BUKU IV
LANGIT BIRU PULANG KE DESA
Roman Epik tentang Pengabdian, Cinta, dan Cahaya yang Menyala dari Ujung Negeri
Oleh: Slamet Riyadi
DISCLAIMER
Novel ini adalah karya fiksi. Seluruh tokoh, nama tempat, peristiwa, dialog, lembaga, dan konflik yang terdapat di dalam cerita ini merupakan hasil imajinasi penulis.
Kesamaan nama, tempat, kejadian, atau latar dengan kehidupan nyata tidak dimaksudkan sebagai gambaran langsung terhadap pihak tertentu.
Novel ini mengangkat semangat pendidikan, literasi, persahabatan, pengabdian, gotong royong, perlindungan lingkungan, serta perjuangan masyarakat desa dalam menjaga masa depan generasi muda.
PROLOG
Pohon Beringin yang Masih Menunggu
Pohon beringin tua itu masih berdiri di halaman SD Wanasari.
Akarnya menjulur ke tanah yang mulai mengeras karena musim kemarau panjang. Daun-daunnya tetap bergoyang setiap kali angin dari arah sungai datang, meskipun angin itu tidak lagi membawa bau air yang jernih seperti dahulu.
Di bawah pohon itulah, sebuah papan kayu tua masih tergantung di dinding sekolah.
Tulisan di atasnya mulai pudar dimakan hujan dan panas:
LANGIT BIRU
MIMPI ANAK DESA TIDAK PERNAH TERLALU TINGGI
Beberapa huruf pada kata mimpi mulai mengelupas.
Namun, kalimat itu masih bisa dibaca.
Setiap pagi, anak-anak SD Wanasari melewati papan itu sebelum masuk kelas. Sebagian dari mereka tidak benar-benar memahami maknanya. Mereka hanya tahu bahwa tulisan itu sudah ada sejak kakak-kakak mereka masih sekolah.
Mereka tahu bahwa dahulu ada empat anak muda dari desa itu yang sering berkumpul di bawah pohon beringin.
Rantaka.
Liris.
Banyu.
Jagra.
Mereka juga tahu bahwa dahulu ada sebuah gerobak buku berwarna biru yang datang ke halaman sekolah setiap sore.
Gerobak itu membawa buku cerita, buku pelajaran, pensil, kertas, dan harapan.
Namun, waktu telah berjalan.
Anak-anak yang dulu duduk di bawah pohon beringin kini telah tumbuh dewasa.
Rantaka telah menjadi guru.
Setelah bertahun-tahun belajar dan berjuang, ia akhirnya kembali ke Wanasari dengan membawa ijazah keguruan, beberapa buku baru, dan keyakinan bahwa pendidikan tidak boleh hanya menjadi milik anak-anak kota.
Liris menjadi penulis dan pegiat literasi.
Ia telah menulis banyak cerita tentang desa, tentang anak-anak yang belajar dengan lampu minyak, tentang ibu-ibu yang menyimpan mimpi anaknya di balik dapur sederhana, dan tentang jalan tanah yang selalu menjadi saksi perjalanan pulang.
Banyu menjadi pencipta alat pertanian dan perikanan sederhana.
Tangannya yang dahulu terluka di bengkel kini lebih sering memegang besi, pipa, roda, dan rancangan alat yang ia buat dari bahan seadanya. Ia percaya bahwa teknologi tidak selalu harus mahal untuk membantu warga desa.
Jagra menjadi penggerak usaha perikanan dan ekonomi warga.
Ia membangun kembali kolam-kolam yang pernah rusak karena banjir. Ia mengajak pemuda desa belajar bekerja bersama, membentuk kelompok usaha, dan percaya bahwa tinggal di desa bukan berarti tidak memiliki masa depan.
Mereka telah pulang.
Namun, Desa Wanasari tidak lagi sama seperti yang mereka tinggalkan.
Banyak rumah baru berdiri di pinggir jalan.
Beberapa kebun berubah menjadi tanah kosong.
Sebagian lahan pertanian dijual kepada orang luar.
Anak-anak muda semakin banyak pergi merantau ke kota. Ada yang bekerja di pabrik, ada yang menjadi buruh bangunan, ada yang tidak pernah lagi kembali kecuali saat hari raya.
Sungai Wanasari, yang dahulu menjadi tempat anak-anak bermain dan warga mencari ikan, kini tidak lagi sejernih dulu.
Di beberapa bagian, airnya berwarna keruh.
Bau aneh kadang muncul ketika sore hari.
Ikan-ikan kecil semakin jarang terlihat.
Di sekolah, jumlah guru semakin sedikit.
Dua guru pindah ke kecamatan. Satu guru memasuki masa pensiun. Kelas-kelas yang dulu penuh suara belajar kini sering digabung karena kekurangan tenaga pengajar.
Perpustakaan desa pun hampir tidak aktif.
Gerobak Buku Langit Biru masih ada, tetapi lebih sering tersimpan di gudang balai desa. Rodanya berdebu. Rak-raknya mulai kosong. Beberapa buku rusak karena lembap dan tidak pernah dibuka.
Rantaka berdiri di bawah pohon beringin pada suatu sore.
Ia baru satu minggu kembali menjadi guru di SD Wanasari.
Di tangannya, ia membawa beberapa buku bacaan untuk murid-muridnya. Ia memandang papan kayu tua yang tergantung di dinding sekolah.
Tulisan itu masih ada.
Namun, ia merasa seperti sedang membaca sebuah pertanyaan.
Apakah mimpi anak desa masih boleh setinggi langit?
Apakah anak-anak Wanasari masih memiliki tempat untuk belajar?
Apakah mereka masih memiliki sungai yang bisa dijaga?
Apakah mereka masih memiliki tanah untuk ditanami?
Atau semuanya akan perlahan hilang karena orang-orang dewasa terlalu sibuk bertahan hidup?
“Pak Guru.”
Suara seorang anak membuat Rantaka menoleh.
Seorang murid laki-laki berdiri di dekatnya. Namanya Raka. Ia murid kelas lima. Seragamnya sedikit kebesaran. Sepatunya sudah mulai robek di bagian depan.
“Kenapa, Raka?” tanya Rantaka.
Anak itu menunjuk papan kayu di dinding.
“Langit Biru itu apa, Pak?”
Rantaka memandang tulisan itu cukup lama.
Ia teringat masa kecilnya.
Ia teringat buku lusuh yang pernah ia bawa ke bawah pohon beringin.
Ia teringat Liris yang menulis puisi pertama.
Ia teringat Banyu yang selalu membongkar benda rusak.
Ia teringat Jagra yang pernah merasa tinggal di desa berarti kalah dari orang-orang yang pergi.
“Langit Biru,” jawab Rantaka perlahan, “adalah nama sebuah harapan.”
“Harapan apa, Pak?”
“Harapan supaya anak-anak desa tetap bisa belajar, tetap bisa punya cita-cita, dan tidak takut bermimpi.”
Raka menatapnya dengan wajah serius.
“Kalau saya ingin jadi dokter, boleh, Pak?”
Rantaka tersenyum.
“Boleh.”
“Walaupun saya tinggal di Wanasari?”
“Justru karena kamu tinggal di Wanasari.”
Raka tampak berpikir.
Kemudian ia berkata, “Kalau begitu, saya mau belajar sungguh-sungguh.”
Rantaka mengangguk.
“Pak Guru akan membantu.”
Anak itu berlari kembali ke arah teman-temannya.
Rantaka memandang langkah kecilnya sampai menghilang di balik halaman sekolah.
Namun, senyumnya perlahan memudar ketika ia melihat sebuah mobil hitam berhenti di dekat jalan desa.
Dua orang laki-laki turun dari mobil itu.
Mereka mengenakan pakaian rapi. Salah seorang membawa map tebal. Yang lain memegang telepon genggam sambil memotret area kebun dan tanah kosong di sekitar sekolah.
Di belakang mereka, seorang warga berjalan dengan wajah ragu.
Rantaka mengenal warga itu.
Pak Darma.
Pemilik salah satu kebun terbesar di Wanasari.
Beberapa hari sebelumnya, Rantaka mendengar kabar bahwa ada perusahaan luar yang ingin membeli lahan di sekitar desa.
Katanya, perusahaan itu akan membuka usaha besar.
Katanya, akan ada lapangan kerja.
Katanya, warga akan mendapat uang yang cukup untuk memperbaiki rumah, membeli kendaraan, dan menyekolahkan anak-anak.
Namun, ada juga kabar lain.
Lahan yang ingin dibeli berada dekat sumber air.
Dekat sungai.
Dekat kebun warga.
Dekat jalan menuju sekolah.
Rantaka memandang dua orang itu dari kejauhan.
Di bawah pohon beringin tua, ia merasakan sesuatu yang tidak nyaman tumbuh di dalam dadanya.
Ia baru saja pulang.
Ia baru saja mulai mengajar.
Namun, ia tahu bahwa Desa Wanasari sedang berada di ambang perubahan besar.
Perubahan yang mungkin membawa kemajuan.
Atau justru membawa kehilangan.
Sore itu, angin dari arah sungai bertiup lebih kencang.
Daun-daun beringin berguguran di halaman sekolah.
Rantaka memungut satu daun yang jatuh di dekat kakinya.
Ia menggenggamnya perlahan.
Kemudian ia menatap kembali tulisan di papan kayu tua.
LANGIT BIRU
MIMPI ANAK DESA TIDAK PERNAH TERLALU TINGGI
Rantaka tahu, kali ini mereka tidak hanya harus menjaga sebuah gerobak buku.
Mereka harus menjaga sekolah.
Menjaga sungai.
Menjaga tanah.
Menjaga anak-anak yang masih percaya bahwa masa depan dapat tumbuh dari desa.
Dan untuk itu, Langit Biru harus kembali menyala.
BAB 1
GURU YANG PULANG MEMBAWA BUKU
Pagi pertama Rantaka mengajar di SD Wanasari dimulai sebelum matahari benar-benar muncul.
Langit masih berwarna kelabu muda ketika ia membuka jendela rumah ibunya. Udara pagi membawa aroma tanah basah dari kebun belakang. Dari kejauhan, suara ayam jantan bersahutan, disusul bunyi lesung dari rumah tetangga yang mulai menumbuk padi.
Rantaka berdiri cukup lama di depan jendela.
Di atas kursi kayu dekat tempat tidurnya, tergantung kemeja putih yang sudah ia setrika sejak malam. Di sampingnya, celana hitam tergantung rapi. Di atas meja kecil, sebuah tas berwarna cokelat terbuka.
Tas itu berisi buku-buku.
Ada buku cerita rakyat.
Ada buku pengetahuan sederhana tentang tumbuhan dan hewan.
Ada buku latihan membaca.
Ada beberapa buku tulis, pensil, penghapus, dan penggaris.
Sebagian buku ia beli dari uang tabungannya selama bekerja dan belajar di kota. Sebagian lagi adalah pemberian dari teman-teman kuliahnya yang mengetahui bahwa ia ingin kembali mengajar di desa.
Buku-buku itu tidak banyak.
Namun, bagi Rantaka, buku-buku itu seperti membawa pulang sebagian dari perjalanan panjangnya.
Ia mengangkat salah satu buku cerita bergambar.
Sampulnya bergambar anak-anak yang membaca di bawah pohon besar.
Rantaka tersenyum kecil.
Pohon beringin.
Gerobak Buku Langit Biru.
Liris.
Banyu.
Jagra.
Nama-nama itu kembali hadir dalam pikirannya.
Mereka semua pernah berjanji untuk pulang membawa cahaya ke desa.
Kini, ia benar-benar pulang.
Namun, semakin dekat ia pada kenyataan Desa Wanasari, semakin ia memahami bahwa pulang bukan berarti perjuangan telah selesai.
Pulang justru berarti memulai perjuangan yang lebih besar.
“Rantaka.”
Suara ibunya terdengar dari dapur.
“Sudah siap?”
“Sudah, Bu.”
Rantaka memasukkan buku terakhir ke dalam tas. Ia lalu mengenakan kemeja putih dan merapikan kerahnya di depan cermin kecil.
Wajahnya tampak lebih dewasa daripada beberapa tahun lalu.
Ada garis-garis lelah yang tidak ia miliki ketika masih remaja. Ada pengalaman yang tidak selalu bisa ia ceritakan kepada siapa pun. Ada kegagalan, ketakutan, dan kesepian yang pernah ia bawa dari kota.
Namun, di balik semuanya, ada keyakinan yang kini lebih kuat.
Ia ingin menjadi guru.
Ia ingin mengajar anak-anak desa.
Ia ingin membuat mereka percaya bahwa sekolah bukan sekadar bangunan dengan papan tulis dan meja kayu.
Sekolah adalah pintu.
Dan setiap anak berhak mendapat kesempatan untuk membuka pintu itu.
Di dapur, ibunya sudah menyiapkan nasi hangat, telur dadar, dan sambal terasi.
“Kau makan dulu,” kata ibunya.
“Nanti terlambat, Bu.”
“Guru yang baik tidak boleh berangkat dengan perut kosong.”
Rantaka duduk.
Ibunya memperhatikannya dengan mata yang hangat.
“Dulu kau berangkat sekolah membawa buku lusuh,” katanya. “Sekarang kau pergi mengajar membawa buku untuk anak-anak lain.”
Rantaka tersenyum.
“Buku-bukunya belum banyak.”
“Tidak apa-apa. Yang penting niatmu banyak.”
Kalimat itu membuat Rantaka terdiam sejenak.
Ia menunduk dan melanjutkan makan.
Setelah selesai, ia mencium tangan ibunya.
“Doakan saya, Bu.”
Ibunya mengusap kepala Rantaka.
“Ibu selalu mendoakanmu. Jangan hanya mengajar anak-anak membaca buku. Ajari mereka percaya pada diri sendiri.”
Rantaka mengangguk.
Ia mengambil tasnya.
Kemudian ia melangkah keluar rumah.
Jalan menuju SD Wanasari masih sama seperti yang ia ingat.
Sebagian masih berupa tanah yang mengeras ketika kemarau dan berubah licin ketika hujan. Di beberapa titik, batu-batu kecil menonjol dari permukaan jalan. Rumah-rumah kayu berdiri di kanan kiri, sebagian sudah dicat baru, sebagian lain masih tampak tua dan sederhana.
Namun, ada hal-hal yang berbeda.
Di dekat kebun Pak Darma, beberapa patok kayu baru berdiri berjajar.
Pada patok itu terdapat tanda cat merah.
Rantaka berhenti sejenak.
Ia memandang patok-patok tersebut.
Beberapa hari terakhir, warga memang mulai membicarakan orang-orang dari perusahaan luar yang datang ke desa. Mereka mengukur tanah, memotret kebun, dan bertemu dengan sejumlah pemilik lahan.
Tidak semua warga tahu tujuan mereka.
Sebagian berkata perusahaan itu akan membuka perkebunan.
Sebagian lain berkata akan dibangun tempat pengolahan hasil bumi.
Ada juga yang mengatakan bahwa perusahaan ingin membeli tanah untuk proyek besar yang belum jelas bentuknya.
Namun, satu hal yang pasti.
Mereka menawarkan uang.
Dan bagi warga yang selama ini hidup dengan hasil kebun yang tidak menentu, uang sering kali terdengar seperti jawaban paling cepat.
Rantaka melanjutkan perjalanan.
Ketika mendekati sekolah, ia mendengar suara anak-anak.
Beberapa murid berlari di halaman sambil membawa tas. Sebagian duduk di teras kelas. Ada yang masih mengenakan sandal jepit karena sepatu mereka rusak. Ada pula yang datang dengan seragam yang warnanya mulai pudar.
Rantaka menatap mereka satu per satu.
Ia melihat dirinya sendiri di wajah-wajah itu.
Anak-anak yang datang ke sekolah dengan harapan sederhana.
Anak-anak yang belum tahu bahwa hidup bisa menjadi sangat sulit.
Anak-anak yang masih percaya bahwa guru memiliki jawaban untuk semua pertanyaan.
Di depan ruang guru, Bu Laras sudah menunggu.
Rambutnya kini lebih banyak berwarna putih. Wajahnya tampak sedikit lelah, tetapi senyumnya tetap sama seperti yang Rantaka ingat.
“Selamat datang, Pak Guru Rantaka,” katanya.
Rantaka segera menyalami tangan Bu Laras.
“Jangan panggil saya begitu, Bu. Saya masih belajar.”
“Semua guru memang selalu belajar,” jawab Bu Laras. “Tetapi hari ini kamu sudah datang bukan sebagai murid.”
Rantaka tersenyum.
Bu Laras memandang tas besar di pundaknya.
“Bawa apa?”
“Buku-buku untuk anak-anak.”
“Buku lagi,” kata Bu Laras sambil tersenyum. “Dari dulu kamu memang tidak jauh dari buku.”
Mereka masuk ke ruang guru.
Ruangan itu tidak banyak berubah. Meja-meja kayu masih berdiri di tempat yang sama. Lemari tua di sudut ruangan masih menyimpan tumpukan arsip. Kipas angin kecil di atas meja hanya berputar pelan, seolah bekerja dengan tenaga yang tersisa.
Namun, beberapa kursi tampak kosong.
Bu Laras mengikuti arah pandang Rantaka.
“Pak Joko pindah ke kecamatan bulan lalu,” katanya. “Bu Murni sedang cuti karena sakit. Pak Hasan sudah pensiun.”
“Jadi tinggal berapa guru?”
“Termasuk kamu, lima orang.”
Rantaka terdiam.
Untuk sebuah sekolah dengan enam kelas, lima guru jelas tidak cukup.
“Bagaimana pembagian kelasnya, Bu?”
“Untuk sementara, kamu pegang kelas lima. Tetapi nanti kamu mungkin perlu membantu kelas enam juga.”
“Baik, Bu.”
“Anak-anak kelas lima cukup beragam,” kata Bu Laras. “Ada yang rajin. Ada yang cepat menangkap pelajaran. Ada juga yang sering tidak masuk karena membantu orang tua di kebun.”
Rantaka mengangguk.
Bu Laras melanjutkan, “Ada beberapa anak yang hampir berhenti sekolah. Orang tua mereka ingin membawa mereka ikut merantau. Ada juga yang mulai diminta membantu di kebun karena hasil panen sedang tidak bagus.”
Rantaka merasakan dadanya mengencang.
Ia baru datang.
Namun, persoalan sudah berdiri di hadapannya.
Bukan hanya kekurangan buku.
Bukan hanya kekurangan guru.
Tetapi kekurangan keyakinan bahwa pendidikan masih penting ketika kehidupan sehari-hari terasa semakin berat.
Bel sekolah berbunyi.
Anak-anak mulai masuk kelas.
Bu Laras menepuk bahu Rantaka.
“Sudah waktunya, Pak Guru.”
Rantaka mengangguk.
Ia mengangkat tasnya.
Lalu berjalan menuju kelas lima.
Kelas lima SD Wanasari berada di ujung bangunan sekolah.
Dindingnya terbuat dari papan yang mulai kusam. Beberapa bagian lantai kayu berbunyi ketika diinjak. Jendela di sisi kiri kelas tidak bisa tertutup rapat, sehingga angin pagi masuk bersama debu dari halaman.
Ketika Rantaka masuk, anak-anak langsung berdiri.
“Selamat pagi, Pak Guru!”
Suara mereka tidak serempak, tetapi cukup keras.
“Selamat pagi,” jawab Rantaka.
Ia berdiri di depan kelas.
Dua puluh tiga pasang mata memandangnya.
Ada mata yang penuh rasa ingin tahu.
Ada mata yang tampak malu-malu.
Ada mata yang masih mengantuk.
Ada pula mata yang terlihat seperti sedang menyimpan masalah.
Rantaka menulis namanya di papan tulis.
RANTAKA PRADANA
Kemudian ia berbalik.
“Nama saya Pak Rantaka. Mulai hari ini, saya akan belajar bersama kalian.”
Seorang anak laki-laki di bangku depan mengangkat tangan.
“Pak, Bapak guru baru?”
“Iya.”
“Bapak dari kota?”
Rantaka tersenyum.
“Saya pernah belajar di kota. Tapi saya lahir di Desa Wanasari.”
Beberapa anak mulai berbisik.
“Pak Guru dulu sekolah di sini?” tanya seorang anak perempuan.
“Iya.”
“Dulu Bapak duduk di kelas ini juga?”
“Dulu kelasnya belum seperti ini,” jawab Rantaka. “Tapi saya juga pernah duduk di bangku kayu seperti kalian.”
Anak-anak tampak semakin tertarik.
Rantaka meletakkan tasnya di atas meja.
Kemudian ia mengeluarkan beberapa buku cerita.
“Siapa yang suka membaca?”
Beberapa tangan terangkat.
Tidak banyak.
Rantaka tidak kecewa.
“Siapa yang ingin bisa membaca lebih lancar?”
Kali ini, hampir semua tangan terangkat.
“Siapa yang punya cita-cita?”
Anak-anak saling memandang.
Seorang anak perempuan di pojok kelas mengangkat tangan pelan.
“Saya mau jadi perawat, Pak.”
“Bagus. Siapa lagi?”
“Saya mau jadi polisi.”
“Saya mau jadi guru.”
“Saya mau jadi pemain bola.”
“Saya mau jadi petani yang punya kebun besar.”
Jawaban terakhir datang dari seorang anak laki-laki yang duduk di bangku paling belakang.
Namanya Raka.
Rantaka mengenalnya sebagai anak yang bertanya tentang Langit Biru di bawah pohon beringin beberapa hari sebelumnya.
“Petani yang punya kebun besar?” tanya Rantaka.
Raka mengangguk.
“Biar ibu tidak capek lagi, Pak.”
Kelas mendadak hening.
Rantaka memandang Raka.
Ia melihat kesungguhan dalam mata anak itu.
“Cita-cita itu baik,” kata Rantaka. “Tidak ada cita-cita yang kecil selama kalian mau belajar dan berusaha.”
Ia mengangkat sebuah buku cerita.
“Mulai hari ini, setiap minggu kita akan membaca satu cerita. Setelah itu, kita akan menulis apa yang kita pelajari dari cerita tersebut.”
“Menulis?” tanya seorang murid.
“Iya.”
“Kalau tulisan saya jelek bagaimana, Pak?”
“Tidak apa-apa. Tulisan bisa diperbaiki. Yang penting kalian berani mulai.”
Pelajaran pertama pagi itu tidak langsung membahas rumus atau hafalan.
Rantaka membacakan sebuah cerita tentang anak desa yang menemukan cara membantu orang tuanya melalui ilmu yang ia pelajari di sekolah.
Anak-anak mendengarkan.
Beberapa duduk lebih tegak.
Beberapa tersenyum ketika mendengar bagian lucu.
Ketika cerita selesai, Rantaka bertanya, “Menurut kalian, apa yang membuat anak itu bisa membantu keluarganya?”
“Karena dia pintar,” jawab seorang murid.
“Karena dia sekolah,” jawab yang lain.
“Karena dia tidak menyerah,” kata Raka.
Rantaka tersenyum.
“Benar. Karena dia belajar dan tidak menyerah.”
Di luar kelas, angin bertiup pelan.
Daun-daun beringin bergerak di halaman sekolah.
Untuk beberapa saat, Rantaka merasa bahwa ruang kelas sederhana itu menjadi tempat yang sangat besar.
Di dalamnya, ada dua puluh tiga anak.
Ada dua puluh tiga kemungkinan.
Ada dua puluh tiga masa depan yang tidak boleh dibiarkan padam.
Saat jam istirahat, Rantaka membawa beberapa buku ke perpustakaan sekolah.
Ruangan itu berada di belakang kelas enam.
Pintunya terbuka, tetapi bagian dalamnya tampak gelap dan berdebu.
Rak-rak buku berdiri miring. Sebagian buku sudah kusam. Ada halaman yang menguning. Ada sampul yang robek. Di sudut ruangan, beberapa kardus berisi buku lama dibiarkan menumpuk.
Rantaka meletakkan tasnya di atas meja.
Ia membuka salah satu kardus.
Di dalamnya, ia menemukan beberapa buku cerita anak, buku pelajaran lama, dan majalah yang sudah bertahun-tahun tidak dibaca.
Di bawah tumpukan itu, ia menemukan sebuah papan kecil.
Cat birunya sudah memudar.
Namun, ia masih bisa membaca tulisan di atasnya.
GEROBAK BUKU LANGIT BIRU
Rantaka memegang papan itu cukup lama.
Dadanya terasa hangat sekaligus sedih.
Gerobak Buku Langit Biru pernah menjadi pusat kegiatan anak-anak desa. Di sana mereka membaca, menulis, belajar, dan bercerita.
Kini, papan namanya tersimpan di dalam kardus.
Seolah harapan itu pernah disimpan bersama debu.
“Masih ada?”
Suara dari pintu membuat Rantaka menoleh.
Liris berdiri di sana.
Ia mengenakan kemeja panjang sederhana dan membawa tas kain di bahunya. Rambutnya diikat rapi. Di tangannya, ia membawa beberapa buku dan sebuah map.
Rantaka tersenyum.
“Masih ada.”
Liris masuk perlahan.
Ia memandang papan kayu itu.
“Dulu kita mengecatnya sampai tangan kita biru semua.”
“Kau masih ingat?”
“Aku ingat semuanya.”
Rantaka menatapnya.
Ada banyak hal yang ingin ia katakan.
Tentang surat-surat mereka.
Tentang masa remaja yang penuh salah paham.
Tentang kota yang pernah membuat mereka berjauhan.
Tentang perasaan yang tumbuh pelan, lalu mereka simpan karena masing-masing sedang berjuang.
Namun, di antara mereka, kata-kata selalu membutuhkan waktu untuk lahir.
“Aku dengar kau mulai mengajar hari ini,” kata Liris.
“Iya. Kelas lima.”
“Bagaimana anak-anaknya?”
“Mereka punya banyak cita-cita. Tapi beberapa di antaranya hampir berhenti sekolah.”
Liris menghela napas.
“Aku juga mendengar itu. Banyak orang tua merasa sekolah terlalu lama hasilnya.”
“Padahal kalau anak-anak berhenti sekolah, pilihan mereka akan semakin sedikit.”
Liris mengangguk.
Ia meletakkan buku-buku yang dibawanya di atas meja.
“Aku membawa beberapa buku dari komunitas literasi. Tidak banyak. Tapi mungkin bisa membantu.”
Rantaka memandang buku-buku itu.
“Aku juga membawa buku.”
“Berarti kita mulai lagi dari yang sedikit.”
Rantaka tersenyum.
“Seperti dulu.”
Liris memandang papan Gerobak Buku Langit Biru.
“Tidak persis seperti dulu.”
“Kenapa?”
“Dulu kita hanya ingin anak-anak punya buku. Sekarang kita harus membuat mereka tetap punya alasan untuk sekolah.”
Kalimat itu membuat Rantaka terdiam.
Liris benar.
Perjuangan kali ini lebih besar.
Buku saja tidak cukup.
Mereka harus menghadapi kemiskinan, kekurangan guru, anak-anak yang terancam putus sekolah, dan warga yang mulai kehilangan kepercayaan pada masa depan desa.
“Gerobak Buku harus hidup lagi,” kata Rantaka.
Liris mengangguk.
“Dan perpustakaan ini juga.”
“Kau mau membantu?”
Liris menatapnya.
“Langit Biru bukan hanya milikmu, Rantaka.”
Rantaka tersenyum.
“Bukan. Langit Biru milik kita.”
Sore hari, setelah anak-anak pulang, Rantaka berjalan ke arah sungai.
Ia ingin melihat tempat yang dahulu menjadi bagian dari masa kecil mereka.
Namun, ketika sampai di tepian sungai, ia berhenti.
Air Sungai Wanasari tampak keruh.
Di beberapa bagian, terdapat sampah plastik yang tersangkut di akar-akar pohon. Bau lumpur bercampur sesuatu yang asing tercium dari arah hilir.
Seorang warga sedang mencuci jaring ikan di dekat tepian.
Rantaka mengenalnya sebagai Pak Jaya.
“Pak Jaya,” sapa Rantaka.
Pak Jaya menoleh.
“Oh, Pak Guru baru.”
“Air sungainya kenapa keruh sekali?”
Pak Jaya menghela napas.
“Sudah beberapa bulan begini. Kadang-kadang lebih parah kalau hujan turun.”
“Dari mana asalnya?”
“Entahlah. Ada yang bilang dari arah kebun atas. Ada yang bilang dari saluran dekat jalan baru.”
Rantaka memandang aliran sungai.
“Masih banyak ikan?”
Pak Jaya menggeleng.
“Tidak seperti dulu. Anak-anak sekarang jarang bisa menangkap ikan kecil di pinggir sungai.”
Rantaka teringat masa kecilnya.
Sungai itu dahulu menjadi tempat mereka bermain, mencuci kaki setelah pulang dari kebun, dan mencari ikan kecil dengan jaring sederhana.
Kini, sungai itu seperti sedang sakit.
Dan desa yang kehilangan sungainya akan kehilangan lebih dari sekadar air.
Desa akan kehilangan sumber kehidupan.
“Pak Rantaka.”
Suara seseorang dari belakang membuatnya menoleh.
Banyu berdiri beberapa langkah di belakangnya.
Ia mengenakan baju kerja yang bagian lengannya sedikit terkena noda oli. Di tangannya, ia membawa sebuah kotak perkakas kecil.
“Kau sudah pulang,” kata Rantaka.
“Sudah beberapa hari,” jawab Banyu. “Tapi kau baru datang ke bengkelku sekarang.”
“Aku baru mulai mengajar.”
Banyu memandang sungai.
“Kau lihat sendiri, kan?”
Rantaka mengangguk.
“Airnya semakin buruk.”
“Kalau dibiarkan, kolam ikan warga juga akan kena dampaknya.”
“Apakah sudah ada yang membicarakan ini?”
“Sudah. Tapi orang-orang lebih sibuk membicarakan perusahaan yang mau masuk.”
Rantaka menoleh.
“Kau tahu soal itu?”
Banyu mengangguk.
“Mereka ingin lahan dekat sungai dan kebun-kebun warga. Katanya mau membuka usaha besar. Katanya juga mau membuat jalan baru.”
“Kalau dekat sungai, dampaknya bisa besar.”
“Itu yang aku pikirkan,” kata Banyu. “Tapi tidak semua orang mau mendengar. Banyak yang sedang butuh uang.”
Rantaka memandang aliran air yang keruh.
Di belakangnya, langit sore mulai berubah warna.
Ia merasa seperti sedang berdiri di depan sebuah persoalan yang jauh lebih besar daripada yang ia bayangkan.
Sekolah kekurangan guru.
Anak-anak terancam putus sekolah.
Perpustakaan hampir mati.
Sungai tercemar.
Dan kini, lahan desa mungkin akan berpindah tangan.
Namun, Rantaka tidak merasa sendiri.
Liris telah datang membawa buku.
Banyu telah datang membawa kepedulian.
Jagra pasti juga akan kembali dengan perjuangannya di kolam ikan.
Langit Biru mungkin sempat redup.
Tetapi belum padam.
Rantaka menggenggam papan kecil bertuliskan Gerobak Buku Langit Biru yang masih ia bawa dari perpustakaan.
Ia memandang Banyu.
“Kita harus mengumpulkan Liris dan Jagra.”
Banyu mengangguk.
“Untuk apa?”
Rantaka menatap Sungai Wanasari.
“Untuk menyalakan Langit Biru lagi.”
Di atas mereka, langit sore terbentang luas.
Biru yang perlahan berubah jingga.
Biru yang sama seperti langit masa kecil mereka.
Biru yang kini memanggil mereka untuk kembali berjuang.
BAB 2
GEROBAK BUKU YANG BERDEBU
Keesokan paginya, sebelum bel sekolah berbunyi, Rantaka sudah berada di ruang perpustakaan SD Wanasari.
Pintu kayu ruangan itu terbuka lebar. Cahaya matahari masuk melalui jendela yang kacanya sebagian retak. Debu terlihat menari-nari di udara setiap kali angin pagi menyusup dari celah dinding papan.
Di atas meja tua, papan kecil bertuliskan Gerobak Buku Langit Biru masih terletak di tempat Rantaka meninggalkannya kemarin.
Ia memandang papan itu cukup lama.
Cat birunya telah pudar.
Di bagian sudut, kayunya mulai mengelupas.
Namun, tulisan itu masih bisa dibaca.
Masih ada.
Seperti harapan yang pernah tertimbun waktu, tetapi belum benar-benar hilang.
Rantaka mengambil kain lap dari dalam tasnya. Ia menuangkan sedikit air ke dalam ember kecil, lalu mulai membersihkan meja, rak, dan tumpukan buku yang selama ini dibiarkan berdebu.
Satu demi satu buku ia angkat.
Ada buku cerita yang sampulnya robek.
Ada buku pelajaran lama yang halamannya sudah menguning.
Ada majalah anak-anak yang terbit bertahun-tahun lalu.
Ada pula buku-buku yang masih cukup baik, tetapi belum pernah disentuh oleh siapa pun dalam waktu lama.
Rantaka menyusun buku-buku itu di atas lantai.
Ia membuat tiga tumpukan.
Buku yang masih bisa digunakan.
Buku yang harus diperbaiki.
Dan buku yang sudah terlalu rusak.
Saat ia sedang merapikan sebuah buku cerita bergambar, suara langkah kaki terdengar dari pintu.
“Kalau kau membersihkan semuanya sendirian, mungkin perpustakaan ini baru selesai tahun depan.”
Rantaka menoleh.
Liris berdiri di ambang pintu sambil membawa dua tas kain besar. Rambutnya diikat sederhana. Di tangannya, ada sapu lidi dan beberapa lembar kain lap.
Rantaka tersenyum.
“Kau datang pagi sekali.”
“Aku takut kau sudah memindahkan semua buku sebelum aku tiba.”
“Aku baru mulai.”
“Bagus. Berarti aku belum terlambat.”
Liris masuk ke ruangan itu dan meletakkan tas kainnya di atas meja.
Dari dalam tas, ia mengeluarkan beberapa buku bacaan anak, buku cerita rakyat, buku puisi sederhana, dan beberapa buku tulis.
“Ini dari komunitas literasi,” katanya. “Tidak banyak, tetapi cukup untuk menambah isi rak.”
Rantaka memandang buku-buku itu.
“Terima kasih.”
“Jangan berterima kasih dulu. Kita belum tahu apakah anak-anak akan mau datang.”
“Mereka akan datang.”
“Kau yakin?”
Rantaka mengangguk.
“Anak-anak selalu ingin tahu. Kadang mereka hanya tidak punya tempat untuk bertanya.”
Liris memandangnya sejenak.
“Kau sudah benar-benar berubah menjadi guru.”
Rantaka tertawa kecil.
“Aku baru dua hari mengajar.”
“Tidak. Maksudku, cara kau melihat anak-anak sudah berubah.”
Rantaka terdiam.
Ia menunduk sambil mengambil sebuah buku yang sampulnya hampir lepas.
“Mungkin karena dulu aku juga anak yang butuh tempat untuk bertanya.”
Liris tidak menjawab.
Ia mengambil sapu lidi dan mulai membersihkan lantai.
Mereka bekerja tanpa banyak bicara.
Namun, kesunyian di antara mereka tidak terasa canggung.
Seperti dulu, ketika mereka duduk di bawah pohon beringin sambil membaca buku masing-masing.
Seperti dulu, ketika Liris menulis puisi di buku catatan hijaunya dan Rantaka mencoba memahami soal matematika.
Waktu telah membawa mereka ke banyak tempat.
Namun, di ruangan perpustakaan kecil itu, mereka kembali menemukan sesuatu yang pernah hampir hilang.
Tujuan yang sama.
Menjelang siang, Bu Laras datang membawa sebuah kunci besar.
“Kalian benar-benar serius?” tanyanya sambil melihat keadaan perpustakaan yang mulai berubah.
Rak-rak buku sudah dibersihkan. Lantai mulai terlihat. Beberapa buku baru tersusun rapi di bagian depan.
“Serius, Bu,” jawab Rantaka.
“Gerobak Buku Langit Biru akan kami hidupkan lagi,” tambah Liris.
Bu Laras memandang papan kecil yang sudah dibersihkan.
Matanya tampak berkaca-kaca.
“Dulu kalian masih anak-anak ketika membuat gerobak itu,” katanya. “Kalian hanya punya beberapa buku dan banyak semangat.”
“Sekarang buku kami masih belum banyak,” kata Rantaka. “Tapi semangatnya masih ada.”
Bu Laras tersenyum.
Ia menyerahkan kunci besar itu kepada Rantaka.
“Ini kunci gudang balai desa. Gerobaknya disimpan di sana.”
Rantaka menerima kunci tersebut.
“Masih ada, Bu?”
“Masih. Tetapi jangan terlalu berharap. Sudah lama tidak dipakai.”
Liris memandang Rantaka.
“Kalau masih ada, berarti bisa diperbaiki.”
Bu Laras mengangguk.
“Setelah pulang sekolah, kalian lihat saja. Kalau perlu bantuan, bilang kepada saya.”
Sore hari, Rantaka dan Liris berjalan menuju balai desa.
Matahari mulai condong ke arah barat. Jalan tanah di depan sekolah tampak lebih ramai daripada biasanya. Beberapa warga duduk di warung kopi sambil berbicara dengan suara pelan.
Ketika Rantaka dan Liris melewati warung itu, percakapan mereka terdengar semakin jelas.
“Katanya harga tanahnya tinggi.”
“Kalau benar, saya mau jual sebagian. Anak saya mau masuk sekolah ke kota.”
“Kalau semua dijual, nanti kita berkebun di mana?”
“Memangnya kebun sekarang hasilnya cukup?”
Rantaka melambatkan langkah.
Di dalam warung, Pak Darma duduk bersama beberapa warga. Di atas meja, terdapat gelas-gelas kopi dan selembar brosur berwarna putih.
Brosur itu memuat gambar bangunan besar, jalan lebar, dan tulisan tentang peluang kerja bagi masyarakat desa.
Pak Darma melihat Rantaka dan Liris.
“Pak Guru,” panggilnya.
Rantaka mendekat.
“Ya, Pak.”
“Sudah dengar soal perusahaan yang mau masuk?”
“Sedikit.”
Pak Darma mengambil brosur itu dan menyerahkannya kepada Rantaka.
“Katanya mereka mau membangun pusat pengolahan hasil pertanian. Akan ada pekerjaan. Akan ada jalan baru. Anak-anak muda tidak perlu jauh-jauh merantau.”
Rantaka membaca brosur itu.
Bahasanya terdengar meyakinkan.
Ada janji lapangan kerja.
Ada janji peningkatan ekonomi.
Ada janji pembangunan.
Namun, tidak ada penjelasan yang benar-benar jelas tentang lahan mana yang akan digunakan, bagaimana dampaknya terhadap sungai, atau apa yang akan terjadi pada kebun warga setelah tanah dijual.
“Apakah sudah ada pertemuan resmi?” tanya Rantaka.
“Belum. Tapi orang perusahaan itu bilang akan ada sosialisasi,” jawab Pak Darma. “Mereka mau bicara dengan warga.”
Seorang warga lain menyahut, “Kalau tanah saya dihargai tinggi, saya jual saja. Sudah terlalu lama hidup susah.”
“Betul,” kata yang lain. “Kalau ada uang, bisa memperbaiki rumah. Bisa beli motor. Bisa menyekolahkan anak.”
Liris yang sejak tadi diam akhirnya berbicara.
“Kalau tanahnya dijual, setelah uangnya habis bagaimana?”
Suasana warung mendadak hening.
Seorang lelaki tua menatap Liris.
“Kau bicara mudah, Liris. Kau punya tulisan, punya kegiatan literasi. Tapi kami ini hidup dari kebun.”
Liris tidak tersinggung.
“Saya tahu, Pak. Justru karena hidup dari kebun, tanah harus dipikirkan baik-baik. Uang bisa habis. Tanah yang dijual belum tentu kembali.”
Pak Darma menghela napas.
“Tidak semua orang punya pilihan, Liris. Ada yang butuh biaya berobat. Ada yang punya anak mau sekolah. Ada yang kebunnya sudah tidak menghasilkan.”
Rantaka memandang wajah-wajah warga di warung itu.
Ia memahami alasan mereka.
Tidak semua orang menjual tanah karena serakah.
Sebagian menjual karena terdesak.
Sebagian menjual karena tidak melihat jalan lain.
Namun, ia juga tahu bahwa keputusan besar tidak boleh dibuat hanya karena janji yang belum jelas.
“Kita tunggu pertemuan resmi,” kata Rantaka akhirnya. “Warga berhak tahu semua rencana, bukan hanya harga tanah dan janji pekerjaan.”
Pak Darma memandangnya.
“Kau memang sudah jadi guru, Rantaka. Selalu bicara soal berpikir panjang.”
“Karena keputusan hari ini akan menentukan hidup anak-anak kita nanti, Pak.”
Tidak ada yang langsung menjawab.
Rantaka mengembalikan brosur itu.
Kemudian ia dan Liris melanjutkan perjalanan menuju balai desa.
Di sepanjang jalan, Liris berjalan diam.
“Pak Darma tidak sepenuhnya salah,” katanya akhirnya.
“Aku tahu.”
“Orang-orang sedang kesulitan. Mereka melihat uang sebagai jalan keluar.”
“Aku juga tahu.”
“Lalu bagaimana?”
Rantaka memandang jalan di depan mereka.
“Kita harus membantu warga melihat semua kemungkinan. Bukan hanya yang terlihat paling cepat.”
Liris mengangguk perlahan.
Namun, wajahnya masih menyimpan kegelisahan.
Gudang balai desa berada di belakang bangunan utama.
Pintunya terbuat dari seng tua. Ketika Rantaka memasukkan kunci besar ke lubang gembok, pintu itu mengeluarkan bunyi berderit panjang.
Bau lembap langsung menyambut mereka.
Di dalam gudang, terdapat kursi-kursi plastik rusak, spanduk kegiatan lama, karung kosong, beberapa peralatan gotong royong, dan tumpukan kardus.
Di sudut paling belakang, tertutup kain terpal abu-abu, berdiri sebuah gerobak.
Rantaka dan Liris saling memandang.
Mereka berjalan mendekat.
Rantaka menarik terpal itu perlahan.
Debu beterbangan.
Di bawahnya, tampak Gerobak Buku Langit Biru.
Gerobak itu masih berbentuk seperti yang mereka ingat.
Rangkanya terbuat dari kayu.
Di sisi kanan, masih ada rak kecil untuk menaruh buku.
Di bagian depan, masih terlihat sisa cat biru.
Namun, roda gerobak tampak kempis dan salah satu sisinya retak. Pegangan kayunya mulai rapuh. Atap kecil dari seng tipis sudah berkarat di beberapa bagian.
Liris menyentuh sisi gerobak.
“Dulu warnanya lebih cerah.”
“Dulu kita juga lebih kecil,” jawab Rantaka.
Liris tersenyum tipis.
“Kau masih suka membuat kalimat seperti itu.”
Rantaka memperhatikan roda gerobak.
“Kalau Banyu melihat ini, dia pasti langsung tahu apa yang harus diperbaiki.”
“Kalau Jagra melihatnya, dia mungkin akan bilang kita perlu tenaga lebih banyak untuk mengeluarkannya.”
“Kalau kita berempat lengkap, mungkin gerobak ini bisa berjalan lagi.”
Liris menatapnya.
“Kita belum lengkap.”
Rantaka mengangguk.
“Banyu sudah pulang. Aku bertemu dengannya di sungai kemarin.”
“Jagra?”
“Belum. Tapi aku dengar dia sedang sibuk di kolam.”
Liris memandang gerobak itu lagi.
“Dulu kita membuat Langit Biru untuk anak-anak.”
“Sekarang juga.”
“Tidak hanya untuk anak-anak, Rantaka.”
Rantaka menoleh.
Liris melanjutkan, “Kalau warga mulai menjual tanah, kalau sungai makin rusak, kalau anak muda terus pergi, anak-anak nanti akan tumbuh di desa yang kehilangan banyak hal.”
Rantaka terdiam.
Kalimat Liris terasa seperti membuka pintu yang lebih besar.
Gerobak Buku memang hanya sebuah gerobak.
Namun, di baliknya ada gagasan.
Bahwa desa harus memiliki tempat belajar.
Bahwa warga harus bisa membaca, memahami, dan memutuskan masa depannya sendiri.
Bahwa pendidikan bukan hanya untuk anak-anak di ruang kelas.
Pendidikan juga untuk orang dewasa yang sedang menghadapi pilihan sulit.
“Kita harus membuat Langit Biru menjadi lebih besar,” kata Rantaka.
“Lebih besar bagaimana?”
“Bukan hanya gerobak buku. Kita buat kelas belajar. Diskusi warga. Pelatihan untuk anak muda. Apa pun yang bisa membuat orang-orang punya pilihan selain menjual tanah.”
Liris memandangnya dengan mata yang mulai menyala.
“Kau sudah memikirkannya?”
“Belum semuanya.”
“Bagus.”
“Bagus?”
“Artinya kita masih bisa memikirkannya bersama.”
Rantaka tersenyum.
Di dalam gudang yang gelap dan berdebu itu, mereka berdiri di depan gerobak tua.
Tidak ada musik.
Tidak ada tepuk tangan.
Tidak ada orang yang tahu bahwa sebuah keputusan besar sedang tumbuh.
Namun, Rantaka merasakan sesuatu yang lama kembali hidup.
Semangat yang dulu membawa mereka membaca di bawah pohon beringin.
Semangat yang membuat mereka percaya bahwa anak-anak desa berhak memiliki mimpi.
Semangat itu kini kembali.
Lebih dewasa.
Lebih berat.
Dan lebih berbahaya, karena kali ini mereka akan berhadapan dengan kepentingan yang lebih besar daripada sekadar kekurangan buku.
Ketika mereka keluar dari gudang, langit sudah mulai gelap.
Di halaman balai desa, beberapa orang berdiri di dekat mobil hitam yang Rantaka lihat kemarin.
Dua laki-laki berpakaian rapi sedang berbicara dengan perangkat desa.
Salah satu dari mereka membawa map tebal.
Yang lain tersenyum sambil membagikan brosur kepada warga.
Di sisi mobil, terdapat tulisan kecil:
- BUMI RAYA MAKMUR
Rantaka berhenti.
Liris berdiri di sampingnya.
Seorang laki-laki dari perusahaan itu menoleh dan melihat mereka.
Ia tersenyum ramah.
“Selamat sore. Apakah Bapak dan Ibu warga Desa Wanasari?”
Rantaka mengangguk.
“Saya Rantaka. Guru di SD Wanasari.”
“Wah, bagus sekali. Kami senang bertemu dengan tenaga pendidik desa.”
Lelaki itu mengulurkan tangan.
“Nama saya Surya. Saya dari PT. Bumi Raya Makmur.”
Rantaka menyalaminya.
“Perusahaan Bapak akan membuka usaha di sini?”
“Kami masih dalam tahap penjajakan,” jawab Surya. “Kami ingin membawa kemajuan bagi Wanasari. Lapangan kerja, jalan yang lebih baik, dan peluang ekonomi baru.”
Liris memandang brosur di tangan Surya.
“Lahannya di mana?”
Surya tersenyum tipis.
“Masih dibicarakan. Kami tentu akan mengikuti prosedur dan berkoordinasi dengan warga.”
“Apakah dekat sungai?” tanya Rantaka.
Surya menatapnya sejenak.
“Kami akan menjelaskan semuanya dalam sosialisasi nanti.”
Jawaban itu terdengar tenang.
Namun, tidak benar-benar menjawab.
Rantaka mengangguk.
“Warga berhak mendapat penjelasan yang lengkap.”
“Tentu,” jawab Surya. “Kami sangat terbuka terhadap masukan.”
Surya kemudian menyerahkan satu brosur kepada Rantaka.
“Semoga Bapak dapat melihat niat baik kami.”
Rantaka menerima brosur itu.
Ia memandang gambar jalan lebar dan bangunan besar di sampulnya.
Kemajuan.
Peluang.
Lapangan kerja.
Kata-kata itu terdengar indah.
Namun, Rantaka tahu bahwa tidak semua hal yang tampak indah dari luar akan membawa kebaikan bagi desa.
Ia menoleh ke arah gudang.
Di balik pintu seng tua itu, Gerobak Buku Langit Biru masih berdiri dalam debu.
Di hadapannya, perusahaan luar datang membawa janji perubahan.
Di antara keduanya, Desa Wanasari sedang menunggu keputusan.
Malam mulai turun.
Rantaka dan Liris berjalan pulang tanpa banyak bicara.
Namun, sebelum berpisah di pertigaan jalan, Liris berkata pelan, “Besok kita bersihkan gerobaknya.”
Rantaka mengangguk.
“Besok kita mulai.”
“Dengan siapa?”
Rantaka memandang langit yang mulai dipenuhi bintang.
“Dengan siapa pun yang masih percaya bahwa desa ini layak diperjuangkan.”
Di kejauhan, suara sungai terdengar samar.
Airnya tetap mengalir.
Namun, warnanya telah berubah.
Dan di dalam dada Rantaka, sebuah tekad mulai tumbuh.
Gerobak Buku Langit Biru tidak boleh lagi menjadi benda tua yang tersimpan di gudang.
Gerobak itu harus kembali berjalan.
Karena desa yang ingin menjaga masa depannya harus lebih dulu berani membuka buku, membuka pikiran, dan membuka jalan bagi harapan.
BAB 3
SUNGAI YANG TIDAK LAGI JERNIH
Pagi itu, Rantaka tidak langsung menuju sekolah.
Ia telah meminta izin kepada Bu Laras untuk datang sedikit lebih siang karena ingin melihat keadaan Sungai Wanasari bersama Banyu. Sejak melihat air sungai yang keruh beberapa hari sebelumnya, pikirannya tidak pernah benar-benar tenang.
Sungai itu bukan sekadar aliran air bagi Desa Wanasari.
Sungai adalah tempat anak-anak dulu bermain sepulang sekolah.
Sungai adalah sumber air bagi kebun-kebun warga.
Sungai adalah tempat para nelayan kecil memasang jaring.
Sungai juga mengalir ke arah kolam-kolam ikan yang menjadi tumpuan hidup beberapa keluarga.
Dulu, airnya jernih.
Di dasar sungai, batu-batu kecil terlihat jelas. Ikan-ikan kecil berenang di sela akar pohon. Anak-anak sering duduk di tepiannya sambil mencoba menangkap ikan dengan botol bekas atau jaring kecil.
Namun kini, air itu berubah.
Rantaka berjalan menyusuri jalan setapak di belakang rumah warga. Rumput liar tumbuh tinggi di sisi jalan. Beberapa bagian tanah masih basah karena hujan semalam.
Di kejauhan, ia melihat Banyu sedang berdiri di dekat sebuah parit kecil.
Banyu mengenakan sepatu bot karet dan membawa kotak perkakas di tangan kirinya. Di tangan kanan, ia memegang botol plastik bening yang sudah diisi air sungai.
“Kau datang juga,” kata Banyu tanpa menoleh.
“Aku tidak bisa mengajar dengan tenang kalau belum tahu apa yang terjadi di sini,” jawab Rantaka.
Banyu mengangkat botol plastik itu.
“Lihat.”
Rantaka menerima botol tersebut.
Air di dalamnya berwarna kecokelatan. Ada endapan hitam tipis di bagian bawah. Bau yang keluar dari botol itu tidak terlalu tajam, tetapi cukup asing.
“Ini dari sungai?” tanya Rantaka.
“Dari saluran kecil di dekat kebun atas. Airnya masuk ke sungai dari sana.”
“Dari mana asal saluran ini?”
Banyu menunjuk ke arah jalan baru yang sedang dibuka di sisi bukit.
Di atas sana, beberapa pohon telah ditebang. Tanah merah terlihat terbuka. Bekas roda kendaraan besar membentuk jalur panjang yang turun ke arah kebun warga.
“Sejak orang-orang perusahaan datang, jalan itu mulai sering dilalui mobil,” kata Banyu. “Mereka bilang hanya survei. Tapi tanah di atas sudah mulai dibuka.”
Rantaka memandang ke arah bukit.
Dari tempat mereka berdiri, ia bisa melihat beberapa orang memakai helm proyek. Ada alat berat kecil yang sedang bergerak perlahan. Suaranya terdengar sampai ke bawah.
“Apakah mereka sudah mendapat izin?” tanya Rantaka.
Banyu menggeleng.
“Aku tidak tahu. Warga juga tidak semua tahu.”
“Kalau tanah terbuka seperti itu, hujan bisa membawa lumpur ke sungai.”
“Bukan hanya lumpur,” kata Banyu. “Aku melihat beberapa drum di dekat jalan. Aku tidak tahu isinya apa.”
Rantaka menatap botol air di tangannya.
Ia bukan ahli lingkungan.
Namun, ia tahu bahwa sesuatu tidak beres.
Air sungai tidak berubah keruh tanpa sebab.
Dan jika warga tidak memahami apa yang terjadi, mereka mungkin baru sadar ketika semuanya sudah terlambat.
“Kita harus bicara dengan Jagra,” kata Rantaka.
Banyu mengangguk.
“Dia sudah menunggu di kolam.”
Kolam ikan keluarga Jagra berada tidak jauh dari sungai.
Dulu, kolam itu menjadi salah satu usaha perikanan yang paling aktif di Desa Wanasari. Setelah banjir besar beberapa tahun lalu, Jagra dan keluarganya membangun kembali kolam-kolam tersebut sedikit demi sedikit.
Kini, beberapa kolam telah kembali terisi ikan nila dan ikan patin.
Namun, pagi itu suasana di sekitar kolam tidak seperti biasanya.
Jagra berdiri di tepi salah satu kolam sambil memegang serok kecil. Wajahnya tegang. Di dalam serok itu, terdapat dua ikan nila yang mengapung lemah.
“Sejak kapan?” tanya Banyu.
“Dua hari,” jawab Jagra singkat.
Rantaka mendekat.
Air kolam tampak lebih keruh dari biasanya. Di permukaannya, beberapa ikan terlihat bergerak lambat. Ada yang muncul ke atas seolah mencari udara.
“Sudah banyak yang mati?” tanya Rantaka.
“Belum banyak. Tapi kalau begini terus, bisa habis.”
Jagra meletakkan serok itu di ember.
“Aku sudah mengganti sebagian air. Tapi air dari sungai juga tidak bagus. Kalau terus memakai air sungai, kolam ini malah makin parah.”
Rantaka memandang wajah sahabatnya.
Dulu, Jagra pernah merasa bahwa tinggal di desa berarti tidak memiliki masa depan. Setelah bertahun-tahun berjuang, ia mulai membangun usaha perikanan bersama warga dan pemuda desa.
Kini, ancaman baru datang.
Bukan dari banjir.
Bukan dari kegagalan panen.
Tetapi dari air yang tidak lagi bisa dipercaya.
“Apakah warga lain mengalami hal yang sama?” tanya Rantaka.
“Pak Jaya bilang ikannya makin sedikit,” jawab Jagra. “Pak Roni juga mengeluh air untuk kebunnya mulai membuat daun tanaman menguning.”
Banyu menaruh botol air sungai di atas batu.
“Aku menemukan saluran dari arah bukit. Tanahnya sudah dibuka. Ada kendaraan perusahaan keluar masuk.”
Jagra menoleh cepat.
“PT. Bumi Raya Makmur?”
“Mungkin,” jawab Banyu. “Aku tidak bisa memastikan. Tapi orang-orang di atas memakai rompi dengan tulisan perusahaan itu.”
Jagra mengepalkan tangan.
“Mereka belum resmi masuk desa, tapi dampaknya sudah sampai ke kolam.”
“Jangan langsung menyimpulkan,” kata Rantaka. “Kita perlu bukti.”
Jagra memandangnya dengan mata yang menyimpan kemarahan.
“Bukti apa lagi yang kau butuhkan, Rantaka? Ikan-ikan ini sudah cukup menjadi bukti.”
Rantaka tidak langsung menjawab.
Ia memahami kemarahan Jagra.
Kolam itu bukan sekadar tempat memelihara ikan. Kolam itu adalah hasil kerja keras keluarga Jagra. Ada uang tabungan, tenaga, harapan, dan kepercayaan warga di dalamnya.
Namun, Rantaka juga tahu bahwa jika mereka ingin melawan sesuatu yang besar, mereka tidak boleh hanya membawa kemarahan.
Mereka harus membawa data.
Mereka harus membawa cerita warga.
Mereka harus membawa alasan yang tidak mudah dipatahkan.
“Aku tidak bilang kita diam,” kata Rantaka akhirnya. “Aku hanya bilang kita harus tahu apa yang terjadi sebelum orang lain memutarbalikkan keadaan.”
Jagra menarik napas panjang.
Ia menatap kolamnya.
“Kalau ikan ini mati, siapa yang akan mengganti?”
Tidak ada yang menjawab.
Angin pagi berembus pelan.
Di atas permukaan air, lingkaran-lingkaran kecil muncul ketika beberapa ikan bergerak lemah.
Menjelang siang, mereka bertiga berjalan menyusuri sungai menuju kebun Pak Roni.
Pak Roni sedang berdiri di antara tanaman cabai yang daunnya tampak layu. Di beberapa bagian, tanah terlihat mengeras dan retak.
“Pak Roni,” sapa Rantaka.
Lelaki itu menoleh.
“Oh, Pak Guru. Kalian mau lihat kebun ini juga?”
Rantaka mengangguk.
“Banyu bilang ada masalah dengan air.”
Pak Roni memetik satu daun cabai yang mulai menguning.
“Sudah seminggu ini saya pakai air dari parit untuk menyiram. Awalnya tidak apa-apa. Tapi sekarang daunnya begini.”
Banyu mengambil daun itu dan memperhatikannya.
“Apakah airnya berbau?”
“Kadang. Tidak setiap hari. Tapi kalau habis hujan, baunya lebih kuat.”
Jagra memandang ke arah sungai.
“Kalau begini, bukan hanya kolam yang kena.”
Pak Roni menghela napas.
“Kebun ini satu-satunya yang saya punya. Anak saya masih sekolah dua orang. Kalau panen gagal, saya harus cari pinjaman lagi.”
Rantaka merasakan sesuatu yang berat di dadanya.
Setiap persoalan di desa selalu memiliki wajah.
Bukan hanya angka.
Bukan hanya laporan.
Di balik tanaman cabai yang layu, ada biaya sekolah anak-anak Pak Roni.
Di balik ikan yang mengapung di kolam, ada harapan keluarga Jagra.
Di balik air sungai yang keruh, ada masa depan warga yang menggantung pada tanah dan alam mereka sendiri.
“Pak Roni,” kata Rantaka, “kalau nanti ada pertemuan warga tentang sungai dan rencana perusahaan, apakah Bapak mau datang?”
Pak Roni menatapnya ragu.
“Untuk apa? Orang kecil seperti saya mau bicara apa?”
“Bapak bisa menceritakan apa yang Bapak lihat. Itu penting.”
Pak Roni menggeleng pelan.
“Perusahaan itu katanya mau membuka pekerjaan. Kalau saya terlalu banyak bicara, nanti malah dianggap menolak rezeki.”
Jagra terlihat ingin menyela, tetapi Rantaka mengangkat tangan pelan.
“Kami tidak meminta Bapak menolak apa pun,” kata Rantaka. “Kami hanya ingin semua warga tahu apa yang sedang terjadi. Keputusan harus dibuat setelah semua orang mendapat penjelasan yang jelas.”
Pak Roni tidak menjawab.
Ia kembali memandang tanaman cabainya.
“Kalau benar air ini rusak karena mereka,” katanya pelan, “saya tidak tahu harus bagaimana.”
Rantaka menatap kebun itu.
Ia juga belum tahu.
Namun, ia tahu bahwa ketidaktahuan warga adalah hal yang paling mudah dimanfaatkan oleh siapa pun yang datang membawa janji.
Siang hari, Rantaka kembali ke sekolah.
Kelas lima sudah menunggunya.
Ketika ia masuk, Raka langsung mengangkat tangan.
“Pak Guru, tadi Bapak ke sungai?”
“Iya.”
“Airnya masih cokelat?”
“Masih.”
“Kalau air sungai kotor, ikan-ikannya mati ya, Pak?”
Rantaka memandang wajah anak-anak di hadapannya.
Mereka mendengar pembicaraan orang dewasa.
Mereka melihat sungai berubah.
Mereka mungkin belum memahami konflik tanah dan perusahaan.
Namun, mereka akan merasakan akibatnya lebih lama daripada siapa pun.
“Kalau air sungai kotor, ikan bisa sakit atau mati,” jawab Rantaka. “Tanaman juga bisa terganggu. Karena itu, sungai harus dijaga.”
“Siapa yang harus menjaganya?” tanya seorang murid perempuan.
“Semua orang,” kata Rantaka.
“Anak-anak juga?”
“Anak-anak juga.”
Raka berpikir sejenak.
“Kalau begitu, kita jangan buang sampah ke sungai.”
“Betul.”
“Kalau ada orang buang sampah, kita bilang jangan.”
“Betul.”
“Kalau ada orang besar yang membuat sungai kotor?”
Kelas mendadak hening.
Pertanyaan itu sederhana.
Namun, jawabannya tidak mudah.
Rantaka berdiri di depan papan tulis. Ia memandang anak-anak itu satu per satu.
“Kalau ada orang yang membuat sungai kotor,” katanya perlahan, “kita harus berani bertanya. Kita harus berani mencari tahu. Dan kita harus berani menjaga tempat tinggal kita.”
“Walaupun orangnya kaya?” tanya Raka.
Rantaka mengangguk.
“Walaupun orangnya kaya.”
Anak-anak tampak diam.
Namun, di wajah mereka, Rantaka melihat sesuatu yang membuatnya percaya bahwa pendidikan bukan hanya tentang membaca dan menghitung.
Pendidikan adalah keberanian untuk memahami.
Pendidikan adalah keberanian untuk bertanya.
Pendidikan adalah keberanian untuk tidak menerima sesuatu begitu saja.
Sore hari, Rantaka kembali ke rumah dengan langkah pelan.
Di depan rumahnya, ia melihat Liris sedang duduk di bangku bambu bersama ibunya. Di pangkuannya, ada beberapa lembar kertas dan sebuah buku catatan.
“Kau baru pulang?” tanya Liris.
“Iya.”
“Bagaimana sungainya?”
“Lebih buruk daripada yang kita kira.”
Ibu Rantaka mempersilakan Liris masuk. Mereka duduk di ruang depan. Rantaka menceritakan apa yang ia lihat bersama Banyu dan Jagra.
Tentang saluran air dari bukit.
Tentang tanah yang dibuka.
Tentang ikan yang mulai mati.
Tentang tanaman cabai Pak Roni yang menguning.
Liris mendengarkan dengan wajah serius.
“Kalau warga tidak tahu apa yang terjadi, mereka akan mudah percaya bahwa semua ini hanya karena hujan atau musim,” katanya.
“Itu sebabnya kita perlu mencari informasi,” jawab Rantaka.
Liris membuka buku catatannya.
“Aku bisa membantu mencatat cerita warga. Bukan untuk menyebarkan kabar yang belum pasti, tetapi untuk mengumpulkan apa yang mereka alami.”
“Cerita warga bisa menjadi bukti awal,” kata Rantaka.
“Dan bisa menjadi bahan diskusi di Gerobak Buku.”
Rantaka memandangnya.
“Kau ingin membahas sungai di kegiatan anak-anak?”
“Bukan hanya anak-anak. Kita bisa membuat sore membaca untuk warga. Membaca berita, membaca informasi tentang sungai, tentang tanah, tentang hak warga untuk bertanya.”
Rantaka terdiam.
Ia membayangkan Gerobak Buku Langit Biru bukan hanya membawa cerita anak-anak.
Gerobak itu bisa membawa pengetahuan.
Bisa menjadi tempat warga belajar memahami surat, brosur, dan janji-janji yang datang dari luar.
“Banyu bisa membantu menjelaskan soal air dan alat sederhana,” kata Rantaka.
“Jagra bisa bicara tentang dampaknya pada kolam ikan,” sambung Liris.
“Dan aku bisa mengajak anak-anak membuat gambar tentang sungai yang mereka inginkan.”
Liris tersenyum.
“Itu awal yang baik.”
Di luar rumah, langit sore berubah menjadi kelabu.
Awan tebal mulai berkumpul dari arah bukit.
Rantaka memandang ke luar jendela.
Ia teringat tanah merah yang terbuka di atas sana.
Jika hujan turun lagi, lumpur akan mengalir lebih banyak ke sungai.
Dan mungkin, air Sungai Wanasari akan semakin keruh.
Malam itu, hujan benar-benar turun.
Tidak terlalu deras pada awalnya.
Namun, menjelang tengah malam, suara hujan semakin kuat menghantam atap rumah.
Rantaka terbangun beberapa kali.
Setiap kali membuka mata, ia mendengar air mengalir deras di parit depan rumah.
Ia membayangkan sungai.
Ia membayangkan kolam Jagra.
Ia membayangkan kebun Pak Roni.
Ia membayangkan anak-anak yang bertanya siapa yang harus menjaga sungai.
Pagi berikutnya, sebelum matahari terbit, seseorang mengetuk pintu rumahnya dengan keras.
“Rantaka!”
Suara Banyu terdengar dari luar.
Rantaka segera bangun dan membuka pintu.
Banyu berdiri di depan rumah dengan wajah pucat. Bajunya basah oleh hujan. Napasnya terdengar berat.
“Ada apa?” tanya Rantaka.
“Kolam Jagra jebol.”
Rantaka membeku.
“Bagaimana bisa?”
“Air dari parit atas turun deras. Lumpur masuk ke kolam. Tanggulnya tidak kuat.”
“Jagra bagaimana?”
“Dia di sana. Ayo cepat.”
Tanpa sempat sarapan, Rantaka mengambil jaket dan berlari mengikuti Banyu.
Hujan masih turun tipis.
Jalan tanah berubah menjadi lumpur.
Ketika mereka sampai di kolam, suara warga terdengar dari segala arah.
Beberapa orang membawa cangkul.
Beberapa membawa karung pasir.
Sebagian berusaha menahan aliran air yang masuk ke kolam.
Namun, salah satu sisi tanggul sudah jebol.
Air keruh mengalir deras.
Ikan-ikan terlihat terbawa keluar bersama lumpur.
Jagra berdiri di tengah hujan, memegang sekop dengan tangan gemetar.
Wajahnya penuh lumpur.
Matanya merah.
“Semua habis,” katanya ketika melihat Rantaka.
Rantaka mendekat.
“Belum tentu. Kita selamatkan yang masih bisa.”
“Tidak, Rantaka.” Suara Jagra pecah. “Aku baru mulai membangun lagi. Baru mulai membuat warga percaya. Sekarang semuanya habis.”
Rantaka memegang bahu sahabatnya.
“Jagra, lihat aku.”
Jagra menatapnya.
“Kita belum selesai.”
“Bagaimana bisa kau bilang begitu?” tanya Jagra dengan suara keras. “Sungai rusak. Kolam jebol. Orang-orang di atas sana membuka tanah. Tapi kita hanya bicara, bicara, dan bicara!”
Rantaka tidak marah.
Ia tahu kemarahan Jagra bukan hanya untuk dirinya.
Itu adalah kemarahan seorang anak desa yang berkali-kali harus membangun kembali sesuatu yang dihancurkan keadaan.
“Kau benar,” kata Rantaka. “Kita tidak boleh hanya bicara.”
Jagra terdiam.
Rantaka menoleh kepada Banyu dan warga yang sedang bekerja.
“Kita bantu selamatkan kolam ini hari ini,” katanya. “Setelah itu, kita cari tahu apa yang terjadi di atas. Kita kumpulkan warga. Kita hidupkan Langit Biru. Dan kita pastikan tidak ada yang mengambil masa depan desa ini tanpa penjelasan.”
Hujan masih turun.
Lumpur masih mengalir.
Namun, satu per satu warga mulai mendekat.
Mereka membawa karung.
Mereka membawa cangkul.
Mereka membawa tangan yang siap bekerja.
Di tengah hujan pagi itu, Rantaka berdiri bersama Banyu dan Jagra.
Di hadapan mereka, Sungai Wanasari mengalir keruh.
Tidak lagi jernih seperti masa kecil mereka.
Tetapi di dalam hati mereka, sebuah tekad mulai mengalir lebih kuat.
Sungai itu harus diselamatkan.
Kolam itu harus dibangun kembali.
Dan Desa Wanasari harus belajar menjaga dirinya sendiri.
Karena jika mereka diam, tidak hanya air yang akan berubah.
Masa depan anak-anak desa juga akan ikut hanyut.
BAB 4
KOLAM YANG HAMPIR MATI
Pagi itu, hujan belum benar-benar berhenti.
Langit Desa Wanasari masih dipenuhi awan kelabu. Tanah di sekitar kolam keluarga Jagra berubah menjadi lumpur pekat. Air dari parit atas terus mengalir membawa tanah merah, ranting-ranting kecil, dan sampah daun ke arah kolam yang tanggulnya telah jebol.
Di beberapa bagian, air kolam sudah menyatu dengan aliran sungai.
Ikan-ikan nila yang semula dipelihara dengan susah payah kini terlihat berenang lemah di tepian. Sebagian terjebak di antara rumput dan lumpur. Sebagian lagi hanyut bersama arus yang keluar dari lubang tanggul.
Jagra berdiri di sisi kolam sambil menggenggam sekop.
Bajunya basah.
Celananya penuh lumpur.
Namun, yang paling berat bukanlah hujan atau dinginnya pagi itu.
Yang paling berat adalah melihat usaha yang dibangunnya bertahun-tahun kembali berada di ambang kehancuran.
“Karungnya kurang!” teriak seorang warga dari sisi tanggul.
“Ambil dari rumah Pak Jaya!” sahut warga lain.
Banyu segera berlari ke arah jalan kecil sambil membawa dua karung kosong. Rantaka membantu beberapa pemuda mengisi karung dengan tanah dan batu kecil. Mereka lalu menyusunnya di bagian tanggul yang paling parah.
Air masih terus mendesak.
Setiap kali satu karung diletakkan, air seolah menemukan jalan lain untuk keluar.
Namun, tidak ada yang berhenti bekerja.
Pak Jaya datang membawa cangkul.
Pak Roni membawa beberapa batang bambu.
Ibu-ibu datang membawa termos teh hangat dan nasi bungkus.
Anak-anak yang seharusnya bermain di rumah berdiri di kejauhan sambil memperhatikan orang dewasa bekerja.
Di antara mereka, Raka terlihat memegang payung kecil yang terlalu besar untuk tubuhnya.
“Pak Guru!” panggilnya kepada Rantaka.
Rantaka menoleh.
“Kenapa, Raka?”
“Apakah ikan-ikannya akan selamat?”
Rantaka memandang kolam yang keruh.
Ia ingin menjawab dengan pasti.
Ia ingin mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja.
Namun, ia tidak ingin mengajarkan anak-anak untuk percaya pada janji yang belum tentu dapat dipenuhi.
“Kita sedang berusaha menyelamatkan sebanyak mungkin,” jawabnya.
Raka mengangguk pelan.
Lalu ia memandang ke arah beberapa ikan kecil yang terjebak di genangan lumpur dekat jalan.
“Kalau saya ambil pakai ember, boleh?”
Rantaka mengikuti arah pandangnya.
Di sana, beberapa ikan nila kecil memang terjebak di cekungan tanah yang tidak lagi terhubung ke kolam.
“Boleh,” kata Rantaka. “Tapi hati-hati. Jangan sendirian.”
Raka segera memanggil dua temannya.
Mereka mengambil ember plastik dari rumah Jagra, lalu dengan hati-hati memindahkan ikan-ikan kecil itu ke bagian kolam yang masih cukup dalam.
Jagra yang melihat pemandangan itu menundukkan kepala.
Untuk beberapa saat, wajahnya yang tegang berubah.
Ia melihat anak-anak kecil berusaha menyelamatkan ikan yang mungkin tidak seberapa nilainya.
Namun, bagi mereka, ikan-ikan itu adalah bagian dari desa.
Bagian dari sesuatu yang harus dijaga.
Jagra menghela napas panjang.
Kemudian ia kembali mengangkat sekop.
“Tambahkan bambu di sebelah kiri!” teriaknya. “Jangan biarkan air masuk dari situ!”
Suara Jagra terdengar lebih kuat.
Seolah ia baru saja mengingat alasan mengapa ia tidak boleh menyerah.
Menjelang pukul sembilan pagi, hujan mulai mereda.
Warga berhasil menutup sebagian besar lubang tanggul dengan karung tanah, bambu, dan batu. Air masih keruh, tetapi alirannya tidak lagi sekuat sebelumnya.
Banyu duduk di atas batang kayu sambil mengusap wajahnya yang penuh lumpur.
Tangannya lecet karena terlalu lama mengangkat karung.
Rantaka menghampirinya dan menyerahkan sebotol air minum.
“Terima kasih,” kata Banyu.
“Kau baik-baik saja?”
“Baik.”
Namun, dari cara Banyu menatap kolam, Rantaka tahu bahwa sahabatnya sedang memikirkan sesuatu.
“Menurutmu, apa penyebabnya?” tanya Rantaka.
Banyu tidak langsung menjawab.
Ia mengambil segenggam tanah merah dari dekat parit, lalu meremasnya di telapak tangan.
“Tanah dari atas lebih banyak turun dari biasanya,” katanya. “Tanggul memang sudah lama. Hujan juga deras. Tapi aliran air dari parit itu terlalu kuat.”
“Karena pembukaan lahan?”
“Mungkin.”
“Kau yakin?”
Banyu menatap Rantaka.
“Aku tidak mau asal bicara. Tapi sejak jalan di bukit dibuka, arah air berubah. Tanah yang dulu tertahan akar pohon sekarang langsung turun ketika hujan.”
Rantaka mengangguk pelan.
Ia teringat perkataan Surya dari PT. Bumi Raya Makmur.
Kami masih dalam tahap penjajakan.
Namun, jika tahap penjajakan sudah membuat tanah dibuka dan air berubah arah, apa yang akan terjadi ketika perusahaan benar-benar mulai bekerja?
“Kalau kita mau bicara di depan warga,” lanjut Banyu, “kita harus punya catatan. Kita harus tahu dari mana air datang, kapan mulai keruh, dan siapa saja yang terdampak.”
Rantaka tersenyum tipis.
“Kau mulai berpikir seperti peneliti.”
“Aku hanya tidak mau Jagra dibilang mengada-ada.”
Rantaka memandang ke arah sahabat mereka.
Jagra sedang membantu Pak Jaya memasang bambu di sisi tanggul. Wajahnya masih keras. Namun, gerakannya tidak lagi seperti orang yang menyerah.
“Kita catat semuanya,” kata Rantaka. “Kita mulai hari ini.”
Di bawah pohon ketapang dekat kolam, warga mulai berkumpul.
Mereka duduk di atas tikar, batang kayu, atau batu-batu besar. Sebagian masih mengenakan pakaian basah. Sebagian memegang gelas teh hangat yang dibagikan oleh ibu-ibu.
Suasana tidak tenang.
Semua orang lelah.
Semua orang cemas.
Dan setiap orang memiliki pendapat sendiri tentang apa yang sedang terjadi.
Pak Roni membuka pembicaraan.
“Kalau ini hanya karena hujan, kenapa airnya berubah seperti ini?” katanya sambil menunjuk kolam. “Kebun saya juga mulai rusak. Daun cabai menguning.”
Pak Jaya mengangguk.
“Di parit belakang rumah saya, airnya berbau.”
“Bisa jadi karena tanah dari bukit,” kata seorang warga.
“Tanah dari bukit memang selalu turun kalau hujan,” sahut warga lain. “Dari dulu juga begitu.”
“Dulu tidak separah ini,” kata Jagra.
Suasana mulai meninggi.
Pak Darma yang sejak tadi duduk diam akhirnya berbicara.
“Kita jangan cepat menuduh perusahaan. Mereka belum bekerja di sini. Mereka baru survei.”
Jagra menoleh tajam.
“Survei sampai membuka tanah?”
Pak Darma menghela napas.
“Mereka bilang itu hanya perbaikan jalan akses. Jalan itu juga bisa dipakai warga.”
“Jalan untuk siapa?” tanya Jagra. “Untuk warga atau untuk truk mereka nanti?”
“Jangan bicara seolah semua orang yang mau perusahaan masuk adalah musuh desa,” kata Pak Darma dengan suara lebih keras. “Ada warga yang butuh pekerjaan. Ada yang ingin menjual tanah karena sudah tidak sanggup bertahan.”
Kalimat itu membuat beberapa warga mengangguk.
Seorang ibu bernama Bu Marni ikut bersuara.
“Anak saya sudah dua tahun merantau. Kalau ada pekerjaan di desa, saya ingin dia pulang. Saya tidak mau dia terus hidup susah di kota.”
“Tidak ada yang menolak pekerjaan,” kata Rantaka, yang sejak tadi mendengarkan. “Tapi pekerjaan tidak boleh dibayar dengan rusaknya sungai.”
Pak Darma memandang Rantaka.
“Kau mudah bicara, Rantaka. Kau punya pekerjaan sebagai guru. Kau dapat gaji setiap bulan. Kami yang hidup dari kebun ini tidak selalu punya kepastian.”
Rantaka menerima kalimat itu tanpa membalas dengan emosi.
Ia tahu Pak Darma tidak sepenuhnya salah.
Di desa, setiap orang membawa beban yang berbeda.
Ada yang memiliki lahan luas.
Ada yang hanya memiliki kebun kecil.
Ada yang punya anak sekolah.
Ada yang terlilit utang.
Ada yang ingin bertahan.
Ada pula yang tidak punya pilihan selain berharap pada uang cepat.
“Aku tidak mengatakan warga tidak boleh menerima peluang,” kata Rantaka perlahan. “Aku hanya mengatakan warga harus tahu semua akibatnya sebelum membuat keputusan.”
“Akibat apa?” tanya seorang pemuda.
“Akibat terhadap tanah, sungai, kebun, kolam, dan pekerjaan kita sendiri,” jawab Rantaka. “Kalau tanah dijual, apakah warga akan benar-benar mendapat pekerjaan tetap? Kalau sungai rusak, siapa yang akan memperbaiki? Kalau perusahaan pergi suatu hari nanti, apa yang tersisa untuk desa?”
Beberapa warga terdiam.
Namun, dari arah belakang, terdengar suara lain.
“Kalau kita terlalu banyak bertanya, perusahaan bisa batal masuk.”
Semua menoleh.
Yang berbicara adalah Seno, seorang pemuda desa yang selama ini bekerja serabutan di kota kecamatan. Ia baru pulang beberapa hari lalu.
“Aku sudah dengar dari orang perusahaan,” lanjutnya. “Mereka butuh pekerja. Mereka bilang pemuda desa bisa diutamakan.”
Banyu memandang Seno.
“Apakah ada suratnya?”
Seno terlihat ragu.
“Belum. Tapi mereka bilang begitu.”
“Janji lisan bisa berubah,” kata Banyu.
“Setidaknya mereka membawa harapan,” balas Seno. “Selama ini apa yang kita punya? Kebun yang hasilnya tidak tentu? Kolam yang bisa jebol kapan saja? Anak muda yang pergi semua?”
Jagra berdiri.
“Kolam ini jebol karena air dari atas membawa lumpur!”
“Belum tentu karena perusahaan!” balas Seno.
“Kalau bukan karena perusahaan, kenapa tanah di bukit dibuka?”
“Karena jalan sedang diperbaiki!”
Suara mereka mulai meninggi.
Beberapa warga ikut berdiri.
Rantaka segera melangkah ke tengah.
“Cukup,” katanya.
Suasana perlahan mereda, meski wajah-wajah masih dipenuhi kemarahan.
“Kita tidak akan menemukan jalan keluar dengan saling menyalahkan,” lanjut Rantaka. “Jagra berhak marah karena kolamnya rusak. Seno berhak berharap ada pekerjaan. Pak Darma berhak memikirkan keluarganya. Semua warga punya alasan.”
Ia berhenti sejenak.
“Tapi desa ini tidak boleh membuat keputusan karena takut, karena marah, atau karena janji yang belum jelas. Kita harus tahu keadaan sebenarnya.”
Bu Marni memandang Rantaka.
“Bagaimana caranya?”
Rantaka menoleh kepada Banyu.
Banyu mengangkat botol air sungai yang dibawanya sejak pagi.
“Kita mulai dengan mencatat,” kata Banyu. “Air dari mana yang masuk ke sungai. Kapan warnanya berubah. Kebun siapa yang terdampak. Kolam siapa yang rusak. Kita foto, kita tulis, dan kita kumpulkan.”
“Untuk apa?” tanya Seno.
“Untuk dibawa saat sosialisasi perusahaan,” jawab Banyu. “Agar warga tidak hanya datang untuk mendengar. Warga juga datang untuk bertanya.”
Liris yang baru tiba bersama beberapa ibu membawa buku catatan dan kamera kecil.
“Aku bisa membantu menulis kesaksian warga,” katanya. “Tidak untuk menuduh siapa pun sebelum ada bukti. Tetapi supaya pengalaman warga tidak hilang begitu saja.”
Jagra memandang Liris.
“Kalau mereka tetap tidak peduli?”
Liris menjawab tenang, “Setidaknya desa ini sudah berani bersuara.”
Setelah pertemuan kecil itu, warga mulai bergerak dengan cara yang berbeda.
Pak Roni menunjukkan bagian kebunnya yang paling terdampak.
Pak Jaya mengajak Banyu melihat parit di belakang rumahnya.
Bu Marni menceritakan bahwa cucunya sempat sakit perut setelah bermain di sungai, meski belum ada yang bisa memastikan penyebabnya.
Liris menulis semua cerita itu dalam buku catatannya.
Ia tidak menulis dengan kata-kata besar.
Ia hanya mencatat nama, waktu, tempat, dan apa yang dilihat warga.
Rantaka membantu anak-anak membuat gambar tentang sungai.
Ada yang menggambar sungai berwarna biru dengan ikan-ikan besar.
Ada yang menggambar sungai cokelat dengan sampah dan pohon tumbang.
Ada yang menggambar dirinya sendiri berdiri di tepi sungai sambil membawa papan bertuliskan:
JANGAN RUSAK AIR KAMI
Raka menunjukkan gambarnya kepada Rantaka.
Di dalam gambar itu, ada sebuah sungai, sekolah, pohon beringin, dan gerobak buku berwarna biru.
“Ini sungai yang bersih,” kata Raka.
“Bagus sekali.”
“Kalau sungainya bersih, ikan Jagra banyak lagi.”
Rantaka tersenyum.
“Semoga begitu.”
Raka menatap gambar itu lagi.
“Pak Guru, kalau orang dewasa tidak mau menjaga sungai, anak-anak bisa mengingatkan?”
“Bisa,” jawab Rantaka.
“Kalau orang dewasa marah?”
“Kau tetap bicara dengan baik.”
“Kalau tetap tidak didengar?”
Rantaka menatap mata Raka.
“Kau jangan berhenti belajar. Orang yang belajar akan tahu cara mencari jalan.”
Raka mengangguk, walau mungkin belum sepenuhnya mengerti.
Namun, Rantaka percaya bahwa suatu hari anak itu akan memahami.
Menjelang sore, tanggul sementara akhirnya berdiri.
Tidak kuat.
Tidak rapi.
Tidak menjamin kolam akan aman jika hujan besar kembali turun.
Namun, cukup untuk menahan air sementara waktu.
Jagra duduk di tepi kolam sambil memandangi air yang masih keruh.
Banyu duduk di sebelahnya.
Rantaka datang membawa dua gelas teh hangat.
Satu diberikan kepada Jagra.
Satu lagi kepada Banyu.
“Kau masih marah?” tanya Rantaka.
Jagra menerima teh itu.
“Aku masih marah.”
“Bagus.”
Banyu menoleh.
“Bagus?”
“Marah karena ingin menjaga sesuatu lebih baik daripada diam karena merasa tidak punya harapan,” kata Rantaka.
Jagra tersenyum tipis.
“Kau benar-benar sudah jadi guru.”
“Katanya Liris juga begitu.”
Mereka bertiga tertawa kecil.
Tawa itu tidak menghapus masalah.
Tidak membuat ikan yang hanyut kembali.
Tidak memperbaiki tanggul yang rusak.
Namun, tawa itu membuat mereka ingat bahwa mereka tidak menghadapi semuanya sendiri.
Banyu menatap kolam.
“Aku akan coba membuat penyaring sederhana untuk saluran air. Setidaknya kalau hujan turun, lumpur tidak langsung masuk semua.”
Jagra mengangguk.
“Aku bantu cari bahan.”
“Aku bantu cari warga yang mau bergotong royong,” kata Rantaka.
Jagra memandang dua sahabatnya.
“Kalian yakin kita masih bisa membangun ini lagi?”
Rantaka melihat air kolam yang keruh.
Lalu ia melihat pohon-pohon di sekitar desa, rumah-rumah warga, dan anak-anak yang masih bermain di kejauhan.
“Kita tidak hanya membangun kolam, Jagra,” katanya. “Kita sedang membangun alasan agar orang-orang tidak mudah menyerah pada desa ini.”
Jagra terdiam.
Kalimat itu tinggal cukup lama di antara mereka.
Malamnya, di rumah Rantaka, Liris datang membawa buku catatan yang sudah hampir penuh.
“Aku sudah menulis cerita dari tujuh warga,” katanya.
Rantaka menerima buku itu.
Di halaman pertama, Liris menulis judul sederhana:
CATATAN SUNGAI WANASARI
Di bawahnya, terdapat daftar nama warga, keadaan kebun, keadaan kolam, warna air, dan waktu kejadian.
“Ini baru awal,” kata Liris. “Besok aku akan menemui lebih banyak warga.”
Rantaka membuka halaman berikutnya.
Ada catatan tentang air yang berbau.
Ada catatan tentang ikan yang mati.
Ada catatan tentang tanah merah yang turun dari bukit.
Ada pula catatan tentang warga yang berharap perusahaan membuka pekerjaan.
“Kau juga menulis pendapat warga yang mendukung perusahaan?” tanya Rantaka.
Liris mengangguk.
“Tentu. Kalau kita hanya menulis yang sejalan dengan kita, kita tidak sedang mencari kebenaran. Kita hanya sedang mencari pembenaran.”
Rantaka memandang Liris dengan kagum.
“Kadang aku lupa kau bukan hanya penulis.”
“Aku juga warga desa ini,” jawabnya.
Mereka duduk dalam diam.
Di luar rumah, suara katak terdengar dari arah sawah.
Hujan telah berhenti.
Namun, udara masih menyimpan bau tanah basah.
Rantaka menutup buku catatan itu perlahan.
“Besok kita keluarkan Gerobak Buku dari gudang,” katanya.
Liris tersenyum.
“Untuk anak-anak?”
“Untuk anak-anak, pemuda, dan warga.”
“Lalu kita mulai dari mana?”
Rantaka memandang papan kecil Gerobak Buku Langit Biru yang kini sudah ia letakkan di dinding rumah.
“Dari membaca.”
“Buku apa?”
“Buku apa saja yang membuat warga berani bertanya.”
Liris mengangguk.
Di wajahnya, Rantaka melihat semangat yang pernah mereka miliki ketika masih remaja.
Namun kini, semangat itu tidak lagi hanya tentang mimpi pribadi.
Mereka sedang belajar menjaga mimpi banyak orang.
Di luar, Sungai Wanasari masih mengalir dalam warna keruh.
Kolam Jagra masih berada di ambang mati.
Warga masih terpecah oleh harapan dan ketakutan.
Namun, dari lumpur, hujan, dan air yang berubah warna, sebuah gerakan kecil mulai tumbuh.
Gerakan untuk memahami.
Gerakan untuk bertanya.
Gerakan untuk menjaga desa sebelum semuanya terlambat.
BAB 5
SURAT PENAWARAN DARI KOTA
Pagi di Desa Wanasari dimulai dengan suara sepeda motor yang berhenti di depan kantor desa.
Kantor itu tidak besar. Bangunannya berdinding papan yang telah beberapa kali dicat ulang. Di bagian depan, sebuah papan nama bertuliskan KANTOR DESA WANASARI berdiri sedikit miring. Di sampingnya tumbuh pohon mangga tua yang daunnya menjuntai hingga hampir menyentuh atap.
Namun, pagi itu kantor desa tampak lebih ramai dari biasanya.
Beberapa warga sudah duduk di bangku panjang di teras. Ada yang datang untuk mengurus surat keterangan. Ada yang ingin menanyakan bantuan pupuk. Ada pula yang hanya ingin mendengar kabar terbaru tentang sungai dan kolam Jagra yang hampir jebol.
Di dalam ruangan, Pak Kades Harun sedang memeriksa beberapa berkas ketika seorang petugas pos dari kota kecamatan masuk membawa amplop putih berukuran besar.
“Surat untuk kantor desa,” katanya.
Pak Kades menerima amplop itu.
Di bagian depan tertulis dengan huruf cetak yang rapi:
- BUMI RAYA MAKMUR
KANTOR CABANG KABUPATEN
Di bawahnya tercantum alamat dari kota kabupaten.
Pak Kades Harun memandangi amplop itu cukup lama.
Sekretaris desa yang duduk di dekat meja segera mendekat.
“Dari perusahaan, Pak?”
Pak Kades mengangguk.
Ia membuka amplop perlahan.
Di dalamnya terdapat beberapa lembar surat resmi dengan kop perusahaan. Ada pula sebuah map berwarna biru tua berisi brosur bergambar jalan mulus, bangunan baru, pekerja memakai helm, dan hamparan lahan yang tampak hijau dari kejauhan.
Pak Kades membaca surat itu dalam diam.
Wajahnya tidak menunjukkan banyak perubahan.
Namun, jemarinya yang memegang kertas tampak menegang.
“Isinya apa, Pak?” tanya sekretaris desa.
Pak Kades menyerahkan surat itu.
Sekretaris desa membacanya pelan.
“Permohonan sosialisasi rencana kerja sama pengembangan kawasan usaha dan pengelolaan lahan,” katanya.
“Pengelolaan lahan,” ulang Pak Kades.
“Katanya, untuk meningkatkan ekonomi masyarakat, membuka lapangan kerja, membangun akses jalan, dan mendukung program pemberdayaan desa.”
Pak Kades menarik napas panjang.
Kalimat-kalimat dalam surat itu terdengar baik.
Terlalu baik.
Ada janji tentang pekerjaan.
Ada janji tentang jalan.
Ada janji tentang bantuan untuk pendidikan.
Ada janji tentang pelatihan keterampilan bagi pemuda desa.
Namun, tidak ada satu pun kalimat yang menjelaskan dengan rinci lahan mana yang akan dikelola, berapa luasnya, berapa lama kerja sama itu berlangsung, dan apa yang akan terjadi jika tanah, sungai, atau kebun warga mengalami kerusakan.
“Surat seperti ini tidak bisa kita simpan sendiri,” kata Pak Kades.
Sekretaris desa mengangguk.
“Apakah akan langsung dibuatkan jadwal sosialisasi?”
Pak Kades memandang keluar jendela.
Di teras kantor, beberapa warga sudah mulai memperhatikan mereka.
“Tidak langsung,” jawabnya. “Kita harus bicara dengan BPD, tokoh masyarakat, dan warga dulu.”
Kabar tentang surat perusahaan menyebar lebih cepat daripada suara pengeras masjid.
Menjelang siang, orang-orang mulai berdatangan ke kantor desa. Sebagian datang karena penasaran. Sebagian datang karena mendengar bahwa perusahaan akan membuka pekerjaan. Sebagian lagi datang karena takut tanah mereka termasuk dalam rencana pengelolaan lahan.
Seno datang paling awal.
Ia berdiri di depan papan pengumuman sambil membaca salinan surat yang ditempel oleh sekretaris desa.
“Pelatihan kerja,” katanya pelan. “Ini yang kita butuhkan.”
Pak Darma yang berdiri di dekatnya mengangguk.
“Kalau benar ada pekerjaan, anak-anak muda tidak perlu jauh-jauh merantau.”
“Katanya juga ada perbaikan jalan,” tambah Seno. “Jalan ke kebun bisa lebih mudah. Hasil panen tidak perlu dipikul jauh.”
Beberapa pemuda lain mulai ikut membaca.
Mereka menunjuk gambar dalam brosur.
Ada foto jalan beraspal.
Ada foto bangunan pelatihan.
Ada foto pekerja yang tersenyum di depan alat berat.
“Kalau benar seperti ini, desa kita bisa maju,” kata seorang pemuda.
Namun, di sudut lain teras kantor, Jagra berdiri dengan wajah dingin.
Ia datang bersama Banyu.
Di tangan Banyu, ada botol berisi air keruh dari parit dekat kolam.
“Desa bisa maju kalau sungainya mati?” tanya Jagra.
Beberapa orang menoleh.
Seno menghela napas.
“Jangan mulai lagi, Jagra.”
“Aku tidak mulai apa-apa,” jawab Jagra. “Kolamku yang jebol. Ikan warga yang mati. Kebun Pak Roni yang rusak. Tapi sekarang semua orang sibuk melihat gambar jalan mulus.”
“Belum tentu semua itu karena perusahaan,” kata Seno.
“Belum tentu bukan karena perusahaan juga,” balas Banyu.
Suasana mulai memanas.
Pak Darma melangkah maju.
“Kita tidak boleh menolak sesuatu hanya karena takut. Selama ini kita juga sudah hidup susah. Kalau ada peluang, kenapa tidak didengar dulu?”
“Didengar, iya,” kata Banyu. “Tapi jangan sampai kita hanya mendengar apa yang ingin mereka katakan.”
Seno memandang Banyu.
“Maksudmu?”
“Maksudku, warga harus bertanya. Berapa luas lahan yang mereka butuhkan? Tanah siapa saja yang masuk? Apakah ada kajian tentang sungai? Apakah ada jaminan kalau kebun atau kolam rusak? Berapa lama pekerjaan itu tersedia? Apakah warga hanya jadi pekerja kasar, atau benar-benar mendapat keterampilan?”
Beberapa warga terdiam.
Pertanyaan itu sederhana.
Namun, tidak semua orang pernah memikirkannya.
Di desa, janji tentang pekerjaan sering kali terdengar lebih kuat daripada pertanyaan tentang masa depan.
Jagra mengangkat botol air keruh itu.
“Ini air dari saluran dekat bukit,” katanya. “Kalau perusahaan benar-benar ingin bekerja sama dengan desa, mereka harus berani menjelaskan kenapa air seperti ini mulai masuk ke sungai.”
Seno menatap botol itu.
Untuk sesaat, wajahnya terlihat ragu.
Namun, ia segera berkata, “Kalau kita menuduh tanpa bukti, nanti perusahaan malah tidak mau datang.”
“Bukan menuduh,” kata Banyu. “Meminta penjelasan.”
Siang itu, Rantaka datang ke kantor desa setelah selesai mengajar.
Ia melihat kerumunan warga dari kejauhan. Suara percakapan terdengar keras. Beberapa orang berdiri sambil menunjuk surat pengumuman. Beberapa yang lain duduk dengan wajah cemas.
Liris datang tidak lama kemudian.
Ia membawa buku catatan kecil yang selalu diselipkan di dalam tas kainnya.
“Ada apa?” tanya Rantaka.
“Surat dari perusahaan,” jawab Liris.
Rantaka membaca salinan surat yang ditempel di papan pengumuman.
Kalimat-kalimatnya rapi.
Penuh kata-kata seperti kemajuan, pemberdayaan, kemitraan, dan kesejahteraan.
Namun, semakin lama ia membacanya, semakin ia merasa ada sesuatu yang kosong.
Surat itu berbicara tentang desa.
Tetapi tidak benar-benar berbicara kepada warga desa.
Surat itu berbicara tentang lahan.
Tetapi tidak menyebut siapa yang selama ini hidup dari lahan tersebut.
Surat itu berbicara tentang masa depan.
Tetapi tidak menjelaskan masa depan seperti apa yang akan ditinggalkan setelah perusahaan selesai mengambil apa yang mereka butuhkan.
“Bahasanya bagus,” kata Liris pelan.
“Ya,” jawab Rantaka. “Terlalu bagus untuk surat yang tidak menjelaskan banyak hal.”
Pak Kades Harun keluar dari ruangannya.
Warga segera mendekat.
“Bapak-bapak, Ibu-ibu,” katanya dengan suara tegas. “Surat ini baru permohonan untuk melakukan sosialisasi. Belum ada keputusan apa pun dari pemerintah desa. Belum ada penandatanganan. Belum ada penjualan tanah. Belum ada kerja sama yang disetujui.”
Seorang warga mengangkat tangan.
“Jadi perusahaan belum masuk, Pak?”
“Belum ada keputusan,” jawab Pak Kades. “Kalau nanti ada sosialisasi, semua warga akan diberi kesempatan hadir.”
“Apakah tanah kami akan diambil?” tanya seorang perempuan dari belakang.
Pak Kades menatapnya.
“Saya belum bisa menjawab sebelum perusahaan menjelaskan rencana mereka secara terbuka.”
“Kalau mereka menawarkan harga tinggi, apakah desa akan setuju?” tanya warga lain.
Pak Kades terdiam sejenak.
“Desa tidak bisa memutuskan sesuatu yang menyangkut tanah dan kehidupan warga hanya karena harga,” katanya. “Kita harus melihat manfaat dan risikonya.”
Jagra mengangguk kecil.
Namun, Seno tampak tidak puas.
“Pak Kades,” katanya, “kalau terlalu lama, perusahaan bisa memilih desa lain. Kita butuh pekerjaan sekarang.”
Pak Kades memandang pemuda itu.
“Saya paham, Seno. Tapi pekerjaan yang baik tidak boleh datang dengan cara membuat warga tidak mengerti apa yang mereka setujui.”
Kalimat itu membuat suasana sedikit tenang.
Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama.
Dari sisi teras, Pak Darma berkata, “Kalau semua harus ditunggu sampai lengkap, kapan desa ini maju? Jalan kita rusak. Anak-anak muda pergi. Hasil kebun murah. Kita butuh perubahan.”
Rantaka melangkah maju.
“Perubahan memang perlu,” katanya. “Tapi perubahan tidak harus membuat desa kehilangan hak untuk menentukan masa depannya.”
Pak Darma memandang Rantaka.
“Kau bicara seperti orang yang tidak pernah kekurangan.”
Rantaka tidak tersinggung.
Ia mengingat masa ketika ia harus bekerja malam di kota agar tetap bisa sekolah. Ia mengingat rasa takut ketika beasiswanya hampir dicabut. Ia mengingat bagaimana keluarganya pernah kesulitan membeli buku.
“Aku pernah hidup dengan uang yang tidak cukup,” katanya pelan. “Aku tahu pekerjaan itu penting. Karena itu, aku tidak ingin warga hanya diberi pekerjaan sementara, lalu kehilangan kebun, sungai, dan sumber hidupnya untuk waktu yang lebih lama.”
Tidak ada yang langsung menjawab.
Liris memandang Rantaka dengan mata yang penuh pengertian.
Ia tahu bahwa kata-kata itu tidak keluar dari teori.
Kata-kata itu keluar dari luka yang pernah dialami Rantaka sendiri.
Sore harinya, Rantaka, Liris, Banyu, dan Jagra berkumpul di gudang kecil di belakang perpustakaan desa.
Gerobak Buku Langit Biru sudah dikeluarkan dari tempat penyimpanan. Cat birunya mulai pudar. Salah satu roda kayunya masih sedikit miring. Namun, gerobak itu tetap berdiri seperti sahabat lama yang tidak pernah benar-benar pergi.
Di atas meja, Liris meletakkan surat perusahaan, brosur, catatan warga tentang sungai, serta beberapa buku lama.
“Apa yang akan kita lakukan?” tanya Jagra.
“Aku ingin datang ke sosialisasi,” kata Banyu.
“Semua orang juga akan datang,” sahut Jagra.
“Bukan hanya datang,” kata Banyu. “Kita harus datang dengan pertanyaan.”
Liris membuka buku catatannya.
“Aku sudah mulai menulis daftar pertanyaan dari warga.”
Ia membacakan beberapa di antaranya.
“Lahan mana yang akan digunakan?”
“Apakah ada batas wilayah yang jelas?”
“Apakah perusahaan sudah memiliki izin?”
“Bagaimana perlindungan terhadap sungai dan sumber air?”
“Apakah ada kajian lingkungan?”
“Jika kolam ikan atau kebun warga terdampak, siapa yang bertanggung jawab?”
“Apakah pemuda desa mendapat pekerjaan tetap atau hanya pekerjaan sementara?”
“Apakah warga bisa menolak jika tanahnya tidak ingin dijual?”
Jagra mendengarkan dengan wajah serius.
“Pertanyaan seperti itu akan membuat mereka tidak nyaman.”
“Kalau pertanyaannya wajar, mereka seharusnya bisa menjawab,” kata Liris.
Rantaka memandang gerobak buku.
“Kita juga harus menyiapkan warga agar tidak datang hanya untuk mendengar janji.”
“Bagaimana?” tanya Banyu.
“Kita buat malam baca bersama,” jawab Rantaka. “Bukan rapat besar. Bukan untuk mengajak warga menolak perusahaan. Kita hanya membaca dan berdiskusi tentang hak warga, tanah, sungai, dan kerja sama desa.”
Jagra mengerutkan dahi.
“Apakah warga mau datang?”
“Kalau kita mengundang mereka dengan cara menggurui, mungkin tidak,” kata Liris. “Tapi kalau kita mulai dari cerita mereka sendiri, mereka akan datang.”
“Cerita siapa?” tanya Banyu.
“Pak Roni tentang kebunnya. Jagra tentang kolamnya. Bu Marni tentang anaknya yang ingin pulang dari kota. Seno tentang pemuda yang butuh pekerjaan.”
Jagra menoleh kepada Liris.
“Kau mau memasukkan cerita Seno juga?”
“Ya,” jawab Liris. “Kalau kita ingin desa tetap bersama, kita tidak boleh menganggap semua orang yang berharap pada perusahaan sebagai lawan.”
Rantaka tersenyum.
“Itu yang kita butuhkan. Desa ini tidak sedang memilih antara orang baik dan orang jahat. Desa ini sedang mencari jalan agar tidak kehilangan dirinya sendiri.”
Malam itu, kabar tentang surat penawaran dari kota kembali menyebar.
Di warung kopi, para lelaki membicarakan harga tanah.
Di dapur-dapur rumah warga, ibu-ibu membicarakan kemungkinan pekerjaan bagi anak-anak mereka.
Di teras rumah, para pemuda membayangkan jalan baru, gaji tetap, dan kehidupan yang tidak lagi bergantung pada musim.
Namun, di rumah-rumah lain, orang-orang mulai memikirkan hal yang berbeda.
Jika tanah dijual, ke mana mereka akan berkebun?
Jika sungai semakin keruh, dari mana mereka mengambil air?
Jika perusahaan datang membawa pekerjaan, apakah pekerjaan itu akan cukup lama untuk menggantikan tanah yang hilang?
Dan jika perusahaan pergi, apakah warga masih memiliki sesuatu untuk diwariskan kepada anak-anak mereka?
Di rumahnya, Jagra duduk bersama ayahnya.
Ayahnya baru pulang dari kolam. Wajahnya terlihat letih.
“Ayah dengar ada surat dari perusahaan,” katanya.
“Iya.”
“Katanya mereka mau membuka kerja.”
“Iya.”
Ayah Jagra menatap anaknya.
“Kau menolak?”
Jagra terdiam.
“Aku tidak tahu.”
Ayahnya mengangguk pelan.
“Dulu, saat banjir menghancurkan kolam kita, aku juga pernah berpikir menjual tanah. Rasanya lebih mudah. Tidak perlu memikirkan pakan ikan, tanggul, atau utang.”
“Lalu kenapa Ayah tidak jadi menjual?”
Ayah Jagra memandang ke arah kolam yang tidak terlihat dari dalam rumah.
“Karena tanah ini memang tidak membuat kita kaya. Tapi tanah ini membuat kita tetap punya tempat untuk berdiri.”
Jagra menundukkan kepala.
Kalimat itu tinggal lama dalam pikirannya.
Di rumah Rantaka, Liris masih duduk di ruang depan.
Ia menulis sesuatu di buku catatannya.
Rantaka datang membawa dua cangkir teh.
“Kau belum pulang?” tanyanya.
“Aku ingin menyelesaikan satu tulisan.”
“Tulisan tentang perusahaan?”
“Bukan.” Liris tersenyum tipis. “Tentang sungai.”
Rantaka duduk di sampingnya.
Liris membacakan beberapa kalimat yang baru ditulisnya.
Sungai tidak pernah meminta manusia memilih antara lapar dan hidup.
Sungai hanya mengalir, memberi air kepada kebun, kolam, dan anak-anak yang bermain di tepinya.
Tetapi ketika manusia mulai menghitung tanah hanya dengan harga, sungai sering menjadi yang pertama kali kehilangan suara.
Rantaka terdiam.
“Itu akan kau bacakan di malam diskusi?” tanyanya.
“Mungkin.”
“Orang-orang akan bilang itu terlalu puitis.”
“Tidak apa-apa,” jawab Liris. “Kadang orang perlu mendengar sesuatu dengan cara yang berbeda agar mau berpikir.”
Rantaka menatap Liris.
Di tengah persoalan desa yang semakin rumit, kehadiran Liris membuatnya merasa tidak sendirian.
Ia ingin mengatakan bahwa ia bangga padanya.
Ia ingin mengatakan bahwa sejak dulu, Liris selalu tahu cara melihat hal-hal yang tidak dilihat orang lain.
Namun, kata-kata itu tertahan.
Masih ada terlalu banyak hal yang harus mereka perjuangkan.
Masih ada terlalu banyak ketidakpastian.
Akhirnya, Rantaka hanya berkata, “Tulisanmu bagus.”
Liris tersenyum.
“Terima kasih, Pak Guru.”
“Jangan panggil aku begitu kalau sedang tidak di sekolah.”
“Lalu harus panggil apa?”
Rantaka terdiam sejenak.
Liris menatapnya sambil tersenyum kecil.
“Rantaka,” jawabnya akhirnya.
“Baik, Rantaka.”
Nama itu terdengar sederhana.
Namun, malam itu, di tengah kecemasan tentang sungai, tanah, dan masa depan desa, nama itu terasa seperti sesuatu yang hangat.
Sesuatu yang mengingatkan mereka bahwa perjuangan besar selalu dimulai dari orang-orang yang masih mau saling percaya.
Keesokan paginya, sebuah pengumuman ditempel di papan depan kantor desa.
PEMERINTAH DESA WANASARI MENGUNDANG SELURUH WARGA UNTUK MENGHADIRI SOSIALISASI RENCANA KERJA SAMA PT. BUMI RAYA MAKMUR.
Di bawahnya tercantum waktu dan tempat:
Balai Desa Wanasari
Hari Sabtu, Pukul 09.00
Di bagian paling bawah, tertulis satu kalimat:
Warga diharapkan hadir untuk mendengar penjelasan, menyampaikan pertanyaan, dan bersama-sama menentukan arah masa depan Desa Wanasari.
Rantaka membaca pengumuman itu bersama Liris, Banyu, dan Jagra.
Tidak ada satu pun dari mereka yang tahu apa yang akan terjadi pada hari Sabtu.
Mungkin perusahaan akan membawa jawaban.
Mungkin perusahaan hanya membawa janji.
Mungkin warga akan semakin terpecah.
Mungkin pula, untuk pertama kalinya, warga Desa Wanasari akan belajar berdiri bersama untuk bertanya.
Angin pagi berembus pelan dari arah sungai.
Airnya masih keruh.
Namun, di desa kecil itu, suara-suara yang selama ini diam mulai perlahan bangkit.
Dan kadang-kadang, perubahan tidak dimulai dari keputusan besar.
Perubahan dimulai dari sebuah surat.
Dari sebuah pertanyaan.
Dari keberanian untuk tidak menyerahkan masa depan begitu saja kepada orang-orang yang datang dari kota.
BAB 6
MALAM MEMBACA UNTUK MASA DEPAN
Sejak surat penawaran dari kota ditempel di papan pengumuman kantor desa, Desa Wanasari seperti tidak pernah benar-benar sepi.
Di warung kopi, orang-orang membicarakan perusahaan.
Di kebun, para petani membicarakan harga tanah.
Di tepi sungai, ibu-ibu membicarakan air yang semakin keruh.
Di rumah-rumah warga, anak-anak mendengar orang tua mereka berbicara dengan suara pelan, seolah masa depan desa sedang duduk di antara piring makan dan lampu minyak.
Namun, tidak semua orang memiliki keberanian untuk berbicara di depan banyak orang.
Sebagian warga hanya mendengar.
Sebagian lain memilih diam karena merasa tidak cukup mengerti.
Mereka takut pertanyaan mereka terdengar bodoh.
Mereka takut dianggap menolak kemajuan.
Mereka juga takut dianggap menjual kepentingan desa jika terlalu mudah percaya pada janji perusahaan.
Rantaka memahami kegelisahan itu.
Karena itu, sore hari sebelum sosialisasi perusahaan dilaksanakan, ia berdiri di depan gudang perpustakaan desa bersama Liris, Banyu, dan Jagra.
Gerobak Buku Langit Biru berada di hadapan mereka.
Cat birunya mulai kusam.
Roda kayunya masih mengeluarkan bunyi kecil ketika didorong.
Di bagian samping, tulisan yang dulu dibuat dengan tangan masih terlihat, meski beberapa huruf mulai pudar.
LANGIT BIRU
BUKU UNTUK MIMPI YANG TIDAK BOLEH PADAM
Rantaka mengusap tulisan itu perlahan.
“Sudah lama kita tidak mengeluarkannya,” kata Liris.
“Bukan gerobaknya yang lama tidak berjalan,” jawab Rantaka. “Kita yang terlalu sibuk sampai lupa mengajaknya berjalan.”
Jagra menunduk.
Ia teringat saat ia memutuskan menutup sementara Gerobak Buku ketika banjir merusak kolam keluarga mereka. Saat itu, ia merasa tidak punya tenaga untuk memikirkan anak-anak desa, buku-buku, atau kegiatan belajar.
Baginya, menyelamatkan kolam adalah satu-satunya hal yang penting.
Namun, setelah melihat Raka dan teman-temannya memindahkan ikan kecil dengan ember, Jagra mulai menyadari bahwa anak-anak itu masih menunggu sesuatu dari mereka.
Bukan hanya buku.
Melainkan contoh bahwa orang dewasa tidak boleh menyerah ketika keadaan menjadi sulit.
“Ayo,” kata Banyu sambil mengangkat salah satu kotak buku. “Kalau terlalu lama berdiri di sini, gerobaknya malah berkarat.”
Mereka tertawa kecil.
Kemudian, bersama-sama, mereka mendorong Gerobak Buku Langit Biru menuju halaman balai desa.
Menjelang magrib, halaman balai desa mulai berubah.
Beberapa pemuda memasang lampu bohlam yang digantung pada tali dari pohon ke pohon. Anak-anak membawa tikar dari rumah. Ibu-ibu datang dengan piring berisi singkong rebus, pisang goreng, dan kacang tanah.
Pak Jaya membawa termos besar berisi teh hangat.
Bu Marni membawa beberapa kursi plastik.
Bahkan Pak Darma, yang selama ini lebih banyak berbicara tentang peluang kerja dari perusahaan, datang membawa papan tulis kecil dari rumahnya.
“Untuk apa papan ini?” tanya Rantaka.
Pak Darma mengangkat bahu.
“Kalau mau diskusi, tulis saja yang penting. Biar tidak semua orang bicara berdasarkan ingatan.”
Rantaka tersenyum.
“Terima kasih, Pak.”
Pak Darma tidak menjawab.
Namun, wajahnya tampak sedikit lebih lunak daripada sebelumnya.
Tidak lama kemudian, Seno datang bersama beberapa pemuda lain.
Mereka duduk agak jauh dari gerobak buku.
Wajah mereka masih menunjukkan keraguan.
Bagi mereka, kegiatan seperti itu terdengar seperti rapat orang-orang yang ingin menghambat perusahaan.
Namun, Seno tetap datang.
Ia ingin mendengar sendiri apa yang akan dibicarakan.
Liris memperhatikan kedatangan mereka.
Ia tidak menghampiri dengan wajah curiga.
Ia hanya tersenyum dan berkata, “Silakan duduk. Malam ini tidak ada yang dipaksa setuju dengan siapa pun.”
Seno mengangguk kecil.
Kalimat itu membuatnya sedikit lebih tenang.
Ketika azan isya selesai berkumandang dari musala kecil di ujung desa, warga sudah mulai memenuhi halaman balai desa.
Anak-anak duduk paling depan.
Mereka memilih buku-buku cerita bergambar dari gerobak.
Ada yang membaca kisah tentang petani kecil yang membuat kebun sekolah.
Ada yang membaca cerita tentang anak desa yang belajar membuat radio sederhana.
Ada pula yang membuka buku ensiklopedia lama tentang sungai, ikan, tanah, dan hutan.
Di belakang mereka, para orang tua duduk dalam kelompok-kelompok kecil.
Sebagian masih berbicara tentang surat perusahaan.
Sebagian lain memandangi buku-buku yang tersusun di atas tikar.
Rantaka berdiri di dekat papan tulis.
Di atasnya, ia menulis dengan kapur putih:
MALAM MEMBACA UNTUK MASA DEPAN DESA WANASARI
Di bawah tulisan itu, ia menambahkan tiga pertanyaan:
- Apa yang kita harapkan untuk Desa Wanasari?
- Apa yang tidak ingin kita hilangkan dari Desa Wanasari?
- Apa yang perlu kita tanyakan sebelum membuat keputusan?
Rantaka memandang warga.
“Malam ini bukan rapat resmi,” katanya. “Bukan juga pertemuan untuk memutuskan menerima atau menolak perusahaan. Kita hanya ingin belajar mendengar satu sama lain.”
Beberapa warga mengangguk.
“Besok atau lusa, kita mungkin akan duduk di balai desa dan mendengar penjelasan dari orang-orang yang datang dari kota. Mereka akan membawa peta, brosur, dan janji. Tetapi sebelum itu, kita sendiri harus tahu apa yang ingin kita jaga.”
Ia berhenti sejenak.
“Kalau kita tidak tahu apa yang penting bagi desa ini, orang lain akan menentukan semuanya untuk kita.”
Suasana menjadi hening.
Angin malam bergerak pelan.
Lampu-lampu bohlam bergoyang kecil di atas kepala mereka.
Liris kemudian maju membawa buku catatan.
“Aku ingin membacakan beberapa catatan dari warga,” katanya.
Ia tidak menyebut nama orang-orang yang meminta agar ceritanya disimpan.
Ia hanya membaca dengan suara tenang.
Tentang kebun cabai yang mulai menguning.
Tentang kolam ikan yang rusak karena lumpur.
Tentang seorang ibu yang berharap anaknya bisa mendapat pekerjaan di desa agar tidak perlu merantau.
Tentang seorang petani yang takut tanah warisan keluarganya berubah menjadi tempat yang tidak lagi bisa ia kenali.
Tentang seorang pemuda yang merasa malu karena belum memiliki pekerjaan tetap.
Setelah Liris selesai membaca, tidak ada yang langsung bertepuk tangan.
Namun, beberapa warga terlihat menundukkan kepala.
Karena cerita-cerita itu bukan sekadar tulisan.
Cerita itu adalah kehidupan mereka sendiri.
Pak Darma menjadi orang pertama yang berdiri.
Ia berjalan ke arah papan tulis.
“Aku mau menjawab pertanyaan pertama,” katanya.
Rantaka menyerahkan kapur kepadanya.
Pak Darma menulis perlahan.
PEKERJAAN UNTUK ANAK MUDA
Setelah itu, ia menoleh kepada warga.
“Aku tidak malu mengatakannya. Aku ingin anak-anak muda punya pekerjaan di desa. Aku punya dua anak laki-laki. Yang satu di kota, bekerja serabutan. Yang satu lagi ingin merantau setelah lulus sekolah. Kalau ada pekerjaan yang baik di sini, tentu aku ingin mereka pulang.”
Seno mengangguk.
Beberapa pemuda ikut mengangguk.
Pak Darma melanjutkan, “Aku tahu ada risiko. Aku juga tahu sungai harus dijaga. Tapi kita tidak bisa hanya bicara tentang menjaga kalau perut warga masih sulit diisi.”
Tidak ada yang membantah.
Karena kata-kata itu juga benar.
Kemudian Jagra berdiri.
Ia tidak langsung mengambil kapur.
Ia menatap warga lebih dulu.
“Aku juga ingin pekerjaan,” katanya. “Aku ingin kolam ikan bisa memberi penghasilan. Aku ingin pemuda desa tidak perlu pergi jauh. Tapi kalau sungai rusak, kolam kami mati. Kalau tanah di bukit dibuka tanpa aturan, banjir makin besar. Kalau kebun hilang, pekerjaan apa yang tersisa?”
Ia mengambil kapur dari tangan Pak Darma.
Lalu menulis di bawah kalimat sebelumnya:
SUNGAI BERSIH DAN TANAH YANG TETAP BISA DIOLAH
“Ini bukan soal menolak kerja,” lanjut Jagra. “Ini soal jangan sampai kita menjual sumber kerja yang sudah kita punya.”
Kali ini, beberapa ibu-ibu mengangguk.
Pak Roni yang duduk di dekat belakang berkata, “Benar. Kalau kebun rusak, kami tidak punya apa-apa.”
Seno memandang tulisan di papan.
Wajahnya tampak mulai berpikir.
Banyu maju setelah itu.
Ia membawa sebuah botol plastik berisi air dari parit dekat kolam.
Air itu masih keruh, meski endapan tanah mulai turun ke dasar botol.
“Aku bukan ahli lingkungan,” katanya. “Aku juga bukan orang yang paling pintar di desa ini. Tapi aku tahu satu hal: kalau ada perubahan di alam, kita harus mencatatnya.”
Ia meletakkan botol itu di atas meja kecil.
“Kalau nanti perusahaan datang, kita jangan hanya bertanya soal harga tanah dan pekerjaan. Kita juga harus bertanya tentang air.”
Banyu menulis di papan:
JAMINAN PERLINDUNGAN SUNGAI, KOLAM, DAN KEBUN
“Kalau mereka benar-benar ingin bekerja sama, mereka harus mau menjelaskan bagaimana mereka menjaga aliran air. Mereka harus mau menjelaskan apa yang dilakukan jika ada kerusakan. Mereka harus berani menulisnya, bukan hanya mengatakannya.”
Seno akhirnya berdiri.
Beberapa orang menoleh kepadanya.
Ia berjalan perlahan ke depan.
“Aku setuju soal itu,” katanya.
Jagra memandangnya.
Seno menarik napas.
“Aku memang ingin ada pekerjaan. Aku masih ingin perusahaan datang dan membuka kesempatan. Tapi aku tidak ingin kita semua hanya diberi janji.”
Ia mengambil kapur.
Di bawah tulisan Banyu, ia menulis:
PEKERJAAN YANG JELAS, AMAN, DAN TIDAK SEMENTARA
“Kalau mereka bilang pemuda desa akan bekerja, kita harus tahu bekerja sebagai apa. Berapa lama. Dengan upah berapa. Apakah ada pelatihan. Apakah setelah proyek selesai, kami ditinggalkan begitu saja.”
Kali ini, Rantaka tersenyum.
Bukan karena Seno berubah menjadi orang yang sepenuhnya setuju dengannya.
Tetapi karena Seno mulai berani bertanya.
Dan keberanian bertanya adalah awal dari warga yang tidak mudah dipermainkan.
Setelah itu, papan tulis mulai dipenuhi tulisan.
SEKOLAH YANG LEBIH BAIK
JALAN KE KEBUN YANG AMAN
TANAH WARISAN TIDAK BOLEH DIPAKSA DIJUAL
AIR BERSIH UNTUK ANAK-ANAK
PELATIHAN UNTUK PEMUDA DAN IBU-IBU
KOMPENSASI JIKA ADA KERUSAKAN
KEPUTUSAN HARUS DIBICARAKAN BERSAMA
Anak-anak yang duduk di depan ikut memperhatikan.
Raka mengangkat tangan.
Rantaka mendekatinya.
“Ada apa?”
“Pak Guru, saya juga boleh menulis?”
“Tentu.”
Raka berjalan ke depan sambil membawa kapur kecil.
Ia berdiri cukup lama di depan papan.
Hurufnya masih belum rapi.
Namun, akhirnya ia berhasil menulis:
IKAN JANGAN MATI
Beberapa warga tersenyum.
Ada yang tertawa pelan.
Namun, tidak ada yang menertawakan Raka.
Karena kalimat sederhana itu justru membuat semua orang terdiam sesaat.
Ikan jangan mati.
Sungai jangan mati.
Kolam jangan mati.
Harapan jangan mati.
Kadang-kadang, anak kecil mampu menyederhanakan persoalan yang terlalu lama dibuat rumit oleh orang dewasa.
Liris mendekat dan memegang bahu Raka.
“Itu tulisan paling penting malam ini,” katanya.
Raka tersenyum malu-malu.
Setelah diskusi, Liris membacakan sebuah puisi.
Ia berdiri di dekat Gerobak Buku Langit Biru.
Suara malam semakin sunyi.
Hanya terdengar bunyi jangkrik dari arah kebun dan aliran sungai yang masih membawa air keruh.
Liris membuka kertasnya.
Sungai yang Menunggu
Kami tidak meminta jalan tanpa debu,
jika jalan itu harus menutup mata air kami.
Kami tidak menolak kerja,
jika kerja itu tidak membuat tangan kami
kehilangan tanah untuk ditanami.
Kami hanya ingin desa ini tetap punya nama,
tetap punya sungai,
tetap punya anak-anak
yang bisa pulang dari sekolah
tanpa takut kehilangan masa depan.
Sebab kemajuan bukan hanya gedung dan mesin.
Kemajuan adalah ketika seorang anak
masih bisa menulis mimpinya
di atas tanah yang tidak dijual oleh ketakutan.
Tidak ada tepuk tangan panjang setelah puisi itu selesai.
Namun, beberapa orang mengusap mata.
Bu Marni menunduk sambil memegang tangan anak perempuannya.
Pak Darma memandang papan tulis.
Seno menatap gerobak buku.
Jagra memandang ke arah sungai yang tidak terlihat dari halaman balai desa.
Malam itu, untuk pertama kalinya, warga tidak hanya membicarakan perusahaan sebagai sesuatu yang datang dari luar.
Mereka mulai membicarakan desa sebagai sesuatu yang harus mereka pahami bersama.
Setelah sebagian warga pulang, Rantaka, Liris, Banyu, dan Jagra masih tinggal di halaman balai desa.
Lampu-lampu bohlam belum dimatikan.
Papan tulis masih penuh tulisan.
Gerobak Buku Langit Biru berdiri di samping mereka.
“Aku tidak menyangka Seno mau bicara seperti itu,” kata Jagra.
“Dia bukan musuh kita,” jawab Liris. “Dia hanya sedang mencari jalan untuk hidup.”
“Aku tahu,” kata Jagra. “Tapi kadang sulit mengingat itu ketika kolam sendiri hampir hancur.”
Banyu duduk di atas bangku kayu.
“Desa ini memang sedang sulit. Kalau semua orang hanya menarik ke arah masing-masing, kita akan patah.”
Rantaka memandang tulisan-tulisan di papan.
“Besok kita salin semua ini,” katanya. “Kita buat daftar pertanyaan warga. Kita bawa ke sosialisasi.”
“Kalau mereka tidak mau menjawab?” tanya Jagra.
“Kalau mereka tidak mau menjawab pertanyaan sederhana tentang tanah dan sungai,” kata Rantaka, “warga harus tahu bahwa ada sesuatu yang tidak beres.”
Liris memandang Rantaka.
“Kau yakin kita siap menghadapi semua ini?”
Rantaka tidak langsung menjawab.
Ia memandang halaman desa yang mulai sepi.
Di kejauhan, terlihat beberapa anak masih membawa buku pulang ke rumah.
Ia teringat ketika dahulu mereka hanya berempat mendorong gerobak buku, berharap anak-anak mau membaca.
Kini, mereka sedang berdiri di tengah persoalan yang jauh lebih besar.
Ada tanah.
Ada sungai.
Ada pekerjaan.
Ada masa depan banyak keluarga.
Namun, di dalam dirinya, Rantaka merasa ada keyakinan yang perlahan tumbuh.
“Kita mungkin belum siap,” katanya. “Tapi desa ini tidak bisa menunggu sampai kita merasa siap.”
Liris tersenyum kecil.
Banyu mengangguk.
Jagra menatap Gerobak Buku Langit Biru.
“Kalau begitu,” katanya, “besok kita mulai lagi.”
Rantaka mengangkat alis.
“Mulai apa?”
“Mulai menjaga desa ini,” jawab Jagra.
Angin malam berembus perlahan.
Lampu-lampu bohlam bergoyang di atas mereka.
Di papan tulis, tulisan Raka masih terlihat paling bawah.
IKAN JANGAN MATI
Kalimat itu sederhana.
Namun, malam itu, kalimat tersebut menjadi pengingat bagi mereka semua.
Bahwa masa depan Desa Wanasari tidak boleh dibangun dengan mengorbankan kehidupan yang selama ini membuat desa itu tetap bertahan.
Dan di bawah langit malam yang gelap, Gerobak Buku Langit Biru kembali berdiri sebagai tanda bahwa pengetahuan, keberanian, dan kebersamaan masih memiliki tempat di Desa Wanasari.
BAB 7
SOSIALISASI YANG MEMBELAH BALAI DESA
Hari Sabtu datang dengan langit yang cerah.
Sejak pagi, halaman balai Desa Wanasari sudah dipenuhi sepeda motor, sepeda tua, dan beberapa mobil bak terbuka milik warga dari dusun-dusun sekitar. Jalan tanah di depan balai desa yang biasanya lengang kini ramai oleh orang-orang yang datang dengan wajah penuh rasa ingin tahu.
Sebagian mengenakan pakaian terbaik mereka.
Sebagian datang dengan sandal berlumpur karena baru pulang dari kebun.
Sebagian membawa buku catatan.
Sebagian lagi datang hanya dengan harapan sederhana: semoga hari itu ada kabar tentang pekerjaan.
Di depan balai desa, sebuah spanduk putih telah dipasang.
SOSIALISASI RENCANA KERJA SAMA PENGEMBANGAN KAWASAN USAHA
PT. BUMI RAYA MAKMUR
DAN PEMERINTAH DESA WANASARI
Tulisan itu terlihat besar.
Namun, bagi sebagian warga, arti dari kata-kata di dalamnya masih terasa jauh.
Pengembangan kawasan usaha.
Kerja sama.
Pemberdayaan.
Kemitraan.
Kata-kata itu terdengar seperti bahasa kota.
Bahasa yang rapi di atas kertas, tetapi belum tentu mudah dipahami oleh orang-orang yang setiap hari mengukur hidup dengan musim, hasil kebun, air sungai, dan harga ikan di pasar.
Rantaka datang bersama Liris, Banyu, dan Jagra.
Mereka berdiri di bawah pohon beringin dekat halaman balai desa.
Di tangan Liris, terdapat map berisi catatan warga dan daftar pertanyaan yang disusun setelah Malam Membaca untuk Masa Depan.
Banyu membawa beberapa foto kondisi parit, sungai, dan kolam Jagra.
Jagra tidak membawa apa-apa.
Namun, wajahnya sudah cukup menunjukkan bahwa ia tidak datang untuk mendengar janji tanpa jawaban.
“Jangan langsung terpancing,” kata Rantaka kepada Jagra.
Jagra mengangguk.
“Aku tahu.”
“Kalau mereka bicara berputar-putar, kita tanya dengan tenang,” lanjut Liris.
“Aku juga tahu,” jawab Jagra.
Banyu tersenyum tipis.
“Kalau kau menjawab seperti itu, berarti kau belum tentu tahu.”
Jagra menatap Banyu tajam.
Namun, beberapa detik kemudian ia justru tersenyum kecil.
“Aku akan berusaha.”
Mereka masuk ke balai desa bersama warga lain.
Di dalam ruangan, kursi-kursi plastik telah disusun dalam beberapa baris.
Di bagian depan terdapat meja panjang yang ditutup kain hijau. Di atasnya tersedia air mineral, mikrofon, map, dan sebuah layar putih yang digantung di dinding.
Pak Kades Harun duduk di tengah.
Di sebelahnya duduk Ketua BPD, Pak Mulyadi.
Di sisi lain, tampak dua orang laki-laki dan seorang perempuan yang datang dari kota.
Laki-laki pertama mengenakan kemeja putih lengan panjang dan celana hitam. Rambutnya disisir rapi. Di dadanya terpasang kartu nama.
SURYA PRATAMA
MANAGER COMMUNITY RELATIONS
PT. BUMI RAYA MAKMUR
Laki-laki kedua membawa laptop dan beberapa gulungan peta.
Perempuan di sampingnya mengenakan jilbab abu-abu dan membawa map tebal.
Warga mulai memenuhi ruangan.
Pak Darma duduk di barisan depan bersama Seno dan beberapa pemuda.
Bu Marni duduk di tengah bersama ibu-ibu lain.
Pak Roni duduk dekat pintu, masih mengenakan topi kebun.
Anak-anak tidak diizinkan masuk ke ruang utama, tetapi beberapa di antaranya mengintip dari jendela.
Raka terlihat berdiri di luar bersama teman-temannya.
Ia ingin tahu mengapa begitu banyak orang dewasa berkumpul.
Tepat pukul sembilan, Pak Kades Harun berdiri.
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.”
“Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh,” jawab warga.
Pak Kades memandang seluruh ruangan.
“Bapak-bapak dan Ibu-ibu, hari ini kita berkumpul untuk mendengar penjelasan dari PT. Bumi Raya Makmur. Saya ingin menegaskan sejak awal bahwa pertemuan ini adalah sosialisasi. Tidak ada keputusan yang akan ditandatangani hari ini.”
Beberapa warga mengangguk.
Namun, ada pula yang saling berbisik.
Pak Kades melanjutkan, “Warga berhak mendengar, bertanya, memberi pendapat, dan menyampaikan keberatan. Saya meminta semua pihak menjaga suasana agar kita dapat berbicara dengan baik.”
Setelah itu, ia mempersilakan Surya Pratama berdiri.
Surya tersenyum.
“Terima kasih kepada Pemerintah Desa Wanasari dan seluruh masyarakat yang telah menerima kami,” katanya.
Suaranya tenang.
Terlalu tenang.
“Kami dari PT. Bumi Raya Makmur hadir dengan niat membangun kemitraan. Kami percaya bahwa kemajuan ekonomi tidak boleh hanya dinikmati oleh kota. Desa juga harus mendapatkan kesempatan untuk berkembang.”
Di layar putih, muncul gambar jalan aspal, bangunan pelatihan, alat berat, dan pekerja memakai helm.
“Rencana kami adalah mengembangkan kawasan usaha terpadu yang dapat membuka akses jalan, menciptakan lapangan kerja, memberikan pelatihan keterampilan, serta mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat.”
Beberapa pemuda terlihat mulai memperhatikan.
Seno duduk lebih tegak.
Surya melanjutkan presentasinya.
Ia berbicara tentang kesempatan kerja bagi pemuda.
Tentang pelatihan operator alat berat.
Tentang bantuan perbaikan jalan.
Tentang kemungkinan program beasiswa.
Tentang pembangunan sarana air bersih.
Setiap kali sebuah gambar baru muncul di layar, beberapa warga saling memandang.
Bagi mereka yang selama ini hidup dengan jalan rusak dan hasil kebun yang sulit dibawa ke pasar, gambar-gambar itu terasa seperti pintu menuju kehidupan yang lebih baik.
Namun, ketika presentasi memasuki bagian peta, suasana mulai berubah.
Laki-laki yang membawa laptop berdiri dan membuka gulungan peta besar.
Peta itu ditempel di dinding.
Ada garis-garis merah.
Ada area berwarna kuning.
Ada tanda-tanda jalan.
Ada simbol sungai.
Ada beberapa bagian yang diberi tulisan kecil yang sulit dibaca dari tempat duduk warga.
“Ini adalah gambaran awal wilayah yang akan kami kaji,” kata Surya. “Belum ada penetapan final. Kami masih melakukan pemetaan potensi.”
Jagra berdiri dari kursinya.
“Bagian kuning itu apa?”
Surya menoleh.
“Itu wilayah studi awal, Pak.”
“Wilayah studi awal untuk apa?”
“Untuk melihat potensi pengembangan kawasan usaha.”
“Potensi apa?”
Surya tersenyum tipis.
“Potensi ekonomi, Pak. Termasuk akses, kondisi lahan, dan kemungkinan pengembangan kegiatan produktif.”
Jagra tidak duduk.
“Apakah itu termasuk tanah warga?”
Ruangan mulai hening.
Surya menatap peta.
“Sebagian wilayah memang berada di sekitar area yang saat ini dimanfaatkan masyarakat. Tetapi kami belum melakukan pembicaraan dengan pemilik lahan secara rinci.”
“Jadi tanah warga masuk peta itu?” tanya Jagra lagi.
“Yang kami tampilkan adalah wilayah kajian, bukan pengambilan tanah.”
“Kalau nanti kajiannya selesai, apakah tanah itu akan dibeli?”
Surya tidak langsung menjawab.
“Kami akan mengutamakan musyawarah dan kesepakatan dengan masyarakat.”
Jagra menatapnya.
“Itu bukan jawaban.”
Beberapa warga mulai berbisik.
Pak Kades Harun mengangkat tangan.
“Silakan semua pertanyaan dicatat. Setelah presentasi selesai, kita buka sesi tanya jawab.”
Jagra akhirnya duduk.
Namun, rahangnya masih mengeras.
Setelah hampir satu jam presentasi, sesi tanya jawab dibuka.
Pak Kades berdiri.
“Baik. Sekarang warga dapat menyampaikan pertanyaan.”
Seno menjadi orang pertama yang mengangkat tangan.
Ia berdiri dengan sedikit gugup.
“Nama saya Seno. Saya mewakili beberapa pemuda desa. Tadi Bapak mengatakan ada kesempatan kerja. Kami ingin tahu, pekerjaan apa yang tersedia untuk pemuda desa? Berapa orang yang akan diterima? Dan apakah pekerjaannya tetap?”
Surya tersenyum lebih lebar.
“Pertanyaan yang sangat baik. Kami berkomitmen memprioritaskan tenaga kerja lokal. Nantinya akan ada kebutuhan tenaga kerja pada berbagai bidang, seperti administrasi lapangan, pengamanan, operator, logistik, dan kegiatan pendukung lainnya.”
“Berapa orang?” tanya Seno.
“Jumlahnya akan disesuaikan dengan kebutuhan proyek.”
“Berapa lama?”
“Bergantung pada tahapan kegiatan.”
“Apakah ada kontrak kerja?”
Surya mengangguk pelan.
“Tentu, semua akan mengikuti ketentuan perusahaan dan peraturan yang berlaku.”
Seno berdiri beberapa saat.
Jawaban itu terdengar seperti jawaban.
Namun, tidak ada angka.
Tidak ada kepastian.
Tidak ada penjelasan tentang berapa lama pemuda desa dapat bekerja setelah proyek selesai.
Akhirnya Seno berkata, “Kami ingin itu ditulis jelas kalau nanti ada kerja sama.”
Surya tersenyum.
“Tentu, aspirasi masyarakat akan kami catat.”
Banyu menunduk.
Ia menulis sesuatu di buku kecilnya.
Tidak ada angka. Tidak ada jangka waktu. Tidak ada jaminan tertulis.
Setelah itu, Bu Marni berdiri.
Suaranya tidak keras, tetapi seluruh ruangan mendengarnya.
“Saya punya anak laki-laki yang merantau. Saya ingin dia bisa pulang kalau ada kerja di desa. Tapi saya juga ingin tahu, kalau tanah kami dijual atau dipakai, kami masih bisa berkebun di mana?”
Surya memandang Bu Marni dengan wajah simpatik.
“Perusahaan tidak akan memaksa masyarakat menjual tanah. Semua akan berdasarkan kesepakatan.”
“Kalau saya tidak mau menjual?” tanya Bu Marni.
“Tidak ada paksaan, Bu.”
“Kalau tanah saya berada di tengah wilayah yang Bapak mau gunakan?”
Surya terdiam sejenak.
“Kami akan mencari solusi terbaik melalui musyawarah.”
“Solusi terbaik menurut siapa?” tanya Bu Marni.
Ruangan mulai ramai.
Beberapa ibu-ibu mengangguk.
Surya mencoba tersenyum, tetapi kali ini senyumnya tampak lebih berat.
“Kami tentu ingin solusi yang terbaik bagi semua pihak.”
Bu Marni duduk kembali.
Namun, pertanyaannya tinggal di ruangan itu.
Solusi terbaik bagi siapa?
Liris kemudian berdiri.
Ia membawa map biru berisi catatan warga.
“Nama saya Liris,” katanya. “Saya ingin menyampaikan pertanyaan dari beberapa warga.”
Surya mengangguk.
“Silakan.”
Liris membuka mapnya.
“Dalam beberapa minggu terakhir, warga melihat perubahan pada aliran air. Kolam ikan rusak, parit membawa lumpur lebih banyak, dan beberapa kebun terdampak. Kami ingin tahu, apakah perusahaan sudah melakukan kajian tentang dampak terhadap sungai dan sumber air?”
Perempuan berjilbab abu-abu di samping Surya mengambil mikrofon.
“Perkenalkan, saya Ratih, dari tim lingkungan perusahaan. Saat ini kami masih dalam tahap pengumpulan data awal. Kajian lingkungan yang lebih lengkap akan dilakukan sesuai prosedur.”
“Apakah pembukaan jalan di bukit sudah menjadi bagian dari pengumpulan data awal itu?” tanya Liris.
Ratih terlihat berhati-hati.
“Ada kegiatan peninjauan akses yang dilakukan bersama pihak terkait.”
“Apakah kegiatan itu sudah memiliki izin?”
Pak Kades Harun menoleh ke arah Ratih.
Beberapa warga ikut menatap.
Ratih menjawab, “Kami akan memastikan seluruh kegiatan berjalan sesuai ketentuan.”
“Itu berarti sudah ada izin atau belum?” tanya Liris.
Suasana berubah tegang.
Pak Darma menggeser duduknya.
Seno menatap ke arah depan.
Surya mengambil mikrofon.
“Bapak dan Ibu, kami memahami kekhawatiran masyarakat. Namun, kami berharap diskusi ini tidak berubah menjadi tuduhan. Kami datang untuk membangun komunikasi.”
Liris tidak meninggikan suara.
“Saya tidak menuduh. Saya hanya bertanya agar warga mengerti.”
“Dan kami akan menjawab sesuai proses yang berjalan,” kata Surya.
“Berarti belum ada jawaban sekarang?”
Surya terdiam.
Jagra berdiri lagi.
“Kalau belum ada jawaban, kenapa jalan di bukit sudah dibuka?”
“Pak Jagra,” kata Pak Kades dengan suara menahan, “mohon tetap tenang.”
“Aku tenang, Pak Kades,” jawab Jagra. “Tapi kolam kami tidak tenang. Airnya masuk membawa lumpur. Ikan kami mati. Kalau mereka belum punya jawaban, siapa yang bertanggung jawab?”
Pak Darma berdiri dari kursinya.
“Jangan semua masalah desa dilempar ke perusahaan!”
Jagra menoleh.
“Aku tidak melempar. Aku bertanya!”
“Bertanya boleh, tapi jangan membuat orang takut pada kesempatan,” balas Pak Darma.
“Kesempatan apa kalau sungai rusak?”
“Kesempatan kerja!”
“Kalau pekerjaan hanya beberapa tahun, lalu tanah dan air hilang, apa yang kita punya?”
Suara mereka mulai meninggi.
Beberapa warga ikut berdiri.
Ada yang membela Jagra.
Ada yang membela Pak Darma.
Ada yang meminta keduanya berhenti.
Balai desa yang semula tertib mulai dipenuhi suara.
“Kita butuh pekerjaan!”
“Kita butuh sungai!”
“Jangan menolak sebelum tahu!”
“Jangan setuju sebelum jelas!”
“Kita sudah terlalu lama miskin!”
“Jangan karena miskin lalu semua dijual!”
Pak Kades Harun memukul meja dengan telapak tangan.
“Cukup!”
Suara itu membuat ruangan perlahan hening.
Pak Kades berdiri.
Wajahnya tegang.
“Kita semua punya hak untuk bicara. Tetapi kita tidak boleh saling menghina hanya karena memiliki kekhawatiran yang berbeda.”
Ia memandang Pak Darma.
“Kau benar, Pak Darma. Warga butuh pekerjaan.”
Kemudian ia memandang Jagra.
“Kau juga benar, Jagra. Sungai dan tanah harus dijaga.”
Lalu ia memandang seluruh warga.
“Yang salah adalah jika kita dipaksa memilih antara makan hari ini atau hidup untuk masa depan. Desa tidak boleh dihadapkan pada pilihan seperti itu.”
Kalimat itu membuat ruangan kembali sunyi.
Pak Kades melanjutkan, “Saya meminta pihak perusahaan mencatat seluruh pertanyaan warga. Saya juga meminta agar sebelum ada pembicaraan lanjutan, perusahaan memberikan penjelasan tertulis tentang batas wilayah, jenis kegiatan, kebutuhan lahan, peluang kerja, perlindungan lingkungan, dan mekanisme ganti rugi jika terjadi kerusakan.”
Surya mengangguk.
“Kami akan mempertimbangkan permintaan tersebut.”
“Bukan mempertimbangkan,” kata Pak Kades tegas. “Warga membutuhkan itu sebelum melangkah lebih jauh.”
Untuk pertama kalinya, Surya tidak langsung tersenyum.
Ia hanya menjawab, “Baik, Pak Kades. Kami akan menyampaikan kepada manajemen.”
Pertemuan berakhir menjelang siang.
Tidak ada keputusan.
Tidak ada penandatanganan.
Tidak ada kepastian.
Namun, balai desa telah berubah.
Warga keluar dalam kelompok-kelompok kecil.
Sebagian tampak kecewa karena perusahaan belum memberi jawaban yang jelas.
Sebagian masih berharap perusahaan benar-benar membawa pekerjaan.
Sebagian lain semakin cemas melihat peta yang dipasang di depan.
Di halaman balai desa, Seno berdiri sendiri.
Rantaka menghampirinya.
“Kau baik-baik saja?” tanya Rantaka.
Seno mengangguk pelan.
“Aku hanya tidak suka jawaban mereka.”
“Jawaban tentang pekerjaan?”
“Semua jawaban mereka,” kata Seno. “Mereka bicara banyak, tapi tidak ada yang benar-benar bisa dipegang.”
Rantaka mengangguk.
“Karena itu warga harus terus bertanya.”
Seno memandang Rantaka.
“Kalau perusahaan akhirnya tidak jadi masuk, apakah kau punya pekerjaan untuk kami?”
Pertanyaan itu membuat Rantaka diam.
Ia tidak ingin memberi jawaban mudah.
Tidak ada guru, penulis, atau penggerak desa yang bisa menciptakan pekerjaan hanya dengan kata-kata.
“Aku tidak punya pekerjaan untukmu,” jawab Rantaka jujur. “Tapi aku ingin kita mencari jalan agar desa tidak hanya bergantung pada satu perusahaan.”
Seno tertawa kecil tanpa kegembiraan.
“Itu terdengar sulit.”
“Memang sulit.”
“Dan lama.”
“Mungkin.”
Seno memandang ke arah jalan desa.
“Orang lapar tidak selalu bisa menunggu lama.”
Rantaka tidak membantah.
Karena ia tahu, di situlah luka paling besar dari persoalan desa mereka.
Harapan sering datang dalam bentuk uang cepat.
Sedangkan perjuangan membangun kemampuan warga membutuhkan waktu, kesabaran, dan keberanian yang tidak semua orang sanggup miliki.
Di bawah pohon beringin, Liris membuka mapnya.
Ia menambahkan catatan baru.
Perusahaan belum menjelaskan batas lahan secara rinci.
Tidak ada kepastian jumlah tenaga kerja.
Tidak ada penjelasan tertulis tentang jangka waktu kerja.
Kajian lingkungan belum dipaparkan.
Kegiatan pembukaan akses belum dijelaskan izinnya.
Warga meminta jawaban tertulis sebelum keputusan apa pun.
Banyu berdiri di sampingnya.
“Kita harus menyimpan semua ini,” katanya.
“Untuk apa?” tanya Jagra.
“Untuk mengingat,” jawab Banyu. “Supaya nanti tidak ada yang bilang warga tidak pernah bertanya.”
Jagra memandang balai desa.
Pak Darma keluar bersama beberapa warga yang masih membicarakan peluang kerja.
Seno berjalan pulang dengan kepala tertunduk.
Bu Marni menggandeng tangan anak perempuannya.
Pak Roni membawa kembali topi kebunnya.
Semua orang pulang membawa pikiran masing-masing.
Desa Wanasari tidak lagi hanya dibelah oleh sungai dan jalan tanah.
Hari itu, desa mereka dibelah oleh ketakutan dan harapan.
Oleh kebutuhan yang mendesak dan masa depan yang belum jelas.
Oleh orang-orang yang ingin bertahan dengan tanah mereka, dan orang-orang yang ingin mencari hidup yang lebih baik melalui kesempatan baru.
Rantaka menatap pohon beringin tua di halaman balai desa.
Pohon itu telah berdiri jauh sebelum perusahaan datang.
Jauh sebelum warga mengenal kata-kata seperti investasi, kawasan usaha, atau kemitraan.
Akarnya menembus tanah dalam-dalam.
Mungkin, pikir Rantaka, Desa Wanasari juga harus belajar seperti pohon itu.
Boleh tumbuh ke arah mana pun.
Boleh menghadapi angin dari luar.
Namun, jangan sampai kehilangan akar yang membuatnya tetap berdiri.
Di kejauhan, awan kembali mulai berkumpul.
Dan dari arah bukit, angin membawa bau tanah basah.
Seolah hujan berikutnya sedang menunggu waktu untuk turun.
BAB 8
PETA YANG TIDAK PERNAH DIBUKA
Dua hari setelah sosialisasi di balai desa, Desa Wanasari masih dipenuhi percakapan yang sama.
Tentang perusahaan.
Tentang tanah.
Tentang pekerjaan.
Tentang sungai yang semakin keruh.
Di warung kopi, orang-orang membicarakan peta besar yang ditempel di depan balai desa. Ada yang mengatakan peta itu hanya gambar awal. Ada yang yakin wilayah berwarna kuning di dalamnya tidak akan menyentuh tanah warga. Ada pula yang mulai bertanya-tanya mengapa garis merah pada peta itu melewati kebun, parit, dan jalan kecil yang selama ini digunakan masyarakat.
Namun, setelah sosialisasi selesai, peta itu tidak pernah lagi terlihat.
Pihak perusahaan membawanya pulang.
Yang tersisa di balai desa hanya spanduk putih, kursi-kursi plastik, dan pertanyaan warga yang belum mendapatkan jawaban.
Pagi itu, Banyu datang ke perpustakaan desa membawa sebuah buku tulis besar.
Di dalamnya terdapat salinan kasar peta yang ia gambar dari ingatannya.
Garis-garisnya tidak rapi.
Ada tanda sungai.
Ada jalan tanah.
Ada bukit.
Ada beberapa kebun warga.
Namun, Banyu tidak yakin apakah semua yang ia gambar sudah tepat.
Liris sedang menyusun buku-buku di rak ketika Banyu masuk.
“Kau sudah dari tadi?” tanya Banyu.
“Sejak setelah subuh,” jawab Liris. “Ada anak-anak yang meminjam buku cerita.”
Banyu meletakkan buku tulisnya di meja.
“Aku mencoba menggambar peta yang dipasang waktu sosialisasi.”
Liris mendekat.
Ia membuka halaman buku itu.
“Kau ingat sebanyak ini?”
“Tidak semuanya. Tapi aku ingat garis merahnya.”
“Kenapa garis merah itu?”
Banyu menunjuk bagian tengah gambar.
“Karena garis itu melewati arah bukit. Lalu turun ke dekat sungai. Setelah itu, seperti masuk ke arah kebun Pak Roni dan tanah kosong dekat kolam Jagra.”
Liris menatap gambar itu lebih lama.
“Kalau benar begitu, wilayahnya luas.”
“Itu yang membuatku tidak tenang.”
“Bukankah Surya bilang itu hanya wilayah studi awal?”
Banyu mengangguk.
“Ya. Tapi kalau hanya studi awal, kenapa mereka sudah menggambar jalan, titik bangunan, dan jalur akses?”
Liris tidak menjawab.
Ia teringat bagaimana laki-laki dari perusahaan itu selalu menggunakan kata-kata yang terdengar aman.
Masih tahap awal.
Masih akan dikaji.
Masih menunggu kesepakatan.
Namun, di balik kata-kata itu, ada peta yang sudah menunjukkan arah.
Ada garis yang sudah melewati tanah warga.
Ada rencana yang tampaknya sudah lebih jauh daripada yang mereka akui.
“Apa yang ingin kau lakukan?” tanya Liris.
“Aku ingin melihat peta itu lagi.”
“Peta itu sudah dibawa perusahaan.”
“Bukan hanya peta perusahaan.”
Banyu membuka halaman lain dalam buku tulisnya.
Di sana terdapat catatan nama-nama warga.
Pak Roni.
Bu Marni.
Pak Karta.
Keluarga Jagra.
Lahan kas desa.
Kebun kecil di dekat sungai.
“Aku ingin membuat peta kita sendiri,” katanya.
Liris mengangkat wajah.
“Peta warga?”
“Ya. Peta yang menunjukkan tanah siapa, kebun siapa, jalan mana yang dipakai warga, parit mana yang mengalir ke sungai, dan kolam mana yang bisa terdampak kalau bukit dibuka.”
Liris memandangi Banyu.
“Itu pekerjaan besar.”
“Memang.”
“Dan bisa membuat banyak orang tidak senang.”
“Kalau kita tidak tahu apa yang kita punya, kita akan mudah kehilangan semuanya.”
Kalimat itu membuat Liris terdiam.
Di luar perpustakaan, suara anak-anak terdengar bermain di halaman sekolah. Mereka berlari sambil membawa kertas gambar. Beberapa di antara mereka masih mengenakan seragam yang sudah sedikit kusam.
Liris memandang mereka dari jendela.
“Baik,” katanya akhirnya. “Kita mulai dari cerita warga.”
Menjelang siang, Liris dan Banyu berjalan menuju kebun Pak Roni.
Matahari mulai tinggi. Jalan tanah masih lembap akibat hujan beberapa hari sebelumnya. Di beberapa bagian, roda sepeda motor meninggalkan jejak panjang yang dipenuhi air cokelat.
Pak Roni sedang membersihkan rumput di dekat tanaman singkong ketika mereka datang.
“Pak Roni,” panggil Liris.
Lelaki tua itu menoleh.
“Oh, Liris. Banyu. Ada apa?”
“Kami ingin bertanya sedikit tentang batas kebun Bapak,” kata Banyu.
Pak Roni mengerutkan dahi.
“Batas kebun?”
“Iya, Pak. Kami sedang membuat catatan tanah dan kebun warga yang berada dekat bukit serta aliran sungai.”
Pak Roni menancapkan parang kecilnya ke tanah.
“Untuk apa?”
“Supaya warga punya gambaran sendiri sebelum perusahaan datang lagi,” jawab Liris.
Pak Roni memandang ke arah bukit.
Di kejauhan, terlihat jalur tanah yang baru dibuka. Jalur itu tidak terlalu lebar, tetapi cukup jelas untuk dilalui kendaraan.
“Itu kebunku,” katanya sambil menunjuk deretan pohon karet di sisi kiri. “Dari pohon nangka itu sampai parit kecil di bawah.”
“Parit yang mengalir ke sungai?” tanya Banyu.
Pak Roni mengangguk.
“Dulu airnya jernih. Sekarang kalau hujan, lumpurnya turun cepat.”
“Apakah ada orang perusahaan yang datang ke sini?” tanya Liris.
Pak Roni tidak langsung menjawab.
Ia mengambil topinya dan mengusap keringat di dahinya.
“Ada dua orang datang tiga minggu lalu. Mereka bilang hanya melihat kondisi tanah. Mereka bertanya siapa pemilik kebun di sekitar sini.”
“Apakah Bapak menandatangani sesuatu?” tanya Banyu.
“Tidak. Mereka hanya mencatat.”
“Apakah mereka mengatakan bahwa kebun Bapak masuk dalam wilayah rencana?”
Pak Roni menatap Banyu.
“Mereka tidak bilang begitu.”
“Kalau kebun ini masuk peta perusahaan, Bapak mau menjualnya?” tanya Liris.
Pak Roni tersenyum pahit.
“Kalau harga tinggi, mungkin orang akan bilang aku bodoh kalau tidak menjual. Tapi tanah ini bukan hanya kebun. Ini peninggalan bapakku. Dari sini aku membiayai anak-anak sekolah. Dari sini aku hidup.”
Ia memandang tanaman singkong yang tumbuh tidak terlalu subur.
“Kalau aku menjual, uangnya mungkin habis dalam beberapa tahun. Tapi setelah itu, apa yang tersisa?”
Banyu menulis catatan.
Kebun Pak Roni: berbatasan dengan jalur baru dari bukit, dekat parit menuju sungai. Pernah didatangi dua orang yang mengaku melihat kondisi tanah. Tidak ada penjelasan tertulis.
Dari kebun Pak Roni, mereka berjalan ke rumah Bu Marni.
Bu Marni sedang menjemur pakaian di halaman ketika Liris dan Banyu datang.
“Ada apa lagi?” tanyanya sambil tersenyum tipis.
“Kami ingin menanyakan tanah di belakang rumah Ibu,” jawab Liris.
Bu Marni berhenti menjemur pakaian.
“Tanah itu kenapa?”
“Kami belum tahu, Bu. Kami hanya ingin mencatat batasnya.”
Bu Marni mengajak mereka duduk di bangku kayu.
“Tanah di belakang itu kecil. Tidak sampai satu hektare. Tapi di situ ada kebun pisang dan beberapa pohon durian.”
“Apakah Ibu pernah didatangi orang perusahaan?” tanya Banyu.
Bu Marni mengangguk.
“Seorang perempuan datang dengan dua laki-laki. Mereka bilang tanahku berada dekat rencana jalan.”
“Rencana jalan?” tanya Liris.
“Iya. Katanya, kalau jalan dibuat, tanahku bisa lebih bernilai.”
“Apakah mereka menunjukkan peta?”
“Tidak. Mereka hanya menunjukkan gambar di telepon.”
“Apakah mereka meminta Ibu menjual tanah?”
“Mereka belum meminta. Mereka hanya bilang kalau ada tawaran nanti, jangan terburu-buru menolak.”
Liris dan Banyu saling pandang.
“Lalu apa jawaban Ibu?” tanya Liris.
Bu Marni tersenyum kecil, tetapi matanya tampak lelah.
“Aku bilang, aku tidak bisa menjawab sendiri. Tanah itu bukan hanya milikku. Anak-anakku juga punya hak untuk tahu.”
Banyu menunduk.
Ia teringat Seno yang mengatakan bahwa orang lapar tidak selalu bisa menunggu lama.
Ia juga teringat bahwa Bu Marni memiliki anak yang bekerja serabutan di kota.
Mungkin, jika perusahaan benar-benar menawarkan uang besar, keputusan Bu Marni tidak akan mudah.
Tidak ada orang yang bisa menghakimi warga karena ingin hidup lebih baik.
Namun, tidak ada pula yang boleh memanfaatkan kesulitan mereka.
Sore hari, Liris dan Banyu bertemu Jagra di dekat kolam.
Air kolam masih berwarna kecokelatan. Beberapa ikan kecil terlihat bergerak lemah di dekat permukaan. Jagra sedang memperbaiki bagian tanggul dengan karung pasir.
“Kalian dari mana?” tanya Jagra.
“Dari kebun Pak Roni dan rumah Bu Marni,” jawab Banyu.
“Menanyakan peta?”
Banyu mengangguk.
Jagra berhenti bekerja.
“Aku juga menemukan sesuatu.”
Ia mengambil sebuah kertas yang tersimpan di dalam saku bajunya.
Kertas itu tampak kusut dan sedikit basah.
“Apa ini?” tanya Liris.
“Fotokopi surat.”
“Dari mana kau dapat?”
“Dari Pak Karta. Katanya ada orang datang ke rumahnya beberapa hari sebelum sosialisasi. Mereka meninggalkan kertas ini.”
Liris membuka kertas tersebut.
Di bagian atas tertulis nama perusahaan.
Namun, tidak ada tanda tangan resmi.
Isinya hanya berupa pemberitahuan singkat tentang kegiatan survei dan pendataan lahan di sekitar Desa Wanasari.
Di bagian bawah terdapat daftar nomor bidang tanah.
“Pak Karta tahu nomor tanahnya?” tanya Banyu.
“Tidak,” jawab Jagra. “Tapi ia bilang salah satu nomor di situ mungkin tanahnya.”
“Kenapa mungkin?”
“Karena tidak ada nama pemilik. Tidak ada gambar batas. Tidak ada penjelasan.”
Banyu membaca kertas itu dengan wajah tegang.
“Ini seperti mereka sudah mendata, tetapi warga tidak tahu apa yang didata.”
Jagra menunjuk bagian paling bawah.
“Lihat ini.”
Di sana terdapat kalimat kecil:
Data yang dikumpulkan akan digunakan sebagai bahan pertimbangan pengembangan kawasan dan penyusunan rencana teknis.
Liris mengulang kalimat itu pelan.
“Penyusunan rencana teknis.”
Banyu menghela napas.
“Berarti rencana mereka sudah berjalan lebih jauh daripada yang mereka katakan di balai desa.”
Jagra menatap air kolam.
“Aku sudah bilang. Mereka datang bukan hanya untuk mendengar.”
Malamnya, Rantaka datang ke perpustakaan desa setelah selesai memeriksa tugas murid-muridnya.
Di dalam ruangan, Liris, Banyu, dan Jagra sudah menunggu.
Di atas meja, terdapat buku tulis Banyu, salinan surat dari Pak Karta, catatan tentang kebun Pak Roni, serta gambar kasar peta warga yang mulai dibuat.
Rantaka membaca semuanya dengan hati-hati.
“Ini belum cukup untuk menuduh mereka melakukan pelanggaran,” katanya.
“Aku tidak ingin menuduh,” jawab Banyu. “Aku ingin warga tahu bahwa mereka sudah didata.”
“Dan warga harus tahu untuk apa data itu digunakan,” tambah Liris.
Rantaka mengangguk.
“Betul.”
Jagra duduk di sudut ruangan.
“Lalu kita harus bagaimana? Menunggu mereka datang lagi dengan peta yang lebih besar?”
“Kita tidak menunggu,” kata Liris.
Ia menarik sebuah kertas kosong.
“Kita buat surat.”
“Surat untuk perusahaan?” tanya Jagra.
“Untuk perusahaan dan pemerintah desa.”
Liris mulai menulis.
Permohonan Keterbukaan Informasi Rencana Pengembangan Kawasan Usaha di Desa Wanasari.
Di bawah judul itu, mereka menyusun beberapa permintaan:
- Penjelasan tertulis mengenai wilayah yang masuk dalam rencana kajian.
- Penjelasan mengenai kegiatan survei dan pendataan yang telah dilakukan.
- Daftar bidang tanah yang telah dicatat, tanpa mengabaikan hak privasi warga.
- Penjelasan mengenai rencana pembukaan akses jalan dan kegiatan di sekitar bukit.
- Penjelasan mengenai perlindungan sungai, parit, kebun, dan kolam warga.
- Jaminan bahwa tidak ada transaksi atau kesepakatan lahan tanpa musyawarah terbuka.
“Kita tidak bisa mengirim surat atas nama kita berempat,” kata Rantaka.
“Lalu atas nama siapa?” tanya Banyu.
“Warga.”
“Warga mana yang mau tanda tangan?” tanya Jagra.
Rantaka memandangnya.
“Yang mau tahu.”
Jawaban itu sederhana.
Namun, mereka semua tahu bahwa mengumpulkan warga tidak akan mudah.
Sebagian takut dianggap menentang perusahaan.
Sebagian khawatir kehilangan peluang kerja.
Sebagian lagi mungkin sudah mulai berharap pada uang yang belum pernah mereka lihat.
Liris menutup buku catatannya.
“Kalau kita tidak mengajak warga bicara sekarang, nanti mereka akan dipanggil satu per satu. Saat itu, mereka mungkin merasa harus mengambil keputusan sendiri.”
Rantaka mengangguk.
“Dan keputusan yang diambil sendiri dalam keadaan terdesak sering kali tidak benar-benar bebas.”
Keesokan harinya, Banyu mengajak Rantaka melihat jalur tanah di bukit.
Mereka berjalan melewati kebun-kebun warga hingga sampai pada bagian tanah yang mulai terbuka.
Di sana terlihat bekas roda kendaraan berat.
Tanah merah menumpuk di sisi jalan.
Beberapa pohon kecil telah tumbang.
Tidak jauh dari tempat itu, sebuah patok kayu berdiri dengan cat merah di bagian atas.
Rantaka mendekat.
Di patok tersebut terdapat tulisan angka yang mulai memudar.
BRM-07
“Apa artinya?” tanya Rantaka.
Banyu menggeleng.
“Tidak tahu. Tapi aku melihat patok seperti ini di dua tempat lain.”
Mereka berjalan lebih jauh.
Di bawah bukit, terlihat parit kecil yang mengarah ke sungai.
Airnya membawa lumpur tipis.
Rantaka jongkok dan menyentuh air itu.
“Kalau hujan besar, lumpur dari sini akan turun ke kolam Jagra,” katanya.
Banyu mengangguk.
“Itu yang terjadi waktu banjir kemarin.”
Rantaka berdiri.
Ia memandang bukit, jalur tanah, patok kayu, dan aliran air yang bergerak perlahan menuju desa.
Semua itu seperti bagian dari peta yang tidak pernah dibuka kepada warga.
Peta yang tidak dipasang di balai desa.
Peta yang tidak dijelaskan dalam sosialisasi.
Peta yang mungkin hanya diketahui oleh orang-orang yang datang dari kota dengan kendaraan, map, dan janji.
Namun, kini Banyu mulai menggambar peta lain.
Peta dari cerita warga.
Peta dari tanah yang diinjak setiap hari.
Peta dari parit yang mengalir ke kolam.
Peta dari kebun yang membiayai sekolah anak-anak.
Peta dari tempat-tempat yang tidak terlihat penting bagi orang luar, tetapi menjadi seluruh kehidupan bagi orang-orang Desa Wanasari.
Sore itu, ketika Rantaka dan Banyu kembali ke desa, mereka melihat beberapa warga berkumpul di depan rumah Pak Darma.
Di antara mereka ada Seno.
Mereka sedang membicarakan kabar bahwa perusahaan akan membuka pendaftaran awal untuk pelatihan kerja bagi pemuda.
“Pendaftaran awal?” tanya Banyu setelah mendengar kabar itu.
Seno mengangguk.
“Katanya minggu depan.”
“Di mana?”
“Di kantor kecamatan.”
“Apakah itu sudah resmi?” tanya Rantaka.
Seno mengangkat bahu.
“Ada orang perusahaan yang bilang begitu.”
Jagra yang baru datang dari arah kolam mendengar percakapan itu.
“Jadi mereka belum menjawab pertanyaan warga, tapi sudah mulai mengumpulkan pemuda?”
Seno menatap Jagra.
“Kalau ada pelatihan, aku mau ikut.”
“Tidak ada yang melarang,” jawab Jagra. “Tapi kau harus tahu apa yang kau ikuti.”
“Aku tahu aku butuh kerja.”
Kalimat itu membuat Jagra terdiam.
Rantaka memandang Seno.
“Kau boleh ikut pelatihan,” katanya. “Tapi jangan menandatangani apa pun sebelum kau membaca dan memahami isinya.”
Seno tersenyum tipis.
“Kalau aku tidak paham?”
“Bawa ke sini,” jawab Liris yang baru datang. “Kita baca bersama.”
Seno menatap mereka satu per satu.
Untuk sesaat, ia tampak ingin berkata sesuatu.
Namun, akhirnya ia hanya mengangguk.
Malam itu, Liris kembali menulis di buku catatannya.
Ia menulis tentang peta.
Bukan peta yang digambar dengan garis merah dan warna kuning.
Melainkan peta yang hidup di dalam ingatan warga.
Peta tentang pohon durian milik Bu Marni.
Peta tentang kebun Pak Roni.
Peta tentang kolam Jagra.
Peta tentang parit yang membawa air ke sungai.
Peta tentang jalan kecil yang setiap pagi dilalui anak-anak menuju sekolah.
Ia menulis:
Ada peta yang dibuat di atas meja.
Ada pula peta yang tumbuh di dalam kehidupan manusia.
Peta pertama bisa digulung, dibawa pulang, dan disimpan di dalam mobil.
Peta kedua tidak bisa dipindahkan begitu saja, karena di dalamnya ada nama, kenangan, kerja keras, dan masa depan.
Jika seseorang ingin menggambar ulang sebuah desa, ia harus terlebih dahulu belajar membaca peta yang hidup di hati warganya.
Di luar rumah, angin malam bergerak pelan.
Dari arah bukit, terdengar suara kendaraan yang jauh.
Entah kendaraan siapa.
Entah menuju ke mana.
Namun, suara itu cukup untuk membuat warga Desa Wanasari kembali bertanya:
Seberapa jauh rencana itu telah berjalan?
Dan apakah mereka masih memiliki waktu untuk menjaga tanah yang selama ini menjadi tempat mereka berpijak?
BAB 9
PELATIHAN YANG MENYIMPAN SYARAT
Pagi itu, sebuah mobil putih berhenti di depan kantor Desa Wanasari.
Mobil itu bukan mobil yang biasa terlihat di jalan desa.
Bodinya bersih, kacanya gelap, dan di pintunya terdapat lambang kecil PT. Bumi Raya Makmur. Dua orang turun dari dalam mobil. Seorang laki-laki membawa map biru, sementara seorang perempuan membawa kardus berisi lembaran kertas.
Mereka tidak tinggal lama.
Mereka hanya menyerahkan beberapa berkas kepada perangkat desa, berbicara singkat dengan Pak Kades Harun, lalu kembali masuk ke mobil.
Tidak sampai setengah jam kemudian, sebuah pengumuman ditempel di papan depan kantor desa.
PENDAFTARAN PELATIHAN KETERAMPILAN KERJA BAGI PEMUDA DESA WANASARI
Di bawah judul itu tertulis beberapa bidang pelatihan:
- Dasar-dasar keselamatan kerja lapangan
- Pengoperasian alat sederhana
- Administrasi dan logistik
- Perawatan peralatan
- Kedisiplinan kerja dan komunikasi lapangan
Di bagian bawah, tertulis kalimat yang segera menarik perhatian banyak pemuda:
Peserta pelatihan berkesempatan memperoleh prioritas dalam kebutuhan tenaga kerja proyek.
Kabar itu menyebar cepat.
Sebelum matahari naik tinggi, beberapa pemuda sudah datang ke kantor desa. Ada yang mengenakan sandal jepit, ada yang baru pulang dari kebun, dan ada yang membawa fotokopi ijazah sekolah.
Seno datang paling awal.
Ia berdiri di depan papan pengumuman cukup lama.
Matanya membaca setiap kalimat dengan teliti.
Ketika sampai pada bagian prioritas tenaga kerja proyek, wajahnya berubah.
Ada harapan yang muncul di sana.
Harapan yang selama ini sulit ia temukan di Desa Wanasari.
“Jadi kau benar-benar mau daftar?” tanya Deni, salah satu pemuda desa yang berdiri di sampingnya.
Seno mengangguk.
“Kalau ini benar-benar membuka jalan kerja, kenapa tidak?”
“Tapi Jagra bilang perusahaan belum menjawab soal tanah.”
Seno menoleh.
“Masalah tanah dan masalah kerja tidak selalu sama.”
“Kalau perusahaan jadi masuk, mungkin tanah warga memang akan dipakai.”
“Kalau tidak ada perusahaan, apakah kau punya pekerjaan untukku?” jawab Seno.
Deni terdiam.
Seno kembali membaca pengumuman.
“Aku tidak mau selamanya membantu ayah di kebun dengan hasil yang tidak pasti. Aku ingin punya keahlian. Aku ingin punya penghasilan tetap.”
Kata-kata itu terdengar tegas.
Namun, di dalam hati Seno, ada kegelisahan yang tidak ia tunjukkan.
Ia tahu perusahaan belum menjawab banyak pertanyaan.
Ia tahu warga sedang terbelah.
Ia tahu Jagra dan Rantaka tidak sepenuhnya percaya.
Tetapi kesempatan seperti itu tidak datang setiap hari.
Dan bagi seorang pemuda yang melihat teman-temannya pergi ke kota satu per satu, kata pelatihan bisa terdengar seperti pintu yang tidak boleh dilewatkan.
Siang hari, Rantaka datang ke kantor desa setelah mengajar.
Di depan pintu, ia melihat beberapa pemuda mengisi formulir.
Seno duduk di meja kayu bersama Deni dan tiga pemuda lain. Mereka menunduk, menulis nama, alamat, nomor telepon, pendidikan terakhir, serta pengalaman kerja.
Di atas meja, tersedia tumpukan formulir dengan logo PT. Bumi Raya Makmur.
Rantaka menghampiri mereka.
“Banyak yang daftar?” tanyanya.
Seno mengangkat wajah.
“Lumayan. Katanya kuotanya terbatas.”
“Pelatihannya kapan?”
“Minggu depan. Di aula kecamatan.”
“Berapa hari?”
“Tiga hari.”
“Setelah itu langsung bekerja?”
Seno mengangkat bahu.
“Tidak tahu. Di pengumuman hanya bilang ada prioritas.”
Rantaka mengambil satu formulir kosong.
“Boleh aku lihat?”
Seno tidak keberatan.
“Silakan.”
Rantaka membaca formulir itu perlahan.
Bagian pertama berisi data diri biasa.
Nama lengkap.
Tempat dan tanggal lahir.
Alamat.
Pendidikan terakhir.
Nomor keluarga.
Kontak darurat.
Namun, ketika ia membalik halaman kedua, wajahnya berubah.
Di bagian bawah terdapat beberapa pernyataan yang dicetak dengan huruf kecil.
Peserta bersedia mengikuti seluruh ketentuan program pelatihan dan kegiatan lanjutan yang ditetapkan oleh penyelenggara.
Peserta bersedia ditempatkan sesuai kebutuhan kegiatan perusahaan setelah dinyatakan memenuhi persyaratan.
Peserta menyatakan tidak akan mengajukan tuntutan atas perubahan jadwal, lokasi, maupun bentuk kegiatan yang dilakukan penyelenggara.
Peserta bersedia menjaga kerahasiaan informasi internal perusahaan selama mengikuti program.
Rantaka membaca ulang kalimat-kalimat itu.
Lalu ia melihat bagian paling bawah.
Dengan menandatangani formulir ini, peserta menyatakan telah memahami dan menyetujui seluruh ketentuan.
“Apakah kalian sudah membaca halaman kedua?” tanya Rantaka.
Deni mengangguk ragu.
“Sedikit.”
Seno menatap formulir di tangan Rantaka.
“Memangnya kenapa?”
“Ini bukan hanya formulir pendaftaran pelatihan,” jawab Rantaka.
“Lalu?”
“Di sini ada persetujuan untuk ditempatkan sesuai kebutuhan perusahaan.”
Seno mengerutkan dahi.
“Itu kan wajar. Kalau ikut pelatihan, mungkin nanti bekerja di tempat yang mereka butuhkan.”
“Benar,” kata Rantaka. “Tapi tempatnya di mana? Pekerjaannya apa? Berapa lama? Upahnya bagaimana? Apakah ada perlindungan kerja? Apakah peserta bisa menolak jika penempatannya tidak sesuai?”
Seno diam.
Rantaka menunjuk kalimat berikutnya.
“Di sini juga tertulis kalian tidak akan mengajukan tuntutan atas perubahan lokasi dan bentuk kegiatan.”
“Artinya apa?” tanya Deni.
“Artinya bisa saja pelatihan yang dijanjikan berubah. Bisa pindah tempat. Bisa berubah bentuk. Tetapi kalian sudah diminta setuju dari awal.”
“Bukankah itu hanya bahasa biasa dalam formulir?” kata salah satu pemuda.
“Mungkin,” jawab Rantaka. “Tapi bahasa biasa bisa menjadi masalah kalau orang yang menandatangani tidak memahami akibatnya.”
Seno mengambil formulir dari tangan Rantaka.
Ia membaca bagian kecil itu dengan lebih pelan.
Untuk pertama kalinya, harapan di wajahnya bercampur dengan keraguan.
Tidak lama kemudian, Liris datang membawa beberapa buku dari perpustakaan.
Ia melihat Rantaka berdiri bersama para pemuda.
“Ada apa?” tanyanya.
Rantaka menyerahkan formulir itu.
Liris membaca dengan teliti.
Ia tidak langsung berkata apa-apa.
Kemudian ia mengambil pensil dari tasnya dan menggarisbawahi beberapa bagian.
“Ini perlu dijelaskan,” katanya.
Seno menatapnya.
“Apakah kalian mau melarang kami ikut pelatihan?”
“Tidak,” jawab Liris cepat. “Tidak ada yang melarang kalian mencari kesempatan.”
“Lalu kenapa kalian selalu curiga?”
Liris memandang Seno dengan tenang.
“Karena kesempatan yang baik tidak seharusnya takut dijelaskan.”
Kalimat itu membuat Seno terdiam.
Liris melanjutkan, “Kalau perusahaan benar-benar ingin membantu pemuda desa, mereka seharusnya menjelaskan isi formulir dengan bahasa yang mudah dimengerti. Mereka juga seharusnya memberi waktu agar kalian membaca, bertanya, dan berdiskusi sebelum menandatangani.”
Deni mengangguk pelan.
“Aku memang tidak paham bagian ini.”
“Tidak apa-apa kalau tidak paham,” kata Rantaka. “Yang berbahaya adalah menandatangani sesuatu hanya karena takut kehilangan kesempatan.”
Seno menatap kertas itu lagi.
“Aku tidak punya banyak pilihan, Rantaka.”
Rantaka menarik napas.
“Aku mengerti.”
“Tidak, kau tidak mengerti,” kata Seno, suaranya mulai meninggi. “Kau sudah jadi guru. Kau punya pekerjaan tetap. Kau bisa bicara tentang hati-hati dan masa depan. Tapi aku? Aku sudah beberapa kali mencoba mencari kerja di kota. Pulang tanpa uang. Ayahku makin tua. Kebun kami tidak cukup.”
Rantaka tidak membalas dengan marah.
Ia tahu kata-kata Seno lahir dari luka yang nyata.
“Aku memang tidak bisa merasakan semua yang kau rasakan,” jawabnya. “Tapi justru karena itu aku tidak ingin kau dimanfaatkan oleh orang yang tahu kau sedang membutuhkan kerja.”
Seno memandangnya beberapa saat.
Lalu ia mengambil formulirnya.
“Aku tetap akan ikut pelatihan.”
“Silakan,” kata Rantaka.
Seno tampak sedikit terkejut.
“Tapi,” lanjut Rantaka, “jangan tanda tangan hari ini. Bawa formulir itu pulang. Baca. Tanyakan kepada keluargamu. Kalau ada yang tidak jelas, kita bisa membahasnya malam ini di perpustakaan.”
Seno tidak menjawab.
Ia memasukkan formulir ke dalam map plastik.
Kemudian ia berjalan keluar kantor desa.
Deni dan pemuda lain saling pandang.
Satu per satu, mereka juga mengambil formulir mereka.
Tidak ada yang langsung menandatangani.
Sore harinya, kabar tentang formulir itu mulai menyebar.
Ada warga yang mengatakan Rantaka dan teman-temannya sengaja ingin menggagalkan pelatihan.
Ada pula yang merasa para pemuda memang perlu diberi kesempatan membaca isi persetujuan dengan benar.
Pak Darma datang ke rumah Rantaka menjelang magrib.
Wajahnya terlihat tegang.
“Aku dengar kau menyuruh anak-anak tidak ikut pelatihan,” katanya tanpa basa-basi.
Rantaka yang sedang duduk di teras segera berdiri.
“Aku tidak menyuruh mereka tidak ikut, Pak.”
“Lalu kenapa mereka pulang membawa formulir tanpa tanda tangan?”
“Karena mereka belum memahami isinya.”
Pak Darma menghela napas keras.
“Rantaka, kau harus mengerti. Tidak semua orang punya waktu untuk memikirkan setiap kata kecil di atas kertas. Kalau terlalu banyak ragu, kesempatan akan lewat.”
“Kalau kesempatan itu benar, perusahaan tidak akan keberatan memberi waktu untuk memahami formulir.”
“Perusahaan punya aturan.”
“Warga juga punya hak.”
Pak Darma memandangnya tajam.
“Kau selalu bicara soal hak. Tapi bagaimana dengan kewajiban kita untuk mencari hidup yang lebih baik?”
Rantaka tidak segera menjawab.
Ia tahu Pak Darma tidak sedang berbicara tentang dirinya sendiri.
Pak Darma berbicara tentang anak-anaknya yang merantau.
Tentang penghasilan kebun yang tidak menentu.
Tentang rasa malu seorang ayah ketika tidak mampu memberi pekerjaan kepada anaknya.
“Aku tidak menolak hidup yang lebih baik, Pak,” kata Rantaka akhirnya. “Aku hanya tidak ingin warga harus menukar masa depan dengan tanda tangan yang tidak mereka pahami.”
Pak Darma menatapnya lama.
Kemudian ia berkata pelan, “Kadang-kadang, orang miskin tidak punya kemewahan untuk terlalu banyak bertanya.”
Setelah itu, ia pergi.
Kalimatnya tinggal di teras rumah Rantaka seperti beban.
Malam itu, perpustakaan desa kembali dibuka.
Tidak ada pengumuman besar.
Tidak ada spanduk.
Hanya lampu-lampu kecil yang menyala, beberapa kursi plastik, dan sebuah meja panjang.
Di atas meja, Rantaka menaruh salinan formulir pelatihan.
Liris menyiapkan kertas besar bertuliskan:
SEBELUM MENANDATANGANI, APA YANG PERLU KITA TAHU?
Banyu datang membawa buku catatan.
Jagra datang dengan wajah yang masih keras, tetapi ia memilih duduk di belakang agar tidak membuat para pemuda merasa dihakimi.
Satu per satu, para pemuda mulai datang.
Deni datang lebih dulu.
Lalu dua pemuda dari dusun sebelah.
Kemudian Seno datang terakhir.
Ia tidak banyak bicara.
Ia hanya duduk di kursi paling ujung sambil memegang map plastik.
Rantaka memulai pertemuan dengan suara tenang.
“Kita tidak berkumpul untuk memutuskan siapa yang boleh ikut pelatihan dan siapa yang tidak. Kita hanya ingin memahami apa yang tertulis.”
Ia mengangkat formulir.
“Kalau setelah memahami semuanya kalian tetap ingin ikut, itu hak kalian.”
Banyu maju ke depan.
Ia menunjuk bagian tentang penempatan kerja.
“Kalau kalian setuju ditempatkan sesuai kebutuhan perusahaan, kalian harus bertanya: kebutuhan di mana? Berapa lama? Apa tugasnya? Apakah ada upah? Apakah ada perlindungan jika terjadi kecelakaan?”
Liris melanjutkan.
“Kalau ada kalimat tentang kerahasiaan informasi, kalian perlu tahu informasi apa yang dimaksud. Jangan sampai kalian dilarang menyampaikan hal yang sebenarnya perlu diketahui keluarga atau warga.”
Deni mengangkat tangan.
“Kalau kami bertanya terlalu banyak, nanti mereka tidak mau menerima kami.”
“Itu mungkin saja,” jawab Rantaka jujur. “Tetapi kalau sebuah pelatihan hanya menerima orang yang tidak boleh bertanya, kalian perlu berhati-hati.”
Ruangan menjadi hening.
Seno membuka mapnya.
“Aku ingin ikut,” katanya.
Semua orang menoleh kepadanya.
“Aku masih ingin ikut. Aku tidak mau pulang lagi dari kota tanpa hasil. Aku tidak mau terus merasa tertinggal.”
Rantaka mengangguk.
“Itu keinginan yang wajar.”
“Tapi aku ingin tahu satu hal,” lanjut Seno. “Kalau aku ikut pelatihan, apakah aku berarti mengkhianati desa?”
Jagra yang sejak tadi diam akhirnya berdiri.
Wajahnya tidak lagi setegang sebelumnya.
“Tidak,” katanya.
Seno menatapnya.
“Kau tidak mengkhianati desa karena ingin bekerja. Yang penting, jangan sampai kau dipaksa memilih antara pekerjaan dan kebenaran.”
Jagra berjalan mendekat.
“Kalau pelatihannya memang baik, ikutlah. Belajar sebanyak mungkin. Tapi jangan menjual namamu, tanah keluargamu, atau masa depan desa hanya karena kau takut kehilangan kesempatan.”
Seno menunduk.
“Aku tidak tahu caranya membedakan.”
“Kita belajar bersama,” kata Liris.
Kalimat itu membuat suasana sedikit menghangat.
Keesokan harinya, pihak perusahaan kembali datang ke kantor desa untuk mengambil formulir pendaftaran.
Surya Pratama datang bersama Ratih dan seorang staf laki-laki yang membawa tas hitam.
Di meja kantor desa, hanya ada beberapa formulir yang sudah ditandatangani.
Sebagian besar masih kosong.
Surya memandang tumpukan itu.
“Apakah ada kendala?” tanyanya kepada Pak Kades Harun.
Pak Kades mengangguk.
“Warga meminta penjelasan tambahan mengenai beberapa ketentuan.”
Surya tersenyum tipis.
“Ketentuan itu standar, Pak.”
“Mungkin standar bagi perusahaan,” jawab Pak Kades. “Tetapi belum tentu jelas bagi warga.”
Ratih mengambil salah satu formulir.
“Bagian mana yang dipermasalahkan?”
Saat itu, Rantaka, Liris, Banyu, dan beberapa pemuda masuk ke kantor desa.
Seno berada di antara mereka.
Ia membawa formulirnya sendiri.
Rantaka menyerahkan selembar kertas berisi daftar pertanyaan.
Surya membacanya.
Pertanyaan tentang lokasi pelatihan.
Jenis pekerjaan.
Jangka waktu kerja.
Upah.
Perlindungan keselamatan.
Status peserta setelah pelatihan.
Hak peserta untuk menolak penempatan.
Makna kerahasiaan informasi.
Dan jaminan bahwa peserta tidak dipaksa menandatangani dokumen lain di luar pelatihan.
Surya membaca daftar itu cukup lama.
“Ini cukup banyak,” katanya.
“Karena yang akan menandatangani juga banyak,” jawab Liris.
Ratih memandang Seno.
“Kamu salah satu calon peserta?”
Seno mengangguk.
“Kamu ingin ikut pelatihan?”
“Iya.”
“Kalau begitu, kenapa tidak langsung menandatangani?”
Seno menatap formulir di tangannya.
Lalu ia menjawab dengan suara yang tidak terlalu keras, tetapi jelas.
“Karena saya ingin ikut dengan mengerti.”
Untuk sesaat, tidak ada yang berbicara.
Surya menatap Seno.
Kemudian ia menghela napas.
“Baik. Kami akan menjadwalkan penjelasan tambahan sebelum pelatihan dimulai.”
“Penjelasan tertulis juga,” kata Rantaka.
Surya memandangnya.
“Ya. Kami akan menyiapkan penjelasan tertulis.”
Pak Kades Harun mengangguk.
“Setelah itu, warga akan memutuskan sendiri.”
Surya tersenyum lagi.
Namun, senyumnya kali ini tidak lagi setenang ketika ia pertama kali datang.
Ia menyadari bahwa warga Desa Wanasari tidak lagi hanya mendengar.
Mereka mulai membaca.
Mereka mulai mencatat.
Mereka mulai bertanya.
Dan pertanyaan-pertanyaan itu tidak mudah dijawab dengan brosur, gambar jalan, atau janji pekerjaan.
Setelah pihak perusahaan pergi, Seno berdiri di depan kantor desa.
Ia masih memegang formulirnya.
Deni menghampirinya.
“Jadi kau tetap ikut?”
Seno mengangguk.
“Kalau penjelasannya jelas, aku ikut.”
“Kalau tidak jelas?”
Seno memandang jalan tanah yang menuju ke arah bukit.
“Aku belum tahu.”
Rantaka berdiri tidak jauh dari mereka.
Ia tidak ingin memaksa Seno membuat keputusan.
Karena perjuangan seorang pemuda tidak selalu sesederhana memilih benar atau salah.
Kadang-kadang, seseorang harus memilih di antara dua jalan yang sama-sama penuh risiko.
Namun, Rantaka melihat sesuatu yang berbeda pada diri Seno hari itu.
Bukan keberanian besar.
Bukan keyakinan penuh.
Melainkan keberanian kecil untuk tidak langsung menandatangani sesuatu yang belum ia pahami.
Dan di desa yang selama ini terlalu sering diminta percaya tanpa penjelasan, keberanian kecil itu dapat menjadi awal perubahan yang besar.
Di atas papan pengumuman kantor desa, kertas pendaftaran pelatihan masih bergoyang tertiup angin.
Kata-kata di sana masih sama.
Kesempatan kerja. Pelatihan keterampilan. Prioritas tenaga kerja proyek.
Namun, bagi pemuda Desa Wanasari, kata-kata itu kini tidak lagi hanya berarti harapan.
Kata-kata itu juga berarti pertanyaan.
Dan mereka mulai belajar bahwa masa depan tidak boleh dibangun dengan tanda tangan yang lahir dari ketidaktahuan.
BAB 10
SURAT DARI KOTA UNTUK LIRIS
Pagi itu, Liris sedang membuka jendela perpustakaan desa ketika seorang petugas pos datang membawa sebuah amplop cokelat.
Amplop itu tidak besar.
Namun, warnanya berbeda dari surat-surat biasa yang sering datang ke Desa Wanasari.
Di sudut kiri atas, tertulis nama sebuah lembaga yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Rumah Kata Nusantara
Kota Arunika
Di bawahnya tercetak lambang kecil berbentuk buku terbuka.
Petugas pos menyerahkan amplop itu kepada Liris.
“Surat untuk Liris Wulandari?” tanyanya.
Liris mengangguk.
“Iya, Pak.”
“Dari kota. Tanda tangani di sini.”
Tangannya sedikit gemetar saat memegang pulpen.
Bukan karena ia takut.
Melainkan karena ada sesuatu dalam dirinya yang merasa bahwa amplop itu membawa kabar yang tidak biasa.
Setelah petugas pos pergi, Liris duduk di meja perpustakaan.
Ia memandangi namanya yang tertulis rapi di depan amplop.
Kepada Yth. Saudari Liris Wulandari
Desa Wanasari
Nama itu terlihat sederhana.
Namun, di dalam hati Liris, namanya tiba-tiba terasa seperti sedang dipanggil oleh dunia yang lebih jauh.
Ia membuka amplop itu perlahan.
Di dalamnya terdapat dua lembar surat dan sebuah brosur berwarna biru muda.
Surat pertama berisi pemberitahuan bahwa salah satu puisinya yang berjudul Sungai yang Menyimpan Nama-Nama telah dibaca oleh tim Rumah Kata Nusantara melalui majalah literasi daerah.
Surat kedua berisi tawaran yang membuat Liris tidak segera mampu bernapas lega.
Ia dinyatakan terpilih untuk mengikuti Program Kepenulisan Muda Nusantara selama tiga bulan di Kota Arunika.
Program itu menyediakan pelatihan menulis, pendampingan dari penulis dan editor, tempat tinggal sederhana, serta uang saku terbatas.
Namun, peserta harus tinggal di kota selama program berlangsung.
Liris membaca surat itu berulang kali.
Tiga bulan.
Tinggal di kota.
Belajar bersama penulis lain.
Mendapat kesempatan menerbitkan kumpulan tulisan terbaik peserta.
Semua itu adalah sesuatu yang selama ini hanya ia tulis dalam buku catatan.
Sesuatu yang terasa terlalu jauh untuk diraih oleh seorang gadis dari Desa Wanasari.
Ia menutup surat itu.
Kemudian membukanya lagi.
Seolah-olah ia takut isi surat tersebut berubah jika terlalu lama tidak dibaca.
Namun, di antara rasa bahagia yang mulai tumbuh, muncul pula rasa berat yang perlahan menekan dadanya.
Tiga bulan berarti meninggalkan perpustakaan.
Meninggalkan Gerobak Buku Langit Biru.
Meninggalkan anak-anak yang setiap sore datang untuk membaca.
Meninggalkan ibunya yang akhir-akhir ini sering kelelahan.
Dan meninggalkan Rantaka.
Menjelang siang, Rantaka datang ke perpustakaan membawa beberapa buku pelajaran bekas dari sekolah.
Ia melihat Liris duduk diam di meja.
Biasanya, Liris akan menyambutnya dengan senyum atau langsung bercerita tentang buku baru yang dipinjam anak-anak.
Namun hari itu, wajahnya tampak seperti seseorang yang baru saja menerima kabar besar, tetapi belum tahu harus merasa bahagia atau takut.
“Ada apa?” tanya Rantaka.
Liris mengangkat surat itu.
“Aku mendapat surat dari kota.”
Rantaka mengambilnya.
Ia membaca perlahan.
Ketika sampai pada bagian tentang Program Kepenulisan Muda Nusantara, ia tersenyum.
“Liris, ini luar biasa.”
“Benarkah?”
“Tentu. Puisimu dibaca orang. Mereka mengundangmu belajar menulis.”
Liris menunduk.
“Tapi aku harus pergi tiga bulan.”
Rantaka duduk di kursi di depannya.
“Kalau itu kesempatanmu, kau harus mempertimbangkannya dengan sungguh-sungguh.”
“Mempertimbangkan bukan berarti mudah.”
“Aku tahu.”
Liris menatapnya.
“Kau tahu?”
Rantaka terdiam sesaat.
Ia teringat ketika dulu ia meninggalkan Desa Wanasari untuk sekolah di kota. Ia ingat betapa sulitnya mengucapkan selamat tinggal kepada teman-temannya. Ia ingat surat-surat yang terlambat, telepon umum yang terputus, dan kesepian yang membuatnya hampir menyerah.
“Aku tahu rasanya pergi,” katanya akhirnya. “Kadang kita ingin mengejar mimpi, tetapi takut orang-orang yang kita sayangi merasa kita meninggalkan mereka.”
Liris menggenggam surat itu.
“Aku takut perpustakaan ini kembali sepi.”
“Kita bisa mengaturnya bersama.”
“Aku takut ibu sendirian.”
“Kita bisa mencari cara.”
“Aku takut...” Liris berhenti.
Rantaka menunggu.
Liris menatapnya.
“Aku takut jarak membuat semuanya berubah.”
Kalimat itu membuat Rantaka tidak segera mampu menjawab.
Di luar perpustakaan, angin menggerakkan daun-daun pohon beringin tua. Cahaya matahari masuk melalui jendela dan jatuh di atas buku-buku yang tersusun rapi.
Rantaka ingin mengatakan bahwa tidak ada yang akan berubah.
Ia ingin berjanji bahwa ia akan selalu menunggu.
Namun, ia tahu janji seperti itu mudah diucapkan ketika seseorang belum benar-benar diuji oleh waktu dan keadaan.
“Aku tidak bisa menjanjikan bahwa semuanya akan selalu sama,” katanya pelan. “Tapi aku bisa berjanji bahwa aku tidak akan meminta kau berhenti mengejar mimpimu hanya karena aku takut kehilanganmu.”
Liris menatapnya cukup lama.
Matanya mulai berkaca-kaca.
“Kenapa kau selalu membuat keputusan sulit terdengar sederhana?”
“Karena aku juga sedang belajar.”
Liris tersenyum kecil.
Untuk beberapa saat, mereka hanya duduk diam.
Di antara mereka, surat dari kota itu tergeletak seperti sebuah jalan yang baru terbuka.
Jalan yang indah.
Jalan yang menakutkan.
Jalan yang mungkin akan membawa Liris jauh dari desa, tetapi juga lebih dekat kepada dirinya sendiri.
Sore hari, Liris membawa surat itu pulang.
Ibunya sedang menyiangi sayur di dapur.
Rumah mereka sederhana, berdinding papan, dengan halaman kecil yang ditumbuhi beberapa pohon pisang. Di sudut rumah, terdapat jemuran pakaian yang bergerak pelan tertiup angin.
“Ibu,” panggil Liris.
Ibunya menoleh.
“Kau pulang cepat?”
“Aku mendapat surat.”
Liris menyerahkan amplop itu.
Ibunya membaca perlahan.
Ia tidak terbiasa membaca surat panjang, tetapi ia berusaha memahami setiap kalimat.
Ketika sampai pada bagian bahwa Liris harus tinggal di Kota Arunika selama tiga bulan, tangan ibunya berhenti.
“Kota Arunika?” tanyanya.
“Iya.”
“Jauh?”
“Tidak terlalu jauh kalau naik bus. Tapi tetap harus menginap di sana.”
Ibunya meletakkan surat itu di meja.
Wajahnya tampak campur aduk.
“Apa semua biaya ditanggung?”
“Tempat tinggal dan pelatihan ditanggung. Ada uang saku, tapi tidak besar.”
“Kalau kau sakit di sana?”
“Ada pendamping program, Bu.”
“Kalau uang sakumu tidak cukup?”
“Aku bisa hemat.”
Ibunya menghela napas.
Liris tahu ibunya bukan tidak bangga.
Ia bisa melihat kebanggaan itu dari cara ibunya kembali membaca nama Liris di surat tersebut.
Namun, kebanggaan seorang ibu sering berjalan bersama rasa takut.
Terutama ketika anak perempuan satu-satunya harus pergi ke kota.
“Ayahmu dulu selalu bilang,” kata ibunya pelan, “kalau kau punya kesempatan belajar, jangan lepaskan.”
Liris menunduk.
“Aku ingin ikut, Bu.”
Ibunya memegang tangan Liris.
“Tapi kau juga harus tahu, pergi itu tidak mudah.”
“Aku tahu.”
“Dan pulang nanti mungkin tidak akan sama.”
Liris menatap wajah ibunya.
“Maksud Ibu?”
“Orang yang pergi belajar akan membawa cara pandang baru. Kadang orang di kampung tidak mudah menerima perubahan.”
Liris terdiam.
Ia teringat percakapan warga tentang perusahaan. Ia teringat perpustakaan yang mulai ramai oleh diskusi. Ia teringat bagaimana beberapa orang sudah menganggap dirinya dan Rantaka terlalu banyak bertanya.
“Kalau aku pergi, siapa yang membantu perpustakaan?” tanyanya.
Ibunya tersenyum tipis.
“Kalau perpustakaan hanya hidup karena satu orang, berarti yang harus dibangun bukan hanya perpustakaannya, tetapi orang-orang yang menjaganya.”
Kalimat itu tinggal di hati Liris.
Malam hari, Liris bertemu Banyu dan Jagra di perpustakaan.
Rantaka juga datang setelah selesai mengajar les untuk beberapa anak.
Liris meletakkan surat dari Rumah Kata Nusantara di atas meja.
“Aku ingin kalian membaca ini,” katanya.
Banyu membaca lebih dulu.
Wajahnya langsung berubah cerah.
“Liris, ini kesempatan besar.”
Jagra mengambil surat itu setelahnya.
Ia membaca dengan lebih lambat.
“Tiga bulan di kota?”
Liris mengangguk.
“Kalau aku ikut, aku harus berangkat akhir bulan.”
Jagra duduk diam.
Banyu menatapnya.
“Kenapa?”
“Tidak apa-apa,” jawab Jagra.
Namun, semua orang tahu ada sesuatu yang ia pikirkan.
Akhirnya, Jagra berkata, “Kalau Liris pergi, perpustakaan bagaimana? Gerobak Buku bagaimana? Sekarang saja kita sedang menghadapi masalah perusahaan. Anak-anak masih butuh tempat belajar. Warga juga mulai sering datang untuk bertanya tentang surat dan formulir.”
“Aku bisa tetap menulis dari kota,” kata Liris.
“Menulis dari kota tidak sama dengan ada di sini,” jawab Jagra.
Nada suaranya tidak keras, tetapi cukup untuk membuat ruangan hening.
Liris menunduk.
“Aku tahu.”
Banyu mencoba menenangkan suasana.
“Kita bisa membagi tugas.”
“Dengan siapa?” tanya Jagra. “Rantaka sibuk mengajar. Banyu sibuk dengan alat pengatur air. Aku sibuk di kolam. Sekarang Liris pergi juga.”
“Aku belum memutuskan pergi,” kata Liris pelan.
Jagra menatapnya.
“Kalau kau tidak pergi, nanti kau akan menyesal.”
“Kalau aku pergi, aku takut kalian merasa aku meninggalkan semuanya.”
Rantaka berdiri.
“Kita jangan membuat Liris merasa harus memilih antara mimpi dan desa.”
Jagra menoleh kepadanya.
“Aku tidak membuatnya memilih. Aku hanya bicara kenyataan.”
“Kenataan juga bukan alasan untuk mematikan mimpi seseorang.”
“Aku tidak mematikan mimpinya.”
“Tapi kau membuatnya merasa bersalah karena mendapat kesempatan.”
Jagra mengepalkan tangan.
“Aku hanya tidak ingin Langit Biru kembali berjalan pincang.”
Kalimat itu membuat semua orang terdiam.
Mereka tahu Jagra tidak sedang marah kepada Liris.
Ia marah kepada keadaan.
Ia marah karena satu per satu sahabatnya pernah pergi.
Rantaka pernah pergi ke kota.
Liris mungkin akan pergi.
Banyu sering tenggelam dalam pekerjaannya.
Sementara Jagra tetap tinggal di desa, menjaga kolam, menjaga gerobak buku, dan menjaga banyak hal yang tidak selalu terlihat oleh orang lain.
Liris mendekati Jagra.
“Aku tidak ingin meninggalkan Langit Biru,” katanya.
Jagra menatapnya.
“Lalu?”
“Aku ingin pergi untuk belajar agar ketika pulang, aku bisa membawa lebih banyak cahaya.”
Wajah Jagra perlahan melunak.
Ia mengalihkan pandangan ke rak buku.
“Aku hanya takut kita kembali jauh.”
Liris tersenyum tipis.
“Kita pernah jauh. Tapi kita masih di sini.”
Beberapa hari berikutnya, kabar tentang surat dari kota itu menyebar ke seluruh Desa Wanasari.
Ada warga yang bangga.
Ada yang berkata Liris pantas mendapat kesempatan itu karena sejak kecil ia rajin membaca dan menulis.
Namun, ada pula yang berbicara dengan nada lain.
“Untuk apa perempuan pergi jauh-jauh hanya untuk menulis?”
“Menulis tidak membuat dapur mengepul.”
“Lebih baik membantu orang tua daripada mengejar mimpi yang belum tentu.”
Ucapan-ucapan itu sampai ke telinga Liris.
Ia berusaha tidak memikirkannya.
Tetapi setiap kali mendengar kalimat seperti itu, ia merasa langkahnya menuju kota menjadi lebih berat.
Suatu sore, ketika ia sedang menyusun buku di perpustakaan, Bu Marni datang membawa beberapa pisang rebus.
“Aku dengar kau dapat undangan dari kota,” katanya.
Liris tersenyum kecil.
“Iya, Bu.”
“Kau mau pergi?”
“Aku masih memikirkan.”
Bu Marni duduk di dekatnya.
“Dulu aku juga pernah punya keinginan sekolah lebih jauh,” katanya tiba-tiba.
Liris menoleh.
“Tapi kakekmu tidak mengizinkan?”
Bu Marni mengangguk.
“Bukan karena beliau jahat. Beliau takut. Takut anak perempuan pergi jauh. Takut tidak punya uang. Takut orang kampung bicara macam-macam.”
“Lalu Ibu menyesal?”
Bu Marni tersenyum, tetapi ada kesedihan di wajahnya.
“Kadang-kadang.”
Liris terdiam.
Bu Marni menggenggam tangan Liris.
“Kalau kau pergi, jangan pergi karena ingin menjadi orang lain. Pergilah supaya kau bisa menjadi dirimu sendiri.”
Liris merasakan tenggorokannya menghangat.
“Terima kasih, Bu.”
Pada malam terakhir sebelum batas waktu jawaban, Liris duduk sendirian di bawah pohon beringin.
Langit Desa Wanasari tampak bersih setelah hujan sore.
Bintang-bintang muncul satu per satu.
Dari kejauhan, terdengar suara katak dari arah kolam.
Rantaka datang membawa dua gelas teh hangat.
Ia duduk di samping Liris tanpa banyak bicara.
“Besok batas terakhir,” kata Liris.
Rantaka mengangguk.
“Apa kau sudah memutuskan?”
Liris memandangi surat yang ada di pangkuannya.
“Aku ingin pergi.”
Rantaka tersenyum.
“Aku senang mendengarnya.”
“Tapi aku takut.”
“Itu wajar.”
“Aku takut ibu sendirian. Aku takut perpustakaan terbengkalai. Aku takut Jagra benar, bahwa Langit Biru akan kehilangan arah. Aku takut orang-orang menganggap aku hanya mengejar mimpi sendiri.”
Rantaka menatapnya.
“Liris, desa ini tidak akan menjadi kuat kalau semua anak mudanya harus mengubur mimpi agar tetap tinggal.”
Liris mengangkat wajah.
“Lalu bagaimana kalau aku pulang dan semuanya sudah berubah?”
“Semua memang akan berubah,” jawab Rantaka. “Tapi perubahan tidak selalu berarti kehilangan.”
Ia menunjuk langit.
“Lihat langit itu. Dari desa ini, langit terlihat dekat. Dari kota, mungkin akan terlihat berbeda. Tapi tetap langit yang sama.”
Liris tersenyum pelan.
“Kau selalu punya cara untuk membuatku berani.”
“Bukan aku yang membuatmu berani,” kata Rantaka. “Kau sudah berani sejak awal. Aku hanya mengingatkan.”
Liris menatapnya lama.
Di antara mereka, ada banyak kata yang tidak diucapkan.
Tentang rindu.
Tentang takut kehilangan.
Tentang masa depan yang belum mereka pahami.
Akhirnya, Liris berkata, “Kalau aku pergi, kau jangan terlalu sibuk sampai lupa menulis surat.”
Rantaka tertawa kecil.
“Aku akan menulis.”
“Jangan hanya satu paragraf.”
“Aku akan menulis panjang.”
“Dan jangan bilang semuanya baik-baik saja kalau sebenarnya tidak.”
Rantaka mengangguk.
“Kau juga.”
Liris menggenggam surat dari kota itu.
Lalu, untuk pertama kalinya sejak surat itu datang, ia merasa keputusannya tidak lagi hanya menakutkan.
Keputusan itu masih berat.
Masih penuh risiko.
Masih akan membawa jarak.
Namun, di dalamnya ada cahaya.
Cahaya yang mungkin akan membawanya pergi dari Desa Wanasari untuk sementara waktu.
Agar suatu hari nanti, ia dapat pulang dengan kata-kata yang lebih kuat, cerita yang lebih luas, dan keberanian yang dapat dibagikan kepada anak-anak desa.
Di bawah pohon beringin tua, Rantaka dan Liris duduk sampai malam semakin larut.
Tidak ada janji besar.
Tidak ada kata-kata yang terlalu indah.
Hanya dua anak desa yang sedang belajar bahwa mencintai seseorang kadang berarti memberi mereka ruang untuk tumbuh.
Dan bahwa jarak, meski menyakitkan, tidak selalu harus menjadi akhir dari sebuah perjalanan.
BAB 11
TANDA TANGAN DI ATAS KERTAS PUTIH
Pagi itu, kabut masih menggantung rendah di atas Desa Wanasari.
Dari halaman sekolah, Rantaka dapat melihat pohon beringin tua berdiri di kejauhan. Pohon itu masih sama seperti bertahun-tahun lalu, ketika ia, Liris, Banyu, dan Jagra sering duduk di bawahnya sambil membicarakan mimpi-mimpi kecil mereka.
Dulu, mereka hanya ingin memiliki lebih banyak buku.
Mereka ingin anak-anak desa tidak perlu berjalan jauh untuk meminjam bacaan.
Mereka ingin Gerobak Buku Langit Biru tidak berhenti di tengah jalan.
Kini, setelah mereka tumbuh dewasa, persoalan yang mereka hadapi jauh lebih besar daripada kekurangan buku.
Ada perusahaan.
Ada rencana pembukaan lahan.
Ada sungai yang mulai keruh.
Ada pemuda yang membutuhkan pekerjaan.
Ada warga yang ingin bertahan, tetapi juga takut tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup.
Dan di antara semua persoalan itu, ada kertas-kertas putih yang mulai beredar dari rumah ke rumah.
Kertas yang tampak sederhana.
Kertas yang hanya memerlukan nama dan tanda tangan.
Namun, Rantaka tahu bahwa sebuah tanda tangan dapat mengubah masa depan seseorang.
Bahkan masa depan sebuah desa.
Saat jam istirahat, Bu Laras datang ke ruang guru sambil membawa sebuah map cokelat.
Wajahnya tampak cemas.
“Rantaka,” katanya pelan, “aku perlu bicara.”
Rantaka segera mempersilakan Bu Laras duduk.
“Ada apa, Bu?”
Bu Laras membuka map itu.
Di dalamnya terdapat selembar kertas putih dengan kop sederhana PT. Bumi Raya Makmur.
Tidak ada gambar besar.
Tidak ada penjelasan panjang.
Hanya beberapa paragraf singkat.
Di bagian atas tertulis:
SURAT PERNYATAAN KESEDIAAN MENDUKUNG PENGEMBANGAN KAWASAN USAHA DESA WANASARI
Rantaka membaca isi surat itu perlahan.
Surat tersebut menyatakan bahwa warga yang menandatangani mendukung kegiatan perusahaan dalam melakukan pengembangan kawasan usaha, pembangunan akses jalan, pendataan lahan, serta kegiatan lain yang dianggap perlu untuk mendukung program investasi.
Di bagian bawah terdapat kalimat yang membuat dada Rantaka terasa berat.
Penandatangan menyatakan bersedia mendukung dan tidak mengajukan keberatan terhadap kegiatan yang dilakukan sepanjang sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
“Dari mana Ibu mendapat ini?” tanya Rantaka.
“Pagi tadi, seorang warga datang ke sekolah,” jawab Bu Laras. “Ia bilang ada orang yang meminta tanda tangan dari rumah ke rumah. Katanya hanya untuk membuktikan bahwa warga mendukung adanya lapangan kerja.”
“Siapa warga itu?”
“Bu Rukayah.”
“Apakah beliau sudah menandatangani?”
Bu Laras menggeleng.
“Beliau membawa kertas ini karena tidak paham. Ia takut kalau tidak tanda tangan, anaknya tidak bisa ikut pelatihan kerja.”
Rantaka menatap surat itu lagi.
Tidak ada kalimat yang secara terang-terangan menyebut penjualan tanah.
Tidak ada pernyataan tentang pengalihan hak.
Namun, surat itu bisa digunakan sebagai bukti bahwa warga mendukung rencana perusahaan.
Dan jika nanti terjadi masalah, warga yang menandatangani mungkin akan dianggap telah setuju sejak awal.
“Apakah ada nama warga lain?” tanya Rantaka.
Bu Laras menyerahkan halaman kedua.
Di sana sudah ada beberapa tanda tangan.
Sebagian nama ditulis jelas.
Sebagian hanya berupa coretan.
Ada tanda tangan orang-orang yang Rantaka kenal.
Pak Roni.
Bu Marni.
Deni.
Dua orang pemuda dari dusun seberang.
Dan satu nama yang membuat Rantaka terdiam lebih lama.
Seno.
Sepulang sekolah, Rantaka langsung menuju rumah Jagra.
Ia menemukan sahabatnya sedang memberi makan ikan di kolam.
Air kolam tampak sedikit lebih baik dibanding beberapa minggu sebelumnya, tetapi warnanya masih belum benar-benar jernih.
Jagra menoleh ketika Rantaka datang.
“Kenapa wajahmu seperti orang kehilangan buku rapor?” tanyanya.
Rantaka menyerahkan salinan surat.
Jagra membaca dengan cepat.
Wajahnya langsung mengeras.
“Siapa yang membawa ini?”
“Belum jelas. Tapi beberapa warga sudah tanda tangan.”
Jagra membalik halaman kedua.
Ketika melihat nama Seno, tangannya berhenti.
“Dia juga?”
“Ya.”
Jagra menghembuskan napas panjang.
“Dia tahu tidak isi surat ini?”
“Itu yang harus kita tanyakan.”
Jagra meremas kertas itu.
“Kalau warga sudah menandatangani dukungan, nanti perusahaan akan bilang desa ini sudah setuju.”
“Karena itu kita tidak boleh langsung menuduh,” kata Rantaka. “Kita harus tahu bagaimana surat ini dibagikan, siapa yang menjelaskan, dan apa yang dijanjikan.”
Jagra menatap kolam.
“Aku sudah bisa menebak jawabannya. Mereka menjanjikan kerja.”
“Dan bagi banyak orang, janji kerja bukan hal kecil.”
“Aku tahu,” jawab Jagra, kali ini lebih pelan. “Aku juga tahu rasanya melihat ayah menghitung hasil kolam yang tidak cukup untuk membeli pakan bulan depan.”
Rantaka tidak berkata apa-apa.
Mereka sama-sama memahami bahwa konflik di Desa Wanasari tidak sesederhana warga baik melawan perusahaan jahat.
Ada kebutuhan yang nyata.
Ada keluarga yang harus makan.
Ada pemuda yang ingin bekerja.
Ada orang tua yang ingin anak-anaknya memiliki masa depan.
Namun, kebutuhan itu tidak seharusnya membuat warga kehilangan hak untuk memahami apa yang mereka setujui.
Sore hari, Rantaka, Jagra, Banyu, dan Liris bertemu di perpustakaan desa.
Di dinding, masih tergantung papan kayu bertuliskan:
LANGIT BIRU: MIMPI ANAK DESA TIDAK PERNAH TERLALU TINGGI.
Tulisan itu dibuat ketika mereka masih remaja.
Catnya mulai memudar.
Namun, kalimat itu tetap terasa hidup.
Liris datang membawa beberapa lembar kertas yang baru ia cetak.
“Aku sudah membuat ringkasan sederhana,” katanya.
Di atas kertas tertulis:
SEBELUM MENANDATANGANI SURAT APA PUN, TANYAKAN:
- Surat ini untuk tujuan apa?
- Apakah surat ini berkaitan dengan tanah, jalan, sungai, atau pekerjaan?
- Apakah ada janji kerja, uang, atau bantuan di balik tanda tangan?
- Apakah warga boleh menolak tanpa kehilangan haknya?
- Apakah warga boleh membawa surat pulang untuk dibaca bersama keluarga?
- Apakah ada penjelasan tertulis dari pemerintah desa dan pihak perusahaan?
Banyu membaca lembar itu.
“Bagus. Bahasanya mudah dipahami.”
“Kita tempel di perpustakaan, sekolah, warung, dan dekat kantor desa,” kata Liris.
Jagra mengangguk.
“Lalu kita cari tahu siapa yang menyebarkan surat putih itu.”
Rantaka memandang ketiga sahabatnya.
Di ruangan itu, ia seperti melihat kembali masa lalu.
Dulu, mereka berkumpul untuk membicarakan cara memperbaiki roda gerobak buku.
Mereka pernah berdebat tentang buku mana yang harus dipinjamkan lebih dulu.
Mereka pernah berselisih karena kelelahan, karena rasa iri, karena ketakutan ditinggalkan.
Mereka juga pernah hampir berpisah ketika Rantaka pergi ke kota, ketika Liris mendapat kesempatan menulis, ketika Banyu sibuk bekerja, dan ketika Jagra merasa harus menanggung semua beban desa sendirian.
Namun, setiap kali keadaan menjadi sulit, mereka selalu kembali ke satu tempat.
Ke meja sederhana.
Ke buku-buku lama.
Ke keyakinan bahwa anak-anak desa pantas memiliki masa depan.
“Kita jangan hanya mencari siapa yang salah,” kata Rantaka. “Kita juga harus membantu warga memahami.”
Liris mengangguk.
“Kalau kita datang dengan marah, mereka akan merasa kita menganggap mereka bodoh.”
“Padahal mereka hanya takut,” kata Banyu.
“Takut kehilangan pekerjaan,” tambah Jagra.
“Takut tidak punya uang,” kata Liris.
“Takut masa depan anak-anak mereka lebih buruk,” ujar Rantaka.
Mereka terdiam.
Di luar perpustakaan, beberapa anak kecil mulai berdatangan untuk membaca.
Salah seorang anak bernama Dita membawa buku cerita yang sampulnya sudah lepas.
“Kak Liris,” katanya, “hari ini jadi membaca cerita?”
Liris tersenyum.
“Jadi.”
Anak-anak duduk di lantai.
Liris mengambil sebuah buku tentang seorang anak yang berusaha menyelamatkan kebun keluarganya dari kekeringan. Ia membacakan cerita itu dengan suara lembut.
Rantaka memperhatikan wajah anak-anak yang mendengarkan.
Mereka belum memahami apa itu investasi.
Mereka belum tahu arti surat dukungan.
Mereka belum mengerti bagaimana tanda tangan orang dewasa bisa memengaruhi tanah, sungai, dan sekolah mereka.
Namun, mereka adalah alasan mengapa semua perjuangan itu harus dilakukan.
Menjelang malam, Banyu dan Jagra pergi mencari Seno.
Mereka menemukannya di warung kecil dekat jalan menuju bukit.
Seno duduk sendirian sambil memegang gelas kopi.
Ketika melihat mereka datang, wajahnya langsung berubah.
“Ada apa?” tanyanya.
Banyu duduk di kursi sebelahnya.
“Kami ingin bertanya tentang surat yang kau tanda tangani.”
Seno mengalihkan pandangan.
“Surat dukungan itu?”
“Kau sudah membacanya?” tanya Jagra.
Seno mengangguk pelan.
“Sedikit.”
“Apakah mereka menjelaskan semua isinya?”
“Mereka bilang itu hanya tanda dukungan agar pelatihan kerja bisa berjalan.”
“Siapa yang bilang?”
“Pak Hendra.”
“Orang perusahaan?”
“Katanya dia perwakilan lapangan.”
Jagra menahan emosi.
“Dan kau langsung tanda tangan?”
Seno menatapnya.
“Dia bilang kalau warga tidak mendukung, program pelatihan bisa dialihkan ke desa lain.”
“Jadi kau takut kehilangan kesempatan,” kata Banyu.
Seno tertawa pahit.
“Ya. Aku takut.”
Jagra hendak membalas, tetapi Banyu mengangkat tangan kecil, meminta sahabatnya menahan diri.
Seno melanjutkan, “Kalian selalu bilang warga harus berhati-hati. Tapi orang seperti aku tidak punya banyak waktu untuk berhati-hati. Kalau kesempatan datang, aku harus cepat mengambilnya.”
“Kesempatan tidak seharusnya datang sambil mengancam,” kata Banyu.
Seno menatapnya.
“Kalau aku tidak tanda tangan, apakah kau bisa menjamin aku dapat pekerjaan?”
Banyu tidak menjawab.
Ia tidak bisa.
Tidak ada seorang pun di antara mereka yang bisa menjamin pekerjaan bagi seluruh pemuda desa.
Itulah kekuatan terbesar dari janji perusahaan.
Mereka datang ketika warga sedang membutuhkan.
Mereka menawarkan jalan keluar ketika banyak orang sudah lelah menunggu.
Dan mereka meminta tanda tangan sebelum warga sempat memahami arah jalan itu.
Jagra akhirnya berkata pelan, “Kami tidak menyalahkanmu, Seno.”
Seno tampak terkejut.
“Aku sudah tanda tangan.”
“Kau bisa meminta salinan,” kata Banyu. “Kau bisa bertanya apa akibatnya. Kau juga bisa bilang bahwa kau ingin memahami lebih dulu.”
“Kalau mereka marah?”
“Kalau mereka marah karena kau bertanya,” jawab Jagra, “berarti sejak awal mereka tidak datang untuk menghargai kita.”
Seno menunduk.
Tangannya menggenggam gelas kopi lebih erat.
“Aku hanya ingin hidupku berubah,” katanya.
Banyu menatapnya dengan tenang.
“Kami juga.”
Keesokan harinya, Liris dan Rantaka mendatangi rumah Bu Marni.
Bu Marni sedang menumbuk bumbu di dapur.
Ketika melihat mereka, ia tersenyum.
“Kalian datang membawa buku lagi?”
“Kali ini kami datang membawa pertanyaan, Bu,” jawab Liris.
Liris menunjukkan salinan surat putih itu.
Bu Marni langsung mengenalinya.
“Oh, surat itu.”
“Ibu sudah tanda tangan?” tanya Rantaka.
Bu Marni mengangguk.
“Mereka bilang itu hanya dukungan supaya anak-anak muda dapat pelatihan kerja.”
“Apakah mereka menjelaskan bahwa surat itu juga berkaitan dengan pengembangan kawasan usaha dan pembangunan akses jalan?” tanya Liris.
Bu Marni tampak bingung.
“Tidak. Mereka hanya bilang tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”
“Apakah Ibu diberi salinan?”
“Tidak.”
Rantaka menatap Liris.
Keduanya memahami bahwa banyak warga mungkin mengalami hal yang sama.
Mereka diminta tanda tangan, tetapi tidak diberi waktu untuk membaca.
Mereka tidak menerima salinan.
Mereka tidak tahu bahwa nama mereka akan masuk dalam daftar dukungan terhadap rencana yang lebih besar.
Bu Marni memandang surat itu lagi.
“Apakah aku salah sudah tanda tangan?” tanyanya.
Pertanyaan itu membuat Liris terdiam.
Ia tidak ingin Bu Marni merasa dipermalukan.
“Ibu tidak salah karena ingin anak-anak muda punya pekerjaan,” kata Liris akhirnya. “Tapi Ibu berhak tahu apa yang Ibu tanda tangani.”
Bu Marni menarik napas panjang.
“Kalau begitu, aku ingin meminta salinan suratku.”
“Kami akan membantu,” kata Rantaka.
Siang hari, sebuah kabar baru membuat suasana desa semakin tegang.
Pak Hendra, perwakilan lapangan perusahaan, datang ke rumah Pak Darma bersama dua orang lain.
Mereka membawa map, beberapa lembar formulir, dan sebuah daftar nama warga.
Kabar itu cepat sampai ke perpustakaan.
Jagra ingin langsung mendatangi rumah Pak Darma.
Namun, Rantaka menahannya.
“Kita jangan datang untuk membuat keributan.”
“Kalau kita diam, mereka akan mengumpulkan tanda tangan lagi.”
“Kita datang. Tapi kita datang untuk bertanya.”
Akhirnya, mereka berjalan bersama menuju rumah Pak Darma.
Di halaman rumah itu, sudah ada beberapa warga.
Pak Hendra berdiri sambil menjelaskan sesuatu.
“Kami hanya ingin memastikan bahwa masyarakat mendukung program pembangunan,” katanya. “Tidak ada paksaan. Semua sukarela.”
“Kalau sukarela, kenapa warga tidak diberi salinan surat?” tanya Liris.
Semua orang menoleh.
Pak Hendra tersenyum tipis.
“Salinan bisa diberikan jika diperlukan.”
“Banyak warga tidak tahu bahwa mereka boleh meminta,” kata Liris.
Pak Hendra memandangnya.
“Saudari Liris, kami sudah menjelaskan secara umum.”
“Secara umum tidak cukup kalau warga diminta menandatangani dokumen,” jawab Liris.
Rantaka maju satu langkah.
“Kami juga ingin tahu apakah surat dukungan ini berkaitan dengan rencana pembukaan akses jalan, pendataan lahan, dan pengembangan kawasan di sekitar bukit.”
Pak Hendra mengangguk.
“Surat itu mendukung proses pembangunan secara umum.”
“Artinya berkaitan?” tanya Rantaka.
Pak Hendra tidak segera menjawab.
“Pembangunan tentu memiliki banyak tahapan.”
“Dan warga berhak tahu tahapan apa yang mereka dukung,” kata Rantaka.
Suasana halaman rumah Pak Darma mulai berubah.
Beberapa warga yang sebelumnya hanya mendengar kini mulai saling berbisik.
Bu Marni berdiri di belakang kerumunan.
Ia mengangkat tangan.
“Saya sudah tanda tangan,” katanya. “Tapi saya tidak dapat salinan. Saya ingin melihat lagi surat yang saya tanda tangani.”
Pak Hendra menatap Bu Marni.
“Tentu bisa, Bu.”
“Sekarang,” kata Bu Marni.
Suasana menjadi hening.
Pak Hendra membuka mapnya.
Ia mencari beberapa lembar kertas.
Namun, setelah beberapa saat, ia berkata, “Dokumen yang sudah dikumpulkan ada di kantor lapangan.”
“Kalau begitu, kapan bisa kami lihat?” tanya Bu Marni.
“Dalam waktu dekat.”
“Besok?” tanya Jagra.
Pak Hendra tampak tidak nyaman.
“Kami akan atur jadwalnya.”
Rantaka memandang warga.
“Bapak dan Ibu, tidak ada yang salah dengan meminta penjelasan. Tidak ada yang salah dengan meminta salinan. Tidak ada yang salah dengan membawa surat pulang untuk dibaca bersama keluarga.”
Pak Darma yang sejak tadi diam akhirnya berkata, “Tapi jangan sampai karena terlalu banyak bertanya, perusahaan menganggap kita tidak mendukung pembangunan.”
Rantaka menoleh kepadanya.
“Pembangunan yang baik tidak takut pada pertanyaan, Pak.”
Kalimat itu membuat beberapa warga mengangguk.
Namun, tidak semua.
Di sudut halaman, seorang lelaki berkata, “Kalian ini enak. Bisa bicara soal hak. Kami butuh kerja.”
Jagra memandang lelaki itu.
“Kami juga butuh kerja.”
“Lalu kenapa kalian menghambat?”
“Kami tidak menghambat,” jawab Jagra. “Kami hanya tidak ingin pekerjaan datang dengan cara yang membuat kita kehilangan tanah, sungai, dan hak untuk menentukan masa depan sendiri.”
“Kalau tanah tidak dijual, dari mana uang datang?”
Banyu maju.
“Tanah bisa menghasilkan kalau dikelola dengan baik. Kolam bisa hidup kalau sungai dijaga. Anak-anak bisa punya pekerjaan lebih baik kalau sekolah dan keterampilan mereka diperkuat. Kita tidak boleh hanya melihat uang yang datang hari ini.”
Lelaki itu tertawa kecil.
“Bicara mudah.”
Banyu mengangguk.
“Memang tidak mudah. Karena itu kita harus bekerja bersama.”
Setelah pertemuan itu, Pak Hendra dan dua orang rekannya meninggalkan rumah Pak Darma.
Mereka tidak berhasil mengumpulkan banyak tanda tangan baru hari itu.
Namun, mereka juga tidak kehilangan pengaruh.
Beberapa warga masih percaya bahwa perusahaan adalah satu-satunya jalan untuk keluar dari kesulitan.
Malamnya, Desa Wanasari terasa lebih sunyi dari biasanya.
Di bawah pohon beringin, Rantaka, Liris, Banyu, dan Jagra kembali duduk.
Tempat itu membawa mereka pada banyak kenangan.
Dulu, mereka duduk di sana dengan kaki masih penuh lumpur, tangan memegang buku lusuh, dan kepala dipenuhi mimpi yang belum punya bentuk.
Sekarang, mereka duduk sebagai orang dewasa yang mulai memahami bahwa menjaga mimpi tidak selalu berarti mengejar sesuatu yang jauh.
Kadang-kadang, menjaga mimpi berarti mempertahankan tempat agar anak-anak lain masih punya ruang untuk tumbuh.
“Aku takut warga menganggap kita melawan mereka,” kata Liris.
“Kita tidak melawan warga,” jawab Rantaka.
“Tapi mereka bisa merasa begitu.”
Jagra memandang tanah di bawah kakinya.
“Kalau kita terus berhati-hati agar tidak ada yang tersinggung, kapan kita bisa bertindak?”
Banyu menatap sahabatnya.
“Kita tetap bertindak. Tapi kita jangan lupa, orang yang berbeda pendapat dengan kita belum tentu musuh.”
Jagra tidak menjawab.
Rantaka mengeluarkan sebuah buku kecil dari tasnya.
Buku itu sudah tua.
Sampulnya kusam.
Di halaman pertama tertulis dengan tulisan tangan anak-anak:
Catatan Gerobak Buku Langit Biru.
Rantaka membukanya.
Di dalamnya terdapat daftar buku pertama yang pernah mereka kumpulkan.
Ada cerita rakyat.
Ada buku pelajaran bekas.
Ada buku puisi.
Ada majalah anak-anak.
Di salah satu halaman, terdapat tulisan Liris ketika masih remaja:
Suatu hari, Gerobak Buku Langit Biru harus membawa lebih dari buku. Ia harus membawa keberanian.
Liris menatap tulisan itu.
Ia tidak ingat kapan menulisnya.
Namun, kalimat itu terasa seperti pesan dari dirinya yang dulu.
Pesan dari seorang anak desa yang belum tahu bahwa keberanian akan datang dalam bentuk surat, peta, tanda tangan, perbedaan pendapat, dan ketakutan kehilangan.
“Aku ingin menulis tentang ini,” kata Liris.
“Untuk majalah?” tanya Banyu.
“Bukan hanya untuk majalah. Untuk warga. Untuk anak-anak. Untuk siapa pun yang nanti ingin tahu kenapa Desa Wanasari pernah hampir menyerahkan masa depannya di atas kertas putih.”
Rantaka mengangguk.
“Tulislah.”
“Aku akan menulis,” kata Liris. “Tapi kita juga harus melakukan sesuatu yang nyata.”
“Apa?” tanya Jagra.
Liris memandang ketiga sahabatnya.
“Kita adakan Malam Membaca Warga.”
Banyu mengerutkan dahi.
“Malam membaca?”
“Kita undang warga ke balai desa. Bukan untuk pidato. Bukan untuk menyalahkan perusahaan. Kita baca bersama surat-surat yang beredar. Kita jelaskan arti kata-kata sulit. Kita dengarkan warga yang sudah tanda tangan. Kita dengarkan pemuda yang ingin ikut pelatihan. Kita dengarkan petani, nelayan kolam, ibu-ibu, dan anak-anak.”
Jagra memandang Liris.
“Apakah warga mau datang?”
“Kalau kita mengundang dengan cara yang benar, mungkin mereka mau.”
Rantaka tersenyum tipis.
“Dulu kita memulai Gerobak Buku dengan mengajak anak-anak membaca di bawah pohon ini.”
“Sekarang,” kata Banyu, “kita mengajak orang dewasa membaca masa depan mereka sendiri.”
Mereka saling memandang.
Di antara mereka, tidak ada kepastian bahwa rencana itu akan berhasil.
Tidak ada jaminan warga akan bersatu.
Tidak ada jaminan perusahaan akan berhenti.
Tidak ada jaminan bahwa persahabatan mereka tidak akan kembali diuji.
Namun, malam itu mereka kembali menemukan alasan mengapa Langit Biru tidak boleh padam.
Bukan karena mereka ingin menjadi pahlawan.
Bukan karena mereka merasa paling benar.
Melainkan karena mereka percaya bahwa desa yang kuat bukan desa yang tidak pernah menghadapi masalah.
Desa yang kuat adalah desa yang warganya berani memahami, bertanya, belajar, dan menentukan jalan hidupnya bersama-sama.
Di bawah pohon beringin tua, angin malam bergerak pelan.
Daun-daun berdesir seperti halaman buku yang dibuka.
Dan di dalam keheningan Desa Wanasari, sebuah perjuangan baru mulai ditulis.
Bukan dengan tinta yang indah.
Melainkan dengan keberanian untuk tidak membiarkan masa depan ditentukan oleh tanda tangan di atas kertas putih.
BAB 12
MALAM MEMBACA WARGA
Sejak pagi, balai Desa Wanasari terlihat lebih ramai dari biasanya.
Bukan karena ada pembagian bantuan.
Bukan pula karena ada rapat resmi yang dihadiri pejabat dari kecamatan.
Hari itu, beberapa anak muda memasang lampu-lampu kecil di teras balai desa. Banyu membawa papan tulis bekas dari sekolah. Jagra memindahkan bangku-bangku panjang dari gudang. Rantaka menyusun beberapa buku, lembar salinan surat, dan kertas-kertas penjelasan di atas meja.
Sementara itu, Liris duduk di sudut ruangan dengan sebuah mesin ketik tua yang dipinjam dari perpustakaan kecamatan.
Ia mengetik satu kalimat besar di atas selembar karton putih:
MEMBACA BERSAMA, MEMUTUSKAN BERSAMA.
Kalimat itu kemudian ditempelkan di dinding depan balai desa.
Di bawahnya, Rantaka menambahkan tulisan lain dengan spidol hitam:
Tidak ada warga yang harus menandatangani sesuatu yang belum dipahami.
Jagra membaca tulisan itu sambil mengangkat kursi.
“Kalau Pak Hendra datang, dia pasti tidak suka melihat ini.”
“Tidak apa-apa,” kata Liris tanpa menghentikan ketikannya. “Malam ini bukan untuk membuat siapa pun suka. Malam ini untuk membuat warga mengerti.”
Banyu menaruh papan tulis di samping meja.
“Aku masih khawatir warga tidak datang.”
“Mereka akan datang,” jawab Rantaka.
“Kau yakin?”
“Tidak,” kata Rantaka jujur. “Tapi kita tetap harus menyiapkan tempat.”
Jawaban itu membuat Banyu tersenyum kecil.
Rantaka memang tidak pernah menjanjikan sesuatu yang belum tentu terjadi. Ia telah belajar dari masa mudanya bahwa harapan harus berjalan bersama kerja keras.
Ketika dulu mereka memulai Gerobak Buku Langit Biru, tidak ada yang yakin anak-anak akan mau membaca buku-buku lusuh dari kardus bekas. Tidak ada yang yakin gerobak kayu dengan roda tua itu bisa bertahan melewati jalan tanah Desa Wanasari.
Namun, mereka tetap memulai.
Mereka tetap berjalan.
Dan perlahan, anak-anak datang.
Kini, yang mereka ajak bukan hanya anak-anak.
Mereka mengajak seluruh desa untuk membaca sesuatu yang jauh lebih sulit daripada buku cerita.
Mereka mengajak warga membaca masa depan mereka sendiri.
Menjelang magrib, satu per satu warga mulai datang.
Bu Marni datang bersama beberapa ibu lainnya. Ia membawa termos berisi teh hangat dan beberapa piring singkong rebus.
Pak Roni datang dengan wajah serius. Di belakangnya, tampak Seno dan beberapa pemuda yang selama ini tertarik mengikuti pelatihan kerja dari perusahaan.
Pak Darma datang lebih lambat. Ia duduk di bangku bagian belakang, dekat pintu. Wajahnya datar, tetapi matanya terus memperhatikan segala sesuatu.
Bu Laras hadir membawa beberapa murid sekolah yang sudah cukup besar untuk memahami pembicaraan orang dewasa. Rantaka sempat meminta agar anak-anak kecil tidak perlu ikut, tetapi Bu Laras berkata bahwa mereka juga berhak mendengar bagaimana orang dewasa membicarakan masa depan desa.
Ketika jam menunjukkan pukul tujuh malam, balai desa sudah hampir penuh.
Namun, tidak semua orang datang dengan perasaan yang sama.
Ada yang datang karena ingin tahu isi surat yang telah mereka tanda tangani.
Ada yang datang karena penasaran pada kegiatan Langit Biru.
Ada yang datang karena takut perusahaan akan membatalkan janji pelatihan kerja.
Ada pula yang datang hanya untuk memastikan bahwa Rantaka dan kawan-kawannya tidak sedang menghasut warga.
Liris berdiri di depan ruangan.
Ia mengenakan baju sederhana berwarna biru tua. Rambutnya diikat rapi. Di tangannya, ia memegang beberapa lembar kertas.
Untuk sesaat, ia memandang wajah-wajah di hadapannya.
Wajah-wajah yang ia kenal sejak kecil.
Wajah-wajah yang pernah melihatnya membawa buku ke rumah-rumah warga.
Wajah-wajah yang pernah memberi mereka kardus bekas untuk Gerobak Buku Langit Biru.
Wajah-wajah yang kini mulai terbelah oleh janji pekerjaan, kebutuhan hidup, dan ketakutan akan masa depan.
“Terima kasih sudah datang,” kata Liris.
Suara di dalam balai desa perlahan mereda.
“Malam ini kami tidak mengundang Bapak dan Ibu untuk menyuruh siapa pun setuju atau tidak setuju terhadap perusahaan. Kami tidak datang untuk mengatakan bahwa orang yang sudah menandatangani surat adalah orang yang salah.”
Beberapa warga saling menatap.
“Kami juga tidak datang untuk menghalangi siapa pun yang ingin bekerja atau ingin mendapatkan kehidupan yang lebih baik,” lanjut Liris. “Kami semua ingin hidup lebih baik. Kami semua ingin anak-anak kita sekolah lebih tinggi. Kami semua ingin pemuda desa punya pekerjaan.”
Seno menunduk.
“Kami hanya ingin mengajak kita semua membaca bersama,” kata Liris. “Karena sebelum kita membuat keputusan besar, kita harus tahu apa yang sedang kita putuskan.”
Liris kemudian mempersilakan Rantaka maju.
Rantaka membawa salinan surat dukungan yang sudah diperbesar.
Ia menempelkannya di papan tulis.
“Ini adalah surat yang beberapa hari terakhir dibawa dari rumah ke rumah,” katanya. “Sebagian warga sudah menandatangani. Sebagian belum. Malam ini kita akan membacanya pelan-pelan.”
Rantaka menunjuk bagian atas surat.
“Di sini tertulis bahwa warga mendukung pengembangan kawasan usaha Desa Wanasari. Kalimat ini terdengar sederhana. Tetapi kita perlu bertanya: kawasan mana? Usaha apa? Berapa luas wilayahnya? Apa dampaknya bagi kebun, sungai, kolam, dan jalan desa?”
Pak Roni mengangkat tangan.
“Bukankah itu sudah dijelaskan waktu sosialisasi?”
Rantaka menoleh kepadanya.
“Apakah Bapak menerima peta lokasi?”
Pak Roni terdiam.
“Apakah Bapak menerima salinan rencana kegiatan?”
“Tidak.”
“Apakah Bapak tahu apakah dukungan ini berkaitan dengan tanah milik warga?”
Pak Roni menarik napas.
“Mereka bilang belum sampai ke soal tanah.”
“Kalau begitu,” kata Rantaka, “kita berhak meminta penjelasan sebelum memberi dukungan lebih jauh.”
Beberapa warga mulai mengangguk.
Rantaka melanjutkan membaca bagian berikutnya.
“Di sini tertulis bahwa penandatangan bersedia mendukung dan tidak mengajukan keberatan terhadap kegiatan yang dilakukan sepanjang sesuai dengan ketentuan yang berlaku.”
Ia berhenti.
“Kalimat ini penting. Karena kalau suatu hari nanti ada jalan yang melewati kebun warga, atau ada kegiatan yang membuat air sungai berubah, apakah warga yang sudah tanda tangan masih boleh mengajukan keberatan?”
Ruangan menjadi hening.
Bu Marni mengangkat tangan.
“Saya ingin bertanya,” katanya. “Kalau kami sudah tanda tangan karena tidak tahu, apakah kami masih bisa menarik tanda tangan itu?”
Rantaka belum sempat menjawab.
Pak Darma berdiri dari bangku belakang.
“Jangan membuat warga panik,” katanya.
Nada suaranya tidak keras, tetapi cukup membuat suasana berubah.
“Kita semua tahu perusahaan belum melakukan apa-apa. Mereka baru menawarkan peluang. Kalau setiap surat dibaca seperti ancaman, nanti tidak ada investor yang mau datang ke desa ini.”
Jagra yang duduk di samping Banyu mulai menegakkan tubuh.
Namun, Rantaka memberi isyarat agar ia tetap tenang.
“Kami tidak ingin membuat panik, Pak,” kata Rantaka. “Kami ingin warga paham.”
“Warga sudah paham kebutuhan mereka,” balas Pak Darma. “Mereka butuh pekerjaan. Mereka butuh jalan yang lebih baik. Mereka butuh uang untuk menyekolahkan anak-anak.”
“Betul,” jawab Rantaka. “Dan karena kebutuhan itu besar, warga tidak boleh diberi surat tanpa penjelasan yang lengkap.”
Pak Darma menatap Rantaka tajam.
“Kau pulang dari kota, menjadi guru, lalu merasa paling tahu tentang desa ini?”
Kalimat itu membuat beberapa orang terkejut.
Rantaka terdiam sesaat.
Ucapan itu mengingatkannya pada masa ketika ia masih sekolah di kota. Saat itu, ia pernah dipandang rendah karena berasal dari desa. Kini, setelah pulang, ia justru dianggap terlalu banyak bicara karena membawa cara pandang dari luar.
Ia tidak ingin membalas dengan emosi.
“Saya tidak merasa paling tahu, Pak,” katanya. “Justru karena saya anak desa ini, saya tahu banyak warga sering merasa tidak enak bertanya. Saya tahu orang tua kita sering menandatangani surat karena percaya kepada orang yang membawa. Saya tahu pemuda desa ingin bekerja. Saya juga tahu anak-anak di sekolah saya butuh masa depan yang jelas.”
Pak Darma tidak menjawab.
Rantaka melanjutkan.
“Kalau perusahaan memang datang dengan niat baik, mereka tentu tidak keberatan menjelaskan semuanya secara terbuka.”
Setelah itu, Liris membagikan lembar pertanyaan sederhana kepada warga.
Di atasnya tertulis:
PERTANYAAN UNTUK MASA DEPAN DESA WANASARI
- Apakah warga menerima salinan surat yang ditandatangani?
- Apakah warga diberi waktu untuk membaca dan berdiskusi dengan keluarga?
- Apakah perusahaan menjelaskan lokasi kegiatan secara tertulis?
- Apakah ada peta lahan, jalur jalan, atau rencana penggunaan air?
- Apakah ada jaminan tertulis bagi warga yang terdampak?
- Apakah warga dapat menolak tanpa kehilangan kesempatan pelatihan atau pekerjaan?
- Apakah anak-anak dan masa depan pendidikan desa telah dipertimbangkan?
Beberapa warga membaca kertas itu dengan perlahan.
Sebagian meminta anak atau cucu mereka membacakan.
Di sudut ruangan, seorang ibu bernama Bu Karmi mulai menangis.
“Aku tanda tangan karena anakku sudah dua tahun tidak dapat kerja,” katanya. “Orang itu bilang kalau aku mendukung, anakku bisa masuk daftar pelatihan. Aku tidak tahu surat itu bisa berkaitan dengan tanah.”
Seno menoleh kepada ibunya.
Ternyata Bu Karmi adalah ibunya.
Wajah Seno berubah.
Ia memegang tangan ibunya.
“Ibu tidak salah,” katanya pelan.
Bu Karmi menggeleng.
“Aku hanya ingin kau punya kerja.”
Seno menatap kertas di depannya.
Selama ini ia merasa Rantaka dan kawan-kawannya tidak memahami keadaan pemuda desa. Namun malam itu, ia melihat ibunya sendiri menandatangani sesuatu karena rasa takut.
Bukan karena serakah.
Bukan karena tidak peduli pada tanah.
Tetapi karena terlalu lama hidup dalam keadaan yang membuat setiap janji terasa seperti satu-satunya jalan.
Seno berdiri.
“Aku juga sudah tanda tangan,” katanya.
Semua mata tertuju kepadanya.
“Aku tanda tangan karena aku ingin ikut pelatihan kerja. Aku tidak ingin terus meminta uang kepada ibu. Aku tidak ingin melihat rumah kami bocor setiap musim hujan.”
Suaranya mulai bergetar.
“Tapi kalau pelatihan itu harus dibayar dengan membuat ibu tanda tangan sesuatu yang tidak ia pahami, aku ingin tahu dulu semuanya.”
Beberapa pemuda di belakangnya mulai saling berbisik.
Pak Darma menatap Seno dengan wajah keras.
“Kau terlalu cepat terpengaruh.”
Seno menoleh.
“Bukan terpengaruh, Pak. Saya hanya ingin membaca sebelum tanda tangan.”
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun, di balai desa malam itu, kalimat tersebut seperti membuka pintu yang selama ini tertutup.
Satu per satu warga mulai berbicara.
Pak Roni mengaku ia juga tidak menerima salinan surat.
Seorang petani bernama Pak Warto berkata bahwa ia mendengar jalan perusahaan mungkin akan melewati kebun singkong di dekat bukit.
Seorang ibu bertanya apakah sungai yang mulai keruh akan dipakai untuk kegiatan perusahaan.
Seorang pemuda bertanya apakah pelatihan kerja benar-benar terbuka bagi warga atau hanya janji untuk mengumpulkan dukungan.
Pertanyaan-pertanyaan itu mulai memenuhi balai desa.
Tidak semua pertanyaan memiliki jawaban.
Namun, untuk pertama kalinya, warga Desa Wanasari mulai menyadari bahwa mereka berhak bertanya.
Ketika suasana semakin ramai, suara sepeda motor terdengar berhenti di depan balai desa.
Beberapa orang menoleh.
Pak Hendra masuk bersama dua rekannya.
Ia mengenakan kemeja rapi dan membawa map hitam.
“Selamat malam,” katanya sambil tersenyum. “Saya mendengar ada pertemuan warga.”
Tidak ada yang menyambut dengan tepuk tangan.
Liris berdiri.
“Selamat malam, Pak. Kami sedang membaca surat dukungan yang dibawa oleh tim Bapak.”
Pak Hendra mengangguk.
“Bagus. Saya senang masyarakat aktif.”
“Kalau begitu, Bapak bisa membantu menjelaskan,” kata Rantaka.
Pak Hendra berjalan ke depan.
Ia melihat surat yang ditempel di papan tulis.
“Surat ini adalah bentuk dukungan awal masyarakat terhadap program pembangunan,” katanya. “Tidak ada pengalihan tanah dalam surat ini. Tidak ada paksaan. Tidak ada ancaman.”
“Kalau tidak ada paksaan,” tanya Bu Karmi, “kenapa anak saya dikatakan bisa kehilangan kesempatan pelatihan kalau kami tidak mendukung?”
Pak Hendra tampak terdiam sebentar.
“Mungkin ada kesalahpahaman dalam penyampaian di lapangan.”
“Kesalahpahaman dari siapa?” tanya Jagra.
“Kami akan evaluasi.”
“Apakah warga yang sudah tanda tangan boleh meminta salinan dan menarik dukungannya?” tanya Liris.
Pak Hendra tersenyum tipis.
“Tentu saja warga dapat meminta penjelasan.”
“Itu bukan jawaban,” kata Liris.
Suasana kembali menegang.
Pak Hendra memandang Liris.
“Saudari, saya menghargai semangat literasi yang Anda bangun. Tetapi pembangunan tidak bisa berhenti hanya karena setiap orang ingin membahas semua hal terlalu panjang.”
Liris menggenggam kertas di tangannya.
“Pembangunan yang menyangkut tanah, sungai, dan masa depan anak-anak tidak boleh diputuskan terburu-buru.”
Beberapa warga bertepuk tangan kecil.
Pak Hendra menghela napas.
“Kami datang membawa peluang. Lapangan kerja, pelatihan, akses jalan, dan bantuan sosial. Kalau masyarakat terus dipenuhi keraguan, daerah lain bisa lebih siap menerima investasi.”
Pak Darma berdiri.
“Pak Hendra benar,” katanya. “Kita jangan menolak peluang hanya karena takut pada sesuatu yang belum terjadi.”
Jagra tidak bisa lagi menahan diri.
“Dan kita jangan menerima peluang hanya karena takut miskin selamanya,” katanya.
Pak Darma menatapnya.
“Kau bicara seolah-olah kau tidak butuh uang.”
“Aku butuh,” jawab Jagra. “Keluargaku butuh. Kolam kami hampir mati karena air sungai berubah. Tapi justru karena aku butuh, aku tidak mau asal menyerahkan tanah dan air kepada orang yang belum menjelaskan apa pun.”
“Perusahaan belum mengambil apa-apa!”
“Belum,” kata Jagra. “Tapi tanda tangan itu sudah mulai diambil.”
Suara warga semakin ramai.
Ada yang membela Pak Darma.
Ada yang mendukung Jagra.
Ada yang meminta agar semua orang tenang.
Di tengah keributan itu, seorang anak kecil bernama Dita berdiri dari tempat duduknya.
Ia memegang buku cerita yang dibawa dari perpustakaan.
“Kak Rantaka,” katanya dengan suara kecil, tetapi cukup terdengar, “kalau sungai kita rusak, nanti ikan-ikan di kolam Kak Jagra mati semua?”
Ruangan mendadak sunyi.
Jagra menatap Dita.
Ia tidak langsung menjawab.
Anak kecil itu melanjutkan, “Kalau ikan mati, nanti Kak Jagra masih bisa beli buku untuk Gerobak Buku?”
Pertanyaan itu membuat dada Jagra terasa sesak.
Dulu, ketika mereka masih kecil, anak-anak seperti Dita hanya bertanya kapan Gerobak Buku datang.
Sekarang, mereka mulai bertanya tentang sungai, ikan, dan masa depan.
Rantaka mendekati Dita.
Ia berjongkok di depannya.
“Kita semua sedang berusaha supaya sungai tetap baik,” katanya.
“Supaya ikan tetap hidup?”
“Iya.”
“Supaya buku juga tetap ada?”
Rantaka tersenyum tipis.
“Iya. Supaya buku juga tetap ada.”
Dita mengangguk.
Lalu ia kembali duduk.
Namun, pertanyaan sederhana itu tinggal di dalam hati semua orang.
Malam semakin larut.
Pak Hendra akhirnya mengatakan bahwa perusahaan akan mengadakan sosialisasi lanjutan dan membawa penjelasan yang lebih lengkap.
Ia juga berjanji akan mempertimbangkan permintaan warga untuk memperoleh salinan surat yang telah ditandatangani.
Namun, sebelum pergi, ia menatap Rantaka dan kawan-kawannya.
“Semoga semangat kalian untuk mengajak warga berpikir tidak berubah menjadi sikap menolak pembangunan,” katanya.
Rantaka menatapnya balik.
“Semoga niat perusahaan untuk membangun tidak berubah menjadi cara mengambil keputusan tanpa warga.”
Pak Hendra tidak menjawab.
Ia lalu pergi bersama dua rekannya.
Setelah itu, warga tidak langsung bubar.
Mereka masih berdiskusi dalam kelompok-kelompok kecil.
Ada yang merasa lebih tenang karena akhirnya memahami isi surat.
Ada yang justru semakin takut.
Ada yang masih yakin perusahaan membawa harapan.
Ada yang mulai ragu.
Namun, satu hal telah berubah.
Malam itu, Desa Wanasari tidak lagi diam.
Ketika balai desa mulai sepi, Liris duduk di tangga depan bersama Rantaka.
Di halaman, Banyu dan Jagra masih membereskan kursi.
Lampu-lampu kecil yang dipasang sore tadi mulai redup.
“Aku tidak tahu apakah malam ini membuat keadaan lebih baik atau lebih rumit,” kata Liris.
“Kadang-kadang keduanya terjadi bersamaan,” jawab Rantaka.
Liris memandangi jalan desa yang gelap.
“Aku takut warga semakin terpecah.”
“Aku juga.”
“Aku takut Pak Darma benar. Takut kita dianggap menghalangi kesempatan.”
Rantaka menoleh kepadanya.
“Kesempatan yang baik tidak akan hilang hanya karena warga meminta penjelasan.”
Liris tersenyum kecil.
“Kau yakin?”
“Tidak,” jawab Rantaka. “Tapi aku yakin warga berhak tahu.”
Di dekat mereka, Jagra datang membawa tumpukan kursi.
“Besok kita harus mulai mencari peta,” katanya.
“Peta apa?” tanya Banyu.
“Peta rencana kawasan. Peta aliran sungai. Peta lahan warga. Semua yang selama ini tidak pernah dibuka.”
Liris memandang sahabat-sahabatnya.
“Kalau kita mendapat peta itu, kita bisa mengadakan kelas membaca peta.”
Banyu tersenyum.
“Gerobak Buku Langit Biru naik tingkat.”
“Dulu kita mengajari anak-anak membaca cerita,” kata Jagra.
“Sekarang kita belajar membaca tanah,” ujar Rantaka.
Mereka berdiri di depan balai desa yang mulai sunyi.
Di dinding, karton putih bertuliskan MEMBACA BERSAMA, MEMUTUSKAN BERSAMA masih tergantung.
Tulisan itu bergoyang pelan tertiup angin malam.
Tidak ada yang tahu apakah pertemuan itu akan membuat perusahaan mundur, warga bersatu, atau justru memperbesar konflik.
Namun, malam itu telah meninggalkan sesuatu yang lebih kuat daripada rasa takut.
Kesadaran.
Bahwa pendidikan bukan hanya soal membaca buku di sekolah.
Pendidikan adalah keberanian untuk bertanya.
Pendidikan adalah kemampuan memahami kata-kata sebelum membubuhkan nama.
Pendidikan adalah kesediaan untuk mendengar orang lain, bahkan ketika pendapat mereka berbeda.
Dan bagi Desa Wanasari, Malam Membaca Warga menjadi awal dari perjuangan yang lebih besar.
Perjuangan untuk menjaga tanah, sungai, sekolah, dan mimpi anak-anak desa.
Perjuangan agar masa depan tidak dijual murah di atas kertas putih.
Perjuangan agar Langit Biru tetap menyala, meski malam mulai semakin gelap.
BAB 13
PETA YANG DISEMBUNYIKAN
Pagi setelah Malam Membaca Warga, Desa Wanasari tidak benar-benar kembali tenang.
Di warung kopi dekat jalan utama, orang-orang membicarakan surat dukungan perusahaan.
Di kebun, para petani bertanya-tanya apakah jalan baru benar-benar akan melewati lahan mereka.
Di tepi sungai, beberapa ibu yang sedang mencuci pakaian membicarakan air yang semakin keruh.
Sementara di sekolah, anak-anak mulai bertanya kepada Rantaka tentang kata-kata yang mereka dengar dari orang tua mereka.
“Pak Guru,” tanya Dita saat jam istirahat, “kalau perusahaan datang, apakah sekolah kita akan pindah?”
Rantaka yang sedang memeriksa buku tugas menatap murid kecil itu.
“Kenapa kamu bertanya begitu?”
“Kata Bapak, nanti jalan besar bisa dibuat sampai dekat bukit. Kalau jalan besar dibuat, mungkin sekolah jadi ramai.”
Rantaka tersenyum tipis.
“Jalan yang baik bisa membantu banyak orang. Tapi semua rencana harus dipikirkan bersama, supaya tidak merugikan warga.”
Dita mengangguk, meski belum sepenuhnya mengerti.
“Kalau sungai rusak, ikan Kak Jagra mati, ya?”
“Karena itu kita harus menjaga sungai.”
“Kalau tanah dijual, nanti Gerobak Buku lewat mana?”
Pertanyaan itu membuat Rantaka terdiam.
Bagi anak-anak, desa bukan sekadar wilayah di peta.
Desa adalah jalan yang mereka lewati menuju sekolah.
Sungai tempat mereka bermain saat sore.
Kebun tempat orang tua mereka bekerja.
Kolam ikan milik keluarga Jagra.
Pohon beringin tua tempat Gerobak Buku Langit Biru dulu berhenti setiap akhir pekan.
Anak-anak belum memahami istilah investasi, pengembangan kawasan, atau perizinan.
Namun, mereka memahami satu hal yang paling sederhana.
Mereka tidak ingin kehilangan tempat yang mereka kenal sebagai rumah.
Sore harinya, Rantaka mengajak Liris, Banyu, dan Jagra berkumpul di perpustakaan desa.
Di atas meja, terdapat beberapa lembar catatan dari Malam Membaca Warga.
Liris menuliskan pertanyaan-pertanyaan warga dengan rapi.
Siapa yang membawa surat dukungan?
Di mana lokasi kawasan usaha?
Apakah jalur jalan akan melewati kebun warga?
Apakah sungai akan digunakan untuk kegiatan perusahaan?
Apakah warga yang sudah menandatangani surat dapat meminta salinan?
Apakah pelatihan kerja benar-benar terbuka untuk semua pemuda desa?
Jagra berdiri di dekat jendela sambil memandang ke arah sungai.
“Semua pertanyaan itu akan tetap menjadi pertanyaan kalau kita tidak punya peta,” katanya.
Banyu mengangguk.
“Pak Hendra selalu bicara tentang pembangunan, tapi tidak pernah menunjukkan batas wilayahnya.”
“Dia bilang akan ada sosialisasi lanjutan,” ujar Liris.
“Kalau sosialisasi itu hanya berisi kata-kata, kita tetap tidak tahu apa-apa,” jawab Jagra.
Rantaka membuka buku catatan kecilnya.
“Peta bisa menjelaskan banyak hal. Kita bisa melihat apakah lokasi rencana itu dekat sungai. Kita bisa tahu apakah jalur jalan melewati kebun warga. Kita juga bisa membandingkan dengan lokasi kolam dan sekolah.”
Liris memandang Rantaka.
“Tapi kita mendapatkan peta dari mana?”
Rantaka berpikir sejenak.
“Pemerintah desa seharusnya punya peta wilayah. Kecamatan mungkin punya data batas desa. Kalau perusahaan sudah melakukan pendataan, mereka pasti juga punya peta rencana.”
“Dan mereka mungkin tidak mau memberikannya,” kata Banyu.
“Kalau begitu, kita minta dengan cara baik,” jawab Rantaka.
Jagra tertawa pendek.
“Cara baik sudah kita lakukan. Mereka tetap datang membawa surat tanpa peta.”
“Kita tidak boleh berhenti hanya karena mereka belum terbuka,” kata Rantaka.
“Kalau mereka tetap menolak?”
Rantaka menatap sahabatnya.
“Kalau mereka menolak, warga akan melihat sendiri siapa yang tidak ingin menjelaskan.”
Keesokan harinya, Rantaka dan Liris mendatangi kantor desa.
Kantor itu tidak besar. Cat dindingnya mulai pudar. Di halaman depan, bendera merah putih berkibar lemah tertiup angin.
Pak Sekretaris Desa sedang menyusun berkas ketika mereka datang.
“Pak, kami ingin meminta bantuan,” kata Rantaka.
“Bantuan apa?”
“Kami ingin melihat peta wilayah Desa Wanasari.”
Pak Sekretaris Desa menatap mereka dengan hati-hati.
“Untuk apa?”
“Kami ingin membantu warga memahami rencana pembangunan yang sedang dibicarakan,” jawab Liris. “Kami tidak ingin membuat masalah. Kami hanya ingin mengetahui lokasi sungai, kebun, sekolah, kolam, dan batas-batas dusun.”
Pak Sekretaris Desa menarik napas.
“Peta desa ada. Tapi tidak semua data bisa diperlihatkan sembarangan.”
“Apakah peta wilayah desa termasuk rahasia?” tanya Rantaka.
“Bukan begitu maksud saya.”
“Kalau begitu, kami hanya ingin melihatnya,” kata Liris. “Kami tidak meminta membawa pulang.”
Pak Sekretaris Desa tampak ragu.
Ia membuka laci meja, lalu mengeluarkan sebuah map biru.
Di dalamnya terdapat peta Desa Wanasari yang sudah cukup lama.
Garis-garis batas dusun terlihat tipis.
Sungai utama digambar seperti garis biru panjang yang membelah desa.
Ada tanda sekolah, balai desa, jalan utama, kebun warga, dan beberapa area kolam.
Namun, peta itu tidak menunjukkan rencana perusahaan.
“Ini peta desa yang kami punya,” kata Pak Sekretaris Desa. “Kalau soal rencana perusahaan, saya tidak memegangnya.”
“Apakah perusahaan pernah menyerahkan peta rencana kepada desa?” tanya Rantaka.
Pak Sekretaris Desa tidak segera menjawab.
“Pernah ada dokumen yang dibawa saat pertemuan awal,” katanya akhirnya. “Tapi dokumen itu dibawa kembali.”
“Tidak ada salinan?” tanya Liris.
“Tidak ada.”
Jagra yang sejak tadi menunggu di luar akhirnya masuk.
“Jadi perusahaan datang membicarakan kawasan usaha, tapi desa tidak memegang peta rencananya?”
Pak Sekretaris Desa tampak tidak nyaman.
“Saya tidak mengatakan begitu.”
“Tapi Bapak juga tidak bisa menunjukkan peta itu,” kata Jagra.
Rantaka menahan bahu Jagra.
“Kami mengerti, Pak. Terima kasih sudah memperlihatkan peta desa.”
Sebelum pergi, Liris memotret peta itu dengan telepon genggamnya.
Pak Sekretaris Desa tidak melarang.
Namun, ketika mereka keluar dari kantor desa, Rantaka melihat sebuah mobil hitam berhenti di halaman.
Pak Hendra turun dari mobil bersama seorang pria bersepatu kulit.
Pria itu membawa tabung panjang berisi gulungan kertas.
Rantaka memandang tabung itu.
Ia tidak tahu isinya.
Tetapi ia tahu, orang yang membawa peta biasanya tidak datang hanya untuk melihat pemandangan.
Di perpustakaan, Banyu mulai menggambar ulang peta desa di atas kertas karton besar.
Ia menggunakan foto dari telepon Liris sebagai acuan.
Jagra membantu menandai lokasi kolam ikan keluarganya dan kolam-kolam warga lain.
Rantaka menandai sekolah, balai desa, perpustakaan, serta jalur Gerobak Buku Langit Biru.
Liris menandai rumah-rumah warga yang telah mengaku menerima surat dukungan.
“Kalau jalur perusahaan masuk dari bukit sebelah timur,” kata Banyu sambil menunjuk peta, “mereka kemungkinan akan melewati kebun singkong Pak Warto.”
“Lalu turun ke dekat sungai,” kata Jagra.
“Kalau dekat sungai, mereka mungkin akan membutuhkan jalan akses,” ujar Rantaka.
Liris memandang garis sungai.
“Dan jalan akses itu bisa melewati dekat sekolah.”
Tidak ada yang langsung menjawab.
Mereka semua tahu bahwa kemungkinan belum tentu berarti kepastian.
Namun, setiap kemungkinan perlu diperiksa sebelum menjadi kenyataan.
Banyu mengambil penggaris.
“Kalau kita tahu titik awal dan titik akhir, kita bisa memperkirakan jalurnya.”
“Kita tidak tahu titik awalnya,” kata Liris.
“Tapi mungkin ada yang tahu,” jawab Jagra.
“Siapa?”
Jagra menatap peta.
“Orang-orang yang pernah ikut survei ke bukit.”
Nama pertama yang muncul adalah Pak Warto.
Ia seorang petani singkong yang kebunnya berada di dekat jalan tanah menuju bukit sebelah timur.
Rantaka, Banyu, dan Jagra mendatanginya sore itu.
Pak Warto sedang memperbaiki pagar kebun ketika mereka tiba.
“Pak, kami ingin bertanya,” kata Rantaka.
Pak Warto mengangguk.
“Kalian mau soal perusahaan?”
“Bapak pernah melihat mereka melakukan survei?”
Pak Warto menancapkan parang kecilnya ke tanah.
“Pernah. Dua minggu lalu. Ada beberapa orang membawa alat seperti tongkat panjang. Mereka mengukur-ukur dari jalan menuju bukit.”
“Apakah mereka masuk ke kebun Bapak?” tanya Banyu.
“Belum masuk. Tapi mereka berdiri lama di dekat batas kebun.”
“Apakah mereka menunjukkan peta?” tanya Jagra.
Pak Warto menggeleng.
“Mereka hanya bilang sedang melihat kemungkinan jalur akses.”
“Jalur akses ke mana?” tanya Rantaka.
“Mereka tidak bilang.”
Pak Warto lalu masuk ke gubuk kecil di pinggir kebun.
Ia keluar membawa selembar kertas kusut.
“Ini jatuh dari motor mereka waktu itu,” katanya.
Kertas itu bukan peta lengkap.
Hanya potongan cetakan dengan beberapa garis, angka, dan tanda panah.
Namun, di bagian atas terdapat tulisan kecil:
Rencana Koridor Akses Timur — Tahap Awal
Banyu mengambil kertas itu dengan hati-hati.
Ada garis merah yang bergerak dari jalan utama menuju arah bukit.
Garis itu kemudian berbelok ke arah sungai.
Di dekatnya, terdapat tanda kecil yang menyerupai area penampungan.
Jagra memandang kertas itu dengan wajah tegang.
“Ini bukan sekadar jalan,” katanya.
Rantaka mengangguk.
“Ini bagian dari rencana yang lebih besar.”
Pak Warto memandang mereka.
“Apakah kebunku akan kena?”
Rantaka tidak ingin memberi jawaban yang belum pasti.
“Kami belum tahu, Pak. Tapi kami akan mencari penjelasan.”
Pak Warto menatap tanah kebunnya.
“Tanah ini bukan luas. Tapi dari sini saya membiayai sekolah anak saya. Kalau tanah ini hilang, saya harus mulai dari mana?”
Jagra memandang Pak Warto.
Pertanyaan itu sama dengan pertanyaan yang selama ini menghantui seluruh Desa Wanasari.
Bagaimana warga bisa menolak sesuatu jika mereka tidak tahu apa yang akan hilang?
Malam itu, mereka kembali mengamati potongan kertas di perpustakaan.
Banyu menempelkan kertas tersebut di atas peta desa.
Ia mencoba mencocokkan garis jalan, belokan sungai, dan posisi bukit.
Setelah beberapa kali menggeser, wajahnya berubah.
“Lihat ini.”
Ia menunjuk sebuah titik.
“Kalau garis ini benar, jalurnya turun melewati sisi timur sungai.”
“Dekat kolam warga?” tanya Liris.
“Dekat sekali,” jawab Banyu.
Jagra mendekat.
“Kolam keluarga Pak Samin ada di sini. Kolam Pak Bardi di sini. Dan kolam kami di sini.”
Rantaka menatap peta.
“Kalau mereka membuat jalan besar dan area penampungan dekat sungai, aliran air bisa berubah.”
“Kalau aliran air berubah, kolam bisa kekurangan air,” kata Jagra.
“Bukan hanya kolam,” ujar Liris. “Kebun warga di bawah bukit juga memakai aliran dari parit kecil yang bersumber dari sungai.”
Banyu mengangguk.
“Dan sekolah kita ada tidak jauh dari jalur itu.”
Liris menatap peta dengan wajah pucat.
Selama ini, ia mengira perusahaan hanya akan membuka kawasan di bukit.
Namun, peta kecil itu menunjukkan kemungkinan bahwa dampaknya bisa menjalar ke seluruh desa.
Sungai.
Kolam.
Kebun.
Sekolah.
Jalan anak-anak menuju perpustakaan.
Gerobak Buku Langit Biru.
Semua terhubung.
Seperti halaman-halaman dalam satu buku yang tidak bisa dipisahkan tanpa merusak cerita.
Keesokan paginya, kabar tentang potongan peta itu mulai menyebar.
Tidak ada yang tahu siapa yang pertama kali menceritakannya.
Namun, sebelum siang, beberapa warga sudah datang ke perpustakaan.
Pak Warto datang bersama dua petani lain.
Bu Marni datang membawa anaknya.
Seno datang bersama beberapa pemuda.
Mereka ingin melihat sendiri.
Liris menempelkan peta desa dan potongan koridor akses di dinding.
Namun, ia menulis sebuah catatan besar di bawahnya:
INI BUKAN PETA LENGKAP. INI HANYA PETUNJUK AWAL. WARGA BERHAK MEMINTA PENJELASAN RESMI.
Rantaka berdiri di depan warga.
“Kami tidak ingin membuat kesimpulan sebelum ada dokumen resmi,” katanya. “Tetapi potongan ini menunjukkan bahwa kita perlu meminta peta lengkap dan penjelasan terbuka.”
“Kalau perusahaan tidak mau menunjukkan?” tanya seorang warga.
“Berarti kita harus meminta pemerintah desa dan kecamatan membantu,” jawab Rantaka.
Pak Roni berdiri dari kursinya.
“Kalau kita terus menekan, perusahaan bisa batal masuk.”
“Kalau perusahaan batal hanya karena warga meminta peta, apakah itu perusahaan yang bisa dipercaya?” tanya Liris.
Pak Roni tidak menjawab.
Seno memandang peta itu cukup lama.
Kemudian ia berkata, “Aku masih ingin ikut pelatihan kerja. Tapi aku tidak ingin pelatihan itu membuat kebun Pak Warto hilang tanpa penjelasan.”
Beberapa pemuda mengangguk.
“Kalau memang ada pekerjaan,” lanjut Seno, “kita harus tahu pekerjaan apa, berapa lama, dan apa yang terjadi setelah tanah dan sungai berubah.”
Jagra memandang Seno.
Untuk pertama kalinya sejak konflik itu dimulai, ia melihat pemuda itu bukan sebagai orang yang mudah tergoda janji perusahaan.
Seno hanya seorang anak desa yang ingin hidupnya berubah.
Dan mungkin, jika diberi kesempatan memahami, ia juga ingin perubahan itu tidak menghancurkan rumahnya sendiri.
Menjelang sore, Pak Darma datang ke perpustakaan.
Wajahnya terlihat lebih keras dari biasanya.
Ia membawa sebuah map hitam.
“Dari mana kalian mendapatkan ini?” tanyanya sambil menunjuk potongan peta.
“Dari kebun Pak Warto,” jawab Rantaka.
Pak Darma menghela napas.
“Kalian tidak seharusnya menyebarkan dokumen yang tidak lengkap.”
“Kami tidak menyebarkan sebagai kepastian,” kata Liris. “Kami menuliskan bahwa ini hanya petunjuk awal.”
“Tetap saja, warga jadi takut.”
“Warga berhak tahu ada kemungkinan jalur akses melewati dekat kebun dan sungai,” kata Jagra.
Pak Darma menatap Jagra.
“Kalian ingin desa ini tetap miskin?”
Jagra berdiri.
“Kami ingin desa ini tidak dijual murah.”
“Kalian bicara tentang menjual, padahal belum ada tanah yang dijual!”
“Lalu kenapa peta disembunyikan?” tanya Banyu.
Pak Darma membuka mapnya.
Di dalamnya terdapat beberapa lembar kertas.
Ia mengambil satu lembar, tetapi tidak menyerahkannya.
“Peta itu masih dalam tahap pembahasan,” katanya. “Belum tentu jadi.”
“Kalau belum tentu jadi, kenapa survei sudah dilakukan?” tanya Rantaka.
Pak Darma tidak menjawab.
Rantaka melanjutkan, “Kami tidak menolak pembahasan. Kami justru meminta agar pembahasan dilakukan terbuka.”
Pak Darma memandang ke arah peta di dinding.
“Kalian terlalu muda untuk memahami bagaimana pembangunan bekerja.”
Liris menatapnya.
“Dulu kami juga dianggap terlalu muda ketika membawa Gerobak Buku keliling desa. Tapi anak-anak yang membaca dari gerobak itu sekarang sudah mulai berani bertanya.”
Pak Darma terdiam.
Liris melanjutkan dengan suara yang lebih tenang.
“Pendidikan tidak membuat warga menolak pembangunan, Pak. Pendidikan membuat warga tidak mudah dibohongi.”
Kalimat itu membuat suasana perpustakaan menjadi hening.
Pak Darma menutup mapnya.
Sebelum pergi, ia berkata, “Kalian akan menyesal kalau perusahaan memilih pergi.”
Setelah itu, ia berjalan keluar.
Jagra mengepalkan tangan.
“Dia selalu bicara seolah-olah hanya perusahaan yang bisa menyelamatkan desa.”
“Karena bagi sebagian orang, perusahaan memang terlihat seperti satu-satunya jalan,” kata Rantaka.
“Lalu kita harus bagaimana?” tanya Jagra.
Rantaka memandang peta di dinding.
“Kita tunjukkan bahwa desa juga bisa membangun jalannya sendiri.”
Malam itu, Langit Biru kembali berkumpul di bawah pohon beringin tua.
Peta desa dibawa oleh Banyu dalam gulungan karton.
Liris membawa catatan hasil percakapan dengan warga.
Jagra membawa daftar nama pemilik kolam dan kebun yang berada dekat jalur kemungkinan.
Rantaka membawa buku catatan dari sekolah.
Di bawah cahaya bulan, mereka membuka peta itu di atas tikar.
“Besok kita mulai mendata,” kata Rantaka.
“Mendata apa?” tanya Liris.
“Semua yang mungkin terdampak. Kolam, kebun, parit, rumah, jalan anak-anak ke sekolah, lokasi Gerobak Buku, dan sumber air warga.”
“Untuk apa?” tanya Banyu.
“Supaya kalau mereka datang membawa peta mereka, kita juga punya peta kita sendiri.”
Jagra menatap sahabatnya.
“Peta warga.”
“Peta kehidupan,” kata Liris.
Banyu tersenyum kecil.
“Kita bisa mengajak anak-anak sekolah belajar menggambar peta desa.”
Rantaka mengangguk.
“Mereka bisa menggambar jalan yang mereka lewati, sungai tempat mereka bermain, kebun orang tua mereka, dan tempat-tempat yang mereka sayangi.”
“Lalu orang dewasa bisa menambahkan sumber air, lahan, dan kolam,” kata Liris.
Jagra memandang pohon beringin di atas mereka.
“Gerobak Buku Langit Biru benar-benar berubah.”
“Tidak,” jawab Rantaka. “Ia tetap sama.”
“Bagaimana bisa sama?” tanya Jagra.
“Dulu kita membawa buku agar anak-anak belajar membaca. Sekarang kita membawa peta agar warga belajar menjaga apa yang mereka miliki.”
Angin malam bertiup perlahan.
Daun-daun beringin bergerak di atas kepala mereka.
Di kejauhan, suara sungai terdengar lebih pelan dari biasanya.
Namun, bagi Rantaka, suara itu terasa seperti panggilan.
Panggilan agar mereka tidak hanya menunggu penjelasan dari orang lain.
Panggilan agar mereka mulai memahami desa mereka sendiri.
Karena tanah yang tidak dipetakan oleh warganya sendiri akan mudah dipetakan oleh orang lain.
Karena sungai yang tidak dijaga oleh anak-anaknya sendiri akan mudah dianggap sekadar garis biru di atas kertas.
Dan karena masa depan Desa Wanasari tidak boleh disembunyikan di dalam gulungan peta yang hanya dibuka oleh orang-orang dari luar.
Malam itu, di bawah pohon beringin tua, mereka membuat keputusan.
Mereka akan membuat Peta Warga Wanasari.
Peta yang tidak hanya menunjukkan batas tanah.
Tetapi juga menunjukkan sekolah, sungai, kolam, kebun, jalan, rumah, dan mimpi-mimpi yang tumbuh di atasnya.
Sebab bagi Langit Biru, desa bukan sekadar tempat untuk ditinggalkan atau diperebutkan.
Desa adalah rumah yang harus dipahami, dijaga, dan diperjuangkan bersama.
BAB 14
PETA WARGA DAN SUARA ANAK-ANAK
Pagi itu, halaman SD Wanasari dipenuhi kertas-kertas besar.
Beberapa murid duduk berkelompok di bawah pohon mangga. Ada yang membawa pensil warna, ada yang memegang penggaris, dan ada pula yang sibuk mencari tempat untuk menggambar.
Di depan kelas, Rantaka menempelkan sebuah kertas karton besar bertuliskan:
GAMBAR DESAMU, CERITAKAN RUMAHMU.
Anak-anak membaca tulisan itu dengan suara keras.
“Pak Guru, kita mau menggambar rumah?” tanya Dita.
“Boleh,” jawab Rantaka.
“Gambar sungai juga?”
“Boleh.”
“Kolam ikan Kak Jagra?”
“Boleh.”
“Gerobak Buku Langit Biru?”
“Harus,” jawab Rantaka sambil tersenyum.
Anak-anak tertawa.
Di sisi lain halaman, Liris membantu membagikan kertas. Ia membawa beberapa buku gambar bekas yang masih memiliki halaman kosong. Banyu menyiapkan papan alas dari tripleks agar anak-anak bisa menggambar dengan nyaman. Jagra datang membawa beberapa botol air minum dan makanan ringan.
Kegiatan itu bukan sekadar pelajaran menggambar.
Rantaka ingin anak-anak melihat desa mereka sebagai tempat yang penting.
Ia ingin mereka mengenali jalan yang setiap hari mereka lalui.
Ia ingin mereka memahami bahwa sungai bukan hanya tempat bermain, tetapi sumber kehidupan warga.
Ia ingin mereka tahu bahwa kebun, kolam, sekolah, perpustakaan, dan pohon beringin tua bukan sekadar bagian dari pemandangan.
Semua itu adalah bagian dari rumah mereka.
“Anak-anak,” kata Rantaka ketika semua sudah duduk, “hari ini kalian tidak perlu menggambar dengan bagus. Tidak perlu sama seperti gambar di buku.”
“Kalau jelek bagaimana, Pak?” tanya seorang anak laki-laki bernama Danu.
“Tidak ada gambar jelek kalau itu tentang tempat yang kamu kenal.”
Danu tampak lega.
“Kalian gambar tempat yang paling kalian ingat di Desa Wanasari,” lanjut Rantaka. “Boleh jalan menuju sekolah, rumah nenek, sungai, kebun orang tua, kolam ikan, atau tempat kalian biasa bermain.”
Dita mengangkat tangan.
“Kalau saya gambar pohon beringin?”
“Kenapa pohon beringin?” tanya Rantaka.
“Karena di sana Gerobak Buku berhenti. Kalau ada Gerobak Buku, semua teman datang.”
Liris yang mendengar jawaban itu tersenyum.
Ia teringat masa ketika mereka masih seusia Dita. Saat itu, Gerobak Buku Langit Biru hanya sebuah gerobak kayu tua dengan roda yang sering macet. Namun, dari gerobak sederhana itu, mereka belajar bahwa buku bisa membuat anak-anak berkumpul tanpa harus dipaksa.
Kini, anak-anak yang dulu hanya meminjam buku cerita mulai tumbuh menjadi anak-anak yang berani berbicara tentang desa mereka.
Tidak lama kemudian, halaman sekolah berubah menjadi dunia kecil Desa Wanasari.
Danu menggambar jalan tanah dari rumahnya menuju sekolah. Di sisi jalan, ia menggambar pohon-pohon besar dan sebuah jembatan kayu kecil.
Seorang anak bernama Wati menggambar kebun sayur milik ibunya. Ia memberi warna hijau pada tanaman dan warna cokelat pada tanah.
Rafi menggambar sungai dengan ikan-ikan kecil di dalamnya.
Namun, ia memberi warna abu-abu pada sebagian air sungai.
“Kenapa airnya tidak biru?” tanya Banyu yang duduk di sampingnya.
“Karena sekarang kadang-kadang airnya seperti teh,” jawab Rafi.
Banyu terdiam.
“Dulu saya mandi di sini,” lanjut Rafi. “Sekarang Ibu bilang jangan terlalu jauh ke tengah.”
Banyu mengangguk pelan.
“Bagus kamu menggambar apa yang kamu lihat.”
Di dekat pohon mangga, Dita menggambar pohon beringin besar. Di bawahnya, ia menggambar sebuah gerobak kecil berwarna biru.
Di samping gerobak itu, ia menggambar banyak anak-anak memegang buku.
Namun, di bagian ujung kertas, ia juga menggambar sebuah garis hitam panjang.
Rantaka mendekat.
“Ini apa, Dita?”
“Jalan besar.”
“Kenapa ada jalan besar di dekat pohon beringin?”
Dita mengangkat bahu.
“Kata Kakak saya, nanti mungkin ada jalan besar dari bukit.”
“Kalau ada jalan besar, apa yang terjadi?”
Dita menatap gambarnya.
“Kalau jalan besar dekat pohon beringin, Gerobak Buku tidak bisa berhenti lama. Banyak mobil lewat.”
Rantaka memandang garis hitam itu cukup lama.
Di mata orang dewasa, jalan baru mungkin berarti kemajuan.
Namun, di mata Dita, jalan itu bisa berarti hilangnya ruang kecil tempat anak-anak berkumpul membaca.
Rantaka tidak ingin membuat anak-anak takut.
Tetapi ia juga tidak ingin menutup telinga terhadap apa yang mereka rasakan.
“Kalau kamu boleh memilih,” tanya Rantaka, “kamu ingin jalan itu bagaimana?”
Dita berpikir.
“Jalannya boleh ada. Tapi jangan sampai pohon beringinnya ditebang.”
Rantaka tersenyum.
“Itu pendapat yang baik.”
Menjelang siang, Liris mengajak beberapa anak untuk menceritakan gambar mereka satu per satu.
Ia menuliskan cerita-cerita kecil itu di buku catatan.
Wati berkata bahwa kebun ibunya adalah tempat keluarganya mendapatkan uang untuk membeli beras dan buku sekolah.
Danu berkata jembatan kayu dekat rumahnya sering licin saat hujan, tetapi ia tetap melewatinya karena itu jalan paling dekat menuju sekolah.
Rafi berkata sungai adalah tempat ayahnya mencari ikan saat kolam sedang tidak menghasilkan.
Dita berkata pohon beringin adalah tempat semua anak merasa memiliki teman.
Liris mendengarkan dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Selama ini, banyak orang dewasa berbicara tentang desa dalam angka-angka.
Luas lahan.
Jumlah penduduk.
Nilai investasi.
Panjang jalan.
Namun, anak-anak berbicara tentang desa dengan cara yang berbeda.
Mereka berbicara tentang tempat pulang.
Tentang jalan menuju sekolah.
Tentang sungai yang memberi ikan.
Tentang kebun yang memberi makan.
Tentang pohon beringin yang memberi ruang untuk belajar dan berteman.
Liris lalu menuliskan sebuah kalimat di papan tulis:
DESA BUKAN HANYA TANAH. DESA ADALAH TEMPAT HIDUP.
Anak-anak menyalin kalimat itu ke buku masing-masing.
Sore hari, gambar-gambar anak mulai ditempel di dinding perpustakaan desa.
Banyu menyusun peta desa besar di tengah dinding.
Di sekelilingnya, Liris menempelkan gambar anak-anak.
Jagra memasang kertas kecil di bawah setiap gambar, berisi nama anak dan cerita singkat mereka.
Dita berdiri di depan gambarnya sendiri.
“Gambar saya dipajang,” katanya bangga.
“Karena gambar kamu penting,” jawab Liris.
“Memangnya orang dewasa mau lihat?”
“Mereka harus lihat.”
Tidak lama kemudian, warga mulai datang.
Awalnya hanya beberapa ibu yang ingin melihat gambar anak-anak mereka.
Lalu datang para petani.
Datang pula beberapa pemuda.
Seno berdiri cukup lama di depan gambar Rafi tentang sungai berwarna abu-abu.
Ia membaca tulisan di bawahnya:
Sungai tempat ayah saya mencari ikan. Sekarang airnya kadang keruh.
Seno menunduk.
Ia teringat ketika masih kecil, ia dan Rantaka sering melompat dari batu besar di tepi sungai. Saat itu, airnya bening dan dingin. Mereka bisa melihat ikan kecil bergerak di antara batu-batu.
Kini, sungai itu tidak lagi sama.
Namun, ia baru benar-benar merasakan perubahan itu setelah melihatnya melalui gambar seorang anak.
Pak Warto juga datang.
Ia berdiri di depan gambar Wati tentang kebun sayur.
“Kebun seperti ini memang kecil,” katanya kepada Rantaka. “Tapi dari kebun kecil seperti ini, orang bisa hidup.”
Rantaka mengangguk.
“Itulah yang ingin kami tunjukkan, Pak. Kalau ada pembangunan, semua yang ada di desa harus dihitung. Bukan hanya tanahnya, tetapi kehidupan yang bergantung di atasnya.”
Pak Warto memandang peta besar di dinding.
“Kalau nanti mereka membawa peta perusahaan, kita tunjukkan peta ini.”
“Ya,” jawab Rantaka. “Kita tunjukkan bahwa di balik garis-garis itu, ada warga dan anak-anak.”
Namun, tidak semua orang menyambut kegiatan itu dengan baik.
Menjelang petang, Pak Darma datang bersama dua orang warga yang selama ini mendukung rencana perusahaan.
Ia berdiri di pintu perpustakaan.
Matanya menyapu gambar-gambar yang menempel di dinding.
“Kalian memakai anak-anak untuk melawan pembangunan,” katanya.
Suasana di dalam perpustakaan langsung hening.
Liris berdiri dari kursinya.
“Kami tidak memakai anak-anak untuk melawan siapa pun.”
“Lalu apa ini?” Pak Darma menunjuk gambar sungai dan jalan besar. “Kalian membuat anak-anak takut pada jalan dan perusahaan.”
“Anak-anak menggambar apa yang mereka lihat dan apa yang mereka dengar,” jawab Liris. “Kami tidak menyuruh mereka menggambar jalan sebagai ancaman.”
Pak Darma menatap Rantaka.
“Sebagai guru, kau seharusnya mengajar pelajaran sekolah. Bukan mengajak murid memikirkan urusan orang dewasa.”
Rantaka menahan napas.
Ia tahu, jika ia menjawab dengan emosi, kegiatan itu akan mudah dipelintir.
“Sebagai guru,” katanya tenang, “saya mengajarkan anak-anak mengenal lingkungan tempat mereka hidup. Mereka belajar menggambar, menulis, bercerita, dan memahami desa mereka.”
“Ini bukan pelajaran. Ini propaganda.”
“Kalau anak-anak mengatakan sungai keruh, apakah itu propaganda?” tanya Rantaka.
Pak Darma tidak menjawab.
“Kalau anak-anak menggambar kebun orang tuanya, apakah itu propaganda?” lanjut Rantaka.
“Kalau mereka ingin pohon beringin tidak ditebang, apakah itu propaganda?”
Pak Darma mengatupkan rahang.
“Kalian sedang membentuk opini warga.”
Liris menatapnya.
“Warga sudah punya pikiran sendiri, Pak. Anak-anak juga punya mata sendiri.”
Kalimat itu membuat beberapa warga yang hadir mulai berbisik.
Pak Darma menatap dinding perpustakaan sekali lagi.
Kemudian ia berkata, “Kalau kegiatan ini membuat perusahaan merasa tidak diterima, jangan salahkan siapa pun jika kesempatan kerja hilang dari desa.”
Setelah itu, ia pergi.
Seno yang sejak tadi berdiri di belakang warga lain melangkah maju.
“Aku tidak setuju kalau anak-anak disalahkan,” katanya.
Semua orang menoleh kepadanya.
“Aku masih ingin tahu soal pelatihan kerja. Aku masih ingin ada pekerjaan untuk pemuda desa. Tapi melihat gambar-gambar ini tidak berarti kita menolak kerja. Ini hanya membuat kita ingat bahwa pekerjaan tidak boleh menghilangkan rumah kita sendiri.”
Rantaka memandang Seno.
Ucapan itu sederhana, tetapi sangat berarti.
Karena konflik di Desa Wanasari bukan tentang siapa yang mendukung atau menolak pembangunan.
Konflik itu tentang bagaimana desa dapat berkembang tanpa meninggalkan warganya sendiri.
Malamnya, Langit Biru kembali berkumpul di perpustakaan.
Di depan mereka, peta warga mulai bertambah lengkap.
Banyu menambahkan tanda sumber air dan saluran parit.
Jagra menambahkan lokasi kolam-kolam warga.
Liris menempelkan cerita anak-anak dalam potongan kertas kecil.
Rantaka menandai sekolah, perpustakaan, pohon beringin, dan jalan yang biasa digunakan anak-anak menuju kelas.
“Kita sudah punya banyak data,” kata Banyu.
“Belum cukup,” jawab Jagra. “Kita masih harus mendata kebun dan rumah warga yang dekat jalur kemungkinan.”
“Kita tidak punya banyak waktu,” kata Liris.
Rantaka mengangguk.
Ia tahu konflik ini mulai bergerak lebih cepat.
Pak Hendra mungkin akan datang lagi dengan sosialisasi resmi.
Pak Darma mungkin akan mengumpulkan dukungan baru.
Warga bisa semakin terbelah.
Dan jika mereka terlambat, keputusan besar bisa diambil sebelum warga memahami apa yang sedang terjadi.
“Kita tidak perlu menyelesaikan semuanya sekaligus,” kata Rantaka. “Yang penting, kita tahu arah perjuangan kita.”
“Arah yang mana?” tanya Banyu.
Rantaka menunjuk peta besar di dinding.
“Kita ingin perusahaan membuka semua rencananya. Kita ingin warga mendapat kesempatan memahami dan berdiskusi. Kita ingin sungai, kebun, sekolah, dan kolam dilindungi. Dan kita ingin pemuda desa mendapat pelatihan yang benar-benar berguna.”
Jagra mengangguk.
“Berarti kita tidak hanya menolak.”
“Kita menawarkan jalan lain,” kata Liris.
“Jalan pembangunan yang tidak mengorbankan desa,” tambah Banyu.
Di luar perpustakaan, angin malam membawa suara sungai dari kejauhan.
Suara itu tidak lagi sejernih masa kecil mereka.
Namun, masih cukup kuat untuk mengingatkan bahwa sungai itu belum menyerah.
Seperti Desa Wanasari.
Seperti Gerobak Buku Langit Biru.
Seperti anak-anak yang menggambar rumah mereka dengan pensil warna sederhana, tetapi menyimpan harapan besar di dalam setiap garisnya.
Malam itu, Rantaka menatap gambar Dita tentang pohon beringin dan jalan besar.
Ia teringat ucapan anak kecil itu:
Jalannya boleh ada. Tapi jangan sampai pohon beringinnya ditebang.
Bagi Rantaka, kalimat itu menjadi arah yang sederhana, tetapi kuat.
Desa boleh maju.
Jalan boleh dibangun.
Anak-anak boleh bermimpi lebih jauh.
Namun, akar mereka tidak boleh dicabut.
Dan sebelum semua keputusan besar diambil, suara anak-anak Desa Wanasari harus didengar.
Karena masa depan desa bukan hanya milik orang yang menandatangani kertas hari ini.
Masa depan desa adalah milik mereka yang akan tinggal dan tumbuh di dalamnya esok hari.
BAB 15
ULTIMATUM DI BALAI DESA
Tiga hari setelah gambar-gambar anak-anak dipajang di perpustakaan, sebuah pengumuman ditempel di papan depan balai Desa Wanasari.
Kertas itu berwarna putih, tetapi huruf-hurufnya dicetak tebal.
UNDANGAN RAPAT WARGA
PEMBAHASAN LANJUTAN RENCANA PENGEMBANGAN KAWASAN USAHA
KEHADIRAN WARGA SANGAT DIHARAPKAN
Di bagian bawah pengumuman, terdapat kalimat yang membuat banyak orang berhenti lebih lama saat membacanya.
Pendataan calon peserta pelatihan kerja dan program kemitraan akan dilakukan setelah rapat.
Sejak pagi, kalimat itu menjadi bahan pembicaraan di warung, kebun, sekolah, dan tepi sungai.
Bagi sebagian warga, pengumuman itu terdengar seperti kabar baik.
Bagi sebagian lainnya, kalimat tersebut terdengar seperti tekanan yang dibungkus janji.
Seno membaca pengumuman itu dua kali.
Ia berdiri di depan balai desa bersama beberapa pemuda lain.
“Kalau namaku tidak masuk daftar, aku tidak punya kesempatan lagi,” kata seorang pemuda bernama Arman.
“Belum tentu,” jawab Seno.
“Kenapa belum tentu? Mereka sudah jelas menulis pendataan dilakukan setelah rapat.”
Seno tidak menjawab.
Ia tahu apa yang dimaksud Arman.
Bagi pemuda yang belum memiliki pekerjaan tetap, pelatihan kerja bukan sekadar kegiatan beberapa hari. Pelatihan itu bisa menjadi pintu keluar dari hidup yang selama ini terasa sempit.
Namun, Seno juga teringat wajah ibunya saat mengaku menandatangani surat tanpa benar-benar memahami isinya.
Ia teringat gambar Rafi tentang sungai yang berubah warna.
Ia teringat gambar Dita tentang pohon beringin yang takut ditebang.
Peluang kerja memang penting.
Tetapi kesempatan yang datang bersama ketakutan bukanlah kesempatan yang mudah dipercaya.
Sore itu, Rantaka mengumpulkan Liris, Banyu, dan Jagra di perpustakaan.
Peta Warga Wanasari kini hampir memenuhi satu dinding.
Ada tanda sumber air, kebun warga, kolam ikan, jalan menuju sekolah, jembatan kecil, pohon beringin, dan jalur Gerobak Buku Langit Biru.
Di samping peta, gambar-gambar anak-anak masih tergantung.
Liris sedang membaca ulang pengumuman rapat.
“Mereka sengaja menaruh pelatihan kerja di bagian bawah,” katanya. “Supaya warga datang dengan harapan.”
“Bukan hanya datang,” ujar Jagra. “Supaya mereka merasa harus mendukung.”
Banyu menunjuk peta besar di dinding.
“Kita belum mendapatkan peta resmi mereka. Kalau rapat ini hanya sosialisasi lagi, warga tetap tidak akan tahu jalur rencana kawasan usaha.”
Rantaka mengangguk.
“Kita harus meminta forum terbuka.”
“Pak Darma pasti menolak,” kata Jagra.
“Pak Hendra juga mungkin tidak akan mau menjawab semua pertanyaan,” tambah Liris.
“Kalau begitu, kita bawa pertanyaan warga,” jawab Rantaka.
Ia mengambil selembar kertas dan menuliskan beberapa poin.
- Peta resmi rencana kawasan usaha dan jalur akses.
- Luas wilayah yang direncanakan.
- Dampak terhadap sungai, parit, kebun, kolam, dan sekolah.
- Bentuk pelatihan kerja serta jaminan keterlibatan pemuda desa.
- Jaminan bahwa warga dapat menyampaikan keberatan tanpa kehilangan kesempatan mengikuti pelatihan.
- Salinan surat dukungan yang telah ditandatangani warga.
- Waktu yang cukup bagi warga untuk berdiskusi sebelum keputusan dibuat.
“Kita tidak perlu berteriak,” kata Rantaka. “Kita hanya perlu meminta jawaban yang jelas.”
Jagra memandang daftar itu.
“Dan kalau mereka tidak menjawab?”
“Warga akan melihat,” jawab Rantaka.
Liris menatap sahabatnya.
“Rantaka, bagaimana kalau warga justru marah kepada kita? Mereka bisa merasa kita menghalangi pelatihan.”
Rantaka terdiam sejenak.
“Aku tidak ingin ada satu pun pemuda kehilangan kesempatan,” katanya. “Karena itu kita tidak menolak pelatihan. Kita meminta pelatihan dipisahkan dari surat dukungan dan rencana lahan.”
Banyu mengangguk.
“Pelatihan harus menjadi hak warga, bukan hadiah untuk yang setuju.”
Kalimat itu membuat mereka semua terdiam.
Di luar perpustakaan, beberapa anak sedang membaca buku di bawah pohon beringin.
Mereka tertawa ketika salah seorang dari mereka salah membaca kalimat dalam buku cerita.
Suara tawa itu terdengar ringan.
Namun, bagi Rantaka, suara itu menjadi alasan mengapa mereka tidak boleh menyerah.
Malam rapat tiba.
Balai Desa Wanasari kembali penuh.
Namun, suasananya berbeda dari Malam Membaca Warga.
Kali ini, kursi disusun menghadap ke depan seperti rapat resmi.
Di meja utama, duduk Kepala Desa, Pak Sekretaris Desa, Pak Darma, Pak Hendra, serta dua orang dari perusahaan yang sebelumnya tidak pernah dilihat warga.
Salah satunya adalah pria berusia sekitar lima puluh tahun dengan jas abu-abu dan wajah yang terlalu tenang.
Di depan meja, sebuah spanduk dipasang:
BERSAMA MEMBANGUN WANASARI MENUJU MASA DEPAN SEJAHTERA
Di sisi kanan balai, sebuah meja kecil telah disiapkan.
Di atasnya terdapat formulir pendaftaran pelatihan kerja.
Di samping formulir, terdapat daftar hadir warga.
Beberapa pemuda sudah berdiri mengantre sebelum rapat dimulai.
Arman tampak di antara mereka.
Seno berdiri tidak jauh dari antrean, tetapi belum mengambil formulir.
Rantaka melihat pemandangan itu dari pintu masuk.
Ia tidak menyalahkan mereka.
Ia memahami bahwa orang yang lama hidup dalam kesulitan akan mudah berlari menuju pintu yang tampak terbuka.
Masalahnya, tidak semua pintu membawa orang ke tempat yang lebih baik.
Rapat dibuka oleh Kepala Desa.
Ia menyampaikan bahwa Desa Wanasari membutuhkan pembangunan, lapangan kerja, dan peluang ekonomi bagi warga.
Setelah itu, Pak Hendra berdiri.
“Bapak dan Ibu sekalian,” katanya dengan suara tenang, “perusahaan kami datang bukan untuk mengambil hak warga. Kami datang untuk bekerja sama. Kami ingin membangun akses, membuka peluang usaha, dan memberikan pelatihan bagi pemuda desa.”
Beberapa warga bertepuk tangan.
Pak Hendra melanjutkan.
“Kami memahami ada beberapa pertanyaan dari masyarakat. Namun, perlu dipahami bahwa rencana ini masih dalam tahap awal. Karena itu, kami membutuhkan dukungan agar proses pembahasan dapat berjalan.”
Ia memberi isyarat kepada pria berjas abu-abu.
Pria itu kemudian berdiri.
“Nama saya Surya Pratama,” katanya. “Saya mewakili tim perencanaan. Kami telah melakukan peninjauan awal terhadap potensi kawasan di sekitar Desa Wanasari.”
Ia membuka sebuah map.
“Kawasan ini memiliki peluang besar untuk berkembang. Jika semua berjalan baik, akan ada perbaikan akses jalan, program pelatihan, serta kesempatan kerja bagi warga.”
“Peta mana?” suara Jagra terdengar dari bagian tengah ruangan.
Beberapa kepala menoleh.
Pak Hendra tersenyum tipis.
“Peta teknis masih dalam proses penyusunan.”
“Kalau peta masih disusun,” kata Jagra, “kenapa surat dukungan sudah dibawa ke rumah-rumah warga?”
Suasana mulai berubah.
Pak Darma berdiri.
“Jagra, beri kesempatan narasumber menjelaskan.”
“Saya sedang meminta penjelasan,” jawab Jagra.
Rantaka menepuk bahu sahabatnya, lalu berdiri.
“Pak Kepala Desa, kami membawa daftar pertanyaan dari warga. Kami mohon agar pertanyaan ini dijawab dalam forum terbuka.”
Kepala Desa tampak ragu.
Pak Darma lebih dulu berkata, “Tidak semua hal harus dibahas malam ini. Jangan membuat rapat menjadi tidak terkendali.”
“Justru karena ini menyangkut seluruh desa, rapat harus terkendali melalui jawaban yang jelas,” kata Liris.
Ia berdiri di samping Rantaka.
Di tangannya, terdapat daftar pertanyaan yang telah mereka susun.
Pak Hendra memandang mereka satu per satu.
“Silakan,” katanya.
Liris membaca pertanyaan pertama.
“Apakah perusahaan bersedia menunjukkan peta resmi rencana kawasan usaha dan jalur akses kepada warga?”
Pria berjas abu-abu menjawab, “Peta belum dapat dibuka karena masih merupakan dokumen kerja.”
“Apakah pemerintah desa sudah menerima salinannya?” tanya Rantaka.
Pak Sekretaris Desa menunduk.
Kepala Desa tampak menatap meja.
Pak Hendra menjawab, “Dokumen lengkap akan disampaikan sesuai tahapan.”
“Jadi warga diminta mendukung sesuatu yang belum boleh mereka lihat?” tanya Liris.
Beberapa warga mulai berbisik.
Pak Hendra tidak langsung menjawab.
Liris melanjutkan ke pertanyaan kedua.
“Apakah warga yang tidak menandatangani surat dukungan tetap boleh mengikuti pelatihan kerja?”
Pria berjas abu-abu menjawab cepat, “Pelatihan terbuka untuk warga.”
“Terbuka tanpa syarat dukungan?” tanya Banyu.
“Secara prinsip, ya.”
“Bisa Bapak tuliskan di papan?” tanya Banyu.
Pria itu terdiam.
Pak Darma berdiri.
“Tidak perlu semua hal dibuat seperti sidang pengadilan.”
“Kalau tidak ada yang disembunyikan, menulis jawaban seharusnya tidak sulit,” kata Banyu.
Beberapa warga mulai mengangguk.
Seno menatap meja pendaftaran pelatihan kerja.
Ia melihat Arman menggenggam formulir dengan wajah gelisah.
Seno lalu berdiri.
“Saya ingin ikut pelatihan,” katanya.
Suara di balai desa mereda.
“Tapi saya ingin bertanya. Kalau saya tidak mau menandatangani surat dukungan, apakah nama saya tetap dicatat?”
Pak Hendra tersenyum.
“Tentu, Nak. Kami tidak memaksa siapa pun.”
“Kalau begitu,” kata Seno, “tolong katakan dengan jelas di depan semua warga.”
Pak Hendra tampak sedikit berubah.
Ia menoleh kepada pria berjas abu-abu.
Kemudian ia berkata, “Baik. Pelatihan tidak akan dikaitkan dengan kewajiban menandatangani surat dukungan.”
“Ditulis,” kata seorang ibu dari belakang.
“Ditulis!” seru warga lain.
Suasana menjadi ramai.
Pak Darma mengangkat tangan.
“Tenang! Jangan semua orang bicara sekaligus!”
Namun, kali ini warga tidak lagi hanya duduk diam.
Bu Karmi berdiri.
“Kalau pelatihan tidak ada hubungannya dengan surat, saya ingin meminta salinan surat yang dulu saya tanda tangani.”
Pak Warto ikut berdiri.
“Saya juga ingin tahu apakah kebun saya masuk jalur rencana.”
Seorang warga lain bertanya tentang sungai.
Warga lain bertanya tentang kolam.
Seorang ibu bertanya apakah jalan besar akan melewati jalur anak-anak menuju sekolah.
Pertanyaan datang dari berbagai arah.
Pak Hendra mencoba menjawab dengan kalimat-kalimat umum.
“Kami akan mempertimbangkan.”
“Kami akan melakukan kajian.”
“Kami akan berkoordinasi.”
“Kami akan menyampaikan pada tahap berikutnya.”
Namun, warga mulai merasa bahwa jawaban-jawaban itu tidak cukup.
Rantaka berdiri lagi.
“Pak Hendra, warga tidak meminta jawaban sempurna malam ini. Warga meminta kepastian bahwa tidak ada keputusan lanjutan sebelum peta dibuka dan dampak dijelaskan.”
Pria berjas abu-abu menatap Rantaka.
“Proses investasi memiliki jadwal. Kami tidak bisa menunggu terlalu lama.”
“Desa ini juga tidak bisa mengambil keputusan terlalu cepat,” jawab Rantaka.
Pak Darma memukul meja dengan telapak tangannya.
“Kalau perusahaan menunggu terlalu lama, mereka akan memilih desa lain!”
Kalimat itu membuat balai desa mendadak sunyi.
Pak Darma berdiri dengan wajah merah.
“Kalian semua harus mengerti. Desa ini sudah terlalu lama tertinggal. Anak-anak muda pergi karena tidak ada pekerjaan. Kebun tidak cukup. Kolam gagal. Jalan rusak. Sekarang ada orang datang menawarkan peluang, tetapi kalian malah sibuk mencari alasan untuk menunda.”
Jagra berdiri.
“Kami tidak menunda karena takut maju, Pak.”
“Lalu karena apa?”
“Karena kami tidak mau maju dengan mata tertutup.”
Pak Darma menatapnya tajam.
“Kau pikir kau lebih peduli pada desa daripada saya?”
Jagra menarik napas.
“Aku tidak pernah bilang begitu. Tapi aku tahu rasanya kehilangan kolam karena air berubah. Aku tahu rasanya melihat keluarga harus meminjam uang setelah panen gagal. Karena itu aku tidak mau menerima janji tanpa tahu akibatnya.”
Pak Darma terdiam.
Jagra melanjutkan.
“Kalau perusahaan benar-benar baik, tunjukkan peta. Jelaskan rencana. Pastikan pelatihan tidak menjadi alat menekan warga. Setelah itu, warga bisa memutuskan dengan kepala tegak.”
Untuk beberapa detik, tidak ada yang bicara.
Kemudian suara tepuk tangan terdengar dari belakang.
Awalnya hanya satu orang.
Lalu beberapa orang.
Lalu semakin banyak.
Bukan semua warga bertepuk tangan.
Namun, cukup banyak untuk menunjukkan bahwa Langit Biru tidak lagi berdiri sendirian.
Pak Hendra berbicara dengan pria berjas abu-abu beberapa saat.
Lalu ia kembali berdiri.
“Baik,” katanya. “Kami menghargai aspirasi masyarakat. Kami akan mengadakan satu pertemuan lanjutan dalam waktu dekat dengan membawa penjelasan yang lebih lengkap.”
“Peta resmi?” tanya Liris.
Pak Hendra terdiam sejenak.
“Kami akan membawa materi yang diperlukan untuk menjelaskan rencana awal.”
“Peta resmi?” ulang Liris.
Pak Hendra akhirnya mengangguk tipis.
“Peta rencana awal akan kami tampilkan.”
“Dan tidak ada penandatanganan lanjutan sebelum itu?” tanya Rantaka.
Pak Hendra menatap Pak Darma.
Pak Darma tampak tidak senang.
Namun, di depan warga yang mulai bersuara, ia tidak bisa berkata banyak.
“Tidak ada penandatanganan lanjutan malam ini,” kata Pak Hendra.
“Dan pelatihan tidak dikaitkan dengan surat dukungan?” tanya Seno.
“Tidak dikaitkan,” jawab Pak Hendra.
Banyu segera menulis dua kalimat itu di papan tulis.
Ia menuliskannya besar-besar.
TIDAK ADA PENANDATANGANAN LANJUTAN SEBELUM PETA RENCANA AWAL DIBUKA.
PELATIHAN KERJA TIDAK DIKAITKAN DENGAN SURAT DUKUNGAN.
Warga memandang tulisan itu.
Tidak semua masalah selesai.
Tidak ada jaminan bahwa perusahaan akan benar-benar terbuka.
Tidak ada kepastian bahwa jalur rencana tidak akan melewati kebun atau sungai.
Namun, malam itu, warga berhasil mendapatkan sesuatu yang sebelumnya tidak mereka miliki.
Waktu.
Waktu untuk memahami.
Waktu untuk bertanya.
Waktu untuk memilih.
Setelah rapat berakhir, balai desa perlahan kosong.
Sebagian pemuda tetap mendaftarkan diri untuk pelatihan.
Termasuk Arman.
Namun, kali ini ia tidak menandatangani surat dukungan apa pun.
Seno berdiri di sampingnya.
“Aku juga daftar,” katanya.
Arman menoleh.
“Kau jadi ikut?”
“Aku butuh kerja. Tapi aku juga ingin tahu apa yang terjadi pada desa ini.”
Arman tersenyum tipis.
“Mungkin kita bisa ikut pelatihan tanpa harus menjual tanah.”
Seno mengangguk.
Di luar balai desa, Rantaka, Liris, Banyu, dan Jagra berdiri di bawah langit malam.
Mereka lelah.
Namun, ada sesuatu yang berubah dalam cara mereka memandang warga.
Malam itu, mereka tidak lagi hanya melihat warga sebagai orang-orang yang harus diyakinkan.
Mereka melihat warga sebagai orang-orang yang sedang berjuang dengan kebutuhan, ketakutan, dan harapan masing-masing.
“Pak Darma akan semakin marah,” kata Jagra.
“Pak Hendra juga tidak akan mudah menyerah,” ujar Liris.
“Dan kita belum tahu apa yang ada di peta mereka,” tambah Banyu.
Rantaka memandang balai desa.
“Karena itu kita harus menyiapkan peta kita.”
Ia teringat gambar Dita.
Pohon beringin.
Gerobak Buku.
Jalan besar.
Kalimat sederhana seorang anak kecil yang ingin desa maju tanpa kehilangan tempat belajar.
“Kita sudah mendapat waktu,” kata Rantaka. “Sekarang kita gunakan waktu itu untuk melengkapi Peta Warga.”
Angin malam bertiup melewati halaman balai desa.
Di kejauhan, suara sungai terdengar seperti bisikan panjang.
Bagi sebagian orang, sungai itu mungkin hanya garis biru di peta.
Namun, bagi Desa Wanasari, sungai adalah sumber air, sumber ikan, sumber kebun, sumber cerita, dan sumber hidup.
Jika sungai itu hilang, banyak hal akan ikut hilang.
Dan jika warga tidak berani membaca peta masa depan mereka sendiri, mungkin suatu hari mereka akan kehilangan desa tanpa pernah benar-benar tahu kapan semuanya dimulai.
Malam itu, Langit Biru pulang dengan langkah lelah, tetapi hati yang lebih teguh.
Mereka belum memenangkan perjuangan.
Namun, mereka berhasil menghentikan keputusan yang terlalu cepat.
Dan dalam perjuangan untuk menjaga desa, kadang-kadang satu malam tambahan untuk berpikir adalah awal dari keberanian yang jauh lebih besar.
BAB 16
PETA RESMI DAN LUKA LAMA
Dua minggu setelah rapat di balai desa, sebuah mobil putih kembali memasuki Desa Wanasari.
Mobil itu berhenti di halaman kantor desa tepat setelah matahari naik setinggi pohon kelapa. Dari dalam mobil turun Pak Hendra, Surya Pratama, dan dua orang lain yang membawa tabung besar berisi gulungan kertas.
Warga yang melihat kedatangan mereka mulai berdatangan.
Sebagian datang dari kebun dengan sepatu masih berlumur tanah.
Sebagian datang dari kolam ikan.
Beberapa ibu membawa anak kecil.
Para pemuda berdiri di dekat pagar kantor desa, termasuk Seno dan Arman.
Kabar bahwa perusahaan akan membawa peta rencana awal telah menyebar sejak sehari sebelumnya.
Tidak ada yang tahu pasti apa yang akan terlihat di dalam peta itu.
Namun, semua orang tahu bahwa garis-garis di atas kertas bisa menentukan arah hidup mereka bertahun-tahun ke depan.
Balai desa kembali penuh.
Kali ini, meja di bagian depan tidak hanya berisi mikrofon dan map rapat. Di sampingnya berdiri papan besar yang ditutup kain putih.
Surya Pratama berdiri di depan warga.
“Terima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada kami,” katanya. “Sebagaimana janji kami pada pertemuan sebelumnya, hari ini kami membawa peta rencana awal pengembangan kawasan usaha di sekitar Desa Wanasari.”
Ia memberi isyarat kepada salah satu rekannya.
Kain putih ditarik perlahan.
Peta besar terbuka.
Di atas kertas itu terlihat garis-garis merah, kuning, dan biru. Ada tanda jalan akses, batas kawasan, titik bangunan pendukung, serta jalur yang membelah bagian timur Desa Wanasari.
Suasana balai desa mendadak hening.
Banyu berdiri lebih dekat.
Matanya mengikuti garis merah yang bergerak dari arah jalan kecamatan, melewati semak di pinggir bukit, lalu turun mendekati sungai.
Jagra juga maju.
Wajahnya berubah ketika melihat jalur kuning yang berada tidak jauh dari beberapa kolam ikan warga.
“Ini dekat kolam kami,” katanya.
Surya mengangguk singkat.
“Jalur tersebut adalah akses pendukung. Kami masih melakukan kajian teknis.”
“Dekat itu seberapa dekat?” tanya Jagra.
Surya membuka map.
“Kurang lebih dua ratus meter dari kawasan kolam.”
“Dua ratus meter dari kolam yang airnya berasal dari parit yang sama?” tanya Jagra.
Surya tidak segera menjawab.
Rantaka melangkah ke depan.
Ia membawa salinan Peta Warga Wanasari yang telah disusun bersama Banyu, Liris, Jagra, serta warga.
“Boleh kami membandingkan peta ini dengan peta warga?” tanyanya.
Pak Hendra mengangguk, meskipun wajahnya terlihat tidak terlalu nyaman.
Banyu dan beberapa pemuda lalu membawa Peta Warga ke depan.
Peta itu tidak sebersih peta perusahaan.
Tidak dicetak dengan tinta tajam.
Tidak memiliki simbol-simbol teknis yang rumit.
Namun, di dalamnya terdapat tanda-tanda yang tidak ada dalam peta perusahaan.
Sumber air.
Parit kebun.
Kolam ikan.
Jalan setapak anak-anak menuju sekolah.
Pohon beringin.
Lokasi Gerobak Buku Langit Biru.
Kebun sayur warga.
Tempat warga mengambil bambu.
Titik rawan banjir.
Liris menempelkan beberapa gambar anak-anak di sisi peta.
Gambar sungai keruh.
Gambar kebun.
Gambar jalan menuju sekolah.
Gambar pohon beringin.
“Di peta kami,” kata Rantaka, “jalur akses ini melewati daerah resapan air. Kalau tanah di sana dibuka dan kendaraan berat masuk, air hujan akan turun lebih cepat ke parit dan sungai.”
Banyu menunjuk bagian bawah peta.
“Dan di sini ada saluran kecil yang mengalir ke kolam warga. Saluran itu mungkin tidak terlihat di peta teknis karena ukurannya kecil. Tetapi bagi kami, itu sumber air.”
Surya memperhatikan peta warga dengan wajah datar.
“Kami akan mencatat masukan tersebut.”
“Bukan hanya dicatat,” kata Jagra. “Harus dilindungi.”
Beberapa warga mengangguk.
Pak Warto berdiri dari kursinya.
“Kebun saya ada di sini,” katanya sambil menunjuk peta warga. “Di peta perusahaan, kebun saya hanya seperti tanah kosong.”
Surya melihat ke arah yang ditunjuk.
“Dalam peta rencana awal, area tersebut masuk zona penyangga.”
“Zona penyangga itu artinya apa?” tanya Pak Warto.
“Area yang kemungkinan akan terdampak kegiatan pendukung.”
“Kalau terdampak, apakah saya masih bisa menanam?”
“Kami belum bisa menjawab secara rinci sebelum kajian selesai.”
Pak Warto memandang peta itu dengan mata yang mulai merah.
“Jadi kebun saya bisa hilang, tetapi Bapak belum bisa menjawab?”
Tidak ada yang langsung menjawab.
Di bagian belakang balai desa, Pak Darma duduk dengan kedua tangan saling menggenggam.
Sejak peta dibuka, ia tidak banyak bicara.
Namun, wajahnya tampak lebih tegang daripada biasanya.
Seno memperhatikan ayahnya dari jauh.
Ia tahu Pak Darma selalu menjadi orang yang paling keras berbicara tentang pembangunan.
Ia selalu mengatakan bahwa Desa Wanasari membutuhkan jalan, pekerjaan, dan perubahan.
Namun, pagi itu, ketika jalur merah di peta mendekati sungai dan kebun warga, Pak Darma tidak terlihat seperti orang yang sedang menyambut masa depan.
Ia terlihat seperti seseorang yang sedang berusaha menahan sesuatu dari masa lalu.
Ketika rapat mulai semakin ramai, Pak Darma berdiri.
“Semua pembangunan pasti memiliki dampak,” katanya.
Warga kembali hening.
“Kita tidak bisa terus hidup dengan ketakutan. Kalau semua hal harus sempurna, Desa Wanasari tidak akan pernah maju.”
Jagra menatapnya.
“Kami tidak meminta semuanya sempurna, Pak. Kami meminta agar hidup warga tidak dikorbankan.”
Pak Darma menghela napas.
“Kalian masih muda. Kalian belum tahu bagaimana rasanya hidup ketika tidak ada jalan, tidak ada pekerjaan, tidak ada pilihan.”
“Aku tahu rasanya,” kata Jagra.
Suaranya tidak keras, tetapi cukup membuat semua orang mendengar.
“Aku tahu rasanya melihat kolam ikan rusak. Aku tahu rasanya menghitung uang untuk membeli pakan. Aku tahu rasanya melihat ayah pulang dengan wajah kecewa karena hasil panen tidak cukup.”
Pak Darma menatapnya tajam.
“Aku juga tahu,” lanjut Jagra, “bahwa orang yang susah justru paling mudah dipaksa menerima sesuatu tanpa penjelasan.”
Kata-kata itu membuat Pak Darma terdiam.
Seno berdiri perlahan.
“Ayah,” katanya.
Pak Darma menoleh.
Seno berjalan beberapa langkah ke depan.
“Ayah selalu bilang kita harus mengambil kesempatan supaya anak muda tidak pergi semua dari desa.”
Pak Darma tidak menjawab.
“Aku setuju,” lanjut Seno. “Aku ingin kerja. Aku ingin punya masa depan di sini. Tapi kalau jalannya merusak sungai dan kebun, nanti kami bekerja untuk siapa? Kalau tanah habis, kami pulang ke mana?”
Suara Seno bergetar pada kalimat terakhir.
Pak Darma memejamkan mata.
Untuk sesaat, balai desa terasa sangat sunyi.
Kemudian Pak Darma duduk kembali tanpa berkata apa-apa.
Rapat dilanjutkan, tetapi suasana sudah berubah.
Warga mulai bertanya lebih berani.
Seorang ibu bertanya tentang kebun singkong.
Seorang petani bertanya tentang debu kendaraan berat.
Seorang pemuda bertanya apakah pelatihan kerja benar-benar menjamin pekerjaan.
Seorang nelayan sungai bertanya tentang limbah.
Setiap pertanyaan dijawab dengan kalimat yang hampir sama.
“Kami akan kaji.”
“Kami akan koordinasikan.”
“Kami akan tindak lanjuti.”
Liris mencatat semua jawaban itu dalam buku kecilnya.
Ia menulis bukan hanya pertanyaan warga, tetapi juga bagian-bagian yang belum dijawab.
Ia tahu, kata-kata yang tidak dijelaskan sering kali lebih berbahaya daripada janji yang terlalu jelas.
Ketika rapat hampir selesai, Rantaka berdiri.
“Pak Hendra,” katanya, “warga sudah melihat bahwa peta rencana awal ini menyentuh sumber air, saluran kolam, kebun, dan jalur anak-anak menuju sekolah.”
Pak Hendra menatapnya.
“Kami belum mengambil keputusan final.”
“Karena itu, kami meminta satu hal.”
“Apa itu?”
“Tidak ada kegiatan lapangan, pembukaan jalan, pengukuran lanjutan, atau penandatanganan apa pun sebelum ada kajian lingkungan yang dapat dibaca warga dan musyawarah desa yang benar-benar terbuka.”
Pak Darma langsung berdiri.
“Kalian ingin menghentikan semua proses?”
“Tidak,” jawab Rantaka. “Kami ingin memastikan proses berjalan dengan benar.”
“Kalau perusahaan pergi karena terlalu banyak tuntutan, siapa yang bertanggung jawab?”
Rantaka memandang Pak Darma.
“Kalau sungai rusak karena kita terlalu cepat setuju, siapa yang bertanggung jawab?”
Pertanyaan itu menggantung di udara.
Pak Darma menatap peta perusahaan.
Tatapannya berhenti pada garis merah yang melintas dekat sungai.
Kemudian ia duduk kembali.
Kali ini, ia tidak membantah.
Setelah rapat selesai, warga pulang dengan wajah yang tidak lagi sama.
Sebagian tampak cemas.
Sebagian tampak marah.
Sebagian masih berharap perusahaan dapat membawa pekerjaan.
Namun, hampir semua orang membawa satu kesadaran baru.
Rencana itu bukan lagi sekadar kabar dari kota.
Rencana itu sudah memiliki garis.
Dan garis itu mendekati rumah, kebun, kolam, dan sungai mereka.
Di luar balai desa, Liris melihat Pak Darma berjalan sendirian menuju jalan kecil di belakang kantor desa.
Langkahnya pelan.
Tidak seperti biasanya.
Liris ragu sejenak, lalu menyusulnya.
“Pak Darma,” panggilnya.
Pak Darma berhenti, tetapi tidak langsung menoleh.
“Apa lagi yang ingin kalian katakan?” tanyanya pelan.
“Kami tidak ingin memusuhi Bapak.”
Pak Darma tertawa kecil, tanpa kegembiraan.
“Sejak kapan kalian tidak memusuhi saya?”
“Sejak kami tahu Bapak juga ingin desa ini berubah.”
Pak Darma akhirnya menoleh.
Matanya tampak lelah.
“Desa ini terlalu lama menunggu perubahan, Liris.”
“Kami tahu.”
“Dulu, ketika aku masih muda, aku pernah mendapat kesempatan bekerja di kota. Aku menolaknya karena ayahku sakit dan kebun keluarga tidak ada yang mengurus.”
Liris diam mendengarkan.
“Setelah ayahku meninggal, aku mencoba bertahan di sini. Aku membuka usaha kecil. Aku memelihara ikan. Aku menanam. Tapi beberapa kali gagal. Banjir datang. Harga turun. Jalan rusak. Tidak ada yang peduli.”
Pak Darma menatap ke arah sungai.
“Aku melihat banyak anak muda pergi. Aku melihat mereka pulang hanya saat lebaran. Aku tidak ingin Seno tumbuh dengan pilihan yang sama sempitnya seperti aku.”
Liris mengangguk pelan.
“Bapak takut Seno harus pergi dari desa.”
Pak Darma tidak menjawab, tetapi wajahnya menunjukkan bahwa kalimat itu benar.
“Namun,” kata Liris, “kalau desa kehilangan air, tanah, dan kebunnya, Seno mungkin tetap harus pergi. Bedanya, kali ini ia pergi karena tidak punya tempat untuk bertahan.”
Pak Darma memandang Liris cukup lama.
“Kalian terlalu yakin bisa mengubah semuanya.”
“Tidak,” jawab Liris. “Kami hanya tidak ingin menyerah sebelum mencoba.”
Pak Darma kembali menatap sungai.
Untuk pertama kalinya, Liris melihat keraguan di wajah lelaki itu.
Bukan keraguan karena ia kalah dalam rapat.
Melainkan keraguan karena ia mulai menyadari bahwa masa depan yang ia kejar mungkin memiliki harga yang terlalu mahal.
Malamnya, Langit Biru kembali berkumpul di perpustakaan.
Peta warga kini dipenuhi catatan baru.
Banyu menandai jalur merah perusahaan dengan pensil.
Jagra menambahkan titik-titik kolam yang berada dekat saluran air.
Liris menempelkan daftar pertanyaan yang belum dijawab.
Rantaka menuliskan satu kalimat besar di bagian bawah peta:
PEMBANGUNAN HARUS MENINGKATKAN HIDUP WARGA, BUKAN MENGHILANGKAN SUMBER HIDUPNYA.
Seno datang membawa sebuah map cokelat.
“Apa itu?” tanya Banyu.
Seno menyerahkannya kepada Rantaka.
“Ini salinan surat yang pernah ditandatangani Ibu. Aku menemukannya di lemari rumah.”
Rantaka membuka map itu.
Di bagian bawah surat terdapat kalimat yang sebelumnya tidak pernah dibaca banyak warga.
Warga menyatakan mendukung rencana pengembangan kawasan usaha dan bersedia mengikuti proses penataan wilayah sesuai ketentuan yang berlaku.
Jagra mengerutkan dahi.
“Penataan wilayah?”
“Itu bisa berarti apa saja,” kata Liris.
Seno mengangguk.
“Ayah tidak tahu aku mengambil salinannya.”
“Kenapa kamu memberikannya kepada kami?” tanya Rantaka.
Seno menatap peta besar di dinding.
“Karena aku ingin tahu apa yang sebenarnya akan terjadi pada desa ini.”
Rantaka menutup map itu perlahan.
Ia tahu, salinan surat tersebut bukan jawaban akhir.
Namun, surat itu adalah tanda bahwa perjuangan mereka memasuki tahap yang lebih serius.
Peta perusahaan telah dibuka.
Luka lama Pak Darma mulai terlihat.
Dan kini, ada kalimat-kalimat di atas kertas yang dapat digunakan untuk menekan warga tanpa mereka sadari.
Di luar perpustakaan, malam turun perlahan di atas Desa Wanasari.
Sungai mengalir dalam gelap.
Pohon beringin berdiri diam.
Gerobak Buku Langit Biru terparkir di bawah teras, dengan roda yang masih menyimpan lumpur dari jalan desa.
Rantaka memandang semua itu.
Ia tahu mereka belum sampai pada puncak perjuangan.
Namun, mulai malam itu, mereka tidak lagi hanya menghadapi janji perusahaan.
Mereka menghadapi pilihan besar:
apakah Desa Wanasari akan menyerahkan masa depannya kepada peta yang dibuat orang lain,
atau akan berdiri dengan peta, suara, dan keberaniannya sendiri.
Dan untuk memilih jalan kedua, mereka harus siap menghadapi luka yang selama ini disimpan rapat oleh banyak orang.
BAB 17
SURAT YANG MEMBELAH KELUARGA
Pagi di Desa Wanasari dimulai dengan suara motor yang berhenti dari rumah ke rumah.
Seorang petugas dari kecamatan datang membawa map biru. Bersamanya ada Pak Sekretaris Desa dan dua orang perangkat desa. Mereka tidak membawa pengeras suara, tidak pula mengundang warga ke balai desa.
Mereka hanya mengetuk pintu.
Lalu menyerahkan selembar surat.
Di bagian atas surat itu tertulis:
PEMBERITAHUAN TENTANG TAHAP PENATAAN WILAYAH DAN PENDATAAN WARGA TERDAMPAK
Di bawah judul itu, ada beberapa kalimat yang membuat banyak warga membaca berulang-ulang.
Surat tersebut menyatakan bahwa perusahaan akan melakukan pendataan lanjutan terhadap lahan, kebun, kolam, dan bangunan yang berada di sekitar jalur rencana kawasan usaha. Warga diminta menyiapkan bukti kepemilikan, data keluarga, serta bersedia menerima kunjungan petugas lapangan.
Bagi sebagian warga, surat itu terlihat seperti urusan administrasi biasa.
Namun, bagi sebagian lain, surat itu terasa seperti pintu yang mulai terbuka menuju sesuatu yang belum mereka pahami sepenuhnya.
Di rumah Pak Warto, surat itu diletakkan di atas meja kayu.
Pak Warto duduk diam di sampingnya.
Istrinya, Bu Ningsih, memegang surat itu dengan tangan gemetar.
“Kalau kebun kita masuk pendataan, berarti kebun kita benar-benar akan terkena?” tanyanya.
Pak Warto menghela napas.
“Belum tentu.”
“Lalu kenapa mereka minta surat tanah?”
“Entahlah.”
Anak mereka, Rudi, yang baru pulang dari kota kabupaten, berdiri di dekat pintu.
“Kalau memang terkena, ya kita pikirkan ganti rugi,” katanya. “Kebun itu juga tidak selalu menghasilkan.”
Bu Ningsih menoleh cepat.
“Kamu bicara seperti tanah itu bukan milik keluargamu.”
“Bukan begitu, Bu. Tapi kita juga harus realistis. Kalau ada uang, kita bisa memperbaiki rumah. Bisa bayar kuliah adik.”
Pak Warto menatap anaknya.
“Kebun itu yang membiayai kamu sekolah.”
Rudi terdiam.
“Waktu kamu kecil, dari kebun itu kita beli seragam. Dari kebun itu kita bayar obat ketika kamu sakit. Memang hasilnya tidak selalu banyak. Tapi tanah itu tidak pernah meninggalkan kita.”
Rudi menunduk.
“Kalau perusahaan memberi ganti rugi yang layak, kita bisa punya modal baru, Pak.”
“Modal untuk apa?”
“Untuk usaha. Untuk pindah ke tempat yang lebih baik.”
Pak Warto tersenyum pahit.
“Orang yang tidak punya tanah selalu mudah disuruh membuka usaha.”
Tidak ada yang menjawab setelah itu.
Surat di atas meja seolah menjadi benda kecil yang mampu membuka perbedaan besar di dalam satu keluarga.
Di rumah Seno, suasana tidak lebih tenang.
Pak Darma membaca surat itu berkali-kali.
Di sebelahnya, Seno duduk dengan wajah tegang.
Ibunya, Bu Ratih, sedang menyiapkan kopi, tetapi tangannya tidak berhenti gemetar.
“Pendataan ini wajar,” kata Pak Darma akhirnya. “Kalau ada rencana pembangunan, tentu mereka harus tahu lahan mana yang terkena.”
“Yang membuatku khawatir bukan pendataannya,” jawab Seno. “Yang membuatku khawatir adalah kalimat ini.”
Ia menunjuk bagian bawah surat.
Warga diharapkan mendukung kelancaran proses penataan wilayah demi kepentingan pembangunan dan kesejahteraan bersama.
“Ini sama seperti surat dukungan yang dulu,” kata Seno. “Bahasanya dibuat halus, tapi bisa dipakai untuk apa saja.”
Pak Darma menatap anaknya.
“Kau terlalu banyak mendengar Rantaka dan teman-temannya.”
“Aku mendengar warga, Yah.”
“Warga juga butuh pekerjaan.”
“Aku tidak menolak pekerjaan.”
“Lalu apa yang kau mau? Semua berhenti? Semua menunggu sampai desa ini semakin tertinggal?”
Seno berdiri.
“Aku mau kita tahu apa yang kita setujui.”
Pak Darma ikut berdiri.
“Kadang-kadang hidup tidak memberi waktu untuk tahu semuanya. Kadang-kadang kita harus mengambil kesempatan sebelum kesempatan itu hilang.”
“Kalau kesempatan itu membuat sungai rusak, bagaimana?”
Pak Darma tidak menjawab.
“Kalau kolam Jagra rusak, kebun Pak Warto hilang, dan anak-anak harus melewati jalan besar untuk sekolah, apakah itu masih kesempatan?”
“Jangan bicara seolah aku tidak peduli pada desa ini!” suara Pak Darma meninggi.
Bu Ratih menghentikan gerakannya.
Seno menatap ayahnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
“Aku tidak bilang Ayah tidak peduli. Aku tahu Ayah ingin aku punya masa depan.”
Pak Darma terdiam.
“Tapi aku tidak ingin masa depanku dibangun dari ketakutan warga,” lanjut Seno. “Aku ingin bekerja di desa ini tanpa harus merasa ikut menjual tempat kita hidup.”
Kata-kata itu membuat wajah Pak Darma berubah.
Ia ingin menjawab, tetapi suaranya tertahan.
Akhirnya ia mengambil jaketnya dan keluar rumah tanpa berkata apa-apa.
Bu Ratih memandang Seno.
“Ayahmu tidak selalu benar,” katanya pelan. “Tapi dia terlalu lama merasa gagal menjaga keluarga. Kadang-kadang orang yang takut kehilangan justru memegang sesuatu terlalu keras.”
Seno duduk kembali.
Ia menatap surat di meja.
Untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa perjuangan desa tidak hanya terjadi di balai desa atau di atas peta.
Perjuangan itu juga terjadi di ruang makan, di depan orang tua, di antara saudara, dan di dalam hati setiap orang yang takut masa depan keluarganya semakin sulit.
Di rumah Liris, surat itu datang menjelang siang.
Namun, bukan surat pendataan yang membuat suasana rumah berubah.
Hari itu, seorang tukang pos membawa amplop putih dengan cap sebuah lembaga literasi dari kota provinsi.
Liris menerimanya dengan heran.
Tangannya bergetar ketika membaca nama pengirim di sudut amplop.
Yayasan Cakrawala Kata
Ia membuka surat itu perlahan.
Di dalamnya terdapat pemberitahuan bahwa tulisannya terpilih dalam program residensi penulis muda selama enam bulan di kota provinsi. Peserta akan mendapat pendampingan, akses penerbitan, uang saku, dan kesempatan mengikuti pelatihan menulis bersama penulis-penulis nasional.
Liris membaca surat itu sampai tiga kali.
Enam bulan di kota.
Kesempatan belajar.
Kesempatan menerbitkan buku.
Kesempatan yang selama ini hanya berani ia tulis dalam buku catatan.
Ibunya, Bu Sari, memeluknya dengan mata berbinar.
“Ini kabar baik, Liris.”
Namun, ayahnya yang baru pulang dari kebun tidak langsung tersenyum.
“Enam bulan?” tanyanya.
Liris mengangguk.
“Di kota provinsi?”
“Iya, Yah.”
“Siapa yang membantu Ibu di rumah?”
Liris menunduk.
“Aku bisa pulang kalau ada keperluan.”
“Naik apa? Dengan uang dari mana?”
“Programnya memberi uang saku.”
Ayahnya duduk di kursi kayu.
Wajahnya tampak lelah.
“Menulis itu bagus,” katanya pelan. “Tapi rumah ini juga butuh orang yang membantu.”
Liris menggenggam surat itu erat-erat.
Ia ingin menjawab bahwa menulis bukan sekadar hobi.
Ia ingin mengatakan bahwa kata-kata dapat membuka jalan bagi anak-anak desa untuk dikenal dunia.
Ia ingin berkata bahwa selama ini ia menulis bukan untuk meninggalkan Wanasari, tetapi untuk membawa suara Wanasari lebih jauh.
Namun, ia melihat tangan ayahnya yang kasar karena kebun.
Ia melihat ibunya yang mulai sering batuk ketika terlalu lama bekerja.
Ia melihat keadaan rumah mereka yang masih sederhana.
Dan ia tahu, mimpinya selalu datang bersama pertanyaan yang sama:
siapa yang akan menanggung beban ketika ia pergi?
Sore itu, Liris datang ke perpustakaan membawa dua surat.
Satu surat dari Yayasan Cakrawala Kata.
Satu surat pendataan wilayah yang diterima keluarganya.
Rantaka sedang duduk di lantai bersama beberapa anak, membantu mereka membaca buku pelajaran.
Ketika melihat wajah Liris, ia segera berdiri.
“Ada apa?” tanyanya.
Liris menyerahkan surat pertama.
Rantaka membacanya.
Matanya langsung berbinar.
“Liris, ini luar biasa.”
Liris tersenyum kecil, tetapi tidak sepenuhnya bahagia.
“Enam bulan di kota.”
“Itu kesempatan besar.”
“Ayah tidak yakin aku bisa pergi.”
Rantaka menatapnya.
“Karena rumah?”
Liris mengangguk.
“Dan karena desa ini sedang seperti sekarang.”
Rantaka memandang surat kedua yang masih berada di tangan Liris.
“Tidak semua perjuangan harus dilakukan dari tempat yang sama,” katanya.
Liris mengangkat wajah.
“Kalau aku pergi sekarang, orang-orang akan bilang aku bicara tentang desa, tetapi meninggalkan desa saat desa sedang sulit.”
“Orang bisa berkata apa saja.”
“Termasuk kamu?”
Rantaka terdiam.
Pertanyaan itu tidak terdengar keras.
Namun, justru karena pelan, pertanyaan itu terasa lebih dalam.
Liris menatapnya.
“Aku tahu kamu ingin aku mengambil kesempatan ini. Tapi aku juga tahu kamu sedang berjuang menjaga sekolah, perpustakaan, sungai, dan warga. Kalau aku pergi, siapa yang membantu menulis semua cerita dan suara warga?”
Rantaka menarik napas.
Ia ingin mengatakan bahwa ia membutuhkan Liris di Wanasari.
Ia ingin berkata bahwa perpustakaan terasa lebih hidup karena Liris.
Ia ingin berkata bahwa dalam perjuangan yang semakin berat ini, kehadiran Liris membuatnya tidak merasa sendirian.
Namun, ia juga tahu bahwa cinta tidak boleh menjadi alasan untuk menahan seseorang dari mimpinya.
“Kalau kamu pergi,” kata Rantaka akhirnya, “aku akan merindukanmu.”
Liris menatapnya tanpa berkedip.
“Tapi?”
“Tapi aku tidak akan meminta kamu tinggal hanya karena aku takut kehilanganmu.”
Mata Liris mulai berkaca-kaca.
“Kadang-kadang aku berharap kamu lebih egois.”
Rantaka tersenyum pahit.
“Kadang-kadang aku juga berharap begitu.”
Mereka terdiam.
Di luar perpustakaan, anak-anak masih berlari di bawah pohon beringin.
Suara mereka terdengar seperti masa lalu yang belum jauh.
Namun, bagi Rantaka dan Liris, masa depan kini berdiri di depan mereka dengan pilihan yang tidak sederhana.
Malam itu, surat pendataan wilayah kembali menjadi bahan pembicaraan di banyak rumah.
Di rumah Jagra, ayahnya menaruh surat itu di dekat lampu minyak.
“Kita harus siapkan surat kolam,” katanya.
Jagra menatap ayahnya.
“Ayah mau menyerahkan kolam?”
“Ayah belum tahu.”
“Kalau jalur itu benar-benar dekat parit, kolam kita bisa rusak.”
“Ayah tahu.”
“Lalu kenapa Ayah tidak menolak dari sekarang?”
Ayah Jagra menatap anaknya dengan wajah letih.
“Karena Ayah juga tidak tahu harus memberi makan keluarga dari mana kalau kolam ini terus gagal.”
Jagra terdiam.
Selama ini ia merasa ayahnya terlalu diam.
Namun, malam itu ia menyadari bahwa diam bukan berarti tidak peduli.
Kadang-kadang diam adalah bentuk lain dari kelelahan.
Banyu juga menghadapi hal yang sama.
Kakaknya yang bekerja di luar desa menelepon dan mengatakan bahwa keluarga mereka sebaiknya menerima jika ada tawaran ganti rugi.
“Uang itu bisa dipakai membeli alat yang lebih bagus untukmu,” kata kakaknya melalui telepon.
Banyu menatap alat pengatur air sederhana yang sedang ia perbaiki di sudut rumah.
“Kalau airnya hilang, alat ini mau dipakai di mana?” jawab Banyu.
Di ujung telepon, kakaknya terdiam.
Keesokan harinya, Liris mengajak warga berkumpul di perpustakaan.
Tidak ada rapat resmi.
Tidak ada meja panjang.
Tidak ada pengeras suara.
Hanya tikar, teh hangat, dan surat-surat yang dibawa dari rumah masing-masing.
Pak Warto membawa surat pendataan.
Bu Karmi membawa salinan surat dukungan lama.
Seno membawa map cokelat dari rumahnya.
Jagra membawa data kolam warga.
Banyu membawa catatan saluran air.
Rantaka membawa buku tulis besar.
Liris berdiri di depan mereka.
“Kita semua sedang menghadapi pilihan yang berat,” katanya. “Ada yang ingin pekerjaan. Ada yang takut kebun hilang. Ada yang ingin anaknya punya masa depan. Ada yang takut anaknya harus pergi dari desa.”
Warga mendengarkan.
“Tidak ada yang salah karena ingin hidup lebih baik,” lanjut Liris. “Tapi kita harus memastikan bahwa tidak ada keluarga yang dipaksa memilih dalam keadaan tidak tahu.”
Ia membuka buku catatannya.
“Kita akan membuat daftar. Bukan daftar dukungan. Bukan daftar penolakan. Tetapi daftar pertanyaan dan kebutuhan warga.”
Rantaka menulis di papan:
APA YANG HARUS DILINDUNGI?
APA YANG DIBUTUHKAN WARGA?
APA YANG HARUS DIJELASKAN SEBELUM KEPUTUSAN DIAMBIL?
Satu per satu warga mulai berbicara.
“Kebun,” kata Pak Warto.
“Sungai,” kata seorang ibu.
“Kolam,” ujar Jagra.
“Jalan aman untuk anak sekolah,” kata Bu Sari.
“Pelatihan kerja yang benar-benar terbuka,” kata Seno.
“Ganti rugi yang jelas kalau ada lahan terkena,” kata Rudi.
“Perpustakaan dan sekolah,” tambah seorang ibu.
“Jangan ada limbah,” kata Rafi, anak kecil yang datang bersama ayahnya.
Semua orang menoleh kepadanya.
Rafi memegang gambar sungai berwarna abu-abu yang pernah ia buat.
“Aku mau sungainya biru lagi,” katanya.
Tidak ada yang tertawa.
Bu Karmi mengusap mata.
Rantaka menuliskan kalimat Rafi di bagian paling bawah papan:
SUNGAI HARUS TETAP BIRU.
Menjelang malam, warga mulai pulang.
Namun, sebelum meninggalkan perpustakaan, Pak Darma datang.
Ia berdiri di ambang pintu.
Semua orang terdiam.
Di tangannya, terdapat surat pendataan wilayah yang sama seperti milik warga lain.
Pak Darma memandang daftar di papan.
Kebun.
Sungai.
Kolam.
Sekolah.
Pelatihan kerja.
Ganti rugi yang jelas.
Sungai harus tetap biru.
Ia membaca semuanya tanpa bicara.
Lalu ia menoleh kepada Seno.
“Aku tidak setuju dengan semua cara kalian,” katanya.
Seno menatap ayahnya.
“Tapi aku juga tidak ingin warga dipaksa menandatangani sesuatu yang tidak mereka mengerti.”
Suasana di perpustakaan berubah.
Pak Darma melangkah masuk.
Ia meletakkan suratnya di atas meja.
“Kalau ada pendataan, harus ada pendampingan dari desa. Warga harus diberi salinan semua dokumen.”
Rantaka menatapnya.
“Bapak bersedia menyampaikan itu di balai desa?”
Pak Darma menghela napas.
“Aku akan menyampaikan apa yang menurutku benar.”
Itu bukan dukungan penuh.
Belum.
Namun, bagi Seno, kalimat itu terasa seperti pintu yang mulai terbuka.
Setelah semua orang pulang, Liris duduk sendirian di depan perpustakaan.
Di pangkuannya, surat dari Yayasan Cakrawala Kata masih terlipat rapi.
Rantaka datang membawa dua gelas teh.
Ia menyerahkan satu gelas kepada Liris.
“Sudah memutuskan?” tanyanya.
Liris menggeleng.
“Aku takut pergi.”
“Aku tahu.”
“Aku juga takut tinggal.”
Rantaka duduk di sampingnya.
Untuk beberapa saat, mereka hanya memandangi Gerobak Buku Langit Biru yang terparkir di bawah pohon beringin.
“Kalau aku pergi,” kata Liris pelan, “aku ingin pergi bukan untuk meninggalkan desa. Aku ingin pergi untuk belajar membawa suara desa lebih jauh.”
Rantaka mengangguk.
“Dan kalau kamu tinggal?”
“Aku ingin tinggal bukan karena takut bermimpi. Aku ingin tinggal karena ada hal yang harus diperjuangkan.”
Rantaka menatapnya.
“Berarti apa pun pilihanmu, kamu tetap Liris yang sama.”
Liris tersenyum kecil.
“Dan kamu tetap Rantaka yang selalu membuat semua pilihan terdengar mudah.”
“Padahal tidak mudah.”
“Tidak.”
Mereka tertawa pelan.
Namun, di balik tawa itu, keduanya tahu bahwa hari-hari berikutnya akan membawa keputusan yang lebih berat.
Surat pendataan telah masuk ke rumah-rumah warga.
Surat dukungan lama mulai dibaca ulang.
Surat kesempatan dari kota telah tiba untuk Liris.
Dan di tengah semua surat itu, Desa Wanasari seperti sedang menunggu jawaban:
apakah warganya akan membiarkan masa depan mereka ditulis oleh orang lain,
atau akan berani menuliskan jalan mereka sendiri.
Di atas pohon beringin, angin malam menggerakkan daun-daun perlahan.
Gerobak Buku Langit Biru tetap diam di bawahnya.
Namun, di dalam perpustakaan, papan tulis masih menyimpan kalimat Rafi:
SUNGAI HARUS TETAP BIRU.
Kalimat sederhana itu menjadi pengingat bahwa perjuangan mereka bukan hanya tentang tanah.
Melainkan tentang kehidupan yang harus tetap bisa diwariskan kepada anak-anak Desa Wanasari.
BAB 18
RUMAH INOVASI YANG TERANCAM PADAM
Pagi itu, Banyu sudah berada di belakang rumahnya sebelum matahari benar-benar muncul.
Di bawah atap seng sederhana, ia menata beberapa pipa bekas, potongan besi, roda kecil, dan sebuah mesin pompa yang sudah beberapa kali diperbaiki. Tempat itu tidak besar. Dindingnya hanya terbuat dari papan kayu yang mulai kusam. Lantainya masih tanah. Jika hujan turun terlalu deras, air sering masuk dari sisi belakang.
Namun, bagi Banyu, tempat itu bukan sekadar gudang.
Itulah rumah inovasinya.
Di salah satu dinding, ia menempelkan kertas-kertas rancangan. Ada gambar alat pengatur aliran air, rancangan pompa sederhana untuk kebun, serta catatan tentang saluran kecil yang menghubungkan parit dengan kolam warga.
Di sudut ruangan, terdapat sebuah papan bertuliskan:
RUMAH INOVASI WANASARI
DARI DESA, UNTUK DESA
Tulisan itu dibuat Liris beberapa bulan sebelumnya.
Saat itu, mereka semua tertawa karena nama tersebut terdengar terlalu besar untuk sebuah bangunan kecil beratap seng.
Namun, Banyu tidak pernah menganggapnya berlebihan.
Ia percaya bahwa gagasan besar tidak selalu lahir dari bangunan besar.
Kadang-kadang, gagasan besar tumbuh dari tangan yang kotor oleh oli, dari pipa bekas, dari mesin tua, dan dari keinginan sederhana untuk membuat hidup warga sedikit lebih mudah.
Pagi itu, Banyu sedang memperbaiki katup pada alat pengatur air yang akan diuji di kebun Pak Warto.
Alat itu belum sempurna.
Kadang-kadang aliran air terlalu deras.
Kadang-kadang pipa tersumbat lumpur.
Kadang-kadang mesin pompa berbunyi terlalu keras hingga membuat ayam-ayam di belakang rumah berlarian.
Namun, setelah beberapa kali percobaan, alat itu mulai menunjukkan hasil.
Air dari parit dapat dialirkan ke kebun yang lebih tinggi.
Tidak banyak.
Tetapi cukup untuk menyiram beberapa petak tanaman sayur ketika musim kering datang.
“Kalau ini berhasil, kebun saya tidak perlu menunggu hujan terlalu lama,” kata Pak Warto ketika datang melihat percobaan.
Banyu mengangguk.
“Masih harus diperbaiki, Pak.”
“Yang penting sudah ada jalan.”
Banyu tersenyum.
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun, bagi Banyu, itulah alasan ia terus mencoba.
Ia tidak ingin warga selalu menunggu bantuan dari luar.
Ia ingin anak-anak muda Desa Wanasari percaya bahwa mereka juga bisa membuat sesuatu dengan tangan sendiri.
Menjelang siang, Rantaka datang membawa beberapa murid SD.
Mereka baru selesai belajar tentang air, tanah, dan tumbuhan.
“Pak Guru bilang kami boleh melihat alat Kak Banyu,” kata Dita dengan mata berbinar.
“Boleh,” jawab Banyu.
Anak-anak segera masuk ke Rumah Inovasi dengan rasa ingin tahu.
Mereka memegang pipa, melihat roda kecil, dan memperhatikan mesin pompa yang berada di tengah ruangan.
“Ini seperti robot?” tanya Danu.
“Belum robot,” jawab Banyu sambil tertawa. “Ini alat untuk membantu air naik ke kebun.”
“Air bisa naik sendiri?”
“Tidak sendiri. Dibantu pompa dan saluran.”
Rafi mendekati peta kecil yang tergantung di dinding.
“Ini sungai?”
“Iya.”
“Kalau sungainya keruh, alat ini masih bisa dipakai?”
Pertanyaan itu membuat Banyu terdiam.
Anak-anak menatapnya menunggu jawaban.
“Bisa,” kata Banyu akhirnya. “Tapi air yang baik akan membuat alat ini bekerja lebih baik. Karena itu, sungai harus dijaga.”
Rafi mengangguk.
Ia tampak puas dengan jawaban itu.
Namun, Banyu justru merasa semakin gelisah.
Alat yang ia buat bergantung pada air.
Kebun bergantung pada air.
Kolam Jagra bergantung pada air.
Dan seluruh Desa Wanasari, tanpa banyak disadari, bergantung pada aliran-aliran kecil yang tidak terlihat di peta perusahaan.
Siang itu, ketika anak-anak sudah pulang, seorang petugas lapangan datang ke rumah Banyu.
Ia mengenakan rompi dengan logo perusahaan di dada.
Di tangannya terdapat alat ukur dan map hitam.
“Rumah Banyu?” tanyanya.
“Iya. Ada apa?”
“Kami sedang melakukan pendataan awal.”
Banyu menatap rompi itu.
“Pendataan apa?”
“Pendataan bangunan dan fasilitas yang berada dekat jalur rencana akses.”
Banyu menegang.
“Jalur akses yang mana?”
Petugas itu membuka map dan menunjukkan sebuah peta kecil.
Garis merah melintas tidak jauh dari belakang rumah Banyu.
Banyu memperhatikan peta itu.
Jalur tersebut tidak tepat mengenai rumahnya.
Namun, garis itu melewati tanah kosong di belakang Rumah Inovasi, dekat parit kecil yang menjadi sumber air untuk percobaan alatnya.
“Ini hanya pendataan,” kata petugas itu. “Belum ada keputusan.”
“Kalau jalur ini dibuka, parit ini bagaimana?”
“Kami belum mendapat informasi teknis.”
“Kalau kendaraan berat lewat di belakang sini?”
“Belum ada informasi teknis.”
“Kalau Rumah Inovasi ini terdampak?”
Petugas itu menghela napas.
“Bapak bisa menyampaikan keberatan melalui pemerintah desa.”
Banyu memandang petugas itu cukup lama.
Ia tahu petugas tersebut hanya menjalankan tugas.
Namun, jawaban yang sama kembali terdengar.
Belum ada informasi teknis.
Belum ada keputusan.
Silakan sampaikan keberatan.
Kalimat-kalimat itu seperti pintu yang selalu ditutup tepat ketika warga ingin masuk.
“Nama Bapak siapa?” tanya Banyu.
“Riko.”
“Pak Riko, tolong catat juga bahwa di sini ada Rumah Inovasi.”
Petugas itu menatap bangunan sederhana beratap seng.
“Rumah inovasi?”
“Ya. Tempat anak-anak belajar. Tempat kami membuat alat untuk kebun dan kolam. Tempat warga mencoba memperbaiki masalah air.”
Riko memandang papan kayu di dinding.
Kemudian ia menulis sesuatu di mapnya.
Banyu tidak tahu apakah catatan itu akan benar-benar berarti.
Tetapi ia tidak ingin tempat itu dianggap sebagai tanah kosong.
Sore hari, Banyu membawa kabar tersebut ke perpustakaan.
Rantaka, Liris, Jagra, dan Seno sudah menunggu.
Di meja, Peta Warga Wanasari terbuka lebar.
Banyu langsung menunjuk bagian belakang rumahnya.
“Jalur mereka melewati sini.”
Jagra mendekat.
“Itu dekat parit kecil.”
“Dekat sekali,” jawab Banyu. “Kalau parit tertutup atau tercemar, alat pengatur air tidak bisa dipakai.”
Liris memandang Rumah Inovasi yang ditandai kecil di peta.
“Tempat itu juga penting untuk anak-anak.”
“Bukan hanya anak-anak,” kata Banyu. “Pak Warto sudah memakai alat itu di kebunnya. Dua warga lain juga ingin mencoba. Kalau alat ini dikembangkan, kita bisa membantu kebun-kebun yang kekurangan air.”
Rantaka menatap sahabatnya.
“Berarti Rumah Inovasi harus masuk daftar yang dilindungi.”
Banyu tertawa kecil, tetapi tanpa kegembiraan.
“Rumah itu hanya gudang kecil, Rantaka.”
“Bukan,” jawab Rantaka. “Rumah itu tempat belajar. Tempat kerja. Tempat warga membuktikan bahwa desa bisa membuat jalan keluar sendiri.”
Seno mengangguk.
“Kalau perusahaan bicara soal pelatihan kerja, Rumah Inovasi ini justru contoh pelatihan yang sudah hidup.”
Kalimat itu membuat Banyu terdiam.
Selama ini, ia selalu menganggap dirinya hanya seorang anak desa yang suka membongkar mesin.
Ia tidak pernah berpikir bahwa tempat kecil itu dapat menjadi bagian dari perjuangan yang lebih besar.
Liris mengambil kertas kosong.
“Kita harus mendata semua yang sudah dilakukan di Rumah Inovasi.”
“Untuk apa?” tanya Banyu.
“Untuk menunjukkan bahwa tempat ini bukan bangunan kosong. Kita tulis alat yang sudah dibuat, warga yang terbantu, anak-anak yang belajar, dan rencana pengembangannya.”
Rantaka menambahkan, “Kita juga bisa mengadakan kegiatan terbuka di sana. Undang warga, perangkat desa, dan pemuda. Biar semua melihat langsung.”
Jagra tersenyum tipis.
“Kalau begitu, Rumah Inovasi tidak hanya dipertahankan dengan kata-kata.”
“Melainkan dengan manfaat,” kata Banyu.
Keesokan harinya, Banyu mulai bekerja lebih keras.
Ia memperbaiki alat pengatur air sampai malam.
Ia mengganti pipa yang bocor.
Ia membersihkan saringan lumpur.
Ia mencoba menggunakan roda kecil bekas sepeda untuk membantu mengatur tekanan aliran.
Tangannya kembali penuh oli.
Kukunya hitam.
Bajunya basah oleh air parit.
Namun, ia tidak berhenti.
Ia ingin alat itu benar-benar berhasil sebelum kegiatan terbuka diadakan.
Ia ingin warga melihat bahwa teknologi tidak selalu berarti mesin mahal dari kota.
Teknologi bisa berarti pipa bekas yang disusun dengan tepat.
Bisa berarti roda tua yang dipakai kembali.
Bisa berarti pengetahuan sederhana yang digunakan untuk menjawab masalah nyata.
Menjelang petang, Jagra datang membawa dua ember air dari kolam.
“Aku mau coba alat ini untuk saluran kolam,” katanya.
“Air kolammu tidak terlalu keruh?”
“Masih bisa dipakai.”
Mereka bekerja bersama.
Jagra memegang pipa.
Banyu memperbaiki sambungan.
Beberapa kali air menyembur ke wajah mereka.
Beberapa kali mesin mati mendadak.
Namun, mereka tidak menyerah.
Saat alat itu akhirnya bekerja, air mengalir perlahan ke saluran kecil di sisi kebun.
Tidak deras.
Tidak sempurna.
Tetapi stabil.
Jagra memandang aliran itu cukup lama.
“Kalau ini bisa dipakai untuk kolam, aku tidak perlu terlalu bergantung pada satu saluran.”
Banyu mengangguk.
“Kalau kita tambah penampung air, mungkin bisa.”
“Berarti kita harus cari bahan lagi.”
“Kita cari.”
Di bawah langit sore, dua sahabat itu berdiri di dekat aliran air kecil.
Tidak ada tepuk tangan.
Tidak ada orang kota yang memberi penghargaan.
Namun, bagi mereka, air yang mengalir itu terasa seperti jawaban kecil dari kerja keras yang selama ini sering dianggap tidak penting.
Malam sebelum kegiatan terbuka, Banyu duduk sendirian di Rumah Inovasi.
Lampu kecil menggantung di atas kepalanya.
Di depannya, alat pengatur air berdiri dengan pipa-pipa yang masih belum rapi.
Di dinding, gambar rancangan-rancangan lama bergoyang terkena angin.
Banyu memandangi papan bertuliskan Rumah Inovasi Wanasari.
Ia teringat masa ketika ia pertama kali bekerja di bengkel kecil saat masih sekolah.
Tangannya pernah terluka.
Ia pernah diejek karena terlalu sering membongkar barang bekas.
Ia pernah dianggap membuang waktu karena lebih suka memikirkan mesin daripada mencari pekerjaan di kota.
Namun, ia tidak pernah benar-benar berhenti.
Karena sejak kecil, ia selalu melihat petani dan pembudidaya ikan di desa bekerja keras dengan alat yang terbatas.
Ia melihat ayah-ayah mengangkat air dengan ember.
Ia melihat ibu-ibu berjalan jauh membawa hasil kebun.
Ia melihat kolam rusak ketika air tidak cukup.
Dan ia selalu berpikir:
kalau ada alat sederhana yang bisa membantu, mengapa tidak dibuat?
Pintu Rumah Inovasi terbuka.
Liris masuk membawa termos air hangat.
“Kamu belum pulang?” tanyanya.
“Sebentar lagi.”
Liris meletakkan termos di meja.
“Kamu takut?”
Banyu tersenyum kecil.
“Takut alat ini gagal di depan warga.”
“Alat itu sudah membantu Pak Warto.”
“Kalau besok mesin mati?”
“Kalau mati, kamu perbaiki.”
Banyu tertawa pelan.
“Jawabanmu sederhana sekali.”
“Karena kamu memang selalu memperbaiki sesuatu yang rusak.”
Banyu terdiam.
Liris memandang peta kecil di dinding.
“Banyu, Rumah Inovasi ini penting. Bukan karena bangunannya besar. Tapi karena tempat ini membuat orang percaya bahwa anak desa bisa menciptakan sesuatu.”
Banyu menatap Liris.
“Kalau perusahaan benar-benar mengambil jalur di belakang sini, bagaimana?”
Liris tidak langsung menjawab.
“Kita belum tahu hasilnya,” katanya. “Tapi kita tidak akan membiarkan tempat ini hilang tanpa ada yang tahu nilainya.”
Kegiatan terbuka di Rumah Inovasi berlangsung pada hari Minggu.
Warga datang sejak pagi.
Anak-anak berlari-lari di halaman.
Para pemuda membawa kursi dari balai desa.
Pak Warto membawa beberapa hasil sayur dari kebunnya sebagai bukti bahwa alat pengatur air telah membantu.
Jagra membawa ember berisi benih ikan untuk menunjukkan bagaimana saluran air dapat dipakai bagi kolam warga.
Rantaka mengajak murid-muridnya melihat proses kerja alat.
Liris menempelkan poster sederhana:
INOVASI DESA UNTUK AIR, KEBUN, DAN KOLAM
Banyu berdiri di depan alatnya dengan wajah tegang.
Ia bukan orang yang terbiasa berbicara di depan banyak orang.
Tangannya lebih nyaman memegang tang, pipa, atau baut daripada mikrofon.
Namun, pagi itu ia berdiri dengan suara pelan tetapi jelas.
“Alat ini belum sempurna,” katanya. “Saya membuatnya dari bahan yang ada di desa. Tujuannya bukan untuk menggantikan semua cara lama. Tujuannya untuk membantu warga ketika air sulit naik ke kebun atau kolam.”
Ia menjelaskan cara kerja pompa, saringan lumpur, dan saluran pipa.
Anak-anak mendengarkan dengan mata berbinar.
Para petani mengajukan pertanyaan.
Beberapa pemuda mulai tertarik.
“Kalau mau belajar membuatnya, bisa?” tanya Arman.
“Bisa,” jawab Banyu.
“Kalau kami tidak punya pengalaman bengkel?”
“Kita belajar bersama.”
Seno berdiri di samping Arman.
“Ini bisa jadi pelatihan kerja juga,” katanya.
Banyu mengangguk.
“Bisa. Kita bisa belajar memperbaiki pompa, membuat saluran, mengolah bahan bekas, dan merawat alat.”
Kalimat itu membuat beberapa pemuda mulai berbicara satu sama lain.
Untuk pertama kalinya, mereka melihat bahwa kesempatan kerja tidak selalu harus datang dari orang luar.
Kesempatan juga bisa tumbuh dari masalah yang mereka hadapi sendiri.
Namun, ketika Banyu menyalakan mesin pompa untuk demonstrasi, suara motor lain terdengar dari jalan depan.
Sebuah mobil perusahaan berhenti di dekat Rumah Inovasi.
Pak Hendra turun bersama Surya Pratama dan Pak Darma.
Suasana halaman mendadak berubah.
Pak Hendra melihat warga yang berkumpul.
Ia melihat poster.
Ia melihat alat pengatur air.
Ia melihat peta kecil yang dipasang Liris di dinding.
“Acara apa ini?” tanyanya.
“Kegiatan warga,” jawab Rantaka. “Memperkenalkan Rumah Inovasi Wanasari.”
Pak Hendra tersenyum tipis.
“Bagus. Kami juga mendukung inovasi masyarakat.”
“Kalau begitu,” kata Banyu, “tolong lihat parit di belakang rumah ini.”
Pak Hendra menoleh.
Banyu mengajak mereka berjalan ke sisi belakang Rumah Inovasi.
Di sana, air mengalir melalui saluran kecil menuju kebun Pak Warto.
“Kalau jalur akses perusahaan dibuka di sini,” kata Banyu, “parit ini bisa tertutup atau terkena limpasan tanah. Alat ini tidak akan bisa bekerja. Kebun warga juga akan kesulitan air.”
Surya melihat saluran itu.
“Seperti yang sudah kami sampaikan, semua masih dalam kajian.”
“Rumah Inovasi ini sudah berjalan,” kata Banyu. “Warga sudah memakai alatnya. Anak-anak sudah belajar di sini. Apakah ini juga hanya akan dicatat dalam kajian?”
Pak Hendra memandang Banyu.
Untuk beberapa saat, tidak ada jawaban.
Pak Darma yang sejak tadi diam melangkah maju.
Ia memperhatikan alat pengatur air yang masih bekerja.
Air mengalir perlahan ke kebun.
Kemudian ia menoleh kepada Pak Hendra.
“Kalau jalur itu bisa digeser, geser,” katanya.
Semua orang terdiam.
Pak Hendra menatap Pak Darma.
“Pak Darma, itu keputusan teknis.”
“Kalau pembangunan tidak bisa menghindari parit kecil yang memberi air untuk kebun warga, lalu pembangunan itu untuk siapa?”
Suara Pak Darma tidak keras.
Namun, kalimatnya terdengar jelas.
Seno menatap ayahnya dengan wajah terkejut.
Rantaka, Liris, Jagra, dan Banyu saling memandang.
Pak Darma belum sepenuhnya berada di pihak mereka.
Tetapi hari itu, ia tidak lagi berdiri hanya di belakang perusahaan.
Ia mulai berdiri di depan sesuatu yang lebih dekat dengan dirinya:
warga.
Pak Hendra menarik napas.
“Kami akan meninjau kembali jalur tersebut.”
“Bukan hanya meninjau,” kata Rantaka. “Kami ingin hasilnya disampaikan terbuka kepada warga.”
Pak Hendra mengangguk singkat.
“Kami akan menyampaikan perkembangan.”
Setelah itu, mereka kembali ke mobil.
Namun, sebelum masuk, Surya menoleh sekali lagi ke arah Rumah Inovasi.
Tatapannya berhenti pada papan kayu di dinding.
DARI DESA, UNTUK DESA.
Tidak ada yang tahu apa yang ia pikirkan.
Mobil perusahaan kemudian bergerak meninggalkan halaman.
Debu tipis naik dari jalan tanah.
Anak-anak menutup hidung sambil tertawa.
Namun, Banyu berdiri diam.
Ia memandang parit kecil di belakang Rumah Inovasi.
Ia tahu ancaman belum benar-benar pergi.
Jalur perusahaan masih ada di peta.
Pendataan masih berjalan.
Surat-surat masih beredar.
Dan keputusan besar belum diambil.
Tetapi pagi itu, Rumah Inovasi tidak padam.
Justru dari tempat kecil beratap seng itu, warga mulai melihat kemungkinan baru.
Kemungkinan bahwa desa tidak hanya menunggu bantuan.
Kemungkinan bahwa pemuda tidak hanya menunggu pekerjaan.
Kemungkinan bahwa pendidikan tidak hanya berlangsung di ruang kelas.
Pendidikan juga tumbuh di kebun, di kolam, di bengkel kecil, di perpustakaan, dan di tempat-tempat sederhana yang membuat orang berani mencoba.
Ketika warga mulai pulang, Rantaka mendekati Banyu.
“Kamu tahu,” katanya, “hari ini bukan hanya alatmu yang bekerja.”
Banyu menatapnya.
“Lalu apa?”
“Keyakinan warga.”
Banyu memandang anak-anak yang masih berdiri di dekat pipa-pipa.
Dita sedang menjelaskan kepada Rafi bahwa air bisa naik karena pompa.
Rafi mengangguk seolah ia baru menemukan rahasia besar.
Banyu tersenyum.
Di bawah langit biru Desa Wanasari, Rumah Inovasi berdiri kecil dan sederhana.
Namun, di dalamnya mulai menyala cahaya yang sulit dipadamkan:
cahaya bahwa masa depan desa dapat dibangun oleh tangan-tangan warganya sendiri.
BAB 19
KEPUTUSAN YANG MENYAKITKAN
Sejak kegiatan di Rumah Inovasi Wanasari, nama Banyu semakin sering dibicarakan warga.
Para petani mulai datang membawa pertanyaan tentang saluran air. Beberapa pemuda meminta diajari memperbaiki pompa. Anak-anak sekolah bahkan mulai menyebut tempat beratap seng di belakang rumah Banyu itu sebagai “rumah mesin”.
Namun, di tengah kabar baik itu, Desa Wanasari belum benar-benar tenang.
Peta jalur perusahaan masih belum berubah.
Pendataan lahan masih berjalan.
Surat-surat terus datang ke rumah warga.
Dan setiap malam, di banyak ruang makan, keluarga-keluarga kembali membicarakan hal yang sama: tanah, uang, masa depan, dan ketakutan kehilangan tempat hidup.
Di rumah Liris, percakapan itu bertambah dengan satu persoalan lain.
Surat dari Yayasan Cakrawala Kata masih tersimpan di dalam laci meja kecilnya.
Surat itu menawarkan kesempatan yang sudah lama ia impikan: residensi penulis muda selama enam bulan di kota provinsi. Di sana, ia akan belajar menulis bersama para mentor, mengikuti pelatihan penerbitan, bertemu pegiat literasi dari berbagai daerah, dan menyelesaikan naskah kumpulan tulisan tentang kehidupan desa.
Namun, setiap kali Liris membuka surat itu, perasaannya tidak pernah sepenuhnya bahagia.
Enam bulan terasa terlalu lama.
Enam bulan berarti meninggalkan perpustakaan.
Enam bulan berarti tidak lagi ikut rapat warga.
Enam bulan berarti tidak bisa setiap sore membantu anak-anak membaca.
Dan yang paling sulit untuk ia akui, enam bulan berarti jauh dari Rantaka.
Pagi itu, Liris duduk di teras rumah sambil menatap halaman yang masih basah oleh embun.
Ibunya sedang menjemur pakaian.
Ayahnya bersiap pergi ke kebun.
Tidak ada yang berbicara tentang surat itu.
Namun, justru karena tidak dibicarakan, surat tersebut terasa semakin berat.
“Ayah,” panggil Liris akhirnya.
Ayahnya berhenti memasang caping.
“Ada apa?”
“Surat dari kota itu… batas jawabannya tinggal tiga hari.”
Ayahnya menatapnya.
“Lalu kamu mau bagaimana?”
Liris menggigit bibir.
“Aku belum tahu.”
Ayahnya duduk kembali di kursi kayu.
Wajahnya tampak lebih lelah daripada biasanya.
“Kalau kamu pergi, Ibu akan kehilangan teman membantu di rumah.”
Liris menunduk.
“Aku bisa mengatur waktu sebelum berangkat. Aku juga bisa pulang kalau ada keperluan penting.”
“Pulang dari kota provinsi tidak seperti pulang dari kecamatan.”
“Aku tahu.”
Ayahnya terdiam beberapa saat.
“Kamu ingin pergi?”
Pertanyaan itu sederhana.
Namun, Liris merasa seperti sedang ditanya apakah ia ingin meninggalkan rumah.
Ia ingin menjawab bahwa ia tidak ingin pergi dari Desa Wanasari.
Ia ingin berkata bahwa seluruh tulisan yang ingin ia buat justru lahir dari desa itu: dari sungai yang mulai keruh, dari kebun warga yang terancam, dari anak-anak yang membaca buku di bawah pohon beringin, dari Gerobak Buku Langit Biru yang pernah berdebu lalu hidup kembali.
Namun, ia juga tahu bahwa mimpi tidak akan tumbuh jika selalu disimpan dalam laci.
“Aku ingin belajar, Yah,” jawabnya pelan. “Aku ingin menulis lebih baik. Aku ingin tulisan tentang desa kita dibaca orang-orang yang selama ini tidak pernah tahu keadaan kita.”
Ayahnya menatap tanah di halaman.
“Menulis bisa membuat sungai kita bersih?”
“Tidak langsung.”
“Menulis bisa menghentikan perusahaan?”
“Tidak selalu.”
“Lalu untuk apa?”
Liris menarik napas.
“Supaya orang tahu bahwa desa ini ada. Supaya kalau suatu hari ada yang mengambil keputusan tentang Wanasari, mereka tidak hanya melihat garis di peta. Mereka tahu ada keluarga, ada kebun, ada sekolah, ada kolam, ada anak-anak, dan ada sungai yang harus dijaga.”
Ayahnya tidak menjawab.
Namun, sebelum berangkat ke kebun, ia berkata pelan, “Kalau kamu pergi, jangan sampai lupa jalan pulang.”
Kalimat itu bukan izin.
Belum.
Tetapi bagi Liris, kalimat itu juga bukan penolakan.
Siang hari, Liris pergi ke perpustakaan.
Rantaka sedang menyusun buku-buku baru yang dikirim oleh salah satu komunitas literasi dari kota. Beberapa murid SD duduk di tikar, membaca buku cerita bergambar.
Liris berdiri cukup lama di depan pintu.
Rantaka menoleh.
“Kamu datang dari rumah?”
Liris mengangguk.
“Aku mau bicara.”
Rantaka melihat wajahnya, lalu mengajak Liris berjalan ke belakang perpustakaan.
Di sana, pohon beringin tua berdiri seperti biasa. Daun-daunnya bergerak pelan tertiup angin. Gerobak Buku Langit Biru terparkir di bawahnya.
Liris mengeluarkan surat dari tasnya.
“Aku harus memberi jawaban.”
Rantaka membaca surat itu lagi.
Ia sudah pernah membacanya.
Namun, kali ini ia membaca lebih lama.
“Enam bulan,” katanya.
“Iya.”
“Kamu ingin pergi?”
Liris menatapnya.
“Aku ingin kamu tidak menjawab pertanyaan itu dengan pertanyaan lain.”
Rantaka tersenyum tipis.
“Aku takut jawabanku memengaruhimu.”
“Jawabanmu memang akan memengaruhiku.”
Kalimat itu membuat Rantaka terdiam.
Liris duduk di akar pohon beringin yang besar.
“Aku lelah selalu harus memilih antara mimpi dan orang-orang yang aku sayangi,” katanya. “Kalau aku pergi, aku takut ayah merasa aku meninggalkan keluarga. Aku takut warga menganggap aku pergi ketika desa sedang menghadapi masalah. Aku takut anak-anak perpustakaan merasa ditinggalkan.”
“Dan aku?” tanya Rantaka pelan.
Liris mengangkat wajah.
“Kamu juga.”
Rantaka duduk di sampingnya.
Untuk beberapa saat, mereka hanya mendengar suara anak-anak dari dalam perpustakaan.
“Aku ingin kamu pergi,” kata Rantaka akhirnya.
Liris memejamkan mata.
Jawaban itu adalah jawaban yang paling ia harapkan.
Sekaligus yang paling menyakitkan.
“Kamu mudah sekali mengatakan itu,” katanya.
“Tidak mudah.”
“Kalau tidak mudah, kenapa kamu tidak meminta aku tinggal?”
Rantaka menatapnya.
“Karena aku mencintaimu.”
Liris terdiam.
Kata itu keluar begitu saja.
Tidak keras.
Tidak dibuat-buat.
Namun, setelah bertahun-tahun menyimpan perasaan di antara surat, perpisahan, perjuangan, dan kepulangan, kata itu terasa seperti sesuatu yang selama ini menunggu untuk diucapkan.
Rantaka melanjutkan dengan suara lebih pelan.
“Aku mencintaimu bukan karena kamu selalu ada di dekatku. Aku mencintaimu karena kamu berani memegang mimpi, bahkan ketika hidup membuatmu takut. Kalau aku meminta kamu tinggal hanya agar aku tidak merasa sepi, berarti aku tidak sedang mencintaimu dengan benar.”
Mata Liris mulai berkaca-kaca.
“Aku juga mencintaimu,” katanya.
Rantaka menggenggam tangannya.
“Kalau begitu, jangan jadikan cinta kita sebagai alasan untuk berhenti.”
Liris menunduk.
“Aku takut jarak.”
“Kita pernah melewati jarak,” jawab Rantaka. “Dulu kita hanya punya surat dan telepon umum. Sekarang kita punya lebih banyak cara untuk saling menjaga.”
“Dulu kita juga pernah salah paham.”
“Kali ini kita belajar tidak menyimpan semuanya sendiri.”
Liris tersenyum kecil.
Namun, senyum itu masih membawa kesedihan.
Karena mereka tahu bahwa cinta tidak selalu meminta seseorang untuk tinggal.
Kadang-kadang cinta justru meminta keberanian untuk merelakan seseorang pergi, agar ia dapat pulang dengan cahaya yang lebih besar.
Sore itu, Liris mendatangi Rumah Inovasi Wanasari.
Banyu sedang mengajari tiga pemuda memperbaiki saringan air. Jagra membantu memasang pipa kecil menuju kolam percobaan.
Ketika melihat Liris, Banyu langsung tahu ada sesuatu yang sedang dipikirkan sahabatnya.
“Surat kota?” tanyanya.
Liris mengangguk.
“Aku akan mengambilnya.”
Banyu berhenti bekerja.
Jagra menoleh.
“Kapan?” tanya Jagra.
“Bulan depan.”
Jagra meletakkan pipa di tangannya.
Wajahnya tampak sedih.
“Berarti perpustakaan bagaimana?”
“Kita tetap jalankan,” jawab Liris. “Aku akan membuat jadwal. Aku bisa mengirim bahan bacaan, tulisan, dan kegiatan dari kota. Kalian juga bisa mengirim cerita warga kepadaku.”
Banyu tersenyum.
“Kalau begitu, Rumah Inovasi juga harus punya catatan. Biar kamu bisa menulis perkembangan alat-alat ini.”
“Bukan hanya alat,” kata Liris. “Aku ingin menulis semua yang sedang terjadi. Tentang sungai. Tentang kebun. Tentang keluarga yang berbeda pendapat. Tentang anak-anak yang ingin tetap belajar.”
Jagra memandang Liris.
“Kamu akan menulis tentang perusahaan?”
“Aku akan menulis tentang desa,” jawab Liris. “Kalau perusahaan menjadi bagian dari masalah desa, tentu itu juga akan masuk dalam cerita.”
Banyu mengangguk perlahan.
“Kamu jangan takut menulis yang benar.”
Liris tersenyum.
“Aku akan berusaha.”
Malamnya, keluarga Liris berkumpul di ruang tengah.
Ibunya menyuguhkan teh hangat.
Ayahnya duduk diam cukup lama.
Liris membawa surat dari Yayasan Cakrawala Kata dan meletakkannya di atas meja.
“Aku sudah memutuskan,” katanya.
Ibunya menatapnya.
“Apa keputusanmu?”
“Aku akan ikut program residensi.”
Ruangan itu mendadak sunyi.
Liris menunggu jawaban ayahnya.
Ia siap mendengar kemarahan.
Ia siap mendengar larangan.
Ia bahkan sudah menyiapkan banyak kalimat untuk meyakinkan keluarganya.
Namun, ayahnya hanya memandang surat itu.
“Kamu sudah yakin?”
Liris mengangguk.
“Aku yakin. Tapi aku juga takut.”
Ayahnya menghela napas.
“Takut itu wajar.”
“Ayah marah?”
“Tidak.”
Liris terkejut.
“Ayah tidak keberatan?”
Ayahnya menatap putrinya.
“Ayah keberatan karena rumah ini akan lebih sepi. Ayah keberatan karena Ibu akan lebih lelah. Ayah keberatan karena Ayah tidak tahu apakah kota akan baik kepadamu.”
Ia berhenti sebentar.
“Tapi Ayah lebih takut kalau kamu tinggal hanya karena merasa bersalah.”
Mata Liris mulai basah.
Ayahnya melanjutkan, “Dulu Ayah tidak punya banyak pilihan. Karena itu Ayah sering menganggap hidup harus dijalani dengan cara yang paling aman. Tapi mungkin anak-anak tidak selalu harus hidup dengan ketakutan orang tuanya.”
Liris menangis.
Ibunya memeluknya.
“Aku akan membantu Ibu sebelum berangkat,” kata Liris di sela tangisnya. “Aku akan pulang kalau ada waktu. Aku tidak akan lupa rumah.”
Ayahnya mengangguk.
“Pergilah belajar. Tapi ingat, tulisanmu harus tetap punya hati.”
Liris memegang tangan ayahnya.
“Aku akan menulis tentang kita, Yah.”
Kabar keberangkatan Liris cepat menyebar di Desa Wanasari.
Ada yang ikut bangga.
Ada yang menyemangati.
Namun, ada pula yang menyindir.
“Kalau sudah terkenal, jangan lupa desa,” kata seorang warga di warung.
“Jangan-jangan nanti tinggal di kota,” ujar yang lain.
Liris mendengar beberapa kalimat itu.
Ia tidak membalas.
Ia tahu, tidak semua orang memahami bahwa pergi tidak selalu berarti meninggalkan.
Di perpustakaan, ia mulai menyiapkan banyak hal.
Ia menyusun jadwal kegiatan membaca.
Ia membuat daftar buku yang harus dipinjamkan ke rumah-rumah warga.
Ia menulis panduan sederhana untuk relawan muda.
Ia meminta Rantaka mengatur kegiatan belajar anak-anak.
Ia meminta Banyu membuat sesi sains sederhana di Rumah Inovasi.
Ia meminta Jagra mengajak pemuda kolam mengisi kelas keterampilan setiap akhir pekan.
“Kamu seperti sedang membagi-bagi dirimu sendiri,” kata Rantaka ketika melihat Liris menulis terlalu banyak catatan.
“Aku hanya tidak ingin semuanya berhenti saat aku pergi.”
“Tidak akan berhenti.”
“Janji?”
Rantaka menatapnya.
“Janji.”
Liris tersenyum.
“Jangan janji besar-besar.”
“Baik. Aku akan berusaha setiap hari.”
Jawaban itu membuat Liris lebih tenang.
Karena ia tahu, perubahan tidak dibangun oleh janji yang terdengar indah.
Perubahan dibangun oleh orang-orang yang tetap datang, tetap bekerja, dan tetap saling mengingatkan ketika keadaan menjadi sulit.
Seminggu sebelum keberangkatan, Liris mengadakan malam baca puisi di perpustakaan.
Warga datang membawa tikar.
Anak-anak duduk di depan.
Lampu-lampu kecil dipasang di bawah pohon beringin.
Gerobak Buku Langit Biru kembali dibuka.
Liris membacakan sebuah tulisan baru.
Tulisan itu tidak menyebut nama perusahaan.
Tidak menyebut nama orang.
Namun, semua warga memahami maksudnya.
Ia bercerita tentang sebuah desa yang sungainya mulai kehilangan warna, tentang keluarga-keluarga yang duduk di meja makan dengan surat di tangan, tentang anak-anak yang masih ingin membaca di bawah pohon tua, dan tentang orang-orang yang belajar bahwa masa depan tidak boleh ditentukan tanpa suara mereka.
Ketika Liris selesai membaca, suasana hening.
Kemudian terdengar tepuk tangan.
Bu Karmi berdiri.
“Kamu pergi belajar,” katanya. “Tapi jangan hanya menulis tentang kami dari jauh.”
Liris menatapnya.
“Aku tidak akan menulis dari jauh, Bu. Saya akan menulis bersama warga. Kalian kirim cerita, kabar, dan apa pun yang terjadi di desa. Tulisan ini milik kita bersama.”
Pak Warto mengangguk.
“Kalau begitu, kami juga harus belajar bercerita.”
Malam itu, untuk pertama kalinya, beberapa warga mulai menyadari bahwa kata-kata dapat menjadi bagian dari perjuangan.
Peta menunjukkan tempat.
Data menunjukkan angka.
Namun, cerita menunjukkan kehidupan.
Dan kehidupan tidak boleh hilang dari setiap keputusan tentang desa.
Hari keberangkatan akhirnya tiba.
Pagi masih gelap ketika Liris berdiri di depan rumah dengan sebuah tas besar dan map berisi surat-surat.
Ibunya memeluknya lama.
Ayahnya membawa tas itu ke motor ojek yang akan mengantarnya ke terminal kecamatan.
Rantaka, Banyu, Jagra, dan beberapa anak perpustakaan datang untuk mengantar.
Dita membawa buku catatan kecil.
“Kak Liris, nanti tulis surat untuk kami,” katanya.
Liris tersenyum sambil mengusap kepala Dita.
“Iya. Tapi kalian juga harus menulis surat untuk Kak Liris.”
Rafi membawa gambar sungai berwarna biru.
“Biar Kak Liris ingat sungainya,” katanya.
Liris menerima gambar itu dengan mata berkaca-kaca.
“Aku tidak akan lupa.”
Sebelum naik ke motor, Liris memandang Desa Wanasari.
Ia melihat jalan tanah.
Ia melihat kebun.
Ia melihat pohon beringin.
Ia melihat perpustakaan kecil.
Ia melihat Rumah Inovasi di kejauhan.
Dan ia melihat orang-orang yang selama ini menjadi alasan ia menulis.
Rantaka berdiri paling dekat.
Liris mendekatinya.
“Aku pergi bukan untuk menjauh,” katanya pelan.
Rantaka mengangguk.
“Aku tahu.”
“Aku akan pulang.”
“Aku akan menunggu. Tapi bukan hanya menunggu. Aku juga akan menjaga apa yang kita mulai.”
Liris menggenggam tangannya untuk terakhir kali sebelum naik ke motor.
“Jaga Langit Biru.”
“Jaga mimpimu.”
Motor mulai bergerak perlahan.
Anak-anak melambaikan tangan.
Banyu dan Jagra berdiri di samping Rantaka.
Liris menoleh sekali lagi.
Di bawah pohon beringin, Gerobak Buku Langit Biru tampak kecil dari kejauhan.
Namun, Liris tahu, gerobak itu membawa sesuatu yang jauh lebih besar daripada buku.
Gerobak itu membawa ingatan.
Harapan.
Dan alasan untuk pulang.
Ketika motor menghilang di tikungan jalan, Rantaka masih berdiri di tempatnya.
Ada kesedihan yang tidak bisa ia sembunyikan.
Namun, di dalam kesedihan itu, ada keyakinan baru.
Liris tidak pergi untuk meninggalkan Desa Wanasari.
Ia pergi untuk membawa suara desa itu melampaui batas-batas yang selama ini membuatnya tidak terdengar.
Dan dari kota, melalui tulisan-tulisannya, perjuangan Wanasari akan menemukan jalan baru.
Bukan jalan yang mudah.
Bukan jalan tanpa luka.
Tetapi jalan yang mungkin dapat membuat lebih banyak orang memahami bahwa pendidikan, tanah, sungai, dan masa depan anak-anak desa tidak boleh dipisahkan satu sama lain.
BAB 20
SUARA WANASARI DARI KOTA
Kota provinsi menyambut Liris dengan suara kendaraan yang tidak pernah benar-benar berhenti.
Dari jendela kamar asrama residensi, ia dapat melihat deretan lampu jalan, atap-atap rumah yang rapat, serta gedung-gedung yang menjulang di kejauhan. Pada malam pertama, ia berdiri cukup lama di dekat jendela sambil memegang gambar sungai berwarna biru yang diberikan Rafi.
Gambar itu sederhana.
Ada sungai, pohon-pohon hijau, beberapa ikan, dan matahari besar di atas langit.
Di bagian bawahnya, Rafi menulis dengan huruf yang belum rapi:
Sungai Wanasari Harus Biru Lagi.
Liris menempelkan gambar itu di dinding dekat meja belajarnya.
Di bawahnya, ia meletakkan foto kecil Gerobak Buku Langit Biru, surat dari ayahnya, serta catatan berisi jadwal kegiatan perpustakaan yang telah ia susun sebelum berangkat.
Kamar itu sempit, tetapi Liris berusaha membuatnya tidak terasa asing.
Ia membawa Desa Wanasari ke dalam ruangan itu.
Bukan dalam bentuk tanah, sungai, atau pohon beringin.
Melainkan dalam bentuk gambar anak-anak, surat-surat warga, buku-buku lama, dan ingatan tentang orang-orang yang menunggunya pulang.
Program residensi Yayasan Cakrawala Kata dimulai dua hari kemudian.
Pesertanya berasal dari berbagai daerah.
Ada yang datang dari kota besar, ada yang menulis tentang perempuan pekerja, ada yang membuat cerita pendek tentang kehidupan nelayan, dan ada pula yang ingin menulis buku anak.
Liris menjadi salah satu peserta yang paling pendiam.
Ia lebih banyak mendengar daripada berbicara.
Saat peserta lain memperkenalkan diri, mereka menyebut pengalaman menulis, lomba yang pernah diikuti, media yang pernah memuat karya mereka, dan buku-buku yang menjadi rujukan.
Ketika gilirannya tiba, Liris berdiri perlahan.
“Nama saya Liris,” katanya. “Saya dari Desa Wanasari. Saya menulis puisi dan cerita tentang desa, pendidikan, sungai, dan anak-anak yang ingin tetap belajar.”
Seorang peserta bernama Nadine bertanya, “Desa Wanasari itu di mana?”
Liris tersenyum kecil.
“Di tempat yang mungkin tidak ada di peta kalian.”
Beberapa orang tertawa pelan.
Namun, Liris tidak tersinggung.
Ia justru semakin yakin bahwa ia berada di tempat yang tepat.
Jika orang-orang tidak mengenal Wanasari, maka ia harus menulis agar mereka mengenalnya.
Bukan hanya mengenal namanya.
Tetapi mengenal hidup yang ada di dalamnya.
Pada sesi pertama, para peserta diminta menulis tentang tempat yang paling mereka rindukan.
Peserta lain menulis tentang rumah masa kecil, pasar kota, laut, atau jalan-jalan yang pernah mereka tinggalkan.
Liris menulis tentang pohon beringin tua.
Ia menulis tentang akar-akar yang mencengkeram tanah di dekat perpustakaan desa.
Ia menulis tentang anak-anak yang membaca buku di bawahnya.
Ia menulis tentang Gerobak Buku Langit Biru yang pernah berjalan dari rumah ke rumah ketika perpustakaan belum aktif.
Ia menulis tentang Rantaka yang pulang sebagai guru dengan membawa buku.
Ia menulis tentang Banyu yang mengubah pipa bekas menjadi alat pengatur air.
Ia menulis tentang Jagra yang bertahan menjaga kolam ketika banyak anak muda memilih pergi.
Namun, di bagian akhir tulisannya, Liris menulis tentang sungai.
Tentang air yang dahulu jernih.
Tentang ikan-ikan kecil yang dulu mudah terlihat dari tepian.
Tentang anak-anak yang pernah bermain di sana.
Dan tentang warna air yang perlahan berubah setelah kendaraan-kendaraan besar mulai datang membawa janji pembangunan.
Tulisan itu berjudul:
Sungai yang Tidak Mau Dilupakan
Saat sesi pembacaan karya, Liris sempat ragu.
Tangannya gemetar ketika memegang kertas.
Namun, ia teringat kata ayahnya sebelum berangkat.
Tulisanmu harus tetap punya hati.
Ia mulai membaca.
Suasana ruangan perlahan menjadi sunyi.
Tidak ada yang memotong.
Tidak ada yang tertawa.
Ketika Liris selesai, mentor residensi bernama Bu Mayang menatapnya cukup lama.
“Kamu tidak hanya menulis tentang sungai,” katanya. “Kamu menulis tentang sebuah tempat yang sedang berusaha mempertahankan dirinya.”
Liris menunduk.
“Saya hanya menulis apa yang saya lihat.”
“Teruslah melihat,” kata Bu Mayang. “Tapi jangan berhenti mencari suara-suara lain. Tulisan yang kuat bukan hanya membawa kesedihan penulisnya. Tulisan yang kuat membawa kehidupan banyak orang.”
Kalimat itu tinggal lama dalam pikiran Liris.
Malamnya, ia menulis pesan kepada Rantaka.
Aku ingin menulis tentang Wanasari, tetapi bukan hanya dari ingatanku. Aku ingin mendengar suara warga. Kalau ada rapat, kabar sungai, kebun, kolam, atau anak-anak sekolah, kirimkan kepadaku. Aku ingin menulis bersama kalian.
Tidak lama kemudian, balasan Rantaka datang.
Kami akan kirim semuanya. Tapi kamu juga harus menjaga dirimu. Jangan terlalu sering begadang.
Liris tersenyum.
Ia membalas:
Pak Guru masih suka mengatur.
Balasan Rantaka datang beberapa menit kemudian.
Karena penulis desa ini keras kepala.
Liris memandangi layar ponselnya sambil tersenyum kecil.
Jarak masih terasa.
Namun, kali ini jarak tidak sepenuhnya sunyi.
Di Desa Wanasari, Rantaka mulai mengumpulkan cerita warga.
Setelah jam sekolah selesai, ia duduk di perpustakaan bersama beberapa murid yang membantu menulis catatan sederhana.
Dita mencatat cerita neneknya tentang sungai yang dahulu menjadi tempat mencuci dan menangkap ikan.
Rafi menulis tentang kebun ayahnya yang mulai sulit mendapat air saat musim kemarau.
Sari menggambar peta jalan dari rumahnya menuju sungai.
Rantaka mengirim foto-foto itu kepada Liris.
Ia juga mengirim rekaman suara Bu Karmi yang bercerita tentang kekhawatirannya jika lahan warga dijual.
“Kalau tanah habis,” suara Bu Karmi terdengar dari rekaman itu, “anak cucu kami nanti mau menanam di mana?”
Liris mendengarkan rekaman itu berulang kali.
Ia tidak ingin mengubah suara warga menjadi kata-kata yang terlalu indah.
Ia ingin tetap menjaga kejujuran mereka.
Karena hidup warga tidak boleh hanya menjadi bahan tulisan.
Hidup warga harus menjadi bagian dari perjuangan.
Di residensi, Liris mulai menulis lebih serius.
Ia membuat catatan tentang perubahan sungai.
Ia mengumpulkan cerita dari Rantaka, Banyu, Jagra, dan warga.
Ia membaca dokumen-dokumen tentang hak masyarakat desa, pendidikan, lingkungan, dan pengelolaan sumber daya alam.
Ia belajar membedakan antara tulisan yang hanya mengeluh dan tulisan yang dapat mengajak orang berpikir.
Bu Mayang beberapa kali membimbingnya.
“Jangan hanya menulis bahwa warga takut,” kata Bu Mayang. “Tunjukkan apa yang mereka perjuangkan.”
“Apa bedanya?” tanya Liris.
“Takut adalah bagian dari manusia,” jawab Bu Mayang. “Tetapi perjuangan menunjukkan bahwa manusia tidak menyerah pada rasa takut.”
Liris mengangguk.
Sejak itu, tulisannya berubah.
Ia tidak hanya menulis tentang sungai yang tercemar.
Ia menulis tentang Banyu yang mencoba membuat alat air dari bahan bekas.
Ia tidak hanya menulis tentang kolam yang rusak.
Ia menulis tentang Jagra yang mengajak pemuda membangun kelompok perikanan.
Ia tidak hanya menulis tentang sekolah yang kekurangan guru.
Ia menulis tentang Rantaka yang membuka kelas malam agar anak-anak tidak kehilangan kesempatan belajar.
Ia tidak hanya menulis tentang perpustakaan yang hampir mati.
Ia menulis tentang anak-anak yang tetap datang membawa buku lusuh dan rasa ingin tahu.
Tulisan-tulisan itu mulai membentuk satu naskah panjang.
Judul sementaranya:
Langit Biru yang Menolak Padam
Suatu sore, Bu Mayang membawa Liris ke sebuah diskusi publik di perpustakaan kota.
Tema diskusi itu adalah “Cerita Daerah dan Masa Depan Lingkungan.”
Di sana, Liris bertemu dengan wartawan, pegiat literasi, mahasiswa, dan beberapa orang dari komunitas lingkungan.
Ia awalnya hanya duduk di barisan belakang.
Namun, ketika moderator membuka sesi tanya jawab, Bu Mayang menoleh kepadanya.
“Ceritakan tentang Wanasari,” bisiknya.
Liris menatap panggung.
Jantungnya berdebar.
Ia bukan pembicara yang terbiasa berdiri di depan banyak orang.
Namun, ia teringat wajah Rafi ketika menyerahkan gambar sungai.
Ia teringat Bu Karmi yang berkata bahwa tanah adalah tempat anak cucu menanam.
Ia teringat Rantaka yang menjaga perpustakaan.
Ia teringat Banyu yang terus memperbaiki pipa.
Ia teringat Jagra yang tidak pernah benar-benar menyerah pada kolam-kolam yang rusak.
Liris mengangkat tangan.
Ketika mikrofon diberikan kepadanya, ia berdiri.
“Saya berasal dari Desa Wanasari,” katanya. “Di desa kami, orang-orang sedang belajar bahwa pendidikan tidak hanya ada di sekolah. Pendidikan ada ketika anak-anak membaca di perpustakaan, ketika pemuda belajar memperbaiki pompa, ketika warga berani memahami peta, dan ketika keluarga mulai bertanya apa yang akan terjadi pada tanah serta sungai mereka.”
Ruangan menjadi hening.
Liris melanjutkan.
“Desa kami sedang menghadapi rencana pembangunan dari perusahaan luar. Ada warga yang berharap pada pekerjaan. Ada yang takut kehilangan lahan. Ada yang khawatir sungai semakin rusak. Kami tidak ingin menolak masa depan. Kami hanya ingin masa depan itu tidak datang dengan menghapus suara warga.”
Seorang wartawan muda mendekatinya setelah acara selesai.
Namanya Aruna.
“Saya tertarik dengan cerita desa Anda,” katanya. “Apakah saya boleh membaca tulisanmu?”
Liris ragu sejenak.
Tulisan itu belum selesai.
Masih banyak bagian yang perlu diperbaiki.
Namun, Bu Mayang mengangguk kecil dari kejauhan.
Liris menyerahkan salinan tulisannya.
“Ini belum sempurna,” katanya.
“Tidak apa-apa,” jawab Aruna. “Cerita yang jujur tidak harus menunggu sempurna untuk mulai didengar.”
Dua hari kemudian, Liris menerima pesan dari Rantaka.
Pesan itu lebih singkat daripada biasanya.
Liris, perusahaan meminta rapat lagi di balai desa. Mereka membawa dokumen baru. Pak Darma bilang ada jadwal penandatanganan kesepakatan awal.
Liris membaca pesan itu berkali-kali.
Dadanya terasa sesak.
Ia segera menelepon Rantaka.
Sambungan baru tersambung setelah beberapa kali percobaan.
“Rantaka, kapan rapatnya?”
“Tiga hari lagi.”
“Apa isi dokumennya?”
“Belum jelas. Mereka bilang ini hanya kesepakatan awal untuk pendataan dan pembukaan akses.”
“Kesepakatan awal bisa menjadi jalan untuk keputusan yang lebih besar.”
“Aku tahu.”
“Warga sudah membaca semuanya?”
“Belum. Banyak yang hanya dengar bahwa akan ada uang ganti rugi dan pelatihan kerja.”
Liris menutup mata.
Ia membayangkan balai desa.
Ia membayangkan warga duduk dengan dokumen yang sulit dipahami.
Ia membayangkan garis-garis pada peta yang mungkin akan menentukan kebun, parit, kolam, dan rumah inovasi.
“Aku akan pulang,” katanya.
“Liris, programmu baru berjalan.”
“Aku tidak bisa diam di sini.”
“Jangan mengambil keputusan terburu-buru. Kamu bisa membantu dari kota.”
“Bagaimana?”
Rantaka terdiam sejenak.
“Kirim tulisanmu.”
“Apa maksudmu?”
“Kalau tulisanmu bisa membuat orang lain tahu tentang Wanasari, mungkin kita tidak harus berjuang sendirian. Kirim ke orang-orang yang kamu temui. Ke komunitas. Ke wartawan. Ke siapa pun yang bisa membantu warga memahami apa yang sedang terjadi.”
Liris memegang ponselnya lebih erat.
Ia tahu Rantaka benar.
Pulang saat itu mungkin akan membuatnya hanya menjadi satu suara tambahan di balai desa.
Namun, dari kota, ia mungkin dapat membuka jalan agar suara Wanasari terdengar lebih jauh.
“Aku akan kirim tulisan itu malam ini,” katanya.
“Dan aku akan mengumpulkan warga untuk membaca dokumen sebelum rapat.”
“Jangan biarkan siapa pun menandatangani sesuatu yang tidak mereka pahami.”
“Aku janji.”
Setelah telepon ditutup, Liris duduk di depan meja belajarnya.
Gambar sungai dari Rafi masih menempel di dinding.
Di luar jendela, lampu-lampu kota menyala.
Kota itu besar.
Bising.
Penuh orang yang tidak tahu bahwa ada sebuah desa kecil sedang berjuang mempertahankan tanah, sungai, dan masa depan anak-anaknya.
Liris membuka laptop.
Ia membaca ulang tulisannya.
Kemudian ia menambahkan satu kalimat di bagian akhir:
Desa tidak meminta untuk dikasihani. Desa hanya meminta agar masa depannya tidak ditentukan tanpa pengetahuan, tanpa persetujuan, dan tanpa suara warganya.
Ia mengirim tulisan itu kepada Bu Mayang.
Ia mengirimkannya kepada Aruna.
Ia mengirimkannya kepada komunitas literasi yang ia kenal.
Ia juga mengirimkannya kepada beberapa teman residensi yang menawarkan bantuan menyebarkan tulisan tersebut.
Setelah semua terkirim, Liris tidak langsung merasa lega.
Ia tahu satu tulisan tidak akan menghentikan perusahaan.
Satu tulisan tidak akan membuat sungai kembali jernih.
Satu tulisan tidak akan menyelesaikan perbedaan di antara warga.
Namun, tulisan dapat membuka pintu.
Tulisan dapat membuat orang bertanya.
Tulisan dapat membuat warga lain merasa bahwa mereka tidak sendiri.
Dan kadang-kadang, perubahan besar dimulai dari satu pertanyaan sederhana:
Apakah kita benar-benar sudah mendengar suara desa?
Malam itu, Liris menatap langit kota dari jendela kamar.
Langitnya tidak sama seperti langit Desa Wanasari.
Di antara gedung dan lampu jalan, bintang-bintang hampir tidak terlihat.
Namun, Liris tahu bahwa di balik cahaya kota, ada langit yang sama.
Langit yang menaungi Rantaka, Banyu, Jagra, anak-anak perpustakaan, serta seluruh warga Wanasari.
Langit Biru itu masih ada.
Dan dari kota, Liris mulai mengirimkan suaranya pulang.
BAB 21
RAPAT YANG MENENTUKAN ARAH
Pagi sebelum rapat di balai desa, langit Desa Wanasari tampak kelabu.
Bukan karena hujan.
Awan memang menggantung tipis di atas kebun dan rumah-rumah warga, tetapi yang membuat suasana terasa berat adalah kabar tentang dokumen baru dari perusahaan.
Sejak dua hari sebelumnya, orang-orang mulai membicarakan rapat itu di warung, di kebun, di pinggir kolam, bahkan di halaman sekolah.
Ada yang berkata perusahaan hanya ingin mempercepat pendataan.
Ada yang berkata akan ada uang kompensasi bagi warga yang tanahnya dilalui jalur akses.
Ada pula yang mengatakan bahwa perusahaan akan membuka lapangan pekerjaan bagi pemuda desa.
Namun, tidak ada yang benar-benar tahu isi dokumen itu secara utuh.
Tidak ada yang bisa menjelaskan apakah tanda tangan warga hanya untuk pendataan, atau justru menjadi persetujuan awal yang akan mengikat masa depan mereka.
Rantaka berdiri di depan perpustakaan sejak pagi.
Di atas meja kayu, ia meletakkan beberapa lembar salinan dokumen yang berhasil diperoleh dari kantor desa. Di sampingnya, ada Peta Warga Wanasari yang telah dibuat bersama anak-anak, pemuda, dan para orang tua.
Banyu datang membawa map berisi catatan Rumah Inovasi.
Jagra membawa daftar kolam warga, saluran air, serta nama-nama keluarga yang menggantungkan hidup pada perikanan.
Seno datang terakhir.
Wajahnya tampak tegang.
“Ayah sudah berangkat ke balai desa,” katanya.
“Pak Darma bagaimana?” tanya Banyu.
“Dia bilang rapat harus berjalan. Tapi semalam dia juga bilang warga berhak membaca dokumen sebelum menandatangani.”
Rantaka mengangguk.
“Setidaknya itu berarti masih ada ruang.”
“Ruang untuk apa?” tanya Jagra. “Kalau sebagian warga sudah tergoda uang muka, mereka mungkin tidak mau mendengar apa pun.”
Tidak ada yang segera menjawab.
Mereka semua tahu Jagra tidak salah.
Banyak keluarga di Desa Wanasari sedang menghadapi kesulitan. Hasil kebun tidak selalu baik. Kolam-kolam pernah rusak akibat banjir. Biaya sekolah semakin tinggi. Anak-anak muda membutuhkan pekerjaan.
Bagi sebagian warga, uang kompensasi bukan sekadar janji.
Uang itu bisa berarti biaya berobat.
Bisa berarti biaya sekolah anak.
Bisa berarti modal untuk memperbaiki rumah.
Karena itu, perjuangan mereka tidak pernah sesederhana menolak atau menerima perusahaan.
Mereka harus mencari jalan agar kebutuhan hari ini tidak menghancurkan masa depan esok hari.
Rantaka membuka ponselnya.
Pesan dari Liris masuk sejak subuh.
Aku sudah bicara dengan Bu Mayang dan Aruna. Tulisan tentang Wanasari akan dimuat di media komunitas hari ini. Mereka juga menghubungi jaringan pegiat lingkungan dan pendidikan.
Jangan datang ke rapat hanya dengan rasa takut. Datang dengan data, peta, dan suara warga.
Kalau ada bagian dokumen yang tidak dipahami, jangan biarkan siapa pun menandatangani.
Aku bersama kalian dari sini.
Rantaka membaca pesan itu keras-keras.
Banyu menatap layar ponsel tersebut.
“Liris pasti tidak bisa tidur semalam,” katanya.
“Dia sedang berjuang dari kota,” jawab Rantaka.
“Dan kita harus berjuang dari sini,” kata Jagra.
Rantaka menggulung Peta Warga Wanasari.
“Kita berangkat.”
Balai Desa Wanasari sudah penuh ketika mereka tiba.
Kursi-kursi plastik tersusun rapat.
Di bagian depan ruangan, sebuah meja panjang telah disiapkan untuk perangkat desa, perwakilan perusahaan, BPD, dan beberapa tokoh masyarakat.
Pak Hendra duduk di tengah dengan map hitam di depannya.
Surya Pratama duduk di sebelahnya sambil membuka beberapa lembar dokumen.
Pak Darma berada di sisi lain meja, wajahnya tampak lebih muram dari biasanya.
Di sudut ruangan, beberapa warga berbisik-bisik.
Ada yang datang dengan harapan.
Ada yang datang dengan kemarahan.
Ada pula yang datang karena takut mengambil keputusan tanpa tahu apa yang sedang terjadi.
Ketika Rantaka, Banyu, Jagra, dan Seno masuk, beberapa warga langsung menoleh.
Pak Warto mendekati mereka.
“Kalian bawa peta itu?” tanyanya.
Rantaka mengangguk.
“Bawa, Pak.”
“Bagus. Jangan sampai mereka bicara seolah di sini hanya ada tanah kosong.”
Kalimat itu membuat Rantaka memegang gulungan peta lebih erat.
Rapat dibuka oleh kepala desa.
Ia menjelaskan bahwa pertemuan tersebut merupakan forum sosialisasi lanjutan mengenai rencana pembangunan perusahaan di sekitar Desa Wanasari.
Pak Hendra kemudian berdiri.
“Kami datang dengan niat membangun kerja sama yang baik,” katanya. “Perusahaan kami ingin membuka akses, menciptakan peluang kerja, serta menjalankan program pelatihan bagi masyarakat.”
Beberapa warga mengangguk.
Kata-kata itu terdengar baik.
Teratur.
Meyakinkan.
Pak Hendra melanjutkan, “Dokumen yang kami bawa hari ini bukan penjualan tanah. Ini adalah kesepakatan awal untuk pendataan dan pembukaan komunikasi antara perusahaan dengan warga yang lahannya berada di sekitar jalur rencana akses.”
“Kalau hanya pendataan, kenapa harus tanda tangan?” suara seorang warga terdengar dari belakang.
Pak Hendra tersenyum tipis.
“Tanda tangan diperlukan sebagai bukti bahwa warga telah menerima informasi awal.”
“Informasi awal yang mana?” tanya warga lain. “Kami belum tahu jalur pastinya.”
Suasana mulai berubah.
Surya Pratama berdiri.
“Peta teknis belum dapat dibagikan seluruhnya karena masih dalam proses kajian.”
“Kalau peta belum dibagikan, kami harus menyetujui apa?” tanya Jagra.
Suara Jagra terdengar tegas.
Beberapa warga langsung menoleh kepadanya.
Surya memandang Jagra.
“Kesepakatan ini bukan persetujuan akhir.”
“Kalau begitu, tulis jelas bahwa warga tidak menyetujui pembukaan jalur sebelum peta, dampak lingkungan, dan dampak terhadap kebun, kolam, serta sungai dijelaskan terbuka,” kata Jagra.
Pak Hendra menghela napas.
“Kami memahami kekhawatiran masyarakat.”
“Tidak,” kata Banyu dari sisi ruangan. “Bapak belum memahami. Kalau jalur itu melewati parit belakang Rumah Inovasi, kebun warga bisa kehilangan air. Kalau saluran air berubah, kolam warga bisa mati. Itu bukan sekadar kekhawatiran.”
Pak Hendra memandang Banyu.
“Masalah teknis akan ditangani oleh tim ahli.”
“Warga juga punya pengetahuan tentang tempat tinggal mereka,” jawab Banyu. “Kami tahu parit mana yang mengalir saat kemarau. Kami tahu kolam mana yang mudah rusak. Kami tahu kebun mana yang tidak bisa hidup tanpa air itu.”
Suasana balai desa semakin sunyi.
Rantaka kemudian maju membawa gulungan peta.
Ia membentangkannya di meja depan.
Peta Warga Wanasari terbuka lebar.
Di atasnya terdapat tanda-tanda berwarna yang menunjukkan sungai, parit, kebun, kolam, sekolah, perpustakaan, Rumah Inovasi, dan jalan yang biasa digunakan warga.
“Ini bukan peta resmi,” kata Rantaka. “Tetapi ini peta kehidupan warga.”
Ia menunjuk sungai.
“Di sini anak-anak pernah belajar tentang air dan lingkungan.”
Ia menunjuk parit kecil.
“Di sini air dialirkan ke kebun warga saat musim kering.”
Ia menunjuk kolam-kolam.
“Di sini keluarga Jagra dan banyak warga lain mencari penghasilan.”
Ia menunjuk Rumah Inovasi.
“Di sini pemuda belajar membuat alat sederhana untuk membantu kebun dan perikanan.”
Lalu ia menunjuk perpustakaan dan sekolah.
“Dan di sini anak-anak belajar agar suatu hari mereka tidak hanya menjadi penonton ketika keputusan besar dibuat tentang desanya.”
Tidak ada yang berbicara.
Bahkan Pak Hendra tampak menatap peta itu lebih lama daripada sebelumnya.
Seorang warga bernama Pak Narto berdiri.
Ia dikenal sebagai salah satu warga yang tertarik menerima kompensasi dari perusahaan.
“Semua yang kalian katakan memang benar,” katanya. “Tapi kalian juga harus melihat keadaan kami. Anak saya mau masuk sekolah ke kota. Saya tidak punya biaya. Kalau ada uang ganti rugi, saya bisa pakai untuk masa depan anak saya.”
Rantaka menatap Pak Narto dengan hormat.
“Tidak ada yang menyalahkan Bapak karena membutuhkan uang.”
“Lalu kenapa kalian seperti ingin menghalangi?” tanya Pak Narto.
“Kami tidak ingin menghalangi siapa pun,” jawab Rantaka. “Kami hanya ingin semua warga tahu apa yang akan ditandatangani. Kalau setelah memahami semuanya Bapak tetap memilih menerima, itu hak Bapak. Tetapi jangan sampai keputusan dibuat karena kita hanya diberi sebagian informasi.”
Pak Narto terdiam.
Bu Karmi kemudian berdiri.
“Kalau tanah dijual, uang memang bisa dipakai sekarang,” katanya. “Tapi kalau uang habis, tanah tidak kembali.”
Seorang warga lain menyahut, “Kalau tidak dijual, kita makan apa?”
Balai desa kembali ramai.
Suara-suara saling bertumpuk.
Ada yang membela kebutuhan ekonomi.
Ada yang berbicara tentang sungai.
Ada yang menyebut pekerjaan untuk pemuda.
Ada yang mengingatkan tentang kebun dan warisan keluarga.
Kepala desa berusaha menenangkan warga.
Namun, perbedaan itu tidak bisa diselesaikan hanya dengan meminta semua orang diam.
Karena di balik setiap suara, ada kesulitan yang nyata.
Di tengah keributan itu, Seno berdiri.
Tangannya tampak gemetar.
Ia menatap ayahnya, Pak Darma, sebelum akhirnya berbicara.
“Saya ingin bicara sebagai pemuda desa.”
Suasana perlahan tenang.
“Saya tahu banyak teman saya butuh pekerjaan. Saya juga pernah berpikir perusahaan adalah satu-satunya jalan supaya kami tidak perlu merantau. Tapi setelah melihat Rumah Inovasi, setelah ikut mendata kebun dan sungai, saya sadar bahwa pekerjaan bukan hanya soal menerima gaji.”
Ia menarik napas.
“Pekerjaan juga soal apakah kita masih punya tempat untuk hidup setelah pekerjaan itu selesai.”
Pak Darma menatap anaknya.
Seno melanjutkan.
“Kalau perusahaan benar-benar ingin membantu, jangan hanya tawarkan pekerjaan sementara. Bantu pelatihan yang nyata. Bantu sekolah. Bantu alat pertanian dan perikanan. Jaga sungai. Jangan minta warga menandatangani sesuatu sebelum mereka benar-benar mengerti.”
Beberapa pemuda mengangguk.
Pak Hendra tampak mulai kehilangan senyum formalnya.
Ia menatap dokumen di depannya.
Kemudian, tiba-tiba, pintu balai desa terbuka.
Seorang perempuan muda masuk dengan membawa ponsel.
Ia adalah Nia, guru honorer dari desa sebelah yang sering membantu kegiatan literasi.
“Maaf,” katanya terengah-engah. “Saya baru dapat kabar dari kota.”
Ia berjalan mendekati Rantaka.
“Artikel Liris sudah dimuat.”
Rantaka menerima ponsel itu.
Di layar, terlihat judul tulisan Liris:
Langit Biru yang Menolak Padam: Catatan dari Desa Wanasari
Di bawah judul tersebut, terdapat foto Gerobak Buku Langit Biru, sungai yang mulai keruh, serta anak-anak yang sedang membaca di bawah pohon beringin.
Tulisan itu tidak menyerang siapa pun.
Namun, tulisan itu menggambarkan dengan jelas kehidupan warga Wanasari, ancaman terhadap sungai dan lahan, serta pentingnya keterbukaan sebelum keputusan dibuat.
Di bagian bawah artikel, sudah muncul banyak tanggapan.
Ada yang menawarkan bantuan untuk membaca dokumen.
Ada komunitas mahasiswa yang ingin datang melakukan pendampingan pemetaan.
Ada pegiat pendidikan yang menawarkan buku dan pelatihan untuk perpustakaan desa.
Ada pula orang-orang yang hanya menulis satu kalimat:
Warga Wanasari berhak didengar.
Rantaka menyerahkan ponsel itu kepada Banyu dan Jagra.
Mereka membaca dalam diam.
Untuk beberapa saat, rasa lelah mereka seperti mendapat tenaga baru.
Liris benar.
Desa Wanasari tidak lagi berjuang sendirian.
Pak Hendra melihat layar ponsel itu.
Wajahnya berubah.
“Artikel seperti ini bisa menimbulkan kesalahpahaman,” katanya.
“Kesalahpahaman muncul ketika informasi tidak dibuka,” jawab Rantaka.
Surya Pratama berdiri dan berbicara dengan nada lebih keras.
“Kami tidak bisa bekerja jika setiap langkah perusahaan dianggap ancaman.”
“Dan kami tidak bisa hidup tenang jika setiap langkah perusahaan dilakukan tanpa kejelasan,” kata Bu Karmi.
Pak Darma yang sejak tadi diam akhirnya berdiri.
Ia mengambil dokumen kesepakatan awal dari meja.
“Saya usulkan,” katanya, “penandatanganan hari ini ditunda.”
Balai desa mendadak hening.
Pak Hendra menatapnya tajam.
“Pak Darma, ini sudah dijadwalkan.”
“Saya tahu.”
“Penundaan akan menghambat proses.”
“Lebih baik proses terhambat daripada warga menandatangani sesuatu yang belum dipahami.”
Surya menatap Pak Darma.
“Bapak sudah menyetujui pembahasan awal ini.”
“Saya menyetujui pembahasan,” jawab Pak Darma. “Bukan memaksa warga mengambil keputusan.”
Kalimat itu seperti membuka pintu yang selama ini tertutup.
Beberapa warga bertepuk tangan.
Tidak semua.
Sebagian masih terlihat ragu.
Namun, untuk pertama kalinya, warga yang ingin membaca dokumen lebih dahulu tidak lagi merasa sendirian.
Kepala desa kemudian berdiri.
“Baik,” katanya. “Rapat hari ini tidak akan dilanjutkan ke penandatanganan. Dokumen akan disalin dan dibagikan kepada warga yang terdampak. Dalam waktu dua minggu, akan diadakan forum terbuka dengan peta jalur yang lebih jelas, penjelasan dampak terhadap sungai, kebun, kolam, dan fasilitas warga.”
Pak Hendra tidak langsung menjawab.
Wajahnya tetap tenang, tetapi matanya menunjukkan bahwa ia tidak menyukai keputusan itu.
Akhirnya ia berkata, “Kami akan mempertimbangkan permintaan tersebut.”
“Bukan mempertimbangkan,” kata Jagra. “Itu keputusan rapat warga.”
Pak Hendra menatap Jagra.
Kemudian ia menutup mapnya.
“Kami akan menyampaikan kepada kantor pusat.”
Setelah perwakilan perusahaan meninggalkan balai desa, warga tidak langsung pulang.
Mereka berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil.
Sebagian membicarakan dokumen.
Sebagian membicarakan artikel Liris.
Sebagian masih mempertanyakan apakah penundaan akan benar-benar membawa hasil.
Pak Narto mendekati Rantaka.
“Kalau nanti saya tetap ingin menerima kompensasi, kalian tidak akan menganggap saya musuh?”
Rantaka menatapnya.
“Tidak, Pak. Kita bukan sedang mencari musuh.”
“Lalu apa yang kalian cari?”
“Kejelasan. Dan jalan supaya warga tidak harus memilih antara makan hari ini atau kehilangan masa depan anak-anaknya.”
Pak Narto mengangguk perlahan.
“Aku ingin dokumennya dibaca anakku juga. Dia kuliah di kota.”
“Bagus, Pak,” jawab Rantaka. “Semakin banyak yang memahami, semakin baik.”
Di halaman balai desa, Banyu berdiri bersama Jagra dan Seno.
“Kita belum menang,” kata Jagra.
“Belum,” jawab Banyu.
“Perusahaan pasti akan datang lagi,” kata Seno.
Rantaka mendekati mereka.
“Karena itu kita tidak boleh berhenti setelah rapat ini.”
“Apa langkah berikutnya?” tanya Banyu.
Rantaka membuka ponselnya.
Ada pesan baru dari Liris.
Aku membaca kabar rapat dari Nia. Aku bangga kalian menunda penandatanganan.
Tapi penundaan hanya memberi waktu. Gunakan waktu itu untuk memperkuat warga.
Buat kelas membaca dokumen. Kumpulkan data sungai dan kebun. Dengarkan keluarga yang membutuhkan uang. Jangan biarkan perjuangan ini hanya menjadi milik beberapa orang.
Aku akan terus menulis dari sini.
Rantaka membacakan pesan itu.
Jagra mengangguk.
“Berarti kita harus mengadakan pertemuan warga lagi.”
“Bukan hanya pertemuan,” kata Banyu. “Kita harus mengajak anak muda belajar membaca peta dan dokumen.”
Seno menambahkan, “Dan kita harus membuat rencana ekonomi desa. Kalau warga punya pilihan lain, mereka tidak akan mudah dipaksa menerima tawaran yang merugikan.”
Rantaka memandang sahabat-sahabatnya.
Di depan mereka, jalan desa masih sama.
Tanahnya masih berdebu.
Sungainya belum kembali jernih.
Peta perusahaan belum benar-benar berubah.
Namun, hari itu Desa Wanasari telah mengambil satu langkah penting.
Bukan langkah untuk menolak masa depan.
Melainkan langkah untuk memastikan bahwa masa depan tidak datang tanpa persetujuan, tanpa pengetahuan, dan tanpa suara warga.
Di kejauhan, angin menggerakkan daun-daun pohon beringin.
Di bawah langit yang mulai cerah, Rantaka membayangkan Liris di kota, duduk di depan meja kecilnya, menulis tentang desa yang sedang belajar berdiri.
Suara Wanasari telah sampai ke kota.
Kini, warga Wanasari harus memastikan suara itu tidak berhenti hanya sebagai tulisan.
Suara itu harus menjadi keberanian.
Menjadi pengetahuan.
Menjadi jalan pulang bagi masa depan desa.
BAB 22
KELAS UNTUK MEMBACA MASA DEPAN
Dua hari setelah rapat di balai desa, perpustakaan Desa Wanasari kembali dipenuhi orang.
Namun, sore itu bukan hanya anak-anak yang datang membawa buku tulis.
Para petani datang dengan topi lusuh yang masih menyisakan tanah kebun di ujung celana. Para ibu membawa catatan kecil. Pemuda-pemuda duduk di dekat jendela sambil memegang salinan dokumen perusahaan. Bahkan beberapa orang tua yang biasanya enggan datang ke perpustakaan ikut duduk di tikar.
Di dinding depan, Rantaka menempelkan sebuah kertas besar bertuliskan:
KELAS MEMBACA MASA DEPAN
MEMAHAMI DOKUMEN, MENJAGA HAK, MENENTUKAN PILIHAN
Tulisan itu dibuat oleh anak-anak sekolah bersama Liris sebelum ia berangkat ke kota.
Saat itu, mereka belum tahu bahwa kalimat tersebut suatu hari akan menjadi begitu penting.
Rantaka berdiri di depan ruangan.
Di sampingnya ada Banyu, Jagra, Seno, Bu Karmi, Pak Warto, dan Nia. Di atas meja, tersusun salinan dokumen yang dibawa perusahaan saat rapat. Ada pula Peta Warga Wanasari, catatan tentang sungai dan kolam, serta daftar pertanyaan yang sudah dikumpulkan dari warga.
“Kita berkumpul bukan untuk memutuskan siapa yang benar dan siapa yang salah,” kata Rantaka membuka pertemuan. “Kita berkumpul agar tidak ada warga yang menandatangani sesuatu yang belum dipahami.”
Beberapa warga mengangguk.
Pak Narto duduk di barisan depan. Wajahnya tampak serius. Di pangkuannya, ia memegang salinan dokumen yang telah dilipat berkali-kali.
“Kalau kami tidak paham bahasa di dalamnya, bagaimana kami bisa tahu apakah kami dirugikan?” tanyanya.
“Itulah alasan kelas ini dibuat,” jawab Rantaka. “Kita baca bersama. Kita tanya bersama. Kalau ada yang tidak jelas, kita catat. Kalau ada yang tidak masuk akal, kita minta penjelasan.”
Seno mengangkat satu lembar dokumen.
“Banyak kata dalam surat ini terdengar biasa,” katanya. “Tapi bisa punya akibat besar. Misalnya, kata persetujuan awal, akses sementara, pendataan lokasi, dan komitmen kerja sama.”
“Bedanya apa?” tanya seorang ibu dari belakang.
Seno menarik napas.
“Kadang-kadang, sebuah tanda tangan dianggap hanya untuk menerima informasi. Tetapi jika kalimatnya tidak jelas, tanda tangan itu bisa dipakai sebagai bukti bahwa warga sudah setuju terhadap proses berikutnya.”
Ruangan menjadi hening.
Bu Karmi mengangguk pelan.
“Berarti tanda tangan itu seperti pintu,” katanya. “Kalau kita tidak tahu pintunya menuju ke mana, jangan dibuka sembarangan.”
Kalimat itu membuat beberapa warga tersenyum tipis.
Rantaka menuliskannya di papan tulis.
JANGAN MENANDATANGANI PINTU YANG BELUM KITA KETAHUI ARAHNYA.
Kelas pertama dimulai dengan membaca dokumen secara perlahan.
Nia membacakan satu paragraf.
Kemudian Rantaka menjelaskan dengan bahasa yang lebih sederhana.
Banyu mencatat bagian-bagian yang berkaitan dengan jalur akses, parit, sungai, dan Rumah Inovasi.
Jagra menandai kalimat yang berhubungan dengan kolam, lahan produktif, serta kemungkinan perubahan aliran air.
Seno membantu warga memahami bagian tentang pelatihan kerja dan kesempatan bagi pemuda.
“Di sini tertulis perusahaan akan menyediakan pelatihan,” kata seorang pemuda bernama Arman. “Kalau begitu, bukankah itu bagus?”
“Bisa bagus,” jawab Seno. “Tapi kita harus bertanya: pelatihannya apa, berapa lama, untuk siapa, dan apakah setelah pelatihan ada pekerjaan yang jelas?”
“Kalau hanya pelatihan tiga hari lalu selesai, itu bukan masa depan,” tambah Banyu. “Itu hanya kegiatan.”
Pak Warto mengangkat tangan.
“Kalau mereka menjanjikan perbaikan jalan, apakah itu harus kita tolak?”
“Tidak,” kata Rantaka. “Kita tidak menolak perbaikan jalan, pelatihan, atau pekerjaan. Kita hanya ingin semua itu tidak dibayar dengan kerusakan yang lebih besar.”
“Jalan bagus memang penting,” kata Bu Karmi. “Tapi kalau jalan bagus membuat air kebun hilang, kita tetap susah.”
Anak-anak yang duduk di sudut ruangan mendengarkan percakapan itu.
Dita mengangkat tangan kecilnya.
“Kalau sungai rusak, kami nanti belajar tentang ikan dari mana?”
Beberapa orang dewasa menoleh kepadanya.
Rantaka tersenyum.
“Pertanyaan Dita juga harus masuk dalam catatan kita.”
Ia menulis di papan:
APA DAMPAKNYA BAGI ANAK-ANAK?
Kalimat itu membuat suasana berubah.
Selama ini, banyak orang membicarakan uang, tanah, dan pekerjaan.
Namun, sedikit yang bertanya tentang apa yang akan diwariskan kepada anak-anak.
Pada pertemuan kedua, Banyu membawa alat sederhana ke halaman perpustakaan.
Ia memasang pipa kecil, ember air, dan saringan dari kawat.
Beberapa warga mengira ia akan memperbaiki pompa.
Ternyata, ia ingin menunjukkan bagaimana aliran air dapat berubah jika saluran tertutup tanah atau limbah.
“Bayangkan ini parit di belakang Rumah Inovasi,” katanya.
Ia mengalirkan air dari ember ke pipa.
Air bergerak lancar.
Kemudian ia menaruh tanah di bagian tengah pipa.
Aliran air melambat.
Setelah itu, ia memasukkan daun kering dan lumpur.
Air berhenti mengalir.
“Kalau pembukaan jalur membuat parit tertutup atau tanah masuk ke saluran, ini yang bisa terjadi,” jelas Banyu. “Kebun tidak dapat air. Kolam kekurangan pasokan. Mesin pompa bekerja lebih berat. Warga harus mengeluarkan biaya lebih banyak.”
Jagra lalu membawa sebuah ember kecil berisi air dari kolam.
“Kalau air berubah terlalu keruh atau tercampur sesuatu yang tidak kita tahu, ikan bisa mati,” katanya. “Sekali kolam rusak, pemulihannya tidak mudah. Benih harus dibeli lagi. Pakan harus dibeli lagi. Waktu juga hilang.”
Pak Narto berdiri di dekat ember.
Ia memandangi air itu cukup lama.
“Kalau perusahaan memberi uang ganti rugi, apakah cukup untuk semua itu?” tanyanya.
Jagra tidak menjawab langsung.
“Bapak sendiri yang harus menghitungnya,” katanya. “Berapa nilai tanah, kolam, air, dan pekerjaan yang bisa dilakukan anak-anak kita nanti?”
Pertanyaan itu tidak menyalahkan.
Namun, pertanyaan itu membuat Pak Narto berpikir.
Sore hari, Rantaka menerima panggilan video dari Liris.
Sinyalnya tidak selalu baik, tetapi wajah Liris akhirnya muncul di layar ponsel.
Di belakangnya terlihat rak buku dan dinding kamar residensi yang dipenuhi kertas-kertas catatan.
Beberapa warga yang belum pernah menggunakan panggilan video mendekat dengan rasa penasaran.
“Liris!” seru Dita.
Liris tertawa.
“Halo, Dita. Kamu masih rajin membaca?”
“Masih. Kami sekarang belajar membaca surat perusahaan.”
Liris mengangguk bangga.
“Bagus. Tapi ingat, membaca bukan hanya mengeja kata. Membaca juga berarti bertanya: siapa yang diuntungkan, siapa yang menanggung risiko, dan apa yang terjadi setelahnya.”
Bu Karmi mendekat ke layar.
“Liris, tulisanmu sudah dibaca banyak orang?”
“Sudah mulai, Bu. Ada beberapa komunitas yang ingin membantu. Mereka tidak akan datang untuk mengambil alih perjuangan warga. Mereka ingin membantu warga memahami dokumen, memetakan dampak, dan menyusun pertanyaan.”
“Orang kota itu bisa dipercaya?” tanya Bu Karmi jujur.
Liris tersenyum tipis.
“Kita tidak harus percaya begitu saja pada siapa pun, Bu. Tapi kita bisa menerima bantuan tanpa menyerahkan keputusan. Keputusan tetap milik warga Wanasari.”
Kalimat itu disambut anggukan.
Rantaka kemudian menyampaikan bahwa perusahaan memberi waktu dua minggu sebelum forum terbuka berikutnya.
“Kita harus memakai waktu ini,” kata Liris dari layar. “Buat daftar semua yang harus dilindungi. Sungai, parit, kebun, kolam, sekolah, perpustakaan, Rumah Inovasi, dan tempat-tempat yang penting bagi warga.”
“Pohon beringin juga,” kata Rafi.
Liris tersenyum.
“Ya. Pohon beringin juga.”
Malam itu, warga mulai membentuk kelompok-kelompok kecil.
Kelompok pertama mendata sungai, parit, dan sumber air.
Banyu memimpin kelompok tersebut bersama beberapa pemuda.
Mereka berjalan menyusuri aliran air dari belakang Rumah Inovasi hingga ke kebun-kebun warga. Mereka mencatat titik yang mudah longsor, bagian yang sering tersumbat, serta tempat warga mengambil air saat kemarau.
Kelompok kedua mendata kebun dan tanaman produktif.
Pak Warto membantu mencatat jenis tanaman, luas lahan, serta keluarga yang bergantung pada hasil kebun.
Kelompok ketiga mendata kolam dan usaha perikanan.
Jagra mengajak pemuda mendata jumlah kolam, jenis ikan, jalur air, serta keluarga yang memperoleh penghasilan dari perikanan.
Kelompok keempat mendata pendidikan dan ruang belajar desa.
Rantaka mengajak anak-anak dan guru honorer mencatat sekolah, perpustakaan, Gerobak Buku Langit Biru, Rumah Inovasi, serta rumah-rumah warga yang sering dipakai sebagai tempat belajar tambahan.
“Kita sedang membuat peta baru?” tanya Dita.
“Kita sedang memperbaiki peta yang sudah ada,” jawab Rantaka.
“Memperbaiki bagaimana?”
“Dengan menambahkan hal-hal yang sering tidak terlihat oleh orang luar.”
Dita memandang kertas besar di depannya.
Lalu ia menggambar pohon beringin, gerobak buku, dan beberapa anak yang sedang duduk membaca.
“Kalau begitu, ini juga harus masuk,” katanya.
Rantaka mengangguk.
“Harus.”
Tidak semua warga setuju dengan kegiatan itu.
Beberapa orang menganggap Kelas Membaca Masa Depan hanya akan memperlambat peluang masuknya perusahaan.
Di warung, seorang warga berkata bahwa Rantaka dan teman-temannya terlalu banyak bicara tentang masa depan, tetapi tidak tahu bagaimana sulitnya mencari uang hari ini.
Ucapan itu sampai kepada Rantaka.
Malamnya, ia duduk bersama Banyu dan Jagra di perpustakaan.
“Aku khawatir warga mulai menganggap kita menghalangi rezeki mereka,” kata Rantaka.
Jagra menyandarkan tubuh ke dinding.
“Kalau kita hanya bicara soal sungai dan tanah, mereka akan merasa kita tidak memahami kesulitan mereka.”
“Karena itu kita harus bicara juga tentang pilihan ekonomi,” kata Banyu. “Rumah Inovasi bisa membuka pelatihan alat pertanian dan perikanan. Kolam warga bisa dikelola bersama. Kebun bisa punya saluran air yang lebih baik.”
“Itu semua butuh waktu,” kata Rantaka.
“Memang,” jawab Banyu. “Tapi kita tidak bisa meminta warga menunggu tanpa memberi harapan yang nyata.”
Seno masuk membawa beberapa lembar kertas.
“Aku baru bicara dengan beberapa pemuda,” katanya. “Mereka ingin pelatihan kerja. Tapi mereka juga ingin tahu apakah pelatihan itu bisa dibuat di desa.”
Banyu menatapnya.
“Bisa. Kita mulai dari yang ada.”
“Apa?”
“Perbaikan pompa, pembuatan saluran air, perawatan kolam, pengolahan hasil ikan, dan peralatan sederhana untuk kebun.”
Jagra menambahkan, “Kalau pemuda punya keterampilan, mereka tidak hanya menunggu lowongan dari perusahaan.”
Rantaka memandang kedua sahabatnya.
Ia mulai melihat arah yang lebih jelas.
Perjuangan mereka tidak boleh berhenti pada penolakan.
Mereka harus membuktikan bahwa desa memiliki jalan untuk tumbuh dengan kekuatannya sendiri.
Pada akhir minggu, Kelas Membaca Masa Depan berubah menjadi kegiatan yang lebih besar.
Warga mulai datang membawa dokumen dari rumah.
Ada yang membawa surat penawaran.
Ada yang membawa fotokopi sertifikat tanah.
Ada yang membawa catatan utang.
Ada pula yang membawa pertanyaan tentang biaya sekolah anak-anak mereka.
Rantaka menyadari bahwa masalah perusahaan hanya membuka luka yang selama ini telah ada.
Kemiskinan.
Kurangnya pekerjaan.
Biaya pendidikan.
Akses pasar.
Keterbatasan alat pertanian.
Ketergantungan pada tengkulak.
Semua itu membuat sebagian warga mudah menerima tawaran yang datang dari luar.
Karena itu, pada papan tulis, ia menulis kalimat baru:
DESA YANG KUAT BUKAN DESA YANG MENOLAK SEMUA HAL BARU.
DESA YANG KUAT ADALAH DESA YANG MAMPU MEMILIH DENGAN PENGETAHUAN.
Pak Narto membaca tulisan itu lama.
Kemudian ia mendekati Rantaka.
“Anakku sudah membaca dokumen ini lewat foto yang kukirim,” katanya. “Dia bilang ada beberapa kalimat yang harus ditanyakan lagi.”
Rantaka tersenyum.
“Apa saja, Pak?”
Pak Narto menyerahkan secarik kertas.
Di sana tertulis beberapa pertanyaan:
- Apakah akses sementara dapat berubah menjadi jalan permanen?
- Apakah warga dapat membatalkan persetujuan jika dampak lingkungan tidak sesuai janji?
- Siapa yang bertanggung jawab jika kebun, kolam, atau sumber air rusak?
- Apakah pelatihan kerja menjamin pekerjaan bagi warga?
- Apakah warga dapat memilih tidak menjual atau tidak melepas lahannya?
Rantaka membaca pertanyaan itu dengan hati-hati.
“Pertanyaan ini sangat penting, Pak.”
Pak Narto mengangguk.
“Saya masih butuh uang untuk sekolah anak saya. Tapi saya tidak mau menjual sesuatu yang tidak saya pahami.”
Rantaka menepuk bahunya.
“Itu sebabnya kita belajar bersama.”
Menjelang malam, Liris kembali menghubungi mereka.
Kali ini ia membawa kabar baru.
“Aruna dan beberapa teman dari komunitas pendidikan akan datang sebelum forum terbuka,” katanya. “Mereka ingin membantu membuat bahan bacaan sederhana tentang dokumen, peta, dan hak warga.”
“Apakah mereka akan bicara di rapat?” tanya Seno.
“Kalau warga mengizinkan, mereka bisa membantu menjelaskan. Tapi keputusan tetap harus diambil oleh warga.”
Banyu menatap peta yang semakin penuh tanda.
“Liris,” katanya, “sekarang peta kita sudah punya sungai, kebun, kolam, sekolah, Rumah Inovasi, dan pohon beringin.”
Liris tersenyum dari layar.
“Jangan lupa tambahkan satu hal lagi.”
“Apa?”
“Orang-orang yang menjaganya.”
Banyu memandang warga yang masih duduk di perpustakaan.
Ada Pak Narto yang membaca ulang dokumen.
Ada Bu Karmi yang berbicara dengan ibu-ibu lain.
Ada anak-anak yang menggambar sungai.
Ada pemuda yang mencatat jalur air.
Ada Rantaka yang menulis pertanyaan di papan.
Ada Jagra yang membahas kolam bersama warga.
Ada Seno yang mengajak teman-temannya merancang pelatihan.
Banyu mengangguk.
“Baik,” katanya. “Kita tambahkan.”
Di sudut Peta Warga Wanasari, Dita menulis dengan huruf besar:
DESA INI DIJAGA OLEH WARGANYA.
Tidak ada yang menyuruhnya menulis kalimat itu.
Namun, semua orang yang melihatnya terdiam sejenak.
Karena mereka tahu, itulah inti dari Kelas Membaca Masa Depan.
Bukan sekadar memahami surat.
Bukan sekadar membaca peta.
Bukan sekadar menunda tanda tangan.
Mereka sedang belajar membaca hidup mereka sendiri.
Membaca luka lama.
Membaca kemungkinan baru.
Membaca masa depan yang tidak boleh lagi ditentukan oleh orang lain tanpa kehadiran, pengetahuan, dan keberanian warga Desa Wanasari.
Di luar perpustakaan, malam turun perlahan.
Lampu-lampu rumah mulai menyala.
Di kejauhan, suara sungai terdengar kecil, mengalir melewati desa yang sedang belajar berdiri lebih tegak.
Dan di bawah langit yang gelap tetapi tetap luas, Wanasari mulai memahami bahwa pendidikan bukan hanya jalan untuk keluar dari desa.
Pendidikan juga jalan untuk menjaga desa agar tetap memiliki masa depan.
BAB 23
FORUM TERBUKA DI BAWAH LANGIT BIRU
Hari forum terbuka tiba dengan langit yang sangat cerah.
Sejak pagi, halaman balai Desa Wanasari telah dipenuhi warga. Kursi-kursi plastik tidak cukup menampung semua orang, sehingga banyak yang membawa tikar dari rumah. Sebagian duduk di bawah pohon beringin tua. Sebagian lagi berdiri di dekat pagar balai desa. Anak-anak sekolah datang bersama Rantaka dan duduk berkelompok di sisi kiri halaman.
Tidak seperti rapat sebelumnya, kali ini warga tidak datang hanya untuk mendengar.
Mereka datang membawa catatan.
Mereka membawa salinan dokumen.
Mereka membawa peta.
Mereka membawa pertanyaan.
Dan yang paling penting, mereka datang membawa keberanian untuk bicara.
Di depan balai desa, sebuah kain putih dibentangkan. Di atasnya tertulis dengan huruf besar:
FORUM TERBUKA DESA WANASARI
TANAH, SUNGAI, PENDIDIKAN, DAN MASA DEPAN WARGA
Rantaka berdiri di dekat pintu perpustakaan kecil yang berada tidak jauh dari balai desa. Ia memandang warga satu per satu.
Ada Bu Karmi yang duduk bersama kelompok ibu-ibu.
Ada Pak Warto yang membawa map berisi data kebun.
Ada Pak Narto yang menggenggam dokumen perusahaan.
Ada para pemuda yang dipimpin Seno.
Ada Jagra bersama warga pemilik kolam.
Ada Banyu dengan beberapa catatan tentang aliran air dan Rumah Inovasi.
Dan ada anak-anak yang membawa gambar sungai, pohon, kebun, serta Gerobak Buku Langit Biru.
Rantaka merasa gugup.
Bukan karena takut berbicara.
Tetapi karena ia tahu, hari itu tidak ada jawaban yang akan memuaskan semua orang.
Sebagian warga membutuhkan uang segera.
Sebagian takut kehilangan tanah.
Sebagian berharap perusahaan membawa pekerjaan.
Sebagian lagi khawatir sungai dan kebun akan rusak.
Tidak ada yang sepenuhnya salah.
Tidak ada yang sepenuhnya benar.
Yang mereka butuhkan bukan kemenangan satu kelompok atas kelompok lain.
Mereka membutuhkan keputusan yang adil bagi hidup bersama.
Menjelang pukul sepuluh, kendaraan perusahaan masuk ke halaman desa.
Pak Hendra turun lebih dulu.
Di belakangnya, Surya Pratama membawa tabung peta besar. Dua orang staf lain membawa map dan sebuah layar proyektor portabel.
Warga langsung memperhatikan mereka.
Beberapa orang berdiri lebih tegak.
Beberapa ibu merapatkan duduknya.
Anak-anak berhenti berbicara.
Tidak lama kemudian, sebuah mobil lain datang dari arah kecamatan.
Dari dalamnya turun Aruna, wartawan muda yang pernah bertemu Liris di kota. Bersamanya ada Bu Mayang, mentor residensi Liris, serta dua orang dari komunitas pendidikan dan lingkungan yang sebelumnya berjanji membantu warga memahami dokumen.
Liris tidak ikut datang.
Ia masih berada di kota, menyelesaikan program residensi dan mengumpulkan bahan tulisan.
Namun, sebelum forum dimulai, ia mengirim pesan kepada Rantaka.
Aku ingin sekali berada di sana. Tapi hari ini bukan tentang aku.
Hari ini tentang warga Wanasari yang berani menyampaikan apa yang mereka ketahui, apa yang mereka butuhkan, dan apa yang ingin mereka jaga.
Jangan biarkan siapa pun membuat kalian merasa kecil hanya karena kalian tinggal di desa.
Aku percaya pada kalian.
Rantaka membaca pesan itu sekali lagi sebelum memasukkan ponselnya ke saku.
Ia lalu berjalan ke arah panggung sederhana yang dibuat dari papan kayu.
Forum dibuka oleh kepala desa.
Kali ini, ia berbicara lebih hati-hati.
“Pertemuan hari ini bukan untuk memaksa warga mengambil keputusan,” katanya. “Pertemuan ini dibuat agar semua pihak dapat menyampaikan penjelasan, pertanyaan, dan pandangan secara terbuka.”
Pak Hendra kemudian berdiri.
Ia membuka map dan memulai pemaparan.
“Perusahaan kami membawa peta jalur rencana akses yang telah diperbarui,” katanya. “Kami juga membawa rancangan program sosial, pelatihan kerja, perbaikan jalan, serta bantuan bagi kegiatan pendidikan desa.”
Surya Pratama memasang peta besar di papan.
Di dalam peta itu terlihat garis merah yang memanjang dari jalan kecamatan menuju area perbukitan di belakang Desa Wanasari.
Garis itu tampak rapi.
Tipis.
Seolah hanya sebuah coretan.
Namun, bagi warga, garis itu bukan sekadar garis.
Garis itu melewati kebun.
Mendekati parit.
Memotong jalur menuju beberapa kolam.
Dan berada tidak jauh dari sungai kecil yang selama ini menjadi sumber air warga.
Pak Hendra menunjuk beberapa titik.
“Jalur ini telah disesuaikan agar dampaknya seminimal mungkin,” katanya. “Kami juga akan membangun drainase dan melakukan penghijauan.”
Banyu mengangkat tangan.
“Boleh saya bertanya?”
Pak Hendra mengangguk.
Banyu maju ke depan.
Ia membawa Peta Warga Wanasari yang telah diperbaiki selama dua minggu terakhir.
Dengan bantuan Seno dan beberapa pemuda, peta itu dipasang di samping peta perusahaan.
Dua peta berdiri berdampingan.
Satu peta dibuat oleh tim teknis perusahaan.
Satu peta dibuat oleh warga.
Perbedaan keduanya langsung terlihat.
Di peta perusahaan, hanya ada garis jalan, batas lahan, dan beberapa tanda bangunan.
Di Peta Warga Wanasari, terdapat sungai, parit kecil, kebun, kolam, jalan setapak, Rumah Inovasi, sekolah, perpustakaan, pohon beringin, serta rumah-rumah warga yang terdampak.
“Di peta perusahaan,” kata Banyu, “parit ini tidak terlihat.”
Ia menunjuk sebuah garis biru kecil di peta warga.
“Padahal, parit ini mengalirkan air ke kebun Pak Warto, kebun Bu Karmi, dan beberapa kolam warga. Saat musim kemarau, air dari parit ini sangat penting.”
Surya Pratama menatap peta.
“Itu saluran kecil. Kami bisa membuat pengganti.”
“Pengganti seperti apa?” tanya Banyu.
“Drainase beton.”
“Drainase beton belum tentu mengalirkan air ke kebun,” jawab Banyu. “Air tidak hanya mengikuti gambar di atas kertas. Air mengikuti tanah, kemiringan, akar, dan jalan lama yang sudah dipahami warga.”
Beberapa petani mengangguk.
Pak Warto berdiri.
“Kalau air itu hilang, kebun kami tidak bisa hidup,” katanya. “Bapak boleh bilang akan membuat saluran baru. Tapi kalau saluran itu tidak bekerja, siapa yang menanggung kerugian kami?”
Pak Hendra menjawab dengan suara tenang, “Perusahaan akan melakukan kajian teknis.”
“Apakah kajian itu melibatkan warga?” tanya Bu Karmi.
Pak Hendra terdiam sesaat.
“Kami akan mempertimbangkan masukan masyarakat.”
“Bukan mempertimbangkan,” kata Bu Karmi. “Kami harus dilibatkan.”
Suara tepuk tangan muncul dari beberapa sisi halaman.
Setelah itu, Jagra maju membawa daftar kolam warga.
Ia tidak berbicara dengan suara tinggi.
Namun, kata-katanya terdengar tegas.
“Di desa ini ada keluarga yang hidup dari kolam. Ada yang menjual ikan untuk biaya sekolah anak. Ada yang membeli pakan dari hasil kebun. Semua saling berkaitan.”
Ia menunjuk peta.
“Jalur ini tidak hanya dekat kolam saya. Jalur ini juga dekat saluran yang dipakai enam kolam warga. Kalau tanah dari pembukaan jalan masuk ke air, ikan bisa mati. Kalau air berubah, kami kehilangan penghasilan.”
Surya Pratama mencoba menjelaskan bahwa perusahaan akan membuat kolam pengendapan dan sistem pengelolaan air.
Namun, Jagra tidak langsung duduk.
“Apakah perusahaan bersedia menulis jaminan bahwa warga mendapat ganti rugi jika kolam rusak?”
Pak Hendra menatap stafnya.
“Kami perlu membahas itu lebih lanjut.”
“Berarti jangan minta kami menandatangani apa pun sebelum itu jelas,” kata Jagra.
Kali ini, tepuk tangan terdengar lebih banyak.
Di sisi lain halaman, Pak Narto terlihat gelisah.
Ia berdiri perlahan.
“Saya ingin bicara,” katanya.
Suasana kembali tenang.
“Saya termasuk warga yang membutuhkan uang,” katanya. “Saya tidak malu mengakuinya. Anak saya kuliah. Biayanya besar. Saya pernah berpikir kalau ada kompensasi, saya akan langsung setuju.”
Ia menatap peta perusahaan.
“Tapi setelah ikut Kelas Membaca Masa Depan, saya sadar satu hal. Kalau saya menandatangani sesuatu tanpa tahu akibatnya, saya bukan sedang menolong anak saya. Saya mungkin sedang menghilangkan pilihan anak saya di masa depan.”
Pak Narto menoleh ke arah Pak Hendra.
“Saya tidak menolak perusahaan. Tapi saya ingin jawaban yang jelas. Kalau jalan dibuka, apa yang terjadi pada air? Kalau tanah saya terdampak, apa hak saya? Kalau pekerjaan hanya sementara, apa yang terjadi setelah itu?”
Pak Hendra terlihat lebih serius.
“Kami memahami pertanyaan Bapak.”
“Jangan hanya pahami,” jawab Pak Narto. “Jawab.”
Suasana kembali riuh.
Kepala desa meminta warga tenang.
Namun, kali ini ketenangan tidak berarti diam.
Ketenangan berarti memberi ruang agar pertanyaan tidak lagi diabaikan.
Bu Mayang kemudian diminta berbicara sebagai pendamping literasi.
Ia tidak datang untuk mengambil alih forum.
Ia berdiri hanya beberapa menit.
“Saya bukan warga Wanasari,” katanya. “Karena itu saya tidak berhak menentukan apa yang harus dilakukan desa ini.”
Ia memandang warga.
“Tetapi saya melihat satu hal yang penting. Warga di sini telah melakukan sesuatu yang sangat kuat: mereka belajar membaca dokumen, membuat peta sendiri, mendata sumber air, kebun, kolam, dan ruang belajar anak-anak.”
Ia menoleh kepada perwakilan perusahaan.
“Dalam setiap rencana pembangunan, data teknis memang penting. Tetapi data hidup warga juga penting. Pembangunan yang baik bukan hanya membangun jalan. Pembangunan yang baik memastikan jalan itu tidak memutus sumber kehidupan masyarakat.”
Beberapa warga mengangguk.
Aruna lalu mengambil beberapa foto peta warga dan catatan kelas.
Ia tidak banyak berbicara.
Namun, kehadirannya membuat warga sadar bahwa apa yang terjadi di Wanasari kini tidak lagi tersembunyi di balik batas desa.
Ketika forum memasuki sesi pendidikan, Rantaka mengajak beberapa anak maju ke depan.
Dita membawa gambar sungai biru.
Rafi membawa gambar perpustakaan dan pohon beringin.
Sari membawa gambar kebun dengan saluran air.
Mereka berdiri di depan peta.
Rantaka memegang mikrofon.
“Anak-anak ini mungkin belum memahami seluruh isi dokumen perusahaan,” katanya. “Tetapi mereka tahu apa yang mereka butuhkan.”
Ia mempersilakan Dita berbicara.
Dita menatap banyak orang di depannya.
Awalnya ia gugup.
Namun, kemudian ia berkata, “Kalau sungai rusak, kami tidak bisa bermain di sana. Kalau kebun rusak, orang tua kami susah. Kalau orang tua kami susah, kami juga susah sekolah.”
Tidak ada yang tertawa.
Tidak ada yang menganggap kata-kata itu terlalu sederhana.
Karena justru dalam kesederhanaannya, kata-kata itu membuat semua orang memahami inti persoalan.
Rafi kemudian mengangkat gambarnya.
“Kalau jalan dibangun, jangan sampai perpustakaan hilang,” katanya.
“Perpustakaan tidak masuk jalur,” kata Surya Pratama cepat.
Rafi menatap peta perusahaan.
“Tapi kalau orang tua kami pindah atau susah, siapa yang datang ke perpustakaan?”
Pertanyaan itu membuat Surya Pratama tidak langsung menjawab.
Rantaka menatap anak-anak dengan bangga.
Pendidikan telah memberi mereka keberanian untuk bertanya.
Dan keberanian itu adalah sesuatu yang tidak dapat dibeli dengan kompensasi.
Menjelang siang, suasana forum semakin panas.
Beberapa warga yang sejak awal mendukung perusahaan mulai merasa bahwa diskusi terlalu banyak berputar pada kekhawatiran.
Seorang pria bernama Rudi berdiri.
“Kalau semua harus sempurna, tidak akan ada pembangunan,” katanya. “Kita ini desa. Kita butuh jalan, butuh pekerjaan, butuh kemajuan. Jangan karena takut, kita menutup semua peluang.”
“Tidak ada yang meminta semuanya sempurna,” jawab Seno. “Kami hanya meminta semuanya jelas.”
“Kalian anak muda bicara mudah,” kata Rudi. “Kalian belum punya keluarga yang harus diberi makan.”
Seno menahan napas.
“Ayah saya juga punya keluarga,” katanya. “Banyak dari kami juga membantu orang tua. Kami tahu hidup sulit. Tapi karena hidup sulit, jangan sampai kita menjual keputusan dengan harga murah.”
Rudi memandang Seno tajam.
“Jadi kamu bilang kami yang ingin menerima perusahaan ini menjual diri?”
“Tidak,” jawab Seno. “Saya bilang kita semua sedang berada dalam keadaan yang membuat kita mudah dipaksa memilih. Itu sebabnya kita harus punya pilihan lain.”
Kalimat itu membuat beberapa warga terdiam.
Banyu kemudian maju.
“Rumah Inovasi akan membuka pelatihan perbaikan pompa, pengolahan hasil ikan, pembuatan saluran air sederhana, dan perawatan alat pertanian. Kami tidak bilang itu langsung menyelesaikan semua masalah. Tapi itu langkah awal agar pemuda tidak hanya menunggu pekerjaan dari luar.”
Jagra menambahkan, “Kelompok perikanan juga akan mulai membuat usaha bersama. Kalau kita kuat bersama, warga tidak mudah dipisahkan oleh tawaran.”
Pak Hendra mengangkat alis.
“Apakah itu berarti warga menolak seluruh rencana perusahaan?”
Rantaka berdiri.
“Warga tidak menolak masa depan,” katanya. “Warga meminta masa depan yang adil.”
Ia menunjuk dua peta di depan.
“Kami meminta peta jalur dibuka secara rinci. Kami meminta kajian dampak air, kebun, dan kolam dilakukan bersama warga. Kami meminta tidak ada tanda tangan sebelum seluruh isi dokumen dipahami. Kami meminta jaminan tertulis atas kerusakan yang mungkin terjadi. Kami meminta program pendidikan dan pelatihan yang nyata, bukan sekadar janji.”
Ia berhenti sebentar.
“Dan kami meminta hak warga untuk mengatakan tidak jika rencana itu membahayakan kehidupan desa.”
Kalimat terakhir itu membuat halaman balai desa sunyi.
Angin bergerak pelan di antara daun-daun pohon beringin.
Pak Hendra menatap warga.
Untuk pertama kalinya, ia tidak segera menjawab.
Mungkin ia baru menyadari bahwa Wanasari bukan desa yang dapat diarahkan hanya dengan presentasi, peta teknis, dan janji kompensasi.
Desa itu telah belajar bertanya.
Telah belajar membaca.
Telah belajar menyatukan suara.
Setelah berdiskusi cukup lama dengan stafnya, Pak Hendra kembali berdiri.
“Kami akan membawa seluruh masukan warga kepada kantor pusat,” katanya. “Kami bersedia menunda proses penandatanganan sampai peta jalur dan kajian dampak dapat dijelaskan lebih rinci.”
Warga tidak langsung bersorak.
Mereka sudah belajar bahwa janji lisan belum tentu cukup.
Pak Narto mengangkat tangan.
“Apakah penundaan itu bisa ditulis?”
Pak Hendra menatapnya.
Kemudian ia mengangguk.
“Bisa.”
Kepala desa segera meminta sekretaris desa menyiapkan berita acara.
Di dalamnya dicatat bahwa tidak ada penandatanganan persetujuan warga pada hari itu. Perusahaan diminta membuka peta jalur secara rinci, menjelaskan dampak terhadap air, kebun, kolam, dan ruang pendidikan, serta menyusun mekanisme perlindungan dan ganti rugi yang dapat dipahami warga.
Berita acara itu dibacakan keras-keras.
Warga mendengarkan.
Kali ini, setiap kalimat diperiksa.
Setiap kata dipertanyakan.
Setiap bagian yang tidak jelas diminta diperbaiki.
Tidak ada yang terburu-buru.
Karena mereka tahu, masa depan tidak boleh ditandatangani dalam keadaan tergesa-gesa.
Menjelang sore, forum selesai.
Matahari mulai condong ke barat.
Warga perlahan pulang membawa salinan berita acara, catatan pertanyaan, dan peta kecil yang dibuat anak-anak.
Di bawah pohon beringin, Rantaka duduk bersama Banyu, Jagra, dan Seno.
Mereka semua tampak lelah.
Namun, lelah itu berbeda dari sebelumnya.
Hari itu, mereka tidak sekadar bertahan.
Mereka telah membuktikan bahwa pendidikan dapat menjadi kekuatan warga.
Bukan hanya pendidikan di sekolah.
Tetapi pendidikan yang membuat seseorang berani membaca surat, memahami peta, menghitung risiko, menyampaikan pendapat, dan menjaga masa depan bersama.
Ponsel Rantaka berbunyi.
Pesan dari Liris masuk.
Aruna mengirim foto forum. Aku melihat Dita, Rafi, peta warga, dan kalian semua.
Hari ini Wanasari tidak hanya bersuara. Wanasari sedang belajar menjadi penulis bagi masa depannya sendiri.
Rantaka membaca pesan itu kepada sahabat-sahabatnya.
Jagra tersenyum kecil.
“Liris selalu punya cara membuat kalimat yang berat jadi indah.”
“Karena dia penulis,” kata Banyu.
“Dan karena dia tahu desa ini,” tambah Seno.
Rantaka memandang pohon beringin yang menaungi mereka.
Dulu, di bawah pohon itu, mereka hanya anak-anak yang membaca buku dan bermimpi tentang dunia yang lebih luas.
Kini, mereka telah tumbuh.
Mereka masih takut.
Mereka masih bisa gagal.
Mereka masih belum tahu apakah perusahaan benar-benar akan memenuhi tuntutan warga.
Namun, mereka tidak lagi berdiri sebagai anak-anak yang menunggu keputusan orang lain.
Mereka berdiri sebagai warga Desa Wanasari.
Warga yang memahami bahwa langit biru tidak selalu berarti hari tanpa awan.
Kadang-kadang, langit biru adalah keberanian untuk tetap memandang ke atas, bahkan ketika masa depan masih dipenuhi tanda tanya.
Dan di bawah langit itu, Wanasari telah memilih untuk tidak diam.
BAB 24
HARGA SEBUAH PILIHAN
Tiga hari setelah forum terbuka di bawah pohon beringin, Desa Wanasari tampak kembali seperti biasa.
Anak-anak berjalan menuju sekolah dengan tas yang sebagian sudah pudar warnanya. Para petani berangkat ke kebun sebelum matahari terlalu tinggi. Di kolam-kolam belakang rumah, warga memberi makan ikan sambil berbicara tentang harga pakan yang semakin mahal. Di perpustakaan, Rantaka kembali mengajar beberapa anak membaca setelah jam sekolah selesai.
Namun, ketenangan itu hanya tampak di permukaan.
Di bawahnya, Desa Wanasari sedang menghadapi ujian yang lebih sulit.
Perusahaan memang menunda penandatanganan.
Mereka memang bersedia membuat berita acara.
Mereka memang berjanji membawa peta yang lebih rinci.
Tetapi setelah forum terbuka, cara mereka berubah.
Mereka tidak lagi hanya datang melalui rapat besar.
Mereka mulai datang melalui pintu-pintu rumah warga.
Pagi itu, Pak Narto sedang membersihkan rumput di kebunnya ketika sebuah mobil hitam berhenti di dekat jalan tanah.
Dari dalam mobil turun Surya Pratama bersama seorang staf perusahaan.
Pak Narto menegakkan badan.
Tangannya masih memegang sabit.
“Selamat pagi, Pak Narto,” sapa Surya.
“Pagi.”
“Kami hanya ingin berbicara sebentar.”
Pak Narto tidak langsung menjawab.
Ia memandang kebunnya yang tidak terlalu luas. Di sana tumbuh cabai, singkong, beberapa batang pisang, dan tanaman sayur yang sebagian daunnya mulai dimakan ulat.
Kebun itu tidak membuatnya kaya.
Namun, kebun itu telah membiayai anaknya sekolah hingga kuliah.
“Apa yang mau dibicarakan?” tanyanya akhirnya.
Surya tersenyum.
“Kami mendengar anak Bapak sedang kuliah di kota.”
Pak Narto menatapnya tajam.
“Dari siapa Bapak tahu?”
“Kami hanya ingin membantu. Perusahaan punya program beasiswa bagi anak warga yang lahannya berada di sekitar jalur pembangunan.”
Pak Narto terdiam.
Surya melanjutkan, “Kalau Bapak bersedia mendukung proses pendataan, kami bisa mempertimbangkan anak Bapak sebagai penerima bantuan pendidikan. Selain itu, tentu ada kompensasi sesuai nilai lahan.”
Kata-kata itu terdengar halus.
Tidak ada ancaman.
Tidak ada paksaan.
Namun, Pak Narto tahu maksudnya.
“Dukung proses pendataan itu maksudnya apa?” tanyanya.
“Bapak hanya perlu menandatangani formulir penerimaan informasi dan kesediaan mengikuti program kemitraan.”
Pak Narto mengingat kalimat yang ditulis Rantaka di papan perpustakaan.
Jangan menandatangani pintu yang belum kita ketahui arahnya.
Ia mengusap keringat di dahinya.
“Saya akan baca dulu,” katanya.
“Tentu,” jawab Surya. “Kami bisa menjelaskan.”
“Tidak. Saya akan baca bersama warga.”
Senyum Surya sedikit berubah.
“Pak Narto, kesempatan seperti ini tidak selalu datang dua kali.”
Pak Narto menatap mobil hitam itu.
“Tanah saya juga tidak datang dua kali.”
Surya tidak langsung menjawab.
Akhirnya ia mengangguk singkat.
“Baik. Kami menunggu kabar Bapak.”
Setelah mobil itu pergi, Pak Narto duduk di bawah pohon pisang.
Tangannya gemetar.
Bukan karena ia takut kepada Surya.
Melainkan karena tawaran itu menyentuh bagian paling lemah dalam dirinya.
Anaknya.
Biaya kuliah.
Masa depan yang selama ini ia perjuangkan dengan susah payah.
Ia tahu, menolak tawaran itu bukan perkara mudah.
Di rumah Jagra, ujian datang dalam bentuk lain.
Siang itu, seorang staf perusahaan menemui pamannya yang memiliki beberapa kolam ikan di dekat jalur rencana akses.
Pamannya, Pak Maman, adalah orang yang selama ini membantu keluarga Jagra setelah banjir merusak sebagian usaha perikanan mereka.
Staf itu menawarkan perbaikan jalan menuju kolam, bantuan pakan ikan, dan pembelian hasil panen dengan harga lebih baik.
Sebagai gantinya, Pak Maman diminta mendukung pembukaan akses perusahaan.
Ketika Jagra mendengar kabar itu, ia langsung mendatangi rumah pamannya.
Pak Maman sedang duduk di teras.
Wajahnya tampak lelah.
“Paman benar-benar mau menerima tawaran itu?” tanya Jagra tanpa berputar-putar.
Pak Maman menatap ke arah halaman.
“Paman belum menjawab.”
“Tapi Paman mempertimbangkannya.”
“Karena Paman punya keluarga.”
“Aku juga punya keluarga, Man.”
“Kalau begitu kamu harus mengerti.”
Jagra duduk di kursi bambu.
“Aku mengerti kalau kolam butuh pakan. Aku mengerti kalau jalan ke kolam rusak. Aku mengerti kalau hasil panen sering tidak laku dengan harga baik.”
“Kalau kamu mengerti, jangan menyalahkan Paman.”
“Aku tidak menyalahkan.”
“Lalu kenapa wajahmu seperti itu?”
Jagra menunduk.
“Aku takut.”
Pak Maman terdiam.
“Aku takut kita menerima bantuan hari ini, lalu kehilangan air besok. Aku takut kolam kita dibantu pakan, tapi setelah jalan dibuka airnya rusak dan ikan kita mati. Aku takut kita menjual hak kita sedikit demi sedikit karena kita sedang susah.”
Pak Maman menghela napas panjang.
“Kamu masih muda, Jagra. Kamu punya semangat. Tapi semangat tidak bisa membeli beras.”
Kalimat itu menghantam dada Jagra.
Ia ingin membalas.
Namun, ia tahu pamannya tidak salah.
Kebutuhan hidup tidak dapat dikalahkan hanya dengan kata-kata besar.
Jagra pulang dengan langkah berat.
Di sepanjang jalan, ia melihat kolam-kolam warga yang airnya mulai turun karena musim kemarau belum sepenuhnya berakhir.
Ia teringat kata Rantaka: perjuangan tidak boleh hanya menjadi milik orang-orang yang masih punya pilihan.
Kalau warga diminta bertahan, maka mereka juga harus dibantu menemukan jalan untuk bertahan.
Sore itu, Rumah Inovasi dipenuhi suasana tegang.
Banyu sedang memperbaiki salah satu pompa kecil ketika Seno datang membawa kabar bahwa beberapa pemuda mendapat tawaran kerja sementara dari perusahaan.
“Mereka diminta membantu survei jalur,” kata Seno.
“Siapa saja?” tanya Banyu.
“Arman, Rudi, dan beberapa anak lain.”
“Apakah mereka sudah menerima?”
“Sebagian sudah.”
Banyu meletakkan kunci pas di atas meja.
“Mereka butuh uang.”
“Aku tahu.”
“Kalau kita marah kepada mereka, mereka akan semakin jauh.”
Seno duduk di kursi kayu.
“Lalu kita harus bagaimana? Perusahaan tidak perlu memenangkan forum kalau mereka bisa memenangkan orang satu per satu.”
Banyu menatap alat-alat sederhana di sekelilingnya.
Ada pipa bekas.
Ada roda kecil.
Ada mesin pompa tua.
Ada beberapa rancangan alat pengatur air yang masih belum sempurna.
“Rumah Inovasi harus bergerak lebih cepat,” katanya.
“Untuk apa?”
“Untuk membuktikan bahwa keterampilan juga bisa menjadi pekerjaan.”
Seno memandangnya dengan ragu.
“Kita belum punya modal.”
“Kita punya alat. Kita punya orang. Kita punya kebutuhan warga.”
“Tidak cukup.”
“Kalau kita menunggu semuanya cukup, kita akan selalu terlambat.”
Banyu lalu mengambil buku catatan.
Ia menulis beberapa rencana:
- Pelatihan perbaikan pompa dan mesin air.
- Pembuatan saluran air sederhana untuk kebun.
- Perawatan kolam dan pengolahan pakan alternatif.
- Pengolahan hasil ikan agar nilai jual meningkat.
- Pelatihan alat pertanian sederhana untuk pemuda.
“Kita mulai dari yang paling dibutuhkan,” katanya.
Seno membaca daftar itu.
“Kalau berhasil, ini bisa jadi usaha warga.”
“Bukan hanya usaha,” jawab Banyu. “Ini bisa jadi pilihan.”
Di perpustakaan, Rantaka menghadapi persoalan yang tidak kalah berat.
Beberapa orang tua mulai melarang anak-anak mereka ikut kegiatan Kelas Membaca Masa Depan.
Mereka takut kegiatan itu membuat keluarga mereka dianggap menentang perusahaan dan kehilangan peluang bantuan.
Salah satu ibu, Bu Sari, datang menemui Rantaka.
“Pak Guru,” katanya pelan, “maafkan saya. Untuk sementara, Dita tidak usah ikut kelas sore.”
Rantaka menatap Dita yang berdiri di belakang ibunya.
Anak itu memegang buku gambar erat-erat.
“Kenapa, Bu?” tanya Rantaka lembut.
“Suami saya bilang kita jangan ikut campur. Katanya nanti kalau perusahaan memberi bantuan, keluarga kita tidak dapat.”
“Dita tidak harus bicara tentang perusahaan di kelas,” kata Rantaka. “Ia bisa tetap membaca, menulis, dan belajar.”
Bu Sari menggeleng.
“Suami saya takut.”
Rantaka mengangguk perlahan.
Ia tidak ingin membuat Bu Sari merasa bersalah.
Ketakutan itu nyata.
“Baik, Bu,” katanya. “Saya mengerti.”
Dita menatap Rantaka dengan mata berkaca-kaca.
“Pak Guru, saya masih boleh pinjam buku?” tanyanya.
Rantaka tersenyum.
“Boleh. Perpustakaan ini tetap untuk kamu.”
Dita mengambil sebuah buku cerita tentang anak yang menanam pohon.
Sebelum pergi, ia berbisik, “Saya tetap mau sungainya biru lagi.”
Rantaka tidak langsung menjawab.
Ia hanya mengangguk.
Setelah Dita pergi, ia duduk sendiri di depan perpustakaan.
Untuk pertama kalinya sejak Kelas Membaca Masa Depan dimulai, ia merasa lelah bukan karena banyak pekerjaan.
Ia lelah karena melihat ketakutan mulai masuk ke rumah-rumah warga.
Malam itu, Rantaka menghubungi Liris.
Sinyal di desa tidak stabil.
Beberapa kali suara mereka putus.
Akhirnya, setelah menunggu cukup lama, wajah Liris muncul di layar.
“Aku dengar dari Aruna,” kata Liris. “Perusahaan mulai mendatangi warga satu per satu.”
Rantaka mengangguk.
“Pak Narto ditawari beasiswa untuk anaknya. Paman Jagra ditawari bantuan pakan dan jalan. Pemuda ditawari kerja survei. Orang tua mulai takut anak-anak mereka tidak mendapat bantuan.”
Liris menutup mata sejenak.
“Itu cara lama,” katanya pelan. “Memecah orang dengan kebutuhan yang paling mereka rasakan.”
“Aku tidak bisa menyalahkan mereka.”
“Jangan.”
“Aku juga tidak tahu harus melakukan apa.”
“Kamu sudah tahu.”
Rantaka menatap layar.
“Apa?”
“Kalian harus menunjukkan bahwa perjuangan warga tidak hanya berisi larangan. Warga perlu melihat bahwa ada jalan lain.”
“Banyu sedang menyiapkan pelatihan di Rumah Inovasi.”
“Itu baik.”
“Jagra ingin membangun kelompok perikanan bersama, tapi pamannya mulai ragu.”
“Dengarkan paman Jagra. Jangan hanya minta ia bertahan. Cari cara agar kelompok itu bisa membantu kebutuhan nyata.”
“Dan perpustakaan mulai sepi.”
“Kalau anak-anak tidak bisa datang, buku yang datang kepada mereka.”
Rantaka terdiam.
“Gerobak Buku,” katanya.
“Ya,” jawab Liris. “Gerobak Buku Langit Biru dulu lahir ketika perpustakaan belum mampu menjangkau semua anak. Sekarang mungkin ia harus berjalan lagi, bukan hanya membawa buku, tetapi juga membawa keberanian.”
Rantaka memandangi wajah Liris.
Di kota, Liris tetap memikirkan desa.
Di desa, mereka tetap membutuhkan suara Liris.
“Aku rindu kamu,” kata Rantaka tiba-tiba.
Liris terdiam.
Senyumnya muncul perlahan.
“Aku juga rindu.”
“Kalau kamu ada di sini, mungkin semuanya terasa lebih mudah.”
“Tidak,” jawab Liris lembut. “Kalau aku ada di sana, mungkin kita tetap akan takut. Tapi kita bisa takut bersama.”
Kalimat itu membuat Rantaka tersenyum untuk pertama kalinya malam itu.
“Programmu kapan selesai?”
“Dua hari lagi. Setelah itu aku pulang.”
Rantaka menatap layar lebih lama.
“Pulanglah dengan hati-hati.”
“Aku pulang bukan untuk menyelamatkan Wanasari,” kata Liris. “Aku pulang untuk berdiri bersama Wanasari.”
Keesokan harinya, Gerobak Buku Langit Biru kembali berjalan.
Gerobak itu telah lama tersimpan di gudang perpustakaan. Rodanya berdebu. Cat birunya mengelupas. Pegangannya sedikit longgar.
Namun, ketika Banyu memperbaiki roda dan Seno mengecat kembali tulisan di sisinya, gerobak itu seperti hidup lagi.
Di samping tulisan lama GEROBAK BUKU LANGIT BIRU, Rantaka menambahkan kalimat baru:
MEMBAWA BUKU, PETA, DAN HARAPAN
Anak-anak yang semula tidak diizinkan datang ke perpustakaan mulai menunggu di depan rumah.
Rantaka dan beberapa murid yang masih aktif membawa buku cerita, buku pelajaran, serta lembar sederhana berisi penjelasan tentang hak warga dan pertanyaan yang perlu diajukan sebelum menandatangani dokumen.
Mereka tidak memaksa siapa pun.
Mereka hanya datang.
Mereka membaca cerita.
Mereka menjelaskan dengan bahasa sederhana.
Mereka mendengarkan keluhan warga.
Di rumah Pak Narto, anak-anak membaca bersama cucunya yang sedang libur kuliah.
Di rumah Pak Maman, Jagra membawa catatan tentang kelompok perikanan dan kemungkinan pakan alternatif.
Di halaman rumah Bu Sari, Dita membaca cerita tentang anak yang menanam pohon, sementara Rantaka berbicara dengan beberapa ibu tentang sekolah dan masa depan anak-anak.
Gerobak Buku itu tidak mengubah semuanya dalam sehari.
Namun, kehadirannya mengingatkan warga bahwa mereka tidak harus menghadapi ketakutan sendirian.
Sore menjelang ketika Liris akhirnya tiba di Desa Wanasari.
Bus yang ditumpanginya berhenti di jalan besar, lalu ia melanjutkan perjalanan dengan ojek menuju desa.
Ketika ia sampai di dekat pohon beringin, ia melihat Gerobak Buku Langit Biru sedang berhenti di halaman perpustakaan.
Anak-anak berkerumun di sekitarnya.
Rantaka sedang membacakan buku.
Banyu duduk di dekat roda gerobak sambil memperbaiki baut.
Jagra berbicara dengan beberapa warga tentang kolam.
Seno membagikan lembar pertanyaan kepada pemuda.
Liris berdiri cukup lama tanpa memanggil siapa pun.
Dadanya terasa penuh.
Ia melihat bahwa desa itu sedang diuji.
Tetapi ia juga melihat bahwa desa itu belum menyerah.
Rantaka akhirnya menoleh.
Mata mereka bertemu.
Untuk sesaat, semua suara di sekitar mereka seperti menjauh.
Rantaka berjalan mendekat.
“Kamu pulang,” katanya.
Liris mengangguk.
“Aku pulang.”
Tidak ada pelukan yang berlebihan.
Tidak ada kata-kata besar.
Hanya tangan Rantaka yang menggenggam tangan Liris sebentar.
Namun, dalam genggaman itu, mereka memahami banyak hal.
Mereka memahami bahwa perjuangan belum selesai.
Bahwa perusahaan masih akan datang dengan peta dan tawaran baru.
Bahwa warga masih dapat terpecah.
Bahwa kebutuhan hidup masih dapat membuat orang mengambil keputusan yang menyakitkan.
Tetapi mereka juga memahami bahwa Langit Biru belum padam.
Karena selama masih ada orang yang mau belajar, bertanya, bekerja, menulis, mengajar, menjaga air, merawat kolam, dan membawa buku dari rumah ke rumah, desa itu masih memiliki kekuatan untuk menentukan jalannya sendiri.
Di bawah pohon beringin, Liris memandang tulisan pada sisi gerobak:
MEMBAWA BUKU, PETA, DAN HARAPAN
Ia tersenyum.
“Kalimatnya bagus,” katanya.
“Bukan aku yang membuat,” jawab Rantaka. “Anak-anak yang memilihnya.”
Liris memandang anak-anak yang sedang tertawa di dekat gerobak.
Kemudian ia berkata pelan, “Kalau begitu, kita harus memastikan mereka tidak tumbuh di desa yang kehilangan harapan.”
Rantaka mengangguk.
Di kejauhan, matahari turun perlahan di balik kebun dan perbukitan.
Cahaya sore menyentuh sungai kecil yang masih berusaha mengalir jernih.
Wanasari belum menang.
Namun, hari itu, warga mulai memahami bahwa harga sebuah pilihan bukan hanya uang yang diterima hari ini.
Harga sebuah pilihan adalah masa depan yang mungkin hilang jika mereka menyerah sebelum benar-benar memahami apa yang sedang dipertaruhkan.
BAB 25
LANGIT BIRU PULANG KE DESA
Pagi itu, Desa Wanasari tidak menunggu kedatangan siapa pun dengan diam.
Sejak matahari belum tinggi, halaman balai desa telah dipenuhi warga. Namun, suasananya berbeda dari forum terbuka sebelumnya. Tidak ada kegelisahan yang membuat orang berbicara dengan suara tertahan. Tidak ada pula harapan yang digantungkan begitu saja pada janji dari luar.
Warga datang membawa hasil kerja mereka sendiri.
Para petani membawa catatan tentang kebun, saluran air, dan hasil panen. Kelompok perikanan membawa daftar kolam, kebutuhan pakan, serta rencana pengelolaan bersama. Para pemuda membawa rancangan pelatihan dari Rumah Inovasi. Ibu-ibu membawa usulan pengolahan hasil kebun dan ikan. Anak-anak membawa gambar sungai, sekolah, perpustakaan, serta pohon beringin yang mereka anggap sebagai bagian dari rumah mereka.
Di depan balai desa, dua peta dipasang berdampingan.
Peta perusahaan masih terlihat rapi dengan garis-garis jalur akses yang dicetak tegas.
Di sampingnya, Peta Warga Wanasari tampak lebih ramai.
Ada garis sungai.
Ada parit kecil.
Ada kebun.
Ada kolam.
Ada sekolah.
Ada perpustakaan.
Ada Rumah Inovasi.
Ada Gerobak Buku Langit Biru.
Ada jalan setapak yang selama ini hanya dikenal oleh warga.
Dan di sudut bawah peta, tertulis kalimat yang dibuat oleh Dita:
DESA INI DIJAGA OLEH WARGANYA.
Rantaka berdiri di dekat peta itu bersama Liris, Banyu, Jagra, dan Seno.
Mereka tidak lagi berdiri sebagai anak-anak yang dulu hanya membaca buku di bawah pohon beringin.
Mereka telah tumbuh dengan luka, kegagalan, perpisahan, kesalahpahaman, dan ketakutan masing-masing.
Namun, pagi itu, mereka berdiri bersama.
Bukan untuk menjadi pahlawan desa.
Melainkan untuk memastikan bahwa warga tidak kehilangan hak menentukan masa depan mereka sendiri.
Tidak lama kemudian, kendaraan perusahaan masuk ke halaman balai desa.
Pak Hendra turun lebih dulu.
Wajahnya tampak lebih serius daripada sebelumnya.
Di belakangnya, Surya Pratama membawa map besar berisi dokumen dan peta baru. Beberapa staf perusahaan mengikuti dari belakang.
Kali ini, mereka tidak membawa layar proyektor.
Mereka membawa banyak berkas.
Seolah-olah mereka telah memahami bahwa di Desa Wanasari, tidak ada lagi ruang untuk penjelasan yang hanya berupa kata-kata.
Kepala desa membuka pertemuan.
“Hari ini, warga Desa Wanasari akan menyampaikan keputusan bersama berdasarkan hasil pendataan, Kelas Membaca Masa Depan, forum terbuka, dan musyawarah warga,” katanya.
Pak Hendra mengangguk.
“Kami siap mendengarkan.”
Rantaka memandang warga.
Ia melihat Pak Narto duduk di barisan depan.
Di sampingnya ada Bu Sari dan Dita.
Tidak jauh dari mereka, Pak Maman duduk bersama Jagra.
Arman, Rudi, dan beberapa pemuda yang sempat menerima tawaran kerja survei juga hadir.
Mereka semua membawa wajah yang berbeda-beda.
Ada yang masih ragu.
Ada yang masih membutuhkan uang.
Ada yang masih berharap perusahaan dapat membawa peluang.
Namun, mereka datang.
Dan itu sudah menjadi awal yang penting.
Banyu maju pertama kali.
Ia membawa sebuah alat sederhana yang dibuat di Rumah Inovasi.
Alat itu terdiri dari pipa, katup, roda kecil, dan pengatur aliran air yang dirakit dari bahan bekas serta beberapa komponen baru.
“Ini belum sempurna,” kata Banyu. “Tetapi alat ini sudah membantu mengalirkan air dari parit ke kebun yang lebih tinggi.”
Ia memberi isyarat kepada dua pemuda untuk membuka katup.
Air dari tangki kecil mengalir melalui pipa menuju bak penampung.
Warga memperhatikan.
Beberapa petani mendekat.
“Alat ini dibuat bersama pemuda desa,” lanjut Banyu. “Kami sedang mengembangkan pelatihan perbaikan pompa, saluran air, dan alat pertanian sederhana. Kalau perusahaan benar-benar ingin membantu, kami meminta dukungan untuk memperkuat keterampilan warga, bukan menggantikan warga.”
Pak Hendra memandang alat itu cukup lama.
“Ini menarik,” katanya.
“Ini bukan sekadar menarik,” jawab Banyu. “Ini kebutuhan. Kalau air kebun terganggu, warga punya cara untuk memperbaiki. Kalau pompa rusak, pemuda desa bisa membantu. Kalau alat pertanian mahal, kami belajar membuat yang sederhana.”
Banyu kemudian menyerahkan proposal singkat kepada kepala desa.
Di dalamnya terdapat rencana Rumah Inovasi Wanasari: pelatihan keterampilan, bengkel alat pertanian sederhana, pengolahan hasil ikan, perbaikan pompa, serta kelas teknologi dasar bagi pemuda.
“Ini jalan yang kami pilih,” katanya. “Bukan jalan mudah. Tapi jalan yang membuat warga memiliki kemampuan.”
Tepuk tangan terdengar dari sisi pemuda.
Arman, yang sebelumnya menerima tawaran kerja survei, berdiri.
“Aku ingin ikut pelatihan itu,” katanya.
Beberapa orang menoleh.
Arman menarik napas.
“Aku sempat menerima kerja survei karena aku butuh uang. Aku tidak malu mengakuinya. Tapi aku tidak ingin selamanya hanya menjadi pekerja sementara di tanah sendiri. Kalau Rumah Inovasi ini berjalan, aku mau belajar.”
Rudi yang duduk di sebelahnya mengangguk.
“Aku juga.”
Seno tersenyum.
Tidak lebar.
Namun, cukup untuk menunjukkan bahwa perbedaan tidak selalu harus berakhir dengan permusuhan.
Kadang-kadang, perbedaan dapat menjadi jalan untuk memahami kebutuhan satu sama lain.
Setelah Banyu, Jagra maju bersama Pak Maman dan beberapa warga pemilik kolam.
Mereka membawa sebuah papan berisi rencana Koperasi Perikanan Wanasari.
Di dalamnya tercantum program pembelian pakan bersama, pembibitan ikan, pengolahan hasil panen, tabungan kelompok, serta pelatihan pengelolaan kolam.
Pak Maman memegang mikrofon.
Tangannya terlihat sedikit gemetar.
“Saya pernah hampir menerima tawaran perusahaan,” katanya. “Saya tidak menyalahkan siapa pun yang ingin menerima. Karena hidup memang sulit.”
Ia menoleh kepada Jagra.
“Tapi keponakan saya mengingatkan bahwa bantuan hari ini tidak boleh membuat kita kehilangan air besok.”
Jagra menunduk sebentar.
Pak Maman melanjutkan, “Kami tidak menolak kerja sama. Tapi kami tidak mau kolam kami hanya dihitung sebagai angka dalam peta. Kolam ini adalah biaya sekolah anak-anak kami. Kolam ini adalah makan keluarga kami.”
Ia menunjuk daftar tuntutan.
“Kami meminta perlindungan sumber air. Kami meminta kajian terbuka sebelum jalur dibuka. Kami meminta jaminan tertulis jika kolam warga terdampak. Dan kami meminta perusahaan tidak masuk ke wilayah sumber air serta jalur kolam sebelum semua itu jelas.”
Pak Hendra menerima daftar tersebut.
Wajahnya tidak lagi setenang saat pertama datang.
Ia mulai memahami bahwa warga tidak hanya membawa penolakan.
Mereka membawa data.
Mereka membawa rencana.
Mereka membawa pilihan pembangunan dari dalam desa sendiri.
Kemudian Liris maju.
Sejak pagi, ia belum banyak berbicara.
Ia membawa beberapa lembar kertas dan sebuah buku kecil yang sampulnya berwarna biru.
Di dalam buku itu terdapat tulisan-tulisan warga, puisi anak-anak, catatan tentang sungai, cerita para petani, dan gambar Gerobak Buku Langit Biru.
“Aku pulang dari kota membawa satu pelajaran,” katanya.
Suara Liris lembut, tetapi jelas.
“Banyak orang bicara tentang desa tanpa pernah benar-benar mendengar desa. Mereka melihat tanah sebagai luas hektare. Mereka melihat sungai sebagai garis biru di peta. Mereka melihat anak-anak sebagai angka dalam data pendidikan.”
Ia membuka salah satu halaman buku.
“Tapi bagi warga Wanasari, tanah adalah tempat orang tua menanam makanan. Sungai adalah tempat anak-anak belajar mengenal kehidupan. Sekolah adalah tempat mimpi diberi nama. Perpustakaan adalah tempat anak-anak percaya bahwa mereka boleh memiliki masa depan.”
Ia memandang Pak Hendra dan Surya Pratama.
“Kami tidak meminta desa ini berhenti berkembang. Kami justru ingin desa ini berkembang dengan cara yang membuat anak-anak tetap bisa sekolah, pemuda tetap bisa bekerja, petani tetap bisa menanam, nelayan kolam tetap bisa memelihara ikan, dan warga tetap bisa minum dari air yang bersih.”
Liris lalu menyerahkan buku kecil itu kepada kepala desa.
Judulnya tertulis di sampul depan:
SUARA WANASARI: PETA, CERITA, DAN HARAPAN WARGA
“Ini bukan laporan resmi,” kata Liris. “Ini adalah suara warga.”
Bu Karmi berdiri dari tempat duduknya.
“Dan suara itu harus didengar,” katanya.
Tepuk tangan menggema.
Saat tiba giliran Rantaka, ia tidak langsung berbicara.
Ia berjalan ke arah anak-anak yang duduk di sisi halaman.
Dita membawa gambar sungai.
Rafi membawa buku pelajaran.
Sari membawa gambar Rumah Inovasi.
Rantaka mengajak mereka berdiri di dekatnya.
“Dulu, ketika kami masih kecil,” kata Rantaka, “kami hanya punya Gerobak Buku Langit Biru. Kami membaca di bawah pohon beringin. Kami percaya buku bisa membawa kami melihat dunia yang lebih luas.”
Ia menatap warga.
“Kami kemudian pergi ke kota. Kami belajar. Kami gagal. Kami hampir menyerah. Kami kembali dengan luka dan pengalaman masing-masing.”
Ia memandang Liris, Banyu, Jagra, dan Seno.
“Tetapi kami kembali bukan untuk mengatakan bahwa kami lebih tahu daripada warga. Kami kembali karena kami belajar satu hal: pendidikan tidak hanya membuat seseorang pergi dari desa. Pendidikan harus membuat seseorang mampu kembali dan membangun desa.”
Rantaka mengambil sebuah lembar keputusan warga.
“Kami telah menyusun sikap bersama Desa Wanasari.”
Ia membaca perlahan.
“Pertama, warga Desa Wanasari tidak menyetujui pembukaan jalur perusahaan pada wilayah yang mengancam sumber air, parit, kebun produktif, kolam perikanan, sekolah, perpustakaan, Rumah Inovasi, dan ruang belajar warga.”
“Setuju!” seru beberapa warga.
“Kedua, setiap rencana pembangunan wajib dibuka secara transparan melalui peta rinci, kajian dampak yang dapat dipahami warga, serta musyawarah yang melibatkan seluruh kelompok masyarakat.”
“Setuju!”
“Ketiga, tidak ada warga yang boleh ditekan, dibujuk secara pribadi, atau dipaksa menandatangani dokumen tanpa pendampingan dan pemahaman yang cukup.”
Suasana menjadi hening.
Pak Narto menatap Pak Hendra.
“Kami sudah belajar membaca,” kata Rantaka. “Kami tidak akan kembali menandatangani sesuatu dalam keadaan tidak tahu.”
“Keempat, warga membuka peluang kerja sama yang mendukung pendidikan, keterampilan pemuda, perikanan, pertanian, pengolahan hasil desa, dan perlindungan lingkungan.”
“Kelima, warga akan mengembangkan Rumah Inovasi, Koperasi Perikanan, Gerobak Buku Langit Biru, dan Kelas Membaca Masa Depan sebagai program bersama untuk memperkuat sumber daya manusia Desa Wanasari.”
Setelah Rantaka selesai membaca, kepala desa meminta warga menyampaikan persetujuan.
Tidak ada suara yang langsung seragam.
Beberapa orang masih berbicara pelan.
Beberapa masih tampak ragu.
Namun, satu demi satu tangan terangkat.
Pak Narto mengangkat tangan.
Pak Maman mengangkat tangan.
Bu Karmi mengangkat tangan.
Arman dan Rudi mengangkat tangan.
Bu Sari mengangkat tangan sambil menggenggam tangan Dita.
Kemudian, hampir seluruh halaman balai desa dipenuhi tangan yang terangkat.
Bukan karena semua masalah telah selesai.
Bukan karena semua orang tiba-tiba terbebas dari kebutuhan hidup.
Tetapi karena untuk pertama kalinya, mereka memiliki keputusan yang lahir dari pemahaman bersama.
Pak Hendra berdiri.
Wajahnya menunjukkan bahwa ia sedang mempertimbangkan banyak hal.
“Kami menghargai sikap warga,” katanya. “Kami akan membawa keputusan ini kepada perusahaan.”
“Bukan hanya dibawa,” kata Pak Warto. “Harus dijawab tertulis.”
Pak Hendra mengangguk.
“Kami akan memberikan jawaban tertulis.”
“Dan sebelum ada jawaban itu,” tambah Bu Karmi, “tidak ada kegiatan di lapangan.”
Pak Hendra kembali mengangguk.
Surya Pratama tampak ingin mengatakan sesuatu.
Namun, akhirnya ia hanya menutup mapnya.
Mungkin untuk pertama kalinya, ia memahami bahwa peta yang dibuat tanpa warga tidak akan cukup untuk menentukan jalan di Desa Wanasari.
Perusahaan kemudian meninggalkan balai desa.
Mobil mereka bergerak perlahan keluar dari halaman.
Tidak ada warga yang bersorak berlebihan.
Tidak ada yang merasa perjuangan selesai.
Karena mereka tahu, keputusan perusahaan mungkin belum tentu sesuai harapan.
Namun, mereka telah melakukan hal yang paling penting.
Mereka telah menyatakan bahwa desa bukan tanah kosong.
Desa adalah kehidupan.
Menjelang sore, warga masih berkumpul di bawah pohon beringin.
Banyu berbicara dengan para pemuda tentang jadwal pelatihan pertama di Rumah Inovasi.
Jagra menyusun daftar anggota Koperasi Perikanan Wanasari.
Seno membantu mencatat pemuda yang ingin mengikuti pelatihan perbaikan pompa dan alat pertanian.
Liris mengajak anak-anak menulis cerita tentang desa mereka.
Rantaka membuka kelas membaca di halaman perpustakaan.
Gerobak Buku Langit Biru berdiri di dekat mereka.
Cat birunya mulai mengering setelah diperbaiki.
Tulisan di sisinya tampak jelas:
MEMBAWA BUKU, PETA, DAN HARAPAN
Dita mendekati Rantaka.
“Pak Guru,” katanya, “apakah perusahaan jadi tidak masuk?”
Rantaka tersenyum.
“Kita belum tahu.”
“Kalau begitu, kenapa semua orang senang?”
“Karena hari ini kita sudah berani menentukan apa yang penting bagi desa.”
Dita berpikir sejenak.
“Berarti kita menang?”
Rantaka menatap sungai kecil yang terlihat dari kejauhan.
Airnya masih mengalir.
Kebun masih berdiri.
Anak-anak masih membawa buku.
Namun, ia tahu perjuangan selalu membutuhkan waktu.
“Kita belum menang sepenuhnya,” jawabnya. “Tapi kita sudah tidak diam.”
Dita mengangguk.
Kemudian ia berlari kembali kepada teman-temannya.
Malamnya, setelah warga pulang, Rantaka dan Liris duduk di bawah pohon beringin.
Lampu-lampu rumah terlihat kecil di kejauhan.
Suara jangkrik memenuhi udara.
Untuk beberapa saat, mereka tidak berbicara.
Mereka hanya duduk berdekatan.
Rantaka memandang tangan Liris.
“Ternyata pulang tidak selalu mudah,” katanya.
Liris tersenyum kecil.
“Tidak. Tapi pulang membuat kita tahu apa yang ingin kita perjuangkan.”
Rantaka mengangguk.
“Aku dulu ingin menjadi guru supaya anak desa punya kesempatan belajar.”
“Kamu sudah melakukannya.”
“Belum cukup.”
“Memang tidak akan pernah cukup,” jawab Liris. “Karena pendidikan bukan pekerjaan yang selesai dalam satu hari.”
Rantaka menatap wajah Liris.
“Aku tidak ingin menjalani semua ini sendirian.”
Liris terdiam.
Angin malam menggerakkan rambutnya.
“Aku juga tidak ingin lagi berjalan sendiri,” katanya.
Rantaka menggenggam tangan Liris.
“Aku tidak punya janji besar,” katanya. “Aku tidak punya rumah mewah. Aku tidak punya banyak uang.”
Liris tersenyum.
“Aku juga tidak butuh semua itu.”
“Aku hanya punya satu janji,” lanjut Rantaka. “Kalau kamu bersedia, aku ingin pulang dan membangun Wanasari bersamamu. Bukan hanya saat desa ini tenang. Tapi juga saat desa ini sulit.”
Mata Liris berkaca-kaca.
Ia memandang pohon beringin yang sejak kecil menjadi saksi perjalanan mereka.
“Dulu kita membuat janji di bawah pohon ini,” katanya. “Janji untuk membawa cahaya pulang ke desa.”
Rantaka mengangguk.
“Sekarang aku ingin membuat janji baru.”
Liris menggenggam tangan Rantaka lebih erat.
“Aku bersedia.”
Tidak ada pesta.
Tidak ada musik.
Tidak ada banyak orang yang menyaksikan.
Hanya langit malam, pohon beringin tua, dan desa yang perlahan belajar menulis masa depannya sendiri.
Namun, bagi Rantaka dan Liris, malam itu cukup.
Karena cinta mereka tidak lahir dari kemewahan.
Cinta itu tumbuh dari surat yang terlambat, jarak yang menyakitkan, perjuangan yang hampir memisahkan, dan keberanian untuk tetap pulang.
Beberapa bulan kemudian, jawaban tertulis dari perusahaan akhirnya tiba.
Setelah tekanan dari warga, pendamping komunitas, pemberitaan Aruna, serta kajian ulang yang dilakukan pemerintah kecamatan, rencana jalur akses di sekitar sumber air dan kawasan kebun produktif Desa Wanasari tidak diteruskan.
Perusahaan diminta menyusun rencana baru di luar wilayah sensitif dan tidak boleh melakukan kegiatan sebelum memenuhi ketentuan perlindungan lingkungan serta persetujuan warga yang terbuka.
Keputusan itu tidak membuat semua persoalan desa langsung hilang.
Namun, keputusan itu memberi waktu.
Waktu untuk membangun.
Waktu untuk belajar.
Waktu untuk memperkuat usaha warga.
Rumah Inovasi mulai ramai oleh pemuda yang belajar memperbaiki pompa, membuat alat sederhana, dan mengembangkan saluran air.
Koperasi Perikanan Wanasari mulai membeli pakan bersama dan menjual hasil panen dengan harga yang lebih baik.
Gerobak Buku Langit Biru kembali berjalan dari rumah ke rumah.
Perpustakaan desa tidak lagi sepi.
Dan di sekolah, Rantaka mengajarkan anak-anak bahwa membaca bukan hanya mengenal huruf.
Membaca adalah memahami dunia.
Memahami hak.
Memahami tanggung jawab.
Memahami bahwa masa depan tidak boleh diserahkan begitu saja kepada orang lain.
Pada suatu sore, ketika matahari menyentuh ujung kebun, Liris berdiri di depan Rumah Inovasi.
Ia melihat Banyu mengajar beberapa pemuda.
Ia melihat Jagra membagikan catatan koperasi kepada warga.
Ia melihat Seno membantu anak-anak membuat poster tentang sungai.
Ia melihat Rantaka mengarahkan Gerobak Buku Langit Biru menuju rumah-rumah warga.
Liris membuka buku catatannya.
Lalu ia menulis:
Desa tidak tumbuh karena seseorang datang membawa jawaban.
Desa tumbuh ketika warganya berani belajar, bertanya, bekerja, dan menjaga satu sama lain.
Ia menutup buku itu.
Di atas Desa Wanasari, langit sore tampak biru.
Biru yang tidak lagi hanya menjadi warna dalam kenangan masa kecil.
Biru itu kini menjadi tanda bahwa mimpi anak desa tidak pernah terlalu tinggi.
Karena selama ada buku yang dibaca, air yang dijaga, tangan yang bekerja, dan hati yang tidak menyerah, cahaya akan selalu menemukan jalan untuk pulang ke desa.
EPILOG
CAHAYA YANG TETAP MENYALA
Lima tahun kemudian, Desa Wanasari tidak lagi sama seperti dahulu.
Jalan menuju desa memang belum seluruhnya beraspal. Beberapa bagian masih berlumpur ketika hujan datang terlalu deras. Sinyal telepon masih kadang menghilang di beberapa sudut perbukitan. Harga pupuk dan pakan ikan masih sering membuat warga mengeluh. Tidak semua persoalan selesai hanya karena satu perjuangan berhasil dimenangkan.
Namun, ada sesuatu yang berubah.
Desa Wanasari tidak lagi mudah merasa kecil.
Pagi itu, matahari baru naik ketika halaman SD Wanasari sudah dipenuhi anak-anak. Mereka datang membawa buku, botol minum, dan tas berwarna-warni. Sebagian berlari menuju perpustakaan kecil yang kini telah diperluas. Sebagian lagi berhenti di depan papan besar yang berdiri di dekat pohon beringin tua.
Di papan itu tertulis kalimat yang telah menjadi penanda perjalanan desa:
LANGIT BIRU
MIMPI ANAK DESA TIDAK PERNAH TERLALU TINGGI
Tulisan itu dibuat ulang beberapa kali karena dimakan hujan dan panas.
Tetapi kalimatnya tidak pernah berubah.
Di bawah pohon beringin, Gerobak Buku Langit Biru berdiri dengan cat biru yang sudah lebih baru. Gerobak itu kini memiliki dua rak tambahan, sebuah kotak alat tulis, dan papan kecil berisi jadwal belajar keliling.
Di sampingnya, tertulis:
MEMBAWA BUKU, PETA, DAN HARAPAN
Anak-anak mengerumuni gerobak itu.
Mereka memilih buku cerita, buku pengetahuan, majalah anak, serta beberapa buku tentang pertanian, perikanan, dan teknologi sederhana.
Di antara mereka, seorang anak laki-laki bernama Raka sedang membaca buku tentang sungai.
“Pak Guru,” katanya sambil mengangkat tangan, “kenapa sungai di desa kita sekarang lebih bersih?”
Rantaka, yang sedang menyusun buku di rak, menoleh dan tersenyum.
“Karena warga belajar menjaganya,” jawabnya.
“Siapa yang mengajarkan?”
“Banyak orang.”
“Siapa saja?”
Rantaka memandang ke arah sungai kecil yang terlihat di balik pepohonan.
“Orang tua kalian. Para petani. Pemuda desa. Ibu-ibu. Anak-anak. Semua yang tidak mau membiarkan sungai itu hilang.”
Raka mengangguk, meski mungkin belum sepenuhnya memahami.
Namun, ia kembali membaca bukunya dengan wajah serius.
Rantaka tersenyum kecil.
Ia tahu, pendidikan sering bekerja dengan cara yang pelan.
Satu anak membaca hari ini.
Satu anak bertanya besok.
Lalu, bertahun-tahun kemudian, anak itu tumbuh menjadi seseorang yang tidak mudah menyerahkan masa depan desanya kepada orang lain.
Tidak jauh dari sekolah, Rumah Inovasi Wanasari telah berkembang menjadi bangunan sederhana dengan dinding bata dan atap seng baru.
Di bagian depan, terdapat papan nama:
RUMAH INOVASI WANASARI
BELAJAR, BERKARYA, DAN MEMBANGUN DARI DESA
Di dalamnya, Banyu sedang mengajar beberapa pemuda.
Ada yang belajar membongkar pompa air.
Ada yang membuat alat pengatur aliran air untuk kebun.
Ada yang mencoba memperbaiki mesin pencacah pakan ikan.
Ada pula beberapa siswa sekolah menengah yang sedang belajar menggambar rancangan alat sederhana.
Banyu tidak lagi bekerja sendirian.
Ia dibantu oleh beberapa pemuda desa yang dulu pernah datang dengan tangan kosong dan harapan yang tidak menentu.
Arman kini menjadi salah satu pelatih muda.
Rudi mengelola bagian perawatan alat.
Mereka tidak menjadi orang kaya.
Namun, mereka memiliki pekerjaan yang tumbuh dari kebutuhan desa sendiri.
“Kalau bautnya terlalu kencang, apa yang terjadi?” tanya Banyu kepada seorang anak muda.
“Ulirnya bisa rusak,” jawab anak itu.
“Kalau ulirnya rusak?”
“Harus diganti.”
“Kalau bisa dirawat sebelum rusak?”
“Lebih hemat.”
Banyu mengangguk.
“Begitu juga dengan desa. Kalau kita merawatnya sebelum rusak, kita tidak perlu menunggu orang lain datang menyelamatkan.”
Para pemuda tertawa kecil.
Mereka tahu Banyu selalu menyelipkan pelajaran hidup di antara suara mesin dan bau oli.
Di halaman Rumah Inovasi, beberapa alat hasil rancangan warga dipajang. Ada alat pengatur air kebun, pompa sederhana, mesin pencacah pakan, serta alat penyaring air kolam.
Tidak semuanya sempurna.
Tidak semuanya berhasil pada percobaan pertama.
Tetapi setiap alat adalah bukti bahwa pengetahuan dapat tumbuh dari tangan-tangan yang mau mencoba.
Di dekat kolam-kolam warga, Jagra sedang memeriksa jaring ikan bersama anggota Koperasi Perikanan Wanasari.
Kini, koperasi itu memiliki lebih banyak anggota. Mereka membeli pakan secara bersama-sama, mengatur jadwal panen, menjual ikan ke pasar kecamatan, dan menyisihkan sebagian keuntungan untuk dana pendidikan anak anggota.
Pak Maman, yang kini rambutnya semakin memutih, duduk di tepi kolam sambil tersenyum.
“Dulu Paman takut kita tidak bisa hidup tanpa bantuan dari luar,” katanya kepada Jagra.
Jagra duduk di sampingnya.
“Kita tetap butuh kerja sama dari luar, Man.”
Pak Maman mengangguk.
“Tapi sekarang kita tahu bedanya.”
“Bedanya apa?”
“Kita bekerja sama tanpa menyerahkan seluruh hidup kita.”
Jagra tersenyum.
Di kolam itu, air tampak bergerak tenang.
Beberapa ikan muncul ke permukaan ketika pakan ditebar.
Jagra memandangi air tersebut dengan perasaan yang sulit dijelaskan.
Dulu, ia pernah merasa tinggal di desa berarti tertinggal.
Ia pernah berpikir bahwa masa depan hanya berada di kota.
Namun, sekarang ia mengerti bahwa masa depan dapat dibangun di mana saja.
Asalkan ada keberanian untuk belajar, bekerja, dan tidak meninggalkan orang-orang yang berjalan bersama.
Di perpustakaan desa, Liris sedang berbicara dengan sekelompok remaja perempuan.
Di atas meja, terdapat beberapa buku yang telah ia tulis.
Salah satunya berjudul Suara Wanasari.
Buku itu memuat cerita warga tentang sungai, kebun, kolam, sekolah, dan perjuangan menjaga desa.
Tulisan Liris kini dikenal oleh banyak orang.
Ia sering diundang ke kota untuk berbicara tentang literasi desa, pendidikan, dan suara perempuan di ruang-ruang pembangunan.
Namun, ia selalu pulang ke Wanasari.
Karena baginya, desa itu bukan sekadar bahan tulisan.
Desa itu adalah rumah.
“Kalau ingin menjadi penulis, harus mulai dari mana, Kak Liris?” tanya seorang remaja bernama Naya.
Liris tersenyum.
“Mulai dari memperhatikan.”
“Memperhatikan apa?”
“Hal-hal kecil yang sering dianggap biasa. Suara ibu saat menyiapkan sarapan. Tangan ayah yang pulang dari kebun. Sungai setelah hujan. Anak-anak yang belajar di bawah pohon. Cerita orang tua yang tidak pernah ditulis.”
Naya menunduk, lalu mulai menulis di buku catatannya.
“Apa tulisan saya harus bagus?”
“Tidak harus langsung bagus,” jawab Liris. “Yang penting jujur.”
Liris memandang rak buku di sekelilingnya.
Dulu, ia hanya menulis puisi dalam surat untuk Rantaka.
Kini, ia membantu anak-anak desa menemukan suara mereka sendiri.
Ia memahami bahwa literasi bukan hanya soal menjadi penulis terkenal.
Literasi adalah kemampuan untuk menyampaikan apa yang dirasakan, dipikirkan, dan diperjuangkan.
Literasi adalah keberanian untuk tidak dibungkam.
Sore itu, seluruh warga berkumpul di bawah pohon beringin.
Bukan untuk rapat darurat.
Bukan untuk menghadapi perusahaan.
Bukan pula untuk memperdebatkan peta.
Mereka berkumpul untuk sebuah perayaan sederhana.
Rantaka dan Liris akan menikah.
Tidak ada gedung mewah.
Tidak ada dekorasi berlebihan.
Halaman balai desa dihias dengan janur, kain putih, dan bunga-bunga dari kebun warga. Ibu-ibu memasak bersama sejak pagi. Para pemuda menata kursi dan memasang lampu. Anak-anak membuat hiasan dari kertas biru berbentuk awan.
Banyu membawa alat kecil buatannya sendiri untuk menyalakan lampu-lampu di halaman dengan tenaga surya sederhana.
Jagra menyediakan ikan hasil koperasi untuk dimasak bersama warga.
Seno menjadi orang yang paling sibuk mengatur susunan acara, meski beberapa kali ia salah menyebut urutan nama tamu hingga membuat semua orang tertawa.
Pak Narto datang bersama anaknya yang kini telah lulus kuliah dan bekerja sebagai tenaga kesehatan di kecamatan.
Bu Sari datang bersama Dita yang kini telah duduk di sekolah menengah pertama dan menjadi salah satu pengelola muda Gerobak Buku Langit Biru.
Pak Maman datang membawa senyum yang lebih ringan daripada bertahun-tahun lalu.
Ketika Rantaka dan Liris duduk berdampingan, suasana halaman menjadi hening.
Rantaka memandang Liris.
Ia teringat surat pertama yang pernah ia tulis saat tinggal jauh di kota.
Ia teringat kesalahpahaman, jarak, pekerjaan malam, dan ketakutan kehilangan beasiswa.
Ia teringat saat mereka berdiri di bawah pohon beringin dan berjanji membawa cahaya pulang ke desa.
Kini, setelah semua perjalanan itu, mereka duduk di tempat yang sama.
Bukan sebagai anak-anak yang sedang bermimpi.
Tetapi sebagai dua orang dewasa yang memilih untuk menjaga mimpi itu bersama.
Liris menatap Rantaka.
Ia teringat puisi-puisi yang dulu ia tulis dalam kesepian.
Ia teringat saat hampir menyerah karena keluarganya tidak memahami keinginannya untuk menulis.
Ia teringat kota yang memberinya kesempatan, tetapi juga mengajarkannya bahwa akar tidak boleh dilupakan.
Saat akad selesai, tepuk tangan warga memenuhi halaman balai desa.
Anak-anak berlari sambil membawa kertas-kertas biru.
Banyu dan Jagra saling menepuk bahu.
Seno mengusap matanya sambil pura-pura sibuk mengatur kursi.
Bu Karmi tersenyum lebar.
“Dari dulu saya sudah tahu,” katanya. “Mereka ini terlalu sering menulis surat untuk hanya menjadi sahabat.”
Semua orang tertawa.
Rantaka dan Liris saling berpandangan.
Mereka tidak membantah.
Karena cinta mereka memang tumbuh dari surat, jarak, perjuangan, dan kesediaan untuk saling menunggu.
Menjelang malam, setelah para tamu mulai pulang, Rantaka dan Liris berjalan pelan menuju pohon beringin.
Gerobak Buku Langit Biru masih berada di dekat perpustakaan.
Lampu-lampu kecil yang dibuat Banyu menyala di sekelilingnya.
Di kejauhan, suara anak-anak masih terdengar.
Mereka sedang membaca bersama Dita dan beberapa remaja lain.
Liris menggenggam tangan Rantaka.
“Dulu kita mengira mimpi itu harus membawa kita pergi jauh,” katanya.
Rantaka mengangguk.
“Kadang-kadang memang begitu.”
“Tapi ternyata mimpi juga bisa membawa kita pulang.”
Rantaka memandang langit malam.
Bintang-bintang mulai muncul satu per satu.
“Dan pulang ternyata bukan berarti berhenti,” katanya.
Liris tersenyum.
“Pulang berarti memulai lagi.”
Mereka berdiri di bawah pohon beringin tua yang telah menyaksikan begitu banyak hal.
Menyaksikan anak-anak membaca buku lusuh.
Menyaksikan sahabat-sahabat berpisah demi sekolah dan pekerjaan.
Menyaksikan surat-surat yang terlambat.
Menyaksikan banjir, kegagalan, pertengkaran, dan air mata.
Menyaksikan warga belajar membaca peta, menjaga sungai, dan menentukan masa depannya sendiri.
Kini, pohon itu juga menyaksikan lahirnya generasi baru.
Generasi yang tidak lagi takut bermimpi tinggi.
Generasi yang memahami bahwa pendidikan bukan hanya jalan untuk meninggalkan desa.
Pendidikan adalah cahaya untuk membangun desa.
Di bawah langit malam yang luas, Rantaka dan Liris melihat anak-anak berkumpul di sekitar Gerobak Buku Langit Biru.
Salah seorang anak membaca keras-keras tulisan yang tertera di sisi gerobak:
MEMBAWA BUKU, PETA, DAN HARAPAN
Anak-anak lain mengulanginya bersama-sama.
Suara mereka mengalun ringan di antara rumah-rumah warga.
Dan di Desa Wanasari, cahaya itu tetap menyala.
Bukan cahaya yang datang dari kota.
Bukan cahaya yang dibawa oleh orang asing.
Melainkan cahaya yang tumbuh dari buku-buku, sungai, kebun, kolam, tangan-tangan yang bekerja, dan hati-hati yang tidak menyerah.
Cahaya yang lahir dari desa.
Cahaya yang dijaga oleh warga.
Cahaya yang akan terus pulang kepada generasi berikutnya.
TAMAT
Cs Lazbon Lazada
09 Agustus 2026 22:00:34
Hubungi Customer Service Lazbon melalui WhatsApp di nomor (O8558888O62) atau (O85533339O8) Perlu kami...