MENTARI DI UJUNG RINDU
Sebuah Roman tentang Cinta yang Diuji oleh Waktu, Persahabatan yang Terkikis oleh Pengkhianatan, dan Harapan yang Berlabuh di Tepian Sungai Kapuas
Oleh: Slamet Riyadi
DISCLAIMER
Mentari di Ujung Rindu adalah sebuah karya fiksi. Seluruh tokoh, nama desa, tempat, organisasi, dialog, peristiwa, serta rangkaian cerita di dalam novel ini merupakan hasil imajinasi penulis yang dirangkai untuk menghadirkan sebuah kisah tentang kehidupan, cinta, keluarga, persahabatan, dan pengorbanan.
Apabila terdapat kesamaan nama, karakter, tempat, maupun peristiwa dengan kejadian di dunia nyata, hal tersebut semata-mata merupakan suatu kebetulan dan tidak dimaksudkan untuk menggambarkan, menyindir, ataupun mewakili individu, kelompok, lembaga, ataupun komunitas tertentu.
Desa Sumber Waras dalam novel ini adalah desa fiktif yang diciptakan sebagai ruang berkembangnya cerita, sedangkan Kota Kuala Kapuas digunakan sebagai latar geografis yang menjadi bagian dari perjalanan para tokoh tanpa dimaksudkan untuk menggambarkan suatu peristiwa nyata.
Novel ini mengangkat tema tentang cinta yang tumbuh dalam kesederhanaan, persahabatan yang diuji oleh waktu, pengkhianatan yang meninggalkan luka, pengorbanan orang tua yang tak pernah meminta balasan, konflik sosial yang membelah kehidupan masyarakat, serta keyakinan bahwa sebesar apa pun badai kehidupan, harapan akan selalu menemukan jalannya.
Semoga setiap halaman dalam novel ini mampu mengajak pembaca merenungi bahwa kehidupan bukan hanya tentang siapa yang datang dan pergi, melainkan tentang siapa yang tetap bertahan ketika seluruh dunia seakan meninggalkan kita.
PROLOG
Mentari yang Tak Pernah Padam
Senja perlahan menurunkan warna keemasan di langit Kota Kuala Kapuas.
Semburat jingga memantul lembut di permukaan Sungai Kapuas, sungai terpanjang di Indonesia yang sejak dahulu menjadi saksi perjalanan ribuan manusia. Airnya mengalir tenang, seolah menyimpan begitu banyak rahasia yang tak pernah selesai diceritakan.
Di salah satu tepian sungai itu, berdirilah seorang lelaki dengan tatapan yang jauh menerobos cakrawala.
Namanya Ryahan.
Usianya tak lagi semuda ketika pertama kali meninggalkan kampung halaman. Wajahnya terlihat lebih dewasa. Sorot matanya menyimpan keteguhan, tetapi juga menyisakan luka yang belum benar-benar sembuh.
Di tangan kanannya, ia menggenggam sebuah amplop lusuh berwarna kecokelatan.
Sudut-sudutnya telah robek dimakan usia.
Kertas di dalamnya menguning.
Tulisan tintanya mulai memudar.
Namun satu nama yang tertulis di bagian depan masih terbaca dengan jelas.
Untuk Ryahan...
Perlahan ia membuka surat itu sekali lagi.
Entah untuk yang ke seratus atau mungkin ke seribu kalinya.
Angin sore berembus pelan, membawa aroma air sungai dan dedaunan yang basah.
Ryahan menghela napas panjang.
Matanya terpejam.
Dalam sekejap, ingatannya kembali melompat jauh ke masa lalu.
Kepada sebuah desa kecil yang sederhana.
Sebuah desa yang dipenuhi suara anak-anak berlarian di jalan tanah.
Sawah yang menguning setiap musim panen.
Kebun-kebun karet yang menjadi sumber kehidupan sebagian besar warganya.
Suara ayam berkokok setiap pagi.
Gotong royong yang menjadi napas kehidupan.
Tawa para sahabat.
Kasih sayang kedua orang tua.
Dan...
Seorang gadis yang selalu membuat dunia terasa lebih hangat.
Amelia.
Nama itu tak pernah benar-benar pergi dari hatinya.
Bahkan setelah bertahun-tahun berlalu.
Bahkan setelah waktu memisahkan mereka.
Bahkan setelah begitu banyak air mata jatuh di antara perjalanan hidup yang mereka lalui.
Ryahan tersenyum tipis.
Senyum yang lebih banyak menyimpan kerinduan daripada kebahagiaan.
"Apakah takdir memang harus sepanjang ini untuk mempertemukan dua hati?" bisiknya lirih.
Suara riak Sungai Kapuas menjawab dengan kesunyian.
Mentari semakin condong ke ufuk barat.
Langit berubah menjadi perpaduan jingga, merah, dan ungu.
Keindahannya begitu memukau.
Namun bagi Ryahan, senja selalu menghadirkan dua hal sekaligus.
Harapan.
Dan kehilangan.
Tiga tahun telah berlalu sejak semua persoalan itu berakhir.
Atau mungkin...
Baru hari inilah semuanya benar-benar menemukan jawabannya.
Tak jauh dari tempat ia berdiri, terdengar suara tawa seorang anak kecil yang berlari mengejar burung-burung di tepian sungai.
Ryahan memandangnya sambil tersenyum.
Anak itu mengingatkannya pada dirinya sendiri.
Seorang anak desa yang dahulu hanya memiliki mimpi sederhana.
Membahagiakan orang tua.
Menjaga persahabatan.
Dan hidup bersama perempuan yang dicintainya.
Namun hidup ternyata tidak pernah berjalan mengikuti rencana manusia.
Ada pengkhianatan yang datang dari orang yang dipercaya.
Ada fitnah yang menghancurkan nama baik.
Ada air mata yang tak sempat diseka.
Ada surat-surat yang tak pernah sampai kepada pemiliknya.
Ada perpisahan yang terjadi bukan karena cinta telah hilang, melainkan karena keadaan memaksa.
Dan ada luka yang membutuhkan waktu sangat panjang untuk sembuh.
Ryahan menatap kembali surat di tangannya.
Di sudut bawah surat itu tertulis sebuah kalimat yang tak pernah sanggup ia lupakan.
"Jika suatu hari kita dipisahkan oleh waktu, jangan salahkan rindu. Sebab rindu hanya sedang menjaga cinta agar tidak mati."
Kalimat itu ditulis oleh Amelia.
Bertahun-tahun yang lalu.
Sebelum badai datang menghancurkan segalanya.
Ryahan melipat kembali surat itu dengan hati-hati.
Ia memasukkannya ke dalam saku kemejanya.
Lalu memandang sekali lagi ke arah matahari yang perlahan tenggelam di balik cakrawala.
Hari hampir berganti malam.
Tetapi ia tidak lagi merasa takut.
Karena kini ia mengerti...
Tak ada malam yang benar-benar abadi.
Sebagaimana tak ada luka yang selamanya menguasai hati.
Setelah gelap akan selalu ada fajar.
Setelah hujan akan selalu ada pelangi.
Dan setelah perjalanan panjang yang dipenuhi air mata...
Selalu ada sebuah mentari yang menunggu di ujung rindu.
Tanpa Ryahan sadari, langkah-langkah takdir sebenarnya telah dimulai jauh sebelum hari itu.
Semuanya berawal dari sebuah desa kecil bernama Desa Sumber Waras.
Sebuah desa yang mempertemukan persahabatan.
Menumbuhkan cinta.
Melahirkan pengorbanan.
Menyimpan pengkhianatan.
Dan menjadi awal dari perjalanan panjang yang kelak berakhir di tepian Sungai Kapuas.
Inilah kisah mereka.
Kisah tentang cinta yang tak pernah benar-benar padam.
Kisah tentang harapan yang selalu menemukan jalan pulang.
Dan kisah tentang mentari yang tetap setia bersinar...
...di ujung setiap rindu.
BAB I
DESA YANG MENUMBUHKAN MIMPI
Mentari pagi baru saja muncul dari balik rimbunnya pepohonan ketika embun masih menggantung di ujung-ujung daun. Udara terasa sejuk, membawa aroma tanah basah yang bercampur dengan harum dedaunan dan rumput liar yang tumbuh di sepanjang jalan desa.
Di sebuah wilayah pedalaman yang jauh dari hiruk pikuk perkotaan, berdirilah sebuah desa sederhana bernama Desa Sumber Waras.
Desa itu bukan desa yang kaya. Jalan utamanya masih berupa tanah berbatu yang pada musim hujan berubah menjadi kubangan lumpur. Sebagian rumah penduduk masih berupa rumah kayu dengan halaman yang luas. Hamparan sawah terbentang di sebelah timur desa, sementara kebun karet, ladang jagung, dan kebun sayur menjadi sumber penghidupan sebagian besar warganya.
Meski hidup dalam keterbatasan, masyarakat Desa Sumber Waras hidup rukun. Mereka percaya bahwa kekayaan sejati bukanlah harta, melainkan kebersamaan. Gotong royong bukan sekadar tradisi, tetapi telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Setiap pagi, suara ayam jantan bersahutan membangunkan seluruh desa. Asap tipis mengepul dari dapur rumah-rumah warga. Para ibu mulai memasak sarapan, sementara kaum lelaki mempersiapkan peralatan bertani sebelum berangkat ke sawah ataupun ke kebun.
Di salah satu sudut desa berdiri sebuah rumah kayu sederhana yang telah ditempati keluarga Pak Rahmat selama lebih dari dua puluh tahun.
Rumah itu tidak besar.
Dindingnya terbuat dari papan ulin yang mulai memudar dimakan usia.
Atap sengnya telah beberapa kali ditambal.
Di teras depan terdapat bangku panjang dari kayu yang hampir setiap sore menjadi tempat Pak Rahmat menikmati secangkir kopi sambil memandang jalan desa.
Di rumah sederhana itulah tumbuh seorang pemuda bernama Ryahan.
Usianya baru menginjak sembilan belas tahun. Tubuhnya tegap, kulitnya kecokelatan karena terbiasa membantu ayahnya bekerja di sawah sejak kecil. Wajahnya sederhana, tetapi sorot matanya memancarkan ketulusan yang membuat siapa pun mudah merasa dekat dengannya.
"Ryahan... bangun, Nak."
Suara lembut Bu Talia terdengar dari dapur.
"Nasinya sudah matang."
Ryahan masih memejamkan mata.
"Sebentar lagi, Bu..."
Bu Talia hanya tersenyum.
Ia sudah hafal kebiasaan putra semata wayangnya itu.
Belum sempat Ryahan kembali tertidur, terdengar suara berat dari halaman rumah.
"Kalau ingin mengubah hidup, jangan biarkan mentari mendahuluimu."
Ryahan langsung membuka mata.
"Itu Bapak..." gumamnya sambil tersenyum.
Ia segera bangkit, melipat selimut, lalu keluar menuju halaman.
Pak Rahmat sedang mengasah parang yang akan digunakannya untuk membersihkan kebun.
Pria berusia lima puluh lima tahun itu dikenal sebagai petani yang jujur dan pekerja keras. Meski hidup sederhana, ia selalu mengajarkan bahwa harga diri tidak boleh dijual dengan apa pun.
Ryahan menghampirinya.
"Maaf, Pak."
Pak Rahmat menghentikan pekerjaannya.
"Lihat ke sana."
Ia menunjuk langit yang mulai diterangi cahaya matahari.
"Matahari selalu datang tepat waktu. Tidak pernah mengeluh meski setiap hari harus memberi cahaya kepada dunia."
Ryahan mengikuti arah telunjuk ayahnya.
"Kalau kau ingin menjadi orang besar, belajarlah dari mentari."
"Kenapa, Pak?"
Pak Rahmat tersenyum.
"Karena mentari tidak pernah memilih siapa yang akan dihangatkannya."
Kalimat itu sederhana.
Namun sejak kecil, nasihat seperti itulah yang membentuk cara berpikir Ryahan.
Baginya, ayah bukan hanya kepala keluarga.
Pak Rahmat adalah guru kehidupan.
Tidak jauh dari rumah Ryahan, berdiri rumah milik Pak Kusri dan Bu Endang.
Rumah mereka sedikit lebih besar, dikelilingi pagar bambu yang dipenuhi tanaman bunga.
Di halaman depan tampak seorang gadis sedang menyiram bunga melati dan mawar yang mulai bermekaran.
Namanya Amelia.
Usianya sebaya dengan Ryahan.
Parasnya sederhana, tetapi memiliki senyum yang mampu membuat suasana menjadi hangat. Ia dikenal sebagai gadis yang ramah, rajin membantu orang tuanya, dan disukai hampir seluruh warga desa.
"Mel..."
Bu Endang keluar sambil membawa keranjang berisi sayuran.
"Nanti jangan lupa membantu Bu Ratna di balai desa."
"Iya, Bu."
Amelia mengangguk sambil terus menyiram tanaman.
Dalam hati, ia menyukai pagi-pagi seperti ini.
Tenang.
Damai.
Seolah dunia tidak pernah mengenal pertengkaran.
Tanpa disadarinya, dari kejauhan Ryahan melintas menuju jalan desa.
Pandangan mereka sempat bertemu.
Tak ada sapaan.
Tak ada percakapan.
Hanya senyum kecil yang saling mereka berikan.
Namun senyum itu cukup membuat keduanya memulai hari dengan hati yang lebih ringan.
"Han... tunggu!"
Suara lantang memecah keheningan pagi.
Ryahan menoleh.
Seorang pemuda berlari kecil sambil membawa tas lusuh di punggungnya.
Niko.
Di belakangnya menyusul Naryo yang mengayuh sepeda tuanya sambil tertawa.
"Kalian memang tidak pernah sabar."
Ryahan tersenyum.
Tak lama kemudian datang Anita dan Liana.
Mereka berlima telah bersahabat sejak masih duduk di bangku sekolah dasar.
Mereka tumbuh bersama.
Belajar bersama.
Bermain bersama.
Bahkan hampir setiap hari berjalan melewati jalan desa yang sama.
Bagi mereka, persahabatan bukan sekadar kebiasaan.
Melainkan keluarga kedua.
Mereka berjalan melewati hamparan sawah yang mulai menghijau.
Burung-burung pipit beterbangan mencari makan.
Angin pagi menggerakkan bulir-bulir padi yang masih muda hingga tampak seperti ombak hijau yang bergoyang perlahan.
"Aku punya mimpi," kata Niko tiba-tiba.
"Mimpi apa?" tanya Anita.
"Aku ingin suatu hari nanti punya usaha sendiri di desa."
Naryo tertawa kecil.
"Supaya tidak perlu merantau?"
"Iya."
"Kalau aku ingin jadi guru," sahut Naryo.
Anita tersenyum.
"Aku ingin menjadi bidan."
Liana menambahkan pelan,
"Aku ingin membangun perpustakaan supaya anak-anak desa suka membaca."
Mereka lalu memandang Ryahan.
"Kalau kamu?"
Ryahan menghentikan langkahnya sejenak.
Ia memandang Desa Sumber Waras yang masih diselimuti cahaya mentari pagi.
"Aku..."
Ia menarik napas.
"...ingin membahagiakan Bapak dan Ibu."
Keempat sahabatnya terdiam.
"Itu saja?"
Ryahan tersenyum tipis.
"Kalau Tuhan mengizinkan..."
"Aku ingin kembali membangun desa ini."
Tak ada yang tertawa.
Tak ada yang mengejek.
Karena mereka tahu...
Ryahan selalu bersungguh-sungguh dengan setiap kata yang diucapkannya.
Pagi itu, tanpa mereka sadari, lima anak muda sederhana sedang menanam benih-benih mimpi yang suatu hari akan diuji oleh kerasnya kehidupan.
Mereka belum mengetahui bahwa persahabatan yang hari ini terasa begitu kokoh, kelak akan diguncang fitnah, pengkhianatan, air mata, dan perpisahan.
Begitu pula dengan cinta yang diam-diam mulai tumbuh di antara Ryahan dan Amelia.
Saat itu mereka hanya percaya pada satu hal.
Bahwa masa depan akan seindah mentari yang sedang bersinar di atas langit Desa Sumber Waras.
Padahal, takdir telah menyiapkan jalan yang sama sekali berbeda.
Dan perjalanan itu...
baru saja dimulai.
Bel berbunyi nyaring menandai berakhirnya kegiatan belajar hari itu.
Satu per satu para siswa keluar dari ruang kelas dengan wajah ceria. Ada yang langsung berlari menuju lapangan, ada yang bergegas pulang membantu orang tua, dan ada pula yang masih duduk di bawah pohon ketapang sambil mengobrol dengan teman-temannya.
Ryahan menutup buku catatannya, lalu memasukkannya ke dalam tas yang mulai kusam. Di sampingnya, Niko menguap panjang sambil meregangkan badan.
"Untung pelajaran terakhir selesai juga," keluhnya.
Naryo terkekeh.
"Kalau disuruh main bola sampai sore, pasti tidak mengeluh."
"Itu beda."
"Bedanya apa?"
"Kalau belajar bikin kepala panas, kalau main bola bikin badan sehat."
Mereka semua tertawa.
Di sudut lain kelas, Amelia sedang merapikan buku-bukunya bersama Anita dan Liana.
"Mel, nanti jadi ikut gotong royong di balai desa?" tanya Anita.
"Iya. Kata Ibu Ratna, sore ini warga mau membersihkan halaman balai desa. Minggu depan ada acara syukuran panen."
"Kita ikut, ya," sambung Liana.
Amelia mengangguk sambil tersenyum.
"Kalau desa bersih, semua juga senang."
Ucapan sederhana itu membuat Anita memandang sahabatnya dengan kagum.
"Kamu memang tidak pernah berubah."
"Berubah bagaimana?"
"Selalu memikirkan orang lain."
Amelia hanya tersenyum kecil.
Baginya, membantu sesama bukanlah sesuatu yang luar biasa. Sejak kecil, kedua orang tuanya selalu mengajarkan bahwa hidup akan terasa ringan apabila dijalani bersama-sama.
Sore itu, halaman Balai Desa Sumber Waras mulai dipenuhi warga.
Laki-laki membawa cangkul, sabit, dan parang. Para ibu menyiapkan minuman serta makanan ringan. Anak-anak berlarian di halaman sambil bermain petak umpet.
Suasana penuh kehangatan.
Tak ada yang memerintah.
Tak ada yang merasa lebih penting.
Semua bekerja dengan kesadaran sendiri.
"Ryahan, bantu angkat bambu itu!" seru Pak Burhan, tokoh masyarakat yang dihormati warga.
"Siap, Pak!"
Ryahan bersama Niko dan Naryo segera mengangkat beberapa batang bambu yang akan digunakan untuk memperbaiki pagar balai desa.
Di sisi lain, Amelia, Anita, dan Liana membantu Bu Ratna menyusun kursi dan membersihkan ruang pertemuan.
"Kalian istirahat dulu," kata Bu Ratna.
"Sebentar lagi selesai, Bu," jawab Amelia.
Bu Ratna tersenyum bangga.
"Kalian ini calon penerus desa. Semoga semangat seperti ini tidak pernah hilang."
Ucapan itu terdengar sederhana, tetapi tersimpan harapan besar di dalamnya.
Menjelang matahari condong ke barat, pekerjaan hampir selesai.
Pak Burhan berdiri di tengah halaman sambil memandang para pemuda yang masih bekerja.
"Kalau melihat kalian, saya jadi teringat masa muda dulu."
Ryahan menghampiri sambil mengusap keringat.
"Apa yang Bapak pikirkan?"
Pak Burhan tersenyum.
"Dulu kami juga punya banyak mimpi."
"Lalu?"
"Sebagian tercapai."
"Sebagian lagi?"
Pak Burhan memandang langit.
"Hilang dimakan keadaan."
Ryahan terdiam.
"Kamu tahu, Han?"
"Iya, Pak?"
"Desa ini membutuhkan anak-anak muda yang bukan hanya pintar mencari pekerjaan."
"Tetapi?"
"Yang mau kembali membangun kampung halamannya."
Kata-kata itu menancap kuat di hati Ryahan.
Ia memandang Desa Sumber Waras yang mulai diterpa cahaya senja.
Entah mengapa, untuk pertama kalinya ia merasa memiliki tanggung jawab yang lebih besar daripada sekadar mengejar cita-citanya sendiri.
Tak jauh dari balai desa terdapat sebuah lapangan kecil.
Seusai bergotong royong, lima sahabat itu duduk di bawah pohon trembesi yang rindang.
Angin sore berembus pelan.
Langit mulai berubah jingga.
Niko memecah keheningan.
"Kalau nanti kita sudah besar..."
"Apa?" tanya Liana.
"Kira-kira kita masih sering berkumpul seperti ini tidak?"
Tak ada yang langsung menjawab.
Pertanyaan itu terdengar sederhana.
Namun sulit dijawab.
Naryo mengambil sebuah ranting kecil, lalu menggambar lingkaran di atas tanah.
"Aku yakin kita akan sibuk dengan kehidupan masing-masing."
Anita mengangguk pelan.
"Mungkin ada yang kuliah."
"Ada yang bekerja."
"Ada yang menikah."
"Ada yang merantau."
Suasana mendadak hening.
Semua sadar bahwa suatu hari nanti mereka akan menghadapi jalan hidup yang berbeda.
Ryahan memandang wajah sahabat-sahabatnya satu per satu.
Lalu berkata pelan,
"Kalau nanti kita benar-benar berpisah..."
Keempat sahabatnya menoleh.
"...jangan pernah lupakan desa ini."
Niko tersenyum.
"Mana mungkin."
Ryahan melanjutkan,
"Dan jangan saling melupakan."
Liana mengangkat tangan kanannya.
"Kalau begitu..."
"Ayo kita buat janji."
Satu per satu mereka saling menumpukkan tangan di tengah lingkaran.
Dimulai dari Liana.
Kemudian Anita.
Disusul Naryo.
Niko.
Dan terakhir Ryahan.
Amelia yang sejak tadi hanya memperhatikan, akhirnya ikut meletakkan tangannya di atas tangan Ryahan.
Sentuhan itu berlangsung sangat singkat.
Namun cukup membuat jantung keduanya berdegup lebih cepat.
"Apa pun yang terjadi nanti," ucap Liana.
"Kita tetap sahabat."
"Walaupun hidup membawa kita ke mana pun," sambung Anita.
"Kita harus pulang ke Desa Sumber Waras."
Niko tertawa.
"Kalau ada yang kaya duluan, jangan lupa traktir."
Semua tertawa lepas.
Hanya Ryahan dan Amelia yang saling berpandangan.
Tak ada kata-kata.
Tetapi mata mereka seolah menyimpan sebuah janji yang belum mampu diucapkan.
Dari kejauhan, seseorang memperhatikan mereka.
Ia berdiri di balik pohon mahoni dengan kedua tangan terlipat di dada.
Tatapannya dingin.
Sorot matanya penuh rasa tidak suka.
Dialah Indra.
Pemuda yang sejak lama merasa dirinya lebih pantas menjadi pusat perhatian di desa.
Melihat Ryahan begitu akrab dengan Amelia membuat hatinya dipenuhi rasa iri.
"Kenapa harus dia?" gumamnya lirih.
Tak lama kemudian datang dua orang menghampirinya.
Rinto dan Susianti.
"Kamu lihat juga?" tanya Rinto.
Indra mengangguk.
"Mereka semakin dekat."
Susianti menyeringai tipis.
"Kalau dibiarkan, sebentar lagi semua orang akan menganggap mereka pasangan."
Wajah Indra mengeras.
"Aku tidak akan membiarkan itu terjadi."
"Memangnya mau bagaimana?" tanya Rinto.
Indra tersenyum tipis.
Senyum yang sama sekali tidak menunjukkan ketulusan.
"Setiap orang punya kelemahan."
"Dan aku akan menemukannya."
Mereka bertiga kemudian berjalan meninggalkan tempat itu.
Tak seorang pun menyadari bahwa sejak sore itu, benih-benih kebencian mulai tumbuh.
Mentari perlahan tenggelam di balik pepohonan.
Langit Desa Sumber Waras berubah menjadi jingga kemerahan.
Ryahan berjalan pulang bersama ayahnya.
Di sepanjang jalan, Pak Rahmat tidak banyak berbicara.
Sesampainya di depan rumah, beliau menepuk bahu putranya.
"Han."
"Iya, Pak."
"Tidak ada orang yang berhasil sendirian."
Ryahan mengangguk.
"Ingatlah, kalau nanti kamu menjadi orang besar, jangan pernah merasa lebih tinggi daripada tempat kamu dilahirkan."
Ryahan memandang desa yang mulai diterangi lampu-lampu rumah warga.
Suara jangkrik mulai terdengar dari balik semak.
Malam perlahan turun.
Dalam hati ia berjanji, suatu hari nanti ia akan kembali membawa kebanggaan untuk Desa Sumber Waras.
Namun ia belum mengetahui bahwa perjalanan menuju mimpi itu akan dipenuhi kehilangan, pengkhianatan, air mata, dan perpisahan yang mengubah hidupnya untuk selamanya.
Sementara itu, di tempat lain, seseorang mulai menyusun langkah pertama untuk menghancurkan semua kebahagiaan yang baru saja tumbuh.
Dan tanpa disadari siapa pun...
takdir telah membuka lembaran pertama dari kisah yang kelak akan menguji cinta, persahabatan, dan kesetiaan mereka hingga ke tepian Sungai Kapuas.
BAB II
PERTEMUAN DI MUSIM KEMARAU
Musim kemarau mulai menyelimuti Desa Sumber Waras.
Langit hampir setiap hari tampak biru tanpa awan. Embusan angin membawa hawa kering yang menerbangkan debu-debu halus di sepanjang jalan desa. Sawah yang beberapa minggu lalu masih tampak menghijau kini mulai menguning, menandakan musim panen akan segera tiba.
Bagi sebagian orang, kemarau berarti kerja keras yang lebih berat. Air di sungai kecil mulai surut. Para petani harus bangun lebih pagi untuk mengairi sawah dan kebun mereka. Namun bagi warga Desa Sumber Waras, musim kemarau juga menjadi musim kebersamaan. Hampir setiap sore mereka bergotong royong membersihkan saluran irigasi agar aliran air tetap sampai ke lahan pertanian.
Pagi itu, Ryahan telah membantu Pak Rahmat sejak matahari belum tinggi.
Keduanya sedang membersihkan gulma di pematang sawah.
"Kemarau tahun ini lebih panjang daripada tahun lalu," ujar Pak Rahmat sambil mengusap peluh di dahinya.
Ryahan mengangguk.
"Mudah-mudahan hasil panennya tetap baik."
Pak Rahmat menancapkan cangkulnya ke tanah.
"Petani tidak boleh hanya pandai berharap."
"Lalu?"
"Harus pandai berusaha."
Ryahan tersenyum kecil.
Sejak kecil, hampir setiap pekerjaan di sawah selalu disertai nasihat dari ayahnya.
Tidak pernah dengan nada menggurui.
Melainkan melalui percakapan-percakapan sederhana yang selalu membekas di dalam hati.
Sementara itu, di rumah Pak Kusri, suasana tak kalah sibuk.
Bu Endang sedang menyiapkan beberapa nampan berisi kue tradisional.
"Mel, nanti siang kita antar makanan ke balai desa."
Amelia yang sedang membantu membungkus kue mengangguk.
"Ada acara apa, Bu?"
"Pak Burhan mengundang para pemuda. Minggu depan desa akan mengadakan kerja bakti besar sekaligus persiapan syukuran panen."
Amelia tersenyum.
"Semoga panennya berhasil."
Bu Endang memandang putrinya dengan penuh kasih.
"Kamu selalu memikirkan orang lain."
Amelia tertawa pelan.
"Kalau desa senang, kita juga ikut senang."
Menjelang siang, halaman balai desa mulai dipenuhi warga.
Beberapa bapak sedang mengukur bambu yang akan dijadikan tiang gapura. Para ibu menyiapkan konsumsi, sementara para pemuda sibuk membersihkan halaman yang dipenuhi dedaunan kering.
"Han!"
Suara Niko terdengar dari kejauhan.
Ryahan yang baru tiba langsung menghampiri.
"Katanya kita disuruh membantu Pak Burhan."
Naryo datang sambil membawa sabit.
"Aku sudah siap dari rumah."
Tak lama kemudian Amelia, Anita, dan Liana tiba bersama Bu Endang.
Mereka membawa beberapa bakul berisi makanan.
Pak Burhan berdiri di tengah halaman sambil memegang daftar pekerjaan.
"Wah, lengkap sudah."
Beliau tersenyum melihat para pemuda berkumpul.
"Kalian ini harapan desa."
Ryahan dan kawan-kawan saling berpandangan.
Mereka belum pernah mendengar Pak Burhan berbicara setulus itu.
"Hari ini pekerjaan kita cukup banyak," lanjut Pak Burhan.
"Yang laki-laki membantu memasang gapura dan membersihkan halaman. Yang perempuan membantu Bu Ratna menata balai desa."
"Siap, Pak!" jawab mereka serempak.
Suasana langsung dipenuhi kesibukan.
Ryahan bersama Niko dan Naryo mengangkat batang-batang bambu.
Sesekali mereka bercanda sehingga membuat pekerjaan terasa ringan.
Di sisi lain, Amelia, Anita, dan Liana menyapu lantai balai desa, mencuci gelas, serta menata kursi-kursi untuk acara syukuran.
Beberapa kali Ryahan dan Amelia saling bertemu ketika mengambil air di sumur belakang balai desa.
"Capek?" tanya Amelia sambil menyerahkan segelas air minum.
Ryahan menerimanya dengan sedikit gugup.
"Masih kuat."
Amelia tersenyum.
"Kalau begitu semangat."
"Terima kasih."
Percakapan itu hanya berlangsung beberapa detik.
Namun cukup membuat wajah Ryahan memerah.
Niko yang melihat dari kejauhan langsung menyenggol bahu sahabatnya.
"Wah..."
"Apa?"
"Airnya manis?"
Ryahan pura-pura tidak mengerti.
"Air ya tetap air."
Niko tertawa.
"Kalau yang memberi Amelia, rasanya pasti beda."
Ryahan hanya menggeleng sambil tersenyum malu.
Menjelang sore, pekerjaan mulai memasuki tahap akhir.
Gapura bambu berdiri kokoh di depan balai desa.
Anak-anak kecil bertepuk tangan melihat hasil kerja para pemuda.
Pak Burhan tampak puas.
"Bagus."
Beliau memandang Ryahan.
"Kamu ternyata pandai bekerja."
Ryahan merendahkan kepala.
"Saya hanya membantu, Pak."
"Itulah yang membuatmu berbeda."
Ryahan sedikit bingung.
"Berbeda bagaimana?"
"Kamu bekerja tanpa ingin dipuji."
Kalimat itu membuat Ryahan terdiam.
Pak Burhan menepuk bahunya.
"Pertahankan sifat itu."
Tak jauh dari tempat mereka berdiri, Amelia memperhatikan percakapan tersebut.
Dalam hatinya tumbuh rasa kagum yang sulit dijelaskan.
Ryahan bukan pemuda yang pandai merangkai kata-kata.
Ia juga bukan anak orang berada.
Tetapi setiap orang yang mengenalnya selalu merasa nyaman berada di dekatnya.
Sikapnya sederhana.
Rendah hati.
Dan tidak pernah membanggakan diri.
Entah sejak kapan, Amelia mulai menyadari bahwa setiap kali melihat Ryahan tersenyum, hatinya ikut merasa tenang.
Di bawah pohon mangga yang berada tidak jauh dari balai desa, seseorang memperhatikan semua itu dengan wajah yang berubah masam.
Indra menggenggam erat sebatang ranting hingga patah di tangannya.
"Lihat mereka."
Rinto yang berdiri di sampingnya tersenyum tipis.
"Semakin dekat."
Susianti ikut menimpali,
"Kalau dibiarkan, sebentar lagi seluruh desa akan mendukung mereka."
Indra tidak menjawab.
Tatapannya tetap tertuju kepada Ryahan yang sedang membantu Pak Burhan membereskan peralatan.
Di dalam dadanya mulai tumbuh sesuatu yang berbahaya.
Bukan sekadar rasa iri.
Melainkan keinginan untuk memiliki apa yang dimiliki orang lain.
Dan keinginan itu perlahan berubah menjadi ambisi.
"Aku tidak akan kalah."
Suara Indra terdengar pelan.
Rinto menoleh.
"Kamu sudah punya rencana?"
Indra tersenyum tipis.
"Belum."
"Tapi setiap orang..."
Ia memandang Ryahan tanpa berkedip.
"...pasti memiliki titik lemah."
Senyumnya semakin tipis.
"Tinggal menunggu waktu yang tepat."
Angin kemarau berembus pelan, membawa daun-daun kering melintasi halaman balai desa.
Di satu sisi, persahabatan dan benih-benih cinta semakin tumbuh di antara Ryahan dan Amelia.
Namun di sisi lain, tanpa mereka sadari, kebencian mulai mencari celah untuk menghancurkan semua kebahagiaan itu.
Dan musim kemarau yang semula terasa hangat, perlahan menjadi pertanda bahwa badai pertama sedang bersiap datang.
Matahari mulai condong ke ufuk barat. Cahaya keemasannya menyinari hamparan sawah yang menguning, menciptakan pemandangan yang begitu indah di Desa Sumber Waras. Angin kemarau berembus pelan, menggoyangkan bulir-bulir padi yang siap dipanen beberapa minggu lagi.
Suasana di balai desa perlahan kembali lengang setelah seluruh pekerjaan selesai.
Para warga mulai berpamitan untuk pulang. Sebagian memikul cangkul di pundak, sebagian lagi membawa peralatan gotong royong sambil bercanda di sepanjang jalan desa.
"Alhamdulillah... akhirnya selesai juga."
Pak Burhan memandang gapura bambu yang baru saja berdiri kokoh di depan balai desa.
"Terima kasih semuanya."
"Ini hasil kerja kita bersama, Pak," jawab Pak Rahmat sambil tersenyum.
Pak Burhan mengangguk.
"Itulah yang selalu saya banggakan dari Desa Sumber Waras. Selama masyarakat masih mau bergotong royong, desa ini tidak akan pernah kehilangan harapan."
Ucapan itu disambut anggukan hampir seluruh warga.
Ryahan yang sedang menggulung tali tambang hanya tersenyum kecil. Dalam hati ia merasa bangga dapat menjadi bagian dari desa yang begitu menjunjung tinggi kebersamaan.
Di belakang balai desa terdapat sebuah sumur tua yang masih digunakan warga hingga kini.
Amelia datang membawa sebuah ember kecil untuk mencuci gelas-gelas yang dipakai selama gotong royong.
Saat ia hendak menimba air, ember itu tiba-tiba terlepas dari pegangan dan jatuh ke dalam sumur.
"Aduh..."
Amelia menghela napas pelan.
Belum sempat ia mencari cara mengambil ember tersebut, terdengar suara langkah kaki mendekat.
"Biar aku bantu."
Ryahan berdiri di sampingnya sambil membawa seutas tali.
"Kamu bisa?"
Ryahan tersenyum.
"Pak Rahmat pernah mengajariku."
Dengan hati-hati ia mengikat sepotong kawat kecil di ujung tali, lalu menurunkannya perlahan ke dasar sumur.
Beberapa saat kemudian...
"Kena."
Ryahan menarik tali itu perlahan.
Tak lama kemudian ember milik Amelia berhasil terangkat kembali.
Amelia tersenyum lega.
"Terima kasih."
"Sama-sama."
"Kalau bukan kamu, mungkin ember itu sudah tidak bisa diambil."
Ryahan tertawa kecil.
"Ember bisa dicari lagi."
Amelia menatapnya.
"Tapi tetap saja... terima kasih."
Tatapan mereka bertemu beberapa detik.
Tak ada kata-kata.
Hanya keheningan yang justru terasa begitu nyaman.
Angin sore berembus pelan, memainkan helaian rambut Amelia.
Untuk pertama kalinya, Ryahan merasa waktu seolah berhenti.
Ia ingin mengatakan sesuatu.
Namun setiap kali menatap mata Amelia, semua kata yang telah disusunnya di dalam hati seakan menghilang begitu saja.
"Ayo... nanti keburu gelap."
Suara Liana yang datang dari kejauhan memecahkan suasana.
Amelia mengangguk.
"Aku duluan."
Ryahan hanya mampu membalas dengan senyum.
"Ya..."
Ia memperhatikan Amelia berjalan menjauh hingga menghilang di balik halaman balai desa.
Tanpa ia sadari, senyum kecil masih tersisa di wajahnya.
"Han..."
Suara Niko terdengar dari belakang.
Ryahan sedikit terkejut.
"Sejak kapan kamu di situ?"
"Dari tadi."
Niko tertawa lebar.
"Aku kira kamu mau menyatakan cinta."
Ryahan langsung salah tingkah.
"Ngaco kamu."
"Terus kenapa senyum-senyum sendiri?"
Ryahan menggaruk belakang kepalanya.
"Aku cuma membantu mengambil ember."
"Yang jatuh embernya..."
Niko mendekat sambil tersenyum usil.
"...atau hatimu?"
Ryahan spontan melemparkan gulungan tali ke arah sahabatnya.
Niko menghindar sambil tertawa terbahak-bahak.
"Berarti benar!"
Naryo yang baru datang ikut tertawa.
"Kalian ini ribut sekali."
Niko menunjuk Ryahan.
"Coba lihat mukanya."
Naryo memperhatikan wajah Ryahan yang memerah.
"Hmm..."
Ia tersenyum.
"Kayaknya memang sudah ada yang berubah."
Ryahan menggeleng.
"Kalian terlalu banyak bercanda."
Meski berusaha menyangkal, jauh di dalam hatinya Ryahan mulai menyadari bahwa setiap bertemu Amelia, ada perasaan yang berbeda.
Perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Sementara itu, di rumah Pak Kusri...
Bu Endang sedang merapikan kue-kue yang tersisa.
"Capek, Mel?"
"Sedikit."
"Tapi senang."
Bu Endang memperhatikan putrinya yang tampak lebih ceria daripada biasanya.
"Ada yang membuatmu bahagia?"
Amelia tersenyum kecil.
"Tidak ada."
"Benarkah?"
Amelia hanya tertawa pelan.
Ia memilih membantu ibunya menyusun piring daripada menjawab pertanyaan itu.
Namun di dalam hati, bayangan Ryahan masih teringat jelas.
Sikapnya yang sederhana.
Caranya berbicara.
Ketulusannya membantu siapa saja tanpa diminta.
Semua itu membuat Amelia semakin mengenalnya.
Di sisi lain desa, suasana berbeda justru terlihat di sebuah warung kecil.
Indra duduk bersama Rinto dan Susianti.
Wajahnya tampak murung.
"Seharian mereka selalu bersama," kata Indra sambil mengepalkan tangan.
Rinto menyeruput kopinya.
"Kamu cemburu?"
"Bukan."
"Lalu?"
"Aku tidak suka melihat Ryahan selalu dipuji."
Susianti ikut menimpali.
"Orang-orang mulai membandingkan kalian."
Indra mendengus pelan.
"Padahal aku lebih mampu daripada dia."
Rinto menyeringai.
"Kalau hanya mengeluh, Amelia tidak akan berpaling kepadamu."
Indra memandang kedua sahabatnya.
"Lalu apa yang harus kulakukan?"
Rinto mendekat.
"Jangan serang Amelianya."
"Serang siapa?"
"Ryahan."
Indra terdiam.
Susianti menambahkan,
"Kalau nama baik Ryahan rusak..."
"...orang-orang juga akan berubah."
Kalimat itu membuat mata Indra berbinar.
Untuk pertama kalinya, ia merasa memiliki jalan.
Bukan jalan yang benar.
Melainkan jalan yang dipenuhi kebencian.
Malam mulai turun.
Langit Desa Sumber Waras dipenuhi bintang-bintang yang bertaburan.
Di beranda rumahnya, Pak Rahmat duduk menikmati secangkir kopi.
Ryahan ikut duduk di samping ayahnya.
"Kamu kelihatan senang hari ini."
Ryahan tersenyum.
"Gotong royongnya menyenangkan."
Pak Rahmat mengangguk pelan.
"Lingkungan yang baik akan membentuk hati yang baik."
Ryahan memperhatikan wajah ayahnya.
"Tapi ingat..."
Pak Rahmat melanjutkan.
"Semakin tinggi pohon menjulang..."
"...semakin kencang angin menerpanya."
Ryahan mengerutkan dahi.
"Apa maksud Bapak?"
Pak Rahmat memandang langit yang gelap.
"Dalam hidup ini, tidak semua orang akan senang melihat keberhasilanmu."
"Ada yang ikut bahagia."
"Ada pula yang diam-diam berharap kamu jatuh."
Ryahan mengangguk pelan.
Ia belum benar-benar memahami nasihat itu.
Ia tidak tahu bahwa beberapa meter dari rumahnya, seseorang memang sedang mulai berharap dirinya jatuh.
Di rumah Indra, lampu masih menyala hingga larut malam.
Di atas meja, tiga orang duduk mengelilingi secarik kertas.
Indra.
Rinto.
Dan Susianti.
Mereka mulai menyusun rencana pertama.
Sebuah rencana yang kelak menjadi awal dari fitnah, pengkhianatan, dan luka panjang yang akan mengubah kehidupan Ryahan, Amelia, serta seluruh sahabat mereka.
Di luar rumah, angin kemarau berembus semakin dingin.
Mentari telah lama tenggelam.
Namun tanpa disadari siapa pun, bayang-bayang gelap telah mulai menyelimuti perjalanan cinta yang baru saja tumbuh.
Dan dari sinilah...
takdir mulai memperlihatkan wajahnya yang sesungguhnya.
BAB III
SAHABAT SELAMANYA
Fajar baru saja merekah di ufuk timur ketika suara azan Subuh menggema dari surau kecil di Desa Sumber Waras. Embun masih membasahi rerumputan, sementara kabut tipis menggantung di atas hamparan sawah yang mulai menguning.
Pagi itu, desa tampak lebih hidup daripada biasanya.
Hari yang telah lama dinanti akhirnya tiba.
Musim panen telah datang.
Sejak matahari belum menampakkan wajahnya, para petani telah berbondong-bondong menuju sawah. Mereka membawa ani-ani, sabit, karung, dan bekal makanan. Tawa serta sapaan hangat terdengar di sepanjang jalan desa.
"Bismillah... semoga panennya melimpah."
Pak Rahmat menepuk bahu Ryahan sebelum keduanya melangkah menuju sawah.
"Amin, Pak."
Ryahan memanggul karung di pundaknya.
Baginya, musim panen bukan sekadar waktu untuk menuai hasil jerih payah, tetapi juga saat seluruh warga berkumpul dalam suasana penuh syukur.
Di petak sawah milik Pak Rahmat, bulir-bulir padi tampak merunduk berat.
Warna keemasannya berkilau diterpa cahaya mentari pagi.
Pak Rahmat tersenyum puas.
"Alhamdulillah."
Ryahan ikut memandang hamparan padi yang luas.
"Kerja keras Bapak tidak sia-sia."
Pak Rahmat menggeleng pelan.
"Bukan hanya kerja keras."
"Lalu?"
"Ini juga karena doa ibumu."
Ryahan menoleh.
Pak Rahmat kembali tersenyum.
"Dalam hidup, jangan pernah merasa berhasil sendirian."
Kalimat itu kembali menjadi pelajaran yang diam-diam disimpan Ryahan di dalam hati.
Tak lama kemudian, Niko dan Naryo datang membantu.
"Han!"
"Kami datang membawa tenaga tambahan."
Ryahan tertawa.
"Atau membawa selera makan?"
Niko langsung mengangguk.
"Dua-duanya."
Suasana sawah pun dipenuhi canda tawa.
Di sisi lain pematang, Anita, Liana, Amelia, Bu Talia, dan Bu Endang membantu menyiapkan makanan bagi para petani.
Meski pekerjaan cukup melelahkan, tak seorang pun mengeluh.
Karena bagi warga Desa Sumber Waras, panen adalah pesta kebersamaan.
Menjelang siang, matahari mulai terasa terik.
Para petani beristirahat di bawah pohon besar yang berdiri di pinggir sawah.
Tikar-tikar digelar.
Bekal makanan mulai dibuka.
Nasi hangat, ikan asin, sambal terasi, sayur bening, dan pisang rebus menjadi hidangan sederhana yang terasa begitu nikmat.
Niko menggigit kerupuk sambil berkata,
"Kalau setiap hari begini, aku betah jadi petani."
Naryo tertawa.
"Besok juga kamu mengeluh lagi."
"Tidak."
"Yakin?"
"Asal makannya tetap seperti ini."
Semua yang mendengar langsung tertawa.
Pak Burhan yang kebetulan datang menghampiri ikut tersenyum.
"Kalian ini... baru panen satu hari saja sudah banyak bercanda."
Ryahan berdiri menghormatinya.
"Silakan duduk, Pak."
Pak Burhan menerima segelas teh hangat dari Amelia.
"Terima kasih."
Beliau memandang wajah enam anak muda yang duduk melingkar di hadapannya.
Ada Ryahan.
Amelia.
Niko.
Naryo.
Anita.
Dan Liana.
Tatapan matanya berubah teduh.
"Kalian tahu..."
Semua memperhatikannya.
"Yang paling sulit dalam hidup bukan mencari teman."
"Lalu apa, Pak?" tanya Anita.
"Mempertahankan persahabatan."
Suasana mendadak hening.
Pak Burhan melanjutkan,
"Orang bisa tertawa bersama ketika hidupnya mudah."
"Tetapi..."
Beliau mengangkat telunjuknya.
"...tidak semua orang mampu tetap berjalan bersama ketika cobaan datang."
Kalimat itu membuat keenam sahabat tersebut saling berpandangan.
Belum ada yang benar-benar memahami maknanya.
Karena bagi mereka...
Persahabatan adalah sesuatu yang akan berlangsung selamanya.
Sore harinya, setelah seluruh pekerjaan selesai, keenam sahabat itu berjalan menuju sebuah bukit kecil di pinggir desa.
Bukit itu tidak tinggi.
Namun dari sana hampir seluruh Desa Sumber Waras dapat terlihat.
Hamparan sawah.
Rumah-rumah kayu.
Surau kecil.
Balai desa.
Dan jalan tanah yang membelah perkampungan.
Mereka duduk berjajar memandang matahari yang mulai turun perlahan.
"Indah sekali..." bisik Amelia.
Ryahan mengangguk.
"Dari sini desa kita kelihatan lebih cantik."
Niko merebahkan tubuhnya di atas rumput.
"Kalau nanti kita sudah berhasil..."
"Aku ingin membangun jalan yang bagus menuju desa."
Naryo menambahkan,
"Aku ingin sekolah di sini punya perpustakaan yang besar."
Anita tersenyum.
"Aku ingin tidak ada lagi ibu yang kesulitan melahirkan karena jauh dari tenaga kesehatan."
Liana berkata pelan,
"Aku ingin anak-anak desa bisa bermimpi setinggi mungkin."
Semua kemudian memandang Ryahan.
"Kamu bagaimana?"
Ryahan menatap langit yang mulai berwarna jingga.
"Aku ingin..."
Ia berhenti sejenak.
"...orang-orang tidak lagi memandang rendah anak desa."
Keheningan menyelimuti mereka.
Ryahan melanjutkan,
"Aku ingin suatu hari nanti..."
"...anak-anak Desa Sumber Waras bisa berhasil tanpa harus melupakan tempat mereka berasal."
Ucapan itu membuat Amelia tersenyum.
"Kalau begitu..."
Ia menatap Ryahan.
"...aku akan membantu mewujudkannya."
Ryahan menoleh.
Tatapan mereka bertemu.
Untuk beberapa saat, dunia seolah menjadi begitu sunyi.
Hanya suara angin yang berembus lembut melewati pepohonan.
Tanpa mereka sadari, benih-benih cinta telah tumbuh semakin dalam.
Namun jauh di balik rimbunnya pepohonan, sepasang mata sedang memperhatikan mereka.
Indra berdiri dengan wajah datar.
Di sampingnya, Rinto menyilangkan tangan.
"Mereka semakin akrab."
Indra mengepalkan tangan.
"Terlalu akrab."
Rinto tersenyum tipis.
"Kalau begitu..."
"Kita harus mulai bergerak."
Sorot mata Indra berubah tajam.
Ia menatap Ryahan tanpa berkedip.
Di dalam hatinya, sebuah keputusan telah lahir.
Persahabatan yang terlihat begitu indah itu...
akan ia hancurkan.
Apa pun caranya.
Dan tanpa disadari keenam sahabat yang sedang menikmati indahnya senja di atas bukit, hari itu menjadi hari terakhir mereka merasakan kebahagiaan tanpa bayang-bayang kebencian.
Karena setelah mentari tenggelam sore itu...
takdir mulai menuliskan babak baru yang jauh lebih kelam daripada yang pernah mereka bayangkan.
Senja telah benar-benar turun ketika enam sahabat itu masih duduk di atas bukit kecil yang menghadap ke arah Desa Sumber Waras. Cahaya jingga perlahan berubah menjadi ungu kehitaman. Lampu-lampu rumah warga mulai menyala satu per satu, tampak seperti bintang-bintang kecil yang bertebaran di permukaan bumi.
Tidak ada seorang pun yang ingin segera pulang.
Keheningan justru membuat mereka menikmati kebersamaan yang mungkin suatu hari akan menjadi kenangan.
Niko mengambil beberapa batu kecil, lalu melemparkannya ke arah lereng bukit.
"Kalau dipikir-pikir..."
"Apa?" tanya Liana.
"Waktu cepat sekali berjalan."
Naryo mengangguk.
"Rasanya baru kemarin kita bermain layang-layang di lapangan."
"Padahal sekarang kita sudah mulai memikirkan masa depan," sahut Anita.
Amelia tersenyum tipis.
"Mungkin memang begitu hidup."
"Kita tumbuh tanpa pernah menyadari kapan masa kecil itu pergi."
Ryahan yang sejak tadi memandangi langit akhirnya ikut berbicara.
"Tapi ada satu hal yang semoga tidak berubah."
Kelima sahabatnya menoleh.
"Persahabatan kita."
Suasana kembali hening.
Angin sore bertiup perlahan, mengibaskan dedaunan kering yang berguguran di sekitar mereka.
"Han..."
Niko memecah keheningan.
"Kalau nanti benar-benar ada di antara kita yang merantau, apa kamu tidak takut kita akan saling melupakan?"
Ryahan menggeleng pelan.
"Orang boleh pergi sejauh apa pun."
"Tetapi kenangan tidak pernah ikut pergi."
Naryo tersenyum.
"Itu kata-kata yang bagus."
Ryahan tertawa kecil.
"Itu kata Bapak."
Pak Rahmat memang sering mengajarkan bahwa persahabatan bukan diukur dari seberapa sering bertemu, melainkan seberapa tulus hati tetap saling mendoakan ketika dipisahkan oleh jarak.
Amelia memandang Ryahan dengan tatapan kagum.
Ia semakin memahami mengapa pemuda itu begitu berbeda.
Ryahan tidak pernah berbicara tentang kekayaan.
Tidak pernah membanggakan dirinya.
Yang selalu keluar dari mulutnya hanyalah keluarga, persahabatan, dan desa.
Tak lama kemudian, Anita mengeluarkan sebuah buku kecil dari dalam tasnya.
"Aku punya ide."
Semua memperhatikannya.
"Kita tulis cita-cita kita masing-masing."
"Buat apa?" tanya Niko.
"Supaya suatu hari nanti kita bisa membacanya lagi."
Liana mengangguk antusias.
"Itu ide bagus."
Anita membuka halaman pertama.
Kemudian menuliskan namanya.
Anita – Menjadi bidan yang mengabdi di desa.
Buku itu berpindah ke tangan Liana.
Ia menulis dengan rapi.
Liana – Mendirikan perpustakaan untuk anak-anak Desa Sumber Waras.
Kemudian Naryo.
Naryo – Menjadi guru yang mencerdaskan generasi desa.
Niko tertawa sendiri saat menulis.
Niko – Menjadi pengusaha sukses yang membuka lapangan pekerjaan di kampung halaman.
Giliran Ryahan.
Ia memegang pena beberapa saat.
Lalu menulis perlahan.
Ryahan – Menjadi orang yang mampu membahagiakan kedua orang tua dan membangun Desa Sumber Waras agar lebih maju tanpa kehilangan nilai-nilai persaudaraan.
Amelia menjadi orang terakhir.
Ia membaca tulisan Ryahan beberapa saat sebelum mulai menulis.
Amelia – Menjadi perempuan yang bermanfaat bagi banyak orang, mendampingi orang-orang yang kucintai dalam mewujudkan mimpi mereka, dan tidak pernah melupakan tempat aku berasal.
Ryahan diam-diam membaca tulisan Amelia.
Entah mengapa, kalimat terakhir itu membuat dadanya terasa hangat.
"Bagaimana kalau buku ini kita simpan?" kata Anita.
"Di mana?" tanya Naryo.
Niko menunjuk pohon trembesi tua yang berdiri tidak jauh dari tempat mereka duduk.
"Itu."
"Pohon itu sudah ada sejak kita kecil."
Liana tersenyum.
"Kalau begitu, suatu hari nanti kita kembali ke sini."
"Ketika semua mimpi kita sudah tercapai."
Mereka sepakat.
Naryo menggali tanah kecil di dekat akar pohon menggunakan sepotong kayu.
Buku itu dimasukkan ke dalam sebuah kotak kaleng bekas biskuit yang dibawa Anita.
Kemudian mereka menguburnya bersama-sama.
Pak Burhan yang kebetulan melintas sepulang dari sawah memperhatikan mereka dari kejauhan.
"Apa yang kalian lakukan?"
Ryahan berdiri.
"Kami mengubur mimpi kami, Pak."
Pak Burhan tersenyum bingung.
"Mengubur?"
"Bukan untuk dilupakan."
Ryahan tersenyum.
"Tetapi supaya suatu hari nanti kami kembali mengambilnya ketika mimpi itu sudah menjadi kenyataan."
Pak Burhan tertawa kecil.
"Anak-anak muda memang penuh harapan."
Beliau memandang keenam sahabat itu satu per satu.
"Lalu apa janji kalian?"
Ryahan menoleh kepada sahabat-sahabatnya.
Tanpa dikomando, mereka berdiri membentuk lingkaran kecil.
Ryahan mengulurkan tangan.
Satu demi satu tangan sahabatnya ikut bertumpuk.
Ryahan.
Niko.
Naryo.
Anita.
Liana.
Dan terakhir...
Amelia.
"Mulai hari ini..."
ucap Ryahan dengan suara mantap.
"Kita berjanji."
"Untuk apa pun yang terjadi..."
sambung Niko.
"...kita tidak akan saling meninggalkan."
"Kalau ada yang jatuh..."
kata Anita.
"...yang lain harus mengangkat."
"Kalau ada yang berhasil..."
lanjut Naryo.
"...yang lain ikut bersyukur."
"Kalau ada yang lupa jalan pulang..."
ucap Liana.
"...yang lain harus mengingatkan."
Semua mata kemudian tertuju kepada Amelia.
Dengan mata yang berkaca-kaca, Amelia berkata pelan,
"Dan kalau suatu hari nanti hidup memisahkan kita..."
Ia menarik napas panjang.
"...semoga hati kita tetap menemukan jalan untuk kembali."
Keenam tangan itu saling menggenggam semakin erat.
Tak seorang pun menyadari bahwa janji yang mereka ucapkan sore itu akan diuji oleh waktu dengan cara yang sangat menyakitkan.
Beberapa puluh meter dari bukit itu, Indra kembali memperhatikan mereka.
Wajahnya semakin gelap.
"Aku muak melihat mereka."
Rinto menyeringai.
"Tenang."
"Semuanya ada waktunya."
Susianti menatap ke arah Amelia.
"Yang membuat Ryahan kuat bukan hanya Amelia."
"Lalu?"
"Persahabatan mereka."
Indra mengangguk perlahan.
Tatapannya berubah tajam.
"Kalau begitu..."
Ia mengepalkan tangan.
"...persahabatan itu yang akan kuhancurkan lebih dulu."
Rinto tersenyum puas.
"Itu baru rencana yang bagus."
Mereka bertiga kemudian berjalan meninggalkan bukit.
Tak seorang pun dari keenam sahabat itu melihat kepergian mereka.
Malam menyelimuti Desa Sumber Waras.
Langit dipenuhi jutaan bintang.
Di beranda rumahnya, Pak Rahmat duduk ditemani secangkir kopi.
Ryahan menghampiri dan duduk di samping ayahnya.
"Capek?"
"Sedikit."
Pak Rahmat tersenyum.
"Tapi wajahmu kelihatan bahagia."
Ryahan mengangguk.
"Hari ini kami membuat janji."
"Janji apa?"
"Untuk tetap menjadi sahabat selamanya."
Pak Rahmat terdiam beberapa saat.
Kemudian beliau memandang langit.
"Jagalah janji itu."
"Karena dalam hidup..."
"...mencari sahabat jauh lebih mudah daripada mempertahankannya."
Ryahan mengangguk mantap.
Di dalam hatinya, ia benar-benar percaya bahwa tidak ada kekuatan yang mampu memisahkan persahabatan mereka.
Namun malam itu...
di tempat lain...
tiga orang telah mulai menyusun langkah pertama untuk menghancurkan ikatan yang baru saja mereka kukuhkan.
Dan tanpa disadari siapa pun...
sumpah enam sahabat yang diucapkan di bawah langit Desa Sumber Waras akan menjadi janji yang paling berat untuk mereka tepati.
BAB IV
BENIH-BENIH CINTA
Musim kemarau masih menyelimuti Desa Sumber Waras.
Hamparan padi yang beberapa hari lalu menguning kini hampir seluruhnya telah dipanen. Di beberapa sudut desa tampak para petani menjemur gabah di halaman rumah, sementara anak-anak berlarian bermain di antara tumpukan jerami yang menggunung. Aroma padi yang baru dipanen memenuhi udara, menghadirkan suasana yang selalu dirindukan setiap kali musim panen tiba.
Pagi itu, Desa Sumber Waras tampak lebih semarak.
Balai desa sedang dipersiapkan untuk Malam Syukuran Panen, sebuah tradisi yang telah diwariskan turun-temurun sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas rezeki yang diberikan. Seluruh warga terlibat dalam persiapan. Ada yang memasang umbul-umbul, menghias panggung sederhana, membersihkan halaman, hingga menyiapkan berbagai hidangan untuk acara malam nanti.
Sejak matahari belum tinggi, Ryahan telah berada di balai desa bersama Niko dan Naryo.
"Ayo, Han... bambunya diangkat ke sebelah sana."
Niko menunjuk beberapa batang bambu yang akan dijadikan tiang lampion.
Ryahan mengangguk.
"Bantu pegang ujungnya."
Mereka bertiga bekerja dengan penuh semangat.
Sesekali terdengar tawa ketika bambu yang mereka angkat hampir mengenai kepala Naryo.
"Pelan-pelan!"
protes Naryo sambil mengusap rambutnya.
"Kalau kepalaku benjol, siapa yang mau jadi guru nanti?"
Niko langsung tertawa terbahak-bahak.
"Tenang saja."
"Masih banyak murid yang mau belajar sama guru berkepala benjol."
Ryahan ikut tertawa.
Suasana penuh canda membuat pekerjaan terasa ringan.
Di dalam balai desa, para ibu sedang sibuk memasak.
Aroma gulai ayam kampung, sayur lodeh, ikan bakar, dan berbagai kue tradisional memenuhi ruangan.
Amelia, Anita, dan Liana membantu Bu Ratna membungkus makanan.
"Mel..."
bisik Anita sambil tersenyum jahil.
"Apa?"
"Tadi Ryahan terus melihat ke arah sini."
Amelia yang sedang menyusun piring langsung berhenti.
"Ah... kamu mengada-ada."
"Bukan aku saja yang lihat."
Liana ikut mengangguk.
"Iya."
"Waktu kamu mengambil air tadi, dia juga melihatmu."
Wajah Amelia perlahan memerah.
"Kalian ini..."
Ia mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Kita masih banyak pekerjaan."
Namun kedua sahabatnya hanya saling berpandangan sambil menahan tawa.
Bu Ratna yang melihat tingkah mereka ikut tersenyum.
"Anak-anak muda memang begitu."
Ketiganya langsung tersipu malu.
Menjelang siang, matahari bersinar semakin terik.
Pak Burhan meminta beberapa pemuda mengambil daun kelapa muda di kebun sebelah untuk membuat hiasan pintu masuk balai desa.
"Ryahan."
"Iya, Pak."
"Ajak Amelia sekalian."
Ryahan sedikit terkejut.
"Saya... sama Amelia?"
"Iya."
"Dia lebih tahu memilih daun yang bagus."
Ryahan mengangguk pelan.
"Baik, Pak."
Tak lama kemudian mereka berjalan berdampingan menuju kebun kelapa yang berada sekitar lima ratus meter dari balai desa.
Untuk beberapa saat, keduanya hanya berjalan tanpa berbicara.
Suara langkah kaki mereka berpadu dengan desir angin yang menggoyangkan dedaunan.
Amelia akhirnya memecah keheningan.
"Kamu capek?"
Ryahan tersenyum.
"Sedikit."
"Tapi menyenangkan."
"Kenapa?"
"Karena semua warga bekerja bersama."
Amelia mengangguk.
"Aku juga suka suasana seperti ini."
Beberapa langkah kemudian mereka tiba di kebun.
Ryahan memanjat salah satu pohon kelapa dengan cekatan.
Sementara Amelia menunggu di bawah sambil memegang karung.
"Hati-hati."
"Iya."
Ryahan mulai memotong beberapa helai daun kelapa muda.
Saat hendak turun, tiba-tiba salah satu pijakannya terlepas.
"Han!"
Amelia spontan menjerit.
Tubuh Ryahan sempat tergelincir beberapa sentimeter sebelum berhasil kembali berpegangan.
Jantung Amelia berdegup sangat kencang.
Ryahan berhasil turun dengan selamat.
Begitu kedua kakinya menginjak tanah, Amelia langsung menghampirinya.
"Kamu tidak apa-apa?"
Ryahan tersenyum, meski napasnya masih memburu.
"Tidak."
"Tapi tadi..."
"Aku hanya terpeleset."
Amelia menghela napas lega.
"Jangan membuat orang lain khawatir."
Kalimat itu keluar begitu saja.
Ryahan menatap Amelia.
Untuk pertama kalinya ia melihat mata gadis itu dipenuhi rasa cemas.
Bukan cemas karena pekerjaan.
Melainkan cemas karena dirinya.
Perasaan hangat menjalar di dalam dadanya.
"Aku baik-baik saja."
Amelia menundukkan kepala.
"Syukurlah."
Mereka kembali berjalan menuju balai desa.
Namun suasana telah berubah.
Bukan lagi keheningan yang canggung.
Melainkan keheningan yang dipenuhi rasa nyaman.
Sejak kejadian itu, Ryahan mulai menyadari sesuatu.
Setiap kali berada di dekat Amelia, langkahnya terasa lebih ringan.
Suara gadis itu mampu menenangkan pikirannya.
Senyumnya membuat hari yang melelahkan menjadi lebih indah.
Ia belum pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya.
Dan tanpa ia sadari...
benih-benih cinta mulai tumbuh perlahan di dalam hatinya.
Dari kejauhan, seseorang melihat semua peristiwa itu.
Indra berdiri di balik pohon rambutan yang tidak jauh dari jalan setapak.
Tatapannya tajam.
Tangannya mengepal kuat.
Ia melihat bagaimana Amelia berlari menghampiri Ryahan ketika pemuda itu hampir terjatuh.
Ia melihat kepanikan di wajah Amelia.
Ia juga melihat senyum yang muncul setelah Ryahan selamat.
"Jadi benar..."
gumam Indra lirih.
"Dia benar-benar menyukai Ryahan."
Tak lama kemudian Rinto datang menghampiri.
"Kamu melihatnya?"
Indra mengangguk tanpa mengalihkan pandangan.
"Sudah tidak ada keraguan lagi."
Rinto menyeringai tipis.
"Lalu?"
Indra menarik napas panjang.
"Kalau Amelia tidak bisa menjauh dari Ryahan..."
Sorot matanya berubah dingin.
"...aku akan membuat Ryahan yang dijauhkan dari Amelia."
Rinto tersenyum puas.
"Itu baru namanya permainan."
Di balik langit cerah Desa Sumber Waras, tak ada seorang pun yang mengetahui bahwa cinta yang sedang tumbuh perlahan juga sedang menarik datangnya badai.
Sementara Ryahan dan Amelia mulai belajar memahami perasaan mereka masing-masing, seseorang di balik bayang-bayang telah bersiap menabur benih kebencian yang suatu hari akan mengubah hidup mereka untuk selamanya.
Malam yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba.
Balai Desa Sumber Waras berubah menjadi pusat keramaian. Deretan lampion dari bambu dan botol kaca bekas yang dihiasi lampu minyak bergantung di sepanjang halaman. Umbul-umbul berwarna merah dan putih berkibar pelan tertiup angin malam. Aroma masakan tradisional yang dimasak sejak pagi memenuhi udara, bercampur dengan tawa dan sapaan hangat warga yang datang bersama keluarga mereka.
Anak-anak berlarian di halaman sambil memainkan baling-baling bambu.
Para pemuda sibuk mengatur kursi.
Sementara para ibu menyusun hidangan di atas meja panjang yang berjajar rapi.
"Alhamdulillah... akhirnya selesai juga."
Bu Ratna mengusap peluh di dahinya.
Amelia tersenyum.
"Semoga acaranya lancar, Bu."
"Amin."
Tak jauh dari mereka, Ryahan bersama Niko dan Naryo sedang memasang lampu terakhir di panggung sederhana yang akan digunakan untuk sambutan Kepala Desa dan pentas kesenian warga.
"Han, coba lihat."
Niko menunjuk ke arah langit.
"Bintangnya banyak sekali malam ini."
Ryahan mendongak.
Langit benar-benar cerah.
Bulan purnama menggantung indah di antara ribuan bintang.
"Semoga pertanda baik," gumamnya.
Sesaat kemudian suara kentongan dipukul bertalu-talu.
Warga yang masih berada di luar balai desa segera berkumpul.
Pak Burhan melangkah menuju panggung sederhana.
Beliau mengenakan kemeja putih dan peci hitam yang biasa dipakai pada acara-acara penting desa.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh."
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh."
Suara warga menjawab serempak.
Pak Burhan tersenyum.
"Malam ini kita berkumpul bukan hanya untuk merayakan hasil panen."
Beliau memandang seluruh warga.
"Kita juga bersyukur karena Desa Sumber Waras masih diberikan persaudaraan yang kuat."
Tepuk tangan pun bergema.
"Panen boleh selesai."
"Tetapi semangat gotong royong jangan pernah berakhir."
Ucapan itu kembali disambut tepuk tangan yang lebih meriah.
Ryahan memandang wajah-wajah warga yang dipenuhi kebahagiaan.
Di sampingnya berdiri Amelia.
Tanpa sengaja, tangan mereka hampir bersentuhan ketika sama-sama bertepuk tangan.
Keduanya spontan saling memandang.
Lalu sama-sama tersenyum malu.
Acara berlanjut dengan penampilan anak-anak desa yang membawakan lagu daerah.
Gelak tawa terdengar ketika beberapa anak kecil lupa lirik dan saling mendorong temannya untuk bernyanyi lebih keras.
Suasana menjadi semakin hangat.
Setelah itu, para pemuda menampilkan pertunjukan musik sederhana menggunakan gitar dan kendang.
Niko yang memegang gitar tiba-tiba berseru dari atas panggung.
"Ryahan!"
Ryahan yang sedang duduk bersama warga langsung menoleh.
"Sini!"
"Ada apa?"
"Bantu nyanyi."
Ryahan langsung menggeleng.
"Aku tidak bisa."
"Bisa."
"Tidak."
Seluruh warga justru ikut memberi semangat.
"Ayo, Han!"
"Ayo!"
Karena terus didesak, Ryahan akhirnya naik ke atas panggung.
Ia menerima mikrofon dengan wajah yang sedikit gugup.
Niko mulai memetik gitar.
Lagu yang dimainkan adalah lagu lama tentang kampung halaman dan harapan.
Suara Ryahan memang tidak luar biasa.
Namun terdengar jujur dan penuh penghayatan.
Saat menyanyikan bait terakhir, pandangannya tanpa sadar tertuju kepada Amelia.
Amelia yang sejak tadi duduk di barisan depan ikut memperhatikan.
Tatapan mereka kembali bertemu.
Entah mengapa, lirik lagu itu terasa seperti mewakili isi hati yang belum pernah mereka ungkapkan.
Setelah lagu selesai, tepuk tangan panjang memenuhi balai desa.
"Wah..."
Pak Rahmat tersenyum bangga.
"Ternyata anakku bisa bernyanyi juga."
Bu Talia tertawa kecil.
"Mungkin karena malam ini ada yang membuat semangat."
Pak Rahmat menoleh sambil tersenyum penuh arti.
Usai acara hiburan, warga dipersilakan menikmati hidangan bersama.
Ryahan mengambil sepiring nasi, lalu duduk di bawah pohon mangga di samping balai desa.
Tak lama kemudian Amelia datang membawa segelas teh hangat.
"Boleh duduk?"
Ryahan sedikit gugup.
"Tentu."
Amelia duduk dengan jarak yang masih menjaga sopan santun.
Untuk beberapa saat mereka menikmati makan malam tanpa banyak berbicara.
Suasana malam terasa begitu damai.
"Terima kasih tadi."
Ryahan menoleh.
"Untuk apa?"
"Sudah membantu sejak pagi."
Ryahan tersenyum.
"Kamu juga."
"Aku hanya membantu di dapur."
"Itu juga pekerjaan yang penting."
Amelia memandang ke arah lampion-lampion yang bergoyang tertiup angin.
"Kadang aku berpikir..."
"Apa?"
"Apakah nanti kita masih bisa melihat suasana seperti ini?"
Ryahan mengikuti arah pandang Amelia.
"Maksudmu?"
"Kalau nanti kita sudah dewasa."
"Sudah bekerja."
"Atau mungkin..."
Ia berhenti sejenak.
"...harus meninggalkan desa."
Ryahan terdiam.
Pertanyaan itu mengingatkannya pada janji yang pernah mereka ucapkan bersama sahabat-sahabatnya.
"Aku tidak tahu."
Jawabannya pelan.
"Tapi aku percaya..."
"Apa?"
"Selama hati kita masih mencintai desa ini..."
"...kita pasti akan menemukan jalan untuk pulang."
Amelia tersenyum.
Jawaban itu sederhana.
Namun cukup membuat hatinya merasa tenang.
Tidak jauh dari tempat mereka duduk, Indra kembali memperhatikan.
Wajahnya semakin sulit menyembunyikan rasa iri.
"Semakin hari semakin dekat."
Rinto mengangguk.
"Kalau terus begini, kamu tidak punya kesempatan."
Susianti menyilangkan tangan.
"Sudah saatnya kita mulai."
Indra memandang Ryahan yang sedang berbincang dengan Amelia.
Tatapannya berubah dingin.
"Aku akan membuat seluruh desa berhenti mempercayainya."
"Bagaimana caranya?" tanya Rinto.
Indra tersenyum tipis.
"Bukan dengan kekuatan."
"Bukan dengan kekayaan."
"Lalu?"
"Dengan fitnah."
Rinto dan Susianti saling berpandangan.
Senyum tipis muncul di wajah mereka.
Malam syukuran panen yang penuh kebahagiaan itu menjadi saksi lahirnya sebuah rencana yang kelak akan mengubah kehidupan banyak orang.
Acara selesai menjelang tengah malam.
Warga satu per satu kembali ke rumah masing-masing.
Lampion mulai dipadamkan.
Balai desa kembali sunyi.
Ryahan berjalan pulang bersama Pak Rahmat dan Bu Talia.
Di belakang mereka, Amelia berjalan bersama Pak Kusri dan Bu Endang.
Sebelum berpisah di pertigaan jalan, Ryahan dan Amelia sempat saling menoleh.
Tak ada ucapan selamat malam.
Tak ada janji.
Hanya senyum kecil yang perlahan tumbuh menjadi bahasa yang mulai dipahami oleh hati mereka masing-masing.
Malam itu, cinta tidak lahir melalui kata-kata.
Ia tumbuh melalui perhatian, kepedulian, dan ketulusan yang sederhana.
Namun di balik indahnya cahaya bulan yang menyinari Desa Sumber Waras, tiga orang sedang tersenyum dengan maksud yang berbeda.
Indra, Rinto, dan Susianti telah memutuskan bahwa kebahagiaan Ryahan tidak boleh berlangsung terlalu lama.
Mereka mulai menyusun fitnah pertama.
Fitnah yang akan menjadi awal dari luka panjang, meretakkan persahabatan, menguji cinta, dan membawa semua tokoh menuju takdir yang tidak pernah mereka bayangkan.
BAB V
DATANGNYA BAYANGAN KELAM
Beberapa hari telah berlalu sejak malam syukuran panen.
Kehidupan di Desa Sumber Waras kembali berjalan seperti biasa. Pagi hari diisi dengan aktivitas warga yang berangkat ke sawah dan kebun, siang digunakan untuk menjemur gabah hasil panen, sedangkan sore menjadi waktu berkumpul di balai desa atau di beranda rumah sambil menikmati secangkir kopi.
Sekilas, tidak ada yang berubah.
Namun tanpa disadari siapa pun, sebuah benih kebencian mulai tumbuh perlahan di dalam hati seseorang.
Benih yang lahir bukan karena kekurangan.
Melainkan karena rasa iri.
Pagi itu Ryahan sedang membantu Pak Rahmat memperbaiki pagar kebun yang rusak diterjang angin beberapa hari sebelumnya.
"Pegang papan itu, Han."
"Baik, Pak."
Ryahan memaku papan-papan kayu dengan teliti.
Pak Rahmat memperhatikannya sambil tersenyum.
"Tanganmu sudah semakin terampil."
"Semua karena Bapak yang mengajari."
Pak Rahmat menggeleng pelan.
"Ayah hanya menunjukkan caranya."
"Yang membuatmu bisa adalah karena kamu mau belajar."
Ryahan tersenyum.
Sejak kecil ia memang diajarkan bahwa pekerjaan apa pun harus dilakukan dengan sungguh-sungguh.
Baginya, bekerja bukan hanya untuk mencari nafkah.
Tetapi juga bentuk rasa syukur atas kehidupan.
Di rumah Pak Kusri, Amelia sedang membantu Bu Endang menjemur gabah.
Cuaca cerah membuat pekerjaan mereka cepat selesai.
"Mel."
"Iya, Bu?"
"Kamu akhir-akhir ini sering ke balai desa."
Amelia tersenyum.
"Kan sedang banyak kegiatan."
Bu Endang mengangguk pelan.
"Lalu..."
Beliau memperhatikan wajah putrinya.
"Bagaimana menurutmu Ryahan?"
Pertanyaan itu membuat Amelia terdiam.
"Kenapa Ibu bertanya begitu?"
"Hanya ingin tahu."
Amelia menundukkan kepala.
"Dia orang baik."
"Hanya itu?"
Amelia kembali tersenyum kecil.
"Iya."
Bu Endang tidak melanjutkan pertanyaannya.
Namun sebagai seorang ibu, ia mulai memahami perubahan kecil pada sorot mata putrinya setiap kali nama Ryahan disebut.
Siang harinya, Pak Burhan mengundang beberapa pemuda ke balai desa.
Ada rencana pembangunan taman kecil di depan balai desa sebagai tempat berkumpul warga.
Ryahan, Niko, Naryo, Anita, dan Liana datang lebih awal.
Amelia menyusul beberapa menit kemudian membawa buku catatan.
"Terima kasih kalian sudah datang," ujar Pak Burhan.
Beliau membentangkan gambar sederhana di atas meja.
"Kalau taman ini jadi, anak-anak bisa bermain di sini. Orang tua juga punya tempat untuk bermusyawarah."
Ryahan memperhatikan gambar itu dengan serius.
"Menurut saya, di sebelah sini bisa ditanam pohon peneduh."
Pak Burhan mengangguk.
"Ide bagus."
Liana menambahkan,
"Kalau diberi bangku kayu, warga bisa duduk sambil membaca."
Anita tersenyum.
"Anak-anak juga bisa belajar di sini."
Pak Burhan terlihat semakin senang.
"Persis seperti yang saya bayangkan."
Tak jauh dari mereka, Amelia mencatat setiap usulan dengan rapi.
Sesekali ia bertukar pendapat dengan Ryahan.
Mereka tampak begitu serasi ketika berdiskusi.
Sikap saling menghargai membuat pembicaraan berjalan lancar.
Semuanya terlihat begitu alami.
Namun pemandangan itu justru menjadi duri bagi seseorang yang berdiri di luar balai desa.
Indra.
Ia memperhatikan dari balik jendela.
Semakin lama wajahnya semakin tegang.
"Apa lagi yang mereka bicarakan?" gumamnya.
Tak lama kemudian Rinto datang sambil membawa sebatang rokok.
"Kamu masih mengawasi mereka?"
Indra tidak menjawab.
Tatapannya tetap tertuju kepada Ryahan dan Amelia.
"Lihat sendiri."
Rinto melirik ke dalam balai desa.
"Wah..."
"Kelihatannya mereka cocok."
Ucapan itu justru membuat wajah Indra semakin gelap.
"Aku muak mendengarnya."
Rinto mengembuskan asap rokoknya perlahan.
"Kalau begitu jangan hanya melihat."
"Lakukan sesuatu."
Indra memandang sahabatnya.
"Apa?"
Rinto tersenyum tipis.
"Orang desa paling mudah percaya pada cerita."
"Maksudmu?"
"Cukup buat satu cerita."
"Kalau cerita itu dipercaya banyak orang..."
"...sisanya akan berjalan sendiri."
Indra terdiam cukup lama.
Sementara itu Susianti datang membawa sebotol minuman.
"Kalian sedang membicarakan Ryahan?"
Rinto mengangguk.
Susianti tersenyum licik.
"Aku punya ide."
Keduanya langsung menoleh.
"Amelia adalah gadis yang disukai banyak orang."
"Lalu?"
"Kalau nama Ryahan dibuat buruk..."
"...keluarga Amelia pasti akan mulai menjauh."
Indra perlahan tersenyum.
Senyum yang kali ini tidak lagi dipenuhi keraguan.
Melainkan keyakinan.
"Kita mulai sekarang."
Menjelang sore, rapat di balai desa selesai.
Pak Burhan menutup buku catatannya.
"Terima kasih atas semua masukannya."
"Taman ini akan kita bangun bersama minggu depan."
Ryahan dan teman-temannya mengangguk senang.
Mereka keluar dari balai desa sambil membicarakan rencana penanaman bunga dan pohon peneduh.
"Aku ingin menanam bunga kertas," kata Liana.
"Aku lebih suka pohon ketapang," sahut Naryo.
"Kalau aku..."
Niko tersenyum.
"...yang penting ada tempat duduk."
Semua tertawa.
Amelia ikut tersenyum melihat tingkah sahabat-sahabatnya.
Di tengah perjalanan, Ryahan melihat seorang nenek sedang kesulitan mengangkat sekarung gabah.
"Nek..."
"Biar saya bantu."
Tanpa berpikir panjang, ia segera memanggul karung itu hingga ke rumah sang nenek.
"Terima kasih, Nak."
"Sama-sama, Nek."
Pemandangan itu dilihat oleh beberapa warga.
Mereka tersenyum bangga.
"Ryahan memang anak yang baik."
"Iya."
"Pak Rahmat berhasil mendidiknya."
Ucapan-ucapan seperti itu semakin membuat Indra merasa tersisih.
Baginya, Ryahan selalu mendapat pujian.
Sedangkan dirinya...
sering kali hanya menjadi pelengkap.
Rasa iri yang selama ini disimpannya mulai berubah menjadi kebencian.
Dan kebencian itu perlahan menutup suara hati nuraninya.
Malam mulai turun.
Di sebuah gubuk kosong yang berada di pinggir kebun karet, tiga orang berkumpul dalam cahaya lampu minyak yang redup.
Indra.
Rinto.
Dan Susianti.
Mereka duduk mengelilingi sebuah meja kayu tua.
"Mulai besok..."
ucap Indra dengan suara pelan.
"Kita sebarkan cerita."
"Cerita apa?" tanya Rinto.
Indra memandang keduanya.
"Bahwa Ryahan mendekati Amelia bukan karena cinta."
"Lalu?"
"Karena ingin memanfaatkan keluarga Pak Kusri."
Ruangan mendadak hening.
Susianti tersenyum tipis.
"Itu baru permulaan."
Indra mengangguk.
"Kalau masyarakat mulai percaya..."
"...kita akan melangkah ke rencana berikutnya."
Lampu minyak bergoyang tertiup angin malam.
Bayangan tiga orang itu memanjang di dinding gubuk, seolah menjadi pertanda bahwa kegelapan mulai memasuki kehidupan Desa Sumber Waras.
Sementara itu, Ryahan masih tertidur lelap di rumahnya.
Ia sama sekali tidak mengetahui bahwa sejak malam itu, namanya mulai dijadikan sasaran sebuah permainan yang kejam.
Permainan yang akan menguji harga dirinya, meretakkan persahabatan, dan menjadi awal dari badai besar yang segera datang.
Mentari pagi kembali menyinari Desa Sumber Waras.
Tidak ada yang tampak berbeda.
Para petani tetap berangkat ke sawah, para ibu menjemur gabah di halaman rumah, anak-anak berlarian menuju sekolah, sementara para pemuda mulai berkumpul di balai desa untuk mempersiapkan pembangunan taman yang telah direncanakan beberapa hari sebelumnya.
Namun, di balik rutinitas yang terlihat biasa itu, sesuatu telah berubah.
Sesuatu yang tak kasatmata.
Sesuatu yang bergerak perlahan melalui bisikan-bisikan kecil.
Di sebuah warung kopi milik Pak Samin yang berada di simpang jalan desa, beberapa warga sedang menikmati kopi hitam hangat.
Warung itu memang menjadi tempat berkumpul warga setiap pagi.
Di sanalah berbagai cerita lahir.
Mulai dari hasil panen, harga pupuk, hingga kabar tentang keluarga masing-masing.
Pagi itu, Rinto datang lebih awal.
Ia memesan secangkir kopi, lalu duduk di sudut warung.
Beberapa saat kemudian, seorang warga bernama Pak Jono ikut duduk di dekatnya.
"Bagaimana panennya, Rinto?"
"Alhamdulillah, lumayan."
Percakapan mereka berlangsung santai.
Hingga tanpa terlihat dipaksakan, Rinto mulai mengarahkan pembicaraan.
"Pak Jono..."
"Iya?"
"Bapak sering melihat Ryahan akhir-akhir ini?"
Pak Jono tersenyum.
"Sering."
"Anaknya Pak Rahmat itu memang rajin."
Rinto mengangguk pelan.
"Iya..."
"Lumayan rajin."
Kalimat itu sengaja digantung.
Pak Jono mengernyitkan dahi.
"Lumayan bagaimana?"
Rinto berpura-pura ragu.
"Ah... tidak usahlah."
"Kenapa?"
"Nanti malah jadi fitnah."
Justru karena kalimat itu, rasa penasaran Pak Jono semakin besar.
"Kalau memang ada yang perlu diketahui, bilang saja."
Rinto menghela napas panjang seolah-olah sedang memikul beban.
"Saya dengar..."
Ia menurunkan suaranya.
"...Ryahan sering mendekati Amelia."
Pak Jono tersenyum.
"Itu bukan rahasia."
"Mereka memang sering membantu kegiatan desa."
Rinto kembali menggeleng.
"Bukan itu maksud saya."
"Lalu?"
"Saya dengar..."
Ia kembali berhenti sejenak.
"...ada maksud lain."
Pak Jono mulai serius.
"Maksud apa?"
Rinto berpura-pura menyesap kopinya.
"Katanya..."
"...Ryahan ingin memanfaatkan keluarga Pak Kusri."
Pak Jono langsung mengangkat kepala.
"Siapa yang bilang?"
Rinto tersenyum tipis.
"Saya juga hanya mendengar."
"Belum tentu benar."
"Makanya jangan bilang siapa-siapa."
Padahal...
kalimat terakhir itulah yang justru membuat kabar itu semakin mudah menyebar.
Di tempat lain, Susianti juga mulai menjalankan perannya.
Ia sengaja membantu beberapa ibu menjemur padi.
Di sela-sela pekerjaan, ia membuka pembicaraan dengan nada yang terdengar polos.
"Bu..."
"Iya?"
"Saya kasihan sama Amelia."
"Kenapa?"
"Takut nanti hatinya disakiti."
Beberapa ibu langsung menoleh.
"Maksudmu?"
Susianti pura-pura tersenyum.
"Ah... mungkin saya salah."
"Jangan begitu."
"Ceritakan."
Susianti menggeleng perlahan.
"Saya cuma dengar..."
"...katanya Ryahan sedang mencari jalan supaya lebih dekat dengan keluarga Pak Kusri."
"Sebab keluarga Pak Kusri termasuk orang yang cukup berada."
Seorang ibu langsung menggeleng.
"Ah, rasanya Ryahan bukan anak seperti itu."
Susianti segera menimpali.
"Saya juga berharap begitu."
"Tapi..."
Ia kembali menghentikan kalimatnya.
"Kita lihat saja nanti."
Percakapan itu berhenti.
Namun bibit keraguan mulai tumbuh.
Sore harinya, Ryahan dan Amelia bersama Niko, Naryo, Anita, dan Liana mulai membersihkan lahan yang akan dijadikan taman desa.
Pak Burhan tampak puas melihat semangat mereka.
"Kalau seperti ini, taman itu tidak lama lagi selesai."
Ryahan mengayunkan cangkul.
"Kita kerjakan sedikit demi sedikit, Pak."
Di sisi lain, Amelia sedang menanam bibit bunga bersama Liana.
"Tolong pegangkan airnya."
"Iya."
Ryahan segera membantu membawa ember.
"Terima kasih."
"Sama-sama."
Semua berlangsung seperti biasa.
Tidak ada kecanggungan.
Tidak ada sesuatu yang berlebihan.
Namun tanpa mereka sadari...
beberapa pasang mata sedang memperhatikan dari kejauhan.
"Buktinya makin banyak."
bisik seorang warga.
"Iya."
"Mereka memang sering bersama."
"Jangan-jangan cerita itu benar."
Kalimat-kalimat pendek mulai bermunculan.
Belum berupa tuduhan.
Tetapi sudah cukup menjadi benih prasangka.
Menjelang petang, Pak Rahmat datang menjemput Ryahan.
Dalam perjalanan pulang, beliau melihat dua orang warga berhenti berbicara ketika mereka melintas.
Pak Rahmat sempat mengernyit.
"Aneh."
"Ada apa, Pak?"
"Tidak tahu."
"Mereka seperti sedang membicarakan sesuatu."
Ryahan hanya tersenyum.
"Mungkin urusan panen."
Pak Rahmat tidak menjawab.
Naluri seorang ayah membuatnya merasa ada sesuatu yang mulai berubah.
Meski ia belum mengetahui apa penyebabnya.
Sementara itu, di rumah Pak Kusri...
Bu Endang juga merasakan hal yang sama.
Ketika pulang dari warung, beberapa ibu tampak berbicara pelan sambil sesekali melirik ke arahnya.
"Pak..."
kata Bu Endang kepada suaminya.
"Ada yang aneh hari ini."
Pak Kusri meletakkan cangkulnya.
"Aneh bagaimana?"
"Entahlah."
"Seperti ada orang yang sedang membicarakan keluarga kita."
Pak Kusri menghela napas.
"Mungkin hanya perasaanmu."
"Mudah-mudahan."
Namun jauh di lubuk hati Bu Endang, muncul kegelisahan yang sulit dijelaskan.
Malam itu, hujan rintik-rintik mulai turun membasahi Desa Sumber Waras.
Ryahan duduk di beranda rumah bersama Pak Rahmat.
Mereka menikmati suara hujan yang memukul atap seng.
"Han."
"Iya, Pak."
"Kalau suatu hari nanti..."
Pak Rahmat memandang putranya.
"...orang lain menilaimu buruk."
Ryahan terdiam.
"Apa yang harus saya lakukan?"
Pak Rahmat tersenyum bijaksana.
"Jangan sibuk membalas ucapan mereka."
"Lalu?"
"Perbaiki dirimu."
"Karena waktu..."
Beliau menarik napas pelan.
"...selalu menjadi saksi yang paling jujur."
Ryahan mengangguk.
Ia sama sekali tidak menyangka bahwa nasihat itu akan segera ia butuhkan.
Di sebuah gubuk tua di pinggir desa, Indra, Rinto, dan Susianti kembali berkumpul.
Rinto tersenyum puas.
"Mulai berhasil."
"Sudah ada yang membicarakannya."
Susianti mengangguk.
"Besok kita buat cerita yang lebih besar."
Indra memandang nyala lampu minyak di hadapannya.
"Tidak."
"Kita tidak boleh terburu-buru."
"Kita biarkan mereka percaya sedikit demi sedikit."
"Kalau fitnah tumbuh perlahan..."
"...orang akan menganggapnya sebagai kenyataan."
Mereka bertiga saling berpandangan.
Lalu tersenyum.
Tanpa mereka sadari, senyum itu menjadi awal dari dosa yang akan mereka sesali bertahun-tahun kemudian.
Di luar gubuk, hujan semakin deras.
Air menetes dari ujung atap, membentuk genangan kecil di tanah.
Malam terasa begitu sunyi.
Namun di balik kesunyian itu, badai telah mulai bergerak menuju kehidupan Ryahan.
Dan esok hari...
fitnah itu tidak lagi hanya berupa bisikan.
Ia akan mulai mengetuk pintu rumah-rumah warga Desa Sumber Waras, membawa keraguan, prasangka, dan perlahan merenggut kepercayaan yang selama ini dibangun dengan ketulusan.
BAB VI
RAHASIA YANG DISEMBUNYIKAN
Hujan semalam meninggalkan jejak di seluruh penjuru Desa Sumber Waras. Jalan tanah menjadi lembap, dedaunan tampak lebih hijau, dan udara pagi terasa sejuk menusuk kulit. Di halaman rumah-rumah warga, genangan kecil masih terlihat memantulkan cahaya mentari yang baru terbit.
Ryahan sedang menyapu halaman ketika Pak Rahmat keluar membawa secangkir kopi. Wajah lelaki itu tampak lebih serius daripada biasanya.
"Han."
"Iya, Pak?"
"Nanti setelah membantu ibumu, ikut Bapak ke rumah Pak Burhan."
Ryahan menghentikan sapunya.
"Ada apa?"
"Ada yang ingin dibicarakan."
Jawaban singkat itu justru membuat Ryahan penasaran. Selama ini ayahnya jarang terlihat gelisah. Namun sejak beberapa hari terakhir, Pak Rahmat tampak lebih banyak diam dan sering melamun di beranda rumah.
Menjelang siang, Ryahan menemani ayahnya berjalan menuju rumah Pak Burhan. Rumah tokoh masyarakat itu berada di ujung desa, menghadap hamparan sawah yang baru selesai dipanen.
Pak Burhan menyambut mereka dengan hangat.
"Silakan masuk, Rahmat."
"Ryahan juga masuk saja."
Mereka duduk di beranda kayu yang menghadap ke kebun pisang. Bu Ratna datang membawakan teh hangat dan pisang goreng, lalu kembali ke dalam rumah setelah memberi salam.
Beberapa saat suasana hening. Hanya suara burung dan desir angin yang terdengar dari halaman.
Pak Burhan akhirnya membuka pembicaraan.
"Aku mendengar kabar yang kurang baik."
Pak Rahmat mengangguk pelan.
"Aku juga mulai mendengarnya."
Ryahan menatap kedua orang tua itu bergantian.
"Kabar apa?"
Pak Burhan memandang Ryahan cukup lama sebelum menjawab.
"Ada yang mulai membicarakan kedekatanmu dengan Amelia."
Ryahan terdiam.
Ia memang menyadari beberapa warga mulai meliriknya dengan cara berbeda, tetapi tidak pernah mengira pembicaraan itu sudah sampai kepada Pak Burhan.
"Kami hanya sering bersama saat kegiatan desa, Pak," katanya pelan.
Pak Burhan mengangguk.
"Aku tahu."
"Tapi tidak semua orang melihat dengan hati yang jernih."
Pak Rahmat menatap putranya.
"Bapak percaya padamu."
"Namun kamu harus hati-hati."
Ryahan mengangguk pelan.
"Iya, Pak."
Suasana kembali hening. Pak Burhan tampak ragu-ragu seolah ingin mengatakan sesuatu yang lebih berat.
"Rahmat..."
"Mungkin sudah saatnya Ryahan mengetahui sebagian cerita lama."
Pak Rahmat menarik napas panjang.
"Aku juga memikirkannya."
Ryahan mengernyit.
"Cerita apa?"
Pak Rahmat menunduk sejenak sebelum berkata pelan,
"Tentang keluarga kita dan keluarga Pak Kusri."
Angin berembus pelan melewati beranda. Ryahan memperhatikan wajah ayahnya yang tiba-tiba tampak lebih tua.
"Dulu..."
Pak Rahmat mulai bercerita.
"Sebelum kamu lahir, Bapak dan Pak Kusri bukan hanya tetangga."
"Kami sahabat dekat."
Ryahan sedikit terkejut.
Selama ini ia memang melihat ayahnya dan Pak Kusri saling menghormati, tetapi hubungan mereka tidak pernah tampak terlalu akrab.
"Kami sering bekerja bersama," lanjut Pak Rahmat.
"Membuka lahan, menanam padi, bahkan pernah merantau bersama mencari pekerjaan."
Pak Burhan mengangguk membenarkan.
"Dulu mereka hampir seperti saudara."
Ryahan semakin penasaran.
"Lalu kenapa sekarang tidak seperti itu?"
Pak Rahmat terdiam cukup lama.
"Karena sebuah peristiwa yang tidak pernah benar-benar selesai."
Wajahnya tampak berat ketika mengucapkan kalimat itu.
"Dua puluh tahun yang lalu, kami berencana membeli sebidang tanah bersama. Tanah itu berada di dekat jalan utama desa dan dianggap punya masa depan yang baik."
"Bapak dan Pak Kusri mengumpulkan uang sedikit demi sedikit."
"Tapi sebelum transaksi dilakukan, uang itu hilang."
Ryahan langsung menatap ayahnya.
"Hilang?"
"Iya."
Pak Rahmat mengangguk pelan.
"Waktu itu hanya kami berdua yang mengetahui tempat penyimpanannya."
Pak Burhan menyambung,
"Tidak ada yang bisa membuktikan siapa yang mengambilnya."
"Tetapi sejak kejadian itu, hubungan mereka berubah."
Ryahan mulai memahami.
"Jadi Pak Kusri mencurigai Bapak?"
Pak Rahmat tersenyum pahit.
"Mungkin."
"Dan Bapak?"
"Bapak juga terluka karena merasa tidak dipercaya."
Keheningan menyelimuti beranda.
Ryahan baru menyadari bahwa di balik sikap saling menghormati selama ini, ternyata ada luka lama yang belum benar-benar sembuh.
"Tapi Bapak tidak pernah mengambil uang itu, kan?"
Pak Rahmat menatap mata putranya.
"Demi Allah, tidak."
Jawaban itu keluar tegas tanpa keraguan sedikit pun.
Ryahan mengangguk mantap. Ia percaya kepada ayahnya.
Pak Burhan menghela napas panjang.
"Masalahnya bukan lagi soal uangnya."
"Masalahnya adalah kecurigaan yang dibiarkan terlalu lama."
"Semakin lama dipendam, semakin sulit dijelaskan."
Ryahan menunduk.
Kini ia mengerti mengapa ayahnya dan Pak Kusri tidak pernah terlihat benar-benar dekat meski tinggal di desa yang sama selama bertahun-tahun.
"Lalu kenapa Bapak baru menceritakan ini sekarang?"
Pak Rahmat memandang hamparan sawah di depan rumah Pak Burhan.
"Karena Bapak tidak ingin kamu mewarisi luka lama."
"Tetapi keadaan sekarang mulai berubah."
"Orang-orang mulai mengaitkan namamu dengan Amelia."
"Bapak khawatir masalah lama itu kembali muncul."
Ryahan terdiam.
Bayangan Amelia muncul di benaknya.
Selama ini ia hanya merasakan kenyamanan setiap berada di dekat gadis itu. Ia tidak pernah memikirkan bahwa hubungan mereka bisa menyeret luka masa lalu kedua keluarga.
Pak Burhan menatap Ryahan dengan penuh perhatian.
"Dengarkan baik-baik."
"Apa pun yang terjadi nanti, jangan membalas keburukan dengan keburukan."
"Kalau ada orang memfitnahmu, tetap jaga sikapmu."
"Karena harga diri seseorang tidak ditentukan oleh ucapan orang lain, tetapi oleh perbuatannya sendiri."
Ryahan mengangguk pelan.
"Saya mengerti, Pak."
Meski demikian, jauh di dalam hatinya mulai tumbuh kegelisahan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Ia tidak takut pada fitnah.
Yang ia takutkan adalah jika Amelia ikut terluka karena masa lalu yang bahkan bukan kesalahan mereka.
Sore menjelang ketika Ryahan dan Pak Rahmat pamit pulang.
Di perjalanan, keduanya lebih banyak diam.
Sesampainya di rumah, Bu Talia langsung menyambut mereka.
"Dari mana lama sekali?"
"Dari rumah Pak Burhan," jawab Pak Rahmat singkat.
Bu Talia memandang suaminya seolah memahami sesuatu.
Namun ia tidak bertanya lebih jauh.
Malam itu, Ryahan duduk sendirian di beranda rumah.
Langit tampak cerah dipenuhi bintang.
Ia memikirkan cerita ayahnya berulang-ulang.
Sahabat yang terpisah karena kecurigaan.
Luka yang dipendam puluhan tahun.
Dan kini...
namanya serta Amelia mulai terseret ke dalam bayang-bayang masa lalu itu.
Tanpa disadari Ryahan, dari kejauhan seseorang sedang memperhatikannya.
Indra berdiri di bawah pohon mangga dekat jalan desa.
Melihat Ryahan termenung sendirian, sudut bibirnya perlahan terangkat.
"Bagus..." gumamnya lirih.
"Berarti ceritanya mulai bekerja."
Angin malam berembus pelan melewati desa yang tampak tenang.
Namun di balik ketenangan itu, rahasia lama yang selama bertahun-tahun tersembunyi mulai bangkit kembali.
Dan Ryahan belum mengetahui bahwa ini baru permulaan.
Karena masih ada bagian lain dari masa lalu yang jauh lebih menyakitkan dan belum pernah diceritakan siapa pun kepadanya.
Malam turun perlahan menyelimuti Desa Sumber Waras.
Angin berembus lembut melewati pepohonan yang berdiri di sepanjang jalan desa. Suara jangkrik bersahut-sahutan memecah kesunyian, sementara cahaya bulan separuh menerangi halaman rumah-rumah warga yang mulai terlelap.
Namun, tidak semua orang dapat menikmati malam itu dengan tenang.
Di beranda rumahnya, Ryahan masih duduk termenung.
Cerita yang disampaikan Pak Rahmat siang tadi terus berputar di dalam kepalanya.
Selama ini ia mengira hubungan kedua keluarganya dengan keluarga Pak Kusri hanya sebatas hubungan tetangga biasa.
Ia tidak pernah membayangkan bahwa di balik sikap saling menghormati itu tersimpan luka yang telah dipendam selama lebih dari dua puluh tahun.
"Apa benar hanya karena uang yang hilang?"
gumamnya pelan.
Hatinya berkata bahwa masih ada sesuatu yang belum diungkapkan ayahnya.
Di dalam rumah, Bu Talia memperhatikan putranya dari balik jendela.
"Wajahnya berubah sejak pulang dari rumah Pak Burhan."
Pak Rahmat yang sedang melipat sajadah hanya mengangguk pelan.
"Sudah waktunya dia mengetahui sedikit demi sedikit."
"Tapi..."
Bu Talia tampak ragu.
"Apakah tidak terlalu cepat?"
Pak Rahmat menarik napas panjang.
"Bukan kita yang menentukan waktunya."
"Keadaanlah yang memaksa."
Beliau memandang keluar jendela.
"Fitnah yang mulai beredar bisa membuka kembali luka lama."
"Kalau Ryahan tidak mengetahui akar masalahnya, dia akan menghadapi semuanya tanpa mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi."
Bu Talia mengangguk pelan.
Ia memahami kekhawatiran suaminya.
Namun sebagai seorang ibu, ia juga takut rahasia masa lalu itu justru menjadi beban bagi anaknya.
Keesokan paginya, Ryahan membantu ayahnya membersihkan gudang tua di belakang rumah.
Gudang itu jarang dibuka.
Isinya hanya peralatan bertani yang sudah tidak dipakai, beberapa peti kayu, serta barang-barang lama peninggalan kakek dan neneknya.
"Han."
"Iya, Pak."
"Tolong pindahkan peti itu."
Ryahan mengangkat sebuah peti kayu yang mulai lapuk dimakan usia.
Saat peti itu digeser, sebuah kotak kecil jatuh ke lantai.
Kotak itu terbuat dari kayu ulin dengan ukiran bunga sederhana pada bagian tutupnya.
"Apa ini, Pak?"
Pak Rahmat yang melihat kotak itu langsung terdiam.
Wajahnya berubah.
Untuk beberapa saat beliau hanya memandang kotak itu tanpa berkata apa-apa.
Ryahan mulai merasa ada sesuatu yang tidak biasa.
"Boleh saya buka?"
Pak Rahmat menggeleng pelan.
"Tunggu."
Beliau mengambil kotak itu dengan kedua tangan.
Tangannya tampak sedikit gemetar.
"Sudah lama sekali..."
bisiknya lirih.
Ryahan semakin penasaran.
"Apa isinya?"
Pak Rahmat duduk perlahan di bangku kayu.
Kemudian membuka kotak itu dengan hati-hati.
Di dalamnya hanya ada beberapa lembar surat yang telah menguning, sebuah foto hitam putih, dan sehelai kain kecil yang dibungkus rapi.
Ryahan memandang benda-benda itu tanpa berkedip.
"Surat siapa, Pak?"
Pak Rahmat tidak langsung menjawab.
Beliau mengambil foto hitam putih itu terlebih dahulu.
Foto tersebut memperlihatkan dua orang pemuda yang sedang tersenyum lebar di tengah sawah.
Salah satunya adalah Pak Rahmat ketika masih muda.
Satunya lagi...
Pak Kusri.
Ryahan menatap foto itu cukup lama.
"Mereka terlihat sangat akrab."
Pak Rahmat tersenyum pahit.
"Dulu kami memang seperti saudara kandung."
Pak Rahmat kemudian membuka salah satu surat yang telah kusam.
Tulisan tangan di atas kertas itu mulai memudar.
"Ini surat dari Pak Kusri."
Ryahan terkejut.
"Untuk Bapak?"
"Iya."
Pak Rahmat menyerahkan surat itu.
Ryahan membacanya perlahan.
'Rahmat, apa pun yang terjadi nanti, aku berharap persahabatan kita tidak akan pernah berubah. Kalau suatu hari kita berhasil, kita akan membangun kampung ini bersama. Jangan pernah tinggalkan aku sebagai sahabatmu.'
Ryahan berhenti membaca.
Dadanya terasa sesak.
Sulit dipercaya bahwa surat yang penuh harapan itu ditulis oleh orang yang kemudian hidup berjauhan dalam diam selama puluhan tahun.
"Ini ditulis sebelum uang itu hilang?"
Pak Rahmat mengangguk.
"Beberapa hari sebelumnya."
Ryahan menutup surat itu perlahan.
"Apa Pak Kusri pernah tahu kalau Bapak masih menyimpannya?"
"Tidak."
"Kenapa?"
Pak Rahmat memandang jauh ke luar gudang.
"Karena setelah kejadian itu..."
"...kami sama-sama terlalu gengsi untuk memulai pembicaraan."
Kalimat itu terasa begitu berat.
Bukan karena kemarahan.
Tetapi karena penyesalan.
Ryahan membuka surat kedua.
Isinya jauh lebih singkat.
Tulisan tangannya tampak terburu-buru.
'Kalau memang benar kau yang mengambil uang itu, aku tidak akan pernah memaafkanmu.'
Ryahan terdiam.
Ia menatap ayahnya.
"Jadi..."
Pak Rahmat mengangguk pelan.
"Itulah surat terakhir yang kuterima darinya."
"Apakah Bapak membalasnya?"
Pak Rahmat tersenyum getir.
"Aku menulis balasan."
"Lalu?"
"Tidak pernah kukirim."
"Kenapa?"
"Karena aku kecewa."
Ruangan kembali sunyi.
Pak Rahmat mengeluarkan selembar surat lain.
"Aku masih menyimpannya."
Ryahan menerima surat itu.
Tulisan tangan ayahnya masih tampak jelas.
'Kusri, aku tidak pernah mengambil uang itu. Kalau kau percaya kepadaku, datanglah menemuiku. Kalau tidak, biarlah waktu yang menjadi saksi.'
Ryahan menghela napas panjang.
"Seandainya surat ini dikirim..."
Pak Rahmat tersenyum sedih.
"Mungkin ceritanya akan berbeda."
Saat mereka masih berbincang, tiba-tiba terdengar suara seseorang memanggil dari luar rumah.
"Assalamu'alaikum..."
Pak Rahmat segera berdiri.
"Wa'alaikumussalam."
Ternyata yang datang adalah Pak Burhan.
Beliau membawa sebuah map cokelat.
"Maaf mengganggu."
"Tidak apa-apa."
Pak Burhan duduk setelah dipersilakan masuk.
"Aku baru saja bertemu seseorang."
"Dengan siapa?"
Pak Burhan menarik napas panjang.
"Orang yang dulu ikut mengetahui persoalan hilangnya uang itu."
Pak Rahmat langsung menatapnya.
"Siapa?"
"Pak Darman."
Nama itu membuat wajah Pak Rahmat berubah.
"Dia kembali ke desa?"
"Baru kemarin."
Ryahan memperhatikan kedua orang tua itu.
"Siapa Pak Darman?"
Pak Burhan menjawab pelan.
"Dia satu-satunya orang yang mengetahui keadaan pada hari uang itu hilang."
Ruangan mendadak hening.
Pak Rahmat perlahan menggenggam map yang dibawa Pak Burhan.
"Apa dia masih ingat?"
Pak Burhan mengangguk.
"Dia bilang..."
"...selama ini ada sesuatu yang belum pernah ia ceritakan kepada siapa pun."
Kalimat itu membuat jantung Ryahan berdegup lebih cepat.
Apakah selama ini mereka semua hidup dalam kesalahpahaman?
Apakah sebenarnya ada orang ketiga yang terlibat?
Atau...
ada pelaku sebenarnya yang belum pernah diketahui?
Sementara itu, di ujung desa, Indra, Rinto, dan Susianti kembali berkumpul.
Rinto baru saja mendengar kabar bahwa Pak Darman telah kembali ke Desa Sumber Waras.
"Wah..."
"Ini bisa berbahaya."
Indra mengernyit.
"Kenapa?"
"Kalau orang tua itu membuka mulut..."
"...bisa saja cerita lama berubah."
Indra mengepalkan tangan.
"Tidak."
"Aku tidak akan membiarkan itu terjadi."
Susianti mulai gelisah.
"Lalu apa yang harus kita lakukan?"
Indra menatap mereka bergantian.
"Kita harus memastikan..."
"...Pak Darman tidak sempat mengubah apa yang sudah mulai dipercaya orang-orang."
Lampu minyak di atas meja bergoyang pelan tertiup angin.
Bayangan ketiga orang itu tampak semakin panjang di dinding bambu.
Sementara di rumah Pak Rahmat, secercah harapan mulai muncul setelah bertahun-tahun terkubur.
Rahasia lama perlahan menemukan jalan untuk terbuka.
Namun sebelum kebenaran itu sampai kepada semua orang...
akan ada pihak yang berusaha keras mempertahankan kebohongan.
Dan pertarungan antara kebenaran dan fitnah pun baru saja dimulai.
BAB VII
FITNAH PERTAMA
Pagi itu, langit Desa Sumber Waras tampak mendung.
Awan kelabu menggantung rendah seolah menahan hujan yang belum juga turun. Angin bertiup lebih kencang dari biasanya, menggoyangkan dedaunan pohon karet di sepanjang jalan desa.
Ryahan terbangun lebih awal.
Seperti kebiasaannya, ia membantu Bu Talia menimba air dari sumur, kemudian membersihkan halaman rumah sebelum berangkat ke balai desa. Hari itu seluruh pemuda dijadwalkan mulai membangun taman desa yang telah direncanakan beberapa minggu sebelumnya.
"Ayah berangkat dulu ke sawah," ujar Pak Rahmat sambil memanggul cangkul.
"Iya, Pak."
"Jangan lupa nanti bantu Pak Burhan."
"Siap."
Pak Rahmat tersenyum bangga.
Beliau sama sekali tidak mengetahui bahwa hari itu akan menjadi awal dari cobaan terbesar yang pernah dialami putranya.
Di balai desa, suasana sudah ramai.
Niko dan Naryo sedang mengaduk semen.
Liana menyusun bibit bunga yang akan ditanam.
Anita mencatat kebutuhan bahan bangunan, sedangkan Amelia membantu Bu Ratna menyiapkan minuman untuk para pekerja.
"Han!"
Niko melambaikan tangan.
"Kayunya datang!"
Ryahan segera menghampiri gerobak yang membawa beberapa batang kayu dan papan.
"Ayo kita turunkan."
Puluhan warga ikut membantu.
Suasana kembali dipenuhi semangat gotong royong.
Pak Burhan berdiri sambil memperhatikan para pemuda bekerja.
"Beginilah desa yang saya banggakan."
"Tidak menunggu bantuan."
"Tetapi bergerak bersama."
Semua orang tersenyum.
Tidak ada yang menyangka bahwa di antara kerumunan warga, ada seseorang yang sedang menyusun langkah berikutnya.
Indra berdiri tidak jauh dari lokasi pembangunan.
Di sampingnya ada Rinto dan Susianti.
"Semua orang masih memuji Ryahan."
gumam Indra dengan nada kesal.
"Semakin lama dibiarkan, semakin sulit menjatuhkannya."
Rinto tersenyum tipis.
"Tenang."
"Hari ini kita mulai."
Ia mengeluarkan sebuah dompet kulit berwarna cokelat dari dalam tas kecilnya.
Dompet itu tampak baru.
"Milik siapa?"
tanya Indra.
"Milik Pak Burhan."
Indra langsung menoleh.
"Kamu mendapatkannya dari mana?"
"Tadi waktu beliau sibuk mengangkat semen."
Rinto tersenyum licik.
"Dompetnya sengaja kutaruh di bawah papan-papan kayu."
Indra mulai memahami rencana itu.
"Dan nanti..."
"...kita buat seolah-olah Ryahan yang mengambilnya."
Susianti mengangguk puas.
"Kalau orang yang paling dipercaya sekali saja dicurigai..."
"...kepercayaan masyarakat akan mulai runtuh."
Indra tersenyum dingin.
"Hari ini semuanya dimulai."
Pekerjaan berlangsung hingga menjelang siang.
Semua warga beristirahat.
Bu Ratna membagikan teh hangat dan pisang goreng.
Pak Burhan duduk di bawah pohon mangga sambil mengusap keringat.
Tiba-tiba beliau meraba saku bajunya.
Wajahnya berubah.
"Sebentar..."
Beliau berdiri.
"Dompet saya..."
Semua orang langsung menoleh.
"Kenapa, Pak?"
tanya Pak Rahmat yang baru datang dari sawah.
"Dompet saya hilang."
Suasana mendadak sunyi.
Pak Burhan kembali memeriksa saku celana dan tas kecilnya.
"Tidak ada."
"Padahal tadi masih saya bawa."
Beberapa warga mulai ikut mencari.
Di sekitar tempat duduk.
Di dalam balai desa.
Di dekat tumpukan semen.
Namun dompet itu tidak ditemukan.
Ryahan ikut membantu.
"Mungkin tertinggal di rumah, Pak."
Pak Burhan menggeleng.
"Tidak."
"Tadi saya sempat membayar ongkos pengangkut kayu."
Berarti dompet itu memang ada di sini.
Kalimat tersebut membuat beberapa warga mulai saling berpandangan.
Tak lama kemudian, Rinto berpura-pura berteriak.
"Pak!"
"Saya menemukan sesuatu!"
Semua orang segera menghampirinya.
Rinto mengangkat dompet cokelat dari bawah tumpukan papan kayu.
"Nah, kan!"
kata Pak Burhan lega.
Namun sebelum beliau sempat mengambilnya, Indra lebih dahulu berbicara.
"Tunggu dulu."
Semua mata beralih kepadanya.
"Kenapa dompet itu bisa berada di sana?"
Tidak ada yang menjawab.
Indra melanjutkan,
"Setahu saya..."
"...yang terakhir mengangkat papan-papan itu tadi hanya beberapa orang."
Rinto segera menambahkan,
"Ryahan salah satunya."
Suasana kembali hening.
Beberapa warga mulai saling memandang.
Ryahan mengernyit.
"Apa maksud kalian?"
Indra tersenyum tipis.
"Tidak ada maksud apa-apa."
"Hanya bertanya."
Ryahan mulai merasakan sesuatu yang tidak beres.
"Aku tidak pernah menyentuh dompet Pak Burhan."
"Tentu saja."
jawab Indra.
"Tapi orang lain belum tentu tahu."
Kalimat itu mulai membuat suasana memanas.
Pak Burhan segera mengambil dompetnya.
Beliau membuka isinya.
Uang masih utuh.
Surat-surat penting juga masih lengkap.
"Alhamdulillah."
Beliau menghela napas lega.
"Tidak ada yang hilang."
Ryahan ikut merasa lega.
Namun kegembiraan itu tidak berlangsung lama.
Seorang warga berbisik kepada warga lain.
"Kenapa dompet itu ada di dekat tempat Ryahan bekerja?"
"Entahlah."
"Mungkin hanya kebetulan."
"Tapi..."
"Kalau memang kebetulan, aneh juga."
Bisik-bisik kecil mulai terdengar.
Belum ada yang menuduh secara langsung.
Tetapi keraguan mulai lahir.
Dan keraguan sering kali lebih berbahaya daripada tuduhan.
Amelia memperhatikan wajah Ryahan yang mulai berubah.
Ia melangkah mendekat.
"Han..."
Ryahan memaksakan senyum.
"Aku tidak apa-apa."
"Aku percaya sama kamu."
Kalimat sederhana itu membuat Ryahan sedikit tenang.
Namun dari sudut lain, Indra melihat kedekatan mereka dengan rasa benci yang semakin membara.
"Masih ada yang membelanya."
bisiknya.
Rinto tersenyum.
"Itu baru permulaan."
"Besok..."
"...ceritanya akan lebih besar."
Menjelang sore, pekerjaan taman dihentikan lebih awal.
Meski Pak Burhan sudah mengatakan bahwa dompetnya tidak ada yang hilang dan kemungkinan hanya terjatuh, suasana gotong royong tidak lagi sehangat pagi tadi.
Beberapa warga mulai berbicara pelan.
Ada yang memandang Ryahan dengan tatapan berbeda.
Ada pula yang memilih diam.
Ryahan menyadari perubahan itu.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasakan bagaimana kepercayaan yang dibangun bertahun-tahun dapat mulai retak hanya karena satu peristiwa yang sebenarnya tidak pernah ia lakukan.
Pak Rahmat yang melihat perubahan sikap warga langsung menghampiri putranya.
"Han."
"Iya, Pak."
"Kamu tidak melakukan apa yang mereka pikirkan, kan?"
Ryahan menatap ayahnya.
"Demi Allah, Pak."
"Saya tidak pernah menyentuh dompet itu."
Pak Rahmat menepuk bahunya.
"Bapak percaya."
"Tapi ingat..."
Beliau memandang ke arah warga yang mulai meninggalkan balai desa.
"Kadang-kadang..."
"...kebenaran membutuhkan waktu lebih lama untuk dipercaya daripada sebuah kebohongan."
Ryahan mengangguk pelan.
Di dalam hatinya, ia mulai menyadari bahwa badai yang selama ini hanya berupa bisikan kini benar-benar telah datang.
Dan ia belum mengetahui...
bahwa dompet Pak Burhan hanyalah umpan pertama.
Fitnah yang sesungguhnya baru akan dimulai.
Langit sore di Desa Sumber Waras mulai diselimuti awan kelabu. Pembangunan taman desa yang sejak pagi dipenuhi semangat gotong royong berakhir dengan suasana yang jauh berbeda. Tawa yang sebelumnya terdengar riuh perlahan menghilang, berganti bisikan-bisikan pelan yang menusuk telinga.
Ryahan berjalan pulang dengan langkah berat.
Di sampingnya, Pak Rahmat sesekali melirik wajah putranya.
"Jangan terlalu dipikirkan."
Ryahan memaksakan senyum.
"Saya baik-baik saja, Pak."
Namun Pak Rahmat tahu, senyum itu hanyalah cara Ryahan menyembunyikan kegelisahannya.
Sementara itu, di warung kopi Pak Samin, beberapa warga mulai membicarakan kejadian siang tadi.
"Aneh juga ya."
"Apa yang aneh?"
"Dompet Pak Burhan bisa berada di dekat tempat Ryahan bekerja."
"Tapi kan uangnya tidak hilang."
"Iya memang."
"Kalau begitu mungkin hanya terjatuh."
Seorang warga lain ikut menyela.
"Tapi kenapa yang menemukan justru Rinto?"
Suasana menjadi hening beberapa saat.
Tak lama kemudian Indra datang bersama Rinto. Keduanya berpura-pura tidak mengetahui pembicaraan yang sedang berlangsung.
"Sedang ngobrol apa, Pak?"
Pak Jono menjawab sambil menyeruput kopi.
"Tentang dompet Pak Burhan."
Indra menghela napas panjang.
"Kasihan juga Ryahan."
Semua mata langsung tertuju kepadanya.
"Maksudmu?"
Indra menggeleng pelan.
"Aku tidak ingin menuduh siapa pun."
"Tapi..."
Ia sengaja menghentikan ucapannya.
Pak Jono yang penasaran langsung bertanya,
"Tapi apa?"
Indra menatap meja beberapa saat sebelum berkata lirih,
"Kalau memang tidak bersalah..."
"Kenapa dompet itu berada tepat di tempat dia bekerja?"
Kalimat itu kembali membuat suasana hening.
Tidak ada yang berani menjawab.
Namun keraguan yang sebelumnya kecil mulai tumbuh lebih besar.
Indra tersenyum tipis dalam hati.
Rencananya mulai berjalan.
Di rumah Pak Kusri, Amelia sedang membantu Bu Endang menyiapkan makan malam.
Namun pikirannya terus tertuju pada Ryahan.
"Mel."
"Iya, Bu?"
"Kamu melamun."
Amelia tersenyum tipis.
"Tidak apa-apa."
Bu Endang memandang putrinya dengan penuh perhatian.
"Kamu sedang memikirkan kejadian tadi?"
Amelia mengangguk pelan.
"Bu..."
"Iya?"
"Ryahan tidak mungkin melakukan itu."
Bu Endang tidak langsung menjawab.
"Aku juga berharap begitu."
"Tapi sekarang banyak orang mulai membicarakannya."
"Itulah yang membuatku sedih."
Bu Endang menggenggam tangan putrinya.
"Ingat satu hal."
"Jangan mudah percaya pada ucapan orang."
"Lihat sendiri bagaimana seseorang menjalani hidupnya."
Amelia mengangguk.
Sejak kecil ia mengenal Ryahan.
Ia tahu pemuda itu lebih memilih kehilangan kesempatan daripada mengambil sesuatu yang bukan miliknya.
Karena itu, sedikit pun ia tidak mempercayai fitnah yang mulai beredar.
Malam itu, Ryahan duduk sendirian di bawah pohon mangga di halaman rumahnya.
Angin malam terasa lebih dingin.
Ia memandangi langit tanpa benar-benar melihat bintang-bintang di atasnya.
Di dalam kepalanya terus terngiang bisikan warga yang didengarnya sore tadi.
"Kenapa dompet itu ada di dekat Ryahan?"
"Mungkin memang ada sesuatu."
"Masa iya kebetulan?"
Kalimat-kalimat itu seperti menggores hatinya perlahan.
Selama hidupnya, ia selalu berusaha menjaga nama baik keluarga.
Ia diajarkan untuk bekerja keras, berkata jujur, dan menghormati siapa pun.
Namun satu kejadian saja mampu membuat sebagian orang mulai meragukannya.
Pak Rahmat datang membawa dua gelas teh hangat.
"Dingin."
Beliau menyerahkan satu gelas kepada Ryahan.
"Terima kasih, Pak."
Keduanya duduk berdampingan tanpa banyak bicara.
Setelah beberapa saat, Pak Rahmat membuka percakapan.
"Han."
"Iya, Pak?"
"Bapak pernah mengalami hal seperti ini."
Ryahan menoleh.
"Waktu uang itu hilang?"
Pak Rahmat mengangguk perlahan.
"Dulu..."
"Bapak juga merasa semua orang memandang berbeda."
"Padahal Bapak tidak melakukan apa pun."
Beliau tersenyum pahit.
"Rasanya menyakitkan."
Ryahan menatap ayahnya.
"Bagaimana Bapak bisa bertahan?"
Pak Rahmat memandang langit.
"Dengan kesabaran."
"Lalu?"
"Dengan terus berbuat baik."
Ryahan mengernyit.
"Apakah itu cukup?"
Pak Rahmat mengangguk.
"Mungkin tidak membuat semua orang percaya."
"Tapi akan membuat hati kita tetap tenang."
Kalimat itu menancap kuat di dalam hati Ryahan.
Di sisi lain desa, Indra, Rinto, dan Susianti kembali berkumpul di gubuk tua.
Rinto tampak puas.
"Setengah desa sudah mulai membicarakan Ryahan."
Susianti tersenyum.
"Besok pasti lebih banyak lagi."
Namun Indra justru menggeleng.
"Belum cukup."
"Kita butuh sesuatu yang lebih besar."
Rinto mengernyit.
"Maksudmu?"
Indra menatap keduanya.
"Selama Amelia masih percaya pada Ryahan..."
"...semua ini belum berarti."
"Lalu apa yang akan kita lakukan?"
Indra mengambil napas panjang.
"Kita buat Amelia ikut ragu."
"Bagaimana caranya?"
Indra tersenyum dingin.
"Kita sentuh keluarganya."
Rinto dan Susianti saling berpandangan.
Mereka mulai memahami arah rencana berikutnya.
Fitnah yang selama ini hanya menyerang nama baik Ryahan kini akan merambat ke hubungan kedua keluarga.
Dan ketika keluarga mulai ikut terseret...
luka yang ditimbulkan akan jauh lebih dalam.
Keesokan paginya, Pak Burhan mendatangi rumah Pak Rahmat.
Beliau terlihat gelisah.
"Rahmat."
"Ada apa?"
Pak Burhan duduk perlahan.
"Aku ingin meminta maaf."
"Untuk apa?"
"Karena sejak kemarin banyak warga membicarakan Ryahan."
Pak Rahmat tersenyum tenang.
"Itu bukan salahmu."
"Tapi aku merasa tidak enak."
Pak Burhan menundukkan kepala.
"Dompet itu memang tidak hilang."
"Namun entah kenapa..."
"...kejadian itu berubah menjadi bahan pembicaraan."
Pak Rahmat mengangguk.
"Aku tahu."
Pak Burhan memandang Ryahan yang baru keluar dari dalam rumah.
"Han."
"Iya, Pak?"
"Kalau kamu merasa diperlakukan tidak adil..."
"...jangan pernah membenci desa ini."
Ryahan tersenyum tipis.
"Saya tidak akan membencinya."
"Kenapa?"
"Karena desa ini bukan hanya milik orang yang memfitnah saya."
"Tetapi juga milik orang-orang yang masih percaya kepada saya."
Pak Burhan menatap Ryahan dengan mata berkaca-kaca.
Di balik usianya yang masih muda, pemuda itu memiliki kebesaran hati yang jarang dimiliki banyak orang.
Namun di kejauhan, dari balik rerimbunan bambu, Indra menyaksikan semuanya.
Tatapannya semakin tajam.
Ia menggenggam erat kedua tangannya.
"Masih terlalu kuat..."
gumamnya lirih.
"Tapi tidak akan lama lagi."
Angin pagi kembali berembus melewati Desa Sumber Waras.
Tidak ada yang mengetahui bahwa fitnah pertama hanyalah pembuka.
Karena setelah nama baik Ryahan mulai digoyahkan, akan muncul rahasia, pengkhianatan, dan peristiwa yang jauh lebih menyakitkan.
Perjalanan mereka baru saja memasuki babak yang lebih gelap.
BAB VIII
PERSIMPANGAN PERSAHABATAN
Embun pagi masih menggantung di ujung dedaunan ketika ayam-ayam mulai berkokok bersahutan di Desa Sumber Waras. Matahari perlahan muncul dari balik perbukitan, menyinari rumah-rumah kayu yang berdiri sederhana di antara hamparan sawah dan kebun karet.
Bagi sebagian warga, pagi itu tidak berbeda dengan hari-hari sebelumnya.
Namun bagi Ryahan...
segalanya terasa berubah.
Sejak kejadian hilangnya dompet Pak Burhan, ia mulai merasakan ada jarak yang perlahan tercipta di antara dirinya dan sebagian warga desa.
Beberapa orang yang biasanya menyapanya lebih dahulu kini hanya mengangguk singkat.
Ada pula yang memilih berpura-pura sibuk ketika berpapasan dengannya.
Ryahan mencoba mengabaikannya.
Ia tetap berjalan menuju balai desa dengan membawa cangkul di pundak.
Hari itu pembangunan taman desa kembali dilanjutkan.
"Ayo semangat!"
teriak Niko ketika melihat Ryahan datang.
Ryahan tersenyum.
"Sudah mulai?"
"Dari tadi."
Naryo yang sedang mengaduk semen ikut menyahut,
"Kalau kamu terlambat sedikit lagi, bagian yang berat tinggal buat kami."
Ryahan tertawa kecil.
"Baiklah, biar aku gantikan."
Suasana di antara mereka masih seperti biasanya.
Setidaknya...
begitulah yang terlihat di permukaan.
Pak Burhan membagi tugas kepada seluruh pemuda.
Ryahan bertugas memasang batu bata untuk pondasi taman.
Niko dan Naryo mengangkut pasir.
Liana bersama Anita mulai menanam bunga di bagian depan.
Sementara Amelia membantu Bu Ratna menyiapkan konsumsi.
Beberapa warga ikut bergabung.
Namun Ryahan mulai menyadari sesuatu.
Ketika ia meminta bantuan mengangkat batu, dua orang pemuda memilih membantu pekerjaan lain.
Saat ia mengajak berbincang, jawaban yang diterimanya terasa singkat dan canggung.
Ia tidak berkata apa-apa.
Tetapi semua itu ia rasakan.
Niko yang melihat perubahan sikap beberapa warga langsung mendekatinya.
"Jangan dipikirkan."
Ryahan menghela napas pelan.
"Aku tidak marah."
"Hanya..."
"Aku sedih."
"Karena?"
"Orang ternyata lebih mudah percaya pada dugaan daripada mengenal orang yang sudah mereka kenal bertahun-tahun."
Niko menepuk bahunya.
"Selama aku masih mengenalmu..."
"...aku tidak akan percaya."
Ryahan tersenyum tulus.
"Terima kasih."
Tak jauh dari sana, Amelia memperhatikan percakapan mereka.
Liana mendekat.
"Kamu juga melihatnya?"
Amelia mengangguk.
"Banyak yang mulai menjaga jarak."
Liana menghela napas.
"Padahal mereka belum tahu yang sebenarnya."
Amelia menatap Ryahan yang kembali bekerja tanpa mengeluh.
"Aku kasihan padanya."
Liana menggenggam tangan sahabatnya.
"Kalau memang kamu percaya..."
"...jangan biarkan dia menghadapi semuanya sendirian."
Ucapan itu membuat Amelia semakin yakin pada isi hatinya.
Menjelang siang, para pemuda beristirahat di bawah pohon ketapang yang baru ditanam beberapa hari sebelumnya.
Mereka duduk melingkar menikmati teh hangat.
Namun kali ini suasana terasa berbeda.
Biasanya mereka saling bercanda tanpa henti.
Kini percakapan lebih banyak terputus oleh keheningan.
Naryo mencoba mencairkan suasana.
"Kalau taman ini selesai..."
"...kita foto bersama."
Niko tertawa.
"Boleh."
"Yang penting nanti wajahku paling ganteng."
Anita langsung menyahut,
"Itu mustahil."
Semua tertawa kecil.
Ryahan ikut tersenyum.
Tetapi ia menyadari tawa itu tidak lagi sehangat biasanya.
Tak lama kemudian, seorang pemuda desa bernama Arman datang menghampiri.
"Han."
"Iya?"
"Aku mau bertanya."
"Tanya saja."
Arman tampak ragu.
"Kamu benar-benar tidak mengambil dompet Pak Burhan?"
Suasana mendadak sunyi.
Niko langsung berdiri.
"Arman!"
"Tidak usah bicara sembarangan."
"Aku hanya bertanya."
Ryahan mengangkat tangan, meminta Niko duduk kembali.
Tidak ada kemarahan di wajahnya.
Ia justru menatap Arman dengan tenang.
"Aku tidak mengambilnya."
"Demi Allah."
Arman menundukkan kepala.
"Aku percaya."
"Tapi..."
Ryahan tersenyum tipis.
"Ada yang membuatmu ragu?"
Arman menghela napas.
"Orang-orang terus membicarakannya."
Ryahan mengangguk pelan.
"Itulah sebabnya fitnah sangat berbahaya."
"Ia membuat orang baik harus sibuk membuktikan dirinya."
Arman terdiam.
Ia merasa malu telah menanyakan hal itu.
"Aku minta maaf."
Ryahan menggeleng.
"Tidak apa-apa."
"Aku tidak marah."
Jawaban itu justru membuat Arman semakin segan kepada Ryahan.
Namun percakapan mereka tidak luput dari perhatian Indra yang berdiri tidak jauh dari sana.
Ia tersenyum puas.
"Bagus."
"Keraguan mulai masuk."
Sore harinya, setelah pekerjaan selesai, keenam sahabat kembali duduk di bukit tempat mereka pernah mengubur kotak berisi mimpi-mimpi mereka.
Namun suasananya kini jauh berbeda.
Tidak ada lagi canda yang riuh.
Tidak ada lagi tawa panjang yang menggema.
Angin berembus pelan membawa aroma tanah yang mulai mengering.
Ryahan memandang ke arah desa yang terlihat tenang dari kejauhan.
"Aku baru sadar..."
"Apa?"
tanya Anita.
"Ternyata mempertahankan persahabatan jauh lebih sulit daripada membangunnya."
Naryo mengangguk pelan.
"Pak Burhan pernah mengatakan hal itu."
Liana ikut menambahkan,
"Dan sekarang kita mulai mengalaminya."
Semua terdiam.
Amelia memandang Ryahan.
"Han."
"Iya?"
"Apa kamu menyesal tetap membantu kegiatan desa?"
Ryahan tersenyum.
"Tidak."
"Kenapa?"
"Kalau aku berhenti berbuat baik hanya karena difitnah..."
"...berarti fitnah itu sudah menang."
Kalimat itu membuat semua sahabatnya terdiam.
Niko mengepalkan tangan.
"Aku akan tetap berdiri di sampingmu."
Naryo mengangguk.
"Aku juga."
Anita tersenyum.
"Begitu juga aku."
Liana menambahkan,
"Kita pernah berjanji."
"Tidak akan meninggalkan satu sama lain."
Amelia menatap Ryahan dengan mata berkaca-kaca.
"Dan aku..."
Ia menarik napas perlahan.
"...akan tetap percaya kepadamu."
Untuk sesaat, hati Ryahan terasa hangat.
Di tengah badai yang mulai datang, ia masih memiliki orang-orang yang memilih percaya, bukan karena bukti, tetapi karena mengenal siapa dirinya selama ini.
Namun di balik rimbunnya pepohonan, Indra memperhatikan semuanya dengan wajah dingin.
Ia mengepalkan tangan begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Persahabatan itu..."
gumamnya.
"...belum benar-benar retak."
Rinto yang berdiri di sampingnya bertanya,
"Lalu?"
Indra memandang keenam sahabat yang sedang duduk bersama.
"Kita harus membuat mereka saling mencurigai."
"Kalau mereka tetap bersatu..."
"...semua rencana kita akan gagal."
Senyum tipis kembali muncul di wajahnya.
Ia telah menyiapkan langkah berikutnya.
Langkah yang bukan hanya akan menyerang nama baik Ryahan.
Tetapi juga akan menguji kesetiaan sahabat-sahabat yang selama ini berjanji untuk tetap bersama.
Dan tanpa mereka sadari...
persimpangan itu sudah semakin dekat.
Langit senja perlahan berubah jingga ketika Ryahan dan kelima sahabatnya turun dari bukit tempat mereka biasa berkumpul. Angin membawa aroma rumput yang baru dipotong, sementara suara burung-burung kembali ke sarangnya mengiringi langkah mereka menuju Desa Sumber Waras.
Tidak seorang pun menyadari bahwa sejak mereka meninggalkan bukit, ada sepasang mata yang terus mengikuti dari kejauhan.
Indra.
Di belakangnya, Rinto dan Susianti berjalan sambil sesekali memperhatikan keenam sahabat itu.
"Mereka masih terlalu kompak," gumam Rinto.
Indra mengangguk pelan.
"Kalau persahabatan mereka tidak dihancurkan, Ryahan tidak akan pernah benar-benar sendirian."
"Lalu apa rencanamu?"
Indra berhenti melangkah.
Tatapannya tertuju kepada sosok Naryo yang berjalan paling belakang.
"Setiap kelompok selalu memiliki orang yang paling mudah dipengaruhi."
"Siapa?"
Indra tersenyum tipis.
"Nanti juga kalian tahu."
Keesokan paginya, balai desa kembali ramai.
Pembangunan taman memasuki tahap pemasangan pagar kayu dan bangku sederhana.
Pak Burhan tampak bersemangat melihat kemajuan pekerjaan itu.
"Kalau seperti ini, seminggu lagi selesai."
Ryahan mengangguk sambil mengangkat balok kayu.
"Semoga bisa segera dipakai anak-anak bermain."
Tak jauh darinya, Amelia sedang mengecat bangku bersama Anita dan Liana.
Sesekali mereka saling bercanda hingga tawa kembali terdengar.
Melihat suasana itu, Pak Burhan tersenyum lega.
Beliau berharap kejadian beberapa hari lalu segera dilupakan.
Namun harapan itu tidak berlangsung lama.
Saat waktu istirahat tiba, Naryo menyadari dompet kain kecil miliknya tidak ada di dalam tas.
Ia membongkar seluruh isi tas.
"Bukuku ada..."
"Botol minum ada..."
"Tapi dompetku ke mana?"
Niko mendekat.
"Hilang?"
"Iya."
"Ada uangnya?"
"Hanya sedikit."
"Tapi ada kartu identitas."
Ryahan ikut membantu mencari.
Mereka memeriksa sekitar tempat kerja, bawah bangku, dan tumpukan kayu.
Tidak ada.
"Tenang saja."
kata Ryahan.
"Mungkin tertinggal di rumah."
Naryo mengangguk, meski wajahnya tampak cemas.
Percakapan mereka didengar oleh Indra yang sedang berdiri di belakang balai desa.
Ia saling berpandangan dengan Rinto.
Sebuah senyum tipis muncul di wajah mereka.
Menjelang sore, ketika semua orang bersiap pulang, Rinto tiba-tiba berseru.
"Dompetnya ketemu!"
Semua orang menoleh.
Dompet kain itu berada di balik tumpukan semen yang sejak pagi digunakan Ryahan.
Naryo langsung mengambilnya.
"Alhamdulillah."
Ia membuka dompet itu.
Seluruh isi masih lengkap.
Namun sebelum suasana kembali tenang, terdengar suara pelan dari salah seorang warga.
"Lho..."
"Kenapa lagi-lagi ditemukan di dekat Ryahan?"
Kalimat itu tidak terlalu keras.
Namun cukup didengar oleh banyak orang.
Suasana kembali membeku.
Ryahan menarik napas panjang.
Untuk kedua kalinya, namanya kembali dikaitkan dengan barang yang hilang.
Padahal ia bahkan tidak mengetahui bagaimana dompet itu bisa berada di sana.
Pak Burhan segera angkat bicara.
"Sudah cukup."
"Dompetnya sudah ditemukan."
"Tidak ada yang hilang."
"Jangan membuat dugaan yang tidak perlu."
Beberapa warga mengangguk.
Namun tidak semua wajah menunjukkan keyakinan.
Benih keraguan telah tumbuh semakin besar.
Dalam perjalanan pulang, Naryo berjalan di samping Ryahan.
Beberapa kali ia ingin berbicara, tetapi mengurungkan niatnya.
Ryahan akhirnya tersenyum.
"Ada yang ingin kamu katakan?"
Naryo menundukkan kepala.
"Han..."
"Aku percaya sama kamu."
"Tapi..."
Ryahan menghentikan langkahnya.
"Tapi apa?"
Naryo tampak gelisah.
"Entahlah."
"Semua ini terasa aneh."
"Kenapa setiap barang yang hilang selalu ditemukan di dekatmu?"
Pertanyaan itu membuat langkah Ryahan terhenti.
Ia tidak marah.
Justru tatapannya dipenuhi rasa kecewa.
"Bahkan kamu juga mulai bertanya begitu?"
Naryo langsung menggeleng.
"Bukan begitu maksudku."
"Aku hanya..."
"...bingung."
Ryahan tersenyum pahit.
"Itulah yang diinginkan orang yang memfitnahku."
"Membuat orang-orang baik mulai bingung."
Naryo tidak mampu menjawab.
Ia merasa bersalah.
Namun pertanyaan itu memang telah mengganggu pikirannya sejak siang tadi.
Malam harinya, keenam sahabat kembali berkumpul di rumah Niko.
Mereka sepakat membicarakan semua yang sedang terjadi.
Niko membuka pembicaraan.
"Kita tidak boleh saling curiga."
Anita mengangguk.
"Kalau kita mulai saling meragukan, berarti kita kalah."
Liana menatap Naryo.
"Kamu percaya sama Ryahan, kan?"
Naryo terdiam beberapa saat.
"Aku percaya."
"Tapi..."
Ruangan menjadi sunyi.
"Aku mulai takut."
"Takut apa?"
tanya Amelia.
"Takut kita sedang dipermainkan."
Amelia menghela napas.
"Aku juga merasa begitu."
Ryahan yang sejak tadi diam akhirnya berbicara.
"Aku tidak marah kalau kalian bertanya."
"Tapi percayalah."
"Aku tidak melakukan semua yang mereka tuduhkan."
Suaranya tenang.
Tidak meninggi.
Justru ketenangan itulah yang membuat suasana semakin emosional.
Niko berdiri lalu mengulurkan tangan.
"Aku tetap di pihakmu."
Satu per satu, Anita, Liana, dan Amelia ikut meletakkan tangan mereka di atas tangan Niko.
Semuanya menatap Naryo.
Pemuda itu memejamkan mata sejenak.
Kemudian perlahan ikut meletakkan tangannya.
"Maafkan aku."
"Aku terlalu banyak mendengar ucapan orang."
Ryahan tersenyum.
"Kita semua manusia."
"Bisa ragu."
"Yang penting..."
"...jangan berhenti mencari kebenaran."
Mereka saling tersenyum.
Malam itu, persahabatan mereka masih berhasil diselamatkan.
Namun retakan kecil telah muncul.
Retakan yang mungkin belum terlihat.
Tetapi perlahan mulai menggerogoti pondasi kepercayaan yang selama bertahun-tahun mereka bangun bersama.
Di tempat lain, Indra mengepalkan tangannya setelah mengetahui bahwa keenam sahabat itu kembali berdamai.
"Kenapa selalu gagal?"
gerutunya.
Rinto mencoba menenangkan.
"Setidaknya Naryo sudah mulai ragu."
"Itu kemajuan."
Indra menggeleng.
"Belum cukup."
"Aku ingin mereka benar-benar saling meninggalkan."
Susianti memandang keduanya.
"Kalau begitu kita harus menyerang dari tempat yang paling lemah."
"Apa maksudmu?"
Susianti tersenyum licik.
"Bukan persahabatannya."
"Tapi keluarganya."
Indra perlahan mengangguk.
Tatapannya berubah semakin dingin.
"Kalau keluarga mulai ikut terluka..."
"...persahabatan mereka tidak akan mampu bertahan lama."
Hujan tipis kembali turun membasahi Desa Sumber Waras.
Di balik dinginnya malam, permainan yang lebih kejam mulai disusun.
Bukan lagi sekadar fitnah.
Melainkan rencana yang akan menyeret keluarga Pak Rahmat dan Pak Kusri ke dalam pusaran konflik yang jauh lebih besar.
Dan tanpa disadari siapa pun, badai itu kini tinggal menunggu waktu untuk datang.
BAB IX
AIR MATA SEORANG IBU
Pagi itu, Desa Sumber Waras diselimuti kabut tipis.
Embun masih menempel di ujung daun-daun padi yang mulai menguning. Udara terasa lebih dingin dari biasanya, seolah alam ikut merasakan kegelisahan yang perlahan menyelimuti kehidupan warga desa.
Di rumah Pak Rahmat, Bu Talia telah bangun sejak sebelum azan Subuh berkumandang.
Seperti hari-hari sebelumnya, ia menjerang air, menanak nasi, lalu menyiapkan bekal sederhana untuk suami dan putranya.
Namun pagi itu ada sesuatu yang berbeda.
Sesekali pandangannya tertuju ke arah kamar Ryahan.
Semalaman ia mendengar putranya beberapa kali terbangun.
Mungkin karena sulit tidur.
Mungkin juga karena terlalu banyak beban yang disimpan sendiri.
Sebagai seorang ibu, Bu Talia tidak memerlukan penjelasan.
Ia bisa merasakan luka anaknya hanya dari tatapan mata.
Ryahan keluar dari kamar dengan wajah yang sedikit pucat.
"Assalamu'alaikum, Bu."
"Wa'alaikumussalam."
Bu Talia tersenyum hangat.
"Sudah tidur nyenyak?"
Ryahan berusaha tersenyum.
"Alhamdulillah."
Namun senyum itu tidak mampu menipu hati seorang ibu.
Bu Talia tahu putranya sedang berbohong demi membuatnya tidak khawatir.
"Han."
"Iya, Bu?"
"Duduklah sebentar."
Ryahan menurut.
Ia duduk di bangku kayu dekat dapur.
Bu Talia menuangkan segelas teh hangat, lalu meletakkannya di hadapan putranya.
"Kamu sedang memikirkan semua yang terjadi?"
Ryahan terdiam beberapa saat.
"Aku hanya tidak mengerti, Bu."
"Tidak mengerti apa?"
"Kenapa orang begitu mudah mempercayai kebohongan."
Bu Talia menggenggam tangan anaknya.
"Karena tidak semua orang melihat dengan hati."
"Mereka sering kali melihat dengan telinga."
Ryahan mengangkat wajahnya.
"Maksud Ibu?"
"Orang lebih cepat mempercayai apa yang didengar daripada mencari apa yang sebenarnya terjadi."
Ryahan mengangguk pelan.
Nasihat sederhana itu terasa begitu dalam.
Pak Rahmat keluar dari kamar sambil mengenakan topi caping.
"Sudah siap?"
"Sudah, Pak."
Beliau memperhatikan wajah Ryahan.
"Kamu tidak perlu ikut ke sawah hari ini."
"Lho?"
"Istirahatlah."
Ryahan menggeleng.
"Saya baik-baik saja."
Pak Rahmat tersenyum.
"Kalau bekerja bisa membuatmu lebih tenang, ayo ikut."
Mereka pun berangkat bersama.
Bu Talia berdiri di depan pintu hingga keduanya menghilang di tikungan jalan.
Tatapannya tidak lepas dari sosok putranya.
Di dalam hati ia terus berdoa.
"Ya Allah...
Jika anakku berada di jalan yang benar, kuatkanlah hatinya.
Jika ia difitnah, bukakanlah jalan agar kebenaran segera Engkau tunjukkan."
Tanpa disadari, air mata perlahan mengalir di pipinya.
Ia segera mengusapnya sebelum tetangga yang lewat melihat.
Di rumah Pak Kusri, suasana pun tidak jauh berbeda.
Bu Endang sedang menyapu halaman ketika dua orang ibu berhenti di depan pagar.
"Sudah dengar kabarnya?"
tanya salah satu dari mereka.
"Kabar apa?"
"Itu..."
"Tentang Ryahan."
Bu Endang tersenyum sopan.
"Sudah."
"Kasihan juga Amelia."
Kalimat itu membuat Bu Endang menghentikan sapunya.
"Maksudnya?"
"Anak gadis sekarang harus hati-hati."
"Jangan sampai salah memilih teman."
Ucapan itu diakhiri dengan senyum tipis yang sulit diartikan.
Setelah kedua ibu itu pergi, Bu Endang berdiri termenung.
Ia tahu ucapan itu bukan sekadar nasihat.
Melainkan sindiran.
Dan sindiran itu perlahan mulai mengarah kepada putrinya.
Di dalam rumah, Amelia sedang membaca buku.
Melihat wajah ibunya berubah muram, ia segera mendekat.
"Ada apa, Bu?"
Bu Endang menggeleng pelan.
"Tidak apa-apa."
"Ibu bohong."
Bu Endang tersenyum tipis.
"Kamu masih bisa membaca wajah Ibu rupanya."
Amelia memeluk ibunya dari samping.
"Apa karena aku?"
"Tidak."
"Karena Ryahan?"
Bu Endang akhirnya mengangguk.
"Orang mulai menghubungkan namamu dengannya."
Amelia menarik napas panjang.
"Kalau begitu biarkan saja."
Bu Endang menatap putrinya.
"Kamu tidak takut?"
"Takut."
"Terus?"
"Tapi aku lebih takut menghukum orang yang tidak bersalah."
Jawaban itu membuat mata Bu Endang mulai berkaca-kaca.
Ia memeluk Amelia erat.
"Anakku sudah dewasa."
Siang hari, Pak Burhan mengadakan rapat kecil di balai desa membahas kelanjutan pembangunan taman.
Ryahan tetap datang seperti biasa.
Ia menyapa semua orang dengan sopan.
Sebagian membalas.
Sebagian lagi hanya tersenyum singkat.
Pak Burhan memperhatikan semuanya.
Hatinya terasa sesak.
Ia mengenal Ryahan sejak kecil.
Anak itu tumbuh menjadi pemuda yang rajin, santun, dan ringan tangan.
Namun kini, hanya karena beberapa kabar yang belum tentu benar, sebagian warga mulai menjaga jarak.
Rapat berlangsung singkat.
Sebelum bubar, Pak Burhan berdiri.
"Saya ingin mengatakan sesuatu."
Semua warga menoleh.
"Kita semua hidup di desa yang sama."
"Kita diajarkan untuk bermusyawarah."
"Bukan menghakimi."
Suasana menjadi hening.
"Sebelum ada bukti..."
"...jangan pernah menjatuhkan nama baik seseorang."
Beberapa warga mengangguk pelan.
Namun ada pula yang tetap diam.
Indra yang berdiri di bagian belakang hanya tersenyum sinis.
Baginya, ucapan Pak Burhan sudah terlambat.
Fitnah itu telah berjalan.
Dan fitnah yang terus diulang akan terdengar seperti kebenaran.
Sore hari, Ryahan pulang lebih awal.
Ia mendapati Bu Talia sedang duduk sendirian di beranda sambil menjahit baju yang robek.
"Ibu."
"Iya, Han."
"Boleh aku duduk di sini?"
"Tentu."
Ryahan duduk di samping ibunya.
Tidak ada percakapan selama beberapa menit.
Hanya suara angin yang bertiup pelan.
Tiba-tiba Bu Talia berkata,
"Sejak kamu kecil..."
"...Ibu selalu berdoa agar kamu menjadi orang baik."
Ryahan menatap ibunya.
"Ibu tidak pernah meminta kamu menjadi orang kaya."
"Tidak juga menjadi orang terkenal."
"Ibu hanya ingin..."
"...di mana pun kamu berada, orang mengenangmu sebagai orang yang jujur."
Suara Bu Talia mulai bergetar.
"Karena itu..."
"...Ibu sangat sedih melihat ada orang yang meragukanmu."
Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya jatuh.
Ryahan segera memegang tangan ibunya.
"Bu..."
"Saya tidak apa-apa."
Bu Talia menggeleng.
"Seorang ibu akan selalu merasa sakit ketika anaknya disakiti."
Ryahan tidak mampu berkata apa-apa.
Untuk pertama kalinya sejak fitnah itu muncul, ia melihat ibunya menangis karena dirinya.
Dadanya terasa sesak.
Ia lebih rela dirinya dihina daripada melihat air mata perempuan yang telah melahirkannya.
Di dalam hatinya, Ryahan berjanji.
Apa pun yang terjadi...
ia akan membuktikan bahwa kejujuran yang diajarkan kedua orang tuanya tidak akan pernah bisa dikalahkan oleh kebohongan.
Namun ia belum mengetahui...
bahwa di rumah Pak Kusri, Bu Endang juga sedang meneteskan air mata karena alasan yang hampir sama.
Dua orang ibu.
Dua keluarga.
Dan satu fitnah yang mulai merenggut ketenangan mereka.
Matahari mulai condong ke barat.
Sinar keemasannya menyelimuti hamparan sawah di Desa Sumber Waras. Para petani satu per satu meninggalkan ladang, memanggul cangkul di bahu mereka. Anak-anak yang sejak siang bermain di lapangan desa berlarian pulang ketika suara azan Asar berkumandang dari surau kecil di tengah kampung.
Namun sore itu, ketenangan desa hanya tampak di permukaan.
Di balik pintu-pintu rumah, hati beberapa orang sedang bergolak.
Di rumah Pak Kusri, Bu Endang masih duduk termenung di ruang tamu.
Tatapannya kosong.
Ucapan para ibu di halaman rumah tadi pagi terus terngiang di telinganya.
"Kasihan Amelia..."
"Jangan sampai salah memilih teman..."
Kalimat itu sederhana.
Namun bagi seorang ibu, setiap sindiran yang mengarah kepada anaknya terasa seperti duri yang menusuk hati.
Amelia keluar dari kamar sambil membawa dua cangkir teh hangat.
"Bu..."
"Iya, Nak."
"Minum dulu."
Bu Endang menerima cangkir itu sambil tersenyum.
"Terima kasih."
Amelia duduk di samping ibunya.
Beberapa saat mereka menikmati keheningan.
Kemudian Amelia bertanya pelan,
"Ibu masih memikirkan ucapan orang-orang?"
Bu Endang mengangguk.
"Ibu hanya takut."
"Takut apa?"
"Takut nama baikmu ikut tercemar."
Amelia menggenggam tangan ibunya.
"Kalau kita hidup mengikuti semua ucapan orang..."
"...kita tidak akan pernah merasa tenang."
Bu Endang menatap wajah putrinya.
"Kamu benar."
"Tapi hati seorang ibu berbeda."
"Apa pun yang menyakitimu..."
"...akan terasa berkali-kali lipat menyakiti Ibu."
Mata Amelia mulai berkaca-kaca.
Ia memeluk ibunya erat.
"Ibu tidak perlu takut."
"Aku tahu siapa Ryahan."
"Aku juga tahu siapa diriku."
"Dan suatu saat nanti..."
"...kebenaran pasti menemukan jalannya."
Bu Endang mengusap rambut putrinya dengan penuh kasih sayang.
Di dalam pelukan itu, dua perempuan yang sama-sama kuat akhirnya membiarkan air mata mengalir tanpa kata.
Sementara itu, di rumah Pak Rahmat, suasana juga dipenuhi keheningan.
Ryahan baru selesai membantu ayahnya memperbaiki kandang ayam.
Pak Rahmat masuk ke rumah untuk mandi, sedangkan Ryahan duduk di halaman sambil menatap langit senja.
Tak lama kemudian, Niko datang.
"Han."
"Nik."
"Boleh ngobrol?"
Ryahan tersenyum.
"Duduklah."
Niko duduk di samping sahabatnya.
"Aku baru pulang dari warung."
"Lalu?"
"Masih ada yang membicarakanmu."
Ryahan hanya mengangguk.
"Aku sudah menduga."
Niko menatap wajah Ryahan.
"Kamu marah?"
Ryahan menggeleng.
"Capek."
"Bukan marah."
Niko menarik napas panjang.
"Kadang aku ingin mencari siapa yang memulai semua ini."
Ryahan menatap sahabatnya.
"Jangan."
"Kenapa?"
"Kalau kita membalas kebencian dengan kebencian..."
"...apa bedanya kita dengan mereka?"
Niko terdiam.
Semakin hari ia semakin kagum kepada Ryahan.
Di saat dirinya sendiri hampir kehilangan kesabaran, Ryahan justru tetap berusaha menjaga hati.
Di ujung desa, Indra, Rinto, dan Susianti kembali berkumpul.
Mereka memperhatikan keadaan dari kejauhan.
Rinto tersenyum puas.
"Fitnahnya mulai berhasil."
"Tapi Amelia masih tetap membela Ryahan."
kata Susianti.
Indra mengangguk pelan.
"Itu yang harus diubah."
"Aku sudah punya rencana."
Rinto mengangkat alis.
"Apa lagi?"
Indra memandang rumah Pak Kusri.
"Kita buat Pak Kusri sendiri yang melarang Amelia bertemu Ryahan."
"Bagaimana caranya?"
Indra tersenyum tipis.
"Dengan membuatnya percaya bahwa Ryahan adalah ancaman bagi keluarganya."
Rinto dan Susianti saling berpandangan.
Mereka mulai memahami bahwa permainan ini tidak lagi sekadar menjatuhkan nama baik.
Kini sasarannya adalah hubungan kedua keluarga.
Malam turun.
Selepas salat Isya, Pak Rahmat duduk di ruang tengah bersama Bu Talia.
Lampu minyak di atas meja memancarkan cahaya redup.
"Bu."
"Iya, Pak."
"Aku khawatir."
"Khawatir tentang Ryahan?"
Pak Rahmat mengangguk.
"Dia terlalu memendam semuanya."
Bu Talia menghela napas.
"Sejak kecil memang begitu."
"Kalau sedih..."
"...dia lebih memilih diam."
Pak Rahmat menatap ke arah kamar anaknya.
"Semoga hatinya tetap kuat."
Bu Talia menggenggam tangan suaminya.
"Kita hanya bisa mendoakannya."
Di dalam kamar, Ryahan belum tidur.
Ia membuka kembali buku catatan kecil yang dulu ditulis bersama sahabat-sahabatnya.
Di halaman pertama masih tertulis kalimat yang mereka buat bertahun-tahun lalu.
"Persahabatan sejati tidak akan runtuh oleh jarak, waktu, ataupun fitnah."
Ryahan tersenyum pahit.
"Semoga benar."
Ia menutup buku itu perlahan.
Malam semakin larut.
Ketika seluruh penghuni rumah telah terlelap, Bu Talia bangun untuk menunaikan salat tahajud.
Rumah itu begitu sunyi.
Hanya terdengar suara angin yang meniup dedaunan di luar.
Selesai salat, Bu Talia mengangkat kedua tangannya.
Air mata kembali jatuh membasahi pipinya.
"Ya Allah..."
"Engkau Maha Mengetahui apa yang tidak diketahui manusia."
"Jika anakku berada di jalan-Mu..."
"...lindungilah dia."
"Jika ada orang yang menzaliminya..."
"...bukakanlah hati mereka agar melihat kebenaran."
"Jangan biarkan fitnah menghancurkan masa depannya."
"Dan jika Engkau menguji kami..."
"...berikanlah kami kesabaran sebagaimana Engkau memberi kesabaran kepada hamba-hamba-Mu yang saleh."
Doa itu dipanjatkan dengan suara lirih.
Namun setiap kalimat lahir dari hati seorang ibu yang tak pernah berhenti mencintai anaknya.
Di waktu yang hampir bersamaan, di rumah Pak Kusri...
Bu Endang juga terbangun.
Ia melakukan salat malam.
Dan tanpa saling mengetahui, kedua ibu itu memanjatkan doa yang hampir sama.
Mereka tidak meminta harta.
Tidak meminta kedudukan.
Mereka hanya memohon agar anak-anak mereka dijauhkan dari kebohongan dan dipertemukan dengan jalan kebenaran.
Sementara itu, di sebuah gubuk tua di pinggir desa, tiga orang masih terjaga.
Indra membentangkan secarik kertas di atas meja.
"Itu apa?"
tanya Rinto.
"Peta."
"Peta apa?"
"Peta menuju langkah berikutnya."
Susianti mendekat.
Indra menunjuk beberapa nama yang ditulis di atas kertas.
Ryahan.
Amelia.
Pak Rahmat.
Pak Kusri.
Kemudian ia menarik sebuah garis yang menghubungkan nama-nama itu.
"Selama mereka masih saling percaya..."
"...kita tidak akan pernah menang."
"Lalu?"
"Kita putuskan kepercayaan itu."
Ia kemudian melingkari satu nama.
Pak Kusri.
"Mulai besok..."
"...semuanya akan berubah."
Lampu minyak bergoyang pelan diterpa angin malam.
Bayangan ketiga orang itu memanjang di dinding bambu, seolah menjadi pertanda bahwa badai yang lebih besar sedang menunggu di depan.
Sementara di dua rumah yang berbeda, dua orang ibu menutup malam dengan doa dan air mata.
Mereka belum mengetahui bahwa ujian sesungguhnya baru akan dimulai.
Karena keesokan harinya...
Amelia akan dihadapkan pada sebuah keputusan yang akan mengubah jalan hidupnya.
BAB X
KEPUTUSAN YANG MENYAKITKAN
Mentari pagi menyelinap perlahan melalui celah-celah dedaunan yang mengelilingi Desa Sumber Waras. Cahaya keemasannya menerpa atap-atap rumah kayu yang masih basah oleh embun, sementara suara burung berkicau seakan mengawali hari dengan harapan baru.
Namun pagi itu, harapan tidak tumbuh di setiap hati.
Di beberapa rumah, terutama di rumah Pak Rahmat dan Pak Kusri, kegelisahan masih menjadi tamu yang enggan pergi.
Amelia sedang menyiram bunga-bunga di halaman rumah ketika Pak Kusri keluar dari dalam rumah dengan wajah yang tampak lebih serius daripada biasanya.
"Mel."
"Iya, Pak?"
"Setelah selesai, Bapak ingin bicara."
Amelia menghentikan aktivitasnya.
Nada suara ayahnya terdengar berbeda.
Lebih berat.
Lebih tegas.
"Baik, Pak."
Ia melanjutkan pekerjaannya, tetapi pikirannya mulai dipenuhi berbagai pertanyaan.
Apakah ayahnya mengetahui sesuatu?
Ataukah kembali ada kabar yang beredar tentang Ryahan?
Sementara itu, di rumah Pak Rahmat, Ryahan bersiap menuju balai desa.
Hari itu pembangunan taman hampir selesai.
Pak Burhan meminta seluruh pemuda datang lebih pagi agar pekerjaan bisa segera dituntaskan.
"Han."
Pak Rahmat memanggil putranya sebelum berangkat.
"Iya, Pak."
"Kalau nanti ada orang yang memancing emosimu..."
"...jangan dilayani."
Ryahan mengangguk.
"Saya mengerti."
Pak Rahmat menepuk bahunya.
"Ingat."
"Kadang kemenangan terbesar bukan ketika kita mampu membalas."
"Tetapi ketika kita mampu menahan diri."
Ryahan tersenyum.
"Terima kasih, Pak."
Di balai desa, suasana kembali ramai.
Niko dan Naryo sedang memasang pagar kayu.
Liana serta Anita menanam bunga terakhir di sisi taman.
Pak Burhan tampak tersenyum melihat hasil kerja mereka selama beberapa minggu terakhir.
"Kalau begini, anak-anak desa punya tempat bermain yang layak."
Semua mengangguk puas.
Ryahan ikut membantu memasang papan nama taman.
Tulisan "TAMAN GOTONG ROYONG DESA SUMBER WARAS" mulai berdiri tegak di depan balai desa.
Melihat hasil kerja itu, hati Ryahan sedikit lebih tenang.
Setidaknya masih ada sesuatu yang bisa ia banggakan di tengah berbagai fitnah yang terus menghantam dirinya.
Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama.
Indra datang bersama Rinto.
Mereka berdiri tidak jauh dari taman.
"Bagus juga tamannya."
kata Rinto sambil tersenyum sinis.
Indra hanya memandang Ryahan tanpa berkata apa-apa.
Tatapannya dingin.
Seolah sedang menunggu waktu yang tepat untuk kembali menyerang.
Menjelang siang, Amelia datang membawa makanan yang telah disiapkan Bu Ratna dan beberapa ibu PKK.
Ketika melihat Ryahan sedang bekerja, ia menghampiri dengan membawa sebotol air minum.
"Han."
Ryahan menoleh.
"Oh, Mel."
"Kamu belum istirahat?"
"Sebentar lagi."
Amelia menyerahkan botol itu.
"Minumlah dulu."
"Terima kasih."
Mereka hanya berbincang sebentar.
Tidak ada kata-kata romantis.
Tidak ada sentuhan yang berlebihan.
Hanya perhatian sederhana yang lahir dari ketulusan.
Namun dari kejauhan, Indra memperhatikan semua itu.
Tangannya mengepal kuat.
"Masih juga..."
gumamnya pelan.
Rinto mendekat.
"Apa sekarang?"
Indra menggeleng.
"Bukan di sini."
"Kenapa?"
"Karena yang harus melihat bukan aku."
"Siapa?"
"Pak Kusri."
Senyum tipis kembali muncul di wajahnya.
Sore hari, setelah pekerjaan selesai, Amelia pulang ke rumah.
Pak Kusri telah menunggunya di ruang tamu.
"Sudah selesai membantu di balai desa?"
"Iya, Pak."
"Duduk."
Amelia duduk perlahan.
Ia melihat wajah ayahnya begitu serius.
Beberapa saat tidak ada percakapan.
Hanya suara jam dinding yang terdengar berdetak.
Akhirnya Pak Kusri membuka pembicaraan.
"Mel."
"Iya, Pak."
"Bapak ingin bertanya dengan jujur."
Amelia mengangguk.
"Apakah kamu menyukai Ryahan?"
Pertanyaan itu membuat Amelia terdiam.
Jantungnya berdetak lebih cepat.
Ia tidak menyangka ayahnya akan bertanya secara langsung.
Pak Kusri kembali berkata,
"Bapak tidak ingin mendengar jawaban yang dibuat-buat."
"Katakan apa adanya."
Amelia menundukkan kepala.
Keheningan memenuhi ruangan.
Setelah beberapa saat, ia mengangkat wajahnya.
"Iya, Pak."
"Saya menyukainya."
Jawaban itu keluar dengan suara pelan, tetapi tegas.
Pak Kusri memejamkan mata.
Seolah jawaban itu telah ia duga sejak lama.
Bu Endang yang sejak tadi berdiri di balik pintu perlahan masuk ke ruang tamu.
Ia duduk di samping Amelia.
Suasana menjadi semakin berat.
Pak Kusri menarik napas panjang.
"Bapak tidak pernah melarangmu berteman."
"Tapi keadaan sekarang berbeda."
Amelia memandang ayahnya.
"Karena fitnah itu?"
Pak Kusri mengangguk.
"Bukan hanya itu."
"Ada luka lama antara keluarga kita."
Amelia teringat cerita yang pernah didengarnya secara samar-samar tentang hilangnya uang bertahun-tahun lalu.
"Pak..."
"Apa Ryahan harus menanggung kesalahan masa lalu?"
Pak Kusri tidak langsung menjawab.
Beliau memandang keluar jendela.
"Bapak tidak mengatakan dia bersalah."
"Lalu?"
"Bapak hanya tidak ingin kamu ikut terluka."
Amelia menahan air mata.
"Kalau saya menjauh..."
"...apakah semua akan selesai?"
Pak Kusri menundukkan kepala.
"Bapak tidak tahu."
"Tapi setidaknya..."
"...orang tidak akan lagi mengaitkan namamu dengannya."
Kalimat itu menghantam hati Amelia.
Ia sadar.
Ayahnya tidak sedang membenci Ryahan.
Ayahnya hanya ingin melindungi putrinya dari omongan orang.
Namun perlindungan itu justru terasa seperti tembok yang memisahkan dua hati.
Malam mulai turun.
Amelia duduk sendirian di teras rumah.
Langit dipenuhi bintang.
Namun keindahannya tidak mampu mengusir kesedihan di dalam hatinya.
Tak lama kemudian, Bu Endang duduk di sampingnya.
"Ibu tahu..."
"...ini tidak mudah."
Air mata Amelia akhirnya jatuh.
"Aku tidak ingin menyakiti Bapak."
"Tapi..."
"...aku juga tidak ingin meninggalkan Ryahan."
Bu Endang menggenggam tangan putrinya.
"Dalam hidup..."
"...kadang kita dipaksa memilih antara kebahagiaan sendiri dan kebahagiaan orang yang kita cintai."
Amelia terisak pelan.
"Apa yang harus aku lakukan, Bu?"
Bu Endang memeluk putrinya.
"Ibu tidak bisa memilihkan jalan untukmu."
"Tetapi apa pun keputusanmu..."
"...Ibu akan tetap mendoakanmu."
Pelukan itu membuat tangis Amelia pecah.
Untuk pertama kalinya, ia merasakan bahwa cinta bukan hanya tentang pertemuan.
Kadang...
cinta juga menuntut pengorbanan yang begitu menyakitkan.
Di waktu yang sama, Ryahan sedang duduk di beranda rumahnya.
Entah mengapa malam itu hatinya terasa gelisah.
Ia memandang jalan menuju rumah Amelia yang mulai gelap.
Tanpa ia ketahui...
di rumah yang tak begitu jauh darinya, perempuan yang dicintainya sedang menangis karena sebuah keputusan yang akan mengubah hidup mereka berdua.
Dan keputusan itu...
akan segera diucapkan pada pertemuan berikutnya.
Malam di Desa Sumber Waras terasa lebih sunyi dari biasanya.
Angin berembus perlahan melewati pepohonan yang mengelilingi desa, membawa aroma tanah basah sisa hujan sore. Dari kejauhan terdengar suara serangga malam yang saling bersahutan, seolah mengiringi kesedihan yang sedang menyelimuti dua hati.
Di rumah Pak Kusri, Amelia masih belum mampu memejamkan mata.
Percakapannya dengan sang ayah terus terulang di dalam pikirannya.
"Bapak hanya tidak ingin kamu ikut terluka."
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun bagi Amelia, kalimat itu menjadi beban yang begitu berat.
Ia memahami maksud ayahnya.
Pak Kusri tidak membenci Ryahan.
Beliau hanya ingin menjaga nama baik putrinya dan menghindarkannya dari konflik lama yang belum pernah benar-benar selesai.
Namun, semakin ia mencoba menerima alasan itu, semakin terasa sesak dadanya.
Sebab yang harus ia lepaskan bukanlah sebuah kenangan.
Melainkan seseorang yang diam-diam telah menjadi bagian dari masa depannya.
Menjelang Subuh, Amelia mengambil air wudu.
Ia menunaikan salat dengan khusyuk.
Usai berdoa, ia masih duduk di atas sajadah.
Air mata kembali mengalir.
"Ya Allah..."
"Kalau memang ini jalan yang harus kulewati..."
"...tolong kuatkan hatiku."
"Jangan biarkan aku menjadi anak yang durhaka kepada orang tua."
"Tapi..."
"...jangan pula biarkan Ryahan membenciku karena keputusan ini."
Doa itu keluar lirih.
Tidak ada yang mendengar.
Kecuali Tuhan yang mengetahui seluruh isi hatinya.
Pagi harinya, Desa Sumber Waras kembali beraktivitas seperti biasa.
Ryahan berangkat menuju balai desa untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan terakhir di taman.
Sementara Amelia berjalan menuju perpustakaan kecil desa untuk mengembalikan beberapa buku bacaan anak-anak.
Sesungguhnya...
ia sengaja memilih jalan itu.
Karena ia tahu, Ryahan biasanya melewati jalan yang sama.
Dan benar saja.
Di tikungan dekat pohon trembesi tua, mereka bertemu.
Ryahan tersenyum lebih dahulu.
"Mel."
Amelia membalas senyum itu, meski matanya tampak sembab.
"Kamu baik-baik saja?"
Ryahan langsung menyadari perubahan wajahnya.
"Kamu menangis?"
Amelia menggeleng pelan.
"Hanya kurang tidur."
Ryahan tidak percaya.
Namun ia tidak ingin memaksa.
"Ayo."
"Kita duduk sebentar."
Mereka berjalan menuju bangku kayu di bawah pohon trembesi.
Tempat yang sejak kecil sering mereka gunakan untuk beristirahat sepulang sekolah.
Tempat yang menyimpan begitu banyak kenangan.
Beberapa saat mereka hanya diam.
Ryahan memecah keheningan.
"Mel..."
"Akhir-akhir ini banyak sekali hal yang berubah."
Amelia menundukkan kepala.
"Iya."
"Tapi satu hal tidak berubah."
"Apa?"
"Aku masih percaya kepadamu."
Kalimat itu membuat Ryahan tersenyum.
"Terima kasih."
"Bahkan ketika orang lain mulai meragukanku..."
"...kamu tetap percaya."
Amelia menggigit bibirnya.
Justru karena kepercayaan itulah ia merasa semakin sulit mengucapkan apa yang harus disampaikan.
Ryahan memperhatikan wajahnya.
"Kamu ingin mengatakan sesuatu?"
Amelia mengangguk pelan.
Tangannya mulai gemetar.
"Han..."
"Iya?"
"Mulai hari ini..."
Ia berhenti.
Suara yang keluar terasa tercekat.
Ryahan mulai merasa tidak enak.
"Ada apa?"
Amelia memejamkan mata sejenak.
"Lebih baik..."
"...kita tidak terlalu sering bertemu lagi."
Ryahan terdiam.
Seolah waktu berhenti berputar.
"Apa?"
Amelia menahan tangis.
"Bapak memintaku menjaga jarak."
"Karena fitnah yang sedang beredar."
Ryahan menundukkan kepala.
Ia memahami.
Tetapi tetap saja...
kenyataan itu terasa begitu menyakitkan.
"Jadi..."
"...ini keputusanmu?"
Amelia langsung menggeleng.
"Bukan."
"Ini keputusanku sebagai seorang anak."
"Aku tidak ingin menyakiti orang tuaku."
Air mata mulai jatuh di pipinya.
"Tapi bukan berarti aku berhenti mempercayaimu."
Ryahan tersenyum tipis.
Senyum yang dipenuhi kepedihan.
"Aku mengerti."
"Kamu marah?"
Ryahan menggeleng.
"Aku tidak punya hak untuk marah."
"Kenapa?"
"Karena aku tahu..."
"...kamu sedang memilih berbakti kepada orang tuamu."
"Itu bukan kesalahan."
Amelia menangis semakin keras.
"Maafkan aku."
Ryahan menghela napas panjang.
"Jangan meminta maaf."
"Kalau suatu hari nanti..."
"...aku menjadi ayah."
"Mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama."
Kalimat itu membuat Amelia semakin sulit menahan tangis.
Tak jauh dari tempat itu, tanpa mereka sadari, Indra berdiri di balik pepohonan bersama Rinto.
Ia menyaksikan semuanya.
Senyum kemenangan perlahan menghiasi wajahnya.
"Akhirnya."
Rinto tertawa pelan.
"Berhasil juga."
Indra mengangguk.
"Ini baru langkah pertama."
Ia belum puas.
Karena baginya, menjauh saja belum cukup.
Ia ingin Ryahan benar-benar pergi dari kehidupan Amelia.
Di bawah pohon trembesi, Amelia berdiri.
"Aku harus pulang."
Ryahan ikut berdiri.
"Kapan kita bisa bertemu lagi?"
Amelia menggeleng perlahan.
"Aku tidak tahu."
"Kalau nanti kita berpapasan?"
"Aku tetap akan menyapamu."
"Kalau ada kegiatan desa?"
"Aku akan tetap datang."
"Lalu apa yang berubah?"
Amelia menatap mata Ryahan.
"Kita."
"Kita harus belajar menyimpan rasa ini."
Ryahan memejamkan mata.
Ia berusaha menahan gejolak di dalam dadanya.
"Baik."
"Kalau itu yang membuatmu tenang."
Amelia mengangguk.
"Satu permintaanku."
"Apa?"
"Jangan berhenti menjadi Ryahan yang selama ini kukenal."
Ryahan tersenyum, meski matanya mulai basah.
"Aku akan berusaha."
Amelia mengulurkan tangan.
"Terima kasih..."
"...karena pernah menjadi bagian terindah dalam hidupku."
Ryahan menyambut tangan itu.
Mereka berjabat tangan.
Sederhana.
Tanpa pelukan.
Tanpa kata cinta.
Namun justru kesederhanaan itulah yang membuat perpisahan mereka terasa jauh lebih menyakitkan.
Beberapa detik kemudian Amelia melepaskan genggamannya.
Ia membalikkan badan.
Melangkah pergi.
Semakin jauh.
Semakin kecil.
Hingga akhirnya menghilang di tikungan jalan desa.
Ryahan tetap berdiri di tempatnya.
Ia tidak memanggil.
Tidak mengejar.
Karena ia tahu...
cinta yang tulus tidak akan pernah memaksa seseorang memilih antara kekasih dan orang tua.
Sore harinya, Niko datang ke rumah Ryahan.
Ia mendapati sahabatnya sedang duduk sendirian di beranda.
"Kamu kenapa?"
Ryahan tersenyum hambar.
"Amelia menjauh."
Niko langsung terdiam.
"Apa karena fitnah itu?"
Ryahan mengangguk.
"Bukan karena dia berhenti percaya."
"Tapi karena dia terlalu mencintai kedua orang tuanya."
Niko duduk di samping Ryahan.
"Dan kamu?"
Ryahan memandang langit yang mulai memerah.
"Aku memilih mencintainya dengan cara melepaskannya."
Niko menghela napas panjang.
Ia tahu...
mulai hari itu, sahabatnya akan menjalani hari-hari yang jauh lebih berat.
Di rumah Pak Kusri, Amelia menutup pintu kamarnya.
Ia memeluk buku yang pernah dipinjamkan Ryahan.
Tangisnya pecah sekali lagi.
Sementara di rumah Pak Rahmat, Ryahan duduk menatap matahari yang perlahan tenggelam di balik perbukitan.
Untuk pertama kalinya sejak mereka saling mengenal...
senja terasa begitu dingin.
Bukan karena angin.
Melainkan karena orang yang selalu menemani senja itu kini memilih berjalan di jalan yang berbeda.
Namun takdir belum selesai menuliskan kisah mereka.
Karena perpisahan ini bukanlah akhir.
Melainkan awal dari perjalanan panjang yang akan membawa Ryahan meninggalkan Desa Sumber Waras, mengejar mimpi, menghadapi luka yang lebih dalam, dan menemukan dirinya di sebuah kota yang kelak menjadi pelabuhan terakhir kehidupannya.
BAB XI
JALAN YANG BERBEDA
Fajar baru saja merekah di ufuk timur ketika Desa Sumber Waras mulai menggeliat dari tidurnya. Kabut tipis masih menyelimuti hamparan sawah, sementara embun menggantung di ujung daun padi yang diterpa cahaya matahari. Di kejauhan, suara ayam jantan bersahutan, disusul bunyi mesin sepeda motor para petani yang hendak berangkat ke ladang.
Namun pagi itu, bagi Ryahan, suasana desa terasa berbeda.
Bukan karena alamnya berubah.
Melainkan karena hatinya yang tak lagi sama.
Sejak pertemuan terakhir dengan Amelia di bawah pohon trembesi, ia merasa seolah kehilangan arah. Senyum yang biasa menghiasi wajahnya perlahan memudar. Ia tetap bekerja, tetap membantu warga, tetap menghormati siapa pun yang ditemuinya, tetapi ada ruang kosong yang semakin sulit diisi.
Perpisahan itu bukan sekadar memisahkan dua insan yang saling mencintai.
Perpisahan itu telah merenggut sebagian semangat yang selama ini menjadi alasan Ryahan bertahan.
Pagi itu Pak Rahmat sedang menajamkan mata cangkul di halaman rumah.
Sesekali beliau memperhatikan putranya yang duduk diam di beranda sambil memandang jalan desa.
Sudah hampir satu jam Ryahan berada di sana.
Tanpa melakukan apa-apa.
"Han."
Ryahan menoleh.
"Iya, Pak?"
"Kemarilah."
Ryahan menghampiri ayahnya.
Pak Rahmat menyerahkan batu asah.
"Tolong lanjutkan."
Ryahan mulai mengasah mata cangkul perlahan.
Suara gesekan besi dengan batu memecah keheningan pagi.
Beberapa saat kemudian Pak Rahmat berkata,
"Kamu sedang memikirkan Amelia?"
Ryahan menghentikan tangannya.
Ia tidak terkejut.
Ayahnya selalu mampu membaca isi hatinya tanpa harus banyak bertanya.
"Iya, Pak."
Pak Rahmat mengangguk pelan.
"Bapak sudah menduga."
Ryahan menundukkan kepala.
"Saya gagal mempertahankan orang yang saya cintai."
Pak Rahmat tersenyum tipis.
"Siapa bilang kamu gagal?"
Ryahan memandang ayahnya dengan bingung.
"Kalau memang kalian saling mencintai..."
"...lalu memilih menghormati orang tua..."
"...itu bukan kegagalan."
"Itu kedewasaan."
Ryahan terdiam.
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun perlahan mulai membuka cara pandangnya.
Bu Talia keluar membawa teh hangat dan singkong rebus.
"Dari tadi pagi kalian serius sekali."
Pak Rahmat tertawa kecil.
"Kami sedang belajar menerima hidup."
Bu Talia meletakkan nampan di atas meja.
"Kehidupan memang tidak selalu memberikan apa yang kita inginkan."
"Tapi sering kali memberikan apa yang kita butuhkan."
Ryahan tersenyum.
"Ibu juga mulai pandai memberi nasihat."
Bu Talia mencubit pelan lengan anaknya.
"Sejak kapan Ibu tidak pandai?"
Mereka bertiga tertawa.
Sudah beberapa hari rumah itu dipenuhi kesedihan.
Tawa kecil pagi itu terasa seperti embun yang menyejukkan hati.
Menjelang siang, Niko datang mengendarai sepeda motornya.
"Han!"
Ryahan keluar dari rumah.
"Ada apa?"
"Ayo ikut."
"Ke mana?"
"Balai desa."
"Pak Burhan memanggil semua pemuda."
Ryahan mengangguk.
"Baik."
Mereka berangkat bersama.
Sepanjang perjalanan, Niko sesekali melirik sahabatnya.
"Kamu lebih banyak diam."
Ryahan tersenyum tipis.
"Sedang belajar menerima kenyataan."
Niko menghela napas.
"Kalau aku jadi kamu..."
"...mungkin aku sudah marah kepada semua orang."
Ryahan menggeleng.
"Marah tidak akan mengubah apa pun."
"Tapi diam juga menyakitkan."
Ryahan memandang jalan tanah yang terbentang di depan.
"Kadang..."
"...rasa sakit harus dilewati, bukan dihindari."
Niko tidak menjawab.
Ia sadar, luka yang dialami Ryahan telah membuat sahabatnya jauh lebih dewasa dibandingkan sebelumnya.
Sesampainya di balai desa, hampir seluruh pemuda telah berkumpul.
Pak Burhan berdiri di depan mereka.
Di sampingnya terdapat beberapa berkas dan sebuah peta wilayah desa.
"Terima kasih sudah datang."
Semua memperhatikan.
Pak Burhan melanjutkan,
"Beberapa hari lalu saya menghadiri rapat di kecamatan."
"Ada program pelatihan keterampilan untuk pemuda."
Beberapa pemuda mulai berbisik antusias.
"Pelatihan apa, Pak?"
"Pertanian modern."
"Pengelolaan usaha kecil."
"Teknologi informasi."
"Dan pelatihan kerja di kota."
Suasana langsung menjadi ramai.
Pak Burhan tersenyum.
"Pesertanya terbatas."
"Hanya dua orang dari desa kita."
Semua saling berpandangan.
Pak Burhan membuka daftar nama.
"Setelah berdiskusi dengan perangkat desa..."
"...kami memilih dua orang."
Beliau berhenti sejenak.
"Ryahan."
Semua mata tertuju kepada Ryahan.
"Dan..."
"Niko."
Niko tampak terkejut.
"Saya juga, Pak?"
Pak Burhan mengangguk.
"Kalian berdua dinilai paling siap."
Ryahan berdiri perlahan.
"Pelatihannya di mana, Pak?"
"Di Kota Kuala Kapuas."
Mendengar nama kota itu, Ryahan terdiam.
Kuala Kapuas.
Kota yang selama ini hanya ia dengar dari cerita para perantau desa.
Kota yang menjadi pusat aktivitas, perdagangan, dan pendidikan di kabupaten.
Sebuah dunia yang sangat berbeda dari Desa Sumber Waras.
Rapat selesai.
Para pemuda mulai membubarkan diri.
Pak Burhan memanggil Ryahan secara khusus.
"Han."
"Iya, Pak."
"Kamu masih ingin tinggal di desa?"
Pertanyaan itu membuat Ryahan berpikir.
"Saya mencintai desa ini."
"Tapi?"
"Saya juga ingin belajar lebih banyak."
Pak Burhan mengangguk.
"Itulah alasan saya memilihmu."
"Desa membutuhkan orang yang berani pergi."
Ryahan mengernyit.
"Bukankah desa membutuhkan orang yang tetap tinggal?"
Pak Burhan tersenyum bijak.
"Orang yang pergi untuk belajar..."
"...akan pulang membawa perubahan."
"Sedangkan orang yang pergi untuk melupakan asalnya..."
"...tidak akan pernah benar-benar kembali."
Kalimat itu begitu membekas di hati Ryahan.
Dalam perjalanan pulang, Ryahan memilih berjalan kaki sendirian melewati jalan setapak yang membelah sawah.
Angin bertiup pelan.
Burung-burung pipit beterbangan di atas hamparan padi.
Di kejauhan tampak rumah Amelia.
Tanpa sadar langkahnya melambat.
Ia berhenti cukup jauh.
Tidak mendekat.
Hanya memandang dari kejauhan.
Di halaman rumah, Amelia sedang membantu Bu Endang menjemur padi.
Mereka tampak berbincang sambil sesekali tersenyum.
Ryahan tersenyum kecil.
"Syukurlah..."
"...dia masih bisa tersenyum."
Ia memilih melanjutkan langkahnya.
Tanpa menyapa.
Tanpa ingin mengganggu keputusan yang telah mereka sepakati.
Namun tanpa diketahui Ryahan, Amelia sempat mengangkat wajahnya.
Dari kejauhan ia melihat sosok yang sangat dikenalnya berjalan melewati jalan setapak itu.
Hati kecilnya ingin memanggil.
Ingin berlari.
Ingin menanyakan kabarnya.
Namun ia hanya mampu menggenggam ujung kerudungnya erat.
Air mata kembali menggenang di pelupuk matanya.
"Maafkan aku, Han..." bisiknya dalam hati.
Menjelang senja, Ryahan duduk sendirian di bukit tempat ia dan sahabat-sahabatnya dulu mengubur kotak berisi mimpi.
Ia menggali tanah itu perlahan.
Kotak kayu kecil itu masih utuh.
Ia membukanya.
Di dalamnya terdapat secarik kertas bertuliskan mimpi-mimpi mereka semasa kecil.
"Suatu hari nanti kita akan menjadi orang yang berguna bagi desa."
Ryahan tersenyum.
Ia menatap langit yang mulai berwarna jingga.
Mungkin...
inilah saatnya.
Mungkin jalan hidupnya memang harus berubah.
Bukan untuk melarikan diri dari luka.
Tetapi untuk menemukan masa depan yang selama ini hanya menjadi impian.
Di balik perbukitan, matahari perlahan tenggelam.
Sementara di dalam hati Ryahan, sebuah keputusan mulai tumbuh.
Keputusan yang akan membawanya meninggalkan Desa Sumber Waras.
Menuju dunia baru yang belum pernah ia kenal.
Sebuah perjalanan yang akan mengubah seluruh jalan hidupnya.
Senja perlahan tenggelam di balik perbukitan yang mengelilingi Desa Sumber Waras. Langit yang semula berwarna keemasan berubah menjadi jingga kemerahan, lalu perlahan diselimuti biru gelap. Dari surau desa, suara azan Magrib berkumandang, mengajak setiap insan menghentikan sejenak kesibukan dunia.
Ryahan masih duduk di atas bukit tempat ia menyimpan kotak berisi mimpi-mimpi masa kecilnya.
Kotak itu telah kembali ia kubur.
Namun kali ini, ia merasa seolah ikut mengubur sebagian masa lalunya.
Ia memandang ke arah desa yang mulai diterangi lampu-lampu rumah. Di sanalah ia dilahirkan, dibesarkan, belajar tentang kehidupan, mengenal arti persahabatan, dan untuk pertama kalinya merasakan cinta.
Tetapi kini...
ia harus bersiap meninggalkannya.
Malam itu, rumah Pak Rahmat terasa lebih sunyi daripada biasanya.
Setelah makan malam, Ryahan mengumpulkan keberanian untuk berbicara.
Pak Rahmat dan Bu Talia duduk berhadapan dengannya.
"Ada yang ingin saya sampaikan."
Pak Rahmat mengangguk.
"Bicaralah."
Ryahan menarik napas panjang.
"Saya ingin mengikuti pelatihan di Kota Kuala Kapuas."
Ruangan mendadak hening.
Bu Talia menatap wajah putranya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Jadi..."
"...kamu benar-benar akan pergi?"
Ryahan mengangguk perlahan.
"Saya ingin belajar."
"Saya ingin menjadi orang yang lebih berguna."
Pak Rahmat tidak langsung menjawab.
Beliau menatap putranya cukup lama, seolah melihat kembali anak kecil yang dulu sering berlari di halaman rumah dengan kaki penuh lumpur.
"Waktu memang cepat berlalu."
gumamnya pelan.
"Dulu kamu selalu bersembunyi di belakang Bapak."
"Sekarang..."
"...kamu sudah siap menghadapi dunia."
Ryahan tersenyum tipis.
"Saya tidak tahu apakah saya benar-benar siap."
"Tapi saya harus mencoba."
Pak Rahmat mengangguk mantap.
"Lelaki tidak akan pernah menjadi dewasa kalau hanya hidup di tempat yang sama."
"Pergilah."
"Belajarlah."
"Kalau nanti berhasil..."
"...jangan lupa pulang."
Kalimat terakhir itu membuat dada Ryahan terasa sesak.
"Saya pasti pulang, Pak."
Bu Talia yang sejak tadi diam akhirnya berbicara.
"Ibu tidak pernah melarangmu mengejar mimpi."
"Tapi..."
"...jangan lupa makan."
Ryahan tertawa kecil.
"Ibu..."
Bu Talia ikut tersenyum.
"Di mana pun kamu berada..."
"...tidak ada yang lebih mengkhawatirkan anaknya selain seorang ibu."
Air mata akhirnya jatuh di pipinya.
Ryahan segera berpindah tempat dan memeluk ibunya.
"Doakan saya."
"Selalu."
jawab Bu Talia sambil mengusap kepala putranya.
Keesokan harinya, kabar keberangkatan Ryahan mulai menyebar ke seluruh desa.
Niko menjadi orang pertama yang datang.
"Jadi benar?"
"Iya."
"Kapan berangkat?"
"Minggu depan."
Niko menghela napas.
"Desa ini bakal sepi."
Ryahan tersenyum.
"Aku hanya pergi belajar."
"Bukan menghilang."
Niko menepuk bahu sahabatnya.
"Aku bangga sama kamu."
"Tapi..."
"...aku juga akan sangat merindukanmu."
Tak lama kemudian, Naryo, Anita, dan Liana ikut datang.
Mereka membawa beberapa makanan ringan buatan rumah.
"Ini bekal."
kata Anita sambil tersenyum.
"Belum berangkat sudah diberi bekal?"
candaan Ryahan membuat mereka semua tertawa.
Namun tawa itu tidak mampu menyembunyikan kesedihan yang mulai terasa.
Liana memandang Ryahan.
"Jangan berubah."
Ryahan mengangguk.
"Kalau nanti sudah sukses..."
"...jangan pura-pura tidak kenal."
tambah Naryo.
Ryahan tertawa.
"Kalian ini."
"Mana mungkin."
Niko kemudian mengeluarkan sebuah buku kecil.
"Apa itu?"
"Buku catatan."
"Kami semua sudah menulis sesuatu di dalamnya."
"Kalau nanti kamu rindu desa..."
"...bacalah."
Ryahan menerima buku itu dengan kedua tangan.
Matanya mulai berkaca-kaca.
"Terima kasih."
Di sisi lain desa, Amelia mendengar kabar itu dari Bu Ratna yang sedang berbelanja di warung.
"Ryahan mau ke Kuala Kapuas."
Amelia menghentikan langkahnya.
"Kapan?"
"Minggu depan."
Ia hanya mengangguk pelan.
Namun setelah sampai di rumah, ia langsung masuk ke kamar.
Pintu ditutup perlahan.
Ia duduk di tepi tempat tidur.
Kabar yang selama ini tidak pernah ia bayangkan akhirnya datang juga.
Ryahan benar-benar akan pergi.
Jauh dari Desa Sumber Waras.
Jauh darinya.
Ia membuka laci meja belajar.
Di dalamnya masih tersimpan sebuah pena kayu sederhana.
Pena itu adalah hadiah dari Ryahan ketika mereka sama-sama lulus sekolah menengah.
"Supaya nanti kamu jadi penulis hebat."
Kalimat itu masih ia ingat dengan jelas.
Amelia menggenggam pena itu erat.
Air matanya jatuh tanpa suara.
Malam menjelang.
Di bawah langit yang dipenuhi bintang, Pak Burhan datang ke rumah Pak Rahmat.
Beliau membawa sebuah map berwarna cokelat.
"Ini seluruh berkas pelatihan."
Ryahan menerimanya.
"Terima kasih, Pak."
Pak Burhan duduk di kursi bambu.
"Han."
"Iya?"
"Pergi bukan berarti melupakan."
"Saya tahu."
"Desa ini membutuhkan anak-anak muda yang berani belajar."
"Kalau nanti kamu menemukan ilmu baru..."
"...bawalah pulang."
Ryahan mengangguk mantap.
"Itu janji saya."
Pak Burhan tersenyum bangga.
"Sejak kecil aku melihatmu."
"Aku percaya..."
"...kamu akan menjadi kebanggaan desa ini."
Ucapan itu membuat Pak Rahmat tersenyum haru.
Bu Talia diam-diam mengusap air matanya.
Beberapa hari kemudian, menjelang keberangkatan, Ryahan kembali mengunjungi bukit tempat ia dan sahabat-sahabatnya biasa berkumpul.
Angin sore bertiup lembut.
Ia duduk memandangi Desa Sumber Waras untuk waktu yang mungkin menjadi yang terakhir dalam beberapa tahun ke depan.
Tak lama kemudian terdengar langkah kaki.
Ryahan menoleh.
Niko datang.
"Kamu memang di sini."
Ryahan tersenyum.
"Aku ingin berpamitan dengan tempat ini."
Niko duduk di sampingnya.
"Mau tahu sesuatu?"
"Apa?"
"Amelia tadi sore datang ke sini."
Ryahan terkejut.
"Kapan?"
"Sebelum kamu datang."
"Dia duduk cukup lama."
"Lalu pergi."
Ryahan menundukkan kepala.
Mereka ternyata sama-sama memilih tempat ini untuk mengucapkan selamat tinggal.
Hanya saja...
takdir kembali membuat mereka datang pada waktu yang berbeda.
Niko menatap sahabatnya.
"Kalau suatu hari nanti kalian memang berjodoh..."
"...sejauh apa pun kalian berjalan..."
"...Tuhan akan mempertemukan kalian lagi."
Ryahan tersenyum tipis.
"Aku tidak tahu tentang jodoh."
"Tapi aku percaya..."
"...Tuhan tidak pernah salah menulis takdir."
Matahari perlahan tenggelam.
Langit berubah menjadi merah keemasan.
Di balik keindahan senja itu, langkah Ryahan menuju kehidupan baru sudah semakin dekat.
Ia belum mengetahui bahwa perjalanan ke Kota Kuala Kapuas bukan hanya akan mengubah masa depannya.
Di kota itu, ia akan menghadapi kerasnya kehidupan, menemukan orang-orang baru, kehilangan sesuatu yang sangat berharga, dan perlahan memahami bahwa setiap jalan yang dipilih selalu menuntut harga yang harus dibayar.
Sementara di Desa Sumber Waras, Amelia hanya mampu mengantar kepergian itu melalui doa yang tak pernah terucap.
BAB XII
KOTA YANG ASING
Fajar baru saja menyingsing ketika langit di atas Desa Sumber Waras masih diselimuti semburat jingga yang lembut. Udara pagi terasa dingin. Kabut tipis menggantung di atas hamparan sawah, sementara embun masih menempel di dedaunan yang bergoyang pelan diterpa angin.
Hari itu bukan pagi yang biasa.
Hari itu adalah hari keberangkatan Ryahan.
Di halaman rumah Pak Rahmat, sebuah tas ransel berwarna hitam telah diletakkan di atas kursi bambu. Isinya tidak banyak. Beberapa stel pakaian, buku catatan pemberian sahabat-sahabatnya, Al-Qur'an kecil hadiah Bu Talia ketika ia lulus sekolah, beberapa lembar dokumen pelatihan, dan sedikit bekal makanan yang disiapkan ibunya sejak dini hari.
Bu Talia berkali-kali membuka kembali tas itu.
Memastikan tidak ada yang tertinggal.
"Han..."
"Iya, Bu?"
"Obat masuk angin sudah dibawa?"
"Sudah."
"Jaket?"
"Sudah."
"Sandal cadangan?"
Ryahan tersenyum.
"Sudah semua, Bu."
Bu Talia masih tampak belum puas.
Ia membuka kembali resleting tas.
Pak Rahmat yang melihat itu hanya tertawa kecil.
"Kalau Ibumu terus memeriksa begitu..."
"...sampai besok pun kamu belum tentu jadi berangkat."
Bu Talia menoleh.
"Namanya juga ibu."
"Kalau anaknya pergi jauh, rasanya selalu ada yang kurang."
Ryahan mendekat lalu memeluk ibunya.
"Saya tidak pergi selamanya."
"Saya hanya belajar."
Bu Talia mengangguk, meski air matanya perlahan mulai menggenang.
"Ibu tahu."
"Tapi rumah ini pasti terasa sepi."
Tak lama kemudian terdengar suara sepeda motor memasuki halaman rumah.
Niko datang bersama Naryo.
Di belakang mereka, Anita dan Liana menyusul menggunakan sepeda motor lain.
"Assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikumussalam."
Suasana yang semula dipenuhi kesedihan perlahan berubah sedikit lebih hangat.
Niko menepuk bahu Ryahan.
"Sudah siap menjadi orang kota?"
Ryahan tertawa kecil.
"Belum."
"Takut?"
"Sedikit."
Naryo ikut bercanda.
"Kalau nanti sudah kaya..."
"...ingat kami yang masih di desa."
"Kalau nanti sukses..."
"...jangan lupa traktir."
Anita menimpali sambil tersenyum.
Liana menggeleng.
"Kalian ini."
"Orang baru mau berangkat sudah minta traktir."
Semua tertawa.
Tawa itu tidak panjang.
Namun cukup untuk mengurangi beban yang memenuhi hati mereka.
Pak Burhan datang beberapa menit kemudian.
Beliau membawa sebuah amplop cokelat.
"Ini."
"Apa ini, Pak?"
"Sedikit uang dari pemerintah desa."
Ryahan langsung menggeleng.
"Saya tidak bisa menerimanya."
Pak Burhan tersenyum.
"Ini bukan hadiah."
"Ini bentuk dukungan."
"Anggap saja sebagai bekal."
Pak Rahmat ikut mengangguk.
"Terimalah."
Ryahan akhirnya menerima amplop itu dengan kedua tangan.
"Terima kasih."
Pak Burhan menatapnya dengan penuh kebanggaan.
"Han."
"Iya?"
"Di mana pun kamu berada..."
"...jagalah nama baik dirimu."
"Karena nama baikmu adalah nama baik desa ini."
Ryahan mengangguk mantap.
"Saya akan mengingatnya."
Sebuah mobil angkutan dari kecamatan akhirnya tiba.
Beberapa peserta dari desa lain sudah berada di dalamnya.
Waktu keberangkatan pun tiba.
Ryahan mencium tangan Pak Rahmat.
"Doakan saya."
Pak Rahmat memeluk putranya erat.
"Bapak tidak bisa menemanimu menjalani hidup."
"Tapi doa Bapak akan selalu berjalan bersamamu."
Ryahan tidak mampu menjawab.
Ia hanya mengangguk sambil menahan air mata.
Kemudian ia beralih kepada Bu Talia.
Begitu mencium tangan ibunya, Bu Talia langsung memeluknya.
Pelukan itu begitu erat.
Seolah tidak ingin melepaskan.
"Jangan lupa salat."
"Iya, Bu."
"Jangan telat makan."
"Iya."
"Kalau sakit..."
"...segera beri kabar."
"Iya."
Suara Bu Talia mulai bergetar.
Ryahan perlahan melepaskan pelukan itu.
Air mata keduanya jatuh bersamaan.
Mobil mulai bergerak meninggalkan Desa Sumber Waras.
Dari balik kaca jendela, Ryahan melihat orang-orang yang selama ini menjadi bagian dari hidupnya.
Pak Rahmat berdiri tegak sambil melambaikan tangan.
Bu Talia terus mengusap air matanya.
Niko, Naryo, Anita, dan Liana berteriak memberi semangat.
Pak Burhan tersenyum sambil mengangkat tangan.
Perlahan...
rumah-rumah desa mulai mengecil.
Jalan tanah berubah menjadi jalan beraspal.
Hamparan sawah berganti hutan.
Ryahan menarik napas panjang.
Dalam hati ia berbisik,
"Sampai jumpa, Sumber Waras."
"Aku akan kembali."
Di rumah Pak Kusri...
Amelia berdiri di balik jendela.
Ia melihat mobil itu melintas di kejauhan.
Tidak ada seorang pun yang mengetahui bahwa sejak tadi ia menunggu di sana.
Tangannya menggenggam erat pena kayu pemberian Ryahan.
Mobil itu semakin jauh.
Hingga akhirnya menghilang di tikungan jalan.
Barulah air mata yang sejak tadi ditahan mengalir perlahan.
"Selamat jalan..."
bisiknya lirih.
"Tolong jaga dirimu."
Bu Endang yang berdiri di belakang putrinya hanya mampu memeluknya.
Beliau tidak berkata apa-apa.
Karena terkadang...
pelukan seorang ibu jauh lebih mampu menghibur daripada ribuan kata.
Perjalanan menuju Kota Kuala Kapuas memakan waktu berjam-jam.
Mobil melewati hutan, perkebunan, beberapa desa, hingga akhirnya memasuki jalan raya yang lebih ramai.
Bagi Ryahan, semuanya terasa baru.
Ia melihat deretan pertokoan yang lebih besar.
Jembatan-jembatan yang membentang kokoh.
Kendaraan yang lalu lalang tanpa henti.
Sesekali ia menoleh ke luar jendela.
Perasaan kagum bercampur gugup memenuhi dadanya.
Seorang peserta dari desa lain duduk di sampingnya.
"Pertama kali ke Kuala Kapuas?"
Ryahan mengangguk.
"Iya."
"Saya juga."
"Kata orang..."
"...hidup di kota tidak semudah yang kita bayangkan."
Ryahan tersenyum.
"Mungkin."
"Tapi kita datang untuk belajar."
Pemuda itu mengangguk.
"Semoga kita berhasil."
"Amin."
Menjelang sore, kendaraan akhirnya memasuki Kota Kuala Kapuas.
Ryahan terdiam.
Ia memandang jalan-jalan yang ramai dipenuhi kendaraan.
Lampu lalu lintas yang selama ini hanya ia lihat di televisi kini berdiri di hadapannya.
Gedung-gedung bertingkat.
Deretan toko.
Pasar yang sibuk.
Suara klakson yang bersahutan.
Semuanya terasa asing.
Sangat berbeda dengan ketenangan Desa Sumber Waras.
Ketika mobil melintasi jalan di dekat tepian Sungai Kapuas, Ryahan tanpa sadar menoleh.
Hamparan air sungai yang luas memantulkan cahaya senja.
Perahu-perahu kecil bergerak perlahan mengikuti arus.
Di tepian sungai tampak masyarakat duduk menikmati sore.
Pemandangan itu membuat Ryahan terdiam cukup lama.
Entah mengapa...
hatinya merasa begitu tenang.
Seolah sungai itu sedang menyambut kedatangannya.
Ia belum mengetahui bahwa bertahun-tahun kemudian...
tepian Sungai Kapuas itulah yang akan menjadi saksi dari pertemuan, air mata, penyesalan, dan cinta yang akhirnya menemukan pelabuhan terakhirnya.
Mobil akhirnya berhenti di halaman sebuah balai pelatihan.
Ryahan turun perlahan.
Ia memandang bangunan di hadapannya.
Kemudian menatap langit Kota Kuala Kapuas yang mulai memerah.
Dengan langkah ragu, tetapi hati yang penuh tekad, ia melangkah memasuki gerbang.
Sebuah babak baru dalam hidupnya resmi dimulai.
Dan ia belum menyadari...
bahwa kota yang terasa begitu asing ini akan mengubah dirinya untuk selamanya.
Langit malam mulai menyelimuti Kota Kuala Kapuas ketika Ryahan melangkah keluar dari aula registrasi Balai Pelatihan. Lampu-lampu jalan telah menyala, memantulkan cahaya kekuningan di atas aspal yang masih basah setelah hujan sore. Dari kejauhan terdengar suara kendaraan yang silih berganti melintas, berpadu dengan bunyi klakson dan deru mesin yang tidak pernah benar-benar berhenti.
Ryahan berdiri sejenak di halaman.
Ia menarik napas panjang.
Semua terasa begitu berbeda.
Di Desa Sumber Waras, malam identik dengan suara jangkrik, desir angin di antara pepohonan, dan percakapan hangat para tetangga di beranda rumah.
Di Kota Kuala Kapuas...
malam justru terasa hidup.
Suara manusia dan kendaraan seolah tidak mengenal waktu.
Bagi seorang pemuda desa, semua itu terasa asing.
Seorang panitia menghampiri para peserta.
"Silakan berkumpul."
"Kami akan membagikan kamar asrama."
Ryahan bersama puluhan peserta lainnya mengikuti arahan panitia.
Masing-masing menerima kartu identitas dan nomor kamar.
"Kamar B-12."
gumam Ryahan membaca kartu yang diterimanya.
Ketika membuka pintu kamar, ia mendapati tiga orang pemuda lain sudah lebih dahulu datang.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Seorang pemuda berkulit sawo matang berdiri sambil mengulurkan tangan.
"Nama saya Arif."
"Dari Kecamatan Basarang."
Ryahan menyambut uluran tangan itu.
"Saya Ryahan."
"Dari Desa Sumber Waras."
Pemuda lain memperkenalkan diri.
"Saya Dimas."
"Dari Pulang Pisau."
Yang terakhir tersenyum ramah.
"Kalau saya Beni."
"Dari Timpah."
Suasana perlahan mencair.
Meski berasal dari daerah yang berbeda, mereka memiliki tujuan yang sama.
Belajar.
Mengubah masa depan.
Malam pertama di asrama dipenuhi cerita.
Masing-masing berbagi pengalaman tentang kehidupan di kampung halaman.
Arif bercerita mengenai keluarganya yang bertani sayur.
Dimas membantu orang tuanya berkebun kelapa.
Beni berasal dari keluarga nelayan sungai.
Ketika giliran Ryahan bercerita, ketiga teman barunya mendengarkan dengan penuh perhatian.
"Aku berasal dari Desa Sumber Waras."
"Sebuah desa kecil."
"Kami hidup dari bertani."
"Dan gotong royong masih menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari."
Arif tersenyum.
"Pasti menyenangkan."
Ryahan mengangguk.
"Iya."
"Kadang aku sudah merindukannya."
"Padahal baru beberapa jam meninggalkan desa."
Mereka semua tertawa kecil.
Namun di balik tawa itu, setiap orang sebenarnya sedang menahan rindu kepada rumah masing-masing.
Keesokan paginya, kegiatan pelatihan dimulai.
Para peserta mengikuti pembukaan yang dipimpin oleh kepala balai pelatihan.
Beliau menyampaikan satu kalimat yang langsung menarik perhatian Ryahan.
"Anak-anak muda..."
"Jangan datang ke sini hanya untuk mencari pekerjaan."
"Datanglah untuk mencari ilmu."
"Karena pekerjaan bisa hilang."
"Tetapi ilmu akan selalu mengikuti kalian."
Kalimat itu langsung dicatat Ryahan di buku kecil pemberian Niko.
Ia selalu membawa buku itu ke mana pun pergi.
Bukan sekadar untuk menulis pelajaran.
Tetapi juga untuk menyimpan setiap nasihat yang dianggapnya berharga.
Hari-hari berikutnya dipenuhi berbagai kegiatan.
Pelatihan dimulai sejak pukul delapan pagi hingga sore hari.
Materinya beragam.
Teknik pertanian modern.
Manajemen usaha kecil.
Pemasaran hasil pertanian.
Penggunaan komputer.
Pengelolaan administrasi.
Bahkan pelatihan berbicara di depan umum.
Awalnya Ryahan merasa kesulitan.
Ia belum terbiasa menggunakan komputer.
Tangannya terlihat kaku ketika mengetik.
Beberapa peserta lain sudah jauh lebih cepat.
Ryahan sempat merasa rendah diri.
Saat itu instruktur menghampirinya.
"Kenapa berhenti?"
"Saya takut salah."
Instruktur tersenyum.
"Semua orang yang pandai..."
"...pernah menjadi orang yang tidak bisa."
"Yang membedakan hanyalah kemauan belajar."
Ucapan itu kembali membangkitkan semangat Ryahan.
Sejak hari itu, ia menjadi peserta yang paling sering datang lebih awal dan pulang paling akhir.
Ia memanfaatkan setiap kesempatan untuk berlatih.
Sedikit demi sedikit, kemampuannya mulai berkembang.
Di sela-sela kesibukan, Ryahan selalu menyempatkan diri menghubungi orang tuanya melalui telepon umum yang berada tidak jauh dari balai pelatihan.
Suatu sore, suara Bu Talia terdengar dari seberang.
"Han."
"Iya, Bu."
"Bagaimana di sana?"
"Baik."
"Sudah makan?"
Ryahan tersenyum.
"Sudah."
"Jangan bohong."
"Ibu tahu suara orang yang belum makan."
Ryahan tertawa kecil.
"Baru mau makan."
"Nah, itu baru benar."
Pak Rahmat kemudian mengambil alih telepon.
"Belajar yang sungguh-sungguh."
"Iya, Pak."
"Jangan malu bertanya."
"Siap."
"Dan jangan lupa..."
"...apa tujuanmu datang ke sana."
Ryahan memandang langit senja dari balik telepon umum.
"Saya tidak akan lupa."
Di Desa Sumber Waras, Amelia menjalani hari-harinya dengan rutinitas yang hampir sama.
Membantu kedua orang tuanya.
Mengajar anak-anak membaca di perpustakaan desa.
Mengikuti kegiatan PKK bersama Bu Ratna.
Namun setiap kali melihat jalan menuju luar desa, hatinya selalu teringat pada seseorang.
Suatu sore, ia datang ke bukit tempat mereka dulu berkumpul.
Kotak mimpi itu masih terkubur di sana.
Ia tidak membukanya.
Ia hanya duduk memandangi langit.
"Semoga kamu baik-baik saja, Han."
bisiknya pelan.
Angin sore berembus lembut.
Seolah membawa doa itu menuju tempat yang sangat jauh.
Di Kuala Kapuas, malam minggu menjadi malam pertama para peserta mendapat waktu luang.
Arif mengajak Ryahan berjalan-jalan.
"Ayo."
"Kita lihat kota."
Mereka berjalan menyusuri jalan utama.
Lampu-lampu kota berkilauan.
Warung makan dipenuhi pengunjung.
Anak-anak muda berkumpul di taman kota.
Hingga akhirnya mereka tiba di tepian Sungai Kapuas.
Ryahan langsung terdiam.
Di hadapannya terbentang sungai yang begitu luas.
Airnya mengalir tenang.
Perahu-perahu kecil melintas perlahan.
Di sepanjang tepian, keluarga-keluarga duduk menikmati malam.
Ada anak-anak yang berlari-lari.
Ada pedagang yang menjajakan makanan.
Ada pasangan lansia yang duduk diam memandang aliran sungai.
Pemandangan itu membuat hati Ryahan terasa damai.
Arif memperhatikan sahabat barunya.
"Kamu suka tempat ini?"
Ryahan mengangguk.
"Entah kenapa..."
"...aku merasa sungai ini seperti sedang bercerita."
"Bercerita tentang apa?"
"Tentang kehidupan."
"Airnya terus mengalir."
"Tidak pernah berhenti."
"Mungkin manusia juga harus begitu."
"Terus berjalan."
"Walaupun harus melewati banyak batu."
Arif tersenyum.
"Kamu ternyata pandai merangkai kata."
Ryahan tertawa kecil.
"Aku hanya sedang belajar memahami hidup."
Mereka duduk cukup lama di tepian Sungai Kapuas.
Ryahan memandangi pantulan cahaya lampu di permukaan air.
Di dalam hati, ia teringat kepada Desa Sumber Waras.
Teringat kepada kedua orang tuanya.
Kepada para sahabatnya.
Dan terutama...
kepada Amelia.
Ia mengeluarkan buku kecil dari dalam tas.
Lalu menulis satu kalimat.
"Jarak mungkin mampu memisahkan langkah kita, tetapi tidak akan pernah mampu menghapus doa yang diam-diam selalu kupanjatkan untukmu."
Ryahan menutup buku itu perlahan.
Ia belum mengetahui bahwa di desa yang jauh di belakangnya, Amelia pada malam yang sama juga sedang memandang langit yang sama.
Dua hati.
Dua tempat yang berbeda.
Dipisahkan oleh ratusan kilometer.
Namun tetap dihubungkan oleh rindu yang tak pernah benar-benar pergi.
Dan di balik semua itu, seseorang di Desa Sumber Waras mulai menyusun rencana baru.
Rencana yang kelak akan membuat kehidupan Ryahan di kota berubah menjadi jauh lebih sulit.
BAB XIII
LUKA YANG TAK TERLIHAT
Sudah hampir tiga bulan Ryahan tinggal di Kota Kuala Kapuas.
Waktu berlalu begitu cepat.
Hari-harinya dipenuhi jadwal pelatihan, tugas praktik, diskusi kelompok, dan berbagai kegiatan yang membuatnya nyaris tidak memiliki waktu luang. Pemuda yang dulu canggung menyentuh papan ketik komputer kini mulai terbiasa membuat laporan sederhana. Ia yang dahulu hanya mengenal cara bertani secara tradisional, kini memahami pentingnya teknologi, pemasaran, dan manajemen usaha.
Perubahan itu perlahan membentuk dirinya.
Ryahan mulai tumbuh menjadi pribadi yang lebih percaya diri.
Namun di balik senyum dan semangat belajarnya...
ada luka yang tidak pernah benar-benar sembuh.
Luka yang tidak tampak di wajah.
Tetapi terus hidup di dalam hati.
Luka bernama rindu.
Pagi itu, pelatihan dimulai lebih awal.
Instruktur memberikan tugas kelompok mengenai pengembangan potensi desa.
Setiap peserta diminta mempresentasikan gagasan untuk memajukan daerah asal mereka.
Ryahan berdiri di depan kelas.
Tangannya menggenggam beberapa lembar kertas.
Meski sedikit gugup, ia mulai berbicara.
"Nama saya Ryahan."
"Saya berasal dari Desa Sumber Waras."
"Sebuah desa kecil yang sebagian besar masyarakatnya hidup dari pertanian."
Ia kemudian menjelaskan berbagai potensi desa.
Lahan pertanian yang luas.
Semangat gotong royong masyarakat.
Sumber daya manusia yang masih muda.
Dan mimpi untuk menjadikan desa sebagai tempat yang mampu memberi masa depan bagi warganya.
Presentasinya berlangsung hampir lima belas menit.
Ketika selesai, seluruh ruangan memberikan tepuk tangan.
Instruktur tersenyum bangga.
"Bagus."
"Yang paling saya sukai..."
"...kamu tidak hanya menceritakan keadaan desamu."
"Tetapi juga membawa harapan."
Ryahan mengangguk hormat.
"Terima kasih, Pak."
Namun setelah kembali duduk, pikirannya justru melayang jauh.
Ia membayangkan Desa Sumber Waras.
Membayangkan jalan-jalan tanah yang sering ia lewati.
Balai desa.
Bukit tempat mengubur kotak mimpi.
Dan seseorang yang selalu hadir dalam setiap kenangan itu.
Amelia.
Sepulang pelatihan, Ryahan memilih berjalan kaki menyusuri tepian Sungai Kapuas.
Tempat itu kini menjadi lokasi favoritnya setiap kali ingin menenangkan pikiran.
Ia duduk di bangku kayu sambil memandangi aliran sungai.
Air mengalir tanpa pernah bertanya ke mana ia akan bermuara.
Begitu pula hidup.
Kadang manusia hanya diminta berjalan.
Tanpa mengetahui apa yang menanti di depan.
Ryahan mengeluarkan buku catatan kecilnya.
Sudah puluhan halaman terisi.
Sebagian berisi pelajaran.
Sebagian lagi berisi potongan perasaan yang tidak pernah ia sampaikan kepada siapa pun.
Ia membuka halaman kosong.
Lalu mulai menulis.
"Amelia..."
"Hari ini aku belajar bahwa sebuah desa bisa berkembang jika memiliki orang-orang yang tidak menyerah."
"Aku ingin suatu hari kembali membawa ilmu untuk Sumber Waras."
"Entah kamu masih mengingatku atau tidak..."
"Aku hanya berharap kamu tetap baik-baik saja."
Ia berhenti menulis.
Kemudian menutup buku itu kembali.
Surat itu tidak akan pernah dikirim.
Ia hanya menjadi tempat bagi hati yang tidak memiliki tujuan untuk bercerita.
Di Desa Sumber Waras...
Amelia sedang mengajar beberapa anak membaca di perpustakaan desa.
"Kalau huruf ini apa?"
"Ba."
"Kalau ini?"
"Da."
"Bagus."
Anak-anak tersenyum riang.
Melihat mereka belajar dengan semangat membuat Amelia sedikit melupakan kesedihan yang selama ini ia simpan.
Bu Ratna yang sedang merapikan rak buku memperhatikan Amelia.
"Kamu kelihatan lebih ceria."
Amelia tersenyum.
"Anak-anak selalu membuat hati lebih tenang."
Bu Ratna mengangguk.
"Benar."
"Luka orang dewasa sering kali bisa sembuh hanya dengan melihat tawa anak-anak."
Amelia tersenyum kecil.
Namun di balik senyum itu, Bu Ratna tetap dapat melihat kesedihan yang belum hilang.
Sore harinya, ketika perpustakaan telah tutup, Amelia berjalan sendirian menuju kebun belakang rumah.
Di sana terdapat sebuah pohon mangga tua.
Tempat yang dahulu sering menjadi lokasi Ryahan membacakan puisi-puisi sederhana hasil tulisannya.
Kini tempat itu sepi.
Ia duduk di bawah pohon.
Mengeluarkan pena kayu yang selalu disimpannya.
Pena itu sudah mulai pudar warnanya.
Namun Amelia tidak pernah berniat menggantinya.
Baginya, benda itu bukan sekadar alat tulis.
Melainkan kenangan.
Ia membuka sebuah buku.
Lalu menulis.
"Han..."
"Aku tidak tahu bagaimana kabarmu di kota."
"Semoga kamu menemukan jalan menuju mimpimu."
"Aku mungkin tidak bisa berjalan di sampingmu."
"Tetapi aku akan selalu mendoakanmu dari sini."
Tulisan itu berhenti di sana.
Air mata menetes mengenai tinta yang belum mengering.
Huruf-huruf itu sedikit kabur.
Seperti masa depan yang kini tidak lagi dapat ia lihat dengan jelas.
Sementara itu, di rumah Pak Kusri, suasana mulai berubah.
Pak Kusri beberapa kali menerima tamu dari desa tetangga.
Salah satunya adalah keluarga Pak Surya, seorang pedagang hasil pertanian yang cukup dikenal di wilayah itu.
Mereka datang bukan untuk urusan usaha.
Melainkan membawa seorang pemuda bernama Fajar.
Fajar adalah lulusan perguruan tinggi pertanian.
Ramah.
Sopan.
Dan berasal dari keluarga yang berkecukupan.
Pak Surya tersenyum kepada Pak Kusri.
"Anak saya sering membantu penyuluhan pertanian."
"Mudah-mudahan bisa menjadi teman berdiskusi untuk Amelia."
Pak Kusri hanya mengangguk.
Beliau memahami maksud kedatangan mereka.
Namun belum memberikan jawaban apa pun.
Di ruang tengah, Amelia yang sedang menyajikan teh mulai merasa tidak nyaman.
Ia menyadari arah pembicaraan itu.
Sesekali Fajar mencoba mengajak berbicara.
"Katanya Mbak Amelia suka mengajar anak-anak?"
Amelia tersenyum sopan.
"Iya."
"Itu pekerjaan yang mulia."
"Terima kasih."
Percakapan berlangsung singkat.
Amelia tetap menjaga kesopanan.
Tetapi tidak mampu menyembunyikan bahwa hatinya sedang tidak berada di ruangan itu.
Di Kota Kuala Kapuas, malam kembali turun.
Ryahan sedang belajar di ruang baca asrama ketika telepon genggam Arif berbunyi.
"Han."
"Iya?"
"Ada surat untukmu."
"Surat?"
"Iya."
"Dari desa."
Ryahan langsung berdiri.
Jantungnya berdegup lebih cepat.
Ia menerima amplop itu dengan hati-hati.
Tulisan di bagian depan adalah tulisan tangan Bu Talia.
Bukan Amelia.
Meski sedikit kecewa, ia tetap tersenyum.
Baginya, surat dari rumah selalu menjadi obat bagi kerinduan.
Ia membukanya perlahan.
Di dalamnya terdapat beberapa lembar kertas.
Tulisan Bu Talia sederhana.
Menceritakan keadaan desa.
Kesehatan Pak Rahmat.
Panen yang cukup baik.
Juga kabar bahwa semua sahabatnya baik-baik saja.
Di bagian akhir surat, terdapat satu kalimat yang membuat Ryahan terdiam.
"Nak..."
"Apa pun yang terjadi, jangan pernah pulang karena ingin lari dari masalah."
"Pulanglah nanti karena kamu berhasil membawa sesuatu yang bisa membanggakan desa dan keluargamu."
Ryahan menutup surat itu.
Matanya mulai basah.
Ia menyadari bahwa orang tuanya sedang menahan rindu yang sama besarnya.
Tetapi mereka memilih menyembunyikannya agar ia tetap kuat.
Di luar asrama, hujan mulai turun.
Ryahan berdiri di bawah atap sambil memandang langit Kuala Kapuas.
Air hujan membasahi halaman.
Sementara di dalam hatinya, rindu terus bertambah.
Ia tidak mengetahui bahwa pada saat yang sama, di Desa Sumber Waras, sebuah rencana baru mulai bergerak.
Bukan lagi sekadar fitnah.
Melainkan upaya perlahan untuk memisahkan Amelia dari kenangan tentang dirinya.
Dan tanpa disadari oleh siapa pun...
luka yang selama ini hanya tersimpan di dalam hati akan segera berubah menjadi kenyataan yang jauh lebih menyakitkan.
Hujan masih mengguyur Kota Kuala Kapuas hingga larut malam.
Butiran air jatuh berirama di atas atap seng asrama, menciptakan suara yang berulang-ulang terdengar seperti bisikan kenangan. Sebagian peserta pelatihan telah tertidur setelah seharian mengikuti kegiatan yang melelahkan. Hanya beberapa kamar yang lampunya masih menyala.
Di kamar B-12, Ryahan belum juga memejamkan mata.
Surat dari Bu Talia masih terbuka di atas meja belajarnya.
Ia membacanya untuk ketiga kalinya.
Bukan karena isinya panjang.
Melainkan karena setiap kalimat yang ditulis ibunya seakan menghadirkan suasana rumah yang begitu ia rindukan.
Ia membelai perlahan tulisan tangan itu.
Lalu menyimpannya kembali ke dalam buku catatan kecil pemberian Niko.
"Itulah rumah..."
gumamnya pelan.
"Tempat yang selalu membuat seseorang ingin kembali."
Keesokan paginya, kegiatan pelatihan berlangsung seperti biasa.
Namun Ryahan tampak lebih pendiam.
Arif yang duduk di sebelahnya mulai menyadarinya.
"Kamu masih kepikiran rumah?"
Ryahan mengangguk pelan.
"Sedikit."
Arif tersenyum.
"Aku juga."
"Tapi kita tidak boleh kalah sama rindu."
Ryahan tersenyum tipis.
"Benar."
Instruktur memasuki ruangan.
Hari itu mereka mendapat materi tentang kepemimpinan dan pengembangan masyarakat desa.
Di akhir sesi, setiap peserta diminta menyampaikan alasan terbesar mengapa mereka mengikuti pelatihan.
Satu per satu berdiri.
Ada yang ingin mengubah ekonomi keluarga.
Ada yang ingin menjadi pegawai.
Ada yang ingin membuka usaha.
Ketika giliran Ryahan, ia berdiri perlahan.
"Aku datang ke sini..."
"...karena ingin pulang."
Seluruh ruangan mendadak hening.
Instruktur tersenyum.
"Maksudmu?"
Ryahan menarik napas panjang.
"Aku ingin kembali ke desaku."
"Tetapi bukan sebagai orang yang gagal."
"Aku ingin kembali membawa ilmu."
"Membawa harapan."
"Agar anak-anak desa tidak perlu pergi jauh hanya untuk memiliki masa depan."
Tepuk tangan memenuhi ruangan.
Instruktur mengangguk bangga.
"Itulah alasan yang akan membuatmu bertahan."
Sementara itu, di Desa Sumber Waras, keadaan mulai berubah.
Pak Kusri semakin sering menerima kunjungan keluarga Pak Surya.
Fajar beberapa kali datang membantu kelompok tani memperbaiki saluran irigasi.
Ia dikenal ramah dan mudah bergaul.
Bahkan Pak Burhan mulai memuji semangat pemuda itu.
"Anaknya sopan."
"Rajin pula."
Pak Kusri hanya mengangguk.
Beliau belum pernah memaksa Amelia menerima kehadiran Fajar.
Namun perlahan-lahan beliau berharap putrinya dapat membuka hati.
Amelia memahami semua itu.
Ia menghormati Fajar sebagai tamu.
Sebagai teman.
Tidak lebih.
Suatu sore, Bu Endang masuk ke kamar Amelia.
Beliau membawa sepiring potongan buah.
"Dari tadi kamu melamun."
Amelia tersenyum kecil.
"Hanya capek."
Bu Endang duduk di samping putrinya.
"Mel."
"Iya, Bu."
"Ibu ingin bertanya."
Amelia menoleh.
"Apa kamu masih memikirkan Ryahan?"
Pertanyaan itu membuat Amelia terdiam cukup lama.
Akhirnya ia mengangguk.
"Iya."
"Setiap hari."
Bu Endang mengusap rambut putrinya.
"Ibu tahu."
"Tapi hidup terus berjalan."
Air mata Amelia mulai menggenang.
"Aku sudah berusaha melupakan."
"Tapi semakin berusaha..."
"...semakin sulit."
Bu Endang memeluk putrinya.
"Tidak semua cinta harus segera dilupakan."
"Kadang..."
"...waktu hanya mengajarkan kita cara menerima."
Di Kota Kuala Kapuas, sore itu Ryahan dan beberapa peserta mendapat izin keluar asrama.
Mereka berjalan menuju tepian Sungai Kapuas.
Tempat itu kini telah menjadi lokasi favorit mereka untuk melepas penat.
Pedagang kaki lima mulai ramai.
Anak-anak berlarian di taman.
Perahu-perahu kecil hilir mudik membawa penumpang.
Ryahan membeli segelas kopi hangat.
Kemudian duduk memandangi aliran sungai.
Arif memperhatikannya.
"Kamu sering sekali diam di sini."
Ryahan tersenyum.
"Sungai ini mengingatkanku pada perjalanan hidup."
"Kenapa?"
"Lihat airnya."
"Tidak pernah berhenti."
"Meskipun ada kayu, batu, atau pusaran."
"Ia tetap mengalir."
Arif mengangguk pelan.
"Mungkin manusia memang harus begitu."
Ryahan tersenyum.
"Mungkin."
Malam itu, ketika Ryahan kembali ke asrama, petugas resepsionis memanggilnya.
"Ryahan."
"Iya?"
"Ada telepon."
"Untuk saya?"
"Iya."
Ryahan segera menuju ruang telepon.
Jantungnya berdebar.
Di seberang terdengar suara Niko.
"Han..."
"Nik?"
"Aku mengganggu?"
"Tidak."
"Ada apa?"
Beberapa detik Niko terdiam.
Suaranya terdengar berat.
"Aku sebenarnya bingung mau menyampaikan ini."
Ryahan mulai merasa tidak tenang.
"Katakan saja."
Niko menarik napas panjang.
"Di desa..."
"...sering ada seorang pemuda datang ke rumah Amelia."
Ryahan terdiam.
Tangannya perlahan mengepal.
"Siapa?"
"Namanya Fajar."
"Katanya lulusan sarjana pertanian."
Ryahan memejamkan mata.
Ia mencoba tetap tenang.
"Lalu?"
"Belum terjadi apa-apa."
"Tapi orang-orang mulai membicarakan mereka."
Ryahan tidak langsung menjawab.
Dadanya terasa sesak.
Bukan karena cemburu semata.
Melainkan karena ia sadar...
ia tidak memiliki hak untuk melarang siapa pun.
Keputusan menjauh dulu adalah keputusan yang mereka sepakati.
Niko kembali berbicara.
"Han."
"Iya."
"Kalau kamu ingin pulang..."
Ryahan langsung memotong.
"Tidak."
"Tapi..."
"Aku sudah berjanji kepada Bapak."
"Aku tidak akan pulang karena lari dari masalah."
Suara Ryahan mulai bergetar.
"Aku akan menyelesaikan pelatihan ini."
"Bagaimanapun keadaannya."
Di seberang telepon, Niko hanya mampu menghela napas.
"Aku hanya tidak ingin kamu tahu dari orang lain."
"Terima kasih."
"Sampaikan salamku kepada semua."
"Iya."
Telepon pun terputus.
Ryahan tetap berdiri di ruang telepon.
Beberapa saat ia tidak mampu bergerak.
Bayangan Amelia memenuhi pikirannya.
Apakah benar perempuan yang dicintainya mulai membuka hati untuk orang lain?
Ataukah semua itu hanya pembicaraan warga desa?
Ia tidak tahu.
Yang ia tahu hanyalah satu hal.
Ia kini berada ratusan kilometer jauhnya.
Tidak mampu melihat dengan mata kepala sendiri.
Tidak mampu menjelaskan isi hatinya.
Dan tidak mampu mempertahankan seseorang yang begitu berarti baginya.
Malam itu ia kembali berjalan menuju tepian Sungai Kapuas.
Langit dipenuhi bintang.
Angin bertiup pelan.
Ryahan berdiri memandang aliran sungai yang gelap.
Lalu berbisik lirih,
"Kalau memang dia bahagia..."
"...aku harus belajar mengikhlaskan."
Namun air mata yang jatuh di pipinya membuktikan bahwa mengucapkan kata ikhlas jauh lebih mudah daripada benar-benar melakukannya.
Sementara di Desa Sumber Waras, seseorang yang selama ini berada di balik berbagai fitnah mulai tersenyum puas.
Indra mengetahui kabar tentang Fajar.
Dan ia melihat kesempatan baru.
Kesempatan untuk memastikan bahwa Ryahan dan Amelia tidak akan pernah kembali berjalan di jalan yang sama.
BAB XIV
SAHABAT ATAU PENGKHIANAT
Mentari pagi menyinari Kota Kuala Kapuas dengan cahaya yang hangat. Aktivitas di Balai Pelatihan telah dimulai sejak pukul tujuh. Para peserta terlihat sibuk mempersiapkan diri untuk mengikuti ujian praktik yang akan menentukan kelulusan tahap pertama.
Di tengah kesibukan itu, Ryahan tetap berusaha memusatkan pikirannya pada pelajaran.
Namun bayangan percakapannya dengan Niko beberapa malam yang lalu masih terus mengganggu.
Tentang Amelia.
Tentang Fajar.
Dan tentang kenyataan bahwa ia kini hanya mampu mendengar kabar dari kejauhan.
Ryahan menghela napas panjang.
"Aku datang ke sini untuk belajar..."
"...bukan untuk tenggelam dalam rasa takut."
Ia menepuk pelan buku catatan kecil pemberian sahabat-sahabatnya.
Di halaman pertama masih tertulis kalimat yang mereka tulis bersama sebelum keberangkatannya.
"Persahabatan sejati tidak akan kalah oleh jarak dan waktu."
Kalimat itu kembali membangkitkan semangatnya.
Sementara itu, di Desa Sumber Waras, suasana terlihat tenang.
Namun ketenangan itu hanyalah tampak di permukaan.
Di baliknya, seseorang sedang menyusun langkah berikutnya.
Indra duduk bersama Rinto di sebuah warung kopi di ujung desa.
Keduanya berbicara dengan suara pelan agar tidak terdengar pengunjung lain.
"Ryahan masih di Kuala Kapuas."
kata Rinto.
Indra mengangguk.
"Itu justru menguntungkan."
"Kenapa?"
"Karena orang yang jauh tidak bisa membela dirinya."
Rinto tersenyum tipis.
"Lalu sekarang?"
Indra menyesap kopinya.
"Kita tidak perlu menyerangnya lagi."
"Cukup membuat orang-orang di sekitarnya saling meragukan."
"Itu jauh lebih efektif."
Rinto mulai memahami maksud sahabatnya.
"Kamu ingin membuat sahabat-sahabat Ryahan saling curiga?"
Indra mengangguk.
"Kalau persahabatan mereka hancur..."
"...Ryahan akan kehilangan tempat untuk pulang."
Senyum licik kembali muncul di wajahnya.
Beberapa hari kemudian, sebuah kabar mulai beredar di Desa Sumber Waras.
Seseorang mengatakan bahwa selama di Kuala Kapuas, Ryahan sudah melupakan desa.
Bahkan muncul cerita bahwa ia lebih memilih tinggal di kota karena merasa malu kembali ke kampung.
Tidak ada yang mengetahui siapa penyebar cerita itu.
Namun kabar tersebut menyebar dengan cepat.
Sebagian warga mulai mempercayainya.
Sebagian lagi memilih diam.
Pak Burhan yang mendengar kabar itu langsung menggeleng.
"Aku tidak percaya."
Bu Ratna mengangguk.
"Ryahan bukan anak seperti itu."
Tetapi tidak semua orang memiliki keyakinan yang sama.
Di rumah Naryo, beberapa pemuda desa sedang berkumpul.
Salah seorang di antaranya berkata,
"Dengar-dengar Ryahan sudah betah di kota."
"Katanya mau kerja di sana."
Pemuda lain menimpali.
"Kalau begitu, buat apa dulu bilang mau membangun desa?"
Naryo langsung berdiri.
"Jangan asal bicara."
"Kalian mendengar dari siapa?"
"Masyarakat ramai membicarakannya."
"Itu bukan jawaban."
Suasana mulai memanas.
Naryo akhirnya memilih meninggalkan tempat itu.
Ia tidak ingin perdebatan semakin panjang.
Namun ucapan-ucapan tadi terus terngiang di kepalanya.
Sore harinya, Naryo menemui Niko.
"Nik."
"Iya?"
"Aku ingin bertanya."
"Tentang apa?"
"Kamu masih sering berhubungan dengan Ryahan?"
Niko mengangguk.
"Kadang lewat telepon."
Naryo terlihat ragu.
"Menurutmu..."
"...apa benar dia tidak akan pulang lagi?"
Pertanyaan itu membuat Niko tersenyum kecil.
"Orang lain boleh meragukannya."
"Tapi aku tidak."
"Kenapa?"
"Karena aku mengenal Ryahan."
Niko menatap sahabatnya dengan serius.
"Orang yang meninggalkan desa demi belajar..."
"...berbeda dengan orang yang meninggalkan desa demi melupakan."
"Ryahan bukan orang kedua."
Naryo mengangguk perlahan.
Namun keraguan masih tersisa di dalam hatinya.
Bukan karena ia tidak percaya kepada Ryahan.
Melainkan karena fitnah yang terus beredar mulai memengaruhi banyak orang.
Di sisi lain desa, Anita dan Liana sedang merapikan buku-buku di perpustakaan.
Anita memandang sahabatnya.
"Kamu dengar kabar itu?"
Liana mengangguk.
"Dengar."
"Kamu percaya?"
Liana langsung menggeleng.
"Tidak."
"Kenapa begitu yakin?"
Liana tersenyum.
"Karena orang yang benar-benar mengenal Ryahan..."
"...tidak akan mudah percaya pada omongan orang."
Anita menghela napas lega.
"Aku juga berpikir begitu."
Namun mereka mulai khawatir.
Fitnah yang terus berkembang perlahan telah menciptakan jarak.
Bukan hanya antara Ryahan dan masyarakat.
Tetapi juga di antara para sahabatnya sendiri.
Di Kota Kuala Kapuas, Ryahan sama sekali tidak mengetahui apa yang sedang terjadi di desa.
Ia justru sedang sibuk mempersiapkan presentasi akhir kelompok.
Instruktur menunjuknya menjadi ketua tim.
"Ryahan."
"Iya, Pak."
"Saya percaya kamu mampu memimpin."
Ryahan sedikit terkejut.
"Saya?"
"Iya."
"Kepemimpinan bukan tentang siapa yang paling pintar."
"Tetapi siapa yang mampu membuat orang lain berjalan bersama."
Ryahan menerima amanah itu.
Selama beberapa hari ia bekerja tanpa mengenal waktu.
Ia membantu teman-temannya menyusun laporan.
Membagi tugas.
Mendengarkan pendapat setiap anggota.
Dan memastikan tidak ada seorang pun yang tertinggal.
Melihat sikapnya, Arif berkata,
"Aku baru mengerti kenapa instruktur memilihmu."
"Kenapa?"
"Karena kamu selalu memikirkan orang lain lebih dulu."
Ryahan hanya tersenyum.
"Aku belajar itu dari desa."
Malam harinya, Ryahan menerima sebuah pesan singkat dari Niko.
"Han, hati-hati. Ada banyak cerita yang tidak benar sedang beredar di desa. Jangan khawatir. Kami masih percaya kepadamu."
Ryahan membaca pesan itu berulang kali.
Ia tidak tahu fitnah apa yang dimaksud.
Namun ia dapat merasakan bahwa sesuatu sedang terjadi.
Ia menatap keluar jendela asrama.
Langit Kuala Kapuas dipenuhi bintang.
Di kejauhan, aliran Sungai Kapuas tetap mengalir tenang.
"Semoga kalian tetap saling percaya..."
bisiknya lirih.
Karena Ryahan mulai menyadari...
musuh yang paling berbahaya bukanlah orang yang menyerang dari depan.
Melainkan orang yang diam-diam merusak kepercayaan dari belakang.
Dan tanpa diketahui siapa pun, di Desa Sumber Waras, Indra telah berhasil menanam benih pertama keraguan di antara orang-orang yang selama ini menjadi lingkaran terdekat Ryahan.
Benih kecil itu...
sebentar lagi akan tumbuh menjadi badai yang menguji arti persahabatan mereka.
Malam menyelimuti Desa Sumber Waras dengan langit yang dipenuhi bintang. Di beranda rumah Pak Burhan, beberapa tokoh masyarakat sedang berkumpul membahas persiapan kerja bakti dan panen raya yang akan segera dilaksanakan. Obrolan yang semula ringan perlahan berubah menjadi pembicaraan tentang para pemuda desa.
"Sayang sekali Ryahan tidak ada."
ucap salah seorang warga.
"Iya."
"Dulu setiap ada kegiatan, dia selalu paling depan."
Warga lain menyahut,
"Mungkin sekarang dia sudah lupa sama desa."
Kalimat itu membuat Pak Burhan langsung mengangkat wajah.
"Jangan mudah menghakimi."
"Anak itu sedang belajar."
"Belum tentu semua cerita yang kalian dengar itu benar."
Suasana kembali hening.
Namun benih keraguan sudah mulai tumbuh di tengah masyarakat.
Di tempat lain, Indra dan Rinto kembali bertemu di sebuah pondok tua di pinggir kebun karet.
Mereka tampak puas melihat isu yang mereka sebarkan mulai dipercaya sebagian warga.
Rinto tertawa kecil.
"Ternyata mudah sekali."
Indra menggeleng pelan.
"Bukan karena mudah."
"Tetapi karena fitnah selalu berjalan lebih cepat daripada kebenaran."
Rinto memandang sahabatnya.
"Lalu apa langkah berikutnya?"
Indra mengeluarkan sebuah amplop dari dalam tasnya.
"Aku punya cara supaya persahabatan mereka benar-benar hancur."
"Apa itu?"
Indra membuka amplop tersebut.
Di dalamnya terdapat beberapa lembar fotokopi surat.
Surat itu menyerupai tulisan tangan Ryahan.
Padahal...
semuanya telah dipalsukan.
"Aku akan membuat mereka percaya..."
"...bahwa Ryahan sengaja memutus hubungan dengan semua sahabatnya."
Rinto tersenyum puas.
"Kalau begitu..."
"...mereka sendiri yang akan menjauhinya."
Indra mengangguk.
"Itulah yang kuinginkan."
Dua hari kemudian, Naryo menemukan sebuah amplop tanpa nama di depan rumahnya.
Ia membukanya.
Di dalamnya terdapat sepucuk surat.
Tulisan tangan itu sangat mirip dengan tulisan Ryahan.
"Aku sudah nyaman di Kuala Kapuas."
"Aku mungkin tidak akan kembali ke Desa Sumber Waras."
"Kalian jangan lagi menungguku."
"Masing-masing saja mengejar hidup sendiri."
Tidak ada tanda tangan.
Namun di bagian bawah tertulis nama Ryahan.
Naryo membaca surat itu berulang kali.
Dadanya terasa sesak.
"Benarkah..."
"...Ryahan berubah?"
Di saat yang hampir bersamaan, Anita dan Liana juga menerima surat serupa.
Isi suratnya hampir sama.
Hanya sedikit berbeda pada bagian penutup.
Seolah-olah memang ditulis khusus untuk masing-masing penerima.
Sore itu, keempat sahabat berkumpul di bawah pohon trembesi.
Tempat yang dahulu menjadi saksi lahirnya begitu banyak mimpi.
Suasana berbeda dari biasanya.
Tidak ada tawa.
Tidak ada candaan.
Yang ada hanya wajah-wajah penuh kebingungan.
Naryo mengeluarkan surat yang diterimanya.
"Aku mendapat ini."
Anita dan Liana saling berpandangan.
"Kami juga."
Niko terkejut.
"Kalian juga?"
Mereka memperlihatkan surat masing-masing.
Niko membaca dengan saksama.
Semakin lama wajahnya semakin serius.
"Ada yang aneh."
"Apa?"
"Tulisan ini memang mirip tulisan Ryahan."
"Tapi..."
"...bahasanya bukan dia."
Naryo menatap Niko.
"Kamu yakin?"
"Sangat yakin."
"Kenapa?"
"Ryahan tidak pernah memanggil kita dengan kata 'kalian'."
"Dia selalu berkata..."
"...'kita'."
Semua terdiam.
Anita mulai memperhatikan kembali isi surat itu.
"Iya..."
"Benar."
Liana mengangguk.
"Kalimatnya juga terasa dingin."
"Bukan seperti Ryahan."
Harapan yang sempat runtuh perlahan kembali muncul.
Namun tidak semua orang berpikir sama.
Beberapa warga yang mengetahui isi surat tersebut langsung percaya.
"Sudah kubilang."
"Ryahan pasti berubah."
"Kota memang membuat orang lupa diri."
Kabar itu semakin meluas.
Fitnah yang semula hanya berupa cerita kini seolah memiliki bukti.
Pak Burhan menerima kabar tersebut menjelang malam.
Beliau meminta Niko datang ke rumahnya.
"Perlihatkan surat itu."
Niko menyerahkannya.
Pak Burhan membaca perlahan.
Beliau tersenyum tipis.
"Boleh aku bertanya?"
"Tentu."
"Selama mengenal Ryahan..."
"...pernahkah dia menulis surat seperti ini?"
Niko menggeleng.
"Tidak pernah."
"Kalau begitu..."
"...kenapa kamu harus percaya?"
Niko menghela napas lega.
"Saya memang tidak percaya."
Pak Burhan mengembalikan surat itu.
"Surat ini dibuat oleh orang yang mengenal tulisan Ryahan."
"Tetapi..."
"...tidak mengenal hatinya."
Kalimat itu begitu membekas di hati Niko.
Malam itu, Niko memutuskan menelepon Ryahan di Kuala Kapuas.
Beberapa kali telepon berdering.
Akhirnya terdengar suara yang sangat dirindukannya.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
"Han."
"Nik."
"Ada apa?"
Niko terdiam sejenak.
Ia tidak ingin membuat sahabatnya kehilangan konsentrasi.
Namun ia juga tidak ingin terus menyembunyikan keadaan.
"Ada seseorang yang memalsukan surat atas namamu."
Ryahan terkejut.
"Surat?"
"Iya."
"Isinya seolah-olah kamu tidak ingin kembali ke desa."
Ryahan langsung berdiri dari kursinya.
"Aku tidak pernah menulis surat seperti itu."
"Aku tahu."
"Tapi banyak orang mulai mempercayainya."
Ryahan memejamkan mata.
Kini ia mulai memahami maksud pesan singkat Niko beberapa hari yang lalu.
Seseorang memang sedang berusaha menghancurkan dirinya.
Bukan dengan kekerasan.
Melainkan dengan merusak kepercayaan orang-orang yang paling ia sayangi.
"Han."
"Iya."
"Aku ingin bertanya."
"Apa?"
"Siapa menurutmu yang melakukan semua ini?"
Ryahan terdiam cukup lama.
Di dalam benaknya hanya muncul satu nama.
Indra.
Namun ia tidak memiliki bukti.
"Aku tidak tahu."
jawabnya pelan.
"Tapi siapa pun dia..."
"...suatu hari nanti kebenaran pasti menemukannya."
Setelah telepon berakhir, Ryahan berjalan keluar asrama.
Malam itu angin dari arah Sungai Kapuas bertiup cukup kencang.
Ia berdiri di tepian sungai, memandang riak air yang memantulkan cahaya bulan.
Hatinya terasa semakin berat.
Ia mulai menyadari bahwa perjuangan yang sebenarnya bukan hanya tentang bertahan hidup di kota.
Melainkan mempertahankan nama baik yang sedang dihancurkan dari kejauhan.
Sementara itu, di Desa Sumber Waras, Indra berdiri di depan rumahnya dengan senyum kemenangan.
Ia merasa rencananya berjalan sempurna.
Namun tanpa ia sadari, satu kesalahan kecil telah ia lakukan.
Ia terlalu yakin bahwa semua orang akan tertipu.
Padahal...
orang yang mengenal Ryahan dengan sepenuh hati mulai melihat kejanggalan demi kejanggalan.
Dan dari situlah...
jalan menuju terbongkarnya pengkhianatan perlahan mulai terbuka.
BAB XV
CAHAYA YANG MULAI PADAM
Pagi di Kota Kuala Kapuas datang bersama langit yang kelabu.
Awan tebal menggantung rendah di atas tepian Sungai Kapuas, membuat cahaya mentari yang biasanya hangat terasa redup. Angin berembus pelan, membawa aroma hujan yang belum turun.
Ryahan berdiri di jendela kamar asrama.
Matanya memandang jauh ke arah sungai.
Sudah hampir lima bulan ia berada di kota.
Pelatihan yang dijalaninya memasuki tahap akhir. Nilai-nilainya termasuk yang terbaik. Para instruktur mulai mempercayainya untuk membantu peserta lain yang mengalami kesulitan.
Namun keberhasilan itu tidak mampu menghapus kegelisahan di dalam hatinya.
Sejak kabar tentang surat palsu dan fitnah yang beredar di Desa Sumber Waras, pikirannya semakin sering melayang pulang.
Ia merindukan kedua orang tuanya.
Merindukan sahabat-sahabatnya.
Dan tentu saja...
merindukan Amelia.
"Han!"
Suara Arif membuyarkan lamunannya.
Ryahan menoleh.
"Ayo, kita terlambat."
Ryahan mengangguk.
"Iya."
Mereka berjalan menuju ruang pelatihan.
Hari itu peserta akan mengikuti evaluasi praktik lapangan.
Instruktur memberikan tugas untuk merancang program pembangunan desa berbasis potensi lokal.
Ryahan memimpin kelompoknya dengan tenang.
Ia membagi tugas secara adil.
Mendengarkan setiap pendapat.
Tidak memaksakan kehendaknya.
Melihat itu, instruktur senior, Pak Darmawan, tersenyum kepada rekan-rekannya.
"Anak itu punya jiwa pemimpin."
"Bukan karena suaranya paling keras."
"Tetapi karena ia mampu membuat orang lain merasa dihargai."
Ucapan itu membuat Ryahan mendapat kepercayaan lebih besar.
Namun di balik senyumnya, ia masih menyimpan beban yang tidak diketahui siapa pun.
Sore harinya, setelah kegiatan selesai, Ryahan menerima panggilan dari petugas administrasi.
"Ryahan."
"Iya, Pak."
"Ada telepon dari rumah."
Jantung Ryahan langsung berdegup lebih cepat.
Ia bergegas menuju ruang telepon.
Dengan tangan sedikit gemetar, ia mengangkat gagang telepon.
"Assalamu'alaikum."
Beberapa detik tidak terdengar jawaban.
Lalu suara yang sangat dikenalnya terdengar lirih.
"Han..."
"Itu Ibu?"
"Iya, Nak."
Suara Bu Talia terdengar lemah.
Berbeda dari biasanya.
"Ada apa, Bu?"
Bu Talia tidak langsung menjawab.
Yang terdengar hanya tarikan napas panjang.
"Pak Rahmat..."
"...sakit."
Ryahan langsung berdiri.
"Apa?"
"Sudah beberapa hari."
"Kenapa Ibu baru memberi tahu?"
"Ibu tidak ingin mengganggu pelatihanmu."
"Ayah sakit apa?"
"Darah tinggi beliau kambuh."
"Lalu..."
"...beliau sempat pingsan di sawah."
Dunia seolah berhenti berputar.
Ryahan menggenggam gagang telepon semakin erat.
"Bagaimana keadaan Ayah sekarang?"
"Sudah sedikit membaik."
"Tapi dokter meminta beliau banyak istirahat."
Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Ryahan.
"Kenapa saya tidak ada di sana..."
Bu Talia berusaha menenangkan putranya.
"Jangan menyalahkan diri sendiri."
"Bapakmu justru melarang Ibu memberi tahu."
"Beliau takut kamu pulang."
Ryahan memejamkan mata.
Dadanya terasa sesak.
Beberapa saat kemudian terdengar suara Pak Rahmat.
"Han..."
Suara itu terdengar lebih pelan.
Namun tetap penuh ketegasan.
"Pak..."
"Bagaimana keadaan Bapak?"
Pak Rahmat tertawa kecil.
"Masih keras kepala."
Ryahan mencoba tersenyum.
Namun air matanya telah jatuh.
"Maafkan saya."
"Kenapa minta maaf?"
"Saya tidak ada ketika Bapak sakit."
Pak Rahmat menghela napas.
"Han."
"Iya."
"Kamu ingat pesan Bapak?"
Ryahan mengangguk meski ayahnya tidak dapat melihatnya.
"Bapak bilang..."
"...jangan pulang karena lari dari masalah."
"Benar."
"Dan sekarang Bapak tambahkan satu lagi."
"Apa, Pak?"
"Jangan pulang hanya karena rasa bersalah."
"Pulanglah nanti..."
"...ketika perjuanganmu selesai."
Ryahan menggigit bibirnya.
Ia ingin sekali pulang.
Ingin memeluk ayahnya.
Ingin membantu ibunya.
Namun kata-kata Pak Rahmat membuat langkahnya tertahan.
"Ayah baik-baik saja."
"Jangan khawatir."
"Belajarlah dengan sungguh-sungguh."
"Karena ilmu yang kamu cari hari ini..."
"...akan menjadi bekal untuk hidupmu nanti."
Telepon terputus.
Ryahan masih berdiri mematung.
Air matanya tidak mampu lagi dibendung.
Arif yang melihat sahabatnya keluar dari ruang telepon segera menghampiri.
"Ada apa?"
Ryahan mengusap wajahnya.
"Ayahku sakit."
Arif terdiam.
"Kamu mau pulang?"
Ryahan menatap langit yang mulai mendung.
"Hatiku ingin."
"Tapi..."
"...aku sudah berjanji kepada Ayah."
Arif menepuk bahunya.
"Berat sekali."
Ryahan tersenyum pahit.
"Kadang menjadi anak..."
"...berarti harus belajar kuat, bahkan ketika hati sedang hancur."
Di Desa Sumber Waras, Pak Rahmat benar-benar mulai membatasi aktivitasnya.
Dokter desa meminta beliau tidak lagi bekerja terlalu berat.
Namun setiap pagi beliau tetap berjalan ke halaman rumah.
Melihat sawah dari kejauhan.
Sesekali membantu pekerjaan ringan.
Bu Talia beberapa kali menegurnya.
"Pak."
"Istirahatlah."
Pak Rahmat tersenyum.
"Kalau terlalu lama duduk..."
"...rasanya badan malah sakit."
Bu Talia menggeleng pelan.
"Keras kepala."
Pak Rahmat tertawa.
"Bukan."
"Hanya belum terbiasa diam."
Di balik candanya, sebenarnya beliau mulai merasakan tubuhnya tidak sekuat dulu.
Tetapi beliau memilih menyembunyikan rasa sakit itu.
Beliau tidak ingin menjadi beban bagi keluarganya.
Sore itu, Pak Burhan datang menjenguk.
Beliau membawa beberapa buah dan obat herbal.
"Bagaimana keadaanmu?"
Pak Rahmat tersenyum.
"Masih diberi umur."
Pak Burhan duduk di sampingnya.
"Ryahan sudah tahu?"
Pak Rahmat mengangguk.
"Sudah."
"Dia ingin pulang?"
"Iya."
"Lalu?"
"Aku melarangnya."
Pak Burhan memandang sahabat lamanya itu dengan mata berkaca-kaca.
"Kamu benar-benar ayah yang keras."
Pak Rahmat tersenyum tipis.
"Aku hanya tidak ingin mimpi anakku berhenti di tengah jalan."
Pak Burhan menghela napas panjang.
"Semoga Tuhan menjaga langkahnya."
"Amin."
Di malam yang sama, Ryahan berjalan sendirian menuju tepian Sungai Kapuas.
Hujan gerimis mulai turun.
Ia berdiri tanpa berteduh.
Matanya menatap aliran sungai yang terus bergerak menuju hilir.
Di dalam hati, ia memanjatkan doa.
"Ya Allah..."
"Jangan ambil ayahku sebelum aku sempat membahagiakannya."
"Berikan beliau kesehatan."
"Berikan aku kesempatan untuk pulang membawa kebanggaan, bukan penyesalan."
Air hujan bercampur dengan air mata di wajahnya.
Malam itu, untuk pertama kalinya sejak meninggalkan Desa Sumber Waras, Ryahan merasa begitu rapuh.
Namun ia tidak mengetahui bahwa cobaan belum berhenti.
Di desa, seseorang mulai menyusun fitnah yang jauh lebih besar.
Fitnah yang bukan hanya akan menghancurkan nama baiknya.
Tetapi juga mengancam keselamatan orang-orang yang paling ia cintai.
Dan perlahan...
cahaya yang selama ini menjadi penuntun hidupnya mulai meredup.
Tiga hari berlalu sejak Ryahan menerima kabar tentang kondisi kesehatan Pak Rahmat.
Sejak saat itu, pikirannya tidak pernah benar-benar tenang. Ia tetap mengikuti seluruh rangkaian pelatihan, tetapi senyumnya mulai berkurang. Di ruang kelas, ia masih mencatat setiap materi. Saat praktik lapangan, ia tetap memimpin kelompoknya. Namun setiap kali waktu istirahat tiba, pandangannya selalu mengarah ke langit, seolah berharap angin membawa kabar baik dari Desa Sumber Waras.
Instruktur pun mulai menyadari perubahan itu.
Suatu siang, setelah pelatihan selesai, Pak Darmawan memanggil Ryahan ke ruangannya.
"Duduklah."
Ryahan duduk dengan sopan.
"Wajahmu berbeda beberapa hari ini."
Ryahan hanya tersenyum tipis.
"Sedikit ada masalah keluarga, Pak."
Pak Darmawan mengangguk pelan.
"Orang yang sedang memikul beban biasanya berusaha terlihat kuat."
"Tapi matanya tidak pernah bisa berbohong."
Ryahan menundukkan kepala.
"Kalau ada yang bisa kami bantu, jangan sungkan."
"Terima kasih, Pak."
Pak Darmawan membuka sebuah map di atas mejanya.
"Pelatihan tinggal beberapa minggu lagi."
"Kamu termasuk peserta terbaik."
"Jangan biarkan masalah ini menghentikan langkahmu."
Ryahan mengangguk mantap.
"Saya akan berusaha menyelesaikannya."
Malam itu, telepon kembali berdering di ruang administrasi asrama.
Petugas memanggil nama Ryahan.
Dengan langkah cepat ia menghampiri.
Di seberang telepon terdengar suara Niko.
"Han."
"Nik, bagaimana keadaan Ayah?"
Niko terdiam beberapa saat.
"Keadaannya mulai membaik."
Ryahan mengembuskan napas lega.
"Alhamdulillah."
"Tapi..."
Suara Niko berubah pelan.
"Ada hal lain yang harus kamu tahu."
"Apa?"
"Pak Rahmat memaksa tetap ikut rapat kelompok tani kemarin."
Ryahan langsung mengernyit.
"Padahal dokter sudah melarang."
"Iya."
"Beliau bilang..."
"'Kalau aku berhenti memikirkan desa, berarti aku berhenti menjadi diriku sendiri.'"
Mata Ryahan kembali berkaca-kaca.
Kalimat itu benar-benar mencerminkan sosok ayahnya.
Seorang lelaki sederhana yang mencintai keluarga dan desanya dengan sepenuh hati.
Di Desa Sumber Waras, Pak Rahmat memang tampak lebih sehat.
Namun tubuhnya belum benar-benar pulih.
Meski demikian, beliau tetap datang ke balai desa ketika diadakan musyawarah mengenai perbaikan saluran irigasi.
Pak Burhan menegurnya.
"Rahmat."
"Iya?"
"Dokter menyuruhmu istirahat."
Pak Rahmat tersenyum.
"Aku hanya duduk mendengarkan."
Pak Burhan menggeleng.
"Kamu ini memang tidak bisa diam."
Pak Rahmat tertawa kecil.
"Kalau desa ini maju..."
"...aku akan lebih cepat sembuh."
Semua yang hadir ikut tersenyum.
Mereka mengenal Pak Rahmat sebagai sosok yang tidak pernah memikirkan dirinya sendiri.
Namun dari kejauhan, seseorang memperhatikan semua itu.
Indra.
Ia berdiri di balik pohon mahoni di dekat balai desa.
Matanya memperhatikan setiap orang yang datang.
Di sampingnya, Rinto bertanya,
"Kenapa kita di sini?"
Indra menjawab pelan.
"Aku sedang menunggu kesempatan."
"Kesempatan apa?"
"Orang yang sedang lemah..."
"...lebih mudah dijatuhkan."
Rinto mulai memahami arah pembicaraan itu.
"Kamu ingin menyerang Pak Rahmat?"
Indra tersenyum tipis.
"Bukan."
"Aku hanya ingin membuat Ryahan kehilangan alasan untuk kembali."
Rinto terdiam.
Bahkan baginya, rencana itu mulai terdengar terlalu kejam.
Beberapa hari kemudian, Ryahan mendapat izin libur selama dua hari sebelum memasuki ujian akhir pelatihan.
Arif mengajaknya berkeliling Kota Kuala Kapuas.
"Ayo."
"Supaya pikiranmu lebih tenang."
Mereka berjalan menyusuri pasar tradisional.
Melihat pedagang menjajakan hasil kebun, ikan sungai, dan berbagai kerajinan tangan.
Ryahan membeli beberapa oleh-oleh sederhana.
Kain batik khas daerah.
Syal untuk Bu Talia.
Sebuah jam tangan sederhana untuk Pak Rahmat.
Beberapa buku cerita untuk anak-anak perpustakaan desa.
Dan sebuah pena kayu yang diukir dengan motif burung enggang.
Arif memperhatikan benda terakhir itu.
"Untuk siapa?"
Ryahan tersenyum kecil.
"Untuk seseorang."
Arif tidak bertanya lagi.
Ia sudah mengetahui jawabannya.
Menjelang sore mereka duduk di tepian Sungai Kapuas.
Matahari perlahan mulai turun.
Cahaya keemasan memantul di permukaan air.
Ryahan memandang senja itu tanpa berkedip.
"Arif."
"Iya?"
"Menurutmu..."
"...apakah seseorang boleh tetap berharap meski kenyataannya semakin jauh?"
Arif berpikir sejenak.
"Laut tetap berharap pada hujan."
"Padahal hujan belum tentu jatuh di tempat yang sama."
Ryahan tersenyum.
"Itu jawaban yang indah."
"Bukan jawabanku."
"Itu kata-kata ayahku."
Mereka tertawa kecil.
Namun setelah itu kembali terdiam.
Masing-masing larut dalam pikirannya sendiri.
Di Desa Sumber Waras, Amelia masih setia mengajar anak-anak membaca.
Meski senyumnya tetap menghiasi wajah, Bu Ratna mulai menyadari bahwa putri Pak Kusri itu semakin sering menyendiri.
Suatu sore, Bu Ratna menghampirinya.
"Kamu baik-baik saja?"
Amelia mengangguk.
"Iya."
"Kamu bohong."
Amelia tersenyum hambar.
"Masih kelihatan ya?"
"Sejak kapan seorang ibu tidak bisa membaca mata anak-anaknya?"
Amelia menundukkan kepala.
"Aku hanya..."
"...merasa semakin jauh."
Bu Ratna menggenggam tangannya.
"Kalau cinta itu memang ditakdirkan kembali..."
"...ia akan menemukan jalannya."
"Kalau tidak?"
"Berarti Tuhan sedang menyiapkan jalan yang lebih baik."
Amelia tidak menjawab.
Tetapi kata-kata itu terus berputar di dalam pikirannya.
Malam itu, ketika Ryahan hendak kembali ke asrama, telepon genggam Arif menerima sebuah pesan.
"Han."
"Ada berita."
"Apa?"
Arif membaca isi pesan dari seorang peserta yang berasal dari kecamatan tetangga Desa Sumber Waras.
Wajahnya berubah serius.
"Ada kebakaran kecil di dekat gudang kelompok tani desamu."
Ryahan langsung berdiri.
"Apa?"
"Belum jelas penyebabnya."
"Tidak ada korban."
"Tapi..."
"...katanya ada yang menyebut nama ayahmu karena beliau orang terakhir yang berada di sana sore tadi."
Ryahan membeku.
Dadanya berdebar semakin keras.
Ia mengenal ayahnya.
Pak Rahmat tidak mungkin melakukan sesuatu yang membahayakan desa.
Namun ia juga tahu...
fitnah sering kali muncul justru ketika seseorang sedang berada dalam keadaan paling lemah.
Di Desa Sumber Waras, Indra berdiri memandangi gudang yang sebagian dindingnya menghitam akibat kebakaran kecil itu.
Api memang telah padam.
Kerusakan tidak terlalu besar.
Tetapi tujuan sebenarnya bukanlah membakar gudang.
Melainkan membakar kepercayaan masyarakat.
Dan malam itu...
Indra tersenyum puas ketika mendengar beberapa warga mulai berbisik,
"Benarkah Pak Rahmat yang lalai?"
"Atau..."
"...ada sesuatu yang sedang disembunyikan?"
Sementara itu, jauh di Kota Kuala Kapuas, Ryahan hanya mampu mengepalkan kedua tangannya.
Ia ingin pulang.
Ingin berdiri di samping ayahnya.
Ingin membela nama baik keluarganya.
Tetapi jarak kembali mengajarkannya satu kenyataan yang paling menyakitkan.
Tidak semua luka bisa segera disembuhkan oleh kehadiran.
Dan tidak semua fitnah bisa segera dipatahkan oleh kebenaran.
BAB XVI
HARGA SEBUAH KESETIAAN
Malam di Kota Kuala Kapuas terasa lebih sunyi daripada biasanya.
Ryahan masih berdiri di tepian Sungai Kapuas, sementara angin malam berembus pelan membawa riak-riak kecil di permukaan air. Kabar tentang kebakaran gudang kelompok tani di Desa Sumber Waras terus berputar di dalam pikirannya. Ia tidak begitu mengkhawatirkan bangunan yang terbakar, tetapi ia sangat mengenal ayahnya.
Pak Rahmat bukan orang yang ceroboh.
Apalagi melakukan sesuatu yang dapat merugikan masyarakat.
Namun Ryahan juga memahami satu kenyataan.
Di saat sebuah fitnah telah lebih dahulu dipercaya, kebenaran sering kali datang terlambat.
Ia menatap langit.
"Ya Allah..."
"Jagalah keluargaku."
Keesokan paginya, pelatihan tetap berjalan.
Hari itu seluruh peserta mengikuti ujian praktik terakhir.
Ryahan tetap hadir.
Meski matanya tampak kurang tidur, ia tetap menyelesaikan seluruh tugas dengan baik.
Pak Darmawan memperhatikan murid terbaiknya itu.
"Ryahan."
"Iya, Pak."
"Kamu sedang memikul beban yang berat."
Ryahan tersenyum tipis.
"Sedikit."
Pak Darmawan mengangguk.
"Saya pernah seusiamu."
"Saya juga pernah merasa ingin menyerah."
Ryahan menatap instruktur itu.
"Lalu apa yang membuat Bapak bertahan?"
Pak Darmawan tersenyum.
"Karena selalu ada seseorang yang percaya kepadaku."
Kalimat itu membuat Ryahan terdiam.
Benar.
Selama ini masih ada orang-orang yang mempercayainya.
Ayah dan ibunya.
Pak Burhan.
Bu Ratna.
Niko.
Naryo.
Anita.
Liana.
Dan...
Amelia.
Mungkin.
Harapan itu kembali menyalakan semangat yang hampir padam.
Sementara itu, di Desa Sumber Waras, suasana semakin ramai.
Kebakaran kecil di gudang kelompok tani memang telah berhasil dipadamkan sebelum api membesar.
Kerugiannya tidak terlalu besar.
Namun isu yang berkembang jauh lebih besar daripada kerusakan bangunannya.
Sebagian warga mulai berbisik-bisik.
"Pak Rahmat orang terakhir yang keluar dari gudang."
"Apa mungkin beliau lupa mematikan lampu minyak?"
"Atau ada sebab lain?"
Pak Burhan segera mengumpulkan beberapa pengurus kelompok tani.
"Kita tidak boleh menyimpulkan sebelum mengetahui penyebabnya."
Semua mengangguk.
Namun bisik-bisik itu telanjur menyebar ke mana-mana.
Di rumah Pak Rahmat, suasana terasa berat.
Bu Talia duduk di samping suaminya.
"Pak."
"Iya."
"Jangan dipikirkan terus."
Pak Rahmat tersenyum kecil.
"Aku bukan memikirkan diriku."
"Lalu?"
"Aku memikirkan Ryahan."
"Kalau sampai kabar ini terdengar olehnya..."
"...dia pasti semakin ingin pulang."
Bu Talia menggenggam tangan suaminya.
"Dia anak yang kuat."
Pak Rahmat mengangguk.
"Iya."
"Itulah yang membuatku takut."
"Maksudnya?"
"Orang yang terlalu kuat sering kali menyembunyikan luka sendirian."
Bu Talia terdiam.
Ia tahu benar perkataan itu.
Ryahan memang sejak kecil lebih sering memendam kesedihan daripada mengeluh.
Sore harinya, Niko datang ke rumah Pak Rahmat.
Ia membawa beberapa dokumen.
"Pak."
"Iya, Nik."
"Saya sudah berbicara dengan beberapa warga."
"Lalu?"
"Mereka memastikan ketika Bapak meninggalkan gudang..."
"...lampu sudah dipadamkan."
Pak Rahmat menghela napas lega.
"Alhamdulillah."
"Tapi..."
Niko melanjutkan.
"Ada seorang anak yang melihat seseorang datang ke gudang setelah Magrib."
Pak Rahmat langsung mengangkat kepala.
"Siapa?"
"Anaknya belum berani memastikan."
"Karena gelap."
"Yang diingat hanya..."
"...orang itu memakai jaket hitam."
Pak Rahmat mulai berpikir.
Siapa yang masih datang ke gudang malam itu?
Malamnya, Niko mengajak Naryo bertemu di pos ronda.
"Aku mulai curiga."
Naryo mengangguk.
"Aku juga."
"Menurutmu siapa?"
Naryo menghela napas.
"Aku belum punya bukti."
"Tapi..."
"...aku tidak bisa menghilangkan nama Indra dari pikiranku."
Niko menatap sahabatnya.
"Kenapa?"
"Karena setiap kali ada masalah..."
"...dia selalu muncul belakangan."
"Seolah-olah tidak tahu apa-apa."
Niko mengangguk pelan.
"Aku juga merasakan hal yang sama."
"Tapi kita tidak boleh menuduh tanpa bukti."
"Itu justru yang selama ini dilakukan kepada Ryahan."
Keduanya sepakat untuk mencari kebenaran dengan hati-hati.
Di sisi lain desa, Anita dan Liana juga mulai bergerak.
Mereka mendatangi beberapa anak yang bermain di sekitar gudang pada malam kebakaran.
Salah seorang anak berkata pelan,
"Kak..."
"Iya?"
"Aku melihat om itu."
"Om siapa?"
"Yang sering naik motor hitam."
"Dia masuk ke gudang."
"Jam berapa?"
"Sudah gelap."
"Setelah Pak Rahmat pulang."
Anita dan Liana saling berpandangan.
"Apakah kamu mengenal wajahnya?"
Anak itu menggeleng.
"Gelap."
"Tapi motornya ada lampu biru kecil di depan."
Liana langsung teringat sesuatu.
Lampu biru kecil seperti itu hanya dimiliki beberapa sepeda motor di desa.
Dan salah satunya...
milik Indra.
Sementara itu, di Kota Kuala Kapuas, Ryahan menerima pesan singkat dari Niko.
"Han, jangan khawatir. Kami sedang mencari tahu semuanya. Kami percaya kepadamu dan percaya kepada Pak Rahmat."
Ryahan membaca pesan itu berulang kali.
Matanya mulai berkaca-kaca.
Ia tidak menangis karena sedih.
Melainkan karena bersyukur.
Di tengah derasnya fitnah...
ternyata masih ada orang-orang yang memilih percaya.
Ia membalas singkat.
"Terima kasih."
"Jaga Ayah dan Ibu."
"Aku akan segera menyelesaikan perjuanganku di sini."
Malam semakin larut.
Di tepian Sungai Kapuas, Ryahan kembali duduk sendirian.
Namun kali ini hatinya sedikit lebih tenang.
Ia sadar...
kesetiaan tidak diukur dari seberapa sering seseorang hadir.
Melainkan dari seberapa teguh ia tetap percaya ketika seluruh dunia mulai meragukan.
Sementara itu, di Desa Sumber Waras, Niko, Naryo, Anita, dan Liana mulai menyusun langkah.
Mereka sepakat mencari bukti tanpa sepengetahuan siapa pun.
Karena mereka percaya...
nama baik seorang sahabat tidak boleh dibiarkan hancur hanya karena kebohongan.
Namun mereka belum menyadari...
langkah mereka diam-diam telah diawasi.
Di balik kegelapan malam, sepasang mata memperhatikan setiap gerakan mereka.
Indra mulai sadar.
Ada orang-orang yang tidak berhasil ia tipu.
Dan mulai malam itu...
mereka bukan lagi sekadar sahabat Ryahan.
Mereka telah menjadi penghalang yang harus disingkirkan.
Embun pagi masih membasahi dedaunan ketika Desa Sumber Waras mulai kembali beraktivitas. Para petani berangkat menuju sawah dengan cangkul di pundak, ibu-ibu menyiapkan dagangan untuk pasar desa, sementara anak-anak berjalan beriringan menuju sekolah.
Bagi sebagian besar warga, kehidupan kembali berjalan seperti biasa.
Namun tidak bagi Niko, Naryo, Anita, dan Liana.
Empat sahabat itu telah berjanji pada malam sebelumnya untuk mencari kebenaran.
Bukan demi membalas dendam.
Tetapi demi mengembalikan nama baik Ryahan dan Pak Rahmat.
Mereka berkumpul di perpustakaan desa yang masih sepi.
Liana menutup pintu perlahan.
"Aku tidak ingin orang lain tahu kita sedang menyelidiki ini."
Niko mengangguk.
"Kalau pelakunya tahu..."
"...dia pasti akan menghilangkan jejak."
Naryo mengeluarkan buku kecil.
"Aku sudah mencatat semua yang kita ketahui."
Ia membuka halaman pertama.
"Kebakaran terjadi setelah salat Magrib."
"Pak Rahmat sudah pulang."
"Api pertama kali terlihat sekitar pukul delapan malam."
Anita menambahkan.
"Dan ada seorang anak yang melihat seseorang datang ke gudang setelah Pak Rahmat pergi."
"Motor dengan lampu biru."
Semua kembali terdiam.
Potongan-potongan kejadian mulai membentuk sebuah pola.
Tetapi mereka masih membutuhkan bukti.
Hari itu mereka mendatangi gudang kelompok tani.
Bekas kebakaran masih terlihat.
Dinding bagian belakang menghitam.
Beberapa karung pupuk rusak terkena air saat pemadaman.
Niko berjalan mengelilingi bangunan.
Tiba-tiba langkahnya berhenti.
"Ke sini."
Ketiganya menghampiri.
Di belakang gudang, tanah masih cukup lunak karena hujan beberapa hari sebelumnya.
Terlihat bekas ban sepeda motor.
Naryo berjongkok.
"Ban ini..."
"...masih cukup jelas."
Anita mengambil beberapa foto menggunakan telepon genggamnya.
Liana memperhatikan sesuatu yang lain.
"Ini apa?"
Di sela rerumputan terdapat serpihan plastik kecil berwarna biru.
Niko mengambilnya perlahan.
Warnanya sama persis dengan penutup lampu variasi sepeda motor.
Semua saling berpandangan.
Lampu biru.
Serpihan plastik biru.
Jejak itu mulai saling berhubungan.
Namun mereka tetap berhati-hati.
"Tidak boleh langsung menyimpulkan."
kata Niko.
"Benar."
sahut Liana.
"Bukti sekecil ini belum cukup."
Naryo mengangguk.
"Kita harus mencari saksi."
Sementara itu, di Kota Kuala Kapuas, Ryahan memasuki minggu terakhir pelatihannya.
Hari itu para peserta mendapat kesempatan mengikuti kunjungan lapangan ke sebuah koperasi pertanian yang berhasil meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Ryahan memperhatikan setiap penjelasan dengan serius.
Ketua koperasi berkata,
"Kemajuan desa tidak dimulai dari uang."
"Tetapi dari kepercayaan."
"Kalau masyarakat saling percaya..."
"...mereka akan bekerja bersama."
"Tetapi kalau kepercayaan hilang..."
"...program sebesar apa pun akan gagal."
Kalimat itu terasa begitu dalam.
Ryahan langsung teringat pada Desa Sumber Waras.
Fitnah yang selama ini terjadi bukan hanya menyerang dirinya.
Tetapi perlahan menghancurkan kepercayaan masyarakat.
Ia mencatat kalimat itu di buku kecilnya.
"Desa dibangun dengan kepercayaan, bukan hanya pembangunan."
Sore harinya, Ryahan kembali menerima telepon dari Bu Talia.
"Han."
"Iya, Bu."
"Jangan khawatir."
"Keadaan Ayahmu sudah jauh lebih baik."
Ryahan mengembuskan napas lega.
"Alhamdulillah."
Bu Talia tersenyum dari seberang.
"Beliau sudah mulai bisa berjalan ke halaman."
"Walaupun masih sering dimarahi Ibu."
Ryahan tertawa kecil.
"Itu memang Ayah."
Suasana menjadi sedikit lebih hangat.
Namun sebelum telepon ditutup, Bu Talia berkata pelan,
"Han."
"Iya."
"Kalau nanti pulang..."
"...jangan pulang dengan kemarahan."
"Pulanglah membawa ilmu."
"Karena hanya itu yang tidak bisa dirampas orang."
Ryahan memejamkan mata.
"Iya, Bu."
"Saya janji."
Di Desa Sumber Waras, penyelidikan kecil empat sahabat itu mulai membuahkan hasil.
Mereka menemui seorang pemilik bengkel bernama Pak Darto.
Pak Darto dikenal sebagai satu-satunya montir yang sering memasang aksesori lampu pada sepeda motor warga.
Niko mengeluarkan serpihan plastik biru yang mereka temukan.
"Pak."
"Pernah melihat benda seperti ini?"
Pak Darto memperhatikannya cukup lama.
"Lampu variasi."
"Banyak yang pakai?"
Pak Darto menggeleng.
"Tidak."
"Model ini sudah lama tidak dijual."
"Di desa ini..."
"...setahuku hanya dua motor yang memakai."
"Motor siapa?"
Pak Darto mencoba mengingat.
"Satu milik seorang guru dari desa sebelah."
"Yang satu lagi..."
Beliau berhenti sejenak.
"Milik Indra."
Keempat sahabat itu saling berpandangan.
Jantung mereka berdegup lebih cepat.
Nama yang selama ini hanya menjadi dugaan...
kini mulai didukung oleh petunjuk.
Di sisi lain, Indra mulai merasa ada yang tidak beres.
Ketika melewati bengkel Pak Darto, ia melihat Niko dan kawan-kawan baru saja keluar.
Ia memperlambat motornya.
"Mereka sedang apa?"
gumamnya.
Rinto yang duduk di warung dekat bengkel ikut memperhatikan.
"Mereka kelihatan serius."
Indra mengepalkan rahangnya.
"Mereka mulai mencari sesuatu."
"Apa yang harus kita lakukan?"
Indra menatap jauh ke arah jalan.
"Kita harus lebih cepat."
"Kalau mereka menemukan bukti..."
"...semua rencana kita akan hancur."
Malam harinya, Niko mengumpulkan sahabat-sahabatnya di rumah Pak Burhan.
Pak Burhan mendengarkan semua hasil penyelidikan mereka.
Beliau tidak langsung berbicara.
Setelah beberapa saat, beliau berkata,
"Kalian sudah melakukan hal yang benar."
"Tetapi ingat."
"Jangan pernah menuduh seseorang hanya karena dugaan."
"Kumpulkan bukti."
"Cari saksi."
"Biarkan kebenaran berbicara."
Mereka semua mengangguk.
Pak Burhan kemudian menambahkan,
"Kalau memang Ryahan adalah anak yang benar..."
"...maka Tuhan sendiri yang akan membuka jalan baginya."
Jauh di Kota Kuala Kapuas, malam itu Ryahan kembali duduk di tepian Sungai Kapuas.
Ia memandang aliran air yang berkilau diterpa cahaya bulan.
Tanpa ia sadari, di desa, empat sahabatnya sedang mempertaruhkan nama baik mereka demi membela dirinya.
Mereka tidak meminta imbalan.
Tidak mencari pujian.
Mereka hanya memegang satu keyakinan.
Bahwa seorang sahabat sejati tidak meninggalkan temannya ketika dunia mulai meragukannya.
Namun perjuangan itu baru saja dimulai.
Karena Indra telah memutuskan untuk melakukan langkah yang jauh lebih berbahaya.
Langkah yang bukan lagi sekadar menyebarkan fitnah.
Melainkan mengorbankan seseorang agar seluruh kesalahan dapat ditimpakan kepada Ryahan dan keluarganya.
Dan sejak malam itu...
bayangan pengkhianatan berubah menjadi ancaman yang nyata.
BAB XVII
TOPENG YANG RETAK
Pagi itu, langit Desa Sumber Waras diselimuti awan tipis. Matahari muncul malu-malu di balik perbukitan, menyinari hamparan sawah yang mulai menguning. Dari kejauhan terdengar suara ayam berkokok dan para petani yang saling menyapa sebelum memulai pekerjaan.
Bagi masyarakat desa, pagi itu tampak seperti hari-hari biasa.
Namun bagi Niko, Naryo, Anita, dan Liana, hari itu adalah awal dari langkah yang akan mengubah segalanya.
Setelah menemukan petunjuk mengenai lampu variasi berwarna biru di bengkel Pak Darto, mereka sadar bahwa dugaan terhadap Indra tidak lagi sekadar firasat.
Tetapi mereka juga memahami satu hal.
Kecurigaan bukanlah kebenaran.
Mereka membutuhkan bukti yang tidak bisa dibantah.
Pagi itu mereka kembali berkumpul di rumah Pak Burhan.
Di ruang tamu sederhana yang dipenuhi aroma kopi hitam, Pak Burhan memandangi keempat pemuda itu dengan wajah serius.
"Kalian sudah menemukan beberapa petunjuk."
"Tetapi ingat..."
"...kalau sampai salah melangkah, bukan hanya nama kalian yang rusak."
"Nama Ryahan juga akan semakin sulit dipulihkan."
Niko mengangguk.
"Kami mengerti, Pak."
Pak Burhan kemudian mengambil secarik kertas.
"Semalam aku berbicara dengan Ketua RT."
"Ada satu anak yang mungkin melihat sesuatu."
"Siapa?"
"Rian."
"Anak Pak Saman."
"Dia sedang mencari layang-layang yang putus malam kebakaran."
Mata keempat sahabat itu langsung berbinar.
"Itu berarti..."
"...dia mungkin melihat pelakunya."
Pak Burhan mengangguk pelan.
"Kalau benar."
"Tetapi jangan menakutinya."
"Dia masih anak-anak."
Tak lama kemudian mereka mendatangi rumah Pak Saman.
Rian sedang bermain mobil-mobilan dari kayu di halaman rumah.
Melihat kedatangan Niko dan teman-temannya, ia langsung tersenyum.
"Kak Niko!"
Niko membalas senyum itu.
"Kakak mau bertanya sedikit."
"Boleh?"
Rian mengangguk polos.
"Boleh."
Mereka duduk di bawah pohon mangga.
Niko sengaja berbicara dengan nada santai.
"Rian."
"Waktu malam gudang kelompok tani terbakar..."
"...kamu sedang apa?"
"Aku cari layangan."
"Sendirian?"
"Iya."
"Lalu?"
"Aku lihat ada motor."
"Motor siapa?"
Rian menggaruk kepalanya.
"Aku tidak tahu."
"Gelap."
"Yang aku ingat..."
"...orangnya tinggi."
"Pakai jaket hitam."
"Terus?"
"Motornya bunyi keras."
"Lampunya warna biru."
Anita dan Liana saling berpandangan.
Keterangan itu sama persis dengan petunjuk sebelumnya.
Namun Rian belum selesai.
"Aku juga dengar dia marah."
Niko mendekat.
"Marah kepada siapa?"
"Aku tidak tahu."
"Tapi dia bilang..."
Rian mencoba mengingat.
"'Biar saja semuanya salahkan Pak Rahmat.'"
Kalimat itu membuat keempat sahabat terdiam.
Jantung mereka berdegup semakin cepat.
Kalimat itu bukan lagi sekadar petunjuk.
Melainkan awal dari sebuah kesaksian.
Pak Saman yang sejak tadi mendengarkan dari dalam rumah ikut keluar.
"Rian baru berani cerita."
"Kenapa baru sekarang?"
Pak Saman menghela napas.
"Dia takut."
"Katanya orang itu sempat melihat ke arahnya."
"Lalu?"
"Dia lari pulang."
Niko mengangguk pelan.
"Terima kasih, Pak."
Sebelum pulang, Pak Burhan yang datang menyusul berpesan kepada Pak Saman.
"Untuk sementara..."
"...jangan ceritakan ini kepada siapa pun."
Pak Saman memahami maksudnya.
Beliau tidak ingin saksi kecil itu berada dalam bahaya.
Di sisi lain desa, Indra mulai merasa gelisah.
Sejak beberapa hari terakhir ia melihat Niko dan sahabat-sahabatnya semakin sering berkumpul.
Bahkan mereka terlihat mendatangi beberapa rumah warga.
"Ada yang tidak beres."
gumamnya.
Rinto mencoba menenangkan.
"Mungkin mereka hanya penasaran."
Indra menggeleng.
"Tidak."
"Niko tidak pernah melakukan sesuatu tanpa alasan."
"Apa yang harus kita lakukan?"
Indra terdiam cukup lama.
Lalu berkata pelan,
"Kita harus mencari tahu siapa yang mulai berbicara."
Sore itu, Rinto diam-diam mengikuti Niko.
Dari kejauhan ia melihat Niko keluar dari rumah Pak Saman.
Rinto langsung kembali menemui Indra.
"Mereka dari rumah Pak Saman."
Indra langsung mengernyit.
"Pak Saman?"
"Atau..."
"...anaknya."
Mendadak wajah Indra berubah pucat.
Ia teringat.
Malam kebakaran itu...
ia memang sempat melihat bayangan seseorang berlari di dekat kebun.
Saat itu ia mengira hanya seekor kambing.
Kini ia mulai sadar.
Mungkin...
ada seseorang yang benar-benar melihatnya.
Sementara itu, di Kota Kuala Kapuas, Ryahan menjalani hari terakhir pelatihannya.
Seluruh peserta mengikuti presentasi akhir.
Ryahan memaparkan rencana pembangunan Desa Sumber Waras.
Ia berbicara tentang pertanian.
Tentang pendidikan.
Tentang koperasi.
Tentang pemberdayaan pemuda.
Dan tentang pentingnya menjaga persatuan masyarakat.
Di akhir presentasi ia berkata,
"Desa yang maju bukan hanya desa yang memiliki jalan bagus."
"Desa yang maju adalah desa yang masyarakatnya masih saling percaya."
Ruangan hening.
Beberapa instruktur tampak mengangguk.
Pak Darmawan bahkan memberikan tepuk tangan pertama.
Disusul seluruh peserta.
"Selamat."
kata beliau.
"Presentasi terbaik hari ini."
Ryahan tersenyum.
Namun jauh di dalam hatinya, ia justru sedang memikirkan Desa Sumber Waras.
Ia tidak mengetahui bahwa pada saat yang sama, sahabat-sahabatnya sedang berusaha mempertahankan kepercayaan yang ia perjuangkan sejak kecil.
Malam harinya, Niko menerima pesan singkat dari Ryahan.
"Bagaimana keadaan desa?"
Niko membaca pesan itu cukup lama.
Ia ingin menceritakan semuanya.
Tentang saksi.
Tentang penyelidikan.
Tentang dugaan kepada Indra.
Namun ia memilih membalas singkat.
"Kami baik-baik saja."
"Fokuslah menyelesaikan pelatihanmu."
"Percayalah, kami tidak akan membiarkan namamu hancur."
Ryahan membaca pesan itu dengan hati yang hangat.
Ia tidak mengetahui bahwa di balik kalimat sederhana itu...
Niko dan sahabat-sahabatnya sedang mempertaruhkan keselamatan mereka sendiri.
Sementara itu, Indra berdiri sendirian di halaman belakang rumahnya.
Tatapannya kosong.
Untuk pertama kalinya sejak semua rencananya dimulai...
ia merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Takut.
Bukan takut karena bersalah.
Melainkan takut...
kalau topeng yang selama ini ia pakai mulai retak.
Dan ketika topeng itu benar-benar pecah...
bukan hanya fitnah yang akan terbongkar.
Tetapi seluruh wajah asli di balik pengkhianatan yang selama ini ia sembunyikan.
Langit malam di Desa Sumber Waras tampak gelap tanpa cahaya bulan. Angin bertiup pelan melewati pepohonan karet di belakang rumah-rumah warga, menghadirkan suasana yang sunyi. Namun di balik kesunyian itu, ada hati-hati yang sedang bekerja keras menjaga sebuah kebenaran agar tidak terkubur oleh kebohongan.
Di rumah Pak Burhan, lampu ruang tamu masih menyala.
Niko, Naryo, Anita, dan Liana kembali berkumpul.
Di atas meja terdapat beberapa lembar catatan, foto bekas ban sepeda motor, serpihan plastik lampu berwarna biru, serta hasil pembicaraan mereka dengan Rian dan Pak Darto.
Pak Burhan memandangi semua itu dengan saksama.
"Kalian sudah bekerja dengan baik."
"Tapi..."
"...semua ini masih berupa rangkaian petunjuk."
"Bukan bukti yang cukup untuk menuduh seseorang."
Niko mengangguk.
"Kami tahu, Pak."
"Itulah sebabnya kami belum melapor."
Pak Burhan tersenyum tipis.
"Itu keputusan yang benar."
"Kebenaran tidak boleh dibangun di atas prasangka."
Di tempat lain, Indra tidak bisa memejamkan mata.
Ia berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya.
Bayangan percakapan Rinto terus terngiang.
"Mereka keluar dari rumah Pak Saman."
Ia mulai menghitung setiap langkah yang pernah dilakukannya.
Surat palsu.
Fitnah terhadap Ryahan.
Isu tentang Pak Rahmat.
Kebakaran gudang.
Selama ini semuanya berjalan sesuai rencana.
Namun kini...
ada seseorang yang mulai menyusun kembali kepingan-kepingan kebenaran.
Indra mengepalkan kedua tangannya.
"Aku tidak boleh kalah."
Keesokan paginya, Indra menemui Susianti.
Perempuan itu sedang membuka warung kecil milik keluarganya.
"Ada apa?"
tanya Susianti.
Indra melihat ke sekeliling sebelum berbicara.
"Kita harus hati-hati."
"Kenapa?"
"Niko dan teman-temannya mulai mencari tahu."
Susianti terlihat gugup.
"Mereka tahu?"
"Belum."
"Tapi mereka sudah terlalu dekat."
Susianti menundukkan kepala.
Sejak awal, sebenarnya ia tidak pernah sepenuhnya setuju dengan semua rencana Indra.
Ia hanya terbawa keadaan.
Terbawa rasa iri yang perlahan berubah menjadi kesalahan yang semakin besar.
"Kalau semua ini terbongkar..."
ucapnya lirih.
"...bagaimana?"
Indra menatap tajam.
"Tidak akan."
"Kita harus tetap tenang."
Namun untuk pertama kalinya, suara Indra sendiri terdengar tidak seyakin biasanya.
Sementara itu, di Kota Kuala Kapuas, suasana Balai Pelatihan dipenuhi kegembiraan.
Hari itu merupakan hari penutupan pelatihan.
Seluruh peserta mengenakan pakaian terbaik mereka.
Pak Darmawan berdiri di podium.
Beliau menyampaikan sambutan penutup.
"Ilmu yang kalian dapatkan di tempat ini..."
"...bukan untuk disimpan."
"Tetapi untuk dibagikan."
"Jangan pernah merasa berhasil hanya karena memiliki sertifikat."
"Keberhasilan yang sesungguhnya adalah ketika masyarakat merasakan manfaat dari ilmu kalian."
Seluruh peserta bertepuk tangan.
Satu per satu nama dipanggil untuk menerima sertifikat.
Ketika nama Ryahan disebut, tepuk tangan terdengar lebih meriah.
"Ryahan."
"Peserta Terbaik Program Pemberdayaan Masyarakat Tahun Ini."
Ryahan berjalan ke depan.
Ia menerima sertifikat dan berjabat tangan dengan Pak Darmawan.
"Selamat."
kata Pak Darmawan.
"Saya yakin suatu hari nanti..."
"...kamu akan menjadi pemimpin yang baik."
Ryahan tersenyum hormat.
"Terima kasih atas semua bimbingannya, Pak."
Namun jauh di lubuk hatinya, ia hanya memikirkan satu hal.
Pulang.
Usai acara, Arif menghampiri Ryahan.
"Jadi kapan kembali ke desa?"
"Besok pagi."
"Akhirnya."
Ryahan mengangguk.
"Aku sudah terlalu lama meninggalkan rumah."
Arif tersenyum.
"Kalau nanti desa kalian sudah maju..."
"...jangan lupa undang aku."
Ryahan tertawa kecil.
"Pasti."
Mereka saling berpelukan.
Persahabatan yang lahir di tanah perantauan telah menjadi bagian dari perjalanan hidup mereka.
Sore itu, sebelum meninggalkan Kota Kuala Kapuas, Ryahan kembali berjalan menuju tepian Sungai Kapuas.
Tempat itu telah menjadi saksi setiap kerinduannya.
Ia duduk di bangku kayu yang sama.
Memandang air sungai yang terus mengalir.
Kemudian membuka buku kecilnya.
Di halaman terakhir ia menulis,
"Aku akan pulang."
"Bukan sebagai orang yang sempurna."
"Tetapi sebagai seseorang yang telah belajar bahwa kehidupan tidak hanya mengajarkan cara meraih mimpi..."
"melainkan juga cara mempertahankan kepercayaan."
Ia menutup buku itu perlahan.
Langit senja memantulkan cahaya keemasan di atas Sungai Kapuas.
Entah mengapa...
hatinya terasa lebih tenang.
Ia tidak mengetahui bahwa kepulangannya nanti bukanlah akhir dari penderitaan.
Melainkan awal dari badai yang jauh lebih besar.
Di Desa Sumber Waras, Niko dan sahabat-sahabatnya kembali menemui Rian.
Mereka hanya ingin memastikan kembali setiap keterangan yang diberikan anak itu.
Namun ketika tiba di rumah Pak Saman, mereka mendapati pintu rumah tertutup.
Pak Saman keluar dengan wajah cemas.
"Niko..."
"Iya, Pak."
"Rian hilang."
Keempat sahabat itu langsung terkejut.
"Hilang?"
"Sejak tadi siang."
"Katanya pergi bermain."
"Sampai sekarang belum pulang."
Jantung Niko berdegup kencang.
Perasaannya langsung tidak enak.
Rian bukan hanya seorang anak.
Ia adalah saksi.
Dan jika benar ada seseorang yang ingin menutup mulutnya...
maka keadaan kini menjadi jauh lebih berbahaya.
Di tempat yang berbeda, di sebuah pondok tua dekat kebun karet, seorang anak kecil terduduk ketakutan.
Tangannya tidak diikat.
Mulutnya tidak dibungkam.
Namun ia terlalu takut untuk pulang.
Di luar pondok terdengar dua orang berbicara.
"Apa anak itu melihat wajahmu?"
"Aku tidak yakin."
"Kalau begitu?"
"Kita tunggu sampai keadaan tenang."
Suara itu terdengar samar.
Namun cukup untuk membuat Rian memeluk kedua lututnya.
Air matanya mengalir perlahan.
Ia hanya ingin pulang kepada ayah dan ibunya.
Sementara itu, bus yang ditumpangi Ryahan mulai meninggalkan Kota Kuala Kapuas.
Dari balik jendela, ia memandang sekali lagi tepian Sungai Kapuas yang perlahan menjauh.
Ia tidak menyadari...
bahwa desa yang sedang ia rindukan kini sedang dilanda kepanikan.
Dan orang yang selama ini menjadi kunci terbukanya seluruh pengkhianatan...
telah menghilang tanpa jejak.
Perjalanan pulang Ryahan baru saja dimulai.
Namun takdir telah menyiapkan ujian yang jauh lebih berat daripada semua yang pernah ia hadapi di tanah perantauan.
BAB XVIII
KETIKA SEGALANYA HILANG
Bus antarkota yang ditumpangi Ryahan melaju perlahan meninggalkan Kota Kuala Kapuas. Langit pagi masih diselimuti kabut tipis, sementara cahaya mentari mulai muncul dari ufuk timur, memantulkan warna keemasan di permukaan Sungai Kapuas yang perlahan menjauh dari pandangannya.
Ryahan memilih duduk di dekat jendela.
Di pangkuannya terletak sebuah tas ransel berisi sertifikat pelatihan, beberapa buku, oleh-oleh untuk keluarga, serta sebuah kotak kecil berisi jam tangan sederhana yang sengaja ia belikan untuk Pak Rahmat.
Beberapa kali tangannya menyentuh kotak itu.
Di wajahnya terselip senyum kecil.
"Ayah pasti senang..."
gumamnya pelan.
Ia membayangkan wajah Pak Rahmat ketika menerima hadiah itu. Bukan karena harganya mahal, tetapi karena untuk pertama kalinya ia bisa memberikan sesuatu dari hasil perjuangannya sendiri.
Namun entah mengapa...
sejak meninggalkan Kuala Kapuas, dadanya terasa sesak.
Perasaannya tidak tenang.
Seolah ada sesuatu yang sedang terjadi di kampung halaman.
Sementara itu, di Desa Sumber Waras, suasana berubah menjadi kepanikan.
Sejak Rian tidak pulang hingga malam sebelumnya, warga desa bergotong royong melakukan pencarian.
Pak Burhan memimpin langsung puluhan warga.
"Lihat setiap kebun!"
"Periksa pondok-pondok!"
"Jangan ada tempat yang terlewat!"
Suara beliau menggema di tengah keramaian.
Lampu senter menembus gelapnya kebun karet.
Beberapa warga menyusuri pematang sawah.
Sebagian lagi memasuki semak-semak.
Bu Saman menangis di pelukan istrinya.
"Rian..."
"Pulanglah, Nak..."
Tangis itu membuat hati setiap orang yang mendengarnya ikut terasa perih.
Niko, Naryo, Anita, dan Liana ikut menyisir hutan kecil di belakang desa.
Mereka memanggil nama Rian berkali-kali.
"Rian!"
"Rian...!"
Namun yang terdengar hanya suara jangkrik dan desir angin.
Anita mulai kehilangan harapan.
"Kalau sampai terjadi sesuatu..."
Liana menggenggam tangannya.
"Jangan berpikir buruk."
"Kita harus menemukannya."
Di perjalanan, telepon genggam Ryahan berdering.
Nama Niko muncul di layar.
Ryahan segera menjawab.
"Nik."
"Han..."
Suara Niko terdengar terburu-buru.
"Rian hilang."
"Apa?"
"Warga sedang mencarinya."
"Kenapa bisa?"
"Belum tahu."
Ryahan langsung duduk tegak.
Perasaannya semakin tidak tenang.
"Bagaimana Ayah?"
Niko terdiam beberapa detik.
"Pak Rahmat ikut memaksa mencari."
"Padahal kondisinya belum pulih."
Ryahan langsung mengepalkan tangannya.
"Kenapa kalian membiarkan Ayah ikut?"
"Kami sudah melarang."
"Tapi beliau tidak mau diam."
Ryahan memejamkan mata.
Ia mengenal ayahnya.
Selama masih mampu berdiri, Pak Rahmat tidak akan membiarkan ada warga yang menderita sendirian.
Di tengah pencarian, Pak Rahmat tetap berjalan bersama Pak Burhan.
Langkahnya memang lebih lambat.
Sesekali ia berhenti memegang dada.
Pak Burhan memperhatikannya.
"Rahmat."
"Iya."
"Kamu pulang saja."
Pak Rahmat menggeleng.
"Belum."
"Anak itu belum ditemukan."
"Kalau Ryahan ada di sini..."
"...dia pasti ikut mencari."
Pak Burhan menghela napas panjang.
"Justru karena Ryahan tidak ada..."
"...kamu harus menjaga dirimu."
Pak Rahmat hanya tersenyum.
"Aku ini ayah."
"Kalau ada anak desa yang hilang..."
"...mana mungkin aku duduk diam."
Menjelang tengah hari, seorang warga berteriak dari arah kebun karet.
"Pak Burhan!"
"Ke sini!"
Semua orang berlari menuju sumber suara.
Di sebuah pondok tua yang sudah lama tidak digunakan, mereka menemukan Rian.
Anak itu duduk meringkuk di sudut ruangan.
Wajahnya pucat.
Tubuhnya gemetar.
Melihat ayahnya datang, ia langsung menangis.
"Ayah..."
Pak Saman memeluk putranya erat-erat.
"Alhamdulillah..."
"Syukur kepada Tuhan..."
Tangis haru pecah di tengah kerumunan warga.
Setelah Rian mulai tenang, Pak Burhan berjongkok di hadapannya.
"Nak..."
"Jangan takut."
"Siapa yang membawamu ke sini?"
Rian masih terisak.
"Om..."
"Om siapa?"
"Aku tidak tahu."
"Tapi..."
"...aku pernah lihat."
Pak Burhan berbicara lembut.
"Ceritakan pelan-pelan."
Rian menarik napas.
"Malam gudang terbakar..."
"...aku lihat om itu."
"Dia keluar dari gudang."
"Terus?"
"Dia lihat aku."
"Lalu bilang..."
"'Kalau kamu cerita kepada siapa pun, ayahmu yang akan celaka.'"
Seluruh warga terdiam.
Rian melanjutkan dengan suara bergetar.
"Waktu kemarin aku main..."
"...orang itu datang lagi."
"Dia suruh aku ikut."
"Katanya mau antar pulang."
"Tapi..."
"...aku dibawa ke pondok."
Niko saling berpandangan dengan Naryo.
Dugaan mereka semakin kuat.
Pak Burhan bertanya sekali lagi.
"Rian."
"Kamu ingat wajahnya?"
Rian mengangguk pelan.
"Aku ingat."
"Siapa?"
Anak itu menundukkan kepala.
Dengan suara lirih ia berkata,
"Om..."
"...Indra."
Seolah waktu berhenti.
Semua yang berada di pondok saling berpandangan.
Pak Saman mengepalkan tangan.
Niko menahan napas.
Anita menutup mulutnya.
Liana memejamkan mata.
Akhirnya...
nama itu terucap langsung dari seorang saksi.
Namun di saat yang sama, di sisi lain desa, sebuah kabar buruk datang.
Bu Talia berlari keluar rumah sambil menangis.
"Pak Burhan...!"
Pak Burhan menoleh.
"Ada apa?"
"Pak Rahmat..."
"...jatuh."
Beliau segera berlari.
Di halaman rumah, Pak Rahmat terbaring lemah.
Napasnya memburu.
Wajahnya pucat.
Tangannya memegang dada.
Beberapa warga segera membantu mengangkatnya ke mobil milik Pak Burhan.
"Ke puskesmas!"
"Cepat!"
Mobil melaju meninggalkan desa dengan kecepatan tinggi.
Bu Talia terus menggenggam tangan suaminya.
"Pak..."
"Jangan tidur."
Pak Rahmat membuka mata perlahan.
Dengan napas tersengal, ia berbisik,
"Ryahan..."
"Sudah..."
"...pulang?"
Air mata Bu Talia langsung mengalir.
"Sebentar lagi, Pak."
"Sebentar lagi."
Pak Rahmat tersenyum sangat tipis.
Matanya kembali terpejam.
Sementara itu, tanpa mengetahui apa yang sedang terjadi, bus yang membawa Ryahan terus melaju menuju Desa Sumber Waras.
Ia memandang jalanan yang semakin dikenalnya.
Hatinya dipenuhi harapan.
Ia membayangkan akan segera memeluk ayahnya.
Memeluk ibunya.
Bertemu kembali dengan sahabat-sahabatnya.
Dan mungkin...
bertemu Amelia.
Ryahan sama sekali tidak menyadari...
bahwa beberapa kilometer di depannya, takdir sedang berlari lebih cepat daripada kendaraan yang membawanya pulang.
Dan mentari yang sejak kecil menjadi cahaya bagi hidupnya...
perlahan mulai meredup.
Suara sirene ambulans puskesmas memecah keheningan siang itu.
Mobil yang membawa Pak Rahmat melaju secepat mungkin menuju Puskesmas Kecamatan. Di dalam mobil, Bu Talia terus menggenggam tangan suaminya yang mulai terasa dingin.
"Pak..."
"Pandang Ibu..."
"Jangan pejamkan mata..."
Air mata terus mengalir di pipinya.
Pak Burhan yang duduk di kursi depan berkali-kali meminta sopir menambah kecepatan.
"Sedikit lagi..."
"Sebentar lagi sampai."
Namun wajahnya sendiri tidak mampu menyembunyikan kecemasan.
Di ruang tindakan, dokter dan beberapa tenaga kesehatan segera memberikan pertolongan.
Pak Rahmat dipindahkan ke ranjang pemeriksaan.
Bu Talia hanya mampu berdiri di balik pintu.
Tangannya bergetar.
Bibirnya tak henti-henti melafalkan doa.
Pak Burhan mendekat.
"Bu Talia..."
"Kita berdoa."
"Tuhan pasti memberikan yang terbaik."
Bu Talia mengangguk.
Namun naluri seorang istri mengatakan sesuatu yang berbeda.
Sejak pagi, ia telah melihat perubahan pada suaminya.
Pak Rahmat lebih banyak diam.
Tatapannya kosong.
Seolah-olah ada sesuatu yang sedang ia tunggu.
Sementara itu...
bus yang membawa Ryahan akhirnya memasuki wilayah Kabupaten Kapuas.
Pemandangan yang begitu dikenalnya kembali menyapa.
Hamparan sawah.
Perkebunan karet.
Jalan-jalan desa yang dulu sering ia lalui bersama Niko dan Naryo.
Hatinya mulai dipenuhi rasa rindu.
Ia mengeluarkan kotak kecil dari tasnya.
Jam tangan untuk Pak Rahmat.
Ryahan tersenyum sendiri.
"Nanti Ayah pasti bilang..."
"'Buat apa beli beginian?'"
"Tapi diam-diam dipakai setiap hari."
Kenangan itu membuatnya tertawa kecil.
Ia tidak tahu...
bahwa waktu yang ingin ia hadiahkan kepada ayahnya justru telah hampir habis.
Di Puskesmas, dokter keluar dari ruang tindakan.
Wajahnya tampak serius.
Pak Burhan segera menghampiri.
"Bagaimana, Dok?"
Dokter menarik napas panjang.
"Kondisi Pak Rahmat cukup kritis."
"Serangan jantungnya cukup berat."
"Tekanan darah beliau juga sangat tinggi."
Bu Talia langsung lemas.
"Tolong selamatkan suami saya..."
Dokter mengangguk.
"Kami akan berusaha semaksimal mungkin."
Pintu kembali ditutup.
Di balik kaca, Pak Rahmat tampak dipasangi berbagai alat medis.
Namun kesadarannya mulai menurun.
Di sela-sela napasnya yang berat, Pak Rahmat perlahan membuka mata.
Pandangannya kabur.
Di hadapannya berdiri dokter dan beberapa perawat.
Namun yang ia lihat justru wajah seorang anak kecil.
Ryahan.
Masih mengenakan seragam sekolah dasar.
Masih menggenggam tangan ayahnya ketika pertama kali diajak ke sawah.
"Han..."
bisiknya lirih.
Ingatan demi ingatan bermunculan.
Hari ketika Ryahan belajar berjalan.
Hari pertama masuk sekolah.
Saat Ryahan menangis karena gagal dalam lomba.
Saat ia berkata,
"Ayah... suatu hari nanti aku ingin membangun desa ini."
Pak Rahmat tersenyum tipis.
Ia selalu percaya pada mimpi anaknya.
Bahkan ketika seluruh desa mulai meragukan Ryahan.
Kepercayaannya tidak pernah berubah.
Di luar ruang tindakan, Niko, Naryo, Anita, Liana, Pak Kusri, Bu Endang, Bu Ratna, dan beberapa warga mulai berdatangan.
Semua ikut berdoa.
Amelia datang paling akhir.
Wajahnya dipenuhi kecemasan.
"Apa keadaan Om Rahmat?"
Niko hanya menggeleng pelan.
Amelia menundukkan kepala.
Air matanya jatuh tanpa mampu ditahan.
Di dalam hatinya ia terus berdoa.
"Ya Allah..."
"Jangan biarkan Ryahan kehilangan ayahnya sebelum sempat memeluknya kembali."
Tak lama kemudian...
telepon genggam Niko berdering.
Nama Ryahan muncul di layar.
Niko menatap layar cukup lama.
Tangannya gemetar.
Ia akhirnya mengangkat telepon.
"Halo..."
"Nik."
"Aku sudah hampir sampai."
"Bagaimana Ayah?"
Niko menutup matanya.
Ia tidak sanggup berbohong.
"Han..."
"Pak Rahmat sedang dirawat."
Ryahan langsung berdiri dari kursinya di dalam bus.
"Dirawat?"
"Iya."
"Kondisinya?"
Niko terdiam.
"Han..."
"Cepatlah pulang."
Kalimat itu cukup untuk membuat jantung Ryahan berdegup semakin keras.
"Aku turun di terminal sekarang."
"Aku cari kendaraan."
"Jangan biarkan Ayah sendirian."
Telepon terputus.
Ryahan segera mengambil tasnya.
Bus bahkan belum benar-benar berhenti ketika ia sudah berdiri di depan pintu.
Di ruang perawatan...
monitor jantung Pak Rahmat mulai menunjukkan penurunan.
Dokter kembali melakukan tindakan.
Perawat bergerak cepat.
Suasana menjadi tegang.
Di sela-sela kesadarannya, Pak Rahmat kembali berbisik.
"Bu..."
Bu Talia segera mendekat.
"Iya, Pak."
"Kalau..."
"...Ryahan pulang..."
"Sampaikan..."
Air mata Bu Talia semakin deras.
"Jangan bicara begitu."
Pak Rahmat tersenyum lemah.
"Sampaikan..."
"...Ayah..."
"...bangga..."
"...padanya..."
Itulah kalimat terakhir yang mampu ia ucapkan.
Sesaat kemudian...
bunyi monitor berubah menjadi suara panjang yang memecah kesunyian.
"Tiiiiiiiiiiiiiiit..."
Dokter kembali berusaha melakukan pertolongan.
Beberapa menit berlalu.
Namun...
takdir berkata lain.
Dokter perlahan menundukkan kepala.
"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un..."
"Pak Rahmat telah berpulang."
Tangis Bu Talia pecah memenuhi ruangan.
"Pak..."
"Jangan tinggalkan kami..."
Pak Burhan menundukkan kepala.
Air mata yang selama ini ia tahan akhirnya jatuh.
Pak Kusri memeluk sahabatnya itu.
Seluruh warga yang berada di luar ruangan ikut menangis.
Amelia menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Liana memeluk Anita yang tak kuasa berdiri.
Niko hanya memandang lantai.
Dadanya sesak.
Ia tahu...
ada satu orang yang akan merasakan kehilangan paling besar.
Ryahan.
Beberapa puluh menit kemudian...
sebuah sepeda motor berhenti mendadak di halaman puskesmas.
Ryahan turun tergesa-gesa.
Tasnya bahkan masih tergantung di pundak.
Ia berlari menuju ruang perawatan.
"Nik!"
"Di mana Ayah?"
Tak seorang pun menjawab.
Semua hanya menatapnya dengan mata sembab.
Ryahan mulai memperlambat langkah.
Jantungnya berdetak semakin keras.
"Nik..."
"Kenapa diam?"
Niko mendekat.
Dengan mata yang dipenuhi air mata, ia memegang bahu Ryahan.
"Han..."
"...maaf."
Satu kata itu...
cukup untuk menghancurkan seluruh harapan Ryahan.
Ryahan melepaskan pegangan Niko.
Ia berlari masuk ke dalam ruangan.
Di atas ranjang...
Pak Rahmat telah terbujur tenang, tertutup kain putih.
Kotak hadiah berisi jam tangan terlepas dari genggamannya dan jatuh ke lantai.
Suara benturannya terdengar begitu pelan.
Namun bagi Ryahan...
itulah suara paling menyakitkan yang pernah ia dengar.
Dengan langkah gemetar, ia mendekati jenazah ayahnya.
Perlahan ia membuka kain yang menutupi wajah Pak Rahmat.
Wajah itu tampak damai.
Seolah sedang tertidur.
Ryahan berlutut di samping ranjang.
Tangannya menggenggam tangan ayahnya yang mulai dingin.
Air matanya tak lagi mampu dibendung.
"Maafkan Ryahan, Yah..."
"Ryahan terlambat..."
"Ryahan belum sempat membuat Ayah bangga..."
Suara tangisnya memenuhi ruangan.
Semua yang menyaksikan ikut menitikkan air mata.
Di sudut ruangan, Amelia tak sanggup lagi menahan tangisnya.
Ia menyadari...
sejak hari itu...
Ryahan bukan hanya kehilangan seorang ayah.
Ia kehilangan cahaya yang selama ini menjadi arah dalam setiap langkah hidupnya.
Dan di dalam hati Ryahan...
perlahan tumbuh sebuah tekad.
Ia akan menyelesaikan semua fitnah yang telah menghancurkan keluarganya.
Bukan demi balas dendam.
Tetapi demi mengembalikan kehormatan nama ayahnya.
BAB XIX
SURAT YANG TAK PERNAH SAMPAI
Hujan turun perlahan ketika jenazah Pak Rahmat dimakamkan di pemakaman desa.
Langit Desa Sumber Waras diselimuti awan kelabu, seolah ikut berkabung atas kepergian seorang lelaki sederhana yang sepanjang hidupnya lebih banyak memberi daripada meminta.
Di bawah payung-payung seadanya, warga desa mengantar kepergian Pak Rahmat dengan doa dan air mata.
Tak sedikit yang mengenangnya sebagai sosok pekerja keras, jujur, dan selalu mengutamakan kepentingan orang lain.
Pak Burhan berdiri di sisi pusara yang masih basah.
Dengan suara bergetar, ia berkata pelan,
"Selamat jalan, sahabatku."
"Kau telah menunaikan amanahmu sebagai ayah, suami, dan bagian dari desa ini."
"Kini biarlah kami yang melanjutkan perjuanganmu."
Di sampingnya, Ryahan masih berlutut.
Tangannya menggenggam segenggam tanah merah yang perlahan ia taburkan ke atas pusara ayahnya.
Bibirnya tak berhenti melafalkan doa.
Namun di balik doa-doanya, ada penyesalan yang terus menggerogoti hatinya.
Seandainya ia pulang lebih cepat.
Seandainya ia tidak pergi begitu lama.
Seandainya...
Namun hidup tidak pernah memberi kesempatan untuk mengulang waktu.
Malam pertama setelah pemakaman terasa begitu sunyi.
Rumah Pak Rahmat yang biasanya dipenuhi suara canda kini hanya terdengar isak tangis yang sesekali pecah.
Foto Pak Rahmat yang dipasang di ruang tamu dikelilingi bunga melati dan lampu kecil.
Ryahan duduk bersila di hadapan foto itu.
Jam tangan yang gagal ia hadiahkan kini terletak di samping bingkai foto.
Ia menatapnya cukup lama.
"Ayah..."
"Aku pulang."
"Tapi bukan kepulangan seperti yang kita impikan."
Air matanya kembali jatuh.
Bu Talia yang sejak tadi memperhatikan putranya mendekat perlahan.
Beliau duduk di samping Ryahan.
"Jangan menyalahkan dirimu sendiri."
Ryahan menggeleng.
"Kalau aku lebih cepat pulang..."
"Kalau aku tidak meninggalkan desa..."
Bu Talia menggenggam tangan anaknya.
"Dengarkan Ibu."
"Kepergian ayahmu bukan karena kamu."
"Beliau justru sangat bangga karena kamu memilih bertahan menyelesaikan perjuanganmu."
Ryahan menunduk.
"Ayah mengatakan sesuatu sebelum pergi?"
Bu Talia mengangguk.
Air matanya kembali mengalir.
"Beliau hanya berpesan satu."
"Apa, Bu?"
"'Sampaikan kepada Ryahan... Ayah bangga padanya.'"
Kalimat itu menghantam hati Ryahan lebih keras daripada apa pun.
Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Tangis yang sejak siang ditahannya akhirnya pecah.
Beberapa hari kemudian, rumah keluarga Pak Rahmat mulai kembali sepi.
Para pelayat telah pulang.
Tetangga mulai kembali menjalani aktivitas sehari-hari.
Namun kesedihan belum meninggalkan rumah itu.
Ryahan memutuskan membantu ibunya membereskan kamar ayahnya.
Lemari kayu tua dibuka perlahan.
Baju-baju Pak Rahmat masih tersusun rapi.
Topi caping yang biasa dipakai ke sawah tergantung di sudut ruangan.
Sepasang sepatu bot penuh lumpur masih berada di bawah tempat tidur.
Ryahan mengangkat caping itu.
Tanpa sadar ia memeluknya.
Aroma sawah yang selama ini melekat pada ayahnya masih terasa.
Ia kembali menitikkan air mata.
Saat sedang merapikan rak buku kecil di sudut kamar, sebuah kotak kayu tua jatuh ke lantai.
Kotak itu tampak usang.
Di bagian atasnya tertulis dengan tinta yang mulai pudar:
"Untuk Ryahan, jika suatu hari nanti diperlukan."
Ryahan saling berpandangan dengan Bu Talia.
"Ibu pernah melihat kotak ini?"
Bu Talia menggeleng.
"Belum pernah."
Dengan hati-hati Ryahan membuka penutupnya.
Di dalamnya terdapat beberapa dokumen lama.
Buku tabungan.
Ijazah.
Foto keluarga.
Dan...
belasan amplop yang telah menguning dimakan usia.
Semuanya masih tertutup rapi.
Nama penerimanya membuat Ryahan terdiam.
Untuk Amelia.
Tangannya mulai bergetar.
Ia membuka amplop pertama.
Di sudut kanan atas tertulis tanggal tiga tahun yang lalu.
Surat itu ditulis ketika ia baru beberapa minggu berada di Kuala Kapuas.
"Amelia..."
"Hari ini aku belajar banyak hal di kota."
"Tapi semakin banyak yang kupelajari, semakin aku sadar bahwa tempat yang paling kurindukan tetap Desa Sumber Waras."
"Aku berharap suatu hari nanti kita bisa membangun desa ini bersama."
"Jangan pernah berhenti mengejar mimpimu."
"Doakan aku agar mampu menjaga semua kepercayaan yang telah kalian berikan."
"Ryahan."
Ryahan memejamkan mata.
Surat itu...
tidak pernah sampai.
Ia membuka surat kedua.
Lalu ketiga.
Keempat.
Kelima.
Semuanya ditujukan kepada Amelia.
Semuanya belum pernah dikirim.
Atau...
tidak pernah diterima.
Di dalam surat-surat itu, Ryahan menceritakan perjuangannya di kota.
Kerinduannya kepada keluarga.
Harapannya untuk kembali.
Tidak satu pun berisi kalimat yang menyakiti Amelia.
Tidak satu pun menunjukkan bahwa ia melupakan desa.
Sebaliknya...
setiap surat dipenuhi doa dan harapan.
Air mata Ryahan menetes di atas kertas yang mulai rapuh.
"Kenapa..."
"Kenapa semua surat ini ada di sini?"
Bu Talia ikut terkejut.
"Setiap bulan ayahmu selalu bilang sudah menitipkan surat-surat itu kepada seseorang untuk dikirim."
"Kepada siapa?"
Ryahan menoleh.
"Ibu tidak pernah bertanya."
"Beliau hanya bilang..."
"'Nanti juga sampai.'"
Jantung Ryahan berdegup semakin cepat.
Berarti...
surat-surat itu memang pernah keluar dari rumah.
Lalu mengapa kembali?
Siapa yang menyimpannya?
Atau...
siapa yang sengaja menghalangi semua surat itu agar tidak pernah sampai kepada Amelia?
Di rumah Pak Kusri, pada waktu yang hampir bersamaan, Amelia sedang membersihkan lemari kamarnya.
Bu Endang menghampirinya sambil membawa sebuah kain tua.
"Mel."
"Iya, Bu?"
"Ibu menemukan ini."
Sebuah buku harian lama.
Amelia menerimanya.
Ketika membuka halaman pertama, selembar daun kering jatuh ke lantai.
Di balik daun itu terdapat sebuah tulisan kecil.
"Aku akan menunggu surat pertamamu."
Tulisan itu adalah tulisan tangannya sendiri.
Ditulis bertahun-tahun lalu.
Ia tersenyum pahit.
Selama ini...
ia selalu berpikir Ryahan telah melupakannya.
Padahal...
ia tidak pernah menerima satu pun kabar darinya.
Menjelang senja, Ryahan mendatangi rumah Niko sambil membawa kotak kayu itu.
"Nik."
Niko terkejut melihat wajah sahabatnya yang masih sembab.
"Ada apa?"
Ryahan membuka isi kotak.
Niko membeku.
"Ini..."
"Semua suratku."
"Untuk Amelia."
Niko mengambil salah satunya.
Ia membaca dengan perlahan.
Wajahnya berubah.
"Han..."
"Ini bukan surat yang pernah kami lihat."
Ryahan menatapnya.
"Artinya?"
Niko menarik napas panjang.
"Artinya..."
"...ada seseorang yang selama ini sengaja memastikan Amelia tidak pernah menerima surat-suratmu."
Mata Ryahan mulai memerah.
Bukan karena marah.
Tetapi karena satu kenyataan mulai terbuka.
Bukan hanya fitnah yang telah memisahkan dirinya dengan orang-orang yang ia cintai.
Bahkan...
rindu yang selama bertahun-tahun ia titipkan melalui tinta dan kertas pun telah dirampas oleh tangan yang penuh kebencian.
Dan untuk pertama kalinya...
Ryahan menyadari bahwa pengkhianatan yang mereka hadapi jauh lebih besar daripada yang pernah mereka bayangkan.
Malam turun perlahan menyelimuti Desa Sumber Waras.
Gerimis tipis membasahi halaman rumah Niko, sementara lampu minyak yang tergantung di teras bergoyang diterpa angin. Di ruang tamu yang sederhana, Ryahan, Niko, Naryo, Anita, dan Liana duduk melingkar.
Di tengah mereka tergeletak kotak kayu tua.
Kotak yang selama bertahun-tahun menyimpan rindu yang tidak pernah sampai kepada tujuannya.
Satu per satu surat dibuka kembali.
Masing-masing bertanggal berbeda.
Ada yang ditulis ketika Ryahan pertama kali tiba di Kuala Kapuas.
Ada yang ditulis saat ulang tahun Amelia.
Ada pula surat yang ditulis setelah Ryahan mendengar kabar ibunya sakit.
Semuanya dipenuhi harapan.
Tidak ada satu pun yang berisi kemarahan.
Tidak ada satu pun yang menunjukkan bahwa Ryahan telah melupakan Amelia.
Naryo menggeleng pelan.
"Kalau Amelia membaca surat-surat ini..."
"...semuanya pasti berbeda."
Ryahan hanya menatap lembaran-lembaran kertas itu.
"Selama ini..."
"...aku pikir Amelia memang tidak ingin membalas."
Liana menahan air mata.
"Sedangkan Amelia selalu berpikir..."
"...kamu yang melupakannya."
Ruangan kembali hening.
Semua menyadari bahwa bukan waktu yang memisahkan dua hati itu.
Melainkan seseorang yang sengaja mencuri kesempatan mereka untuk saling memahami.
Keesokan paginya, Niko mengajak Ryahan menemui Pak Burhan.
Setelah mendengarkan seluruh cerita, Pak Burhan membuka satu surat dengan sangat hati-hati.
Beliau membaca beberapa baris.
Lalu menatap Ryahan.
"Kamu masih ingat..."
"...siapa yang biasa mengirimkan surat-suratmu?"
Ryahan mencoba mengingat.
"Awalnya aku kirim lewat kantor pos."
"Lalu?"
"Karena tempat pelatihan cukup jauh..."
"...aku pernah menitipkan beberapa surat kepada orang desa yang pulang."
"Siapa orang itu?"
Ryahan mengernyit.
Bayangan demi bayangan muncul di kepalanya.
Hingga akhirnya ia mengangkat wajah.
"Rinto."
Semua yang berada di ruangan itu saling berpandangan.
Pak Burhan menghela napas panjang.
"Apakah kamu yakin?"
Ryahan mengangguk perlahan.
"Beberapa kali aku bertemu dia di terminal."
"Dia bilang sedang pulang ke Desa Sumber Waras."
"Aku titipkan surat-surat itu."
"Katanya akan diberikan langsung kepada Amelia."
Niko mengepalkan tangan.
"Berarti..."
"...Rinto berbohong."
Pada saat yang sama, di rumah Pak Kusri, Amelia sedang membantu Bu Endang menjemur padi.
Wajahnya masih terlihat murung.
Sejak pemakaman Pak Rahmat, ia belum sempat berbicara dengan Ryahan.
Bukan karena tidak ingin.
Tetapi karena ia merasa Ryahan membutuhkan waktu untuk berduka.
Bu Ratna datang menghampiri.
"Mel."
"Iya, Bu?"
"Kalau nanti Ryahan datang..."
"...maukah kamu mendengarkan penjelasannya?"
Amelia terdiam cukup lama.
Akhirnya ia menjawab pelan.
"Kalau memang masih ada yang perlu dijelaskan..."
"...aku akan mendengarnya."
Sementara itu, Rinto mulai gelisah.
Sejak mengetahui Ryahan telah kembali ke desa, ia hampir tidak pernah keluar rumah.
Ia beberapa kali melihat Niko dan Naryo melewati jalan depan rumahnya.
Setiap kali itu pula, jantungnya berdegup lebih cepat.
Ia tahu...
rahasia yang selama ini disembunyikan mulai terancam terbuka.
Siang itu, seseorang mengetuk pintunya.
Tok...
Tok...
Tok...
Rinto membuka pintu.
Di hadapannya telah berdiri Ryahan.
Di sampingnya ada Niko dan Pak Burhan.
Wajah Rinto langsung pucat.
"Ada..."
"...apa?"
Pak Burhan berbicara tenang.
"Kami hanya ingin bertanya."
"Silakan duduk."
Rinto mencoba tersenyum.
Namun senyum itu tampak dipaksakan.
Mereka duduk di ruang tamu.
Ryahan mengeluarkan salah satu surat dari dalam tasnya.
"Masih ingat ini?"
Rinto memandang surat itu.
Wajahnya semakin tegang.
"Apa maksudmu?"
"Dulu..."
"...aku pernah menitipkan surat kepadamu."
Rinto langsung menggeleng.
"Tidak ingat."
Ryahan meletakkan surat itu di meja.
"Lihat baik-baik."
"Ini tulisan tanganku."
"Dan ini..."
"...masih berada di rumahku."
"Padahal kamu mengatakan sudah menyerahkannya kepada Amelia."
Ruangan mendadak sunyi.
Keringat mulai membasahi pelipis Rinto.
"Aku..."
"...mungkin lupa."
Niko langsung menyela.
"Lupa satu surat mungkin masuk akal."
"Tapi..."
"...ini ada lima belas surat."
"Semuanya lupa?"
Rinto tidak mampu menjawab.
Pak Burhan menatapnya dengan penuh wibawa.
"Rinto."
"Saya mengenalmu sejak kecil."
"Saya tidak ingin mendengar kebohongan."
"Katakan apa yang sebenarnya terjadi."
Rinto menundukkan kepala.
Tangannya gemetar.
Beberapa kali ia mencoba berbicara.
Namun tidak ada suara yang keluar.
Ryahan tidak meninggikan nada suaranya.
Ia hanya berkata pelan,
"Aku tidak datang untuk membalas dendam."
"Aku hanya ingin tahu..."
"...kenapa?"
Kalimat sederhana itu justru menghancurkan pertahanan Rinto.
Matanya mulai berkaca-kaca.
"Aku..."
"...bersalah."
Semua terdiam.
Suara Rinto mulai bergetar.
"Surat-surat itu memang kamu titipkan kepadaku."
Ryahan memejamkan mata.
Lalu?
"Aku..."
"...tidak pernah memberikannya kepada Amelia."
Niko mengepalkan tangan.
"Kenapa?"
Rinto menangis.
"Karena..."
"...Indra memintaku."
Ruangan mendadak hening.
Nama itu kembali muncul.
Rinto melanjutkan dengan suara terbata-bata.
"Dia bilang..."
"...kalau Ryahan dan Amelia tetap bersama..."
"...dia tidak akan pernah punya kesempatan."
"Awalnya aku menolak."
"Tapi..."
"...dia terus membujukku."
"Bahkan memberiku uang."
"Aku bodoh."
"Aku tergoda."
Air mata terus mengalir di wajahnya.
Ryahan hanya menatap kosong.
Hatinya terasa diremas.
Bertahun-tahun kerinduan.
Bertahun-tahun kesalahpahaman.
Semuanya bermula dari satu pengkhianatan kecil yang terus berkembang menjadi kebohongan besar.
Rinto kemudian berdiri.
Ia berjalan menuju kamar.
Beberapa saat kemudian ia kembali membawa sebuah kantong plastik lusuh.
"Dulu..."
"...aku tidak tega membakar surat-suratmu."
"Aku hanya menyembunyikannya."
"Setelah ayahmu meninggal..."
"...aku tidak sanggup lagi."
Ia menyerahkan kantong itu kepada Ryahan.
Di dalamnya terdapat beberapa surat lain.
Masih utuh.
Belum pernah dibuka.
Di bagian belakang salah satu amplop terdapat bekas sidik jari lumpur yang telah mengering.
Ryahan menggenggam kantong itu dengan tangan gemetar.
Ia tidak marah.
Tidak berteriak.
Ia justru merasa sangat lelah.
Terlalu banyak kehilangan yang harus ia terima.
Ayahnya.
Kepercayaan masyarakat.
Dan bertahun-tahun kebersamaan dengan Amelia.
Sebelum Ryahan dan yang lain pulang, Rinto berkata lirih,
"Masih ada yang belum kalian tahu."
Semua berhenti melangkah.
"Apa?"
Rinto mengangkat wajah.
"Dulu..."
"...bukan hanya surat yang disembunyikan."
"Indra..."
"...juga yang membuat surat palsu atas nama Ryahan."
Niko langsung menatap Ryahan.
Pak Burhan menarik napas panjang.
Potongan-potongan teka-teki mulai tersusun.
Namun masih ada satu nama yang belum berbicara.
Susianti.
Perempuan yang sejak awal selalu berada di dekat Indra.
Perempuan yang kemungkinan mengetahui seluruh rencana itu.
Dan tanpa mereka sadari...
dari balik jendela rumah tetangga, seseorang sedang memperhatikan pertemuan itu.
Indra.
Tatapannya penuh kemarahan.
Ia menyadari satu hal yang selama ini paling ia takutkan.
Bukan karena surat-surat itu ditemukan.
Melainkan karena...
orang pertama yang ia percaya akhirnya memilih mengatakan kebenaran.
Dan sejak saat itu...
kerajaan kebohongan yang ia bangun perlahan mulai runtuh satu demi satu.
BAB XX
PENGAKUAN
Fajar baru saja menyingsing di Desa Sumber Waras.
Kabut tipis masih menggantung di atas hamparan sawah yang membentang luas. Burung-burung pipit beterbangan dari rumpun padi menuju pepohonan di tepi jalan desa. Dari kejauhan terdengar suara kentongan bertalu pelan, membangunkan warga untuk memulai aktivitas seperti biasa.
Namun pagi itu, suasana desa terasa berbeda.
Ada sesuatu yang berembus dari rumah ke rumah.
Sebuah kabar yang belum jelas bentuknya, tetapi cukup membuat banyak orang saling bertanya.
"Katanya Rinto sudah mengaku."
"Benarkah?"
"Apa benar selama ini Ryahan difitnah?"
Bisik-bisik mulai terdengar di warung kopi, di balai desa, hingga di pematang sawah.
Tak ada seorang pun yang berani memastikan.
Tetapi semua mulai menyadari bahwa kebenaran perlahan sedang membuka jalannya.
Di rumah Pak Burhan, Ryahan duduk bersama Niko, Naryo, Anita, Liana, Pak Kusri, Bu Endang, dan Bu Ratna.
Di atas meja masih tergeletak kantong plastik berisi surat-surat yang selama bertahun-tahun disembunyikan.
Pak Burhan memecah keheningan.
"Pengakuan Rinto sangat penting."
"Tetapi..."
"...kita belum bisa menyimpulkan semuanya selesai."
Ryahan mengangguk.
"Masih ada Indra."
"Dan Susianti."
Pak Burhan menatap mereka satu per satu.
"Kalau kita ingin membersihkan nama Pak Rahmat dan Ryahan..."
"...semua harus dilakukan dengan cara yang benar."
Niko memahami maksud itu.
"Kita tidak boleh bertindak sendiri."
Pak Burhan mengangguk.
"Benar."
"Biarkan masyarakat mengetahui kebenaran melalui bukti."
"Bukan melalui kemarahan."
Sementara itu, di rumahnya, Indra duduk termenung.
Semalaman ia tidak tidur.
Pikirannya dipenuhi kecemasan.
Rinto telah mengaku.
Artinya...
tinggal menunggu waktu sebelum semua tuduhan mengarah kepadanya.
Ia berjalan mondar-mandir di ruang tamu.
Sesekali menatap ke luar jendela.
Setiap orang yang melintas membuatnya merasa seolah-olah sedang diawasi.
"Aku tidak boleh menyerah."
gumamnya.
"Aku masih bisa menyelamatkan semuanya."
Namun untuk pertama kalinya...
bahkan dirinya sendiri tidak percaya pada ucapannya.
Di sisi lain desa, Susianti sedang membantu ibunya menjemur padi.
Tangannya bekerja.
Tetapi pikirannya melayang jauh.
Sejak mendengar kabar bahwa Rinto telah bertemu Ryahan, hatinya dipenuhi rasa takut.
Ia tahu persis apa yang sebenarnya terjadi.
Karena sejak awal...
ia ikut menyaksikan setiap rencana yang disusun Indra.
Bahkan...
ia pernah menjadi orang yang menyerahkan surat palsu kepada Amelia.
Surat yang membuat Amelia percaya bahwa Ryahan telah memilih perempuan lain di kota.
Susianti memejamkan mata.
Bayangan Amelia yang menangis saat membaca surat itu kembali hadir.
Saat itu ia hanya diam.
Tidak berani mengatakan bahwa surat tersebut adalah kebohongan.
Kini penyesalan datang terlambat.
Menjelang siang, Pak Burhan mengundang beberapa tokoh masyarakat ke balai desa.
Hadir Ketua RT, Ketua RW, tokoh agama, tokoh adat, serta beberapa warga yang selama ini mengikuti perkembangan persoalan Ryahan.
Pak Burhan berdiri di depan mereka.
"Saudara-saudara."
"Sudah terlalu lama desa kita hidup dalam prasangka."
"Sudah terlalu lama kita membiarkan fitnah berkembang."
"Hari ini saya meminta kita semua membuka hati."
Beliau kemudian menceritakan penemuan surat-surat Ryahan.
Kesaksian Rian.
Serta pengakuan Rinto.
Suasana balai desa mendadak sunyi.
Tak sedikit warga yang menundukkan kepala.
Mereka teringat bagaimana dulu begitu mudah mempercayai isu-isu yang beredar.
Bahkan beberapa di antara mereka pernah memandang sinis Pak Rahmat.
Kini rasa bersalah mulai menghampiri.
Pak Darto, pemilik bengkel, berdiri lebih dulu.
"Saya juga ingin menyampaikan sesuatu."
Semua mata tertuju kepadanya.
"Dulu..."
"...beberapa hari setelah kebakaran gudang."
"Indra datang ke bengkel saya."
"Ia meminta saya mengganti lampu motornya."
"Kenapa?"
tanya Pak Burhan.
"Katanya pecah karena menabrak batu."
Pak Darto menghela napas.
"Tapi sekarang saya baru sadar."
"Warna pecahan lampunya sama seperti serpihan yang ditemukan di belakang gudang."
Ruangan kembali bergemuruh.
Satu demi satu potongan bukti mulai saling melengkapi.
Di luar balai desa, seseorang berdiri di balik pohon rambutan.
Indra.
Ia mendengar hampir seluruh pembicaraan itu.
Wajahnya semakin pucat.
Tangannya mengepal begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Mereka tidak boleh terus berbicara."
gumamnya.
Jika semua saksi mulai berani mengungkapkan apa yang mereka ketahui, maka tak lama lagi seluruh kebohongannya akan terbongkar.
Sore harinya, Ryahan akhirnya memberanikan diri datang ke rumah Pak Kusri.
Ia tidak datang untuk meminta penjelasan.
Apalagi memaksa Amelia menerimanya kembali.
Ia hanya ingin menyampaikan satu kebenaran.
Bu Endang yang membuka pintu tampak terkejut.
"Ryahan..."
"Iya, Bu."
"Masuklah."
Amelia yang sedang menyiram bunga membeku ketika melihat Ryahan berdiri di halaman.
Sudah lama mereka tidak berbicara berdua.
Kini jarak beberapa langkah terasa seperti bertahun-tahun.
Ryahan menghampiri perlahan.
"Mel..."
Amelia hanya mengangguk pelan.
Ryahan mengeluarkan sebuah amplop yang telah menguning.
"Ini..."
"...surat pertama yang kutulis untukmu."
Amelia memandang amplop itu.
Dengan tangan gemetar ia menerimanya.
"Selama ini..."
"...aku tidak pernah menerimanya."
Ryahan tersenyum pahit.
"Aku juga baru tahu."
Amelia membuka surat itu perlahan.
Baru beberapa baris ia baca...
air matanya mulai jatuh.
Di dalam surat itu tidak ada kata perpisahan.
Tidak ada pengkhianatan.
Yang ada hanyalah kerinduan dan janji untuk pulang.
Amelia menutup mulutnya.
"Jadi..."
"...selama ini..."
Ryahan mengangguk pelan.
"Aku tidak pernah berhenti menulis untukmu."
"Tapi seseorang memastikan semua surat itu tidak pernah sampai."
Tangis Amelia pecah.
Bertahun-tahun ia menyimpan luka karena merasa dilupakan.
Hari itu ia baru mengetahui bahwa cinta mereka sebenarnya tidak pernah benar-benar berakhir.
Yang hilang hanyalah jalan untuk saling menyampaikan rindu.
Di kejauhan, seseorang memperhatikan pertemuan itu.
Indra.
Matanya dipenuhi kemarahan sekaligus kepanikan.
Ia sadar...
Amelia mulai mengetahui kebenaran.
Rinto telah berbicara.
Rian telah menjadi saksi.
Pak Darto mulai mengingat.
Dan kini...
bahkan surat-surat yang selama ini menjadi senjata untuk memisahkan dua hati telah kembali ke tangan pemiliknya.
Topeng yang ia bangun selama bertahun-tahun kini hanya tinggal menunggu saat untuk benar-benar pecah.
Namun Indra belum berniat menyerah.
Ia telah menyiapkan satu langkah terakhir.
Langkah yang paling berbahaya.
Karena kali ini...
bukan lagi nama baik yang menjadi taruhannya.
Melainkan nyawa seseorang.
Langit sore di Desa Sumber Waras mulai berubah jingga. Cahaya mentari yang perlahan condong ke barat memantulkan sinarnya di hamparan sawah yang menguning. Angin berembus pelan, membawa aroma tanah yang baru saja tersiram hujan siang.
Namun keindahan sore itu tidak mampu menghapus ketegangan yang menyelimuti desa.
Kabar mengenai pengakuan Rinto telah menyebar ke hampir seluruh penjuru kampung.
Orang-orang mulai mempertanyakan kembali semua tuduhan yang selama bertahun-tahun diarahkan kepada Ryahan dan almarhum Pak Rahmat.
Beberapa warga yang dahulu paling keras mempercayai fitnah kini hanya mampu menundukkan kepala.
Mereka sadar...
prasangka telah membuat mereka menghakimi orang yang tidak bersalah.
Di rumah Pak Burhan, suasana masih dipenuhi pembicaraan serius.
Pak Burhan duduk bersama Pak Kusri, Ketua RT, Ketua RW, tokoh agama, dan beberapa sesepuh desa.
Di hadapan mereka telah tersusun berbagai bukti.
Surat-surat Ryahan.
Kesaksian Rian.
Keterangan Pak Darto.
Serta pengakuan tertulis yang baru saja dibuat oleh Rinto.
Pak Burhan memandang seluruh yang hadir.
"Kita tidak boleh membalas keburukan dengan keburukan."
"Tapi kebenaran juga tidak boleh terus disembunyikan."
Pak Kusri mengangguk.
"Besok malam kita kumpulkan seluruh warga di balai desa."
"Biarkan semuanya dibicarakan secara terbuka."
Semua yang hadir menyetujui usulan itu.
Sementara itu, Rinto duduk sendirian di rumahnya.
Sejak mengakui kesalahannya, beban yang selama ini menyesakkan dadanya perlahan mulai berkurang.
Namun rasa bersalah justru semakin besar.
Ia menatap foto dirinya bersama Ryahan, Niko, dan Naryo saat masih remaja.
Foto itu diambil ketika mereka mengikuti lomba sepak bola antar desa.
Saat itu mereka tertawa tanpa beban.
Tak pernah terbayang bahwa suatu hari dirinya justru menjadi bagian dari kehancuran sahabat sendiri.
Air matanya jatuh.
"Aku benar-benar telah kehilangan diriku..."
gumamnya lirih.
Di tempat berbeda, Susianti tidak mampu lagi menyembunyikan kegelisahannya.
Sejak pagi ia terus menangis.
Ibunya yang melihat perubahan itu akhirnya bertanya,
"Sus..."
"Ada apa sebenarnya?"
Susianti hanya menggeleng.
Namun semakin ia mencoba diam, semakin besar rasa bersalah yang menghimpit dadanya.
Malam itu...
ia memutuskan mendatangi rumah Bu Ratna.
Di sana sudah ada Pak Burhan, Ryahan, Niko, Naryo, Anita, Liana, Amelia, Pak Kusri, dan beberapa tokoh masyarakat yang sedang berdiskusi.
Kedatangannya membuat semua orang terdiam.
Susianti melangkah perlahan.
Wajahnya pucat.
Matanya sembab.
Ia berhenti tepat di hadapan Ryahan.
Kemudian...
tanpa diduga siapa pun...
ia berlutut.
"Aku..."
"...minta maaf."
Suasana seketika hening.
Ryahan memandang perempuan itu tanpa sepatah kata.
Susianti menangis semakin keras.
"Aku ikut bersalah."
"Aku tahu semuanya."
"Aku bahkan..."
"...pernah menyerahkan surat palsu kepada Amelia."
Amelia terkejut.
"Surat itu..."
"...kamu yang mengantarkan?"
Susianti mengangguk sambil terus menangis.
"Aku mengatakan bahwa surat itu dari Ryahan."
"Padahal..."
"...Indra yang menulisnya."
Ruangan dipenuhi keheningan yang panjang.
Pak Burhan memejamkan mata.
Ternyata dugaan mereka benar.
Bukan hanya surat asli yang disembunyikan.
Tetapi juga dibuat surat palsu untuk memutuskan hubungan Ryahan dan Amelia.
Dengan suara terbata-bata, Susianti melanjutkan pengakuannya.
"Indra bilang..."
"...kalau Amelia membenci Ryahan..."
"...semuanya akan selesai."
"Aku bodoh."
"Aku percaya."
"Aku iri kepada Amelia."
"Aku iri melihat kalian saling mencintai."
"Tapi sekarang..."
"...aku sadar."
"Yang kami lakukan bukan sekadar kesalahan."
"Kami menghancurkan hidup banyak orang."
Tangisnya semakin pecah.
Bu Ratna menghampiri dan membantunya berdiri.
"Menyesali kesalahan adalah langkah pertama."
"Tapi kamu juga harus berani mempertanggungjawabkannya."
Susianti mengangguk.
"Aku siap."
Tidak lama kemudian...
langkah kaki tergesa-gesa terdengar dari luar rumah.
Seorang pemuda masuk dengan napas terengah-engah.
"Pak Burhan!"
"Ada apa?"
"Indra..."
"...menghilang."
Semua yang berada di ruangan saling berpandangan.
"Kapan?"
"Sejak sore."
"Rumahnya kosong."
"Motornya juga tidak ada."
Niko langsung berdiri.
"Dia pasti tahu semuanya sudah terbongkar."
Pak Burhan tetap tenang.
"Jangan ada yang mengejarnya sendiri."
"Kita laporkan kepada aparat."
Namun Ryahan merasa ada sesuatu yang mengganjal.
Indra bukan tipe orang yang mudah menyerah.
Ia yakin...
sahabat lamanya itu sedang merencanakan sesuatu.
Malam semakin larut.
Ryahan duduk sendirian di halaman rumahnya.
Di tangannya tergenggam surat pertama yang dahulu ditulis untuk Amelia.
Tak lama kemudian, langkah kaki pelan terdengar mendekat.
Amelia.
Perempuan itu duduk di sampingnya.
Untuk beberapa saat mereka hanya memandang langit yang dipenuhi bintang.
"Aku sudah membaca semuanya."
ucap Amelia pelan.
Ryahan menatapnya.
"Maaf..."
"...karena aku tidak pernah tahu surat-surat itu tidak sampai."
Amelia menggeleng.
"Bukan kamu yang harus meminta maaf."
"Aku juga terlalu cepat mempercayai kebohongan."
Ryahan tersenyum tipis.
"Setidaknya sekarang..."
"...kita tahu yang sebenarnya."
Amelia memandang surat di tangan Ryahan.
"Ternyata..."
"...selama ini rindu kita berjalan di jalan yang berbeda."
Ryahan mengangguk.
"Dan seseorang sengaja membuat jalan itu tidak pernah bertemu."
Mereka saling tersenyum dalam keheningan.
Bukan karena semua luka telah sembuh.
Melainkan karena akhirnya mereka mengetahui bahwa cinta mereka tidak pernah benar-benar hilang.
Ia hanya tersesat di antara kebohongan.
Di sisi lain desa, jauh di sebuah pondok tua dekat hutan karet, Indra duduk sendirian.
Lampu minyak kecil menerangi wajahnya yang kusut.
Di hadapannya tergeletak beberapa lembar kertas.
Foto-foto lama.
Dan sebuah korek api.
Dengan tangan gemetar ia mengambil salah satu foto.
Foto dirinya bersama Ryahan, Niko, dan Rinto ketika masih menjadi sahabat.
Perlahan ia tersenyum pahit.
"Aku kalah..."
bisiknya.
"Tapi..."
"...aku tidak akan membiarkan mereka hidup tenang."
Tatapannya berubah tajam.
Dalam pikirannya telah lahir sebuah keputusan.
Keputusan yang akan membawa seluruh tokoh menuju babak akhir perjalanan mereka.
Sementara itu, di Desa Sumber Waras, tak seorang pun mengetahui bahwa pengakuan demi pengakuan yang akhirnya terungkap bukanlah akhir dari konflik.
Justru...
itulah awal menuju pertarungan terakhir antara kebencian dan pengampunan.
Pertarungan yang akan membawa Ryahan dan seluruh sahabatnya meninggalkan Desa Sumber Waras menuju Kota Kuala Kapuas...
tempat takdir telah menyiapkan akhir dari perjalanan panjang mereka.
BAB XXI
KEMBALI KE RUMAH
Pagi itu, mentari terbit lebih cerah daripada hari-hari sebelumnya.
Embun masih menggantung di ujung daun padi yang menghampar luas di Desa Sumber Waras. Burung-burung pipit beterbangan rendah di atas sawah, sementara para petani mulai berangkat membawa cangkul dan harapan baru.
Sudah hampir dua minggu sejak kepergian Pak Rahmat.
Kesedihan memang belum benar-benar pergi dari hati Ryahan.
Namun perlahan, kehidupan kembali bergerak.
Begitulah hidup.
Ia tidak pernah berhenti menunggu siapa pun.
Ryahan berdiri di teras rumah.
Tatapannya mengarah ke halaman yang dahulu hampir setiap pagi dipenuhi suara ayahnya.
Biasanya, sebelum matahari terbit, Pak Rahmat sudah sibuk menyiapkan peralatan bertani.
Kini...
caping tua itu masih tergantung di dinding.
Cangkul kesayangannya masih bersandar di sudut rumah.
Tetapi pemiliknya telah tiada.
Ryahan menarik napas panjang.
"Ayah..."
"Aku akan meneruskan semua yang pernah Ayah ajarkan."
Di belakangnya, Bu Talia tersenyum tipis.
Meski matanya masih sering sembab, beliau melihat sesuatu yang telah lama hilang dari putranya.
Semangat.
Setelah sarapan sederhana, Ryahan meminta izin kepada ibunya.
"Bu..."
"Hari ini aku ingin berjalan keliling desa."
Bu Talia menatapnya lembut.
"Pergilah."
"Sudah waktunya kamu bertemu mereka."
Ryahan mengangguk.
Ia mengenakan kemeja putih sederhana peninggalan ayahnya.
Ukurannya sedikit kebesaran.
Namun justru membuatnya merasa seolah Pak Rahmat masih berjalan bersamanya.
Langkah pertama membawanya menuju balai desa.
Bangunan yang dahulu menjadi tempat berbagai kegiatan masyarakat itu kini tampak lebih ramai.
Beberapa warga sedang membersihkan halaman.
Ketika melihat Ryahan datang, aktivitas mereka perlahan terhenti.
Suasana menjadi canggung.
Ryahan berhenti.
Ia tersenyum lebih dulu.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam..."
jawab beberapa warga hampir bersamaan.
Tak lama kemudian, Pak Burhan keluar dari dalam balai desa.
Melihat Ryahan, wajahnya langsung berbinar.
"Han..."
Ryahan segera menghampiri dan menyalami tangan sesepuh desa itu.
"Bagaimana kabarmu?"
"Sudah jauh lebih baik, Pak."
Pak Burhan menepuk bahunya.
"Alhamdulillah."
Beliau lalu menoleh kepada warga yang masih berdiri memandangi Ryahan.
"Apa yang kalian tunggu?"
"Dia masih Ryahan yang sama."
Ucapan itu memecahkan kekakuan.
Satu per satu warga mulai mendekat.
Pak Jono, yang dulu pernah mempercayai fitnah tentang Ryahan, menjadi orang pertama yang berbicara.
"Han..."
"Maafkan saya."
Ryahan terdiam.
Pak Jono menundukkan kepala.
"Dulu saya terlalu cepat percaya pada cerita orang."
"Saya bahkan sempat melarang anak saya berteman denganmu."
Air mata mulai menggenang di mata lelaki paruh baya itu.
"Saya menyesal."
Ryahan memegang kedua tangan Pak Jono.
"Sudahlah, Pak."
"Kita semua pernah salah."
"Yang penting sekarang kita memperbaikinya."
Pak Jono memeluk Ryahan erat.
Pemandangan itu membuat beberapa warga lain ikut menitikkan air mata.
Tak lama kemudian, Bu Ratna datang membawa beberapa ibu-ibu.
Mereka menghampiri Bu Talia yang baru tiba menyusul.
"Bu Talia..."
"Kami juga minta maaf."
"Dulu kami ikut membicarakan Ryahan."
Bu Talia tersenyum dengan mata berkaca-kaca.
"Kalau almarhum Pak Rahmat masih ada..."
"...beliau pasti sudah memaafkan semuanya."
Suasana berubah menjadi haru.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, tidak ada lagi bisik-bisik penuh prasangka.
Yang terdengar hanyalah kata maaf.
Menjelang siang, Pak Burhan mengajak Ryahan berkeliling desa.
Mereka melewati sawah.
Kebun karet.
Lapangan tempat anak-anak bermain sepak bola.
Jalan kecil yang dulu setiap sore dilalui Ryahan dan Amelia sepulang sekolah.
"Masih ingat?"
tanya Pak Burhan.
Ryahan tersenyum kecil.
"Di sini Naryo pernah tercebur ke parit."
Pak Burhan tertawa.
"Dan kamu yang paling keras menertawakannya."
Ryahan ikut tertawa.
Sudah lama ia tidak merasakan tawa yang begitu lepas.
Saat melewati sekolah dasar, suara anak-anak sedang belajar terdengar hingga ke luar kelas.
Ryahan berhenti.
Ia memandangi bangunan sederhana itu.
"Pak."
"Iya."
"Aku ingin suatu hari nanti sekolah ini memiliki perpustakaan yang lebih baik."
Pak Burhan tersenyum.
"Itulah yang selalu dikatakan ayahmu."
Ryahan menoleh.
"Benarkah?"
"Beliau pernah berkata..."
"'Kalau aku tidak mampu mewujudkannya, semoga anakku yang melanjutkan.'"
Ryahan memejamkan mata.
Kata-kata itu menjadi semacam warisan yang lebih berharga daripada harta apa pun.
Di sisi lain desa, Amelia sedang membantu Bu Endang menata bunga di halaman rumah.
Dari kejauhan ia melihat Ryahan berjalan bersama Pak Burhan.
Tatapannya mengikuti setiap langkah lelaki itu.
Bu Endang memperhatikan putrinya.
"Masih mencintainya?"
Amelia tersenyum malu.
"Aku tidak pernah berhenti, Bu."
"Lalu kenapa belum bicara?"
Amelia menghela napas.
"Aku ingin menunggu."
"Menunggu apa?"
"Sampai semua luka benar-benar selesai."
Bu Endang mengusap rambut putrinya.
"Kadang..."
"...luka justru sembuh ketika dua orang memilih berjalan bersama."
Amelia hanya tersenyum.
Namun kata-kata ibunya terus terngiang di dalam hati.
Sore harinya, seluruh warga berkumpul di balai desa.
Pak Burhan berdiri di depan.
Di sampingnya berdiri Ryahan.
Suasana begitu tenang.
Pak Burhan membuka pertemuan dengan suara mantap.
"Hari ini bukan untuk mencari siapa yang paling benar."
"Bukan pula untuk membuka luka lama."
"Hari ini..."
"...adalah hari ketika kita mengembalikan kehormatan seseorang yang pernah kita hakimi tanpa bukti."
Beliau mempersilakan Ryahan berdiri di tengah ruangan.
Seluruh mata tertuju kepadanya.
Beberapa warga mulai menundukkan kepala.
Pak Burhan melanjutkan,
"Kesaksian Rian."
"Pengakuan Rinto."
"Pengakuan Susianti."
"Serta bukti-bukti yang telah kita lihat..."
"...menunjukkan bahwa Ryahan dan almarhum Pak Rahmat tidak pernah bersalah."
Ruangan hening.
Kemudian...
tepuk tangan perlahan terdengar dari sudut balai desa.
Disusul tepuk tangan yang lain.
Lalu seluruh ruangan bergemuruh.
Bukan tepuk tangan kemenangan.
Melainkan tepuk tangan penghormatan.
Penghormatan bagi seorang pemuda yang tetap memilih diam ketika dihina.
Tetap memilih pulang ketika dicaci.
Dan tetap memilih memaafkan ketika kebenaran akhirnya datang.
Di tengah tepuk tangan itu, Ryahan menengadah ke langit.
Dalam hati ia berbisik,
"Ayah..."
"Hari ini..."
"Nama baik kita akhirnya kembali."
Namun jauh di balik keramaian itu...
sepasang mata masih mengawasi dari kejauhan.
Indra.
Ia berdiri di balik pepohonan di tepi jalan desa.
Wajahnya semakin keras.
Ia sadar bahwa Desa Sumber Waras telah kembali menerima Ryahan.
Dan itu berarti...
ia hanya memiliki satu kesempatan terakhir untuk membalikkan keadaan.
Kesempatan yang akan membawa seluruh perjalanan ini menuju Kota Kuala Kapuas.
Senja perlahan turun di langit Desa Sumber Waras.
Cahaya mentari yang mulai condong ke barat menyinari pepohonan dan hamparan sawah dengan warna keemasan. Burung-burung kembali ke sarang, sementara para petani berjalan pulang membawa cangkul di pundak.
Di balai desa, pertemuan yang dipimpin Pak Burhan telah usai.
Satu per satu warga meninggalkan ruangan dengan perasaan yang jauh berbeda dibandingkan saat mereka datang.
Banyak di antara mereka menghampiri Ryahan.
Mereka menyalaminya.
Memeluknya.
Bahkan ada yang meminta maaf sambil menitikkan air mata.
Ryahan menerima semuanya dengan hati lapang.
Ia teringat pesan terakhir ayahnya.
"Jangan pulang membawa kemarahan."
"Pulanglah membawa ilmu."
Kini ia mengerti makna pesan itu.
Ilmu bukan hanya tentang pengetahuan.
Tetapi juga tentang kebesaran hati untuk memaafkan.
Di halaman balai desa, Pak Burhan berdiri memandangi langit senja.
Ryahan menghampirinya.
"Pak..."
Pak Burhan menoleh sambil tersenyum.
"Bagaimana perasaanmu sekarang?"
Ryahan menarik napas panjang.
"Lega."
"Tapi..."
"...aku juga sedih."
"Kenapa?"
"Karena Ayah tidak sempat melihat semua ini."
Pak Burhan menepuk bahu Ryahan.
"Jangan berkata begitu."
"Kalau orang baik meninggalkan dunia..."
"...bukan berarti ia tidak melihat."
"Ia hidup di dalam doa."
"Di dalam kenangan."
"Dan di dalam setiap kebaikan yang kita lanjutkan."
Ryahan mengangguk perlahan.
Ia menatap langit yang mulai berubah jingga.
Dalam hati ia kembali berbicara kepada ayahnya.
"Aku akan menjaga nama baik yang Ayah tinggalkan."
Malam itu, rumah Bu Talia kembali ramai.
Namun kali ini bukan karena suasana duka.
Niko, Naryo, Anita, Liana, Pak Kusri, Bu Endang, Pak Burhan, dan Bu Ratna datang untuk makan malam bersama.
Sudah lama rumah itu tidak dipenuhi tawa.
Bu Talia memasak masakan kesukaan almarhum Pak Rahmat.
Ikan sungai bakar.
Sayur bening.
Sambal terasi.
Dan singkong rebus.
Saat semua duduk mengelilingi meja makan, suasana sempat hening.
Kursi tempat Pak Rahmat biasa duduk sengaja dibiarkan kosong.
Ryahan memandang kursi itu cukup lama.
Bu Talia tersenyum tipis.
"Kalau Ayahmu masih ada..."
"...beliau pasti menyuruh kita makan dulu sebelum menangis."
Semua yang hadir tertawa kecil.
Keheningan perlahan berubah menjadi kehangatan.
Untuk pertama kalinya setelah kepergian Pak Rahmat, rumah itu kembali dipenuhi suara kebersamaan.
Usai makan malam, Pak Kusri meminta izin berbicara.
"Burhan."
"Iya."
"Ada satu hal yang ingin kusampaikan."
Semua mata tertuju kepadanya.
Pak Kusri menatap Ryahan cukup lama.
"Selama ini..."
"...aku ikut meragukanmu."
"Aku percaya pada fitnah."
"Aku bahkan pernah melarang Amelia bertemu denganmu."
Ryahan menundukkan kepala.
"Aku tidak menyalahkan Bapak."
Pak Kusri menggeleng.
"Tidak."
"Aku yang bersalah."
"Sebagai orang tua..."
"...aku gagal mencari kebenaran."
Beliau kemudian berdiri.
Melangkah mendekati Ryahan.
Lalu menggenggam kedua tangan pemuda itu erat-erat.
"Maafkan aku."
Air mata Ryahan jatuh.
Ia segera mencium tangan Pak Kusri.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan, Pak."
"Saya hanya ingin semuanya kembali baik."
Pak Kusri tersenyum dengan mata berkaca-kaca.
"Terima kasih."
Beberapa saat kemudian, Bu Endang memanggil Amelia yang sejak tadi membantu membereskan dapur.
"Mel."
"Iya, Bu."
"Kemari."
Amelia duduk di samping ibunya.
Bu Endang memandang putrinya dengan lembut.
"Dulu Ibu pernah berkata..."
"...kalau cinta harus diuji."
"Hari ini..."
"...Ibu melihat kalian sudah melewati ujian itu."
Amelia menundukkan kepala.
Wajahnya memerah.
Pak Kusri tersenyum.
"Lelaki yang tetap menjaga kehormatan perempuan yang dicintainya..."
"...meski difitnah dan dipisahkan bertahun-tahun..."
"...adalah lelaki yang pantas dipercaya."
Ucapan itu membuat Ryahan terdiam.
Ia memahami makna kalimat tersebut.
Itu bukan sekadar pujian.
Melainkan restu.
Pak Burhan yang sedari tadi memperhatikan tersenyum puas.
"Kalau begitu..."
"...aku rasa tidak ada lagi yang perlu dipertentangkan."
Semua orang saling berpandangan.
Pak Burhan melanjutkan,
"Biarlah masa lalu menjadi pelajaran."
"Jangan lagi menjadi tembok yang memisahkan."
Bu Talia mengangguk sambil menggenggam tangan Amelia.
"Mulai hari ini..."
"...anggaplah rumah ini juga rumahmu."
Air mata Amelia kembali menetes.
Ia memeluk Bu Talia erat.
Pelukan itu seolah menghapus jarak yang selama bertahun-tahun tercipta karena kebohongan.
Di luar rumah, Ryahan berdiri memandang langit malam.
Tak lama kemudian Amelia menghampirinya.
Untuk beberapa saat mereka hanya menikmati suara jangkrik dan angin malam.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?"
tanya Amelia.
Ryahan tersenyum.
"Aku sedang mengingat Ayah."
"Aku juga."
jawab Amelia lirih.
"Beliau selalu baik kepadaku."
Ryahan mengangguk.
"Kalau Ayah masih hidup..."
"...beliau pasti sudah tersenyum melihat malam ini."
Amelia memandang Ryahan.
"Lalu sekarang?"
"Aku ingin memenuhi satu janjiku."
"Janji apa?"
"Janji untuk membangun desa ini."
Amelia tersenyum.
"Kalau begitu..."
"...aku akan berjalan di sampingmu."
Ryahan menoleh.
Tatapan mereka bertemu.
Tak perlu lagi kata-kata panjang.
Mereka sama-sama tahu bahwa cinta mereka telah melewati ujian yang tidak semua orang sanggup melaluinya.
Namun kebahagiaan itu belum berlangsung lama.
Tiba-tiba terdengar suara sepeda motor berhenti di depan rumah.
Seorang anggota kepolisian bersama Kepala Dusun turun tergesa-gesa.
"Pak Burhan!"
Pak Burhan segera keluar.
"Ada apa?"
Petugas itu menyerahkan sebuah surat.
"Kami baru menerima laporan dari Polres Kuala Kapuas."
"Indra terlihat berada di Kota Kuala Kapuas."
"Dan..."
"...ia diduga membawa sejumlah dokumen yang berkaitan dengan kebakaran gudang kelompok tani serta pemalsuan surat."
Semua yang mendengar langsung terkejut.
Petugas melanjutkan,
"Kalau dokumen itu sampai dimusnahkan..."
"...akan sulit membuktikan seluruh kejahatannya."
Ryahan mengepalkan tangan.
Pak Burhan memandangnya.
"Kita harus berangkat."
Pak Kusri mengangguk.
"Besok pagi."
"Ke Kuala Kapuas."
Amelia menatap Ryahan dengan cemas.
Ia tahu...
perjalanan itu bukan sekadar mengejar seorang pelaku.
Melainkan perjalanan menuju akhir dari seluruh penderitaan yang telah mereka alami.
Ryahan menatap langit yang dipenuhi bintang.
Di kejauhan, seolah-olah cahaya mentari yang telah tenggelam sedang menunggu untuk kembali terbit.
Dan tanpa disadari siapa pun...
takdir telah memanggil mereka menuju tepian Sungai Kapuas.
Tempat di mana seluruh rahasia akan dibuka.
Tempat di mana keadilan akhirnya akan menemukan jalannya.
BAB XXII
LUKA YANG MASIH SAMA
Pagi masih sangat muda ketika Desa Sumber Waras diselimuti kabut tipis. Embun menggantung di ujung daun padi, sementara suara ayam jantan bersahutan dari berbagai penjuru kampung. Jalan-jalan tanah yang mulai mengering setelah diguyur hujan semalam tampak lengang.
Namun di rumah Bu Talia, pagi itu tidak seperti biasanya.
Sebuah tas ransel telah disiapkan di ruang tamu.
Di atas meja terdapat map berisi salinan surat-surat Ryahan, pengakuan tertulis Rinto, keterangan Pak Darto, serta catatan mengenai kesaksian Rian.
Pak Burhan memeriksa kembali seluruh dokumen itu.
"Kita tidak boleh ada yang tertinggal."
Niko mengangguk.
"Semuanya sudah lengkap, Pak."
Ryahan duduk diam di sudut ruangan.
Tatapannya tertuju pada foto almarhum Pak Rahmat yang tergantung di dinding.
Ia berjalan mendekat.
Kemudian menyalami bingkai foto itu seolah sedang mencium tangan ayahnya.
"Doakan aku, Yah."
"Kali ini aku akan menyelesaikan semuanya."
Bu Talia yang berdiri di belakangnya menahan air mata.
Beliau percaya...
Pak Rahmat pasti mendengar doa putranya.
Sebelum rombongan berangkat menuju Kuala Kapuas, Ryahan meminta izin berjalan sebentar.
Langkahnya membawanya ke sebuah tempat yang sangat dikenalnya.
Pohon mangga tua di belakang sekolah dasar.
Di sanalah dahulu ia dan Amelia sering belajar bersama sepulang sekolah.
Masih ada bangku kayu sederhana yang dibuat Pak Rahmat bertahun-tahun lalu.
Kayunya mulai lapuk.
Tetapi masih berdiri kokoh.
Ryahan duduk perlahan.
Tangannya menyentuh ukiran kecil di sisi bangku.
R + A
Ukiran itu dibuatnya ketika mereka masih remaja.
Ia tersenyum pahit.
Waktu telah berlalu begitu jauh.
Namun kenangan tetap tinggal di tempat yang sama.
"Masih suka datang ke sini?"
Suara lembut itu membuat Ryahan menoleh.
Amelia berdiri beberapa langkah di belakangnya.
Mengenakan baju sederhana berwarna biru muda.
Rambutnya diikat rapi.
Tatapannya tetap teduh seperti dahulu.
Ryahan tersenyum.
"Ternyata..."
"...kamu juga masih ingat tempat ini."
Amelia berjalan mendekat.
"Lupa bagaimana?"
"Hampir semua mimpi kita dimulai dari sini."
Mereka duduk berdampingan.
Tak ada yang berbicara selama beberapa saat.
Yang terdengar hanya desir angin yang menggoyangkan dedaunan.
Amelia membuka pembicaraan lebih dulu.
"Aku sering datang ke sini."
Ryahan menoleh.
"Sendirian?"
Amelia mengangguk.
"Setiap kali merasa kehilangan harapan."
"Kenapa?"
"Aku berpikir..."
"...mungkin suatu hari nanti kamu akan kembali."
Ryahan menundukkan kepala.
"Maaf."
"Karena aku membuatmu menunggu."
Amelia menggeleng pelan.
"Bukan kamu."
"Kita sama-sama menjadi korban."
"Korban kebohongan."
Ryahan menghela napas panjang.
"Aku membaca semua surat yang tidak pernah sampai."
"Aku juga membaca surat palsu yang dulu kuterima."
Amelia mengeluarkan sebuah amplop lusuh dari tas kecilnya.
"Aku masih menyimpannya."
Ryahan menerima amplop itu.
Tulisan di bagian luar menyerupai tulisan tangannya.
Namun ketika membaca isinya, ia langsung mengenali bahwa kalimat-kalimat di dalam surat itu bukan miliknya.
"Aku memilih hidup baru di kota."
"Lupakan aku."
"Jangan menungguku lagi."
Ryahan mengepalkan surat itu perlahan.
"Ini bukan tulisanku."
"Aku tahu."
jawab Amelia lirih.
"Tapi waktu itu..."
"...aku tidak punya alasan untuk tidak mempercayainya."
Air mata kembali memenuhi mata Amelia.
"Aku marah."
"Aku kecewa."
"Aku membencimu."
"Padahal..."
"...aku masih mencintaimu."
Ryahan memejamkan mata.
Setiap kalimat Amelia terasa seperti luka yang baru saja terbuka kembali.
"Aku juga pernah membencimu."
kata Ryahan pelan.
Amelia menoleh.
"Bukan karena aku tidak menerima balasan surat."
"Tapi karena aku berpikir..."
"...kamu memang memilih melupakan semuanya."
"Aku bahkan beberapa kali datang ke terminal setiap ada kesempatan pulang."
"Mencari wajahmu."
"Tapi kamu tidak pernah datang."
Amelia tersenyum pahit.
"Karena aku selalu percaya..."
"...kamu sudah tidak ingin bertemu lagi."
Mereka sama-sama tertawa kecil.
Tawa yang dipenuhi kepedihan.
Betapa mudahnya kebohongan menghancurkan kepercayaan.
Dan betapa mahal harga yang harus dibayar untuk menemukan kembali kebenaran.
Tak lama kemudian, langkah kaki terdengar mendekat.
Ternyata Niko, Naryo, Anita, dan Liana menyusul mereka.
Niko tersenyum melihat keduanya.
"Kami kira kalian sudah berangkat duluan."
Ryahan berdiri.
"Belum."
Naryo memandang bangku kayu tua itu.
"Ternyata masih ada."
Anita tersenyum.
"Dulu kita sering makan bekal bersama di sini."
Liana tertawa kecil.
"Dan Ryahan selalu menghabiskan bekal Amelia."
Semua tertawa.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, kenangan masa kecil tidak lagi terasa menyakitkan.
Ia menjadi pengingat bahwa persahabatan mereka pernah tumbuh begitu indah.
Di sisi lain...
ratusan kilometer dari Desa Sumber Waras...
Indra duduk sendirian di sebuah rumah kontrakan sederhana di Kota Kuala Kapuas.
Janggutnya mulai tumbuh.
Matanya tampak cekung karena beberapa malam tidak tidur.
Di hadapannya terdapat sebuah koper tua.
Ia membuka koper itu perlahan.
Di dalamnya tersimpan beberapa map.
Foto-foto lama.
Surat asli.
Salinan dokumen kelompok tani.
Dan sebuah buku catatan hitam.
Buku itulah yang selama ini tidak pernah diketahui siapa pun.
Di dalamnya tertulis seluruh rencana yang pernah ia susun bersama Rinto dan Susianti.
Mulai dari menyebarkan fitnah.
Memalsukan surat.
Hingga membakar gudang kelompok tani.
Indra menatap buku itu cukup lama.
Lalu mengambil korek api.
Tangannya bergetar.
"Kalau semua ini terbakar..."
"...semuanya selesai."
Namun tepat ketika api hampir menyentuh sudut buku...
ia teringat wajah Ryahan.
Wajah sahabat yang dahulu selalu membelanya.
Wajah yang pernah membagi makanan ketika ia tidak membawa bekal.
Tangannya mendadak berhenti.
Untuk pertama kalinya...
hatinya mulai bertanya.
"Apakah aku sudah terlalu jauh?"
Sementara itu, rombongan dari Desa Sumber Waras akhirnya bersiap berangkat.
Pak Burhan memimpin doa.
"Semoga perjalanan ini membawa keadilan."
"Dan semoga tidak ada lagi air mata setelah semua ini selesai."
Semua mengamini.
Ryahan menoleh sekali lagi ke arah desa.
Ke rumah tempat ayahnya dibesarkan.
Ke sawah yang mengajarinya arti kerja keras.
Ke pohon mangga yang menyimpan kisah cinta pertamanya.
Dalam hati ia berjanji.
"Aku akan kembali."
"Bukan dengan luka."
"Tetapi dengan kebenaran."
Bus yang mereka tumpangi perlahan meninggalkan Desa Sumber Waras.
Tak seorang pun menyadari...
bahwa perjalanan menuju Kuala Kapuas bukan hanya perjalanan mencari seorang pelaku.
Melainkan perjalanan untuk mempertemukan masa lalu, penyesalan, dan pengampunan di satu tempat yang sama.
Tempat yang sejak awal telah menjadi tambatan terakhir semua takdir mereka.
Perjalanan menuju Kota Kuala Kapuas memakan waktu berjam-jam.
Bus yang membawa rombongan dari Desa Sumber Waras melaju perlahan melewati hamparan perkebunan, hutan kecil, dan jalan-jalan panjang yang membelah pedalaman Kalimantan. Dari balik jendela, Ryahan memandang pemandangan yang terus berganti. Sesekali matanya terpejam, namun pikirannya tetap terjaga.
Sudah terlalu banyak peristiwa yang ia lalui dalam beberapa minggu terakhir.
Kepergian ayahnya.
Terbukanya fitnah.
Surat-surat yang tak pernah sampai.
Pengakuan Rinto dan Susianti.
Semuanya seakan datang bersamaan, memaksanya tumbuh lebih dewasa dalam waktu yang begitu singkat.
Di kursi sebelahnya, Amelia duduk diam sambil memegang sebuah buku kecil.
Buku itu adalah buku harian yang selama bertahun-tahun menjadi tempat ia menyimpan seluruh kerinduannya.
Ryahan melirik sekilas.
"Kamu masih menulis?"
Amelia tersenyum tipis.
"Masih."
"Tentang apa?"
Amelia membuka halaman terakhir.
Di sana hanya ada satu kalimat.
"Aku percaya, jika cinta memang ditakdirkan, Tuhan akan menemukan jalannya."
Ryahan tersenyum haru.
"Kenapa kamu masih percaya?"
Amelia memandang ke luar jendela.
"Karena setiap kali aku hampir menyerah..."
"...selalu ada alasan untuk kembali berharap."
Ryahan tidak menjawab.
Ia hanya menggenggam lembut tangan Amelia.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, mereka tidak lagi dipisahkan oleh prasangka.
Di kursi belakang, Niko, Naryo, Anita, dan Liana berbincang pelan.
Naryo mengembuskan napas panjang.
"Kalau dipikir-pikir..."
"...kita hampir kehilangan semuanya."
Niko mengangguk.
"Hanya karena kita terlambat mencari kebenaran."
Anita menatap ke depan.
"Yang paling berat bukan kehilangan."
"Tapi hidup bertahun-tahun dengan kebohongan."
Liana tersenyum kecil.
"Untung masih ada kesempatan memperbaikinya."
Niko memandang Ryahan dan Amelia yang duduk di depan.
"Semoga kali ini benar-benar menjadi akhir."
Tak seorang pun menjawab.
Karena mereka sadar...
akhir dari sebuah perjalanan sering kali menjadi awal dari perjalanan yang baru.
Menjelang sore, bus akhirnya memasuki Kota Kuala Kapuas.
Deretan pertokoan mulai terlihat.
Lalu lintas yang lebih padat menyambut mereka.
Bangunan-bangunan pemerintahan berdiri kokoh di sepanjang jalan.
Sesekali kendaraan melintas dengan suara klakson yang bersahutan.
Bagi sebagian dari mereka, kota itu terasa asing.
Namun bagi Ryahan...
Kuala Kapuas adalah tempat yang pernah mengajarkannya arti perjuangan.
Di kota inilah ia pernah bekerja serabutan.
Menjadi kuli angkut.
Menjaga toko.
Hingga mengikuti berbagai pelatihan demi memperbaiki masa depannya.
Kini...
ia kembali.
Bukan untuk mencari pekerjaan.
Melainkan mencari keadilan.
Rombongan turun di sebuah penginapan sederhana yang telah dipesan sebelumnya.
Setelah beristirahat sejenak, Pak Burhan mengumpulkan semuanya.
"Besok pagi kita menemui pihak kepolisian."
"Kita serahkan seluruh bukti."
"Tidak boleh ada yang bertindak sendiri."
Semua mengangguk.
Ryahan pun memahami bahwa kemarahan tidak akan menyelesaikan apa pun.
Yang mereka butuhkan sekarang adalah hukum dan kebenaran.
Malam mulai turun.
Setelah makan malam, Ryahan berjalan sendirian menuju tepian Sungai Kapuas.
Angin sungai berembus lembut.
Lampu-lampu kota memantul di permukaan air yang tenang.
Perahu-perahu kecil masih terlihat melintas membawa penumpang menuju seberang.
Ryahan berdiri cukup lama.
Ia teringat pertama kali datang ke kota ini beberapa tahun lalu.
Saat itu ia berdiri di tempat yang hampir sama.
Membawa mimpi yang sederhana.
Bekerja.
Membahagiakan orang tua.
Dan kembali untuk menikahi Amelia.
Tak pernah ia bayangkan bahwa perjalanan itu justru dipenuhi luka.
"Masih suka menyendiri?"
Suara yang begitu dikenalnya terdengar dari belakang.
Amelia.
Perempuan itu berjalan perlahan hingga berdiri di samping Ryahan.
Keduanya memandang aliran Sungai Kapuas yang terus bergerak menuju laut.
"Indah..."
bisik Amelia.
Ryahan mengangguk.
"Dulu setiap kali rindu desa..."
"...aku selalu datang ke sini."
"Kenapa?"
"Karena sungai ini mengajarkanku satu hal."
"Apa?"
"Air tidak pernah kembali ke hulu."
"Tapi ia selalu menemukan laut."
Amelia tersenyum.
"Seperti kita?"
Ryahan memandangnya.
"Mungkin."
"Setelah tersesat begitu lama..."
"...akhirnya kita menemukan jalan pulang."
Amelia menyandarkan kepalanya perlahan di bahu Ryahan.
Untuk beberapa saat...
tidak ada kata-kata.
Yang terdengar hanya desir angin dan riak air yang memecah kesunyian malam.
Di tempat lain, tidak jauh dari tepian Sungai Kapuas, Indra berdiri di sebuah gudang tua yang sudah lama tidak digunakan.
Di dalam gudang itu tersimpan sebuah tas hitam.
Ia membuka tas tersebut.
Di dalamnya terdapat buku catatan hitam.
Dokumen asli kelompok tani.
Beberapa lembar surat.
Dan sebuah flashdisk.
Semua bukti yang dapat menyeretnya ke hadapan hukum.
Indra memegang flashdisk itu cukup lama.
Andai ia memusnahkannya malam ini...
mungkin tidak akan ada lagi yang mampu membuktikan seluruh kejahatannya.
Namun sebelum sempat melangkah, telepon genggamnya berdering.
Nama yang muncul membuat wajahnya berubah.
Rinto.
Dengan ragu ia mengangkatnya.
"Indra..."
suara Rinto terdengar lirih.
"Sudahlah."
"Menyerahlah."
"Kita sudah terlalu banyak menghancurkan hidup orang."
Indra terdiam.
Rinto melanjutkan,
"Aku sudah mengaku."
"Susianti juga."
"Tidak ada lagi yang bisa kamu sembunyikan."
Hening.
Beberapa detik berlalu.
Kemudian Indra memutus sambungan telepon tanpa sepatah kata.
Tatapannya kembali tertuju pada Sungai Kapuas yang mengalir tenang di kejauhan.
Di dalam dirinya, dua suara saling bertarung.
Satu memintanya melarikan diri.
Yang lain memintanya berhenti dan mempertanggungjawabkan semuanya.
Namun rasa takut masih lebih besar daripada keberaniannya.
Ia menggenggam tas hitam itu erat.
"Lusa..."
gumamnya pelan.
"Semuanya akan berakhir."
Ia pun menghilang dalam gelapnya malam.
Tanpa ia sadari, dari kejauhan, seseorang memperhatikan setiap gerak-geriknya.
Seorang anggota kepolisian yang sejak sore menerima informasi dari Pak Burhan mulai mengikuti langkahnya secara diam-diam.
Pertarungan terakhir kini tinggal menghitung waktu.
Dan Kota Kuala Kapuas, dengan tepian Sungai Kapuas yang tenang, akan menjadi saksi ketika seluruh kebohongan akhirnya berhadapan dengan kebenaran.
BAB XXIII
MENUJU KUALA KAPUAS
Mentari pagi perlahan muncul dari balik ufuk timur.
Sinar keemasannya memantul di permukaan Sungai Kapuas yang mengalir tenang membelah Kota Kuala Kapuas. Perahu-perahu kecil mulai hilir mudik membawa penumpang, sementara para pedagang membuka lapak di sepanjang tepian sungai. Aroma kopi dan kue tradisional bercampur dengan udara segar pagi, menghadirkan kehidupan yang baru dimulai.
Dari jendela penginapan sederhana tempat rombongan Desa Sumber Waras bermalam, Ryahan memandang ke arah sungai.
Sudah bertahun-tahun ia mengenal kota ini.
Namun pagi itu terasa berbeda.
Ia tidak lagi datang sebagai seorang pemuda yang mencari pekerjaan.
Ia datang sebagai seseorang yang ingin mengembalikan kehormatan keluarganya.
Di belakangnya terdengar suara ketukan pintu.
Tok...
Tok...
Tok...
"Han..."
Suara Niko terdengar dari luar.
"Sudah siap?"
Ryahan membuka pintu.
"Sudah."
"Kita berangkat lima belas menit lagi."
Ryahan mengangguk.
Ia kembali menatap foto kecil Pak Rahmat yang selalu disimpannya di dalam dompet.
Foto itu mulai memudar.
Namun senyum ayahnya tetap terlihat jelas.
"Ayah..."
"Hari ini semuanya akan menemukan jawabannya."
Di ruang makan penginapan, seluruh rombongan telah berkumpul.
Pak Burhan duduk di ujung meja bersama Pak Kusri.
Bu Endang, Bu Talia, Amelia, Anita, Liana, Niko, dan Naryo tampak menikmati sarapan sederhana, meski tak banyak yang benar-benar berselera makan.
Suasana dipenuhi ketegangan.
Pak Burhan membuka pembicaraan.
"Hari ini kita menemui penyidik."
"Kita serahkan semua bukti."
"Biarkan hukum bekerja."
Niko mengangguk mantap.
"Kalau Indra benar masih berada di Kuala Kapuas, cepat atau lambat dia akan ditemukan."
Pak Kusri menambahkan,
"Yang terpenting, jangan ada yang terpancing emosi."
"Kita datang untuk mencari keadilan, bukan balas dendam."
Ryahan mengangguk.
"Saya mengerti."
Tidak lama kemudian, rombongan menuju kantor kepolisian.
Map berisi berbagai dokumen dibawa oleh Pak Burhan.
Di dalamnya terdapat:
- Surat-surat asli yang ditulis Ryahan kepada Amelia.
- Surat palsu yang dibuat atas nama Ryahan.
- Pengakuan tertulis Rinto.
- Pengakuan Susianti.
- Kesaksian Rian.
- Keterangan Pak Darto mengenai kendaraan Indra.
- Salinan dokumen kelompok tani yang sebelumnya diperebutkan.
Seorang penyidik menerima mereka dengan ramah.
Setelah mendengarkan seluruh penjelasan, penyidik membuka map tersebut satu per satu.
Beliau membaca setiap dokumen dengan teliti.
Sesekali mencatat sesuatu.
Ruangan dipenuhi keheningan.
Hingga akhirnya beliau menutup map itu.
"Bukti-bukti ini sangat kuat."
Semua yang hadir menatap penyidik.
"Kami akan segera melakukan pengembangan."
"Apakah Indra bisa ditangkap?"
tanya Niko.
Penyidik mengangguk.
"Kalau benar dia masih berada di Kuala Kapuas..."
"...kemungkinannya sangat besar."
Ryahan mengembuskan napas panjang.
Untuk pertama kalinya, ia merasa perjuangan mereka mulai menemukan titik terang.
Usai dari kantor kepolisian, rombongan memutuskan berjalan kaki menyusuri tepian Sungai Kapuas.
Pak Burhan sengaja mengajak semua menikmati suasana kota agar pikiran sedikit tenang.
Di sepanjang jalan, banyak warga sedang berolahraga.
Anak-anak berlarian di taman.
Pedagang kaki lima menawarkan berbagai makanan.
Suasana yang damai itu sangat bertolak belakang dengan gejolak yang sedang mereka rasakan.
Amelia berjalan di samping Ryahan.
"Indah sekali."
Ryahan mengangguk.
"Dulu aku sering duduk di bangku itu."
Ia menunjuk sebuah bangku kayu yang menghadap langsung ke sungai.
"Waktu itu..."
"...aku hanya punya uang cukup untuk membeli segelas teh hangat."
"Tapi aku selalu pulang dengan semangat baru."
Amelia tersenyum.
"Karena?"
"Karena aku selalu membayangkan suatu hari nanti..."
"...aku akan mengajakmu datang ke sini."
Amelia memandang aliran Sungai Kapuas.
"Ternyata kita benar-benar sampai."
"Iya."
"Meskipun jalannya tidak pernah mudah."
Di sisi lain kota...
Indra masih bersembunyi di sebuah gudang tua dekat kawasan pelabuhan.
Semalaman ia tidak memejamkan mata.
Tas hitam berisi dokumen berada di sampingnya.
Telepon genggamnya terus bergetar.
Puluhan panggilan masuk.
Tidak satu pun ia angkat.
Ia tahu...
orang-orang mulai mencarinya.
Ia membuka kembali buku catatan hitam yang selama ini disimpannya.
Di halaman pertama tertulis sebuah kalimat dengan tinta biru.
"Kalau Ryahan berhasil, aku akan selalu menjadi bayangannya."
Indra tersenyum pahit.
Kalimat itu ditulisnya sendiri bertahun-tahun lalu.
Saat itu ia masih dipenuhi rasa iri.
Ryahan selalu disukai guru.
Dipercaya warga.
Dihormati Pak Rahmat.
Dan dicintai Amelia.
Sedangkan dirinya...
selalu merasa berada di urutan kedua.
Rasa iri itulah yang perlahan berubah menjadi kebencian.
Dan kebencian itu...
telah menghancurkan hidup banyak orang.
Tiba-tiba terdengar suara kendaraan berhenti di depan gudang.
Indra terkejut.
Ia segera mematikan lampu.
Mengintip dari celah dinding.
Dua orang turun dari mobil.
Salah satunya mengenakan seragam kepolisian.
Yang lainnya berpakaian sipil.
Mereka memperlihatkan foto seseorang kepada warga sekitar.
Indra.
Jantungnya berdegup semakin cepat.
"Mereka sudah menemukanku..."
gumamnya.
Tanpa berpikir panjang, ia mengambil tas hitam itu.
Lalu keluar melalui pintu belakang gudang.
Ia berlari menyusuri gang-gang sempit menuju kawasan tepian Sungai Kapuas.
Pada waktu yang hampir bersamaan, Ryahan dan rombongan sedang menikmati semilir angin di taman tepian sungai.
Naryo membeli beberapa botol air mineral.
Anita dan Liana sibuk memotret pemandangan.
Bu Talia dan Bu Endang duduk berbincang di bawah pohon trembesi.
Pak Burhan memandang Sungai Kapuas dengan tenang.
"Air sungai ini mengajarkan banyak hal."
Pak Kusri tersenyum.
"Apa itu?"
"Seberapa besar pun badai..."
"...air akan tetap mengalir menuju tujuan."
Ryahan mendengar kalimat itu.
Ia memandang jauh ke arah arus sungai.
Tanpa disadarinya...
di seberang jalan, seseorang sedang berdiri memandangi mereka.
Indra.
Jarak mereka hanya sekitar lima puluh meter.
Tatapan keduanya bertemu untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun.
Tak ada kata-kata.
Tak ada teriakan.
Hanya dua pasang mata yang menyimpan begitu banyak cerita.
Ryahan mengenali wajah itu.
Begitu pula Indra.
Waktu seolah berhenti.
Sementara angin Sungai Kapuas terus berembus membawa aroma air yang tenang...
takdir akhirnya mempertemukan dua sahabat lama yang dipisahkan oleh kebencian.
Dan pertemuan itu menjadi awal dari babak paling menentukan dalam perjalanan mereka.
Angin sore berembus lembut menyusuri tepian Sungai Kapuas.
Riak air memantulkan cahaya mentari yang mulai condong ke barat. Perahu-perahu kecil terus melintas membawa penumpang dari satu dermaga ke dermaga lainnya. Tawa anak-anak yang bermain di taman kota berpadu dengan suara pedagang yang menawarkan dagangannya.
Di tengah suasana yang tampak damai itu...
dua pasang mata saling bertemu.
Ryahan.
Dan Indra.
Jarak mereka hanya beberapa puluh meter.
Namun jarak hati mereka telah dipisahkan oleh kebencian selama bertahun-tahun.
Indra membeku.
Ryahan pun terdiam.
Tak ada satu pun yang bergerak.
Seolah waktu berhenti berputar.
Niko adalah orang pertama yang menyadari perubahan wajah Ryahan.
"Han..."
"Ada apa?"
Ryahan mengangkat tangan pelan.
Matanya tetap tertuju ke arah seberang jalan.
"Itu..."
Niko mengikuti arah pandangan sahabatnya.
Beberapa detik kemudian, wajahnya berubah tegang.
"Indra..."
Pak Burhan segera menoleh.
Tatapannya langsung menangkap sosok lelaki yang selama ini mereka cari.
Namun sebelum siapa pun bergerak...
Indra berbalik.
Lalu berlari.
"Indra!"
teriak Ryahan spontan.
Suara itu membuat beberapa orang di sekitar mereka menoleh.
Indra tidak berhenti.
Ia menerobos kerumunan pengunjung taman.
Tas hitam yang dibawanya terus dipeluk erat.
Ryahan langsung mengejar.
"Han, tunggu!"
teriak Niko.
Namun Ryahan sudah berlari lebih dulu.
Niko dan Naryo segera menyusul.
Pak Burhan berteriak kepada penyidik yang sejak tadi mengawasi dari kejauhan.
"Itu dia!"
Polisi yang memang telah melakukan pemantauan langsung bergerak cepat.
Suasana di tepian Sungai Kapuas mendadak gaduh.
Orang-orang mulai menepi.
Beberapa pedagang menutup gerobaknya.
Pengunjung taman memperhatikan dengan penasaran.
Indra berlari memasuki gang sempit di belakang deretan pertokoan.
Napasnya mulai terengah-engah.
Tetapi rasa takut membuatnya terus memaksa kakinya melangkah.
"Jangan sampai tertangkap..."
gumamnya.
Di belakangnya terdengar suara langkah kaki semakin mendekat.
Ryahan.
"Indra!"
"Berhenti!"
Namun Indra justru berlari semakin kencang.
Gang sempit itu berakhir di sebuah jalan kecil yang langsung menghadap ke Sungai Kapuas.
Di sana terdapat dermaga kayu tempat beberapa perahu motor bersandar.
Indra menoleh ke belakang.
Ryahan kini hanya berjarak beberapa meter.
Tanpa berpikir panjang, Indra melompat ke salah satu perahu yang sedang bersandar.
"Jalankan!"
teriaknya kepada pemilik perahu.
Lelaki tua pemilik perahu tampak kebingungan.
"Saya belum mau berangkat."
Indra mengeluarkan sejumlah uang.
"Cepat!"
Namun sebelum mesin sempat dinyalakan...
Ryahan berhasil melompat ke atas dermaga.
"Indra!"
Keduanya kembali saling berhadapan.
Angin sungai bertiup semakin kencang.
Tas hitam masih berada di tangan Indra.
Ryahan melangkah perlahan.
"Aku tidak datang untuk membalas dendam."
Indra tertawa sinis.
"Jangan bohong."
"Kalau aku jadi kamu..."
"...aku pasti membenciku."
Ryahan menggeleng.
"Aku memang pernah marah."
"Tapi hari ini..."
"...aku hanya ingin semuanya selesai."
Indra mengepalkan tas itu.
"Selesai?"
"Kamu pikir semuanya bisa selesai begitu saja?"
"Ayahmu mati."
"Kamu kehilangan masa mudamu."
"Amelia menangis bertahun-tahun."
"Dan sekarang..."
"...kamu ingin memaafkanku?"
Ryahan menarik napas panjang.
"Aku tidak bisa menghidupkan Ayah kembali."
"Aku juga tidak bisa mengembalikan waktu."
"Tapi aku tidak ingin hidupku terus dikuasai kebencian."
Kalimat itu membuat Indra terdiam.
Tak lama kemudian, polisi bersama Pak Burhan, Pak Kusri, Niko, Naryo, Amelia, Anita, dan Liana tiba di dermaga.
Mereka berhenti beberapa meter dari Ryahan dan Indra.
Penyidik mengangkat tangan.
"Indra."
"Saya minta Anda menyerahkan diri."
Indra tidak menjawab.
Tatapannya terus berpindah antara Ryahan dan Sungai Kapuas.
Air sungai mengalir tenang.
Namun batinnya sedang bergolak hebat.
Amelia melangkah sedikit ke depan.
"Indra..."
Suara itu membuat lelaki tersebut menoleh.
"Aku tidak pernah membencimu."
"Aku hanya kecewa."
Indra tersenyum pahit.
"Aku tahu."
"Sejak dulu..."
"...aku selalu tahu."
"Hatimu tidak pernah memilihku."
Amelia menghela napas.
"Bukan karena kamu kurang baik."
"Tapi karena kebencian telah mengubahmu menjadi orang lain."
Air mata mulai menggenang di mata Indra.
Untuk pertama kalinya selama bertahun-tahun...
ia mendengar kalimat yang tidak berisi kemarahan.
Ryahan kembali berbicara.
"Dulu kita pernah bersahabat."
"Ingat?"
"Kita bermain bola di lapangan desa."
"Mencari ikan di sungai."
"Membantu Pak Rahmat di sawah."
Indra memejamkan mata.
Semua kenangan itu kembali hadir.
Ia teringat ketika Pak Rahmat pernah memberinya makan siang karena ia tidak membawa bekal.
Ia teringat saat Ryahan membelanya ketika mereka dimarahi guru.
Ia teringat tawa mereka.
Sebelum rasa iri menguasai dirinya.
Tangannya mulai gemetar.
Tas hitam perlahan terlepas dari genggamannya.
Bruk...
Tas itu jatuh ke lantai dermaga.
Beberapa lembar dokumen keluar dari dalamnya.
Penyidik segera melangkah maju.
Namun Ryahan mengangkat tangan memberi isyarat agar mereka berhenti.
Ia ingin Indra mengambil keputusan itu sendiri.
Indra memandang Sungai Kapuas.
Kemudian memandang Ryahan.
"Kalau..."
"...aku menyerahkan semuanya."
"Apakah kamu benar-benar bisa memaafkanku?"
Ryahan tidak langsung menjawab.
Ia melangkah mendekat.
Hingga hanya berjarak satu langkah.
"Aku mungkin tidak akan pernah melupakan semua yang terjadi."
"Tapi..."
"...aku memilih memaafkan."
"Bukan untukmu."
"Melainkan agar aku bisa hidup tanpa kebencian."
Air mata Indra akhirnya jatuh.
Tangis yang selama bertahun-tahun ditahannya pecah begitu saja.
Ia berlutut di atas dermaga.
"Aku lelah..."
bisiknya.
"Aku benar-benar lelah."
Ia mengambil tas hitam itu.
Kemudian menyerahkannya kepada penyidik.
"Di dalamnya..."
"...ada semua bukti."
"Buku catatan."
"Dokumen asli."
"Dan nama semua orang yang pernah membantuku."
Penyidik menerima tas tersebut.
Salah seorang petugas kemudian membacakan hak-hak Indra sebelum membawanya untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Indra tidak melakukan perlawanan.
Sebelum masuk ke mobil, ia menoleh kepada Ryahan.
"Terima kasih..."
"Karena masih mengingatku sebagai sahabat."
Mobil perlahan meninggalkan dermaga.
Keheningan menyelimuti tepian Sungai Kapuas.
Semua orang berdiri memandang matahari yang mulai tenggelam.
Pak Burhan menghela napas lega.
"Akhirnya..."
"...kebenaran menemukan jalannya."
Ryahan menggenggam tangan Amelia.
Namun ia sadar...
berakhirnya kebohongan bukan berarti seluruh luka langsung sembuh.
Masih ada proses hukum.
Masih ada keluarga yang harus dipulihkan.
Masih ada kehidupan yang harus dibangun kembali.
Tetapi satu hal telah pasti.
Perjalanan panjang yang dimulai dari Desa Sumber Waras kini telah sampai pada pintu akhir.
Dan mentari yang perlahan tenggelam di ufuk Sungai Kapuas seolah menjadi pertanda...
bahwa esok akan lahir fajar yang membawa harapan baru.
BAB XXIV
MENTARI DI TEPIAN KAPUAS
Pagi di Kota Kuala Kapuas datang dengan wajah yang berbeda.
Mentari muncul perlahan dari balik ufuk timur, menyinari permukaan Sungai Kapuas yang tenang. Cahaya keemasannya memantul di atas riak air, seolah melukiskan harapan baru setelah malam panjang yang dipenuhi kegelisahan.
Di sepanjang tepian sungai, aktivitas masyarakat kembali berjalan seperti biasa.
Pedagang membuka kios.
Perahu-perahu mulai menyeberangkan penumpang.
Anak-anak bersepeda di jalur pejalan kaki.
Tak seorang pun menyangka bahwa sehari sebelumnya, di tempat yang sama, sebuah kisah panjang tentang persahabatan, cinta, dan pengkhianatan menemukan titik baliknya.
Di ruang penyidik Polres Kuala Kapuas, suasana berlangsung serius.
Indra duduk dengan kepala tertunduk.
Di hadapannya, penyidik membuka satu per satu barang bukti yang diserahkan malam sebelumnya.
Tas hitam.
Buku catatan.
Dokumen kelompok tani.
Surat-surat asli milik Ryahan.
Salinan surat palsu.
Serta sebuah flashdisk yang selama ini disembunyikan.
"Apakah semua ini milik Saudara?"
tanya penyidik.
Indra mengangguk pelan.
"Iya."
"Apakah Saudara bersedia memberikan keterangan tanpa tekanan dari siapa pun?"
"Saya bersedia."
Penyidik mulai menyalakan alat perekam.
"Silakan ceritakan dari awal."
Indra menarik napas panjang.
Air matanya kembali mengalir.
"Semuanya..."
"...berawal dari rasa iri."
Ruangan mendadak sunyi.
Dengan suara bergetar, Indra menceritakan seluruh peristiwa yang selama ini menjadi teka-teki.
Tentang kecemburuannya kepada Ryahan.
Tentang rasa kecewanya karena Amelia tidak pernah membalas perasaannya.
Tentang bagaimana ia memengaruhi Rinto.
Tentang keterlibatan Susianti.
Tentang surat-surat yang disembunyikan.
Tentang surat palsu yang dibuatnya.
Hingga...
pengakuan mengenai kebakaran gudang kelompok tani yang sengaja direkayasa untuk menjatuhkan nama baik Ryahan dan keluarganya.
Semua dicatat dalam berita acara pemeriksaan.
Tak ada lagi yang disembunyikan.
Tak ada lagi kebohongan.
Untuk pertama kalinya...
Indra memilih berdamai dengan kebenaran.
Sementara itu, di luar ruang penyidik, Ryahan duduk bersama Pak Burhan, Pak Kusri, Niko, Naryo, Amelia, Anita, dan Liana.
Tak seorang pun banyak berbicara.
Mereka menunggu dengan perasaan yang bercampur.
Lega.
Cemas.
Sedih.
Semuanya menjadi satu.
Beberapa saat kemudian, penyidik keluar menemui mereka.
Beliau tersenyum tipis.
"Terima kasih atas kerja sama Bapak dan Ibu semua."
Pak Burhan berdiri.
"Bagaimana hasilnya, Pak?"
Penyidik mengangguk.
"Saudara Indra mengakui seluruh perbuatannya."
"Pengakuannya sesuai dengan bukti yang telah Saudara serahkan."
"Rinto dan Susianti juga akan dipanggil kembali untuk melengkapi pemeriksaan."
Ruangan mendadak hening.
Ryahan menutup matanya.
Beban yang selama bertahun-tahun dipikulnya perlahan terasa terangkat.
Namun yang paling menyentuh bukanlah kabar itu.
Melainkan kalimat berikutnya dari penyidik.
"Berdasarkan hasil pemeriksaan sementara..."
"...tidak ditemukan keterlibatan Saudara Ryahan maupun almarhum Pak Rahmat dalam seluruh peristiwa yang selama ini dituduhkan."
Pak Burhan langsung menundukkan kepala.
Air matanya jatuh.
"Alhamdulillah..."
bisiknya.
Bu Talia memeluk Ryahan erat.
Tangis bahagia akhirnya pecah.
Pak Kusri menyalami Ryahan dengan kedua tangannya.
"Mulai hari ini..."
"...nama ayahmu benar-benar bersih."
Ryahan tidak mampu menjawab.
Ia hanya memandang langit melalui jendela kantor polisi.
Seolah sedang menyampaikan kabar itu kepada ayahnya.
"Yah..."
"Kita berhasil."
Menjelang siang, rombongan meninggalkan kantor kepolisian.
Tidak ada sorak kemenangan.
Tidak ada perayaan.
Yang ada hanyalah rasa syukur.
Mereka memilih berjalan kembali menuju tepian Sungai Kapuas.
Di bawah rindangnya pepohonan, mereka duduk melingkar.
Niko memecah keheningan.
"Kalau Pak Rahmat melihat kita sekarang..."
"...beliau pasti tersenyum."
Anita mengangguk.
"Beliau selalu percaya bahwa kebenaran akan datang."
Liana menambahkan,
"Hanya saja..."
"...kadang kita harus menunggu lebih lama daripada yang kita inginkan."
Semua tersenyum.
Ryahan berdiri.
Ia berjalan beberapa langkah mendekati bibir sungai.
Air Sungai Kapuas mengalir tanpa pernah berhenti.
Ia mengambil sebuah batu kecil.
Lalu melemparkannya ke tengah sungai.
Riaknya melebar.
Menghilang perlahan.
Amelia menghampirinya.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?"
Ryahan tersenyum.
"Dulu aku datang ke kota ini membawa begitu banyak mimpi."
"Lalu pulang membawa luka."
"Hari ini..."
"...aku kembali."
"Bukan sebagai orang yang kalah."
"Tapi sebagai orang yang belajar."
Amelia menggenggam tangannya.
"Belajar apa?"
Ryahan memandang mentari yang semakin tinggi.
"Bahwa kebencian hanya akan membuat perjalanan hidup semakin panjang."
"Sedangkan memaafkan..."
"...adalah jalan pulang yang sesungguhnya."
Amelia tersenyum.
"Ayahmu pasti bangga."
Ryahan mengangguk perlahan.
"Semoga."
Di ruang tahanan, Indra duduk sendirian.
Melalui jendela kecil berterali, ia dapat melihat sebagian langit Kuala Kapuas.
Cahaya mentari masuk menerangi ruangan sempit itu.
Ia teringat ucapan Ryahan di dermaga.
"Aku memilih memaafkan."
Kalimat sederhana itu terus berputar di kepalanya.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun...
ia menangis bukan karena takut dihukum.
Melainkan karena menyadari bahwa satu keputusan yang lahir dari rasa iri telah menghancurkan begitu banyak kehidupan.
Ia menutup wajahnya.
Berbisik lirih.
"Maafkan aku..."
Entah kepada Ryahan.
Kepada Amelia.
Kepada Pak Rahmat.
Atau kepada dirinya sendiri.
Sore mulai mendekat.
Mentari kembali memancarkan cahaya keemasan di atas Sungai Kapuas.
Ryahan dan Amelia berdiri berdampingan di tepian sungai.
Tidak ada lagi prasangka yang memisahkan.
Tidak ada lagi surat yang hilang.
Tidak ada lagi kebohongan yang menghalangi langkah mereka.
Namun keduanya tahu...
perjalanan belum benar-benar selesai.
Masih ada satu hal yang harus mereka lakukan.
Pulang ke Desa Sumber Waras.
Membawa kabar bahwa kebenaran akhirnya menang.
Dan membawa harapan baru bagi desa yang telah membesarkan mereka.
Di bawah cahaya mentari yang memantul di permukaan Sungai Kapuas...
dua hati yang pernah dipisahkan oleh waktu kini mulai menemukan jalan menuju masa depan yang sama.
Senja kembali menyapa Kota Kuala Kapuas.
Langit yang semula biru perlahan berubah menjadi jingga keemasan. Cahaya mentari memanjang di atas permukaan Sungai Kapuas, membentuk garis-garis cahaya yang menari mengikuti aliran air. Burung-burung bangau melintas rendah menuju sarangnya, sementara suara mesin perahu terdengar bersahut-sahutan dari kejauhan.
Ryahan berdiri di pagar tepian sungai.
Di sampingnya, Amelia memandang matahari yang perlahan turun ke ufuk barat.
Sudah lama mereka menginginkan ketenangan seperti itu.
Tanpa fitnah.
Tanpa prasangka.
Tanpa air mata yang dipenuhi kesalahpahaman.
Namun keduanya memahami bahwa kedamaian bukanlah hadiah yang datang begitu saja.
Kedamaian adalah hasil dari perjuangan yang panjang.
"Apa yang ingin kamu lakukan setelah ini?"
tanya Amelia memecah keheningan.
Ryahan tersenyum tipis.
"Pulang."
Amelia menoleh.
"Hanya itu?"
Ryahan mengangguk.
"Pulang."
"Lalu membangun kembali apa yang sempat hancur."
"Membantu Ibu."
"Meneruskan cita-cita Ayah."
"Membangun Desa Sumber Waras."
Amelia menggenggam tangan Ryahan.
"Kalau begitu..."
"...izinkan aku berjalan bersamamu."
Ryahan menatap perempuan yang sejak kecil telah mengisi sebagian besar hidupnya.
"Kamu yakin?"
Amelia tersenyum.
"Dulu aku menunggumu."
"Sekarang..."
"...aku ingin menemanimu."
Tak jauh dari mereka, Pak Burhan, Pak Kusri, Bu Talia, Bu Endang, Niko, Naryo, Anita, dan Liana duduk di bangku taman sambil menikmati semilir angin Sungai Kapuas.
Pak Burhan memandang Ryahan dan Amelia dari kejauhan.
"Lihat mereka."
Pak Kusri tersenyum.
"Akhirnya."
Pak Burhan mengangguk.
"Pak Rahmat pasti sedang tersenyum."
Bu Talia mengusap air matanya.
"Selama hidupnya..."
"...yang paling beliau khawatirkan bukan dirinya."
"Tetapi masa depan Ryahan."
"Dan hari ini..."
"...kekhawatiran itu sudah berakhir."
Bu Endang menggenggam tangan Bu Talia.
"Mulai sekarang..."
"...kita menjadi satu keluarga."
Kedua ibu itu saling berpelukan.
Tidak ada lagi sekat yang dahulu dibangun oleh prasangka.
Keesokan paginya, sebelum kembali ke Desa Sumber Waras, rombongan menyempatkan diri mengunjungi makam pahlawan yang berada tidak jauh dari pusat Kota Kuala Kapuas.
Pak Burhan berdiri paling depan.
"Kita datang ke sini bukan sekadar berziarah."
"Tetapi untuk mengingat..."
"...bahwa setiap perjuangan selalu membutuhkan pengorbanan."
Ryahan mengangguk pelan.
Ia teringat ayahnya.
Pak Rahmat mungkin bukan seorang pahlawan yang namanya tercatat dalam buku sejarah.
Namun di dalam hidupnya...
ayahnya adalah pahlawan sejati.
Pahlawan yang mengajarkannya arti kejujuran.
Kerja keras.
Kesabaran.
Dan memaafkan.
Sebelum meninggalkan kota, mereka kembali singgah di tepian Sungai Kapuas.
Ryahan mengeluarkan sebuah amplop tua.
Surat pertama yang dahulu ditulisnya untuk Amelia.
Surat yang baru sampai setelah bertahun-tahun.
Amelia tersenyum.
"Kenapa dibawa?"
Ryahan membuka surat itu sekali lagi.
Tulisannya mulai memudar.
Namun setiap kalimat masih terbaca jelas.
"Aku percaya, suatu hari nanti kita akan kembali bertemu."
Ryahan melipat kembali surat itu.
"Surat ini..."
"...akan kusimpan seumur hidup."
Amelia bertanya pelan,
"Sebagai pengingat?"
Ryahan mengangguk.
"Bahwa cinta harus dijaga."
"Karena sekali kepercayaan dirusak..."
"...dibutuhkan waktu bertahun-tahun untuk memperbaikinya."
Amelia menghela napas.
"Untung kita tidak menyerah."
Ryahan tersenyum.
"Tidak."
"Kita hanya terlambat menemukan kebenaran."
Di ruang tahanan, Indra menerima kunjungan yang tidak pernah ia duga.
Rinto.
Dan Susianti.
Mereka bertiga duduk saling berhadapan.
Tidak ada lagi rasa benci.
Yang tersisa hanyalah penyesalan.
Rinto lebih dulu berbicara.
"Maaf."
Indra menatap sahabatnya.
"Aku juga."
Susianti menundukkan kepala.
"Aku berharap..."
"...suatu hari nanti masyarakat bisa memaafkan kita."
Indra tersenyum pahit.
"Mungkin mereka bisa."
"Tapi yang paling sulit..."
"...adalah memaafkan diri sendiri."
Ruangan kembali sunyi.
Untuk pertama kalinya sejak semua peristiwa itu terjadi...
mereka bertiga benar-benar menyadari besarnya akibat dari kesalahan yang mereka lakukan.
Menjelang siang, bus yang membawa rombongan Desa Sumber Waras mulai meninggalkan Kota Kuala Kapuas.
Ryahan duduk di sisi jendela.
Tatapannya mengikuti aliran Sungai Kapuas yang perlahan menjauh.
Ia teringat pertama kali datang ke kota itu.
Datang membawa mimpi.
Kemudian pulang membawa luka.
Kini...
ia meninggalkan Kuala Kapuas dengan sesuatu yang jauh lebih berharga.
Kebenaran.
Di sampingnya, Amelia menyandarkan kepala di bahunya.
"Capek?"
tanya Ryahan.
Amelia tersenyum kecil.
"Sedikit."
"Tapi hatiku sangat tenang."
Ryahan menggenggam tangannya.
"Aku juga."
Bus terus melaju meninggalkan kota.
Di belakang mereka, mentari siang bersinar terang di atas Sungai Kapuas.
Seolah mengiringi kepulangan dua hati yang telah lama tersesat.
Di depan mereka terbentang jalan panjang menuju Desa Sumber Waras.
Jalan yang kini bukan lagi dipenuhi rasa takut.
Melainkan harapan.
Harapan untuk membangun kembali desa.
Menghidupkan kembali mimpi-mimpi yang sempat terkubur.
Dan memulai kehidupan baru tanpa bayang-bayang masa lalu.
Tak ada yang menyadari...
bahwa kepulangan itu bukanlah akhir.
Melainkan awal dari bab terakhir kehidupan mereka.
Bab tentang rumah.
Tentang keluarga.
Tentang cinta yang akhirnya menemukan pelabuhannya.
Dan ketika bus perlahan menghilang di tikungan jalan menuju desa...
mentari di tepian Sungai Kapuas tetap bersinar hangat.
Seolah berbisik kepada setiap hati yang pernah terluka.
"Setelah badai sebesar apa pun, matahari selalu menemukan caranya untuk kembali bersinar."
BAB XXV
MENTARI DI UJUNG RINDU
Mentari pagi menyambut kepulangan rombongan Desa Sumber Waras dengan cahaya yang hangat.
Kabut tipis masih menggantung di atas hamparan sawah. Embun berkilauan di ujung daun padi, sementara burung-burung pipit beterbangan rendah mencari makan. Jalan desa yang beberapa minggu lalu terasa sunyi kini dipenuhi wajah-wajah penuh harap.
Kabar bahwa Ryahan dan rombongan telah kembali dari Kota Kuala Kapuas lebih dulu menyebar dari mulut ke mulut.
Warga mulai berkumpul di halaman balai desa.
Anak-anak berlarian sambil melambaikan tangan.
Para orang tua berdiri di bawah rindangnya pohon ketapang.
Semua menunggu.
Bukan sekadar menunggu kepulangan seseorang.
Tetapi menunggu kabar yang selama bertahun-tahun mereka dambakan.
Apakah Ryahan benar-benar tidak bersalah?
Apakah nama Pak Rahmat telah dipulihkan?
Apakah semua fitnah akhirnya terungkap?
Bus yang membawa rombongan perlahan memasuki halaman balai desa.
Mesinnya berhenti.
Pintu terbuka.
Orang pertama yang turun adalah Pak Burhan.
Beliau tersenyum sambil mengangkat tangan.
"Alhamdulillah..."
"Kita pulang membawa kabar baik."
Suasana yang semula hening mendadak dipenuhi tepuk tangan.
Beberapa warga langsung menghampiri.
"Bagaimana hasilnya, Pak?"
Pak Burhan memandang seluruh warga.
Dengan suara mantap beliau berkata,
"Semua tuduhan terhadap Ryahan dan almarhum Pak Rahmat tidak benar."
"Seluruh fitnah telah terbukti."
"Pelakunya sudah mengakui semuanya."
Sejenak...
tak ada satu pun suara terdengar.
Kemudian tangis haru pecah di antara kerumunan.
Beberapa warga menundukkan kepala.
Ada yang menangis.
Ada yang saling berpelukan.
Ada pula yang menitikkan air mata karena rasa bersalah yang selama ini mereka pendam.
Ryahan turun dari bus.
Belum sempat melangkah jauh, seorang lelaki tua menghampirinya.
Pak Darto.
Dengan mata berkaca-kaca, beliau menggenggam kedua tangan Ryahan.
"Maafkan kami..."
"Kami terlalu mudah percaya pada fitnah."
Ryahan tersenyum lembut.
"Bapak tidak perlu meminta maaf."
"Kita semua pernah salah."
Pak Darto menggeleng.
"Tidak."
"Yang paling sulit bukan mengakui kesalahan."
"Tapi berani meminta maaf."
Ryahan memeluk lelaki tua itu.
Pemandangan tersebut membuat banyak warga ikut menangis.
Hari itu...
permintaan maaf tidak lagi menjadi tanda kekalahan.
Melainkan awal dari sebuah perdamaian.
Di sisi lain halaman, Bu Talia berdiri memandangi rumahnya dari kejauhan.
Rumah yang pernah dipenuhi duka.
Rumah tempat Pak Rahmat mengembuskan napas terakhir.
Kini rumah itu kembali menjadi tempat pulang.
Bu Endang menghampirinya.
"Bagaimana perasaanmu?"
Bu Talia tersenyum.
"Kosong."
"Tapi juga penuh."
Bu Endang tersenyum bingung.
"Maksudmu?"
"Pak Rahmat memang sudah tidak ada."
"Tapi doa-doanya masih tinggal."
"Dan hari ini..."
"...aku merasa beliau benar-benar pulang bersama kami."
Kedua perempuan itu saling berpelukan.
Mereka sama-sama kehilangan banyak hal.
Namun mereka juga sama-sama memperoleh keluarga baru.
Sore harinya, pemerintah desa mengadakan pertemuan bersama seluruh warga di balai desa.
Pak Burhan berdiri di depan.
Di sampingnya terdapat Ryahan, Amelia, Pak Kusri, Bu Talia, Bu Endang, Niko, Naryo, Anita, dan Liana.
Pak Burhan membuka acara dengan suara tenang.
"Saudara-saudaraku."
"Beberapa tahun terakhir..."
"...desa kita hampir kehilangan satu keluarga yang sebenarnya tidak bersalah."
"Kita terlalu cepat menghakimi."
"Kita terlalu lambat mencari kebenaran."
Beliau berhenti sejenak.
Tatapannya menyapu seluruh ruangan.
"Mulai hari ini..."
"...jangan pernah lagi membiarkan fitnah mengalahkan hati nurani."
Seluruh warga mengangguk.
Suasana balai desa begitu hening.
Setiap kalimat yang diucapkan Pak Burhan terasa mengetuk hati mereka.
Pak Burhan kemudian mempersilakan Ryahan berbicara.
Ryahan berdiri perlahan.
Ia memandang wajah-wajah yang selama ini pernah meragukannya.
Namun di matanya tidak ada sedikit pun kebencian.
"Saya pernah marah."
"Saya pernah kecewa."
"Saya pernah ingin pergi dan tidak kembali."
"Tetapi..."
"...desa ini adalah rumah saya."
"Di sinilah saya belajar berjalan."
"Belajar bekerja."
"Belajar mencintai."
"Dan belajar memaafkan."
Ruangan kembali sunyi.
Ryahan melanjutkan,
"Saya tidak ingin kita terus hidup dengan masa lalu."
"Yang sudah terjadi..."
"...biarlah menjadi pelajaran."
"Mulai hari ini mari kita membangun Desa Sumber Waras bersama."
Tepuk tangan panjang memenuhi balai desa.
Bukan tepuk tangan untuk seorang pemenang.
Melainkan penghormatan kepada seseorang yang memilih memaafkan ketika ia memiliki alasan untuk membenci.
Usai pertemuan, Ryahan berjalan menuju makam Pak Rahmat.
Mentari sore mulai turun.
Cahaya jingga menyelimuti pemakaman desa.
Ryahan membersihkan rumput liar di sekitar makam ayahnya.
Kemudian ia duduk bersila.
"Ayah..."
"Aku pulang."
"Hari ini nama Ayah sudah bersih."
"Tidak ada lagi orang yang meragukan Ayah."
"Semua telah mengetahui kebenarannya."
Air mata mengalir di pipinya.
Namun kali ini bukan air mata kesedihan.
Melainkan rasa syukur.
"Terima kasih..."
"...karena Ayah mengajariku untuk tidak membalas kebencian dengan kebencian."
"Ternyata benar."
"Kesabaran memang tidak pernah mengkhianati hasil."
Di belakang Ryahan, Amelia datang membawa setangkai bunga melati.
Tanpa mengganggu, ia meletakkan bunga itu di atas pusara Pak Rahmat.
Lalu menggenggam tangan Ryahan.
"Kita pulang?"
bisiknya.
Ryahan mengangguk.
Namun sebelum melangkah pergi, ia menatap langit sekali lagi.
Mentari sore perlahan tenggelam.
Persis seperti hari ketika ayahnya dimakamkan.
Bedanya...
kali ini tidak ada lagi hati yang dipenuhi dendam.
Yang ada hanyalah keyakinan bahwa setiap pengorbanan tidak pernah sia-sia.
Dan setiap rindu...
selalu memiliki ujung.
Ujung yang bernama rumah.
Mentari mulai condong ke ufuk barat.
Langit Desa Sumber Waras dihiasi semburat jingga yang lembut. Angin sore berembus pelan membawa aroma tanah basah selepas hujan siang. Di kejauhan, hamparan sawah tampak menguning, seolah ikut merayakan babak baru kehidupan yang akhirnya kembali menemukan kedamaian.
Sudah beberapa minggu berlalu sejak Ryahan dan rombongan pulang dari Kota Kuala Kapuas.
Proses hukum terhadap Indra, Rinto, dan Susianti terus berjalan sesuai ketentuan yang berlaku. Ketiganya mengakui seluruh perbuatannya di hadapan penyidik dan memilih menjalani proses hukum tanpa lagi berusaha menghindar. Berita mengenai terbongkarnya fitnah yang selama bertahun-tahun menyelimuti keluarga Pak Rahmat pun menyebar hingga ke desa-desa sekitar.
Namun bagi Ryahan...
kemenangan bukanlah ketika pelaku dihukum.
Melainkan ketika kebencian tidak lagi menguasai hatinya.
Hari demi hari, kehidupan Desa Sumber Waras mulai kembali seperti sedia kala.
Gotong royong kembali hidup.
Kelompok tani yang dahulu sempat terpecah kini bersatu kembali.
Lumbung desa yang pernah menjadi simbol perselisihan dibangun ulang dengan semangat kebersamaan.
Niko dipercaya menjadi koordinator pemuda desa.
Dengan penuh semangat, ia mengajak generasi muda membersihkan jalan desa, memperbaiki lapangan, dan menghidupkan kembali kegiatan karang taruna.
"Aku tidak ingin anak-anak setelah kita mewarisi permusuhan," katanya suatu sore.
Naryo pun kembali mengelola kelompok tani yang sempat vakum.
Ia mengajak para petani menerapkan cara-cara baru dalam bercocok tanam.
"Kalau kita bersatu," ucapnya, "hasil panen akan jauh lebih baik daripada saat kita saling mencurigai."
Anita mewujudkan cita-citanya membuka taman baca kecil di balai desa.
Setiap sore, anak-anak datang membaca buku, belajar, dan mendengarkan dongeng.
Sementara itu, Liana memilih mengabdikan dirinya sebagai kader pemberdayaan perempuan. Ia mendampingi ibu-ibu desa mengikuti pelatihan keterampilan agar mampu menambah penghasilan keluarga.
Desa Sumber Waras perlahan berubah.
Bukan hanya pembangunan fisiknya.
Tetapi juga cara berpikir masyarakatnya.
Di rumah Pak Kusri, suasana penuh kehangatan.
Pak Kusri dan Bu Endang menerima kedatangan Ryahan bersama Bu Talia.
Mereka duduk mengelilingi meja makan yang dipenuhi hidangan sederhana.
Pak Kusri memandang Ryahan dengan senyum yang tak pernah ia sembunyikan lagi.
"Han."
"Iya, Pak."
"Ayahmu pernah datang ke rumah ini."
Ryahan terdiam.
"Beliau pernah berkata kepadaku..."
"Kalau suatu hari anak-anak kita berjodoh, jangan ukur mereka dari harta. Ukurlah dari kejujuran dan tanggung jawabnya."
Mata Ryahan mulai berkaca-kaca.
Pak Kusri melanjutkan,
"Dulu aku mengabaikan ucapan itu."
"Hari ini aku sadar..."
"...Pak Rahmat benar."
Beliau berdiri.
Lalu menggenggam tangan Ryahan.
"Dengan mengucapkan bismillahirrahmanirrahim..."
"...aku merestui hubunganmu dengan Amelia."
Ruangan mendadak hening.
Bu Endang mengusap air matanya.
Bu Talia menundukkan kepala sambil memanjatkan syukur.
Amelia memejamkan mata, tak kuasa menahan haru.
Selama bertahun-tahun ia menunggu kalimat itu.
Kini...
restu itu akhirnya datang.
Beberapa hari kemudian, sebuah acara sederhana digelar di halaman rumah Bu Talia.
Tidak ada kemewahan.
Tidak ada panggung besar.
Hanya tikar yang dibentangkan di halaman.
Tetangga berdatangan membawa aneka hidangan sebagai wujud gotong royong.
Pak Burhan membuka acara dengan doa.
"Hari ini..."
"...kita tidak hanya menyaksikan bersatunya dua anak muda."
"Kita juga menyaksikan bersatunya kembali hati masyarakat Desa Sumber Waras."
Semua yang hadir mengamini.
Di hadapan keluarga dan masyarakat, Ryahan memasangkan sebuah cincin sederhana ke jari manis Amelia sebagai tanda ikatan menuju pernikahan.
Tatapan mereka bertemu.
Tidak ada lagi air mata kesedihan.
Yang ada hanyalah senyum penuh syukur.
Niko bersiul menggoda.
"Wah, akhirnya sahabat kita tidak lagi menunggu mentari sendirian."
Semua tertawa.
Anita dan Liana saling berpelukan.
Naryo menepuk bahu Ryahan sambil berkata,
"Jangan pernah ulangi membuat kami menunggu selama ini."
Ryahan tertawa kecil.
"Kali ini aku akan tepat waktu."
Menjelang senja, acara selesai.
Satu per satu tamu kembali ke rumah masing-masing.
Ryahan dan Amelia berjalan menuju bukit kecil di pinggir Desa Sumber Waras.
Bukit itu menjadi tempat favorit mereka sejak kecil.
Dari sana terlihat hamparan sawah yang luas, jalan desa yang membelah ladang, dan deretan pepohonan yang bergoyang tertiup angin.
Mereka duduk berdampingan.
Tidak banyak kata yang terucap.
Amelia memecah keheningan.
"Kalau waktu bisa diulang..."
"...apa yang ingin kamu ubah?"
Ryahan tersenyum sambil memandang langit.
"Tidak ada."
Amelia tampak heran.
"Kenapa?"
"Karena kalau semua luka itu tidak pernah terjadi..."
"...mungkin aku tidak akan belajar arti memaafkan."
"Dan mungkin..."
"...aku tidak akan pernah benar-benar menghargai kehadiranmu."
Amelia menggenggam tangan Ryahan.
"Aku juga."
"Dulu aku mengira cinta adalah tentang selalu bersama."
"Sekarang aku tahu..."
"...cinta adalah tetap memilih orang yang sama, meski waktu berkali-kali menguji."
Ryahan menatap perempuan yang kini menjadi masa depannya.
"Terima kasih sudah menungguku."
Amelia tersenyum hangat.
"Terima kasih..."
"...karena akhirnya kamu pulang."
Mentari perlahan tenggelam di balik cakrawala.
Langit berubah menjadi perpaduan jingga, merah, dan ungu.
Ryahan dan Amelia berdiri memandang ke arah barat.
Di kejauhan, cahaya senja mengingatkan mereka pada tepian Sungai Kapuas di Kuala Kapuas.
Tempat di mana kebenaran akhirnya menang.
Tempat di mana kebencian berakhir.
Tempat di mana perjalanan panjang mereka menemukan makna.
Ryahan menggenggam tangan Amelia lebih erat.
"Dulu aku berpikir..."
"...rindu adalah hukuman."
"Ternyata tidak."
"Rindu adalah cara Tuhan menjaga harapan agar tidak mati."
Amelia mengangguk.
"Dan mentari..."
"...selalu datang setelah malam yang paling gelap."
Ryahan tersenyum.
"Benar."
"Bukan waktu yang menyembuhkan luka."
"Melainkan keberanian untuk memaafkan."
"Dan bukan jarak yang mengakhiri rindu."
"Melainkan keberanian untuk kembali pulang."
Mereka saling berpandangan.
Tak ada lagi kata yang perlu diucapkan.
Karena seluruh perjalanan mereka telah menjawab semuanya.
Mentari akhirnya tenggelam.
Namun kali ini...
tidak ada kesedihan yang ikut pergi bersamanya.
Sebab mereka telah memahami satu hal yang paling berharga dalam hidup.
Bahwa rumah bukanlah sekadar tempat untuk kembali.
Rumah adalah hati yang tetap membuka pintunya, meski telah lama ditinggalkan.
Dan cinta sejati bukanlah tentang siapa yang datang lebih dulu.
Melainkan siapa yang tetap bertahan hingga akhir.
Di bawah langit senja Desa Sumber Waras, dua hati yang pernah dipisahkan oleh fitnah, waktu, dan pengkhianatan akhirnya dipersatukan oleh kejujuran, pengampunan, dan kasih yang tak pernah padam.
Perjalanan mereka telah usai.
Namun kisah tentang Mentari di Ujung Rindu akan selalu hidup, menjadi pengingat bahwa di balik setiap luka, selalu ada harapan.
Di balik setiap air mata, selalu ada pelajaran.
Dan di ujung setiap rindu...
selalu ada mentari yang setia menunggu untuk terbit kembali.
EPILOG
Tiga Tahun Kemudian
Mentari yang Tak Pernah Padam
Tiga tahun telah berlalu.
Waktu bergerak perlahan, tetapi pasti.
Ia tidak pernah menghapus kenangan, hanya mengajarkan manusia cara hidup berdampingan dengannya.
Pagi itu, Desa Sumber Waras diselimuti udara yang sejuk.
Kabut tipis masih bergelayut di atas persawahan yang membentang luas. Jalan-jalan desa yang dahulu berlubang kini telah beraspal. Drainase yang dulu sering meluap saat musim hujan telah diperbaiki. Di sisi jalan berdiri deretan pohon peneduh yang ditanam bersama oleh warga sebagai simbol persatuan.
Suara anak-anak yang berangkat sekolah memenuhi jalan desa.
Mereka berjalan sambil tertawa, membawa tas di punggung dan mimpi di dalam hati.
Di balai desa, sebuah papan besar bertuliskan:
"Desa Sumber Waras – Desa Harmoni, Desa Harapan."
Kalimat itu bukan sekadar slogan.
Melainkan pengingat bahwa desa tersebut pernah hampir hancur karena fitnah, tetapi bangkit karena kejujuran dan persatuan.
Ryahan berdiri di halaman rumahnya.
Rumah sederhana yang dahulu dipenuhi kesedihan kini berubah menjadi tempat yang hangat.
Di teras rumah, Bu Talia duduk sambil menggendong cucunya yang baru berusia dua tahun.
Anak laki-laki itu memiliki mata yang teduh.
Dan senyum yang mengingatkan semua orang kepada almarhum Pak Rahmat.
"Ayo, Nak..."
kata Bu Talia lembut.
"Lihat Ayahmu."
Anak kecil itu berlari kecil menghampiri Ryahan.
Dengan tawa riang ia memeluk kaki ayahnya.
Ryahan mengangkat putranya ke dalam pelukan.
"Sudah bangun, Pahlawan kecil?"
Anak itu mengangguk sambil tertawa.
Tak lama kemudian, Amelia keluar dari rumah membawa dua gelas teh hangat.
Senyumnya masih sama seperti pertama kali Ryahan mengenalnya.
Hanya saja kini ada ketenangan yang dahulu belum pernah terlihat di wajahnya.
"Kamu berangkat pagi sekali?"
tanya Amelia.
Ryahan mengangguk.
"Hari ini ada rapat pembangunan desa."
Amelia tersenyum.
"Pak Burhan pasti sudah menunggu."
Ryahan menatap istrinya dengan penuh syukur.
"Tiga tahun..."
"Rasanya seperti baru kemarin kita kembali dari Kuala Kapuas."
Amelia menggenggam tangannya.
"Dan ternyata..."
"...penantian panjang itu benar-benar membawa kita pulang."
Pak Burhan masih menjabat sebagai tokoh masyarakat yang dihormati.
Usianya memang semakin senja.
Namun semangatnya tidak pernah berkurang.
Beliau sering berkata kepada para pemuda,
"Kalau ingin desa maju..."
"...jangan hanya membangun jalannya."
"Bangun juga hati manusianya."
Kalimat itu kemudian menjadi pegangan generasi muda Desa Sumber Waras.
Niko kini dipercaya memimpin organisasi kepemudaan desa.
Bersama para pemuda, ia mengembangkan berbagai kegiatan sosial, olahraga, dan pelatihan kewirausahaan.
Naryo berhasil membentuk koperasi pertanian yang mampu meningkatkan kesejahteraan para petani.
Anita mewujudkan mimpinya menjadi guru.
Setiap hari ia mengajar anak-anak dengan penuh kesabaran.
Di sela-sela pelajaran, ia selalu berpesan,
"Kejujuran adalah ilmu pertama yang harus kalian pelajari."
Liana menjadi pendamping masyarakat.
Ia aktif mendampingi perempuan dan anak-anak agar berani bermimpi setinggi mungkin tanpa melupakan akar budaya desa.
Desa Sumber Waras benar-benar berubah.
Bukan karena bangunan yang megah.
Melainkan karena masyarakatnya belajar dari masa lalu.
Di Kota Kuala Kapuas...
Sungai Kapuas masih mengalir tenang seperti tiga tahun lalu.
Setiap beberapa bulan sekali, Ryahan dan Amelia selalu datang ke kota itu.
Bukan lagi untuk menyelesaikan konflik.
Melainkan untuk mengenang perjalanan hidup mereka.
Sore itu mereka berjalan menyusuri tepian Sungai Kapuas bersama putra kecil mereka.
Anak itu berlari mengejar burung-burung kecil yang hinggap di taman.
Tawanya memecah keheningan senja.
Ryahan dan Amelia saling berpandangan.
"Apa yang kamu ingat setiap datang ke sini?"
tanya Amelia.
Ryahan memandang aliran Sungai Kapuas.
"Aku ingat..."
"...aku pernah datang ke kota ini dengan hati yang penuh luka."
"Lalu pulang membawa harapan."
Amelia tersenyum.
"Kalau aku..."
"...aku selalu ingat hari ketika akhirnya kita menemukan kebenaran."
Ryahan mengangguk.
"Tepian sungai ini bukan lagi saksi kesedihan."
"Tetapi saksi bahwa pengampunan selalu lebih kuat daripada kebencian."
Tak jauh dari sana, sebuah mobil berhenti.
Seorang lelaki turun dengan langkah perlahan.
Tubuhnya tampak lebih kurus.
Wajahnya lebih dewasa.
Tatapannya lebih tenang.
Indra.
Setelah menjalani hukuman dan menunjukkan perubahan sikap selama masa pembinaan, ia memperoleh kesempatan untuk kembali menjalani hidupnya sebagai bagian dari masyarakat.
Ia tidak datang untuk meminta simpati.
Ia hanya ingin menepati janjinya kepada dirinya sendiri.
Memulai hidup yang baru.
Ketika pandangannya bertemu dengan Ryahan, langkahnya sempat terhenti.
Ryahan tersenyum lebih dulu.
"Bagaimana kabarmu?"
Indra menundukkan kepala.
"Lebih baik."
"Dan..."
"...aku masih belajar memaafkan diriku sendiri."
Ryahan mengulurkan tangan.
"Semua orang berhak memperbaiki hidupnya."
Indra menerima uluran tangan itu.
Tidak ada lagi rasa iri.
Tidak ada lagi kebencian.
Yang tersisa hanyalah dua manusia yang sama-sama belajar menjadi lebih baik.
Amelia ikut tersenyum.
"Semoga jalanmu juga menemukan mentarinya."
Indra mengangguk pelan.
"Terima kasih."
Lalu ia melanjutkan langkahnya menyusuri tepian Sungai Kapuas.
Bukan untuk melarikan diri.
Tetapi untuk menata kembali masa depannya.
Mentari mulai tenggelam.
Langit Kuala Kapuas kembali dihiasi warna jingga yang indah.
Putra kecil Ryahan berlari sambil menunjuk ke arah matahari.
"Ayah..."
"Lihat..."
"Mentarinya cantik sekali."
Ryahan mengangkat anaknya ke dalam pelukan.
"Iya."
"Mentari memang selalu indah."
Anak kecil itu kembali bertanya,
"Apakah mentari akan hilang?"
Ryahan tersenyum.
"Tidak."
"Ia hanya pergi sebentar."
"Besok pagi..."
"...ia akan kembali."
Amelia memandang suami dan anaknya.
Air matanya menetes.
Bukan karena sedih.
Melainkan karena bahagia.
Ia akhirnya memahami bahwa kebahagiaan bukanlah hidup tanpa luka.
Kebahagiaan adalah ketika luka itu tidak lagi menghalangi seseorang untuk mencintai.
Ryahan menggenggam tangan Amelia.
Mereka bertiga memandang matahari yang perlahan tenggelam di balik cakrawala.
Di hadapan mereka, Sungai Kapuas terus mengalir menuju laut.
Mengajarkan bahwa hidup akan terus berjalan.
Bahwa waktu tidak pernah kembali.
Namun harapan...
selalu menemukan jalannya.
Dan di ujung setiap perjalanan...
akan selalu ada rumah yang menunggu.
Akan selalu ada tangan yang siap menggenggam.
Akan selalu ada hati yang memilih untuk memaafkan.
Serta akan selalu ada mentari...
yang setia terbit di ujung rindu.
SELESAI
Anang
30 Januari 2025 19:28:34
Lanjutkan mas... Semoga website desa pian semakin maju...