NOVEL III
MEMBANGUN ASA DI DESA AWAN BIRU
Pemberdayaan dan Perubahan Masyarakat
Oleh: Slamet Riyadi
DISCLAIMER
Novel Membangun Asa di Desa Awan Biru merupakan karya fiksi yang menggambarkan dinamika mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) dalam melaksanakan pengabdian, pemberdayaan, dan pembangunan masyarakat di Desa Awan Biru.
Tokoh, dialog, konflik, peristiwa, tempat, serta berbagai kejadian dalam novel merupakan bagian dari cerita fiksi. Desa Awan Biru merupakan latar fiktif yang digunakan sebagai ruang berkembangnya cerita.
Novel ini merupakan bagian ketiga dari rangkaian cerita yang berlatar pada masa pelaksanaan KKN di Desa Awan Biru. Cerita dalam novel ini berlangsung ketika mahasiswa masih berada di desa dan belum menyelesaikan masa pengabdiannya.
Novel ini tidak dimaksudkan untuk menggambarkan individu, kelompok, perguruan tinggi, pemerintah desa, maupun lembaga tertentu secara langsung.
Setiap persamaan nama, karakter, tempat, maupun peristiwa dengan kehidupan nyata merupakan kebetulan semata.
PROLOG
Ketika Ketua Harus Mengubah Sekumpulan Mahasiswa Menjadi Satu Gerakan
Pagi itu, Desa Awan Biru masih diselimuti kabut tipis.
Sisa embun menempel di dedaunan. Jalan desa yang semalam diguyur hujan terlihat basah dan mengilap diterpa cahaya matahari yang perlahan muncul dari balik perbukitan.
Dari kejauhan terdengar suara ayam berkokok.
Beberapa warga mulai beraktivitas.
Ada yang berangkat ke kebun.
Ada yang membuka warung.
Ada yang mengantar anak ke sekolah.
Dan ada pula yang duduk di teras rumah sambil menikmati kopi pagi.
Desa itu tampak seperti biasa.
Tenang.
Sederhana.
Namun bagi mahasiswa KKN yang tinggal di salah satu rumah warga, hari itu bukan hari biasa.
Mereka sedang memasuki fase paling penting dalam perjalanan pengabdian mereka.
Sudah beberapa waktu mereka berada di Desa Awan Biru.
Pada awal kedatangan, semuanya terasa baru.
Rumah-rumah warga.
Jalan desa.
Balai desa.
Sekolah.
Kebun.
Lingkungan masyarakat.
Bahkan kebiasaan-kebiasaan kecil yang sebelumnya tidak pernah mereka kenal.
Mereka datang membawa proposal, jadwal, program kerja, dan berbagai rencana yang telah disusun sebelum keberangkatan.
Mereka percaya bahwa semua akan berjalan sesuai rencana.
Namun desa mengajarkan sesuatu yang berbeda.
Tidak semua persoalan dapat diselesaikan dengan teori.
Tidak semua kegiatan dapat berjalan sesuai jadwal.
Dan tidak semua program yang terlihat bagus di atas kertas otomatis dibutuhkan oleh masyarakat.
Di sinilah mereka mulai memahami arti pengabdian yang sesungguhnya.
Raka duduk sendirian di teras posko.
Di hadapannya terdapat sebuah buku catatan yang sudah penuh dengan coretan.
Jadwal kegiatan.
Nama anggota.
Daftar program kerja.
Catatan hasil pertemuan.
Evaluasi.
Keluhan.
Bahkan beberapa pertanyaan yang belum menemukan jawaban.
Ia membuka halaman demi halaman.
Semakin dibaca, semakin banyak hal yang membuatnya berpikir.
Program sudah banyak.
Kegiatan sudah berjalan.
Masyarakat mulai mengenal mereka.
Tetapi apakah semua itu sudah menghasilkan perubahan?
Raka menutup bukunya.
Ia menarik napas panjang.
Menatap jalan desa yang mulai ramai.
Sebagai ketua kelompok KKN, selama ini ia selalu berusaha terlihat tenang di depan teman-temannya.
Ketika ada masalah, ia mencari jalan keluar.
Ketika ada anggota yang berselisih, ia mencoba menjadi penengah.
Ketika program mengalami kendala, ia berdiskusi dengan anggota.
Ketika pemerintah desa memberikan arahan, ia berusaha meneruskannya kepada seluruh anggota.
Namun pagi itu ia menyadari sesuatu.
Menjadi ketua ternyata bukan sekadar menjadi orang yang paling sering berbicara dalam rapat.
Menjadi ketua berarti menjadi orang yang harus berani mengambil tanggung jawab ketika sesuatu tidak berjalan sesuai harapan.
Ia teringat percakapan dengan salah seorang warga beberapa hari sebelumnya.
Seorang bapak tua pernah berkata kepadanya,
“Kami senang kalian datang. Tapi setelah kalian pergi nanti, siapa yang akan melanjutkan?”
Pertanyaan sederhana itu terus terngiang di kepalanya.
Bukan karena pertanyaan tersebut sulit dijawab.
Tetapi karena Raka belum memiliki jawaban yang benar-benar meyakinkan.
“Belum tidur?”
Suara seseorang membuyarkan lamunannya.
Raka menoleh.
Agatha berdiri di belakangnya sambil membawa kamera.
“Sudah bangun dari tadi,” jawab Raka.
Agatha duduk di sampingnya.
“Kepikiran program?”
Raka tersenyum kecil.
“Bukan cuma program.”
“Lalu?”
Raka terdiam sejenak.
“Menurutmu, setelah kita pergi nanti, apa yang tersisa?”
Agatha memandangnya.
Pertanyaan itu membuat suasana pagi mendadak terasa lebih serius.
“Foto?” jawab Agatha bercanda.
Raka tertawa kecil.
“Serius.”
Agatha kemudian ikut melihat ke arah jalan.
“Kalau menurutku, yang tersisa bukan cuma foto.”
“Apa?”
“Cerita.”
Raka mengernyitkan dahi.
“Cerita?”
“Iya. Kalau kita bisa membuat masyarakat percaya bahwa mereka sebenarnya punya kemampuan untuk mengembangkan desanya sendiri, mungkin itu yang akan tersisa.”
Raka diam.
Kalimat Agatha sederhana.
Namun terasa tepat.
Selama ini mereka sering berpikir tentang hasil yang dapat dilihat.
Spanduk.
Dokumentasi.
Kegiatan.
Laporan.
Publikasi.
Tetapi pemberdayaan masyarakat bukan sekadar menghasilkan sesuatu yang selesai pada hari kegiatan.
Pemberdayaan harus meninggalkan kemampuan.
Harus meninggalkan pengetahuan.
Harus meninggalkan keberanian.
Dan yang paling penting—
harus meninggalkan keyakinan bahwa masyarakat mampu melanjutkan apa yang telah dimulai.
Tak lama kemudian Farida keluar dari rumah.
Di tangannya terdapat beberapa lembar kertas.
“Raka!”
Raka menoleh.
“Ada apa?”
“Ini hasil pendataan kegiatan kemarin.”
Farida menyerahkan dokumen tersebut.
“Dari hasil wawancara dengan beberapa warga, ternyata banyak potensi yang belum dikembangkan.”
“Seperti?”
“Kerajinan rumah tangga, hasil kebun, usaha kecil, kelompok pemuda, sampai potensi anak-anak di bidang literasi.”
Raka mengambil kertas itu.
Ia membaca dengan teliti.
“Kenapa kita tidak tahu sebelumnya?”
Farida tersenyum.
“Karena mungkin selama ini kita terlalu sibuk menjalankan program.”
Raka menatap Farida.
Kalimat itu kembali membuatnya berpikir.
Terlalu sibuk menjalankan program.
Mungkin itulah masalahnya.
Mereka datang membawa program.
Padahal seharusnya mereka datang untuk menemukan kebutuhan masyarakat.
Jevin kemudian muncul dari dalam rumah.
“Rapat pagi ini jadi?”
“Jadi,” jawab Raka.
“Jam berapa?”
“Setelah semua berkumpul.”
Jevin mengangguk.
Namun sebelum masuk kembali, ia berkata,
“Rak, menurutku rapat kali ini jangan cuma membahas jadwal.”
Raka menatapnya.
“Maksudmu?”
“Kita perlu membahas arah.”
“Arah?”
“Ya. Kita sudah berjalan cukup jauh. Jangan sampai kita sibuk berlari tetapi lupa sebenarnya mau ke mana.”
Raka terdiam.
Agatha, Farida, dan Jevin mungkin tidak menyadari bahwa kata-kata mereka pagi itu sedang membentuk sebuah kesadaran baru dalam dirinya.
Selama ini mereka adalah sekumpulan mahasiswa dengan program kerja masing-masing.
Ada yang mengurus pendidikan.
Ada yang menangani lingkungan.
Ada yang bergerak di bidang ekonomi masyarakat.
Ada yang mengurus kegiatan sosial.
Ada yang bekerja di bidang dokumentasi.
Ada yang bertugas membuat publikasi.
Masing-masing bekerja.
Namun belum tentu semuanya bergerak sebagai satu kesatuan.
Raka mulai menyadari bahwa tugasnya bukan hanya membagi pekerjaan.
Tugasnya adalah menghubungkan semua pekerjaan itu menjadi sebuah gerakan.
Menjelang siang, seluruh anggota KKN berkumpul.
Ruang tengah posko terasa penuh.
Ada yang membawa buku catatan.
Ada yang membawa laptop.
Ada yang membuka hasil pendataan.
Ada pula yang masih memegang gelas kopi.
Raka berdiri di depan mereka.
Biasanya rapat selalu dimulai dengan pembacaan agenda.
Namun kali ini tidak.
Raka hanya memandang semua anggota.
“Kawan-kawan,” katanya perlahan.
Percakapan kecil di antara anggota mulai berhenti.
“Kita sudah beberapa waktu berada di Desa Awan Biru.”
Semua memperhatikan.
“Kita sudah menjalankan beberapa kegiatan.”
Beberapa anggota mengangguk.
“Program kita juga mulai dikenal masyarakat.”
Raka berhenti sejenak.
“Tapi saya ingin kita berhenti sebentar.”
Ruangan menjadi hening.
“Saya ingin kita bertanya kepada diri kita sendiri.”
Ia menatap satu per satu anggota kelompok.
“Untuk apa kita sebenarnya berada di sini?”
Tidak ada yang langsung menjawab.
Raka melanjutkan.
“Apakah hanya untuk menyelesaikan program kerja?”
Hening.
“Apakah hanya untuk membuat laporan?”
Masih hening.
“Apakah hanya untuk mendapatkan nilai?”
Beberapa mahasiswa mulai menundukkan kepala.
“Atau apakah kita ingin meninggalkan sesuatu yang lebih berarti?”
Pertanyaan itu membuat suasana berubah.
Raka berjalan perlahan.
“Kita tidak bisa mengubah Desa Awan Biru dalam waktu singkat. Kita juga tidak mungkin menyelesaikan semua persoalan desa.”
Ia berhenti.
“Tapi kita bisa membantu masyarakat menemukan kekuatan yang sebenarnya sudah mereka miliki.”
Kalimat itu membuat beberapa anggota mulai mengangguk.
“Kita tidak boleh membuat masyarakat bergantung kepada kita.”
Raka melanjutkan.
“Justru sebaliknya. Kita harus membuat mereka semakin percaya kepada kemampuan mereka sendiri.”
Agatha memandang Raka.
Farida mencatat sesuatu.
Jevin tersenyum kecil.
Untuk pertama kalinya, rapat KKN itu tidak terasa seperti rapat pembagian tugas.
Ada sesuatu yang lebih besar sedang dibangun.
Sebuah gagasan.
Sebuah arah.
Sebuah gerakan.
Namun membangun gerakan tidak semudah menyampaikan gagasan.
Hari-hari berikutnya justru memperlihatkan tantangan yang lebih besar.
Tidak semua mahasiswa memiliki cara berpikir yang sama.
Ada yang merasa program terlalu banyak.
Ada yang merasa tugasnya tidak seimbang.
Ada yang mulai kelelahan.
Ada yang merasa kurang dihargai.
Ada pula yang mulai mempertanyakan keputusan Raka.
“Kenapa harus ditambah kegiatan?”
“Program yang lama saja belum selesai.”
“Kenapa kita harus turun lagi ke masyarakat?”
“Bukankah waktu kita juga terbatas?”
Pertanyaan-pertanyaan itu mulai muncul.
Raka mendengarnya.
Ia tidak marah.
Ia tahu bahwa konflik kecil dalam kelompok adalah sesuatu yang wajar.
Yang tidak wajar adalah membiarkan konflik itu berkembang menjadi perpecahan.
Pada suatu malam, setelah sebagian anggota tidur, Raka kembali duduk sendirian.
Ia membuka buku catatannya.
Di halaman paling atas ia menulis:
“Memimpin bukan berarti semua orang harus mengikuti keinginan kita.”
Ia berhenti.
Kemudian menambahkan:
“Memimpin berarti menemukan jalan agar perbedaan dapat berjalan menuju tujuan yang sama.”
Ia menatap tulisan itu cukup lama.
Mungkin inilah pelajaran terbesar yang sedang diberikan Desa Awan Biru kepadanya.
Sementara itu,Agatha, Farida dan Jevin mulai mengambil peran yang semakin penting.
Agatha tidak lagi hanya memotret kegiatan.
Ia mulai mendokumentasikan perubahan kecil yang terjadi di tengah masyarakat.
Seorang anak yang awalnya malu membaca mulai berani tampil.
Seorang ibu mulai mencoba mengembangkan produk rumah tangga.
Kelompok pemuda mulai berdiskusi tentang kegiatan desa.
Warga yang sebelumnya hanya menjadi peserta mulai berani menyampaikan gagasan.
Farida menuliskan semua cerita itu.
Ia menyadari bahwa sebuah perubahan terkadang dimulai dari sesuatu yang sangat kecil.
Sementara Jevin mulai membantu membuat berbagai desain, media informasi, dan materi komunikasi yang dapat digunakan masyarakat.
Mereka bertiga bekerja di belakang layar.
Tidak selalu terlihat.
Namun perlahan menjadi bagian penting dari gerakan tersebut.
Raka berada di depan.
Agatha merekam.
Farida menulis.
Jevin merancang.
Tetapi tujuan mereka sama.
Membuat pengabdian tidak berhenti ketika mahasiswa meninggalkan desa.
Hari demi hari berlalu.
Desa Awan Biru perlahan memperlihatkan wajah yang berbeda.
Bukan karena mahasiswa KKN datang membawa perubahan besar.
Tetapi karena masyarakat mulai percaya bahwa perubahan dapat dimulai dari diri mereka sendiri.
Raka semakin memahami bahwa desa bukan tempat kosong yang menunggu mahasiswa datang untuk menyelesaikan persoalan.
Desa sudah memiliki kekuatan.
Masyarakat memiliki pengalaman.
Pemuda memiliki energi.
Anak-anak memiliki mimpi.
Para ibu memiliki keterampilan.
Para tokoh masyarakat memiliki pengetahuan.
Dan pemerintah desa memiliki tanggung jawab untuk menggerakkan pembangunan.
Mahasiswa hanya datang sebagai pemantik.
Bukan sebagai pemilik perubahan.
Kesadaran itu membuat cara mereka bekerja berubah.
Mereka mulai lebih banyak bertanya daripada berbicara.
Lebih banyak mendengar daripada memberi nasihat.
Lebih banyak melibatkan daripada memerintah.
Dan lebih banyak membangun kerja sama daripada bekerja sendiri.
Namun perjalanan itu baru dimulai.
Di balik perubahan kecil yang mulai terlihat, muncul persoalan baru.
Ada program yang ditolak.
Ada warga yang berbeda pendapat.
Ada kelompok masyarakat yang merasa belum dilibatkan.
Ada persoalan antara pemuda dan tokoh masyarakat.
Bahkan di dalam kelompok mahasiswa sendiri mulai muncul ketegangan yang tidak bisa lagi diselesaikan hanya dengan rapat biasa.
Raka tahu, perjalanan mereka belum selesai.
Justru bagian tersulit baru akan dimulai.
Ia memandang Desa Awan Biru dari kejauhan.
Matahari sore perlahan tenggelam di balik bukit.
Langit berubah jingga.
Angin berembus perlahan melewati pepohonan.
Raka tersenyum.
Ia tidak tahu apakah mereka mampu menyelesaikan semua persoalan.
Ia juga tidak tahu apakah seluruh program akan berhasil.
Tetapi ia tahu satu hal.
Mereka tidak boleh berhenti hanya karena jalan yang mereka pilih mulai sulit.
Karena pengabdian bukan tentang mencari jalan yang paling mudah.
Pengabdian adalah keberanian untuk tetap berjalan ketika jalan itu mulai penuh dengan tantangan.
Dan di Desa Awan Biru, mereka sedang belajar satu hal yang tidak pernah diajarkan di ruang kuliah:
bahwa membangun masyarakat bukan tentang datang membawa perubahan.
Tetapi tentang menyalakan harapan agar masyarakat mampu membangun perubahan dengan kekuatan mereka sendiri.
Malam pun turun di Desa Awan Biru.
Lampu-lampu rumah warga mulai menyala.
Di posko mahasiswa, beberapa anggota masih berdiskusi.
Laptop terbuka.
Buku-buku berserakan.
Kamera tergeletak di atas meja.
Kertas program kerja memenuhi ruangan.
Mereka masih memiliki banyak pekerjaan.
Masih banyak cerita.
Masih banyak persoalan.
Dan masih banyak hari yang harus mereka jalani.
Perjalanan KKN mereka belum berakhir.
Justru sebuah babak baru sedang dimulai.
Babak ketika program berubah menjadi gerakan.
Ketika mahasiswa belajar menjadi penggerak.
Ketika masyarakat mulai berani menjadi pelaku perubahan.
Dan ketika sebuah desa perlahan belajar bahwa asa tidak harus menunggu datang dari luar.
Karena terkadang, harapan telah tumbuh di dalam diri mereka sendiri—hanya menunggu seseorang menyalakan cahayanya.
BAB I — KETUA KKN DI TENGAH BANYAK KEINGINAN
Raka dan Tanggung Jawab yang Semakin Berat
Malam semakin larut ketika suara diskusi dari posko mahasiswa KKN masih terdengar.
Jam dinding telah menunjukkan pukul sepuluh lewat.
Namun tidak seorang pun benar-benar ingin meninggalkan ruangan.
Di atas meja tergeletak beberapa lembar proposal kegiatan.
Ada kertas berisi jadwal.
Ada catatan hasil survei.
Ada daftar kebutuhan masyarakat.
Ada pula laptop yang masih terbuka dengan berbagai dokumen program kerja.
Malam itu mereka sedang melaksanakan rapat evaluasi sekaligus menyusun langkah berikutnya.
Tetapi rapat yang awalnya direncanakan berlangsung sederhana justru berubah menjadi forum penuh perdebatan.
Raka duduk di ujung meja.
Sebagai ketua kelompok, ia lebih banyak mendengarkan.
Di hadapannya duduk seluruh anggota dengan berbagai gagasan.
Mereka datang membawa semangat.
Masing-masing memiliki keinginan.
Masing-masing merasa program yang mereka usulkan penting.
Dan Raka tidak bisa menyalahkan siapa pun.
Semua memiliki alasan.
Semua ingin memberikan yang terbaik untuk Desa Awan Biru.
Namun justru itulah masalahnya.
Terlalu banyak keinginan.
Sementara waktu mereka tidak banyak.
“Kita sebaiknya menambah kegiatan pendidikan,” ujar salah seorang anggota.
“Anak-anak di sini membutuhkan pendampingan belajar secara rutin. Jangan hanya sekali atau dua kali.”
Anggota lain langsung menanggapi.
“Kalau pendidikan diperbanyak, bagaimana dengan program ekonomi?”
“Kita sudah menemukan beberapa pelaku UMKM yang membutuhkan pendampingan.”
Seorang mahasiswa yang sejak tadi diam akhirnya ikut berbicara.
“Menurut saya, sektor pertanian juga jangan dilupakan. Sebagian besar masyarakat di sini hidup dari pertanian. Kalau kita bisa membantu membuat pengelolaan hasil pertanian lebih baik, dampaknya bisa lebih panjang.”
“Bagaimana dengan pemuda?” seseorang menyela.
“Kelompok pemuda juga perlu kegiatan. Banyak anak muda yang sebenarnya punya potensi, tetapi belum memiliki wadah.”
“Literasi juga penting.”
“Lingkungan jangan sampai tertinggal.”
“Administrasi desa juga masih banyak yang harus dibantu.”
Suara-suara mulai bercampur.
Satu usulan disusul usulan lain.
Raka mengangkat tangannya.
“Sebentar.”
Ruangan perlahan kembali tenang.
Ia menarik napas.
“Semua usulan bagus.”
Tidak ada yang membantah.
“Dan saya yakin semua yang kita sampaikan memang dibutuhkan.”
Raka melihat satu per satu anggota kelompok.
“Tapi pertanyaannya bukan apakah program itu penting.”
Ia berhenti sejenak.
“Pertanyaannya adalah, mana yang harus kita dahulukan?”
Hening.
Raka mengambil sebuah kertas kosong.
Ia membaginya menjadi beberapa bagian.
Pendidikan.
Ekonomi.
Pertanian.
Pemuda.
Literasi.
Lingkungan.
Administrasi.
Tujuh bidang.
Tujuh kebutuhan.
Sementara mereka hanya memiliki tenaga dan waktu yang terbatas.
“Kalau semua kita lakukan sekaligus,” kata Raka, “apa yang terjadi?”
“Capek,” jawab seseorang sambil tertawa kecil.
Beberapa anggota ikut tersenyum.
Tetapi Raka tidak ikut tertawa.
“Bukan hanya capek.”
Ia menatap mereka.
“Kita bisa kehilangan kualitas.”
Suasana kembali serius.
“Program banyak belum tentu hasilnya banyak. Bisa saja kita mengadakan sepuluh kegiatan, tetapi semuanya hanya selesai sebagai kegiatan.”
Ia menunjuk kertas di atas meja.
“Saya lebih memilih lima kegiatan yang benar-benar bermanfaat dan bisa dilanjutkan masyarakat daripada lima belas kegiatan yang selesai setelah kita pulang.”
Kalimat itu membuat beberapa anggota terdiam.
Namun tidak semua orang langsung setuju.
“Rak,” kata seorang anggota, “saya paham maksudmu. Tapi kalau terlalu banyak dibatasi, kita takut nanti ada kebutuhan masyarakat yang tidak terakomodasi.”
Raka mengangguk.
“Itu benar.”
“Lalu bagaimana?”
“Kita tidak harus menolak kebutuhan itu.”
“Caranya?”
“Kita menentukan prioritas.”
“Siapa yang menentukan?”
Pertanyaan itu membuat ruangan kembali sunyi.
Raka menyandarkan tubuhnya ke kursi.
Ia tahu pertanyaan tersebut cepat atau lambat akan muncul.
Dan inilah bagian yang paling tidak ia sukai sebagai ketua.
Ketika keputusan harus dibuat, akan selalu ada kemungkinan seseorang tidak menyukainya.
Ia bisa meminta semua orang setuju.
Namun kenyataannya, tidak semua keputusan dapat menghasilkan kepuasan bagi semua orang.
Raka kemudian berkata,
“Kita tentukan bersama berdasarkan kebutuhan masyarakat, kemampuan kelompok, waktu yang tersedia, dan kemungkinan keberlanjutannya.”
“Kalau hasilnya tidak sesuai dengan keinginan kita?”
Raka tersenyum tipis.
“Berarti kita belajar menerima bahwa kepentingan kelompok lebih besar daripada kepentingan pribadi.”
Kalimat itu membuat beberapa anggota saling berpandangan.
Raka bukan orang yang paling tua di kelompok.
Bukan pula mahasiswa yang paling pintar.
Ia juga tidak selalu memiliki jawaban untuk semua persoalan.
Namun sejak awal KKN, ia berusaha menjadi orang yang mampu mendengarkan.
Ia sadar bahwa menjadi ketua bukan berarti selalu benar.
Justru seorang ketua harus cukup berani untuk mengakui ketika dirinya salah.
Tetapi ia juga harus cukup tegas ketika sebuah keputusan memang harus diambil.
Dan malam itu, ketegasan tersebut mulai diuji.
“Kalau begitu,” ujar Raka, “kita mulai dari data.”
Ia meminta Farida membuka hasil pendataan masyarakat.
Farida segera menghidupkan laptop.
Di layar muncul catatan hasil wawancara.
Jumlah anak yang membutuhkan pendampingan belajar.
Data pelaku usaha kecil.
Potensi pertanian.
Kondisi kelompok pemuda.
Kegiatan literasi.
Permasalahan lingkungan.
Berbagai informasi yang selama beberapa hari terakhir mereka kumpulkan.
Raka meminta semua anggota memperhatikan.
“Kita jangan menentukan program hanya karena kita suka.”
Ia menunjuk layar.
“Kita tentukan karena masyarakat membutuhkannya.”
Agatha yang sejak tadi duduk sambil memegang kamera akhirnya ikut berbicara.
“Berarti dokumentasi juga harus ikut berubah.”
Raka menoleh.
“Maksudmu?”
“Selama ini kita mendokumentasikan kegiatan. Mungkin ke depan kita juga perlu mendokumentasikan proses perubahan.”
Farida mengangguk.
“Bukan hanya foto saat kegiatan berlangsung.”
“Ya,” lanjut Agatha. “Misalnya, sebelum program dimulai seperti apa. Setelah beberapa minggu bagaimana. Siapa yang terlibat. Apa yang berubah.”
Raka tersenyum.
“Itu bagus.”
Jevin ikut menambahkan,
“Kalau begitu desain dan publikasi juga jangan hanya menampilkan kegiatan. Kita bisa membuat informasi yang membantu masyarakat memahami program.”
Raka mengangguk.
Ia mulai melihat sesuatu.
Program-program mereka ternyata tidak harus berdiri sendiri.
Pendidikan bisa terhubung dengan literasi.
Literasi bisa terhubung dengan perpustakaan.
Pemuda bisa terlibat dalam kegiatan pendidikan.
Ekonomi bisa dikembangkan bersama kelompok masyarakat.
Pertanian bisa dikaitkan dengan pemberdayaan pemuda.
Dokumentasi dapat mencatat proses.
Publikasi dapat memperluas informasi.
Perlahan, potongan-potongan yang sebelumnya terlihat terpisah mulai membentuk sebuah gambar yang lebih utuh.
Namun keputusan tidak selalu mudah.
Setelah berdiskusi cukup lama, mereka akhirnya menyepakati beberapa prioritas.
Pendampingan pendidikan dan literasi menjadi salah satu fokus utama.
Pemberdayaan ekonomi masyarakat menjadi agenda berikutnya.
Kemudian penguatan kelompok pemuda dan pengembangan potensi lokal.
Beberapa program lain tetap dilakukan, tetapi dalam skala yang lebih sederhana.
Raka menuliskan hasil keputusan itu di papan.
Semua melihat.
Ada yang mengangguk.
Ada yang tersenyum.
Namun ada pula yang diam.
Raka memperhatikan salah seorang anggota yang sejak tadi tidak banyak berbicara.
“Menurutmu bagaimana?”
Mahasiswa itu menggeleng pelan.
“Saya kurang setuju.”
Ruangan kembali hening.
“Kenapa?” tanya Raka.
“Saya merasa program yang saya usulkan terlalu dikesampingkan.”
Raka tidak langsung menjawab.
Ia tahu, di sinilah ujian sebenarnya.
Bukan ketika semua orang setuju.
Tetapi ketika seseorang merasa kepentingannya tidak diprioritaskan.
Raka kemudian berkata,
“Programmu bukan berarti tidak penting.”
“Tapi tidak menjadi prioritas.”
“Ya.”
“Jadi bagaimana?”
“Kita cari bentuk lain agar tetap bisa dilakukan tanpa membebani kelompok.”
Mahasiswa itu masih terlihat kecewa.
Raka memahami perasaannya.
“Kalau kamu kecewa, itu wajar.”
Ia menatapnya.
“Tapi saya ingin kita belajar membedakan antara kecewa terhadap keputusan dan kecewa terhadap teman sendiri.”
Ruangan menjadi hening.
“Keputusan bisa kita evaluasi.”
“Tapi jangan sampai perbedaan keputusan membuat kita kehilangan kebersamaan.”
Mahasiswa itu akhirnya mengangguk.
Tidak sepenuhnya puas.
Tetapi ia menerima.
Bagi Raka, itu sudah cukup untuk malam itu.
Setelah rapat berakhir, sebagian anggota mulai membereskan meja.
Beberapa membawa dokumen ke kamar.
Ada yang mencuci gelas.
Ada yang masih berdiskusi dalam kelompok kecil.
Agatha menghampiri Raka.
“Kamu kelihatan capek.”
Raka tertawa kecil.
“Kelihatan?”
“Banget.”
Raka berdiri dan berjalan ke teras.
Agatha mengikutinya.
Udara malam Desa Awan Biru terasa dingin.
Suara jangkrik terdengar dari halaman.
Langit cerah.
Beberapa bintang terlihat di antara pepohonan.
“Kadang saya berpikir,” kata Raka, “lebih mudah menjadi anggota.”
Agatha tersenyum.
“Kenapa?”
“Kalau jadi anggota, kita tinggal mengerjakan tugas.”
“Kalau jadi ketua?”
Raka menghela napas.
“Semua keputusan terasa seperti punya konsekuensi.”
Agatha tidak langsung menjawab.
“Rak.”
“Hm?”
“Ketua bukan orang yang harus punya semua jawaban.”
Raka menoleh.
“Lalu?”
“Ketua adalah orang yang memastikan kelompok tidak berhenti mencari jawaban.”
Raka terdiam.
Kalimat itu terasa sederhana.
Namun malam itu, kata-kata Agatha kembali menjadi sesuatu yang ia simpan dalam pikirannya.
Keesokan paginya, perubahan kecil mulai terlihat.
Jadwal baru ditempel di dinding posko.
Setiap program memiliki penanggung jawab.
Setiap kegiatan memiliki target.
Setiap target memiliki waktu.
Dan yang paling penting—
setiap program harus memiliki keterlibatan masyarakat.
Raka menambahkan satu kolom baru dalam tabel program kerja.
“Siapa yang akan melanjutkan setelah mahasiswa KKN selesai?”
Ia sengaja membuat kolom itu.
Karena menurutnya, itulah pertanyaan yang paling penting.
Jika jawabannya selalu:
“Mahasiswa KKN.”
Maka program itu belum benar-benar memberdayakan.
Tetapi jika jawabannya:
“Masyarakat.”
Maka mereka telah memulai sesuatu yang lebih berarti.
Beberapa hari kemudian, Raka bersama Farida dan beberapa anggota mendatangi rumah salah seorang warga.
Mereka berbincang cukup lama.
Tidak ada presentasi.
Tidak ada proposal.
Tidak ada spanduk.
Hanya percakapan sederhana.
Raka bertanya tentang usaha keluarga.
Tentang kesulitan yang dihadapi.
Tentang apa yang sudah dilakukan.
Tentang apa yang ingin dikembangkan.
Warga itu awalnya menjawab singkat.
Namun setelah beberapa lama, pembicaraan semakin terbuka.
Ternyata ada banyak hal yang selama ini tidak mereka ketahui.
Ada potensi yang belum dikembangkan.
Ada keterampilan yang belum dimanfaatkan.
Ada masalah yang tidak pernah masuk dalam proposal mereka.
Saat pulang, Farida berkata,
“Sekarang saya paham.”
“Apa?”
“Kadang kita tidak perlu membawa banyak program.”
“Lalu?”
“Kita hanya perlu lebih banyak mendengar.”
Raka tersenyum.
“Ya.”
Sejak saat itu, cara mereka bekerja mulai berubah.
Rapat tidak lagi hanya membahas apa yang akan dilakukan.
Tetapi juga membahas apa yang sudah dipelajari dari masyarakat.
Program tidak lagi hanya dinilai berdasarkan jumlah peserta.
Tetapi juga berdasarkan keterlibatan masyarakat.
Dokumentasi tidak lagi hanya mencari foto yang bagus.
Tetapi mencari cerita yang bermakna.
Publikasi tidak lagi hanya bertujuan menunjukkan bahwa mahasiswa telah bekerja.
Tetapi juga memperkenalkan potensi desa kepada lebih banyak orang.
Dan Raka mulai memahami bahwa kepemimpinan bukanlah tentang berdiri paling depan.
Terkadang seorang pemimpin justru harus berada di belakang, memastikan semua orang memiliki ruang untuk bergerak.
Namun perubahan itu ternyata belum selesai.
Justru ketika mereka mulai menemukan arah, persoalan baru muncul.
Salah satu program yang telah disepakati mendapat penolakan dari sebagian masyarakat.
Alasannya sederhana.
Mereka merasa program tersebut tidak sesuai dengan kebutuhan mereka.
Informasi yang diterima mahasiswa ternyata tidak sepenuhnya sama dengan kondisi di lapangan.
Raka kembali menghadapi pilihan.
Apakah mereka mempertahankan program karena sudah masuk rencana?
Atau mengubahnya karena masyarakat menghendaki hal berbeda?
Keputusan itu tidak mudah.
Jika program diubah, berarti jadwal harus disusun ulang.
Jika dipertahankan, mereka berisiko menjalankan kegiatan yang kurang dibutuhkan.
Malam itu Raka kembali membuka buku catatannya.
Ia melihat kalimat yang pernah ditulisnya:
“Memimpin bukan berarti semua orang harus mengikuti keinginan kita.”
Ia menambahkan satu kalimat baru di bawahnya:
“Memimpin berarti berani mengubah keputusan ketika kenyataan menunjukkan bahwa kita perlu belajar kembali.”
Raka menutup buku.
Besok pagi, ia akan mengumpulkan seluruh anggota.
Rapat berikutnya bukan lagi tentang memilih program.
Tetapi tentang keberanian mengakui bahwa mereka mungkin telah salah memahami kebutuhan masyarakat.
Dan dari situlah, pelajaran baru tentang pemberdayaan akan dimulai.
Karena di Desa Awan Biru, mereka mulai memahami bahwa masyarakat bukan sekadar penerima program.
Masyarakat adalah bagian dari penentu arah perubahan.
Dan Raka harus belajar menerima kenyataan bahwa menjadi ketua bukan berarti selalu membawa kelompok ke arah yang telah ia tentukan.
Kadang-kadang, seorang ketua justru harus cukup rendah hati untuk berhenti, mendengarkan, lalu mengubah arah.
Sebab perjalanan pengabdian mereka masih panjang.
Dan Desa Awan Biru belum selesai mengajarkan mereka tentang arti sebenarnya dari sebuah kepemimpinan.
BAB II — PROGRAM KERJA BUKAN SEKADAR DAFTAR KEGIATAN
Mencari Makna di Balik Proposal
Pagi itu Raka kembali membuka proposal KKN yang sejak awal menjadi pedoman perjalanan mereka di Desa Awan Biru.
Proposal itu sudah mulai kusut.
Beberapa halaman terlipat.
Ada coretan di sejumlah bagian.
Beberapa catatan kecil ditempel di antara halaman.
Di sudut meja, proposal tersebut terlihat seperti buku yang sudah berkali-kali dibaca.
Padahal beberapa minggu sebelumnya, dokumen itu masih tampak begitu sempurna.
Program tersusun rapi.
Jadwal terlihat jelas.
Target kegiatan tercantum.
Indikator keberhasilan tersedia.
Semuanya terlihat meyakinkan.
Namun sekarang Raka melihat proposal itu dengan cara berbeda.
Ia tidak lagi melihatnya sebagai daftar kegiatan.
Ia melihatnya sebagai sebuah pertanyaan.
Apakah semua yang tertulis di dalamnya benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat Desa Awan Biru?
Raka membalik halaman demi halaman.
Pendidikan.
Literasi.
Ekonomi.
Pertanian.
Lingkungan.
Pemuda.
Kesehatan.
Administrasi.
Begitu banyak rencana.
Tetapi semakin banyak ia membaca, semakin besar kegelisahan yang muncul.
“Apakah kita benar-benar bisa melakukan semuanya?”
Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulutnya.
Farida yang duduk di seberang meja menoleh.
“Kalau sesuai jadwal awal, sepertinya bisa.”
“Kalau sesuai jadwal.”
Raka menekankan kata terakhir.
Farida terdiam.
Mereka sama-sama tahu bahwa kenyataan di lapangan tidak pernah sesederhana jadwal di atas kertas.
Raka teringat minggu pertama mereka berada di desa.
Saat itu mereka sangat bersemangat.
Setiap hari dipenuhi kegiatan.
Ada pertemuan dengan pemerintah desa.
Ada kunjungan ke sekolah.
Ada kegiatan bersama anak-anak.
Ada pendataan.
Ada sosialisasi.
Ada kegiatan lingkungan.
Semua terasa menyenangkan.
Setiap kali sebuah kegiatan selesai, mereka mencoret satu bagian dari daftar program.
Selesai.
Tetapi belakangan Raka mulai merasa ada sesuatu yang kurang.
Mereka memang telah menyelesaikan beberapa kegiatan.
Namun apakah kegiatan itu benar-benar menghasilkan perubahan?
Pertanyaan tersebut semakin kuat setelah mereka mendengar beberapa tanggapan masyarakat.
Ada warga yang berkata kegiatan mahasiswa menarik.
Ada yang mengatakan program mereka bagus.
Namun ada pula yang bertanya,
“Setelah kegiatan selesai, apakah nanti ada yang melanjutkan?”
Pertanyaan itu kembali menghantui Raka.
Menjelang sore, seluruh anggota kelompok berkumpul di ruang tengah posko.
Raka membawa proposal KKN.
Ia meletakkannya di atas meja.
“Kita perlu mengevaluasi ulang program kerja.”
Beberapa anggota saling berpandangan.
“Bukannya program sudah disepakati sejak awal?” tanya salah seorang anggota.
“Sudah.”
“Kenapa harus dievaluasi lagi?”
“Karena kita sekarang sudah melihat kondisi lapangan.”
Raka membuka proposal.
“Proposal dibuat sebelum kita tinggal di sini.”
Ia mengangkat pandangan.
“Sekarang kita sudah mengenal masyarakat. Kita sudah melihat persoalan. Kita sudah berbicara dengan warga.”
Ia mengetuk proposal dengan jarinya.
“Artinya, kita memiliki informasi baru.”
Tidak ada yang menyela.
“Dan kalau informasi di lapangan berbeda dengan asumsi kita saat menyusun proposal, kita harus berani menyesuaikan.”
Raka kemudian meminta Farida membacakan daftar program.
Satu per satu disebutkan.
Program pertama.
Program kedua.
Program ketiga.
Dan seterusnya.
Setelah setiap program disebutkan, Raka memberikan empat pertanyaan.
“Apakah masyarakat membutuhkan?”
“Apakah masyarakat terlibat?”
“Apakah kita mampu melaksanakannya?”
“Dan yang paling penting, apakah masyarakat bisa melanjutkannya?”
Pertanyaan terakhir membuat suasana menjadi lebih serius.
Salah seorang anggota mengangkat tangan.
“Kenapa keberlanjutan harus menjadi ukuran?”
Raka menoleh.
“Karena kita hanya tinggal sementara.”
Ia tersenyum tipis.
“Desa ini akan tetap ada setelah kita pulang.”
Semua terdiam.
“Kalau sebuah program hanya berjalan karena kita ada, maka program itu akan berhenti ketika kita pergi.”
Raka menatap seluruh anggota.
“Tapi kalau masyarakat sudah mampu menjalankannya sendiri, maka keberadaan kita benar-benar memberikan sesuatu.”
Program pendidikan menjadi pembahasan pertama.
Mereka sebenarnya telah merencanakan beberapa kegiatan.
Pendampingan belajar.
Lomba.
Kegiatan membaca.
Kelas kreativitas.
Namun setelah berdiskusi dengan guru dan orang tua, mereka menemukan kenyataan lain.
Anak-anak memang membutuhkan kegiatan belajar tambahan.
Tetapi mereka juga membutuhkan ruang untuk membaca.
Mereka membutuhkan pendampingan yang konsisten.
Dan mereka membutuhkan kegiatan yang membuat mereka merasa bahwa belajar adalah sesuatu yang menyenangkan.
“Berarti kegiatan kita jangan hanya sekali,” kata Ita.
“Betul,” jawab Raka.
“Kita perlu membuat pola yang bisa diteruskan.”
“Siapa yang meneruskan?”
Pertanyaan Raka membuat Farida berpikir.
“Guru?”
“Bisa.”
“Orang tua?”
“Bisa.”
“Pemuda?”
Raka mengangguk.
“Nah. Kalau kita bisa melibatkan mereka sejak awal, kegiatan ini tidak harus berhenti ketika kita selesai KKN.”
Farida segera mencatat.
Di samping kata program pendidikan, ia menambahkan:
Kader penerus.
Kemudian mereka membahas ekonomi masyarakat.
Dalam proposal, program tersebut terlihat sederhana.
Ada pelatihan.
Ada sosialisasi.
Ada pengenalan pemasaran.
Namun kenyataan di lapangan jauh lebih kompleks.
Beberapa pelaku usaha sebenarnya sudah memiliki produk.
Masalah mereka bukan tidak tahu cara membuat produk.
Masalahnya justru pemasaran.
Kemasan.
Harga.
Pencatatan keuangan.
Dan akses terhadap konsumen.
“Jadi kita tidak perlu mengajari mereka membuat usaha dari nol,” kata Rama.
Raka mengangguk.
“Mungkin kita justru perlu membantu mereka memperbaiki yang sudah ada.”
Agatha yang sedang memeriksa hasil dokumentasi ikut menyahut.
“Kalau produk mereka sudah bagus, kita bisa bantu membuat materi promosi.”
Jevin langsung tertarik.
“Foto produk juga bisa kita bantu.”
Farida menambahkan,
“Cerita tentang produknya juga bisa ditulis.”
Raka tersenyum.
Sekali lagi mereka menemukan bahwa program tidak harus berdiri sendiri.
Dokumentasi.
Tulisan.
Desain.
Promosi.
Pemberdayaan ekonomi.
Semuanya dapat saling mendukung.
Pembahasan berlanjut pada pertanian.
Program awal mereka terlihat sangat ideal.
Mereka ingin memberikan pelatihan dengan berbagai metode.
Namun setelah berbicara dengan petani, mereka menyadari bahwa masyarakat telah memiliki pengalaman panjang.
Ada pengetahuan yang tidak mereka miliki.
Ada cara-cara lokal yang sudah digunakan selama bertahun-tahun.
Jika mahasiswa datang dengan sikap seolah-olah paling tahu, program justru dapat menimbulkan jarak.
Raka mengatakan,
“Kita jangan datang untuk mengajari orang yang sudah bertahun-tahun hidup dari pertanian.”
“Lalu apa yang kita lakukan?”
“Kita belajar bersama.”
Kalimat itu kemudian menjadi prinsip baru dalam kelompok.
Belajar bersama masyarakat.
Bukan sekadar mengajarkan masyarakat.
Namun tidak semua evaluasi berjalan mulus.
Ada satu program yang sejak awal sangat disukai sebagian mahasiswa.
Mereka sudah mempersiapkan konsep.
Sudah membuat desain.
Sudah menyusun jadwal.
Bahkan sudah membayangkan dokumentasinya.
Tetapi ketika dibawa ke lapangan, masyarakat ternyata kurang tertarik.
Beberapa warga mengatakan kegiatan tersebut bukan prioritas.
Salah seorang mahasiswa terlihat kecewa.
“Sayang sekali kalau dibatalkan.”
Raka memahami perasaannya.
“Kenapa kamu ingin tetap menjalankan?”
“Karena konsepnya sudah matang.”
Raka diam sejenak.
Kemudian bertanya,
“Apakah konsep yang matang otomatis menjadi program yang dibutuhkan?”
Mahasiswa itu tidak menjawab.
“Kalau masyarakat tidak membutuhkan, kita harus bagaimana?”
“Disesuaikan.”
“Dengan kata lain?”
“Diubah.”
Raka mengangguk.
“Berarti kita sudah belajar sesuatu.”
“Apa?”
“Program kerja bukan sesuatu yang harus kita pertahankan mati-matian hanya karena sudah ditulis di proposal.”
Kalimat itu kemudian menjadi pembicaraan panjang.
Proposal ternyata bukan kitab yang tidak boleh diubah.
Proposal adalah peta.
Tetapi peta tidak selalu menggambarkan setiap jalan kecil yang ditemukan di lapangan.
Ada jalan yang ternyata tertutup.
Ada jalan yang lebih mudah daripada yang diperkirakan.
Ada jalan baru yang sebelumnya tidak terlihat.
Dan tugas mereka adalah memilih jalan yang paling sesuai dengan kondisi nyata.
Raka kemudian menulis sebuah kalimat besar di papan tulis:
“PROPOSAL ADALAH RENCANA. MASYARAKAT ADALAH REALITAS.”
Semua anggota memperhatikan.
Di bawah kalimat itu ia menambahkan:
“PROGRAM YANG BAIK ADALAH PROGRAM YANG MEMPERTEMUKAN KEDUANYA.”
Agatha mengambil kamera.
“Boleh saya foto?”
Raka tertawa.
“Untuk apa?”
“Ini bagus untuk dokumentasi.”
Semua tertawa.
Namun di balik tawa itu, mereka sebenarnya sedang menyepakati sebuah prinsip baru.
Beberapa hari berikutnya mereka mulai melakukan pemetaan sederhana.
Bukan hanya memetakan masalah.
Tetapi juga memetakan potensi.
Mereka bertanya kepada warga:
Apa yang sudah dimiliki desa?
Apa yang bisa dikembangkan?
Siapa yang memiliki keterampilan?
Siapa yang bersedia terlibat?
Apa yang paling dibutuhkan?
Apa yang bisa dilakukan bersama?
Apa yang bisa diteruskan setelah mahasiswa pergi?
Pertanyaan-pertanyaan itu membawa mereka pada banyak temuan.
Mereka menemukan pemuda yang ternyata pandai membuat desain.
Ada ibu rumah tangga yang memiliki keterampilan membuat produk makanan.
Ada warga yang memiliki kebun cukup luas.
Ada anak-anak yang sangat menyukai membaca.
Ada guru yang bersedia mendampingi kegiatan literasi.
Ada tokoh masyarakat yang memiliki pengalaman panjang dalam mengorganisasi warga.
Semua itu sebelumnya tidak tercantum dalam proposal.
Tetapi sekarang mereka menyadari bahwa itulah kekayaan sebenarnya dari Desa Awan Biru.
Agatha mulai membuat dokumentasi khusus.
Ia tidak lagi sekadar memotret kegiatan.
Ia membuat catatan tentang siapa yang terlibat.
Apa yang mereka lakukan.
Apa perubahan yang mulai terlihat.
Dan apa yang masih menjadi persoalan.
Farida mulai menyusun cerita.
Ia menulis bukan hanya tentang mahasiswa.
Tetapi tentang warga.
Tentang usaha kecil.
Tentang anak-anak.
Tentang pemuda.
Tentang orang-orang yang perlahan mulai percaya bahwa mereka memiliki kemampuan.
Jevin mulai mengembangkan berbagai materi visual.
Ia membuat poster sederhana.
Infografis.
Materi promosi.
Dan berbagai media yang dapat digunakan masyarakat.
Ketiganya semakin menyadari bahwa peran mereka bukan sekadar pelengkap.
Mereka sedang menjadi bagian dari proses perubahan.
Suatu sore, Raka duduk bersama seorang tokoh masyarakat di teras rumah.
Mereka berbicara cukup lama.
Raka kemudian bertanya,
“Menurut Bapak, apa yang paling dibutuhkan desa ini dari mahasiswa?”
Orang itu tersenyum.
“Bukan uang.”
Raka terkejut.
“Bukan?”
“Tidak.”
“Lalu apa?”
“Teman untuk berpikir.”
Raka terdiam.
Orang itu melanjutkan,
“Kalian datang membawa ilmu. Kami punya pengalaman. Kalau dua hal itu bertemu, mungkin kita bisa menemukan jalan.”
Raka mengangguk perlahan.
Jawaban tersebut membuatnya semakin memahami arti pemberdayaan.
Pemberdayaan bukan berarti seseorang datang untuk menyelesaikan persoalan orang lain.
Pemberdayaan berarti menciptakan ruang agar orang lain mampu menemukan solusi bersama.
Malamnya, Raka kembali berkumpul dengan anggota kelompok.
Ia menyampaikan hasil percakapannya.
“Mulai sekarang,” katanya, “kita jangan lagi bertanya, ‘Program apa yang bisa kita lakukan untuk masyarakat?’”
Semua memperhatikan.
“Kita ubah pertanyaannya.”
Ia menulis di papan:
“Apa yang bisa kita lakukan bersama masyarakat?”
Kalimat itu terlihat sederhana.
Namun maknanya jauh lebih besar.
Ada perubahan posisi.
Dari untuk masyarakat menjadi bersama masyarakat.
Dari memberikan menjadi memberdayakan.
Dari melaksanakan menjadi membangun kapasitas.
Dari kegiatan menjadi proses perubahan.
Raka kemudian menatap seluruh anggota.
“Kita mungkin tidak akan mampu menyelesaikan semua persoalan Desa Awan Biru.”
Ia berhenti.
“Tapi kalau selama berada di sini kita bisa membantu masyarakat menemukan satu atau dua kekuatan yang bisa mereka lanjutkan sendiri, saya rasa KKN kita sudah memiliki makna.”
Tidak ada tepuk tangan.
Tidak ada sorak.
Hanya keheningan yang terasa penuh.
Semua mahasiswa mulai memahami bahwa mereka sedang berada di sebuah titik perubahan.
Namun perubahan cara berpikir itu juga membawa konsekuensi.
Program yang telah disusun harus diubah.
Jadwal harus disesuaikan.
Beberapa kegiatan harus dikurangi.
Beberapa program baru justru harus ditambahkan.
Dan perubahan tersebut tidak semuanya diterima dengan mudah.
Ada anggota yang merasa pekerjaan mereka bertambah.
Ada yang khawatir target KKN tidak tercapai.
Ada yang takut dosen pembimbing mempertanyakan perubahan program.
Ada pula yang merasa bahwa kelompok terlalu jauh meninggalkan proposal awal.
Raka kembali menghadapi tantangan.
Ia harus menjelaskan bahwa perubahan bukan berarti kegagalan.
Justru kemampuan beradaptasi adalah bagian dari pengabdian.
Tetapi ia juga menyadari satu hal:
membangun pemberdayaan masyarakat tidak hanya membutuhkan program yang baik.
Ia membutuhkan kesabaran.
Membutuhkan komunikasi.
Membutuhkan kepercayaan.
Dan membutuhkan waktu.
Sementara waktu KKN terus berjalan.
Hari-hari mereka semakin berkurang.
Tetapi pekerjaan justru semakin banyak.
Pada malam berikutnya, Raka kembali membuka proposal.
Kali ini ia tidak merasa terbebani oleh banyaknya program.
Ia justru tersenyum.
Proposal itu masih sama.
Tetapi cara pandangnya telah berubah.
Ia mengambil pulpen lalu menulis pada halaman pertama:
“Jangan ukur keberhasilan KKN dari berapa banyak kegiatan yang selesai.”
Ia melanjutkan:
“Ukur dari berapa banyak orang yang setelah kegiatan mampu melakukan sesuatu tanpa kita.”
Raka berhenti menulis.
Kemudian ia menambahkan kalimat terakhir:
“Karena tujuan pengabdian bukan membuat masyarakat membutuhkan kita, tetapi membuat masyarakat semakin percaya pada kemampuan mereka sendiri.”
Ia menutup proposal.
Di luar, suara anak-anak masih terdengar.
Beberapa pemuda sedang berbincang di pinggir jalan.
Lampu rumah warga menyala satu per satu.
Desa Awan Biru tetap berjalan seperti biasa.
Tetapi bagi Raka dan teman-temannya, ada sesuatu yang telah berubah.
Mereka tidak lagi melihat desa hanya sebagai tempat pelaksanaan KKN.
Mereka mulai melihatnya sebagai ruang belajar.
Ruang berbagi.
Ruang bertumbuh.
Dan ruang untuk membangun harapan.
Namun mereka belum mengetahui bahwa keputusan untuk mengubah cara kerja tersebut akan membawa mereka pada persoalan yang jauh lebih besar.
Sebab ketika masyarakat mulai dilibatkan dalam menentukan arah program, tidak semua masyarakat memiliki keinginan yang sama.
Ada kelompok yang ingin ekonomi menjadi prioritas.
Ada yang lebih memilih pendidikan.
Ada yang menginginkan pembangunan fasilitas.
Ada pula yang merasa selama ini belum cukup didengar.
Perbedaan itu perlahan mulai muncul ke permukaan.
Dan Raka akan kembali diuji.
Bukan lagi hanya sebagai ketua kelompok mahasiswa.
Tetapi sebagai seseorang yang harus belajar menjadi jembatan antara harapan mahasiswa dan kebutuhan masyarakat.
Di Desa Awan Biru, perjalanan mereka masih panjang.
Proposal telah mereka buka.
Program telah mereka evaluasi.
Namun kini mereka harus menghadapi bagian yang jauh lebih sulit:
membangun kepercayaan.
Karena tanpa kepercayaan, program hanya akan menjadi kegiatan.
Tetapi dengan kepercayaan, sebuah kegiatan dapat berubah menjadi gerakan.
Dan gerakan itulah yang perlahan mulai mereka bangun.
BAB III — MENDENGARKAN MASYARAKAT
Desa Bukan Sekadar Tempat Pelaksanaan KKN
Pagi itu Raka berdiri di depan posko sambil memperhatikan seluruh anggota kelompok.
Tidak ada papan presentasi.
Tidak ada proposal yang dibawa.
Tidak ada jadwal kegiatan yang ditempel di dinding.
Hanya sebuah buku catatan kecil yang berada di tangannya.
“Untuk hari ini,” kata Raka, “kita tidak punya program.”
Beberapa mahasiswa saling berpandangan.
“Tidak punya program?”
Raka tersenyum.
“Bukan begitu. Maksud saya, hari ini kita tidak datang untuk menawarkan program.”
“Lalu kita mau melakukan apa?”
“Kita mau mendengarkan.”
Kalimat itu membuat beberapa anggota tersenyum.
Namun bagi Raka, keputusan tersebut sangat serius.
Setelah mengevaluasi program kerja pada hari-hari sebelumnya, mereka mulai menyadari bahwa terlalu banyak asumsi yang dibuat sebelum mengenal kondisi masyarakat secara lebih mendalam.
Mereka memiliki proposal.
Mereka memiliki teori.
Mereka memiliki berbagai konsep pemberdayaan.
Tetapi masyarakat memiliki kenyataan.
Dan hari itu mereka ingin belajar mendengarkan kenyataan tersebut.
Raka membagi anggota menjadi beberapa kelompok kecil.
Ada yang menemui petani.
Ada yang mengunjungi pelaku UMKM.
Ada yang berbicara dengan pemuda.
Ada yang menemui kelompok perempuan.
Ada yang mendatangi pengelola perpustakaan.
Sementara beberapa anggota lainnya bertemu perangkat desa dan tokoh masyarakat.
“Jangan membawa proposal,” pesan Raka.
“Kalau ditanya program?”
“Jangan langsung menjawab.”
“Kenapa?”
“Tanyakan kembali apa yang mereka butuhkan.”
Raka kemudian menambahkan,
“Jangan membuat masyarakat merasa sedang diwawancarai untuk memenuhi laporan KKN.”
Semua terdiam.
“Anggap kita sedang bertamu.”
- Bertemu Para Petani
Raka bersama dua anggota lainnya berjalan menuju kawasan kebun di pinggir desa.
Jalan tanah masih sedikit basah karena hujan malam sebelumnya.
Di sepanjang perjalanan mereka melihat warga mulai bekerja.
Ada yang membawa cangkul.
Ada yang mengangkut hasil kebun.
Ada yang membersihkan lahan.
Raka berhenti di sebuah kebun dan menyapa seorang petani yang sedang bekerja.
“Pak, boleh kami ngobrol sebentar?”
Petani itu tersenyum.
“Silakan.”
Mereka duduk di bawah sebuah pohon.
Awalnya percakapan berlangsung sederhana.
Tentang cuaca.
Tentang kondisi tanah.
Tentang hasil panen.
Namun perlahan pembicaraan menjadi lebih dalam.
“Kalau boleh tahu, apa kesulitan yang paling sering Bapak hadapi?” tanya Raka.
Petani itu berpikir sejenak.
“Banyak.”
“Misalnya?”
“Pupuk. Harga hasil panen. Transportasi.”
Raka mencatat.
“Kalau soal pemasaran?”
Petani itu mengangguk.
“Itu juga.”
“Biasanya hasil panen dijual ke mana?”
“Ke pengepul.”
“Kenapa tidak dijual langsung?”
Petani itu tertawa kecil.
“Kalau kami punya akses langsung ke pembeli, tentu kami mau.”
Raka berhenti menulis.
Jawaban itu membuatnya berpikir.
Masalah petani ternyata bukan semata-mata kurang pengetahuan.
Mereka memiliki pengalaman.
Mereka tahu cara bertani.
Mereka tahu musim.
Mereka tahu kondisi lahan.
Tetapi ada keterbatasan akses.
Akses pasar.
Akses informasi.
Akses jaringan.
Dan terkadang akses teknologi.
Raka menutup bukunya.
“Kalau mahasiswa membantu, Bapak berharap kami membantu dalam hal apa?”
Petani itu menatap Raka.
“Kalau bisa, jangan hanya mengajari kami bertani.”
Raka tersenyum.
“Lalu?”
“Bantu kami mencari jalan supaya hasil yang kami tanam bisa punya nilai lebih.”
Kalimat itu terus diingat Raka.
- UMKM yang Sudah Berjalan
Di tempat lain, Farida dan dua anggota kelompok bertemu dengan seorang ibu yang memiliki usaha makanan rumahan.
Produk yang dihasilkan sebenarnya cukup menarik.
Kemasan sederhana.
Rasa cukup baik.
Harga terjangkau.
Namun penjualannya masih terbatas.
“Biasanya dijual ke mana?” tanya Farida.
“Tetangga sekitar.”
“Pernah dijual secara online?”
“Belum.”
“Kenapa?”
Ibu itu tersenyum malu.
“Tidak tahu caranya.”
Ita kemudian melihat ponsel yang digunakan ibu tersebut.
Ponsel itu sebenarnya cukup memadai untuk membuat foto produk.
Namun pemiliknya belum memahami bagaimana menggunakannya untuk pemasaran.
“Kalau ada yang membantu membuatkan foto dan mengajari cara memasarkannya, apakah Ibu tertarik?”
Ibu itu langsung tersenyum.
“Tentu.”
Tetapi kemudian ia menambahkan,
“Asal jangan cuma diajari sekali.”
Farida terdiam.
“Kenapa?”
“Kadang kami sudah ikut pelatihan. Setelah itu bingung lagi ketika mau mempraktikkan.”
Kalimat itu membuat Farida memahami sesuatu.
Masyarakat tidak selalu membutuhkan seminar.
Kadang mereka membutuhkan pendampingan.
Bukan satu kali pertemuan.
Bukan sekadar materi.
Tetapi seseorang yang bersedia menemani sampai mereka benar-benar mampu.
- Pemuda yang Menunggu Ruang
Sementara itu Jevin bersama Agatha menemui beberapa pemuda desa.
Mereka berkumpul di sebuah tempat sederhana di dekat lapangan.
Awalnya percakapan berlangsung santai.
Tentang olahraga.
Tentang pekerjaan.
Tentang kegiatan sehari-hari.
Namun ketika Jevin bertanya tentang kegiatan pemuda, suasana berubah.
“Di sini sering ada kegiatan pemuda?”
Seorang pemuda menggeleng.
“Kadang-kadang.”
“Kenapa tidak rutin?”
“Tidak ada yang menggerakkan.”
“Kalau dibuat kegiatan, kalian mau ikut?”
Beberapa pemuda saling berpandangan.
“Kalau kegiatannya jelas, mau.”
“Misalnya?”
“Olahraga.”
“Bisa.”
“Pelatihan.”
“Bisa.”
“Bikin kegiatan sosial.”
“Bisa juga.”
Agatha bertanya,
“Kalau kalian diberi kesempatan membuat kegiatan sendiri, mau?”
Salah seorang pemuda menjawab,
“Kalau benar-benar diberi kesempatan, mau.”
Jevin tersenyum.
Mereka akhirnya menemukan sesuatu yang selama ini tidak terlihat.
Pemuda bukan tidak memiliki energi.
Mereka hanya belum memiliki wadah.
Dan mungkin yang mereka butuhkan bukan mahasiswa yang datang mengatur.
Mereka membutuhkan ruang untuk mengambil peran.
- Kelompok Perempuan
Di sebuah rumah warga, beberapa perempuan berkumpul.
Farida ikut dalam pertemuan itu.
Mereka berbicara tentang kegiatan rumah tangga, usaha kecil, keterampilan, dan kebutuhan keluarga.
Salah seorang perempuan mengatakan,
“Kami sebenarnya ingin membuat kegiatan bersama.”
“Apa yang menghambat?” tanya Farida.
“Waktu.”
“Selain itu?”
“Kadang bingung mulai dari mana.”
Yang lain menambahkan,
“Kami punya keterampilan. Tapi kalau tidak ada yang membeli, bagaimana?”
Farida kembali mencatat.
Ia mulai melihat pola yang sama.
Potensi ada.
Kemauan ada.
Tetapi akses dan pendampingan masih terbatas.
Mereka tidak kekurangan kemampuan.
Mereka kekurangan ruang untuk mengembangkan kemampuan tersebut menjadi sesuatu yang lebih bernilai.
- Perpustakaan yang Sepi
Sore harinya, Agatha dan Jevin mengunjungi perpustakaan desa.
Ruangan itu sebenarnya cukup baik.
Rak buku tersedia.
Beberapa koleksi buku tersusun rapi.
Namun suasananya terlalu sepi.
Agatha mengambil sebuah buku dari rak.
“Anak-anak sering datang?”
Pengelola perpustakaan menggeleng.
“Tidak terlalu.”
“Kenapa?”
“Sebagian lebih suka bermain.”
“Pernah dibuat kegiatan?”
“Pernah.”
“Bagaimana hasilnya?”
“Lumayan. Tapi setelah kegiatan selesai, kembali sepi.”
Agatha menatap rak buku.
Ia kemudian bertanya,
“Kalau perpustakaan dibuat lebih hidup, misalnya ada kegiatan membaca bersama, bercerita, atau kelas kreativitas, bagaimana?”
Pengelola itu tersenyum.
“Bagus.”
“Siapa yang bisa membantu?”
“Kalau anak-anak mau datang, sebenarnya kami siap.”
Agatha mencatat.
Sekali lagi mereka menemukan persoalan yang sama.
Fasilitas ada.
Buku ada.
Tempat ada.
Tetapi aktivitas dan penggeraknya belum cukup kuat.
- Mendengar Pemerintah Desa
Keesokan harinya Raka bertemu dengan perangkat desa.
Ia tidak datang membawa daftar permintaan.
Ia justru membawa catatan hasil percakapan dengan masyarakat.
“Kami ingin memastikan apa yang kami dengar dari warga sesuai dengan kondisi desa,” katanya.
Perangkat desa menjelaskan beberapa persoalan yang mereka hadapi.
Tidak semuanya bisa diselesaikan mahasiswa.
Ada persoalan yang membutuhkan anggaran.
Ada yang membutuhkan kebijakan.
Ada yang membutuhkan waktu panjang.
Raka menyadari bahwa mahasiswa KKN memiliki keterbatasan.
Mereka tidak boleh membuat janji yang tidak dapat dipenuhi.
“Kami mungkin tidak bisa menyelesaikan semuanya,” kata Raka.
“Tapi kami ingin membantu menemukan bagian yang bisa kami kerjakan bersama masyarakat.”
Perangkat desa mengangguk.
“Justru itu yang kami harapkan.”
- Catatan yang Mulai Berubah
Malam itu seluruh anggota kembali berkumpul.
Kali ini suasananya berbeda.
Tidak ada perdebatan panjang.
Masing-masing membawa catatan.
Raka meminta semua anggota menyampaikan hasil percakapan mereka.
Petani.
UMKM.
Pemuda.
Kelompok perempuan.
Perpustakaan.
Pemerintah desa.
Semua dibahas.
Raka menuliskan hasilnya di papan.
Di sebelah kiri ia menulis:
MASALAH
Di sebelah kanan:
POTENSI
Kemudian mereka mulai mengisi.
Petani memiliki masalah pemasaran.
Tetapi mereka memiliki pengalaman dan produk.
UMKM kesulitan promosi.
Tetapi sudah memiliki usaha.
Pemuda belum memiliki wadah.
Tetapi memiliki tenaga dan gagasan.
Kelompok perempuan membutuhkan akses pasar.
Tetapi memiliki keterampilan.
Perpustakaan sepi.
Tetapi memiliki tempat dan koleksi buku.
Anak-anak membutuhkan pendampingan.
Tetapi memiliki semangat belajar.
Raka menatap papan cukup lama.
Kemudian berkata,
“Ini yang selama ini kita lewatkan.”
“Apa?”
“Kita terlalu banyak melihat masalah.”
Ia menunjuk sisi kanan.
“Padahal di balik setiap masalah, ada potensi.”
Agatha tersenyum.
“Berarti pendekatan kita harus berubah.”
“Ya.”
“Dari mencari apa yang tidak dimiliki desa?”
Raka mengangguk.
“Menjadi mencari apa yang sudah dimiliki desa.”
Farida menambahkan,
“Dan bagaimana yang sudah dimiliki itu bisa dikembangkan.”
“Betul.”
Jevin kemudian bertanya,
“Kalau begitu, mahasiswa posisinya apa?”
Raka terdiam sejenak.
Ia kemudian menjawab,
“Bukan sebagai penyelamat.”
Semua memperhatikan.
“Bukan pula sebagai orang yang paling tahu.”
Raka menunjuk papan.
“Kita menjadi penghubung.”
“Penghubung?”
“Antara potensi dan kesempatan.”
Kalimat itu menjadi kesimpulan rapat malam tersebut.
- Ketika Masyarakat Mulai Bertanya Balik
Beberapa hari setelah proses pendataan itu, sesuatu yang menarik terjadi.
Masyarakat mulai bertanya kepada mahasiswa.
Bukan lagi,
“Program apa yang akan kalian buat?”
Tetapi,
“Kalau kami punya ide seperti ini, bagaimana menurut kalian?”
Pertanyaan itu membuat Raka tersenyum.
Ada perubahan.
Masyarakat mulai merasa memiliki ruang.
Seorang pemuda datang membawa gagasan kegiatan olahraga.
Seorang ibu membawa contoh produk makanan.
Seorang guru menawarkan diri membantu kegiatan membaca.
Pengelola perpustakaan mulai memikirkan jadwal kegiatan anak.
Seorang petani bahkan menawarkan lahan untuk digunakan dalam kegiatan pembelajaran.
Semua itu terjadi tanpa mahasiswa meminta.
Itulah yang membuat Raka semakin yakin.
Ketika masyarakat merasa didengarkan, mereka mulai berani berbicara.
Ketika mereka merasa dihargai, mereka mulai berani mengambil peran.
Dan ketika mereka diberi ruang, potensi yang selama ini tersembunyi mulai muncul.
Namun tidak semuanya berjalan sempurna.
Dalam sebuah pertemuan, muncul perbedaan pendapat.
Sebagian warga menginginkan program ekonomi.
Sebagian lainnya lebih menginginkan kegiatan anak-anak.
Ada pula yang merasa kelompok mereka belum cukup diperhatikan.
Suasana mulai memanas.
Raka berdiri.
“Bapak dan Ibu,” katanya.
Semua terdiam.
“Kami datang bukan untuk menentukan mana yang paling penting.”
Ia menarik napas.
“Kami datang untuk membantu mencari cara agar kebutuhan yang berbeda ini bisa menemukan jalan bersama.”
Salah seorang warga menjawab,
“Tapi tidak semua bisa dilakukan.”
Raka mengangguk.
“Betul.”
“Lalu bagaimana?”
“Kita tentukan prioritas bersama.”
Raka kemudian mengajak warga berdiskusi.
Apa yang paling mendesak?
Apa yang paling mungkin dilakukan?
Siapa yang bersedia terlibat?
Apa yang bisa dikerjakan dengan sumber daya yang sudah ada?
Perlahan suasana menjadi lebih tenang.
Tidak semua persoalan selesai malam itu.
Tetapi mereka telah menemukan sesuatu yang jauh lebih penting.
Cara mengambil keputusan bersama.
Malam semakin larut ketika Raka kembali ke posko.
Ia duduk di teras.
Farida datang membawa beberapa lembar catatan.
“Masih kepikiran?”
Raka tersenyum.
“Sedikit.”
“Karena banyak masalah?”
“Bukan.”
“Lalu?”
Raka melihat ke arah rumah-rumah warga.
“Karena ternyata kita datang ke desa dengan membawa banyak jawaban.”
Farida duduk di sampingnya.
“Sekarang?”
“Sekarang saya sadar bahwa kita justru harus lebih banyak membawa pertanyaan.”
Farida tersenyum.
Raka melanjutkan,
“Selama ini kita berpikir masyarakat membutuhkan kita.”
Ia berhenti.
“Padahal mungkin yang mereka butuhkan hanya seseorang yang mau mendengarkan, memberi ruang, dan membantu mereka menghubungkan kemampuan yang sudah mereka miliki.”
Malam itu Raka membuka buku catatannya.
Ia menulis:
“Desa bukan sekadar tempat pelaksanaan KKN.”
Kemudian ia menambahkan:
“Desa adalah ruang belajar tentang kehidupan, tentang kekuatan masyarakat, dan tentang arti sebenarnya dari pemberdayaan.”
Ia menatap tulisan tersebut.
Kemudian menulis kalimat terakhir:
“Masyarakat sebenarnya memiliki kekuatan. Tugas kami bukan menggantikan kekuatan itu, tetapi membantu membuka ruang agar kekuatan tersebut tumbuh.”
Raka menutup buku.
Di kejauhan terdengar suara anak-anak tertawa.
Beberapa pemuda masih berkumpul.
Lampu perpustakaan terlihat menyala.
Desa Awan Biru tidak berubah dalam satu malam.
Jalannya masih sama.
Rumah-rumahnya masih sama.
Persoalannya masih banyak.
Tetapi sesuatu yang tidak terlihat mulai berubah.
Cara mahasiswa memandang masyarakat telah berubah.
Mereka tidak lagi melihat warga sebagai penerima program.
Mereka mulai melihat warga sebagai mitra.
Mereka tidak lagi melihat potensi desa sebagai sesuatu yang harus mereka temukan untuk kemudian mereka kelola.
Mereka mulai memahami bahwa potensi itu adalah milik masyarakat.
Dan mahasiswa hanya membantu membuka jalan agar potensi tersebut dapat berkembang.
Namun mereka belum mengetahui bahwa proses mendengarkan masyarakat akan membawa mereka pada persoalan yang lebih rumit.
Sebab semakin dalam mereka mendengar, semakin banyak kebutuhan yang mereka temukan.
Dan semakin banyak kebutuhan yang mereka temukan, semakin berat pula pilihan yang harus mereka buat.
Tidak semua kebutuhan dapat dipenuhi.
Tidak semua keinginan dapat diwujudkan.
Tidak semua kelompok dapat memperoleh prioritas yang sama.
Raka kembali berada di persimpangan.
Ia harus memilih.
Bukan memilih program yang paling menarik.
Bukan memilih program yang paling mudah didokumentasikan.
Tetapi memilih program yang benar-benar memiliki peluang untuk menghasilkan perubahan.
Dan untuk pertama kalinya, Raka menyadari bahwa menjadi ketua KKN bukan hanya tentang mengatur mahasiswa.
Ia harus belajar menjadi jembatan antara harapan masyarakat, kemampuan mahasiswa, dan kenyataan yang ada di lapangan.
Perjalanan mereka di Desa Awan Biru pun memasuki tahap baru.
Mereka telah mendengar.
Sekarang saatnya mereka bergerak.
Tetapi bukan bergerak sendirian.
Mereka harus bergerak bersama masyarakat.
BAB IV — RAPAT BESAR DI BALAI DESA
Ketika Mahasiswa Bertemu Harapan Masyarakat
Pagi itu suasana Balai Desa Awan Biru terlihat lebih ramai dari biasanya.
Beberapa kursi plastik telah disusun berjajar.
Di bagian depan terdapat sebuah meja panjang yang disiapkan untuk pemerintah desa dan perwakilan mahasiswa.
Sebuah papan tulis berdiri di samping ruangan.
Di atas meja terdapat beberapa botol air mineral, buku catatan, dan dokumen hasil pemetaan potensi masyarakat.
Hari itu bukan sekadar rapat biasa.
Raka sengaja meminta pemerintah desa mengundang berbagai unsur masyarakat.
Ada perangkat desa.
Ada tokoh masyarakat.
Ada perwakilan pemuda.
Ada kelompok perempuan.
Ada pelaku usaha.
Ada perwakilan pengelola perpustakaan.
Dan tentu saja mahasiswa KKN.
Mereka akan membicarakan satu hal:
Ke mana arah kegiatan KKN selanjutnya?
Raka datang lebih awal.
Ia berdiri di depan papan tulis sambil membaca kembali catatan yang telah disusun selama beberapa hari terakhir.
Di papan sudah tertulis:
POTENSI DESA AWAN BIRU
Di bawahnya terdapat beberapa poin:
- Pendidikan dan literasi
- Pertanian
- UMKM
- Pemuda
- Keterampilan perempuan
- Lingkungan
- Potensi sosial masyarakat
Raka memandang tulisan tersebut.
Semakin lama ia melihatnya, semakin ia menyadari bahwa persoalan mereka bukan kekurangan gagasan.
Justru sebaliknya.
Gagasan mereka terlalu banyak.
Yang belum ditemukan adalah cara menentukan mana yang paling penting.
Tak lama kemudian, Kepala Desa Awan Biru, Pak Iwan, memasuki ruangan.
Ia menyalami beberapa mahasiswa.
“Sudah siap?”
Raka tersenyum.
“Siap, Pak.”
Pak Iwan melihat papan tulis.
“Banyak sekali.”
Raka tertawa kecil.
“Itulah masalahnya, Pak.”
Pak Iwan ikut tersenyum.
“Kalau terlalu banyak, nanti jangan sampai tidak ada yang selesai.”
Kalimat sederhana itu membuat Raka terdiam.
Ia merasa Pak Iwan memahami persoalan yang sedang mereka hadapi.
Satu per satu peserta mulai berdatangan.
Perangkat desa duduk di sisi depan.
Tokoh masyarakat mengambil tempat di tengah.
Para pemuda duduk berkelompok.
Beberapa ibu duduk di sisi lain.
Mahasiswa berada di bagian belakang dan samping ruangan.
Ketika semua telah berkumpul, Pak Iwan membuka pertemuan.
“Bapak dan Ibu sekalian,” katanya.
Ruangan menjadi tenang.
“Hari ini kita berkumpul bukan untuk mendengarkan mahasiswa KKN menyampaikan program saja.”
Beberapa mahasiswa saling berpandangan.
Pak Iwan melanjutkan,
“Kita ingin mendengar semuanya.”
Ia memandang masyarakat.
“Apa yang dibutuhkan.”
Kemudian ia memandang mahasiswa.
“Apa yang bisa dilakukan.”
Lalu ia menatap perangkat desa.
“Dan apa yang bisa kita kerjakan bersama.”
Raka tersenyum.
Ia merasa pembukaan itu tepat.
Setelah sambutan singkat, Raka berdiri.
Ia membawa beberapa lembar catatan.
“Terima kasih kepada pemerintah desa dan masyarakat yang sudah meluangkan waktu.”
Ia kemudian menjelaskan proses yang telah mereka lakukan.
“Kami beberapa hari terakhir turun langsung menemui masyarakat.”
Ia menyebutkan beberapa kelompok yang telah ditemui.
Petani.
Pelaku UMKM.
Pemuda.
Kelompok perempuan.
Pengelola perpustakaan.
Guru.
Tokoh masyarakat.
“Dari pertemuan tersebut, kami menemukan banyak potensi.”
Raka menunjuk papan tulis.
“Namun kami juga menemukan berbagai persoalan.”
Ia berhenti.
“Kami menyadari bahwa tidak semua persoalan bisa kami selesaikan.”
Beberapa warga mengangguk.
“Karena itu, kami tidak ingin datang membawa keputusan sendiri.”
Raka menatap seluruh peserta.
“Kami ingin mendengar pendapat Bapak dan Ibu.”
Seorang tokoh masyarakat mengangkat tangan.
“Kalau menurut saya,” katanya, “pendidikan harus menjadi prioritas.”
Raka mencatat.
“Kenapa?”
“Karena anak-anak adalah masa depan desa.”
Belum sempat Raka menjawab, seorang warga lain ikut berbicara.
“Ekonomi juga penting.”
“Kenapa?”
“Kalau ekonomi keluarga kuat, masyarakat juga lebih mudah berkembang.”
Seorang pemuda kemudian mengangkat tangan.
“Pemuda juga jangan dilupakan.”
Beberapa orang tersenyum.
“Kami punya banyak anak muda di desa ini. Kalau ada kegiatan yang tepat, kami siap membantu.”
Dari sisi lain ruangan, seorang ibu ikut menyampaikan pendapat.
“Kelompok perempuan juga membutuhkan kegiatan.”
Raka terus mencatat.
Satu demi satu usulan bermunculan.
Pada awalnya rapat berlangsung tenang.
Namun semakin banyak usulan, suasana mulai berubah.
Setiap kelompok memiliki alasan.
Setiap kebutuhan dianggap penting.
Seorang warga bahkan mengatakan,
“Kalau semuanya penting, kenapa harus ada yang dipilih?”
Pertanyaan itu membuat ruangan hening.
Raka menarik napas.
Ia kemudian menjawab,
“Karena kemampuan kita terbatas.”
“Mahasiswa hanya punya waktu tertentu di desa.”
Ia memandang masyarakat.
“Dan kalau kita mencoba melakukan semuanya, saya khawatir tidak ada yang benar-benar selesai.”
Salah seorang warga menimpali,
“Berarti ada kebutuhan masyarakat yang harus ditinggalkan?”
Raka terdiam.
Pertanyaan tersebut terasa berat.
“Bukan ditinggalkan,” jawabnya.
“Lalu?”
“Ditentukan tahapnya.”
Namun ternyata bukan hanya masyarakat yang mulai berbeda pendapat.
Dari sisi mahasiswa, seorang anggota mengangkat tangan.
“Kami sebenarnya sudah memiliki cukup banyak program dalam proposal.”
Ia membuka dokumen.
“Kalau semua usulan masyarakat dimasukkan, kami khawatir jadwal kami tidak cukup.”
Seorang warga langsung menanggapi.
“Kalau begitu, kenapa dari awal datang membawa program?”
Ruangan mendadak sunyi.
Beberapa mahasiswa terlihat terkejut.
Raka menatap anggota tersebut.
Kemudian ia melihat warga yang berbicara.
Tidak ada yang sepenuhnya salah.
Mahasiswa memang memiliki batas waktu.
Masyarakat memang memiliki kebutuhan.
Masalahnya adalah bagaimana mempertemukan keduanya.
Pak Iwan yang sejak tadi mendengarkan akhirnya berbicara.
“Bapak dan Ibu.”
Semua kembali diam.
“Menurut saya, kita jangan memperdebatkan siapa yang paling membutuhkan.”
Ia berhenti sejenak.
“Kita harus mencari mana yang paling mungkin kita kerjakan bersama.”
Pak Iwan melihat ke arah mahasiswa.
“Mahasiswa memiliki waktu terbatas.”
Kemudian ia menatap masyarakat.
“Masyarakat akan tetap tinggal di desa setelah mahasiswa selesai KKN.”
Ia kembali diam sejenak.
Lalu mengatakan kalimat yang kemudian membuat seluruh ruangan hening:
“Program yang bagus bukan yang paling banyak, tetapi yang paling bisa dirasakan manfaatnya.”
Tidak ada yang langsung menjawab.
Kalimat itu sederhana.
Namun bagi Raka, terasa seperti sebuah tamparan.
Selama ini mereka terlalu sering menghitung jumlah kegiatan.
Berapa program.
Berapa peserta.
Berapa dokumentasi.
Berapa kegiatan yang selesai.
Tetapi mereka belum cukup sering bertanya:
Apa yang benar-benar berubah?
Raka kembali berdiri.
Ia mengambil spidol.
Kemudian menghapus tulisan:
“DAFTAR PROGRAM KKN”
Ia menggantinya dengan kalimat:
“PERUBAHAN YANG INGIN DIBANGUN”
Semua peserta memperhatikan.
Raka kemudian berkata,
“Mulai sekarang, mungkin cara berpikir kita harus diubah.”
Ia menunjuk tulisan tersebut.
“Kita tidak boleh hanya bertanya, ‘Program apa yang akan kami lakukan?’”
Ia berhenti.
“Kita harus bertanya…”
Raka menulis kalimat kedua:
“PERUBAHAN APA YANG INGIN KITA BANGUN BERSAMA?”
Ruangan menjadi hening.
Seorang pemuda mengangguk.
Seorang ibu tersenyum.
Pak Iwan memandang tulisan tersebut dengan serius.
Raka melanjutkan.
“Kalau kita ingin pendidikan berkembang, perubahan apa yang ingin kita lihat?”
Ia menulis:
Anak-anak lebih gemar membaca.
Kemudian:
Ada kegiatan belajar yang bisa diteruskan.
Kemudian:
Ada masyarakat yang ikut mendampingi.
“Kalau ekonomi?”
Ia menulis:
Produk lokal lebih dikenal.
Pelaku usaha mampu memasarkan produknya.
Ada kemampuan yang bisa diteruskan.
“Kalau pemuda?”
Ia menulis:
Pemuda memiliki ruang berkreasi.
Pemuda terlibat dalam kegiatan desa.
Ada kegiatan yang mereka kelola sendiri.
Perlahan rapat berubah.
Bukan lagi tentang siapa yang memiliki program paling penting.
Tetapi tentang perubahan apa yang dapat diwujudkan.
Pak Iwan kemudian bertanya,
“Kalau begitu, bagaimana kita menentukan prioritas?”
Raka menjawab,
“Kita gunakan beberapa pertanyaan.”
Ia menulis:
Pertama, apakah masyarakat benar-benar membutuhkan?
Kedua, apakah masyarakat bersedia terlibat?
Ketiga, apakah mahasiswa mampu mendampingi?
Keempat, apakah sumber daya tersedia?
Kelima, apakah kegiatan bisa dilanjutkan setelah KKN selesai?
Raka menatap peserta.
“Kalau lima pertanyaan ini bisa kita jawab, berarti program tersebut memiliki dasar yang cukup kuat.”
Diskusi kembali dimulai.
Kali ini suasananya berbeda.
Seorang tokoh masyarakat mengusulkan kegiatan literasi.
Bukan hanya lomba.
Tetapi kegiatan membaca rutin.
Pengelola perpustakaan menyatakan siap menyediakan tempat.
Seorang guru bersedia membantu.
Beberapa pemuda menawarkan diri menjadi pendamping.
Raka tersenyum.
“Ini sudah bukan lagi program mahasiswa.”
Ia memandang semua yang terlibat.
“Ini mulai menjadi kegiatan masyarakat.”
Kalimat itu disambut senyum.
Kemudian pembahasan beralih ke UMKM.
Seorang ibu membawa contoh produk yang selama ini dijual.
Ia meletakkannya di atas meja.
“Kalau mahasiswa bisa membantu pemasaran, kami siap ikut.”
Jevin segera memperhatikan produk tersebut.
“Kemasan sudah cukup bagus.”
“Tapi?”
“Foto produknya bisa kita perbaiki.”
Farida menambahkan,
“Kita juga bisa bantu menulis cerita produknya.”
Agatha tersenyum.
“Saya bisa bantu dokumentasi.”
Raka kemudian bertanya,
“Siapa yang nanti akan mengelola pemasaran?”
Ibu tersebut menjawab,
“Kami sendiri.”
Raka mengangguk.
Itulah jawaban yang ia tunggu.
Mahasiswa membantu.
Masyarakat menjalankan.
Pembahasan pemuda juga menghasilkan sesuatu.
Salah seorang pemuda berkata,
“Kalau ada kegiatan, jangan hanya kami dijadikan peserta.”
Raka menatapnya.
“Maksudnya?”
“Kami ingin dilibatkan dalam perencanaan.”
Beberapa pemuda mengangguk.
Raka tersenyum.
“Justru itu yang kami harapkan.”
“Kalau kami diberi tanggung jawab?”
“Kalian harus siap.”
Pemuda itu tertawa.
“Siap.”
Suasana menjadi lebih cair.
Namun tidak semua persoalan selesai.
Masih ada warga yang merasa kebutuhannya belum masuk prioritas.
Seorang bapak menyampaikan keberatan.
“Bagaimana dengan lingkungan?”
Raka mengangguk.
“Itu juga penting.”
“Kalau begitu kenapa tidak menjadi prioritas?”
Raka menjelaskan bahwa kegiatan lingkungan tetap dapat dilakukan, tetapi bentuknya disesuaikan dengan kemampuan.
Tidak harus menjadi program besar.
Bisa dimulai dari kegiatan sederhana.
Gotong royong.
Edukasi.
Pengelolaan sampah.
Pemanfaatan lingkungan.
Yang penting ada keterlibatan masyarakat.
Bapak tersebut akhirnya mengangguk.
Ia tidak mendapatkan semua yang diinginkannya.
Tetapi ia mendapatkan kesempatan untuk didengar.
Dan bagi Raka, itu sama pentingnya.
Rapat berlangsung hampir tiga jam.
Ketika akhirnya sampai pada kesimpulan, mereka tidak memiliki daftar program yang sangat panjang.
Justru lebih sedikit.
Tetapi setiap kegiatan memiliki tujuan.
Ada kegiatan pendidikan dan literasi.
Ada pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Ada penguatan kegiatan pemuda.
Ada pendampingan kelompok perempuan.
Ada kegiatan lingkungan yang melibatkan masyarakat.
Dan seluruhnya memiliki satu prinsip:
Masyarakat harus menjadi bagian dari proses.
Bukan sekadar peserta.
Pak Iwan menutup rapat.
“Saya senang hari ini kita tidak hanya membicarakan kegiatan.”
Ia melihat mahasiswa.
“Kalian sudah mulai memahami desa.”
Kemudian ia melihat masyarakat.
“Dan masyarakat juga harus memahami bahwa mahasiswa tidak mungkin menyelesaikan semua persoalan.”
Ia tersenyum.
“Kalau kita ingin ada perubahan, kita harus bekerja bersama.”
Tepuk tangan terdengar.
Tidak terlalu meriah.
Tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa pertemuan itu menghasilkan sesuatu.
Setelah sebagian peserta meninggalkan balai desa, Raka masih berdiri di depan papan.
Tulisan itu masih terlihat jelas:
PERUBAHAN APA YANG INGIN KITA BANGUN BERSAMA?
Agatha datang menghampirinya.
“Rak.”
“Ya?”
“Rapatnya berhasil?”
Raka tersenyum.
“Menurutmu?”
Agatha melihat papan.
“Kalau ukurannya jumlah program, mungkin tidak.”
“Kalau ukurannya?”
“Jumlah orang yang mulai merasa punya peran?”
Raka tersenyum lebih lebar.
“Mungkin berhasil.”
Farida kemudian datang membawa catatan.
“Banyak pekerjaan baru.”
Raka tertawa.
“Memang.”
Jevin ikut bergabung.
“Dan jadwal kita semakin padat.”
Raka mengangguk.
“Memang.”
Agatha menatapnya.
“Kamu tidak takut?”
Raka diam sejenak.
“Tentu.”
“Lalu?”
“Saya lebih takut kalau kita pulang nanti masyarakat hanya mengingat kita karena pernah mengadakan banyak kegiatan.”
Agatha tersenyum.
“Lalu kamu ingin mereka mengingat apa?”
Raka memandang ke arah balai desa.
“Saya ingin mereka mengingat bahwa pernah ada masa ketika mereka duduk bersama, berbicara bersama, dan menyadari bahwa mereka sebenarnya mampu melakukan banyak hal.”
Sore mulai turun.
Matahari perlahan bergerak ke balik pepohonan.
Balai desa mulai sepi.
Kursi-kursi dikembalikan ke tempatnya.
Papan tulis masih berdiri.
Beberapa tulisan belum dihapus.
Namun sebuah perubahan telah terjadi.
Hari itu mahasiswa tidak lagi datang sebagai sekumpulan orang yang membawa program.
Mereka mulai hadir sebagai bagian dari sebuah proses.
Proses yang melibatkan pemerintah desa.
Melibatkan masyarakat.
Melibatkan pemuda.
Melibatkan kelompok perempuan.
Melibatkan anak-anak.
Dan melibatkan mahasiswa.
Sebuah proses yang belum tentu mudah.
Karena setelah rapat besar itu, harapan masyarakat justru semakin jelas.
Dan harapan yang semakin jelas berarti tanggung jawab yang semakin besar.
Raka menyadari hal tersebut ketika ia berjalan pulang menuju posko.
Ia membuka buku catatannya.
Di halaman baru, ia menulis:
“Hari ini kami belajar bahwa program bukan tujuan.”
Ia berhenti.
Kemudian melanjutkan:
“Program hanyalah alat.”
Ia menulis kalimat terakhir:
“Tujuan sebenarnya adalah perubahan yang dirasakan dan dapat dilanjutkan oleh masyarakat.”
Raka menutup bukunya.
Namun ia belum menyadari bahwa keputusan rapat hari itu akan membawa kelompok KKN ke dalam tantangan baru.
Sebab setelah masyarakat dilibatkan dalam menentukan arah, mereka akan menuntut satu hal:
bukti.
Bukan lagi sekadar rencana.
Bukan sekadar proposal.
Bukan sekadar presentasi.
Masyarakat ingin melihat apakah gagasan yang telah disepakati benar-benar dapat diwujudkan.
Dan mulai hari berikutnya, Raka bersama seluruh anggota kelompok harus membuktikan bahwa keputusan mereka bukan sekadar kata-kata dalam rapat.
Mereka harus mulai bergerak.
Bukan sebagai mahasiswa yang bekerja untuk masyarakat.
Tetapi sebagai mahasiswa yang bekerja bersama masyarakat.
Dan di Desa Awan Biru, perubahan itu akhirnya mulai memiliki bentuk.
BAB V — MEMBENTUK TIM PENGGERAK
Raka Tidak Bisa Bekerja Sendirian
Sejak rapat besar di Balai Desa Awan Biru, suasana kelompok KKN berubah.
Program mereka kini telah memiliki arah.
Masyarakat mulai dilibatkan.
Pemerintah desa memberikan dukungan.
Beberapa kelompok warga bahkan mulai menawarkan diri untuk ikut berpartisipasi.
Namun bagi Raka, semua itu justru melahirkan persoalan baru.
Siapa yang akan menjalankan semuanya?
Ia mulai menyadari bahwa keputusan yang baik tidak akan berarti apa-apa jika tidak memiliki orang-orang yang mampu menjalankannya.
Selama ini Raka terlalu sering menjadi pusat berbagai kegiatan.
Jika ada surat yang harus dibuat, ia ikut memeriksa.
Jika ada rapat, ia hadir.
Jika ada masalah, anggota datang kepadanya.
Jika ada perubahan jadwal, ia yang menyesuaikan.
Jika ada masyarakat yang perlu ditemui, namanya kembali disebut.
Awalnya Raka menganggap semua itu sebagai bagian dari tanggung jawab ketua.
Namun semakin banyak kegiatan, semakin ia merasa kewalahan.
Suatu malam, ia duduk sendirian di posko.
Laptop terbuka di hadapannya.
Jadwal kegiatan memenuhi layar.
Ada tanda-tanda pada beberapa tanggal.
Ada kegiatan yang waktunya berdekatan.
Ada program yang membutuhkan koordinasi dengan pemerintah desa.
Ada kegiatan yang harus melibatkan masyarakat.
Dan ada pekerjaan dokumentasi yang belum selesai.
Raka memijat pelipisnya.
“Kalau begini terus, saya yang habis duluan.”
Agatha yang sedang duduk di sudut ruangan tertawa kecil.
“Baru sadar?”
Raka menoleh.
“Apanya?”
“Ketua tidak bisa mengerjakan semuanya.”
Raka tersenyum.
“Saya kira bisa.”
“Dulu mungkin.”
Agatha berdiri dan menghampirinya.
“Sekarang program kita sudah terlalu banyak untuk ditangani satu orang.”
Raka mengangguk.
“Makanya saya harus mengubah cara kerja.”
“Bagaimana?”
Raka menutup laptop.
“Kita perlu tim penggerak.”
Bukan Sekadar Membagi Tugas
Keesokan paginya Raka mengumpulkan seluruh anggota.
Tidak ada agenda kegiatan khusus.
Tidak ada kunjungan lapangan.
Ia hanya ingin berbicara tentang cara mereka bekerja.
“Kawan-kawan,” kata Raka setelah semua berkumpul.
“Saya ingin kita mengubah pola kerja.”
Beberapa mahasiswa memperhatikan.
“Kita sudah punya program.”
“Masyarakat sudah mulai terlibat.”
“Pemerintah desa juga mendukung.”
Raka berhenti sejenak.
“Tapi kalau semua keputusan masih bergantung pada ketua, kelompok ini tidak akan berjalan dengan baik.”
Salah seorang anggota bertanya,
“Jadi bagaimana?”
“Kita bentuk tim penggerak.”
“Bukankah kita sudah punya divisi?”
Raka mengangguk.
“Sudah.”
“Tapi selama ini divisi kita lebih banyak bekerja sendiri.”
Ia menunjuk beberapa catatan.
“Pendidikan berjalan sendiri. Ekonomi berjalan sendiri. Pemuda sendiri. PDD sendiri.”
Raka kemudian berkata,
“Mulai sekarang, kita harus bekerja saling terhubung.”
Raka mengambil papan tulis.
Ia membuat beberapa kotak.
PENDIDIKAN
EKONOMI
LINGKUNGAN
PEMUDA
LITERASI
KESEHATAN
HUBUNGAN MASYARAKAT
PDD
Di bawah setiap bidang ia menuliskan nama anggota yang bertanggung jawab.
“Penanggung jawab bukan berarti bekerja sendirian,” jelas Raka.
“Justru sebaliknya.”
“Dia menjadi penggerak.”
“Dia memastikan komunikasi berjalan.”
“Dia menghubungkan anggota dengan masyarakat.”
“Dan dia harus melaporkan perkembangan kepada kelompok.”
Seorang mahasiswa bertanya,
“Kalau programnya mengalami masalah?”
“Jangan tunggu sampai rapat.”
“Lalu?”
“Cari bantuan.”
Raka tersenyum.
“Kita satu tim.”
Membentuk Penggerak Pendidikan
Bidang pendidikan menjadi salah satu yang mendapat perhatian utama.
Raka menunjuk dua mahasiswa.
“Kalian bertanggung jawab pada program pendidikan.”
Salah satu dari mereka bertanya,
“Apakah kami harus membuat kegiatan sendiri?”
“Tidak.”
Raka menggeleng.
“Kalian harus berbicara dengan guru, orang tua, dan anak-anak.”
“Kenapa?”
“Karena pendidikan bukan sekadar membuat acara.”
Ia menatap mereka.
“Kita harus tahu kebutuhan anak-anak.”
Mereka kemudian menyusun rencana.
Pendampingan belajar.
Kegiatan membaca.
Permainan edukatif.
Kelas kreativitas.
Dan kegiatan yang melibatkan pemuda sebagai pendamping.
Raka mengingatkan,
“Jangan membuat anak-anak hanya menjadi peserta.”
“Lalu?”
“Buat mereka merasa memiliki kegiatan.”
Penggerak Ekonomi
Bidang ekonomi juga mulai dibentuk.
Beberapa mahasiswa bertugas mendata pelaku UMKM.
Mereka tidak hanya mencatat nama usaha.
Tetapi juga jenis produk.
Kendala.
Cara pemasaran.
Kemasan.
Harga.
Dan peluang pengembangan.
Seorang anggota bertanya,
“Apakah kita harus memberikan pelatihan?”
Raka menjawab,
“Belum tentu.”
“Kenapa?”
“Karena kita harus tahu dulu apa yang benar-benar mereka perlukan.”
Jika masalahnya pemasaran, jangan memberikan pelatihan produksi.
Jika masalahnya kemasan, jangan hanya memberikan materi keuangan.
Jika masalahnya akses pasar, jangan berhenti pada seminar.
“Program harus menjawab masalah,” kata Raka.
“Bukan sekadar memenuhi jadwal.”
Pemuda Harus Menjadi Pelaku
Untuk kelompok pemuda, Raka memberikan pendekatan yang berbeda.
Ia tidak ingin mahasiswa membuat kegiatan lalu meminta pemuda datang sebagai peserta.
Ia ingin pemuda menjadi pelaksana.
“Kalau kalian ingin membuat kegiatan olahraga, libatkan pemuda sejak perencanaan.”
“Kalau ada kegiatan sosial, biarkan mereka memimpin.”
“Kalau ada kegiatan lingkungan, beri mereka tanggung jawab.”
Seorang mahasiswa bertanya,
“Bagaimana kalau mereka tidak aktif?”
Raka tersenyum.
“Cari tahu kenapa.”
“Mungkin mereka malas?”
“Mungkin.”
“Atau?”
“Mungkin mereka belum pernah diberi kesempatan.”
Kalimat itu membuat anggota tersebut terdiam.
Lingkungan dan Kesehatan
Bidang lingkungan mulai diarahkan pada kegiatan yang sederhana tetapi dapat dilakukan bersama masyarakat.
Gotong royong.
Pemilahan sampah.
Edukasi kebersihan.
Pemanfaatan lingkungan.
Tidak ada target yang terlalu besar.
Yang penting kegiatan dapat dilakukan secara nyata.
Begitu pula dengan bidang kesehatan.
Mahasiswa diminta berkoordinasi dengan kader dan tenaga kesehatan.
Mereka tidak boleh bertindak seolah-olah memahami seluruh persoalan kesehatan.
Tugas mereka adalah membantu informasi, mendukung kegiatan, dan menghubungkan masyarakat dengan pihak yang memiliki kewenangan.
Raka kembali mengingatkan,
“Kita harus tahu batas kemampuan kita.”
“Jangan sampai niat membantu justru membuat masalah.”
PDD Mendapat Peran Baru
Setelah semua bidang dibahas, Raka melihat ke arah Agatha, Farida dan Jevin.
“Kalian bertiga berbeda.”
Agatha mengangkat alis.
“Kenapa?”
“Karena pekerjaan kalian masuk ke semua program.”
Jevin tertawa.
“Berarti kami tidak punya divisi sendiri?”
“Justru kalian punya posisi khusus.”
Raka menulis di papan:
PDD — PENGGERAK INFORMASI, DOKUMENTASI, DAN PARTISIPASI
Agatha membaca tulisan itu.
“Biasanya PDD kan dokumentasi dan publikasi.”
“Betul.”
“Sekarang?”
Raka menjawab,
“Sekarang kalian lebih dari itu.”
Agatha — Mencari Cerita
Raka menatap Agatha.
“Tugasmu bukan hanya mengambil foto.”
Agatha mengangguk.
“Kamu harus mencari cerita.”
“Cerita?”
“Ya.”
Raka menjelaskan.
“Cari tahu siapa yang berubah.”
“Siapa yang berani mencoba.”
“Siapa yang punya potensi.”
“Siapa yang sebelumnya pasif lalu mulai aktif.”
“Cari cerita masyarakat.”
Agatha tersenyum.
“Berarti kamera saya harus lebih banyak mengarah ke warga.”
“Bukan hanya ke mahasiswa.”
Agatha mengangguk.
“Siap.”
Farida — Menjelaskan Manfaat
Kemudian Raka menatap Farida.
“Farida, tugasmu bukan sekadar menulis berita.”
Farida memperhatikan.
“Kamu harus menjelaskan makna kegiatan.”
“Maksudnya?”
“Jangan hanya menulis bahwa hari ini mahasiswa melaksanakan kegiatan.”
Raka memberi contoh.
“Jelaskan mengapa kegiatan itu dilakukan.”
“Siapa yang mendapatkan manfaat.”
“Apa yang dipelajari.”
“Apa perubahan yang mulai terlihat.”
“Dan apa yang bisa dilanjutkan.”
Farida mengangguk.
“Berarti tulisan harus membuat orang memahami prosesnya.”
“Betul.”
“Bukan sekadar mengetahui kegiatannya.”
Raka tersenyum.
“Itulah bedanya laporan kegiatan dengan cerita pemberdayaan.”
Jevin — Membuat Visual yang Mengajak
Terakhir Raka melihat Jevin.
“Kalau kamu, jangan hanya membuat desain yang bagus.”
Jevin tertawa.
“Wah, berat.”
“Desainmu harus mengajak.”
“Mengajak siapa?”
“Masyarakat.”
Raka menjelaskan bahwa visual dapat digunakan untuk menginformasikan kegiatan, mengajak warga berpartisipasi, memperkenalkan produk lokal, dan menjelaskan sesuatu yang sulit disampaikan melalui teks panjang.
“Poster bukan sekadar hiasan.”
“Infografis bukan sekadar gambar.”
“Desain harus membantu orang memahami.”
Jevin mengangguk.
“Berarti visual juga bagian dari pemberdayaan.”
“Ya.”
PDD Tidak Lagi Berdiri di Belakang
Pembagian peran tersebut membuatAgatha, Farida dan Jevin saling berpandangan.
Selama ini mereka merasa berada di belakang.
Mereka mendokumentasikan orang lain.
Menulis kegiatan orang lain.
Membuat desain untuk kegiatan orang lain.
Namun sekarang mereka memahami sesuatu.
PDD bukan sekadar tim yang bekerja setelah kegiatan selesai.
PDD harus hadir sejak kegiatan dirancang.
Sebelum program dimulai, mereka harus tahu tujuan.
Saat kegiatan berjalan, mereka harus memahami proses.
Setelah kegiatan selesai, mereka harus mampu menceritakan hasil dan pembelajarannya.
Agatha tersenyum.
“Berarti kita harus ikut rapat semua divisi?”
Raka tertawa.
“Tidak semua.”
“Syukurlah.”
“Tapi kalian harus tahu kegiatan yang akan dilakukan.”
Jevin mengangguk.
“Supaya dokumentasi tidak salah arah.”
“Dan publikasi tidak salah cerita,” tambah Farida.
Raka tersenyum.
“Sekarang kalian paham.”
Ketika Pembagian Tugas Menimbulkan Masalah
Namun membentuk tim penggerak ternyata tidak langsung membuat semuanya berjalan lancar.
Beberapa mahasiswa merasa pembagian tugas tidak adil.
Ada yang merasa pekerjaannya terlalu banyak.
Ada yang merasa bidangnya kurang mendapat perhatian.
Ada yang merasa harus membantu bidang lain meskipun tugas utamanya belum selesai.
Suatu sore, seorang anggota datang kepada Raka.
“Rak, saya merasa tugas saya terlalu berat.”
Raka mempersilakannya duduk.
“Bagian mana?”
“Pendataan UMKM. Saya harus menemui banyak orang. Setelah itu masih harus membuat laporan.”
Raka mengangguk.
“Bisa dibantu anggota lain?”
“Mungkin.”
“Kenapa tidak meminta bantuan?”
“Saya takut dianggap tidak mampu.”
Raka tersenyum.
“Meminta bantuan bukan berarti tidak mampu.”
Ia menatap anggota tersebut.
“Justru orang yang tahu kapan harus meminta bantuan biasanya lebih mampu menjaga pekerjaan tetap berjalan.”
Hari berikutnya, sistem kerja kembali diperbaiki.
Setiap bidang memiliki:
Penanggung jawab.
Anggota pendukung.
Target.
Waktu pelaksanaan.
Kebutuhan.
Mitra masyarakat.
Dan satu kolom terakhir:
“Siapa yang dapat melanjutkan?”
Raka sengaja mempertahankan kolom itu.
Ia tidak ingin timnya kembali terjebak pada pola lama.
Satu Program, Banyak Tangan
Program literasi menjadi contoh pertama.
Tim pendidikan mengatur konsep kegiatan.
Pengelola perpustakaan menyediakan tempat.
Pemuda membantu mengajak anak-anak.
Agatha mendokumentasikan.
Farida menyiapkan materi cerita.
Jevin membuat poster.
Pemerintah desa membantu koordinasi.
Orang tua mendukung anak-anak mereka.
Raka melihat proses tersebut dari kejauhan.
Ia tersenyum.
Tidak ada satu orang yang menjadi pusat.
Semua memiliki peran.
Dan itulah yang ia inginkan.
Sebuah tim.
Bukan kumpulan individu.
Beberapa hari kemudian, kegiatan tersebut berlangsung.
Anak-anak mulai berdatangan.
Ada yang membawa buku.
Ada yang datang bersama orang tua.
Beberapa pemuda membantu menata tempat.
Pengelola perpustakaan terlihat sibuk.
Agatha bergerak dari satu sudut ke sudut lain dengan kameranya.
Farida berbicara dengan beberapa anak.
Jevin memperhatikan poster yang ditempel di dinding.
Raka berdiri di belakang.
Untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu, ia tidak merasa harus mengurus semuanya.
Ia melihat program berjalan.
Bukan karena dirinya.
Tetapi karena semua orang mengambil peran.
Agatha menghampirinya.
“Rak.”
“Ya?”
“Sepertinya kita mulai menemukan pola.”
“Pola apa?”
“Kalau semua orang bergerak, ketua tidak perlu berlari sendirian.”
Raka tertawa.
“Baru sekarang kamu bilang?”
Agatha ikut tertawa.
Malam harinya, setelah kegiatan selesai, mereka melakukan evaluasi.
Tidak semua sempurna.
Ada beberapa kekurangan.
Waktu mulai terlambat.
Beberapa anak tidak kebagian buku.
Poster kurang terlihat.
Dokumentasi masih perlu diperbaiki.
Tetapi ada sesuatu yang lebih penting.
Pengelola perpustakaan berkata,
“Kalau kegiatan seperti ini dilakukan rutin, kami bisa lanjutkan.”
Seorang pemuda berkata,
“Kami bisa bantu mengajak anak-anak.”
Seorang guru mengatakan,
“Saya bisa membantu beberapa kali dalam sebulan.”
Raka mencatat semuanya.
Kemudian ia tersenyum.
Itulah indikator keberhasilan yang sebenarnya.
Bukan hanya kegiatan selesai.
Tetapi ada orang yang ingin melanjutkan.
Malam semakin larut.
Raka, Agatha, Farida dan Jevin duduk di teras posko.
“Dulu saya kira PDD hanya urusan dokumentasi,” kata Raka.
Agatha tertawa.
“Memang.”
“Sekarang?”
“Sekarang kamera saya rasanya punya pekerjaan lebih banyak daripada saya.”
Farida tertawa.
Jevin ikut menyahut,
“Desain juga.”
Raka memandang ketiganya.
“Kalian sadar tidak?”
“Apa?”
“Pemberdayaan membutuhkan cerita.”
Agatha mengangguk.
“Kalau tidak diceritakan, orang lain mungkin tidak tahu.”
“Pemberdayaan juga membutuhkan pemahaman.”
Farida mengangguk.
“Supaya masyarakat tahu manfaatnya.”
“Dan membutuhkan komunikasi visual.”
Jevin mengangguk.
“Supaya informasi mudah dipahami.”
Raka tersenyum.
“Berarti PDD bukan hanya mendokumentasikan perubahan.”
Ia berhenti.
“PDD membantu membuat perubahan itu terlihat, dipahami, dan mengundang orang lain untuk ikut bergerak.”
Ketiganya terdiam.
Mereka mulai memahami tanggung jawab baru yang diberikan kepada mereka.
Namun di balik keberhasilan kecil tersebut, pekerjaan mereka justru semakin besar.
Program mulai berjalan bersamaan.
Masyarakat semakin aktif.
Permintaan bantuan semakin banyak.
Pemerintah desa mulai melibatkan mahasiswa dalam berbagai kegiatan.
Dan waktu KKN terus berjalan.
Raka kembali melihat kalender.
Hari-hari yang tersisa semakin sedikit.
Ia tahu mereka harus bekerja lebih cerdas.
Bukan lebih keras.
Karena tenaga manusia memiliki batas.
Tetapi kerja sama tidak.
Ia kemudian menulis sebuah kalimat di papan posko:
“JANGAN MEMBANGUN KELOMPOK YANG BERGANTUNG PADA KETUA. BANGUNLAH TIM YANG MAMPU BERGERAK TANPA MENUNGGU KETUA.”
Semua anggota membacanya.
Kemudian Raka menambahkan kalimat kedua:
“PEMBERDAYAAN DIMULAI KETIKA SETIAP ORANG DIBERI RUANG UNTUK BERPERAN.”
Hari itu, kelompok KKN Desa Awan Biru tidak lagi sekadar memiliki pembagian tugas.
Mereka mulai memiliki sistem kerja.
Mereka mulai memiliki penggerak.
Dan PDD mulai menemukan posisi barunya.
Bukan di belakang layar.
Bukan pula di depan panggung.
Tetapi di tengah-tengah proses.
Mencari cerita.
Membangun komunikasi.
Menyebarkan informasi.
Mendokumentasikan perubahan.
Dan menghubungkan satu kelompok dengan kelompok lainnya.
Namun Raka belum tahu bahwa membentuk tim hanyalah langkah pertama.
Sebab setelah semua orang memiliki tanggung jawab, akan muncul pertanyaan yang lebih sulit:
Bagaimana memastikan semua orang benar-benar menjalankan perannya?
Dan ketika beberapa anggota mulai kelelahan, sementara program semakin banyak dan waktu semakin sedikit, Raka akan menghadapi ujian kepemimpinan yang lebih berat.
Karena memimpin tim bukan hanya tentang membagi tugas.
Memimpin berarti menjaga agar setiap orang tetap memiliki alasan untuk bergerak ketika rasa lelah mulai mengalahkan semangat.
Di Desa Awan Biru, perjalanan mereka masih panjang.
Dan tim penggerak yang baru terbentuk itu akan segera diuji oleh kenyataan.
BAB VI —AGATHA, FARIDA DAN JEVIN DI GARIS DEPAN PEMBERITAAN
Ketika Cerita Menjadi Penggerak Perubahan
Pagi itu, suasana posko KKN Desa Awan Biru terasa lebih sibuk daripada biasanya.
Sejak matahari belum terlalu tinggi, Agatha sudah duduk di depan laptop.
Di sampingnya terdapat kamera.
Beberapa kartu memori tergeletak di atas meja.
Di layar komputer tampak puluhan foto kegiatan yang baru saja dipindahkan.
Ada foto anak-anak di perpustakaan.
Ada pemuda yang sedang membersihkan lingkungan.
Ada ibu-ibu yang memamerkan produk makanan.
Ada petani yang sedang bekerja.
Ada pula foto mahasiswa yang sedang berdiskusi dengan masyarakat.
Agatha melihat foto demi foto.
Namun kali ini ia tidak sekadar mencari gambar yang paling bagus.
Ia mencari cerita.
Ia berhenti pada sebuah foto.
Seorang ibu sedang tersenyum sambil memegang produk buatannya.
Di belakangnya terdapat meja sederhana dengan beberapa kemasan makanan.
Agatha memperbesar foto tersebut.
Ia tersenyum.
“Ini bukan sekadar foto produk.”
Farida yang duduk di sebelahnya menoleh.
“Lalu?”
“Ini cerita.”
Farida memperhatikan foto itu.
“Cerita tentang apa?”
“Belum tahu.”
“Berarti harus dicari.”
Agatha mengangguk.
“Ya.”
Selama beberapa hari terakhir, Agatha mulai mengubah cara kerjanya.
Ia tidak lagi hanya menunggu kegiatan berlangsung.
Ia mulai datang lebih awal.
Berbicara dengan masyarakat.
Mencatat nama.
Menanyakan latar belakang.
Mencari tahu bagaimana sebuah kegiatan dimulai.
Siapa yang menggagas.
Siapa yang bekerja.
Siapa yang mengalami kesulitan.
Dan apa yang berubah setelah kegiatan tersebut dilakukan.
Ia mulai memahami bahwa sebuah foto yang baik bukan selalu foto yang paling indah.
Kadang-kadang foto yang paling bermakna justru menunjukkan tangan yang sedang bekerja.
Wajah yang sedang berusaha.
Anak yang sedang belajar.
Ibu yang sedang mencoba.
Pemuda yang sedang menggerakkan teman-temannya.
Atau petani yang tetap bekerja meskipun menghadapi berbagai keterbatasan.
Sementara itu, Farida mulai mengubah cara menulis.
Sebelumnya ia terbiasa menulis berita dengan pola yang sederhana.
Kegiatan berlangsung.
Tempat.
Waktu.
Peserta.
Sambutan.
Kemudian selesai.
Tetapi sekarang ia merasa pola tersebut tidak cukup.
Ia ingin pembaca mengetahui apa yang berada di balik kegiatan.
Siapa manusia di dalamnya.
Apa perjuangannya.
Mengapa kegiatan tersebut penting.
Dan bagaimana perubahan mulai terjadi.
Ia membuka sebuah dokumen baru.
Judul sementara tertulis:
“Dari Dapur Sederhana Menuju Harapan Baru.”
Farida mulai menulis.
Bukan tentang mahasiswa.
Bukan tentang rapat.
Tetap tentang seorang ibu yang selama bertahun-tahun membuat makanan rumahan.
Ia menulis bagaimana usaha itu bermula.
Bagaimana produk dijual dari rumah ke rumah.
Bagaimana keterbatasan pemasaran membuat usahanya sulit berkembang.
Dan bagaimana pendampingan mahasiswa mulai membuka peluang baru.
Farida berhenti sejenak.
Kemudian menghapus beberapa paragraf.
Ia merasa tulisannya masih terlalu banyak membicarakan mahasiswa.
Ia mengubahnya.
Kali ini masyarakat menjadi pusat cerita.
Jevin juga bekerja dengan cara yang berbeda.
Ia tidak lagi hanya membuat poster kegiatan KKN.
Ia mulai membuat materi visual untuk masyarakat.
Salah satunya adalah desain sederhana untuk membantu pelaku UMKM menampilkan produknya.
Ia memotret produk.
Mengatur komposisi.
Membuat informasi singkat.
Menampilkan nama produk.
Dan menambahkan informasi yang mudah dipahami.
Ketika desain selesai, Jevin menunjukkannya kepada pemilik usaha.
“Bagaimana, Bu?”
Ibu tersebut memperhatikan cukup lama.
“Bagus.”
“Kalau ada yang perlu diubah?”
“Nama produknya diperbesar.”
Jevin tersenyum.
“Kenapa?”
“Biar orang mudah ingat.”
Jevin segera memperbaiki.
Ia belajar sesuatu.
Desain yang menurutnya bagus belum tentu desain yang paling sesuai bagi masyarakat.
Visual harus dibuat berdasarkan kebutuhan pengguna.
Bukan hanya berdasarkan selera pembuatnya.
PDD Mulai Berubah
Perubahan itu perlahan terlihat.
Agatha mulai dikenal sebagai orang yang sering bertanya kepada warga.
Farida mulai dikenal sebagai mahasiswa yang suka mencatat cerita.
Jevin mulai sering didatangi warga yang ingin meminta bantuan membuat desain.
Ketiganya mulai berada di tengah-tengah masyarakat.
Mereka tidak lagi hanya menjadi tim dokumentasi.
Mereka menjadi bagian dari proses komunikasi.
Suatu sore, Raka melihat mereka bekerja.
Agatha sedang berbicara dengan seorang pemuda.
Farida sedang mewawancarai seorang ibu.
Jevin sedang menunjukkan desain kepada pelaku usaha.
Raka tersenyum.
Ia teringat kalimat yang pernah ia sampaikan:
“Kalau kita ingin perubahan ini dikenal, maka cerita masyarakat harus ikut berjalan.”
Sekarang kalimat itu mulai menjadi kenyataan.
Cerita yang Tidak Boleh Salah
Namun semakin dalam mereka bekerja, semakin mereka menemukan persoalan baru.
Tidak semua cerita mudah ditulis.
Ada masyarakat yang ingin kisahnya dipublikasikan.
Ada yang tidak ingin namanya disebut.
Ada yang bersedia difoto.
Ada yang merasa malu.
Ada yang ingin produknya dipromosikan.
Ada pula yang takut jika usahanya diketahui terlalu banyak orang.
Agatha mulai memahami bahwa dokumentasi bukan sekadar mengambil gambar.
Ia harus menghargai orang yang berada di depan kameranya.
Suatu hari ia hendak memotret seorang warga.
Warga tersebut menolak.
“Jangan saya.”
Agatha menurunkan kameranya.
“Kenapa, Pak?”
“Saya kurang nyaman.”
Agatha mengangguk.
“Tidak apa-apa.”
Ia tidak memaksa.
Ketika kembali ke posko, ia menceritakan hal tersebut kepada Raka.
Raka mengangguk.
“Bagus kamu tidak memaksa.”
“Padahal fotonya sebenarnya penting.”
“Cerita yang baik tidak boleh dibangun dengan membuat orang tidak nyaman.”
Agatha mengangguk.
Ia mulai memahami bahwa etika adalah bagian dari pekerjaan PDD.
Farida juga mengalami hal serupa.
Suatu hari ia selesai mewawancarai seorang ibu.
Cerita yang disampaikan sangat menarik.
Tetapi ada beberapa bagian yang bersifat pribadi.
Farida ragu memasukkannya ke dalam tulisan.
Ia kemudian bertanya kepada ibu tersebut.
“Kalau bagian ini saya tulis, Ibu keberatan?”
Ibu itu membaca catatan Farida.
“Kalau yang ini jangan.”
Farida langsung mencoret bagian tersebut.
“Baik, Bu.”
Ibu itu tersenyum.
“Terima kasih sudah bertanya.”
Farida kemudian sadar.
Seorang penulis tidak memiliki hak atas semua cerita yang ia dengar.
Ada cerita yang boleh dibagikan.
Ada cerita yang harus disimpan.
Dan ada cerita yang hanya boleh menjadi pembelajaran pribadi.
Jevin juga mendapat pelajaran yang sama.
Seorang pelaku usaha meminta dibuatkan desain promosi.
Jevin membuat desain yang menurutnya menarik.
Namun ketika ditunjukkan, pemilik usaha merasa informasi yang ditampilkan kurang tepat.
“Ini bukan harga yang kami gunakan.”
Jevin terkejut.
“Maaf, Bu. Saya kira…”
“Tidak apa-apa.”
Jevin segera memperbaikinya.
Sejak saat itu ia mulai menerapkan satu kebiasaan.
Setiap materi yang menyangkut masyarakat harus diperiksa oleh pihak yang bersangkutan sebelum dipublikasikan.
Bagi Rama, ketelitian bukan hanya masalah desain.
Tetapi masalah kepercayaan.
Permintaan Publikasi Mulai Berdatangan
Semakin banyak kegiatan berjalan, semakin banyak permintaan publikasi.
“PDD, nanti kegiatan kami dibuatkan berita, ya.”
“Dedi, jangan lupa foto.”
“Farida, tolong dibuatkan artikel hari ini.”
“Jevin, posternya malam ini bisa selesai?”
Permintaan datang hampir bersamaan.
Awalnya Agatha, Farida dan Jevin masih bisa mengatasinya.
Namun lama-kelamaan pekerjaan menumpuk.
Satu hari bisa ada tiga kegiatan.
Kadang empat.
Semua dianggap penting.
Semua ingin dipublikasikan.
Semua ingin didokumentasikan.
Semua ingin segera terlihat.
Suatu malam, Agatha membuka daftar pekerjaan.
Jumlahnya semakin panjang.
“Ini sudah tidak masuk akal.”
Farida melihat layar.
“Besok masih ada tiga kegiatan.”
Jevin menambahkan,
“Dan saya masih punya dua desain yang belum selesai.”
Agatha menghela napas.
“Kalau begini terus, kita tidak tidur.”
Tekanan semakin terasa ketika salah satu divisi meminta publikasi segera.
“Kenapa beritanya belum naik?”
Farida menjelaskan,
“Masih saya periksa.”
“Kan kegiatannya sudah selesai.”
“Saya masih memastikan data dan nama-namanya.”
“Bisa dipercepat?”
Farida terdiam.
Ia memahami keinginan mereka.
Namun ia juga tidak ingin menulis berita secara terburu-buru.
Nama salah.
Tanggal salah.
Tempat salah.
Informasi tidak lengkap.
Semua dapat menjadi masalah.
Akhirnya Farida berkata,
“Saya usahakan secepatnya, tapi saya tidak ingin asal cepat.”
Anggota tersebut terlihat kurang puas.
Tetapi Farida tetap pada pendiriannya.
PDD Berhadapan dengan Banyak Kepentingan
Masalah yang sama terjadi hampir setiap hari.
Divisi pendidikan ingin kegiatan mereka mendapat publikasi.
Divisi ekonomi ingin produk masyarakat ditampilkan.
Pemuda ingin kegiatan mereka diketahui.
Pemerintah desa ingin informasi kegiatan desa tersampaikan.
Masyarakat ingin usahanya dikenal.
Sementara PDD hanya memiliki tiga orang.
Agatha.
Farida.
Jevin.
Raka mulai melihat bahwa masalah mereka bukan lagi sekadar pembagian tugas.
Ini sudah menjadi persoalan manajemen informasi.
Suatu malam Raka memanggil ketiganya.
“Kalian kewalahan?”
Agatha tertawa.
“Pertanyaannya bukan kewalahan atau tidak.”
“Lalu?”
“Sudah lewat dari kewalahan.”
Farida mengangguk.
“Semua orang merasa kegiatan mereka harus dipublikasikan segera.”
Jevin menambahkan,
“Dan setiap orang merasa permintaannya paling penting.”
Raka tersenyum kecil.
“Kalau begitu kita harus membuat aturan.”
Membangun Sistem Pemberitaan
Malam itu mereka menyusun sistem sederhana.
Setiap kegiatan harus diinformasikan kepada PDD lebih awal.
Setiap divisi harus memberikan data dasar.
Nama kegiatan.
Waktu.
Tempat.
Penanggung jawab.
Peserta.
Tujuan.
Hasil.
Foto.
Dan informasi tambahan jika ada.
Tidak semua kegiatan harus dibuat menjadi berita panjang.
Sebagian cukup berupa dokumentasi.
Sebagian dapat dibuat menjadi informasi singkat.
Sebagian lagi layak menjadi cerita mendalam.
Raka mengatakan,
“Kita harus membedakan mana yang harus cepat dan mana yang harus dalam.”
Farida mengangguk.
“Berarti tidak semua kegiatan diperlakukan sama.”
“Betul.”
Agatha menambahkan,
“Kalau semua dijadikan berita panjang, kita tidak akan selesai.”
Jevin tertawa.
“Dan saya tidak akan sempat tidur.”
Semua tertawa.
Namun malam itu sebuah sistem baru mulai terbentuk.
Cerita Tidak Harus Selalu Tentang Mahasiswa
Beberapa hari kemudian, PDD membuat sebuah keputusan penting.
Mereka akan mengurangi berita yang hanya berisi aktivitas mahasiswa.
Sebaliknya, mereka akan memperbanyak cerita tentang masyarakat.
Raka mendukung.
“Kalau ada kegiatan pelatihan UMKM, jangan hanya menulis siapa mahasiswa yang hadir.”
Farida mengangguk.
“Fokus pada pelaku usaha.”
“Kalau kegiatan literasi?”
“Anak-anak.”
“Kalau kegiatan pemuda?”
“Pemudanya.”
“Kalau lingkungan?”
“Masyarakat yang terlibat.”
Raka tersenyum.
“Itulah pemberitaan yang kita inginkan.”
Agatha kemudian mengusulkan sesuatu.
“Bagaimana kalau kita membuat seri cerita?”
“Seri?”
“Ya. Misalnya, ‘Wajah Perubahan Desa Awan Biru’.”
Farida tertarik.
“Isinya profil orang-orang yang mulai bergerak.”
Jevin langsung menyambut.
“Bisa dibuat desain khusus.”
Raka mengangguk.
“Bagus.”
Mereka kemudian membuat konsep.
Setiap cerita menampilkan satu tokoh masyarakat.
Bukan sebagai objek.
Tetapi sebagai pelaku.
Ada petani.
Ada pelaku usaha.
Ada pemuda.
Ada guru.
Ada pengelola perpustakaan.
Ada ibu rumah tangga.
Masing-masing memiliki cerita.
Masing-masing memiliki persoalan.
Masing-masing memiliki harapan.
Dan masing-masing menunjukkan bahwa perubahan tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar.
Kisah Pertama
Tokoh pertama yang mereka pilih adalah seorang pemuda desa.
Namanya tidak terlalu dikenal.
Ia bukan ketua organisasi.
Bukan tokoh masyarakat.
Bukan pula orang yang sering tampil dalam kegiatan desa.
Namun ia memiliki kebiasaan sederhana.
Setiap sore ia mengajak beberapa anak bermain dan belajar di sekitar rumahnya.
Agatha mulai mengikutinya.
Ia memotret.
Farida berbicara dengannya.
Jevin membuat visual sederhana.
Ketika tulisan selesai, Raka membacanya.
Ia tersenyum.
“Ini bagus.”
Farida bertanya,
“Karena tulisannya?”
“Karena kita baru menemukan sesuatu.”
“Apa?”
“Orang biasa bisa menjadi penggerak perubahan.”
Cerita tersebut kemudian dipublikasikan.
Tidak ada foto pejabat.
Tidak ada sambutan panjang.
Tidak ada daftar panjang mahasiswa.
Hanya cerita seorang pemuda dan beberapa anak.
Namun justru cerita sederhana itu mendapat perhatian masyarakat.
Beberapa orang mulai mengenal pemuda tersebut.
Ada yang memberikan dukungan.
Ada yang menawarkan bantuan.
Bahkan ada pemuda lain yang kemudian datang dan berkata,
“Kalau ada kegiatan seperti itu, saya mau ikut.”
Agatha membaca komentar tersebut.
Ia menatap Farida.
“Cerita ternyata bisa menggerakkan orang.”
Farida mengangguk.
Jevin tersenyum.
“Makanya Raka bilang cerita harus berjalan.”
PDD Mulai Menjadi Penghubung
Sejak saat itu, PDD tidak lagi hanya berfungsi sebagai penyedia informasi.
Mereka mulai menjadi penghubung.
Ketika ada produk masyarakat yang bagus, mereka membantu memperkenalkannya.
Ketika ada pemuda yang memiliki gagasan, mereka membantu membuatnya terlihat.
Ketika ada kegiatan literasi, mereka membantu mengundang perhatian.
Ketika ada cerita perubahan, mereka mengabadikannya.
Namun mereka tetap berhati-hati.
Mereka tidak ingin membuat pencitraan.
Mereka ingin menunjukkan kenyataan.
Kalau ada kekurangan, mereka tidak menyembunyikannya.
Kalau program belum berhasil, mereka tidak mengklaim berhasil.
Kalau masyarakat masih menghadapi persoalan, mereka tetap menuliskannya dengan proporsional.
Bagi mereka, pemberitaan bukan alat untuk membuat KKN terlihat sempurna.
Pemberitaan adalah cara untuk menunjukkan proses.
Suatu malam Raka berkata kepada mereka,
“Jangan takut menulis bahwa sesuatu belum berhasil.”
Farida menatapnya.
“Kenapa?”
“Karena perubahan tidak selalu langsung berhasil.”
Agatha mengangguk.
“Kalau semuanya dibuat seolah-olah berhasil, ceritanya tidak jujur.”
Jevin menambahkan,
“Dan masyarakat bisa kehilangan kepercayaan.”
Raka tersenyum.
“Itulah yang harus kita jaga.”
Kepercayaan.
Namun tekanan PDD belum berakhir.
Justru semakin banyak orang mengetahui kemampuan mereka, semakin banyak permintaan datang.
Ada yang meminta desain mendadak.
Ada yang meminta berita dalam hitungan jam.
Ada yang meminta foto seluruh kegiatan.
Ada yang meminta video.
Ada yang meminta poster.
Ada yang meminta dokumentasi khusus.
Bahkan beberapa orang mulai menganggap PDD sebagai tim yang harus selalu siap kapan pun dibutuhkan.
Suatu malam, Agatha akhirnya berkata,
“Rak, kami perlu istirahat.”
Raka terdiam.
Ia memahami.
Ia telah meminta mereka menjadi lebih aktif.
Tetapi tanpa sadar, ia juga telah membuat beban mereka semakin besar.
Raka kemudian berkata,
“Mulai sekarang, PDD tidak boleh bekerja sampai mengorbankan kesehatan dan kuliah kalian.”
Agatha tersenyum.
“Terima kasih.”
“Kita buat prioritas.”
Farida mengangguk.
“Dan batas waktu.”
Jevin menambahkan,
“Kalau permintaan terlalu mendadak?”
“Kita komunikasikan,” jawab Raka.
“Kalau tidak bisa?”
“Jangan dipaksakan.”
Raka kemudian menyadari bahwa pemberdayaan bukan hanya berlaku bagi masyarakat.
Mahasiswa juga harus diberdayakan.
Ia tidak boleh membangun sistem yang membuat beberapa orang kelelahan demi kepentingan kelompok.
PDD harus bekerja sebagai tim.
Jika Agatha terlalu banyak mengambil dokumentasi, anggota lain dapat membantu.
Jika Farida memiliki terlalu banyak tulisan, sebagian pekerjaan dapat dibagi.
Jika Jevin mendapat terlalu banyak permintaan desain, divisi lain dapat membantu menyiapkan bahan.
Karena prinsip yang sama berlaku:
Tidak seorang pun harus bekerja sendirian.
Malam itu, sebelum tidur, Farida membuka kembali salah satu artikel yang telah ia tulis.
Ia membaca kalimat terakhir:
“Perubahan tidak selalu datang dalam bentuk pembangunan besar. Kadang ia tumbuh dari seseorang yang bersedia mencoba, dari seorang anak yang berani belajar, dari seorang ibu yang berani memasarkan produknya, atau dari seorang pemuda yang memilih untuk peduli.”
Farida tersenyum.
Ia menyadari bahwa selama KKN, mereka tidak hanya mengumpulkan dokumentasi.
Mereka sedang mengumpulkan jejak perubahan.
Agatha mengabadikan jejak itu.
Farida merangkainya menjadi cerita.
Jevin membuatnya mudah dilihat dan dipahami.
Raka menghubungkannya dengan gerakan pemberdayaan.
Dan masyarakat menjadi pelaku utamanya.
Beberapa minggu telah berlalu.
PDD kini tidak lagi dianggap sebagai tim tambahan.
Mereka menjadi bagian penting dari setiap program.
Namun justru ketika sistem mulai berjalan, muncul persoalan yang lebih besar.
Sebuah kegiatan yang sebenarnya belum berjalan sesuai rencana mendapat permintaan untuk segera dipublikasikan sebagai keberhasilan.
Agatha menolak mengambil gambar yang menyesatkan.
Farida menolak menulis klaim yang belum terbukti.
Jevin menolak membuat desain yang menggambarkan hasil yang belum ada.
Penolakan itu kemudian menimbulkan ketegangan dengan salah satu pihak.
Raka harus turun tangan.
Ia tahu bahwa kali ini persoalannya bukan lagi tentang jumlah pekerjaan.
Ini tentang integritas pemberitaan.
Dan keputusan yang akan diambil Raka dapat menentukan apakah PDD akan tetap menjadi alat publikasi semata atau benar-benar menjadi penjaga cerita perubahan Desa Awan Biru.
Di malam yang sunyi, Raka memandang ketiga anggota PDD.
Agatha memegang kameranya.
Farida memegang catatan.
Jevin membuka laptop.
Mereka bertiga menunggu keputusan.
Raka akhirnya berkata,
“Kalau cerita yang kita sampaikan tidak sesuai kenyataan, kita bukan sedang membantu perubahan.”
Ia berhenti.
“Kita justru sedang menutupi kenyataan.”
Agatha mengangguk.
Farida menatap Raka.
Jevin menutup laptopnya.
Malam itu mereka sepakat.
PDD boleh menjadi cepat.
PDD boleh menjadi kreatif.
PDD boleh membuat cerita terlihat menarik.
Tetapi satu hal tidak boleh dikorbankan:
Kebenaran.
Sebab bagi mereka, cerita bukan sekadar sesuatu yang harus dipublikasikan.
Cerita adalah kepercayaan.
Dan kepercayaan masyarakat tidak boleh dipertukarkan dengan sebuah berita yang terlihat sempurna.
Di Desa Awan Biru, Agatha, Farida dan Jevin akhirnya memahami bahwa berada di garis depan pemberitaan berarti berada di garis depan tanggung jawab.
Mereka bukan hanya membawa kamera.
Bukan hanya membawa pena.
Bukan hanya membawa desain.
Mereka membawa cerita tentang manusia.
Tentang harapan.
Tentang perjuangan.
Tentang kegagalan.
Tentang keberanian untuk mencoba kembali.
Dan tentang perubahan yang mungkin kecil hari ini, tetapi dapat menjadi besar suatu hari nanti.
Namun perjalanan mereka belum selesai.
Sebab semakin besar peran PDD dalam pemberdayaan masyarakat, semakin besar pula tantangan yang akan mereka hadapi.
Dan suatu saat nanti, mereka harus memilih antara membuat cerita yang disukai banyak orang atau mempertahankan cerita yang benar-benar terjadi.
Pilihan itu akan menjadi ujian terbesar bagi mereka.
Dan tanpa mereka sadari, ujian tersebut sudah semakin dekat.
BAB VII — PEMUDA YANG TIDAK MAU HANYA MENJADI PENONTON
Membangkitkan Energi Generasi Muda
Sore itu, lapangan kecil di samping Balai Desa Awan Biru terlihat lebih ramai dari biasanya.
Beberapa kursi telah disusun melingkar.
Tidak ada meja panjang.
Tidak ada podium.
Tidak ada susunan acara yang terlalu resmi.
Raka memang sengaja meminta pertemuan dengan para pemuda dibuat santai.
Ia tidak ingin mereka merasa sedang menghadiri rapat pemerintah desa.
Ia ingin berbicara sebagai sesama anak muda.
Satu per satu pemuda mulai berdatangan.
Ada yang datang setelah bekerja.
Ada yang masih mengenakan pakaian olahraga.
Ada yang datang berboncengan.
Sebagian duduk bergerombol.
Sebagian memilih berdiri di belakang.
Namun satu hal terlihat jelas.
Mereka belum terlalu tertarik.
Raka memperhatikan dari kejauhan.
Ia tidak kecewa.
Ia justru memahami bahwa membangun partisipasi tidak dapat dilakukan hanya dengan mengundang orang.
Orang harus merasa bahwa kehadiran mereka memiliki arti.
Ketika semua mulai berkumpul, Raka berdiri.
“Teman-teman, terima kasih sudah datang.”
Tidak ada sambutan panjang.
Raka langsung menuju inti.
“Kami ingin mendengar pendapat kalian.”
Salah seorang pemuda tersenyum.
“Pendapat tentang apa?”
“Desa.”
Beberapa orang tertawa.
“Kalau tentang desa, banyak yang bisa dibicarakan.”
“Nah,” jawab Raka. “Itulah yang ingin kami dengar.”
Ia kemudian duduk.
“Bukan kami yang banyak bicara. Hari ini kalian.”
Suasana perlahan mencair.
Seorang pemuda bernama Arif mulai berbicara.
“Kalau mau jujur, sebenarnya banyak anak muda di sini yang ingin ikut kegiatan.”
Raka mengangguk.
“Tapi?”
“Kadang tidak tahu harus mulai dari mana.”
Pemuda lain menimpali,
“Kadang kegiatan sudah dibuat duluan.”
“Siapa yang membuat?”
“Biasanya orang-orang yang itu-itu juga.”
Raka memahami maksudnya.
“Jadi yang lain merasa tidak dilibatkan?”
Pemuda itu mengangguk.
“Begitu.”
Seorang pemuda lain berkata,
“Bukan tidak mau membantu. Kadang kami merasa hanya dipanggil kalau tenaganya dibutuhkan.”
Kalimat itu membuat Raka terdiam.
Ia mencatat dalam pikirannya.
Partisipasi tidak boleh hanya berarti tenaga.
Pemuda harus diberi ruang untuk berpikir.
Namun belum semua pemuda bersemangat.
Seorang pemuda yang sejak tadi duduk bersandar berkata,
“Kalau kita bikin kegiatan sekarang, nanti mahasiswa pulang.”
Ia tersenyum.
“Terus siapa yang meneruskan?”
Pertanyaan itu terdengar sederhana.
Namun membuat suasana mendadak hening.
Raka memandang pemuda tersebut.
Ia tidak langsung menjawab.
Pertanyaan itu sebenarnya juga telah muncul dalam pikirannya sendiri.
KKN memiliki batas waktu.
Mahasiswa akan pergi.
Program akan selesai.
Dokumentasi akan berhenti.
Poster akan dilepas.
Dan posko suatu hari akan kosong.
Tetapi masyarakat tetap tinggal.
Pemuda tetap berada di desa.
Karena itu, keberhasilan mereka tidak boleh bergantung pada keberadaan mahasiswa.
Raka akhirnya berkata,
“Justru itu yang ingin kita bicarakan.”
Ia berdiri dan berjalan mendekati para pemuda.
“Kami tidak ingin membuat kegiatan yang hanya hidup selama mahasiswa ada di sini.”
Ia menunjuk ke arah desa.
“Kami ingin kegiatan yang bisa kalian lanjutkan.”
Seorang pemuda bertanya,
“Caranya?”
“Dengan memberi kalian kesempatan untuk menjadi penggerak.”
“Bukan peserta?”
“Bukan hanya peserta.”
Raka tersenyum.
“Pelaksana.”
Beberapa pemuda mulai memperhatikan dengan lebih serius.
Dari Peserta Menjadi Penggerak
Raka kemudian menulis tiga kata di papan kecil:
IDE — KEGIATAN — KEBERLANJUTAN
“Kita mulai dari ide.”
Ia menunjuk kata pertama.
“Program jangan selalu berasal dari mahasiswa.”
Kemudian ia menunjuk kata kedua.
“Pelaksanaan juga tidak harus selalu mahasiswa.”
Lalu kata terakhir.
“Dan setelah kami pulang, siapa yang meneruskan?”
Semua memandang tulisan tersebut.
Raka berkata,
“Kalau tiga hal ini bisa kita hubungkan, barulah sebuah kegiatan bisa disebut berkelanjutan.”
Arif mengangguk.
“Berarti kami harus ikut sejak awal?”
“Ya.”
“Bukan hanya ketika kegiatan berlangsung?”
“Ya.”
“Dan setelah mahasiswa pulang?”
“Kalian yang menentukan.”
Perlahan diskusi mulai berkembang.
Ada yang mengusulkan kegiatan olahraga.
Ada yang ingin membuat kegiatan seni.
Ada yang ingin mengadakan pelatihan komputer.
Ada yang ingin membuat kegiatan untuk anak-anak.
Ada pula yang ingin membantu promosi produk desa.
Seorang pemuda berkata,
“Kita sebenarnya punya banyak ide.”
Raka tersenyum.
“Masalahnya?”
“Tidak ada yang mengorganisir.”
Kalimat itu menjadi awal pembicaraan yang lebih serius.
Energi yang Selama Ini Terpecah
Raka mulai memahami persoalannya.
Desa Awan Biru sebenarnya memiliki banyak pemuda.
Namun mereka bergerak sendiri-sendiri.
Ada yang aktif olahraga.
Ada yang suka teknologi.
Ada yang punya kemampuan desain.
Ada yang pandai berbicara.
Ada yang memiliki kemampuan mengorganisir.
Ada yang senang bekerja sosial.
Ada yang punya keterampilan seni.
Ada yang memiliki usaha.
Potensi itu ada.
Namun belum terhubung.
Seperti banyak aliran air kecil yang belum menemukan satu saluran.
Raka berkata,
“Kalau kemampuan kalian digabungkan, sebenarnya bisa menghasilkan sesuatu yang besar.”
Salah seorang pemuda tertawa.
“Jangan besar-besar dulu, Rak.”
Semua tertawa.
Raka ikut tertawa.
“Baik. Kita mulai dari sesuatu yang bisa dilakukan.”
Membentuk Ruang Pemuda
Akhirnya muncul gagasan untuk membentuk sebuah tim penggerak pemuda.
Bukan organisasi baru yang rumit.
Bukan pula struktur yang penuh jabatan.
Mereka hanya membutuhkan ruang koordinasi.
Siapa yang punya ide bisa menyampaikan.
Siapa yang punya kemampuan bisa membantu.
Siapa yang memiliki waktu bisa menjadi pelaksana.
Siapa yang memiliki jaringan bisa menghubungkan.
Dan siapa pun dapat belajar.
Arif mengusulkan agar mereka memiliki grup komunikasi sendiri.
“Biar kalau ada kegiatan, kita tidak saling mencari.”
Raka mengangguk.
“Itu bagus.”
Pemuda lain menambahkan,
“Kita juga harus punya jadwal.”
“Betul.”
“Dan jangan setiap kegiatan hanya beberapa orang.”
“Betul.”
“Harus bergantian.”
Raka tersenyum.
Kini mereka mulai menyusun sistem sendiri.
Tanpa banyak diarahkan.
Raka Mulai Mundur Selangkah
Raka sengaja tidak terlalu banyak memberikan keputusan.
Ia hanya mengajukan pertanyaan.
“Siapa yang mau mengurus?”
“Siapa yang punya kemampuan?”
“Siapa yang bisa mengajak pemuda lain?”
“Siapa yang bisa berkomunikasi dengan pemerintah desa?”
“Siapa yang bisa membuat desain?”
“Siapa yang bisa dokumentasi?”
Tangan mulai terangkat.
Tidak banyak.
Tetapi cukup.
Raka melihatnya dengan penuh perhatian.
Ia tidak membutuhkan seluruh pemuda langsung aktif.
Ia hanya membutuhkan beberapa orang yang mau memulai.
Karena ia tahu:
Gerakan besar sering kali dimulai dari sedikit orang yang bersedia bergerak lebih dahulu.
Agatha Melihat Cerita yang Berbeda
Dari sisi lapangan, Agatha memperhatikan pertemuan tersebut.
Kameranya sudah siap.
Namun ia tidak langsung mengambil foto.
Ia menunggu.
Ia ingin menangkap momen yang alami.
Ketika seorang pemuda pertama kali berdiri menyampaikan gagasan, Agatha mengambil gambar.
Ketika beberapa pemuda mulai berdiskusi, ia mengambil gambar lagi.
Ketika mereka tertawa bersama, ia mengabadikannya.
Namun Agatha tidak hanya melihat kegiatan.
Ia melihat perubahan.
Beberapa puluh menit sebelumnya para pemuda duduk dengan wajah pasif.
Kini mereka mulai berbicara.
Mulai berdebat.
Mulai mengusulkan.
Mulai mengambil tanggung jawab.
Agatha tersenyum.
Ia tahu ini bukan sekadar rapat.
Ini adalah awal sebuah gerakan.
Farida juga mulai mencatat.
Ia menulis beberapa kalimat yang menarik.
Salah satunya:
“Kami bukan tidak mau terlibat. Kami hanya ingin diberi kesempatan.”
Farida berhenti menulis.
Kalimat itu terasa kuat.
Ia memandang para pemuda.
Mungkin selama ini persoalannya bukan karena mereka tidak peduli.
Mungkin mereka hanya belum menemukan ruang.
Jevin mulai memikirkan sesuatu yang lain.
Ia melihat bahwa para pemuda membutuhkan identitas visual.
Bukan untuk membuat mereka terlihat keren.
Tetapi agar mereka merasa memiliki sebuah gerakan.
Ia membuka laptop.
Membuat beberapa sketsa sederhana.
Tidak terlalu rumit.
Tidak terlalu formal.
Ia ingin sesuatu yang mencerminkan semangat anak muda Desa Awan Biru.
Kegiatan Pertama
Setelah diskusi cukup panjang, mereka sepakat melakukan kegiatan sederhana.
Bukan festival besar.
Bukan kegiatan yang membutuhkan banyak biaya.
Mereka memilih kegiatan olahraga dan kebersihan lingkungan.
Mengapa?
Karena mudah dilakukan.
Tidak membutuhkan banyak peralatan.
Dan dapat melibatkan banyak pemuda.
Raka bertanya,
“Siapa yang bertanggung jawab?”
Arif mengangkat tangan.
“Saya.”
“Siapa yang membantu?”
Beberapa pemuda mengangkat tangan.
Raka tersenyum.
“Baik. Kami membantu jika dibutuhkan.”
Arif memandang Raka.
“Bukan kalian yang mengurus?”
Raka menggeleng.
“Kalian.”
Arif tersenyum.
“Siap.”
Hari yang Ditunggu
Hari pelaksanaan tiba.
Pagi-pagi sekali para pemuda sudah berkumpul.
Tidak semua datang tepat waktu.
Ada yang terlambat.
Ada peralatan yang belum siap.
Ada beberapa hal yang masih membingungkan.
Namun kali ini mahasiswa tidak langsung mengambil alih.
Raka hanya mengamati.
Ketika ada masalah, ia bertanya,
“Menurut kalian, solusinya apa?”
Para pemuda berdiskusi.
Mereka menyelesaikan sendiri.
Ketika perlengkapan kurang, mereka mencari.
Ketika peserta belum banyak, mereka menghubungi teman.
Ketika jadwal berubah, mereka menyesuaikan.
Raka tersenyum.
Ia mulai melihat sesuatu yang lebih penting daripada keberhasilan kegiatan.
Mereka sedang belajar mengelola kegiatan.
Agatha sibuk mendokumentasikan.
Farida mencatat proses.
Jevin membantu membuat materi informasi.
Tetapi kali ini ketiganya tidak menjadikan mahasiswa sebagai pusat dokumentasi.
Mereka lebih banyak mengabadikan pemuda.
Pemuda yang membawa peralatan.
Pemuda yang membersihkan lingkungan.
Pemuda yang mengatur peserta.
Pemuda yang berdiskusi.
Pemuda yang tertawa.
Pemuda yang kelelahan.
Dan pemuda yang akhirnya duduk bersama setelah kegiatan selesai.
Evaluasi Tanpa Mahasiswa di Depan
Sore hari, Raka mengajak mereka evaluasi.
“Bagaimana?”
Arif menjawab,
“Lumayan.”
“Masalahnya?”
“Koordinasi.”
Pemuda lain berkata,
“Pembagian tugas.”
Yang lain menambahkan,
“Waktu.”
Raka mengangguk.
“Bagus.”
Mereka heran.
“Kenapa bagus?”
“Karena kalian bisa melihat kekurangan sendiri.”
Raka tidak memberikan daftar kesalahan.
Ia membiarkan mereka menyebutkannya.
Kemudian ia bertanya,
“Kalau kegiatan kedua, apa yang harus diperbaiki?”
Mereka mulai menyusun sendiri.
Raka hanya mencatat.
Ketika rapat hampir selesai, salah seorang pemuda berkata,
“Kalau begini sebenarnya kita bisa membuat kegiatan lain.”
Raka tersenyum.
“Seperti apa?”
“Pelatihan digital.”
Yang lain menimpali,
“Bisa juga kegiatan seni.”
“Turnamen olahraga.”
“Pendampingan anak-anak.”
“Promosi UMKM.”
Gagasan mulai bermunculan.
Raka tidak lagi perlu memancing.
Mereka sudah bergerak sendiri.
Pertanyaan yang Kembali Muncul
Namun kemudian Arif mengingat sesuatu.
“Rak.”
“Ya?”
“Kalau kalian pulang nanti, bagaimana?”
Kali ini Raka tersenyum.
Pertanyaan yang sama.
Tetapi jawabannya mulai berbeda.
“Bagaimana menurut kalian?”
Arif terdiam.
Kemudian berkata,
“Ya… kita yang lanjut.”
Raka mengangguk.
“Betul.”
“Berarti dari sekarang kita harus belajar mengelolanya sendiri.”
“Betul.”
“Dan mahasiswa hanya membantu?”
Raka tersenyum.
“Bukan hanya membantu.”
“Lalu?”
“Menjadi teman belajar.”
Kalimat itu membuat suasana kembali tenang.
PDD Menyebarkan Cerita
Beberapa hari kemudian, Farida menyelesaikan berita tentang kegiatan pemuda.
Ia tidak menulis:
“Mahasiswa KKN Mengadakan Kegiatan Pemuda Desa Awan Biru.”
Ia memilih judul berbeda:
“Pemuda Awan Biru Mulai Bergerak: Dari Penonton Menjadi Penggerak Desa.”
Agatha memilih foto yang memperlihatkan pemuda sedang bekerja.
Bukan foto mahasiswa.
Jevin membuat visual yang menonjolkan kalimat:
“Desa Tidak Kekurangan Pemuda. Desa Membutuhkan Ruang untuk Pemudanya Bergerak.”
Raka membaca hasilnya.
Ia tersenyum.
“Ini baru pemberitaan.”
Agatha bertanya,
“Kenapa?”
“Karena yang menjadi pusat cerita adalah mereka.”
Farida mengangguk.
“Pemuda.”
“Betul.”
Berita itu mendapat respons.
Beberapa pemuda yang sebelumnya tidak hadir mulai bertanya.
“Kapan kegiatan berikutnya?”
Ada yang menawarkan kemampuan.
Ada yang ingin ikut membantu.
Ada pula yang mengusulkan kegiatan baru.
Raka melihat perkembangan itu dengan hati-hati.
Ia tidak ingin euforia sesaat.
Ia tahu semangat dapat naik dengan cepat.
Tetapi juga dapat turun dengan cepat.
Karena itu ia mengatakan kepada para pemuda,
“Jangan ukur keberhasilan dari ramainya kegiatan pertama.”
“Lalu?”
“Lihat apakah kalian masih bergerak setelah beberapa minggu.”
Menguji Konsistensi
Minggu berikutnya, kegiatan kembali dilakukan.
Jumlah pemuda sedikit berkurang.
Minggu berikutnya lagi, beberapa orang tidak hadir.
Kesibukan kerja mulai menjadi alasan.
Ada yang pergi ke luar desa.
Ada yang memiliki pekerjaan.
Ada yang kehilangan semangat.
Raka tidak marah.
Ia justru melihat ini sebagai kenyataan.
Partisipasi masyarakat tidak selalu stabil.
Dan itulah tantangan sebenarnya.
Ia berkata kepada Arif,
“Jangan berharap semua orang selalu hadir.”
“Lalu bagaimana?”
“Bangun sistem yang tetap berjalan meskipun sebagian orang berhalangan.”
Arif mengangguk.
“Berarti kita butuh lebih banyak orang yang bisa memegang tanggung jawab.”
“Betul.”
Mereka mulai membagi peran lebih luas.
Tidak hanya satu penggerak.
Tidak hanya dua.
Tetapi beberapa orang.
Dengan demikian, jika satu orang berhalangan, kegiatan tetap berjalan.
Raka mulai melihat sesuatu yang jauh lebih besar.
Ia datang ke Desa Awan Biru dengan pikiran bahwa KKN adalah tentang mahasiswa membantu masyarakat.
Kini pandangannya berubah.
KKN justru seharusnya membantu masyarakat menemukan kekuatan mereka sendiri.
Dan pemuda adalah salah satu kekuatan terbesar.
Mereka memiliki tenaga.
Ide.
Keberanian.
Kemampuan beradaptasi.
Dan waktu untuk belajar.
Yang mereka butuhkan bukan selalu bantuan.
Kadang mereka hanya membutuhkan kepercayaan.
Suatu sore, Raka berjalan melewati lapangan.
Ia melihat beberapa pemuda sedang berdiskusi.
Tidak ada mahasiswa di sana.
Tidak ada Raka.
Tidak ada Agatha.
Tidak ada Farida.
Tidak ada Jevin.
Mereka sedang membicarakan kegiatan berikutnya.
Raka berhenti dari kejauhan.
Ia tidak menghampiri.
Tidak perlu.
Ia hanya tersenyum.
Karena untuk pertama kalinya, ia melihat sesuatu yang selama ini ia harapkan.
Pemuda Desa Awan Biru mulai bergerak tanpa menunggu mahasiswa.
Agatha yang kebetulan datang dari arah lain berdiri di samping Raka.
“Tidak difoto?”
Raka menggeleng.
“Kenapa?”
“Biarkan.”
Agatha tersenyum.
“Kenapa?”
“Karena ada momen yang lebih penting daripada foto.”
“Apa?”
Raka memandang para pemuda.
“Ketika kita tidak lagi dibutuhkan untuk membuat mereka bergerak.”
Agatha terdiam.
Kemudian ia menyimpan kameranya.
Mereka berdua berdiri beberapa saat.
Melihat para pemuda berbicara.
Tertawa.
Berdebat.
Dan merencanakan sesuatu yang belum diketahui mahasiswa.
Raka merasa bahagia.
Bukan karena program mereka berhasil.
Tetapi karena sebuah proses mulai tumbuh.
Namun ia juga sadar.
Membangkitkan energi pemuda hanyalah langkah pertama.
Mereka sekarang membutuhkan ruang yang lebih besar.
Mereka membutuhkan kegiatan yang dapat menjadi wadah bersama.
Mereka membutuhkan keterampilan.
Mereka membutuhkan akses.
Dan yang paling penting—
mereka membutuhkan kepercayaan dari pemerintah desa dan masyarakat.
Sebab jika energi anak muda tidak diarahkan, ia dapat kembali padam.
Tetapi jika diberi ruang, ia dapat menjadi kekuatan.
Dan tidak lama kemudian, muncul sebuah gagasan baru dari para pemuda.
Gagasan yang membuat Raka terkejut.
Mereka ingin membuat sebuah kegiatan besar.
Bukan atas nama mahasiswa.
Bukan sebagai program KKN.
Tetapi sebagai kegiatan yang sepenuhnya digerakkan oleh pemuda Desa Awan Biru.
Raka memandang mereka ketika gagasan itu disampaikan.
Ia tidak langsung menjawab.
Karena ia tahu, inilah saatnya mereka diuji.
Apakah pemuda benar-benar sudah siap menjadi penggerak?
Atau selama ini mereka hanya berani bergerak karena ada mahasiswa di belakang mereka?
Jawaban itu akan terlihat pada kegiatan berikutnya.
Dan untuk pertama kalinya, Raka harus belajar melakukan sesuatu yang mungkin paling sulit bagi seorang pemimpin:
memberi kepercayaan, lalu mundur beberapa langkah.
Karena pemberdayaan yang sesungguhnya bukan ketika masyarakat selalu membutuhkan kita.
Tetapi ketika mereka mulai mampu berjalan tanpa kita.
BAB VIII — PEREMPUAN DESA DAN KEKUATAN EKONOMI KELUARGA
Usaha Kecil, Harapan Besar
Pagi itu, aroma makanan memenuhi sebuah rumah sederhana di salah satu sudut Desa Awan Biru.
Dari dapur terdengar suara peralatan masak.
Beberapa wadah tersusun di atas meja.
Ada makanan ringan.
Ada kue tradisional.
Ada keripik.
Ada minuman olahan.
Semuanya dibuat dengan tangan.
Tidak ada mesin besar.
Tidak ada ruang produksi khusus.
Tidak ada papan nama usaha yang mencolok.
Namun dari tempat sederhana itulah sebuah harapan sedang tumbuh.
Raka berdiri di depan rumah bersamaAgathaFarida dan Rama.
Mereka datang bukan untuk membeli.
Mereka datang untuk melihat.
“Sudah berapa lama Ibu menjalankan usaha ini?” tanya Raka.
Seorang perempuan bernama Bu Sari tersenyum malu.
“Sudah lama.”
“Berapa lama?”
“Kalau dihitung-hitung mungkin sekitar tujuh tahun.”
Agatha terkejut.
“Tujuh tahun?”
Bu Sari mengangguk.
“Tapi kecil-kecilan.”
Farida mencatat.
“Dijual ke mana saja, Bu?”
“Biasanya tetangga.”
“Warung?”
“Kadang.”
“Online?”
Bu Sari tertawa kecil.
“Belum bisa.”
Jevin melihat kemasan produk.
Ia memperhatikan beberapa bungkus yang masih menggunakan plastik sederhana.
“Kalau boleh bertanya, Bu, kenapa tidak dipasarkan lebih luas?”
Bu Sari terdiam.
“Tidak tahu caranya.”
Kemudian ia tersenyum lagi.
“Lagipula siapa yang mau membeli?”
Kalimat terakhir itu membuat Raka memperhatikan wajahnya.
Ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar persoalan pemasaran.
Ada keraguan terhadap kemampuan diri sendiri.
Usaha yang Tidak Pernah Disebut Usaha
Selama beberapa hari berikutnya, tim KKN mulai mendata usaha perempuan di Desa Awan Biru.
Mereka menemukan lebih banyak daripada yang mereka perkirakan.
Ada ibu yang membuat keripik.
Ada yang membuat kue.
Ada yang menjual makanan siap saji.
Ada yang membuat minuman.
Ada yang menjahit.
Ada yang membuat kerajinan.
Ada yang menjual hasil kebun.
Ada pula yang menjalankan usaha kecil dari rumah tanpa pernah menganggap dirinya sebagai pelaku usaha.
Ketika ditanya,
“Ibu punya usaha?”
Sebagian menjawab,
“Tidak.”
Padahal setelah berbicara lebih jauh, ternyata mereka setiap hari memproduksi sesuatu dan menjualnya.
Raka mulai memahami.
Sebagian perempuan desa tidak merasa sedang membangun usaha.
Mereka merasa hanya membantu ekonomi keluarga.
Namun justru dari aktivitas sederhana itu, ada nilai ekonomi yang sebenarnya cukup besar.
Suatu sore, Raka berkata kepada Farida,
“Menarik.”
“Apa?”
“Banyak orang punya usaha tetapi tidak merasa sebagai pengusaha.”
Farida tersenyum.
“Mungkin karena skala usahanya kecil.”
“Bukan berarti tidak penting.”
“Betul.”
Raka menatap daftar yang dibuat.
“Kalau mereka mulai percaya pada usaha sendiri, mungkin cara mereka melihat potensi juga berubah.”
Farida mengangguk.
“Berarti yang pertama harus kita bangun bukan kemasan.”
“Lalu?”
“Kepercayaan diri.”
Raka tersenyum.
“Ya.”
Membawa Kamera ke Dapur
Agatha mulai melakukan tugasnya.
Ia datang ke rumah-rumah pelaku usaha.
Namun kali ini kameranya tidak hanya diarahkan kepada produk.
Ia memotret proses.
Tangan yang sedang mengaduk.
Bahan yang sedang disiapkan.
Wajah ibu yang sedang bekerja.
Produk yang baru selesai dibuat.
Anak yang membantu orang tuanya.
Dapur sederhana.
Meja kerja.
Dan suasana rumah.
Agatha ingin menunjukkan bahwa di balik setiap produk terdapat manusia.
Suatu hari ia mengambil foto Bu Sari yang sedang menggoreng keripik.
Bu Sari melihat hasil fotonya.
“Jangan foto saya.”
“Kenapa, Bu?”
“Tidak bagus.”
Agatha tersenyum.
“Kenapa tidak bagus?”
“Ya begini saja.”
Agatha melihat layar kamera.
“Menurut saya justru bagus.”
Bu Sari tertawa.
“Biasa saja.”
Agatha menjawab,
“Justru yang biasa seperti ini yang ingin kami ceritakan.”
Farida Menemukan Cerita di Balik Produk
Farida kemudian berbicara lebih lama dengan Bu Sari.
Ia tidak langsung bertanya tentang harga.
Ia bertanya:
“Kenapa Ibu mulai membuat produk ini?”
Bu Sari terdiam.
Kemudian menjawab,
“Awalnya karena kebutuhan.”
“Untuk membantu keluarga?”
“Iya.”
Ia bercerita bahwa usaha tersebut dimulai dari dapur kecil.
Dari pesanan tetangga.
Dari uang belanja yang harus diatur.
Dari keinginan membantu suami.
Dari harapan agar anak-anak bisa mendapatkan pendidikan yang lebih baik.
Farida terus mencatat.
Semakin lama, semakin ia memahami bahwa produk itu bukan sekadar makanan.
Di dalamnya terdapat perjuangan sebuah keluarga.
Ia menulis:
“Sebuah usaha kecil tidak selalu lahir dari modal besar. Kadang ia lahir dari kebutuhan, keberanian, dan keinginan seseorang untuk membantu keluarganya.”
Jevin Membongkar Kemasan Lama
Sementara itu, Jevin mulai melihat persoalan lain.
Kemasan.
Sebagian produk menggunakan plastik sederhana.
Tidak ada label.
Tidak ada nama produk.
Tidak ada informasi kontak.
Tidak ada tanggal produksi.
Tidak ada identitas usaha.
Jevin tidak langsung mengatakan bahwa kemasan itu buruk.
Ia tahu jika ia mengatakan demikian, pemilik usaha bisa merasa hasil kerjanya tidak dihargai.
Ia justru berkata,
“Bu, bagaimana kalau kita coba membuat kemasan yang lebih mudah dikenali?”
Bu Sari melihat bungkus produknya.
“Memangnya perlu?”
“Menurut saya bisa membantu.”
“Kalau mahal?”
“Kita cari yang sederhana dulu.”
Bu Sari masih ragu.
Jevin kemudian membuat contoh.
Ia tidak mengubah produk.
Ia hanya memperbaiki cara produk ditampilkan.
Nama produk.
Identitas sederhana.
Informasi kontak.
Dan desain yang lebih mudah dikenali.
Ketika hasilnya diperlihatkan, Bu Sari tersenyum.
“Ini produk saya?”
Jevin tertawa.
“Iya.”
“Kelihatan seperti produk toko.”
Jevin menjawab,
“Karena memang layak terlihat seperti itu.”
“Kami Merasa Produk Kami Biasa Saja”
Tidak semua perempuan langsung percaya.
Dalam sebuah pertemuan kecil, seorang ibu berkata,
“Kami ini cuma ibu-ibu.”
Raka langsung menanggapi.
“Memangnya kenapa kalau ibu-ibu?”
Beberapa peserta tertawa.
Ibu tersebut tersenyum.
“Ya… usaha kami kecil.”
Raka menggeleng.
“Usaha kecil bukan berarti tidak bernilai.”
“Tapi produk kami sederhana.”
“Banyak produk besar juga dimulai dari sesuatu yang sederhana.”
Seorang ibu lain berkata,
“Kami tidak punya toko.”
“Tidak harus punya toko besar.”
“Tidak punya banyak modal.”
“Tidak harus langsung besar.”
“Tidak tahu pemasaran.”
“Itu yang bisa kita pelajari.”
Kemudian Raka mengatakan:
“Kami tidak ingin menggantikan usaha Ibu. Kami hanya ingin membantu agar orang lain melihat potensi yang sudah Ibu miliki.”
Ruangan menjadi hening.
Kalimat itu terasa berbeda.
Mahasiswa tidak datang sebagai orang yang merasa lebih tahu.
Mereka datang untuk membantu sesuatu yang sudah ada.
Pelatihan yang Tidak Membosankan
Tim kemudian merancang kegiatan sederhana.
Bukan seminar panjang.
Bukan presentasi dengan banyak teori.
Mereka membuat pelatihan yang langsung praktik.
Cara memotret produk menggunakan telepon genggam.
Cara menulis deskripsi produk.
Cara membuat nama usaha.
Cara menggunakan media sosial secara sederhana.
Cara mencatat pesanan.
Cara menghitung biaya dasar.
Dan cara membuat kemasan yang lebih menarik.
Agatha menjadi pemateri fotografi.
Farida membantu penulisan.
Jevin membimbing visual.
Raka mengatur jalannya kegiatan.
Namun mereka tidak ingin mahasiswa menjadi pusat.
Setiap peserta membawa produknya sendiri.
Mereka memotret.
Menulis.
Mencoba.
Membandingkan.
Kemudian memperbaiki.
Agatha menunjukkan sebuah foto.
“Coba lihat ini.”
Para ibu memperhatikan.
“Foto pertama kita ambil asal.”
Ia menunjukkan foto kedua.
“Yang kedua, kita perhatikan cahaya.”
Kemudian foto ketiga.
“Yang ini kita atur latarnya.”
Seorang ibu tertawa.
“Bedanya ternyata jauh.”
Agatha tersenyum.
“Padahal fotonya menggunakan HP.”
“Berarti kami juga bisa?”
“Tentu.”
Ibu tersebut mulai mengambil telepon genggamnya.
Ia mencoba memotret produknya sendiri.
Beberapa kali gagal.
Kemudian mencoba lagi.
Ketika mendapatkan hasil yang lebih baik, ia tersenyum.
“Bisa ternyata.”
Agatha menjawab,
“Bukan ternyata.”
Ia tersenyum.
“Ibu memang bisa. Tinggal belajar.”
Dari Rasa Malu Menjadi Rasa Bangga
Perubahan kecil mulai terlihat.
Pada awalnya beberapa peserta malu menunjukkan produk.
Mereka merasa hasilnya terlalu sederhana.
Namun setelah mendapat masukan, mereka mulai berani.
Ada yang memperbaiki kemasan.
Ada yang mengganti nama produk.
Ada yang mulai mencatat pesanan.
Ada yang membuat akun media sosial.
Ada yang mulai berani memotret produknya sendiri.
Bahkan seorang ibu berkata,
“Kalau begini, saya mau mencoba menjual ke luar desa.”
Raka tersenyum.
“Bagus.”
“Tapi saya takut tidak laku.”
“Jangan mulai dengan pertanyaan apakah laku atau tidak.”
“Lalu?”
“Mulai dengan pertanyaan apakah kita sudah mencoba dengan cara yang lebih baik.”
Ibu itu mengangguk.
PDD Mengubah Cara Orang Melihat Produk Desa
Agatha, Farida dan Jevin kemudian membuat proyek kecil.
Mereka menamainya:
“Cerita dari Dapur Awan Biru.”
Isinya bukan sekadar katalog.
Setiap produk memiliki cerita.
Siapa pembuatnya.
Bagaimana usaha dimulai.
Apa yang menjadi tantangan.
Apa harapan pemiliknya.
Dan bagaimana produk tersebut dibuat.
Agatha mengambil foto.
Farida menulis kisah.
Jevin membuat desain.
Ketiganya bekerja bersama.
Raka melihat hasil akhirnya.
“Ini bagus.”
Agatha bertanya,
“Karena desainnya?”
“Bukan.”
“Karena fotonya?”
“Bukan juga.”
Farida tersenyum.
“Lalu?”
Raka menjawab,
“Karena orang yang melihat produk ini akan tahu bahwa mereka membeli sesuatu dari manusia, bukan hanya barang.”
Pesanan Pertama dari Luar Desa
Beberapa hari setelah cerita produk dipublikasikan, sebuah pesan masuk.
Salah satu produk mendapat pertanyaan dari luar desa.
“Bisa dikirim?”
Pemilik usaha terkejut.
“Ini benar?”
Jevin menunjukkan pesan tersebut.
“Iya, Bu.”
“Dari mana?”
“Dari luar desa.”
Ibu tersebut tersenyum lebar.
Ia tidak langsung percaya.
Ia bahkan meminta Agatha membacanya kembali.
“Benar?”
“Benar.”
Wajahnya berubah.
Tidak ada keuntungan besar.
Belum.
Hanya satu pesanan.
Namun bagi mereka, itu bukan sekadar transaksi.
Itu adalah bukti.
Bahwa produk yang selama ini dianggap sederhana ternyata memiliki peluang.
Kabar tersebut menyebar.
Pelaku usaha lain mulai bertanya.
“Kalau produk saya bagaimana?”
“Bisa dibantu juga?”
“Bagaimana caranya?”
Raka mulai melihat efek yang lebih besar.
Satu keberhasilan kecil dapat menumbuhkan keberanian pada orang lain.
Namun ia juga mengingatkan,
“Jangan membuat mereka bergantung kepada kita.”
“Lalu?”
“Ajarkan caranya.”
Agatha mengangguk.
“Bukan terus-menerus mengambil foto.”
“Tapi mengajari mereka mengambil foto.”
Farida menambahkan,
“Bukan selalu menulis deskripsi.”
“Tapi mengajari mereka bercerita.”
Jevin melanjutkan,
“Bukan selamanya membuat desain.”
“Tapi membuat mereka memahami dasar-dasarnya.”
Raka tersenyum.
“Itulah pemberdayaan.”
Perempuan Mulai Berbicara Tentang Masa Depan
Dalam pertemuan berikutnya, suasananya sudah berbeda.
Perempuan yang sebelumnya lebih banyak diam kini mulai berbicara.
Ada yang membahas pemasaran.
Ada yang membicarakan kemasan.
Ada yang bertanya tentang harga.
Ada yang membahas produksi.
Ada yang ingin bekerja sama.
Bahkan muncul gagasan untuk membuat katalog bersama.
Raka tidak menyangka.
Awalnya mereka hanya ingin membantu beberapa usaha.
Sekarang perempuan-perempuan tersebut mulai memikirkan kolaborasi.
Salah seorang ibu mengusulkan,
“Bagaimana kalau produk kita dijual bersama?”
Ibu lain menjawab,
“Bisa dibuat satu paket.”
Yang lain menambahkan,
“Kalau ada acara desa, kita bisa buka stan.”
Raka melihat perkembangan itu dengan bangga.
Mereka mulai berpikir bukan sebagai usaha yang berdiri sendiri.
Tetapi sebagai kelompok.
Ketika Keberhasilan Membawa Masalah Baru
Namun tidak semua berjalan mulus.
Ketika produk mulai dikenal, muncul persoalan.
Pesanan meningkat.
Beberapa pelaku usaha belum siap meningkatkan produksi.
Ada yang kesulitan bahan baku.
Ada yang belum memiliki kemasan cukup.
Ada yang bingung menentukan harga.
Ada yang takut tidak mampu memenuhi pesanan.
Seorang ibu berkata,
“Kalau pesanan banyak, saya takut tidak sanggup.”
Raka tidak mengatakan,
“Terima saja.”
Ia justru bertanya,
“Berapa kemampuan produksi Ibu?”
“Sekian.”
“Kalau pesanan lebih banyak?”
“Tidak tahu.”
“Berarti jangan menjanjikan jumlah yang tidak bisa dipenuhi.”
Farida menambahkan,
“Kejujuran kepada pembeli juga penting.”
Raka mengangguk.
“Jangan mengejar pertumbuhan dengan mengorbankan kualitas.”
Masalah lain muncul.
Beberapa orang mulai meminta mahasiswa menjadi pengelola pemasaran.
Raka menolak.
“Kami bisa membantu sampai Ibu bisa menjalankan sendiri.”
Seorang ibu bertanya,
“Kalau nanti mahasiswa pulang?”
“Justru itu alasan kami harus mulai mengajarkan sekarang.”
Ibu tersebut terdiam.
Kemudian tersenyum.
“Berarti kami harus belajar.”
Raka mengangguk.
“Ya.”
Membangun Kepercayaan, Bukan Ketergantungan
Seiring waktu, para pelaku usaha mulai memiliki kemampuan baru.
Mereka mulai memotret produk sendiri.
Menulis deskripsi.
Membuat promosi.
Mencatat pesanan.
Memperbaiki kemasan.
Dan mulai berani menawarkan produk.
Tidak semuanya langsung berhasil.
Ada yang penjualannya tetap sedikit.
Ada yang produknya belum cocok dengan pasar.
Ada yang masih bingung.
Namun ada perubahan yang lebih penting.
Mereka tidak lagi merasa usaha mereka tidak berarti.
Suatu sore, Bu Sari datang ke posko.
Ia membawa beberapa bungkus produk.
“Ini untuk kalian.”
Agatha tertawa.
“Wah, terima kasih, Bu.”
Bu Sari tersenyum.
“Sekarang saya sudah berani menjualnya ke orang lain.”
Farida bertanya,
“Kenapa?”
“Dulu saya pikir produk saya cuma cocok untuk tetangga.”
“Sekarang?”
Bu Sari mengangkat salah satu bungkus.
“Sekarang saya tahu kalau saya harus berusaha supaya orang lain mengenalnya.”
Jevin tersenyum.
“Berarti desain kami berhasil?”
Bu Sari menggeleng.
“Bukan.”
Jevin bingung.
“Lalu?”
Bu Sari menjawab,
“Yang berhasil itu keberanian saya.”
Mereka semua terdiam.
Raka tersenyum.
Jawaban itu lebih berharga daripada pujian.
Malam harinya, Raka menulis dalam buku catatannya:
“Pemberdayaan bukan membuat masyarakat terlihat hebat di depan kita.”
Ia berhenti.
Kemudian menulis:
“Pemberdayaan adalah membantu mereka menyadari bahwa mereka sebenarnya memiliki kemampuan.”
Ia menutup bukunya.
Di luar posko, suara beberapa perempuan terdengar.
Mereka sedang berbicara tentang rencana usaha bersama.
Ada yang tertawa.
Ada yang berdiskusi.
Ada yang menghitung.
Ada yang mengusulkan.
Suasana itu berbeda dari beberapa minggu sebelumnya.
Dulu mereka menunggu.
Kini mereka mulai merencanakan.
Dulu mereka berkata,
“Produk kami sederhana.”
Kini mereka berkata,
“Bagaimana kalau kita coba?”
Dulu mereka bertanya,
“Siapa yang mau membeli?”
Kini mereka bertanya,
“Bagaimana supaya lebih banyak orang mengenal?”
Perubahan itu belum besar.
Belum sempurna.
Namun Raka tahu—
perubahan besar memang sering dimulai dari perubahan cara seseorang memandang dirinya sendiri.
Agatha, Farida dan Jevin juga mendapatkan pelajaran.
Agatha memahami bahwa satu foto dapat menumbuhkan rasa percaya diri.
Farida memahami bahwa satu cerita dapat membuat seseorang merasa dihargai.
Jevin memahami bahwa sebuah desain dapat membantu seseorang berani memperkenalkan hasil kerjanya.
Dan Raka memahami bahwa ekonomi keluarga tidak selalu dimulai dari modal besar.
Kadang dimulai dari sebuah dapur.
Dari tangan seorang ibu.
Dari keberanian mencoba.
Dari dukungan keluarga.
Dan dari kesempatan untuk dikenal.
Namun perkembangan usaha perempuan Desa Awan Biru segera membawa mereka pada persoalan yang lebih kompleks.
Ketika beberapa produk mulai dikenal, muncul kebutuhan untuk membangun kelompok usaha yang lebih terorganisir.
Mereka mulai membicarakan produksi bersama.
Pemasaran bersama.
Kemasan bersama.
Bahkan kemungkinan membuat sebuah etalase produk unggulan desa.
Tetapi ketika jumlah anggota semakin banyak, muncul perbedaan pendapat.
Ada yang ingin fokus pada makanan.
Ada yang ingin memasukkan kerajinan.
Ada yang ingin semua produk dijual dengan satu merek.
Ada yang ingin mempertahankan merek masing-masing.
Dan untuk pertama kalinya, Raka menyadari bahwa pemberdayaan ekonomi tidak hanya membutuhkan semangat.
Ia membutuhkan kemampuan mengelola perbedaan.
Di sinilah tantangan berikutnya akan dimulai.
Sebab ketika orang-orang yang sebelumnya berjalan sendiri mulai dipertemukan dalam satu kelompok, mereka tidak hanya membawa produk.
Mereka juga membawa cara berpikir, kepentingan, pengalaman, dan harapan masing-masing.
Dan Raka harus membantu mereka menemukan satu hal yang lebih penting daripada sekadar keuntungan:
kemampuan untuk tumbuh bersama tanpa kehilangan identitas masing-masing.
Perjalanan pemberdayaan perempuan Desa Awan Biru pun memasuki babak baru.
Bukan lagi tentang bagaimana membuat usaha mereka terlihat.
Tetapi tentang bagaimana membuat usaha itu mampu bertahan setelah mahasiswa KKN pergi.
BAB IX — PERPUSTAKAAN DAN MIMPI ANAK-ANAK
Membangun Masa Depan dari Sebuah Ruang Kecil
Bangunan itu sebenarnya tidak terlalu besar.
Letaknya berada tidak jauh dari kantor Desa Awan Biru.
Cat dindingnya mulai terlihat kusam.
Beberapa rak buku berdiri di sepanjang dinding.
Sebagian buku tersusun rapi.
Sebagian lainnya belum tertata dengan baik.
Di sudut ruangan terdapat beberapa meja dan kursi.
Tidak ada pendingin ruangan.
Tidak ada komputer dalam jumlah banyak.
Tidak ada fasilitas yang terlihat mewah.
Namun ketika Raka berdiri di tengah ruangan itu, ia melihat sesuatu yang berbeda.
Potensi.
Ia membayangkan ruangan kecil tersebut dipenuhi anak-anak.
Ada yang membaca.
Ada yang menggambar.
Ada yang bercerita.
Ada yang belajar komputer.
Ada yang menulis.
Ada yang berdiskusi.
Dan ada yang menemukan cita-cita.
Raka kemudian berkata kepadaAgathaFarida dan Rama,
“Tempat ini sebenarnya bisa menjadi pusat perubahan.”
Agatha melihat sekeliling.
“Perpustakaan?”
“Bukan hanya perpustakaan.”
“Lalu?”
“Ruang tumbuh.”
Buku yang Tidak Cukup Hanya Disimpan
Raka memperhatikan rak-rak buku.
Jumlahnya cukup banyak.
Namun sebagian buku jarang disentuh.
Ia mengambil sebuah buku cerita.
Debu tipis terlihat di bagian atasnya.
“Sayang sekali.”
Farida mengangguk.
“Bukunya ada.”
“Tapi?”
“Yang datang belum banyak.”
Raka mengembalikan buku tersebut.
Ia mulai memahami persoalannya.
Membangun perpustakaan bukan hanya menyediakan buku.
Buku harus bertemu pembacanya.
Dan anak-anak harus merasa bahwa datang ke perpustakaan adalah sesuatu yang menyenangkan.
Bukan kewajiban.
Keesokan harinya, Raka mengajak beberapa mahasiswa berdiskusi.
“Kalau kita ingin anak-anak datang ke sini, jangan hanya suruh mereka membaca.”
“Terus?”
“Kita buat mereka ingin datang.”
Agatha mengangguk.
“Bagaimana caranya?”
Raka mulai menulis di papan:
Membaca.
Mendongeng.
Menulis.
Menggambar.
Membaca nyaring.
Belajar komputer.
Membuat karya.
Farida tersenyum.
“Berarti literasinya dibuat beragam.”
“Ya.”
“Bukan sekadar membaca buku?”
“Bukan.”
Raka menatap mereka.
“Literasi harus menjadi pengalaman.”
Hari Pertama
Kegiatan pertama dibuat sederhana.
Sebuah sesi membaca bersama.
Tidak ada dekorasi besar.
Tidak ada hadiah mahal.
Hanya beberapa buku cerita dan beberapa mahasiswa.
Raka mengira mungkin hanya beberapa anak yang datang.
Namun menjelang sore, suara anak-anak mulai terdengar dari halaman.
Satu.
Dua.
Lima.
Kemudian semakin banyak.
Ada yang datang berlari.
Ada yang datang bersama kakaknya.
Ada yang langsung mengambil buku.
Ada yang hanya melihat-lihat.
Ada yang bertanya,
“Mas, hari ini ada cerita?”
Agatha tersenyum.
“Ada.”
“Cerita apa?”
“Nanti.”
Anak itu langsung masuk.
Farida kemudian duduk bersama beberapa anak.
“Siapa yang suka membaca?”
Tangan kecil terangkat.
Tidak semua.
Farida bertanya lagi,
“Siapa yang suka mendengarkan cerita?”
Hampir semua tangan terangkat.
Farida tertawa.
“Nah, berarti kita mulai dari cerita.”
Seorang mahasiswa mengambil sebuah buku cerita.
Anak-anak duduk melingkar.
Suasana perlahan tenang.
Cerita dimulai.
Ada yang tertawa.
Ada yang bertanya.
Ada yang menebak akhir cerita.
Ketika cerita selesai, mahasiswa tidak langsung menutup buku.
Ia bertanya,
“Menurut kalian, apa yang bisa kita pelajari dari cerita tadi?”
Seorang anak menjawab,
“Jangan berbohong.”
Anak lain berkata,
“Harus berani.”
Yang lain menambahkan,
“Harus menolong.”
Raka yang berdiri di belakang tersenyum.
Inilah yang ia inginkan.
Bukan hanya anak membaca.
Tetapi anak berpikir.
Agatha dan Wajah-Wajah Kecil
Agatha mulai mengabadikan kegiatan.
Namun ia tidak ingin hanya mengambil foto anak-anak duduk membaca.
Ia mencari ekspresi.
Anak yang serius membaca.
Anak yang tertawa.
Anak yang bertanya.
Anak yang membantu temannya.
Anak yang menggambar.
Anak yang mencoba menggunakan komputer.
Ia mengambil foto seorang anak yang sedang memegang buku dengan wajah penuh perhatian.
Agatha memperbesar hasilnya.
Ia tersenyum.
Ada sesuatu dalam tatapan anak itu.
Sebuah rasa ingin tahu.
Agatha berkata kepada Farida,
“Kadang kita tidak tahu mimpi seorang anak dari wajahnya.”
Farida menjawab,
“Tapi kita bisa memberi mereka ruang untuk menemukannya.”
Agatha mengangguk.
Farida Membuka Ruang untuk Menulis
Minggu berikutnya, Farida mengadakan kegiatan menulis.
Ia membagikan kertas.
“Sekarang tuliskan cita-cita kalian.”
Anak-anak mulai menulis.
Ada yang ingin menjadi guru.
Dokter.
Polisi.
Petani.
Tentara.
Pengusaha.
Ada yang ingin menjadi pemain sepak bola.
Ada yang ingin menjadi penulis.
Ada pula yang menulis:
“Saya ingin menjadi orang yang berguna.”
Farida berhenti pada tulisan tersebut.
Ia melihat seorang anak yang duduk di pojok.
“Kenapa ingin menjadi orang yang berguna?”
Anak itu menjawab,
“Karena saya ingin membantu ibu.”
Farida terdiam.
Ia tidak banyak bertanya.
Ia hanya tersenyum.
Kemudian berkata,
“Cita-citamu bagus.”
Tulisan-tulisan anak tersebut kemudian dikumpulkan.
Farida mengusulkan agar dibuat sebuah Papan Mimpi Anak Awan Biru.
Jevin langsung tertarik.
Ia membuat desain papan besar.
Setiap anak dapat menempelkan tulisan atau gambar cita-citanya.
Perpustakaan berubah.
Dinding yang sebelumnya kosong kini dipenuhi warna.
Ada gambar rumah.
Sekolah.
Buku.
Pesawat.
Sawah.
Rumah sakit.
Lapangan.
Dan berbagai macam cita-cita.
Di bagian atas tertulis:
“MIMPI BOLEH TINGGI, LANGKAH DIMULAI HARI INI.”
Jevin dan Perpustakaan yang Mulai Berubah
Jevin kemudian mengusulkan agar perpustakaan dibuat lebih ramah anak.
Tidak perlu renovasi besar.
Cukup dengan beberapa perubahan.
Rak buku diberi tanda kategori.
Sudut baca dibuat lebih nyaman.
Papan informasi diperbaiki.
Materi literasi dibuat menarik.
Poster edukasi ditempel.
Jadwal kegiatan dipasang.
Anak-anak bahkan diajak membantu.
“Kalau kalian yang membuat, mau?”
Mereka menjawab,
“Mau!”
Jevin membagikan kertas.
Anak-anak menggambar.
Ada yang membuat gambar buku.
Ada yang menggambar pohon.
Ada yang menggambar sekolah.
Karya mereka kemudian dipasang.
Perpustakaan mulai terasa berbeda.
Bukan lagi ruang yang hanya menyimpan buku.
Tetapi ruang yang memiliki cerita.
Komputer Pertama yang Membuat Anak-Anak Takjub
Suatu hari mahasiswa membawa beberapa laptop.
Anak-anak langsung berkumpul.
“Apa itu?”
“Komputer.”
“Bisa buat apa?”
“Banyak.”
“Bisa main?”
Agatha tertawa.
“Bisa.”
Anak-anak bersorak.
Namun Raka segera berkata,
“Boleh bermain, tetapi kita belajar dulu.”
Mereka mulai diperkenalkan pada dasar-dasar komputer.
Mengetik.
Menggambar.
Membuka aplikasi sederhana.
Mencari informasi dengan pendampingan.
Menyimpan file.
Dan membuat tulisan pendek.
Beberapa anak yang awalnya takut menyentuh komputer mulai berani.
Ada yang mengetik namanya sendiri.
Ada yang membuat gambar.
Ada yang mencoba menulis cita-citanya.
Seorang anak memanggil Raka.
“Mas!”
“Ya?”
“Saya bisa!”
Raka mendekat.
Di layar tertulis nama anak tersebut.
Raka tersenyum.
“Bagus.”
Anak itu tersenyum bangga.
Bagi orang dewasa, itu mungkin hal kecil.
Namun bagi seorang anak yang baru pertama kali menggunakan komputer, itu adalah pencapaian.
Perpustakaan Mulai Menjadi Tempat Berkumpul
Hari demi hari berlalu.
Anak-anak mulai datang bahkan ketika tidak ada kegiatan besar.
Ada yang datang membaca.
Ada yang mengerjakan tugas sekolah.
Ada yang menggambar.
Ada yang berdiskusi.
Ada yang hanya ingin bertemu teman.
Suatu sore Raka datang tanpa memberi tahu mahasiswa.
Ia melihat beberapa anak sedang membaca.
Tidak ada kegiatan resmi.
Tidak ada instruksi.
Tidak ada mahasiswa yang menyuruh.
Mereka datang sendiri.
Raka berdiri di pintu.
Ia tersenyum.
Inilah tanda pertama bahwa sebuah kebiasaan mulai terbentuk.
Namun Raka tidak ingin cepat puas.
Ia bertanya kepada pengelola perpustakaan,
“Kalau mahasiswa pulang nanti bagaimana?”
Pengelola terdiam.
“Ya… semoga tetap ramai.”
“Semoga tidak cukup.”
Pengelola memandang Raka.
“Lalu?”
“Kita harus menyiapkan orang yang akan melanjutkan.”
Mencari Penggerak Literasi Desa
Raka mulai berdiskusi dengan beberapa pemuda dan perempuan desa.
Ia mengajak mereka menjadi relawan literasi.
Tidak harus setiap hari.
Tidak harus memiliki latar belakang pendidikan.
Yang penting mau belajar dan mau mendampingi anak-anak.
Beberapa orang bersedia.
Ada pemuda.
Ada ibu rumah tangga.
Ada mahasiswa yang kebetulan sedang berada di desa.
Ada pula seorang guru yang bersedia memberikan arahan.
Raka kemudian berkata,
“Mahasiswa bukan pengelola perpustakaan.”
“Lalu?”
“Kita membantu menyiapkan sistem.”
Mereka mulai menyusun jadwal.
Senin untuk membaca bersama.
Rabu untuk menulis dan menggambar.
Jumat untuk membaca nyaring dan bercerita.
Sabtu untuk kegiatan kreatif.
Jadwal itu ditempel di dinding.
Anak-anak mulai menghafalnya.
“Besok membaca!”
“Jumat ada cerita!”
“Sabtu menggambar!”
Suasana perpustakaan semakin hidup.
Masalah Mulai Muncul
Namun ketika kegiatan semakin ramai, masalah juga mulai muncul.
Buku tidak selalu kembali ke tempatnya.
Beberapa anak berebut buku.
Ada yang berisik.
Ada yang tidak mau mengikuti aturan.
Komputer hanya sedikit.
Beberapa anak merasa tidak kebagian.
Pengelola mulai kewalahan.
Seorang relawan berkata,
“Kalau anaknya semakin banyak, kita perlu aturan.”
Raka mengangguk.
“Betul.”
Mereka kemudian mengajak anak-anak membuat aturan bersama.
Tidak boleh merusak buku.
Harus mengembalikan buku.
Bergantian menggunakan komputer.
Tidak mengganggu teman yang sedang membaca.
Menjaga kebersihan.
Dan saling membantu.
Yang menarik, anak-anak tidak hanya diminta mematuhi aturan.
Mereka dilibatkan dalam membuatnya.
Anak-Anak Menjadi Bagian dari Perpustakaan
Beberapa anak kemudian diberi tugas sederhana.
Ada yang membantu merapikan buku.
Ada yang menjaga kebersihan.
Ada yang membantu teman kecil.
Ada yang menjadi pembaca nyaring.
Ada yang membantu menempelkan karya.
Raka melihat perkembangan itu.
“Kenapa mereka kita beri tanggung jawab?”
Farida menjawab,
“Supaya mereka merasa memiliki.”
Raka mengangguk.
“Betul.”
Karena sebuah tempat akan lebih mudah dijaga jika seseorang merasa tempat itu adalah miliknya.
PDD Menjadikan Anak-Anak sebagai Cerita
Agatha kemudian membuat dokumentasi khusus.
Bukan hanya tentang program KKN.
Ia membuat cerita tentang perpustakaan.
Tentang anak-anak.
Tentang cita-cita mereka.
Tentang perubahan kebiasaan.
Farida menulis artikel berjudul:
“Dari Ruang Sunyi Menjadi Rumah Mimpi Anak Awan Biru.”
Jevin membuat poster:
“Satu Buku, Satu Cerita, Satu Mimpi.”
Ketika artikel dipublikasikan, banyak masyarakat mulai memperhatikan.
Orang tua mulai bertanya.
“Anak saya boleh ikut?”
“Tentu.”
“Kalau mau menyumbangkan buku?”
“Boleh.”
Ada masyarakat yang mulai membawa buku dari rumah.
Ada yang menyumbangkan alat gambar.
Ada pula yang memberikan meja kecil.
Tanpa diminta, dukungan mulai datang.
Sebuah Buku dari Seorang Anak
Suatu sore, seorang anak datang membawa sebuah buku.
“Ini untuk perpustakaan.”
Pengelola bertanya,
“Buku kamu?”
Anak itu mengangguk.
“Masih bagus.”
“Kamu tidak membacanya lagi?”
“Sudah.”
“Kenapa diberikan?”
Anak itu menjawab,
“Biar teman-teman saya juga bisa baca.”
Raka yang kebetulan berada di sana tersenyum.
Ia menerima buku tersebut.
“Terima kasih.”
Anak itu berkata,
“Kalau sudah selesai dibaca, nanti boleh saya pinjam lagi?”
Raka tertawa.
“Tentu.”
Anak itu berlari.
Raka memandang buku tersebut.
Ia merasa sebuah pelajaran baru saja diberikan oleh seorang anak.
Berbagi tidak selalu berarti kehilangan.
Kadang berbagi justru membuat sesuatu menjadi lebih bermanfaat.
Mimpi yang Mulai Memiliki Jalan
Papan Mimpi Anak Awan Biru semakin penuh.
Jevin harus membuat papan tambahan.
Agatha mengambil foto.
Farida menulis cerita.
Anak-anak semakin berani berbicara tentang cita-cita.
Namun Raka ingin memastikan cita-cita tidak berhenti sebagai tulisan di dinding.
Ia mulai membuat kegiatan “Mimpi dan Langkah.”
Setiap anak memilih satu cita-cita.
Kemudian mereka menjawab:
“Apa yang harus saya lakukan mulai sekarang?”
Anak yang ingin menjadi guru menulis:
“Saya harus rajin membaca.”
Yang ingin menjadi dokter:
“Saya harus rajin belajar.”
Yang ingin menjadi penulis:
“Saya harus sering menulis.”
Yang ingin menjadi petani:
“Saya harus belajar tentang tanaman.”
Raka tersenyum.
“Sekarang mimpi kalian sudah punya jalan.”
Ujian Keberlanjutan
Namun satu pertanyaan masih menghantui Raka.
Apa yang terjadi setelah mahasiswa pulang?
Ia mengumpulkan tim.
“Program ini sudah bagus.”
Agatha mengangguk.
“Tapi?”
“Kita tidak boleh membuat perpustakaan bergantung kepada kita.”
Farida memahami.
“Berarti relawan harus siap.”
“Pengelola juga.”
Jevin menambahkan,
“Materi kegiatannya harus terdokumentasi.”
“Betul.”
Mereka kemudian membuat panduan sederhana.
Cara menjalankan kegiatan membaca.
Cara mengadakan membaca nyaring.
Cara membuat kegiatan menulis.
Cara mengatur jadwal.
Cara mencatat peminjaman buku.
Cara mengelola komputer.
Cara mendokumentasikan kegiatan.
Semua disusun agar dapat digunakan setelah mahasiswa meninggalkan desa.
Pelatihan untuk Pengelola
Raka kemudian tidak hanya mengajarkan anak-anak.
Ia melatih para calon penggerak literasi.
Seorang relawan bertanya,
“Kalau anak-anak bosan bagaimana?”
“Ganti metode.”
“Kalau mereka ribut?”
“Libatkan.”
“Kalau jumlah anak banyak?”
“Buat kelompok kecil.”
“Kalau buku kurang?”
“Manfaatkan bahan lain.”
“Kalau tidak punya komputer?”
“Literasi tidak bergantung pada komputer.”
Relawan tersebut mengangguk.
Ia mulai memahami bahwa mengelola perpustakaan bukan hanya tentang buku.
Tetapi tentang manusia.
Hari Tanpa Mahasiswa
Raka kemudian melakukan sebuah percobaan.
Ia meminta mahasiswa tidak datang ke perpustakaan selama satu kegiatan.
Para relawan menjalankan sendiri.
Awalnya Raka khawatir.
Namun ketika ia mendengar dari kejauhan, suara anak-anak tetap terdengar.
Ada yang membaca.
Ada yang bercerita.
Ada yang membantu merapikan buku.
Tidak ada mahasiswa.
Namun kegiatan tetap berjalan.
Raka berdiri di luar.
Agatha berada di sampingnya.
“Masuk?”
Raka menggeleng.
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Biar mereka belajar.”
Agatha tersenyum.
“Berarti berhasil?”
Raka tidak langsung menjawab.
Ia memandang ruangan itu.
“Belum.”
“Kenapa?”
“Keberlanjutan bukan satu kali kegiatan.”
Agatha mengangguk.
“Harus terus berjalan.”
“Betul.”
Hari-hari berikutnya, kegiatan tetap berlangsung.
Tidak selalu sempurna.
Kadang peserta sedikit.
Kadang relawan berhalangan.
Kadang jadwal berubah.
Namun selalu ada yang bergerak.
Dan bagi Raka, itu jauh lebih penting daripada kegiatan besar yang hanya berlangsung sekali.
Suatu sore, Farida menemukan seorang anak sedang menulis sesuatu.
“Apa yang kamu tulis?”
Anak itu menjawab,
“Surat.”
“Untuk siapa?”
“Untuk saya sendiri.”
Farida tersenyum.
“Kenapa?”
“Supaya nanti kalau sudah besar, saya bisa baca.”
Farida penasaran.
“Apa isinya?”
Anak itu menutup kertasnya.
“Rahasia.”
Farida tertawa.
“Baik.”
Ia tidak memaksa.
Namun beberapa saat kemudian anak itu berkata,
“Saya menulis saya ingin tetap sekolah.”
Farida terdiam.
Ia melihat mata anak tersebut.
Kemudian berkata,
“Jaga mimpi itu.”
Anak tersebut mengangguk.
Malamnya Farida menulis di catatannya:
“Sebuah perpustakaan mungkin hanya sebuah ruangan. Tetapi bagi seorang anak, ruangan itu dapat menjadi tempat pertama di mana ia merasa bahwa mimpinya memiliki tempat.”
Beberapa hari kemudian, Raka berdiri di depan Papan Mimpi Anak Awan Biru.
Tulisan dan gambar memenuhi hampir seluruh permukaan.
Ia membaca satu per satu.
Guru.
Dokter.
Petani.
Polisi.
Penulis.
Pengusaha.
Desainer.
Teknisi.
Atlet.
Dan berbagai cita-cita lainnya.
Raka tersenyum.
Ia menyadari bahwa mereka mungkin tidak mampu mewujudkan semua mimpi itu.
Tetapi mereka dapat membantu menciptakan ruang agar anak-anak berani bermimpi.
Dan mungkin itulah salah satu bentuk pengabdian yang paling sederhana.
Bukan memberikan jawaban atas masa depan mereka.
Tetapi membantu mereka menemukan pertanyaan:
“Saya ingin menjadi siapa?”
Ketika sore semakin gelap, anak-anak mulai pulang.
Beberapa masih membawa buku.
Ada yang berlari.
Ada yang berpamitan.
“Besok datang lagi, ya!”
“Besok ada membaca?”
“Ada!”
Pintu perpustakaan kemudian ditutup.
Ruangan kembali tenang.
Namun kali ini ketenangan itu berbeda.
Karena Raka tahu, besok pintu itu akan kembali dibuka.
Bukan oleh mahasiswa.
Melainkan oleh masyarakat yang mulai merasa bahwa perpustakaan tersebut adalah milik mereka.
Dan di situlah Raka menemukan makna lain dari pemberdayaan.
Perubahan bukan ketika sebuah ruangan menjadi ramai karena kita datang.
Perubahan adalah ketika ruangan itu tetap hidup setelah kita tidak lagi berada di sana.
Namun perjalanan belum selesai.
Karena semakin banyak anak datang ke perpustakaan, semakin besar kebutuhan mereka.
Mereka membutuhkan buku yang lebih beragam.
Membutuhkan akses teknologi.
Membutuhkan pendampingan.
Dan mulai muncul sebuah gagasan yang sebelumnya belum pernah terpikirkan:
Bagaimana jika perpustakaan desa tidak hanya menjadi tempat membaca, tetapi juga menjadi pusat belajar digital bagi anak-anak Awan Biru?
Gagasan itu membuat Raka terdiam cukup lama.
Ia tahu, mewujudkannya tidak mudah.
Perangkat terbatas.
Akses internet belum selalu stabil.
Kemampuan pengelola masih perlu ditingkatkan.
Dan yang paling penting—
program itu harus tetap berjalan ketika mahasiswa KKN sudah meninggalkan Desa Awan Biru.
Perpustakaan pun memasuki tantangan baru.
Bukan lagi sekadar membangun minat baca.
Tetapi membuka jendela yang lebih luas menuju dunia.
BAB X — KETIKA PROGRAM MULAI BERTABRAKAN
Satu Hari, Banyak Kegiatan
Pagi itu, posko KKN Desa Awan Biru terlihat sangat sibuk.
Beberapa mahasiswa berjalan tergesa-gesa.
Ada yang membawa perlengkapan.
Ada yang mencari kabel.
Ada yang memeriksa daftar peserta.
Ada yang sibuk menelepon warga.
Di ruang tengah, beberapa lembar kertas ditempel di dinding.
Itu adalah kalender kegiatan KKN.
Namun kalender tersebut mulai dipenuhi coretan.
Satu kegiatan.
Dua kegiatan.
Tiga kegiatan.
Bahkan pada beberapa hari, terdapat empat kegiatan sekaligus.
Raka berdiri di depan kalender.
Ia memperhatikannya cukup lama.
Kemudian menghela napas.
“Ini mulai tidak sehat.”
Satu Hari, Terlalu Banyak Agenda
Hari itu seharusnya sederhana.
Pagi ada kegiatan pendampingan anak-anak di sekolah.
Siang ada pelatihan UMKM perempuan.
Sore ada kegiatan pemuda.
Malam ada rapat evaluasi.
Namun ternyata muncul agenda tambahan.
Pemerintah desa meminta mahasiswa membantu kegiatan masyarakat.
Kelompok pemuda mengubah jadwal kegiatan.
Salah satu divisi pendidikan meminta pendampingan tambahan.
Dan perpustakaan membutuhkan dokumentasi.
Semua kegiatan dianggap penting.
Tidak ada yang merasa kegiatannya boleh ditunda.
Akibatnya, seluruh mahasiswa berusaha mengejar semuanya.
Raka menerima pesan dari salah satu koordinator.
“Rak, kegiatan kami dimajukan ke jam satu.”
Belum sempat menjawab, pesan lain masuk.
“Kegiatan UMKM jadi jam dua.”
Kemudian pesan berikutnya.
“Pemuda minta dokumentasi jam tiga.”
Raka menatap layar telepon.
Belum sempat ia menyelesaikan satu masalah, masalah lain sudah muncul.
Ia memasukkan telepon ke saku.
“Semua ingin berjalan.”
Namun pertanyaan yang lebih penting adalah:
Siapa yang akan menjalankannya?
Agatha Mulai Kewalahan
Di tempat lain, Agatha sedang memeriksa kameranya.
Baterai tinggal sedikit.
Kartu memori hampir penuh.
Ia melihat daftar kegiatan.
Pagi:
Sekolah.
Siang:
UMKM.
Sore:
Pemuda.
Malam:
Perpustakaan.
Agatha mengusap wajah.
“Ini manusia atau robot?”
Seorang mahasiswa tertawa.
“Semangat, Tha.”
Agatha menjawab,
“Semangat boleh. Kloning belum bisa.”
Ia kemudian berangkat ke sekolah.
Mengambil foto.
Merekam beberapa kegiatan.
Berbicara dengan guru.
Belum selesai, teleponnya berbunyi.
“Agatha, jangan lupa nanti ke kegiatan UMKM.”
Agatha melihat jam.
Masih ada beberapa menit.
Ia buru-buru membereskan kamera.
Ketika tiba di lokasi UMKM, kegiatan sudah berlangsung.
Ia masuk.
Beberapa ibu sudah duduk.
Produk tersusun.
Jevin sedang membantu.
Farida sudah mengambil beberapa catatan.
Agatha mulai bekerja.
Mengambil foto.
Berpindah tempat.
Mencari sudut.
Mengabadikan proses.
Namun pikirannya sudah tertuju pada kegiatan berikutnya.
Farida dan Tumpukan Cerita
Di posko, Farida menghadapi masalah yang berbeda.
Ia membuka laptop.
Ada tiga berita yang belum selesai.
Satu tentang pemuda.
Satu tentang perpustakaan.
Satu tentang usaha perempuan.
Semua membutuhkan tulisan.
Semua memiliki data.
Semua memiliki foto.
Namun waktu untuk menulis sangat terbatas.
Ia membuka satu dokumen.
Menulis beberapa paragraf.
Kemudian membuka dokumen lain.
Kembali ke dokumen pertama.
Kemudian menerima pesan baru.
“MbakFarida nanti kegiatan kami tolong dibuatkan berita, ya.”
Farida menarik napas.
Ia membalas:
“Baik, nanti saya usahakan.”
Kemudian ia menatap layar.
“Usahakan.”
Ia mulai tidak menyukai kata tersebut.
Karena semakin sering ia mengatakannya, semakin banyak pekerjaan yang menumpuk.
Jevin Mendapat Permintaan Tanpa Henti
Jevin tidak kalah sibuk.
Sejak program UMKM berkembang, permintaan desain meningkat.
Ada yang meminta poster.
Ada yang meminta banner.
Ada yang meminta desain promosi.
Ada yang meminta sertifikat.
Ada yang meminta undangan.
Ada yang meminta konten media sosial.
Dan semuanya dianggap mendesak.
“Jevin, bisa malam ini?”
“Jevin, besok pagi harus jadi.”
“Jevin, tolong revisi.”
“Jevin, bisa dibuat versi lain?”
Jevin akhirnya menutup laptop.
“Kalau semua mendesak, berarti tidak ada yang benar-benar mendesak.”
Namun tidak ada yang mendengar.
Awal Pertengkaran
Sore itu, masalah akhirnya meledak.
Salah satu koordinator kegiatan merasa PDD tidak memberikan dukungan yang cukup.
“Kegiatan kami sudah direncanakan dari jauh-jauh hari.”
Agatha menjawab,
“Bukan berarti saya bisa berada di tiga tempat sekaligus.”
“Kan ada tim PDD.”
“Tiga orang.”
“Ya dibagi.”
“Kami sudah membagi.”
“Tapi kegiatan kami tetap tidak terdokumentasi lengkap.”
Agatha mulai kesal.
“Kalau kalian ingin semua didokumentasikan, jangan jadwalkan tiga kegiatan dalam waktu yang sama.”
Suasana menjadi tegang.
Koordinator tersebut merasa disalahkan.
“Jadi sekarang kami yang salah?”
Agatha terdiam.
Ia tahu emosinya mulai naik.
Namun kata-kata sudah terlanjur keluar.
Berita pertengkaran itu sampai kepada Raka.
Ia segera datang.
“Sudah.”
Semua diam.
Raka tidak langsung menyalahkan siapa pun.
Ia memandang satu per satu.
“Kita semua sedang lelah.”
Tidak ada yang menjawab.
“Masalahnya bukan siapa yang salah.”
Ia menunjuk kalender.
“Masalahnya sistem kita.”
Rapat Darurat
Malam itu Raka mengumpulkan seluruh koordinator.
Tidak ada agenda lain.
Tidak ada basa-basi.
Kalender kegiatan ditempel di dinding.
Raka meminta semua orang melihatnya.
“Coba lihat.”
Semua memperhatikan.
“Berapa kegiatan kita dalam satu minggu?”
Salah seorang mahasiswa menghitung.
“Dua puluh lebih.”
“Berapa yang benar-benar memiliki tenaga cukup?”
Tidak ada jawaban.
Raka mengangguk.
“Itulah masalah kita.”
Ia kemudian berkata,
“Kita terlalu bangga karena punya banyak kegiatan.”
Semua diam.
“Padahal kalau kegiatan terlalu banyak dan tidak mampu dikelola, hasilnya justru buruk.”
Seorang koordinator berkata,
“Tapi semua program sudah ada dalam proposal.”
Raka menjawab,
“Proposal bukan kitab suci.”
Beberapa mahasiswa tersenyum kecil.
“Proposal adalah rencana.”
Ia melanjutkan,
“Kalau kondisi lapangan berubah, rencana juga harus berubah.”
Menentukan Prioritas
Raka kemudian membuat tiga kategori di papan.
Prioritas Utama
Program yang berdampak langsung dan membutuhkan kesinambungan.
Program Pendukung
Kegiatan yang dapat digabungkan dengan program lain.
Program Tambahan
Kegiatan yang dapat ditunda jika tenaga dan waktu tidak memungkinkan.
Ia meminta setiap koordinator memasukkan programnya.
Perdebatan mulai terjadi.
“Program kami harus utama.”
“Program kami juga.”
“Ini sudah direncanakan.”
“Yang ini pesertanya banyak.”
Raka membiarkan mereka berbicara.
Ia tidak langsung memutuskan.
Setelah semua selesai, ia bertanya,
“Mana yang paling dibutuhkan masyarakat?”
Pertanyaan itu membuat suasana berubah.
Salah seorang mahasiswa berkata,
“Berarti kita harus melihat dampaknya.”
Raka mengangguk.
“Ya.”
“Bukan sekadar jumlah peserta?”
“Bukan.”
“Bukan juga karena program itu terlihat bagus?”
“Bukan.”
“Lalu?”
“Dampak, kebutuhan, kemampuan kita menjalankan, dan kemungkinan dilanjutkan masyarakat.”
Farida yang ikut dalam rapat mencatat.
Ia tahu, pembicaraan itu bukan hanya tentang jadwal.
Ini tentang cara mereka memahami pengabdian.
Menggabungkan Program
Raka menemukan beberapa kegiatan yang sebenarnya bisa digabung.
Pelatihan digital untuk pemuda dapat dilakukan bersamaan dengan literasi komputer di perpustakaan.
Promosi UMKM dapat digabung dengan kegiatan ekonomi masyarakat.
Dokumentasi beberapa kegiatan dapat dikelompokkan menjadi satu cerita besar.
Kegiatan lingkungan dapat melibatkan pemuda.
Kegiatan literasi dapat melibatkan orang tua.
Satu kegiatan dapat memberi manfaat kepada lebih dari satu kelompok.
Raka tersenyum.
“Tidak semua program harus berdiri sendiri.”
Agatha mengangguk.
“Kalau begitu beban PDD juga lebih ringan.”
Farida menambahkan,
“Dan ceritanya bisa lebih kuat.”
Jevin tersenyum.
“Desainnya juga tidak perlu dibuat sepuluh kali.”
Beberapa mahasiswa tertawa.
Suasana yang sebelumnya tegang mulai mencair.
Kalender Baru
Mereka kemudian membuat kalender baru.
Tidak lagi penuh dengan kegiatan setiap hari.
Ada hari untuk kegiatan utama.
Ada waktu untuk persiapan.
Ada waktu untuk dokumentasi.
Ada waktu untuk menulis.
Ada waktu untuk evaluasi.
Dan ada satu hal yang sebelumnya hampir tidak pernah mereka masukkan:
Waktu istirahat.
Raka menulisnya dengan sengaja.
“Ini juga bagian dari program.”
Seorang mahasiswa tertawa.
“Program istirahat?”
“Ya.”
“Kenapa?”
“Karena orang yang kelelahan tidak akan mampu memberikan pengabdian yang baik.”
Tidak ada yang membantah.
PDD Membuat Sistem Baru
Agatha kemudian mengusulkan sistem dokumentasi.
“Setiap kegiatan harus menunjuk satu orang penghubung PDD.”
Raka mengangguk.
“Setuju.”
Farida menambahkan,
“Dan data dasar kegiatan harus dikirim sebelum kegiatan.”
Jevin berkata,
“Permintaan desain juga harus memiliki batas waktu.”
Semua mulai menyusun aturan.
Bukan untuk mempersulit.
Tetapi agar pekerjaan dapat dikelola.
Agatha berkata,
“Kalau semua kegiatan penting, kami perlu tahu prioritas.”
Farida menambahkan,
“Dan berita tidak harus semuanya selesai malam itu.”
Jevin tertawa,
“Kalau semua poster harus selesai malam ini, saya pindah divisi.”
Semua tertawa.
Ketegangan perlahan hilang.
Belajar Mengatakan Tidak
Namun Raka tahu satu hal.
Sistem tidak akan berguna jika mereka tidak berani mengatakan tidak.
Keesokan harinya, salah satu pihak meminta tambahan kegiatan.
Raka menjawab dengan sopan,
“Untuk saat ini belum bisa kami masukkan.”
“Kenapa?”
“Jadwal sudah penuh.”
“Tidak bisa disisipkan?”
Raka menggeleng.
“Kalau kami paksakan, kegiatan lain bisa terganggu.”
Pihak tersebut tampak kecewa.
Namun Raka tetap tenang.
“Kami tidak menolak kegiatannya.”
“Lalu?”
“Kami mengusulkan waktu lain.”
Setelah orang tersebut pergi, salah seorang mahasiswa bertanya,
“Berat juga jadi ketua.”
Raka tersenyum.
“Kenapa?”
“Harus mengatakan tidak.”
Raka mengangguk.
“Kadang memimpin berarti mengatakan tidak pada sesuatu yang sebenarnya kita sukai, supaya sesuatu yang lebih penting tetap berjalan.”
Konflik Belum Selesai
Meskipun kalender sudah diperbaiki, tidak semua orang langsung menerima.
Ada yang merasa programnya diturunkan prioritas.
Ada yang merasa kerja kerasnya kurang dihargai.
Ada yang menganggap Raka terlalu mengatur.
Bahkan muncul bisik-bisik bahwa ketua terlalu banyak mengambil keputusan.
Raka mendengar semuanya.
Namun ia tidak marah.
Ia mengerti.
Ketika seseorang mengambil keputusan, tidak mungkin semua orang merasa puas.
Yang penting adalah keputusan tersebut dapat dipertanggungjawabkan.
Suatu malam, Raka duduk sendirian di depan posko.
Agatha datang membawa dua gelas minuman.
“Capek?”
Raka menerima satu gelas.
“Lumayan.”
“Menyesal jadi ketua?”
Raka tertawa.
“Pertanyaan berbahaya.”
Agatha ikut tertawa.
Kemudian suasana hening.
“Kadang saya merasa semua orang punya keinginan.”
Raka memandang halaman.
“Dan?”
“Saya harus membuat semuanya masuk.”
Agatha menggeleng.
“Tidak mungkin.”
Raka mengangguk.
“Itulah yang mulai saya pahami.”
Agatha duduk di sampingnya.
“Rak.”
“Ya?”
“Menurut saya, ketua bukan orang yang bisa membuat semua orang senang.”
“Lalu?”
“Ketua itu orang yang membuat tim tetap bergerak meskipun tidak semua orang senang.”
Raka terdiam.
Ia menatap Agatha.
“Sejak kapan kamu bijaksana?”
Agatha tertawa.
“Sejak PDD tidak bisa tidur.”
Mereka tertawa bersama.
Hari-Hari Mulai Lebih Tertata
Beberapa hari kemudian, perubahan mulai terasa.
Kegiatan tidak lagi bertabrakan terlalu sering.
Koordinator mulai berkomunikasi lebih awal.
PDD mendapatkan informasi sebelum kegiatan.
Agatha tidak lagi berlari dari satu lokasi ke lokasi lain.
Farida memiliki waktu untuk menulis dengan lebih baik.
Jevin dapat mengatur pekerjaan desain.
Mahasiswa mulai memiliki waktu untuk mengevaluasi.
Dan yang paling penting—
mereka mulai memiliki waktu untuk berbicara satu sama lain.
Namun Raka tidak ingin masalah ini dianggap selesai.
Ia mengadakan evaluasi mingguan.
Pertanyaan pertama selalu sama:
“Apa yang tidak berjalan?”
Bukan:
“Berapa banyak kegiatan yang berhasil?”
Karena ia ingin mereka belajar dari kegagalan.
Ada kegiatan yang pesertanya sedikit.
Ada program yang terlalu berat.
Ada komunikasi yang terlambat.
Ada dokumentasi yang kurang.
Ada masyarakat yang belum terlibat.
Semua dibicarakan.
Tidak untuk mencari kesalahan.
Tetapi untuk memperbaiki cara kerja.
Raka Mulai Memahami Arti Mengorganisir
Suatu malam, Raka kembali berdiri di depan kalender.
Kali ini kalender terlihat lebih sederhana.
Tidak terlalu penuh.
Namun setiap kegiatan memiliki catatan.
Penanggung jawab.
Waktu.
Kebutuhan.
Target.
Dan rencana tindak lanjut.
Raka tersenyum.
Ia teringat dirinya beberapa minggu lalu.
Saat itu ia mengira menjadi ketua berarti memastikan semua program berjalan.
Kini ia tahu.
Bukan itu.
Menjadi ketua berarti mengetahui program mana yang harus berjalan, kapan harus berjalan, siapa yang harus menjalankan, dan kapan harus berhenti.
Ia menulis sebuah kalimat di buku catatannya:
“Mengorganisir bukan hanya membuat rencana, tetapi juga mengatur kekacauan ketika rencana tidak berjalan.”
Ia menutup buku.
Ketika Rencana Harus Kembali Berubah
Namun belum sempat mereka menikmati sistem baru, sebuah kabar datang.
Salah satu kegiatan besar desa ternyata dimajukan.
Tanggalnya berbenturan dengan dua program utama KKN.
Raka menerima informasi tersebut pada malam hari.
Ia melihat kalender.
Kegiatan kembali bertabrakan.
Agatha menggeleng ketika mengetahui kabar itu.
“Jangan bilang kita kembali ke awal.”
Farida tertawa kecil.
Jevin menutup laptop.
“Baru saja saya merasa hidup saya mulai normal.”
Raka tersenyum.
“Berarti kita belajar lagi.”
Agatha menghela napas.
“Rak…”
“Ya?”
“Kalau nanti kamu menulis buku tentang KKN, jangan tulis bagian ini.”
Raka tertawa.
“Justru bagian ini yang harus ditulis.”
“Kenapa?”
“Karena KKN bukan hanya tentang program yang berhasil.”
Ia memandang teman-temannya.
“Ini juga tentang bagaimana kita menghadapi ketika semuanya tidak berjalan sesuai rencana.”
Mereka kemudian kembali duduk bersama.
Bukan untuk mengeluh.
Tetapi untuk mencari solusi.
Dan kali ini mereka tidak lagi menunggu Raka memberikan jawaban.
Para koordinator mulai menawarkan jalan keluar.
Kegiatan dapat digeser.
Beberapa dapat digabung.
Sebagian dapat didelegasikan.
PDD dapat meminta bantuan dokumentasi dari mahasiswa lain.
Dan program yang kurang prioritas dapat ditunda.
Raka mendengarkan.
Kemudian berkata,
“Sekarang kalian sudah mulai berpikir seperti tim.”
Malam semakin larut.
Namun tidak ada lagi suasana panik seperti sebelumnya.
Mereka tahu masalah akan selalu muncul.
Jadwal dapat berubah.
Cuaca dapat berubah.
Masyarakat dapat berubah.
Kondisi lapangan dapat berubah.
Dan rencana mereka juga harus mampu berubah.
Karena pengabdian masyarakat bukan pekerjaan yang berlangsung di atas kertas.
Ia berlangsung di tengah kehidupan nyata.
Dan kehidupan nyata tidak pernah sepenuhnya mengikuti kalender.
Sebelum rapat ditutup, Raka berkata,
“Kita mungkin tidak bisa mengendalikan semua yang terjadi.”
Semua mendengarkan.
“Tapi kita bisa mengendalikan cara kita meresponsnya.”
Ia memandang seluruh koordinator.
“Mulai sekarang, jangan takut kalau rencana berubah.”
“Lalu?”
“Takutlah kalau kita tidak mau belajar dari perubahan.”
Semua mengangguk.
Malam itu, mereka membubarkan rapat.
Satu per satu mahasiswa kembali ke kamar.
Agatha masih membawa kameranya.
Farida masih membawa catatannya.
Jevin masih membuka laptop.
Raka kembali melihat kalender.
Ia tersenyum.
Kalender itu mungkin tidak akan pernah benar-benar kosong.
Program akan terus datang.
Masalah akan terus muncul.
Konflik mungkin masih akan terjadi.
Namun kini mereka memiliki sesuatu yang sebelumnya belum mereka miliki:
kemampuan untuk menghadapinya bersama.
Dan Raka mulai memahami bahwa sebuah tim tidak menjadi kuat karena tidak pernah mengalami kekacauan.
Sebuah tim menjadi kuat karena setiap kali kekacauan datang, mereka belajar menyusun kembali barisan.
Tetapi satu persoalan baru mulai muncul.
Di tengah semakin banyaknya kegiatan, mulai terlihat bahwa tidak semua program memiliki sumber daya yang cukup.
Ada program yang membutuhkan biaya.
Ada yang membutuhkan peralatan.
Ada yang membutuhkan dukungan pemerintah desa.
Ada yang membutuhkan keterlibatan masyarakat lebih luas.
Dan kali ini Raka tidak hanya harus mengatur waktu.
Ia harus belajar mengelola keterbatasan sumber daya.
Karena ternyata, setelah berhasil mengatasi benturan jadwal, mereka akan berhadapan dengan pertanyaan yang jauh lebih sulit:
“Bagaimana menjalankan banyak harapan ketika kemampuan yang dimiliki sangat terbatas?”
BAB XI — KONFLIK ANTARMAHASISWA
Ketika Kepentingan Pribadi Masuk ke Dalam Pengabdian
Malam itu suasana posko KKN Desa Awan Biru terasa berbeda.
Tidak ada suara tawa.
Tidak ada mahasiswa yang bercanda seperti biasanya.
Beberapa orang duduk dalam kelompok-kelompok kecil.
Sebagian memilih diam.
Sebagian sibuk dengan telepon genggam.
Ada pula yang sengaja menghindari tatapan satu sama lain.
Raka yang baru saja keluar dari ruang rapat memperhatikan keadaan tersebut.
Ia tahu ada sesuatu yang tidak beres.
Beberapa hari terakhir, ia memang merasakan perubahan.
Komunikasi antarmahasiswa mulai berkurang.
Pesan di grup sering kali hanya dibaca.
Beberapa tugas terlambat.
Ada yang datang ke kegiatan tanpa semangat.
Dan yang paling mengkhawatirkan—
mereka mulai bekerja dalam kelompok-kelompok kecil.
Bukan lagi sebagai satu tim.
“Saya Merasa Bekerja Lebih Banyak”
Masalah pertama muncul dalam rapat evaluasi.
Salah seorang mahasiswa berkata,
“Saya merasa pekerjaan saya lebih banyak daripada yang lain.”
Ruangan langsung hening.
Raka menatapnya.
“Bisa dijelaskan?”
Mahasiswa itu mulai bercerita.
“Setiap ada kegiatan, saya selalu diminta membantu.”
“Padahal?”
“Padahal ada teman yang jarang muncul.”
Beberapa mahasiswa mulai saling pandang.
Seseorang kemudian menyela,
“Jangan merasa paling sibuk.”
Mahasiswa pertama langsung menoleh.
“Saya tidak merasa paling sibuk. Saya memang sibuk.”
“Semua orang juga punya tugas.”
“Kalau punya tugas, kenapa sering tidak selesai?”
Suasana mulai memanas.
Raka mengangkat tangan.
“Tenang.”
Namun ketegangan sudah terlanjur muncul.
Divisi yang Merasa Paling Penting
Masalah berikutnya datang dari perbedaan cara pandang.
Divisi pendidikan merasa program mereka paling penting.
Divisi ekonomi merasa pemberdayaan UMKM lebih berdampak.
Pemuda merasa kegiatan mereka membutuhkan perhatian lebih.
Lingkungan merasa program mereka berkaitan dengan masa depan desa.
PDD merasa seluruh kegiatan harus didokumentasikan.
Semua memiliki alasan.
Dan semuanya merasa pekerjaannya penting.
Masalahnya bukan karena mereka salah.
Masalahnya adalah ketika kepentingan divisi mulai mengalahkan kepentingan kelompok.
Seorang koordinator berkata,
“Kalau kegiatan kami tidak diprioritaskan, target program kami tidak tercapai.”
Koordinator lain membalas,
“Program kami juga punya target.”
“Berarti kita harus melihat kebutuhan.”
“Program kami juga dibutuhkan.”
Raka mulai merasa kepalanya berat.
Ia mencoba menengahi.
Namun semakin ia berbicara, semakin banyak orang yang menyampaikan keberatan.
Nama Raka Mulai Disebut
Beberapa hari kemudian, muncul persoalan baru.
Ada mahasiswa yang merasa Raka terlalu dekat dengan salah satu divisi.
Ada yang mengatakan keputusan Raka tidak adil.
Ada yang menilai ia terlalu sering membela PDD.
Ada pula yang merasa keputusan tentang program ekonomi terlalu diutamakan.
Raka mendengar semuanya.
Awalnya ia berusaha mengabaikan.
Namun kemudian sebuah pesan masuk ke teleponnya.
“Kalau mau memimpin, jangan hanya dengarkan orang-orang tertentu.”
Raka membaca pesan tersebut berkali-kali.
Ia tidak langsung membalas.
Pesan itu sederhana.
Tetapi terasa berat.
Malam itu Raka keluar dari posko.
Ia duduk sendirian.
Angin malam berembus perlahan.
Dari kejauhan terdengar suara kendaraan melewati jalan desa.
Raka menatap langit.
Untuk pertama kalinya sejak menjadi ketua KKN, ia bertanya kepada dirinya sendiri:
Apakah saya benar-benar tidak adil?
Ia mencoba mengingat semua keputusan yang telah dibuat.
Jadwal.
Program.
Pembagian tugas.
Dokumentasi.
Rapat.
Kegiatan masyarakat.
Ia berusaha merasa objektif.
Namun ia juga sadar—
ia tetap manusia.
Ia bisa salah.
Ia bisa memiliki penilaian yang keliru.
Dan ia bisa membuat keputusan yang tidak disukai orang lain.
Raka Tidak Bisa Tidur
Malam semakin larut.
Raka masih duduk di luar.
Agatha keluar dari posko.
Ia melihat Raka.
“Belum tidur?”
“Belum.”
“Kenapa?”
Raka tersenyum tipis.
“Banyak pikiran.”
Agatha duduk di sampingnya.
“Karena masalah tadi?”
Raka mengangguk.
“Menurut kamu saya memihak?”
Agatha tidak langsung menjawab.
Ia menarik napas.
“Kalau saya jawab jujur?”
“Jujur.”
“Kadang mungkin iya.”
Raka menoleh.
Agatha melanjutkan,
“Tapi bukan berarti kamu sengaja.”
Raka diam.
“Kamu terlalu dekat dengan beberapa orang karena sering bekerja bersama mereka.”
“Jadi?”
“Kadang orang lain bisa melihatnya sebagai keberpihakan.”
Raka mengangguk perlahan.
Jawaban Agatha tidak menyenangkan.
Tetapi justru karena itu ia menghargainya.
Kritik yang Lebih Menyakitkan daripada Kemarahan
Keesokan harinya, Raka mengadakan pertemuan kecil dengan beberapa mahasiswa.
Ia tidak datang untuk membela diri.
Ia bertanya.
“Saya ingin kalian bicara jujur.”
Tidak ada yang menjawab.
“Kalau ada yang merasa saya tidak adil, katakan.”
Seorang mahasiswa akhirnya berbicara.
“Kak Raka terlalu banyak mengambil keputusan sendiri.”
Raka mengangguk.
“Lanjut.”
“Kadang kami merasa hanya diminta menjalankan.”
Raka mencatat.
Yang lain berkata,
“Kalau ada masalah, semua kembali ke ketua.”
Raka kembali mencatat.
Yang lain menambahkan,
“Kadang kami takut bicara karena takut dianggap tidak mendukung.”
Raka berhenti menulis.
Ia menatap mereka.
“Jadi selama ini kalian banyak diam?”
Beberapa orang mengangguk.
Raka menghela napas.
“Berarti saya juga punya kesalahan.”
Ketua yang Bersedia Mengakui Kesalahan
Pernyataan itu membuat suasana berubah.
Raka berkata,
“Saya mungkin terlalu fokus memastikan program berjalan.”
Ia berhenti.
“Sampai lupa memastikan kalian merasa dilibatkan.”
Tidak ada yang menyela.
“Saya juga mungkin terlalu cepat mengambil keputusan ketika kondisi mendesak.”
Ia menatap seluruh mahasiswa.
“Dan kalau ada yang merasa saya memihak, saya minta maaf.”
Salah seorang mahasiswa berkata,
“Bukan berarti semuanya salah Kak Raka.”
Raka mengangguk.
“Saya tahu.”
“Tapi kami juga salah.”
Raka tersenyum tipis.
“Berarti kita sama-sama punya pekerjaan rumah.”
Rapat Besar
Malam itu, Raka memutuskan untuk mengadakan rapat seluruh mahasiswa.
Tidak ada agenda program.
Tidak ada pembahasan jadwal.
Tidak ada pembagian tugas.
Hanya satu agenda:
Menyelesaikan masalah internal.
Semua mahasiswa hadir.
Raka berdiri di depan.
Ia tidak membawa laptop.
Tidak membawa proposal.
Tidak membawa kalender.
Hanya sebuah buku catatan.
Ia membuka pembicaraan.
“Saya ingin malam ini kita berhenti berbicara sebagai divisi.”
Semua diam.
“Kita bicara sebagai manusia.”
Tidak ada yang bergerak.
Raka melanjutkan.
“Kita semua datang ke sini dengan latar belakang berbeda.”
“Ada yang kuat di bidang pendidikan.”
“Ada yang kuat di organisasi.”
“Ada yang kuat di teknologi.”
“Ada yang kuat di komunikasi.”
“Ada yang kuat bekerja di lapangan.”
“Dan ada yang mungkin lebih banyak bekerja di belakang.”
Ia berhenti sejenak.
“Semua punya nilai.”
“Siapa yang Paling Banyak Bekerja?”
Raka kemudian mengajukan pertanyaan.
“Siapa yang paling banyak bekerja?”
Tidak ada jawaban.
Ia bertanya lagi.
“Siapa yang paling penting?”
Tetap diam.
Raka tersenyum.
“Tidak ada.”
Ia melanjutkan,
“Kalau kita mulai menghitung siapa yang paling banyak bekerja, kita akan lupa menghitung apa yang sudah berhasil kita bangun bersama.”
Beberapa mahasiswa mulai menunduk.
Raka kemudian berkata:
“Kalau kita datang ke desa dengan membawa ego masing-masing, kita hanya akan meninggalkan kegiatan. Bukan perubahan.”
Ruangan menjadi hening.
Tidak ada yang bergerak.
Tidak ada yang memegang telepon.
Semua mendengarkan.
Agatha Bicara
Agatha kemudian mengangkat tangan.
“Saya mau bicara.”
Raka mengangguk.
“Kadang PDD memang merasa paling capek.”
Beberapa orang tersenyum.
Agatha melanjutkan,
“Tapi setelah dipikir-pikir, mungkin semua divisi juga merasa begitu.”
Ia menatap teman-temannya.
“Jadi mungkin masalahnya bukan siapa yang paling capek.”
“Lalu?”
“Kita tidak tahu pekerjaan satu sama lain.”
Farida Menyampaikan Perasaannya
Farida kemudian berbicara.
“Saya juga pernah merasa pekerjaan saya tidak dianggap.”
Ia menarik napas.
“Ketika berita belum selesai, orang hanya bertanya kenapa belum jadi.”
Beberapa mahasiswa menatapnya.
“Tapi saya juga baru sadar, mungkin mereka tidak tahu prosesnya.”
Farida tersenyum.
“Jadi kita harus lebih sering berkomunikasi.”
Jevin Membuka Persoalan Lain
Jevin mengangkat tangan.
“Kalau saya boleh jujur…”
“Silakan.”
“Saya kadang merasa semua orang menganggap desain itu gampang.”
Beberapa mahasiswa tertawa kecil.
“Padahal satu desain bisa direvisi berkali-kali.”
Suasana mulai lebih cair.
Jevin tersenyum.
“Tapi saya juga salah karena sering bilang iya untuk semua permintaan.”
Agatha tertawa.
“Nah, itu.”
Jevin ikut tertawa.
“Jadi mulai sekarang saya akan belajar bilang tidak.”
Satu per Satu Mulai Terbuka
Setelah itu, mahasiswa lain mulai berbicara.
Ada yang mengaku lelah.
Ada yang merasa kurang percaya diri.
Ada yang merasa tidak memahami tugas.
Ada yang takut dianggap malas.
Ada yang merasa terlalu banyak bekerja.
Ada yang merasa tidak diberi kesempatan.
Ada yang merasa pendapatnya sering diabaikan.
Dan ada yang mengaku sebenarnya ingin membantu, tetapi tidak tahu harus mulai dari mana.
Raka mendengarkan semuanya.
Tidak menyela.
Tidak membantah.
Tidak mencari pembelaan.
Malam semakin larut.
Namun tidak ada yang meninggalkan ruangan.
Untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu, mereka berbicara tanpa membawa nama divisi.
Membuat Kesepakatan Baru
Setelah semua selesai berbicara, Raka mengambil papan tulis.
Ia menulis:
KITA SEPakat:
- Tidak membandingkan beban kerja tanpa memahami pekerjaan orang lain.
- Setiap persoalan disampaikan langsung, bukan melalui gosip.
- Kritik ditujukan kepada persoalan, bukan menyerang pribadi.
- Keputusan penting dibicarakan bersama.
- Setiap divisi harus membantu divisi lain ketika diperlukan.
- Tidak ada program yang lebih penting daripada tujuan bersama.
- Tidak ada mahasiswa yang boleh merasa bekerja sendirian.
Raka menatap semua orang.
“Setuju?”
Satu per satu mengangguk.
Satu Kalimat yang Mengubah Suasana
Seorang mahasiswa yang sebelumnya paling sering mengkritik Raka akhirnya berkata,
“Kak.”
“Ya?”
“Maaf kalau selama ini saya terlalu keras.”
Raka tersenyum.
“Saya juga minta maaf kalau keputusan saya membuat kamu merasa tidak dihargai.”
Mahasiswa tersebut mengangguk.
Kemudian mereka berjabat tangan.
Tidak ada tepuk tangan.
Tidak ada drama.
Hanya sebuah jabat tangan sederhana.
Namun bagi kelompok itu, jabat tangan tersebut menjadi tanda bahwa mereka bersedia memulai kembali.
Tidak Semua Luka Langsung Sembuh
Raka tahu masalah tidak akan hilang hanya karena satu rapat.
Hubungan yang sempat renggang membutuhkan waktu.
Kepercayaan tidak bisa dibangun dalam satu malam.
Ada mahasiswa yang masih canggung.
Ada yang masih berhati-hati.
Ada yang belum sepenuhnya percaya.
Namun setidaknya mereka sudah mulai berbicara.
Dan komunikasi adalah langkah pertama untuk memperbaiki hubungan.
Hari-hari berikutnya mulai menunjukkan perubahan kecil.
Ketika sebuah divisi membutuhkan bantuan, mahasiswa lain mulai datang.
Ketika ada masalah, mereka mulai berdiskusi.
Ketika pekerjaan terlalu banyak, mereka mulai membagi.
Ketika ada kesalahan, mereka mulai mencari solusi.
Bahkan sesekali mereka kembali bercanda.
Posko yang sempat terasa dingin mulai kembali hidup.
Raka Belajar Tentang Kepemimpinan
Suatu sore Raka berbicara dengan Pak Iwan di kantor desa.
“Pak, ternyata memimpin teman sendiri lebih sulit daripada yang saya bayangkan.”
Pak Iwan tersenyum.
“Kenapa?”
“Kalau masyarakat punya masalah, saya bisa membantu sebagai ketua.”
“Kalau teman sendiri?”
“Lebih sulit.”
Pak Iwan tertawa kecil.
“Karena mereka tahu kamu juga manusia.”
Raka mengangguk.
Pak Iwan kemudian berkata,
“Pemimpin bukan orang yang tidak pernah diprotes.”
“Lalu?”
“Pemimpin adalah orang yang tetap mau mendengar ketika diprotes.”
Raka terdiam.
Kalimat itu kembali ia simpan dalam ingatannya.
Ketika Ego Mulai Digantikan oleh Tujuan
Malam itu Raka kembali ke posko.
Ia melihat beberapa mahasiswa sedang bekerja bersama.
Agatha membantu mencari data.
Farida memeriksa tulisan.
Jevin memperbaiki desain.
Mahasiswa lain berdiskusi tentang kegiatan pemuda.
Tidak ada yang bertanya siapa yang paling penting.
Tidak ada yang menghitung siapa yang paling banyak bekerja.
Mereka hanya bekerja.
Raka tersenyum.
Ia tahu masalah belum sepenuhnya selesai.
Tetapi sesuatu telah berubah.
Mereka mulai kembali melihat tujuan yang sama.
Raka kemudian menulis di buku catatannya:
“Dalam sebuah tim, konflik bukan selalu tanda bahwa hubungan telah gagal. Kadang konflik adalah kesempatan untuk menemukan cara bekerja yang lebih dewasa.”
Ia berhenti.
Kemudian menulis satu kalimat lagi:
“Yang berbahaya bukan perbedaan pendapat, tetapi ketika orang berhenti mau mendengarkan.”
Ia menutup buku.
Namun ketika hubungan antar mahasiswa mulai membaik, muncul persoalan baru yang tidak kalah berat.
Beberapa program mulai membutuhkan biaya tambahan.
Peralatan terbatas.
Kebutuhan masyarakat bertambah.
Ada kegiatan yang membutuhkan transportasi.
Ada program yang membutuhkan bahan.
Dan sebagian mahasiswa mulai menggunakan uang pribadi untuk menutup kekurangan.
Awalnya tidak menjadi masalah.
Namun ketika kebutuhan semakin banyak, mulai muncul pertanyaan:
Sampai sejauh mana mahasiswa harus berkorban?
Raka menyadari bahwa menjaga kekompakan saja belum cukup.
Mereka harus belajar mengelola sumber daya dengan bijaksana.
Karena pengabdian bukan berarti mengorbankan diri tanpa batas.
Dan babak berikutnya akan membawa mereka pada persoalan yang lebih rumit:
ketika idealisme bertemu dengan keterbatasan anggaran.
BAB XII — PROGRAM YANG GAGAL
Pelajaran dari Sebuah Kegagalan
Pagi itu, Raka datang lebih awal ke lokasi kegiatan.
Beberapa kursi sudah disusun.
Spanduk kegiatan terpasang.
Peralatan telah dipersiapkan.
Materi sudah dicetak.
Mahasiswa yang bertugas sudah berada di tempat.
Semua terlihat siap.
Bahkan terlalu siap.
Raka memandang sekeliling.
Ia tersenyum.
“Semoga hari ini berhasil.”
Ia tidak tahu bahwa beberapa jam kemudian, kalimat itu akan terasa begitu berbeda.
Menunggu Peserta
Pukul delapan pagi.
Belum banyak yang datang.
Pukul delapan lewat tiga puluh.
Masih sepi.
Pukul sembilan.
Hanya beberapa orang.
Salah seorang mahasiswa mulai gelisah.
“Rak, pesertanya mana?”
Raka melihat daftar peserta.
“Katanya sekitar tiga puluh.”
“Yang datang baru lima.”
Mereka menunggu.
Beberapa menit kemudian datang dua orang lagi.
Kemudian seorang ibu.
Setelah itu tidak ada lagi.
Jam menunjukkan pukul sembilan lewat tiga puluh.
Jumlah peserta tetap sedikit.
Seorang mahasiswa berbisik,
“Mungkin masyarakat belum tahu.”
Yang lain menjawab,
“Padahal sudah diumumkan.”
Raka tidak berkata apa-apa.
Ia melihat kursi-kursi kosong.
Jumlahnya jauh lebih banyak daripada peserta.
Kegiatan Tetap Dimulai
Akhirnya Raka memutuskan kegiatan tetap dimulai.
“Tidak apa-apa.”
“Pesertanya sedikit.”
“Kita tetap jalankan.”
Mahasiswa mulai menyampaikan materi.
Namun suasana tidak seperti yang mereka bayangkan.
Peserta terlihat pasif.
Ada yang hanya mendengarkan.
Ada yang sesekali melihat telepon.
Ada yang pulang lebih awal.
Materi yang sudah dipersiapkan dengan serius ternyata tidak mampu membuat peserta tertarik.
Jevin memperhatikan situasi.
Ia berbisik kepada Agatha,
“Kayaknya konsepnya tidak cocok.”
Agatha mengangguk.
“Mungkin.”
Farida yang mendengar percakapan tersebut berkata,
“Jangan-jangan kita salah membaca kebutuhan.”
Raka mendengar.
Namun ia belum memberikan jawaban.
Ia ingin melihat sampai kegiatan selesai.
Kegiatan yang Tidak Sesuai Harapan
Ketika sesi praktik dimulai, masalah semakin terlihat.
Materi terlalu banyak.
Waktu terlalu singkat.
Beberapa peserta tidak memahami instruksi.
Mahasiswa terus menjelaskan.
Namun peserta tetap terlihat bingung.
Seorang ibu akhirnya bertanya,
“Kalau ini untuk usaha kami, sebenarnya harus mulai dari mana?”
Mahasiswa yang menjadi pemateri menjawab panjang.
Namun wajah ibu tersebut tetap menunjukkan kebingungan.
Raka memperhatikan.
Ia mulai menyadari sesuatu.
Mereka sedang mengajarkan sesuatu yang menurut mereka penting, tetapi belum tentu menjadi kebutuhan pertama bagi masyarakat.
Ketika kegiatan selesai, mahasiswa mulai membereskan perlengkapan.
Kursi-kursi kosong masih tersusun.
Sebagian makanan konsumsi tidak habis.
Materi cetak tersisa banyak.
Suasana menjadi muram.
Seorang mahasiswa berkata,
“Percuma.”
Yang lain menjawab,
“Sudah dipersiapkan lama.”
“Pesertanya cuma segitu.”
“Padahal kita sudah mengundang.”
Kekecewaan mulai berubah menjadi kemarahan.
“Masyarakatnya Tidak Antusias”
Di perjalanan pulang, beberapa mahasiswa mulai berdiskusi.
“Kalau begini terus, susah.”
“Sudah diberi kesempatan, tetapi tidak dimanfaatkan.”
“Kita sudah capek.”
“Apa mereka memang tidak mau berubah?”
Raka yang berjalan di belakang mendengar semuanya.
Ia berhenti.
“Cukup.”
Semua menoleh.
Raka tidak marah.
Namun suaranya tegas.
“Jangan menyimpulkan masyarakat tidak mau berubah hanya karena kegiatan kita sepi.”
Salah seorang mahasiswa menjawab,
“Tapi kita sudah berusaha.”
“Saya tahu.”
“Kita sudah mengundang.”
“Saya tahu.”
“Sudah menyiapkan semuanya.”
“Saya tahu.”
Raka memandang mereka.
“Tapi apakah kita sudah memastikan bahwa mereka benar-benar membutuhkan kegiatan ini?”
Tidak ada jawaban.
Pertanyaan yang Tidak Nyaman
Malam itu Raka mengumpulkan tim.
Ia menulis di papan:
MENGAPA PROGRAM INI GAGAL?
Satu per satu jawaban muncul.
Peserta sedikit.
Promosi kurang.
Waktu tidak tepat.
Materi terlalu banyak.
Penyampaian kurang menarik.
Masyarakat kurang aktif.
Raka menulis semuanya.
Kemudian ia bertanya,
“Mana yang merupakan kesalahan kita?”
Beberapa mahasiswa mulai terdiam.
Salah seorang berkata,
“Mungkin jadwal.”
Yang lain berkata,
“Promosi.”
Farida berkata,
“Konsep.”
Agatha menambahkan,
“Cara kita mengundang masyarakat.”
Raka mengangguk.
Kemudian bertanya,
“Apakah masyarakat pernah kita ajak menyusun konsepnya?”
Tidak ada jawaban.
Raka menatap papan.
Jawabannya sudah jelas.
Kesalahan yang Tidak Terlihat dalam Proposal
Raka kemudian membuka proposal program.
Semua tertulis rapi.
Latar belakang.
Tujuan.
Sasaran.
Metode.
Jadwal.
Indikator keberhasilan.
Semuanya tampak sempurna.
Namun ada satu hal yang tidak tertulis.
Suara masyarakat.
Raka berkata,
“Proposal ini dibuat dengan baik.”
Ia menunjuk dokumen.
“Tapi mungkin terlalu banyak dibuat berdasarkan apa yang kita pikirkan.”
Farida mengangguk.
“Bukan berdasarkan apa yang mereka butuhkan.”
Raka menambahkan,
“Dan itu kesalahan kita.”
Ketika Mahasiswa Mulai Menyalahkan Diri Sendiri
Seorang mahasiswa berkata,
“Berarti kita gagal.”
Raka menjawab,
“Ya.”
Ruangan hening.
Raka tidak mencoba memperhalusnya.
“Program ini gagal.”
Ia melihat teman-temannya.
“Dan kita harus mengakuinya.”
Beberapa mahasiswa menunduk.
Namun Raka melanjutkan,
“Yang gagal adalah programnya.”
Ia berhenti.
“Bukan kita sebagai manusia.”
Agatha menatap Raka.
“Berarti kita ulang?”
Raka menggeleng.
“Jangan buru-buru mengulang.”
“Kenapa?”
“Kalau cara berpikirnya sama, hasilnya mungkin sama.”
Turun Kembali ke Masyarakat
Keesokan harinya, Raka meminta mahasiswa kembali turun ke masyarakat.
Tidak membawa spanduk.
Tidak membawa proposal.
Tidak membawa materi.
Mereka hanya membawa buku catatan.
Tugasnya sederhana:
bertanya dan mendengar.
Raka membagi mahasiswa dalam kelompok kecil.
Mereka mendatangi rumah warga.
Bertemu pelaku usaha.
Berbicara dengan pemuda.
Bertanya kepada perempuan.
Mendengarkan perangkat desa.
Dan berbicara dengan masyarakat yang sebelumnya tidak datang ke kegiatan.
Salah seorang ibu berkata,
“Bukan kami tidak tertarik.”
Mahasiswa bertanya,
“Lalu kenapa tidak datang?”
“Jamnya tidak cocok.”
“Kenapa?”
“Pagi kami bekerja.”
Mahasiswa tersebut mencatat.
Ibu itu melanjutkan,
“Kalau sore mungkin bisa.”
Di tempat lain, seorang pemuda mengatakan,
“Kegiatannya bagus.”
“Lalu?”
“Kami tidak terlalu paham manfaatnya.”
“Kenapa?”
“Informasinya hanya bilang ada pelatihan.”
Pemuda itu tersenyum.
“Kalau kami tahu hasil akhirnya apa, mungkin lebih banyak yang datang.”
Di rumah lain, seorang pelaku usaha berkata,
“Kami sebenarnya ingin belajar.”
“Lalu?”
“Materinya terlalu jauh.”
“Maksudnya?”
“Kami belum bisa sampai ke sana.”
Mahasiswa mencatat.
Sedikit demi sedikit, jawaban mulai terkumpul.
Masalahnya bukan masyarakat tidak peduli.
Masalahnya adalah mahasiswa belum cukup memahami cara masyarakat hidup.
Raka Menemukan Kesalahan Utama
Sore itu semua kelompok kembali ke posko.
Catatan mereka dikumpulkan.
Raka membaca satu per satu.
Jam kegiatan tidak sesuai.
Materi terlalu berat.
Manfaat program belum jelas.
Cara penyampaian terlalu formal.
Masyarakat tidak dilibatkan sejak awal.
Dan beberapa kebutuhan yang dianggap penting oleh mahasiswa ternyata bukan kebutuhan utama masyarakat.
Raka menarik napas panjang.
“Sekarang kita tahu.”
Agatha bertanya,
“Apa?”
“Program ini bukan gagal karena masyarakat.”
Raka menunjuk catatan.
“Program ini gagal karena kita membuat solusi sebelum benar-benar memahami masalah.”
Membongkar Program dari Awal
Mereka kemudian menghapus konsep lama.
Bukan sekadar memperbaiki.
Tetapi membongkar dan menyusun kembali.
Pertama, mereka mengubah sasaran.
Kedua, mengubah waktu.
Ketiga, menyederhanakan materi.
Keempat, menambah praktik.
Kelima, melibatkan masyarakat dalam menentukan bentuk kegiatan.
Dan yang paling penting—
mereka tidak lagi menjadikan mahasiswa sebagai pusat kegiatan.
Raka berkata,
“Mulai sekarang masyarakat harus ikut menentukan.”
Seorang mahasiswa bertanya,
“Kalau konsepnya berubah total?”
“Tidak masalah.”
“Kalau berbeda dari proposal?”
“Kita sesuaikan.”
“Kalau hasilnya tidak seperti rencana?”
Raka tersenyum.
“Memang kita datang ke desa untuk memaksakan rencana?”
Tidak ada jawaban.
Pertemuan Kedua dengan Masyarakat
Mereka mengundang masyarakat lagi.
Kali ini bukan untuk memberikan pelatihan.
Tetapi untuk berdiskusi.
Raka membuka pertemuan.
“Kami ingin memperbaiki kegiatan sebelumnya.”
Ia tidak menyembunyikan kegagalan.
“Kemarin peserta sedikit.”
Beberapa warga tersenyum malu.
“Kami ingin tahu kenapa.”
Masyarakat mulai berbicara.
Ada yang mengatakan waktunya tidak sesuai.
Ada yang mengatakan materi terlalu sulit.
Ada yang mengatakan informasi kurang jelas.
Ada yang mengatakan mereka ingin praktik langsung.
Raka mencatat.
Tidak membantah.
Tidak mencari alasan.
Seorang warga kemudian berkata,
“Kalau kami boleh ikut menentukan, mungkin kegiatannya lebih cocok.”
Raka tersenyum.
“Itulah yang kami inginkan.”
Program Baru
Program kemudian diberi bentuk baru.
Tidak lagi berupa pelatihan panjang.
Kegiatan dibuat dalam beberapa sesi kecil.
Materi dibuat sederhana.
Peserta dibagi berdasarkan kebutuhan.
Ada yang ingin belajar dasar.
Ada yang ingin langsung praktik.
Ada yang hanya membutuhkan pendampingan.
Mahasiswa menyesuaikan.
Bukan masyarakat yang dipaksa menyesuaikan dengan mahasiswa.
Mencoba untuk Kedua Kalinya
Hari pelaksanaan tiba.
Raka kembali datang lebih awal.
Namun kali ini ia tidak berharap kursi akan penuh.
Ia hanya ingin melihat apakah konsep baru lebih sesuai.
Pukul delapan.
Beberapa warga datang.
Pukul delapan tiga puluh.
Jumlah bertambah.
Pukul sembilan.
Ruangan mulai penuh.
Agatha memandang Raka.
Raka hanya tersenyum.
Farida berbisik,
“Lebih ramai.”
Raka menjawab,
“Jangan lihat jumlah dulu.”
“Lalu?”
“Lihat keterlibatan.”
Dan ternyata memang berbeda.
Peserta bertanya.
Mereka mencoba.
Mereka berdiskusi.
Mereka mengoreksi.
Mereka mengusulkan.
Mahasiswa tidak lagi menjadi satu-satunya orang yang berbicara.
Masyarakat mulai mengambil peran.
Seorang ibu mencoba praktik.
Gagal.
Ia tertawa.
“Coba lagi, Bu,” kata Jevin.
Ia mencoba lagi.
Berhasil.
Wajahnya berubah.
“Bisa!”
Jevin tersenyum.
“Nah.”
Agatha mengambil foto.
Farida mencatat.
Raka memperhatikan.
Tidak ada tepuk tangan besar.
Namun ia tahu—
kali ini mereka berada di jalur yang benar.
Agatha Mengabadikan Kegagalan dan Perubahan
Setelah kegiatan selesai, Agatha berkata kepada Raka,
“Kalau kita buat berita, perlu disebut kegiatan sebelumnya gagal?”
Raka berpikir sejenak.
“Tidak perlu menyembunyikannya.”
“Jadi?”
“Ceritakan proses perbaikannya.”
Farida menambahkan,
“Bisa menjadi pembelajaran.”
Raka mengangguk.
“Betul.”
Agatha kemudian mengambil beberapa foto.
Bukan hanya saat kegiatan berhasil.
Ia juga menyimpan dokumentasi dari kegiatan pertama.
Kursi-kursi kosong.
Peserta yang sedikit.
Materi yang menumpuk.
Dan kemudian membandingkannya dengan kegiatan kedua.
Ruangan yang lebih hidup.
Peserta yang aktif.
Masyarakat yang terlibat.
PDD Menemukan Makna Baru
Farida kemudian menulis cerita.
Bukan tentang keberhasilan mahasiswa.
Tetapi tentang proses belajar.
Ia menulis bahwa sebuah program tidak selalu berhasil pada percobaan pertama.
Bahwa masyarakat bukan objek.
Bahwa kegagalan dapat menjadi bahan evaluasi.
Dan bahwa perubahan membutuhkan kesediaan untuk mendengar.
Jevin membuat visual sederhana.
Di dalamnya terdapat dua kalimat:
“JANGAN SALAHKAN MASYARAKAT.”
Kemudian di bawahnya:
“TANYAKAN APA YANG BELUM KITA PAHAMI.”
Raka melihat desain itu.
“Bagus.”
Jevin tersenyum.
“Pesannya kuat.”
“Karena kita mengalaminya sendiri.”
Raka Belajar dari Kegagalan
Malam itu Raka kembali duduk di depan posko.
Ia membuka buku catatan.
Ia menulis:
“Hari ini saya belajar bahwa niat baik tidak otomatis menghasilkan dampak baik.”
Ia berhenti.
Kemudian menulis:
“Kita bisa datang dengan program yang bagus, proposal yang rapi, materi yang lengkap, dan semangat yang tinggi. Tetapi jika kita tidak memahami masyarakat, semuanya bisa gagal.”
Ia kembali berhenti.
Kemudian menulis satu kalimat terakhir:
“Pemberdayaan bukan tentang seberapa hebat program yang kita bawa, tetapi seberapa jauh masyarakat merasa program itu adalah bagian dari kebutuhan mereka sendiri.”
Raka menutup buku.
Kegagalan yang Justru Menguatkan Tim
Beberapa hari kemudian, mahasiswa mulai membicarakan program tersebut dengan cara berbeda.
Tidak ada lagi yang merasa malu.
Mereka justru menganggap kegagalan itu sebagai pengalaman penting.
Agatha berkata,
“Kalau program pertama langsung berhasil, mungkin kita tidak akan belajar sebanyak ini.”
Farida mengangguk.
Jevin menambahkan,
“Dan mungkin kita akan mengira cara kita sudah paling benar.”
Raka tersenyum.
“Kadang kegagalan datang untuk membongkar kesombongan yang tidak kita sadari.”
Namun ada satu perubahan yang paling penting.
Ketika menyusun program berikutnya, mahasiswa tidak lagi langsung membuat konsep.
Mereka mulai dengan pertanyaan:
“Apa yang masyarakat butuhkan?”
Kemudian:
“Apa yang sudah mereka miliki?”
Lalu:
“Apa yang bisa mereka lakukan sendiri?”
Dan terakhir:
“Apa yang bisa kita bantu?”
Urutannya berubah.
Cara berpikir mereka berubah.
Pelajaran yang Tidak Ada di Proposal
Suatu sore, Pak Iwan bertemu Raka.
“Saya dengar program kalian sempat tidak berhasil.”
Raka tersenyum.
“Betul, Pak.”
“Lalu diperbaiki?”
“Ya.”
Pak Iwan mengangguk.
“Bagus.”
Raka bertanya,
“Bapak tidak kecewa?”
Pak Iwan tertawa.
“Kenapa harus kecewa?”
“Karena programnya gagal.”
Pak Iwan menjawab,
“Kalau setelah gagal kalian tidak belajar, itu baru masalah.”
Raka tersenyum.
“Berarti kegagalan tidak selalu buruk?”
“Tidak.”
Pak Iwan menatapnya.
“Yang buruk adalah ketika orang gagal lalu mencari orang lain untuk disalahkan.”
Raka mengangguk.
Malam itu, Raka menyampaikan kepada seluruh mahasiswa:
“Mulai sekarang, jangan takut gagal.”
Seorang mahasiswa bertanya,
“Kenapa?”
“Karena kita pasti akan menemukan kegagalan lain.”
Semua tertawa.
Raka ikut tertawa.
“Tapi jangan gagal karena tidak mau belajar.”
Suasana menjadi hening.
“Kalau program gagal, evaluasi.”
“Kalau konsep salah, perbaiki.”
“Kalau masyarakat tidak tertarik, dengarkan alasannya.”
“Kalau kita salah, akui.”
“Dan kalau harus memulai lagi…”
Raka tersenyum.
“Mulai lagi.”
Malam semakin larut.
Namun bagi Raka, kegagalan hari itu justru menjadi salah satu keberhasilan terbesar dalam perjalanan KKN mereka.
Bukan karena programnya akhirnya berjalan.
Tetapi karena mereka mulai memahami sesuatu yang jauh lebih penting:
masyarakat bukan halaman kosong yang menunggu mahasiswa menuliskan perubahan.
Mereka sudah memiliki pengalaman.
Sudah memiliki pengetahuan.
Sudah memiliki potensi.
Sudah memiliki cara hidup.
Mahasiswa hanya datang untuk berjalan bersama.
Dan ketika mahasiswa mulai memahami itu, kata “pemberdayaan” tidak lagi menjadi istilah dalam proposal.
Ia mulai menjadi cara berpikir.
Namun perjalanan kembali menghadirkan tantangan.
Setelah program yang gagal berhasil diperbaiki, masyarakat mulai memberikan kepercayaan lebih besar kepada mahasiswa.
Permintaan bantuan meningkat.
Masyarakat mulai meminta mahasiswa membantu berbagai persoalan.
Pemerintah desa juga mulai berharap lebih banyak.
Program yang awalnya terbatas mulai berkembang.
Dan tanpa mereka sadari, muncul persoalan baru:
mahasiswa mulai terlalu banyak mengambil peran yang seharusnya dapat dilakukan masyarakat sendiri.
Raka kembali dihadapkan pada pertanyaan penting:
“Kapan mahasiswa harus membantu, dan kapan mahasiswa harus mundur agar masyarakat dapat berdiri sendiri?”
Jawaban atas pertanyaan itu akan menjadi ujian berikutnya bagi seluruh tim KKN Desa Awan Biru.
BAB XIII — RAKA DI TENGAH DILEMA
Antara Target KKN dan Kebutuhan Desa
Pagi itu Raka menerima sebuah pesan yang membuat langkahnya terhenti.
Pesan tersebut berisi pengingat tentang target program kerja KKN.
Beberapa kegiatan harus segera diselesaikan.
Laporan harus mulai disusun.
Dokumentasi harus dilengkapi.
Capaian program harus dihitung.
Dan setiap divisi diminta memastikan seluruh agenda berjalan sesuai rencana.
Raka membaca pesan itu berulang kali.
Ia kemudian melihat kalender kegiatan yang tertempel di dinding posko.
Tanggal pelaksanaan KKN semakin mendekati akhir.
Waktu yang tersisa tidak sebanyak sebelumnya.
Namun di sisi lain, beberapa program pemberdayaan justru baru mulai menunjukkan perkembangan.
Raka menarik napas panjang.
Mereka sedang berada di persimpangan.
Angka-Angka yang Mulai Mengejar
Siang itu, Raka mengumpulkan seluruh koordinator.
Ia membawa daftar program.
Satu per satu diperiksa.
Program pendidikan.
Program literasi.
Program pemuda.
Program UMKM.
Program lingkungan.
Program kesehatan.
Program dokumentasi dan publikasi.
Sebagian sudah selesai.
Sebagian berjalan.
Sebagian baru dimulai.
Dan beberapa masih membutuhkan tindak lanjut.
Seorang mahasiswa bertanya,
“Berapa target yang belum selesai?”
Raka melihat catatannya.
“Masih cukup banyak.”
Ruangan langsung hening.
Salah seorang koordinator berkata,
“Kalau begitu kita percepat.”
Raka menatapnya.
“Bagaimana?”
“Tambah kegiatan.”
“Tambah jadwal?”
“Iya.”
“Kalau masyarakat belum siap?”
Mahasiswa tersebut diam.
Raka kemudian bertanya,
“Kalau kita mengejar jumlah kegiatan, apakah kualitasnya tetap terjaga?”
Tidak ada jawaban.
Dua Pilihan yang Sama-Sama Sulit
Raka mulai menyadari bahwa persoalannya bukan sekadar waktu.
Ada dua pilihan di hadapannya.
Pilihan pertama:
Mengejar target.
Semua kegiatan dilaksanakan sesuai daftar.
Dokumentasi lengkap.
Laporan mudah disusun.
Capaian terlihat.
Secara administratif, semuanya tampak baik.
Namun ada risiko.
Program mungkin hanya menjadi kegiatan sesaat.
Masyarakat mengikuti karena mahasiswa masih berada di desa.
Setelah mahasiswa pergi, kegiatan berhenti.
Pilihan kedua:
Mengikuti kebutuhan masyarakat.
Beberapa program diperlambat.
Sebagian kegiatan digabung.
Beberapa target mungkin tidak tercapai sepenuhnya.
Namun masyarakat memiliki kesempatan lebih besar untuk memahami, mencoba, dan melanjutkan.
Masalahnya—
hasilnya tidak selalu terlihat dalam angka.
Tidak semuanya dapat dimasukkan ke tabel.
Tidak semuanya bisa dibuktikan hanya dengan foto.
Dan tidak semuanya dapat diselesaikan dalam waktu KKN.
Raka memandang kedua daftar tersebut.
Tidak ada pilihan yang sempurna.
Ia merasa seperti berdiri di antara dua jalan.
Jalan pertama lebih mudah diukur.
Jalan kedua lebih sulit dijelaskan.
Namun mungkin lebih berarti.
Tekanan Mulai Terasa
Hari-hari berikutnya Raka mulai merasakan tekanan.
Beberapa mahasiswa berkata,
“Kita harus mengejar target.”
Yang lain mengatakan,
“Kalau terlalu lama mendampingi masyarakat, program lain tidak selesai.”
Ada yang mulai khawatir terhadap laporan akhir.
Ada yang takut capaian mereka dianggap kurang.
Ada pula yang berkata,
“Yang penting semua program selesai dulu.”
Raka mendengar semuanya.
Ia memahami kekhawatiran mereka.
Mereka juga memiliki tanggung jawab akademik.
KKN bukan hanya pengabdian.
Ada kewajiban administrasi yang harus diselesaikan.
Ada laporan.
Ada evaluasi.
Ada penilaian.
Namun Raka tidak ingin kegiatan mereka berubah menjadi perlombaan mengejar tanda centang.
Program yang Mulai Menjadi Nyata
Salah satu program yang membuat Raka semakin bimbang adalah program pemberdayaan perempuan.
Awalnya program itu hanya berupa pendampingan sederhana.
Namun setelah beberapa kali pertemuan, beberapa pelaku usaha mulai berani mencoba hal baru.
Mereka mulai memperbaiki kemasan.
Mulai mencatat biaya produksi.
Mulai memotret produk.
Mulai mengenalkan usaha melalui media digital.
Bahkan salah satu ibu mulai mendapatkan pesanan dari luar desa.
Kabar itu membuat mahasiswa senang.
Namun program tersebut masih membutuhkan pendampingan.
Jika mahasiswa pergi sekarang, belum tentu semua proses dapat berjalan sendiri.
Hal yang sama terjadi pada perpustakaan.
Anak-anak mulai datang secara rutin.
Pemuda mulai membantu kegiatan.
Beberapa mahasiswa desa mulai ikut menjadi relawan.
Namun sistemnya belum sepenuhnya mandiri.
Masih membutuhkan pengorganisasian.
Masih membutuhkan jadwal.
Masih membutuhkan orang yang menggerakkan.
Raka bertanya kepada dirinya sendiri:
Apakah mereka harus meninggalkan program yang mulai tumbuh hanya demi menyelesaikan program lain yang ada dalam daftar?
Raka Memilih Bertemu DPL
Malam itu Raka memutuskan menghubungi DPL mereka, Dr. Budi.
Ia tidak ingin mengambil keputusan berdasarkan perasaannya sendiri.
Ia ingin mendapatkan sudut pandang orang yang lebih berpengalaman.
Keesokan harinya mereka bertemu.
Raka menceritakan semuanya.
Tentang target.
Tentang waktu.
Tentang laporan.
Tentang masyarakat.
Tentang program yang mulai berkembang.
Dan tentang kebingungan yang sedang ia rasakan.
Dr. Budi mendengarkan tanpa menyela.
Setelah Raka selesai, Dr. Budi bertanya,
“Menurut kamu, apa tujuan utama KKN?”
Raka menjawab,
“Pengabdian kepada masyarakat.”
“Lalu?”
“Memberikan manfaat.”
“Lalu?”
Raka terdiam.
Dr. Budi tersenyum.
“Coba kamu pikirkan sendiri.”
Raka menunduk.
Ia kemudian berkata,
“Berarti bukan sekadar menyelesaikan program?”
Dr. Budi mengangguk.
“Program adalah alat.”
“Bukan tujuan?”
“Bukan.”
Raka mulai memahami arah pembicaraan.
“Jangan Hanya Mengejar Apa yang Terlihat Selesai”
Dr. Budi kemudian berkata,
“Raka, dalam kegiatan seperti ini ada sesuatu yang mudah dihitung dan ada sesuatu yang sulit dihitung.”
Raka mendengarkan.
“Yang mudah dihitung adalah jumlah kegiatan.”
“Jumlah peserta.”
“Jumlah pelatihan.”
“Jumlah poster.”
“Jumlah dokumentasi.”
“Semua bisa masuk laporan.”
Ia berhenti sejenak.
“Yang sulit dihitung adalah perubahan.”
Raka menatapnya.
“Perubahan cara berpikir.”
“Kepercayaan diri.”
“Kemampuan masyarakat.”
“Keinginan untuk bergerak.”
“Dan kemampuan mereka melanjutkan setelah mahasiswa pergi.”
Raka diam.
Dr. Budi kemudian mengatakan:
“Jangan hanya mengejar apa yang terlihat selesai. Cari apa yang benar-benar berarti.”
Kalimat itu terasa sederhana.
Namun bagi Raka, maknanya sangat besar.
Pertanyaan yang Harus Dijawab Raka
Dr. Budi tidak langsung memberikan keputusan.
Ia justru bertanya,
“Kalau kamu hanya punya waktu sedikit, apa yang akan kamu pilih?”
Raka berpikir.
“Program yang bisa dilanjutkan masyarakat.”
“Kenapa?”
“Karena kalau mahasiswa pulang, program itu masih bisa berjalan.”
Dr. Budi mengangguk.
“Lalu program yang tidak mungkin selesai?”
“Disederhanakan.”
“Yang tidak dibutuhkan?”
“Dihentikan atau diganti.”
“Yang dibutuhkan tetapi membutuhkan waktu?”
“Diteruskan dalam bentuk yang bisa dilakukan masyarakat.”
Dr. Budi tersenyum.
“Nah.”
Raka Kembali ke Posko
Malam itu Raka kembali ke posko.
Ia membawa banyak pikiran.
Namun kali ini pikirannya lebih terarah.
Ia mengumpulkan seluruh koordinator.
“Kita harus melakukan sesuatu.”
Salah seorang bertanya,
“Tambah kegiatan?”
Raka menggeleng.
“Tidak.”
“Lalu?”
“Kita akan mengurangi.”
Semua terkejut.
Keputusan yang Tidak Populer
Raka menunjukkan daftar program.
“Kita tidak mungkin menyelesaikan semuanya dengan kualitas yang sama.”
Beberapa mahasiswa mulai khawatir.
“Kalau target tidak tercapai?”
Raka menjawab,
“Tidak semua target harus dipaksakan.”
“Bagaimana dengan laporan?”
“Kita jelaskan berdasarkan kondisi lapangan.”
“Kalau ada program yang tidak selesai?”
“Kita dokumentasikan alasannya.”
“Kalau dinilai kurang?”
Raka menarik napas.
“Kita pertanggungjawabkan.”
Ruangan hening.
Ia kemudian membagi program menjadi tiga kategori.
Pertama: Program yang Harus Diselesaikan.
Program yang sudah berjalan baik dan dapat menghasilkan keluaran nyata dalam waktu KKN.
Kedua: Program yang Harus Diperkuat.
Program yang mulai tumbuh tetapi membutuhkan pendampingan agar dapat diteruskan masyarakat.
Ketiga: Program yang Harus Disederhanakan.
Program yang terlalu besar untuk waktu yang tersisa atau tidak lagi sesuai dengan kebutuhan lapangan.
Seorang mahasiswa bertanya,
“Jadi kita mengurangi target?”
Raka mengangguk.
“Ya.”
“Bukankah itu berisiko?”
“Ya.”
“Kenapa tetap dilakukan?”
Raka menjawab,
“Karena saya lebih takut kita menyelesaikan banyak kegiatan tetapi tidak meninggalkan kemampuan apa pun.”
Reaksi yang Berbeda
Tidak semua mahasiswa langsung setuju.
Ada yang khawatir.
Ada yang merasa target harus tetap dikejar.
Ada yang menganggap keputusan tersebut terlalu berani.
Namun beberapa mahasiswa mulai memahami.
Farida berkata,
“Kalau dipikir-pikir, lebih baik kita punya beberapa program yang benar-benar berjalan daripada banyak kegiatan yang selesai hanya di atas kertas.”
Agatha mengangguk.
“Dokumentasinya juga akan lebih bermakna.”
Jevin menambahkan,
“Dan masyarakat tidak akan merasa kita datang hanya untuk menjalankan agenda.”
Raka tersenyum.
“Ini yang saya maksud.”
Masyarakat Ikut Menentukan
Raka kemudian mengajak masyarakat berdiskusi.
Ia tidak mengatakan,
“Ini program yang akan kami tinggalkan.”
Ia bertanya,
“Dari semua kegiatan yang sudah kita lakukan, mana yang menurut Bapak dan Ibu paling bermanfaat?”
Masyarakat mulai menjawab.
Ada yang memilih pendampingan usaha.
Ada yang memilih perpustakaan.
Pemuda memilih kegiatan yang memberi mereka ruang untuk berorganisasi.
Anak-anak memilih kegiatan literasi.
Beberapa warga meminta kegiatan yang berkaitan dengan pemasaran produk.
Raka mencatat semuanya.
Kemudian ia bertanya,
“Kalau kami tidak lagi di sini, siapa yang bisa melanjutkan?”
Pertanyaan itu membuat warga saling pandang.
Untuk beberapa saat tidak ada jawaban.
Kemudian seorang pemuda mengangkat tangan.
“Kami bisa mencoba.”
Raka tersenyum.
“Bukan mencoba.”
Pemuda itu bingung.
Raka berkata,
“Mulai sekarang kita siapkan agar kalian benar-benar bisa.”
Dari Mahasiswa kepada Masyarakat
Mereka mulai membagi peran.
Mahasiswa tidak lagi menjadi pelaksana utama.
Masyarakat mulai menjadi pelaksana.
Mahasiswa mendampingi.
Pemuda mulai mengatur kegiatan.
Pengelola perpustakaan mulai membuat jadwal.
Pelaku usaha mulai mengelola promosi.
Kelompok perempuan mulai menentukan kebutuhan mereka sendiri.
Mahasiswa perlahan bergeser dari posisi penggerak utama menjadi pendamping.
Dan perubahan itu tidak mudah.
Karena pada awalnya masyarakat masih sering bertanya,
“Mahasiswa yang kerjakan?”
Raka tersenyum.
“Bukan.”
“Lalu siapa?”
“Bapak dan Ibu.”
Ujian bagi Raka
Beberapa hari kemudian, Raka menerima kembali laporan capaian program.
Ada beberapa target yang tidak akan tercapai sesuai angka awal.
Ia tahu keputusan yang diambilnya memiliki konsekuensi.
Namun ketika melihat masyarakat mulai menjalankan kegiatan sendiri, ia merasa keputusan tersebut benar.
Tidak sempurna.
Tetapi benar.
Malam itu ia kembali berbicara dengan Dr. Budi.
“Pak, ternyata mengambil keputusan lebih sulit daripada membuat program.”
Dr. Budi tersenyum.
“Karena program dibuat dengan harapan.”
“Sedangkan keputusan dibuat dengan kenyataan.”
Raka terdiam.
“Dan kenyataan,” lanjut Dr. Budi, “tidak selalu sesuai dengan harapan.”
Raka Belajar Bertanggung Jawab
Raka kemudian berkata,
“Kalau nanti ada target yang tidak tercapai, saya yang akan menjelaskan.”
Dr. Budi mengangguk.
“Itulah bagian dari kepemimpinan.”
“Bukan mencari alasan?”
“Bukan.”
“Lalu?”
“Menjelaskan apa yang terjadi, mengapa terjadi, apa yang sudah dilakukan, dan apa yang akan dilanjutkan.”
Raka mengangguk.
Bukan Semua yang Selesai Harus Berarti
Hari-hari berikutnya mereka mulai bekerja dengan pola baru.
Tidak ada lagi kejar-kejaran program.
Tidak ada lagi kegiatan hanya untuk memenuhi jadwal.
Mereka memilih beberapa program utama.
Kemudian memperkuatnya.
Pada program ekonomi, mereka fokus pada beberapa pelaku usaha yang benar-benar siap.
Pada perpustakaan, mereka fokus membangun sistem kegiatan yang dapat diteruskan.
Pada pemuda, mereka fokus membentuk kelompok penggerak.
Pada literasi, mereka mulai melatih beberapa anak dan pemuda untuk menjadi pendamping.
Hasilnya tidak selalu spektakuler.
Namun perlahan mulai terlihat.
PDD Menangkap Perubahan yang Tidak Terlihat
Agatha mulai menyadari bahwa pekerjaannya juga berubah.
Dulu ia mencari foto kegiatan.
Sekarang ia mencari perubahan.
Ia memotret seorang pemuda yang memimpin kegiatan.
Bukan mahasiswa.
Ia memotret seorang ibu yang menjelaskan produknya kepada pembeli.
Bukan mahasiswa.
Ia memotret anak desa yang membantu adiknya membaca.
Bukan mahasiswa.
Ia memotret perpustakaan yang mulai dikelola oleh warga.
Bukan mahasiswa.
Agatha tersenyum.
Ia akhirnya memahami.
Foto terbaik dari sebuah pengabdian bukan selalu ketika mahasiswa terlihat bekerja.
Kadang foto terbaik justru ketika masyarakat mulai mampu berdiri sendiri.
Farida pun merasakan hal yang sama.
Ia tidak lagi menulis:
“Mahasiswa berhasil melaksanakan…”
Ia mulai menulis:
“Masyarakat mulai mengembangkan…”
Perubahan kata itu terlihat kecil.
Namun maknanya besar.
Pusat cerita mulai bergeser.
Dari mahasiswa.
Kepada masyarakat.
Jevin juga mengubah cara membuat desain.
Ia tidak lagi membuat semuanya sendiri.
Ia mulai mengajari beberapa pemuda menggunakan aplikasi desain sederhana.
“Kalau nanti kami pulang, kalian harus tetap bisa membuatnya.”
Salah seorang pemuda bertanya,
“Bisa?”
“Bisa.”
“Kalau salah?”
“Perbaiki.”
“Kalau jelek?”
“Belajar lagi.”
Pemuda itu tertawa.
“Berarti tidak harus sempurna?”
Jevin menggeleng.
“Yang penting bisa terus berkembang.”
Keputusan Raka Mulai Terlihat Hasilnya
Suatu sore, Raka melihat beberapa pemuda sedang mengatur kegiatan tanpa mahasiswa.
Ia berdiri dari kejauhan.
Tidak ikut campur.
Agatha yang berada di sampingnya bertanya,
“Tidak mau membantu?”
Raka tersenyum.
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Karena mereka sedang belajar.”
“Kalau salah?”
“Biarkan.”
“Kalau gagal?”
“Dampingi.”
Agatha mengangguk.
Raka kemudian berkata,
“Selama ini kita selalu berpikir bahwa keberhasilan adalah ketika kita bisa melakukan semuanya.”
Ia melihat para pemuda.
“Padahal mungkin keberhasilan justru ketika mereka bisa melakukan sesuatu tanpa kita.”
Agatha tersenyum.
“Itu baru pemberdayaan.”
Target yang Tidak Sempurna
Ketika evaluasi berikutnya dilakukan, beberapa angka memang tidak sesuai target awal.
Ada kegiatan yang tidak terlaksana.
Ada target peserta yang tidak tercapai.
Ada program yang berubah bentuk.
Namun ada hal-hal lain yang justru muncul.
Masyarakat lebih aktif.
Pemuda mulai berinisiatif.
Pelaku usaha mulai berani memasarkan produk.
Perpustakaan memiliki penggerak lokal.
Anak-anak mulai memiliki kebiasaan membaca.
Dan mahasiswa mulai belajar mendengarkan.
Raka melihat laporan tersebut.
Ia tahu angka-angka itu tidak sempurna.
Namun ia tidak malu.
Karena setiap angka memiliki cerita.
Dan setiap perubahan memiliki proses.
Sebuah Percakapan dengan Pak Iwan
Suatu sore, Pak Iwan berkata kepada Raka,
“Kamu kelihatannya berubah.”
Raka tertawa.
“Berubah bagaimana, Pak?”
“Awal datang, kamu seperti ingin mengerjakan semuanya.”
Raka tersenyum.
“Sekarang?”
“Sekarang kamu lebih banyak bertanya.”
Raka mengangguk.
“Mungkin karena saya mulai sadar bahwa tidak semua masalah harus saya selesaikan.”
Pak Iwan tersenyum.
“Itu tanda kamu mulai memahami desa.”
Raka Menulis Pelajaran Hari Itu
Malamnya, Raka kembali membuka buku catatannya.
Ia menulis:
“Target penting karena memberi arah. Tetapi kebutuhan masyarakat memberi makna.”
Kemudian ia menulis:
“Jika target dan kebutuhan bertemu, jalankan keduanya.”
Ia berhenti sejenak.
“Jika keduanya bertentangan, jangan buru-buru memilih angka. Lihat dampak.”
Ia menutup buku.
Raka tahu keputusan yang diambilnya tidak akan selalu benar.
Ia juga tahu tidak semua orang akan setuju.
Namun setidaknya ia telah belajar satu hal:
kepemimpinan bukan tentang memilih jalan yang paling aman.
Kadang kepemimpinan adalah keberanian memilih jalan yang paling bertanggung jawab.
Hari-hari KKN terus berjalan.
Waktu mereka semakin sedikit.
Program mulai memasuki tahap akhir.
Namun justru ketika mereka mulai mengurangi kegiatan, sesuatu yang tidak mereka duga terjadi.
Masyarakat mulai mengambil lebih banyak peran.
Pemuda mulai bergerak tanpa menunggu mahasiswa.
Pelaku usaha mulai mencoba sendiri.
Anak-anak mulai mengajak teman-temannya ke perpustakaan.
Dan untuk pertama kalinya, Raka merasakan bahwa apa yang mereka bangun mulai memiliki kehidupan sendiri.
Namun ada satu pertanyaan yang masih belum terjawab:
Apakah perubahan itu benar-benar akan bertahan setelah mahasiswa meninggalkan Desa Awan Biru?
Pertanyaan itu akan menjadi ujian terbesar berikutnya.
Karena pemberdayaan yang sesungguhnya bukan diukur ketika mahasiswa masih berada di desa.
Melainkan ketika mahasiswa sudah tidak lagi berada di sana.
BAB XIV — MASYARAKAT MULAI MENGAMBIL PERAN
Dari Peserta Menjadi Pelaku
Pagi itu suasana Desa Awan Biru terasa berbeda.
Bukan karena ada kegiatan besar.
Bukan karena spanduk KKN terpasang di jalan.
Bukan pula karena mahasiswa sedang mengumpulkan masyarakat.
Justru sebaliknya.
Hari itu mahasiswa tidak memiliki agenda utama.
Namun kegiatan tetap berjalan.
Di halaman perpustakaan desa, beberapa anak sudah berkumpul.
Di sisi lain, beberapa pemuda sedang mengatur perlengkapan.
Sementara di sebuah rumah, kelompok perempuan sedang membicarakan pesanan produk.
Tidak ada mahasiswa yang memberikan instruksi.
Tidak ada Raka yang mengatur jadwal.
Masyarakat bergerak atas inisiatif sendiri.
Raka yang sedang berjalan melewati jalan desa berhenti.
Ia memperhatikan dari kejauhan.
Kemudian tersenyum.
Sesuatu telah berubah.
Peserta yang Tidak Lagi Menunggu
Beberapa minggu sebelumnya, masyarakat masih sering menunggu mahasiswa.
Jika mahasiswa mengumumkan kegiatan, mereka datang.
Jika mahasiswa meminta peserta, mereka hadir.
Jika mahasiswa tidak membuat kegiatan, sebagian masyarakat juga tidak melakukan apa-apa.
Namun kini keadaan mulai berbeda.
Pemuda membuat agenda sendiri.
Pengelola perpustakaan menyusun jadwal.
Kelompok perempuan menentukan kegiatan usaha.
Beberapa warga mulai berinisiatif mengajak tetangga.
Mereka tidak lagi menunggu.
Mereka mulai bertanya:
“Apa yang bisa kita lakukan?”
Bagi Raka, pertanyaan itu jauh lebih penting daripada jumlah peserta sebuah kegiatan.
Pemuda Mulai Bergerak
Di balai desa, beberapa pemuda sedang duduk mengelilingi meja.
Di atas meja terdapat sebuah buku catatan.
Salah seorang membuka halaman.
“Sabtu kita buat kegiatan olahraga.”
Yang lain menyela,
“Kalau sore?”
“Bisa.”
“Anak-anak juga ikut?”
“Boleh.”
Seorang pemuda lain menambahkan,
“Setelah itu kita bersihkan lapangan.”
Mereka berdiskusi.
Tidak ada mahasiswa.
Tidak ada Raka.
Namun keputusan tetap dibuat.
Agatha yang kebetulan lewat berhenti di depan balai desa.
Ia memperhatikan mereka.
Salah seorang pemuda melihatnya.
“Mas Dedi.”
“Ya?”
“Besok bisa bantu foto?”
Agatha tersenyum.
“Bisa.”
Kemudian ia bertanya,
“Siapa yang mengatur kegiatan?”
Pemuda itu menunjuk temannya.
“Dia.”
Agatha menatapnya.
“Bukan kamu?”
Pemuda tersebut tertawa.
“Sekarang kami bagi tugas.”
Agatha tersenyum.
Ia mengeluarkan kameranya.
Bukan untuk memotret mahasiswa.
Kali ini ia memotret masyarakat yang sedang belajar mengorganisir dirinya sendiri.
Raka Tidak Lagi Menjadi Pusat
Ketika Raka mengetahui kegiatan tersebut, ia tidak langsung datang.
Ia sengaja membiarkan mereka bekerja.
Salah seorang mahasiswa bertanya,
“Rak, tidak mau ikut?”
Raka menggeleng.
“Tidak perlu.”
“Kenapa?”
“Karena ini kegiatan mereka.”
“Kalau kita tidak datang?”
“Justru bagus.”
Mahasiswa itu terlihat bingung.
Raka tersenyum.
“Kalau setiap kegiatan harus ada kita, berarti mereka belum mandiri.”
Kalimat itu membuat mahasiswa tersebut terdiam.
Ia mulai memahami.
Selama ini mereka menganggap kehadiran mahasiswa sebagai ukuran keberhasilan.
Padahal justru sebaliknya.
Ketidakhadiran mahasiswa mulai menjadi tanda bahwa masyarakat mampu bergerak sendiri.
Perempuan Desa Mulai Percaya Diri
Perubahan juga terlihat pada kelompok perempuan.
Beberapa ibu yang sebelumnya merasa produk mereka terlalu sederhana kini mulai berani memperkenalkannya.
Mereka mulai mencatat pesanan.
Membuat daftar harga.
Memperbaiki kemasan.
Mengatur pembelian bahan.
Bahkan mulai berdiskusi tentang cara memperluas pemasaran.
Salah seorang ibu berkata,
“Dulu saya hanya membuat kalau ada yang pesan.”
Farida yang sedang berbincang dengannya bertanya,
“Sekarang?”
“Sekarang saya mulai berpikir bagaimana supaya orang mencari produk saya.”
Farida tersenyum.
“Berarti sudah berubah.”
Ibu itu tertawa.
“Masih belajar.”
Farida mengangguk.
“Semua memang harus belajar.”
Dari Produk Menjadi Kepercayaan Diri
Raka tidak terlalu memperhatikan apakah semua usaha tersebut langsung menghasilkan keuntungan besar.
Ia lebih memperhatikan perubahan sikap.
Dulu sebagian ibu merasa minder.
Sekarang mereka mulai berani berbicara tentang usaha.
Dulu mereka menganggap produknya biasa.
Sekarang mereka mulai melihat nilai dari apa yang mereka buat.
Dulu mereka menunggu pembeli.
Sekarang mereka mulai berpikir tentang pemasaran.
Bagi Raka, perubahan itu jauh lebih penting daripada sekadar angka penjualan.
Perpustakaan yang Mulai Hidup
Sore hari, Raka berjalan menuju perpustakaan.
Ia mendengar suara anak-anak dari dalam.
“Baca lagi!”
“Gantian!”
“Aku dulu!”
Raka tersenyum.
Ketika masuk, ia melihat beberapa anak sedang membaca bersama.
Namun yang membuatnya terkejut bukan jumlah anak.
Melainkan siapa yang sedang memimpin.
Seorang pemuda desa.
Bukan mahasiswa.
Pemuda itu sedang membantu anak-anak membaca.
Raka berdiri di pintu.
Pemuda tersebut melihatnya.
“Mas Raka.”
“Lanjutkan.”
“Tidak ikut?”
Raka menggeleng.
“Kamu saja.”
Pemuda itu tersenyum.
Kemudian kembali kepada anak-anak.
Raka duduk di bagian belakang.
Ia tidak ingin mengganggu.
Sebuah Pemandangan yang Membuat Raka Terharu
Beberapa anak mulai membaca bergantian.
Seorang anak terbata-bata.
Pemuda tersebut tidak menertawakan.
Ia membantu.
“Pelan-pelan.”
Anak itu mencoba lagi.
Kali ini lebih lancar.
Raka memperhatikan.
Ia teringat beberapa minggu sebelumnya.
Saat kegiatan literasi pertama, mahasiswa harus mengatur semuanya.
Menyiapkan buku.
Mengumpulkan anak.
Menjelaskan kegiatan.
Mengatur giliran.
Sekarang semua itu mulai dilakukan masyarakat.
Raka keluar dari perpustakaan.
Ia berdiri sebentar di halaman.
Agatha datang.
“Kenapa?”
Raka menggeleng.
“Tidak apa-apa.”
“Kelihatannya seperti mau menangis.”
Raka tersenyum.
“Bukan.”
“Terharu?”
Raka tertawa kecil.
“Mungkin.”
Agatha menatap ke dalam perpustakaan.
“Karena mereka sudah bisa?”
Raka mengangguk.
“Karena sekarang mereka tidak menunggu kita.”
Kemandirian yang Tidak Datang Tiba-Tiba
Namun Raka tahu bahwa kemandirian bukan berarti masyarakat tiba-tiba mampu melakukan semuanya.
Masih ada kesalahan.
Masih ada kebingungan.
Masih ada kegiatan yang tidak berjalan.
Masih ada warga yang pasif.
Masih ada pemuda yang belum aktif.
Masih ada program yang membutuhkan pendampingan.
Tetapi perbedaannya jelas.
Sekarang masyarakat mulai memiliki keberanian untuk mencoba.
Dan keberanian untuk mencoba adalah awal dari kemandirian.
Mahasiswa Mulai Belajar Mundur
Raka kemudian berbicara kepada seluruh mahasiswa.
“Sekarang tugas kita berubah.”
Salah seorang bertanya,
“Berubah bagaimana?”
“Dulu kita banyak menjalankan.”
“Sekarang?”
“Lebih banyak mendampingi.”
Agatha mengangguk.
“Jadi kita mulai mundur?”
Raka tersenyum.
“Bukan mundur.”
“Lalu?”
“Memberikan ruang.”
Raka kemudian menjelaskan.
“Kalau masyarakat sedang mencoba, jangan langsung kita ambil alih.”
“Kalau mereka salah?”
“Bantu.”
“Kalau lambat?”
“Dampingi.”
“Kalau hasilnya tidak seperti yang kita inginkan?”
“Jangan buru-buru memperbaiki.”
“Kenapa?”
“Karena ini bukan lagi program kita.”
Ia berhenti.
“Ini program mereka.”
Kesalahan yang Masih Harus Diperbaiki
Namun tidak semua mahasiswa mudah menerima perubahan itu.
Beberapa masih terbiasa bekerja cepat.
Ketika melihat masyarakat melakukan sesuatu dengan cara yang berbeda, mereka langsung ingin memperbaiki.
Suatu hari, seorang mahasiswa melihat pemuda mengatur kegiatan.
“Seharusnya begini.”
Pemuda itu menjawab,
“Kalau kami melakukannya seperti itu bagaimana?”
Mahasiswa tersebut hendak menjawab.
Namun Raka yang berada di dekatnya menghentikan.
“Biarkan.”
Mahasiswa itu menoleh.
“Tapi cara mereka kurang efektif.”
Raka berkata,
“Apakah salah?”
“Tidak.”
“Apakah membahayakan?”
“Tidak.”
“Kalau begitu biarkan mereka mencoba.”
Pemuda tersebut mendengar percakapan itu.
Ia tersenyum.
“Kalau nanti kami salah, kami belajar.”
Raka mengangguk.
“Betul.”
Masyarakat Mulai Mengusulkan Program
Beberapa hari kemudian, sebuah kejadian sederhana membuat Raka semakin yakin.
Seorang warga datang ke posko.
Biasanya masyarakat datang ketika mahasiswa mengadakan kegiatan.
Namun kali ini berbeda.
Warga tersebut membawa sebuah buku catatan.
“Mas Raka.”
“Ya, Pak?”
“Kami punya usulan.”
Raka mempersilakan duduk.
“Usulan apa?”
“Kami ingin membuat kegiatan pelatihan untuk pemuda.”
Raka tersenyum.
“Bagus.”
“Kami sudah bicara dengan beberapa orang.”
“Siapa yang akan menjalankan?”
Warga itu menjawab,
“Kami.”
Raka menatapnya.
“Lalu mahasiswa?”
Warga tersebut tersenyum.
“Kalau bisa, mahasiswa mendampingi.”
Raka terdiam.
Itulah kalimat yang selama ini ia tunggu.
Dari “Tolong Bantu Kami” Menjadi “Mari Kita Kerjakan Bersama”
Perubahan bahasa mulai terasa.
Dulu masyarakat berkata:
“Tolong bantu kami.”
Sekarang mulai muncul:
“Mari kita kerjakan bersama.”
Kemudian berkembang menjadi:
“Kami akan mencoba sendiri.”
Bagi orang lain mungkin itu hanya kalimat biasa.
Namun bagi Raka, setiap perubahan kata tersebut menunjukkan perubahan cara berpikir.
Ketergantungan mulai berkurang.
Kepercayaan diri mulai tumbuh.
PDD Mengubah Cara Bercerita
Agatha, Farida dan Jevin juga melihat perubahan itu.
Agatha berkata,
“Kalau semua berita masih menampilkan mahasiswa, nanti orang mengira kita yang mengerjakan semuanya.”
Farida mengangguk.
“Padahal sekarang masyarakat yang bergerak.”
Jevin berkata,
“Berarti visualnya juga harus berubah.”
“Bagaimana?”
“Lebih banyak menampilkan warga sebagai pelaku.”
Agatha tersenyum.
“Setuju.”
Sejak itu, mereka mulai mengubah pendekatan dokumentasi.
Foto mahasiswa tidak lagi menjadi pusat.
Masyarakat mulai mendapat ruang lebih besar.
Cerita warga menjadi lebih banyak.
Kisah pemuda ditampilkan.
Perjuangan pelaku usaha ditulis.
Aktivitas perpustakaan diceritakan.
Perubahan kecil mulai didokumentasikan.
PDD tidak hanya menjadi alat untuk menunjukkan apa yang dilakukan mahasiswa.
PDD mulai menjadi cermin perubahan masyarakat.
Raka Menyadari Sesuatu
Suatu malam, Raka membuka kembali catatan awal KKN.
Di sana tertulis berbagai target.
Program.
Kegiatan.
Indikator.
Jadwal.
Ia kemudian membuka catatan terbarunya.
Isinya berbeda.
Nama-nama warga.
Kelompok pemuda.
Pelaku usaha.
Pengelola perpustakaan.
Kegiatan masyarakat.
Rencana tindak lanjut.
Raka tersenyum.
Di awal KKN, ia bertanya:
“Apa yang akan kami lakukan?”
Sekarang pertanyaannya berubah:
“Apa yang akan mereka lanjutkan?”
Sebuah Pelajaran tentang Kepemimpinan
Raka kemudian menulis di buku catatannya:
“Pemimpin yang baik bukan yang selalu berada di depan.”
Ia berhenti.
Kemudian melanjutkan:
“Kadang ia harus berada di samping untuk mendampingi.”
Ia berhenti lagi.
Kemudian menulis:
“Dan pada saat tertentu, ia harus berada di belakang agar orang lain memiliki ruang untuk berjalan sendiri.”
Raka menutup buku.
Ia melihat keluar jendela.
Beberapa pemuda masih berada di balai desa.
Lampu perpustakaan masih menyala.
Beberapa ibu masih berbicara tentang usaha.
Desa Awan Biru perlahan bergerak.
Bukan Lagi Program Mahasiswa
Keesokan harinya, Raka berbicara kepada seluruh tim.
“Saya ingin kalian mengingat satu hal.”
Semua memperhatikan.
“Mulai sekarang, jangan menyebut semua ini sebagai program mahasiswa.”
Beberapa orang saling pandang.
“Lalu apa?”
Raka menjawab,
“Program masyarakat yang kebetulan kita dampingi.”
Agatha tersenyum.
Farida mengangguk.
Jevin menutup laptopnya.
Kalimat tersebut sederhana.
Namun mereka semua memahami maknanya.
Kemandirian Mulai Terlihat
Hari demi hari, perubahan semakin jelas.
Pemuda mulai memiliki jadwal kegiatan sendiri.
Kelompok perempuan mulai mengatur usaha.
Perpustakaan mulai memiliki penggerak lokal.
Anak-anak mulai mengajak teman mereka.
Masyarakat mulai saling membantu.
Dan mahasiswa mulai belajar untuk tidak selalu menjadi pusat.
Tidak semua berjalan sempurna.
Namun arah perubahan sudah terlihat.
Suatu sore, Raka berdiri di tengah jalan desa.
Ia melihat seorang anak berlari menuju perpustakaan.
Beberapa pemuda sedang membersihkan lapangan.
Seorang ibu membawa produk usahanya.
Seorang warga sedang berbicara dengan pengelola perpustakaan.
Semua berjalan seperti biasa.
Tidak ada acara besar.
Tidak ada spanduk.
Tidak ada sambutan.
Tidak ada tepuk tangan.
Namun justru dalam kesederhanaan itulah Raka melihat sesuatu yang sangat berarti.
Kehidupan mulai bergerak tanpa harus selalu digerakkan.
Agatha berdiri di samping Raka.
“Rak.”
“Ya?”
“Kalau nanti kita pulang…”
Raka menoleh.
“Menurut kamu mereka akan tetap berjalan?”
Raka tidak langsung menjawab.
Ia melihat masyarakat yang sedang beraktivitas.
“Kita belum tahu.”
Agatha mengangguk.
“Berarti belum selesai?”
Raka tersenyum.
“Justru baru mulai.”
Ketika Mahasiswa Mulai Bersiap Kehilangan Peran
Raka mulai menyadari bahwa ada tahap yang lebih sulit daripada menggerakkan masyarakat.
Yaitu:
melepaskan peran ketika masyarakat sudah mampu bergerak.
Ada rasa bangga.
Ada rasa takut.
Ada rasa khawatir.
Bagaimana jika setelah mereka pulang semuanya berhenti?
Bagaimana jika masyarakat kembali pasif?
Bagaimana jika pemuda kehilangan semangat?
Bagaimana jika perpustakaan kembali sepi?
Bagaimana jika usaha berhenti berkembang?
Semua pertanyaan itu menghantui Raka.
Namun ia tahu satu hal.
Kemandirian tidak berarti tidak membutuhkan siapa pun.
Kemandirian berarti memiliki kemampuan untuk terus mencoba meskipun orang yang sebelumnya mendampingi sudah tidak ada.
Menyiapkan Masyarakat untuk Berjalan Sendiri
Karena itu, Raka mengubah fokus kegiatan.
Mereka mulai membuat panduan sederhana.
Jadwal kegiatan dibuat oleh masyarakat.
Penanggung jawab ditentukan oleh warga.
Beberapa pemuda dilatih menjadi penggerak.
Pengelola perpustakaan diberi kesempatan menyusun kegiatan sendiri.
Pelaku usaha mulai membuat catatan usaha.
Dan PDD mulai menyerahkan keterampilan dokumentasi kepada beberapa pemuda.
Jevin mengajari mereka membuat poster.
Farida mengajarkan cara menulis berita sederhana.
Agatha mengajarkan dasar pengambilan foto.
Mereka tidak hanya meninggalkan hasil.
Mereka mencoba meninggalkan kemampuan.
Hari yang Membuat Raka Tersenyum
Suatu sore, Raka melihat seorang pemuda memegang kamera.
Ia sedang mengambil foto kegiatan perpustakaan.
Agatha melihatnya.
“Bagus.”
Pemuda itu tersenyum.
“Belajar dari Mas Agatha.”
Agatha bertanya,
“Kalau saya pulang?”
Pemuda tersebut menjawab,
“Ya saya yang foto.”
Agatha tertawa.
“Berarti saya bisa pensiun.”
Raka yang mendengar percakapan itu ikut tertawa.
Namun di dalam hatinya, ia merasakan sesuatu yang berbeda.
Mereka mulai memiliki penerus.
Bukan Ketergantungan, tetapi Keberlanjutan
Malam itu Raka kembali menulis:
“Pemberdayaan tidak berhenti ketika masyarakat mampu melakukan sesuatu. Pemberdayaan dimulai ketika masyarakat percaya bahwa mereka mampu.”
Ia menatap kalimat tersebut.
Kemudian menulis:
“Tugas kami bukan membuat masyarakat bergantung kepada kami. Tugas kami adalah membantu mereka menemukan kekuatan yang sebenarnya sudah mereka miliki.”
Ia menutup buku.
Namun di balik rasa bangga itu, ada kegelisahan yang belum terjawab.
Waktu KKN semakin mendekati akhir.
Mahasiswa sebentar lagi harus meninggalkan Desa Awan Biru.
Masyarakat mulai bergerak.
Namun apakah semua perubahan itu cukup kuat untuk bertahan?
Apakah pemuda akan terus aktif ketika tidak ada mahasiswa?
Apakah kelompok perempuan akan tetap menjalankan usaha?
Apakah perpustakaan akan tetap ramai?
Apakah kegiatan literasi akan terus berlangsung?
Dan apakah hubungan yang telah dibangun selama ini akan tetap hidup setelah perpisahan?
Raka tahu jawabannya tidak bisa diperoleh dari rapat.
Tidak bisa dari proposal.
Tidak bisa dari laporan.
Jawabannya hanya dapat ditemukan ketika mahasiswa benar-benar mulai melepaskan diri dari kehidupan desa.
Karena pada akhirnya, ukuran keberhasilan pengabdian bukanlah:
“Seberapa banyak yang telah kami lakukan?”
Melainkan:
“Seberapa banyak yang tetap berjalan ketika kami sudah tidak ada?”
Dan waktu untuk mengetahui jawabannya semakin dekat.
BAB XV — PDD MEREKAM PERUBAHAN
Kamera yang Menjadi Saksi
Pagi itu Agatha berdiri di depan perpustakaan Desa Awan Biru.
Kamera berada di tangannya.
Namun kali ini ia tidak sedang menunggu mahasiswa datang.
Tidak ada kegiatan resmi.
Tidak ada spanduk.
Tidak ada susunan acara.
Tidak ada pembukaan.
Namun di halaman perpustakaan, beberapa anak sudah bermain.
Di teras, seorang pemuda sedang menyusun buku.
Di dalam ruangan, dua orang warga sedang berdiskusi tentang jadwal kegiatan.
Agatha mengangkat kameranya.
Klik.
Satu foto.
Kemudian ia mengambil foto kedua.
Klik.
Ia tersenyum.
“Ini lebih bagus.”
Foto yang Berbeda
Agatha membuka kembali folder dokumentasi KKN.
Isinya ribuan foto.
Ada foto penyambutan.
Foto rapat.
Foto pelatihan.
Foto gotong royong.
Foto mahasiswa mengajar.
Foto mahasiswa membuat kegiatan.
Foto mahasiswa bekerja.
Semua terlihat bagus.
Namun semakin lama Agatha melihat foto-foto itu, semakin ia menyadari sesuatu.
Sebagian besar foto memperlihatkan mahasiswa sebagai pusat kegiatan.
Padahal sekarang keadaan mulai berubah.
Ia membuka foto terbaru.
Seorang pemuda sedang memimpin kegiatan.
Seorang ibu sedang memasarkan produk.
Seorang anak sedang membaca.
Seorang warga sedang mengatur perpustakaan.
Tidak ada mahasiswa di tengah-tengah foto.
Namun justru foto-foto itu terasa lebih hidup.
Agatha bergumam,
“Ini yang sebenarnya kita cari.”
Farida yang sedang duduk tidak jauh darinya menoleh.
“Apa?”
Agatha menunjukkan layar kamera.
“Foto seperti ini.”
Farida melihat.
“Kenapa?”
“Karena kalau kita pulang, foto ini masih punya cerita.”
Farida tersenyum.
“Bukan tentang kita.”
“Ya.”
“Melainkan tentang mereka.”
Agatha mengangguk.
Kamera yang Tidak Lagi Mencari Mahasiswa
Sejak hari itu, cara Agatha memotret berubah.
Ia tidak lagi selalu mencari mahasiswa yang sedang bekerja.
Ia mulai mencari tanda-tanda perubahan.
Tangan seorang ibu yang sedang mengemas produk.
Pemuda yang sedang memimpin rapat.
Anak kecil yang membantu temannya membaca.
Warga yang membersihkan halaman perpustakaan.
Seorang pengelola desa yang mencatat kegiatan.
Seorang pemuda yang belajar menggunakan kamera.
Hal-hal kecil.
Tidak spektakuler.
Tetapi nyata.
Agatha pernah berpikir bahwa dokumentasi terbaik adalah ketika sebuah kegiatan terlihat ramai.
Sekarang pikirannya berubah.
Dokumentasi terbaik adalah ketika sebuah foto mampu menjawab pertanyaan:
“Apa yang berubah setelah kegiatan itu dilakukan?”
Farida dan Sebuah Judul
Di posko, Farida sedang mengetik.
Laptop terbuka.
Beberapa catatan berada di sampingnya.
Ia sudah menulis beberapa paragraf.
Namun berkali-kali dihapus.
Agatha datang.
“Belum selesai?”
“Belum.”
“Judulnya?”
Farida terdiam.
Kemudian berkata,
“Aku punya.”
“Apa?”
Farida memutar laptop.
Di layar tertulis:
AWAN BIRU TIDAK MENUNGGU MAHASISWA
Agatha membaca perlahan.
Kemudian tersenyum.
“Bagus.”
Farida bertanya,
“Tidak terlalu berani?”
“Justru itu.”
Cerita yang Berbeda
Farida mulai menulis.
Ia tidak membuka berita dengan kalimat:
“Mahasiswa KKN melaksanakan kegiatan…”
Ia justru memulai dengan gambaran sebuah pagi.
Perpustakaan yang mulai ramai.
Pemuda yang mengatur kegiatan.
Kelompok perempuan yang mengembangkan usaha.
Anak-anak yang mulai datang tanpa harus dipanggil.
Kemudian ia menulis tentang mahasiswa.
Bukan sebagai tokoh utama.
Tetapi sebagai orang-orang yang pernah datang, mendampingi, dan belajar bersama masyarakat.
Farida berhenti sejenak.
Ia membaca kembali tulisannya.
Kemudian menghapus satu kalimat.
Ia menulis ulang:
“Perubahan mulai terasa ketika masyarakat tidak lagi menunggu mahasiswa untuk memulai.”
Ia tersenyum.
Kalimat itu menjadi inti tulisannya.
Raka Membaca Tulisan Farida
Ketika artikel selesai, Farida menyerahkannya kepada Raka.
“Baca.”
Raka membuka laptop.
Ia membaca perlahan.
Tidak banyak bicara.
Agatha dan Jevin menunggu.
Beberapa menit kemudian Raka menutup laptop.
“Bagus.”
Farida bertanya,
“Bagian mana yang paling bagus?”
Raka tersenyum.
“Bagian yang tidak membuat kita terlihat hebat.”
Farida tertawa.
“Kenapa?”
“Karena mungkin justru itu yang paling jujur.”
Raka kemudian berkata,
“Kalau orang membaca ini, mereka harus tahu bahwa masyarakat punya peran.”
Farida mengangguk.
“Bukan hanya mahasiswa.”
“Bukan.”
Jevin dan Cerita dalam Gambar Bergerak
Sementara itu, Jevin sedang mengerjakan sesuatu yang berbeda.
Ia mengumpulkan video.
Bukan hanya video kegiatan resmi.
Ia memilih potongan-potongan kecil.
Seorang ibu membuka kemasan produk.
Pemuda berdiskusi.
Anak-anak membaca.
Agatha mengajari seorang pemuda memotret.
Raka berbicara dengan warga.
Seorang pengelola perpustakaan menyusun buku.
Kemudian ia menyusun semuanya menjadi sebuah video dokumenter.
Judulnya:
“AWAN BIRU: DARI PESERTA MENJADI PELAKU”
Menyusun Potongan Cerita
Jevin bekerja hingga malam.
Ia memeriksa satu per satu rekaman.
Ada suara tawa.
Ada suara anak-anak.
Ada suara pemuda berdiskusi.
Ada suara ibu-ibu berbicara tentang usaha.
Ada suara Raka saat menjelaskan tentang pemberdayaan.
Namun Jevin tidak ingin video itu menjadi promosi KKN semata.
Ia ingin video itu menjadi cerita.
Tentang perubahan.
Tentang proses.
Tentang kesalahan.
Tentang kegagalan.
Dan tentang masyarakat yang perlahan menemukan kekuatannya sendiri.
Ia kemudian memasukkan sebuah kalimat di bagian tengah video:
“Kami datang membawa program. Tetapi kami pulang membawa pelajaran bahwa masyarakat memiliki kekuatan yang jauh lebih besar daripada yang kami bayangkan.”
Jevin membaca kalimat itu.
Kemudian mengangguk.
PDD Mulai Berbeda
Ketiga anggota PDD mulai bekerja dengan cara yang berbeda.
Agatha mencari momen.
Farida mencari makna.
Jevin mencari cara menyampaikan.
Mereka tidak hanya mengumpulkan dokumentasi.
Mereka membangun arsip perubahan.
Agatha berkata,
“Kalau nanti ada yang bertanya apa yang berubah di desa ini, kita punya jawabannya.”
Farida menjawab,
“Bukan hanya dalam kata-kata.”
Jevin menambahkan,
“Tapi juga dalam foto dan video.”
Raka Melihat Semuanya
Suatu malam mereka memperlihatkan hasil kerja PDD kepada Raka.
Agatha membawa foto.
Farida membawa artikel.
Jevin membawa video.
Raka duduk di depan laptop.
Video mulai diputar.
Layar menampilkan gambar Desa Awan Biru pada masa awal KKN.
Mahasiswa datang.
Masyarakat berkumpul.
Kegiatan dimulai.
Kemudian gambar berubah.
Pelatihan.
Rapat.
Kegiatan literasi.
Pendampingan usaha.
Pertemuan pemuda.
Ada pula potongan video ketika program mereka gagal.
Peserta sedikit.
Kursi kosong.
Wajah mahasiswa yang kecewa.
Kemudian muncul proses evaluasi.
Masyarakat diajak berdiskusi.
Program diperbaiki.
Dan gambar berubah lagi.
Pemuda mulai memimpin.
Perempuan mulai menjalankan usaha.
Anak-anak memenuhi perpustakaan.
Warga mulai mengorganisir kegiatan.
Mahasiswa mulai berada di belakang.
Raka diam.
Video terus berjalan.
Kemudian muncul gambar seorang pemuda memegang kamera.
Suara Agatha terdengar dalam rekaman:
“Kalau nanti kami pulang, siapa yang akan mendokumentasikan?”
Pemuda itu menjawab:
“Kami.”
Layar menjadi gelap.
Muncul tulisan:
“Awan Biru Tidak Menunggu Mahasiswa.”
Video selesai.
Ruangan hening.
Tidak ada yang langsung berbicara.
Mata Raka Berkaca-Kaca
Agatha menatap Raka.
“Bagaimana?”
Raka tidak menjawab.
Farida memperhatikannya.
“Rak?”
Raka menarik napas.
“Bagus.”
Suaranya sedikit bergetar.
Jevin tersenyum.
“Cuma bagus?”
Raka tertawa kecil.
“Bukan.”
Ia menatap ketiganya.
“Saya baru sadar.”
“Sadar apa?”
Raka menjawab perlahan,
“Selama ini kita sibuk melakukan kegiatan.”
Ia menunjuk layar.
“Sekarang kita bisa melihat perjalanan kita.”
Raka kembali melihat layar.
“Awalnya kita ingin membuat perubahan.”
Ia tersenyum.
“Ternyata kita juga yang berubah.”
PDD Menjadi Saksi
Raka kemudian berdiri.
Ia melihat kamera milik Agatha.
Laptop milik Farida.
Video yang dibuat Rama.
“Dulu saya pikir PDD itu hanya bagian yang mendokumentasikan kegiatan.”
Agatha tersenyum.
“Memang begitu awalnya.”
“Tapi sekarang?”
Raka menunjuk mereka.
“Kalian menyimpan ingatan desa.”
Farida terdiam.
Jevin menatap Raka.
Raka melanjutkan,
“Suatu hari nanti mungkin kita semua lupa detailnya.”
“Lupa tanggal.”
“Lupa urutan kegiatan.”
“Lupa siapa yang hadir.”
“Tapi foto, tulisan, dan video ini akan mengingatkan kita bahwa semua itu pernah terjadi.”
Bukan Sekadar Dokumentasi
Agatha kemudian berkata,
“Berarti dokumentasi juga bagian dari pemberdayaan?”
Raka berpikir.
“Kalau dokumentasi hanya untuk menunjukkan bahwa kita bekerja, mungkin belum.”
“Lalu?”
“Kalau dokumentasi membuat masyarakat melihat dirinya sendiri sebagai bagian penting dari perubahan, itu berbeda.”
Farida mengangguk.
“Jadi cerita bisa membangun kepercayaan diri?”
“Bisa.”
Jevin tersenyum.
“Berarti PDD juga ikut memberdayakan.”
Raka mengangguk.
“Dengan caranya sendiri.”
Warga Mulai Melihat Cerita Mereka Sendiri
Beberapa hari kemudian, artikel Farida dipublikasikan.
Tulisan:
“AWAN BIRU TIDAK MENUNGGU MAHASISWA”
mulai dibaca masyarakat.
Beberapa warga membagikannya.
Seorang pemuda menunjukkan tulisan tersebut kepada temannya.
“Lihat.”
“Apa?”
“Ini tentang kegiatan kita.”
Ia tersenyum.
Seorang ibu membaca bagian tentang usaha.
Ia kemudian berkata,
“Tidak menyangka usaha kecil kita ditulis seperti ini.”
Farida yang kebetulan berada di dekatnya menjawab,
“Karena memang layak diceritakan.”
Ibu itu tersenyum.
Cerita Membuat Masyarakat Percaya Diri
Raka memperhatikan reaksi masyarakat.
Ia menemukan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah ia pikirkan.
Ketika masyarakat melihat kisah mereka ditulis dan didokumentasikan, mereka merasa bahwa apa yang mereka lakukan memiliki nilai.
Bukan karena dipuji.
Bukan karena menjadi terkenal.
Tetapi karena mereka menyadari:
usaha kecil mereka ternyata berarti.
Seorang pemuda berkata kepada Dedi,
“Mas, kalau kegiatan berikutnya kami foto sendiri boleh?”
Agatha tersenyum.
“Justru harus.”
“Bisa diajari?”
“Bisa.”
“Biar nanti kami bisa dokumentasi sendiri.”
Agatha menyerahkan kameranya.
“Pegang.”
Pemuda itu menerima.
“Begini?”
“Ya.”
“Kalau salah?”
“Jepret lagi.”
Mereka tertawa.
Agatha Mulai Menyerahkan Kameranya
Agatha kemudian menyadari bahwa keterampilan dokumentasi juga harus diwariskan.
Ia mulai mengajari beberapa pemuda:
Cara memegang kamera.
Menentukan sudut.
Mengambil foto kegiatan.
Mencari momen.
Menghindari foto yang monoton.
Dan yang paling penting—
memahami bahwa foto bukan hanya tentang gambar.
Foto adalah cerita.
Agatha berkata,
“Jangan hanya memotret orang berdiri.”
“Lalu?”
“Cari aktivitas.”
“Kenapa?”
“Karena aktivitas menunjukkan kehidupan.”
Pemuda itu mengangguk.
Farida Mengajarkan Cara Bercerita
Ita melakukan hal yang sama.
Ia mengajari beberapa pemuda menulis berita sederhana.
“Mulai dari apa?”
“Fakta.”
“Lalu?”
“Siapa, apa, kapan, di mana, mengapa, dan bagaimana.”
“Setelah itu?”
“Cerita.”
Farida tersenyum.
“Jangan hanya menulis bahwa kegiatan dilaksanakan.”
“Lalu?”
“Tulis mengapa kegiatan itu penting.”
Seorang pemuda bertanya,
“Kalau tidak ada kejadian besar?”
Farida menjawab,
“Cerita tidak selalu membutuhkan kejadian besar.”
“Lalu?”
“Kadang perubahan kecil justru paling penting.”
Jevin Mengajarkan Visual
Jevin juga mulai mengajarkan desain.
Ia tidak lagi membuat semua poster sendiri.
Ia mengajari pemuda menggunakan aplikasi sederhana.
Cara memilih ukuran.
Menata tulisan.
Memasukkan foto.
Membuat judul.
Dan menyusun informasi.
Seorang pemuda membuat desain pertama.
Hasilnya belum sempurna.
Jevin melihatnya.
“Bagus.”
Pemuda itu tersenyum.
“Serius?”
“Serius.”
“Masih jelek.”
“Tidak apa-apa.”
“Kenapa?”
“Karena ini desain pertama.”
PDD Mulai Membangun Penerus
Tanpa disadari, PDD sedang melakukan hal yang sama dengan program-program lainnya.
Mereka tidak hanya bekerja.
Mereka menyiapkan penerus.
Agatha menyiapkan orang yang bisa mendokumentasikan.
Farida menyiapkan orang yang bisa menulis.
Jevin menyiapkan orang yang bisa membuat visual.
Dan Raka melihat semuanya sebagai bagian dari keberlanjutan.
Raka Mulai Memahami Arti Dokumentasi
Malam itu Raka menulis di buku catatannya:
“Dokumentasi bukan sekadar bukti bahwa kegiatan pernah dilakukan.”
Ia melanjutkan:
“Dokumentasi adalah ingatan.”
Kemudian:
“Dan ketika ingatan itu disusun menjadi cerita, masyarakat dapat melihat perjalanan mereka sendiri.”
Ia menutup buku.
Ketika Foto Menjadi Cermin
Keesokan harinya, beberapa foto hasil dokumentasi dipasang di ruang perpustakaan.
Bukan hanya foto mahasiswa.
Foto masyarakat juga ditampilkan.
Ada foto pemuda.
Ada foto ibu-ibu.
Ada foto anak-anak.
Ada foto kegiatan perpustakaan.
Ada foto usaha warga.
Masyarakat mulai melihat foto-foto itu.
Seorang anak menunjuk dirinya.
“Itu saya!”
Yang lain tertawa.
Seorang ibu berkata,
“Ini waktu pertama kali kami belajar.”
Seorang pemuda menunjuk foto lain.
“Ini kegiatan kita.”
Raka berdiri di belakang.
Ia tersenyum.
Foto-foto itu telah berubah menjadi sesuatu yang lebih besar.
Menjadi cermin perjalanan Desa Awan Biru.
Dari Dokumentasi Menjadi Warisan
Agatha kemudian berkata,
“Rak, kita harus simpan semua arsip ini.”
“Kenapa?”
“Karena nanti setelah KKN selesai, jangan sampai hilang.”
Raka mengangguk.
“Buatkan arsip khusus.”
Farida menambahkan,
“Bisa diserahkan ke desa.”
Jevin berkata,
“Foto, artikel, video, desain, semuanya.”
Raka tersenyum.
“Bagus.”
Mereka mulai menyusun arsip digital.
Folder dibagi berdasarkan kegiatan.
Dokumentasi foto.
Video.
Artikel.
Desain.
Data kegiatan.
Cerita masyarakat.
Semua disusun.
Tidak hanya untuk kebutuhan laporan.
Tetapi sebagai bagian dari sejarah kecil Desa Awan Biru.
Sebuah Kesadaran Baru
Semakin mereka mendokumentasikan, semakin mereka sadar bahwa perubahan tidak selalu terlihat dalam satu hari.
Perubahan adalah rangkaian kecil.
Hari ini seorang pemuda bertanya.
Besok ia mencoba.
Lusa ia memimpin.
Minggu berikutnya ia mengajak orang lain.
Begitulah perubahan tumbuh.
Pelan.
Kadang tidak terlihat.
Namun terus bergerak.
Dan PDD berada di sana.
Mengabadikan proses tersebut.
Raka Melihat Masa Depan
Suatu malam, Raka kembali menonton video dokumenter Rama.
Kali ini sendirian.
Ia melihat perjalanan dari awal.
Mahasiswa datang sebagai orang asing.
Kemudian mulai dikenal.
Mulai bekerja.
Mulai mengalami konflik.
Mengalami kegagalan.
Belajar.
Mendengar masyarakat.
Membangun program.
Kemudian perlahan memberikan ruang kepada masyarakat.
Di akhir video, muncul wajah-wajah warga.
Bukan wajah mahasiswa.
Raka tersenyum.
Ia merasa lega.
Namun kemudian ia teringat sesuatu.
Waktu mereka semakin sedikit.
Video itu bukan hanya dokumentasi perjalanan.
Tanpa mereka sadari, video itu juga mulai terasa seperti rekaman menuju perpisahan.
Raka menutup laptop.
Ia belum siap memikirkan itu.
Belum.
Perjalanan Belum Selesai
Keesokan paginya Raka berkata kepadaAgathaFarida dan Rama,
“Jangan berhenti dokumentasi.”
Agatha bertanya,
“Masih banyak yang harus direkam?”
“Masih.”
“Apa?”
Raka menunjuk ke luar.
“Masa depan.”
Mereka tertawa.
Namun Raka serius.
“Perubahan ini belum selesai.”
Masyarakat memang mulai bergerak.
Pemuda mulai mengambil peran.
Kelompok perempuan mulai berkembang.
Perpustakaan mulai hidup.
PDD mulai memiliki penerus.
Namun masih ada satu ujian terakhir yang belum mereka hadapi.
Meninggalkan desa tanpa meninggalkan ketergantungan.
Karena selama mahasiswa masih berada di Desa Awan Biru, keberlanjutan belum benar-benar teruji.
Raka mengetahui hal itu.
Agatha, Farida dan Jevin juga mengetahuinya.
Dan untuk pertama kalinya, kamera, tulisan, dan video mereka bukan hanya merekam keberhasilan.
Mereka sedang merekam sebuah proses menuju perpisahan.
Namun sebelum hari itu tiba, masih ada banyak hal yang harus diselesaikan.
Masih ada program yang harus dipastikan keberlanjutannya.
Masih ada masyarakat yang harus diberi ruang.
Masih ada pemuda yang harus dipercaya.
Dan masih ada satu pertanyaan besar yang perlahan mendekat:
Apakah Desa Awan Biru benar-benar sudah siap berjalan tanpa mereka?
BAB XVI — KRISIS BESAR DI TENGAH KKN
Ketika Semangat Mulai Runtuh
Hari-hari KKN di Desa Awan Biru seharusnya mulai memasuki fase yang lebih tenang.
Sebagian besar mahasiswa sudah memahami karakter masyarakat.
Program mulai berjalan.
Pemuda mulai aktif.
Kelompok perempuan mulai bergerak.
Perpustakaan mulai hidup.
PDD juga telah membangun dokumentasi yang semakin lengkap.
Namun ketenangan itu ternyata hanya sementara.
Sebuah persoalan besar muncul.
Dan kali ini, persoalannya bukan sekadar program yang gagal.
Bukan pula tentang jadwal yang bertabrakan.
Melainkan tentang kepercayaan.
Awal Persoalan
Masalah bermula dari salah satu program pemberdayaan yang sebelumnya telah disusun bersama.
Mahasiswa menganggap program tersebut penting.
Persiapannya sudah dilakukan.
Materi sudah dibuat.
Jadwal sudah disusun.
Beberapa perlengkapan juga telah disiapkan.
Namun ketika hari pelaksanaan semakin dekat, masyarakat mulai mempertanyakan konsepnya.
Seorang warga berkata,
“Kenapa kegiatannya harus seperti ini?”
Mahasiswa yang bertugas menjawab,
“Karena ini sudah disusun.”
Warga tersebut kembali bertanya,
“Apakah kami pernah diajak menentukan?”
Mahasiswa itu terdiam.
Pertanyaan tersebut kemudian menyebar.
Beberapa warga merasa program yang awalnya disebut sebagai kegiatan bersama ternyata lebih banyak ditentukan mahasiswa.
Mereka merasa hanya diminta mengikuti.
Bukan diajak menentukan.
Mahasiswa Mulai Merasa Disalahkan
Di posko, beberapa mahasiswa merasa kecewa.
“Kita sudah bekerja keras.”
“Sudah menyiapkan semuanya.”
“Sekarang malah dipersoalkan.”
Salah seorang mahasiswa bahkan berkata,
“Kalau memang tidak mau, kenapa dari awal tidak bilang?”
Yang lain menjawab,
“Sekarang sudah hampir jalan.”
Suasana mulai memanas.
Raka mendengar laporan tersebut.
Ia segera memanggil koordinator program.
“Apa sebenarnya yang terjadi?”
Koordinator menjelaskan.
“Kami sudah menyusun semuanya, Rak.”
“Dengan masyarakat?”
“Awalnya iya.”
“Awalnya?”
Mahasiswa itu terdiam.
Raka mulai memahami bahwa ada sesuatu yang terlewat.
Rapat yang Berakhir Buntu
Raka kemudian mengadakan pertemuan kecil.
Mahasiswa dan beberapa perwakilan masyarakat duduk bersama.
Namun pertemuan tidak berjalan seperti yang diharapkan.
Mahasiswa menjelaskan rencana.
Masyarakat menyampaikan keberatan.
Mahasiswa membela diri.
Masyarakat merasa tidak didengar.
Suara mulai meninggi.
Seorang warga berkata,
“Kalau memang ini untuk kami, kenapa kami tidak boleh menentukan?”
Seorang mahasiswa menjawab,
“Karena kami juga punya target.”
Kalimat itu membuat ruangan seketika hening.
Raka menatap mahasiswa tersebut.
Kemudian melihat masyarakat.
Ia tahu kalimat itu keluar karena tekanan.
Namun dampaknya jauh lebih besar.
Masyarakat mulai merasa bahwa program tersebut sebenarnya lebih penting bagi mahasiswa daripada bagi mereka.
Kepercayaan Mulai Retak
Setelah pertemuan itu, beberapa warga mulai menjauh.
Mereka tidak lagi aktif seperti sebelumnya.
Beberapa pemuda juga memilih tidak hadir.
Kelompok perempuan menunda pertemuan.
Bahkan kegiatan perpustakaan ikut terdampak.
Suasana Desa Awan Biru terasa berbeda.
Tidak ada pertengkaran terbuka.
Namun ada jarak.
Dan bagi Raka, jarak itu jauh lebih berbahaya.
Ia berjalan melewati balai desa.
Biasanya ia melihat pemuda berkumpul.
Hari itu kosong.
Ia melewati perpustakaan.
Anak-anak masih datang.
Namun jumlahnya lebih sedikit.
Ia melihat kelompok mahasiswa.
Semangat mereka juga menurun.
Raka mulai merasa bahwa satu persoalan telah memengaruhi banyak hal.
Mahasiswa Mulai Ingin Menghentikan Program
Malam itu rapat berlangsung cukup keras.
Seorang mahasiswa berkata,
“Menurut saya, hentikan saja.”
Yang lain mengangguk.
“Kita sudah terlalu banyak menghadapi masalah.”
“Waktu kita juga sedikit.”
“Kalau diteruskan, bisa mengganggu program lain.”
Ada yang mengatakan,
“Daripada hubungan makin buruk.”
Raka mendengarkan.
Tidak langsung menjawab.
Kemudian seorang mahasiswa berkata,
“Rak, kamu harus tegas.”
“Dalam hal apa?”
“Pilih.”
“Maksudnya?”
“Program dilanjutkan atau dihentikan.”
Semua menatap Raka.
Untuk beberapa saat, Raka tidak berbicara.
Ia tahu keputusan apa pun akan memiliki konsekuensi.
Raka Kembali Dihadapkan pada Pilihan
Pilihan pertama:
Mempertahankan program.
Program tetap berjalan sesuai rencana.
Target tetap dikejar.
Mahasiswa tidak perlu mengubah banyak hal.
Namun risiko konflik semakin besar.
Pilihan kedua:
Menghentikan program.
Konflik dapat diredam.
Mahasiswa dapat fokus pada program lain.
Namun ada kemungkinan masyarakat merasa ditinggalkan.
Dan lebih buruk lagi—
hubungan yang telah dibangun selama berminggu-minggu bisa rusak.
Raka menatap kedua pilihan tersebut.
Ia merasa seperti kembali ke dilema sebelumnya.
Namun kali ini lebih berat.
Raka Memilih Tidak Terburu-Buru
“Besok tidak ada keputusan.”
Semua terkejut.
“Kenapa?”
“Kita dengarkan masyarakat dulu.”
Seorang mahasiswa berkata,
“Bukankah sudah?”
Raka menggeleng.
“Belum cukup.”
Malam itu Raka memintaAgathaFarida dan Jevin tidak membuat berita tentang konflik tersebut.
Agatha bertanya,
“Kenapa?”
“Karena kita belum memahami seluruh persoalan.”
Ita mengangguk.
“Jangan sampai kita menulis dari satu sisi.”
Jevin menambahkan,
“Dokumentasi juga jangan memperkeruh.”
Raka mengangguk.
“Betul.”
Mendengarkan Tanpa Membela Diri
Keesokan harinya Raka menemui beberapa warga.
Ia tidak membawa proposal.
Tidak membawa target.
Tidak membawa argumen.
Ia hanya membawa buku catatan.
Seorang ibu berbicara lebih dulu.
“Kami bukan menolak kegiatan.”
Raka mendengarkan.
“Kami hanya merasa tidak dilibatkan.”
Seorang pemuda menambahkan,
“Awalnya kami senang.”
“Tapi lama-lama kami hanya diminta datang.”
“Tidak ditanya lagi.”
Raka mencatat.
Kemudian bertanya,
“Kalau diberi kesempatan menentukan, apa yang ingin kalian ubah?”
Masyarakat mulai berbicara.
Mereka memiliki banyak usulan.
Sebagian sederhana.
Sebagian berbeda dari konsep awal.
Namun semuanya masuk akal.
Raka Mendengar Sisi Mahasiswa
Setelah itu Raka kembali kepada mahasiswa.
Ia juga mendengarkan mereka.
Seorang mahasiswa berkata,
“Kami takut target tidak tercapai.”
Yang lain berkata,
“Kami merasa sudah bekerja keras.”
Ada yang mengatakan,
“Kami bingung karena setiap kali konsep berubah, waktu kami semakin sedikit.”
Raka mengangguk.
Ia tidak menyalahkan mereka.
Mahasiswa juga memiliki tekanan.
Mereka bukan orang jahat.
Mereka hanya terjebak dalam cara berpikir yang berbeda.
Raka akhirnya menyadari:
Kedua pihak sebenarnya menginginkan hal yang sama.
Mereka ingin program berhasil.
Tetapi mereka memiliki definisi keberhasilan yang berbeda.
Mahasiswa melihat keberhasilan dari sisi pelaksanaan.
Masyarakat melihat keberhasilan dari sisi manfaat.
Rapat Besar Kedua
Raka kemudian meminta Pak Iwan hadir.
Perwakilan masyarakat dikumpulkan.
Mahasiswa juga hadir.
Suasana awal masih kaku.
Raka berdiri di depan.
“Saya tidak ingin mencari siapa yang salah.”
Semua diam.
“Saya ingin mencari cara agar kita tidak kehilangan apa yang sudah kita bangun.”
Raka kemudian berkata,
“Program ini dibuat karena kita ingin memberikan manfaat.”
Ia melihat mahasiswa.
“Kita bekerja keras.”
Kemudian melihat masyarakat.
“Masyarakat juga punya kebutuhan.”
Ia berhenti.
“Kalau konsep kita bertentangan dengan kebutuhan masyarakat, berarti ada yang harus kita perbaiki.”
Pak Iwan Memberikan Pandangan
Pak Iwan kemudian berbicara.
“Menurut saya, jangan buru-buru dihentikan.”
Masyarakat memperhatikan.
“Programnya bagus.”
Mahasiswa terlihat lega.
“Tapi cara pelaksanaannya perlu diperbaiki.”
Raka mengangguk.
Pak Iwan melanjutkan,
“Kalau masyarakat merasa tidak memiliki, program akan sulit bertahan.”
Kemudian ia menatap mahasiswa.
“Dan kalau mahasiswa merasa semua pekerjaan harus dilakukan sendiri, masyarakat juga tidak akan belajar.”
Kalimat itu membuat ruangan hening.
Raka Menawarkan Jalan Ketiga
Raka berdiri.
“Saya punya usulan.”
Semua menunggu.
“Kita tidak menghentikan program.”
Beberapa mahasiswa terlihat lega.
“Tapi kita juga tidak mempertahankan cara lama.”
Masyarakat mulai memperhatikan.
“Kita ubah.”
Raka kemudian menjelaskan:
Program tetap ada.
Tetapi masyarakat menentukan prioritas.
Mahasiswa tetap mendampingi.
Tetapi tidak menjadi pelaksana utama.
Target tetap diperhatikan.
Tetapi disesuaikan dengan kondisi lapangan.
Kegiatan tetap dilakukan.
Tetapi dengan cara yang disepakati bersama.
Raka berkata,
“Programnya tidak kita buang.”
Ia berhenti.
“Cara kita menjalankannya yang kita ubah.”
Keputusan yang Tidak Mudah
Tidak semua mahasiswa langsung menerima.
Namun kali ini mereka sudah melihat persoalan dari sudut pandang lain.
Salah seorang mahasiswa berkata,
“Kalau masyarakat menentukan, berarti kita harus siap kalau hasilnya berbeda dari rencana.”
Raka mengangguk.
“Ya.”
“Kalau target berubah?”
“Kita jelaskan.”
“Kalau waktunya lebih lama?”
“Kita cari bentuk yang bisa dilanjutkan masyarakat.”
“Kalau hasilnya tidak sempurna?”
Raka tersenyum.
“Yang penting bukan sempurna.”
“Lalu?”
“Bisa berjalan.”
Masyarakat Mendapat Ruang
Konsep program kemudian dibuka kembali.
Masyarakat memilih kegiatan yang paling mereka butuhkan.
Pemuda mengambil bagian dalam pelaksanaan.
Kelompok perempuan menentukan materi yang sesuai kebutuhan usaha.
Pengelola perpustakaan menentukan kegiatan yang mampu mereka lanjutkan.
Mahasiswa memberikan dukungan.
Raka hanya memastikan semua pihak tetap berada pada arah yang sama.
Perubahan Kecil Mulai Terjadi
Setelah konsep baru disepakati, suasana perlahan mencair.
Seorang pemuda berkata kepada mahasiswa,
“Kalau begini kami lebih enak.”
Mahasiswa tersebut menjawab,
“Iya.”
“Tidak merasa diperintah?”
Mahasiswa itu tersenyum.
“Tidak.”
“Dan kami juga tidak merasa ditinggalkan.”
Beberapa ibu kembali datang ke kegiatan.
Pemuda kembali berkumpul.
Perpustakaan mulai ramai lagi.
Jarak yang sempat muncul perlahan mengecil.
PDD Kembali Bergerak
Agatha mulai mendokumentasikan.
Namun kali ini ia lebih berhati-hati.
Ia tidak hanya memotret hasil.
Ia juga merekam proses musyawarah.
Farida menulis catatan.
Bukan tentang konflik.
Tetapi tentang bagaimana sebuah program diperbaiki melalui dialog.
Jevin membuat visual tentang kolaborasi.
Farida kemudian bertanya kepada Raka,
“Apakah konflik ini perlu dimasukkan dalam cerita?”
Raka berpikir.
“Tidak semua detail.”
“Lalu?”
“Yang penting pelajarannya.”
“Yaitu?”
Raka menjawab,
“Program yang baik pun bisa gagal kalau orang-orang yang menjalankannya tidak merasa memiliki.”
Raka Menghadapi Mahasiswanya Sendiri
Malam itu Raka kembali berbicara kepada seluruh mahasiswa.
“Saya tahu kalian lelah.”
Beberapa mahasiswa mengangguk.
“Kalian sudah bekerja keras.”
“Saya tahu.”
“Kadang kita merasa sudah memberikan yang terbaik.”
“Namun hasilnya tidak sesuai harapan.”
Semua diam.
Raka melanjutkan,
“Jangan sampai kelelahan membuat kita kehilangan empati.”
Seorang mahasiswa bertanya,
“Bagaimana kalau kita memang sudah tidak sanggup?”
Raka menjawab,
“Bicarakan.”
“Jangan dipendam.”
“Jangan saling menyalahkan.”
“Dan jangan membuat keputusan saat emosi.”
Raka Juga Mengakui Kesalahannya
Kemudian Raka mengatakan sesuatu yang membuat semua orang terdiam.
“Saya juga salah.”
Beberapa mahasiswa menatapnya.
“Saya terlalu fokus menjaga agar semua program berjalan.”
“Sampai lupa memastikan semua orang merasa memiliki.”
Raka menarik napas.
“Sebagai ketua, itu tanggung jawab saya.”
Tidak ada yang menyangka ia akan mengatakan itu.
Namun justru pengakuan tersebut membuat suasana menjadi lebih ringan.
Mahasiswa Mulai Berdamai dengan Kegagalan
Seorang mahasiswa berkata,
“Kalau begitu, kami juga harus belajar.”
Yang lain mengangguk.
“Tidak semua yang kita rancang harus berjalan persis seperti proposal.”
Farida tersenyum.
Agatha menatap Raka.
Jevin menutup laptop.
Mereka semua mulai memahami bahwa pengabdian bukan tentang siapa yang paling benar.
Krisis yang Mengubah Cara Mereka Bekerja
Setelah konflik tersebut, sistem kerja mereka berubah.
Setiap program harus memiliki ruang evaluasi.
Masyarakat dilibatkan sejak awal.
Keputusan penting dibicarakan bersama.
Koordinator tidak boleh berjalan sendiri.
Dan setiap perubahan harus dikomunikasikan.
Raka juga membuat satu aturan sederhana:
“Tidak ada program yang berjalan tanpa mendengar suara masyarakat.”
Aturan itu ditempel di dinding posko.
Ketika Ketegangan Mulai Reda
Beberapa hari kemudian, Raka kembali ke tempat kegiatan.
Ia melihat mahasiswa dan masyarakat bekerja bersama.
Tidak semuanya sempurna.
Masih ada perbedaan pendapat.
Masih ada perdebatan.
Namun kali ini mereka mampu menyelesaikannya.
Seorang pemuda berkata,
“Kalau begini, lebih enak.”
Mahasiswa di sampingnya tertawa.
“Karena kamu sekarang ikut menentukan.”
Pemuda itu menjawab,
“Bukan cuma menentukan.”
“Apa?”
“Melaksanakan juga.”
Raka Melihat Sesuatu yang Lebih Besar
Sore itu Raka berdiri agak jauh.
Ia melihat masyarakat bekerja.
Tidak ada yang memintanya memberikan arahan.
Ia tidak merasa tersingkir.
Justru ia merasa berhasil.
Karena ternyata menjadi pemimpin bukan berarti harus selalu dibutuhkan.
Kadang keberhasilan seorang pemimpin justru terlihat ketika orang-orang di sekitarnya mampu mengambil keputusan tanpa harus menunggu dirinya.
Krisis yang Menjadi Pelajaran
Malam itu Raka menulis:
“Hari ini kami hampir menghentikan sebuah program bukan karena program itu tidak bermanfaat, tetapi karena cara kami menjalankannya mulai menjauh dari masyarakat.”
Ia melanjutkan:
“Kami belajar bahwa konflik tidak selalu berarti kegagalan. Konflik dapat menjadi tanda bahwa ada sesuatu yang harus diperbaiki.”
Kemudian ia menulis:
“Jalan keluar tidak selalu mempertahankan atau menghentikan. Kadang kita harus berani mengubah cara.”
Raka menutup bukunya.
Jalan Ketiga
Keesokan harinya, program kembali berjalan.
Bukan seperti sebelumnya.
Lebih sederhana.
Lebih terbuka.
Lebih banyak mendengar.
Lebih banyak melibatkan masyarakat.
Mahasiswa tidak kehilangan peran.
Masyarakat juga tidak kehilangan ruang.
Keduanya berjalan bersama.
Raka melihat Pak Iwan.
“Pak.”
“Ya?”
“Terima kasih.”
“Untuk apa?”
“Sudah membantu kami melihat persoalan dari sisi yang berbeda.”
Pak Iwan tersenyum.
“Yang penting kalian mau belajar.”
Raka mengangguk.
Semangat yang Kembali Tumbuh
Beberapa hari setelah krisis, suasana posko mulai kembali hidup.
Mahasiswa kembali bercanda.
Rapat tidak lagi terasa tegang.
Program berjalan lebih teratur.
Masyarakat kembali percaya.
Dan PDD kembali sibuk.
Agatha mengambil kamera.
Farida menulis.
Jevin mengedit video.
Namun kali ini mereka semua membawa satu pelajaran baru:
jangan pernah menganggap sebuah program berhasil hanya karena kegiatan terlaksana.
Keberhasilan juga berarti masyarakat merasa dihargai.
Raka Berdiri di Tengah Desa
Sore menjelang.
Langit Desa Awan Biru mulai berubah warna.
Raka berdiri di depan posko.
Ia melihat mahasiswa.
Melihat masyarakat.
Melihat pemuda.
Melihat perpustakaan.
Melihat kelompok perempuan.
Ia teringat hari pertama mereka datang.
Saat itu Desa Awan Biru terasa seperti tempat yang belum mereka kenal.
Kini desa itu sudah menjadi bagian dari perjalanan hidup mereka.
Namun Raka tahu perjalanan belum selesai.
Krisis baru saja mengajarkan mereka satu hal penting:
perubahan tidak pernah berjalan lurus.
Ada keberhasilan.
Ada kegagalan.
Ada konflik.
Ada keraguan.
Ada keputusan yang salah.
Ada keberanian untuk memperbaiki.
Dan semua itu menjadi bagian dari proses.
Malam itu Raka menerima pesan dari salah seorang pemuda.
“Mas Raka, besok kami mau mengadakan kegiatan sendiri. Tidak perlu mahasiswa mengatur. Tapi kalau bisa, tolong datang sebentar.”
Raka tersenyum membaca pesan itu.
Ia membalas singkat:
“Saya datang sebagai pendamping.”
Kemudian ia meletakkan telepon.
Agatha yang melihatnya bertanya,
“Dari siapa?”
“Pemuda.”
“Acara apa?”
“Kegiatan mereka sendiri.”
Agatha tersenyum.
“Berarti berhasil?”
Raka menatap keluar.
“Belum.”
“Kenapa?”
“Karena masih ada satu ujian.”
“Apa?”
Raka menjawab perlahan:
“Apakah mereka tetap mampu berjalan ketika kita benar-benar pergi?”
Dan tanpa mereka sadari, waktu mulai membawa mereka menuju hari yang selama ini mereka hindari.
Hari ketika Desa Awan Biru tidak lagi menjadi tempat mahasiswa melaksanakan KKN.
Melainkan menjadi tempat yang akan menguji:
apakah pengabdian mereka benar-benar telah menjadi perubahan.
BAB XVII — SATU VISI UNTUK AWAN BIRU
Menyatukan Semua Program
Pagi itu Raka duduk sendirian di meja posko.
Di hadapannya terbentang beberapa lembar kertas.
Ada jadwal kegiatan.
Catatan program pendidikan.
Rencana pemberdayaan UMKM.
Agenda pemuda.
Program literasi.
Catatan kegiatan perpustakaan.
Rencana digitalisasi.
Dokumentasi PDD.
Semuanya terlihat seperti bagian-bagian yang berdiri sendiri.
Raka memandanginya cukup lama.
Kemudian ia mengambil pensil.
Ia mulai membuat garis.
Pendidikan dihubungkan dengan literasi.
Literasi dihubungkan dengan perpustakaan.
Perpustakaan dihubungkan dengan anak-anak.
Pemuda dihubungkan dengan digitalisasi.
Digitalisasi dihubungkan dengan promosi UMKM.
UMKM dihubungkan dengan ekonomi keluarga.
PDD dihubungkan dengan seluruh kegiatan.
Raka berhenti.
Ia menatap gambar yang mulai terbentuk.
Senyum perlahan muncul di wajahnya.
“Selama ini kita melihatnya terpisah.”
Ia berbicara kepada dirinya sendiri.
“Padahal semuanya saling berhubungan.”
Bukan Banyak Program
Selama ini mereka sering merasa bangga ketika daftar program semakin panjang.
Semakin banyak kegiatan yang terlaksana, semakin terasa bahwa KKN mereka produktif.
Namun setelah melewati berbagai konflik dan kegagalan, Raka mulai melihat sesuatu yang berbeda.
Banyak kegiatan tidak otomatis menghasilkan perubahan besar.
Sebuah program harus memiliki hubungan dengan program lainnya.
Ia harus saling memperkuat.
Dan yang paling penting—
masyarakat harus dapat melihat arah besarnya.
Raka menulis sebuah kalimat besar di tengah kertas:
SATU VISI UNTUK AWAN BIRU
Kemudian di bawahnya ia menulis:
“Membangun masyarakat yang mampu mengenali potensi, mengembangkan kemampuan, dan melanjutkan perubahan secara mandiri.”
Raka membaca kalimat itu berkali-kali.
Ia merasa inilah yang selama ini mereka cari.
Rapat yang Berbeda
Malamnya Raka mengumpulkan seluruh mahasiswa.
Tidak seperti rapat sebelumnya.
Kali ini tidak ada daftar panjang agenda.
Tidak ada pembagian tugas yang rumit.
Raka hanya membawa satu lembar kertas besar.
Ia menempelkannya di dinding.
Semua mahasiswa memperhatikan.
Agatha duduk di samping Ita.
Jevin membuka laptop.
Raka berdiri di depan.
“Kita sudah melewati banyak hal.”
Semua diam.
“Program yang berhasil.”
“Kegagalan.”
“Konflik.”
“Perbedaan pendapat.”
“Kita juga sudah melihat masyarakat mulai bergerak.”
Ia menunjuk kertas.
“Sekarang saya ingin kita melihat semuanya dari satu sudut pandang.”
Satu Desa, Banyak Potensi
Raka menggambar sebuah lingkaran besar.
Di dalamnya ia menulis:
MASYARAKAT AWAN BIRU
Kemudian ia membuat beberapa cabang.
Pendidikan.
Ekonomi.
Pemuda.
Literasi.
Kesehatan.
Lingkungan.
Digitalisasi.
Dokumentasi.
Ia menatap seluruh mahasiswa.
“Ini bukan program yang berdiri sendiri.”
Pendidikan dan Masa Depan
Raka menunjuk bagian pendidikan.
“Kalau kita membantu anak-anak belajar, kita sebenarnya sedang membantu menyiapkan masa depan desa.”
Ita mengangguk.
“Dan literasi mendukung pendidikan.”
“Betul.”
“Perpustakaan juga.”
Raka tersenyum.
“Ya.”
Ia menjelaskan bahwa kegiatan belajar tidak boleh berhenti pada pertemuan mahasiswa dengan anak-anak.
Jika perpustakaan hidup, anak-anak memiliki tempat belajar.
Jika kegiatan membaca berkembang, kemampuan mereka meningkat.
Jika pemuda ikut menjadi pendamping, kegiatan bisa terus berjalan.
Maka pendidikan bukan sekadar kegiatan mengajar.
Ia harus menjadi bagian dari ekosistem.
Literasi Bukan Hanya Membaca
Raka kemudian menunjuk bagian literasi.
“Literasi juga bukan hanya membaca buku.”
Farida mengangguk.
“Bisa menulis.”
“Bisa memahami informasi.”
“Bisa menggunakan teknologi.”
“Bisa membuat karya.”
Jevin menambahkan,
“Bisa juga memahami media.”
Raka mengangguk.
“Benar.”
Ia mulai melihat hubungan yang lebih luas.
Anak-anak membaca buku.
Pemuda belajar teknologi.
Pelaku usaha belajar membuat promosi.
Masyarakat belajar mengelola informasi.
Perpustakaan menjadi ruang bertemunya semua itu.
Dengan demikian, literasi tidak lagi menjadi satu kegiatan.
Literasi menjadi kemampuan masyarakat untuk berkembang.
UMKM dan Ekonomi Keluarga
Raka kemudian menunjuk bagian ekonomi.
“Sekarang kita lihat UMKM.”
Agatha menambahkan,
“Foto produk.”
Farida berkata,
“Cerita usaha.”
Jevin menambahkan,
“Desain dan promosi.”
Raka tersenyum.
“Nah.”
Ia menjelaskan bahwa ketiganya bukan kegiatan PDD yang berdiri sendiri.
Ketika pelaku usaha memiliki produk, mereka membutuhkan promosi.
Ketika promosi dibuat, dibutuhkan foto.
Ketika foto tersedia, diperlukan cerita.
Ketika informasi menyebar, peluang pasar dapat terbuka.
Dan ketika usaha berkembang, ekonomi keluarga ikut bergerak.
Agatha berkata,
“Berarti PDD sebenarnya ikut terhubung dengan ekonomi.”
“Bukan hanya ekonomi,” jawab Raka.
“Dengan pendidikan juga.”
“Dengan pemuda.”
“Dengan digitalisasi.”
Agatha mulai mengangguk.
“Berarti semua saling menyambung.”
“Ya.”
Pemuda Sebagai Penghubung
Raka kemudian menunjuk bagian pemuda.
“Kalau kita ingin perubahan berlangsung setelah mahasiswa pulang, siapa yang akan banyak berperan?”
“Pemuda,” jawab beberapa mahasiswa hampir bersamaan.
Raka mengangguk.
Pemuda memiliki energi.
Mereka lebih dekat dengan teknologi.
Mereka bisa menjadi penggerak kegiatan.
Mereka dapat membantu perpustakaan.
Mereka dapat mendukung kegiatan sosial.
Mereka juga bisa menjadi penghubung antara masyarakat dan dunia digital.
Raka berkata,
“Pemuda bukan sekadar peserta kegiatan.”
Ia menulis:
PEMUDA = PENGGERAK KEBERLANJUTAN
Digitalisasi sebagai Jembatan
Jevin kemudian berbicara.
“Kalau semua potensi itu tidak diketahui orang lain, bagaimana?”
Raka tersenyum.
“Itulah pentingnya digitalisasi.”
Website.
Media sosial.
Dokumentasi.
Desain.
Video.
Semua dapat menjadi jembatan antara potensi desa dan dunia luar.
Namun Raka mengingatkan:
“Digitalisasi bukan tujuan.”
“Lalu apa?”
“Alat.”
“Untuk?”
“Memperkenalkan potensi, menyebarkan informasi, membangun kepercayaan, dan membuka peluang.”
Jevin mengangguk.
Ia mulai memahami bahwa pekerjaannya bukan sekadar membuat desain yang menarik.
Visual harus memiliki tujuan.
Video harus memiliki pesan.
Informasi harus memiliki manfaat.
PDD Sebagai Penghubung Cerita
Agatha kemudian bertanya,
“Kalau PDD sendiri masuk di mana?”
Raka menunjuk seluruh gambar.
“Di sini.”
Agatha tertawa.
“Di semua tempat?”
“Ya.”
PDD bukan hanya bagian dokumentasi.
PDD merekam pendidikan.
Merekam UMKM.
Merekam pemuda.
Merekam perpustakaan.
Merekam kegiatan masyarakat.
Merekam perubahan.
Dengan demikian, PDD menjadi penghubung cerita dari seluruh gerakan.
Raka berkata,
“Kalau kita tidak menceritakan perubahan, orang lain mungkin tidak akan tahu.”
Farida menambahkan,
“Dan masyarakat sendiri mungkin lupa bagaimana prosesnya.”
“Betul.”
Satu Program Mendukung Program Lain
Raka kemudian menggambar sebuah lingkaran yang lebih besar.
“Bayangkan seperti ini.”
Ia menunjuk pendidikan.
“Anak-anak belajar.”
Kemudian menunjuk perpustakaan.
“Mereka punya ruang membaca.”
Menunjuk pemuda.
“Pemuda menjadi pendamping.”
Menunjuk digitalisasi.
“Teknologi membantu memperluas akses.”
Menunjuk PDD.
“Cerita mereka didokumentasikan.”
Menunjuk UMKM.
“Orang tua mendapat penguatan ekonomi.”
Ia kemudian menghubungkan semuanya.
“Ini bukan tujuh atau delapan program.”
Ia berhenti.
“Ini satu gerakan.”
Mahasiswa Mulai Melihat KKN dengan Cara Baru
Ruangan menjadi hening.
Beberapa mahasiswa membuka kembali catatan masing-masing.
Mereka mulai menyadari bahwa selama ini mereka terlalu sibuk dengan divisi.
Divisi pendidikan.
Divisi ekonomi.
Divisi lingkungan.
Divisi dokumentasi.
Divisi lainnya.
Padahal masyarakat tidak hidup berdasarkan divisi.
Satu keluarga dapat memiliki anak yang membutuhkan pendidikan.
Orang tua yang menjalankan usaha.
Pemuda yang aktif di lingkungan.
Dan seluruhnya menggunakan teknologi.
Raka berkata,
“Desa tidak mengenal batas divisi kita.”
Kalimat itu membuat semua orang terdiam.
Kegiatan Tidak Lagi Berdiri Sendiri
Mulai hari itu, mereka mengubah pola kerja.
Setiap kegiatan harus menjawab tiga pertanyaan.
Pertama: Apa manfaatnya bagi masyarakat?
Kedua: Program lain apa yang dapat mendukungnya?
Ketiga: Siapa yang akan melanjutkannya setelah mahasiswa pulang?
Tiga pertanyaan itu kemudian menjadi pedoman baru.
Contoh Sederhana
Salah satu mahasiswa bertanya,
“Misalnya kegiatan membaca?”
Raka menjawab,
“Jangan hanya membuat kegiatan membaca.”
“Lalu?”
“Libatkan perpustakaan.”
“Siapa yang mendampingi?”
“Pemuda.”
“Siapa yang membuat dokumentasi?”
“PDD.”
“Bagaimana hasilnya?”
“Dapat dibuat menjadi cerita atau karya anak.”
“Lalu?”
“Dipajang di perpustakaan atau dipublikasikan.”
Mahasiswa itu mengangguk.
“Jadi satu kegiatan bisa menggerakkan beberapa unsur.”
“Betul.”
Kekuatan dari Keterhubungan
Raka semakin yakin.
Sebuah kegiatan kecil dapat memiliki dampak lebih besar jika terhubung dengan kegiatan lain.
Pelatihan usaha tidak berhenti pada pelatihan.
Ada foto produk.
Ada desain.
Ada cerita.
Ada promosi.
Ada pemasaran.
Ada evaluasi.
Ada penerus.
Begitu juga kegiatan literasi.
Tidak berhenti pada membaca.
Ada pendamping.
Ada ruang.
Ada bahan bacaan.
Ada karya.
Ada dokumentasi.
Ada pengelola.
Ada keberlanjutan.
Pak Iwan Diajak Berdiskusi
Raka kemudian membawa konsep tersebut kepada Pak Iwan.
Ia menunjukkan gambar yang telah dibuat.
Pak Iwan memperhatikan cukup lama.
“Ini bagus.”
“Menurut Bapak bagaimana?”
Pak Iwan menunjuk beberapa bagian.
“Kalau semua saling mendukung, program desa juga lebih mudah diarahkan.”
Raka mengangguk.
Pak Iwan kemudian berkata,
“Tapi jangan lupa.”
“Apa, Pak?”
“Jangan membuat masyarakat merasa sedang menjalankan konsep mahasiswa.”
Raka tersenyum.
“Justru konsep ini harus menjadi milik masyarakat.”
Pak Iwan mengangguk.
“Nah, itu yang penting.”
Visi Harus Menjadi Milik Bersama
Raka kemudian mengubah satu hal.
Ia tidak lagi menyebut:
“Visi KKN untuk Desa Awan Biru.”
Ia menggantinya menjadi:
“Visi Bersama untuk Awan Biru.”
Perubahan satu kata itu sangat penting.
Karena mereka bukan sedang membuat masa depan desa untuk masyarakat.
Mereka sedang membangun bersama masyarakat.
Masyarakat Diajak Menentukan
Konsep tersebut kemudian dibawa dalam pertemuan masyarakat.
Raka tidak mempresentasikannya sebagai keputusan.
Ia membuka diskusi.
“Menurut Bapak dan Ibu, apa yang paling penting untuk desa?”
Jawaban mulai bermunculan.
“Anak-anak.”
“Pemuda.”
“Usaha.”
“Perpustakaan.”
“Lingkungan.”
“Informasi desa.”
Semua dicatat.
Kemudian seorang warga berkata,
“Yang penting jangan berhenti setelah kalian pulang.”
Raka terdiam.
Kalimat tersebut sederhana.
Namun itulah inti dari seluruh gagasan mereka.
Keberlanjutan Menjadi Pusat Perhatian
Raka kemudian berkata,
“Kalau begitu, setiap program harus punya penerus.”
Masyarakat mulai berdiskusi.
Siapa yang akan mengelola?
Siapa yang mendampingi?
Bagaimana jadwalnya?
Bagaimana cara mencari dukungan?
Bagaimana jika ada masalah?
Pertanyaan-pertanyaan itu mulai muncul.
Dan bagi Raka, munculnya pertanyaan tersebut adalah tanda baik.
Karena masyarakat mulai memikirkan masa depan.
Agatha Menemukan Ide Baru
Setelah pertemuan, Agatha berkata,
“Rak, bagaimana kalau semua cerita ini kita jadikan satu dokumentasi besar?”
Raka menoleh.
“Maksudmu?”
“Bukan hanya kumpulan foto.”
“Lalu?”
“Semacam arsip perjalanan perubahan Awan Biru.”
Farida langsung tertarik.
“Bisa dibuat menjadi buku kecil.”
Jevin menambahkan,
“Atau video dokumenter.”
Raka tersenyum.
“Kenapa tidak semuanya?”
Mereka mulai membayangkan hasil akhirnya.
Foto.
Tulisan.
Video.
Desain.
Cerita masyarakat.
Catatan program.
Semua disatukan.
Bukan untuk membanggakan mahasiswa.
Tetapi untuk meninggalkan jejak yang bisa dipelajari masyarakat.
PDD Menjadi Penjaga Ingatan
Agatha berkata,
“Kalau begitu tugas PDD makin besar.”
Farida tertawa.
“Dari dulu juga besar.”
Jevin mengangguk.
“Sekarang kita bukan cuma dokumentasi kegiatan.”
“Lalu?”
“Kita dokumentasi perubahan.”
Agatha memandang kameranya.
Ia tersenyum.
“Berarti setiap foto harus punya cerita.”
Farida menjawab,
“Dan setiap cerita harus punya makna.”
Jevin menambahkan,
“Dan setiap visual harus punya tujuan.”
Mereka saling memandang.
Kemudian tertawa.
Raka Membuat Satu Kalimat
Malam itu Raka menulis sebuah kalimat besar di papan posko:
“SATU PROGRAM MUNGKIN BERAKHIR, TETAPI SATU GERAKAN HARUS TERUS BERJALAN.”
Semua mahasiswa membacanya.
Tidak ada yang memberikan komentar.
Namun mereka memahami maksudnya.
KKN memiliki batas waktu.
Program mahasiswa memiliki akhir.
Tetapi perubahan masyarakat seharusnya tidak memiliki batas yang sama.
Dari Program ke Gerakan
Hari-hari berikutnya mulai terasa berbeda.
Kegiatan tidak lagi dipandang sebagai tugas.
Mahasiswa mulai melihat hubungan antarprogram.
Pemuda dilibatkan dalam literasi.
Kelompok perempuan mulai menggunakan media digital.
Perpustakaan menjadi ruang pendidikan.
PDD membantu promosi kegiatan.
Masyarakat mulai menjadi pengelola.
Semua bergerak menuju satu arah.
Raka Tidak Lagi Berbicara tentang Banyaknya Kegiatan
Dalam salah satu rapat, seorang mahasiswa melaporkan:
“Program kita minggu ini ada tujuh kegiatan.”
Raka tersenyum.
“Bagus.”
Mahasiswa itu menunggu pujian.
Namun Raka bertanya,
“Dari tujuh kegiatan itu, berapa yang punya keberlanjutan?”
Mahasiswa tersebut terdiam.
Ia membuka catatan.
“Empat.”
“Yang tiga?”
“Masih perlu dibicarakan.”
“Bicarakan.”
Raka tidak ingin mengejar angka.
Ia ingin memastikan makna.
Sebuah Perubahan dalam Cara Mengukur Keberhasilan
Mereka kemudian membuat ukuran keberhasilan baru.
Bukan hanya:
Berapa kegiatan terlaksana?
Tetapi:
Berapa orang yang terlibat?
Berapa kemampuan yang bertambah?
Berapa kegiatan yang dapat dilanjutkan?
Berapa masyarakat yang mulai berinisiatif?
Berapa program yang tidak lagi bergantung pada mahasiswa?
Dan yang paling penting:
Apakah masyarakat merasa memiliki perubahan tersebut?
Awan Biru Mulai Memiliki Arah
Tidak ada perubahan besar yang terjadi dalam satu malam.
Namun kini arah mereka lebih jelas.
Pendidikan memiliki hubungan dengan literasi.
Literasi terhubung dengan perpustakaan.
Pemuda menjadi penggerak.
Ekonomi keluarga diperkuat melalui usaha.
Digitalisasi membuka ruang promosi.
PDD merekam seluruh perjalanan.
Pemerintah desa menjadi mitra.
Masyarakat menjadi pelaku.
Mahasiswa menjadi pendamping.
Semuanya mulai menemukan tempat.
Raka Berdiri di Tengah Peta Besar
Suatu malam, setelah semua mahasiswa pergi tidur, Raka masih duduk di depan papan.
Ia melihat garis-garis yang telah dibuatnya.
Begitu banyak hubungan.
Begitu banyak potensi.
Begitu banyak harapan.
Namun ia juga sadar bahwa semua ini masih rapuh.
Gerakan baru saja tumbuh.
Belum tentu kuat.
Belum tentu bertahan.
Dan waktu mereka semakin sedikit.
Raka mengambil spidol.
Ia menulis di bagian paling bawah:
“SIAPA YANG AKAN MELANJUTKAN?”
Ia menatap pertanyaan itu.
Kemudian tersenyum tipis.
Jawabannya belum tertulis.
Namun ia tahu—
jawaban itu harus ditemukan sebelum mereka meninggalkan Desa Awan Biru.
Satu Visi, Satu Arah
Keesokan harinya, Raka menyampaikan kepada seluruh tim:
“Mulai sekarang kita tidak bekerja sebagai kumpulan divisi.”
Ia berhenti.
“Kita bekerja sebagai satu tim.”
Ia menunjuk papan.
“Dan bukan hanya satu tim mahasiswa.”
Kemudian ia menambahkan:
“Kita adalah bagian dari satu gerakan bersama masyarakat.”
Agatha mengangguk.
Farida tersenyum.
Jevin menyalakan laptop.
Para koordinator mulai mencatat.
Dan untuk pertama kalinya sejak mereka datang ke Desa Awan Biru, seluruh program terasa seperti bagian dari satu cerita.
Bukan cerita tentang mahasiswa yang datang membawa perubahan.
Tetapi cerita tentang sebuah desa yang perlahan menemukan kekuatannya sendiri.
Malam semakin larut.
Lampu posko masih menyala.
Di luar, Desa Awan Biru mulai sunyi.
Namun di beberapa sudut desa, kehidupan terus bergerak.
Perpustakaan masih memiliki cahaya.
Beberapa pemuda masih berdiskusi.
Kelompok perempuan masih membicarakan usaha.
Dan anak-anak masih membawa buku pulang.
Raka melihat semua itu dari jendela.
Ia tahu satu hal:
visi telah ditemukan.
Tetapi visi tanpa penerus hanyalah tulisan di atas kertas.
Karena itu, setelah menyatukan seluruh program, mereka harus menghadapi pertanyaan yang lebih sulit:
Siapa yang akan berdiri setelah mahasiswa pergi?
Dan pencarian jawaban atas pertanyaan itulah yang akan membawa mereka memasuki fase berikutnya dari pengabdian mereka di Desa Awan Biru.
BAB XVIII — HARI KETIKA MASYARAKAT BERDIRI SENDIRI
Raka Hanya Menjadi Pengarah
Hari yang ditunggu akhirnya tiba.
Sejak beberapa hari sebelumnya, Desa Awan Biru mulai terlihat lebih sibuk dari biasanya.
Bukan karena mahasiswa sedang mempersiapkan sebuah kegiatan besar.
Justru karena masyarakatlah yang sedang mempersiapkannya.
Di balai desa, beberapa pemuda mondar-mandir membawa perlengkapan.
Di bagian belakang, kelompok perempuan sibuk menyiapkan konsumsi.
Perangkat desa mengatur tempat dan membantu koordinasi.
Anak-anak mulai berdatangan.
Sementara mahasiswa hanya berdiri di beberapa titik.
Mereka membantu jika diperlukan.
Tidak lebih.
Raka datang pagi-pagi.
Ia berhenti beberapa meter dari balai desa.
Tidak ada yang mencarinya.
Tidak ada yang bertanya apa yang harus dilakukan.
Tidak ada yang meminta keputusan.
Semua orang sudah memiliki tugas.
Raka tersenyum.
Agatha yang berada di sampingnya bertanya,
“Kenapa senyum?”
Raka menjawab pelan,
“Karena hari ini kita tidak terlalu dibutuhkan.”
Agatha tertawa.
“Harusnya senang?”
Raka mengangguk.
“Justru harus.”
Persiapan Tanpa Instruksi Mahasiswa
Biasanya sebelum kegiatan dimulai, Raka akan memastikan semuanya.
Siapa yang bertugas?
Apa perlengkapannya?
Siapa yang menjadi pembawa acara?
Siapa yang mendokumentasikan?
Bagaimana susunan kegiatan?
Hari itu semua sudah tersusun.
Seorang pemuda membawa daftar panitia.
“Bang, meja di sebelah kanan.”
Pemuda lain menjawab,
“Sudah.”
“Sound system?”
“Sudah dicoba.”
“Kursi?”
“Sudah disusun.”
“Konsumsi?”
“Sedang disiapkan.”
Tidak ada kepanikan.
Tidak ada orang yang berlari mencari mahasiswa.
Raka memperhatikan dari jauh.
Ia tidak ikut campur.
Bukan karena tidak peduli.
Tetapi karena ia ingin melihat sejauh mana masyarakat mampu menjalankan apa yang selama ini mereka pelajari.
Pemuda Menjadi Panitia
Salah seorang pemuda berdiri di depan balai desa.
Ia memegang daftar kegiatan.
“Semua panitia siap?”
Beberapa orang menjawab,
“Siap!”
Raka tersenyum.
Beberapa minggu sebelumnya, pemuda yang sama masih bertanya kepada mahasiswa:
“Mas, harus bagaimana?”
Sekarang ia memberikan arahan kepada orang lain.
Perubahan itu sederhana.
Namun bagi Raka, sangat berarti.
Agatha mengangkat kameranya.
Klik.
Ia memotret pemuda tersebut.
Bukan sebagai peserta.
Bukan sebagai orang yang dibantu.
Tetapi sebagai penggerak kegiatan.
Kelompok Perempuan Mengambil Peran
Di belakang balai desa, kelompok perempuan juga sibuk.
Mereka menyiapkan makanan.
Membagi tugas.
Mengatur minuman.
Memastikan konsumsi cukup.
Tidak ada mahasiswa yang mengatur.
Seorang ibu berkata,
“Yang ini untuk panitia.”
“Yang ini untuk anak-anak.”
“Yang ini nanti diberikan setelah acara.”
Semua berjalan teratur.
Farida memperhatikan.
Ia tersenyum.
Ia kemudian menulis sebuah catatan kecil:
“Pemberdayaan terlihat ketika seseorang mulai berkata: ‘Biar kami yang mengurus.’”
Perangkat Desa Menjadi Penguat
Pak Iwan datang tidak lama kemudian.
Ia melihat seluruh persiapan.
“Bagaimana?”
Seorang pemuda menjawab,
“Sudah hampir selesai, Pak.”
“Kalau ada kekurangan?”
“Kami koordinasikan.”
Pak Iwan mengangguk.
Ia tidak mengambil alih.
Ia hanya memastikan kegiatan berjalan dengan baik.
Raka memperhatikan hubungan itu.
Masyarakat bergerak.
Pemuda mengorganisir.
Kelompok perempuan mendukung.
Pemerintah desa memberikan ruang.
Mahasiswa mendampingi.
Semua berada pada posisi masing-masing.
Anak-Anak Mulai Berdatangan
Tidak lama kemudian, anak-anak mulai datang.
Ada yang membawa buku.
Ada yang membawa alat tulis.
Sebagian berlari.
Sebagian langsung menuju perpustakaan.
Seorang anak melihat Raka.
“Mas Raka!”
Raka melambaikan tangan.
Anak itu kemudian berlari kepada seorang pemuda.
“Bang, saya ikut yang mana?”
Pemuda tersebut menjawab,
“Duduk dulu di sana.”
Anak itu menurut.
Raka tersenyum.
Dulu anak-anak selalu mencari mahasiswa.
Sekarang mereka mulai mengenal penggerak dari desa sendiri.
Acara Dimulai
Ketika waktu tiba, seorang pemuda naik ke depan.
Ia menjadi pembawa acara.
Suaranya sempat bergetar.
Namun ia terus berbicara.
“Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.”
Masyarakat menjawab.
Raka berdiri di bagian belakang.
Ia tidak diminta naik.
Ia tidak merasa perlu naik.
Hari itu bukan tentang mahasiswa.
Hari itu adalah tentang masyarakat.
Agatha Memotret dari Belakang
Agatha berjalan ke beberapa sudut.
Ia tidak berdiri di depan.
Ia mencari momen.
Seorang pemuda berbicara.
Klik.
Kelompok perempuan membagikan konsumsi.
Klik.
Anak-anak mengikuti kegiatan.
Klik.
Perangkat desa berdiskusi.
Klik.
Seorang mahasiswa membantu mengatur kursi.
Klik.
Namun foto terakhir membuat Agatha berhenti.
Ia melihat Raka.
Raka berdiri jauh di belakang.
Tidak memimpin.
Tidak memberikan arahan.
Hanya melihat.
Agatha mengangkat kamera.
Klik.
Satu Foto yang Berbeda
Agatha melihat hasil fotonya.
Raka terlihat kecil dalam bingkai.
Sementara masyarakat memenuhi bagian depan.
Agatha tersenyum.
Ia tahu foto itu akan menjadi salah satu foto terpenting dalam seluruh perjalanan KKN mereka.
Bukan karena Raka sedang memimpin.
Tetapi karena Raka sedang belajar melepaskan kepemimpinan.
Agatha menunjukkan foto tersebut kepada Farida.
Farida melihatnya cukup lama.
“Ini bagus.”
“Kenapa?”
“Karena posisinya.”
“Raka di belakang?”
Farida mengangguk.
“Dan masyarakat di depan.”
Jevin Menangkap Momen
Jevin juga mulai merekam.
Kamera bergerak perlahan.
Ia merekam tangan pemuda yang memegang mikrofon.
Wajah ibu-ibu.
Anak-anak.
Perangkat desa.
Suasana balai desa.
Dan kemudian Raka.
Jevin sengaja merekamnya beberapa detik lebih lama.
Raka melihat kamera.
“Jangan saya.”
Jevin tertawa.
“Justru harus.”
“Kenapa?”
“Karena ini bagian dari cerita.”
Raka Hanya Memberikan Isyarat
Di tengah kegiatan, seorang pemuda mendekati Raka.
“Mas.”
“Ya?”
“Ada sedikit masalah.”
Raka mendengarkan.
“Apa?”
“Peserta bertambah.”
Raka melihat ke arah lokasi.
“Bagaimana menurutmu?”
Pemuda itu berpikir.
“Kami bisa tambah kursi.”
“Lakukan.”
“Kalau konsumsi?”
“Bicarakan dengan ibu-ibu.”
“Baik.”
Pemuda itu pergi.
Raka tidak memberikan solusi lengkap.
Ia hanya memberikan arah.
Agatha yang melihat kejadian itu berkata,
“Sekarang kamu tidak langsung mengurus.”
Raka tersenyum.
“Kalau saya terus mengurus, mereka tidak akan belajar.”
Kesalahan Tetap Terjadi
Kegiatan tidak berjalan sempurna.
Ada mikrofon yang sempat mati.
Konsumsi terlambat.
Beberapa anak terlalu ramai.
Susunan acara sedikit berubah.
Namun tidak ada kepanikan.
Masyarakat menyelesaikannya.
Ketika mikrofon bermasalah, pemuda memperbaikinya.
Ketika konsumsi kurang, kelompok perempuan menyesuaikan.
Ketika anak-anak mulai ramai, pengelola kegiatan mengatur kembali.
Mahasiswa hanya membantu ketika diminta.
Raka memperhatikan semua itu.
Ia tersenyum.
Karena dahulu, masalah kecil seperti itu selalu membuat mahasiswa panik.
Sekarang masyarakat mulai belajar menyelesaikannya sendiri.
Kegiatan Menjadi Milik Masyarakat
Pada saat istirahat, seorang ibu duduk di samping Raka.
“Mas.”
“Ya, Bu?”
“Kalau nanti kalian sudah pulang…”
Ia berhenti.
Raka menatapnya.
“Kami bisa melanjutkan.”
Raka tersenyum.
“Bisa?”
Ibu itu mengangguk.
“Tidak semuanya.”
“Tidak apa-apa.”
“Tapi kami sudah tahu harus mulai dari mana.”
Raka terdiam.
Kalimat itu terasa lebih berharga daripada penghargaan apa pun.
Raka Menahan Air Mata
Ia melihat kembali ke tengah halaman.
Pemuda sedang bekerja.
Anak-anak mengikuti kegiatan.
Ibu-ibu berbicara.
Perangkat desa mendampingi.
Mahasiswa tidak lagi menjadi pusat.
Raka menarik napas panjang.
Matanya mulai berkaca-kaca.
Agatha yang melihatnya mendekat.
“Rak?”
Raka mengusap wajah.
“Tidak apa-apa.”
“Terharu?”
Raka tertawa kecil.
“Mungkin.”
Perjalanan Panjang yang Terbayar
Dalam pikirannya muncul kembali berbagai kejadian.
Hari pertama mereka datang.
Rapat yang penuh perbedaan.
Program yang gagal.
Konflik antar mahasiswa.
Kritik masyarakat.
Krisis besar.
Keraguan.
Kelelahan.
Dan semua proses panjang itu.
Hari ini semuanya seperti menemukan jawabannya.
Bukan dalam bentuk penghargaan.
Bukan dalam bentuk sertifikat.
Bukan dalam bentuk jumlah kegiatan.
Tetapi dalam sebuah pemandangan sederhana:
masyarakat yang mampu berdiri sendiri.
Agatha Menyimpan Foto Itu
Agatha kembali melihat kamera.
Ia memberi tanda khusus pada satu foto.
Foto Raka yang berdiri di belakang.
Ia membuat folder:
“MOMEN TERPENTING KKN.”
Farida bertanya,
“Kenapa foto itu?”
Agatha menjawab,
“Karena suatu hari nanti kalau Raka bertanya apa bukti bahwa kita berhasil…”
Ia menunjuk layar.
“Foto ini jawabannya.”
Farida Menulis Cerita
Farida kemudian duduk dan mulai mengetik.
Judulnya belum ditentukan.
Namun kalimat pertama sudah muncul:
“Pada suatu pagi di Desa Awan Biru, masyarakat mengadakan sebuah kegiatan tanpa menunggu mahasiswa memberi perintah.”
Ia berhenti.
Kemudian melanjutkan:
“Hari itu tidak ada yang istimewa jika dilihat dari luar. Tidak ada acara besar yang mengubah desa dalam sekejap. Namun bagi mereka yang mengikuti perjalanan KKN sejak awal, hari itu adalah salah satu bukti paling nyata bahwa pemberdayaan mulai menemukan bentuknya.”
Farida tersenyum.
Ia terus mengetik.
Jevin Menyusun Video
Jevin juga mulai membayangkan bagaimana video itu akan diedit.
Ia memiliki rekaman dari hari-hari awal.
Mahasiswa mengatur kegiatan.
Masyarakat mengikuti.
Kemudian rekaman konflik.
Kegagalan.
Evaluasi.
Dan sekarang—
masyarakat memimpin.
Ia menyusun semuanya secara kronologis.
Kemudian menambahkan satu kalimat pada bagian akhir:
“Ketika masyarakat mampu berjalan sendiri, pendamping tidak lagi menjadi pusat.”
Raka Tidak Ingin Dipuji
Setelah kegiatan selesai, beberapa warga menghampiri Raka.
“Terima kasih sudah membantu kami.”
Raka menggeleng.
“Bukan saya.”
“Lalu siapa?”
Raka menunjuk mereka.
“Bapak dan Ibu sendiri.”
Seorang pemuda tertawa.
“Tapi kalian yang mengajari.”
Raka menjawab,
“Kami hanya membantu membuka pintu.”
Ia tersenyum.
“Yang berjalan melewati pintu itu kalian.”
Sebuah Kesadaran
Dalam perjalanan pulang ke posko, Raka berjalan bersama Agatha, Farida dan Jevin.
Agatha berkata,
“Rak.”
“Ya?”
“Kalau semua kegiatan seperti tadi, berarti kita sudah berhasil?”
Raka tidak langsung menjawab.
Farida ikut menunggu.
Jevin juga menoleh.
Akhirnya Raka berkata,
“Belum.”
Mereka terkejut.
“Belum?”
“Belum.”
“Kenapa?”
Raka melihat langit.
“Karena satu kegiatan belum membuktikan semuanya.”
Ia berhenti.
“Kita harus melihat apakah mereka tetap bergerak setelah kita benar-benar tidak ada.”
Hari Itu Menjadi Titik Balik
Meski demikian, Raka tahu sesuatu telah berubah.
Ia tidak lagi melihat masyarakat sebagai penerima program.
Ia melihat mereka sebagai pemilik gerakan.
Mahasiswa bukan lagi penggerak utama.
Mereka telah berubah menjadi pendamping.
Dan peran itu perlahan semakin kecil.
Bukan karena mereka gagal.
Justru karena proses pemberdayaan mulai berhasil.
Malam Setelah Kegiatan
Malam itu posko terasa tenang.
Mahasiswa sudah mulai beristirahat.
Raka duduk di teras.
Ia membuka buku catatannya.
Menulis:
“Hari ini masyarakat berdiri sendiri.”
Ia berhenti.
Kemudian melanjutkan:
“Saya tidak merasa kehilangan peran.”
Ia tersenyum.
“Justru untuk pertama kalinya saya merasa peran saya sebagai ketua mulai berhasil.”
Ia menutup buku.
Ketika Ketua Tidak Lagi Harus Berada di Depan
Raka akhirnya memahami sesuatu tentang kepemimpinan.
Seorang ketua tidak harus selalu menjadi orang yang paling banyak berbicara.
Tidak harus selalu mengambil keputusan.
Tidak harus selalu berada di depan.
Dan tidak harus selalu menjadi orang yang dicari ketika terjadi masalah.
Kadang tugas seorang pemimpin adalah memastikan orang lain mampu mengambil peran.
Kemudian memberikan ruang.
Kemudian percaya.
Kemudian melepaskan.
Raka melihat ke arah desa.
Lampu-lampu rumah masih menyala.
Ia tersenyum.
“Semoga kalian terus berjalan.”
Agatha yang duduk di sampingnya bertanya,
“Bicara dengan siapa?”
Raka tertawa.
“Dengan desa.”
Sebuah Ujian yang Lebih Berat
Namun di balik kebahagiaan itu, ada satu kesadaran yang tidak dapat mereka hindari.
Hari itu menunjukkan bahwa masyarakat mampu menjalankan satu kegiatan.
Tetapi masih ada banyak hal yang harus dipastikan.
Apakah pemuda mampu mempertahankan semangat?
Apakah kelompok perempuan tetap menjalankan usaha?
Apakah perpustakaan tetap aktif?
Apakah dokumentasi dapat terus berjalan?
Apakah semua program dapat saling mendukung?
Dan yang paling penting—
apakah semua itu akan bertahan setelah mahasiswa meninggalkan Desa Awan Biru?
Pertanyaan itu mulai menghantui Raka.
Karena keberhasilan hari ini bukanlah akhir.
Ia justru menjadi awal dari ujian yang lebih besar.
Hari Ketika Mahasiswa Mulai Tidak Diperlukan
Beberapa minggu sebelumnya, Raka mungkin akan takut membayangkan hari seperti ini.
Hari ketika masyarakat tidak lagi menunggu mereka.
Hari ketika pemuda mampu mengambil keputusan.
Hari ketika kelompok perempuan mampu mengatur kegiatan.
Hari ketika perpustakaan dapat berjalan.
Hari ketika PDD mulai memiliki penerus.
Namun sekarang ia menyadari:
itulah tujuan sebenarnya.
Bukan membuat masyarakat selalu membutuhkan mahasiswa.
Tetapi membantu mereka sampai suatu hari mereka mampu berkata:
“Kami bisa melanjutkan.”
Raka menatap langit malam.
Bintang-bintang terlihat samar di atas Desa Awan Biru.
Ia tersenyum.
Hari itu bukan sekadar hari ketika sebuah kegiatan berhasil dilaksanakan.
Hari itu adalah hari ketika sebuah cita-cita mulai terbukti.
Masyarakat tidak lagi berdiri karena mahasiswa.
Masyarakat mulai berdiri bersama mahasiswa.
Dan perlahan—
mereka sedang belajar berdiri tanpa mahasiswa.
Namun sebelum hari perpisahan benar-benar tiba, Raka masih memiliki satu tugas terakhir:
memastikan bahwa apa yang telah tumbuh tidak berhenti ketika mereka pergi.
Karena setelah masyarakat mampu berdiri sendiri, pertanyaan berikutnya jauh lebih sulit:
“Bagaimana membuat mereka tetap berjalan?”
BAB XIX — HARAPAN YANG BELUM SELESAI
Karena KKN Masih Berlangsung
Waktu berjalan jauh lebih cepat daripada yang mereka bayangkan.
Ketika pertama kali datang ke Desa Awan Biru, empat puluh hari terasa seperti waktu yang sangat panjang.
Namun kini, kalender di dinding posko mulai dipenuhi tanda.
Beberapa tanggal diberi lingkaran.
Beberapa diberi tanda silang.
Dan semakin banyak tanggal yang dilewati.
Raka berdiri di depan kalender itu cukup lama.
Ia menghitung hari.
Kemudian menarik napas panjang.
“Waktu kita tinggal sedikit.”
Agatha yang sedang memeriksa kamera menoleh.
“Berapa?”
“Tidak banyak.”
Farida yang sedang mengetik ikut memperhatikan.
Jevin menutup laptopnya.
Untuk beberapa saat mereka tidak berbicara.
Mereka semua menyadari hal yang sama.
KKN mereka mulai mendekati akhir.
Namun pekerjaan belum selesai.
Bukan Lagi Soal Menyelesaikan Kegiatan
Di awal KKN, mereka selalu menghitung keberhasilan berdasarkan kegiatan.
Berapa program yang sudah dilaksanakan?
Berapa peserta yang hadir?
Berapa kegiatan yang tersisa?
Sekarang cara berpikir mereka telah berubah.
Raka tidak lagi hanya bertanya:
“Apa yang belum kita lakukan?”
Ia mulai bertanya:
“Apa yang akan terjadi setelah kita tidak ada?”
Pertanyaan itu jauh lebih sulit.
Kekhawatiran Mulai Muncul
Dalam rapat malam, beberapa mahasiswa mulai menyampaikan kegelisahan.
“Kita masih punya beberapa kegiatan.”
“Dokumentasi belum semuanya selesai.”
“Laporan juga harus disiapkan.”
“Program pemberdayaan masih membutuhkan pendampingan.”
“Bagaimana kalau masyarakat belum siap?”
Pertanyaan demi pertanyaan bermunculan.
Raka mendengarkan.
Ia tahu kecemasan itu wajar.
Mereka ingin meninggalkan hasil terbaik.
Namun mereka juga mulai menyadari bahwa waktu tidak bisa diperpanjang.
Seorang mahasiswa berkata,
“Kalau waktunya tidak cukup bagaimana?”
Raka menjawab,
“Kita prioritaskan.”
“Yang mana?”
“Yang bisa dilanjutkan.”
Raka Tidak Memberikan Janji Berlebihan
Seorang mahasiswa kemudian berkata,
“Kalau kita bekerja lebih keras, mungkin semua bisa selesai.”
Raka menggeleng.
“Jangan berpikir begitu.”
“Kenapa?”
“Karena kita tidak mungkin menyelesaikan semua persoalan desa dalam waktu sesingkat ini.”
Ruangan menjadi hening.
Raka melanjutkan,
“Kita datang bukan sebagai orang yang bisa menyelesaikan seluruh masalah.”
“Kita datang untuk membantu masyarakat menemukan kekuatan mereka.”
Kemudian Raka berkata:
“Kita tidak mungkin menyelesaikan semua persoalan Desa Awan Biru. Tetapi kita bisa meninggalkan sesuatu yang dapat dilanjutkan.”
Kalimat itu kemudian dicatat oleh Ita.
Membuat Sesuatu yang Bisa Diteruskan
Raka mulai menyusun daftar.
Bukan daftar kegiatan.
Tetapi daftar warisan program.
Apa yang harus tetap berjalan?
Siapa yang meneruskan?
Apa yang dibutuhkan?
Bagaimana cara menjalankannya?
Siapa yang bertanggung jawab?
Bagaimana cara mengevaluasinya?
Mereka mulai membentuk sistem sederhana.
Pertama — Program Literasi
Pengelola perpustakaan bersama pemuda akan melanjutkan kegiatan membaca.
Mahasiswa membantu menyusun jadwal.
Bahan bacaan diklasifikasikan.
Kegiatan anak-anak dibuat lebih sederhana agar dapat dilaksanakan tanpa mahasiswa.
Kedua — Kegiatan Pemuda
Para pemuda menyusun agenda bulanan.
Tidak harus selalu besar.
Yang penting ada kegiatan.
Mereka juga mulai menentukan koordinator.
Raka sengaja tidak memasukkan namanya.
“Ini bukan program mahasiswa lagi,” katanya.
Ketiga — Pendampingan UMKM
Kelompok perempuan mulai memiliki catatan produk.
Foto produk dikumpulkan.
Desain promosi disimpan.
Informasi usaha mulai disusun.
Jevin menyerahkan file desain kepada perwakilan kelompok.
“Kalau nanti mau cetak lagi, file ini masih bisa digunakan.”
Seorang ibu menerima flashdisk itu dengan hati-hati.
“Jangan sampai hilang.”
Jevin tertawa.
“Makanya buat salinan.”
PDD Mulai Memikirkan Regenerasi
Dedi,Farida dan Jevin juga menghadapi persoalan sendiri.
Selama ini mereka menjadi pusat dokumentasi.
Mereka yang mengambil foto.
Mereka yang menulis berita.
Mereka yang membuat desain.
Namun setelah mahasiswa pulang—
siapa yang akan melanjutkan?
Agatha mengangkat pertanyaan itu dalam rapat PDD.
“Kita tidak bisa membawa semua pekerjaan ini pulang.”
Farida mengangguk.
“Kalau begitu harus ada yang belajar.”
Jevin tersenyum.
“Berarti kita cari orangnya.”
Mencari Penerus
Mereka kemudian mengajak beberapa pemuda.
Bukan untuk menjadi mahasiswa.
Tetapi untuk belajar.
Agatha mengajari cara mengambil foto sederhana.
“Jangan selalu pakai zoom.”
Pemuda itu bertanya,
“Kalau cahaya kurang?”
“Cari posisi yang lebih terang.”
Farida mengajari cara menulis berita.
“Jangan langsung menulis.”
“Terus?”
“Catat dulu siapa, apa, kapan, di mana, dan mengapa.”
Jevin mengajari desain.
“Tidak harus rumit.”
“Yang penting informasinya jelas.”
Hari itu PDD tidak hanya menghasilkan dokumentasi.
Mereka sedang menanamkan kemampuan.
Raka Mulai Menyadari Sesuatu
Saat melihat pemuda belajar menggunakan kamera, Raka berkata kepada Agatha,
“Ini lebih penting daripada membuat seratus foto.”
Agatha tersenyum.
“Karena ada penerus.”
“Betul.”
Perpustakaan Membuat Jadwal Sendiri
Beberapa hari kemudian, pengelola perpustakaan menunjukkan sebuah kertas kepada Raka.
“Ini jadwal kegiatan.”
Raka membaca.
Senin: membaca bersama.
Rabu: pendampingan anak.
Jumat: kegiatan kreatif.
Sabtu: membaca nyaring.
Raka tersenyum.
“Siapa yang membuat?”
“Pengelola.”
“Bukan mahasiswa?”
“Bukan.”
Raka menyerahkan kembali kertas itu.
“Bagus.”
Ia tidak menambahkan apa pun.
Karena untuk pertama kalinya, masyarakat telah membuat rencana tanpa menunggu mereka.
Sebuah Papan di Perpustakaan
Di salah satu sudut perpustakaan, Jevin membuat papan sederhana.
Judulnya:
AGENDA LITERASI AWAN BIRU
Di bawahnya terdapat jadwal.
Nama pengelola.
Kegiatan.
Dan ruang untuk mencatat evaluasi.
Raka berdiri di depan papan itu.
Ia tersenyum.
“Kalau papan ini tetap terisi setelah kita pulang…”
Farida menyambung,
“Berarti kegiatan tetap hidup.”
Raka mengangguk.
Harapan Mulai Terlihat
Perlahan, mereka mulai melihat hasil.
Masyarakat tidak lagi bertanya:
“Setelah KKN selesai, bagaimana?”
Mereka mulai bertanya:
“Setelah KKN selesai, siapa yang mengelola?”
Pertanyaan itu terdengar sederhana.
Namun bagi Raka, perbedaannya sangat besar.
Pertanyaan pertama menunjukkan ketergantungan.
Pertanyaan kedua menunjukkan kesiapan.
Namun Tidak Semua Berjalan Mulus
Di tengah proses menyusun keberlanjutan, masalah kembali muncul.
Salah satu kelompok yang sebelumnya aktif mulai mengalami perbedaan pendapat.
Ada anggota yang ingin kegiatan diteruskan.
Ada yang merasa terlalu banyak pekerjaan.
Ada yang mengatakan tidak memiliki waktu.
Sementara mahasiswa mulai semakin sibuk dengan persiapan akhir KKN.
Masalah tersebut tidak langsung selesai.
Raka kembali menghadapi kenyataan:
pemberdayaan tidak berarti semua persoalan akan hilang.
Justru ketika masyarakat mulai mengambil peran, perbedaan pendapat akan muncul dari dalam.
Dan itu adalah bagian dari proses.
Raka Tidak Langsung Turun Tangan
Dulu mungkin Raka akan langsung menyelesaikan masalah.
Kini ia memilih menunggu.
Ia hanya meminta mereka berdiskusi.
“Coba selesaikan bersama.”
Seorang mahasiswa bertanya,
“Kalau tidak selesai?”
“Baru kita bantu.”
“Kenapa tidak langsung?”
Raka menjawab,
“Karena kita sedang belajar membuat mereka mandiri.”
Dilema Baru
Namun masalah tersebut berkembang.
Perbedaan pendapat semakin besar.
Salah satu kegiatan yang sebelumnya dianggap sebagai contoh keberhasilan pemberdayaan mulai terancam berhenti.
Beberapa orang mulai mundur.
Yang lain merasa kecewa.
Bahkan ada yang berkata,
“Kalau mahasiswa pulang, mungkin kegiatan ini juga berhenti.”
Kalimat itu sampai kepada Raka.
Ia terdiam.
Malam itu ia kembali duduk sendirian.
Ia melihat daftar keberlanjutan yang telah mereka susun.
Sebagian sudah berjalan.
Sebagian masih rapuh.
Dan sebagian ternyata sangat bergantung pada beberapa orang.
Raka mengusap wajahnya.
Ia mulai memahami bahwa membuat sistem bukan berarti sistem itu otomatis berjalan.
Masalah Terbesar Mulai Terlihat
Selama ini mereka sibuk memastikan program dapat dilanjutkan.
Namun mereka lupa satu hal:
siapa yang akan menjaga semangat orang-orang di dalamnya?
Sebuah program dapat memiliki jadwal.
Memiliki perlengkapan.
Memiliki catatan.
Memiliki struktur.
Tetapi jika orang-orang di dalamnya kehilangan komitmen—
program itu tetap dapat berhenti.
DPL Memberikan Pandangan
Raka kemudian menghubungi DPL, Dr. Budi.
Ia menceritakan persoalan yang terjadi.
DPL mendengarkan.
Kemudian berkata,
“Raka, jangan mencari keberlanjutan hanya dalam bentuk program.”
“Lalu dalam bentuk apa, Pak?”
“Dalam bentuk manusia.”
Raka terdiam.
DPL melanjutkan,
“Kalau manusianya siap, program bisa berubah.”
“Tapi kalau manusianya tidak siap?”
“Program sebagus apa pun akan berhenti.”
Kalimat itu membuat Raka berpikir panjang.
Membangun Orang, Bukan Hanya Program
Raka kemudian menyampaikan kepada tim:
“Selama ini kita terlalu fokus membuat kegiatan.”
Ia berhenti.
“Sekarang kita harus fokus membuat orang yang mampu menjalankan kegiatan.”
Agatha mengangguk.
Farida mulai mencatat.
Jevin membuka laptop.
Raka melanjutkan,
“Kalau satu program berhenti, jangan sampai seluruh semangat berhenti.”
Sistem Mulai Disempurnakan
Mereka kemudian memperbaiki sistem keberlanjutan.
Tidak hanya mencantumkan nama pengelola.
Tetapi juga:
- pembagian tugas,
- jadwal kegiatan,
- mekanisme koordinasi,
- catatan sederhana,
- dokumentasi,
- evaluasi,
- dan cara melakukan regenerasi.
Raka menambahkan satu bagian:
“Jika pengelola utama tidak dapat melanjutkan, siapa penggantinya?”
Pertanyaan itu membuat mereka sadar bahwa keberlanjutan harus disiapkan lebih jauh.
PDD Membuat Arsip Desa
Agatha, Farida dan Jevin kemudian menyusun seluruh dokumentasi.
Foto.
Video.
Artikel.
Desain.
Data kegiatan.
Materi edukasi.
Semua dikelompokkan.
Mereka membuat sebuah arsip digital.
Jevin berkata,
“Ini bukan untuk kita.”
Farida menjawab,
“Untuk desa.”
Agatha menambahkan,
“Supaya ketika kita pergi, mereka masih memiliki rekam jejaknya.”
Sebuah Pesan untuk Masa Depan
Farida kemudian mengusulkan agar setiap program memiliki catatan singkat:
Apa yang telah dilakukan?
Apa yang telah dipelajari?
Apa yang harus diteruskan?
Apa yang harus diperbaiki?
Mereka menyebutnya:
CATATAN KEBERLANJUTAN AWAN BIRU
Raka Mulai Menyadari Waktu Semakin Pendek
Hari-hari berlalu.
Semakin sedikit waktu tersisa.
Beberapa mahasiswa mulai menghitung hari.
Ada yang mulai membicarakan kepulangan.
Ada yang mulai memikirkan keluarga.
Ada yang mulai menyiapkan laporan.
Namun Raka belum ingin terlalu banyak berbicara tentang perpisahan.
Ia tahu.
Kalau terlalu cepat membicarakannya, semangat mereka bisa berubah.
Suatu malam Agatha berkata,
“Rak.”
“Ya?”
“Kita sebentar lagi pulang.”
Raka mengangguk.
“Tahu.”
“Sedih?”
Raka tersenyum.
“Belum.”
“Kenapa?”
“Karena kita belum selesai.”
Harapan yang Belum Selesai
Raka kembali melihat desa.
Perpustakaan.
Balai desa.
Rumah-rumah warga.
Tempat usaha.
Tempat pemuda berkumpul.
Semua telah menjadi bagian dari perjalanan mereka.
Namun ia tidak ingin meninggalkan desa dengan perasaan bahwa semua persoalan telah selesai.
Karena itu tidak benar.
Masih ada masalah.
Masih ada keterbatasan.
Masih ada program yang rapuh.
Masih ada masyarakat yang membutuhkan dukungan.
Namun ada juga sesuatu yang sebelumnya tidak ada:
harapan.
Sebuah Harapan yang Berbeda
Harapan bukan berarti semua masalah hilang.
Harapan berarti masyarakat mulai percaya bahwa mereka mampu melakukan sesuatu.
Harapan berarti pemuda berani mengambil tanggung jawab.
Harapan berarti kelompok perempuan percaya bahwa usaha mereka memiliki nilai.
Harapan berarti anak-anak memiliki ruang untuk belajar.
Harapan berarti perpustakaan tidak lagi sepi.
Harapan berarti masyarakat mulai berkata:
“Kami bisa.”
Malam Menjelang Ujian Terakhir
Pada suatu malam, Raka menerima pesan dari seorang pemuda.
“Mas, besok kita perlu bicara. Ada masalah besar.”
Raka membaca pesan itu dua kali.
Ia membalas:
“Masalah apa?”
Beberapa menit kemudian, balasan masuk.
“Tentang program yang kemarin. Ada keputusan yang membuat beberapa warga tidak setuju.”
Raka terdiam.
Ia tahu program tersebut merupakan salah satu program yang paling mereka harapkan dapat berlanjut.
Kalau masalah itu tidak diselesaikan, keberlanjutannya bisa terancam.
Raka meletakkan telepon.
Agatha yang melihat wajahnya bertanya,
“Kenapa?”
Raka menjawab,
“Ada masalah.”
“Lagi?”
Raka tersenyum tipis.
“Namanya juga pengabdian.”
Ujian Terakhir Mulai Mendekat
Malam itu Raka tidak langsung tidur.
Ia membuka kembali catatan perjalanan mereka.
Bab demi bab seolah terulang dalam pikirannya.
Konflik.
Kegagalan.
Pemberdayaan.
Kemandirian.
Satu visi.
Masyarakat berdiri sendiri.
Dan sekarang—
ujian terakhir.
Raka sadar bahwa keberhasilan mereka tidak akan ditentukan oleh seberapa indah laporan akhir yang mereka tulis.
Bukan pula oleh seberapa banyak kegiatan yang dapat mereka klaim.
Melainkan oleh bagaimana mereka menghadapi masalah terakhir sebelum meninggalkan desa.
Ia menutup buku.
Kemudian berkata pelan:
“Kalau kita benar-benar ingin meninggalkan perubahan, kita harus menyelesaikan ini dengan cara yang membuat mereka tetap mampu berjalan.”
Di luar posko, angin malam bergerak perlahan.
Desa Awan Biru tampak tenang.
Namun di balik ketenangan itu, sebuah persoalan besar sedang menunggu.
Persoalan yang mungkin akan menguji semua yang telah mereka bangun.
Bukan hanya kemampuan Raka sebagai ketua.
Bukan hanya kekompakan mahasiswa.
Tetapi juga—
apakah masyarakat benar-benar telah siap menjaga harapan yang mereka bangun sendiri.
Dan untuk pertama kalinya, Raka merasa bahwa ujian terakhir KKN mereka bukan lagi tentang apa yang dapat mereka berikan kepada desa.
Melainkan:
apa yang mampu tetap hidup setelah mereka pergi.
BAB XX — MEMBANGUN ASA
Sebuah Gerakan yang Harus Terus Berjalan
Pagi itu Desa Awan Biru terasa berbeda.
Tidak ada acara besar.
Tidak ada panggung.
Tidak ada spanduk yang memenuhi halaman balai desa.
Tidak ada suara pengeras yang terdengar dari kejauhan.
Namun justru dalam kesederhanaan itulah sebuah perubahan mulai terlihat.
Beberapa pemuda sedang membersihkan halaman.
Kelompok perempuan menyiapkan kegiatan usaha.
Pengelola perpustakaan mengatur buku.
Anak-anak datang membawa tas kecil mereka.
Perangkat desa berbicara dengan beberapa warga.
Sementara mahasiswa KKN berjalan dari satu tempat ke tempat lain.
Mereka tidak lagi menjadi pusat perhatian.
Mereka hanya menjadi bagian dari gerakan yang perlahan tumbuh.
Menyatukan Apa yang Telah Dibangun
Raka berdiri di depan papan besar yang ditempel di dinding balai desa.
Di sana tertulis berbagai program yang telah mereka jalankan.
Pendidikan.
Literasi.
Perpustakaan.
Pemberdayaan perempuan.
UMKM.
Pemuda.
Lingkungan.
Digitalisasi.
Dokumentasi.
Pemberitaan.
Satu demi satu program itu telah mereka lalui.
Ada yang berhasil.
Ada yang harus diperbaiki.
Ada yang sempat gagal.
Ada yang hampir dihentikan.
Namun semuanya telah memberikan pengalaman.
Raka memandang papan itu.
“Sekarang kita lihat semuanya bersama.”
Evaluasi yang Tidak Mencari Kesalahan
Rapat evaluasi dilakukan.
Masyarakat duduk bersama mahasiswa.
Tidak ada suasana seperti sidang.
Tidak ada pihak yang harus mempertanggungjawabkan kesalahan.
Raka sengaja mengatakan sejak awal:
“Evaluasi bukan untuk mencari siapa yang salah.”
Ia berhenti.
“Evaluasi untuk mengetahui apa yang harus kita lakukan setelah ini.”
Seorang pemuda menyampaikan pendapat.
“Kegiatan pemuda sudah berjalan.”
“Tapi belum rutin.”
Raka mencatat.
Seorang ibu berkata,
“Usaha sudah mulai dikenal.”
“Tapi pemasaran masih terbatas.”
Farida mencatat.
Pengelola perpustakaan berkata,
“Anak-anak mulai sering datang.”
“Tapi pengelola masih kekurangan waktu.”
Raka kembali mencatat.
Tidak ada masalah yang ditutupi.
Tidak ada keberhasilan yang dibesar-besarkan.
Semuanya dibicarakan apa adanya.
Apa yang Berhasil?
Raka kemudian meminta semua orang menyebutkan hal-hal yang berhasil.
Seorang anak muda berkata,
“Sekarang kami lebih berani mengadakan kegiatan.”
Seorang ibu berkata,
“Kami lebih percaya diri memperkenalkan produk.”
Pengelola perpustakaan berkata,
“Sekarang perpustakaan tidak sesepi dulu.”
Seorang guru mengatakan,
“Anak-anak lebih tertarik membaca.”
Perangkat desa menambahkan,
“Koordinasi dengan masyarakat juga lebih mudah.”
Raka tersenyum.
Ia tidak melihat keberhasilan itu sebagai milik mahasiswa.
Itu adalah hasil kerja bersama.
Apa yang Gagal?
Kemudian Raka mengajukan pertanyaan yang lebih sulit.
“Sekarang, apa yang belum berhasil?”
Ruangan menjadi lebih tenang.
Seorang pemuda mengangkat tangan.
“Tidak semua kegiatan bisa berjalan rutin.”
Seorang ibu berkata,
“Pemasaran produk masih menjadi masalah.”
Pengelola perpustakaan berkata,
“Kami masih membutuhkan orang yang bisa membantu kegiatan digital.”
Seorang mahasiswa menambahkan,
“Kami juga belum selesai membuat semua dokumentasi.”
Raka mengangguk.
“Bagus.”
Beberapa orang terlihat heran.
“Kenapa justru bagus?”
Raka tersenyum.
“Karena kita berani mengakui apa yang belum selesai.”
Tidak Semua Harus Selesai
Raka kemudian berkata,
“Kita harus menerima kenyataan.”
Ia memandang seluruh ruangan.
“Tidak semua program akan selesai sempurna selama KKN.”
Beberapa mahasiswa menunduk.
“Tidak semua masalah desa dapat kita selesaikan.”
Ia berhenti.
“Dan tidak semua perubahan dapat kita lihat sekarang.”
Seorang mahasiswa bertanya,
“Kalau begitu, apa ukuran keberhasilan kita?”
Raka tidak langsung menjawab.
Ia melihat masyarakat.
Kemudian berkata:
“Apakah setelah kita pergi, ada sesuatu yang tetap berjalan?”
Pertanyaan yang Mengubah Suasana
Pertanyaan itu membuat semua orang berpikir.
Bukan lagi tentang mahasiswa.
Bukan lagi tentang target.
Bukan lagi tentang jumlah kegiatan.
Tetapi tentang masa depan.
Jika mahasiswa pergi, apakah perpustakaan tetap dibuka?
Jika mahasiswa pergi, apakah pemuda tetap berkegiatan?
Jika mahasiswa pergi, apakah kelompok perempuan tetap menjalankan usaha?
Jika mahasiswa pergi, apakah dokumentasi desa tetap berjalan?
Jika mahasiswa pergi, apakah anak-anak tetap memiliki ruang belajar?
Jawabannya belum semuanya pasti.
Namun setidaknya, sekarang ada orang-orang yang mau mencoba.
Raka Berdiri di Depan Semua Orang
Setelah evaluasi selesai, Raka berdiri.
Ia tidak membawa catatan.
Tidak membawa proposal.
Tidak membawa daftar target.
Ia hanya berdiri di depan mahasiswa dan masyarakat.
“Saya ingin mengatakan sesuatu.”
Semua memperhatikan.
“Kita mungkin tidak bisa mengubah seluruh Desa Awan Biru.”
Ruangan menjadi hening.
Raka melanjutkan:
“Tetapi kalau kita berhasil membuat satu orang percaya bahwa dirinya mampu berubah, satu keluarga berani berkembang, satu pemuda berani mengambil peran, dan satu anak berani bermimpi lebih tinggi, maka perjalanan ini sudah memiliki arti.”
Tidak ada suara.
Tidak ada yang menyela.
Kalimat itu seperti berhenti di udara.
Agatha Mengangkat Kamera
Agatha yang berdiri di bagian belakang perlahan mengangkat kameranya.
Ia tidak ingin kehilangan momen itu.
Bukan hanya karena Raka sedang berbicara.
Tetapi karena ia melihat wajah-wajah masyarakat yang mendengarkan.
Seorang pemuda.
Seorang ibu.
Seorang anak.
Seorang pengelola perpustakaan.
Seorang perangkat desa.
Semuanya memiliki ekspresi yang berbeda.
Namun ada sesuatu yang sama:
harapan.
Klik.
Agatha mengambil satu foto.
Farida Mulai Menulis
Farida membuka laptop.
Ia mulai mengetik.
Bukan berita tentang kegiatan.
Bukan laporan tentang keberhasilan mahasiswa.
Ia menulis tentang manusia.
Tentang perubahan kecil.
Tentang keberanian.
Tentang masyarakat yang mulai percaya kepada dirinya sendiri.
Judul sementara muncul di layar:
“MEMBANGUN ASA DI DESA AWAN BIRU”
Farida berhenti.
Ia membaca judul itu.
Kemudian tersenyum.
Kini ia memahami mengapa judul tersebut terasa begitu tepat.
Jevin Menyiapkan Visual
Jevin mulai membuat desain.
Ia tidak menggunakan foto mahasiswa sebagai gambar utama.
Ia memilih foto masyarakat.
Seorang pemuda sedang mengatur kegiatan.
Seorang ibu memegang produknya.
Anak-anak membaca buku.
Seorang warga sedang berdiskusi.
Semua menjadi satu rangkaian.
Di bagian tengah ia menulis:
“Perubahan Dimulai Ketika Masyarakat Percaya pada Kekuatan Dirinya Sendiri.”
Satu Gerakan, Banyak Tangan
Raka kemudian melihat seluruh program.
Ia menyadari bahwa tidak ada satu kegiatan yang benar-benar berdiri sendiri.
Pendidikan memberi harapan kepada anak-anak.
Literasi membuka pengetahuan.
Perpustakaan memberikan ruang.
Pemuda memberikan energi.
Kelompok perempuan menguatkan ekonomi keluarga.
UMKM membuka peluang.
Digitalisasi memperluas jangkauan.
Pemerintah desa memberikan dukungan.
PDD menjaga cerita.
Dan mahasiswa menjadi bagian dari proses.
Raka berkata,
“Kalau semua ini terus berjalan, kita tidak perlu lagi menyebutnya program KKN.”
Seorang pemuda bertanya,
“Lalu apa?”
Raka menjawab:
“Ini sudah menjadi gerakan masyarakat.”
Gerakan Tidak Harus Besar
Raka juga mengingatkan:
“Gerakan tidak selalu berarti kegiatan besar.”
Gerakan bisa dimulai dari seorang anak yang membaca buku.
Seorang ibu yang berani menjual produknya.
Seorang pemuda yang berani mengorganisasi kegiatan.
Seorang warga yang mau belajar teknologi.
Seorang pengelola perpustakaan yang membuka pintu setiap sore.
Hal-hal kecil itu mungkin tidak terlihat besar.
Namun perubahan sering kali memang dimulai dari sesuatu yang kecil.
Harapan Tidak Sama dengan Janji
Seorang mahasiswa berkata,
“Kadang kita takut memberikan harapan.”
Raka menoleh.
“Kenapa?”
“Takut masyarakat menganggap kita menjanjikan sesuatu yang besar.”
Raka mengangguk.
“Harapan bukan janji.”
“Lalu?”
“Harapan adalah keyakinan bahwa sesuatu yang lebih baik mungkin dibangun.”
Ia melanjutkan:
“Dan tugas kita bukan menjanjikan bahwa semuanya akan mudah.”
“Tugas kita membantu mereka percaya bahwa mereka mampu mencoba.”
Masyarakat Mulai Berbicara tentang Masa Depan
Setelah pertemuan selesai, beberapa warga tidak langsung pulang.
Mereka tetap berdiskusi.
Pemuda membicarakan agenda bulan berikutnya.
Kelompok perempuan membicarakan pemasaran.
Pengelola perpustakaan membicarakan jadwal.
Perangkat desa mencatat beberapa usulan.
Tidak ada mahasiswa yang mengatur.
Mereka hanya sesekali memberikan masukan.
Raka melihat dari kejauhan.
Ia tersenyum.
Itulah yang ia inginkan sejak awal.
Bukan masyarakat yang menunggu.
Tetapi masyarakat yang berdiskusi tentang masa depan mereka sendiri.
Sebuah Catatan untuk Desa
Raka kemudian mengusulkan agar mereka membuat sebuah dokumen sederhana.
Bukan laporan KKN.
Bukan proposal.
Tetapi sebuah catatan bersama:
“ASA AWAN BIRU”
Isinya:
- potensi desa,
- kegiatan yang telah berjalan,
- program yang perlu diteruskan,
- nama kelompok penggerak,
- jadwal kegiatan,
- kebutuhan pendampingan,
- dokumentasi,
- dan rencana pengembangan.
Dokumen tersebut nantinya disimpan oleh pemerintah desa.
Salinannya diberikan kepada kelompok masyarakat.
Bukan Milik Mahasiswa
Jevin bertanya,
“Nama mahasiswa perlu dicantumkan besar?”
Raka menggeleng.
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Karena setelah kita pulang, dokumen ini harus menjadi milik desa.”
Agatha tersenyum.
“Berarti nama kita hanya bagian dari sejarah.”
Raka menjawab,
“Memang begitu seharusnya.”
Agatha, Farida dan Jevin Memahami Peran Mereka
Malam itu mereka bertiga duduk di depan posko.
Agatha melihat kamera.
Farida melihat tulisan yang baru dibuatnya.
Jevin melihat desain yang sedang dikerjakan.
Agatha berkata,
“Kita datang untuk mendokumentasikan KKN.”
Farida menjawab,
“Sekarang kita mendokumentasikan perubahan.”
Jevin menambahkan,
“Dan mungkin nanti orang lain yang melanjutkannya.”
Mereka terdiam.
Untuk pertama kalinya, mereka tidak merasa bahwa pekerjaan mereka harus selesai bersama berakhirnya KKN.
Cerita itu bisa terus berjalan.
Raka Melihat Desa dari Sudut yang Berbeda
Raka berjalan sendirian sore itu.
Ia melewati perpustakaan.
Seorang anak sedang membaca.
Ia melewati tempat usaha.
Seorang ibu sedang mengemas produk.
Ia melewati balai desa.
Beberapa pemuda sedang berdiskusi.
Ia melewati jalan kecil.
Beberapa warga sedang bercengkerama.
Semuanya tampak biasa.
Namun bagi Raka, semuanya memiliki makna.
Karena ia tahu bagaimana kondisi mereka sebelum semua proses itu dimulai.
Awan Biru Tidak Berubah dalam Sehari
Raka tidak ingin mengatakan bahwa Desa Awan Biru telah berubah sepenuhnya.
Tidak.
Masih ada masalah.
Masih ada keterbatasan.
Masih ada pekerjaan rumah.
Masih ada program yang belum sempurna.
Namun ada satu hal yang benar-benar berubah:
cara masyarakat melihat dirinya sendiri.
Mereka mulai melihat potensi.
Mulai berani mencoba.
Mulai berani berbicara.
Mulai berani mengambil keputusan.
Dan yang paling penting—
mulai berani bermimpi.
Mimpi Anak Kecil
Sore itu Raka bertemu seorang anak yang pernah mengikuti kegiatan literasi.
“Kamu mau jadi apa kalau besar?”
Anak itu berpikir.
Kemudian menjawab,
“Belum tahu.”
Raka tertawa.
“Tidak apa-apa.”
Anak itu kemudian berkata,
“Tapi saya mau sekolah tinggi.”
Raka terdiam.
“Kenapa?”
“Karena saya mau membuat sesuatu untuk desa.”
Raka tersenyum.
“Bagus.”
Anak itu berlari pergi.
Raka berdiri cukup lama.
Ia baru menyadari bahwa mungkin inilah salah satu hasil terbesar KKN mereka.
Bukan sebuah bangunan.
Bukan sebuah program.
Tetapi sebuah mimpi yang tumbuh di kepala seorang anak.
Satu Orang, Satu Keluarga, Satu Pemuda, Satu Anak
Raka kembali mengingat kata-katanya dalam rapat.
Satu orang.
Satu keluarga.
Satu pemuda.
Satu anak.
Mungkin perubahan besar memang terlalu sulit diukur dalam waktu singkat.
Tetapi perubahan kecil dapat menjadi awal.
Satu orang percaya diri.
Satu keluarga berani berkembang.
Satu pemuda berani memimpin.
Satu anak berani bermimpi.
Dari satu dapat menjadi sepuluh.
Dari sepuluh menjadi seratus.
Dan suatu hari, mungkin seluruh desa akan merasakan dampaknya.
Membangun Asa
Malam itu, Raka menulis satu kalimat di buku catatannya:
“Asa bukan sesuatu yang kita berikan kepada masyarakat. Asa adalah sesuatu yang kita bantu tumbuhkan di dalam diri mereka.”
Ia menutup buku.
Kemudian memandang langit.
Bintang-bintang mulai bermunculan.
Desa Awan Biru terlihat tenang.
Namun di dalam rumah-rumah warga, kehidupan terus berlangsung.
Ada yang sedang menghitung hasil usaha.
Ada yang menyiapkan kegiatan.
Ada yang membaca buku.
Ada yang merencanakan masa depan.
Ada yang bermimpi.
KKN Belum Selesai
Raka tahu perjalanan belum berakhir.
Masih ada hari-hari yang harus dijalani.
Masih ada laporan yang harus diselesaikan.
Masih ada program yang harus diperkuat.
Masih ada persoalan yang harus dihadapi.
Dan masih ada satu ujian besar yang menunggu mereka.
Namun kini mereka tidak lagi menghadapi semuanya dengan cara yang sama.
Mereka telah belajar.
Mereka telah gagal.
Mereka telah bertengkar.
Mereka telah berdamai.
Mereka telah mendengar.
Mereka telah belajar melepaskan.
Dan yang paling penting—
mereka telah belajar bahwa perubahan bukan milik mereka.
Harapan yang Mulai Menjadi Milik Desa
Agatha memotret.
Farida menulis.
Jevin mendesain.
Mahasiswa bekerja.
Masyarakat bergerak.
Pemerintah desa mendukung.
Semua berjalan dalam satu arah.
Tidak sempurna.
Tidak selalu mudah.
Tetapi nyata.
Raka berdiri di depan posko.
Ia memandang papan besar yang masih tertempel di dinding.
Di sana tertulis:
SATU VISI UNTUK AWAN BIRU
Di bawahnya kini ditambahkan sebuah kalimat:
“Dari masyarakat, oleh masyarakat, dan untuk masa depan masyarakat.”
Raka tersenyum.
Ia tidak menghapus satu pun tulisan lama.
Ia hanya menambahkan satu kata di bagian paling bawah:
LANJUTKAN.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya, Raka merasa bahwa mereka tidak sedang meninggalkan sebuah program.
Mereka sedang meninggalkan sebuah asa.
Asa yang mungkin masih kecil.
Asa yang belum sempurna.
Asa yang masih membutuhkan banyak tangan.
Tetapi asa itu sudah hidup.
Dan selama masyarakat mau menjaganya, ia akan terus tumbuh.
Karena KKN bukan tentang berapa banyak kegiatan yang dapat diselesaikan sebelum mahasiswa pulang.
KKN adalah tentang apa yang tetap hidup setelah mahasiswa tidak lagi berada di sana.
Raka menatap Desa Awan Biru sekali lagi.
Dalam hati ia berkata:
“Kami belum selesai.”
Kemudian ia tersenyum.
Karena ia tahu—
perjalanan mereka masih berlanjut.
Dan justru setelah asa mulai tumbuh, ujian terbesar akan datang:
menguji apakah harapan itu cukup kuat untuk bertahan menghadapi kenyataan.
EPILOG
Malam Sebelum Babak Berikutnya
Malam telah semakin larut.
Desa Awan Biru perlahan mulai sunyi.
Namun posko KKN masih menyisakan cahaya.
Lampu ruang tengah tetap menyala.
Beberapa mahasiswa masih terjaga.
Tidak ada rapat besar.
Tidak ada agenda resmi.
Tidak ada pembagian tugas.
Malam itu mereka hanya duduk bersama.
Seperti malam-malam sebelumnya.
Namun entah mengapa, suasananya terasa berbeda.
Raka duduk di salah satu sudut ruangan.
Ia memandang teman-temannya satu per satu.
Agatha masih memeriksa foto-foto yang tersimpan di kameranya.
Sesekali ia menghapus foto yang kurang bagus.
Kemudian memperbesar foto lain.
Farida masih mengetik berita di laptop.
Jari-jarinya bergerak cepat.
Sesekali ia berhenti.
Membaca kembali kalimat yang baru ditulisnya.
Kemudian kembali mengetik.
Jevin duduk tidak jauh dari mereka.
Laptopnya terbuka.
Sebuah desain sedang dikerjakan.
Ia memperhatikan layar dengan serius.
Mahasiswa lain membicarakan kegiatan esok hari.
Ada yang membahas jadwal.
Ada yang bercanda.
Ada yang tertawa.
Suasananya tampak biasa.
Sangat biasa.
Namun Raka tahu—
mereka sudah tidak sama seperti ketika pertama kali datang.
Mereka Datang Membawa Program
Ketika pertama kali tiba di Desa Awan Biru, mereka membawa proposal.
Membawa jadwal.
Membawa daftar program kerja.
Membawa target.
Membawa berbagai gagasan tentang apa yang akan mereka lakukan.
Mereka datang dengan keyakinan bahwa mereka akan memberikan sesuatu kepada masyarakat.
Namun selama perjalanan, mereka belajar bahwa desa bukan ruang kosong yang menunggu diisi.
Desa sudah memiliki kehidupan.
Sudah memiliki pengalaman.
Sudah memiliki potensi.
Sudah memiliki persoalan.
Dan yang paling penting—
masyarakat sudah memiliki kekuatan.
Mereka hanya membutuhkan ruang untuk mengembangkannya.
Raka menatap teman-temannya.
Ia teringat hari-hari awal.
Rapat yang penuh perbedaan.
Program yang tidak berjalan.
Konflik.
Kegagalan.
Kelelahan.
Krisis.
Kemudian kebangkitan.
Dan hari ketika masyarakat mulai berdiri sendiri.
Semua kejadian itu seperti potongan gambar yang bergerak dalam pikirannya.
Pengabdian Ternyata Lebih Besar dari Program
Raka akhirnya memahami bahwa pengabdian bukan sekadar menjalankan program kerja.
Bukan sekadar menyelesaikan kegiatan.
Bukan sekadar membuat laporan.
Dan bukan pula sekadar meninggalkan kenangan.
Pengabdian adalah proses belajar.
Belajar mendengar.
Belajar memahami.
Belajar menghargai.
Belajar bekerja bersama.
Belajar menerima kegagalan.
Belajar mengakui kesalahan.
Dan belajar percaya kepada kemampuan orang lain.
Raka tersenyum kecil.
Ia kemudian berkata,
“Besok kita lanjut lagi.”
Agatha langsung menoleh.
“Masih ada yang harus difoto.”
Farida tersenyum.
“Masih ada berita yang harus ditulis.”
Jevin mengangkat laptopnya.
“Dan masih ada desain yang belum selesai.”
Beberapa mahasiswa tertawa.
Tidak Ada yang Benar-Benar Ingin Berhenti
Tawa itu terdengar sederhana.
Namun di baliknya ada sesuatu yang tidak mereka ucapkan.
Mereka tahu waktu semakin berjalan.
Mereka tahu suatu hari mereka akan meninggalkan desa.
Namun malam itu belum waktunya.
Mereka masih memiliki pekerjaan.
Masih ada program.
Masih ada masyarakat yang harus ditemui.
Masih ada cerita yang harus ditulis.
Masih ada foto yang harus diambil.
Masih ada desain yang harus diselesaikan.
Masih ada masalah yang harus dihadapi.
Raka berdiri.
Ia berjalan perlahan menuju jendela.
Dari sana ia melihat Desa Awan Biru.
Beberapa lampu rumah masih menyala.
Di sebuah rumah, seorang anak tampak duduk belajar.
Di tempat lain, beberapa pemuda masih berkumpul.
Beberapa warga masih melakukan aktivitas malam.
Desa belum tidur sepenuhnya.
Kehidupan masih berjalan.
Desa yang Tidak Pernah Berhenti
Raka menyadari sesuatu.
Selama ini mereka terlalu sering berpikir bahwa KKN adalah sebuah perjalanan yang dimulai ketika mereka datang dan berakhir ketika mereka pulang.
Padahal desa tidak pernah berhenti hanya karena mahasiswa datang.
Dan desa juga tidak akan berhenti ketika mahasiswa pergi.
Kehidupan akan terus berjalan.
Anak-anak akan tetap tumbuh.
Pemuda akan tetap memiliki mimpi.
Orang tua akan tetap bekerja.
Usaha akan tetap dijalankan.
Masalah akan tetap datang.
Harapan juga akan tetap tumbuh.
Raka menarik napas panjang.
Ia tersenyum.
KKN belum berakhir.
Dan cerita mereka juga belum selesai.
Empat Puluh Hari Tidak Cukup untuk Mengubah Segalanya
Raka kemudian teringat satu hal yang sering ia sampaikan kepada teman-temannya.
Empat puluh hari bukan waktu yang cukup untuk menyelesaikan seluruh persoalan sebuah desa.
Tidak mungkin.
Tidak realistis.
Namun empat puluh hari cukup untuk memulai sesuatu.
Cukup untuk membuka percakapan.
Cukup untuk membangun kepercayaan.
Cukup untuk mempertemukan orang-orang.
Cukup untuk menyalakan keberanian.
Cukup untuk membuat seseorang berkata:
“Saya ingin mencoba.”
Dan terkadang—
sebuah perubahan besar memang bermula dari keberanian kecil untuk mencoba.
Membangun Asa Bukan Pekerjaan Satu Malam
Raka kembali duduk.
Ia melihat seluruh mahasiswa.
Kemudian berkata perlahan,
“Teman-teman…”
Semua menoleh.
“Kita harus ingat satu hal.”
Mereka menunggu.
Raka berkata:
“Membangun asa bukan pekerjaan satu malam.”
Tidak ada yang menjawab.
Ia melanjutkan:
“Pemberdayaan bukan pekerjaan satu program.”
Ia berhenti sejenak.
Kemudian berkata:
“Dan perubahan bukan sesuatu yang dapat dipaksakan dalam empat puluh hari.”
Perubahan Adalah Proses
Raka melihat ke arah jendela.
“Perubahan itu proses.”
Ia berbicara perlahan.
“Kadang tumbuh dari percakapan.”
“Kadang dari kepercayaan.”
“Kadang dari keberanian.”
“Kadang dari kegagalan.”
“Dan sering kali dari kerja bersama.”
Farida berhenti mengetik.
Agatha menurunkan kameranya.
Jevin menutup layar laptopnya sebagian.
Mereka semua mendengarkan.
Raka melanjutkan:
“Yang paling penting, masyarakat harus percaya bahwa mereka memiliki kemampuan untuk menentukan masa depannya sendiri.”
Ruangan kembali hening.
Tidak ada tepuk tangan.
Tidak ada sorak.
Namun semua orang memahami makna kalimat itu.
Malam yang Menjadi Saksi
Malam semakin larut.
Satu per satu mahasiswa mulai beranjak.
Ada yang mematikan lampu bagian belakang.
Ada yang merapikan meja.
Ada yang menyimpan peralatan.
Agatha memasukkan kameranya ke dalam tas.
Farida menyimpan dokumen.
Jevin menutup laptop.
Namun sebelum semuanya benar-benar selesai, Raka masih berdiri di depan jendela.
Ia melihat desa sekali lagi.
Ia melihat lampu perpustakaan.
Masih menyala.
Ia melihat beberapa pemuda.
Masih berkumpul.
Ia melihat seorang anak membawa buku.
Masih belajar.
Ia melihat rumah-rumah warga.
Masih menjadi tempat keluarga berharap.
Raka tersenyum.
Besok Masih Ada
Agatha berjalan melewatinya.
“Rak.”
“Ya?”
“Tidur.”
Raka tertawa.
“Iya.”
“Besok masih banyak kerjaan.”
Raka mengangguk.
“Betul.”
Agatha berjalan pergi.
Raka masih berdiri beberapa saat.
Kemudian berkata pelan:
“Besok kita mulai lagi.”
Suara yang Menjadi Penanda
Dari luar terdengar suara anak-anak.
Tidak terlalu jelas.
Namun cukup untuk terdengar dari posko.
Raka tersenyum.
Kemudian—
Klik.
Suara rana kamera terdengar dari meja Agatha.
Agatha rupanya masih mengambil satu foto terakhir malam itu.
Farida kembali mengetik beberapa kalimat.
Tak-tak-tak-tak.
Suara keyboard terdengar di ruangan.
Jevin menyalakan kembali layar laptopnya.
Sebuah desain baru mulai terbentuk.
Tidak ada yang menyadari bahwa malam itu akan menjadi salah satu malam yang paling mereka kenang.
Bukan karena ada peristiwa besar.
Bukan karena ada konflik.
Bukan karena ada kemenangan.
Tetapi karena mereka duduk bersama sebagai sekelompok mahasiswa yang telah mengalami begitu banyak hal.
Dan tanpa mereka sadari—
mereka telah tumbuh bersama desa.
Desa Awan Biru Masih Menyimpan Cerita
Masih ada program yang belum selesai.
Masih ada persoalan yang belum terselesaikan.
Masih ada mimpi yang belum tercapai.
Masih ada masyarakat yang membutuhkan pendampingan.
Masih ada pemuda yang harus belajar memimpin.
Masih ada kelompok usaha yang harus berkembang.
Masih ada anak-anak yang harus terus belajar.
Masih ada perpustakaan yang harus tetap hidup.
Dan masih ada cerita yang belum ditulis.
Raka memahami satu hal:
Mereka belum sampai di akhir.
Mereka baru sampai di satu titik.
Sebuah titik ketika mereka mulai memahami arti sebenarnya dari pengabdian.
Sebuah titik ketika masyarakat mulai menemukan kekuatannya.
Sebuah titik ketika mahasiswa mulai belajar melepaskan.
Dan sebuah titik ketika harapan mulai memiliki kehidupan sendiri.
Malam Terus Berjalan
Jam semakin malam.
Satu per satu lampu rumah mulai padam.
Namun beberapa cahaya masih bertahan.
Di sebuah rumah, seorang anak masih membaca.
Di sebuah tempat, pemuda masih berbicara tentang rencana.
Di posko KKN, satu lampu masih menyala.
Raka memandang semuanya.
Ia tersenyum.
Kemudian menutup jendela.
Ia berjalan menuju tempat tidurnya.
Sebelum berbaring, ia kembali melihat kalender KKN.
Beberapa hari telah diberi tanda.
Masih ada beberapa halaman.
Masih ada beberapa kegiatan.
Masih ada beberapa tugas.
Raka tidak merasa takut.
Justru ia merasa bersemangat.
Karena ia tahu—
setiap hari yang tersisa masih memiliki arti.
Harapan Baru Saja Dimulai
Malam akhirnya benar-benar sunyi.
Posko mulai tenang.
Laptop ditutup.
Kamera disimpan.
Catatan dirapikan.
Lampu dipadamkan.
Namun di Desa Awan Biru, kehidupan terus berjalan.
Karena harapan tidak tidur hanya karena mahasiswa tidur.
Harapan tidak berhenti hanya karena satu kegiatan selesai.
Harapan tidak bergantung pada satu orang.
Harapan tumbuh dari banyak hati.
Dari banyak tangan.
Dari banyak keberanian.
Dan dari keyakinan bahwa masa depan dapat dibangun bersama.
Raka menutup mata.
Sebelum benar-benar tertidur, satu kalimat terakhir terlintas dalam pikirannya:
“Besok kita mulai lagi.”
Dan malam pun berlalu.
Namun di balik gelapnya malam, sesuatu yang baru sedang menunggu.
Bukan akhir.
Bukan perpisahan.
Melainkan sebuah babak berikutnya.
Karena perjalanan KKN di Desa Awan Biru—
masih berlangsung.
Dan cerita tentang pengabdian, persahabatan, pemberdayaan, konflik, dan harapan—
belum selesai.
BERSAMBUNG KE NOVEL IV
Lazbon Cs Lazada
10 Agustus 2026 16:42:38
Hubungi Call Center Lazbon Lazada melalui Whatsapp O855-8888-O62 atau O855-3333-9O8 Jam Operasional 08.00-23.00...