta yang tidak hanya dipertemukan oleh takdir, tetapi juga dijaga oleh kesabaran dan perjuangan."
Tiga tahun telah berlalu sejak hari ketika Arman Maulana dan Erika Permatasari mengikat janji suci.
Waktu kembali menunjukkan satu hal yang selama ini mereka pelajari:
Bahwa kehidupan tidak pernah berhenti berjalan.
Setiap hari membawa cerita baru.
Setiap tahun menghadirkan perubahan.
Namun ada satu hal yang tetap sama.
Mereka masih memilih satu sama lain.
Pagi itu, cahaya matahari menyinari halaman rumah kecil mereka di Kuala Kapuas.
Suara tawa seorang anak terdengar memenuhi udara.
Arman berdiri di halaman sambil memperhatikan putranya yang sedang bermain.
Senyum kecil terukir di wajahnya.
Ada kebahagiaan yang tidak pernah ia bayangkan ketika masih menjadi seorang anak desa yang hanya memiliki mimpi.
"Man."
Suara Erika terdengar dari belakang.
Arman menoleh.
"Iya?"
"Kamu melamun lagi?"
Arman tersenyum.
"Tidak."
"Aku hanya sedang mengingat masa lalu."
Erika berjalan mendekat.
"Masa lalu yang mana?"
Arman memandang rumah mereka.
"Semua."
"Semua perjalanan yang membawa kita sampai di sini."
Erika tersenyum.
Ia juga sering melakukan hal yang sama.
Mengingat masa ketika mereka masih mengenakan seragam sekolah.
Mengingat bagaimana Arman yang pendiam selalu menyimpan banyak mimpi.
Mengingat bagaimana waktu memisahkan mereka.
Dan mengingat bagaimana takdir akhirnya membawa mereka kembali.
"Ternyata hidup lucu ya."
kata Erika.
"Dulu kita pikir cerita kita sudah selesai ketika lulus sekolah."
"Iya."
"Ternyata itu baru awal."
Arman mengangguk.
"Kadang Tuhan menutup satu pintu bukan untuk mengakhiri perjalanan."
"Tetapi untuk mempersiapkan pintu yang lebih baik."
Kini Arman telah menjadi seseorang yang semakin matang dalam pekerjaannya.
Pengalamannya sebagai konsultan membuatnya banyak terlibat dalam berbagai kegiatan pembangunan.
Namun keberhasilan terbesar baginya bukanlah jabatan atau pencapaian profesional.
Melainkan ketika ia mampu memberikan manfaat bagi orang lain.
Terutama bagi anak-anak muda yang memiliki mimpi seperti dirinya dahulu.
Setiap kali pulang ke Desa Sriwidadi, Arman selalu menyempatkan diri bertemu dengan anak-anak desa.
Ia menceritakan perjuangannya.
Tentang bagaimana keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi.
Tentang bagaimana pendidikan dapat membuka jalan kehidupan.
Tentang bagaimana seseorang harus tetap percaya pada proses.
Erika pun tetap menjadi pendamping terbaiknya.
Ia bukan hanya seseorang yang berjalan di samping Arman.
Ia adalah orang yang mengingatkan ketika Arman terlalu sibuk mengejar tujuan.
"Jangan lupa menikmati perjalanan."
kata Erika suatu hari.
"Karena hidup bukan hanya tentang sampai di tujuan."
"Tetapi tentang siapa yang menemani kita selama perjalanan."
Sementara itu, Junaidi juga telah menemukan jalan hidupnya sendiri.
Ia tetap menjadi sahabat baik Arman.
Hubungan mereka tidak lagi dibayangi oleh cerita lama.
Justru pengalaman masa lalu membuat persahabatan mereka semakin kuat.
Mereka belajar bahwa kehilangan sesuatu tidak selalu berarti kehilangan segalanya.
Kadang seseorang harus melepaskan satu harapan agar menemukan ketenangan yang lebih besar.
Suatu sore, seperti kebiasaan mereka dahulu, Arman dan Erika kembali ke Dermaga KP3.
Tempat yang menyimpan begitu banyak kenangan.
Mereka duduk berdampingan melihat matahari perlahan tenggelam.
Sungai Kapuas tetap mengalir.
Angin sore tetap membawa kesejukan.
Dan langit tetap menghadirkan warna jingga yang sama.
"Kalau waktu bisa diulang..."
kata Erika.
"Apa yang ingin kamu ubah?"
Arman tersenyum.
"Tidak ada."
Erika terkejut.
"Tidak ada?"
"Iya."
"Karena kalau satu hal saja berubah..."
"...mungkin aku tidak akan sampai di sini bersamamu."
Erika tersenyum haru.
Ia menggenggam tangan Arman.
"Berarti semua luka dulu memang punya alasan."
Arman mengangguk.
"Semua perpisahan."
"Semua penantian."
"Semua perjuangan."
"Pada akhirnya membawa kita kepada tempat yang tepat."
Matahari perlahan menghilang di balik garis sungai.
Namun bagi mereka, senja itu bukan akhir.
Karena mereka telah memahami arti sebuah perjalanan.
Cinta tidak selalu datang dengan cara yang mudah.
Kadang ia harus melewati jarak.
Kadang harus melewati waktu.
Kadang harus kehilangan sebelum akhirnya menemukan.
Tetapi ketika dua hati memang ditakdirkan untuk bersama, jalan yang panjang tidak akan pernah benar-benar memisahkan.
Arman dan Erika meninggalkan Dermaga KP3 ketika malam mulai turun.
Mereka berjalan pulang.
Bukan menuju sebuah tempat.
Tetapi menuju rumah yang mereka bangun bersama.
Rumah yang penuh cinta.
Rumah yang penuh doa.
Rumah yang menjadi bukti bahwa sebuah perjuangan tidak pernah sia-sia.
Di bawah langit Kapuas, kisah mereka akhirnya menemukan maknanya.
Bukan tentang siapa yang datang lebih dulu.
Bukan tentang siapa yang paling lama menunggu.
Tetapi tentang siapa yang tetap bertahan ketika perjalanan terasa berat.
Karena cinta sejati bukan hanya tentang menemukan seseorang untuk dicintai.
Melainkan menemukan seseorang yang membuat kita ingin menjadi manusia yang lebih baik.
Dan di sanalah kisah Arman Maulana dan Erika Permatasari berakhir.
Bukan dengan perpisahan.
Tetapi dengan kehidupan yang terus berjalan.
Dengan keluarga yang tumbuh.
Dengan mimpi yang terus diperjuangkan.
Dan dengan satu keyakinan sederhana:
Bahwa setiap hati memiliki jalannya sendiri.
Setiap perjalanan memiliki waktunya sendiri.
Dan setiap cinta memiliki tempat untuk berlabuh.
SELESAI
Anang
30 Januari 2025 19:28:34
Lanjutkan mas... Semoga website desa pian semakin maju...